Skip to main content

Majalah kronika edisi 28

Page 1

INDEKS

MAJALAH MAHASISWA

KRONIKA

Kreasi Inovasi Interaksi dan Komunikasi Mahasiswa

Majalah Kronika Edisi 28

IRONI PENGANGGURAN DI KOTA PENDIDIKAN

www.kronika.id Rp. 10.000,-


DARI KAMU


Penduduk 15+ yang termasuk Angkatan Kerja menurut Kabupaten/Kota di Provinsi Lampung, 2008‐2017 Kode Wilayah

Kabupaten/Kota

2008

2009

2010

2011

2012

2013

2014

2015

2016*

2017

(1)

(2)

(3)

(4)

(5)

(8)

(11)

(13)

(15)

(16)

(17)

(18)

1872 1800

Kota Metro Provinsi Lampung

65.344 63.096 71.172 69.013 72.221 70.132 69.868 71.239 3.568.770 3.627.155 3.957.697 3.598.090 3.709.599 3.681.084 3.857.936 3.832.108 4.121.668

76.616 4.073.034

Penduduk 15+ yang termasuk Bukan Angkatan Kerja menurut Kabupaten/Kota di Provinsi Lampung, 2008‐2017 Kode Wilayah (1)

1872 1800

Kabupaten/Kota (2)

Kota Metro Provinsi Lampung

2008

2009

2010

2011

2012

2013

2014

2015

2016

(3)

(4)

(5)

(8)

(11)

(13)

(15)

(16)

(17)

40.187 44.927 43.459 40.785 39.497 43.642 45.956 46.776 1.679.568 1.724.780 1.866.673 1.914.172 1.885.856 1.996.428 1.901.235 2.009.857 1.799.514

2017 (18)

45.470 1.930.668

Penduduk 15+ yang Bekerja menurut Kabupaten/Kota di Provinsi Lampung, 2008‐2017 Kode Wilayah (1)

1872 1800

Kabupaten/Kota (2)

Kota Metro Provinsi Lampung

2008

2009

2010

2011

2012

2013

2014

2015

2016

2017

(3)

(4)

(5)

(8)

(11)

(13)

(15)

(16)

(17)

(18)

57.498 56.125 62.301 61.364 63.930 67.077 66.914 67.590 72.541 3.313.553 3.387.175 3.737.078 3.368.486 3.516.856 3.471.602 3.673.158 3.635.258 3.931.321 3.896.230

Penduduk 15+ yang termasuk Pengangguran Terbuka menurut Kabupaten/Kota di Provinsi Lampung, 2008‐2017 Kode Wilayah (1)

1872 1800

Kabupaten/Kota (2)

Kota Metro Provinsi Lampung

2008 (3)

7.846 255.217

2009 (4)

6.971 239.980

2010 (5)

8.871 220.619

2011 (8)

7.649 229.604

2012 (11)

8.291 192.743

2013 (13)

3.055 209.482

2014 (15)

2015 (16)

2016 (17)

2017 (18)

2.954 184.778

3.649 196.850

190.347

4.075 176.804

2014

2015

2016

2017

Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) menurut Kabupaten/Kota di Provinsi Lampung, 2008‐2017 Kode Wilayah (1)

1872 1800

Kabupaten/Kota (2)

Kota Metro Provinsi Lampung

2008

2009

2010

2011

2012

2013

(3)

(4)

(5)

(8)

(11)

(13)

(15)

(16)

(17)

(18)

61,92 68,00

58,41 67,77

62,09 67,95

62,85 65,27

64,65 66,30

61,64 64,84

60,32 66,99

60,36 65,60

69,61

62,76 67,84

2017

Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) menurut Kabupaten/Kota di Provinsi Lampung, 2008‐2017 Kode Wilayah

Kabupaten/Kota

2008

2009

2010

2011

2012

2013

2014

2015

2016

(1)

(2)

(3)

(4)

(5)

(8)

(11)

(13)

(15)

(16)

(17)

(18)

12,01 7,15

11,05 6,62

12,46 5,57

11,08 6,38

11,48 5,20

4,36 5,69

4,23 4,79

5,12 5,14

4,62

5,32 4,34

1872 1800

Kota Metro Provinsi Lampung


MAHASISWA


1

3

2

Kuy.. Pindah ke Perpus lain aja

Mending beli buku aja deh ka, sapa tau aja ada. Eh sapa tau deng

4

Nunggu wangsit aja Kro, sapa tau besok tiba-tiba ada ya kannnnnn?

yauda ka, bantuin aku nyari yaa... Yauda kita cari ke perpusda aja Kro

Tuh kan ka, tetep gak ada bukunya

Hadehhhh.... katanya kota pendidikan Masa cari buku aja harus keluar kota


bak Sampah o r e G g n o r o d n Me terlihat ngan sampah ihan Kota Metro Petugas kebers gerobak yan g hampir penuh de ong sedang mendor


ring e K n u a D u p Menya ta Metro sedang rsihan Ko Petugas kebe Merdeka an m Ta pu ya men

Mengangk

ut barang

Terlihat tu ka becak penu ng becak sedang men h dengan ba do rang dagang rong an

n Korakann a k a j a j jaja Men ang men ran sed Loper ko gan sepeda en koran d

dengan Be

cak


24 Majalah KRONIKA Edisi 28


Zainudin (Dosen IAIN Metro)


BIODATA


SEMUA ADA ATURANNYA


Dok.


X


Dok. Pribadi


PARIWISATA

Mengenang Sejarah Kolonial di Goedang Ransoem Sawahlunto Mendengar kata Museum Gudang Ransum yang terbesit diotak adalah sebuah bangunan tua bekas gudang penyimpanan bahan makanan tidak lebih dari itu. Singkat cerita pagi itu kamis (5/10) sekitar pukul 08:00 W I B bus saya bersama rombongan Pelatihan Keterampilan Jurnalistik Tingkat Lanjut Nasional (PKJTLN) berangkat menuju sebuah meseum bersejarah peninggalan kolonial belanda dengan bus. Duduk diatas bus yang melaju cukup kencang akhirnya menimbulkan rasa penasaran soal museum tujuan kami tersebut. Akhirnya saya memutuskan untuk mengambil ponsel dalam saku celana dan mencoba mencari tahu tentang Museum Gudang Ransum di mbah Google untuk mengurangi rasa penasaran. Dan munculah deretan artikel dengan judul Museum Gudang Ransum kuputuskan untuk membaca salah satu judul artikel tersebut. Artikel berisi teks dan gambar yang menjelaskan mengenai Museum Gudang Ransum ini malah semakin membuat rasa tidak sabar ingin melihatnya secara langsung. Akhirnya sekitar 5 menit berada di

perjalanan diatas bus yang sumpek dengan para jurnalis kampus. Bus pun berhenti di sebuah perkampungan warga. Dan saat itu saya belum tahu dimana letak museum tersebut karena yang terlihat hanya perkampungan warga. Setelah turun dari bus seketika itu aku berjalan melihat museum tersebut sembari menunggu panitia mengurus registrasi. Saat itu aku melihat halaman depan Museum Gudang Ransum dan membaca tulisan pada pagar “Museum Goedang Ransoem Sawahlunto�. Tulisan dengan gaya ejaan lama tersebut semakin membuat kesan kuno kepada pengunjung. Saya semakin tertarik dan melanjutkan langkah untuk memasuki gerbang dan seketika itu suasana berubah melihat gedung tua yang masih terawat dengan beberapa renovasi kepada bangunan. Saya merasa terbawa ke masa kolonial. Bangunan dengan ciri khasnya yang masih terjaga tersebut merupakan warisan sejarah kolonial di Indonesia. Bangunan yang berada di Kota S a wa h l u n t o , S u m a t e r a B a r a t i n i merupakan dapur umum atau pada kala itu populer dengan sebutan Roemah

Ransoem atau Goedang Ransoem. Kala itu sistem pembagian makanan yang buruk, sehingga terjadinya korupsi yang dilakukan oleh pihak ketiga yang ditunjuk oleh perusahaan untuk membagikan makanan kepada para buruh. Hal tersebut yang melatarbelakangi pembangunan Dapur Umum yaitu sebagai pusat tempat pendistribusian makanan bagi para buruh tambang batubara (orang rantai.,red). Orang rantai tersebut di datangkan dari pulau Jawa sehingga penduduk sekitar Goedang Ransoem merupakan orang suku Jawa. “Saya orang Jawa tapi tidak bisa berbicara bahasa Jawa, orang tuaku dulu adalah orang rantai,� ujar Suratmi, Penduduk Sekitar Goedang Ransoem. Bangunan ini dibangun pada tahun 1918 dengan material, lantai screed, dinding bata, atap seng plat, komponen bukaan rollage, sedangkan struktur atap (upper structure) rangka batang (trussed) dan struktur dinding (super structure) dinding pemikul pasangan 1 1/5 bata. Ketebalan dinding 32 cm lantai ruang masak 20 cm. Sampai sekarang bangunan tersebut

51


PARIWISATA

masih berdiri kokoh namun ada beberapa renovasi seperti pengecatan dinding. “Renovasi tersebut dilakukan dengan tujuan mempercantik tampilan gedung,� ujar Monic, Pemandu Wisata Museum Goedang Ransoem. Melihat bangunan yang masih di pertahankan bentuknya ini membuat kesan yang menakjubkan. Sebuah bangunan yang berhasil membawa sejarah kolonial sampai saat ini yang berhasil memberikan gambaran keadaan pada masa kolonial yang bisa dibilang kejam. Dapur umum ini merupakan bukti kemajuan teknologi memasak skala

52 Majalah KRONIKA Edisi 28

besar di Sawahlunto di awal abad 20. Bangunan lainnya merupakan satu kesatuan dengan dapur umum adalah : gudang bahan mentah, gudang beras dan padi, steam generator, menara cerobong udara/asap, pabrik es batangan, klinik, heuler, rumah kepala ransum, pos penjaga, rumah potong dan hunian kepala rumah potong hewan. Didalam Goedang Ransoem ini kalian dapat melihat peralatan yang digunakan kala itu seperti : periuk/ketel yang digunakan untuk masak nasi dan sayuran yang ukurannya super besar karena memiliki diameter 124 cm hingga

mencapai 132 cm, peralatan dapur, katel, keramik, batu nisan, lesung. Pada bagian luar terdapat tungku uap(Steam Generator) buatan Jerman tahun 1984 yang berdimensi 12,6 x 10 m dengan dua tungku uap. Tak hanya itu kalian dapat melihat tambang batubara tempat para penambang batubara (orang rantai) yang letaknya tak jauh sekitar 100 m dari Museum Goedang Ransoem yang semakin memperlengkap peninggalan sejarah kolonial di kota Sawahlunto, Padang, Sumatra Barat.


KHOTIMAH

Merawat Keberanian Merawat Keberanian Umarotun Fauziah

Pemimpin Redaksi UKPM KRONIKA

Kita yang telah masuk dalam kampus dan resmi dikukuhkan menyandang status sebagai mahasiswa. Sejak itulah perjuangan dimuali. Perjuangan mengemban ilmu adalah perjuang yang paling utama. Berbagai ilmu kita dapatkan di bangku kuliah. Mulai dari ilmu umum dan ilmu keagamaan bagi kampus berstatus Islam. Begitu besar kebanggaan kita karena menyandang status sebagai mahasiswa. Apalagi mahasiswa yang dapat mengikuti tren atau sering disebut mahasiswa kekinian. Dewasa kini hal itu memang menjadi incaran para mahasiswa. Pun mahasiswa baru yang masih mudah untuk diarahkan. Kemudian jika semua mahasiswa hanya mendewa-dewakan tren bagaimana dengan status mahasiswanya. M a h a s i s wa m e r u p a k a n g o l o n g a n terpelajar yang sangat disegani oleh masyarakat karena memiliki andil besar dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Dari masa ke masa, mahasiswa sangat berpengaruh dengan pemerintahan. Sebagai contoh masa orde baru tidak mungkin Indonesia reformasi tanpa adanya mahasiswa. Saat itu mahasiswa berjuang gigih untuk menjadikan Indonesia lebih baik. Karena kebobrokan masa itu tidak dapat dihindari semua rakyat. Kebodohan yang dilakukan rezim Soeharto mengenai kebijakan kontrol pusat t e r b i l a n g s a n g a t k e r a s . Pe n g e t a h u a n dibelokan dari fakta sejarah agar semua rakyat tidak melakukan radikalisme terhadap pemerintah. Maka meletuslah revolusi perjuangan mahasiswa untuk melakukan perubahan terhadap sistem pemerintahan Indonesia dan menuntut adanya reformasi. Pahawan reformasi terutama para mahasiswa yaitu mahasiswa Trisakti. Mereka adalah puspa bangsa bagi mahasiswa negeri ini. Tanpa mereka kita tidak mungkin terbebas dari belenggu orde baru. Kalau tak ada mahasiswa mungkin negeri ini hancur, mungkin. Dan mungkin kalangan elit saja taidak tau tentang nasib rakyat kecil. Mereka hanya mementingkan diri sendiri. Dipemukiman kumuh banyak yang bekerja demi sesuap nasi hingga keringat mereka bercucuran. Beda dengan para kalangan elit yang tinggal duduk manis dan tinggal berkata intruksi pak ketua, berdasarkan UU. Mereka pun sudah mendapat duit. Tetapi masih saja

banyak yang tertidur saat rapat berlangsung. Alangkah lucunya negeri ini! Seperti yang sering kita dengar 'mahasiswa itu agent of change'. Hemat saya, berarti yang harus dilakukan mahasiswa adalah peka terhadap lingkungan sekitar. Mempunyai jiwa kritis terhadap suatu masalah itu berjalan mengikuti status ke”mahasiswaan”. Seperti yang diungkapkaan sebelumnya bahwa setelah resmi dikukuhkan sebagai mahasiswa, saat itulah perjuangan dimulai. Perjuangan apa yang dimaksud? Perjuangan membela hak sebagai mahasiswa. Jika apa yang harus didapatkan oleh mahasiswa tak kita dapat. Apakah kita yang menyandang status mahasiswa hanya akan berdiam diri. Sudah seharusnya agent of change bangkit kembali. Taukah kalian Soe Hog Gie? Banyak mahasiswa sekarang yang tidak mengetahuinya. Soe Hog Gie adalah seorang aktivis Indonesia asal Tionghoa yang menentang kediktatoran berturut-turut dari Presiden Soekarno dan Soeharto. Mulailah belajar untuk lebih berani hei agent of change. Banyak sejarah para mahasiswa zaman dulu yang patut kita teladani. Bukan untuk gayagayaan atau adu kekuatan. Pun menunjukkan nama. Tapi berbuat untuk bangsa dan generasi. Sejauh ini apa yang sudah dilakukan untuk Negara? Terus berjalan mengikuti trenkah, atau berjalan mengikuti alur saja tanpa memikirkan apa yang harus mahasiswa suarakan. Sebagai mahasiswa seharusnya haus akan ilmu. Jika sebagai agent of change hanya mengandalkan ilmu dari bangku perkuliahan saja apakah itu cukup. Tentu tidak. Banyak ilmu bertebaran diluar sana. Sungguh beruntung kalian yang memanfaatkan waktu sebaik mungkin. Kita kaum muda inilah generasi penerus baangsa selanjutnya. Jika dengan ilmu saja kita acuh. Dengan keadaan sekitar saja kita tidak perduli. Generasi bangsa seperti apa yang diidam-idamkan? Generasi bangsa yang terima apapun yang terjadi. Generasi bangsa yang selalu bilang “Monggo” apapun itu yang terjadi. Mahasiswa zaman dulu rela mengorbankan nyawanya hanya untuk membela suara rakyat. Mahasiswa zaman dulu yang begitu berani berdiri dibarisan paling depan untuk membela rakyat.

Mahasiswa zaman dulu tidak takut apapun yang ada didepannya. Itulah mahasiswa sejati. Itulah agent of change sesungguhnya. Coba kita bandingkan sendiri dengan mahasiswa zaman sekarang. Seperti itukah, atau bahkan sebaliknya. Mungkin ada mahasiswa seperti agent of change zaman dulu, tapi seperti halnya 10 berbanding 10 juta. Jika terus seperti ini apa yang akan terjadi dengan bangsa kita. Bukankah arti dari bendera kita berwarna merah adalah berani. Lantas kata “berani” apa yang kita agungagungkan saat ini. Status mahasiswa apa yang kita bangga-banggakan saat ini. Merenung mungkin bukaan hal yang buruk untuk bertindak selanjutnya. Berubah lebih baik agar semakin bangga menyebut diri sebagai mahasiswa itu yang ditunggu bangsa kita. Buatlah benar adanya bahwa mahsiswa itu agent of change. Belajarlah untuk membela kaum yang tertindas. Singkirkan egois dan mementingkan diri sendiri. Bagaimana bangsa mu tergantung bagaimana kamu. Mahasiswa harus berjuang di era yang serba canggih dengan arus modernisasi yang terus berkembang. Kediktatoran penguasa d a n p e n ye l e we n g a n s a l a h s a t u ya n g seharusnya dibenci mahasiswa. Bila dirasa penguasa melakukan tindakan yang terlalu berlebihan dan melanggar ketentuan yang ada mungkinan nanti akan terulang kerusuhan seperti di tahun 1998. Mahasiswa dituntut tanggap terhadap perubahan karena dialah agent of change. Mentalitas bangsa berada ditangan mahasiswa. Dimana mahasiswa sebagai golongan terpelajar pendorong terwujudnya peningkatan kualitas bangsa yang lebih baik. Seandainya mahasiswa kurang tanggap, maka mahasiswa akan tergerus oleh zaman dan dibodohi kaum elit saja. Pemikiran-pemikiran individualisme seharusnya dibuang jauh-jauh dan dirubah dengan pemikiran sosial dengan mewujudkan kehidupan berbangsa dan b e r n e g a r a . J a d i l a h m a h a s i s wa ya n g bertoleransi dan berjiwa sosial terhadap lingkungan sekitar dalam era globalisasi. Kita hanya bisa berharap kepada mahasiswa agar berjiwa sang saka merah putih. Serta teruslah menjunjung tinggi kebenaran!!!

53


KALEIDOSKOP Selama tahun 2017 Kronika telah menerbitkan 6 produk berupa buletin, majalah dan aktual. dalam produk tersebut Kronika merekam kejadian-kejadian yang berada di sekitar kampus. dalam kalaedoskop ini kronika sedikit mengulas beberapa berita yang pernah dipublikasikan

BULETIN EDISI 25 KARUT MARUT KANTIN KEJUJURAN Kantin kejujuran yang maraka dilakukan mahasiswa menuai pro dan kontra. bahkan juga mahasiswa yang berjualan tidak diberi fasilitas, sehingga membuat mereka harus menaruh dagangannya di lantai

BULETIN RAMADHAN, Edisi 26 RENGKUH BULAN PENUH BERKAH Adanya bulan Ramadhan membawa berkah bagi seluruh umat didunia. Bahkan tak sedikit pula umat muslim yang berlomba-lomba membawa pahala dibulan suci ini. contohnya dengan beri’tikaf.

BULETIN KHUSUS MAHASISWA BARU, Edisi 27 MAHASISWA DI ERA PERALIHAN Pada Bulan Agustus 2016, STAIN Jurai Siwo Metro resmi alih status menjadi I A I N Metro ditandai dengan turunnya Perpres. Namun setelah turunnya Perpres pada tahun 2016, hingga tahun 2017 tak kunjung juga mengadakan peresmian. Buletin ini juga merupakan ajang promosi pada mahasiswa baru. Namun terdapat pula informasi mengenai UKM lain.

54 Majalah KRONIKA Edisi 28


55


Siap Melayabi Jasa Desain Grafis dan Printing.


Turn static files into dynamic content formats.

Create a flipbook
Majalah kronika edisi 28 by LPM Kronika - Issuu