Edisi 31/Thn.VIII/April/ 2006 Edisi 31 /Thn.VIII/April/ 2006
ANDA tentu pernah mendengar atau membaca kisah petualang laksamana Cheng Ho yang begitu terkenal itu. Dalam masa di mana orang masih menggunakan alat-alat sederhana namun si laksamana tersebut mampu mengarungi samudra dengan kekuatan armada yang begitu besar. Adalah tekad luar biasa serta kerja keras yang bisa menghasilkan sesuatu yang besar. perjalanan Cheng Ho sendiri bagi para sejarawan seperti sebuah mitos saja, walau pada dasarnya adalah hal yang pernah terjadi. Memang sejarah akan tetap menjadi sesuatu yang bisu bila kita tak bisa mengambil sesuatu dan belajar dari sejarah itu. Kisah Cheng Ho bisa menjadi sangat berharga bila kita sadar, kita tidak akan pernah bisa bangkit kalau kita selalu mencari berbagai alasan atas ketidakmampuan kita untuk menghasilkan sesuatu. Sebagian dari kita akan selalu memberikan berbagai alasan atas segala kekurangan kita. Kita sering mencari kambing hitam. Tak mampu sukses karena tak punya alat modern, tak bisa belajar karena tak punya meja belajar, atau tak sekolah karena tak punya uang. Padahal kambing hitamnya itu kita sendiri. Kembali ke Civitas, kali ini kami coba mengangkat tema Pemirama 2006 yang terdapat berbagai pelanggaran yang dilakukan oleh oknum-oknum yang mencoba menggagalkan pelaksanaan Pemirama. Selain itu, Pilrek juga tidak luput dari sorotan kami. Isu Pilrek yang akan diselenggarakan dan sangat kontroversi antara langsung dan setengah langsung. Sebelum pembaca mengetahui isi semua dari Civitas edisi kali ini, sebagai informasi LPM Untan telahpun melaksanakan Musyawarah Besar (Mubes VIII) dan sebagai salah satu hasilnya Nina Soraya terpilih menjadi Ketua Umum periode 2006-2007. Selamat Membaca. [Redaksi]
LIHS Sering Terlambat Keluar SUDAH bukan merupakan persoalan baru, hal ini sering terjadi hingga sampai saat ini dari pihak akademik atau pihak dosen selalu saja terlambat dalam mengeluarkan Lembaran Isian Hasil Studi (LIHS) Mahasiswa. Tentunya keterlambatan ini bisa menghambat proses perkuliahan karena mahasiswa tidak dapat mengetahui atau menargetkan jumlah SKS yang harus diambil dan dituliskan dalam Lembaran Isian Hasil Studi (LIHS). Entah apa yang menjadi penghambatnya, semua pihak Akademik atau pihak Dosen terlalu berbelit-belit dalam mengeluarkan rekap nilai hasil studi mahasiswa persemesternya ini. Yang jelas sampai saat ini pihak-pihak yang terkait tidak pernah tahu atau memang tidak mau tahu tentang persoalan ini dan yang sangat disayangkan keterlambatan ini tidak pernah dikonfirmasikan secara jelas dan transparan oleh pihak Akademik maupun Fakultas. Keterlambatan ini seharusnya tidak perlu terjadi seandainya saja pihak Akademik serius dan Profesional dalam menangani masalah yang bisa dianggap sepele ini. Satu hal yang harus dicatat bahwa mahasiswa dalam mngambl LIHS dan Kartu Ujian khususnya di Fakultas Kehutanan, tidak pernah gratis dan apabila terjadi keterlambatan dalam pengembalian LIRS mahasiswa harus dipersulit oleh peraturan dari pihak Akademik. Dan selalu saja Mahasiswa yang selalu dirugikan. Hadi, Mahasiswa Fahutan
Demokrasi ala Untan ? TERIMA kasih kepada Redaksi Mimbar Untan atas dimuatnya ‘suara’ saya ini. Jika dikatakan bahwa mahasiswa adalah salah satu unsur pendorong terciptanya Demokratisasi di negara ini. Ini mungkin ya, juga mungkin Tidak. Tanya kenapa ? (iklan Sampoerna). Karena di kampus kita sendiri (Untan), cenderung tidak peduli dengan demokrasi yang ada di dalamnya. Sebagai contoh : Pemilihan Rektor Untan yang akan terselenggara tahun 2007 nanti. Sebagaimana pemilihan pemimpin pada umumnya mulai dari Kepala Desa hingga Kepala Negara (Presiden) sekalipun, kini dilakukan secara langsung. Toh, Pemilihan Rektor saja belum bisa secara langsung. Kita (masyarakat kampus) yang menggembar-gemborkan kepada masyarakat di Kalbar untuk selalu ber‘Demokrasi,’ sementara kita sendiri tidak bisa atau tidak mau melaksanakannya. Yang aneh lagi para petinggi di dalamnya tampak ketakutan sekali untuk menyelenggarakannya. Ada apa ? Jadi apa yang mau kita banggakan dan berikan kepada masyarakat nanti dengan ‘kisah’ ini, sementara kita sendiri akan kembali ke lingkungan masyarakat. Dan jangan heran, jika kampus dipandang sebelah mata oleh masyarakat luar. Terima kasih. is_myflash@yahoo.com
buletin Mimbar Untan Civitas Diterbitkan oleh : Lembaga Pers Mahasiswa Universitas Tanjungpura Pontianak Ketua Umum : Nina Soraya Sekretaris Umum : Iskandar Bendahara Umum : Aini Sulastri Divisi PSDM : Syf Ratih KD,Tantra, Azwar Divisi Litbang : Maya N Sari, Fitri J, Ratna M Harahap
2
Divisi Penerbitan : Henny Kristina, Heri Usman, Sri Pujiani Divisi Penyiaran : Mulfi H, Sudardi, Ashri I, Dwi Divisi Perusahaan : Rianto, Bahasmiati, Ahdika F, Mahmud Pemimpin Redaksi : Sudardi Sekretaris Redaksi :
Edisi 31 /Thn.VIII/April/ 2006
Dwi Lestiana Redaktur : Henny, Nina,Tantra, si Is Artistik : Iskandar Reporter : Dwi, Geno, Sri, Mahmud, Fitri Fotografer : Dwi,Geno Lay outer : siIs-pal
REDAKSI Alamat Redaksi : Jl. Daya Nasional Gedung MKDU Untan, Telepon : (0561) 7068136. e-mail : lpm_untan@yahoo.com atau is_data@plasa.com, Percetakan : Artha Grafistama, Jl. Pahlawan No. 20 Telp.(0561) 765000-766000 (Isi diluar tanggung jawab penerbit).
Redaksi menerima tulisan berupa opini,essai, laporan kegiatan kampus, puisi, cerpen,hasil investigasi, surat pembaca disertai identitas diri. Tulisan diketik di lembaran folio dengan spasi ganda. Kirimkan ke Sekretariat LPM Untan, langsung. Redaksi berhak mengedit tulisan tanpa mengubah makna tulisan.
Surat Pembaca
Ayo, Kerja Keras !!!
Opini Civitas
Peran Rimbawan :
Kemana ? Oleh SUDARDI*)
I MANA dan daerah mana sih yang masih menyisakan hutan? Pertanyaan ini sering dilontarkan oleh masyarakat dan rimbawan. Hutan Indonesia telah rusak berat, inilah persoalan berat yang saat ini kita hadapi bersama dan merupakan tantangan oleh instansi terkait, dalam hal ini Departemen Kehutanan. Ada beberapa faktor yang menyebabkan terjadinya kerusakan hutan antara lainnya, penebangan liar, penyeludupan kayu, dan kebakaran hutan. Kita tahu, setiap penghujung tahun dan diawal tahun masalah-masalah tersebut terus terjadi dan belum terselesaikan, seolah-olah pemerintah maupun pihak terkait menutup mata dan telinga. Sudah sangat jelas bagi kita akibat dari kerusakan hutan lebih banyak menimbulkan dampak negatif ketimbang dampak positif. Di tahun 1980-an Kalimantan Barat merupakan salah satu jantung dunia yang hutannya masih bagus dan ternyata saat ini hutan yang dibanggakan oleh dunia, rusak parah akibat campur tangan manusia yang tak bertanggung jawab maupun alam sendiri yang ber-
D
POJOK PEMIRAMA Untan masih diwarnai berbagai pelanggaran. Namanya juga produk manusia, pasti ada kesalahan dan kekurangannya. MAHASISWA tuntut Pemilihan Rektor langsung. Pemilu, Pilkada, Pilkades, sampai Pemirama pun dilakukan dengan langsung, Pilrek tidak bisa, ngape ya... (tanya kenapa?). Atau Demokrasi dilarang di Kampus.[].
bicara. Dalam perspektif ‘Kerusakan Hutan,’ maka kebakaran hutan dan praktek illegal logging merupakan salah satu faktor yang menyebabkan kerusakan hutan di Kalbar. Disisi lain mengingat bencana tersebut sering terjadi, mestinya pemerintah sudah dapat menanggulanginya dengan metode yang telah ada sebagai cerminan sebuah upaya peningkatan kinerja dari tahun ke tahun yang dihadapinya. Wanalaga I dan II yang dilaksanakan oleh Departemen Kehutanan berdampak baik dalam mengurangi terjadinya penebangan liar tanpa izin di kawasan hutan konservasi, dilanjuti oleh Gerakan Nasional Rehabilitas Hutan dan Lahan (GNRHL) tetapi tindak lanjutnya tidak pernah ada. Padahal di provinsi Kalbar berdiri dengan megah fakultas maupun jurusan Kehutanan yang dapat diandalkan atau paling tidak diikutsertakan dalam menjaga dan melestarikan hutan yang tersisa. Di setiap tahunnya tercipta ratusan Sarjana Kehutanan di Indonesia yang mempunyai kemampuan baik pemahaman dalam pengelolaan hutan sebagai ekosistem, pengembangan pendekatan yang bersifat inovatif dalam pengelolaan hutan lestari, serta pemahaman konsep Perencanaan Hutan dan cara pengelolaannya. Akan tetapi, tidak bisa berbuat apa-apa untuk melestarikan hutan, bahkan yang lebih parahnya lagi,
bukan lulusan dari sarjana Kehutanan namun dapat duduk di kantor-kantor Dinas Kehutanan dan ikut serta dalam menentukan kebijakannya. Sudah sangat jelas, tugas para Rimbawan seperti apa yang tercantum pada lagu ‘Mars Rimbawan’ yaitu “tinggi rendah jadi satu, bertolongan selalu dan menjaga rimba raya menjadi cantik molek dan perkasa.” Inilah yang harus dilakukan para Rimbawan Indonesia umumnya dan khususnya Kalimantan Barat, agar tercipta hutan yang lestari. Para Rimbawan selama ini belum dapat memaksimalkan perannya karena tertutupnya peluang dari pihak pemerintah dalam mengatasi persoalan hutan yang terjadi. Pemerintah lebih percaya memberikan/ melimpahkan kepercayaan kepada para Intelektual Kehutanan (yang kebanyakan berorientasi pada pemanfaatan hasil hutan, tanpa memikirkan pelestariannya). Harus kita akui bahwa aparatur pemerintah yang bergelut dalam persoalan penanganan kebijakan terhadap masalah Kehutanan masih didominasi oleh orang-orang yang berorientasi kepada pemanfaatan kayu, dan sedikit sekali yang berorientasi terhadap lingkungan. Inilah cita-cita yang harus direnungkan untuk masyarakat Kalbar, agar selalu peduli terhadap pelestarian hutan, mengajak semua Rimbawan, serta masyarakat Kalbar, berbuat untuk melestarikan hutan sekecil apapun. Karena hutan, meskipun kekayaan alam yang dapat diperbaharui, namun membutuhkan waktu yang tidak sedikit untuk kembali seperti semula (bisa berpuluh-puluh tahun), sehingga dengan demikian diharapkan hutan yang merupakan renewable resource bukan hanya teori belaka akan tetapi itu benar-benar bisa terwujud, sehingga “rimba raya maha indah, cantik, molek, dan perkasa” dapat tercipta di bumi Khatulistiwa ini.
*) Penulis Mahasiswa Kehutanan, aktif di JMKB. Edisi 31 /Thn.VIII/April/ 2006
3
Headline Civitas
Pelanggaran Warnai Pemirama Oleh TANTRA NUR ANDI
Penghitungan Suara : Prosesi penghitungan suara hasil Pemirama Untan yang diselenggarakan siangnya (27/3), kemudian dilakukan penghitungan pada malamnya PEMIRAMA (Pemilihan Raya Mahasiswa) Untan pada 27 Maret lalu memberikan harapan terciptanya proses demokratisasi di kampus. Tapi sayangnya banyak ditemukan pelanggaran dalam pesta demokrasi di tingkat intelektual kampus tersebut. Apakah ini gambaran kampus Untan ? Kemenangan pasangan Galih Usmawan atas Indra Aminullah dengan jumlah suara 1459 ternyata menyisakan berbagai gugatan, karena dinilai banyak melakukan pelanggaran terhadap Undang-undang Pemirama. Hal ini terjadi di beberapa Fakultas, sebut saja Fakultas Ekonomi (Fekon) dan FKIP seperti pembagian liflet, orasi dan pengerahan massa yang dilakukan tim sukses salah satu Capresma di hari pemungutan suara. Supriyanto, koordinator Tim Advokasi Independen, mengatakan, di Fekon terjadi pembagian liflet bertuliskan “mendukung sepenuhnya pasangan Bima satu–satunya kandidat dari Fakultas Ekonomi” kepada setiap mahasiswa yang ingin masuk kampus, terutama mahasiswa angkatan 2005. Selain itu, di hari H pemungutan suara ada orasi yang dilakukan salah seorang pendukung Capresma mela-
4
Edisi 31 /Thn.VIII/April/ 2006
lui megaphone yang intinya mengajak untuk memilih Capresma nomor satu. Padahal masa kampanye telah ditetapkan 16- 22 maret. Pelanggaran lain menurutnya yaitu pengerahan massa oleh pendukung Galih, dari kelas–kelas mahasiswa angkatan 2005 ke TPS agar mereka memilih nomor satu. “Yang lebih parah lagi adanya pemasangan bilik suara palsu terbuat dari kardus berjumlah delapan buah di TPS yang bertuliskan satu hati cinta FE Untan,” ungkapnya. “Hal ini sangat jelas merupakan bentuk kecurangan dan pelanggaran berat dalam Pemirama,” tegas Supriyanto. Sahri Amarta,salah satu saksi mengungkapkan juga adanya unsur money politic yang dilakukan Galih Usmawan dengan cara membagi–bagikan rokok di depan TPS, baik kepada tim suksesnya maupun kepada pemilih. “Anehnya mereka mengatakan ini bukan sebuah pelanggaran tetapi merupakan dinamika politik dan permainan politik, “ jelas Sahri. Selain Fekon ditemukan juga kampanye terbuka di FKIP yang dilakukan oknum AH di ruang mahasiswa jurusan Pendidikan IPS 2004 dan
2005. Hal ini disampaikan oleh Tim Advokasi Independent FKIP Untan dalam laporanya kepada Panwasram. Intimidasi Politik Banyaknya pelanggaran terjadi selama Pemirama ditanggapi serius oleh Capresma, Indra Aminullah. Ia memandang pelanggaran yang terjadi seperti intimidasi politik, kekerasan dan pemaksaan di hari H, sudah jauh dari konteks kebersihan Pemilu. Dia juga menyayangkan ketidaktegasan “Panwasram sebagai wasit atau penonton? Mengapa pelanggaran di depan mata dianggap hal yang tidak terlalu signifikan terhadap hasil Pemirama ?” katanya mempertanyakan. “Ironisnya lagi berkas–berkas laporan pelanggaran yang dimasukkan kawan–kawan Tim Advokasi ke Panwasram diseleksi begitu selektif oleh Panwasram. Sehingga pelanggaran yang justru signifikan terhadap perolehan suara misalnya pembagian rokok tidak diteruskan ke KPRM. Kalaupun diperlukan saya siap menghadirkan 40 orang saksi untuk mengungkap masalah pelanggaran Pemirama di Fekon, FKIP dan Fisip, “ tambahnya lagi. Ketidakpuasan Indra terhadap kinerja Panwasram ditanggapi ketua Panwasram, Saren. Ia mengatakan, selama Pemirama anggota Panwasram selalu berada di tempat. Untuk Fekon, anggotanya yang bertugas di sana tidak melihat adanya pelanggaran yang terjadi baik itu pengerahan massa, penyebaran liflet, orasi terbuka. Tapi karena ada laporan yang masuk dari Tim Advokasi tentang adanya pelanggaran maka ia teruskan ke KPRM. “ Memang tidak semua laporan yang masuk, kita sampaikan ke KPRM. Sebelumnya kita analisa lebih dulu kasus seperti apa yang layak atau tidak layak untuk disampaikan ke KPRM,” terang Saren. Salah satu laporan yang lolos disampaikan ke KPRM adalah pembagian rokok oleh Galih kepada tim suksesnya dianggap hal yang wajar oleh ketua Panwasram ini. Galih Siap Bertanggungjawab Saat dikonfirmasi, Galih Usmawan, Capresma nomor satu mengakui memberikan rokok dan nasi kepada tim suksesnya dengan maksud agar mereka semangat bekerja. “Saya ti-
Headline Civitas
1
2
3
BUKTI PELANGGARAN :
4
PEMIRAMA kali ini, masih saja terdapat pelanggaranpelanggaran di temui seperti pada gambar diatas. Gambar [1] Pelanggaran yang terdapat di fakultas Ekonomi, yaitu sejenis kampanye dengan tersebarnya pamplet dukungan kepada salah satu pasangan. Gambar [2] Pelanggaran di fakultas Teknik, yaitu intimidasi (berupa kertas kecil) kepada salah satu pasangan calon Presma. Gambar [3] Juga jenis pelanggaran yang diduga pengerahan massa di fakultas Ekonomi agar memilih salah satu pasangan calon Presma (tampak pelaku membawa megaphone). Gambar [4] Merupakan bilik suara palsu (juga terdapat di fakultas Ekonomi).
dak tahu dan tidak menyangka kalau semua ini diartikan melanggar Undang–Undang Pemirama. Yang jelas BEM Untan ini bukan milik oknum tertentu. Jadi apabila dalam Pemirama terdapat pelanggaran–pelanggaran yang disertai dengan bukti–bukti kuat oleh tim sukses saya, saya siap bertanggung jawab. Saya membuka pintu kepada pihak Indra untuk mengajukannya ke KPRM,” tantangnya. Tentang laporan yang menyebutkan tim sukses Galih banyak melanggar peraturan Pemirama, ini pun diakui olehnya. Ia mengatakan, berbicara pada persoalan strategi memang banyak alat yang digunakan dan kinerja tim di lapangan kurang terkontrol olehnya. “Saya lebih terfokus pada fakultas KIP
yang note benenya adalah fakultas saya. Mengenai isu pelanggaran di Fekon, saya juga tidak tahu defenisi pelanggaran seperti apa, yang jelas ketika memang terjadi pelanggaran Panwasram seharusnya mengambil sikap tegas di tempat tersebut dan ternyata tidak ada respon dari Panwasram,” ungkapnya. Bima A Haris, Pasangan Galih menjawab perihal pelanggaran yang dilakukan oknum pendukungnya bukanlah tanggungjawab pihaknya. “Yang jelas di luar kontrol kami, karena mereka hanya massa simpatisan bukan tim sukses saya,” ujar mahasiswa Fekon ini. Dia juga membenarkan adanya bilik suara palsu yang dibuat oleh simpatisannya. “Ini untuk menghindari
adanya antrian panjang dalam pemungutan suara, akunya lagi. Laporan pelanggaran yang telah diterima KPRM (Komisi Pemilihan Raya Mahasiswa) Untan oleh Panwasram pada Kamis (30/3) lalu ditanggapi Hadidi, Ketua KPRM dengan akan membahasnya di tubuh KPRM. Diakuinya juga laporan yang dimasukan Panwasram begitu selektif sekali. “Beberapa pelanggaran yang bersifat fatal dianggap biasa saja oleh Panwasram,” ujarnya. “Kalau memang pelanggaran yang terjadi terbukti, bisa jadi akan ada pembatalan hasil Pemirama dan Pemirama ulang. Dan memang sampai saat ini surat keputusan pemenang Pemirama belum kita keluarkan” tambahnya lagi.[]. Edisi 31 /Thn.VIII/April/ 2006
5
Liputan Civitas Headline Civitas
Teknik Boikot Pemirama Oleh HENNY KRISTINA BEDA dengan tujuh fakultas lainnya yang turut menyukseskan PEMIRAMA pada 27 Maret lalu, Teknik lebih memilih memboikot pesta demokrasi ini. Ada selentingan kabar yang terdengar ini merupakan langkah Teknik untuk menolak salah satu pasangan calon. Benarkah demikian? Sebelumnya juga telah ada keseHAL ini diakui langsung oleh Awang Yudhia, Ketua BEM Fakultas pakatan antara BEM dan UKM-UKM Teknik yang menyatakan adanya pe- Fakultas Teknik dalam rapat koordingerahan massa oleh oknum-oknum nasi pada Sabtu (25/3) untuk tidak tertentu agar memilih salah satu mengikuti pemilihan. “Kita tidak ada pasangan calon dan juga beredarnya menyalonkan Capres atau Cawapres selebaran yang berisi menjelek- sehingga kami menyepakati untuk tijelekan salah satu calon. “Selebaran- dak memilih pada pemirama kali ini,” selebaran sudah ada sejak subuh, ujarnya. Sekalipun telah ada kesepakatan tidak tahu siapa yang menyebarkannya,” ujar mahasiswa angkatan untuk tidak berpartisipasi, tapi tetap saja di hari H beberapa mahasiswa 2002 ini.
Sekretariat BEM Untan Dibobol Maling Oleh RATNA dan SRI PUJIYANI
Sepi : Sekretariat BEM Untan yang beberapa waktu lalu dibobol maling tampak sepi.
SEKRETARIAT BEM Untan yang juga menjadi ruang kerja Komisi Pemilu Raya Mahasiswa Untan, Senin (27/3) dibobol maling. Sebuah printer dan dua buah CPU raib. Saat kejadian, sekretariat yang terletak di samping rektorat lama tersebut dalam keadaan kosong karena penghuninya sedang mengadakan penghitungan suara
6
Edisi 31 /Thn.VIII/April/ 2006
Pemilu Raya Mahasiswa. Kerugian diperkirakan sekitar 5 juta rupiah. Menurut Hadidi, Ketua Komisi Pemilu Raya Mahasiswa (KPRM) Untan, sebenarnya di BEM ada yang menjaganya. “Sebelum kejadian, BEM dijaga oleh Sindy, namun dia sempat pergi ke gedung Anex jadi di sana (BEM-red) kosong,” katanya.
Teknik menggunakan hak pilihnya. Bahkan menurut Awang lagi banyak ditemukan pelanggaran seperti pengerahan massa untuk mendukung salah satu kandidat. Hal ini ditindaklanjuti dengan pemblokiran TPS oleh pihak BEM. Sedangkan masalah surat suara pemilih tadi dibatalkan. “Kami telah melakukan kesepakatan dengan BEM dan MPM Untan serta KPRM sehingga surat suara itu tidak diakui,” jelas Awang. Menanggapi hal ini, Pembantu Dekan III, Fakultas Tehnik, Usman A Gani menyayangkan peristiwa ini. “Kita memang menyayangkan Pemirama ini tidak dapat dilaksanakan oleh mahasiswa, tapi ini sudah terlanjur. Namun saya sangat menghormati kesepakatan mahasiswa untuk tidak memilih, karena tidak memilih juga merupakan pilihan,” jawab Usman bijak.[].
Sindy yang ditemui di Kopma membenarkan hal tersebut. “Saya memang berada di sana tapi jam 11 malam pergi ke Anex,” jelasnya. Namun, saat ditanya lebih lanjut, Sindy menolak memberi komentar. Ketika kejadian ini terjadi, tambah Hadidi, ada yang melihat beberapa orang membawa suatu barang dengan menggunakan motor. “Sudah ada pihak yang dicurigai, namun masih menunggu pengakuan langsung dari pelaku tersebut,” tambah Hadidi. Hal senada juga diungkapkan Azis. Karena pada saat itu sedang terjadi penghitungan suara, maka konsentrasi semua anggota KPRM, MPM, dan BEM tertuju ke gedung Anex. “Sekitar pukul 22.00 WIB anggota KPRM datang ke BEM yang dalam keadaan kosong untuk mengambil kertas kuarto dan pada saat itu di BEM sedang mati lampu,” ungkap Azis. Namun, tambah Azis, kertas kuarto yang biasanya terletak di atas printer ternyata sudah tidak berada di tempatnya semula dan kondisinya berserakan. Pukul 02.00 WIB, Sindy datang ke BEM dan pada saat dia datang lampu BEM sudah hidup, namun CPU dan printer sudah tidak ada lagi. Sindy pun memberitahukan kejadian ini ke Hadidi namun tidak ada tanggapan karena Hadidi sudah tidur. Lalu Sindy
Liputan Civitas Liputan Civitas
mengirim SMS ke Agus namun hasilnya tetap sama. Akhirnya Sindy mengirim SMS ke Kiki, ketua MPM. Barulah setelah itu Azis dan yang lainnya datang ke BEM untuk melihat kondisi yang terjadi. Pagi harinya barulah kejadian pencurian ini dilaporkan ke Polsek Selatan. Polisi pun langsung datang untuk mengecek ke Tempat Kejadian Perkara (TKP). Tidak diketahui secara pasti darimana pelaku masuk ke ruangan, namun menurut Azis jendela
yang awalnya dikunci setelah kejadian itu terlihat sudah tidak terkunci lagi. “Menurut kawan-kawan jendela itu tadinya di kunci,” kata Azis. Intel yang menangani kasus ini mencurigai enam orang mahasiswa sebagai pelakunya. “Menurut Intel pelakunya orang dalam karena mungkin asumsi mereka pelaku mengetahui kondisi pada saat itu dan juga mengetahui celah-celah yang ada di BEM ini,” ungkap Azis. Namun ketika ditanya mengenai kemungkinan adanya
keterlibatan orang dalam BEM sendiri, Azis mengungkapkan bahwa itu tidak mungkin. “Saya tahu karakteristik dari anggota-anggota BEM jadi pelakunya bukan orang BEM,” ujarnya. Akibat peristiwa ini Pihak BEM menderita kerugian sebesar Rp 2.700.000 dengan perincian 1 buah CPU seharga Rp 2.000.000 dan 1 buah printer seharga Rp 700.000. Sampai saat ini kasus ini masih ditangani oleh Polsek Pontianak Selatan.[].
Istri Sakit, Nekat Mencuri HP di KSR SELANG tiga hari aksi pencurian di sekretariat BEM Untan, Komplek Pusat Kegiatan Mahasiswa (PKM) di lintasan M Isja tepatnya di KSR (Korps Sukarela) Untan mengalami nasib yang sama pada Kamis (30/ 3). Nasib malang menimpa Syarifah Heridah, salah satu anggota KSR, Hp Nokia 1100 miliknya yang tergeletak di bawah meja menjadi sasaran aksi pencurian tersebut. Namun, aksi tersebut diketahui oleh Ijun, teman korban yang langsung berteriak maling. “Saya mengejar dan sempat
Oleh GENOVEVA menghajarnya karena berusaha melarikan diri,” katanya. Menurutnya ia mengejar maling tersebut bersama Pangky, anggota Menwa yang kebetulan sedang berada di dekat TKP. Setelah berhasil ditangkap, maling tersebut diinterogasi di markas Menwa. Menurut Pangky maling itu bernama Aryanto yang merupakan tukang parkir di mall Matahari. “Pengakuannya ia mencuri untuk biaya istri yang sedang sakit,” ujar wa-
kil komandan di Resimen Mahasiswa ini. Kasus ini kemudian diserahkan kepada pihak berwajib untuk ditangani lebih lanjut berikut barang bukti setelah dibuatkan Berita Acara Pelanggaran serta surat pelimpahan penyelidikan oleh Menwa. Heridah, yang ditemui Miun mengatakan baru kali ini disini (KSR-red) ada pencurian. “Saya kaget ketika tahu Hp saya sudah tidak ada karena di sini tidak pernah terjadi pencurian,” kata Ipeh panggilan akrabnya.[].
Pilrek Untan 2007 :
Mahasiswa Ajukan Tatib Tandingan Oleh AINI SULASTRI PEMBAHASAN draft Tata Tertib Pemilihan Rektor (Tatib Pilrek) dalam rapat senat Untan beberapa waktu lalu mengundang kontroversi di kalangan dosen dan mahasiswa. Lantaran kedua elemen kampus ini tak dilibatkan untuk menyuarakan aspirasinya dalam pembahasan tersebut. Untuk itu mahasiswa menggagas ide pembuatan tata tertib tandingan versi mahasiswa dengan membentuk Koalisi Mahasiswa Pro Demokrasi dan Transparansi yang beranggotakan BEM Fakultas dan Universitas kecuali BEM Pertanian, FKIP dan MIPA. Koalisi ini dibentuk dengan alasan BEM Fakultas belum bisa menyuarakan aspirasi mahasiswa. “Koalisi ini hadir karena hingga hari ini BEM fakultas belum siap memakai ‘bajunya’ dan belum berani dengan tegas mengusung masalah Pilrek ini tapi di satu sisi me-
reka juga ingin terlibat,” ujar Agus Setiadi, Ketua Lisma Untan, salah satu penggagas pembentukan koalisi ini. Agus juga menambahkan bahwa gerakan ini tidak ditunggangi siapa-siapa. “Yang ada hanya kepentingan mahasiswa,” ungkapnya lagi. Sebelum diajukan ke senat, tatib versi mahasiswa ini lebih dahulu dibe-
dah langsung oleh beberapa dosen. Hadir dalam bedah tatib yang diselenggarakan di Gedung Magister Ilmu Sosial pada Sabtu (15/4) adalah Jumadi, SSos, Dr Fariastuti, dan Turiman Faturrahman, SH MHum. Bedah tatib ini menyimpulkan bahwa draft tatib pilrek Untan tersebut lebih mempertahankan status quo dan banyak mengandung unsur kepentingan. “Draft Tatib ini lebih mengarah pada paradigma suka-suka,” ungkap Turiman. Hasil pertemuan ini melatarbelakangi mahasiswa yang tergabung dalam koalisi untuk mengajukan tatib tandingan yang akan diajukan ke senat. “Jika dalam waktu 3 hari tidak digubris maka kami akan bertindak lebih ekstrim,” ujar Agus.[].
Edisi 31 /Thn.VIII/April/ 2006
Liputan Civitas
PLAZA permanen yang semula diperuntukkan ajang MTQ mahasiswa Tingkat Nasional, kini justru dialihfungsikan menjadi Kafe dan Restoran. Mengapa Plaza MTQ yang dipilih untuk berdirinya Kafe tersebut?
Oleh MAHMUD SORE itu hingar-bingar kendaraan berlalu lalang di jalan protokol tersaingi dengan hadirnya suara musik sound sistem berkekuatan 3000 watt yang berasal dari bangunan Plaza. Hilir mudik pramusaji melayani pesanan pengunjung yang notabene kaum muda-mudi seakan turut menambah ramai suasana pelataran yang lebih dikenal Plaza MTQ itu. ‘Nineteen Kafe’ and Resto, demikian nama kafe yang telah berdiri disini sejak empat minggu lalu. Dirunut ke belakang pendirian Plaza ternyata masih menyisakan hutang pada kontraktor CV Kahuripan yang juga pengusaha Kafe Nineteen, Wahyudin, S Sos, yang nyaris mendekati angka 1 milyar rupiah. Oleh karena ikhwal hutang inilah menyebabkan pengelolaan Plaza tidak lagi berada di tangan Untan. Hal ini dibenarkan oleh Pembantu Rektor III, Drs Maryadi Ramsyah Bakri, MSi saat ditemui di kantornya menyatakan pengurusan Plaza telah beralih pada pihak swasta dengan penandatanganan MoU oleh kedua belah pihak. “Agar lebih produktif dan tidak mubazir,” jawabnya mendukung. Tindak lanjut dari perjanjian itu
8
Edisi 31 /Thn.VIII/April/ 2006
Berubah : Plaza yang dulunya menjadi tempat pelaksanaan MTQ kini berganti menjadi kafe dan resto.
Plaza MTQ,
Kini Berlogo Kafe adalah hadirnya Nineteen Kafe and Resto yang bisa dikunjungi tiap kali sore menjelang. Dikonfirmasi di tempat terpisah, Deni SE, pengelola dan salah satu pemilik saham terbesar Kafe and Resto tersebut mengakui bahwa pihak perusahaan sebelumnya telah menyepakati perjanjian dengan pihak rektorat mengenai kepengelolaan Plaza MTQ sebagai kafe untuk jangka waktu 3 tahun ke depan, terhitung Februari lalu. Biaya kontraknya sebesar 30 juta pertahun. “Jadi selama kurun waktu tersebut saya sebagai pengelola berhak menetapkan sewa pada pihak yang ingin menggunakan Plaza MTQ sebagai lokasi expo, pameran, bazar, sponsor, atau event-event lain dengan azas bisnis to bisnis,” katanya. Pengelola inilah yang bertanggung jawab sepenuhnya pada kondisi Plaza. Dan rencananya mereka akan merehab bangunan ini dengan anggaran
yang ditanamkan perusahaan sebesar 400 juta rupiah termasuk juga didalamnya kontrak Plaza selama 3 tahun. Sampai saai ini pun rehabilitasi bangunan tersebut telah mencapai 50% dan bersifat nonpermanent. “Kami akan mengembalikan keadaan Plaza seperti semula saat kontrak kami habis,” janji Deni yang juga alumnus fakultas Ekonomi. Lalu bagaimana dengan mahasiswa yang menginginkan memakai Plaza ini untuk gawe’an yang mereka gelar. Menurut Deni telah ada kesepakatan yang dibuat untuk memberikan potongan 50% kepada mahasiswa yang ingin menyewa. Maryadi sendiri menjamin keinginan mahasiswa memakai Plaza tetap diprioritaskan. “Namun tetap harus izin pengelola, karena walau bagaimanapun status kepengelolaan plaza sendiri sudah diserahkan Rektor pada pihak pengelola baru,” jelas Maryadi.[].
Liputan Civitas
KSBM Khatulistiwa 2006 Beberapa Tim Siap Tempur PELAKSANAAN KSBMK Untan tinggal menunggu hari. Bagaimana dengan persiapan tim yang akan berlaga pada pertandingan yang memperebutkan Piala bergilir Gubernur Kalbar tersebut ? Oleh HERI USMAN KOMPETISI Sepak Bola Mahasiswa Khatulistiwa (KSBMK) 2006 dalam hitungan hari akan dilaksanakan untuk yang ketiga kalinya. Kegiatan yang akan dihelat pada 9 hingga 31 Mei ini merupakan program rutin Himpunan Mahasiswa Jurusan Pendidikan IPS FKIP Untan, dengan memperebutkan piala bergilir Gubernur Kalbar. Sejumlah fakultas di Untan telah melakukan persiapan, seperti fakultas Teknik yang sebelumnya menjuarai KSBM II 2005, juga dengan fakultas Hukum serta tuan rumah FKIP. Reza, Koordinator tim Teknik Untan mengatakan, pada KSBM III ini akan menurunkan dua tim, A dan B. Timnya telah menjadwalkan waktu latihan mereka, walaupun tempat latihannya hanya di depan kampus Teknik. “Dengan waktu latihan 3 kali seminggu kami akan berusaha keras untuk menjadi juara kembali pada kompetisi ini,” kata Reza. Bagi kampus Teknik, STKIP adalah lawan terberat mereka. Hal ini diakui oleh Nopi salah seorang pemain. “Jurusan Penjaskes
Megah : Baleho KSBMK berdiri megah di bundaran Untan. Acara akbar yang dilaksanakan pada 9 hingga 31 Mei ini merupakan program rutin Himpunan Mahasiswa Jurusan Pendidikan IPS FKIP Untan.
STKIP tentunya sering mengadakan latihan rutin, sedangkan kami (Teknikred) bila ada event sepak bola saja,” kata pemain Tim A ini. Namun, bukan berarti hal ini membuat Tim Teknik gentar. “Semangat kami tidak akan kendur,” tambahnya optimis. Persiapan yang sama juga dilakukan fakultas Hukum. Walaupun diakui Bandi, salah seorang pemain, Timnya belum melakukan persiapan penuh. “Kami belum menentukan jadwal untuk berlatih serta tempat latihan tim kami belum ditentukan di mana.” Kompetisi sepakbola mahasiswa kali ini akan banyak tim yang menurutnya akan sangat sulit dalam meramalkan tim mana yang akan menjuarai KSBM kali ini. Dan dia bersama timnya (fakultas Hukum-red) tetap akan berusaha untuk merebut kembali juara Pertama sebagaimana KSBM pertama kali diselenggarakan. Ketika ditanya siapa tim terberat bagi kesebelasan fakultas Hukum. Bandi menjawab, “tidak ada yang tangguh bagi tim kami, sekali lagi itu
tidak ada, hanya saja sebelum tim kami mengalahkan tim lawan kita terlebih dahulu mengalahkan keadaan dalam tim kami sendiri,” ujarnya bijaksana. Sementara itu tim tuan rumah sendiri, FKIP, tidak mau ketinggalan. Banyak upaya yang coba dilakukan, seperti mendatangkan pelatih dari luar. Tim FKIP melakukan pola latihan tiga kali perminggu. Lapangan Stadion Untan digunakan sebagai tempat berlatih. “Kami akan berusaha semaksimal mungkin untuk yang terbaik, walaupun tidak bisa menentukan siapa bakalan nantinya yang akan menjuari Kompetisi Sepak Bola Mahasiswa kali ini,” ungkap Eko Azhar, salah seorang pemain dari kesebelasan FKIP. Pemain kampus Orange ini memprediksikan, tim tangguh dalam kompetesi ini adalah kesebelasan STKIP. “Mereka mempunyai kemampuan yang lebih dari pada tim yang lain, karena mereka mempunyai jam terbang untuk berlatih yang lebih,” ujar mahasiswa angkatan 2004 ini.[].
INFO REKRUITMEN ANGGOTA BARU Ingin Jadi Reporter, Fotografer, Penulis, Lay Outer atau Penyiar Radio Bergabunglah bersama kami di LPM Untan Pontianak Kini Telah dibuka Pendaftarannya, Anda Bisa mengambil formulirnya di : Sekretariat LPM Untan Waktu terbatas : sampai dengan 11 Mei 2006
!!! R A T DAF N UA Pelatihan : BUR 12 - 14 Mei 200
Informasi lebih lanjut : Datang aja langsung ke Sekretariat LPM Untan atau telp. (0561) 7068136
Edisi 31 /Thn.VIII/April/ 2006
9
Kampus Civitas Bedah Buku ’The Best Personal’:
Menjadi Manusia Unggul Oleh FITRI JUNIA PERINGATAN maulid Nabi Muhammad SAW, di Masjid Muhtadin Untan Selasa, (11/4/) diisi acara Bedah Buku The Best Personal karya Soejitno Irmim dan Suharyo. Sebagai pembedah Denie, Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Pontianak, melihat buku ini lebih mengedepankan materi-materi yang berkenaan dengan kiat-kiat praktis. Hal ini tidaklah berlebihan, sebab di zaman yang serba praktis ini pada dasarnya lebih kepada keinginan untuk mengambil selera pasar yang juga turut bersifat pula. “Potensi manusia ini dibagi menjadi 3 yaitu keyakinan (fitrah atas agama), intelektual (ketajaman ber-
pikir), dan kekuatan jasmani (kekuatan fisik untuk bekerja),” katanya. Sementara itu Fatahillah Abror, SAg, membawakan materi bertema Karakter Unggulan. Inti dari The Best Personal, bahwa pada dasarnya manusia memiliki watak dasar ingin menjadi manusia unggul (ciri, harapan, mimpi dan sikap manusia unggul) dan sejatinya juga memiliki modal atau potensi dasar, yang kemudian dipilah kedalam beberapa hal seperti bertakwa kepada Allah SWT, memiliki kecerdasan, memiliki kejujuran dan dipercaya, disiplin, tenggang rasa, dapat membedakan yang haq dan batil, dan sebagainya. Kelebihan dari buku ini adalah cu-
kup sederhana dari sisi kebahasaan, pemilihan diksi yang cukup pas, sekalipun memang jika dilihat dari latar belakang penulis, buku ini tepat untuk sekedar mengarah kepada pengembangan sumber daya manusia di berbagai perusahaan. Hal menarik lainnya memungkinkan The Best Profesional ini lebih meremaja adalah dimuatnya gambar-gambar, karikatur yang cukup menggambarkan isi dari bahasan. Sedangkan kelemahannya, sesungguhnya The Best Personal terlalu sederhana sebagai referensi tunggal dalam rangka pengembangan diri ke arah pribadi ungggul, setidaknya diperlukan pemahaman-pemahaman dasar tentang hal lainnya seperti manusia dalam Al Quran, dijelaskan juga, manusia unggul secara filosofi tidak sekedar kiat-kiat saja.[].
MP Hukum Hadirkan Garasi’ Oleh Nina Soraya PONTIANAK, Sabtu (8/4) malam dikunjungi dua band yang sama-sama telah punya nama dikancah musik nasional. Slank, konsernya tak perlu dipertanyakan lagi. Pastinya menyedot massa yang menamai dirinya Slankers. Garasi, walau merupakan band baru, namun tidak kalah pamor dengan Slank. Kehadiran garasi yang dimotori oleh Ayu, Fedi Nuril, dan Aris Budiman mampu mengundang para kawula muda Pontianak untuk tumpah ruah di Auditorium Untan. Dengan lagu andalannya ’Hilang’ yang juga merupakan soundtrack dari debut film pertama mereka, Garasi mampu menyulap seisi gedung untuk ikut berjingkrak melantunkan bait lagu tersebut. Nyaris satu album band asal kota Bandung ini mempersembahkan lagu kepada fans yang hadir malam itu. Tidak diragukan acara ini pun menuai sukses. Gawe’an yang digelar mahasiswa Fakultas Hukum dengan tajuk ‘Law Faculty Movement’ merupakan Malam Pesona (MP) yang telah jadi acara tahunan yang dibuat mahasiswa baru. Ditemui sebelum acara berlangsung Feri, ketua panitia bercerita tentang persiapan untuk menyukseskan MP dengan mengha-
10
Edisi 31 /Thn.VIII/April/ 2006
dirkan Garasi ini. Tidak tanggung-tanggung jumlah panitia yang diturunkan sebanyak 70 orang. Alasan dipilihnya tema tadi adalah sebagai gebrakan dengan mampu menghadirkan band ternama. Sukses acara ini bukan tidak menuai kendala. Feri menyebutkan beberapa masalah yang timbul menjelang hari H. “Kita sekarang sedang MID semester, juga saat hari ‘H.’ Apalagi di hari ‘H,’ tempat pelaksanaan
mendapat giliran padam lampu hingga sore hari. Apalagi di hari yang sama Slank juga menggelar konser,” tutur mahasiswa angkatan’05 ini. Keresahan Feri terjawab, event yang juga dimotori oleh Citylink ini diserbu para kawula muda dengan menyesaki gedung lantai dua, Auditorium Untan. Meski bukan Garasi satu-satunya yang ditampilkan malam itu, ada Band kampus juga Dancer.[].
Memukau : Penampilan grup band ‘Garasi’ memukau penonton yang kebanyakan adalah kalangan kawula muda.
Seremonial Civitas
Pramuka Gelar GGC VII Oleh Henny Kristina MEMPERINGATI Hari Kartini 21 April mendatang, Pramuka Untan Gugus Depan 04041-04042 Tanjungpura mengadakan Girls Guide Camp ke VII. Kegiatan yang diadakan selama 6 hari mulai 16 hingga 21 April ini diikuti oleh 100 peserta putri dari 8 Sekolah Menengah Umum Se-Kalbar. “Kita memang hanya mengikutsertakan peserta putri saja karena sesuai dengan tema kegiatan ini yaitu dengan GGC ke VII kita tingkatkan peranan wanita dalam memerangi pelecehan dan kekerasan dalam rumah tangga,” jelas Indriani, Ketua Panitia GGC VII pada Senin (17/4) malam. Kegiatan yang diiisi dengan berbagai lomba ini menggunakan 2 lokasi sebagai tempat pelaksanaan lomba yaitu Stadion Untan dan Gedung Anex. “Selama 6 hari kegiatan ini akan diisi dengan 12 lomba dan non lomba, semua itu diikuti oleh semua sangga (kelompok-red),” ujar mahasiswi Pertanian ini. Kedua belas lomba itu antara lain lomba pidato bahasa Inggris, tulis pesan di atas spanduk, tari daerah, sanggul dan kebaya tradisional, menyulam, karya ilmiah, LCT, lomba masak, senam pramuka, lomba tata upacara penegak, penjelajahan kartini, dan camp standar. Sedangkan non
Senam Pramuka : Salah satu cabang lomba yang diadakan pada rabu (19/4) dalam kegiatan GGC VII.
lomba antara lain pentas seni, ceramah, bakti sosial, wisata, anjangsana dan api unggun. Menurut Indri kegiatan ini memang sudah menjadi agenda tiap tahunnya dan selalu diadakan dalam memperingati Hari Kartini. “Ini merupakan program kerja kita tiap tahun dan sekarang sudah ke tujuh kalinya,” katanya. Peserta Kehilangan Uang Salah satu peserta yang ditemui Miun di sela-sela pelaksanaan lomba mengatakan perasaannya mengikuti
kegiatan GGC ini, “Senang soalnya banyak teman dari sekolah lain,” ungkap Rika, peserta dari SMU N 1 Bengkayang. Namun ada hal yang membuatnya bersedih saat hari pertamanya mengikuti kegiatan ini. “Uang saya dan tiga teman saya hilang tadi malam (Senin-red) waktu lagi nonton lomba tari,” ujarnya sendu. Menurutnya uang itu berjumlah 300 ribu berada didalam dompet yang diletakkan dalam tas paling bawah. “Saya ndak tau apa ada keamanannya atau tidak,” tambahnya lagi.[].
Pemirama FKIP :
Hemri-Mardiansyah, Presma-Wapresma Terpilih Oleh Dwi Lestiana FAKULTAS Keguruan Ilmu Pendidikan (FKIP) Untan mengadakan Pemirama pada 28 Maret lalu. Agenda tiap satu tahun sekali ini diadakan di 3 tempat terpisah yaitu kampus PGSD UPP 1, PGSD UPP 2, dan kampus FKIP Untan. Setiap Himpunan Mahasiswa (HIMA) dan UKM di kampus ‘Orange’ tersebut dapat mencalonkan lebih dari 2 balon (bakal calon) Presma dan Wapresma. Hal ini diungkapkan oleh Arfi Syahbadi, Ketua KPU, “tiap HIMA dan UKM dapat mengirimkan minimal 3 orang anggotanya untuk menjadi calon MPM dan menyalonkan lebih dari 2 pasangan calon Presma dan Wapresma.” Setelah dilakukan verifikasi maka ditentukan 2 pasangan yang lolos ya-
itu Hemri Yamsa-Mardiansyah dan Supriyadi-Benediktus Ege. Pemilihan dilakukan dari pukul 08.00-15.00 WIB. Perhitungan suara dilakukan hingga pukul 23.00 dengan total suara yang masuk ke TPS 819 suara. Dari hasil suara diperoleh pasangan Hemri Yamsa-Mardiansyah terpilih menjadi Presma dan Wapresma FKIP periode 2006-2007 dengan perolehan suara sebanyak 534 suara. Sedangkan pasangan Supriadi-Benediktus Ege memperoleh suara sebanyak 235 suara. Pasangan terpilih ini mencanangkan visi dan misi yang bernuansa edukatif demi kemajuan Fakultas KIP. “Saya dan Mardiansyah berusaha melakukan perubahan ke arah yang lebih
edukatif, salah satunya kami ingin mengadakan expo,” kata Hemri, mahasiswa Pendidikan Ekonomi ini. Animo Mahasiswa Kurang Pelaksanaan Pemirama dinilai Pamuji, Ketua BEM periode 2005-2006 berjalan cukup lancar, walaupun ada beberapa hal yang harus ditingkatkan. Menurutnya kurangnya animo mahasiswa dalam Pemirama ini karena minimnya pengetahuan mahasiswa tentang Pemirama. “Kurangnya pemahaman mahasiswa terhadap Pemirama ini menjadi tugas KPU untuk lebih proaktif mensosialisasikan Pemirama agar dapat berjalan dengan baik,” saran Pamuji.[].
Edisi 31 /Thn.VIII/April/ 2006
11
Refleksi Civitas
TULISAN ini dibuat menjelang 8 tahun jatuhnya Rezim Tirani Soeharto, dan didedikasikan buat aktivis 1998 yang saat ini masih kuliah, sudah sarjana, serta aktivis-aktivis kampus yang masih mampu berteriak lantang dalam idealisme yang tak terkikis.
AAT aku masuk ke ’Kampus Merah’ tahun 2001, ada yang membuat aku terpana dengan kehidupan perkuliahan disana yang penuh dengan dinamika dan ’gairahgairah sexualitas intelektual.’ Tak lama setelah menjadi mahasiswa baru, aku beranikan diri untuk bergabung ke dalam suatu organisasi kepecintaalaman di kampus ku. Inilah awal dan semua kehidupan berorganisasiku di bangku kuliah. Sejak masuk ke dalam organisasi, aku banyak sekali menemukan karakter-karakter intelektual yang berbedabeda. Ada yang idealisme nasionalis, ada yang primordialis modern, dan ada juga kaum penggembira sebuah gerakan. Macam-macam sekali kehidupan di kampus ini. Bahkan ada juga sekelompok mahasiswa yang bergaya tak ubahnya seperti selebriti kampungan. Tapi yang menarik bagiku adalah aktivis-aktivis yang keberadaannya di ’kampus merah’ ini sangat idealis sekali. Mereka juga turut menjadi saksi dalam perubahan nasib bangsa ini di tahun 1998. Dan mereka juga menjadi motor penggerak reformasi di bulan Mei tahun itu. Aku beruntung bisa kenal dengan sosok Beruang (nama hutan yang diberikan kepada anggota muda di organisasiku), beliau dalam kacamata sosialku sangat dekat sekali dengan perubahan pemikiran yang aku alami di awal-awal studiku. Beruang ini masuk ke ’kampus merah’ pada tahun 1995, tahun dimana Indonesia sedang
S
buat Seekor ‘Beruang’ di ‘Kampus Merah’ Oleh M. FAJRIN*) merayakan Kemerdekaannya yang ke 50 tahun. Melalui pendekatan secara personal aku mencoba menyelami pemikiran beliau dalam kehidupan berorganisasi (secara tidak langsung aku mencuri ilmu beliau). Banyak hal dan cerita-cerita menarik yang dapat aku terima sebagai bahan renunganku. Tak jarang beliau menasehatiku dengan cara-cara tak lazim. Cerita pendakian gunung yang tak habis-habisnya, pengalaman-pengalaman menjadi instruktur di Pendidikan Dasar, serta perjuangan beliau di tahun 1998 yang berbuah cedera pada organ tubuh beliau. Tapi itu tak menyurutkan semangat Beruang ini untuk terus menyusuri sungai-sungai kalimantan, gunung-gunung Borneo, pantai-pantai yang landai di belahan barat provinsi ini, serta tebing-tebing yang cadas untuk terus di jelajah dan di eksplorasi. Ada satu kemiripan antara aku dan dia, kami sama-sama mempunyai mimpi untuk mencapai puncak Cartzen Pyramide, entah kapan itu kami bisa wujudkan bersama. Diskusi-diskusi yang sering kami lakukan di Base camp, membuat aku semakin memahami makna sebenarnya kehidupan berorganisasi tersebut. Baik organisasi yang ada di kampus maupun di luar. Dengan melewati dinding-dinding yang tinggi sehingga aku bisa memanjat dan mencapai tujuan yang aku inginkan. Beruang ini tak ubahnya seperti Che Guevara di negeri ‘Cerutu.’ Wa-
laupun dalam ruang lingkup yang sempit. Kejujuran yang beliau jalani dalam kehidupan berorganisasi di kampus telah mengilhami para-para pemberontak di organisasi, di fakultas dan di Universitas besar di Kalimantan Barat ini. Nama besar beliau saat ini semakin redup oleh perubahan gaya hidup mahasiswa yang berorganisasi di kampusku. Semakin hari sinar yang sempat menyala pada masa-masa yang lalu telah semakin kecil, tapi semangat beliau dalam membawa perubahan dan melahirkan pemberontak-pemberontak intelektual di ‘kampus merah’ ini telah dibuktikan dengan nyata. Di saat usiaku semakin senja di bangku perkuliahan, aku juga ingin mengucapkan terima kasih pada Sang Beruang. Dengan beliau aku jadi mengerti akan kecilnya peran manusia dalam kehidupan semesta raya ini. Tapi aku yakin suatu saat akan lahir beruang-beruang lain yang pemberani, berdedikasi, dan bersuara lantang tanpa membawa tendensi apapun kecuali kepentingan masyarakat umum di kampus ini. Dan tempat kelahiran tak hanya di rimba belantara yang merah, tapi juga di hutan-hutan yang hijau, laut-laut yang biru, sungai-sungai yang jernih dan tempat-tempat lain yang bisa melahirkan tokoh-tokoh bangsa yang besar di kemudian hari.
*) Mahasiswa Hukum Pecinta Alam Universitas Tanjungpura, email : rien_adrenalin@yahoo.com
Kontak Sobat : Senin - Rabu - Jum’at 21.00-23.30 Harga Promosi Rp. 250,-
12
Edisi 31 /Thn.VIII/April/ 2006