Skip to main content

Majalah SANTRI! Edisi 8 "Moral Combat"

Page 1

Desain Cover :

Khalis Aqila Dihari Kontributor Illustrasi :

Muhammad Faiq Helmy


redaksi


Cobalah bernafas dulu se ap dapat giliran, sehingga lawan bicara pun merasa nyaman. Lalu, ke ka sedang berdebat dan yakin pendapat kita 100% benar, jangan sampai terpancing emosi. Karena segala sesuatu yang disebabkan oleh hawa nafsu pas bisa dipatahkan oleh logika, jika berlawanan.

6 hal diatas walau sederhana insya Allah masih besar relevansi dan kegunaannya di zaman sekarang, karena moral takkan lekang oleh waktu. Terakhir, yakinlah bahwa kita memang dilahirkan untuk menjadi orang besar. Maka, jangan heran kalau segala sesuatu yang kita lakukan juga harus besar. Selalu ingat kalau hasil ďŹ x sebanding dengan proses.


INSPIRING INS NSPIRING INSP INSPIRING INS SPIRING INSPI INSPIRING INS NSPIRING INSP “Udah keren belum? “ “Kok, kalo dia yang make keren ya?” “Ah elah, gendut banget sih!?” “ Gila, si A kece bet!”


SPIRING INSPI PIRING INSPIRI SPIRING INSPI IRING INSPIRI SPIRING INSPI PIRING INSPIRI


SPIRING INSPI PIRING INSPIRI SPIRING INSPI IRING INSPIRI SPIRING INSPI PIRING INSPIRI yang bisa kita ubah. Ke ka kita sadar memiliki kekurangan dalam suatu pelajaran, kita bisa mengubahnya dengan usaha kita. Giat dalam berusaha, tak kenal lelah, hal-hal te rs e b u t ya n g b i s a m e n g u b a h kekurangan-kekurangan kita.

“Kok bisa, saya sudah berjuang sekeras mungkin, hasilnya tetap kalah sama mereka yang mungkin usaha dan doanya biasa saja?”. Fase-fase semacam ini yang sering buat kita frustasi dan putus asa, enggan untuk berusaha lebih lagi. Bahkan yang paling parahnya adalah mempertanyakan keadilan Allah Yang Maha Esa. Padahal, kegagalanke ga ga l a n ya n g te r j a d i s e ca ra berulang merupkan sebuah skenario Allah yang disengaja untuk menguji seberapa besar keyakinan dan tekad kita dalam berjuang. Ar nya, nggak ada yang namanya gagal, yang ada cuma usahanya yang kurang dan waktunya bagi kita untuk merasakan kemenangan.

Temen-temen, melihat atas apa yang semua kita bahas, permasalahannya itu ada pada dalam diri sendiri. Kita yang kadang kurang dalam bersyukur. Kita yang kadang nggak bisa berdamai sama kekurangan. Kita juga yang kadang berhen berusaha padahal sebenarnya diri ini masih sangat sanggup untuk berusaha. Kalau kata Mike Robbins, “many of us are our own worst enemies”. Musuh terbesar dalam kehidupan adalah diri kita sendiri. Oleh karena itu, kita juga harus memiliki rasa percaya diri. Karena dengan rasa percaya diri juga

kita akan berusaha sekuat tenaga sampai kita mampu.

In nya, buat temen-temen, teruslah berdamai dengan semua kekurangan kita, bersyukurlah atas apa yang kita miliki, tetaplah percaya diri dan terus berusaha dan berdoa. Karena kalau kata Bang Raditya Dika, “Terkadang, kita merasa apa yang kita dak punya untuk lebih indah dari apa yang kita punya. Padahal sebenarnya, apa yang kita punya sama indahnya”.

Terus bersyukur, berusaha, dan berdoa ya temen-temen, semoga segala yang disemogakan tersemogakan. Aamiin yaa robbal aalamiin.

janganlah merasa puas atas apa yang telah dicapai dan janganlah berhenti atas apa yang belum tercapai


tokoh

50


Sukses Tanpa Studied Oriented Oleh Rhayhan Izza


mengolah daging, hingga menghidangkan makanan yang lezat. Untuk menciptakan makanan yang lezat, koki-koki angkatan diharapkan oleh setiap angkatannya untuk bisa memperlihatkan bakatnya di dalam memasak. Mereka akan memasak makanan yang super lezat seperti rendang, sate, kari, dan yang lainnya.

7.

Makan Besar Idul Adha

Disinilah puncaknya Idul Adha, karena setelah santri lelah mengurusi hewan qurban, menyembelihnya, mengolahnya, dan memasaknya, barulah mereka bisa menyantap hidangan yang telah mereka masak dengan susah payah. Bisa kalian bayangkan betapa bahagianya santri Al Binaa saat itu.

Nah, itulah berbagai keseruan dalam perayaan hari raya Idul Adha di pesantren Al Binaa ini.

SANTRI! Magazine

Now Available on issuu.com/magazinesantri


Turn static files into dynamic content formats.

Create a flipbook
Majalah SANTRI! Edisi 8 "Moral Combat" by Majalah SANTRI! - Issuu