Page 1

TAHUN

IA

01 07

T I KA

60

AN

ES

2011

Jurnal Bidan

TM

N BIDAN INDO

Dari Bidan Untuk Keluarga & Mitra Indonesia

Kembar Siam Lahir Di Tangan Bidan IBI Kab. Bogor Sosialisasikan Program Jampersal Hj. Ade Jubaedah :

Profesi Bidan Perlu Payung Hukum

Ikatan Bidan Bidan : Ikatan

Bidan Asnelly :

Panas Setahun Dihapus Hujan Sehari

60 Tahun Pengabdian Ribuan Bidan Tanpa Batas Kepung Monas Bidan Hj. Sri Sutriani :

Bidan, Pejuang Kemanusiaan Sesungguhnya


Jurnal Bidan

Mitrabidan RS. Bina Husada

Kelas VIP - Ruby

Dalam Proses Pengembangan RS. BINA HUSADA didirikan oleh Yayasan Bina Husada pada tanggal 01 Juli 1987 sebagai Rumah Sakit Umum yang melayani kebutuhan masyarakat Cibinong, Bogor, dan sekitarnya akan pelayanan kesehatan dengan kapasitas 160 bed yang dilengkapi fasilitas pelayanan primer, sekunder, dan tersier. Visi RS BINA HUSADA adalah menjadi Rumah Sakit pilihan masyarakat dan rujukan perusahaan dengan pelayanan yang bermutu serta biaya yang terjangkau. Misi RS BINA HUSADA adalah : 1. Memberikan pelayanan secara professional 2. Kebutuhan pelanggan menjadi focus utama pelayanan kami Motto RS. BINA HUSADA adalah PRIMA yaitu Profesional, Responsif, Informatif, dan MAnusiawi Pelayanan 24 jam  UGD  Radiologi  (Konservatif, CT Scan Terkini, USG, ECG, Carotis Dppler)

02

   

Apotik Laboratorium Ambulance Kamar Operasi

 

Senam Hamil Home Care

USG 4 Dimensi

Pelayanan Rawat Jalan  Poliklinik Umum  Poliklinik Spesialis  Poliklinik Gigi  Rehabilitasi Medik dan Fisioterapi  Klinik Kulit dan Kecantikan  Klinik Ahli Jiwa (Psikiater & Psikolog)  Klinik Gizi

Pelayanan Spesialistik  Audiometri, Spirometri, Endoscopy, dan C-Arm  Hemodialisa  Eye Center  Bedah dengan tehnologi terkini dan luka minimal (Laparascopy)

Pelayanan Rawat Inap  Perawatan Biasa. Kelas VIP, I, II, dan III  Perawatan Khusus ICU/ ICCU, Untuk Informasi dan Pendaftaran, NICU/PICU Hubungi : Intermediate Care Perinatologi

Pelayanan Penunjang  Medical Check UP  Treadmil  Pelatihan P3K

Majalah Intern Bidan/Edisi No. 01/VII/2011

Bagian Pendaftaran Jl. Mayor Oking Jaya Atmaja KM 1 No. 101 Telp : 021 - 879 11000, 021 8753422 Fax : 021 - 875 2463 Cibinong-Bogor Email : info@binahusada.com Website : www.binahusada.com


Daftar Isi : Juli

2011

Sambutan Kepala Dinas Kesehatan Kab. Bogor Sambutan Ketua Pengurus Cabang IBI Kab. Bogor

Tokoh & Profile

Selaput 15 18

Ikatan Bidan : 60 Tahun Pengabdian Tanpa Batas Kembar Siam Lahir Ditangan Bidan : Khusnul & Khotimah Si Kembar Siam

KB 54

IBI Lantik Ketua Ranting se-Kabupaten Bogor

55

Puskesmas UPT Citeureup Peringati HUT Lansia

61

PC Kab. Bogor Sosialisasikan Jampersal

60

65

Ribuan Bidan Kepung Monas Bidan Sumbang Darah IBI Cileungsi Sosialisasikan Program Artikel Kesehatan

64

Sarasehan Bidan

56 62

63 59 57 58

Ketua PC IBI Periode 1994-1999

06

Ketua PC IBI Periode 1999-2009 Ketua PC IBI Periode 2009-2013

09

Ketua Ranting Parung Ketua Ranting Bojonggede Ketua Ranting Gunung Putri Ketua Ranting Cileungsi Ketua Ranting Cigombong

s

sukses atas terbitnya Majalah Jurnal Bidan. majalah ini dapat menjadi media komunikasi informasi aktivitas bidan di Indonesia ke Saran saya, media ini juga harus di kemasyarakat luas seluas-luasnya. masyarakat tau dan fahami peran dan kontribusi para bidan kita terhadap dunia kesehatan Indonesia. Sekali lagi selamat ya...... CB. Rachman - Sentul City

27 33

21

Ketua Ranting Leuwiliang

29

Ketua Ranting Ciawi Ketua Ranting Ciampea

49

Ketua Ranting Jonggol Ketua Ranting Jasinga Ketua Ranting Kemang Ketua Ranting Cigudeg

24

M

udah-mudahan dengan HUT IBI. IBI menjadi organisasi profesi yang dapat menaungi bidan dan lebih menunjukan eksistensinya dibidang kesehatan. IBI dapat menjadi wadah para bidan untuk lebih mengembangkan kompetensinya. Selamat& sukses IBI - dokter. Novi, UPT Citeureup

Jurnal Bidan

03

46

Ketua Ranting Cibinong

Pembina : Drg. Tri Wahyu Harini, MM.M.Kes. (Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Bogor). Pelindung : Bidan. Hj. Ade Jubaedah, S.SiT, M.Kes. (Ketua Cabang Ikatan Bidan Indonesia Kabupaten Bogor). Penasehat : Bidan Hj. Sri Sutriani, Bidan Asnelly, Bidan Hj. Nani Aris K. Pemimpin Perusahaan : Firman Sukmawirya. Pemimpin Umum : Agus Sutaman. Pemimpin Redaksi : Jojo Sutarjo. Redaktur : Bagoes Pramudya, Jojo Sutarjo, Agus Sutaman, Taofik Hidayat. Staf Redaksi : Taofik Hidayat, Eman Sutriadi, Amer AD, Nj Saputra, Asep Maulana. Dokumentasi : Alfan Muara Taofik. Layout : Suge Margenda. Dari Bidan Untuk Keluarga & Mitra Indonesia Pra Cetak : Jawawi, S.Kom. Manager Iklan :Didi Narsidi. Marketing/Iklan : Asih, Bidan Dede Qoriah, Bidan Nana Suzana, Bidan Irma, Zuliman, Syahrul. Sirkulasi : Pengurus IBI Ranting. Diterbitkan Oleh : Ikatan Bidan Indonesia Kab. Bogor & Yayasan Tabungan Surga. Alamat Redaksi : Sekretariat IBI Kabupaten Bogor. Biro Cibinong: Jl. Pemda Karadenan. Kp. Kaum Pandak. No. 3. RT 04/10. Cibinong. Telp : (021) 8792 8268. Fax : (021) 8792 2968 Percetakan : Anugerah. Email : jurnal_bidan@yahoo.co.id. Kontak Iklan : Zuliman. Info Berlangganan hub. Bidan. Dede Qoriah, Bidan. Arie Kurniah

Majalah Intern Bidan/Edisi No. 01/VII/2011

41

44

TM

65

35

Ketua Ranting Ciomas

Ranting Cibinong Tingkatkan skill Anggota PemKab. News Ranting Jonggol Tingkatkan Kompetensi IBI Gn. Putri Sosialisasikan Program elamat dan semoga dan masyarakat. distribusikan Sehingga

12

Majalah Intern Bidan/Edisi No. 01/VII/2011

39

37 31 52


Jurnal Bidan

Kesehatan

Sambutan Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Bogor

Status Gizi Ibu Hamil Serta Pengaruhnya Terhadap Bayi Yang Dilahirkan

Assalamu’alaikum Wr.Wb

P

ertama-tama marilah kita panjatkan puji syukur Kehadirat Allah SWT atas segala nikmat yang telah diberikanNya kepada kita semua, termasuk rasa syukur atas bertambahnya usia Ikatan Bidan Indonesia (IBI) yang ke-60 dan diterbitkannya Majalah JURNAL BIDAN, yang merupakan media kegiatan bidan di 14 (empat belas) ranting dalam wilayah Kabupaten Bogor. Sebagaimana kita ketahui bahwa hingga saat ini Kabupaten Bogor masih memiliki jumlah kematian ibu dan bayi yang cukup tinggi di Provinsi Jawa Barat. Dari 100% persalinan, diperkirakan 15% mengalami komplikasi yang tidak dapat diprediksi kapan dan dimana terjadinya. Untuk itu peran pelayan kesehatan sangatlah penting, sehingga kasus-kasus komplikasi ini dapat diselamatkan dan tidak menjadi penambah jumlah kematian. Bidan sebagai ujung tombak pelayanan Kesehatan Ibu Anak dan Keluarga Berencana (KIA-KB) hingga ke tingkat masyarakat desa, tentunya mempunyai peran yang sangat penting dalam upaya penurunan jumlah kematian ibu dan bayi. Upaya ini harus ditunjang dengan peningkatan pengetahuan dan keahlian, yang didapat tidak hanya melalui pendidikan akademik dan pelatihan-pelatihan, melainkan juga melalui media informasi. sehingga bidan dapat memberikan pelayanan yang berkualitas, sesuai dengan kompetensi dan batas kewenangannya. Dinas Kesehatan sangat menghargai dan memberikan apresiasi terhadap terbitnya Majalah JURNAL BIDAN. Diharapkan Majalah JURNAL BIDAN dapat menjadi media informasi yang berkualitas, komunikatif, informatif dan edukatif baik bagi bidan sebagai pelayan kesehatan maupun bagi masyarakat pada umumnya. Dengan demikian Majalah JURNAL BIDAN dapat menunjang upaya Pemerintah dalam menurunkan Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB), serta meningkatkan derajat kesehatan masyarakat Indonesia. Semoga Majalah JURNAL BIDAN dapat terbit secara teratur dan berkesinambungan, dan dapat mempererat hubungan serta memperkokoh solidaritas para bidan yang tergabung dalam wadah organisasi profesi Ikatan Bidan Indonesia (IBI). Dirgahayu Ikatan Bidan Indonesia.

Oleh : Bd. Dede Qoriah *

S

alah satu cara untuk menilai kualitas bayi adalah dengan mengukur berat bayi pada saat lahir. Seorang ibu hamil akan melahirkan bayi yang sehat bila tingkat kesehatan dan gizinya berada pada kondisi yang baik. Namun sampai saat ini masih banyak ibu hamil yang mengalami masalah gizi khususnya gizi kurang seperti Kurang Energi Kronis (KEK) dan Anemia gizi (Depkes RI, 1996). Hasil SKRT 1995 menunjukkan bahwa 41 % ibu hamil menderita KEK dan 51% yang menderita anemia mempunyai kecenderungan melahirkan bayi dengan Berat Badan Lahir Rendah (BBLR). Ibu hamil yang menderita KEK dan Anemia mempunyai resiko kesakitan yang lebih besar terutama pada trimester III kehamilan dibandingkan dengan ibu hamil normal. Akibatnya mereka mempunyai resiko yang lebih besar untuk melahirkan bayi dengan BBLR, kematian saat persalinan, pendarahan, pasca persalinan yang sulit karena lemah dan mudah mengalami gangguan kesehatan (Depke RI, 1996). Bayi yang dilahirkan dengan BBLR umumnya kurang mampu meredam tekanan lingkungan yang baru, sehingga dapat berakibat pada terhambatnya pertumbuhan dan perkembangan, bahkan dapat mengganggu kelangsungan hidupnya. Kebutuhan Gizi pada Ibu Hamil Bagi ibu hamil, pada dasarnya semua zat gizi memerlukan tambahan, namun yang seringkali menjadi kekurangan adalah energi protein dan beberapa mineral seperti Zat Besi dan Kalsium. Kebutuhan energi untuk kehamilan yang normal perlu tambahan kira-kira 80.000 kalori selama masa kurang lebih 280 hari. Hal ini berarti perlu tambahan ekstra sebanyak kurang lebih 300 kalori setiap hari selama hamil (Nasution, 1988).

Wassalamu’alaikum Wr.Wb Cibinong, Juli 2011

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Bogor

Drg. Tri Wahyu Harini, MM. M. Kes

04

Majalah Intern Bidan/Edisi No. 01/VII/2011

Energi yang tersembunyi dalam protein ditaksir sebanyak 5180 kkal, dan lemak 36.337 Kkal. Agar energi ini bisa ditabung masih dibutuhkan tambahan energi sebanyak 26.244 Kkal, yang digunakan untuk mengubah energi yang terikat dalam makanan menjadi energi yang bisa dimetabolisir. Dengan demikian jumlah total energi yang harus tersedia selama kehamilan adalah 74.537 Kkal, dibulatkan menjadi 80.000 Kkal.Untuk memperoleh besaran energi per hari, hasil penjumlahan ini kemudian dibagi dengan angka 250 (perkiraaan lamanya kehamilan dalam hari) sehingga diperoleh angka 300 Kkal. Kebutuhan energi pada trimester meningkat secara minimal. Kemudian sepanjang trimester II dan III kebutuhan energi terus meningkat sampai akhir kehamilan. Energi tambahan selama trimester II diperlukan untuk pemekaran jaringan ibu seperti penambahan volume darah, pertumbuhan uterus, dan payudara, serta penumpukan lemak. Selama trimester III energi tambahan digunakan untuk pertumbuhan janin dan plasenta. Karena banyaknya perbedaan kebutuhan energi selama hamil, maka WHO menganjurkan jumlah tambahan sebesar 150 Kkal sehari pada trimester I, 350 Kkal sehari pada trimester II dan III. Di Kanada, penambahan untuk trimester I sebesar 100 Kkal dan 300 Kkal untuk trimester II dan III. Sementara di Indonesia berdasarkan Widya Karya Nasional Pangan dan Gizi VI tahun 1998 ditentukan angka 285 Kkal perhari selama kehamilan. Angka ini tentunya tidak termasuk penambahan akibat perubahan temperatur ruangan, kegiatan fisik, dan

65

(Satu dari dua tulisan)

pertumbuhan. Patokan ini berlaku bagi mereka yang tidak merubah kegiatan fisik selama hamil. Sama halnya dengan energi, kebutuhan wanita hamil akan protein juga meningkat, bahkan mencapai 68 % dari sebelum hamil. Jumlah protein yang harus tersedia sampai akhir kehamilan diperkirakan sebanyak 925 g yang tertimbun dalam jaringan ibu, plasenta, serta janin. Di Indonesia melalui Widya Karya Nasional Pangan dan Gizi VI tahun 1998 menganjurkan penambahan protein 12 g/hari selama kehamilan. Dengan demikian dalam satu hari asupan protein dapat mencapai 75100 g (sekitar 12 % dari jumlah total kalori); atau sekitar 1,3 g/kgBB/hari (gravida mature), 1,5 g/kg BB/hari (usia 15-18 tahun), dan 1,7 g/kg BB/hari (di bawah 15 tahun). Bahan pangan yang dijadikan sumber protein sebaiknya (2/3 bagian) pangan yang bernilai biologi tinggi, seperti daging tak berlemak, ikan, telur, susu dan hasil olahannya. Protein yang berasal dari tumbuhan (nilai biologinya rendah) cukup 1/3 bagian. Kenaikan volume darah selama kehamilan akan meningkatkan kebutuhan Fe atau Zat Besi. Jumlah Fe pada bayi baru lahir kira-kira 300 mg dan jumlah yang diperlukan ibu untuk mencegah anemia akibat meningkatnya volume darah adalah 500 mg. Selama kehamilan seorang ibu hamil menyimpan zat besi kurang lebih 1.000 mg termasuk untuk keperluan janin, plasenta dan hemoglobin ibu sendiri. Berdasarkan Widya Karya Nasional Pangan dan Gizi Tahun 1998, seorang ibu hamil perlu tambahan zat gizi rata-rata 20 mg perhari. Sedangkan kebutuhan sebelum hamil atau pada kondisi normal rata-rata 26 mg per hari (umur 20 45 tahun). Gizi Kurang pada Ibu Hamil Bila ibu mengalami kekurangan gizi selama hamil akan menimbulkan masalah, baik pada ibu maupun janin, seperti diuraikan berikut ini. 1. Terhadap Ibu Gizi kurang pada ibu hamil dapat menyebabkan resiko dan komplikasi pada ibu antara lain: anemia, pendarahan, berat badan ibu tidak bertambah secara normal, dan terkena penyakit infeksi. 2. Terhadap Perslinan Pengaruh gizi kurang terhadap proses persalinan d a p a t mengakibatkan persalinan sulit dan lama, p e r s a l i n a n sebelum waktunya (premature), p e n d a r a h a n s e t e l a h persalinan, serta persalinan dengan operasi cenderung meningkat. 3. Terhadap Janin Kekurangan gizi pada ibu hamil dapat mempengaruhi proses pertumbuhan janin dan dapat menimbulkan kegururan , abortus, bayi lahir mati, kematian neonatal, cacat bawaan, anemia pada bayi, asfiksia intra partum (mati dalam kandungan), lahir dengan berat badan lahir rendah (BBLR) Ada beberapa cara yang dapat digunakan untuk mengetahui status gizi ibu hamil antara lain memantau pertambahan berat badan selama hamil, mengukur Lingkar Lengan Atas (LILA), dan mengukur kadar Hb. Pertambahan berat badan selama hamil sekitar 10 12 kg, (Bersambung)

Majalah Intern Bidan/Edisi No. 01/VII/2011


Jurnal Bidan

Kabar Bidan

Sambutan Ketua Pengurus Cabang Ikatan Bidan Indonesia Kab. Bogor

Sarasehan Bidan Assalamu’alaikum Wr.Wb

P

ara Bidan yang tergabung dalam Ikatan Bidan Indonesia Ranting Cibinong mengikuti acara Sarasehan Bidan yang diadakan oleh RS, Bina Husada, Rabu (27/04) di Aula Lantai 2.

P

erjalanan panjang Organisasi Ikatan Bidan Indonesia Cabang Kabupaten Bogor, telah menorehkan sejarah yang mungkin dapat dijadikan hikmah bagi kita semua. Cerita suka dan duka mewarnai setiap langkah dalam perjalanan Ikatan Bidan Indonesia. Pasang-surut yang dialami, telah menempa Ikatan Bidan Indonesia agar lebih kuat menerima tantangan dimasa yang akan datang.

Jumlah peserta yang diperkirakan lebih dari 30 bidan yang berasal dari wilayah Cibinong dan sekitarnya ini, mendapatkan tambahan pengetahuan tentang Peran USG 4D (Dimensi) Dalam Mengenali Perkembangan Janin Terkini. dengan narasumber Dr. Albert D, SpOG.

Dengan Rahmat Allah SWT yang Maha Kuasa, diiringi kebahagiaan dan kebanggaan. Perjalanan IBI Cabang Kab. Bogor, telah berhasil dituangkan dalam sebuah Majalah “JURNAL BIDAN” pada momentum HUT IBI Ke 60 dengan harapan semoga di usia yang ke 60 ini, Organisasi IBI sebagai pelayan kesehatan masyarakat akan lebih di kenal di masyarakat. Eksistensi Bidan mempunyai fungsi dan peran penting dalam upaya akselerasi pembangunan bangsa khususnya di bidang kesehatan ibu dan anak. Hal tersebut terkait dengan keyakinan masyarakat, bahwa profesi Bidan adalah profesi yang mulia dan terhormat. Keyakinan ini menuntut Bidan untuk bekerja profesional.

Mengingat besarnya minat dan respon dari seluruh peserta yang hadir, Bina Husada berencana mengadakan kembali Saresehan Bidan pada 26 Juli 2011, pukul 10.00, di tempat yang sama dengan tema: Penatalaksanaan Pendarahan Post Partum.(A5)

Sikap kerja profesional global dalam menjalankan tugas dan profesional-nya menjadi wujud kecintaan terhadap profesi. Sikap profesionalisme dalam menjalankan tugas dan profesi Bidan harus senantiasa menjaga keseimbangan antara orientasi pragmatisme (memperoleh makna atas jasa layanan) dan idealisme (semangat, sikap, dan nilai-nilai atau ideal image) serta keparipurnaan profesi Bidan dalam memberikan jasa layanan kesehatan ditengah-tengah masyarakat Kab. Bogor. JURNAL BIDAN sebagai media komunikasi antar Bidan dan mitra Indonesia, bertujuan untuk : 1. Memberikan berbagai informasi sekaligus semakin meningkatkan kerjasama IBI dengan Dinas Kesehatan Kabupaten Bogor, BPPKB, Institusi Pendidikan, Rumah Sakit, dan S.O.P.D terkait. 2. Lebih mengenalkan organisasi IBI kepada masyarakat dan mitra kerja. Tiada gading yang tak retak, karena itu dengan segala kerendahan hati, kami menyampaikan permohonan maaf, apabila dalam penerbitan majalah ini, masih terdapat berbagai kekurangan. Tak lupa kami mohon saran dan masukan atas perbaikan dimasa yang akan datang.

SELAMAT & SUKSES ULANG TAHUN IBI KE 60

Wassalamu’alaikum Wr.Wb Cibinong, Juli 2011

Ketua IBI Cabang Kabupaten Bogor APOTIK JL. BARU & TANJAKAN PUSPA MENGUCAPKAN SELAMAT HUT IBI KE 60

Hj. Ade Jubaedah, S.SiT.M.Kes

APOTIK JL. BARU : Jl. Mayor Oking Jaya Atmaja No. 50 Citeureup - Bogor Telp. 021 -7046 7521 APOTIK TANJAKAN PUSPA : Jl. Raya Kamurang Citeureup - Bogor Telp. 021- 26857748

64

Majalah Intern Bidan/Edisi No. 01/VII/2011 05

Majalah Intern Bidan/Edisi No. 01/VII/2011


Jurnal Bidan Tokoh

Jurnal Bidan

Kabar Bidan

Bidan Asnelly Ketua PC IBI Kab. Bogor Periode : 1994 - 1999

Panas Setahun, dihapus Hujan Sehari Masih Jarang Awal kiprah Asnely di bidang kebidanan dimulai dari sekolah perawat di Bandung, yang diselesaikannya pada tahun 1976. Kemudian ia melanjutkan ke sekolah kebidanan, di Loius Pasteur Bandung , lulus awal april 1978. Pengalaman pertamanya berpraktek bidan saat ia menolong partus kakaknya sendiri. Kala itu sang kakak menjadi pasien pertamanya setelah dirinya lulus dari sekolah kebidanan. Kemudian, pada bulan Juni di tahun yang sama Asnely melamar ke Dinas Kesehatan Kabupaten Bogor, dan langsung ditempatkan di Puskesmas Cariu, Kab. Bogor. Selama 2,5 tahun Asnely mengabdi di sana, tepatnya dari tahun 1978 hingga awal tahun 1980. Lalu di tahun 1980 ia dipindah ke Leuwiliang sampai pensiun bulan Juli 2010. Jadi hampir 30 tahun dirinya mengabdi di Puskesmas Leuwiliang.

S

osok Bidan sepuh kelahiran Padang Panjang, tepatnya 8 Juni 1954, yang kini menjadi penasehat Cabang Ikatan Bidan Indonesia Kab. Bogor, Bunda Asnely, biasa ia di panggil oleh rekanrekan se-profesinya menuturkan kepada Jurnal Bidan, pengalaman dan suka-dukanya selama berkiprah sebagai bidan.. Ada pribahasa mengatakan, panas setahun dihapuskan oleh hujan sehari, artinya kebaikan kita selama bertahun-tahun akan hilang dalam sekejap jika kita melakukan satu kesalahan yang merugikan orang lain. Peribahasa ini yang diterapkan oleh Asnely dalam kiprahnya sebagai bidan. Profesi bidan, menurut wanita kelahiran Sumatera Barat ini, dituntut untuk menjaga sikap, menjaga perkataan dan menjaga tindakan. Jangan sampai menjadi sasaran kemarahan masyarakat. Seorang bidan, walau sudah menangani pasien 1000 orang, lalu membuat kesalahan penanganan terhadap satu orang, maka masyarakat hanya akan melihat pada kesalahan yang satu itu. Akibatnya, seorang bidan akan jelek, dan tak lagi dipercaya oleh masyarakat. Oleh karena itu, para bidan harus terus meningkatkan keterampilan, pengetahuan dan rasa tanggungjawab. Bidan harus lebih hati-hati ketika bertugas di lapangan atau dalam menangani persalinan.

06

Ranting Cibinong Tingkatkan Skill Anggota

U

ntuk membekali pengetahuan dan meningkatkan skill para bidan, Ikatan Bidan Indonesia Ranting Cibinong dalam pertemuan yang diadakan di RS. Sentra Medika, bersyukur mendapatkan tambahan ilmu pengetahuan pelatihan Resusitasi Neonatus, dengan narasumber dr. Fransisca Maiyer, SpA, yang juga Direktur Rumah Sakit Sentra Medika Cibinong pada Selasa (31/05) yang dihadiri kurang lebih 80 bidan dari Ranting Cibinong. Menurut Ketua Ranting Cibinong, bidan Hj. Nani K Aris, tujuan Pelatihan ini, agar para anggotanya dapat lebih terampil dalam menangani persalinan maupun bayi baru lahir. “Hal ini penting untuk menambah wawasan yang tidak hanya berdasarkan teori saja. Apalagi untuk bidan-bidan swasta, mereka perlu sekali mendapatkan pelatihan semacam ini,� ungkapnya. Kegiatan ini, akan ia agendakan dalam program kerja di Rantingnya. Dengan pelatihan semacam ini, diharapkan semakin meningkatkan profesionalisme para bidan dan menurunkan AKIAKB di wilayah Kab. Bogor khususnya. Nani Aris juga mengucapkan rasa terimakasihnya kepada seluruh rumah sakit swasta yang berada di wilayah Cibinong yang selalu siap bekerjasama membagikan ilmu pengetahuan kepada para bidan sewilayah Cibinong. “Kegiatan ini menjadi agenda rutin nantinya dengan materi yang berbeda,� tandasnya. (Agus)

Menurut Asnelly, saat ia bertugas di Cariu atau Leuwiliang bidan memang masih jarang. Profesi bidan belum menjadi pilihan orang ketika mereka hendak meneruskan studinya. Kondisi ini semakin terasa ketika tahun 1978 sekolah kebidanan ditiadakan. Keberadaan bidan bisa dihitung dengan jari. Satu kecamatan hanya ada satu bidan. Padahal setiap kecamatan bisa jadi memiliki belasan desa. Alhasil, satu bidan yang ada harus mampu menangani atau mem-backup beberapa desa sekaligus. Maka wajar pula bila saat itu bidan dituntut memiliki tanggung jawab yang lebih besar dan juga kesiapan waktu yang tak terbatas, karena kapanpun tenaga bidan dibutuhkan, sang bidan harus selalu siap dipanggil.

Hallo, Bidan

R

edaksi Jurnal Bidan. Menerima artikel, opini, kegiatan-kegiatan para Bidan, baik dalam bentuk berita maupun foto. Lengkapi dengan data diri dan keterangan yang lengkap. Kirim ke Sekretariat IBI Cabang Kab. Bogor, atau via email. Isi naskah/artikel harus edukatif dan tidak bertentangan dengan visi dan misi Ikatan Bidan Indonesia.

Karena setiap kecamatan hanya ada satu bidan, maka banyak persalinan ditangani oleh paraji, karena sering terjadi permasalahan pasien yang ditangani paraji, dirinya jadi sering dipanggil untuk mengatasi proses persalinan sang pasien. Mau siang, mau tengah malam, mau subuh. Pokoknya tak kenal waktu, dan bidan harus selalu stanby. Tapi, alhamdulillah, kondisi ini tak terus berlarut-larut. Setelah lebih kurang 10 tahun Asnely berkiprah (19801990), pada tahun 1990 sekolah kebidanan kembali dibuka. Kemudian juga ada program sekolah bidan masuk desa (PBB). Pemerintah mulai menyadari tingginya AKA-AKI, karena persalinan masih ditangani oleh paraji. Selain itu, di tahun yang sama Ikatan Bidan Indonesia terbentuk di Kotamadya, yang pada waktu itu masih bergabung dengan IBI kabupaten Bogor. Berjalan satu

Majalah Intern Bidan/Edisi No. 01/VII/2011

63

Majalah Intern Bidan/Edisi No. 01/VII/2011


Jurnal Bidan

Jurnal Bidan

Kabar Bidan

Tokoh

mampu menangani pasien bila terjadi kondisi yang gawat-darurat. Karena dulu banyak persalinan yang ditangani paraji maka tak jarang terjadi kasus-kasus yang membahayakan kondisi si pasien persalinan. Hampir 75% persalinan di tangani paraji. Oleh karena itu, bidan dituntut memiliki ketrampilan dan skill untuk menangani kegawat-daruratan dan juga memiliki etos kerja dan tanggung- jawab yang tinggi.

IBI Cileungsi Sosialisasikan Program

Sedang di jaman sekarang, di setiap kecamatan sudah banyak bidan. Jadi tugas satu orang bidan tidak terlalu berat. Bidan lulusan sekarang juga sudah pintar-pintar, tinggal diarahkan dengan pelatihan-pelatihan, pembinaan, seminar-seminar. Kalau dulu sekolah kebidanan sedikit, dan syarat kelulusan, nilai harus tinggi. Karena lulusan Bidan sedikit dan pasien lebih banyak, makanya bidan Bd. Asnely saat dilantik sebagai Pengurus Ranting Leuwiliang tahun 1991 harus benar-benar matang dan tahun, di awal 1991, IBI kabupaten Bogor memisahkan diri menguasai ilmu kebidanan. Jadi ketika lulus dan dari IBI kotamadya, dengan membentuk kepengurusan ditempatkan di lapangan harus sudah mampu menangani sendiri. Jumlah anggotanya juga mulai bertambah. kasus. Khususnya kasus-kasus yang mungkin Tercatat lebih kurang 200 bidan terdaftar menjadi anggota membahayakan nyawa sang pasien. IBI Kabupaten Bogor. Saat itu yang terpilih pertama kali sebagai ketua IBI Kab. Bogor adalah bidan Hadijah Membina Paraji Nanang, sedang Asnely dipercaya sebagai wakil ketua.Pada perkembangan berikutnya,IBI kabupaten Karena dulu banyak persalinan ditangani paraji, maka IBI mulai membentuk ranting-ranting disetiap wilayah, hingga bekerjasama dengan Dinas Kesehatan, melakukan terbentuk 6 ranting. Ranting Cibinong, Jonggol, Jasinga, pelatihan dan pembinaan kepada paraji, antara tahun 82Leuwiliang, Ciawi dan Parung. Programnya saat itu 85. Ketika dinas di Leuwiliang Asnely melakukan pelatihan mengadakan kegiatan pembinaan bidan di setiap ranting. dan pembinaan kepada para paraji se-Kecamatan Tujuannya untuk meningkatkan skill, Menambah Leuwiliang sebanyak 125 orang paraji. Pelatihan ini pengetahuan dan wawasan anggota. dilaksanakan setiap minggu. Para paraji dilatih

I

katan Bidan Ranting Cileungsi baru saja melaksanakan sosialisasi kepada seluruh anggotanya. Senin (13/6) bertempat di RM. Suharti, Cibubur. Saat ditemui Jurnal Bidan di sela-sela pertemuan yang membahas program-program kerja IBI Ranting. Sri Anggar Wedari Ketua Ranting IBI Cileungsi menjelaskan. Pertama, ia mendisiplinkan temanteman agar punya surat izin praktik. Kedua, temanteman juga harus berbesar hati dengan adanya

program Jampersal. Ketiga, bekerjasama dengan dokter Obgin untuk memberikan seminar atau pelatihan kepada bidan untuk meningkatkan pengetahuan. Khususnya bidan desa yang ada di pelosok-pelosok. “Kami berharap pasca sosialisasi ini menjadi langkah awal bagi IBI Ranting Cileungsi untuk selanjutnya dapat melaksanakan berbagai program yang telah kami tetapkan. Baik program ranting maupun program yang berasal dari cabang�. Terang Anggar. (Taofik)

Supplier Alat Kesehatan (Hospital Equipment) & Tas Bersalin

Mitra Bidan Mengucapkan Dirgahayu IBI Ke 60 0815 8494 8753 62

Majalah Intern Bidan/Edisi No. 01/VII/2011

bagaimana perawatan kehamilan, persalinan yang baik, kemudian juga tanda-tanda bahaya pada kehamilan dan persalinan, juga perawatan pada bayi.

Rangkap Jabatan Selain menjabat sebagai wakil Ketua IBI Cabang, Asnely juga dipercaya menjadi Ketua Ranting Leuwiliang. Dan seperti sudah garis tangannya, di tahun 1994, ia ditunjuk menjadi Ketua Cabang menggantikan Hadijah Nanang yang pindah ke Kuningan, Jawa Barat, dan tetap merangkap sebagai ketua ranting Leuwiliang. Rangkap jabatan ini diembannya selama tiga tahun antara tahun 1995 sampai tahun 1998. Tahun 1998, diadakan muscab untuk pemilihan ketua baru, terpilihlah bidan Sri Sutriani sebagai ketua cabang yang baru, danmenjabat hingga dua periode kepengurusan, tahun 1999-2009. Melihat kiprah bidan dulu dengan sekarang, Asnely memberikan pendapatnya, pada dasarnya semua bidan Itu baik dan punya rasa tanggungjawab. Cuma bedanya dahulu bidan jumlahnya sedikit, jadi secara skill bidan dituntut mampu menangani pasien melahirkan dan

Semua materi yang diberikan disesuaikan dengan pengetahuan paraji. Oleh karenanya, buku pedoman

Jajaran Pengurus Ranting Leuwiliang tahun 1991

07

Majalah Intern Bidan/Edisi No. 01/VII/2011


Jurnal Bidan

Jurnal Bidan

Tokoh

yang diberikan lebih banyak berisi gambar dibanding teks tulisan. Setelah satu tahun pelatihan dan pembinaan, ada ujian dari dinas kesehatan. Seksi Binkesmas datang dan menguji mereka. Para paraji yang dinyatakan lulus, dikasih kit dukun. Isinya lengkap, ada celemek, gunting tali pusat, bengkok, betadine, kain kassa, alkohol dan lain-lain. Mereka juga dikasih uang transport dan makan. Paraji yang ikut pelatihan juga diberi bahan baju putih. Mereka senang, karena kalau ikut pelatihan mereka merasa diakui dan kalau mereka tidak ikut pelatihan mereka dikatakan paraji poek. Mereka tidak mau disebut paraji poek. Jadi, kemitraan bidan, dalam hal ini melalui IBI, dengan paraji dari dulu sudah dilakukan. Sehingga ketika ada bidan desa bertugas, tinggal memperkenalkan saja kepada mereka. Dan, para paraji itu pun akhirnya bisa menerima kehadiran seorang bidan di lingkungan mereka. Menurut Asnely, �seorang bidan jangan bosan meningkatkan pengetahuan dan Bersama Hj. Dedeh saat menghadiri HUT IBI ke 60 di Kebun Raya Bogor. (Dok. Jurnal Bidan) kita tidak meningkatkan kemampuan pengetahuan, skill, wawasannya. Karena tantangan ke depan akan jauh lebih sikap dan tindakan kita, bisa-bisa kita malah cuma jadi berat, di mana masyarakat sekarang sudah paham dan penonton�. Pungkasnya. (Bagoes/AS) kritis tentang kesehatan. Apalagi di era globalisasi ini, pelayanan kesehatan dari negara luar bisa masuk. Kalau Bersama Hj. Dedeh, Bunda Hj. Sri, Dan Hj. Ade Jubaedah saat menghadiri HUT IBI ke 60 di Kebun Raya Bogor. (Dok. Jurnal Bidan)

Kabar Bidan

PC IBI Kab. Bogor Sosialisasikan Program Jampersal

B

erdasarkan kebijakan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia dengan di keluarkannya Surat Edaran No. TU/Menkes/E/391/II/2011. Mengenai Kebijakan Jampersal, Pemerintah menganggarkan dana Rp1,2 triliun untuk program Jaminan Persalinan (Jampersal) gratis di tahun 2011. Cukup dengan tanda pengenal (KTP) yang masih berlaku, masyarakat dari semua lapisan, dapat dilayani secara gratis di Rumah Sakit kelas III milik Pemerintah atau RS swasta, termasuk di Bidan mitra Dinas Kesehatan setempat. Jampersal merupakan program pemeriksaan kehamilan (Antenatal), persalinan dan pemeriksaan masa nifas bagi seluruh ibu hamil yang menggunakan fasilitas kesehatan yang pembiayaannya ditanggung oleh pemerintah, meskipun tidak masuk dalam Jamkesmas. Demikian menurut Ketua IBI Cabang Kab. Bogor, Ade Jubaedah kepada Jurnal Bidan, usai melantik Ketua IBI Ranting se-Kabupaten Bogor. Sabtu (09/04). Sasaran dari program ini, lanjut Ade Jubaedah, adalah semua ibu hamil .Sumber dananya berasal dari dana APBN yang dituangkan dalam satu DIPA bergabung dengan program Jamkesmas. Sedangkan anggaran Jamkesmas untuk tahun ini totalnya Rp6,3 triliun dan dari jumlah tersebut, Rp1,2 triliunnya dialokasikan untuk program Jampersal, urainya. Ia juga menjelaskan, alokasi dana persalinan ini nantinya dikirimkan ke Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota yang digabung dengan anggaran Jamkesmas dan sebagai penanggung jawabnya adalah Kepala Dinas Kesehatan Kab/Kota.

(ANC) sebanyak 4 kali per-kunjungan dengan tarif Rp. 40.000. Persalinan normal Rp.350.000 dan Pelayanan Nifas Post Natal Care (PNC) Rp.30.000 per-kunjugan. Untuk persalinan dengan penyulit di Rumah Sakit yang memiliki beragam diagnosa maka tarif yang digunakan berrdasarkan paket INA-DRG, ujarnya. Pemerintah lanjutnya, menetapkan sistem klaim (reimbursement). Proses klaim bagi klinik, Rumah Bersalin Swasta dan Polindes yakni, Klinik, Rumah bersalin Swasta dan Polindes harus memberikan pelayanan terlebih dahulu. Apabila sudah memberikan pelayanan persalinan, maka Klinik, RS bersalin Swasta atau Polindes tersebut bisa mengajukan klaim kepada Tempat Pelayanan Jamkesmas Dinkes Kab/Kota dengan melengkapi bukti-bukti pelayanan. Bukti pelayanan pertolongan persalinan harus ditandatangani pasien (ibu hamil, bersalin dan nifas). Kemudian Jamkesmas Dinkes Kab/Kota melakukan verifikasi. setelah mendapatkan persetujuan, barulah tagihan klaim diberikan. Untuk pelayanan di Rumah Sakit, mekanisme klaim yang dilakukan antara lain, besaran biaya persalinan dengan penyulit, emergensi dan komplikasi di RS berdasarkan tarif paket INA-DRG, Proses klaim pelayanan di RS dilakukan melalui mekanisme klaim Jamkesmas yang sudah berjalan selama ini, Persyaratan pengajuan klaim adalah surat rujukan dan identitas resmi ibu hamil. Pemeriksaan kehamilan tanpa penyulit persalinan normal dan PNC, juga dapat dilakukan di Puskesmas rawat inap, Bidan Desa - Polindes, Bidan Praktik, RS bersalin swasta dan Klinik Swasta. Ungkapnya menutup pembicaraan. (Agus)

Besaran tarif pelayanan dengan paket total Rp. 420.000,- diantaranya, untuk Pemeriksaan Kehamilan

08

Majalah Intern Bidan/Edisi No. 01/VII/2011

61

Majalah Intern Bidan/Edisi No. 01/VII/2011


Jurnal Bidan

Jurnal Bidan

Kabar Bidan

Tokoh

Ribuan Bidan Kepung Monas

R

ibuan anggota Organisasi Ikatan Bidan Indonesia , dari berbagai penjuru di tanah air, tumpah ruah memadati areal silang Monumen Nasional (Monas) di Jakarta, Sabtu (21/05). Kehadiran mereka bukan untuk melakukan demo atau protes atas kebijakan pemerintah terkait program Jampersal. Melainkan untuk memperingati HUT IBI ke60 yang di pusatkan di silang Monas.

Bidan Hj. Sri Sutriani Ketua PC IBI Kab. Bogor Periode : 1999 - 2009

Bidan, Pahlawan Kemanusiaan Sesungguhnya

M

Tak ketinggalan, anggota Ikatan Bidan Cabang Kabupaten Bogorpun turut hadir memeriahkan HUT tersebut. + 25 anggota IBI Kab. Bogor yang dipimpin langsung ketuanya, Hj. Ade Jubaedah. Ade menjelaskan, dengan turutnya mereka pada HUT IBI ini, diharapkan dapat saling mengenal dan berbagi informasi juga sharing program diantara sesama anggota ikatan Organisasi Bidan seIndonesia. (A5) . Berfoto ria usai mengikuti kegiatan gerak jalan di Silang Monas Jakarta, dalam rangka HUT IBI Ke 60.

(Dok. Jurnal Bidan)

emberi pelayanan yang terbaik pada masyarakat dan melihat apa yang dibutuhkan di lapangan, demikian prinsip Hj. Sri Sutriani dalam menjalankan profesinya sebagai bidan. Bunda demikian ia disapa menyadari tingkat pengetahuan masyarakat tentang peranan bidan masih sangat rendah. Oleh karena itu, dirinya tak pernah setengahsetengah dalam mengemban tugasnya. Berbagai pendekatan dan penyuluhan k e p a d a masyakarakat dilakukannya s e c a r a kontinyu. Tujuannya agar masyarakat tahu apa itu tugas bida n

dan tidak tabu lagi atau alergi terhadap sosok seorang bidan. Itu pengalaman pertama yang ditemuinya tatkala ia mengawali profesinya sebagai bidan.

Berangkat Dari Nol Saat itu, di tahun 1980, ia ditempatkan di sebuah Puskesmas nun jauh di pelosok desa, di daerah Rumpin, Bogor. Di pelosok desa itu pulalah dirinya diangkat menjadi PNS. Satu babak baru dimulai dalam kehidupan Bunda. Ia diberi tugas untuk membuka KIA. Semua berangkat dari nol, dan ketika hasilnya mulai terlihat, barulah didirikan Puskesmas pembantu sampai akhirnya menjadi Puskesmas UPF. Menangani 6 desa Tak kurang dari rentang 17 tahun Bunda mengabdikan dirinya di Rumpin. Berbagai pengalaman unik ia temui. Salah satunya adalah tak tersedianya tenaga bidan yang memadai. Satu kecamatan hanya ada 2 bidan. Alhasil, Bunda menangani 6 desa sekaligus. Karena wilayahnya yang luas, jarak ke rumah sakit pun jauh. Oleh sebab itu, masyarakat mengartikan puskesmas itu sebagai rumah sakit. Jadi kalau ada anggota masyarakat ingin ke puskesmas bilangnya mau ke rumah sakit Cicangkal. Memang standar sarana medis di Rumpin saat itu, khususnya kecamatan Cicangkal hanya sebatas Puskesmas. Itupun minim fasilitas. Termasuk kendaraan dinas yang hanya sebuah sepeda motor.

Namanya Mulai di Kenal Saat mengadakan penyuluhan kepada masyarakat perjalanan memakan waktu berjam-jam karena menempuh jalan yang berliku-liku dan terkadang melewati gunung. Tiba di tujuan masih harus menghadapi sikap masyakarat yang kala itu tak mau menerima kehadiran dirinya. Terkadang ada yang langsung meninggalkan lokasi penyuluhan. Tapi, menurut Bunda, “di situlah tantangannya. Dirinya harus bisa mengubah pola fikir masyarakat agar mereka mau menerima apa yang hendak disampaikan�. Ujarnya. Berkat kesabaran Bunda yang secara terus-menerus melakukan penyuluhan

60

Majalah Intern Bidan/Edisi No. 01/VII/2011

09

Majalah Intern Bidan/Edisi No. 01/VII/2011


Jurnal Bidan

Jurnal Bidan

Tokoh

dan penerangan tentang tugas bidan, pola fikir masyarakat pun terbuka. Lama-kelamaan mereka pun bisa menerima kehadiran bunda. Bahkan ada satu peristiwa yang mengharukan yang dialami Bunda kala itu. Suatu pagi dirinya dipanggil oleh seseorang yang ternyata tokoh masyarakat. Ketika itu istrinya hendak melahirkan. Karena tugas seorang bidan harus selalu on call bunda

pun segera berangkat memenuhi panggilan itu. Setiba di rumah pasien, ternyata sang suami tidak ada. Katanya sedang menjemput paraji (dukun beranak). Kondisi rumah tidak ada siapa-siapa. Bunda hanya mendengar suara orang merintih kesakitan, yang ternyata si pasien yang hendak melahirkan. Tanpa membuang waktu Bunda langsung menangani proses kelahiran sang ibu. Alhamdulillah, ibu dan bayinya akhirnya selamat, padahal kondisi si ibu hamil besar dan bayinya lahir kembar. Itulah pengalaman yang paling berkesan saat dirinya mengabdi di Rumpin. Sejak peristiwa itu, nama bidan Sri mulai diingat orang. Masyarakat pun mulai percaya pada bidan. Para ibu yang hendak melahirkan tak ragu lagi menghubungi Bunda untuk menolong proses persalinan mereka. Lamakelamaan namamya semakin dikenal masyarakat. Warga pun hafal jadwal kerja bunda di Puskesmas, yaitu hari Senin, Rabu, Kamis, dan Sabtu. Bunda memang tidak bisa setiap hari hadir di Puskesmas Cicangkal, karena bunda menangani 3 desa sekaligus, yakni desa Gobang, Rumpin dan Cicangkal, dengan masing-masing jarak yang lumayan jauh, sekitar 7 kilometer. Dengan kondisi yang demikian, bidan benar-benar kerja 24 jam, dan tidak ada asisten. Kalau sekarang bidan banyak. Hampir tiap desa sudah ada bidan. Pengabdian di Rumpin berakhir tahun 2004, karena bunda dipindah-tugaskan ke dinas.

10

Kabar Bidan

Pengurus IBI Walau kesibukannya sebagai bidan desa sangat luar biasa, ternyata bunda masih bisa meluangkan waktu untuk aktif di IBI. Tak tanggung-tanggung ia dipercaya menjadi Ketua IBI untuk lima tahun pertama. Keberadaan IBI memang sangat diperlukan, untuk memfasilitasi kebutuhan-kebutuhan bidan, terutama dalam hal registrasi dan mengurus izin praktek/surat tugas. Di bawah kepengurusannya, IBI beranggotakan 650 bidan dan memiliki 6 ranting. Sejak pertama dirinya menjadi pengurus, IBI telah menjalankan program kemitraan dengan Dinas Kesehatan. Untuk bidan juga diberikan pelatihan asuhan persalinan normal (APN) lalu penanganan bayi aspeksia, bayi baru lahir, kegawat darutan. Jadi tidak sekedar pendidikan bidan saja. Karena APN memang harus sertifikasi. Bidan harus ada standarisasi A P N . Tu j u a n n y a u n t r u k menekan angka kematian ibu dan bayi. Menurutnya, untuk bidan-bidan yang baru sangat penting bergabung ke wadah IBI. Dengan bergabung ke IBI, mereka mendapat pembinaan dari dinas kesehatan dan dari IBI per 2 bulan sekali. Dari situlah mereka dapat transfer knowledge/menyerap pengetahuan dan mendapat gambaran yang jelas tentang tugas dan tanggung jawab profesi mereka.

Peringkat ke 3 Tingkat Propinsi Sebagai pengurus IBI, bunda menceritakan, satu peristiwa yang menyenangkan baginya ketika IBI bekerjasama dengan TNI mengadakan safari kesehatan dalam rangka HUT bhayangkara. Di situ terlihat IBI kabupaten Bogor betul-betul dibutuhkan, karena waktu itu dokter-dokter memang masih sangat jarang. Pernah juga di tahun 2008, di kabupaten Bogor di pasang 10 tempat tidur dengan satu unit mobil dari propinsi, memasang 200 implan dengan tenaga 60 bidan, bekerjasama dengan BKKBN. Dimana kerjasama ini terus berlanjut hingga sekarang, dengan program pemberian alat kontrasepsi gratis kepada setiap bidan. Kegiatan kerjasama dan bakti sosial memang merupakan salah satu target IBI di bawah kepengurusan Bunda Sri Sutriani.

PemKab. Bogor Raih Penghargaan Manggala Karya Kencana

P

EMERINTAH Kabupaten Bogor memperoleh penghargaan Manggala Karya Kencana dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dalam peringatan Hari Keluarga ke 18 di Kota Baru Parahyangan, Padalarang, Bandung, Kamis (30/6). Bupati Bogor, Rachmat Yasin dinilai berhasil dan berjasa memajukan program KB di wilayah Kabupaten Bogor. Hal itu diungkapkan Kepala Badan Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Berencana (BPPKB) dr. Komar Hanifi kepada Jurnal Bogor, Kamis (30/6). "Keberhasilan itu salah satunya adalah mampu menambah tenaga PLKB dan Tenaga Penggerak Desa

sebanyak 40 orang tahun ini. SDM ini menjadi penting untuk menyuluh dan menggalang masyarakat dalam menyukseskan program KB," kata Komar. Komar menjelaskan, kesuksesan program KB sangat ditentukan oleh tenaga SDM. Banyaknya dana tak akan berpengaruh jika tidak memiliki tenaga SDM. Keberhasilan itu juga ditandai dengan kemampuan untuk meraih 73 persen peserta KB aktif tahun ini. Padahal target nasional setiap daerah diminta untuk meraih 65 persen peserta KB aktif. Dengan sebanyak 73 persen itulah, maka Kabupaten Bogor berhak mendapat penghargaan," jelasnya. (Herry Setiawan)

Baru 27 Persen Warga Kab. Bogr Ikut KB

S

edikitnya 42.034 atau sekitar 27 persen warga Kabupaten Bogor, tercatat sebagai peserta program keluarga berencana (KB). Jumlah t e r s e b u t berdasarkan evaluasi Badan Pemberdayaan Beberapa kegiatan IBI dalam rangka Safari KB. (Dok. JB) Perempuan dan Keluarga Berencana (BPPKB), antara Januari hingga Maret 2011.

dibantu tim penggerak desa," ujar Kasubid Program KB pada BPPKB, A Suhaemi, Rabu (11/5). la yakin, kenaikan peserta akan tercapai. Mengingat, banyaknya kegiatan bakti yang dilakukan Ikatan Bidan Indonesia (IBI) Kabupaten Bogor. Terlebih, dalam kegiatan tersebut, para bidan memberikan penyuluhan kepada masyarakat dt tingkat desa. "Anggaplah KB sebagai kebutuhan bersama agar laju pertumbuhan bisa stabil serta rneningkatkan kualitas di dalam keluarga. Minimal dalam hal kasih sayang dengan jumlah anak yang memadai, sesuai prinsip Program KB, Dua Anak Lebih baik," katanya. (Pkl3)

Sementara itu, untuk Mei, BPPKB menargetkan peserta KB bisa mencapai 45 persen dari target keseluruhan 155.683 peserta. "Kami sudah mengirim koordinator ke tiap kecamatan sebagai penggerak penyuluhan KB, Kegiatan IBI dalam rangka Safari KB. (Dok. JB)

Target atau sasaran lainnya, setiap bidan ditargetkan memasang implan sebanyak 20 selama setahun. Lalu dilaporkan dan direkap ke cabang kemudian di bawa ke Pengurus Daerah di Jawa Barat. Alhasil, dari serangkaian kegiatan tersebut, Bunda mendapatkan buahnya. Di tahun 2007-2008 IBI kab. Bogor meraih juara ke-3 tingkat propinsi.

Majalah Intern Bidan/Edisi No. 01/VII/2011

59

Majalah Intern Bidan/Edisi No. 01/VII/2011


Jurnal Bidan

Jurnal Bidan

Kabar Bidan

Tokoh

Nasehat Bunda Sri

IBI Gunung Putri Sosialisasikan Program

Kepada adik-adik bidan, bunda berpesan, untuk terus belajar dengan tekun, disiplin, meningkatkan pengetahuannya, memiliki kompetensi dan mental yang kuat.. Karena sekarang tehnologi sudah berkembang. Sekarang informasi lebih mudah. Ada Hp dan internet. Beda dengan jamannya dulu, untuk komunikasi saja sulitnya minta ampun. Situasi dan kondisinya serba terbatas.

Indahnya kebersamaan, mungkin itulah yang bisa digambarkan saat memeriahkan HUT IBI ke 60. (Dok. JB)

Memahami Kebutuhan Para Bidan

Menjadi pengurus IBI membuat Bunda paham dan tahu akan kebutuhan-kebutuhan bidan. Menurut Sri, di masa awal-awal dirinya menjadi bidan segala sesuatunya memang serba sulit, dari hal fasilitas hingga informasi sulit sekali diakses oleh bidan. Berbeda dengan kini. Mereka difasilitasi, mereka juga mendapatkan pelatihanpelatihan, seminar dan lain-lain. Di samping itu, masyarakat kini semakin paham akan kesehatan, sehingga bidan tidak terlalu bekerja keras memberi penyuluhan ke masyarakat seperti jamannya dulu. Bahkan bidan sekarang, tambah bunda, yang baru lulus sekolah bidan, inginnya bekerja dikota dan tidak mau mengenal daerah yang sulit.

Pengurus IBI Ranting Gunung Putri. (Dok. Jurnal Bidan)

U

sai dilantik oleh Ketua IBI Cabang Kab. Bogor, Pengurus IBI Ranting Gn. Putri langsung menggelar rapat perdana di RSIA Annisa, Kamis (19/5). Rapat perdana ini untuk menyosialisasikan kepengurusan IBI ranting Gn. Putri. Selain itu, dalam rapat ini juga disosialisasikan berbagai hal terkait program IBI ke depan. Ungkap Ketua IBI ranting Gn. Putri, Utin Suntinah. Menurutnya, rapat perdana yang dihadiri tak kurang dari 69 anggota IBI ranting ini, akan terus

mengagendakan rapat rutin agar IBI ranting Gn. Putri tetap solid. Katanya. Adapun program yang disosialisasikan, lanjutnya adalah program Jaminan persalinan (Jampersal), dan berbagai persyaratan untuk kepengurusan izin praktik.

Disinggung soal Program KB, bunda memaparkan bahwa ada perbedaan yang signifikan antara dulu dan sekarang. Dulu di tahun 80-an program dan pelayanan KB benarbenar disosialisasikan dan terus didengungkan, melalui tim medis keliling (TMK) yang memberi penyuluhan pada masyarakat tentang pentingnya KB. Sementara saat ini, program KB seperti hilang dan tak diacuhkan. Sedang untuk globalisasi, Sri berpendapat bahwa globalisasi merupakan tantangan yang harus dihadapi seorang bidan. Bidan harus handal, kuat, kompeten, dan profesional. Jangan mau kalah dengan bidan dari luar negeri, dan hanya bisa menjadi penonton. Untuk itu, kabupaten Bogor sudah mempersiapkan diri dengan cara terus meningkatkan pengetahuan melalui standar D3 dan selalu meng- update informasi dunia kebidanan. Tatkala ditanya kenapa Bunda memilih profesi bidan, menurutnya bidang medis memang tak jauh dari lingkungan keluarganya. Orangtuanya juga seorang tenaga medis. Jadi boleh dibilang mereka justru mengarahkan dirinya untuk berkecimpung di bidangnya yang sekarang. Selain itu, saudara-saudaranya pun banyak yang bekerja sebagai tenaga kesehatan. Hingga ketika lulus SD di Bogor tahun 1968, kemudian lepas SMP di Bogor tahun 70-an, Sri melnajutkan di SPKE, lalu SPK di Depkes Cianjur, D1 kebidanan di Cianjur, lalu D3 kebidanan di depkes Bogor 2001. Dirinya merupakan angkatan pertama program khusus untuk pegawai. (Agus)

“Kedepan, kami akan undang narasumber yang berkompeten untuk memberikan berbagai informasi yang berkaitan dengan IBI, baik dari Dinas Kesehatan, akademisi, dan kalangan profesional.� Pungkasnya. (Taofik)

DOMPET DANA UMAT DAARUL ULUUM BOGOR MENGUCAPKAN SELAMAT ATAS TERBITNYA MAJALAH JURNAL BIDAN

Bunda Sri, saat memberikan Pelatihan Pemasangan implan kepada para dokter yang nanti akan dikirim ke daerah (Dok. JB)

Jl. Durian Raya No. 219 Bantar Kemang Bogor-Timur Telp/Fax :( 0251) 8322 496

58

Majalah Intern Bidan/Edisi No. 01/VII/2011

11

Majalah Intern Bidan/Edisi No. 01/VII/2011


Jurnal Bidan

Jurnal Bidan

Tokoh

Kabar Bidan

Bidan Hj. Ade Jubaedah, S.SiT. M.Kes Ketua PC IBI Kab. Bogor Periode : 2009 - 2013

Profesi Bidan Perlu Payung Hukum S

eorang perawat pasien rumah sakit jiwa lalu menangani proses persalinan. Cerita ini bukan sekedar isapan jempol atau satu adegan di dalam film. Ini kisah pengalaman Ade Jubaedah, Ketua IBI (Ikatan Bidan Indonesia) Cabang Kabupaten Bogor. Karirnya sebagai bidan justru diawali dari pengabdiannya sebagai perawat di rumah sakit jiwa Jakarta. Profesi yang kemudian dilakoninya selama tiga tahun. Setahun berikutnya, Ade dipindah-tugas ke RS jiwa di Bogor, tugas yang dijalaninya selama satu tahun.

Awal Karier Sebagai Bidan Setelah pindah bekerja sebagai perawat di Puskesmas. Ade banyak berteman dengan bidan-bidan desa. Inilah titik awal Ade meniti karir sebagai bidan.Di mata Ade, profesi bidan merupakan profesi yang unik dan menantang. ”Bidan betul-betul dianggap serba bisa oleh masyarakat. Padahal bidan itu dibatasi dengan kode etik dan kewenangan. Tapi masyarakat tak mau tahu. Kadang bidan disuruh mengobati. Ada yang luka datang ke bidan. Padahal, menurut tupoksi dan kewenangan tidak demikian”. Ujarn ya membuka pembicaraan. Dar i fenomena unik itu, akhirnya Ade semakin tertan tang untuk mene k u n i profe si yang satu i n i . Pada 1997 Adepun

12

memutuskan masuk Program Pendidikan Bidan. Lulus sekolah bidan dirinya langsung mendapat tugas di UPT Puskesmas Kemang, lalu pindah ke UPT Gunung Sindur. Di situlah awal kariernya sebagai bidan. Menurutnya, setelah terjun sebagai bidan dirinya semakin memahami perbedaan antara bidan dan perawat. ”Ada hal yang menarik dari profesi bidan”. Ungkapnya. ”Yakni, di satu sisi Dituntut pengabdian yang besar kepada masyarakat. Itu yang paling utama. Tapi di sisi lain, terkadang bidan juga selalu disalahkan. Misalnya, tengah malam ada orang sakit dan mau berobat ke bidan, padahal itu bukan tugas bidan. Tapi masyarakat tak mau tahu. Ada pula orangtua yang anaknya habis imunisasi kemudian sang anak panas. Walau sebelumnya sudah dijelaskan bahwa itu hanya efek samping, mereka tetap tak mau tahu”. Itulah pengalaman-pengalaman unik yang menurut Ade menjadi tantangan tersendiri. Tugas seorang bidan memang berat. Lanjut Ade Hampir sebagian besar program di puskesmas sangat erat kaitannya dengan pekerjaan bidan. Seperti imunisasi, pelayanan kesehatan ibu, UKS, Gizi, lansia dan lain sebagainya. sepertinya tak memiliki waktu istirahat. Apalagi setelah dirinya ditugaskan sebagai pembina desa. Jam berapapun dibutuhkan tenaganya, ia harus siap on call. Tak ada kata ”tidak”. Walau tengah malam sekalipun. Itulah suka duka yang dialami oleh Ade Jubaedah ketika dirinya mulai berkarier sebagai bidan. Tanpa terasa empat belas tahun. Wanita kelahiran Bogor 17 Juni 1966 ini, telah mengabdikan dirinya sebagai bidan. Tahun 1999-2004, Ade duduk dalam kepengurusan IBI Ranting Parung, ia di percaya menjadi bendahara IBI Ranting. Tahun 2004-2010, oleh teman-temannya, ia diamanahkan untuk memimpin Ranting Parung. Sampai akhirnya di tahun ke-empat belas pengabdiannya, Ade mendapat amanah menjadi Ketua IBI cabang Kabupaten Bogor. Semula Ade menolak. Karena dirinya merasa belumlah pantas menduduki jabatan Ketua. Ia melihat masih banyak yang lebih senior dan memiliki jam terbang yang jauh lebih berpengalaman dari dirinya. Tapi ternyata, pendapat Ade yang demikian tak diamini oleh rekan-rekan sesama bidan. Mereka justru memberi dukungan agar Ade menjadi Ketua. Alhasil, tak ada pilihan lain, Ade pun menerima amanah itu.

Majalah Intern Bidan/Edisi No. 01/VII/2011

Ranting Jonggol Tingkatkan Kompetensi Bidan

U

ntuk meningkatkan profesionalisme tenaga bidan di Kecamatan Jonggol, Ikatan Bidan Indonesia (IBI) Ranting Jonggol, kemarin melaksanakan kegiatan seminar yang bertema Penanganan Pendarahan Post Partum. Kegiatan tersebut merupakan kerjasama antara IBI Ranting Jonggol dengan RS MH Thamrin Cileungsi. “Untuk meningkatkan kompetensi Bidan, kegiatan seminar semacam ini akan menjadi salahsatu agenda rutin kami. Karena, dari seminar ini, banya sekali ilmu dan pemahaman yang dapat diambil oleh peserta untuk menunjang profesionalismenya sebagai bidan,” ungkap Ketua IBI Ranting Jonggol, Bindan Endeung kepada Jurnal Bogor, kemarin. Menurutnya, banyak menfaat yang didapatkan oleh bidan yang menjadi peserta seminar tersebut, khusunya pemahaman mengenai penanganan pendaharah post partum. Pasalnya, pendarahan yang terjadi pada saat melahirkan merupakan hal yang harus diantisipasi dini oleh bidan. Sehingga meminimalisir angka kematian ibu saat melahirkan dikarenakan pendarahan.

“Dengan pemahaman tersebut paling tidak bidan yang menemui kasus pendarahan pada ibu yang melahirkan dapat segera melakukan penanganan dini sehingga tidak sampai mengakibatkan kematian,” ujarnya. Endeung mengatakan, selain menampilkan pembicara yang merupakan dokter spesialis yaitu dr. Zainul Ichwan, seminar tersebut juga dihadiri oleh sejumlah perawat dari RS Thamrin Cileungsi. Seminar tersebut, akan terus dilaksanakan secara intensif dan menjadi agenda rutin IBI Ranting Jonggol. “Pihak RS Thamrin juga sudah bersedia melakukan kerjasama apabila kegiatan ini menjadi kegiatan rutin. Tinggal nanti temanya saja yang kami kembangkan,” tukasnya. Endeung berharap, dengan kegiatan tersebut, anggota IBI yang ada di Kecamatan Jonggol dan sekitarnya, dapat menjadi bidan yang profesional dan dapat memberikan kontribusi terhadap upaya meminimalisir angka kematian ibu pada saat melahirkan. “Lebih jauh tentunya kami berharap, IBI dapat memberikan kontribusi bagi peningkatan pelayanan kesehatan di masyarakat,” pungkasnya.(Taofik Hidayat)

IBI Jonggol Beri Layanan KB Gratis

P

uluhan ibu-ibu usia produktif di wilayah Kecamatan Jonggol, mendapatkan pelayanan KB secara gratis di Puskesmas Jonggol. Pelayanan KB yang diselenggarakan Ikatan Bidan Indonesia (IBI) Ranting Jong­gol dalam rangka Bhakti IBI dalam menyongsong ulang tahunnya yang ke 60 ini ditujukan untuk menekan angka kelahiran. Ketua Ikatan Bidan Indonesia Ran­ting Jonggol Bidan Endeng yang ditemui di sela-sela kegiatan menyatakan, pelayanan KB secara gratis dilakukan setiap tahun dalam rangka Bhakti IBI menyongsong ulang ta­hun. Pelayanan KB gratis ini menurutnya, dilakukan bekerjasama dengan BPPKB Kabupaten Bogor. Penyelenggaraan pelayanan KB tersebut dilakukan masing-masing ranting IBI di setiap wilayah masingmasing. Ranting IBI Jonggol meliputi empat kecamatan, masing-masing Jonggol, Cariu, Sukamakmur dan Tanjungsari. Ranting IBI sendiri melaksanakan pelayanan KB gratis ini dengan menyentuh semua kecamatan. "Selain dengan BPPKB, pelaksanaan pelayanan KB secara gratis ini juga dilakukan bekerjasama de­ngan UPT Puskesmas. Seperti saat ini, pelaksanaan pelayanan KB gratis kita laksanakan bekerjasama dengan UPT Puskesmas Jonggol. Di keca­matan lain pun nantinya akan kita lakukan kerjasama serupa," terang Endeng dalam pelaksanaan pelaya­nan KB gratis, pekan kemarin.

57

Terkait dengan pelaksanaan pela­yanan KB gratis yang dilaksanakan kali ini, Endeng menyatakan berjalan dengan sukses. Hal ini terlihat dari antusias ibu-ibu untuk menjadi peserta dalam kegiatan ini. Namun, sebagaimana dipaparkan Endeng, sejumlah ibu-ibu yang datang ada yang urung mendapatkan pelaya­nan dikarenakan usianya yang sudah melewati masa produktif. "Pelayanan KB gratis yang kita berikan dalam kegiatan ini adalah pemasangan IUD dan Inplan. Total warga yang dilayani kali ini sebanyak 78 orang. Rinciannya, inplan sebanyak 74 orang dan IUD sebanyak 4 orang." terangnya. Di tempat yang sama, Bidan Savitri, salah seorang Pengurus Cabang IBI Kabupaten Bogor menyatakan, kegiatan serupa dilakukan di semua kecamatan yang ada di Kabupaten Bogor. Masing-masing pengurus ranting melaksanakan Bhakti IBI di wilayah masingmasing. "Kegiatan ini kita tujukan untuk menekan angka kelahiran," jelasnya. Selain menyelenggarakan pelaya­nan KB secara gratis, Bhakti IBI juga diwarnai sejumlah kegiatan lain. Di antaranya, donor darah dan pemeriksaan kehamilan. "Tapi kegiatan ini tidak dilaksanakan di semua keca­matan. Seperti donor darah kita lakukan di Pemkab Bogor," imbuhnya. (EKA/JAN)

Majalah Intern Bidan/Edisi No. 01/VII/2011


Jurnal Bidan

Jurnal Bidan

Kabar Bidan

Tokoh

Persalinan dan Pencegahan Komplikasi) faktor-faktor tersebut diatas dapat segera teratasi.

Bidan Sumbang Darah

Mengokohkan Kemitraan Itu sebabnya, ujar Ade. Untuk mengatasi permasalahan tersebut, Pengurus Cabang IBI kab. Bogor, menggalakkan program kelas ibu hamil. Dimana semua ibu hamil dikumpulkan, termasuk suami atau pendampingnya, ada paraji juga kaderkader di masyarakat. Kepada mereka, dijelaskan faktor-faktor resiko, kapan sebaiknya ibu hamil dirujuk dan dengan siapa dia harus ditolong. Itulah salah satu bentuk upaya bidan untuk membantu menurunkan angka kematian ibu dan bayi.

Salah satu anggota IBI sedang diperiksa golongan darahnya. (Dok.Jurnal Bidan)

P

uluhan bidan yang tergabung dalam wadah organisasi Ikatan Bidan Indonesia Kabupaten Bogor, terlihat nampak sabar menunggu giliran untuk diambil darahnya oleh petugas kesehatan dari Palang Merah Indonesia. Aksi donor darah yang di gelar di Gd. Tegar Beriman pada selasa (31/05), merupakan rangkaian kegiatan memperingati Hari Jadi Bogor Ke 529. Saat ditemui Jurnal Bidan di sela-sela kegiatan tersebut, Ketua IBI Cabang Kab. Bogor, Ade Jubaedah, mengatakan, “dengan adanya aksi donor darah ini, dapat menjadi budaya sekaligus gaya hidup bagi masyarakat, khususnya seluruh masyarakat Kabupaten Bogor. “Karena dengan menyumbangkan darah, berarti kita telah menyelamatkan banyak orang”. Imbuhnya. Ade pun mendukung sepenuhnya aksi tersebut dan siap untuk mengerahkan seluruh warga bidan yang tersebar di 14 ranting se-Kabupaten Bogor.

Bidan Perlu Payung Hukum

Acara yang di ikuti oleh ratusan pendonor ini berasal dari berbagai kalangan,baik dari PNS Kabupaten Bogor, TNI/Polri dan masyarakat umum. Dalam aksi donor darah tersebut, berhasil terkumpul kantong darah sebanyak 556 labu darah. Selain donor darah, PMI juga menganugerahkan 39 penghargaan kepada para pendonor rutin yang sudah mendonorkan darah 50, 75 hingga 100 kali dan diserahkan langsung oleh Bupati Bogor, Rahmat Yasin. "Saya mengajak para pejabat dan jajaran pegawai agar aktif mendonorkan darahnya. Siapa tahu, sakit yang diderita selama ini akibat perilaku hidup yang kurang sehat, dan sifat enggan mendonorkan darah," ujar orang Nomor Satu di Bumi "Tegar Beriman" ini. (A5)

Nampak sabar menunggu darahnya diambil. (Dok.Jurnal Bidan)

DINAS KESEHATAN KABUPATEN BOGOR MENGUCAPKAN DIRGAHAYU IBI KE 60 56

Majalah Intern Bidan/Edisi No. 01/VII/2011

Duduk di kepengurusan IBI membuat Ade semakin tertantang untuk mengangkat kinerja bidan, khususnya bidan-bidan yang bekerja di pedesaan. Ia ingin masyarakat mengerti tupoksi bidan tanpa menyalahi aturan yang ada. Salah-satunya adalah dengan melakukan kerjasama lintas sektor, mulai dari Tripika, Kapolsek, Danramil, Camat, Kepala Desa/Lurah, tokoh agama, dan juga tokoh masyarakat. Tujuannya menurut Ade, di saat tugas bidan memberikan pelayanan umum, lantaran tidak ada tenaga kesehatan selain bidan. Bidan yang memberikan pengobatan, tidak disalahkan secara hukum. “Dengan demikian, bidan terlindungi, masyarakat pun terlayani. Tanpa ada rasa kuatir akan muncul tuduhan malpraktik”. Pungkasnya. Ade juga ingin performa bidan meningkat, agar bidan tak dipandang sebelah mata. Penampilan bidan harus sesuai dengan karakteristik profesi yang disandangnya. Misalnya, kata Ade, saat merujuk dan mengantar pasien ke rumah sakit, bidan jangan berpenampilan seadanya. Bagi Ade, performa itu penting, karena ini yang akan meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap bidan. Ade juga ingin keberadaan bidan betul-betul dirasakan oleh masyarakat, ada kontribusinya untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat terutama masyarakat Kab. Bogor. ”Jangan hanya jumlah bidan terus bertambah, tapi angka kematian tidak pernah turun-turun. Inilah yang harus dianalisa, dimana letak permasalahan sebenarnya”. Imbuhnya.

Oleh karena itu, menurut Ade, HUT IBI tahun ini, pengurus tidak merancang acara yang sifatnya foyafoya. IBI mengadakan revitalisasi pelatihan kelas ibu hamil dengan Peserta 101 bidan desa, di 40 kecamatan se-kabupaten Bogor. Dengan melatih bidan desa, diharapkan bidan-bidan tersebut akan lebih mengaktifkan kembali kelas ibu sekaligus membentuk kelas ibu binaan IBI Cabang Kabupaten Bogor. Tujuannya untuk membantu pemerintah dalam upaya meningkatkan cakupan program kesehatan ibu. Yaitu cakupan linakes, K1, K4, bumil komplikasi, kunjungan neonatus dan kunjungan nifas lengkap. Dengan demikian, akan membantu menurunkan AKI-AKB. Selain kepada bidan, Ade juga mengadakan pelatihan bagi perawat bidan dan jurim (juru imunisasi) dalam rangka meningkatkan cakupan imunisasi. Pelatihan yang digelar selama 2 hari berkat kerjasama GAVI, SCO, dan IBI ini, lebih dari 140 orang hadir mengikuti pelatihan tersebut. intinya, ujar bu Ade, HUT ke 60 ini, serangkaian kegiatan yang bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan, dari bidan, perawat maupun jurim di gelar. Jurim sendiri lanjut Ade, diambil dari 70 bidan Puskesmas, baik bidan kordinator maupun bidan desa, di 20 kecamatan kabupaten Bogor yang cakupan imunisasinya rendah, dan 30 diambil dari perawat. Karena di Puskesmas tidak semuanya bidan Ade juga menjelaskan, HUT ini jauh dari kemewahan, ”makanya kami bermitra dengan BPPKB dalam Bersama dengan Pengurus IBI Daerah Jabar. (Dok. JB)

Menurut Ade, tidak ada bidan yang ingin pasiennya bermasalah, apalagi sampai meninggal dunia. Tapi terkadang, permasalahan selalu timbul dari hal-hal non teknis, yang disebut oleh Ade dengan 3 T (terlambat). Terlambat mengambil keputusan di tingkat keluarga, bermusyawarah terlalu lama, karena lemahnya keputusan ditingkat perempuan. Si ibu tidak pernah punya kesempatan untuk mengambil keputusannya sendiri, selalu harus menunggu dari suami atau dari ortu/mertua. Karena terlambat mengambil keputusan, otomatis si bidan terlambat membawa ke tempat pertolongan, karena terlambat membawa ke tempat pertolongan, otomatis terlambat juga mendapatkan pertolongan di tempat pelayanan. Itulah salah satu penyebab kematian pada ibu maupun pada bayi. Oleh karena itu, diadakannya P4K (Program Perencanaan

13

Majalah Intern Bidan/Edisi No. 01/VII/2011


Jurnal Bidan

Jurnal Bidan

Tokoh

Kabar Bidan

UPT Citeureup Peringati HUT Lansia

Peringkat Ke 2 se-Jawa Barat. Ibu dari dua orang anak yang juga bersuamikan seorang polisi ini, kepada Jurnal Bidan juga mengungkapkan rasa syukur dan terimakasihnya kepada anggota IBI se-Kabupaten Bogor, berkat dukungan dan partisipasi mereka, pada HUT nya yang ke 59 lalu di Kecamatan Tanjungsari-Jonggal, berhasil meraih Juara ke II Kategori Cabang dalam Pelayanan Keluaga Berencana (KB) Tingkat Propinsi Jawa Barat.

pelayanan KB dan Dinas Kesehatan dalam meningkatkan cakupan KIA dan imunisasi.Tujuannya adalah agar keberadaan IBI dapat membantu atau memberikan kontribusi bagi kegiatan dinas kesehatan. Dengan menguatkan atau mengokohkan kembali kemitraan dengan Dinas Kesehatan Kab. bogor, yang mana hampir 60 % anggota IBI adalah pegawai dinas kesehatan”. Pungkasnya. Sebagai Pengurus Cabang, Ade tidak mampu bekerja sendiri. Karenanya , ia pun tetap melibatkan para bidan senior, yang merupakan pengurus lama untuk duduk sebagai penasehat IBI. Karena dirinya masih membutuhkan mereka untuk memberikan dukungan, masukan dan nasehat untuk kemajuan IBI Kabupaten Bogor. agar roda organisasi tetap kokoh dan solid. Program Kerja Cabang

Waktu itu, tuturnya. Pada puncak HUT IBI ke 59, IBI Kab. Bogor menggelar bakti sosial dengan memberikan pelayanan secara gratis kepada masyarakat se-Kecamatan Tanjungsari. Hanya dalam waktu satu hari, lanjutnya. IBI Kab. Bogor berhasil melayani + 350 akseptor implan dan 16 akseptor IUD. Semua ini, tentu berkat dukungan dan kerjasama yang baik antara Dinas Kesehatan, BPPKB, dan PemKab Bogor yang kala itu dihadiri Bupati Bogor, Dandim, Kapolres, Tripika, Camat, Kades se- Kecamatan Tanjungsari, Danramil, dan Kapolsek. Ade pun menambahkan, agar kinerja dan keberadaan warga bidan, betul-betul dapat dirasakan oleh masyarakat. IBI Kab. Bogor juga menjalin kerjasama dengan teman-teman media, dengan menerbitkan media komunitas Jurnal Bidan sebagai media komunikasi antar bidan dan mitra IBI. ”Semoga dengan adanya media ini, betul-betul dapat menjadi jembatan informasi bagi masyarakat dan pemerintah setempat mengenai kegiatan-kegiatan bidan se-Kabupaten Bogor”. Harapnya (Agus/Bagoes). Pengurus IBI Cabang Kab. bogor (Dok.Al/ Jurnal Bidan)

Di tahun awal kepengurusannya, Ade melakukan pemekaran ranting dari semula 6 menjadi 14 ranting yang ada di 40 kecamatan Kab. Bogor. Mengingat jumlah bidan yang semakin meningkat, dari 485 menjadi 825 yang saat ini tercatat dan menjadi bidan yang aktif. Tujuan dimekarkannya ranting, dimaksudkan untuk mempermudah dan mengakomodir seluruh kegiatankegiatan yang ada di dalam maupun di luar organisasi. Selain itu pula agar mempermudah akses informasi. Mengingat wilayah Kab. Bogor yang cukup luas. Katanya. ”Insyallah, akhir tahun ini, Sekretariat IBI yang berlokasi di Perumahan kartika Pratama, Cibinong, sudah bisa ditempati.” Harapnya. ”Ini semua berkat dukungan dari anggota bidan se-Kabupaten Bogor”. Lanjutnya.

14

Majalah Intern Bidan/Edisi No. 01/VII/2011

U

ntuk memperingati hari ulang tahun Lansia yang ke 15, UPT Puskesmas Citeureup menggelar berbagai kegiatan yang melibatkan puluhan warga lanjut usia (Lansia) se-Kecamatan Citeureup. “Meski sudah lansia, namun mereka tetap semangat. Hal itu terbukti dengan sambutan yang meriah dan partisipasi aktif lansia se-Kecamatan Citeureup dalam berbagai perlombaan yang diadakan oleh panitia,” ungkap Kepala Bidang Pelayanan Kesehatan (Kabid. Yankes) UPT Puskesmas Citeureup, dr. Novi kepada Jurnal Bidan. Menurutnya, peringatan hari lansia selalu diperingati oleh UPT Puskesmas setiap tahunnya. Dan hal itu merupakan salahsatu program rutin UPT Puskesmas untuk menyosialisasikan cara hidup sehat di masyarakat.

“Kesehatan itu harus dijaga, dan berhasil atau tidaknya seseorang dalam menjaga kesehatan terlihat pada saat mereka sudah lansia,” jelasnya. Novi mengatakan, untuk peringatan lansia tahun ini, pihaknya mengambil tema Wujudkan Lansia Yang Sehat dan Produktif. Tema tersebut, lanjutnya menjadi gambaran bahwa usia bukan menjadi penghambat seseorang untuk berkarya dan meningkatkan produktivitas. “Dari berbagai kegiatan yang kami laksanakan terlihat bahwa lansia juga masih bisa membuktikan kemampuan dan potensinya. Dan itu tentunya menjadi pembelajaran bagi generasi muda agar tidak mau kalah dengan yang sudah tua dan masih memiliki semangat yang tinggi untuk berolahraga maupun berkativitas,” urainya. (TaofikHidayat)

KEPALA PUSKESMAS SE-KABUPATEN BOGOR MENGUCAPKAN SELAMAT HUT IBI KE 60 55

Majalah Intern Bidan/Edisi No. 01/VII/2011


Jurnal Bidan

Jurnal Bidan

Kabar Bidan

IBI Lantik Ketua Ranting se-Kabupaten Bogor

Selaput

Ikatan Bidan Indonesia :

60 Tahun Pengabdian Tanpa Batas

E

nam Puluh Tahun sudah perjalanan Ikatan Bidan Indonesia. Pengabdian dan pengorbanannya dalam misi kemanusiaan telah banyak menyelamatkan kaum perempuan di tanah air. Tanpa mengenal waktu dan lelah mereka melayani karena semata-mata tugas kemanusiaan dan sumpah bidan ketika mereka berani menjadikan profesi bidan sebagai pilihan hidupnya. Apa kata mereka tentang kiprah bidan di masa lalu, kini dan mendatang serta tantangannya ke depan? Tentu kita perlu mengucapkan puji syukur kepada Tuhan dan rasa terimakasih yang tak terhingga serta apresiasi yang tinggi kepada para bidan sepuh yang telah begitu besar jasanya dalam merumuskan dan membangun kebersamaan para bidan di seluruh tanah air dalam satu wadah Ikatan Bidan Indonesia atau yang lebih akrab disapa IBI. Karena pengabdian merekalah, organisasi profesi yang semuanya kaum perempuan hingga saat ini masih terus eksis berkibar. Tidak banyak organisasiorganisasi profesi lainnya yang mampu bertahan dalam membangun visi dan misinya.

K

eberhasilan dalam melakukan proses kaderisasi di tubuh organisasi Ikatan Bidan Indonesia (IBI) Kabupaten Bogor nampaknya membuahkan hasil. Terbukti dengan dilantiknya delapan ketua ranting baru hasil pemekaran dari ranting yang sudah ada sebelumnya. Pelantikan yang dilaksanakan di aula gedung Dinas Kesehatan Kab. Bogor pada hari sabtu (05/04), dihadiri oleh Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Bogor, dan undangan lainnya. Pada kesempatan tersebut, Ketua IBI Cabang Kab. Bogor menjelaskan bahwa jumlah anggota yang tergabung dalam wadah Ikatan Bidan Indonesia Kabupaten Bogor meningkat jumlahnya dari 850 menjadi 900 anggota. Keberhasilan ini juga didukung oleh sumber daya manusia yang semakin berkualitas. Oleh karena itu, agar proses kaderisasi dan pembinaan kepada seluruh anggota IBI dapat berjalan secara optimal, Ikatan Bidan Indonesia Cabang Kabupaten Bogor melakukan pemekaran wilayah (ranting), dari yang sebelumnya enam ranting yaitu, Ranting Cibinong, Ciawi, Parung, Jonggol, Jasinga, dan Leuwi Liang. Kini dimekarkan menjadi empat belas ranting.

54

Ranting-ranting hasil pemekaran ini merupakan pemekaran dari ranting sebelumnya. Menurut Ketua IBI Cabang Kab. Bogor, Ade Djubaedah. Langkah ini dilakukan karena jumlah anggota dimasing-masing ranting semakin bertambah. Hal ini tentu saja akan menjadi kendala nantinya dalam proses pembinaan dan koordinasi para anggota. Ungkapnya. Luasnya wilayah dan menyebarnya para anggota, lanjut Ade jubaedah, juga menjadi pertimbangan. Misalnya, anggota Yang berada di wilayah Cileungsi, harus berkoordinasi dengan Pengurus Ranting IBI wilayah Cibinong. Hal ini terkadang menjadi kendala. Oleh karena itu, IBI Cabang mengambil langkah strategis dengan pendekatan wilayah. Ujarnya. Diharapkan dengan pola pendekatan wilayah ini, koordinasi, komunikasi, dan pembinaan para anggota dapat lebih efektif. Ade Jubaedah juga berpesan kepada seluruh pengurus dan ketua ranting yang baru untuk secepatnya melakukan sosialisasi kepada seluruh anggota dan kader-kader yang berada di wilayahnya masingmasing. (Agus )

Majalah Intern Bidan/Edisi No. 01/VII/2011

Banyak organisasi-organisasi yang tumbang di tengah jalan karena mereka dalam mereformasi organisasinya cenderung mengesampingkan semangat dasar para pendirinya. IBI mampu bertahan karena semangat historisnya dan tidak pernah berkhianat terhadap kaum perempuan Indonesia. Bukti nyata, enam puluh tahun usia IBI hingga kini tetap tegak berdiri sebagai satu-satunya wadah organisasi profesi bidan di Indonesia yang menjadi kebanggaan dan kecintaan para anggotanya di seluruh tanah air. Dalam rangka memperingati HUT IBI ke 60, Jurnal

Bunda Sri : bidan yang baru lulus dari akademi kebidanan untuk tidak cepat-cepat membuka praktik. “Bekerjalah dulu di rumah sakit atau klinik kebidanan minimal dua tahun dan segera bergabung ke wadah organisasi bidan, karena dengan bergabung ke IBI, mereka akan mendapatkan pelatihan dan pembinaan�.

15

Bidan mewawancarai beberapa narasumber untuk saling berbagi pengalaman selama mengabdikan dirnya sebagai pelayan kesehatan di masyarakat. Semoga pengalaman mereka menjadi sumber pembelajaran dan inspirasi bagi para bidan muda ketika mereka nanti terjun di tengah-tengah masyarakat.

Bidan Hj. Sri Sutriani Bidan Hj. Sri Sutriani, biasa dipanggil Bunda Sri, menuturkan, profesi bidan sesungguhnya merupakan profesi yang sangat mulia. Menurut Bunda Sri, melihat kiprah bidan dulu dengan sekarang kondisinya tentu sangat jauh berbeda, misalnya saja dari segi pendidikan. “Dulu, untuk masuk sekolah kebidanan mereka harus masuk dulu ke sekolah perawat (SPK), setingkat SMP. Setelah lulus dari perawat, mereka masuk sekolah kebidanan, setingkat SMA. Jadi ketika itu seorang calon bidan sudah dibentuk dari awal dan mereka dituntut untuk mandiri. Karena mereka nantinya akan diterjunkan ke pelosok-pelosok. Ketika itu, jarang sekali mereka dibekali berbagai pelatihan atau seminar, tidak seperti sekarang ini. Dan ketika itu jumlah bidan di satu kecamatan bisa dihitung jari, dengan wilayah kerjanya cukup luas. Bidan juga dituntut untuk lebih banyak memberikan penyuluhan Keluarga Berencana (KB) dari satu desa ke desa lain yang jaraknya bisa puluhan kilometer. Tidak jarang, masyarakat menolak kehadiran bidan, disitulah tantangan seorang bidan�. Ujarnya. Minimnya fasilitas, juga membuat bidan kesulitan ketika harus menolong persalinan manakala ada pasien yang mengalami kegawat-daruratan, ditambah lagi jauhnya jarak tempuh ketika harus merujuk pasien ke rumah sakit. Itu sebabnya kit bidan selalu dibawa-bawa. Begitupun dacin (timbangan bayi yang digantung), selalu dibawa setiap pelayanan posyandu. Kini masanya telah berubah, sekarang banyak lembaga-lembaga pendidikan kebidanan berdiri, hampir disetiap kabupaten-kota, sekolah kebidanan mulai menjamur dengan dilengkapi berbagai fasilitas pendukungnya. Masyarakat juga semakin 'melek' kesehatan, mereka berbondong-bondong datang ke posyandu tanpa harus di datangi satu-persatu, mereka juga tidak perlu lagi dipaksa atau di dorong untuk ikut program KB. Dan hampir disetiap kecamatan kini sudah banyak bidan-bidan. Rumah sakit pemerintah dan

Majalah Intern Bidan/Edisi No. 01/VII/2011


Jurnal Bidan

Jurnal Bidan

Selaput

swasta juga sudah banyak berdiri, dan kendaraan pun tidak sulit untuk dijangkau. Bunda Sri berpesan kepada adik-adik bidan yang baru lulus dari akademi kebidanan, untuk senantiasa meningkatkan pengetahuan dan kemampuannya, disiplin, kompetensinya diterapkan, mentalnya disiapkan, tidak cengeng, karena tantangan kedepan, lanjut Bunda, jauh lebih berat. Di era globalisasi ini, tidak menutup kemungkinan ada bidan yang datang dari luar negeri dan bekerja di Indonesia. Kalau para bidan tidak meningkatkan pengetahuannya, ketrampilannya, ferformanya, dan juga tingkah-lakunya, maka jangan heran jika nanti bakal di tinggalkan pasiennya dan bisa-bisa cuma jadi penonton saja melihat kehebatan bidan dari luar. Bunda Sri juga menghimbau, agar bidan yang baru lulus dari akademi kebidanan untuk tidak cepat-cepat membuka praktik. “Bekerjalah dulu di rumah sakit atau klinik kebidanan minimal dua tahun dan segera bergabung ke wadah organisasi bidan, karena dengan bergabung ke IBI, mereka akan mendapatkan pelatihan d a n

Bunda Asnely, “sekarang pendidikan masyarakat semakin tinggi, lebih kritis, sehingga bidanbidan harus meningkatkan keterampilan, pengetahuannya, dan rasa tanggungjawab. Adikadik bidan juga harus lebih hatihati ketika bertugas di lapangan atau dalam menangani persalinan. pem binaan nasehatny

Itu sebabnya, bidan dituntut secara skill mampu menangani pasien melahirkan. Karena dulu banyak sekali terjadi kasus persalinan yang ditangani paraji, hampir 75 % persalinan di tangani paraji. Jadi ketika itu, bidan dituntut memiliki ketrampilan dan skillnya untuk menangani kegawat-daruratan, tanggungjawabnya juga harus lebih tinggi. Kalau sekarang, karena di setiap kecamatan sudah banyak bidan, jadi tidak terlalu berat. Adik-adik kita juga sudah pintar-pintar, jadi tinggal kita arahkan saja dengan mengikutsertakan pelatihan-pelatihan, pembinaan, dan seminar-seminar. Kalau dulu sekolah kebidanan sedikit, dan syarat kelulusan, nilainya harus tinggi. Makanya bidan harus benar-benar matang dan menguasai ilmu kebidanan karena cuma 1,5 tahun”. Paparnya. Melihat tantangan ke depan, menurut Bunda Asnely, “sekarang pendidikan masyarakat semakin tinggi, lebih kritis, sehingga bidan-bidan harus meningkatkan keterampilan, pengetahuannya, dan rasa tanggungjawab. Adik-adik bidan juga harus lebih hatihati ketika bertugas di lapangan atau dalam menangani persalinan. Jangan sampai kita menjadi sasaran kemarahan masyarakat. Walaupun kita sudah menangani pasien 1000 orang, tetapi ketika kita membuat kesalahan penanganan satu orang saja, pasti sikap masyarakat akan melihatnya lain. Oleh karena itu bidan dituntut untuk menjaga sikap, menjaga perkataan, menjaga tindakan”. Nasehatnya. “Apalagi di era globalisasi ini, pelayanan kesehatan dari negara luar bisa masuk. Kalau kita tidak meningkatkan kemampuan pengetahuan, skill, sikap dan tindakan kita. Bisa-bisa malah kita yang jadi penonton”. Pungkasnya.

masyarakat memiliki kesadaran bahwa memeriksakan kehamilan dan persalinan yang baik itu harus ke bidan bukan sama paraji. Tingkat kesadaran masyarakat terhadap kesehatan itu lanjutnya terutama di desa yang menjadi binaannya sendiri yaitu desa Sukamaju, desa Bunar, dan desa Mekarjaya. Resiko Seorang Bidan Menjadi bidan tidak seindah yang dibayangkan banyak oarang. Menurutnya ada beban psikologi yang dirasakan terutama ketika ada orang yang mau melakukan persalinan dan meminta bantuannya sementara paraji sudah tidak sanggup menanganinya. “Dalam posisi sulit baru orang minta pertolongan ke Bidan,” tukasnya. Yang lebih mengherankan lagi, ia seringkali mengdengar keluhan dari dari pasien “ Saya suka sholat, ngaji kenapa kok melahirkan susah banget hingga harus dibawa kerumah saki.” Keluhan ini terdengar seakan-akan bidan harus mampu mengatasi persalinan bagaimanapun beratnya. Bahkan yang menyedihkan ada anggapan ketika pasien di rujuk ke rumah sakit itu hanya bisabisanya (akal-akalan red.) Bidannya saja.

yang meninggal itu di luar kemampuan bidan,” tandasnya. Kesan Yang Tak Terlupakan Pengalaman yang tidak mungkin dilupakan Ibu Aas, saat dirinya tinggal di rumah dinas di Puskesmas Cigudeg. Menurutnya ketika itu ada peristiwa yang sangat mengkwatirkannya, dimana 600-an orang berbondongbondong datang ke rumahnya. Awalnya ia mengira mereka mau menyerang Puskesmas. Sementara sore hari itu di Puskesmas hanya ada keluarganya saja. Selidik punya selidik ternyata mereka datang ke rumah mau minta pertolongan karena mereka keracunan makanan yang dibagikan saat pengajian akbar. Merasa tidak mampu mengatasi akhirnya ia memutuskan untuk minta bantuan dokter dan teman-teman bidannya. “Alhamdulillah akhirnya segalanya bisa teratasi, walaupun bukan kapasitas saya untuk membantu orang keracunan,” kenagnya penuh syukur. Sebagai bidan senior, Ibu Aas berpesan kepada bidanbidan junior, untuk saling bekerja sama dan saling mengisi kelemahan masing-masing. “Bidan senior tidak harus berbangga diri dengan keseniorannya, karena tidak bisa dipungkiri mereka juga memiliki kelemahan terutama pada aspek teori-teori kesehatan yang menurutnya terus berkembang. Namun demikian bidanbidan junior harus banyak belajar kepada seniornya, karena mereka memiliki pengalaman yang mumpuni,” pungkasnya (NJ/Jose)

Ibu dari empat orang anak ini, menyadari bahwa bidan harus bertugas lebih baik dan menunjukan hasil kinerjanya ke masyarakat. Tapi lanjutnya tidak bisa dipungkiri kalau bidan juga manuisa biasa. Bidan menurutya hanya melaukan syariat atau usaha saja, sementara urusan hidup dan matinya seseorang itu ada di Tangan ALLAH SWT. “Sebaik apapun penanganan yang dilakukan, prinsipnya kita hanya berusaha sebaik mungkin. Jadi ketika dalam persalinan ada ibu atau anakPengurus Ranting Cigudeg, (Foto : Jurnal Bidan)

Bidan Hj.

” . a.

Bidan Asnelly Mantan wakil ketua Pengurus IBI Cabang Kab. Bogor periode pertama, dan pernah menjabat sebagai Ketua PC IBI tahun 1994-1999. di usianya yang 56 lebih ini, Bunda Asnelly, demikian di sapa. Masih tetap enerjik. Di kepengurusan sekarang, Bunda Asnelly tetap dipercaya untuk duduk sebagai penasehat IBI Cabang Kab. Bogor. Melihat pengalaman selama berkiprah sebagai bidan. Bunda Asnelly melihat, kiprah bidan dulu dengan sekarang, pada dasarnya semua bidan baik. Punya rasa tanggungjawab terhadap tugas dan fungsinya. Cuma perbedaannya, lanjut Asnely, “dulu jumlah bidan sangat minim. Satu Kecamatan, hanya ada satu bidan dengan jumlah desa yang cukup banyak dan tempatnya 16

saling berjauhan.

Profile

Ketua IBI Cabang ( Ade Jubaedah) : agar bidan yang ada sekarang, betul-betul keberadaannya bisa dirasakan oleh masyarakat dan kontribusinya untuk meningkatkan derajat kesehatan benar-benar terlihat. “Jadi jangan sampai, lulusan bidan semakin banyak, tetapi angka kematian ibu dan bayi tidak turun-turun”.

AdeJubaedah Menurut Ketua IBI Cabang Kab. Bogor, Ade Jubaedah. Profesi bidan, sesungguhnya merupakan profesi yang sangat mulia karena pengabdiannya kepada masyarakat. Terkadang masyarakat menganggap

Majalah Intern Bidan/Edisi No. 01/VII/2011

53

Majalah Intern Bidan/Edisi No. 01/VII/2011


Jurnal Bidan

Jurnal Bidan

Profile

Selaput

Dorongan Sang Paman Menghantarkanku Jadi Bidan

W

anita kelahiran Garut 23 Februari 1969 adalah anak pertama dari 2 bersaudara. Hanya Nasib yang mengantarkannya sekarang berprofesi jadi bidan. Pendidkan SD dan SMP diselesaikan di kota kelahirannya. Seperti sudah suratan nasib sang paman tiba-tiba mengajaknya hijrah ke kota Bogor saat ia lulus dari SMP tahun 1985. Kebetulan pamannya saat itu bekerja di Puslatlitbang Gizi di Kota Bogor. Di Kota hujan itulah sang paman memasukkkan dirinya ke SPK di DEPKES Bogor. “Jangankan menjadi bidan, sekolah di SPK saja mulanya ia tidak mengerti. Bahkan tidak terbersit di dalam pikirannya akan menjadi apa setelah lulus? Karena yang menjadi cita-citanya adalah menjadi guru. Asyiah- demikian nama wanita kelahiran kota dodol itutak mau mengecewakan sang paman. Walaupun bukan menjadi cita-citanya, tapi ia berusaha serius untuk belajar dan mulai memahami orientasi dari sekolah kejuruan tersebut. Tahun 1988 menjadi tahun yang bersejarah baginya, saat dirinya lulus dari SPK. Berkat dorongan yang kuat dari Pamannya, ia bisa melanjutkan pendidikan ke jenjang D1 Kebidanan Imanuel Bandung, dan lulus tahun 1993.

dirinya.sudah sangat hapal adat istiadat dan karakteristik masyarakatnya. Ia paham betul bagaimana dirinya harus menempatkan dan memposisikan diri sebagai seorang pendatang. Apalagi ia sadar kalau dirinya seorang bidan yang memang harus dekat dengan masyarakat, agar kehadirannya secara pribadi dan kedinasan dapat diterima dengan baik. Istri dari Mohammad Anas ini mengaku, banyak rintangan dan halangan saat mengawali perjalanan karienya. Walaupun secara jujur sekarangpun masih ada halangan dan rintangan, tapi menurutnya tidaklah seberat diawal-awal karir. Fakatnya sebagai wilayah Barat dari Kab.Bogor Cigudeg selain merupakan daerah pegunungan dan berbukit-bukit, jangkauan dari satu kampung ke kampung yang lain kadang masih sulit dijangkau. Belum lagi tingkat kesadaran masyarakatnya terhadap kesehatan masih minim. Kondisi inilah menurutnya menjadi tantangan tersendiri.

Sosok Yang Polos Dan Sederhana Asyiah yang akrab di panggil Bu Aas, adalah sosok bidan yang sederhana dan polos ketika berbicara. Ini juga yang dirasakan NJ Saputra Wartawan Jurnal Bidan saat menyambangi rumahnya di kampung Cicopong Cigudeg. Sosok yang bersahaja dan bersahabat ini mengungkapkan perasaan syukurnya dalam menjalani profesinya. Karena selain menadapat dukungan penuh dari suami tercinta yang juga profesinya masih di dunia kesehatan yakni bekerja di Puskesmas Cigudeg sebagai pemerhati kesehatan lingkungan, ia juga merasakan tugas bidan sebagai tugas yang mulia. Dari awal kariernya hingga kini, Bu Aas t e l a h mengabdikan ilmu, tenaga dan pikirannya di Cigudeg. Tidak heran jika 52

Majalah Intern Bidan/Edisi No. 01/VII/2011

bidan serba bisa, sehingga tidak jarang seorang bidan kerap disalahkan oleh masyarakat karena tidak mau melayani pasien yang datang berobat, padahal memang bukan wewenangnya menangani pasien tersebut, tetapi wewenang dokter. Tetapi terkadang pasien sulit untuk menerima penjelasan dari bidan. Itu sebabnya profesi seorang bidan itu berat. Sekecil apapun kesalahan bidan dalam mengambil tindakan pasti akan menjadi sorotan di masyarakat. Itu sebabnya seorang bidan harus senantiasa menjaga sikap dan performanya. Seorang bidan juga harus sabar dalam memberikan penjelasan kepada pasien, sehingga si pasien betulbetul mengerti tugas pokok dan fungsi (tupoksi) seorang bidan, dengan begitu, bidan terlindungi dan masyarakat pun terlayani tanpa adanya malpraktik. Ketua IBI Cabang juga berharap, agar bidan yang ada sekarang, betul-betul keberadaan bidan bisa dirasakan oleh masyarakat dan kontribusinya untuk meningkatkan derajat kesehatan benar-benar terlihat. “Jadi jangan sampai, lulusan bidan semakin banyak, tetapi angka kematian ibu dan bayi tidak turun-turun”. Ujarnya. Itulah sebabnya, lanjut Ade, bidan selalu dituntut untuk belajar dan terus belajar, agar pengetahuannya terus bertambah. “Jangan sampai karena pengetahuan kita yang minim karena enggan untuk terus belajar, pasien jadi kurang percaya sama kita, dan kita pun jadi kurang percaya diri dalam menangani pasien”. Tuturnya.

Bidan Hj. Ade Karnita : “Jangan melihat majunya seseorang, tetapi samakan dulu niat menjadi seorang bidan. Samakan dulu persepsinya, sesuaikanlah dengan Mars IBI, dengan Himne Bidan”.

Hal yang patut Bu Aas syukuri, berkat kegigihan dan kesabarannya kini kesdaran masyarakat sudah mulai tumbuh bahkan sudah mencapai angka 80%. Dalam penilannya kini

kualifield. Bidan yang benar-benar bisa diandalkan. “Kini, Banyak sekolah bidan terutama yang swasta, tidak kualifield dan tidak bisa diandalkan. Banyak saya lihat sekarang, bidan-bidan yang baru lulus, nyuntik aja enggak bisa, ini enggak bisa, itu enggak bisa. Buat apa sekolah bidan banyak-banyak kalo gak bisa tarara gawe?” Tanyanya. “Makanya, saya lebih setuju, lanjut Ade, kalau sekolah-sekolah bidan yang swasta ditutup, jangan terlalu banyak”. Saya ingat waktu itu, ketua IBI Jawa Barat, mengatakan. “Tunggulah waktu kehancuran bidan”. Karena sekarang banyak sekolah-sekolah kebidanan swasta yang serba asal.” Katanya. Ade Karnita meminta kepada adik-adik bidan yang baru lulus sekolah kebidanan, untuk tidak malu-malu bertanya dan banyak belajar dari para seniornya. “Jangan melihat majunya seseorang, tetapi samakan dulu niat menjadi seorang bidan. Samakan dulu persepsinya, sesuaikanlah dengan Mars IBI, dengan Himne Bidan. Marilah kita sebagai warga bidan, berprilaku yang mencerminkan kita sebagai seorang bidan.” Pesannya. (Jose/Agus/Eman)

MARS IBI Lagu : Anwar N. Mari Seluruh Warga Bidan Dikawasan Nusantara. Berhimpun Di Dalam Satu Wadah Ikatan Bidan Indonesia. Membela Dan setia Mengamalkan Ajaran Pancasila. Bekerja Dengan Tulus Ikhlas. Mengabdi Mengemban Amanat Bangsa. Ingatlah Sumpah Jabatan Kita. Kepada Tuhan Yang Kita Ikrarkan Bersama. Slalu Jadikan Pegangan. Janganlah Membuat Perbedaan. Terhadap Miskin Kaya. Tugas Sucimu Sbagai Penyelamat Seluruh Wanita Di Mayapada HYME IBI Pencipta : Bidan Kartini

Ade Karnita Seorang bidan harus bisa menjadi orang dewasa, dia harus bisa ngemong, membuat orang lain merasa aman dan nyaman ketika ditangani oleh bidan. Ia menilai, secara kualitas bidan dahulu dengan yang ada sekarang sungguh jauh berbeda. “Saya sangat menyayangkan, sekolah kesehatan yang dari SMP di tutup”. Ungkapnya. Kalau dulu, anak-anak yang baru lulus SMP, bisa melanjutkan ke sekolah perawat (SPK), setelah lulus SPK bisa melanjutkan ke sekolah kebidanan. Itu artinya mental mereka sudah dibentuk dan dipersiapkan sebagai calon perawat atau calon bidan. Jadi pendidikan yang mereka dapatkan berjenjang. Sampai ketika jadi bidan, betul-betul seorang bidan yang

17

Setiap Waktu Ku Berjuang Untuk Kemanusiaan. Itulah semua tugasku dan Tak Mengenal Waktu. Berat serasa Ringan. Tugas Seorang Bidan. Ku Tak Ingin Tanda Jasa. Semua Hanya Ikhlas Adanya. Ikatan Bidan Indonesia. Berazaskan Pancasila. Seluruh Jiwa dan Ragaku. Demi Bahagia Seluruh Bangsaku.

Informasi Berlangganan Hubungi : (021) 8792 8268/0812 1168 7616 Atau Email : jurnal_bidan@yahoo.co.id

Majalah Intern Bidan/Edisi No. 01/VII/2011


Jurnal Bidan

Jurnal Bidan

Selaput

Profile

Setelah di palpasi (pemeriksaan secara manual) teraba dua bagian kepala di bawah. Saat itu ia hanya berpikir bahwa bayi tersebut kembar biasa, dan ia sudah menyarankan kepada pasien untuk dirujuk ke rumah sakit. “

Khusnul - Khotimah, Si Kembar Siam

Hj. Nani Aris. K

Bidan Hj. Nani Aris K

K

husnul Khotimah. Itulah do'a yang dipanjatkan oleh setiap orang agar ia memperoleh sebuah keadaan yang baik dari akhir kehidupannya. Tapi kali ini Khusnul Khotimah merupakan sebuah nama yang diberikan kepada bayi kembar siam berjenis kelamin perempuan. Kendati hanya satu bulan kesempatan untuk bayi kembar siam tersebut menghirup nafas kehidupan, namun ada sebuah keajaiban dibalik prosesi kelahirannya yang bisa menjadi pelajaran berharga bagi setiap insan yang 18

bertaqwa. Hingar bingar serta kerumunan para tetangga berbaur dengan para wartawan dan awak media baik elektronik maupun cetak seolah mejadi saksi sebuah keajaiban dari kekuasaan Allah atas kelahiran seorang anak yang tidak lazim. Bayi kembar siam yang sejatinya hanya bisa ditangani melalui operasi cesar oleh tangantangan terampil dokter, ternyata di tangan Bidan Nani, seolah Allah ingin membuktikan kebesaran-Nya.

Majalah Intern Bidan/Edisi No. 01/VII/2011

Hayang boga duit pak. Makanya bulu mata mereka semua udah duit. Karena apa? Begitu mereka praktik di sini, mereka liat, saya nolong lahir segala macam, begitu pas mau pulang, “bu, bayar berapa pasiennya?” ya udah, minta aja lima ratus, “ibu kan pake akte”? ya... emang kenapa? “di Depok bu ya, katanya, udah sejuta sekian. Yah itu kan di depok, jangan samakan dengan saya. Akhirnya saya marah. “kamu tuh bener ya... sekolah lulus aja belum, tapi bulu mata kamu udah penuh dengan duit. Posisi saya kan di daerah. Saya bisa aja minta satu juta tiga ratus, bisa saya bilang, tapi apakah itu tujuan saya? Tidak... saya bilang. Kamu sekolah lulus aja encan, bulu mata kamu tuh isinya udah duit melulu. Hal-hal yang seperti itulah. Jadi dia kiprahnya udah uang. Kalau sudah begini, mau di bawa kemana profesi bidan? Dia tidak berfikir, bagaimana rasa sosialnya, yang penting dapat duit nolong lahir. Kalo seperti itu kan udah kayak tukang jagal. Sudah tidak ada lagi rasa kita sama-sama sebagai sesama perempuan yang membutuhkan pertolongan, apalagi saya yang tinggal di daerah. Perempuan di daerah beda lho dengan perempuan di kota, dia tidak bisa memutuskan keinginan dan pilihan dia sendiri, semua tergantung suami, tergantung mertua. Bayangkan dulu, pernah ada yang mau lahir disini, isterinya benar-benar mau lahir dengan bidan, tapi karena tidak di izinkan suami. Sampai saya bilang, “kamu datang kesaya, bila perlu nteu mayar”, saya ga tega. Dia yang memang mau di tolong sama tenaga kesehatan, tapi suaminya bilang ah... euwuh turunan, tiasana kajurug mabeurang.....(dukun), udah saya bilang ga usah bayar. Tapi dia bilang, “saya teh malu bu, tong punya uang. Cuma ada tiga puluh ribu. Ga papa tiga puluh ribu, kalo kamu ikhlas, berkah buat saya”. Kata Ade. Begitulah cerminan perempuan yang ada di kampung. Beda dengan perempuan yang ada di kota. Makanya saya tetap terus berjuang semampu saya untuk merubah derajat kesehatan masyarakat disini. Akhirnya saya berjuang semampu saya, bapak bisa bayangin saya sendiri berjuang, sedangkan aparatnya sendiri tidak menunjang, apakah saya tidak cape? Saya bukan orang gila kali, apalagi sekarang usia sudah tua, kalo dulu saya masih semangat. Aparat desanya apa yang dilakukan? Diem aja. Jadi sekarang ya udahlah, saya kasih penyuluhan kepada mereka, saya kasih pelayanan kepada mereka yang membutuhkan tapi semampu saya. Kalo saya sudah tidak mampu ya sudah. Karena saya termasuk orang yang tegar, tegas, sama siapa aja saya berani kalau itu memang tidak sesuai dengan hati nurani.

51

Harapan untuk bidan yang baru lulus, Bidan-bidan muda, mereka harus mau belajar dari bidanbidan senior, jadi jangan liat majunya seseorang, tapi samakan dulu niat sebagai bidan, samakan dulu persepsinya, sesuaikanlah dengan mars bidan, dengan himne bidan. Bahwa bidan itu seharusnya seperti apa? Jangan duit-duit bae yang di tempo. Jangan hanya melihat uang, karena uang bukan jaminan untuk mencapai kepuasan. Apalah artinya banyak uang tapi tidak berkah. Harapannya untuk IBI. Ibi satu-satunya organisasi wanita yang cukup hebat dan diakui diseluruh dunia dan bidan benar-benar dihormati, karena kita organisasi yang benar-benar eksis dan banyak kiprahnya yang sudah dilakukan untuk kemanusiaan. Dan dengan keharuman namanya. Marilah kita sebagai warga bidan, berprilaku yang harus di contoh. Karena ada juga yang profesinya sebagai bidan tapi prilakunya tidak mencerminkan sebagai seorang bidan. Untuk program ranting ciawi saya ingin merangkul sesama bidan, untuk kemajuan ranting ciawi ke depan. kedua, mengadakan seminar atau pelatihan-pelatihan untuk menambah wawasan ilmu pengetahuan, karena ilmu pengetahuan terus berkembang, apalagi ilmu kedokteran tidak pernah berhenti. Sebab ilmu kedokteran tidak ada yang pasti. (AS)

Majalah Intern Bidan/Edisi No. 01/VII/2011


Jurnal Bidan

Jurnal Bidan

Profile

bagaimana mereka mau lahir dulu di ketenaga kesehatan”. Serunya. Bagi Ade, ketika orang sudah mau memeriksakan kehamilannya ke petugas kesehatan, kemudian melahirkan juga ditangani oleh petugas kesehatan, maka soal biaya tidak usah dipikirkan. “Punya duit ga punya duit, pokoknya datang ajah ke saya”. Makanya temanteman saya masih aneh. “Lu masih mau di bayar 250 ribu/300 ribu. gila lu ya” tutur Ade menirukan protes teman-temannya. Tapi Ade punya alasan sendiri tentang hal itu. Walaupun ia mengaku butuh uang, tapi dirinya tidak kuasa untuk menolak pasien yang tidak punya uang.

Datang Jauh-jauh, Malah Dikasih Pintu Pengalaman yang paling berkesan saat Ade memulai tugasnya sebagai Bidan Desa, ketika masyarakat menolak kedatangannya. Tidak saja mereka menolak, bahkan kedatangannya disambut dengan menutup pintu. Menyikapi itu Ade hanya mampu bersabar dan mengurut dada, walaupun di dalam hatinya ada perasaan kesal. Ia terkadang tidak habis pikir, jauh-jauh datang untuk memberikan penyuluhan malah dikasih pintu. “Tapi itulah suka dukanya jadi bidan desa,” tuturnya.

Jangan Ambil Resiko Menurut Ade, seorang bidan dituntut agar ilmunya terus berkembang, terus di asah. Otak dan tangan harus seimbang. Sehingga begitu kita menemukan kondisi pasien seperti ini, maka ia sudah bisa memprediksi bakal seperti ini, atau seperti itu. Karena menurutnya persalinan itu tidak bisa diprediksi. Seorang bidan lanjutnya harus memegang prinsip semua persalinan pasti mengandung resiko. Dengan anggapan seperti itu ia yakin peristiwa apapun yang terjadi, kita sudah siap dengan segala resiko. “Jadi logika kita harus jalan. Kalo begini, pasti begitu. Lambat dalam mengambil keputusan, nyawa urusannya. Jadi seandainya kita bisa menolong dengan persalinan yang berat, sulit, tapi kita mampu. Subhanallah.. “tangan inilah yang di pilih oleh Allah untuk menolong. Jadi kita jangan takabur. Kita jangan sok, ah.. gue bisa nih. Kita harus mengukur kemampaun diri kita. Kalau dalam persalinan, kita tidak mampu, jangan cobacoba. Tapi kalau kita yakin dan mampu, lakukanlah. Tapi semudah apapun persalinan, jangan coba-coba, kalau kita tidak yakin, pasti ada resiko,” tandasnya berapi-api.

Selaput

lulusan yang ada sekarang, ia melihat, bidan lulusan dulu, merupakan bidan yang awalnya sudah dibentuk mulai dari perawat, lalu berlanjut ke kebidanan. Ini artinya, semenjak dini mereka sudah terkondisikan dalam bidang dan dunia kesehatan. Sementara bidan lulusan hari ini adalah mereka-mereka yang lulusan dari SMA yang kemudian masuk akademi kebidanan. Maka tidak heran, lulusan kebidanan yang ada sekarang, tidak bisa apaapa.

lahir dengan spontan. Ia menuturkan, saat itu tanpa diduga si pasien hanya mengejan 3 kali dan kepala bayi pertama lahir. Tapi ketika akan mengeluarkan bahu bayi tersebut, dirinya merasa ada tahanan dari dalam ketika akan mengeluarkan bahu dan malah ada bulatan besar diatas Simpisis. “wah saya panik. Jangan-jangan akan terjadi ruptur uteri nih!” gumamnya sangsi. Lalu ia merabanya ternyata bulatan itu adalah kepala. “Saya minta asisten untuk menekan di atas simpisis ke samping dan saya menarik kepala untuk melahirkan bahu sambil membaca doa, membaca syahadat, sholawat Nabi dan membaca Lailaha illa Anta subhanaka ini kuntum minaz zalimin. Subhanallah Walhamdulillah wala ilaha Ilallah wallahuakbar. Kemudian saya tarik keluar bahu atas dan bahu bawah. Begitu saya akan mengeluarkan dada dan perut, saya kaget bukan kepalang seakan tak percaya karena yang keluar adalah kepala yang kedua dibarengi dengan bagian dada, perut dan kaki. Subhanallah ....kembar siam dempet di bagian perut ke bawah,” tuturnya penuh syukur.

Bagi Ade, seorang bidan bukan sekedar mengerti ilmu kebidanan, tapi lebih jauh dari itu seorang bidan itu harus bisa ngemong, seorang bidan harus bisa jadi orang dewasa, dan bisa membuat orang lain merasa aman. Karena baginya kalau bidan mencla-mencle, ha-ha, hi-hi, tidak bisa ngemong, dipastikan ibu bersalin juga tidak merasa nyaman dan aman. Dengan melihat banyak bermunculannya sekolahsekolah bidan yang tidak memperhatikan aspek kualitas, Ade jadi teringat pernyataan ketua IBI Jawa Barat yang mengatakan “Tunggulah waktu kehancuran bidan.” Katanya. Tempat saya sering di pakai buat magang para siswa bidan dari berbagai Akademi Kebidanan, Bayangkan pak, yang praktik magang waktu itu kebanyakan ibu-ibu yang usianya di atas 30-an. Ketika saya tanya alasan mereka masuk kebidanan, mereka jawab, kan kalo jadi bidan banyak duit bu. Coba pikir pak? “Mau dibawa kemana sekolah bidan pak? bapak bisa bayangkan. Sedih saya pak. Sebagai seorang bidan yang sudah benar-benar berjuang dari bawah, ngeliat yang lulusan SMA yang sudah jadi ibu-ibu sekian tahun, masuk sekolah kebidanan swasta, berarti kan tujuan dia masuk sekolah kebidanan tujuannya lebih kepada materi, saya juga tidak menafikan kalau saya juga butuh uang, siapa sih orang yang ga butuh uang? Tapi mereka-mereka yang sudah sekian tahun jadi ibu rumah tangga, tiba-tiba sekolah di kebidanan apa tujuan mereka kalo bukan karena uang?

Bidan Dulu Dan Kini

Lahir Normal & Keluarga Tidak Mampu Perasaan haru penuh syukur menyelimuti jiwa Bidan Nani. Dengan tubuh gemetar sambil membaca istigfar berkali-kali. Ia bisa mendengarkan tangisan spontan sang bayi dengan berat badan ± 5700 gram. Keajaiban demi keajaiban mengikuti prosesi kelahiran sang bayi dengan dua jantung, dua paru-paru, satu lambung, satu ginjal, empat tangan, tiga kaki dan satu anus. Betapa tidak dengan berat bayi 5700 gram, ia tidak Datang Tanpa Identitas diri Cerita itu berawal pada tahun 2008, tepatnya, tanggal 06 September. Saat bidan Nani kedatangan seorang pasien tanpa identitas diri. Bidan Nani menuturkan, saat itu pasien datang bukan untuk memeriksakan kehamilan, tapi untuk meminta tolong persalinan. Bagi seorang bidan pantang untuk menolak pasien apalagi dalam kondisi yang sudah lengkap pembukaannya. Ia memeriksa si pasien, dan ternyata setelah di palpasi (pemeriksaan secara manual) teraba dua bagian kepala di bawah. Saat itu ia hanya berpikir bahwa bayi tersebut kembar biasa, dan ia sudah menyarankan kepada pasien untuk dirujuk ke rumah sakit. Ibarat Buah Simalakama Seperti sudah digariskan oleh Allah, kalau bayi itu harus lahir di tangan bidan Nani, baru saja keluarga berembuk, tiba-tiba ketuban pasien sudah pecah. Apalagi setelah di periksa dalam, pembukaan sudah lengkap dan kepala sudah tampak di vulva (jalan lahir). Bidan Nani saat itu dihadapkan kepada dua pilihan yang sulit, ibarat makan buah simalakama. Menurutnya jika dirujuk takut kebrojol di jalan, tapi jika ditolong di rumah, ia takut setelah persalinanya akan terjadi pendarahan atau bayi keduanya tidak bisa lahir spontan. Terus Berdoa

Saat ditanya tentang perbedaan bidan dulu dan bidan sekarang, Ade melihatnya sangat jauh berbeda. Tanpa bermaksud merendahkan kualitas bidan

50

Tidak ada yang tidak mungkin bagi Allah. Jika Allah sudah menghendaki sesuatu maka Allah akan berkata jadi, maka jadilah ia. Dengan kekuasaan-Nya bayi itu

Majalah Intern Bidan/Edisi No. 01/VII/2011

19

Adiwirya Aristiara, Putra Sulung Bd Nani yang juga calon dokter ini, Mengangkat Khusnul dan Khotimah sebelum dirujuk ke RSCM . (Dok. Jurnal Bidan)

Majalah Intern Bidan/Edisi No. 01/VII/2011


Jurnal Bidan

Jurnal Bidan

Selaput

melihat vagina sang pasien ada ruptur sama sekali. “Saya benar-benar bersyukur, karena selain bayi kembar siam itu bisa lahir spontan, si pasien juga berasal dari keluarga tidak mampu. Atas permintaan Kepala Dinas Kesehatan Kab. Bogor, bayi itu dirujuk ke RSCM dengan menggunakan jamkesmas untuk mendapatkan pelayanan optimal.

Bidan Hj. Ade Karnita Ketua Ranting Ciawi

Semua Persalinan Mengandung Resiko

Hanya Bertahan Satu Bulan Sebelumnya si pasien sudah merasa kandungannya memang ada kelainan, karena tidak mampu, pasien tidak berani memeriksakan kandungannya. Setelah dilakukan berbagai pemeriksaan, pihak RSCM mendiagnosa bahwa bayi kembar siam itu mengalami kelainan. Khusnul ada kelainan pada jantung sedangkan Khotimah pertumbuhan otaknya yang tidak sempurna serta kelainan pada ekstremitas bagian bawah, sehingga tidak memungkinkan untuk dipisahkan. Akhirnya bayi kembar siam tersebut di opname dengan harapan bisa bertahan hidup lama, namun manusia hanya berencana dan pada akhirnya Allah pula yang berkehendak. Bayi kembar siam itu hanya bisa bertahan hidup sampai satu bulan. “ itu

Profile

B

merupakan pengalaman yang pertama dan tak akan pernah saya lupa.” Kenangnya. . (Jose/ As)

idan Hj. Ade Karnita yang lahir di Bogor 4 April 1960 ini, menyelesaikan Pendidikan SD dan SMP nya di kota asal kelahirannya. Setelah lulus dari SD tahun '72, dan SMP tahun '75. Ade Karnita kemudian melanjutkan pendidikan ke Sekolah Pengatur Rawat (SPRA), dan lulus tahun '79. setelah lulus, ia bekerja ikatan dinas selama 3 tahun di Rumah Sakit PMI Bogor.

Cape Dengan Rutinitas Malam Ketika mendengar kabar adanya program bidan desa, Ade Karnita mencoba mendaftarkan diri untuk masuk sekolah tersebut. Salah satu alasannya kenapa ia ingin masuk sekolah kebidanan yang dibiayai pemerintah ini, karena ia merasa cape dan bosan harus menjalani rutinitas dinas malam di RS PMI, sementara usianya semakin bertambah. Keinginan untuk bisa melanjutkan sekolah tersebut akhirnya kesampaian juga. Tahun '89 Ade Karnita pun masuk sekolah kebidanan dan lulus tahun '90. setelah lulus Akhirnya ia keluar dari PMI dan pindah ke Ciawi. Ade demikian sapaan akrabnya menuturkan, waktu ia masih sekolah bidan, sangat mudah untuk menjadi PNS. Terbukti saat dirinya baru semester dua saja sudah disuruh menjadi pegawai negeri, dan ketika ditanya mau ditempatkan dimana? Akhirnya pilihan Ade jatuh di Ciawi, tepatnya di Desa Cileungsi, dengan pertimbangan ia memiliki tempat di sana.

kepada masyarakat, agar mereka mau memeriksakan kehamilannya kepada petugas kesehatan. Berkat perjuangan dan pengabdiannya, tahun '95, ia mendapatkan penghargaan menjadi bidan teladan ranking 3 se-Jawa Barat rangking 3.

Tak Kuasa Menolak Berkat kegigihan dan perjuangannya, perlahan-lahan masyarakat mulai mau datang ke posyandu dan mau di imunisasi. Karena waktu itu, bidan desa harus tinggal di desa, akhirnya ia membangun rumah di desa Jambu Luwuk. Dulu kalau ada lahiran, saya Cuma dibayar 25 ribu. Bahkan sampai sekarangpun masih ada. “Makanya temanteman yang ada dikota suka pada nanya dibayar berapa sih lahir di lu ? “Yah, saya bilang ke t e m a n teman, di sini masyaraka tnya masih petani, kita tidak bisa menarget se-kian, sea n u . Pasien saya banyak, ujarnya. T a p i jangan t a n y a uang, lanjutnya . Ya n g pentin g

Awalnya Ade cukup kaget ketika pertama kali menjadi bidan desa. Pasalnya, ia mendapatkan sebuah kondisi yang sangat jauh berbeda. Betapa tidak kalau dulu di PMI ia menyaksikan orang yang datang ke RS siapapun orangnya, mau miskin atau kaya, mereka harus tetap bayar, tetapi ketika ia terjun ke desa, jangankan bayar, untuk berobat dan memeriksa kehamilan atau untuk berhubungan dengan petugas kesehatan saja mereka enggan. Dengan kondisi seperti itu, maka mau tidak mau ia harus memaksakan diri untuk mendatangi rumah-rumah penduduk. “Saya melihat kehidupan di kampung yang sangat terbelakang, makan aja susah. Kok kayak gini bangsa saya. Sakit rasanya,” kenangnya sedih. Lahir dengan kondisi yang tidak sempurna, akhirnya Khusnul & Khotimah hanya mampu bertahan satu bulan. (Dok. Jurnal Bidan

Dari situlah Ade memulai kiprahnya sebagai bidan desa. Dengan semangat yang tinggi tanpa mengenal letih, ia terus memberikan penyuluhan kesehatan

20

Majalah Intern Bidan/Edisi No. 01/VII/2011

49

Majalah Intern Bidan/Edisi No. 01/VII/2011


Jurnal Bidan

Jurnal Bidan

Profile

sendiri. Seringkali ia menemukan pasien yang datang tanpa sebelumnya melakukan pemeriksaan rutin, tahutahu datang mau lahir, bahkan ada yang sampai lahir di angkot. Kemudian lanjutnya di tempatnya buka praktik, banyak pasien yang tidak mampu datang untuk bersalin. Tentu saja ia tidak mampu untuk menolaknya. Banyaknya bidan tidak berarti paraji atau dukun beranak hilang. Menurut Utin keberadaan mereka jika diberdayakan akan sangat membantu profesi bidan. Untuk itu paraji atau dukun beranak harus diposisikan sebagai mitra kerja. Sepengetahuannya pembinaan dukun/paraji dari dulu sudah ada pola pembinaannya, kebetulan di puskesmas tempat dirinya bertugas biasanya diadakan sebulan sekali. Mereka imbuhnya diundang untuk mengikuti Lokmin (kolakarya mini) disatukan dengan kader-kader posyandu. “Jadi sekarang tidak ada dukun-dukun yang tidak terlatih, sekarang semua dukun terlatih,” tuturnya penuh syukur hanya saja terkadang masyarakat suka salah mentafsirkan disangkanya dukun parajinya sama dg bidan karena sudah dilatih di puskesmas padahal kita mengajarkan perawatan tali pusat dan supaya merujuk ke bidan kalau ada ibu hamil agar angka kematian ibu dan bayi dapat turun kiprahnya Saya Yang Nolong Persalinannya, Dukun Yang ngurut dan Memandikan Menurut Utin tidak ada larangan untuk pergi ke dukun beranak, tapi dirinya berusaha sekuat tenaga untuk menggiring ibu hamil di periksan di tenaga kesehatan. Ia mengaku bahwa kelebihan dukun bisa lebih dekat lagi dengan pasien dari mulai nujuh bulan sampai mengurut 40 hari. Sementara dirinya punya keterbatasan waktu dan tidak bisa ngurut. “Jadi kita rangkul aja lah sebagai mitra kerja. Walaupun nanti pasien dia lahir di saya, saya membuat perjanjian

dengan dukun beranak, ibu (dukun) yang ngurutnya yang mandiinnya, saya yang nolong persalinannya,” terangnya.

Profile

Bidan Hj. Nani Kusumaningsih ( Nani Aris K ) Ketua Ranting Cibinong

Harapan kepada Dinas Kesehatan, IBI dan para Bidan Utin meminta kepada pihak Dinas Kesehatan untuk memberikan pembinaan-pembinaan rutin terutama yang berhubungan dengan kebidanan, termasuk pelatihan-pelatihan. Karena menurutnya sekarang zaman globalisasi, dimana ilmu terus berkembang. Sedangkan kepada IBI, ia berharap untuk secara rutin mengadakan seminar dan pelatihan per wilayah. Intinya kepada dua institusi tersebut ia berharap untuk memper banyak pelatihan maupun pembinaan. Tentu saja harapannya sangat beralasan karena lulusan kebidanan sekarang kurang memiliki jam terbang sehingga harus ditunjang dengan banyak mengikuti pelatihan dan pembinaan. Kepada bidan-bidan muda, ia berharap agar mereka mampu menjalankan tugasnya dengan baik sesuai dengan protap Menkes dan jangan terlalu berani mengambil tindakan, karena ada undang-undangnya, ada Permenkesnya. “Mari bergabung dengan IBI yang ada di daerah setempat. Karena dengan bergabung kita akan mendapat perlindungan kalau ada sesuatu. Lalu buatlah izin praktik biar legal. Dan bekerja sesuai aturan, karena bidan sudah punya permenkes dan bidan punya kewenangan mandiri., jangan jadi bidan tidak tahu aturan. Perbanyaklah pelatihan biar bidan tambah pandai, karena kita nolong dua nyawa. Ibu dan bayi,” pungkasnya. (Jose Ahmad/Agus)

Utamakan Pelayanan S

ebagai bidan yang masuk kelompok angkatan 80-an Bidan Hj. Nani K. Aris lahir di jakarta tahun 1962 yang kini menjabat Ketua IBI Ranting Cibinong sebelum mengenyam pendidikan bidan,terlebih dahulu mengenyam pendidikan Sekolah Perawat dari RSAL Mintoharjo lulus tahun 1983.kemudian bekerja di RS UKI Cawang jakarta selama 2 tahun Kemudian sesuai dengan citacitanya ia melanjutkan pedidikan Sekolah Kebidanan tahun 1985 di Budi Kemulyaan. Lulus dari Budi Kemulyaan tahun 1987, ia mengikuti ikatan dinas di Budi Kemulyaan selama satu tahun. Tahun 1988, ia pindah kerja ke RS Tebet. 2 tahun kemudian tepatnya 1989, ia pindah lagi ke RS. Bina Husada selama 2tahun. Dan pada tahun 1991 dirinya diangkat sebagai pegawai negeri sipil (PNS) dan di tempatkan di Puskesmas Karadenan sampai sekarang. Kemudian pada tahun 2006 melanjutkan pendidikan D-III Kebidanan.

Awal Kali Membuka Praktik Bidan Nani, demikian ia akrab disapa m e n u t u r k a n pengalamannya kepada Jurnal B i d a n s a a t dikunjungi di rumahnya di bilangan Pabuaran Cibinong beberapa waktu lalu. Pertama kali saat dirinya terdorong untuk membuka praktek, ketika ada pasien yang tidak mampu datang ke rumah dinasnya dan ingin melahirkan. Ia berusaha untuk memberikan pertolongan. Dengan alat dan tempat seadanya. Setelah menolong pasien tersebut dengan selamat, akhirnya

48

Majalah Intern Bidan/Edisi No. 01/VII/2011

tergeraklah bidan Nani untuk membuka praktek pada tahun 1993. Menjalani profesi sebagai bidan, banyak pengalaman dengan suka duka yang mengiringinya. Paling tidak keadaan itu yang dirasakannya selama ini. Diantara dukanya banyak pasien yang datang dan bersalin di tempatnya praktek yang tidak mampu bayar, juga ada yang sampai ngutang. Bahkan menurutnya pernah suatu ketika ada pasien yang harus dirujuk ke rumah sakit,karna di RSU penuh terpaksa ke RS swasta si pasien minta ditalangi dulu oleh bidannya seluruh biaya rumah sakit, tapi sampai si pasien pulang, tidak bayar sama sekali.. Dan 5 tahun kemudian baru bayar itupun karna kakeknya yang janji mau bayar meninggal dan katanya kakeknya sering datang menyuruh utangnya supaya di bayar tidak tenang dialam sana kata keluarga juga mungkin karna masih rezeki saya kali tandasnyaNamun demikian diantara cerita duka yang terselip dalam menjalankan profesinya, Bidan Nani mengakui banyak juga sukanya. Tidak ada hal yang membuat dirinya suka cita dan bahagia kecuali jika dirinya mampu menolong persalinan dan si ibu dan si bayi keduanya selamat. “Senangnya bukan kepalang. K a r e n a k a n taruhannya nyawa. Ya ibunya, ya bayinya,” terangnya. Itulah sebabnya, saya selalu berhati-hati dan selektif dalam bekerja karna kalau kita lalai dan ada pihak ke tiga maka meja hijau menanti kita di p e n g a d i l a n . Ia j u g a merasa seorang bidan harus selalu meningkatkan pengetahuan dan keterampilannya. Oleh sebab itu bidan Nani pun melanjutkan SKM nya di

21

Majalah Intern Bidan/Edisi No. 01/VII/2011


Jurnal Bidan

Jurnal Bidan

Profile

Profile

ia lanjutkan untuk sekolah kebidanan lulus tahun 1987 di Budi Kemulyaan, Jakarta. Ibu dari 3 anak ini mengaku, tiga tahun pasca kelulusannya ia sudak mengantongi izin praktik, jauh sebelum dirinya ditempatkan di Puskesmas. Karena waktu itu masih ikut kakaknya, maka izin praktiknya belum dipakai. Setelah diangkat jadi PNS baru izin tersebut ia pakai. Harus Naik Truck Utin menuturkan bahwa Kranggan-tempat tinggal dan tempat buka prakteknya, dahulu jauh berbeda dengan hari ini. Menurutnya dahulu selain jalannya masih berupa bebatuan belum ada mobil, sehingga kendaraan utama saat itu adalah ojek, itupun masih jarang. Maka tidak jarang dirinya harus naik truk untuk sekedar sampai ke jalan utama. Dalam sehari ia mengaku bisa tiga sampai empat kali di panggil orang. Beruntung Utin memiliki suami yang setia dan pengertian, yang bisa memahami kesulitan profesi istrinya sebagai bidan. Anak ke 5 dari 8 bersaudara ini mengaku jika profesi bidan merupakan pilihannya sejak kecil selain karena pengaruh dari lingkungan keluarganya. Betapa tidak, menurutnya di keluarganya semuanya menggeluti dunia kesehatan. Yang berprofesi bidan ada 5 orang, dan selebihnya ada yang berprofesi sebagai dokter dan apoteker. Ia beruntung karena kedua orang tuanya sangat

Jakarta. Seorang bidan juga, menurut bidan Nani, harus bersikap ramah kepada pasien, menolong sepenuh hati, ikhlas, dan terus sabar. “Karena niat kita menolong, dibayar berapapun asal kita ikhlas, ya .. insyaallah rezeki kita pasti halal dan lancar,” akunya penuh syukur.

Mengutamakan pelayanan Satu hal yang menjadi pegangan Bidan Nani, bahwa selama niat kita menolong dan selalu baik kepada pasien, pasien pun merasa aman, nyaman, dan puas ketika bersalin kepadanya. Baginya yang harus diutamakan adalah pelayanan atau service excelent agar bagaimana caranya pasien merasa puas. Karena lanjutnya dari kepuasan itulah si pasien akan memberitahu ke kerabatnya, saudara-saudaranya, teman-temannya, atau tetangga-tetangganya. Sehingga tandasnya tanpa perlu mempromosikan diri atau minta di promosikan, pasien akan datang sendiri ke tempat kita. Alhasil terangnya, pasien menjadi media yang efektif untuk menyebarkan informasi.

Siap Mental Menurut Bidan Nani, profesi bidan itu cukup berat. Ia menegaskan bahwa sebagai bidan dirinya harus siap mental segala-galanya. Artinya siap untuk dipanggil

22

memperhatikan pendidikan anak-anaknya. Padahal saat itu lanjutnya mungkin tidak ada anak-anak yang seusianya masuk sekolah. “Mungkin Cuma keluarga saya aja yang sekolah di Bunar, Jasinga,” terangnya penuh syukur. Walau Ngutang Yang Penting Selamat Yang paling berkesan bagi Utin dalam menjalakan profesi sebagai bidan, kalau anak yang kelahirannya ditolong olehnya kini sudah duduk di SMA atau kuliah, kemudian ibunya bicara “Bu.. inikan yang ditolong ibu.” Yang kedua, dan sekaligus membuat dirinya bangga, kalau ibu dan anaknya lahir dengan selamat. “Mau ngutang atau apa yang penting selamat,” tandasnya. Banyak suka duka yang dialami oleh Utin dalam menjalani profesi bidan. Yang pasti ia dan keluarganya sudah siap mengambil risiko apapun termasuk ketika dipanggil malam hari saat ia sedang istirahat atau sedang tidur sekalipun. Yang pasti dirinya sering meninggalkan acara atau kepentingan keluarga demi profesinya. Tapi baginya ada perasaan bahagia tersendiri jika ia mampu menolong pasien persalinan dalam keadaan selamat. Harus pandai Menggali Informasi Utin menandaskan bahwa sebagai bidan ilmu taksirnya harus pintar. Artinya dari pertama kali pasien datang, dari situ kita harus pandai menggali informasi dari pasien itu

kapan saja ketika ada pasien yang mau melahirkan. Baik itu subuh, siang, ataupun tengah malam. Pokoknya setiap waktu,terangnya harus selalu siap walaupun dalam kondisi lagi cape, atau ngantuk untuk menolong persalinan. Satu hal yang menurutya sebagai keajaiban, semua rasa cape dan ngantuk akan segera hilang jika sudah dihadapkan kepada pasien yang mau bersalin. Menurutnya mungkin itu karunia Allah yang diberikan kepada para bidan.

Tingkatkan kualitas dan Pengetahuan Sebagai bidan yang terbilang senior, Bidan Nani berpesan kepada bidan-bidan yang baru lulus sekolah, agar mereka semakin meningkatkan kualitas diri dan pengetahuannya, terutama skill dan keterampilan. Mereka harus banyak belajar dan bekerjasama dengan bidan-bidan senior,mengikuti seminar-seminar atau pelatihan-pelatihan sebagai bekal kita untuk menjalankan tugas kedinasan maupun praktek mandiri. Karena menurutnya ibu hamil dan ibu bersalin itu sulit diprediksi. Dalam hitungan menit, bahkan dalam hitungan detik kondisi si ibu dan janin dapat cepat berubah, menjadi bermasalah. Pungkasnya.

Program Ranting Sebagai Ketua IBI Ranting Cibinong, Bidan Nani menyiapkan beberapa program unggulan dan yang

Majalah Intern Bidan/Edisi No. 01/VII/2011

47

Majalah Intern Bidan/Edisi No. 01/VII/2011


Jurnal Bidan

Jurnal Bidan

Profile

Profile

menjadi prioritas utamanya adalah program pendidikan dan pelatihan. Agar para bidan yang berada dalam lingkup tanggungjawabnya memiliki keterampilan dan skill yang mumpuni. Dengan jumlah anggota lebih kurang 70 bidan, ia menginginkan seluruh rekan-rekan bidan di wilayah Cibinong sudah lulus D-III Kebidanan pada tahun 2012./2013 Dan bidan swasta mendapatkan porsi yang sama dengan bidan-bidan PNS dalam peningkatan kualitas pengetahuan, skill dan keterampilannya melalui pelatihan-pelatihan. (Jose/A5)

Bidan Hj. Utin Suntinah Ketua Ranting Gunung Putri

Harus Pandai Menggali Informasi

A

lhamdulillah dengan adanya pemekaran ranting, saya ditunjuk oleh para sesepuh bidan karena pergantian antar waktu sebagai Ketua Ranting Gunung Putri. Saya bersyukur karena mendapat dukungan penuh dari kepala Upt-Upt Gunung Putri dan Citeureup. Mudah-mudahan saya bisa menjalankan amanah ini,” demikian kalimat yang meuluncur dari Bidan Hj. Utin Suntinah saat Jural Bidan menyambangi rumahnya di bilangan Kranggan Gunung Putri beberapa waltu yang lalu. Dengan adanya pemekaran Ranting Gunung Putri, Utin demikian panggilan akrabnya menyimpan keinginan besar jika dirinya bisa mengcover bidan-bidan di 2 kecamatan dalam masalah izin-izin praktik karena banyak bidan-bidan di daerah Gunung Putri dan Citeureup yang belum memiliki izin praktek dan belum masuk sebagai anggota IBI. Hal ini menurutnya menjadi prioritas utama, karena selama ini sebelum pemekaran banyak bidan-bidan yang belum terdata dan terorganisir secara optimal. “Alhamdulillah kami sudah melakukan pendataan. Dari hasil pendataan yang aktif sekitar 60-an, yang mempunyai izin sekitar 5060,” ungkapnya penuh syukur.

program konsolidasi dan pendataan. Walaupun ia mengakui sebagai Ketua Ranting yang baru ia belum hafal bidan-bidan yang menjadi anggota IBI. Untuk melakukan pendataan kurang lebih 60 bidan yang menjadi anggotanya, ia kerap kali harus datang ke puskesmas-puskesmas di dua kecamatan.

Berpose bersama Pengurus Ranting Cibinong

Utin bersyukur jika pihaknya sudah bisa menyelenggarakan pertemuan perdana di RSIA Annisa dimana, ia undang semua bidan di dua kecamatan tersebut. Dari hasil pertemuan itu menurutnya mereka tahu bahwa nantinya akan ada sidak untuk pendataan bidan di Ranting Gunung Putri. Ia juga memperoleh informasi dari kepala-kepala puskesmas, banyak bidan yang memerlukan pembinaan. Ia berharap masukan-masukan yang ia terima dari pihak puskesmas bisa bermanfaat. Ketika ditanya masalah kendala di lapangan, Utin menyatakan hampir tidak menemukan kendala yang berarti. Kalaupun masih ada bidan yang belum menjadi anggota IBI ia melihatnya lebih kepada belum adanya sosialisasi kepada mereka, sementara mereka juga tidak mencari tahu bagaimana cara bergabung ke wadah IBI. “Yah kita harus jemput bola. Mudah-mudahan dengan adanya Jurnal Bidan ini dapat menjadi jembatan informasi bagi bidan-bidan yang belum bergabung ke wadah IBI,” harapnya.

Utin mengakui bahwa yang menjadi kendala selama ini banyak bidan-bidan dari Jakarta tapi memiliki rumah di Gunung Putri, sehingga mereka membuka praktik di Gunung Putri. “Kerjanya di Jakarta tapi belum memiliki izin praktik dan belum masuk anggota IBI tapi mereka sudah buka praktik. Jadi kita mencoba untuk menertibkannya. Mudah-mudahan saya bisa,” terangnya.

Jajaran Pengurus Rekam JejakRanting Leuwiliang tahun

Program Konsolidasi dan Pendataan Sebagai Ketua Ranting yang baru diangkat, Utin lebih fokus pada

46

Majalah Intern Bidan/Edisi No. 01/VII/2011

RUMAH BERSALIN RB. TIARA MENGUCAPKAN SELAMAT HUT IBI KE 60

Ta h u n 1 9 9 1 m e r u p a k a n tonggak sejarah bagi Utin dalam mengawali karirnya sebagai PNS. Puskesmas Kranggan merupakan tempat pengabdiannya yang ia lakoni d a r i s e m e n j a k pengangkatannnya sebaga PNS h i n g g a s e k a r a n g . Wa n i t a kelahiran Bogor Barat , tepatnya di Kecamatan Cigudeg, Desa Bunar, Jasinga ini, menyelesaikan pendidikan SD tahun 1977, dan SMP tahun 1980. Kemudian ia melanjutkan ke sekolah perawat dan lulus tahun 1983, setelah menyelesaikan sekolah perawat,

(IMAS MASINAH) 23

Majalah Intern Bidan/Edisi No. 01/VII/2011


Jurnal Bidan

Jurnal Bidan

Profile

Bidan Endeung Ketua Ranting Jonggol

Srikandi Kesehatan Dari Kota tahu

W

alau dilahirkan dari kedua orang tua yang berprofesi petani, Endeung patut bersyukur, karena kedua orang tuanya telah memberikan perhatian yang cukup termasuk masalah pendidikan anak-anaknya. Berkat kasih sayang, ketulusan, perhatian dan doa kedua orang tuanyalah, kini ia berhak menyandang profesi sebagai bidan, sebuah profesi yang luhur dan patut dibanggakan.

belakang, barangkali itulah gambaran yang mewakili semangatnya. Menurutnya profesi bidan bukan sekedar pekerjaan untuk mencari uang, tapi lebih jauh dari itu profesi bidan merupakan pengabdian yang besar bagi masyarakat khususnya kaum ibu dan anak untuk memperoleh palayanan kesehatan yang maksimal. Jonggol Tempat Mengabdi

Endeung memang tergolong sebagai wanita yang energik dan penuh semangat. Itu terlihat dari antusiasmenya menceritakan berbagai pengalamannya saat diwawancarai oleh Majalah Jurnal Bidan beberapa waktu yang lalu. Wanita yang lahir di Sumedang 10 Agustus 1970 ini, menuturkan bahwa sebagai anak petani dirinya tidak pernah pantang menyerah untuk mewujudkan ciatacitanya. Sekali langkah diayunkan, pantang surut ke

24

Endeung mengawali karirnya di kesehatan dengan sekolah di SPK Pemda Sumedang dan lulus tahun 1991. Kemudian masih dalam bidang kesehatan ia melanjutkan pendidikan ke Diploma Satu (D-I) di Cirebon. Sebagai CPNS, saat itu ia diberikan pilihan daerah untuk mengabdikan ilmunya, yakni Sumedang, Majalengka dan Cirebon. Namun nasib berbicara lain, karena akhirnya ia ditugaskan di Kabupaten Bogor, tepatnya di Jonggol.

Majalah Intern Bidan/Edisi No. 01/VII/2011

Profile

di PT Telkom Aceh pada tahun 1986. Tepatnya di Kota Takengon, Aceh Tengah, dan di angkat menjadi PNS di sana. Tugasnya waktu itu di sebuah Puskesmas dan menjadi penyuluh program KB bagi masyarakat setempat. Menurutnya, Aceh waktu itu masih cukup aman, dan dirinya juga diterima dengan baik oleh masyarakat setempat. Respon masyarakat cukup baik terhadap keberadaan bidan, tetapi untuk masalah KB, mereka masih belum terima. Akhirnya Sri bekerjasama dengan tokoh masyarakat, alim-ulama untuk memberikan penyuluhan kepada mereka. Jadi waktu itu dirinya tidak bekerja sendiri, tetapi didampingi oleh tokoh-tokoh di Takengon. Karena maslah KB merupakan masalah yang sensitif bagi masyarakat muslim Aceh, maka Sri sangat berhati-hati dan juga sabar dalam memberikan penyuluhan. Berpindah-pindah Tugas Di Takengon Sri mengabdi selama 6 tahun, berikutnya ia pun berpindah mengikuti tugas suami ke Balikpapan, Kalimantan dan ditempatkan di rumah sakit pemerintah. Kurang lebih 10 tahun ia bertugas di sana. Setelah itu pindah lagi ke Banjar Baru, lalu balik lagi ke Balikpapan dan barulah pindah ke Bogor lalu ditempatkan di Puskesmas Ciomas sampai sekarang. Suka-Dukanya Disinggung soal suka-dukanya sebagai bidan, menurut Sri, sepertinya malah banyak dukanya. Sebagai contoh, jika ia merujuk pasien ke rumah sakit kendalanya banyak, selain dari keluarga pasien sendiri juga dari rumah sakit. Karena kalau merujuk tidak langsung diterima, ada saja alasan rumah sakit, over-load, over-load, selalu jawaban dari rumah sakit seperti itu. Itu salah satu duka yang kadang dialaminya saat menjadi bidan. Tapi, imbuhnya,

45

memang kerjaan bidan seperti itu, dan dirinya pun harus siap dipanggil 24 jam full. Namun demikian, ada hal yang selalu berkesan selama jadi bidan, yaitu jika sang ibu dan bayinya selamat dalam proses persalinan. Itu kebahagiaan yang luar biasa bagi seorang bidan. Tapi, terkadang ada juga pasien yang tidak tahu diri yaitu setelah ditolong proses persalinannya sang pasien pulang tanpa pamit, alias kabur begitu saja. Program Ranting Ditanya soal program kepengurusannya, Sri mengakui dirinya masih baru menjabat ketua ranting, jadi programnya baru sebatas pertemuan-pertemuan rutin. Melakukan pendataan anggota yang sudah punya SIB, SIPB. Untuk kedepannya program yang akan dicanangkan yakni akan membantu program pemerintah, dalam hal ini di Puskesmas Ciomas ialah masalah pencapaian AKI-AKB. Dan, dalam 2 bulan sekali, akan diadakan pertemuan dengan mengundang narasumber untuk memberikan seminar-seminar, misal dari dokter Obgin atau dari dokter spesialis anak. Menurut Sri, jumlah anggota di Ranting Ciomas saat ini ada 63 bidan. Yang membawahi 2 kecamatan, Ciomas dan Tamansari. Soal perbedaan bidan dulu dan sekarang, dengan merendah Sri mengakui justru dirnya yang harus menyesuaikan dengan kondisi sekarang. Karena ilmu kebidanan sekarang sudah banyak perkembangannya. Jadi, imbuh wanita yang lulus sekolah kebidanan tahun 2006 ini, bidan harus selalu meningkatkan pengetahuan dan keterampilannya. Dan, untuk bidan-bidan yang baru lulus, Sri menyarankan lebih baik menimba ilmu di rumah sakit dahulu, agar betul-betul paham dalam menangani pasien dengan segala permasalahannya. Jadi nanti setelah mandiri, dan ada suatu kasus kita akan cepat mengambil tindakan, papar wanita kelahiran Yogyakarta, yang mempunyai motto, “Tidak akan menoleh ke belakang, dan Pengalaman adalah guru terbaik.� (Jose)

Majalah Intern Bidan/Edisi No. 01/VII/2011


Jurnal Bidan

Jurnal Bidan

Profile

Profile

kesehatan. Dalam kondisi itu pula ia semakin termotivasi untuk terus bergerak mengabdikan ilmu dan tenaganya, sehingga bidan benarbenar eksis dan mendapatkan pengakuan di tengah-tengah masyarakat. Oleh karena itu ia mayakinkan dirinya dan bertekad untuk memberikan contoh yang konkrit kepada msyarakat. Contoh yang dimaksud Endeung antara lain. Pertama. Bidan harus mau melahirkan di bidan, sehingga masyarakat akan melihat pasca persalinan sanga ibu kelihatan sehat begitu juga anaknya. Kedua, Orang yang berpengaruh di kampung atau kader panutan melakukan persalinan di bidan.

Bidan Sri Wiyati Ketua Ranting Ciomas

Cemas, Cara Paraji Menolong persalinan

S

etiap anak-anak di Indonesia jika ditanya apa cita-cita mereka, sebagian besar akan menjawab menjadi insinyur atau menjadi dokter. Dua profesi ini memang lebih familiar di benak anak-anak Indonesia. Tak terkecuali dengan Sri Wiyati, Ketua IBI Ranting Ciomas, Kabupaten Bogor. Semasa kecil Sri begitu dirinya dipanggil- bercita-cita ingin menjadi dokter, namun takdir berkata lain. Cita-citanya menjadi dokter tak kesampaian, lalu Sri beralih memilih profesi bidan sebagai bidang pengabdiannya di masyarakat.

Pesan dan Harapan

Cemas Jika Melihat Tantenya Menolong Persalinan

Kenyataan sangat jauh berbeda dari bayangan semula. Itulah istilah yang ia ungkapkan saat pertam kali harus terjun menjadi tenaga kesehatan di daerah terpencil dengan infrastruktur yang belum memadai. Sebut saja saat itu jalan masih berbatuan dan penerangan yang seadanya. Kondisi ini membutihkan fisik yang sehat dan mental yang kuat. Menurutnya sebagai tenaga kesehatan saat itu ia harus bekerja dengan kekuatan fisik dan pikiran.

Diakui oleh Sri, menggeluti profesi bidan memang karena dorongan hati nuraninya sendiri. Keinginan itu timbul karena melihat tantenya yang menjadi dukun paraji sering menangani proses persalinan. Tapi, ada satu hal yang membuat dirinya cemas kalau melihat tantenya menangani kelahiran, yakni sang tante selalau menggunakan sebilah bambu kecil yang dilumuri kunyit sebagai alat potongnya. Sang tante tak mau menggunakan gunting dengan alasan gunting yang dipakai kuatir karatan. Dari peristiwa itu timbul keinginan Sri untuk membantu proses persalinan dengan cara yang lebih sehat dan aman. Hal itu bisa terwujud jika dirinya berkiprah di bidang kebidanan. Alhasil, Sri pun memilih menjadi bidan.

Pengalaman yang sangat menyedihkan dan sekaligus berkesan, berharga dan membanggakan adalah ketika ada pasien yang membutukan pertolongan di tengah malam buta dalam guyuran hujan. Endeung harus berjalan dengan jarak tempuh yang cukup jauh dengan penerangan hanya pake lampu petromak. Dalam kondisi seperti itu, ia meyakinkan diri bahwa itulah perjuangan seoerang tenaga kesehatan dan pengabdian seorang bidan.

Sekolah Kebidanan Secara ringkas Sri menceritakan riwayat pendidikannya, SD ia bersekolah di Palembang. Kemudian SMP juga di Palembang lulus tahun 1976, setelah lulus SMP dirinya masuk sekolah Bidan 3 tahun juga di Palembang. Di jaman dulu, yang namanya SPK memang belum ada, apalagi AKBID seperti jaman sekarang. Dulu yang ada hanya sekolah bidan dan sekolah perawat. Jadi selepas SMP Sri memilih melanjutkan ke sekolah bidan selama 3 tahun. Pada tahum 80-an sekolah bidan memang menerima siswa dari lulusan SMP. Berbeda dengan sekarang lulus SMA baru masuk sekolah kebidanan. Dan, karena dulu sekolah bidannya di rumah sakit Umum Palembang, Sri pun sempat bekerja di rumah sakit tersebut. Namun, karena dirinya menikah Sri pun berhenti bekerja dan tanpa terasa ia menganggur hampir 10 tahun lamanya.

44

Sebagai Ketua Ranting Jonggol, Endeung menetapka visi programnya yakni Organisasi IBI Ranting Jonggol harus menjadi organisasi yangn professional dan solid. Sedangkan misi yang ia bentangkan antara lain: 1) mengikuti program-program dari Dinas Kesehatan terutama menurunkan tingkat kematian dan ibu dan anak, 2) sosialisasi jampersal dan jamkesmas, 3) memberian pelayanan masyarakat yang berkualitas. Di usia IBI yang ke 60, Endeung menaruh harapan besar agar IBI harus tetap segar dengan semangat optimal. Kemudian ia juga berharap agar IBI memiliki jiwa Srikandi, kerana bidan sebagai ujung tombak dan lini terdepan bangsa dalam melayani kesehatan. Untuk bidan-bidan muda Endeung berpesan agar

Bidan harus Menjadi Figur yang Dipercaya

Aceh, Awal Pengabdiannya Pengabdiannya sebagai bidan justru dimulai di Aceh, karena dirinya mengikuti dinas suami yang ditugaskan

Majalah Intern Bidan/Edisi No. 01/VII/2011

Merubah mind set di masyarakat pedesaan yang hanya cukup mengandalkan dukun beranak saat mau melahirkan, menurut Endeung menjadi tantangan tersendiri. Dengan realitas masyarakat seperti itu ia semakin tertantang untuk terus menerus memberikan pencerahan dan penyuluhan kepada masyarakat tentang arti penting pelayanan kesehatan oleh tenaga

25

Majalah Intern Bidan/Edisi No. 01/VII/2011


Jurnal Bidan

Jurnal Bidan

Profile

mrereka mampu menghadapi dan beradaptasi dengan era informasi dan teknologi. Artinya mereka harus lebih baik dari generasi sebelumnya. Bidan kini lanjutnya

jangan gaptek (gagap teknologi). “Manfaatkan segala kemudahan dan keterbukaan untuk meningkatkan kualitas diri dan kualitas kerja,� puingkasnya. (NJ)

inilah Gaya Para Pengurus Ranting Jonggol Ketika Memeriahkan HUT IBI Ke 60 di Kebun Raya Bogor

Profile

desa cenderung seperti kerja sosial, tapi Neneng menikmatinya. Karena dengan menjadi bidan desa ia memiliki banyak teman, bisa bertemu dengan para kader, masyarakat, dukun-dukun paraji, dan memiliki mitra lintas sektoral.

kebidanan, hampir 90% belum bisa dilepas. Oleh karena itu, Neneng menghimbau kepada pihak poltekes, agar etika dan skill bidan lebih diperhatikan. Karena sekarang cara menolong dan cara melayani pasien sangat kurang beretika.

Setelah 21 tahun Neneng berkiprah, regenerasi pun muncul. Banyak bidan muda berdatangan. Tugas Neneng tak lagi seberat seperti sebelumnya, karena ia hanya menjadi bidan koordinator. Jadi dirinya hanya memantau dan membimbing bidan-bidan muda. Sampai akhirnya Neneng pun pindah ke puskesmas Bojonggede, tak jauh dari rumah tinggalnya yang sekarang yang hanya berjarak kurang lebih 400 meter dari kantor Puskesmas.

Sebagai contoh, tambah Neneng, di tempatnya bekerja saat ini banyak juga siswa bidan yang magang, ternyata mereka tidak paham bagaimana menolong atau melayani pasien dengan baik. Kalau dulu basic bidan memang dari perawat. Kalau sekarang, siswa sekolah bidan adalah para lulusan SMA. Jadi basic keperawatannya belum ada. Oleh sebab itu, untuk bidan-bidan yang baru lulus, mereka harus lebih banyak belajar, lebih banyak bertanya, lalu ikutilah aturan sesuai dengan wewenang atau tupoksi bidan. Jangan mentang-mentang sudah lulus lalu dianggapnya sudah bisa. Harus juga menghargai para seniornya. Demikian nasehat Neneng.

Satu pengalaman yang tak terlupakan bagi Neneng saat menjadi bidan desa ia ketika menolong partus, bayinya tanpa tempurung kepala (anensepalus) tapi masih ada kulit kepalanya. Waktu itu usia kehamilannya masih kecil kira-kira 23 minggu. Dan akhirnya dirujuk ke rumah sakit. Sang bayi bisa lahir dengan selamat dan sempat bertahan hidup selama 2 hari, hingga akhirnya meninggal dunia.

Etika dan Skill Harus Diperhatikan Mencermati perkembangan dunia kebidanan saat ini, Neneng melihat ada perbedaan antara bidan dulu dengan bidan sekarang. Perbedaan yang menurut Neneng sangat jauh berbeda. Kalau bidan dulu, jelas Neneng, terbiasa dengan disiplin. Dedikasi yang tinggi, etikanya juga terjaga. Sementara bidan sekarang, terlebih bidan-bidan yang baru lulus, etikanya kurang. Skill dan kemampuannya juga kurang. Jadi ketika lulus dari

26

Majalah Intern Bidan/Edisi No. 01/VII/2011

43

Program Ranting Ditanya perihal program kerja IBI ranting Bojonggede, Neneng menjabarkan bahwa setiap 2 bulan sekali selalau mengadakan pembinaan, ada juga arisan anggota IBI, pengajian, dan menjalankan program-program baru dari Binkes. Dalam m3ng3mban tugasnya sebagai pengurus IBI, Neneng berharap IBI tetap solid, semakin profesional dan tetap loyal melayani pasien. Demikian tutur ibu 2 anak perempuan ini, yang salahsatu putrinya juga mengikuti jejak mamahnya (Agus)

Majalah Intern Bidan/Edisi No. 01/VII/2011


Jurnal Bidan

Jurnal Bidan

Profile

Profile

Bidan Sri Anggar Wedari Ketua Ranting Cileungsi

Di Bayar Dengan Beras Atau Ayam M

enjadi bidan desa dan mengabdikan diri di masyarakat awalnya hanya didorong rasa penasarannya ingin merasakan seperti apa rasanya menjadi PNS. Rasa penasaran ini muncul karena sering melihat teman yang menjadi pegawai negeri terlihat santai dalam bekerja. Itulah sekelumit cerita masa lalu Sri Anggar Wedari yang mengawali kiprahnya menjadi seorang bidan. Sri Anggar lulus SPK tahun 1984. Di tahun itu pula dirinya diterima bekerja di rumah sakit Bakti Yudha, Depok, dan ditempatkan di ruang OK (operasi). Rutinitas tersebut dilakoni selama kurun waktu 7 hingga 8 tahun. Memasuki tahun ke delapan timbul niatnya ingin menjadi pegawai negeri. Seperti telah disinggung di awal tulisan, niat itu datang karena ia sering melihat teman-temannya yang bekerja sebagai PNS.

Lulus PBB ketua IBI ranting Parung, tahun 2009.

Merasa Sedih Jika Merujuk Pasien Tidak Mampu

Diangkat Sebagai Ketua Ranting Tahun 2010 ada perubahan struktur organisasi IBI di tingkat ranting. Karena jumlah anggotanya bertambah IBI ranting Parung dipecah menjadi 3 ranting. Yaitu Parung, Kemang dan Bojonggede. Otomatis para pengurusnya pun mengalami perubahan. Karena Neneng bertempat tinggal di wilayah Bojonggede, maka iapun ditunjuk sebagai ketua ranting Bojonggede, dan membawahi 4 puskesmas. Yaitu puskesmas Bojonggede, Kemuning, Citayam dan puskesmas Ragajaya. Dijelaskan oleh Neneng, jumlah anggota IBI ranting Bojonggede saat ini terdata kurang lebih 55 bidan. Jika waktu ditarik ke belakang, Neneng mengenang banyak suka-duka yang dialaminya sebagai bidan, terutama saat masih menjadi bidan desa, Saat itu, bidan harus siap 24 jam full. Terlebih seperti Neneng yang kala itu memegang 4 desa sekaligus, yakni desa Tajurhalang, Tonjong, Kalisuren, dan Sasak Panjang. Lalu, seiring perjalanan waktu, setelah jumlah bidan semakin bertambah dan setiap desa mulai memiliki bidan, Neneng hanya berkonsentrasi memegang satu desa yakni desa Kedung Waringin yang masuk wilayah puskesmas Kemuning.

42

Ada kisah duka yang membekas di hati Neneng. Ia selalu merasa sedih jika harus merujuk pasien dari keluarga yang kurang mampu ke sebuah rumah sakit karena kehamilannya bermasalah. Seringkali terjadi dari pagi hari sampai tengah malam sang pasien tidak dapat tempat atau kamar. Alasannya macam-macam. Salah satunya adalah overload alias tak ada kamar. Baru setelah Neneng wara-wiri mendatangi 4 hingga 5 rumah sakit sang pasien bisa tertangani. Padahal, tambah Neneng, kemampuan bidan ada batasnya, dan jika terjadi hal yang di luar batas kemampuan, pasien memang harus dirujuk. Sementara RS tempat rujukan jaraknya juga jauh. Hampir 17 kilometer jauhnya jarak antara rumah sakit rujukan dengan wilayah kerjanya di desa Tajur Halang. Jadi bisa dibayangkan betapa sedihnya Neneng jika ia merujuk pasien ke rumah sakit “A� ditolak, lalu ke rumah sakit “B� di tolak, hanya karena sang pasien dari keluarga tak mampu dan tak punya uang. Baru setelah melihat keadaan si pasien semakin gawat, pihak rumah sakit mau menerima. Biasanya yang sering mau menerima rumah sakit Ciawi, itu pun jaraknya cukup jauh, jelas bidan yang telah bekerja di Puskesmas hampir 22 tahun ini. Meski menjadi bidan

Majalah Intern Bidan/Edisi No. 01/VII/2011

Pucuk dicinta ulam pun tiba. Niat Sri Anggar menjadi PNS seperti menemukan jalannya, karena di tahun 1991-1992 ada bukaan pendaftaran PBB (Program Bidan Beasiswa). Sri Anggar pun mencoba mendaftar. Lalu bagaimana ia mensiasati waktu kerjanya di RS dengan kesibukannya mendaftar PBB? Dijelaskan oleh Sri Anggar bahwa setiap dirinya mendapat tugas jaga selalu over shift, artinya setiap hari libur malah dirinya yang diberi tugas jaga. Alhasil, di saat hari kerja Sri Anggar malah mendapat libur, dan kesempatan itu dipergunakannya untuk mengurus pendaftaran dan mencari-cari informasi tentang dunia kebidanan. Singkat cerita Sri Anggar pun lulus tes dan berhak mengikuti pendidikan. Ketika itu setiap siswa yang lulus harus masuk asrama, hingga Sri Anggar pun memutuskan keluar dari rumahsakit Bakti Yudha.

Ditempatkan di Desa Dayeuh - Cileungsi Setelah lulus kebidanan, ia langsung ditempatkan sebagai bidan desa di Dayeuh, Cileungsi, dan harus tinggal di desa tersebut. Awal bertugas, Sri Anggar mempunyai rasa takut kalau-kalau dirinya tidak diterima masyarakat setempat. Namun, seiring berjalannya

27

waktu, ketakutan Sri Anggar pun sirna. Kepala desa menerimanya dengan sikap terbuka dan selalu siap membantu tugas-tugas Sri. Bahkan, ketika ia bertugas ke desa yang paling jauh, Sri Anggar diantar oleh satgas. Jadi keamanannya pun terjaga. Hanya saja, meski sang kepala desa mau menerima dirinya, tidak demikian dengan warga. Masyarakat masih takut dengan yang namanya bidan. Alhasil, untuk menghilangkan ketakutan masyarakat terhadap bidan, Sri Anggar pun rela berjalan door to door guna memberi penyuluhan tentang kesehatan dan keselamatan pasien yang hendak bersalin. Bukan pekerjaaan yang mudah memang, karena saat itu Sri harus menangani 9 RW dengan jumlah penduduknya hampir mencapai 4 juta jiwa.

Majalah Intern Bidan/Edisi No. 01/VII/2011


Jurnal Bidan

Jurnal Bidan

Profile

Profile

Mendapat Beasiswa Kiprahnya sebagai bidan desa dilakoni dari tahun 19912007. Dan di tahun 2004 ia mendapat beasiswa dari dinas untuk melanjutkan sekolah ke jenjang D3 kebidanan di Depkes Bogor. Ketika lulus di tahun 2007 ia ditempatkan di puskesmas Cileungsi, sampai sekarang. Padahal, tambah wanita kelahiran Cimahi, 12 Februari 1964 ini, ia masih ingin tinggal di desa. Tapi karena itu panggilan tugas, suka atau tidak suka Sri harus menjalani.

Sebagai bidan desa ia harus sabar dan memiliki rasa toleransi yang tinggi. Berbeda saat dirinya masih bertugas di rumah sakit swasta. Dulu saat ia bekerja di RS swasta, setiap pasien yang masuk, punya atau tak punya uang tetap harus membayar. Karena itu memang sudah aturan rumah sakit. Tapi ketika ia terjun sebagai bidan desa, Sri Anggar tak bisa seperti itu. Ia harus lebih sering memaklumi kondisi masyarakatnya. Karena banyak anggota masyarakat dari kalangan yang tak berpunya, jadi harus punya perasaan dan memiliki niat ingin menolong.

Tidak Di tarif Menurutnya, pengalaman yang menyenangkan bagi seorang bidan adalah tatkala menolong proses persalinan bayinya lahir dengan selamat dan sang ibu juga selamat. Rasanya kesenangan itu tak bisa dinilai dengan uang. Demikian pula yang terjadi ketika dirinya menjadi bidan desa. Melihat ibu dan bayinya selamat saat persalinan, hatinya bahagia. Jadi, ketika ada warga yang sering bertanya berapa biaya yang harus dibayarkan, Sri tak pernah bisa memberikan jawaban. Apalagi ia tahu, masyarakat di wilayah ia bertugas banyak dari golongan tak mampu. Alhasil, Sri Anggar pun tak pernah memasang tarif. Niatnya saat itu hanya ingin menolong dan mendidik masyarakat sekitar agar paham tentang keselamatan ibu dan bayi saat persalinan.

Sedih Jika Harus Merujuk Pasien Tidak mampu

P

Ditanya soal perbedaan kiprah bidan dulu dengan yang sekarang, menurutnya sangat jauh berbeda. Kalau dulu untuk membina masyarakat bidan yang sering kunjungan door to door ke rumah rumah mereka untuk mau ke posyandu, memeriksakankehamilannya imunisasi dan KB. Pendeknya, bagaimana caranya agar mereka mau ke tenaga kesehatan. Kalau sekarang tidak, ilmu pengetahuan berkembang banyaknya sumber informasi jadi malah sekarang mereka yg mencari dan merasa butuh tenaga kesehatan dan masyarakat makin kritis sehingga kita harus lebih berhati hati lagi dalam bekerja salah-salah kita bisa di seret ke meja hijau tandasnya.

rofesi bidan bukanlah profesi yang bergelimang uang. Orang yang memilih profesi ini lebih dituntut memiliki rasa tanggung jawab dan pengabdian, bukan sekedar bekerja dan menarik bayaran. Bidan bisa dibilang merupakan bidang kerja yang mulia. Bidang kerja yang mengedepankan sikap professional, etos kerja yang tinggi dan juga skill serta ketrampilan yang memadai. Lalu, kenapa seorang Neneng Sobariah memilih profesi ini sebagai pilihan hidupnya? Tertarik Dengan Dunia Medis Buah jatuh tak jauh dari pohonnya. Ungkapan ini mungkin cocok untuk menggambarkan awal kiprah Neneng Sobariah sebelum menjadi bidan. Neneng begitu dirinya disapa - lahir dan besar dalam keluarga yang sebagian besar anggota keluarganya berkiprah di dunia medis. Karena seringnya “mencium aroma� medis di lingkungan keluarga, tanpa disadari ia pun tertarik menekuni bidang tersebut.

Program Ranting

Terus Sekolah

Disinggung soal program ranting Cileungsi ke depan, Sri Anggar menjelaskan, pertama, ia ingin mendisiplinkan teman-teman agar punya surat izin praktik. Kedua, teman-teman juga harus berbesar hati dengan adanya program jampersal. Ketiga, bekerjasama dengan dokter Obgin untuk memberikan seminar atau pelatihan kepada bidan, untuk meningkatkan pengetahuan, khususnya bidan desa yang ada di pelosok-pelosok. Jadi mereka mendapatkan pengetahuan dengan porsi yang sama dengan bidan yang ada di kota-kota. Ditambahkan Sri, jumlah anggota ranting Cileungsi sekarang ada 63 bidan. [B. Pram]

Langkah awal kiprahnya di mulai saat ia lulus dari SMP, dan melanjutkan studi ke SPK di Cimahi. Tahun 1983, ia lulus dari sekolah perawat dan langsung bekerja sebagai tenaga perawat di RS Gustira, Bandung. Langkahnya tak hanya sampai di situ, karena Neneng memang ingin terus berkiprah pada jenjang yang lebih tinggi. Untuk itu, ia terus memotivasi dirinya agar terus sekolah dan sekolah.

Dulu dan Kini

Bd. Anggar bersama Pengurus Ranting Cileungsi

Bidan Neneng Sobariah Ketua Ranting Bojonggede

Saat Merayakan HUT IBI Ke 60 Di KRB

Keinginan Neneng tak menemui hambatan yang berarti. Karena setelah sekian lama berkiprah sebagai tenaga perawat, wanita kelahiran Bandung, 1 januari 1965 ini mendapat kesempatan untuk meneruskan studi ke jenjang D1 kebidanan di RS Cipto Mangunkusumo, Jakarta. Lulus D1 di tahun 1995, Neneng langsung melanjutkan ke level yang lebih tinggi, yakni D3 Kebidanan di Bogor dan kemudian meneruskan ke jenjang D4 Kebidanan di Cirebon, Jawa Barat.

Di bayar Dengan Beras Atau Ayam

Langsung Bergabung Ke IBI

Karena dirinya tak pernah memasang tarif atas jasanya sebagai bidan, masyarakat pun mempunyai cara tersendiri untuk membalas kebaikan Sri. Setiap kali Sri Anggar selesai membantu proses persalinan, warga membayarnya dengan beras atau ayam. Sri pun tak kuasa menolak. Semua pemberian warga ia terima. Menurutnya, saat itu memang tak ada hitung-hitungan untung atau rugi. Semua dinikmati dan dijalaninya dengan senang hati.

Kiprahnya sebagai bidan dimulai pada tahun 1995. Jadi jika rentang waktu itu dihitung hingga sekarang, sudah hampir 16 tahun Neneng mengabdikan dirinya sebagai bidan. Dan menurut cerita Neneng, setahun setelah ia terjun sebagai bidan, dirinya langsung bergabung ke organisasi IBI, tepatnya di tahun 1996.

28

Majalah Intern Bidan/Edisi No. 01/VII/2011

amanah menjadi pengurus seksi kependidikan. Kemudian menjadi bendahara ranting Parung bersama ibu Ade Jubaedah yang pada waktu itu menjabat sebagai ketua ranting Parung. Setelah ibu Ade diangkat sebagai ketua IBI cabang Kabupaten Bogor, Neneng langsung ditunjuk menggantikan posisi ibu Ade sebagai

Kehadirannya di IBI ternyata tak hanya sekedar mencatatkan nama, karena Neneng langsung diberi

41

Majalah Intern Bidan/Edisi No. 01/VII/2011


Jurnal Bidan

Jurnal Bidan

Profile

Tidak Pernah Mengeluh Namun begitu, Linda menganggap semua itu merupakan tahapan-tahapan yang memang harus dilaluinya dalam pengabdiannya kepada masyarakat. Linda tak pernah mengeluh. Semua dijalaninya dengan senang hati. Dan, tantangan-tantangan seperti itulah yang menimbulkan kesan mendalam, sehingga sampai detik ini begitu melekat dalam ingatannya. Menjadi kenangan dalam suka dukanya sebagai seorang bidan. Ciampea Bogor, Pengabdian Berikutnya Seiring waktu bergulir, perjalanan hidup pun terus berlanjut. Sebagai bentuk komitmen terhadap profesi yang diemban, seorang tenaga profesional harus siap ditempatkan di mana saja. Demikian pula yang terjadi pada perjalanan karir Linda. Tahun 2000 ia dipindahtugaskan ke kecamatan Ciampea, Kabupaten Bogor. Sudah barang tentu ia harus kembali belajar pada lingkungan yang baru, memahami kultur dan karakteristik masyarakat serta adat istiadat yang berlaku di daerah tersebut. Walaupun pada prinsipnya sama, yakni bertugas menangani persalinan dan memberikan penyuluhan kesehatan kepada ibu hamil. Menurut ibu yang suka olahraga bola voli ini, ada perbedaan kebiasaan pada masyarakat di Ciampea dengan masyarakat Sukabumi Selatan. Walaupun secara karakteristik tetap merupakan masyarakat pedesaan, namun masyarakat Bogor lebih terbuka dan peduli terhadap kesehatan. Kembali Menimba Ilmu Seiring perkembangan dan dinamika yang terjadi di masyarakat, di mana tingkat kesehatan masyarakat semakin maju, Linda merasa ilmu yang dimiliki masihlah kurang. Oleh sebab itu, ia pun memutuskan

40

melanjutkan studinya ke jenjang D3 kebidanan di Bogor (tahun 2007). Semua itu, menurutnya, untuk mempersiapkan diri menghadapi tantangan yang sedang dan akan dihadapinya nanti. Diangkat Sebagai Ketua Ranting Tanpa terasa 10 tahun dirinya bertugas di Bogor. Banyak perubahan yang dirasakan. Pertambahan penduduk pun terus meningkat. Kekuatan SDM dan infrastruktur di bidang kesehatan terus mengalami kemajuan, alhasil terjadilah pemekaran wilayah. Organisasi IBI pun mengangkat Linda sebagai ketua ranting di wilayah Tenjolaya pada bulan Maret 2011. Program Ranting Konsolidasi Merasa sebagai orang baru di jajaran kepengurusan IBI Linda lebih mengutamakan konsolidasi ke dalam, selain mengikuti program-program yang telah dicanangkan IBI cabang. Dijelaskan oleh wanita yang menyukai warna coklat dan ungu ini bahwa dirinya amat bersyukur, karena dari hasil kerjanya bersama anggota yang lain kesadaran masyarakat Tenjolaya yang mempercayakan persalinan ke bidan mencapai angka 70%, sementara sisanya yang 30% diakuinya masih menggunakan jasa paraji dan melakukan persalinan di rumah. Harapan Untuk IBI Dalam rangka HUT IBI tahun ini, ibu dari empat anak ini berharap organisasi IBI dapat dicintai anggotanya, minimal harus menjadi spirit, dan jangan terkesan asal ada. Ke depannya Linda menginginkan organisasi IBI harus menjadi organisasi yang layak diperhitungkan dan sejajar dengan organisasi profesi lainnya. Terakhir, bungsu dari 5 bersaudara ini memberikan pendapatnya tentang kiprah bidan dulu dan sekarang. Bidan dulu dan sekarang memiliki skill yang berbeda, karena backgroundnya juga berbeda. Dahulu calon bidan lulusan dari SPK, sedang sekarang lulusan SLTA. Walaupun samasama mengikuti pendidikan D3 kebidanan, tapi soal attitude perlu mendapat perhatian. Oleh karena itu, para bidan muda janganlah sungkan bertanya dan belajar, dan juga jaga nama baik profesi dengan menjaga attitude dan etika, demikian pesan wanita yang memiliki motto hidup “Mensyukuri nikmat yang diberikan Allah� ini.[NJ]

Majalah Intern Bidan/Edisi No. 01/VII/2011

Profile

Bidan Eti Setiawati Ketua Ranting Leuwiliang

Profesi Yang Penuh Resiko A

da ungkapan mengatakan bahwa tak ada orangtua yang menginginkan anaknya susah dalam hidupnya. Dengan kata lain, setiap orangtua selalu menginginkan yang terbaik untuk anak-anaknya, termasuk dalam hal ini pendidikan sang anak. Ungkapan di atas agaknya cocok untuk melukiskan bperjalanan hidup bidan Eti Setiawati.

Dukungan Penuh Orangtua Dikisahkan Eti begitu ia dipanggil, saat dirinya hendak masuk sekolah bidan, orangtuanya justru mendukung dan memberinya semangat. Padahal, dalam benak kebanyakan orang profesi bidan bukanlah profesi yang bergengsi. Bidan mungkin hanya dianggap pekerjaan alamiah yang membantu proses kelahiran seseorang. Itu saja. Tapi, Eti bukanlah salah seorang yang berpendapat seperti itu. Di mata Eti, pekerjaan bidan adalah pekerjaan mulia, profesi yang menuntut tanggung jawab dan dedikasi yang tinggi.

Suk-Duka Sebagai Bidan Desa Dikisahkan Eti, banyak suka dan duka yang dialaminya sepanjang ia berkiprah sebagai bidan desa. Salah satu duka yang selalu membuatnya sedih ialah tatkala dirinya harus merujuk pasien yang mengalami masalah persalinan tapi pihak rumah sakit tak mau menerima. Padahal kondisi pasien sudah sedemikian parah. Terkadang dirinya pun harus keliling-keliling kota Bogor, mencari rumah sakit yang mau menerima pasien rujukannya.

Oleh karenanya, Eti pun tak ragu memilih bidan sebagai karir profesinya. Tahun 1988, selepas ia lulus sekolah lanjutan pertama di SMPN Cijeruk, Bogor, Eti melanjutkan pendidikannya ke SPK Depkes Bogor. Kemudian berturut-turut meneruskan ke jenjang D1 PPB SPK Depkes Bogor (1991/1992), dan D3 Poltekes Bandung, Prodi Kebidanan (2006/ 2007).

Usia 20 Sudah Menjadi Bidan Usia 20 tahun, Eti telah terjun menjadi bidan. Menurut Eti, seorang bidan harus siap meluangkan waktunya, kapanpun ia dibutuhkan. Terlebih bila bertugas sebagai bidan desa. Masyarakat desa sering menganggap dan bahkan menuntut seorang bidan itu serba tahu dan serba bisa. Padahal, bidan itu sebuah profesi yang tentunya diikat pula oleh berbagai aturan-aturan kerja. Tugas bidan sebenarnya sebatas pada masalah kehamilan,persalinan, imunisasi dan hal-hal yang berkaitan dengan kesehatan ibu dan bayi. Namun, masyarakat di desa sering menuntut lebih dari itu. Mungkin karena kurangnya pemahaman mereka tentang profesi bidan, sehingga mereka beranggapan bidan tak jauh berbeda dengan dokter. Sebagi contoh, ada anggota keluarga yang sakit mereka meminta bidan memberikan obat. Padahal secara peraturan itu tidak diperkenankan. Tapi, sepanjang itu dalam kondisi urgen, bidan pun tak bisa menolak.

29

Majalah Intern Bidan/Edisi No. 01/VII/2011


Jurnal Bidan

Jurnal Bidan

Profile

Profile

penyuluhan. Namun, berkat kesabaran Eti persepsi masyarakat yang demikian perlahan sirna. Melalui pendekatan yang terus-menerus dilakukannya masyarakat pun semakin tahu dan sadar betapa pentingnya peranan bidan dan betapa pentingnya menjaga kesehatan ibu dan bayi, sejak masa kehamilan, persalinan dan pasca-melahirkan.

Kondisi Sekarang Lebih Mobile

Namun, kejadian-kejadian seperti itu tak membuatnya patah semangat untuk terus berkiprah menolong sesama. Tugas seorang bidan memang lebih mengedepankan menolong nyawa orang dibanding semata-mata mengharapkan uang. Itulah sebab mengapa Eti senang berkiprah sebagai bidan. Menurutnya, bidan bisa lebih dihargai orang.

Pengalaman Berkesan Satu pengalaman berkesan diceritakan Eti ketika ia berhasil menangani kelahiran dalam kasus ratensio plasenta. Proses persalinan dilakukan di rumah sang pasien dalam keadaan hujan lebat dan lampu mati. Dengan alat penerangan seadanya, Eti berjuang meneyelamatkan nyawa anak manusia. Syukur Alhamdulillah, setelah sekian waktu berjalan, Eti berhasil menunaikan tugasnya dengan baik. Sang ibu selamat, begitu pula dengan bayinya yang lahir selamat.

Melihat sepak-terjang bidan sekarang, Eti menilai bidan-bidan sekarang lebih mobile dan akses untuk mendapatkan informasi dan pengetahuan lebih mudah. Berbeda dengan jamannya dulu. Segalanya serba terbatas dan fasiltas pun minim. Oleh karena itu, Eti pun berpesan untuk bidan-bidan sekarang, terutama bidan-bidan yang baru lulus agar tidak semata-mata mengejar materi, tetapi tingkatkan dulu ketrampilan dan skill-nya. Perluas pengetahuan dan wawasan karena akses informasi sekarang mudah didapat. Sedang untuk IBI, semoga IBI bisa menjawab keinginan para anggotanya, demikian harapan ibu 2 anak yang memiliki motto “hidup adalah pilihan.� . [Pram]

Ditanya apakah ada kesulitan selama berkiprah sebagai bidan, Eti berujar bahwa kesulitan atau kendala sudah pasti ada. Ibarat sebuah jalan tidak selamanya lurus, pasti akan berbelok, mendaki dan menurun. Dan, kendala yang dulu selalu menjadi tantangan yang harus dihadapinya ialah disaat dirinya memberikan penyuluhan kepada masyarakat. Ketika itu masyarakat beranggapan dan merasa bahwa penyuluhan yang diberikan bukanlah sebagai kebutuhan mereka, tetapi merupakan kebutuhan bidan. Jadi, mereka kerap tidak datang atau masa bodoh saat Eti memberi

30

Majalah Intern Bidan/Edisi No. 01/VII/2011

Bidan Linda Ratna Yanti Ketua Ranting Ciampea

Tak Pernah Mengeluh

T

erkadang cita-cita dapat dipengaruhi oleh lingkungan, keluarga dan masyarakat serta alam sekitarnya. Tapi tak semua orang bisa mewujudkan cita-citanya. Seiring waktu, ada yang gagal mencapai cita-cita, ada yang beralih cita-cita, ada juga yang berhasil menggapai citacitanya bahkan melampaui tapi ada yang mendapati dirinya jauh melenceng dari cita-cita semula.

Besar di lingkungan Keluarga Medis Demikian pulalah yang terjadi pada perjalanan hidup tokoh kita ini, Linda Ratna Yanti, AM.Keb. Linda begitu ia disapa- termasuk orang yang beruntung. Ia dilahirkan dan dibesarkan dari keluarga yang punya profesi di bidang kesehatan. Sehari-hari ia melihat aktifitas keluarganya itu, hingga akhirnya Linda termotivasi dan mempunyai cita-cita menjadi seorang bidan. Citacita yang tentu saja mendapat dukungan dari keluarga.

Mengabdi Di Tanah Kelahiran Untuk mewujudkan itu Linda pun memilih melanjutkan sekolah kebidanan. Selepas dari SMP di Sukabumi ia masuk SPK di Jakarta (1992). Berikutnya ia melanjutkan ke Diploma 1 (D-1) Kebidanan di Sumedang, Jawa Barat (1993). Lulus dari D1, Linda segera bertugas di tanah kelahirannya sendiri, yaitu di daerah Sukabumi Selatan. Sebuah tugas berat menanti di depannya. Ia harus membangun kepercayaan masyarakat terhadap profesi bidan, karena selama ini masyarakat desa boleh dibilang awam terhadap pekerjaan seorang bidan. Masyarakat ketika itu lebih percaya kepada seorang paraji untuk menangani proses persalinan mereka. Ini kebiasaan turun-temurun yang sudah berjalan puluhan tahun. Dan, Linda harus mengubah kebiasaan itu. Bukan hal yang mudah, memang. Terlebih lagi usia Linda saat itu masihlah sangat muda. Belum lagi sarana dan prasarana kesehatan yang kala itu belum memadai. Jangkauan wilayah yang jauh, hingga tatkala dirinya hendak merujuk pasiennya ke RS karena proses persalinan yang tidak normal, dirinya selalu mengalami kesulitan. Baik kesulitan alat transportasi maupun sulitnya rute jalan yang harus ditempuh. Itulah hambatan-hambatan yang harus dilewatinya ketika ia bertugas sebagai bidan desa.

39

Majalah Intern Bidan/Edisi No. 01/VII/2011


Jurnal Bidan

Jurnal Bidan

Profile

masyarakat dapat menerima dan mengakui eksistensinya. Lebih dari itu, masyarakat pun percaya dan membutuhkan tenaganya sebagai bidan.

Disinggung soal program kerja oragnisasi yang dipimpinnya, Poppy menjelaskan bahwa ia selalu mengupdate informasi-informasi terbaru, baik dari hasil seminar maupun info dari dinas kesehatan, untuk meminimalisir angka kematian ibu dan anak.[NJ]

Berawal Dari Bidan Desa Letak geografis yang jauh dari kota Bogor, kecamatan Jasinga merupakan wilayah kabupaten Bogor yang paling barat, berbatasan dengan kabupaten Lebak, Provinsi Banten. Di wilayah inilah Poppy ditempatkan dan menjadi ajang pengabdiannya, memberi kontribusi pada masyarkat lewat keahliannya sebagai bidan. Tugasnya, selayaknya profesi bidan yaitu mengurus dan memantau kesehatan ibu hamil, menangani persalinan dan memberi penyuluhan tentang pentingnya kesehatan ibu hamil dan keselamatan persalinan. Sebagai wanita yang lahir dan besar di Jasinga, Poppy paham akan karakter, kultur dan adat istiadat masyarakat setempat. Namun bukan hal yang mudah untuk meyakinkan masyarakat tentang eksistensi diri dan profesinya. Butuh proses panjang untuk dapat diterima di masyarakat. Hampir 10 tahun ia wara-wiri memberi penyuluhan hingga akhirnya masyarakat mau mendengar dan mengikuti anjurannya tentang bagaimana prosedur persalinan yang benar dan aman menurut standar kesehatan.

Paraji Sebagai Mitra Kerja Karena awam dan rendahnya tingkat pendidikan masyarakat terhadap kesehatan, juga karena telah berlangsung secara turun-temurun, sebagian besar masyarakat mempercayakan persalinan mereka kepada paraji. Hal ini merupakan tantangan terberat yang harus dihadapi Poppy ketika memulai karirnya sebagai bidan desa. Di satu sisi ia ingin mengubah kebiasaan masyarakat agar tak lagi pergi ke paraji saat hendak melahirkan, tapi di sisi lain ia juga tak ingin masyarakat tersinggung dengan sepakterjangnya. Apalagi terus menganggap bidan sebagai pesaing paraji.

Rajin Ber-anjangsana Dua sisi yang bertolak belakang inilah yang perlahan ia benahi. Caranya, Poppy pun rajin beranjangsana dan melakukan pendekatan kepada masyarakat, khususnya kepada para paraji. Dengan kerendahan hati Poppy menjadikan para paraji sebagai sosok ibu sekaligus guru baginya. Dengan cara seperti itulah, perlahan tapi pasti masyarakat semakin terbuka dan tak lagi mempersoalkan kehadirannya.

Profile

Bidan Dewi Sukreni Ketua Ranting Kemang

Ikhlas Ditempatkan Di Daerah Terpencil

P

erjalanan bangsa Indonesia telah mencatat peranan aktif wanita dalam memperjuangkan kualitas kehidupan bernegara. Kartini, Dewi Sartika, Cut Nyak Dien serta para tokoh pejuang wanita lainnya, merupakan contoh yang dapat dijadikan referensi bagi partisipasi wanita dalam kehidupan berbangsa. Seiring dengan perkembangan informasi dan teknologi, peran wanita dalam kehidupan social dan politik memang sering termarginalisasikan. Latarbelakang inilah yang membuat Dewi Sukreni turut berpartisipasi mengabdikan dirinya dengan menjadi bidan dan ikhlas ditempatkan di daerah yang memang terpencil dan belum memahami arti penting kesehatan terlebih lagi persoalan melahirkan dengan mengedepankan keselamatan ibu dan anak dalam persalinannya.

10 tahun Menggeluti Profersi Bidan Perawakannya sedang, sorot matanya tajam, mengisyaratkan keteguhan dan wataknya yang keras. Namun berbincang sesaat dengannya, siapa pun pasti akan segera menyimpulkan bahwa ia adalah pribadi yang ramah, bersahabat, rendah hati, dan terbuka. Begitulah sketsa ringkas tentang sosok wanita yang akrab disapa Dewi ini. Di balik perawakan sedang dan penampilannya yang bersahaja, sebenarnya tersimpan magma dengan kekuatan sulit diduga. Magma yang membuat wanita ini tak pernah letih apalagi menyerah menapaki fase demi fase kehidupan, khususnya sebagai pegawai negeri sipil dengan profesi bidan yang sudah dijalaninya lebih dari 10 tahun.

Tugas Di Kalimantan Menurut Poppy, pada dasarnya bidan juga butuh paraji. Ada bagian pekerjaan yang bisa dilimpahkan kepada paraji. Namun demikian, kalaupun ada yang dilimpahkan ke paraji tentu tetap dalam pengawasan bidan.

38

Jejak langkah wanita kelahiran Jakarta, 19 Juni 1972 ini, tak ubahnya sebuah drama panjang. Di dalamnya tersimpan babak babak dimana kegetiran, keharuan, kekerasan, kegigihan, perjuangan,

Majalah Intern Bidan/Edisi No. 01/VII/2011 31

Majalah Intern Bidan/Edisi No. 01/VII/2011


Jurnal Bidan

Jurnal Bidan

Profile

Profile

persalinan setelah anaknya lahir agar menyusuinya dengan menggunakan ASI. Dewi juga menyarankan agar pemeriksaan rutin kesehatan Anak, karena ini sangat penting, imbuhnya. Di akhir wawancaranya Dewi berharap memasuki usianya yang ke 60 Tahun IBI bisa lebih menjangkau dan keberadaanya dapat dirasakan oleh masyarakat. Dan kepada instansi terkait Dewi juga berharap peran serta kerjasamanya terutama kepada instansi instansi Pemerintahan dalam menyosialisasikan arti penting kesehatan dan keselamatan Ibu dan Anak dalam kehidupan. (Eman)

Bidan Poppy Novianti Ketua Ranting Jasinga

Tantangan Menjadi Bidan Desa

T

erlahir dan besar di lingkungan keluarga yang punya profesi sebagai tenaga pendidik menjadi inspirasi untuk mengikuti jejak orangtua. Maka, Poppy pun berkeinginan menjadi guru. Satu profesi yang dicita-citakannya sejak kecil lantaran ia sering melihat kiprah orangtuanya yang menjadi guru. Namun apa daya, cita-citanya tak mendapat dukungan dari keluarga. Orangtuanya lebih mengarahkan poppy ke sekolah kesehatan. Alasannya, untuk kebaikan dan masa depan Poppy sendiri.

Keinginan Orangtua Bersama Pengurus Ranting Kemang, usai Rapat rutin. (Dok JB)

Selain itu, orangtuanya mungkin telah melihat talenta yang dimiliki Poppy, yang lebih cocok berkecimpung di bidang medis. Ditambah lagi sang orangtua melihat kebutuhan masyarakat daerah yang masih kurang mendapat perhatian dan pelayanan di bidang kesehatan. Oleh karena itu, orangtuanya ingin salah satu anggota keluarga mereka ada yang bisa memberi kontribusi dan membantu masyarakat di daerahdaerah dengan memberi pelayanan dan penyuluhan di bidang kesehatan, terutama kesehatan ibu hamil dan persalinan.

kekuatan nurani, dan keyakinan, bersilang tindih hingga bermuara pada kebahagiaan. Sulit dibayangkan, seorang bidan yang ditugaskan ditempat terdalam jauh dari keramaian, pada suatu ketika dipercaya menjadi salah satu Ketua Ranting Cabang IBI Kabupaten Bogor. Begitulah kenyataannya, Dewi wanita ini akrab disapa melalui suatu proses yang harus ditempuh, mulai dari ditempatkan di salah satu Kecamatan terbelakang yang ada di Kabupaten Bogor, kemudian dialihtugaskan ke Kalimantan dan terakhir ia dimutasi ke Puskesmas Ciseeng Kabupaten Bogor. Bersama Dengan Pengurus Cabang IBI Cabang Kab. Bogor pada Perayaan HUT IBI ke 60 (Dok JB)

Keinginan Ortu terwujud

Bagi Istri dari dr M. Toyo Burrohim ini, menolong persalinan tanpa terjadinya konflikasi adalah sesuatu yang merupakan kebahagian tersendiri. Menurutnya, sebagai seorang bidan kita patut bersyukur kepada A l l a h S W T, k a r e n a t e l a h memberikan dengan segala kemampuan yang dimiliki untuk membantu persalinan orang lain dengan selamat atau dengan kata lain tanpa terjadinya konplikasi yang tidak diinginkan. Jika dalam menolong persalinan ini tanpa konplikasi kita sebagai bidan jangan takabur karena biar bagaimanapun pasti ada pertolongan yang diberikan Allah SWT.

Apa yang diinginkan orangtuanya ternyata tak membuat Poppy patah arang. Baginya mengikuti anjuran orangtua merupakan ibadah yang kelak bisa membuat segalanya mudah. Alhasil, Poppy pun mengikuti apa yang diarahkan dan diinginkan orangtuanya, yakni melanjutkan studi di sekolah kebidanan, yang setelah lulus nanti kiprahnya dapat menolong masyarakat di bidang kesehatan ibu dan anak. Berkat restu orangtua serta kerja keras dan ketekunannya Poppy berhasil meraih apa yang dicitacitakan oleh orangtua dan dirinya, yakni menjadi seorang bidan. Menurutnya, ia sangat bersyukur karena dapat mewujudkan keinginan orangtua, dan dirinya pun merasa bahagia menikmati apa yang saat ini menjadi profesinya, yakni berkiprah sebagai bidan.. Dikisahkan Poppy, sejak awal ia mengabdikan dirinya sebagai bidan banyak terjadi benturan, timbul pro dan kontra di masyarakat. Namun Poppy menganggap itu merupakan satu tantangan. Menurutnya, hal itu adalah bagian dari proses pendewasaan diri dalam pengabdiannya di masyarakat. Alhamdulillah, dengan proses pendekatan yang kontinyu dan sabar, akhirnya

Selalu Menganjurkan Dengan ASI Selain itu Ibu dari tiga anak ini selalu menyarankan serta menganjurkan kepada Ibu ibu yang ditolongnya dalam 32

Majalah Intern Bidan/Edisi No. 01/VII/2011

37

Majalah Intern Bidan/Edisi No. 01/VII/2011


Jurnal Bidan

Jurnal Bidan

Profile

Profile

mendorong.

masyarakat pun semakin baik,” katanya.

Uji Kompetensi

Dengan uji kompetensi bidan ini, dia juga berharap bahwa masalah-masalah seperti pencegahan infeksi, pemasangan IUD atau persalinan sudah bisa berjalan baik ”Dan yang pasti, uji kompetensi bidan itu sudah tentu akan meliputi juga masalah pengetahuan keterampilan dan perilaku,” ujarnya lagi.

Makanya nanti masalah ini akan diujikan melalui uji kompetensi,” katanya. Menurut istri dari H. Didin Saipudin ini, setiap bidan mau tidak mau harus melakukan uji kompetensi ini. ”Karena kalau tidak, kita tidak mungkin bisa mengejar ketertinggalan, tidak mungkin bisa mengikuti perkembangan globalisasi. Dan bukan tak mungkin ke depan nanti ada bidan dari Australia yang membuka praktik di sini. Ada bidan dari Malaysia membuka praktik di Cogreg. Karena Globalisasi. Tidak bisa kita menolak,” katanya. Untuk itu pula, Yuyun mengajak semua bidan untuk meningkatkan kompetensi. Dia bahkan menyebut, sebetulnya ada 24 standar kompetensi bidan. Namun hal tersebut diciutkan lagi untuk memudahkan pelaksanaan. ”Makanya dengan standar kompetensi yang tidak terlalu banyak ini para bidan harus bisa memenuhi kebutuhan ini,” ujarnya. Dia juga menggariskan bahwa kompetensi yang harus ditingkatkan itu setidaknya menyentuh aspek pelayanan keluarga berencana, konseling selama kehamilan, melahirkan, sampai balita. ”Kalau bidan tidak bisa melayani ini, berarti bukan bidan,” ujarnya. Yuyun berharap menginjak usianya yang ke 60 IBI selaku organisasi profesi bidan harus terus mendorong anggotannya untuk meningkatkan kompetensi. ”Dengan istrumen ini kita menguji dengan kenyataan yang ada. Dan Alhamdulillah ini sudah dilaksanakan pada tahun 2010,” katanya. Instrumen ini, masih menurut bidan yang sudah bertugas di Puskesmas Cogreg 11 Tahun ini, akan menguji keterampilan komunikasi dan klinis setiap bidan. Jadi bukan hanya komunikasi saja yang dikembangkan tetapi masalah klinisnya juga dikedepankan. ”Dengan merancang keterampilan klinis, Yuyun mengharapkan kompetensi bidan akan bisa ditingkatkan dan pelayanan kepada Bd. Yuyun Bersama Pengurus Ranting Parung

Bidan Tri Mulyani Ketua Ranting Cigombong

Bidan Delima

gagal. Bahkan, tak jarang bidan selalu menyediakan waktunya 24 jam penuh untuk menyelamatkan nyawanyawa manusia. Kerja yang luar biasa dan mulia.

Yuyun juga menjelaskan mengenai profil bidan yang baik, yang dia istilahkan sebagai bidan Delima, kata dia, adalah Bidan yang memiliki nilai luhur, yakni memberikan pelayanan KB dan Kesehatan reproduksi berkualitas terbaik dengan harga terjangkau. Bersahabat, yakni memiliki rasa peduli yang tinggi dan kasih sayang terhadap para pelanggan. Bahkan, menunjukkan kehangatan kepada pelanggan sehingga mereka merasa yakin berada ditangan bidan yang tepat.

Prihatin Jika Harus Dibawa ke Paraji Demikian pula yang dijalani oleh Tri Mulyani yang mengabdikan dirinya sebagai bidan. Pilihan ini dilandasi dari keinginannya untuk menolong sesama. Tri demikian ia disapa- sering prihatin jika melihat ibuibu di desa melahirkan hanya dibantu oleh paraji. Bukan berarti dirinya mengecilkan arti dan kemampuan paraji, namun bila proses kelahiran seorang ibu ditangani oleh seorang professional tentu keselamatannya pun akan lebih terjamin. Keprihatinan itu yang kemudian menggiringnya masuk sekolah bidan.

Yuyun menambahkan, Bidan Delima harus mengerti apa yang dirasakan pelanggan. Caranya, memperoleh rasa percaya pelanggan, sehingga mereka dengan mudah akan berbagi masalah. Di samping itu, juga memiliki kesabaran untuk mendengarkan segala permasalahan yang tengah dihadapi para pelanggan. ”Bidan Delima harus merasa senang untuk berbicara dengan mereka, dan juga mau memberi pendapat serta menghargai, memberi simpati dan juga memberi solusi atas masalah yang dihadapi pelanggan,” ujarnya. ”Dan yang tak kalah penting Bidan Delima juga memiliki kepedulian terhadap keluarga pelanggannya,” katanya.

Terjun Ke Masyarakat Lulus sekolah bidan Tri diterima bekerja di RS Cibinong, Kabupaten Bogor. Sekian lama bekerja sebagai tenaga honor di RS tersebut, ia pun diangkat menjadi PNS dan ditempatkan di Puskesmas Cigombong. Kiprahnya sebagai bidan pun dimulai di sini. Karena ia bekerja di Puskesmas, dirinya bisa langsung berinteraksi dengan masyarakat. Berbeda saat ia bekerja di rumah sakit, yang hanya berhubungan dengan pasien saat pasien datang ke RS. Kalau di Puskesmas dirinya bisa terusmenerus berhubungan dengan masyarakat, karena tugasnya tak hanya di belakang meja, tapi harus terjun langsung ke lapangan.

Menurut Wanita yang mendapat SK Bidan Tahun 1992 ini, Bidan Delima merupakan bidan yang handal, mandiri , menjunjung tinggi etika profesi dan jujur dalam melakukan tugasnya. Mau berjuang meraih sukses dan mendukung teman sejawat. Artinya, lanjut dia, Bidan Delima mau menjadi mentor dan fasilitator. Menurut Yuyun, keberadaan Bidan Delima ini penting, apalagi ketika bangsa Indonesia tengah menghadapi era globalisasi yang ditandai persaingan yang sangat ketat di segala bidang. Itu pula sebabnya, Yuyun berpendapat adalah langkah tepat kerjasama yang harus dilakukan antara IBI dan lembaga-lembaga lain yang menawarkan Program Pemberdayaan Keluarga Mandiri. Yuyun juga berharap agar IBI tetap konsisten, semakin dewasa dan bijaksana dalam melayani masyarakat, dan kepada anggota anggota IBI teman seprofesi Yuyun juga menginginkan agar kita semua tertib secara administrasi.(Eman)

36

Sandy Caesario Widyatama

Majalah Intern Bidan/Edisi No. 01/VII/2011

P

engabdian seorang bidan memang lebih bersifat pada pengabdian kemanusiaan dibanding sebagai profesi kerja. Bisa dibayangkan, kerja seorang bidan dalam menangani proses persalinan. Di situ bidan berusaha menyelamatkan hidup dua nyawa sekaligus, nyawa ibu dan nyawa sang bayi. Oleh karena itu, bidan pun dituntut memiliki skill dan ketrampilan, pengetahuan atau knowledge yang mumpuni tentang dunia medis juga memiliki rasa tanggung jawab dan dedikasi. Semua bidan pasti akan berupaya membekali dirinya dengan ketentuan seperti di atas. Tak ada bidan yang menginginkan proses persalinan yang ditanganinya

33

Tri harus membimbing dan memberi penyuluhanpenyuluhan kepada masyarakat. Seperti, penyuluhan masalah kesehatan juga penyuluhan tentang KB. Tak jarang masyarakat sekitar bersikap masa bodoh terhadap kegiatannya. Namun Tri tak menyerah. Dengan sabar ia terus melakukan pendekatan-pendekatan, serta bekerjsama dengan berbagai pihak untuk mensosialisaikan programprogram kesehatan yang telah dicanangkan oleh pemerintah, yang dalam hal ini melalui PuskesmasPuskesmas di berbagai wilayah. Menurut Tri, tugas seorang bidan memang tugas kemanusiaan. Dirinya akan merasa bahagia jika berhasil menolong proses persalinan, dalam arti sang ibu dan sang bayi selamat. Kebahagiaan, yang katanya, sungguh luar biasa, karena dirinya berhasil menyelamatkan nyawa manusia.

Program Ranting Disinggung soal program IBI ranting Cigombong, menurutnya, yang utama menjalankan programprogram yang telah disusun pemerintah, dalam hal ini

Majalah Intern Bidan/Edisi No. 01/VII/2011


Jurnal Bidan

Jurnal Bidan

Profile

program-program yang dicanangkan Binkes. Selain itu, terus mendata bidan-bidan yang ada di wilayah Cigombong. Saat ini jumlah anggota yang terdata di IBI ranting Cigombong tercatat 60 bidan.

Profile

Bidan Yuyun Yunani Ketua Ranting Parung

Syaratnya 3

Sandy Caesario Widyatama

K

etua Pengurus Ranting Ikatan Bidan Indonesia (IBI) Parung Cabang Kabupaten Bogor Yuyun Yunani, AmKeb, mengemukakan, bidan yang akan melaksanakan tugas di tengah masyarakat harus mempunyai suatu kompetensi minimal.

Ada satu pengalaman yang berkesan yang dialami Tri selama mengabdi sebagai bidan. Pengalaman yang takkan terlupakan seumur hidup. Peristiwa itu terjadi pada tahun 1996 ketika dirinya hendak mempunyai anak ke-2. Waktu itu usia kandungan Tri mencapai 36 minggu atau jalan 8 bulan. Tri mengisahkan, saat itu jika pergi ke puskesmas ia selalu membawa motor sendiri. Kebetulan hari itu ada pasien yang mau melahirkan dan dirinya dipanggil untuk menangani proses kelahirannya. Karena itu merupakan tugasnya sebagai bidan, Tri langsung tancap gas. Tapi malang, sesampai di jalan Tri jatuh bersama motornya, dan ketuban pecah. Berhubung suami tugas di luar kota, dan di rumah anak pertama tak ada yang menjaga, Tri tak segera ke rumah sakit, dan tetap menunggu hingga tiga hari di rumah. Sampai akhirnya teman-teman di puskesmas tahu dan membawa dirinya ke rumah sakit.

Standar Kompetensi Yang Harus Dimiliki Standar kompetensi minimal itu terpenting adalah meliputi keselamatan dan kesehatan ibu dan anak. ”Ini merupakan standar yang harus dikuasai oleh seorang bidan, yakni standar kompetensi minimal dalam memberikan keselamatan dan kesehatan pada Ibu dan anak,” katanya mengawali pembicaraan saat diwawancarai tim dari Jurnal Bidan. Untunglah meski ketuban sudah pecah si jabang bayi masih selamat. Sang bayi lalu diberi nama Sandy Caesario Widyatama. Untuk mengenang perjalanan yang paling menegangkan selama hidup, tutur wanita kelahiran Bogor, 7 Juli 1966 yang kini mukim di Kampung Benteng RT 04/01 Desa Tugu Jaya, Kecamatan Cigombong. (Pram)

Menurut Yuyun, ada tiga kompetensi yang harus dikuasai bidan, yakni pengetahuan, keterampilan, dan perilaku. Untuk masalah pengetahuan, seorang bidan setidaknya harus menyelesakan pendidikan setingkat Diploma 3. Dia mengakui, di Rantingnya yang mencakup wilayah Kecamatan Parung, Kecamatan Rumpin dan Kecamatan Gunung Sindur saja dari 72 bidan baru beberapa persen yang sudah menyelasaikan pendidikan setingkat D3. ”Jadi bidan yang diakui itu setingkat D3. Ujar Ibu 3 orang anak ini. Di bidang keterampilan, demikian Yuyun, seorang bidan harus benarbenar mampu menguasai cara menolong persalinan, memasang IUD yang benar-benar atau hal teknis sejenisnya. ”Ini juga ada standarnya, dan ada kompetensinya. Makanya keterampilan ini juga tidak bisa diabaikan dan harus terus tingkatkan,” ujarnya. Sedangkan untuk perilaku, wanita Kelahiran Tangerang 20 Nopember 1970 ini mengakui, memang sulit untuk meningkatkan perilaku bidan. Alasan dia, jika masalah pengetahuan bisa ditutup dengan sekolah dan masalah keterampilan bisa ditutup dengan pelatihan-pelatihan, untuk masalah perilaku ini tidak ada pendidikan formalnya. ”Ini pekerjaan yang sangat sulit dan hanya kita sendiri yang tahu. Saya berperilaku baik, mau apa tidak, punya keinginan apa tidak, ini orang lain tidak bisa memaksakan. Hanya memberi motivasi. Dari organisasi profesi (IBI-red), juga hanya bisa

34

Majalah Intern Bidan/Edisi No. 01/VII/2011

35

Majalah Intern Bidan/Edisi No. 01/VII/2011

MJB Jurnal Mounting juli 01  

...

Read more
Read more
Similar to
Popular now
Just for you