UKDW Yogyakarta
20
@UKDWJOGJA @ukdwyogyakarta
07
UKDW Yogyakarta
Alamat Redaksi: Kantor Biro IV UKDW Gedung Hagios Lantai 1 Jl. dr. Wahidin Sudirohusodo 5-25, D.I Yogyakarta Koran Kampus UKDW
JULI 2026
korankampus@staff.ukdw.ac.id
Berkomunikasi dengan Hati Mencipta Harmoni
B E R I TA U TA M A
Program Studi Akuntansi UKDW Raih Akreditasi Unggul, Perkuat Komitmen Cetak Akuntan Berintegritas dan Berdaya Saing Global
Menemukan Makna di Tanah yang Jauh: Kisah Angelica dan Panggilan Melayani di Taizé
2
Talking ASEAN and Regional Dialogue 2026 Digelar di UKDW, Bahas Kepemimpinan Perempuan dalam Tata Kelola Iklim dan Bencana
5
UKDW Partners with Higher Education Institutions in Madagascar, Launches Collaboration through the Faculty of Business
11
P
rogram Studi (Prodi) Akuntansi Program Sarjana Universitas Kristen Duta Wacana (UKDW) resmi meraih Akreditasi Unggul dari Lembaga Akreditasi Mandiri Ekonomi, Manajemen, Bisnis, dan Akuntansi (LAMEMBA). Predikat tersebut ditetapkan melalui Keputusan LAMEMBA Nomor 190/DE/A.5/LAMEMBA-U/VII/2026 dan berlaku mulai 17 Juli 2026 hingga 17 Juli 2031. Predikat Akreditasi Unggul menjadi pengakuan atas kualitas penyelenggaraan pendidikan, tata kelola, pembelajaran, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat di Prodi Akuntansi UKDW. Capaian ini sekaligus menegaskan komitmen UKDW dalam menghadirkan pendidikan akuntansi yang relevan dengan perkembangan profesi serta menghasilkan lulusan yang kompeten, berintegritas, adaptif, dan siap bersaing di tingkat nasional maupun global. Prodi Akuntansi UKDW membekali mahasiswa dengan kompetensi di bidang perpajakan, audit, akuntansi sektor publik, keuangan, dan manajemen yang didukung pemanfaatan teknologi digital. Kurikulum dirancang secara adaptif mengikuti perkembangan dunia usaha, industri, dan profesi, serta diperkaya melalui studi kasus, company visit, proyek berbasis industri, dan kolaborasi dengan praktisi. Pendekatan tersebut memberi mahasiswa pengalaman belajar yang tidak hanya memperkuat penguasaan akademik, tetapi juga mengembangkan kemampuan berpikir kritis, komunikasi, kolaborasi, kepemimpinan, serta pengambilan keputusan yang berlandaskan etika dan data. Selain meningkatkan kualitas pembelajaran, Prodi Akuntansi UKDW terus mengembangkan penelitian interdisipliner dan program pengabdian kepada masyarakat yang memberikan kontribusi bagi penyelesaian persoalan di sektor privat maupun publik. Upaya tersebut didukung penguatan tata kelola akademik, peningkatan kualitas sumber daya manusia, pengembangan sarana pembelajaran, serta perluasan kemitraan dengan dunia usaha, dunia industri, organisasi profesi, pemerintah, dan perguruan tinggi di tingkat nasional maupun internasional.
Dekan Fakultas Bisnis UKDW, Dr. Perminas Pangeran, S.E., M.Si., CSA., CRP., mengatakan bahwa raihan Akreditasi Unggul merupakan hasil kolaborasi seluruh sivitas akademika, alumni, mitra, dan para pemangku kepentingan dalam membangun budaya mutu yang berkelanjutan. "Akreditasi Unggul ini bukan sekadar pengakuan atas pemenuhan standar mutu, tetapi juga peneguhan komitmen Fakultas Bisnis UKDW untuk menyelenggarakan pendidikan akuntansi yang relevan, terpercaya, dan memberikan dampak nyata bagi masyarakat. Capaian ini menjadi energi bagi kami untuk terus melahirkan profesional mandiri dengan profil 4B, yaitu berintegritas, berkarakter kuat, berkapasitas berpikir, dan berkompeten," ujar Perminas. Profil 4B menjadi karakter utama lulusan Fakultas Bisnis UKDW. Melalui pendekatan tersebut, mahasiswa dipersiapkan tidak hanya memiliki kompetensi profesional, tetapi juga integritas, karakter yang kuat, kemampuan berpikir kritis dan strategis, serta serta kompetensi yang relevan dengan kebutuhan masyarakat dan dunia kerja. Ke depan, Prodi Akuntansi UKDW akan terus memperkuat kurikulum yang adaptif, pembelajaran berbasis praktik, pemanfaatan teknologi digital, penelitian, pengabdian kepada masyarakat, serta kolaborasi dengan dunia usaha, industri, organisasi profesi, dan jejaring global. "Kami ingin memastikan setiap lulusan tidak hanya menguasai kompetensi akuntansi, tetapi juga mampu memanfaatkan teknologi digital, mengintegrasikan prinsip keberlanjutan, bekerja secara etis, serta memberikan kontribusi yang bertanggung jawab di tengah dunia yang pluralistik berdasarkan kasih," ungkapnya. Menurut Perminas, Akreditasi Unggul menjadi landasan bagi Fakultas Bisnis UKDW dan Prodi Akuntansi untuk terus meningkatkan mutu pendidikan, memperluas pengalaman profesional mahasiswa, memperkuat pembelajaran berbasis industri, serta mengembangkan kolaborasi di tingkat nasional dan internasional. “Melalui upaya tersebut, lulusan Akuntansi UKDW diharapkan menjadi profesional yang adaptif, berintegritas, berwawasan global, mampu mengambil keputusan berbasis data, serta menciptakan nilai yang berkelanjutan bagi organisasi, masyarakat, dan lingkungan,” tambahnya. Dengan raihan Akreditasi Unggul, Prodi Akuntansi UKDW semakin memperkuat posisinya sebagai salah satu pilihan pendidikan akuntansi berkualitas di Indonesia. Capaian ini menjadi landasan bagi UKDW untuk terus meningkatkan mutu akademik, memperluas kolaborasi dengan dunia usaha dan industri, serta menghadirkan pengalaman belajar yang relevan dengan kebutuhan profesi sehingga menghasilkan lulusan yang berdaya saing global dan mampu memberikan kontribusi nyata bagi dunia bisnis, masyarakat, dan pembangunan berkelanjutan. [mpk]
Program Studi Teknologi Pangan UKDW Resmi Dibuka, Siapkan Inovator Pangan untuk Jawab Tantangan Masa Depan
Doc. Panitia
M
enjawab tantangan ketahanan pangan, kesehatan, dan keberlanjutan, Universitas Kristen Duta Wacana (UKDW) Yogyakarta resmi meluncurkan Program Studi (Prodi) Teknologi Pangan pada Rabu (22/7/2026) di Auditorium Koinonia UKDW. Program studi baru di bawah Fakultas Bioteknologi UKDW ini disiapkan untuk mencetak lulusan yang mampu mengembangkan inovasi pangan berbasis sains, teknologi, dan potensi hayati Indonesia. Peluncuran Prodi Teknologi Pangan dirangkaikan dengan talkshow bertajuk Masa Depan Pangan Indonesia: Inovasi, Keberlanjutan, dan Peluang Generasi Muda yang menghadirkan Founder dan Chief Executive Officer (CEO) Agradaya sekaligus Greentech.ID, Andhika Mahardika, serta Guru Besar Mikrobiologi Pangan Fakultas Peternakan dan Pertanian Universitas Diponegoro, Prof. Dr. Ir. Yoyok Budi Pramono, S.Pt., M.P., IPM. Keduanya membahas perkembangan industri pangan,
inovasi teknologi, dan kompetensi yang dibutuhkan generasi muda. Ketua Prodi Teknologi Pangan UKDW, Catarina Aprilia Ariestanti, S.T.P., M.Sc., mengatakan program studi ini hadir untuk menyiapkan sumber daya manusia yang mampu mengembangkan inovasi pangan berbasis sumber daya hayati tropis melalui perpaduan ilmu teknologi pangan dan bioteknologi. “Prodi Teknologi Pangan UKDW hadir untuk menjawab tantangan ketahanan dan inovasi pangan berbasis sumber daya hayati tropis yang berkelanjutan. Dengan mengintegrasikan ilmu teknologi pangan modern dan pendekatan bioteknologi, kami berkomitmen mencetak lulusan yang unggul secara akademik serta mampu memberikan dampak nyata bagi masyarakat,” ujarnya. Mahasiswa akan mempelajari pengolahan bahan pangan hewani dan nabati melalui pendekatan fisik, biologis, dan kimia untuk menghasilkan produk yang aman, bergizi, berkualitas, serta bermanfaat bagi kesehatan. Salah satu fokus pembelajarannya adalah pengembangan indigenous nutraceutical dan functional food, yaitu produk pangan berbahan alami Indonesia yang tidak hanya memenuhi kebutuhan gizi, tetapi juga mendukung kesehatan. Kurikulum dirancang sesuai perkembangan ilmu pengetahuan dan kebutuhan industri, didukung laboratorium modern, dosen berpengalaman, serta kerja sama dengan mitra nasional maupun internasional. Mahasiswa juga mendapat kesempatan
mengikuti riset terapan, magang industri, dan pengabdian kepada masyarakat. “Lulusan dipersiapkan menjadi sarjana teknologi pangan yang inovatif, berintegritas, memiliki jiwa kewirausahaan, dan siap bersaing di tingkat global,” kata Catarina. Lulusan memiliki peluang berkarier sebagai quality assurance, quality control, research and development, analis laboratorium, product specialist, konsultan pangan dan nutrasetikal, hingga food technopreneur. Dekan Fakultas Bioteknologi UKDW, Dr. Charis Amarantini, M.Si., menjelaskan bahwa pembukaan program studi baru ini didukung rekam jejak Fakultas Bioteknologi yang telah berdiri sejak 1987 dengan nama Fakultas Biologi. Fakultas tersebut meraih akreditasi A lima kali berturut-turut sebelum bertransformasi menjadi Fakultas Bioteknologi pada 2010. Saat ini, Program Studi Biologi UKDW telah terakreditasi Unggul. “Izin operasional Program Studi Teknologi Pangan resmi kami peroleh pada 9 Januari 2026. Prodi ini berada dalam satu visi keilmuan dengan Prodi Biologi, yakni pengelolaan sumber daya hayati secara berkelanjutan yang berlandaskan nilai-nilai kedutawacanaan yang transformatif, adaptif, dan humanis,” ujar Charis. Rektor UKDW, Dr.-Ing. Wiyatiningsih, S.T., M.T., menegaskan bahwa pendirian Prodi Teknologi Pangan merupakan bagian dari komitmen UKDW mewujudkan visi Sustainable Entrepreneurial Research University melalui pendidikan, riset, dan kolaborasi dengan industri.
Doc. Panitia
“Makanan kini tidak lagi dipandang sekadar kebutuhan pokok, tetapi juga bagian dari gaya hidup sehat. Melalui teknologi pangan berbasis bahan alam lokal, UKDW ingin menghasilkan inovasi yang mendukung kesehatan sekaligus berkontribusi pada pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs),” ujarnya. Menurut Wiyatiningsih, gagasan pembentukan program studi ini telah dirintis sejak sebelum 2023 melalui proses yang matang. Setelah hampir empat dekade mengembangkan pendidikan di bidang hayati, kehadiran Prodi Teknologi Pangan menjadi tonggak baru bagi Fakultas Bioteknologi. “Kami bangga menyambut lahirnya 'anak kedua' di Fakultas Bioteknologi. Prodi ini akan bertumbuh bersama mitra industri dan masyarakat sehingga inovasi yang dihasilkan dapat memberi manfaat nyata,” pungkasnya. [mpk]
Profil Bulan Ini
2
VOL.20/ JUL 2026
Menemukan Makna di Tanah yang Jauh: Kisah Angelica dan Panggilan Melayani di Taizé
R
asa ragu sempat menghinggapi Angelica ketika dosennya menyebut namanya sebagai salah satu kandidat volunteer program Taizé di Prancis. Bagi mahasiswa semester tujuh Program Studi Filsafat Keilahian UKDW itu, tawaran tersebut datang secara tiba-tiba. Terlebih, perjalanan ini akan menjadi pengalaman pertamanya ke luar negeri. “Awalnya saya sempat ragu. Ini pengalaman pertama saya bepergian jauh, apalagi ke Prancis,” tutur Angelica. Namun, keraguan itu perlahan bergeser menjadi keberanian. Ia mulai melihat kesempatan tersebut bukan sekadar sebagai perjalanan ke luar negeri, melainkan sebagai ruang untuk mencari makna hidup. Baginya, pengalaman melayani di Taizé menjadi kesempatan untuk menghidupi prinsip ora et labora, ketika iman tidak berhenti pada doa, tetapi berjalan berdampingan dengan usaha dan pelayanan. Berangkat dari Rasa Ingin Tahu Taizé merupakan komunitas ekumenis yang didirikan di sebuah desa kecil di Prancis. Komunitas ini dikenal karena kehidupan doa yang sederhana serta perhatian terhadap perdamaian, rekonsiliasi, dan persahabatan lintas perbedaan. Nilai-nilai tersebut menjadi semakin relevan di tengah kehidupan masyarakat yang kerap terfragmentasi dan individualistis. Angelica mulai mengenal Taizé secara lebih dekat sejak berkuliah di UKDW. Sebagai kampus yang menghidupi nilai pelayanan di tengah keberagaman, UKDW telah menjalin kolaborasi dengan Taizé dan beberapa kali mengirimkan mahasiswa untuk mengikuti program volunteer. Salah satu kemampuan yang dibutuhkan dalam program tersebut adalah kemampuan bermusik, mengingat nyanyian menjadi bagian penting dalam kehidupan doa komunitas Taizé. Pada Agustus hingga Oktober 2026, Angelica akan menghabiskan kurang lebih tiga bulan di Taizé untuk menjalankan
untuk lebih peka dan peduli terhadap sesama,” ujarnya. Menurut Angelica, pengalaman menjadi volunteer bukan hanya kesempatan untuk memperdalam kehidupan spiritual secara pribadi. Program tersebut juga melatih anak muda untuk melayani dan mengasihi orang lain, termasuk mereka yang berasal dari latar belakang dan denominasi gereja yang berbeda. Di tengah perbedaan tersebut, ia melihat adanya ruang untuk menemukan kesatuan. “Pada akhirnya semua dimampukan untuk melebur menjadi satu oleh kasih Kristus,” katanya. Doc. Biro IV
program volunteer. Selama berada di sana, ia akan bergabung dengan para bruder dan suster untuk melayani peserta yang datang dari berbagai penjuru dunia. Ia akan berada dalam lingkungan yang mempertemukan orang-orang dengan latar belakang budaya, bahasa, dan denominasi gereja yang beragam. Keragaman tersebut sekaligus menjadi salah satu tantangan yang mulai ia persiapkan sejak sebelum keberangkatan. Perbedaan budaya, bahasa, serta aksen bahasa Inggris dari para relawan dan peserta menjadi hal-hal yang perlu ia antisipasi. Alih-alih membiarkan kekhawatiran tersebut berkembang menjadi ketakutan, Angelica memilih mempersiapkan diri. Ia mencari informasi lebih dalam mengenai Taizé, memperkuat kemampuan bahasa Inggris, dan mulai mempelajari bahasa Prancis. Persiapan juga dilakukan dengan memikirkan berbagai kebutuhan hidup selama tiga bulan berada di sana. Ia turut berdiskusi dengan dosen dan kakak tingkat yang pernah mengikuti program serupa. Berbagai pengalaman dari mereka menjadi bekal untuk memahami kehidupan yang akan ia jalani di Taizé. Dari sisi pembiayaan, Angelica tidak perlu memikirkan biaya program dan akomodasi
karena keduanya telah ditanggung oleh pihak Taizé. Dengan demikian, ia dapat memusatkan perhatian pada persiapan mental dan spiritual sebelum keberangkatan. Dari Liturgi yang Terasa Asing hingga Menemukan Kedalaman Menariknya, ketertarikan Angelica terhadap Taizé tidak serta-merta muncul sejak awal. Liturgi Taizé yang dikenal lembut, sederhana, dan repetitif justru sempat membuatnya membayangkan bahwa ibadah di sana akan terasa membosankan. Pandangan tersebut perlahan berubah setelah ia membaca buku Taizé: Mencari Makna Hidup karya Olivier Clément. Buku itu membantunya melihat bahwa kesederhanaan dalam liturgi Taizé bukan berarti kekosongan, melainkan dapat menjadi ruang untuk mengalami kedalaman spiritual dan membangun relasi dengan Tuhan. Dari sana, Angelica juga semakin memahami pesan yang dibawa komunitas Taizé mengenai persahabatan dan rekonsiliasi. Baginya, pesan tersebut sangat relevan bagi generasi muda yang hidup di tengah dunia yang semakin individual. “Anak-anak muda harus banyak belajar
Membawa Pulang Nilai, Bukan Sekadar Kenangan M e nj e l ang ke b e rang kat anny a p ad a Agustus 2026, Angelica membawa satu pesan bagi teman-teman yang suatu hari mungkin memperoleh kesempatan serupa: jangan membiarkan ketakutan menjadi alasan untuk melewatkan sebuah pengalaman yang berharga. Bagi Angelica, perjalanan ke Taizé bukan sekadar perjalanan menuju sebuah tempat yang jauh. Ia melihatnya sebagai kesempatan untuk belajar melayani, berjumpa dengan orang-orang dari berbagai latar belakang, sekaligus memperdalam kehidupan spiritualnya. Ia berharap pengalamannya dalam program tersebut tidak berhenti sebagai kenangan pribadi. Nilai-nilai perdamaian, persahabatan, dan rekonsiliasi yang ia temukan di Taizé ingin ia bawa kembali ke kehidupan sehari-hari, termasuk dalam lingkungan perkuliahannya. Dengan demikian, perjalanan yang bermula dari keraguan itu diharapkan tidak hanya mengubah cara Angelica memandang dirinya dan imannya, tetapi juga mendorongnya untuk menjadi pribadi yang membawa dampak positif bagi orang-orang di sekitarnya. [teophilia]
REDAKSI KORAN KAMPUS PENANGGUNG JAWAB PIMPINAN REDAKSI WAKIL PIMPINAN REDAKSI
: Pdt. Wahju Satria Wibowo, Ph.D. : Pdt. Jeniffer Fresy Porielly Wowor, M.A, Ph.D. : Meilina Parwa
EDITOR
LAYOUTER
Anti, Lia, Iit
Adhimas, Endrianto
KORAN KAMPUS BISA ANDA DAPATKAN SECARA ONLINE MELALUI
https://issuu.com/korankampus_ukdw Redaksi menerima tulisan dari warga kampus berupa artikel, laporan kegiatan dan foto-foto yang membangun harapan. Kirim ke alamat Redaksi atau melalui email: korankampus@staff.ukdw.ac.id
Prestasi
3
VOL.20/ JUL 2026
UKDW Raih Dua Penghargaan Terbaik I pada Anugerah Kerja Sama Diktisaintek LLDIKTI Wilayah V 2026
U
niversitas Kristen Duta Wacana (UKDW) kembali menegaskan kualitas jejaring kemitraannya dengan meraih dua penghargaan Terbaik I pada Anugerah Kerja Sama Diktisaintek (AKD) 2026 tingkat LLDIKTI Wilayah V. Penghargaan tersebut diberikan sebagai apresiasi atas keberhasilan UKDW menghadirkan kerja sama internasional yang berdampak bagi masyarakat sekaligus menerapkan tata kelola pelaporan kerja sama yang unggul. Penghargaan diserahkan oleh Kepala LLDIKTI Wilayah V, Prof. Setyabudi Indartono, M.M., Ph.D., pada Kamis (2/7/2026) di Ruang Sidang Utama LLDIKTI Wilayah V. Pada ajang tersebut, UKDW meraih penghargaan Terbaik I Perguruan Tinggi dengan Kerja Sama Internasional Paling Berdampak melalui kolaborasi bersama The Hong Kong Polytechnic University (PolyU). UKDW juga memperoleh penghargaan Terbaik I Perguruan Tinggi dengan Pengelolaan Laporan Kerja Sama (LAPORKERMA) Terbaik atas kualitas pengelolaan dan pelaporan data kerja sama melalui Sistem Lapor Kerja Sama Perguruan Tinggi Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi. Capaian ini menjadi prestasi dua tahun berturut-turut bagi UKDW dalam Anugerah Kerja Sama Diktisaintek LLDIKTI Wilayah V. Konsistensi tersebut mencerminkan komitmen UKDW dalam membangun kemitraan yang tidak hanya memenuhi aspek tata kelola dan administrasi, tetapi juga menghasilkan program yang memberikan manfaat nyata bagi sivitas akademika dan masyarakat. Kepala Biro Kerja Sama dan Relasi Publik UKDW, Pdt. Jeniffer Fresy Porielly Pelupessy-Wowor, M.A., Ph.D., mengatakan bahwa penghargaan ini memberi ruang bagi UKDW untuk memperluas kolaborasi strategis dan dampak yang signifikan. "Melalui pengakuan yang nyata atas kontribusi UKDW di masyarakat dan dunia internasional, ada ruang untuk semakin memantapkan komitmen UKDW dalam
Doc. Panitia
Doc. Panitia
Doc. Panitia
berkontribusi pada konteks yang lebih luas," tuturnya. Penghargaan pada kategori Kerja Sama Internasional Paling Berdampak menjadi bukti bahwa kolaborasi UKDW dengan PolyU tidak berhenti pada penandatanganan dokumen kerja sama, tetapi diwujudkan melalui berbagai program yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat sekaligus mendukung pembangunan berkelanjutan. Salah satu implementasi kolaborasi tersebut adalah program International Service Learning (ISL) for Sustainable and
Inclusive Communities: UKDW–PolyU Collaboration in Elderly Empowerment, Digital Literacy, and Vision Health yang kembali dilaksanakan sejak 2024 dengan melibatkan dosen dan mahasiswa dari kedua institusi. Melalui program tersebut, UKDW dan PolyU menjalankan berbagai kegiatan pemberdayaan masyarakat, mulai dari asesmen kesehatan lansia dan penyusunan rekomendasi peningkatan kualitas hidup, pelatihan literasi digital bagi siswa melalui kegiatan IT Fun Fair yang mendorong
kreativitas dan keterampilan abad ke-21, hingga layanan kesehatan mata bagi 1.166 siswa berupa pemeriksaan komprehensif, edukasi, dan konsultasi. Kolaborasi lintas disiplin dan lintas budaya tersebut memperkuat jejaring internasional kedua perguruan tinggi sekaligus menghadirkan manfaat nyata bagi masyarakat. Sementara itu, penghargaan Pengelolaan Laporan Kerja Sama (LAPORKERMA) Terbaik mencerminkan komitmen UKDW dalam menerapkan tata kelola kerja sama yang transparan, akuntabel, dan terdokumentasi secara sistematis sesuai standar Kemdiktisaintek. Pengelolaan data yang baik memungkinkan setiap kerja sama dipantau, dievaluasi, serta dikembangkan secara berkelanjutan sehingga menghasilkan luaran yang lebih terukur dan berdampak. Anugerah Kerja Sama Diktisaintek 2026 diselenggarakan untuk mendorong peran strategis kerja sama perguruan tinggi dalam mengimplementasikan program Kampus Berdampak. Mengusung tema Diktisaintek Berdampak dalam Mendukung Perekonomian, Sosial, dan Lingkungan, penghargaan ini menilai kontribusi kerja sama perguruan tinggi berdasarkan dampak ekonomi, sosial, dan lingkungan, sekaligus mendorong penguatan implementasi kerja sama dalam mendukung pencapaian Indikator Kinerja Utama (IKU) serta memberikan manfaat nyata bagi masyarakat. Raihan dua penghargaan ini semakin memperkuat rekam jejak UKDW sebagai perguruan tinggi yang mengembangkan kemitraan strategis berbasis dampak. Sejalan dengan semangat Kampus Berdampak, UKDW terus memperluas kolaborasi dengan berbagai mitra nasional dan internasional untuk menghadirkan inovasi dalam pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. Melalui kerja sama yang berkelanjutan, UKDW berkomitmen menghasilkan manfaat nyata bagi masyarakat sekaligus berkontribusi pada pembangunan ekonomi, sosial, dan lingkungan. [lia]
Dua Dosen Masuk Nominasi Anugerah Saintek 2026 Bidang STEM dan Inovasi Sosial Humaniora
Doc. Biro IV
K
eunggulan dosen Universitas Kristen Duta Wacana (UKDW) Yogyakarta di bidang riset kembali mendapat pengakuan. Dua akademisi UKDW berhasil masuk dalam nominasi Anugerah Saintek 2026 yang diselenggarakan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) melalui Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDIKTI) Wilayah V. Berdasarkan Keputusan Kepala LLDIKTI Wilayah V Nomor 2006/DST/LL5/ AL.04.00/2026 tertanggal 17 Juli 2026
tentang hasil seleksi administrasi Anugerah Saintek Tahun 2026, Prof. Dr. Antonius Rachmat Chrismanto, S.Kom., M.Cs. ditetapkan sebagai nominasi Anugerah Ilmuwan Muda Terbaik Bidang Science, Technology, Engineering, and Mathematics (STEM). Sementara itu, Dr. Adaninggar Septi Subekti, S.Pd., M.Sc. masuk dalam nominasi Anugerah Ilmuwan Muda Terbaik Bidang Inovasi Sosial Humaniora. Keberhasilan dua dosen tersebut menempatkan UKDW sebagai salah satu perguruan tinggi di bawah LLDIKTI Wilayah V yang berhasil mengirimkan wakil pada dua kategori bergengsi sekaligus. Capaian ini menjadi pengakuan atas kontribusi sivitas akademika UKDW dalam menghasilkan riset, inovasi, dan karya ilmiah yang memberikan manfaat bagi masyarakat. Anugerah Saintek merupakan ajang penghargaan yang diselenggarakan Kemdiktisaintek sebagai bentuk apresiasi kepada ilmuwan dan perguruan tinggi yang menunjukkan produktivitas, inovasi, serta kontribusi nyata dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Untuk tahun 2026, proses seleksi diawali dengan seleksi di
tingkat LLDIKTI sebelum para nominasi melanjutkan tahapan penilaian di tingkat nasional. Prof. Antonius Rachmat Chrismanto merupakan Guru Besar Fakultas Teknologi Informasi UKDW yang memiliki kepakaran di bidang kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI), khususnya deep learning. Berbagai penelitian dan inovasi yang dikembangkannya berkontribusi pada penguatan ekosistem riset teknologi di UKDW sekaligus mendukung pengembangan solusi berbasis AI bagi masyarakat. Sementara itu, Dr. Adaninggar Septi Subekti dikenal aktif melakukan penelitian, publikasi ilmiah, dan pengembangan keilmuan di bidang sosial humaniora. Konsistensinya dalam menghasilkan karya akademik yang berdampak mengantarkannya masuk sebagai nominasi Anugerah Ilmuwan Muda Terbaik Bidang Inovasi Sosial Humaniora. Masuknya dua dosen UKDW dalam nominasi Anugerah Saintek 2026 memperkuat pengakuan terhadap kualitas sumber daya akademik UKDW di tingkat regional maupun nasional. Prestasi ini juga sejalan
Doc. Biro IV
dengan komitmen UKDW untuk terus mengembangkan budaya riset, inovasi, dan pengabdian kepada masyarakat sebagai bagian dari pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi. Selanjutnya, para nominasi akan mengikuti tahapan pengisian dokumen melalui Sistem Anugerah Saintek dan SINTA Award 2026 sesuai mekanisme yang ditetapkan oleh Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi. [mpk]
Prestasi Universitaria
4
VOL.20/ JUL 2026
Mahasiswa Sistem Informasi UKDW Raih Medali Perak di Chuncheon Korea Open International Taekwondo Championships 2026
P
ersaingan atlet taekwondo dari berbagai negara di Korea Selatan berhasil dilalui dengan membanggakan oleh mahasiswa Universitas Kristen Duta Wacana (UKDW) Yogyakarta. Natanael Rikoo Arisandi, mahasiswa Program Studi Sistem Informasi sekaligus kader Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Taekwondo UKDW, sukses membawa pulang medali perak pada ajang 2026 Chuncheon Korea Open International Taekwondo Championships. Kejuaraan internasional tersebut diselenggarakan pada 18–19 Juli 2026 di Songam Sports Town Air Dome, Chuncheon, Korea Selatan. Ajang ini menjadi salah satu kompetisi bergengsi yang mempertemukan atlet-atlet taekwondo dari berbagai negara untuk bersaing di tingkat internasional. Pada kompetisi tersebut, Natanael tampil pada kategori Kyorugi Under 58 Senior Putra dan berhasil melaju hingga babak final.
Penampilan konsisten yang ditunjukkan sepanjang pertandingan mengantarkannya meraih medali perak di tengah persaingan atlet-atlet internasional. Perjalanan menuju podium tidak diraih dengan mudah. Menghadapi atlet-atlet dari berbagai negara menjadi tantangan sekaligus pengalaman berharga bagi Natanael untuk mengukur kemampuan di level internasional. "Saya bersyukur bisa mendapatkan kesempatan bertanding di Korea dan membawa pulang medali perak. Pengalaman ini sangat berarti bagi saya dan menjadi motivasi untuk terus belajar, berlatih, dan memberikan yang terbaik di kompetisi berikutnya," tuturnya. Keberhasilan meraih medali perak menjadi bukti bahwa mahasiswa UKDW mampu berprestasi tidak hanya di bidang akademik, tetapi juga di bidang olahraga pada tingkat internasional. Pencapaian tersebut lahir dari kerja keras, disiplin, serta komitmen
Natanael dalam menyeimbangkan studi dengan proses latihan bersama UKM Taekwondo UKDW. Prestasi ini diharapkan dapat menginspirasi mahasiswa lain untuk terus mengembangkan potensi sesuai minat dan bakat yang dimiliki. UKDW senantiasa mendukung pengembangan mahasiswa secara holistik melalui berbagai kegiatan akademik maupun nonakademik, termasuk pembinaan organisasi kemahasiswaan dan partisipasi dalam kompetisi di tingkat nasional maupun internasional. Keberhasilan Natanael sekaligus menambah deretan prestasi mahasiswa UKDW di kancah internasional dan mempertegas komitmen universitas dalam menciptakan ekosistem pembelajaran yang mendorong mahasiswa untuk terus bertumbuh, berkarakter, adaptif, serta memiliki daya saing global. Melalui dukungan terhadap pengembangan akademik,
Doc. Pribadi
kepemimpinan, dan minat bakat, UKDW terus membuka ruang bagi mahasiswa untuk berkarya, berprestasi, dan memberikan kontribusi positif bagi masyarakat di tingkat nasional maupun internasional. [mpk]
Tiga Mahasiswa UKDW Raih Prestasi di PEKSIMIPROV XVIII DIY 2026
Doc. Pribadi
U
niversitas Kristen Duta Wacana (UKDW) kembali menorehkan prestasi membanggakan di tingkat provinsi. Tiga mahasiswa UKDW berhasil meraih juara dalam ajang Pekan Seni Mahasiswa Provinsi (PEKSIMIPROV) XVIII Daerah Istimewa Yogyakarta Tahun 2026 yang mempertemukan mahasiswa berbakat dari berbagai perguruan tinggi di DIY.
Penghargaan tersebut diumumkan pada malam puncak sekaligus penutupan PEKSIMIPROV XVIII yang berlangsung di Gedung Laboratorium Seni ISI Yogyakarta, Kamis (2/7/2026). Adapun mahasiswa UKDW yang berhasil meraih prestasi yaitu Benedictina Andhika Chinor Jodie Soesila dari Program Studi Informatika sebagai Juara III Tangkai Lomba Menyanyi Seriosa, Wilujeng Pawestry dari Program Studi Arsitektur sebagai Juara III Tangkai Lomba Seni Lukis, serta Rhenald Tanujaya dari Program Studi Desain Produk yang meraih Juara II Tangkai Lomba Fotografi. Keberhasilan tersebut menjadi bukti bahwa mahasiswa UKDW tidak hanya unggul dalam bidang akademik, tetapi juga mampu menunjukkan kreativitas, inovasi, dan daya saing di bidang seni. Prestasi ini mencerminkan komitmen UKDW dalam mendukung pengembangan potensi mahasiswa secara holistik melalui berbagai
bidang minat dan bakat. PEKSIMIPROV XVIII diselenggarakan oleh Badan Pembina Seni Mahasiswa Indonesia (BPSMI) Daerah Istimewa Yogyakarta pada 18 Juni hingga 2 Juli 2026. Ajang dua tahunan ini diikuti oleh 185 peserta individu dan 20 kelompok dari 35 perguruan tinggi negeri maupun swasta di DIY yang berkompetisi dalam 15 tangkai lomba yang meliputi bidang seni, sastra, dan desain. Kegiatan ini menjadi momentum strategis untuk mempertemukan talenta-talenta seni terbaik mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di DIY sekaligus memperkuat ekosistem pembinaan prestasi seni mahasiswa menuju Pekan Seni Mahasiswa Nasional (PEKSIMINAS) XVIII Tahun 2026. Selain menjadi ajang kompetisi, PEKSIMIPROV juga menjadi ruang apresiasi, kolaborasi, dan pengembangan kreativitas mahasiswa melalui berbagai cabang seni. Wakil Rektor III Bidang Kemahasiswaan, Alumni, Informasi, dan Inovasi UKDW, Dr.
Parmonangan Manurung, S.T., M.T., IAI., menyampaikan apresiasi atas capaian yang diraih para mahasiswa. “Pencapaian yang diraih mahasiswa UKDW sangat membanggakan, di tengah persiapan yang mepet dan kesibukan mahasiswa, mereka dapat meraih prestasi luar biasa di Tingkat Provinsi DIY. Apresiasi untuk seluruh mahasiswa peserta PEKSIMIPROV XVIII, coach, serta Biro 3 yang mendampingi seluruh persiapan hingga lomba,” ujarnya. UKDW mengucapkan selamat kepada seluruh mahasiswa yang telah mengharumkan nama universitas dalam PEKSIMIPROV XVIII DIY 2026. Prestasi ini diharapkan menjadi inspirasi bagi civitas academica untuk terus berkarya, berinovasi, dan mengukir prestasi, sekaligus memperkuat komitmen UKDW dalam mencetak lulusan yang unggul, kreatif, dan berdampak bagi masyarakat. [mpk]
Nyanyian Syukur dari Jogja untuk Tanah Papua: Jejak Langkah di Pesparawi Nasional XIV
M
enjadi mahasiswa Universitas Kristen Duta Wacana (UKDW) bukan hanya tentang pencapaian akademik, tetapi juga tentang mengembangkan talenta dan mengambil kesempatan untuk berkarya. Rasa syukur dan bangga saya rasakan ketika mendapat kesempatan mewakili Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dalam Pesta Paduan Suara Gerejawi (Pesparawi) Nasional XIV di Manokwari, Papua Barat. Sebagai mahasiswa asal Biak, Papua, perjalanan ini terasa istimewa karena menjadi kesempatan untuk kembali bertemu keluarga dan saudara-saudara dari Papua. Perjuangan, Iman, dan Pencapaian di Kategori PSDC Pesparawi Nasional XIV diikuti sekitar 6.000 peserta dari berbagai provinsi. Kontingen DIY mengikuti enam kategori, salah satunya Paduan Suara Dewasa Campuran (PSDC), tempat saya dipercaya menjadi bagian dari section tenor. Sebagai peserta termuda dalam tim, saya merasakan tanggung jawab besar untuk memberikan yang terbaik. Di bawah arahan conductor Heribertus Hendri Istiawan, kami tidak hanya berlatih teknik vokal dan ketepatan nada, tetapi juga membangun kekuatan spiritual melalui doa dan ucapan syukur. Kerja keras dan kekompakan tim akhirnya membuahkan hasil. Puji Tuhan, PSDC DIY meraih Gold 6, atau peringkat keenam dari 27 peserta kategori PSDC.
hingga pengalungan noken menjadi simbol hangat bahwa kita semua telah diterima sebagai satu keluarga. Sebagai anak Papua, saya juga merasa terhormat dapat menyerahkan piring adat sebagai tanda selamat datang dan terima kasih kepada pelatih kami, Mas Hendri, serta rekan tim seperti Mas Nong dan Kak Cristine. Piring adat tersebut menjadi perlambang ungkapan syukur atas kebersamaan dan kesempatan berproses yang luar biasa ini.
Doc. Pribadi
Doc. Pribadi
Merawat Api Semangat PSM Duta Voice UKDW Sebagai Ketua Paduan Suara Mahasiswa (PSM) Duta Voice UKDW, dinamika dan pengalaman bertanding di Pesparawi ini menjadi bekal berharga yang ingin saya bagikan kepada teman-teman di kampus. Saya belajar bahwa proses melatih diri menjadi penyanyi yang dewasa dan berintegritas tidak lepas dari kesalahan dan perbaikan. Kebahagiaan saya makin lengkap karena di dalam tim PSDC DIY ini, saya berproses bersama para senior dan alumni PSM Duta Voice UKDW dari berbagai angkatan: Pak Adham (Angkatan 1998), Mbak Yotha (Angkatan 2004), Mas Adhi (Angkatan 2012), Mas Timo (Angkatan 2016), Kak Cristine (Angkatan 2017). Dari kalangan PPA UKDW
ikut bergabung pula Ibu Titi (PPA FK UKDW) yang memperkuat suara Alto di tim PSDC DIY ini. Melihat dedikasi mereka menjadi bukti nyata bahwa keluarga besar UKDW dan PSM Duta Voice memiliki kualitas, komitmen, serta integritas tinggi untuk bersaing di kancah paduan suara luar kampus. Semangat inilah yang ingin saya salurkan kepada rekanrekan di PSM Duta Voice: kita bisa dan mampu, asalkan kita berkomitmen pada pilihan kita! Kehangatan Adat dan Rasa Persaudaraan Momentum haru dan bahagia juga terasa ketika kami pertama kali menginjakkan kaki di tanah Papua. Penjemputan dengan tradisi menginjak piring adat, pengenaan mahkota,
Empati dan Harapan Menatap Masa Depan Di tengah euforia dan kebahagiaan ini, empati yang mendalam tetap kami panjatkan untuk saudara-saudari dari beberapa provinsi yang belum berkesempatan hadir—seperti Paduan Suara Wanita (PSW) Kepulauan Riau dan Paduan Suara Remaja Pemuda (PSRP) Jawa Tengah—akibat kendala teknis dan kelalaian pengurus Lembaga Pengembangan Pesparawi Daerah (LPPD) setempat. Kami merasakan kerinduan mereka untuk bersama-sama memuji nama Tuhan di panggung ini. Pesparawi Nasional XIV mengajarkan saya bahwa bernyanyi bukan sekadar tentang kompetisi, tetapi juga tentang persaudaraan, iman, dan rasa syukur. Menyongsong Pesparawi XV di Sulawesi Tengah pada 2029, saya berharap dapat kembali bernyanyi, bukan semata untuk meraih prestasi, tetapi untuk memuji dan memuliakan nama Tuhan. Soli Deo Gloria! [soter]
Universitaria VOL.20/ JUL 2026
Talking ASEAN and Regional Dialogue 2026 Digelar di UKDW, Bahas Kepemimpinan Perempuan dalam Tata Kelola Iklim dan Bencana
P
eran perempuan dalam memperkuat tata kelola iklim dan kebencanaan di kawasan ASEAN menjadi fokus pembahasan dalam 2nd Talking ASEAN and Regional Dialogue 2026 yang diselenggarakan di Universitas Kristen Duta Wacana (UKDW) Yogyakarta pada Rabu (29/07/2026). Forum ini mempertemukan akademisi, peneliti, praktisi, organisasi masyarakat sipil, dan para pemangku kepentingan untuk bertukar gagasan mengenai penguatan kebijakan yang lebih inklusif dan berkelanjutan dalam menghadapi tantangan perubahan iklim serta risiko bencana di kawasan ASEAN. Kegiatan yang diselenggarakan oleh The Habibie Center (THC) bekerja sama dengan Heinrich Böll Stiftung (HBS) Asia Tenggara serta Centre for Disaster Risk Management and Sustainable Development di bawah Lembaga Penelitian dan Pengabdian pada Masyarakat (LPPM) UKDW ini mengangkat tema Women's Leadership, Climate Justice, Disaster Governance, and ASEAN Centrality. Ketua LPPM UKDW, Dr. Freddy Marihot Rotua Nainggolan, S.T., M.T. dalam sambutannya menegaskan bahwa tantangan perubahan iklim dan bencana tidak dapat dihadapi oleh satu pihak saja. Perguruan tinggi, menurutnya, memiliki tanggung jawab untuk menjembatani ilmu pengetahuan dengan kebutuhan masyarakat melalui kolaborasi lintas sektor. "UKDW berkomitmen tidak hanya menjadi fokus pada pendidikan dan penelitian, tetapi juga membangun kolaborasi yang menghubungkan akademisi, pemerintah, dan masyarakat untuk memperkuat ketangguhan
menghadapi bencana," ujarnya. Forum ini menghadirkan sejumlah narasumber dari berbagai institusi, yaitu Rahmawati Husein, MCP, Ph.D., dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) sekaligus dosen Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Dr. Tamara Nair dari S. Rajaratnam School of International Studies (RSIS), Nanyang Technological University, Singapura, serta Debora Dian Utami Nugraheni, SIP., dari YAKKUM Emergency Unit. Diskusi dipandu oleh Julia Novrita, Ph.D., dari The Habibie Center. Pada sesi pembuka, Dr. Debbie Affianty, Associate Fellow at The Habibie Center, menekankan pentingnya menghubungkan pengetahuan lokal dengan kebijakan regional ASEAN. Ia menilai pengalaman masyarakat yang hidup di wilayah rawan bencana perlu menjadi bagian dari penyusunan kebijakan agar solusi yang dihasilkan lebih relevan dengan kebutuhan di lapangan. "Perempuan tidak boleh hanya dipandang sebagai kelompok yang rentan, tetapi juga sebagai pemimpin dan agen perubahan yang memiliki pengetahuan serta pengalaman penting dalam membangun ketangguhan komunitas," jelasnya. Sementara itu, Tamara mengingatkan bahwa tata kelola bencana tidak hanya bergantung pada sains, tetapi juga dipengaruhi oleh dinamika sosial, politik, dan budaya. "Ilmu pengetahuan sangat penting, tetapi tata kelola bencana juga merupakan persoalan sosial dan politik. Karena itu, pengelolaan risiko bencana perlu mempertimbangkan aspek sosial, politik, dan budaya secara
bersamaan," ujar Tamara Nair. Senada dengan hal tersebut, Rahmawati Husein menegaskan bahwa perguruan tinggi memiliki posisi strategis sebagai penghubung antara hasil riset, pemerintah daerah, dan masyarakat. Menurutnya, penguatan kapasitas masyarakat perlu diwujudkan melalui berbagai program mitigasi, pengurangan risiko bencana, hingga peningkatan ketangguhan desa. "Universitas harus mampu menjembatani pengetahuan dengan praktik sehingga kebijakan dapat diterapkan secara nyata di tingkat lokal," katanya. Dari perspektif organisasi kemanusiaan, Debora menyoroti pentingnya membangun kolaborasi yang dilandasi rasa saling percaya dan terciptanya ruang aman bagi semua pihak. Ia juga memperkenalkan Platform DIFGANDES (DIFAGANA Disaster Emergency Support), sebuah aplikasi tanggap darurat yang dirancang lebih inklusif bagi penyandang disabilitas dan dikembangkan bersama komunitas Difabel Siaga Bencana (Difagana). Diskusi turut diperkaya oleh masukan dari Dodi Kurniawan, perwakilan Difabel Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Ia mengingatkan bahwa penyandang disabilitas masih kerap dilibatkan sebatas objek penelitian dan belum sepenuhnya menjadi mitra dalam merancang solusi kebencanaan. "Kami tidak ingin hanya menjadi objek penelitian, tetapi menjadi bagian dari proses merancang solusi yang benar-benar inklusif," ujar Dodi. Selain menjadi ruang pertukaran gagasan, forum ini juga menjadi momentum untuk memperkuat kolaborasi antarlembaga. Dalam
Doc. Panitia
kesempatan tersebut, LPPM UKDW dan The Habibie Center menandatangani nota kesepahaman sebagai bentuk komitmen bersama dalam pengembangan penelitian, peningkatan kapasitas, serta pengkajian kebijakan terkait tata kelola iklim dan kebencanaan. Talking ASEAN and Regional Dialogue 2026 merupakan bagian dari rangkaian empat dialog regional yang diselenggarakan di Aceh, Yogyakarta, Makassar, dan Jakarta. Kepercayaan menjadi tuan rumah forum ini semakin mempertegas peran UKDW sebagai perguruan tinggi yang aktif membangun jejaring kolaborasi nasional dan regional, mengembangkan riset yang berdampak bagi masyarakat, serta mendorong lahirnya kebijakan yang lebih inklusif dan berkelanjutan dalam menghadapi tantangan perubahan iklim dan kebencanaan di Indonesia maupun kawasan ASEAN. [mpk]
UKDW Perkuat Kiprah Global melalui Higher Education Leadership Summit 2026 di Singapura
Doc. Pribadi
U
niversitas Kristen Duta Wacana (UKDW) Yogyakarta kembali memperkuat kiprahnya di tingkat internasional. Rektor UKDW, Dr.-Ing. Wiyatiningsih, S.T., M.T., dipercaya menjadi salah satu pimpinan perguruan tinggi di Asia yang membagikan pengalaman dalam pengembangan kepemimpinan dan strategi internasionalisasi pada Heads of Institution Higher Education Leadership Summit 2026. Forum yang diselenggarakan oleh United Board for Christian Higher Education in Asia bekerja sama dengan Singapore Management University (SMU) tersebut berlangsung pada 3–4 Juli 2026 di Singapura. Keikutsertaan Wiyatiningsih merupakan kelanjutan dari partisipasinya sebagai peserta Leadership Summit 2024. Pada pertemuan tahun ini, para alumni kembali diundang untuk mempresentasikan refleksi serta
capaian implementasi strategi kepemimpinan yang telah dijalankan di institusi masingmasing selama dua tahun terakhir. Dalam sesi berbagi pengalaman, Wiyatiningsih memaparkan strategi UKDW dalam memperkuat internasionalisasi sebagai bagian dari transformasi perguruan tinggi. Menurutnya, internasionalisasi bukan sekadar memperluas jejaring kerja sama dengan mitra luar negeri, tetapi juga membangun ekosistem akademik yang mendorong kolaborasi, pertukaran pengetahuan, inovasi, serta pembelajaran lintas budaya. “Saat ini perubahan dan ketidakpastian tidak bisa lagi hanya dipandang sebagai tantangan, namun justru menjadi peluang untuk keberlanjutan. Perguruan tinggi harus bertransformasi untuk dapat melewati berbagai rintangan dan mempertahankan eksistensinya. Salah satu strateginya adalah memperluas jejaring internasional untuk mengembangkan program dan dampak yang lebih luas,” jelas Wiyatiningsih. Komitmen tersebut diwujudkan melalui berbagai program internasional yang telah berjalan. Bersama The Hong Kong Polytechnic University, UKDW menyelenggarakan Kuliah Kerja Nyata (KKN) International Service Learning (ISL) yang memberikan pengalaman belajar lintas budaya sekaligus pengabdian kepada masyarakat bagi mahasiswa.
Kolaborasi kedua institusi juga berkembang melalui KKN Tematik STEM bertajuk Eye Care Program dan Electrical and Electronic Engineering (EEE) Program yang dilaksanakan pada tahun 2026. Selanjutnya, UKDW bersama United Board for Christian Higher Education in Asia juga melaksanakan hibah Designing Innovation in Inclusive Waste Management in Sedayu SubDistrict selama Januari 2024 hingga Desember 2025. Program tersebut menjadi salah satu wujud kolaborasi internasional yang menghasilkan dampak nyata bagi masyarakat. Selain itu, UKDW secara konsisten mengembangkan berbagai bentuk kerja sama internasional melalui program student exchange, professor exchange, joint research, joint course, dan summer camp. Berbagai inisiatif tersebut memberikan kesempatan bagi mahasiswa dan dosen untuk memperluas wawasan global, membangun jejaring internasional, serta meningkatkan kualitas pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. Pada kesempatan tersebut, UKDW juga memperkenalkan perkembangan institusi sebagai perguruan tinggi terakreditasi Unggul yang memiliki 7 fakultas dengan 17 program studi. UKDW terus memperkuat perannya melalui berbagai pusat kajian strategis, antara lain di bidang perdamaian, kebencanaan,
disabilitas dan desain inklusif, gerontologi, serta jamu dan pengobatan tradisional. Pembangunan Rumah Sakit Duta Wacana sebagai rumah sakit pendidikan juga menjadi bagian dari upaya meningkatkan kualitas pendidikan, penelitian, dan layanan kesehatan bagi masyarakat. Heads of Institution Higher Education Leadership Summit 2026 mempertemukan para rektor dan pimpinan perguruan tinggi Kristen dari berbagai negara di Asia untuk membahas transformasi kepemimpinan, inovasi pendidikan tinggi, serta penguatan kolaborasi antaruniversitas. Forum ini juga menjadi ruang untuk membangun jejaring strategis yang mendorong pengembangan pendidikan tinggi di kawasan Asia. Kepercayaan yang diberikan kepada Rektor UKDW untuk membagikan praktik baik dalam forum internasional tersebut semakin memperkuat posisi UKDW sebagai perguruan tinggi yang aktif membangun jejaring global. Melalui berbagai kolaborasi internasional yang berorientasi pada pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat, UKDW terus menghadirkan pendidikan tinggi yang berkualitas, adaptif terhadap perkembangan global, serta menghasilkan dampak nyata bagi masyarakat di tingkat nasional maupun internasional. [mpk]
UKDW Perkuat Kemitraan dengan Gereja Kristen Sumba dan Pemkab Sumba Barat
U
niversitas Kristen Duta Wacana (UKDW) Yogyakarta memperkuat kemitraannya dengan Gereja Kristen Sumba (GKS) dan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sumba Barat melalui rangkaian pertemuan dalam Sidang Sinode ke-64 GKS pada awal Juli. Kunjungan ini membuka peluang kolaborasi di bidang pendidikan tinggi, pelestarian budaya, riset, dan pengembangan sumber daya manusia. Hubungan UKDW dengan GKS telah terjalin sejak berdirinya Sekolah Tinggi Theologia Duta Wacana yang kemudian berkembang menjadi UKDW. Sebagai salah satu gereja pendukung, GKS menjadi mitra strategis yang terus menjalin kerja sama dalam pendidikan, pelayanan, dan pengabdian kepada masyarakat. Dalam Sidang Sinode, Rektor UKDW, Dr.-
Ing. Wiyatiningsih, S.T., M.T., memperkenalkan berbagai perkembangan universitas sekaligus mengajak keluarga besar GKS memperkuat kolaborasi. Menurutnya, UKDW memiliki beragam bidang keilmuan, mulai dari teologi, arsitektur dan desain, bisnis, bioteknologi, teknologi informasi, kedokteran, hingga pendidikan dan humaniora yang dapat mendukung pembangunan masyarakat di Sumba. UKDW juga menawarkan berbagai skema beasiswa bagi warga GKS sebagai upaya memperluas akses pendidikan tinggi dan menyiapkan sumber daya manusia yang mampu berkontribusi bagi daerah asalnya. Dalam rangkaian kunjungan tersebut, Rektor UKDW juga bertemu dengan Kepala Dinas Perumahan Rakyat, Kawasan Permukiman dan Pertanahan Kabupaten
Sumba Barat, Soviyan Kolowo, S.T., untuk membahas peluang kerja sama dalam penyusunan kajian akademik bagi Rancangan Peraturan Daerah tentang penataan dan pelestarian rumah adat serta kampung adat berbasis kearifan lokal. Potensi kolaborasi tersebut sejalan dengan kompetensi UKDW, khususnya di bidang arsitektur, perencanaan kawasan, dan pengembangan masyarakat berbasis budaya. Dampak pendidikan UKDW juga tercermin melalui kiprah alumninya, Charles U. D. Kadiwano, S.T., M.Ars., yang kini bertugas di Dinas Perumahan Rakyat, Kawasan Permukiman dan Pertanahan Kabupaten Sumba Barat. "Ilmu yang saya peroleh di Magister Arsitektur UKDW menjadi dasar dalam penyusunan konsep Peraturan Daerah tentang
penataan dan pelestarian arsitektur rumah adat serta kampung adat di Kabupaten Sumba Barat," ujar Charles. Ia menilai pendekatan akademik yang diperoleh selama menempuh studi di UKDW memberikan landasan yang kuat dalam mengintegrasikan aspek pelestarian budaya dengan kebutuhan pembangunan daerah. Menutup rangkaian kunjungan, Rektor UKDW menyampaikan harapan agar kerja sama dengan GKS dan Pemkab Sumba Barat terus berkembang melalui pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. Sinergi ini menjadi bagian dari komitmen UKDW untuk menghadirkan pendidikan tinggi yang berdampak sekaligus mendukung pelestarian budaya dan pembangunan berkelanjutan di Indonesia. [mpk]
Universitaria VOL.20/ JUL 2026
UKDW Jadi Tuan Rumah Kongres BK-PTKI 2026, Bahas Transformasi Perguruan Tinggi Kristen
Doc. Panitia
Doc. Panitia
Doc. Panitia
Doc. Panitia
niversitas Kristen Duta Wacana (UKDW) Yogyakarta menjadi tuan rumah Kongres Nasional Badan Kerja Sama Perguruan Tinggi Kristen di Indonesia (BK-PTKI) 2026 yang diikuti 112 peserta dari 24 perguruan tinggi Kristen di Indonesia pada 16-17 Juli 2026. Mengusung tema "Menjawab Zaman, Menghidupi Panggilan: Transformasi Perguruan Tinggi Kristen untuk Masa Depan", kongres ini menjadi forum strategis untuk memperkuat kolaborasi sekaligus merumuskan arah transformasi pendidikan tinggi Kristen di tengah perubahan global. Rektor UKDW, Dr.-Ing. Wiyatiningsih, S.T., M.T., mengatakan penyelenggaraan kongres mencerminkan komitmen UKDW dalam membangun jejaring antar kampus untuk menghadapi tantangan pendidikan tinggi melalui kolaborasi, inovasi, dan penguatan mutu. "Selama dua hari, kita akan berefleksi, berdiskusi, saling berbagi pengalaman, saling
menopang, dan membangun kolaborasi untuk mentransformasikan tantangan menjadi peluang," ujarnya. Semangat kolaborasi tersebut juga diwujudkan melalui penyelenggaraan Festival Jamu Nusantara 2026 yang berlangsung bersamaan dengan kongres. Melalui Fakultas Bioteknologi dan Fakultas Kedokteran, UKDW menampilkan berbagai inovasi herbal berbasis riset yang mempertemukan akademisi, industri, pemerintah, dan masyarakat. UKDW juga membagikan tumbler bermotif ecoprint karya dosen sebagai wujud komitmen terhadap kreativitas dan keberlanjutan. Ketua BK-PTKI, Prof. Dr. Ir. Djwantoro Hardjito, M.Eng., menyebut kongres menjadi momentum menyelaraskan langkah perguruan tinggi Kristen agar tetap relevan menghadapi perubahan zaman. Ia berharap forum ini menghasilkan kolaborasi dan tindak lanjut yang berdampak nyata. Dalam berbagai sesi diskusi, para
narasumber menekankan bahwa transformasi perguruan tinggi harus dilakukan secara menyeluruh melalui peningkatan kualitas akademik, penguatan riset, tata kelola yang adaptif, serta pemanfaatan kecerdasan artifisial (Artificial Intelligence/AI). Ketua Umum Majelis Pendidikan Kristen (MPK) Indonesia, Handi Irawan Djuwadi, MBA., M.Com., menilai perguruan tinggi Kristen memiliki peluang besar untuk berkembang, namun perlu memperkuat daya saing melalui kualitas pendidikan, kolaborasi, dan inovasi. Nilai compassion, collaboration, dan creativity, menurutnya, menjadi fondasi penting dalam membangun kampus yang berkelanjutan. Sementara itu, Vice Rector for Student Affairs Binus University, Prof. Dr. Ir. Yohannes Kurniawan, S.Kom., S.E., MMSI., menegaskan perguruan tinggi perlu bertransformasi dari teaching university menjadi innovation university dengan
memperkuat pembelajaran berpusat pada mahasiswa, transformasi digital, kemitraan industri, serta riset dan inovasi. Pembahasan mengenai masa depan pendidikan tinggi diperkuat oleh Komisaris PT Metrodata Electronics Tbk, Dr. Ir. Antonius Tanan, M.B.A., M.Sc., M.A., dan CEO Askedian Consulting, Deddi Tedjakumara, Ph.D. Keduanya menekankan pentingnya memanfaatkan AI secara bijak, memperkuat pembelajaran berbasis pengalaman, serta membangun lulusan yang adaptif, berpikir kritis, dan memiliki integritas. Melalui penyelenggaraan kongres ini, UKDW berharap jejaring antarpenguruan tinggi Kristen semakin erat sehingga mampu melahirkan berbagai kolaborasi yang memberikan dampak nyata bagi pengembangan pendidikan tinggi dan masyarakat. [mpk]
U
UKDW Gelar Festival Jamu Nusantara 2026, Perkuat Inovasi Herbal Berbasis Riset menuju Pasar Global
U
niversitas Kristen Duta Wacana (UKDW) Yogyakarta menggelar Festival Jamu Nusantara 2026 pada 16–17 Juli 2026 sebagai bagian dari rangkaian Dies Natalis ke-64 Duta Wacana. Mengusung tema From Nature to Future: Connecting People through Herbal Innovation, festival ini menjadi ruang kolaborasi yang mempertemukan akademisi, industri, pemerintah, pelaku usaha, dan masyarakat untuk memperkuat riset, inovasi, dan hilirisasi jamu Indonesia agar semakin berdaya saing di pasar global. Pembukaan festival dilakukan oleh Rektor UKDW, Dr.-Ing. Wiyatiningsih, S.T., M.T., yang ditandai dengan pemukulan gong dan minum jamu bersama sebagai simbol komitmen melestarikan sekaligus mengembangkan jamu Indonesia melalui kolaborasi dan penguatan bukti ilmiah. Dalam sambutannya, Rektor menegaskan bahwa UKDW terus membuka peluang kolaborasi lintas sektor dalam bidang pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. Menurutnya, pengembangan jamu menjadi salah satu fokus UKDW melalui sinergi lintas disiplin, khususnya antara Fakultas Kedokteran dan Fakultas Bioteknologi, untuk menghasilkan inovasi herbal yang memiliki dasar ilmiah kuat dan mampu bersaing di tingkat internasional. Ketua Dies Natalis ke-64 Duta Wacana, Dr. Aniek Prasetyaningsing, M.Si., mengatakan Festival Jamu Nusantara merupakan wujud komitmen UKDW dalam mengembangkan jamu sebagai kekayaan bangsa yang memiliki potensi besar di bidang kesehatan, penelitian, dan kewirausahaan. "Festival Jamu ini bukan sekadar rangkaian Dies Natalis, tetapi menjadi bentuk keseriusan UKDW dalam mengembangkan jamu sebagai kekayaan bangsa. Kami ingin menghadirkan ruang yang mempertemukan akademisi, industri, pelaku usaha, dan masyarakat untuk bersama-sama mengembangkan inovasi jamu Indonesia," ujarnya. Selama dua hari penyelenggaraan, Festival Jamu Nusantara menghadirkan Expo Jamu, seminar nasional, workshop inovasi herbal, peluncuran Pojok Jamu dan Taman Jamu, serta berbagai kompetisi kreatif bagi mahasiswa, pelajar, dan masyarakat. Expo Jamu menghadirkan 45 stan dari
Doc. Panitia
Doc. Panitia
Doc. Panitia
Doc. Panitia
Doc. Panitia
Doc. Panitia
industri jamu, Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), kelompok wanita tani (KWT), komunitas, serta pelaku usaha herbal dari berbagai daerah. Selain menjadi ajang promosi produk herbal, pameran ini
membuka peluang kolaborasi antara dunia usaha, akademisi, peneliti, dan pemerintah. Sivitas akademika UKDW juga menampilkan hasil riset berupa produk herbal, pangan fungsional, dan inovasi berbasis kekayaan
Doc. Panitia
hayati Indonesia sebagai bentuk hilirisasi penelitian. Fakultas Kedokteran UKDW turut membuka layanan pemeriksaan kesehatan dan edukasi mengenai pemanfaatan jamu berdasarkan bukti ilmiah. Seminar nasional menghadirkan Prof. Dr. dr. Nyoman Kertia, Sp.PD-KR., FINASIM., Ketua Dewan Jamu DIY, yang membahas pentingnya saintifikasi jamu agar semakin diterima sebagai produk kesehatan berbasis bukti. Pada hari kedua, Dr. (H.C.) Irwan Hidayat, Direktur Utama PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk., berbagi pengalaman mengenai strategi hilirisasi, standardisasi mutu, dan pengembangan jamu menuju pasar global. Festival ini juga menghadirkan sejumlah workshop interaktif yang memperkenalkan berbagai inovasi pengolahan jamu, antara lain pembuatan minuman herbal segar bersama CV Jengratu Indonesia, pembuatan jamu serbuk, sabun herbal, es krim jamu, serta permen (gummy) jamu bersama PT Naturindo Fresh, dan pembuatan Jamu Gen Z bersama Jogja Husada Sehat. Melalui kegiatan ini, peserta memperoleh pengalaman langsung mengolah tanaman obat menjadi produk yang inovatif dan bernilai tambah. Sebagai bentuk komitmen jangka panjang, UKDW juga meluncurkan Pojok Jamu dan Taman Jamu yang akan menjadi ruang edukasi, penelitian, serta kolaborasi dalam pengembangan herbal berbasis riset. Festival semakin semarak dengan Lomba Video Mahasiswa UKDW, Lomba Infografis bagi siswa SMA, dan Lomba Photo Booth yang bertujuan mengenalkan jamu kepada generasi muda melalui pendekatan yang kreatif dan relevan. Menurut Dr. Aniek, meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap gaya hidup sehat menjadi peluang besar untuk mengembangkan jamu sebagai warisan budaya sekaligus produk kesehatan berbasis ilmu pengetahuan. Melalui Festival Jamu Nusantara 2026, UKDW menegaskan komitmennya untuk memperkuat kolaborasi antara perguruan tinggi, industri, pemerintah, dan masyarakat dalam mengembangkan inovasi herbal berbasis riset. Sinergi tersebut diharapkan mampu menghasilkan produk jamu yang aman, bermutu, dan berdaya saing di pasar nasional maupun global. [mpk]
7
Fakultas & Prodi VOL.20/ JUL 2026
FK UKDW Gelar International Summer Course 2026, Perkuat Kolaborasi Lintas Profesi dalam Perawatan Lansia
doc.BiroIV
F
akultas Kedokteran Universitas Kristen Duta Wacana (FK UKDW) Yogyakarta kembali menegaskan komitmennya dalam menghadirkan pendidikan kesehatan bertaraf internasional melalui International Summer Course 2026 bertema Comprehensive Care in Geriatrics: An Interprofessional Approach. Program yang berlangsung pada 13–31 Juli 2026 ini diikuti 54 mahasiswa dari lima perguruan tinggi, yakni Utah Valley University (Amerika Serikat), The Hong Kong Polytechnic University, Universitas Sanata Dharma, Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (STIKES) Panti Rapih Yogyakarta, dan FK UKDW. Program ini mengangkat isu perawatan lanjut usia (lansia) dengan tujuan membangun
kompetensi kolaborasi antartenaga kesehatan sejak masa pendidikan. Peserta berasal dari berbagai disiplin ilmu, meliputi kedokteran, keperawatan, farmasi, gizi, terapi okupasi, dan pekerja sosial. Melalui pembelajaran bersama, mereka diajak memahami peran setiap profesi dalam memberikan pelayanan kesehatan yang berpusat pada pasien. Pelaksanaan program juga didukung oleh Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma, STIKES Panti Rapih Yogyakarta, dan STIKES Bethesda Yakkum. Selama dua pekan pertama, peserta mengikuti pembelajaran daring melalui Microsoft Teams. Materi yang dipelajari mencakup proses penuaan, perubahan biologis dan psikososial pada lansia, sindrom geriatri, kolaborasi interprofesi, polifarmasi, penyakit kronis, gizi, sarkopenia, hingga perawatan paliatif. Setiap sesi diperkaya dengan diskusi kasus dan tugas mandiri sebagai bekal sebelum mengikuti praktik lapangan. Pembelajaran kemudian berlanjut di Yogyakarta melalui berbagai kegiatan praktik yang menekankan kerja sama lintas profesi. Pada sesi Comprehensive Geriatric Assessment (CGA), peserta terlebih dahulu menyaksikan demonstrasi asesmen oleh fasilitator dari bidang terapi okupasi sebelum dibagi ke dalam enam kelompok interprofesi. Setiap kelompok melakukan asesmen komprehensif terhadap pasien simulasi menggunakan berbagai instrumen geriatri untuk menilai kondisi fisik, kognitif, psikologis, serta tingkat kemandirian lansia. Hasil asesmen tersebut kemudian menjadi dasar penyusunan rencana perawatan
secara kolaboratif. Pengalaman belajar tidak berhenti di ruang kelas. Peserta juga menerapkan pengetahuan yang diperoleh melalui community visit ke rumah-rumah lansia di Yogyakarta. Dalam kegiatan ini, mereka menilai kondisi medis, kemampuan fungsional, status kognitif, kondisi psikologis, status gizi, hingga lingkungan tempat tinggal lansia. Seluruh hasil asesmen menjadi dasar penyusunan rencana perawatan yang berpusat pada kebutuhan pasien, sekaligus memberikan pengalaman nyata mengenai pentingnya komunikasi dan kolaborasi antartenaga kesehatan dalam praktik pelayanan. Selain memperkuat kompetensi akademik, International Summer Course 2026 juga menjadi wadah pertukaran budaya. Para peserta diajak mengenal kekayaan budaya Yogyakarta melalui kunjungan ke Tamansari, Museum Sonobudoyo, Museum Ku Gerabah, dan kawasan Malioboro. Kegiatan ini tidak hanya memperkaya pengalaman belajar, tetapi juga mempererat jejaring internasional di antara mahasiswa dari berbagai negara dan latar belakang profesi. Rangkaian kegiatan ditutup pada 31 Juli 2026 dengan presentasi laporan kasus dari enam kelompok interprofesi yang dilanjutkan diskusi bersama para dosen. Penutupan program dilakukan secara resmi oleh Rektor UKDW, Dr.Ing. Wiyatiningsih, S.T., M.T. Dekan FK UKDW, dr. The Maria Meiwati Widagdo, Ph.D., mengatakan bahwa pembelajaran interprofesi seperti International Summer Course menjadi sarana penting untuk
memperluas wawasan mahasiswa dalam memahami asesmen geriatri dari berbagai perspektif profesi kesehatan. "Pembicaraan mengenai pentingnya kolaborasi interprofesi ini sebenarnya sudah berlangsung sejak beberapa waktu lalu. International Summer Course 2026 menjadi salah satu wujud nyata dari upaya tersebut," ujarnya. Antusiasme juga disampaikan para peserta. Mereka mengaku rangkaian kegiatan yang diikuti tidak hanya memberikan pengalaman belajar yang menyenangkan, tetapi juga memperluas pemahaman mengenai pelayanan geriatri serta tantangan perawatan lansia di Indonesia. Sementara itu, Dr.-Ing. Wiyatiningsih, S.T., M.T., berharap kolaborasi internasional seperti ini dapat terus berlanjut dan memberikan manfaat yang semakin luas. "Kolaborasi baik seperti ini kami harapkan dapat berjalan secara berkelanjutan karena dampak positifnya benar-benar dirasakan," tuturnya. Melalui International Summer Course 2026, Fakultas Kedokteran UKDW terus memperkuat perannya sebagai institusi pendidikan kesehatan yang mendorong kolaborasi lintas profesi dan jejaring internasional. Program ini menjadi bagian dari komitmen UKDW dalam menyiapkan tenaga kesehatan yang kompeten, adaptif, dan mampu menghadapi tantangan meningkatnya populasi lansia, baik di Indonesia maupun di tingkat global. [cika]
UKDW Jadi Co-Host Konferensi Internasional Digital Humanities, Perkuat Kolaborasi Global di Bidang AI dan Etika Digital
U
niversitas Kristen Duta Wacana (UKDW) menjadi co-host Konferensi Internasional Digital Humanities (ICDH) ke-5 bersama Institut Teknologi Bandung (ITB) pada Sabtu (18/7/2026). K e t e rl i b a t a n i n i m e m p e rku a t j e j a ri n g akademik internasional sekaligus menegaskan komitmen UKDW dalam pengembangan digital humanities, kecerdasan artifisial (Artificial Intelligence/AI), dan etika digital. Mengusung tema AI, Digital Ethics, and the Future of Geotourism, konferensi ini diikuti akademisi, peneliti, dan praktisi dari hampir 30 negara. Berbagai sesi membahas pemanfaatan AI yang berlandaskan etika, pelestarian budaya, serta pembangunan berkelanjutan. Sebagai co-host, UKDW berperan dalam
penyelenggaraan konferensi sekaligus berkontribusi melalui partisipasi akademik dosen Program Studi Studi Humanitas yang mempresentasikan hasil riset mereka. Keterlibatan ini juga menjadi awal penguatan kerja sama antara Prodi Studi Humanitas UKDW dan Program Magister Teknokultur ITB melalui berbagai agenda akademik yang akan dikembangkan pada tahun mendatang. Konferensi menghadirkan Gubernur Bali, Dr. Ir. I Wayan Koster, M.M., dan Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Barat, Dr. Drs. Herman Suryatman, M.Si., sebagai pembicara utama. I Wayan Koster menekankan pentingnya digital humanities dalam mendukung pelestarian budaya dan keberlanjutan lingkungan, sedangkan Herman Suryatman mengingatkan bahwa transformasi digital harus tetap
berpusat pada manusia. "Teknologi adalah alat, manusia adalah pusat, dan kesejahteraan adalah tujuan," ujarnya. Dalam sambutannya, Rektor UKDW, Dr.Ing. Wiyatiningsih, S.T., M.T., menyampaikan bahwa kolaborasi dengan ITB didasari kesamaan komitmen untuk mengembangkan digital humanities sebagai respons akademik terhadap tantangan di era transformasi digital. Senada dengan itu, Rektor ITB, Prof. Dr. Ir. Tatacipta Dirgantara, M.T., menegaskan pentingnya pengembangan teknologi yang mampu memberikan dampak sosial bagi masyarakat. Kontribusi UKDW juga terlihat melalui keikutsertaan empat dosen Prodi Studi Humanitas sebagai pemakalah dalam sesi panel. Partisipasi tersebut mencerminkan
kiprah akademisi UKDW dalam menghasilkan riset yang berkontribusi pada pengembangan digital humanities di tingkat nasional maupun internasional. Dekan Fakultas Kependidikan dan Humaniora (FKHUM) UKDW, Raden Bima Adi, S.Si., M.Th., M.A., Ph.D., mengatakan bahwa keterlibatan UKDW sebagai co-host merupakan langkah strategis untuk memperluas kolaborasi di bidang pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. Melalui kemitraan ini, UKDW berharap dapat memperkuat jejaring riset, meningkatkan kualitas pembelajaran, serta menghadirkan inovasi yang memberi manfaat bagi masyarakat. [hendra]
Mahasiswa PBI UKDW Presentasikan Riset Artificial Intelligence di Konferensi Internasional iTELL 2026
T
iga mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris (PBI) Universitas Kristen Duta Wacana (UKDW) Yogyakarta, Yosafat Febby Aleno Yahya, Ester Nurhana Kusumawati, dan Kezia Kharen Sunarinto, mempresentasikan hasil penelitian tentang pemanfaatan Artificial Intelligence (AI) dalam pendidikan pada iTELL Conference 2026 di Singaraja, Bali, 16–17 Juli 2026. Konferensi internasional yang diselenggarakan oleh Indonesia TechnologyEnhanced Language Learning (iTELL) bekerja sama dengan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja tersebut mengusung tema Empowering Language Learners in Multicultural Contexts: Trends in Technology and Pedagogy. Forum ini mempertemukan akademisi, peneliti, pendidik, dan praktisi untuk membahas perkembangan teknologi dan pedagogi dalam pembelajaran bahasa.
Dalam konferensi tersebut, ketiga mahasiswa PBI UKDW mempresentasikan penelitian berjudul Higher Education Students' Beliefs and Intentions to Use Artificial Intelligence pada sesi paralel. Penelitian yang dilakukan di bawah bimbingan Dr. Paulus Widiatmoko, M.A. ini mengkaji keyakinan dan intensi mahasiswa perguruan tinggi dalam memanfaatkan AI untuk mendukung aktivitas akademik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa AI telah digunakan mahasiswa dalam proses belajar, antara lain untuk membantu mengembangkan ide dan mencari referensi awal. Namun, pemanfaatan AI perlu dilakukan secara etis dan bertanggung jawab agar tetap mendukung kemampuan berpikir kritis serta menjaga integritas akademik. Selain mempresentasikan hasil penelitian, ketiga mahasiswa PBI UKDW mengikuti berbagai kegiatan ilmiah dalam konferensi, seperti keynote lectures, workshop, dan sesi
paralel. Berbagai sesi tersebut membahas perkembangan teknologi digital, AI, serta inovasi pedagogi dalam pembelajaran bahasa di tengah masyarakat yang semakin multikultural. Keikutsertaan dalam konferensi internasional ini menjadi kesempatan bagi mahasiswa untuk memperluas wawasan akademik sekaligus membangun jejaring dengan peneliti dan pendidik dari berbagai institusi. Diskusi selama konferensi juga memberikan perspektif baru mengenai pemanfaatan teknologi dalam pembelajaran bahasa, pengembangan penelitian, serta tantangan pendidikan di era transformasi digital. Yosafat mengatakan bahwa kesempatan mempresentasikan hasil penelitian dalam forum internasional menjadi pengalaman berharga dalam perjalanan akademiknya. “Kesempatan untuk mempresentasikan hasil penelitian kami dalam forum akademis ini merupakan pengalaman yang sangat berharga.
Kami belajar bahwa perkembangan AI bukan untuk menggantikan peran pendidik, tetapi untuk mendukung proses pembelajaran melalui pendekatan AI-assisted language learning. Pengalaman ini semakin memotivasi kami untuk terus mengembangkan penelitian yang bermanfaat bagi dunia pendidikan,” ujar Yosafat. Partisipasi mahasiswa PBI UKDW dalam iTELL Conference 2026 menjadi bagian dari upaya PBI UKDW untuk mendorong keterlibatan mahasiswa dalam kegiatan penelitian dan forum akademik internasional. Pengalaman tersebut sekaligus memperkuat kesempatan mahasiswa untuk mengembangkan kompetensi akademik, memperluas jejaring, serta memahami pemanfaatan teknologi secara kritis dan bertanggung jawab dalam pembelajaran bahasa. [yahya]
8
Fakultas & Prodi VOL.20/ JUL 2026
UKDW Jadi Tuan Rumah Mini Symposium Art, Ecology, and Climate Futures
U
niversitas Kristen Duta Wacana (UKDW) menjadi tuan rumah Mini Symposium Art, Ecology, and Climate Futures yang merupakan bagian dari rangkaian Climate Futures Incubator (CFI) 2026 pada Rabu (29/7/2026). Kegiatan ini mempertemukan akademisi, seniman, peneliti, mahasiswa, dan komunitas untuk mendiskusikan peran seni, budaya, dan ilmu pengetahuan dalam menghadapi krisis iklim. Simposium juga ditandai dengan penandatanganan kerja sama antara CFI, House of Natural Fiber (HONF), dan UKDW. Kolaborasi tersebut menjadi langkah awal untuk memperkuat sinergi dalam riset, pendidikan, dan praktik kreatif yang berorientasi pada keberlanjutan. Dosen Program Studi Desain Produk UKDW, Dr. Sn. R. Tosan Tri Putro, menjelaskan bahwa simposium merupakan puncak dari proses pendampingan selama satu bulan dalam program CFI. Menurutnya, program ini tidak hanya menghadirkan ruang diskusi, tetapi juga mendorong kolaborasi lintas disiplin untuk melahirkan solusi kreatif terhadap tantangan perubahan iklim. "Harapannya, seni, riset, dan komunitas dapat bersama-sama menghasilkan gagasan dan inovasi yang berdampak bagi masa depan," ujarnya.
doc.Panitia
Dalam pidato kunci bertajuk Creative Climate Futures: Arts, Community, and Collective Action, Koordinator CFI sekaligus Director Ecoimagine, Dr. Michael Chew, menegaskan bahwa perubahan iklim bukan hanya persoalan sains, tetapi juga persoalan pengalaman manusia. Menurutnya, masyarakat akan lebih mudah memahami isu iklim melalui cerita, pengalaman, dan keterlibatan langsung dibandingkan sekadar data ilmiah.
Chew juga mengingatkan bahwa krisis iklim telah menjadi realitas yang dihadapi seharihari. Ia menyoroti ketimpangan emisi karbon antara negara maju dan berkembang serta pentingnya kolaborasi lintas bidang untuk mencari solusi yang lebih berkelanjutan. Perspektif lokal turut disampaikan oleh Dr. Tosan melalui pemaparannya mengenai filosofi Jawa sebagai landasan etika menjaga lingkungan. Ia menjelaskan bahwa nilai-nilai seperti Hamemayu Hayuning Bawana dan
Pranata Mangsa menunjukkan bahwa masyarakat Indonesia telah lama memiliki kearifan lokal dalam membangun hubungan yang selaras dengan alam. Sementara itu, seniman Paul M. Fauzul Kiram menilai bahwa perubahan iklim juga merupakan krisis imajinasi sehingga seni memiliki peran penting dalam membangun cara pandang baru mengenai relasi manusia dengan alam. Pandangan tersebut diperkuat oleh seniman Arahmaiani yang membagikan pengalaman praktik seni berbasis masyarakat sebagai media kolaborasi untuk mendorong pelestarian lingkungan dan perubahan sosial. Melalui penyelenggaraan Mini Symposium Art, Ecology, and Climate Futures, UKDW kembali menegaskan komitmennya sebagai ruang kolaborasi lintas disiplin yang mempertemukan ilmu pengetahuan, seni, budaya, dan masyarakat. Kemitraan dengan CFI dan HONF diharapkan melahirkan riset, inovasi, serta proyek kreatif yang mendukung pembangunan berkelanjutan. [mpk]
Despro UKDW Perkuat Pembelajaran Kolaboratif melalui Workshop Kite Aerial Photography
U
niversitas Kristen Duta Wacana (UKDW) Yogyakarta terus menghadirkan pembelajaran yang inovatif melalui kolaborasi dengan komunitas dan industri kreatif. Komitmen tersebut diwujudkan melalui Pameran dan Workshop Kite Aerial Photography (KAP) yang menjadi bagian dari rangkaian Road to Jogja International Kite Festival (JIKF) 2026, pada 7–9 Juli 2026. Kegiatan ini merupakan hasil kolaborasi UKDW dengan Angkasa Satu selaku penyelenggara JIKF 2026, didukung Kementerian Pariwisata dan Dinas Pariwisata Daerah Istimewa Yogyakarta. Kerja sama tersebut ditandai dengan penandatanganan nota kerja sama antara UKDW dan Angkasa Satu serta Memorandum of Agreement (MoA) bersama Fakultas Arsitektur dan Desain (FAD) UKDW sebagai upaya memperkuat
sinergi di bidang pendidikan, kreativitas, dan pengabdian kepada masyarakat. Kolaborasi ini juga diintegrasikan ke dalam proses pembelajaran. Program Studi (Prodi) Desain Produk (Despro) UKDW bersama komunitas Angkasa Satu mengembangkan materi pada mata kuliah Desain Dasar dengan memanfaatkan layang-layang sebagai media eksplorasi desain. Berbagai karya mahasiswa hasil pembelajaran tersebut dipamerkan selama kegiatan berlangsung. Wakil Rektor I UKDW, Dr. Rosa Delima, S.Kom., M.Kom., mengatakan bahwa kolaborasi dengan komunitas dan praktisi menjadi bagian dari upaya UKDW menghadirkan pengalaman belajar yang relevan dengan perkembangan industri kreatif. "Kami sangat mengapresiasi kegiatan ini karena memberikan pengetahuan baru bagi
mahasiswa. Harapannya, teknik ini dapat memperkaya kreativitas mahasiswa dan mendorong lahirnya karya-karya yang unik serta inovatif," ujarnya. Kite Aerial Photography merupakan teknik fotografi udara menggunakan kamera yang dipasang pada layang-layang. Berbeda dengan drone, teknik ini memanfaatkan kekuatan angin sehingga menjadi alternatif fotografi udara yang kreatif, edukatif, dan ramah lingkungan. Workshop menghadirkan Dr. Ir. Martinus S.T., M.Sc., peneliti Auto Kite Aerial Photography, serta Ir. Anshori Djausal, M.T., praktisi dan pengembang teknik tersebut di Indonesia. Peserta memperoleh materi mengenai sejarah, teknik, hingga praktik pengambilan foto udara menggunakan layanglayang. Kegiatan ini juga melibatkan UKM Duta
Wacana Photography (DWPh) dan mahasiswa Prodi Despro UKDW yang berperan aktif dalam perancangan karya, penyelenggaraan pameran, hingga pelaksanaan workshop sebagai bagian dari pembelajaran berbasis proyek (project-based learning). Selain diikuti mahasiswa dan masyarakat umum, workshop turut dihadiri pelayang dari berbagai negara. Melalui kegiatan ini, UKDW kembali menegaskan komitmennya dalam menghadirkan pembelajaran kolaboratif yang menghubungkan dunia akademik dengan komunitas dan industri. Sinergi tersebut membuka ruang bagi mahasiswa untuk mengembangkan kreativitas, memperluas jejaring, serta menghasilkan karya yang relevan dengan perkembangan seni, desain, dan teknologi. [mpk]
Fakultas Bioteknologi UKDW Perkuat Kolaborasi Jaga Kelestarian Sungai Juwana melalui BIOTILIK Challenge
F
akultas Bioteknologi Universitas Kristen Duta Wacana (UKDW) Yogyakarta memperkuat komitmennya dalam pelestarian lingkungan melalui Festival Kali Juwana ke-7 yang berlangsung pada 27 Juli–17 Agustus 2026. Bersama Yayasan Yekti Angudi Piadeging Hukum Indonesia (YAPHI) dan Jaringan Masyarakat Peduli Sungai Juwana (Jampisawan), Fakultas Bioteknologi UKDW mengembangkan pendekatan citizen science dengan melibatkan masyarakat dalam pemantauan kualitas air Sungai Juwana melalui BIOTILIK Challenge. Kolaborasi ini menjadi bagian dari peran UKDW dalam menghadirkan solusi berbasis ilmu pengetahuan terhadap persoalan lingkungan. Mengusung tema "Ekologi Sungai Waras, Kebudayaan Masyarakat Waras", Festival Kali Juwana mengajak masyarakat memahami bahwa kesehatan sungai berkaitan erat dengan kualitas hidup, kesehatan, dan keberlanjutan lingkungan. Rangkaian festival diawali dengan Rembug Kali Juwana: Dialog Ekoteologi Lintas Iman yang mempertemukan pemerintah daerah, akademisi, tokoh lintas agama, komunitas, masyarakat, dan pelajar untuk membahas pentingnya kolaborasi dalam menjaga Sungai Juwana.
Dalam forum tersebut, Dr. Djoko Rahardjo, M.Kes., dosen Fakultas Bioteknologi UKDW, menegaskan bahwa pelestarian sungai membutuhkan keterlibatan semua pihak. "Perlindungan sungai tidak dapat dilakukan oleh satu pihak saja. Kolaborasi antara pemerintah, perguruan tinggi, komunitas, dan masyarakat menjadi kunci untuk menjaga kualitas sungai secara berkelanjutan," ujar Dr. Djoko Rahardjo. Pada kesempatan yang sama dilakukan penandatanganan Piagam Kolaborasi oleh Plt. Bupati Pati, Yayasan YAPHI, Fakultas Bioteknologi UKDW, Jampisawan, Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kabupaten Pati, dan Kementerian Agama Kabupaten Pati sebagai komitmen bersama untuk menjaga kelestarian Sungai Juwana. Komitmen tersebut diwujudkan melalui BIOTILIK Challenge, sebuah program edukasi dan praktik pemantauan kualitas air yang melibatkan siswa SMA, guru, masyarakat di sepanjang Sungai Juwana, serta mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Gadjah Mada (UGM). Peserta mendapatkan pembekalan mengenai biomonitoring, teknik pengambilan sampel, identifikasi makroinvertebrata bentos, hingga praktik analisis kualitas air yang dipandu oleh Arnes
Puji Lestari dan Arga Nugraha, S.Si. BIOTILIK berasal dari kata Bio yang berarti biota dan Tilik yang berarti mengamati dengan teliti. BIOTILIK juga merupakan singkatan dari BIOta TIdak bertuLang belakang Indikator Kualitas air, yaitu metode biomonitoring yang memanfaatkan makroinvertebrata bentos—seperti serangga air, udang, kepiting, siput, dan cacing—sebagai indikator biologis kualitas air. Organisme tersebut hidup menetap di dasar sungai dan peka terhadap perubahan lingkungan, sehingga mampu memberikan gambaran kondisi kualitas air dalam jangka panjang. Metode ini relatif sederhana, mudah diterapkan, dan memungkinkan masyarakat berpartisipasi secara langsung dalam pemantauan kualitas air. Stand BIOTILIK Challenge Fakultas Bioteknologi UKDW turut dikunjungi Plt. Bupati Pati, Risma Ardhi Chandra. Ia mengapresiasi kolaborasi yang dibangun UKDW bersama YAPHI dan Jampisawan dalam mendukung pelestarian Sungai Juwana. "Kami mengucapkan terima kasih atas partisipasi dan kolaborasi Fakultas Bioteknologi UKDW dalam Festival Kali Juwana. Kami berharap kerja sama ini dapat terus berlanjut untuk menjaga Sungai Juwana
tetap waras. Metode BIOTILIK juga sangat baik jika diintegrasikan dengan pemantauan rutin yang dilakukan Dinas Lingkungan Hidup sehingga penilaian kualitas air tidak hanya bertumpu pada parameter fisika dan kimia, tetapi juga didukung indikator biologis," ujarnya. Sebagai tindak lanjut, relawan yang dikoordinasikan Jampisawan akan melakukan pemantauan kualitas air secara berkala pada Agustus hingga September 2026. Tim Fakultas Bioteknologi UKDW akan mendampingi proses analisis, interpretasi hasil, serta penyusunan rekomendasi pengelolaan Sungai Juwana bersama para pemangku kepentingan. Melalui kolaborasi ini, Fakultas Bioteknologi UKDW menegaskan komitmennya dalam mengintegrasikan pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. Sinergi dengan pemerintah, komunitas, dan warga menjadi wujud kontribusi UKDW dalam menghadirkan solusi berbasis sains untuk mendukung pelestarian lingkungan dan pengelolaan sumber daya alam yang berkelanjutan. [djoko]
9
Campus Ministry VOL.20/ JUL 2026
Melihat dari Atas Pohon Ara: Sebuah Refleksi tentang Wajah Inklusi di Kampus UKDW
D
i sebuah jalanan Yerikho yang padat dan riuh, seorang pria bernama Zakheus berdiri berjinjit di belakang kerumunan. Ia ingin sekali melihat siapakah Yesus yang sedang lewat. Namun, langkahnya terhenti oleh dua hal: tubuhnya yang pendek dan kerumunan orang banyak yang tidak memberinya ruang. Bagi masyarakat saat itu, Zakheus bukan hanya dianggap “berbeda” secara fisik, tetapi juga dipandang “cacat” secara moral dan diasingkan karena pekerjaannya sebagai pemungut cukai. Ruang publik seolah tertutup rapat baginya. Karena tidak mendapatkan akses dan tempat di tengah kerumunan, Zakheus mengambil keputusan nekat. Ia berlari mendahului orang banyak, lalu memanjat sebuah pohon ara. Dari atas dahan yang tinggi itu, ia hanya berharap dapat melihat Yesus dari kejauhan, terpisah dari orang-orang yang menolaknya. Kisah Zakheus ini sebenarnya sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari kita di kampus Universitas Kristen Duta Wacana (UKDW) Yogyakarta. Pernahkah kita berpikir, berapa banyak “pohon ara” yang harus dipanjat oleh rekan-rekan kita, terutama mereka yang memiliki keterbatasan fisik, neurodivergent, atau memiliki gaya belajar yang berbeda, hanya untuk mendapatkan hak yang sama seperti kita? Tanpa kita sadari, selasar dan ruang kelas kampus kita sering kali riuh oleh kerumunan ambisi. Kita sibuk mengejar standar keberhasilan yang kaku: nilai yang tinggi, posisi bergengsi dalam organisasi, hingga gaya hidup dan gengsi sosial. Di tengah
bukan dengan teguran keras, melainkan dengan keramahan yang tulus (The Hospitality of God). Ia merangkul orang yang sebelumnya tersingkir dan menyapa mereka yang terabaikan. Rasa diterima dan dihargai inilah yang akhirnya melunakkan hati Zakheus, menggerakkannya untuk membagikan hartanya dan memulihkan hubungan dengan sesamanya.
doc.Google
kesibukan itu, kita sering kali menciptakan lingkungan yang tidak ramah (inhospitable). Kita merancang tangga kepemimpinan dan berbagai aktivitas kampus seolah hanya diperuntukkan bagi mereka yang dapat berjalan cepat dan bersuara nyaring. Sementara itu, mereka yang melangkah lebih pelan dibiarkan tetap berdiri di belakang, terhalang oleh kerumunan. Namun, bagian paling indah dari cerita ini
terjadi ketika Yesus sampai di bawah pohon ara itu. Yesus tidak menyuruh kerumunan untuk menghakimi Zakheus. Ia justru berhenti, mendongak ke atas, menatap Zakheus, dan memanggil namanya. Hari itu, Yesus melakukan sesuatu yang luar biasa: Ia menawarkan diri untuk bertamu dan menginap di rumah Zakheus. Yesus merubuhkan tembok pengucilan
Sapaan Yesus di Bawah Pohon Ara adalah Panggilan bagi Kita Semua Menjadi “Duta Wacana” bukan berarti kita harus berlomba-lomba menjadi yang tertinggi di atas pohon keberhasilan kita sendiri. Menjadi Duta Wacana berarti memiliki keberanian untuk “turun dari pohon ara”, melihat sekeliling, dan memastikan bahwa tidak ada satu pun rekan kita yang tertutup jalannya untuk belajar, berkarya, dan tumbuh bersama. Mari kita jadikan kampus UKDW sebagai rumah yang hangat dan inklusif. Sebuah tempat di mana setiap orang, tanpa memandang keterbatasan, bentuk tubuh, maupun latar belakangnya, disapa namanya, diterima keunikannya, dan diberi ruang yang sama untuk berjalan berdampingan. Sebab, pada akhirnya, ukuran kebaikan sebuah komunitas bukanlah seberapa jauh kita dapat melesat sendirian, melainkan seberapa hangat kita merangkul mereka yang berjalan bersama kita. [pedro] Tafsir diambil dari: Brendan Byrne, S.J., dalam bukunya The Hospitality of God: A Reading of Luke’s Gospel.
UKDW Tutup Semester Genap bersama GPIB Cupuwatu Sleman, Usung Semangat “Unggul hingga Garis Akhir”
M
engakhiri seluruh rangkaian kegiatan akademik Semester Genap, Universitas Kristen Duta Wacana (UKDW) Yogyakarta menggelar Ibadah Penutupan Semester di Kapel UKDW pada Selasa, 2 Juni 2026. Ibadah berlangsung khidmat dan kali ini diselenggarakan melalui kolaborasi bersama Majelis Jemaat Gereja Protestan di Indonesia bagian Barat (GPIB) Cupuwatu Sleman serta Persekutuan Mahasiswa Teologi (PMT) GPIB. Ibadah Penutupan Semester bukan sekadar rutinitas liturgis pada akhir tahun ajaran, melainkan menjadi momen ucapan syukur atas penyertaan Tuhan sepanjang proses perkuliahan. Penutupan semester genap kali ini juga diisi dengan pelayanan Sakramen Perjamuan Kudus yang dipimpin oleh Majelis Jemaat GPIB Cupuwatu Sleman. Suasana kapel terasa khidmat saat seluruh civitas academica, mulai dari pimpinan universitas, dosen, tenaga kependidikan, hingga mahasiswa, bersama-sama
menyambut sakramen tersebut sebagai wujud pembaruan komitmen iman dan persekutuan. Pelayanan firman disampaikan Pdt. Romi Fardo Pelupesi, S.Th., M.A.C.S., dengan tema Unggul hingga Garis Akhir, berlandaskan 2 Timotius 4:6–8. Pdt. Romi mengajak seluruh peserta ibadah untuk merefleksikan perjalanan Paulus dalam menuntaskan tugas pengutusannya. Dalam khotbahnya, ia menegaskan bahwa meraih keunggulan di garis akhir bukan tentang bagaimana seseorang kehabisan energi atau pasrah pada keadaan. Sebaliknya, keunggulan merupakan pencapaian spiritual dan kualitas karakter yang ditempa melalui proses, kesetiaan, serta ketangguhan dalam menghadapi dinamika perkuliahan maupun pergumulan hidup. Keunggulan sejati tidak diraih melalui kekuatan sendiri, melainkan melalui penyerahan diri dan persekutuan yang erat bersama Kristus. Setelah prosesi ibadah selesai, acara dilanjutkan dengan sambutan dari pihak
universitas. Wakil Rektor IV Bidang Pengembangan Kapasitas Sumber Daya Manusia, Promosi, dan Jejaring UKDW, Pdt. Wahju Satria Wibowo, Ph.D., menyampaikan apresiasi kepada GPIB Cupuwatu Sleman atas kesediaan dan pelayanan yang telah diberikan. Ia mengingatkan bahwa momen penutupan semester juga menandai kesiapan kampus untuk melangkah ke tahap berikutnya, khususnya dalam menyambut Penerimaan Mahasiswa Baru (PMB). Ia mengajak segenap civitas academica untuk mempertahankan energi positif dan semangat juang dalam menjaga mutu pendidikan di kampus UKDW. Pada kesempatan yang sama, Pendeta Universitas UKDW, Pdt. Nani Minarni, S.Th., M.Hum., menjelaskan pesan strategis di balik kolaborasi ibadah tersebut. Menurutnya, menghadirkan pelayanan Sakramen Perjamuan Kudus yang melibatkan gereja pendukung merupakan bagian dari upaya membangun ikatan emosional dan spiritual yang lebih solid.
UKDW yang berdiri dengan dukungan 12 sinode, berencana untuk terus menggandeng gereja-gereja tersebut secara bergantian dalam momen penutupan semester mendatang. Sebagai wujud kepedulian sosial, seluruh persembahan yang terkumpul dalam ibadah ini dialokasikan untuk mendukung program beasiswa mahasiswa yang dikelola oleh Unit Pengembangan Institusi (UPI) UKDW. Langkah ini diharapkan dapat meringankan beban mahasiswa yang membutuhkan dukungan finansial untuk menuntaskan studi. Bagi civitas academica yang tidak dapat hadir secara langsung di Kapel UKDW, seluruh prosesi Ibadah Penutupan Semester Genap dapat disaksikan kembali melalui tayangan ulang di kanal YouTube resmi UKDW Yogyakarta. [pedro]
10
Pusat Pelatihan Bahasa VOL.20/ JUL 2026
The Power of "Ceng": Saat Lidah Menari di Luar Kendali di Presentasi Bahasa Inggris "A foreign accent is a sign of bravery" — Amy Chu
S
ebagai pengajar, saya sudah terbiasa menghadapi berbagai skenario di dalam kelas, mulai dari mahasiswa yang mengantuk, presentasi yang terlalu cepat dari waktu minimal, hingga diskusi yang sangat berbobot. Namun, kejadian tidak terduga selalu terjadi dalam kelas, salah satunya adalah mispronunciation atau kesalahan pelafalan. Tidak jarang, mahasiswa ‘terpeleset’ ketika mengucapkan kata tertentu sehingga menciptakan momen lucu yang membuat saya harus berjuang keras menahan tawa agar tetap terlihat serius di depan kelas. Tragedi "Ceng" di Tengah Ide Bisnis Ratusan Juta Saya masih ingat sebuah presentasi yang terjadi pada ujian akhir beberapa tahun lalu. Seorang mahasiswa sedang mempresentasikan ide bisnisnya mengenai aplikasi layanan laundry kiloan berbasis aplikasi. Ide bisnisnya sangat luar biasa dan media yang digunakan untuk presentasi juga
sangat bagus. Ia pun terlihat sangat meyakinkan dengan baju yang sesuai serta gaya bicara yang lugas. Namun, saat ia mencoba memaparkan strategi adaptasi pasar untuk menyaingi bisnis laundry yang lain, dengan penuh semangat dan meyakinkan, ia berkata, "So, to adapt with the recent market demand, we need to change the method in doing the business." Ia mengucapkan kata change dengan mantap menjadi pelafalan /ceng/. Seisi kelas langsung terdiam dan saya pun berhenti menulis umpan balik untuk presentasinya dengan wajah heran. Ia mengulang kata itu sampai beberapa kali. Situasi menjadi makin riuh ketika temantemannya mulai berbisik sambil menahan geli, “ceng itu goceng ya?" Suasana presentasi yang tadinya tenang mendadak berubah menjadi bisik-bisik kelas. Karena menjadi kurang kondusif, saya terpaksa menginterupsi, "Sorry, can you explain what ‘ceng’ means here?" Mahasiswa
itu menjawab dengan bingung, "Ya, ceng itu merubah, Miss!" Saat itulah seluruh temantemannya tertawa. Ia pun akhirnya sadar bahwa pelafalannya salah, mengubah istilah bisnis menjadi istilah yang terdengar seperti bahasa gaul yang tidak jelas artinya. Mengapa Kita Harus Berhenti "Takut" Salah? Sebagai pengajar, saya ingin menekankan satu hal: “Jangan pernah takut untuk salah ucap. Bagi saya, mahasiswa yang salah ucap karena dia sedang mencoba bicara itu jauh lebih baik daripada mahasiswa yang diam saja karena takut salah.” Kesalahan pelafalan yang membuat sekelas bingung atau tertawa itu adalah bagian dari proses belajar yang sangat humanis. Justru, momen-momen inilah yang membuat suasana kelas menjadi makin lebih akrab. Ketika kalian berani tertawa bersama atas kesalahan sendiri, kalian sedang membangun rasa percaya diri yang jauh lebih berharga daripada
sekadar nilai A. Pelajaran dari Lidah yang Terpeleset Jangan biarkan pronunciation menjadi momok yang membungkam keberanian. Lidah itu ibarat otot; semakin sering diajak berlatih, semakin luwes ia menari mengikuti irama bahasa. Jika suatu saat kalian salah pelafalan dan seisi kelas bingung atau tertawa, anggap saja itu sebagai "hadiah" kecil. Tertawalah bersama pengajar dan teman sekelas. Itu adalah tanda bahwa kalian telah berhasil menyampaikan pesan, dan komunikasi telah terjadi. Maka, teruslah berbicara, teruslah berani, dan jangan pernah berhenti mencoba. Menurut saya, mahasiswa yang berani "salah" di kelas adalah mahasiswa yang sebenarnya sedang belajar dengan cara yang paling efektif. Jadi, jangan takut untuk terlihat konyol karena keberanian untuk mencoba jauh lebih dihargai daripada kesempurnaan yang bisu. [Anastasia Kiki]
Pojok Alumni
It’s Never Luck, It’s Always God: Kisah Perjalanan dan Perjuangan 3,5 Tahun di UKDW
M
emasuki dunia perkuliahan, saya tidak pernah membayangkan bahwa perjalanan selama 3,5 tahun di Universitas Kristen Duta Wacana (UKDW) akan menjadi salah satu cerita paling berharga dalam hidup saya. Saya, Filistera Santoso, akrab disapa Filis, alumni Program Studi (Prodi) Sistem Informasi angkatan 2022. Sebagai seseorang yang cenderung ambivert, merantau ke Yogyakarta menjadi tantangan tersendiri bagi saya. Saya harus belajar beradaptasi dengan lingkungan baru, bertemu dengan temanteman baru, serta menjalani kehidupan yang jauh dari keluarga. Namun, di tengah berbagai tantangan tersebut, saya bersyukur dipertemukan dengan orang-orang baik yang selalu hadir dalam suka maupun duka. Kehadiran mereka membuat perjalanan perkuliahan saya terasa lebih ringan, hangat, dan penuh warna. Seperti mahasiswa pada umumnya, perjalanan kuliah saya tidak selalu berjalan sesuai harapan dan rancangan. Ada situasi dimana saya merasa ragu terhadap kemampuan diri sendiri dan bertanya apakah saya benar-benar bisa menyelesaikaannya? Apakah saya kuat menjalani ini semua? Namun, dalam setiap proses saya selalu mengingat firman Tuhan dalam Amsal 3:6, "Akuilah Dia dalam segala lakumu, maka Ia akan meluruskan jalanmu." Ayat tersebut menjadi pengingat bagi saya untuk tetap percaya kepada Tuhan sekaligus terus berusaha, meskipun jalan yang saya lalui terasa sulit dan berat.
Salah satu titik balik terbesar selama berkuliah adalah ketika saya memutuskan untuk mengikuti Program Kreativitas Mahasiswa (PKM). Awalnya saya hanya ingin mencoba sesuatu yang baru. Saya tidak pernah membayangkan bahwa keputusan sederhana itu akan membuka begitu banyak kesempatan bagi saya. Bersama tim, saya menghabiskan banyak waktu untuk berdiskusi, menyusun proposal, menerima revisi, terjun ke lapangan setiap minggunya, dan memperbaiki kesalahan berulang kali. Prosesnya tidak mudah, tetapi saya percaya setiap usaha yang dilakukan dengan sungguhsungguh tidak akan sia-sia. Puji Tuhan, pada akhirnya proposal kami berhasil memperoleh pendanaan dari Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek). Tidak hanya berhenti di situ, proposal yang saya ajukan kembali mendapatkan pendanaan pada kesempatan berikutnya yaitu di PKM Artikel Ilmiah (AI). Mungkin bagi sebagian orang, hal itu merupakan sebuah prestasi. Namun bagi saya sendiri, PKM ini adalah awal dari perjalanan yang mengubah cara saya memandang diri sendiri. Dari sanalah saya mendapatkan kesempatan mengikuti kompetisi, belajar memberikan solusi bagi masyarakat melalui SmartYandu, bertemu banyak orang hebat, hingga untuk pertama kalinya saya dapat memperoleh uang saku dari hasil usaha dan kerja keras saya dan tim. Pengalaman ini memberikan kepercayaan diri bahwa saya mampu melakukan lebih dari yang pernah saya
bayangkan. Di balik setiap pencapaian, ada proses panjang yang tidak selalu terlihat. Saya pernah mendengar komentar bahwa keberhasilan saya lolos pendanaan sebanyak dua kali dalam waktu yang bersamaan hanyalah karena beruntung atau hoki. Awalnya, saya hanya tersenyum. Sebab, yang terlihat oleh orang lain hanyalah hasil akhirnya, bukan proses, usaha, dan kerja keras yang telah saya lalui bersama tim. Mereka tidak melihat proposal yang harus direvisi berkali-kali, waktu yang dihabiskan untuk berdiskusi, rasa cemas ketika menunggu pengumuman hingga larut malam, maupun doa-doa yang terus dipanjatkan setiap hari. Bagi saya, keberhasilan bukan semata-mata tentang keberuntungan. Ada usaha, kerja keras, ketekunan, dan doa yang menyertainya. Pada akhirnya, keberhasilan adalah tentang bagaimana kita terus berusaha memberikan yang terbaik, sembari menyerahkan hasilnya kepada Tuhan. Saya percaya bahwa Tuhan selalu bekerja melalui proses. Doa tanpa usaha bukanlah jawaban, begitu pula usaha tanpa mengandalkan Tuhan terasa tidak lengkap. Karena itu, saya selalu berusaha memberikan yang terbaik dalam setiap kesempatan yang Tuhan percayakan. Ada satu kalimat yang selalu saya pegang hingga hari ini: It's never luck, it's always God. Kalimat tersebut mengingatkan saya bahwa setiap pencapaian adalah anugerah Tuhan yang disertai kerja keras, ketekunan, dan keberanian untuk terus mencoba.
Kini, ketika melihat kembali perjalanan saya di UKDW selama 3,5 tahun, saya menyadari bahwa hal paling berharga bukanlah jumlah prestasi yang berhasil diraih, melainkan proses yang membentuk saya menjadi pribadi yang lebih berani, lebih percaya diri, dan lebih mengandalkan Tuhan dalam setiap langkah. Untuk teman-teman yang masih berjuang, jangan takut mencoba hal baru hanya karena merasa belum cukup mampu. Tetaplah berdoa, teruslah berusaha, dan jangan menyerah ketika hasil belum sesuai harapan. Karena pada akhirnya, perjalanan ini memang tidak selalu mudah, tetapi kita selalu bisa memilih untuk tetap melangkah. [Filistera Santoso]
Nama Prodi
: Filistera Santoso, S.Kom : Fakultas Teknologi Informasi, Prodi Sistem Informasi, 2026
11
International VOL.20/ JUL 2026
UKDW Partners with Higher Education Institutions in Madagascar, Launches Collaboration through the Faculty of Business
U
niversitas Kristen Duta Wacana (UKDW) has expanded its international academic network by signing Memoranda of Understanding (MoUs) with the Centre National de TéléEnseignement de Madagascar (CNTEMAD) and the Faculty of Economics, Management, and Sociology, University of Antananarivo, Madagascar. The signing ceremony, held at the Rev. Harun Hadiwijono Seminar Room on the UKDW campus, marks the beginning of a strategic partnership in education, research, and academic innovation. As the first step in this collaboration, UKDW's Faculty of Business has developed a two-year roadmap outlining a series of priority initiatives to be implemented in phases. The Madagascar delegation was led by Professor Rakotomahenina Pierre Benjamin, National Director of CNTEMAD and Head of the Department of Management at the Faculty of Economics, Management, and Sociology, University of Antananarivo, together with Professor Solofomiarana Rapanoel Tsirinirina, Director of Projects at CNTEMAD and Head of the Research and Studies Laboratory in Management Sciences at the University of Antananarivo. They were welcomed by UKDW's university leadership, representatives of the Faculty of Business, and the Office of Cooperation and Public Relations. In his welcoming remarks, Rev. Wahju Satria Wibowo, Ph.D., UKDW Vice Rector for Human Resource Development, Promotion, and Partnerships, expressed his appreciation for the visit and emphasized the importance of building long-term academic partnerships. "UKDW is committed to delivering highquality education while remaining firmly rooted in the values that define our university. In an increasingly interconnected world with complex global challenges, collaboration is no longer an option—it is a necessity. We believe this meeting provides an opportunity to
doc.Biro4
identify shared goals and establish a longterm partnership that will create meaningful value for both institutions," he said. Dean of the UKDW Faculty of Business, Dr. Perminas Pangeran, M.Si., highlighted the growing importance of international collaboration in higher education. According to him, cross-border partnerships enable students and faculty members to engage with diverse perspectives while strengthening their readiness to address global challenges. "Through this partnership, we aim to provide our students with a richer international learning experience while preparing them to become future leaders who are competent, ethical, digitally literate, globally minded, and capable of critical thinking. This collaboration also creates opportunities to strengthen academic programs, produce impactful research, and expand community engagement. We hope this partnership will not only enhance the academic excellence of both institutions but also contribute to sustainable economic and social development in Indonesia and Madagascar," he explained. As part of the partnership's initial implementation, Dr. Elok Pakaryaningsih,
S.E., M.Si., Vice Dean for Academics of the Faculty of Business, presented a two-year collaboration roadmap that will guide the development of joint initiatives. The roadmap focuses on curriculum alignment in business sustainability and digital business, the development of Collaborative Online International Learning (COIL) programs, Indonesian language courses for Malagasy students, international guest lectures, faculty exchanges, and collaboration in international conferences. These initiatives are supported by UKDW's growing digital learning ecosystem. Through its Institute for Academic Development and Learning Innovation (LPAIP), the university has introduced a range of technologyenhanced learning innovations, including digital platforms that support online teaching and learning. This digital infrastructure provides a strong foundation for collaborative programs such as COIL, international guest lectures, online courses, and other cross-border learning activities. The partnership is further strengthened by CNTEMAD's position as Madagascar's national distance learning higher education institution, which shares
UKDW's commitment to advancing digital education. Joint research has emerged as one of the partnership's key priorities. Professor Solofomiarana Rapanoel Tsirinirina explained that master's and doctoral students at his institution are required to publish scholarly work as part of their academic programs, creating immediate opportunities for collaborative research with UKDW faculty members and postgraduate students. "We have master's and doctoral students who are ready to collaborate on research and publications. There is also an upcoming call for papers that could serve as an excellent starting point for researchers from Madagascar and UKDW to work together. We hope this partnership will soon produce scholarly publications that make meaningful contributions to the advancement of knowledge," he said. Beyond joint research, both institutions are exploring opportunities to develop double degree programs, student exchanges, academic immersion programs, co-hosted international conferences, and joint scientific publications. CNTEMAD also expressed its interest in expanding collaborative learning through curriculum alignment and the integration of digital learning technologies. Several priority initiatives—including joint research projects, international guest lectures, and collaborative academic publications—are expected to begin before the end of 2026. Through this partnership, UKDW reaffirms its commitment to strengthening its global academic network through collaborative programs that create meaningful impact in higher education. While the partnership begins with the Faculty of Business, it is expected to pave the way for broader interdisciplinary collaboration and further strengthen UKDW's role as an international academic partner. [drr]
UKDW Strengthens International Partnership with CHRIST University, India
U
niversitas Kristen Duta Wacana (UKDW) continues to expand its global engagement through a Faculty Exchange program with CHRIST (Deemed to be University) in Bengaluru, India. Supported by the 2026 Faculty Mobility Scheme (FMS) of the Association of Christian Universities and Colleges in Asia (ACUCA), the initiative marks another strategic step in strengthening international collaboration in education, research, and service-learning. The partnership was officially launched with the welcome of Dr. Sharon Valarmathi, Director of the Centre for Service Learning at CHRIST (Deemed to be University), on July 7, 2026. During her visit, which runs through July 13, Dr. Valarmathi will participate in a series of academic activities, discussions, and community engagement programs as part of the faculty exchange designed to deepen institutional collaboration. Welcoming Dr. Valarmathi, Dr. Rosa Delima, S.Kom., M.Kom., UKDW’s Vice Rector for Academic Affairs and Research, accompanied by Dr. Perminas Pangeran, S.E., M.Si., Dean of the Faculty of Business, emphasized that UKDW and CHRIST University share a common vision of higher education that advances knowledge while creating meaningful impact for society. This shared commitment provides a strong foundation for expanding collaboration through joint courses, collaborative research, and the further development of servicelearning initiatives. As part of this commitment, the two universities signed an Implementation Arrangement (IA) to formalize the Faculty Exchange under the 2026 ACUCA Faculty Mobility Scheme. The agreement paves the way for broader academic collaboration,
doc.Biro4
including joint curriculum development, faculty and student exchanges, collaborative research, Collaborative Online International Learning (COIL), and other international academic initiatives. During the visit, Dr. Valarmathi introduced CHRIST University’s community engagement programs, coordinated through its Centre for Social Action, which have reached more than 10,000 families across 120 villages in India. She also expressed her enthusiasm for future collaboration with UKDW. “We look forward to exploring many opportunities for collaboration because our two universities share the same core values. This shared vision and commitment provide a strong foundation for developing partnerships that will benefit our students, faculty members, and both institutions,” she said. As part of the knowledge exchange, UKDW
also showcased several of its academic strengths. The Faculty of Business highlighted its efforts to cultivate an entrepreneurial mindset through a compulsory entrepreneurship course and the annual Business Expo, which provides students with opportunities to develop innovative business ideas and build connections with industry. These initiatives reflect UKDW’s vision as a Sustainable Entrepreneurial Research University (SERU), integrating education, research, innovation, and community engagement throughout the learning process. A key focus of the collaboration is UKDW’s long-standing commitment to servicelearning. The university integrates this approach into its Service Learning Program, combining education, research, and community engagement as part of Indonesia’s Tri Dharma of Higher Education. Through this model, students not only gain academic
knowledge but also work alongside local communities to develop practical solutions to real-world challenges. UKDW’s experience in service-learning is further reflected in its International Service Learning (ISL) program with The Hong Kong Polytechnic University (PolyU), which has been running since 2009. The program provides students from different countries with cross-cultural learning experiences through direct collaboration with local communities. Since 2020, UKDW has also partnered with the Jakarta School of Philosophy and Theology (STFT Jakarta) to organize the Social Immersion Program, which integrates academic learning with research and community engagement. During the Faculty Exchange, Dr. Valarmathi is scheduled to participate in campus orientation activities, visit UKDW’s service-learning sites in Sedayu and Pacitan, engage in discussions on service-learning pedagogy, and take part in workshops on social entrepreneurship. These activities will also provide opportunities for both institutions to identify new areas of collaboration in education, research, and community engagement. Through its Faculty Exchange with CHRIST (Deemed to be University), UKDW reaffirms its commitment to expanding international partnerships while strengthening its role as a leading institution for service-learning in Indonesia. The university hopes this collaboration will foster innovations in education, research, and community engagement, broaden global learning opportunities for faculty members and students, and further enhance UKDW’s international profile. [ai]
12
Kuliah Kerja Nyata VOL.20/ JUL 2026
UKDW dan The Hong Kong Polytechnic University Hadirkan Kolaborasi Global untuk Pemberdayaan Masyarakat di Bantul
K
olaborasi lintas negara tidak hanya berlangsung di ruang kelas, tetapi juga diwujudkan melalui aksi nyata bersama masyarakat. Semangat tersebut diwujudkan Universitas Kristen Duta Wacana (UKDW) Yogyakarta melalui program Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tematik International Service Learning (ISL) - Health Project 2026 di Kalurahan Argosari, Kapanewon Sedayu, Kabupaten Bantul. Bersama mahasiswa The Hong Kong Polytechnic University (PolyU), mahasiswa UKDW berkolaborasi mengembangkan berbagai program pemberdayaan berbasis kearifan lokal, pelayanan inklusif bagi lansia dan penyandang disabilitas, serta pemanfaatan sumber daya lokal secara berkelanjutan. Program ini mengusung tema Local Wisdom-based Community Empowerment in Pinilih through Inclusive Service for the Elderly and Persons with Disabilities and Sustainability Utilization of Local Resources. Melalui tema tersebut, mahasiswa bersama masyarakat menyusun dan melaksanakan berbagai program yang berangkat dari kebutuhan warga sekaligus mengoptimalkan potensi lokal agar memberikan manfaat yang berkelanjutan. KKN Tematik ISL - Health Project 2026 berlangsung pada 29 Juni–28 Juli 2026 dengan melibatkan 27 mahasiswa UKDW yang melaksanakan pengabdian di empat padukuhan di Kalurahan Argosari, yakni Kalijoho, Gubug, Jaten, dan Klangon. Selama pelaksanaan program, mahasiswa didampingi oleh dosen pembimbing lapangan, yaitu Dr. Sn. R. Tosan Tri Putro, S.Sn., M.Sn. dari Fakultas Arsitektur dan Desain UKDW serta dr. Mitra Andini Sigilipoe, M.P.H. dari Fakultas
doc.Panitia
Kedokteran UKDW. Kolaborasi internasional semakin diperkuat dengan bergabungnya 21 mahasiswa PolyU pada 13–17 Juli 2026. Kehadiran mereka menghadirkan ruang pembelajaran lintas budaya melalui pertukaran pengetahuan, pengalaman, dan perspektif dalam merancang solusi atas berbagai kebutuhan masyarakat. Sinergi ini diharapkan menghasilkan program pengabdian yang semakin inklusif, adaptif, dan berkelanjutan. Panewu Kapanewon Sedayu, Tri Budiarto, S.STP., mengapresiasi kolaborasi yang telah terjalin. Ia berharap program ini dapat terus berlanjut sekaligus menyampaikan dukungannya terhadap rencana pengembangan UKDW di wilayah Sedayu,
termasuk pembangunan kampus di Kalurahan Argorejo dan rumah sakit yang diharapkan memberikan manfaat bagi masyarakat sekitar. Supervisor Health Project PolyU, Dr. Patrick Kor, mengungkapkan kebanggaannya atas keberlanjutan kolaborasi ini. “Program pengabdian masyarakat menjadi kesempatan bagi mahasiswa untuk belajar langsung dari pengalaman di lapangan sekaligus memahami kebutuhan masyarakat secara nyata,” ungkapnya. Sementara itu, Rektor UKDW, Dr.-Ing. Wiyatiningsih, S.T., M.T., mengatakan bahwa program ini merupakan kelanjutan dari kolaborasi yang telah terjalin pada tahun-tahun sebelumnya. “Mahasiswa tidak hanya belajar berbagi pengetahuan, tetapi juga membangun
kemampuan berkolaborasi dengan masyarakat dan memahami kehidupan komunitas setempat,” ujarnya. Kepala Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) UKDW, Dr. Freddy Marihot Rotua Nainggolan, S.T., M.T., IAI., menegaskan bahwa KKN merupakan ruang belajar bersama antara mahasiswa dan masyarakat. Oleh karena itu, setiap program yang dijalankan harus berangkat dari kebutuhan dan potensi warga agar mampu memberikan manfaat yang berkelanjutan. Lurah Argosari, Sudarno, turut menyambut baik kolaborasi ini. Menurutnya, sinergi antara mahasiswa UKDW, mahasiswa PolyU, pemerintah kalurahan, dan masyarakat diharapkan mampu memberikan dampak nyata, khususnya dalam bidang kesehatan, pemberdayaan masyarakat, serta pelayanan bagi kelompok rentan. Melalui KKN Tematik International Service Learning - Health Project 2026, UKDW menghadirkan pengalaman belajar yang memadukan pengabdian kepada masyarakat dengan kolaborasi internasional. Program ini tidak hanya mengembangkan kompetensi akademik mahasiswa, tetapi juga membentuk kepemimpinan, kemampuan komunikasi lintas budaya, dan kepedulian terhadap persoalan sosial. Kolaborasi bersama PolyU menjadi wujud komitmen UKDW dalam memperluas kemitraan internasional yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat sekaligus mempersiapkan lulusan yang berwawasan global dan berdaya saing. [zizi]
UKDW dan PolyU Gelar International Service Learning, Sekitar 2.000 Siswa Ikuti Skrining Kesehatan Mata
U
niversitas Kristen Duta Wacana (UKDW) bersama The Hong Kong Polytechnic University (PolyU) kembali menyelenggarakan KKN Tematik International Service Learning (ISL) – Vision Screening Program pada 20–27 Juli 2026. Melalui kolaborasi internasional ini, sekitar 2.000 siswa dari 11 sekolah di Yogyakarta mengikuti skrining kesehatan mata, sekaligus menjadi bagian dari pengalaman pembelajaran lintas budaya bagi mahasiswa kedua universitas. Sebanyak 59 mahasiswa UKDW dan 138 mahasiswa PolyU terlibat dalam kegiatan ini. Mereka memberikan layanan skrining kesehatan mata di 11 sekolah mitra, yaitu SMP Kristen Kalam Kudus, SMP BOPKRI 1, SMP BOPKRI 2, SMP BOPKRI 3, SMP Budi Utama, SMP Budya Wacana, SMP Stella Duce 2, SD BOPKRI Gondolayu, SD Joannes Bosco, SMA BOPKRI 1, dan SMA BOPKRI 2 Yogyakarta. Vision Screening Program merupakan kelanjutan dari kemitraan UKDW dan PolyU yang telah lama terjalin. Selain menghadirkan edukasi kesehatan mata dan pemeriksaan mata bagi siswa, program ini juga menjadi wadah bagi mahasiswa untuk belajar bekerja lintas budaya, berkolaborasi lintas disiplin, serta memahami kebutuhan masyarakat secara langsung. Selama pelaksanaan program, mahasiswa melakukan pemeriksaan kesehatan mata secara menyeluruh (comprehensive vision test), meliputi tes ketajaman penglihatan, kemampuan melihat kedalaman (stereopsis), tes buta warna, pemeriksaan mata juling (strabismus), pengukuran tekanan bola mata, hingga evaluasi kesehatan mata. Pemeriksaan ini diharapkan dapat membantu mendeteksi gangguan penglihatan sejak dini sehingga penanganan dapat dilakukan lebih cepat. Kegiatan di lapangan didampingi oleh dosen UKDW, yaitu Willy Sudiarto Raharjo, S.Kom., M.Cs. dari Fakultas Teknologi Informasi dan dr. Loury Priskila dari Fakultas Kedokteran UKDW. Setelah rangkaian bersama mahasiswa PolyU berakhir, kegiatan akan dilanjutkan oleh
doc.Panitia
doc.Panitia
mahasiswa UKDW pada 3–7 Agustus 2026 sebagai bentuk komitmen menjaga keberlanjutan program di sekolah-sekolah mitra. Rektor UKDW, Dr.-Ing. Wiyatiningsih, S.T., M.T., mengatakan bahwa Vision Screening Program menjadi salah satu wujud komitmen UKDW dalam menghadirkan pendidikan yang berdampak melalui kolaborasi internasional. "Vision Screening Program ini merupakan kelanjutan dari kolaborasi panjang yang telah terjalin. Kami berharap kerja sama ini tidak hanya berfokus pada pelayanan kesehatan mata bagi siswa, tetapi juga berkembang ke bidang penelitian dan kolaborasi lintas fakultas. Ke depan, kami juga membuka peluang untuk memperluas layanan bagi kelompok lanjut usia karena kesehatan mata
pada masyarakat menua juga menjadi isu yang penting," ujarnya. Ia menambahkan, kolaborasi internasional tidak hanya memberikan manfaat bagi masyarakat penerima layanan, tetapi juga memperkaya pengalaman belajar mahasiswa dalam mengembangkan kompetensi profesional, kemampuan bekerja lintas budaya, dan kepekaan sosial. Supervisor PolyU, Dr. Choi Kai Yip, menjelaskan bahwa keterlibatan mahasiswa dari berbagai disiplin ilmu menjadikan program ini sebagai pengalaman belajar yang komprehensif. "Vision screening bukan hanya membantu ribuan siswa memperoleh pemeriksaan kesehatan mata, tetapi juga menjadi kesempatan berharga bagi mahasiswa untuk
belajar bekerja lintas budaya, membangun rasa empati, memperkuat persahabatan internasional, dan memahami masyarakat dari perspektif yang berbeda. Kami berharap pengalaman ini akan menjadi kenangan yang bermakna bagi seluruh peserta," katanya. Sebelum memberikan layanan di sekolah, seluruh peserta mengikuti pembekalan mengenai budaya Indonesia, khususnya Yogyakarta, serta aspek kesehatan selama berada di Indonesia. Pembekalan ini bertujuan membantu mahasiswa internasional memahami budaya lokal, berinteraksi dengan masyarakat secara tepat, dan menjaga kesehatan selama mengikuti rangkaian kegiatan. Apresiasi terhadap program ini juga disampaikan Direktur SMP Kristen Kalam Kudus, Edi Joko Santoso, MM., Apt. Menurutnya, kolaborasi internasional yang diwujudkan melalui layanan skrining kesehatan mata memberikan manfaat nyata bagi dunia pendidikan. "Kami percaya kolaborasi ini menjadi jembatan yang menghubungkan pengetahuan dengan dampak nyata bagi masyarakat. Vision Screening Program bukan hanya tentang kesehatan mata, tetapi juga mengajarkan kita melihat dunia dengan lebih jelas dan penuh kebijaksanaan. Apa pun yang dibawa oleh setiap peserta akan menjadi sesuatu yang bermakna bagi sekolah maupun siswa yang dilayani," ungkapnya. Melalui KKN Tematik International Service Learning (ISL) – Vision Screening Program, UKDW bersama PolyU terus memperkuat kolaborasi internasional yang mengintegrasikan pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. Program ini tidak hanya memberikan layanan skrining kesehatan mata bagi sekitar 2.000 siswa di Yogyakarta, tetapi juga memperkaya pengalaman belajar mahasiswa sekaligus menegaskan komitmen UKDW dalam menghadirkan pendidikan yang berdampak bagi masyarakat. [mpk]