M imbar Untan
02
TABLOID
Kritis, Ilmiah, Religius, Independen.
mimbaruntan.com
Dapur Redaksi
Surat Pembaca Wildan FT Teknik Mesin 2017
Salam Pers Mahasiswa!!! Bara penyemangat tiap kali menyerukan kalimat ini. Terasa merinding ketika mendengar seluruh rekan hadir dalam ruang redaksi Lembaga Pers Mahasiswa Untan serentak merobek kalimat ini. Kalimat ini juga yang ikut andil dalam narasi historis perjalanan suka duka proses peliputan. Berlimpah pengalaman yang kami lewati baik penghargaan dan rintangan hingga akhirnya menjadi pengetahuan baru berhikmah menambah memori kami. Berangkat dari perjumpaan dengan narasumber yang sering kali sulit ditemui apalagi narasumber yang enggan untuk terbuka terhadap informasi bahkan informasi yang sifatnya informasi publik. Beberapa kali para reporter Mimbar Untan terlempar ke narasumber lain saat meminta konfirmasi keterangan kepada narasumber inti. Banyak hal terjadi yang hingga kini masih membekas mulus dalam album memori. Tersimpan rapi sampai tak ada satu setan pun yang tak tahu betapa rimba kampus mulai beringas. Ditambah data-data yang menguras retorika analisis apalagi jadwal kuliah serta berbagai kegiatan kampus yang tak jarang menyita hari. Belum lagi perbedaan persepsi sesama rekan, entah beberapa kali hampir berselisih dari banyak kepala yang masing-masing punya porsi ego berbeda. Hal ini yang kemudian berujung pada perdebatan sengit akibatnya beberapa rekan mulai terbawa perasaan karena terlalu sensitif. Untungnya kami masih ingat terhadap tanggung jawab untuk meneriakkan keresahan dan kegundahan sesama rakyat kampus dan sementara menepikan beberapa kegiatan dan prioritas demi hal ini. Namun semua itu telah menjadi pengalaman berharga dan pelajaran dalam memperkaya tulisan hingga hadirlah tabloid edisi 22 ini di hadapan para penikmat literasi dan informasi. Dengan hadirnya tabloid ini semoga dapat menjadi sarana dalam memuaskan informasi dan literasi para pembaca, baik dalam lingkup kampus maupun di luar kampus.
Waktu bergulir lima bulan berselang dari proses penggarapan informasi hingga terbitlah tabloid edisi 22. Kami menghadirkan tema Sumbangan Pembangunan Institusi (SPI) di Untan sebagai tema besar. Kami mencoba membantu para mahasiswa menjawab beberapa keresahan dan kegalauan yang sejak lama dirasakan selama dua tahun terakhir. Mulai dari arah kebijakan dan pelaksanaan yang katanya untuk meningkatkan kualitas layanan pendidikan namun masih dirasa kurang jelas hingga keabaian para birokrat kampus terkait informasi bagi mahasiswa. Berangkat dari penjelajahan tiap kolom di tabloid ini dengan berbagai narasi historis yang berbeda. Bermula dari kolom kampus yang bernarasi tentang kondisi pengelompokan SPI di Fakultas Kehutanan yang katanya berkiblat pada SK Rektor namun masih ditemukan sekelumit kejanggalan. Melangkah sedikit ke kolom khusus tentang inovasi pengelolaan sampah di kota Pontianak oleh bank sampah. Kemudian dilanjutkan ke lembar selanjutnya tentang limbah sisa hasil praktikum kimia masih belum diberdayakan dan dikelola karena belum adanya unit pengelolaan limbah yang memadai kami letakkan pada kolom lingkungan. Dan selanjutnya masih banyak lagi cerita menarik yang kami suguhkan pada beberapa kolom seperti seremonial, opini, sastra, ilmiah, jepretan, dan religi. Melalui jalur tabloid ini kami mencoba membantu dengan peran menghadirkan informasi sebaik mungkin dan setulus hati. Dan kami berharap ini dapat menjadi suguhan nutrisi otak terkait informasi dan literasi bagi para penikmat tabloid ini. Tentu saja tak lupa jutaan terima kasih kepada seluruh rekan reporter Mimbar Untan dan pihak lain yang ikut andil dalam proses penjelajahan tabloid ini. kami juga membuka lebar terkait kritik dan saran yang bersifat membangun demi kebaikan tabloid ini dan tabloid di edisi seterusnya.[] Selamat memenuhi nutrisi otak. Salam Pers Mahasiswa!!!
Tabloid Mimbar Untan diterbitkan oleh Lembaga Pers Mahasiswa Universitas Tanjungpura Pontianak Penasehat
: Rektor Universitas Tanjungpura
Pembina
: Wakil Rektor III
DPL
: Alumni Mimbar Untan
UKT terlalu mahal menghambat sebagian mahasiswa Universitas Tanjungpura terlebih mahasiswa Fakultas Teknik yang UKT-nya masih di anggap terlalu mahal, bayangkan saja beda kisaran angka dari UKT 2 ke UKT 3 sangatlah jauh untuk prodi yang baru dibentuk pada tahun 2013 seperti perencanaan wilayah dan kota (PWK), pertambangan, mesin dan kelautan. Jailani FKIP PKN 2017
Kurangnya pengawasan oleh pihak fakultas dalam pelaksanaan pembinaan mahasiswa baru, banyak mahasiswa baru yang mengalami kekerasan secara Emosional. Hal semacam ini sebenarnya tidak akan terjadi jika mahasiswa baru juga berperan dan paham tentang apa esensi dari Pembinaan mahasiswa baru. Karena pada masa ini mahasiswa baru pasti akan diperkenalakn dengan fenomena baru, dimana mereka akan diperkenalkan dengan Senior yang benar-benar berbobot, Senior yang hanya mencari-cari muka dan selalu ingin tampil, dan bahkan mereka yang maunya dihormati secara berlebihan. Ema Yanti FISIPOL Ilmu Komunikasi 2016
Adanya perpustakaan Fisip sedikit banyaknya memang telah mempermudah Mahasiswa dalam menempuh proses perkuliahan. Namun, masih banyak yang harus diperbaiki seperti keterbatasan koleksi buku di Fisip dan juga kerapian mulai dari susunan, dan pembagian buku yang sering tidak sesuai dengan judul rak buku perpustakaan. Natasya FMIPA Biologi 2017
Perkara di kampus ini adalah ruang kelas yang kurang nyaman. Kursi patah dan proyektor yang kurang baik. menurut saya hal tersebut dapat menganggu proses belajar mengajar yang terjadi, selai itu juga kurangnya gazebo di area MIPA lama, kurangnya gazebo tersebut membuat mahasiswa terkadang kebingungan jika ingin belajar di area luar kelas. Anggota Tetap: Wahyu, Riski, Tyas, Julio, Neldi, Febri, Lutfi, Ainun, Dayang, Femia, Mita, Dea, Bella, Yuda, Anggela, Ade,Rio Pratama
Divisi PSDM
: Riduansyah, Imam Firdaus, Sella Purwasi
Divisi Penerbitan
: Umi Tartilawati, Aris Munandar, Nurul R. Maulidia, M. Rezky Abrar Anggota Biasa: Iqbal, Yuli, Yoni, Farid, Huda, Nisa, Reza, Vika, Yola, Azmi, : Nurfidya A., D. Fauziah Stephani, Nia, Tri, Wanda, Nensi, : Fikri RF, Mislan Valdy, Nasida, Luthfi, Venti, Pandu, Fariz, Rizky, Nanik, Mar’a, Mala, : Sekar A.M, Lola Aprianti, Mila, Marlin, Olin, Lala, Suli, Icha, Sartika Sinta, Novi.
Pengurus LPM Untan 2018/2019
Divisi Penyiaran
Ketua Umum
: Adi Rahmad
Sekretaris Umum
: Laily Lutfiana D.
Divisi Litbang
Bendahara Umum
: Aini Lestari
Divisi Perusahaan
SUSUNAN REDAKSI TABLOID MIMBAR UNTAN EDISI 22
Pimpinan Redaksi: Imam Firdaus K.J. Sekretaris Redaksi: Nurul R. Maulidia. Bendahara Redaksi: Sella Purwasi. Fotografer: All Crew. Kontributor: Fitriyani. Ilustrasi: Wahyu Maulana Layouter: Wahyu Maulana.
Alamat Redaksi: Jl. Daya Nasional. Komp. MKU Untan Pontianak 78124, HP: 0857-4571-2846, Web: mimbaruntan.com, Email: mimbaruntan@gmail.com. Redaksi menerima tulisan berupa Opini, Essay, Laporan kegiatan kampus, Puisi, Cerpen, Hasil investigasi beserta foto dan caption. Tulisan diketik minimal 2 lembar A4. Redaksi berhak mengedit isi tulisan tanpa merubah makna.
M imbar Untan TABLOID
Perguruan Tinggi
Biaya pendidikan yang diterapkan di Perguruan Tinggi salah satunya adalah SPI yang merupakan singkatan Sumbangan Pengembangan Institusi adalah sumbangan yang diberikan oleh mahasiswa kepada perguruan tinggi yang bersifat wajib. Besaran ditentukan oleh perguruan tinggi yang sangat bermacam-macam. SPI bukan seperti UKT, karena SPI ini diberikan saat akan masuk ke perguruan tinggi yang sifatnya satu kali saja. SPI dapat diangsur selama empat semester. Salah satu kampus yang menerapkan SPI adalah Universita Udayana. Tepatnya akhir Mei 2018 muncul sebuah wacana adanya Sumbangan Pengembangan Institusi dengan nominal 10-150 juta di Universitas Udayana. SPI tersebut hanya dibebankan kepada mahasiswa baru yang masuk melalui jalur mandiri berdasarkan aturan dari Permenristekdikti. Pembayaran uang SPI ini belum termasuk Uang Kuliah Tunggal (UKT) yang harus dibayar setiap semester yang hanya dibatasi pada golongan empat dan lima. Universitasuniversitas lain pun turut dibebani oleh kebijakan serupa seperti Universitas Negeri Semarang dan Universitas Hasanuddin yang nominalnya bahkan berada di margin 30-200 juta. Secara resmi Universitas Tanjungpura (Untan) pada 6 Juni 2017 memungut biaya tambahan kepada mahasiswanya diluar dari
Uang Kuliah Tunggal (UKT) yang disebut dengan istilah Sumbangan Pengembangan Institusi (SPI). Maka secara mutlak mahasiswa yang masuk perkuliahan melalui jalur mandiri, bermula dari angkatan 2017 hingga saat ini dikenakan biaya tersebut.
sumber gambar: kisspng.com
Dilema P
Edisi XXI/LPM Untan/2019
mimbaruntan.com
Editorial
ermasalahan pendidikan nasional tak pernah usai. Lebih khusus lagi jika menyangkut masalah pembiayaan pendidikan, siapa pun mengakui makin mahalnya biaya untuk memasuki jenjang pendidikan saat ini. Memang tidaklah salah jika dikatakan pendidikan bermutu membutuhkan biaya. Namun persoalannya, daya finansial sebagian masyarakat di negeri ini masih belum memadai akibat rendahnya pendapatan yang dihasilkan. Tak dipungkiri bahwa masalah pendidikan di Indonesia dapat dikatakan masalah yang besar. Terutama masalah dana pendidikan itu sendiri. Amat disayangkan ketika pemerintah gagal dalam menyelesaikan masalah pendidikan. Karena masalah pembiayaan pendidikan akan menyangkut masalah tenaga pendidik, proses pembelajaran, sarana prasarana, pemasaran dan aspek lain yang terkait dengan masalah keuangan.
03
yang dihantui oleh biaya SPI terdiri dari mahasiswa asing, mahasiswa internasional, mahasiswa yang melalui jalur kerja sama, dan/ atau mahasiswa yang melalui seleksi jalur mandiri.
Memang bukan sebuah kebijakan yang aneh karena tidak hanya Untan saja namun relatif kebanyakan Perguruan Tinggi Negeri juga menerapkan kebijakan tersebut. Bahkan mungkin bisa dibilang lebih ganas meringkus mahasiswa, khususnya mahasiswa berkelas ekonomi rendah.
Sementara itu pada ayat kedua, pungutan ini tetap harus memerhatikan kemampuan ekonomi mahasiswa yang masuk melaui jalur mandiri semenjak ketetapan ini diberlakukan. Namun faktanya adalah hingga hari ini masih banyak mahasiswa yang merasa keberatan dengan adanya pengharusan biaya ini di Untan.
Ya, kedengarannya memang jauh lebih kejam daripada kebijakan di Universitas Tanjungpura, namun mari kita introspeksi bagaimana perbandingan fasilitas antara Untan dengan kampus-kampus besar tersebut tentu jauh berbeda. Memang bisa dibilang berlebihan jika Untan hanya mematok biaya SPI di kisaran 1 hingga 4 juta rupiah yang terbagi menjadi lima golongan.
Meskipun Untan sudah dilegalkan untuk menarik pungutan lain di luar UKT yang dibebankan oleh mahasiswa khususnya pada mahasiswa jalur mandiri haruslah sinkron dengan kemampuan ekonomi. Apalagi ditambah dengan besaran biaya UKT yang belum tentu sanggup dibayar oleh sebagian mahasiswa, terutama bagi mahasiswa ekonomi menengah ke bawah.
Meskipun Undang-undang Dasar dengan tegas menyatakan bahwa pendidikan adalah “hak” yang berarti kewajiban bagi negara untuk memenuhinya , d ibebankannya uang pangkal ke mahasiswa hanyalah salah satu ekspresi lain ketika pendidikan tinggi berada dalam jerat fundamentalisme pasar. Dalam artian bahwa pendidikan dan prasyarat untuk sejahtera adalah persoalan pribadi, dan bukan tanggung jawab sosial yang menjadi urusan negara. Logika tersebut adalah pondasi dari segala bentuk komersialisasi pendidikan saat ini.
Berpatok pada ayat terakhir dijelaskan bahwa PTN diberikan otonomi apabila jumlah mahasiswa baru yang masuk haruslah melihat persentasenya. Sesuai dengan ayat pertama, mahasiswa yang dilegalkan untuk dikenakan biaya SPI paling banyak 30% dari kesuluruhan mahasiswa baru di universitas tersebut. Tapi kenyataannya di Untan mahasiswa yang menyandang SPI mencapai persentase lebih dari 50% pada tahun 2017. Lalu apa kabar tahun 2018?
Berdalih pada peraturan Permenristekdikti RI Nomor 39 Tahun 2017 tentang Biaya Kuliah Tunggal dan Uang Kuliah Tunggal pada Perguruan Tinggi Negeri di Lingkungan Kementrian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi, tepatnya tercantum pada pasal 8 yang menyatakan bahwa PTN dapat memungut uang pangkal dan/ atau pungutan lain selain UKT. Hal inilah yang mendasari Untan menerapkan SPI dengan alibi sebagai sarana dalam meningkatkan mutu perkuliahan. Beranjak pada ayat pertama dalam pasal delapan menjelaskan bahwa PTN diberikan kewenangan penuh untuk menerapkan biaya perkuliahan diluar UKT, dalam hal ini adalah SPI kepada mahasiswa. Mahasiswa
Hal ini lah yang menjadi paradoks SPI di Untan dengan mengatasnamakan demi meningkatkan mutu perkuliahan berdasarkan pemenristekdikti ini. Namun masih adanya ketidaksesuaian yang nyaris tak terlihat. Ini masih dapat disangkal, bahwa penyebab paradoks atas kelebihan jumlah mahasiswa yang menyandang SPI karena pengalokasian kuota mahasiswa yang berhasil menduduki kursi di Untan. Besarnya biaya yang tertumpuk dengan UKT membuat beberapa mahasiswa merasa keberatan dengan kondisi ekonomi yang nyaris tak teratasi. Inilah yang menjadikan mahasiswa ini jadi mau tak mau harus menerima tarif SPI yang bervariasi demi bisa menduduki perkuliahan di Untan, khususnya mahasiswa menengah kebawah.
M imbar Untan
04
TABLOID
Kritis, Ilmiah, Religius, Independen.
mimbaruntan.com
Mimbar Utama
Masalah
di UNTAN Oleh: Imam Firdaus K.J Sesuai Keputusan Rektor Universitas Tanjungpura Nomor 2354/UN22/KU/2017 yang ditetapkan pada 6 Juni 2017 lalu, Universitas Tanjungpura resmi memberlakukan pemungutan biaya Sumbangan Pengembangan Institusi (SPI) bagi mahasiswa jalur mandiri mulai dari angkatan 2017 Program Sarjana S1 dan Program Diploma. Namun apakah dalam pelaksanaannya di lapangan sudah sesuai dengan isi dari Permenristekdikti No 39 Tahun 2017?
P
ada poin kedua Surat Keputusan tersebut dijelaskan bahwa Sumbangan Pengembangan Institusi (SPI) merupakan sumbangan pengembangan yang ditanggung mahasiswa jalur Ujian Mandiri Program Sarjana S1 dan Program Diploma Universitas Tanjungpura yang dibayarkan 1 kali selama masa perkuliahan dan diangsur dalam 4 semester. Kemudian pada poin ketiga disebutkan bahwa besaran nilai Sumbangan Pengembangan Institusi (SPI) untuk Program Reguler berdasarkan kelompok Uang Kuliah Tunggal (UKT). Sedangkan untuk Program Percepatan Angka Partisipasi Kasar (PPAPK) berdasarkan kelompok dari hasil penilaian verifikasi Sumbangan Pengembangan Institusi (SPI). Sumbangan Pengembangan Institusi (SPI) masih berlaku hingga saat ini. Artinya juga diberlakukan untuk mahasiswa Angkatan 2018 dengan kriteria yang sama dengan tahun sebelumnya. Permenristekdikti No 39 Tahun 2017, yang diundangkan pada tanggal 2 Juni 2017 mengatur tentang Biaya Kuliah Tunggal (BKT) dan Uang Kuliah Tunggal (UKT) pada Perguruan Tinggi Negeri (PTN) di lingkungan Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti). Pada pasal 8 ayat 1 yang pada intinya berbunyi, “Perguruan Tinggi Negeri dapat memungut uang pangkal dan/atau pungutan lain selain UKT dari mahasiswa baru Program Diploma dan Program Sarjana bagi mahasiswa asing, mahasiswa kelas internasional, mahasiswa yang melalui jalur kerja sama dan/atau mahasiswa yang melalui seleksi jalur mandiri. Dijelaskan pula pada ayat 3 bahwa jumlah mahasiswa baru S1 dan D3 sebagaimana yang
tertera pada ayat (1) paling banyak 30% dari jumlah keseluruhan mahasiswa yang masuk jalur mandiri. Menurut fakta tersebut artinya sebuah Perguruan Tinggi Negeri diperbolehkan memungut biaya selain UKT kepada mahasiswa yang melalui seleksi jalur mandiri paling banyak 30% dari keseluruhan mahasiswa yang masuk melalui jalur mandiri. Menurut data yang dilansir dari laman resmi Untan (http://service.untan. ac.id:8888/$/), jumlah mahasiswa baru tahun ajaran 2018/2019 berjumlah 6.490 mahasiswa. Masuk melalui jalur SNMPTN berjumlah 19,66 persen atau 1.276 mahasiswa. Sedangkan melalui jalur SBMPTN berjumlah 26,27 persen atau 1.705 mahasiswa. Sisanya, yaitu 3.509 atau 54,07 persen masuk ke Untan melalui jalur Mandiri.
“
Hal ini yang menyebabkan persentase tersebut kelihatan melebihi angka yang ditetapkan, padahal secara kumulasi masih tidak berubah atau masih sesuai dengan yang ditentukan
Kepala Biro Administrasi Keuangan (BAK) Mansyur
Melihat persentase tersebut, ada indikasi Untan telah melewati ambang batas jalur masuk yang termuat dalam Permenristekdikti No 39 tahun 2017 yang artinya ada kejanggalan dalam pelaksanaan kebijakan yang menerapkan pemungutan Sumbangan Pengembangan Institusi (SPI).
ke dalam daya tampung SBMPTN, peserta yang tidak melakukan registrasi rata-rata berkisar 20-25% sehingga sisa kursi tersebut kemudian ditambahkan kembali ke dalam daya tampung seleksi Mandiri,” ungkapnya dalam wawancara tertulis kepada reporter LPM Untan.
Mansyur selaku Kepala Biro Adiminstrasi Keuangan (BAK) Untan menjelaskan bahwa kondisi mahasiswa jalur mandiri yang melebihi dari ketentuan Permenristekdikti dikarenakan kuota dari dua jalur masuk sebelumnya, yakni SNMPTN dan SBMPTN tidak terpenuhi. Maka dialokasikan ke jalur berikutnya.
Mansyur juga mengatakan bahwa di dalam seleksi mandiri tidak hanya melakukan seleksi untuk program reguler. Tetapi juga terdapat Program Percepatan APK-PT dan Pendidikan Vokasi. “Hal ini yang menyebabkan persentase tersebut kelihatan melebihi angka yang ditetapkan, padahal secara kumulasi masih tidak berubah atau masih sesuai dengan yang ditentukan,” tulisnya.
“Betul adanya bahwa kuota telah ditetapkan sesuai ketentuan Permenristekdikti No.39 Tahun 2017, namun setelah pengumuman kelulusan SNMPTN peserta yang tidak melakukan registrasi rata-rata berkisar 2025% dari jumlah yang dinyatakan lulus. Kursi yang tidak terisi ini kemudian ditambahkan
Di sisi lain Kepala Biro Umum dan Keuangan (BUK) Herilasti Pujiningsih juga menjawab persoalan ini. Ia mengatakan bahwa dalam penentuan Uang Kuliah Tunggal (UKT) per semester Untan berpatokan pada
M imbar Untan
05
TABLOID
Edisi XXI/LPM Untan/2019
mimbaruntan.com
Biaya Kuliah Tunggal (BKT) yang merupakan nominal biaya kuliah maksimal dan telah ditetapkan oleh pemerintah. Ia mengungkapkan Untan hanya mengambil sekitar 30% dari ketentuan maksimal BKT di setiap Prodi. Ketentuan ini dapat dilihat dalam Permenristekdikti No.22 Tahun 2015. Oleh karena itu, Untan memberlakukan SPI untuk menyubsidi kekurangan pungutan UKT yang hanya memungut sekitar 30% saja dari batas nominal maksimal. Mahasiswa juga ikut menanggapi perihal SPI ini. Aditya mahasiswa Angkatan 2017 Prodi Teknik Kelautan Reguler A mengatakan bahwa SPI ini sangat memberatkan
belum lagi ia juga harus membayar UKT yang nominalnya hampir 8 juta dan ditambah lagi ia sendiri tidak mengetahui alokasi dari dana SPI ini. “Saya tidak tahu alokasi dana dan sangat memberatkan dimana UKT saya saja sudah hampir 8 juta,” tulisnya dalam survei yang kami lakukan. Disisi lain, Hakim mahasiswa Angkatan 2018 Program Studi Pendidikan Matematika juga mengeluhkan dengan adanya biaya pemungutan SPI ini. “Jadi gini saya ini dari keluarga yang kurang mampu dan waktu dari sistem pembayaran saya tiba-tiba kena UKT 5 menurut saya itu semua tidak adil. Orang tua saya itu mikir gimana caranya agar saya
ini untuk tetap kuliah. Sudahlah kena UKT 5, ditambah lagi SPI. Apakah pihak Untan tidak ada kasihannya?” ungkapnya. Selain pengetahuan terkait alokasi dana SPI, tidak sedikit pula mahasiswa yang mengeluhkan fasilitas Untan yang dirasa sama saja semenjak diberlakukannya SPI. “Saya sebenarnya setuju dengan adanya SPI di Universitas Tanjungpura tetapi Untan juga harus memadai fasilitasnya dong jika ingin adanya SPI,” kata seorang mahasiswi Angkatan 2018 Dhitya Dwi Program Studi Pembangunan Sosial.[]
Penggolangan SPI di Fakultas dirincikan sebagai berikut:
Nama Fakultas
Kelompok SPI
Tarif/Semester (Rp)
Hukum
Sesuai hasil verifikasi UKT
-
Ekonomi
Sesuai hasil verifikasi UKT
-
Pertanian
Sesuai hasil verifikasi UKT
-
Teknik
Sesuai hasil verifikasi UKT
-
ISIP
Sesuai hasil verifikasi UKT
-
KIP
2
250.000
Kehutanan
Sesuai hasil verifikasi UKT
-
MIPA
Semua hasil verifikasi UKT
-
Kedokteran
5
1.000.000-
Berikut ini adalah Tarif Sumbangan Pengembangan Institusi untuk mahasiswa baru PPAPK 2018 Universitas Tanjungpura:
Nama Fakultas
Kelompok SPI
Tarif/Semester (Rp)
Hukum
5
1.000.000
Ekonomi
1
125.000
Pertanian
1
125.000
Teknik
5
1.000.000
ISIP
4
750.000
KIP
2
250.000
Kehutanan
-
-
MIPA
-
-
Kedokteran
5
1.000.000-
06
M imbar Untan TABLOID
Kritis, Ilmiah, Religius, Independen.
mimbaruntan.com
Mimbar Kampus
Kejelasan Sumbangan Pengembangan Institusi Fakultas Kehutanan Penerapan Sumbangan Pengembangan Institusi (SPI) resmi diterapkan oleh Universitas Tanjungpura Pontianak pada awal 2017. Hal ini merujuk pada Permenristekdikti nomor 39 tahun 2017 tentang Biaya Kuliah Tunggal (BKT) dan Uang Kuliah Tunggal (UKT), memungkinkan Perguruan Tinggi Negeri (PTN) memungut sumbangan di luar UKT dari calon mahasiswa yang masuk melalui jalur mandiri.
B
erdasarkan Surat Keputusan Rektor Untan Nomor 2354/UN22/KU/2017 tentang Sumbangan Pembangunan Institusi (SPI) mahasiswa angkatan tahun 2017 jalur ujian mandiri program sarjana S1 dan diploma Universitas Tanjungpura menyatakan bahwa, tarif SPI yang dibebankan kepada mahasiswa disesuaikan dengan pengelompokan SPI yang telah ditetapkan pihak fakultas. Pengelompokan atau penggolongan ini terdiri dari kelompok SPI satu hingga kelompok SPI lima. Berangkat dari SK ini seluruh fakultas di Untan pun menerapkan SPI tanpa terkecuali. Fakultas Hukum, Teknik dan Kedokteran menerapkan penggolongan SPI kelompok ke lima. Sehingga mahasiswa angkatan 2017 dan 2018 dikenakan pembayaran sebesar empat juta rupiah dan dapat dicicil dengan tarif satu juta rupiah per semester, dalam kurun waktu empat semester. Sedangkan Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (Fisip) menerapkan penggolongan SPI kelompok empat dengan jumlah yang harus dibayar mahasiswa sebesar tiga juta rupiah dan dapat dicicil selama empat semester dengan tarif tujuh ratus lima puluh ribu rupiah. Untuk Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) biaya SPI yang harus ditanggung oleh mahasiswa sebesar satu juta rupiah dan dapat dicicil selama empat semester dengan biaya dua ratus lima puluh ribu rupiah. Sementara itu, di Fakultas Ekonomi dan Pertanian menerapkan SPI kelompok ke satu. Dalam hal ini mahasiswa dikenakan tarif sebesar lima ratus ribu rupiah dan dapat dicicil dengan kurun waktu yang sama sebesar seratus dua puluh lima ribu rupiah. Lain halnya dengan Fakultas Kehutanan dan Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) yang penggolongannya tidak tercantum dalam SK rektor. Kedua fakultas ini menerapkan penggolongan biaya SPI berdasarkan pengelompokan Uang Kuliah Tunggal (UKT). Mahasiswa jalur mandiri angkatan 2017 dan 2018 yang mendapat UKT kelompok tiga secara otomatis dikenakan tarif SPI golongan tiga, dan seterusnya.
Oleh: D. Al-Fauziah Terkait penerapan SPI Mahasiswa Fakultas Kehutanan mengakui tidak mendapatkan sosialisasi . Hal ini turut disampaikan Rezki mahasiswa 2017 yang saat ini belum mengetahui sistem penggolongan SPI. “Kalo sosialisasi sebelum masuk tidak ada. Cuma pemberitahuan saat pembayaran di formulir bahwa ada pembayaran lain selain UKT,” katanya. Hal yang diketahui Rezki terkait SPI yakni pembayaran gedung yang dibebankan untuk mahasiswa yang masuk kuliah melalui jalur mandiri. “Uang masuk pembayaran gedung dan itu ditanggung oleh mahasiswa mandiri 1 dan 2 kalau lebih jelasnya saya kurang tahu, soalnya kalau menurut saya ini berkaitan dengan UKT dan mungkin karena saya UKT tingkat 5 jadi SPI-nya satu juta per semester. Ga tau kalo UKT di bawah saya dapat SPI berapa,” katanya. Hal serupa juga disampaikan Sasa mahasiswi Kehutanan angkatan 2107, ia mengira bahwa SPI yang dibebankan kepada mahasiswa jalur mandiri dengan kelompok UKT 5 hanya dilunasi satu kali selama perkuliahan berlangsung. “SPI itu sumbangan untuk pembangunan gedung dan awalnya saya kira SPI ini hanya dibayar 1 juta sekali saja.
Ternyata pembayarannya selama 4 se m e st e r. Dan untungn y a orang t u a saya tidak mempermasalahkan. Namun bagaimana dengan orang tua yang pendapatnya rendah, pasti anaknya dibilang pembohong,” tegas Sasa pada reporter.
“
Kehutanan yang benar karena sudah sesuai SK rektor. Karena ada SK kayak gitu makanya kami ikuti SK Rektor. Yang lain itu yang salah karena tidak mengikuti SK Rektor Wakil Dekan II Fakultas Kehutanan Farah Diba Kondisi SPI Fakultas Kehutanan
Menyoal SPI yang penggolongannya tidak tercantum dalam SK rektor ,untuk mengklarifikasi hal tersebut, reporter bertemu dengan Gusti Hardiansyah selaku Dekan Fakultas Kehutanan. Ketika dimintai penjelasan terkait penggolongan SPI Gusti mengatakan bahwa dirinya tidak memahami isu tersebut. “Untuk isu sumbangan ini, langsung ke Wakil Dekan saja,” ujarnya, (12/11). Reporter kembali menemui Wakil Dekan II Fakultas Kehutanan Farah Diba. Ia menjelaskan terkait penggolongan tersebut Fakultas Kehutanan sudah melakukan penerapan SPI sesuai SK rektor. Perbedaan penerapan di berbagai fakultas menurutnya hal yang lumrah, hal ini dikarenakan kewenangan penetapan penggolongan SPI di serahkan kepada masing-masing dekan fakultas, termasuk Fakultas Kehutanan. “Itu kan tergantung dekannya masing-masing di setiap fakultas. Alasan kenapa beda dari SK Pak Rektor tapi tetap saja dekan yang menentukan,” tambahnya (15/1). Selanjutnya Farah membantah terkait penggolongan yang tidak terdaftar dalam lampiran SK Rektor. Menurutnya Fakultas Kehutanan telah mengikuti SK Rektor sesuai dengan apa yang telah tercantum di dalamnya. “Kehutanan yang benar karena sudah
M imbar Untan
07
TABLOID
Edisi XXI/LPM Untan/2019
mimbaruntan.com
sesuai SK rektor. Karena ada SK kayak gitu makanya kami ikuti SK Rektor. Yang lain itu yang salah karena tidak mengikuti SK Rektor,” bantahnya. Pembayaran Berkala Untuk Mahasiswa Kurang Mampu Untuk meringankan mahasiswa yang mendapat SPI, Farah menegaskan dari pihak universitas telah menerapkan program cicilan untuk mahasiswa yang kurang mampu dalam melunasi SPI dengan cara mengajukan surat pernyataan cicilan kepada Rektor. “ Jika ada mahasiswa yang tidak mampu membayar bisa dicicil. Karena ada program cicilan dengan mengajukan surat ke Rektor,” jelasnya. Hal tersebut dibenarkan oleh Kepala Biro Umum dan Keuangan (BUK) Untan, Herilasti Pujiningsih. Untan telah menerapkan sistem cicilan bagi mahasiswa yang merasa kurang mampu dan terbebani atas biaya SPI yang wajib dibayar. “Sekarang kan sudah bisa
dicicil, apalagi Untan ini universitas yang biaya kuliahnya paling murah se-Indonesia raya,” jelasnya.
pendidikan di fakultas tersebut,” ujar orang nomor satu di Untan kepada reporter disela kesibukannya.
Ningsih mengakui ketidaktahuan mahasiswa terkait bagaimana sebenarnya penerapan SPI di tiap fakultas adalah kurangnya sosialisasi. Saat ini Pihak Untan masih merencanakan dan mengupayakan agar sosialisasi terkait SPI ini dapat terwujud salah satunya melalu web. Agar mahasiswa dapat mengakses informasi terkait hal ini. “Untuk sosialisasi jika memang masih tidak bisa terlaksana nanti akan kami buatkan web untuk mahasiswa jadi bisa akses di sana,” ujarnya (13/2).
Thamrin pun menambahkan, pihak rektorat hanya menerima laporan yang dilaporkan fakultas saja terkait pelaksanaan SPI. “Kita hanya dapat laporan saja, yaitu laporan keuangan dan laporan penggunaan,” tambahnya. Terkait penggolongan SPI yang berbeda di setiap fakultas, Thamrin tidak dapat memberikan penjelasan lebih lanjut. Ia menilai bahwa dekan yang menjabat di fakultas telah diberikan kewenangan dalam hal ini, “terkait tentang pengelompokan SPI saya tidak bisa jawab. Karena sudah saya serahkan sepenuhnya kepada fakultas, saya hanya melegalkan SK. Semua urusan pertanggungjawaban dan penggunaannya merupakan urusan fakultas. Jika terjadi missorientasi itu urusan fakultas,” tuturnya (27/1).[]
Thamrin Usman selaku Rektor Untan mengatakan penerapan SPI di setiap fakultas bergerak untuk meningkatkan kualitas layanan pendidikan. “Jadi sebenarnya dana itu sepenuhnya kembali ke fakultas. Dan itu bertujuannya untuk membantu fakultas dalam meningkatkan kualitas layanan
Mimbar Jepretan
WAJAH BARU UNTAN
U
niversitas Tanjungpura tampil dengan wajah baru, proyek yang merupakan pendanaan dari Islamic Development Bank (IsDB) dengan skema The Development and Upgrading of Seven Universities in Improving The Quality and Relevance of Higher Education in Indonesia yang disingkat 7 in 1 Project berhasil diresmikan.
: Foto
i Verd i d l Ne
an
08
Kritis, Ilmiah, Religius, Independen.
M imbar Untan TABLOID
mimbaruntan.com
Mimbar Khusus
Bank Sampah
S
ebanyak 400 ton sampah setiap harinya dihasilkan oleh masyarakat Pontianak. Tidak hanya di daratan, sampah juga mencemari Sungai Kapuas. Butuh penanganan khusus untuk mengelola sampah. Alif (21) warga Kelurahan Banjar Serasan yang sejak lahir tinggal di kawasan tepian kapuas mengeluhkan berbagai macam sampah yang dibuang ke sungai. Menurutnya sampah ini sangat mengganggu sehingga perlunya pengelolaan yang efektif untuk mengurangi volume sampah. ”Di sini sampah banyak sekali, ini biasanya sampah yang dibuang di sungai, hanyut dan pasang surut air biasanya sampah bisa masuk ke kolong rumah warga,” ungkapnya. Alif meneruskan, meskipun warga setempat sudah membuang sampah pada tempatnya, akan tetapi sampah kiriman yang terbawa oleh arus sungai tetap saja menjadi momok bagi masyarakat Kelurahan Banjar Serasan. “Kadang bingung juga, masalah sampah ini kan bukan hanya satu atau dua orang yang merasakan, tapi kita semua,” lanjutnya. Keresahan tidak hanya disampaikan oleh Alif, Ani (58) warga setempat juga mengeluhkan hal yang sama. Pria yang sudah 33 tahun tinggal di Desa Kampung Kapur Kelurahan Banjar Serasan ini menjelaskan kondisi lingkungan tidak separah saat ini. Menurutnya sampah yang dihasilkan setiap rumah warga jika tidak dikelola dengan baik akan berdampak buruk. “Biasenye kami bakar sampah tu, bakarnye di depan rumah, kadang kalau di belakang rumah tanahnye basah lah, kalau kering sih biase dibakar di belakang rumah,” tuturnya. Sementara Rakiah (55) yang juga warga Gg Mendawai Kelurahan Bansir Laut menyampaikan hal serupa, membicarakan sampah sudah sering dilakukan. Sayangnya dari berbagai pihak terkait masih belum menanggapi persoalan sampah dengan serius. ”Jadi itulah kesulitan kami dalam pengelolaan sampah, terutama yang ada di bawah-bawah rumah,” ungkapnya. Pengelolaan Sampah oleh Bank Sampah Inovasi yang sudah dilakukan dan menjadi bagian dari program penanganan dan
Upaya Masyarakat Atasi Sampah Oleh: Nurul R Maulidia
pengurangan sampah yang ada di Pontianak saat ini oleh Pemerintah Kota adalah membentuk Bank Sampah yang tersebar di berbagai kelurahan di Kota Pontianak. Saat ini, ada sebanyak 14 Disisi lain, Bank Sampah Rosella adalah satu di antara Bank Sampah lainnya yang telah berhasil memberdayakan masyarakat sekitar untuk mengelola sampah. Letaknya berada di Komplek Purnama Agung VII, Blok M No. 15A Kelurahan Parit Tokaya, Kecamatan Pontianak Selatan. Bank sampah ini diketuai langsung oleh ketua RT setempat yaitu Simin (48). Bank sampah Rosella yang didirikan pada tahun 2013 ini telah banyak meraih penghargaan baik dari nasional maupun internasional. Ketika ditemui oleh reporter di lokasi bank sampah, Simin yang ketika itu sedang sibuk dengan pekerjaannya melayani agen sampah, menyempatkan diri untuk bercerita mengenai perjalanan terbentuknya Bank Sampah Rosella, sambil menulis beberapa catatan hasil timbangan sampah yang akan diberikan kepada agen. Awalnya masyarakat kesulitan untuk mengelola sampah secara terus menerus, namun ketika dilakukan sosialisasi masyarakat akhirnya mulai paham dalam memilah sampah organik dan anorganik. ”Sekitar Tahun 2011-2012 dibentuklah tempat untuk mengelola sampah organik yang dibangun oleh Dinas Kebersihan (red: sekarang Dinas Lingkungan Hidup (DLH) dan dikelola oleh masyarakat sekitar. Produk yang dihasilkan dari pengelolaan sampah organik tersebut berupa pupuk kompos dari alat komposter komunal,” katanya pada reporter. Saat ini kegiatan inovasi kelurahan dalam pengelolaan sampah melalui Bank Sampah Rosella sudah memiliki kurang lebih 200 nasabah dari masyarakat setempat, pihak swasta, instansi pemerintahan. Bahkan, Bank Sampah Rosella sering mengikuti kegiatan-kegiatan seperti pameran, baik yang diselenggarakan oleh pemerintah maupun pihak swasta untuk menjual produk-produk hasil olahan Bank Sampah, dan telah beberapa kali menjual barang mentahnya kepada pengepul yang siap menampung sampah yang ada.
Pembuatan produk-produk yang dihasilkan oleh kader-kader, dilakukan di kediaman masing-masing. Namun, tidak menutup kemungkinan jika masyarakat luar yang ingin belajar tentang pembuatan kerajinan dari barang bekas dapat juga dilakukan di Bank Sampah Rosella, yang akan di bimbing langsung oleh para kader. Bank Sampah Rosella kini berfokus pada pengelolaan sampah anorganik. Namun, tidak menutup kemungkinan akan menerima sampah organik untuk dikelola menjadi pupuk kompos menggunakan komposter komunal. Kader-kader Bank Sampah juga turut mengedukasi warga sekitar untuk mengedukasi cara mengolah sampah organik dari alat komposter komunal yang telah disediakan oleh kelurahan di kediaman warga setempat. Simin sempat mengungkapkan bahwa kesuksesan Bank Sampah Rosella ini karena adanya kekompakan sesama tim, dengan sistem manajemen terbuka. Seperti halnya pada hasil penjualan produk dan sistem keuangannya. “Kunci kita beberapa tahun ini masih solid, karena kita memakai sistem manajemen terbuka. Terutama masalah keuangan dari hasil penjualan produk,” ungkapnya. Adanya kepedulian dari masyarakat mengenai sampah, terlebih masyarakat yang sudah mengerti cara memilah sampah organik dan anorganik, atau pemilahan sampah yang masih dapat dimanfaatkan dan yang harus dibuang ke TPS menjadi harapan bagi Simin. Sesuai pada tujuan utama dari terbentuknya Bank Sampah Rosella ini yaitu untuk mengurangi volume sampah di Kota Pontianak. “Jika seluruh warga sudah paham dengan baik, otomatis tujuan kita tercapai,” ucapnya. Ia berharap agar seluruh masyarakat dapat bahu-membahu, dalam mengedukasi dan memperingatkan kepada masyarakat tentang bahaya sampah jika dibiarkan dan keuntungan dari sampah bila dimanfaatkan dengan baik. Selain Bank Sampah Rosella ada juga Bank Sampah Berkah Mendawai yang terletak di Gang Mendawai III, Kelurahan Bansir Laut. Hasil produksi dari Komunitas Bank Sampah Berkah Mendawai yakni pupuk cair dari alat komposter. Alat tersebut dapat menampung
M imbar Untan
09
TABLOID
Edisi XXI/LPM Untan/2019
mimbaruntan.com
“
Daerah mendawai ini kan sudah mau dijadikan tempat wisata caping, jadi ndak enak kalau keliatan banyak sampah same orang-orang luar yang datang. Tapi itu susahnya, warga di sini sudah kayak terbiasa membuang sampah langsung ke bawah kolong rumah yang dialiri air sungai, biarpun sudah ada tempat sampah di masing-masing rumah warga, Ketua Bank Sampah Berkah Mendawai Maryamah
sampah-sampah organik yang ada di sekitar lingkungan warga tersebut. Komposter yang terbuat dari drum plastik dimodifikasi dengan selang dan penyaring yang ada di bagian dalam drum. Alat komposter ini bekerja dengan cara sederhana. Agar tidak terlalu bau, Ibu-ibu di sana membuat sampah organik yang dimasukkan ke dalam komposter yang dicampuri air dengan bahan campuran seperti terasi, gula dan air sungai. Setelah itu, sampah organik hasil dari limbah bahan rumah tangga dimasukkan ke dalam drum. Proses penghancuran memakan waktu berhari-hari, hingga sampah hancur secara otomatis dan mengeluarkan cairan melalui selang kecil yang terpasang di bawah drum. Cairan tersebutlah yang digunakan sebagai sari pupuk organik yang dapat digunakan pada tanaman. Selain cairan yang dihasilkan, sampah padat yang telah diproses dalam drum dapat digunakan sebagai pupuk kering. Ada sebanyak 3 komposter yang dipasang dan diuji coba dalam 2 bulan terakhir ini. Namun, masih minim bantuan dari warga sekitar untuk turut mengelola alat komposter ini. Komunitas bank sampah berkah mendawai yang beranggotakan sepuluh orang, hanya empat hingga lima warga saja yang terbilang aktif. Hal inilah yang membuat ibu-ibu di sana merasa kurang mendapat
dukungan lebih. Maryamah (33) Ketua Bank Sampah Berkah Mendawai menuturkan meski Bank Sampah telah hadir ditengah-tengah masyarakat, akan tetapi kesadaran dari masyarakat untuk tidak membuang sampah di sungai masih kurang. Ia mengeluhkan kebiasaan masyarakat masih membuang sampah di sungai meskipun sudah ada tempat-tempat sampah yang disediakan. “Daerah mendawai ini kan sudah mau dijadikan tempat wisata caping, jadi ndak enak kalau keliatan banyak sampah same orang-orang luar yang datang. Tapi itu susahnya, warga di sini sudah kayak terbiasa membuang sampah langsung ke bawah kolong rumah yang dialiri air sungai, biarpun sudah ada tempat sampah di masing-masing rumah warga,” keluhnya. Sampah-sampah yang dibuang sembarangan tidak lain berasal dari sampah rumah tangga pemukiman di daerah mendawai. Kurangnya kesadaran masyarakat sekitar yang membuat komunitas Bank Sampah ini belum optimal untuk menjalankan fungsinya. Bank sampah yang dikelola oleh Ibu-ibu ini masih menggalakkan himbauan kepada warga sekitar untuk ikut aktif memberdayakan bank sampah, namun hingga saat ini yang bisa mereka lakukan hanya dengan sistem jemput sampah masing-masing ke rumah warga. Dengan cara seperti itu, diharapkan
warga-warga yang masih belum berpartisipasi dapat tergerak untuk membantu menjaga kebersihan lingkungan. Dadang Fitrajaya, Kepala Bidang Revitalisasi lingkungan dan Pengembangan Kapasitas Dinas Lingkungan Hidup Kota Pontianak mengatakan bahwa pihak DLH masih berupaya untuk mendampingi dan membina bank-bank sampah dalam pemasaran produknya. “Bank sampah ini yang mengelola adalah kelompok-kelompok masyarakat, bukan kami. Namun kami masih mengupayakan agar produk yang dihasilkan oleh bank-bank sampah dapat dipasarkan secara maksimal. Kita masih melakukan pendampingan dan pembinaan dengan mereka, seperti memberi link kepada BUMN dan sebagainya,” ujarnya, Senin (11/3). Lita Luki, selaku seksi Pengelolaan Sampah Berbasis Masyarakat dari Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Pontianak berharap agar masyarakat dapat berperan aktif dan membantu mengelola sampah dengan benar sehingga di tahun mendatang, Kota Pontianak berhasil menangani sampah dan menjadi kota dengan penghargaan Adipura. “Kebijakan strategi daerah dalam pengelolaan sampah mempunyai target 2018-2020, Pontianak menjadi bebas sampah atau berhasil menangani sampah,” pungkasnya.[]
M imbar Untan
10
TABLOID
Kritis, Ilmiah, Religius, Independen.
mimbaruntan.com
Mimbar Opini
Peran sarjana Peternakan serta Pemerintah dalam Membantu Menyejahterakan Peternak Tradisional
Oleh: Fitriyani (kontributor) Mahasiswa Fakultas Pertanian Angkatan 2016
sumber gambar: kisspng.com
P
endidikan hanya menghasilkan orang pintar namun kurang peduli terhadap kehidupan masyarakat terpencil.
Saat ini banyak sekali terjadi kasus yang sangat merugikan masyarakat khususnya para peternak tradisional. Hal ini terjadi karena kurangnya pengetahuan yang seharusnya didapat dari mereka (Orangorang yang mengenyam pendidikan dibidang itu sendiri/bergelar sarjana namun lupa akan tanggung jawabnya),melihat fenomena-fenomena yang terjadi saat ini sepertinya ada yang harus dibenahi dari pola pendidikan formalnya. Pola pendidikan hanya mengajarkan ilmuilmu dunia sehingga banyak menghasilkan orang-orang pintar tetapi sayangnya tidak memiliki rasa kepedulian terhadap kalangan masyarakat khususnya dibidang yang ditekuninya. Akibatnya orang-orang pintar tersebut malah menjadi orang yang mementingkan persoalan kerjanya tanpa mau peduli dan berbagi ilmu yang dimiliki, padahal seharusnya merekalah yang menjadi penolong untuk menciptakan kesejahteraan di kalangan peternak tradisional. Padahal kita ketahui bahwa peran peternakan bagi masyarakat luas sangatlah penting, adapun peranan yang penting dalam pembangunan yaitu: 1. Peternakan untuk menyediakan pangan terutama untuk memenuhi kebutuhan rakyat akan protein hewani. 2. Peternakan untuk sumber pendapatan dan kesempatan kerja 3. Peternakan untuk usaha pertanian yang berkelanjutan dan perbaikan lingkungan hidup 4. Peternakan untuk pengentasan masyarakat dari kemiskinan. Namun pada kenyataannya bidang peternakan sekarang ini belum mampu secara optimal dalam menjalankan peran strategis seperti yang terdapat pada poin-poin diatas. Terlebih lagi saat ini banyak ditemukan kasus dimana peternak tradisional yang seharusnya mendapat keuntungan malah balik memperoleh kerugian yang cukup besar. Hal ini terjadi karena kurangnya pengetahuan
yang didapat, salah satu contoh dimana seharusnya ternak yang dimiliki dapat menghasilkan pundi-pundi rupiah yang menjanjikan tetapi karena kurangnya pengetahuan, kerugianlah yang didapatkan. Saat ini perlu banyak peran sarjana peternakan untuk memberi pengetahuan seputar peternakan, kesadaran dari tiap-tiap individu lebih diperlukan karena jika kesadaran itu dimiliki maka tanggung jawab mereka sebagai penyalur pengetahuan akan terlaksanakan dengan baik. Begitu pula dengan peran pemerintah sangat dibutuhkan dengan cara memperbanyak lulusan peternakan untuk diberi kesempatan kerja namun siap ditempatkan di daerah terpencil sekalipun, dimana di daerah terpencillah pengetahuan seputar peternakan sangat diperlukan oleh masyarakat, hal-hal mengenai cara pemeriksaan kebuntingan pada ternak ruminansia serta pengetahuan seputar penyakit pada ternak, dan masih banyak yang lainnya. Upaya untuk membangun bina desa juga perlu dilakukan dari tiap individu maupun Pemerintah sendiri, dengan demikian diharapkan dapat lebih membantu dalam kesejahteraan masyarakat desa yang menggantungkan harapan dengan menanam modal dengan cara memelihara ternak untuk kemudian dijual kembali khususnya ternak sapi dimana dapat kita ketahui merupakan ternak dengan harga yang sangat menjanjikan baru-baru ini harga daging sapi ditafsir kisaran Rp.120.000-150.000 per-kg nya, cukup menjanjikan apabila dijual di pasar, namun sebaliknya terkadang peternak yang menjual sapi per ekorlah yang merugi apabila dijual ke pedagang pasar, terutama dari segi bobot badan sapi yang tidak sesuai dengan biaya yang dikeluarkan untuk memeliharanya, belum lagi banyak ditemukan pada saat penyembelihan hewan di pedagang pasar terdapat ternak sapi yang sedang bunting dan kerugian yang amat besar untuk peternak itu sendiri karena tidak mengetahui bahwa ternak uang dijual sedang dalam keadaan bunting apabila peternak itu paham cara mengetahui ternak dalam keadaan bunting mungkin keuntungan berlipat akan diperoleh jika peternak tidak menjual ternak sapi tersebut dan memelihara kembali ternaknya hingga melahirkan. Selain itu juga dapat mengurangi tingkat pengangguran di daerah tersebut apabila saja sudah dapat dikatakan berkembang dengan adanya bantuan dari
“
Pola pendidikan hanya mengajarkan ilmu-ilmu dunia sehingga banyak menghasilkan orangorang pintar tetapi sayangnya tidak memiliki rasa kepedulian terhadap kalangan masyarakat khususnya dibidang yang ditekuninya.
pemerintah dengan memberi kesempatan kerja kepada mereka para lulusan dibidangnya untuk membagikan pengetahuannya dengan cara membentuk bina desa yang bertujuan untuk menyejahterakan masyarakat yang menekuni bidang peternakan juga dapat menguntungkan untuk mereka para lulusan peternakan untuk bekerja serta menyalurkan ilmu dibidang peternakan yang dikuasainya. Maka dari itu diperlukan peran lulusan dibidangnya serta dukungan Pemerintah dalam membentuk bina desa untuk menyejahterakan masyarakat(Peternak tradisional) inilah tantangan riil untuk para sarjana dan pemerintah untuk dapat mengoptimalkan pengetahuan masyarakat melalui pengembangan bina desa untuk memajukan perekonomian masyarakat sehingga masalah pengetahuan perlahan tapi pasti akan dapat diatasi.[]
M imbar Untan
11
TABLOID
Mimbar Lingkungan
Edisi XXI/LPM Untan/2019
mimbaruntan.com
Jalan Panjang Pengelolaan Limbah Kimia FMIPA Untan Oleh: Nurul R Maulidia
L
imbah bahan kimia sisa hasil praktikum di Laboratorium Kimia Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Tanjungpura masih menjadi masalah. Hingga kini pengolahan masih ala kadarnya dan menunggu alat pengolahan limbah di laboratorium terpadu Untan. Prodi Kimia FMIPA Untan memiliki dua laboratorium yakni laboratorium kimia dasar dan laboratorium riset dan Bioteknologi. Yang setiap harinya memproduksi limbah hasil praktikum mahasiswa. Limbah ini termasuk ke dalam jenis limbah B3 (Bahan Beracun dan Berbahaya). Limbah hasil praktikum itu hanya disimpan dalam dirigen berukuran 20 liter dan drum hingga waktu yang belum diketahui. Praktik ini pun sudah dilakukan dalam 2 tahun ke belakang. Kewajiban pengelola limbah B3 sebenarnya sudah diatur dalam Peraturan Pemerintah (PP) No.85 tahun 1999 pasal 10 ayat 1 yaitu; “Penghasil limbah B3 dapat menyimpan limbah B3 yang dihasilkan paling lama 90 hari sebelum menyerahkan kepada pengumpul, pemanfaat, pengelola dan peminjam limbah B3”. Dan dari pasal 10 ayat 2 menyatakan bila limbah B3 yang dihasilkan kurang dari 50 kilogram per hari, penghasil limbah B3 dapat menyimpan limbah B3 yang dihasilkan lebih dari 90 hari sebelum diserahkan kepada pemanfaat atau pengelola atau penerima atau penimbun limbah B3, dengan persetujuan kepala laboratorium atau instansi yang bertanggung jawab.
Sisa hasil praktikum/Limbah bahan kimia yang dihasilkan dari Laboratorium FMIPA UNTAN adalah paling banyak mengandung asam basa, karena modul-modul praktikum
Penyimpanan Limbah sisa hasil praktikum di lingkungan FMIPA UNTAN telah dilakukan sesuai dengan SOP yang ada, meskipun tidak ada kelanjutan dari pengelolaan limbah tersebut. Cara penyimpanan limbah dilihat dari bentuk limbah yang dihasilkan. Dari limbah yang pekat, kemudian diencerkan terlebih dahulu lalu dimasukkan ke dalam wadah limbah untuk disimpan. Agar konsentrasinya jadi lebih mengecil, sehingga limbah yang dibuang itu menjadi berada di bawah ambang batas. Pihak fakultas sebenarnya telah mengadakan pertemuan untuk pembahasan mengenai pengelolaan limbah secara berkelanjutan yang dihadiri para dosen dan pengurus laboratorium dan juga dekan. “Dalam diskusi atau pertemuan itu kita mematangkan hal-hal apa saja kita butuhkan dalam pengolahan limbah, dan di dalam diskusi itu kita ajak juga dekan, namun belum pernah kita ajukan secara tertulis. Tentu kita berharap ada unit pengolahan limbah kalau tidak di fakultas ya di Universitas,” ujarnya. Ismail Astar, satu diantara empat Laboran (asisten laboratorium) yang ada di Laboratorium FMIPA UNTAN mengatakan jika pihak laboran sudah melakukan upaya untuk mengurangi limbah bahan kimia yang mencemari lingkungan. “Kita sudah mengurangi limbah bahan kimia yang mencemari lingkungan, makanya kita banyak menggunakan paling asam klorida, dan asam basa biasa, jadi ketika dicampurkan sudah jadi garam, dan tidak berbahaya bagi lingkungan,” tuturnya. Antisipasi terhadap dampak bahaya lingkungan juga telah disiasati oleh pengurus laboratorium tersebut agar tidak menghasilkan limbah berbahaya terhadap lingkungan. Melalui modul yang dibuat dan disesuaikan dengan bahan-bahan yang lebih ramah lingkungan. Saat ini, pihak fakultas masih menunggu pengoperasian instalasi yang sudah disiapkan oleh pihak universitas yaitu laboratorium terpadu, untuk tempat pengolahan limbah yang tersimpan di ruangan.
Ismail mengungkapkan bahwa adanya dana praktikum yang disiapkan untuk dialokasikan untuk wadah tempat menyimpan sisa hasil praktikum. “Kemudian, dana-dana praktikum kita alokasikan untuk wadah itu. Sebab kalau tidak kita siapkan, kita kebingungan juga mengatasi limbah, jadi kita siapkan wadah itu,” jelasnya. Mengenai tempat penyimpanan, ia mengatakan bahwa sebenarnya jika dijadikan sebagai tempat menyimpan sisa hasil praktikum secara terus menerus dan berkepanjangan, tergolong tidak layak, sehingga pihak fakultas masih menunggu instalasi yang nantinya akan dijadikan tempat pengelolaan limbah praktikum. Disela-sela pembicaraan, Ismail bercerita bahwa dulu pihak fakultas pernah membuat alat pengolahan limbah sederhana, namun karena kapasitas yang kecil, akhirnya alat tersebut tidak mampu lagi menampung limbah tersebut. Hingga kini, dengan menyimpan limbah sisa hasil praktikum di dalam dirigen masih digunakan sebagai upaya untuk mencegah terjadinya perusakan lingkungan jika dibawa/dibuang ke luar. Sebelumnya, pihak fakultas sudah mulai menjalin koordinasi dari bawah, mulai dari pihak jurusan ke fakultas, kemudian fakultas ke universitas mengenai masalah penanganan limbah. “Sebelum adanya laboratorium terpadu, pihak universitas sebelumnya berencana untuk membuat unit pengolahan limbah per-fakultas. Namun jika per-fakultas, membutuhkan biaya yang besar, hingga dibangunlah satu instalasi laboratorium terpusat tidak per fakultas yang nantinya, limbah hasil praktikum dari masing-masing fakultas dapat dikirim ke laboratorium terpadu,” terangnya Ismail. Ismail berharap terutama pada pengolahan limbah agar dapat lebih cepat dioperasikan, sehingga limbah-limbah yang telah tersimpan tidak terlalu banyak menumpuk. “Untuk pengolahan limbah lebih cepat lebih bagus bisa dioperasikan, agar limbah-limbah yang ada disini tidak terlalu banyak menumpuk, karena jika terlalu banyak menumpuk, semakin banyak wadah yang kita simpan dan akan semakin banyak lagi makan tempat,” pungkasnya. Bersambung di halaman 15
ilustrasi/Net
Lia Desiarti, selaku kepala laboratorium bioteknologi dan riset mengatakan, meski bertambahnya volume limbah setiap harinya, hingga saat ini FMIPA UNTAN belum dapat untuk melakukan pengolahan limbah secara mandiri karena terbentur undang-undang. “Untuk pengolahan limbah B3, kita tidak diizinkan untuk mengolah secara mandiri, karena ada peraturannya (undang-undang). Ada badan yang memenuhi kriteria tersebut, baru dia boleh melakukan pengolahan. Ada perusahaan yang khusus mengolah limbah, namun letaknya di Bogor, kalau di sini saya rasa belum ada. Hanya disimpan saja,” ungkapnya, Senin (26/11).
yang telah disesuaikan dengan modul kuliah. Bahan-bahan kimianya tidak terlalu banyak menggunakan logam-logam berbahaya dan hanya menggunakan bahan-bahan yang mudah terurai dan ramah lingkungan.
12
M imbar Untan TABLOID
Kritis, Ilmiah, Religius, Independen.
mimbaruntan.com
Mimbar Ilmiah
Bahaya Dibalik Kantong Plastik Oleh: Riski Ramadani
“ m
est.co
r amba
er g
sumb
K
antong plastik diperkenalkan pada dunia oleh Alexander Parkes, di London pada 1892. . Sejak itu perkembangannya berlangsung sangat cepat. Sesudah Perang Dunia II, diperkenalkan berbagai jenis kemasan plastik dalam bentuk kemasan fleksibel maupun kaku. Beberapa jenis kemasan plastik yang dikenal antara lain polietilen, polipropilen, poliester, nilon, serta vinil film. Bahkan selama dua dasawarsa terakhir menurut Kementrian Perindustrian Republik Indonesia, pangsa pasar dunia untuk kemasan pangan telah direbut oleh kemasan plastik. Selain itu, data Asosiasi Peritel Indonesia (Aprindo) ada 32.000 gerai menghasilkan 9,6 juta kantong plastik perhari atau 21.024 hektar per tahun. Serta Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, mencatat penggunaan kantong plastik di Indonesia, lebih dari 1 juta permenit. Menurut data statistik dari SIPSN (Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional) pada tahun 2018, jenis sampah plastik salah satunya kantong plastik sebesar 542,62 juta ton jika diakumulasikan di seluruh kabupaten atau kota di Indonesia. Sedangkan untuk di kota Pontianak sendiri, sampah plastik menduduki posisi kedua setelah sampah organik, yaitu 5,57% atau 21.723 ton dari jumlah sampah yang ditimbun di TPA Batulayang sebesar 390.000 ton. Bahaya Kandungan Kantong Plastik Kantong plastik tidak selamanya bisa membahayakan kesehatan tubuh. Kantong plastik yang berbahaya adalah ketika digunakan untuk menjadi wadah makanan. Ketika makanan panas berkontak langsung dengan plastik maka akan terjadi perubahan struktur yang mengakibatkan kesehatan terganggu. Hal ini dipaparkan langsung oleh Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) pada 2009 lalu kepada publik tentang kantong plastik khususnya yang berwarna hitam agar tidak digunakan untuk mewadahi makanan siap santap. Ini disebabkan kantong plastik banyak mengandung bahan-bahan kimia
ter e, pin c a e enp : Gre
yang s a n g a t berbahaya.
Bahan-bahan berbahaya itu salah satunya adalah Dioctyl phthalate (DOP). Kandungan jenis ini saat diteliti di Swedia pada tahun 2008 dan catatan dari jurnal preduce, memiliki sifat toksisitas yang cukup berbahaya dan memungkinkan akan menganggu sistem imunologi serta pernapasan. Selain itu, ada Zat Benzen yang sangat sukar untuk dilumat oleh sistem pencernaan. Akibatnya, zat ini semakin lama semakin menumpuk dan terbalut oleh lemak serta memicu munculnya kanker. Kantong plastik juga memiliki kandungan karsinogen yang dapat menyebabkan Endocrine Disrupter (EDC), yaitu suatu penyakit yang terjadi akibat adanya gangguan pada sistem endokrinologi dan reproduksi manusia akibat bahan kimia karsinogen dalam makanan. Dosen Kimia Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Tanjungpura, Intan Syahbanu mengatakan plastik apabila terkena panas maka akan memecahkan molekul yang ada. “Kalau plastik di bakar sembarangan, akan muncul zat bahaya yaitu zat tiroksin yang sifatnya karsinogenik dapat menyebabkan kanker. Lebih baik saat mengunakannya tidak kontak langsung antara makanan dan plastik atau dialasi dengan plastik food grade atau daun” ujarnya kepada reporter Mimbar Untan pada Selasa, 22 Januari 2019. Solusi Penanganan Sampah Plastik Menurut Intan, memilah wadah untuk makanan sangat diperlukan untuk meminimalisir dampak dan penggunaan kantong plastik. Selain itu, ia mengatakan kantong yang memiliki warna memiliki tingkat keamanan yang rendah terhadap kesehatan manusia. “Kantong plastik yang berwarna hitam ataupun warna lainnya untuk makanan tidak aman. Karena kantong ini ada beberapa jenis dari kantong yang di daur ulang. Kadang orang itu Me-recyle limbah plastic kemudian campuran itu biasa diberi warna. Kalau mau aman ya gunakan plastik yang Food grade atau plastik yang bening,” tutur Intan. Selain itu, Earth Hour Pontianak sebagai Komunitas yang bergerak di bidang lingkungan turut serta berupaya untuk meminimalisir sampah utamanya kantong plastik dengan melakukan aksi secara langsung maupun tidak langsung. Hal itu disampaikan oleh Wayan selaku Koordinator yang dihubungi oleh reporter Mimbar Untan melalui
ka r a b k d i ka n i t s a u p l n g a n , a a ya a l a K ra t bah ng a b s e mn c u l z a k s i n ya i k mu zat tirosinogenan r u yait tnya ka yebabksaat s i fa a t m e n h b a i k d a k d a p e r . L e b i n nya t i t a r a n a k ka n g u n a k s u n g a s t i k menak lang dan pla an g ko n t ka n a n a s i d e n a t a u ma u dial grade a ta k fo o d n ti dau plas
IPA ia FM m i iK Prod ahbanu n e Dos n Sy Whatsapp. Inta
“Jadi kami ngadain School Campaign kepada siswa di sekolah, dari situ kami memberikan info kepada mereka tentang bahaya sampah plastik terutama kantong plastik ya. Kemudian ngajarin gimana cara mengurangi sampah plastik, yaitu dengan cara bawa tumbler dan tempat makan sendiri ketika jajan.” Selain itu, ia juga mengedukasi dan mengajak masyarakat melalui media online untuk mengurangi penggunaan sampah plastik. “Begitu juga dengan aksi Online, kami berbagi info mengenai fakta dan bahaya plastik di sosmed, kemudian ajakan aksi kecil yang bisa dilakukan untuk mengurangi penggunaan plastik itu. Selain itu kita membuat kerajinan-kerajinan dari sampah plastik”tulisnya. Aksi nyata juga ditunjukkan oleh komunitas Pipet Kite yang membuat satu inovasi berupa pipet yang terbuat dari bambu untuk mengurangi penggunaan plastik yang membahayakan kesehatan maupun merusak lingkungan. Co-founder Pipet Kite Pontianak, Claudia menanggapi untuk kesehatan sendiri di plastik sudah sangat berbahaya karena orang yang minum menggunakan sedotan plastik sering kali menggigit-gigit ujung pipet dan akibatnya molekul yang ada di pipet pecah dan tentunya sudah sangat berbahaya bagi kesehatan. “Disinilah masyarakat sudah harus sadar melakukan hal-hal untuk menyelamatkan bumi maupun tubuh kita sendiri, salah satunya kita bisa melakukan hal-hal kecil seperti tidak menggunakan sedotan plastik” pungkasnya.[]
M imbar Untan
13
TABLOID
Edisi XXI/LPM Untan/2019
mimbaruntan.com
Mimbar Resensi
Agar Indonesia Tetap Bernyanyi: Potret Reformasi Indonesia Lewat Lensa Interpretatif Oleh: Wahyu Maulana
ilustrasi/Net
Resensi Buku “Agar Indonesia Tetap Bernyanyi” Karya Hamid Basyaib * Judul Buku : Agar Indonesia Tetap Bernyanyi Penulis : Hamid Basyaib Penerbit : Lentera Cetakan : Pertama, Desember 1998 Tebal Buku : XXIV + 375 halaman ISBN : 979-8880-51-X
J
l
udul buku ini diambil dari salah satu dari kumpulan catatan “Juang” seorang Hamid Basyaib saat beliau menjadi wartawan Majalah UMMAT. Buku yang menggambarkan bagaimana pergolakan yang terjadi pada masa menjelang dan pasca reformasi ini terdiri dari 41 judul tulisan yang pernah dipublikasikan di Majalah UMMAT, 18 tulisan ditulis menjelang reformasi dan 23 tulisan yang menggambarkan suasana pasca reformasi sukses. Hampir semua tulisan yang disusun secara kronologis ini berasal dari bagian pertama rubrik Peristiwa Utama majalah mingguan UMMAT. Bagian pertama buku ini menceritakan pergolakan yang terjadi saat menjelang reformasi. Bagian ini menceritakan bagaimana suasana yang terjadi saat awal isu reformasi digulirkan oleh elite politik negeri ini hingga puncaknya menjelang turunnya Soeharto pada tanggal 21 Mei 1998. Hamid Basyaib berhasil menggambarkan chaos yang terjadi di berbagai bidang dan lembaga negara pada saat itu. Pendapat-pendapat para petinggi negeri tentang isu-isu reformasi yang dimuat dalam tulisan-tulisan ini, dikemas dalam bentuk laporan yang ditulis dengan pendekatan interpretatif. Pendekatan interpretatif berarti bukan hanya menyajikan fakta-fakta keras, namun memberi tafsir. Harapannya, pembaca dapat memetik makna dari suatu persitiwa, dengan membandingkan dengan peristiwa serupa maupun yang berlawanan.
Bagian pasca reformasi menceritakan kondisi Indonesia saat BJ Habibie menjabat sebagai presiden. Tergambarkan dengan jelas bagaimana badan eksekutif, legislatif, beserta seluruh bagian dari pemerintahan berusaha untuk memperbaiki kondisi krisis yang terjadi pasca orde baru. Namun, bukan tidak semudah yang dibayangkan. Banyak kontroversi-kontroversi dan pergolakan juga yang terjadi pasca reformasi. Dari kondisi keluarga cendana pasca Soeharto turun, hingga akhir dari dwifungsi ABRI diceritakan dengan baik. Hal ini dapat menggambarkan bagaimana dinamika pers Indonesia pada saat itu, yang pada zaman orde baru pers sangat berhati-hati dalam mengkritik pemerintah. Hamid Basyaib yang pada zamannya memiliki akses ke pejabat tinggi negeri ini, tokoh penggerak hingga aktivis reformasi, memberikan warna tersendiri pada tulisan-tulisannya. Tulisan yang lebih berwarna dengan perspektif dari banyak pihak, menjadi nilai tambah yang menjadikan buku ini masih layak dibaca hingga sekarang. Gaya penulisan yang lugas, tidak hanya mengungkapkan fakta-fakta, namun diikuti dengan interpretasi dari tiap peristiwa yang terjadi, menjadikan buku ini sangat layak dan sangat relevan untuk wartawan di era sekarang. Bagi yang ingin mengetahui secara rinci bagaimana gejolak reformasi terjadi hingga pasca reformasi, buku ini belum mewakili aneka peristiwa di sekitar reformasi dengan lengkap karena momen bersejarah ini sangat luas, bahkan jika dihimpun dari seluruh media saja belum cukup untuk menggambarkan bagaimana emosionalisme, subjektifitas dari reformasi itu hingga Soeharto turun. Namun buku ini dapat menjadi salah satu indikator dinamika reformasi itu sendiri, walau tak bisa dikatakan mewakili dinamika pers Indonesia secara general. Inilah buku pertama yang memotret wajah reformasi Indonesia secara utuh, lewat lensa interpretatif yang memikat dan penuh warna. Agar Indonesia Bernyanyi bukanlah buku baru. Cetakan pertama buku ini dimulai di
“
Tulisan-tulisan ini disusun secara kronologis. Jika ditelaah lebih dalam, maka dapat dirasakan bagaimana intensitas keberanian dalam mengungkap fakta itu berlangsung hingga puncak reformasi. tahun 1998 yang lalu. Mungkin buku ini sedikit sulit ditemui di toko-toko buku zaman sekarang. Dari pandangan subjektif penulis resensi ini, kalaupun buku ini ada di perpustakaan, tentu tempatnya berada di rak paling dalam, ataupun di tumpukan buku yang tidak pernah dibaca. Tergerus oleh buku-buku baru yang lebih menggugah minat pembaca. Namun, ada satu hal yang membuat penulis ingin meresensi buku ini. Salah satu bagian dari masyarakat yang mendorong terjadinya reformasi 1998 adalah mahasiswa, yaitu sebagian besar pembaca resensi ini. Tentunya mahasiswa di zaman serba modern ini menyadari hal itu. Buku ini memberikan perspektif lain tentang reformasi, dimana bukan hanya mahasiswa saja yang menggerakkan reformasi hingga mencapai puncaknya di tanggal 21 Mei 1998, namun seluruh elemen rakyat Indonesia. Termasuk elit politik hingga tokoh-tokoh penting juga ikut memperjuangkan reformasi. Seluruh elemen rakyat Indonesia memilki keinginan yang sama, Agar Indonesia Tetap Bernyanyi.[]
14
M imbar Untan TABLOID
Kritis, Ilmiah, Religius, Independen.
mimbaruntan.com
Mimbar Profile
Jadikan Hobi Sebagai Prestasi Tempat, Tanggal lahir: Pontianak, 11 Maret 1997
Agama: Islam Status: Belum Menikah Alamat: Jl. Tanjung Raya II, Tanjung Harapan Pontianak Timur Instagram: @veddric Riwayat Pendidikan:
SD Swasta Islamiyah Pontianak 2008 SMPN 21 Pontianak 2011 SMAN 6 Pontianak 2014
Mahasiswa PGSD Untan 2014 Oleh: Nurul R Maulidia
2014
2015
8 Besar Kategori Speed World Record
Kejuaraan nasional (Kejurnas) Junior di Tanjung Balai Karimun, Kepulauan Riau
Medali Perunggu Kategori Speed Perorangan Putra
Kejuaraan nasional (Kejurnas) Senior di Bangka Belitung
2017
Medali Perunggu Kategori Speed World Record
Kejuaraan nasional (Kejurnas) Senior di Yogyakarta
2018
Medali Perunggu
2018
Medali Emas Cabor Sport Climbing
IFSC World Cup di Moscow
Tim Indonesia cabang beregu Men’s speed relay Asian Games
P
ekan Olahraga Provinsi (Porprov) XII Kalimantan Barat 2018 sedang berlangsung pagi itu. Beberapa cabang olahraga (cabor) seperti panahan, panjat tebing, dan lainnya pun digelar. Tak hanya para atlet beserta tim pendukungnya, masyarakat umum juga memadati Stadion Sultan Syarif Abdurrahman Pontianak, Minggu (11/11/2018). Vedriq Leonardo juga tampak menyaksikan pertandingan dengan cukup cermat dari sisi arena, khususnya panjat tebing. Pemuda atau putra daerah Kalbar yang akrab disapa Vedriq ini juga merupakan atlet panjat tebing. Ia berhasil menorehkan prestasi di kancah Internasional. Pada Asian Games 2018 yang lalu, ia meraih Medali Emas Cabor Sport Climbing oleh Tim Indonesia 2 pada cabang beregu Men’s speed relay dengan catatan waktu 18.68 detik. Pria yang merupakan Mahasiswa PGSD FKIP Untan angkatan 2014 ini mulai mengenal olahraga panjat tebing sejak ia duduk di bangku SMA melalui organisasi pecinta alam Specta. Ia pun mengaku tertarik pada olahraga ini karena menantang dan belum familar di lingkungannya. Sejak awal tahun 2011 ia mulai mengikuti beberapa kompetisi antar sekolah. Hingga akhir tahun 2014 ia sudah mulai fokus latihan untuk melangkah ke kejuaraan daerah (Jurda) saat itu. Perjuangannya pun membuahkan hasil, dengan tekad yang kuat dan gigih, ia melaju ke Porprov hingga ke kejuaraan nasional pada tahun 2015. Kejuaraan pertama di level nasional pertama kali diraihnya pada Kejuaraan nasional (Kejurnas) Junior di Tanjung Balai Karimun, Kepulauan Riau Tahun 2014. Namun, saat itu ia belum dapat meraih medali, hanya sampai pada peringkat 8 besar di kategori speed world record. Pemuda yang juga menyukai olahraga bulu tangkis ini masih memiliki cita-cita agar
dapat merealisasikan impiannya menjadi juara di kejuaraan yang ia ikuti. Eksistensinya pada dunia panjat tebing saat ini juga terlihat setelah ia bergabung pada club crazy climbing yang dikhususkan untuk olaraga panjat tebing. Dari club inilah yang turut mengantarkannya pada sejumlah turnamen panjat tebing lainnya. Seperti pada event yang pernah diikutinya yaitu pada Kejuaraan Nasional (Jurnas) Panjat tebing senior Tahun 2015, ia berhasil meraih medali pertamanya yaitu perunggu kategori speed perorangan putra di Bangka Belitung. Kemudian di tahun 2017, medali yang sama diraih kembali pada ajang Jurnas Senior di nomor speed world record yang diselenggarakan di Kota Yogyakarta. Tahun demi tahun dilewatinya, sedikit demi sedikit proses dan pengorbanan yang dilalui, hingga pada akhirnya di tahun 2018 ia berhasil meraih posisi ketiga dalam kejuaraan Panjat Tebing dunia, IFSC World Cup di Moscow, Rusia Tahun 2018 dengan meraih medali perunggu. Event ini merupakan yang paling berkesan baginya, sebab inilah pertama kali ia mendapat medali di kejuaraan event internasional. Sejumlah prestasi yang diraih, tak menjadikannya puas. Hingga ia dapat kembali meningkatkan kemampuannya selama berlatih kurang lebih 8 bulan di ajang bergengsi Asian Games 2018 yang diselenggarakan di Kota Palembang-Jakarta bersama rekanrekan satu tim yang berasal dari daerah Jawa timur dan Sumatera Selatan, diantaranya Muhammad Hinayah, Rindi Sufriyanto, dan Abu Dzar Yulianto. Selain pengalaman, banyak hal yang didapati Vedriq usai berlaga di Asian Games 2018 lalu, tak terkecuali bonus untuk para atlet yang berhasil meraih medali. Bonus tersebut ia manfaatkan untuk mengikuti 5 kompetisi yang telah diikutinya, yaitu di Jepang yang dibiayai oleh Kemenpora dan 4 kota di China dengan biaya sendiri. Selebihnya, ia berikan kepada kedua orang tuanya.
M imbar Untan
15
TABLOID
mimbaruntan.com
Rasanya bangga yang menyelimuti membuatnya tetap tidak berpuas diri, karena ia merasa belum ingin berhenti jika prestasinya hanya berhenti sampai disini. “Rasanya bangga, namun saya tetap tidak boleh berpuas diri, karena saya masih merasa belum ada apa-apanya jika prestasi hanya sampai disitu. Jadi saya ingin terus berkarir dan bertanding untuk meraih prestasi lagi,” ungkap pemuda 21 tahun tersebut. Di sela-sela pembicaraan ia bercerita bagaimana dirinya ketika dalam suasana bertanding. Vedriq mengatakan hal yang paling ditakutinya bukan soal lawan ataupun penonton, melainkan penampilannya sendiri, dan tidak memikirkan lawan jika sudah bertanding. Penampilan baik atau tidak, itulah yang menjadi tantangan tersendiri baginya. Meskipun sering gugup, terlebih ketika berlaga di luar kota/negeri dan saat bertemu tuan rumah penyelenggara, banyak berdoa dan fokuslah yang menjadi kunci utamanya saat bertanding. Ia juga memiliki cara tersendiri ketika sedang mengalami gugup yaitu dengan sering berkomunikasi dan bercanda saat berada di ruang karantina bersama teman-temannya sambil melakukan pemanasan. Meskipun telah dikenal, kegemarannya dalam olahraga ini pernah mendapat kritikan dari orangorang sekitarnya terlebih saat awal karirnya menggeluti olahraga panjat tebing. “Waktu awal saya menggeluti ini, orang-orang merasa aneh, karena olahraga ini juga kurang familiar disini. Pernah ada yang bilang kalau ikut panjat tebing, nanti mau jadi apa, nah kayak gitu. Perkataan mereka menjadi ajang Sambungan halaman 11
Direktur Eksekutif Project Implementation Unit (PIU) Proyek 7 in 1 Untan, Yoke Lestyowati mengungkapkan bahwa untuk ruang pembelajaran di Gedung Laboratorium Keilmuan Dasar sudah tersedia, sekaligus alat-alat pendukung akan diadakan tahun ini. “Karena kita menggunakan sumber dana dari Islamic Development Bank (IsDB), yang menyaratkan alat akan di drop jika gedungnya minimal sudah 80%. Jika gedungnya sudah jadi, alat baru bisa di drop,” imbuhnya, Rabu, (13/3). Ia juga mengkonfirmasi bahwa memang benar akan ada instalasi yang digunakan sebagai tempat pengolahan limbah dari fakultas-fakultas yang bersangkutan. “Disini kita sudah ada tempat pengolahan limbahnya, karena itu menjadi suatu syarat dan menjadi satu paket dengan panduan lab dan panduan gedungnya. Mengenai operasional tempat pengolahan limbahnya ia mengaku belum memahami secara pasti, namun harus dipikirkan oleh direktur yang menangani masalah tersebut. Namun infrastrukturnya sudah ada,” ucapnya. Yoke,
Meskipun telah melewati masa-masa tersebut, dengan kesibukannya yang semakin hari semakin banyak, keluarga dan kerabatnya tetap selalu memberi dukungan dan semangat. “Keluarga dan teman-teman sangat mendukung, sering memberi dukungan dan semangat saat saya sedang down dan apapun hasilnya mereka tetap bangga dengan saya,” ucapnya.
“
Jangan takut untuk bermimpi dan meraih mimpi tersebut apapun alasan dan halangan, percaya saja bahwa apa yang kita kerjakan dengan sungguhsungguh itu akan menghasilkan sesuatu yang bisa mengubah hidup dan tetap jalani apa yang anda yakini.
Vedriq terlahir di keluarga yang sederhana. Sang ayah bekerja sebagai seniman ukiran untuk membuat mebel, dan ibunya sebagai ibu rumah tangga. Anak ketiga dari lima bersaudara ini menuturkan sudah hampir satu tahun jarang berada dirumah. Ketika ada kesempatan untuk pulang ke rumah, dimanfaatkan untuk menghabiskan waktu bersama keluarga dan sanak saudara di rumah. Setelah bercerita, ia menuturkan keingingannya pada olahraga panjat tebing khususnya di Kalimantan Barat agar dapat sejajar dengan panjat tebing di luar Daerah Kalbar, dan berharap dirinya tetap dapat berkarir hingga ke jenjang internasional dan membawa medali untuk indonesia. Vedriq berharap kepada teman-temannya, khususnya yang berstatus sebagai mahasiswa untuk tidak takut untuk bermimpi dan meraih mimpi tersebut apapun rintangannya. “Untuk teman-teman yang berstatus
mahasiswa, jangan takut untuk bermimpi dan meraih mimpi tersebut apapun alasan dan halangan, percaya saja bahwa apa yang kita kerjakan dengan sungguh-sungguh itu akan menghasilkan sesuatu yang bisa mengubah hidup dan tetap jalani apa yang anda yakini,” harapnya.[]
Jalan Panjang Pengelolaan Limbah Kimia FMIPA Untan
Laboratorium Keilmuan Dasar Jadi Solusi
Menurut
pembuktian dan dijadikan sebagai acuan saya untuk lebih semangat berlatih dan kini telah terbukti, bahwa menjadi atlet panjat tebing itu tidak buruk,” ujarnya sembari tersenyum ramah.
Edisi XXI/LPM Untan/2019
Standar
Operasional
Prosedur (SOP) telah disusun oleh tim terkait dan akan segera rampung setelah alat-alat tersedia. Dikarenakan adanya keterbatasan anggaran, menyebabkan semua alat tidak dapat diadakan sekaligus. “Standar Operasional Prosedur (SOP) sudah disusun, namun hanya secara garis besar dan akan disempurnakan lagi setelah alat-alat pendukung sudah tersedia. Melihat keterbatasan anggaran, maka ada prioritas-prioritasnya. Nah dari prioritas tersebut SOP-nya akan disempurnakan sesuai dengan alat yang ada,” pungkasnya. Kasubbag Rumah Tangga Untan, Nuh menerangkan bahwa untuk saat ini gedung-gedung baru termasuk Laboratorium Ilmu Dasar masih dalam tahap pemeliharaan dan regulasi sedang dalam proses pembentukan oleh tim birokrat. “Mungkin bulan Oktober nanti baru bisa digunakan secara penuh. Sekarang masih disusun regulasi atau aturan-aturan terkait gedung-gedung,” terangnya, Rabu (27/2). Artinya dirigen dan drum berisi limbah masih harus menunggu setidaknya 6 bulan ke depan untuk pengelolaan yang dijanjikan.[]
16
M imbar Untan TABLOID
Kritis, Ilmiah, Religius, Independen.
mimbaruntan.com
Mimbar Religi
Larangan Body Shaming Menurut Prespektif Islam
Ilustrasi: Wahyu
Oleh: D. Fauziah
Body Shaming merupakan tindakan mengomentari fisik, penampilan maupun citra diri seseorang. Tindakan ini kadang dianggap sebagai perilaku yang umum. Padahal, banyak dari perilaku body shaming menjadi satu diantara pemicu angka bunuh diri dikalangan masyarakat terutama remaja dan ibu-ibu yang diakibatkan korban mengalami depresi.
D
ilansir dari detik news ada 966 kasus penghinaan fisik atau body shaming yang ditangani polisi dari seluruh Indonesia sepanjang 2018. Sebanyak 347 kasus di antaranya selesai, baik melalui penegakan hukum maupun pendekatan mediasi antara korban dan pelaku, kata Karo Penmas Divisi Humas Polri Brigjen Dedi Prasetyo, Jakarta Selatan, Rabu (28/11). Penelitian yang dilakukan Department of Medical Psychology and Medical Sociology University of Leipzig, Jerman, yang melibatkan 2.436 orang gemuk korban fat shaming, menemukan kaitan antara perisakan dan desakan bunuh diri. Riset tersebut mengungkap risiko korban melakukan bunuh diri meningkat 21 kali. Adapun risiko percobaan bunuh diri sebesar 12 persen. “Perempuan korban fat shaming lebih rentan terhadap hal berbahaya ini,” kata Elmar Brahler, salah satu peneliti. Hasil penelitian yang dipublikasikan dalam Journal of Behavioral Medicine menyebutkan, body shaming dapat menyebabkan seseorang lebih sering mengalami infeksi serta gejala penyakit lebih banyak. “Rasa malu itu menyebabkan kesehatan fisik menjadi buruk,” ujar peneliti Jean Lamont, PhD. Penelitian itu dilakukan dengan menyurvei 300 perempuan. Menurut psikolog anak Endang Widyorini hal ini disebabkan karena body shaming sama seperti bullying. Ini akan berpengaruh dan berdampak terhadap citra diri, konsep diri, dan rasa percaya diri. perasaan inferior akibat body shaming bisa membuat seseorang menjadi permisif terhadap kekerasan yang menimpanya. (Tempo.co) Berangkat dari kasus ini Khairani satu diantara ustadz di Pontianak mengklaim bahwa prilaku body shaming merupakan hal yang tidak terpuji dalam kehidupan sehari- hari. “Masalah penghinaan secara fisik terhadap seseorang atau suatu kaum memang dalam kehidupan kita baik secara dunia maupun hukum akhirat ini sangat jelek,” ungkapnya. Body Shaming Dilarang? Berdasarkan QS Al-Hujarat ayat 11 Allah SWT melarang menghina orang lain, yakni meremehkan dan mengolok-olok sesama manusia. “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengolok-olokkan kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang
diolok-olokkan) lebih baik daripada mereka (yang mengolok-olokkan) dan jangan pula wanita-wanita (mengolok-olokkan) wanita-wanita yang lain (karena) boleh jadi wanita-wanita (yang diperolok-olokkan) lebih baik daripada wanita (yang mengolok-olokkan) dan janganlah kamu mencela dirimu sendiri dan janganlah kamu panggil-memanggil dengan gelar-gelar yang buruk. Seburuk-buruk panggilan ialah (panggilan) yang buruk sesudah iman; dan barang siapa yang tidak bertobat, maka mereka itu orang-orang yang zalim,” larang-Nya. Sementara itu, menurut hadist Nabi yang diriwayatkan oleh Imam Muslim memberikan ancaman pada orang yang melakukan penghinaan kepada seseorang atau suatu kaum. “Cukup seseorang itu melakukan suatu perbuatan dosa jangan menghinakan saudaranya yang muslim,” (H.R. Muslim). Terkait hal ini Khairani menegaskan bahwa larangan perbuatan ini ditujukan oleh semua umat manusia. “Sebenarnya bukan hanya yang muslim saja yang tidak boleh kita sebut kejelekannya, orang non muslim sekalipun. Jadi sangat dilarang untuk semua kaum baik muslim maupun non muslim,” tegasnya. Khairani yang juga merupakan pimpinan Majelis Radhatul Jannah menambahkan bahwa hukum perbuatan body shaming haram karena sudah tercantum dalam dalil Allah SWT. “Hukumnya jelas haram. Kecuali menyebut kekurangan fisik seseorang dengan tujuan untuk mendapatkan suatu identitas yang pasti, maka dalam hal ini kita boleh menyebut kekurangan seseorang yang sebenarnya,” tambahnya. “Misalnya di suatu kampung ada orang yang bernama Ahmad ada beberapa orang. Jadi untuk menemukan Ahmad yang kita cari ini kita boleh mencari dengan menyebutkan kekurangan fisiknya. Si Ahmad yang pincang umpamanya. Perkataan seperti ini bukan suatu penghinaan, tapi untuk menemukan identitas yang sebenarnya.” “Jadi dilihat dari segi keperluannya. Apabila kita menyebutnya untuk menghinakan itu haram. Apabila kita menyebut identitas seseorang itu untuk menemukan identitas itu diperbolehkan.”
Hal ini diharamkan karena menyakiti perasaan seseorang sehingga
hatinya terganggu dan kemudian berakhir dengan emosional yang sulit dikontrol. Maka dari itu, seseorang mudah depresi hingga akhirnya berpikir untuk bunuh diri. Satu di antara ustadz di Kota Baru, Pontianak, Adi (35) mengatakan bahwa bercanda atau mengolok dalam agama itu dilarang karena menyakiti hati. “Kalau kata Nabi, ambillah nama atau sebutan yang disukai oleh dia. Karena sebutan yang dapat menyakitkan hatinya itu tidak boleh atau dilarang,” katanya pada Senin (15/4). ”Dalam bercanda sebenarnya tidak masalah asalkan tidak melebih-lebihkan sesuai dengan kenyataan yang ada, dan untuk body shaming ini tidak diperbolehkan karena menyangkut bentuk tubuh seseorang dan dapat membuat penyakit hati, Inilah yang dilarang dalam agama Islam.” Solusinya Apa? Adi memaparkan bahwa body shaming merupakan cerminan perilaku. “Bercanda atau mengolok itu bagian dari akhlak. Kata Rasulullah, seutama-utamanya manusia itu adalah yang baik akhlaknya. Contohnya, Kasi semangat ke orang lain, berbuat baik kepada sesama, atau pun perbuatan yang menyenangkan,” paparnya “Ajaran agama Islam mengajarkan untuk memotivasi orang. Yang lemah jadi kuat, yang separuh-separuh jadi full semangatnya. Hal ini termasuk bagian bagaimana Islam menjadi rahmatan lil alamin, bukan laknatul lil alamin.” Khairani pun kemudian menyarankan kepada seluruh masyarakat untuk memahami dampak dari perbuatan body shaming agar tidak melakukan kembali perbuatan ini. “kepada seluruh masyarakat, terutama kepada umat Islam seyogyanya harus mengetahui dulu akibatnya di dunia maupun di akhirat. Jadi seseorang yang sudah mengetahui akibat dari pekerjaan ini tidak akan melakukan. Apalagi kebanyakan orang itu tidak tahu. Dikiranya pekerjaan ini hukumnya boleh
M imbar Untan
17
TABLOID
dilakukan,” sarannya. Dia memaparkan solusi dalam hal ini agar pemerintah juga ikut berpartisipasi dengan mengoptimalkan sistem hukum supaya kasus body shaming yang masif di kalangan masyarakat dapat diminimalisir. “Secara hukum agama mungkin semua orang sudah banyak tahu bahwa pekerjaan itu tercela. Usaha agar orang tidak gampang untuk melakukannya memerlukan suatu badan hukum pemerintah untuk menjatuhkan hukuman. Ini bisa membantu dan memulihkan kondisi masyarakat sehingga berkesan untuk menguranginya,” paparnya. Psikolog anak dan remaja Astrid Wen
mimbaruntan.com
berujar, bahaya body shaming bisa diminimalkan sejak dini dengan membuka ruang diskusi menyenangkan dua arah dengan anak dan remaja. Misalnya, memancing anak atau remaja dengan menanyakan perempuan cantik itu seperti apa. “Misalnya dia menjawab yang rambutnya lurus, kulitnya putih, dadanya besar, dari situ kita bisa memberi pemahaman bahwa manusia memiliki keragaman yang luar biasa dan sama indahnya,” tuturnya. Ia mengungkapkan, sangat penting anak dan remaja dididik untuk dapat menerima perbedaan. “Supaya tumbuh rasa respek terhadap yang lain, saling menghargai,” kata dia.
Edisi XXI/LPM Untan/2019
Selain itu, orang tua mesti jeli dalam membimbing anak. Anak atau remaja laki-laki terkadang melakukan body shaming untuk mencari perhatian perempuan yang disukainya. “Perlu diberi tahu bahwa itu bukan cara menarik perhatian yang sehat,” ucapnya. (Tempo.co)[] Sumber: https://gaya.tempo.co/read/1066928/ awas-body-shaming-akibatkan-diare-dan-sakitkepala https://gaya.tempo.co/read/1115069/waspadadampak-parah-body-shaming-orang-tua-kepadaanak https://news.detik.com/berita/d-4321990/ polisi-tangani-966-kasus-body-shaming-selama-2018
Selamat Atas Terpilinya Rektor Baru Universitas Tanjungpura Masa Bakti 2019/2023
Pada Rapat Senat Tertutup Universitas Tanjungpura Bersama Utusan Menristek Dikti RI Tanggal 2 April 2019
18
M imbar Untan TABLOID
Kritis, Ilmiah, Religius, Independen.
mimbaruntan.com
Mimbar Sastra
Jelita Gila Oleh: Rahma Ning Tyas
Pagi ini aku bersenandung kecil menikmati hari yang dingin. Di salah satu sudut ruangan, kuperdengarkan alunan radio tua peninggalan Ayah. Di balik jendela rapuh juga aku menebarkan pandangan nanar kepada sang semesta. Tentang aku yang tak seberuntung orang kebanyakan dan tentang aku yang tak pernah dianggap baik-baik saja.
A
ku meringis kesakitan. Sebuah batu kerikil tepat mengenai lengan kananku. Semakin ku teliti lenganku, terdapat goresan luka yang tampak akibat kerikil sialan itu. Aku beranjak menuju jendela, dimana kerikil itu berasal. Menerka siapa saja yang berada dibalik pelemparan kerikil itu. Ah, anak-anak nakal itu. Tepat pukul 6 pagi, wajar saja mereka mengerjaiku seperti ini. Seperti melampiaskan kekesalan, sebuah batu besar mesti mengenaiku lalu mereka akan tertawa meluapkan kepuasan. Sedangkan aku hanya akan menatap sendu kepergian mereka dan tersenyum menantikan kesadaran, bahwa aku tidak sedang mengalami gangguan jiwa. Aku hanya saja senang menyendiri, tapi tidak untuk berbicara sendiri. Namun, aku kalah suara dibandingkan mereka yang mengimingi kesana kemari bahwa aku mengidap gangguan jiwa, seperti halnya Bunda. Terlahir dengan fisik baik-baik saja dan dari keluarga yang serba ada, ternyata tak membuat sebagian yang mengetahui menghargai keberadaanku. Termasuk Liana, saudari kandungku yang ikut menyalahkanku atas kematian Bunda dan kepergian Ayah yang lebih memilih mendua, ketimbang mendidik kami berdua. Dianggap sial, mungkin itu salah satu sebab mereka menjauh. Sebab lainnya, ku perkirakan ialah mereka yang takut ku tularkan sakit jiwa yang secara tak sengaja diturunkan Bunda sebagai hadiah untuk putri kecilnya. Tapi tenang, takkan ku rutuki hadiah terindah Bunda. Itu tidak benar dan sangat teramat tidak benar. Penderitaanku kini kuanggap hanya merupakan proses pendewasaan dari Tuhan agar ku dewasa menjalani kehidupan. .... “Nona, sudah waktunya Nona sarapan.” Minta Bi Inah dari luar kamar menyadarkan lamunanku perihal luka yang baru saja kudapat. Diusia yang menginjak 16 tahun, aku berusaha kuat meski luka itu masih kurasakan perihnya.
“Baik Bi, Terima kasih.” Sapa ku ke Bu Inah yang setia melayaniku seperti anaknya sendiri Bi Inah, mungkin hanya ia yang menghargai jiwa dan ragaku yang tak terlihat di mata orang kebanyakan. Bi Inah juga yang dengan segenap ketulusan mengikhlaskan sisa hidupnya merawatku dan menjadi teman bicara disaat yang lain mengacuhkan. Keluarga besarku pun tak pernah tahu bagaimana hari-hariku, sakitku, atau bahkan luka yang baru saja kudapat. Mereka pasti akan mengira aku sedang menyakiti diri. Namun, Bi Inah berbeda. Ia tahu aku tak akan sebodoh Bunda yang rela menyayat pergelangan tangan sebab Ayah yang memilih berkhianat. Sedangkan aku tak ada alasan, aku sendirian dan tak ada yang benar-benar membuatku sangat terluka. “Hari ini Bibi masak apa?” “Bibi hari ini masak ayam pedas manis, kesukaan nona. Lah, ini kenapa luka, Non?” Bi Inah menggapai lengan kananku dan sedikit panik akan luka yang masih sangat baru. “Bukan apa-apa. Tadi terjatuh, Bi. Sudah ya Bi, Jelita ingin makan.” Bi Inah sudah paham ketidakinginanku membahas luka yang kudapati sepagi ini. Bi Inah lalu memilih pamit ke dapur dan mengantarku duduk di ruang makan. Sepi, begitu yang rasakan setiba keluar dari kamar. Di rumah layaknya istana dan hanya ditinggali oleh 3 wanita, membuat rumah peninggalan Ayah dan Bunda berhawa sedikit menyeramkan. Terlebih bila sudah terdengar isu bahwa rumah ini menyimpan gadis gila. Ah sudahlah, seluruh pasang mata pasti akan mencari tahu siapa gadis yang senang melamun di balkon utama, lokasi tewasnya ibu muda yang meloncat dari ketinggian akibat ditinggal suami yang dicintanya. Aku, kuulangi gadis yang dimaksud mereka adalah aku. Hanya saja, lokasi itulah tempat ternyaman bagiku untuk mensyukuri kehidupanku yang rumit. Tak peduli akan hadirnya arwah Bunda, sepertinya Bunda tahu gadis kecilnya hanya dapat terhibur di atas ketinggian, sembari mendengarkan radio tua peninggalan Ayah.
ilus
tras
Te nt u , s a m a a k u Bunda. p e r l u risaukan.
i ole
hobi yang antara d a n Tak kau
P e r i h a l Ayah, lama sudah ku putus asa mengharapkan ke h a d i ra n nya. Bahkan, Liana yang dianggap normal juga tak bermenemukan Inah berucap Ayah akan k e m b a l i pada waktu ditentukan. ku dengar dang meA y a h b a -
yang baik.
selalu hasil Ayah. Bi bahwa segera m e s k i yang sulit Berita terakhir dari Liana yang senelpon seseorang, juga telah hidup hagia bersama keluarga baru dan meminta Liana tak lagi mengusik kehidupannya. Ayah
Tapi tak apa, setidaknya aku telah hidup 16 tahun dibawah kasih sayang Bi Inah dan itu lebih dari cukup. Sedangkan Liana, tidak perlu ditanya. Ia yang selalu menyalahkan, selalu menganggapku telah tiada. Bahkan, sejakku dilahirkan ketika Bunda sudah hilang kewarasan, Liana sudah menganggapku sebagai malapetaka. Kami tak pernah bicara dan bersapa pun tidak. Kami punya dunia masing-masing dan Liana akan terus berusaha mengenyahkan keberadaanku. “Heh! Siapa suruh kau duduk. Tak sudi aku satu meja dengan orang gila. Pergi!” Terkejut bukan main ku dibuat oleh Liana. Keberadaan Liana rupanya tak terbaca mataku. Karena pikiranku sedang melayang, sepertinya untuk mendapati Liana di meja makan yang sama menjadi hal yang menyulitkan. Tanpa menunggu, aku memutuskan
h: W
M imbar Untan TABLOID
19
Edisi XXI/LPM Untan/2019
mimbaruntan.com
untuk beranjak tanpa sepatah kata menuju dapur, menemui Bi Inah kemudian menangis.
Bu Inah yang ternyata sedari tadi menyimak sebabku menangis, seketika menerima pelukku. Dapat kurasakan perihnya ditolak oleh saudari yang tersisa dan hanya satu-satunya. Tidakkah Liana sadar bukan kehendakku Ayah dan Bunda pergi? Bukan pula karenaku hidupnya menjadi sulit? Tidakkah ia bersyukur masih punya banyak teman dan Wah yu tetangga yang mengakui keberadaannya? Kenapa kini aku yang ia perlakukan sedemikian rupa? .... Tangisanku mereda ketika Bi Inah menyiapkan sarapan untukku dan makan bersamanya di dapur. Dapat kurasakan tatap iba yang diberikan Bi Inah kepadaku. Seumur hidup tentu bukan waktu yang singkat, menyaksikan diriku yang malang, diriku yang terbuang. Tanpa saudara, bahkan teman. Aku tumbuh dengan cara yang menyedihkan.
“ M a r i Nona, saya antar ke kamar.” Ajak Bi Inah menenangkan tangisku yang tak kian mereda. Ia mengatakan aku harus berbahagia menyambut hari kelahiranku. Ah iya, 17 tahun yang melelahkan. Bagaimana aku lupa hari bersejarah itu? .... Menjelang tengah malam, aku meratapi langit dengan sendu. Berada di balkon Bunda seperti ini sangatlah nikmat, terlebih ditemani teh hangat dan sepotong bolu buatan Bi Inah, semakin bertambahlah syahduku malam ini. Tak lupa piringan hitam Ayah yang meneriakkan banyak lagu nostalgia, menambah kehangatan bagi jiwa yang tak berpenghuni di malam ini. Aku menangis sesegukan, menanti akan ada yang pulang saat ini. Menemaniku menyesap teh hangat, sekedar bercerita
“
Bunda, aku ikut dirimu pulang menghadap Tuhan.
akan indahnya surga, atau sekilas menyapa dan mengatakan aku baik-baik saja. Namun, nyatanya tak ada yang hadir. Rupanya malam terlalu licik menyembunyikan kebahagiaan. Dengan sekenanya, Tuhan asik sendiri dan lupa akan gadis kecilnya yang menanti keajaiban. Aku menatap nanar pada keadaan. Bagaimana bisa aku dihujat dan dijauhi? Sudah 17 tahun berlalu dan terus begini? Tangisku perlahan menyadarkan bahwa aku memilih untuk tidak dilahirkan. Aku rasa aku perlu menyalahkan Tuhan atas hidupku yang sulit. Atau bisa saja ku menuntut Ayah dan Bunda yang tidak bertanggung jawab atas penderitaan yang miliki. Boleh juga ku menyakiti Liana yang berperan paling jahat atas pribadiku yang senang menyendiri. Aku korbannya, bukan? Aku meracau tak karuan. Berbicara pada malam bahwa akulah sosok yang paling menyedihkan. Mereka yang pergi ialah tersangka yang takut ku tuntut salahnya. Sedangkan mereka yang menghujat adalah mereka yang dilindungi Tuhan. Sedangkan
aku yang tersiksa adalah aku yang tak disentuh kebaikan Tuhan. Suasana yang kurasakan pada menit berikutnya mencekam, seperti memintaku untuk mengayunkan tangan dan kaki bersamaan menuju ke tepian. Tiada yang menahan, aku kali ini sedang berseteru kepada Tuhan. Menumpahkan segala cacian atas ketidakadilan yang kuterima. Alunan piringan hitam juga memaksaku terhanyut dalam kebencian. Ah hidupku yang malang. Bagaimana lagi caraku mengakhiri kesakitan ini? Mataku berkunang, jalan pikiranku memburuk. Kaki dan tanganku memaksaku untuk menari, mengikuti detak irama piringan hitam. Bisikan Bunda seketika terdengar samar-samar memintaku terus menari dan lupakan sejenak adanya Sang Pencipta. Aku tersenyum, Bunda benar, ini sangatlah sangat menyenangkan. Meskipun di detik berikutnya hujan membasahi bumi, kakiku nyatanya tiada henti loncat kesana-kemari. Indah, hidupku indah malam ini. Aku tertawa dengan sangat keras dan menyadari berkali-kali bahwa hidupku malam ini sungguh menyenangkan. Ah, baru kusadari mereka benar. Aku telah mengira aku baik-baik saja. Tapi tampaknya Tuhan telah menunjukkan arti kekuasaan, bukan? Apa yang aku pikirkan, rupanya bertentangan dengan segala ketetapan. Kesendirian nyatanya tak dapat membawaku hidup dalam kedamaian. Seperti ada yang memaksa untuk berhenti, meski pikiranku terus memintaku menari, aku kemudian memilih untuk segera mengakhiri. Padahal, sesaat sebelumnya aku telah bersiap diri mengubah takdir, namun kewarasanku tetap tak mempengaruhi pikiranku. Sehingga pada akhirnya, aku memutuskan untuk menempuh jalan yang tak biasa dan mengakhiri segala penderitaan, yakni menambah keyakinan orang kebanyakan tentang diriku yang juga hilang kewarasan. Benar, ku ikuti Bunda yang tampak senang ku mengikutinya dan segera ia tarik aku dari ketinggian untuk menjemputku menuju kematian. Bunda, aku ikut dirimu pulang menghadap Tuhan.[]
Matra Creative Wedding Capture | Photography | Videography
Our Service • • • •
Engagement Session Prewedding Session The Wedding Session Bridal Shower Session
Matra Creative develops every detail objects into our perspective to make a great and lovable masterpiece only for you. We tell stories, embrace experience, and wrap remarkable moment. We belive that every video and photo has it’s own uniqueness and experience for every person.
for business inquires: 0896-5610-4921 0896-5610-4921 SCAN HERE