Mengemban Tri Dharma Perguruan Tinggi
EDISI
#11 2017 HAL 5 | BUTUH KEBIJAKAN TETAP UNTUK MEMAKSIMALKAN SISTEM ONLINE HAL 12 | BUKAN LAPAK JADI WADAH LITERASI HAL 15 | PANIK KEMBANGKAN TANAMAN HIDROPONIK
2
Tajuk
Tabloid KERTAS edisi #11 (Agustus 2017)
Tabloid KERTAS edisi #11 (Agustus 2017)
Salam dan semangat juang Pers Mahasiswa!!!
Kami dari Redaksi Kertas memohon maaf atas keterlambatan Tabloid edisi ke-11 ini. semoga informasi yang kami suguhkan tetap bisa bermanfaat bagi civitas akademika.
3
ORMAWA UNIFA, SIBUK KEGIATAN HINGGA LUPA MELAWAN
Salam Redaksi
MENJAGA, membela, dan meneggakkan keadilan adalah kesatuan yang terus dikedepankan oleh kami, sang pers mahasiswa sebagai Watch Dog. Sebagai jembatan dalam menyalurkan aspirasi terhadap kemelut – kemelut yang dihadapi, baik mahasiswa ke birokrasi atau pun justru sebaliknya, kami berharap dapat terselesaikan dengan baik tanpa ada kesalahpahaman satu sama lain. Kertas yang merupakan salah satu media kampus, juga aktif memberitakan mengenai apa yang terjadi di tengah-tengah masyarakat, karena ini bentuk, bahwa persma ada untuk khalayak umum. Alhamdulillah, kata ini mewakili ungkapan rasa syukur pada Allah SWT, atas segala rahmat dan limpahannya, sehingga karya tim Redaksi Tabloid Kertas Edisi ke- 11 kembali hadir dan tentunya menyuguhkan segala informasi terkait permasalahan yang ada di kampus biru Universitas Fajar. Sehubungan dengan itu, edisi kali ini membahas seputar pengurusan kartu rencana studi (KRS) berbasis online yang masih dianggap belum terlaksana dengan baik, karena kurangnya sosialisasi. Terbitnya Tabloid Kertas Edisi ke- 11, tim redaksi mengucapakan mohon maaf, apabila terdapat kekeliruan serta membuat sebagian pihak tersinggung dengan berita yang kami muat. Tidak ada niat menjatuhkan apalagi menodai citra kampus. Untuk itu, demi kelancaran serta bahan evaluasi pada terbitan ke depannya, kritik dan saran pun dari pembaca selalu kami tampung sebagai pembelajaran agar lebih bisa memproduksi karya yang dapat dipercayai oleh berbagai pihak dari dalam maupun luar kampus.
Mimbar Mahasiswa
Sejak berdirinya pada tahun 2008, Universitas Fajar (Unifa) mengalami peningkatan citra yang signifikan dimasyarakat. Selain membenahi mutu seperti sistem, fasilitas, sarana, dan prasarana, dukungan pencitraan yang masif juga datang berbondong-bondong dari mahasiswanya sendiri. Dibidang akademik, prestasi kompetisi dan yang terbaik adalah kegiatan (event) organisasi mahasiswa (ormawa).
C
Susunan Redaksi
redaksikertas@gmail.com
Ketua Umum : Axel Layuk, Sekretaris: St Suhartina A, Bendahara: Khaeril Umam, Pemimpin Redakasi: Andi Nur Isman Sofyan, Redaktur Pelaksana: Justina,Reporter: Ilham Hasri, Heldayanti, Nurparamadina, Widyaningsih, Amrina Amrullah, Muh. Imaduddin, Muh. Asrifai, Chairul Ma’ruf, Ikhlasul Amal. Fotografer: Segitarius. Layouter: Ahmad Fikri Hading. Karikaturis: Annisa Isnani Pembina: HM.Alwi Hamu, H,Syamsyu Nur, Prof. Sadly Abdul Djabar, Nur Alim Djalil, Mulyadi Hamid, A. Amang Pawennari, Mohamad Hatta Alwi, dan Muspa. Dewan Redaksi Kertas: Uslimin, Ruslan Ramli, Basri, Yusmanisar, Yulhaidir Ibrahim, Abdul Jalil, dan Silahuddin Genda.
Kertas Online
@kertasonline kertasonline.com
@fez3471h
itra yang terbangun di masyarakat luas tentang kampus Unifa memang cukup beragam, namun yang paling menonjol sekaligus dijadikan julukan adalah “Unifa kampus event”. Keaktifan ormawa di kampus biru ini layak diacungi jempol. Apalagi jika mengingat sumbangsihnya dalam meningkatkan akreditasi program studi ataupun kampus. Bukan lagi hal garib saat kampus dipenuhi tenda-tenda panganan, umbul-umbul merek dagang perusahaan teh dalam kemasan botol, dan bisingnya sound sistem saat menggumamkan lantunan pengisi acara dari yang amatiran hingga jempolan. Data yang diperoleh dari bidang kemahasiswaan deputi Rektor III, tercatat sebanyak 51 kegiatan ormawa dari bulan Februari hingga April. Sedangkan, data yang diterima redaksi Kertas dari biro administrasi dan umum Unifa yang juga menangani urusan peminjaman tempat, mengarsipkan sedikitnya 103 surat permohonan peminjaman tempat yang datang dari berbagai ormawa unifa hingga april 2017. Kegiatan-kegiatan padat ormawa cukup beragam, mulai dari rapat-rapat, kajian, technical meeting, perayaan milad, bazar, bedah film dan tak lupa event yang jadi andalan masing masing ormawa. Organisasi di Unifa meliputi Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM), Him-
punan Mahasiswa Jurusan (HMJ), Unit Kegiatan Profesi (UKP), dan Study Club (SC). Kebutuhan akan pengakuan oleh lingkungan sosial memang sudah jadi sifat alamiah setiap manusia. Demikian pula dengan ormawa yang juga membutuhkan pengakuan. Ketua umum Himpunan Mahasiswa Manejemen, Aridla Saskamal melihat event sebagai hal yang penting bagi lembaga kemahasiswaan. “Sebuah event itu kalau menurutku itu, di situlah semua dituangkan ide-ide dari para anggota,” ungkapnya. Lebih lanjut ia menyampaikan bahwa kegiatan atau event itu harus memiliki input dan output yang diberikan. Sebagai lembaga yang mewadahi mahasiswa, ormawa, terlepas dari masing-masing orientasi lembaganya dan seperti apa jenisnya, sudah sepantasnya memberikan pengaruh atau dampak untuk perubahan sosial yang lebih progresif. Mengingat kembali tiga fungsi mahasiswa yaitu agent of change, social of control, dan moral of force, maka ormawa dituntut untuk terus menanamkan nilai-nilai tersebut dalam segala bentuk kegiatannya. Sementara itu, ketua umum Himpunan Mahasiswa Ilmu Komunikasi, Rib’i Hanzholah menganggap penanaman nilai-nilai
mahasiswa sangat penting. “Sangat penting. Tapi terkendalanya di penerapan. Karena dipengaruhi sama era digital, yang buat mahasiswa jadi malas dan mau serba instan,” ungkapnya. Terkait dengan seberapa pentingnya event bagi ormawa, Hanzholah menerangkan bahwa kegiatan menjadi bukti bahwa sebuah lembaga masih hidup. “Di situmi dilihat lembaga itu berjalan. Salah satu patokannya lembaga itu hidup adalah berkegiatan,” katanya. Sekaratnya Semangat Perlawanan Era reformasi yang diwariskan melalui perjuangan dan tumpah darah mahasiswa di tahun 1998 hanya dianggap sebagai dongeng menjenuhkan untuk mahasiswa baru. Hal itulah yang membuat mahasiswa “dilanda krisis idealisme”. Semangat perlawanan untuk perubahan nyaris sirna dan digantikan dengan mental pencitraan untuk kemapanan masa depan. Realita yang terjadi hari ini dalam kehidupan kampus memang terbilang miris diberbagai daerah, bahkan diseluruh Indonesia. Mahasiswa acapkali tidak bisa melakukan apa-apa ketika hak-haknya di preteli oleh birokrasi kampus, lebih memilih bungkam dan ikut aturan main. Pada Maret hingga awal Mei lalu, segenap ormawa dikagetkan dengan rencana relokasi sek-
retariat lembaga mahasiswa oleh pihak birokrasi. Alasan untuk merelokasi ialah gedung A yang ditempati enam lembaga mahasiswa yang terdiri dari Himpunan Mahasiswa Hubungan Internasional (Himahi), Himpunan Mahasiswa Manejemen (HMM), Himpunan Mahasiswa Akuntansi S1 (Himata), Himpunan Mahasiswa Ilmu Komunikasi (Himakom), Senat Mahasiswa Fakultas Ilmu-ilmu Sosial dan Ekonomi (Sema FEIS), dan Unit Kegiatan Mahasiswa Fotografi Unifa (Uforia), akan direnovasi dalam waktu dekat. Namun yang mengecewakan mahasiswa, sosialisasi relokasi tersebut dilakukan bersamaan dengan pengerjaan sekretariat yang baru. Belum cukup sampai disitu, kekecewaan ormawa kian bertambah saat mengetahui ukuran sekretariat yang disediakan untuk masing-masing lembaga, hanya berkisar 2x4 meter saja. Hal terburuk, lokasi sekret diapit oleh ruangan perkuliahan. Melihat kondisi itu, tersiar riakriak penolakan oleh ormawa yang terkena dampak relokasi. Penolakan terlontar dari mulut para pengurus enam ormawa pada waktu itu, tapi langkah-langkah real dalam menindaklanjuti perlakuan birokrasi nyaris tak nampak. Rencana konsolidasi enam lembaga mahasiswa pun masih sampai pada tahap wacana. Begitupun dengan lembaga-lembaga lain, hampir tidak ada tanda-tanda akan bersolidaritas dalam mendukung sesama ormawa yang dirampas haknya, untuk menuntut keadilan dan merenggut hak sesama mahasiswa. “Saya sebenarnya sangat kecewa dengan petinggi-petinggi birokrat yang ada di sebelah (rektorat) karena dia bertindak sebelum
menginfokan ke kami. Jadi, bahasanya dia mendiskriminasi sekali lembaga-lembaga. Kayak dia tutup mata atas apa kontribusinya lembaga terhadap kampus,” keluh Evan Geovani Mali, ketua umum Himahi. Kemudian saat ditanyai tentang sikapnya terkait relokasi, Evan dengan tegas meolak. “Mau nda mau memang harus direlokasi karena ini mau direnovasi. Tapi untuk tuntut namanya kelayakan itu memang harus kita tuntut,” tambahnya. Memasuki awal bulan Mei, sekretariat yang baru telah rampung dan siap dihuni. Namun tak satupun ormawa mengisi ruangan tersebut. Birokrasi juga belum menginstruksikan keenam lembaga untuk mengemasi barangnya. Di lain sisi, Agus Mawan ketua umum Himpunan Mahasiswa Mesin Fakultas Teknik (HMM FT) menyampaikan keprihatinannya melihat enam lembaga yang akan direlokasi. “Bagi saya di Mesin nda terkena dampak, cuman kasihan juga ya teman-teman karena ormawa di FEIS menolak. Namun, bentuk penolakannya seperti anak kecil begitue, ngambekan ki, dan itu bukan mahasiswa kalau ngambekan. Punya dua mata, satu mulut, dua telinga, masa nda berani bersuara. Itu bukan mahasiswa,” ujarnya. Menurutnya, ketika ditemui masalah seperti itu, harus ada tindakan-tindakan kongkrit yang segera dilakukan. “Paling pertama mungkin dialog. Setelah jalur itu dianggap belum mampu ya kenapa tidak untuk ada represif,” pungkasnya. (axl)
Kertas Online
Kurang Sosialisasi, Tingkat Pengguna KRS Online Menurun
D
emi meningkatkan suatu kualitas, baik perguruan tinggi negeri maupun swasta berlomba-lomba membenahi sistem yang telah ada atau bahkan merubahnya , guna mendapatkan kepercayaan dari pihak luar terkait kredibilitas yang dimiliki. Sehubungan dengan hal tersebut, tentunya para penguasa dalam sebuah kampus terus berupaya mencari solusi atau menerapkan kebijakan baru untuk kepentingan bersama. Mengenai kebijakan, itu tidak terlepas dari hal positif yang ingin dicapai, sama halnya dengan kebijakan kampus biru Universitas Fajar dalam menerapkan pengurusan KRS secara online (E- Sistemik). Kartu Rencana Studi (KRS) merupakan kartu berisi daftar mata kuliah yang akan diikuti oleh setiap mahasiswa selama satu semester . Di mana di dalamnya terdapat, nama, nim, juru-
san, dan fakultas. Biasanya, saat akan memasuki semester baru, seluruh mahasiswa akan direpotkan akan kegiatan itu. Ke sana kemari mengambil KHS, kemudian mengambil distribusi matakuliah, serta menunggu pembimbing akademik (PA) datang ke kampus untuk dimintai tanda tangan. Lebih parahnya lagi, kadang setelah berjam-jam menunggu PA tidak muncul-muncul juga. Itulah ribetnya mengurus KRS secara manual. Namun, seiring berkembangnya teknologi yang kian hari semakin canggih. Pemanfaatan dalam menggunakannya pun sangat dimaksimalkan oleh setiap individu, kelompok maupun organisasi. Seperti halnya dengan KRS, di mana dulunya dilakukan secara manual, tapi sekarang bisa melalui online tujuannya adalah mempermudah mahasiswa. Hampir di seluruh perguruan tinggi di Indonesia sudah menerapkan, bahkan
mewajibkan mahasiswanya mengurus KRS online saja. Salah satu keuntungan lain dari KRS online adalah ketika musim-musim libur , sebagian mahasiswa kembali ke kampung halaman, di sini mereka tidak repot datang ke kampus, cukup Log In pada website E-sistemik. Melihat kemudahannya, Universitas Fajar pun tak mau ketinggalan menerapkan KRS Online (E-sistemik). Namun, meskipun berjalan dua semester, ternyata masih banyak kendala yang dihadapi, mulai dari sebagian mahasiswa tidak mengerti penggunaannya, bahkan dosen PA lupa cara memvalidasi KRS secara online. Menurut Pangkalan Data Elektronik (PDE), Akmal Hidayat mengatakan bahwa, pengguna yang tercatat melakukan pengisian KRS Online pada awal penerapannya (semester ganjil) berjumlah 950 dari 2.936 mahasiswa
aktif, sedangkan penerapan kedua (semester genap) hanya 467 dari 2.995 mahasiswa. Tentunya, ini terjadi karena kurangnya sosialisasi bagaimana tata cara penggunaannya. Selain itu, dosen pembimbing akademik masih ingin bertatap muka terhadap mahasiswanya untuk mengontrol tingkat kemajuan atau perkembangan nilai akademiknya. Jika seperti ini, aturan atau kebijakan yang sudah dibuat tidak terlalu penting lagi untuk diikuti. Akhirnya mahasiswa sendiri merasa kebingungan antara memilih jalur A atau B. Maka dari itu, Unifa sepatutnya lebih siap menjalankan aturan atau kebijakan baru, agar tercipta perubahan yang lebih bagus, sehingga bisa unggul dan dapat dipercaya sebagai kampus swasta terdepan dan unggul dengan hal-hal baru yang muncul di zaman modern ini. (*)
Adnan Ilham Mahasiswa Ilmu Komunikasi 2015
“Sejalanmi dengan kampus sebenarnya, karena ini kampus jualannya kampus entrepreneur. Jadi dia sepertinya untuk yang ilmiah-ilmiah, kurang di pentingkan ji yang seperti itu. Lebih sering ki liat panggung acara music daripada bersuara di rektorat.”
Juslinda Mahasiswa Bina Wisata 2015
“Terus kebanyakan event yang diadakan di Unifa bersifat entertaint, kurang event yang bernilai edukasi. Event yang membudaya menjadi citra kampus Unifa. Apa yang dilakukan ormawa dalam kegiatan event untuk mengangkat nama Unifa, namun tidak banyak yang dilakukan birokrasi Unifa untuk membantu event ormawa.”
Ichram Chandra Wahyudi Mahasiswa Ilmu Komunikasi 2014
“Menurutku ada bagusnya juga, karena ini bisa jadi daya tarik untuk masuk di Unifa. Tapi kalau sering bikin event juga ada kegiatan lain yang tertunda seperti perkuliahan dan kegiatan yang lain yang harus di skip.”
Muh Rezki Akbar Mahasiswa Hubungan Internasional 2015
“Dengan adanya event-event ini persaudaraan antara mahasiswa-mahasiswa itu bisa erat. Bisa saling mengenal. Misalkan mengundang dari kampus lain, mereka bisa datang dan saling megenal.”
4
Liputan Khusus
Tabloid KERTAS edisi #11 (Agustus 2017)
Kontradiksi E-Sistemik
E-Sistemik Tanggung Jawab Siapa?
Kehadiran teknologi diharapkan dapat mempermudah segala aspek kegiatan mahasiswa Universitas Fajar (Unifa). Sama juga teknologi yang baru-baru ini diterapkan di kampus berlabel entrepreneur, yaitu penerapan E-Sistemik.
M
eski terbilang masih baru, penerapan sistem berbasis online tersebut semestinya dapat menjadi semangat bagi mahasiswa saat menggunakan E-Sistemik. Tidak hanya mempermudah, namun juga memberi ketertarikan kepada target penerapannya. Seperti yang diketahui, tujuan utama diadakannya sistem tersebut yakni untuk mempermudah mahasiswa melakukan pengurusan KRS. Namum, sejak dimulainya penerapan sistem berbasis online sejak tahun ajaran 2016/2017, belum sekali pun mencapai setengah dari jumlah mahasiswa Unifa yang menggunakan sistem tersebut. Menurut pengelola Pangkalan Data Elektronik (PDE), Akmal Hidayat, pengguna yang tercatat melakukan pengisian KRS melalui E-Sistemik pada awal penerapannya, semester ganjil, hanya berjumlah 950 dari 2.936 mahasiswa aktif. Sedangkan pada penerapan kedua, semester genap, hanya tercatat 467 dari 2.995 mahasiswa aktif. Fauziah Yunira, mahasiswi Program Studi (Prodi) Akuntansi S1 mengaku, tidak melakukan pengisian KRS melalui jalur online karena tidak mengetahui cara penggunaannya. Menurutnya, melakukan pengisian KRS berbasis online butuh bimbingan terlebih dahulu. Selain itu, Fauziah mengatakan, dia pernah ingin mencoba melakukan pengisian KRS berbasis online. Dia juga mengaku disarankan untuk menggunakan sistem online oleh Pembimbing Akademik (PA). ”Sebaiknya katanya urus online. Tapi tidak ditanya caranya. Pernah juga buka (E-Sistemik), tapi karena tidak tahu bagaimana caran-
ya jadi saya cuma liat juga,” ungkap mahasiswi angkatan 2016 itu. Tidak jauh berbeda dengan Fauzia, Arman Wahid, mahasiswa Teknik Elektro angkatan 2016 juga punya cerita terkait E-Sistemik. Dia mengaku, Prodi secara tidak langsung mengarahkannya untuk melakukan pengisian KRS secara offline atau manual, karena hanya diarahkan untuk mengambil KRS di Biro Akademik. Arman bercerita, sewaktu masa pengurusan KRS, awalnya ingin melakukan pengisian secara manual. Tetapi, ketika sudah mengambil KRS di Biro Akademik, kemudian bertemu PA, dia malah dianjurkan untuk melakukan pengisian melalui E-Sistemik setelah sekian lama mengantri. “Prodi suruh ke rektorat. Disuruhji langsung mengantri, tidak disuruh langsung ke PA. Disuruh langsung dulu mengantri baru ke PA. Sekalinya saya sampai di PA, itu kertas (KRS, ditanyai) untuk apa ini. Tidak usah, suruhmi temanmu ajariko mengurus online,” ungkap Arman menceritakan pengalamannya. Selain itu, Ketua Senat Mahasiswa Fakultas Teknik, Sulfandianto menganggap, sosialisasi penerapan sistem berbasis online tersebut masih belum maksimal. Karena, kata dia, rata-rata mahasiswa yang ingin menggunakan sistem tersebut harus mempelajarinya sendiri, sehingga masih sering ditemukan kesalahan dalam mengisi KRS. “Yang masih kurang itu, kalau mau validasi KRS, kan kita yang isi sendiri KRS, nanti di PA yang validasi. Tapi yang salahnya biasa itu kan, biasa ada perubahan
Lupa Cara Penggunaan E-Sistemik Salah satu faktor tidak maksimalnya penerapan sistem berbasis online ini, juga dibuktikan dengan adanya PA yang lupa cara validasi KRS online. Respon terhadap mahasiswa bimbingan yang lambat juga menjadi salah satu penyebabnya.
H
al tersebut diakui Ainun Pratiwi, mahasiswi Ilmu Komunikasi Fakultas Ekonomi dan Ilmu-ilmu Sosial (FEIS) yang pada pengurusan KRS baru-baru ini mengalami kejadian itu. Mahasiswi yang akrab disapa Tiwi itu mengaku, Pembimbing Akademiknya, Drs. Ibnu Qayyim Na’iem, M.Si yang merupakan dosen tetap di Unifa itu baru melakukan proses validasi KRS yang dia lakukan menggunakan E-Sistemik setelah menemui PA secara langsung.
“kemarin itu sudahma isi KRS online, sudah saya sms ke PA buat divalidasi. Tapi, sudah beberapa hari tidak divalidasi dan akhirnya datang langsungka ke kampus buat ketemu dengan PAnya. Saya tanya begini, pak saya yang beberapa hari yang lalu sms buat mau divalidasi KRSnya. Terus PAnya ngomong, oh iya tunggu sebentar saya agak lupa caranya,” ungkap Tiwi menceritakan, Sabtu, 16 April. Tiwi mengeluhkan, sewaktu melakukan pengurusan itu, PA sama sekali tidak menanggapi pe-
Tabloid KERTAS edisi #11 (Agustus 2017)
mun, lanjut Sumardin, biasanya ada kebijakan dari beberapa Prodi untuk menganjurkan mahasiswanya untuk tidak menggunakan E-Sistemik, agar dapat berkonsultasi langsung dengan PA, maupun Kaprodi masing-masing. “Sebenarnya kita mau paksa ini anak-anak (mahasiswa), tapi ada lagi kebijakan Prodi yang mau mengontrol perkembangan mahasiswanya. Nanti kita akan komunikasikan itu ke depan, karena ini pengisian KRS kemarin kan yang kita pikirkan, yang kita bayangkan itu offlinenya sedikit sekali. Karena itu bisa dibayangkan itu, temanteman di sini (Akademik) duduk selama dua minggu (masa pengurusan KRS) itu tidak ada istirahatnya. Makan pun itu sebentar sekali,” jelas Sumardin. Mengenai panduan penggunaan E-Sistemik, Kepala Biro Akademik itu mengatakan, pada awal penerepannya, ada panduan yang tertera di bagian bawah E-Sistemik. Namun, dirinya tidak mengetahui apakah pada penerapan kedua panduan tersebut masih tetap ada atau tidak. Karena, beberapa mahasiswa mengeluhkan tidak adanya panduan penggunaan yang ditemukan di bagian bawah E-Sistemik. Selain itu, penginputan data di E-Sistemik yang lambat, menurut Mardin, disebabkan kare-
na beberapa hal. Salah satunya, disebabkan karena masih ada perubahan-perubahan data yang akan diinput. Seperti nilai dan jadwal mata kuliah yang masih berubah-ubah. Sementara itu, Kaprodi Ilmu Manajemen, Dr. Ir. Mujahid, SE, MM, sebagai salah satu Prodi yang memiliki mahasiswa terbanyak dan mengarahkan mahasiswanya terkhusus mahasiswa baru untuk melakukan pengurusan offline mengatakan, sengaja mengarahkan mahasiswanya untuk mengurus KRS tidak melalui E-Sistemik agar mereka tahu bagaimana prosedur pengurusan KRS dengan menemui PA masing-masing. “Ini pengalaman di Manajemen, kadang dia (mahasiswa baru) mengisi tidak konsultasi, akhirnya ada yang dobel-dobel mata kuliahnya, mata kuliah yang sudah diprogram, kembali diprogram. Kita berharap online itu memudahkan untuk mahasiswa. Tapi pada kenyataannya mahasiswa juga senang secara manual, dengan pertimbangan bisa tatap muka dengan PA,” jelas Mujahid, 8 April lalu. Meski begitu, Mujahid berharap agar sistem berbasis online bisa mempermudah mahasiswa Unifa. Kedepannya, mahasiswa diharapkan melakukan pengisian KRS melalui E-Sistemik, sesuai dengan kebutuhan. (ans)
san singkat yang dikirimkannya dua hari setelah mengisi KRS online. Dia melanjutkan, jika PA lupa cara penggunaan E-Sistemik, setidaknya dapat membalas pesan singkatnya agar mahasiswanya tidak lagi menunggu berhari-hari. “Kalau misalnya PAnya dapatmi sms dari mahasiswanya yang mau validasi KRSnya, mungkin PAnya kalau memang agak lupa bisa langsung cari tahu caranya bagaimana, biar ndak nunggu sampai beberapa hari. Berdampak mungkin, karena mungkin misalnya kita mau cepat-cepat selesai urus KRS, jadinya terhambat,” kata mahasiswa angkatan 2015 itu. Ditemui di ruangannya, 19 April lalu, Ibnu Qayyim membenarkan adanya kejadian itu. Dia mengaku memang lupa cara menggunakan E-Sistemik, termasuk validasi KRS melalui sistem berbasis online itu.
Ibnu Qayyim mengatakan, karena pengurusan KRS hanya dilakukan setiap enam bulan sekali, maka besar kemungkinan PA lupa cara penggunaannya. “Yang saya lupa juga itu hari saya punya pasword, akhirnya saya reset ulang,” tambahnya saat menjelaskan kronologi kejadian itu. “SMS itu mempunyai peluang untuk diabaikan. Karena mungkin orang sibuk atau bagaimana sampai lupa, atau yang mengirim itu tidak dikenal. Ini saja sekarang ini, untuk terima telepon itu saya tidak sembarang mengangkat telepon. Karena paling menjengkelkan kalau yang penelpon itu cuma asuransi dan sebagainya,” jelas Ibnu Qayyim. Kejadian ini, menurut Ibnu Qayyim, merupakan keterbatasan manusia dalam mengingat sesuatu. Selanjutnya, dia mengatakan, mahasiswa harus terus meng-
ingatkan apabila ditemukan kejadian seperti itu. Sewaktu dikonfirmasi, Ibnu Qayyim juga masih belum bisa mengingat penyebab dia tidak menanggapi konfirmasi dari Tiwi. Sementara, Kepala Biro Akademik mengatakan, sebelum diterapkannya E-Sistemik, sudah diadakan pelatihan kepada PA maupun dosen-dosen yang nanti akan menggunakan sistem berbasis online tersbut. Bahkan, Akademik sudah memberikan buku panduan penggunaan sistem tersebut. “Ini kan masukan yang baik. Kita akan pikirkan jalan keluarnya bagaimana. Karena biasa saya tanya beberapa dosen, adami yang lupa akunnya, adami yang lupa passwordnya, sampai saya adakan untuk reset, dia nda tau juga bagaimana cara reset itu. Jadi kan serba salah juga,” kata Sumardin. (ans)
5
BUTUH KEBIJAKAN TETAP UNTUK MEMAKSIMALKAN SISTEM ONLINE Menjadi Universitas yang masih terbilang baru menerapkan sistem online, merupakan tantangan tersendiri bagi Universitas Fajar (Unifa) untuk memaksimalkannya. Terbukti masih banyak keluhan dari mahasiswa mengenai sistem online yang berbelit-belit. Karena itulah tim liputan Tabloid KERTAS edisi ke 11 melakukan wawancara khusus bersama Akmal Hidayat, SE. Selaku ketua Pangkalan Data Elektronik (PDE), Kamis, 13 April 2017 di gedung rektorat Unifa.
Bagaimana tanggapan mengenai penerapan sistem online di Universitas Fajar selama 2 semester ini ?
mata kuliah, namanya diubah, di situ mahasiswa harus lebih teliti lagi sebelum memilih. Karena yang saya dapati sekarang, biasa PA langsung validasi saja,” kata ketua SMFT itu. Tidak hanya itu, penginputan data pada E-Sistemik yang lambat juga selalu dikeluhkan mahasiswa. Dimulai dari nilai mata kuliah, hingga jadwal mata kuliah pada sistem tersebut yang tidak langsung terinput. Kepala Biro Akademik, Sumardin, saat ditemui di gedung Rektorat Unifa, Senin, 17 April mengatakan, peran Biro Akademik dalam penerapan E-Sistemik hanya sebagai fasilitator untuk mengurangi antrian dalam pengurusan KRS. Sumardin mengungkapkan, apabila E-Sistemik tidak diterapkan, maka besar kemungkinan jenjang waktu pengurusan KRS tidak mampu mengkoordinir seluruh mahasiswa yang akan melakukan pengurusan. Maka dari itu, kata Sumardin, Akademik bekerja sama dengan PDE untuk membuat sistem tersebut agar dapat meminimalisir penumpukan antrian saat pengurusan KRS. Akademik menargetkan, akan mengurangi pengurusan KRS melalui jalur offline atau manual pada semester berikutnya. Tujuannya, untuk mengurangi antrian pada saat pengurusan berlangsung. Na-
Wawancara Khusus
Selaku pemegang tanggung jawab dengan ini sistem, yang paling dibutuh di sini adalah kesepahaman dulu sebenarnya. Begini, kita harus paham bahwa sistem sebenarnya adalah kebijakan yang tertuang dalam bentuk sistem. Namun yang terjadi kondisi di Unifa masih banyak hal yang membutuhkan kebijakan, akhirnya terkadang sistem yang harus mengikut. Misalnya, ada prodi ternyata mereka mau penasehat akademik (PA) bertemu dengan mahasiswanya, inikan Kartu Rencana Studi (KRS) online salah satu efeknya adalah mengurangi intensitas pertemuan antara PA dengan anak bimbingannya. Mungkin atas pertimbangan kemarin itu, ada beberapa prodi mereka mau mahasiswanya ketemu. Efeknya mereka memberi kebijakan kepada mahasiswanya untuk melakukan offline, akhirnya mahasiswa yang menggunakan KRS online hanya beberapa bahkan turun hingga 50 persen. Upaya apa yang seharusnya
dilakukan PDE untuk memaksimalkan sistem online ? Kesepahaman Ini harus ada dari top manajemen, harus ada dari pimpinan yang langsung melakukan intervensi bahwa hal ini dilakukan ke sini. Inikan sistem kita bisa melihatnya sebagai suatu aset, makanya ketika kita mau berhasil penggunaanya itu harus ada dari atas. Misalnya saya, hanya selaku penanggung jawab untuk itu, tidak ada wewenang dari bagian ini untuk memaksakan itu. Karena peran PDE itu hanya menyediakan dan memelihara, tapi untuk implementasinya itu sudah bukan bagian. Makanya, sukses atau tidaknya, ini butuh peran dari pada pimpinan untuk mendukung ini. Ketika ini dijadikan aturan bahwa ini harus diterapkan, ya sudah akan maksimal itu, tapi jika ini dianggap hanya sebagai fasilitas ya sudah begini. Apa tanggapan terhadap banyaknya mahasiswa yang mengeluh terhadap sistem online yang masih ribet? Harusnya, itukan memang rancangannya dari awal itu tidak ada tanda tangan di situ.
Bukan tidak ada, PA sudah tidak bertanda tangan lagi. Kalau prodi itukan harus, karena KRS itu harus di stor ke prodi, jadi itu membuktikan bahwa prodi sudah betul-betul menerima dan melihat isi dari KRS. Namanya itu sistem kan ada tiga, yang pertama perancangan, kedua sosialisasi dan ketiga pemeliharaan. Nah kenapa muncul perubahan begini pada saat sosialisasi itu, akhirnya masuk banyak pendapat. Inikan sosialisasinya ke PA, akhirnya PA merasa bahwa dengan adanya ini sistem mengurangi intensitas pertemuan mereka dengan anak bimbingannya, cuman susah karena saya sendiri. Harusnya PA tidak menjadikan pertemuan antara anak bimbingannya itu di pengurusan KRS. Karena kalau seperti ini, apa bedanya dengan offline. Harusnya dengan adanya intensitas pertemuan PA dan mahasiswanya diluar waktu pengurusan KRS, maka ini harusnya berjalan, tetapi malah terbalik. Sudah berapa kali diadakan sosialisasi untuk penasehat akademik ? Sosialisasi sebenarnya itu tidak pernah, itu sebatas tampil-
MANFAATKAN ERA DIGITALISASI DENGAN POSITIF
Dunia sudah semakin ‘Mendigital’. Tak ada lagi cela untuk menolak kehadiran era digitalisasi. Bila tidak memulai berubah bersama tegnologi, maka kita akan tertinggal. Oleh karena itu, Tabloid Kertas melakukan wawancara khusus bersama Dr. Nur Khaerat Nur S.T.,M.T., Kamis, 13, Juli. Bagaimana pandangan Anda mengenai era digitalisasi saat ini? Era digitalisasi itu adalah keniscayaan, perkembangan zaman. Zaman ini kan sudah masuk ke teknologi informasi. Di mana-mana orang membutuhkan yang namanya tegnologi informasi yang diwakili salah satunya hanphone at au
Dr. Nur Khaerat Nur S.T.,M.T.
gadget. Teknologi informasi ini kan bisa mengetahui sumber informasi yang begitu cepat. Apa yang diketahui dibelahan dunia lain, orang sepersekian detik saja orang bisa tahu. Tetapi dengan kemajuan teknologi informasi ini juga bukan berarti tidak memiliki dampak, konsekuensi. Jelas sangat besar dampaknya. Menurut Anda, apa pengaruh digitalisasi bagi mahasiswa? Pengaruhnya sangat besar sekali saya kira untuk kemajuan mahasiswa Unifa untuk misalnya mendapatkan informasi dan ilmu, itu sangat positif lewat teknologi informasi ini. Tetapi di sisi lain salah satunya juga lewat teknologi informasi ini untuk mendapatkan informasi harus bisa mampu untuk memfilter secara baik. ANDI NUR ISMAN SOFYAN/KERTAS M a n a
yang informasi yang baik, yang layak, yang positif untuk kebutuhan kita, perkembangan kualitas kita, mana yang tidak baik, yang tidak positif, yang tidak ada kaitannya dengan tujuan untuk bagaimana mengembangkan nilai intelektual kita, ya singkirkan. Nah menyangkut juga aspek budaya kita, orang ini kan sudah bebas. Apakah sesuai dengan budaya kita atau tidak, perkembangan dunia informasi sangat pesat untuk mempengaruhi itu, merubah cara berpikir dan cara pandang orang juga. Apakah dengan era ini, produktivitas mahasiswa akan menurun? Harusnya bisa meningkat, karena ini kan masalah kebudayaan. Dulu orang untuk mendapatkan informasi itu kan sangat sulit, harus berjalan dengan adanya ruang dan waktu yang berbeda, untuk menempuh itu sangat jauh, membutuhkan sebuah waktu yang lama. Tapi sekarang kan tidak harus orang menuju ke tempat tersebut, itu sudah bisa mengetahui apa yang
Akmal Hidayat, SE. kan bahwa ini klik ini, karena memang saya tidak melakukan sosialisasi seperti seharusnya. Tujuannya, saya ingin menguji sistem itu, apakah sistem itu user friendly atau tidak, apakah sistem itu mudah digunakan atau tidak. Lantas apa penyebab data di sistem online lama di input? Ini sistem terkait dengan strategi, salah satu model yang kita terapkan untuk menjaga sistem digunakanlah dua server. Ada server utama dan ada server pendukung. Server pendukung inilah yang digunakan oleh E–Sistemik. Jadi logikanya, apapun yang terjadi di server pendukung ini, maka akan mempengaruhi server utama. Maka membutuhkan waktu untuk melakukan singkronisasi antara server utama ke server pendukung setelah
HELDAYANTI/KERTAS
semua nilai kita singkron ke server tadi. Cuman ternyata pada saat berjalan masih banyak nilai yang belum masuk dalam proses itu. Lalu bagaimana dengan jadwal mata kuliah yang belum ditampilkan di sistem online ? Terus terang sampai sekarang saya belum masukkan, karena ternyata masih ada yang berubah. Nah, itu ketika misalnya saya upload kemudian salah kan kembali lagi. Tapi memang sih, harusnya saya masukkan saja tapi nanti saya lihat bagaimana. Saya juga belum memperoleh informasi dari teman-teman, apakah mereka sudah fix kan atau tidak. Cuman kemarin masih ada saya temukan berubah, jadi ya sudahlah kalau begitu di fixkan saja dulu. (hel)
terjadi secara factual. Bukan hanya informasi saja, apa yang didengar, tetapi orang bisa melihat secara langsung realitas yang terjadi di situ. Cuman ya konsekuensinya juga kan ada hal yang ternyata hoax, bisa saja hoax. Makanya saya sampaikan tadi kita harus berhati-hati. Rupanya seiring dengan kemajuan teknologi ini, di sisi lain juga adanya hal yang negative apabila kita tidak mampu untuk memfilter hal tersebut.
sudah pintar yang umurnya baru tiga tahun. Apalagi kalau seorang mahasiswa, seorang mahasiswa kan tingkatannya kan lebih tinggi dan harusnya bisa karena ini adalh tuntutan zaman. Zaman lah yang membuat hal tersebut seperti itu. Kita harus bisa menyesuaikan. Tinggal bagaimana menjaga diri Anda dalam perkembangan teknologi itu.
Menurut Anda, bagaimana seharusnya mahasiswa menghadapi era seperti ini?
Apa harapan Anda untuk mahasiswa, khususnya Unifa dalam menjalani era digitalisasi?
Ya sikapi dengan baik mengikuti tren yang ada, tetapi tidak melepas juga kaidah-kaidah yang ada, khususnya dari mahasiswa yang intelek. Kita ini kan, kampus ini adalah masyarakat intelek, harus bisa memilah mana yang betul-betul baik dan mana yang tidak dan juga harus hati-hati karena banyak informasi-informasi yang sifatnya hoax apalagi di sosial media. Sosial media ini kan orang rebut biasanya hanya gara-gara informasi yang ternyata belum diketahui betul atau tidaknya informasi tersebut. Jika berkaca ke Unifa, apakah mahasiswa sudah siap menghadapi era ini? Anak-anak sekarang kan pada umumnya, jangankan anak yang sudah mahasiswa, anak yang masih balita saja ini kan sudah main hp. Anak saya saja sudah main hp,
Era digitalisai harusnya bisa direpon dengan baik bahwa ini yang mempermudah aktivitas kita. Untuk itu maka kita harus bisa mengapresiasi perkembangan teknologi yang tiap tahun, tiap saat itu selelau berubah-berubah. Karena adanya inovasi, kreatifitas di situ, maka kita harapkan bahwa adek-adek mahasiswa Unifa juga harus bisa menyesuaikan dengan perkembangan zaman, sesuai dengan tagline perguruan tinggi ini adalah kampus entrepreneur. Di mana entrepreneur itu adalah bagaimana menciptakan manusia yang kreatif, inovatif, mandiri. Seperti itu pula perkembangan digital sekarang, mahasiswa Unifa harus bisa menyesuaikan itu, bagaimana bisa melahirkan nilai-nilai inovasi, keraitf dan mandiri itu. (ans)
Unifa Style
Tabloid KERTAS edisi #11 (Agustus 2017)
Tabloid KERTAS edisi #11 (Agustus 2017)
Butuh Kemauan Untuk Tingkatkan Potensi Menulis
Tampil Keren Keren Tampil dengan Sling Sling Bag Bag dengan
“
Sejarah sling bag sendiri berawal dari tas pinggang yang biasa digunakan oleh pengendara sepeda motor untuk membawa barang-barang kecil agar membuat pengendara lebih leluasa mengendarai kendaraannya tanpa perlu khawatir dengan barang bawaan mereka. Namun seiring perkembangan zaman, sling bag pun hadir dengan tampilan yang lebih modis, jika dulunya hanya berbahan dasar kanvas, kini bahan seperti denim pun mulai banyak digunakan dalam pembuatannya, di mana paling banyak disukai. Lantas bagaimana tanggapan teman-teman Unifa memilih memakai sling bag? Biar lebih update, yuk simak alasannya. Tampilan sling bag yang lebih sederhana membuat banyak mahasiswa Unifa tertarik untuk memakai tas yang satu ini. Begitu pun dengan mahasiswi prodi Akuntansi S1 Unifa, Windi Islamaeti. Menurutnya, ukuran sling bag yang kecil membuat tas ini jauh lebih enteng saat dibawa kemana-mana termasuk ke kampus. Baginya, barang
Aisyah Has (Ilmu Manajemen) “Saya belum pernah pakai tas punggung, rata-rata semua tas saya sih sling bag. Kecuali kalau saya ingin bepergian jauh, baru pakai tas-tas punggung.”
seperti buku dan laptop bisa ia bawa tanpa perlu menggunakan tas punggung. “Saya memakainya setiap hari, karena kalau sling bag gampangki dibawa, karena simple dan kecil,” ungkap mahaiswi berhijab itu. Jika mendengar kata sling bag atau tas selempang, tentu benda tersebut sangat identik dengan kaum wanita, jika dibandingkan dengan kaum pria yang terkesan lebih santai dalam hal berpenampilan. Namun siapa sangka, tren sling bag ini juga sudah mampu menarik minat dikalangan pria, khusunya di kampus biru ini. Hal tersebut diakui oleh Yayang Adi Wardana. Mahasiswa Prodi Teknik Elektro ini mengaku lebih senang memakai sling bag saat berada di dalam dan di luar kampus, agar terlihat lebih keren. Dibalik kelebihan suatu barang tentu terselip kekurangan didalamnya, termasuk sling bag. Pasalnya, cara penggunaannya yang hanya diletakkan pada sebelah punggung dengan melintang di dada, membuat para penggunanya sering mera-
7
Hallo Pembaca Tabloid Kertas, senang bisa bertemu lagi di edisi ke-11 kali ini dengan para pembaca Suka-suka. Nah di edisi kali ini, tim liputan Suka-suka akan membahas mengenai seberapa pentingnya sih menulis itu? Simak terus yahh.
M
sa kesakitan jika terlalu lama memakainya. Namun hal tersebut tidak mengurangi minat mereka untuk tetap memakai jenis tas yang satu ini. Hasriani Basri, mahasiswa Prodi Manajemen ini mengatakan bahwa banyaknya barang bawaan di dalam sling bag terkadang membuat bagian pundaknya terasa sakit. Tetapi kembali lagi, sling bag yang praktis menjadi alasan mengapa ia tetap memilih untuk menggunakan tas selempang atau yang dikenal dengan sebutan sling bag. “Sling bag agak lebih praktiski daripada tas punggung. Saat ini paling sering pakai
Puspa Indah Nurul Fadilah ( Ilmu Komunikasi) “Belum pernah pakai tas punggung saat ke kampus, cuma Slingbag, karena mudah dipakai, nyaman, dan pokoknya simple.”
sling bag memang, sudah jarang pakai ransel dan segala macamnya itu,” ungkap mahasiswi yang akrab disapa Riani itu. Mewabahnya sling bag di kampus biru tidak membuat tas punggung atau tas ransel kehilangan peminatnya. Sebab masih banyak diantara mahasiswa Unifa yang lebih memilih untuk menggunakan tas punggung sebagai pilihan utama mereka. Kapasitas tas punggung yang lebih banyak memuat baranglah yang membuat tas jenis ini masih memiliki peminat sampai hari ini. (din)
“
D
unia fashion terus mengalami perkembangan dari tahun ke tahun dan membuat terjadinya pelbagai perubahan dari segi berpenampilan seseorang, baik kaum pria maupun wanita. Salah satu faktor yang mempengaruhi tentunya karena arus globalisasi. Tidak terkecuali, tas yang merupakan salah satu penunjang penampilan seseorang agar dapat tampil keren dan juga modis senantiasa menemani di manapun dan kapanpun berada. Benda tersebut digunakan baik sebagai pelengkap fashion ataupun sebagai tempat menyimpan berbagai macam keperluan. Selain itu, paling cocok digunakan saat acara santai, resmi dan ke kampus. Jenis tas paling digandrungi akhir-akhir ini oleh kaum remaja adalah Sling bag atau tas selempang dengan desain trendy dan simple. Alasan lain kenapa sling bag banyak diminati karena harga yang ditawarkan relatif murah dan bervariasi, tergantung jenis bahan dan besar kecilnya sebuah sling bag.
Suka - Suka
Yayang Adi Wardana (Teknik Elektro) “Sling bag agak lebih praktis daripada tas punggung. Saat ini paling sering pakai sling bag memang, sudah jarang pakai ransel dan segala macamnya itu.”
enulis merupakan suatu kegiatan untuk menciptakan suatu catatan atau informasi pada suatu media dengan menggunakan aksara. Menulis biasa dilakukan pada kertas dengan menggunakan alat-alat seperti pena atau pensil. Namun dengan semakin berkembangnya teknologi seperti saat ini, menulis juga bisa dilakukan dengan menggunakan media elektronik seperti komputer atau handphone. Menulis merupakan proses kreatif untuk menuangkan gagasan dalam bentuk bahasa tulisan. Menulis mencakup seluruh kegiatan yang melibatkan pikiran, perasaan, khayalan, kemauan serta keyakinan. Menulis tidak saja membutuhkan tempat khusus dalam mengerjakannya, tetapi menulis merupakan kecerdasan otak guna menganalisis situasi yang dapat dijadikan suatu ide, sehingga ide tersebut dapat dipahami oleh semua orang dan menghasilkan karya yang bermutu. Kemampuan yang dimiliki setiap individu berbeda-beda. Setiap kemampuan saling berhubungan membentuk suatu tindakan dengan inteligensi individu. Kemampuan yang besar akan meningkatkan intelegensi dan sebaliknya. Sebagai mahasiswa, kita dituntut untuk memiliki potensi, kecerdasan, semangat yang luar biasa, serta budi pekerti luhur.
“
Memang tidaklah mudah, untuk itu mahasiswa harus benar-benar mengetahui tugasnya sebagai seorang mahasiswa. Budaya menulis merupakan suatu hal yang baik dikembangkan dan dilestarikan untuk menyebarluaskan ide dan gagasan. Hal ini diakui salah satu mahasiswa Program Studi (Prodi) Ilmu Manajemen, Muh Fikran Nugraha. Dia mengaku, menulis merupakan suatu hal yang penting di kalangan mahasiswa, khususnya di kampus biru ini. Menurutnya, di Universitas Fajar (Unifa), banyak yang mempunyai potensi menulis. “Saya punya beberapa teman-teman yang kerjanya itu cuma menulis-menulis kritikan, poster-poster dan segala macam. Nah Cuma kurang atau tidak ada yang mewadahi,” beber Fikran. Minat menulis setiap mahasiswa memang berbeda-beda, ada yang simpatis, ada pula yang apatis. Namun, menurut Fikran, jika kita tidak membudayakan literasi tulis-menulis tersebut, maka boleh jadi kita tidak akan berkembang. “Maka satu-satunya jalan untuk mahasiswa Unifa yaitu silahkan pulang kampong,” sambungnya. Lain halnya dengan Fikran, mahasiswa Prodi Teknik Elektro, Amjad menganggap bahwa literasi menulis itu tidak penting bagi semua mahasiswa. “memang saya orangnya kurang suka
menulis, tapi kalau dalam segi bicara saya bisa. Penyebanya itu sudah dari kecil jarang menulis mungkin karena tidak kebiasaan,” pungkasnya. Berbicara tentang minat dan bakat mahasiswa Unifa dalam dunia penulisan, Dekan Fakultas Ekonomi dan Ilmu-ilmu Sosial (FEIS), Dr. Hj. Hadiati, M.Si turut angkat bicara. Dia mengatakan, kebergantungan mahasiswa terhadap media menjadi penyebab kurangnya minat untuk menulis. “Saya mengamati mungkin semua mahasiswa perguruan tinggi itu kurang karena mereka ini sangat bergantung pada media. jadi, lebih cenderung pada tidak mandiri, copy-paste, sehingga dia tidak mampu menulis gagasan sendiri,” singkatnya. Dari berbagai penjelasan di atas, sudah memberikan sedikit gambaran bagi kita bahwa budaya tulis-menulis itu sangat penting dilakukan oleh setiap orang. Jika kita tidak mengasa kemampuan itu mulai dari sekarang, maka boleh jadi kita akan seterusnya “buta” dengan budaya tulis-menulis. Oleh karena itu, sudah seharusnya sebagai seorang mahasiswa yang ditutuntut memiliki intelektualitas tinggi, kita harus berperan aktif dalam literasi menulis, yang dapat menginspirasi lewat suatu karya-karyanya. Bukan hanya cuek dan tidak peduli ingin tahu bagaimana pentingnya sebuah tulisan. (rin)
“
6
Nurul Fajri Mahasiswa Ilmu Komunikasi
Dr. Hj. Hadiati, M.Si Dekan FEIS
Siti Fatimah Azzahra Mahasiswa Akuntansi S1
”Menulis kemampuan, keterampilan, dan pemberian oleh Yang Maha Kuasa, yang tidak semua orang memilikinya”
“Menulis itu penting, harus dan wajib, karena banyak berkaitan dengan potensi akademik”
“Sangat penting. Jadi lebihlah untuk menulis dengan pena daripada di sosmed”
8
Galeri Foto
Tabloid KERTAS edisi #11 (Agustus 2017)
Tabloid KERTAS edisi #11 (Juni 2017)
PERAHU JOLLORO
2
9 5
1 FOTO: MUH KARLIANSYAH TAHA
Galeri Foto
6
7
4
J
olloro merupakan perahu khas Sulawesi Selatan. Perahu jolloro yang dulunya dibuat di pulau-pulau sebagai alat transportasi sekaligus membawa hasil tangkapan ikan, seiring perkembangan zaman mengalami perubahan fisik. Tidak banyak yang berubah. Hanya badan perahu yang sedikit lebih besar dan peti ikan yang bisa memuat kurang lebih 600kg ikan. Galesong Utara menjadi salah satu tempat yang sering didatangi orang yang ingin membeli perahu jollorok, kisaran harga satu kapal kurang lebih 150200 juta rupiah. Meski terbilang mahal, namun kualitas kayu sangat dijamin oleh pembuat perahu. Pembuatan perahu jolloro biasanya dikerjakan oleh 3-5 orang dengan waktu pengerjaan sekira 3-4 bulan. Para pekerja kebanyak merupakan penduduk asli Galesong. Tak jarang anak pembuat perahu tersebut turut membantu orang tuanya membuat perahu sejak umur 17 tahun. Tak sedikit pula yang menggantungkan dirinya menjadi pembuat jolloro. Terkadang, ketika perahu telah selesai, para pekerja harus mencari pekerjaan lain
3
8
9
Keterangan: 1. Tiga orang pekerja sedang memasang badan perahu jolloro. 2. Seorang pekerja memotong kayu sebagai tiang peti ikan. 3. Pemasangan peti ikan. 4. Tampak perahu jolloro yang sudah hampir selesai. 5. Seorang pekerja menghaluskan pinggiran badan perahu. 6. Pemotongan kayu untuk lantai kapal. 7. Proses pembuatan paku kayu untuk menyatukan badan perahu. 8. Tampak pekekerja sedang beristirahat. 9. Proses pengecetan badan perahu jolloro
10
P
ertama saya ingin sedikit menyampaikan bahwa dalam tulisan ini mungkin akan sedikit menyentil kawan-kawan yang berada dalam strukturalis. Karna sampai hari ini saya belum mendapatkan pembenaran yang begitu kompleks tentang sebuah struktur hirarkis, dimana struktur yang demikian dapat menawarkan solusi terhadap sebuah pola hubungan tanpa saling menciderai otonomi setiap individu. Dalam kenyataan pola hubungan sosial yang selalu di jumpai, entah itu di lingkup keluarga, pemerintahan setempat, ataupun di mana tempat biasanya saya menghabiskan waktu yaitu dalam lingkup kampus. Pola hubungan yang hirarkis begitu sangat kontras, suatu pola yang sudah sedemikian mengakar dalam kehidupan masyarakat umum maupun kehidupan bermahasiswa, entah hal demikian disadari ataupun tidak, namun menurut sudut pandang yang saya gunakan, hal tersebut menciptakan pola yang tak begitu nyaman dengan alasan otoritas tersentral yang mendominasi maupun otonomi yang terus menuntut kebebasan. Otoritas tersentral yang dimaksud adalah sebuah penguasaan terhadap orang lain atau lebih tepatnya otoritas tidak terbagi yang hanya terpusat kepada segelintir orang saja yang mendominasi otoritas lainnya. Struktur hirarkis seper-
B
Opini
Tabloid KERTAS edisi #11 (Agustus 2017)
Tabloid KERTAS edisi #11 (Agustus 2017)
Hirarki yang Membelenggu
tinya memberikan dampak yang signifikan dalam setiap sendi kehidupan salah satunya pada lingkungan kampus. Kasus sederhana yang dapat di jumpai dalam ruang lingkup kampus, dimana mahasiswa pada umumnya menggunakan otoritasnya sebagai seorang senior dan memperlakukan seorang junior sebagai sebuah alat untuk memenuhi kemalasannya. Adalah sebuah kemalasan seorang senior tentang sesuatu yang dapat ia lakukan sendiri namun dilimpahkan kepada orang lain. Hal tersebut tentulah disadari seorang junior, namun entah dengan alasan apa ia selalu saja membenarkan otoritas seorang senior tehadap dirinya, ataukah mungkin itu adalah hasil dari budaya hirarkis mahasiswa yang telah meng-hegemoni sejak sekian lama? Namun hal ini tentulah tidak pernah mendapat pembenaran yang rasional untuk diterima, namun keadaan yang sedemikian rupa tak pernah pula ada hentinya meskipun sedikit banyak dari mereka menolak hal yang sedemikian meresahkan. Realitas yang saya temui sampai hari ini seorang junior yang mulai beranjak menjadi seorang senior baru jusrtru melakukan hal sama kepada juniornya, hal kemarin yang ia tolak karna meresahkan, nyatanya justru kembali ia lakukan, entah karna alasan ketidakmampuannya untuk melawan hirarki ataupun hanya sekedar untuk membalas dendam
Raihan Muh Iqbal
Prodi Ilmu Manajemen sehingga terus menciptakan dosa turunan. Hal ini sudah sangatlah kompleks yang terjerembap dalam kehidupan bermahasiswa yang tak dapat lagi di pungkiri. Budaya mahasiswa hari ini jauh dari kata pembebasan, yang ada justru perbudakan yang selalu dipaksakan secara sadar maupun tidak sadar. Mereka yang selalu bicara masalah kebebasan dan demokrasi nyatanya hanya omong kosong belaka, saat mereka dibenturkan dengan realitas kehidupan kampus malah menciderai wacana yang selalu ia gembor-gemborkan. Berbicara masalah kebebasan tentulah setiap individu menginginkan hal tersebut, namun ini hanya sebuah keinginan semu karna dalam implikasinya, yang ada hanya mempertontonkan aksi perbudakan yang begitu
halus. Begitu pula dengan wacana demokrasi, entah ia paham atau tidak namun hal tersebut hanya sekadar wacana atau hanya sebagai alibi untuk mempertontonkan kehebatannya sebagai seorang senior yang berwawasan tinggi, namun lagi-lagi dalam pembuktiannya hal tersebut tidaklah pernah betul-betul diterapkan yang ada hanya kekuasaan otoritas yang tersentral. Mungkin teman-teman yang membaca tulisan ini akan begitu muak dengan kehidupan mahasiswa ataupun muak dengan tulisan yang sedang anda baca, namun saya punya alasan untuk setiap kritikan yang saya lontarkan. Hal pertama yang perlu saya sampaikan, bahwa dalam kehidupan bermahasiswa tentulah hal yang sangat kita inginkan adalah kebebasan, entah itu dalam kebebasan berpendapat maupun kebebasan dalam bertindak, namun dalam kebebasan ini perlulah berhati-hati memaknainya, jangan sampai kebebasan yang kita pahami hari ini adalah sebuah kebebasan yang saling menciderai antara individu satu dengan individu lainnya. Karena setiap individu menginginkan sebuah kebebasan maka dari itu, sangat perlu untuk saling menjaga dan merawat kebebasan yang kita miliki maupun kebebasan individu lainnya, dengan cara menerapkan system demokrasi langsung yang tidak tersentral bukannya pengambilan
Patah hati itu manusiawi, tapi kalau dirayakan dengan hikshiks berhari-hari, kayaknya nda sesuatu banget deh, kata syahrini sewaktu masih laris. Indonesia masih darurat agraria, pesisir nyaris habis direklamasi, buruh pabrik dikriminalisasi karena demo minta kenaikan gaji, dan pendidikanmu tidak bisa lebih murah dari sehektar tanah, dan kamu masih gemar bersunyi-sunyi patah hati? Mending ke bulan gih, bantu Ultraman menyelamatkan bumi. Puisi yang kekini-kinian kira-kira mirip dengan sabda bung Saddam Husain (aktivis pers mahasiswa) tentang wisuda dan kesunyian, atau kira-kira dalam tafsir saya adalah jalan kesufian. Kalau ada yang menuduh para penyair hari ini terlalu sosialita, pasti dia belum membaca puisi yang kekini-kinian, bacalah. Di sana kamu akan menemui kesunyian yang hilang makna dan suka mengaburkan kenyataan. Kesepian yang sama kira-kira bisa kamu temukan di kampus yang kekinian, atau dalam lingkaran mahasiswa golongan
Muh. Shany Kasysyaf
Sekjen PPMI DK Makassar aktipis yang hendak kekiri-kirian. Terlalu gemar bicara dalam bahasa langit, senang menyatakan pandangan dengan cara yang rumit, dan suka bermain peran jadi pahlawan. Oh iya, jangan ketawa dulu yah “saya bercandanya belum mulai”. Kalau nanti ternyata pas saya mulai bercanda dan kamu belum ketawa, berarti saya memang tidak punya bakat guyon macam penulis komedian di laman web populer yang belakangan hadir kembali. Tahun ajaran baru nanti, amati kawan-kawan atau kakak
kelas dan adik kelasmu di kampus. Apa yang dibicarakan dan dilakukan dengan dede-dede mahasiswa baru yang baru tamat SMA itu? apakah digebet dengan semangat? diceramahikah dengan bahasa-bahasa Martin Surajaya atau romo Marx? atau disuruh ini-itu yang nda tahu gunanya apa? Ok, soal gebet-menggebet itu manusiawi. Toh terkadang memang beberapa senyuman dede maba itu memang memikat dan seperti ngajak beranak pinak. Nah soal mendidik dan mengader, kok yah kita semua lebih senang menggunakan bahasa langit yang hanya dimengerti oleh Ultraman seorang. Maksudku, bukannya kita bicara untuk berpesan ke orang-orang? Tentang kegelisahanmu pada lingkungan, tentang niatmu mewujudkan perubahan, tentang menjadi sebaik-baiknya selingkuhan, eh. Jadi kalau kamu pernah dengar pepatah lama, yang saking lamanya barangkali sudah nyaris punah dari sejarah “Kejahatan lestari, karena orang baik-baik tidak mau bicara”. Kalau kamu menuduh
11
Napak Tilas Karier Mulyadi Hamid keputusan yang secara sepihak, dengan alasan legitimasi kekuasaan yang menimbulkan sikap otoritas yang terpusat hanya kepada satu indivudu saja . Kedua sikap saling menghargai antara senior dan junior tentulah itu perlu dalam relasi sosial yang sehat, namun itu hanya sebatas hubungan saling menghormati dalam sudut pandang usia bukan pada status yang diduduki. Lebih dari pada itu semua individu memiliki hak yang sama tanpa ada yang berkuasa dan yang dikuasai, karna hal tersebut akan menciptakan relasi yang tidak sehat di mana akan ada individu yang mengusai individu yang lain, di mana hal ini akan terus menciptakan rentetan perbudakan yang tiada hentinya dalam ruang lingkup mahasiswa. Budaya eligaliterian saya rasa tepat untuk menjawab permasalahan yang ada dalam setiap ruang lingkup kampus yang hirarkis, budaya eligaliterian yang di maksud ialah budaya yang di mana setiap individu sadar dan paham bahwa pada dasarnya setiap manusia memiliki kedudukan dan hak yang sama dengan individu lainnya tanpa memandang status, kedudukan, usia, dan latar belakang lainnya. Semoga saja tulisan ini dapat di mengerti, tidak hanya tebentur pada sebuah kertas yang akan di jadikan pajangan atau lebih parahnya berahir di tempat sampah.
Tahun Ajaran Baru dan Kampus yang Sesepi Puisi Masa Kini
ila kamu membaca puisi hari ini, jangan banyak berharap ada yang sesederhana dan penuh pembelaan seperti milik Rendra, atau yang mewakili keresahan orang-orang di masa krisis macam punya Wiji Thukul. Oh iya, saya panggilnya potongan nama biar disangka akrab dengan para sepuh aktipis masa silam itu. Membaca puisi yang kekini-kinian, sama halnya membaca ayat-ayat suci yang dikutip diatas mimbar ceramah, dan orasi kepartaian. Terlalu banyak fantasi, penuh tipu daya, dan hampir sepenuhnya rahasia, kalau ada yang sederhana paling-paling hanya dimengerti oleh lingkungan remaja patah hati dan baru saja putus cinta, atau penulisnya setidaknya. Patah hati bukannya tak baik, bagus kok, artinya kalau kamu masih bisa patah hati berarti kamu bukan meja dan kursi ruang kelas yang bertahun-tahun belum diganti, bukan juga ikan mas koki yang pasti amnesia tiap lima detik sekali. Itu amnesia atau napas, bung mas koki?
Sosok
lingkungan kampus semisal, sebagai golongan yang mencemooh gerakan, atau abai pada derita lingkungan, coba diperiksa lagi, bahasa apa yang kamu gunakan sewaktu mengajarkan tentang gerakan? sewaktu mengabarkan derita lingkungan? Kalau kakak-kakak aktipis dan kakak-kakak penyair mengeluhkan soal popularitas yang kalah pamor dengan sinetron murahan, atau “Dangdut Academy” yah silahkan diadu, mana diantara seluruhnya yang memang bisa diterima dan disukai dengan mudah oleh orang-orang. Karena berbicara dengan orang lain dengan bahasa yang hanya dimengerti oleh diri sendiri, apa bedanya toh dengan onani? Berhentilah menyalahkan orang lain atas kesunyian yang kamu ciptakan sendiri.
Ingin tulisan Anda dimuat di Tabloid Kertas dan di Kertasonline.com? kirimke: redaksikertasunifa@gmail.com
Minat Belajar Jadi Kunci Kesuksesan
Memulai karir bermodalkan kursus, bukan hal yang mudah tentunya. Bagi seorang mahasiswa jurusan teknik pertambangan yang telah menempuh pendidikan S1 selama 5 tahun, beralih menjadi pembimbing komputer.
M
eninggalkan kuliah demi menjalani profesinya, Mulyadi Hamid atau yang kerap disapa Mul ini, pada awalnya hanya ingin mengisi kekosongan sembari menunggu panggilan dari perusahaan yang akan ditelitinya untuk bahan skripsi, serta untuk menambah biaya kuliah. Dosen kelahiran Sengkang, 25 Januari 1966 ini, memasuki bangku perkuliahan pada tahun 1984, memilih perguruasn tinggi swasta dengan jurusan teknik pertambangan. Selama kuliah, dia termasuk orang yang aktif berorganisasi atau organisatoris. Banyak organisasi yang dia tekuni mulai dari menjadi anggota sampai dengan mengetuai study club jurusannya. Hingga pada tugas akhir, dia dan teman-temannya memilih untuk melakukan penelitian di salah satu pertambangan besar yang ada di Indonesia. Dan untuk memulai penelitian tersebut, mahasiswa harus menunggu. Karena dalam setahun, hanya ada 2 mahasiswa yang akan diterima. Beban Mulyadi dalam menyelesaikan tugas akhirnya belum cukup sampai di situ. Di tengah waktu menunggu panggilan dari perusahaan yang akan dia teliti, ayahnya meninggal dunia. Kejadian itu membuat Mulyadi harus memutar otak bagaimana cara menghasilkan uang untuk menyelesaikan kuliahnya. Akhirnya dia memilih untuk mencari pekerjaan sampingan bersama temannya. “Saya bilang kepada teman-teman kos, mending kita cari kesibukan deh di Makassar, karena kita tidak ada kegiatan selama menunggu panggilan. Cari kesibukan, pergi jalan bagaimana caranya kita dapat pekerjaan sampingan,” tuturnya menceritakan saat mengajak temannya untuk mencari pekerjaan. Ketika tengah sibuk mencari pekerjaan, Mulyadi melihat sebuah pengumuman yang berisikan salah satu tempat yang memberikan kesempatan kepada masyarakat untuk mendapatkan pelatihan berbagai keterampilan. Minat belajarnya saat itu pun memanggilnya untuk mendaftar dan memilih jurusan komputer. Setelah selesai menjalani kursus selama sebulan, dia akhirnya mulai menyukai komputer. Pada saat itu masih banyak yang belum mengerti mengoperasikan produk elektronik
tersebut. Karena ketertarikannya dengan komputer, Mulyadi pun berniat untuk melanjutkan kursusnya ke tingkat yang lebih tinggi. Akhirnya Mulyadi berangkat dari Makassar menuju Bandung untuk mendaftar di salah satu institut komputer ternama di Bandung atas saran temannya dengan bermodalkan 800 ribu rupiah. “Pas saya mendaftar, orang bertanya kamu dari mana? Saya bilang dari Ujung Pandang. Kalau mau kuliah, sekarang kita sudah buka di Makassar, itu kuliahnya selama satu tahun, di jalan Veteran Selatan. Jadi saya langsung balik ke Makassar lagi,” kenangnya. Selang waktu berjalan hingga Mulyadi telah menyelesaikan kursusnya, dia sudah memulai karirnya dengan menjadi pengajar komputer di pelbagai tempat di Makassar. Hingga pada akhirnya, Mulyadi diberi tawaran kerja untuk menjadi kepala laboratorium komputer. “Saya pergilah ke Nitro Institute Of Banking atau saat ini disebut Stim Nitro untuk membawa surat lamaran. Waktu saya kasih surat lamaran, ternyata tesnya cuma satu yaitu disuruh buat proposal membuat laboratorium komputer. Kemudian saya masukkan proposalnya,” terang Mulyadi. Setelah dua tahun mengajar di Stim Nitro, Mulyadi kemudian bertekad kembali menjalani pendidikan Strata 1. Namun waktu itu, dia memilih dengan jurusan yang berbeda, yakni Manajemen. Setelah menempuh pendidikan dan mendapat gelar sarjana, Mulyadi memutuskan untuk kembali mengajar di Stim Nitro. Kemudian melanjutkan S2 dan S3 yang dibiayai oleh Negara. “Jadi waktu tahun 2001, saya langsung diberi Surat Keputusan (SK) sebagai dosen dan mengurus pangkat akademik. Setelah keluar pangkat akademik, saya mendapat beasiswa. Jadi, S2 sampai S3 itu dibiayai oleh Negara,” jelasnya. Pernah merasakan bagaimana rasanya berjalan di atas lika-liku pendidikan. Membuat Mulyadi Hamid, sangat mengerti terhadap mahasiswa dan masyarakat akan pentingnya pendidikan. Menjadi orang yang bermanfaat dengan cara mengabdi lewat profesi yang dia lakoni saat ini, merupakan satu hal yang paling ingin diwujudkannya. ”Saya itu mewanti-wanti dosen di Unifa
untuk tidak mengambil apa-apa dari mahasiswa, karena dulu itu kalau orang mau ujian, mahasiswa bawa tentengan. “Saya masuk di sini itu semua saya hilangkan, kenapa? Karena anak masuk di sini yah untuk belajar, tidak usah direpoti lagi bawa seperti itu, ada itu dosen biasa tidak lulus kalau tidak dibeli diktaknya, nah, bagaimanami kita yang orang tua kita pas-pasan.” tutup Deputi Rektor I itu. (wid)
ANDI NUR ISMAN SOFYAN/KERTAS
Nama Lengkap : Dr. Muliyadi Hamid, SE.M.Si. NIDN/Jab.Akademik : 0925016601/ Lektor (tahun 2009) Tempat/Tgl Lahir : Sengkang, 25 Januari 1966 Pekerjaan : Dosen Yayasan Pendidikan Fajar Unit Kerja : Prodi Manajemen, Fak. Ilmu-ilmu Sosial, Universitas Fajar Alamat : Jl. Racing Centre IV No. 86 Makassar No. HP : 08114614166 / 0816256050 Email : mulham66@yahoo.com
RIWAYAT PENDIDIKAN Sekolah Dasar As’adiyah di Impa-Impa, Desa Nepo, Kecamatan Tanasitolo, Kabupaten Wajo. Sekolah Menengah Pertama (SMP), Kec. Tanasitolo diTancung, Kabupaten Wajo. Jurusan IPA, pada Sekolah Menengah Atas (SMA) Negeri 226, Sengkang Kabupaten Wajo, di
1971 – 1977 1977- 1980 1980 – 1984 Sengkang. 1984 – 1991 Jurusan Teknik Pertambangan, Fak. Teknik, Universitas Veteran Republik Indonesia, di Makas- sar. 1997 - 2001 Sarjana Ekonomi, Jurusan Manajemen pada Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi, Bajiminasa di - Makassar. 2004 - 2007 Magister Sains, pada Program Studi Manajemen & Keuangan, Program Pascasarjana Universitas- Hasanuddin di Makassar 2009 – 2013 Doktor dalam bidang Administrasi Publik, pada Program Pascasarjana UNM di Makassar
1991-1994 1994 – 2000 2001 – 2008 2008 - Skrg 2000 – 2010 2010 – 2013 2010 – 2013 2013 – skrg
RIWAYAT PEKERJAAN/JABATAN : Ketua Program Setara Diploma 1 Jurusan Komputer di Nitro Institute of Banking and Finance : Staf Administrasi pada Sekolah Tinggi Ilmu Manajemen (STIM) Nitro : Dosen tetap Yayasan Pendidikan Fajar di tempatkan di Akademi Akuntansi Fajar : Dosen Yayasan Pendidikan Fajar ditempatkan di Prodi Manajemen Universitas Fajar : Sekretaris Yayasan Pendidikan Fajar : Ketua Yayasan Pendidikan Fajar; Bidang Pendidikan : Ketua Ombudsman Kota Makassar : Deputi Rektor Bid. Akademik & Kerjasama Universitas Fajar.
13 Kembalikan Budaya Sulsel Lewat BPOT MELIHAT kondisi budaya Sulawesi Selatan (Sulsel) yang mulai redup, Fakultas Teknik Universitas Fajar (FT-Unifa) mencoba mengembalikan budaya Sulsel lewat Big Project Of Teknik (BPOT) yang dimulai pada 8 April hingga 13 April. “Kondisi budaya Sulawesi sendiri, budaya Sulawesi kayak drop mi, turunki jadi kita mau coba dengan dilaksanakan kegiatan ini, bisalah sedikit naikkan lagi budaya Sulawesi begitu,” ujar ketua panitia BPOT, Darmin Amir. Kegiatan yang bertajuk “Lestarikan Budaya Kita Dengan Teknologi Masa Kini” tersebut merupakan kegiatan tahunan dari FT yang bertujuan untuk menyatukan lima himpunan di Fakultas Teknik. “Tujuan pertama BPOT itu sebenarnya untuk menyatukan lima himpunan, sebelumnya BPOT I dan II bukan proker tapi kegiatan tahunan, baru sampai BPOT III sampai sekarang itu masuk program senat,” terang Darmin. Seminar budaya tari yang digelar di Rumah Jabatan Walikota Makassar menjadi rangkaian pertama BPOT. Namun acara yang dihadiri Deputi Rektor III, Ketua Senat Fakultas Teknik Unifa, serta beberapa lembaga internal maupun eksternal kampus tersebut, baru resmi dibuka, Rabu, 12 April oleh tim Kepala Dinas Kebudayaan Bulukumba bersama Kepala Dinas Pendidikan. Setelah pembukaan acara, para tamu undangan disuguhi berbagai tarian klasik Makassar dan beberapa tarian daerah lainnya, kemudian dilanjutkan dengan live acoustic dan sastra corner. Dihari kedua, Kamis, 13 April, acara BPOT yang turut dihadiri sanggar seni se-Sulawesi Selatan tersebut, kembali dimeriahkan dengan pertunjukan seni teater, tari-tarian klasik, tari kontemporer, live lukis dan permainan tradisional. (ann/din)
Targetkan Pendaftar Mahasiswa Baru Membludak Sebelum Penutupan
PENDAFTAR mahasiswa baru Universitas Fajar (Unifa) tahun ajaran 2017/2018 masih belum penuhi quota. Namun, kampus menargetkan, pendaftar akan membludak seminggu sebelum
Activity
Tabloid KERTAS edisi #11 (Agustus 2017)
Tabloid KERTAS edisi #11 (Agustus 2017)
Minim SDM Tak Halangi Pentas Kolaborasi SSK Minimnya Sumber Daya Manusia (SDM) tidak menghalangi pementasan kolaborasi ke-15 yang kembali digelar Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Sanggar Seni Karampuang (SSK) Universitas Fajar (Unifa). Minggu, 16 Juli, di parkiran Unifa. TERJADINYA seleksi alam menjadi salah satu alasan dibentuknya pementasan seni yang dinamakan pentas kolaborasi. Di mana tidak hanya anggota muda, anggota sebelumnya pun juga turut andil dalam kegiatan tersebut. Hal tersebut disampaikan langsung ketua UKM SSK, Wahyusyam. Ia menerangkan, sebelum proses penggarapannya, mereka menemukan pelbagai kendala dan diantaranya ialah minimnya SDM. “Pementasan kolaborasi ke-15 kemarin sebenarnya
Activity
Bukan Lapak Jadi Wadah Literasi Mahasiswa Universitas Fajar (Unifa) menghadirkan Bukan Lapak sebagai wadah berdiskusi bagi para mahasiswa dengan menggelar berbagai buku di Pelataran Aula Unifa yang dibuka mulai jam empat sore.
DOKUMEN SSK
TIDAK MASALAH. Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Sanggar Seni karampuang (SSK) menggelar pentas meski dengan SDM terbatas.
yang ikut pup dorr (perekrutan. red.) itu ada 8 orang, yang bertahan sisa 5 orang karena seleksi alam. Dan berhubung anggota mudaku cuma 5 orang makanya saya adakan pentas kolaborasi. Maksudnya pentas kolaborasi, angkatan sebelumnya ikut juga mentas untuk bagaimana supaya lebih bagus lagi karena kalau 5
orang tidak akan mampu dengan 4 item,” terangnya. Tidak hanya itu, acara yang merupakan kegiatan tahunan dari UKM SSK tersebut, sekaligus ajang dikukuhkannya anggota baru menjadi anggota resmi UKM SSK. Lebih jauh, Wahyu berharap agar kedepannya peminat
dibidang kesenian dapat semakin meningkat, serta bisa kembali mengadakan pementasan seni seperti sebelum-sebelumnya. “Semoga tahun depan bisa mengadakan ini lagi pementasan seperti ini dan semakin banyak lagi yang berminat di bidang kesenian,” ujarnya.(fai)
Mahasiswa tingkat akhir mengeluhkan tidak adanya perpustakaan. Hal itu pula yang mendasari beberapa mahasiswa tingkat akhir untuk menjadikan perpustakaan lain sebagai alternatif.
yang saya cuman bisa sarankan, mencari referensi di perpustakaan yang terdekat. Paling tidak mahasiswa tingkat akhir wajib memiliki pegangan buku sendiri,” pungkas Kardina. Sementara itu, Deputi Rektor lll Bidang Kemahasiswaan dan Alumni, Dr. Nur Khaerat Nur menyarankan kepada mahasiswa untuk mencari referensi melalui internet dan buku yang didapatkan di mana saja. “Itukan selain di perpustakaan juga bisa dapat lewat internet. Konteksnya kan masih bisa dipakai, cuman tidak mampu maksimal. Jadi solusinya yah manfaatkan apa yang ada, baik anda bisa dapatkan referensi di perpustakaan kita, juga kan referensi bisa juga didapatkan lewat buku secara langsung di mana saja,” katanya. (hel) ta, nanti setelah rampung semua di negeri sudah tidak ada jalan yah baru (mendaftar. Red.),” jelasnya. Jika jumlah pendaftar belum mencapai target, sementara pendaftaran telah ditutup, maka tidak akan lagi ada perpanjangan waktu. Karena, hal tersebut dapat mempengaruhi kalender akademik kampus. (tik)
Belum Rampung, Perpustakaan Lain Jadi Alternatif
RIZKY AFTARIA, salah satu mahasiswa tingkat akhir saat ditemui beberapa waktu lalu mengatakan, alternatif untuk mendapatkan referensi penelitian yaitu dengan bertandang ke perpustakaan lain di luar kampus. Menurutnya, imbas dari perelokasian perpustakaan ke gedung baru kampus membuat mahasiswa kesulitan dalam menemukan referensi skripsi. “Jadi alternatifnya, kita cari ke perpustakaan di luar. Kayak perpustakaan Universitas Hasanuddin atau ke perpustakaan daerah,” katanya. Mahasiswi Hubungan Internasional itu menerangkan, kampus seharusnya punya alterna-
tif lain, tidak hanya sekadar memberi arahan kepada mahasiswa. Harusnya, kata Rizky, kampus menyediakan perpustakaan sementara untuk mahasiswa Unifa. “Tapi nyatanya saat ini lebih dari yang sudah dijanjikan. Dan kita mahasiswa tingkat akhir sudah dipaksa untuk terus maju ujian. Sementara bagaimana cara kita mau cepat maju ujian sedangkan dosen pembimbingnya di sini (kampus), perpustakaan kita di luar,” terang mahasiswi berhijab itu. Di lain sisi, kepala perpustakaan Unifa, Kardina menyampaikan, pihaknya saat ini hanya bisa melakukan pelayanan
sirkulasi terbatas, seperti pengembalian buku. Namun, untuk proses peminjaman, perpustakaan masih melakukan sistem manual. “Misalnya itu mahasiswa kembalikan buku, nah itulah yang kembali disirkulasi ke temannya yang butuh. Intinya mereka bisa dilayani peminjaman kalau buku itu tersedia,” ujarnya, 20 Juli lalu. Kardina menjelaskan, pihak perpustakaan bukan sebagai pengambil kebijakan, melainkan perpanjangan tangan dari birokrasi. Dengan begitu, pihak perpustakaan tidak bisa berbuat banyak selama proses relokasi masih berjalan. “Saya juga bisa merasakan bahwa mahasiswa tingkat akhir itu butuh referensi, butuh untuk melihat bahan bacaan dan sebagainya. Kalau kita melihat bahwa kondisinya seperti ini,
penutupan, 5 September mendatang. “Tidak ada kekhawatiran mengenai hal tersebut, karena pengalaman tahun kemarin juga seperti itu,” kata ketua panitia Penerimaan Mahasiswa Baru (PMB), Drs. Ibnu Qayyim Na’iem, M.Si., saat ditemui di ruangannya, Sabtu, 29 Juli.
Pendaftaran yang dibuka sejak 2 Mei lalu itu menargetkan sebanyak 1500 mahasiswa baru di tahun ajaran 2017/2018. Hingga kini, pendaftar mahasiswa baru Unifa baru berkisar 1000 orang. Ketua panitia PMB menerangkan, jumlah pendaftar akan meningkat satu minggu sebelum pendaftaran ditutup. Hal itu sama
seperti tahun-tahun sebelumnya, membludak menjelang pendaftaran ditutup. “Nanti itu kelihatan setelah menjelang satu minggu terakhir sudah melampaui target yang mendaftar ulang. Itu adalah suatu kewajaran, karena memang siswa itu target pertamanya pasti negeri, belakangan itu baru swas-
BUKAN LAPAK merupakan bentuk offline dari Elektizine online yang diinisiasi empat orang mahasiswa Unifa. Bukan Lapak tersebut bertujuan untuk mengembangkan budaya literasi dan minat baca dikalangan mahasiswa tanpa memandang latar belakang angkatan dan jurusan. “Jadi Bukan Lapak sebetulnya salah satu motifji untuk bagaimana sebenarnya yang di Unifa lintas angkatan, lintas jurusan dapat bertemu secara tradisi lah. Tujuan utama sebetulnya supaya bagaimana individu-individu yang tadi itu yang saya maksud bisa terorganisir dengan sendirinya tanpa perlu ada sebuah pemantik lagi,” ujar Inisiasi Elektizine, Agus Mawan.
YUSTIKA JAUHARI/KERTAS
BERI WADAH. Bukan lapak hadir sebagai wadah literasi mahasiswa, khususnya di Universitas Fajar. Ia juga mengatakan, buku yang diiukut sertakan dalam Bukan Lapak merupakan koleksi dari beberapa mahasiswa untuk menambah bahan bacaan, dan dikembalikan ketika Bukan Lapak telah usai. “Buku-buku di sini itu sebetulnya koleksi-koleksi temanteman, jadi kalau ada punya buku
nda ada yang baca di rumah, bawami kesini. Dititipki untuk dibaca sama orang lain, setelah lapak ambilmi kembali, ada juga buku koleksi dari saya,” terangnya. Hadirnya bukan lapak mendapat respon positif dari mahasiswa jurusan Ilmu komunikasi, Muhammad Aslan. Ia mengatakan dengan adanya bukan lapak, ma-
hasiswa bisa lebih menambah wawasan mengenai hal apa saja yang belum ketahui. “Kalau menurutku baik karena ada wadah tempat membaca buku bagi mahasiswa, bukan hanya di perpus, karena di perpus hanya buku-buku yang sesuai dengan mata kuliah setiap jurusan,” kata Aslan. (ann)
13
Halalbihalal Unifa, Sederhna Hingga Bawa Makanan
HALALBIHALAL Universitas Fajar (Unifa) sudah menjadi tradisi setiap tahunnya. Hal itu membuat kesederhanaan seluruh karyawan dan dosen semakin tercipta. Direktur utama PT Fajar Grup, Alwi Hamu yang turut hadir pada acara tersebut, Rabu, 5 Juli pagi mengungkapkan, halalbihalal ini sudah menjadi budaya bagi Unifa untuk menciptakan suasana kekeluargaan dan persahabatan. “Jadi inilah yang dilakukan oleh kita, bagaimana kedekatan itu antar satu dengan yang lain. Pada saat itu tidak ada yang namanya Rektor, tidak ada yang namanya Dekan, tidak ada namanya ini, tidak ada yang namanya tukang sapu. Semua sama,” ujar Alwi Hamu. Sementara itu, Humas Unifa, Muhammad Bisyri mengatakan, halalbihalal tersebut merupakan kegiatan untuk mempertemukan seluruh dosen dan karyawan Unifa maupun Yayasan. “Kita halalbihalalnya sederhana saja. Masing-masing bawa makan dari rumah begitu tetapi tetap kita siapkan ada makanan. Ada yang bawa kue, bawa makanan khasnya dari kampung begitu. Kalau pak Rektor bawa makanan khas dari Mandar, terus ada pak Dekan Fakultas Teknik itu bawa makanan khas dari Enrekang,” ungkap Bisyri. (tik)
Kritik Kampus Lewat Pentas Seni Peserta KKN International Sediakan Dana Tambahan KREATIF. Himpunan Mahasiswa Manajemen (HMM) menampilkan Teater berjudul “Relokasi Bisu Basi” yang memperagakan beberapa mahasiswa yang sedang berbicara dengan pihak birokrasi.
ANDI NUR ISMAN SOFYAN/KERTAS
Milad ke-8 Himpunan Mahasiswa Manajemen (HMM) Universitas Fajar (Unifa) tahun ini mengkritik birokrasi kampus lewat pementasan seni. PENAMPILAN seni itumengritik kesewenang-wenang birokrasi dalam menyikapi mahasiswa. Salah satunya mengenai perelokasian sekretariat lembaga kemahasiswaan. Sekretariat HMM termasuk salah satu dari 6 sekretariat yang direlokasi oleh birokrasi. Menanggapi kritikan HMM yang dipentaskan dalam bentuk puisi, teater, tari dan perkusi tersebut, Deputi Rektor III Bidang Kemahasiswaan, Dr. Nur Khaerat Nur S.T.,M.T menganggap bahwa hal tersbut merupakan sebuah saran yang dianggap perlu. “Sebuah kritik dan saran
itu saya kira bagi kami itu adalah bagian dari vitamin untuk membangun Unifa ini supaya bisa lebih baik ke depan,” ujarnya di sela-sela acara, Rabu, 24 Mei malam. Dia juga mengatakan, kritikan mahasiswa bisa menjadi bahan pertimbangan dalam pengambilan setiap kebijakan yang dilakukan birokrasi kampus. “Kritikan-kritikan itu saya kira perlu untuk kita bisa mengetahui bagaimana, apa yang dirasakan oleh adek-adek mahasiswa. Dan selanjutnya bisa menjadi sebuah pemikiran langkah kedepan buat birokrat dalam
mengambil sebuah kebijakan yang baik,” tandasnya. Hal senada juga disampaikan Ketua Program Studi (Kaprodi) Ilmu Manajemen, Dr.Ir. Mujahid,SE,MM. Dia mengatakan, kritikan terhadap birokrasi merupakan hal yang wajar karena dapat menjadi masukan bagi petingi-petingi kampus. Kaprodi Ilmu Manajemen itu juga tidak mempermasalahkan jika ada mahasiswa yang menyampaikan aspirasinya. “Itu salah satu bentuk untuk menyampaikan aspirasinya dengan cara yang bagus, kreatif dan saya pikir itu salah satu langkah yang positif dan rasional. Masuk akal semua. Jadi tidak ada masalah saya pikir,” pungkas Mujahid. (seg)
BANTUAN DANA yang diberikan oleh pihak Universitas Fajar (Unifa) dirasa masih belum cukup oleh peserta Kuliah Kerja Nyata (KKN) International. Hal tersebut disampaikan salah satu peserta KKN Internasional, Linda Chisdayanti saat diwawancarai melalui telepon. Ia mengatakan, dana tambahan tetap disiapkan, karena menurutnya bantuan dari kampus dinilai belum cukup. “Ada dana tambahan karena tidak cukup yang dari kampus, kalau uang tiket biaya sendiriji kemarin,” kata Linda. Lanjut, Linda menerangkan kalau bantuan dana senilai lima puluh juta rupiah diserahkan pihak kampus kepada sebelas peserta KKN International untuk dikelolah sendiri. “Jadi masing -masing orang dapat empat juta lima ratus empat puluh lima ribu rupiah, kemudian biayanya dipakai untuk fasilitas di Universitas Utara Malaysia (UUM), transportasi, uang makan dan masih banyak lagi,” ujarnya.
Deputi Rektor I, Mulyadi Hamid yang ditemui diruangannya beberapa waktu lalu, membenarkan hal tersebut. Ia mengatakan, pihak kampus menyerahkan secara langsung bantuan tersebut untuk dikelolah sendiri oleh peserta KKN International. “Kita hanya memberi bantuan lima puluh juta rupiah untuk seluruh peserta, kemudian mereka mengelolah keungan sendiri, jadi kita serahkan,” tandas Mulyadi. Lebih jauh, Mulyadi menambahkan bahwa bantuan dana yang diberikan tersebut berdasarkan keluhan dari peserta KKN International . “Untuk satu mahasiswa biayanya sebelas juta rupiah atau sepuluh juta rupiah, kurang lebih segitu, ternyata banyak yang mengatakan bahwa kita tidak mampu. Jadi kalau begitu kita minta bantuan yayasan untuk mensupport. Kemudian kita sampaikan bahwa lima puluh juta rupiah ini bisa tidak untuk kalian bagi,” tutupnya. (hel)
T
14
Pena
eror
J
angan memaksa aku bertindak seperti apa yang sering kalian lakukan!!! Bentak sang gadis berkecamata di depan kerumunan banyak orang. Sontak saja, semua perhatian hanya tertuju padanya. Keheningan dan tatapan benci pun tercipta seketika. Merasa geram di sekelilingnya, Ia kemudian berlalu tanpa seutas kata keluar dari mulut mungilnya. “Dasar kutu buku, nggak punya etika. Sok merasa paling jago aja di kampus ini,” ketus Rindra gamblang. “Woi, aneh loh,” timpal sekerumunan mahasiswa. Tanpa mengindahkan, Iren tetap berlalu dengan tumpukan buku di tangannya. Sesekali berhenti, memperbaiki tasnya melorot ke belakang. Bermasa bodoh, namun sorot mata tajam, penuh amarah terus mengintai sampai punggungnya menghilang di balik pintu menuju perpustkaan. Sembari menyusuri dan melewati ruangan-ruangan kosong, Iren mencoba menenangkan dirinya dengan kejadian yang tak diingikannya tadi. Meskipun rasa sesak me-
D
aun yang hijau perlahan-lahan berubah menjadi kecoklat-coklatan, pun tekstur tanah depan rumah juga ikut retak, satu pertanda bahwa aku tidak lagi berada dimusim yang kemarin. Musim boleh saja berubah, tapi hati dan perasaannya tidak! Semua sama saja, seperti awal mula kau menatap mataku dibawah gerimis, masih kuingat betul kornea mata berwarnakan coklat yang terus saja menatap mataku kala itu, dan berdiri tepat dihadapanku membuat frekuensi jantungku naik hingga tiga kali lipat. Minggu pertama dimusim penghujan semuanya masih baikbaik saja, kau masih terus saja berusaha untuk tahu apapun tentangku, tapi kini tidak lagi, semuanya berbeda sejak kau pulang dari negeri ginseng, entah apa yang membuatmu berubah sepulang dari sana. Apa disana salju terlalu indah? Hingga kau jatuh cinta lebih kepadanya? Ataukah warna merah jambu sakuranya yang membuatmu enggan untuk cepat kembali? Kau tidak tahu betapa sulitnya melalui sisa musim kemarin menahan rasa rindu seorang diri! Aku menunggumu berharap kau kembali dipenghujung musim un-
Tabloid KERTAS edisi #11 (Agustus 2017)
Tabloid KERTAS edisi #11 (Agustus 2017)
Cerpen oleh : justina Rasyid menuhi dadanya sampai naik memuncak ke kepala, ia tetap tenang. Gesekan sepatu yang diciptakannya pada lantai ditemani bunyi denting jam dinding dari dalam ruangan adalah hiburannya di sepanjang jalan. “Tumben telat ren, bapak udah mau tutup ini perpus loh, untung masih ada satu menit. Kalau tidak, sia-sia aja kamu ke sini dengan tumpukan buku yang hampir menenggelamkan dadamu,” ucap pak Nendro, sang penjaga perpustakaan yang umurnya kira-kira setengah abad. “Hahaha, maaf pak. Sebenarnya Iren masih punya tugas yang harus diselesaikan hari ini, kalau bisa nanti kuncinya aku bawa pulang ke rumah bapak. Bisa kan pak?” pintanya memelas. “Boleh lah Ren,” sambil menyedorkan beberapa jenis kunci, dan tentunya Iren sudah tahu semua kunci-kunci tersebut. Ketika alam mulai berganti menjadi gelap, dentuman dan alunan musik mulai mengitari area kampus. Sorakan demi sorakan pada sang idola tak terhindarkan lagi. Sementara di ruangan dengan nuansa
hening, Iren menikmati dunianya sebagai pelajar dan penggila buku. Kring..kringgg…kringgg Iren melongo mencari sumber dering telephone yang bunyinya tetiba menggema, sementara ia bingung dan heran karna ponsel miliknya tidak pernah di bawah ke kampus. Ia bangkit, kemudian melangkah mengecek tasnya di loker dekat pintu keluar. Pelan-pelan, kakinya mulai bergontai menuju tempat benda tersebut. Mata sedikit dipicingkan, lalu diedarkan kesetiap sudut penjuru ruangan. Di sana, ia cuman menjumpai barisan buku memanjang tertata rapi. Belum sampai, bunyi itu redup dan menghilang. Sejenak, gadis dengan tinggi semampai itu mengamati suara-suara sumbang di tengah kesunyian melanda. “Aneh,” umpatnya. Buru-buru, Iren melanjutkan langkahnya membuka loker dan memeriksa seluruh isi tasnya. Tetapi, hasilnya nihil, ponsel itu ternyata tidak ada. “Hai Ren…..........................” Sejurus dengan sapaan seseorang, detak jantung Iren mulai berpacu lebih cepat dari biasanya. Ia memundurkan langkahnya yang berat, kakinya seperti menyatu dengan tanah. Penasaran dengan sosok yang menyapanya, ia membalikkan tubuh dan pandangan. Saat penglihatannya mulai menangkap suatu bayangan, tiba-tiba lampu padam dan di luar ruangan terdengar suara menjerit histeris. Sepertinya bukan karena bahagia,
melainkan jeritan ketakutan. Alunan music nan menghentak kampus Violet sedari dua jam langsung berubah menjadi gaduh. “Siapa kamu?” tanya Iren terbata-bata. Ia mulai gemetar, kakinya serasa tak bisa lagi menopang bobok tubuhnya, sedangkan suaranya seperti tercekik gara-gara ketakutan. Aliran keringat pun tak henti-hentinya keluar menjalar membasahi dahi sampai ujung kaki. “Tuhan, tolong aku. Please jangan sakiti aku, apa yang kau inginkan dari aku?” pintanya di luar kendali. Prakkk…Prakkkk….Prakkkk!! Lima belas menit telah berlalu, Iren sadar dan mengerang kesakitan pada kepalanya. Kakinya tak dapat digerakkan sementara kegelapan masih menyelimuti tempatnya di mana Ia berada sekarang. Mencoba dan terus mencoba mengalahkan penderitaannya saat ini, agar keluar dari terror itu. Tanpa pasrah pada kondisinya, Ia berusaha menemukan sesuatu untuk dijadikan alat yang bisa membawanya keluar ruangan. Untungnya saja, dekat loker terdapat sapu lantai. Pelan-pelan, Iren bisa berdiri meninggalkan perpustakaan meski dengan keadaan terhuyung-huyung. Setelah berhasil keluar dari cengkraman terror, Ia tersentak menyaksikan pemandangan yang memilukan di hadapannya. Ratusan mahasiswa tergeletak dalam keadaan tidak wajar. Wajar, leher, sampai kaki penuh dengan sayatan belati, hingga darah tumpah keluar membanjiri arena pertunjukkan Band. Dengan tatapan nanar dan
prihatin, Iren hanya bisa mengutuk pelaku dengan kata-kata tajam. Ia tak habis pikir, kejadian yang sama terulang kembali lagi setiap ada pertunjukan Band. Dalam peritiwa ini, pihak kepolisian dan bantuan pertolongan selalu saja terlambat. ***** Di depan pintu rumahnya, Iren mengetuk pintu dengan keras, meminta pertolongan pada kedua orang tuanya. Wajahnya sudah mulai pucat pasi. “Mama, mama, mama, ayah, ayah,ayah,” panggilnya menahan kesakitan. “Iya Ren, tunggu nak,” sahut papanya dari dalam. Ketika pintu dibuka, Iren sudah tergeletak, orang tuanya pun histeris mendapati sang anak dalam keadaan tidak sadarkan diri. Kecemasan kemudian melanda terhadap pasangan suami istri itu, takut anak semata wayangnya terjadi kenapa-kenapa. “Akhhh, kok tubuhku bau amis yah,” umpat Iren. Ma,mama,mama “Pada kemana semua sih?” Iren kembali duduk di atas tempat tidur, kemudian mengamit remote TV mencari channel kesukaanya. Ia tertegun, melihat semua siaran seputar kajadian naas di kampusnya tadi malam. Di seluruh channel hanya memuat peristiwa tersebut. Kembali mengganti channel, sungguh mengejutkan, salah satu stasiun TV memberitakan bahwa satu korban lagi ditemukan tepat di depan pintu masuk perpustakaan. Mata Iren membelalak, tak percaya kedua orang tuanya ada di sana menangis histeris.
Cerita Cinta dari Negeri Tropis tuk sama-sama kita akhiri dengan satu cerita cinta yang tak dapat kita lupakan. Namun, ternyata aku salah menaruh harapan itu padamu, kau kembali saat musim benar-benar telah berganti. *** Aku perempuan berusia 18 tahun bernama Rahel yang mengagumi, menyukai, bahkan mecintai seorang laki-laki berusia 19 tahun dengan tinggi 170 cm tidak jauh beda dengan dengan tiang jemuran ibuku, dengan kulit yang sedikit gelap, mata yang bulat seperti panda dan hidung yang mancung layaknya orang barat dan namanya Ian, cukup! jika kuceritakan lebih jauh maka kalian bisa jatuh hati padanya, ntar aku punya banyak saingan deh hehe. *** Gemerisik hujan terdengar jelas kedalam kamarku juga dentuman air yang mengena tepat diatas kaleng yang semakin menambah dramatisnya hujan kala itu. jam dinding menunjukkan pukul 02.30 pagi. Tak berfikir panjang, aku melepas selimut dan kuhadapkan wajahku tepat dihadapan jende-
la kamarku yang berembun untuk memastikan, ternyata benar-benar sedang hujan. Diluar masih sangat gelap, membuat suasana hatiku membiru sebiru langit yang kupandangi, ditandai dengan berderainya air mata yang menjadi ekspresi perasaanku saat itu. lalu timbul tanya, mengapa aku menangis? (tanyaku dalam hati), “aku bukan siapa-siapanya, bahkan bisa dibilang akupun tak punya kenangan romantis apapun tentang dia”, jawab hatiku. lantas apa yang mesti kutangisi? (tanyaku kembali), aku hanya tidak lebih dari seorang perempuan yang kegeeran atau mungkin korban PHP (Pemberi Harapan Palsu). Dibulan pertama musim ini, ada rasa yang harus aku kubur sebelum gelap menyelimuti terang dan ada hati yang harus kutegarkan untuk memulai hari-hari selanjutnya, aku tidak boleh menjadi perempuan berusia 18 tahun yang selalu sedih ketika hujan turun dihadapannya, seharusnya aku harus menjadi perempuan berusia 7 tahun yang selalu riang gembira karena turunnya hujan menjadi penyemangat diwaktu bermain, semakin deras
semakin semangat. *** Dibulan kedua, awalnya aku yang sangat menyukai warna merah jambu, seketika berubah dan seperti tidak mengenal warna lain selain hitam kala itu. Iya…warna hitam adalah salah satu warna dasar dalam hidup yang sering kuartikan gelap, sepi, sunyi dan sendiri, seperti Ian yang baru saja merasakan kesepian, kesunyian dan seorang diri dalam dunia barunya. Ian.., aku kehilangan Ianku yang berusia 19 tahun itu, dia meninggalkanku untuk selamanya, pergi menghadap ilahi dengan catatan medis yang mengatakan bahwa Ian menderita Lambung kronis. Setelah Ian memasuki rumah barunya, Ibunya dengan wajah yang sedih datang menghampiriku dan bilang, kamu Rahel kan? Bisa ikut ibu sebentar? (tanyanya sambil menarik lenganku dan membawaku kedalam mobilnya). Ternyata, ibu Ian membawaku kerumahnya, dan menyuruhku masuk kekamar Ian. Hatiku benar-benar hancur berkeping-keping saat kutemui fotoku terpanjang dengan ukuran 3 R disamping tempat ti-
durnya, dan beberapa pajangan foto keseharianku dikampus yang terpajang diuntaian tali yang dijepit dengan jepitan warna pink kesukaanku, lengkap dengan keterangan fotonya yang bertuliskan Rahelku apa kabar hari ini? Semua foto diberi keterangan seperti itu. Tak lama, Ibu Ian masuk kekamar dan memberiku satu surat, yang luarnya tertulis, “untuk Rahelku”, air mataku sungguh tak terbendung lagi disaat kubaca surat itu, yang isinya, “Rahel mungkin kau akan membaca surat ini saat aku tidak lagi bisa mempertanggung jawabkan apa yang kukatakan ini, Rahel.. Aku mencintaimu, maaf untuk semua tingkah laku anehku, ingin rasanya kukatakan ini lebih awal, tapi aku tak mau membebanimu dengan diriku yang penyakitan ini, oh yah aku membelikanmu beberapa oleh-oleh dari negri Ginseng, kamu bisa memintanya sama Ibuku, didalamnya juga ada bunga sakura yang mungkin tidak lagi berwarna merah jambu seperti kesukaanmu”. Salam cinta dan rindu dari Ian.
Cerpen oleh : Nurparamadina
Edukasi
15
Panik Kembangkan Tanaman Hidroponik
FOTO BERSAMA. Unit Kegiatan Senat (UKS) Pencinta Alam Teknik (Panik) Fakultas Teknik Universitas Fajar (FT Unifa) berfoto bersama peserta Diklatsar Panik.
Berawal dari program kerja Divisi Lingkungan, Unit Kegiatan Senat (UKS) Pencinta Alam Teknik (Panik) melakukan pembibitan dan perawatan tanah. Membudidayakan bayam dengan metode hidroponik menjadikan Panik berbeda dengan unit kegiatan lainnya di kampus.
K
etua Umum Panik, Firman Acsur mengatakan, selain barawal dari kebutuhan program kerja Divisi Lingkungan, terealisasinya budidaya bayam dengan metode hidroponik ini tak lepas dari dukungan Zaryanty Zainuddin, Kaprodi Teknik Elektro sekaligus Dewan Pembina UKS Panik. Selain Dewan Pembina Panik, dukungan juga datang dari Kaprodi Teknik Kimia, Andi Sri Iryani. Dukungan dari kedua dosen Unifa itu menurut Firman, sangat membantu awal pembuatan tanaman hidroponik tersebut. Pada pembuatan kerang-
ka media tanaman hidroponik, jelas Firman, membutuhkan modal sebesar satu juta rupiah lebih. Bagi Firman, jumlah itu terbilang cukup rendah untuk budidaya tanaman dengan metode hidroponik. “Karena banyak alat yang bisa digunakan dalam jangka waktu yang lama,” terangnya. Firman membeberkan, salah satu alat yang digunakan untuk membuat tanaman hidroponik yakni dengan menggunakan rockwool. Alat tersebut tertanam di dalam wadah plastik dan menyerap larutan air yang dicampur vitamin. Rockwool itu juga dapat digunakan dalam jangka waktu yang
Dua Mahasiswa Unifa Ikuti KKN Ekspedisi NKRI
Dua mahasiswa Universitas Fajar (Unifa) mengikuti Kuliah Kerja Nyata (KKN) Ekspedisi NKRI di Papua. Keduanya memilih KKN Ekpedisi NKRI lantaran ingin betul-betul melakukan pengabdian kepada masyarakat.
M
uhammad Yusuf Ali, Koordinator tetap KKN Unifa menceritakan, kedua mahasiswa tersbut, Arianto Bahar dan Firman Acsur dinyatakan lulus seleksi setelah melakukan beberapa proses. Keduanya melakukan pendaftaran via online.
“Seleksinya dilakukan dengan pemasukan berkas secara online terus setelah penyeleksian dilakukan mahasiswa ini dinyatakan lulus,” tegasnya, 19 Juli lalu. Yusuf mengatakan, setelah kedua mahasiswa Fakultas Teknik itu dinyatakan lulus selek-
DOKUMEN PANIK
panjang. Rockwool sangat cocok digunakan dalam pembuatan media tanam hidroponik karena anti pembusukan dan jamur, termasuk berbagai jenis pertumbuhan bakteri. Selain itu, alat itu tidak mudah kendur atau melemah karena sifatnya yang tahan dengan air. Dalam pembudidayaan tanaman hidroponik itu, kata Firman, faktor lain yang mempengaruhi pertumbuhan tanaman yakni dengan menggunakan cahaya. Selain itu, memperhatikan takaran air dan vitamin yang seimbang juga menjadi hal wajib. “Awalnya itu kita letakkan di dalam ruangan, tidak dapatki sinar matahari jadi layu. Akhirnya dikeluarkan supaya dapat sinar matahari,” ujarnya. Karena perawatan yang cukup mudah, metode ini dapat dilakukan bagi para pemula karena tidak memerlukan keahlian khusus. Selain itu, hasil panen ta-
naman dengan metode hidroponik lebih sehat dan bersih. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh kelompok investigasi dari Laboratorium Teknologi Tanaman Universitas San Jose California pada tahun 1994, tanaman hasil hidroponik memiliki kandungan vitamin dan mineral yang secara signifikan lebih tinggi dan sangat bermanfaat bagi kesehatan manusia dibanding dengan pola konvensional maupun organik. Bahkan disebutkan dalam penelitian tersebut rasanya lebih enak. Selain budidaya tanaman dengan metode hidroponik, Panik juga telah mencoba metode Aquaponik. Metode tersebut menggunakan kotoran ikan sebagai vitamin untuk pertumbuhan tanaman. Sistem aquaponik ini memberikan dua keuntungan sekaligus, yaitu dengan memelihara ikan serta tanaman yang nan-
tinya hasil dari air yang berisi ikan akan dialirkan ke dalam media hidroponik dan dijadikan nutrisi untuk tumbuhan yang ada di dalam media hidroponik tersebut. Namun, pada percobaan pertama tanaman aquaponik yang dibudidayakan, belum memberikan hasil yang baik. Selain karena tidak mendapatkan cahaya, ikan yang digunakan tidak menghasilkan kotoran sebanyak yang diinginkan. “Kita pakai ikan sejenis jabir. Awalnya tumbuhji, tapi karena ikannya masih sulit menghasilkan kotoran, sedangkan yang kita butuhkan kotorannya untuk jadi vitamin, jadi layu,” ujar Firman. Sampai saat ini UKS Panik masih mengembangkan tanaman hidroponik dan tanaman aquaponik. Mereka masih mencari formula yang tepat agar tanaman dapat berkembang baik. Selain itu, Panik juga berencana mengembangkan hutan vertical di kampus biru ini. (wiw)
si, mereka kemudian diberangkatkan ke Bandung untuk melakukan proses selanjutnya. “Di sana dilakukan lagi proses seleksi yang begitu ketat, seperti seleksi fisik dan kemampuan dalam melewati tantangan-tantangan strategi di lapangan. Hinggaa akhirnya mahasiswa tersebut dinyatakan lulus dan berhak mengikuti KKN Ekspedisi Negara Kesatuan Republik Indonesia,” jelas Yusuf. Terkait hal itu, Arianto saat dihubingi via telepon beberapa waktu lalu menyampaikan bahwa dalam KKN Ekspedisi itu, sudah termasuk mengikuti bela Negara. Hal itulah yang mendasarinya mengikuti KKN tersebut.
“Pada dasarnya semua sama, yang tentunya pengabdian masyarakat. Akan tetapi yang membedakan iyalah tempat dan edukasi yang lebih mendalam ke bela Negara dan pengabdian masyarakat,” ujar mahasiswa Teknik Elektro itu. Sebelum mereka berangkat untuk menerima pembekalan di Bandung. Arianto dan Firman terlebih dahulu melakukan beberapa persiapan seperti latihan fisik, memperlajari ilmu-ilmu fisik giat alam terbuka, survival, navigasi darat, mounteneering. Berbeda dengan Arianto, Firman, mahasiswa Teknik Mesin yang juga ikut dalam KKN Ekspedisi itu mengaku tertantang untuk keluar dari zona rutinitas. Selain
itu, kata dia, banyak ilmu terapan yang didapatkan di KKN Ekspedisi tersebut. “Saya ingin belajar bersama seluruh elemen yang ada di Indonesia mulai dari Militer,” ungkapnya. Menanggapi hal itu, Yusuf membeberkan, pihak kampus merasa senang dengan adanya mahasiswa yang mewakili untuk mengikuti KKN Ekspedisi NKRI yang akan berlangsung di Papua selama kurang lebih lima bulan itu. “Kalau kemarin belum ada adek-adek (mahasiswa) kita yang berani mendaftar. Tapi sekarang mereka sudah berani untuk mendaftar, ikut langsung terjun ke lapangan bagaimana itu KKN Ekspedisi NKRI,” ujar Yusuf. (hel)