Skip to main content

Gaslighting: Navigating the Shadows of Manipulation (PsyMagz Edition 40)

Page 1

Social Psychology Series

Keep in touch with us! ORMAWA Fakultas Psikologi UKWMS

@ormawa_psi_wm

@lpmfpsikologi

@550mmyuj

GASLIGHTING

Navigating the Shadows of Manipulation

EDISI

40


GET TO KNOW US! PsyMagz telah hadir kembali dengan tema baru pada edisi 40, yaitu “Gaslighting : Navigating the Shadows of Manipulation”. Terbitnya PsyMagz edisi 40 tentu tidak terlepas dari berkat Tuhan Yang Maha Esa, dukungan Fakultas Psikologi, dan Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya. Tidak lupa juga atas kerja keras seluruh panitia PsyMagz tahun ini. Jadi tunggu apa lagi, sobat PsyMagz? Segera balik halamannya dan selamat membaca!

Dosen Pelindung: Agnes Maria Sumargi, Ph.D., Psikolog Dosen Pendamping: Happy Cahaya Mulya, M.Psi., Psikolog

Sie Wartawan: Santi Mega Angel Clarissa

Sie Editor: Evangelique Agnes Vianca

BPH PsyMagz: Angel KR Lady Christiana

Sie Dana: Kirana Chezia Elisa

Evapro: Verinka

Sie Research: Kelly Jovian

Sie Layouter: Archangela Yeshica Clairine Glory

BPH LPMF: Evelyn Nadya Michelle Irene

CONTENT

02 04 06 08 10 12

Student’s POV Focuslogy Welcoming Wimates What’s the Effect? Psychoice Psychology Fair 2022/2023

14 16 17 18 20 22

Impostor VS Victim

Book Recommendation Popcorn Time

Mini Biography Ask the Expert Myths and Facts about Psychology Students

PSYMAGZ 01

24 26 28 29 30 32

Faculty Photo How to Solve? New Song, New Mood Secret Messages Psymates’s Achievement Share your Aspiration


GET TO KNOW US! PsyMagz telah hadir kembali dengan tema baru pada edisi 40, yaitu “Gaslighting : Navigating the Shadows of Manipulation”. Terbitnya PsyMagz edisi 40 tentu tidak terlepas dari berkat Tuhan Yang Maha Esa, dukungan Fakultas Psikologi, dan Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya. Tidak lupa juga atas kerja keras seluruh panitia PsyMagz tahun ini. Jadi tunggu apa lagi, sobat PsyMagz? Segera balik halamannya dan selamat membaca!

Dosen Pelindung: Agnes Maria Sumargi, Ph.D., Psikolog Dosen Pendamping: Happy Cahaya Mulya, M.Psi., Psikolog

Sie Wartawan: Santi Mega Angel Clarissa

Sie Editor: Evangelique Agnes Vianca

BPH PsyMagz: Angel KR Lady Christiana

Sie Dana: Kirana Chezia Elisa

Evapro: Verinka

Sie Research: Kelly Jovian

Sie Layouter: Archangela Yeshica Clairine Glory

BPH LPMF: Evelyn Nadya Michelle Irene

CONTENT

02 04 06 08 10 12

Student’s POV Focuslogy Welcoming Wimates What’s the Effect? Psychoice Psychology Fair 2022/2023

14 16 17 18 20 22

Impostor VS Victim

Book Recommendation Popcorn Time

Mini Biography Ask the Expert Myths and Facts about Psychology Students

PSYMAGZ 01

24 26 28 29 30 32

Faculty Photo How to Solve? New Song, New Mood Secret Messages Psymates’s Achievement Share your Aspiration


STUDENT’S POV Halo, sobat PsyMagz! Bagaimana kabar kalian? Semoga baik-baik saja, ya. By the way, apakah sobat PsyMagz pernah mendengar istilah gaslighting? Menurut sobat PsyMagz kira-kira apa yang dimaksud dengan gaslighting? Yuk, kita simak pendapat teman-teman Psymates dari beberapa angkatan! “Gaslighting itu setahuku kayak usaha memanipulasi keadaan dan respon orang lain supaya mau mengikuti apa yang orang tersebut inginkan. Setauku yaaa, misalnya seperti bilang ‘yaudah mulai sekarang aku delete instagram aja deh supaya kamu ngga marah-marah lagi.’ Korban gaslighting biasanya jadi mempertanyakan dirinya sendiri bahkan sampai menyalahkan dirinya sendiri. Kalau seperti ini, pelaku gaslightingnya pasti senang karena dia tidak harus ‘merendahkan dirinya’ sendiri untuk mengaku salah dan meminta maaf. Jadi singkatnya, gaslighting adalah

Stephanie Michelle, Mahasiswa Angkatan 2020

“Kalau dari sudut pandang orang yang melihat, menurutku orang yang melakukan gaslighting itu ada ketidaksadaran dalam dirinya, bahwa dia itu selalu mencari pembenaran atas semua tindakannya sampai-sampai tindakan yang mungkin awalnya biasa aja malah jadi maladaptif. Jadi, tidak mau mengakui kalau mereka mereka salah karena sudah terjebak di zona nyaman itu. Nah, kalau buat mereka yang di gaslight juga ada kecenderungan ketidaksadaran kalau mereka merasa rendah diri. Dari 2 pandangan itu bisa dilihat kalau antara pelaku dan korban itu berperan dalam gaslighting. Si pelakunya yang merasa tinggi dan selalu mencari pembenaran, sedangkan korbannya yang selalu merasa rendah diri. Kondisi seperti begini biasanya kan ada di sebuah hubungan nih, mungkin ada yang bertanya kalau keduanya sadar ada gaslighting, kenapa masih Felicia Elena, dilanjut. Menurutku karena ‘zona nyaman’. Ibaratnya ‘sama kamu Mahasiswa Angkatan 2022 memang berat tapi tidak sama kamu aku tidak bisa."

Wah, pandangan dari Felicia agak berbeda dengan teman-teman yang sebelumnya, nih. Felicia memaparkan pandangannya dari sisi pelaku dan juga korban, serta memberikan contoh konkrit yang terjadi di sekeliling kita nih, sobat PsyMagz. Gimana sobat PsyMagz, ada yang setuju dengan pandangan Felicia?

cara untuk menyalahkan orang lain dengan halus.”

Wah, tanggapan dari Stephanie ini sangat menjelaskan makna dari gaslighting itu sendiri ya sobat PsyMagz.

“Menurutku sih gaslighting itu seperti playing dirty. Ya, istilahnya kan, dia kayak berusaha meyakinkan seseorang terkait hal yang belum tentu benar atau mungkin tidak sesuai dengan apa yang diketahui oleh si lawan bicaranya. Intinya dia kayak membohongi dan membodohi lawan bicara demi tercapainya tujuan pribadi. Kalo aku baca-baca di jurnal gitu kan, dia juga kayak teknik manipulasi, yang mana salah satu pihak berusaha memaksa lawan bicara untuk menerima ‘fakta’ yang diserahkan tadi. Karena gaslighting bersifat manipulatif tadi, maka mau dipandang dari sudut pandang manapun atau mau dirasionalisasikan bagaimanapun juga, karena dia manipulatif, ya, jatuhnya pasti toxic sih.”

Benedictus Reyhan, Mahasiswa Angkatan 2021

“Jadi menurutku sendiri, gaslighting itu bentuk pemikiran yang dapat memanipulasi orang karena keberadaan mereka itu penting, sehingga ia memanfaatkan orang tersebut dalam urusan tertentu. Bersifat berkuasa dan dapat mengontrol orang lain, sehingga korban memiliki perasaan ragu yang mempertanyakan dirinya sendiri. Dan karena pemikiran itu korban cenderung mudah terkena gaslighting karena merasa tidak enakan kepada orang lain.”

Keenan Kakalau, Mahasiswa Angkatan 2023

Dalam pandangannya Keenan menyebutkan bahwa gaslighting dapat terjadi karena seseorang merasa sungkan kepada orang lain. Kalau menurut sobat PsyMagz gimana? Sobat Psymagz, kira-kira yang disampaikan oleh teman-teman ini benar-benar dirasakan korban gaslighting nggak ya? Untuk lebih jelasnya, yuk, kita simak pandangan Gaslighting dari sudut pandang teori yang akan dibahas pada halaman selanjutnya!

Keren banget nih, cara Benedictus mendeskripsikan makna dari gaslighting. Kirakira kalian setuju gak sama Benedictus kalau gaslighting itu merupakan teknik manipulasi? PSYMAGZ 02

PSYMAGZ 03


STUDENT’S POV Halo, sobat PsyMagz! Bagaimana kabar kalian? Semoga baik-baik saja, ya. By the way, apakah sobat PsyMagz pernah mendengar istilah gaslighting? Menurut sobat PsyMagz kira-kira apa yang dimaksud dengan gaslighting? Yuk, kita simak pendapat teman-teman Psymates dari beberapa angkatan! “Gaslighting itu setahuku kayak usaha memanipulasi keadaan dan respon orang lain supaya mau mengikuti apa yang orang tersebut inginkan. Setauku yaaa, misalnya seperti bilang ‘yaudah mulai sekarang aku delete instagram aja deh supaya kamu ngga marah-marah lagi.’ Korban gaslighting biasanya jadi mempertanyakan dirinya sendiri bahkan sampai menyalahkan dirinya sendiri. Kalau seperti ini, pelaku gaslightingnya pasti senang karena dia tidak harus ‘merendahkan dirinya’ sendiri untuk mengaku salah dan meminta maaf. Jadi singkatnya, gaslighting adalah

Stephanie Michelle, Mahasiswa Angkatan 2020

“Kalau dari sudut pandang orang yang melihat, menurutku orang yang melakukan gaslighting itu ada ketidaksadaran dalam dirinya, bahwa dia itu selalu mencari pembenaran atas semua tindakannya sampai-sampai tindakan yang mungkin awalnya biasa aja malah jadi maladaptif. Jadi, tidak mau mengakui kalau mereka mereka salah karena sudah terjebak di zona nyaman itu. Nah, kalau buat mereka yang di gaslight juga ada kecenderungan ketidaksadaran kalau mereka merasa rendah diri. Dari 2 pandangan itu bisa dilihat kalau antara pelaku dan korban itu berperan dalam gaslighting. Si pelakunya yang merasa tinggi dan selalu mencari pembenaran, sedangkan korbannya yang selalu merasa rendah diri. Kondisi seperti begini biasanya kan ada di sebuah hubungan nih, mungkin ada yang bertanya kalau keduanya sadar ada gaslighting, kenapa masih Felicia Elena, dilanjut. Menurutku karena ‘zona nyaman’. Ibaratnya ‘sama kamu Mahasiswa Angkatan 2022 memang berat tapi tidak sama kamu aku tidak bisa."

Wah, pandangan dari Felicia agak berbeda dengan teman-teman yang sebelumnya, nih. Felicia memaparkan pandangannya dari sisi pelaku dan juga korban, serta memberikan contoh konkrit yang terjadi di sekeliling kita nih, sobat PsyMagz. Gimana sobat PsyMagz, ada yang setuju dengan pandangan Felicia?

cara untuk menyalahkan orang lain dengan halus.”

Wah, tanggapan dari Stephanie ini sangat menjelaskan makna dari gaslighting itu sendiri ya sobat PsyMagz.

“Menurutku sih gaslighting itu seperti playing dirty. Ya, istilahnya kan, dia kayak berusaha meyakinkan seseorang terkait hal yang belum tentu benar atau mungkin tidak sesuai dengan apa yang diketahui oleh si lawan bicaranya. Intinya dia kayak membohongi dan membodohi lawan bicara demi tercapainya tujuan pribadi. Kalo aku baca-baca di jurnal gitu kan, dia juga kayak teknik manipulasi, yang mana salah satu pihak berusaha memaksa lawan bicara untuk menerima ‘fakta’ yang diserahkan tadi. Karena gaslighting bersifat manipulatif tadi, maka mau dipandang dari sudut pandang manapun atau mau dirasionalisasikan bagaimanapun juga, karena dia manipulatif, ya, jatuhnya pasti toxic sih.”

Benedictus Reyhan, Mahasiswa Angkatan 2021

“Jadi menurutku sendiri, gaslighting itu bentuk pemikiran yang dapat memanipulasi orang karena keberadaan mereka itu penting, sehingga ia memanfaatkan orang tersebut dalam urusan tertentu. Bersifat berkuasa dan dapat mengontrol orang lain, sehingga korban memiliki perasaan ragu yang mempertanyakan dirinya sendiri. Dan karena pemikiran itu korban cenderung mudah terkena gaslighting karena merasa tidak enakan kepada orang lain.”

Keenan Kakalau, Mahasiswa Angkatan 2023

Dalam pandangannya Keenan menyebutkan bahwa gaslighting dapat terjadi karena seseorang merasa sungkan kepada orang lain. Kalau menurut sobat PsyMagz gimana? Sobat Psymagz, kira-kira yang disampaikan oleh teman-teman ini benar-benar dirasakan korban gaslighting nggak ya? Untuk lebih jelasnya, yuk, kita simak pandangan Gaslighting dari sudut pandang teori yang akan dibahas pada halaman selanjutnya!

Keren banget nih, cara Benedictus mendeskripsikan makna dari gaslighting. Kirakira kalian setuju gak sama Benedictus kalau gaslighting itu merupakan teknik manipulasi? PSYMAGZ 02

PSYMAGZ 03


Focuslogy “Gaslighting: Navigating the Shadows of Manipulation” Halo, sobat PsyMagz! Kembali lagi bersama PsyMagz edisi 40 yang mengusung tema “Gaslighting: Navigating the Shadows of Manipulation”. Sobat PsyMagz sendiri tau gak apa itu Gaslighting? Kata Gaslighting sendiri mulai populer belakangan ini, bahkan sempat menjadi trending topic di suatu aplikasi sosial media, loh! Netizen curhat bahwasanya mereka ternyata secara tidak sadar pernah menjadi pelaku gaslighting atau yang dikenal dengan gaslighter dan bahkan pernah menjadi korban dari gaslighting atau gaslightee. Dikutip dari Sweet, gaslighting adalah kondisi di mana seseorang melakukan manipulasi secara psikologis kepada korban, dengan tujuan agar korban merasakan perasaan bersalah yang memunculkan keraguan dari diri korban atas pilihan hidupnya. Gaslighter akan mengintimidasi korban sehingga korban merasa satu-satunya kenyamanan yang bisa didapat adalah berada dekat dengan gaslighter. Gaslighting sendiri pertama kali dikenalkan lewat sebuah karya film berjudul “Gas Light” yang bercerita mengenai sepasang suami istri bernama Gregory dan Paula. Gregory melakukan serangkaian tindakan manipulasi, sehingga Paula merasa bahwa Gregory tidak bersalah, melainkan dirinya sendiri yang memiliki kelainan jiwa. Kemudian pada tahun 2017 seorang penulis asal Amerika membahas mengenai gaslighting dalam artikelnya yang berjudul “Trump is Gaslighting America – Here’s How to Survive”.

PSYMAGZ 04

Patricia Evans juga menjelaskan bahwa terdapat 7 tanda Gaslighter, yaitu: 1. Berbohong kepada korban 2. Merekayasa informasi agar sesuai dengan point of view dari pelaku 3. Memberikan informasi asal-asalan dan tidak rinci 4. Melakukan pelecehan verbal, seperti degradasi dan lelucon kasar 5. Menjauhkan korban dari dunia luar 6. Tidak menghargai korban, serta memandang rendah segala pilihan korban 7. Menyerang kelemahan korban secara bertahap dalam segala situasi Dilansir dari penelitian milik Klein, gaslighting dapat terjadi di dalam hubungan interpersonal, tempat kerja dan bahkan sekolah. Perilaku gaslighting sering terjadi dalam bentuk love bombing, isolating the victim, dan blowing hot and cold. Bentuk love bombing yang dilakukan adalah mengutarakan afeksi yang tidak penting dengan tujuan membingungkan korban, agar korban mengabaikan perilaku kasar yang dilakukan pelaku. Isolation the victim adalah perilaku yang dilakukan agar korban merasa lingkungan sekitarnya toxic dan hanya pelaku yang dapat memenuhi kebutuhan afeksi korban. Perilaku blowing hot and cold adalah perilaku berlawanan yang diberikan pelaku kepada korban dalam jangka waktu yang berdekatan, sehingga korban tidak punya pendirian yang pasti. Perilaku ini berupa emosi yang tidak stabil, dimana pelaku memarahi atau menyakiti korban dan kemudian memberi afeksi kepada korban secara beruntun. Jadi gimana sobat PsyMagz? Pastinya sudah punya pemahaman dengan istilah gaslighting, kan? kita harus ingat bahwa tidak ada pembenaran jika menjadi pelaku gaslighting. Jadi, pastikan say no kepada perilaku gaslighting, ya! Tim PsyMagz berharap pembahasan kali ini dapat berguna bagi sobat PsyMagz, tunggu pembahasan kami selanjutnya ya! Sumber : Muflihah & Naqiyah. (2022). Identifikasi Korban Kekerasan Gaslighting Pada Remaja Puteri. Jurnal Bimbingan dan Konseling, 6(2), 238-247.

PSYMAGZ 05


Focuslogy “Gaslighting: Navigating the Shadows of Manipulation” Halo, sobat PsyMagz! Kembali lagi bersama PsyMagz edisi 40 yang mengusung tema “Gaslighting: Navigating the Shadows of Manipulation”. Sobat PsyMagz sendiri tau gak apa itu Gaslighting? Kata Gaslighting sendiri mulai populer belakangan ini, bahkan sempat menjadi trending topic di suatu aplikasi sosial media, loh! Netizen curhat bahwasanya mereka ternyata secara tidak sadar pernah menjadi pelaku gaslighting atau yang dikenal dengan gaslighter dan bahkan pernah menjadi korban dari gaslighting atau gaslightee. Dikutip dari Sweet, gaslighting adalah kondisi di mana seseorang melakukan manipulasi secara psikologis kepada korban, dengan tujuan agar korban merasakan perasaan bersalah yang memunculkan keraguan dari diri korban atas pilihan hidupnya. Gaslighter akan mengintimidasi korban sehingga korban merasa satu-satunya kenyamanan yang bisa didapat adalah berada dekat dengan gaslighter. Gaslighting sendiri pertama kali dikenalkan lewat sebuah karya film berjudul “Gas Light” yang bercerita mengenai sepasang suami istri bernama Gregory dan Paula. Gregory melakukan serangkaian tindakan manipulasi, sehingga Paula merasa bahwa Gregory tidak bersalah, melainkan dirinya sendiri yang memiliki kelainan jiwa. Kemudian pada tahun 2017 seorang penulis asal Amerika membahas mengenai gaslighting dalam artikelnya yang berjudul “Trump is Gaslighting America – Here’s How to Survive”.

PSYMAGZ 04

Patricia Evans juga menjelaskan bahwa terdapat 7 tanda Gaslighter, yaitu: 1. Berbohong kepada korban 2. Merekayasa informasi agar sesuai dengan point of view dari pelaku 3. Memberikan informasi asal-asalan dan tidak rinci 4. Melakukan pelecehan verbal, seperti degradasi dan lelucon kasar 5. Menjauhkan korban dari dunia luar 6. Tidak menghargai korban, serta memandang rendah segala pilihan korban 7. Menyerang kelemahan korban secara bertahap dalam segala situasi Dilansir dari penelitian milik Klein, gaslighting dapat terjadi di dalam hubungan interpersonal, tempat kerja dan bahkan sekolah. Perilaku gaslighting sering terjadi dalam bentuk love bombing, isolating the victim, dan blowing hot and cold. Bentuk love bombing yang dilakukan adalah mengutarakan afeksi yang tidak penting dengan tujuan membingungkan korban, agar korban mengabaikan perilaku kasar yang dilakukan pelaku. Isolation the victim adalah perilaku yang dilakukan agar korban merasa lingkungan sekitarnya toxic dan hanya pelaku yang dapat memenuhi kebutuhan afeksi korban. Perilaku blowing hot and cold adalah perilaku berlawanan yang diberikan pelaku kepada korban dalam jangka waktu yang berdekatan, sehingga korban tidak punya pendirian yang pasti. Perilaku ini berupa emosi yang tidak stabil, dimana pelaku memarahi atau menyakiti korban dan kemudian memberi afeksi kepada korban secara beruntun. Jadi gimana sobat PsyMagz? Pastinya sudah punya pemahaman dengan istilah gaslighting, kan? kita harus ingat bahwa tidak ada pembenaran jika menjadi pelaku gaslighting. Jadi, pastikan say no kepada perilaku gaslighting, ya! Tim PsyMagz berharap pembahasan kali ini dapat berguna bagi sobat PsyMagz, tunggu pembahasan kami selanjutnya ya! Sumber : Muflihah & Naqiyah. (2022). Identifikasi Korban Kekerasan Gaslighting Pada Remaja Puteri. Jurnal Bimbingan dan Konseling, 6(2), 238-247.

PSYMAGZ 05


Welcoming Hai sobat PsyMagz! Kembali lagi dengan event yang sangat ditunggu-tunggu nih! Yup, apalagi kalau bukan event Pekan Pengenalan Kampus (PPK). PPK tahun ini baru saja diadakan pada 28 Agustus hingga 2 September 2023 kemarin. PPK tahun ini memiliki rangkaian acara yang beragam dan menarik loh. Hari pertama diawali dengan kegiatan pengenalan visi misi dan rektor UKWMS. Kemudian, hari kedua hingga hari kelima dilanjutkan dengan SBPT (Strategi Belajar di Perguruan Tinggi). Lalu, di hari terakhir diadakan event yang paling ditunggu, yakni WEPHORIA, dimana terdapat penampilan dance performance dan yel-yel performance yang tidak kalah meriah. Salah satu mahasiswa baru, Leonnard, menyampaikan bahwa ia mempersiapkan PPK ini dengan baik dan teliti. “Yang saya rasakan capek, ya seneng juga,” kata Leon. Tak hanya itu, Leon juga menjadi koordinator yel-yel yang bertugas memimpin barisan dan memberikan arahan. “PPK tahun depan, menurut saya bisa dijadwalkan jauh hari supaya bisa siap-siap,” hal ini menjadi harapan Leon. Selain itu, salah satu mahasiswa pendamping Fakultas Psikologi, Maura, juga sharing mengenai event PPK. Menurutnya, ada kesulitan dalam membagi waktu antara mengerjakan tugas dari ormawa BPMU dan persiapan PPK. “Aku buat to do list dan skala prioritas,” kata Maura untuk mengatasi kesibukannya. Jika tidak bisa datang rapat PPK, Maura akan menanyakan progres dan tugasnya, lalu dikerjakan di rumah. Maura bersyukur atas kedekatannya dengan anak mapingnya tahun ini. Menurutnya, mengikuti konser HIVI merupakan pengalaman spesial baginya. Hari itu, Maura menangis dan memeluk anak mapingnya karena menurutnya momen ini takkan terulang. “Persiapan mungkin lebih matang, supaya PPK jauh lebih matang dan meriah dari segi dekorasi juga,” saran Maura. Beralih dari PPK, kita akan membahas event puncak acara PPK tahun ini nih, yaitu night festive atau WO2F. Lalu, apa itu WO2F? WO2F merupakan closing party dari PPK yang mengangkat tema “Greeconism”, di mana tahun sebelumnya dikenal sebagai WMGP REBORN. Lalu, apa yang membedakan WMGP REBORN dengan WO2F? FFF

PSYMAGZ 06

New Wimates! WO2F merupakan acara untuk menyambut mahasiswa baru yang diikuti oleh mahasiswa, dosen, dan tenaga kependidikan. Rangkaian acara WO2F terdiri dari Yel-yel competition, Zumba, serta Eco Activity dengan membuat mural dari barang bekas yang melibatkan seluruh mahasiswa, dosen, dan tenaga kependidikan. Untuk penjelasan lebih lengkap, yuk simak! Salah satu panitia WO2F, Kinan, menyampaikan bahwa yang membedakan dengan tahun lalu adalah guest star-nya. “Kalau tahun lalu WMGP semua fakultas tampil, kemarin itu yang tampil diseleksi dulu. Nah, terus diambil 3 terbaik yang tampil di hari yang sama kayak guest star-nya, yaitu HIVI. Siapa sih, yang nggak suka HIVI?” Kinan menjelaskan, sebagai divisi sponsorship dan konsumsi, mereka berhasil mendapatkan sponsor dan open tenant. Menurutnya, persiapan yang dilakukan cukup mepet dan kurang matang, dikarenakan dosen tenaga kependidikan mengurus 2 event sekaligus, tetapi semuanya berhasil diatasi. “Nah, kesulitannya kita harus mem-branding acara WO2F dulu, terus cari sponsor juga nggak gampang dengan waktu se-mepet itu, terus karena panitianya banyak banget, jadi kurang bonding,” keluh Kinan. Kinan sangat senang bekerja sama dengan teman-teman fakultas lain, dosen, tenaga kependidikan, banyak hal yang Ia dapatkan. “Untuk event tahun depan mungkin persiapannya bisa lebih lama, guest star-nya di-voting dulu, acaranya bisa dikembangkan lagi,” Kinan berharap. Tak hanya itu, salah satu rangkaian dari kegiatan WO2F adalah event WEPHORIA yang tidak kalah menarik dan paling ditunggu oleh seluruh mahasiswa baru nihh. Salah satu mahasiswa baru psikologi, Veronica, juga ikut berpartisipasi memeriahkan lomba dance, Ia bercerita bahwa kesulitan yang dialaminya, yaitu bagian detailing gerakan. Namun, Ia banyak dibantu oleh kakak tingkat dan teman-temannya. Tak hanya itu, menurut Vero, event WO2F ini seru dan colorful. Ia berharap di event selanjutnya bisa lebih baik lagi untuk pengaturan acaranya. Gimana? Event PPK tahun 2023 seru kan, sobat PsyMagz?

PSYMAGZ 07


Welcoming Hai sobat PsyMagz! Kembali lagi dengan event yang sangat ditunggu-tunggu nih! Yup, apalagi kalau bukan event Pekan Pengenalan Kampus (PPK). PPK tahun ini baru saja diadakan pada 28 Agustus hingga 2 September 2023 kemarin. PPK tahun ini memiliki rangkaian acara yang beragam dan menarik loh. Hari pertama diawali dengan kegiatan pengenalan visi misi dan rektor UKWMS. Kemudian, hari kedua hingga hari kelima dilanjutkan dengan SBPT (Strategi Belajar di Perguruan Tinggi). Lalu, di hari terakhir diadakan event yang paling ditunggu, yakni WEPHORIA, dimana terdapat penampilan dance performance dan yel-yel performance yang tidak kalah meriah. Salah satu mahasiswa baru, Leonnard, menyampaikan bahwa ia mempersiapkan PPK ini dengan baik dan teliti. “Yang saya rasakan capek, ya seneng juga,” kata Leon. Tak hanya itu, Leon juga menjadi koordinator yel-yel yang bertugas memimpin barisan dan memberikan arahan. “PPK tahun depan, menurut saya bisa dijadwalkan jauh hari supaya bisa siap-siap,” hal ini menjadi harapan Leon. Selain itu, salah satu mahasiswa pendamping Fakultas Psikologi, Maura, juga sharing mengenai event PPK. Menurutnya, ada kesulitan dalam membagi waktu antara mengerjakan tugas dari ormawa BPMU dan persiapan PPK. “Aku buat to do list dan skala prioritas,” kata Maura untuk mengatasi kesibukannya. Jika tidak bisa datang rapat PPK, Maura akan menanyakan progres dan tugasnya, lalu dikerjakan di rumah. Maura bersyukur atas kedekatannya dengan anak mapingnya tahun ini. Menurutnya, mengikuti konser HIVI merupakan pengalaman spesial baginya. Hari itu, Maura menangis dan memeluk anak mapingnya karena menurutnya momen ini takkan terulang. “Persiapan mungkin lebih matang, supaya PPK jauh lebih matang dan meriah dari segi dekorasi juga,” saran Maura. Beralih dari PPK, kita akan membahas event puncak acara PPK tahun ini nih, yaitu night festive atau WO2F. Lalu, apa itu WO2F? WO2F merupakan closing party dari PPK yang mengangkat tema “Greeconism”, di mana tahun sebelumnya dikenal sebagai WMGP REBORN. Lalu, apa yang membedakan WMGP REBORN dengan WO2F? FFF

PSYMAGZ 06

New Wimates! WO2F merupakan acara untuk menyambut mahasiswa baru yang diikuti oleh mahasiswa, dosen, dan tenaga kependidikan. Rangkaian acara WO2F terdiri dari Yel-yel competition, Zumba, serta Eco Activity dengan membuat mural dari barang bekas yang melibatkan seluruh mahasiswa, dosen, dan tenaga kependidikan. Untuk penjelasan lebih lengkap, yuk simak! Salah satu panitia WO2F, Kinan, menyampaikan bahwa yang membedakan dengan tahun lalu adalah guest star-nya. “Kalau tahun lalu WMGP semua fakultas tampil, kemarin itu yang tampil diseleksi dulu. Nah, terus diambil 3 terbaik yang tampil di hari yang sama kayak guest star-nya, yaitu HIVI. Siapa sih, yang nggak suka HIVI?” Kinan menjelaskan, sebagai divisi sponsorship dan konsumsi, mereka berhasil mendapatkan sponsor dan open tenant. Menurutnya, persiapan yang dilakukan cukup mepet dan kurang matang, dikarenakan dosen tenaga kependidikan mengurus 2 event sekaligus, tetapi semuanya berhasil diatasi. “Nah, kesulitannya kita harus mem-branding acara WO2F dulu, terus cari sponsor juga nggak gampang dengan waktu se-mepet itu, terus karena panitianya banyak banget, jadi kurang bonding,” keluh Kinan. Kinan sangat senang bekerja sama dengan teman-teman fakultas lain, dosen, tenaga kependidikan, banyak hal yang Ia dapatkan. “Untuk event tahun depan mungkin persiapannya bisa lebih lama, guest star-nya di-voting dulu, acaranya bisa dikembangkan lagi,” Kinan berharap. Tak hanya itu, salah satu rangkaian dari kegiatan WO2F adalah event WEPHORIA yang tidak kalah menarik dan paling ditunggu oleh seluruh mahasiswa baru nihh. Salah satu mahasiswa baru psikologi, Veronica, juga ikut berpartisipasi memeriahkan lomba dance, Ia bercerita bahwa kesulitan yang dialaminya, yaitu bagian detailing gerakan. Namun, Ia banyak dibantu oleh kakak tingkat dan teman-temannya. Tak hanya itu, menurut Vero, event WO2F ini seru dan colorful. Ia berharap di event selanjutnya bisa lebih baik lagi untuk pengaturan acaranya. Gimana? Event PPK tahun 2023 seru kan, sobat PsyMagz?

PSYMAGZ 07


3. Mengalami trust issue Trust issue adalah sebuah kondisi dimana seseorang tidak mudah mempercayai orang lain. Korban gaslighting akan cenderung mengalami trust issue karena adanya manipulasi dari pelaku gaslighting terhadap dirinya, sehingga membuat dirinya tidak dapat lagi mempercayai orang lain.

Annyeong, sobat PsyMagz! Nah, sebelumnya kita kan sudah sama-sama belajar memahami apa itu gaslighting. Selanjutnya, kita perlu tau nih, sobat PsyMagz, bahwa gaslighting memiliki dampak dan pengaruh terhadap orang yang mengalaminya. Di sini, kita akan sama-sama membahas tentang what’s the effect of gaslighting. Pasti sobat Psymagz sudah penasaran dan bertanya-tanya tentang apa saja dampak dan pengaruh dari gaslighting, kan? Yuk, kita sama-sama pahami dampaknya! Menurut Muflihah (2022), ada beberapa dampak yang dapat diterima oleh korban gaslighting, yaitu: 1. Mengalami mood swing Mood swing adalah perubahan suasana hati yang terjadi pada seseorang dan bisa membawa dampak buruk. Hal tersebut dapat terjadi pada korban gaslighting karena ia mengalami manipulasi psikologis. Suasana hati kita seringkali bisa mempengaruhi apa yang kita lakukan. Jika seseorang mengalami mood swing, orang yang awalnya tertawa bisa tiba-tiba marah atau menangis. 2. Mengalami depresi Tekanan yang terus menerus diberikan oleh pelaku gaslighting dapat menimbulkan depresi pada korbannya. Hal tersebut dapat diartikan sebagai manipulasi psikologis dan nantinya akan menimbulkan berbagai spekulasi buruk. Menurut Dianovinina (2018), depresi adalah gangguan mental yang umumnya ditandai dengan hilangnya minat atau kesenangan, penurunan energi, perasaan bersalah atau rendah diri, sulit tidur atau nafsu makan berkurang, perasaan kelelahan, dan kurangnya konsentrasi, hingga hilangnya motivasi hidup.

PSYMAGZ 08

4. Mengalami kecemasan Kecemasan disebabkan karena korban akan selalu menjaga situasi tetap kondusif agar pelaku tidak terpancing emosi. Korban juga akan berusaha menghindar dari situasi yang mencekam. Ketika mengalami gaslighting, maka secara otomatis dalam diri korban akan mengeluarkan sebuah sinyal keraguan antara percaya atau meragukan apa yang dikatakan oleh pelaku gaslighting. Pada saat itu, korban tidak dapat mengutarakan keraguan tersebut karena takut pelaku terpancing emosi. Dari beberapa dampak yang dialami oleh korban gaslighting di atas, dapat disimpulkan bahwa gaslighting bukanlah suatu hal positif dan sangat berdampak buruk bagi korbannya. Korban gaslighting dapat masuk dalam situasi yang tidak nyaman dan bahkan dapat membahayakan dirinya, karena pada saat korban mengalami gaslighting, ia sulit mempertahankan persepsinya yang sudah termanipulasi oleh perkataan dari pelaku gaslighting. Nah, jadi sekarang sobat PsyMagz sudah paham tentang dampak dan pengaruh gaslighting bagi korban, kan? Jadi, jangan sampai kita menjadi pelaku gaslighting yang membawa dampak buruk bagi orang lain, ya!

Sumber Muflihah & Naqiyah. (2022). Identifikasi Korban Kekerasan Gaslighting Pada Remaja Puteri. Jurnal Bimbingan dan Konseling, 6(2), 238-247. Dianovinina Ktut. (2018). Depresi pada Remaja: Gejala dan Permasalahannya. Jurnal Psikogenesis, 6(1), 69-78.

PSYMAGZ 09


3. Mengalami trust issue Trust issue adalah sebuah kondisi dimana seseorang tidak mudah mempercayai orang lain. Korban gaslighting akan cenderung mengalami trust issue karena adanya manipulasi dari pelaku gaslighting terhadap dirinya, sehingga membuat dirinya tidak dapat lagi mempercayai orang lain.

Annyeong, sobat PsyMagz! Nah, sebelumnya kita kan sudah sama-sama belajar memahami apa itu gaslighting. Selanjutnya, kita perlu tau nih, sobat PsyMagz, bahwa gaslighting memiliki dampak dan pengaruh terhadap orang yang mengalaminya. Di sini, kita akan sama-sama membahas tentang what’s the effect of gaslighting. Pasti sobat Psymagz sudah penasaran dan bertanya-tanya tentang apa saja dampak dan pengaruh dari gaslighting, kan? Yuk, kita sama-sama pahami dampaknya! Menurut Muflihah (2022), ada beberapa dampak yang dapat diterima oleh korban gaslighting, yaitu: 1. Mengalami mood swing Mood swing adalah perubahan suasana hati yang terjadi pada seseorang dan bisa membawa dampak buruk. Hal tersebut dapat terjadi pada korban gaslighting karena ia mengalami manipulasi psikologis. Suasana hati kita seringkali bisa mempengaruhi apa yang kita lakukan. Jika seseorang mengalami mood swing, orang yang awalnya tertawa bisa tiba-tiba marah atau menangis. 2. Mengalami depresi Tekanan yang terus menerus diberikan oleh pelaku gaslighting dapat menimbulkan depresi pada korbannya. Hal tersebut dapat diartikan sebagai manipulasi psikologis dan nantinya akan menimbulkan berbagai spekulasi buruk. Menurut Dianovinina (2018), depresi adalah gangguan mental yang umumnya ditandai dengan hilangnya minat atau kesenangan, penurunan energi, perasaan bersalah atau rendah diri, sulit tidur atau nafsu makan berkurang, perasaan kelelahan, dan kurangnya konsentrasi, hingga hilangnya motivasi hidup.

PSYMAGZ 08

4. Mengalami kecemasan Kecemasan disebabkan karena korban akan selalu menjaga situasi tetap kondusif agar pelaku tidak terpancing emosi. Korban juga akan berusaha menghindar dari situasi yang mencekam. Ketika mengalami gaslighting, maka secara otomatis dalam diri korban akan mengeluarkan sebuah sinyal keraguan antara percaya atau meragukan apa yang dikatakan oleh pelaku gaslighting. Pada saat itu, korban tidak dapat mengutarakan keraguan tersebut karena takut pelaku terpancing emosi. Dari beberapa dampak yang dialami oleh korban gaslighting di atas, dapat disimpulkan bahwa gaslighting bukanlah suatu hal positif dan sangat berdampak buruk bagi korbannya. Korban gaslighting dapat masuk dalam situasi yang tidak nyaman dan bahkan dapat membahayakan dirinya, karena pada saat korban mengalami gaslighting, ia sulit mempertahankan persepsinya yang sudah termanipulasi oleh perkataan dari pelaku gaslighting. Nah, jadi sekarang sobat PsyMagz sudah paham tentang dampak dan pengaruh gaslighting bagi korban, kan? Jadi, jangan sampai kita menjadi pelaku gaslighting yang membawa dampak buruk bagi orang lain, ya!

Sumber Muflihah & Naqiyah. (2022). Identifikasi Korban Kekerasan Gaslighting Pada Remaja Puteri. Jurnal Bimbingan dan Konseling, 6(2), 238-247. Dianovinina Ktut. (2018). Depresi pada Remaja: Gejala dan Permasalahannya. Jurnal Psikogenesis, 6(1), 69-78.

PSYMAGZ 09


P s y Hai, sobat PsyMagz! Udah pada tau belum nih dengan program kerja Psychoice yang diadakan oleh BPMF Psikologi? Nah, Psychoice ini merupakan wadah atau ajang pemilihan ketua BEM Fakultas Psikologi dan anggota BPMF untuk periode selanjutnya dengan melewati beberapa tahapan atau seleksi. Eitss, sebelum kita bahas lebih lanjut, ayo kenalan dulu sama ketua pelaksananya yang berhasil membawa acara ini dengan sukses, namanya Galuh! “BPMF Psikologi berhasil mengusahakan agar program kerja Psychoice terlaksana dengan baik, meskipun ada beberapa hal yang kurang maksimal di mana aku juga baru pertama kali menjadi KP,” ucap Galuh. Tahapan seleksi untuk terpilih sebagai kandidat tidak mudah loh, sobat PsyMagz! Dari sekian banyak yang mencalonkan diri dan melewati beberapa tahap seleksi, sampailah pada 2 nama yang naik menjadi kandidat ketua BEMF selanjutnya, yaitu Rachelle dan Sharell. Para kandidat harus menguatkan visi misi mereka untuk meyakinkan pilihan Psymates. Tidak hanya itu, kedua kandidat juga harus mencari tim sukses sebagai bentuk kampanye. Semangat dan antusias kedua kandidat patut diapresiasi loh, sobat PsyMagz! Rangkaian acara Psychoice sangat panjang loh, sobat PsyMagz! Mulai dari pemilihan BPMF, campaign day (debat dan penyampaian visi misi calon ketua BEMF), lalu voting ketua BEMF dan presiden BEMU yang dilakukan melalui Simiya, dan ditutup dengan awarding tiga ketua ormawa fakultas, serta malam inisiasi atau yang dikenal sebagai bonding dan permulaan periode selanjutnya. Persiapan acara ini dimulai dari Desember untuk penyusunan proposal dan juga timeline, sementara rangkaian acaranya dilakukan di akhir Maret. Dibalik kesuksesan acara, tentunya ada panitia hebat yang bekerja di depan dan di belakang layar! Penasaran gimana proses dan kesannya? Yuk, kita intip penjelasan dari teman-teman yang terlibat acara tersebut! Dibalik kesuksesan acara, tentunya ada panitia hebat yang bekerja di depan dan di belakang layar! Penasaran gimana proses dan kesannya? Yuk, kita intip penjelasan dari teman-teman yang terlibat acara tersebut!

PSYMAGZ 10

c h o i c e Salah satu panitia, Veronica Laura mengungkapkan kesan dan pesan selama menjadi panitia Psychoice. “Aku ga expect rangkaian acaranya bakal sepanjang ini, tapi overall asik sih karena ini baru pertama kalinya aku jadi panitia acara seperti ini dan rangkaian demi rangkaian aku jadi tau dinamikanya itu kayak apa. Untuk kesannya, KP-nya baru pertama kali jadi KP tapi aku salut banget sama Ko Galuh, karena bisa mengkoordinir kita semua sebagai panitia dan acaranya berjalan dengan baik, selain itu miskomnya juga sangat minim bahkan hampir gaada.” Selain panitia, ada salah satu kandidat ketua BEM, Sharell yang akan menyampaikan bagaimana persiapannya. Yuk, disimak! “Persiapan waktu kampanye sih lebih ke banyak cari kontak anak-anak angkatan 22 terus bikin grup timses gitu, abis itu aku ajak ketemuan buat foto bareng dan ingetin untuk pilih aku buat jadi ketua BEM. Selain itu, juga nyiapin visi misi dan juga prokernya” Sharell juga menyampaikan kesannya terkait acara Psychoice, “Seru dan deg-degan juga ya terus merasa happy karena bisa banyak kenalan terus banyak yang kenal aku juga hahaha. Untuk harapannya semoga Psychoice berikutnya bisa lebih banyak rangkaiannya sih supaya benarbenar terasa masa kampanye gimana.” Selain itu, ada Angelina Callysta sebagai tim sukses yang akan menyampaikan kesan dan pesan mengenai acara Psychoice. “Kesannya seru banget ya, karena ini pengalaman pertama ikut memilih ketua kayak gitu. Terus rame juga bareng sama teman-teman dan kayak oh ternyata gini ya jadi tim suksesnya pemilihan ketua BEM di psikologi. Nah, alasanku juga karena aku mengikuti salah satu prokernya BEM, jadi aku tertarik buat ikut pemilihan Psychoice kali ini. Selain itu, karena aku kenal Ce Sharell dan juga di ajak buat jadi timsesnya.” Wah, ternyata Callysta juga ikut merasakan keseruan acara Psychoice loh, sobat PsyMagz! Nah, gimana nih sobat PsyMagz keseruan acara Psychoice di Fakultas Psikologi? Apakah acara ini juga meninggalkan jejak yang tak terlupakan bagi sobat PsyMagz? Sekarang sobat PsyMagz sudah tau kan gimana keseruan acara Psychoice, ditunggu ya Psychoice selanjutnya!

PSYMAGZ 11


P s y Hai, sobat PsyMagz! Udah pada tau belum nih dengan program kerja Psychoice yang diadakan oleh BPMF Psikologi? Nah, Psychoice ini merupakan wadah atau ajang pemilihan ketua BEM Fakultas Psikologi dan anggota BPMF untuk periode selanjutnya dengan melewati beberapa tahapan atau seleksi. Eitss, sebelum kita bahas lebih lanjut, ayo kenalan dulu sama ketua pelaksananya yang berhasil membawa acara ini dengan sukses, namanya Galuh! “BPMF Psikologi berhasil mengusahakan agar program kerja Psychoice terlaksana dengan baik, meskipun ada beberapa hal yang kurang maksimal di mana aku juga baru pertama kali menjadi KP,” ucap Galuh. Tahapan seleksi untuk terpilih sebagai kandidat tidak mudah loh, sobat PsyMagz! Dari sekian banyak yang mencalonkan diri dan melewati beberapa tahap seleksi, sampailah pada 2 nama yang naik menjadi kandidat ketua BEMF selanjutnya, yaitu Rachelle dan Sharell. Para kandidat harus menguatkan visi misi mereka untuk meyakinkan pilihan Psymates. Tidak hanya itu, kedua kandidat juga harus mencari tim sukses sebagai bentuk kampanye. Semangat dan antusias kedua kandidat patut diapresiasi loh, sobat PsyMagz! Rangkaian acara Psychoice sangat panjang loh, sobat PsyMagz! Mulai dari pemilihan BPMF, campaign day (debat dan penyampaian visi misi calon ketua BEMF), lalu voting ketua BEMF dan presiden BEMU yang dilakukan melalui Simiya, dan ditutup dengan awarding tiga ketua ormawa fakultas, serta malam inisiasi atau yang dikenal sebagai bonding dan permulaan periode selanjutnya. Persiapan acara ini dimulai dari Desember untuk penyusunan proposal dan juga timeline, sementara rangkaian acaranya dilakukan di akhir Maret. Dibalik kesuksesan acara, tentunya ada panitia hebat yang bekerja di depan dan di belakang layar! Penasaran gimana proses dan kesannya? Yuk, kita intip penjelasan dari teman-teman yang terlibat acara tersebut! Dibalik kesuksesan acara, tentunya ada panitia hebat yang bekerja di depan dan di belakang layar! Penasaran gimana proses dan kesannya? Yuk, kita intip penjelasan dari teman-teman yang terlibat acara tersebut!

PSYMAGZ 10

c h o i c e Salah satu panitia, Veronica Laura mengungkapkan kesan dan pesan selama menjadi panitia Psychoice. “Aku ga expect rangkaian acaranya bakal sepanjang ini, tapi overall asik sih karena ini baru pertama kalinya aku jadi panitia acara seperti ini dan rangkaian demi rangkaian aku jadi tau dinamikanya itu kayak apa. Untuk kesannya, KP-nya baru pertama kali jadi KP tapi aku salut banget sama Ko Galuh, karena bisa mengkoordinir kita semua sebagai panitia dan acaranya berjalan dengan baik, selain itu miskomnya juga sangat minim bahkan hampir gaada.” Selain panitia, ada salah satu kandidat ketua BEM, Sharell yang akan menyampaikan bagaimana persiapannya. Yuk, disimak! “Persiapan waktu kampanye sih lebih ke banyak cari kontak anak-anak angkatan 22 terus bikin grup timses gitu, abis itu aku ajak ketemuan buat foto bareng dan ingetin untuk pilih aku buat jadi ketua BEM. Selain itu, juga nyiapin visi misi dan juga prokernya” Sharell juga menyampaikan kesannya terkait acara Psychoice, “Seru dan deg-degan juga ya terus merasa happy karena bisa banyak kenalan terus banyak yang kenal aku juga hahaha. Untuk harapannya semoga Psychoice berikutnya bisa lebih banyak rangkaiannya sih supaya benarbenar terasa masa kampanye gimana.” Selain itu, ada Angelina Callysta sebagai tim sukses yang akan menyampaikan kesan dan pesan mengenai acara Psychoice. “Kesannya seru banget ya, karena ini pengalaman pertama ikut memilih ketua kayak gitu. Terus rame juga bareng sama teman-teman dan kayak oh ternyata gini ya jadi tim suksesnya pemilihan ketua BEM di psikologi. Nah, alasanku juga karena aku mengikuti salah satu prokernya BEM, jadi aku tertarik buat ikut pemilihan Psychoice kali ini. Selain itu, karena aku kenal Ce Sharell dan juga di ajak buat jadi timsesnya.” Wah, ternyata Callysta juga ikut merasakan keseruan acara Psychoice loh, sobat PsyMagz! Nah, gimana nih sobat PsyMagz keseruan acara Psychoice di Fakultas Psikologi? Apakah acara ini juga meninggalkan jejak yang tak terlupakan bagi sobat PsyMagz? Sekarang sobat PsyMagz sudah tau kan gimana keseruan acara Psychoice, ditunggu ya Psychoice selanjutnya!

PSYMAGZ 11


psyfair Psychology Fair 2022/2023 "Transition Period To New Normal Era" Halo, sobat Psymagz!

Kali ini kita akan membahas mengenai Psychology Fair 2023. Setelah 2 tahun Psychology Fair dilaksanakan secara online, acara dengan skala nasional l (Jawa, Bali, Madura) ini akhirnya dilaksanakan secara offline kembali. Ada yang tau gak sih Psychology Fair kali ini mengangkat tema apa? Yup, benar banget, Psychology Fair 2023 mengangkat tema ‘Transition Period To New Normal Era’. LPMF dan BEMF Psikologi UKWMS mengadakan lomba Psychology Fair pada tanggal 4-6 Mei 2023 dengan 4 cabang lomba yang semakin seru dan berbeda dari tahun-tahun sebelumnya! Nah, di setiap cabang lombanya pastinya memiliki sub-tema yang nggak kalah menarik loh! Kira-kira sobat PsyMagz sudah bisa nebak belum nih, apa saja tema cabang lomba dari Psychology Fair 2023 kali ini? Pada kali ini, Psychology Fair mengadakan lomba PsyNews dengan tema ‘A Thread To Face Your Fears’, PsyMovie dengan tema ‘Social Anxiety vs Myself’, Design Intervention dengan tema ‘Get Through The New Normal With The Help of Digital Technology’, dan Debate Competition dengan tema ‘Digital Effects in Indonesia’. Gimana sobat PsyMagz, bisa terbayang gak sih lomba-lomba yang diadakan Psychology Fair 2023 ini pastinya seru-seru ya! Nah, sobat PsyMagz kepo gak dengan persiapan para panitia dalam mempersiapkan Psychology Fair 2023 yang kembali diadakan offline ini? Deshinta selaku sie acara Psychology Fair 2023 mengatakan, “Buat persiapan dari acaranya ini sendiri sudah dari sekitar hampir setahun ya, karena dari semester ganjil itu sudah dipersiapkan mulai dari pembuatan booklet, pembuatan rundown, terus susunannya itu sudah dari sebelum tahun baru, mulai cari sponsor, terus buka pendaftaran itu persiapannya berbulan-bulan.” Di tengah-tengah persiapan hingga acara sukses pastinya ada tantangan yang dihadapi oleh para panitia dalam menjalankan Psychology Fair 2023 nih sobat Pmu PSYMAGZ 12

2023 PsyMagz. Deshinta selaku sie acara Psychology Fair 2023 mengatakan, “Tantangannya sendiri sih bisa dibilang banyak banget, seperti yang sebenarnya persiapannya sudah mulai dibuat tapi banyak yang miss jadinya kurang maksimal gitu.” Selain Deshinta, ada Eve juga sebagai sie acara Psychology Fair 2023 yang mengatakan, “Tantangannya itu awalnya komunikasi, karena kan aku maba yang belum terlalu kenal banyak dengan teman angkatan, mana harus komunikasi sama kating juga. Terus membagi waktu juga antara tanggung jawab kuliah, adaptasi sama rapat-rapat.” Namun dibalik tantangan yang dihadapi, mereka tetap meninggalkan kesan bangga karena dapat menjadi bagian dalam program kerja ORMAWA Fakultas Psikologi. Selain panitia pastinya ada peserta yang turut memeriahkan lomba Psychology Fair 2023. Para peserta juga meninggalkan kesan yang baik loh untuk Psychology Fair 2023. Cynthia, peserta yang menjadi juara 2 cabang lomba Psymovie mengatakan, “Rasanya jadi juara seneng banget, awalnya ga nyangka dan pesimis waktu lihat video peserta lain sebelum presentation day. Tapi setelah presentation day dan dengar komentar juri ada rasa optimis bisa juara. Waktu awarding kaget ternyata jadi juara 2.” Selain Cynthia, ada Anggi yang menjadi juara favorit cabang lomba Design Intervention mengatakan, “Perasaanku senang karena aku jadi punya banyak kenalan, gugup karena itu pengalaman pertamaku ikut lomba tingkat universitas, dan tertantang karena benefitnya pun besar, jadi aku sangat berusaha buat menang. Waktu itu aku dapat juara favorit, perasaanku senang banget dan terharu, karena aku sadar banyak teman yang support.” Nah, seru banget ya sobat PsyMagz, Psychology Fair 2023 yang kembali diadakan offline ini. Ternyata secara tidak langsung, dengan diadakannya Psychology Fair 2023 ini sangat berdampak positif ya, baik untuk para panitia maupun para peserta. Buat sobat PsyMagz yang ingin tahu lebih banyak lagi terkait keseruan acaranya, bisa kepoin di Instagram @psychologyfair.official. Jangan ketinggalan juga Psychology Fair 2024 yang akan mendatang nih, yuk follow dan stay tuned di Instagram-nya Psychology Fair ya!

PSYMAGZ 13


psyfair Psychology Fair 2022/2023 "Transition Period To New Normal Era" Halo, sobat Psymagz!

Kali ini kita akan membahas mengenai Psychology Fair 2023. Setelah 2 tahun Psychology Fair dilaksanakan secara online, acara dengan skala nasional l (Jawa, Bali, Madura) ini akhirnya dilaksanakan secara offline kembali. Ada yang tau gak sih Psychology Fair kali ini mengangkat tema apa? Yup, benar banget, Psychology Fair 2023 mengangkat tema ‘Transition Period To New Normal Era’. LPMF dan BEMF Psikologi UKWMS mengadakan lomba Psychology Fair pada tanggal 4-6 Mei 2023 dengan 4 cabang lomba yang semakin seru dan berbeda dari tahun-tahun sebelumnya! Nah, di setiap cabang lombanya pastinya memiliki sub-tema yang nggak kalah menarik loh! Kira-kira sobat PsyMagz sudah bisa nebak belum nih, apa saja tema cabang lomba dari Psychology Fair 2023 kali ini? Pada kali ini, Psychology Fair mengadakan lomba PsyNews dengan tema ‘A Thread To Face Your Fears’, PsyMovie dengan tema ‘Social Anxiety vs Myself’, Design Intervention dengan tema ‘Get Through The New Normal With The Help of Digital Technology’, dan Debate Competition dengan tema ‘Digital Effects in Indonesia’. Gimana sobat PsyMagz, bisa terbayang gak sih lomba-lomba yang diadakan Psychology Fair 2023 ini pastinya seru-seru ya! Nah, sobat PsyMagz kepo gak dengan persiapan para panitia dalam mempersiapkan Psychology Fair 2023 yang kembali diadakan offline ini? Deshinta selaku sie acara Psychology Fair 2023 mengatakan, “Buat persiapan dari acaranya ini sendiri sudah dari sekitar hampir setahun ya, karena dari semester ganjil itu sudah dipersiapkan mulai dari pembuatan booklet, pembuatan rundown, terus susunannya itu sudah dari sebelum tahun baru, mulai cari sponsor, terus buka pendaftaran itu persiapannya berbulan-bulan.” Di tengah-tengah persiapan hingga acara sukses pastinya ada tantangan yang dihadapi oleh para panitia dalam menjalankan Psychology Fair 2023 nih sobat Pmu PSYMAGZ 12

2023 PsyMagz. Deshinta selaku sie acara Psychology Fair 2023 mengatakan, “Tantangannya sendiri sih bisa dibilang banyak banget, seperti yang sebenarnya persiapannya sudah mulai dibuat tapi banyak yang miss jadinya kurang maksimal gitu.” Selain Deshinta, ada Eve juga sebagai sie acara Psychology Fair 2023 yang mengatakan, “Tantangannya itu awalnya komunikasi, karena kan aku maba yang belum terlalu kenal banyak dengan teman angkatan, mana harus komunikasi sama kating juga. Terus membagi waktu juga antara tanggung jawab kuliah, adaptasi sama rapat-rapat.” Namun dibalik tantangan yang dihadapi, mereka tetap meninggalkan kesan bangga karena dapat menjadi bagian dalam program kerja ORMAWA Fakultas Psikologi. Selain panitia pastinya ada peserta yang turut memeriahkan lomba Psychology Fair 2023. Para peserta juga meninggalkan kesan yang baik loh untuk Psychology Fair 2023. Cynthia, peserta yang menjadi juara 2 cabang lomba Psymovie mengatakan, “Rasanya jadi juara seneng banget, awalnya ga nyangka dan pesimis waktu lihat video peserta lain sebelum presentation day. Tapi setelah presentation day dan dengar komentar juri ada rasa optimis bisa juara. Waktu awarding kaget ternyata jadi juara 2.” Selain Cynthia, ada Anggi yang menjadi juara favorit cabang lomba Design Intervention mengatakan, “Perasaanku senang karena aku jadi punya banyak kenalan, gugup karena itu pengalaman pertamaku ikut lomba tingkat universitas, dan tertantang karena benefitnya pun besar, jadi aku sangat berusaha buat menang. Waktu itu aku dapat juara favorit, perasaanku senang banget dan terharu, karena aku sadar banyak teman yang support.” Nah, seru banget ya sobat PsyMagz, Psychology Fair 2023 yang kembali diadakan offline ini. Ternyata secara tidak langsung, dengan diadakannya Psychology Fair 2023 ini sangat berdampak positif ya, baik untuk para panitia maupun para peserta. Buat sobat PsyMagz yang ingin tahu lebih banyak lagi terkait keseruan acaranya, bisa kepoin di Instagram @psychologyfair.official. Jangan ketinggalan juga Psychology Fair 2024 yang akan mendatang nih, yuk follow dan stay tuned di Instagram-nya Psychology Fair ya!

PSYMAGZ 13


Impostor vs Halo, sobat PsyMagz! Sobat PsyMagz pernah gak merasa kalau sebenarnya sobat PsyMagz merupakan korban gaslighting, akan tetapi sobat PsyMagz gak sadar nih akan situasi tersebut? Nah, berikut ini ada beberapa ciri dari korban gaslighting, yaitu: 1. Ada keraguan dalam diri 2. Selalu bergantung pada pelaku 3. Sering menyendiri dan menarik diri dari lingkungan sosial 4. Sering merasa cemas dan gelisah 5. Selalu mencari validasi berlebihan kepada orang lain 6. Selalu mengingat kelemahan dan kekurangan 7. Sering merasa insecure 8. Sulit mengungkapkan perasaan dan apa yang dipikirkan 9. Selalu berusaha menyembunyikan dan memaklumi kesalahan pelaku 10. Sering merasa bersalah

Disisi lain, terdapat beberapa ciri-ciri yang bisa dilihat dari pelaku nih sobat PsyMagz, antara lain: 1. Sering berbohong 2. Tindakan dan perkataan tidak sesuai 3. Suka merendahkan orang lain 4. Suka membantah 5. Sering membuat korban kebingungan 6. Playing victim 7. Sering mengeluarkan ancaman kepada korban 8. Menyalahkan orang lain

Selain membahas ciri-ciri pelaku dan korban, tim PsyMagz juga mau kasih tau nih, alasan-alasan mengapa seseorang bisa menjadi korban gaslighting, yaitu: 1. Penyimpangan pandangan yang terjadi karena pelaku sudah mencuci otak korban dengan cara memberikan informasi yang salah ataupun memutarbalikkan fakta sebenarnya. 2. Manipulasi terhadap korban yang dapat menyebabkan korban kesulitan untuk memahami mana fakta yang sebenarnya dan mana fakta palsu yang dibuat buat oleh pelaku. 3. Adanya sikap ketergantungan korban terhadap pelaku, di mana pelaku dan korban gaslighting ini biasanya memiliki hubungan yang dekat, sehingga korban akan selalu menormalisasikan semua tindakan pelaku. 4. Adanya rasa percaya, di mana korban akan merasa percaya kepada pelaku karena hubungan yang dekat serta adanya penyimpangan pandangan yang sudah direncanakan, sehingga lambat laun korban akan mempercayai semua perkataan pelaku yang tidak sesuai fakta.

Nah, itu tadi adalah alasan mengapa seseorang bisa menjadi korban. Sekarang, yuk kita bahas mengapa seseorang melakukan gaslighting. Ada 5 alasan loh sobat PsyMagz, yang meliputi: 1. Ada keinginan untuk mengontrol korban dan situasi saat itu. 2. Menjaga harga diri pelaku, di mana pelaku gaslighting tidak ingin dianggap lemah dan tidak memiliki kekuasaan. 3. Adanya rasa minder dan ketidakpuasan pada diri pelaku.

Pelaku akan menunjukkan kekuatannya dengan melakukan gaslighting pada orang lain agar tidak dipandang remeh. 1. Keinginan memanipulasi dari pelaku untuk mencapai tujuan pribadinya. 2. Pelaku tidak memiliki rasa tanggung jawab dengan tidak mau mengakui kesalahan dan bertanggung jawab atas tindakannya. Itu tadi adalah ciri-ciri dan alasan dari pelaku dan korban gaslighting. Sobat PsyMagz, ada gak nih yang merasakan hal-hal seperti di atas? Jika kalian merasakan hal-hal tersebut, tim PsyMagz mau kasih tau tips-tips untuk keluar dari situasi gaslighting, nih. Hayo, sudah pada kepo ya? yuk, simak lebih lanjut pada pembahasan berikutnya dalam “How To Solve?”. Sumber: Yulistiani & Fitriani. (2023). Menangkal Gaslighting dalam Bentuk Intimidasi dan Manipulasi Komunikasi. Jurnal Abdimas, 4(5), 389-395.

PSYMAGZ 14

PSYMAGZ 15


Impostor vs Halo, sobat PsyMagz! Sobat PsyMagz pernah gak merasa kalau sebenarnya sobat PsyMagz merupakan korban gaslighting, akan tetapi sobat PsyMagz gak sadar nih akan situasi tersebut? Nah, berikut ini ada beberapa ciri dari korban gaslighting, yaitu: 1. Ada keraguan dalam diri 2. Selalu bergantung pada pelaku 3. Sering menyendiri dan menarik diri dari lingkungan sosial 4. Sering merasa cemas dan gelisah 5. Selalu mencari validasi berlebihan kepada orang lain 6. Selalu mengingat kelemahan dan kekurangan 7. Sering merasa insecure 8. Sulit mengungkapkan perasaan dan apa yang dipikirkan 9. Selalu berusaha menyembunyikan dan memaklumi kesalahan pelaku 10. Sering merasa bersalah

Disisi lain, terdapat beberapa ciri-ciri yang bisa dilihat dari pelaku nih sobat PsyMagz, antara lain: 1. Sering berbohong 2. Tindakan dan perkataan tidak sesuai 3. Suka merendahkan orang lain 4. Suka membantah 5. Sering membuat korban kebingungan 6. Playing victim 7. Sering mengeluarkan ancaman kepada korban 8. Menyalahkan orang lain

Selain membahas ciri-ciri pelaku dan korban, tim PsyMagz juga mau kasih tau nih, alasan-alasan mengapa seseorang bisa menjadi korban gaslighting, yaitu: 1. Penyimpangan pandangan yang terjadi karena pelaku sudah mencuci otak korban dengan cara memberikan informasi yang salah ataupun memutarbalikkan fakta sebenarnya. 2. Manipulasi terhadap korban yang dapat menyebabkan korban kesulitan untuk memahami mana fakta yang sebenarnya dan mana fakta palsu yang dibuat buat oleh pelaku. 3. Adanya sikap ketergantungan korban terhadap pelaku, di mana pelaku dan korban gaslighting ini biasanya memiliki hubungan yang dekat, sehingga korban akan selalu menormalisasikan semua tindakan pelaku. 4. Adanya rasa percaya, di mana korban akan merasa percaya kepada pelaku karena hubungan yang dekat serta adanya penyimpangan pandangan yang sudah direncanakan, sehingga lambat laun korban akan mempercayai semua perkataan pelaku yang tidak sesuai fakta.

Nah, itu tadi adalah alasan mengapa seseorang bisa menjadi korban. Sekarang, yuk kita bahas mengapa seseorang melakukan gaslighting. Ada 5 alasan loh sobat PsyMagz, yang meliputi: 1. Ada keinginan untuk mengontrol korban dan situasi saat itu. 2. Menjaga harga diri pelaku, di mana pelaku gaslighting tidak ingin dianggap lemah dan tidak memiliki kekuasaan. 3. Adanya rasa minder dan ketidakpuasan pada diri pelaku.

Pelaku akan menunjukkan kekuatannya dengan melakukan gaslighting pada orang lain agar tidak dipandang remeh. 1. Keinginan memanipulasi dari pelaku untuk mencapai tujuan pribadinya. 2. Pelaku tidak memiliki rasa tanggung jawab dengan tidak mau mengakui kesalahan dan bertanggung jawab atas tindakannya. Itu tadi adalah ciri-ciri dan alasan dari pelaku dan korban gaslighting. Sobat PsyMagz, ada gak nih yang merasakan hal-hal seperti di atas? Jika kalian merasakan hal-hal tersebut, tim PsyMagz mau kasih tau tips-tips untuk keluar dari situasi gaslighting, nih. Hayo, sudah pada kepo ya? yuk, simak lebih lanjut pada pembahasan berikutnya dalam “How To Solve?”. Sumber: Yulistiani & Fitriani. (2023). Menangkal Gaslighting dalam Bentuk Intimidasi dan Manipulasi Komunikasi. Jurnal Abdimas, 4(5), 389-395.

PSYMAGZ 14

PSYMAGZ 15


k o o B Recommendation sinopsis

How to Deal with Gaslighting Abuse

Berada dalam hubungan gaslighting itu sangat tidak baik bagi seseorang disetiap aspek kehidupannya, baik secara fisik, mental, dan emosi. Hal tersebut membuat pikiran menjadi kacau dan menyebabkan seseorang kehilangan esensi dari dirinya sendiri. Itulah yang dilakukan oleh pelaku gaslighting. Mereka memanipulasi orang lain hingga orang tersebut bertanya-tanya siapa dirinya sebenarnya. Namun, banyak orang tidak menyadari bahwa mereka berada dalam pengaruh gaslighting. Setelah mereka mendapatkan banyak masukan atau kritikan, baru akhirnya mereka malu dan sadar. Pelaku meninggalkan dan membiarkan korban untuk mengatasi masalahnya sendiri. Buku ini berisi strategi untuk mengenali dan menghadapi hubungan manipulatif (gaslighting). Pembaca dapat menemukan langkah-langkah untuk menghindari gaslighting dan menemukan kebahagian bagi dirinya sendiri. Hai sobat PsyMagz! Tau gak, kalo mengenal gaslighting bisa jadi kunci kebahagiaan kita loh! Jadi, ayo kita cari tau bareng-bareng gimana cara menemukan jalan keluar dari gaslighting! Nah! Pada halaman ini tim PsyMagz merekomendasikan sebuah buku nih. Buku ini berisikan pembahasan unik mengenai pengertian gaslighting, relation abuse, ciriciri hubungan gaslighting, dan cara mengatasi hubungan gaslighting dengan menggunakan emotional intelligence. Kecerdasan emosional atau emotional intelligence digunakan penulis sebagai cara yang efektif untuk terhindar dari gaslighting. Menurutnya, emotional intelligence adalah kemampuan untuk memahami emosi diri sendiri dan orang lain yang kemudian digunakan sebagai cara untuk berpikir dan bersikap kepada orang lain. Seringkali kita tidak menyadari betapa pentingnya emotional intelligence. Padahal emotional intelligence memiliki pengaruh yang besar dalam kehidupan sosial kita. Menurut penulis, orang-orang mudah terpengaruh oleh gaslighting karena mereka memiliki emotional intelligence yang rendah. Karena itu, penulis memberikan langkah-langkah untuk meningkatkan emotional intelligence yang dapat sobat PsyMagz temukan pada chapter ketujuh dalam buku tersebut. Buku ini tersedia dalam bahasa Inggris, sehingga selain menambah pengetahuan kita tentang gaslighting, kita juga bisa belajar bahasa Inggris. Seperti kata pepatah “Sekali mendayung, dua pulau terlampaui”. So, Tunggu apalagi? Ayo, download bukunya sekarang di Google Play Books dan mari bersama-sama memperkaya pengetahuan kita! PSYMAGZ 16

POPCORN TIME THE HAUNTING OF HILL HOUSE (2018)

SINOPSIS Berada di antara masa lalu dan masa kini, sebuah keluarga yang terpecah menghadapi kenangan yang menghantui akan rumah lama mereka dan peristiwa mengerikan yang membuat mereka meninggalkannya. Hai sobat PsyMagz, kalian pasti udah paham kan tentang apa itu gaslighting? Nah, kali ini tim PsyMagz merekomendasikan sebuah serial yang mengandung unsur gaslighting, nih. Serial ini hanya memiliki 10 episode dan setiap episodenya memiliki PoV yang berbeda-beda. Tapi sebelum kita masuk ke pembahasan selanjutnya, yuk, kita kenalan dulu sama aktor dan aktrisnya yang keren banget, yaitu Michiel Huisman, Carla Gugino, Timothy Hutton, Henry Thomas, Elizabeth Reaser, Victoria Pedretti, Oliver Jackson-Cohen, Kate Siegel, dan Lulu Wilson. Sekarang sudah pada kenal, kan? Nah, sekarang ayo kita masuk ke pembahasannya. Serial ini menceritakan tentang keluarga Crain yang tinggal di rumah berhantu bernama Hill House, di mana keluarga Crain mengalami berbagai kejadian misterius yang menyebabkan trauma dan gangguan mental. Cerita ini berjalan dalam dua alur waktu yang menceritakan masa lalu ketika mereka tinggal di Hill House dan masa kini saat mereka berjuang mengatasi trauma. Gaslighting pada keluarga Crain terjadi pada karakter orang tua dari keluarga ini, di mana mereka berusaha membuat anak-anaknya meragukan apa yang telah terjadi pada mereka, memanipulasi keyakinan mereka yang akhirnya membuat mereka meragukan diri mereka sendiri, baik di masa lalu maupun masa kini. Nah, sobat PsyMagz, dari serial ini kita jadi bisa belajar nih, kunci menghindari gaslighting pada anak adalah komunikasi dan mendengarkan mereka dengan baik, agar mereka merasa didukung dan menjadi lebih percaya pada dirinya sendiri. Serial ini hanya tersedia di Netflix saja nih, sobat PsyMagz. Jadi, untuk sobat PsyMagz yang ingin tahu lebih dalam mengenai gaslighting dan kepo sama serialnya, bisa berlangganan dulu di Netflix, hindari menonton di website ilegal, ya. Hal ini untuk mendukung penulis dan para pemain yang sudah berkontribusi dalam serial tersebut serta menghargai usaha mereka dalam menggarap serial ini. So? Tunggu apalagi? Yuk nonton sekarang juga!

PSYMAGZ 17


k o o B Recommendation sinopsis

How to Deal with Gaslighting Abuse

Berada dalam hubungan gaslighting itu sangat tidak baik bagi seseorang disetiap aspek kehidupannya, baik secara fisik, mental, dan emosi. Hal tersebut membuat pikiran menjadi kacau dan menyebabkan seseorang kehilangan esensi dari dirinya sendiri. Itulah yang dilakukan oleh pelaku gaslighting. Mereka memanipulasi orang lain hingga orang tersebut bertanya-tanya siapa dirinya sebenarnya. Namun, banyak orang tidak menyadari bahwa mereka berada dalam pengaruh gaslighting. Setelah mereka mendapatkan banyak masukan atau kritikan, baru akhirnya mereka malu dan sadar. Pelaku meninggalkan dan membiarkan korban untuk mengatasi masalahnya sendiri. Buku ini berisi strategi untuk mengenali dan menghadapi hubungan manipulatif (gaslighting). Pembaca dapat menemukan langkah-langkah untuk menghindari gaslighting dan menemukan kebahagian bagi dirinya sendiri. Hai sobat PsyMagz! Tau gak, kalo mengenal gaslighting bisa jadi kunci kebahagiaan kita loh! Jadi, ayo kita cari tau bareng-bareng gimana cara menemukan jalan keluar dari gaslighting! Nah! Pada halaman ini tim PsyMagz merekomendasikan sebuah buku nih. Buku ini berisikan pembahasan unik mengenai pengertian gaslighting, relation abuse, ciriciri hubungan gaslighting, dan cara mengatasi hubungan gaslighting dengan menggunakan emotional intelligence. Kecerdasan emosional atau emotional intelligence digunakan penulis sebagai cara yang efektif untuk terhindar dari gaslighting. Menurutnya, emotional intelligence adalah kemampuan untuk memahami emosi diri sendiri dan orang lain yang kemudian digunakan sebagai cara untuk berpikir dan bersikap kepada orang lain. Seringkali kita tidak menyadari betapa pentingnya emotional intelligence. Padahal emotional intelligence memiliki pengaruh yang besar dalam kehidupan sosial kita. Menurut penulis, orang-orang mudah terpengaruh oleh gaslighting karena mereka memiliki emotional intelligence yang rendah. Karena itu, penulis memberikan langkah-langkah untuk meningkatkan emotional intelligence yang dapat sobat PsyMagz temukan pada chapter ketujuh dalam buku tersebut. Buku ini tersedia dalam bahasa Inggris, sehingga selain menambah pengetahuan kita tentang gaslighting, kita juga bisa belajar bahasa Inggris. Seperti kata pepatah “Sekali mendayung, dua pulau terlampaui”. So, Tunggu apalagi? Ayo, download bukunya sekarang di Google Play Books dan mari bersama-sama memperkaya pengetahuan kita! PSYMAGZ 16

POPCORN TIME THE HAUNTING OF HILL HOUSE (2018)

SINOPSIS Berada di antara masa lalu dan masa kini, sebuah keluarga yang terpecah menghadapi kenangan yang menghantui akan rumah lama mereka dan peristiwa mengerikan yang membuat mereka meninggalkannya. Hai sobat PsyMagz, kalian pasti udah paham kan tentang apa itu gaslighting? Nah, kali ini tim PsyMagz merekomendasikan sebuah serial yang mengandung unsur gaslighting, nih. Serial ini hanya memiliki 10 episode dan setiap episodenya memiliki PoV yang berbeda-beda. Tapi sebelum kita masuk ke pembahasan selanjutnya, yuk, kita kenalan dulu sama aktor dan aktrisnya yang keren banget, yaitu Michiel Huisman, Carla Gugino, Timothy Hutton, Henry Thomas, Elizabeth Reaser, Victoria Pedretti, Oliver Jackson-Cohen, Kate Siegel, dan Lulu Wilson. Sekarang sudah pada kenal, kan? Nah, sekarang ayo kita masuk ke pembahasannya. Serial ini menceritakan tentang keluarga Crain yang tinggal di rumah berhantu bernama Hill House, di mana keluarga Crain mengalami berbagai kejadian misterius yang menyebabkan trauma dan gangguan mental. Cerita ini berjalan dalam dua alur waktu yang menceritakan masa lalu ketika mereka tinggal di Hill House dan masa kini saat mereka berjuang mengatasi trauma. Gaslighting pada keluarga Crain terjadi pada karakter orang tua dari keluarga ini, di mana mereka berusaha membuat anak-anaknya meragukan apa yang telah terjadi pada mereka, memanipulasi keyakinan mereka yang akhirnya membuat mereka meragukan diri mereka sendiri, baik di masa lalu maupun masa kini. Nah, sobat PsyMagz, dari serial ini kita jadi bisa belajar nih, kunci menghindari gaslighting pada anak adalah komunikasi dan mendengarkan mereka dengan baik, agar mereka merasa didukung dan menjadi lebih percaya pada dirinya sendiri. Serial ini hanya tersedia di Netflix saja nih, sobat PsyMagz. Jadi, untuk sobat PsyMagz yang ingin tahu lebih dalam mengenai gaslighting dan kepo sama serialnya, bisa berlangganan dulu di Netflix, hindari menonton di website ilegal, ya. Hal ini untuk mendukung penulis dan para pemain yang sudah berkontribusi dalam serial tersebut serta menghargai usaha mereka dalam menggarap serial ini. So? Tunggu apalagi? Yuk nonton sekarang juga!

PSYMAGZ 17


Mini

yang cukup atas hal yang dilakukan sehingga dia mengatasinya dengan mengomunikasikan setelah kondisi sudah stabil. Ani sendiri tidak pernah mencari bantuan konseling karena dia baru mengetahui jika hal tersebut merupakan tindakan gaslighting ketika sudah berkuliah. Untuk kedepannya, selama Ani masih bisa mengendalikan dan tidak merasa terganggu, maka dia masih akan menoleransi. Menurut Ani, cara berkomunikasi setiap orang memang berbeda-beda. Tetapi jika hal tersebut sudah mengganggu kehidupannya, maka Ani akan mencari bantuan, misalnya konseling.

Hai-hai, sobat PsyMagz! Sobat PsyMagz sudah tau kan apa itu gaslighting? Setelah mengetahui apa itu gaslighting, nah, sekarang kita akan membaca cerita dari seorang narasumber dan caranya hingga berhasil melalui itu semua. Yuk, kita simak ceritanya! Berdasarkan pernyataan dari Ani (nama samaran), yang merupakan korban gaslighting, dia dari dulu sudah tinggal di lingkungan keluarga dan pertemanan yang sering melakukan gaslighting. Pada awalnya, Ani menganggap hal tersebut adalah sesuatu yang biasa karena dia berpikir bahwa cara berkomunikasi yang benar memang seperti itu sehingga dirinya terbiasa memaklumi hal tersebut. Namun, ketika pertama kali mengalami gaslighting, Ani juga merasa kesal dan sedih, serta berpikir bahwa, “Apakah aku salah ya? Harusnya yang benar seperti apa ya?" Salah satu contohnya, saat Ani memiliki keperluan pergi ke suatu tempat tanpa perlu mengajak teman, tetapi temannya dengan bercanda mengatakan bahwa Ani sengaja tidak mengajaknya karena tidak menganggapnya sebagai teman lagi. Pada kasus lainnya, Ani diberitahu bahwa dia tidak harus membantu keluarganya, kemudian Ani memutuskan untuk tidak membantu keluarganya, respon yang didapatkan adalah hal yang tidak menyenangkan. Pola yang dilakukan pelaku gaslighting untuk membuat Ani merasa tidak nyaman adalah dengan mempertanyakan tindakan yang Ani lakukan, seolah-olah tindakannya salah. Ani merasa tindakannya sudah tepat, tetapi karena perkataan pelaku dia jadi mempertanyakan tindakan yang dilakukannya sendiri, "Oh, apa aku separah itu ya? Jadi, seharusnya bagaimana? Apa yang harus aku lakukan?" Tetapi, di satu sisi, Ani juga bingung, "Sebenarnya, apa yang aku lakukan ini benar atau salah? Sebenarnya, yang salah itu apa atau siapa dalam hal ini? Dan seharusnya seperti apa?" Ani sendiri mencoba mengungkapkan ketidaksetujuan terhadap pelaku gaslighting dengan tidak menyetujui pernyataan dari pelaku gaslighting, seperti, “Tidak, bukan seperti itu.” sambil bercanda. Tetapi karena sekarang Ani sudah tahu itu gaslighting, dia secara terang-terangan mengatakannya jika dengan teman, seperti, "Eh, ini gaslighting bukan sih?" Ani juga akan langsung secara terbuka menjelaskan alasan dari tindakan yang dilakukannya. Ia juga memberitahu pelaku (teman Ani) bahwa dirinya merasa tidak nyaman dengan perkataan dari pelaku yang seolah-olah menyerang emosi Ani dengan membuat Ani merasa bersalah. Tetapi, jika dengan keluarga, Ani bisa memahami bahwa keluarganya tidak mempunyai pemahaman vggb PSYMAGZ 18

Ani merasa gaslighting sangat mempengaruhi kehidupan sehari-harinya. Ani juga pernah menjadi pelaku gaslighting terhadap temannya saat SMP karena lingkungan tempat tinggalnya yang sering melakukan gaslighting dan ketidaktahuannya mengenai apa yang dilakukannya. Dari situ, Ani kehilangan orang-orang yang sangat mendukungnya, seperti sahabatnya. Setelah Ani berkuliah, barulah Ani sadar bahwa hal yang Ia lakukan ternyata salah.

Nah, sobat PsyMagz, dari kejadian yang dialami Ani, ada 2 hal yang ia pelajari, yaitu: 1. Mengubah kebiasaan Ani berusaha menyesuaikan diri dengan cara belajar berkomunikasi dan menyampaikan perasaan yang benar tanpa membuat orang lain merasa bersalah. 2. Membentengi diri ketika di-gaslighting Ani belajar menjelaskan secara proaktif perasaan dan alasan dari tindakannya.

Ada juga nih, beberapa cara dari Ani dalam mengatasi gaslighting, yaitu: 1. Evaluasi diri 2. Memperbaiki diri 3. Mengatur emosi 4. Meningkatkan spiritualitas

Wah, sangat menginspirasi dan membantu sekali, ya, tips dan trik dari Ani dalam melalui gaslighting! Cerita dari Ani dapat memberi inspirasi untuk lebih waspada terhadap gaslighting. Selain itu, penting juga bagi kita untuk belajar cara berkomunikasi yang baik dan berani untuk menyampaikan halhal yang membuat kita tidak nyaman.

PSYMAGZ 19


Mini

yang cukup atas hal yang dilakukan sehingga dia mengatasinya dengan mengomunikasikan setelah kondisi sudah stabil. Ani sendiri tidak pernah mencari bantuan konseling karena dia baru mengetahui jika hal tersebut merupakan tindakan gaslighting ketika sudah berkuliah. Untuk kedepannya, selama Ani masih bisa mengendalikan dan tidak merasa terganggu, maka dia masih akan menoleransi. Menurut Ani, cara berkomunikasi setiap orang memang berbeda-beda. Tetapi jika hal tersebut sudah mengganggu kehidupannya, maka Ani akan mencari bantuan, misalnya konseling.

Hai-hai, sobat PsyMagz! Sobat PsyMagz sudah tau kan apa itu gaslighting? Setelah mengetahui apa itu gaslighting, nah, sekarang kita akan membaca cerita dari seorang narasumber dan caranya hingga berhasil melalui itu semua. Yuk, kita simak ceritanya! Berdasarkan pernyataan dari Ani (nama samaran), yang merupakan korban gaslighting, dia dari dulu sudah tinggal di lingkungan keluarga dan pertemanan yang sering melakukan gaslighting. Pada awalnya, Ani menganggap hal tersebut adalah sesuatu yang biasa karena dia berpikir bahwa cara berkomunikasi yang benar memang seperti itu sehingga dirinya terbiasa memaklumi hal tersebut. Namun, ketika pertama kali mengalami gaslighting, Ani juga merasa kesal dan sedih, serta berpikir bahwa, “Apakah aku salah ya? Harusnya yang benar seperti apa ya?" Salah satu contohnya, saat Ani memiliki keperluan pergi ke suatu tempat tanpa perlu mengajak teman, tetapi temannya dengan bercanda mengatakan bahwa Ani sengaja tidak mengajaknya karena tidak menganggapnya sebagai teman lagi. Pada kasus lainnya, Ani diberitahu bahwa dia tidak harus membantu keluarganya, kemudian Ani memutuskan untuk tidak membantu keluarganya, respon yang didapatkan adalah hal yang tidak menyenangkan. Pola yang dilakukan pelaku gaslighting untuk membuat Ani merasa tidak nyaman adalah dengan mempertanyakan tindakan yang Ani lakukan, seolah-olah tindakannya salah. Ani merasa tindakannya sudah tepat, tetapi karena perkataan pelaku dia jadi mempertanyakan tindakan yang dilakukannya sendiri, "Oh, apa aku separah itu ya? Jadi, seharusnya bagaimana? Apa yang harus aku lakukan?" Tetapi, di satu sisi, Ani juga bingung, "Sebenarnya, apa yang aku lakukan ini benar atau salah? Sebenarnya, yang salah itu apa atau siapa dalam hal ini? Dan seharusnya seperti apa?" Ani sendiri mencoba mengungkapkan ketidaksetujuan terhadap pelaku gaslighting dengan tidak menyetujui pernyataan dari pelaku gaslighting, seperti, “Tidak, bukan seperti itu.” sambil bercanda. Tetapi karena sekarang Ani sudah tahu itu gaslighting, dia secara terang-terangan mengatakannya jika dengan teman, seperti, "Eh, ini gaslighting bukan sih?" Ani juga akan langsung secara terbuka menjelaskan alasan dari tindakan yang dilakukannya. Ia juga memberitahu pelaku (teman Ani) bahwa dirinya merasa tidak nyaman dengan perkataan dari pelaku yang seolah-olah menyerang emosi Ani dengan membuat Ani merasa bersalah. Tetapi, jika dengan keluarga, Ani bisa memahami bahwa keluarganya tidak mempunyai pemahaman vggb PSYMAGZ 18

Ani merasa gaslighting sangat mempengaruhi kehidupan sehari-harinya. Ani juga pernah menjadi pelaku gaslighting terhadap temannya saat SMP karena lingkungan tempat tinggalnya yang sering melakukan gaslighting dan ketidaktahuannya mengenai apa yang dilakukannya. Dari situ, Ani kehilangan orang-orang yang sangat mendukungnya, seperti sahabatnya. Setelah Ani berkuliah, barulah Ani sadar bahwa hal yang Ia lakukan ternyata salah.

Nah, sobat PsyMagz, dari kejadian yang dialami Ani, ada 2 hal yang ia pelajari, yaitu: 1. Mengubah kebiasaan Ani berusaha menyesuaikan diri dengan cara belajar berkomunikasi dan menyampaikan perasaan yang benar tanpa membuat orang lain merasa bersalah. 2. Membentengi diri ketika di-gaslighting Ani belajar menjelaskan secara proaktif perasaan dan alasan dari tindakannya.

Ada juga nih, beberapa cara dari Ani dalam mengatasi gaslighting, yaitu: 1. Evaluasi diri 2. Memperbaiki diri 3. Mengatur emosi 4. Meningkatkan spiritualitas

Wah, sangat menginspirasi dan membantu sekali, ya, tips dan trik dari Ani dalam melalui gaslighting! Cerita dari Ani dapat memberi inspirasi untuk lebih waspada terhadap gaslighting. Selain itu, penting juga bagi kita untuk belajar cara berkomunikasi yang baik dan berani untuk menyampaikan halhal yang membuat kita tidak nyaman.

PSYMAGZ 19


Ask the Expert

Agustina Engry, S.Psi., M.Psi., Psikolog

Nah, sobat PsyMagz, setelah sebelumnya membahas berbagai hal mengenai gaslighting, yuk, kita ulik lebih mendalam mengenai apa itu gaslighting dari Dosen Fakultas Psikologi, Agustina Engry, S.Psi., M.Psi.,Psikolog. Apa sih, gaslighting itu? Menurut Bu Tina, gaslighting termasuk dalam emotional abuse dengan adanya indikasi manipulasi, menyalahkan, dan memutarbalikkan fakta. Gaslighting dapat terjadi dalam relasi apapun, seperti dalam keluarga, teman, atau pasangan yang dapat dilakukan secara sadar maupun tidak sadar. Jika dilakukan secara sadar, maka orang yang melakukannya ingin mengambil keuntungan pribadi, sedangkan bila secara tidak sadar, maka bisa dianggap sebagai defense mechanism demi menyelamatkan ego-nya.

Gimana sih cara menanggapi perilaku gaslighting? Sebelumnya, sobat PsyMagz perlu tahu dulu nih, apakah gaslighting itu sudah menjadi pola atau belum, baru sobat PsyMagz bisa melakukan langkah-langkah yang dianjurkan oleh Bu Tina, yaitu:

1. Evaluasi kedua pihak Sobat PsyMagz harus bisa membatasi diri untuk merenungkan apakah sebaiknya hubungan tersebut layak untuk dilanjutkan atau tidak. Sobat PsyMagz juga harus melakukan evaluasi pada kedua pihak, jangan-jangan ada yang playing victim, atau sebenarnya sobat PsyMagz tanpa disadari juga melakukan gaslighting.

PSYMAGZ 20

2. Mengomunikasikan Komunikasikan dengan orang yang menjalin relasi dengan sobat PsyMagz dan paparkan bukti-bukti dia melakukan gaslighting. Dengan begitu, orang tersebut tidak bisa membela diri atau 'ngeles'.

3. Diskusikan dan putuskan Hubungan ini mau dilanjutkan kemana, sih? Jika tidak ingin melanjutkan hubungan, sebaiknya langsung cut off, ya, sobat PsyMagz.

Korban gaslighting juga biasanya memiliki dampak secara psikologis, seperti merasa ragu terhadap dirinya, insecure, tidak berdaya, serba salah, dan kecewa. Sebagai korban gaslighting, harus berani speak up, ya, sobat PsyMagz! Jangan sampai karena tidak berani, kalian terus-menerus terperangkap dalam situasi tersebut. Gaslighting dilakukan oleh keluarga? Eits, pahami dengan benar dulu, ya, sobat PsyMagz, apa itu gaslighting! Saran dari Bu Tina masih sama nih, tetap lakukan langkah-langkah sebelumnya, ya. Pertama, evaluasikan apakah relasi ini pantas untuk dipertahankan, apakah benar memang ada perilaku gaslighting. Kedua, komunikasikan dengan anggota keluarga tersebut. Komunikasi harus dilakukan dengan baik-baik, ya, sobat PsyMagz, jangan kebawa emosi, loh! Jika kalian sudah melakukan problem-focused coping dan tidak ada perubahan, maka coba lakukan emotion-focused coping. Problem-focused coping dan emotion-focused coping merupakan jenis dari coping mechanism. Problem-focused coping berfokus pada pemecahan masalah dengan mencari aktivitas lain, seperti mencari informasi yang dapat membantu seseorang dalam menyelesaikan masalah, sedangkan emotion-focused coping berfokus untuk mengurangi emosi individu, seperti melakukan hobi untuk menenangkan emosi. Dari penjelasan yang sudah dipaparkan oleh Bu Tina di atas, apakah kamu termasuk korban atau pelaku gaslighting, nih? Kalau kamu merasa terkena gaslighting, coba refleksikan dan cerita ke orang lain yaa, namun saat cerita jangan dilebih-lebihkan. Kalau bisa, orang yang mendengar cerita adalah orang yang mengenal kedua belah pihak yang bermasalah, sehingga mereka bisa memberi masukan yang objektif. Nah, itu adalah penjelasan mengenai gaslighting dari Bu Tina, nih, sobat Psymagz! Gimana? Sudah lebih mengerti, kan?

PSYMAGZ 21


Ask the Expert

Agustina Engry, S.Psi., M.Psi., Psikolog

Nah, sobat PsyMagz, setelah sebelumnya membahas berbagai hal mengenai gaslighting, yuk, kita ulik lebih mendalam mengenai apa itu gaslighting dari Dosen Fakultas Psikologi, Agustina Engry, S.Psi., M.Psi.,Psikolog. Apa sih, gaslighting itu? Menurut Bu Tina, gaslighting termasuk dalam emotional abuse dengan adanya indikasi manipulasi, menyalahkan, dan memutarbalikkan fakta. Gaslighting dapat terjadi dalam relasi apapun, seperti dalam keluarga, teman, atau pasangan yang dapat dilakukan secara sadar maupun tidak sadar. Jika dilakukan secara sadar, maka orang yang melakukannya ingin mengambil keuntungan pribadi, sedangkan bila secara tidak sadar, maka bisa dianggap sebagai defense mechanism demi menyelamatkan ego-nya.

Gimana sih cara menanggapi perilaku gaslighting? Sebelumnya, sobat PsyMagz perlu tahu dulu nih, apakah gaslighting itu sudah menjadi pola atau belum, baru sobat PsyMagz bisa melakukan langkah-langkah yang dianjurkan oleh Bu Tina, yaitu:

1. Evaluasi kedua pihak Sobat PsyMagz harus bisa membatasi diri untuk merenungkan apakah sebaiknya hubungan tersebut layak untuk dilanjutkan atau tidak. Sobat PsyMagz juga harus melakukan evaluasi pada kedua pihak, jangan-jangan ada yang playing victim, atau sebenarnya sobat PsyMagz tanpa disadari juga melakukan gaslighting.

PSYMAGZ 20

2. Mengomunikasikan Komunikasikan dengan orang yang menjalin relasi dengan sobat PsyMagz dan paparkan bukti-bukti dia melakukan gaslighting. Dengan begitu, orang tersebut tidak bisa membela diri atau 'ngeles'.

3. Diskusikan dan putuskan Hubungan ini mau dilanjutkan kemana, sih? Jika tidak ingin melanjutkan hubungan, sebaiknya langsung cut off, ya, sobat PsyMagz.

Korban gaslighting juga biasanya memiliki dampak secara psikologis, seperti merasa ragu terhadap dirinya, insecure, tidak berdaya, serba salah, dan kecewa. Sebagai korban gaslighting, harus berani speak up, ya, sobat PsyMagz! Jangan sampai karena tidak berani, kalian terus-menerus terperangkap dalam situasi tersebut. Gaslighting dilakukan oleh keluarga? Eits, pahami dengan benar dulu, ya, sobat PsyMagz, apa itu gaslighting! Saran dari Bu Tina masih sama nih, tetap lakukan langkah-langkah sebelumnya, ya. Pertama, evaluasikan apakah relasi ini pantas untuk dipertahankan, apakah benar memang ada perilaku gaslighting. Kedua, komunikasikan dengan anggota keluarga tersebut. Komunikasi harus dilakukan dengan baik-baik, ya, sobat PsyMagz, jangan kebawa emosi, loh! Jika kalian sudah melakukan problem-focused coping dan tidak ada perubahan, maka coba lakukan emotion-focused coping. Problem-focused coping dan emotion-focused coping merupakan jenis dari coping mechanism. Problem-focused coping berfokus pada pemecahan masalah dengan mencari aktivitas lain, seperti mencari informasi yang dapat membantu seseorang dalam menyelesaikan masalah, sedangkan emotion-focused coping berfokus untuk mengurangi emosi individu, seperti melakukan hobi untuk menenangkan emosi. Dari penjelasan yang sudah dipaparkan oleh Bu Tina di atas, apakah kamu termasuk korban atau pelaku gaslighting, nih? Kalau kamu merasa terkena gaslighting, coba refleksikan dan cerita ke orang lain yaa, namun saat cerita jangan dilebih-lebihkan. Kalau bisa, orang yang mendengar cerita adalah orang yang mengenal kedua belah pihak yang bermasalah, sehingga mereka bisa memberi masukan yang objektif. Nah, itu adalah penjelasan mengenai gaslighting dari Bu Tina, nih, sobat Psymagz! Gimana? Sudah lebih mengerti, kan?

PSYMAGZ 21


about Psychology Students Hai, sobat PsyMagz! Kalian sudah tahu belum mengenai mitos dan fakta seputar Mahasiswa Psikologi? Sebagai Mahasiswa Psikologi tentunya kita harus tahu nih, mana yang merupakan mitos dan mana yang merupakan fakta mengenai Mahasiswa Psikologi. Jadi buat kalian yang masih belum tahu fakta-faktanya, yuk kita bahas bersama! Pertama, banyak yang beranggapan bahwa Mahasiswa Psikologi adalah seseorang yang sedang melakukan rawat jalan. Padahal faktanya tidak semua Mahasiswa Psikologi mengalami mental issue. Kepala Center for Public Mental Health (CMPH) Fakultas Psikologi UGM, mengatakan bahwa sekitar 20% mahasiswa butuh pendampingan psikologis. Jika hanya 20% mahasiswa membutuhkan pendampingan psikologis, maka bisa disimpulkan jika tidak semua Mahasiswa Psikologi memiliki mental issue. Mahasiswa Psikologi sendiri punya tugas untuk membedah masalah psikologis dan melakukan refleksi untuk mengenali dirinya sendiri, bukannya berobat jalan. Kita juga akan diajari cara berempati terhadap masalah yang dialami oleh individu lain. Hal ini juga ditekankan oleh beberapa dosen yang mengatakan bahwa mahasiswa psikologi adalah seseorang yang membantu penyelesaian masalah klien. Oleh karena itu, sobat PsyMagz, jika kamu merasa memiliki beberapa mental issue, kamu bisa menghubungi profesional atau bahkan berkonsultasi dengan dosen-dosen kita yang bergelar Psikolog. Jadi jangan malumalu ya! Kedua, masyarakat awam seringkali memberikan stigma kepada kita mahasiswa Psikologi, bahwa kita bisa membaca pikiran seseorang. Namun, perlu ditegaskan ya sobat PsyMagz, kita adalah seorang ilmuwan psikologi, bukan cenayang ataupun dukun. Sebagai Mahasiswa Psikologi, kita mendapatkan mata kuliah yang berhubungan dengan observasi, wawancara, dan asesmen sebagai alat untuk menganalisis kondisi mental seorang individu, bukan kita bertemu seseorang dan langsung bisa membaca masalahmasalah yang sedang dialami. PSYMAGZ 22

Ketiga, banyak pelajar-pelajar SMA yang memilih jurusan Psikologi karena dianggap tidak ada hubungannya dengan matematika. Eitss, jangan salah teman-teman! Faktanya, ketika melakukan penelitian, mahasiswa jurusan Psikologi sangat berkaitan erat dengan angka. Kita membutuhkan data-data yang berupa angka untuk diolah sehingga, kita bisa mendapatkan suatu hasil mengenai penelitian tersebut. Data yang didapatkan berupa persentase, diagram, dan masih banyak yang lainnya. Bahkan, ketika melakukan skoring, kita juga akan menjumlahkan angka-angka dengan beberapa rumus tertentu untuk mendapatkan hasil dari asesmen tersebut. Beberapa mata kuliah seperti Psikologi Pengukuran, Tes Intelegensi dan Bakat, Statistika Dasar, bahkan Metode Penelitian Kuantitatif, itu semua adalah mata kuliah yang berhubungan dengan angka loh sobat PsyMagz! Keempat, orang-orang sering mengira bahwa kita, Mahasiswa Psikologi, tidak memiliki masalah. Itu juga merupakan sebuah anggapan yang salah ya sobat PsyMagz! Faktanya, kita juga manusia biasa yang pasti punya masalah dalam hidup. Namun, karena kita nanti akan menjadi lulusan psikologi, maka kita harus memiliki problem solving yang bagus dan bisa membantu klien dalam penyelesaian masalah-masalah yang mereka alami. Mahasiswa psikologi harus memiliki self-compassion yang tinggi sesuai dengan riset yang dilakukan oleh penelitian Yang Ying dan Han pada tahun 2007 yang menunjukkan bahwa selfcompassion merupakan coping yang efektif untuk mengatasi tantangan profesional dalam pekerjaan sosial. Nah, sobat PsyMagz, itu dia seputar mitos dan fakta tentang Mahasiswa Psikologi. Semoga kita bisa tetap terus memberikan edukasi pada masyarakat luas mengenai mitos dan fakta tersebut, ya. Semoga bermanfaat dan ingat kita hanya manusia bukan dewa ya! PSYMAGZ 23


about Psychology Students Hai, sobat PsyMagz! Kalian sudah tahu belum mengenai mitos dan fakta seputar Mahasiswa Psikologi? Sebagai Mahasiswa Psikologi tentunya kita harus tahu nih, mana yang merupakan mitos dan mana yang merupakan fakta mengenai Mahasiswa Psikologi. Jadi buat kalian yang masih belum tahu fakta-faktanya, yuk kita bahas bersama! Pertama, banyak yang beranggapan bahwa Mahasiswa Psikologi adalah seseorang yang sedang melakukan rawat jalan. Padahal faktanya tidak semua Mahasiswa Psikologi mengalami mental issue. Kepala Center for Public Mental Health (CMPH) Fakultas Psikologi UGM, mengatakan bahwa sekitar 20% mahasiswa butuh pendampingan psikologis. Jika hanya 20% mahasiswa membutuhkan pendampingan psikologis, maka bisa disimpulkan jika tidak semua Mahasiswa Psikologi memiliki mental issue. Mahasiswa Psikologi sendiri punya tugas untuk membedah masalah psikologis dan melakukan refleksi untuk mengenali dirinya sendiri, bukannya berobat jalan. Kita juga akan diajari cara berempati terhadap masalah yang dialami oleh individu lain. Hal ini juga ditekankan oleh beberapa dosen yang mengatakan bahwa mahasiswa psikologi adalah seseorang yang membantu penyelesaian masalah klien. Oleh karena itu, sobat PsyMagz, jika kamu merasa memiliki beberapa mental issue, kamu bisa menghubungi profesional atau bahkan berkonsultasi dengan dosen-dosen kita yang bergelar Psikolog. Jadi jangan malumalu ya! Kedua, masyarakat awam seringkali memberikan stigma kepada kita mahasiswa Psikologi, bahwa kita bisa membaca pikiran seseorang. Namun, perlu ditegaskan ya sobat PsyMagz, kita adalah seorang ilmuwan psikologi, bukan cenayang ataupun dukun. Sebagai Mahasiswa Psikologi, kita mendapatkan mata kuliah yang berhubungan dengan observasi, wawancara, dan asesmen sebagai alat untuk menganalisis kondisi mental seorang individu, bukan kita bertemu seseorang dan langsung bisa membaca masalahmasalah yang sedang dialami. PSYMAGZ 22

Ketiga, banyak pelajar-pelajar SMA yang memilih jurusan Psikologi karena dianggap tidak ada hubungannya dengan matematika. Eitss, jangan salah teman-teman! Faktanya, ketika melakukan penelitian, mahasiswa jurusan Psikologi sangat berkaitan erat dengan angka. Kita membutuhkan data-data yang berupa angka untuk diolah sehingga, kita bisa mendapatkan suatu hasil mengenai penelitian tersebut. Data yang didapatkan berupa persentase, diagram, dan masih banyak yang lainnya. Bahkan, ketika melakukan skoring, kita juga akan menjumlahkan angka-angka dengan beberapa rumus tertentu untuk mendapatkan hasil dari asesmen tersebut. Beberapa mata kuliah seperti Psikologi Pengukuran, Tes Intelegensi dan Bakat, Statistika Dasar, bahkan Metode Penelitian Kuantitatif, itu semua adalah mata kuliah yang berhubungan dengan angka loh sobat PsyMagz! Keempat, orang-orang sering mengira bahwa kita, Mahasiswa Psikologi, tidak memiliki masalah. Itu juga merupakan sebuah anggapan yang salah ya sobat PsyMagz! Faktanya, kita juga manusia biasa yang pasti punya masalah dalam hidup. Namun, karena kita nanti akan menjadi lulusan psikologi, maka kita harus memiliki problem solving yang bagus dan bisa membantu klien dalam penyelesaian masalah-masalah yang mereka alami. Mahasiswa psikologi harus memiliki self-compassion yang tinggi sesuai dengan riset yang dilakukan oleh penelitian Yang Ying dan Han pada tahun 2007 yang menunjukkan bahwa selfcompassion merupakan coping yang efektif untuk mengatasi tantangan profesional dalam pekerjaan sosial. Nah, sobat PsyMagz, itu dia seputar mitos dan fakta tentang Mahasiswa Psikologi. Semoga kita bisa tetap terus memberikan edukasi pada masyarakat luas mengenai mitos dan fakta tersebut, ya. Semoga bermanfaat dan ingat kita hanya manusia bukan dewa ya! PSYMAGZ 23


Faculty

Photo

Program Praktisi Mengajar PKMM 2023 (15 September 2023) Kuliah Tamu Psikologi Positif (26 September 2023)

Pada 15 September 2023, Fakultas Psikologi Universitas Widya Mandala Surabaya dengan didanai oleh program hibah PKKM mengundang Bapak R. Urip Purwono, M.Sc., Ph.D., Psikolog yang merupakan Dosen Fakultas Psikologi Universitas Padjajaran Bandung untuk memberi materi pada mata kuliah Pengukuran Psikologi.

Wisuda (16 September 2023) Diadakan wisuda bagi para mahasiswa yang telah lulus dan berhasil menyelesaikan studinya pada 16 September 2023 yang dilaksanakan di Widya Manggala Hall yang terletak di UKWMS Kampus Pakuwon.

PSYMAGZ 24

26 September 2023, dilaksanakan kuliah tamu mata kuliah Psikologi Positif secara online yang dibawakan oleh Prof. Sefa Bulut, Ph.D yang merupakan Dosen Fakultas Ilmu Pendidikan (Faculty of Educational Sciences) Universitas Ibn Haldun, Turki dan membahas mengenai Flourishing in Turkish Culture.

Sharing Hasil Penelitian Profiling Karakter Individu Kesurupan (8 November 2023)

Pada tanggal 8 November 2023, dilakukan pertemuan rutin Ikatan Psikologi Klinis Himpunan Psikologi Indonesia (HIMPSI). Pada pertemuan ini, salah satu dosen Fakultas Psikologi UKWMS yaitu Bapak Jaka Santosa S, M.Psi., Psikolog menjadi narasumber dalam membagikan hasil penelitian profiling karakter individu kesurupan.

PSYMAGZ 25


Faculty

Photo

Program Praktisi Mengajar PKMM 2023 (15 September 2023) Kuliah Tamu Psikologi Positif (26 September 2023)

Pada 15 September 2023, Fakultas Psikologi Universitas Widya Mandala Surabaya dengan didanai oleh program hibah PKKM mengundang Bapak R. Urip Purwono, M.Sc., Ph.D., Psikolog yang merupakan Dosen Fakultas Psikologi Universitas Padjajaran Bandung untuk memberi materi pada mata kuliah Pengukuran Psikologi.

Wisuda (16 September 2023) Diadakan wisuda bagi para mahasiswa yang telah lulus dan berhasil menyelesaikan studinya pada 16 September 2023 yang dilaksanakan di Widya Manggala Hall yang terletak di UKWMS Kampus Pakuwon.

PSYMAGZ 24

26 September 2023, dilaksanakan kuliah tamu mata kuliah Psikologi Positif secara online yang dibawakan oleh Prof. Sefa Bulut, Ph.D yang merupakan Dosen Fakultas Ilmu Pendidikan (Faculty of Educational Sciences) Universitas Ibn Haldun, Turki dan membahas mengenai Flourishing in Turkish Culture.

Sharing Hasil Penelitian Profiling Karakter Individu Kesurupan (8 November 2023)

Pada tanggal 8 November 2023, dilakukan pertemuan rutin Ikatan Psikologi Klinis Himpunan Psikologi Indonesia (HIMPSI). Pada pertemuan ini, salah satu dosen Fakultas Psikologi UKWMS yaitu Bapak Jaka Santosa S, M.Psi., Psikolog menjadi narasumber dalam membagikan hasil penelitian profiling karakter individu kesurupan.

PSYMAGZ 25


How to Deal with Gaslighting? Hai sobat PsyMagz!

Setelah membaca penjelasan mengenai gaslighting, mungkin membuat sobat PsyMagz mulai menyadari bahwa selama ini kalian adalah korban gaslighting dan hal ini membuat kalian ingin keluar dari situasi tersebut, namun bingung harus mulai darimana. Nah, jangan khawatir, berikut ini ada beberapa langkah yang dapat kalian lakukan untuk menangani situasi tersebut menurut G. S. Hansen (2020), yaitu dengan: 1. Pastikan bahwa yang dialami adalah benar-benar peristiwa gaslighting dan bukan hanya perasaan semata. 2. Kumpulkan bukti yang kuat dari perilaku gaslighting tersebut. Bisa melalui riwayat pesan, rekaman suara, atau video. Bukti ini sangatlah penting untuk menyadarkan pelaku, karena pada dasarnya pelaku gaslighting akan sangat mudah memanipulasi keadaan. 3. Speak up. Setelah mengumpulkan bukti yang kuat, siapkan juga keberanian untuk speak up mengenai permasalahan ini. Beri tahu mengenai perilaku mereka selama ini dan tunjukan melalui bukti yang sudah dikumpulkan. 4. Menjauh. Tidak baik untuk kita tetap bersama dengan orang yang telah melakukan mental abuse kepada kita. Hal tersebut hanya akan berakibat buruk pada kesehatan mental kita loh, sobat PsyMagz. 5. Mencari bantuan kepada orang lain adalah langkah selanjutnya yang dapat dilakukan. Memiliki teman atau keluarga yang mendukung akan membantu kita untuk keluar dari situasi ini. 6. Apabila peristiwa gaslighting yang dialami sudah menimbulkan dampak yang lebih buruk, mencari bantuan profesional adalah langkah yang tepat. 7. Memperhatikan dan mengutamakan diri sendiri. Kesehatan mental adalah yang terutama, kurangi stress, lakukan hobi atau hal-hal yang sobat PsyMagz sukai. Selain itu berhatihatilah dengan anxiety dan depresi, karena korban gaslighting seringkali mengalami permasalahan dengan kedua hal ini. 8. Mengembalikan kepercayaan diri. Korban gaslighting umumnya akan merasa lemah, menyalahkan diri sendiri, dan hilangnya kepercayaan diri. Hal tersebut dapat diatasi dengan mulai mendengarkan diri sendiri, jangan menganggap remeh diri kalian dan jangan menyalahkan diri kalian sendiri. Kalian juga bisa mulai mengatakan kata-kata afirmasi ke diri kalian sendiri, seperti “Aku berharga”, “Aku berbakat”, “Aku percaya pada diriku sendiri”, dan kata-kata afirmasi lainnya, lalu menulis diary, dan melakukan hal-hal yang kalian sukai. 9. Pastikan kalian punya support system yang bisa menemani kalian kapanpun.

PSYMAGZ 26

How to Solve? How to prevent being gaslighted? Bagi sobat PsyMagz yang belum pernah menjadi korban gaslighting, antisipasi tetap perlu dilakukan. Setelah kita mengenali ciri-ciri dari gaslighting dan pelakunya. Kita bisa menghindar dan mengambil tindakan tegas. Jauhi dan jangan berurusan lebih jauh dengan orang-orang seperti itu, jangan biarkan diri kita terhasut dalam manipulasi mereka.

I think I might be a gaslighter, what should I do? Setelah membaca sejauh ini, mungkin sobat PsyMagz mulai berpikir dan tersadar bahwa kalian bukan menjadi korban tetapi sebaliknya, kalian sering melakukan gaslighting kepada pasangan atau orang-orang di sekitar kalian tanpa disadari. Apa sih yang dapat dilakukan untuk memperbaiki perilaku ini? Pertama, apresiasi diri kalian sendiri karena sudah berani mengakui dan memiliki kemauan untuk berubah, karena ada banyak pelaku yang menyadari perbuatan gaslighting yang dilakukan, tetapi terus melanjutkan perilaku tersebut dan bahkan mengembangkan kemampuan dalam memanipulasi orang lain. Setelah itu, sobat PsyMagz bisa mulai merubah perilaku. Memang tidak mudah untuk mengubah perilaku dan kebiasaan, tetapi bukan berarti tidak bisa. Mulailah dari mencari tahu dalam bentuk apa atau perilaku memanipulasi apa yang sering kalian lakukan, pada situasi apa kalian sering melakukan itu, dan kepada siapa kalian melakukan itu. Setelah itu, jangan mencari atau membuat alasan mengenai mengapa kalian melakukan hal-hal tersebut dan jangan menyalahkan siapapun. Kalian juga bisa mulai mengembangkan sifat-sifat yang lebih supportive dan respectful. Selain mengubah perilaku, hal yang tak kalah penting untuk dilakukan adalah mencari pertolongan profesional, jika dampak yang ditimbulkan sudah sangat parah. Mulailah juga untuk mencari support group, di mana kalian bisa mengembangkan diri untuk menjadi lebih baik lagi.

Sumber: Hansen. G. S. (2020). Gaslighting. Sannainvest Limited.

PSYMAGZ 27


How to Deal with Gaslighting? Hai sobat PsyMagz!

Setelah membaca penjelasan mengenai gaslighting, mungkin membuat sobat PsyMagz mulai menyadari bahwa selama ini kalian adalah korban gaslighting dan hal ini membuat kalian ingin keluar dari situasi tersebut, namun bingung harus mulai darimana. Nah, jangan khawatir, berikut ini ada beberapa langkah yang dapat kalian lakukan untuk menangani situasi tersebut menurut G. S. Hansen (2020), yaitu dengan: 1. Pastikan bahwa yang dialami adalah benar-benar peristiwa gaslighting dan bukan hanya perasaan semata. 2. Kumpulkan bukti yang kuat dari perilaku gaslighting tersebut. Bisa melalui riwayat pesan, rekaman suara, atau video. Bukti ini sangatlah penting untuk menyadarkan pelaku, karena pada dasarnya pelaku gaslighting akan sangat mudah memanipulasi keadaan. 3. Speak up. Setelah mengumpulkan bukti yang kuat, siapkan juga keberanian untuk speak up mengenai permasalahan ini. Beri tahu mengenai perilaku mereka selama ini dan tunjukan melalui bukti yang sudah dikumpulkan. 4. Menjauh. Tidak baik untuk kita tetap bersama dengan orang yang telah melakukan mental abuse kepada kita. Hal tersebut hanya akan berakibat buruk pada kesehatan mental kita loh, sobat PsyMagz. 5. Mencari bantuan kepada orang lain adalah langkah selanjutnya yang dapat dilakukan. Memiliki teman atau keluarga yang mendukung akan membantu kita untuk keluar dari situasi ini. 6. Apabila peristiwa gaslighting yang dialami sudah menimbulkan dampak yang lebih buruk, mencari bantuan profesional adalah langkah yang tepat. 7. Memperhatikan dan mengutamakan diri sendiri. Kesehatan mental adalah yang terutama, kurangi stress, lakukan hobi atau hal-hal yang sobat PsyMagz sukai. Selain itu berhatihatilah dengan anxiety dan depresi, karena korban gaslighting seringkali mengalami permasalahan dengan kedua hal ini. 8. Mengembalikan kepercayaan diri. Korban gaslighting umumnya akan merasa lemah, menyalahkan diri sendiri, dan hilangnya kepercayaan diri. Hal tersebut dapat diatasi dengan mulai mendengarkan diri sendiri, jangan menganggap remeh diri kalian dan jangan menyalahkan diri kalian sendiri. Kalian juga bisa mulai mengatakan kata-kata afirmasi ke diri kalian sendiri, seperti “Aku berharga”, “Aku berbakat”, “Aku percaya pada diriku sendiri”, dan kata-kata afirmasi lainnya, lalu menulis diary, dan melakukan hal-hal yang kalian sukai. 9. Pastikan kalian punya support system yang bisa menemani kalian kapanpun.

PSYMAGZ 26

How to Solve? How to prevent being gaslighted? Bagi sobat PsyMagz yang belum pernah menjadi korban gaslighting, antisipasi tetap perlu dilakukan. Setelah kita mengenali ciri-ciri dari gaslighting dan pelakunya. Kita bisa menghindar dan mengambil tindakan tegas. Jauhi dan jangan berurusan lebih jauh dengan orang-orang seperti itu, jangan biarkan diri kita terhasut dalam manipulasi mereka.

I think I might be a gaslighter, what should I do? Setelah membaca sejauh ini, mungkin sobat PsyMagz mulai berpikir dan tersadar bahwa kalian bukan menjadi korban tetapi sebaliknya, kalian sering melakukan gaslighting kepada pasangan atau orang-orang di sekitar kalian tanpa disadari. Apa sih yang dapat dilakukan untuk memperbaiki perilaku ini? Pertama, apresiasi diri kalian sendiri karena sudah berani mengakui dan memiliki kemauan untuk berubah, karena ada banyak pelaku yang menyadari perbuatan gaslighting yang dilakukan, tetapi terus melanjutkan perilaku tersebut dan bahkan mengembangkan kemampuan dalam memanipulasi orang lain. Setelah itu, sobat PsyMagz bisa mulai merubah perilaku. Memang tidak mudah untuk mengubah perilaku dan kebiasaan, tetapi bukan berarti tidak bisa. Mulailah dari mencari tahu dalam bentuk apa atau perilaku memanipulasi apa yang sering kalian lakukan, pada situasi apa kalian sering melakukan itu, dan kepada siapa kalian melakukan itu. Setelah itu, jangan mencari atau membuat alasan mengenai mengapa kalian melakukan hal-hal tersebut dan jangan menyalahkan siapapun. Kalian juga bisa mulai mengembangkan sifat-sifat yang lebih supportive dan respectful. Selain mengubah perilaku, hal yang tak kalah penting untuk dilakukan adalah mencari pertolongan profesional, jika dampak yang ditimbulkan sudah sangat parah. Mulailah juga untuk mencari support group, di mana kalian bisa mengembangkan diri untuk menjadi lebih baik lagi.

Sumber: Hansen. G. S. (2020). Gaslighting. Sannainvest Limited.

PSYMAGZ 27


Secret

New Song, New Mood

Hai, sobat PsyMagz!

Kembali lagi nih dengan “New Song, New Mood” yang tak kalah menarik loh dengan edisi sebelumnya. Jadi, ada beberapa lagu yang Tim PsyMagz rekomendasiin mengenai gaslighting. Yuk, di simak bersama-sama!

Mad Woman - Taylor Swift (Album Folklore) “And there's nothin' like a mad woman hat a shame she went mad. No one likes a mad woman” Lagu ini menceritakan mengenai gaslighting yang dilakukan oleh seorang lelaki, di mana reaksi dari perempuan mengenai sesuatu yang sebenarnya masuk akal, namun kerap dianggap sebagai sesuatu yang berlebihan bagi lelaki. Hal ini membuat sebagian besar perempuan akan mempertanyakan “apakah reaksi yang ia berikan termasuk berlebihan dimata laki-laki”. Ketika perempuan merasakan hal ini, maka akan timbul perasaan bersalah pada dirinya sendiri, namun di sisi lain pihak laki-laki terbebas dari rasa bersalah tersebut.

Gaslight - Nessa Barrett Lagu ini bercerita dari sudut pandang seseorang yang terkena gaslighting. Ia merinci perilaku bersalah dan mencurigakan dari suaminya kemudian ia mulai menyadari bahwa suaminya telah berselingkuh. Barret mengisi bagian reffrain-nya dengan segala cara yang telah dia lakukan sebagai bentuk ungkapan kebencian masa lalu, disebutkan dalam lirik “Kenapa aku cemburu kalau aku milikmu, kenapa kamu membuatku insecure, kenapa kamu menyuruhku untuk tidak khawatir, padahal kamu selalu menyakitiku, kenapa aku cemburu jika kamu milikku, kenapa aku bahkan bukan tipemu,”. Lirik lainnya dalam lagu ini berbunyi “Kenapa kamu bilang aku gila, gaslight, aku tidak gila kalau aku benar,” mengungkap kebenaran mutlak dari setiap hubungan manipulatif.

💖

From : .. To : Temen” semua Semangat kuliah! Tugasnya dah mulai banyak lagi, yuk semangat lagi! We got this <3 From : partner klinis anda To : Ranny Lulus kuliah, otw jadi orang kaya!! otw smp kpn? ya gtw, kok nanya saya :v From : T To : Vianca Lu olang kalo owe dah lulus jadi anak yang benal loo, harus punya komitmen kalo kuliah. JANGAN MALAS

1.57

-0.34

Your Power - Billie Eilish Lagu ini menceritakan tentang penyalahgunaan kekuasaan dalam sebuah hubungan. Dimana orang yang lebih berkuasa memutar balikkan fakta sehingga korban terus mempertanyakan diri mereka. Seperti tampak dari kalimat, "You make me feel like it was my fault you are the devil."

Wah, gimana nih sobat PsyMagz? Apakah kalian ada yang tahu lagu-lagu diatas? Kalau belum tau, yuk, dengerin sekarang juga! PSYMAGZ 28

From : Fandom army garis keras To : Ibu Ermida Terima kasih sudah jadi panutan dan role model saya setelah baginda ratu dirumah. Sehat sehat dan bahagia selalu, lovee you bu midaaaaa

From : Lady To : Trimurti (Nathan, Graci, Calvin) Hallo trio wek2 yg selalu bersama, thankyou so much for everything, makasih udah jd support sistemku waktu aku down bgt, tanpa kalian aku juga gaisa melangkah sampek di titik ini. Makasih buat lawakan, dan i hope sampek kapanpun kalian bakal terus bertiga, sampek lulus, kerja, atau udah punya kehidupan masing2 yg beda jalan. Sorry bgt kalo punya banyak salah juga yg bikin sometimes kalian gemes. Thankyouu guys! ☺️

🤍

From : anonim To : Pak Happy Terimakasih ya pak udah jadi dosen yang seru dan selalu membawa vibes happy di kelas, semoga bapak bisa selalu semangat dan sehat selalu ya pak!!!!, jangan cape cape ngajar di widya mandala ya pakk Tuhan memberkati bapak From : psymate To : panitia psymagz Semangat, makasih udah berusaha yang terbaik bikin majalah yang keren From : Vito To : Ayg's Page (Tita, Agnes, KR) Semangat untuk kalian bertiga, semoga kalian bertiga tetap bertiga wkwkwkwk. Maap y kalo aku suka isengin kalian ber3, tp ntah knp kalian enak aja gt buat aku isengin aokwowkokwok. Intinya aku cuma mau bilang...... From : Ketua kalian yang paling lucu sedunia To : anak2 LPMF semangat terus anak2 akuu, semoga semua proker LPMF bisa berjalan dengan lancarr!! jangan terlalu dibawa pusing, enjoy ajaa. Lopyu oll🩷🩷

From : Loli To : Amanda Km itu kalo nyetir jangan suka ngebut", jangan pake earphone juga... BAHAYA TAU GAK!!!!

PSYMAGZ 29


Secret

New Song, New Mood

Hai, sobat PsyMagz!

Kembali lagi nih dengan “New Song, New Mood” yang tak kalah menarik loh dengan edisi sebelumnya. Jadi, ada beberapa lagu yang Tim PsyMagz rekomendasiin mengenai gaslighting. Yuk, di simak bersama-sama!

Mad Woman - Taylor Swift (Album Folklore) “And there's nothin' like a mad woman hat a shame she went mad. No one likes a mad woman” Lagu ini menceritakan mengenai gaslighting yang dilakukan oleh seorang lelaki, di mana reaksi dari perempuan mengenai sesuatu yang sebenarnya masuk akal, namun kerap dianggap sebagai sesuatu yang berlebihan bagi lelaki. Hal ini membuat sebagian besar perempuan akan mempertanyakan “apakah reaksi yang ia berikan termasuk berlebihan dimata laki-laki”. Ketika perempuan merasakan hal ini, maka akan timbul perasaan bersalah pada dirinya sendiri, namun di sisi lain pihak laki-laki terbebas dari rasa bersalah tersebut.

Gaslight - Nessa Barrett Lagu ini bercerita dari sudut pandang seseorang yang terkena gaslighting. Ia merinci perilaku bersalah dan mencurigakan dari suaminya kemudian ia mulai menyadari bahwa suaminya telah berselingkuh. Barret mengisi bagian reffrain-nya dengan segala cara yang telah dia lakukan sebagai bentuk ungkapan kebencian masa lalu, disebutkan dalam lirik “Kenapa aku cemburu kalau aku milikmu, kenapa kamu membuatku insecure, kenapa kamu menyuruhku untuk tidak khawatir, padahal kamu selalu menyakitiku, kenapa aku cemburu jika kamu milikku, kenapa aku bahkan bukan tipemu,”. Lirik lainnya dalam lagu ini berbunyi “Kenapa kamu bilang aku gila, gaslight, aku tidak gila kalau aku benar,” mengungkap kebenaran mutlak dari setiap hubungan manipulatif.

💖

From : .. To : Temen” semua Semangat kuliah! Tugasnya dah mulai banyak lagi, yuk semangat lagi! We got this <3 From : partner klinis anda To : Ranny Lulus kuliah, otw jadi orang kaya!! otw smp kpn? ya gtw, kok nanya saya :v From : T To : Vianca Lu olang kalo owe dah lulus jadi anak yang benal loo, harus punya komitmen kalo kuliah. JANGAN MALAS

1.57

-0.34

Your Power - Billie Eilish Lagu ini menceritakan tentang penyalahgunaan kekuasaan dalam sebuah hubungan. Dimana orang yang lebih berkuasa memutar balikkan fakta sehingga korban terus mempertanyakan diri mereka. Seperti tampak dari kalimat, "You make me feel like it was my fault you are the devil."

Wah, gimana nih sobat PsyMagz? Apakah kalian ada yang tahu lagu-lagu diatas? Kalau belum tau, yuk, dengerin sekarang juga! PSYMAGZ 28

From : Fandom army garis keras To : Ibu Ermida Terima kasih sudah jadi panutan dan role model saya setelah baginda ratu dirumah. Sehat sehat dan bahagia selalu, lovee you bu midaaaaa

From : Lady To : Trimurti (Nathan, Graci, Calvin) Hallo trio wek2 yg selalu bersama, thankyou so much for everything, makasih udah jd support sistemku waktu aku down bgt, tanpa kalian aku juga gaisa melangkah sampek di titik ini. Makasih buat lawakan, dan i hope sampek kapanpun kalian bakal terus bertiga, sampek lulus, kerja, atau udah punya kehidupan masing2 yg beda jalan. Sorry bgt kalo punya banyak salah juga yg bikin sometimes kalian gemes. Thankyouu guys! ☺️

🤍

From : anonim To : Pak Happy Terimakasih ya pak udah jadi dosen yang seru dan selalu membawa vibes happy di kelas, semoga bapak bisa selalu semangat dan sehat selalu ya pak!!!!, jangan cape cape ngajar di widya mandala ya pakk Tuhan memberkati bapak From : psymate To : panitia psymagz Semangat, makasih udah berusaha yang terbaik bikin majalah yang keren From : Vito To : Ayg's Page (Tita, Agnes, KR) Semangat untuk kalian bertiga, semoga kalian bertiga tetap bertiga wkwkwkwk. Maap y kalo aku suka isengin kalian ber3, tp ntah knp kalian enak aja gt buat aku isengin aokwowkokwok. Intinya aku cuma mau bilang...... From : Ketua kalian yang paling lucu sedunia To : anak2 LPMF semangat terus anak2 akuu, semoga semua proker LPMF bisa berjalan dengan lancarr!! jangan terlalu dibawa pusing, enjoy ajaa. Lopyu oll🩷🩷

From : Loli To : Amanda Km itu kalo nyetir jangan suka ngebut", jangan pake earphone juga... BAHAYA TAU GAK!!!!

PSYMAGZ 29


Psymates‘s

Achievement

Halo sobat PsyMagz!

Gimana nih kuliahnya? Sobat PsyMagz, perlu kalian ketahui bahwa di Fakultas Psikologi ternyata ada banyak mahasiswa yang berprestasi dan hebat loh! Pada semester ini ada beberapa mahasiswa yang memiliki prestasi seperti:

Mahasiswa Psikologi yang Mengikuti Students and Faculty Exchange ke St. Louis College, Thailand, Bangkok

Nathanael Satryo Aji Nugroho (2022)

Mahasiswa Psikologi UKWMS yang Berhasil Mengikuti Program Magang luar Kota yang Didanai oleh PKKM 2023. Dirjen Pendidikan Tinggi Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi

Peserta Kompetisi Debat Mahasiswa Indonesia (KDMI) 2023 Nita Oerip Andriani (2021)

Penerima Djarum Beasiswa Plus 2023/2024 Maura Violeine Priscilla (2021)

Penerima Bantuan Karya Ilmiah Kepemudaan Kementerian Pemuda dan Olahraga 2023 Nuke Elok Suhariyanto (2020)

PSYMAGZ 30

Gracius Randy Wahyu Jatiprasetyo (2022)

PT. PP Properti Tbk - Bekasi Selatan Cheryl Marreta Andriani (2021)

BCA Bogor Pricilia Kurniawan (2020)

Indonesia Power - Jakarta Natasya Purnomo (2020)

SMP Strada Bhakti Nusa - Tangerang Selatan Otniel Budi Apriliano (2020) Wah, mereka semua keren-keren ya sobat PsyMagz! Nah, tunggu apa lagi nih sobat PsyMagz, kalian juga bisa menjadi seperti mereka loh. Yuk semangat! Masih ada banyak peluang buat kalian menjadi seperti mereka loh!

PSYMAGZ 31


Psymates‘s

Achievement

Halo sobat PsyMagz!

Gimana nih kuliahnya? Sobat PsyMagz, perlu kalian ketahui bahwa di Fakultas Psikologi ternyata ada banyak mahasiswa yang berprestasi dan hebat loh! Pada semester ini ada beberapa mahasiswa yang memiliki prestasi seperti:

Mahasiswa Psikologi yang Mengikuti Students and Faculty Exchange ke St. Louis College, Thailand, Bangkok

Nathanael Satryo Aji Nugroho (2022)

Mahasiswa Psikologi UKWMS yang Berhasil Mengikuti Program Magang luar Kota yang Didanai oleh PKKM 2023. Dirjen Pendidikan Tinggi Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi

Peserta Kompetisi Debat Mahasiswa Indonesia (KDMI) 2023 Nita Oerip Andriani (2021)

Penerima Djarum Beasiswa Plus 2023/2024 Maura Violeine Priscilla (2021)

Penerima Bantuan Karya Ilmiah Kepemudaan Kementerian Pemuda dan Olahraga 2023 Nuke Elok Suhariyanto (2020)

PSYMAGZ 30

Gracius Randy Wahyu Jatiprasetyo (2022)

PT. PP Properti Tbk - Bekasi Selatan Cheryl Marreta Andriani (2021)

BCA Bogor Pricilia Kurniawan (2020)

Indonesia Power - Jakarta Natasya Purnomo (2020)

SMP Strada Bhakti Nusa - Tangerang Selatan Otniel Budi Apriliano (2020) Wah, mereka semua keren-keren ya sobat PsyMagz! Nah, tunggu apa lagi nih sobat PsyMagz, kalian juga bisa menjadi seperti mereka loh. Yuk semangat! Masih ada banyak peluang buat kalian menjadi seperti mereka loh!

PSYMAGZ 31


Aspiration Hai sobat PsyMagz! Tak terasa kita sudah sampai di ujung halaman Psymagz edisi 40 nih. Bagaimana impression kalian selama membacanya? Berikan opini, kritik, dan juga saran kalian terkait Psymagz untuk ke depannya. Kalian bisa scan QR Code di bawah ini atau akses link-nya ya! Sampai bertemu lagi di edisi selanjutnya! Contact : redaksi.psymagz@gmail.com

COMEBACK

https://forms.gle/A6gWR7pvaxjfghM3A

PSYMAGZ 32

PSYMAGZ 33


Aspiration Hai sobat PsyMagz! Tak terasa kita sudah sampai di ujung halaman Psymagz edisi 40 nih. Bagaimana impression kalian selama membacanya? Berikan opini, kritik, dan juga saran kalian terkait Psymagz untuk ke depannya. Kalian bisa scan QR Code di bawah ini atau akses link-nya ya! Sampai bertemu lagi di edisi selanjutnya! Contact : redaksi.psymagz@gmail.com

COMEBACK

https://forms.gle/A6gWR7pvaxjfghM3A

PSYMAGZ 32

PSYMAGZ 33


Social Psychology Series

Keep in touch with us! ORMAWA Fakultas Psikologi UKWMS

@ormawa_psi_wm

@lpmfpsikologi

@550mmyuj

GASLIGHTING

Navigating the Shadows of Manipulation

EDISI

40


Turn static files into dynamic content formats.

Create a flipbook
Gaslighting: Navigating the Shadows of Manipulation (PsyMagz Edition 40) by LPMF Psikologi - Issuu