Tabloid Mahasiswa Universitas Tanjungpura
Edisi 21/LPM Untan/2018
Mimbar Untan
1
Mimbar Untan
Dapur Redaksi
Salam Pers Mahasiswa !!! Kalimat pelecut semangat ini selalu hadir dalam ruang redaksi kru Lembaga Pers Ma hasiswa Untan. Ikut mengiringi segala cerita, suka dan duka dalam proses penggarapan tabloid ini. Banyak yang telah dilewati dan kendala pun di atasi. Penggarapan tabloid di sela kesibukan kuliah merupakan tantangan sendiri. Belum lagi saat berhadapan dengan narasumber yang sulit ditemui dan analisis data yang sangat menguras pikiran. Ditambah dengan perbedaan pendapat dan pemikiran dari banyak kepala yang berujung perdebatan. Namun tanggung jawab untuk menyam paikan hal yang menjadi keresahan mengalah kan segala kesulitan yang hadir. Semuanya di jadikan pelajaran dan pengalaman serta bahan memperkaya tulisan. Dibantu oleh berbagai pihak dan melewati diskusi panjang, akhirnya hadirlah tabloid edisi 21 ini di hadapan para pembaca. Semoga bisa menjadi sumber infor masi dan mempertajam kepekaan mahasiswa akan isu-isu kampus. Tabloid edisi kali ini yang penggarapan nya membutuhkan waktu empat bulan men gangkat tema besar BLU. Untan yang saat ini sudah menyandang status baru tersebut men imbulkan kekhawatiran terkait kenaikan UKT dan transparansi pengelolaan keuangan. Kami
Tabloid Mahasiswa Universitas Tanjungpura
mencoba menjawab ketakutan mahasiswa akan menjadi korban dari upaya peningkatan kualitas layanan pendidikan. Setiap kolom di tabloid ini hadir deng an cerita yang berbeda. Pada kolom kampus, kami mengangkat isu laboratorium micro teaching yang dibangun di SMA Santun Un tan. Sumbangan Pembangunan Institusi yang diterapkan pada mahasiswa angkatan 2017 kami letakkan di kolom khusus. Arboretum Untan juga tak luput dari bahan tulisan kami. Perannya sebagai lahan terbuka hijau diten gah upaya penebangan pohon di sekitar Un tan untuk pembangunan coba kami sajikan dalam kolom lingkungan. Juga banyak kolom lain yang tak kalah menarik, informatif dan menghibur, antara lain: editorial, opini, reli gi, jepretan, resensi, ilmiah, profil, seremoni, dan sastra. Kami mencoba menyajikan informasi dalam tabloid ini dengan sebaik mungkin agar menjadi suguhan yang menarik dihada pan para pembaca. Tak lupa ucapan terima kasih sebanyak-banyaknya kepada semua pihak yang telah membantu proses peng garapan tabloid ini. Kami juga terbuka den gan segala kritik dan saran untuk penyem purnaan tabloid edisi selanjutnya. Selamat membaca.
SUSUNAN REDAKSI
Tabloid Mimbar Untan diterbitkan oleh Lembaga Pers Mahasiswa Universitas Tanjungpura Pontianak Divisi PSDM : Laily Lutfiana, Riduan, Rosmela. Divisi Penerbitan : Adi Rahmad, Umi Tartilawati, Sekar Aprilia, Pelindung : Tuhan Yang Maha Esa Aris Munandar. Penasehat : Rektor Universitas Tanjungpura Divisi Penyiaran : Cindyta, Wiwin, Rio Pratama, Aini Lestari, Pembina : Wakil Rektor III Nurfidya Assyifa. DPL : Alumni Mimbar Untan Divisi Litbang : Suryansah, Mislan, Fikri, Lulu, Maghfira. Divisi Perusahaan : Teguh, Sawitri, Desi Andari, Lola Prianti. Pengurus LPM Untan 20172018 Anggota Tetap : Imam, Rahmad, Rezki, Nurul, Dewi, Sella, Ketua Umum : Muhammad Arif Rahman Sartika, Diyana. Sekretaris Umum : Muhammad Firdaus Anggota Biasa : Julio, Tisa, Nurdian, Feday, Febri, Neldi, Bendahara Umum : Titin Karmila Wahyu, Kiki, Neneng, Ainun, Dayang, Lilis, Sulis, Pandu, Ricky, Lutfi, Rizky, Maisarah, Tyas, Fera, Tri, Ridho, Nisa, Reformanmto, Audri, Gusti, Michael, Rahma, Rizka.
Surat Pembaca
Mahasiswa Fakultas Kedokteran Saat pertama masuk di Fakultas Kedok teran belum ada Taman dan Gazebo dan seka rang sudah ada selain itu kolamnya sudah lebih bagus, juga ada dibuat tempat untuk bersantai. Mengenai gedung untuk bekuliah sekarang program studi Ilmu Keperawatan sudah ada gedung barunya, dilengkapi den gan fasilitas ruang kelas yang mendukung seperti AC, proyektor, lampu, kipas angin, dan kursi sehingga membuat saya nyaman dalam belajar di kelas. Akses internet juga bagus. Terkecuali ge dung baru keperawatan, hanya bagian depan saja yang bisa mengakses internet sedangkan dibagian dalam gedung biasanya jaringannya lamban.
Mahasiswa FMIPA Banyak teman-teman yang lepas dari beasiswa mereka harus membayar sesuai UKT 3 yakni sejumlah Rp 1.800.000. Itu ter masuk mahal karena pada tahun lalu yang lepas dari beasiswa meraka masuk di UKT 2 yang biaya nya lebih murah dari UKT 3. Kondisi kelas aula 1 sangat mempri hatinkan banyak fasilitas yang sudah rusak. Misalkan dari kursi yang digunakan itu kursi kayu jumlahnya juga terbatas. Jika ada maha siswa yang mengulang otomatis jumlah ma hasiswa bertambah namun kursinya tidak ada. Kursi yang ada hanya kursi yang tidak ada tempat untuk menulisnya sehingga ma hasiswa yang mendapat kursi tersebut men ulis hanya bersendarkan paha mereka. Kipas angin juga hanya 2 dari 4 saja yang berfungsi dalam 1 kelas, proyektor pun juga sering rusak. Dengan keadaan kelas yang se perti itu pada saat kuliah jam siang sangat menganggu sekali. Saya berharap dari pihak kampus dapat lebih tanggap untuk mem benahi fasilitas terutama untuk mahasiswa terutama dalam hal proses belajar mengajar. Mahasiswa FKIP Untan Ruang kelas di gedung S1 FKIP bany ak mendapatkan keluhan dari mahasiswa hingga dosen yang mengajar. Hal ini tidak terlepas dari fasilitas yang kurang dan bah kan rusak sehingga tidak mendukung untuk adanya kegiatan belajar mengajar. Kursi yang digunakan ialah kursi kayu itu sangat sulit sekali sebenarnya untuk duduk terlalu lama sehingga tidak nyaman. Kursinya juga kurang jika mau masuk kelas dan kelasnya penuh kita harus membawa kursi dari kelas lain. Kipas angin juga tidak berfungsi keduanya rusak sehingga menjadi gerah dan tidak nyaman untuk belajar fokus belajar pun terganggu. Wifi juga sering ma cet, sehingga mahasiswa sulit untuk akses internet. Mahasiswa FKIP yang sangat ramai den gan fasilitas yang sangat minim itu menurut saya sangat disayangkan sekali, jika alasan nya kurang dana untuk menyediakan fasili tas dengan mahasiswa yang banyak itu bu kan menjadi alasan sebenarnya. Saya sendiri mendapat kan UKT lima dengan membayar Rp. 2.050.000 sebenarnya dengan uang yang saya bayarkan untuk mendapatkan fasili tas seperti itu saya kurang puas. Saya harap pihak birokrat dapat memperhatikan kebu tuhan mahasiswa khususnya dengan menye diakan fasilitas yang layak.
Pimpinan Redaksi : Aris Munandar. Sekretaris Redaksi: Nurfidya Assyifa. Bendahara Redaksi: Sekar Aprilia M. Karikatur: Lola, Sekar Fotografer: All C., Imam. Reporter: All Crew. Kontributor : Erdi. Layouter: Aris.
Alamat Redakasi: Jl. Daya Nasional. Komp. MKU Untan Pontianak 78124, HP: 0852-4810-3116, Blog: mimbaruntan.com, Email: mimbaruntan@gmail.com. Redaksi menerima tulisan berupa Opini, Essay, Laporan kegiatan kampus, Puisi, Cerpen, Hasil Investigasi beserta foto dan caption. Tulisan diketik minimal 2 lembar A4. Redaksi berhak mengedit isi tulisan tanpa merubah makna.
2
Edisi 21/LPM Untan/2018
Mimbar Untan
Tabloid Mahasiswa Universitas Tanjungpura
T
Semi Otonom Berbau Komerisalisasi
anpa banyak bicara dan tak banyak diketahui mahasiswanya, sejak 13 November 2017 lalu Untan sudah menggenggam status Badan La yanan Umun (BLU). Status yang sudah diimpikannya sejak 2008 dan baru didapatkan 10 tahun kemudian. Moratorium pemerintah dan pemenu han segala persyaratan adalah sebabnya. Status ini menjadi impian semua PTN yang masih berstatus Satker, sebelum beralih ke Badan Hukum Milik Negara. Alasan utamanya karena pengelolaan keuangan yang mandiri serta lebih efisien dalam segi pengelolaan keuangan. Inilah yang digadang menjadi solusi dari permasalahan terkait fasilitas yang berhubungan dengan pelay anan pendidikan. Ekspektasi yang tinggi pun digantungkan pada status baru tersebut. Peraturan perundang-undangan membagi pola pengelolaan keuangan di PTN menjadi Satker, BLU dan Badan Hukum. Berdasarkan Buku Laporan Tahunan Kemenristekdikti tahun 2016, di antara 121 PTN di Indonesia, 86 berstatus Satker, 24 berstatus PTN-BLU, dan 11 berstatus PTN-BH. Tiga pola pengelolaan keuangan tersebut seperti membentuk paradigma bahwa status adalah kasta yang menunjukkan tingkatan suatu PTN. Status yang disandang menjadikan gengsi bagi Perguruan Tinggi tersebut. Lihatlah Perguruan Ting gi besar di Indonesia seperti Universitas Indonesia, Universitas Gadjah Mada, Institut Teknologi Bandung, dan sebagainya yang sudah lama menjadi Badan Hukum Milik Negara. BLU juga dianggap batu loncatan sebelum PTN menjadi Badan Hukum. BLU yang masih semi otonom menjadi Badan Hukum yang memiliki otonomi penuh dalam mengelola anggaran rumah tangga dan keuangan. BLU mena warkan pengelolaan keuangan yang lebih efisien. Apa yang didapatkan, tak perlu disetorkan ke kas negara. Pendapatan yang diperoleh bisa langsung digunakan untuk meningkatkan kualitas pelayanan. Ini tertuang dalam UU Nomor 1 Tahun 2004 pasal 69 ayat 6. Pendapatan tersebut bersumber dari layanan jasa, hibah, dan pengelolaan aset. Berbeda dengan Satker yang pen dapatannya harus di setor ke kas negara. Inilah yang dianggap sebagai peru bahan sistem penganggaran tradisional menuju penganggaran berbasis kin erja. Penggunaan dana dari pemerintah tidak lagi berorientasi kepada input, tetapi sudah berorientasi kepada output. Namun BLU di Perguruan Tinggi yang semi otonom dinilai berbagai kalangan sebagai wajah setengah hati pemerintah dan ada kesan lepas ta ngan dalam pengelolaan instansi. Peraturan Pemerintah Nomor 74 Tahun 2012 pasal 9 ayat 1 menerangkan bahwa BLU dapat memungut biaya kepada masyarakat sebagai imbalan atas barang atau jasa layanan yang diberikan. Inilah bentuk praktek bisnis yang dijalankan. Sehingga muncul istilah enterprising the government atau mewirausahakan instansi pemerintah. Ini terke san paradoks dengan Peraturan Pemerintah Nomor 23 Tahun 2005 yang menjelaskan BLU dalam kegiatannya tidak mengutamakan mencari keuntungan. Kesan “komersialisasi pendidikan” dalam keleluasaan untuk menetapkan praktek-praktek bisnis yang sehat untuk meningkatkan pelayanan kepada masyarakat. Peran Perguruan Tinggi seakan berubah dari instansi di lingkun gan pemerintah yang menyediakan jasa layanan pendidikan menjadi pe rusahaan penyedia jasa layanan pendidikan yang tentunya profit oriented. Pola keuangan BLU yang membuat instansi pemerintah
menerapkan praktek bisnis dan dikelola secara mandiri ini pun menimbul kan keresahan terkait transparansi pengelolaan dana. Terlebih Untan, yang sejak masih Satker saja pengelolaan keuangannya tak bisa diakses oleh ma hasiswa. Meskipun dalam persyaratan administratif, instansi itu harus mem buat pernyataan untuk bersedia diaudit secara independen, itu tak membuat praktek-praktek kecurangan dalam pengelolaan BLU bisa dibumihanguskan. Pendapatan BLU dari beberapa sumber, satu di antaranya adalah kerjasama dengan pihak ketiga. Selain kekhawatiran adanya faktor kepentingan yang bertentangan dengan tujuan pendidikan, penyelewengan dalam pengelolaan dana BLU juga merupakan hal yang patut disoroti. Hal ini terjadi pada Univer sitas Jendral Soedirman yang telah ditetapkan menjadi PTN-BLU sejak 2009. Mantan rektornya, Edy Yuwono terlibat penyelewengan dana coorporate social responsibility (CSR) PT. Aneka Tambang. Bukan sekedar membandingkan dengan kampus luar yang sudah mene rapkan BLU dan terjadi masalah, di Untan sendiri yang di tahun 2016, terjadi tindak pidana korupsi pengadaan alat kesehatan Rumah Sakit Pendidikan Universitas Tanjungpura. Mark-up ini melibatkan M. Nasir yang saat itu men jabat Kasubag Perlengkapan Untan dan Ya’ Irwan Syahrial, Direktur Utama PT. Annisa Farma Dewi. Padahal saat itu status Untan masih Satker. Bagaima na kalau sudah BLU yang pengelolaan keuangannya lebih mandiri? Selain kekhawatiran di atas, yang juga menjadi kegelisahan mahasiswa adalah saat kenaikan status, diiringi juga dengan kenaikan UKT. BLU menjadi indikator sebuah PTN dilabeli kampus mahal. Untan kini sedang berbenah dengan dana hibah dari Islamic Development Bank (IDB). Modernisasi dilakukan, tampilan dipercantik, pohon dite bangi untuk pembangunan. Namun ada kesenjangan antara muka dan isinya. Saat wajah Untan dipercantik, di fakultas-fakultas masih menyelenggarakan perkuliahan dengan keterbatasan. Ada kesan Untan hanya mempercantik wa jahnya saat menjemput BLU. Namun yang menjadi pertanyaan adalah apakah Untan sudah siap berBLU yang tujuannya meningkatkan kualitas layanan pendidikan dengan men gandalkan aset yang sudah ada tanpa menaikkan UKT? Melihat aset Untan yang dinilai oleh pengamat ekonomi, Eddy Suratman yang masih belum op timal pengelolaannya, menimbulkan kekhawatiran pada Pola Pengeloaan Keuangan BLU Untan nantinya. Aset-aset yang dimiliki Untan seperti perke bunan sawit di Toho, lahan kosong yang stategis di pusat kota, lapangan golf, jasa penyewaan gedung, dan lain-lain harusnya dioptimalkan dulu pengelo laannya. Jangan sampai di awal proses tersebut Untan terseok-seok, ingin mandiri di segi pengelolaan keuangan, namun kesulitan membiayai instansi dan akh irnya mengorbankan mahasiswa dan mengingkari janji meningkatkan kualitas layanan pendidikan karena kurangnya persia pan dalam pengelolaan aset. Agaknya, BLU jangan han ya menjadi status tanpa merubah kualitas pelayanan pendidikan bagi mahasiswa dan kesejateraan karyawan. Status baru Untan jangan sampai menghilangkan identitas dari pendidi kan yang merupakan hak bagi semua warga negara. Tujuan meningkatkan kualitas pela yanan pendidikan tidak boleh mengorbankan warga negara dari golongan bawah yang ingin menikmati bangku Pergu ruan Tinggi. []
Edisi 21/LPM Untan/2018
3
Mimbar Untan
Tabloid Mahasiswa Universitas Tanjungpura
Dua Wajah BLU Oleh Aris Munandar dan Fikri
Berdasarkan Keputusan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor 830/ KMK.05/2017 pada 13 November 2017 lalu, Universitas Tanjungpura (Untan) resmi menerapkan Pola Pengelolaan Keuangan Badan Layanan Umum (PPK-BLU). Penerapan PPK-BLU ini pun menjadikan Untan sebagai instansi di lingkungan pemerintah yang bersifat semi otonom. Perubahan status dari Satuan Kerja (Satker) ke BLU ini, apakah dapat menjadi solusi dalam peningkatan mutu institusi atau justru menimbulkan masalah lain?
U
ndang-Undang Nomor 12 Tahun 2012 Tentang Pendidikan Tinggi, serta Pera turan Pemerintah Nomor 04 Tahun 2014 tentang Penyelenggaraan Pendidikan Tinggi dan Pengelolaan Perguruan Tinggi mem bagi menjadi tiga pola dalam pengelolaaan keuangan Perguruan Tinggi Negeri (PTN), yaitu pola pengelolaan keuangan negara pada umum nya atau dikenal dengan Satuan Kerja (Satker), Badan Layanan Umum (BLU) dan PTN sebagai Badan Hukum. BLU sendiri merupakan instansi di lingkungan pemerintah yang dibentuk un tuk memberikan pelayanan kepada masyarakat berupa penyediaan barang dan/atau jasa yang dijual tanpa mengutamakan mencari keuntun gan. Selain itu, dalam melakukan kegiatannya didasarkan pada prinsip efisiensi dan produk tivitas. Tujuan penerapan PPK-BLU, seperti yang termuat dalam Peraturan Pemerintah Nomor 23 Tahun 2005 Tentang Pengelolaan Keuangan Badan Layanan Umum, untuk meningkatkan pelayanan kepada masyarakat dalam rangka memajukan kesejahteraan umum dan mencer daskan kehidupan bangsa dengan memberikan fleksibilitas dalam pengelolaan keuangan ber dasarkan prinsip ekonomi, produktivitas dan penerapan praktek bisnis yang sehat. Di Untan sendiri, menurut Bujang Harun selaku Kepala Bagian (Kabag) Perencanaan, gaung Untan untuk menjadi BLU sebenarnya su dah terdengar sejak 2008 silam. Namun saat itu terkendala dengan moratorium yang dilakukan pemerintah. Hingga akhirnya cita-cita tersebut
4
terwujud setelah Untan memenuhi persyaratan substantif, teknis dan administratif. Meski Surat Keputusan dari Kementerian Keuangan telah keluar sejak 13 November 2017, penerapan PPK-BLU di Untan baru terlaksana pada Januari 2018. “Karena kalau kita lakukan di November kemarin sesuai surat keputusan Kementerian Keuangan, itu berdampak kepa da penyusunan dua laporan. Laporan statusnya masih sebagai Satker dan laporan sebagai BLU,” kata Bujang Harun saat ditemui di ruang ker janya, Senin (4/12/2017). Di lain sisi, Eddy Suratman selaku Pen gamat Ekonomi dari Untan melihat keuntun gan bila Untan menerapkan BLU. Hal itu dikare nakan pendapatan Untan tidak lagi disetor ke kas ne gara, sehingga penggunaan dana bisa lebih efisien untuk memperbaiki fasilitas dan layanan. “Bisa diputuskan cepat karena levelnya tinggal di tingat Universitas Tanjungpura kepu tusannya,” ungkapnya, Rabu (13/12/2017). Dengan menjadi BLU, menurutnya Untan bisa mempercepat peningkatan kualitas institusi dan memperoleh akreditasi yang lebih baik. Pengelolaan Pendapatan Berkaca pada kasus yang terjadi di Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Purwokerto, Jawa Tengah pada tahun 2013 lalu. Edy Yuwono selaku rektor saat itu ditetapkan sebagai tersangka korupsi proyek kerjasama dengan PT. Aneka Tam bang yang diperkirakan merugikan
Edisi 21/LPM Untan/2018
negara sebesar Rp. 2,1 miliar. Kasus ini mer upakan satu di antara masalah yang pernah terjadi pada PTN yang menerapkan PPK-BLU. Unsoed sendiri sudah menerapkan PPK-BLU sejak 2010. Di sisi lain, masalah pengelolaan aset Per guruan Tinggi pernah terjadi di Untan, yaitu korupsi pengadaan alat kesehatan Rumah Sakit Untan dari dana APBN-P 2013. Kasus itu menjadikan dua pejabat Untan ditetap kan sebagai tersangka. Saat itu Un tan masih berstatus Satker. Perbedaan Satker dan PPK-BLU terlihat pada pengelolaan dana Penerimaan Nega ra Bukan Pajak (PNBP) yang be rasal dari maha siswa, masyarakat, pengelolaan aset dan sumber lain nya. Saat ma sih berbentuk S a t k e r,
Tabloid Mahasiswa Universitas Tanjungpura
Mimbar Untan
PNBP yang didapatkan oleh Untan harus sistem pengelolaan BLU yang diterapkan di Un katan tarif layanan pendidikan atau biaya kuli disetor dan dikelola oleh negara. Sedangkan tan. Karena menurutnya, PPK-BLU ini mengede ah. Hal inilah menjadi kekhawatiran maha saat sudah berbentuk BLU, PNBP yang didapat pankan efektifitas dan produktivitas. Tetapi siswa. Iwan Kuncoro, Ketua BEM FMIPA Untan kan langsung masuk ke kas Untan sendiri dan mahasiswa asal Kayong Utara ini menggaris mengatakan hanya sebagian mahasisiwa yang dapat digunakan langsung tanpa harus melalui bawahi jangan sampai di Untan terjadi penye tahu Untan akan menjadi BLU. “Mereka tidak prosedur penyetoran ke kas negara. lewengan dalam pengelolaan keuangan BLU. teralu ambil pusing Untan ini dijadikan BLU Berdasarkan data yang diperlihatkan Ka “Ketika Untan sudah menjadi kampus BLU, ha atau tidak. Mereka lebih memikirkan biaya UKT subag Humas Untan Kasturi bahwa pendapatan rus ada pengawalan dari semua pihak. Baik itu mereka,” katanya. Untan di tahun 2017 (masih Satker) sebesar dari mahasiswa, sivitas akademika, dan seluruh Menanggapi kekahawatiran tersebut, Rp. 210 miliar. Sedangkan biaya operasion elemen masyarakat yang ada di kampus,” ung Eddy Suratman mengingatkan, peningkatan al Untan selama 2017 adalah sebesar Rp. 167 kapnya. pendapatan PTN-BLU tidak boleh bersum miliar. Namun saat hendak di ber dari mahasiswa, sesuai mintai rincian sumber-sumber dengan klausul BLU. “Kalau “Kalau meningkatkan SPP mahasiswa tu, pendapatan dan biaya opera meningkatkan SPP mahasiswa sional tersebut, pihak Humas tu, orang bodoh pun bisa, bu orang bodoh pun bisa, Untan menolak. kan cara yang benar untuk Eddy Suratman yang juga ber-BLU. Kalau dia menaikkan bukan cara yang benar untuk ber-BLU. Dekan Fakultas Ekonomi dan SPP, tak perlu profesor jadi Kalau dia menaikkan SPP, tak perlu profesor Bisnis mengatakan, Untan yang rektor kalau menurut saya,” menjadi PPK-BLU juga diikuti tambahnya. Menurutnya, jadi rektor kalau menurut saya,” dengan berubahnya pemikiran dengan tidak menaikkan UKT, birokrat tentang pengelolaan Untan harus mencari sumber Eddy Suratman aset, yaitu bagaimana aset Untan dana lain untuk mewujudkan bisa menjadi pendapatan untuk peningkatan layanan pendi Pengamat Ekonomi Untan pengelolaan lembaga. Pria ke dikan. Sumber-sumber terse lahiran Sumatra Utara ini juga mewanti-wanti Terkait pengelolaan pendapatan Untan, se but ialah hibah terikat maupun tidak terikat, perihal transparansi keuangan yang makin te belumnya reporter sudah berupaya menemui pengelolaan aset, dan kerjasama dengan pihak gas karena adanya dewan pengawas BLU. Wakil Rektor II Bidang Umum dan Keuangan, ketiga, “Jangan dikira kalau udah masuk ke reke Rini Sulistiawati. Namun, dirinya mengarahkan Bujang Harun pun menegaskan, peruba ning Untan dan tidak perlu ke rekening pusat reporter ke bagian perencanaan Untan. han status Untan tidak akan mengorbankan lalu seenaknya rektor, karena adanya dewan mahasiswa dengan menaikkan UKT. “Perpinda pengawas BLU,” katanya. Dewan pengawas Dampak Terhadap UKT han dari Satker ke BLU tidak akan menggang BLU berasal dari dari Kementerian Keuan Kenaikan biaya kuliah (UKT) sebenarnya gu UKT, tidak ada kenaikan UKT,” ungkapnya. gan, Kemenristek Dikti dan lembaga pernah terjadi saat Untan masih berstatus Sat Ia menjelaskan Untan mencari sumber dana terkait lainnya. ker. Seiring berubahnya status Untan menjadi untuk pengelolaan BLU dengan meningkatkan Adi Afrianto selaku Ketua BLU dengan pola pengelolaan keuangan yang pendapatan non akademis seperti kerjasama Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) semi otonom akan berpengaruh pada pening dengan pihak luar dan mengoptimalkan penge Fisip menyambut baik lolaan aset. Terkait perubahan status Untan ini, repor ter LPM Untan mencoba meminta konfirmasi kepada Rektor Untan pada Selasa, 9 Januari lalu, namun beliau tidak bersedia dan mendis posisikan surat permohonan wawancara ke Wakil Rektor (WR) III Bidang Kemahasiswaan dan Alumni. Namun ketika dikonfirmasi ke pi hak WR III, surat tersebut didisposisikan kem bali, karena merasa bukan bidangnya. Hingga kini belum didapatkan jawaban langsung dari rektor Untan terkait perubahan status Untan menjadi BLU. Namun saat diadakan Sosialisasi Pen gelolaan Keuangan Badan Layanan Umum di Rektorat Untan pada 1 Februari 2018, Tham rin Usman berjanji tidak akan menaikkan UKT mahasiswa. “Itu sudah janji kami. Tolong ba pak ibu, para dekan, dicatat, jangan sesekali menyentuh urusan pungutan tertentu dari ma hasiswa.” Ungkapnya. []
Karikatur: Sekar dan Lola
Edisi 21/LPM Untan/2018
5
Mimbar Untan
Tabloid Mahasiswa Universitas Tanjungpura
Menyoal Pembangunan Laboratorium Micro Teaching FKIP Untan Oleh: Sekar Aprilia dan Lola Prianti
Laboratorium (Lab) Micro Teaching merupakan tempat simulasi pengajaran di dalam kelas yang digunakan sebagai ajang persiapan sebelum mahasiswa melakukan Praktek Pengalaman Lapangan (PPL). Lab Micro teaching FKIP Untan pun sedang dalam proses pembangunan di SMA Santun. Sebenarnya pembangunan ini sudah sejak lama direncanakan. Namun baru dilakukan karena sebelumnya sempat terkendala soal anggaran dan FKIP Untan tahun ini akan menyelenggarakan Pendidikan Profesi Guru (PPG).
B
erdasarkan Undang-Undang (UU) Re publik Indonesia Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, pasal 1 ayat 1 tertera bahwa “Guru adalah pendidik profes sional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah.” Oleh karena itu, maha siswa pendidikan dan keguruan perlu melaku kan microteaching agar dapat mempersiapkan diri menjadi calon guru sebagaimana diamanat kan pada UU tersebut. Dalam hal ini, keberadaan laboratorium pun dibutuhkan. Laboratorium Micro teaching bagi mahasiswa Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Untan merupakan tempat simulasi pengajaran di dalam kelas dengan ma
6
hasiswa sebagai pesertanya. Sebagai salah satu penunjang proses pembelajaran, Lab Micro teaching digunakan sebagai ajang persiapan sebelum mahasiswa melakukan Praktek Peng alaman Lapangan (PPL). PPL merupakan pun cak akumulasi dari segala pembelajaran yang telah diterima mahasiswa FKIP untuk kemudi an menjadi calon guru sesungguhnya. Di FKIP Untan, salah satu Lab micro teaching yang berlokasi di SMA Santun sedang dalam proses pembangunan. Sebelumnya, telah ter dapat lab micro teaching di FKIP namun dalam jumlah dan proses penyelenggarannya tidak mampu menjawab kebutuhan mahasiswa. Bektiselaku Ketua BEM FKIP mengatakan bah wa selama ini kegiatan micro teaching hanya berlangsung di kelas sehingga dengan adanya ruang khusus maka akan mempermudah ma
Edisi 21/LPM Untan/2018
hasiswa dalam proses pembelajarannya. “Ke tika membutuhkan perangkat alat peraga, kita angkut dulu dari laboratorium praktikum kita bawa ke kelas. Sehingga dengan adanya Lab micro teaching sendiri, maka pendukung pros es pembelajaran itu ada,” ungkapnya, Kamis (18/1/2018). Namun menurut Bekti, pembangunan per pustakaan lebih penting daripada Lab Micro teaching. “Lab micro teaching khusus untuk se mester enam, sementara perpustakaan untuk seluruh mahasiswa, maka lebih urgensi pem bangunan perpustakaan,” katanya. Ia berharap pembangunan Lab Micro teaching tersebut tidak hanya sekedar bangu nan semata, tetapi juga dilengkapi oleh perang kat pendukung sesuai kebutuhan mahasiswa. “Setelah dibangun, bukan hanya sekedar bang
Tabloid Mahasiswa Universitas Tanjungpura unan tapi di dalamnya terisi perangkat pen dukung yang ada di dalamnya,” harapnya.
Keterlambatan Pembangunan Fahrul satu di antara mahasiswa FKIP yang kini duduk di semester tujuh mengatakan, ruang Lab Mirco teaching yang ada selama ini tidak mampu menjawab kebutuhan seluruh mahasiswa FKIP. “Kalau di FKIP sendiri selama ini hanya ada satu sampai dua lab itu tidak be sar-besar amat. Tidak sepenuhnya digunakan. Tidak efektif,” keluhnya, Kamis (14/12/2017). Fahrul juga menyayangkan keterlambatan pembangunan karena mahasiswa semester tujuh sudah tidak dapat lagi merasakannya. Namun, ia berharap dengan adanya pemba ngunan ini nanti dapat digunakan oleh semua Prodi secara menyeluruh. “Semoga bisa ber guna, bermanfaat, difasilitasi sebagai sarana prasarana yang ada di sekolah,” harapnya. Terkait keterlambatan pembangunan Lab Micro teaching, Yohannes selaku Wakil Dekan II FKIP angkat bicara. Menurutnya, pembang unan Lab Micro teaching merupakan salah satu persyaratan karena pada tahun ini Untan men dapatkan kesempatan menyelenggarakan Pen didikan Profesi Guru (PPG), sehingga pemban gunan Lab Micro teaching menjadi prioritas. PPG adalah pendidikan tinggi setelah program sarjana yang mempersiapkan peserta didik untuk memiliki pekerjaan dengan persyaratan keahlian khusus menjadi seorang guru. “Kita sekarang dituntut mau tidak mau, kita akan menyelenggarakan PPG, bukan lagi S1 biasa. Jadi yang lulus S1 lanjut PPG,” lanjutnya, Jumat (19/1/2018). Ia juga menjelaskan, biaya pembangu nan Lab tahun 2018 mengalami peningkatan dibandingkan tahun sebelumnya. Hal ini dika renakan pada tahun 2017 dikhususkan untuk pembangunan pondasi, sementara tahun 2018 melengkapi pem bangunan terse but hingga sele sai. “Anggarannya dari FKIP, tahun ini sekitar 2,3 miliyar dan tahun lalu hanya sekitar 700 sampai 800 juta,” jelasnya. Menyikapi pembangunan lab micro teaching di SMA San tun Untan ini, Martono selaku Dekan FKIP me ngatakan bahwa pembangunan ini merupakan suatu upaya yang sudah direncanakan se
Mimbar Untan
jak dulu, namun karena terdapat kendala dalam hal anggaran, pembangunan tersebut baru ter laksana sekarang. “Pembangunannya udah direncanakan lama, tapi kan karena menyele saikan anggaran,” jelasnya, Selasa (2/1/2018).
Dibangun di SMA Santun Berdasarkan pemaparan Martono, pem bangunan Lab Micro teaching yang berlokasi di SMA Santun dipilih karena mengingat bahwa tanah tersebut milik Untan serta merupakan keputusan yang telah diambil bersama rektor dan jajarannya. Ia juga menjelaskan, rencana pembangunan Lab Micro teaching nantinya akan dibuat satu gedung dengan jumlah ruang an yang dapat digunakan oleh seluruh prodi secara terjadwal. “SMA Santun itukan tanah Untan dan karena FKIP ini kan sudah terbatas. Nanti di sana ada dua tingkat 14 ruangan,” je lasnya. Suryadi selaku Kepala Sekolah SMA Santun mendukung terhadap pembangunan lab microteaching tersebut karena telah terjadi kesepa katan persetujuan antara kedua belah pihak. “Harus mendukung dong. Itu kan program un tuk kepentingan kampus dan kepentingan kita semua. Masalahnya nanti bagaimana kan nanti diatur sepanjang musyawarah mufakat,” kata nya, Jumat (8/12/2017). Adanya pembangunan Lab Micro Teaching ini, kata Suryadi, tidak mengganggu proses be lajar mengajar di SMA Santun. “Tidak meng ganggu proses belajar mengajar, selama dalam hal baik. Kegiatan in dan ekstra kan tetap ber jalan sebagaimana mestinya. Namun juga tidak mengesampingkan urusan akademik,” ungkap nya. Suryadi menambahkan, sebagai pelaksana ia pasti akan melaksanakan tugas yang diperin tahkan oleh pengambil kebijakan, yakni pihak
Edisi 21/LPM Untan/2018
Untan. Apalagi mengingat bahwa SMA yang di dirikan yayasan penyantun Untan sejak tahun 1985 ini masih di dalam ruang lingkup Untan. “Gedung kita masih numpang di Untan, walau ada beberapa bagian yang dibangun oleh pihak yayasan. Sepanjang tujuannya baik. Apalagi kita dalam kondisi numpang di sini dan diberikan kepercayaan kan Alhamdulillah,” katanya. Menurutnya, dahulu SMA Santun me mang merupakan gedung micro teaching bagi mahasiswa FKIP. “Dulu memang dasarnya di sini memang gedung microteaching. Sebagai sa rana praktek, kolaborasi, komunikasi, bagaima na menerapkan kurikulum yang telah diajarkan di kampus kan butuh orang,” tukasnya. Ia juga mengatakan hubungan Untan dan SMA Santun adalah kerjasama antara rektor dan kepala yayasan. “Yayasan sma santun tidak di bawah untan. Dulu itu ada yayasan penyan tun unviersitas tanjungpura, seiring waktu ti dak optimal. Kita dengan untan ini bentuknya kerja sama.”lanjutnya. Namun, di sisi lain, pembangunan Lab oratorium Microteaching yang sedang dilak sanakan di SMA Santun ini menuai keluhan dari siswa SMA Santun. Hal tersebut dikare nakan lokasi pembangunan ini dahulunya digu nakan sebagai aula SMA Santun. “Sebelumnya, digunakan sebagai aula sekolah kami,” kata Hari Pangestu selaku Ketua OSIS SMA Santun. Hal senada diungkapkan Nisa, satu di an tara siswa SMA Santun. Ia mengatakan, pem bangunan Lab Micro teaching tersebut menye babkan terhentinya kegiatan di luar jam belajar untuk sementara waktu. “Antara setuju sama endak sih. Dilihat orang itu tu punya Santun pa dahal bukan. Ndak setujunya karena ruangan di sekolah jadi minim. Sebelumnya itu aula buat Mopdb dan kemah. Semenjak pembangunan ini, ndak ada kegiatan apa-apa,” ungkapnya. []
7
Mimbar Untan
Tabloid Mahasiswa Universitas Tanjungpura
Janji Tak Manis Bagi Penenun Oleh: Aris dan Sekar
Kainnya berkelana sampai ke negara tetangga, namun hanya segelintir yang mengenal siapa pembuatnya. Pernah juga diiming-imingi bantuan namun tak pernah dapat kepastian. Padahal apresiasi terhadap peninggalan budaya tengah digalakkan agar tidak tergerus oleh zaman, pelestarinya malah merasa tidak diperhatikan. Ialah penenun dari Kampung Wisata Tenun Khatulistiwa. Di ruangan dengan ribuan buku tersusun rapi di etalase kaca, di situ lah Syafaruddin Usman menjamu tamunya. Sejarawan cum budayawan ini bercerita bagaimana awal lahirnya kain corak insang. Wanita-wanita yang tinggal di daerah aliran sungai di Pontianak sambil menunggu sua minya pulang, membuat kain dari serat daun nanas untuk dijual ke pasar. Awalnya masih berwarna polos. Karena akrab dengan sungai, maka ter inspirasilah untuk memberi motif kepala ikan pada kain tersebut, hingga akhirnya terciptalah kain corak insang yang mulai ada sejak awal abad ke-19. “Memadukan alam sebagai wadah kehidupan,” ucap pria yang juga berprofesi sebagai dosen ini menjelaskan filosofi dari corak insang. Ia juga bercerita tentang kain songket Sambas yang lebih dulu dibuat. “Pembuatan songket Sambas menggunakan teknologi yang lebih tinggi dibanding kain corak insang,” ucapnya membandingkan teknologi pem buatan kedua kain pada masa lampau. Kain hasil akulturasi kebudayaan Melayu lokal dan Melayu Brunei ini mempunyai nilai ekonomi yang rela tif tinggi, hingga menjadi penanda status sosial. “Benang emas di kain itu penanda bahwa orang melayu itu makmur sejahtera,” katanya. Suasana berbeda terasa saat memasuki Gang Sambas Jaya, Kelura han Batu Layang, Kota Pontianak. Tak seperti daerah lain di Pontianak yang selalu disesaki kebisingan kendaraan. Layaknya oase di padang pa sir, atmosfer pedesaan masih kentara. Daerah yang bersebelahan dengan pemakaman Tionghoa ini sekarang sudah menjadi Kampung Wisata. Di sinilah sentra pembuatan kain corak insang dan kain songket Sambas. Menyusuri jalan yang berukuran kurang dari dua meter dengan kondisi berlubang. Ditemani pepohonan hijau yang masih tegak berdiri di tepian jalan, tak tergerus oleh lajunya pembangunan. Keramahan mas yarakatnya masih turut mewarnai suasana daerah tersebut. Sebagai Kampung Wisata yang warganya masih melestarikan tenun tradisional, tentu menjadi daya tarik tersendiri untuk dikunjungi wisa tawan. Kampung wisata tersebut meskipun belum lama berdiri, sudah dikunjungi oleh wisatawan lokal maupun mancanegara. Terutama tamu-tamu yang dibawa oleh pemerintah untuk memperkenalkan budaya Pontianak.
Kurniati adalah satu di antara warga Gang Sambas Jaya yang ma sih setia menenun. Bagian belakang rumahnya difungsikan sebagai tempat menenun. Ia menenun dua jenis kain, yaitu kain corak insang dan kain songket Sambas. Karena bahan baku yang mahal dan pros es pembuatan yang masih manual membutuhkan waktu hingga satu bulan untuk satu potong kain, dia mematok harga mulai dari 400.000 sampai 3 juta rupiah. Kurniati yang merupakan ketua dari kelompok penenun “Mekar Sari”, menjelaskan bahwa namanya dulu bukanlah itu. “Nama awalnya adalah ‘Mekar 1’, lalu muncul lagi mekar 2, dan sekarang menjadi Me kar Sari,” ucapnya sambil memperlihatkan foto saat kunjungan orang Mesir ke kediamannya yang masih terdapat plang nama kelompok “Me kar 1”. Terlihat pula ada empat penghargaan dan sertifikat terpajang di dinding rumahnya. Mulai dari Pemerintah Kota Pontianak sampai Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Indonesia (STIESIA) Surabaya. Menurut nya bentuk apresiasi terhadap tenun tak hanya sekedar lewat kegiatan pameran, pelatihan, maupun sertifikat yang tak terlalu berarti apaapa. Seharusnya, pemerintah menyediakan fasilitas serta memberikan bantuan dana yang dapat menjawab kebutuhan pengrajin tenun. Awalnya wanita yang telah menggeluti dunia tenun sejak rema ja ini enggan diwawancarai. Hal ini bukan tanpa alasan. Wanita yang tetap teguh menjaga warisan budaya lokal ini merasa tak pernah mendapatkan bantuan pemodalan. Ia sering didatangi berbagai pihak yang menawarkan bantuan modal untuk mengembangkan usahanya, mulai dari pemerintah, instansi pendidikan, sampai turis mancanega ra. Kebanyakan hanya memberi janji dan tak satu pun terwujud. Per nah ada salah satu instansi pemerintah yang akan mencairkan dana untuk membantu usaha kelompoknya. Namun setelah tanda tangan di selembar kertas, ia tak pernah menerima sepeser pun uang tersebut. “Jadi sekarang agak anti sama orang yang dikasi ke percayaan,” ungkapnya. Ia mengeluhkan tidak adanya tindak lanjut dari Pemerintah terhadap Kampung Tenun ini sendiri. Kalaupun ada itu hanya dalam bentuk diajak ikut ser ta dalam pameran dan pelati han. Adapun pelatihan dari berbagai pihak menurutnya tidak sesuai harapan. “Un tuk apa diberi pelatihan, kita sudah bisa menenun,” katanya. Kurniati berharap ada bantuan nyata dari pemer intah. Ia ingin mempunyai galeri tempat memajang kain hasil tenunnya. Bersambung ke halama 14
8
Edisi 21/LPM Untan/2018
Tabloid Mahasiswa Universitas Tanjungpura
Mimbar Untan
Persoalan Arboretum di Dekade Ke-4 Oleh: Lola dan Fidia
Arboretum Sylva Untan yang sudah adasejak tahun80-an memiliki banyak p eran. Namun saat mengarungi dekade ke-4, eksistensinya terancam. Mulai dari pengelolaanyang minim dana sampaiisu konversi lahan. Lalu sejauh mana peran Universitas Tanjungpura dan Pemerintah Kota Pontianak mempertahankan Ruang Terbuka Hijau ini?
A
rboretum Sylva Universitas Tanjung pura terletak di Jalan Ahmad Yani, berdekatan dengan Tugu Digulis dan masih merupakan kawasan Untan. Pengertian Arboretum sendiri merujuk pada tempat atau lokasi penanaman dan pengembangbiakan po hon untuk tujuan pendidikan dan penelitian. Arboretum termasuk salah satu hutan kota yang kini masuk dalam kawasan Ruang Terbu ka Hijau (RTH) Kota Pontianak. Kawasan hutan kota dalam Peraturan Daerah Kota Pontianak Nomor 2 Tahun 2013 Tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Pon tianak Tahun 2013 - 2033 termasuk ke dalam ruang terbuka hijau publik. Artinya kawasan tersebut dapat dimanfaatkan sebagai tempat rekreasi, wisata alam, budi daya tanaman, pe nangkaran satwa liar, rehabilitasi satwa, fasili tas pendidikan dan penelitian kebotanian. Ar boretum juga berfungsi sebagai paru-paru kota dan penghasil oksigen, sebagai daerah peresa pan air, sebagai penyaring dan pereduksi polu tan di udara, sebagai penghambat suara atau menurunkan tingkat kebisingan kota, sebagai penyusun atau memperbaiki iklim mikro, un tuk mengurangi erosi tanah. Gusti Hardiansyah menceritakan, saat Sylva Camp pertama tahun 1986, tercetus pemikiran untuk membuat Arboretum. Hal ini karena ter dapat area milik Fakultas Pertanian seluas 3,8 Ha yang hanya ditanami kebun jagung dan se mak belukar. Tanaman jagung tersebut kemu dian diganti dengan tanaman kehutanan yang mana setiap angkatan dari jurusan Kehutanan pada masa itu dituntut untuk menanam bibit pohon endemik Kalimatan Barat. “Kita waktu tahun 1986 di Sylva Camp itu mengumpulkan bibit dan menanam di situ. Secara konsep kita juga memberikan masukan,” ungkapnya yang sekarang menjadi dekan Fakultas Kehutanan. Struktur tanah yang buruk, tanaman yang tidak sesuai, kekurangan dana, dan tidak ada
badan khusus yang menanganinya menjadi penghambat pembangunan Arboretum saat itu. Akhirnya pada tanggal 5 Maret 1990, dia dakanlah Diskusi Informal Pembangunan Ar boretum untuk membentuk badan khusus pen gelola Arboretum. Pria kelahiran Pontianak, 50 tahun lalu ini juga menjelaskan Arboretum ini bukan ta man, tetapi merupakan koleksi flora dan fauna. “Awalnya bukan Ruang Terbuka Hijau, teta pi memang untuk Arboretum. Arboretum ini semacam laboratorium alam,” jelasnya. “Da hulu kalau ada illegal logging dan penangka pan Orang Utan, dititipkan ke Arboretum oleh BKSDA (Badan Konservasi Sumber Daya Alam/ red),” tambahnya. Demanhuri Gustira, pengamat lingkungan yang juga alumni Fakultas Kehutanan ini men ceritakan bagaimana dulu Arboretum menjadi tempatnya belajar membudidayakan tanaman langka seperti tengkawang dan tanaman lain nya. “Jangan sampai orang Pontianak, nggak tahu pohon tengkawang, nggak tahu pohon belian taunya cuma kayu belian,” ucapnya. Ia juga melihat ada ikan-ikan yang sudah hilang di parit Pontianak, masih ada di parit-parit Ar boretum. Dalam Arboretum Sylva Untan, terdapat 190 jenis pohon, 86 anggrek, 176 perdu dan tumbuhan bawah, 12 jenis mamalia, 32 jenis burung, 14 jenis herpetofauna dan 35 jenis serangga. Dari 190 jenis pohon tersebut, ter dapat juga beberapa tumbuhan endemik Kali mantan Barat yang sudah langka seperti kruing (Shorea balangeran), ulin (Eusideroxsylon zwageri), jelutung (Dyra costulata), agathis (Aghatis borneosis). Yuda Kurniawan selaku mahasiswa Fakul tas Teknik prodi Teknik Lingkungan sering kali menjadikan Arboretum Sylva Untan se bagai jalan favoritnya karena suasana sejuk iklim mikro masih terasa di sana. “Nah seperti
Edisi 21/LPM Untan/2018
yang kita tau pepohonan kan berguna untuk mengikat karbondioksida sehingga jika kita bisa memperbanyak jumlah pohon kita bisa membantu lingkungan juga. selain itu udara juga lebih sejuk,” ungkapnya. Ke depannya, ia berharap keberadaan Ar boretum Sylva Untan dapat terfasilitasi dengan baik karena perannya yang tak hanya sebagai penghias kota, tetapi berdampak positif bagi lingkungan. “Wah sangat penting karena di kota, sudah jarang ditanami pohon. Apalagi di pusat kota yang lalu lintasnya padat kenda raan, pencemaran udara oleh karbon dioksida juga banyak,” harapnya. Peran Pemerintah Markus PLT Ketua BEM Fakultas Kehutan an menghargai pemerintah pemkot yang telah meresmikan taman di dekat Arboretum yang diharapnya juga menjadi awal kepedulian yang lebih dari pemerintah. “Kehutanan lebih iden tik dengan nama Sylva, berterimakasih dengan walikota karena sudah mewujudkan aspirasi untuk penamaan Arboretum Sylva Untan pas tahun baru kemarin,” ucapnya. Ia juga berharap dengan adanya taman di depan Arboretum, dapat meningkatkan ketertarikan masyarakat untuk berkujung ke tempat tanaman-tanaman endemik langka yang ada di Kalimantan Barat tersebut. Senada dengan Markus, Gusti Hardian syah juga mengucapkan terima kasih kepada Pemerintahan Kota Pontianak yang meresmi kan plang nama Arboretum Sylva Untan. “Ini salah satu entuk promosi,” ucapnya. Namun ia mengharapkan kepedulian pemerintah dalam bentuk penganggaran dana. “Kita harapkan di anggarkan tiap tahun dalam rangka konstruk si dan pemeliharaan lingkungan Arboretum,” harapnya. Bersambung ke halama 14
9
Mimbar Untan
Tabloid Mahasiswa Universitas Tanjungpura
MEMBANGUNKAN POTENSI KEAKSARAAN MAHASISWA ZAMAN NOW
M
ahasiswa adalah sumber daya dan po tensi setiap perguruan tinggi. Oleh karena itu, mengembangkan poten si mereka merupakan bagian dari tujuan pen didikan tinggi sebagaimana termuat dalam UU No 12 Tahun 2012 tentang Pendidikan Tinggi; Pasal 5 yang menyatakan bahwa “salah satu tu juan pendidikan tinggi adalah mengembangkan potensi mahasiswa agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, terampil, kompeten, dan berbu daya untuk kepentingan bangsa.” Selanjutnya di dalam Pasal 13 disebutkan bahwa kewajiban seo rang mahasiswa ialah “secara aktif mengembang kan potensinya dengan melakukan pembelajaran, pencarian kebenaran ilmiah, dan penguasaan, pengembangan dan pengamalan suatu cabang ilmu pengetahuan dan teknologi untuk menjadi ilmuwan, intelektual, praktisi, atau profesional yang berbudaya”. Dari dua pasal di atas terkandung makna bahwa tugas utama seorang mahasiswa ialah belajar. Memang terjadi pergeseran peran maha siswa antara zaman dulu dengan zaman now. Ma hasiswa zaman dulu selain memerankan peran sebagaimana tersebut pada pasal 13; juga boleh mengkritik dan mengawal jalannya penyelengga raan pemerintahan melalui berbagai jalur dan in stitusi kepemudaan. Peran itu kini diminimalkan dan mahasiswa zaman now hanya fokus pada tiga agenda utama; yakni berproses menjadi intelek tual handal, bermoral dan peka. Tulisan ini; se lain menjelaskan ketiga kapasitas di atas sebagai akhir dari sebuah proses belajar; juga menggu gah peran dosen dalam membentuk kapasitas mahasiswa di zaman now.
Agenda Membentuk Kapasitas Mahasiswa Seperti yang telah disebutkan di atas, ter dapat tiga agenda penting dalam membentuk kapasitas mahasiswa zaman now. Pertama, ber proses membentuk intelektual handal dalam bidang ilmu yang ditekuni;agar menjadi sarjana tidak setengah jadi. Kedua, proses membentuk intelektual bermoral, yaitu sarjana yang bukan sekadar atau hanya berpengetahuan melainkan juga menyandang etika luhur yang sesuai dengan kaidah-kaidah a gama dan sosial. Ketiga, proses membentuk intelektual yang peka terhadap ma salah sosial, yaitu sarjana yang memiliki keingi
10
Oleh: Dr. Erdi, M.Si Dosen FISIP UNTAN nan untuk berkontribusi positif dalam kehidupan masyarakat, bukan menjadi beban masyarakat. Sudahkah mahasiswa zaman now mampu mener ima ketiga tantangan di atas? Tulisan ini menco ba untuk menelisiknya. Hahenussa (2015) dalam tulisannya melan sir hasil penelitian Litbang Kompas yang dimuat 2 Desember 2014 menyebutkan bahwa hanya terdapat 10 persen hasil karya ilmiah mahasiswa yang dibuat sendiri. Banyak di antara sarjana zaman now yang menyelesaikan studi dengan mengandalkan jasa pembuat skripsi. Dari ha sil penelitian ini juga ditemukan sebanyak 65% laporan akhir tidak melalui proses penelitian tetapi lebih banyak menggunakan sumber inter net. Bahkan, diantara 65% tersebut, sekitar 43% tidak membuat laporan sendiri, namun menggu nakan jasa pembuat skripsi. Bilamana kondisi ini tidak disikapi; akan terjadi degradasi kualitas intelektual mahasiswa zaman now. Pelbagai akses kemudahan zaman now ternyata tak berbanding lurus dengan kual itas intelektual. Besarnya rayuan pragmatis mer upakan salah satu penyebab persoalan di atas.
Edisi 21/LPM Untan/2018
Hingga saat ini; tidak banyak yang berusaha membuktikan fenomena ini dan bahkan mesin pelacak kesamaan (plagiarism) pun tidak difung sikan sehingga laporan litbang kompas ini hilang seiring dengan berjalannya waktu. Sungguh se buah temuan spektakuler yang semestinya dib uktikan ketidak-benarannya. Saat ini, kapasitas mahasiswa seakan le bih banyak ke arah kelisanan (orality) diban ding keberaksaraan (literacy). Aktivitas di dalam kampus lebih banyak pada kegiatan pelatihan berbasis oral ketimbang keberaksaan. Untuk itu; upaya move on dari tradisi kelisananke tradisi keberaksaraan menjadi penting dilakukan per guruan tinggi; tidak terkecuali di Untan. Untuk memfasilitasi ini, Kemenristek Dikti sebenarnya telah menyediakan dana yang cukup besar un tuk diakses mahasiswa dalam mengembangkan kapasitas intelektual keberaksaraan. Namun, ke beradaan dana riset untuk mahasiswa ini tidak terserap secara maksimal. Sebuah tantangan bagi mahasiswa Untan untuk mampu mendownload pendanaan ini di masa depan. Proses membentuk intelektual yang peka
terhadap masalah social salah satunya dapat men contoh perguruan tinggi di Malaysia. Menurut Ahmad dan Jamaludin (2007) pemerintah di Ma laysia yang lebih berorientasi pada pendidikan di Inggris memanfaatkan waktu libur mahasiswa untuk mengikuti aktivitas penambah kemahiran yang tidak dipelajari di dalam kelas. Kegiatan-ke giatan tersebut diantaranya adalah pelatihan bidang komunikasi, kepemimpinan, bekerja da lam tim dan lain-lain dengan melibatkan juru la tih (dosen) dan pelatih professional. Untuk pros es kedua ini sudah sangat baik dan cukup sukses dilakukan mahasiswa zaman now. Kemudian, sikap mahasiswa atas perma salahan sosial yang diukur melalui aksi solidar itas, aksidamai, dan aksi demontrasi seperti hasil peneltian Rahayu dkk (2002) adalah telah jauh berkurang. Pengurangan ini tentu terkait dengan No 12 Tahun 2012 tentang Pendidikan Tinggi yang telah membatasi aktivitas maha siswa di luar kampus. Dampaknya adalah sikap kritis mahasiswa zaman now atas persoalan so sial dan pemerintahan drastis menurun. Pada hal, sikap kritis dapat mendekatkan mashasiswa pada masyarakat dan menjadi implementasi dari wujud Tri Dharma Perguruan Tinggi yang semes tinya berlanjut seiring dengan diberlakukannya
Tabloid Mahasiswa Universitas Tanjungpura UU No. 12 tahun 2012. Untuk itulah diperlukan penggalakan kembali program kuliah kerjanyata (KKN) agar sikap kritis seperti yang dimiliki ma
hasiswa zaman dulu kembali dimiliki mahasiswa zaman now. Tujuannya, selain untukmeningkat kan kepedulian mahasiswakepada masyarakatju ga untukmelaksanakan program pemerintah; ter utama masalah yag terkait dengan pengentasan kemiskinan, ketertinggalan daerah dan keter batasan akses publik dalam layanan pemerintah. Penelitian ini juga mencatat bahwa sikap kritis mahasiswa, selain masih sangat diperlu kan juga ternyata tidak berubah seiring dengan diberlakukannya UU No. 12 Tahun 2012. Perjuan gan mahasiswa;baik zaman dulu hingga zaman now adalah konsisten (Yasmindo (1975) yakni dinamis, militan, kreatif, jujur, berani, dan tanpa pamrih. Ketika sikap kritis mahasiswa ini tetap mampu dipertahankan; maka sebuah perguruan tinggi akan diperhitungkan meskipun caranya telah move on ke cara-cara yang lebih elegan dan damai, sesuai tingkat intelektual yang diharap kan pemerintah, yakni tidak dengan aksi yang anarkis. Akhirnya, mahasiswa zaman now lebih memilih dan mengikuti diskusi untuk mencari solusi perbaikan atas fasilitas pendidikan, meng galang dana untuk warga miskin atau korban bencana, aksi untuk menolak kekerasan aparat, diskusi mencari solusi dalam meningkatkan upah mimimun regional (UMR), aksi damai da lam menuntut kenaikan upah mimimun regional, menolak pembangunan mall yang dianggap lebih konglomerasi. Semestinya, sikap kritis seperti demikian, menurut Denny (1998)tetap diper tahankan karena bernilai prestise tinggi. Setelah menyerap “aspirasi” dari masyarakat; maka ma hasiswa zaman now diharapkan mampu mela hirkan proposal KKM yang dapat dibiayai dari tidak saja oleh Kemenristen Dikti tetapi juga dari sumber pendanaan lain karena hasil riset maha siswa dapat diimplementasikan bagi perbaikan suatu kondisi kehidupan di masyarakat. Meski pun halayan penulis ini agak tinggi, tetapi sebagai bagian dari kehidupan mahasiswa zaman now; tentunya penulis tidak boleh berhenti menghayal setinggi-tingginya. Peran Dosen Zaman Now Keaktifan dan kemauan mahasiswa untuk menulis tidak bisa dilepaskan dari peranan dosen (Zulfahmi, 2015). Tugas dosen yang tersurat da lam UU No.14 tahun 2005 adalah meningkatkan dan mengembangkan kualifikasi akademik dan kompetensi secara berkelanjutan sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan senI. Tugas tersebut mengisyaratkan kepada dosen untuk mampu mengembangkan kompeten si mahasiswa disamping meningkatkan kualitas dirinya. Akan tetapi sinergisitas yang terjadi se
Mimbar Untan
lama ini antara dosen dan mahasiswa cenderung masih rendah, terutama bila ditinjau dari jumlah penelitian dan pengabdian yang diterima dosen
dibandingkan dengan jumlah proposal PKM yang diusulkan mahasiswa. Sebagai dosen yang dikenal dengan julukan “dosen killer” dan dalam mewujudkan kapasitas yang tersembunyi dari mahasiswa, penulis sela lu meminta kepada mahasiswa untuk melakukan tiga hal sekaligus. Ketiga hal ini tentunya merupa kan proses untuk mewujudkan kapasitas optimal seperti tiga agenda penting PT sebagaimana ter bahas di bagian kedua. Selain melakukan tiga hal ini; setiap mahasiswa yang mengambil mata kuli ah penulis mesti memenuhi absen terlebih dahu lu dengan maksimal ketidak-hadiran sebanyak 3 (tiga) kali. Tanpa kehadiran cukup; ketiga kom ponen ini dengan sendirinya tidak akan muncul dalam SIAKAD. Ketiga hal itu adalah (https:// www.academia.edu/12107013/SOP_PERKULIA HAN): 1. Menulis satu artikel mengiku ti konten mata kuliah dengan berpedoman pada Standar Operasional dan Prosedur (SOP) yang telah penulis siapkan. Tidak ha nya itu; mereka juga ditantang untuk mema sukkan artikel itu ke media dan mengung gahnya ke blog dengan tag kepada penulis. Ketika tulisan itu dimuat; maka nilai untuk unsur ini sudah pasti 90 dan sebagai dosen yang memonitor media; penulis selalu mem beri ucapan selamat kepada mahasiswa itu. 2. Mereview satu artikel dengan ma teri yang berkaitan dengan kompetensi mata kuliah dengan berpedoman pada SOP yang telah penulis tentukan. Ketika tulisan review itu dimuat di media massa; maka nilai untuk unsur ini juga diganjar 90. Kebahagiaan ma hasiswa ketika penulis mengirim kabar ke pada mereka terkait ucapan selamat penulis atas pemuatan artikel ini. 3. Mereview buku dengan mengikuti SOP yang sudah dibuat. Apa yang saya terapkan di atas tidak lain adalah dalam kontek mengembangkan potensi kapasitas mahasiswa dan move on dari budaya kelisanan ke keberaksaraan. Budaya kelisanan dikembangkan dalam proses belajar-mengajar di kelas; sementara tiga output tulisan di atas adalah budaya keberaksaan. Pedoman ini dapat ditemui dalam Hauser dkk (2005) bahwa kemampuan literasi menjadi indikasi kedewasaan mahasiswa dalam penguasaan keilmuan, sikap dan intelek tualitas kritis yang dipercaya akan berguna bagi mereka setelah memasuki kehidupan nyata da lam masyarakat. Kapasbilitas literasi ini juga di buktikan dengan tampilnya beberapa mahasiswa dalam berbagai kompetisi dan pemateri pada berbagai seminar tingkat nasional. Bahkan; satu tim mahasiswa dari IPDN Kalbar yang penulis
Edisi 21/LPM Untan/2018
bimbing pernah terpilih sebagai mahasiswa ber prestasi internasional di Thailand tahun 2015 yang lalu. Fakta ini semakin menguatkan derajar kepercayaan penulis atas temuan Hauser dkk di atas. Untuk melihat hasil move on dari budaya ke lisanan ke keberaksaraan; penulis membutuhkan waktu lebih dari 4 tahun. Kini, mahasiswa yang berani mengambil mata kuliah penulis adalah mahasiswa yang telah siap dengan budaya baca dan menulis. Ini sekaligus untuk menepis angga pan bahwa penulis bukanlah dosen killer seper ti yang mereka dengar dari mulut ke mulut dari kelompok mahasiswa yang belum siap mendapa tkan treatment intelektual dari seorang dosen mengikuti UU No. 14 tahun 2005 dan UU No. 12 tahun 2012. []
Referensi Denny J.A. 1998. “Menjelaskan GerakanMahasiswa” dalam Djamaluddin Malik (edt.). Gejolak Refor masi Menolak Anarki:Kontroversi Seputar Ma hasiswa MenuntutReformasi Politik Orde Baru. Bandung:Zaman Wacana Mulia Erdi. 2014. SOP Kuliah Untuk Semua Program (D3, S1 dan S2) tersesdia dalam http://www.academia. edu. Hauser, Robert M; Christopher F. Edley, Jr., Judith An derson Koenig, andStuart W. Elliott (Edt.). 2005. Measuring Literacy: Performance Level for Adults. National Research Council of the Na tional Academics. Washington DC. Hehanussa, Ivan Tahir. 2015. Pudarnya Intelektual Ma hasiswa. Diakses dari https://www.kompasiana. com pada hari Jum’at 19 Januari 2018 pukul 1:29 WIB. Ahmad bin Esa dan Hisyam B Jamaludin. 2007. Peran Korikulum Di University Dalam Membentuk Keterampilan Mahasiswa. Diakses dari https:// www.academia.edu pada hari Jum’at 19 Januari 2018 pukul 2:21 WIB. Rahayu, Minto; Wartiyati dan Rita Farida. 2002. Wujud Sikap Kritis Mahaisiswa Terhadap Permasala han Sosial Dalam Pergerakan Mahasiswa. Diak ses dari http://pnj.ac.id pada hari Jum’at 19 Januari 2018 pukul 3:46 WIB. Yayasan Mahasiswa Indonesia (Yasmindo). 1975. Maha siswa dengan PembangunanMental dan Spiritu al dalam “Realitas”. Jakarta. Zulfahmi, Ilham. 2015. Strategi Penerapan Sistem Penja minan Mutu Internal di Perguruan Tinggi: Meningkatkan Kreativitas Mahasiswa Aceh.
11
Mimbar Untan
Tabloid Mahasiswa Universitas Tanjungpura
Konsumsi Mi Instan Berlebihan Pemicu Penyakit-Penyakit Berbahaya Oleh: Dewi, Nurul, Rezky
M
akanan merupakan kebutuhan pokok yang sangat penting bagi keberlangsungan kehidupan. Seiring berjalannya waktu, inovasi-inovasi baru pun bermunculan, seperti fast food (makanan cepat saji). Salah satu contoh dari makanan cepat saji yang tidak asing lagi di kalangan masyarakat khususnya mahasiswa ini adalah mi instan. Dengan harga relatif murah dan proses pembuatan yang tergolong cepat tampaknya membuat masyarakat khususnya mahasiswa menyukainya. Dilansir dari jurnal Antropologi, Nurcahyo Tri Arianto mengatakan mi instan tidak saja sebagai makanan pokok, melainkan juga sebagai lauk pauk, sehingga sering dijumpai orang makan nasi dengan lauk mi kuah atau mi goreng. Hal ini dimungkinkan karena mi instan sebagai makanan olahan dari gandum atau terigu tersebut, dapat diolah dengan mudah, serta dapat disajikan secara praktis. Promosi mi instan yang sangat intensif dalam berbagai jenis produk dan banyak varian rasa ini menyebabkan mi instan mudah dan cepat dikenal oleh masyarakat. Pencetus pertama dalam pembuatan mi instan adalah Momofuku Ando yang menciptakan ramen instan pertama di Jepang pada tahun 1958. Ia mulai menciptakan ramen yang cepat saji hanya dengan menambahkan air panas. Produk pertamanya diberi nama Chicken Ramen setelah berbagai eksperimen percobaan dilakukan. Chicken ramen pun mendapat julukan ramen ajaib dan populer pada masanya. Tiga belas tahun kemudian, tepatnya pada tahun 1971, Momofuku melakukan perjalanan ke Amerika dan menemukan beberapa manajer supermarket menaruh Chicken Ramen dalam sebuah mangkuk yang kemudian disiram dengan air panas, serta memakan ramen dengan garpu. Melihat perilaku tersebut, Momofuku segera berinovasi dengan konsep Cup Noodles yang dikemas dalam sebuah mangkuk dan dilengkapi dengan garpu yang lebih praktis, sehingga ramen instan-nya lebih diterima kalangan global. Di Indonesia, mi instan pertama kali diperkenalkan pada tahun 1968. Pada tahun yang sama, diluncurkan merek mi instan pertama di Indonesia yaitu Supermi. Selain di Indonesia mi instan juga populer di beberapa negara seperti, Asia, Eropa, Amerika, dan Afrika. Mi instan yang merupakan olahan pangan dari gandum ini mengandung protein, kalsium, fosfor, zat besi, kalium, vitamin A, Niasin, dan vitamin C namun dengan jumlah yang sedikit. Dalam sebungkus mi instan terdapat kandungan bahan tambahan makanan seperti Sodium tripolyphosphat (salah satu bahan pengenyal dan bahan pengawet) seperti Natrium benzoat (pengawet makanan) serta bahan pewarna Tartrazine yellow (pewarna kuning) pada mi instan. Penggunaan MSG/Monosodium glutamate (Penyedap rasa) juga terdapat pada mi instan yang berfungsi meningkatkan cita rasa pada mi instan. Namun, MSG juga
12
memiliki risiko gangguan kesehatan jika dikonsumsi secara berlebihan, yakni dapat memicu reaksi alergi dengan gejala rasa sakit di dada, jantung berdebar, dan reaksi-reaksi lainnya. Kandungan sodium dan natrium yang tinggi dari mi instan disarankan untuk dihindari oleh penderita hipertensi atau tekanan darah tinggi, pengguna obat diuretik, dan pengguna beberapa jenis obat anti-depressan serta penderita gagal jantung kongestif/kegagalan jantung dalam memompa pasokan darah yang dibutuhkan tubuh.
Karikatur: Nurul
Bagi penderita hipertensi, natrium akan meningkatkan tekanan darah karena ketidakseimbangan antara natrium dan kalium (Na dan K) di dalam darah dan jaringan. Hal ini disebabkan karena natrium yang terkandung di dalam satu bungkus mi instan yang tinggi yaitu berkisar 2700 mg. Sedangkan menurut World Health Organization (WHO) tentang kebutuhan natrium, perlu adanya pembatasan konsumsi garam dapur hingga 6 gram sehari yang sebanding dengan 2400 mg natrium. Selain penderita hipertensi, kandungan natrium yang tinggi juga tidak baik untuk penderita penyakit maag. Hal ini dikarenakan tingginya kadar natrium akan menetralkan lambung, sehingga lambung akan menyekresi/memproduksi asam yang lebih banyak untuk mencerna makanan. Keadaan asam lambung yang tinggi akan berakibat pada pengikisan dinding lambung dan menyebabkan rasa perih. Penelitian lain dilakukan oleh tim dari Baylor University dan Harvard yang diterbitkan dalam Journal of Nutrition. Para peneliti tersebut melakukan analisa pada pola makan warga korea selatan dan mengungkapkan adanya sindrom metabolik, yaitu sebuah kondisi yang ditandai dengan peningkatan kadar gula darah dan tekanan darah. Perubahan kedua hal tersebut dapat menyebabkan timbulnya penyakit, seperti penyakit jantung koroner, gagal jantung, stroke, dan diabetes mellitus. Ahmad, salah satu mahasiswa Universitas Tanjungpura mengatakan bahwa dalam seminggu ia dapat
Edisi 21/LPM Untan/2018
menghabiskan 4 sampai 5 bungkus mi instan. “Seminggu biasenye 4 sampai 5 kali makan mi instan, karena biasenye ndak ade laok, same rasenye pun enak, hargenye juga murah”, ungkapnya. Menurut professor Frank Hu, seorang ahli gizi dan epidemiologi dari Harvard School of Public Health (HSPH) menyatakan bahwa sebenarnya tidak masalah mengonsumsi mi instan sekali atau dua kali dalam sebulan, tetapi jika setiap minggu dilakukan, maka hal tersebut sangat berisiko menimbulkan berbagai penyakit degeneratif yaitu penyakit yang menyebabkan terjadinya kerusakan atau penghacuran terhadap jaringan organ tubuh. Mengonsumsi mi instan lebih dari 5 bungkus dalam sehari tidak baik bagi kesehatan, karena mi instan mengandung rendah protein dan rendah vitamin. Menurut ahli gizi klinik, Juniarta Alidjaja, orang yang berlebihan mengonsumsi mi instan tanpa diimbangi makanan berserat berpotensi mengalami gangguan kesehatan. Hal ini dikarenakan mi mengandung karbohidrat sederhana, lemak, dan kadar natrium tinggi. Hal senada juga diungkapkan oleh Rikshan, salah satu dosen Biologi FMIPA Universitas Tanjungpura menyarankan bagi penderita obesitas dan riwayat diabetes untuk mengurangi mengonsumsi mi instan, karena mi instan memiliki komponen karbohidrat dengan indeks serapan yang relatif tinggi. “Untuk seorang yang obesitas dan mempunyai riwayat diabetes kalau bisa dikurangi mengonsumsi mi instan, dalam artian karena mi instan itu berbasis karbohidrat dengan indeks serapan mekaniknya itu relatif lebih tinggi dibandingkan nasi jadi harus dibatasi,” ungkapnya. Ia juga menyarankan kepada penggemar mi instan saat mengonsumsi mi instan harus memiliki makanan pendamping.“Untuk penggemar mi instan, jangan hanya mengonsumsi mi instannya saja, tetapi harus ada kandungan proteinnya seperti telur, ayam, ikan kemudian sayuran-sayuran, dan lain sebagainya.” sarannya. Jika dilihat dari dampak yang ditimbulkan dari mengonsumsi mi dengan jumlah yang banyak dan terlalu sering, akan menyebabkan berbagai gangguan kesehatan yang berbahaya. Masyarakat terutama mahasiswa harus dapat membatasi konsumsi mi instan, sebagai cara untuk menyeimbangkan kebutuhan gizi, karena mi instan belum dapat dianggap makanan lengkap karena belum mencukupi kebutuhan gizi yang seimbang bagi tubuh. [] Dewi K,R,Yekti W.2012.Gambaran Kebiasaan Konsumsi Mie Instan pada Anak Usia 7-12 Tahun Studi di Sekolah Dasar Kanisius Tlogosari Kulon Semarang.Journal of Nutritions College,Vol 1(1). Nurcahyo Tri Arianto.2013.Pola Makan Mie Instan: Studi Antropologi Gizi Pada Mahasiswa Antropologi Fisip Unair 1. BioKultur, Vol.II (1). Arisyi, M., Estiasih, T. and Maligan, J. (2015). Fortifikasi Senyawa Bioaktif Pada Mi Instan: Kajian Pustaka. Jurnal Pangan dan Agroindustri, [online] 4(2).
Tabloid Mahasiswa Universitas Tanjungpura
Oleh: Sekar
P
Mimbar Untan
Berdedikasi Untuk Kaum Difabel
emuda bernama lengkap Ricky Budi Setiawan Pinaria ini merupakan sosok anak muda yang senang berkecimpung dalam dunia sosial. Ia merupakan satu di antara penggagas berdirinya Komunitas Kerabat Peduli Inklusi (KLIK) Pontianak. Pemuda yang lahir di Pontianak 23 tahun lalu ini menempuh pendidikan di Sekolah Dasar Negeri 41 Pontianak, Madrasarah Tsanawiyah 1 Pontianak, Sekolah Menengah Kejuruan Sultan Syahrir Abdurrachman Pontianak. Hobinya membaca artikel yang berkaitan dengan kaum difabel. Ia ingin fokus membantu kaum difabel, terutama yang ada di Pontianak. Semasa menjadi mahasiswa, ia aktif di banyak organisasi dan banyak terlibat dalam kepanitiaan kegiatan di kampus maupun luar. Mulai dari Aksi Sedekah Pendidikan, Himpunan Mahasiswa Elektro FT Untan, Study Tour Goes To Sambas 2016, sampai Humanity Night Project tahun 2013, 2015, dan 2016. “Makin sering ikut kegiatan makin liat situasi kondisi, makin berasa terpanggil untuk ikut kegiatan sosial,” ungkapnya. Rabu (30/1/2018). Sebagai penggiat hak-hak kaum difabel, pemuda yang akrab disapa Ricky ini mengatakan bahwa yang dibutuhkan para difabel hari ini bukanlah uang atau belas kasihan semata tetapi mereka membutuhkan pengakuan, fasilitas, dan dukungan moril agar dapat hidup mandiri. Menurutnya, kaum difabel sama saja dengan manusia normal pada umumnya. Perbedaannya hanya pada keterbatasan kaum difabel dalam mengakses informasi. Pada era Presiden kedua Republik Indonesia, difabel cen derung dilihat sebagai manusia tidak mandiri dan independen, oleh karena itu KLIK berusaha mengubah stereotipe tersebut. “Zaman Pak Soeharto kaum difabel sering dapat donasi, bukan dapat fasilitas yang dapat mengembangkan mereka,” katanya. Bersama KLIK, Ricky bercita-cita menciptakan kota Pontianak ramah difabel. Ia ingin mewujudkan visi KLIK yaitu meningkatkan kepedulian pemuda terhadap difabel dan meningkatkan kompetensi difabel dalam hal public speaking, manajemen skill, maupun desain. Mimpi besar Riki sejak duduk di bangku SMP adalah mendirikan sekolah untuk kaum difabel dengan guru dari kalangan difabel itu sendiri agar dapat menjadi motivasi satu sama lain. Ia merasa beruntung dapat dipertemukan dengan teman-teman KLIK karena
perlahan-lahan dapat mewujudkan mimpi besarnya tersebut. Komunitas pemerhati kaum difabel ini memang baru berdiri sejak 17 Oktober 2017, namun sudah banyak membantu penyandang disabilitas. Pengalaman paling berkesan sepanjang perjalanan bertemu dengan kaum difabel dirasakan Ricky adalah saat pertama kali belajar bahasa isyarat. “Waktu itu saya belajar bahasa isyarat saya kayak anak bayi belum bisa ngomong,”
ungkapnya. Ia mengatakan, hal yang membuatnya sedih adalah saat ia harus menjelaskan kata yang seringkali digunakan dalam berkomunikasi, tetapi penyandang tuli tidak mengerti maknanya. Saat itu pulalah ia semakin semangat mempelajari bahasa isyarat. Penyandang tuli mengajarkan bahasa isyarat dan ia mengajarkan makna dari bahasa Indonesia yang sering digunakan. Ricky yang sudah menyandang gelar Sarjana Teknik sejak 2017 lalu ini menjelaskan, saat ini, KLIK sedang berfokus mengembangkan potensi difabel tuli. Tuli merupakan suatu kondisi di mana orang punya hambatan di pendengaran tapi bisa berkomunikasi dengan bahasa isyarat. “Mereka ingin menyuarakan hak-hak mereka, tapi mereka aja ga bisa bersuara. Itu fungsinya teman-teman KLIK.” Setelah banyak berkenalan dengan difabel tuli, Ricky menjelaskan bahwa hal yang diinginkan mereka ada dua hal yakni orang-orang yang bisa bahasa isyarat dan mau menerjemahkan bahasa isyarat serta kemudahan mengakses informasi untuk yang berkebutuhan khusus. Menurut Ricky, sudah saatnya kota-kota besar di Indonesia tak terkecuali Kota Pontianak mulai menerapkan program ramah difabel karena untuk saat ini masih minim akses fasilitas untuk kaum difabel terutama tuli. “Contoh kecilnya, di TV aja film asing ada subtitle sementara film indo gak ada subtitle,” katanya. Di sisi lain, terkait sosok Ricky, Novan yang merupakan sahabat karib Ricky mengatakan bahwa rekannya itu figur yang menyenangkan. “Dia orang nya rajin, bertanggung jawab, ulet, pekerja keras, juga mampu mengayomi anak buahnya untuk bekerja sama lebih baik,” kata pemuda yang juga volunteer di KLIK, Rabu (31/1/2018). Walaupun memiliki banyak kesibukan, Ricky dapat membagi waktu dengan sebaik-baiknya. Ia sudah terlatih memanajemen waktu untuk dapat menjalankan prioritas yang ada. Selain berkecimpung di dunia sosial, ia sekarang juga bekerja sebagai trainer di Robotics Education Centre. [] Tempat, Tgl Lahir : Pontianak, 3 – 1 - 95 Agama
: Islam
Status
: Belum Menikah
Alamat
: Jl. Pal IX
Telepon
: 0895 615033 130
Email : rickypinaria@gmail. com Foto: Pribadi
Edisi 21/LPM Untan/2018
13
Mimbar Untan
Tabloid Mahasiswa Universitas Tanjungpura
Foto: Imam
Foto: Imam Pembangunan gedung serbaguna menuju modernisasi Untan yang sebelumnya menebangi pohon disekitarnya, Selasa (21/11) Sambungan halaman 8
Pembangunan Rumah Sakit Untan yang baru terlihat kerangkanya dan tak kunjung selesai sejak beberapa tahun belakangan ini, Rabu (29/11) Sambungan halaman 9
Janji Tak Manis Bagi Penenun Persoalan Arboretum di Karena ia merasa malu ka ka usaha kecil-kecilan penenunan lau ada tamu yang berkunjung ke kain songket sambas dengan satu Dekade Ke-4 rumahnya untuk melihat koleksi kain tenun, namun tempat yang disediakan kurang layak. Ia juga berharap ke depannya tenun dapat menyentuh kalangan Pegawai Negeri Sipil (PNS), salah satunya lewat menghadirkan motif corak insang pada seragamnya. “Hara pannya lebih dikenal khususnya corak insang. Kalo bisa baju PNS kain songket tenun, biarpun tidak semua yang penting kombina si.”harapnya. Namun ia masih mengeluh kan kurangnya minat orang-orang Pontianak sendiri terhadap kain tenun corak insang asli dan malah meminati kain corak insang ha sil cap yang dijual di pasaran. Un tuk membuat tenun bukanlah hal yang mudah. Selain itu, hal ini juga menjadi sebuah jawaban mengapa harga tenun itu cenderung mahal. “Biar tahu, pantas mahal. Biar tahu susahnya seperti apa,” lanjutnya. Kurniati yang lahir di Kam pung Manggis, Kabupaten Sambas ini bersama mayoritas warga di Gang Sambas Jaya merupakan war ga Madura yang mengungsi akibat kerusuhan yang terjadi di Sambas pada tahun 1999. Ia ingat saat ma sih remaja bermodalkan pinjaman modal dari ibunya, sudah membu
14
orang karyawan. Saat mengung si dari kerusuhan Sambas tahun 1999 yang saat itu usianya masih 21 tahun, ia meneruskan usaha tenunnya di lingkungannya yang baru. Sama halnya dengan Kurniati, Aisyah, wanita berumur 56 tahun yang juga tinggal di Gang Sambas Jaya bercerita bagaimana dia me ngungsi di tahun 1999 dan memi lih menetap di kampung tersebut. “Dulu hanya membawa baju yang dipakai dan uang 5 juta untuk memulai hidup baru,” katanya. Na mun ia mengaku tak pernah me nyimpan dendam terhadap konflik tersebut dan bahkan masih sering berkunjung ke Sambas. Wanita ini dahulunya juga penenun, namun sekarang ia lebih memilih ber ladang dan memelihara ternak. Digna Setyana yang berkun jung ke kampung wisata tenun mengutarakan rasa ketertarikan dan antuasismenya. “Kalau di Pon tianak masih jarang, anak muda nya banyak yang didak tahu. Semo ga kampung wisata tenun dapat lebih dikembangkan lagi. Sehingga anak muda jaman sekarang akan lebih tertarik dengan kain-kain tradisional,” pungkasnya. []
Ia menganggap, Fakultas Ke hutanan, dalam hal ini Sylva Indo nesia kurang mendapat suntikan dana. “Kita lihat itu, kemandirian mahasiswa membangun. Kita lihat sekarang Untan sudah BLU, Badan layanan Umum, jadi harus diperluas layanan budgeting,” ungkapnya. Ia menilai selama ini peme rintah kota masih kurang perhatian dengan hutan kota, salah satunya Arboretum. “Kalau saya nilai ini masih setengah hati. Mungkin juga seperempat hati. Kalau memang ada kepedulian, jalan itu di aspallah, gak mahal kok, paling panjangnya satu kilo,” ungkapnya. “Kita boleh cek be rapa sih anggaran dinas pariwisata kota Pontianak, atau PU yang sudah masuk di Arboretum. Boleh dibilang kecil sekali,” tambahnya. Ia berharap mahasiswa ke hutanan yang tergabung dalam Syl va Indonesia bisa didukung oleh pe merintah kota dalam mengelola dan mempertahankan Arboretum. Se hingga masyarakat atau turis yang datang bisa melihat sisi lain dari Kota Pontianak. Gusti pun menolak ketika ada informasi tentang rencana investor yang ingin membangun hotel di wilayah Arboretum. “Itu ndak boleh
Edisi 21/LPM Untan/2018
dan kita harus tegas. Makanya di sini perlulah legalitas dan otoritas dari pak rektor sehingga kita be tul-betul bisa menjaga keaslian Ar boretum,” tegasnya. Gusti membandingkan Arbo retum di Pontianak dengan jenis yang lebih banyak dibandingkan Arboretum yang ada di Singapu ra yang kurang dari seratus jenis. Namun pengelolaan Arboretum di Singapura lebih baik dan menjadi tempat wisata. Ia merasa miris me lihat kota Pontianak yang memiliki Ruang Terbuka Hijau yang luasnya tidak sesuai standar. “Kurang dari 10 persen kalau tidak mau dibiang tiga persen,” ungkapnya. Menurutnya, Arboretum bu kan hanya milik Fakultas Kehutan an dan Sylva Indonesia PC. Untan, tetapi juga menjadi milik sekaligus kebanggaan masyarakat Ponti anak. “Fakultas Kehutanan dan Sylva ingin membangun kemitraan bersama dengan pemerintah kota yang menguntungkan semua pihak, khususnya bagi masyarakat kota Pontianak,” ucapnya. “Tidak hanya melibatkan pemerintah kota, tetapi juga Akademisi, Bisnis, dan Govern ment, atau ABG” pungkasnya. []
Tabloid Mahasiswa Universitas Tanjungpura
Edisi 21/LPM Untan/2018
Mimbar Untan
15
Mimbar Untan
Tabloid Mahasiswa Universitas Tanjungpura
Kekerasan Terhadap Jurnalis Mahasiswa Masih Rentan Terjadi Oleh: Lola Prianti dan Diyana
Aliansi Jurnalis Independen (AJI) menyelenggarakan Diskusi Safety Journalist di Rumah Idaman Jalan Alianyang Pontianak pada Sabtu sore (16/12/2017). Hadir dalam diskusi ini jurnalis media arus utama dan jurnalis mahasiswa di Pontianak. Diskusi ini pun dilatarbelakangi oleh maraknya kekerasan yang dialami oleh jurnalis termasuk jurnalis mahasiswa yang tergabung dalam Lembaga Pers Mahasiswa (LPM).
B
erdasarkan riset yang dilakukan oleh BP Litbang Perhimpunan Pers Ma hasiswa Indonesia (PPMI) Nasional 2015/2016 dalam Pedoman Teknis Advokasi membuktikan, dengan data mewakili delapan provinsi dan jumlah responden sebanyak 64 LPM, ditemukan beberapa fakta. Dalam kurun waktu antara 2013-2016 sekitar 47 LPM yang pernah mengalami tindak ke kerasan sementara 17 LPM sisanya belum pernah mengalami tindak kekerasan. Teridentifikasi beberapa bentuk kekerasan, mulai dari intimidasi, pembe redelan, pelecehan dan kriminalisasi. Hal tersebut membuktikan hukum pers belumlah cukup untuk memayungi keselamatan jurnalistik, terutama terhadap jurnalis mahasiswa yang tergabung dalam LPM. Beralih pada tahun 2017, tepatnya pada 2 Mei, intimidasi terhadap Pers Mahasiswa (Persma) kembali menyeruak. Hal ini terjadi pada Fikri Arif dan Fadel Muhammad Harahap. Keduanya merupakan reporter Lembaga Pers Mahasiswa Bursa Obrolan Mahasiswa (LPM BOM), Institut Teknologi Medan (ITM). Ketika sedang bertugas meliput aksi Hardiknas dari Aliansi Konsolidasi Gerakan Sumatera Utara yang sempat ricuh, mereka berdua ditangkap aparat Kepolisian Resor Kota Besar (Polrestabes) Medan dan mengalami kekerasan fisik. Fikri mengalami lembam di wajah sedangkan Fadel mengalami luka di kepala. Hal tersebut merupakan salah satu contoh kasus yang pernah dialami jur nalis mahasiswa. Dalam diksusi yang diselenggarakan AJI Pontianak, dibahas pula cara menjaga keselamatan saat melakukan proses peliputan di lapangan. Selain itu AJI bersama peserta yang hadir juga melakukan sharing pengalaman mengenai tindak kekerasan terhadap jurnalis agar kedepannya dapat terhin dar dari kekerasan baik fisik maupun non fisik. Muhammad Arif Rahman selaku Ketua Umum LPM Mimbar Untan men jelaskan bahwa kegiatan ini penting diikuti agar dapat mempersiapkan diri da lam melakukan peliputan. “Kegiatan safety journalist ini tentu sangat penting untuk diikuti oleh jurnalis mahasiswa, khususnya anggota LPM Mimbar Untan. Hal ini dikarenakan, perlu adanya kesepahaman tentang resiko dan tantangan yang dihadapi oleh jurnalis, bagaimana langkah tindak lanjutnya jika mengala mi kekerasan dalam proses peliputan,” jelasnya, Sabtu (16/12/2017). Menurutnya, jika jurnalis mahasiswa sudah memahami tantangan dan masalah yang dihadapi serta tahu cara penyelesaiannya, maka jurnalis ma hasiswa tidak akan ada lagi rasa takut dalam melakukan reportase. “Kita tidak akan gagap dalam menentukan langkah yang akan diambil. Jika terjadi mas alah, dan kita akan tahu hal-hal apa saja yang perlu dipersiapkan dalam lipu tan,” katanya.
16
Jurnalis mahasiswa, lanjut dia, harus meningkatkan kapasitas dalam pros es peliputan.“Jurnalis mahasiswa memang seharusnya ada peningkatan kapa sitas dalam proses peliputan. Hal itu memang yang selalu diupayakan di LPM Mimbar Untan. Jurnalis mahasiswa tentu ditekankan untuk menaati kode etik jurnalistik dan prinsip-prinsip jurnalis. Hal itu secara menyeluruh sudah dijela sakan bagaimana reportase itu dijalankan.” Ia menambahkan, sebaiknya para narasumber, khususnya dari birokrat kampus harus bisa pula menghargai kerja-kerja jurnalis mahasiswa, bukannya malah mengintervensi berita, mengintimidasi atau malah memersulit proses peliputan. “Ini memang tantangan jurnalis mahasiswa. Namun para birokrat sebagai pejabat publik harus menghargai jurnalis dan bersikap terbuka,” tam bahnya. Dalam kesempatan yang sama Edho Sinaga selaku Sekretaris AJI Pontianak mengatakan, meskipun Persma telah menjalankan dan mematuhi ketentuan Pers Konvensional, namun Persma masih rentan mendapatkan kekerasan fisik maupun non fisik. “Pertama, ancaman untuk mahasiswa mengekspresikan apa yang mereka dapatkan. Sesuai dengan kode etik dan berbenturan pendapat dengan kepent ingan yang mana pemberi dana utama dari lembaga pers mahasiswa adalah kampus itu sendiri. Ancaman yang kedua, apa yang harus dilakukan oleh jurna lis mahasiswa. Karena tidak ada pegangan,” tegasnya. Dian Lestari selaku Ketua AJI Pontianak berharap dengan diskusi yang dilakukan ini dapat memberikan wawasan bagi jurnalis pemula untuk terhindar dari tindak kekerasan dalam peliputan. “Diharapkan kondisi itu tidak terjadi lagi dan dapat memberikan pengetahuan baru terutama pada wartawan-war tawan baru. Hal-hal apa saja sih yang bisa dilakukan supaya ia tidak menjadi korban kekerasan adapun menjadi korban kekerasan dapat mengetahui apa langkah yang harus dilakukan, “ ungkap Dian, Sabtu (16/12/2107). Dosen Ilmu Komunikasi (Ikom) Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Fi sipol) Untan Aini Nuraini yang juga hadir dalam diskuksi ini menyampaikan, agar jangan takut untuk menjadi seorang jurnalis. Baginya menjadi seorang jurnalis merupakan suatu profesi yang menyenangkan, selain sebagai penyalur informasi juga sebagai pengontrol sosial. “Jadilah pengontrol sosial yang bagus dan tepat, sampaikanlah kebenaran yang telah disampaikan oleh buku-buku jurnalistik, dalam aplikasinya kalian harus punya toleransi cair. Nikmatilah profesi sebagai jurnalis karena profesi ini adalah menyenangkan,” tutupnya. []
Edisi 21/LPM Untan/2018
Mimbar Untan
Tabloid Mahasiswa Universitas Tanjungpura
Penonton Gelap dan Pertunjukan Angin
S
inar pagi penuhi sepetak ruangan kecil, tempat menyimpan penat, gundah dan bahagia atau semacamnya. Aku berdiri dan menatapnya lama dan amat lekat. Kala pantulan cahaya pagi me mantulkan bayanganku. Kurapikan pakaian dan semua yang melekat padaku. Sosok dalam bayangan di pantulan cahaya itu juga mengikuti kelakuanku. Hari masih terlalu pagi untuk beranjak. Mentari masih malu untuk meninggi. Namun mawar di luar jen dela seakan tak sabar menunggu sinarnya yang gemer lap. Dan aku masih saja terpaku. Terpaku pada sosok bay angan di pantulan cahaya itu. Bayang-bayang itu adalah aku. Namun bayangan itu terasa sangat janggal. San gat janggal dalam sorot mataku yang mungkin saja ber masalah. Entah masalah dengan diriku atau sosok bayan gan itu. Atau mungkin saja dengan pantulan cahaya itu. Entahlah! Mentari mulai berani dan percaya diri untuk men inggi, menampakkan cahaya gemerlapnya. Namun, aku masih saja terdiam dan terpaku di depan sosok bayangan di dalam pantulan cahaya itu. erlu sepuluh atau seratus. Mungkin seribu pertanyaan dan alasan, mengapa aku masih saja bertahan berdiri menatap sosok bayangan di pantulan cahaya itu. Bayangan itu amat jelas dan terang. Kala aku kena kan almamater di tubuhku. Sosok bayangan di dalam pantulan cahaya itu seakan-akan menolak untuk me makai almamater. Tak tahu mengapa? Entah itu jas al mamater yang tak muat. Kekecilan atau kebesaran. Atau mungkin sosok bayangan itu merasa muak. Atau mung kin saja sosok bayangan di dalam pantulan cahaya itu merasa tak pantas memakai almamater. Entahlah. Namun dengan sekuat tenaga kupaksa juga sosok bayangan dalam pantulan cahaya itu memakai al mamater. Bles! Almamater telah ia pakai. Ah leganya! Aku terdiam sejenak, merasakan hembusan lembut angin yang lembut. Perlahan membelai rambutku yang terurai. Ku biarkan angin lembut itu membelai lembut rambutku. Aku menikmati. Sangat menikmati belaian lembut angin pada rambutku yang terurai. Rambutku menari berlenggak-lenggok akibat belaian lembut angin seakan mengajaknya tuk bermain-main. Tapi sayangnya, main-main itu hanya sekejap. Namun sekarang, angin juga masuk ke dalam lubang telingaku. Aku semakin terdiam. Terdiam me nyimak kata-kata yang mungkin diucapkan angin. Atau mungkin kata-kata yang sudah lama. Sudah lama tersim pan, namun belum sempat untuk diucapkan. Entah itu berapa lama. Suaranya sendu, seakan-akan menyimpan lara. Sua ranya berat, amat berat. Pilu, seakan kata-katanya telah usang atau mungkin telah lapuk. Karena sudah terlalu lama, terlalu lama tersimpan, tersimpan demikian lama. Terpendam hingga berabad-abad, mungkin. Entah mengapa, angin bungkam. Entah berapa lama angin bungkam, hingga kata-katanya usang dan amat lapuk. Mungkin, angin belum berani mendesahkan laranya. Atau laranya yang teramat sangat malu. Malu un tuk menampakkan dirinya. Aku berfikir untuk menerjemahkan kata-kata angin yang sendu dan lara. Apa sebenarnya yang angin kata
Oleh: Diyana kan? Mengapa desahan angin terasa amat sendu, amat lara. Entah untuk siapa desahan itu. Apa mungkin untuk orang lain, yang mungkin terlalu jauh. Hingga angin tak mampu menggapainya. Atau mungkin, memang untukku sendiri? Karena angin baru sempat menyampaikan de sahnya. Bingung! Aku mencoba merelakan angin mengadu di telin gaku. Meskipun aku tak tahu dan tak mengerti. Dan past inya tak pernah mengerti. Mengerti apa isi desahan an gin yang sendu dan lara. Mengerti tentang setiap sendu, mengerti setiap laranya. Entah apa yang diinginkan angin. Akupun tak tahu. Apakah angin injginkan aku menjadi pendengar setia desahannya, seolah-olah angin yang sendu dan lara itu adalah pendongeng sebelum tidur dan aku adalah anak kecil yang merengek-rengek dibacakan dongeng oleh an gin yang amat sendu dan lara itu. Apakah angin ingin aku menjadi seorang pensehat, yang menasehati angin yang sendu dan lara itu. Seolaholah kami berada di dalam acara curhat-curhatan. Hing ga angin merasa lega dn leluasa menyampaikan unek-un eknya. Menyampaikan sendunya. Menyampaikan segala laranya. Ataukah mungkin, angin ingin aku menjadi seorang penerjemah. Karena semua orang berdasi tidak mengerti dengan bahasa angin yang sendu dan lara itu. Mungkin saja, angin ingin aku menjadi seorang penyampai kabar. Karena angin yang sendu dan lara itu tak mampu menghampiri seseorang yang dirindukannya. Seseorang yang dinantinya. Entah siapa itu. Namun, asal kau tahu saja angin yang sendu dan lara. Aku bukanlah seorang anak kecil yang ingin diba cakan dongeng sebelum tidur. Aku adalah seorang yang telah memakai almamater, aku bukan anak kecil lagi! Jadi, kau dengar baik-baik saja dan ingat kata-kataku ini, angin yang sendu dan lara. Simpan saja dongengmu itu untuk anak-anak di pinggiran. Atau anak-anak pengamen dan penjual koran di lampu merah. Anak-anak itu lebih butuh. Bukan aku! Anak jala nan itu sangat butuh dan sangat-sangat membutuhkan dongeng-dongengan sebelum tidur darimu angin yang sendu dan lara. Karena mereka tak sempat bersenangsenang dan bermain-main. Harusnya, kau dekati dan ce ritan dongengan sebelum tidurmu untuk mereka. Jangan datangi aku. Dasar! Angin yang sendu dan lara. Namun bila, angin yang sendu dan lara itu meng inginkan aku menjadi penasehat untuknya. Maka, ham piri saja penasehat kerajaan. Karena aku tidak berkuasa menjadi penasehat. Dan aku juga bukan seorang penase hat. Karena jika pun kau masih memaksa menceritakan dan menginginkan nasehat dariku. Apa nasehat yang harus aku berikan padamu, angin yang sendu dan lara? Tak ada. Tiada satupun. Hei! Angin yang sendu dan lara, aku tidak mungkin menjadi penerjemah untukmu. Tak mungkin aku dapat menerjemahkan sendu dan laramu. Karena aku juga sama, sama seperti semua orang berdasi itu. Apa yang kutahu tentang desahan angin yang sendu dan lara. Aku tak menerti desahan setiap kata yang kau ucapkan den gan sendu dan lara yang usang dan terpendam itu. untuk mu, angin yang sendu dan lara, simpan saja semua sendu,
Edisi 21/LPM Untan/2018
simpan saja semua lara itu. Biarkan saja usang dan ter pendam dalam bingkai kenanganmu. Karena sungguh, aku tak mampu menerjemahkan sendu dan laramu. Benar saja kau angin yang sendu dan lara. Dimana kau simpan otakmu? Wahai angin yang sendu dan lara. Aku ini bukanlah seorang penyampai kabar. Apakah kau anggap aku ini seorang tukang pengantar surat? Yang be nar saja. Jikapun aku mampu, pada siapa aku kirimkan sendu dan laramu itu. Di mana harus aku kirimkan segala desahanmu yang sendu dan lara itu? Aku sudah amat letih, terlalu letih mendengar se mua desahan angin yang sendu dan lara. Karena aku tak menginginkan desahan angin yang sendu dan lara itu. Aku melangkah keluar. Kulihat matahari telah tinggi menampakkan cahaya gemerlapnya. Menampakkan se nyumnya yang amat mempesona. Aku melangkah lebih jauh lagi. Memilih berjalan di lorong kecil sudut kota. Cahaya gemerlap matahari masuk dari celah-celah lorong yang berlubang. Sehingga menampakkan bayan ganku ke tembok jalan di lorong kecil itu. Aku perhatikan bayanganku dan terus berjalan sambil memperhatikan bayanganku, warnanya hitam kelabu dan gelap, dan mak in gelap. Meskipun aku tlah sampai di jembatan bambu tua. Karena satu hal bayamganku lenyap. Matahari tampak murung, awan mulai mendekat inya. Nyatanya, awan juga murung. Awan kelabu kerena matahari semakin murung, ditambah sambutan angin yang sendu dan lara. Angin yang sendu dan lara berubah menjadi kasar, menjadi gemuruh. Apakah sendu dan laranya telah men capai titik berbahaya? Karena angin marah tidak ada yang peduli pada desahan sendu dan laranya. Ah mati aku! Ini bencana besar. Kolaborasi antara matahari dan awan menciptakan mendung diselimuti petir yang menyambar-nyambar dan disambut meriah oleh angin yang sendu dan lara itu menjadi riuh bergemuruh, langit keruh karenanya. Aku berhenti berjalan karena jembatan di depanku oleng. Dan benar saja, kala angin yang marah itu meng hempas jembatan hingga ambruk. Jalanku telah terhenti. Apa-apaan ini! Aku bahkan belum sempat menikmati cahaya gemerlap matahari yang menciptakan bayangan gelapku, namun semua tlah berakhir. Aku bertahan, mencoba menerka-nerka desahan angin. Desahnya kini telah menjadi jeritan, jeritan yang sendu dan pilu. Bila tlah mencapai puncak jeritannya, menjadi amukan alam karena tergores luka yang begitu dalam, usang dan lapuk. Namun aku tak bisa berbuat apapun demi angin yang menjerit. Karena sungguh, aku tak berdaya. Aku tak mampu memahami jeritan angin yang luka mendalam itu. Lama aku menerka menafsirkan jeritannya yang luka. Aku lupa! Aku lupa untuk bersahabat dengan angin yang ingin bercerita tentang sendu dan laranya selama ini. Aku lupa untuk bersahabat dengan matahari dan awan untuk menghibur murungnya. Selama ini aku hanya penikmat hembusan angin yang melepas sekejap gerah dan lelahku. Selama ini aku hanya penonton, menyaksikan gemerlap cahaya mata hari dan putih bersih awan di langit biru. Jadi, untuk apa semua ini? Ini tidak berguna, tidak sama sekali. []
17
Mimbar Untan
M
LGBT Dalam Pandangan Agama
araknya isu lesbian, gay, biseksual, dan transgender (LGBT) di Indonesia kembali hangat dibicarakan publik. Hal ini dipicu oleh Putusan Mahkamah Konstitusi (MK) yang menolak permohonan uji materi Pasal 284, 285, dan Pasal 292 kitab UU Hukum Pidana (KUHP). Seperti yang telah dikutip Kompas.com Fajar Laksono sebagai juru bicara MK mengatakan bahwa Penolakan tersebut dikarenakan substansi permohonan dimaksud sudah menyangkut perumusan mengenai tindak pidana baru yang mengubah secara mendasar baik subjek yang dapat dipidana, perbuatan yang dapat dipidana, sifat melawan hukum perbuatan, maupun sanksi atau ancaman pidananya. Pasal yang membahas tentang kejahatan terhadap kesusilaan yang ditolak itu banyak memicu opini publik yang menganggap bahwa MK telah melegalkan LGBT di Indonesia. Gerak LGBT dimulai sejak dekade 1960-an di Indonesia, namun publik ikut kembali diresahkan oleh berbagai isu yang belakangan ini terjadi. Di antaranya yaitu Pesta Gay Kelapa Gading, Pesta Gay Surabaya, dan Pernikahan Gay di Bali. Sementara itu, hal ini tidak sejalan dengan Pasal 1 Ayat 1 Undang Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang perkawinan. Dalam undang-undang tersebut disebutkan bahwa perkawinan adalah ikatan lahir batin antara seorang pria dengan seorang wanita sebagai suami-istri. LGBT kerap kali mengalami penolakan dari berbagai sudut pandang, terutama pandangan agama. Dalam pandangan agama Islam, LGBT tidak sesuai dengan fitrah manusia yang sejatinya diciptakan berpasang-pasangan pria dan wanita baik secara naluri maupun jasmani. Hermawan, selaku guru Agama Islam tingkat Sekolah Menengah Atas (SMA) mengatakan ketidaksetujuannya terhadap perilaku LGBT karena bertentangan dengan Al-Qur’an. “Sudah jelas Al-Qur’an melaknat kaum ini, bahkan komunitas ini sudah dimusnahkan dalam kisah kaum Sodom pada masa Nabi Luth. Namun di akhir zaman ini dosa besar yang pernah terjadi di masa lalu seolah bangkit kembali menunjukkan eksistensinya,” ungkapnya. Apabila dikaitkan pada perbuatan sodomi di zaman Nabi Luth, maka hal tersebut terdapat pada salah satu ayat dalam AL-Qur’an yakni “Dan (Kami juga telah mengutus Nabi) Luth (kepada kaumnya), (Ingatlah) tatkala dia berkata kepada mereka : “Mengapa kalian mengerjakan perbuatan yang sangat hina itu, yang belum pernah dilakukan oleh seorangpun (di dunia ini) sebelum kalian?” [ Al- A’raaf : 80].
18
Tabloid Mahasiswa Universitas Tanjungpura
Oleh: Sekar, Sartika, Rahmad Sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad (2915) dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Allah melaknat siapa saja yang berbuat seperti perbuatan kaum Nabi Luth. Allah melaknat siapa saja yang berbuat seperti perbuatan kaum Nabi Luth, beliau sampaikan sampai tiga kali ”. [Dihasankan Syaikh Syu’aib Al-Arna`uth]. Selain itu didalam QS. Al-Hijr : 73-76, Allah mengabarkan tentang adzab yang ditimpakan kepada kaum Nabi Luth, yaitu berupa siksaan yang sangat mengerikan. Paninta Pasaribu selaku guru agama Kristen Sekolah Dasar Negeri (SDN) 09 Sanggau juga ikut menyatakan sikap ketidaksetujuannya terhadap LGBT karena merupakan penyimpangan terhadap firman Tuhan dalam mewarisi keturunan. “Tuhan menciptakan pertama perempuan dan laki-laki adam dan hawa dan sampai saat ini itu terjadi dan hubungan laki-laki dan perempuan itu direstui oleh Tuhan karena menurut agama Tuhan berfirman beranak cuculah dan bertambah banyaklah yang berarti ada hubungan antara laki-laki dan perempuan,” jelasnya. Penuturan tersebut tercantum dalam Alkitab berbunyi “Allah memberkati mereka, lalu Allah berfirman kepada mereka : “Beranak cuculah dan bertambah banyak ; penuhilah bumi dan taklukanlah itu; berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi.” [Al-Kitab Kejadian : 28]. Perilaku LGBT telah ikut meresahkan berbagai kalangan, tak terkecuali mahasiswa. Pasalnya, sebagai generasi penerus bangsa mahasiswa dikhawatirkan akan ikut tergerus oleh penyimpangan-penyimpangan norma sosial maupun agama, seperti halnya LGBT. Siti selaku Ketua Keputrian LDSI At-Tarbawi Fakultas Ilmu Keguruan dan Pendidikan (FKIP) Universitas Tanjungpura (Untan) mengatakan bahwa sebagai mahasiswa sudah selayaknya dapat membentengi diri dengan pergaulan yang baik karena faktor-faktor LGBT seringkali disebabkan oleh minimnya wawasan spiritual serta pendidikan karakter, akhlak, dan moral dari lingkungan “Yang paling berpengaruh adalah faktor pergaulan dan wawasan spiritual dari seseorang. Jika seseorang memiliki wawasan spiritual dan pergaulan yang baik, maka orang tersebut akan menjauhi LGBT,” katanya. Ia juga menambahkan lingkungan yang baik serta pembekalan iman mampu menjadi cara terbaik untuk dijauhi dengan berbagai hal berbau LGBT. “ Kita yang merupakan umat beragama maka harus bisa mendekatkan diri kepada Tuhan sehing-
Edisi 21/LPM Untan/2018
ga tidak terpengaruh adanya LGBT,” tambahnya. Selain itu, Gracia De Jesus Lai, satu di antara mahasiswa Fakultas Teknik yang aktif dalam kegiatan keagamaan Kristen mengatakan untuk menyikapi maraknya perilaku LGBT, pergaulan harus didasarkan atas kasih kristus karena dengan menanamkan kasih yang tulus dalam bergaul, kita dapat saling menasehati satu sama lain. “Yang terpenting itu dengan dasar kasih, kita bisa tau mana yang harus diimplementasikan dalam pergaulan dan mana yang tidak boleh,” ungkapnya, Oleh karena itu, menyikapi maraknya fenomena LGBT berbagai kalangan ikut menyuarakan pendapatnya untuk mengatasi hal tersebut. Dalam hal ini, Hermawan mengatakan pendapat khususnya untuk generasi muda sebagai wajah masa depan bangsa untuk dapat menghindari LGBT dengan tetap berpegang teguh kepada ajaran kitab suci. “Selalu berpegang teguh pada ajaran kitab suci, memperbanyak aktivitas yang jauh dari hedonisme. Selalu ada dua pilihan dalam hidup ini dan memilih jalan yang memperturutkan hawa nafsu jelas membawa kita ke arah kehancuran yang kelak akan kita sesali baik semasa masih hidup terlebih disaat di akhirat kelak,” jelasnya. Ia juga menambahkan, penguasa sebagai pemegang otoritas kebijakan tentu harus menindak tegas penyimpangan-peyimpangan yang berpotensi meresahkan atau merusak tatanan sosial. “Saya pikir apabila pemerintah tegas membuat UU yang melarang LGBT maka individu-individu menyimpang tersebut jelas akan berfikir panjang untuk eksis apalagi membuat komunitas yang tentunya menimbulkan konsekuensi hukum,” lanjutnya. Hal senada juga ikut disampaikan oleh Paninta Pasaribu, yang mengatakan bahwa cara mengatasi LGBT sejatinya apabila kita mengimani ilmu agama, menjaga pergaulan, dan tidak melawan kudrat sebagaimana mestinya.“Bergaullah seperti apa adanya, imanilah ilmu agamamu sendiri. Semakin memperkuat iman kepada Tuhan bahwa manusia itu diciptakan berpasang-pasangan janganlah melaukan pergaulan bebas, selektif dalam memilh teman,” Jika saja LGBT terus dibiarkan merebak maka imbasnya manusia akan berbuat atas dasar kehendaknya sendiri dan meninggalkan norma agama yang seharusnya menjadi landasan dalam berkeyakinan dan bersikap. “Dampak negatifnya kita mendukung LGBT adalah dunia semakin edan, bahkan norma agama sussah diterapkan kembali dan manusia berbuat sesuai kehendak/kemauan sendiri,” tutupnya. []
Tabloid Mahasiswa Universitas Tanjungpura
Mimbar Untan
Pendidikan Yang Membebaskan Oleh: Sella Purwasi
Pendidikan adalah hal yang sangat menjadi prioritas dalam proses pendidikan penting dan merupakan hak mengingat kondisi masyarakat yang tidak bagi setiap manusia tanpa terbiasa bertindak secara otonom, terkecuali. Setiap mandiri dan percaya diri. manusia mempunyai Paulo Freire, berpendapat hak yang sama dalam perlunya meningkatkan dan pendidikan. Pendidikan yang memperbanyak partisipasi membebaskan sesungguhnya masyarakat. Pada masyarakat merupakan penyadaran tentang transisi harus dibuka lewat demokrasi kemanusiaan bukan dari kaum pendidikan. Sepanjang masyarakat penindas melainkan dari diri sendiri. bersikap tertutup atau ekslusif, maka Seperti yang di tuliskan Paulo Freire masyarakat akan tenggelam dalam realitasnya dalam bukunya bahwasanya pendidikan sendiri. Karena itu, melalui pendidikan adalah suatu cara penyadaran dalam diri menghendaki agar masyarakat dapat kembali peserta didik menuju pemanusiaan yang lebih percaya diri dan otonom. Mereka tidak lagi sebenarnya. Pendidikan yang membebaskan menjadi penonton atau obyek perubahan namun menjadi gambaran yang ingin di wujudkan Freire harus aktif sebagai subyek perubahan itu sendiri. untuk menghasilkan sumber daya manusia yang berkualitas. Semua cita-cita ideal tersebut hanya dapat dilakukan melalui jalur pendidikan. Buku ini memaparkan pandangan yang berawal dari asumsi Freire, bahwa Menurut Freire, pendidikan dapat dirancang untuk percaya pada pendidikan tidak lebih dari sarana untuk mereproduksi sistem dan struktur kemampuan diri pribadi yang pada akhirnya menghasilkan kepuasan tersendiri. sosial yang tidak adil dan terkadang memilah, seperti sistem relasi kelas, relasi Freire yang terkenal dengan gagasannya tentang pendidikan penyadaran, gender ataupun relasi rasisme. Pandangan kaum liberalis yang mengharuskan sebuah gagasan yang berawal dari kritikannya terhadap dampak apa yang pendidikan dengan menanamkan kebebasan individu dengan kembali akan di timbulkan oleh pendidikan terhadap masyarakat luas. Dimana ketika mengikuti alur humanistik yang selalu berkeyakinan untuk membela seluruh masyarakat bersikap masa bodoh akan hal tersebut berpengaruh kepada kekangan kelembagaan terhadap kebebasan manusia, dimana kebebasan yang perkembangan lingkungan sekitarnya. sesungguhnya adalah kebebasan berpikir dan mengunggapkan pendapatnya. Bagi Freire manusia adalah makhluk yang berelasi dengan Tuhan, sesama Ivan Illich memperjuangkan konsep pendidikan tanpa sekolah yang dan alam. Dalam berelasi dengan alam, manusia tidak hanya berada di dunia mendukung pandangan kaum liberalis dimana descholarize (pendidikan tanpa tetapi juga bersama dengan dunia. Kesadaran akan kebersamaan dengan dunia sekolah) bisa menjadi alternatif untuk bisa maju menuju perubahan dimana akan menyebabkan masyarakat berhubungan secara kritis dengan dunia. produk dari sekolah tidak lain adalah manusia yang hafal segudang teori, tapi Masyarakat sendiri tak hanya bereaksi secara refleks seperti binatang, tetapi tidak mampu mengimplementasikannya ke dalam problema realitas sosial yang menguji, mengkaji dan mengujinya kembali sebelum melakukan suatu tindakan. di sebut dengan Gaya Bank yang dianggap sebagai salah satu cara pelestarian Dalam relasi seperti ini, masyarakat berkembang menjadi suatu pribadi yang penindasan terhadap sesama manusia. benar-benar lahir dari dalam dirinya. Kesadaran manusia memiliki tingkatan Buku ini tak hanya menguak sisi negatif berbagai pandangan tentang yang berbeda yang pada intinya manusia melupakan sejarahnya dan tenggelam pendidikan, tetapi buku ini juga memberikan solusi untuk setiap belenggu dalam masa kininya dibawah kekuasaan orang lain, dan pada tingkatan terakhir pendidikan. Freire menjelaskan dalam proses pendidikan seorang pendidik masyarakat sudah mulai berpikir kritis dalam menafsirkan masalah-masalah dikatakan sebagai sentral dalam pelaksanaan pendidikan. Peserta didik juga dan menghubungkannya dengan sebab akibat dari apa yang akan dilakukannya. mempunyai hak untuk menyampikan pendapat dan pikiran. Pendidikan yang Yang apabila pembebasan sudah tercapai, pendidikan yang membebaskan membebaskan akan menempatkan posisi sorang pendidik sebagai pendamping merupakan suatu usaha pemanusiaan, bahwa pendidikan bukan hanya tentang dalam proses belajar-mengajar untuk menumbuhkan cara berpikir kritis dan apa menuntut ilmu, tetapi juga membiasakan diri untuk saling bertukar pikiran kesadaran akan problema realita. sebagai salah satu cara dalam mendapatkan ilmu yang merupakan hak bagi Buku ini mencontohkan masyarakat Brazilia yang ketika itu sedang semua orang tanpa terkecuali. Kesadaran dan kebersamaan adalah kata kunci berada dalam masa transisi. Titik awal transisi masyarakat Brazil adalah dalam dari pendidikan yang membebaskan dan kemudian memanusiakan. bentuk masyarakat yang tertutup. Yang berkembang dengan memperoleh Buku yang ditulis seorang pendidik di negara Brazilia yang mengajarkan tekanan-tekanan khusus, sehingga demokrasi, partisipasi rakyat, kebebasan, bahwa pendidikan tak hanya bergantung kepada apa yang telah ditetapkan kekuasaan, dan pendidikan tidak lagi sesuai dengan maknanya. Akibatnya sebelumnya, tetapi menjelaskan bagaimana cara kita untuk membuka terjadi masyarakat tiruan tanpa memiliki Judul : Pendidikan Yang Memebebaskan wawasan dan bagaimana prinsip pendidikan rasa kebangsaan, terbelakang, buta huruf, yang sebenarnya tanpa memasung pikiran Penulis : Paulo Freire anti dialog dan lain sebagainya. orang lain untuk mengutarakan pikirannya Dalam masyarakat seperti itu efeknya dalam memerdekakan dirinya. Namun banyak Penerjemah : Martin Eran segala kebijakan cenderung berpihak kata dan kalimat yang sulit di pahami karena kepada elite dan bersifat elitis. Pendidikan Penerbit merupakan buku terjemahan yang pada saat : MELIBAS yang membebaskan tidak sekedar membacanya kita harus menyiapkan kamus membeli kompetensi sosial namun juga Tahun Terbit: 2001 untuk paham makna setiap kalimatnya. mewujudkan kompetensi sosial tersebut Selamat Membaca. [] Halaman : 110 dalam setiap aksi nyata. Hal ini perlu
Edisi 21/LPM Untan/2018
19
Mimbar Untan
20
Tabloid Mahasiswa Universitas Tanjungpura
Edisi 21/LPM Untan/2018