Mengemban Tri Dharma Perguruan Tinggi
EDISI
#10
Januari 2017 16 Halaman
Liputan Khusus: Relevansi Kuantitas Cepat dan Tendensi Kualitas Lambat
2
Tajuk
Tabloid KERTAS edisi #10 (Januari 2017)
Tabloid KERTAS edisi #10 (Januari 2017)
Salam Redaksi Salam pers mahasiswa!! Salam perjuangan!!
H
idup sekali! Mati sekali! Maka gunakanlah kesempatan yang ada untuk perjuangan! Perjuangan untuk mendapatkan hak! Perjuangan untuk keadilan!... Puji Syukur kami ucapkan kehadirat Allah SWT. Atas limpahan dan rahmatnya sehingga Tabloid Kertas edisi ke-10 kembali hadir ke tangan pembaca. Tentunya menjadi suatu apresiasi bagi kami tim redaksi Tabloid Kertas, karena berhasil memberikan karya terbaik. Terlepas dari itu, tentunya masih terdapat kesalahan-kesalahan dari segi isi dan lainnya. Untuk itu, kritik dan saran kami harapkan demi perbaikan dan penyempurnaan pada edisi selanjutnya. Tabloid Kertas edisi kali ini
membahas mengenai sarana dan prasarana yang ada di Universitas Fajar (Unifa) bertajuk “Relevansi Kuantitas Cepat dan Tendensi Kualitas Lambat.” Hal ini ditinjau berdasarkan SNPT bagian ketujuh tentang Standar Sarana dan Prasarana Pembelajaran yang menyatakan bahwa, standar prasarana pembelajaran sebagaimana dimaksud dalam pasal 30 paling sedikit terdiri atas lahan, ruang kelas, perpustakaan, laboratorium/studio/bengkel kerja/ unit produksi, tempat berolahraga, ruang untuk berkesenian, ruang unit kegiatan mahasiswa, ruang pimpinan perguruan tinggi, ruang dosen, ruang tata usaha, dan fasilitas umum. Itulah yang membuat mahasiswa mengeluhkan keadaan yang belum sepenuhnya terpenuhi di Unifa. Belum lagi, tingkat pendaftar yang semakin membludak tiap tahunnya, dengan pembayaran yang mengalami
peningkatan. Kami berharap dengan terbitnya Tabloid Kertas edisi ini mampu memberikan gambaran kepada seluruh civitas akademika di Unifa mengenai peningkatan kuantitas mahasiswa dan kualitas sarana maupun prasarana kampus biru saat ini. Tidak ada maksud menjatuhkan reputasi, apalagi menodai citra kampus dalam pemberitaan edisi kali ini. Jika terdapat hal-hal yang tidak sesuai dengan keinginan pihak kampus atau pun ada oknum tertentu yang tidak menyukai isi berita yang kami sajikan, mohon maaf. Tapi kami segenap tim redaksi telah melakukan yang terbaik dalam menyajikan informasi tersebut dalam bentuk saran maupun kritikan. Agar dapat dijadikan bahan evaluasi atas progres kampus yang lebih ideal.
Susunan Redaksi Ketua Umum : Axel layuk, Sekretaris: St Suhartina A, Bendahara: Dian Rahmadani, Pemimpin Redakasi: Andi Nur Isman Sofyan, Redaktur Pelaksana: Justina, Redaktur: Risky Amaliyah, Reporter: Ilham Hasri, Heldayanti, Nurparamadina, Widyaningsih, Amrina Amrullah, Muh. Imaduddin, Muh. Asrifai, Chairul Ma’ruf, Ahmad Ghiffary, Ikhlasul Amal, Asma Ul Husna. Fotografer: Segitarius. Layouter: Ahmad Fikri Hading, Khaeril Umam. Karikaturis: Annisa Isnani Pembina: HM.Alwi Hamu, H,Syamsyu Nur, Sadly Abdul Djabar, Nur Alim Djalil, Mulyadi Hamid, A. Amang Pawennari, Mohamad Hatta Alwi, dan Muspa. Dewan Redaksi Kertas: Uslimin, Ruslan Ramli, Basri, Yusmanizar, Yulhaidir Ibrahim, Abdul Jalil, dan Silahuddin Genda. redaksikertasunifa@gmail.com
Kertas Online
@kertasonline
@fez3471h
kertasonline.com
KESADARAN MAHASISWA MASIH PASIF
M
ahasiswa merupakan kasta tertinggi bagi pelajar di dunia pendidikan. Oleh sebabnya, mahasiswa dituntut memiliki daya kritis yang tinggi terhadap segala hal yang sifatnya menyimpang. Kritik bukanlah hal yang negatif, melainkan suplemen pembangkit menuju ke arah positif. Mahasiswa adalah salah satu harapan suatu bangsa agar bisa berubah ke arah lebih baik. Hal ini dikarenakan mahasiswa dianggap memiliki intelek yang cukup bagus dan cara berpikir yang lebih matang, sehingga diharapkan mereka dapat menjadi jembatan antara rakyat dengan pemerintah. Pada dasarnya, mahasiswa memiliki peran, fungsi dan posisi yang hingga saat ini masih saja banyak orang-orang yang lupa atau bahkan tidak mengetahui hal tersebut. Ada juga yang mengetahui namun menyikapkan diri seolah hal itu tidak berarti baginya. Banyak bahkan. Banyak orang-orang yang lebih menikmati panggung sandiwara dengan segala kuasa yang mereka miliki. Ingatkah kita undang-undang kebebasan mengeluarkan pendapat ada dalam pasal 28 UUD 1945 yaitu Kemerdekaan berserikat dan berkumpul, mengeluarkan pikiran dengan lisan dan tulisan? Kita berhak mengeluarkan pendapat tanpa adanya tekanan, intervensi, maupun ancaman dari pihak manapun. Maka dari itu, menanggapi sesuatu bukanlah hal yang menakutkan. Sekali lagi, kritik bukanlah hal yang negatif. Sebagai seorang mahasiswa, sudah sepatutnya kita menjadi corong perjuangan, pengontrol kebijakan, pengontrol kehidupan sosial, dll. Bukankah itu yang ditanamkan pertama kali ketika menginjakkan kaki di perguruan tinggi? Kebanyakan orang saat ini sepertinya mulai redup dan seakan amnesia dengan sejarah perjuangan mahasiswa. Dengan begitu, masihkah kita akan tetap duduk diam, tunduk, pasrah, dan terima ditindas kaum kapitalis? Sudah saatnya kita sebagai mahasiswa memperjuangkan apa yang seharusnya diperjuangkan. Berjuang untuk kebenaran adalah sebuah kemuliaan. Sekali lagi, kritik bukanlah hal yang negatif. (*) Ingin tulisan anda dimuat di tabloid KERTAS dan kertasonline.com ? silahkan kirim ke : redaksikertasunifa@gmail.com. KAMI DARI REDAKSI KERTAS MEMOHON MAAF ATAS KETERLAMBATAN TABLOID EDISI KE-10 INI. SEMOGA INFORMASI YANG KAMI SUGUHKAN TETAP BISA BERMANFAAT BAGI CIVITAS AKADEMIK
Mimbar Mahasiswa
3
BUTUH KONSEP BEASISWA YANG BERKEADILAN Suara Mahasiswa
REPORTER: IKHLASUL AMAL REDAKTUR: AXEL LAYUK
B
ila seorang mahasiswa mendengar kata “beasiswa” maka ada dua kemungkinan tanggapan yang diberikan orang tersebut. Pertama, ia akan bersikap biasa-biasa saja, cuek dan masa bodoh. Kedua, ia akan kaget, gembira, ingin tahu dan penuh harap. Kedua sikap tersebut wajar terjadi. Bagi sebagian mahasiswa mungkin akan bersikap seperti yang pertama dan bagi sebagian lain akan bersikap seperti yang kedua. Setelah mengetahui sikap yang demikian, tentunya sudah jelas bahwa beasiswa diperuntukan untuk golongan mahasiswa yang memberikan sikap seperti yang kedua karena sikap tersebut menandakan adanya keinginan atau kebutuhan. Biaya kuliah di Universitas Fajar (Unifa) saat ini tergolong mahal. Pembayaran di Unifa hingga 2016 telah mencapai Rp. 2.880.000 persemesternya, belum lagi ditambahkan dengan pembayaran registrasi yang mencapai Rp. 200.000. Pembayaran yang sudah mendekati angka 3 juta rupiah dirasa berat oleh sebagian Mahasiswa. Untuk itu beasiswa merupakan suatu hal yang sangatlah penting. “Pentinglah, karena pekerjaan orang tua kurang membantu,” kata Pinky, mahasiswa Prodi Ilmu Manajemen. 10 dari 50 mahasiswa yang disurvei tim liputan Mimbar Mahasiswa edisi 10, hanya 20% atau 10 orang yang mendapatkan beasiswa dari kampus. Hal tersbut lantaran kurangnya informasi atau sosialisasi dari pihak kampus mengenai beasiswa. “Kurang sekali, karena cuman tempel di mading-mading, kan kalau misalnya orang lewat-lewat saja pasti tidak dibaca,” tanggap Pinky. Staf bidang kemahasiswaan, Didan membantah tudingan tersebut. Dia mengaku selain menempelkan
info beasiswa di papan pengumuman, juga telah disebar via sosmed Unifa. “Sosialisasi yang bagaimana yang mereka (mahasiswa) maksud? Apakah harus didatangi satu per satu?,” katanya dengan sedikit bercanda. Jawaban lain pun muncul, kampus menganggap mahasiswa seharusnya bisa lebih aktif dalam mencari informasi mengenai beasiswa. Dengan berbagai jawaban, mahasiswa menilai kampus saling melempar tanggung jawab untuk permasalahan sosialisasi. Selain itu, kampus seharusnya bisa memberikan pelayanan yang maksimal kepada mahasiswa, khususnya mahasiswa tidak mampu, agar informasi-informasi beasiswa sampai ke sasaran. Dengan adanya mahasiswa yang mendaftar sebagai calon penerima beasiswa bukan berarti cukup untuk menjadi tolak ukur informasi sudah sampai kesegala penjuru. Faktanya, masih banyak mahasiswa yang mengeluhkan kurangnya informasi beasiswa. Itu menandakan masih adanya kekurangan dalam sosialisasi. Selain sosialisasi beasiswa, mahasiswa juga mengeluhkan nominal beasiswa yang kurang jelas dan memiliki banyak syarat. Memang betul bahwa tidak semua mahasiswa bisa mendapatkan beasiswa, tetapi bukan berarti beasiswa hanya bisa dinikmati oleh segelintir mahasiswa saja. Oleh karena itu, mahasiswa mengharapkan adanya konsep beasiswa yang berkeadilan, yaitu sesuai dengan kebutuhan. Memang jumlah beasiswa tidak banyak, walaupun tidak bisa juga dikatakan sedikit. Dengan keadaan seperti itu, maka peran lembaga perantara pemberi beasiswa yaitu kampus dan sasaran penerima beasiswa yakni mahasiswa menjadi penting untuk menciptakan konsep beasiswa yang berkeadilan.
REPORTER: IKHLASUL AMAL REDAKTUR: AXEL LAYUK
Unifa Belum Maksimal Berikan Informasi Tentang Beasiswa
Muhammad Syaiful Alam (Mahasiswa Teknik Arsitektur 2013)
“Sebaiknya pihak kampus melakukan sosialisasi mengenai beasiswa ini lebih intens mulai dari sejak mahasiswa pertama kali mengeyam pendidikan di kampus dengan memanfaatkan multi media yang ada.”
Abdussalam Sibghatullah (Mahasiswa Ilmu Komunikasi 2015)
“Sosialisasi mengenai beasiswa menurut saya cukup transparan, saya pikir. Karena infonya itu sudah bisa didapatkan di akun medsos, hanya saja kurang rinci mengenai prosedurnya.”
Ryan Panca Prasetia (Mahasiswa Akuntansi S1 2014)
“Menurut saya, sosialisasi yang diadakan oleh pihak biro belum memuaskan. Karena masih banyak mahasiswa yang pantas baik di bidang akademisnya maupun tingkat ekonominya belum mendapatkan info mengenai beasiswa. Biasanya untuk mendapatkan beasiswa ada tes, seperti tes akademik ataupun pengumpulan berkas keterangan kurang mampu. Tetapi yang saya ketahui tidak ada, saya kurang paham ketika saya mendapat beasiswa atas dasar apa, tiba-tiba dapat dan banyak orang yang mampu mendapat beasiswa tersebut.”
4
Liputan Khusus
Tabloid KERTAS edisi #10 (Januari 2017)
Tabloid KERTAS edisi #10 (Januari 2017)
MAKASSAR, KERTAS - Sebagai kampus berlebel Entrepreneur, Universitas Fajar (Unifa) tampaknya harus sedikit berbenah. Kampus swasta yang didirikan sejak 2008 silam ini memang semakin menunjukkan taji. Namun hanya dari segi kuantitas.
P
erkembangan Unifa yang juga dijuluki sebagai kampus biru ini sangat jelas terlihat dengan bertambahnya jumlah peminat yang mendaftar hingga tahun 2016. Terhitung sejak tahun 2013, Unifa sudah menerima 3.475 mahasiswa. Dengan demikian, Unifa harusnya menyediakan sedikitnya 116 ruang kelas. Saat ini, Unifa sudah memenuhi hal itu, ditambah lagi dengan penambahan 11 ruang kelas yang berada di kampus 2 Graha Pena dan 22 ruang kelas di kampus 1. Maka dengan begitu ruang kelas yang dimiliki Unifa saat ini berjumlah 34 ruang kelas dikali 4 sesi perkuliahan, hingga menjadi 136 kelas. Namun, keberadaan kampus 2 dinilai muncul secara tiba-tiba. Pasalnya, keberadaan kampus 2 baru diketahui mahasiswa beberapa minggu sebelum pergantian semester ganjil tahun ajaran 2016/2017. Kaharuddin, mahasiswa Program Studi (Prodi) Ilmu Manajemen angkatan 2014 menganggap, kampus 2 tidak menyerupai suasana kampus. Menurutnya, kampus yang sebenarnya tetap pada kampus 1 yang berada di Jalan Prof Abdurahman Basalama. Pasalnya, sarana dan prasarana yang ada di kampus 2 berbeda dengan apa yang ada di kampus 1. “Contoh kecil saja ketika kita mau nongkrong nda tau dimana. Tidak ada kantin lah misalnya. Tempat diskusi pun tidak ada di sana,” kata Kaharuddin yang akrab disapa Kahar, Rabu, 21 Desember 2016. Pembangunan gedung 9 lantai hingga saat ini pun masih menjadi pertanyaan. Pada awalnya, gedung 9 lantai tersebut ditargetkan selesai pada tahun 2016. Namun, hingga kini gedung tersebut masih dalam proses pengerjaan. Imbas dari pembangun tersebut pun terbilang mengkhawatirkan. Fasilitas yang seharusnya dapat digunakan mahasiswa kini tidak ada lagi. Ambil misal, gedung aula yang dulunya dapat digunakan mahasiswa sebagai tempat berkegiatan kini sudah tidak ada lagi. Pada mulanya gedung aula yang berada di gedung A itu sering digunakan mahasiswa. Namun setelah pembangunan dimulai, gedung tersebut dibongkar dan dipindahkan ke lantai 3 gedung B. Tidak lama berlangsung, gedung aula pun beralih fungsih menjadi perpustakaan STIM Nitro hingga hanya menyisahkan 2 lantai saja. Tidak lama setelah itu, di tahun 2015 lantai 2 gedung B pun di alokasikan menjadi ruang perkuliahan STIM Nitro yang juga satu yayasan dengan Unifa itu. Hingga pada akhirnya, di tahun 2016 seluruh gedung digunakan sepenuhnya oleh STIM Nitro. Belum lagi dengan sarana yang biasa
ANDI NUR ISMAN SOFYAN/KERTAS
digunakan mahasiswa sebagai tempat berolahraga kini hanya menjadi tempat menampung barang proyek pembangunan gedung 9 lantai. Imbas dari itu paling dirasakan oleh Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Sport Unifa. “Jadi dulu kan masih ada aula dan lapangan futsal di belakang (tempat menampung barang proyek) sekaligus dijadikan lapangan basket. Bagi UKM Sport itu sarana yang sangat mendukung. Cuman setelah ada pembangunan semua itu kan hilang,” jelas Ketua UKM Sport, Lindra. Dia menganggap, kampus tidak memberikan solusi atas hal tersebut. Karena, lanjut Lindra, hidupnya UKM Sport itu adalah lapangan. Menurutnya, tanpa lapangan UKM Sport serasa mati tanpa kehidupan. Maka dari itu, Lindra sangat mengharapkan ada peran dari kampus untuk menangani hal ini. “Di UKM Sport kami untuk latihan saja harus sewa lapangan di luar, untuk sewanya kita menggunakan dana kas, itu pun kadang tidak cukup karena di UKM Sport ada beberapa devisi. Jadi mau tidak mau kita gunakan dana pribadi. Latihan untuk setiap devisi 3 kali seminggu. Jadi bisa dibayangkan pengeluran untuk latihan di luar itu bagaimana. Melihat itu seharusnya kampus menyediakan prasarana sementara,” ungkap Lindra melalui pesan singkat seluler, Kamis, 24 November 2016. Kenyamanan ruang kelas pun juga mulai terabaikan. Beberapa ruang kelas yang berada di gedung C tampaknya perlu segera dibenahi. Pasalnya, tak sedikit dari ruang kelas yang ada di gedung C mengalami kerusakan mulai dari jendela, pintu, kursi, hingga plafon. Bahkan, beberapa ruang kelas mengalami kebocoran ketika hujan. Komparatif Pembiayaan Kampus Semakin bertambahnya nominal pembayaran SPP/BPP yang sudah mencapai Rp. 3.000.000/semester mengundang berbagai pertanyaan. Dari tahun ke tahun, jumlah mahasiswa semakin membludak. Namun, fasilitas kampus ini tak menjadi lebih baik, bahkan sama sekali jauh dari harapan. Biaya pembangunan gedung 9 lantai memang tidak sedikit. Tapi, bukan berarti fasilitas lainnya diabaikan, bukan? Apalagi yang saat ini masih digunakan mahasiswa. Belakangan, tak hanya ruang kelas
yang menjadi pertanyaan. Bahkan, wifi dan WC kampus juga ikut jadi perbincangan. Batas kecepatan bandwith yang dimiliki Unifa hanya 2 Mega byte per second (2 Mbps) yang tentunya tak cukup untuk memenuhi jumlah dari ribuan mahasiswa yang ada. Batas jangkuan wifi pun menjadi keluhan yang tidak bisa menjangkau kantin kampus. Penyebabnya dikarenakan jarak antar akses point ke server pusat yang terbilang jauh. WC yang sering digunakan mahasiswa juga luput dari perhatian. Dua WC mahasiswa yang berada di bawah tangga gedung A dan gedung C sudah tidak layak pakai. Pasalnya, lampu dan cat dari WC tersbut sudah rusak dan penuh dengan coretan tangan. Bahkan, sebagian dari pintu WC tersebut tidak bisa terkunci. Di Unifa, masih ada hal-hal yang sebelumnya telah diatur sebagaimana Standar Nasional Perguruan Tinggi (SNPT) pada Peraturan Mentri Pendidikan dan Kebudayaan (Permendikbud) Nomor 49 tahun 2014 yang masih saja terabaikan, baik penunjang Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) hingga tenaga pengajar sekalipun. Sudah jelas, pada bagian ketujuh SNPT tentang Standar Sarana dan Prasarana Pembelajaran yang menyatakan bahwa Standar prasarana pembelajaran sebagaimana dimaksud dalam pasal 30 paling sedikit terdiri atas lahan, ruang kelas, perpustakaan, laboratorium/studio/bengkel kerja/unit produksi, tempat berolahraga, ruang untuk berkesenian, ruang unit kegiatan mahasiswa, ruang pimpinan perguruan tinggi, ruang dosen, ruang tata usaha, dan fasilitas umum pun belum semua terpenuhi. Ditemui di gedung Rektorat, Jumat, 23 Desember 2016, Rektor Unifa, Prof. H. Sadly Abdul Djabbar, MPA mengatakan, semua sarana dan prasarana yang ada saat ini masih dalam proses penyempurnaan. Dia menerangkan, hal-hal seperti itu wajar dengan usia kampus yang baru 8 tahun. Saat ditanyai perihal keberadaan kampus 2, Prof Sadly menjelaskan, hal tersebut merupakan suatu kebutuhan yang diperlukan universitas. Dia mengatakan, kampus 2 merupakan alternatif, karena peningkatan jumlah mahasiswa. Namun, keberadaan kampus 2, lanjut Prof Sadly, hanya bersifat sementara. “Itu sebenarnya sifatnya sementara. Dalam
pengertian, kalau ini (gedung 9 lantai) selesai seluruhnya, barangkali sudah di sini kita pakai. Kita masih melihat dulu kemungkinan-kemungkinannya,” ujarnya. Mengenai standar sarana dan prasarana yang belum terpenuhi di Unifa, Prof Sadly mengarahkan agar mahasiswa memaksimalkan apa yang ada saat ini hingga pembangunan gedung 9 lantai telah rampung. “Kalau dulu waktu masih ada aula besar di bawah (gedung A) kan belum dibongkar, itu kan bisa dipakai untuk badminton, untuk basket. Macam-macamlah dan sebagainya. Sekarang kan belum bisa untuk dipakai karena sudah dibongkar karena ada gedung baru. Nah itu terserah kepada mahasiswa di mana dia bisa beraktivitas di dalam kampus, bahkan biasanya ruangan senat dipakai untuk latihan-latihan, itu karena memang kondisi kita seperti itu. Tapi nanti kalau sudah jadi tentu sudah lebih tertata,” jelas Prof Sadly. Dia melanjutkan, pembangunan gedung 9 lantai ditargetkan sudah bisa digunakan sebagai tempat kuliah pada September 2017 mendatang. Namun, dia belum bisa memastikan apakah seluruh lantai telah dirampungkan. Dia juga mengatakan, fasilitas-fasilitas penunjang KBM akan segera diperbaiki mengikuti penyelesain pembangunan gedung 9 lantai. “Menurut yayasan itu, kira-kira semester awal (tahun ajaran baru) itu sudah sebagian besar di sini (gedung 9 lantai). Dengan demikian, barangkali dana yang dipakai kalau kita perbaiki disini (gedung perkuliahan yang rusak) memakan biaya juga. Mudah-mudahan nanti pertengahan tahun depan sudah bisa menikmati,” jelas Prof Sadly kepada wartawan KERTAS. Hal-hal seperti itulah yang seharusnya menjadi bahan evaluasi Unifa. Meskipun tergolong masih baru berdiri, Unifa seharusnya bisa lebih berbenah dan lebih siap menjalankan sebuah perguruan tinggi. Kesesuaian antara pembayaran yang kian tahun kian melonjak itulah yang seharusnya pula menjadi timbal balik pihak kampus terhadap mahasiswa. Namun hal tersebut bukan berarti kampus tak bisa memberikan yang terbaik untuk mahasiswa.
5
MEMAKSIMALKAN PEMAKAIAN SARANA DAN PRASARANA DITENGAH PEMBANGUNAN
Relevansi Kuantitas Cepat dan Tendensi Kualitas Lambat
REPORTER: ANDI NUR ISMAN SOFYAN
Wawancara Khusus
Bagaimana dengan unit kegiatan yang belum mempunyai dan kehilangan fasilitas penunjang kegiatan? Jadi terserah kepada mahasiswa. Fasilitas dan kondisi sekarang masih belum bisa kita berbuat banyak karena memang terbatas. Bisa dibayangkan bahwa dulu aula kita itu luas sekali, di situ bisa macam-macam kegiatan bisa dilakukan. Sekarang kan tidak bias. Bahkan, kuliah umum pun tidak bisa. Kapan rencana penyelesaian gedung 9 lantai?
REPORTER: ANNISA ISNANI REDAKTUR: JUSTINA
M
eskipun usia Universitas Fajar (Unifa) masih terbilang muda diantara beberapa perguruan tinggi swasta di Makassar, tetapi sudah mampu menjadi kampus paling banyak diminati mahasiswa baru tiap tahunnya. Namun, belakangan ini semakin membludaknya mahasiswa, sarana dan prasarana pun menjadi keluhan. Karena itulah tim liputan Tabloid KERTAS edisi ke-10 melakukan wawancara khusus bersama Rektor Unifa, Prof. H. Sadly A. Djabar, MPA, Selasa, 22 November 2016 di gedung rektorat Unifa. Bagaimana tanggapan mengenai membludaknya peminat yang mendaftar di Universitas Fajar tiap tahunnya?
Tentu saja kalau kita ingin yang namanya sempurna, tidak pernah bisa kita temukan, belum kita temukan. Pertama karena Unifa sebagai program tinggi baru. Kalau kita bandingkan dengan, katakanlah UMI misalnya, UMI umurnya sudah 61 tahun, Unifa baru 8 tahun. Nah, jadi dari segi usia saja sudah beda, dan demikian tentu saja bahwa ini mempunyai banyak hal yang perlu kita benahi dari segi pembangunan kampus yang lagi sementara proses, peralatan, laboratorium, dan sebagainya. Menyempurnakan dan menyempurnakan supaya step by step itu bisa lebih sempurna dan iklim kampus tempat belajar mahasiswa baik teorinya, maupun prakteknya itu bisa dilakukan dengan sebaik-baiknya.
Apakah kampus sudah memenuhi standar sarana dan prasarana yang ditetap Yang pertama, tentu kita ber- kan Permendikbud? syukur bahwa, masyarakat untuk masuk Kalau saya tidak melihat kepada di Unifa itu semakin bertambah, tentu disebabkan oleh karena masyarakat bisa permendikbud. Tapi, saya melihat kemenilai sendiri PTS mana yang diang- pada kondisi kampus yang seharusnya gap cocok bagi calon mahasiswa. Jadi, berdasarkan pengalaman saya. Kammasyarakat mempunyai penilaian yang pus bagi mahasiswa itu bukan sebagai positif terhadap Unifa. Tentunya yang tempat belajar saja. Kampus juga harus menyebabkan kondisi di kampus kita. menjadi tempat berorganisasi dan temArtinya, iklim akademik yang mumpuni, pat bermain. Bermain dalam pengertian dalam arti kata proses belajar mengajar sesuai bidangnya. you senang olahraga berjalan dengan bagus, iklim kampus panjat tebing? silahkan, senang olahraga yang diliputi oleh berbagai macam kegia- basket? silahkan, bahkan kalau lapangan tan-kegiatan yang non akademik dilaku- yang luas, you senang berenang, ya. Jadi, itu yang ingin kita ciptakan. kan oleh para mahasiswa. Lalu jika menilik pada sarana dan prasarana atau fasilitas kampus, apakah itu sudah relevan dengan keadaan di Unifa sekarang?
Apa tanggapan terhadap banyaknya mahasiswa mengeluh terhadap fasilitasyang belum memadai, padahal pembayaran katanya mahal?
Insya Allah tahun depan. Tahun depan itu tentu bukan berarti awal tahun, mungkin akhir tahun. Desember ini sudah dipakekan bajunya, bajunya itu maksudnya penutup gedungnya. Kemudian, nanti sesudah itu masih ada pekerjaan, lantainya, pembagian kelas. Sebenarnnya penempatan tidak terlalu repot, karena itu tinggal memasang sekat-sekat, artinya yang memakan waktu yang lama itu kayak lantai kemudian listrik sama AC nya sama lift nya. Akhir tahun depan mungkin akan sempurna, barangkali kita minta tiga kelas pertama dulu untuk kita Prof.Sadly Abdul Djabar,MPA pakai kuliah tahun depan ini. Jadi yang mengatur itukan bukan kita, kita hanya user atau pemakai, yang melakukan itu Insya Allah nanti, jadi gedung kan dari yayasan. kan rencananya tahun ini sudah selesai dipake baju. Ya sampai Desember sudah Jika pembangunan belum selesai di tahun pake baju, artinya sudah ditutup, kemu- 2017, bagaimana jika jumlah mahasiswa dian tahun depan barangkali sudah semakin bertambah? mungkin. Ini saya katakan mungkin. Tentu kita menerima mahasiswa Mungkin September yang akan datang barangkali sudah kuliah disitu. Tapi, sesuai dengan batas. Tahun ini kan kita mungkin belum semua lantai, mungkin terima 1.200-an, yang mendaftar itu ada beberapa lantai yang kita pakai un- 1.580-an. Jadi, ada yang tidak kita terima tuk kuliah dan tentu saja ada fasilitas juga itu karena jumlah 1.200-an itu sudah kita yang bisa kita pakai disitu untuk sarana hitung termasuk dengan 10 kelas di sana olahraga indoor, sarana kegiatan-kegia- (kampus 2). Kalau misalnya tahun depan tan lain yang bisa dilakukan oleh maha- bertambah lagi sedikit, toh misalnya kita siswa disitu. Ini nanti akan ditata untuk sudah bisa dipakai di sini (gedung baru). menjadi sarana yang menenyenangkan, Mungkin masih dipakai di sana juga, tentunya kita harapkan bagi para maha- mungkin. Yang pasti bahwa kita akan siswa untuk bisa berkreatifitaslah sesuai siapkan kelasnya. bidang dia, misalnya ada seni ya silahkan, ada yang senang tari ya silahkan, Bagaimana dengan tanggapan maada yang senang olahraga apa saja ya hasiswa yang mengatakan kuantitas silahkan. Memang kita masih memer- Unifa meningkat pesat namun kualitas lukan penyempurnaan-penyempurnaan melambankan? dan memang memerlukan dulu kesaba Sebenarnya kita sebagai pengeloran dari kita. la berusaha untuk mengimbangi, supaya Seperti apa kebijakan kampus untuk antara kuantitas dan kualitas itu bisa semenutupi sarana dan prasarana yang jalan. Tapi itu kembali, kita kan punya kurang ketika mahasiswa berkegiatan? keterbatasan juga, tapi keterbatasan itu tidak kita stop, tidak berhenti, kita be Sebenarnya, sarana dan prasara- rusaha menyempurnakan dan berikhna yang ada sekarang bisa dimaksimal- tiar dan itu bisa kelihatan dari pada apa kan pemakaiannya bagi mahasiswa yang yang kita lakukan. Sebab, misalnya kapunya aktivitas. Katakanlah misalnya lau kita mau terima mahasiswa seberabegini, kita punya sarana yang dalam pa saja kemudian di sini saja kuliah, itu keadaan seperti sekarang, dalam proses tidak mungkin. Saya tidak tahu nanti pembangunan. Nah, itu terserah kepada bagaimana kondisi tahun depan, belum mahasiswa di mana mereka bisa berakti- tahu bagaimana nanti perkembangannvitas di dalam kampus. Karena memang ya. Tapi, mudah-mudahan akan jauh lebkondisi kita seperti itu. Tapi, nanti kalau ih baik. sudah jadi tentu sudah lebih tertata. SEGITARIUS/KERTAS
6
Unifa Style
Tabloid KERTAS edisi #10 (Januari 2017)
Tabloid KERTAS edisi #10 (Januari 2017)
Gemar Hingga Wajib Foto dan Posting di ‘Sosmed’ REPORTER: CHAERUL MA’RUF. REDAKTUR: SITI SUHARTINA A.
Halo sahabat kertas, senang bisa bertemu lagi dengan para pembaca unifa style. Edisi kali ini mengangkat bagaimana hobi yang menjadi life style atau gaya hidup para remaja hingga dewasa saat ini. Ikuti terus liputan tim unifa style yah!
M
endengar kata selfiesepertinya bukan lagi menjadi hobi semata. Namun, kegiatan mengambil gambar diri sendiri ini sudah menjadi kebiasaan padaA mayoritas kalangan remaja dan dewasa. Tidak hanya gambar diri, mengabadikan moment-momentunik, tempat-tempat yang keren dan jenis makanan langkahjuga merupakan hal yang patut dilakukan bagi beberapa orang. Hobi selfie saat ini telah berkembang menjadi hobimotret. Dipotret atau memotret merupakan kelanjutantrend selfie.mengambil gambar diri dengan backgroundkeindahan alam atau memotret suatu kegiatan dengan teknik ala fotografer andal merupakan jenis foto yang paling banyak menarik perhatian. Meskipun tidak ada basic fotografi, tapi tidak sedikit anak muda yang menekuni hal ini. Hobi ini lalu di salurkan melalui pelbagai “sosmed” atau sosial media dengan menambahkan kata-kata bijak atau kalimat-kalimat yang menarik sebagai keterangan gambar. Dapat dikatakan salah satu sosmed yang lagi nge-Hitz saat ini adalah instagram, dapat dilihat dari penggunanya yang semakin meningkat tiap
tahunnya. Sosmed ini mencuri cukup banyak perhatian, baik kaum muda hingga yang tua. Instagram seakan diciptakan untuk mereka, para pecinta foto. Mengutamakan layanan posting foto dan video membuat aplikasi ini digandrungi oleh semua kalangan yang gemar memotret. Hal inilah yang membuat para penggemar foto sekaligus pengguna instagram,berlomba memiliki kamera ter-canggih untuk menghasilkan gambar dengan kualitas terbaik dan menyalurkan karya-karya foto mereka melalui akun-akun “sosmed”. Biar lebih update, yuuuk kita simak kamera apa saja yang saat ini sering digunakan teman-teman Unifa motret untuk bahan postingannya. DSLR atau Digital Single-Lens Reflexmerupakan jenis kamera yang cukup trend disemua kalanganawal tahun 2014. Selain memiliki kualitas untuk setiap gambar yang dihasilkan, DSLR juga diakui kemudahannya dalam penggunaan dan kelengkapan fiturnya. Inilah alasan para maniac foto ingin memilikinya, terlebih DSLR merupakan salah satu jenis kamera yang digunakan oleh fotografer andal, menurut tipe dan seri tertentu. Hal ini diakui oleh Josua Santosa Tjenra. Mahasiswa Prodi Manajemen ini mengaku lebih nyaman menggunakan kamera DSLR. Jenis kamera yang memiliki sensor berukuran besar ini, menjadi pilihan Josua sewaktu belajar memotret. Namun, tidak kalah dengan kamera DSLR, Mirrorless Interchangeable-Lens Camera(MILC)muncul dengan gaya yang lebih trend. Dengan bentuk yang lebih simple dan ukurannya
“Pernah sih coba ambil foto pakai DSLR, tapi saya merasa sedikit ribet. Saya lebih nyaman dengan kamera ini. Buat saya yah itu tadi, Mirrorless lebih simple buat dibawa kemana-mana, soalnya kan kecil dan gak berat juga,”
VebIin Komunikasi Kalau mahasiswi satu ini, menganggap foto telah menjadi kewajiban dalam setiap kegiatan yang dilakukan oleh masyarakat, khususnya anak muda. Selain mengabadikan gambar, dia juga mengatakan bahwa, melalui foto kita mampu menunjukkan ke orang lain mengenai pakaian, lokasi tempat makan, maupun aktivitas lainnya. Tentu saja caranya dengan mengupload foto disosial media.
“Tidak pernah ka pakai DSLR. Kalau Mirrorless menghasilkan gambar sesuai dengan apa yang kita lihat dipreview.Misalnya juga di ubah white balance, ISO atau yang lain, semua langsung terlihat di preview,”
Putri Suarni Binawisata Mahasiswi Unifa satu ini, banyak memosting gambar hasil kamera Mirrorless yang dimilikinya dalam akun instagram. Dia merasa lebih cocok menggunakan kamera ini, dengan alasan karena dia perempuan. Ketertarikannya dengan kamera jenis ini ketika dia melihat bentuk kamera MILC, yang menurutnya imut dan lucu.
lebih kecil, membuat kamera ini jauh lebih enteng dibawa kemana-mana. Kamera jenis ini sangat cocok untuk para traveller yang hobinge-post foto disosmed. Jenis kamera tanpa cermin ini mulai banyak digunakan para remaja. karena jarak antara sensor dan lensa sangat pendek, tentunya dengan adapter yang tepat, kamera ini juga memiliki opsi untuk gonta-ganti lensa. Selainitu, kualitas gambar yang dihasilkan tidak berbeda jauh dengan hasil kamera jenis DSLR. Tidak hanya muda-mudi diluar sana, beberapa mahasiswa Unifa juga gemar mengoleksi kamera jenis MILC ini. Ketertarikan dalam dunia foto yang mewabah dikampus biru ini tidak kalah dengan anak muda lainnya. Salah satunya Muhammad Arham Azis, Walaupun tidak begitu suka selfie, mahasiswa Prodi Teknik Mesin ini memanfaatkan kegemarannya untuk mengabadikan moment tertentu. Menurutnya, hobi tergantung dari masing-masing pribadi orang lain. Jika disuruh memilih, Dia lebih memilih memotret dibanding dipotret. Ketertarikannya dalam dunia foto kini menjadi hobi yang membuatnya gemar mengoleksi jenis kamera terbaru. Mahasiswa Unifa yang lebih akrab disapa Arham ini sempat memiliki kamera DSLR. Tetapi, sekarang dia beralih ke Mirrorless. Baginya, menggunakan kamera jenis MILC ini lebih praktis dalam bentuk body maupunsettingannya. “sekarang lebih canggih lagi, tanpa kaca kameranya. Enak dipakai, simple, praktis juga settingan dan bodynya. Kalau DSLR makan tempat kalau dibawa-bawa,” Tandasnya. Alasan nyaman menggunakan kamera mirrorless karena bentuk yang kecil dan simple juga tanpa cermin. Dimana cahaya akan melewati lensa dan langsung jatuh tepat ke sensor gambar, rada-rada mirip kamera smartphone saat ini. Tetapi jika dilihat dari hasil gambar, kamera jenis ini tidak kalah dengan DSLR.
Suka - Suka
Butuh Peran Mahasiswa untuk Kemajuan Bangsa
7 Apa Sih Itu Kritis ?
REPORTER : HELDAYANTI, ILHAM HASRI REDAKTUR : ANDI NUR ISMAN SOFYAN
Hallo Pembaca Tabloid KERTAS, senang bisa bertemu lagi di edisi ke-10 kali ini, dengan para pembaca suka-suka Tabloid KERTAS. Nah di edisi kali ini, tim liputan suka-suka akan membahas mengenai jiwa kritis dan gerakan mahasiswa. Yuk mari kita simak...
Dr. Nur Khaerat Nur, ST,. MT, Deputi Rektor III Bidang Kemahasiswaan “Kritis itu suatu sikap daya nalar terhadap sesuatu hal”
M
Josua Santosa Tjenra Manajemen
Tapi bukan berarti DSLR telah ditinggalkan oleh peminatnya. Masih banyak yang memilih DSLR karena lebih nyaman menggunakan kamera jenis ini. Khususnya warga Unifa, seperti mahasiswa dan pegawai lainnya, masih ada yang menjadikan DSLR sebagai pilihan utama. Kedua jenis kamera inilah yang paling banyak digunakan warga unifa, baik yang sudah menjadi fotografer andal maupun yang tidak punya basic foto sama sekali. Baik itu untuk kepentingan kerja maupun yang menjadikannya alat untu mengumpul bahan foto yang akan diupload di sosmed. Gambar dari masing-masing jenis kamera baik DSLR maupun MILC ini yang paling banyak beredar di instagram. Mengikuti trendsekalipun menyalurkan hobi, memosting foto di sosial media telah mejadi gaya hidup sebagian kalangan. Tanpa memandang latar belakang, maupun umur, hal ini dilakukan hampir semua orang di seluruh belahan dunia, tidak terkecuali di Unifa.
ahasiswa adalah seseorang yang telah terdaftar secara akademik dan menjalankan semester berjalan serta memiliki hak dan kewajiaban. Berbicara soal hak dan kewajiban adalah kedua kata yang tidak bisa lepas dari mahasiswa pada umumnya, dalam sebuah universitas atau kampus mahasiswa memiliki peran yang sangat penting sehingga mahasiswa selalu dijadikan sebagai aktor perubahan dalam setiap momen-momen bersejarah di Indonesia. Sejak beberapa tahun silam telah banyak tercatat sejarah mahasiswa, mulai dari munculnya Kebangkitan Nasional hingga Tragedi 1998, matika perayaan hari sumpah pemuda 10 hasiswa selalu menjadi garda terdepan. November lalu. Hanya segelintir maha Kondisi pergerakan mahasiswa siswa yang ikut serta dalam acara tersebut, pada saat itu tidak semudah pada peri- yang lainnya hanya sibuk dengan aktiviode-perode sebelumnya. Mahasiswa Se- tasnya masing-masing. bagai penancap tombak peradaban bangsa “Kalu hari nasional memang agak ini semakin mengalami perubahan adalah tak lain karena adanya peran mahasiswa kurang di mahasiswa unifa. Mungkin di di dalamnya. Catatan sejarah tersebut seti- situ kurangnya. Ada sosialisasi tentang daknya telah menjadi bukti bahwa ma- tanggal nasional bisa saja teman lupa atau hasiswa selalu menempatkan diri dalam pura-pura nggak tau. Memang kalau salsetiap perubahan historik dan patriotik ing mengigatkan itu perlu. Gaya militanya di negeri ini. Mahasiswa sebagai pemuda memang mahasiwa Unifa sudah tidak ada juga memiliki keingintahuan dan sikap atau kurang, karena yang saya lihat nukritis yang tinggi terhadap kondisi di seki- ansa modern memangmi, nalupakan apa tarnya, dan dengan modal intelektualitas identitas mahasiwa,” tanggap Fandi. yang ia punya senantiasa mampu untuk Menjadi mahasiswa yang hedon memperjuangkan kondisi sosial yang dili- hatnya agar menjadi lebih ideal dan dina- ataupun apatis adalah pilihan, namun seorang mahasiswa sepertinya belum bisa mis. dikatakan sebagai mahasiswa ketika ma Ketua Senat Mahasiswa Fakultas sih mengabaikan fungsinya. “Kalau fungsi Teknik Universitas Fajar (Unifa), Sulfan- sudah masuk sebetulnya, tapi belum mendianto Rustan, menyampaikan pendapat- capai semuanya,” sambungnya. nya mengenai kondisi mahasiswa di Uni- Eljihad Akbar Syukriah Mathory fa. Menurutnya, budaya kritis yang ada di Unifa hanya melalui media-media tulisan S.,MB.,MM, salah satu dosen di Unifa dan singgungan, tanpa menindak lanju- juga memberi tanggapannya. Menurutti wacana yang dijadikan masalah. “Saya nya, budaya kritis di Unifa tidak bisa dijuga tidak tau masalahnya apakah bahasa ukur dari nol sampai 100 persen. “Tidak singgungan yang terlalu tinggi,” kata Fan- ada takarannya karena kenapa? Kalau berbicara tentang 10 November kemarin di. Sejak memasuki tahun 2011 hing- bisa jadi orang-orang yang tidak tampak ga saat ini, mahasiswa Unifa tampaknya kritis dihadapan orang banyak sebenarnsemakin menuju keapatisannya. Kebanya- ya punya kegiatan diluar kampus. Itukan kan mahasiswa Unifa saat ini hanya seka- juga termasuk kritis, tapi mungkin tidak dar mengetahui permasalahan saja tanpa sempat terlihat di kampus,” singkatnya. Berbeda dengan Fandi, Eljihad ada tindak lanjut. Sekalipun ada tindak lanjut, itu hanya dilakukan oknum-oknum menganggap bahwa sikap kritis mahayang sadar akan fungsinya. Itu terlihat ke- siswa Unifa sudah sesuai dengan adanya
Jay Hariandy Putra, Prodi Ilmu Manajemen 2013 sumber/indoprogress.com
wacana yang dilakukan, dan ia juga melihat mahasiswa Unifa sangat cepat tanggap respon. “Tidak dengan turun dijalan tapi lebih kepada kegiatan yang bermartabat, kegiatan yang intelek. Mahasiswa Unifa ini saya rasa cukup kritis dalam melihat apa yang terjadi dilingkungan bangsa dan Negara. Jadi sebenarnya kalau di Unifa sendiri, mahasiswanya itu kalau menurut saya termasuk kritis. Cuman memang berbeda antara masing-masing orang caranya menanggapi kritis itu seperti apa,” katanya. Dari berbagai penjelasan di atas, sudah memberikan sedikit gambaran bagi kita bagaimana fungsi kita sebagai mahasiswa dan bisa berperan aktif dalam merespon sesuatu hal.
“Kritis itu sesuatu yang dinilai tidak negatif dan tidak sepemahaman”
Ahyar Arsyad, Prodi Ilmu Komunikasi 2013 “Kritis itu ketika apa yang ada dikepala dan apa yang dilihat sejalan dan sesingkron”
Selain itu, sejarah gerakan mahasiswa juga bisa kita jadikan sebagai bahan refleksi kita semua khususnya yang sekarang menjadi seorang mahasiswa. Lantas, kita yang seharusnya melanjutkan perjuangan mereka harus bagaimana? Apakah sejarah ini layak kita sia-siakan dengan sikap heddon dan keapatisan kita selama ini? tentu saja tidak. Nah, oleh karena itu, sudah sepatutnya seseorang yang menyebut dirinya sebagai mahasiswa berperan aktif dalam pergerakan bangsa ini. Bukan hanya diam di tempat seolah-seolah tidak terjadi apaapa.
Faisal, Prodi Teknik Mesin 2014 “Kritis itu sebuah masalah yang harus diselesaikan dengan secara rinci”
8
Galeri Foto
Tabloid KERTAS edisi #10 (Januari 2017)
Tabloid KERTAS edisi #10 (Januari 2017)
Galeri Foto
Ritual Arajang Sebelum Menanam Padi
BISSU. Sejumlah bissu melihat leluhurnya di keluarkan dari tempat yang di keramatkan. MENARI.Bissu memperagakan tarian maggiri yang sangat unik, karena mereka memperlihatkan adegan-adegan menggiri leher, tangan, kelopak mata dan leher. Saat malam puncak ritual kepada leluhur sebelum menanam padi.
FOTO DAN TULISAN: INDRA ABRIYANTO
D
RITUAL. Sejumlah bissu sedang melakukan ritual untuk meminta ijin kepada leluhurnya, sebelum acara menananm padi dimulai.
i desa Bontomatene, kecamatan Segeri, hidup sekelompok komunitas Bissu. Di desa Bontomatene juga terdapat sebuah rumah untuk menyimpan Arajang yang dipercayai sebagai benda pusaka pada masa kejayaan Kerajaan Bugis. Arajang yang disimpan adalah berupa alat tradisional untuk membajak padi. Komunitas Bissu hidup di tengah-tengah masyarakat pada umumnya, meskipun masyarakat tidak sepenuh hati menerima keberadaan komunitas Bissu tersebut. Atas dasar keyakinan dan kepercayaan masyarakat tentang upacara ritual yang harus dilakukan sebelum tanam padi, maka komunitas Bissu menjadi tetap harus ada. Di dalam upacara ritual yang disebut Mappalili yang dipimpin oleh seorang Puang Matoa yang berasal dari komunitas Bissu. upacara Mappalili ini menjadi daya tarik pariwisata. Keunikan dan daya tariknya adalah adanya tarian Maggiri, yaitu atraksi yang menunjukkan kekebalan para Bissu terhadap senjata tajam, yaitu dengan menggunakan keris. Upacara ritual Mappalili ini dilakukan setahun sekali, biasanya jatuh sekitar bulan September. Tradisi transestities di tanah Bugis, yaitu lelaki yang berperan sebagai perempuan, sudah diungkap dalam naskah-naskah klasik
Bugis sejak ratusan tahun yang lalu. Mereka dikenal sebagai pendeta agama Bugis kuno pra islam dengan julukan Bissu. Keberadaan mereka sebagai benang merah kesinambungan tradisi lisan Bugis kuno. Kata Bissu berasal darikata mabessi dalam bahasa Bugis, yang berarti bersih atau suci, karena tidak memiliki payudara dan tidak haid. Sebagai implementasi tasir suci tersebut, mereka tidak boleh berpacaran, menikah, dan menyingkirkan keinginan seksualitasnya. Secara fisik Bissu adalah laki-laki, tetapi lemah lembut dalam bertutur dan memiliki kemampuan-kemampuan lebih, seperti meramal, mengobati, dan kebal terhadap senjata tajam. Sementara sebagian orang mengatakan bahwa Bissu sama dengan waria dan banci. Di dalam bahasa Bugis disebut calabai atau kae-kae yang berarti waria wanita pria, adam ntuk menjadi Bissu para calabai tersebut harus melewati seleksi dan upacara khusus. tidak semua waria bisa menjadi Bissu, tetapi semua waria punya peluang untuk menjadi Bissu, dengan mempunyai bakat dan anugerah atau panggilan hati dari deata. Pada dasarnya, semua Bissu adalah waria calabai dalam bahasa Bugis (Seorang Bissu dalam pengertiannya sebagai orang suci) karena berkai-
MAGGIRI. Acara maggiri dimulai dengan tarian pembuka sambil menggoyang-goyangkan kayu yang di hiasi lonceng-lonceng dan suaranya agak suram.
LELUHUR. Mengeluarkan leluhurnya dan membuka kain kafan dari tempat yang dikeramatkan oleh bissu, Saat memulai ritual memandikan.
tan dengan tugas yang diembannya sebagai penjaga dan pemelihara Arajang, yaitu benda-benda pusaka yang di wariskan para raja yang memerintah dalam suatu negeri atau kerajaan di Bugis dahulu. Seorang Bissu bukan calabai biasa, karena ada tirakat serta peraturan yang harus dijalani sebelum menjadi Bissu. Selain itu Bissu juga diharuskan berpakaian sopan dan anggun, tidak berpenampilan yang mengundang birahi orang seperti para banci dan waria pada umumnya.
Tugas Bissu pada intinya adalah sebagai pemimpin spiritual bagi masyarakat maupun kerajaan pada masa lalu. Didalam kontekss kekinian mereka menerima konsultasi tentang hajatan, pertolongan, bahkan pengobatan. Di dalam setiap upacara ritual, tugas mereka memimpin dan menjaga Arajang, yaitu benda pusaka keramat peninggalan kerajaan tempatnya di desa Bontomatene, kecamatan Segeri, kabupaten Pangkep, propinsi Sulawesi Selatan.
BAKAR LILIN.Para bissu memulai membakar Iilin merah.
9
10
Opini
Tabloid KERTAS edisi #10 (Januari 2017)
Tabloid KERTAS edisi #10 (Januari 2017)
Mahasiswa Cermin Kampus
REPORTER : ASMA UL HUSNA REDAKTUR: RISKY AMALIYAH
K
MAKASSAR, KERTAS - Keterbatasan fisik bukanlah menjadi penghalang untuk bisa meraih mimpi dan kesuksesan. hal tersebut sudah banyak dibuktikan oleh mereka penyandang disabilitas di muka bumi ini. Salah satunya adalah Wawan Darmawan, SE, M.Si, AK, CA dosen sekaligus staff accounting di Yayasan Pendidikan Fajar Ujung Pandang (YPFUP).
DOKUMEN PRIBADI
sikap anarkisme yang tak lazim sering dipertontonkan, seakan mereka bangga dengan pencapaian yang berujung penghujatan dari khalayak publik terhadap mereka. Berbicara tentang budaya kampus, kritik saya dalam tulisan ini menilai secara subjektif, bagaimana pola yang setiap harinya saya jumpai di kampus saya berada. Dari berbagai referensi yang saya baca tentang bagaimana peran kampus secara ideal, saya menemukan kejanggalan ketika apa yang saya dapati setiap harinya seakan bertolak belakang dengan konsepsi dasar kampus sebagai wadah tempat kaum terdidik, bila dijabarkan ketidak sesuaian tersebut ada salah satu poin sehingga saya secara pribadi menyimpulkan adanya pergeseran nilai terhadap kehidupan kampus di Unifa, kita sebagai mahasiswa kadang menutup mata, dengan hal yang kita nilai biasa setiap harinya, tanpa mencoba mengidentifikasi kebenaran apa yang kita lihat, atau bisa saja kita salah satu dari orang yang menyimpang dari tatanan norma sesungguhnya. Melihat hal itu, muncul beberapa keresahan dalam diri saya terhadap kondisi tersebut, apakah kampus sudah kehilangan budaya atau berganti budaya baru? Apapun itu kampus tetap sebagai mesin produktif, dalam mencetak manusia-manusia bermutu untuk pemenuhan sumber daya manusia. Anekdot tentang Unifa yang “katanya” kampus “model” dan kampus “artis” sudah melekat sejak beberapa tahun
yang lalu, pelabelan ini dikarenakan tidak terlepas dari bagaimana sikap mahasiswa di dalamnya. Sikap yang saya maksud disini adalah kurangnya “etika” dan “kesadaran” diri terhadap norma-norma yang telah diatur dalam kampus. Contoh kecil saja etika dalam berpakaian sudah dianggap hal sepele di kampus itu, khususnya kaum wanita dengan rok mini, baju ketat, dan celana robek sudah menjadi trend tersendiri bagi pelakon-pelakonnya. Tidak heran jika banyak yang melabeli Unifa sebagai kampus model dan artis. Secara penampilan mahasiswinya membenarkan stigma tersebut. Seakan bangga dengan asumsi orang tentang stigma itu, bukan malah mencoba intropeksi diri karena merasa tersindir, melainkan mengkontaminasi ke mahasiswa-mahasiswa lainnya, yang harusnya menjadi trend untuk diri sendiri, malah menjadi trend untuk kalangan kampus. Meskipun secara basic Unifa bukan kampus muslim yang menerapkan etika keislaman untuk membentuk insan akademis yang berakhlakul karimah, tapi tetap moralitas merupakan ciri bahwa kita manusia yang beragama dan berketuhanan. Bukankah kita sebagai mahasiswa cerminan dari apa yang di dapat di kampus? Bukan sebaliknya budaya luar yang teradopsi menjadi budaya kampus? Apakah sesempit itu penilaian orang luar terhadap kampus kita? Atau kurangnya penegasan aturan terhadap wilayah itu? Melihat hal tersebut sebagai orang yang peduli dan cinta akan kam-
11
Lawan Keterbatasan dengan Semangat
Penulis: Erwin Atmajaya Prodi Ilmu Komunikasi 2014
ampus menjadi sarana tempat bagaimana memanusiakan manusia, tempat lahirnya kaum intelektual, bermoral, dan berkarakter. Berbeda dengan kondisi saat masih dalam bangku sekolah menengah, yang dimana pada fase tersebut kita masih dalam tahap transisi untuk mendewasakan cara berpikir serta cara berkelakuan, bisa juga dikatakan proses dalam mencari jati diri. Norma pada saat itu sangat ditekankan oleh guru-guru yang diatur dalam bentuk kurikulum sekolah, jadi kita diikat oleh aturan yang memaksa untuk berlaku disiplin dan patuh sesuai tuntutan sekolah. Dari hasil proses itulah yang kemudian kita bawa sampai sekarang, yang menjadi bekal awal untuk masuk ke gerbang perkuliahan. Di kampus nantinya pilihan terbuka lebar, untuk langkah selanjutnya bagaimana mengembangkan dan mengaktualkan apa yang telah dicapai selama ini, sehingga membentuk pribadi yang lebih bermanfaat dengan basic keilmuan masing-masing. Sejarah mencatat mahasiswa sebagai salah satu tonggak perubahan di berbagai negara dunia, salah satunya di Indonesia, siapa yang tidak mengenal Soekarno, Hatta dan kolega-koleganya dalam membentuk tatanan negara seperti sekarang ini, gerakan revolusionernya diawali di bangku kuliah, nilai-nilai kemanusiaan yang ditanamkan di kampus membentuk pola pikirnya dan penanaman nilai moral membentuk akal budi, sehingga menggugah nurani mereka, agar sadar pentingnya arti kemerdekaan dalam setiap bangsa. Betapa besarnya peran kampus dalam membangun identitas dan karakter setiap mahasiswa di dalamnya. Bukan hanya mencerdaskan secara akal, juga membangun kesadaran moralitas dalam tatanan berprilaku, bertutur kata, sehingga menciptakan kehidupan kampus yang harmonis dan selaras dengan instrument kampus lainnya. Dewasa ini setelah melewati kemelut panjang pada masa perkembangannya, dari era pergerakan nasional sampai reformasi, pendidikan di republik ini bergerak secara fluktuatif sesuai tuntutan rezimnya, sehingga iklim budaya setiap kampus pun secara otomatis ikut berubah. Kurikulum kampus dianggap alat yang jitu untuk membentuk pola kehidupan mahasiswa, baik itu secara persuasif atau bahkan dengan cara represif bila itu di perlukan. Pola kehidupan kampus ini yang kemudian menjadi budaya, sehingga mewarnai segala aktivitas yang ada di dalamnya. Melihat kondisi seperti ini mahasiswa seakan terikat dengan sirkulasi tatanan sosial dalam kampusnya masing-masing, yang secara eksplisit membentuk karakter setiap mahasiswanya, kita sepakat bahwa kampus merupakan tempat pembentukan pola pikir kritis,idealis, sikap dan mental, tapi pada hari ini kita melihat peran sebuah kampus sudah mengalami disorientasi ataupun pergeseran nilai di dalamnya, nilai-nilai moral secara khusus sudah menjadi produk sampingan di berbagai kampus, mahasiswa pada hari ini mengaku dirinya kritis dalam setiap aksi, bahkan
Sosok
pus, kita tentu secara pribadi harus sadar dan mencoba mengoreksi utamanya diri kita sendiri. Meskipun kampus sudah tidak sesuai dengan tujuan awalnya, tapi sebagai mahasiswa yang sadar akan perubahan, kita tidak akan berdiam diri dan membiarkan citra kampus dirusak oleh oknum-oknum yang hanya menumpang kuliah di kampus itu, tapi bukan berarti kita harus anarkis dalam menindaki hal demikian untuk merubah pola tersebut, melainkan memberikan gagasan dan saran yang membangun kepada pemangku jabatan tertinggi, untuk kepentingan bersama dan tetap selaras dalam menjalani kehidupan kampus. Bukankah hal itu yang mencirikan kita sebagai kaum intelektual dan berkarakter? Bukan bungkam melihat hal yang tidak sesuai tempatnya, atau malah menjadi penikmat. Selain pembentukan rasio, pendidikan moralitas memang sangat penting di berikan di Unifa, melihat kedepannya mahasiswa menjadi tenaga-tenaga profesional di kancah kontestasi dalam dunia kerja, etika dalam bersikap perlu ditanamkan lebih dalam, mengingat kampus tempat pembentukan karakter untuk pemenuhan SDM yang menjunjung tinggi nilai moral dan berbudi pekerti yang baik, kesadaran dari dua subjek antara birokrasi kampus dan mahasiswa memang membantu terselenggaranya tujuan tersebut. Tapi apabila keduanya apatis dan melakukan pembiaran, maka bias dari itu akan mencoreng nama baik kampus.
NAMA LENGKAP : Wawan Darmawan, SE, M.Si, AK, CA TEMPAT TANGGAL LAHIR : Ujung Pandang, 04 November 1983 ALAMAT : Perum Grand Arasy Blok B No. 3 Jl. Tamangapa 3 Antang PENDIDIKAN : D3 Akademi Akuntansi Fajar (Lulus 2005) S1 STIE Indonesia (Lulus 2007) Pendidikan Profesi Akuntansi Universitas Hasanuddin (Lulus 2011) Chartered of Accountant Ikatan Akuntansi Indonesia 2013 S2 Universitas Hasanuddin (Lulus 2016) PENGALAMAN ORGANISASI : Tahun 2003-2004 Wakil Ketua BEM Akademi Akuntansi Fajar Tahun 2004-2005 Ketua Majelis Permusyawaratan Mahasiswa (MPM) Akademi Akuntansi Fajar
T
entunya untuk meraih semua itu tidak semudah membalikkan telapak tangan. Dosen tetap D3 akuntansi Universitas Fajar (Unifa) ini rupanya menyimpan banyak kisah sedih semasa kecilnya. Terlahir dengan kondisi kedua kaki yang berbeda dengan orang lain, membuatnya sulit menerima kenyataan. Hal tersebut mulai terasa ketika menginjak Taman Kanak-kanak (TK). Hari-harinya dipenuhi dengan rasa tidak percaya diri, dikucilkan oleh teman sebayanya, dan diperlakukan berbeda dengan orang lain. Kala itu, ketika Wawan ingin melintasi jalan yang ramai, ia lebih memilih untuk mencari jalan sepi. Tak peduli jauhnya jarak yang Ia tempuh untuk sampai ketujuan asalkan tak banyak orang yang melihatnya ketika berjalan. Hal itu membuatnya merasa hidup ini tidak adil. Bahkan untuk menatap dirinya di cermin pun ia tak sanggup. “Saya sempat mengutuk Tuhan, saya tidak percaya diri dengan kondisi fisik yang saya miliki,” ujar pria yang akrab disapa kak Wawan. Pria kelahiran 1983 ini tidak ingin dibedakan. ia menganggap bahwa dirinya tidak memiliki kelemahan. Meski itu suatu wujud keprihatinan, ia ingin orang-orang tidak melihat bahwa ada kekurangan pada dirinya. “Saya tidak butuh dikasihani, saya butuh disamakan dengan yang lain” tuturnya. Dalam perjalanan hidupn-ya, sosok wanita yang ia panggil Ibu menjadi sang motivator. Disaat Ayahnya sudah putus asa, beliau berniat memasukkannya di Sekolah Luar Biasa (SLB), tapi sang ibu melarang. “Jangan, biarkan dia sekolah normal. Biarkan dia melihat kejamnya
dunia seperti apa, kalau dari awal dia sudah seperti itu niscaya nantinya dia akan kuat,” ujarnya seraya mengikuti gaya ucapan ibunya. Seiring berjalannya waktu, rasa percaya diri itu mulai terbentuk saat duduk di bangku Sekolah Menengah Atas. Hal itu dipicu ketika ia bergabung dalam organisasi Palang Merah Remaja (PMR) di SMA Negeri 1 Makassar. Masa itu, Wawan mengikuti jurit malam, tiba-tiba ia jatuh terguling, teman-teman dan beberapa senior ingin menolong, tapi ada satu senior yang mencegat. “Jangan, jangan bantu dia. Kita tidak butuh orang cengeng di sini, kalau mau jadi ‘orang’ kamu harus bisa bantu dirimu sendiri,” ucapnya menirukan gaya bicara seniornya tersebut. Tanpa melihat kondisi fisiknya, ia merasa diperlakukan sama dengan yang lain, maka percaya diri itu bangkit. Akhirnya Ia memulai hari-harinya dengan semangat. Memasuki dunia perkuliahan, anak pertama dari lima bersaudara ini bercita-cita menjadi dokter spesialis bedah tulang. Tujuannya sederhana, untuk menyembuhkan orang-orang seperti dirinya. Untuk mewujudkan itu wawan mendaftar di Universitas Hasanuddin (Unhas), sayangnya tidak lulus. Kemudian Ia ingin mendaftar di Universitas Muslim Indonesia (UMI), namun sang Ayah tidak menyetujui. Hingga pada akhirnya, Universitas Fajar (Unifa) menjadi pilihan terbaiknya. Untuk urusan asmara, Wawan terbilang cepat mengenal namanya cinta. Sejak duduk di bangku Sekolah Dasar (SD) hingga
bangku perkuliahan ia selalu memiliki kekasih, sasarannya adalah junior. “Saya termasuk orang yang mudah jatuh cinta dan tidak mau di kalah. Begitu juga di kehidupan asmara. Saya pacaran itu dengan adik kelas dengan memanfaatkan KRS, Korban Retorika Senior,” ujarnya seraya tertawa. Hingga akhirnya pada tahun 2010 Wawan menikah dengan Titin Rahmawati, yang juga mantan mahasiswinya. Menurutnya, Titin berbeda dengan perempuan lainnya. Jika dulu Wawan berjalan-jalan di Mall bersama pacarnya, ia tidak pernah bergandengan tangan melainkan berada di belakang pacarnya dengan jarak 1 meter. Sebaliknya justru dilakukan oleh istrinya. “Ketika saya jalan berdua dan tidak mau menggandengnya karena takut dia menjadi minder, justru dia yang cengkram tanganku. Di situ saya merasa dia mau menunjukkan ke saya bahwa jangan ragu berada disampingnya. Itu yang membuat saya senang dan yakin sama dia,” ungkapnya. Dengan perjalanan hidupn-ya itu, Wawan telah membuktikan bahwa ia telah menjadi seseorang yang bisa dipandang kemampuannya, bukan fisiknya. Hingga pada akhirnya Wawan menjadi wisudawan terbaik Ahli Madya dengan nilai Cum Laude pada tahun 2005 di Akademi Akuntansi Fajar. Selain menjadi staff accounting di Unifa dan Politeknik SNC Surabaya, Wawan juga mengajar di beberapa perguruan tinggi yang ada di Makassar seperti STIM Nitro, LP3I, STIEM Bongaya serta menjadi konsultan keuangan di beberapa kantor yang masih berada di lingkup Fajar Group seperti Hamu Investama Corporation (HIC), Harian Radar Makassar, Harian Rakyat Sul-Sel, dan PT Fajar Utama.
“Kelemahan itu bukan suatu keterbatasan, kalau kelemahan itu kita olah dengan baik justru akan menjadi kelebihan bagi kita”
12 REPORTER: WIDYANINGSIH REDAKTUR: AHMAD FIKRI
Activity
Tabloid KERTAS edisi #10 (Januari 2017)
Tabloid KERTAS edisi #10 (Januari 2017)
13
Eko Hadriyanto Harumkan Nama Unifa
BANGKIT, UFORIA UNJUK GIGI DENGAN PRESTASI
MAKASSAR, KERTAS – Eko Hadriyanto mengharumkan nama kampus lewat ajang Open Tournament Taekwondo Poltani Cup V, yang digelar pada 25-26 November 2016 lalu di Pangkep.
MAKASSAR, KERTAS – Setelah mengalami pasang surut, Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Fotografi Universitas Fajar (Unifa) atau biasa disebut Uforia mulai bangkit dan mengukir prestasi di Jambore Fotografi Mahasiswa Indonesia (JFMI) IX, di Cirebon, Jawa Barat.
P
ada tournament itu, Eko yang merupakan anggota Unit Kegiatan Senat (UKS) Taekwondo Fakultas Teknik, mahasiswa Teknik Kimia turun sebagai bentuk pengaplikasian dari hobinya. “Pokoknya disitu kita mau menguji hasilnya kita, apa yang kita dapat dari itu bela diri (taekwondo). Karena kalau cuman latihan to’ saja begitu, dirasa terpendamlah begitu,” kata Eko. Eko juga menaruh harapan besar kepada pihak kampus untuk lebih memperhatikan unit kegitan yang ada dan memberikan dukungan berupa tenaga pelatih. “Biar atletnya tidak tertahan disitu, tidak jalan di tempat,” tegasnya.
J
FMI yang digelar 18-20 Oktober 2016 lalu merupakan langkah untuk mempererat tali silaturahmi mahasiswa fotografi se-Indonesia. Kegiatan tersebut juga sekaligus untuk mengenalkan budaya dan keseharian masyarakat di koto tuan rumah. Tidak hanya itu, pada JFMI tersebut juga digelar workshop fotografi bertajuk Kolase Budaya Cirebon. Setelah itu, kemudian dilanjutkan dengan hunting foto keraton kesepuhan, sunyarangi, proses pembuatan genteng, model casual dan games. Selama tiga hari proses hunting, masing-masing peserta JFMI diberi kesempatan untuk memotret 2 buah foto yang kemudian dikumpulkan dan dinilai oleh juri. Keempat delegasi Unifa memilih foto human interest. Tak tanggung-tanggung, Ichram Chandra Wahyudi atau akrab disapa Bayou berhasil menyabet juara 2 pada (JFMI) tersebut. “Perasaannya sudah pasti senang, bangga, bisa mewakili UKM Uforia Universitas Fajar di sakala nasional. Apalagi pesertanya dari seluruh Indonesia. Bukan perkara mudah bisa jadi juara,” tanggap Bayou. Pada Jambore tersebut, Bayou mengatakan bahwa sekira 500 mahasiswa dari seluruh Indonesia turut hadir mengikuti kegiatan. Dari 500, 26 diantaranya merupakan mahasiswa dari 6 universitas yang ada di Makassar, dan 4 delegasi dari Unifa. Keenam universitas tersebut peserta itu merupakan naungan Rumah Foto Makassar.
Activity
DOKUMEN PRIBADI
T KHAERIL UMAM/KERTAS
ANGKAT BENDERA. Irwan Sakkir alias Vhito mengangkat bendera Perhimpunan Pers Mahasiswa Indonesia (PPMI), didampingi mantan Sekjen PPMI, setelah terpilih menjadi Sekjen baru periode 2016-2018.
DOKUMEN PRIBADI
JUARA. Nama Universitas Fajar (Unifa) kembali diharumkan oleh mahasiswa berprestasi. Eko Hadriyanto meraih juara kedua pada Open Tournament Taekwondo Poltani Cup V, yang digelar 25-26 November 2016 lalu di Pangkep. bunyi dari salah satu mahasiswa ini, dan diperlihatkan di ajang yang terbuka,” ungkap Iryani kepada wartawan Kertas. Irayani berharap agar maha-
siswa-mahasiswa lain juga dapat memberikan yang lebih baik lagi kepada kampus kedepannya. (amr)
Sekjen Nasional PPMI dengan mengalahkan Imam (Malang), dan Wahyu (Muria). Sebelumnya, ada 11 bakal calon yang mencalonkan diri sebagai Sekjen Nasional, namun 3 dari bakol calon tersebut gugur karena tidak memenuhi syarat. Setelah tersisah 8 bakal calon, sidang kemudian dilanjutkan dengan menanyakan kesiapannya untuk menjadi Sekjen Nasional. Akhirnya, 5 dari 8 bakal calon menyatakan ketidak siapannya sehingga hanya menyisahkan 3 calon. Hasil akhir pemilihan di menangkan oleh Vhito dengan memperoleh 50 suara mengalahkan para pesaingnya di posisi kedua, Imam 15 suara dan Wahyu 10 suara. Sementara, 4 suara dinyatakan tidak sah dari 79 jumlah suara. Kemenangan Vhito pada Kongres yang digelar 1-6 Desember 2016 lalu itu dianggap sebagai prestasi luar biasa dari Pemimpin Redaksi Kertas, Andi Nur
Isman Sofyan. Isman mengatakan, hal ini menjadi sejarah baru dari UKM Pers Unifa (nama internal). Setelah sebelumnya Vhito juga menjabat sebagai Sekjen Dewan Kota Makassar dan ketua UKM Pers Unifa. “Ini juga sekaligus menjadi kado spesial untuk lembaga ini. Karena di 29 November kemarin kita baru saja merayakan milad yang ke-8 tahun. Prestasi yang sangat baik di umur yang terbilang masih muda,” tutur Isman. Setelah terpilih sebagai Sekjen Nasional PPMI periode 2016-2018, kemudian dilanjutkan dengan penandatangan surat kesiapan menjadi Sekjen oleh mantan Sekjen, Abdus Somad. “Sampai saat ini saya belum percaya bahwa saya dipercayakan sebagai orang nomor satu di PPMI,” aku Vhito. (wdn/imd)
Maju di Tingkat Nasional YOGYAKARTA, KERTAS – Kongres XIII Perhimpunan Pers Mahasiswa Indonesia (PPMI) berbuah manis untuk Dewan Kota Makassar. Irwan Sakkir alias Vhito berhasil menjadi orang nomor satu tingkat nasional 5 Desember 2016 lalu.
DOKUMEN PRIBADI
FOTO BERSAMA. Ichram Chandra Wahyudi alias Bayou (kiri) foto bersama delegasi Uforia yang mengikuti JFMI setelah menerima gelar juaranya. “Semoga Uforia bisa lebih dikenal lagi. Dikenal dengan prestasinya. Bukan cuma saya tapi adik-adik anggota baru dan teman-teman yang ada di UKM juga bisa melahirkan prestasi lainnya dan terus memotret,” ucap mahasiswa Prodi Ilmu Komunikasi 2014 tersebut. Kemenangan Bayou di JFMI sontak mendapat aparesiasi, salah satunya Deputi Rektor III Bidang Kemahasiswaan, Dr. Nur Khaerat Nur ST,. MT. Dia mengatakan, hal-hal seperti ini patut untuk diberi apresiasi. “Kita memang selalu mendorong mahasiswa untuk aktif berorganisasi, termasuk masuk dalam UKM agar bisa mengembangkan minat dan bakatnya. Sehingga kita harapkan kepada adik-adik untuk terus berkarya, berinovasi, kreatif,” pungkas Khaerat yang baru-baru ini mendapat gelar Doktornya. JUARA. Foto Ichram Chandra Wahyudi alias Bayou yang mendapat juara kedua.
Ketua UKS Taekwondo, Norman Admaja Lebang mengaku bangga atas prestasi yang diraih Eko. “Karena bisa kita katakan UKS Taekwondo di Unifa itu masih seumur jagung istilahnya, dan sudah bisa bereksistensi diajang tournament regional,” ungkapnya. Norman berharap agar pihak kampus dapat bersinergi dan tetap memfasilitasi unit-unit kegiatan yang berprestasi. “Harapan saya nantinya pihak kampus juga bisa bersinergi dengan kami dalam artian tetap memfasilitasi agar bibit-bibit dari bawah, tetap kami bisa bina dengan baik dan bisa berprestasi, terlebih mengharumkan nama Unifa sendiri,” katanya. Sementara itu, Ketua Prodi Teknik Kimia, Iryani turut bersyukur dan bangga atas keberhasilan salah satu mahasiswanya yakni Eko Hadriyanto, yang berhasil meraih juara 2 dan membawa pulang medali perak. “Ternyata ada bakat yang tersem-
ahun ini, Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta menjadi tuan rumah dalam kegiatan yang dirangkaiakan dengan Sarasehan Budaya dan Diskusi Publik. Kegiatan tersebut dibuka Sekjen PPMI periode 2015-2016, Abdus Somad, dengan melepas dua ekor burung merpati didampingi seluruh peserta Kongres. Vhito asal Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Kertas Universitas Fajar (Unifa) menang telak dalam pemilihan
Rektor Apresiasi Inaugurasi Fakultas Teknik Unifa gitan yang positif seperti ini,” kata Sadly saat memberikan sambutan. Dia mengharapkan agar seluruh mahasiswa di Unifa bisa belajar dan berinovasi dengan baik. “Ini adalah modal yang penting bagi naugurasi berkonsep perjuangan, Anda,” kata Sadly. Ketua panitia, Herianto juga bertajuk Seribu Mimpi untuk Satu menaruh harapan besar kepada Tujuan tersebut dihadiri Dekan Fakultas Teknik, beberapa Ketua Po- seluruh mahasiswa fakultas teknik gram Studi, lembaga internal maupun angkatan 2016 agar tetap berdedikasi eksternal kampus, dan orang tua ma- selepas inagurasi. “Setelah kita melalui proshasiswa. “Saya terus terang member- es pertama Bostek kemudian Latiikan apresiasi yang sangat dalam ke- han Dasar Kepemimpinan,di sini lah pada para mahasiswa Fakultas Teknik. kami membuktikan apa yang telah Khususnya yang dikoordinasi oleh senior-senior berikan,” kata Herianto. Senat untuk melakukan kegiatan-ke- (hld)
MAKASSAR, KERTAS– Rektor Universitas Fajar (Unifa), Prof. Sadly Abdul Djabar MPA mengapresiasi Inaugurasi angkatan 2016 Fakultas Teknik, Sabtu, 28 Januari di Ballroom Graha Pena.
I
WIDYANINGSIH/KERTAS
SAMBUTAN. Rektor Unifa, Prof. Sadly Abdul Djabar MPA memberikan sambutan pada Inagurasi Fakultas Teknik, Sabtu, 28 Januari di Ballroom Graha Pena.
14
Pena
Tabloid KERTAS edisi #10 (Januari 2017)
Tabloid KERTAS edisi #10 (Januari 2017)
PENULIS: EL SYAHRANY SAIMAN
B
agiku, melukis bukan sebuah hobi, melainkan candu. Sahabatku adalah kanvas, aku bisa menuangkan ekspresi dalam berbagai perasaan dengan cara itu. Kalau laki-laki punya rokok, aku punya kuas yang selalu tersedia di dalam tas bahkan dikantong kemana pun ku pergi. Dari ukuran normal sampai yang seukuran jari-jari pun ada. Namanya mini painting. Jadi bisa selalu digunakan dalam keadaan apa pun, buang air misalnya. Ya, setidaknya ini lebih masuk akal daripada menghisap rokok dan aroma feses secara bersamaan. Aku telah menghasilkan ribuan lukisan sejak jatuh cinta dengan salah satu jenis seni rupa tiga dimensi itu. Meski kini hanya tersisa ratusan karena banyak yang tercecer atau bahkan kubuang ketika studio pribadi sekaligus tempat tinggalku sudah penuh dan membuatku repot sendiri. Biasanya aku melakukan tahap filterisasi yang sangat ketat saat keadaan urgent tersebut sudah terjadi. Dan ini adalah bagian tersulit. Namaku Luna, 21 tahun, mereka menyebutku “perempuan aneh”… *** “Aku didepan. bisa keluar gak?” Yugo datang satu jam setelah hujan turun.“Ngapain kamu? Kalau mau copy film, kamu bisa menyimpan laptopku selama yang kau mau.” Sindirku. Yugo tertawa kecil. Ia sudah terbiasa dengan respon sarkastik dariku. Hari itu Ia tidak berencana untuk mengajakku ke mana-mana. Main PS ditemani mie instan dengan telur setengah matang adalah ide terbaik di benaknya. Hal baru yang mulai sering kulakukan sejak tiga bulan yang lalu. Tentu saja alasannya sudah bisa kau tahu. Namun semua terjadi begitu saja. Entah bagaimana awalnya, Yugo adalah satu-satunya yang dapat bertahan dengan segala kemisteriusanku. Yugo seolah mampu memanjati tembok kokoh berduri yang sejak lama kubangun. Tidak peduli dengan desas-desus yang tersebar tentangku. Semua ia hiraukan entah
mengapa. Katanya aku memang beda, namun bukan dalam konotasi negatif. Bola mata yang agak sayup ini berani mengitari kulit pada punggung tangan hingga lengan Vivi, teman yang kudapat pada saat masa orientasi di bangku SMA. Kemudian dengan hati-hati aku menghirup dan mengelus permukaan kulit itu, bahkan terkadang kuselingi dengan sedikit kecupan, wangi dan halus sekali. Sudah pasti ia selalu melakukan treatment khusus di klinik kecantikan. Hal ini terjadi beberapa kali, membuat Vivi dan empat orang temannya lagi risih bahkan jijik dengan perempuan putih pucat ini. Beberapa waktu kemudian, tersebarlah rumor bahwa Luna memiliki kelainan psikologis dan dijuluki sebagai penyuka sesama jenis a.k.a lesbian. Sejak itu pun aku selalu di-bully. Ini ketika LGBT masih jarang terjadi. *** Hari itu Yugo datang lagi. Sejak siang ia sudah mengabari bahwa ia akan menjemputku untuk melihat pameran yang diadakan di anjungan kota. Malam pukul tujuh lewat lima menit Yugo tiba di rumahku. Aku sudah siap di beranda dengan raut muka yang datar seperti biasa. Aku bergegas masuk ke mobil dan kami langsung berangkat ke tempat tujuan. “Kamu telat lima menit.” Kataku tanpa melirik ke arahnya. Seperti biasa ia hanya tersenyum dan membuat ekspresi menyesal. Aku tidak pernah berniat untuk mengikutsertakan salah satu karyaku dalam sebuah pameran atau kompetisi biasa sekali pun. Entah. Padahal banyak yang menawariku. Aku juga lebih memilih bergabung dengan komunitas pelukis disabilitas (penyandang tunarungu), ketimbang dengan yang normal. Tempat di mana aku mengenal Yugo. Setelah dari pameran itu, kami berdua menonton pertandingan bola di rumahku. Malam itu berjalan sangat panjang. Semua berjalan lancar. Di putaran pertama club kesukaannya sudah mengungguli jalannya pertandingan. Namun di beberapa menit kemudian, club lawan mulai mengejar. Hal ini membuatnya panas. Posisi pertandingan
mulai berbalik. Seperti posisinya yang juga semakin dekat denganku. Aku sudah menyadari hal itu di saat jari-jari kami bertemu dan saling menyentuh. Perasaan canggung itu mulai terasa. Detak jantungku kini berdegup tiga kali lebih cepat dari biasanya. “Aku ke belakang dulu ya, minumanku sudah habis. Sini gelasmu, biar kutambahkan juga.” Aku gelagapan dan segera berdiri. Mengulurkan tangan bermaksud meminta gelas yang berada di sudut meja. Lebih dekat jaraknya dengan Yugo. Tiba-tiba tanganku justru ditarik, aku tersungkur hingga jatuh tepat di atasnya. Kami saling tatap. Untuk pertama kalinya aku berada dalam jarak sedekat ini dengan orang lain. Sangat dekat sehingga aku dapat melihat bayangan dari mata cokelatnya, dan aku bisa merasakan hembusan nafasnya menyentuh kulitku. Ia terbangun dengan serangan sakit kepala yang bukan main. Matanya langsung berkeliling ke seluruh ruangan berusaha mengenal dan mengingat-ingat. Mencoba bangun namun kaget tangan dan kakinya terikat. Dinginnya AC yang tidak wajar menyadarkan bahwa Ia terbangun dengan tubuh tak berbusana. Hanya selembar kain menutupi area bagian vitalnya. Sekali lagi Ia memaksakan otaknya untuk mengingat-ingat apa yang terjadi malam tadi. Mulai terbayang dirinya yang menonton bola dengan Luna. Iya, aku. “Astaga, apa yang terjadi? di mana dia? Apa dia baik-baik saja? Ya Tuhan!” Begitu monolog yang sedang terjadi di kepalanya. Seseorang muncul dari balik pintu di sudut kamar. Perempuan yang sedang ia cemaskan kini berjalan ke arahnya mendorong sebuah meja besi berisikan segala jenis gunting dan pisau yang biasa digunakan dokter bedah untuk operasi. “Oh, kau sudah bangun? Selamat pagi. Terima kasih untuk ciuman indahmu tadi malam. Maaf, aku tidak bisa memberikanmu lebih. Kau pasti lupa ya? Biar kuceritakan. Iya, tadi malam kau menciumku, entahlah, mungkin sekitar 2 menit. Aku juga menikmatinya. Namun ada sesuatu yang ku masukkan di minumanmu yang membuatmu teler dan
Hambatan Bukan Penghalang Oleh: Nurparamadina Aku hanya anak desa Anak yang punya segudang mimpi cita dan cinta Sekolahku juga biasa saja Mungkin tak semewah dikau yang di kota Disanalah kugantungkan mimpi-mimpi itu Berharap kelak dapat jadi prasasti untuk ibu Pun ayahku Dan aku mau itu Papan tulisku boleh rusak Mejak belajarku boleh saja bolong-bolong Tak apa, sebab pemilik semesta pasti membantu Asal bukan asa yang terpatahkan Sebab cerdasku Adalah cerminan bangsaku Sebab semangatku Adalah kekuatan bagi negaraku
15
UKM SSK Sebagai Pelopor Kesenian dan Kebudayaan
Kanvas Cokelat tak sadar diri sehingga kau bisa ada di sini sekarang.” Kujelaskan panjang lebar sambil membersihkan alat bedah yang kubawa tadi dengan tisu. Yugo mencoba teriak, namun sayang sekali, protesnya itu sama seperti siaran radio pada saat listrik mati. Ia bisu sejak kecil. Panjang ceritanya. Matanya melotot saat melihat pisaupisau itu, membuatku mengerti bahwa ia sedang bertanya-tanya. “Tenang saja, barang-barang ini memang sudah lama, peninggalan ibuku dulu. Tapi selalu ku bersihkan kok, sama sekali tidak berkarat. Ketajamannya juga tidak berkurang karena selalu juga ku asa. Jadi gak bakal sakit. Akan kuusahakan semuanya bisa berjalan cepat. Tenang ya,” Kataku, masih dengan kesibukan yang sama. Kemudian mulai dengan pisau yang paling kecil. Maafkan aku, sejak awal mereka sudah memperingatkan untuk menjaga jarak dengan perempuan aneh ini, dan aku membenarkan hal itu. Tetap saja kau bersikukuh untuk mendekatiku. Aku memang salut padamu. Karena kau tetap pada pendirianmu. Aku memang mulai menyukaimu. Kau adalah satu-satunya orang yang tidak pernah bertanya atau protes dengan keadaanku. *** Sudah enam bulan sejak kejadian itu, wajahku masih terpampang dalam poster-poster ‘Wanted list’ di dindingdinding sepanjang jalan Negeri Paman Sam. Yugo ditemukan membusuk di ruang bawah tanah rumahku waktu itu. Dan di kota kecil di timur Amerika, Virginia, aku sedang memandangi lukisan-lukisanku. Lukisan di atas kanvas yang kubuat dari kulit bagian paha dan punggungnya. Aku merindukannya.
Edukasi
REPORTER: NURPARAMADINA REDAKTUR : SITI SUHARTINA A
Budaya adalah suatu cara hidup yang berkembang, dan dimiliki bersama oleh sebuah kelompok orang, dan diwariskan dari generasi ke generasi. Budaya terbentuk dari banyak unsur yang rumit, termasuk sistem agama dan politik, adat istiadat, bahasa, perkakas, pakaian, bangunan, dan karya seni. Bahasa, sebagaimana juga budaya, merupakan bagian tak terpisahkan dari diri manusia sehingga banyak orang cenderung menganggapnya diwariskan secara genetis. Ketika seseorang berusaha berkomunikasi dengan orang-orang yang berbeda budaya, dan menyesuaikan perbedaan-perbedaannya, membuktikan bahwa budaya itu dipelajari. (Sumber: Wikipedia.org)
I
ndonesia merupakan negara kepulauan yang memiliki wilayah geografis luas dan kebudayaan yang sangat beragam, yang terdapat pada masing-masing daerah yang dikenal dengan sebutan budaya lokal. Budaya lokal itu sendiri adalah suatu kebudayaan yang tumbuh dan berkembang serta dimiliki dan diakui oleh masyarakat suku bangsa setempat. Budaya lokal biasanya tumbuh dan berkembang dalam suatu masyarakat suku atau daerah tertentu karena warisan turun-temurun yang dilestarikan. Keberagaman budaya tersebut dapat ditinjau secara fisik, baik dari segi berpakaian seperti pakaian adat, dan alat-alat seni seperti musik, serta tarian khas daerah masing-masing yang banyak dijumpai pada berbagai pementasan seni. Di daerah Sulsel sendiri sangat banyak lembaga-lembaga yang melestarikan kebudayaan dan kesenian sebagai bentuk kecintaan terhadap budaya, terkhususnya budaya lokal. Tak terkecuali Sanggar Seni Karampuang (SSK) yang merupakan sebuah Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) di Universitas Fajar (Unifa) Makassar, yang berperan sebagai pelopor untuk melestarikan budaya dan kesenian di Tanah Bugis dan Makassar. UKM tersebut telah berdiri sejak tahun 1997 yang pada awalnya dikenal dengan sebutan UKM Seni Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi (Stikom) yang kini berubah nama menjadi SSK. Dibentuk sebagai wadah penyaluran minat dan bakat Mahasiswa dibidang seni, sekaligus memperke-
FOTO BARENG. Anggota UKM SSK melakukan foto bareng bersama anak SD didikannya, Nikarannuang, setelah mengikuti lomba tari. nalkan kembali budaya-budaya lokal yang ada di Bugis dan Makassar. Di mana seiring berjalannya waktu kini perlahan menghilang dari pandangan. Perubahan zaman yang semakin modern perlahan mengikis kebudayaan-kebudayaan yang ada, utamanya budaya lokal. Hal tersebut terjadi tidak lepas dari kecanggihan dunia teknologi dan arus informasi yang dengan cepat menyebar luas dikalangan masyarakat yang turut mempengaruhi pola-pola perilaku dan cara berfikirnya. Ketua umum SSK, Wahyu Syam mengatakan, melihat kondisi sekarang, lembaga kesenian turut bergerak dengan membuat forum yang membahas soal pengawalan kebudayaan agar tetap terpelihara dan dilestarikan oleh generasi muda. “Semua pekerja seni kampus Se-Makassar tetap mengawal kebudayaan dan kesenian ini untuk tetap dilestarikan demi generasi-generasi berikutnya,” ungkapnya. Terkait hal tersebut, Pendiri UKM SSK, Muh. Bisyiri, S.Ksi., M.I. Kom, turut angkat bicara. Menurutnya, perubahan zaman tidak dapat
dibendung, di mana kita banyak diterpa informasi tentang budaya-budaya dari luar, yang memang banyak menawarkan hal-hal menarik. “Sekarang teknologi sudah luar biasa, pelestarian budaya lokal juga jangan tabuh dengan perkembangan dunia teknologi. Pengiat-penggiat budaya harus lebih berani memanfaatkan teknologi,” jelasnya. Hal serupa juga dituturkan oleh mantan ketua umum UKM SSK, Ahyar Arsyad. Ia mengatakan, kecenderungan orang-orang sekarang adalah meniru kebudayaan orang lain. “Sekarang siapa yang bisa membendung kehebatan media sosial? siapa yang bisa membendung teknologi? Jadi, bagaimana cara kami untuk tetap menggunakan teknologi itu sebagai media untuk menyampaikan kebudayaan-kebudayaan itu, memperkenalkan budaya-budaya bahkan mempertahankan kebudayaan itu sendiri,” ungkapnya. Banyaknya budaya di Sulsel utamanya budaya lokal yang hampir punah, membangkitkan semangat UKM SSK selaku pekerja seni kampus untuk memperkenalkan dan me-
DOKUMEN PRIBADI
lestarian kebudayaan lokal. Kecintaan dan kepedulian SSK terhadap budaya dan kesenian ditunjukkan melalui dedikasinya dengan menjadi pelatih disebuah Sekolah Dasar (SD) dan mengajarkan beberapa tarian khas daerah Kota Makassar, sebagai bentuk pengaplikasian dari tujuan mereka dalam memelihara kebudayaan. Mengajar dan menjadi pelatih di SD adalah salah satu upaya dari UKM SSK untuk memperkenalkan budaya kepada anak-anak usia dini, dengan alasan penanaman nilai-nilai budaya akan lebih mudah dibentuk pada usia anak-anak. “Kawat sangat mudah untuk dibentuk dibandingkan baja. Kita tempa memang dari awal, berharap kedepannya anak-anak SD ini, dia juga ikut melestarikan,” kata Ahyar. Sekolah Dasar yang merupakan anak binaan dari SSK yang dinamai Nikarannuang tersebut telah mengikuti beberapa kegiatan dan perlombaan seni tari yang juga sering ditampilkan oleh SSK diberbagai pentas seni. Seperti tarian Empat Etnik, Ganrang Bulo, Paduppa, dan berbagai tari lainnya.