ECorner Efisienkah PJJ di Tengah Pandemi Corona?
EDISI APRIL 2020
ECorner Efek COVID-19 dalam Dunia Perkuliahan
D
ampak yang dirasakan COVID-19 ini bukan hanya di bidang ekonomi saja, tetapi juga secara langsung memengaruhi dunia di bidang pendidikan. Organisasi Pendidikan, Keilmuwan, dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa atau UNESCO menyebut hampir 300 juta siswa di seluruh dunia terganggu kegiatan sekolahnya. Pemberlakuan kebijakan physical distancing menjadi dasar dalam pelaksanaan belajar dari rumah. Pemanfaatan teknologi yang berlaku secara tiba-tiba, tidak jarang membuat pendidik dan mahasiswa kaget termasuk orang tua.
Proses kegiatan belajar mengajar yang semula biasa dilakukan tatap muka di kelas, kini harus digantikan dengan metode Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) yang memanfaatkan media sosial dan sejumlah aplikasi belajar. PJJ bukanlah suatu hal yang baru dalam dunia pendidikan. PJJ telah tercantum dalam Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 24 Tahun 2012 tentang Penyelenggaraan Pendidikan Jarak Jauh. Sistem PJJ menjadi bagian yang menyatu dalam dunia pendidikan di Indonesia.
Namun, selama proses PJJ terdapat beberapa keluhan dari mahasiswa lantaran dalam melaksanakan PJJ ini tugas perkuliahan menjadi lebih banyak dengan tenggat waktu yang sebentar. Tidak hanya itu, permasalahan seperti gangguan jaringan internet yang belum memadai di daerah tempat tinggal, dan keterbatasan sarana aplikasi belajar sudah seharusnya menjadi perhatian bersama. Selain itu juga terdapat dosen yang memberikan materi saja selanjutnya mahasiswa dipersilakan untuk memahami materi sendiri, hal ini tidak akan benar-benar dilakukan oleh seluruh mahasiswa. Kemudian, di ujung sesi perkuliahan ada tugas yang diberikan. Dampak positifnya, waktu yang tersisa dapat digunakan untuk melakukan kegiatan produktif lainnya di rumah. (OKT/ASA)
ECorner Virus Korona Buktikan Pendidikan Indonesia Belum Sesuai Zaman Pengamat pendidikan dari Center of Education Regulations and Development Analysis (CERDAS), Indra Charismiadji, mengatakan berbagai kendala Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) yang ada di tengah pandemi virus korona membuktikan bahwa pendidikan di Indonesia ketinggalan zaman. Dia menilai sektor pendidikan Indonesia tak siap menghadapi abad 21. “Sekarang kenapa guru kesusahan kerja dari rumah, pendidikan kesulitan. Artinya pendidikan tidak sesuai zaman,� ujarnya kepada CNNIndonesia.com melalui sambungan telepon, Rabu (15/4).
Menurut pengamatannya, guru belum memaksimalkan kurikulum dalam mengajar di sekolah. Kurikulum hasil desain pemerintah pusat dinilai kurang dipahami oleh para guru.Akibatnya, guru hanya mengajar menggunakan pemahaman masing-masing. Selain kurikulum, ketergantungan orang tua terhadap pihak eksternal selama ini dinilai cukup membuat dunia pendidikan di Indonesia kesulitan menerapkan PJJ.Terlebih, orang tua selama ini terbiasa mengandalkan sekolah hingga bimbingan belajar dalam mendidik anak, hal ini cukup membuat kebingungan kala proses belajar di rumah.
Hal serupa juga dikatakan oleh pengamat pendidikan dari Universitas Negeri Yogyakarta, Suyanto.Menurutnya,Kemendikbud harus membuat program belajar dari rumah dengan teknis yang jelas. Salah satunya terkait kondisi ekonomi dan budaya masyarakat. �Kultur kita itu tidak bisa belajar mandiri, harus ada guru. Ketika tidak ada guru, belajar dari rumah tidak ada guru dianggap libur bukan sekolah di rumah. Misalnya kurikulum disederhanakan, akan banyak guru yang tidak dapat jam belajar. Itu bisa jadi masalah. Dan kalau permasalahannya menyangkut banyak hidup orang itu bisa jadi politis, dan bisa mengganggu stabilitas (negara).� Sedangkan keterbatasan fasilitas komunikasi menghambat aktivitas mengajar guru. Tak jarang guru mengajar di sekolah yang siswanya tak punya akses teknologi, sehingga komunikasi terputus. (DN/DK)
ECorner Polemik Pembelajaran Jarak Jauh: Resolusi Darurat di Masa Pandemi COVID-19 Merebaknya virus korona di Indonesia secara langsung memengaruhi dunia pendidikan. Sejak pemerintah menerapkan adanya social distance sebagai langkah preventif penyebaran COVID-19, di setiap institusi pendidikan yang mulanya berupa tatap muka di kelas, bergeser menjadi Pendidikan Jarak Jauh (PJJ). Akan tetapi, pasalnya kebijakan PJJ ini dinilai terburu-buru tanpa menghiraukan kesiapan bagi pengajar maupun peserta didik.
Penyelenggaraan PJJ yang mulai diterapkan institusi pendidikan sejak bulan Maret 2020, menimbulkan polemik di berbagai kalangan masyarakat. Sebagian besar peserta didik mengeluh akan proses PJJ karena membuat mereka sulit memahami pembelajaran yang diberikan oleh pengajar. Terlebih untuk pelajaran yang berkaitan dengan rumus dan penelitian yang memerlukan adanya bimbingan secara langsung antara pengajar dan peserta didik.
Pembelajaran Jarak Jauh sudah diatur dalam Undang-Undang Perguruan Tinggi Nomor 12 Tahun 2012 Pasal 31 tentang Pendidikan Jarak Jauh (PJJ), menjelaskan bahwa PJJ merupakan proses belajar mengajar yang dilakukan secara jarak jauh melalui penggunaan berbagai media komunikasi.
Selain itu, keterbatasan sinyal di beberapa daerah, gagap teknologi, kuota internet yang boros tanpa adanya pengurangan biaya SPP di kalangan swasta, menjadi permasalahan dalam penyelenggaraan PJJ.
Hal ini berkaitan dengan keluhan masyarakat ekonomi ke bawah yang mengalami penurunan penghasilan akibat masa pandemi COVID-19. Maka dari itu, perlu ada langkah konkret dan evaluasi dari pemerintah agar PJJ dapat optimal dan tidak memberatkan seluruh pihak. Di balik polemik yang tengah terjadi di masyarakat, implementasi PJJ harus disikapi dengan pemahaman yang bijak. Adanya PJJ membuat pembelajaran lebih fleksibel dan membuat peserta didik mempunyai lebih banyak waktu bersama keluarga. Kita pun turut menjadi agen kontribusi gerakan “di rumah aja� dalam mencegah penyebaran COVID-19, dan tetap produktif melalui PJJ. (RI/AWS)