MENGAPA KITA HARUS PEDULI DENGAN PALESTINA? POLEMIK MULTILATERALISME DALANG KONFLIK PALESTINA YANG TAK KUNJUNG USAI
PERANG GAZA DAN TERORISME NEGARA
KASIH TUHAN DAN TRAGEDI PALESTINA
REFLEKSI TEODISI MAIMONIDES
PALESTINA DAN KETIDAKBERDAYAAN YANG TERUS BERLANJUT SURIAH: ANTARA REVOLUSI
MURNI DAN KEPENTINGAN
فلسطين ستتحرر من النهر إلى البحر فلسطين ستتحرر من النهر إلى البحر فل
هر من النهر إلى البحر فلسطين ستتحرر من النهر إلى البحر فلسطين ستتحرر من
سطين ستتحرر من النهر إلى البحر فلسطين ستتحررالن
النهر إلى البحر فلسطين ستتحرر من النهر إلى البحر
EDISI KEEMPAT
DESEMBER 2024
SEKACIP PINANG PENANGGUNG JAWAB SAHLUL LUBIS | PEMIMPIN UMUM IZZATUR RAHMAN PRADIATMA | PEMIMPIN REDAKSI ABDURRAUF SAID | SEKRETARIS REDAKSI WANDA HAMIDAH | EDITOR MOH ROSIH ALFARUQ, ALIFFIA HAFIIZHAH, RIPAL ZUKHRIPA, TAUFIIQUL HAKIM | LAYOUTER & DESAINER ABDURRAUF SAID
H
alo, Insight Mate sekalian! Setelah sekian lama, akhirnya kita dipertemukan lagi di penghujung tahun ini. Di tengah derasnya gelombang berita dan arus informasi, konflik Palestina-Israel tetap menjadi luka lama yang terus menganga. Edisi Majalah Insight kali ini akan menyajikan sejumlah artikel untuk menggugah kesadaran solidaritas dan merawat kepedulian terhadap perjuangan rakyat Palestina. Dalam lembar-lembar berikut, Insight Mate akan menjelajahi suara penentang ketidakadilan yang telah berlangsung lebih dari tujuh dekade, perjuangan untuk bertahan di bawah penjajahan, dan upaya-upaya untuk menjaga harapan di tengah gelapnya situasi. Tidak hanya dari perspektif politik dan kemanusiaan, tim redaksi Majalah Insight juga menyoroti nilai spiritual, sejarah, dan filosofis yang menjadikan pembelajaran mengenai Palestina penting dan dukungan terhadap perjuangan
mereka sebagai tanggung jawab kita bersama di bawah panji nilai-nilai kemanusiaan. Melalui artikel-artikel ini, tim redaksi Majalah Insight berharap dapat menghadirkan pemahaman yang lebih mendalam, sekaligus menjadi suara kecil untuk perubahan yang lebih besar. Kiranya ini dapat menjadi pemantik bagi kita semua untuk bergerak, berbuat, dan menyuarakan kebenaran. Palestina bukan sekadar isu politik atau regional; melainkan simbol universal dari perlawanan terhadap kezaliman. Mari bersama-sama kita jadikan momentum ini sebagai pengingat akan pentingnya memperjuangkan nilai-nilai perdamaian. Dari sini, tim redaksi Majalah Insight mengajak Insight Mate untuk melangkah lebih jauh, mengulurkan tangan, dan menjadi bagian dari suara kebenaran yang menggema. Billahi fi sabilil haq, Fastabiqul khairat.
ALAMAT REDAKSI Jl. Tn. Limun No.55 Pisangan, Ciputat Timur, Tangerang Selatan, Banten, 15419 EMAIL redaksi.insight@gmail.com
TARBIYAH
Kita Harus Peduli 6 Mengapa dengan Palestina? Fuad Nur Zaman
Tuhan dan Tragedi 8 Kasih Palestina: Refleksi Teodisi Maimonides
Taufiiqul Hakim
KABAR
Multilateralisme 10 Polemik Dalang Konflik Palestina yang Tak Kunjung Usai
Abdurrauf Said
12 Serba-Serbi LINIMASA KONFLIK PALESTINA Ground Zero" Wakili 14 "From Palestina di Film Internasional Terbaik Piala Oscar 2025
Abdurrauf Said
15 Serba-Serbi MENGENAL PALESTINA DARI LAYAR SINEMA
4
OPINI
Akar Konflik 16 Memahami Israel-Palestina Melalui
Pendekatan Neoclassical Realism Faiz Ali Ba'agil
Gaza dan Terorisme 18 Perang Negara Nirwansyah
dan 20 Palestina Ketidakberdayaan yang Terus
CAKRAWALA
Kita Harus 22 Mengapa Membaca? Wanda Hamidah
24 Serba-Serbi REKOMENDASI BACAAN LANJUTAN
Antara Revolusi Murni 26 Suriah: dan Kepentingan Izzatur Rahman Pradiatma
Berlanjut
Sahlul Lubis
5
TARBIYAH
لماذا نهتم بأمر فلسطين؟ MENGAPA KITA HARUS PEDULI DENGAN
PALESTINA FUAD NUR ZAMAN
S
KETUA BIDANG RISET, PENGEMBANGAN, DAN KEILMUWAN PK IMM ADAB CIPUTAT 2022-2023
ejak 7 Oktober 2023, perhatian dunia tertuju pada rangkaian peristiwa yang menggambarkan meningkatnya eskalasi politik di kawasan Timur Tengah. Berita-berita yang beredar secara global menyoroti ketegangan yang kian memanas, khususnya di wilayah Palestina dan sekitarnya, memicu kekhawatiran mendalam mengenai dampak yang mungkin ditimbulkan terhadap stabilitas regional dan perdamaian internasional. Konflik yang berkepanjangan di wilayah ini telah menyebabkan penderitaan yang mendalam bagi jutaan rakyat Palestina, sekaligus menjadi simbol ketidakadilan global yang memerlukan perhatian serius. Selain berdampak langsung pada kehidupan rakyat Palestina, isu ini juga memengaruhi stabilitas kawasan Timur Tengah dan perdamaian dunia secara menyeluruh, sehingga menjadikannya tanggung jawab bersama untuk mencari solusi yang adil dan berkelanjutan. Mengapa kita harus peduli terhadap Palestina? Pertanyaan ini bukan hanya menyangkut isu politik atau konflik regional, tetapi juga menyentuh nilai-nilai kemanusiaan yang universal. Setidaknya ada lima alasan utama yang mendasari pentingnya perhatian kita terhadap Palestina;
I’tiqadiyan (Keyakinan) Ditinjau dari sisi akidah, kita yakin al-Quds atau Masjid al-Aqsha adalah tanah suci yang diberkahi, al-Ardhu alMuqaddasah. Keberkahan dan kesucian Masjid al-Aqsha telah menjadi bagian tak terpisahkan dari keyakinan umat Islam. Sebagai salah satu tempat suci yang memiliki keistimewaan akidah, al-Quds tidak hanya menjadi kiblat pertama umat Islam, tetapi juga menyimpan jejak perjalanan spiritual yang mendalam. Hal ini ditegaskan dalam firman Allah:
ٰ ُ س ِج ِد ٱ ْل َح َر ِام ْ س َر ٰى بِعَ ْب ِدِۦه لَ ْي ًاًل ِ ّمنَ ٱ ْل َم ْ َ ِى أ ٓ س ْب َحنَ ٱلَّذ ٓ صا ٱلَّذِى ٰبَ َر ْكنَا َح ْولَهۥُ ِلنُ ِريَ ۥهُ ِم ْن َءا ٰيَتِنَا َ س ِج ِد ْٱأْل َ ْق ْ ِإلَى ٱ ْل َم ير َّ ۚ إِنَّهۥُ ُه َو ٱل ُ س ِمي ُع ٱ ْلبَ ِص “Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hambaNya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tandatanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. “(QS. Al-Isra’:1) Ayat ini menegaskan bahwa Masjid al-Aqsha adalah tempat yang diberkahi, baik secara fisik dengan lingkungan yang subur dan penuh manfaat, maupun secara spiritual sebagai tempat ibadah para nabi dan turunnya wahyu.
6
Kesucian dan keistimewaan ini menjadikan Masjid alAqsha bagian yang tak terpisahkan dari akidah umat Islam, sehingga pembelaannya merupakan kewajiban iman. Membela Palestina, yang di dalamnya terdapat Masjid al-Aqsha, bukan sekadar upaya mempertahankan sebuah wilayah, tetapi juga bagian dari menjaga simbol keimanan, warisan spiritual, dan amanah agama yang harus dipertanggungjawabkan di hadapan Allah.
Ta’abuddiyan (Ibadah) Dilihat dari sisi ibadah, Palestina memiliki Masjid alAqsha, salah satu dari tiga masjid suci yang memiliki keutamaan luar biasa dalam Islam. Shalat di Masjid alAqsha dijanjikan pahala yang berlipat ganda, yaitu 500 kali lipat dibandingkan dengan shalat di masjid lain, kecuali Masjidil Haram dan Masjid Nabawi. Keutamaan ini menegaskan bahwa umat Islam memiliki tanggung jawab untuk membebaskan dan menjaga kota suci ini, agar ibadah di dalamnya dapat dilaksanakan dengan aman dan khusyuk. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga menguatkan hal ini dalam sabdanya:
س ِجدِى َهذَا َ ُ الَ ت ْ اج َد َم َ الر َحا ُل ِإالَّ ِإلَى ثَالَث َ ِة َم ّ ِ ش ُّد ِ س صى َ س ِج ِد األ َ ْق ْ س ِج ِد ا ْل َح َر ِام َو َم ْ َو َم “Janganlah bersengaja melakukan perjalanan dengan sengaja (dalam rangka ibadah dan tujuan safarnya adalah tempatnya) kecuali ke tiga masjid: masjidku ini (masjid Nabawi), masjidil Haram dan Masjidil Aqsha.” (HR. Bukhari, no. 1189 dan Muslim, no. 1397). Hadis ini menggarisbawahi keutamaan Masjid al-Aqsha sebagai tujuan ibadah yang istimewa, sekaligus mengingatkan kita akan pentingnya menjaga dan membebaskan tempat suci ini sebagai amanah keimanan yang melekat pada setiap Muslim.
Insaniyan (Kemanusiaan) Dilihat dari sisi kemanusiaan, Palestina menghadapi tragedi yang luar biasa, dengan situasi yang telah menjadi salah satu krisis kemanusiaan terburuk dalam sejarah modern. Data terkini menunjukkan bahwa lebih dari 40.000 warga Palestina telah tewas akibat agresi militer yang terus berlangsung, dengan proporsi signifikan di antaranya adalah anak-anak dan perempuan. Sebagai dampak langsung, hampir 85% dari 2,3 juta penduduk Gaza telah kehilangan tempat tinggal, dan lebih dari 495.000 orang terancam kelaparan berat. Selain itu, infrastruktur dasar seperti fasilitas kesehatan, sekolah, dan sistem sanitasi telah hancur total, menyebabkan krisis kesehatan dan lingkungan yang meluas. MAJALAH INSIGHT | EDISI KEEMPAT
Genosida ini tidak hanya berbicara tentang nyawa yang hilang tetapi juga tentang trauma generasi, penghancuran hak-hak asasi manusia, dan pelanggaran hukum internasional. Membela Palestina dari perspektif kemanusiaan bukan hanya tanggung jawab moral tetapi juga upaya melawan ketidakadilan global, yang mencerminkan nilai-nilai solidaritas antarbangsa dan perjuangan untuk kedamaian yang berkelanjutan.
Tarikhiyan (Sejarah) Dilihat dari sisi sejarah, Indonesia memiliki jalinan yang sangat kuat dengan Palestina. Palestina adalah salah satu negara pertama yang mengakui kedaulatan NKRI pada tahun 1947, meskipun saat itu sendiri berada di bawah ancaman penjajahan. Sikap ini menjadi bukti nyata persaudaraan yang tulus antara dua bangsa yang sama-sama mengalami perjuangan panjang melawan kolonialisme. Bung Karno pernah menegaskan komitmen Indonesia terhadap Palestina dengan pernyataannya yang penuh makna: ‘Selama kemerdekaan bangsa Palestina belum diserahkan kepada orang-orang Palestina, maka selama itulah bangsa Indonesia berdiri menentang penjajahan di Palestina.’ Sikap ini menjadi landasan moral dan politik bagi Indonesia untuk terus mendukung perjuangan Palestina, sejalan dengan prinsip anti-penjajahan yang tercantum dalam Pembukaan UUD 1945. Sebagai bangsa yang lahir dari perjuangan melawan kolonialisme, Indonesia memiliki kewajiban moral untuk menunjukkan solidaritas terhadap rakyat Palestina, yang hingga kini terus berjuang untuk kebebasan dan kedaulatannya. Hubungan sejarah ini bukan hanya tentang pengakuan, tetapi juga panggilan untuk terus memperjuangkan hak asasi dan keadilan global.
ُ َمث َ ُل ا ْل ُم ْؤ ِمنِينَ فِي ت َ َوا ِ ّد ِه ْم َوت َ َرا ُح ِم ِه ْم َوتَعَا ط ِف ِه ْم َمث َ ُل ْ ع ْ س ِد ِإذَا ا س ِد ُ ُشتَكَى ِم ْنه َ سائِ ُر ا ْل َج َ ُض ٌو تَدَاعَى لَه َ ا ْل َج س َه ِر َوا ْل ُح َّمى َّ بِال “Orang-Orang mukmin dalam hal saling mencintai, mengasihi, dan menyayangi bagaikan satu tubuh. Apabila ada salah satu anggota tubuh sakit, maka seluruh tubuhnya ikut merasakan tidak bisa tidur dan panas (turut merasakan sakitnya).” (Shahih Muslim 4685) Hadis ini menggambarkan bahwa penderitaan saudara Muslim, seperti yang dialami rakyat Palestina, adalah tanggung jawab bersama. Maka, setiap muslim dipanggil untuk peduli, baik melalui doa, dukungan moral, maupun bantuan nyata, demi meringankan penderitaan mereka dan memperkokoh ukhuwah yang menjadi pilar kekuatan umat Islam. Kepedulian terhadap Palestina bukan hanya sekadar respons terhadap konflik politik, tetapi juga panggilan akidah, kemanusiaan, sejarah, ibadah, dan persaudaraan dalam Islam. Palestina, dengan Masjid al-Aqsha sebagai simbol spiritual dan pusat keimanan, menjadi amanah bagi umat Islam untuk dijaga. Tragedi kemanusiaan yang terjadi di sana menunjukkan urgensi solidaritas global melawan ketidakadilan. Sejarah panjang dukungan Palestina terhadap kemerdekaan Indonesia juga mengingatkan kita akan pentingnya membalas persaudaraan tersebut. Dengan dasar-dasar yang kuat ini, membela Palestina adalah bentuk nyata dari keberpihakan terhadap keadilan, nilai kemanusiaan, dan tanggung jawab iman.
Ukhawiyan (Persaudaraan) Ditilik dari sisi persaudaraan dalam Islam, yang sedang mengalami masalah di Palestina adalah kaum Muslimin, saudara kita. Dalam ikatan ukhuwah Islamiyah, kita tidak mungkin membiarkan mereka begitu saja tanpa perhatian dan bantuan. Islam mengajarkan pentingnya solidaritas antarumat, sebagaimana diibaratkan dalam sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:
MAJALAH INSIGHT | DESEMBER 2024
7
TARBIYAH
KASIH TUHAN DAN TRAGEDI PALESTINA
REFLEKSI TEODISI MAIMONIDES TAUFIIQUL HAKIM
Tragedi kemanusiaan di Palestina menyisakan luka yang mendalam sekaligus menguji keyakinan kita tentang keadilan Tuhan. Artikel ini mengupas perspektif Maimonides yang menawarkan cara memahami penderitaan manusia dan hubungannya dengan Tuhan. Sebuah refleksi yang menggugah nurani, mengajak kita untuk berjuang demi kemanusiaan di tengah ketiadaan kebaikan.
8
MAJALAH INSIGHT | EDISI KEEMPAT
S
egala luka dan derita, baik fisik maupun mental, selalu dirasakan oleh rakyat Palestina selama pendudukan Israel atas tanah air mereka. Francesca Albanese, pelapor khusus PBB untuk situasi HAM di Palestina, dalam artikel ‘Pakar PBB: Israel Lakukan Sejumlah Tindakan Genosida di Gaza’ yang diterbitkan oleh VOA Indonesia pada 26 Maret 2024, menyatakan bahwa Israel telah melakukan tiga dari lima tindakantindakan genosida sebagaimana didefinisikan dalam Konvensi Genosida PBB. Tindakantindakan tersebut adalah pembunuhan anggota sebuah kelompok, menyebabkan luka tubuh dan mental serius pada anggota kelompok itu, dan dengan sengaja menimbulkan kondisi kehidupan kelompok yang diperkirakan akan menyebabkan kehancuran fisiknya secara keseluruhan atau sebagian. Bagi kaum beragama, fenomena tersebut tidak hanya melahirkan suatu masalah teologis yang berdimensi sosial-kemanusiaan, tetapi juga yang berdimensi metafisis. Problem tersebut adalah dilema teodisi. Teodisi adalah suatu upaya untuk mempertahankan keadilan dan kemahabaikan Tuhan dalam menghadapi adanya kejahatan di dunia. Problem yang dipertanyakan adalah, ‘Jika Tuhan Maha Kasih, Maha Tahu, dan Maha Kuasa; mengapa Ia membiarkan atau menciptakan kejahatan dan penderitaan?.’ Seorang rabbi dan filsuf Yahudi terbesar di Abad Pertengahan, Moses ben Maimon (Maimonides), mengajukan suatu jawaban menarik atas masalah ini. Kejahatan sebagai Ketiadaan
Di dunia ini, terdapat banyak fenomena yang diidentifikasi sebagai kejahatan/keburukan (evil). Fenomena tersebut seperti peperangan, penyakit, bencana alam, dan sebagainya. Maimonides menganggap bahwa kejahatan/ keburukan tersebut adalah ketiadaan dari suatu kebaikan tertentu. Baginya, suatu ketiadaan bukanlah sekadar ketiadaan ontologis namun juga mencakup ketiadaan sifat tertentu. (Maimonides, 2002). Misalnya, kebutaan adalah ketiadaan penglihatan. Maimonides memandang bahwa kejahatan adalah kejahatan hanya jika berkaitan dengan sesuatu yang ada. Dalam kaitan tersebut, kejahatan (evil) adalah ketiadaan sebagian atau keseluruhan dari sesuatu yang ada tersebut. Kejahatan sebagai suatu ketiadaan juga diafirmasi oleh Murtadha Muthahhari, filsuf muslim kontemporer, sebagai pijakan yang benar dan fundamental. (Muthahhari, 2009) Ia menjelaskan bahwa maksud dari para filsuf yang menyatakan bahwa ‘kejahatan adalah ketiadaan’ bukan berarti mereka menyangkal setiap kejahatan yang ada di tengah-tengah manusia. Karena berbagai keburukan seperti penganiayaan, kebodohan, kemiskinan, bencana alam, dan sebagainya, sedemikian nyatanya. Bukan pula maksudnya bahwa semua keburukan itu tidak ada sehingga seseorang harus menerima begitu saja keadaan tersebut sebagai sesuatu yang baik. Maksud ungkapan itu adalah bahwa semua kejahatan itu adalah sesuatu yang non-eksistensi atau sesuatu yang tidak sempurna. Keberadaan keburukankeburukan tersebut adalah suatu kekosongan dan kekurangan dari sesuatu. Suatu keburukan seperti kebutaan tidak memiliki realitas terpisah dan mandiri. Kebutaan hanyalah kekosongan atau kekurangan dari penglihatan. MAJALAH INSIGHT | DESEMBER 2024
Tuhan bukan Pencipta Kejahatan Berangkat dari asumsi bahwa kejahatan adalah ketiadaan, Maimonides memandang bahwa mustahil Tuhan menciptakan kejahatan. Maimonides menjelaskan bahwa kita dapat menganggap seseorang yang menghilangkan penghalang suatu gerak sebagai penyebab gerak tersebut. Seseorang yang menghilangkan tiang yang menahan balok, adalah penyebab bergeraknya balok itu. Sehingga dapat dikatakan pula bahwa orang yang menghilangkan sifat tertentu adalah penyebab ketiadaan sifat tersebut. Meskipun ketiadaan sifat tersebut tidak positif secara ontologis. Maimonides mengutip Yesaya 45:7 yang berbunyi, ‘Aku menjadikan terang dan menciptakan (bore) gelap; mewujudkan kedamaian dan menciptakan (bore) kejahatan.’ Menurutnya, pada ayat ini tidak dikatakan ‘Aku menjadikan (‘oseh) kegelapan’ atau ‘Aku menjadikan (‘oseh) kejahatan’ karena kegelapan dan kejahatan bukanlah sesuatu yang ada secara positif sehingga dapat diberikan kata kerja ‘menjadikan (to make)’. Kata kerja ‘bara’ dalam bahasa Ibrani digunakan pada sesuatu yang belum ada. Menurutnya, hanya dalam pengertian ini suatu ketidakberadaan dapat dikatakan diakibatkan dari suatu tindakan pelaku. Tindakan seorang pelaku tidak dapat dikaitkan langsung dengan sesuatu yang tidak ada. Ketidakberadaan digambarkan sebagai akibat suatu tindakan pelaku hanya secara tidak langsung. Suatu tindakan hanya dapat memengaruhi sesuatu yang benar-benar ada, oleh karena itu, pelaku hanya dapat bertindak atas sesuatu yang benar-benar ada. Dengan demikian, Tuhan tidak dapat disebut pencipta kejahatan karena kejahatan adalah suatu ketiadaan. Tuhan hanya dapat menciptakan eksistensi dan semua eksistensi adalah baik. Tuhan hanya dapat dikatakan menciptakan kejahatan sejauh ia menciptakan unsurunsur jasmani atau materiil. Unsur-unsur ini tidak terlepas dari hukum penciptaan dan penghancuran, sehingga segala sesuatu yang terdiri dari unsur-unsur ini tidak lepas dari berbagai kekurangan atau kekosongan dari kebaikan tertentu.
"Kejahatan pada dasarnya adalah suatu ketiadaan dari sifat positif tertentu. Tindakan penciptaan Tuhan hanya berlaku kepada sesuatu yang ada. Sehingga mustahil Tuhan dikatakan menciptakan kejahatan."
Manusia adalah Sumber Nasib Buruk mereka sendiri Maimonides juga menegaskan bahwa berbagai kejahatan besar yang dilakukan oleh manusia terhadap sesama manusia lainnya, baik karena dorongan-dorongan, pandanganpandangan, atau prinsip-prinsip keagamaan tertentu; juga berasal dari suatu ketiadaan, yakni ketiadaan kebijaksanaan (pengetahuan yang benar). Manusia akan terus menyebabkan kerugian pada dirinya maupun sesamanya, selama ia tidak memiliki kebijaksanaan. Hal ini sebagaimana orang buta yang akan terus tersandung karena tiadanya penglihatan. Maimonides kemudian mengutip Yesaya 11:9; ‘Tidak ada yang akan berbuat jahat atau yang berlaku busuk di seluruh gunung-Ku yang kudus, sebab seluruh bumi penuh dengan pengenalan akan Tuhan, seperti air laut yang menutupi dasarnya.’ Hal ini dipahami sebagai gambaran bahwa hadirnya masyarakat yang damai dan tentram, serta hilangnya berbagai kebencian dan pertikaian, disebabkan adanya kebijaksanaan atau pengetahuan yang benar tentang Tuhan. Hadirnya suatu kebijaksanaan tertentu pada seseorang akan menghilangkan berbagai kerugian yang mungkin. Refleksi
Dari uraian Maimonides di atas, kita dapat memahami bahwa berbagai penderitaan dan kejahatan yang terjadi di Palestina tidak dapat begitu saja mengurangi sifat Maha Baik Tuhan. Kejahatan pada dasarnya adalah suatu ketiadaan dari sifat positif tertentu. Tindakan penciptaan Tuhan hanya berlaku kepada sesuatu yang ada. Sehingga mustahil Tuhan dikatakan menciptakan kejahatan. Segala kejahatan dan penderitaan hanya dapat disandarkan kepada perbuatan Tuhan secara tidak langsung. Tuhan menciptakan unsur-unsur jasmani yang terikat pada hukum penghancuran, sehingga keadaan tersebut meniscayakan ketidaksempurnaan. Entitas-entitas yang terlepas dari unsur-unsur jasmani, seperti malaikat, terlepas dari hukum penghancuran dan penderitaan. Kejahatan yang dilakukan bangsa Israel kepada bangsa Palestina disebabkan oleh suatu ketiadaan pada bangsa Israel, yakni ketiadaan kebijaksanaan dan pengetahuan yang benar tentang Tuhan. Mereka tidak dapat meniru sifat-sifat lembut dan pengasih Tuhan, sehingga yang mereka lakukan adalah tindakan merugikan sesama manusia. Seperti yang dikatakan Muthahhari, adanya berbagai kekosongan dan kekurangan kebaikan pada sistem alam fisik ini menjadi tugas manusia untuk menambal kekurangan dan mengisi kekosongannya. Dalam konteks Palestina, orang yang bijak adalah orang yang berjuang menegakkan keadilan bagi rakyat Palestina ketika tiadanya perjuangan itu, orang yang menyuarakan hak-hak rakyat ketika tiadanya suara itu, orang yang membantu dan berderma kepada warga Palestina yang kesulitan di tengah kemiskinan dan penderitaan mereka. AFP. “Pakar PBB: Israel Lakukan Sejumlah Tindakan Genosida di Gaza.” VOA Indonesia. 26 Maret 2024. https://www.voaindonesia.com/a/pakar-pbb-israel-lakukan-sejumlah-tindakangenosida-di-gaza-/7542689.html. Maimonides, Moses. The Guide for The Perplexed. Diterjemahkan oleh M. Friedlander. Illinois: Varda Books, 2002. Muthahhari, Murtadha. Keadilan Ilahi: Asas Pandangan-Dunia Islam. Diterjemahkan oleh Agus Efendi. Bandung: Mizan, 2009.
9
KABAR
POLEMIK MULTILATERALISME DALANG KONFLIK PALESTINA YANG TAK KUNJUNG USAI ABDURRAUF SAID
J
akarta, Majalah Insight – Kamis (28/11/24), tim reportase redaksi Majalah Insight menemui akademisi dan aktivis Prof. Dr. Sudarnoto Abdul Hakim, M.A., untuk berdialog mengenai konflik berkepanjangan (continuous conflict) yang penuh darah di Palestina. Sebagai Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat bidang Hubungan Luar Negeri dan Kerjasama Internasional, Sudarnoto merupakan salah satu tokoh masyarakat Indonesia yang paling vokal dalam menyuarakan hak kebebasan Palestina melalui aktivismenya mulai dari skala nasional hingga internasional.
Sumber: Minanews.net
Sudarnoto merefleksikan satu tahun lebih krisis kemanusiaan di Palestina, terhitung sejak 7 Oktober 2023 yang ditandai dengan serangan kejutan organisasi resistensi Hamas terhadap Israel. Hal ini menjadi dalih bagi otoritas Israel untuk meluncurkan serangan balik yang membabi buta di kawasan Palestina. Terhitung sejak itu, angka kematian warga Palestina telah mencapai 46.000 jiwa. Sejumlah aksi kejahatan perang Israel juga tidak terelakkan, mulai dari genosida di Gaza hingga agresi militer di Lebanon dan Suriah. Merespon hal ini, Sudarnoto mengatakan bahwa narasi '7 Oktober' yang sering digaungkan oleh Israel dan sekutunya merupakan upaya media framing mereka untuk menunjukkan seolah-olah konflik yang terjadi di Palestina adalah perang antara dua kekuatan yang seimbang, bukan genosida. Menurutnya, menganggap 7 Oktober 2023 sebagai titik awal konflik merupakan kekeliruan historis. Fakta mengenai konflik Israel-Palestina yang telah berlangsung sejak 1948, dengan Israel sebagai pihak agresor, selalu ditutup-tutupi oleh pemerintah Israel dan sekutunya. “Jadi, argumentasi historis bahwa konflik ini telah terjadi sejak tahun 1948 itu selalu mereka tutupi agar terlupakan dalam memori kolektif anak-anak Israel dan Palestina, terutama mereka yang berada di Tepi Barat yang memiliki tingkat resistensi relatif lebih rendah,” terangnya. Melihat dari perspektif lain, Sudarnoto justru menemukan situasi pasca 7 Oktober 2023 yang secara praktis merupakan pencapaian tertinggi bagi Hamas lantaran berhasil menjadi main player baru tingkat global. Hamas berhasil menarik perhatian dunia dan memicu pertentangan-pertentangan diplomatis politik internasional. Dampaknya, di negara pro-Israel seperti Amerika Serikat sendiri, dukungan sipil terhadap perjuangan kemerdekaan Palestina terus meningkat. Konflik ini secara tidak langsung memberi platform pada Hamas untuk mengomunikasikan agenda mereka, yaitu memerdekakan Palestina secara utuh. Per Juni 2024, Palestina sebagai negara berdaulat telah diakui oleh 75% negara anggota Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB). Namun sayangnya, kata Sudarnoto, hak veto Amerika Serikat sebagai sekutu terkuat Israel selalu saja menghambat proses penyelesaian konflik di Palestina. Multilateralisme menjadi tidak relevan karena adanya spirit supremasi kapitalisme global Amerika Serikat. Pada 21 November 2024, Pengadilan Pidana Internasional (ICC)
12 10
MAJALAH INSIGHT | EDISI KEEMPAT
mengeluarkan surat penangkapan PM Israel Benjamin Netanyahu dan Menteri Pertahanan Yoav Gallant, namun pemerintah AS justru menentang ICC dan menyebutnya tindakan 'memalukan'. “Sudah nyata-nyata terbukti adanya genosida dan okupasi yang sangat akut. Walau upaya-upaya diplomatik dan hukum sudah mulai membuahkan hasil, tapi Israel masih berani untuk menolak permanent ceasefire. Gugatan penangkapan ICC itu sudah jelas sekali, tapi kenapa belum dituntaskan juga? Kembali lagi ke hak veto Amerika Serikat yang jadi problem.” Sudarnoto mengutip istilah nekolim (neo kolonialismeimperialisme) Bung Karno yang ia tujukan kepada kekuatankekuatan agresor abad ke-21 seperti AS yang tidak lagi memedulikan etika global. Ia sangat menyayangkan hipokritas negara-negara Barat yang sering kali menjadi garda terdepan advokasi nilai-nilai demokrasi, HAM, dan inklusivisme, ironisnya justru mengabaikan hak-hak dasar dan kebebasan rakyat Palestina. Di sisi lain, Sudarnoto menyoroti berita angin segar pada Mei 2024 silam. Negara-negara Barat yang cenderung lebih progresif telah mengakui kedaulatan Palestina, di antaranya Spanyol, Irlandia, dan Norwegia. Sementara itu, sikap negara-negara lain yang kooperatif dengan ICC untuk menetapkan status buronan Netanyahu dan Gallant semakin “memojokkan kedudukan Israel dan sekutunya di medan politik internasional.”
mendukung perjuangan Palestina, salah satunya melalui forum internasional seperti Organisasi Kerjasama Islam (OKI). Menurut Sudarnoto diplomasi terhadap negara-negara yang memiliki peran vital terhadap konflik Palestina, khususnya Amerika Serikat, harus dilakukan secara agresif. Lebih jauh, ia juga beranggapan apabila perdamaian adalah goal yang ingin dicapai, maka langkah militerisme harus menjadi opsi yang dipertimbangkan. Sudarnoto mengapresiasi pasukan perdamaian TNI yang dikirim ke Palestina pada pertengahan tahun 2024 lalu sebagai salah satu bentuk langkah konkret pemerintahan Indonesia. Akan tetapi baginya misi perdamaian berupa bantuan kemanusiaan tidak efektif untuk menyelesaikan konflik dalam jangka panjang karena tidak adanya kekuatan yang memukul mundur Israel sebagai agresor. “Dalam pandangan kami, MUI, yang berkali-kali saya jelaskan adalah to defend, to protect the people from genocide (untuk membela, untuk melindungi rakyat dari genosia), Jadi jangan sampai darah warga sipil terus menerus tumpah setiap harinya. Karena faktanya, ini (genosida) masih terus berlangsung sebab tidak ada (negara berdaulat) yang melindungi mereka secara militer kecuali Iran. Mengirim humanitarian aid (bantuan kemanusiaan) saja tidak cukup jika ingin menuntaskan problem hingga ke akar-akarnya. Mau tidak mau, Israel ini harus dipukul mundur.” ujarnya.
Menurut keterangan Sudarnoto, di Indonesia sendiri terdapat 53 organisasi yang saat "Sudah banyak dari ini aktif menekan pemerintah untuk memberikan langkah konkret dalam masyarakat internasional
***
yang berharap Dewan Keamanan PBB menghapus hak veto karena persoalan multilateral yang selalu dihambat segelintir negara. Multilateralisme menjadi tidak relevan karena spirit supremasi kapitalisme global Amerika yang selalu bertemu dengan kepentingan-kepentingan zionisme di Israel."
Prof. Dr. Sudarnoto Abdul Hakim, M.A.
MAJALAH INSIGHT | DESEMBER 2024
13 11
LINIMASA KONFLIK PALESTINA
• Konferensi Zionisme pertama diadakan pada 1897 di Basel, Swiss, yang mengusulkan pembentukan Negara Yahudi di atas tanah Palestina. • Pada 1916, Inggris dan Perancis secara rahasia membuat batas-batas wilayah bekas kekuasaan Dinasti Utsmani di Timur Tengah melalui Perjanjian Sykes-Picot.
18971942
• Liga Bangsa-Bangsa memberikan mandat bekas wilayah Utsmani di Palestina kepada Kerajaan Inggris pada 1922 berdasarkan Deklarasi Balfour 1917 yang menjanjikan 'rumah untuk umat Yahudi'. • Pada 1936-39, rakyat Palestina menolak Mandat Inggris dan melakukan pemberontakan untuk menghentikan arus imigrasi Yahudi Eropa.
Gelombang imigrasi Yahudi Eropa pada 1948 di kapal Inggris menuju Haifa, Palestina. (National Army Museum)
• Inggris akhirnya membatasi imigran Yahudi pada 1939, namun diikutcampuri oleh Amerika Serikat pada 1942 yang menyerukan kuota imigrasi tanpa batas dan Palestina sebagai negara persemakmuran Yahudi.
• Pada November 1947, Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB) membagi Palestina menjadi dua teritorial; Negara Yahudi dan Negara Arab. Nama Israel belum digunakan. • Pembantaian Deir Yassir terjadi pada April 1948 oleh kelompok teroris Zionis yang memakan korban ratusan rakyat Palestina. • Mandat Inggris untuk Palestina berakhir, Israel mendeklarasikan kemerdekaan secara sepihak pada 15 Mei 1948. Juga diperingati sebagai Peristiwa Nakba di mana penduduk asli Palestina terusir dalam jumlah besar untuk pertama kali. • Mesir, Yordania, Irak, Suriah, dan Lebanon berkoalisi untuk membebaskan penjajahan Palestina, memulai Perang Arab-Israel Pertama pada 1948-1949.
19471974
• Yasser Arafat menyatukan semua pejuang Palestina di bawah gerakan Fatah pada 1958. Disusul dengan didirikannya Organisasi Pembebasan Palestina (PLO) pada 28 Mei 1964.
Peristiwa Nakba; Penduduk asli Palestina terpaksa harus mengungsi setelah berdirinya negara Israel diproklamirkan. (DW News)
• Pada 1974, Majelis Umum PBB mengakui PLO sebagai representasi rakyat Palestina. Hak merdeka, daulat, dan penentuan nasib rakyat Palestina kembali diakui melalui resolusi 3236 PBB.
• Pada 1980, Dewan Keamanan dan Majelis Umum PBB mengecam keputusan Parlemen Israel untuk menjadikan Yerusalem sebagai ibukota Israel. • Pada 1982, Israel menginvasi Lebanon untuk memukul mundur PLO dan pejuang Palestina lainnya menjauh dari teritorial Israel.
19801995
• Pada 1987, intifada (pemberontakan) pertama terhadap pemerintahan Israel dimulai di pengungsian Jabaliya di Jalur Gaza. Gerakan Perlawanan Islam (Hamas) berdiri awalnya sebagai cabang Ikhwanul Muslimin dari Mesir di Palestina. • Pada 15 November 1988, Yasser Arafat mendeklarasikan kemerdekaan Palestina di Algeria.
Yasser Arafat membaca deklarasi kemerdekaan Palestina di Algeria, 15 November 1988. (MPPM Palestina)
12
• PLO dan Israel menyetujui solusi dua negara dalam Perjanjian Oslo I di AS (1993) dan II di Mesir (1995).
MAJALAH INSIGHT | EDISI KEEMPAT
• Pemilihan umum diselenggarakan pada 1996. Yasser Arafat memperoleh 88,2 persen suara, menjadikannya Presiden Palestina pertama. Partai Fatah mendominasi dengan jumlah 55 kursi di legislatif. • Pada 17 Januari 1997, Yasser Arafat dan PM Israel Benjamin Netanyahu menyetujui Protokol Hebron di bawah pengawasan Amerika Serikat. Protokol ini memberikan akses wilayah Hebron, ibukota Tepi Barat, kepada Angkatan Pertahanan Israel (IDF).
19962007
• Pada 28 September 2000, PM Israel Ariel Sharon mengunjungi Al-Aqsa dengan 1000 pengawal bersenjata, memprovokasi warga sekitar dan memicu intifada al-Aqsa (pemberontakan di al-Aqsa) yang memakan korban ribuan warga sipil Palestina akibat brutalisme polisi Israel. • Mahmoud Abbas dari Fatah menjadi presiden baru pada 2005. Namun dalam pemilu legislatif 2006, Hamas menjadi partai pemenang dengan perolehan suara 44,45%. Konflik antara Hamas dan Fatah dimulai.
Kunjungan Ariel Sharon ke Al-Aqsa yang provokatif dan memicu intifada kedua. (Associated Press)
• Perang sipil meletus antara simpatisan Fatah dan Hamas di Jalur Gaza pada 10-15 Juni 2007. Hamas berhasil mengambilalih Gaza di bawah komando Ismail Haniyeh., memisahkan diri dari wilayah otoritas Palestina di Tepi Barat yang dikuasai PLO.
• Israel mengepung Jalur Gaza dan melancarkan agresi militer pada Desember 2008 - Januari 2009 untuk menumbangkan kekuasaan Hamas di Gaza. Menurut laporan Amnesty, serangan itu berujung pada pembantaian oleh IDF yang menewaskan 1400 warga Palestina, termasuk 300 anak-anak. • Pada 8 Januari 2009, Dewan Keamanan PBB menyerukan gencatan senjata melalui resolusi 1860. • Hakim utusan PBB untuk Perang Gaza, Richard Goldstone, merilis laporan yang mengecam pengepungan Jalur Gaza sebagai tindakan pidana berat pada September 2009. Goldstone mengancam Israel untuk membuka blokade sebelum dituntut ke Pengadilan Pidana Internasional (ICC).
20082012
Gaza ketika dikepung oleh Israel pada 2008-2009. (Abed Rahim Khateb/Apaimages)
• Pada November 2012, Israel kembali melancarkan agresi militer di Jalur Gaza selama 8 hari yang memakan ratusan korban, termasuk komandan militer Hamas, Ahmed Jabari.
• Perang Gaza 2014 meletus, Israel mengirim serangan berskala penuh ke Gaza yang menewaskan 2.251 korban jiwa warga Palestina. • Dewan Keamanan PBB mengadopsi resolusi 2334 pada tahun 2016, mengecam aktivitas penjajahan Israel di Gaza yang tidak memiliki dasar hukum.
20142024
Dampak dari serangan udara Israel ke pengungsian di Rafah, Jalur Gaza Selatan, pada Mei 2024 yang memakan banyak korban jiwa perempuan dan anak-anak. (Reuters)
MAJALAH INSIGHT | DESEMBER 2024
• Pada 2018, Amerika Serikat membuat kontroversi dengan memindahkan kedutaannya di Israel dari Tel Aviv ke Yerusalem. • Pada Oktober 2023, Israel memulai serangan terbesarnya ke Gaza. Afrika Selatan menjadi negara pertama yang menuntut Israel atas tuduhan genosida ke Pengadilan Internasional. • Pada November 2024, ICC mengeluarkan surat penangkapan PM Israel Benjamin Netanyahu atas tuduhan kejahatan perang.
13
KABAR
"FROM GROUND ZERO"
F
WAKILI PALESTINA DI FILM INTERNASIONAL TERBAIK PIALA OSCAR 2025 ABDURRAUF SAID
ilm From Ground Zero (2024) adalah sebuah film antologi yang terdiri dari 22 film pendek yang disutradarai oleh 22 sutradara Palestina.
Film ini menggambarkan situasi terkini masyarakat Gaza di tengah konflik IsraelHamas. Proyek ini diprakarsai oleh sutradara Palestina terkemuka, Rashid Masharawi, yang mendirikan Masharawi Fund for Cinema and Filmmakers in Gaza dengan tujuan mendukung sineas muda Palestina dalam mengekspresikan diri dan menceritakan kisah mereka melalui sinema. Proses produksi film ini menghadapi berbagai tantangan signifikan. Para pembuat film di Gaza harus beradaptasi dengan keterbatasan akses terhadap peralatan film, ketidakstabilan pasokan listrik, dan ancaman keamanan yang terus-menerus. Antologi film ini mencakup fiksi, animasi, hingga dokumenter. Beberapa segmen film direkam bermodalkan kamera ponsel dan sinar matahari sebagai sumber pencahayaan utama.
Film ini telah diputar di berbagai festival film internasional, termasuk Festival Film Internasional Amman ke-5 pada 5 Juli 2024 dan Festival Film Internasional Toronto ke49 pada 9 September 2024. "From Ground Zero" dipilih sebagai perwakilan Palestina untuk kategori Best International Feature Film di Academy Awards ke-97; Saat ini sedang memasuki seleksi 15 besar. From Ground Zero tidak hanya menampilkan cerita-cerita personal dari masyarakat Gaza tetapi juga menunjukkan bagaimana seni bisa menjadi alat untuk bertahan di tengah situasi sulit. Salah satu segmen dalam film ini, 'Offerings,' disutradarai oleh Mustafa Al-Nabih, menggambarkan pengalaman individu di Gaza. Segmen lain, 'Sorry Cinema,' disutradarai oleh Ahmad Hassouna, menceritakan tentang seorang pembuat film yang berusaha membuat film di tengah keterbatasan.
"Menggabungkan 22 film dalam satu karya merupakan tantangan besar dari segi editing. Tidak ada satu pun film yang direkam dengan kamera dan alat yang sama," Rashid Masharawi, sutradara
14
Film ini merupakan bukti nyata bagaimana seni dan kreativitas dapat bertahan dan berkembang bahkan di tengah keterbatasan dan konflik. From Ground Zero diharapkan dapat meningkatkan kesadaran global tentang situasi di Gaza dan memperlihatkan kekuatan kreativitas di tengah keterbatasan. ***
SCAN
Tonton trailernya di sini
Mengenal Palestina dari layar Sinema
AJAMI (2009)
APPLES OF THE GOLAN (2012)
FIVE BROKEN THE TIME THAT CAMERAS (2011) REMAINS (2009)
JENIN, JENIN (2003)
FARHA (2021) Drama | 92 menit | Darin J. Sallam
Dokumenter Perang | 90 menit | Emad Burnat
Drama Kriminal | 120 menit | Scandar Copti & Yaron Shani
Drama Sejarah | 109 menit | Elia Suleiman
Dokumenter | 54 menit | Bilal Yousef
Dokumenter | 54 menit | Mohammad Bakri
FROM THE RIVER TO THE Celebrating Palestinian Cinema MAJALAH INSIGHT | DESEMBER 2024
15
OPINI
MEMAHAMI AKAR KONFLIK ISRAEL-PALESTINA MELALUI PENDEKATAN NEOCLASSICAL REALISM FAIZ ALI BA'AGIL
DIREKTUR PUSAT STUDI RISET DAN KEILMUAN DPD IMM DKI JAKARTA
LATAR BELAKANG MASALAH
K
onflik Israel-Palestina telah menjadi salah satu konflik paling kompleks dan berdarah dalam sejarah modern. Sejak berdirinya Israel pada tahun 1948, wilayah ini terus dilanda kekerasan akibat klaim yang tumpang tindih atas tanah, identitas nasional, serta hak untuk menentukan nasib sendiri. Israel, sebagai negara yang didukung oleh kekuatan global seperti Amerika Serikat, telah memanfaatkan dominasi politik dan militernya untuk memperluas permukiman ilegal di Tepi Barat dan Yerusalem Timur, meski hal ini bertentangan dengan resolusi internasional seperti Resolusi Dewan Keamanan PBB No. 242 (1967) dan No. 2334 (2016). (UN Security Council, 1967; 2016). Di sisi lain, Palestina terus menghadapi tantangan serius, termasuk blokade ekonomi di Gaza, fragmentasi politik antara Hamas dan Fatah, serta kurangnya dukungan internasional yang memadai untuk menekan Israel agar menghormati hak-hak rakyat Palestina. Konflik ini tidak hanya berdampak pada masyarakat lokal tetapi juga memicu ketegangan global, termasuk di dunia Islam, di mana Palestina dianggap sebagai simbol perjuangan melawan penindasan dan ketidakadilan. (Shlaim, 2000). METODE ANALISIS: PENDEKATAN NEOCLASSICAL REALISM
Neoclassical realism adalah pendekatan teori hubungan internasional yang menekankan hubungan antara dinamika
16
sistem internasional dan faktor-faktor domestik dalam membentuk kebijakan luar negeri suatu negara. Teori ini berangkat dari gagasan bahwa distribusi kekuatan di sistem internasional mempengaruhi tindakan negara, tetapi keputusan akhir tetap bergantung pada kapasitas domestik, persepsi elit, dan konteks internal. (Rose, 1998).
Sebaliknya, Palestina tidak memiliki sekutu dengan pengaruh global yang cukup untuk melawan dominasi ini. Meski negara-negara seperti Turki dan Iran mendukung Palestina secara retorik, dukungan tersebut lebih sering digunakan untuk memperkuat posisi geopolitik masing-masing negara daripada memajukan kepentingan Palestina. (Barkey, 2020).
Dalam konteks konflik Israel-Palestina, pendekatan ini relevan karena dapat menjelaskan bagaimana dukungan dunia internasional terhadap Israel dan dinamika internal Palestina berkontribusi pada kelangsungan konflik. Misalnya, persepsi ancaman eksistensial yang dimiliki elit Israel dan fragmentasi politik di Palestina menjadi faktor penguat kegagalan diplomasi damai. (Mearsheimer, 2001).
Fragmentasi Politik Domestik
ANALISIS DAN HASIL
Ketidakseimbangan Kekuatan di Sistem Internasional
Ketergantungan Israel pada dukungan Amerika Serikat telah memberinya keunggulan strategis di kawasan Timur Tengah. AS sebagai kekuatan global, memberikan bantuan militer tahunan sebesar $3,8 miliar kepada Israel dan secara rutin memveto resolusi PBB yang mengecam kebijakan Israel di wilayah Palestina. (Sharp, 2022) Hal ini menciptakan kondisi ketidakseimbangan kekuatan yang mempersulit posisi Palestina untuk menuntut haknya di meja perundingan.
Di tingkat domestik, dinamika politik di Israel dan Palestina memainkan peran besar dalam menghambat perdamaian. Di Israel, keberadaan koalisi sayap kanan yang didominasi oleh partai-partai seperti Likud telah memperkuat kebijakan ekspansionis. Persepsi ancaman dari Hamas di Gaza sering digunakan untuk membenarkan tindakan militer, termasuk serangan besar-besaran seperti Operasi Protective Edge pada 2014. (Beaumont, 2014). Sementara itu, di Palestina, perpecahan antara Fatah yang menguasai Tepi Barat dan Hamas yang memimpin Gaza telah melemahkan persatuan nasional. Ketidakmampuan kedua kelompok ini untuk mencapai konsensus politik mengurangi legitimasi Palestina di mata komunitas internasional dan mempersulit pembentukan strategi bersama dalam menghadapi Israel. (Brown, 2019). Persepsi Elit dan Dinamika Keamanan
Persepsi elit di Israel dan Palestina menjadi faktor penting dalam menentukan arah MAJALAH INSIGHT | EDISI KEEMPAT
kebijakan. Elit politik Israel, seperti Perdana Menteri Benjamin Netanyahu, sering menggambarkan Palestina sebagai ancaman eksistensial untuk mempertahankan dukungan publik terhadap kebijakan keras terhadap Palestina (Lustick, 2019). Sebaliknya, elite Palestina baik di Fatah maupun Hamas, melihat Israel sebagai penjajah yang tidak mungkin diajak kompromi, yang memperparah siklus ketidakpercayaan. Two State Solutions Sebagai Jalan Keluar
Solusi dua negara, yang sudah lama diusulkan sebagai jalan keluar dari konflik ini, tetap menjadi satu-satunya opsi yang dapat diterima secara internasional untuk menyelesaikan konflik Israel-Palestina. Namun, untuk solusi ini berhasil, diperlukan upaya diplomatik yang serius dan komitmen dari kedua belah pihak untuk mencapai kesepakatan yang adil dan permanen. Pertama, komunitas internasional harus mendesak Israel untuk menghentikan pembangunan permukiman ilegal di wilayah Palestina yang diduduki, termasuk Yerusalem Timur, yang menjadi salah satu isu paling sensitif dalam negosiasi. PBB dan negaranegara besar seperti Uni Eropa dan Amerika Serikat perlu memainkan peran yang lebih netral dan memberi tekanan lebih besar kepada Israel untuk menghentikan kebijakan ekspansionis yang memperburuk ketegangan. Kedua, pembentukan otoritas pemerintahan Palestina yang bersatu adalah langkah yang MAJALAH INSIGHT | DESEMBER 2024
sangat penting. Fatah dan Hamas harus mengesampingkan perbedaan ideologi mereka dan bekerja sama untuk membentuk sebuah pemerintahan yang mewakili seluruh rakyat Palestina. Rekonsiliasi ini tidak hanya memperkuat posisi Palestina dalam perundingan, tetapi juga memberikan legitimasi internasional yang lebih besar terhadap negara Palestina yang merdeka. Indonesia, sebagai negara yang secara konsisten mendukung Palestina, dapat menjadi fasilitator dalam proses rekonsiliasi ini, dengan memanfaatkan hubungan diplomatik yang baik dengan kedua faksi tersebut. Respon Umat Islam dan Pemerintah Indonesia
Sebagai salah satu negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia, Indonesia memiliki tanggung jawab moral dan diplomatik dalam mendukung perjuangan Palestina. Umat Islam di Indonesia dapat memperkuat solidaritas melalui aksi-aksi damai, kampanye internasional, dan penggalangan dana untuk membantu rakyat Palestina. Inisiatif seperti yang dilakukan oleh organisasi Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama telah memberikan contoh konkret tentang bagaimana masyarakat sipil dapat terlibat. (Kompas, 2023).
Indonesia juga dapat memperkuat kerjasama ekonomi dan pendidikan dengan Palestina untuk membantu membangun kapasitas negara yang lebih kuat. (RI Ministry of Foreign Affairs, 2022) KESIMPULAN
Pendekatan neoclassical realism menunjukkan bahwa solusi untuk konflik Israel-Palestina tidak hanya melibatkan perubahan kebijakan internasional, tetapi juga membutuhkan penyelesaian masalah domestik di kedua belah pihak. Solusi dua negara, meskipun menghadapi banyak tantangan, tetap menjadi jalur yang paling realistis untuk mencapai perdamaian yang berkelanjutan. Upaya untuk memperkuat kesatuan Palestina dan memberikan tekanan internasional terhadap kebijakan Israel yang tidak adil akan menjadi kunci dalam menciptakan perdamaian di Timur Tengah. Indonesia memiliki peran strategis dalam mendorong dialog dan rekonsiliasi di kedua belah pihak, serta dalam membangun perdamaian yang adil dan komprehensif di kawasan ini. ***
Pemerintah Indonesia, di sisi lain, harus terus memainkan peran aktif di forum internasional seperti OKI dan PBB untuk mendorong penyelesaian konflik berdasarkan prinsipprinsip keadilan. Dalam jangka panjang,
17
OPINI
PERANG GAZA DAN TERORISME NEGARA NIRWANSYAH
KETUA BIDANG HIKMAH DAN POLITIK PC IMM CIPUTAT 2022-2023
D
unia beradab dan manusia yang masih waras sudah lama menanti agar bangsa Palestina yang selama ini tercabik-cabik, akibat perang yang tak berkesudahan, dapat meraih kemerdekaannya. Akan tetapi, sejak Perang Gaza meletus pada 7 Oktober 2023, tandatanda perang akan surut tak kunjung tampak. Memang berbagai upaya telah dilakukan. Mediasi yang dimotori oleh beberapa negara sempat membuahkan hasil yang dikenal dengan ‘Jeda kemanusiaan’. Tak berlangsung lama, perang kembali berkecamuk. Eskalasi perang terus meningkat. Serangan Israel tidak lagi terkonsentrasi hanya pada Hamas, tetapi meluas hingga ke Lebanon dan Yaman. 7 Oktober, Dalih Israel, dan Sokongan AS
Hamas telah membuat dunia terkejut sekaligus bertanya-tanya. Hamas yang merupakan salah satu faksi perlawanan Palestina yang menguasai Jalur Gaza, mampu menembus pertahanan Israel yang dikenal super ketat pada 7 Oktober 2023. Serangan Hamas itu telah menelan korban sebanyak 1.200 lebih, menyandera lebih dari 200 orang, dan puluhan di antaranya belum diketahui nasibnya. Peristiwa 7 Oktober tersebut dijadikan dalih oleh Israel untuk melakukan serangan yang membabi buta terhadap Palestina sampai dengan sekarang ini. Dengan alasan membela diri, Israel terus-menerus melakukan serangan dan membombardir Palestina yang hingga pertengahan Desember ini korbannya mencapai 45.000 jiwa yang kebanyakan adalah sipil. Amerika Serikat yang selama ini dikenal sebagai sekutu terdekat Israel tidak tinggal diam. Bantuan dana sebesar miliaran dollar AS pun digelontorkan. Tak hanya itu, alatalat perang, tentara, dan bala bantuan lainnya dikerahkan secara maksimal untuk menyokong dan menyukseskan misi Israel dalam membumihanguskan Hamas. Sebagaimana berbagai laporan yang diturunkan Kompas, kerekatan antara Israel dan AS tak lepas dari peran lembaga lobi Yahudi bernama AIPAC (American Israel Public Affairs Committee). Anggota AIPAC berjumlah ratusan ribu orang dengan jumlah simpatisannya yang tak kalah banyak.
18
Tersebar di hampir 50 negara bagian AS, AIPAC memiliki pengaruh yang kuat dalam mempengaruhi kebijakan luar negeri AS yang sangat menguntungkan Israel. Selain itu, AIPAC juga berperan dalam menghalau hubungan AS dengan negaranegara Arab yang dianggap dapat mengancam keberlangsungan Israel. Modus operandi yang dilakukan AIPAC adalah dengan cara menguasai kampus-kampus, lembaga riset dan konsultan, media, dan birokrasi. Tak heran apabila unjuk rasa bela Palestina yang berkobar di berbagai kampus elit di AS melayangkan berbagai tuntutan yang salah satunya adalah memutus hubungan pendanaan riset dari Israel. AIPAC, sejak dibentuk pada 1953 sebagai lembaga lobi Yahudi, telah memainkan peran penting dalam menjadikan AS sebagai sekutu terdekat Israel. Bahkan, Israel dijuluki sebagai kepanjangan tangan AS atau merupakan bagian dari negara federal AS. Buya Syafii Maarif mengibaratkan AS seperti ayah angkat bagi Israel. Jauh sebelum perang Gaza meletus, AS memang dikenal sebagai pelindung utama sekaligus pemasok senjata terbesar ke negara Yahudi tersebut. Sehari setelah Ben-Gurion mendeklarasikan Israel sebagai sebuah negara,
perang Arab-Israel pecah dan AS banyak terlibat dalam membantu Israel. Dunia paham bahwa dalih Israel untuk membela diri, sehingga dengan itu ia mencaricari pembenaran untuk menyerang Palestina tidak memiliki dasar pijakan yang kuat dan tidak dapat dibenarkan sama sekali. Serangan Hamas pada 7 Oktober tentu saja tidak datang dari ruang hampa. Serangan itu merupakan akumulasi dari apa yang selama ini terjadi, yaitu pendudukan, aneksasi, penjajahan, genosida, dan kejahatan perang yang dilakukan Israel terhadap Palestina yang telah terjadi selama lebih dari setengah abad. Terorisme Negara
Kedigdayaan Israel di Timur Tengah tak lepas dari sponsor negara-negara yang mendukungnya. Memori kolektif kita membawa ingatan pada Inggris yang membukakan pintu awal bagi terbentuknya negara Israel. Pada 2 November 1917, Inggris mengeluarkan apa yang dikenal dengan Deklarasi Balfour yang berisi tentang tanah yang yang akan menjadi pemukiman bagi Yahudi. Sejak Deklarasi Balfour dikeluarkan, secara gradual berlakulah pengusiran besarbesaran atas rakyat Palestina hingga Israel mendeklarasikan diri pada 14 Mei 1948. Sejak MAJALAH INSIGHT | EDISI KEEMPAT
saat itu pula, sengketa tiada putus terus terjadi yang telah menelan jutaan korban sampai sekarang ini. Selain Inggris, AS telah menjadi sponsor utama bagi Israel yang telah lama meneror bangsa Palestina. Dalam pengamatan Johan Galtung, teror yang dilakukan oleh negara (state-sponsored terrorism) justru lebih dahsyat ketimbang teror-teror pada umumnya. Galtung menyebut AS sebagai sebuah negara yang sudah berbilang tahun terlibat dalam perbuatan teror ini, yang sejak 1945 sampai dengan 2002 telah melakukan intervensi terhadap negara lain sebanyak 67 kali, baik secara langsung dirancang oleh Pentagon, maupun secara rahasia oleh CIA, dengan jumlah kematian sebanyak 12 juta manusia. Maka, untuk mengakhiri persoalan teror yang tiada putus itu ialah dengan mengakhiri terorisme negara sebagaimana resep yang ditawarkan Galtung seperti terbaca dalam tulisannya yang berjudul To End Terrorism, End State Terrorism (2002).
Apa yang berlaku di Palestina adalah bagian dari skenario terorisme negara. Kita tidak tahu sampai kapan Israel akan terus melakukan serangan terhadap Palestina dan merampok tanahnya. Ungkapan Gilad Atzmon, ‘Hidup di atas waktu pinjaman di sebuah tanah curian’ akan terus menjadi mata air inspirasi yang tak akan pernah kering bagi batin para pejuang kemerdekaan. ***
Senada dengan itu, Noam Chomsky— seorang intelektual yang kritis terhadap kebijakan AS dan simpatinya terhadap penderitaan rakyat Palestina telah dikenal secara luas oleh publik—mengkategorikan Inggris, AS, dan Israel sebagai negara teroris. Secara khusus ia menyebut AS sebagai negara teroris paling terdepan di dunia sebagaimana tertuang dalam beberapa karyanya, antara lain Who Rules the World (2016) dan Pirates and Emperors (2017). Chomsky menulis: ‘Ada banyak negara teroris di dunia, tetapi Amerika Serikat sangat berbeda karena secara resmi menjalankan terorisme internasional ... Amerika Serikat adalah negara teroris yang tidak taat hukum dan ini benar dan adil, tak peduli apa yang dipikirkan dunia, tak peduli apa yang dinyatakan institusi-institusi internasional. Akibat wajarnya adalah adanya doktrin bahwa tiada satupun negara yang memiliki hak untuk membela dirinya dari serangan Amerika Serikat.’ Hal ini dapat dicermati dalam berbagai resolusi yang dikeluarkan oleh Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (DK PBB) yang diveto AS, khususnya terkait konflik Israel-Palestina. Tercatat, AS sudah 49 kali memveto DK PBB yang berkenaan dengan konflik Israel-Palestina (CNN Indonesia, 21/11/2024). Hal ini tak mengherankan melihat kedekatan keduanya dan AS juga kerap memberikan bantuan miliaran dollar AS untuk Israel di setiap tahunnya. Lumpuhnya institusi-institusi internasional seperti PBB mengundang kritik keras dari Aleksandr Solzhenitsyn dalam Kuliah Nobelnya pada 1972 seperti dikutip dari Buya Syafii Maarif (1997): ‘Seperempat abad yang lalu, dengan harapan kemanusiaan yang teramat besar, PBB dilahirkan. Sayang, dalam dunia yang tidak bermoral, badan ini juga sudah tidak bermoral.’
MAJALAH INSIGHT | DESEMBER 2024
Aleksandr Solzhenitsyn Sastrawan
19
OPINI
PALESTINA DAN KETIDAKBERDAYAAN YANG TERUS BERLANJUT SAHLUL LUBIS
KETUA UMUM PC IMM CIPUTAT 2023-2024
P
ada 2023, krisis kemanusiaan di Palestina sudah memasuki tahun ke-2 sejak eskalasi besar-besaran yang dimulai pada pertengahan 2021. Konflik antara Israel dan Palestina, yang telah berlangsung selama lebih dari tujuh dekade, kembali mencuat dengan intensitas yang memuncak, membawa dampak yang semakin memperburuk kondisi rakyat Palestina, baik dari segi kemanusiaan maupun politik. Setahun lebih pasca-konflik ini, sudah saatnya kita merenungkan sejauh mana perubahan politik yang terjadi dan bagaimana hal tersebut mempengaruhi proses perdamaian yang tampaknya semakin sulit dicapai. Krisis yang Tak Kunjung Usai
Krisis kemanusiaan di Palestina, khususnya di Gaza, telah menjadi puncak gunung es dari ketidakadilan politik yang lebih besar. Sejak dimulainya konflik, sekitar dua juta orang Palestina di Gaza telah hidup dalam kondisi yang sangat buruk: pemukiman yang hancur, akses ke layanan dasar seperti air bersih, listrik, dan kesehatan yang sangat terbatas, serta pengungsian massal. Namun, di balik penderitaan ini, akar masalahnya terletak pada dinamika politik yang lebih kompleks dan panjang. Politik Israel dan Palestina: Kebuntuan yang Tak Berujung
Salah satu aspek utama dari krisis Palestina adalah kebuntuan politik yang melibatkan pemerintah Israel dan Otoritas Palestina, serta faksi-faksi lain seperti Hamas. Israel terus mempertahankan kebijakan pendudukan dan blokade Gaza, yang telah berlangsung lebih dari 15 tahun. Sebaliknya, Palestina mengalami perpecahan politik internal antara Fatah, yang menguasai Tepi Barat, dan Hamas yang menguasai Gaza. Perpecahan ini telah membuat Palestina semakin terfragmentasi, yang kemudian berimbas pada kemampuan untuk mencapai konsensus dan negosiasi yang efektif. Kebuntuan politik ini semakin diperburuk oleh kebijakan ekspansi permukiman yang diterapkan pemerintah Israel di Tepi Barat. Di bawah pemerintahan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu, yang kembali berkuasa
20
pada 2022, Israel semakin memperkuat posisi politiknya dengan membangun lebih banyak permukiman di wilayah yang secara internasional diakui sebagai wilayah Palestina. Tindakan ini jelas melanggar hukum internasional, namun tidak mendapatkan tekanan berarti dari komunitas internasional. Amerika Serikat, yang seharusnya menjadi mediator utama dalam proses perdamaian, sering kali berpihak pada kebijakan Israel, mengingat hubungan strategis dan politik yang kuat antara kedua negara. Internasional dan Ketidakmampuan Mengintervensi
Dari perspektif internasional, krisis ini mencerminkan kegagalan komunitas dunia dalam menegakkan keadilan dan mencapai penyelesaian damai. Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) telah beberapa kali mengeluarkan resolusi yang menyerukan penghentian pendudukan Israel dan penarikan kembali pasukan dari wilayah Palestina. Namun, resolusi ini sering kali diblokir oleh negara-negara dengan hak veto, terutama Amerika Serikat, yang lebih memilih untuk mendukung kebijakan Israel. Kebuntuan ini menciptakan rasa frustasi yang mendalam bagi rakyat Palestina, yang telah lama berharap agar dunia mengintervensi dan membantu menciptakan keadilan. Namun, meski ada banyak suara yang menyerukan boikot terhadap Israel atau sanksi internasional, praktik politik internasional sering kali tidak konsisten, dan solusi yang lebih efektif tampaknya sangat jauh dari jangkauan. Bahkan upaya diplomatik yang dilakukan oleh negara-negara Arab seperti Arab Saudi dan Uni Emirat Arab tidak dapat mengubah status quo yang telah ada sejak lama. Politik Dalam Negeri Israel: Penguatan Ekstremisme
Politik dalam negeri Israel juga turut berperan dalam memperburuk situasi ini. Sejak beberapa tahun terakhir, Israel telah mengalami pergeseran politik yang signifikan, dengan munculnya partai-partai yang lebih keras dan mendukung kebijakan nasionalisme ekstrem, seperti yang terlihat pada koalisi pemerintah Netanyahu. Kelompok-kelompok ini sering mengadvokasi kebijakan keras terhadap Palestina, termasuk penggunaan kekuatan militer yang lebih besar dan pembatasan kebebasan bergerak bagi warga Palestina. Penting untuk dicatat bahwa kebijakan ini tidak hanya merugikan Palestina, tetapi juga menyebabkan polarisasi di dalam masyarakat
Israel sendiri. Protes besar-besaran yang terjadi di Israel pada 2023, yang dipicu oleh upaya pemerintah untuk melemahkan independensi peradilan, menunjukkan bahwa ketegangan politik di dalam negeri Israel tidak hanya berkaitan dengan Palestina, tetapi juga dengan masalah tata kelola dan demokrasi. Namun, meskipun ada kritik internal terhadap kebijakan pemerintah Netanyahu, dampak nyata terhadap kebijakan luar negeri Israel terhadap Palestina tampaknya minim. Alternatif dan Harapan yang Pudar
Dalam situasi yang semakin memburuk ini, apakah ada harapan bagi masa depan Palestina? Beberapa pihak mencoba untuk menawarkan solusi alternatif, seperti dua negara (two-state solution), yang telah menjadi dasar utama bagi banyak perundingan internasional sejak 1990-an. Namun, dengan semakin terbatasnya wilayah yang bisa menjadi negara Palestina akibat kebijakan permukiman Israel, serta fragmentasi politik di dalam Palestina sendiri, solusi ini semakin sulit diwujudkan. Solusi lain yang muncul adalah pendekatan berbasis hak asasi manusia, yang menyerukan untuk memberikan warga Palestina hak untuk hidup dengan aman dan merdeka di tanah mereka. Namun, pendekatan ini juga menghadapi banyak tantangan, terutama dari pihak yang menentang pengakuan terhadap negara Palestina. Kesimpulan
Krisis kemanusiaan yang terjadi di Palestina tidak bisa dipisahkan dari dinamika politik yang mendasarinya. Konflik ini, yang melibatkan perjuangan untuk kebebasan dan keadilan, bukan hanya masalah kemanusiaan, tetapi juga persoalan politik internasional yang sangat rumit. Dengan kebijakan-kebijakan yang semakin keras baik dari pihak Israel maupun faksi-faksi Palestina, serta ketidakmampuan masyarakat internasional untuk mengintervensi secara efektif, masa depan perdamaian di Palestina tampaknya semakin suram. Namun, bukan berarti tidak ada harapan. Pencarian untuk solusi politik yang adil dan damai masih perlu diteruskan, meskipun harus diakui bahwa jalan menuju perdamaian tampak sangat panjang dan penuh rintangan. Di tengah kebuntuan ini, mungkin yang paling penting adalah menumbuhkan kesadaran global mengenai hak-hak rakyat Palestina dan mendorong perubahan politik yang lebih inklusif dan adil, baik di dalam Palestina maupun di tingkat internasional.
MAJALAH INSIGHT | EDISI KEEMPAT
KIRIM KARYA KAMU!
Ayo ikut berkontribusi di Majalah Insight dengan mengirimkan tulisanmu ke redaksi.insight@gmail.com dengan subyek
Kontributor_Nama_Jenis Karya
RESENSI
900-1500 KATA
OPINI
MAKS. 2500 KATA
FIKSI
MAKS. 3500 KATA
Ikuti akun resmi LPP Insight di Instagram untuk pantau update terbarunya! MAJALAH INSIGHT | DESEMBER 2024
21
CAKRAWALA
MENGAPA KITA HARUS
MEMBACA WANDA HAMIDAH
22
?
MAJALAH INSIGHT | EDISI KEEMPAT
M
embaca merupakan kemampuan dasar yang harus dimiliki oleh manusia. Wahyu pertama yang diturunkan dalam Al-Quran pada surah Al-Alaq ayat 1-5 memerintahkan manusia untuk membaca. Perintah tersebut menunjukan bahwa membaca dan memperoleh pengetahuan dipandang penting untuk memahami dunia, mengenal Sang Pencipta, dan memenuhi tujuan hidup. Manusia bisa mempelajari berbagai macam hal, mengajari berbagai macam hal, namun hal tersebut tidak akan bisa tanpa membaca. Sebab, membaca merupakan salah satu upaya menidurkan kebodohan. Ada banyak alasan mengapa orang membaca. Mulai dari memperkuat otak, mencari perspektif baru atau sekadar hiburan untuk mengisi waktu luang di tengah padatnya kegiatan. Lantas mengapa membaca menjadi hal penting? Membaca dan Aktivitas Otak Membaca memiliki dampak yang besar pada otak manusia. Profesor Stanislas Dehaene menjelaskan bagaimana otak kita belajar membaca. Dalam bukunya, beliau menjelaskan bahwa ternyata otak manusia tidak memiliki sirkuit membaca, tetapi sebaliknya otak manusia mengadaptasi struktur yang ada melalui proses yang disebut ‘daur ulang saraf.’ Area penting yang terlibat dalam aktivitas otak pada saat membaca adalah Visual Word Form Area (VWFA) atau yang dikenal sebagai letter box, yang terletak di korteks oksipital temporal kiri. Korteks oksipital temporal kiri merupakan wilayah otak penting dalam membaca yang menghubungkan bentuk kata visual dari stimulus ke area otak. Bagian otak ini, yang awalnya dirancang untuk mengenali objek dan wajah, menjadi terspesialisasi dalam mengidentifikasi huruf dan kata. Melalui paparan berulang, letter box belajar memproses huruf sebagai pola, sehingga memungkinkan kita untuk mengenali kata-kata dengan mudah, terlepas dari jenis huruf, ukuran, atau huruf besar-kecilnya. Pada saat manusia membaca, otak manusia bekerja secara cerdas dan luar biasa. Ketika kita membaca, otak kita menciptakan koneksi yang kuat antara daerah yang bertanggung jawab atas penglihatan, bahasa, dan memori. Otak bekerja sama sebagai sebuah tim untuk mengolah informasi yang dilihat dari visual. Informasi yang kita lihat dikirimkan ke otak, lalu otak menerjemahkannya menjadi sebuah kata, menghubungkan kata-kata menjadi sebuah makna dan membantu kita memahami pengucapannya. Proses yang saling berhubungan ini membuat membaca menjadi lancar dan bermakna. Selain itu, pengkabelan ulang otak dalam proses membaca membuat kita lebih baik dalam memproses informasi, memecahkan masalah, dan memahami ide-ide yang kompleks. Why Should We Read?
1.
Memperkuat Otak
Layaknya otot yang bekerja ketika kita sedang berolahraga, otak manusia juga bekerja dengan keras ketika membaca. Semakin banyak membaca, maka semakin terbiasa dan kuat otak kita dalam bekerja. Dilansir dari PMC (PubMed Center) sebuah penelitian yang dilakukan oleh (Berns et al., 2013) yang meneliti orang-orang yang sedang membaca menunjukan hasil bahwa semakin mendalam seseorang terlibat dalam cerita, semakin banyak area otak yang aktif. Menariknya, aktivitas ini tetap bertahan selama beberapa hari setelah orang tersebut menyelesaikan bacaannya. Maka semakin sering kita membaca, semakin kuat dan kompleks jaringan aktivitas otak yang terbentuk.
2. Memperkuat Pemikiran Kritis Pada saat membaca, secara tidak langsung pembaca ditantang untuk menganalisis, mempertanyakan, dan menginterpretasikan apa yang dibaca. Sebuah studi yang dilakukan oleh (Hollins, 2023) menjelaskan bagaimana membaca—baik fiksi maupun nonfiksi—memengaruhi cara orang berpikir kritis, yang berarti menganalisis, mempertanyakan, dan mengevaluasi ide dengan cara yang bijaksana. Fiksi memiliki asosiasi yang unik dalam mengubah cara manusia berpikir. Membaca fiksi membantu orang berpikir kreatif—karena fiksi mendorong imajinasi fleksibel reflektif—ketika pembaca membaca cerita yang penuh ide kompleks, biasanya pembaca diajak untuk merenungkan maknanya dalam waktu yang lebih lama—dan memberi pembaca wawasan tentang situasi dunia nyata tetapi melalui lensa penceritaan. Hal ini memungkinkan pembaca berpikir kritis dengan cara yang halus dan tidak langsung, membantu pembaca melihat perspektif yang berbeda dan menghubungkan ide-ide dengan cara baru. MAJALAH INSIGHT | DESEMBER 2024
Sebaliknya, nonfiksi menghadirkan informasi yang lebih jelas dan faktual. Membaca nonfiksi mendorong pemikiran kritis dan evaluasi karena pembaca akan menilai informasi yang disampaikan secara langsung. Selain itu, pembaca juga mengaitkan isi bacaan dengan pengalaman hidup mereka, membuatnya menjadi lebih relevan dan bermakna.
3. Menumbuhkan Rasa Empati Ketika membaca buku, kerap kali pembaca mendalami isi dari cerita yang sedang dibaca. Mendalami isi cerita membuat pembaca terbawa dalam alur yang dibuat oleh penulis, seakan-akan pembaca sedang memerankan dan menjalani kehidupan dalam cerita tersebut. Cerita memungkinkan pembaca untuk berada di posisi orang lain (tokoh dalam cerita) memahami emosi mereka, dan melihat dunia melalui mata mereka. Hal tersebut dapat membantu meningkatkan rasa empati dan membantu pembaca untuk berhubungan dengan orang lain. Menurut penelitian (Zahra & Savitri, 2023), jumlah cerita fiksi dan respon empati terhadap karakter dalam cerita (narrative empathy) berperan terhadap empati di dunia nyata. Hal tersebut menunjukan bahwa keterlibatan pembaca dengan tokoh dalam cerita dapat memengaruhi empati di kehidupan nyata.
4. Meningkatkan Kemampuan Komunikasi Membaca pada teks yang kaya akan kosakata dan struktur bahasa yang beragam membantu pembaca memperkaya perbendaharaan kata dan memahami bagaimana kalimat disusun dengan baik. Seseorang yang sering membaca cenderung memiliki kemampuan berbahasa yang baik karena terpapar berbagai jenis frasa, kata, dan gaya penulisan. Pada saat membaca otak kita menyimpan gaya linguistik dari bahan yang kita baca. Hal tersebut dapat membantu memperkuat kemampuan kita dalam berkomunikasi. Semakin sering kita membaca, semakin terlatih kemampuan kita dalam menuangkan ide dan menyampaikan pesan dengan jelas. Membaca Sebagai Hiburan Di era digital yang serba cepat, penuh distraksi, dan berisik, membaca bisa menjadi salah satu opsi untuk mengistirahatkan pikiran sejenak. Paparan cahaya biru dari gawai, kehidupan orang lain yang penuh flexing di sosial media, serta desas-desus gosip dan hal-hal viral lainnya bisa ditinggalkan sejenak dengan membaca buku. Membaca bukan hanya menyajikan ketenangan, namun bisa juga memperkuat otak, meningkatkan konsentrasi, dan menurunkan stres. Dilansir dari Taking Charge of Your Wellbeing, penelitian dari Universitas Sussex (2009), menunjukkan bahwa membaca selama 6 menit dapat mengurangi stres hingga 68%, menjadikannya lebih efektif dibandingkan mendengarkan musik atau berjalan santai. Mulai Membaca Membangun kebiasaan membaca bisa dimulai dari hal-hal kecil dan sederhana. Seperti teori yang disampaikan dalam buku Atomic Habits (2018) bahwa kebiasaan baru yang terbentuk berasal dari perubahan-perubahan kecil yang dilakukan secara konsisten atau dikenal dengan '1% better every day.' Kebiasaan membaca buku bisa dimulai dari membaca buku yang paling disukai atau buku yang ringan untuk dibaca—novel, komik, majalah, dan lainnya. Terapkan waktu membaca setiap hari dimulai dari target kecil—1 lembar per hari atau 5 menit per hari. Pada saat membaca jauhkan hal-hal yang bersifat mengganggu fokus. Jangan lupa, cari posisi dan tempat yang nyaman untuk membaca. Di zaman yang serba digital, membaca buku adalah oase yang menyejukkan—menawarkan hiburan berkualitas dibarengi dengan melatih kekuatan otak, dan memperkaya wawasan. Dengan membuka halaman demi halaman, kita tidak hanya menemukan cerita menarik, tetapi juga menemukan pengetahuan dan pengalaman yang lebih bermakna serta mendalam. Berns et al,. (2013). Short- and Long-Term Effects of a Novel on Connectivity in the Brain. 590-600. Dehaene, S. (2019). Reading in The Brain. New York: Penguin Group. Zahra & Savitri (2023). Bagaimana Hobi Membaca Fiksi Berperan terhadap Empati di Kehidupan Nyata? Jurnal Psikologi Sosial, 134-143. Hollins, H. (2023). Readers’ experiences of fiction and nonfiction influencing critical thinking. Journal of Librarianship and Information Science, 18-32. Minnesota, U. o. (2024). University of Minnesota. Retrieved from Taking Charge of Your Wellbeing.
23
REKOME BACAAN L The Question of Palestine (1979) ditulis oleh Edward W. Said Buku ini cocok sebagai pengantar garis besar konflik di Palestina. Edward Said menelusuri konflik abadi antara dua bangsa di Timur Tengah, interaksi antara penjajah dan yang dijajah, serta keterlibatan kekuatan Barat. Said berfokus pada evolusi identitas dan status Palestina beserta rakyatnya. Mengulas wawasan dasar tentang Palestina seperti invasi Israel ke Lebanon, intifada, Perang Teluk, dan inisiatif perdamaian Timur Tengah yang sedang berlangsung.
Jerusalem: Kesucian, Konflik, dan Pengadilan Akhir (2008) ditulis oleh Trias Kuncahyono Trias Kuncahyono berefleksi dengan status unik Yerusalem sebagai kota suci bagi tiga agama besar dunia dan bagaimana kesucian ini memicu konflik yang berlarut-larut sepanjang sejarah. Buku ini menggali sejarah panjang perjuangan politik, keagamaan, dan budaya yang menjadikan Yerusalem medan perebutan kekuasaan sekaligus simbol harapan eskatologis bagi banyak kelompok. Karya ini secara dalam mengupas peran Yerusalem dalam narasi akhir zaman dan pengaruhnya terhadap geopolitik modern.
The Palestine Laboratory: How Israel Exports the Tecnology of Occupation Around the World (2023) ditulis oleh Antony Loewenstein Buku ini mengungkap bagaimana Israel memanfaatkan penjajahan di Palestina sebagai laboratorium untuk mengembangkan teknologi pengawasan (surveillance) dan senjata yang diekspor ke seluruh dunia. Dengan investigasi mendalam, Antony Loewenstein menggambarkan bagaimana Israel menjadi pemimpin dalam menyediakan alat kontrol bagi rezim otoriter maupun demokrasi di tengah meningkatnya etno-nasionalisme abad ke-21.
24
MAJALAH INSIGHT | EDISI KEEMPAT
ENDASI LANJUTAN The Hundred Years' War on Palestine: A History of Settler Colonialism and Resistance 1917-2017 (2020) ditulis oleh Rashid Khalidi Rashid Khalidi menelusuri sejarah panjang konflik PalestinaIsrael dari perspektif Palestina, dengan titik tolak surat Yusuf Diya al-Khalidi pada 1899 yang memperingatkan bahaya gerakan Zionis. Ditulis berdasarkan arsip yang jarang diakses dan laporan keluarga Khalidi selama beberapa generasi, buku ini mengungkap konflik sebagai perang kolonial yang didukung kekuatan Barat, bukan sekadar benturan dua klaim terhadap wilayah yang sama.
Gaza in Crisis: Reflection on Israel's War Against the Palestinians (2010) ditulis oleh Noam Chomsky & Ilan Pappé Dalam buku ini, Noam Chomsky dan Ilan Pappé mengeksplorasi dinamika konflik Gaza sebagai bagian dari kebijakan penindasan yang lebih luas terhadap rakyat Palestina. Buku ini membahas serangan militer Israel, pengepungan yang terus berlangsung, dan dampaknya terhadap kehidupan warga Gaza, sambil menghubungkannya dengan sejarah panjang kolonialisme dan etno-nasionalisme.
In Search of Fatima: A Palestinian Story (2002) ditulis oleh Ghada Karmi Ghada Karmi menceritakan pengalaman pribadinya tentang pengungsian, kehilangan, dan nostalgia. Berlatar peristiwa politik besar yang membentuk konflik Timur Tengah, buku ini menggambarkan dampak psikologis migrasi paksa dan keterasingan identitas. Lebih dari sekadar autobiografi, karya ini adalah narasi mendalam dan intim tentang konflik IsraelPalestina, mewakili suara jutaan orang yang hidup terjebak di antara tanah asal dan negeri baru.
MAJALAH INSIGHT | DESEMBER 2024
25
CAKRAWALA
SURIAH: ANTARA REVOLUSI MURNI DAN KEPENTINGAN IZZATUR RAHMAN PRADIATMA
S
uriah, sebuah negeri yang subur di dataran Levant, sebuah dataran yang disebut didalam hadis dengan sebutan Syam. Syam disebut oleh Nabi sebagai negeri yang penuh keberkahan, bahkan di sebuah hadis disebutkan bahwasanya Isa atau Yesus akan turun di menara putih yang terletak di Damaskus, Suriah. Begitulah Nabi menggambarkan Bumi Syam sebagai bumi yang berkah sekaligus bumi yang penuh dengan riwayat-riwayat eskatologis atau nubuat akhir zaman. Bumi Syam tidak sebatas suriah saja, namun mencakup Palestina, Jordan, dan Lebanon. Dibandingkan dengan negara-negara timur tengah yang lain, Bumi Syam dikenal karena produksi buah-buahan dan segala macam tumbuhan subur ada di wilayah ini, termasuk di antaranya adalah buah zaitun yang berfungsi sebagai minyak untuk keperluan pangan hingga kosmetik. Namun keindahan yang ada pada di wilayah ini harus tertutupi oleh peperangan yang terus menerus melanda wilayah ini dari zaman sebelum masehi hingga saat ini, terkhusus negeri Suriah. Sekarang, Al-Assad sudah tumbang, peperangan pun sudah berakhir. Namun, apakah dengan hancurnya Assad akan menghentikan peperangan atau justru melahirkan pertempuran yang lebih ganas, walaupun Ahmad Shara’ yang dahulu dikenal dengan kuniyah Abu Muhammad al Jaulani, selaku panglima tertinggi revolusi menyerukan untuk membubarkan seluruh faksi bersenjata. Hal tersebut memungkinkan bangkitnya perseteruan antar kelompok sebagaimana yang terjadi di Libya. Bahkan tetangga Suriah, Israel pun sudah bersiap-siap untuk melawan atau malah berkawan dengan kepemimpinan baru di Suriah. SYKES-PICOT, HENGKANGNYA PRANCIS DAN PERSATUAN DENGAN MESIR
Utsmani, imperium yang dikenal sebagai khalifah sekaligus harapan terakhir umat Islam harus runtuh disebabkan ketidakpercayaan umat Islam terhadap pemerintahan Utsmani. Ditambah dengan terjadinya Perang Dunia I di mana Utsmani bergabung bersama Jerman untuk melawan Britania Raya, sehingga fokus khalifah pun terbagi banyak dikarenakan beberapa wilayah yang notabenenya merupakan muslim pun melakukan perlawanan terhadap khalifah. Akibat dari melemahnya Utsmani, pada tahun 1916 sebuah perjanjian rahasia ditandangani oleh dua diplomat dari Britania Raya dan Perancis yaitu Sykes dan Pycot dibawah persetujuan Rusia. Berdasarkan perjanjian tersebut, Britania mendapatkan mandat atas Iraq, Jordan, dan Palestina. Adapun Prancis mendapatkan mandat atas Suriah, Lebanon dan wilayah selatan Anatolia.
26
Pasca ditandatanganinya perjanjian tersebut, Suriah menjadi hak miliknya Perancis, namun kekuasaan Perancis harus berakhir pada tahun 1946, ditandai dengan pembacaan deklarasi kemerdekaan oleh Jendral Certaoux. Bendera Prancis pun diturunkan, diganti dengan bendera baru berwarna Hijau, putih dan hitam serta dibagian warna putih terdapat tiga bintang berwarna merah. Di tahun 1958, Suriah dan Mesir menyatu menjadi Republik Arab Bersatu di bawah kepemimpinan Jamal Abd al-Nasser yang berakhir naas dan bubar pada 1961 menjadi Republik Arab Suriah. BANGKITNYA KELUARGA AL-ASSAD
Pada tahun 1963, terjadi sebuah kudeta didalangi oleh Partai Ba’ath yang menjadi titik awal partai yang berideologi Pan-Arabisme dan Sosialis Arab ini menjadi partai terkuat di Suriah. Lalu pada 1971, kudeta kembali terjadi yang mengantarkan Hafezh al-Assad menduduki tampuk kekuasaan tertinggi di Suriah. Tidak hanya sebagai Presiden, Hafez juga menduduki posisi sebagai pimpinan umum Partai Ba’ath. Begitu ambisius, menjelang akhir hayatnya Hafez bahkan menyiapkan pengganti, yaitu anaknya sendiri, Basheel al Assad. Sayangnya takdir berkata lain, di tahun 2000 bangku kepresidenan diisi anaknya yang lain, yaitu Bashar al-Assad. Bashar, seorang lulusan kedokteran sekaligus perwira militer, mencoba berbeda. Ayahnya dikenal sebagai sosok diktator yang keji dan beringas, begitu banyak musuh politiknya yang dibantai dan dihabisi; di antaranya adalah para tokoh Ikhwanul Muslimin. Bashar mencoba untuk lebih terbuka, ia mempersilakan siapa pun untuk berpartisipasi dalam rekonstruksi dan pembangunan Suriah. Namun, dipertengahan tahun 2001, Bashar membatasi segala bentuk kritik yang ada, kaum intelektual yang kritis terhadap pemerintahan dianggap sebagai antek Barat. Sikapnya inilah yang menyebabkan Suriah terisolasi dari Barat. Menuju puncaknya pada 2010-an, sebanyak 30 persen rakyat Suriah hidup dibawah garis kemiskinan. DARI TOA MENUJU BAZOKA
Di awal tahun 2011-an, sekelompok orang mengadakan protes di kota Daraa. Awalnya aksi protes diadakan dengan damai namun berakhir rusuh. Anak-anak sekolah ditangkap karena mencoret tembok sekolah dengan propaganda anti Assad dan pro-demokrasi. Gerakan yang berawal dari ketidakpuasaan rakyat atas kondisi ekonomi pun mulai menjalar ke penjuru negeri. Tentu saja campur tangan Amerika dan Barat tidak lepas dari konflik ini, mereka menekan Suriah, sehingga mau tidak mau Suriah harus mandiri dari ketergantungan kepada negara barat.
militer suriah, membelot. Ia mendirikan sebuah kelompok militan yang dinamai Free Syrian Army (FSA), kelompok ini mendapat pasokan persenjataan dari negara-negara Barat dan beberapa negara Arab. Tidak hanya FSA, di Suriah muncul juga pemain baru, yaitu Al -Qaeda dan ISIS yang militan. Disusul kelompok-kelompok Jihadis yang didukung Saudi, Turki dan Qatar. Adapun dari kubu Assad, Rusia dan Iran dengan proxy-nya seperti Hezbollah di Lebanon, ikut bermain. Situasi ini membuat konflik di Suriah begitu sulit untuk dipetakan. Bagaimana tidak, saling tusuk satu masa lain kerap terjadi di antara mereka. Pada akhirnya, koalisi baru terbentuk bernama Pemerintahan Penyelamatan Suriah yang dipimpin oleh Hai’ah Tahrir al-Sham, sebuah kelompok yang dahulu merupakan cabang Al-Qaeda, Jabhah Nusrah. Pada Bulan Desember 2024, Rezim Assad pun tumbang, Damaskus dikuasai oleh pemberontak dibawah pimpinan Al-Jaulani sebagai pimpinan tertinggi. REFLEKSI SETELAH ASSAD TUMBANG
Konflik usai, peperangan antar sesama bangsa—bahkan sesama mukmin—pun raib. Namun bangsa Suriah masih memiliki PR yang begitu besar. Apabila kita diperbolehkan jujur, sejatinya peperangan yang terjadi bukan sepenuhnya kesalahan dari Assad, Assad sebagai pemimpin negara tentu memiliki tanggung jawab yang besar untuk mempertahankan kedaulatan negaranya. Perlu diingat, Amerika Serikat memiliki agenda yang begitu besar, termasuk di Suriah. Dengan letak Suriah yang begitu strategis, tidak begitu heran intevensi AS dan Rusia sangat besar di kawasan tersebut. Maka penting bagi pemerintahan yang baru belajar dari kasus Assad, mengingat mustahil api menyala tanpa ada yang penyulut. Kehadiran Al-Jaulani, pendiri Al-Qaeda cabang Suriah yang saat ini dianggap sebagai pahlawan revolusi, tentu saja menimbulkan ribuan pertanyaan; Bagaimana sosok yang dahulu dianggap teroris oleh Gedung Putih, tiba-tiba status terorisnya dicabut? Tentu kebebasan dan revolusi yang diharapkan oleh rakyat Suriah bisa saja dibajak oleh kepentingan kelompok tertentu. Rakyat Suriah harus belajar bahwasanya setiap peperangan yang mengorbankan sesama adalah warisan sampah dari sejarah Islam dan Arab, kepentingan golongan tertentu dianggap sebagai aqidah, padahal untuk membangun sebuah masyarakat yang ideal harus dibangun diatas kemaslahatan, bukan kepentingan kelompok tertentu. Semoga, Suriah dapat mengejawantahkan makna kebebasan yang sebenarnya, revolusi yang diperjuangkan adalah revolusi yang didasari atas kepentingan bersama, bukan kepentingan negara asing atau kelompok ekstremis yang memiliki agenda tertentu. Biarkan rakyat yang menentukan keinginan mereka. Adapun, tugas kita hanya mendoakan dan membela siapa pun yang menjadi korban. ***
Sialnya aksi protes yang hanya sekedar demonstrasi berubah menjadi perlawanan bersenjata. Riad al-Assad, seorang perwira MAJALAH INSIGHT | EDISI KEEMPAT
DUKUNG MAJALAH
UNTUK TERUS BERTUMBUH
DONASI
bit.ly/DonasiInsight
MAJALAH INSIGHT | DESEMBER 2024
27