Skip to main content

Koran Kampus UKDW Edisi Juni 2026

Page 1

UKDW Yogyakarta

20

@UKDWJOGJA @ukdwyogyakarta

06

UKDW Yogyakarta

Alamat Redaksi: Kantor Biro IV UKDW Gedung Hagios Lantai 1 Jl. dr. Wahidin Sudirohusodo 5-25, D.I Yogyakarta Koran Kampus UKDW

JUNI 2026

korankampus@staff.ukdw.ac.id

Berkomunikasi dengan Hati Mencipta Harmoni

B E R I TA U TA M A

UKDW Kukuhkan Prof. Anton sebagai Guru Besar Termuda UKDW, Soroti Peran AI dalam Analisis Teks dan Pendidikan

Doc. Panitia

UKDW dan Hong Kong Polytechnic University Tingkatkan Literasi Digital Siswa SMP di Yogyakarta melalui Program EEE

Doc. Panitia

Doc. Panitia

2

Doc. Panitia

Wujudkan Misi Zero Waste, Tim Bioteknologi UKDW Sabet Medali Perumggu di IDEA FEST V 2026

5 Doc. Panitia

BUKAN KETUNDUKAN BRUTAL: Belajar dari Protes Ayub, Iman yang Jujur, dan Nalar Kritis di Kampus

U

Doc. Panitia

11

niversitas Kristen Duta Wacana (UKDW) Yogyakarta mengukuhkan Prof. Dr. Antonius Rachmat Chrismanto, S.Kom., M.Cs. sebagai Guru Besar dalam bidang kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI), khususnya kepakaran deep learning, di Auditorium Koinonia UKDW, Rabu (17/6/2026). Pengukuhan ini menjadi tonggak sejarah bagi UKDW karena Prof. Anton tercatat sebagai Guru Besar pertama Fakultas Teknologi Informasi (FTI) UKDW sekaligus Guru Besar termuda di lingkungan UKDW. Dalam orasi ilmiah berjudul “Analisis Teks dari Text Mining ke Deep Learning dan LLM: Model Deteksi Konten Spam dan Adaptasinya dalam Pendidikan Berbasis Konteks,” Prof. Anton menjelaskan perkembangan teknologi analisis teks yang kini menjadi pondasi penting dalam pemanfaatan AI. Menurutnya, data teks merupakan sumber informasi terbesar di era digital. Karena itu, teknologi analisis teks berkembang dari pendekatan text mining menuju machine learning, deep learning, hingga pemanfaatan Large Language Model (LLM) dan Small Language Model (SLM) yang mampu memahami konteks bahasa secara lebih mendalam. Ia menambahkan berbagai keputusan penting, mulai dari tren pasar, kepuasan

Doc. Panitia

Doc. Panitia

pengguna, hingga evaluasi kualitas pembelajaran di perguruan tinggi, umumnya tersimpan dalam bentuk teks yang tidak terstruktur. “Tanpa pengolahan yang tepat, informasi berharga tersebut sulit diubah menjadi pengetahuan yang dapat digunakan untuk mendukung pengambilan keputusan,” ujarnya. Prof. Anton menyoroti pentingnya AI dalam mendeteksi konten spam dan informasi menyesatkan yang semakin sulit dikenali dengan metode konvensional. Pemahaman konteks percakapan, relasi antar-kalimat, hingga hubungan antara unggahan dan komentar menjadi kunci dalam meningkatkan akurasi deteksi. Selain itu, ia melihat potensi besar AI untuk mendukung dunia pendidikan, terutama dalam implementasi kurikulum berbasis Outcome-Based Education (OBE). Teknologi AI dapat membantu perguruan tinggi memetakan keterkaitan antara capaian pembelajaran, asesmen, dan umpan balik mahasiswa secara lebih cepat, konsisten, dan berkelanjutan. Melalui penelitiannya, Prof. Anton mengembangkan model deteksi komentar spam berbahasa Indonesia yang memanfaatkan konteks percakapan dan emoji. Penelitian tersebut menghasilkan sejumlah kontribusi, antara lain dataset

SPAMID-PAIR, model ensemble machine learning, dan arsitektur deep learning EiAPBC yang dirancang lebih efisien dalam memahami konteks percakapan. Prof. Anton melihat berbagai peluang riset di bidang pemrosesan bahasa alami (Natural Language Processing/NLP), termasuk pengembangan model multilingual, deteksi spam multimodal, model ringan untuk pemrosesan real-time, hingga sistem AI yang mampu mendukung evaluasi kurikulum secara otomatis. Ia juga mendorong pengembangan sistem pendidikan berbasis bukti yang memanfaatkan AI untuk menganalisis keterkaitan antara kurikulum, asesmen, dan umpan balik mahasiswa secara berkelanjutan. Menurutnya, integrasi teknologi tersebut dapat menghadirkan sistem evaluasi kurikulum yang lebih adaptif, transparan, dan efektif dalam mendukung peningkatan mutu pendidikan. Meski perkembangan AI berlangsung sangat pesat, Prof. Anton mengingatkan bahwa teknologi tersebut tetap memerlukan pengawasan manusia (human-in-loop). Menurutnya, pendekatan human-in-the-loop penting untuk memastikan hasil yang dihasilkan AI tetap akurat, relevan, dan dapat dipertanggungjawabkan. “AI berkembang sangat cepat, tetapi kita tetap harus berhati-hati, terus belajar, dan

memastikan teknologi ini digunakan untuk mendukung manusia, bukan menggantikan peran manusia,” tegasnya. Dalam sambutannya, Rektor UKDW Dr.Ing. Wiyatiningsih, S.T., M.T. menyampaikan bahwa pengukuhan Prof. Anton merupakan bagian dari capaian peningkatan jabatan fungsional dosen di UKDW. Pencapaian tersebut diharapkan dapat mendorong lahirnya para Guru Besar berikutnya serta memperkuat kontribusi UKDW dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. “Pengukuhan Prof. Anton sebagai Guru Besar pertama Fakultas Teknologi Informasi merupakan pencapaian penting bagi UKDW. Kami berharap capaian ini dapat menginspirasi lahirnya Guru Besar-Guru Besar berikutnya serta memperkuat kontribusi UKDW dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi,” ujar Wiyatiningsih. Kepakaran Prof. Anton di bidang Kecerdasan Buatan diharapkan semakin memperkuat posisi UKDW sebagai Sustainable Entrepreneurial Research University (SERU) sekaligus mendukung terwujudnya UKDW sebagai Kampus Berdampak melalui pengembangan riset, inovasi, dan pendidikan yang relevan dengan kebutuhan masyarakat. [mpk]


Universitaria Profil Bulan Ini

2

VOL.20/ JUN 2026

Tantangan Kaum Muda Menanamkan, Menguatkan, dan Melestarikan Pancasila

S

ebagai penutup Mata Kuliah Pendidikan Pancasila (PP) Semester Genap Tahun Akademik 2025/2026, diselenggarakan seminar bertema “Tantangan Kaum Muda Menanamkan, Menguatkan, dan Melestarikan Pancasila” yang menghadirkan Joko Triharmanto atau yang lebih dikenal sebagai Bang Jack sebagai narasumber utama. Kegiatan ini menjadi momen penting untuk mengajak mahasiswa merefleksikan kembali peran generasi muda sebagai penerus bangsa di tengah berbagai tantangan global saat ini. Joko Triharmanto, merupakan seorang aktivis perdamaian, mantan narapidana kasus terorisme, sekaligus pembicara yang sering diundang dalam seminar kebangsaan, deradikalisasi, dan penguatan nilai-nilai Pancasila. Pada masa mudanya, Bang Jack pernah terlibat dalam jaringan terorisme yang berhubungan dengan pelaku Bom Bali I tahun 2002. Ia dikenal memiliki kemampuan merakit bom dan pernah tergabung dalam jaringan yang dipimpin oleh tokoh-tokoh teror seperti Noordin M. Top, Imam Samudra, dan Dulmatin. Akibat keterlibatannya tersebut, ia harus menjalani hukuman penjara sebagai narapidana terorisme. Dalam seminar tersebut, Bang Jack menceritakan bahwa keterlibatannya dalam jaringan Noordin M. Top berawal dari berita

Doc. Panitia

Doc. Panitia

dan rekaman video yang berisi pembantaian terhadap umat Muslim di Ambon dan beberapa daerah lainnya. Tayangan tersebut membangkitkan kemarahan dalam dirinya dan mendorongnya untuk melakukan aksi balas dendam. Dari situlah ia kemudian bergabung dalam perencanaan Bom Bali I yang terjadi pada 12 Oktober 2002. Sebelum melancarkan aksinya, Bang Jack dan rekanrekannya melakukan survei ke berbagai kota di Indonesia. Berdasarkan hasil survei tersebut, Bali dipilih sebagai lokasi serangan karena merupakan destinasi wisata internasional yang banyak dikunjungi wisatawan mancanegara, terutama dari Australia dan Amerika Serikat. Bang Jack juga menjelaskan bahwa pemahaman ideologi keagamaan yang keliru dapat membawa seseorang pada tindakan yang merugikan diri sendiri maupun orang

lain. Melalui kisah hidupnya, mahasiswa diajak memahami bahwa radikalisme dapat berkembang ketika seseorang kehilangan sikap kritis dan rasa cinta terhadap bangsa. Bahkan setelah peristiwa Bom Bali, Bang Jack masih berada dalam lingkungan jaringan radikal dan belum sepenuhnya meninggalkan ideologi yang diyakininya saat itu. Ia kemudian ditangkap oleh aparat dan dijatuhi hukuman enam tahun penjara atas keterlibatannya dalam kasus tersebut. Setelah bebas, kehidupan Bang Jack tidak serta-merta menjadi lebih mudah. Ia sempat bekerja di sebuah restoran, membuka toko komputer, hingga mencoba usaha angkringan. Setelah melalui berbagai kegagalan dan tantangan, ia akhirnya berhasil mengembangkan usaha kuliner berupa warung soto yang dikenal dengan nama “Soto Bang Jack.” Dalam kesempatan tersebut,

Bang Jack mengungkapkan bahwa orang tua dan istrinya menjadi faktor utama yang mendorong perubahan dalam hidupnya. Nasihat, kasih sayang, dan dukungan keluarga membuatnya menyadari dampak dari tindakan yang pernah dilakukannya serta mendorongnya untuk menjalani kehidupan yang lebih bermanfaat bagi masyarakat. Sejak bebas pada tahun 2008, ia berkomitmen mengabdikan sisa hidupnya bagi keluarga, masyarakat, bangsa, dan negara. Saat ini, Bang Jack lebih dikenal sebagai pembicara dalam berbagai seminar kebangsaan, deradikalisasi, dan pendidikan karakter. Ia aktif berbagi pengalaman kepada pelajar dan mahasiswa mengenai bahaya radikalisme serta pentingnya menjaga persatuan bangsa. Baginya, pengalaman masa lalu bukanlah sesuatu yang patut dibanggakan, melainkan pelajaran berharga agar generasi muda tidak mengulangi kesalahan yang sama. Melalui seminar ini, mahasiswa diajak untuk semakin memahami pentingnya menanamkan, menguatkan, dan melestarikan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari. Di tengah derasnya arus informasi dan berbagai tantangan sosial yang berkembang saat ini, generasi muda memiliki peran strategis dalam menjaga persatuan, toleransi, serta keutuhan bangsa Indonesia. [Moses]

Dosen Fakultas Teologi UKDW Ditunjuk sebagai Steering Committee NICMCR, Perkuat Jejaring Internasional

U

niversitas Kristen Duta Wacana (UKDW) kembali memperkuat kiprahnya dalam kerja sama internasional melalui penunjukan Pdt. August Corneles Tamawiwy, M.S.T., dosen Fakultas Teologi UKDW, sebagai Steering Committee Representative dalam jaringan internasional Netherlands-Indonesia Consortium for Muslim-Christian Relations (NICMCR). Penunjukan tersebut diresmikan dalam Annual Meeting NICMCR yang berlangsung di Kampus UIN Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi, Sumatera Barat, pada 3–4 Juni 2026. Pdt. Neles menggantikan Pdt. Prof. Robert Setio, Ph.D., Dekan Fakultas Teologi UKDW, salah satu co-founder yang juga telah mewakili UKDW sejak konsorsium ini berdiri pada tahun 2010. NICMCR merupakan konsorsium internasional yang dibentuk UKDW bersama Kerk in Actie Belanda untuk memperkuat dialog dan kerja sama Muslim-Kristen di Indonesia dan Belanda. Melalui kolaborasi riset, pendidikan, dan pengabdian masyarakat, konsorsium ini mempertemukan perguruan tinggi, organisasi keagamaan, dan masyarakat sipil guna merespons berbagai tantangan sosial, termasuk polarisasi berbasis agama. Sebagai Steering Committee Representative, Pdt. Neles akan turut berperan dalam merumuskan arah program kon-

Doc. Pribadi

Doc. Pribadi

Doc. Pribadi

sorsium, memperkuat kolaborasi antaranggota, serta mengembangkan agenda dialog antaragama yang menjadi fokus utama NICMCR. Dalam pertemuan tahunan kali ini, para peserta mengangkat tema krisis lingkungan global sebagai isu bersama yang membutuhkan respons lintas agama. Akademisi dan pemimpin agama dari Indonesia maupun Belanda berdiskusi mengenai kontribusi komunitas iman dalam menghadapi tantangan ekologis yang semakin mendesak. Pdt. Neles menyampaikan bahwa penunjukan tersebut merupakan amanah besar sekaligus tanggung jawab untuk melanjutkan kontribusi yang telah dibangun para pendahulunya. “Saya menyadari sepenuhnya kontribusi besar yang telah diberikan Pak Robert selama ini. Beliau bukan hanya perwakilan UKDW, tetapi juga salah satu pendiri konsorsium sejak tahun 2010. Ketika diminta

melanjutkan peran tersebut, saya bahkan sempat bertanya kembali karena saya akan menjadi anggota Steering Committee termuda di dalam konsorsium ini,” ujarnya. Keterlibatan Pdt. Neles dalam NICMCR bukanlah hal baru. Sebelumnya, ia aktif dalam berbagai kegiatan konsorsium, termasuk menjadi ketua panitia lokal pada penyelenggaraan 8th Interfaith Dialogue Conference. Pengalaman tersebut menjadi modal penting untuk melanjutkan peran strategis UKDW dalam jejaring internasional tersebut. Ia juga menegaskan komitmennya untuk meneruskan visi dan semangat yang telah dibangun oleh para pendiri konsorsium. “Tantangan global saat ini menuntut kita bergerak melampaui dialog normatif. NICMCR adalah konsorsium milik bersama, di mana setiap partisipan dari berbagai komunitas Muslim dan Kristen di Indonesia dan Belanda memegang tanggung jawab

setara dalam merawat jejaring interreligius ini. Melalui kerja kelompok ahli (pokja) di sektor pendidikan, gender, dan ekologi, komitmen kolektif ini kita optimalkan untuk menghasilkan pengetahuan berbasis praktik. Bersama-sama, kita eratkan relasi MuslimKristen di Indonesia dan Belanda menjadi semangat kolaboratif demi mewujudkan masyarakat yang adil, inklusif, dan berkelanjutan,” katanya. Penunjukan dosen Fakultas Teologi UKDW sebagai Steering Committee NICMCR menjadi bukti nyata komitmen UKDW dalam memperkuat kerja sama internasional dan dialog antaragama. Melalui partisipasi aktif dalam konsorsium ini, UKDW terus memperluas kontribusinya dalam pengembangan riset, pendidikan, dan kolaborasi lintas negara untuk menjawab berbagai tantangan global. [mpk]

REDAKSI KORAN KAMPUS PENANGGUNG JAWAB PIMPINAN REDAKSI WAKIL PIMPINAN REDAKSI

: Pdt. Wahju Satria Wibowo, Ph.D. : Pdt. Jeniffer Fresy Porielly Wowor, M.A, Ph.D. : Anna Iritasari

EDITOR

LAYOUTER

Anti, Lia, Mei

Adhimas, Endrianto

KORAN KAMPUS BISA ANDA DAPATKAN SECARA ONLINE MELALUI

https://issuu.com/korankampus_ukdw Redaksi menerima tulisan dari warga kampus berupa artikel, laporan kegiatan dan foto-foto yang membangun harapan. Kirim ke alamat Redaksi atau melalui email: korankampus@staff.ukdw.ac.id


Universitaria

3

VOL.20/ JUN 2026

UKDW dan Hong Kong Polytechnic University Tingkatkan Literasi Digital Siswa SMP melalui Program Internasional EEE

Doc. Panitia

Doc. Panitia

Doc. Panitia

Doc. Panitia

Doc. Panitia

Doc. Panitia

Doc. Panitia

Doc. Panitia

niversitas Kristen Duta Wacana (UKDW) bekerja sama dengan The Hong Kong Polytechnic University (PolyU) menyelenggarakan Electrical and Electronic Engineering (EEE) Program 2026 bertema Promoting Digital Literacy in Developing Societies. Program yang berlangsung pada 8–12 Juni 2026 di Kampus UKDW ini bertujuan meningkatkan literasi digital siswa SMP melalui pembelajaran teknologi yang interaktif sekaligus memperkuat kolaborasi internasional di bidang pendidikan. Program ini melibatkan siswa dari SMP BOPKRI 1, SMP BOPKRI 2, dan SMP BOPKRI 3 Yogyakarta. Sebanyak 34 mahasiswa PolyU bersama enam mahasiswa UKDW dari berbagai program studi berperan sebagai fasilitator yang mendampingi peserta selama kegiatan. Program ini merupakan bagian dari komitmen UKDW melalui Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) dalam menghadirkan pengabdian kepada masyarakat yang berdampak sekaligus memperluas jejaring kerja sama internasional.

Rangkaian kegiatan diawali dengan Opening Ceremony pada Minggu (7/6/2026) di Ruang Seminar Pdt. Dr. Harun Hadiwijono UKDW. Ketua Yayasan BOPKRI Yogyakarta, Ir. Obed Tripambudi, mengapresiasi kolaborasi UKDW dan PolyU yang memberikan kesempatan bagi siswa untuk belajar teknologi dalam lingkungan internasional. "Program ini memberikan pengalaman berharga bagi para siswa untuk mengenal teknologi sekaligus mengembangkan kreativitas dan kemampuan berpikir inovatif. Kami berharap pengalaman ini juga dapat diadaptasi oleh para guru dalam proses pembelajaran di sekolah," ujarnya. Perwakilan PolyU, Dr. Pauli Lai, menjelaskan bahwa program dirancang melalui pendekatan pembelajaran yang aplikatif dan menyenangkan. Para siswa mengikuti berbagai kegiatan, mulai dari scratch programming, proyek microcontroller, 3D Printing, DIY workshop, hingga IT Fun Fair yang menampilkan demonstrasi teknologi berbasis Artificial Intelligence (AI).

Pada kesempatan tersebut juga dilakukan penandatanganan Implementation Arrangement antara UKDW, PolyU, serta SMP BOPKRI 1, SMP BOPKRI 2, dan SMP BOPKRI 3 Yogyakarta sebagai bentuk komitmen bersama dalam memperkuat kerja sama pendidikan. Selain itu, mahasiswa PolyU memperoleh pembekalan mengenai budaya Indonesia melalui sesi Indonesian Culture and Etiquette serta Food Safety and Health Tips in Yogyakarta sebagai bekal selama mengikuti program. Selama pelaksanaan kegiatan, mahasiswa UKDW dan PolyU mendampingi para siswa dalam menyelesaikan berbagai proyek berbasis teknologi yang mendorong kreativitas, kemampuan berpikir kritis, kolaborasi, dan pemecahan masalah. Di sisi lain, mahasiswa PolyU juga memperoleh pengalaman belajar lintas budaya melalui interaksi langsung dengan siswa, guru, dan masyarakat Yogyakarta sehingga memperkaya wawasan global seluruh peserta. Program ditutup dengan Closing Ceremony pada Senin (15/6/2026) di Ruang Seminar Pdt. Dr. Harun Hadiwijono UKDW.

Rektor UKDW, Dr.-Ing. Wiyatiningsih, S.T., M.T., menegaskan bahwa keberhasilan program tidak hanya diukur dari penguasaan teknologi, tetapi juga dari kemampuan peserta membangun kolaborasi lintas budaya. "Teknologi bukan hanya tentang inovasi dan keterampilan, tetapi juga tentang bagaimana kita berkolaborasi, memahami budaya lokal, dan belajar bersama orangorang dari usia serta latar belakang yang berbeda. Pengalaman seperti ini akan sangat berharga bagi semua peserta," ujarnya. Melalui EEE Program 2026, UKDW dan PolyU berhasil menghadirkan ruang pembelajaran yang memadukan teknologi, pendidikan, pengabdian kepada masyarakat, dan kolaborasi internasional. Program ini tidak hanya meningkatkan literasi digital siswa SMP di Yogyakarta, tetapi juga memperkaya pengalaman belajar mahasiswa, memperkuat jejaring kerja sama antara perguruan tinggi dan sekolah, serta membangun pemahaman lintas budaya yang menjadi bekal penting dalam menghadapi tantangan global. [kezia]

U

UKDW Dukung Program Bedah Rumah HUT ke-79 Kota Yogyakarta untuk Wujudkan Hunian Layak

U

niversitas Kristen Duta Wacana (UKDW) mendukung program bedah rumah dalam rangka HUT ke-79 Kota Yogyakarta melalui kontribusi pendanaan dan keahlian akademik untuk membantu mewujudkan hunian yang lebih layak bagi masyarakat. Program ini merupakan hasil kolaborasi antara Pemerintah Kota Yogyakarta dengan berbagai mitra dari dunia pendidikan dan industri. Seremonial Penyerahan Bantuan Bedah Rumah HUT ke-79 Kota Yogyakarta berlangsung pada Minggu (7/6/2026) di kawasan Gang Molkemis, Ngampilan, Yogyakarta. Kegiatan tersebut dihadiri Wali Kota Yogyakarta, Dr. (H.C.) dr. Hasto Wardoyo, Sp.OG (K), jajaran Pemerintah Kota Yogyakarta, Organisasi Perangkat Daerah (OPD) pendamping, serta para mitra pendukung program. Dalam program tersebut, UKDW menjadi salah satu mitra yang berkontribusi pada pelaksanaan bedah rumah di Kota Yogyakarta. Program tahun ini menyasar sepuluh lokasi, dengan salah satu penerima manfaat berada di wilayah Demangan dan mendapat dukungan dari UKDW. Rektor UKDW, Dr.-Ing. Wiyatingsih, S.T., M.T., hadir langsung dalam acara seremonial sekaligus menegaskan komitmen UKDW untuk mendukung peningkatan kualitas hidup masyarakat melalui program pengabdian yang berdampak nyata. Wali Kota Yogyakarta mengapresiasi keterlibatan UKDW dalam program tersebut. “Saya mengucapkan banyak terima kasih kepada UKDW yang telah hadir langsung dalam acara seremonial penyerahan Bantuan Bedah Rumah dalam rangka HUT ke-79 Pemerintah Kota Yogyakarta. Terima kasih juga atas kerja sama yang selama ini telah terjalin dengan Pemerintah Kota

Yogyakarta,” ujarnya. Usai mengikuti acara seremonial, Rektor UKDW bersama perwakilan Bappeda Kota Yogyakarta, perangkat Kelurahan Demangan, dan panitia bedah rumah mengunjungi kediaman Ibu Sukmawati Herlina, penerima manfaat program di wilayah Demangan. Kunjungan tersebut dilakukan untuk melihat langsung kondisi rumah sekaligus membahas rencana pelaksanaan renovasi. Dalam kesempatan itu, Wiyatingsih menegaskan bahwa kontribusi UKDW tidak hanya berupa dukungan pendanaan, tetapi juga pendampingan berbasis keilmuan yang dimiliki universitas. “Hari ini kami turut berbahagia karena dipertemukan dengan Ibu Herlina dan seluruh perangkat Kampung Demangan yang akan bersama-sama bergotong royong membedah rumah agar lebih nyaman dan

Doc. Panitia

Doc. Panitia

layak dihuni. UKDW siap berkontribusi dalam proses pembiayaan maupun ketika dibutuhkan desain rumah yang layak huni, lebih sehat, serta memanfaatkan material daur ulang yang ramah lingkungan,” ujarnya. Ia menjelaskan bahwa UKDW memiliki sumber daya akademik yang dapat mendukung terwujudnya hunian yang lebih berkualitas bagi masyarakat. Melalui Program Studi Arsitektur dan Program Studi Desain Produk, UKDW siap memberikan kontribusi berupa gagasan, pendampingan, serta solusi desain yang sesuai dengan kebutuhan warga. “Kami berharap kontribusi tersebut dapat memberikan manfaat nyata bagi masyarakat. Kami juga berterima kasih kepada Pemerintah Kota Yogyakarta, khususnya Bappeda, yang selama ini telah menjalin kerja sama yang baik dengan UKDW dalam

berbagai program pembangunan dan pemberdayaan masyarakat,” tambahnya. Keterlibatan UKDW dalam program bedah rumah ini menjadi wujud nyata pelaksanaan tridarma perguruan tinggi, khususnya pengabdian kepada masyarakat. Selain memberikan dukungan sosial, UKDW turut menghadirkan kontribusi akademik melalui keahlian di bidang arsitektur, desain produk, dan pembangunan berkelanjutan untuk membantu menciptakan hunian yang lebih aman, sehat, dan layak huni. Melalui kolaborasi dengan Pemerintah Kota Yogyakarta, UKDW berharap semakin banyak masyarakat dapat merasakan manfaat dari sinergi antara perguruan tinggi dan pemerintah daerah dalam mewujudkan pembangunan yang inklusif, berkelanjutan, dan berdampak langsung bagi warga. [Adhimas]


Universitaria Universitaria

4

VOL.20/ JUN 2026

SEDES 2026 Tampilkan Hasil Riset Sejarah Desain Mahasiswa UKDW

M

ahasiswa Program Studi Desain Produk Universitas Kristen Duta Wacana (UKDW) menggelar pameran tugas akhir mata kuliah Sejarah Desain Semester Genap Tahun Akademik 2025/2026 bertajuk SEDES 2026. Pameran berlangsung pada 11–12 Juni 2026 di Atrium Agape UKDW dan menampilkan hasil penelitian mahasiswa mengenai sejarah berbagai produk yang hadir dalam kehidupan sehari-hari. Melalui pameran ini, mahasiswa menyajikan penelusuran historis terhadap beragam objek desain dengan menampilkan perjalanan perkembangan produk dari masa ke masa. Setiap karya disusun berdasarkan riset yang menggabungkan kajian diakronik—untuk menelusuri perubahan produk secara kronologis—dan kajian sinkronik yang mengkaji hubungan produk dengan konteks sosial, budaya, teknologi, serta ekonomi pada periode tertentu. Sebagai disiplin ilmu, desain tergolong relatif muda dibandingkan bidang ilmu lainnya. Sebelum Revolusi Industri di Eropa, aktivitas merancang umumnya dipahami sebagai bagian dari seni dan teknik. Perkembangan industri, teknologi, serta kebutuhan masyarakat modern kemudian mendorong lahirnya desain sebagai disiplin ilmu yang berdiri sendiri dengan karakteristik, metode, dan landasan keilmuan yang khas. Perkembangan tersebut menjadikan desain tidak lagi dipahami sekadar sebagai keterampilan teknis atau cabang seni dan teknik, melainkan sebagai bidang ilmu yang

Doc. Panitia

memiliki teori, metodologi, sejarah, filsafat, dan etika. Landasan keilmuan ini memungkinkan desain berperan lebih luas, tidak hanya menghasilkan produk atau layanan, tetapi juga menjadi sarana untuk memahami dan merespons berbagai persoalan dalam kehidupan masyarakat. Pendekatan tersebut turut diterapkan dalam pembelajaran mata kuliah Sejarah Desain. Proses belajar dirancang berbasis riset sehingga mahasiswa tidak hanya menerima materi, tetapi juga berperan sebagai peneliti yang membangun narasi sejarah melalui kajian terhadap produk pilihannya. Dengan demikian, mahasiswa

didorong menjadi produsen pengetahuan yang aktif, kritis, dan bertanggung jawab. Dosen pengampu mata kuliah Sejarah Desain, Centaury Harjani, S.Ds., M.Sn., menjelaskan bahwa pembelajaran sengaja dirancang untuk mengurangi dominasi metode ceramah. Menurutnya, dosen lebih berperan sebagai fasilitator yang membimbing mahasiswa dalam memahami metode penelitian sejarah, mulai dari penelusuran sumber, pengumpulan data, analisis historis, hingga penyusunan narasi. Selanjutnya, mahasiswa melakukan riset secara mandiri terhadap produk yang dipilih. SEDES 2026 diikuti oleh 24 mahasiswa.

Hasil penelitian mereka disajikan dalam bentuk poster timeline yang memperlihatkan perjalanan suatu produk sejak awal kemunculannya, perubahan bentuk maupun fungsi yang terjadi, hingga berbagai faktor yang mempengaruhi perkembangannya. Ragam obyek yang diteliti menunjukkan luasnya cakupan kajian sejarah desain sekaligus kemampuan mahasiswa mengolah data historis menjadi informasi yang komunikatif dan mudah dipahami pengunjung. Lebih dari sekadar pameran akademik, SEDES 2026 menjadi cerminan penerapan pembelajaran berbasis riset di lingkungan Program Studi Desain Produk UKDW. Pameran ini menunjukkan bahwa proses belajar yang memberi ruang bagi mahasiswa untuk melakukan penelitian secara mandiri mampu menumbuhkan kemampuan berpikir kritis, membangun argumentasi berbasis data, serta menghasilkan pemahaman yang lebih mendalam mengenai perkembangan desain. Ke depan, pendekatan pembelajaran berbasis riset diharapkan terus dikembangkan melalui dukungan ekosistem akademik yang memadai, termasuk kemudahan akses terhadap sumber penelitian dan pendampingan intensif dari dosen. Dengan demikian, mahasiswa diharapkan semakin percaya diri dalam membangun pengetahuan sekaligus mampu melahirkan inovasi desain yang berlandaskan pemahaman historis yang kuat. [Moses]

Pameran Foto LUX 2026: Cahaya sebagai Fondasi Rancang Bangun dalam Karya Mahasiswa Arsitektur UKDW

Doc. Panitia

Doc. Panitia

Doc. Panitia

Doc. Panitia

rogram Studi Arsitektur Universitas Kristen Duta Wacana (UKDW) menyelenggarakan pameran fotografi bertajuk Lux sebagai luaran Mata Kuliah Pilihan (MKP) Fotografi Arsitektur Semester Genap Tahun Akademik 2025/2026. Pameran yang berlangsung pada 4–5 Juni 2026 di Atrium Agape Lantai Dasar UKDW ini menjadi wadah bagi mahasiswa untuk menampilkan hasil proses pembelajaran sekaligus mempertanggungjawabkan karya akademik yang telah dikembangkan selama satu semester. Nama Lux dipilih karena memiliki makna yang erat dengan dunia arsitektur. Dalam bahasa Latin, lux berarti cahaya atau sinar, terutama cahaya yang berasal dari matahari maupun langit. Sementara itu, dalam bahasa Yunani dikenal istilah photo yang kemudian melahirkan kata fotografi. Dalam arsitektur, cahaya merupakan elemen fundamental yang memungkinkan ruang, bentuk, dan material dapat dipersepsi oleh manusia. Tanpa cahaya, ruang dan massa bangunan kehilangan eksistensinya dalam pengalaman visual. Berbeda dengan mata kuliah fotografi pada umumnya, MKP Fotografi Arsitektur tidak hanya berorientasi pada penciptaan gambar yang estetis, tetapi juga berfungsi sebagai

instrumen pendukung dalam proses perancangan arsitektur. Melalui mata kuliah ini, mahasiswa dilatih menggunakan fotografi sebagai media observasi, dokumentasi, dan eksplorasi visual untuk memperkaya referensi desain serta memperkuat proses perancangan di studio arsitektur. Dalam proses pembelajaran, mahasiswa menggunakan peralatan sederhana, seperti kamera telepon genggam. Pendekatan ini bertujuan agar mahasiswa lebih berfokus pada kemampuan mengamati, menentukan sudut pandang (point of view), dan mengidentifikasi persoalan di lapangan daripada sekadar mengejar kualitas teknis gambar. Hasil fotografi kemudian diolah menjadi visual statement yang mampu mendukung pengembangan gagasan dalam studio perancangan. Materi yang dipelajari mencakup lima aspek utama, yaitu fotografi estetika bangunan, dokumentasi aktivitas di ruang publik, identifikasi alih fungsi ruang, fotografi udara (drone photography), serta teknik fotogrametri. Beragam pendekatan tersebut membantu mahasiswa memahami arsitektur secara lebih utuh, mulai dari hubungan bangunan dengan lingkungan sekitarnya hingga detail elemen arsitektural yang sering

kali luput dari pengamatan. Eksplorasi melalui perspektif udara memberikan pemahaman mengenai posisi sebuah bangunan dalam konteks kawasan, sedangkan teknik fotogrametri memungkinkan mahasiswa mendokumentasikan objek secara presisi sehingga dapat digunakan sebagai referensi dalam proses visualisasi desain. Teknik ini juga bermanfaat ketika mahasiswa merancang detail arsitektural, seperti patung atau elemen dekoratif lainnya, karena menghasilkan data visual yang lebih akurat. Semangat pameran ini sejalan dengan pemikiran arsitek ternama Le Corbusier yang menyatakan, "Architecture is the masterly, correct and magnificent play of masses brought together in light." Kutipan tersebut menegaskan bahwa arsitektur merupakan seni menyusun massa, ruang, dan bentuk melalui pemanfaatan cahaya. Dengan demikian, fungsi arsitektur tidak hanya sebagai wadah aktivitas manusia, tetapi juga sebagai pengalaman ruang yang dibentuk oleh komposisi bentuk dan pencahayaan. Dosen Pengampu MKP Fotografi Arsitektur UKDW, Dr. Ir. Mahatmanto, M.T., berharap pameran seperti Lux dapat terus diselenggarakan secara berkelanjutan. Menurutnya, pameran menjadi sarana penting bagi mahasiswa untuk mem-

presentasikan hasil pembelajaran kepada sivitas akademika maupun masyarakat luas. "Pameran ini bukan hanya menampilkan karya, tetapi juga melatih mahasiswa membangun rasa percaya diri, kemampuan berkomunikasi, dan pro-fesionalisme dalam mempresentasikan hasil proses kreatif mereka," ujarnya. Meski demikian, Mahatmanto menilai durasi penyelenggaraan pameran yang masih terbatas menjadi tantangan tersendiri. Waktu pelaksanaan yang singkat membuat kesempatan untuk mengeksplorasi serta memperkenalkan karya kepada pengunjung belum dapat dilakukan secara optimal. Ke depan, ia berharap pameran Lux dapat diselenggarakan bertepatan dengan kegiatan Orientasi Kehidupan Akademik (OKA) UKDW. Selain menjadi ajang apresiasi karya mahasiswa, momentum tersebut dinilai dapat memperkenalkan proses pembelajaran di Program Studi Arsitektur kepada mahasiswa baru sekaligus masyarakat luas. Dengan demikian, pameran tidak hanya menjadi ruang pamer hasil karya, tetapi juga media edukasi yang memperlihatkan bagaimana fotografi berperan sebagai bagian penting dalam proses perancangan arsitektur. [Moses]

P


Kiprah Mahasiswa VOL.20/ JUN 2026

Mahasiswa Bioteknologi UKDW Raih Medali Perunggu di Idea Festival V 2026 Lewat Inovasi Zero Waste

Doc. Panitia

M

ahasiswa Fakultas Bioteknologi Universitas Kristen Duta Wacana (UKDW) Yogyakarta kembali menorehkan prestasi di tingkat nasional. Tim yang diketuai Yitron Lum bersama Siany Eurine Rattu, Felix Yesa Verdian, Yohanes Setiawan Wijaya, dan Vincentius Satrio Damardjati berhasil meraih Bronze Medal pada Idea Festival (IdeaFest) V 2026 yang diselenggarakan oleh Sentosa Foundation di

Institut Pertanian Bogor (IPB), Jawa Barat. Pada kompetisi yang mengusung berbagai gagasan inovatif untuk menjawab tantangan di Indonesia tersebut, tim UKDW berkompetisi pada subtema lingkungan melalui poster ilmiah berjudul Valorisasi Limbah Kulit Jeruk (Citrus spp.) dan Limbah Tahu Menjadi Pupuk Organik Skala Domestik. Di bawah bimbingan dosen Program Studi Biologi, Dr. Laurentia

Henrieta Permita Sari Purba, S.Si., tim menghadirkan solusi yang mengolah limbah organik menjadi produk yang bermanfaat bagi lingkungan. Inovasi ini berangkat dari tingginya jumlah limbah kulit jeruk dan limbah cair tahu yang masih sering dibuang tanpa pengolahan. Melalui serangkaian kajian dan pengujian laboratorium, tim menemukan bahwa kedua limbah tersebut masih mengandung unsur hara penting seperti nitrogen, fosfor, dan karbon yang bermanfaat bagi pertumbuhan tanaman. Untuk memanfaatkannya, tim menerapkan proses fermentasi menggunakan mikroorganisme (EM4) dan molase sehingga limbah dapat diolah menjadi pupuk organik cair (POC). Dalam proses penelitian, mereka juga berhasil mengatasi tantangan berupa kandungan senyawa alami pada kulit jeruk yang dapat menghambat aktivitas mikroorganisme. Setelah melalui berbagai pengujian, tim menemukan komposisi bahan yang memungkinkan proses fermentasi berlangsung secara optimal. Keunggulan inovasi ini tidak hanya terletak pada produk pupuk organik cair yang dihasilkan, tetapi juga pada penerapan prinsip zero waste. Seluruh bahan baku dimanfaatkan secara optimal sehingga tidak menghasilkan limbah baru. Selain menghasilkan pupuk organik cair, sisa fermentasi yang telah mengalami perubahan struktur juga masih memiliki nilai

guna. Setelah dikeringkan, ampas tersebut berpotensi dimanfaatkan sebagai campuran pakan ternak unggas sehingga memberikan nilai tambah sekaligus mengurangi jumlah limbah yang terbuang ke lingkungan. Hasil pengujian laboratorium juga menunjukkan bahwa pupuk organik cair yang dikembangkan memiliki kandungan unsur hara yang mendukung pertumbuhan tanaman. Temuan ini memperlihatkan bahwa limbah rumah tangga dan limbah industri pangan dapat diolah menjadi produk yang lebih bernilai dan ramah lingkungan. Dr. Laurentia Henrieta Permita Sari Purba, S.Si., selaku dosen pembimbing, menyampaikan apresiasinya atas kerja keras seluruh anggota tim. "Prestasi ini menjadi pengalaman berharga bagi mahasiswa untuk mengembangkan kemampuan riset, berpikir kritis, dan berkompetisi di tingkat nasional. Saya berharap pencapaian ini dapat memotivasi mahasiswa lain untuk terus berinovasi dan menghasilkan karya yang memberikan manfaat bagi masyarakat," ujarnya. Keberhasilan meraih medali perunggu di Idea Festival V 2026 menambah deretan prestasi mahasiswa UKDW di tingkat nasional. Capaian ini sekaligus mencerminkan komitmen UKDW dalam mendorong pengembangan riset dan inovasi yang mampu menjawab berbagai persoalan masyarakat, khususnya di bidang lingkungan dan pembangunan berkelanjutan. [Permita ]

Tim UKDW Raih Insentif PKM-GFT 2026 Lewat Gagasan Blockchain untuk Atasi Kemiskinan

P

restasi membanggakan kembali diraih mahasiswa Universitas Kristen Duta Wacana (UKDW). Tim mahasiswa lintas program studi berhasil memperoleh Insentif Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) 2026 bidang Gagasan Futuristik Tertulis (GFT) dari Direktorat Pembelajaran dan Kemahasiswaan, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi. Tim yang terdiri atas mahasiswa Program Studi (Prodi) Manajemen, Meingly Septiningsih, serta mahasiswa Prodi Sistem Informasi, Cristiana Savitri, Bernadeth Tania Jadiva, dan Enrico Lanang Talentino, mengusung gagasan inovatif berjudul National Human Potential Cloud (N-HPC): Arsitektur Blockchain untuk Transformasi Data Sosial dan Demokratisasi Akses Modal Menuju Indonesia Tanpa Kemiskinan 2045. Melalui gagasan tersebut, mereka menawarkan solusi pengentasan kemiskinan dengan memanfaatkan teknologi blockchain dan kecerdasan buatan (AI) untuk meningkatkan akurasi data sosial serta ketepatan penyaluran bantuan kepada masyarakat yang membutuhkan. Gagasan N-HPC lahir dari keprihatinan tim terhadap berbagai persoalan yang masih dihadapi Indonesia dalam upaya pengentasan kemiskinan. Meski pertumbuhan ekonomi terus berlangsung, ketidaktepatan sasaran bantuan sosial, fragmentasi data antarinstansi, dan keterbatasan akses pembiayaan produktif bagi masyarakat berpenghasilan rendah masih menjadi tantangan yang perlu diatasi. Menurut Meingly selaku ketua tim, sistem yang selama ini digunakan masih

menghadapi kendala dalam integrasi data, transparansi, dan akuntabilitas distribusi bantuan sosial. “Melalui N-HPC, kami membayangkan sebuah sistem masa depan yang mampu mengintegrasikan data sosial-ekonomi nasional secara lebih transparan, akurat, dan aman. Teknologi blockchain menjadi fondasi untuk menciptakan sistem yang lebih akuntabel sekaligus mengurangi potensi manipulasi data,” ujarnya. Sistem ini dirancang agar dapat diterapkan hingga wilayah terpencil melalui dukungan teknologi satelit low earth orbit (LEO) dan infrastruktur energi berbasis tenaga surya. Dosen pembimbing tim, Drs. Jong Jek Siang, M.Sc., mengapresiasi capaian mahasiswa tersebut. “Saya senang dan bangga bahwa di tengah keterbatasan dan efisiensi dana Belmawa, mahasiswa UKDW masih mampu bersaing dan berprestasi dalam Program Kreativitas Mahasiswa. Mereka mampu melihat persoalan pengelolaan data penduduk miskin yang berdampak pada penyaluran bantuan yang tidak tepat sasaran, lalu menawarkan gagasan penyelesaian dengan memanfaatkan teknologi AI,” ujarnya. Meingly menambahkan, keberhasilan meraih Insentif PKM-GFT 2026 tidak terlepas dari kerja keras seluruh anggota tim dan dukungan dosen pembimbing selama proses penyusunan proposal. Wakil Rektor III Bidang Kemahasiswaan, Alumni, Informasi, dan Inovasi UKDW, Dr. Parmonangan Manurung, S.T., M.T., IAI., turut mengapresiasi pencapaian tersebut. “Selamat kepada dosen pembimbing dan

Doc. Panitia

seluruh tim yang telah berhasil meraih Insentif PKM melalui karya yang mengangkat isu-isu relevan dengan perkembangan zaman dan permasalahan sosial di masyarakat,” ujarnya. Koordinator PKM UKDW, Servatia Mayang Setyowati, S.Pd., M.Sc., menilai keberhasilan tersebut merupakan hasil dari proses belajar, kolaborasi, dan kemampuan mahasiswa dalam menghasilkan gagasan yang relevan dengan kebutuhan masyarakat. Ia berharap capaian tersebut dapat memotivasi mahasiswa lain untuk terus

berinovasi dan berprestasi. Keberhasilan ini menunjukkan komitmen UKDW dalam mendorong mahasiswa menghasilkan gagasan inovatif yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga mampu memberikan kontribusi bagi penyelesaian berbagai persoalan bangsa. Melalui capaian di PKM-GFT 2026 ini, mahasiswa UKDW membuktikan bahwa kreativitas, kepedulian sosial, dan pemanfaatan teknologi dapat berjalan beriringan untuk menghadirkan solusi bagi masa depan Indonesia. [mpk]


Kiprah Mahasiswa VOL.20/ JUN 2026

Mahasiswa UKDW Raih Juara 1 NSIC Lewat Inovasi Prostetik Anak Berkelanjutan

P

restasi membanggakan kembali diraih mahasiswa Universitas Kristen Duta Wacana (UKDW). Tim Buddy Builders berhasil meraih Juara 1 National Student Innovation Competition (NSIC), kompetisi inovasi tingkat nasional yang berfokus pada isu sustainability dan circular economy. Kompetisi yang diprakarsai oleh Product Development Management and Association (PDMA) ini mendorong lahirnya inovasi yang mampu memberikan dampak positif bagi masyarakat sekaligus menjawab berbagai tantangan sosial secara berkelanjutan. Tim Buddy Builders terdiri atas empat mahasiswa Program Studi Desain Produk dan satu mahasiswa Program Studi Manajemen, yaitu Michelle Aurelia Nathanael, Kezia Angelina Hermawan, Rhenald Tanujaya, Kimberly Benedicta Christabel, serta Gracia Jessica. Pada kompetisi tersebut, mereka memperkenalkan Buddy V.1, tangan prostetik fungsional untuk anak yang memanfaatkan teknologi 3D Scan dan 3D Print guna menghasilkan produk yang lebih sesuai dengan kebutuhan pengguna. Michelle menjelaskan bahwa pengembangan Buddy V.1 berangkat dari keprihatinan terhadap terbatasnya akses anak penyandang disabilitas tangan terhadap prostetik yang sesuai kebutuhan mereka. “Banyak prostetik yang harganya cukup tinggi, kurang menarik bagi anak-anak, dan harus diganti berulang kali seiring pertumbuhan tubuh. Kondisi ini membuat penggunaan prostetik menjadi kurang berkelanjutan bagi sebagian keluarga,” ungkap Michelle.

Menjawab tantangan tersebut, Tim Buddy Builders merancang Buddy V.1 agar lebih nyaman digunakan, mudah dipersonalisasi, dengan biaya produksi yang lebih terjangkau. Inovasi utama yang mereka tawarkan adalah sistem reprint adaptif yang memungkinkan prostetik dicetak ulang mengikuti pertumbuhan anak tanpa harus memulai proses pembuatan dari awal. Melalui pendekatan tersebut, Buddy V.1 tidak hanya berfungsi sebagai alat bantu aktivitas sehari-hari, tetapi juga menjadi solusi jangka panjang yang lebih inklusif dan berkelanjutan. Sistem ini turut mendukung prinsip circular economy dengan memanfaatkan teknologi manufaktur digital yang lebih efisien dan adaptif. Keberhasilan tersebut membuka peluang bagi Tim Buddy Builders untuk melangkah ke tahap berikutnya, yaitu program pembekalan menuju kompetisi internasional Product Development and Management Association. Bersama lima tim terbaik lainnya, mereka akan mengikuti workshop, mentoring, dan pendampingan intensif untuk menyempurnakan proposal yang akan diajukan pada ajang internasional tersebut. Michelle mengaku kompetisi ini menjadi pengalaman yang sangat berkesan bagi seluruh anggota tim. Menurutnya, keberhasilan Tim Buddy Builders tidak lepas dari kolaborasi lintas disiplin ilmu yang terjalin selama proses pengembangan inovasi. “Kompetisi ini menjadi salah satu pengalaman yang sangat berkesan bagi kami. Selama prosesnya, kami tidak hanya dituntut untuk menghadirkan solusi yang inovatif, tetapi juga belajar bertukar perspektif dari

Doc. Panitia

anggota tim yang berasal dari latar belakang keilmuan berbeda. Kolaborasi tersebut menjadi kekuatan utama kami dalam mengidentifikasi masalah dan merumuskan solusi yang lebih tepat,” jelas Michelle. Ia juga menambahkan bahwa berbagai masukan kritis dari dosen pendamping membantu tim menyempurnakan konsep dan memastikan solusi yang mereka tawarkan semakin relevan dengan kebutuhan pengguna. “Berbagai masukan dari dosen pendamping menjadi pelajaran yang sangat berharga bagi kami. Saya berharap pengalaman ini dapat menjadi bekal untuk pengembangan inovasi di masa depan sekaligus memotivasi

mahasiswa UKDW lainnya untuk berani mengikuti berbagai kompetisi dan mengembangkan solusi yang bermanfaat bagi masyarakat,” tutupnya. Keberhasilan Tim Buddy Builders menunjukkan bahwa kolaborasi lintas disiplin ilmu mampu menghasilkan inovasi yang menjawab kebutuhan nyata masyarakat sekaligus mendukung pembangunan yang lebih inklusif dan berkelanjutan. Prestasi ini juga memperkuat komitmen UKDW dalam mendorong mahasiswa untuk menghadirkan solusi kreatif yang memberikan dampak positif bagi sesama melalui inovasi dan teknologi. [mpk]

Tim Mahasiswa UKDW Raih Pendanaan P2MW 2026 Lewat Inovasi Snack Sehat Nanabar

Doc. Panitia

U

niversitas Kristen Duta Wacana (UKDW) kembali menorehkan prestasi di tingkat nasional. Tim mahasiswa UKDW berhasil meraih pendanaan Program Pembinaan Mahasiswa Wirausaha (P2MW) 2026 yang diselenggarakan Direktorat Pembelajaran dan Kemahasiswaan (Belmawa), Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek). Pendanaan tersebut diperoleh melalui inovasi produk Nanabar, camilan sehat berbentuk snack bar berbahan dasar tepung bonggol pisang. Pada P2MW 2026, Nanabar

berhasil lolos pendanaan pada kategori makanan dan minuman tahap bertumbuh. Keberhasilan ini menjadi bukti komitmen UKDW dalam mendorong lahirnya wirausaha muda yang inovatif, kreatif, dan mampu menghadirkan solusi bagi berbagai tantangan di masyarakat melalui pengembangan produk berbasis riset dan potensi lokal. Nanabar dikembangkan oleh tim yang terdiri atas Otniel Jason Wijaya, Joey Alessandro Wijaya, dan Alvin Gracio Wijaya dari Program Studi Biologi, Fani Natasia Matondang dari Program Studi Desain Produk, serta Samuel Bagas Bimantoro dari

Program Studi Akuntansi. Kolaborasi lintas disiplin ilmu tersebut menghasilkan produk pangan inovatif yang memanfaatkan bonggol pisang, bagian tanaman yang selama ini belum banyak dimanfaatkan dan kerap menjadi limbah pertanian. Sebagai program nasional, P2MW bertujuan memperkuat ekosistem kewirausahaan di perguruan tinggi melalui pendanaan, pelatihan, dan pendampingan usaha bagi mahasiswa. Melalui program ini, mahasiswa didorong untuk mengembangkan usaha yang berkelanjutan sekaligus memberikan dampak positif bagi masyarakat. Dosen pembimbing tim Nanabar, Catarina Aprilia Ariestanti, S.T.P., M.Sc., menyampaikan apresiasinya atas capaian yang diraih para mahasiswa. “Saya bangga dengan tim Nanabar yang berhasil lolos pendanaan P2MW 2026 pada tahap bertumbuh. Inovasi snack bar berbasis bonggol pisang ini menunjukkan kreativitas, keberlanjutan, dan potensi pasar dalam menjawab tantangan di bidang pangan dan kesehatan. Perbedaan latar belakang keilmuan para anggota tim juga menunjukkan bahwa kolaborasi menjadi kunci dalam menciptakan inovasi yang berdampak,” ujarnya. Apresiasi juga disampaikan oleh Wakil Rektor III Bidang Kemahasiswaan, Alumni, Informasi, dan Inovasi UKDW, Dr. Parmonangan Manurung, S.T., M.T., IAI. “Selamat kepada seluruh tim dan dosen pembimbing atas keberhasilan meraih hibah P2MW 2026. Topik yang diangkat sangat inovatif karena memanfaatkan bahan lokal yang selama ini kurang dimanfaatkan menjadi produk pangan yang memiliki nilai tambah

DI SINI

dan manfaat bagi masyarakat,” tuturnya. Bagi tim Nanabar, keberhasilan ini menjadi peluang untuk mengembangkan usaha sekaligus meningkatkan kapasitas kewirausahaan. Otniel Jason Wijaya selaku ketua tim mengungkapkan bahwa program P2MW memberikan dukungan yang sangat berarti bagi pengembangan usaha mahasiswa. “P2MW membuka peluang bagi kami untuk mengembangkan ide dan kreativitas dalam dunia usaha. Kami tidak hanya memperoleh pendanaan, tetapi juga mendapatkan pendampingan yang membantu kami mengembangkan produk dan strategi bisnis secara lebih matang,” jelasnya. Nanabar hadir sebagai alternatif camilan sehat yang memanfaatkan tepung bonggol pisang sebagai sumber serat pangan. Selain menawarkan nilai gizi yang baik, inovasi ini juga mendukung upaya pengurangan limbah pertanian dan peningkatan nilai ekonomi bahan baku lokal. Melalui pengembangan produk ini, tim berharap dapat menghadirkan pilihan pangan yang lebih sehat sekaligus mendorong pemanfaatan sumber daya lokal secara berkelanjutan. Melalui dukungan pendanaan dan pendampingan P2MW 2026, tim Nanabar diharapkan dapat mengembangkan produknya hingga mampu menjangkau pasar yang lebih luas. Keberhasilan ini sekaligus memperkuat komitmen UKDW dalam membangun ekosistem kewirausahaan mahasiswa yang inovatif, kolaboratif, dan berkelanjutan, serta mendorong lahirnya generasi muda yang siap menciptakan dampak positif bagi masyarakat melalui inovasi dan kewirausahaan. [Andi]


Pendidikan Bahasa Inggris VOL.20/ JUN 2026

Doubts, God's Love, and the Humble Perseverance that Led Me to Taiwan

G

rowing up in Sakuli, a small village in Kolaka, Southeast Sulawesi, I always dreamed of seeing the world, although I had no idea how that dream would one day come true. My educational journey eventually brought me to Universitas Kristen Duta Wacana (UKDW) in Yogyakarta, where opportunities gradually unfolded in ways I had never imagined. One of those opportunities began with a seemingly insignificant decision. On 28 July 2025, I impulsively applied for a passport without knowing what I would use it for. Several months later, that passport became the gateway to an unforgettable journey through the GlobEEs Programme in Taiwan. I went through the selection process with few expectations and was grateful to be chosen as one of UKDW's representatives. Yet, beneath the excitement, I was filled with uncertainty. I questioned the cost, the timing, my priorities, and even whether I deserved the opportunity. A week before departure, I shared these worries with my best friend, Maya. She simply smiled and said, "Just go. You never know what you might find there." A few days later, my academic tutor, Mr Ignatius Tri Endarto, asked me, "Ester, are you sure you're ready to go to Taiwan?" By then, everything had already been arranged. The decision had been made and preparations were well underway. Yet my heart was still searching for reassurance. Then something unexpected happened. On 30 April 2026, I posted a WhatsApp Story showing a few Taiwanese dollars. Someone replied, and what began as a casual conversation about Taiwan unexpectedly brought me a sense of comfort. Nothing extraordinary happened, yet for reasons I still cannot fully explain, I felt safe. My doubts did not disappear overnight, but for the first time I believed that everything would be alright. Looking back, I hesitate to claim that this was God's way of revealing His love to me. Yet that quiet assurance gave me the courage to move forward and embrace the journey that lay ahead. The Journey Begins On 3 May 2026, our journey to Taiwan finally began. We travelled by train from Yogyakarta to Jakarta before boarding an early morning flight to Taipei. During our transit, I attended Sunday Mass at Jakarta Cathedral. Even then, my heart was still wrestling with uncertainty. However, just before boarding the plane, I looked at the passport and boarding pass in my hands, took a deep breath, and felt an unexpected calm. The doubts were still there, but they no longer controlled me. The following day, we were warmly welcomed by the team from Chang Jung Christian University (CJCU). From Taipei, we travelled several more hours to Tainan. After more than fifteen hours of travelling by land and air, we finally arrived on campus. Everything felt new. The roads, architecture, and landscapes were unlike anything I had

including the making of bamboo hunting tools passed down through generations. The visit deepened my appreciation for communities that preserve their cultural heritage while living harmoniously with the environment. In between programme activities, we also explored the cities of Tainan and Kaohsiung. These visits offered valuable insights into Taiwanese society, urban planning, public transportation, and everyday life, enriching our understanding of the country beyond what any classroom could teach. doc.pribadi

doc.pribadi

doc.pribadi

experienced in Indonesia. The university's beautiful brick-red buildings and peaceful surroundings immediately filled me with awe. At that moment, I realised that I had truly stepped into a completely different world. Learning Beyond the Classroom From 5 to 14 May, our days were filled with meaningful academic, cultural, and community activities. The programme began with a warm welcome from the organising committee and our student buddies, who introduced us to both the university and Taiwanese culture. During the opening ceremony, each delegation proudly shared its country's cultural heritage, allowing us to appreciate the diversity represented within the programme. Throughout the following days, we participated in Mandarin language classes, where we learned basic greetings, selfintroductions, and everyday expressions. We also explored traditional Chinese calligraphy and painting, gaining hands-on experience with artistic techniques that reflected Taiwan's

rich cultural heritage. One of my favourite experiences was visiting Gong Yuan Primary School. Together with CJCU students, we introduced Indonesian culture through interactive games and traditional dances. The enthusiasm of the children and the warmth of the teachers reminded me that cultural exchange is not simply about sharing knowledge—it is about building genuine human connections. Our learning extended beyond the classroom as well. Through workshops such as Bottle Cap Wall Art and Paper Brick, we discovered creative approaches to transforming waste into useful products, reflecting the university's commitment to sustainable development through the International Programme for Sustainable Development (IPSD). Another memorable experience was participating in the University Social Responsibility (USR) programme, which brought us to an indigenous community in Alishan. There, we learned about their close relationship with nature, their enduring traditions, and their remarkable craftsmanship,

Discovering God's Love in Small Moments Amid our busy schedule, God gently reminded me of His presence through simple moments. One such moment came when I attended Mass at St Joseph's Catholic Church in Nanning. Coincidentally, it was Mother's Day, and every woman attending the service received a flower and a small cake from the parish. It was a simple gesture—perhaps insignificant to some—but to me it felt deeply personal. In that quiet moment, I experienced a renewed sense of peace and gratitude. Although my questions were not fully answered, I realised that God's love often reveals itself not through dramatic miracles but through ordinary acts of kindness. Perhaps the rest of that story is one I will share another time. Humble Perseverance For some people, travelling abroad may seem like an ordinary experience. For me, however, it was a life-changing blessing. As I reflected on the journey, I realised that the little girl from Sakuli who once dreamed without knowing how those dreams could ever become reality had been quietly guided every step of the way. Taiwan became more than a destination; it became a place where my fears gradually gave way to trust, where my doubts were met with unexpected kindness, and where my faith grew stronger through everyday experiences. During my final presentation before the leadership of CJCU, delegates from UKDW, and representatives from Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW), I concluded with one lesson that continues to stay with me: growth begins with humble perseverance—the willingness to remain open, to keep learning, and to move forward despite the doubts and limitations we place upon ourselves. Looking back, I realise that courage is not the absence of fear. Rather, it is the decision to keep moving forward while carrying that fear with faith. I hope this story will remain a meaningful memoir for my future self. If it also encourages someone else to take the first step towards their own dreams, then this journey has become even more worthwhile. Thank you, God bless, Berkah Dalem. Zài jiàn. [Ester N. K.]

UKDW ELED Students Mentor Junior High School Students through Public Speaking Program

S

tudents from the English Language Education Department (ELED) at Universitas Kristen Duta Wacana (UKDW), from the 2024 cohort, took part in a public speaking mentoring program at BOSA Junior High School (SMP BOPKRI 1 Yogyakarta), from February to May 2026. The extracurricular initiative formed part of the Language Teaching Methodologies (LTM) course taught by Dr. Paulus Widiatmoko, M.A., providing students with valuable hands-on teaching experience in an authentic school setting. The program enabled ELED students to put the theories and teaching strategies they had learned in the classroom into practice while supporting junior high school students in developing their public speaking skills and confidence in communicating before an audience. Held every week, the mentoring sessions

involved UKDW students working in small groups with students from Grades 7A and 7B. Each session began with an icebreaker to create an engaging learning environment, followed by interactive activities designed to encourage active participation and communication. The learning activities focused on building fundamental public speaking skills. Students practiced introducing themselves, describing their school environment, expressing simple opinions, and retelling classic stories. These activities helped strengthen their speaking abilities while developing confidence, effective communication, and audience awareness. Throughout the program, the UKDW students served not only as instructors but also as learning facilitators, guiding and encouraging students to actively participate in the learning process. Using a student-centered approach, they adapted teaching strategies to suit the needs and characteristics of each

group, creating opportunities for every student to practice, collaborate, and express their ideas. The program produced encouraging results. Students who were initially reluctant to speak in front of their classmates became increasingly confident in expressing their ideas and participating in classroom discussions. They also developed a basic understanding of essential public speaking techniques, including maintaining eye contact, using effective vocal intonation, and delivering clear messages to an audience. For the UKDW students, the mentoring program provided meaningful professional experience beyond what could be achieved through classroom simulations alone. They gained practical skills in lesson planning, classroom management, collaborative teaching, and responding to real classroom dynamics—experiences that will support their future careers as educators.

The initiative also highlights the value of collaboration between universities and schools in strengthening educational quality. Through this partnership, university students gain authentic field experience while schools benefit from additional learning opportunities that support students' personal and academic development. Through initiatives such as this, ELED UKDW continues to encourage students to integrate academic learning with meaningful community engagement. The mentoring experience at BOSA Junior High School has provided a strong foundation for these future educators as they prepare to make positive and lasting contributions to the field of education. [Yosafat]

7


8

Pusat Pelatihan Bahasa VOL.20/ JUN 2026

The Art of Softening: Berargumen Tanpa Terkesan Kasar

M

enyampaikan kritik atau ketidaksetujuan dalam bahasa Inggris sering menjadi tantangan bagi mahasiswa. Keinginan untuk berbicara secara jujur terkadang justru membuat pendapat terdengar terlalu keras. Kalimat seperti "Your idea is wrong" atau "This data is bad" mungkin terdengar lugas, tetapi dalam lingkungan akademik maupun profesional, cara menyampaikan kritik sama pentingnya dengan isi kritik itu sendiri. Dalam linguistik, terdapat strategi yang dikenal sebagai softening atau hedging, yaitu penggunaan ungkapan yang membuat kritik atau pendapat terdengar lebih santun tanpa mengurangi makna yang ingin disampaikan. Strategi ini bukan berarti menghindari kejujuran, melainkan memilih cara berkomunikasi yang lebih efektif agar pesan lebih mudah diterima dan diskusi tetap berlangsung secara konstruktif. Softening dapat diibaratkan seperti menambahkan sentuhan akhir pada sebuah foto sebelum diunggah. Objek yang ditampilkan tetap sama, tetapi tampilannya menjadi lebih nyaman dilihat. Begitu pula dalam berkomunikasi: pesan yang disampaikan tidak berubah, namun cara penyampaiannya membuat lawan bicara lebih terbuka untuk mendengarkan. Hindari Kritik yang Terlalu Langsung Salah satu kesalahan yang cukup sering dilakukan mahasiswa saat berdiskusi dalam bahasa Inggris adalah menyampaikan kritik secara terlalu langsung, misalnya dengan mengatakan "Your idea is wrong" atau "That doesn't make sense." Dalam konteks akademik, ungkapan seperti ini dapat terdengar terlalu keras sehingga lawan bicara cenderung bersikap defensif daripada mempertimbangkan masukan yang diberikan. Sebagai alternatif, gunakan ungkapan yang lebih diplomatis, misalnya: "I see your point, but I'm wondering if there's another way to look at this." Kalimat tersebut diawali dengan pengakuan terhadap pendapat lawan bicara (I see your point), kemudian dilanjutkan dengan menawarkan perspektif lain secara

kemampuan berkomunikasi yang lebih baik. Misalnya, alih-alih langsung mengatakan "I disagree," cobalah menggunakan ungkapan "I see your point, but I'm wondering if..." Perbedaan sederhana dalam pilihan kata sering kali menghasilkan respons yang lebih positif dan membuka ruang dialog yang lebih konstruktif. Quick Cheat Sheet untuk berkomunikasi lebih soft dengan gaya elegan: Menolak ide teman Hindari : “That's a bad idea." Gunakan: “I'm not quite sure about that one..."

doc.Google

sopan. Pendekatan seperti ini membantu mengubah perdebatan menjadi diskusi yang lebih terbuka dan produktif. Gunakan Modal Verbs untuk Menyampaikan Pendapat Dalam bahasa Inggris, penggunaan kalimat yang terlalu mutlak dapat memberikan kesan bahwa suatu pendapat adalah satu-satunya jawaban yang benar. Oleh karena itu, modal verbs seperti could, might, would, atau possibly sering digunakan untuk menunjukkan bahwa sebuah pendapat masih terbuka untuk didiskusikan. Daripada mengatakan: "This idea won't work." lebih baik gunakan: "I think this idea might be less effective in this situation." Contoh lainnya: "I think this plan might be a bit tricky for us to pull off given the time limit." Penggunaan kata might atau frasa less effective membuat kritik terdengar sebagai masukan yang objektif, bukan sebagai penilaian yang menghakimi. Awali dengan Frasa “I'm Not Sure..." Cara sederhana lain untuk memberikan masukan adalah memulai kalimat dengan

frasa "I'm not sure...". Ungkapan ini membantu menyampaikan keraguan tanpa membuat orang lain merasa disalahkan. Misalnya, daripada mengatakan: "This data is old." lebih baik gunakan: “I'm not sure if this data is the most recent one. Could we double-check it?" Pendekatan ini mengajak semua pihak untuk memeriksa kembali informasi yang tersedia sehingga fokus diskusi tetap pada pencarian solusi, bukan pada siapa yang melakukan kesalahan. Mengapa Softening Penting? Dalam pembelajaran di kampus maupun dunia profesional, kemampuan menyampaikan pendapat merupakan salah satu keterampilan komunikasi yang sangat penting. Kemampuan memberikan kritik tanpa membuat orang lain merasa diserang menjadi salah satu ciri komunikator yang efektif. Tujuan sebuah diskusi bukanlah memenangkan perdebatan, melainkan membangun pemahaman bersama melalui argumentasi yang logis dan saling menghargai. Karena itu, membiasakan diri menggunakan softening bukan berarti mengurangi ketegasan, melainkan menunjukkan kematangan berpikir dan

Bertanya kepada dosen Hindari: "Can I reschedule?" Gunakan: "I was wondering if it's possible to..." Koreksi teman Hindari: “You're wrong." Gunakan: "It seems like there might be a slight mistake." Memberi masukan Hindari: "Your slide is confusing.” Gunakan: "I think the slides could be a bit clearer.” Kemampuan berkomunikasi tidak hanya diukur dari seberapa kuat seseorang mempertahankan pendapatnya, tetapi juga dari kemampuannya menyampaikan gagasan secara jelas, santun, dan tetap menghargai orang lain. Di situlah softening menjadi lebih dari sekadar strategi berbahasa. Ia merupakan keterampilan komunikasi yang membantu membangun diskusi yang terbuka, memperkuat kerja sama, dan menciptakan lingkungan akademik yang saling menghargai. Dengan kata lain, pilihan kata yang tepat bukan hanya membuat pesan lebih mudah diterima, tetapi juga mencerminkan kualitas kita sebagai seorang komunikator. [selvy]

Apa Kabar: Pertanyaan Sederhana yang Tak Sesederhana Itu

D

ua sahabat SMA, Anjani dan Diandra, yang sudah tiga tahun tidak bersua akhirnya berjumpa di sebuah coffee shop. Sembari berpelukan, Anjani bertanya, "Apa kabar, Ndra?" Diandra diam sejenak sebelum akhirnya menjawab, “Hmmm... baik. Kamu gimana?" Padahal, kata "baik" bukanlah jawaban yang paling tepat untuk menggambarkan perasaannya saat itu. Sebelum datang ke coffee shop, Diandra baru saja menerima hasil kuis Bahasa Inggris yang mengecewakan dan membuatnya merasa terpukul. Ketika Anjani bertanya, "Apa kabar?", Diandra sebenarnya ingin menjawab, "Aku sedih banget nih. Nilai kuisku jelek." Namun, ia enggan menjawab dengan jujur karena khawatir akan merusak suasana reuni yang baru saja dimulai. Pengalaman seperti yang dialami Diandra mungkin juga pernah dirasakan banyak orang, terutama mereka yang cenderung sungkan mengungkapkan perasaan atau khawatir membebani orang lain. Bagi sebagian orang, pertanyaan "Apa kabar?" bisa terasa cukup menekan. Mereka bingung atau sungkan untuk menjawab dengan jujur sehingga akhirnya memilih mengatakan "baik" sebagai "fasad" yang menutupi keadaan mereka yang sebenarnya. Di sisi lain, pertanyaan "Apa kabar?" merupakan cara yang paling mudah untuk mengawali percakapan. Memang, sebagian orang menggunakannya sebagai basa-basi. Namun, tidak sedikit pula yang mengajukannya dengan kepedulian dan keinginan tulus untuk mengetahui keadaan orang lain. Menarik untuk menelusuri

fenomena ini, terutama jika kita pernah berada di posisi Diandra—ingin jujur tetapi sungkan—atau di posisi Anjani yang benarbenar ingin mengetahui keadaan sahabatnya. Lalu, bagaimana kita sebaiknya menyikapi pertanyaan "Apa kabar" ini? Apakah yang perlu diubah adalah pertanyaannya, jawabannya, atau justru keduanya? Mengganti Pertanyaan "Apa Kabar” Walaupun pertanyaan "Apa kabar?" merupakan cara yang paling mudah untuk mengetahui kondisi seseorang, dalam situasi tertentu kita dapat mencoba menggunakan pertanyaan yang lebih spesifik. Selain memberi ruang yang lebih besar bagi lawan bicara untuk bercerita, pertanyaan yang lebih spesifik juga dapat menunjukkan bahwa kita benar-benar ingin mendengarkan. Beberapa contohnya antara lain: Ÿ “Gimana perasaanmu belakangan ini? Cerita dong.” Ÿ “Lagi sibuk atau asyik menekuni apa, nih?” Ÿ “Kalau harus menggambarkan keadaanmu saat ini dengan tiga kata, apa yang akan kamu katakan?" - setelah lawan bicara menjawab, kita dapat melanjutkan dengan bertanya, "Mengapa memilih tiga kata itu?” Ÿ “Aku lihat dari unggahan di media sosial, sepertinya kamu lagi sedih atau justru bahagia. Ada cerita apa?” Ÿ "Di tengah situasi yang penuh ketidakpastian seperti sekarang, apa yang kamu lakukan supaya tetap tenang?" Kelima pertanyaan tersebut mungkin terdengar tidak biasa. Namun, justru pertanyaan seperti itu dapat memberi ruang

yang lebih luas bagi lawan bicara untuk bercerita. Selain itu, pertanyaan-pertanyaan tersebut mencerminkan ketulusan kita untuk memahami kondisi orang lain dan membuka peluang terciptanya percakapan yang lebih mendalam. Menjawab Pertanyaan "Apa Kabar” Di sisi lain, kita juga sangat terbiasa menggunakan kata "baik" untuk menjawab pertanyaan "Apa kabar?" itu. Terlepas dari kondisi yang sebenarnya, jawaban tersebut terasa paling aman. Fenomena ini bukanlah hal yang asing, terutama jika dilihat dari budaya masyarakat Indonesia yang menjunjung kesopanan dan sering kali merasa sungkan untuk membebani orang lain. Akibatnya, kita tidak selalu leluasa menceritakan keadaan yang sebenarnya karena khawatir akan merepotkan lawan bicara atau membuat suasana menjadi kurang nyaman. Padahal, tidak sedikit orang yang benarbenar ingin mengetahui keadaan kita. Oleh karena itu, kita dapat mencoba memberikan jawaban yang sedikit lebih terbuka, tentu sesuai dengan tingkat kenyamanan masingmasing. Misalnya: Ÿ “Jujur, aku sedang gelisah karena ____. Terima kasih ya sudah bertanya.” Ÿ “Secara keseluruhan aku baik-baik saja, cuma belakangan ini aku sedang merasakan ____. Kamu sendiri gimana?” Ÿ “Aku baru saja menyelesaikan/melalui _____. Rasanya _____, tetapi aku senang bisa bertemu sama kamu.”

Ÿ “Aku sedang bersemangat/kurang bersemangat karena ____. Kalau kamu sendiri gimana?” Ÿ "Aku lumayan baik. Ada beberapa hal yang sedang aku hadapi belakangan ini. Kamu gimana?" Contoh-contoh jawaban tersebut tidak membuat kita terdengar rapuh atau rewel. Sebaliknya, jawaban yang lebih jujur dapat membuka ruang bagi percakapan yang lebih tulus, hangat, dan reflektif. Alternatif-alternatif di atas mungkin lebih mudah diucapkan daripada dipraktikkan. Namun, di tengah kehidupan yang penuh tekanan dan ketidakpastian, kita dapat mulai membangun percakapan yang lebih tulus melalui pertanyaan yang lebih spesifik dan memberi ruang bagi lawan bicara untuk bercerita. Dengan begitu, baik mereka maupun kita dapat merasa lebih lega setelah mengungkapkan apa yang sebenarnya dirasakan. Kembali pada kisah Diandra dan Anjani, mungkin Diandra akan merasa lebih nyaman untuk bercerita jika Anjani mengajukan pertanyaan dengan cara yang berbeda. Pada akhirnya, yang perlu kita ubah bukan sekadar pertanyaan "Apa kabar?" melainkan cara kita mendengarkan dan memberi ruang bagi orang lain untuk menjawab dengan jujur. Dari percakapan sederhana itulah hubungan yang lebih bermakna dapat terbangun. [Stella Maris Saraswati Mere]


9

Resensi Buku VOL.20/ JUN 2026

Gardens in Java

D

i tengah meningkatnya kepadatan perkotaan dan berkurangnya ruang terbuka hijau, keberadaan taman menjadi elemen yang sangat penting bagi keberlangsungan kehidupan manusia. Keberadaannya membantu menyediakan oksigen, memperbaiki kualitas udara, menyejukkan lingkungan, dan menjadi rumah bagi berbagai jenis tumbuhan serta satwa yang hidup berdampingan dengan manusia. Kehadiran vegetasi dalam suatu kawasan tidak hanya memberikan manfaat bagi lingkungan, tetapi juga menciptakan ruang nyaman yang mampu meningkatkan kualitas hidup masyarakat. Oleh karena itu, taman sering dianggap sebagai ruang yang mempertemukan manusia dengan alam dan memberikan ketenangan di tengah hiruk pikuk kehidupan kota. Kota Yogyakarta merupakan salah satu kota yang terus mengalami perkembangan fisik dan pertumbuhan penduduk. Di balik identitasnya sebagai kota budaya dan pendidikan, Yogyakarta juga menghadapi beberapa tantangan seperti keterbatasan ruang terbuka hijau yang berfungsi sebagai paru – paru kota. Salah satu ikon wisata dan sejarah yang terkenal di Yogyakarta adalah Taman Sari, yang merupakan kompleks taman kerajaan peninggalan Kesultanan Yogyakarta yang memiliki nilai historis yang tinggi. Meski memiliki nilai historis dan budaya yang sangat penting, Taman Sari tidak lagi berperan secara signifikan sebagai paru – paru kota. Keberadaannya saat ini lebih difungsikan sebagai kawasan cagar budaya dan wisata, sehingga kontribusinya terhadap oksigen maupun perbaikan kualitas lingkungan perkotaan relatif terbatas. Kondisi ini menunjukkan bahwa Yogyakarta masih memerlukan lebih banyak ruang hijau yang mampu menjalankan fungsi ekologis secara nyata bagi masyarakat dan lingkungan kota. Selama ini, taman sering dipahami hanya sebagai ruang hijau yang dipenuhi dengan pepohonan dan tanaman. Namun, melalui buku Gardens in Java, Denys Lombard mengajak pembaca untuk melihat taman dari sudut pandang yang lebih luas bahwa taman pada masa kerajaan Jawa bukan sekadar tempat untuk menikmati keindahan alam, tetapi juga menjadi bagian penting dari kehidupan sosial, budaya, dan spiritual masyarakat. Selain itu, Lombard juga menyoroti pentingnya unsur air dalam pembentukan taman – taman kerajaan. Hampir seluruh taman yang dibahas memiliki

Ruang Rupa

B

kolam besar, saluran air, mata air, atau danau buatan. Pembaca dapat memahami bahwa di balik kolam, pepohonan, dan bangunan – bangunan taman, tersimpan nilai – nilai budaya serta pandangan hidup masyarakat Jawa yang kaya akan makna. Selain itu, pembaca diajak untuk menelusuri berbagai taman bersejarah yang tersebar di berbagai kawasan seperti Tasikardi di Banten, Sunyaragi di Cirebon, Taman Sari di Yogyakarta, Sriwedari di Surakarta, Taman Ujung di Karang Asem Bali, dan Narmada di Lombok. Lombard menunjukkan bahwa taman kerajaan di Nusantara memiliki karakteristik yang khas dan tidak dapat disamakan dengan taman – taman yang ada di Persia, India, China, maupun Jepang. Dalam kajian tersebut, Lombard tidak hanya memaparkan aspek fisik taman yang masih dapat dijumpai hingga saat ini, seperti bangunan, kolam, dan gua, tetapi juga mengungkapkan makna simbolik yang terkandung di dalamnya. Berkaitan dengan hal ini, Lombard menjelaskan unsur – unsur seperti air, gua, bukit, dan vegetasi bukanlah elemen yang ditempatkan secara acak melainkan disusun secara terencana untuk membentuk pengalaman ruang, menciptakan transisi, serta memperkuat makna budaya dan spiritual. Sebagai mahasiswa arsitektur pada bagian ini menjadi salah satu bagian yang menarik karena memperlihatkan elemen – elemen alam tidak hanya berfungsi sebagai pelengkap ruang, tetapi dapat diolah untuk membentuk pengalaman dan memiliki makna tertentu bagi penggunanya. Selain memberikan wawasan historis, buku ini juga memiliki relevansi yang kuat dalam kajian arsitektur lanskap. Pada beberapa taman yang dibahas, seperti Sunyaragi dan Taman Sari, terlihat adanya pengaturan ruang yang membentuk perjalanan bertahap dari area profan menuju area sakral atau lebih privat. Transisi tersebut diwujudkan melalui keberadaan gerbang, kolam, halaman, hingga bangunan tertentu yang mengarahkan pengunjung menuju area sakral. Susunan ruang seperti ini menunjukkan bahwa arsitektur lanskap tidak hanya digunakan sebagai tempat untuk beraktivitas melainkan sebagai media yang membangun pengalaman ruang dan makna bagi penggunanya. Sebagai mahasiswa arsitektur, buku ini memberikan sudut pandang baru dalam memahami ruang. Selama ini, proses perancangan sering kali berfokus pada fungsi, bentuk, dan estetika, tetapi buku ini menunjukkan bahwa sebuah

ruang juga dapat dibentuk dari nilai budaya, kepercayaan, dan pengalaman manusia. Dalam perspektif arsitektur lanskap, ruang profan hadir sebagai area yang digunakan untuk aktivitas sosial dan interaksi sehari – hari, sedangkan ruang sakral digunakan untuk kegiatan spiritual yang biasanya diwujudkan melalui keberadaan gua, kolam penyucian, dan tempat meditasi. Kedua unsur ruang tersebut menunjukkan bahwa masyarakat memandang kehidupan duniawi dan spiritual sebagai dua hal yang saling berkaitan dan tidak dapat dipisahkan. Oleh karena itu, taman menjadi ruang yang mampu menghubungkan manusia dengan alam sekaligus dengan nilai – nilai budaya dan keyakinan yang mereka miliki. Menurut saya, pemahaman seperti ini sangat penting bagi calon arsitek karena perancangan ruang tidak hanya berkaitan dengan kebutuhan fisik tetapi bagaimana ruang mampu menciptakan pengalaman yang berkesan dan memiliki identitas yang kuat. Nilai – nilai yang diungkapkan dalam buku ini masih sangat relevan untuk dipelajari dalam pendidikan arsitektur masa kini. Hal ini tercermin melalui keberadaan mata kuliah Arsitektur Lanskap dan Arsitektur Religius di kampus UKDW yang tidak hanya membahas aspek fisik dan estetika ruang, tetapi juga mendorong pemahaman terhadap identitas budaya serta hubungan antara manusia dan lingkungan. Kehadiran mata kuliah ini menunjukkan adanya kepedulian akademik terhadap pelestarian karakter lokal dan nilai – nilai kearifan Nusantara yang dapat digunakan sebagai inspirasi dalam perancangan di masa depan. Sebagai mahasiswa arsitektur, saya melihat bahwa pembelajaran seperti ini menjadi penting karena membantu mahasiswa memahami bahwa arsitektur tidak selalu harus mencari inspirasi dari luar negeri. Banyak nilai ruang dan konsep perancangan yang sebenarnya dapat dipelajari dari warisan budaya Nusantara, termasuk dari taman-taman kerajaan yang dibahas dalam buku ini. Dari segi penyajian, Gardens in Java disusun secara sistematis dengan menggabungkan kajian sejarah, budaya, dan arsitektur taman sehingga mampu memberikan pemahaman yang mendalam mengenai taman – taman yang ada di Nusantara. Buku ini juga bermanfaat bagi pembaca yang tertarik pada sejarah, budaya, maupun arsitektur karena buku ini menunjukkan bahwa taman tidak hanya berfungsi sebagai ruang rekreasi, tetapi juga memiliki makna simbolik dan spiritual.

Namun, beberapa bagian pembahasannya cukup akademis sehingga memerlukan perhatian lebih bagi pembaca umum yang belum familiar dengan sejarah dan budaya Jawa. Secara keseluruhan, Gardens in Java berhasil memperlihatkan bahwa taman tidak hanya ruang yang dibentuk oleh unsur fisik melainkan dibentuk oleh nilai budaya, spiritualitas, dan pandangan hidup masyarakat pada masanya. Dari pembahasan berbagai taman – taman bersejarah, Lombard mengajak pembaca memahami bahwa taman merupakan bagian penting dari budaya Nusantara yang mencerminkan hubungan antara manusia, alam, dan ruang. Setelah membaca buku ini, saya menjadi lebih menyadari bahwa taman bukan sekadar kumpulan tanaman atau ruang terbuka yang dirancang untuk keindahan. Taman dapat menjadi media yang merekam sejarah, mencerminkan identitas budaya, dan membangun hubungan antara manusia dengan lingkungannya. Kesadaran tersebut membuat saya memandang ruang lanskap dengan cara yang berbeda dibandingkan sebelumnya. Dalam konteks perkotaan masa kini, termasuk di Yogyakarta yang membutuhkan lebih banyak ruang hijau sebagai paru-paru kota, pemahaman tersebut dapat menjadi inspirasi untuk merancang taman yang tidak hanya indah dan ramah lingkungan, tetapi juga mampu merepresentasikan identitas budaya serta nilai-nilai lokal yang hidup di masyarakat. [Yap Grace Avi’el Lewi, S. Ars.]

Judul buku : Gardens in Java Penulis : Denys Lombard Tahun terbit : 2010

Sukacita Idul Adha: Menemukan Esensi Obedience to God Melalui Tradisi dan Pelayanan

agi saya, aroma khas hidangan daging sapi selalu menjadi bagian yang paling dinantikan setiap kali Idul Adha tiba. Sebagai seorang pecinta kuliner berbahan dasar daging, momen ini terasa seperti "hari kemerdekaan" untuk berkreasi di dapur. Namun, ingatan saya selalu mundur ke belakang, ke masa ketika saya masih berusia sepuluh tahun. Saat itu, sebuah pertanyaan sederhana terus mengusik benak saya: mengapa setiap tahun daging kurban selalu diantarkan langsung ke depan pintu rumah kami dengan porsi yang sudah tertakar rapi? Mengapa bukan kami yang membelinya sendiri di pasar tradisional atau toko daging terdekat? Pertanyaan masa kecil yang mengendap selama belasan tahun itu perlahan menemukan jawabannya pada Kamis pagi yang cerah di bulan Mei 2026. Hari itu, bertepatan dengan perayaan Idul Adha 1447 Hijriah, saya berada di kampung halaman, tepatnya di Desa Gemaharjo, Kecamatan Tegalombo, Kabupaten Pacitan. Dari saf ketiga jemaah di dalam masjid, saya sempat melirik ke arah selasar halaman sisi selatan. Di sana, sepuluh ekor sapi dan sepuluh ekor kambing telah berkumpul, siap menjadi sarana ibadah bagi pemiliknya yang bertakwa. Sebelum prosesi dimulai, Wito

yang mewakili Ketua Panitia Penyembelihan memberikan arahan hangat namun tegas kepada para jagal. Ia mengingatkan agar seluruh proses penyembelihan dilakukan dengan memegang teguh akad dan iktikad baik yang telah disepakati bersama. Sentakan dari Mimbar Khutbah Ketika khutbah Idul Adha mulai disampaikan, jujur saja, rasa kantuk sempat membuat kepala saya terangguk-angguk. Namun, kantuk itu sontak hilang berganti kesadaran penuh saat sang khatib dengan suara bergemuruh membacakan potongan Surah Ash-Shaffat ayat 102. Ayat tersebut mengisahkan dialog paling mengharukan sepanjang sejarah peradaban manusia, ketika Nabi Ibrahim berkata, "Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu, maka pikirkanlah apa pendapatmu?" Dengan keteguhan hati yang luar biasa, Nabi Ismail menjawab, "Wahai bapakku kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu. InsyaAllah kamu akan mendapatiku termasuk orangorang yang sabar." Mendengar detail ayat tersebut, hati saya bergetar. Al-Qur'an memuji kemuliaan sifat Nabi Ismail AS sebagai bentuk tertinggi dari pengorbanan, ketaatan, dan ketakwaan. Di

sinilah teka-teki takaran daging di masa kecil saya terjawab: Idul Adha bukan soal pesta makan daging, melainkan tentang rantai ketaatan kepada Tuhan yang diwujudkan melalui kepedulian kepada sesama manusia. Refleksi Nilai Obedience to God di Universitas Kristen Duta Wacana Pikiran saya kemudian terbang melintasi batas geografis, menghubungkan suasana khutbah di Pacitan dengan atmosfer tempat saya berkuliah di UKDW. Saya teringat salah satu dari empat Nilai-nilai Kedutawacanaan yang mendasar, yaitu Obedience to God (Ketaatan kepada Allah). Melalui momen Idul Adha ini, saya merefleksikan bahwa ketaatan kepada Tuhan tidak boleh berhenti pada ritual formal semata. Ada esensi spiritual yang lebih dalam dalam relasi manusia dengan Tuhan. Dari sini saya menarik sebuah pemahaman bahwa pelayanan sejati tidak hanya diukur dari apa yang secara fisik mampu kita berikan. Pelayanan memiliki makna yang jauh lebih tinggi daripada sekadar besaran materi atau kemampuan yang tampak. Ingatan saya kemudian kembali pada momen Ramadhan di bulan Maret 2026 di Universitas Kristen Duta Wacana. Saat itu diselenggarakan kegiatan peningkatan

spiritualitas bagi karyawan muslim. Saya masih mengingat bagaimana di tengah rasa haus dan lapar, serta kewajiban menjaga energi hingga waktu berbuka, para karyawan tetap menunjukkan dedikasi yang luar biasa. Mereka menjalankan pelayanan dengan penuh semangat, tetap produktif, dan mengikuti seluruh rangkaian kegiatan dengan antusias, termasuk menyimak sambutan dari perwakilan Yayasan Perguruan Tinggi Kristen Duta Wacana. Aktualisasi pelayanan yang berbaur dengan esensi pengorbanan seperti itulah yang menjadi bukti nyata. Nilai Obedience to God atau ketaatan kepada Tuhan pada akhirnya bukan sekadar pembacaan atau hafalan ayat suci di atas kertas, melainkan sebuah pemaknaan yang hidup dan diwujudkan secara nyata melalui tindakan sehari-hari. Pada akhirnya, Idul Adha mengajarkan bahwa pengorbanan bukanlah kehilangan, melainkan jalan untuk menumbuhkan kepedulian, memperkuat ketaatan, dan menghadirkan manfaat bagi sesama. Di sanalah nilai-nilai kemanusiaan dan spiritualitas bertemu, membentuk pelayanan yang berakar pada kasih dan ketulusan kepada Tuhan serta sesama. [Raja Dharma Ksatria]


10

Ruang Rupa VOL.20/ JUN 2026

Belajar Perdamaian dari Sannipata Waisak DIY 2026

P

erbedaan agama seringkali dipandang sebagai batas yang memisahkan manusia. Namun, Sannipata Waisak Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) 2026 yang diselenggarakan di Balai Kota Yogyakarta membuktikan bahwa keberagaman justru dapat menjadi ruang perjumpaan yang memperkuat persaudaraan. Mengusung tema, "Dharma Menjaga Perdamaian Dunia," kegiatan ini menghadirkan pesan bahwa nilainilai perdamaian dapat menjadi titik temu bagi masyarakat lintas agama, budaya, dan latar belakang. Acara tersebut dihadiri umat Buddha, tokoh masyarakat, pemerintah daerah, serta tamu undangan dari berbagai institusi. Salah satu peserta yang hadir adalah Sophia Christine Laurent Tarigan, mahasiswa Program Studi Filsafat Keilahian Fakultas Teologi Universitas Kristen Duta Wacana (UKDW), yang mengikuti kegiatan sebagai perwakilan Institut Dialog Antar-Iman di Indonesia/ Institute for Inter-Faith Dialogue In Indonesia (Institut DIAN/ Interfidei) dalam rangka program social immersion. Kehadiran mahasiswa dalam kegiatan ini menjadi bagian dari upaya memperluas pengalaman belajar melalui dialog dan perjumpaan lintas iman. Rangkaian acara diawali dengan Namaskara Gatha, yaitu puji-pujian dan penghormatan kepada Buddha, Dhamma (ajaran Buddha), dan Sangha (komunitas umat Buddha). Suasana khidmat semakin terasa ketika seluruh peserta menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya, kemudian dilanjutkan dengan pembacaan syair-syair Dhammapada yang berisi ajaran moral, kebijaksanaan, dan tuntunan hidup. Menurut Sophia, nilai-nilai yang disampaikan, seperti pengendalian diri, kasih kepada sesama, dan hidup dalam kebajikan, merupakan nilai universal yang dapat dipelajari oleh siapapun tanpa memandang latar belakang agama. Selain rangkaian keagamaan, acara juga diisi dengan sambutan dari Gubernur Daerah

doc.google.com

Istimewa Yogyakarta dan Wali Kota Yogyakarta. Berbagai pertunjukan seni dan tarian dari sejumlah daerah turut memeriahkan kegiatan. Bagi Sophia, keberagaman budaya yang ditampilkan menunjukkan bahwa perbedaan bukanlah penghalang untuk hidup berdampingan secara harmonis. "Keberagaman justru menjadi kekuatan bangsa Indonesia. Melalui seni dan budaya, pesan perdamaian dapat diterima oleh semua kalangan," ungkapnya. Acara kemudian dilanjutkan dengan penyampaian Laporan Veda Sananda DIY Tahun 2570 BE/2026, yang memaparkan berbagai kegiatan selama rangkaian perayaan Waisak. Laporan tersebut menunjukkan bahwa perayaan Waisak tidak hanya berpusat pada ritual keagamaan, tetapi juga diwujudkan melalui kegiatan sosial dan kemasyarakatan yang memberikan manfaat bagi lingkungan sekitar. Menurut Sophia, hal tersebut memperlihatkan bahwa nilai-nilai agama dapat diwujudkan dalam aksi nyata

yang membawa dampak positif bagi masyarakat. Penyalaan lilin perdamaian menjadi momen yang paling membekas selama mengikuti Sannipata Waisak DIY 2026 bagi Sophia, "Cahaya lilin yang dinyalakan bersama-sama memberikan pesan bahwa setiap orang dapat menjadi pembawa damai di lingkungannya masing-masing," ujarnya. Menurutnya, simbol tersebut mengingatkan bahwa perdamaian dibangun melalui tindakan nyata yang dimulai dari diri sendiri, kemudian diwujudkan dalam kehidupan di keluarga, kampus, dan masyarakat. Pesan Waisak yang disampaikan oleh Yang Mulia Bhikkhu Dr. Nyana Suryanadi Mahathera turut memberikan kesan mendalam. Bhikkhu Nyana mengajak seluruh masyarakat untuk mengembangkan kebijaksanaan, welas asih, dan tanggung jawab bersama dalam menjaga perdamaian dunia. Sebagai mahasiswa teologi, Sophia melihat bahwa pesan tersebut memiliki

kesamaan dengan nilai-nilai yang diajarkan dalam tradisi Kristiani, yakni mengasihi sesama, membangun kepedulian, dan menghadirkan damai dalam kehidupan bersama. Puncak acara ditandai dengan doa keselamatan bangsa yang diikuti seluruh peserta. Doa dipanjatkan agar Indonesia senantiasa hidup dalam persatuan, kedamaian, dan kesejahteraan. Bagi Sophia, momen ini menunjukkan bahwa meskipun masyarakat Indonesia memiliki latar belakang agama yang berbeda, semua memiliki harapan yang sama untuk melihat bangsa ini hidup rukun dan damai. Melalui keikutsertaannya dalam Sannipata Waisak DIY 2026, Sophia menilai bahwa dialog dan perjumpaan lintas agama merupakan pengalaman belajar yang penting bagi mahasiswa. Interaksi secara langsung dengan komunitas dari berbagai keyakinan membantu membangun sikap saling menghormati, memperluas wawasan, serta menumbuhkan kesadaran bahwa perdamaian lahir dari kemauan untuk memahami perbedaan, bukan menghapusnya. "Pengalaman ini membuat saya semakin menyadari bahwa sebagai mahasiswa, kami tidak hanya belajar di ruang kelas, tetapi juga belajar membangun dialog, menghargai perbedaan, dan menjadi bagian dari upaya menciptakan perdamaian di tengah masyarakat," tutur Sophia. Sannipata Waisak DIY 2026 menjadi bukti bahwa nilai-nilai keagamaan dapat menjadi jembatan yang mempererat hubungan antar manusia. Bagi mahasiswa, kegiatan seperti ini tidak hanya memperkaya pengalaman akademik, tetapi juga membentuk karakter sebagai generasi yang mampu merawat toleransi, memperkuat dialog lintas iman, dan berkontribusi dalam membangun masyarakat Indonesia yang inklusif dan damai. [Sophia Christine Laurent Tarigan]

Makna Waisak di Mata Muda-mudi Buddhis

B

agi umat Buddha, Hari Raya Waisak merupakan hari suci yang memperingati tiga peristiwa penting (Trisuci Waisak) dalam kehidupan Siddhartha Gautama, yaitu kelahiran, pencapaian Penerangan Sempurna (Bodhi), yakni saat beliau memperoleh kebijaksanaan tertinggi dan memahami hakikat kehidupan, serta Parinibbana, yaitu wafatnya Buddha setelah mencapai pembebasan sempurna dari siklus kelahiran kembali. Namun, bagi saya sebagai bagian dari generasi muda Buddhis, Waisak bukan sekadar ritual maupun perayaan keagamaan yang diperingati setiap tahun. Waisak adalah saat untuk berhenti sejenak, merefleksikan perjalanan hidup, sekaligus memperbarui komitmen untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Di tengah kehidupan yang serba cepat, kaum muda dihadapkan pada berbagai tantangan, mulai dari tuntutan akademik, persaingan dunia kerja, hingga derasnya arus informasi di media sosial. Tidak sedikit yang merasa cemas karena harus memenuhi berbagai ekspektasi, baik dari lingkungan maupun dari diri sendiri. Dalam kondisi seperti itu, kita sering kali lebih sibuk mengejar pengakuan daripada benar-benar memahami diri sendiri. Di sinilah saya merasa nilai-nilai yang diajarkan Buddha menjadi semakin relevan. Waisak mengingatkan saya bahwa kebahagiaan tidak semata-mata diukur dari pencapaian atau penilaian orang lain, melainkan dari kemampuan menjaga ketenangan batin dan menjalani hidup dengan penuh kesadaran. Salah satu nilai yang paling saya rasakan adalah pentingnya mindfulness atau kesadaran penuh, yaitu kemampuan untuk hadir sepenuhnya dalam setiap pikiran, perasaan, dan tindakan yang sedang dijalani.

Sebagai mahasiswa, saya tentu pernah merasa khawatir terhadap nilai, tugas, maupun masa depan. Namun, melalui peringatan Waisak saya belajar untuk lebih menerima setiap proses, tidak terjebak dalam kekhawatiran yang berlebihan, serta menghargai setiap pengalaman sebagai bagian dari pembelajaran hidup. Selain kesadaran diri, Waisak juga mengajarkan nilai welas asih dan kepedulian terhadap sesama. Perayaan Waisak sering diisi dengan kegiatan berdana, bakti sosial, maupun berbagi kepada mereka yang membutuhkan. Bagi saya, kegiatan tersebut menjadi pengingat bahwa kehidupan bukan hanya tentang pencapaian pribadi, tetapi juga tentang bagaimana kehadiran kita dapat membawa manfaat bagi orang lain. Kepedulian tidak selalu diwujudkan melalui tindakan besar. Menolong teman yang sedang mengalami kesulitan, menghormati orang tua, atau bersikap ramah kepada siapapun merupakan bentuk sederhana dari praktik welas asih yang dapat dilakukan setiap hari. Nilai lain yang saya pelajari adalah semangat untuk terus bertumbuh. Perjalanan Siddhartha Gautama menuju Penerangan Sempurna tidak berlangsung secara instan. Beliau melewati proses panjang, menghadapi berbagai tantangan, hingga akhirnya mencapai kebijaksanaan. Kisah tersebut mengajarkan bahwa kegagalan bukanlah akhir dari perjalanan. Sebaliknya, setiap hambatan merupakan kesempatan untuk belajar dan menjadi pribadi yang lebih matang. Di era digital, pesan Waisak juga mengingatkan saya untuk menggunakan teknologi secara bijaksana. Media sosial sering kali mendorong kita membandingkan diri dengan orang lain sehingga

memunculkan rasa iri atau tidak puas. Padahal, kebahagiaan sejati tidak ditentukan oleh jumlah pengikut, tanda suka (like), ataupun pencapaian yang ditampilkan di dunia maya. Ajaran Buddha mengajak kita untuk lebih bijaksana dalam mengelola pikiran sehingga teknologi dapat menjadi sarana untuk belajar, berbagi, dan membangun relasi yang positif. Pemahaman saya mengenai nilai-nilai tersebut semakin bertumbuh melalui berbagai kegiatan bersama Unit Kegiatan Kerohanian Religius (UKKR) Kamadhis UKDW. Melalui diskusi, pembinaan, dan kegiatan keagamaan, saya memperoleh ruang untuk memperdalam ajaran Buddha sekaligus belajar menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Salah satu pengalaman yang paling berkesan adalah mengikuti sebuah talkshow Buddhis yang membuka perspektif saya bahwa ajaran Dharma tidak hanya dipelajari dalam ruang ibadah, tetapi juga dapat menjadi pedoman dalam menghadapi tantangan kehidupan sebagai mahasiswa. Refleksi saya semakin mendalam ketika menyaksikan aksi Walk for Peace (Thudong) yang dilakukan para Bhikkhu menjelang perayaan Waisak. Perjalanan kaki ribuan kilometer dari Bali menuju Candi Borobudur bukan sekadar perjalanan fisik, melainkan sebuah laku spiritual yang membawa pesan perdamaian, kesabaran, dan keteguhan hati. Yang paling berkesan bagi saya adalah sambutan hangat masyarakat dari berbagai latar belakang agama dan budaya di sepanjang perjalanan. Mereka memberikan air minum, makanan, bahkan sekadar sapaan yang tulus kepada para Bhikkhu. Pemandangan tersebut menunjukkan bahwa perbedaan keyakinan tidak menghalangi lahirnya rasa kemanusiaan dan kepedulian.

Di tengah dunia yang kerap diwarnai polarisasi dan konflik, Walk for Peace menghadirkan pesan bahwa perdamaian dibangun melalui tindakan-tindakan sederhana yang dilakukan secara konsisten. Bagi saya, perjalanan para Bhikkhu menjadi inspirasi bahwa menjadi pembawa damai tidak harus dimulai dari langkah besar. Menghargai perbedaan, menjaga tutur kata, membantu sesama, dan membangun dialog yang baik merupakan bentuk nyata kontribusi setiap orang dalam menciptakan kehidupan yang harmonis. Sebagai mahasiswa yang belajar di lingkungan kampus yang menjunjung keberagaman, saya meyakini bahwa semangat Waisak memiliki makna yang universal. Nilai-nilai seperti kesadaran diri, welas asih, pengendalian diri, dan penghormatan terhadap sesama dapat diterapkan oleh siapapun, tanpa memandang latar belakang agama maupun budaya. Nilai-nilai tersebut menjadi bekal penting bagi generasi muda untuk menghadapi tantangan zaman sekaligus membangun masyarakat yang lebih damai dan inklusif. Pada akhirnya, Waisak bukan sekadar perayaan tahunan bagi saya. Waisak adalah pengingat untuk terus mengenali diri, menumbuhkan welas asih, dan menghadirkan kedamaian dalam kehidupan sehari-hari. Saya percaya, ketika setiap orang memulai perubahan dari dirinya sendiri, nilai-nilai Waisak akan terus hidup melalui tindakan nyata yang membawa manfaat, tidak hanya bagi sesama umat Buddha, tetapi juga bagi masyarakat luas. [michelline]


11

Campus Ministry VOL.20/ JUN 2026

BUKAN KETUNDUKAN BRUTAL: Belajar dari Protes Ayub, Iman yang Jujur, dan Nalar Kritis di Kampus

K

ita semua pasti sudah sering mendengar kisah tentang Ayub. Di sekolah minggu atau khotbah di gereja, Ayub selalu diceritakan sebagai sebagai teladan kesabaran. Ketika ia kehilangan harta bendanya, anak-anaknya meninggal, dan tubuhnya penuh dengan borok, Ayub tetap bersujud. Kita mengingat kalimatnya yang terkenal, “Tuhan yang memberi, Tuhan yang mengambil, terpujilah nama Tuhan.” Narasi ini sering membuat kita berpikir bahwa menjadi orang beriman yang baik berarti harus selalu diam, menerima penderitaan tanpa mengeluh, dan berpurapura bahwa semuanya baik-baik saja. Namun, jika kita membaca seluruh Kitab Ayub dari awal hingga akhir, ceritanya ternyata jauh lebih kompleks. Ayub tidak terus-menerus diam. Pada bab-bab selanjutnya, ia menangis, marah, dan berteriak memprotes keadaannya. Ia bahkan menuntut penjelasan langsung dari Tuhan karena merasa diperlakukan tidak adil. Ayub menolak apa yang kita sebut sebagai “ketundukan brutal”, yaitu sikap menyerah secara buta, mematikan perasaan, dan memaksa diri untuk patuh hanya agar terlihat saleh di depan orang lain. Teguran untuk Para "Pengacara" Tuhan Ketundukan brutal adalah musuh dari iman yang sehat. Sikap ini membuat seseorang seolah-olah menjadi robot yang tidak memiliki emosi. Ketika tertimpa musibah, ia dipaksa langsung tersenyum dan berkata, “Pasti ada rencana indah,” padahal hatinya sedang hancur. Tidak ada ruang untuk bersedih atau kecewa, seakan-akan menangis dan bertanya kepada Tuhan adalah sebuah dosa.

Dalam kisah Ayub, sikap berpura-pura ini justru ditunjukkan oleh ketiga sahabat Ayub, yaitu Elifas, Bildad, dan Zofar. Mereka datang bukan untuk menghibur, melainkan untuk menceramahi Ayub dengan teori-teori agama yang kaku. Mereka bilang, “Ayub, kamu menderita pasti karena kamu punya dosa rahasia. Akui saja!” Mereka merasa menjadi pembela atau “pengacara” Tuhan, mengucapkan kalimat-kalimat suci yang hafalan, tetapi sama sekali tidak peduli pada rasa sakit yang dialami Ayub. Kejutan terbesar muncul di akhir cerita (Ayub 42:7). Tuhan akhirnya berbicara langsung. Menariknya, Tuhan justru marah kepada ketiga sahabat Ayub yang sok tahu itu, padahal mereka sepanjang waktu membela Tuhan. Sebaliknya, Tuhan malah membenarkan Ayub yang terus mengeluh dan protes. Mengapa?Karena Ayub jujur dengan pergumulannya. Ia menyampaikan seluruh keluh kesahnya langsung kepada Tuhan, sedangkan sahabat-sahabatnya hanya berbicara tentang Tuhan dari posisi yang menghakimi. Iman dan Nalar di Kampus UKDW Bagi kita yang berada di lingkungan Universitas Kristen Duta Wacana (UKDW), kisah ini sangat relevan. Sebagai kampus yang menjunjung nilai-nilai kedutawacanaan, kita diajak untuk berpikir kritis, meneliti data, dan berani bertanya di ruang kelas. Dunia akademik melatih kita agar tidak menerima sesuatu begitu saja tanpa proses berpikir. Sayangnya, masih ada anggapan bahwa semakin kritis seseorang, semakin lemah pula imannya. Akibatnya, tidak sedikit yang mengalami "belah kepribadian": sangat kritis ketika membaca jurnal ilmiah di ruang kuliah, tetapi mendadak menjadi takut bertanya

ketika membaca Alkitab di persekutuan. Kisah Ayub menunjukkan bahwa Tuhan tidak pernah meminta kita meninggalkan nalar ketika datang kepada-Nya. Iman dan akal budi bukanlah dua hal yang saling bertentangan, melainkan dapat berjalan bersama. Iman Kristen yang sejati justru berani menghadapi pertanyaan-pertanyaan sulit. Ketika seorang mahasiswa stres karena tugas kuliah menumpuk, nilai jeblok, atau masalah keuangan keluarga, mereka sering kali hanya dinasehati secara klise, "Kurangi mengeluh, perbanyak berdoa." Padahal, Ayub mengajarkan bahwa merasa lelah, bingung, dan mempertanyakan keadaan di hadapan Tuhan adalah proses yang normal dan sehat dalam beriman. "Tuhan tidak mencari iman yang seperti robot. Dia menghargai air mata, kebingungan, dan kejujuran hati kita." Menemukan Tuhan di Tengah Badai Lalu, bagaimana cara Tuhan menjawab protes Ayub? Ketika Tuhan akhirnya berbicara dari dalam badai (Ayub 38-41), Tuhan tidak memberikan penjelasan rumit mengapa anakanak atau harta Ayub diambil. Tuhan tidak menjawab pertanyaan "mengapa". Sebaliknya, Tuhan mengajak Ayub melihat keindahan dan keteraturan seluruh alam semesta buatan-Nya. Lewat pengalaman itu, Ayub sadar. Ia tunduk di akhir cerita bukan karena takut dihukum lagi oleh Tuhan, bukan karena ketundukan brutal, melainkan karena ia merasakan kasih dan kehadiran Tuhan yang begitu dekat secara pribadi. Ayub sadar bahwa meskipun ia tidak tahu alasan di balik penderitaannya, ia tahu bahwa ia aman di tangan Tuhan yang memegang kendali atas alam semesta. “Hanya dari kata orang saja aku mendengar

tentang Engkau, tetapi sekarang mataku sendiri memandang Engkau.” (Ayub 42:5). Kata-kata Ayub ini sangat indah. Dari yang tadinya hanya “mendengar kata orang” (iman ikut-ikutan atau hafalan), berubah menjadi “mataku sendiri memandang Engkau” (iman yang dialami sendiri secara nyata). Inilah tujuan akhir dari proses belajar di kampus kita. UKDW ingin melahirkan lulusan yang tidak hanya pintar secara intelektual, tetapi juga memiliki iman yang mandiri dan kokoh karena sudah teruji oleh berbagai pertanyaan hidup. Ajakan untuk Kita Semua sebagai Warga UKDW Sebagai penutup, mari kita semua, baik dosen, staf, maupun mahasiswa UKDW, berhenti mempraktikkan ketundukan brutal. Jangan takut untuk jujur di hadapan Tuhan saat kita merasa lelah, gagal, atau kecewa. Tuhan tidak meminta kita berpura-pura kuat sepanjang waktu, Dia hanya meminta kita untuk jujur. Pada saat yang sama, marilah kita tidak menjadi seperti sahabat-sahabat Ayub yang terlalu cepat menghakimi mereka yang sedang bergumul dengan kalimatkalimat rohani yang tidak menghadirkan penghiburan. Sebaliknya, mari kita menjadi pribadi yang mampu mendampingi dengan empati, menjaga nalar kritis tetap menyala, dan tetap memiliki hati yang rendah untuk menyembah kebesaran Tuhan. Selamat belajar, berkarya, dan terus bertumbuh dalam iman serta hikmat. [Pedro]

Menyalakan Kembali Napas yang Redup melalui Ibadah Meditatif Pentakosta

D

i tengah padatnya aktivitas akademik menjelang Ujian Akhir Semester (UAS), mahasiswa Universitas Kristen Duta Wacana (UKDW) dihadapkan pada berbagai tekanan, mulai dari penyelesaian tugas kuliah, penyusunan skripsi, hingga persiapan menghadapi ujian. Situasi tersebut kerap memengaruhi kondisi fisik maupun kesehatan mental mahasiswa. Menjawab kebutuhan akan ruang refleksi di tengah kesibukan akademik, Kelompok Doa Meditatif (KDM) UKDW bersama Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas (BEMF) Teologi UKDW menyelenggarakan Ibadah Meditatif Pentakosta bertajuk "Napas yang Menghidupkan" pada Sabtu (23/5/2026). Kegiatan ini mengajak peserta berhenti sejenak dari rutinitas untuk menemukan kembali ketenangan melalui doa, keheningan, dan refleksi. Beda dari Biasanya: Memaknai Pentakosta melalui Keheningan Perayaan Pentakosta umumnya identik dengan ibadah yang meriah, musik yang penuh semangat, dan khotbah yang menggugah emosi. Namun, KDM dan BEMF Teologi UKDW justru memilih pendekatan yang berbeda. Melalui tradisi meditatif ala Taizé, peserta diajak mengalami Pentakosta dalam suasana hening. Tidak ada musik yang menggelegar ataupun ajakan untuk mengekspresikan diri secara berlebihan. Sebaliknya, ibadah diiringi alunan musik yang lembut dan nyanyian sederhana yang dinyanyikan berulang, seperti Holy Spirit Come to Us, sehingga menghadirkan ruang untuk berdiam diri dan berefleksi. Ibadah ini menunjukkan bahwa Roh Kudus tidak hanya hadir dalam peristiwa yang megah, tetapi juga dapat dialami secara

personal melalui keheningan. Dalam suasana tersebut, mahasiswa diajak menyadari setiap tarikan napas sebagai anugerah serta menyerahkan berbagai pergumulan kepada Tuhan. Nuansa keberagaman UKDW juga terasa ketika pembacaan Kisah Para Rasul 2:1–13 dilakukan dalam berbagai bahasa daerah, mulai dari bahasa Indonesia, Jawa, Sunda, hingga Batak Toba. Momen ini menjadi gambaran indah bahwa karya Roh Kudus hadir di tengah keberagaman budaya dan bahasa yang dimiliki sivitas akademika UKDW. Memaknai Pentakosta dalam Kehidupan Mahasiswa Refleksi yang disampaikan Pdt. Jeniffer Fresy Porielly Pelupessy-Wowor, M.A., Ph.D., menghadirkan cara pandang yang segar terhadap makna Pentakosta. Salah satunya melalui konsep biblioterapi, yaitu pemulihan melalui bacaan reflektif yang membantu seseorang bertumbuh secara spiritual maupun emosional. Jemaat diajak membaca bersama bait-bait refleksi yang ditampilkan di layar dengan penuh penghayatan. Suasana hening yang tercipta menghadirkan pengalaman yang menenangkan sekaligus memulihkan. Pdt. Jeniffer juga mengulas makna xenolalia dalam Kisah Para Rasul 2:4. Ia menjelaskan bahwa peristiwa Pentakosta dapat dipahami dari dua sudut pandang. Pertama, Roh Kudus memberi kemampuan kepada para rasul untuk berbicara dalam berbagai bahasa yang sebelumnya tidak mereka kuasai. Kedua, mukjizat terjadi pada para pendengar yang dapat memahami pewartaan para rasul dalam bahasa mereka masing-masing. Melalui penjelasan tersebut, jemaat diajak

melihat bahwa Pentakosta merupakan perayaan atas keberagaman. Roh Kudus tidak menghapus identitas setiap orang, melainkan mempersatukan berbagai perbedaan dalam kasih Allah. Relevansi Pentakosta bagi Kehidupan Kampus Refleksi ini juga menyentuh realitas kehidupan mahasiswa. Pdt. Jeniffer mengajak mahasiswa, khususnya mahasiswa Teologi, untuk berani keluar dari zona nyaman dan membangun relasi yang lebih luas. Roh Kudus, menurutnya, selalu menggerakkan umat untuk terbuka terhadap sesama, bukan hanya berkumpul dengan kelompok yang sama. Ia juga mengingatkan pentingnya tetap memiliki kepekaan terhadap berbagai persoalan di sekitar, termasuk ketidakadilan dan penderitaan yang dialami sesama. Mahasiswa diajak untuk tidak kehilangan semangat menjadi pribadi yang peduli dan terus menghadirkan kebaikan. Selain itu, ia menegaskan bahwa kehadiran Roh Kudus bukan berarti menghilangkan semua persoalan hidup. Sebaliknya, Roh Kudus memberikan kekuatan agar setiap orang mampu menghadapi berbagai tantangan dengan iman dan pengharapan. Melanjutkan Misi Sebagai penutup refleksi, jemaat diajak mengamati sebuah Ikon Pentakosta kuno yang menggambarkan para rasul sedang diutus ke dunia. Di bagian tengah ikon terdapat ruang gelap yang melambangkan dunia yang masih dipenuhi penderitaan dan ketidakadilan. Para rasul digambarkan membawa gulungan pesan sebagai simbol misi untuk menghadirkan terang di tengah dunia. Melalui simbol tersebut, jemaat diajak

menyadari bahwa misi itu kini diteruskan kepada setiap orang, termasuk mahasiswa. Mereka dipanggil untuk menjadi pembawa damai melalui perkataan yang menguatkan, tindakan yang peduli, dan keberanian menghadirkan harapan bagi sesama. Litani Doa bagi Kehidupan Mahasiswa Ibadah ditutup dengan Doa Syafaat yang diiringi litani Kyrie Eleison. Dalam suasana yang hening, jemaat menyampaikan doa bagi mahasiswa yang sedang mengalami kelelahan, tekanan studi, maupun pergumulan kesehatan mental. Doa juga dipanjatkan bagi orang tua yang terus berjuang mendukung pendidikan anakanaknya, bagi kehidupan kampus agar diberi hikmat dalam menghadapi berbagai tantangan, serta bagi seluruh mahasiswa yang akan menjalani UAS agar diberikan kejujuran, kesehatan, dan penyertaan Tuhan. Melangkah Keluar dengan Semangat Baru Ibadah meditatif ini membuktikan bahwa keheningan bukanlah akhir dari perjalanan, melainkan awal untuk melangkah kembali dengan hati yang diperbarui. Dari ruang yang tenang, mahasiswa diutus kembali ke tengah aktivitas perkuliahan dengan semangat Pentakosta: membawa pengharapan, kepedulian, dan kasih bagi sesama. Bagi mahasiswa yang ingin kembali menikmati ruang refleksi seperti ini, panitia mengumumkan bahwa Ibadah Meditatif penutupan semester akan kembali diselenggarakan pada Sabtu, 20 Juni 2026, dengan tema "Kedamaian yang Tak Dapat Diberikan oleh Dunia." [pedro]


12

International VOL.20/ JUN 2026

UKDW and PolyU Finalize Preparations for ISL Eye Care 2026 Program Serving 1,900 Students in Yogyakarta

doc.BiroIV

U

niversitas Kristen Duta Wacana (UKDW) and The Hong Kong Polytechnic University (PolyU) have finalized preparations for the implementation of the International Service Learning (ISL) Eye Care 2026 program through a pre-visit conducted in Yogyakarta on June 2–3, 2026. The visit was organized to ensure all aspects of the program are ready before implementation, scheduled for July 18–28, 2026. Representing PolyU’s School of Optometry, Savio Lee traveled to Yogyakarta to coordinate with UKDW’s Institute for Research and Community Service (LPPM) on various technical and operational aspects of the program. During the visit, representatives from UKDW and PolyU also conducted site visits to the schools that will participate in the

program. The visits aimed to strengthen coordination and finalize preparations with school administrators. A total of nine schools will take part in ISL Eye Care 2026: SD Budi Utama, SD Joannes Bosco, SD Bopkri Gondolayu, SMP Kalam Kudus, SMP Budya Wacana, SMP Stella Duce 2, SMP Bopkri 1, SMP Bopkri 2, and SMP Bopkri 3. Through the program, UKDW and PolyU aim to provide eye health screenings for approximately 1,900 students. The primary activity will be comprehensive vision examinations designed to help students identify potential vision and eye health issues at an early stage. The screenings will include a range of assessments, including distance vision tests, near vision tests, depth perception

doc.Panitia

(stereopsis) evaluations, color vision testing, strabismus examinations, intraocular pressure measurements, and comprehensive eye health assessments. According to Savio Lee, the screening program is intended not only to help students understand their visual health but also to raise awareness about the importance of eye care. “We hope that through these vision screenings, students will gain a better understanding of their vision and eye health status, while also learning how to properly care for and maintain healthy eyes,” Lee said. ISL Eye Care 2026 will bring together participants from different countries and academic disciplines. A total of 140 PolyU students will collaborate with 59 UKDW students from various academic programs. In addition to assisting with eye examinations,

the students will provide educational sessions on the importance of eye health and proper eye care practices. Through this international partnership, UKDW and PolyU aim not only to improve eye health among schoolchildren but also to provide students with meaningful servicelearning experiences. The program is expected to deliver tangible benefits to the community while strengthening academic collaboration and community engagement between the two universities. By combining academic expertise with community service, ISL Eye Care 2026 reflects the shared commitment of UKDW and PolyU to creating a lasting positive impact on education and public health in Indonesia. [ai]

UKDW Participates in ICRS 20th Anniversary International Conference, Reaffirms Commitment to Peace, Justice, and Sustainability

doc.BiroIV

U

niversitas Kristen Duta Wacana (UKDW) participated in the 20th Anniversary Workshop, Conference, and Partnership Consolidation organized by the Indonesian Consortium for Religious Studies (ICRS), held in Yogyakarta from June 22–25, 2026. Under the theme “Peace, Justice, and Sustainability,” the international conference marked two decades of ICRS while strengthening interdisciplinary, interfaith, and cross-sector collaboration to address pressing global challenges. UKDW Rector Dr.-Ing. Wiyatiningsih, S.T., M.T., attended the Opening Ceremony on June 23, 2026, at the University Club Hotel, Universitas Gadjah Mada (UGM). The event brought together academics, researchers, religious leaders, practitioners, alumni, and ICRS partners from around the world. In her remarks, the Rector congratulated ICRS on its 20th anniversary and commended the consortium for organizing the conference. She described ICRS’s two-decade journey as a significant milestone that has fostered a new spirit of collaboration among higher education institutions. She noted that over the past 20 years, the partnership among Universitas Gadjah Mada (UGM), UKDW, and UIN Sunan Kalijaga has become a distinctive model of collaboration in advancing education, research, interfaith

dialogue, and academic engagement in addressing societal challenges. Despite facing various obstacles, the partnership has continued to grow and has made meaningful contributions to the development of interdisciplinary religious studies. Wiyatiningsih also expressed her gratitude that UKDW has remained an integral part of ICRS’s journey. She emphasized that the 20th anniversary is not only a celebration of the consortium’s longevity but also an opportunity to recognize its significant achievements, including growing international recognition, the development of new doctoral programs, and the inauguration of its new office, which is expected to further strengthen future academic collaboration. During the opening ceremony, a congratulatory message from the Governor of the Special Region of Yogyakarta, Sri Sultan Hamengkubuwono X, was delivered by Faishol Muslim, S.IP., M.Si., Head of the Regional People’s Welfare Bureau of the Yogyakarta Regional Secretariat. The message emphasized that ICRS’s 20-year journey represents more than the passage of time—it reflects the consortium’s enduring commitment to fostering dialogue, advancing knowledge, and building trust amid diversity. “The theme Peace, Justice, and Sustainability reminds us that these three

doc.BiroIV

values are inseparable. Diversity should not create distance between us; rather, it offers an opportunity to learn from one another, broaden our perspectives, and strengthen our shared humanity.” The message further highlighted that in an increasingly interconnected yet polarized world, universities bear a greater responsibility than ever before. Knowledge should not remain confined to research findings or scholarly publications but should illuminate public discourse, inform policies that uphold human dignity, and contribute practical solutions to environmental conservation and sustainable development. The conference formed part of ICRS’s 20th anniversary celebration, recognizing the consortium’s longstanding role in advancing interdisciplinary religious studies in Indonesia and internationally. For the past two decades, ICRS has brought together scholars, religious leaders, civil society organizations, and policymakers to produce research with meaningful social impact. As it enters its third decade, ICRS has reaffirmed its commitment to advancing religious studies that not only generate academic knowledge but also contribute to inclusive well-being, peace, social justice, and environmental sustainability. Following its organizational

transformation, ICRS now serves as the collaborative umbrella for three doctoral programs: the Doctoral Program in InterReligious Studies at UGM, the Doctoral Program in Theology at UKDW, and the Doctoral Program in Islamic Studies at UIN Sunan Kalijaga. Together, these programs collaboratively develop curricula, conduct research, and engage in community service to strengthen interdisciplinary and interfaith scholarship in Indonesia. Over the four-day event, participants took part in workshops, panel discussions, research presentations, and partnership consolidation sessions covering a range of strategic issues, including religious polarization in politics, human rights, religious literacy, democracy, environmental justice, and sustainable development. UKDW’s participation in the international conference reflects the university’s continued commitment to advancing knowledge that addresses the needs of society. Through its collaboration within ICRS, UKDW remains dedicated to promoting inclusive dialogue, impactful research, and interdisciplinary partnerships that contribute to peace, social justice, and a more sustainable future in Indonesia and beyond. [mpk]


Turn static files into dynamic content formats.

Create a flipbook
Koran Kampus UKDW Edisi Juni 2026 by Koran Kampus UKDW - Issuu