Skip to main content

Majalah 7 Mimbar Untan

Page 1

Edisi VII Tahun XXXII/ LPM Untan/ 2014

1


2

Edisi VII Tahun XXXII/ LPM Untan/ 2014


Redaksi Alhamdulillah Majalah Mimbar Untan Edisi VII pun telah selesai. Ada senang, bangga, dan haru yang mungkin tim redaksi rasakan saat ini. Sebuah ­perjalanan panjang yang dihadapi dalam menyusun majalah ini, jalan yang berlumpur, berdebu, berlubang hingga menanjak tajam ke atas pernah kami lalui. Tidak hanya itu duka lain juga menyelimuti kami, begitu pedih yang kami rasakan karena kami kehilangan sosok yang selalu dekat di mata kami, sosok yang penuh tawa yang tak pernah menampakan kesedihan dari wajah bulatnya, yang mengajarkan kami tentang banyak hal itu telah mendahului kami untuk menghadap Sang Pencipta. Abang kami, Yusmar telah tiada namun semangat dan perjuangannya tak penah hilang. Ada juga lelah, ada juga bosan, ada juga putus asa yang sempat ­hinggap di benak kami. Namun pada akhirnya kami pun sadar tak ada alasan lagi, kekompakan, kebersamaan dan kekeluargaan yang kami rajut pada akhirnya menimbulkan tekad yang kuat sehingga menjadi energi yang luar biasa dalam mengarungi perjalanan panjang ini. Kali ini di Jalan Daya Nasional, di sudut Gedung MKU Untan. Sekretariat kami, tempat berkumpul kami, dan bahkan rumah kami menjadi saksi bahwa banyak yang terjadi dalam hal penyusunan Majalah ini, Perbedaan pendapat, pandangan dan pemikiran diantara kami di tim redaksi kadang menimbulkan polemik, namun itu semua akhirnya bisa teratasi dengan kepala dingin. Pada majalah ini, sorotan kami tertuju pada perbatasan Indonesia – Malaysia yang kemudian kami angkat sebagai berita utama dalam majalah ini. Dimana warga Indonesia sering keluar masuk dengan mudah dengan membawa barang-barang dari Malaysia karena birokrasi perbatasan yang tidak tegas. Demikian sedikit cerita dalam penyusunan majalah ini, tidak lupa juga kami selalu mendapatkan dukungan dari rekan-rekan yang ­senantiasa peduli dengan kondisi yang terjadi hari ini, baik itu di ­lingkungan kampus maupun di luar. Dukungan itu menjadi semangat dan motivasi dari kami yang terlibat di keredaksian. Selamat membaca, semoga informasi dari kami dapat memberikan wawasan dan bermanfaat bagi para pembaca terutama bagi sobat muda sobat mahasiswa semuanya. Hidup mahasiswa ! Salam Perjuangan ! Salam Pers Mahasiswa !

Majalah Mimbar Untan diterbitkan oleh Lembaga Pers Mahasiswa Universitas Tanjungpura Pontianak Pelindung Penasehat Pembina DPL

: Tuhan Yang Maha Esa : Rektor Universitas Tanjungpura : Pembantu Rektor III : Alumni Mimbar Untan Pengurus LPMU 2013/2014 Ketua Umum : Asmadi Sekretaris Umum : Firdaus Bendahara Umum : Arinda Zain Divisi PSDM :

Gusti Eka Firmanda, Sam’an, Talino, Wisda Seprima Divisi Penerbitan : Mariyadi, Bernada, Mursidin, Nabu Divisi Penyiaran : Happy Resa K, Atem, Elizabet, Nikodemus Niko, Zulfian Divisi Litbang : Syukri, Ahmad Rosadi, Anwar, Suhendar Divisi Perusahaan : Dodi Aprilian, Dini Surianto Anggota Tetap: Nur Maulini, Desy Fitriyadi, Deka Maulidiansyah, Septi Dwisabrina, Riko Saputra, Ismail, Irvan, Rika Effendi Anggota Biasa: Galih Pramono, Tika, Resti, Mina, Ulfa, Caca, Yunita, Eva, Yanto, Susi, Angga, Egi, Marna, Rian, Dinda

Pimpinan Redaksi : Gusti Eka Firmanda Sekretaris Redaksi: Mursidin Editor: Mariyadi, Nina Soraya, Ahmad Sofyan, Heriyanto, Agus Wahyuni, Asri Isnaini Karikatur: Dodi Fotografer: Dodoy, Ahmad Rosadi Reporter: Nabu, Niko, Atem, Talino, Arin, Ecca, Uuz Layouter/ Artistik: Ikur, Anwar

Edisi VII Tahun XXXII/ LPM Untan/ 2014

Alamat Redakasi: Jl. Daya Nasional. Komp. MKU Untan Pontianak 78124, HP: 0853 476 74 666, Blog: persmauntan.blogspot.com, Email: lpm_untan@ yahoo.com. Redaksi menerima tulisan berupa Opini, Essay, Laporan kegiatan kampus, Puisi, Cerpen, Pantun, Hasil Investigasi beserta Foto dan caption. Redaksi berhak mengedit isi tulisan tanpa merubah makna.

3


Daftar Isi Mimbar Pembaca..............................................6

Mimbar Sorotan Hal. 16

Mimbar Opini ...............................................7 Mimbar Utama .............................................10 Mimbar Sorotan .............................................16 Mimbar Lingkungan.......................................19 Mimbar Lapsus .............................................22 Mimbar Realita .............................................25 Mimbar Humaniora.......................................30 Mimbar Kampus .............................................32 Mimbar Selingan............................................38

Batu Pait Prasasti di Tanah Mahap Dibalik Ekplorasi Batu Bara Sengkalu

Hal. 18

Mimbar Lingkungan Hal. 19

Mimbar Tokoh .............................................46 Mimbar Budaya .............................................48 Mimbar Resensi .............................................51 Mimbar Puisi

.............................................55

Mimbar Cerpen .............................................57 Mimbar Ilmiah .............................................59 Mimbar Essai

.............................................64

Mimbar Religi .............................................66

Sungai Sekayam Tercemar Akibat Peti

Mimbar Lapsus Hal. 22

Mimbar Utama Hal. 10

BOBROKNYA Birokrasi Perbatasan Di Aruk

“PEMERINTAH JANGAN TUTUP MATA”

Menguak Ketertinggalan Desa Pedalaman

Mimbar Realita Hal. 25 Keluh Kesah Trans­­migran Kayong

Hal. 14

4

JALAN MENUJU BATAS RUSAK

Hal. 27

GAY Abad Milenium Edisi VII Tahun XXXII/ LPM Untan/ 2014


Editorial

WAJAH KUSAM INDONESIA DI TANAH BORNEO Oleh Mariyadi

K

embali dengan wajah hitam putih, kekurangan daya dan waktu, dan tersaji apa adanya. Entah berapa minggu, bulan, dan tahun, File ini membusuk di Folder kuning Microsoft Office 2007. Dan akhirnya para militansi yang tidak cukup hitungan jari, sedikit menghirup nafas lega, meskipun ribuan bahkan ratusan kewajiban yang masih belum kami selesaikan. Pada kesempatan langka ini, para reporter menyempatkan diri membahas bagian Muka Indonesia, kinerja pemerintah Daerah Perbatasan. Sekilas pandang memang bukan apa-apa. Namun, ini adalah sindiran kecil dari Tetangga.

Kritikan tidak nyata,namun sangat melukai masyarakat perbatasan hingga, keilegalan sulit dihapuskan. Malaysia selalu tampil Elegan, tersrtuktur, dan pastinya lihai mengatur Birokrasi perbatasannya. Pembangunan dan kesejahteraan yang terus menggeliat di sana, memutihkan mata, memasamkan muka, dan tidak jarang me-

narik perhatian. Faktanya, masyarakat perbatasan menghidap penyakit akut: penyakit ketergantungan ilegal. Ketergantungan pelayanan kesehatan, pembangunan, sembako dan banyak lagi. Dan itu telah mendarah daging hingga sulit diobati. Indonesia tampil apa adanya. tampil dengan muka kusam, berbelit, dan malas-malasan. Para birokrat perbatasan Indonesia kurang berkaca. Ribuan bahkan tidak dapat terhitung Warga Negara Indonesia (WNI) nyelonong keluar masuk tanpa sepengetahuan mereka. Tanpa ada kontrol serius. Tak khayal jika mereka terkatung-katung tanpa arah di luar perlindungan Indonesia.

Petugas Imigrasi, B e a Cukai, dan Karantina juga tidak kalah menyedihkan. Dengan anggota yang lebih dari cukup jika dihitung menggunakan jari Kanan, hanyalah sebatas lulus Sekolah Menengah Atas. Mereka telah kecolongan ribuan barang illegal, dan bahkan kecolongan manusia ilegal dari jalan AS maupun jalanjalan sang tikus dengan kedok kasian. Fasilitas megah dan besar tidak dipergunakan dengan baik, terbiar disarangi laba-laba. Pintu masuk tersibak, kosong tanpa penjaga. Para calok bergelimpangan, orang Malaysia bebas keluar masuk. Dan itulah kita, Indonesia. Cukup dengan muka kusam Indonesia, para reporter menyeling desa tertinggal di Kabupaten Sambas. Potret ketidak becusan pemerintah, merebak ke dalam

Edisi VII Tahun XXXII/ LPM Untan/ 2014

dunia pendikan, kesehatan maupun inftastruktur yang serba jauh dari cukup. Belum lagi infrastruktur satu diantara jalur Internasional yang semakin menjamah korban, bersambung janji dari mulut kemulut. Program berhamburan kemanamana, setelah dapat yang dimau, maka lepaslah sudah. Satu diantaranya yakni program pelestarian budaya yang menelan APBN itu, sama sekali tidak menjangkau sisi-sisi budaya yang semakin punah dan mau tidak mau mereka akan punah. Kami kembali mengurai daftar keboborokan Indonesia, Kalimantan Barat. Setelah puas di Sambas, reporter menyelam di Sungai Sekayam yang tercemar limbah Pertambangan Tanpa Ijin (Peti). Mercury yang sangat berbahaya. Kami mengamati prilaku aparat keamanan yang cengar-cengir, tak becus mengurus puluhan bahkan ratusan penambang yang terus kucing-kucingan. Setelah menyelam, barulah kami hinggap di Himpunan Mahasiswa yang telah kehilangan Independensinya. Tertunggangi dan terombang ambing oleh keputusan birokrat. Tidak lupa juga dengan Lembaga Penelitian Universitas Tanjungpura yang pelit publikasi. Dapat uang, nama, dan jabatan, hasilnya nol untuk perkembangan Universitasnya sendiri. Cukuplah editorial membabi buta dari kami. Sesungguhnya semua hal yang kami raih sudah semaksimal yang kami bisa. Tinggal pembaca yang berspekulasi dan tidak lupa kami menunggu saran dan kritisan membangun. Dari kegiatan selama bermingu-minggu, berbulan, dan bertahun ini, kami haturkan maaf atas keterlambatan kami. Dari ujung kaki sampai ujung rambut, kami adalah manusia yang tidak luput dari salah dan khilaf. Salam Mahasiswa, Salam Demokrasi.

5


Surat Pembaca PELAYANAN BIROKRASI FKIP UNTAN RUMIT DAN PERLU PERBAIKAN SIKAP PEGAWAI Terimakasih kepada Mimbar Untan telah memfasilitasi saya untuk menyampaikan sedikit keluh kesah. Saya Alumni FKIP Untan, ingin menyampaikan kepada Stake Holder sebuah kritik tentang pelayanan akademik. Proses birokrasi di Fkip terasa rumit ditambah sikap beberapa oknum yang sok dan terkadang kurang mendidik dengan menghardik. Ingin dihormati tapi sikap tak patut di hormati. Apalagi itu adalah kampus pendidikan seyogyanya lebih bersikap bersahabat bukan sikap gangster. Mana Pendidikan Karakternye? Terkadang tidak singkron antara perin­tah dosen dengan kemauan akademik meski sudah ada nota tertulis, sehingga membingungkan. Saran, untuk proses birokrasiharus di buat buku panduan yang jelas atau kalau FKIP tak punya uang cukup menggunakan mading khusus proses birokrasi. Kalau masih jelas proses birokrasi, saya akan jelaskan misalnya urusan LIRS, Urusan Persyaratan KKN/PPL, Urusan Seminar/ Sidang, Urusan Penyerahan Skripsi/ atau pengambilan Ijazah dan tetek bengek lainnya. Kalau tidak mampu melayani urusan birokrasi mahasiswa, kami-kami almuni bisa kok menggantikannya. Anggaplah mahasiswa itu seorang manusia yang memerlukan bantuan. Saling tolong Menolong itu baik. Kami tahu latar belakang pegawai di FKIP Untan Itu dan bagaimana bisa bekerja di situ. Hidup seperti Roda. Bisa jadi mahasiswa yang dilayani dan di ajari, lebih tinggi kedudukannya dari pada orang yang dibutuhkannya saat menjadi mahasiswa. Bisa jadi mahasiswa itu nanti menjadi seorang Gubernur, atau bahkan Presiden, kalau Bupati sudah ada dari FKIP Untan seperti Bg Gidot Bupati Bengkayang. Semoga ini terbaca oleh mereka dan proses pelayanan birokrasi di FKIP semakin Baik. Aaamin.

Salam Irwan Kurniawan, S.Pd FKIP P. Ekonomi 2007

FASILITAS FKIP TIDAK MEMADAI Terimakasih kepada Mimbar Untan yang telah bersedia memuat tulisan saya. Saya mahasiswa FKIP, menurut saya, sekarang FKIP sudah ada kemajuan yaitu dengan bertambahnya gedung baru. Namun lokal kelas FKIP masih kurang, Sehingga masih ada prodi atau mahasiswa FKIP yang kuliah di Untannet atau di MKU. Kemudian fasilitas di setiap kelas masih ada yang rusak. Seperti kipas angin dan infocus. Proses belajar menjadi agak terganggu. Kebersihan di FKIP juga belum terjaga dan tertata rapi. Kendala lain yaitu minimnya air bersih. Terkadang WC dan mushola tidak ada air. Yosi Yuhastami mahasiswa FKIP 2011

RUANGANKU SEMPIT, DOSENKU MANA? Sebelumnya saya ucapkan terima kasih kepada mimbar untan yang telah menyediakan rubrik surat pembaca untuk para mahasiswa yang ingin mengutarakan opininya mengenai masalah-masalah yang dialami di dalam dunia perkuliahan di Universitas Tanjungpura. Saya mahasiswa fisip yang sudah berada di semester delapan cukup merasa prihatin sekali dengan kondisi universitas tanjungpura saat ini. Begitu banyak hal-hal yang cukup memprihatinkan di sistem civitas akademika untan, salah satunya mengenai fasilitas dan tenaga pengajar di masing-masing fakultas, misalnya di fisip, karena saya mahasiswa fisip jadi sedikit banyak mengetahui keadaan disana. Hal baru yang cukup memprihatinkan saat ini ialah mengenai tenaga pengajar yang ada di Fisip yang sangat minim sekali. Hal ini kami rasakan pada saat kuliah, beberapa dosen mengatakan kepada kami mereka sangat kewalahan mengatur jadwal mengajar yang begitu banyak, sedangkan dosennya kurang. Ada seorang dosen yang membuat kesepakatan dengan kami untuk mengajar dua minggu sekali disebabkan memiliki jadawal mengajar yang bersamaan dan bentrok pada kelasa dan prodi yang berbeda. Kurangnya tenaga pengajar atau dosen bukan permasalahan satu-satunya, fasilitas seperti ruangan kelas juga menjadi hambatan proses belajar, bagaimana tidak, dengan penambahan prodi baru otomatis akan memerlukan ruangan yang lebih juga, namun kenyataannya tidak, ruang kelas tidak pernah bertambah, alhasil satu kelas di isi oleh lebih dari enam puluh mahasiswa yang secara otomatis tidak akan membuat proses belajar berlangsung efektif, belum lagi perubahan waktu belajar yang awalnya masuk pagi menjadi siang hingga sore semakin mengurangi semangat belajar mahasiswa serta ruangan yang panas, dan jumlah kursi yang kurang semakin membuat permasalahan menjadi komplit. Saya mewakili mahasiswa fisip sangat mengharapkan kesadaran berbagai pihak untuk lebih mempertimbangkan kualitas pendidikan perguruan tinggi bukan kuantitasnya. Setidaknya jika ada program pertambahan prodi setiap tahunnya maka harus diimbangi dengan fasilitas yang layak. Jangan sampai hanya untuk mengejar nama baik sepihak mahasiswa menjadi korban tanpa menikmati kualitas yang baik. Mahasiswa Fisip 2010

6

Edisi VII Tahun XXXII/ LPM Untan/ 2014


BLACK

Mimbar Opini

UNTAN EDUCATION Oleh: Ireng Maulana

P

endidikan telah menjauhkan para mahasiswa terhadap realitas sosialnya, mahasiswa menjadi belajar untuk hanya memikirkan dirinya sendiri, sebagian kecil berdiri tunggal diatas kemewahan intelektual yang telah dimiliki dan sebagian yang lain sangat menikmati status sebagai pelajar tingkat tinggi – asal keren. Namun Ketidakberdayaan siswa untuk mentransformasikan kemewahan intelektual yang ada pada diri mereka kepada realitas sosialnya adalah sampah. Status tanpa kerja nyata. Apakah menjadi penting untuk terus berharap kepada ratusan bahkan ribuan mahasiswa dengan standarisasi indek prestasi kumulatif dan pintar, padahal mereka berkemampuan total hanya kepada kertas – kertas berisi pertanyaan. Mahasiswa menjadi belajar bahwa tujuan akhir dari proses pembelajaran adalah angka - angka jadi yang telah dirancang . Tanpa dibekali pemahaman yang menyeluruh terhadap arti sebuah proses belajar maka orientasi terhadap standar nilai tertentu adalah sesuatu yang tidak terbantahkan dan memang pantas untuk diperebutkan karena kegagalan untuk meraihnya adalah aib dan kebodohan. Nilai dijadikan sebagai sebuah bentuk penghargaan tertinggi sehingga diyakini menjadi perwakilan simbolik untuk memisahakan secara tegas antara pintar dan bodoh. Kompetisi untuk standar nilai tertentu cenderung membuat mahasiswa pintar menjadi sombong dan mahasiswa yang kurang beruntung menjadi tidak percaya diri. Kampus bukan tempat merambah ilmu pengetahuan dan kebijaksaan namun hanya menara gading. Mahasiswa berubah menjadi elite baru tanpa kenal realitas sosialnya. Ketidakberpihakan penulis bahwa sistem telah menjadikan nilai berhala dan bukan berdasarkan kepada sebuah proses pembelajaran yang

utuh dan menyeluruh yaitu pemahaman tentang tranforamsi pendidikan ditafsirkan sebagai ruang yang menyenangkan dan mahasiswa tidak takut untuk belajar, sehingga mereka, mahasiswa belajar tentang “Mencari dan Menemukan” dan belajar adalah awal untuk tumbuh dan berkembangnya pola pikir dan kelakukan, sehingga walaubagaimanapun nilai merupakan konsekuensi logis terhadap sebuah kemerdekaan belajar, mahasiswa belajar tentang bagaimana menghargai kegagalan, mereka belajar untuk memperbaiki kesalahan dan nilai bukan pada porsi yang tepat untuk menghakimi sebuah proses . Ketidak setujuan penulis juga mengarah kepada hegemoni nilai yang telah membuat mahasiswa terus menerus tertindas dalam proses belajar nya sendiri sehingga akan memunculkan Ketakutan kepada terindikasi ‘bodoh dan menjadikan semua orang berambisi dan tanpa sadar mereka telah mengekploitasi diri mereka sendiri sebagai bagian dari ambisi tersebut dan sekaligus mengekploitasi pendidikan sebagai sebuah peluang penindasan. Sistem pendidikan nasional cenderung memberikan iming – iming tidak realistis. Semua orang harus masuk universitas. Kalau tidak masuk Universitas merasa gagal. Mereka mencari gelar tetapi tidak memperkaya kemampuan untuk menyelesaikan masalah. Ilmu tidak berbanding lurus dengan penyelesaian banyak masalah yang dihadapi masyarakat secara luas. Orang – orang desa menjual sawah supaya anaknya bisa masuk Universitas. Setelah sawahnya habis, ternyata pekerjaan tidak ada, berapa anak kita yang bisa menjadi pemecah masalah? (Sofyan A djalil , Kompas/1/4/2006 ) . Mahasiswa sengaja dibawa lari dalam ciptaan putaran ketergantungan bahwa kampus dan belajar akan berhenti kepada pencapaian terhadap status pekerjaaan yang layak dan nilai ekonomis dalam bentuk gaji yang tinggi. Mahasiswa tidak lagi berpikir untuk dan bagi lingkungannya. Mereka tidak lagi peka pada keseharian kehidupan Rakyat. Mahasiswa hampir kehilangan rasa untuk menghadapi ke-

Edisi VII Tahun XXXII/ LPM Untan/ 2014

benaran hidup yang ada disekelilingnya, hampir tidak ada yang bisa diharapakan! Mahasiswa tidak lagi peduli, mereka kehilangan kecerdasan untuk menetukan sikap. Bukankah kampus dan belajar sejatinya untuk mendekatkan orang pada kehidupannya, memahami peranan terkecilnya, mahasiswa tidak belajar secara utuh untuk membangun karakter dirinya, tidak belajar memahami makna sebenarnya tentang menghargai, tidak belajar untuk mengeksperiskan sesuatu dengan tanggungjawab, mereka belum belajar bahwa aktualisasi diri bisa menjadi liar dan tidak berkeadilan apabila tidak didasari kepada pe nghormatan kepada orang lain. Kampus seolah – olah seperti kerangkeng monyet. Monyet didalam kerangkeng setiap hari dikondisikan kepada rutinitas yang sama, monyet diajarkan untuk tampil dan bertingkah cerdas pada saat banyak orang yang datang untuk melihat. Monyet hanya berinitiatif terbatas kepada apa yang di perintahkan tuannya, atau hanya sekedar menjalani rutinitas biologis seperti makan, minum atau buang air. Kampus seharusnya membantu mahasiswa untuk mempelajari dan merambah pengetahuan. Proses belajar yang baik seharusnya mengajarkan apa – apa yang bisa ditransformasikan sebagai kontribusi terkecil pada realitas sosial para mahasiswa, namun kenyataan terasa pahit ketika kita harus menyaksikan pendidikan menjadi rusak karena proses belajar berhenti pada pengetahuan yang elitis berkesenjangan; maka pengetahuan itu hanya menjadi symbol bagi mahasiswanya. Pelurusan salah tafsir ini lebih mendiskusikan sebuah proses pendidikan yang mengedepankan kultur pendidikan pembebasan sehingga mahasiswa tidak diberi janji – janji yang tidak nyata , mahasiswa tidak perlu dibebani dengan cara belajar yang tidak demokratis. ( * pemerhati UNTAN )

7


Mimbar Opini

MATINYA

PERAN ORGANISASI MAHASISWA

DALAM DUNIA KAMPUS

M

ahasiswa sering disebut sebagai agen perubahan, tapi sekarang mahasiwa pada umumnya adalah agen yang dirubah. Jadi apa yang terjadi pada mahasiswa sekarang khususnya di Kalimantan Barat. Hanya segelintir mahasiswa di tanah borneo bagian barat ini yang mampu menjadi agen perubahan. Paradigma yang ditanamkan didalam benak mahasiswa pada saat ini adalah mahasiswa yang menjadi aktivis merupakan mahasiswa yang berkonotasi negative. Bagaimana tidak, tim pentransfer ilmu di perguruan tinggi menganggap aktivis mahasiswa sebagai nyamuk di antara kerumunan dan terus menyebarkan dalam setiap perkuliahan bahwa menjadi aktivis mahasiswa hanya akan menghambat prestasi (Orientasi nilai) dan merupakan pemberontak yang tak tau budi.

Bassar Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa FISIP Untan 2012-2013

8

Pada kenyataannya, mahasiswa yang menjadi aktivis, baik aktivis intern dan ekstern kampus adalah mahasiswa yang paling banyak menciptakan perubahan dan mendapatkan kesuksesan. Dalam Program Talk Show off air “Mata Najwa” menghadirkan Ketua PMI Pusat Jusuf Kalla, Ketua Mahkamah Konstitusi Mahfud MD, Menteri BUMN Dahlan Iskan, dan Ketua KPK Abraham, mereka menyatakan bahwa dulunya mereka adalah aktivis mahasiswa sebelum menjadi seperti sekarang. Di dalam era kurikulum berbasis kompetensi (KBK) ini, memang membuat tanggungjawab aktivis mahasiswa semakin berat. Dimana pada KBK mahasiswa dituntut lebih aktif dari sang pentransfer ilmu, dengan metode yang tidak berubah yaitu pemeberian tugas, malah lebih banyak tugas. Mereka para, mahasiswa akativis tetap menerima KBK, karena memang tujuannya kuliah untuk belajar dan mendapatkan pengalaman. Masalah cepat atau telatnya menjadi sarjana bukan sebuah

Edisi VII Tahun XXXII/ LPM Untan/ 2014


Mimbar Opini

pilihan. Jadi sarjana bingung mencari pekerjaan, keadaan ini disebabkan oleh tidak tersedianya lapangan pekerjaan dan pembelajaran diperkuliahan sebelumnya sebatas TEORI saja. Jarang sekali Pentransfer ilmu memberikan contoh yang nyata. Makalah, tugas mahasiswa saja berakhir di pembakaran bahkan skripsi juga ada, seperti tidak pernah kuliah saja dan pantas juga mahasiswa sering plagiat. Bagaimana mau menciptakan sering plagiat. Bagaimana mau menciptakan kompetensi, jika tidak menghargai sebuah karya? Coba makalah yang terbaik bisa diseminarkan, atau diterbitkan ke blog saja. Nah bagaimana dengan organisasi mahasiswa? Akibat tidak pahamnya peran dan fungsi organisasi, mahasiswa di Kalimantan Barat ini, terjebak dan terkungkung dalam permainan politik kampus. Beberapa dekade ini Orma hanya berperan sebagai organisasi pengkaderan yang tidak terstruktur dan tidak mempunyai tujuan atau indikator yang jelas. Pada saat pengkaderan tidak pernah memberitahukan apa itu AD/ART, maupun Hubungan Orma dan dan pihak lain serta fungsinya seperti apa dan bagaimana prosesnya? Bahkan pengurusnya saja tidak tahu struktur organisasi, fungsi organisasi, bahkan tidak pernah membaca kembali AD/ART. Tidak tahu bagaimana hubungan antara Orma dan Pihak manajemen Kampus serta menjaga hubungannya. Tentunya Organisasi Mahasiswa dibentuk bukan untuk melawan Kampus tetapi sebagai tempat belajar berorganisasi, menimba pengetahuan, pengalaman dan sebagai Advokasi hakhak mahasiswa pastinya. Akibatnya Ormawa sekarang di bawah perintah manajemen kampus tidak lagi berkoordinasi dengan cara musyawarah, semua diputuskan secara sepihak dan malah mengkomando langsung Ormawa. Dan hebatnya mahasiswa yang beroganisasi hanya diam dengan keadaan tersebut (Jelasnya mahasiswa sekarang tidak mengerti). Di mana nilai demokrasi dan budaya organisasi ? Malah menciptakan aktivis yang cenderung cari aman, cari muka, dan cari keuntungan. Ormawa seperti Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) baik tingkat Fakultas maupun Universitas seharusnya

peka tehadap segala informasi dan fakta di lapangan. Jelas sekali bahwa fungsi BEM adalah menjamin hak-hak mahasiswa sepenuhnya dengan menjadi fasilitator dalam setiap masalah, baik masalah mahasiswa dengan mahasiswa (Horizontal), Mahasiswa dengan Orma ( Vertikal), Orma dengan Orma (Horizontal) dan Mahasiswa dengan Pihak Manajemen Kampus (Vertikal). BEM tidak berhak ikut campur dalam urusan kegiatan dan peraturan di dalam Orma seperti Himpunan Mahasiswa (Hima) dan Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) di karenakan hubungannya tidaklah mengusai atau mengkomando tetapi sebatas Koordinasi (Kerja Sama dan Fasilitator). Faktanya banyak BEM fakultas, hanya diam saja melihat pelanggaran akan hak berorganisasi dan hak-hak mahasiswa. Bungkam dan takut menjadi fasilitator apalagi dalam menyuarakan kebenaran, atau mungkin tidak peduli. Meski ada ancaman drop out, bukan alasan untuk takut, karena sebagai orang beragama harus yakin yang mengatur kehidupan adalah Tuhan Yang Maha Esa, jika kita benar, maka segalanya akan lancar dan yang khilaf pasti tersadarkan. Pihak kampus terlalu pusing memikirkan citra kampus yang akan tercorang oleh tindakan mahasiswanya sehingga lupa akan kaedah cara penyelesaian masalah dengan benar (Musyawarah Mufakat). Mengkrecoki mahasiswa dengan kebijakan sepihak hanya akan menambah buruk citra kampus itu sendiri. Maka akan terlihat bahwa pihak manajemen hanya mementingkan citra kampus dari pada mendidik mahasiswanya, maka tidak layak disebut sebagai pendidik dan hanya layak disebut Pentransfer Ilmu. Ancaman, Cacian, Makian tidak segan-segan di layangkan kepada mahasiswa yang di anggap ekstrimis. Mahasiswa akan tetap hormat jika diperlakukan secara bijaksana dan akan menerima segala keputusan serta konsekuensi jika di dalam penyelesaian masalah dengan memandang mahasiswa itu perlu perhatian dan kasih sayang. Citra Kampus yang Fantastik dan bermutu tidak hanya keluar dan di buktikan dari mulut orang-orang penting seperti Mentri Pendidikan atau bahkan Presiden Amerika sekalipun. Jus-

Edisi VII Tahun XXXII/ LPM Untan/ 2014

tru Citra kampus sejatinya berada dihati mahasiswanya yang dikeluarkan melalui ucapan (Mouth To Mouth) yang kemudian menjadi sebuah media pencitraan ke semua orang disekitarnya sampai ia mati. Anggapan Citra kampus itu baik oleh orang-orang penting belum tentu sama dengan anggapan mahasiswa dikampusnya, karena orang-orang tersebut tidak pernah merasakan kehidupan di dalamnya dan menjadi korban penipuan yang dihalalkan. Tujuan kampus itu ada adalah untuk masyarakat menjadi lebih baik bukan untuk pencitraan dan bukan untuk kepentingan lain. “Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai sejarah” kata Ir. Soekarno. Setiap sarjana atau orang pernah mengenyam pendidikan tinggi akan mengenang sejarah saat berada di bangku kuliah terlepas itu kenangan baik atau kenangan buruk. Seperti pepatah lama, “manusia mati meninggalkan nama”. Selama memori manusia mengingat yang buruk tentang seseorang maka selama itu pula doa keburukan, cacian, makian akan berlaku kepada orang tersebut. Organisasi tidak pernah lepas dari sendi kehidupan karena organisasi itu berupa manusia itu sendiri (Biologi: Organisasi sel-sel yang mempunyai fungsi dan peran masing-masing), bangsa, suku, keluarga (Sosiologi: Kumpulan individu yang bekerjasama mencapai suatu tujuan), pekerjaan (Ekonomi: Suatu badan atau wadah yang terdiri dari beberapa manusia untuk mencapai tujuan bersama (profit oriented), Negara (Organisasi yang memiliki wilayah dan masyarakat dengan tujuan kesejahteraan) dan banyak lagi. Jadi pentingnya belajar organisasi itu wajib sebagai bekal untuk kehidupan dan mencapai kebutuhan serta keinginan. Belajarlah organisasi secara tuntas baik dari segi sejarah, fungsi/peran, manfaat, proses/pengelolaan, dan tujuannya. Karena setiap segi itu masing-masing memiliki ilmu tersendiri serta bekal untuk kehidupan. Berharap agar terus membudayakan musyawarah untuk mufakat dan pengambilan keputusan serta penyelesaian masalah dengan bijaksana sebagai bangsa yang berbudaya dan bukan masyarakat Jahilliyah ! Aaamiin.

9


Mimbar Utama

BOBROKNYA Birokrasi Perbatasan Di Aruk

“PEMERINTAH JANGAN TUTUP MATA”

Ilustrasi: Miun Dodi

BORDER ARUK YANG TERLE­ TAK DI KECAMATAN SAJI­ NGAN, KABUPATEN SAMBAS TERGOLONG MASIH SA­NGAT MUDA SETELAH PERESMI­ ANNYA PADA TAHUN 2011 KEMARIN. MUKA NEGARA IN­ DONESIA INI MASIH SANGAT MIRIS KEADAANNYA, KANTOR SEPI, PEGAWAI SEDIKIT DAN KEADAAN FISIK BORDER TAM­ PAK TAK TERAWAT. HAL TERSE­ BUT JELAS TERLIHAT BERBEDA KETIKA KITA MELIHAT MUKA NEGARA TETANGGA Oleh Uuz

10

Dibutuhkan sekitar 2 jam perjalanan dari desa Galing menuju border Aruk. Untuk sampai ke daerah ini butuh tingkat kehati-hatian yang tinggi. Jalan terjal yang tinggi penuh bebatuan harus kita lewati, belum lagi turunan dengan tingkat kecuraman tinggi. Sekeliling pemandangan yang kita lewati cukup bagus, karena daerah ini merupakan dataran tinggi pegunungan. Tapi bukan pohon rindang yang tinggi kita jumpai, yakni tanaman sawit yang baru ditanam sampai sudah dewasa . Aktivitas di border ini masih sepi hanya saja, tampak para pengojek yang mencoba mengais nafkah dari para pengunjung yang datang. Pegawainya juga masih minim. Belum lagi kondisi border yang kurang terawat. Kondisi tersebut berbeda dengan Malay­sia. Tatanan lingkungan yang apik, petugas yang non-stop

berjaga di pos, dan keadaan bordernya yang terawat. Di border Aruk terdapat beberapa instansi yakni Unit Pelaksana Teknis (UPT) Pos Pemeriksaan Lintas Batas (PPLB) Aruk, bea cukai, imigrasi, dan karantina. Kesemua instansi tersebut mempunyai tugas dan wewenang tersendiri. Instansi lainnya adalah Pemerintah Kecamatan Sajingan. Ketika tim reporter mengunjungi kantor camat Sajingan yang berada di jalan raya Sajingan pada pukul 13.12 WIB, ruangan kantor tampak kosong tidak ada seorang pun yang menyambut kedatangan kami, lalu kami pun mengunjungi rumah dinas camat Sajingan yang terletak disampingnya. Rumah yang tidak begitu besar dan tata ruang yang cukup sederhana serta tampak dua orang yang sedang mengajukan perubahan nama

Edisi VII Tahun XXXII/ LPM Untan/ 2014


Mimbar Utama

Pintu keluar-masuk perbatasan Indonesia-Malaysia di Kecamatan Sajingan, Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat.

pada kartu keluarga kepada camat atau yang lebih dikenal dengan nama Suhut Firmansyah, timbul pertanyaan dibenak kami apakah ini bentuk pelayanan publik di daerah perbatasan? Kemana perginya pegawai pemerintah yang seharusnya memberi pelayanan kepada publik atau hanya kepala kecamatan yang melayani seluruh masyarakat disini?, akhirnya semua pertanyaan itu dijawab ringan oleh camat, “ Pegawai lain sedang makan siang “ ungkapnya dengan ramah. Hal ini berkaitan erat dengan inefisiensi waktu yang dibutuhkan, pekerjaan-pekerjaan teknis yang dilaksanakan secara manual dan berulang-ulang, serta rendahnya kapasitas dan kapabilitas pegawai diberbagai unit kerja. Hal tersebut disebabkan birokrasi adalah pelaksana kebijakan dan prosedur yang kaku, maka efisiensi seringkali sulit untuk dilaksanakan, yang terjadi adalah pemborosan waktu, tenaga dan sumber daya. Belum lagi soal kualitas personel dan sumber daya birokrasi pada umumnya. Beliau juga membeberkan beberapa informasi yang berkaitan dengan perbatasan seperti pelayanan di border, tidak adanya koordinasi UPT PPLB, informasi mengenai trayek 2014 antara Kuching-Singkawang dan kurangnya informasi antar instansi di perbatasan. Mengenai pelayanan diborder beliau mengungkapkan beberapa hal yang perlu digaris bawahi yang pertama adalah catatan kewenangan yang sah antara kecamatan dan pihak border untuk bekerja sama mengelola perbatasan, yang kedua penanganan border yang belum jelas dan yang ketiga pola manajemen UPT PPLB

Aruk yang tak terarah. Menurut Eddy Suratman dalam bukunya yang berjudul “Pengembangan Kawasan Perbatasan”. Selama ini kawasan perbatasan belum mendapat perhatian dari pemerintah. Meskipun arah kebijakan pengembangan kawasan perbatasan sudah ditetapkan, yaitu menjadikan kawasan perbatasan sebagai beranda depan NKRI, dengan tujuan untuk meningkatkan taraf hidup dan kesejahteraan masyarakat, meningkatkan kapasitas pengelolaan potensi kawasan perbatasan dan memantapkan ketertiban adan keamanan kawasan perbatasan. Beliau juga menambahkan penanganan masalah dikawasan perbatasan membutuhkan landasan hukum yang tegas, komprehensif dan mampu mengikat semua pihak. Salah satu landasan hukum yang paling mendasar adalah kejelasan wewenang dan jalur koordinasi dalam pengelolaan kawasan perbatasan. Hingga saat ini belum ada kejelasan soal siapa yang memiliki kewenangan mengelola perbatasan, apakah pemerintah pusat, provinsi, atau kabupaten. KECAMATAN DAN BORDER? Berlakukannya Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2008 Tentang Pemerintahan Daerah, maka daerah pun diberi kewenangan dalam menjalankan otonomi seluasnya-luasnya,kecuali urusan yang ditentukan sebagai urusan pemerintah pusat, dalam Pasal 18A Ayat (2) menyatakan bahwa “ hubungan keuangan, pelayanan umum, pemanfatan sum-

Edisi VII Tahun XXXII/ LPM Untan/ 2014

ber daya alam dan sumber daya lainnya antara pemerintah pusat dan pemerintahan daerah diatur dan dilaksanakan secara adil dan selaras berdasarkan undang undang”. Dalam hal ini jelas bawa peran pemerintah daerah itu sangat luas mencakup beberapa aspek kehidupan. Termasuklah pelayanan umum diperbatasan, kecamatan adalah salah satu bagian dari pemerintah daerah yang memiliki wewenang di daerahnya masing-masing dan seharusnya di perbatasan pihak kecamatan juga di ikut sertakan dalam pelayanan umum diperbatasan. “ Camat jangan hanya dijadikan label kepala daerah, itu terbukti dengan koordinasi dari pihak border yang terbatas kepada kami “, ungkap Suhut Firmansyah. Beliau juga menambahkan bahwa kerja sama antar lembaga itu penting guna mencapai tujuan yang maksimal dalam pelayanan di perbatasan. Suhut juga menegaskan bahwa desentralisasi dan otonomi daerah sesungguhnya telah memberikan sejumlah kewenangan dari pemerintah pusat kepada pemerintah daerah. Berbagai kewenangan selama ini dilakukan pusat telah diserahkan ke pemerintah daeeah, seiring dengan diberlakukannya Undangundang Nomor 32 tahun 2004 tentang perimbangan keuangan pusat dan daerah. Namun dalam pembangunan kawasan perbatasan kewenangan pelaksanaannya masih berada pada pemerintah pusat, dengan alasan untuk mengintegrasikan berbagai kegiatan social ekonomi yang bersifat lintas administrasi wilayah pemerintahan sehingga diperlukan koordinasi dari institusi secara hirarkis lebih tinggi.

11


Mimbar Utama PENANGANAN BORDER YANG BELUM JELAS

12

Rumput tetangga lebih hijau dari rumput kita, mungkin pribahasa itu lebih cocok jika kita membandingkan daerah ditapal batas, entah itu dari segi financial maupun fundamental. Perbedaan bentuk fisik antara border Aruk (Indonesia) dan border Malaysia terlihat sangat jauh jika ditinjau dari pandangan mata. Dari segi taman dan bentuk bangunan yang tersusun apik serta pengamanan yang extra dari border Malaysia sangat jauh berbeda dengan situasi border Aruk. Bentuk bangunan yang nampak tak terawat karna banyak ruangan yang kosong belum lagi minimnya staf-staf yang bertugas disana. Mengenai masalah birokrasi di border aruk, Suhut Firmansyah juga membeberkan informasi mengenai kinerja petugas karena menurut beliau border itu harus diformat sama dengan Malaysia karena manajemennya jelas satu kepemimpinan bukan mesti masing-masing wewenang harus punya banyak manajemen meskipun berbeda tugas karena sudah jelas mempunyai tugas yang berbeda. Dan hal itu terjadi terus dalam melayani masyarakat yang keluar masuk antara 2 negara, tidak kejelasan ini membuktikan bahwa begitu buruknya birokrasi Negara kita, “ Harusnya sudah diantisipasi dan transparansinya, tapi pada prakteknya ketiga-tiganya (bea cukai, imgrasi dan karantina) masih jalan sendiri dan kepala UPT nya pun belum jelas sampai sekarang “, ungkap beliau. Dampak dari hal ini adalah maraknya peredaran barang yang tak terkena bea cukai masuk pasar local yang memang dipasok dari Malaysia, tak hanya konsumen dari perbatasan yang menggunakan barang illegal tapi sampai kepada daerah kota Pontianak. Kepala bidang hubungan masyarakat Polda Kalbar AKBP Mukson Munandar mengungkapkan, saat ini Polda Kalbar terus meningkatan operasi rutin dalam penindakan dan penangkapan barang illegal yang rentan masuk ke Kalbar dari Negara tetangga. Dalam waktu sepuluh hari, polisi berhasil mengungkapkan delapan kasus barang illegal. Adapun pengungkapan kasus-kasus barang illegal diantaranya, penangkapan 50 karung gula illegal, pengungkapan kasus karantina hewan, ikan dan tumbuhan dengan barang bukti ikan tongkol beku asal Malaysia sebanyak tujuh ton dan satu unit kendaraan truk bernopol B 9669 MK, yang ditangkap di jalan Trans Kalimantan Ambawang, Kubu raya. (sumber : Pontianak Post, 5 oktober 2013). Ini jelas

Edisi VII Tahun XXXII/ LPM Untan/ 2014


Mimbar Utama menimbulkan pertanyaan dibenak kita, bagaimana barang haram ini bisa sampai di Kota Pontianak ?, menurut Mukson barang yang sudah disita pihak Polda Pontianak semuanya tidak dilengkapi dokumen resmi dari Balai Karantina. Apakah begitu mudahnya barang illegal dari Malaysia masuk begitu saja tanpa surat menyurat yang lengkap bisa tiba dengan barang yang tidak begitu sedikit dan apakah hal ini harus dibiarkan menjadi sebuah kebiasaan untuk terus mengkonsumsi barang haram? POLA MANAJEMEN UPT PPLB ARUK YANG TAK TERARAH Kategori keluhan ini berkaitan dengan karakter eksternal birokrasi, yaitu karakter birokrasi dalam menghadapi pihak luar dirinya, terutama dengan pihak publik sebagai klien utama dari pelayanan jasa yang diberikannya. Secara umum, muncul keluhan bahwa birokrasi itu bersifat bertele-tele, lamban, berbelitbelit dan sebagainya. Birokrasi akan menajadi demikian manakala para aparatur birokrasi lebih berorientasi pada aturan-aturan atau prosedur dalam menjalankan tugasnya ketimbang pada tujuan pokok dari tugasnya. Dalam kaitannya dengan hal ini, seorang Laurence J. Peter menyatakan bahwa: “Dalam suatu hiraki, setiap pegawai cendrung untuk naik ketingkat inkompentensinya.” Dengan kata lain pada suatu saat, setiap jabatan diduduki oleh pegawai yang tidak kompenten menjalankan tugasnya. Manajemen yang rendah dan minim­ nya tingkat SDM pegawai di perbatasan yang pada umumnya tamat SMA menjadi faktor utamanya. Joko merupakan kepala

Pemeriksaan: Petugas Imigrasi sedang memeriksa barang-barang milik warga negara Indonesia (WNI) yang akan masuk ke Indonesia

pos bea cukai yang berada diborder Aruk adalah pegawai yang pendidikan terakhirnya adalah SMA dan begitu juga dengan rekan-rekan kerjanya. Saat tim reporter ingin menemui kepala UPT PPLB Aruk, beliau sedang tidak ada ditempat. Akhirnya kami pun menjumpai kepala Pos bea cukai Joko yang sedang bertugas memeriksa barang dari WNI yang hendak pulang ke Indonesia. Kami juga menemukan hal yang agak kurang beres disini, WNI tersebut ketahuan membawa 12 bungkus rokok dari dalam tasnya, petugas bea cukai tersebut mengambil 7 bungkus dan memberikan 5 bungkus kepada WNI tadi. Saat ditanya

mengenai perihal tadi joko mengaku hal tersebut adalah bentuk dari sosialisai kepada masyarakat mengenai keamanan dan peraturan yang ada di border perbatasan. “ ini bentuk sosialisasi kepada masyarakat setempat, agar masyarakat mengerti tentang peraturan di border, karena sekarang sudah tak sebebas dulu (sebelum ada border) “, ungkap Joko. Sekarang pemerintah pusat sedang membenah diri perihal birokrasi yang ada. Salah satunya adalah Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 81 Tahun 2010 Tentang Grand Design Reformasi Birokrasi 2010 – 2025. Pasal 2 Grand Design Reformasi Birokrasi 20102025 sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1 menjadi acuan bagi Kementerian/Lembaga/Pemerintah Daerah dalam melakukan reformasi birokrasi dalam rangka mewujudkan tata kelola pemerintahan yang baik. Semoga ini menjadikan birokrasi di Indonesia lebih baik atau hal ini hanya menjadi tumpukan kertas diatas meja pejabat yang tak tahu kapan tereali­ sasikan.

Pendataan: Petugas Imigrasi sedang mendata WNI yang baru saja pulang dari Malaysia.

Edisi VII Tahun XXXII/ LPM Untan/ 2014

13


JALAN MENUJU

BATAS Kondisi infrastruktur jalan di perbatasan Kalimantan Barat (Kalbar), sebagian besar masih berupa tanah dengan kondisi yang rusak berat. Tidak hayal dengan kondisi infrastruktur jalan yang buruk banyak menimbulkan hambatan dan kerugian bagi masyarakat yang menggunakan akses jalan tersebut. Oleh Gusti Eka Firmanda

14

Foto: Mariyadi/Miun

Rusak D

oni (32) satu di antara pengendara yang melintasi Jl. Nasional Biawak (Malaysia)–Sambas (Indonesia), Kecamatan Sajingan Besar, Kabupaten Sambas, Kalbar, mengeluhkan kondisi jalan tanah yang menanjak yang licin, Selasa (24/9). Pasalnya, jalan tersebut tidak bisa dilewati, mobil yang dikendarainya untuk membawa karet, tidak mampu menanjak. “Mobil saya tidak bisa naik, karena pas tanjakan mobil saya habis kampas kopleng dan mobilnya pun termundur,” keluh Doni yang berprofesi sebagai supir ini. Doni mengaku hendak pergi ke Sambas untuk menjual karet yang dibeli dari warga sekitar rumahnya di Sajingan.

Dia mengatakan, buruknya akses jalan Sajingan ini memberi dampak negatif. “Kadang-kadang hasil kita habis ke mobil saja. Ini yang kedua kalinya saya begini, terpaksa kita harus tidur di jalan kalau situasi seperti ini. Apalagi kalau musim hujan tiba, kita harus tunggu panas baru bisa pergi,” jelasnya. Kondisi tersebut tidak jauh berbeda dengan yang dialami Rian. Bedanya, mobil truk Rian amblas tepatnya di desa Sagang, Kecamatan Galing. “Mobil saya tiba-tiba amblas karena banyak muatannya,” ungkapnya kepada Mimbar Untan. Menurut Rian, mobil yang dikendarainya ini bermuatan semen yang dibawa dari Sambas menuju Sajingan. Namun, ketika melewati desa Sagang ti-

Edisi VII Tahun XXXII/ LPM Untan/ 2014


Mimbar Utama meng­hubungkan Sajingan sampai ke Sebangkau (bagian dari Kabupaten Sambas) merupakan jalan negara. “Dari Sebangkau terus ke tebas, abis itu ke Sambas belok ke Kukulingkar terus sampai ke simpang Galing terus ke Aruk (bagian dari kec. Sajingan) nah itu jalan nasional,” cerita Rizal saat ditemui di kantornya, Jalan Raya Subah, Sambas. Rizal juga menambahkan, jalan tersebut bukan termasuk pekerjaan dari PU Sambas, melainkan menjadi tanggung jawab negara. Seharusnya negara yang wajib bertanggung jawab terhadap jalan yang menghubungkan Sajingan sampai ke Sambas tersebut. Suhut Firmansyah, Camat Kecamatan Sajingan angkat bicara. Dia mengatakan ada wacana akan dibangun trayek Singkawang-Kuching. Berdasarkan kese­ Mogok: Mobil warga yang sedang melintang di jalan karena tidak mampu mendaki jalan yang tinggi.

ba-tiba mobilnya amblas, karena tekstur jalan di desa ini masih berupa tanah dan tidak mungkin mampu menahan beban muatan mobilnya. Tidak ada pilihan lain selain melintasi jalan ini, jalan ini satusatu yang bisa mengubungkan ke Kecamatan Sajingan. Kondisi permukaan jalan tanah yang tidak rata, berlubang, dan menanjak tersebut, diperparah jika musim kemarau ataupun musim hujan tiba. Pada musim kemarau, jalan berdebu dan jika musim hujan, jalan akan menjadi licin dan becek sehingga menghambat transportasi masyarakat, mengingat jalan ini juga menghubungkan dua kecamatan lainnya yaitu bagian dari Kecamatan Teluk Keram­at dan Kecamatan Galing. Rizal, staf Bina Marga Pekerja Umum Sambas mengungkapkan jalan yang Mobil yang melintas di jalan tanah yang terjal.

Beberapa warga kesulitan melewati jalan di Dusun Sagang, Desa Tri Kembang, Kec. Galing, Kab. Sambas. Foto: Miun Mariyadi.

Edisi VII Tahun XXXII/ LPM Untan/ 2014

pakatan Sosekmalindo, mereka sepakat bahwa Desember ini, trayek tersebut sudah bisa dioperasionalkan, tentunya jalan yang akan dikerjakan adalah jalan dari Sajingan hingga ke Sambas. “Hanya saja sekarang ini infrastruktur sekarang makin rusak, sesungguhnya jalan itu pernah dikeraskan dulu tetapi tidak di pelihara,” ungkapnya kepada Mimbar Untan. Hotasi, Kepala Satuan Kerja Peren­canaan Kementrian Pekerja Umum Direktorat Jendral Bina Marga Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional VII menegaskan bahwa jalan negara tersebut sedang dalam proses pengerjaan. “Ya jalan itu sedang di kerjakan,” ungkapnya saat ditemui di ruang kerjanya. “Selama 18 bulan tahap pengerjaan atau hampir dua tahun akan di kerjakan dan dana nya berasal dari APBN dan Asia Development Bank,” tambah Hotasi lagi.

15


Mimbar Sorotan

BATU PAIT Prasasti di Tanah Mahap Pait merupakan dusun yang indah, terletak di kaki bukit dengan hutan dan panorama alam yang eksotik. Ditambah masyarakatnya yang ramah membuat suasana dusun menjadi nyaman. Di situ terdapat sebuah batu alam berwarna hitam kecokelatan, berukuran sekitar 4 x7 meter, tampak kokoh bersama bangunan tidak ber­dinding dengan 12 tiang penyangga. Oleh Gusti Eka Firmanda

H

ari mulai terang, matahari telah menunjukkan sinarnya bersamaan dengan angin yang menerpa daun-daun kelapa. Di penginapan, Akmal masih tertidur berselimut kain tebal dan dua rekan lagi yaitu, Ahmad dan Safri sudah terbangun, namun masih terbaring, Mereka adalah tiga temanku, kami berencana pergi ke lokasi Batu pait yang terletak di Dusun Pait, Desa Sebabas, Kecamatan Nanga Mahap, Kabupaten Sekadau, Kalimantan Barat. Penduduk sekitar

16

sering menyebutnya sebagai batu bertulis atau batu berpahat bahkan ada yang menyebutnya sebagai Batu Pait karena terletak di Dusun Pait. Sekitar pukul 07.30 pagi, aku dan tiga teman lainnya sudah bersiap-siap. Dengan perlengkapan yang sudah disiap­ kan, kami memutuskan untuk segera berangkat. Kami didampingi empat orang warga yang siap memandu jalan, empat buah motor kami yang beriringan di jalan setapak untuk mencapai dusun Pait. Menyusuri jalan yang berliku sempit, berbatu, berdebu penuh semak belukar, melewati banyak jembatan gantung hingga perkampungan warga. Langkah kami terhenti di sebuah perkampungan yang jauh dari keramaian. Mata kami tertuju pada sebuah bongkahan batu yang berukuran 4 x 7 meter yang bewarna hitam kecoklatan. Di batu tersebut terdapat tulisan yang asing bagi kami, bertuliskan huruf aksara Pallawa, dan berbahasa Sansekerta yang kononnya merupakan peninggalan Hindu-Budha. Prasasti Batu Pait adalah suatu fenomena langka yang terdapat di tanah borneo, karena di sini jarang sekali mendengar yang namanya prasasti, keberadaannya pun dapat dihitung dengan jari. Di sekeliling batu pait tersebut ter-

dapat tanaman hias dan pepohonan yang rindang, secara tidak langsung menyejukkan siapa saja yang berada di sekitarnya. Di tempat ini juga di lengkapi fasilitas seperti toilet, namun di bagian belakang hingga samping kiri, dipenuhi oleh pemakaman penduduk. Tidak heran jika bongkahan batu tersebut dijadikan tempat keramat untuk memberi sesajen ataupun ritual oleh warga sekitar. Sesampai di Dusun Pait, kami bergegas pergi ke sebuah perkampungan, tidak jauh dari lokasi batu tersebut. Kami mencari juru peliharanya. Namun, dia tidak berada di tempat. Ternyata juru pelihara batu tersebut sedang pergi ke Nanga Mahap. Kami akhirnya memutuskan kembali ke lokasi batu Pait. Tidak menunggu waktu lama, dua orang bapak datang menghampiri kami. Salah seorang dari mereka adalah orang yang kami cari. Dia adalah juru pelihara Batu Pait. Namanya Vincensius Apung. Vincensius Apung mengatakan, sebelumnya kondisi dari batu tersebut sedikit memprihatinkan. Batu Pait banyak ditum­buhi lumut yang membuat hurufhurufnya tidak terlihat. “Warna dari batu pun mulai memudar seiring dengan termakannya usia,” ungkapnya. Untuk melindungi batu Pait, Vincensius Apung dan warga sekitar membuat

Edisi VII Tahun XXXII/ LPM Untan/ 2014


Mimbar Sorotan Sorotan pondok dari pohon sagu. Setelah penduduk sekitar memohon bantuan kepada pemerintah setempat agar batu Pait dapat dipertahankan keasliannya, barulah bangunan menjadi lebih baik. Namun semestinya pelestarian khzanah budaya dan peninggalan sejarah ini harus diberi perhatian lebih agar bertahan sampai generasi selanjutnya dan menjadi wisata sejarah unggulan Kalimantan Barat. “Sejak keluarnya Surat Keputusan tahun 1979 dari situlah saya mulai memelihara batu ini pertama-tama saya membuat pondok dari pohon sagu dan barulah datang bantuan dari pemerintah Provinsi untuk membuat sebuah pondok permanen namun setelah itu datang lagi bantuan dari pemerintah kabupaten untuk merehabnya,” ungkap Vincensius Apung lagi. Penemu batu Pait adalah seorang warga Kampung Pait, berprofesi sebagai petani yang bernama Sentol atau biasa disapa dengan sebutan Kantong. Beliau menemukan batu ini ketika sedang berladang di hutan. Beliau sudah lama pergi menghadap Sang Ilahi tepatnya 8 Maret 1 9 5 7 silam d a n a r e a l pemakamannya tak jauh dari lokasi Batu Pait atau Batu Berpahat . Batu Pait merupakan sebuah batu yang besar yang terdapat tujuh Stupa bertuliskan huruf-huruf aksara pallawa. Namun, sejak pertama kali ditemukan, tidak ada satupun yang mampu menerjemahkan isi terdapat pada ketujuh stupa tersebut. Akan tetapi warga sekitar mengaitkan ketujuh stupa tersebut dengan istilah setempat untuk berniat. “Biasanya kalau orang di kampung ini sedang berniat, itukan ganjil misalnya sak duak tigo empat lima enam tujuh dan berjumlah tujuh mungkin ini ada kaitannya dengan stupa tersebut,” tambah Vincensius Apung. Vincensius Apung dan beberapa warga sekitar mengatakan bahwa beberapa peneliti dari Jakarta bahkan pada zaman penjajahan serdadu Belanda pernah meneliti batu tersebut. Namun sayang,

mereka semua kembali tidak menemukan jawaban dari apa yang diteliti dari batu bertulis itu. Menurut Prof. Soekarto, Dosen Arkeologi Universitas Gajah Mada (UGM) dalam buku Kepurbakalaan dan Sejarah Kalimantan Barat ketujuh stupa ini bertuliskan huruf aksara pallawa dan berbahasa sanksekerta yang berisi mantramantra Buddhis. Vida Pervaya Rusianti Kusmartono, peneliti dari Balai Arkeologi Banjarmasin menjelaskan, Batu Pait merupakan bukti peninggalan agama Budha. Ini bisa terlihat pada tulisan yang terdapat dalam tujuh stupa tersebut. “Di situ ada salah satu kata yaitu Dharma. Dharma itu upaya kebaikan, dalam kontek ini adalah upaya kebaikan penyebaran agama. Selanjutnya di situ ada menyebutkan Tatagata. Tatagata itu sang Budha, jadi di prasasti itu ada dua belas baris kalimat yang bisa diterjemahkan sama Profesor Soekarto pada tahun 1983 dan 1985. Jadi diantara kedua belas kalimat yang dibaca beliau, ada tulisan Dharma dan Tatagata. Itu yang menjadi indikator bahwa batu ini adalah penyebaran agama Budha,” cerita Vida. Selain itu, Vida juga mengungkapkan, ada satu lagi kata yang paling penting yaitu huruf Sangkala. Huruf Sangkala adalah tahun pendirian. Tahun pendirian di batu tersebut tertulis 578 Saka, atau sama dengan 656 masehi. Jadi batu pait tersebut sudah ada pada abad ke 7. Sebelumnya, Vida menjelaskan ada tiga motif kedatangan orang-orang Budha ke nusantara. Satu diantaranya ke Kalimantan tepatnya kecamatan Nanga Mahap, Kabupaten Sekadau, yaitu pertama karena perdagangan emas, kedua kemajuan teknologi kapal, dan yang ketiga penyebaran agama Budha. “Sistem mereka itu, jika mereka sudah mencapai suatu tujuan tertentu, mereka menciptakan prasasti itu. Inilah kami, inilah perjalanan kami dalam penyebaran agama Budha. Jadi Vincensius Apung, makna apa yang tertulis di dalam huruf Juru pelihara Batu pallawa berbahasa sansekerta itu menye- Pait butkan bahwa kami telah sampai di lokasi ini dan kami telah menyebarkan agama,” jelas Vida.[]

Edisi VII Tahun XXXII/ LPM Untan/ 2014

17


Mimbar Sorotan

Dibalik Ekplorasi Batu Bara Sengkalu Oleh Arinda Zain Perjalanan menuju tempat eksplorasi batu bara di Desa Sengkalu, Kecamatan Pengkadan, Kabupaten Kapuas Hulu. Kalimantan Barat ini memang memerlukan tenaga ekstra karena jalan yang di tempuh merupakan jalan berbatu dan terletak di pedalaman. Kelelahan akibat perjalanan yang panjang terbayar dengan suasana yang disuguhkan alam di sekitarnya sawah yang hijau, pohon yang rindang, bukit yang berbaris, dan yang terpenting adalah tidak ada polusi, baik itu polusi udara maupun polusi suara. Terlebih penduduknya yang ramah-ramah, menambah kesan menyenangkan saat perjalanan menuju desa yang bersahaja itu.

18

S

eperti halnya wilayah lain di Kalimantan Barat yang memiliki begitu banyak potensi alam yang bisa dimanfaatkan mulai dari darat hingga perairan. Desa Sengkalu juga memiliki potensi alam. Desa yang terletak agak jauh dari jalan lintas utama di Kecamatan Pengkadan ini terdapat potensi yang tersembunyi, selain tempat penambangan emas, desa ini juga memiliki rahasia alam yang baru ditemukan, yaitu batu bara. PT. Radiance Energi dengan SK no 280 tahun 2009 contohnya, perusahaan yang bergerak dibidang pertambangan ini, telah mengeksplorasi potensi alam yang dimiliki oleh desa Sengkalu sejak 19 oktober 2009 dengan batu bara sebagai komoditasnya. Kepala desa Sengkalu, Muk Adi mengatakan bahwa PT Radiance Energi yang mengadakan eksplorasi batubara di desanya telah melengkapi perizinan untuk mengadakan eksplorasi tersebut. Menurutnya manfaat yang telah dirasakan dengan adanya pertambangan belum ada. “Kalau manfaat yang baru dirasakan dari batu bara belum ada, karena mereka baru mencapai tahap eksplorasi, tapi disamping itu mereka sudah memberikan bantuan kepada desa kami berupa pakaian olah raga sepak bola, masjid, serta pembuatan sumur bor untuk setiap kepala keluarga di sini”, tuturnya. Dia juga mengatakan bahwa seharusnya ada sosialisasi kepada masyarakat terlebih dahulu agar masyarakat lebih mengerti tentang pertambangan tersebut, seperti dampak yang akan ditimbulkan jika kegiatan pertambangan telah berjalan dengan semestinya, baik itu dampak positif maupun dampak negatif. Walaupun begitu, dia sedikit merasa tenang dengan adanya studi banding tentang limbah yang telah diatur dalam Analisis Mengenai Dampak

Lingkungan (AMDAL). “Yang saya risaukan adalah kenapa harus dibangun MES dulu, kenapa harus dibangun jalan dahulu tanpa ada sosialisasi kepada masyarakat terlebih dahulu?” ungkapnya. Sebanyak 50 kepala keluarga pemiliki lahan yang digunakan untuk pertambangan tersebut sementara kini belum mendapat kepastian. Mereka tidak memiliki pekerjaan seperti biasanya, karena lahan yang di gunakan adalah lahan perkebunan karet, tapi untuk sementara mereka tetap bisa bekerja sebagai buruh bangunan untuk membangun MES PT. Radiance Energi, yang dibangun dengan menyewa tanah masyarakat setempat. Sukiman contohnya, bapak dua anak ini selain mengajar, ia juga merupakan petani karet. Untuk sementara ia tidak berkebun karena lahan perkebunan karetnya di sewa oleh PT Radiance Energi. Untuk mengisi kesosongan waktunya karena tidak bisa noreh (kegiatan mengambil getah karet pada pohon karet-red), ia ikut menjadi pekerja dalam pembangunan MES yang kerjakan secara bergiliran oleh setiap kepala keluarga yang berjumlah 7 hingga 8 orang di desa tersebut setiap harinya. “ kalau sekarang tidak bisa berkebun tapi saya ikut dalam pembangunan MES dan kadang kalau jadwal mengajar saya bertabrakan dengan giliran saya, maka saya menyuruh anak saya, Mizi, untuk melanjutkan giliran saya”, ujarnya. Muk Adi selaku kepala Desa berharap dengan adanya pertambangan batu bara, dikemudian hari bisa menambah PAD (Pendapatan Asli Daerah) bagi desa Sengkalu khususnya yang masih tertinggal dari desa lainnya. “Jadi, saya mengharapkan adanya dampak positif dari pertambangan ini, yaitu dengan adanya air bersih untuk setiap rumah dan kepala keluarga, akses jalan yang di permudah, serta penerangan di desa ini”, ungkapnya.

Edisi VII Tahun XXXII/ LPM Untan/ 2014


Mimbar Lingkungan

Sungai Sekayam Tercemar Akibat PETI Oleh Dodoy

”Sungai Sekayam merupakan andalan air bersih satusatunya bagi masyarakat pada beberapa kewcamatan di Kabupaten Sanggau. Namun, dewasa ini sungai Sekayam berubah mejadi tempat beroperasinya PETI, yang tentunya sangat berpe­ngaruh pada kualitas air. Ini dikarenakan dampak dari Penambangan Emas Tanpa Ijin (PETI) di beberapa titik pada hulu sungai Sekayam.” Arif Kadiv Litbang organisasi penggiat alam bebas, Jelajah Rimba Sekayam (Jeram).

Edisi VII Tahun XXXII/ LPM Untan/ 2014

19


Mimbar Lingkungan kualitas air Sekayam, dampak yang diakibatkan oleh penambangan PETI, serta kebutuhan masyarakat untuk mendapatkan air barsih terus meningkat, dengan masih mengandalkan sungai Sekayam, termasuk bahan baku PDAM. ”Sungai Sekayam merupakan andalan air bersih satu-satunya bagi masyarakat pada beberapa kecamatan di Kabupaten Sanggau, namun dewasa ini sungai Sekayam berubah menjadi tempat beroperasinya PETI, yang tentunya sangat berpengaruh pada kualitas air. Ini dikarenakan dampak dari penambangan emas tanpa ijin (PETI) di beberapa titik pada hulu sungai Sekayam.” kata Arif, Kadiv Litbang organisasi penggiat alam bebas, Jelajah Rimba Sekayam (Jeram). Dengan melihat maraknya aktifitas PETI di bantaran sungai Sekayam, Arif melalui organisasinya mengadakan kegiatan pada tahun 2009 untuk mengetahui seberapa besar dampak dan kadar logam berat yang dihasilkan limbah PETI tadi, sehingga sample air pun diambil dari beberapa titik, seperti di Muara Bongo (anak sungai tempat aktivitas PETI), muara Pos dan sekitaran mesin PDAM. Kemudian sample tersebut dibawa ke Unit Laboratorium Kesehatan, Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat, untuk diteliti. Dari hasil laboratorium, jelas sungai Sekayam yang selama ini menjadi andalan masyarakat telah dinyatakan positif terkontaminasi oleh logam berat jenis Merkuri dengan kadar ≤ 0,20, ukuran tersebut menandakan bahwa besar atau kecil nya jenis yang tersebar di sungai Sekayam merupakan bencana atas kehidupan mahluk hidup, ini dikarenakan aktifitas yang terus berlanjut serta penggunaan air raksa untuk melarut emas menjadi satu dan memisahkan dari kotoran seperti pasir dan batu. Kemudian air raksa tersebut atau lebih dikenal dengan bahasa kimianya adalah merkuri (logam be-

Saat era 70’an, sungai Sekayam merupakan akses utama masyarakat menuju daerah perhuluan hingga ke Kecamatan Entikong yang mana kala itu jalur darat masih sulit ditempuh bahkan memakan waktu yang cukup lama untuk tiba di kota Sanggau, bagi masyarakat di perhuluan. Tidak hanya sebagai akses bagi pedagang dan jalur transfortasi masyarakat, sungai Sekayam juga sebagai kubutuhan hidup seperti kebutuhan memasak, minum, mandi, mencuci dan kakus (MCK) serta mencari ikan. Namun dewasa ini sungai Sekayam sudah tidak lagi menjadi jalur tarnsfortasi masal, mengingat akses melalui jalur darat sudah terbuka lancar bagi mobilitas masyarakat untuk menghubungkan satu daerah ke daerah lain nya. Dengan terbuka akses tersebut, menjadikan sungai Sekayam sedikit dilupakan, bahkan untuk kebutuhan konsumtif masyarakat sudah terpenuhi oleh Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) seperti minum, cuci dan kakus (MCK). Namun demikian hal tersebut tidak banyak membantu masyarakat, selain kendala kurang lancarnya suplay PDAM ke masyarakat, mengakibatkan sungai Sekayam dilirik kembali untuk memenuhi kebutuhan mereka. Hingga hari ini sungai Sekayam masih dibutuhkan masyarakat. meski demikain, masyarakat yang mengandalkan sungai sekayam haruslah berhati-hati, ini dikarenakan sudah marak penambangan emas tanpa ijin (PETI) di bantaran sungai. Menurut UU No 7 tahun 2004 dan Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 907 tahun 2002, disebutkan bahwa air bersih (clean water) adalah air yang digunakan untuk keperluan sehari-hari yang kualitasnya memenuhi syarat kesehatan dan dapat diminum apabila telah dimasak. Merujuk pada peraturan tersebut, ada hal yang harus diperhatikan seperti

rat) dibuang di sungai Sekayam setelah digunakan (limbah), ini terbukti dari hasil riset yang dilakukan oleh organisasi penggiat alam bebas Jeram pada tahun 2009, dampak ini yang mengancam kehidupan biota sungai seperti ikan bahkan mencemari air yang jadi andalan masyarakat. Perlu kita ketahui bahwa sumber daya air merupakan hal yang sangat vital bagi kehidupan makhluk hidup di muka bumi ini, termasuk bagi manusia. Terjadinya pencemaran merupakan ancaman serius mesti diwaspadai, air adalah sebagai sumber kehidupan tidak dapat dipungkiri bahwa hal tersebut sangat penting bagi kelangsungan hidup, persoalan air juga jangan dipandang sebelah mata terutama air bersih yang aman untuk dikosumsi oleh manusia. Dewasa ini kebutuhan air sangat meningkat terutama air bersih, hal ini dikarenakan sumber air bersih hampir sulit didapatkan, terlebih saat kemarau tiba. Sebagian masyarakat untuk mendapatkan air bersih sendiri masih mengadalkan air hujan, terutama untuk kegunaan makan dan minum. Disamping itu Arif juga menjelaskan bahwa selama ini upaya pemerintah kecamatan Sekayam dinilai belum mampu untuk menghentikan aktivitas Peti tersebut secara total, meskipun telah beberapa kali dilakukan mediasi untuk mencari solusi antara pekerja, pemilik dan pemerintah kecamatan, namun terus menemui jalan buntu. Karena jika aktivitas yang seakan dibiarkan tersebut terus berlanjut tanpa ada tindakan yang pasti, maka dalam jangka panjang pula masyarakat harus siap dengan konsekwensi yang akan diterima, seperti rusaknya ekosistem air, darat, serta menjadi ancaman serius terhadap krisis air bersih untuk kehidupan mendatang atau seperti kasus Teluk Buyat di Indo-

Dinas Kesehatan, melalui Kepala Unit Laboratorium, Dra. Siti Yulianti yang bernomor PM.00.04B352 tertanggal 24 Juli 2009, hasil pemeriksaan air sebanyak 3 sampel secara kimia dengan nomor laboratorium 815/357AB dengan hasil seperti tebel dibawah ini.

Tabel Hasil Pemeriksaan air bersih No

Parameter

Satuan

1

Merkuri

Ppb

Kelas Mutu Air **) Kadar Maks *) I II III IV 1

1

2

2

5

Hasil

Metode

Sumber : Unit Laboratorium Kesehatan, Pemerintah Prov Kalbar, Tahun 2009

≤ 0,20 AAS-HVG

*) Kadar maksimum sesuai dengan PERMENKES RI No.416/Menkes/Per/IX/1990

20

Edisi VII Tahun XXXII/ LPM Untan/ 2014


Mimbar Lingkungan **) Kelas mutu air berdasarkan lampiran PP RI No.82 Tahun 2001, tanggal 14 Desember 2001 yaitu Kelas I Kelas II

Air untuk air baku, air minum dan atau peruntukan lain yang mempersyaratkan mutu air yang sama Air untuk prasarana/sarana rekreasi air, pembudidayaan ikan air tawar, peternakan mangairi pertanaman

Kelas III

Air untuk pembudidayaan ikan air tawar, peternakan, untuk mengairi pertanaman.

Kelas IV

Air untuk mengairi pertanaman dan atau peruntukan lain yang mempersyaratkan mutu air yang sama.

*) Kadar maksimum sesuai dengan PERMENKES RI No.416/Menkes/Per/IX/1990 Sumber : Unit Laboratorium Kesehatan, Pemerintah Prov Kalbar, Tahun 2009

bersih, karena mau mengandalakn sungai Sekayam sudah tidak memungkinkan untuk diminum lagi, tambah Ajis. Meski telah dilakukan bebarapa kali penertiban dan himbauan dari pihak Kepolisian Sektor Sekayam bagi pekerja PETI untuk menghentikan aktifitasnya di bantaran sungai Sekayam, serta memasang himbauan untuk menghentikan aktifitas PETI, namun masih juga tidak ditanggapi oleh pekerja dan pemilik mesin, buktinya menjamur mesin-mesin dompeng di sungai Sekayam hingga hari ini, dan yang terparah adalah di wilayah hukum Polsek Entikong, persis di perhulauan sungai Sekayam sekitar 2 jam perjalanan terdapat 30 mesin dompeng yang beroperasi, ini terbukti saat tim melakukan perjala-

nan ke perhuluan dengan menggunakan speed boat pada bulan Agustus lalu. Meskipun terjadi ”kucing-kucingan” antara pekerja dan aparat penegak hukum. Namun upaya represif dan prefentif pihak Kepolisian mendapat apresiasi dari masyarakat. ”Kita apresiasi atas kinerja pihak Kepolisian yang mendatangi mesin secara langsung dan memberi himbauan untuk menghentikan aktifitas PETI di sungai Sekayam, mengingat sungai Sekayam bukanlah wilayah penambangan rakyat (WPR) dan tentunya berdampak kepada masyaraat secara luas yang menggunakan sungai Sekayam sendiri.” Kata Aris Haryono, akademisi di Balai kara­ ngan.

Foto: Miun Dodoy

nesia serta Minamata di Jepang ucapnya. Tidak hanya Arif yang mengungkapkan hal tersebut, warga Desa Balai karangan lainnya yang masih mengkosumsi sungai Sekayam sebagai keperluan sehari-hari seperti mandi, mencuci juga mengeluhkan hal serupa. ”Kita harapkan pihak terkait untuk terus berkoordinasi mengatasi masalah sungai Sekayam ini” terang Ismail warga dusun Balai karangan dua. Ismail menyatakan hal tersebut perlu koordinasi lintas instansi sehingga dapat mencari jalan penyelesaian secepatnya. Harapan tersebut sangat beralasan karena kebutuhan air bersih sendiri jelas semakin sulit. Dengan kondisi banyak nya PETI di bebarapa titik pada bantaran sungai Sekayam menyebabkan masyarakat berasumsi negatif sehingga perlu dilakukan pengujian laboratorium oleh dinas terkait secara berkala. “Kami sebagai masyarakat mengharapkan ada penyelesain persoalan sungai Sekayam saat ini sehingga air Sekayam menjadi bersih dan layak untuk dikosumsi, karena kondisi sekarang memang memprihatinkan,” ucap Ajis warga Balai karangan lainnya yang sudah merasakan kesulitan untuk mendapatkan air bersih. Air bersih sendiri hanya mengandalakan air hujan jika hujan tak kunjung turun dalam waktu yang cukup lama maka sangat sulit untuk mendapatakan air bersih, dengan sulitnya untuk mendapatkan air bersih memaksa sejumlah masyarakat untuk membuat penampungan khusus sebagai antisipasi ketika hujan tidak turun dalam waktu lama terutama saat kemarau tiba. Saya sendiri sudah menyiapkan penampungan khusus untuk menampung air hujan sehingga saat kemarau tiba jadi tidak begitu sulit untuk mendapatkan air

Himbauan: Baliho yang memuat himbauan Polres Kabupaten Sanggau Terkait Pertambangan Emas Tanpa Izin (PETI).

Edisi VII Tahun XXXII/ LPM Untan/ 2014

21


Mimbar Lapsus Pedagang sayur keliling yang melewati jalan menuju dusun Dadau desa Tempapan Hulu, kecamatan Galing Kabupaten Sambas. (Foto: Uuz)

g g in

n a l a

L A ED

M rin e A em

t r P e t n a e ti K a h k er P a h u u g t n Bu e u a M ad

P A S“D E D O

U leh

uz

68 Tahun Indonesia merdeka, tapi masyarakat Desa Tempapan Hulu, Kecamatan Galing tetap saja sampai hari ini belum bisa merasakan listrik di desa tersebut. Miris!

22

N Atah”

Daerah yang terletak didesa Tempapan Hulu kecamatan Galing tepatnya dusun Dadau merupakan daerah yang belum teraliri listrik sampai sekarang. Masyarakat setempat masih menggunakan mesin Genset dan pemancar sinar matahari yang akan dialiri lewat mesin aki. Daerah ini terletak cukup strategis yaitu berada diantara kecamatan Galing dan Kecamatan Paloh. Hanya butuh waktu 1 jam dari desa Galing untuk tim reporter Mimbar Untan mencapai Dadau dengan menggunakan motor. Karena cuaca panas dan mendukung, kami pun tidak ada hambatan dalam perjalanan karena jika hanya hujan sebentar saja, tidak untuk menutup kemungkinan kami akan menunggu sampai kondisi jalan memang benar-benar bisa dilewati dengan motor. Dikarenakan kondisi jalan yang masih

berlandaskan tanah dan gampang lecet jika dihujani. Daerah ini masih dipenuhi dengan perkebunan dan hutan-hutan yang masih lebat. Kebun karet dan lada kerap menemani perjalanan kami, karena memang masyarakat setempat masih bergantung pada produksi karet dan lada. Desa yang sudah diresmikan pada tahun 1938 ini didirikan oleh seorang punggawa desa bernama Radjab yang memerintah selama 9 tahun dan digantikan oleh punggawa kedua yaitu anaknya yang bernama Muhammad Siddik dari tahun 1946 s/d 1953. Sistem pemerintahan yang masih menggunakan garis keturunan itu berlangsung sampai pada punggawa ke-empat hingga pada tahun 1948 baru diadakan pemilihan kepala desa secara yuridis.

Edisi VII Tahun XXXII/ LPM Untan/ 2014


Mimbar Lapsus Dari tahun ke tahun desa tersebut tak banyak perubahan dialami dari segi pendidikan yang minim, bahkan yang mirisnya adalah pembangunan infrastruktur yang kurang dari sektor jalan. Desa ini merupakan daerah yang cukup strategis, desa yang menghubungkan antara kecamatan galing dan kecamatan paloh ini sama sekali diabaikan oleh pemerintah. “ jika musim hujan kami tidak bisa kemana-mana karena kondisi jalan yang lecet dan tidak bisa dilalui roda dua “, ungkap Mahmud pemuda pribumi yang melanjutkan tingkat pendidikannya di perguruan tinggi Universita Terbuka Sambas . Desa yang didirikan dari tahun 1938 sampai sekarang belum teraliri listrik bahkan masyarakat setempat hanya segelintir yang menggunaka mesin genset. Jika menjelang malam hanya beberapa rumah yang bercahaya karena sedikit penduduk yang mempunyai mesin genset. Anak-anak masih banyak yang belajar menggunakan penerang dari pelita, dan banyak pula yang tidak belajar lebih memilih bermain atau mendengar ceritacerita dari orang tuanya. Belum lagi tingkat SDM yang sangat minim menurut data RPJMD Desa Tempapan Hulu tahun 2011 masyarakat disana yang lulusan SD sekitar 43%, tamat SMP 15%, tamat SMA 5%, tamat perguruan tinggi 2% dan tidak tamat SD/tidak sekolah 36%. Dulhadi mengakui kurangnya peran pemerintah kepada desa Tempapan hulu khususnya dusun Dadau, “Sudah lama desa kami kurang mendapat perhatian dari pemerintah apalagi dusun Dadau, jalannya yang tidak berubah dari belum lagi tingkat SDM yang minim”, ungkap beliau. Dulhadi juga mengungkapkan sulitnya jalan yang dilalui mempengaruh pada ekonomi masyarakat disana apalagi soal kebutuhan hidup per-harinya. ” Payah kalau mau bawa hasil pertanian ke Galing apalagi kalau musim hujan hanya bisa dibawa lewat motor air, kalau mau belanja pergi ke Paloh karena lebih dekat dan lebih murah dibanding harus ke pasar Galing”. Tambahnya. Daerah ini merupakan potret daerah pedalaman yang sangat meprihatinkan dari segi pendidikan, sosial dan pembangunan infrastrukturnya.” Kami sudah lama mengusulkan proposal kekecamatan tapi sampai sekarang belum ada konfirmasi dari pihak kecamatan”, ungkap Dulhadi selaku Kepala desa Tempapan

Kru Mimbar Untan yang akan berangkat ke objek wisata di dusun Dadau menggunakan transportasi air.

Hulu. Pembangunan infrastruktur merupakan pengungkit kemajuan suatu wilayah, sehingga harus diarahkan pada pendekatan berbasis wilayah dan keberpihakan. Ketersediaan infrastruktur selain berfungsi untuk kemajuan sosial, ekonomi juga dalam memperkokoh persatuan dan kesatuan bangsa. Desa yang rata-rata masyarakatnya adalah petani ini sangat mengharapkan perubahan didesanya, karena dari segi yuridis desa ini sudah cukup berumur tapi sampai sekarang tak banyak perubahan yang dialami oleh masyarakat, “kami ingin pemerintah juga melihat kondisi kami disini, dari kakek saya hidup sampai sekarang belum ada perubahan,” ungkap Tehat warga desa Tempapan Hulu dusun Dadau. Perihal ini tidak hanya terjadi di Dadau tapi banyak desa di Kalimantan Barat yang belum menikmati benderangnya listrik. Berdasarkan data dari Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Kalbar, dari total 1.804 desa di provinsi ini, tercatat baru 1.064 desa yang sudah berlistrik. Dengan demikian, masih ada 740 desa yang belum berlistrik atau tidak tersentuh jaringan listrik PLN. Kepala Dinas ESDM Kalbar, Agus Aman Sudibyo mengakui, rasio desa berlistrik di daerah ini masih jauh di bawah tingkat nasional.

Edisi VII Tahun XXXII/ LPM Untan/ 2014

Rasio desa berlistrik adalah perbandingan jumlah desa yang sudah berlistrik dengan jumlah seluruh desa. “Rasio desa berlistrik di Kalbar terhitung baru 59 persen sedangkan di tingkat nasional mencapai sekitar 70 persen. Kita masih di bawah,” katanya.(jppn.com) Wilayah tertinggal pada umumnya dicirikan dengan letak geografisnya yang relatif terpencil, miskin sumber daya alam, atau rawan bencana alam. Bahkan berdasarkan data dari Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Kalbar, dari total 1.804 desa di provinsi ini, tercatat baru 1.064 desa yang sudah berlistrik. Dengan demikian, masih ada 740 desa yang belum berlistrik atau tidak tersentuh jaringan listrik PLN. Untuk daerah sambas sendiri data mengenai indikator primer pembangunan daerah tertinggal khususnya persentase keluarga pengguna listrik di kpdt.bps.go.id untuk tahun 2011 masih kosong dalam artian belum ada pengecekan dari pemerintah secara penuh data ditiap perdaerah di kabupaten Sambas. Wilayah tertinggal merupakan suatu wilayah dalam suatu wilayah yang secara fisik, sosial, dan ekonomi kondisinya mencerminkan keterlambatan pertumbuhan dibanding dengan wilayah lain di wilayah negara. Wilayah tertinggal bera-

23


Mimbar Lapsus da di wilayah pedesaan yang mempunyai masalah khusus atau keterbatasan tertentu seperti keterbatasan sumber daya alam, keterbatasan sarana dan prasarana, sumber daya manusia, dan keterbatasan aksesibilitas ke pusat-pusat pemukiman lainnya. Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) Nasional dan Strategi Nasional (Stranas) PDT, menetapkan 199 kabupaten sebagai daerah tertinggal (termasuk 26 kabupaten diantaranya di perbatasan), yang lokasinya tersebar di Kawasan Timur Indonesia (KTI) sebanyak 123 kabupaten (62%), Sumatera 58 Kabupaten (29%), serta Jawa dan Bali 18 Kabupaten (9%). Daerah tertinggal adalah kabupaten yang masyarakat dan wilayahnya kurang berkembang, karena alasan : 1) rendahnya potensi dan pengelolaan sumber daya alam; 2) terbatasnya akses pertumbuhan; 3) rendahnya sarana prasarana sosial-ekonomi; 4) penduduknya terpencar dan terisolir. Dalam Rencana Aksi Nasional (RAN) - Kementerian Negara Pembangunan Daerah Tertinggal (KNPDT), kondisi dan karakteristik daerah tertinggal dikelompokkan menjadi 4 (empat), yaitu, wilayah pedalaman, pesisir, kepulauan, dan perbatasan. Tiga hal yang menjadi pilar dalam pembangunan daerah tertinggal adalah, (1) pengembangan ekonomi lokal, (2) pemberdayaan masyarakat, dan (3) pembangunan infrastruktur yang terintegrasi. ( Menguak ketertinggalan meretas jalan baru/penyusun, Hermen Malik) Bedasarkan data yang ada di Kementerian Pembangunan Daerah Tertinggal (PDT) saat ini sekitar 27 kabupaten di Indonesia masih tergolong sebagai daerah tertinggal. “Lima kabupaten di antaranya ada di Provinsi Kalimantan Barat, yakni Kabupaten Sambas, Bengkayang, Sanggau, Sintang dan Kapuas Hulu,” ungkap Helmy Faishal Zaini, Menteri Pembangunan Daerah Tertinggal (PDT)

Peta desa Tempapan Hulu Kecamatan Galing Kabupaten Sambas

Beliau juga menambahkan Kementerian PDT dan PMKRI akan melakukan kerja sama dalam program bedah desa guna memanfaatkan lahan-lahan tidur guna mendongkrak ekonomi masyarakat. “Kerja sama itu, yakni program bedah desa dengan memanfaatkan lahan-lahan tidur agar bisa mendongkrak ekonomi masyarakat,” katanya. (investor.co.id). Sampai saat ini pemerintah mengatasi masalah desa yang belum berlistrik atau tidak terjangkau jaringan listrik PLN, setiap tahun pemerintah memprogramkan bantuan PLTS terpusat atau tersebar, PLTMH (pembangkit listrik tenaga mikrohidro) dan pembangkit tenaga angin. “Bagi desa yang terisolir dan tidak terkena jaringan PLN, bisa dengan PLTS terpusat, PLTS tersebar, PLTMH dan juga energi angin. Ini setiap tahun programnya ada,” ujar. Namun, realita dilapangannya sempat terjadi masalah di mana PLTMH yang sudah dibangun tidak berfungsi

optimal sepanjang tahun. “Mungkin saat membuat FS tidak sesuai kondisi di lapangan. Tidak sesuai dengan potensi energi yang ada di daerah itu. Musim kemarau, mesinnya tidak jalan. Ini sangat sayang,” ungkap Agus Aman Sudibyo. Beliau menambahkan untuk kedepan diharapkan kejadian serupa tidak lagi terulang. Dari pihak pemerintah sendiri dalam membangun kawasan daerah tertinggal dengan Rencana Induk Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI) yang fokus pada pembangunan infrastruktur jalan dan komunikasi, kesehatan dan peningkatan ekonomi masyarakat. “Program pembangunan infrastruktur dan komunikasi itu kami fokuskan pada 27 kabupaten yang tergolong daerah tertinggal, lima kabupaten di Kalbar termasuk prioritas. Saya sudah beberapa kali ke Kalbar dalam rangka keseriusan tersebut,” ungkap Helmy.

Celoteh Bang Miun Jalan ke perbatasan rusak itu miris! tapi kalau jalan di Untan rusak itu tragis! Birokrasi pusat aja bobrok, apalagi di perbatasan... Mahasiswa jak neliti, masa’ dosen tak neliti ape nak dikate...

24

Edisi VII Tahun XXXII/ LPM Untan/ 2014


Mimbar Realita

Keluh Kesah

TRANS­­MIGRAN KAYONG

“YAH BEGINILAH DI SINI, JAUH DARI KOTA, SAYA SAMA KELUARGA SUDAH TUJUH TAHUN TINGGAL DI SINI, TAPI BELUM ADA PERUBAHAN,” UNGKAP MULYONO, TRANSMIGRAN KAYONG. Oleh Arin

C

uaca gerimis panas menghiasi langit dan udara di pelabuhan Rasau Jaya. Melalui perjalanan selama lebih dari satu jam mengendarai motor, dengan rute yang hanya berbelok kanan dua kali di setiap simpang tiga jalan, ditemani struktur jalan bergelombang dari Kota Pontianak. KM Gunung Palong, kapal Ferry yang biasa dipakai untuk penyeberangan antarpulau bersandar kokoh di pinggir pelabuhan, menanti penumpang yang akan menggunakan jasanya agar dapat sampai tujuan. Para penumpang yang sebagian besar adalah Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) yang meng­adu nasib di Kabupaten Kayong Utara dan mahasiswa yang pulang kekampung halamannya demi menyambut hari Raya Idul Adha ini satu persatu menaiki kapal fery. Dengan hanya membayar Rp.2000,- untuk parkir kendaraan sebelum menaiki kapal dan Rp.115.000,- untuk penumpang beserta kendaraan yang dibawa oleh kapal. Matahari yang tadinya ganas kini mulai menyerah pada waktu sore yang ditemani langit mendung, jam yang telah menunjukkan pukul 4 sore mengiringi kapal penyebrangan yang mulai berlayar perlahan melewati perairan bertemankan hawa dingin yang diselimuti malam. Para penumpang yang berwajah ceria menanti kedatangannya ke kampung halaman kini kelelahan dan kelaparan, kantin kapal silih berganti mereka kunjungi untuk sekedar membeli cemilan dan rokok. 12 jam adalah waktu yang ditempuh dalam satu kali pelayaran. Jam 4.30 kapal sudah sampai di tanah Kayong tepatnya di Pelabuhan Teluk Batang. Sedikit tentang kabupaten hasil pemekaran Kabupaten Ketapang, Kabupaten Kayong Utara. Kabupaten ini memiliki enam Kecamatan diantaranya Kecamatan Seponti, Teluk Batang, Simpang Hilir, Suka Dana, Kepulauan Karimata, dan Pulau Maya. Hanya perlu 90 menit untuk dapat sampai di Desa Rantau Panjang, yaitu salah satu desa yang sebagian wilayahnya dijadikan daerah transmigrasi. Tujuan perjalanan re-

Edisi VII Tahun XXXII/ LPM Untan/ 2014

25


portase ini bukanlah di Pelabuhan Teluk Batang, melainkan Desa Rantau Panjang, Kecamatan Teluk Batang yang jaraknya masih satu setengah jam perjalanan. Berbekal sarung tangan dan masker demi menerobos hawa berembun yang dingin subuh menjelang pagi. Tidak banyak kesulitan yang akan dihadapi, karena akses jalan sudah beraspal, hanya saja pasokan bensin dalam tangki motor yang selalu dipantau, karena kios-kios bensin jaraknya lumayan jauh, sedangkan SPBU hanya ada beberapa saja, dan diperhatikan demi kelancaran perjalanan. Desa Rantau Panjang Kesan pertama ketika tiba yang didapat dari Desa Rantau Panjang Kecamatan Teluk Batang ini adalah penduduknya memiliki pola pemukiman yang linear, artinya membangun rumah di sepanjang tepian jalan. Di desa yang masih jarang penduduk ini terdapat Satuan Pemukiman (SP) transmigrasi, letaknya sekitar 500 meter ke dalam dari kampung luar.

yang digunakan di Tersier-Tersier (TR-TR) dari sepuluh TR yang ada di SP satu, kemudian memiliki jemuran pakaian di samping kiri dan kanannya dibuat seadanya serta gentong semen tempat menampung air. Di wilayah ini air merupakan barang langka yang sulit dicari, warga harus rela mengantri bahkan ada yang tahan tidak tidur malam untuk mendapatkan air bersih. Tidak hanya kelangkaan air yang mereka alami tempat untuk Mandi Cuci Kakus (MCK) juga dibuat seadanya di tengah kebun karet. Mulyono, satu diantara transmigran yang tinggal di sini. Dia telah tinggal dan menetap di Desa Rantau Panjang selama 7 tahun. Pria paruh baya ini memiliki seorang istri dan dua orang anak perempuan. Istri dan anak-anaknya semuanya memiliki nama yang awalannya Sri. Mulyono adalah mantan kepala dusun yang baru satu tahun lengser dari jabatannya. Anak dan istrinya adalah alasan hingga ia tidak lagi memangku jabatan Kepala Dusun. “Dulu waktu jadi Kadus, bapak cuman punya waktu sedikit buat keluarganya, selebihnya ngurusin kerjaannya,” kenang Sri, istrinya.

Dengan mengendarai motor hanya beberapa menit tibalah di SP satu. Di SP ini rumah-rumah begitu bersahaja terbuat dari kayu beratapkan seng. Rumah yang berada di kompleks transmigran ini bentuk bangunannya tidak jauh beda. Berdinding kayu beratapkan seng yang karatan dengan halaman yang cukup luas dari jalan utama yang berupa tanah ku­ ning.

Selain itu gaji seorang Kadus hanya Rp.500.000,- perbulan dan diberikan tiga bulan sekali, sehingga harus mencari alternatif lain untuk mencari nafkah. “Ya, selain ngurusin urusan sebagai Kadus saya dan istri juga membuat tempe dan dijual keliling kampung, tapi sekarang udah ndak lagi soalnya bahan bakunya juga udah mahal, terus untungnya juga ndak nutup modal kalo bikinnya sedikit,” kata Mulyono bercerita dengan dialek Jawa yang kental.

Tanah kuning ini adalah akses jalan

Aku istirahat hanya beberapa jam saja,

26

itupun tidak dapat beristirahat dengan tenang padahal badanku pegal akibat perjalanan panjang yang aku lewati semalaman, cuaca panas membuatku ingin mandi. Terasa sangat segar air yang menjadi hal langka dan sulit dicari di sini.Usai mandi aku duduk di ruangan sebelah kamar yang akan meninabobokanku jika malam tiba. “Gimana suasana di sini Rin?” Tanya pak Mulyono padaku. “Adem, ” jawabku singkat. “Yah beginilah di sini, jauh dari kota, saya sama keluarga sudah tujuh tahun tinggal di sini, tapi belum ada perubahan,” lanjutnya dengan bahasa Indonesianya yang medok Jawa diselingi senyum ketir. “Oowh di sini sama keluarga besar ya pak?” tanyaku. “Iya, anak saya dua, dan dua duanya bernama Sri, Sri anak saya yang sulung udah berkeluarga dan punya anak tiga, dan Sri Mudrikah anak bungsu saya masih kuliah, nah ini cucu saya, anak bungsu Sri sulung” katanya bercerita, seraya memangku cucunya yang benama Alif. “Anak saya dan keluarganya tinggal di TR satu”, lanjutnya, “TR itu apa pak?” tanyaku penasaran “TR tu artinya tersier, maksudnya parit-parit kecil yang ada di sepanjang SP ini,” jelasnya. Seperti telah disinggung sebelumnya bahwa di wilayah Transmigrasi Rantau Panjang ini terdapat dua SP, SP satu berisi sepuluh TR dan SP dua baru terdapat dua TR saja. Tidak banyak yang aku lakukan di sini, karena memang Pak Mulyono sebagai seorang petani yang hanya pengandalkan hasil dari kebun karet serta buah-buahan dan sayur mayur yang jumlahnya hanya cukup untuknya dan keluarganya saja. Setiap pagi beliau pergi ke kebun Karet miliknya.

Edisi VII Tahun XXXII/ LPM Untan/ 2014


Mimbar Realita

GAY

ABAD MILENIUM Oleh Nico

Siapa mereka? Manusia adalah mahkluk sosial, pada hakikatnya manusia akan membentuk sebuah struktur ataupun sistem masyarakat yang akan melahirkan standar nilai maupun norma yang akan menjadi pedoman hidup. Pada kenyataannya interaksi di dalam masyarakat tidak pernah berjalan lancar tanpa adanya pertentangan. Pertentangan ini terjadi karena adanya perbedaan kebutuhan setiap orang. Dari segi kebutuhan tentunya masing-masing individu memiliki kebutuhan yang berbeda-beda. Apabila kebutuhan individu tersebut bertentangan atau bahkan mengancam kebutuhan individu lainnya, dapat dipastikan akan muncul konflik antar individu untuk mempertahankan pemenuhan kebutuhan masing-masing. Untuk menghindari pertentangan tersebut, dibutuhkan suatu tatanan masyarakat yang mengatur interaksi antar individu yang dinamakan norma sosial. Norma sosial lahir dari konvensi sosial untuk membantu orang berperilaku baik bagi dirinya sendiri maupun orang lain. Perkembangan zaman yang semakin modern dan pengaruh budaya barat menyebabkan pergaulan manusia semakin

tiada batas membuat banyak pelanggaran norma sosial dan penyimpangan perilaku. Salah satu bentuk penyimpangan norma asusila yang tum-

buh dalam masyarakat adalah homoseksualitas. Kapan mereka ada? Di Indonesia homoseksual masih merupakan hal yang tabu dan sangat sulit diterima oleh masyarakat. Budaya timur yang melekat di masyarakat membuat hal ini menjadi sebuah masalah yang besar. Berbeda dengan di negara barat, khususnya negara Belanda, masyarakatnya telah menerima keberadaan kaum homoseksual dan menghalalkan pernikahan sesama jenis. Demikian pula di Argentina, yaitu di kota Buenos Aires dan Provinsi Rio Negro. Mereka menamakan

Edisi VII Tahun XXXII/ LPM Untan/ 2014

diri dengan ‘The Argentine Homosexual Community’. Kelompok ini mengajukan perluasan hak atas undangundang yang berlaku di Negara itu pada tahun 2002, yaitu mengenai hak bagi pasangan, tanpa ,emperdulikan jenis kelamin atau orientasi seksualnya, menjadi sepasang pengantin yang syah di muka hukum Negara. Pada zaman prasejarah, praktik homoseksual sudah terjadi. Sebagai contoh suku Marind di Merauke dan Kiman di Papua. Begitu terlepas dari masa kanakkanak maka anak lelaki diambil dari ibunya dan dari rumah para perempuan untuk selanjutnya tidur bersama bapaknya dirumah laki-laki. Sejak muncul tandatanda pubertas pertama, pamannya dari pihak ibu diberi tugas untuk mempenetrasi anus si anak lelaki itu, yang dengan demikian memberi/melengkapinya dengan sperma yang akan menjadikannya sebagai laki-laki kuat. Anak-anak lelaki baru meninggalkan fase ini setelah kirakira tiga tahun kemudian. Homoseksualitas mengacu pada interaksi seksual yang berjenis kelamin sama secara situasional dan berkelanjutan. Menurut Ensiklopedia Indonesia, Homoseksual adalah istilah untuk menunjukkan gejala-gejala adanya dorongan seksual dan tingkah laku terhadap orang lain berjenis kelamin sama.

27


Mimbar Realita Homoseksual terdiri dari gay yaitu lakilaki yang secara seksual tertarik terhadap laki-laki dan lesbi yaitu perempuan yang secara seksual tertarik terhadap perempuan. Perdebatan terhadap kaum homoseksual baik gay maupun lesbi membuahkan sikap negatif dari lingkungan sosial. Akan tetapi sikap negatif oleh masyarakat lebih kuat terhadap kaum gay daripada kaum lesbian (Knox, 1984). Hal ini disebabkan karena keberadaan kaum gay lebih teramati dan terlihat dalam kehidupan sehari-hari sehingga masyarakat semakin bersikap negatif dengan harapan mereka hilang dari kehidupan sosial (Bonan, 2003 & Pace, 2002).Keberadaan kaum gay adalah fakta. Mereka adalah sebuah realita abad 21. Kini mereka mulai berani memunculkan diri di seluruh dunia, tidak terkecuali di Indonesia. Perkembangan jumlah homoseksual di Indonesia tiap tahunnya semakin bertambah. Data statistik menunjukkan 8-10 juta populasi pria di Indonesia pada suatu waktu terlibat pengalaman homoseksual. Dari jumlah ini, sebagian masih aktif melakukannya. (Kompas Media Cyber, 2003). Hasil survey YPKN (Yayasan Pendidikan Kartini Nusantara) menunjukkan, ada 4000 hingga 5000 penyuka sesama jenis di Jakarta. Sedangkan Gaya Nusantara memperkirakan, 260.000 dari enam juta penduduk Jawa Timur adalah homo(Gaya Nusantara adalah satu yayasan khusus untuk kaum gay yang sangat terkenal di Indonesia. Yayasan ini berdomisili di Surabaya. Mereka menerbitkan buku, bulletin, majalah dan mengadakan acara serta seminar khusus untuk kaum gay). Angka-angka itu belum termasuk kaum homo di kota-kota besar lainnya. Dr. Dede Oetomo, lahir tanggal 6 Desember di Pasuruan. Dia adalah orang yang pertama kali mengumumkan bahwa dirinya adalah seorang gay di Indonesia. Berkat itu, sekarang dia mendapat julukan “Presiden Gay Indonesia”. Penerima penghargaan internasional Felipa De Souza Award 1998 di New York ini adalah pendiri Yayasan Gaya Nusantara dan dia sekarang menjadi Dewan Pembinanya. Penulis buku ‘Memberi Suara Pada Yang Bisu’ ini juga laris sebagai narasumber untuk kegitan-kegiatan seminar di bidang gender, kesehatan seksual, sosial maupun politik. Bukan cuma di Indonesia saja, namun juga di mancanegara. Aktivis gay dan telah hidup selama ber-

28

tahun-tahun dengan pasangan homonya ini, memperkirakan secara nasional jumlahnya mencapai 1% dari total penduduk Indonesia. (Gatra,2003). Sejarah Gay di Indonesia Tanggal 1 Maret 1982, organisasi gay resmi terbuka pertama di Indonesia dan Asia dengan nama “Lambda Indonesia”, dengan sekretariat di Solo. Dalam waktu singkat terbentuklah cabang-cabangnya di Yogyakarta, Surabaya, Jakarta dan tempat tempat lain. Terbit juga buletin G: gaya hidup ceria (19821984). Akibat dari munculnya organisasi Lambda Indonesia, di tahun1992, terjadi ledakan berdirinya organisasi-organisasi gay di Jakarta, Pekanbaru, Bandung dan Denpasar. Juga di tahun 1993 Malang dan Ujungpandang menyusul. Pada tahun-tahun selanjutnya, kaum gay makin banyak mendirikan organisasi dan komunitas, hanyasaja belum berani unjuk diri secara terang-terangan ke masyarakat Indonesia pada umumnya. Namun, akhir-akhir ini fakta itu bergeser. Pasalnya, acara-acara TV yang menampilkan sosok gay semakin banyak. Kebanyakan dari mereka muncul untuk “menginformasikan” kehidupan kaum gay kepada masyarakat. Orang yang membenci kaum gay biasa disebut Homophobia. Reaksi kaum Homophobia apabila bertemu gay ataupun berada di lingkungan gay adalah merasa tidak tenang, gelisah, khawatir, takut tertular “penyakit homoseksual”, merinding dan tidak sedikit yang langsung kabur dan menjauh. Namun ada juga kaum Homophobia yang sampai mengisolasi dan memprovokasi masyarakat untuk menjauhi kaum gay. Dewasa ini, sebagian besar masyarakat masih melihat kaum gay sebagai sesuatu yang keluar dari koridor heteronormativitas. Perilaku gay bahkan dianggap sebagai penolakan terhadap takdir. Dalam kehidupan nyata, keberadaannya senantiasa disingkirkan dan dibedakan dengan heteronormativitas. Mereka dicap sebagai ‘pelaku penyimpangan seksual’. Gay merupakan sebuah identitas yang dialamatkan pada seorang laki-laki yang mempunyai pola hubungan cinta, kasih sayang, dan erotisme seksual pada sesama laki-laki. Sebagian besar dari mereka

masih menutupi identitas seksual yang sebenarnya, karena banyaknya konsekuensi buruk yang akan mereka terima ketika harus mengakuinya. Dengan berbagai siasat, hingga kini mereka bisa teta mempertahankan identitas seksualnya. Gay di Kalbar Di kalimantan barat, khusus di kota pontianak kaum gay sudah mulai menunjukkan identitas diri mereka. Meski hanya melalui dunia maya seperti facebook. Dari data penelusuran yang diperoleh penulis hinggaawal bulan desember, hampir mendekati angka 900 orang yang tergabung dalam group akun facebook Komunitas Gay Pontianak. Di dunia maya mereka bisa lebih bebas berekspresi, dibandingkan di kehidupan nyata. Mereka saling mengenal, kemudian tukaran nomor handphone dan tak jarang ada diantara mereka langsung ketemuan. Dalam hal ini mereka jarang menggunakan nama asli. Agar tidak ketahuan mereka cenderung menggunakan nama samaran, baik dalam akun facebook maupun dalam berinteraksi. Demikian pula dengan foto profil yang mereka pasang di facebok, mereka lebih suka menggunakan foto syur, seperti bertelanjang dada dan lain sebagainya. Namun, ada pula yang menampilkan nama dan foto aslinya. Di Pontianak mereka memiliki tempat untuk nongkrong atau tempat untuk santai di malam hari. Bahkan tempat untuk mereka saling bertemu sesama Gay. Menurut salah seorang narasumber yang Gay, tempat untuk mereka nyantai di pontianak ini adalah di Ambalat Caffe, Tisya Caffe dan Hyundai Caffe. Mereka hanya nongkrong dan ngobrol-ngobrol biasa saja. Penulis berhasil berbincang dengan salah seorang Gay yang sedang nongkrong di sebuah caffe di kota Pontianak, sebut saja namanya Rio (bukan nama sebenarnya). Rio mengaku bahwa pada awalnya dia bukanlah seseorang penyuka sesama jenis. Namun kini ia sudah terlanjur masuk dalam dunia Gay. “Kejadian nya sudah setahun lebih. waktu itu ada teman aku dari sambas nginap di rumah, pas waktu malam nya aku langsung di setubuhi sama dia, semenjak itu juga kami berdua pacaran. Sampai sekarang lah ni aku jadi gini”, ungkap pria berumur 28 tahun itu. Bagaimana pendapat tentang mereka?

Edisi VII Tahun XXXII/ LPM Untan/ 2014


Mimbar Realita Sosiolog Fakutas “Homoseksual ujarnya. Karena memang ingan psikologi, aktivitas kaum homosekIlmu Sosial dan Ilmu merupakan salah satu ada ciri-ciri tertentu yang sual ini mungkin mengganggu kebisingan Politik Universitas gejala di dunia modern menggambarkan bahwa psikologis mereka. Namun, perlu di garis Tanjungpura Ponyang membuka jati di- mereka adalah homosek- bawahi mengenai aktivitas ini, banyak tianak, Drs. Mukhrinya ke hal-hal yang sual. “Dari sisi hukum, terdapat aktivitas kemasyarakatan merelis, M.si, mengakui baru. Tapi hal ini sudah saya kira sudah jelas ‘bah- ka yang bersifat positif misalnya:mereka bahwa tidak dawa segala perbuatan yang mengadakan konser amal untuk korban pat dipungkiri di ditunjukkan pada jaman menyimpang itu dilarang bencana, mereka mengadakan suatu era globalisasi ini Nabi Nuh. Dari perspektif sosiologi Agama, ini oleh kaidah-kaidah hu- pelatihan dan lain-lain. Yang menggangperkembangan hoCuma bagaimana gu itu adalah aktivitas seperti tawuran menunjuk pada ciri-ciri kum’. moseksual sangat agar tindakan melanggar dan pergaulan bebas yang ternyata dunia kiamat.” ini tidak terjadi secara mengganggu aktivitas masyarakat. Jadi pesat. Beliau menilai bahwa faktor ekonoDrs. Mukhlis, M.si terus menerus, saya rasa bagaimana kita saling menghormati mi merupakan salah Sosiolog Universitas Tanjungpura tidak hanya aparat pene- “Jika mereka meminta dihormati pilihan satu penyebabnya. gak hukum saja yang dili- mereka, mereka juga harus menghormati Fenomena gejala batkan tetapi juga seluruh pola kehidupan yang sudah ada disekitar penyakit masyarakat, yaitu homoseksual ini masyarakat. Tetapi yang paling penting masyarakat mereka. Saya rasa jika sudah menurutnya perlu penanganan dari berbagai adalah keluarga”, tuturnya kemudian. seperti itu, tidak akan ada istilah mengpihak. Orang tua merupakan aktor yang palganggu baik secara fisik maupun psikis”, ing penting dalam hal ini. Beliau juga menilai Pendapat berbeda terdengar dari dosen ungkapnya. bahwa kaum homoseks ini sering mengganggu Syf. Ema Rahmaniah, MBA.Edmenjelasketenangan masyarakat pada malam hari. “Hokan jika dilihat dalam konteks kemanu- Dari perspektif pendidikan ia mengungmoseksual ini merupakan salah satu gejala di siaan bahwa hidup adalah pilihan. Dan kapkan bahwa pemahaman kita tentang dunia modern yang membuka jati dirinya ke kaum homoseksual mempunyai pilihan peran gender perlu direkonstuksi. Genhal-hal yang baru. Tapi hal ini sudah ditunjuktersendiri yang mungkin berbeda den- der ini tidak berorientasi kepada jenis kan pada jaman nabi Nuh. Dari perspektif sosigan harapan kita. Namun, mereka me- kelamin atau seksual. Dalam hal ini ologi Agama, ini menunjuk pada ciri-ciri dunia miliki potensi yang luar biasa. “Saya bagaimana kita menanamkan nilai-nilai kiamat”, ungkapnya pada Miun. melihat dari sisi kemanusiaan, mereka kebersamaan dan nilai-nilai toleransi teradalah masyarakat kita dan mereka ada- hadap mereka yang berbeda. “Artinya kePendapat hampir senada terlontar dari seorang lah bangsa kita. Jika berbedapun tidak wajiban kita bersama membentuk mendosen Sosiologi Hukum fakultas Ilmu Sosial dan semestinya harus menghapus mereka, ciptakan nilai-nilai character building”, Ilmu Politik, Universitas Tanjung Pura Pontiharus memerginalkan mereka. Karena isu tuturnya lagi. anak, Yulianti S.H yang mengatakan bahwa minoritas dan mayoritas homoseksual adalah fenomena yang mau tidak itu harus kita hapuskan ”, “Dari sisi hukum, mau harus ada di masyarakat. Menurutnya ungkapnya kepada miun. saya kira sudah jelas ‘bahwa segala perkembangan homoseksual di kota pontianak perbuatan yang menyimpang itu belum terlalu nampak terlihat di permukaan, Ia melihat sejauh ini dilarang oleh kaidah-kaidah hunamun tidak dapat di pungkiri komunitas kaum homoseksual tidak kum’. Cuma bagaimana agar tinmereka memang ada. Ia melihat perilaku seppernah mengganggu kedakan melanggar ini tidak terjadi erti itu terbentuk dari pola asuh keluarga dan hidupan masyarakat sesecara terus menerus, saya rasa karena kurangnya perhatian dari orang tua. Ia cara fisik seperti, tinda- tidak hanya aparat penegak hukum juga memandang bahwa perilaku homoseksual saja yang dilibatkan tetapi juga kan kriminal pelecehan secara langsung memang tidak mengganggu, seluruh masyarakat. Tetapi yang seksual dan sebagainya. namun perilaku seperti ini tidak dapat di tolerir paling penting adalah Ia juga mengatakan karenamelanggar secara moral dan perilaku keluarga.” dalam hal ini masyarakat mereka tergolong bersifat aneh bagi orang norYulianti S.H hanya merasakan kebismal pada umumnya. “Saya pribadi menolak”, Ahli Hukum

LPM Untan menerima pemasangan iklan di majalah, website dan radio Hubungi Kepala Divisi Perusahaan

Bang Miun 0857 5218 8081 Edisi VII Tahun XXXII/ LPM Untan/ 2014

29


Mimbar Humaniora Humaniora MARSEL, penderita Hidrochepalus bersama ibunya, Kurnia, saat meminta bantuan ke SMPS. (Miun/Mariyadi)

Foto: SMPS

KESEMBUHAN BUKAN UNTUK MEREKA, KAUM YANG TAK PUNYA “Berjuang untuk kesembuhan dan mela­ wan penyakit ­memang tidak mudah, harus pulang dan kalah karena dana yang kurang memadai,” ungkap Hadali, anggota Solidaritas Mahasiswa Peduli Sesama (SMPS).

L

Oleh Mariyadi

angit di ufuk barat sudah memerah. Burung-burung berbondong pulang ke sarang. Terdengar kumandang azan dari corong Mesjid sekitar. Beberapa menit kemudian Solat Magrib pun telah selesai dilakasanakan kaum muslim sebagai suatu kewajiban. Tidak terlalu sepi suasana Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Sudarso Pontianak saat kami jambangi, melainkan diramaikan oleh para keluarga atau sanak

30

famili yang hendak menjenguk pasien. Begitu juga ruang L Bedah Syaraf. Masing-masing dari mereka membawa sejumlah makanan dan peralatan untuk si sakit. Ada yang membawa Termus dan beberapa buah segar. Tampak juga beberapa orang yang sedang duduk di kursi, terdiam berpangku tangan di depan pintu masuk dari masing masing ruang pasien. Di ruang Cherry, di ranjang khusus bagi orang yang sedang sakit, 5 orang pasien terbaring kaku. Rata-rata pasien di ruang tersebut berpenyakit Hidrosepalus ( Pembesaran Volume Kepala) dan penyakit Tumor atau penyakit syaraf lainnya. Suasana haru menyelimuti ruangan yang diterangi lampu putih. Mereka pasti merasa ingin sekali keluar dan sembuh dari penyakit mereka, agar dapat menghirup udara tenang di luar. Bermain, bersekolah, bercanda dengan sanak keluarga atau teman mereka bagi si sakit yang masih kecil. Bagi mereka yang memunyai tanggungan keluarga pasti mereka ingin bertemu dengan sanak keluarga di rumah, anak tersayang, suami yang tercinta,

Edisi VII Tahun XXXII/ LPM Untan/ 2014


Mimbar Humaniora tetangga mereka yang ramah, lalu bekerja di sawah, berbelanja dan banyak lagi yang menjadi idaman mereka jika mereka sembuh kelak. Melawati, terbaring miring ke kanan terselubungi selimut putih tebal. Gadis berumur 11 tahun ini menghidap penyakit komplikasi Hidrosepalus dan Tumor Otak. Di samping Melawati ada kedua orang tuanya, Rohaya dan Mulyadi yang kesehariannya bekerja sebagai petani di kampungnya, Setapuk Besar, Kota Singkawang Utara. Mulyadi sudah sebulan tidak bekerja demi menjaga anaknya. “Kami telah hampir sebulan di rumah sakit, saat ini genap 26 hari kami di sini,” kata Mulyadi. Ditanya tentang bagaimana Melawati masuk ke RSUD Soedarso, Mulyadi agak sedih saat bercerita. “Awalnya Melawati mengalami demam, pusing, batuk, dan penglihatan mata kanannya agak kabur, lalu ia dilarikan ke rumah sakit daerah Singkawang. Setelah tiga hari di rumah sakit Singkawang, Melawati dirujuk ke RSUD Sudarso Pontianak yang kemudian di operasi pertama hari Senin (27/11), kemarin,” ujar Mulyadi. Mulyadi menerangkan, keadaan anaknya setelah operasi pertama masih seperti biasa. Melawati masih merasa pusing-pusing setelah setengah cairan di kepalanya dibuang. Pada awalnya, penglihatan mata sebelah kanan Melawati kabur. Kemudian, setelah beberapa hari di rumah sakit, mata bagian kiri turut kabur. Sampai saat ini terhitung 10 hari setelah selesai operasi, Melawati tidak bisa buang air besar. Kata dokter, penyakitnya pun bertambah awalnya hanya Hidrosepalus kini tambah deritanya dengan Tumor otak. Setelah mengetahui penyakit Melawati bertambah parah, kedua orang tuanya tidak putus asa untuk berikhtiar menyembuhkan buah hatinya itu. Mereka berencana membawa Melawati ke Jakarta. Di sana, mereka akan bertemu dengan dokter ahli yang tentunya akan menyembuhkan penyakit Melawati. “Mungkin untuk selanjutnya kami akan membawa Melawati ke Jakarta,” Kata Rohaya. Mulyadi dan keluarga dihadapkan kembali kepada permasalahan dana. Meskipun semua biaya operesi ditanggung Jamkesmas (Jaminan Kesehatan Masyarakat), segala tetek bengek lain pasti memerlukan dana juga. Sedangkan pada waktu itu mereka tidak dapat bekerja untuk mencari dananya. “Seperti pengalaman sebelumnya, perawatan untuk penyakit ini memerlukan waktu lama dan dana yang cukup besar. Bahkan memakan waktu berbulanbulan,” kata Hadali, yang bersama saya saat itu.

Kondisi serba kekurangan tersebut juga pernah dialami oleh beberapa pasien penghidap hidrosepalus sebelumnya, Marsel dan Nayla. Mereka harus pulang ke rumah karena kekurangan dana untuk menunggu operasi kedua. Padahal di rumah mereka tidak dirawat sebagaimana mestinya. “Kemarin kami juga sedikit membantu Nayla dan Marsel,” tambah Hadali saat bersama SMPS di titik pengumpulan dana. Marsel pulang ke Dusun Sui Guntung Barat, Desa Sui Palah, Kecamatan Galing, setelah operasi pertamanya. Marsel sejak berumur 2 bulan mengalami penyakit ini, pada saat berumur 4 tahun dia baru dioperasi. Dana yang terkumpul dari SMPS-lah yang dipakai, namun uang sebesar 22 juta telah habis. Masih ada satu kali operasi yang harus dilakukan demi tersembuhnya penyakit Marsel. Begitu juga Nayla yang berumur 6 bulan, harus terbaring sakit karena menghidap Penyempitan Uraf Syaraf. Dia hanya pernah menangis sekali saja setelah dilahirkan. Dan saat ini dia pulang ke rumahnya di Kubu Raya setelah menjalani operasi yang pertama, dikarenakan keterbatasan dana. Mahasiswa Kalbar bentuk SMPS SMPS adalah sebuah organisasi mahasiswa dari perguruan tinggi di Kalimantan Barat yang mempunyai rasa sosial tinggi untuk membantu orang-orang yang membutuhkan. Mereka membantu sebisa mungkin mencari dana untuk membantu orang-orang yang membutuhkan seperti Melawati, Nayla dan Marsel. “Kami turun ke jalan, meminta belas kasihan pengguna jalan untuk sedikit meringankan beban mereka. Namun, itu pastinya belum cukup untuk mereka yang rata-rata orang tua si sakit hanya petani biasa yang tidak memunyai penghasilan yang tetap,” terang Hadali. “Kami mulai kembali ingin membantu. Kami sangat mengharapkan kerjasama dan bantuan dari pihak-pihak yang peduli akan sesama. Tidak memandang dari mana ia berasal, pendidikannya, atau apapun juga, asal mau untuk menolong orang-orang yang sedang terbaring sakit dan sangat memerlukan pertolongan,” ujar Putra Hermanto, anggota SMPS. Menurut Putra, berawal dari Alm. Dirga dan Alm. Sapika yang menghidap

Edisi VII Tahun XXXII/ LPM Untan/ 2014

penyakit Hidrosepalus asal Jawai dan Pemangkat, aksi sosial mereka terus ada, sebagai bentuk Pengabdian Kepada Masyarakat yang tertuang dalam Tri Dharma Perguruan Tinggi. Dalam segala aksi sosial ini mereka menunjukan bahwa mahasiswa tidak duduk diam melihat penderitaan saudara-saudara yang terbaring di rumah sakit. Mereka berterima kasih kepada para pengguna jalan yang telah mau mengulurkan tangan meringankan penderitan si sakit. Kegiatan SMPS Mulai Berkurang, Pasien Hilang Kontak Kamis, (26/09/13), reporter Mimbar Untan kembali menemui Hadali. Ada pula beberapa rekan SMPS lainnya. Mereka menerangkan kembali kabar beberapa pasien yang telah mereka bantu sebelumnya. “Saat ini, marsel kondisinya memburuk. Ia tidak terlalu diurus keluarganya. Padahal uang yang terkumpul masih ada untuk biaya perawatan Marsel,” ungkap Hadali. Menurut Hadali, kondisi Marsel semakin memburuk. Keluarganya tidak terlalu memperhatikan kesehatan Marsel. Mungkin karena ketidaktahuan atau hal-hal lain yang tidak mereka ketahui. Sedangkan Nayla dan para pasien lain, tidak diketahui kabarnya sampai saat ini. Menurut Hadali, pergerakan SMPS saat ini dirasa mulai berkurang. Sejak mereka sedang Magang atau PPL, tidak ada yang mengajak teman-teman SMPS untuk turun ke jalan lagi. “Pergerakan SMPS juga tidak lagi semantap dulu,” ung­kap Hadali.

Turun ke Jalan: Solidaritas Mahasiswa Peduli Sesama melakukan aksi penggalangan dana untuk pasien yang kurang mampu, di Bundaran Digulist Universitas Tanjungpura Pontianak. Foto: SMPS

31


Mimbar Kampus

HASIL PENELITIAN LEMLIT

MINIM PUBLIKASI Oleh Ismail

L

embaga penelitian (Lemlit) merupakan wadah bagi Civitas Akademika Untan untuk melakukan penelitian. Ratusan penelitian dilakukan setiap tahunnya dan penelitian tersebut wajib dipublikasikan agar bermanfaat bagi seluruh Civitas Akademika Untan maupun khalayak ramai. Namun, dari sekian banyak penelitian yang dilakukan, usaha publikasi dinilai sangat kurang, terutama di lingkungan Untan sendiri dan bahkan beberapa mahasiswa mengaku tidak pernah mendapatkan informasi dari hasil penelitian Lemlit. Kurangnya publikasi dari Lemlit diakui

32

oleh Heldi, mahasiswa FKIP, 2012. Ia bahkan belum pernah mendapatkan atau membaca segala penelitian yang di lakukan oleh Lemlit Untan. “Sampai saat ini masih belum mendapatkan atau membaca hasil penelitian Lemlit (red), jarang dipublikasikan juga kan,” tuturnya. Hal senada juga disampaikan oleh Hairi, mahasiswa Faperta Untan, 2012. Ia mengatkan hasil penelitian sangat

penting untuk dipublikasikan khususnya kepada mahasiswa, agar mahasiswa mendapatkan wawasan dan pengalaman baru. Namun, hal itu tidak dilakukan oleh Lemlit. Oleh sebab itu,

Edisi VII Tahun XXXII/ LPM Untan/ 2014


Mimbar Kampus dia mengharapkan kedepannya Lemlit mempublikasikan hasil penelitian atau tentang Lemlit itu sendiri khususnya kepada mahasiswa. “Hasil penelitian sangat pen­ting dipublikasikan, agar mahasiswa tau tentang penelitian,” ungkapnya. Menurut UU Nomor 18 Tahun 2002 Tentang Sistem Nasional Penelitian, Pengembangan, dan Penerapan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Pasal 13 ayat 2, hasil penelitian yang telah didanai wajib untuk dipublikasikan baik ke lingkunagn Untan maupun keluar Untan. UU tersebut berbunyi, “Perguruan tinggi dan lembaga litbang wajib mengusahakan penyebaran informasi hasil-hasil kegiatan penelitian dan pengembangan serta kekayaan intelektual yang dimiliki selama tidak mengurangi kepentingan perlindungan kekayaan intelektual.” Dengan adanya aduan seperti itu, Amrazi, katua Lemlit Untan mengatakan, publikasi hasil

penelitian yang pernah dilakukan berbentuk jurnal maupun abstrak penelitian di publikasikan di jurnal yang telah terakreditas terakreditasi. Namun, beliau tidak membeberkan informasi tentang jurnal tersebut. “semua dosen yang mendapat dana wajib mempublikasikan hasil penelitiannya minimal kejurnal terakreditasi. Tapi saya mendorong semua riset yang dibiayai itu dipublikasikan dalam jurnal internasional,” ujar Amrazi. Mendapat kritikan seperti itu, Amrazi berencana untuk menambah insfrasruktur dan mengoperasikan beberapa fasilitas. “Dulu tidak punya jaringan, tidak punya web, tidak punya induk rencana penelitian, tidak punya sistem penjamin mutu penelitian (SPMP). Begitu saya masuk saya coba rancang semua, satu tahun target saya tercapai pada bulan Februari 2014,” pungkasnya. Pada Tahun Anggaran 2012 Lemlit Untan telah melakukan 353 penelitian. Penelitian-penelitian tersebut: Fakultas hukum 50 penelitian, Fakultas ekonomi 35 penelitian, Fakultas pertanian 53 penelitian, Fakuktas Teknik 36 Penelitian,

Edisi VII Tahun XXXII/ LPM Untan/ 2014

Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik 40 penelitian, Fakuktas Keguruan dan Ilmu Pendidikan 55 penelitian, Fakuktas Kehutanan 16 penelitian, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam 12 penelitian, Fakuktas Kedokteran 7 penelitian, dan Kerja sama denga pihak ketiga 40 penelitian. Dalam kesempatan tersebut, Amrazi juga menerangkan tentang penelitian Lemlit yang masih didominasi oleh dosen-dosen. Ia mengatakan, hal tersebut karena belum ada peraturan yang mewajibkan dosen membawa mahasiswa dalam penelitian seperti yang diungkapkan oleh ketua Lemlit Untan. Namun untuk kedepannya ia merencanakan dosen harus melibatkan mahasiswa saat penelitian penelitian agar mahasiswa memiliki pengalaman dalam penelitian. “Sekarang saya belum mewajibkan dosen membawa mahasiswanya Mungkin tahun keempat saya akan minta dosen membawa mahasiswa dalam penelitianya,” jelasnya. Biodata Lemlit Untan L e m l i t Untan memiliki 13 Pu-

33


sat Penelitian Studi /Pusat Kajian yang masih aktif sampai saat ini. Ketiga belas nama unit kerja adalah sebagi berikut: 1)Pusat Penelitian Wanita (PPPW), 2) Pusat Penelitian Kependudukan (PPK), 3)Pusat Penelitian Lingkunag Hidup (PPLH), 4)Pusat Penelitian Masalah So-

sial (PPMS), 5)Pusat Penelitian Ekonomi dan Managemen (PPEM), 6)Pusat Kajian Kebudayaan Melayu, 7)Pusat Penelitian Kebudayaan Dayak (PPKD), 8)Pusat Penelitin Hak Azasi Manusai (PSHAM), 9) Pusat Penelitian Sumber Daya Alam dan Pemberdayaan masyarakat (PPSDAPM),

10)Pusat Penelitian Keanekaragaman Hayati dab Masyarakat Lahan Basah (PPKHMLB), 11)Pusat Penelitian Resolusi Konflik dan Perdamaian (PPRKP), 12)Pusat Studi Energi Terbarukan (PSE), 13)Pusat Studi Disain (PSD).

Jumlah Peneliti dan Penelitian Lemlit Untan 2012

No

Fakultas

Tenaga Peneliti

Jumlah Penelitian

1

Hukum

74

50

2

Ekonomi

97

35

3

Pertanian

106

53

4

Teknik

166

36

5

Ilmu Sosial dan Politik

96

40

6

Keguruan dan Ilmu Pendidikan

223

55

7

Kehutanan

61

16

8

MIPA

71

12

9

Kedokteran

53

7

Sumber: Litbang Mimbar Untan

34

Edisi VII Tahun XXXII/ LPM Untan/ 2014


Mimbar Kampus

Carut Marut Pengkaderan di FKIP Untan

Birokrat Kampus Kontrol Kegiatan Hima Oleh Tim Juma 13

“

Kalau saya menemukan hal demikian, saya akan skors, dan tidak mengizinkan untuk mela­ kukan pengkaderan Achmadi Pembantu Dekan III FKIP Untan

M

ahasiswa mempunyai hak berkumpul dan berserikat yang di atur dalam Undangundang Perguruan Tinggi (UUPT). Dengan payung hukum yang kuat itu, beberapa Himpunan Mahasiswa (Hima) di perguruan tinggi termasuk Universitas Tanjungpura (Untan) melakukan pengkaderan sebagai kegiatan mencari bibit baru organisasi mereka di lingkungan kampus. Dalam pengkaderan tersebut, seyogyanya tanpa ada campur tan-

Edisi VII Tahun XXXII/ LPM Untan/ 2014

gan dari pihak manapun selain interen Hima, karena bukan bagian dari kegiatan akademik. Namun, kenyataan dilapangan, pihak biroktar kampus, secara tidak langsung menunggangi pelaksanaan pengkaderan oleh Hima di Untan termasuk Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) dan bahkan telah masuk mencampuri urusan organsiasi baik itu dari pihak dekan maupun pihak Program Studi (Prodi). Achmadi, Pembantu Dekan (Pudek) III FKIP, mengaku telah melakukan pengawasan pengkaderan Hima FKIP. Ia mengontrol setiap kegiatan Hima, dan akan menskor selama satu tahun bagi himpunan yang melakukan tindakan di luar aturan pihak dekan. “Saya akan melakukan kontrol, bahkan saya hari Sabtu menyempatkan waktu untuk melihat dan mengawasi kegiatan-kegiatan mereka,” jelasnya, Senin (7/10/2013). Menurut Achmadi, SK Rektor No. 2281/UN22/KN/2013 poin 6 tentang pengaturan penyambutan mahasiswa baru di lingkungan Untan yang berbunyi kegiatan pembinaan direncanakan dan dilaksanakan di bawah koordinasi pembantu dekan III masing -masing fakultas telah jelas mengatur pengkaderan di Untan. Menurutnya, pihak Dekan FKIP patut mengontrol dan mengawasi pengkaderan yang dilakukan Hima. Namun, SK tersebut harus ditinjau ulang, karena hanya mengharuskan koordinasi di bawah Pudek III, bukan pengawasan dan bahkan intervensi sedikit pun dari Pudek III dan Prodi.

35


Mimbar Kampus Di FKIP, waktu pelaksaan pembinaan telah diatur. Pada hari Sabtu, mulai pukul 07.00 – 12.45 WIB. “Kami sudah memberikan seluas-luasnya kepada Hima. Kami sudah berikan waktunya hari Sabtu pukul 07.00 - 12.45, mengapa pukul 12.45, karena pukul 01.00 mereka harus pendikar,” ujar Achmadi. Sejumlah Hima Tidak Patuhi Aturan Pembantu Dekan III FKIP Meskipun peraturan tentang pengkaderan telah dibuat pihak Dekan FKIP, masih ada mahasiswa yang tidak menerima bahkan tidak mematuhi peraturan tersebut.

Panitia PAMB FKIP Untan memberikan pengarahan kepada mahasiswa baru.

SK tersebut membuat beberapa organisasi di FKIP kurang puas. Beberapa organisasi merasa di intervensi. Mereka dibatasi melakukan kegiatan pembinaan Mahasiswa Baru (Maba). Mendapat aduan seperti itu, Achmadi menyanggah. Ia mengatakan telah memberi keleluasaan kepada Hima. Ia menyarankan kepada Hima untuk menggunakan kesempatan yang diberikan dengan baik. “Kami sudah memberikan seluas-luasnya kepada Hima-hima. Jadi kalau diberikan keleluasaan, gunakanlah dengan sebaiknya. Kalau mau memberontak silahkan. Tetapi kita kembali lagi ke-SK rektor yang sebenarnya pembinaan dilarang. Namun pembinaan boleh diatur oleh Pembantu Dekan III difakultas,” ungkapnya. Achmadi, melarang kegiatan sweeping dan kekerasan fisik seperti push up dan sit up saat pengkaderan. Ia melarang kegiatan tersebut karena mahasiswa kuliah di FKIP bertujuan untuk belajar. “Saya melarang keras kalau dalam bentuk fisik, karena kita bukan menciptakan tenaga militer yang mana tenaga pendidik harus berkhlak mulia, bersahabat dan lain-lain. Saya juga melarang keras melakukan sweeping karena sangat mengganggu proses pembelajaran dan perkuliahan. Sweeping pun sebenarnya sudah diatur oleh pihak fakultas. Kalau saya menemukan hal demikian, saya

36

akan skor, dan tidak mengizinkan untuk melakukan pengkaderan,” ungkapnya. Hal tersebut disanggah Putra, Presiden Mahasiswa FKIP. Ia mengatakan tidak mungkin jika ada kekerasan, karena kegiatan yang dilakukan oleh Hima semuanya telah diatur dalam Tata Tertib pengkaderan. Sampai saat ini, masih belum ada laporan tentang kekerasan fisik dari Hima. “Kekerasan fisik sudah di atur di tata tertib panitia dan peserta, jadi tidak mungkin untuk melakukan hal tersebut karena kita merupakan calon pendidik, dan untuk saat ini saya belum ada menerima laporan seperti itu,” ungkapnya, Minggu (28/09/2013). Bukan hanya itu, Beberapa Ketua Prodi FKIP juga ikut mengintervensi. Mereka menerapkan sertifikat Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) menjadi satu di antara syarat skirpsi. Padahal itu bukan wewenang mereka. Hal tersebut diungkapkan satu di antara mahasiswa FKIP, 2011. Ia mengaku diancam tidak bisa skripsi karena tidak ada sertifikat PKM dengan kedok Tri Dharma Perguruan Tinggi yang ketiga: Pengabdian Kepada Masyarakat. “Ketua Prodi kami bahkan telah ikut campur urusan organisasi mahasiswa, jika tidak ikut PKM maka tidak bisa skripsi. Padahal kegiatan organisasi hanya hak dan bukan kewajiban. Saya tiap satu semester mengadakan acara pengabdian di kampung dan itu tanpa harus diberi sertifikat, tanpa ada imingiming pula. Jelas itu Pengabdian, bukan iming-iming bisa skipsi,” ungkapnya.

Menurut pantauan Reporter, masih ada Hima yang melaksanaan pembinaan melanggar ketetapan waktu yang diberikan pihak dekan. Mereka memulai lebih awal, yaitu pada pukul 06.00 ataupun mengakhiri lewat dari pukul 01.00. Selain waktu pelaksanaan, masih banyak hal yang menjadi bahan perdebatan. Satu diantaranya, kegiatan hukuman fisik dan sweeping pada mahasiswa baru. “Untuk sweeping masih dilakukan dan untuk hukuman. Biasanya yang cowok berupa Push up dan cewek Sit up,” ungkap seorang Mahasiswa Baru (Maba) FKIP yang tidak mau disebutkan namanya, Minggu ( 28/ 09/2013). Tidak hanya hanya itu, seorang (Maba) FKIP Prodi berbeda mengaku bahwa Hima-nya memberikan satu hari khusus untuk sweeping di luar jadwal pelaksanaan pembinaan. “Kalau sweeping ada biasanya sore hari di luar jam kuliah, tapi bukan hari Sabtu,” ungkap mahasiswa FKIP yang juga tidak mau disebutkan namanya. Pengadaan sweeping akan selalu dilaksanakan hingga Maba sudah dianggap tidak melakukan kesalahan. “Tidak setiap minggu, hanya kalau masih ada Maba yang melakukan kesalahan, seperti name tag-nya hilang, tidak menerapkan DS5 ( Disiplin, salam, sapa, sopan, santun, senyum), sweeping-nya akan terus ada,” tambahnya, Minggu (10/11/2013). Pelaksanaan pembinaan ternyata berdampak negatif terhadap Maba. hal ini dapat dilihat jika pelaksanaan pegkaderan berisikan sweeping disertakan hukuman fisik berupa seri yang dilakukan oleh Hima, meskipun di luar jam kuliah, namun hukuman kegiatan itu membuat Maba merasa kelelahan dan secara tidak langsung dapat mengganggu proses perkuliahan. “Capek,

Edisi VII Tahun XXXII/ LPM Untan/ 2014


Mimbar Kampus teman-teman ada yang sakit, sakit sampai besok–besoknya,” ungkap mahasiswa baru FKIP yang tidak mau disebutkn namanya. Minggu (10/11/2013). Adanya pemberian sanksi berupa push up dan sith up juga diakui oleh salah satu ketua Hima. Menurutnya, kekerasan atau hukuman fisik tidak dilakukan dengan semena-mena karena semua sudah diatur oleh tata tertib pengurus dan panitia himpunan. Ia mengatakan hukuman dilihat dari permasalahannya seberapa besar kesalahan mahasiswa baru maka hukuman berupa sit up, push up dan seri akan diberlakuakan. “Kalau untuk hukuman, kesalahan mereka sudah sangat fatal, maka push up, sit up, dan seri masih di berlakukan,” ungkap salah satu Ketua Himpunan Mahasiswa yang tidak mau disebutkan namanya. Minggu (10/11/2013). Achmadi : Sertifikat PKM, PPM, Bukan Sebagai Syarat Skripsi Mendapat aduan tentang diberlakukannya sertifikat PKM, PPM menjadi syarat skiripsi, Achamdi membantah. Ia mengatakan sertifikat kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM), PPM, bukan sebagai syarat skripsi. Syarat skripsi yang sebenarnya adalah KKM. KKM wajib karena merupakan mata kuliah. Namun, PKM dan PPM Hima bukan mata kuliah dan jelas-jelas tidak menjadi syarat skripsi. Begitu juga pengkaderan yang dilakukan Hima itu bukan termasuk termasuk aktifitas akademik. Pada manual prosedur Fakultas sangat jelas bahwa syarat skripsai ada 19 poin dan sertifikat PKM tidak termasuk di dalamnya. “PKM akan dijadikan sebagai syarat skripsi untuk ke depannya, tapi ini baru wacana. Karena pihak fakultas tidak mungkin bisa memutuskan begitu saja tanpa rapat dan persetujuan dari senat dan pihak tertinggi perguruan tinggi,” ungkap Achmadi, Rabu (19/11/2013).

Edisi VII Tahun XXXII/ LPM Untan/ 2014

Wawancara Khusus

PRESMA FKIP:

Pengkaderan Sebagai Ajang Mema hasiswakan Mahasiswa Oleh Rika dan Riko

Peserta PAMB FKIP Untan 2013

Saat diwawancara di sela kesibukannya, Minggu (28/09/2013), Putra, Ketua Presiden Mahasiswa, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP), Universitas Tanjugpura (Untan) mengatakan, bahwa mahasiswa harus kritis dan dapat memberikan solusi yang baik untuk pembangunan bangsa. Mahasiswa harus berorganisasi, tidak hanya fokus kuliah. Dari kegiatan pengkaderanlah, organisasi akan mengembalikan mahasiswa atau memahasiswakan kembali mahasiswa. Menurut Putra, dampak negatif pelaksanaan pembinaan memanglah ada. Namun, tidak hanya negatif, banyak dampak positif dari pelaksanaan itu. Menurutnya pengkaderan adalah ajang untuk menumbuh kembangkan budaya kritis, budaya diskusi, dan banyak lagi. Mahasiswa adalah agen kontrol yang seharusnya bisa memberikan pengaruh terhadap kebijakan yang ada di lingkungan sekitar maupun dalam lingkup yang lebih luas. “Mahasiswa sebagai engine of change, pengontrol sosial, iron stop. Dari pengkaderan, mahasiswa tidak dilatih

menjadi apatis. Mereka akan dididik kritis. Mahasiswa tidak hanya fokus kuliah saja. Tapi, mereka tahu dan bisa memberikan solusi terhadap hal-hal yang terjadi disekitarnya. Karena mahasiswa selain independen juga intelektual,” ung­kapnya. Pelaksanaan pengkaderan pada dasarnya memanglah bertujuan mengenalkan Maba bagaimana caranya menjadi mahasiswa, karena iklim dunia sekolah yang mereka tinggalkan berbeda dengan iklim perkuliahan. Di perguruan tinggi mahasiswa dituntut untuk kritis dan perduli terhadap lingkungan sekitar. Melalui organisasi dan dalam pengkaderanlah mahasiswa dilatih, agar tidak menjadi apatis. “Mahasiswa sekarang ini lebih bersifat apatis dan hedonis. Mereka tidak sadar kepada apa yang terjadi disekitarnya dan lebih memikirkan keduniaan tidak memikirkan orang lain. Dengan pengkaderan ini kita kembalikan mahasiswa. Dan kita mahasiswakan kembali mahasiswa,” tambah Putra.

37


Mimbar Selingan

S

ENI TENUN AMBAS TAK PUNYA HAK PATEN Seni kain tenun Sambas, baik itu dari proses, motif, dan hak paten, masih membutuhkan perhatian khusus dari pemerinntah maupun berbgai pihak. Ditakutkan, jika terus seperti itu, tidak menutup kemungkinan seni yang tak ternilai harganya akan hilang. Foto: Istimewa

38 38

Oleh Mariyadi

Edisi VII Tahun XXXII/ LPM Untan/ 2014


Mimbar Selingan

S

etelah melewati perjalanan yang melelahkan dan sempat diguyur hujan. Akhirnya aku sampai di Dusun Keranji, Desa Tanjung Mekar, Kecamatan Sambas, Kabupaten Sambas untuk menjambangi kediaman Budiana (45), seorang pengrajin kain tenun khas Sambas. Sampai saat ini ia sangat aktif menenun dan memasarkan hasil tenunnya ke berbagai daerah di Indonesia bahkan di Negara-negara lain. Selasa siang, (03/09/2013). Terlihat dari jalan, Budiana sedang mengerjakan beberapa tenunannya. Seorang wanita paruh baya itu langsung menghentikan pekerjaannya saat aku memberi salam dan menceritakan perihal keingintahuanku terhadap teknologi tenun Melayu Sambas yang menghasilkan karya terkenal hingga luar negri itu. Saat itu Budiana menggunakan kerudung Biru. Kebaya putih bercorak melayu menambah serasi setelannya. Dengan senyum ramahnya, ia memperlihatkan sebuah alat tenun yang telah dari pagi tadi ia gunakan. “Apakah ada alat tenun yang lain selain ini bu?”, tanyaku. “Ada, nanti kita ke tempatnya”, jawabnya. Berawal dari remaja hingga sudah beranak dua, Budiana masih aktif menenun. Keahlian menenun turun dari ibunya yang juga seorang penenun. Budiana juga telah suskes memasarkan kain tenun. Kain tenun sambas merupakan

ada di sekitar kecamatan Sambas. Barubaru ini ia juga mendapat penghargaan Unesco Award sebagai satu diantara binaan PT.Garuda. Di rumah tenun, tidak jauh dari kediamannya, terbentang sebuah alat tenun komplit. Ada pula beberapa lembar kain songket yang telah selesai ditenun terpajang di ruangan yang terang itu. Benang-

benang sisa dan gulungannya memberi ciri khas rumah seorang penenun. Sebuah seni karya tradisional Sambas yang belum pernah sama sekali aku lihat selama ini. Hal tersebut membuatku kagum, hingga Budiana tersenyum melihat tingkahku yang selama ini tidak mengenal sebuah alat tenun Khas daerahnya sendiri.“Kalau ingin menenun kita harus menentukan

Ngane’:

satu dinatara kain tenun yang laku di pasaran bahkan terkenal di Malaysia dan Brunai Darusalam. Budiana telah membawahi lebih dari 100 penenun lain yang

Alat Tenun: Miniatur alat pembuat kain tenun di rumah Sahidah, satu diantara penenun di Kabupaten Sambas

motif yang dikehendaki yang di dapat dari Suji Bilang,” kata Budiana memulai pembicaraan. Budiana masuk ke dalam ruangan kamarnya. Ia mengambil sebuah buku yang ia sebut Suji Bilang. Suji bilang merupakan kumpulan motif ragam hias. Ada yang digambar di atas kertas, ada yang disulam pada kain stermin benang kasa, dan banyak lagi. Namun, saat itu Budiana memperlihatkan Suji Bilang yang dibuat di atas kertas berukuran HVS A4. Menurut Budiana, untuk proses pertama penenun adalah menentukan motif yang dikehendaki. Jika tidak tersedia, maka ia akan menyalin motif tersebut menjadi Suji Bilang. “Untung saat ini sudah ada kertas bergaris. Kalau dulu, kami harus menggaris. Garisnya pun harus rapi. Jika tidak, hasilnya tidak bagus,” tambah Budiana. “Proses selanjutnya adalah pemilihan benang,” ungkap Budiana. Ia mengatakan, apabila pemesan berkeinginan untuk menggunakan benang dari bahan sutra atau catton, kita terlebih dahulu mencelup (Mewarnai) bahan tersebut. Jika hanya menggunakan benang biasa (Benang Polister), maka tidak perlu pewarnaan. “Setelah benang diwarnai, kegiatan selanjutnya adalah Narau,” ungkap Budiana. Budiana mengatakan, proses narau

warga memindahkan benang longseng ke sebuah bidang yang di buat selangseling pada ane’an.

Edisi VII Tahun XXXII/ LPM Untan/ 2014

39


Mimbar Selingan

ini adalah proses menggulung tali ke sepotong kayu yang di sebut Pelating. Benang itu disebut benang pakan, berupa benang emas atau benang perak yang akan disongketkan pada benang putih atau warna lain yang biasa disebut benang longseng (Sebuah bidang yang berupa susunan beribu-ribu helai benang yang juga menjadi dasar tenunan). Dalam proses me-narau ini, ada sebuah alat yang mempermudah proses penggulungannya. Alat tersebut disebut Penarau. Pelating adalah sebuah alat yang terbuat dari kayu keras, panjangnya sekitar 25-27 cm, bergaris tengah sekitar 5 mm. Sedangkan Penarau adalah sebuah alat penggulung persis penggulung yang ada pada pancing. Namun bentuknya besar. Apabila diputar, benang akan tergulung pada Pelating. “Lanjut dengan mengane’,” tambahBudiana. Menurutnya, proses mengane’ adalah proses memindahkan benang longseng ke sebuah bidang yang di buat selang-seling yang disebut ane’an. Proses ini disebut ngane’. Kegunaannya untuk mengukur atau menentukan berapa helai kain tenun yang dapat dihasilkan. Pada benang yang diane’ diberi tanda dengan olesan kapur pada setiap ukuran satu helai kain. Kata Budiana, pada proses pengane’-an, setelah sampai beberapa meter, benang yang telah selesai di ane’, kembali direntangkan dan digulung secara melebar pada sebuah papan yang disebut papan Tandaian. Papan Tandaian ini terbuat dari kayu keras, panjangnya sekirat 1,5 meter persegi dan lebarnya sekitar 1,75 meter, dan tebal sekitar 20 cm. Per-

40

entangan itu di sebuat dengan natar. “Selanjutnya, setiap ujung benang longseng dihubungkan dengan sisa-sisa kain pada balok,” terang Budiana. Setelah benang di gulung di Tandaian, proses selanjutnya adalah menghubungkan benang lonseng dengan sisa-sisa benang yang telah di tenun. Benang-benang yang putus itu helai perhelai sebelumnya telah masuk, telah diatur di dua buah bisang yang di sebut karab dan papan suri. Karab atau cucuk karab dibuat dari ayunan benang dan disusun tegak lurus, gunanya untuk mengatur tinggi rendah pola kain. Terdapat dua buah kerap. Saat menenun, penenun akan menginjak karab pertama dan memasukan benang pakan pertama, lalu penenun menginjak kerap kedua untuk benang pakan yang selanjutnya. Keguanaan kerap ini adalah untuk mengangkat dan menurunakan benang agar ia benang longseng dapat selang seling saat memasukan benang pakan. Papan suri adalah papan yang mempunyai bilah-bilah lidi tipis dan terbuat dari kulit bemban batu yang disebut gigi suri. Papan suri gunanya untuk memadatkan benang pakan.“ Barulah mengikat motif,” ungkap Budiana Menurutnya, proses tersulit di bagian ini adalah membuat motif. Untuk membuat motif, kita harus mengikat motif itu agar mudah nantinya mengagkat benang longseng dan memasukan sebuah alat yang dinamai Belirak. Belirak dibuat dari papan tipis, panjangnya sekitar 1,5 meter dan lebarnya sekitar 5 cm, gunanya untuk mengangkat motif yang diikat.

Untuk mempermudah memasukan benang pakan yang telah digulung pada pelating, penenun menggunakan sebuah alat yang dinamai dengan Turrak. Turrak terbuat dari ruas bambu khusus, berukuran panjang sekitar 30 cm, garis tengah sekitar 18 mm, pada salah satu ujungnya diberi sumbat dari kayu Belian bentuknya menyerupai peluru, gunanya untuk memudahkan memasukkan turrak pada benang longseng.“Begitulah selanjutnya. Jika ada perubahan motif, maka penenun harus mengangkatnya dan memasukan belirak. Jika telah banyak tenunan, maka kita harus memasang sumbe’,” tambah Budiana. Sumbe’ terbuat dari sepotong bambu, ukuran panjangnya sekitar 1,5 meter. Pada ujung pangkalnya dipasang dua buah jarum, gunanya untuk mengatur agar hasil tenunan tetap kencang sebelum digulung pada balok passé. Apabila hasil tenun telah mencapai beberapa centi meter, hasil tenun itu di gulung dengan sebuah kayu yang melintang di sebut balok passe. Hingga selanjutnya kembali penenun mengulur benang yang telah menggulung di tandaian. Balok passe terbuat dari kayu keras, panjangnya seitar 1,5 meter, bentuknya persegi enam, dengan ukuran lebar sekitar 5 cm. balok passe digunakan untuk menggulung kain hasil tenunan. “Sampai di situlah proses panjang pembuatan kain tenun. Biasanya kain paling cepat selesai satu bulan. Prosesnya yang lama membuat harganya mahal,” pungkas Budiana. Begitulah teknologi melayu yang tidak pernah kita tahu siapa penemunya. Teknologi tenun yang berjasa membuat karya tradisional yang telah terkenal di beberapa Negara di dunia. Dari proses panjang tersebut juga membauat harga kain tidak semurah kain sablonan atau kain pabrikan. Menurut Budiana. Ratarata harga kain tenun sesuai dengan bahannya berkisar antara 1 sampai 3 juta rupiah. Namun untuk shall, kopiah, dan aksesoris lain biasanya seharga Rp. 100.000. Ratusan Motif Belum Diketahui Makna Filosofisnya Beberapa buah motif yang dituangkan ke dalam tenunan pastinya memiliki makna Filosofis pada penenun itu sendiri atau sejarah tertentu. Namun, di Sambas. Tidak banyak yang dapat digali mengenai Makna Filosofis dari beberapa motif tenunan yang jumalahnya sekitar 130 motif. Hanya 13 motif yang dapat dije-

Edisi VII Tahun XXXII/ LPM Untan/ 2014


Mimbar Selingan laskan makna Filosofisnya.“Motif pucuk Rebung, istilahnya kehidupan kita yang seharusnya lurus,” kata Budiana. Menurut Budiana, motif Pucuk Rebung atau yang lebih dikenal anak bambu melambangkan hidup seseorang yang seharusya lurus saat hidup, lalu bila sudah tua atau sudah tinggi, seseorang harusnya merunduk sama halnya dengan sifat bambu. “Motif Kota Mesir orang kita yang dulu tinggal di Mesir,” lanjut Budiana. Menurut Budiana, maksud dari motif Kota Mesir ini adalah saat seseorang yang pernah ke Kota Mesir menuangkan kondisi kota tersebut ke dalam tenunan,

agar masyarakat Sambas mengetahui dan sekaligus dapat melihat gambaran Kota Mesir di dalam tenunan tersebut. “Sebenarnya banyak motif untuk kain tenun Sambas. Namun, kami juga tidak tahu pasti bagaimana sejarah fungsi dan makna dari seluruh motif tersebut,” kata Budiana. Budiana menambahkan, cukup banyak motif yang ada. Sekitar 130 motif jika dihitung-hitung. Namun, mereka tidak dapat menggali apa maksud dari motif-motif tersebut. Kebanyakan motifmotif yang telah ada adalah gambarangambaran tentang kehidupan manusia, tumbuhan, dan buah-buahan. Para pene-

nun yang telah lama menenun, juga tidak terlalu mengetahui secara dalam. Mereka hanya menenun dan menenun tanpa tahu apa arti motif yang mereka tenun sampai saat ini. Setiap motif dari kain tenun sambas ini pastinya memiliki latar belakang, bentuk dan makna filosofisnya. Dari sekian banyak kain tenun tersebut, baru beberapa saja yang kita kenal. agar bisa bersaing dengan kain tenun dari daerah lain. Kain tenun sambas sebagai khazanah budaya meskinya memiliki makna filosofis, agar punya nilai jual yang tinggi dalam pangsa yang lebih besar lagi.

Motif dan filosofi kain tenun No

1 2 3

4 5 6

Motif

Pucuk rebung melambangkan kekuatan hidup manusia. Sedangkan burung enggang gading Pucuk Rebung Enggang adalah sejenis burung besar khas pulau Kalimantan yang dijadikan maskot provinsi Kalimantan Gading Barat. Melambangkan nuansa keindahan alam kota Sambas yang kemudian dituangkan ke dalam Pucuk Rebung Bunga motif kain. Ada seorang ulama Sambas yang belajar Islam ke Mesir dan berkunjung ke istana yang Pagar Kota Mesir mempunyai pagar berciri khas kota Mesir. Ulama tersebut menceritakannya kepada pengrajin tenun Sambas. Melalui cerita tersebut dituangkan dalam bentuk motif kain. Zaman dahulu masyarakat Sambas adalah pelayar dan peniaga, terutama ke Singapura. Anggur Pulangnya sering membawa buah anggur kesenangan mereka. Untuk mengenang perjalanannya dituangkan dalam bentuk motif kain. Ular sawah banyak ditemukan di daerah Sambas, biasanya ada yang melilit di pucuk rebung. Sawa Melakko Hal ini mengilhami penenun Sambas untuk menuangkannya ke dalam motif kain. Awan bertaburan di angkasa melambangkan suasana hari yang indah dan cerah. Keadaan ini Tabor Awan mengilhami penenun Sambas untuk menuangkannya ke dalam motif kain.

7

Kupu-kupu

8

Rantai Emas

9 10 11

12

13

FILOSOFI

Bagi masyarakat Sambas apabila kupu-kupu masuk ke dalam rumah pertanda akan kedatangan tamu. Hal ini kemudian dituangkan ke dalam motif kain.

Melambangkan seni kerajinan dikenang terus-menerus tidak ada hentinya sampai ke keturunan selanjutnya. Semangat inilah yang diabadikan dalam motif kain. Melambangkan cita-cita tinggi yang terus-menerus dan harus tercapai. Semangat inilah yang Rantai Bintang dituangkan ke dalam kain motif ini. Tabor Bintang dan Tabor Gabungan seni yang berasal dari benda atas dan bawah yaitu bintang (atas) dan bunga sebangar Bunga Sebangar (bawah), yang kemudian dilambangkan dalam motif kain. Pada suatu waktu masyarakat desa Sambas pergi ke hutan bertemu pohon Male’ yang sedang Bunga Male’ berbunga dengan indahnya setahun sekali. Untuk mengenangnya maka dituangkan ke dalam motif kain. Apabila ingin mengetahui waktu imsak masyarakat Sambas, khususnya penenun, melihat Bintang Timur bintang timur yang mulai menampakkan diri. Pemandangan ini kemudian dituangkan ke dalam motif kain. Senjata yang dipakai berburu, berkebun, bertani oleh masyarakat Sambas adalah parang dan Parang Manang tombak. Salah satu bentuk parangnya sering menang (berhasil) untuk berburu, maka dituangkanlah dalam motif kain.

Sumber: Disperindagkop Kabupaten Sambas tahun 2010 (Sendy Iman Fery. 2012. tarianjemariku.blogspot.com, Rabu, 19 Oktober 2011).

Edisi VII Tahun XXXII/ LPM Untan/ 2014

41


Mimbar Selingan

KTTHB

Bangkitkan Semangat Sosial Masyarakat Desa Oleh Atem

“Tujuan terbentuk­nya Karang Taruna Tunas Harapan Bersama (KTTHB)sebagai wadah untuk berkumpulnya para pemuda untuk menggali bakat dan sekaligus untuk menekan dan menanggulangi kebebasan negatif yang sering dilakukan pemuda dan mengarahkannya pada kebia­saan yang berbau positif, “ ungkap Kasman, Ketua KTTHB

42

Edisi VII Tahun XXXII/ LPM Untan/ 2014


Mimbar Selingan

D

i aat terjadi Fenomena kurang­ nya kepedulian sosial yang melanda masyarkat di zaman global terutama dikalangan pemuda, Karang Taruna Tunas Harapan Bersama (KTTHB) Desa Sungai Kumpai Kecamatan Teluk Keramat Kabupaten Sambas berusaha membangkitkan kembali semangat kepedulian sosial pemuda agar dalam melakukan sesuatu dalam kehidupan masyarakat menjadi lebih terarah, bertanggung jawab, dan melakukan hal-hal dengan tujuan yang positif. Karang Taruna merupakan organisasi sosial wadah pengembangan generasi muda yang tumbuh dan berkembang atas dasar kesadaran dan tanggung jawab sosial dari, oleh, dan untuk masyarakat terutama generasi muda di wilayah desa/ kelurahan dan terutama bergerak di bidang usaha kesejahteraan sosial yang memiliki tujuan maupun visi dan misi yang berhubungan untuk kesejahteraan sosial bagi masyarakat di sekitarnya. Sesuai dengan visinya yakni terbentuknya jiwa semangat dan tanggung jawab sosial yang tinggi pada generasi muda dalam menyikapi berbagai permasalahan sosial. Saat diwawancarai Mimbar Untan pada Rabu (17/10/2012), Ketua KTTHB Desa Sungai Kumpai, Kasman, mengatakan tujuan terbentuknya karang taruna tunas harapan bersama sebagai wadah untuk berkumpulnya para pemuda untuk menggali bakat dan sekaligus untuk menekan dan menanggulangi kebebasan negatif yang sering dilakukan pemuda dan mengarahkannya pada kebiasaan yang berbau positif. KTTHB yang memiliki sekretariat di Dusun Semayong Desa Sungai Kumpai ini, terbentuk pada tanggal 31 Desember tahun 2006 lalu dan masih eksis sampai

sekarang. Hal ini tentu tidak luput dari Kerjasama desa dengan pemuda yang berjalan dangan baik. Kerjasama tersebut tampak dari bentuk dukungan Kepala Desa dan seluruh perangkat desa pada setiap kegiatan yang dilaksanakan oleh KTTHB. “Banyak sekali dukungan yang telah diberikan pemerintah desa kepda KTTHB, karena Kepala Desa sebagai salah satu Pembina di organisasi ini jadi secara tidak langsung dukungannya selalu diberikan kepada organisasi KTTHB,” papar Kasman. Adapun dukungan yang dimaksud berupa dana pembinaan dari pemerintah desa dan setiap even yang dilaksanakan oleh KTTHB juga selalu mendapat bimbingan dan persetujuan dari pemerintahan desa. Kepala Desa Sungai Kumpai Dusun Semayong, Lana Sami’an mengaku mendukung program-program yang telah direncanakan KTTHB. “Perlu dibentuk KTTHB di Desa Sungai Kumpai untuk membangun karakter kepemimpinan kaum muda, sebagai inprastruktur sosial / patner pemerintah, Karang Taruna juga sebagai mitra pemerintah dalam penanganan usaha kesejahteraan sosial,” jelas Lana, Rabu (17/10/2012). Karang taruna dibentuk untuk mencapai tujuan-tujuan dalam menciptakan kesejahteraan sosial terutama di daerah pedesaan dan sebagai penggeraknya adalah para pemuda setempat. Ia berharap agar KTTHB kedepannya dapat meningkatkan potensi di desa dan mendorong masyarakat untuk lebih menciptakan generasi muda yang lebih maju. “Tujuan dibentuknya KTTHB di Desa Sungai Kumpai, supaya setiap generasi muda termotivasi untuk mampu menjalin toleransi dan menjadi perekat persatuan dalam kebersamaan kehadapan masyarakat

Edisi VII Tahun XXXII/ LPM Untan/ 2014

berbangsa dan bernegara, terjalinnya kerjasama antara generasi muda dalam rangka mewujudkan tarap kesejahteraan sosial bagi masyarakat,” papar Lana. Masyarakat juga dapat merasakan manfaatnya meskipun masih belum banyak, tapi masyarakat tetap menyambut baik program-program yang dilakukan KTTHB yaitu dengan mendukung langsung dalam program tersebut, misalnya mengikutsertakan anak-anaknya di TPA, yang diadakan KTTHB, bersama-sama memeriahkan perayaan Hut RI, gotong-royong perbaikan jalan, dan beberapa kegiatan lainnya. Ada perbedaan sebelum dan sesudah berdirinya KTTHB di desa sungai kumpai. “Sebelum ada karang taruna, tiada satupun kegiatan, kalau tidak ada karang taruan, tidak ada apa-apa dikampung,” ucap Liani dengan bahasa khas Melayu Sambas. Dengan terbentuknya Karang Taruna Tunas Harapan Bersama di Desa Sungai Kumpai, ia mampu memberikan perubahan bagi desa dan masyarakat setempat. Kasman berharap KTTHB selalu akti eksis dalam segla hal, terus berkarya, kreatif, bisa memberikan motivasi, bisa membantu dan berguna bagi masyarakat desa Sui Kumpai dan selalu solid sesama anggotnya dalam mejalankan organisasi serta go internasional. Saat reporter Mimbar Untan kembali menyambangi KTTHB, mereka tampak masih tetap eksis melakukan segala kegiatan mereka. Masyarakat juga sangat antusias mengikuti semua kegiatan yang mereka adakan dan satu persatu program kerja mereka telah terwujud, seperti sukses menggelar peringatan Hut RI yang ke-68, di Desa Sungai Kumpai pada Sabtu, 17/08/2013 lalu.

43


44

Edisi VII Tahun XXXII/ LPM Untan/ 2014


Edisi VII Tahun XXXII/ LPM Untan/ 2014

45


Mimbar Tokoh

Ferry Hadari

MAKSIMALKAN POTENSI MAHASISWA Rambutnya ikal, gayanya nyentrik, na­ mun tetap bersahaja. Jangan di tanya soal robot, sudah pasti ia akan berpan­ jang lebar menjelaskannya. Dia adalah Pembantu Dekan III Fakultas Teknik Uni­ versitas Tanjungpura, Ferry Hadary (42). Oleh : Gusti Eka dan Nabu

46

FOTO FERRY HADARI 13 tahun yang lalu di depan Shofu dormitory, asrama Tokyo Institute of Technology. Foto: Istimewa Edisi VII Tahun XXXII/ LPM Untan/ 2014


Mimbar Tokoh Foto: Ferry Hadari (pertama dari kiri) bersama dua mahasiswa Fakultas Teknik ketika menjadi Juara 2 Tingkat Nasional Tahun 2012 dalam sebuah kontes robot.

akademika Untan berdecak kagum. Semua kaget dan senang luar biasa mendengar keberhasilan mereka. “Untan heboh, ini bukan kemenangan Teknik, tapi ini kemenangan Untan, “ katanya. Sosok dosen lulusan Jepang ini mampu memaksimalkan kemampuan mahasiswa yang berada di Fakultas Teknik. Ia yakin jika potensi-potensi mahasiswa yang ada di Untan dikembangkan akan menghasilkan sesuatu yang luar biasa. “Saya itu yakin anak-anak Untan itu udah luar biase, hanya tinggal mengarahkan mereka ke potensi masingmasing,” ujarnya. Beberapa waktu lalu ia bersama mahasiswa-mahasiswa bimbingannya sempat menghebohkan Untan dengan prestasi yang telah diukir, dengan robot pemadam api (fire fighting) mereka berhasil menjadi juara dua se-Indonesia dalam sebuah kejuaraan robot di Jakarta. Awalnya Untan belum pernah mengikuti kejuaraan robot selama ini namun saat itu ia merasa bahwa potensi untuk menciptakan robot itu ada khususnya di Fakultas Teknik, Karena ranah untuk menciptakan sebuah robot lebih kepada mekantronika juga elektronika, dimana di Fakultas Teknik ada mempelajari mesin dan juga kontrol. Tepatnya tahun lalu berangkat dari rasa penasarannya terhadap mata kuliah yang sudah sekian lama dipelajari bahkan dipelajarinya juga ketika ia masih menjadi mahasiswa Untan. Ia merasa itu adalah sebuah potensi besar dan harus di maksimalkan apalagi produk-produk mahasiswa di Teknik sipil itu sudah banyak berbentuk robot, mulai dari robot berkaki, beroda dan banyak macam lagi. Ketika itu beberapa mahasiswa menghadapnya dan mengatakan akan ikut dalam kejuaraan robot, ia sontak setuju dan siap membantu. Namun waktu itu ia menyarankan kepada para mahasiswa untuk di lapangan harus ada yang membantu, dan para mahasiswa

pun sudah menyiapkan orang yang dapat membantu mereka ketika di lapangan. Orang yang tentunya sudah berpengalaman dan mengerti tentang robot. “Karena berdasarkan pengalaman kalau kite ikut lomba tu, kalau kite ndak tau lawan kite siape? kompetisi bentuknye gimana? Pasti kalah, karena sepintar-pintarnya kite gimana pun kalau kita ndak pernah menghadapi kondisi dan suasana seperti itu pasti kita tidak akan menang,” kata Ferry saat ditemui di Ruangan Pembantu Dekan III, Fakultas Teknik, Selasa (3/12). Akhirnya mereka mengikuti kejuaraan tersebut, ia pun bersama mahasiswamahasiswanya melobi kesana, kemari untuk mencari dana dalam mengikuti kejuaraan robot ini. Karena untuk menciptakan sebuah robot ini butuh dana yang tidak sedikit. Alhasil mereka berhasil meyakinkan rektor Untan dan bahkan Walikota Pontianak dalam pendanaan. Dengan modal kepercayaan diri yang tinggi dan dengan potensi mahasiswanya timnya mampu menjadi runner up dalam kejuaraan robot tingkat regional, mereka satu grup bersama universitas dari batam, jawa dan bali, dan selanjutnya mereka juga berhasil menjadi runner up di Nasional.

Edisi VII Tahun XXXII/ LPM Untan/ 2014

Keberhasilan ini tentunya di sambut baik oleh seluruh civitas akademika Untan apalagi karena ini kali pertama nya tim robot Untan tampil di kancah nasional dan langsung mampu mengukir prestasi.

Nama

: Ferry Hadary, Dr.Eng.

Lahir

: Pontianak, 28 Februari 1971

Istri

: Mirya Emeralda

Anak

: 1. Zafirah Asy Syifa

2. Zahwah Nailatul Izzah

Pendidikan : • S1 Teknik Elektro, Universitas Tanjungpura, Pontianak • S2 Mekanik Bidang Informatik, Institusi Teknologi Jepang • S3 Ilmu Informasi dan System Rekayaan/Sains, Institusi Teknologi Kusyu Jepang

Hasil ini membuat seluruh civitas

47


Mimbar Budaya

SERULING GRUP Harta Karun yang Terpendam 48

Edisi VII Tahun XXXII/ LPM Untan/ 2014


Mimbar Budaya Sebagaian masyarakat Kalimantan Barat (Kalbar) tentunya jarang mendengar kesenian musik tradisional seruling khas Kalimantan Barat ini. Namun, tim mimbar untan menemukan jejak kesenian ini di Desa Sungai Guntung Barat yang masih dimainkan oleh Grup Perintis. Saat ini, kesenian seruling khas Kalbar ini diambang kepunahan. Sebab, tidak ada generasi penerus dan kesenian ini tergerus oleh musik-musik luar. Oleh Mariyadi

J

amiri adalah satu diantara seniman seruling grup yang tersisa di daerah itu. Di sebut seruling grup, karena seluruh personilnya, kompak memainkan alat musik jenis seruling. Seruling ini terbuat dari bahan dasar bambu, bila dimainkan secara bersamaan, akan menghasilkan nada lagu yang indah dan berirama. Dalam perjalanan waktu, beberapa diantara personil grup ini, menambah beberapa jenis alat musik lainnya. Seperti tanji, tambur, dan sejumlah alat pengeras suara. “Tujuannya agar suara musik yang dihasilkan bervariasi dan berirama,” kata Jamiri. Bagi warga Dusun Sungai Guntung, seruling grup biasa ditampilkan pada acara perkawinan, peringatan hari kemerdekaan dan penyambutan kedatangan para pejabat atau kepala daerah yang berkunjung ke dusun ini.Pertunjukan terbesar digelar warga dusun ini, Pengalaman tujuh tahun yang lalu, menon-

ton dua puluh orang bermain seruling di atas pentas di dusun Sungai Guntung Timur “Sebenarnya kesenian ini telah ada sebelum kami lahir,” jawab Jamiri. Ia menceritakan pada 1950 kesenian seruling grup mulai diperkenalkan oleh seorang guru, bernama Muhamad Rifai. Ia berasal dari Sungai Bundong, Kecamatan Sungai Kunyit Kabupaten Pontianak. Muhamad Rifai menikahi seorang gadis bernama Asmi dan menetap di Sungai Guntung Barat. Di tempat inilah kesenian seruling grup mulai diajarkan pada masyarakat sekitar. Mulanya seruling grup memiliki anggota sebanyak 23 orang.Kelompok ini dipimpin langsung Rifai. Dalam perjalanan waktu, hanya tinggal beberapa orang saja yang tersisa, melestarikan kesenian tradisional tersebut. Mereka adalah Marjini, Muslimin, Parhan, Sumbri, Simin. Mirisnya lagi, empat dari lima anggota yang tersisa bahkan kini telah menetap di Malaysia. “Hanya Muslimin yang tersisa. Sekarang tinggal di Sambas,” kata Jamiri. Menurut Jamiri, kesenian seruling grup mirip dengan perkumpulan seniman musik tanjidor. “Namun, seruling lah yang paling dominan,” kata Jamiri. Ia mengatakan, kesenian seruling ini idealnya memiliki 20 buah seruling, satu tanji dan tambur. Dalam setiap pagelaran, tiap seruling diberi pengeras suara. Khusus untuk jenis seruling yang digunakan, menurut Jamiri sedikit berbeda dengan seruling yang biasa digunakan pada musik band sekarang. Perbedaan itu terletak pada bentuk fisik dan ukuran dan ukuran bervariasi. Seruling paling panjang berukuran 47 centimeter dengan jarak antara lubang not 3 centimeter. Sedangkan untuk seruling kecil, memiliki panjang 30 centimeter dengan jarak lubang not 2 centimeter. Setiap ukuran seruling menghasilkan nada yang berbeda. Untuk menghasilkan nada tadi, alat ini dimainkan dengan cara ditiup. Untuk seruling yang besar menghasilkan nada bas dan yang kecil untuk pengiring. Adapun bahan dasar dari seruling ini adalah dari bambu. bambu ini diraut menggunakan mata pisau dengan halus. Tapi untuk pembuatan seruling ini dibu-

Edisi VII Tahun XXXII/ LPM Untan/ 2014

tuhkan orang yang paham dengan teknik pembuatan. Karena teknik pembuatan yang rumit, seruling ini tidak ditemukan di toko yang menjual alat musik. “Di Sambas, hanya tersisa satu orang saja yang mahir membuat seruling ini. Sayang beliau sudah almarhum. Pak Zainal namanya,” kata Jamiri. “Sampai sekarang belum ada generasi yang menggantikan bakat Pak Zainal,” tambahnya. Bisa jadi, lantaran krisis tenaga pembuatan seruling, kesenian ini sempat redup juga. Nyaris setiap ada acara pernikahan maupun hari kemerdekaan, suara seruling ini sempat tak terdengar lagi. Baru pada 2003, Jamiri ketika itu menjabat sebagai kepala dusun, kesenian ini dibangkitkan kembali. Jamiri kemudian mendirikan grup kesenian seruling ini. Anggotanya adalah warga Sungai Guntung Barat. Grup ini diberi nama “Grup Perintis.” “Ketuanya adalah Nordi. Warga kampung kami juga,” kata Jamiri. Jamiri mengatakan, untuk membina dan melestarikan grup ini tidak cukup dengan latihan. Tetapi juga butuh pembinaan. nah, khusus untuk pembinaan di sini, dibutuhkan modal untuk operasional. Misalnya biaya perawatan alat musik, kostum dan konsumsi. Beruntung Jamiri bertemu dengan Ihsani. Ia adalah pegawai di Badan Pendapatan Daerah Kalbar. Darinya, grup ini mulai mendapat binaan. Pada setiap kesempatan Ihsan mengundang grup ini untuk mengisi acara pesta sejumlah pejabat di pemerintahan daerah. Pelan-pelan kesenian ini mulai dikenal masyarakat luas. Salah satunya, grup ini pernah tampil pada perayaan ulang tahun Pemkab Sambas dan mengikuti festival kesenian di pelbagai daerah. Ketua Grup Perintis, Nordi (45 tahun) mengatakan saat ini grup yang dipimpinnya memiliki jumlah anggota sebanyak 18 orang. Dari anggota ini, mereka sampai sekarang terus berlatih memainkan seruling dan mempelajari beragam jenis lagu. Menurutnya, hal ini penting dipelajari. Karena tidak selamanya setiap ada pagelaran, para anggota membawakan lagu daerah. Lagu-lagu terkini juga wajib dipelajari.

49


Mimbar Budaya Tujuannya agar p e m bawaan dan mengenalkan media tradisional ini tidak hanya untuk kalangan tua. Generasi muda juga wajib mengetahui, bahwa alat musik ini tidak kalah dengan alat musik modern yang mereka kenal sekarang.

lagu-lagu maras, dangdut, dan lagu-lagu melayu.” Kata Nordi.

Pernah suatu ketika, pada saat alat grup ini mendapat undangan tampil mengisi acara ulang tahun Pemkab Sambas. Lebih tepatnya pada 2005 silam. Pada saat itu grup pipmpinan Nordi sempat bingung begitu pihak panitia acar meminta grup ini membawakan lagu daerah Sambas.

Bagi generasi muda yang ingin belajar memainkan seruling grup cukup mudah dan tidak membutuhkan waktu yang lama.

“Sebelumnya kami hanya berlatih

50

Maras dalam masyarakat Melayu Sambas merupakan sejenis lagu untuk arak-arakan pengantin. Lagu ini juga biasa dimainkan dengan alat musik tanjidor.

“Kuncinya cukup menguasai not nada pada lubang di seruling,” katanya. Jamiri, Nordi dan seniman seruling grup ini adalah generasi yang tersisa di

Kabupaten Sambas. Latihan dan latihan dari anggota grup ini tentulah tak cukup untuk mempertahankan tradisional ini secara berkelanjutan. Apalagi pesatnya teknologi dengan kehadiran alat musik modern, lambat laun seni seruling bambu ini bakal tergerus zaman. Butuh dukungan semua pihak untuk melestarikan kesenian ini. Misalnya dukungan dana dan pola pembinaan yang baik. Pada akhirnya, generasi mudalah yang nantinya yang akan estafet perjuangan Grup Perintis, agar seruling grup bisa dikenal masyarakat luas. Semoga.

Edisi VII Tahun XXXII/ LPM Untan/ 2014


Mimbar Resensi

KUPU-KUPU KERTAS

Judul Penerbit Penulis ISBN Cover

: Kupu-Kupu Kertas (Perjuangan Meraih Cinta & Cita) : Reginamedia : Deny Wijaya : 978-602-17831-2-2 : Soft cover

Oleh: Nabu

N

ovel ini berkisah tentang pahit getir perjuangan seorang anak yatim bernama Rangga. Terputus dengan sang ayah, yang merantau tah kemana, tidak tahu kemana keberadaanya. Rangga pun hidup sebatangkara, setelah ibunya wafat. Rangga pun berjuang mati-matian, untuk menyambung hidup dan terus sekolah. Ia rela menjadi kuli angkut barang di pasar bahkan kerja asongan. Berkat semangat dan keteguhan, Rangga berhasil menapaki jenjang sekolah, sehingga

ke Perguruan Tinggi. Perkenalnya dengan Shirly dalam sebuah Ospek membuat dilema ketika Rangga telah jatuh hati pada Tantri. Yang dimana Tantri adalah cinta pertama Rangga yang ia kenal semasa dibangku SMA. Inila Awal episode cinta yang indah dan penuh dilema. Pada mulanya Shirly membenci Rangga, namun kebencian Sherly pada Rangga justru membuatnya terperangkap pada cinta yang mendalam. Namun sherly tak sepenuhnya mendapatkan cinta Rangga. Sher-

Edisi VII Tahun XXXII/ LPM Untan/ 2014

ly pun memutuskan untuk pindah kuliah Ke Melbourne, Australia. Uniknya, berkat sebuah beasiswa dari tempat Rangga bekerja di Jakarta, Rangga juga mendapakan kesempatan menamatkan studinya di Melbourne. Perjumpaan Rangga dengan Sherly di Melbourne membuat kedekatan mereka terajut kembali. Cinta lama bersemi. Kembali Rangga dihadapkan pada dilema. Memilih Tantri yang hilang Ingatan atau berpaling pada Sherly.

51


Mimbar Budaya

MUSIK TANJIDOR

GENTA PERBA HAMPIR TERLUPAKAN

Langit penuh dengan awan keabu-abuan, sesekali terdengar gemuruh. Gas motor diperkencang melewati jalan batu dan tanah kuning, agar cepat sampai ke tempat tujuan. Desa Pipitteja, Kecamatan Teluk Keramat, mengunjungi grup tanjidor yang tersohor pada zamannya. Lumayan jauh dari Desa Paloh, sekitar 15 km dengan waktu tempuh 30 menit. Kini suara tanjidor mereka jarang terdengar dan hampir terlupakan.

Oleh Nabu

D

ari jauh terlihat seorang yang sudah berumur dengan rambut penuh uban, berbaju coklat bergari putih, celana jabrai, sedang duduk di lapak sayurnya sambil memperhatikan orang lalu lalang. Pria itu bernama Ali, satu diantara pemain tanjidor yang tergabung dalam Grup Tanjidor Genta Perba dan masih menjabat sebagai Ketua Grup. Grup Genta Perba ini ada karena

52

usaha ayah dari Ali rekannya mengajak masyarakat desa untuk patungan membeli alat musik dan membentuk kelompok musik. “Grup Tanjidor Genta Perba yang berdiri pada tahun 1962 dengan personil 12 orang, hasil patungan (persatuan) sekampung, tanjidor ini sudah berumur 50 tahun”, ungkap Ali. Menurut Ali, menjadi pemusik harus siap apa bila diperlukan, harus siap meninggalkan keluarga dalam waktu yang

cukup lama. “Kadang kami sebulan sekali pulang rumah jika Genta Perba diminta manggung, itu pun hanya satu hari, karena jaman dulu permintaan orang pernikahan masih banyak dan kami hanya pakai sepeda” tambah Ali. Ali menceritakan musik Tanjidor dulu sangat laris. Dalam satu bulan, biasa ada 8 atau 9 tempat untuk main, rata-rata kami main untuk orang perkawinan yang waktu itu harga sekali main 15 ribu ru-

Edisi VII Tahun XXXII/ LPM Untan/ 2014


Mimbar Budaya piah. “Grup Tanjidor Genta Perba yang pernah kedaerah mana saja, bahkan dipanggil untuk main diacara Bupati dan masa Pemilihan Bupati. Jadi kami tak lelah untuk itu, bahkan kami makin cinta dengan Tanjidor sampai tua. Untuk lagu pun sudah hapal di luar kepala tanpa latihan”, kenang Ali. Landak (69) dan Arif (70), pemain Grup Tanjidor Genta Perba tahun 62 yang sudah pensiun ini mengatakan, pada tahun 90-an mereka pernah mendapatkan penghargaaan dan mereka pernah juga dapat juara 1 dalam sebuah pertandingan. Permintaan akan tanjidor tidak banyak seperti dulu. Hal tersebut di akibatkan banyaknya grup band dan organ tunggal dalam setiap acara pernikahan atau acara resepsi lainnya. “Sekarang Tanjidor tak sehebat dulu. Rata-rata panggilan untuk main 1 bulan cuma 3 kali saja, disebabkan setiap acara perkawinan pasti memanggil bend bukan Tanjidor. Kami bersyukur masih ada juga yang meminta kami untuk bergabung dengan bend”, ungkap Ali. “Untuk pemainnya pun hanya ada beberapa yang muda, sisanya pemain lama,” ungkap Ali. Dalam kenangan warga, Tanjidor sudah lama tidak terdengar lagi, ada

pun tidak pull Tanjidor. “Dulu Tanjidor sangat pas sekali dengan acara pernikahan dan saat kami kecil dulu suka sekali mendengarkan Tanjidor”, kata Tambri warga setempat. Menurut Agus (18), salah satu siswa SMK 1 Paloh, sekarang ia jarang sekali mendengarkan musik Tanjidor. “Pengen rasanya mendengarkannya lagi, malah band (Okestra) yang banyak di acara pernikahan,” tambahnya. Untuk regenerasi, grup genta perba sudah melakukan rekruitmen. Namun, tidak banyak pemuda yang tertarik untuk bergabung. “ Kami sudah berusaha untuk mencari pengganti kami, terutama anakanak muda yang masih kuat tenaganya“ ungkap Arif. “Mungkin penerusnya sudah tidak ada, anak-anak muda pun tidak mau melanjutkan budaya ini. Mungkin gengsi atau malu jaman sekarang main Tanjidor. Termasuk aku, malu dan gengsi bila disuruh main”, canda Landak sambil tertawa. Pendapatan yang diterima setiap personil yang berjumlah 12 orang sebesar Rp. 60.000. Jumlah gaji yang diterima tersebut dari total upah yang diterima grup Tanjidor Genta Perba yang berjumlah 1 juta rupiah. “ Untuk harga sekarang 1 juta sekali main. “Itu pun dibagi 12 orang. Jadi 60 ribu per orang dan 20 ribu masuk kas

kami”, jelas Ali lagi. Ali dan kawan-kawanya berharap, musik tanjidor dapat dilestarikan dan dibudayakan, supaya tidak hilang dimakan zaman. Anak-anak muda juga harus sadar akan budaya ini. “Aku sangat cinta tanjidor. Menurut saya pribadi, membuat budaya musik tanjidor ini bisa bertahan sampai anak cucu adalah kebanggaan tersendiri bagi saya,” kata Ali. “Lanjutkan budayaTanjidor ini, jangan sampai kalah dengan band (okestra) dan jangan sampai nantinya anak cucu kita tidak tahu musik tanjidornya, masyarakat dan pemerintah setempat juga harus sadar dan bertindak untuk melestarikan budaya ini”, tutur Agus, berharap kedepan. Ali mengatakan Sebagai seorang pemusik, ia berharap kian tumbuh kesadaran masyarakat khususnya para pemuda untuk melanjutkan perjuangan mereka, untuk mempertahankan budaya yang ada dan ia juga ingin pemerintah lebih memperhatikan hal ini, karena jika tidak di lakukan upaya pelestarian, budaya musik tanjidor ini bisa hilang karena ditelan jaman modern yang mengandalkan Band. []

Para pemain grup tanjidor Genta Purba.

Edisi VII Tahun XXXII/ LPM Untan/ 2014

53


Mimbar Puisi DI BALIK HARAPAN Ketika ku buka jedela kehidupan yang nampak tilas Awan mendung menggambarkan keadaan jiwa ku............. Cerminan cuaca yang nampak jelas Aku melihat jauh di sana............. Ada harapan besar mencuat kepermukaan... Ada pengharapan,,,,,,, Ada cinta,,,,,,,,, Ada masa depan ??? Harapan itu seakan memanggil hasrat hati untuk tergugah Namun apalah daya ....... Aku terbentur tembok besar Tembok yang memaksa untuk ku mengurungkan segala harapan dan impian Ada kemelut hadir di sela harapan ku..................... Begitu besar muatan terminal memori ingatan akan sebuah harapan Akankah daya ini menyemburat keluar ??????? Dibalik harapanku hanya kekuatanNYA yang berkuasa.... Getir kehidupan datang di bawa arus hidp........... Api di jiwa tak pernah padam selalu diterpa badai kebimbangan........ Namun semangatku tak pernah pudar.... Dia kan berikan jawaban Di balik harapan..... Oleh: Talino

KATA PRESIDEN Kata SBY pendidikan sama dengan KORUPSI Yang dapat menciptakan tikus-tikus berdasi Kata MEGA pendidikan sama dengan “Wong gede” Sehingga “Wong deso” tidak mendapatkan hak mengayom pendidikan, jadilah pengangguran Kata GUSDUR pendidikan sama dengan orang buta “Sudah bertahun-tahun negara ini merdeka, kok masih gitu-gitu terus ndk ada maju-majunya” Kata HABIBI pendidikan sama dengan teknologi “Lihat seperti aku, bisa menciptakan pesawat dengan teknologi” Kata SUHARTO pendidikan sama dengan perubahan atau Reformasi. Demi kebebasan dan demi hak asasi manusia marilah kita mengabdi dipangkuan Pertiwi Kata SUKARNO pendidikan sama dengan kemerdekaan Harus kita rebut dan pelihara dengan baik Darahku adalah darahmu negeriku Itulah kata presiden Oleh: Nabu

54

JERITAN ANAK BANGSA Kami generasi muda bangsa,,, Kami anak bangsa yang tak tau mau dibawa kemana Kehilangan sosok legenda bangsa, Kehilangan manusia – manusia sempurna dimata belia.... Kata – kata tak bersarang lagi di terminal ingatan......... Mimpi kami hanya bersarang di dada, Ketulusan bercampur dengan kedustaan................ Penindas kini merdeka........... Kami sengsara......... Bumi kami........ Ladang kami........ Musnah ditelan para pen guasa jalanan........... Jeritan kami tak keluar......... Ditelan angin jalanan........... Hanya tawaran rimba yang ada saat ini dan nanti..... Kami generasi bangsa bagaikan dalam tabung kaca............ Mampu tapi tak bisa.. Gejolak jiwa membara dan lenyap seketika Hanya bisa menjerit dalam air............ Melihat dalam kegelapan

Oleh: Talino

Edisi VII Tahun XXXII/ LPM Untan/ 2014


Mimbar Puisi SEBUAH PERJALANAN ALAM Awan hitam sudah mulai serakah mentutupi langit Matahari seakan lemah tak berdaya Mengalah pada sang awan yang mulai berkuasa sebagai raja Tetes-tetes air mulai menyapa

Sebagai petanda kenaikan tahta sang raja Dari negri yang sama, angin turut bergembira

Sebagai prajurit raja yang paling setia Berteman dengan hujan berperang dengan matahari menaklukan bumi Apadaya matahari panasnya kini rapuh dan redup Dibekukan angin dan hujan dari negri awan Sang raja merasa puas dengan kekuasaan yang sesaat Merasa jaya dengan tahta yang sementara

Prajurit-prajurit ditarik mundur dari perperangan Melihat matahari yang tak pernah menyerah melawan Selalu menyusun strategi merebut kembali kekuasaan Dibalik kegelapan ia bersembunyi menaklukan negri awan di pagi hari.

Edisi VII Tahun XXXII/ LPM Untan/ 2014

55


Mimbar Cerpen

GUBUK DI PERSAWAHAN Oleh: Atem

Bias-bias terang tampak terlihat di ufuk timur, sebagai petanda matahari akan memulai memperlihatkan kegagahannya mengawali pagi yang tampak cerah pada hari itu. Masih tidak terdengar riuh piuh suara manusia pada pagi itu, hanya kicauan burung yang sudah terbangun bersenda gurau dengan ceria menyambut pagi yang cerah sambil berlalu lalang mencari makan di sekitar persawahan. Pagi yang penuh dengan kabut embun, samarsamar terlihat gubuk tua berdindingkan anyaman dari bambu dan beratapkan daun nipah dengan tiang kayu yang sudah miring, tertancap di area persawahan yang luas dikelilingi padi dengan daunnya yang masih terkulai kaku seolah masih enggan menyambut pagi yang cerah . Terlihat sesosok perempuan membuka pintu dari gubuk tua itu dan keluar berjalan pelan, melangkahkan kakinya yang sudah mulai kaku namun masih mampu menahan beban tubuhnya yang sudah sedikit membungkuk . Wajahnya yang sudah keriput dengan pelipis mata yang sudah mengkerut ditambah rambut yang sudah memutih namun ditutupi kain penutup kepala yang sudah mulai usang, menggunakan setelan baju panjang yang tipis ditambah kemban kain batik yang tidak kalah usangnya dengan tutup kepala yang ia gunakan. Nenek Imah, begitulah panggilan perempuan tua separuh baya ini, yang memiliki nama lengkap Fatimah. Ia telah hidup selama 79 tahun dan tinggal di gubuk tua itu sudah hampir 32 tahun lamanya. Setelah suaminya meninggal dunia karena penyakit kencing manis, sejak 30 tahun yang lalu, nenek imah ini berjuang sendirian membesarkan anak satu-satunya , yang saat itu masih berumur 10 tahun dari hasil perkawinannya dengan suaminya itu. Perjalanan hidup nenek Imah tidak berjalan seindah saat masih bersama suaminya, begitu banyak cobaan yang ia alami setelah kepergian suaminya. Terutama ketika ia di uji oleh Tuhan yang maha kuasa , anaknya terkena penyakit tumor serius, berbagai upaya telah dilakukan nenek Imah demi kesembuahan anak semata wayangnya itu hingga ia harus rela menjual rumah peninggalan suaminya untuk membiayai pengobatan anaknya. Sudah hampir satu tahun penyakit yang diderita anaknya itu tidak kunjung sembuh hingga pada akhirya Tuhan berkehendak lain, anaknya yang bernama Eko yang saat itu

56

sudah berusia 11 tahun dijemput Allah SWT kembali ke pangkuan-Nya. Isak tangis yang tidak bisa terbendung keluar dari mata nenek Imah mengiringi kepergian Anak tercintanya itu, begitu tidak rela ia menerima kenyataan itu hingga ia jatuh pingsan setelah pemakaman anaknya selesai. Saat kejadian itu nenek Imah tampak selalu murung, tidak dapat menerima ujian dari Allah SWT. Ia menjadi depresi setelah kejadian itu kadang-kadang ia berteriak sendirian di kontrakannya sambil memanggil nama anak dan suaminya sambil menangis. Ia juga sering menyalahkan Tuhan, sambil berkata “tuhan itu tidak adil, ambil saja nyawaku, biarkan aku mati saja daripada hidup seperti ini” kata-kata seperti itulah yang sering keluar dari mulutnya, namun tidak sekalipun niat dalam hatinya untuk melakukan bunuh diri. Kejadian itu memang sudah berlalu lama sekali namun sisa kesedihan masih tampak tergores di rautan wajahnya yang keriput itu, kini ia tinggal sendiri di gubuk tua sendirian karena sejak kejadian puluhan tahun itu, ia tidak lagi memiliki tempat tinggal,atas inisiatip warga dan tetangganya ia di buatkan gubuk, yang ditempatinya sampai saat ini. Matahari sudah membuka pagi dengan semangat, sisa embun sudah tidak tampak lagi dan nenek tua itu masih asik dengan kerjanya merumput sawah yang masih tersisa dan tidak ia jual, karena merupakan warisan dari orang tuanya. Tangannya masih tangkas mengais rumput-rumput yang mengalangi padi yang baru tiga bulan ia tanam. Sinar pagi matahari sudah menjadi teman setianya setiap hari ditambah terik matahari pada saat tengah hari sampai sore, tak pernah ia hiraukan. “Nek, nek imah!”Tampak sayup-sayup suara perempuan terdengar memanggil namanya, ia tidak terkejut atau merasa aneh lagi dengan suara yang baru saja terdengar di telinganya. Oh Ita, sambil menoleh ke arah perempuan yang baru berumur 10 tahun yang ditemani ibunya membawa rantang kecil. Anak kecil itu pun membalas tolehan nenek Imah dengan senyuman polosnya diiringi dengan lambaian tanganya mengajak perempuan tua itu yang masih belum juga beranjak dari persawahan.

“Nek imah imah, istirahat dulu nek, sudah tengah hari ni” ucap Nunung ibunya Ita. Tidak terasa sudah setengah hari nenek Imah bergeriliya dengan tenaman padinya memberantas gulma-gulma liar yang menghalangi tanamannya itu. “iya neng”, sahut perempuan tua itu sambil melangkahkan kakinya ke arah dua perempuan yang selalu menemaninya di saat siang. Ibu Nunung dan Ita anaknya, setiap hari menjenguk nenek Imah di sawah, mereka berdua satu-satunya orang yang sangat peduli dengan kehidupan nenek Imah. Setiap tengah hari ia membawakan makan siang untuk nenek imah sambil menemaninya ngobrol melepas lelah, biasanya kedua perempuan itu juga membantu nenek Imah di sawah jika mereka tidak ada kegiatan, dan yang sering menemani perempuan tua itu ialah Ita, ia sering ke sawah untuk bermain, karena rumahnya dengan sawah Imah tidak begitu jauh. “Sini nek, cepet sini!” panggil ita yang tidak sabar untuk bercanda dengan perempuan itu, maklum nenek Imah sering mengajak bercanda Ita dan bercerita padanya. Ita telah dianggap sebagai cucunya sendiri, ia juga sangat gembira dengan kehadiran ita yang selalu menemaninya meskipun hanya disiang hari. ia juga sering teringat dan sering membayangkan anaknya yang meninggal di usia yang hampir sama dengan anak perempan itu. jika mengenang hal itu nenek imah sering meneteskan air mata apalagi melihat tingkah Ita yang sering mengundang tawa, ia selalu berandai-andai misalnya anaknya masih hidup dan memiliki keturunan pasti ia akan memiliki cucu seperti Ita. Namun ia sadar itu hanyalah masa lalu dan tak mungkin dapat kembali lagi, biarlah ia jalani sisa hidup di ujung senjanya ini. Setelah mencuci tangannya, ia melangkahkan kakinya menghampiri dua perempuan yang

Edisi VII Tahun XXXII/ LPM Untan/ 2014


sudah menunggunya dari tadi di gubuk tuanya itu. ” neng cantik” dengan suaranya yang khas, perempuan itu menyapa Ita yang sedang duduk menunggunya, sambil menyubit pipinya yang lembut. “ih nenek.”.sambil tersenyum Ita memegang tangan nenek tua itu yang berada dipipinya. “Duduk nek!” nunung mempersilakan nenek imah duduk, sambil mengambilkan piring untuknya. ”makan nek” ucap ita sambil tersenyum dan menunggu ibunya mengambilkan piring dan nasi untuknya. “ya nak”. Makan siang kali ini terasa berbeda, tidak tahu kenapa nenek imah makannya sangat pelan dan pelan sekali tidak seperti biasanya. Matanya kelihatan sayu dan seperti banyak pikiran, sesekali tatapan matanya dengan pelipis yang sudah keriput menatap kearah Ita dan Ibunya. Tatapan itu sangat bebeda dengan tatapan nenek Imah biasanya.Melihat tingkahnya seperti itu Nunung pun mengira bahwa nenek Imah sedang sakit. “ibu tidak enak badan ?” Nunung meyakinkan dugaannya. “aa ahh tidak, ibu baik-baik saja” nenek Imah menjawab dengan kaget karena tiba-tiba di Tanya seperti itu. “Ibu kalau merasa tidak enak badan biar malam ini tidur di rumah kami aja bu” Nunung mencoba menawarkan, meski udah tidak terhitung lagi ia mengajak nenek Imah untuk menginap dirumahnya dan diajak tinggal bersama, namun nenek Imah tidak pernah menerima tawarannya. “Nenek sakit ya” Ita pun memiliki pikiran yang sama dengan ibunya, meskipun ia masih kecil namun ia sudah cukup mengerti dengan kondisi nenek Imah yang setiap hari menjadi temannya itu. “tidak neng…nenek tidak sakit, nenek baikbaik saja…udah terusin makannya” jawabnya dengan santai. Suasana hening sejenak hingga mereka bertiga menyelesaikan makan siangnya. Usai makan siang, Nunung langsung membereskan bekas makan di bantu Ita sedangkan nenek tampak murung bersandar di salah satu tiang penyangga pondoknya, wajahnya tampak muram, melamun dengan tatapan kosong mengarah ke sawah . melihat kondisi seperti itu Ita pun menghampirinya. “nenek liat apa?” Tanya ita yang masih polos

“kamu lihat sawah yang kecil itu nak, yang daun padinya hijau melambai-lambai kearah kita!” sambil tersenyum telunjuknya diarahkan ke sawah.

bawakan makanan dan menemani nenek tiap hari disini, eh hampir lupa, ni.!” Sambil mengunjukan sebuah amplop besar yang sudah kusam.

“iya nek ada apa?”

“apa ini nek?” Ibu Nunung penasaran dan langsung ingin mengetahui isinya.

“kalau Sawah itu…dan gubuk ini nenek kasihkan ke kamu, kamu senang gak?” “benar nek! Ita senang banget…..tapi kenapa dikasihkan ke Ita?” dengan wajah polosnya ita sedikit bingung. “benar dong, kan Ita cucu kesayangan nenek, nenek udah capek kerja terus jadi nenek mau istirahat saja” “asyikk…..janji ya nek..” Ita tampak sangat senang sambil mengangkat kedua tangannya. “iya nenek janji, tapi kamu harus janji juga nanti kalau sudah nenek kasihkan, kamu harus rawat sawah dan gubuk nenek ya?” pinta nenek sambil tersenyum tipis. “Iya nek, Ita janji akan merawatnya nanti” tanpa mengerti apa yang dimaksudkan nenek , Ita sangat semangat. Sedangkan Nunung yang sedari tadi berada dibelakang mereka mendengarkan dengan jelas percakapan kedua cucuk nenek itu.Ia merasa perkataan nenek Imah sangat berbeda, dan aneh, ditatapnya wajah nenek Imah dari samping, terlihat matanya berbinar-binar dan raut mukanya sangat berbeda. Timbul sedikit kekhawatiran dihati Ibu Nunung “ada apa dengan nenek Imah, hari ini ia tampak berbeda dengan hari biasanya” renung Nunung dalam hatinya. “nek..” sapa ibu Nunung dari belakang “iya nak, ada apa” sambil menoleh ke belakang “benar nenek tidak apa-apa?, lebih baik malam ini nenek tidur dirumah Nunung saja, saya khawatir, nenek tampaknya tidak enak badan” Ibu nunung mencoba membujuknya lagi. “tak usah nak, nenek tidak apa-apa nenek cuma lagi teringat dengan almarhum suami dan anak nenek saja” ucapnya menghela.. “benar nek?, tapi kalau nanti nenek merasa tidak enak pergi kerumah saja ya nek, nunung sangat khawatir disini nenek tidak ada yang ngurus” “Iya nak, nanti kalau ada apa-apa nenek akan kasih tahu” “ya udah, kalau begitu kami pamit dulu mau pulang, beres-beres rumah bentar lagi ayahnya Ita pulang kerja” “iya hati-hati , terima kasih juga sudah mau

Edisi VII Tahun XXXII/ LPM Untan/ 2014

“tunggu…jangan dibuka dulu besok pagi baru dibuka ya..!” pintanya sambil memegang tangan Ibu Nunung. Ibu Nunung menatap kea rah Nenek Imah dengan penuh rasa penasaran bercampur kekhawatiran, dan iapun mengurungkan niatnya untuk membuka amplop itu.Langsung digenggamnya dengan erat. “kalau begitu kami pulang dulu ya nek, Ita pamitan sama nenek!” “iya bu, nek Ita pulang dulu ya, besok kami datang lagi” ucapnya tersenyum ceria. Setelah berpamitan Ibu nunung dan Ita berjalan menuju rumahnya, namun hati Ibu nunung sangat resah seakan-akan terjadi sesuatu peristiwa. Sesekali ia menatap ke belakang kearah nenekImah dan di belakang nenek Imah melambaikan tangan seperti hendak berpisah jauh, dan lagi-lagi hal ini tidak biasa dilakukan nenek Imah saat berpamitan. Tampak senyumnya di kejauhan dengan wajah yang penuh ekspresi kesedihan bercampur kebahagian.Sepanjang jalan Ibu Nunung memikirkan kejadian aneh tadi dan iapun tidak sabar untuk membuka amplop yang baru saja diterimanya.Sesekali terlintas dipikirannya untuk membuka amplop tersebut, namun semua itu diurungkannya mengingat pesan nenek Imah bahwa amplop tersebut baru boleh dibuka besok. Sesampainya dirumah ternyata, suami Ibu Nunung sudah pulang dari kerja dan duduk santai di teras rumah ditemani secangkir teh panas. Melihat ayahnya Ita pun langsung menghampirinya dan tidak lupa Ibu nunugn menyapa dan bersalaman dengan suaminya dan meneruskan masuk rumah untuk melakukan perkerjaan rumah tangga yang masih banyak belum diselesaikan. Malam ini terasa berlalu sangat lama dan dingin sekali, hal inilah yang dirasakan Ibu Nunung yang tidak bisa tidur karena memikirkan hal yang dialaminya siang tadi. Setelah terlelap sebentar kemudian Ia terbangun, dilihatnya jam dinding sudah menunjukan pukul 02: 05 menit, bergegas ia keluar mengambil wudhu untuk melakukan sholat tahjud. Sedangkan di gubuk tua saat itu juga terjadi hal serupa, Nenek Imah juga sedang melakukan shalat sunnah malam, ia juga tidur sebentar saja hari ini, ia selalu terbayang-bayang

57


dengan almarhum suami dan anaknya. Air matanya sesekali mengalir membasahi kulit pipinya yang sudah keriput.Ia juga merasakan hal yang aneh dengan dadanya, nafasnya terasa sesak dan susah diatur. Ia tidak bisa tidur lagi dan terjaga hingga waktu sholat subuh tiba, karena adzan subuh sudah berkumandang seperti biasa ia melaksanakan sholat subuh. Sama halnya dengan Ibu Nunung yang juga terjaga tidurnya hingga waktu subuh, selesai sholat Ibu nunung teringat kembali dengan amplop yang diberikan nenek Imah tadi siang. “oh iya, inikan sudah subuh jadi amplop itu sudah boleh dibuka” ucapnya dalam hati. Tanpa melepas mukenanya, ia berjalan menuju laci yang ada di kamarnya kemudian mengambil amplop dan duduk di atas sajadah ditempat ia sholat tadi. Perlahan-lahan dibukanya amplop itu, betapa terkejutnya ketika di lihatnya isi amplop yang diterimanya itu ternyata ialah surat wasiat dan surat tanah nenek Imah. Isi surat wasiat itu berpesan bahwa sebidang tanah yang dimiliki oleh nenek Imah supaya dirawat oleh Ibu Nunung dan nanti setelah Ita berumur 20 tahun tanah tersebut diwariskan kepada Ita. Ia baru sadar perkataan yang diucapkan nenek Imah kepada anaknya ita tadi ternyata memang serius, tak terasa ibu Nunung meneteskan air mata, perasaannya was-was takut terjadi apa-apa kepada Nenek Imah. Segera dibangunkannya suami dan anaknya, untung saja ita dan ayahnya sudah biasa bangun pagi jadi tidak susah dibangunkan. “pak pak, bangun!” “Ada apa bu” dengan mata yang masih susah dibuka “temankan ibu ke rumah nenek “ “pagi-pagi begini emangnya ada apa bu, nanti siang aja deh” ucapnya mencoba menolak. “Tidak bisa pak, ibu ada firasat yang aneh terjadi dengan nenek imah” tanpa memberikan penjelasan secara rinci ibu Nunung memaksa suaminya untuk ikut bersamanya kerumah nenek Imah. Dengan sedikit terkejut dan penasaran pak Ratman, suaminya ibu Nunung itu pun ikut dan tidak lupa membawa buah hatinya si Ita sambil digendong bergegas mereka menuju kediaman nenek Imah. Sesampainya disana mereka mengucapkan salam, namun tidak ada jawaban sehingga diulang tiga kali masih tidak ada suara dari dalam rumah nenek Imah, hal ini semakin menambah penasaran Ibu Nunung. Kemudian ia bertiga menghampiri pintu, dibukanya sedikit pintu itu tampak seseorang lagi sujud melakukan sholat subuh.

58

“Alhamdulillah” ibu Nunung menghela nafas.

“ada apa bu?” Tanya suaminya sambil menggendong Ita yang tampak masih ngantuk. “tidak pak, saya kira terjadi apa-apa sama nenek Imah, ternyata dia lagi sholat” sambil mengerahkan mulutnya kearah ruangan. “emangnya ada apa sih bu, kenapa ibu kelihatanya panik dan bergegas subuh-subuh kesini” ucap suaminya yang dari tadi penasaran. Kemudian ibu Nunung menjelaskan peristiwa yang dialaminya siang kemaren hingga kejadian subuh tadi saat ia membuka amplop. Selesai menjelaskan secara panjang lebar, dan rasanya sudah cukup lama mereka menunggu dilluar, namun nenek Imah masih belum ada tampak keluar, padahal biasanya setelah sholat subuh nenek Imah sudah bersiap-siap turun ke sawah. Melihat nenek Imah tidak muncul-muncul, sekali lagi Ibu nunung mengintip dari pintu, namun ia jadi heran ketika ia lihat Nenek imah masih mengenakan mukena dan masih dalam kondisi bersujud. Dengan rasa was-was dan sedikit firasat buruk ia menghampiri suaminya dan mengajaknya masuk kedalam untuk menghampiri nenek Imah.kemudian mereka masuk kedalam dan menghampiri neneknya, dugaan sementara mereka, bahwa mungkin nenek Imah ketiduran sambil sholat karena kecapean. “nek..nek” sambil menepuk pelan punggungnya, ibu Nunung mencoba membangunkan nenek Imah, namun tidak ada jawaban sehingga semakin kuat ia menggoyangkan badannya namun juga tidak ada reaksi kemudian pak Ratman turut membangunkannya dengan memegang dan mengangkat wajahnya, seketika ia berucap “innalillahi wa innalillahiroji’un” menden-

yah…?” ibu dan ayahnya tidak sanggup mengatakan apa-apa. Dilihatnya wajah nenek Imah yang sudah dibaringkan tampak pucat dan kaku, Ita pun ikut-ikutan mengangis sambil berteriak “nenek kenapa…nenek kenapa?” ketiga orang itu larut dalam kesedihan yang mendalam. Kemudian ia membawa jasad Nenek Imah kerumah mereka untuk di mandikan dan dikafani serta dishalatkan sesuai dengan tuntunan ajaran agama Islam. Orang-orang pun berdatangan untuk melayat setelah diberi tahu berita tentang meninggalnya nenek Imah. Selesai di makamkan keadaan keluarga pak Ratman dan bu Nunung masih dikelabui oleh kesedihan, namun semua itu tidak berlarut-larut. Tidak terasa peristiwa memilukan itu sudah berlalu selama sepuluh tahun, dan saat ini ita sudah beranjak umur 20 tahun itu berarti hak atas warisan sebidang tanah dan sawah serta sebuah gubuk yang masih terawat sepeninggalan nenek Imah, telah sah menjadi milik Ita. dari kejauhan tampak seorang gadis semampai yang berambut panjang sedikit ikal berdiri di depan gubuk tua itu, tidak lain dialah Ita gadis kecil yang dahulu suka bermain di sawah itu, ia menatap dalam-dalam kearah sawah dan merenung mencoba mengingat kenangan yang tersisa yang pernah terjadi di-

gar ucapan suaminya seperti itu Ibu nunung seketika meneteskan air mata dan turut menatap wajah nenk imah yang sudah tampak pucat, dan untuk meyakinkan bahwa nenek imah apakah benar-benar telah meninggal mereka berdua mengecek denyut nadi yang ada ditangan dan leher nenek Imah dan benar ternyata nenek Imah telah berpulang Kerahmatullah. Isak tangispun tak terbendung oleh ibu Nunung sedangkan pak Ratman hanya meneteskan air mata saja.Melihat kondisi kedua orang tuanya demikian Ita yang dari tadi masih sulit membuka matanya karena ngantuk terkejut dan berkata”ada apa bu…

Edisi VII Tahun XXXII/ LPM Untan/ 2014


Mimbar

Artikel

TEKNOLOGI CLOUD COMPUTING Apa Cloud Computing itu? Cloud Computing atau dalam bahasa Indonesianya Komputasi awan itu ibarat menginstall suatu aplikasi di computer pusat (misalnya di Amerika) dan aplikasi kita tersebut bisa di gunakan pada komputer, laptop, tablet, bahkan handphone kita dimanapun tanpa harus menginstallnya lagi. Teknologi Cloud Computing membuat kita serasa memiliki harddisk dengan kapasitas yang sangat besar namun tidakperludirepotkandenganpenyimpanan di PC, laptop ataupun tablet kita, bahkan bisa untuk menyimpan file atau data-data (backup) apapun untuk kita akses kapanpun. Jadi bisa sangat-sangat menghemat pemakaian harddisk, Cloud Computing sangat memudahkan kita, khususnya untuk penghematan anggaran investasi perangkat komputasi. Untuk menggunakan Teknologi ini dimanapun dan kapanpun kita harus memiliki media seperti (PC/Laptop/Tablet/Ponsel) dan yang paling penting adalah akses internet.

Edisi VII Tahun XXXII/ LPM Untan/ 2014

Oleh Florensius Melky Mahasiswa Teknik Informatika Universitas Tanjungpura

59


Karakteristik Cloud Computing

Perbedaan Aplikasi Cloud dengan Aplikasi Lokal Perbedaan dasar aplikasi cloud dengan aplikasi local adalah dalam hal distribusinya. Dimana aplikasi cloud tidak didistribusikan secara fisik kepada para penggunanya melainkan didistribusikan pada server-servernya. Aplikasi Cloud sangat mementingkan scalabilitas (mampu menyesuaikan dengan kebutuhan)

60

dimana aplikasi cloud melakukan penggandaan (kloning) pekerjaan-pekerjaan dan mendistribusikannya kebeberapa mesin-mesin virtual pada saat dijalankan menyesuaikan dengan kebutuhan dari permintaan pengguna– teknik virtualization. Selain itu, teknik distribusi lainnya adalah multi-tenant. Dimana aplikasi diinstal pada sebuah server, pada sebuah system operasi, dengan mengakses

sebuah tempat penyimpanan yang sama tetapi dapat diakses oleh beberapa pengguna “tenant”. Pengaturan akses dan data tiap-tiap pengguna diatur pada saat proses disain aplikasinya. Apa saja kelebihan dari Cloud Computing lainnya? Dengan mengimplementasikan teknologi Cloud computing banyak sekali keuntungan yang didapat baik dari sisi

Edisi VII Tahun XXXII/ LPM Untan/ 2014


Mimbar

penyedia jasa dan penggunanya. Untuk penyedia jasa ada beberapa keuntungan seperti: • Mudah pendistribusian aplikasi • Jangkauan penggunaan aplikasi sangat luas (World-wide) • Mudah pemeliharaan aplikasi dan penyediaan layanan dukungan aplikasi • Memaksimalkan utilisasi dan efektifitas sumber daya • Lebih ekonomis dari segi investasi Sementara dari sisi pengguna aplikasi cloud, dapat keuntungan seperti: • Kemudahan akses di mana-saja, kapan saja, dan menggunakan perangkat yang bervariasi. • Mengurangi investasi Bidang Informasi Teknologi yang cukup efektif, hanya membeli pelayanan yang digunakan. Dalam istilah lain untuk menikmati sate kambing, cukup dengan membeli sate kambing, tidak harus beli dan memelihara kambingnya. • Dapat menghilangkan biaya infrastruktur IT, sehingga dapat memfokuskan pada keperluan bisnis utamanya. Cloud Computing jugamempunyai 3 layanan yang diberikan kepada pengguna, yaitu: 1. On Demand Self Service (Layanan yang dilakukan sendiri saat diperlukan)

Pengguna dapat memesan dan mengelola layanan tanpa interaksi manusia dengan penyedia layanan, misalnya dengan menggunakan, sebuah portal web dan manajemen antar muka. Pengadaan dan perlengkapan layanan serta sumber daya yang terkait terjadi secara otomatis pada penyedia. 2. Broad Network Access (Akses jaringan yang besar) Layanan yang tersedia terhubung melalui jaringan pita lebar, terutama untuk dapat diakses secara memadai melalui jaringan internet, baik menggunakan thin client, thick clien, atau pun media lain seperti smartphone. 3. Resource Pooling (Penyatuan Resource) Penyedia layanan cloud memberikan layanan melalui sumber daya yang dikelompokkan di satu atau berbagai lokasi data center yang terdiri dari sejumlah server dengan mekanisme multitenant. Mekanisme multi-tenant ini memungkinkan sejumlah sumber daya komputasi digunakan bersama-sama oleh sejumlah user, dimana sumber daya tersebut baik yang berbentuk fisik maupun virtual, dapat dialokasikan secara dinamis untuk kebutuhan pengguna/ pelanggan sesuai permintaan. Dengan demikian, pelanggan tidak perlu tahu bagaimana dan darimana permintaan akan sumberdaya komputasinya dipe-

Edisi VII Tahun XXXII/ LPM Untan/ 2014

nuhi oleh penyedia layanan. Yang penting, semua permintaan dapat terpenuhi. Sumber daya komputasi ini meliputi media penyimpanan, memory, processor, pita jaringan, mesin virtual. 4. Rapid Elasticity (Elastisitas cepat) Kapasitas komputasi yang disediakan dapat secara elastic dan cepat disediakan, baik itu dalam bentuk penambahan atau pengurangan kapasitas yang diperlukan. 5. Measured Service (Pengukuran layanan) Sumber daya cloud yang tersedia harus dapat diatur dan dioptimasi penggunaannya, dengan suatu system pengukuran yang dapat mengukur penggunaan dari setiap sumber daya komputasi yang digunakan (penyimpanan, memory,processor, lebar pita, dan aktivitas user, dan lainnya). Dengan demikian, jumlah sumber daya yang digunakan dapat secara transparan diukur yang akan menjadi dasar bagi user untuk membayar biaya penggunaan layanan. Sumber: http://dinaros.wordpress. com/2011/08/23/karakteristikcloud-computing/ http://artabowillmore.wordpress.com/penjelasansederhana/

61


Mimbar Ilmiah

UNSUR HARA BAGI TANAMAN

Oleh Sam’an

“Bukan hanya manusia dan hewan yang perlu makan, tanaman pun perlu makan, lalu apa makanannya?”

Secara umum senyawa/ nutrisi yang dise­rap oleh tanaman adalah dalam bentuk yang sangat sederhana, misalnya pemberian pupuk organik berupa kotoran sapi pada suatu jenis tanaman, yang terserap bukanlah kotoran sapi tersebut, melainkan senyawa- senyawa penyusunnya misalnya nitrogen dalam NH3, Posfor dalam P2O5. Dalam peningkatan kesejahteraan masyarakat terutama para petani , maka sangat penting untuk mengetahui fungsi dari macam- macam unsur hara yang diperlukan oleh tanaman agar tepat penggunaannya saat aplikasi dilapangan sehingga mengdapatkan hasil yang maksimal. Apa saja Unsur Hara yang dibutuhkan Tanaman? Unsur hara yang dibutuhkan tanaman biasa disebut dengan unsure esensial, yaitu unsur yang harus dipenuhi,bila mana unsure ini tidak terpenuhi akan terganggunya sistem pertumbuhan dan perkembangan tanaman. Adapun unsur tersebut secara garis besar dibagi ke atas 2 bagian yaitu: 1. Unsur Makro. Merupakan unsure yang dibutuhkan tanaman dalam jumlah yang besar, seperti Nitrogen (N),Posfor (P), Kalsium (K),Kalium (Ca), Magnesium (Mg), Sulfur (S) 2. Unsur Mikro. Merupakan unsur yang diperlukan tanaman dalam jumlah yang kecil, seperti: Ferrit/Besi (Fe), Mangan (Mn), Tembaga (Cu), Seng (Zn), Boron (B), Klorin (Cl), Molibdenum (Mo). Unsur hara yang diserap tanaman merupakan hara dalam keadaan terlarurt yang dilarutkan dan diangkut oleh air melalui akar ke bagian tubuh tumbuhan. Oleh sebab itu ketersediaan air juga tidak kalah penting dalam proses transportasi unsure hara. Apa Saja Fungsi Masing-Masing Hara Bagi Tanaman?

62

Masing – masing hara , baik makro maupun mikro memiliki fungsinya masing- masing dalam membantu proses pertumbuhan dan perkembangan pada tanaman. Seperti : 1. Nitrogen (N) Nitrogen adalah unsur hara makro utama yang dibutuhkan tanaman dalam jumlah yang banyak karena memiliki fungsi yang sangat penting untuk pembentukan protein, daun-daunan dan berbagai persenyawaan organik lainnya.

Merupakan bagian penting dari dinding sel dan sangat penting untuk menunjang proses pertumbuhan,Kalsium penyusun klorofil(3), serta dibutuhkan enzim untuk metabolise karbohidrat, serta mempergiat sel meristem. 5. Magnesium (Mg) Merupakan penyusun utama klorofil yang menentukan laju fotosintesa / pembentukan karbohidrat.Berfungsi untuk transportasi fosfat, menciptakan warna hijau pada daun.

2. Fospor

6. Belerang (S)

Berfungsi untuk pengangkutan energi hasil metabolism(1) dalam tanaman, Merangsang pembungaan dan pembuahan, Merangsang pertumbuhan akar, Merangsang pembentukan biji.

Pembentukan asam amino dan pertumbuhan tunas serta membantu pembentukan bintil akar tanaman, pertumbuhan anakan pada tanaman, berperan dalam pembentukan klorofil serta meningkatkan ketahanan terhadap jamur,Pada beberapa jenis tanaman antara lain berfungsi membentuk senyawa minyak yang menghasilkan aroma dan juga aktifator enzim membentuk papan

3. Kalium (K) Berfungsi dalam proses fotosintesa, pengangkutan hasil asimilasi(2), enzim dan mineral termasuk air, meningkatkan daya tahan/kekebalan tanaman terhadap penyakit. 4. Calsium (Ca)

7. Ferrit/besi (Fe) Berfungsi untuk pembentukan klorofil.

Edisi VII Tahun XXXII/ LPM Untan/ 2014


berperan pada proses-proses fisiologis tanaman seperti proses pernapasan, selain itu besi berfungsi sebagai aktifator dalam proses biokimia didalam tanaman, dan pembentuk beberapa enzim. 8. Mangan (Mn) Berfungsi untuk penyusunan klorofil, perkecambahan, dan pemasakan buah serta dalam pembelahan sel, di gunakan dalam proses pernapasan dan fotosintesis(4) 9. Tembaga/Cupprum (Cu) Tembaga berfungsi untuk pembentukan klorofil 10. Seng/zink (Zn) Memberi dorongan terhadap pertumbuhan tanaman karena diduga Zn dapat berfungsi untuk membentuk hormon tumbuh. Unsur seng didalam

tanaman tidak dapat dipindahkan dari jaringan tua ke jaringan yang muda sehingga gejala defisiensi (5) akan terlihat lebih awal pada daun muda. 11. Boron (B) Unsur ini berfungsi mengangkut karbohidrat kedalam tubuh tanaman dan menghisap unsur kalsium., berfungsi dalam perkembangan bagian-bagian tanaman untuk tumbuh aktif.Pada tanaman penghasil biji unsur ini berpengaruh terhadap pembagian sel, serta menaikkan mutu tanaman sayuran dan tanaman buah. 12. Klorin Diperlukan untuk osmosis dan keseimbangan ionik sel bagian dari regulasi energi, juga memainkan peran dalam fotosintesis. Unsur ini diserap tanaman dalam bentuk ion Cl- keberadaannya tidak dihasilkan dari metabolisme

tanaman,dan fungsi lain berkaitan dengan pengaturan tekanan osmosis didalam sel tanaman. 13. Molibdenum (Mo) Sebagai kofaktor pada beberapa enzim penting untuk membangun asam amino. berperan sebagai pengikat nitrogen yang bebas diudara untuk pembentukan protein dan menjadi komponen pembentuk enzim pada bakteri bintil akar tanaman. Bagaimana Gejala Kekurangan Unsur hara? Sesuatu yang kekurangan pasti tidak baik, begitu juga ketersedian unsur hara bagi tanaman, penanbahan unsur hara dapat dilakukan dengan pemupukan, namun harus sesuai dengan dosis dan kebutuhan dari tanaman tersebut. Berikut merupakan gejala kekurangan dan unsur hara pada tanaman.

Gejala Kekurangan Pada Setiap Unsur Makanan Tumbuhan: Nitrogen (N)

nanya akan berubah dan jaringan di be-

»» Warna daun yang hijau agak kekuningan

berapa tempat pada helai daun akan mati.

selanjutnya berubah menjadi kuning »» Daun menjadi kering dan berwarna me»» Pada

tanaman

Magnesium (Mg)

»» Pembungaan dan pembuahan terganggu

»» Daun mengalami klorosis dan tampak ada

»» Warna daun muda kuning dan kerdil

bercak-bercak coklat

rah kecoklatan dewasa

pertumbuhan

yang terhambat ini akan berpengaruh terhadap pembuahan sehingga buahnya tidak sempurna, umumnya kecil dan cepat matang.

Posfor (P) »» Warna daunnya akan tampak tua dan sering tampak mengkilap kemerahan »» Tepi daun bercabang »» Batang terdapat warna merah ungu yang lambat laun berubah menjadi kuning »» Jika tanaman berbuah, buahnya kecil, tampak jelek dan lekas matang.

Kalium (K)

»» Daun yang semula hijau segar menjadi kekuningan dan tampak pucat »» Warna kekuningan ini pun timbul di antara tulang-tulang daun »» Daun mengering dan kerap kali langsung mati.

Belerang/Sulfur (S) »» Daun muda yang berubah menjadi hijau

»» Daun keriting dimulai daun yang paling

»» Tanaman kerdil »» Ruas-ruas batang memendek »» Daun mengecil dan mengumpul (resetting) »» Klorosis pada daun-daun muda dan intermedier serta adanya nekrosis. »» Pertumbuhan terhambat pada jaringan mer-

berubah menjadi kuning kehijauan »» Pertumbuhan tanaman akan terhambat, kerdil, berbatang pendek dan kurus.

»» Batang dan cabang lemah dan mudah re-

rontok

Seng (Zn)

ta, »» Sedikit mengkilat agak keputihan lantas

»» Pada daun muda, mula-mula secara ber-

sudah tua yang akhirnya mengering dan

ing serta batang »» Tangkai daun lemah.

Boron (B)

»» Daun terlihat lebih tua

»» Muncul warna kuning di tepi daun yang

»» Daun-daun lemah, layu dan pucuk menger-

muda, kadang-kadang tampak tidak mera-

Besi (Fe)

bah

pada bagian tengah dan pangkal daun muda.

Tembaga (Cu)

istematik (pucuk akar) »» Mati pucuk (die back) »» Mobilitas rendah »» Buah yang sedang berkembang sangat rentan terserang penyakit.

Klorin (Cl)

tempat-tempat daun berwarna hijau pucat

»» Pola percabangan akar abnormal

dan hijau kekuningan

»» Gejala wilting (daun lemah dan layu)

»» Tulang daun tetap berwarna hijau serta jaringannya tidak mati »» Pada tulang daun terjadi klorosis yang

»» Warna keemasan (bronzing) pada daun »» Pada tanaman kol daun berbentuk mangkuk.

Molibdenum (Mo)

tadinya berwarna hijau berubah menjadi

»» Daun berubah warna keriput dan meleng-

»» Kematangan buah terhambat

warna kuning dan ada pula yang menjadi

kung seperti mangkok, muncul bintil-bintil

»» Ukuran buah menjadi lebih kecil dan mu-

warna putih.

kuning disetiap lembaran daun dan akhirnya

tua

dah rontok.

Calsium (Ca) »» Tepi daun muda yang mengalami klorosis »» Kuncup-kuncup muda akan mati karena perakarannya yang kurang sempurna »» Kalaupun ada daun yang muncul, war-

Mangan (Mn)

mati sehingga

»» Tanaman berdaun lebar, interveinal chlo-

henti. Ketersediaan Mo dalam tanah antara

rosis pada daun muda mirip kekahatan Fe

0,05-0,5 ppm sedang kebutuhan normal

tapi lebih banyak menyebar sampai ke daun

pada tanaman 0,2-1 ppm. Bayam dan bawang

yang lebih tua

adalah jenis tanaman yang sangat peka

»» Pada serealia bercak-bercak warna keabu-

pertumbuhan tanaman ter-

kekurangan Mo.

abuan sampai kecoklatan dan garis-garis

Edisi VII Tahun XXXII/ LPM Untan/ 2014

63


Mimbar Essay

M

DR. ANDY USMAN M.MP

Dosen FKIP Untan Program Studi Bimbingan dan Konseling

HUBUNGAN PENDIDIKAN DENGAN KEHIDUPAN 64 64

enelaah pendidikan berdasarkan konsep Sisdiknas No. 20 Tahun 2003, bahwa pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembe­lajaran, agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memenuhi kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat bangsa dan Negara. Hubungan dengan kehidupan berbangsa dan bernegara sebagai bangsa yang merdeka dan berdaulat, konsep tersebut harus menyatu pada empat pilar kebangsaan. Yaitu Pancasila, undang-undang 1945, Bhineka Tunggal Ika dan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Esensi pendidikan makro “kehidupan adalah pendidikan. Pendidikan adalah kehidupan, selama masih ada kehidupan disana ada pendidikan”. Ilmu pendidikan sebagai ilmu yang berdiri sendiri dengan sadar menyatakan bahwa kehidupan manusia memerlukan pendidikan. Menjadi pertanyaan kita adalah pendidikan seperti apa yang dibutuhkan pendidikan di Indonesia di masa reformasi ini. Bangsa kita mengalami pendidikan sebelum kemerdekaan (masa pemerintah Belanda dan Jepang), dan sesudah kemerdekaan. Setelah merdeka mengalami pendidikan yang dibangun atas pundasi semangat kejuangan mengisi kemerdekaan berdasarkan Pancasila dan UUD 1945. Masa orde lama pendidikan kita mengalami perubahan lagi. Hal ini terjadi karena penyelewengan terhadap Dasar Pancasila yang seakan-akan mengarah kepada Nasional Agama Komunis (Nasakom). Kemudian terjadi lagi perubahan pada masa orde baru, karena orde baru lahir mengoreksi total terhadap pnyimpangan penyelenggaraan pemerintahan berdasarkan Pancasila termasuk di dalamnya penyelenggaraan pendidikan. Untuk menerapkan pendidikan pada masa orde baru, adanya kesungguhan mengembalikan semangat kejuangan dalam mengisi kemerdekaan Indonesia. Salah satunya adalah mengokohkan kembali kometmen kebangsaan, yaitu melaksanakan pendidikan dan pengajaran berdasarkan pancasila yang bertujuan

Edisi VII Tahun XXXII/ LPM Untan/ 2014


Mimbar Essay membentuk manusia Indonesia seutuhnya (Manusia Pancasila). Seperti apakah manusia Indonesia seutuhnya itu? . Para pemikir bangsa ini tentunya sepakat bahwa Manusia Indonesia yang seutuhnya itu berlandaskan empat pilar kebangsaan yang dicetuskan oleh Dr. Ing. B. Habibih (mantan Presiden) tanggal 6 januari 2010 di Istana Negara. Penyelenggaraan pendidikan pada masa itu sangat kental dengan penerapan P4 (Pedoman Pelaksanaan Pengamalan Pancasila), penuduhan itulah yang menjadi isu terhadap langgengnya kekuasaan Presiden Soeharto. Munculnya masa reformasi adalah meroformasi praktek-praktek pemerintahan orde baru, termasuklah arah kebijakan penyelenggaraan pendidikan di Indonesia, sehingga terjadinya bongkar pasang kurikulum Pendidikan nasional kita. Kalau kita lihat secara hati nurani kebangsaan adalah yang perlu direformasi itu adalah jabatan Presiden (masa dua periode atau masa jabatan Presiden 10 tahun). Tentang membangun masyarakat Indonesia yang seutuhnya seharusnya jalan terus terhadap komitmen kebangsaan itu. Pada suatu saat akan ketemu seperti apa pembangunan manusia seutuhnya itu, namun perjalanan reformasi semakin tidak jelas arah pemerintahan demokrasi yang dilaksanakan oleh NKRI. Masa orde baru melaksanakan demokrasi yang diberi lebel demokrasi pancasila, yaitu pemeilihan Presiden melalui wakilwakil rakyat yang dapat dipercaya. Kita kutip Lagu “Pemilihan Umum” masa orde baru ; Pemilihan umum telah memanggil kita, seluruh rakyat menyambut gembira, hak demokrasi Pancasila, hikmah Indonesia merdeka. Pilihlah wakilmu yang dapat dipercaya, pengemban amanat yang setia, di bawah Undang-udang dasar 45 kita menuju kepelihan umum. Jelas pelaksanaan demokrasi Pancasila dan masyarakat diberi Panduan melaksanakan demokrasi Pancasila berbentuk Pedoman; Pelaksaan Penghayatan dan pengamalan Pancasila (P4), sekarang tinggal Pak Camat saja yang tidak dipilih langsung oleh rakyat. Sekelumit Perjalanan P4 pada awal mulanya dirintis oleh dunia kepanduan atau kepramukaan pada tahun 1975 sebelum menjelang Jambore Nasional di Sibolangit Sumatera Utara tahun 1977, setiap

jenjang dan tingkatan dalam kepramukaan yang tertinggi bagi peserta didik adalah Pramuka Garuda. Pada masa itu ketua Kwartir Nasional Gerakan Pramuka Sri Sultan Hameng Kebowono di ganti oleh Letjen TNI Sarbini tepatnya adalah tanggal 30 Januari 1975 dan Kwarnas Harian oleh Letjen TNI Kusno Otomo dan Ketua Komisi Teknis Kepramukaan oleh Letjen TNI Mashudi. Sri Sultan Hameng Kobowono dipilih menjadi wakil Presiden dan Letjen Mashudi menjadi Ketua Kwartir Nasional Gerakan Pramuka dan Wakil Kwartir Nasional (kwarnari) Ibu Tien Suharto. Pada masa orde baru sedang menata kehidupan berbangsa dan bernegara, maka Pancasila menjadi pilar utamanya. Untuk menata kehidupan berbangsa dan bernegaran diperlukan pedoman. Pada masa itu jawaban satu-satunya adalah P4 (Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila).Dunia pramuka sabagai pendidikan praktis membentuk karakter, sasaran utamanya membangun manusia Pancasila sesuai dengan lagu hymnenya. P4 adalah kurikulum pokoknya. Pada reformasi ini untuk kembali dengan pendidikan karakter bangsa dan pendidikan anti korupsi menjadi isu penting. Untuk menata kembali pendidikan di Indonesia yang berdasarkan Pancasila itu diperlukan berbagai pendekatan, strategi, metode, teknik, taktik dan model. Menurut hemat penulis dengan berbagai aliran filsafat ilmu dan teoriteori belajar yang dikembangkan telah melanda di perjalanan Pendidikan Indonesia pada saat ini, kekacauan implementasi dalam memperoleh outputnya semakin tidak menentu, jati diri terabaikan. Kondisi seperti ini perlu adanya pemikiran baru yang relevan dengan kondisi yang sedang menerpa bangsa ini. Penataan kurikulum yang terkait dengan arah dan kebijaksanaan pemerintah diperlukan pundasi yang kuat dalam menata kehidupan berbangsa dan bernegara melalui pendidikan. Teori-teori Ki Hajar Dewantara yang dicetuskannya pada tahun 1919 tidak kalah dengan teori-teori kita kembangkan pada saat ini. Teori Ki Hajar Dewantara pada pencetusan “ Sumpah Pemuda “ 28 Oktober 1928 adalah mata rantai yang tak terpisahkan dengan Sosok Ki hajar Dewantara. Konsep dasar Sumpah Pemuda tersebut yaitu; (1) Kemauan, tokoh kebangsaan

Edisi VII Tahun XXXII/ LPM Untan/ 2014

menyadari Indonesia memiliki banyak kerajaan besar dan kecil yang tersebar di nusantara ini, menyatukan tekat untuk membentuk Negara kesatuan Republik Indonesia (NKRI). (2) Sejarah, faktor ini menjadi dasar yang kuat untuk tidak akan mempertahankan kerajaan. (3) Hukum Adat, karena tokoh nasional sadar benar membicarakan aset dari kekuasaan setiap kerajaan tidaklah mudah, dengan memelihara hukum adat setiap wilayah merupakan ciri khusus dari negara Indonesia (kearifan local). (4) Bahasa, Tokoh nasional sadar bahwa bahasa sebagai alat pemersatu dan juga sebagai bangsa yang berdaulat penandanya atau identitasnya adalah bahasa Indonesia. (5) Pendidikan, pada awal pemikiran Ki Hajar Dewantara pendidikan adalah membangun generasi muda bangsa dengan “akal budi dan etika” ranah aplikasinya (bahasa jawa) ngerti, ngarso dan ngelakoni (kognitif, afektif dan psikomotorik) B. Bloom. Teraplikasi pada olah asa, ola asuh dan olah asih yang dibungkus dengan sistem among (metode). (6) Kepanduan, sekarang Kepramukaan tokoh nasional kita, kepanduan pada masa tersebut dijadikan alat perjuangan, karena kepaduan Indonesia bagian dari kepanduan Belanda. Dengan demikian cita Ki Hajar Dewantara dapat kita prediksikan bahwa pendidikan formal adalah pendidikan sekolah sedang pendidikan luar sekolah ada kepramukaan. Itulah batasan pendidikan dan kehidupan berbangsa dan bernegara agar menjadi bangsa yang bermartabat dalam kemajemukannya berdasar pancasila. Napas kehidupan berbangsa dalam dunia pendidikan (formal dan nonformal) adalah berkarakter Pancasila. Karakter adalah watak, tabiat, akhlak atau kepribadian seseorang yang terbentuk dari hasil internalisasi berbagai kebajikan (virtues) yang diyakini dan digunakan sebagai landasan untuk cara pandang, berpikir, bersikap dan bertindak (Puskur Balitbang Mendiknas, 2010: 3). Sejalan dengan konsep tersebut, pertanyaan kita adalah karakter Pancasila seperti apa ?. Kembali konsep “membangun manusia Indonesia seutuhnya”. Perumusan kompetensi yang mengarah kepada kehidupan berbangsa dan bernegara agar terwujud bangsa yang bermartabat dan bermoral Pancasila dalam kemajemukan sebagai masyarakat yang memiliki pluralism yang tinggi. Semoga.

65


Mimbar Religi

KEUNIKAN

LABALABA Oleh Ino

L

aba–laba adalah makhluk kecil yang mungkin tak pernah kita ketahui bahwa ia menyimpan kekuatan besar dibalik tubuhnya yang kecil. Tahukah anda, bahwa dibalik tubuhnya yang kecil itu menyimpan keistimawaan yang luar biasa, tak salah bila pembuat komik Hollywood untuk menciptakan komik Spiderman. Pasalnya, jaring laba-laba merupakan sebuah bukti kebesaran ciptaan Tuhan yang memiliki rancangan tersendiri dalam menciptakan sebuah jaring serta dengan perhitungan dan terknik yang baik pula. Hanya saja ukuran laba-laba yang kecil apabila ukurannya sebesar manusia, maka jaring yang dimilikinya bisa mencapai seratus lima puluh meter dengan diameter tiga puluh sentimeter, anda juga dapat membayangkan bagaimana bila laba-laba sebesar itu tentu saja jaringnya akan dapat menghentikan pesawat jet. Jika kita pernah meneliti bagaimana laba-laba membuat jaringnya, maka anda akan terpana dibuatnya, karena

66

laba-laba membuat dengan perencanaan yang matang, mula-mula ia melemparkan benangnya ke udara yang akan membawa benang itu ke suatu tempat, setelah itu ia mulai melakukan pekerjaan layaknya seorang arsitek, dengan memakan waktu kurang lebih satu jam untuk menyelesaikan jaringnnya itu. Benang yang digunakan laba-laba sama ajaibnya dengan jaring itu sendiri. benang laba-laba lima kali lebih kuat dari serat baja dengan ketebalan yang sama, ia memiliki gaya tegang seratus lima puluh kilogram permeter persegi. Jika seutas tali dengan diameter tiga puluh sentimeter terbuat dari benang laba-laba maka akan dapat mengangkat seratus limapuluh mobil. Para ilmuan menggunakan benang laba-laba sebagai model ketika membuat bahan yang dinamakan Kevlar, yakni bahan pembuat jaket anti peluru, peluru berkekuatan seratus lima puluh meter perdetik dapat merobek sebagian besar benda yang dikenainya, kecuali bahan yang terbuat dari Kevlar. Tapi

benang laba-laba sepuluh kali lebih kuat dari Kevlar , benang ini juga lebih tipis dari rambut, lebih ringan dari kapas dan ia diakui sebagai bahan terkuat di dunia. Baja merupakan meterial yang paling kuat yang tersedia bagi manusia di bumi, namun laba-laba menghasilan material lima kali lebih kuat dari baja, semua adalah kebesaran-Nya yang menempatkan kita manusia sebagai Khalifah di bumi dan memberikan kita akal untuk memanfaatkan apa yang ada di bumi ini dengan baik dan bijaksana, namun apa jadinya apabila binatang memiliki akal, maka kekuatan seperti laba-laba tadi akan menjadi ancaman bagi manusia. Mahasuci Allah dengan segala firmanNya, kita selaku manusia wajib mengambil hikmah dari makhluk kecil ciptaan Allah ini, bahwa tak ada yang sia-sia akan ciptaan-Nya. Sekecil apapun makhluk Allah, semua memiliki keistimewaan tersendiri dan semua dalam kendali-Nya.

Edisi VII Tahun XXXII/ LPM Untan/ 2014


Edisi VII Tahun XXXII/ LPM Untan/ 2014

67


68

Edisi VII Tahun XXXII/ LPM Untan/ 2014


Turn static files into dynamic content formats.

Create a flipbook