Page 1

Feature

EDISI 018 TAHUN I

21

Papa Eko Oke Setiap Sahur Laporan: Muh. Ridwan Pawali-waliwa. Malam terakhir tu’u di’ea. Perrembasang ao. Sibali tomatoyo. Bangungbangung. Pole upamasae. So’naimo lao memo’. Namuapai mua’ memo’i. nandatomo diang marondong. Sahur-sahur. Ruwaedah bangung Ruwaedah. Terahirmi tu’a. Ehe. Tinggas-tingas … Diang di’o dilalang sambaineuo. Dua sekawang. Muirranni bandi mating. Sitabandi tau diaya Kandemeng dionging? Hei Amma’ Mursyid, bangung. Alloang ao Mursyid a. Kasih bangung amma’mu Mursyid. Papa’mu to’o. Terahirma’ namai’di loa dite’e die. Loppa’ma usa’ding. Ngganama dolo’ di’e luarea’a. Apa insya Allah nggannamo tu’u dite’e di’e. Mai’di loa tau tangnga bongi. Mua’ marondongi nami’sanna-sannammi tau tu’u. matindo, mappinyamanni tindomu. Oke? (Terjemahan: Nakal ya. Ini malam terakhir lho. Kupukul dirimu, berhadapan dengan orang galak. Bangun, bangun. Saya akan kasih lama. Biarlah ada yang ngomel. Kan esok terakhirmi juga puasa. Sahursahur. Hei Ruwaedah, bangun. Ini terakhir. Tinggas-tinggas. Di sana ada sahabatku, dua sekawan. Apa engkau mendengar di situ? Apakah kita bertemu kemarin di Kandemeng? Hei ibunya Mursyid, bangunlah. Nanti kesiangan lho. Kasih bangun ibumu Mursyid. Bapakmu juga. Ini terakhir saya ngerocos. Saya sudah panas nih. Sampai di sini dulu saudaraku. Sebab insya Allah ini yang terakhir saya berteriak-teriak tengah malam. Besok kita sudah bersenang-senang, menikmati tidur. Oke) Setiap sahur, ada keindahan di angkasa Kota Tinambung. Lebih jenaka, lebih mengesankan, lebih dirindukan dibanding acara-acara konyol di televisi. Yaitu, panggilan sahur Papa Eko. Kutipan di atas adalah panggilan lugu dari Papa Eko di Ramadhan ke-29, Senin 29 Agustus 2011. Isinya jenaka, kadang vulgar, terkesan kasar, dan bersahabat. Walau secara teks ada ungkapan,

yang dalam kehidupan sehari-hari dianggap kasar, tapi ketika Papa Eko menyampaikannya dalam ‘alarm’ sahurnya, pendengar tak menganggap demikian, malah sebaliknya. Tersenyum dalam hati malah terbahak-bahak. Panggilan Papa Eko di kala sahur adalah fenomena unik dan khas dari Mesjid Raya Al Hurriyyah Tinambung. Ya, memang hampir semua mesjid ada panggilan sahur dari takmir atau pengurus mesjidnya, tapi sejauh yang saya tahu, tak ada seperti Papa Eko. Rata-rata panggilan mereka standar: “Bangun, sekarang sudah jam sekian ….”. Papa Eko beda. Ada nilai persahabatan. Misalnya panggilan pada kenalannya, Ruwaedah dan Amma Mursyid. Dan agar kampung yang mendengar tidak merasa diabaikan, Papa Eko juga menyebut Tinggas-tinggas dan kampungkampung lain. Papa Eko melakukan itu sekitar jam tiga. Setelah menyalakan mik, dia duduk di tangga mimbar. Layaknya akan berkaraoke. Semua ucapannya mengalir apa adanya, kadang tak tertebak. Seperti kalimat berikut, yang diteriakkan sesaat setelah dia mengecek jadwal imsak: Ada tambahang. Uwaluppei sebab baru uwitai kacamatau. Wattu imsak pada hari ini masuk jam 4.37 menit. Perranni matine bahasa Mandarna, pukul appe tallu pulo pitu meni’. Waktu im sak. Dipecoai tappunna pa’ diambo’o manini ma’uwwa imsat. Muirranni mie’a, wattu imsak jam 4.37 menit. Namuirranimi tia tongang. Mua’ ndangduai namuirranni paressai iting talingao. Hehe. Bawai lao di puskesmas. Oke? Ngganamo ri’o apa nalambi’mi wattu. Terima kasih (Terjemahan: Ada tambahan. Saya lupa sebab baru saya lihat kacamataku. Waktu imsak pada hari ini masuk jam 4.37 menit. Dengarkan baik-baik dalam bahasa Mandar: pukul empat tiga puluh tujuh menit. Waktu imsak! Diperbaiki sebutannya sebab mungkin nanti ada yang bilang lagi

“imsat”. Dengar wahai kalian, waktu imsak jam 4.37 menit. Pasti kalian dengar. Kalau tidak dengar, periksa itu telinga. Pergi periksa ke puskesmas. Oke? Sekian dulu sebab hampir habis waktunya. Terima kasih) Tentang Papa Eko. Hampir tak ada orang Tinambung yang tak kenal Papa Eko. Keseharian Papa Eko sebagai sopir bis sekolah Kecamatan Tinambung. Selain jago membawa mobil, juga servis kendaraan. Saat bulan Ramadhan, sejak tahun 2007, Papa Eko aktif di mesjid membantu membangunkan masyarakat Tinambung untuk sahur. Umurnya setengah baya, lahir tahun 40an di kawasan Palippis, dekat Pos Polisi saat ini. Dulu kawasan tersebut ada beberapa rumah penduduk, sebab perang dan pengaruh keributan di masa revolusi, penduduk di sana pada pindah. Termasuk keluarga Papa Eko. Dari bukit, menuju dataran dekat pesisir, kemudian ke Labuang lalu ke Tinambung. Dalam darah Papa Eko mengalir darah bangsawan. Ibunya memiliki hubungan kekerabatan dengan Puang Labang (Pallabuang), anak Raja Balanipa, Tokape . Tapi karena garis hidupnya bersahaja, hanya orang tertentu yang mengetahui hal tersebut. Sewaktu remaja sampai dewasa, Papa Eko pergi merantau. Pertama naik pinisi ke Poso selama satu bulan. Di sana bekerja dalam kegiatan pembangunan di sana. Dari Poso menuju Palu, bekerja di pengolahan kayu hitam. Kemudian hijrah lagi ke Balikpapan. Dari Balikpapan, Papa Eko mengadu nasib di Irian Jaya pada tahun 80-an. Untuk selanjutnya ke Jawa sebab perusahaan tempat kerjanya di Jawa bangkrut. Beberapa bulan di Jawa, Papa Eko kembali ke kampung halamannya pada akhir tahun 80-an. Beberapa setelah tiba, terjadi beberapa bencana di Mandar, yaitu banjir bandang dan kebakaran kompleks pasar Tinambung. Setelah suasana normal, Papa Eko kembali ke Jawa (Ponorogo, Jawa Timur) menjemput

istri dan anak-anaknya. Papa Eko beristrikan orang Jawa, Sunarti, dan memiliki dua putra, yaitu Eko Irianto dan Siswarna Dwipa. Adapun nama asli Papa Eko ialah Kanging Latif. Papa Eko 4 bersaudara: Hamidah (Amma’ Samsiah, almarhum), Papa Eko, Kamariah, dan Ca’di (sekarang bermukim di Malaysia). Adapun orangtuanya bernama Abdul Latif (Pua Ambar) dan ibu bernama I Millang. Saat ini Papa Eko dan keluarganya hidup di rumah orang tuanya di pertigaan Calo-calo – Pa’giling, juga bersama adiknya, Kamaria. Secara tidak langsung, aksi Papa Eko di dinihari Ramadhan melanjutkan kegiatan yang sama yang dilakukan oleh Kama’ Sako’ beberapa tahun lalu. Sampai renta, setiap sahur, Kama’ Sako menuju mesjid (rumahnya di kompleks pasar, depan mesjid). Aksi Kama’ Sako berhenti ketika beliau sakit (wafat). Kegiatannya persis, hanya saja panggilan Kama’ Sako’ hampir tidak ada yang sengaja dibuat jenaka, tapi orang yang mendengarnya tertawa mendengarnya. Yang paling terkenal adalah kalimat, saat akan pulang ke rumah “Saya pulang di rumah, nasamba’I ao gimbala mua’ ndano’ membue’a” (artinya: Saya pulang di rumah [red. Seharusnya saya pulang ke rumah], kamu akan ditendang beduk kalau tidak bangun). Baik Kama’ Sako maupun Papa Eko adalah insan yang membantu saudara-saudara muslimnya, dengan kemampun yang dimiliknya. “Hanya ini yang bisa saya berikan untuk saudara muslim saja, saya tak ada uang untuk disumbangkan,” terang Papa Eko tentang tujuannya melakukan panggilan untuk bangun sahur. Papa Eko memang oke. Pasti masyarakat Tinambung dan sekitarnya merindukan panggilan Papa Eko. Insya Allah pemirsa bisa mendengar kembali panggilan jenakan Papa Eko di Ramadhan mendatang.

Hal 21_oke  

EDISI 018 TAHUN IEDISI018TAHUNIEDISI018TAHUNIEDISI018TAHUNIEDISI018TAHUNI 21

Read more
Read more
Similar to
Popular now
Just for you