Skip to main content

Publikasi Perancangan Studio Proyek 2 - Pendidikan Profesi Arsitek - M Andrian Kevin

Page 1

x

x

M. Andrian Kevin


(Scan barcode ini untuk melihat Portfolio lainnya dari penulis).


DAFTAR ISI Latar Belakang Perancangan

(1)

Struktur

(22)

Eksisting Tapak

(2)

Mekanikal Elektrikal

(23)

Analisis Tapak

(3)

Plumbing

(25)

Peraturan terkait Perancangan

(4)

Lanskap

(26)

Arsitektur

(5)


1


Latar Belakang Perancangan

Perancangan ini dilatarbelakangi oleh kebutuhan akan wadah yang dapat memfasilitasi kegiatan mahasiswa USU di luar akademik yaitu jam perkuliahan, maka universitas selayaknya menyediakan tempat berkumpulnya mahasiswa seluruh USU yang nyaman, wadah pusat komunitas, tempat bertemu, mapupun ruang rekreasi. Adapun pendekatan desain arsitektur yang dipilih dalam merancang Gedung Kemahasiswaaan Universitas Sumatera Utara ini adalah bioklimatik. Pendekatan arsitektur bioklimatik merupakan konsep perancangan bangunan berlandaskan prinsip kesesuaian terhadap kondisi iklim setempat dan mendorong aspek hemat energi melalui strategi desain secara pasif.


Eksisting Tapak

Lokasi perancangan Gedung Kemahasiswaan Universitas Sumatera Utara ini berada di Jalan Kampus USU, Jl. Almamater, Padang Bulan, Kec. Medan Baru, Kota Medan, Lingkungan Kampus Universitas Sumatera Utara. Letak site berseblahan dengan Perpustakaan USU, dan terdapat ruang terbuka hijau di sekitar luar tapak. 3


Analisis TAPAK

Beberapa tahap analisis site yang dilakukan untuk memperoleh fakta empiris lapangan, analisiss kendala, potensi, dan solusi yang mendukung tahap perancangan.

4


Peraturan terkait Perancangan

Perancangan Gedung UKM USU ini telah mengikuti kesesuaian terhadap aturan membangun setempat sebagai berikut. • Luas Lahan Ekisting = 4538 m2 • KDB = 60%, dari luas lahan 4538 m2, luas lantai dasar maksimal yang diizinkan adalah 2722,8 m2, sementara luas lantai dasar yang dirancang adalah 1494 m2 • KLB = 6 • KDH = 20%, dari luas lahan 4538 m2, luas area hijau yang wajib dipertahankan adalah sebesar 947,6 4538 m2, sementara luas area hijau yang dipertahankan dalam perancangan adalah 1.127m2

5


ARSITEKTUR Fenomena perkembangan desain bangunan gedung yang terus mengabaikan strategi desain pasif merupakan hal yang melatar belakangi pendekatan arsitektur bioklimatik dipilih dalam perancangan ini. Saat ini, penggunaan sistem pendingin AC merupakan solusi instan pada bangunan gedung untuk memperoleh kenyamanan termal. Padahal penggunaan AC mengecilkan peran arsitek dalam perancangan bangunan sebab Pencapaian kenyamanan dengan mengoptimalkan pengkondisian udara secara alamiah merupakan tantangan bagi arsitek (Karyono, 2010).

Prinsip Arsitektur Bioklimatik dalam Desain Bangunan

Tanggap Iklim Lokal: Tropis

Orientasi Bangunan Hemat Konsumsi Energi

Arsitektur Bioklimatik

Strategi Desain Pasif

Pengaturan Denah Ruang dan Ruang Transisi Pembayangan Pasif Selubung Bangunan Elemen Bukaan

Prinsip Berkelanjutan

Ramah Lingkungan

Material Lanskap

Terlebih bangunan di wilayah beriklim tropis lembab idealnya didesain dengan tidak mengandalkan sistem penghawaan buatan. Strategi penerapan bukaan dan ventilasi yang cukup dapat menjadi upaya menyediakan penghawaan alami untuk dapat menurunkan suhu ruangan (Arifin & Hidayat, 2018). Adapun konsep dan prinsip arsitektur bioklimatik yang diimplementasikan dalam perancangan ini terlihat pada diagram dan tabel di atas.

6


Ruang UKM 3 x 6

Ruang UKM 3 x 6

Modul dan Grid

Ruang UKM 6 x 6

Dalam tahap merancang gedung untuk kegiatan mahasiswa ini, besaran ruang yang terlebih dahulu ditentukan adalah satu unit UKM. Modul ruang UKM terbagi atas dua, yaitu 3 x 6 m dan 6 x 6 m, sehingga ditentukan grid 6 x 6 m untuk digunakan pada keseluruhan bangunan gedung.

7


Transformasi Massa

•

•

•

Massing dasar pada tanah eksisting seluas 4538 m2

Tahapan massing dengan penambahan dan pengurangan volume ruang

Membentuk patahan sebagai kesan penerimaan menghadap ke entrance, sehingga secara keseluruhan terbentuk susunan balok bertingkat, berjenjang, mengartikan semakin bertumbuh dalam aspek keakraban, kerukunan, dan prestasi dalam akademis. 8


Konsep Pencahayaan Alami, memungkinkan untuk tidak menggunakan penerangan buatan selama pagi dan siang hari

Konsep Penghawaan Alami, memungkinkan terjadinya ventilasi silang

9


1

3

LEGENDA 1. 2. 3. 4.

Perpustakaan USU Gedung Fisip Kolam Parkir Umum

2 4

BLOCK PLAN

SITE PLAN 10


Site Entrance

Jalur pejalan kaki dalam site

Site Entrance

11


Rancangan gedung ini terdiri dari tiga lantai, dimana masing-masing lantai memiliki perbedaan fungsi ruang sesuai kegiatannya.

12


Fasad utama pada rancangan gedung ini adalah menghadap sisi utara. Dengan menghadap pada sisi utara, penerimaan panas pada bangunan yang menghadap pada sisi barat dapat terhindari. Sebagai bentuk merespon terhadap kesan penerimaan di dalam tapak disiasati dengan beberapa upaya seperti halnya mematahkan atau memiringkan sebagian dari volume bangunan menghadap ke entrance utama pada sisi barat.

Tampak Depan, menghadap sisi Utara

Tampak Belakang, menghadap sisi Selatan

Selain itu, secara keseluruhan fasad pada rancangan gedung ini tidak hanya mempertimbangkan orientasi, melainkan juga arah bukaan, hingga material finishing. Material finishing yang terlihat pada keseluruhan fasad adalah menggunakan warna cat putih yang meskipun terlihat menciptakan kesan kesederhanaan, namun berpengaruh positif terhadap daya pantul sinar matahari, sehingga mengurangi penyerapan sinar matahari yang terpapar oleh selubung sisi luar bangunan. 13


Sebagai respon terhadap fasad bangunan terutama menghadap sisi Barat, maka bukaan yang menghadap pada sisi barat ditambahkan secondary skin agar mengurangi paparan panas yang masuk ke dalam ruangan.

Tampak Samping Kanan, menghadap sisi Barat

Tampak Samping Kiri, menghadap sisi Timur

Adapun selain didominasi dengan selubung bangunan luar dengan cat putih, terdapat dua warna kontras yang dihadirkan pada tampilan fasad gedung ini yaitu pada bagian dua atap pelana yang berbeda warna berupa hijau dan kuning sebagai simbolis dari warna logo Universitas Sumatera Utara 14


15


16


Pada lantai dasar, ruang dalam dibuat terbuka menyerupai bangunan berkolong yang merupakan implementasi dari strategi desain pasif untuk terciptanya penghawaan udara secara alami yang lebih ideal.

17


Area lobby dengan kolong terbuka, secara tidak langsung berhubungan dengan ruang luar terutama secara penghawaan alami

18


Area lobby, ruang duduk, dan workspace

19


Sebagian area lobby yang sewaktu-waktu memungkinkan untuk menjadi space ruang diskusi, dsb

20


Area di lantai dua

Area di depan Ruang UKM di lantai dasar

21


Kantin di Gedung UKM

22


Kolong bangunan sebagai ruang parkir VIP untuk tamu, pengeola

23


Interior Ruang Aula

24


Pendekatan arsitektur bioklimatik lainnya yang mendukung perancangan ini diantaranya adalah mengaplikasikan beberapa simulasi terkait perkiraan pencahayaan alami pada ruangan, potensi angin, hingga pengaruh desain dan material terhadap laju perpindahan panas ke dalam bangunan. Simulasi Dynamic Daylighting pada beberapa modul ruang UKM dan area lobby

25


Simulasi Windrose pada tapak dan di luar tapak

Hasil uji simulasi memperlihatkan bahwasanya sumber angin sepanjang tahun yang paling dominan berada di sekitar site bersumber dari arah Timur Laut.

26


Simulasi Laju Perpindahan Panas pada Selubung Bangunan

Secondary skin

Hasil uji simulasi memperlihatkan bahwasanya dengan ditambahkannya elemen secondary skin berpengaruh terhadap laju perpindahan panas dari suhu ruang luar menuju pada ruang aula.

27


STRUKTUR Struktur utama pada rancangan gedung ini adalah rangka kaku. Sistem rangka kaku berbentuk rangka segi empat teratur yang terdiri dari kolom vertikal, balok horizontal, serta plat lantai berbahan utama beton bertulang yang terhubung secara kaku (rigid). Rancangan gedung ini juga menerapkan sistem dilatasi terhadap struktur Gedung dengan pengaplikasian dilatasi dua kolom sebagai upaya memutuskan atau memisahkan hubungan struktur antara satu bangunan dan bangunan lainnya. Jenis pondasi yang digunakan adalah pondasi tapak. Selain itu, elemen struktur lainnya yang berpengaruh pada rancangan gedung ini adalah penggunaan konstruksi atap bentang lebar menggunakan baja WF.

28


MEKANIKAL ELEKTRIKAL Sumber utama instalasi Listrik pada gedung ini adalah dari PLN. Adapun terdapat ruang panel utama dan ruang genset yang terletak di sebuah ruang utilitas berdekatan dengan kantor pengelola. Selain itu, di setiap lantai pada gedung direncanakan sebuah ruang pengaturan kelistrikan dengan kesiapan akan panel beserta perangkat lainnya yang dibutuhkan. Sebagai bentuk kelengkapan lainnya, terdapat sebuah saf khusus yang direncanakan untuk kebutuhan elektrikal berupa kabel, dsb agar tidak bercampur dengan saf sanitari untuk menghindari resiko korslet pada gedung.

Selain bergantung terhadap sumber lisrtrik utama dari PLN, gedung ini juga dilengkapi dengan rencana instalasi panel surya yang dapat dipasangkan di atas atap dak bangunan kolong parkir, sehingga dapat memperoleh energi listrik yang memungkinkan dapat dimanfaatkan untuk aktivitas sehari-hari pada gedung.

29


Dalam mendukung terciptanya kenyamanan termal yang nyaman, kebutuhan akan penghawaan udara pada gedung ini dikombinasikan menggunakan penghawaan alami dan bantuan peralatan mekanik. Peralatan mekanik yang dominan digunakan pada gedung ini adalah kipas angin plafon yang direncakan pada posisi balok struktur yang diekspos. Sementara penggunaan sistem mekanik Air Conditioning hanya berada pada ruang aula di lantai tiga. Adapun sistem AC yang ditentukan adalah menggunakan VRV (Variable Refrigerant Volume) yang merupakan salah satu inovasi pendingin mekanik terkini yang keunggulannya diantaranya adalah lebih hemat pemakaian listrik dibanding sistem AC Konvensional, memiliki kemampuan untuk mencegah pendinginan yang berlebih, kebisingan rendah, hemat tempat dimana satu outdoor unit AC VRV dapat melayani banyak unit indoor AC, serta dapat mengatur jadwal dan temperature AC yang diinginkan secara komputerisasi.

Letak kipas angin plafon pada denah lantai dasar

Letak kipas angin plafon pada tiap ruang UKM modul 3 x 6

Instalasi sistem AC VRV dengan unit indoor menggunakan AC Cassette 4 PK pada ruang Aula yang secara perhitungan hanya membutuhkan satu outdoor unit berkapasitas 324.000 Btu/h

30


PLUMBING

Distribusi Air Bersih

Letak saf sanitari tipikal

Distribusi Air Kotor

Distribusi Air Hujan

Kelengkapan ruang pompa pada power house

Distribusi air bersih pada gedung ini menggunakan sistem down feed yaitu sumber air didistribusikan terlebih dahulu ke ground water tank yang terletak di bawah ruang pompa, lalu dipompa ke tandon atas untuk dapat didistribusikan ke kran setiap toilet. Proses distribusi naik dan turunnya air di dalam gedung direncanakan dengan disediakannya sebuah saf khusus untuk pemipaan sanitasi, termasuk diantaranya adalah pipa naik dan turunnya distribusi air. Selain itu, gedung ini juga terdapat sebuah ruang pompa air yang terletak pada zona servis di dekat kantor pengelola. Sementara, Distribusi air buangan berupa air kotor, bekas pada gedung ini yaitu melalui saf yang di dalamnya terdapat pipa air kotor untuk limbah padat dan pipa air bekas yang keduanya sama-sama akan diteruskan ke Bio Septic Tank yang berfungsi sebagai media pengolahan air limbah domestik. Terkait konsep pengelolaan air hujan, sebagian besar air hujan yang bersumber dari atap akan dialirkan ke bawah dan ditampung pada kolam yang juga berfungsi sebagai kolam tampungan air hujan untuk masih dapat diproses kembali. Sementara, air hujan yang mengalir pada permukaan jalan di dalam tapak dialirkan pada saluran yang direncanakan pada sekeliling tapak dengan grill tertutup. 31


LANSKAP Konsep lanskap pada perancangan ini adalah mempertahankan satu blok area hijau yang terdapat di tapak eksisting, dimana terdapat sebuah pohon besar eksisting yang ingin dipertahankan. Adapun area hijau seluas 806,64 m2 dijadikan sebagai ruang terbuka hijau dengan adanya panggung pentas dan amphitheater terbuka pula dengan naungan dari pohon besar eksisting. Jenis vegetasi yang ditentukan bervariasi, mulai dari jenis vegetasi peneduh dengan pohon Pakis Brazil (Schizolobium Parahybum), vegetasi hias dengan pohon pisang kipas (Ravenala Madagascariensis), vegetasi merambat dengan tanaman lee kuan yew, serta vegetasi yang bersifat pembatas lahan menggunakan tanaman teh-tehan. Area Hijau

32


Amphitheater dan panggung pentas terbuka

33


34


Elemen Air, Mengatasi sulitnya memperoleh kenyamanan termal pada iklim tropis lembab dengan suhu udara tinggi, kelembaban udara tinggi dan kecepatan udara rendah. Salah satu upaya memodifikasi iklim mikro adalah meningkatkan efek pendinginan secara pasif. Elemen Air digunakan sebagai salah satu strategi pasif dalam pengendalian termal pada iklim mikro pada bangunan maupun tapak. Keberadaan air pada kolam juga diharapkan berperan penting dalam menurunkan temperatur dan menaikkan kelembapan pada ruangan di dalam bangunan. Air sebagai unsur estetis dapat membentuk keharmonisan dengan lingkungan alam, memberikan suasana ketenangan.

35


Pemanfaatan kolam ini tidak hanya difungsikan sebagai kolam hias semata, namun juga dirancang sebagai kolam yang menampung air hujan termasuk dari atap bangunan sebelum dapat diproses kembali untuk dapat digunakan selayaknya.

36


Proses dan Perubahan Desain

Berikut adalah beberapa alternatif desain yang pernah dihasilkan selama proses desain berlangsung

37


Evaluasi Green Building Sebagai bentuk wujud kepedulian terhadap kelestarian lingkungan dalam bidang konstruksi, maka perancangan gedung ini berupaya menerapkan pendekatan desain yang mengarah ke prinsip berkelanjutan, seperti halnya (1) desain bangunan yang mengutamakan strategi desain pasif untuk memperoleh pencahayaan dan penghawaan secara alami yang berdampak terhadap berkurangnya pemakaian energi listrik; banyak bukaan, bukaan yang dapat dikontrol buka dan tutup secara kebutuhan, (2) menentukan material yang ramah lingkungan; dinding bata hitam reclea brick, (3) Pengerjaan perakitan konstruksi di lokasi proyek (4) Pemanfaatan sumber daya alam sebagai energi terbarukan melalui panel surya di atap, (5) Pengelolaan air hujan agar tidak terbuang sia-sia, dsb. Adapun juga telah dievaluasi secara mandiri melalui parameter Edge untuk mengetahui seberapa jauh hasil perancangan dalam merencanakan bangunan berlandaskan prinsip berkelanjutan

38


“Arsitektur merupakan lingkungan buatan (built environment) yang mempunyai bermacam-macam kegunaan seperti halnya melindungi manusia, kegiatan-kegiatannya serta hak miliknya dari elemen elemen alam (iklim, cuaca), musuh (sesame manusia, hewan, kekuatan supra natural), dengan membuat tempat, menciptakan suatu kawasan aman yang berpenduduk dalam dunia fana dan menekankan sosial serta menunjukkan status” (Amos Rapoport)

Dosen Pembimbing Studi Proyek 2 : Ar. Harry Wibowo, IAI, dan Dicky Andrea Sembiring, ST., MT


Turn static files into dynamic content formats.

Create a flipbook
Publikasi Perancangan Studio Proyek 2 - Pendidikan Profesi Arsitek - M Andrian Kevin by m andrian kevin - Issuu