Skip to main content

Majalah Mimbar Untan

Page 1

Mimbaruntan.com

@lpmuntan @untanvoiceradio107.8fm

www.mimbaruntan.com

1


2

Edisi X Tahun XXXV/ LPM Untan/ 2017


Mimbaruntan.com

@lpmuntan @untanvoiceradio107.8fm

www.mimbaruntan.com

3


4

Edisi X Tahun XXXV/ LPM Untan/ 2017


Mimbaruntan.com

@lpmuntan @untanvoiceradio107.8fm

www.mimbaruntan.com

5


S

ejak Oktober 2016, beberapa reporter Mimbar Untan yang terhimpun dalam keredaksian Majalah mulai disibukkan mencari referensi untuk liputan. Terutama adalah tim headline, yang akrab dengan sebutan Tim Soedarso. Pencarian literatur sebagai bahan bacaan untuk memperkaya pengetahuan terhadap isu yang diangkat menjadi titik awal sebelum berangkat mencari narasumber.

N

amun, dari perpustakaan satu ke perpustakaan lainnya tidak juga ditemukan tulisan yang mengangkat dokter Soedarso. Pencarian hingga ke galeri arsip pun tidak membuahkan hasil. Akhirnya, di Balai Sejarah Kalimantan Barat menemukan sebuah penelitian tentang perjuangan dan riwayat hidup dokter Soedarso. Buku inilah yang menjadi bekal tim Soedarso untuk melangkah maju mencari hal penting lainnya untuk diangkat menjadi sebuah tulisan yang sebagai bahan bacaan khalayak ramai.

K

alimantan Barat yang sudah terbentuk sejak tahun 1957 tidak terlepas dari peran para pejuangnya, dokter Soedarso termasuk dari bagian tersebut. Namun, jejak langkah perjuangan putra Pacitan ini tidak dituangkan melalui tulisan. Bukan tanpa sebab, hingga saat ini masih terjadi perbedaan pendapat apakah dokter Soedarso memiliki peran dalam mempertahankan kemerdekaan khususnya di Kalbar atau tidak. Hal ini juga diakui oleh Karel, Sejarwan Kalbar, ketika diwawancarai ia sempat mengatakan bahwa dokter Soedarso memiliki gerakan atas dan bawah tanah. “Seakan-akan beliau (dokter Soedarso) itu mendukung atau tidak berbuat apa-apa hanya bersifat professional sebagai tenaga medis. Tetapi dilain kesempatan dia juga berperan sebagai politis yaitu memotivasi para pejuang,� kata Karel.

P

adahal, dokter Soedarso memiliki peran penting di Kalbar. Untuk mempertahankan kemerdekaan Kalbar, pada tanggal 16 Desember 1946, dokter Soedarso beserta rekan-rekannya membentuk Gabungan Persatuan Indonesia (GAPI). Beliau pula yang bersikeras agar Kalbar tetap menjadi bagian Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dan menentang Kalbar menjadi negara federal dengan dibentuknya Daerah Istimewa Kalimantan Barat (DIKB). Berkat perjuangan dan kerja keras dokter Soedarso dan rekanannya, pada tahun 1950 DIKB dibubarkan dan hak politik diserahkan sepenuhnya kepada pemerintah Indonesia.

6

Edisi X Tahun XXXV/ LPM Untan/ 2017


Kalbar Kurang Literasi Tokoh

S

ejak tragedi Mandor, Kalbar kehilangan generasi cendekiawan karena semua tokohnya habis dibunuh Jepang. Sehingga untuk mengisi kekosongan tersebut orang – orang yang bukan berasal dari Kalbar. “Akibatnya yang muncul cendikiawan itu bukan berasal dari Kalimantan tetapi dari Jawa, dokter Rubini, dokter Agus Jam, dokter Abdul Aziz, dokter Soedarso,” papar Agus, sebagai Sejarawan Kalbar.

P

ara tokoh yang berperan di Kalbar memang jarang dituliskan sehingga tidak banyak orang mengetahui pernanan mereka. Saat ini kita melihat namanama jalan memang kebanyakan adalah nama tokoh, tetapi yang kita ketahui sebatas namanya saja, bukan siapa dia dan yang telah ia lakukan hingga namanya disematkan sebagai nama jalan dan nama tempat.

K

alimantan Barat sendiri mempunyai satu perpustakaan daerah dengan puluhan ribu koleksi buku serta memiliki galeri arsip, tetapi tidak ada satu bukupun yang mengangkat tentang tokoh berjasa untuk bumi Khatulistiwa ini. Dokter Soedarso menjadi tokoh yang terlupakan dalam perjuangan kemerdekaan, ia hanya diingat sebagai dokter yang membantu orang sakit pada peperangan mempertahankan kemerdekaan Kalbar. Untuk menghormati jasanya, diabadikan dengan nama Rumah Sakit Umum Dokter Soedarso Provinsi Kalimantan Barat. Sebenarnya dokter Soedarso tidaklah menginginkan sesuatu dari segala hal yang telah dilakukannya, bahkan dengan sifat sederhananya ia dimakamkan seperti masyarakat biasa di Pemakaman Umum Kota Pontianak. Dengan makam yang hanya berpagar besi seadanya, tidak ada atap atau rumah bagi makam tersebut. Tidak ada pula perhatian khusus yang menaungi tempat peristirahatan terakhir tokoh pejuang Kalbar yang satu ini. Hingga menginjak 41 tahun kepergiannya ke pangkuan Ilahi, hanya ada ziarah makam oleh para pegawai Rumah Sakit Umum Dokter Soedarso setiap tanggal 29 November, bertepatan dengan ulang tahun dokter Soedarso.

M

inimnya literatur tentang tokoh di Kalbar inilah menyebabkan banyak orang seolah-olah tidak peduli kepada para pejuang mereka. Lalu dengan adanya bekal penelitian dan kajian dari balai sejarah tersebut, apakah para pemangku kepentingan masih tidak tahu atau sengaja tidak mau tahu. Padahal sudah selayaknya kita memberikan penghargaan kepada para pejuang setara dengan apa yang telah mereka lakukan untuk keberlangsungan hidup kita. Semoga kita semakin menghargai dan memberikan apa yang seharusnya kepada orang-orang yang telah memberikan seluruh hidupnya untuk kita. Semoga !!! “Jangan sekali – sekali melupakan sejarah “JASMERAH” – Ir. Soekarno-“ Mimbaruntan.com

@lpmuntan @untanvoiceradio107.8fm

www.mimbaruntan.com

7


KAMPUS

MENGAWAL Dana Untan Dari BOPTN OLEH : Septi Dwisabrina & M. Firdaus

Bermula pada saat Rumusan Nasional Pendidikan dan Kebudayaan (RNPK) pada tanggal 12 Februari 2013 silam, pemberlakuan Bantuan Operasional Perguruan Tinggi atau disingkat dengan BOPTN mulai berlaku, sebagai amanat pelaksanaan Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2012 tentang Pendidikan Tinggi (UU Dikti). Selain itu, pemerintah juga mengalokasikan 30% dari BOPTN untuk penelitian di Perguruan Tinggi Negeri (PTN).

B

OPTN ini merupakan satu diantara program dari Kementrian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristek Dikti) yang diberikan kepada PTN untuk membiayai kekurangan biaya operasional sebagai akibat adanya batasan pada sumbangan pendidikan di PTN. “Kalau dulu masih di bawah Kemendikbud, program itu dimulai pada tahun 2012. Jadi setiap universitas negeri itu diberikan BOPTN dengan konsep perhitungan setelah diberlakukannya Uang Kulih Tunggal (UKT),” ungkap w, Rabu (12/4). Untuk konsep pemberian dana BOPTN adalah melalui perhitungan besaran Biaya Kuliah Tunggal (BKT) dan

8

Uang Kuliah Tunggal (UKT). Ketika uang kuliah telah di tetapkan, namun terjadi selisih kekurangan, maka akan ditutupi oleh dana BOPTN. Besaran tarif BKT melalui penetapan pemerintah yang mengacu pada standar satuan biaya operasional Pendidikan Tinggi secara periodik dengan mempertimbangkan, pertama, capaian Standar Nasional Pendidikan Tinggi. Kedua, jenis Program Studi. dan ketiga indeks kemahalan wilayah. Dasar penyusunan UKT adalah melalui perhitungan standar satuan biaya operasional sebagai dasar oleh PTN untuk menetapkan biaya yang ditanggung oleh mahasiswa. Biaya yang ditanggung oleh mahasiswa harus disesuaikan dengan kemampuan ekonomi mahasiswa, orang tua mahasiswa, atau pihak lain yang membiayainya. Mengacu pada Peraturan Dikti nomor 6 tahun 2016, bahwa dana BOPTN dapat dipergunakan untuk Pelaksanaan Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat, biaya pemeliharaaan pengadaan, penambahan bahan praktikum/ kuliah, bahan pustaka, penjamin mutu, kegiatan kemahasiswaan, langganan daya dan jasa. Selain itu, ada juga untuk pelaksanaan kegiatan penunjang, pengembangan teknologi informasi dan komunikasi dalam pembelajaran, honor dosen tenaga

Edisi X Tahun XXXV/ LPM Untan/ 2017

pendidikan non PNS, dosen tamu, pengadaan sarana dan prasarana, satuan pengawas internal, pembiayaan Rumah Sakit Perguruan Tinggi Negeri serta Kegiatan lain yang merupakan prioritas dalam Renstra Perguruan Tinggi masingmasing. “Secara umum, BOPTN itu digunakan untuk penyelenggaraan perkuliahan, pendidikan dan pengajaran, penelitian dan pengabdian pada masyarakat kemudian yang berkaitan dengan pengadaan bahan praktikum,” paparnya. Dana BOPTN tidak dapat dipergunakan untuk belanja modal dalam bentuk investasi fisik seperti gedung baru dan kendaraan dinas, tambahan insentif mengajar untuk pegawai negeri sipil, tambahan insentif dan honor untuk pejabat administrasi, pejabat fungsional, dan pejabat pimpinan tinggi yang berstatus pegawai negeri sipil serta kebutuhan operasional untuk manajemen. “Tidak boleh digunakan untuk pembangunan gedung baru, yang diperbolehkan itu pemeliharaan gedungnya,” timpalnya. Dasar yang digunakan untuk mengalokasikan BOPTN pada perguruan tinggi, mempertimbangkan beberapa kriteria, pertama adalah biaya pendidikan yang dibutuhkan untuk mahasiswa program diploma dan program sarjana. Kedua, jumlah Penerimaan Negara Bukan Pajak


KAMPUS

(PNBP) yang bersumber dari mahasiswa program diploma dan program sarjana. Ketiga, kinerja perguruan tinggi. Keempat, jumlah mahasiswa program diploma dan program sarjana. BOPTN berperan sebagai penunjang untuk menutupi selisih kekurangan dari BKT yang telah ditetapkan universitas. Untan sendiri menilai, anggaran BOPTN yang dikucurkan pemerintah untuk tahun 2016 masih kurang. “Selama ini, konsepnya seperti itu, cuma ternyata BOPTN yang diberikan oleh kemenristek itu tidak sama, artinya gini, mungkin kita perlunya, katakanlah 100 miliyar selisihnya, tapi ternyata negara hanya bisa membantu khusus Universitas Tanjungpura itu palingan 20 miliar pertahun, jadi duitnya masih banyak kekurangan,” jelasnya. Menilik kekurangan dari BOPTN, ternyata Untan memiliki sumber dana lain yakni Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) yakni operasional fakultas masing-masing yang bersumber dari biaya kuliah mahasiswa. “BOPTN hanya penunjang, jadi kalau kita membebankan kegiatan pada BOPTN nggak akan pernah cukup, karena relatif kecil,” tuturnya. Ketika disinggung terkait pendapatan Untan selain BOPTN dan PNBP, ia mengungkapkan bahwa tidak ada sumber lain pendapatan Untan untuk menunjang operasional selain itu. “Tahun 2016 yang berkaitan langsung dengan mahasiswa itu hanya BOPTN, dan itu pun tidak semua untuk mahasiswa,” tutupnya. Realisasi dana BOPTN Belum Optimal Bedasarkan data yang diperoleh reporter Mimbar Untan, untuk tahun 2016 Untan mendapat jatah BOPTN dari pemerintah sebesar Rp. 22.127.959.000, namun dari data tersebut, Untan tidak merincikan alokasi dana tersebut untuk apa saja, Untan hanya memberikan secara umum terkait pengalokasiannya. Dari data tersebut pula terlihat bahwa Untan hanya mampu merealisasikan

sebesar Rp. 21. 789.942.305 dari total yang sudah dianggarkan atau dalam perhitungan persentase yakni 98,47 % dan menyisakan dana sekitar Rp. 338.116.695. Padahal dana BOPTN untuk Untan relatif kecil, namun dalam pengalokasiannya masih belum maksimal. BOPTN sebagai pelengkap biaya kuliah mahasiswa yang kurang, namun dalam pengalokasiannya masih jauh dari harapan. Masih ada mahasiswa yang mengeluhkan fasilitas kampus yang kurang memadai baik itu sarana dan prasarana maupun layanan perkuliahan. Hal ini dirasakan oleh Ulfa, seorang mahasiswi angkatan 2015 yang sedang kuliah di Fakultas Teknik (FT) Untan. Ia mengatakan bahwa biaya kuliah di FT terbilang cukup mahal, terutama pada Program Studi (prodi) baru, kemudian sarana penunjang pada beberapa prodi juga masih kurang memadai sehingga kurang maksimal dalam proses perkuliahan. “Beberapa prodi di FT masih ada yang tidak memiliki gedung, jadi harus menumpang keprodi lain,” uangkap mahasiswi prodi Teknik Informatika itu, Kamis (6/4). Ia menambahkan untuk proses pembelajaran di FT sendiri sudah cukup baik, akan tetapi pada waktu tertentu ada dosen yang jarang masuk. “Terkadang tenaga pengajar jarang masuk,sehingga materi yang dipelajari selama satu semester sangat sedikit dan merugikan mahasiswa,” jelasnya. Meskipun ada fasilitas yang diberikan oleh pihak fakultas berupa jaringan internet, namun tetap saja hal ini masih dirasa kurang maksimal oleh mahasiswa untuk menunjang kegiatan perkuliahan di kampus. “Ada sinyal wi-fi di kampus, tapi tidak mencakup seluruh area di Fakultas Teknik, hanya dibeberapa tempat saja,” pungkasnya. Memang selain mengeluhkan biaya kuliah yang mahal, mahasiswa juga mengeluhkan sarana prasarana penunjang pekuliahan yang mereka dapat. Hal tersebut disampaikan oleh Fajar Agung, Mimbaruntan.com

seorang mahasiswa yang juga kuliah di FT Untan. Ia mengatakan bahwa untuk prodi baru ada yang belum memiliki laboratorium sendiri, pembangunan yang dilakukan pihak universitas juga masih kurang merata. “Belum ada lab untuk prodi baru, karena universitas selalu melakukan pembangunan pada fakultas lain,” keluhnya. Beberapa fakultas di Untan memang ada yang tidak melakukan penambahan gedung, tetapi ada juga fakultas yang gencar melakukan penambahan gedung guna mencukupi jumlah mahasiswa yang semakin banyak. Namun penambahan gedung tersebut tetap saja tidak diimbangi dengan penambahan fasilitas penunjang kuliah. Hal ini dirasakan Irma Deva, mahasiswi prodi Kimia Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Untan. Deva mengatakan untuk penambahan sarana dan prasarana yang ada hanya gedung baru saja. “Yang baru terasa hanya gedung baru, untuk penunjang lainnya belum ada, masih seperti biasa,” ungkapnya. Sarana perlengkapan perkuliahan, lanjut dia, dirasakan juga masih kurang oleh mahasiswa.“Untuk yang masih kurang yaitu perlengkapan penunjang perkuliahan, seperti infokus serta ruangan yang kurang layak,” pungkasnya. Dalam hal ini Presiden Mahasiswa (Presma) Untan, Kamarullah pun mengungkapkan, saat ini realisasi Untan dalam mengaloakasikan dana untuk penunjang mahasiswa belum maksimal. “Dilihat dari dana yang dianggarkan lebih dari 3 miliyar, namun realisasi ke lapangannya tuh masih kurang,”, Selasa (11/4). Ia juga menilai, pihvak birokrat Untan masih belum transparansi terkait sumber pendanaan Untan sendiri. “Untan kurang tranparasi tentang pendanaan, Untan ini hasil-hasil dari kerjasama dengan diluar tidak pernah di publish, sehingga para mahasiswa kurang tahu berapa pendapatan Untan dari luar dan bantuan-bantuan Untan,” tambahnya.

@lpmuntan @untanvoiceradio107.8fm

www.mimbaruntan.com

9


10

Edisi X Tahun XXXV/ LPM Untan/ 2017


Mimbaruntan.com

@lpmuntan @untanvoiceradio107.8fm

www.mimbaruntan.com

11


ORIGINAL SECOND STUFF INSTAGRAM @PONTIANAKSECONDSTORE WHATSAPP 0896 - 7465 - 7907

12

Edisi X Tahun XXXV/ LPM Untan/ 2017


Mimbaruntan.com

@lpmuntan @untanvoiceradio107.8fm

www.mimbaruntan.com

13


HEADLINE

OLEH : MARNA IDEAL

14

Edisi X Tahun XXXV/ LPM Untan/ 2017


D

ipo Alam, mahasiswa Fakultas MIPA Universitas Indonesia yang saat itu sedang melakukan penelitian di Kalimantan Barat berkesempatan berbicara langsung dengan dokter Soedarso. Sosok yang telah berbakti untuk Kalimantan Barat selama kurun waktu 40 tahun. Ia dibuat termangu oleh jawaban-jawaban dokter Soedarso ketika diwawancarainya. Dokter yang berusia 69 tahun kala itu masih sangat bersemangat ketika berbicara tentang perjuangan. Bernama lengkap dr. Mas Soedarso atau yang akrab disapa Pak Darso, dikenal sebagai orang yang sederhana. Kesehajaan dan kesederhanaanya terinspirasi dari sosok proklamator Bung Hatta dan Prof. Sunaryo seorang pejuang kemerdekaan. Ia berpesan agar jiwa dan semangat yang pernah dilakukan dalam mencapai kemerdekaan harus dipertahankan dalam menjaga nasionalisme murni. Kemudian ditegaskannya bahwa jiwa tersebut jangan sampai dikotori oleh hasrat kepingin lekas kaya, sebab mental semacam ini yang merusak Negara sehingga dimana-mana terjadi korupsi terutama dikalangan atas. “Coba lihat Bung Hatta, Prof Sunaryo apakah mobil di rumahnya berderet? terlebih lagi pak Hatta, padahal dia proklamator,” ucap pak Darso. Pengabdian dan perjuangan seorang Pak Darso memang sudah tidak diragukan lagi. Tinta sejarah telah ia torehkan, selain pengabdian dan perjuangannnya dibidang kesehatan, dengan semangat yang berkobar tanpa pamrih ia dan teman-temannya juga berperan besar dalam mengusir kaum penjajah dari Bumi Kalimantan Barat. Tidak hanya itu, dibidang sosial dan pendidikan pun ia mempunyai peran penting pada masa perjuangan kala itu. Soedarso lahir pada tanggal 29 Nopember 1906 di Pacitan, Jawa Timur. Anak keenam dari sebelas bersaudara ini sejak kecil sudah dididik agar pandaipandai membawa diri dan tahu menggunakan waktu oleh ayahnya. Atmosoebroto atau yang sering dipanggil Pak Atmo, merupakan ayah yang mempunyai keinginan agar anak-anaknya maju dalam pendidikan.Hal itu dibuktikan dengan pendidikan yang ditempuh Soedarso. Bermula dari sekolah yang dikelola Belanda yaitu Europesche Legere School (ELS) di Maduin yang sekarang setingkat dengan sekolah dasar. Hingga tingkat pergurua tinggi yaitu di School Tot Opleding Van Indische Artsen (STOVIA) di Jakarta. Soedarso yang mempunyai hobi membaca dan buku bacaannya antara lain buku ilmu pengetahuan umum, sejarah dan kedokteran yang

sesuai dengan bidangnya. Mengumpulkan perangko dari berbagai Negara juga menjadi kegemarannya. Selain itu ia juga dikenal sosok yang religius, hal itu di dukung oleh lingkungan keluarga dan ajaran sang ayah yang termasuk keluarga beragama. (Dokter Soedarso Riwayat Hidup Pengabdian dan Perjuangan, Hal 12 ). Semasa menjadi mahasiswa ia aktif beorganisasi, itu ditunjukan dengan masuk sebagai anggota pemuda pelajar nasional yang disebut Jong Java. Meski terkenal sibuk, namun hal itu tidak menjadi penghambat dalam menyelesaikan studinya. Pada usia 26 tahun tepatnya 28 Juli 1932 ia berhasil menyelesaikan sekolahnya dari Stovia Batavia(Jakarta) dan ia resmi mendapat gelar dokternya. Atas gelar dokter yang di sandang itu mengawali tugasnya di Semarang, Pulau Selayar, Surabaya hingga akhirnya pada Februari 1938 ia memulai pengabdiannya di Borneo Barat (Kalimantan Barat) tepatnya di daerah yang masih sangat pedalaman waktu itu di Sanggau. Kisah hidup Soedarso memasuki babak baru. Ia memutuskan untuk mempersunting perempuan yang bernama Soetitah untuk menemani hidupnya. Dari hasil perkawinannya itu, mereka dikarunia tujuh orang anak, terdiri dari tiga orang putra dan empat orang putri yaitu Agus Sutiarso, Agus Setiadi, Andarwini, Sriyati Supranggono, Agus Setiawan dan Sri Astuti Suparmanto.Suka dan duka mereka hadapi dalam berumah tangga.Soetitah menjadi sosok yang kuat, tegar dan penting dalam membantu keberadaan dokter Soedarso. Walaupun Soedarso ditugaskan ke daerah pedalaman Kalimantan Barat yang keadaanya masih sepi dan masih dalam suasana panjajahan, sang istri Soetitah setia mendampingi. Kemudian ketika Soedarso yang juga pernah di bui, dalam keadaan seperti itu pun Soetitah tetap mengurus semuanya. Tampak di situ bagaimana ibu Soetitah merupakan seorang wanita yang sangat mencintai keluarganya dan bertanggung jawab. Ibu Soetitah Soedarso terkenal dengan jiwa sosialnya yang tinggi. Beliau juga pernah mendapat kehormatan Satya Lencana Kebaktian Sosial dari Pemerintah Republik Indonesia yaitu penghargaan yang diberikan kepada orang yang telah berjasa dalam bidang kemanusiaan dan kesejahteraan sosial pada tanggal 22 Desember 1962. Untuk mengetahui lebih mendalam kehidupan keluarga dokter Soedarso, Mimbar Untan berkesempatan berbincang langsung dengan putra kelima dari dokter Soedarso dan Soetitah yaitu Agus Setiawan. Agus mengatakan ibunya merupakan sosok yang sangat berjiwa sosial, Mimbaruntan.com

HEADLINE hobinya bersama masyarakat. Kemanamana mengajak masyarakat untuk melakukan hal yang berguna. “Saya tahu persis bagaimana ibu saya, sebelum ada PKK, ibu saya udah masuk duluan dengan kegiatannya dan memakai dana pribadi,” kata Agus Setiawan saat ditemui di kediamannya, Jalan Parit Haji Husein II, Pontianak (14/01). Bapak yang sedang menikmati masamasa pensiunnya ini kembali menceritakan bagaimana sosok sang ibu waktu masih hidup dulu. Ia mengatakan kalau mau melihat kenang-kenangannya itu ada satu di daerah Jungkat. Tempatnya untuk berkegiatan masyarakat, seperti Balai Desa.Tempat itu diresmikan langsung oleh wakil presiden RI kala itu Bung Hatta pada tahun 1958. Lokasi terjauh yang dijangkau Ibu Soetitah yaitu di Manismata, Ketapang.“Ibu saya meninggal itu tahun 1961, jadi apa yang sudah ibu buat itu akan dilanjutkan oleh mereka sekarang tanpa mereka tau ibu saya itu siapa,” ungkapnya. Pernikahan Soedarso dengan Soetitah yang dikenal harmonis dan penuh perjuangan, namun pada tahun 1961 Soetitah menderita sakit hingga kemudian ia meninggal dunia dan meninggalkan keluarga tercinta selama-lamanya. Setahun berselang kepergian Ibu Soetitah pada tahun 1962, Soedarso menyadari akan kesibukan dan tidak ada yang mengurusi anak-anaknya. Akhirnya ia memutuskan menikah dengan Ibu Hartati dan kemudian dikaruniai seorang anak perempuan. dr. Soedarso di Mata Keluarga Dokter Soedarso berpostur tubuh sedang seperti orang Indonesia kebanyakan juga selalu tampil penuh semangat. Selain dikenal sebagai seorang yang sederhana, Soedarso juga mempunyai sifat yang tegas dan disiplin. Hal itu dikatakan oleh Agus Setiawan putra kelima Soedarso, ia mengatakan ayahnya memang sosok orang yang tegas dan terbuka.“ Ayah saya orangnya terbuka dan tidak suka menutup nutupi,” Ungkapnya. Agus merasa sosok seperti Ayahnya itu sekarang tidak ada lagi yang menyerupai sifat dan kehidupannya. Soedarso juga mengajarkan, apa yang bukan menjadi hak kita, jangan sesekali itu di ambil. Ia juga tidak pernah membeda-bedakan pasiennya apa itu agama atau sukunya, termasuk untuk keluarga sendiri itu tidak dibedakan kecuali dalam keadaan mendesak. ”Ayah saya kan praktek swasta, berartikan diakui. Tapi kalau saya kesana berobat tidak bisa sembarangan masuk. Aturan ya aturan, kecuali kalau keadaan

@lpmuntan @untanvoiceradio107.8fm

www.mimbaruntan.com

15


emergency (darurat) ya,” ungkapnya. Putra kelima dokter Soedarso ini kembali menceritakan bagaimana disiplinnya ayahnya itu. Dari cerita ini kita bisa tahu betapa disiplinnya seorang Soedarso dalam mendidik anak-anaknya. Pernah dalam suatu waktu, ketika abangnya mau pamit pergi ke Jerman. Saat itu abangnya ditanya” mau pakai apa? Apakah perlu tiket?,” kata Soedarso. Abangnya pun mengatakan tidak, dan Soedarso pun tidak memberikan uang. Abangnya hanya berbekal tas berangkat. “Ya begitulah abang saya, kalau gak perlu ya gak dikasih,” ungkap Agus. Ketika Soedarso dijemput oleh sang Maha Kuasa pada tahun 1976. Agus Setiawan sendiri tidak ada di samping sang ayah. Ia berada di Dumai karena pekerjaan dan kabar itu di dapat dari sahabatnya. Ia mengatakan itu memang sudah takdirnya dan memang anakanaknya sudah diajarkan mandiri dari sejak kecil kemudian sudah terbiasa jauh dengan ayahnya yang sering ditugaskan jauh dari keluarga. Dilain kesempatan Mimbar Untan berbincang dengan salah satu cucu dokter Soedarso yang sedang mengisi acara di Pontianak, yaitu Hilmar Farid. Beliau yang saat ini menjabat Dirjen Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), merupakan anak dari Agus Setiadi putra kedua dokter Soedarso. Hilmar mengatakan bahwa ia sendiri tidak terlalu mengenal secara langsung sosok kakeknya. Saat Soedarso meninggal, Hilmar baru berusia delapan tahun bertepatan juga pada ulang tahunnya yaitu 8 maret 1976. Akan tetapi Hilmar sedikit banyak mengetahui bagaimana sosok sang kakek lewat cerita keluarga dan buku-buku yang ada. Hilmar menuturkan Dokter Soedarso merupakan orang yang keras. Itu tergambar dalam perjalanan hidupnya. Dalam sepanjang hidupnya Soedarso memang dikenal sering berpindah-pindah tugas. Salah satunya di daerah pedalaman Kalimantan Barat dan masih dalam suasana penjajahan. Dengan tugas yang berpindah-pindah, hal ini juga menyebabkan jarak Soedarso dengan anakanaknya pun berpencar-pencar. ”Jadi hidupnya saya rasa cukup keraslah, cara mendidiknya juga berpengaruh,” Ungkapnya (24/02). Hilmar Farid menambahkah sosok keras dari Dokter Soedarso itu dapat tergambar pada bagaimana ia mendidk anak-anaknya. Sri Astuti, putri ketujuh dari Soedarso contohnya. Sebenarnya Sri Atuti itu tidak mau

16

jadi dokter, tapi dipaksa untuk jadi dokter oleh Soedarso. Hingga akhirnya Sri Atuti pun berhasil menyelesaikan dan mendapat gelar dokternya. “Ya memang dokter Soedarso ini terkenal dengan keluarga dokter, seperti nama di Rumah sakit ketapang yaitu dr. Agus Djam dan juga dokter Soeharso di Solo itu mereka masih saudara,” tambah Hilmar. dr. Soedarso di Mata Teman Seperjuangan Kepribadian seorang dokter Soedarso juga dikenal sederhana dan jujur. Hal ini membuat sosoknya disenangi oleh banyak orang termasuk teman-temannya. Pembawaannya yang sederhana membuat ia bisa berbaur dikalangan apa saja sehinga ia pun dikenal banyak oleh masyarakat. Melalui buku Riwayat Hidup dan Perjuangan dokter Soedarso, hasil penelitian tim Balai Kajian Sejarah Kalimantan Barat, Mimbar Untan menghimpun beberapa pendapat teman dan orang yang mengenal Soedarso. S.H Marpaung seorang anggota Gabungan Politik Indonesia (GAPI) yang juga pernah menjadi tetangga dan teman seperjuangan Soedarso. Ia mengatakan Soedarso merupakan seorang nasionalis yang cinta kepada bangsa dan tanah air. “Soedarso pernah di penjara oleh penjajah karena perjuangannya. Dengan penampilan yang sederhana ia mempunyai semangat yag besar untuk berjuang,” ujarnya. Kemudian M. Yanis seorang sahabat dan kenalan Soedarso selama di Ponti-

Edisi X Tahun XXXV/ LPM Untan/ 2017

anak yang juga aggota GAPI, menurutnya Soedarso adalah figur yang berdedikasi tinggi.Ia tidak segan-segan memberi bantuan kepada golongan manapun.Ia juga orang yag sederhana dan dermawan yang memiliki rasa nasionalisme yang tinggi. “Sudah selayaknya ia mendapat penghargaan sesuai dengan profesinya sebagai dokter, pengabdi di bidang kesehatan,” ungkap M. Yanis. Mantan Gubernur Kaliamantan Barat pada era 1972-1977 yaitu Kadarusno pun ikut angkat bicara soal hebatnya seorang dokter Soedarso. Dalam pidato sambutannya pada upacara pemberian nama Rumah Sakit Umum Dokter Soedarso ia mengatakan Soedarso merupakan orang yang dikenal masyarakat Kalimantan Barat sebagai seorang tokoh yang berkecimpung dalam bidang kemanusiaan. Soedarso juga telah berkeliling Kalimantan Barat untuk memberikan pertolongan kepada siapa saja yang membutuhkannya. Segala perjuangan, sifat dan dedikasi seorang dokter Soedarso memang sudah tidak diragukan lagi. Apa yang kita alami sekarang ini, khususnya masyarakat kalimantan Barat, mulai dari pendidikan hingga kesehatan ada andil dari dr. Soedarso itu. Melalui sifat dan kepribadiannya yang sederhana, jujur, perjuangan yang tanpa pamrih dan sifat baik lainnya, sudah sepantasnya kita tuliskan nama seorang dr. Soedarso dengan tinta emas perjuanagn dan pembangunan di Kalimantan Barat.

dokter Soedarso berfoto bersama sang isri (Dok : pribadi)


HEADLINE

OLEH : MUH. ARIF RAHMAN

OLEH : MUH. ARIF RAHMAN

Bukan hanya dikenal atas pengabdiannya sebagai dokter, sosok Soedarso juga merupakan seorang patriot yang ikut serta dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia di Kalimantan Barat (Kalbar). Bersama tokoh lainnya, ia berjuang melalui berbagai gerakan organisasi. Pada masa penjajahan Jepang dan kembalinya Belanda (zaman NICA), dr.Soedarso pun pernah dicurigai, ditangkap dan dipenjarakan. ILUSTRASI : WIRZA RACHMAN

K

etika masih di School tot opleiding van Indische Artsen (Stovia) Batavia (Jakarta), dr.Soedarso aktif dalam gerakan pemuda pelajar nasionalis. Ia berperan sebagai dewan redaksi surat kabar Jong Java selama lima tahun sampai organisasi tersebut dilebur dengan perkumpulan pemuda lain seperti Jong Sumatra, Jong Ambon dan sebagainya, menjadi Indonesia Muda. dr.Soedarso mengawali pengabdiannya di Borneo Barat (Kalbar) pada Februari 1938, tepatnya di daerah Sanggau. Sebagai seorang dokter pemerintah di zaman Hindia Belanda, ia merasa tidak dapat berbuat banyak di bidang politik. Namun dirinya berusaha menanamkan kesadaran kepada masyarakat bahwa kepandaian dan kemampuan orang Indonesia tidak kalah dari orang asing khususnya Belanda. Dalam catatan pidato dr.Soedarso di Universitas Tanjungpura (Untan), tertulis gerakan kemerdekaan di Kalbar memiliki corak yang berbeda. Hal ini disebabkan oleh keadaan, terutama di bidang pendidikan. Pada zaman Hindia Belanda, di Kalbar itu tidak ada sekolah lanjutan berbahasa Belanda. Sehingga tidak ada pula gerakan nasional di kalangan pemuda. “Dan ini saya rasa, merupakan suatu hambatan bagi gerakan kemerdekaan di

Kalbar,” kata Soedarso. Pada masa itu, kisaran tahun 19401942, di Kalbar tidak ada perjuangan di bidang militer. Yang ada hanya organisasi seperti Partai Indonesia Raya (Parindra) dan Partai Syarikat Islam. Meskipun tidak aktif, pergerakannya sudah dianggap membahayakan. “Hingga beberapa pemimpin mereka ditangkap dan diasingkan (ke Boven Digul), sdr Ya’ Sabran dll,” ujar Soedarso dalam catatan pidatonya itu. Selamat Dari Penangkapan Jepang Saat Jepang mulai memasuki wilayah Kalbar tahun 1942, ada delapan dokter yang sedang bertugas di berbagai daerah. dr.Soedarso sendiri saat itu berada di Sanggau yang letaknya jauh dari pantai. Tahun 1943, sebagai salah satu organisasi, Parindra diaktifkan kembali lalu dibentuk cabang di seluruh daerah Kalbar. Soedarso menjabat sebagai bendahara di cabang Sanggau. Keadaan pun sempat memburuk ketika Jepang mulai terdesak atas kedatangan sekutu. Lalu akhirnya terjadi pula pertempuran di Sanggau. Peristiwa ini tak sedikit menelan korban jiwa, ada yang tewas dan luka-luka. (Juniar Purba dkk, 1992/1993:15). Tak lama kemudian, usai kejadian Mimbaruntan.com

itu justru membuat Jepang mulai curiga dengan tokoh intelektual di Kalbar. Diperkeruh pula dengan berjangkitnya penyakit eltor (penyakit perut seperti kolera-red) saat itu. Jepang menduga, para dokter Indonesia telah meracuni mereka. Jepang berusaha mencari para dokter hingga ke daerah pedalaman. Pada akhirnya, dokter Sunaryo, Agusjam, Ismail, Diponegoro, Zakir dan Rubini ditangkap lalu dibunuh. Sedangkan dokter Salekan dan Soedarso selamat atas penangkapan itu. Namun, menurut Sejarawan Kalbar Syafarudin Usman, ada beberapa dokter lainnya yang juga ditangkap dan dibunuh Jepang, seperti Pan Kyong Bing dan dokter hewan Tanjibul Nazarudin. “Ada satu dokter Cina Pan Kyong Bing, yang dibunuh Jepang waktu itu, dokter hewan Tanjibul Nazarudin, ada lagi, dokter Agusjam, Rubini, Sunaryo Marto Pradoto, Sajad Muhammad Ahmad Abdurrahman Diponegoro, Ismael, itu semua tersebar. Ndak ada incar-incaran, pokoknya ketemu tangkap, ketemu tangkap bawa,” ujarnya Februari lalu. Agus Sastrawan Dosen Prodi Sejarah FKIP Untan juga menjelaskan bahwa selamatnya dr.Soedarso dari pencarian Jepang karena saat itu ia sedang bertugas di daerah pedalaman sehingga berhasil disembunyikan oleh penduduk. “Itu

@lpmuntan @untanvoiceradio107.8fm

www.mimbaruntan.com

17


HEADLINE kawan-kawan dia, mati semua. Kebetulan dokter Soedarso ini lepas, dia disembunyikan oleh masyarakat Sanggau,” kata Agus saat ditemui Mimbar Untan di ruang kerjanya. Namun, nasib buruk justru menimpa Ketua Parindra cabang Sanggau Soedarmadi dan wakilnya Panitria. Mereka ditangkap dan kemudian dibunuh oleh Jepang. “Pada tahun 1943 juga Parindra dibubarkan dan pimpinan ditangkap, kemudian ternyata dibunuh. Alasannya karena pergerakan nasional dicurigai, dianggap berbahaya bagi Jepang,” tulis dr.Soedarso dalam sebuah catatan, “Riwayat Singkat Sejarah Perjuangan Kal. Barat dari 1940 sampai 1950”. Jepang selalu saja curiga terhadap gerakan kebangsaan. Sebentar saja Parindra kembali diaktifkan, namun lagi-lagi dibubarkan oleh Jepang karena tuduhan melakukan gerakan subversif. Dalam hal ini, dr.Soedarso sebagai anggota Parindra pun sempat dicurigai dan ditangkap. Karena dr.Soedarso merupakan salah satu dokter yang selamat dari pembantaian Jepang, kemudian ia harus bertugas di beberapa rumah sakit yang tidak ada dokternya, mulai dari Singkawang hingga Pontianak. Pada masa penjajahan Jepang ini, periode 1942-1945, memang bukan hanya para dokter yang ditangkap dan dibunuh, namun juga yang terlibat dalam organisasi pergerakan, para tokoh, bangsawan dan cendikiawan. dr.Soedarso dan Pergolakan Zaman NICA Agustus 1945, Indonesia telah memproklamasikan kemerdekaannya. Namun rupanya kabar itu tidak langsung sampai ke Pontianak, karena Jepang sudah menyita pesawat-pesawat radio dan senjata. “Hingga kami seolah-olah buta-tuli,” tulis dr.Soedarso dalam catatan Riwayat Singkat Sejarah Perjuangan Kalbar. Sore itu, 29 September 1945, tentara Australia mewakili sekutu tiba di Pontianak dengan membawa NICA sebagai datasemen di dalamnya. Menghadapi situasi seperti ini, Residen Asikin Nur (pegawai pemerintahan dengan beberapa orang lain didatangkan dari Banjarmasin ketika orang pemerintahan Indonesia di Kalbar dibunuh Jepang) menyerahkan tanggung jawab kepada dr.Soedarso selaku pimpinan Pemuda Penyongsong Republik Indonesia (PPRI). Dalam kegiatannya, organisasi ini dibantu oleh para tokoh politik, seperti Muzani A.Rani, Soekotjo Katim, A.Syukrie Nour dll. Mereka merupakan tokoh yang tidak terbunuh pada zaman Jepang.

18

Dipelopori PPRI, dr.Soedarso dan tokoh lainnya mengadakan rapat umum di lapangan Kebon Sayoek (lapangan sepak bola), 15 Oktober 1945. Dalam pertemuan ini, mereka mengambil kesimpulan bahwa Indonesia telah merdeka dan menolak kembalinya pemerintahan Belanda (NICA). Usai rapat, mereka beramai-ramai menuju markas pasukan sekutu (rumah residen sekarang markas kodam). “Kemudian beramai-ramai (arak-arakan) menuju kediaman pasukan sekutu, menyampaikan resolusi tersebut yang ditolaknya,” dalam catatan Riwayat Perjuangan yang ditulis dr.Soedarso. Perjuangan mereka tidak berhenti sampai disitu. Pada suatu siang, dr.Soedarso sebagai ketua delegasi, berdialog dengan pimpinan NICA (resident V.D.Brink dan Boehm), dimana ia tetap menentang kembalinya pemerintahan Belanda. Tidak dikabulkannya usulanusalan dari PPRI ini menuai berbagai reaksi. Sebagian besar pegawai pemerintahan meletakkan jabatannya (berhenti bekerja), termasuk dr.Soedarso. Tindakan sebagai bentuk dari protes ini pun jelas mempersulit NICA dalam menjalankan pemerintahan. Pemogokan umum ini berlangsung sekitar dua minggu. Atas peristiwa-peristiwa ini, beberapa pimpinan PPRI dan tokoh politik yang dianggap berbahaya seperti dr.Soedarso, Radjikin dan Muzani A.Rani ditangkap dan ditahan oleh polisi militer NICA di Sungai Jawi, namun akhirnya dibebaskan juga tanpa syarat. “Iya, dia pernah ditahan oleh NICA kemudian dia lepas kembali. Kenapa dia ditahan karena pemerintah NICA menilai Soedarso berbahaya bagi pemerintahan Belanda, orang republikan berbahaya,” jelas Agus Sastrawan. Kondisi dan situasi pada zaman NICA ini memang telah menimbulkan beragam gerakan dari pemuda-pemuda di Kalbar. Beberapa dari mereka yang bersikap radikal memilih perlawanan dengan bersenjata, meskipun dengan persenjataan seadanya. Ada pula pemuda yang memilih jalan lewat organisasi politik. Mereka membentuk suatu front nasional atau perkumpulan gabungan yaitu Gabungan Persatuan Indonesia (GAPI). Organisasi yang dibentuk tanggal 16 Desember 1946 ini diketuai dr.Soedarso dan Muzani A.Rani sebagai wakilnya. Rapat dan pertemuan yang kerap digelar GAPI, semakin hari membuat NICA semakin curiga. NICA beranggapan, GAPI merupakan organisasi yang berbahaya. Saat rapat GAPI 29 Februari 1948, Soedarso menyerahkan posisi pimpinan kepada Muzani A.Rani. dr.Soedarso sadar,

Edisi X Tahun XXXV/ LPM Untan/ 2017

dirinya akan ditangkap. “Karena saya sudah tahu akan ditangkap”. Akhirnya, dr.Soedarso pun ditangkap dan disingkirkan dari lingkaran perjuangan rakyat dengan tuduhan turut sebagai perencana dalam mengusik Belanda. Ia dipindahkan ke penjara Cipinang Jakarta dengan hukuman 6 tahun masa kurungan. Meskipun ia ditangkap, ujar Agus Sastrawan, semangat perjuangan yang dr.Soedarso tanamkan kepada masyarakat Kalbar tetap menggelora. “Walaupun orangnya ditahan tapi jiwanya diluar. Begitulah pejuang-pejuang zaman dulu, meski ditangkap tapi semangat juangnya tetap berada diluar,” ujarnya. dr.Soedarso Pasca Kemerdekaan Perjuangan dr.Soedarso di Kalbar memang tidak dengan angkat senjata. Tetapi, kata Agus Sastrawan, dr.Soedarso berjuang sebagai aktor intelektual lewat pidato dan orasinya. “Beliau tidak, tapi dia sebagai aktor intelektuallah, dengan pidato dia, orator dia jadi memberikan semangat bahkan masyarakat Kalbar ini bersatu. Soedarso ini tidak hanya seorang dokter , beliau juga seorang patriot, pejuang. Dia juga berjuang untuk Kalbar ini, ikut dalam dunia politik,” jelasnya. dr.Soedarso sendiri juga memilih melakukan perjuangan di Kalbar, meskipun ia bukan berasal dari daerah ini. Karel Sejarawan dari IKIP Pontianak mengatakan, alasan mengapa dr.Soedarso mau berjuang di Kalbar, salah satunya karena ideologi nasionalismenya. “Jadi alasannya salah satunya terpengaruh oleh ideologi nasionalisme yang diterapkan yang sedang popular waktu itu di Stovia sekolah kedokteran di Jakarta,” jelasnya. Karel menjelaskan, dalam buku Restu Gunawan yang berjudul Muhammad Yamin dan Cita-cita Besar Tuhan, nasionalisme adalah ideologi para perantau. Jadi orang perantau itu berperan dalam menyatukan Indonesia. “Contohnya Muh.Yamin orang sumatera tapi tumbuh di jawa. Begitu juga dengan Soedarso, ia datang ke Kalbar bukan bilang ‘aku ini jawa’ tapi Kalbar dan jawa sama, samasama orang Indonesia,” kata Karel. Di balik pengabdiannya sebagai seorang dokter, Soedarso memang turut andil dalam perjuangan di bidang politik, sosial dan pendidikan di Kalbar. Melalui berbagai gerakan organisasi, bersama tokoh lainnya, ia pun berpartisipasi dalam memertahankan kemerdekaan Indonesia. Hal tersebut terwujud, salah satunya karena jiwa nasionalisme yang dimiliki dr.Soedarso semenjak masih muda.


HEADLINE

Manifestasi Bung Darso OLEH : ISA OKTAVIANI

ILUSTRASI : WIRZA RACHMAN

Bagaimanakah proses terbentuknya Provinsi Kalimantan Barat dan siapa saja yang berjuang agar tetap menjadi bagian dari NKRI ? Pada tahun 1957 berkat usulan dari dokter Soedarso, Kalimantan Barat resmi menjadi provinsi sendiri. Namun, untuk membawa Kalbar tetap NKRI bukanlah hal yang mudah, banyak tantangan dan rintangan yang harus dilewati oleh dokter Soedarso dan kawan - kawan pada masa itu.

S

etelah melaksanakan tugas di R. S. U. Surabaya, pada tahun 1938 dokter Soedarso dipindahkan ke Sanggau, Kalimantan Barat ( Kalbar ) sebagai dokter daerah. Ketika bertugas di Kalbar, dokter yang akrab disapa Pak Darso ini cukup aktif berjuang mempertahankan kemerdekaan di Kalbar. Pak Darso membentuk organisasi pejuang kemerdekaan Republik Indonesia di Kaliamantan Barat, yang mereka namai Pemuda Penyongsong Republik Indonesia ( PPRI ). Kegiatan organisasi ini dibantu oleh beberapa tokoh seperti Soekotjo Katim, Muzani A. Rani, M. Rivai, A. Syukrie Nour, R. Wariban, Hamdy Moursal dan Laijo, yang memiliki nasib baik seperti dokter Soedarso, tidak dibunuh dalam pembantaian oleh Jepang. Meski Indonesia telah merdeka, tetapi kabar kemerdekaan ini belum diketahui oleh masyarakat Kalbar, sehingga pada 29 September 1945, sekutu meluncur ke Pontianak. Melihat situasi tersebut, pada tanggal 15 Oktober 1945, dibawah pimpinan dokter Soedarso, diadakan rapat umum di Lapangan Kebun Sayur. Dalam pembahasan tersebut, meminta kepada Australia menolak kembali kedatangan NICA. Tapi, usul itu tidaklah berbuah manis, yang terjadi malah sebaliknya, Australia meninggalkan Pontianak dan Residen Asikin menyerahkan kekuasaan kepada NICA. Pada masa itupun, NICA mengangkat Sultan Hamid II sebagai Sultan Pontianak. Sultan Hamid II berkeinginan Kalbar menjadi negera federal, bukan negara kesatuan. Menghadapi situasi pada masa NICA, beberapa pemuda ingin mempertahankan kemerdekaan Kalbar. Perjuangan pertama dilakukan dengan berbekal senjata, tetapi hal ini tidak berhasil. Sehingga@lpmuntan ada beberapa pemuda memilih jalan berpolitik Mimbaruntan.com www.mimbaruntan.com @untanvoiceradio107.8fm yang langkah kongkritnya pada 16 Desember 1946, diketuai oleh

19


HEADLINE

dokter Soedarso membentuk Gabungan Persatuan Indonesia ( GAPI ). Bergabung pula Muzani A. Rani, M. Ahmad Syah, R. Wariban, dan M.K. Indra Mahyudin, serta beberapa anggota lainnya. Organisasi ini terbentuk untuk memperjuangkan Kalbar tetap menjadi Negara Kesatuan Republik Indonesia ( NKRI ). Melihat semakin lincahnya gerakan dokter Soedarso dan kawan–kawannya, maka NICA merasa terancam dan menganggap beberapa tokoh tersebut berbahaya. Sehingga pada tahun 1948–1949, dokter Soedarso, Radjikin dan Muzani A. Rani ditangkap dan ditahan di Sungai Jawi. Dengan adanya persetujuan Roem Rooyen pada akhir tahun 1949, dokter Soedarso dan sejumlah tawanan dibebaskan. Setelah mendapat angin segar, dokter Soedarso ditunjuk sebagai Dewan Perencanaan Nasional (DEPERNAS). Pada tahun 1952, menjadi perwakilan Kalbar sebagai DEPERNAS, dokter Soedarso mengusulkan agar Kalbar menjadi provinsi sendiri. Akhirnya disetujui pemerintah Indonesia pada tahun 1957 untuk melengkapi provinsi lainnya di Kalimantan yakni Kalsel, Kalteng, dan Kaltim. Karena sebelumnya Kalimantan dilebur menjadi satu resident yang berpusat di Banjarmasin. “Pada Pelantikan resident RM. Soeprapto tahun 1952 saya ajukan claim Kalbar supaya provinsi tersendiri,” kata Pak Darso. Menurut dokter Soedarso, pembentukan provinsi bagi Kalbar karena pertimbangan praktis adanya kesulitan perhubungan dengan Banjarmasin dan demi perbaikan efesiensi pemerintahan. Dari hasil penelitian Balai Sejarah Kalimantan Barat “Dokter Soedarso Riwayat Hidup, Pengabdian dan Perjuangannya” tahun 1992, ditulis bahwa selain menginisiasi terbentuknya Provinsi Kalimantan Barat. dokter Soedarso dipilih oleh Gubernur R. D. Asikin dan koloniel Sudharmo pada tahun 1958 – 1960 mewakili Kalbar. Dalam rapat DEPERNAS, dokter Soedarso mengusulkan agar di-

20

lakukan program transmigrasi, mengingat penduduk di Kalbar masih sedikit, program ini diterima dan berjalan dengan baik Perjuangan Mempertahankan Kalbar tetap NKRI Sebelum Indonesia merdeka, Kalbar memiliki banyak kerajaan sehingga peranan politik dijalankan oleh kerajaan. Pada tahun 1950, secara resmi kerajaan – kerajaan menyerahkan hak politiknya kepada pemerintah Indonesia. Sejarawan Kalbar, Karel mengatakan, pasca kemerdekaan Indonesia, Kalbar belum gabung dengan NKRI karena ada hal yang istimewa yakni kultur dan banyaknya kerajaan. “Pada akhirnya meski daerah lain sudah gabung dengan NKRI seperti Jawa dan Madura tapi Kalbar belum. Masih ada tokoh – tokoh misal Sultan Hamid II dan raja-raja di Kalbar membentuk Dewan Istimewa Kalimantan Barat (DIKB) sampai dibubarkannya DIKB itu,” ucap Karel, Selasa (28/2/2017). Sekretaris pribadi Sultan Hamid II, Max Jusuf Alkadrie, mengatakan bahwa Sultan Hamid II mempunyai alasan untuk menjadikan Kalbar federal. “SH.II. ( Sultan Hamid II – red ) berpendapat bahwa Indonesia itu terlalu luas, bentuk negara yang sebaiknya federal,” jelasnya melalui pesan whatsapp. Untuk merealisasikan tujuannya tersebut, maka Sultan Hamid II membentuk DIKB. “( tahun – red ) 1947 SH.II. bikin DIKB, Dewan Hariannya ada JC Oevang Oeray. Yang beliau rekrut dari Kapuas Hulu,” jelas Max. Sebagai seorang cendikiawan, dokter yang berasal dari Pacitan ini mencari cara agar Kalbar tetap bagian NKRI. Karena perannya cukup besar pada masa itu, sehingga ia dipercaya oleh masyarakat Kalbar yang sempat kehilangan tokoh pasca pembataian besar-besaran oleh Jepang diperistiwa Mandor. Kehadiran dokter Soedarso dianggap mampu membangkitkan semangat perjuangan sebagai penggerak. ”Jadi tidak ada yang bisa menjadi penggerak, maka yang memahami

Edisi X Tahun XXXV/ LPM Untan/ 2017

aspirasi masyarakat ini ya Soedarso, tahu dia apa yang diinginkan masyarakat,” jelas Agus Sastrawan, Sejarawan Kalbar. Pak Darso amat cinta Indonesia dan Kalbar, sehingga ia mengumpulkan para tokoh di Kalbar untuk bersama-sama berjuang mempertahankan Kalbar ini tetap menjadi bagian NKRI. “Soedarso sebagai seorang republican tetap NKRI, beliau menginginkan negara ini negara unitaris, negara kesatuan,” ujar Agus Sastrawan. Usaha ini berbuah manis, terbukti para petinggi kerajaan menyerahkan hak politiknya dan memutuskan bergabung dengan NKRI. Sebagai inisiator terbentuknya Kalbar, dokter Soedarso tidak mau menjadi gubernurnya. “Dia sebagai pemikir, kaum intelektual tapi begitu ia disuruh jadi pemimpin yang bukan bidang dia, dia tidak mau. Dia tetap mau ditempatkan sesuai dengan bidang dia,” papar Agus Sastrawan. Selain itu, sifat sederhana dari Pak Darso juga tergambar dari ketulusannya menjalankan tugas dan tanggungjawab tanpa mengharapkan apapun. “Sangat sederhana sekali, kalau lihat dari hidupnya itu nampak sekali bahwa dia ini berjuang tapi tidak mengejar jabatan, nah itu salah satu ciri dia, kadang banyak orang yang berjuang untuk cari nama, tapi kalau Soedarso ini tidak,” kata Agus Sastrawan. Begitu banyak peran Pak Darso untuk Kalimantan Barat, tetapi hingga saat ini banyak yang tidak mengetahui. Putra Pacitan yang mengabdikan diri untuk Kalbar ini hanya dikenal sebagai tokoh pejuang dalam bidang kesehatan, sehingga untuk mengenang sosok yang telah kembali ke pangkuan sang Ilahi pada 8 Maret 1976 ini, diabadikan namanya sebagai nama Rumah Sakit Provinsi “Rumah Sakit Umum Dokter Soedarso” dan berdiri kokoh patung dokter Soedarso didepan rumah sakit tersebut. Berkat kecintaannya kepada Kalbar, almarhum Pak Darso dimakamkan layaknya masyarakat biasa, tidak ada yang istimewa pada makamnya di Pemakaman Umum di Kota Pontianak.


HEADLINE

Bernostalgia dengan Pemimpin Pertama Untan OLEH : IRVAN

Mahasiswa angkatan 1960-an terlihat sedang berfoto didepan gedung pertama Untan yang kala itu berada dijalan Tanjungpura (Dok : Humas Untan)

Duka menyelimuti Kalbar kala sang dokter menghembuskan napas terakhirnya pada 8 maret 1976. Ia pergi untuk selama-lamanya diusia 69 tahun. Bendera merah putih berkibar setengah tiang selama tiga hari di lingkungan Universitas Tanjungpura (Untan). Simbol duka ini dilakukan untuk menghormati dan menghargai jasa almarhum dokter Soedarso yang pernah berjasa memimpin Untan yang saat itu kedudukannya dinamai Presiden Universitas. Ia pun tercatat sebagai pemimpin Untan yang pertama. Dimulai tahun1959 hingga 1961. Mimbaruntan.com

P

ada awal tahun 1958, di rumah Muzani A. Rani terjadi perdebatan mengenai ide mendirikan perguruan tinggi di Kalbar. Beberapa peserta yang hadir menganggap bahwa mendirikan perguruan tinggi merupakan sesuatu yang mewah. Karena akan memerlukan dana yang tidak sedikit. Dalam buku sejarah Universitas Tanjungpura, ditulis Ahmad Tohardi dan Edy Kiang menceritakan, bahwa perdebatan tersebut berakhir setelah Ismail Hamzah mengatakan, “bagi saya adanya sebuah perguruan tinggi merupakan suatu perjuangan, suatu prinsip. Saya sendiri meningkat tua dan karena keadaan hanya sempat mengecap pendidikan Sekolah Rakyat. Tetapi kita harus berpikir jauh ke depan. Yang harus kita pikirkan ialah masa depan generasi yang akan datang, anak cucu kita. Kita sebagai orang tua secara moril bertanggung jawab terhadap nasib depan mereka.� Dengan sikap tegas seorang Ismail Hamzah inilah keraguan para tokoh lainnya dengan sekejap sirna. Maka pada tanggal 20 Mei 1959 lahirlah sebuah perguruan tinggi swasta dengan nama Perguruan Tinggi Daya Nasional @lpmuntan www.mimbaruntan.com yang mempunyai arti kekuatan nasional. Saat @untanvoiceradio107.8fm

21


HEADLINE ini mahasiswa dan masyarakat mengenal perguruan tinggi tersebut dengan nama Universitas Tanjungpura. Pada tanggal 24 maret 1961 rombongan kendaraan beriring-iringan membawa Presiden Soekarno. Kunjungan kerja tersebut berlangsung hingga tangga 26 Maret 1961. kedatangan Sang Presiden di Kalbar dimaksudkan untuk meresmikan beberapa proyek. Termasuk peletakan tiang pertama pembangunan kampus Universitas Daya Nasional. Dihari terakhir kunjungan, Presiden menyempatkan diri untuk menuliskan kata-kata kenangan pada papan tulis yang sudah disiapkan. “Masyarakat yang adil dan makmur hanya dapat diselenggarakan dengan cucuran keringat” tulis Presiden yang akrab disapa Bung Karno itu. Kalimat ini tentu sangat berarti bagi masyarakat Kalbar yang saat itu masih jauh dari kata makmur. Setelah disepakati akan didirikannya Perguruan tinggi di Kalbar. Dibentuklah suatu yayasan yang diberi nama “Yayasan Perguruan Tinggi Daya Nasional” yang diketuai oleh Eddhy Kresno. Soedarso sendiri tidak masuk dalam kepengurusan yayasan, sedangkan Nyonya Soetitah istri dari Soedarso menduduki sebagai anggota komisaris. Terpilihnya dokter Soedarso sebagai direktur perguruan tinggi yang kemudian berubah nama kedudukannya pada tanggal 5 Maret1961 menjadi Presiden Daya Nasional, menurut sejarawan Pontianak, Safarudin Usman, dikarenakan Soedarso merupakan orang yang mempunyai wawasan yang luas untuk memimpin. Sehingga para pelopor pendiri seperti Eddhy Kresno, Ismail Hamzah, Raden Wariban, Soeharjo, M. Yanis dll mempercayai Soedarso untuk memimpin. “Kalau kita sekarang berebut, orang tua dulu tidak, bapak saja, bapak saja yang satu bapak saja. Akhirnya bulat suara, diangkatlah Soedarso sebagai presiden,” katanya. Dalam surat keputusan bernomor 67/III/-1-61. Yang dikeluarkan oleh Yayasan Perguruan Tinggi Daya Nasional, perubahan nama Untan pertamakali dilakukan pada tanggal 5 Januari 1961. Saat itu nama Untan adalah Perguruan Tinggi Daya Nasional dan kedudukan Soedarso dinamai Direktur Perguruan Tinggi. Setelah SK tersebut dikeluarkan nama Perguruan Tinggi Daya Nasional berubah menjadi Universitas Daya Nasional. Karena perubahan nama tersebut kedudukan Soedarso berubah menjadi Presiden Universitas. Perubahan nama terjadi lagi setelah Untan dinegerikan. Dalam surat keputu-

22

Kliping koran Akcaya Post menggambarkan situasi pemancangan tiang pertama gedung Untan. Disana juga terdapat sebuah pesan penting dari Soekarno yang saat ini keberadaan papan tulis tersebut belum diketahui

san Menteri Perguruan Tinggi dan Ilmu Pengetahuan (PTIP) nomor, 53/thn 1963. Universitas Daya Nasional resmi berubah menjadi Universitas Negeri Pontianak (Unep). Saat itu Presiden Universitas diduduki oleh dr Soegeng. Berselang dua tahun, nama Unep berubah lagi menjadi Universitas Dwikora, hingga Surat Keputusan Presiden Republik Indonesia bernomor 171 tanggal 11 oktober 1967 nama Universitas Dwikora berubah menjadi Universitas Tanjungpura, pada saat itulah pemimpin di Untan dinamai Rektor. Saat itu jabatn rektor disematkan pertamakali kepada Muhammad Isja. Sementara itu nama dr Seodarso menurt Agus Sastrawan, dosen sejarah FKIP Untan menilai nama Soedarso yang ikut membesarkan Untan ternyata tidak pupouler dilingkungan Untan. Menurut Agus, Untan jangan sampai melupakan sejarahnya sendiri. “Soedarso seorang dokter tapi peran dia sebagai cendikiawan di Untan ini dilupakan,” ungkap Agus. Kiprah Soedarso dibidang pendidikan tidak bisa dipandang sebelah mata. Selain pernah menjadi pimpinan di Untan, beliau juga pernah mendirikan beberapa sekolah. Dalam buku Dokter Soedarso Riwayat Hidup, Pengabdian dan Perjuangannya yang diterbitkan oleh Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional Pontianak tahun 1992 mencatat, bahwa Soedarso pernah mendirikan sekolah bidan dan perawat di Pontianak. Selain itu Soedarso juga pernah mendirikan se-

Edisi X Tahun XXXV/ LPM Untan/ 2017

kolah juru kesehatan di Sintang dan Ketapang. Dan pernah merubah status kursus perawat menjadi sekolah perawat di rumah sakit umum sungai jawi (sekarang RS Antonius). Tidak hanya itu, Soedarso juga tercatat sebagai perintis berdirinya sekolah SMEA Negeri, kursus Guru TK dan SKKA Negeri Pontianak. Soedarso sangat menyadari bahwa pendidikan merupakan hal sangat penting untuk diperhatikan, maka dari itu ia juga mengambil peran untuk memajukan pendidikan di Kalbar yang saat itu masih sangat tertinggal. “Beliau kan sudah pernah sekolah di Jawa, melihat bahwa Kalbar ini sangat kekurangan dan jangan sampai ketinggalan, makanya beliau dan teman-temannya mempunyai niat bahwa Kalbar ini jangan tertinggal dari daerahdaerah lain,” ungkap Karel, dosen ilmu sejarah di Institut Keguruan Ilmu Pendidikan (IKIP) Pontianak. Di Pacitan, Jawa Tengah, tempat Soedarso dilahirkan namanya mungkin tidak begitu dikenal. Namun bagi masyarakat Kalbar nama Soedarso tentu tidak asing. Atas kegigihannya nama Soedarso kini diabadikan di rumah sakit terbesar di Kalimantan Barat dengan sebutan Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dr Soedarso. Tidak mudah bagi Soedarso merintis rumah sakit tersebut, ia harus mendapat tantangan dari sebagian pejabat dan masyarakat karena lokasi pendirian rumah sakit dianggap tidak tidak sesuai. Dalam buku Dokter Soedarso Riwayat


Penyambutan kedatangan Presiden Soekarno di Untan dalam rangka pemancangan tiang pertama gedung Universitas Daya Nasional. (Dok : Humas Untan)

Hidup, Pengabdian dan Perjuangannya yang ditulis Juniar Purba menjelaskan bahwa gagasan pendirian rumah sakit diterima setelah dilakukan peninjauan dan disesuaikan dengan perencanaan kota. “Dia sendiri mungkin tidak mau namanya menjadi nama sebuah rumah sakit, cuma untuk menghargai jasa-jasa beliau, maka nama beliau diabadikan sebagai nama rumah sakit,” tambah Karel. Pemimpin yang terlupakan Purnamawati masih ingat betul masa-masa ia kuliah digedung pertama Untan. Gedung yang terletak di jalan Tanjungpura itu merupakan milik Yayasan Fong Pak Fu Tang. Sebuah yayasan yang menaungi pedagang dan badan sosial dari suku Hakka. Lokasi perkuliahan pertama itu kini dihuni oleh bank Mandiri. Masuk di Untan pada tahun 1963. Sejauh ini Purnamawati merupakan alumni Untan tertua setelah Ali As yang ditemui Mimbar Untan. Sayangnya Ali as yang pernah kuliah di Fakultas Hukum itu tidak bisa ditemui lantaran kondisinya yang tidak memungkinkan. Namun saat ditanya mengenai Soedarso, Purnamawati juga tidak mengetahuinya. “Ibu juga tidak tahu tentang beliau,” kata Purnamawati yang pernah menjadi rektor pada tahun 1999-2003. Senada dengannya, Dekan pertama FKIP, Marsinah Noor juga tidak dapat menceritakan banyak tentang Soedarso. “Secara pribadi ibu

tidak tahu karena masuk Untan tahun 1972,” ujar Marsinah. Kepemimpinan Soedarso memang tidak begitu lama, sehingga banyak generasi sekarang yang tidak mengetahui bahwa ia pernah memimpin di Untan. Menurut Agus Sastrawan penting bagi mahasiswa Sejarah untuk lebih banyak meneliti tokoh di Kalbar yang masih banyak belum diketahui. “Semoga Mimbar Untan menulis ini dapat membangun semangat dari anak-anak didik saya (mahasiswa Prodi Sejarah-red) agar mau meneliti tokoh-tokoh di Kalbar. Karena memang banyak tokoh di kalbar ini banyak yang tidak dikenal,” ujar Agus. Penghargaan yang dapat diberikan kepada Soedarso menurut Marsinah Noor dapat berupa undangan kepada keluarga Soedarso. “Setiap kali Untan mengadakan dies natalis harusnya keluarga diundang,” kata Marsinah. Seorang mahasiswa Universitas Indonesia, Dipo Alam merasa sangat beruntung saat ia diberi kesempatan untuk bertemu Soedarso sebelum ia pulang ke Jakarta. Dipo Alam menginjakkan kakinya di Kalbar pada tahun 1976 dalam rangka kerja sosial. “Wawancara satu jam sebelum lepas landas itu, menjadi suatu kenangan yang berarti bagi hidup” ungkap Dipo Alam dalam tulisannya yang berjudul Dokter Soedarso Tokoh Kalimantan Barat. Dipo Alam memang sangat Mimbaruntan.com

beruntung tatkala ia dapat berbincang langsung dengan Soedraso pada tanggal 5 februari 1976, karena sebulan setelah itu, tepatnya tanggal 8 maret 1976 dokter Soedarso telah berpulang kepangkuan Tuhan. “Mengapa ketika itu hanya satu jam saya bertemu dengannya? Mengapa ketika mendarat di lapangan terbang Soepadio saya tidak langsung ke rumahnya,” ungkap Dipo kesal. Saat Dipo Alam menanyakan mengenai pendirian sekolah ST dan STM dari pada SMP dan SMA di Balaikarangan, kabupaten Sanggau. Soedarso ternyata sependapat dengan Dipo Alam. “Saya sependapat dengan saudara, terlebih lagi saudara katakan bahwa pendirian ST dan STM itu mengingat resources yang ada di kalimantan ini,” jawab Seodarso. “Tapi ingat, orang kadang-kadang tidak suka anaknya menjadi “manual labour” kita harus merombak cara berpikir yang feodal,” timpal Soedarso. Dipo Alam juga menanyakan tentang harapan dokter Soedarso untuk kaum muda “Berbicara soal patriotisme, apa sebenarnya harapan bapak dari generasi muda sekarang?” tanya Dipo Alam. “ Walau sebenarnya banyak, namun satu yang saya pesankan, jiwa dan semangat yang pernah dilakukan dalam mencapai kemerdekaan harus dipertahankan dalam menjaga nasionalisme murni,” kata sang dokter yang bernama lengkap dokter mas Soedarso.

@lpmuntan @untanvoiceradio107.8fm

www.mimbaruntan.com

23


24

Edisi X Tahun XXXV/ LPM Untan/ 2017


Mimbaruntan.com

@lpmuntan @untanvoiceradio107.8fm

www.mimbaruntan.com

25


Dua orang anak sedang melakukan aktivitas ngamen di Pasar Flamboyan, Pontianak, Jumat (5/5). (Dok : Ankgah/Miun)

OLEH : DADANG M. SUKRI & FITRI NUR HIDAYAH

K

71 tahun Negara Indonesia merdeka, namun permasalahan anak terlantar di Kota Pontianak belum teratasi. Dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia tahun 1945 pasal 34 ayat (1) menyebutkan bahwa “fakir miskin dan anak-anak yang terlantar dipelihara oleh negara”

asus penelantaran anak masih saja terjadi di kotakota besar, hal tersebut disebabkan karena orang tuanya tidak mampu melaksanakan kewajibannya secara optimal sehingga kebutuhan anak baik jasmani, rohani maupun sosial tidak terpenuhi secara wajar. Menurut salah seorang ilmuwan sosial dunia, Walter A Friedlander, mengatakan bahwa anak terlantar adalah anak yang tidak mendapatkan asuhan secara minimal dari orang tuanya sebab kondisi keluarganya baik ekonomi, sosial, kesehatan jasmani maupun psikisnya tidak layak sehingga anak-anak tersebut membutuhkan adanya bantuan pelayanan dari sumber-sumber yang ada di masyarakat sebagai pengganti orang tuanya. Selasa, 4 April 2017 waktu menunjukkan pukul 07.30 WIB. Ikmal (12) dan teman-temannya berjalan kaki sambil membawa gitar dan kaleng bekas. Mereka dari arah Gg. Semut, Kel. Tanjung Hulu, Kec. Pontianak Timur, menuju Pasar Flamboyan Pontianak, untuk mengamen. Hasil ngamen dari pagi hingga sore hari biasanya hanya sebesar lima ribu sampai sepuluh ribu rupiah. Uang tersebut digunakan untuk memenuhi kebutuhanya. “Kamek dapat duit hasil ngamen untuk makan bang, orang tue kamek ndak mampu ngasik duit,” ungkap Ikmal saat ditemui

26

Edisi X Tahun XXXV/ LPM Untan/ 2017

reporter Mimbar Untan di Pasar Flamboyan Pontianak. Dalam hal ini, Ibu kandung Ikmal, Vina (30), menjelaskan bahwa Ikmal ngamen di jalanan atas kemauannya sendiri. Namun menurutnya, sebagian orang memandang bahwa seolaholah orang tua tidak memperhatikan dan memperdulikan anak. “Kami sih ndak ade nyuruh die, die sendiri yang mau ngamen. Kadang-kadang saye kasian nengok die panas-panas gitu di luar. Anak saye tu pergi dari pagi dapat duit dua ribu, tiga ribu hasil ngamen langsung pergi main ke warnet, balek tak balek sore. Kite ni khawatir becari sana becari sini. Takut di tangkap Satpol PP,” tutur Vina saat ditemui reporter Mimbar Untan di rumah kontrakannya, Selasa (04/4/2017). Hal senada juga diungkapkan ayah kandung Ikmal, Safarudin (42). Ia menjelaskan bahwa Ikmal ngamen atas kemauannya sendiri, semua yang dilakukan Ikmal tidak ada yang memaksakannya. “saye bilang sama orang-orang, terserahlah orang mau ngomong ape anak saye mau di tangkap atau mau ape saye udah sedang ngajar anak saye. Dan saye liatpun anak saye dapat duit hasil ngamen habis untuk die jak. Payah dah ngabarkan si Ikmal tu,” katanya. Ia menambahkan bahwa sangat sulit untuk memantau


lapsus

keadaan anak, karena setiap harinya pergi kerja mencari ikan di sungai. “Macam saye ni susah untuk mantau keadaan anak, karena saye kerjenye nelayan, pergi malam jam setengah tujuh udah berangkat kerje dah, balek tak balek kadangkadang jam sepuluh siang dari sungai tu, begitu terus setiap hari,” ujarnya. Anak-anak Dilarang Mengemis Dalam Peraturan Daerah Kota Pontianak Nomor 1 Tahun 2010 tentang Ketertiban Umum, Pasal 41 ayat (1) hurup (a) sampai (d) menyatakan bahwa setiap orang atau badan dilarang : (a).Mendatangkan/menampung dan /atau mempekerjakan seorang atau sekelompok orang sebagai pengemis dan atau peminta-minta belas kasihan orang lain dalam wilayah daerah. (b).Meminta-minta belas kasihan orang lain atau mengemis dirumah ibadah, perkantoran, jalan umum, dipersimpangan jalan yang termasuk daerah milik jalan yang terdapat traffic light, atau tempat-tempat umum lainnya di dalam wilayah daerah. (c). Meminta bantuan atau sumbangan dengan cara atau alasan apapun, baik dilakukan sendiri-sendiri atau bersamasama dijalan, angkutan umum, rumah tempat tinggal, kantor dan tempat umum lainnya kecuali atas izin tertulis dari kepala daerah, (d). Melakukan aktivitas berjualan dipersimpangan jalan yang termasuk daerah milik jalan yang terdapat traffic light. Berdasarkan informasi yang diterima dari Ikmal (12), I’am (11), dan Herman (16) waktu di temui reporter Mimbar Untan di warung makan Tanjung Raya II, Pontianak, pada Maret 2017, bahwa anak yang ngamen di Kota Pontianak itu sebanyak 27 orang yang terdiri atas 18 orang laki-laki dan 9 orang perempuan. Kemudian menurut data yang diperoleh dari Komisi Perlindungan Anak Indonesia Daerah (KPAID) Provinsi Kalimantan Barat, bahwa di sepanjang tahun 2015 tercatat kasus hak kuasa asuh dan

penelantaran anak yaitu sebanyak 38 orang, dan tahun 2016 tercatat sebanyak 27 orang. “Yang menangani permasalahan anak jalanan terlantar ini adalah perannya Dinas Sosial kota maupun provinsi. KPAID hanya mengawasi kerja mereka, kami tidak boleh terlibat aktif disitu,” ungkap Achmad Husainie selaku Ketua KPAID Kalbar periode 2015-2016. Negara yang diwakili pemerintah, khususnya pemerintah daerah Kota Pontianak harus bertanggung jawab dalam menangani permasalahan anak terlantar di Kota Pontianak. Seorang anak mempunyai kedudukan yang sangat penting dalam kehidupan bermasyarakat, be r bangsa dan bernegara, karena menurut UndangUndang Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perlindungan Anak, bahwa seorang anak merupakan tunas, potensi, dan generasi muda penerus cita-cita perjuangan bangsa yang memiliki peran strategis, ciri dan sifat khusus sehingga wajib dilindungi dari segala bentuk perlakuan tidak manusiawi yang mengakibatkan terjadinya pelanggaran hak asasi manusia. Asih Setiawati, selaku Kepala Subbidang (Kasubbid) Pemberantasan Traficking dan Tindak Kekerasan, pada Badan Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak dan Keluarga Berencana (BP3AKB) Provinsi Kalimantan Barat, menjelaskan bahwa kalau sudah mendapatkan data kasus dari KPAID Provinsi Kalbar, berarti hal tersebut menurut Asih benar adanya. Maka dari itu kata Asih, BP3AKB akan berusaha memberikan hak pada seorang anak. “Sosialisasi terus dilakukan kepada orang tua dan lembaga yang memang itu tupoksinya adalah untuk anak, misalnya Dinas Sosial, Dinas Kesehatan dan KPAID serta badan kami sendiri, supaya tidak terjadi penelantaran terhadap anak,” katanya. Kepala Dinas Sosial Kota Pontianak, Aswin Djafar, menjelaskan bahwa keberadaan anak-anak terlantar di Kota Pontianak, di anggap sebagai permasalahan sosial yang cukup kompleks. Berbagai program penanganan terhadap anak Mimbaruntan.com

terlantar telah dilakukan oleh pemerintah daerah Kalimantan Barat baik di tingkat provinsi maupun kota. Aswin mengatakan, Dinas Sosial Kota Pontianak memiliki berbagai program bantuan bagi penduduk yang kurang mampu, seperti bantuan Kartu Indonesia Sehat, Kartu Keluarga Sejahtera, bantuan Kelompok Usaha Bersama (KUBE), dan Program Keluarga Harapan (PKH). “Sebenarnya paket pemerintah udah lengkap, hanya kadang-kadang kembali lagi pada orangnya, mentalnya malas. Nah mungkin ada permasalahan dari keluarga, ya karena masalah sosial, narkoba dan lain sebagainya,” tuturnya. Aswin menambahkan, Dinas Sosial Kota Pontianak sudah berupaya semaksimal mungkin dalam menangani permasalahan anak-anak yang beraktivitas dijalanan. Salah satu upaya yang telah dilakukan adalah dengan cara merazia anak tersebut. “Kalau ketemu kita tangkap, anak-anak yang beraktivitas dijalanan itu sudah sering ditangkap, tapi memang anak itu ada yang sekolah juga, nah bagaimana kita mau tangkap, dia masih sekolah. Ya mau tidak mau kita harus lepaskan. Setiap malam kita turun patroli, tapi dia kucing-kucinganlah, kita ada, dia lari. Jadwal kita piket itu kan jam tujuh sampai jam sepuluh malam,” katanya. Lebih lanjut, Aswin menjelaskan bahwa solusinya memang hal itu kembali lagi pada orang tuanya masing-masing. Yang perlu ditegaskan itu, menurut Aswin adalah orangnya jangan sampai mentalnya itu terpengaruh dengan lingkungan yang rentan dengan masalah sosial. “Sekarang kita sudah ada Badan Amil Zakat, nah kalau mereka itu benar-benar membutuhminta bantuan, itu kan tinggal datang sebenarnya bisa difasilitasi,” pungkasnya. Penuhi Hak Asasi Pada Anak Terlantar Negara, Pemerintah dan Masyarakat sebagai organ penyelenggara negara mempuyai tanggung jawab pemeliharaan dan pembinaan terhadap anak terlantar. Kewajiban dan tanggung jawab tersebut

@lpmuntan @untanvoiceradio107.8fm

www.mimbaruntan.com

27


lapsus tercantum dalam Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perlindungan Anak, pasal 20 menyebutkan bahwa “Negara, Pemerintah, Pemerintah Daerah, Masyarakat, Keluarga, dan Orang Tua atau Wali berkewajiban dan bertanggung jawab terhadap penyelenggaraan Perlindungan Anak”. Dengan demikian, penanganan masalah anak terlantar bukan semata-mata tanggung jawab negara dan pemerintah saja, melainkan tanggung jawab kita bersama. Dalam hal ini, Tian Sandu Arista, bagian Analisis Pengaduan Komnas HAM Perwakilan Kalbar, menjelaskan bahwa pemerintah, khususnya pemerintah Kota Pontianak serta masyarakat bertanggung jawab untuk melindungi seorang anak tanpa terkecuali termasuk anak terlantar. Menurut Tian, seorang anak itu harus dipelihara seperti yang terdapat dalam pasal 34 ayat (1) UUD 1945, yaitu Fakir miskin dan anak-anak yang terlantar dipelihara oleh negara. “Yang mempertanggung jawabkan seorang anak itu adalah pemerintah dan masyarakat, karena anak merupakan tunas, potensi, dan generasi muda penerus cita-cita perjuagan bangsa. Mereka memiliki peran yang sangat strategis dan mempunyai ciri-ciri dan sifat khusus yang menjamin kelangsungan eksistensi bangsa dan negara dimasa depan,” jelasnya. Jika terjadi suatu pelanggaran mengenai hak-hak anak termasuk anak terlantar yang rentan akan kekerasan baik fisik maupun seksual, serta eksploitasi ekonomi, menurut Tian semua menjadi perhatian negara melalui alat-alat neara seperti Kementerian Sosial, Dinas Sosial, Pemberdayaan Ibu dan Anak, dan lain sebagainya. “Jika kita menemukan anak terlantar di jalanan, maka kita harus telusuri terlebih dahulu, apa faktor penyebabnya, bisa jadi faktornya ekonomi keluarga yang tidak memadai atau mungkin faktor kejahatan lainnya,” ucapnya. Ia juga menambahkan bahwa jika ada anak-anak yang tidak terpenuhi haknya, maka negara melalui pengacara atau jaksa-jaksa negara dapat mengambil paksa anak-anak mereka untuk mendapatkan hak-haknya secara layak seperti menempatkannya di panti asuhan yang memiliki fasilitas untuk menunjang kebutuhan anak tersebut. “Maka dari itu disediakan panti asuhan anak, rehabilitasi anak. Mereka harus mengambil itu, mengambil secara paksa. Kalau orang tuanya yang memaksa mereka mencari secara ekonomi dijalanan, mengeksploitasi secara ekonomi itu tidak bisa, itu bisa dipidanakan. Orang tuanya tidak mem-

28

punyai kemampuan untuk bertanggung jawab terhadap anak anaknya, maka negara sebenarnya wajib untuk merampas anak tersebut dari keluarganya,” terangnya. Dalam hal ini, Dosen Hukum Tata Negara, pada Fakultas hukum, Universitas Tanjungpura, Pontianak, Edi Suasono, menjelaskan bahwa dari aspek konstitusi, regulasi Undang-Undang serta Peraturan Daerah sudah cukup jelas dalam memberikan hak-hak pada seorang anak. Untuk itu pemerintah daerah khususnya Kota Pontianak harus konsisten dalam menanggulangi masalah anak terlantar, fakir miskin dan lain sebagainya. “Nah sekarang regulasinya sudah jelas, pemerintah tinggal mengimplementasikan. Tentunya dalam mengimplementasikan itu berkaitan dengan anggaran, karena hal

Edisi X Tahun XXXV/ LPM Untan/ 2017

tersebut tidak cukup hanya menertibkan saja, akan tetapi bagaimana pemerintah daerah Kota pontianak memberdayakan orang tua nya,” jelasnya. Edi menambahkan, dalam memberdayakan masyarakat, pemerintah daerah Kota pontianak jangan bersifat sporadis dan insidentil saja, akan tetapi juga harus memberikan bantuan modal dan skill kepada mereka, karena menurut Edi regulasi peraturannya sudah cukup jelas, hanya saja bagaimana pemerintah daerah Kota Pontianak melaksanakan aturan tersebut. “Ini kan berkaitan dengan masalah keadilan dan lapangan pekerjaan. nah ketika masyarakat itu sudah memiliki skill, memiliki mata pencarian, saya yakin masyarakat pun malas mau minta-minta di jalanan. Untuk itu, program pemerintah harus konsisten dan berkelanjutan,” tegasnya.

Seorang anak sedang menghitung uang hasil ngamen di Pasar Flamboyan, Pontianak, Jumat (5/5). (Dok : Ankgah/Miun)


OPINI

JANGAN (TERJADI) PD III ILUSTRASI : GIORGIA RUUGERI

OLEH : Erwin, SH.LL.M DOSEN FAKULTAS HUKUM UNTAN KONSENTRASI HUKUM INTERNASIONAL

M

engawali tulisan ini, penulis mengambil judul ”Jangan (Terjadi) PD III”, terkesan nomenklatur jabatan struktural tertentu walaupun telah berganti nomenklatur menjadi ”Wakil”. Tema besar yang ingin penulis sampaikan yakni terkait ”Perang” atau ”Konflik Bersenjata” berdasarkan perspektif Hukum Internasional. Konflik bersenjata (perang) dalam sejarah peradaban manusia selalu terjadi di berbagai belahan dunia dengan segala akibat dan kehancuran yang ditimbulkannya. Konflik bersenjata (perang) yang terjadi dapat di latar belakangi berbagai hal yang menyebabkannya terjadi, seperti masalah perbatasan, wilayah, politik, persenjataan, sumber daya ekonomi dan lain sebagainya. Suatu konflik bersenjata (perang) dapat terjadi dalam kurun waktu yang lama, jika tidak tercapai perdamaian antara para pihak yang bertikai. Ini berarti bahwa sejarah peradaban manusia, salah satunya selalu terjadi konflik bersenjata (perang) / peperangan. Jean Pictet mengatakan sebagaimana dikutip Mochtar Kusumaatmadja bahwa adalah suatu kenyataan yang menyedihkan bahwa selama 3400 tahun sejarah tertulis, umat manusia hanya mengenal 250 tahun perdamaian. Perang hanya salah satu bentuk perwujudan dari naluri untuk mempertahankan diri, yang berlaku baik dalam pergaulan antar manusia, maupun dalam pergaulan antar bangsa. Perang merupakan salah satu hal yang sama tuanya dengan sejarah umat manusia. Hal ini berarti bahwa konflik bersenjata (perang) telah ada dan terjadi ribuan tahun yang lalu walaupun berbeda situasi dan derajat konfliknya dengan konflik bersenjata (perang) pada masa modern seperti sekarang. Salah satu konflik yang terjadi

dalam sejarah modern peradaban manusia adalah konflik Israel-Palestina. Dalam catatan sejarah peradaban manusia, konflik Israel-Palestina merupakan salah satu konflik terpanjang di dunia, karena sampai saat inipun masih terjadi. Sejarah juga mencatat salah satu konflik terpanjang adalah Perang Selama Tiga Puluh Tahun di Eropa yang berakhir dengan perjanjian perdamaian Westphalia 1648. Perjanjian Westphalia merupakan peristiwa penting dalam sejarah Hukum Internasional modern, karena moment ini dianggap sebagai peletak dasar masyarakat internasional modern yang didasarkan atas negara-negara nasional. Dasar-dasar inilah kemudian diperkuat lagi dalam Perjanjian Utrecht yang penting artinya dilihat dari sudut politik internasional pada waktu itu karena menerima asas Balance of Power sebagai asas politik internasional. Dalam sejarah dunia, dikenal 2 (dua) perang besar yakni Perang Dunia I dan Perang Dunia II. Perang Dunia I terjadi pada kurun waktu 1914-1918, sedangkan Perang Dunia II terjadi pada kurun waktu 1939-1945. Namun, hakikatnya sejarah dunia lebih banyak diwarnai terjadinya perang bahkan tema tulisan pertama awal perkembangan hukum internasional yakni tentang perang bukan tentang ekonomi, bukan tentang politik, bukan tentang sosial budaya, bukan pendidikan, bukan keuangan dan sebagainya. Justru dilatarbelakangi situasi tentang perang, sehingga bagaimana perang dikaji/dibahas secara hukum internasional. Hukum Humaniter Internasional yang dulu disebut hukum perang atau hukum sengketa bersenjata, memiliki sejarah yang sama tuanya dengan peradaban manusia. Hukum humaniter, sebagai cabang dari Hukum Internasional Publik, belum banyak dikenal oleh masyarakat. Demikian pula namanya yang banyak menimbulkan kebingungan karena memang agak menyesatkan. Mimbaruntan.com

Hukum humaniter penerapannya berlaku pada masa konflik bersenjata (perang) dimana terdapat dua pihak atau lebih yang saling berhadapan dengan menggunakan kekuatan senjata. Kehadiran Hukum Humaniter Internasional (HHI) menjadi sangat penting, karena suatu konflik bersenjata (perang) selalu menimbulkan persoalan kemanusiaan dan mencegah tindakan yang berlebihan dari pihak yang bertikai satu dengan yang lainnya, konflik bersenjata (perang) tidak berarti membolehkan bertindak sewenang-wenang. Dalam kepustakaan hukum internasional istilah hukum humaniter merupakan istilah yang relatif baru. Istilah ini baru muncul sekitar tahun 1970-an, ditandai dengan diadakannya Conference of Government Expert on the Reaffirmation and Development in Armed Conflict pada tahun 1971. Selanjutnya, pada tahun 1974, 1975, 1976, dan 1977 diadakan Diplomatic Conference on the Reaffirmation and Development of International Humanitarian Law Applicable in Armed Conflict. Hukum humaniter sebagai bidang baru dalam hukum internasional, maka terdapat berbagai rumusan (pengertian) mengenai hukum humaniter dari para ahli yang berusaha memberi batasan tentang hukum humaniter. Berikut ini akan dikemukakan mengenai rumusanrumusan hukum humaniter dari berbagai pendapat. Menurut Jean Pictet “International humanitarian law, in the wide sense, is constituted by all the international legal provisions, whether written or customary, ensuring respect for the individual and his well being”. Selain memberikan definisi mengenai hukum humaniter, Pictet juga memberikan definisi law of war, law of the Hague, law of Geneva dan legislation of Human Rights. Pictet menggunakan istilah hu-

@lpmuntan @untanvoiceradio107.8fm

www.mimbaruntan.com

29


OPINI kum perang dalam arti yang sebenarnya (the law of war properly so-called), yaitu hukum the Hague. Selanjutnya Pictet menamakan hukum Jenewa sebagai hukum humaniter yang sebenarnya (humanitarian law properly so-called). Adapun yang dimaksudkan dengan legislation of Human Right adalah “Legislation of human right has as object to guarantee at all time for individuals the enjoyment of fundamental rights and liberties and to preserve them from social evils”. Pendapat Jean Pictet mengenai hukum humaniter sebagaimana tersebut di atas, di dukung oleh Geza Herczegh. Menurutnya, pengertian International Humanitarian Law hanyalah terbatas pada Hukum Geneva saja. Geza Herczegh mengatakan sebagai berikut : “ We inevitably come to conclusion that the term international humanitarian law cannot be properly used in other than its stricter meaning, in my view, this term should be restricted to the rules of the so called Geneva Law”. Adapun alasan yang dikemukakan oleh Geza Herczegh berkaitan dngan pendapat tersebut adalah sebagai berikut : a. Hukum yang benar-benar dapat dikatakan mempunyai sifat internasional dan humaniter hanyalah apa yang disebut hukum Jenewa saja. Apabila hukum the Hague dimasukkan, hal ini hanya akan mengurangi sifat hukum humaniter yang begitu diutamakan. b. Human rights tidak dimasukkan karena di dalam literature hukum negara sosialis, human rights ini ditegakkan (enforced) oleh negara dengan jalan/sarana hukum nasional. Dalam pandangan dan pendapat Geza Herzegh merumuskan Hukum Humaniter Internasional sebagai berikut : “Part of the rules of public international law which serve as the protection of individuals in time of armed conflict. Its place is beside the norm of warfare it is closely related to them but must be clearly distinguish from these its purpose and spirit being different”. Selanjutnya pengertian mengenai hukum humaniter dari Mochtar Kusumaatmadja. Mochtar Kusumaatmadja mengemukakan bahwa hukum humaniter adalah : “Bagian dari hukum yang mengatur ketentuan-ketentuan perlindungan korban perang, berlainan dengan hukum perang yang mengatur perang itu sendiri dan segala sesuatu yang menyangkut cara melakukan perang itu sendiri”. Esbjorn Rosenbland, merumuskan Hukum Humaniter Internasional dengan mengadakan pembedaan antara :

30

The Law of Armed Conflict, berhubungan dengan : a. Permulaan dan berakhirnya pertikaian ; b. Pendudukan wilayah lawan ; c. Hubungan pihak bertikai dengan negara netral ; Sedangkan Law of Warfare, antara lain mencakup : a. Metoda dan sarana berperang ; b. Status kombatan ; c. Perlindungan yang sakit, tawanan perang dan orang sipil. Adapun definisi dari Panitia Tetap (Pantap) Hukum Humaniter, Departemen Hukum dan Perundang-undangan merumuskan sebagai berikut : “Hukum Humaniter dalam arti sempit dapat di definisikan sebagai keseluruhan asas, kaidah dan ketentuan hukum yang mengatur tentang perlindungan korban sengketa bersenjata sebagaimana diatur dalam Konvensi Jenewa 1949 serta ketentuan internasional lain yang berhubungan dengan itu. Hukum Humaniter (dalam arti luas) adalah keseluruhan asas, kaidah dan ketentuan internasional baik tertulis maupun tidak tertulis yang mencakup Hukum Perang dan Hak Asasi Manusia bertujuan menjamin penghormatan terhadap harkat dan martabat pribadi seseorang”. Dari definisi hukum humaniter di atas, membedakan hukum humaniter dalam arti sempit dan luas yang meliputi Konvensi Jenewa (dalam arti sempit), Hukum Perang dan HAM (dalam arti luas) berarti termasuk Hukum Den Haag, Hukum Jenewa bahkan termasuk aturan yang tidak tertulis sekalipun. Pendapat selanjutnya mengenai hukum humaniter, Haryomataram membagi hukum humaniter menjadi dua aturanaturan pokok, yaitu : Hukum yang mengatur mengenai cara dan alat yang boleh dipakai untuk berperang (Hukum Den Haag/ The Hague Laws). Hukum yang mengatur mengenai perlindungan terhadap kombatan dan penduduk sipil dari akibat perang (Hukum Jenewa/The Geneva Laws). Sementara itu Starke mengatakan sebagai berikut : ”As will appear post, the appellation ”laws of war” has been replaced by that of ”international humanitarian law” Starke mengidentikkan law of war dengan international humanitarian law. Starke memberikan definisi law of war sebagai berikut : “ The laws of war consist of the limit set by international law within with the force required to overpower the enemy may be used, and

Edisi X Tahun XXXV/ LPM Untan/ 2017

the principles thereunder governing the treatment of individual in the course of war and armed conflict. Berdasarkan pengertian atau definisi yang disebutkan di atas, maka ruang lingkup hukum humaniter dapat dikelompokkan dalam tiga kelompok, yaitu aliran luas, aliran tengah, dan aliran sempit. Jean Pictet misalnya, menganut pengertian hukum humaniter dalam arti pengertian yang luas, yaitu bahwa hukum humaniter mencakup baik Hukum Jenewa, Hukum Den Haag, dan Hak Asasi Manusia. Sebaliknya Geza Herzegh menganut aliran sempit, menurutnya hukum humaniter hanya menyangkut Hukum Jenewa. Sedangkan Starke dan Haryomataram menganut aliran tengah yang menyatakan bahwa hukum humaniter terdiri atas Hukum Jenewa dan Hukum Den Haag. Penulis, lebih cenderung mengacu pada aliran tengah. Mengapa, karena Hukum dan Hak Asasi Internasional memiliki porsi tersendiri. Berkenaan dengan hukum humaniter, terdapat berbagai istilah yang dipergunakan dalam perkembangannya. Istilah hukum humaniter atau lengkapnya disebut International Humanitarian Law Applicable in Armed Conflict berawal dari istilah hukum perang (Laws of War), yang kemudian berkembang menjadi hukum sengketa bersenjata (Laws of Armed Conflict), akhirnya pada saat ini biasa dikenal dengan istilah hukum humaniter (International Humanitarian Laws). Perubahan istilah yang terjadi sejalan dengan perkembangan situasi maka istilah perang kemudian digantikan dengan sengketa bersenjata. Hal ini dikarenakan orang berusaha untuk tidak lagi menggunakan istilah perang agar tidak dikatakan sebagai agresor. Tetapi dalam kenyataannya tetap ada konflik yang secara teknis intensitasnya adalah sama dengan perang. Kemudian timbullah istilah sengketa bersenjata (armed conflict). Berkenaan dengan hukum perang (hukum humaniter), Mochtar Kusumaatmadja membagi hukum perang sebagai berikut : a. Jus ad bellum yaitu hukum tentang perang, mengatur tentang dalam hal bagaimana negara dibenarkan menggunakan kekerasan bersenjata ; b. Jus in bello, yaitu hukum yang berlaku dalam perang, dibagi lagi menjadi 2 (dua) yaitu : 1. Hukum yang mengatur cara dilakukannya perang (conduct of war). Bagian ini biasanya disebut The Hague Laws. 2.Hukum yang mengatur perlindungan orang-orang yang menjadi korban


OPINI perang. Ini lazimnya disebut The Geneva Laws. Berdasarkan uraian di atas, maka hukum humaniter internasional terdiri dari dua aturan pokok, yaitu Hukum Den Haag dan Hukum Jenewa. Semula istilah yang digunakan adalah hukum perang. Istilah hukum perang tidak disukai, terutama disebabkan oleh trauma Perang Dunia II yang menelan banyak korban, maka dilakukan upaya-upaya untuk menghindarkan dan bahkan meniadakan perang. Upaya-upaya tersebut adalah melalui : a. Pembentukan LBB (Liga Bangsa-Bangsa). Para anggota organisasi ini sepakat untuk menjamin perdamaian dan keamanan, maka para anggota menerima kewajiban untuk tidak memilih jalan perang, apabila mereka terlibat dalam suatu permusuhan. b. Pembentukan Kellog-Briand Pact atau disebut pula dengan Paris Pact 1928. Anggota-anggota dari perjanjian ini menolak atau tidak mengakui perang sebagai alat politik nasional dan mereka sepakat akan mengubah hubungan mereka hanya dengan jalan damai. Sikap untuk menghindari perang berpengaruh dalam perubahan penggunaan istilah, sehingga istilah hukum perang berubah menjadi Hukum Sengketa Bersenjata (Laws of Armed Conflict). Mengenai hal ini Edward Kossoy menyatakan : “The term of armed conflict tends to replace at least in all relevant legal formulation, the older notion of war. On purely legal consideration the replacement for war by ‘armed conflict’ seems more justified and logical”. Istilah hukum sengketa bersenjata (law of armed conflict) sebagai pengganti hukum perang (law of war) banyak dipakai dalam Konvensi-Konvensi Jenewa 1949 dan kedua Protokol Tambahannya. Dalam perkembangan selanjutnya, yaitu pada permulaan abab ke-20, diusahakan untuk mengatur cara berperang dengan landasan konsepsi-konsepsinya banyak dipengaruhi oleh asas kemanusiaan (humanity principle). Adanya perkembangan baru ini, maka istilah hukum sengketa bersenjata mengalami perubahan lagi, yaitu diganti dengan istilah Hukum Humaniter Internasional yang berlaku dalam Sengketa Bersenjata (International Humanitarian Law Applicable in Armed Conflict) atau biasa disebut Hukum Humaniter Internasional (International Humanitarian Law). Istilah yang digunakan berbeda-beda, yaitu Hukum Perang, Hukum Sengketa Bersenjata, dan Hukum Humaniter, namun istilah-istilah tersebut memiliki arti

yang sama. Tujuan hukum humaniter tidak dimaksudkan untuk melarang perang, karena dari sudut pandang hukum humaniter, perang merupakan suatu kenyataan yang tidak dapat dihindari, hanya saja bahwa akibat dari suatu konflik bersenjata (perang) dapat diminimalkan. Lebih lanjut dapat dikatakan bahwa hukum humaniter tidak dimaksudkan untuk melarang perang, atau untuk mengadakan undang-undang yang menentukan permainan “perang”, tetapi karena alasan-alasan perikemanusiaan untuk mengurangi atau membatasi penderitaan individu-individu dan untuk membatasi wilayah dimana kebuasan konflik bersenjata diperbolehkan, dengan kata lain penderitaan yang berlebihan bahkan tidak perlu dapat dihindari. Dengan alasan-alasan ini, kadang-kadang hukum humaniter disebut sebagai ”peraturan tentang perang berperikemanusiaan”. Hal ini tidak terlepas bahwa suatu konflik bersenjata (perang) harus memperhatikan aspek-aspek perikemanusiaan dan suatu konflik bersenjata (perang) jangan sampai melanggar prinsip-prinsip perikemanusiaan itu sendiri terlebih di abad yang modern seperti sekarang ini. Oleh karena itu hukum humaniter mencoba untuk mengatur agar suatu perang dapat dilakukan dengan lebih memperhatikan prinsipprinsip kemanusiaan. Namun, meskipun terdapat Hukum Humaniter Internasional, penulis lebih cenderung berpendapat bahwa perang/konflik bersenjata jangan sampai terjadi, apalagi (ancaman) terjadinya PD III/Perang Dunia III. Terlampau kelam sejarah kehidupan manusia jika diwarnai banyak terjadinya perang, terlampau suram peradaban manusia jika diwarnai banyak terjadinya perang, terlampau besar akibat yang ditimbulkan terjadinya perang. Mengingat semakin canggihnya senjata yang dimiliki negaranegara di dunia. Negara-negara didunia berlomba-lomba memodernisasi persenjataan militer negaranya masing-masing. Cukuplah Perang Dunia I dan Perang Dunia II, cukuplah berbagai perang pemberontakan untuk melepaskan diri dari penjajahan (kolonialisme dan imperialisme), cukuplah berbagai perang disejumlah kawasan dunia, cukuplah perang baik pada masa kuno maupun modern, cukuplah perang baik sebelum berdirinya Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) maupun saat sekarang berdirinya Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Usainya Perang Dunia II, hubungan internasional dapat dikatakan memasuki era baru. Piagam Perserikatan BangsaMimbaruntan.com

Bangsa (PBB) menegaskan beberapa hal pokok terkait ”bangunan”/peace-building perdamaian dan keamanan internasional. Seperti, mengembangkan kerjasama internasional, penyelesaian sengketa internasional secara damai, penghormatan terhadap kedaulatan negara, larangan penggunaan ancaman kekerasan/ kekerasan dan sebagainya. T. May Rudy dalam bukunya yang berjudul “Hubungan Internasional Kontemporer” mengatakan bahwa Hubungan internasional pada masa lampau berfokus pada : 1. Perang dan damai 2. Kajian hubungan antar negara 3. High politics 4. Bipolaristik 5. State Centric (State Actor) 6. Geo-politik Sedangkan Hubungan Internasional kontemporer berfokus pada : 1. Low Politics 2. State actor dan non state actor 3. Interdependensi perekonomian 4. Kesenjangan utara-selatan 5. Keterbelakangan 6. Perusahaan transnasional 7. HAM 8. Organisasi Internasional dan LSM Internasional 9. Lingkungan Hidup 10. Gender 11. Multipolaristik 12. Geo-ekonomi Dengan demikian bahwa untuk menghindari atau jangan (terjadi) Perang Dunia III, maka yang dapat dilakukan oleh masyarakat internasional yakni : 1. Mengembangkan kerjasama internasional berdasarkan Piagam PBB; 2. Menghormati kedaulatan negaranegara dan integritas teritorial; 3. Mengutamakan cara-cara diplomasi pada setiap sengketa internasional; 4. Penguatan penghormatan terhadap keberadaan Hukum Internasional pada umumnya walaupun HI tidak bersifat ”polisional” dan ”institusional”; 5. Penguatan berlakunya Hukum Humaniter Internasional pada khususnya; Jika, hal-hal diatas dapat dilakukan maka (ancaman) terjadinya perang besar dapat dihindari. (Jangan) terjadi PD III dapat dihindari. Kita dapat mewariskan dunia yang damai dan bersahabat pada generasi berikutnya. Wallahualam bishawab. Terima Kasih.

@lpmuntan @untanvoiceradio107.8fm

www.mimbaruntan.com

31


HUMANIORA

Penjaga Malam Yang Ditemani Kesunyian

OLEH : SURYANSAH

Disaat orang-orang sedang tertidur pulas di malam hari, hal berbeda dirasakan Udin (46) petugas penjaga malam di Fakultas Pertanian (Faperta) Untan. Ia diharuskan bersiaga setiap malamnya untuk menjaga keamanan kampus. Selain menjaga kampus,ia juga membersihkan ruangan perkuliahan dan aula Faperta Untan.

Bapak Udin yang sedang bersantai digudang dimana tempat itu biasa digunakannya untuk beristirahat. (Dok. Suryansah/Miun)

32

Edisi X Tahun XXXV/ LPM Untan/ 2017


P

agi itu (12/4), tampak dari kejauhan reporter Mimbar Untan melihat Udin berpakaian kemeja berwarna biru dan celana kain hitam sedang berjalan menuju ruang istirahatnya. Di ruangan tersebut terdapat pengepel, sapu, tempat sampah, gelas mineral serta kardus bekas yang disusunnya hingga tertata rapi. Di tempat inilah ia bersama rekannya menghabiskan waktu untuk beristirahat sehabis melakukan pembersihan ruangan perkulihan setiap harinya. Bukan hanya itu saja, Udin juga membuka semua ruangan perkulihan dan membersihkan setiap ruangan di pagi hari demi kelancaran proses perkuliahan. Tiba waktu menjelang Dzuhur, Udin selalu berkeliling untuk mengecek kondisi kebersihan ruangan perkuliahan, bahkan toilet pun kerap kali dilihatnya terutama pada kondisi air. Setelah selesai Dzuhur ia kembali ke rumahnya yang berada di Sungai Durian, Kecamatan Sungai Raya, Kabupaten Kubu Raya. Sesampai di rumah, kesempatan itulah ia gunakan untuk beristirahat dan berkumpul bersama keluarga. Aktivitasnya yang padat membuat berkumpul dengan keluarga sangatlah sedikit. Suatu malam, reporter Mimbar Untan pernah diberi kesempatan untuk menemani Udin melakukan ronda malam. Suasana begitu hening, hanya ada lampu-lampu lorong yang menerangi kami melakukan ronda. Berbekal lampu tembak yang tempel di kepala, Udin mengecek setiap ruangan dosen maupun ruangan perkulihan mahasiswa.

HUMANIORA Selain meronda, tidak lupa juga setiap harinya Udin selalu menghidupkan dan mematikan lampu. Apabila ada lampu yang masih hidup, Udin segera mematikannya. Tidak ada lagi rasa takut dalam diri Udin untuk melakukan ronda setiap malamnya, semua ia lakukan demi menjaga keamanan kampus, meskipun harus dilakukan hingga larut malam. “Jage kampus sampai larut,” ujarnya dengan penuh semangat. Udin sudah menganggap barangbarang di Faperta seperti miliknya sendiri. Rasa memiliki yang cukup kuat membuatnya harus menjaganya dengan sunguh-sungguh. Jiwanya yang peduli membuatnya harus rela memberikan sumbangsih lebih. Jika ada barang yang rusak, secara sukarela Udin akan berinisiatif untuk memperbaikinya, meskipun hal tersebut bukan tanggung jawabnya.“Saya secara sukarela akan memperbaikinya walaupun itu di luar tugas”, pungkasnya Pencarian Menjadi Pekerjaan Awal masuk ke dalam Faperta Untan Udin mengambil honor sebagai tukang bersih parit-parit di lingkungan Faperta sampai tembus di Jl. Sepakat Dua Ayani Pontianak. Udin terus berganti profesi mulai dari cleaning service di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Untan, Pelni Pontianak, tukang kebun hingga sampailah pada pekerjaannya yang sekarang. Perjalanan Udin selama bekerja di

Mimbaruntan.com

Faperta ternyata tidak berjalan mulus. Ia pernah diberhentikan selama dua minggu oleh pihak kampus tanpa adanya alasan yang jelas. Beruntung salah satu dari pihak dosen menawarkan untuk berkeja di tempatnya sebagai tukang bersih-bersih. Tukang bersih yang dipekerjakan sebelum Udin memiki kinerja yang kurang maksimal. “Hampir semua setiap dosen berkomentar terkait kondisi ruangan perkulihan yang selalu kotor”, katanya. Banyaknya keluhan terkait kebersihan kampus, membuat salah satu pegawai Faperta menyarankan Udin untuk kembali ke Faperta. Tanpa berpikir panjang tawaran cleaning service tersebut pun langsung diambil demi menyelesaikan keluhan tadi. Jadilah, Udin sebagai cleaning service dan beberapa waktu berikutnya diamanatkan sebagai penjaga malam di Faperta. Udin pun mengakui, bekerja secara multitasking seperti itu tidak membuatnya terbebani sebab sejak kecil sudah ikut orangtua untuk bekerja. “Sejak kecil saya sudah bekerja ikut bapak sampai kerja ke perusahaan”, ungkapnya (12/4). Namun ternyata pekerjaan yang cukup berat dan menyita waktu tersebut juga belum cukup untuk keluarga Udin. Dengan penghasilan Rp. 2.000.000,00,-/ bulan tidak mencukupi untuk kebutuhan sehari-hari. Menyiasati hal tersebut, Udin musti memutar otak untuk mencari tambahan penghasilan.

@lpmuntan @untanvoiceradio107.8fm

www.mimbaruntan.com

33


Robot lengan bionik hasil karya Suyatmadi. (Dok : Pribadi)

Robot Lengan Pendeteksi Gejala Awal Penderita Stroke OLEH : RESTIANA PURWANINGRUM

Belum lama ini, seorang lelaki asal Kota Singkawang berhasil melahirkan robot lengan bionik dengan lima jari. Robot lengan tersebut ikut mengantarkannya meraih gelar Sarjana Teknik dengan nilai A. Robot lengan yang memiliki tinggi sekitar 60 cm ini dibuat dengan memerlukan dana kurang lebih 4 juta rupiah. Aplikasi robot ini adalah untuk membantu di bidang medis atau kesehatan, khususnya mendeteksi gejala awal penyakit stroke.

34

Edisi X Tahun XXXV/ LPM Untan/ 2017

L

aki-laki yang murah senyum itu bernama Suyatmadi, jika ditaksir usia Suyatmadi sekitar 24 tahun. Pada tahun 2011 Suyatmadi menjadi mahasiswa baru di Fakultas Teknik Universitas Tanjungpura, mengambil program studi Teknik Elektro, hal tersebut membuat Suyatmadi begitu akrab dengan robot-robotan Saat ditanyakan mengenai ide dari pembuatan robot ini Suyatmadi mengatakan bahwa ide riset skripsi ini juga terinspirasi dari kabar di media online yang menjadi viral yaitu penemuan seseorang di Bali yang membuat robot dari aplikasi sensor Electroencephalography (EEG). Namun, Suyatmadi tidak menggunakan sensor tersebut dikarenakan kesulitan dalam menganalisisnya. Oleh karena itu ia menggunakan sensor Electromyography(EMG). Sensor EMG ini diaplikasikannya untuk mendeteksi otot pada bagian lengan dan otot bisep dengan tiga kondisi pergerakan yang dianalisis, yaitu: (1) kondisi otot lengan dengan telapak tangan terbuka; (2) kondisi otot lengan dengan telapak tangan mengepal; dan (3) kondisi otot bisep dengan lengan diangkat. Robot lengan merupakan jenis len-


ILMIAH

gan mekanik, biasanya dapat diprogram dan memiliki fungsi sama dengan lengan manusia, hanya saja lengan robot memiliki mekanisme yang lebih kompleks. Link dari manipulator biasanya dihubungkan oleh sendi yang memungkinkan lengan untuk bergerak atau berputar. Ujung dari lengan robot disebut end effector, bentuk end effector dari lengan robot tergantung dari kebutuhan masing masing pengguna. Ada end effector yang berbentuk jari manusia, gripper, jarum, laser dan masih banyak bentuk lainnya. Lengan robot yang digunakan dalam penelitian ini adalah lengan robot dua degree of freedom (DOF) yang digerakkan oleh motor servo. Dengan didampingi Dosen Pembimbing Utama dan juga Kepala Laboratorium Kendali Digital dan Komputasi, Fakultas Teknik, Untan, Dr.Eng. Ferry Hadary, ST., M.Eng., Suyatmadi menjelaskan sistem kerja dari robot lengan hasil buatannya. “Robot lengan ini adalah robot lengan yang digerakkan secara bersama-sama oleh satu aktuator dan satu aktuator lainnya mengangkat siku,” terang Suyatmadi sembari memegang robot buatannya, Jumat (14/3). Ia menambahkan bahwa robot yang dibuatnya ini

mengaplikasikan sensor EMG yang dapat merekam aktifitas otot pada lengan. Sensor ini dapat mendeteksi potensial listrik yang dihasilkan oleh sel-sel otot ketika sel-sel elektrik atau neurologis diaktifkan. Sinyal dapat dianalisis untuk mendeteksi kelainan medis, tingkat aktivasi, perintah rekrutmen atau untuk menganalisis biomekanik kondisi manusia atau hewan. Sensor ini pula yang mendasari seseorang bisa mengoperasikan kursi roda hanya dengan menggunakan joystick. Di samping itu, sensor EMG ini mampu mempelajari sinyal otot dari permukaan kulit saat seseorang melakukan kondisi tertentu. Hasil penelitian ini menyimpulkan bahwa tegangan tertinggi yang terbaca pada layar komputer adalah 3.02V saat otot lengan berkontraksi dan 4.28V saat otot bisep berkontraksi. Hasil ini menunjukkan bahwa ketika seseorang menggerakkan lengannya yang sudah dipasang sensor EMG dan kemudian gerakan tersebut diikuti oleh robot lengan setelah 2 detik dikarenakan disebabkan keterbatasan clock speed yang terdapat pada mikrokontroler Arduino, hasil gerakan tersebut akan dapat dibaca di layar komputer. “Jikalau dari hasil terbaca gerakan seseorang itu di bawah tegangan referensi tersebut, maka dapat diindikasikan bahwa seseorang tersebut menderita gejala stroke. Hasil tersebut juga dapat mengindikasikan bahwa pada lengan seseorang tersebut terjadi memar otot atau kerusakan pada ototnya sehingga tidak maksimal dibandingkan manusia normal,” terang Suyatmadi kepada reporter mimbar untan.

Saat ditanyakan mengenai potensi dari robot ini terhadap bidang kesehatan dan pemanfaatannya di masyarakat luas Ferry Hadary mengatakan bahwa robot lengan ini walaupun masih dalam skala laboratorium tetapi telah dapat menjadi indikator untuk mereka yang dikhawatirkan menderita gejala awal stroke dan penyakit kerusakan otot lainnya. “Walaupun masih berbentuk skala laboratorium namun dengan pengembangannya akan dapat diaplikasikan untuk bidang-bidang lainnya.” Ia juga mencontohkan bahwa lengan robot ini juga bisa digunakan untuk mengerjakan pekerjaan-pekerjaan berhahaya serta beresiko besar pada manusia. Ferry yang juga pernah menjabat sebagai Wakil Dekan III Fakultas Teknik Untan dan saat ini juga sebagai Direktur Innovation and Product Development Center, University of Tanjungpura juga menyatakan bahwa selaku dosen ia selalu mencoba untuk melakukan riset-riset berbasis sains teknologi yang dapat membantu masyarakat. “Ide-ide tersebut saya tawarkan kepada mahasiswa yang hasil akhirnya adalah berupa skripsi, tesis, Program Kreativitas Mahasiswa, maupun riset-riset dalam bentuk skim lainnya.” Ferry juga mempersilakan kepada masyarakat, khususnya para stake holder untuk melihat hasil riset-riset tersebut ke laboratorium dan membuka kesempatan untuk bekerjasama. Selain itu ia juga berharap agar mahasiswa tidak berhenti dalam berfikir dan berkreasi kreatif serta inovatif sebagai tanggung jawab intelektual kepada masyarakat.

Suyatmadi sesaat setelah sidang akhir bersama Dosen Pembimbing dan Penguji. (Dok : Pribadi)

Mimbaruntan.com

@lpmuntan @untanvoiceradio107.8fm

www.mimbaruntan.com

35


seremonial

Tarian persembahan dari Program Studi Seni FKIP Untan dalam aksi Solidaritas Kalbar Bersama Kendeng. (Dok : Panitia)

T

erhitung sejak Senin (13/3), warga pegunungan Kendeng dari Kudus, Blora, Pati, Grobogan dan Rembang berdatangan ke Ibu Kota untuk menyemen kaki di depan Istana Negara. Aksi dipasung semen jilid II ini bukanlah tanpa alasan. Berlangsungnya aksi tersebut karena diterbitkannya izin lingkungan baru untuk PT Semen Indonesia (SI) oleh Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo setelah putusan sidang Peninjauan Kembali (PK) oleh Mahkamah Agung (MA) dimenangkan oleh petani pegunungan Kendeng. Aksi yang dilakukan oleh petani-petani pegunugan Kendeng tersebut kemudian memicu aksi-aksi solidaritas dari berberapa daerah di Indonesia, tak terkecuali di tanah Borneo, bumi khatulistiwa, Pontianak, Kalimantan Barat (Kalbar). Minggu (2/4) aksi solidaritas dengan tajuk Kalbar Bersama Kendeng dilaksan-

36

akan di Bundaran Tugu Digulis, Pontianak Kalbar. Aksi tersebut merupakan aksi yang dilaksanankan oleh berbagai Organisasi Kepemudaan (OKP), Mahasiswa, dan beberapa Komunitas yang tergabung dalam Aliansi Pemuda dan Mahasiswa Kalimantan Barat (APMKB). Riko, Koordinator Lapangan (Korlap) dalam aksi tersebut mengatakan terdapat dua tuntutan utama dalam aksi damai kali ini, yakni laksanakan Reforma Agraria yang ada di Indonesia dan laksanakan putusan MA yaitu membatalkan Hak Guna Usaha (HGU) serta perijinan pabrik semen di Kendeng. “Laksanakan reforma agraria yg ada di Indonesia khususnya, karena sampai dengan hari ini banyak sekali kasus-kasus dimana terjadi intimidasi, kriminalisasi dan diksriminasi terhadap kaum-kaum petani,”ungkap Riko. Ia juga menambahkan bahwa setelah aksi damai ini, harapan terbesar adalah pemerintah dapat membuka mata

Edisi X Tahun XXXV/ LPM Untan/ 2017

terkait persoalan yang sering terjadi belakangan ini di Indonesia pada umumnya dan Kalbar khususnya. “Pemerintah dapat membuka mata dengan persoalan di Indonesia belakangan ini, karena katanya Negeri ini agraris, tapi kok sawah, ladang pada habis ?” pungkasnya. Selain berorasi dengan berjalan mengelilingi Bundaran Digulis, aksi damai Kalbar Bersama Kendeng juga dimeriahkan dengan persembahan tari dari Program Studi Seni Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Tanjungpura (Untan), aksi Mural oleh DNA Artwork serta pembacaan beberapa puisi diantaranya adalah puisi milik penyair cadel Wiji Thukul dan WS Rendra. Tak lupa do’a bersama dipanjatkan oleh peserta aksi kepada Almarhumah Ibu Patmi ‘Kartini Kendeng’ sekaligus pejuang agraria yang gugur dalam aksi menolak pabrik semen di pegunungan Kendeng.


Gelar Malam Amal dan Penggalangan Dana Pukul 19.00, suasana di Kedai 60 yang terletak di Jalan Karimata, Kota Pontianak terlihat ramai oleh pengunjung. Ditaksir dari segi penampilan, kebanyakan peserta yang datang adalah mahasiswa dan anak-anak muda, meskipun terlihat dua, tiga orangtua yang sesekali datang melihat-lihat. Di tempat itulah beberapa anak muda Pontianak menyelenggarakan aksi sosialnya. Masih bertajuk Kalbar Bersama Kendeng, malam amal dan penggalangan dana yang dilaksanakan pada hari Selasa, (4/4) tersebut merupakan aksi lanjutan dari aksi yang dilakukan di Bundaran Digulis dua hari yang lalu. Satu diantara Band yang ikut serta dalam aksi tersebut adalah LAS! Dikenal sebagai sebuah band indie yang menyuarakan kerusakan lingkungan, serta isu-isu sosial yang terjadi di Indonesia, LAS! tu-

rut serta hadir sebagai musisi lokal yang peduli terhadap perjuangan para petani pegunungan Kendeng. Saat ditanyakan mengenai alasan tersendiri dari Band ini untuk turut serta dalam aksi solidaritas ini, ketiga personil LAS! menjawab dengan begitu antusias. Bob mengatakan alasan pribadinya bergabung dalam aksi ini adalah bahwa ia ingin menyampaikan rasa cintanya kepada mereka yang sedang ditindas, selain itu juga mempertanyakan hukum yang ada di Indonesia. “Kenapa aku hadir disini untuk mendukung aksi solidaritas teman-teman, aku ingin mempertanyakan hukum sih sebenarnya. Beberapa bulan yg lalu udah menang kan, izin nya sudah dicabut, tapi sekarang dikeluarin lagi,” kata Bob. Pernyataan yang disampaikan Bob kemudian langsung disambar oleh Diaz yang juga adalah saudara kandung dari vokalis band tersebut. “Aku takutnya gini Bob, ketika Perpres Bali tolak reklamasi dimenangkan Mimbaruntan.com

oleh rakyat yang menolak reklamasi nanti mereka bisa bikin Perda baru izin baru. It’s suck man,” tegas Diaz. Menurut LAS! kenapa Kalbar harus peduli dengan kejadian yang dialami oleh petani Kendeng, karena Kalbar adalah bagian dari Indonesia dan LAS! akan selalu bergabung jika ada aksi lanjutan maupun aksi lain yang berkaitan dengan kemanusian meskipun tidak mendapat bayaran. “Karena kalbar adalah bagian dari Indonesia. Dan kita juga tidak memilih, kalau memang ada bagian dari dunia manapun manusia intinya. Ketika ada manusia menderita disitu tanggung jawab kita sebagai manusia merdeka untuk menolong,” ungkap Kajol, gitaris LAS! yang sudah berkeluarga ini. Selanjutnya LAS! berpesan kepada seluruh Mahasiswa agar tidak takut untuk mempertanyakan sesuatu bahkan jika harus mempertanyakan dosen-dosen di kampus. Menurut mereka, mahasiswa

@lpmuntan @untanvoiceradio107.8fm

www.mimbaruntan.com

37


seremonial jangan selalu menyimpan streotipe bahwa menjadi mahasiswa kritis harus dengan turun protes ke jalan, aksi dapat dilakukan dengan banyak cara. “Ketika sudah ada isu yg seperti ini, jangan takut. Apalagi mahasiswa Pertanian. Jangan pernah berfikir sempit, ‘aku ndak biasa demo, aku ndk biasa turun-turun ke jalan’. Jangan pikirkan itu, bantulah sebisa kalian. Kayak tementemen kita di sini ada yang bisa bikin sablon, ada yang jago mural, itu sudah sangat sumbangsih yg berarti.” Diaz kemudian menambahkan dengan mengutip perkataan dari Pramoedya Ananta Toer bahwa mahasiswa seharusnya sudah menanggalkan identitas kemahasiswaan itu sendiri. Sebagai manusia yang tinggal di bumi manusia dan menjadi warga Negara dunia manapun maka sudah seharusnya peduli. “Dan kenapa kalian harus mendukung gerakan Kendeng ini karena kita semua makan nasi bukan makan semen,” pungkasnya. Selain panggung musik yang dimeriahkan oleh LAS!, Caibrai, Chocopasta, Alien Berkumis, Prisoner of Gaby, Yoshua dan Memorimaji, juga ada pemutaran video mengenai perjuangan para petani pegunungan Kendeng. Untuk peserta yang ingin berdonasi juga dilakukan penggalangan dana, lelang berbagai karya seni, dan sablon kaos on the spot. Bentuk Wadah Untuk Mereka yang Gelisah Keberhasilan sebuah acara tentunya tidak terlepas dari orang-orang yang berada dibelakangnya, tak terkecuali untuk sebuah acara amal yang sangat terbatas akan berbagai sumber daya. Orang itu adalah Muammar Ardli Hafiid, biasa dipanggi Afid. Menariknya, ide untuk melaksanakan aksi solidaritas seperti ini berawal dari kegelisahan beberapa teman yang kemudian ditampung oleh seorang Afid. “Udah banyak kawan-kawan yg pengen ngumpul kayak gini, pengen bikin kegiatan yg memang berbau isu-isu seperti ini (read: sosial) sebenarnya banyak kawan-kawan yang gelisah dan gak punya wadah istilahnya, ingin menyuarakan tapi gak ada wadahnya,” terang Afid disela kesibukan mengurus acara. Afid juga menambahkan diwujudkannya ide tersebut selain untuk menyuarakan kepada masyarakat di Kalbar perihal apa yang terjadi di Kendeng, minimal juga ada sesuatu yang Kalbar berikan

38

Penampilan band Las! yang turut memeriahkan aksi solidaritas Kendeng di Kedai 60. (Dok : Panitia)

untuk mendukung petani Kendeng yang sedang berjuang.“Ada beberapa kawan yg inisiatif kumpul kita pengen minimal galang dana. Nah jadi bagaimanapun caranya selain kita menyuarakan paling gak ada sesuatu yang kita kirim kesana,” ceritanya. Afid berharap, minimal dulur-dulur Kendeng yang ada di Kalbar ikut serta menyemangati apa yang terjadi di Kendeng, selain itu juga penting untuk menjaga semangat bersama. “Walaupun kita punya cara yang berbeda dalam menyampaikan isu. Aku yakin dengan kita berkumpul kayak gini suatu saat kita juga bakalan punya kesadaran seperti yang dialami oleh Kendeng bahwa perlahan tanah kita bakalan diambil kapitalis.” Uniknya, untuk mengumpulkan peserta aksi yang terdiri dari berbagai elemen, mulai dari Mahasiswa, OKP, hingga seniman dan musisi yang ada di Kalbar, Afid menggunakan dan memanfaatkan media sosial. Meskipun sempat ragu dengan aksinya, namun ternyata niatan Afid untuk membuat aksi solidaritas kepada petani pegunungan Kendeng mendapat respon yang cukup baik. “Aku pakai instagram, awalnya ragu, gak yakin kawankawan bakal mau. Terus coba aku share ternyata ada kawan-kawan yang pengen bantu dan meluangkan waktunya. Ada kawan-kawan yang ndak punya waktu tapi masih pengen bantu,” tuturnya. Bahkan untuk tempat dan fasilitas yang dibutuhkan selama acara didapatkannya melalui pinjaman. Bisa dikatakan aksi solidaritas untuk petani Kendeng tersebut tidak mengeluarkan budget sama sekali. “Pakai budget tapi gak dianggarkan, dan memang pure dari donasi kawan-kawan semua.”

Edisi X Tahun XXXV/ LPM Untan/ 2017

Saat ditanyakan mengenai jatuhnya pilihan kepada acara seni Afid mengatakan ada saatnya seni disuarakan dan digunakan sebagai kritikan untuk membuat banyak orang sadar. Menurutnya, ketika seni mulai menjadi bahan kritikan berarti ada yang tidak benar di lingkungan sekitar. Ia juga menambahkan memang sudah seharusnya para seniman peka dengan hal-hal seperti ini. Dari segi peserta yang hadir dalam acara solidaritas untuk petani Kendeng tersebut, ternyata Afid mempunyai pandangan yang berbeda dari biasanya. Ia tidak berharap orang-orang akan ramai dan antusias. Ia hanya berharap orangorang yang hadir dalam acara tersebut adalah orang-orang yang betulan sadar dan peduli serta ingin berdonasi. “Aku ndak berharap orang-orang yang datang ramai tapi mereka ndak tau apa-apa. Harapan aku ketika kawan-kawan yang datang sadar dan mereka nyebarin itu, maka semakin banyak juga orang yang sadar.” Terkait aksi lanjutan, Afid belum bisa memastikan. Namun yang jelas, penggalangan dana akan terus dilakukan hinggal tanggal 9 April 2017, sedangkan untuk penjualan kaos akan dibuka hingga satu bulan ke depan. “Jadi tunggu aja infonya di sosmed. Nanti kawan-kawan bisa dapat infonya disitu buat donasi. Setelah ini kita focus di penggalangan dana.” Harapannya setelah aksi solidaritas ini adalah dapat menambah semangat dan meningkatkan solidaritas, juga dapat merangkul lebih banyak lagi orang-orang yang peduli. “Mungkin dengan kawankawan ngumpul, semangat dan solidaritasnya semakin erat, dijaga, juga dapat merangkul kawan-kawan yang emang peduli,” pungkasnya.


resensi

OLEH : TARIDA MANULLANG

A

nimal Farm, sebuah novel klasik fenomenal yang di tulis oleh George Orwell ini memang menarik untuk di lirik. Kehidupan binatang di peternakan Manor, milik si tua Jones, yang berubah secara drastis setelah Major, si babi tua terhormat menyampaikan sebuah pidato kepada seluruh binatang dalam suatu perkumpulan tengah malam di dalam lumbung, bahwa Ia telah mendapatkan mimpi tentang bagaimana bumi setelah manusia punah. Dalam pidato nya Major juga menyampaikan bahwa sebenarnya kehidupan para binatang adalah tidak layak. Mereka dieksploitasi susunya, telur, bulu, tenaga dan lainnya untuk kepentingan manusia, dan setelah tak berguna, mereka akan berakhir di meja-meja makan manusia. Dalam penutupan pidatonya Major menyanyikan kembali sebuah lagu lama yang telah hilang dari ingatan bergenerasi-generasi yang berjudul ‘Binatang Inggris’. Lantas, lagu ini menjadi semacam lagu kebangsaan dan sebagai penyemangat para binatang di Peternakan Manor. Tiga malam kemudian, Major mati. Setelah kematian Major, banyak pertemuan rahasia yang dilakukan oleh binatang di Peternakan Manor. Pidato Major telah memberi mereka pandangan hidup dan semangat pemberontakan. Pekerjaan mengajar dan mengorganisir secara alamiah jatuh kepada para babi, yang secara umum dikenal sebagai binatang yang paling cerdas. Yang paling unggul diantaranya yaitu dua ekor babi bernama Snowball dan Napoleon. Ternyata pemberontakan terjadi jauh lebih awal dan lebih mudah dari yang dibayangkan. Ketidaktahanan para binatang yang tidak diberi makan -lah yang mengawali pemberontakan tersebut. Para karyawan Jones yang pemalas telah memerah susu saat pagi dan kemudian berburu terwelu, tanpa memberi makan binatang-binatang. Pak Jones yang pulang ke rumah sehabis mabuk-mabukan pun langsung beranjak tidur. Malam tiba, akhirnya mereka semakin tidak tahan, kemudian salah seekor sapi mendobrak pintu lumbung jerami dan melahap jerami bersama semua bintang di peternakan itu. Sesaat kemudian Pak Jones dan karyawan nya pun berada di lumbung sambil membawa cemeti dan melecutkannya ke segala arah. Meski tanpa rencana sebelumnya, para binatang berbarengan meloncat ke arah para pelecut itu. Keadaan pun berbalik, yang kemudian membuat pak Jones dan karyawannya memilih melarikan diri, meski sambil dikejar para binatang. Demkianlah pemberontakan telah terjadi

dengan sukses, Jones disingkirkan dan Peternakan Manor pun berganti nama menjadi ‘Peternakan Binatang’. Mereka juga membuat beberapa kesepakatan yang dituliskan pada tembok dan berisi 7 buah perintah tentang ke-binatangisme-an. Mereka pun bekerja keras untuk melakukan semua kegiatan peternakan. Hasil panen juga lebih melimpah, karena semuanya untuk para binatang, dan tidak ada untuk manusia. Mereka merasa sangat puas. Di samping itu, Snowball memberikan pengajaran baca tulis kepada para binatang. Sedangkan Napoleon memilih untuk mengajari anak anjing sebuah latihan khusus. Snowball dan Napoleon dihormati di ‘Peternakan Bintang’, keduanya masing-masing memiliki perbedaan pikiran dan keunggulan. Namun, keunggulan dari kedua babi tersebut, tidak dapat di satukan. Awalnya semua berdasarkan keinginan yang demokratis. Hingga tiba saat Snowball menyampaikan ide untuk membuat kincir angin, yang bertujuan mendapatkan pasokan listrik, meringankan pekerjaan dan keuntungan lainnya. Tapi dengan begitu, para binatang harus melakukan pekerjaan eksta. Sementara, Napoleon menganggap kincir angin tidak perlu dibuat dan menegaskan yang harus dilakukan hanyalah menambah pasokan makanan. Berbekal dengan anjing-anjing didikannya dan juga Squaler si babi yang pandai bicara, Napoleon berhasil menyingkirkan Snowball dari peternakan. Ia juga membuat para binatang mempercayainya dan menjadikan nya pemimpin bahkan menjadikannya Presiden di peternakan tersebut. Napoleon membuat kebijakan yang menguntungkan kaumnya sendiri, yaitu para babi dan anjing. Semua kekuasaan tirani nya seakan tidak disadari karena keahlian Squaler dalam memanipulasi kejadian dengan katakata yang baik. Novel ini menyajikan berbagai intrik layaknya manusia, namun dilakukan oleh para bintang. Kekuasaan yang membuat semua terasa halal, bahkan membunuh pun terasa wajar. Lalu, bagaimanakah nasib dari peternakan binatang di bawah pemerintahan Napoleon? Bagaimana juga akhirnya hubugan para binatang dan manusia? Akankah Jones merebut kembali peternakannya dan apakah yang terjadi pada Snowball akankah Snowball kembali? Novel ini akan menjawab nya dengan bumbu-bumbu politik di kalangan binatang dan manusia yang licik.

Mimbaruntan.com

@lpmuntan @untanvoiceradio107.8fm

www.mimbaruntan.com

39


SASTRA

ELEGI SEBUAH TUGU OLEH : RESTIANA PURWANINGRUM

Di

sebuah kota yang panas dan gerah, terkisahlah sebuah tugu yang gundah. Kegundahan tersebut bukan tak beralasan. Semua itu bermula dari celetukan sebuah tugu tetangga yang semakin hari semakin membuat resah. Tugu tersebut berada sekitar 200 meter dari keberadaan tugu utama. Sebut saja tugu ‘lima sembilan’ untuk tugu tetangga tersebut dan tugu ‘bambu’ untuk tugu utama kita. “Hoi Tugu Bambu, sedih sekali aku lihat kau sekarang. Macam tak ada gunanya kau sekarang, Cuma jadi saksi lalu lintas Pontianak saja. Hahaha,” celetuk awal sang Tugu Lima Sembilan. Tugu Bambu yang kuat dan kokoh hanya tersenyum takzim menanggapi celetuk sang Lima Sembilan. Fikirnya, sudah biasalah semakin tinggi pohon maka akan semakin kencang pula angin yang menghantam. Dengan santai sang Tugu Bambu melanjutkan kembali ritualnya, yakni menikmati air mancur yang berada mengelilingi batang tubuhnya sambil menikmati indahnya langit sore Pontianak. Namun sang Lima Sembilan tidak membiarkan hal tersebut berlangsung lama. Ia kembali berusaha membuat sang Bambu merasa terganggu. “Coba lah kau lihat dan ingat lagi fungsi dirimu itu sekarang, sangat memprihatinkan. Tak ada lagi yang bisa kau banggakan Bambu, semua kebangganmu akan luntur seiring berkembangnya zaman. Lambat laun benda mati seperti kita ini akan dilupakan dan terlupakan.” “Hei Lima Sembilan, kau tidak usah berbicara macam-macam untuk mengeluhkan penderitaann yang sebenarnya kau alami sendiri. Menjadi tua dan terlupakan oleh manusia-manusia itu. Bahkan mereka seringkali menyebut kau adalah aku. Itu sungguh sangat menyakitkan dan membuatmu iri kan Lima Sembilan ? Hahaha,” balas Tugu Bambu yang sudah terpancing oleh omongan sang Lima Sembilan. “Sudahlah Bambu, berhenti membangga-banggakan dirimu sendiri. Sebab para manusia yang kerap kali disebut Mahasiswa itu tidak ada yang megenal

40

kau. Keberadaanmu semakin memprihatinkan Bambu, kau sudah tak layak lagi disebut Kamerad. Keberadaanmu kini hanya menjadi latar belakang Foto-foto cantik manusia-manusia itu. Ha-ha-haha,” tawa Lima Sembilan semakin keras menggelegar. Mendengar semua itu, sang Bambu berang dan sedikit tersinggung dengan perkataan Lima Sembilan. Separuh dirinya masih meyakinkan bahwa dirinya tetaplah Tugu Bambu yang dulu, namun separuh dirinya yang lain ikut serta menyadari kebenaran omongan sang Lima Sembilan. “Hah, lihat lah diriku Lima Sembilan. Aku adalah Tugu Sentral satu-satunya di Pontianak. Aku bukanlah tugu sembarangan, kelahiranku melambangkan riwayat sejarah di Ibu Kota Kalimantan Barat. Sebuah Provinsi dengan hutan tropis yang disebut-sebut sebagai paru-paru dunia. Namaku diambil dari sebuah nama tempat bersejarah di Indonesia. Dan aku adalah saksi atas begitu banyak perlawanan terhadap ketidakadilan. Apa kurangnya aku Lima Sembilan ? Semakin hari aku semakin menjadi perhatian Pemerintah. Aku dipercantik dan dirawat setiap hari. Belum ada yang bisa menggantikan posisiku sebagai tugu paling ideal di tanah ini. Mau apa kau Lima Sembilan ? Terima sajalah nasib burukmu yang tua, tak terurus dan terlupakan itu ! Sang tua Lima Sembilan masih juga tertawa mendengar penjelasan ataupun pembelaan panjang lebar dari sang Bambu. Keduanya masih berdebat sengit tentang siapa yang terlupakan dan perlahan akan dilupakan. Sampai segerombolan manusia – laki-laki berambut panjang, dengan pakaian hitam-hitam datang menuju sang Bambu. Jumlah mereka sekitar limapuluhan orang, kedatangan mereka menuju sang Bambu cukup cepat membuat jalanan macet dan bunyi klakson terdengar memekikkan. Beberapa dari mereka malah bersorak dengan maksud mengolok pengguna jalan lain yang ingin menyebrang atau melewati tugu Bambu itu. Melihat segerombolan manusia itu, sang Bambu dan Lima Sembilan menghentikan perdebatan mereka sejenak.

Edisi X Tahun XXXV/ LPM Untan/ 2017

Segerombolan orang tersebut akhirnya tiba di depan sang Bambu, dengen dipimpin oleh seorang dari mereka – barangkali dapat disebut sebagai seorang leader, segerombolan orang tersebut berbaris rapi membentuk barisan bak ingin foto keluarga. Ada yang berdiri, setengah berdiri bak pose pemain bola, ada pula yang jongkok. Kehadiran mereka sontak membuat perhatian seisi penghuni jalan, ada yang memperhatikan dengan pandangan yang kebingungan, ada pula yang lansung beraksi dengan menyoraki gerombolan tersebut, namun mereka tidak peduli dan kembali melanjutkan aksinya. Setelah seluruh barisan itu terlihat rapi – setidaknya oleh seorang leader kelompok tersebut, maka mulailah seorang fotograper mengambil satu, dua, tiga gambar barangkali untuk mengecek pencahayaan tempat tersebut, agar hasil foto mereka memuaskan. Kemudian satu, dua, tiga gambar diambil dengan beberapa kali ganti gaya. Mulai dari foto dengan rambut panjang yang diurai dan bertelanjang dada hingga foto dengan gaya bebas mereka lakukan. Akhirnya setelah puas berfoto-foto, gerombolan tersebut pergi meninggalkan sang Bambu, kembali menyebrang jalan dan membuat macet jalanan. Setelah suasana jalanan kembali kondusif, lima sembilan pun kembali lagi dengan ejekannya pada sang Bambu. “Nah, kau lihat itu Bambu, lihat dengan jelas buka matamu lebar-lebar. Ku fikir gerombolan tadi ingin melakukan aksi peduli masyarakat tertindas, tetapi nyatanya, hahaha,” celoteh lima sembilan terhenti oleh tawanya yang semakin menggelegar. “Nyatanya mereka hanya ingin berfoto. Kau lihat itu, sekarang kau Cuma jadi latar buat berfoto, Cuma dijadikan properti yang bikin foto mereka bagus. Hahahha, menyedihkan sekali kau Kamerad.” Mendengar celotehan lima sembilan yang semakin memekakkan telinga, sang Bambu hanya diam dan tidak beraksi keras seperti saat seblum gerombolan itu datang. Ia mencoba bersikap acuh dan pura-pura tidak mendengarkan celoteh sang lima sembilan. Sementara itu, sang lima sembilan semakin menjadi-jadi dengan tudingannya kepada sang Bambu.


SASTRA Malam harinya saat seluruh isi kota sedang tertidur, sang Bambu tampak merenung seorang diri. Bagaimanapun, celotehan sang Lima Sembilan sejak beberapa waktu lalu ada benarnya juga. Sang Bambu sebetulanya telah cukup lama merasakan perubahan tersebut, hanya saja sebagian dari dirinya masih enggan untuk berdamai dengan perubahan atau bahkan dengan sebagian dirinya yang lain. Bagi dirinya, ia tetaplah Sang Bambu yang dulu, sang tugu bambu yang pejuang, sang bambu yang memiliki nilai sejarah yang luhur. Pekatnya malam semakin membuat sang Bambu berkontemplasi dengan diirnya sendiri. Perlahan ia mengingat kembali seluruh proses yang pernah terjadi dalam hidupnya. Ia mulai dibangun pada tahun 1986, tubuhnya dibuat dengan bentuk tonggak menyerupai bambu runcing, berwarna kuning, dengan tinggi masing-masing tonggak yang beragam. Setahun setelahnya, orang beramairamai mengunjunginya untuk sebuah acara persemian atas kelahirannya di tengah-tengah kota yang panas itu, diresmikan langsung oleh orang nomor satu di provinsi itu. Kelahirannya pun bukan tanpa alasan, sebelas tonggak bambu runcing yang menjadi bentuk dirinya kini adalah sebuah lambang bagi perjuangan yang dilakukan oleh sebelas orang tokoh pergerakan di Kalbar pada waktu itu yang kemudian ditangkap oleh Pemerintah Belanda dan diasingkan ke Boven Digul, sebuah tempat di Provinsi Papua. Boven Digul adalah sebuah tempat yang dijadikan sebagai tempat pengasingan atau pembuangan tahanan politik oleh kolonial Belanda pada saat itu, bahkan Bapak Proklamator Indonesia Bung Hatta pernah dibuang ke tempat ini. Oleh sebab itulah namanya pun kini diambil dari nama tempat bersejarah tidak hanya bagi Kalimantan Barat sendiri, tapi juga Republik ini. Tugu Digulis, begitu nama yang disematkan kepadanya meskipun kebanyakan orang mengenalnya sebagai Tugu Untan karena keberadaannya tepat di depan gerbang masuk Universitas Negeri satusatunya di Kota itu. Ingatannya kemudian melesat ke tahun 1998, sebuah tahun yang mencatat peristiwa penting bagi sejarah Republik ini.

Sebuah tahun yang melahirkan era baru bagi kancah perpolitikan di negeri ini – reformasi. Seluruh negeri seolah sepakat memberontak, perlawanan terjadi di mana-mana. Puncaknya adalah kerusuhan Mei 1998 yang kemudian memaksa sang Diktator Orde Baru untuk turun dari jabatannya, tentu semua orang mengingat hal tersebut. Bahkan cerita-cerita tentang hal tersebut terus diwariskan kepada generasi yang tidak merasakan langsung pergolakan politik yang begitu dahsyat itu. Sang bambu bukan tak turut andil dalam hal tersebut, pada tahun yang sama sebuah kejadian serupa tapi tak sama juga terjadi di tanah Khatulistiwa. Kala itu era reformasi baru akan dimulai, baru 2-3 bulan berlalu dari ingatan, di tahun yang sama para mahasiswa kembali bertempur pada sebuah tragedi untuk memulai kancah perpolitikan yang baru di Kalbar – penurunan Gubernur aktif pada masa itu, Aspar Aswin. Penurunan Gubernur aktif tersebut bukan tak beralasan, semua bermula dari mosi tidak percaya yang dilayangkan oleh DPRD kepada Gubernur yang kemudian diikuti dengan gejolak pergerakan mahasiswa yang turut menuntut penurunan Aspar Aswin. Akhirnya pergerakan tersebut berhasil menurunkan Gubernur, dan lagilagi sang Bambu menjadi saksi bisu dari begitu banyak perjuangan yang dilakukan oleh mahasiswa, rakyat, dan siapa saja yang ingin menyampaikan aspirasinya. Dimulai dari krisis moneter tahun 1997 dan panasnya situasi 1998 hingga kini, seluruh orasi dan aksi perjuangan di Kalbar di lakukan di depan Sang Bambu. Mengingat semua proses tersebut, sang Bambu semakin sedih meskipun sebagian dari dirinya yang lain masih menyimpan kebanggaan akan keberadaan dirinya. Keberadaan dirinya yang sakral, dirinya yang telah dideklarasikan sebagai tugu perjuangan oleh para pejuang di tahun bersejarah itu. Ingatan sang Bambu kembali melesat pada 21 tahun yang lalu. Tepatnya pada tahun 1995, kala itu dirinya di cat ulang oleh pemerintah Kota menjadi berwarna merah putih – warna yang mengiringi perjuangan-perjuangan bersejarah yang ia rekam. Barulah pada tahun 2006, kemudian dirinya dikembalikasn seperti semula. Berwarna kuning polos persis seperti yang terlihat saat ini. Sejak itu pembaharuan-pembaharuan terus dilakukan padanya. Kini sang Bambu tidak sendiri lagi, sebab ada air terjun yang mengelilingi batang tubuhnya. Bunga-bunga taman tumbuh cantik disekelilingnya, dan kini ada sebuah ruang terbuka hijau yang mengambil sebagian Mimbaruntan.com

juga dari namanya – taman digulis. Semakin hari sang Bambu semakin cantik dan modern, barangkali menyesuaikan kondisi kota Pontianak yang semakin hari juga semakin nge-trend. Setiap sore terlihat begitu banyak orang menghabiskan waktu di bundarannya. Memang terlihat indah dan menyejukkan hati, tetapi ada banyak hal yang dirindukan oleh sang Tugu saat ini. Jarang lagi ia temukan mahasiswa-mahasiswa seperti tahun bersejarah itu, ada pun hanya beberapa dan seringkali hanya memperingati sebuah seremonial tanggal bersejarah. Para muda mudi saat ini lebih senang menjadikannya objek berfoto, bukan sebagai monumen perjuangaan seperti yang dilakukan oleh muda mudi terdahulu. “Ah barangkali jaman memang sudah berubah. Orang-orang berjuang dengan cara yang lebih modern dan elegant, lebih bermanfaat dan memberikan dampak nyata ketimbang hanya berorasi di depanku, semoga saja,” ucap sang Bambu menghibur diri. Akhirnya sang Bambu sampai pada kesimpulannya tentang diri sendiri, barangkali juga bentuk perdamaiannya dengn sebagian dirinya yang lain. Dibalik semua kesedihan dan keresahannya akan muda mudi yang berbeda dari muda mudi yang ia kenal semestinya, sang Bambu yakin masih banyak muda mudi di luar sana yang melakukan berbagai aksi nyata untuk kemanusiaan, meskipun tanpa dirinya sebagai saksi mati, meskipun dirinya tidak ikut merasakan perjuangan yang dilakukan, ia akan tetap bangga kepada muda mudi tersebut. Bagaimana pun juga, perjuangan bukan melulu tentang aksi di jalan dan orasi di bundaran, aksi dan orasi akan lebih bermanfaat jika dilakukan dengan memberikan dampak yang nyata dan sekali lagi, sang Bambu percaya masih banyak muda mudi yang melakukan hal tersebut diluar sana. Kesimpulan mulianya tersebut kemudian membangunkan sang Bambu yang sempat distorsi terhadap dimensi ruang dan waktu. Pukul 05.00 jalanan kota mulai kembali menunjukkan nyawanya. Sama halnya dengan sang Bambu yang bijaksana, ia baru saja menemukan kembali nyawa hidupnya yang lama, dan kini ia sudah tahu bagaimana caranya menghadapi celotehan-celotehan lima sembilan yang tidak akan pernah berhenti untuk mengusik ketenangannya. “Terimakasih lima sembilan, aku dan diriku yang lain kini masing-masing telah saling menemukan, terimakasih lima sembilan.”

@lpmuntan @untanvoiceradio107.8fm

www.mimbaruntan.com

41


PROFIL

Angkat potret masyarakat pedalaman Hingga ke panggung internasional OLEH : WIRZA RACHMAN

Istilah film dokumenter pertama kali digunakan oleh Robert Flaherty pada tanggal 8 Februari 1926 ketika menulis resensi film Moana (1926). Genre film tersebut merujuk pada penampilan fakta dalam kehidupan secara terstruktur pada durasi film tanpa ada cerita fiktif untuk mendramatisir cerita. Film bergenre serupalah yang akhirnya membawa seorang filmmaker Kalbar, Lanang Bagus Prasetyo, bersaing ditingkat internasional. Karyanya mengangkat potret klasik permasalahan masyarakat pedalaman Kalbar yang seringkali terjadi. Polemik hutan adat dan kesejahteraan.

70

: 30 = ? . Begitulah judul film dokumenter yang diinisiasi oleh Lanang bersama rekannya, Iswadi Ibnu. Film itu mengangkat konflik internal masyarakat soal hutan adat. Perselisihan generasi tua yang masih berpegang teguh pada tradisi menjaga kelestarian hutan dan generasi muda yang menggantungkan harapan kesejahteraan hidupnya pada sebuah perusahaan perkebunan sawit. 70 persen masyarakat generasi muda 30 persen masyarakat generasi tua, begitulah pembagian yang Ia ceritakan. Diilhami oleh konflik masyarakat di Desa Sengkabang, Kecamatan Sungai Betung, Kabupaten Bengkayang, Kalbar pada tahun 2013. Film tersebut berhasil menyabet gelar juara pada kompetisi Documentary Eagle Award Metro TV 2013, serta masuk nominasi Best Camera Work kategori Short Film pada perhelatan Al Jazeera International Documentary Film Fetival tahun 2014 di Doha, Qatar Documentary Eagle Award Metro TV adalah awal mula keseriusan Lanang di dunia Documentery Video. Step by step persyaratan lomba dilalui, dari penyusunan proposal, masuk 50 besar dan akhirnya berkesempatan untuk mempresentasikan rancangan “70;30=?�nya dihadapan juri-juri ternama. Proposalnyapun diterima, sehingga Lanang yang mewakili Pontianak mesti bersaing dengan filmmaker yang mewakili Aceh, Semarang, Jember, dan Ambon kala itu. Dibutuhkan waktu enam bulan untuk mengumpulkan riset serta produksi. Berbagai kendala dihadapi Lanang dan tim dari kejar-kejaran dengan centeng perusahaan, budget, membiasakan warga untuk berbicara didepan kamera hingga kejadian mistispun turut dialami. Semua itupun dibayar dengan keberhasilannya menjuarai kompetisi film dokumenter nasional bahkan bersaing dikancah internasional.

42

Edisi X Tahun XXXV/ LPM Untan/ 2017


PROFIL Cerita Dibalik 70:30=? Anak pertama dari dua bersaudara ini memulai keterlibatannya dalam videografi ketika masih aktif di organisasi pecinta alam semasa mahasiswa. Mendaki gunung dan intens bertemu dengan warga menjadi awal mula ketertarikannya untuk membagikan cerita keluh kesah masyarakat pedalaman kepada teman-temannya. “Kalau dulu kita ekpedisi, kemudian kita share ke facebook,” ujar Lanang ketika reporter menemuinya di sekretariat Makumpala Untan, 11 Januari 2017. Ketika tim dari Documentary Eagle Award menyambangi Pontianak untuk memberikan workshop serta persyaratan lomba, disitulah Lanang teringat dengan seseorang dari Desa Sengkabang, Pak Indut. Pak Indut adalah tokoh desa yang ia temui ketika Lanang bersama teman-teman organisasi pecinta alamnya melakukan ekspedisi ke Gunung Bawang. Perselisihan paham antar generasi di Desa Sengkabang itulah yang mendorong putra dari pasangan Eko Widodo dan Nani Megawarni itu untuk mengangkat kisah mereka dan memfilmkannya. Ketika memulai penggarapan video dilapangan yang memakan waktu delapan hari, bukanlah tanpa kendala. Sikap waswas dari masyarakat ketika berhadapan dengan kamera menjadi tantangan tersendiri bagi Lanang dan tim. “Jadi sempat, mereka defensive, ini apa ni, ini siapa ni, ini ganggu ni. Saya hanya ingin merekam keadaan riil. Saya memosisikan diri ditengah,” ucap Lanang sembari memeragakan sikap warga yang menolak saat wawancara. Bahkan ketika berusaha mendapatkan hasil wawancara dari pihak perusahaan, perampasan hasil rekaman yang sudah dikumpulkan sempat dialami, “Diambil cardnya (memory cardred),” lanjutnya. Beruntung karena warga mengetahui dirinya mahasiswa, warga mulai membuka diri dan turut berpartisipasi dalam video garapannya. Kesejahteraan menjadi fokus utama. Dilema harapan hidup yang lebih baik memaksa gesekan sosial kerap terjadi di masyarakat pedalaman, tak terkecuali warga Desa Sengkabang.”Keadaan mereka jadi dilema antara mempertahankan adat atau menjual hutan itu sendiri dengan harapan, sejahtera,” ungkap Lanang melanjutkan ceritanya. Film yang disutradarai oleh Lanang dan Iswadi tersebut

tidak memosisikan perusahaan sebagai pihak yang salah, sebaliknya warga turut menyatakan bahwa perusahaan punya andil terhadap desa berupa akses jalan dan tempat ibadah. “Dengan film ini penonton sendiri yang menilai, bagaimana seharusnya ini,” tuturnya. Walau hanya berupa video yang berdurasi tak sampai satu jam. Lanang tetap memiliki harapan besar mengenai dampak dari filmnya bagi warga setempat, seperti halnya piala kompetisi yang ia dapat dan serahkan kepada warga desa sebagai bentuk ucapan terimakasih, “Berharap dengan tayangan beberapa menit tersebut, dapat membuat perubahanlah,” ucap pria yang sempat menjadi pemateri workshop film di SMA Paulus, Immanuel, dan IAIN Jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam. Potensi Film Dokumenter di Kalbar Menurut Lanang Kalimantan Barat sejatinya tidak kalah dalam segi cerita dibandingkan dengan pulau Jawa ataupun pulau lainnya di Indonesia. Isu ekonomi, sosial serta budaya di Kalbar masih begitu kaya untuk dieksplor. Hal itu terbukti, pada ajang Documentary Eagle Award sendiri, perwakilan dari Kalbar yang melangkah hingga lima besar sudah berjumlah enam peserta ditambah dengan Lanang dan tim. Dari segi cerita, potret masyarakat pedalaman Kalbar mengenai hutan dan tuntutan zaman, begitu akrab dipemberitaan lokal, bahkan tak jarang mahasiswa turut turun kejalan untuk menyuarakan tindakan perusahaan yang mencaplok lahan penghidupan suatu kelompok masyarakat. Dari operasional perusahaan yang sudah sesuai dengan aturan hingga perusahaan yang gemar menggunakan jalan pintas. Namun, soal penghidupan yang lebih baik adalah hal pokok. Hutan, tradisi dan kesejahteraan. ”Kita tahu sama tahu lah, soal masyarakat pedalaman ini, tentang hutan,” ujar Lanang. Bahkan dari segi sumber daya manusia yang mampu berkompetisi pada Documentery Video, Lanang berpendapat masih terbuka lebar. Minimnya filmmaker Kalbar yang mengangkat persoalan masyarakat daerahnya sendiri, menurut Ia menjadi kesempatan besar bagi mereka yang berminat mengangkat kearifan lokal masyarakat Kalbar. “Di Jawa yang garap banyak namun tema sedikit, disini tema banyak yang garap sedikit,” pungkasnya.

Lanang (kanan) ketika menghadiri acara Al jazeera International Documentary Film Festival, Qatar. (Dok : Pribadi) Mimbaruntan.com

@lpmuntan @untanvoiceradio107.8fm

www.mimbaruntan.com

43


SOROTAN

Komunitas ‘Aku Belajar’ Jawab Masalah Pendidikan, Hadir Diantara Pemerintah dan Masyarakat OLEH : NUR MAULINI

K

etika ada permasalahan di masyarakat mengenai pendidikan di depan mata mereka, serta peran pemerintah yang juga tidak bisa seutuhnya terjun langsung ke masyarakat untuk menangani masalah pendidikan. Disitulah lahir sebuah komunitas yang mencoba menjadi jembatan untuk mengisi ruang kosong diantara masyarakat dan pemerintah, mereka menamai komunitas mereka dengan sebutan “Aku Belajar� atau yang sering dikenal dengan AB. Peran AB disini adalah mencoba untuk memberikan edukasi untuk anak-anak maupun para orang tuanya dalam bentuk program belajar menagajar agar semua permasalahan dapat terjawab dengan hadirnya mereka di tempat tersebut. Pada awal tahun 2011, komunitas ini memulai pergerakannya dengan penggalangan buku dan pengumpulan buku yang kemudian akan mereka berikan kepada komunitas yang membutuhkan. Tapi seiring berjalannya waktu, mereka mencoba memulai menjalankan sebuah program ke volunteeran dan kegiatan sosial di tahun 2012 yang mana pada saat itu masih dibawah naungan Excellence English Club. Kegiatan ke voulunteeran yang mereka lakukan mulai bergerak untuk mengajar di Tempat Pembuangan Akhir (TPA), seiring berjalannya program ke volunteeran, disitu Mia dan kawankawan mulai berfikir tentang kegiatan yang mereka geluti saat ini untuk diseriuskan menjadi sebuah komunitas yang bergerak di bidang pendidikan, sosial dan pemuda. Pada tanggal 17 Januari 2013 tepatnya empat tahun yang lalu, dilegalkanlah komunitas yang awal pendirinya

44

hanya berjumlah 11 orang ini. Tetapi karena kewalahan untuk mengurus semuanya, akhirnya mereka memutuskan untuk merekrut para volunteer untuk menjadi pengurus yang mana sekarang sudah bejumlah 28 orang dan selama empat tahun terkahir ini, para pengurus AB juga belum pernah sama sekali berganti kepengurusan. “Kakak dan beberapa kawan kepikiran kenapa tidak kita seriusan saja disini, dijadikan organisasi yang memang konsen dipendidikan, sosial dan pemuda dan akhirnya kita legalkan pada tanggal 17 Januari 2013 itu, kemudian jadilah Aku Belajar,� ujar Mia Pratiwi Ketua Komunitas Aku Belajar. Saat ditanya kenapa harus menamai komunitas mereka dengan AB, Mia menjelaskan, bahwa filosofi nama Aku Belajar itu mewakili proses belajar manusia yang tidak akan berhenti dari lahir hingga sampai pada liang lahat, yang artinya proses belajar itu harus dimulai dari diri kita sendiri dan akan kembali lagi pada kita sendiri. Sebelum mendapatkan nama Aku Belajar, kesebelas pendiri ini juga sempat memikirkan nama lain untuk komunitas yang akan mereka bentuk ini dalam waktu yang cukup lama dan dengan perdebatan yang panjang mengenai filosofifilosofinya. Setalah mendapatkan nama untuk komunitas ini, mereka perlahan mulai membicarakan mengenai sistem belajar mengajar yang akan mereka gunakan. Untuk sistem mengajar di AB mereka akan menjalankannya dalam bentuk sosial karena organisasi ini adalah organisasi nirlaba atau non-profit organisation yang mana para pengurus tidak dibayar dalam donasi apapun termasuk volunteernya. Donasi yang mereka dapatkan berasal dari pementasan drama musikal hasil dari kegiatan belajar mengajar yang mereka siapkan dalam bentuk tiket untuk para penonton. “Untuk sistem mengajar di AB karena AB adalah organisasi nirlaba atau non-profit organisasion dan cara menjalankannya juga dalam bentuk sosial,

Edisi X Tahun XXXV/ LPM Untan/ 2017

dan memang dari kepengurusan itu tidak ada yang dibayar termasuk volunteernya nggak ada yang dibayar jadi segala bentuk donasi yang kita dapatkan memang kita kasih seratus persen untuk program itu berjalan,� tambah Mia. Dalam setahun menjalankan program kerja, mereka sudah menyiapkan timeplan yang akan mereka gunakan untuk mengatur waktu kapan akan memulai promosi, perekrutan, mulai masuk tahap seleksi dan training dan kapan akan mulai mengajar. Timeplan itu mereka susun sedemikan rupa agar semua program dapat terlaksana sesuai dengan waktunya. Setelah anggota baru di traning mereka akan diterjunkan ke masyarakat untuk menggali informasi sebanyak-banyaknya sebelum mereka benar-benar mulai mengajar di daerah atau tempat tersebut. Mereka akan mulai dengan survey jumlah anak yang akan mengikuti kegiatan tersebut, dan untuk mendapat informasi ini, mereka harus berinteraksi terlebih dahulu kepada para orang tua anak didaerah setempat. Selain itu mereka juga akan berinteraksi dengan RT dan para pejabat setempat untuk meminta izin menyelenggarakan kegiatan belajar mengajar yang akan berlangsung selama 6 bulan pada hari Sabtu dan Minggunya di tempat tersebut. Di AB para pengurus hanya menyiapkan tempat untuk mereka mengembangkan ide mengajar mereka dan juga menyiapkan segala macam alat yang mereka butuhkan selama mengembang ide mereka. ketika mereka mengajar, mereka akan di temani oleh 2 orang supervisor yang ditunjuk langsung dari pengurus AB yang akan mengawasi kegiatan mereka di tempat tersebut selama 6 bulan. “Jadi kita cuma kayak kasih lab buat kalian mengembangkan diri. Jadi kita cuma kasih gaya jenis panduan, segala alat mengajar selanjutnya akan AB yang memfasilitasi, dan itu akan ada 2 supevisor yang akan mengawasi kegiatan ini selama 6 bulan dan itu kita tunjuk biasanya dari pengurus,� lanjut Mia. Para volunteer tidak pernah pilihpilih tempat ataupun keberatan dengan


SOROTAN tempat tersebut, mereka hanya berfikir bagaimana memberikan pendidikan kepada anak-anak yang belum merasakan pendidikan sama sekali. Mereka bahkan pernah pergi ke TPA di daerah Batu Layang untuk memberikan pendidikan untuk anak-anak yang membutuhkan, disana mereka harus mengajar selama 2 semester yang dimulai dari tahun 2012-2013, setelah itu mereka pindah tempat lain lagi setelah mereka merasa bahwa tempat itu sudah siap untuk ditinggal, tapi mereka tidak hanya pergi begitu saja, sebelum mereka pindah ke lokasi lain, mereka akan membuatkan satu perpustakaan di daerah tersebut untuk menjadi tempat kelanjutan bagi masyarakat untuk terus membaca dan menulis semua itu dilakukan agar kegiatan disana tidak akan mati begitu saja ketika program belajar mengajar selesai. Setelah selesai menjalankan program belajar mengajar, mereka akan mengevaluasi kinerja mereka selama 6 bulan, setelah itu mereka akan mengadakan Charity Day. Mengenai kegiatan ini, mereka akan menampilkan kepada orang tua anak-anak dan masyarakat kota Pontianak mengenai hasil kegiatan mereka selama 6 bulan diatas panggung melalui drama musikal dan lain sebagainya. “Nah jadi mereka akan dikawal oleh supervisor terus selama 6 bulan berjalan dan selesai, setelah itu mereka akan mengadakan Charity Day. Jadi memang selama 6 bulan itulah bahasanya kita lihatkan kepada warga masyarakat kota Pontianak inilah hasilnya,” katanya. Ary salah satu volunteer AB yang sempat reporter Mimbar Untan hubungi via telepon menceritakan pengalamannya menjadi seorang volunteer. Ia mengatakan bahawa pertama kali mengetahui AB dari temannya, setelah itu Ia mencoba bergabung menjadi seorang volunteer dengan tujuan supaya Ia bisa mengekplorasi dirinya, terutama dalam kemampuan komunikasi dan Ia rasa AB mampu memberikan itu semua. “Alasan saya menjadi volunteer sebenarnya saya ingin mengeksplorasi diri saya terutama kemampuan komunikasi saya dalam komunitas baik kominukasi dengan teman seumuran atau dengan masyarakat,” ungkapnya. Ary juga menjelaskan mengenai kegiatan belajar mengajar yang mereka lakukan dengan 11 volunteer. Pertama, sebelum para volunteer mulai mengajar, ada beberapa hal yang harus disiapkan, seperti menyaiapkan materi oleh setiap volunteer yang berbeda level, karena disini para volunteer akan dipercaya memegang kelas mulai dari TK hingga anak

SMP. Untuk mengajar anak TK akan ada 3 orang volunteer sedangkan untuk SD dari kelas 1 sampai 6 masing-masing akan dipercayakan pada 1 orang volunteer begitu juga dengan SMP. “Sebelum kita ngajar biasanya kita nyiapin materi masing-masing kan tiap volunteer ngajar di level beda-beda. Levelnya beda ya beda-beda kelasnya dari TK smpai SMP,” lanjutnya. Ia juga menambahkan waktu memulai mengajar biasanya setelah Ashar sekitar jam 3 sore. Mereka akan briefing terdahulu dengan teman-teman volunteer yang lain, kemudian mereka akan mulai berinterkasi dengan warga setempat. Dan kegiatan akan selesai jam 16.30 WIB atau 17.00 WIB, setelah itu mereka kan mengadakan evaluasi untuk kehiatan mereka pada hari tersebut. Selain mengajar, komunitas yang bergerak di bidang belajar dan mengajar ini juga ternyata memiliki 8 perpustakaan di beberapa daerah di Kalimantan Barat (Kalbar), seperti di daerah perbatasan Sanggau Entikong, Sintang Nanga Pari, Batu Layang, Tambelan , TPI Jeruju dan Sambas tepatnya di desa Lumbang. Perpustakaan itu di bangun lantaran mereka masih belum bisa mengunjungi tempat di luar daerah Pontianak untuk program mengajar dikarenakan masih terkendala pada biaya untuk menjangkau daerahdaerah tersebut. “Untuk di daerah itu kita masih belum bisa mengajar dalam jangka waktu yang cukup panjang seperti di Pontianak karena biayanya itu tadi dan kita juga belum kuat di finansialnya jadi untuk di daerah itu kita pakai perpustakaan,” ucap Mia. Ketika berbicara mengenai cara mendapatkan buku, link bukan merupakan salah satunya. Masih ada beberapa cara yang mereka pakai untuk mendapatkan buku, contohnya cara jemput bola dan sumbangan dari koleksi pengurus. Uniknya cara jemput bola ini mereka menggunakan media sosial untuk menyebar informasi ke khalayak ramai, khususnya masyarakat kota Pontianak yang bersedia menyumbangkan buku mereka. setelah mendapat beberapa penyumbang buku, mereka akan menjemput buku tersebut dan kemudian mensortir sesuai dengan kebutuhan di masyarakat, sedangkan buku yang tidak layak diberikan akan mereka simpan dan tidak akan di masukkan kedalam list buku yang akan di berikan. “Kita ada juga model jemput bola, kita publish informasinya siapa saja yang ingin meyumbangkan bukunya akan kita Mimbaruntan.com

ambil kayak gitu, terutama ke masyarakat kota Pontianak yang banyak menyumbangkan bukunya jadi kita ambil kemudian kita sortir disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat yang ada. Jadi kalau ada yang kita anggap bukunya tidak layak ya tidak akan kita berikan. Jadi memang beberapa cara itu yang kita usahakan mendapatkan buku dan Alhamdulillah jadi,” lanjut Mia. Adanya gerakan-gerakan dari komunitas, berarti masyarakat juga ikut dilibatkan didalamnya, masyarakat diajak bersama-sama untuk membangun pendidikan. Tapi komunitas ini juga harus bekerja dan berusaha untuk tujuan yang sama, jangan sampai terpecah belah menjadi tak karuan. Disinilah mesti ada koordinasi barangkali dari pemerintah untuk mengkoordinir kegiatan-kegiatan dari berbagai komunitas dan jangan sampai komunitas ini malah berjalan sendirisendiri. “Selama ini kenapa banyak komunitas tapi hasilnya tidak ada, pendidikan di Kalbar masih tetap tidak bagus, karena mereka itu jalan sendiri-sendiri. Jadi kalau ada komunitas yang di masyarakat itu bagus, bahkan kita dorong. Kalau perlu setiap RT ada pemberantasan buta huruf misalnya. Tapi supaya dia membawa dampak untuk kemajuan pendidikan mereka harus dikoordinasikan, siapa yang mengkoordinir mereka ya pemerintah,” ungkap Aswandi. Menurut Aswandi, didalam UndangUndang peran pemerintah salah satunya adalah untuk menyelenggarakan pendidikan sebagai kewajiban, dan kalau ada pemerintah yang berpartisipasi, maka Ia wajib mengkoordinasikannya. Bahkan kalau diperlukan, pemerintah membantu lebih luas lagi, termasuk memberinya biaya dan sebagainya. “Ya biasa ada yang hidup kalau dia ada uang, kalau ndak ada uang yang tidak hidup dianya. Jadi kita mengatakan bagus yang perlu mendapatkan perhatian pemerintah termasuk semuanya, salah satunya finansial”. Ia juga menginginkan pemerintah dapat mendorong dan membantu kegiatan untuk para komunitas ini, serta dapat mengkoordinasikannya, supaya apa yang dilakukan oleh para komuitas ini akan lebih bagus dan terarah. Ia juga menharapkan dapat membantu jikalau ada gerakan-gerakan komunitas yang sangat peduli dengan pendidikan dan bahkan biasanya mereka tidak memiliki upah sama sekali, dan itu mesti didukung karna itu sesuatu yang sangat positif.

@lpmuntan @untanvoiceradio107.8fm

www.mimbaruntan.com

45


religi alam dan manusia belum serasi OLEH : ANKGAH FEBRUARI

Dalam Al-Qur’an Allah SWT berfirman, ”Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali ke jalan yang benar” (QS Ar-Rum[30]:41)

46

I

ndonesia memiliki hamparan daratan yang elok dan indah. Tidak hanya daratan, Indonesia juga memiliki hamparan laut yang mempesona. Bahkan di seluruh belahan bumi memiliki berbagai keajaiban-keajaiban yang diciptakan oleh Tuhan salah satunya makhluk hidup. Makhluk hiduplah yang dipercayakan oleh Allah mendiami atmosfer bumi saat ini. Seperti yang disampaikan oleh Ustadz. Syarif Abdurrahman bin Alwi Al-Qadrie berbagai makhluk hidup yang diciptakan oleh Allah untuk mengisi bumi begitu pula dengan kelebihan yang diberikan Allah masing-masing berbeda. “Makhluk hidup yang diciptakan oleh Allah itu ada tiga, satu tumbuh-tumbuhan, dua hewan atau binatang, dan tiga manusia.” Ungkapnya. Ia pun melanjutkan penjelasan, bahwasanya kenapa manusia digolongkan makhluk hidup yang tertinggi. Karena manusia lah, satu-satunya makhluk hidup yang diberikan kesempurnaan. Menurut agama islam, “Inni Ja Ilun Fil Ardi Khalifah” kata Allah (Q.S. Al-Baqarah ayat 30) yang artinya sesungguhnya aku(Allah) hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi yakni manusia. “Ada makhluk hidup yang tidak bisa bergerak seperti tumbuh-tumbuhan, ada lagi makhluk hidup dialam ini yang diciptakan oleh Allah bisa bergerak, bisa makan tapi akalnya tidak ada seperti binatang. Tapi ada lagi makhluk yang diciptakan oleh Allah bisa bergerak, bisa makan ditambah dengan akal pula”. Jelasnya. Sempurna diciptakan tidak membuat manusia sadar dengan apa yang telah dilakukannya selama di dunia. Misalnya yakni membuang sampah sembarangan, menebang pohon secara berlebihan, mengeruk gunung-gunung hingga terkikis, bahkan mengambil ikan dilautan dan sungai dengan cara dibom. Itulah yang membuat Indonesia sekarang ini sering menghadapi bencana alam seperti banjir, tanah longsor, rusaknya terumbu karang. Padahal sebelumnya Allah tlah memberikan rahmat kepada kita semua. Sesuai dengan firman Allah didalam Al-Qur’an surah Ali-‘Imran ayat 74 yang artinya “Allah menentukan RAHMAT-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya dan Allah mempunyai karunia yang besar.” Manusia memiliki peran penting diantara makhluk hidup. Tuhan sudah mengatur sebaik-baiknya. Manusia itu bisa memelihara alam bisa juga merusak alam. Itulah pokok kehidupan di alam ini terletak pada manusia. Allah yang memberikan kebaikan, tetapi manusia lagi yang mem-

Edisi X Tahun XXXV/ LPM Untan/ 2017

buat kerusakan. Allah memberikan anugrah untuk seluruh makhluk, tinggal bagaimana makhluk yang menjaganya terutama manusia. “Kalau manusia itu berbuat kebaikan seperti membuat waduk, menanam tanaman, mengatur alam tadi sehingga baguslah alam itu. Tapi kalau manusia itu membuang sampah sembarangan, saluran air disumbat, hutan digundulkan, itulah timbul bencana alam lingkungan menjadi hancur, jadi sumbernya manusia itu tadi” Ungkap Ustadz yang pernah menempuh pendidikan di Fakultas Pertanian Untan ini. Meskipun tidak semua bencana alam yang disebabkan oleh manusia sendiri seperti tsunami atau gunung meletus itulah kekuasaan Tuhan. Allah yang mempunyai kehendak atas apa yang terjadi dimuka bumi ini. Pesan Ustadz Abdurrahman bin Alwi Al-Qadrie kepada semua umat manusia yang mendiami di bumi Allah sekarang ini untuk sadar, bahwa segala di bumi ini adalah titipan bagi Allah, bertobatlah seperti hadits berikut ini Dari Abu Hurairah RA, bahwasanya dia mendengar Rasulullah SAW bersabda : Sesungguhnya ada seorang hamba berkata, “Ya Tuhanku, sesungguhnya aku telah melakukan suatu dosa, maka ampunilah dosa itu”. Kemudian Tuhan berfirman kepadanya, “Hamba-Ku mengetahui bahwasanya dia mempunyai Tuhan yang mengampuni dosa dan kuasa menghukumnya”. Lalu Tuhan mengampuninya. Kemudian berlalulah waktu yang lama sehingga orang itu melakukan dosa yang lain, lalu orang itu berkata, “Ya Tuhanku, sesungguhnya aku telah berbuat dosa yang lain, maka ampunilah aku”. Tuhan berfirman, “Hamba-Ku mengetahui bahwasanya dia mempunyai Tuhan yang mengampuni dosa dan kuasa menghukumnya”. Lalu Tuhan mengampuninya. Kemudian berlalulah waktu yang lama, sehingga orang itu melakukan dosa yang lain lagi. Lalu orang itu berkata, “Ya Tuhanku, sesungguhnya aku telah berbuat dosa, maka ampunilah dosaku”. Tuhan berfirman, “Hamba-Ku mengetahui bahwasanya dia mempunyai Tuhan yang mengampuni dosa dan kuasa menghukumnya”. Lalu Tuhan berfirman, “Aku telah mengampuni hamba-Ku, maka berbuatlah apa yang dia kehendaki”. [HR. Bukhari dan Muslim] Berusahalah untuk menjaga amanah yang diberikan sebaik mungkin. Terlebih Manusia seharusnya banyak belajar menyerap ilmu yang diberikan termasuk ilmu agama yang berguna bagi kehidupan ini, memberi contoh agar masyarakat luas paham. “Terlebih manusia sadar untuk anak cucu nya kedepan, dan didalam islam kita diminta untuk menjaga alam” ungkapnya.


Mimbaruntan.com

@lpmuntan @untanvoiceradio107.8fm

www.mimbaruntan.com

47


48

Edisi X Tahun XXXV/ LPM Untan/ 2017


Turn static files into dynamic content formats.

Create a flipbook
Majalah Mimbar Untan by Mimbar Untan - Issuu