Skip to main content

RASIO Edisi April 2014

Page 1

Redaksi

Perempuan. Perkembangan zaman ternyata tidak mampu melunturkan perdebatan fundamental dalam mendefinisikan perempuan. Tidak peduli dalam konotasi lebih baik atau sebaliknya.

Pemimpin Redaksi Rahma Editor Harumi Nimas Kajian Bayu Faisal Rika Agung Triono Layouter Farha R. F. Fergie Yazid

Redaksi Pelaksana Vecco S. Putren Syauqina Mujahid Fotografer M. Adibwafi

- Rahma

kopi 2014

sekretaris Teti Rahmawati

tim kajian

Deassera Seputi

Redaksi Pemimpin Redaksi: Rahma Anggota: Syauqina Hadyani Putren Puspitasari Vecco Suryahadi S. M. Abdullah Mujahid Faisal Aditya Rika Permatasari Allo M. Adibwafi editor

Mempelajari perempuan dari berbagai perspektif memang tak selalu mudah, tapi tak perlu khawatir. Banyak kotak pandora didalamnya. Salam Redaksi!

Pemimpin Harinto Anggoro umum

bendahara

Meski seyogyanya, perempuan merupakan cerminan sebuah pohon yang kokoh. Tidak peduli seberapa kencang angin yang menerpa, selalu dan selalu bisa berdiri tegak karena menancap kuat ke bumi. Menjadi kehidupan yang menghidupi.

Harumi Nimas

layouter

Ketua Divisi: Farha Rausyani F. Anggota: Fergie Yazid Fahmi

humas

Ketua Divisi: Yasar Firdaus Anggota: Ananda Fitriyani Agung Asyhari M. Hasan Nasution Rizky Qomaruzaman

sdm

Fasial Aditya Agung Triyono Rizky Bayu Andika

Ketua Divisi: Difa Askarina Anggota: Adha Riyandi Adira Oktaroza Rafika


Daftar Isi 4

6

Topik Utama Berpikir Terbalik

16 Bandung Heritage Lasminingrat, Dewi Sartika, dan Perempuan

Opini Dunia Dalam Genggaman Wanita?

Lonteku Pelacuran dalam Catatan Sejarah

Hakikat Emansipasi 9

11

13

Tokoh Sri Mulyani Indrawati Perjalanan Penuh Prestasi

23

Travel Travel Surga Surga Tersembunyi Tersembunyi itu itu bernama bernama Pantai Pantai Leiliang Leiliang

Wawancara Bu Nunung Office Girl Hall C FEB Unpad FEB’s Entrepreneur Badzlina Anindyka

27

29

3

Kuliner My Secret Garden Sastra Wanita Pujaan


Tidak dapat dipungkiri masih banyak masyarakat Indonesia, bahkan seorang terdidik, yang merasa antipati dengan kata emansipasi. Kenyataan lainnya adalah sebagian besar diantara mereka hanya menjadi pengikut tanpa mempelajari dan mengerti lebih dalam. Apabila meninjau definisi dari Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) eman•si•pa•si /émansipasi/ adalah 1 pembebasan dari perbudakan; 2 persamaan hak dalam berbagai aspek kehidupan masyarakat (seperti persamaan hak kaum perempuan dengan lelaki).

Topik Utama

Lantas apa yang menjadi perdebatan? Dari hasil kajian kami, pemicu utama perdebatan emansipasi itu dimulai dari adanya penyamarataan persepsi antara gender dan sex, padahal apabila ditinjau secara harfiah definisinya jelas berbeda. Secara harfiah gender merupakan sifat dan perilaku yang dilekatkan pada laki – laki dan perempuan yang dibentuk secara sosial maupun budaya, sedangkan sex merupakan perbedaan antara laki-laki dan perempuan berdasar pada jenis kelamin yang ditandai oleh perbedaan anatomi tubuh dan genetiknya. Fokus dari pergerakkan emansipasi sendiri adalah memiliki kesetaraan gender tanpa memandang jenis kelamin. Konsep ini, tanpa banyak pihak sadari, sebenarnya telah diterapkan secara hakiki sejak zaman purba. Pada masa itu, kegiatan berburu dan mengumpul tidak hanya dilakukan oleh laki – laki, perempuan memiliki andil besar dalam pemburuan bahkan sejarah mencatat penemu pertama trend berpakaian dimulai dari seorang perempuan. Sejarah Indonesia pun mencatat Siti Rohana atau lebih dikenal dengan Rohana Kudus, perdiri surat kabar perempuan pertama di Indonesia, mengatakan bahwa perputaran zaman tidak akan pernah membuat perempuan serupa dengan laki-

laki. Perempuan tetaplah perempuan dengan segala kemampuan dan kewajibannya. Yang harus berubah adalah perempuan harus mendapat pendidikan dan perlakuan yang lebih baik. Perempuan harus sehat jasmani dan rohani, berakhlak dan berbudi pekerti yang luhur, taat beribadah yang ke semuanya hanya akan terpenuhi dengan mempunyai ilmu pengetahuan. Beliau hingga saat ini dikenal sebagai pahlawan wanita yang selalu berjuang untuk keseteraan hak perempuan untuk mengenyam pendidikan. Indonesia hari ini? Menurut data Human Development Report, pada tahun 2012 Indonesia menduduki peringkat utama sebagai negara pemilik Gini Index Inequality (GII) tertinggi diantara negara di ASEAN untuk partisipasi perempuan dalam parlemen. Bukan prestasi yang memukau tentunya.

Charles C. Adams, seorang diplomat kenamaan Amerika Serikat, berujar bahwa perubahan dalam suatu penduduk selalu bisa dilihat dari banyaknya perempuan yang duduk di bangku parlemen.

4


Topik Utama

lebih cenderung didorong untuk menikah dan cukup mengurus rumah saja. Sulit rasanya meyakinkan keluarga disana untuk menyekolahkan anak perempuannya hingga ke perguruan tinggi. Pendidikan itu hanya formalitas.” ujar Hasan.

Pernyataan tersebut tentu berbanding terbalik dengan kenyataan di Indonesia. Selain itu, ketimpangan gender pun dialami perempuan apabila dihitung dari rasio upah perempuan terhadap laki – laki dengan spesifikasi yang sama dengan komponen produktivitas, jenis pekerjaan, dan lamanya bekerja. Miris. Secara umum, masalah ketimpangan gender yang terjadi di Indonesia adalah karena perspektif masyarakat masih dibentuk dengan pola bahwa tugas perempuan itu hanya berkutat pada sumur – dapur – kasur. Tidak perlu pendidikan yang tinggi, cukup laki – laki yang merasakannya toh merekalah tulang punggung keluarga. Di Indonesia pekerjaan sebagai ibu rumah

Pemahaman emansipasi memang tidak mudah, pasti membutuhkan proses. Namun, tentu akan lebih singkat prosesnya apabila setiap pihak mau lebih terbuka sudut pandang berpikirnya.

Bagaimana cara untuk melakukan emansipasi? Faktor pendukung emansipasi di Indonesia adalah persoalan ekonomi. Kualitas kesehatan yang masih terbilang rendah menyebabkan banyaknya perempuan melakukan double job sebagai ibu rumah tangga sekaligus kepala keluarga untuk tetap bertahan hidup. Hal inilah yang mendorong kesetaraan hak untuk mendapat pendidikan dan pekerjaan yang sama, meskipun harus diakui proses pencapaiannya memutuhkan waktu yang lama untuk benar – benar diaplikasikan di Indonesia.

tangga selalu dipandang sebelah mata sehingga kedudukan seorang perempuan sering kali dianggap rendah. Hal itu terbukti dengan banyaknya kekerasan yang dialami perempuan, pada tahun 2012 tercatat 216.156 kasus yang dilaporkan. Pengakuan Hasan Nasution, seorang mahasiswa rantauan Jambi, mempertegas kenyataan pahit tersebut. “Di desa saya, perempuan lulus SD-SMP atau sudah berumur 15 tahun

Kemudian, apabila ditinjau lebih dalam kodrat utama seorang perempuan itu adalah melahirkan dan menyusui anaknya. Sedangkan tugas untuk mengurus rumah tangga dan mendidik anak adalah kewajiban bersama, baik perempuan maupun laki – laki, tidak dapat dibebankan pada satu pihak saja. Hal ini yang belum banyak dipahami di masyarakat Indonesia.

5


Opini

Oleh: Syauqina

Dunia dalam Genggaman Wanita? Sebuah Catatan Kecil Mengenai Emansipasi Menjelang April, segala sesuatu yang dibahas umumnya mengarah pada isu emansipasi wanita. Wajar, sebab bulan April adalah bulan kelahiran R.A. Kartini yang dikenal sebagai tokoh emansipasi wanita di Indonesia. Sebenarnya apa arti emansipasi wanita? Istilah emansipasi umumnya merujuk pada sejumlah usaha yang dilakukan kelompok tertentu untuk mendapatkan kebebasan dan persamaan hak. Emansipasi wanita lantas dapat diartikan secara sederhana sebagai upaya wanita untuk memperoleh kebebasan dan hak yang setara – dalam konteks ini setara dengan kaum pria. Hak wanita di sini mencakup berbagai aspek kehidupan. Dengan adanya emansipasi, wanita masa kini memiliki pilihan yang lebih luas untuk mengisi hidupnya. Jika dahulu wanita tidak boleh bersekolah, maka sekarang wanita bisa duduk di bangku pendidikan hingga tingkat tertinggi. Jika dahulu wanita hanya boleh memakai kebaya dan rok, di zaman sekarang wanita memiliki pilihan berpakaian yang tidak terbatas. Jika dahulu wanita hanya diharapkan melayani suami dan mengurus anak, sekarang wanita bisa mengembangkan karir di berbagai bidang pekerjaan, bahkan, banyak tokoh penting di negara ini berasal dari kaum wanita. Sebut saja Mantan Presiden Republik Indonesia ke-5, Megawati Soekarno Putri dan mantan Menteri Keuangan, Sri Mulyani. Sekali lagi, semua itu tidak diperoleh dengan instan. Perjuangan RA Kartini untuk membuka gerbang kemerdekaan wanita tidaklah mudah dan membutuhkan proses panjang serta pengorbanan yang tak sedikit. Sayangnya, tidak semua wanita zaman sekarang bisa merasakan kemerdekaan yang utuh. Kemerdekaan hakiki yang tak sebatas kesetaraan di permukaan. Sebagaimana sering kita lihat di berbagai media, masih banyak wanita yang hidup di bawah intimidasi dan tekanan, baik fisik maupun mental, oleh kaum pria atau bahkan oleh kaumnya sendiri. Kasus kekerasan dalam rumah tangga misalnya, mayoritas menempatkan kaum wanita sebagai korban. Pun perbudakan modern yang sering menimpa tenaga kerja Indonesia di luar negeri sebagian besar mengarah pada tenaga kerja wanita. Tingkat penjualan manusia yang tinggi juga menjadi-

kan wanita sebagai objek. Lantas, bagaimana kita menyikapi fakta memilukan ini? Menyelesaikan kasus yang berat memang tidak mudah, apalagi bagi kita yang notabene hanyalah mahasiswa. Tapi kita setidaknya bisa mencoba lebih peduli terhadap kondisi ini. Dari hal kecil, seperti membela diri jika ada yang hendak melanggar hak kita atau teman wanita kita. Bersuara jika melihat ketidak-adilan menimpa wanita di lingkungan terdekat kita, dan lebih menunjukkan sikap penghargaan terhadap wanita di sekitar kita baik itu ibu, saudari, ataupun teman. Yang tidak kalah penting adalah, kita sebagai kaum wanita harus belajar memanfaatkan hak yang kita peroleh sehingga kita bisa membuktikan pada dunia bahwa kaum hawa memang pantas disetarakan dengan kaum adam. img: vectorfree.com

6


Opini

“Emancipate yourselves from mental slavery, none but ourselves can free our minds.”

Hakikat Emansipasi oleh: Farha Rausyani Fikria

Emansipasi secara etimologis berarti pembebasan dari hal-hal yang membelenggu kehidupan secara layak. Mungkin kita lebih sering mendengar kata emansipasi sematamata pada emansipasi wanita yang digembar-gemborkan oleh R.A. Kartini. Padahal, istilah emansipasi lebih luas dari itu — ia lekat pada berbagai aspek. Di dunia barat sering terdengar frasa “emancipate yourself from slavery!”, baik itu slavery secara harfiah pada zaman perbudakan kulit hitam, maupun mental slavery. Seperti kata Bob Marley, “Emancipate yourselves from mental slavery, none but ourselves can free our minds.” Pada dasarnya, kehidupan manusia pada zaman pra-sejarah telah menunjukkan bahwa emansipasi terjadi sejak dahulu kala. Dalam buku The Last Supper-Woman History of The World karya Rosalind Miles, disebutkan bahwa wanita pada zaman Mesir kuno memiliki hak yang sama dengan pria, seperti hak untuk bersuara, hak untuk memiliki properti, bekerja, bersekolah, hingga mengambil keputusan. Mirisnya, semua itu berubah seiring berputarnya roda kehidupan pada zaman bertanam. Para pria dianggap lebih memiliki kekuatan untuk melakukan hal berat, sehingga peran wanita lambat laun semakin terkikis. Pada akhirnya seperti yang kita ketahui, sejarah sebagian besar hanya mencatat peran pria. Bahkan pada zaman awal demokrasi Raja Leonidas di Sparta, para wanita belum berhak memberi suara. Hak suara mulanya hanya dimiliki tuan tanah dan para konglomerat, tetapi seiring perkembangan zaman, secara berturut-turut pria pekerja, kemudian wanita, dan terakhir kaum kulit hitam, mendapatkan hak-hak yang sejajar.

7


Opini Di Indonesia sendiri, emansipasi wanita yang kita rasakan saat ini sebenarnya sudah cukup mengalami kemajuan. Bahkan sebelum kemerdekaan, terdapat “Perikatan Perempoean Indonesia” yang sempat melaksanakan kongres mengenai nasib yatim piatu dan janda, perkawinan anak-anak, reformasi undang-undang perkawinan islam, pentingnya harga diri di kalangan perempuan dan kejahatan kawin paksa, nasionalisme, dan anti-permaduan (poligami) (perempuanposo.com). Tetapi pemerintah seakan menenggelamkan isu tersebut. Contohnya, propaganda Panca Dharma Wanita pada zaman Orde Baru yang seolah ingin menekankan bahwa “kodrat” utama wanita adalah istri bagi suami dan ibu bagi anak-anak. Sejak saat itu, perempuan Indonesia hanya terfokus pada ranah domestik, reproduksi biologis, dan wilayah sosial bukan politik.

didikan relatif sudah merata. Saya jadi teringat akan Malala Yousafzai, seorang gadis Pakistan berumur 14 tahun yang ditembak oleh pasukan Taliban pada tahun 2013 silam hanya karena dia ingin bersekolah. Kasus ini menyita perhatian khalayak internasional hingga United Nations mengundangnya berpidato dan menetapkan tanggal 10 November sebagai Malala’s Day. Mengingat peristiwa yang menimpa Malala, miris rasanya jika kita masih tidak bersungguh-sungguh dalam memanfaatkan kesempatan mengenyam pendidikan, serta memandang pendidikan semata sebagai kewajiban, dan bukannya hak setiap individu untuk diperjuangkan. Kebanyakan orang menganggap bahwa emansipasi wanita muncul dari persepktif wanita itu sendiri. Para wanita di Timur Tengah misalnya, mengatakan bahwa mereka tidak menginginkan adanya emansipasi. Ironisnya, seperti dilansir halaman CNN, banyak ibu di Timur Tengah tidak dapat membawa anaknya yang sedang kritis ke rumah sakit ketika para suami mereka sedang bekerja atau supir mereka sedang libur sehingga tidak ada yang dapat mengantar. Ceritanya pasti berbeda, jika para ibu di Arab diperbolehkan untuk menyetir sendiri. Dengan kondisi seperti sekarang, muncul suatu anekdot. Katanya, yang terpenting bagi wanita Arab bukanlah suaminya atau pasangannya, melainkan supirnya. Bagi yang tidak dapat membayar jasa supir, bersiap-siap saja karena petaka dapat menghampiri sewaktu-waktu.

Mengapa hal tersebut dapat terjadi? Seperti yang telah dibahas sebelumnya, emansipasi adalah pembebasan. Pembebasan baik dari perbudakan, sistem pemerintahan yang korup, kemiskinan ataupun rasa rendah diri. Emansipasi lahir dari keinginan untuk melawan suatu pembelengguan yang mengatasnamakan kekuasaan. Para pihak yang menginginkan kekuasaan tentu tidak menginginkan para pengikutnya bebas (pikirannya), sehingga bagi mereka, emansipasi jelas merupakan ancaman. Untuk membuka pikiran suatu individu diperlukan pengetahuan. Dengan kata lain, pendidikan adalah kunci emansipasi. Kita patut bersyukur sebab saat ini di Indonesia, hak untuk mendapat pen-

So, emancipate yourself!

8


Tokoh

Sri Mulyani Indrawati Perjalanan Penuh Prestasi Tidak hanya satu, dua, atau tiga, Sri Mulyani Indrawati telah meraih sederet peringkat top untuk berbagai penghargaan level dunia. Pada tahun 2013, Sri Mulyani menempati peringkat ke-55 dari daftar 100 wanita paling berpengaruh di dunia versi majalah Forbes, setelah sebelumnya pada tahun 2008, Sri Mulyani menempati urutan ke-23 (dan nomor 1 di Indonesia) sedangkan pada 2011, beliau menempati urutan ke-65.

img: en.wikipedia.org

Setelah itu pun beliau masuk dalam daftar 100 Top Global Thinkers 2012 versi Foreign Policy. Begitu banyak prestasi berhasil beliau capai, yang jika kita bahas semua, halaman artikel ini tentu tidak akan cukup. Berbagai profesi telah dilakoni oleh Sri Mulyani. Selain pernah menjadi konsultan USAID, beliau pernah menjabat Ketua Bapennas. Pada tanggal 7 Desember 2005, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono kemudian mengangkat beliau menjadi Menteri Keuangan Indonesia Kabinet Indonesia Bersatu sembari merangkap sebagai Pelaksana Harian Menteri Koordinator Perekonomian RI. Menteri Keuangan Hal pertama yang beliau lakukan kala menjabat Menteri Keuangan adalah merombak susunan kementerian; hal yang tidak biasa terjadi pada kementerian lainnya. Selama menjabat, beliau juga berhasil memperbaiki image buruk Ditjen Pajak dan Bea Cukai yang lekat dengan korupsi, serta meningkatkan pendapatan pajak terutama setelah Ditjen Pajak menerbitkan daftar 100 pengemplang pajak (sumber: kontan) yang berasal dari pemilik industri batu bara dan konglomerat Indonesia. Dikenal sebagai sosok yang tegas dan cerdas, selama periode kepemimpinannya di Kementerian Keuangan, perekonomian Indonesia

berhasil meningkat di atas rata-rata negara berkembang lain, yakni dengan pertumbuhan rata-rata sebesar 6%. Menurut data BPS, peningkatan PDB (Produk Domestik Bruto) selama periode 2006 hingga 2009 berturut-turut adalah 6,3% (tanpa migas: 6,9%) di tahun 2006, 6,3% (tanpa migas: 6,9%) di tahun 2007, 6,1% (tanpa migas: 6,5%) di tahun 2008, dan sebesar 4,5% (tanpa migas: 4,9)% di tahun 2009. Pada tahun 2009, yang sebagaimana kita tahu merupakan tahun politik, Sri Mulyani mengalami banyak tekanan politik hingga beliau akhirnya memutuskan untuk mudur dari jabatannya pada 10 Mei 2010.

9


Tokoh

nyelamatkan diri dari keterpurukan ekonomi akibat krisis tersebut. Alih-alih diapresiasi bangsa sendiri, penghargaan dan kepercayaan justru datang dari luar negeri dengan ditawarkannya posisi Chief Operating Officer and Managing Director oleh Bank Dunia. Akhirnya di bulan Juni 2010, Sri Mulyani bergabung dengan Bank Dunia (worldbank.org) setelah melepas jabatan Menteri Keuangan Republik Indonesia.

Saat masih menjabat Menteri Keuangan, Sri Mulyani juga terus mendulang prestasi di kancah global, diantaranya penghargaan “Euromoney Finance Minister of the Year” oleh Euromoney Magazine pada 2006 dan “Menteri Keuangan Terbaik di Dunia” pada tahun 2006, 2007, dan 2007 versi Emerging Market. Dihina di negeri sendiri, dipuja di luar negeri Krisis global yang terjadi di tahun 2008 berdampak buruk pada banyak negara di berbagai belahan dunia. Ajaibnya, di Indonesia krisis 2008 seakan tak membawa dampak yang begitu berarti. Meskipun terjadi lonjakan harga, namun perekonomian Indonesia cenderung cukup stabil dan berjalan. Di balik keajaiban tersebut, Sri Mulyani-lah sosok yang setia memimpin rapat guna menyelamatkan ekonomi Indonesia dari ancaman krisis. Padahal saat itu, nyawa ibunya juga sedang berada dalam kondisi kritis. Dihadapkan pada 2 situasi pelik, dengan tegar Sri Mulyani tetap memimpin rapat walau ibunya telah meninggal dunia seperti dilansir tempo.co tanggal 10 Oktober 2008. Selamatnya Indonesia dari krisis ekonomi 2008 ternyata tidak dilihat para politisi Indonesia sebagai prestasi. Dengan kemunculan berbagai isu negatif yang terus digiring, seperti isu Bank Century, ditambah kasus Gayus Tambunan yang kembali mencoreng nama Ditjen Pajak, karya Sri Mulyani bagi bangsa seakan tak ada. Padahal, kita tidak akan tahu bagaimana nasib ekonomi Indonesia saat krisis global terjadi jika Sri Mulyani tidak bertindak cepat dan tepat. Para pengamat beranggapan bahwa krisis 2008 tidak separah krisis 1998, sehingga penanganannya memang lebih mudah. Namun, tak bisa kita lupakan bahwa selain Amerika, negara-negara di Eropa seperti Yunani, Spanyol, dan banyak negara lain yang terbilang maju gagal me-

10

img: theguardian.com

Pendidikan adalah Kunci Dengan latar belakang keluarga yang penuh dengan akademisi seperti dilansir dari laman swa.co.id, Sri Mulyani tumbuh menjadi sosok yang cerdas. Sri Mulyani lahir dari pasangan Prof. Satmoko (alm.) dan Prof. Dr. Retno Sriningsih Satmoko (alm.) yang keduanya merupakan guru besar Universitas Negeri Semarang (dulu IKIP Semarang). Terdiri dari 9 bersaudara, mayoritas kakak dan adik Sri Mulyani menyandang gelar master dan doktor. Hanya satu orang yang bertitel sarjana dan seorang lagi bergelar profesor. Beliau memperoleh beasiswa ketika berkuliah di Universitas Indonesia dan kemudian melanjutkan pendidikannya pada University of Illionis. Selain seorang ekonom handal, bagaimanapun Sri Mulyani juga sosok seorang ibu. Pasangan dari Tony Sumartono ini, memiliki 3 putra-putri yaitu Dewinta Illinia (20 tahun), kini kuliah di Australia jurusan perdagangan dan hukum; Adwin Haryo Indrawan (16 tahun), siswa SMA Al Azhar Jakarta; dan Luqman Indra Pambudi (13 tahun), siswa SMP Lab School Jakarta. [Pipik]


Wawancara Pada kesempatan ini, RASIO mewawancara salah satu wanita personel pembantu harian yang bekerja di lingkungan kampus FEB Unpad. Dialah Enung Cucu, yang biasa dipanggil Bu Nunung. Siapa nama lengkap ibu? Enung Cucu Yuningsiha a.k.a Bu Nunung

Berapakah umur ibu saat ini? Saat ini saya berumur 47 tahun.

Apakah pendidikan terkahir yang ibu kenyam? Terakhir itu saya bersekolah SMA di SMAN 1 Cianjur. Dimanakah alamat ibu saat ini? Saat ini saya tinggal di daerah Ujung Berung.

Berapa lama waktu perjalan yang di tempuh untuk mencapai kampus Unpad Dipati Ukur? Sekitar satu setengah jam lah, itu standarnya. Bakal beda kalo macet, pasti tambah lama. Sudah berapa lama ibu menjalani profesi sebagai OB di lingkungan kampus Unpad Dipati Ukur ini? Udah sekitar 1 tahunan, sebelumya saya dagang dan buka kantin di gedung MM tapi seiring berjalanannya waktu hasil yang diterima dari usaha itu menurun setiap pergantian tahun ajaran baru.

Sekelumit kisah kehidupan:

Bu Nunung Office girl di lingkungan FEB Unpad Sebagai seorang wanita kita tidak boleh hanya berpangku tangan dan bergantung. Dulu ketika saya ditinggal suami, saya sempat bingung dan khawatir sebab saya terlalu bergantung pada sosok suami, tetapi akhirnya saya sadar dan bangkit sendiri sampai seperti sekarang ini.

Berapa jumlah kelurga ibu yang saat ini tinggal bersama ibu? Kalo sekarang cuma berdua, tinggal saya dan anak saya yang terakhir. Saya mempunyai tiga orang anak dan anak saya perempuan semua, yang dua anak pertama sudah menikah dan suami saya sudah tidak ada, sudah lebih dulu dipanggil sang pencipta.

Apakah pendapatan atau hasil yang diterima dari profesi ini mampu menunjang kehidupan sehari-hari keluarga ibu ? Ya kalo dibilang cukup gak juga sih, tapi dicukup-cukupin. Sebernernya kalo boleh jujur masih kurang tapi buat mengatasi itu saya coba “buka kancing, tutup kancing”.

Bagaimanakah sistem yang diterapkan dalam profesi ibu sebagai OB di kampus Unpad Dipati Ukur ini? Kalo disini kebetulan saya mendapat tugas dilingkungan perpustakaan, jadi tidak ada system shift. Mulai masuk jam 6 pagi dan pulang jam 4 sore dari senin sampai sabtu, untuk hari sabtu Cuma setengah hari.

11


Wawancara

Bagaimana peran R.A Kartini sebagai penggerak emansipasi pada masa sekarang ? Sangat berpengaruh, sebagai seorang wanita kita tidak boleh hanya berpangku tangan dan bergantung. Dulu ketika saya ditinggal suami, saya sempat bingung dan khawatir sebab saya terlalu bergantung pada sosok suami, tapi karena memang sudah ditakdirkan seperti itu mencoba menerima dan buktinya saya mempu bangkit sampai seperti sekarang ini. Walaupun banyak yang bekerja sebagai OB disini cenderung gengsi, berbeda dengan saya yang bangga. Saya rela meninggalkan anak saya sejak pagi hari untuk menjalankan profesi saya ini. Salah satu hal yang membuat saya bangga adalah karena saya menjalankan profesi ini semata-mata untuk berikhtiar.

Disini saya cuma berdua dengan Pak Prama sebagai leader, kalo Pak Prama biasanya pulang paling akhir soalnya dia mesti meriksa lagi.

Pernahkah ibu berfikir untuk meninggalkan profesi ini dan beralih ke profesi lain? Bukan pernah, tapi sering. Selama ini saya berfikir untuk mencari pekerjaan lain namun gak ada modalnya.

Apa arti seorang wanita menurut pandangan ibu? Kalo menurut saya wanita itu adalah seseorang yang melebihi laki-laki dalam hal segalanya. Dia bisa mengurus anakanaknya yang sebenarnya tidak semudah dengan kelihatannya. Walaupun gaji dan penghasilan yang diterima seorang wanita lebih sedikit dari pada laki-laki tapi perannya tidak kalah penting.

Hal apa saja yang telah ibu lakukan dalam melanjutkan perjuangan R.A Kartini pada masa sekarang? Salah satunya saya selalu berusaha menyekolahkan anak-anak saya setinggi mungkin walaupun anak saya perempuan semua. Saya rela berkorban agar anak saya selalu bisa sekolah. Adakah tokoh wanita lain yang menjadi inspirasi bagi ibu? Ada, yaitu Ibu Fatmawati. Beliau merupakan sosok wanita yang menjadi tokoh penting dalam upaya meraih kemerdekaan. Dia rela berkorban dengan hati yang tulus.

Adakah nasihat yang ingin ibu sampaikan untuk wanita-wanita lain khususnya di lingkungan kampun Unpad Dipati Ukur? Sekolah yang benar, pergunakan fasilitas yang telah diberikan oleh orang tua, jangan menjadi wanita yang terlalu bergantung pada orang lain dan hormatilah iman. [Agung T.] img: http://en.wikipedia.org an inspirational poster produced by J. Howard Miller in 1943

12


FEB’s Entrepreneur

Badzlina Anindyka

Manisnya Bisnis Cupcake Rumahan Cupcakes merupakan salah satu jenis penganan kecil yang sedang tren dewasa ini. Selain rasanya yang enak, kue di dalam mangkuk ini digemari karena bentuknya yang unik dan mengggugah selera. Kue ini juga selalu dilengkapi dengan topping dan

pilihan rasa yang variatif sehingga digemari oleh semua kalangan. Seperti jamur di musim hujan, para peminat usaha beramai-ramai menanamkan modalnya untuk membuka usaha rumahan di bidang ini. Salah satunya ialah Badzlina Anindyka,

13

mahasiswi jurusan Akuntansi FEB Unpad, tahun angkatan 2010. Ia memulai bisnis cupcakes dengan merek Lafayette Bites, sejak Januari 2012 bersama para sahabatnya. Nama Lafayette sendiri terinspirasi dari salah satu nama pusat perbelanjaan di kota Paris.


FEB’s Entrepreneur

Badzlina atau yang akrab disapa Baze, mengungkapkan bahwa usaha tersebut berawal ketika ia dan keempat sahabatnya mencoba-coba membuat cupcakes saat mengadakan reuni. Ternyata, cupcakes hasil buatan mereka banyak mendapat respon positif dari teman-teman hingga akhirnya mereka memutuskan untuk memulai bisnis cupcakes sebagai usaha sampingan. “Semula pemiliknya ada lima orang, tetapi sekarang cuma tiga orang, yaitu saya, Saskia, dan Aizani. Tahun 2012 silam, kami menitipkan produk kami di beberapa kafe di Bandung. Namun untuk sekarang, kami hanya melakukan penjualan made by order via online dan distribusi secara delivery,” papar dara kelahiran 8 September 1992 ini. Strategi pemasaran bisnisnya yang paling efektif adalah melalui mulut ke mulut. Mereka ingin menjaga loyalitas konsumen agar semua sama-sama puas. “Kami memiliki 9 varian rasa cupcakes, selain itu kami juga menyediakan macaroons dan jarcakes. Keunggulan produk kami tentunya terletak pada kualitas rasa, terutama kualitas cream cheese pada topping,” urainya. Berdasarkan hasil penjualan, cupcakes rasa green tea-lah yang selalu menjadi favorit. Ia mengakui keuntungan yang diperoleh dari cupcakes yang dijual seharga Rp 16.500,- per mangkuk itu bisa di atas 50 persen. Dalam menjalankan roda usahanya, Baze tak menampik bahwa ia dan para sahabatnya seringkali menemui berbagai hambatan. Tantangan yang utama adalah masalah dana dan pembagian waktu antara menjalankan kewajiban sebagai seorang mahasiswa, berorganisasi, dan mengurus bisnis. Baze pun mencoba melihat

14


FEB’s Entrepreneur tantangan itu secara jernih. Untuk menyiasatinya, ia mengusahakan agar seluruh kegiatan akademik hanya berlangsung sampai sore hari saja, karena malam hari ia gunakan untuk mengurus bisnis. Sebagai sesama pemilik Lafayette, Baze dan para sahabatnya selalu berusaha untuk saling menyemangati dan menurunkan ego masing-masing demi kelancaran usaha. Mereka juga sangat mengutamakan quality control pada setiap produk yang mereka buat. Saat ini, Lafayette Bites yang sudah berjalan lebih kurang 2 tahun akan selalu mencoba untuk bergerak maju agar dapat terus bersaing dengan usaha-usaha lain khususnya yang sejenis. Baze selaku salah satu pemilik Lafayette telah berencana untuk memperdalam keterampilan kulinernya dengan mengikuti kursus di Australia. Ke depan, ia juga berharap dapat memiliki outlet sendiri untuk menampung dan memberi kenyamanan lebih kepada konsumen.

rutinitas kantor, dan bisnis sampingan. Misalnya seperti Diana Rikasari dan Dian Pelangi. Mereka layak dicontoh karena mereka memiliki passion dan fokus pada passion-nya sehingga dapat mengharumkan nama bangsa,” ujarnya. Bagi teman-teman yang hendak mengikuti jejak Badzlina sebagai seorang entrepreneur, ia memberikan sedikit wejangan. “Kalau kita mau menjalankan usaha harus didasari oleh niat dan ketekunan. Misalnya kalau tertarik dengan fesyen, maka jalankanlah usaha di bidang clothing. Jika berniat mencari rekan bisnis, harus yang berkemauan keras serta punya kemampuan marketing dan networking yang kuat. Selama ada waktu dan kemauan, jangan pernah menyerah, jangan takut mengambil risiko. Harus terus mencoba, karena semua yang diawali dari titik nol pasti bisa sukses,” tandasnya. [Rika]

Pada kesempatan itu, saat dimintai pendapat mengenai kelebihan seorang enterpreneur perempuan dibandingkan pria, menurutnya, perempuan lebih multi tasking dan fleksibel, lebih teratur dan rapi, juga memiliki kemampuan bernegosiasi yang lebih baik dalam menjalankan bisnis. “Perempuan itu memiliki ide bisnis yang kuat. Seorang perempuan nantinya bisa tetap mengurus keluarga, sambil menjalankan

15


Bandung Heritage

Lasminingrat, Dewi Sartika, dan Perempuan

“Barangsiapa tidak berani, dia tidak bakal menang; itulah semboyanku! Maju! Semua harus dimulai dengan berani! Pemberani – pemberani memenangkan tiga perempat dunia!” - Kartini Di zaman kolonial dulu, Bandung adalah kota yang memiliki banyak sekolah untuk bangsa Eropa maupun kaum pribumi. Kita ambil contoh M.O.S.V.I.A dan O.S.V.I.A yang didirikan untuk priayi. Kemudian, Kweekschool untuk pribumi yang diproyeksikan menjadi guru. THS didirikan untuk para insinyur Hindia Belanda. Adapula sekolah perempuan yang khusus menangani pendidikan perempuan-perempuan pribumi. Bicara sekolah perempuan di Jawa Barat, pikiran kita akan tertuju pada alm. Rd Dewi Sartika yang mengabdikan masa hidupnya bagi pendidikan dan perjuangan emansipasi kaum perempuan pribumi. Selain Dewi Sartika, adapula sosok lain yang tak boleh dilupakan jasanya di bidang pendidikan perempuan.

Ialah Lasminingrat, seorang sastrawan perempuan pertama yang ikut bergabung mendirikan sekolah perempuan di Garut. Baik Dewi sartika maupun Lasminingrat, merupakan cerminan kaum perempuan yang ingin memperjuangkan haknya untuk mengenyam pendidikan pada zaman itu. Kedua perempuan ini adalah perempuan yang berani memiliki pandangan berbeda dari perempuan-perempuan lain yang hidup di zaman pingit. Zaman dimana lingkungan sosial bagitu mengekang dan membatasi gerak perempuan. Dalam keadaan seperti ini, Dewi Sartika dan Lasminingrat melihat bahwa di balik kepasrahan kaum perempuan, mereka sesungguhnya ingin memperoleh persamaan hak dengan kaum pria, dan keinginan itu layak untuk mereka wujudkan.

16


Bandung Heritage Berbekal pendidikan sekolah rakjat selama tiga tahun, Dewi Sartika kemudian mendirikan sekolah khusus bagi anak-anak gadis di kota Bandung. Sekolah ini didirikan pada tanggal 16 Januari 1904 dengan nama “Sakola Istri”. Sakola istri mendapat dukungan dari paman Dewi Sar tika yakni R.A.A Martanagara dan Inspektur Kantor Pengajaran, Tuan Den Hamer. Sakola Istri semula hanya mengajarkan kemampuan membaca, menulis dan berhitung, kemudian, ditambah pelajaran keterampilan wanita seperti memasak, menjahit, mencuci, menyeterika, membordir, membatik, kesehatan keluarga, kesenian, dan kerajinan tangan. Kemajuan Sakola Istri pada tahun 1910 menuntut perubahan nama menjadi “Sakola Kautamaan Istri”. Raden Agah Suriawinata yang menikahi Dewi Sartika tahun 1906 ikut membantu dan menopang pengembangan sekolah yang didirikan istrinya

17

tersebut. Dengan dukungan Raden Agah, di tahun 1912, sembilan sekolah perempuan berhasil didirikan di Tatar Sunda. Terdapat suatu kisah membanggakan mengenai Dewi Sartika dan Sakola Kautamaan Istri. Tahun 1913, hasil karya murid Sakola Kautamaan Istri dipamerkan dalam Tentoonstelling de vrouw (Pameran karya wanita) di Batavia. Pada saat itu, Dewi Sartika mendapat piagam dari pemerintah atas karya dan usahanya dalam memajukan pendidikan remaja-putri pribumi. Tatkala “Koloniale Tentoonstelling” berlangsung di Semarang bulan September 1914, Rd. Dewi Sartika menyampaikan pidato dalam bahasa Melayu mengenai pendidikan dan pengajaran gadis pribumi. Untuk mengabadikan jasa beliau, Sakola Kautamaan Istri berubah nama menjadi Sekolah Raden Dewi, dan pada tahun yang sama, Dewi Sartika menerima penghargaan berupa Ridder in de Oranje Nassau Orde. Di waktu yang sedikit berbeda dengan Dewi Sartika, Raden Ayu Lasminingrat juga ikut berperan signifikan dalam memajukan pendidikan perempuan. Lasminingrat adalah putri kandung RH Moehammad Moesa, yang merupakan pelopor kesustraan cetak Sunda, dan tokoh keagamaan Sunda pada abad ke-19.


Bandung Heritage

puan bernama Sakola Kautamaan Istri. Sekolah ini didirikan tahun 1909 di ruang gamelan Pendopo Kabupaten Garut. Awalnya, Lasminingrat sempat kesulitan mencari murid sehingga ia mengerahkan anak-anak gadis kerabatnya dan pegawai pangreh praja sebagai peserta didik, sedangkan gurunya, antara lain Nyi Raden Suraningrum, Nyi Raden Rajakusumah, dan Murtiah.

Latar belakang pendidikan Lasminingrat terbilang luar biasa untuk gadis yang hidup di zamannya. Beliau beruntung bisa mendapat pendidikan Eropa berupa baca-tulis aksara Latin, bahasa Belanda, dan ilmu pengetahuan lain yang langka dipelajari perempuan pada saat itu. Pendidikan Eropa yang didapat Lasminingrat diberikan oleh ayah angkatnya yang berkebangsaan Belanda, bernama Norman.

Pada 12 Februari 1913, Sakola Kautamaan Istri disahkan sebagai lembaga yang disebut Vereeneging Kautamaan Istri Scholen, dengan akta nomor 12. Dalam perkembangannya, Lasminingrat juga membuka Sakola Kautamaan Istri di Distrik Tarogong, Cikajang, dan Boyongbong. Namun, karena alasan kesehatan, pengelolaan sekolah kemudian diserahkan kepada RA Poernamaningrat. Pada masa pendudukan Jepang, Sakola Kautamaan Istri berganti menjadi Sekolah Rakyat yang tak lagi dikhususkan sebagai sekolah perempuan. Sekolah Rakyat merupakan sekolah campuran yang terbuka bagi semua kalangan pribumi. Pada tahun 1950, Sekolah Rakyat berubah menjadi SDN Ranggalawe I dan IV kemudian berubah nama menjadi SDN Regol VII dan X sejak tahun 1990-an hingga kini.

Jasa Lasminingrat bagi kemajuan intelektual kaum perempuan sungguh besar. Dengan latar pendidikannya yang baik, beliau menjadi perempuan pribumi pertama yang menerbitkan buku pelajaran sekolah pada masa itu. Beliau menyadur dengan tepat ceritacerita dongeng karangan Grimm, cerita-cerita dari negeri dongeng (oleh J.A.A Goeverneur), dan cerita-cerita lainnya ke dalam bahasa Sunda. Bagi Lasminingrat, menulis buku pelajaran saja tidak cukup untuk membantu pendidikan kaum perempuan di Garut. Sama seperti ayah angkatnya yang membangun Bijzoncere Europeesche School (Sekolah Eropa), Lasminingrat membangun sekolah khusus perem-

oleh: Vecco Suryahadi

18


‘‘

Bandung Heritage

Lonteku... Terima kasih Atas pertolonganmu di malam itu Lonteku... Dekat padaku Mari kita lanjutkan cerita hari esok

‘‘

Kita perlu mengetahui bahwa pelacuran di zaman kerajaan berbeda dengan tempo kini.

Lonteku

Pelacuran dalam Catatan Sejarah milik raja. Tugas raja pada saat itu adalah menetapkan hukum dan menegakkan keadilan; dan semua orang diharuskan mematuhinya. Kekuasaan tak terbatas ini juga tercermin dari banyak selir yang dimilikinya.

Penggalan lirik Iwan Fals berjudul Lonteku akan mengawali saya dalam tulisan ini. Salah satu penggalan lagu ini menggambarkan sebagian tulisan ini. Tulisan mengenai lonte atau pelacur.

Kita selalu menghindari pembicaraan mengenai pelacur. Kita tidak tahu pasti alasan pelacur itu melacur. Kita hanya memakai opini – opini umum untuk menggambarkan pelacur. Kita selalu menghindari untuk menggali informasi pelacur. Sebelum mulai lebih lanjut, tulisan ini hanya menggambarkan pelacur secara general di Jawa. Peran apa yang diberikan pelacur, pandangan masyarakat pada pelacur, alasan mereka melacur, dan beberapa bahasan lain. Raja adalah seseorang yang memiliki kekuasaan mutlak di kerajaan. Seluruh isi kerajaan dimiliki raja. Tanah, air, pohon, rumah – rumah, dan masyarakat adalah

Kita perlu mengingat bahwa pelacuran di zaman kerajaan berbeda dengan tempo kini. Perbedaannya terdapat pada alasan dan siapa pelacur itu. Pada zaman kerajaan, terdapat wanita – wanita atau puteri bangsawan yang dipersembahkan untuk raja atau pihak berkuasa. Wanita – wanita ini berperan sebagai selir dalam kerajaan. Selir – selir ini diberikan sebagai tanda kesetiaan para bangsawan wilayah kerajaan. Maka, semakin banyak selir, semakin besar kekuasaan raja tersebut.

19

Perempuan yang dijadikan selir adalah perempuan cantik dan memikat. Terdapat daerah yang hingga saat ini merupakan pemasok perempuan kerajaan.


Bandung Heritage India jaman kerajaan di Jawa dimulai dari munculnya kerajaan Jawa Dipa tahun 200 SM. Sedangkan jaman kolonialisme dimulai dari datangnya Portugis pada tahun 1511. Saat jaman kolonialisme, terdapat masa pemerintahan kolonial. Dimulai dari pemerintahan Portugis, pemerintahan Belanda, pemerintahan Inggris, dan pemerintahan Jepang.

Koentjoro (1989:3) mengidentifikasikan 11 kabupaten di Jawa yaitu Kabupaten Indramayu, Karawang, Kuningan, Pati, Jepara, Grobogan, Wonogiri, Blitar, Banyuwangi, Lamongan, dan Gabus. Kecamatan Gabus Wetan di Indramayu juga terkenal sebagai sumber pelacur. Menurut sejarah, daerah ini merupakan salah satu pemasok perempuan muda untuk dikirim ke istana sultan Cirebon sebagai selir.

Kita kembali pada perlakuan dan pandangan terhadap perempuan. Seperti kita tahu bahwa perempuan pada masa kerajaan dipandang sebagai barang dagangan. Pada jaman kolonialisme, terdapat bentuk industri yang menjadi awal mula komersialisasi akan perempuan. Bentuk industri itu adalah industri seks.

Terdapat pandangan menarik dari raja mengenai selir. Hal ini dijelaskan oleh Hull (1997:2) yakni semakin banyak selir yang dipelihara maka semakin kuat posisi raja di mata masyarakat. Dari sisi ketangguhan fisik, mengambil banyak selir berarti mempercepat proses reproduksi kekuasaan para raja dan membuktikan adanya kejayaan spiritual. Pada saat itu, hanya raja dan bangsawan yang bisa memiliki selir. Mempersembahkan saudara atau anak perempuan kepada bupati atau pejabat tinggi merupakan tindakan yang didorong oleh hasrat untuk memperbesar dan memperluas kekuasaan. Tindakan ini mencerminkan dukungan politik dan keagungan serta kekuasaan raja. Oleh karena itu, status perempuan pada jaman kerajaan adalah sebagai upeti.

Industri seks yang lebih terorganisir berkembang pesat pada periode penjajahan Belanda. Kondisi tersebut terlihat dengan adanya sistem perbudakan tradisional dan perseliran yang dilaksanakan untuk memenuhi kebutuhan seks masyarakat Eropa. Umumnya, aktivitas ini berkembang di daerah sekitar pelabuhan di Nusantara. Pemuasan seks ini difokuskan pada para serdadu, pedagang, dan para utusan.

Kita akan sedikit loncat dari jaman kerajaan menuju jaman kolonialisme. Seperti kita tahu jaman kerajaan dan jaman kolonialisme memiliki garis singgung waktu. Menurut catatan pedagang

20


Bandung Heritage

didirikan dengan maksud untuk merehabilitasi perempuan yang bekerja sebagai pemuas kebutuhan seks orang – orang Eropa dan melindungi mereka dari kecaman masyarakat. Kecaman masyarakat saat itu sangat keras dan tidak manusiawi seperti pengusiran dari klan.

Dari semula, isu tersebut telah menimbulkan banyak dilema bagi penduduk pribumi. Dari satu sisi, banyak lelaki bujang yang dibawa pengusaha atau dikirim oleh pemerintah kolonial untuk datang ke Indonesia, telah menyebabkan adanya permintaan pelayanan seks ini. Banyak keluarg pribumi yang menjual anak perempuannya untuk mendapatkan imbalan materi dari para pelanggan baru. Pada sisi lain, baik penduduk pribumi maupun masyarakat kolonial menganggap berbahaya hubungan antar ras yang tidak menentu.

Tahun 1852, pemerintah mengeluarkan peraturan baru yang menyetujui komersialisasi industri seks tetapi dengan serangkaian aturan untuk menghindari tindakan kejahatan yang ditimbulkan. Pelacur yang bekerja disana disebut wanita publik. Pada peraturan tersebut, wanita publik diawasi secara langsung dan ketat oleh polisi. Semua wanita yang terdaftar diwajibkan memiliki kartu kesehatan dan secara rutin menjalani pemeriksaan kesehatan untuk mendeteksi adanya penyakit kelamin lainnya.

Hubungan antar ras ini umumnya dilarang dan perseliran antar ras juga tidak diperkenankan. Akibatnya hubungan antar ras dilakukan secara diam – diam! Dalam hal ini, hubungan gelap ini menimbulkan status nyai bagi perempuan.

Ada kisah menarik mengenai pelacur dengan sebuah kota. Siapa yang tidak kenal Parijs Van Java? Sebuah gelar yang tidak bisa diberikan tanpa alasan. Banyak buku menceritakan keindahan Bandung seperti Paris, keindahan Sungai Cikapundung seperti Sungai Seine, dan suasana eropa yang kental di Bandung. Tapi tidak ada yang mengira bahwa sebutan Parijs Van Java sering dihubungan dengan citra negatif. Seorang bernama Kim Lang pernah menulis sebuah surat kabar tahun 1917.

Pada tahun 1650, panti perbaikan perempuan atau house of correction for women

‘‘

“Soeda beroelang – oelang orang sohorken bahoewa Bandoeng itoelah Parisnya tanah Djawa. Tapi, sepandjang pengetahoean saja jang di seboet Paris itoe boekannja tentang hal kabaekan peratoeran politie, roema – roema dan toko – toko dan laen – laen sebaginja, hanjalah dari banjaknja koepoe – koepoe malem sadja, itoelah jang kenamaan Paris tanah Djawa... “ 21

‘‘

Situasi pada masa kolonial tersebut membuat sakit hati para perempuan Indonesia karena menempatkan mereka pada posisi yang tidak menguntungkan secara hukum. Sekitar tahun 1600-an, pemerintah mengeluarkan peraturan yang melarang keluarga pemeluk agama kristen mempekerjakan wanita pribumi sebagai pembantu rumah tangga.


Bandung Heritage Kesan yang diberitakan Kim Lang ada benarnya. Kemeriahan Bandung bisa berpotensi memicu maraknya pelacuran di kota ini. Kesan negatif ini bisa kita dapat di Rasia Bandoeng oleh Chabanneau (1918) dan Remy Sylado dalam Parijs van Java (2013). Bukti dari berita mereka adalah banyak kawasan prostitusi di Bandung. Kita ambil contoh rumah bordil di Tegallega di Bandung Selatan, Pension de Duif di Bandung Utara seperti yang digambarkan Remy Sylado, Gang Coorde (jalan Kejaksaan sekarang) di kawasan Braga, Saritem, dan beberapa kawasan sekitaran stasiun kereta api di Bandung. Beda jaman, beda perlakuan pada wanita. Hal ini terlihat saat jaman penjajahan Jepang. Seperti kita pelajari di sekolah dasar, 3,5 tahun Jepang lebih merusak dibanding 350 tahun Belanda. Hal tersebut berlaku juga untuk wanita pribumi dan non pribumi. Jepang pada saat penjajahan termasuk penjajah yang keji dan sadis untuk wanita. Saat kolonial Jepang di Hindia Belanda, wanita indo dan eropa juga menjadi korban

prostitusi. Wanita indo dan eropa diculik dari kamp konsentrasi dan dijual di beberapa rumah bordil. Rumah bordil yang cukup terkenal saat kolonial Jepang adalah rumah bordil yang berada di depan Maison Bogerijen (Braga Permai sekarang), Hotel Patria, dan Penginapan Welgelegen. Kisah tragis saat berbicara mengenai wanita pribumi yang menjadi pelacur saat kolonial Jepang. Wanita – wanita pribumi ini dipaksa atau diiming – imingi untuk sekolah ke luar negeri atau dijadikan pemain sandiwara agar menjadi jugun ianfu. Beberapa jugun ianfu dibawa menuju pulau – pulau terpencil untuk menjadi wanita penghibur. Saat perang usai, wanita – wanita ini ditinggalkan dan mati kelaparan. Sedikit yang tahu mengenai peran pelacur saat pra kemerdekaan indonesia. Siapa yang tak kenal Ir. Soekarno? Founding father indonesia ini memiliki hubungan menarik dengan pelacur. Hal ini bermula pada Soekarno muda hidup di Bandung. Soekarno yang saat itu merupakan bagian dari PNI sering menggunakan pelacur sebagai informan. Soekarno juga sering menggunakan tempat pelacur sebagai tempat rapat PNI. Soekarno pun merekrut para pelacur sebagai kader PNI. Ada 670 anggota PNI Bandung yang berprofesi sebagai pelacur. (Vecco)

22


Travel

Surga Tersembunyi Itu Bernama Pantai Leiliang oleh Faisal Aditya

Pantai Leiliang. Sebagian besar dari kalian mungkin merasa asing dengan nama ini. Sebagai pantai yang belum banyak terjamah manusia, pantai ini menyimpan keindahan alam Indonesia Timur yang masih murni dan terjaga. Januari 2014 silam, saya berkesempatan mengunjungi pantai ini, dan lewat tulisan ini, saya ingin membagi cerita saya kepada kalian.

dipilih. Pilihan pertama tergolong mudah tetapi mahal, yakni dengan naik pesawat dari Bandara I Gusti Ngurah Rai Denpasar, Bali dengan tujuan Bandara Tambolaka, Waikabubak. Pilihan kedua, yakni menggunakan kapal ferry dari pelabuhan Sape yang terletak di ujung timur Pulau Sumbawa, Nusa Tenggara Barat menuju pelabuhan Waikelo yang terletak di Pulau Sumba bagian Barat.

Pantai Leiliang terletak di Provinsi Nusa Tenggara Timur, tepatnya di Pulau Sumba, Kabupaten Sumba Barat Daya. Untuk mencapai Pulau Sumba, terdapat dua alternatif transportasi yang bisa

“dengan kapal ferry akan dibutuhkan total waktu sekitar 35 jam perjalanan” 23


Travel

Jika terjadi badai, maka pelabuhan bisa ditutup sampai waktu yang tidak dapat ditentukan. Bagi kalian yang tertarik untuk mencoba, besiap-siaplah, karena pelayaran ini akan memakan waktu sekitar 7 hingga 8 jam. Selain itu, kapal ferry yang melayani rute Sape-Waikelo bisa dibilang memiliki kapasitas yang kurang dapat menampung banyak penumpang. Dengan jadwal keberangkatan yang hanya dua kali dalam seminggu, dapat dipastikan kapal ini akan selalu disesaki penumpang, ditambah barang-barang

Jika menggunakan pesawat, perjalanan dari Bali menuju Tambolaka hanya memakan waktu satu setengah jam, sedangkan, jika kita memilih jalur darat dan menyeberang dengan kapal ferry, maka akan dibutuhkan total waktu sekitar 35 jam perjalanan. Saya dan dua orang teman saya kala itu memilih alternatif perjalanan kedua. Selain lebih hemat, kami ingin benar-benar menikmati per-

jalanan dan memanfaatkan libur semester genap yang terasa sangat panjang.Perlu diketahui, kapal ferry yang melayani penyeberangan dari Pulau Sumbawa (pelabuhan Sape) ke Pulau Sumba (pelabuhan Waikelo) hanya ada dua kali dalam seminggu: Selasa dan Sabtu untuk perjalanan dari pelabuhan Sape menuju pelabuhan Waikelo, serta Senin dan Jumat untuk arah sebaliknya. Ada atau tidaknya pelayaran juga sangat bergantung pada cuaca di sekitar pelabuhan.

kiriman dan hewan ternak yang biasanya ikut masuk ke dalam kapal. Sesampainya kami di pelabuhan Waikelo, kami singgah di kota besar di Pulau Sumba bagian barat yaitu Waikabubak. Untuk mencapai Pantai Leiliang, dari Waikabubak kami harus menuju ke selatan melalui jalan protokol daerah. Selama perjalanan, kami melewati bukit dan lembah hijau yang sangat indah. Sejauh mata memandang kami hanya dapat

24


Travel melihat hamparan hutan dan padang rumput. Dua kali, perjalanan kami harus terhenti akibat ulah kumpulan kerbau yang bermalas-malasan di tengah jalan. Sungguh suasana perjalanan yang berbeda jika dibandingkan dengan perjalanan di pulau Jawa, sebab hewan-hewan di sini masih dibiarkan hidup berkeliaran dengan bebas. Semakin dekat dengan pesisir pantai, semakin banyak sungai yang terlihat bermuara ke laut. Aroma air laut pun sedikit demi sedikit semakin tercium dibawa angin. Sesekali, pesisir pantai berwarna putih tampak muncul dari kejauhan saat kami menanjak. Setelah dua jam perjalanan menggunakan mobil pick-up yang berkesan sekaligus melelahkan, akhirnya kami sampai di Pantai Leiliang.

Pantai Leiliang menyambut kami dengan pasir putih cerah yang masih “perawan” dan air laut berwarna biru menawan. Tak ada satupun sampah terlihat di sini. Pantai ini landai dan dilindungi oleh gugusan

“Pulau Sumba memiliki banyak pantai yang indah seperti Pantai Leiliang” batu karang yang menjorok ke laut dan memecah ombak besar khas pantai selatan. Sebenarnya, kondisi pantai seperti ini sangat memungkinkan pengunjung untuk berenang, tetapi kita tetap harus berhatihati karena arus balik ombak yang

25


Travel

besar akan sangat berbahaya jika kita berenang terlalu jauh. Di salah satu ujung pantai, kita dapat menemukan aliran sungai air tawar yang terjebak dan membentuk semacam danau kecil. Danau ini sangat jernih dan bisa digunakan untuk berbilas setelah selesai bermain di pantai. Bisa dibilang pantai Leiliang merupakan pantai terindah yang pernah saya datangi. Menariknya lagi, selama berada di Pantai Leiliang saya hanya bertemu satu keluarga yang berkunjung. Pantai indah yang sepi, sangat sempurna bukan? Setelah saya dan kedua teman saya puas bermain di pantai, kami menyempatkan mampir ke Air Terjun Lapopu yang letaknya tidak berjauhan dengan Pantai Leiliang. Selama berada di Pulau Sumba, saya banyak berbincang dengan warga lokal. Mereka bercerita bahwa dulu sempat ada warga Belanda yang ingin membeli Pantai Leiliang untuk mendirikan hotel, tetapi, untungnya tidak terjadi kesepakatan harga antara warga Belanda tersebut dengan warga lokal. Saya juga mendengar dari beberapa warga bahwa Pulau Sumba memiliki banyak pantai yang indah seperti Pantai Leiliang. Namun, tidak ada upaya dari pemerintah untuk mengelola ataupun melindungi pantai-pantai tersebut, sehingga, beberapa di antaranya kini dibeli oleh orang asing untuk dibangun penginapan. Sungguh menyedihkan, bagaimana bisa keindahan alam Indonesia lebih diketahui dan dimanfaatkan oleh orang asing ketimbang bangsa sendiri. Perjalanan ini sedikit banyak telah menyadarkan saya akan potensi alam Indonesia yang sudah sepantasnya lebih diperhatikan.

26


Kuliner

My Secret Garden Jl. Gunung Agung 12, Ciumbuleuit, Bandung

gah foto di media sosial Path. Konsep dan suasana kafe yang tampak unik di foto tersebut menggelitik rasa penasaran saya untuk mencobanya. My Secret Garden berlokasi di daerah Ciumbuleuit, tak jauh dari tempat makan yang sudah terlebih dahulu terkenal yakni Maxi’s Resto. Sesuai dengan namanya yang “secret”, letak cafe ini memang cukup tersemSelepas UTS hari pertama lalu, saya bunyi, sehingga agak sulit untuk ditemukan bersama beberapa teman yang memang terlebih jika kita tidak mengetahui alamat hobi berwisata kuliner, berniat mencari lengkapnya. Memasuki halaman, tampak tempat makan yang pas untuk melepas bangunan kafe yang menyerupai rumah penat sambil berbincang-bincang sandengan arsitektur bergaya kolonial Belanda. tai. Dari sekian banyak kafe dan resto Eksterior bangunan tampak manis dengan di kota Bandung, kami tertarik pada seornamen bata expose di beberapa bagian, buah kafe di daerah utara bernama My sedangkan interior ruangannya didominasi Secret Garden. Kafe ini tergolong masih warna putih dengan dekorasi yang kental baru. Saya mengetahui keberadaan kafe akan nuansa vintage. ini, kala seorang teman SMA mengung-

27


Kuliner

Kafe ini memiliki halaman yang cukup luas. Bak sebuah rumah di pedesaan Eropa dalam b uku cerita anak-anak, halaman kafe ini dihiasi beragam jenis tanaman bunga, kursi taman, sangkar burung dengan bentuk unik, dan bahkan sebuah rumah pohon! Ya, kafe ini memang didesain sedemikian rupa agar cocok sebagai tempat melakukan photosession, menggelar garden party, dan bahkan untuk megadakan upacara pernikahan. Bicara mengenai foto, saat saya berkunjung kemarin, terdapat pasangan muda yang sedang melakukan pre-wedding photoshoot. Uniknya, selain menyediakan berbagai spot cantik untuk mengabadikan gambar, kafe ini juga menyediakan balon gas gratis untuk pelanggan yang bisa dipergunakan sebagai properti tambahan. My Secret Garden menyuguhkan hidangan ala Indonesia dan Western, terutama pizza dan pasta. Harga makanan di sini berkisar antara 20 ribu hingga 80 ribu rupiah. Selain kopi, teh, dan iced chocolate, kafe ini juga menyediakan mojito, dan minuman olahan lain. Citra rasa makanan dan minumannya menurut saya tidak kalah dengan tempat-tempat makan lain yang ada di Bandung, meskipun tidak terbilang istimewa. Yang mengejutkan adalah, kafe ini hanya mematok pajak sebesar 3%. Jauh di bawah standar pajak kafe dan resto lain di Kota Bandung yang umumnya sebesar 15%. Cukup terjangkau bukan? Jika tertarik untuk mencoba, kafe ini beroperasi setiap hari pada pukul 10:00-21:00 pada hari kerja dan tutup pukul 22:00 pada akhir pekan. [Putren]

28 1


Sastra

Wanita Pujaan oleh: Yasar Firdaus

Ujung pelangi ada disana Di ujung dari matamu yang sayu Lalu disana warna warna tadi berpadu Aku tak tahu jadi apa warnanya Tapi pada warna warna itu aku tahu Aku harus memberikan hormat padamu Pada kau wahai sumber kehidupan Pada makhluk-makhluk yang ditakdirkan cantik

Kau menatap dengan malu-malu Yang bisa membuat lawan jenismu bertindak memalukan Hingga malu pada dirinya sendiri Demi tatapan tegasnya padamu Kau adalah Dewi tanpa pemujaan Tanpa ada kata pujaan kau layak dipuja Memujamu adalah mensyukuri nikmat Terimakasih kau ada disini Duniaku berakhir jika tanpamu

29


Turn static files into dynamic content formats.

Create a flipbook
RASIO Edisi April 2014 by kopifebunpad - Issuu