Skip to main content

The End of A Decade - Januari 2020

Page 1

wh warta himahi

Beyond Z: Meet the Alpha

Mimpi Besar, Dukungan Nyata: Indonesia Tuan Rumah Piala Dunia U20 2021

Instagram: A Decade Full of Journey

THE END OF A DECADE DESEMBER 2019


CONTENTS 1 Editor’s Letter 2 Voice of KawanWH 3 yangbelumsempat 38 Tentang Kaver 39 HNMUN 40 Pipinos NEWS 4 - 5 6 7 8-9 10

Mimpi Besar, Dukungan Nyata: Indonesia Tuan Rumah Piala Dunia U20 2021 Pelanggaran Hak Pekerja: Trump Menunda Preferensi Perdagangan Thailand Gastrodiplomasi: Pendekatan Soft Power yang Sedang Dilakukan Indonesia WHO: “Sunat” Wanita Afrika Adalah Pelanggaran HAM Kembali Menjadi Anggota Dewan HAM PBB: Capaian Penghujung Tahun Bagi Indonesia

FEATURE 11 Kontributor: Vincentia Vahistha Hirrya Jyalita 12-13 Kontributor: Muhammad Daffa Haikal 14 Beyond Z: Meet the Alpha 15 Meme Merajalela Media 16-17 Big Data: The Power We Hold 18-19 It’s Ok Not To Be Ok 20-21 Dekade Nerd Keren 22 Melawan Tanpa Rasa Takut 23 Kontributor: Reiva Areta Djoened Poesponegoro 32-33 Kontributor: Yohanes Amadeus Raditya 34-35 Kontributor: @akacilak 36-37 Kontributor: Abyan Hanif REGULAR CONTENT 24 - 25 WH Lookbook 26 Review Buku dan Film 27 Jukebox 28-29 Instagram: A Decade Full of Journey 30-31 WH Stop Choice

STAY CONNECTED! twitter @KawanWH instagram @wartahimahi facebook Warta Himahi youtube youtube.com/ wartahimahi line @bxi1173b


EDITORIAL TEAM Editor-in-Chief ALOYSIUS EFRAIM LEONARD Vice Editor-in-Chief LELY AYUSUKMA BAKTI Editorial Secretary EVA CIPTA MEGA INDRA Editorial Treasurer ALVIN ALFANUS Feature Editor JESSICA RUTH ANDINA Feature Writers ANAK AGUNG AYU KIRANA P. AURADISHA ASHALYA ANDJANI DZAKY PUTRA WIRAHMAN VIANNY QUININTA News Editor MENTARI SVARNA PERTIWI News Writers ALYA DIVA DINDA MUTIARANI SYAFIRA MARVELLA GIOVANNA ROSALINE DEVINA Regular Content Editor IVAN IMMANUEL M. Regular Content Writers AFIFAH FATHIQA KEISHYA RACHMADANI WISNU PUTRI MOHAMMAD RASSYA MAHESA TAZKIA AGIANI KHATAMI Marketing and Event Manager INEZ IGNATZIA RADEN NAUFAL DAFFA ADLYONO Marketing and Event Staff ADELAIDE TALIA CHANDRIKA KHAIRUNNISA EDENISE K. PANE HASNA NURUL QOLBY JENNIFER GREYSELDA Graphic Design Director CAROLINE SIANE Content Designer AUDRE AUGURIUS CLAUS SULAIMAN YEGI WIJAYA Photo-Videography Director ISYANTI RAHAMAYA ERIYANTO Photo-Videographer CAITLIN VENESSA CHRISTCENTIA JOCELYN MARCELLA KARINA ZAHRA ANINDITHA REIZA ADINDA HERDIANA RUBY ADRIAN Special Thanks to Our Contributor ABYAN HANIF MUHAMMAD DAFFA HAIKAL REIVA ARETA D. POESPONEGORO VINCENTIA VAHISTHA HIRRYA JYALITA YOHANES AMADEUS RADITYA @AKACILAK

EDITOR’S LETTER Dear KawanWH, Dekade ini didefinisikan oleh internet. Dalam jangka waktu sepuluh tahun, kehidupan manusia--mulai dari ekonomi, sosial, budaya dan bahkan keamanan--berubah dengan hadirnya internet. Raksasa tak kasat mata ini memberikan berbagai dampak, yang baik dan buruk. Di kesempatan pertama Redaksi Warta Himahi bertemu dengan KawanWH dalam bentuk majalah fisik ini, kami hendak mengajak kalian untuk kembali melihat apa yang telah terjadi selama satu dekade ke belakang. Kami mengajak KawanWH untuk menyadari betapa hidup kita telah berubah selama sepuluh tahun terakhir: dari berubahnya cara manusia bersosialisasi, cara manusia untuk menjalankan pergerakan sosial, sampai perubahan cara pandang kita terhadap suatu hal. Pertanyaan besarnya: apakah perubahan - perubahan ini akan membawa manusia untuk menjadi lebih siap menghadapi dekade berikutnya, atau malah akan menciptakan gangguan dalam kehidupan manusia untuk ke depannya? Bagi Warta Himahi sendiri, dekade yang lama ini akan menjadi titik akhir dari perjalanan kami yang lama, dan akan menjadi titik awal untuk perubahan yang lebih besar, sebuah integrasi dari seluruh inovasi yang telah bertahun - tahun dikumpulkan dan dipersiapkan sebelum sebelumnya. Sebagai pemimpin redaksi, saya ingin mengucapkan terima kasih kepada seluruh jajaran redaksi, kontributor dan juga sponsor yang telah ikut berpartisipasi dalam WH Edisi pertama ini. Oleh karena itu, kami mempersembahkan Warta Himahi Edisi 1: The End of a Decade.

Yours sincerely, Aloysius Efraim Leonard

Cover by AUDRE AUGURIUS

WH / 1


VOICE OF KAWAN WH

WH / 2


WH / 3


NEWS

MIMPI BESAR, DUKUNGAN NYATA:

INDONESIA TUAN RUMAH PIALA DUNIA U-20 2021

I

ndonesia resmi ditetapkan menjadi tuan rumah Piala Dunia U-20 tahun 2021 pada Kamis (24/10/2019). Hal tersebut disampaikan langsung oleh Presiden FIFA, Gianni Infantino, dalam rapat dewan FIFA di Shanghai, Tiongkok. Indonesia berhasil menjadi tuan rumah setelah bersaing dengan Peru dan Brazil yang mencalonkan diri sebagai tuan rumah tunggal, serta Bahrain-Arab Saudi-Uni Emirat Arab dan Myanmar-Thailand yang mencalonkan diri sebagai tuan rumah bersama. Ratu Tisha Destria, Sekretaris Jenderal Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI), menjadi salah satu tokoh penting keberhasilan Indonesia berkat optimisme dan kerja kerasnya. Ia mampu meyakinkan FIFA sehingga mereka tidak ragu memilih Indonesia sebagai tuan rumah. Piala Dunia U-20 merupakan kompetisi tertua kedua yang diselenggarakan oleh FIFA sejak tahun 1977. Ajang ini diselenggarakan dua tahun sekali dengan jumlah peserta kurang lebih 24 negara dari seluruh dunia. Dengan pencapaian ini, Indonesia telah resmi menjadi negara Asia ke-6 dan negara Asia Tenggara ke-2 yang menjadi tuan rumah untuk Piala Dunia U-20. Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora), Zainudin Amali, menyatakan bahwa seluruh proses panjang yang telah dilewati dapat berbuah baik karena dukungan penuh dari Presiden Joko Widodo. Beliau dikatakan cepat tanggap memberi surat jaminan kepada FIFA terkait pengajuan diri Indonesia sebagai tuan rumah, yang berbeda dengan respons Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) tahun 2009 silam. Nurdin Halid, Ketua Umum PSSI 2003-2011, sempat mencetuskan ide agar Indonesia menjadi tuan rumah Piala Dunia kategori senior untuk tahun 2018. Namun, idenya tidak didukung oleh Pak SBY karena kondisi sepak bola tahun 2009 dianggap sedang kacau.

WH / 4


NEWS

Keberanian PSSI melakukan bidding sebagai tuan rumah Piala Dunia U-20 tahun 2021 patut diapresiasi, karena melalui ajang ini seperti kata Presiden Jokowi, nama Indonesia dapat semakin dikenal di dunia internasional. Selain itu, Gatot Widakdo, Ketua Media dan Hubungan Internasional PSSI, menyatakan bahwa terpilihnya Indonesia sebagai tuan rumah menjadi faktor pendorong bagi negara-negara ASEAN lain untuk menjadi tuan rumah bersama Piala Dunia 2034 kategori senior. Gagasan tersebut dicetuskan oleh Thailand, Malaysia, Singapura, Vietnam, dan Indonesia pada bulan Juni lalu. M. Kusnaeni, pengamat sepak bola, menyampaikan bahwa ada keuntungan dari terpilihnya Indonesia, berupa nama baik dan kenaikan jumlah wisatawan. Selain itu, investasi stadion dan fasilitas yang diperbaharui menjadi berstandar FIFA, serta sarana transportasi yang diperbaiki juga secara tidak langsung dapat menguntungkan masyarakat kedepannya. Lalu, keuntungan yang paling krusial adalah mendapat jatah satu tempat di Piala Dunia mendatang tanpa harus melewati babak kualifikasi, karena Indonesia terakhir kali bertanding di ajang ini pada tahun 1979. Kepala Biro Hubungan Masyarakat Kemenparekraf, Guntur Sakti, juga menyebut jika pertandingan tersebut bernilai media tinggi karena banyaknya jumlah penonton televisi maupun streaming. (MG)

WH / 5


NEWS

PELANGGARAN HAK PEKERJA: TRUMP MENUNDA PREFERENSI PERDAGANGAN THAILAND

P

residen Donald Trump menangguhkan preferensi perdagangan industri makanan laut Thailand pada Minggu (27/10/2019). Penangguhan ini dilakukan karena Thailand mengalami kegagalan dalam mengambil langkah untuk meningkatkan hak – hak pekerja dan memberantas perbudakan serta kerja paksa. Presiden Trump menyatakan bahwa Thailand tidak membayar upah para pekerja sehingga melanggar hak – hak mereka, maka penundaan tersebut merupakan keputusan yang tepat untuk dilakukan. Pihak AS menambahkan bahwa keputusan penundaan preferensi perdagangan Thailand dilakukan dengan harapan mendorong Thailand agar segera menyelesaikan permasalahan mengenai pelanggaran hak ketenagakerjaan. Selain Presiden Trump, Uni Eropa dan Wakil Direktur Human Rights Watch Asia Phil Robertson juga turut mengkritik Thailand atas pelanggaran hak pekerja baik para pekerja Thailand, maupun para pekerja asing yang berasal dari negara - negara tetangga. Robertson menambahkan bahwa penegakan hak pekerja di Thailand memprihatinkan. Maka dari itu, Kantor Perwakilan Dagang Amerika

Rencana tersebut akan diresmikan dan berlaku per tanggal 25 April 2020 di bawah program Generalized System of Preferences (GSP). Sebelum perencanaan penghentian preferensi dikeluarkan, Thailand memiliki kebebasan untuk mengimpor sejumlah barang ke AS tanpa biaya, namun karena Thailand gagal melindungi hak pekerja, keuntungan status bebas biaya tersebut akan dihentikan. Menanggapi rencana tersebut, Thailand sebagai negara penghasil makanan laut terbesar ketiga di dunia merasa kebijakan Presiden Trump untuk menunda preferensi perdagangan Thailand dalam program GSP tidak berdampak besar kepada kinerja ekspor-impor Thailand. Karena menurut data Bloomberg, total nilai ekspor Thailand ke AS pada 2018 telah mencapai 31,9 miliar dolar dan AS tercatat sebagai pasar ekspor kedua Thailand. Meski begitu, Thailand tetap berencana untuk merundingkan masalah tersebut dengan AS sebagai upaya mencari titik terang dari permasalahan yang tengah dihadapi Thailand termasuk mendapatkan kembali hak GSP. Namun, Kantor Perwakilan Dagang Amerika Serikat menambahkan bahwa semua produk makanan laut Thailand akan kehilangan kelayakan untuk preferensi perdagangan karena

Serikat berencana menghentikan keuntungan permasalahan tersebut telah terjadi cukup preferensi perdagangan Thailand sebesar lama. (DMS) 1,3 miliar dolar pada Senin (28/10/2019).

WH / 6


NEWS

Gastrodiplomasi:

Pendekatan Soft Power yang Sedang Ditingkatkan Indonesia

G

astrodiplomasi merupakan sebuah upaya diplomasi publik dan budaya yang menggunakan makanan sebagai alatnya, menjadi hal yang tidak lagi asing. Seorang peneliti diplomasi publik, Juyan Zhang dalam tulisannya memaparkan bahwa makanan dianggap dapat mewakili nilai dan identitas suatu negara pada khalayak internasional. Ini dipandang sebagai strategi yang sangat efektif untuk mengundang daya tarik masyarakat internasional. Dalam rangka meningkatkan dan mendorong promosi kuliner Indonesia kepada dunia, pada (17/10/19) Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia bekerja sama dengan Indonesian Gastronomy Association (IGA), Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS) Indonesia, dan Ikatan Wanita Pengusaha Indonesia (IWAPI) menyelenggarakan sebuah seminar bertajuk National Seminar on Economic Diplomacy: “Gastrodiplomacy to Strengthen the Indonesian Economy”. Seminar yang diselenggarakan di Ruang Nusantara Gedung Kementerian Luar Negeri Indonesia tersebut melibatkan peserta dari berbagai pemangku kepentingan seperti kementerian/lembaga di Indonesia, organisasi masyarakat, akademisi, mahasiswa, pelaku usaha di bidang kuliner, hingga masyarakat luas. “Makanan adalah identitas nasional suatu bangsa. Gastrodiplomacy akan mendukung diplomasi ekonomi Indonesia” ungkap Retno Marsudi, Menteri Luar Negeri Republik Indonesia. Direktur Jenderal Informasi dan Diplomasi Publik Kementerian Luar Negeri,

Cecep Herawan juga menambahkan bahwa gastrodiplomasi lebih dari sekadar tujuan bisnis. Cecep mengatakan bahwa gastrodiplomasi menjadi alat diplomasi soft-power yang kuat dan dapat meningkatkan citra Indonesia di luar negeri sekaligus mendorong industri pangan Indonesia di luar negeri. Hasil yang diperoleh dari pendekatan tersebut pada umumnya berupa peningkatan perekonomian dan citra politik dalam kancah internasional. Makanan dapat menjadi instrumen untuk membangun persepsi, mempromosikan Indonesia di mata internasional, dan meningkatkan kerja sama antara Indonesia dengan negara-negara di dunia. Singkatnya, seminar ini bertujuan untuk mendukung peningkatan pengetahuan dan kemampuan para pemangku kepentingan dalam menjalankan bisnis kuliner terutama kuliner khas Indonesia di luar negeri. Para peserta difasilitasi dengan pengetahuan praktik kuliner dari para pakarnya, seperti CEO dan Co-Founder Qraved Steven Kim dari Korea Selatan dan General Manager Blue Elephant Paris yakni Karim Raoud dari Thailand. Seminar ini juga mengundang para pebisnis kuliner populer di Indonesia yakni Hendra Noviyanti dari Upnormal dan Rama Auwines dari Sari Ratu. Selain itu, Dr. Siswo Pramono selaku Kepala Badan Pengkajian dan Pengembangan Kebijakan Kementerian Luar Negeri juga turut mengatakan bahwa Indonesia perlu fokus berupaya untuk memperbanyak variasi industri kuliner di luar negeri, kerja sama dengan diaspora, menciptakan tradisi makanan sendiri, dan mempertimbangkan sensitivitas menu-menu tertentu di belahan dunia. (RD)

WH / 7


NEWS

WHO:“SUNAT” PEREMPUAN AFRIKA ADALAH PELANGGARAN HAM

D

ikutip dari data Seksual dan Kesehatan Reproduksi oleh World Health Organization (WHO), Afrika adalah salah satu dari beberapa benua yang memiliki tingkat pelaksanaan Mutilasi Genital Perempuan (MGP) atau Female Genital Mutilation (FGM) tertinggi selain Timur Tengah dan Asia. Mutilasi Genital Perempuan atau yang umumnya kita ketahui sebagai ‘sunat’ untuk kaum perempuan adalah suatu prosedur yang menjadi tradisi di puluhan negara di benua Afrika. Tenaga medis percaya bahwa tradisi ini tidak memiliki manfaat kesehatan, malah bisa menyebabkan komplikasi kesehatan bahkan kematian. Meskipun tidak memiliki manfaat kesehatan dan malah melanggar hak asasi manusia, tradisi ini masih menjadi bagian erat dari tradisi kaum perempuan di benua Afrika. Pemerintah Kenya dalam Larangan UU Mutilasi Genital Perempuan 2011 menyatakan bahwa tradisi ini melanggar integritas mental dan fisik seorang perempuan. Tapi, Tatu Kamau, seorang dokter perempuan dari Kenya menyatakan bahwa mereka, kaum perempuan di atas 18 tahun, memiliki hak untuk memilih apa yang mereka lakukan kepada tubuhnya sendiri. Dalam wawancaranya dengan KTN News Kenya, Kamau percaya bahwa tradisi ini adalah hak semua kaum perempuan dewasa. “Ketika sudah memasuki umur dewasa, jika seorang perempuan bisa memilih untuk merokok yang mungkin bisa membuat mereka sakit, mereka juga berhak memilih untuk melakukan tradisi ini atau tidak,” tegas Kamau.

WH / 8


NEWS

Hak asasi manusia terutama perempuan dan keberadaan kebudayaan yang beragam di benua Afrika adalah bagaikan api dan asap, tidak dapat dipisahkan. Terlepas dari konsekuensi kesehatan yang mengkhawatirkan, Kamau dan kaum pro lainnya juga mengatakan bahwa pelaksanaan tradisi ini adalah bagian dari hak asasi manusia yaitu hak untuk hidup berkebudayaan. Hubungan antara keanekaragaman budaya dan hak asasi manusia terutama perempuan di Afrika juga telah sejak lama menjadi topik perdebatan pada United Nations Biweekly Geneva Press Briefing (6/2/18). Fadela Chaib, juru bicara World Health Organization (WHO), dalam wawancaranya di pertemuan Persatuan Bangsa-Bangsa di Jenewa mengatakan bahwa tradisi FGM ini sama sekali tidak memiliki manfaat. Chaib menegaskan bahwa tradisi ini secara jelas adalah pelanggaran hak asasi perempuan dan juga anak perempuan. Chaib juga mengatakan bahwa tradisi ini kerap kali dilakukan atas dasar mitos yang salah, yaitu bahwa hanya anak perempuan yang menjalani tradisi itu yang bisa tumbuh menjadi perempuan dewasa dan dianggap terhormat. Tepat di hari yang sama, 6 Februari 2019, PBB menetapkan hari tersebut sebagai International Day of Zero Tolerance for Female Genital Mutilation. PBB juga menyerukan tindakan untuk menghapuskan prosedur pada tahun 2030. (AD)

WH / 9


NEWS

Kembali Menjadi Anggota Dewan HAM PBB: Capaian Penghujung Tahun Bagi Indonesia

I

ndonesia kembali menjadi salah satu Dewan Hak Asasi Manusia Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk periode 2020-2022 mendatang. Dengan memperoleh 174 suara dari total 193 suara, Indonesia berhasil mengalahkan suara yang diperoleh Jepang (165 suara), Korea Selatan (165 suara), dan Kepulauan Marshall (123 suara) sebagai perwakilan negara Asia Pasifik, saat pemungutan suara yang berlangsung di New York, Amerika Serikat, pada Kamis (17/10/2019). Sebelumnya, Indonesia pernah menjadi anggota Dewan HAM PBB sebanyak empat kali yakni pada periode 2006, 2007, 2011, dan 2015 sebelum terpilih lagi pada tahun 2019. Melalui keanggotaannya di Dewan HAM PBB, Indonesia memiliki tiga prioritas dan komitmen dalam skala global, regional, dan nasional. Prioritas Indonesia dalam skala global adalah untuk mendorong Dewan HAM PBB menjadi lebih efisien dan efektif, menjadi lebih transparan dan tidak memihak, serta memberikan ruang untuk berdialog dan berorientasi pada hasil. Dalam skala regional, Indonesia berfokus untuk memajukan kerja sama bilateral, regional dan internasional untuk meningkatkan kapasitas negara anggota dalam bidang HAM. Terakhir, dalam skala nasional, Indonesia berusaha untuk memajukan kemitraan dengan berbagai pemangku kepentingan, termasuk institusi HAM nasional dan kelompok masyarakat sipil, serta memperkuat

WH / 10

perlengkapan HAM dan membuat kemajuan dalam penerapan hukum dan peraturan lainnya di bidang HAM. Menteri Luar Negeri Indonesia, Retno Marsudi, mengatakan bahwa keberhasilan Indonesia untuk bergabung kembali sebagai Dewan HAM PBB merupakan hasil kerja keras seluruh tim Kementerian Luar Negeri yang sudah mempersiapkan pencalonan Indonesia sejak tahun 2018. Ia menganggap kesempatan ini dapat mendorong Indonesia untuk memberikan kontribusi lebih besar dalam memajukan penghormatan terhadap hak-hak manusia secara global. Selain itu, menurut Komisioner Komnas HAM Indonesia, Beka Ulung Hapsara, keberhasilan Indonesia dinilai dapat menjadi momen untuk memperbaiki kondisi perlindungan HAM di Indonesia. Beka mengatakan keanggotaan Indonesia merupakan wake-up call bagi pemerintah untuk memenuhi komitmen internasional maupun nasional seperti menyelesaikan persoalan Papua dan kasus-kasus lain yang belum terselesaikan. Bagi Beka, pelantikan Presiden dan Wakil Presiden Indonesia terpilih yakni Jokowi-Ma’ruf Amin pada Minggu (20/10/2019) dan terpilihnya Indonesia di Dewan HAM PBB, merupakan waktu yang tepat bagi keduanya untuk memprioritaskan upaya penyelesaian persoalan hak asasi di Papua. (MSP)


KONTRIBUTOR

THE FIRST TIME A U.S PRESIDENT MEETS A NORTH KOREAN LEADER IN HISTORY Vincentia Vahistha Hirrya Jyalita

The year 2018 marked a truly historic moment for international politics. On June 12th that year, Donald Trump and Kim Jong-Un became the first American and North Korean leaders to meet. The summit was conducted in Singapore, where the two were reportedly in talks over a deal for the disarmament of nuclear weapons in North Korea in exchange for sanctions relief. The U.S and North Korea’s attempt to revive diplomacy certainly came as a surprise since tensions between the two seemed to heighten just the year before. However, will it meet a success, or merely another failure?

WH / 11


KONTRIBUTOR

D

ekade ini membuat kita semua tinggal dalam satu ruang digital. Media sosial telah tersedia sebagai wadah untuk mengekspresikan diri, mencari tahu perkembangan dunia, hingga belanja barang tidak penting. Platform seperti Instagram, Facebook, dan Twitter bukan lagi hal yang baru bagi generasi kita. Hebatnya lagi, media sosial telah berhasil menghubungkan kelas borjuis dengan proletar. Digitalisasi mempermudah konektivitas dan komunikasi antarindividu, walaupun di saat yang bersamaan juga menutup mata kita dari realita.

WH / 12

Banyak yang berpendapat dunia mengalami kemajuan pesat dari sisi humanis mereka. Isu sosial seperti kerusakan lingkungan, feminisme, kesetaraan hak, dan kesehatan mental mulai disadari sebagai suatu hal yang esensial. Semua kesadaran ini dapat kita lihat setidaknya pada satu situs: Twitter. Semua individu dapat menyuarakan pendapatnya melalui twitter tanpa harus peduli dengan latar belakang mereka; dan tidak sedikit yang menganggap fenomena ini sebagai hal positif akibat dari rasa peduli yang ditunjukan publik. Tapi pada tulisan ini saya menolak meromantisasi perkembangan dunia. Percayalah, manusia sedang tidak baik-baik saja.


KONTRIBUTOR

Hanya sebagian kecil dari manusia yang benar-benar peduli tentang apa yang mereka bicarakan. Sisanya? Sekedar latah mengikuti perkembangan sosial. Mayoritas yang bersuara hanya ingin terlihat paham, up-to-date, dan mengerti. Bukan berarti hanya orang pintar saja yang boleh bicara, tetapi bukankah salah jika berbicara tanpa tahu konteks yang dibicarakan? Putaran masalah tersebut lah yang berjalan mengikuti perkembangan. Setiap individu seakan dipaksa untuk setuju dengan pendapat populer dan mereka juga dituntut untuk terlihat peduli akan isu tersebut agar tidak dicap “apatis” atau “tidak peduli” atau bahkan “udah tahun 2019, masih aja mikir kayak gitu?” oleh masyarakat. Manusia sekarang hidup demi mendapat pengakuan dari manusia lain, walaupun itu berarti mereka harus berpurapura. Semisal, banyak yang meneriakan feminisme dengan perjuangan menurunkan derajat dan hak laki-laki. Dekonstruksi maskulinitas memang dibutuhkan, tapi feminisme tidak tentang membenci lelaki, bukan? Mereka yang mengkampanyekan sayangi penyu tetap juga mempertahankan gaya hidup menyakiti alam. Parahnya lagi, terdapat pemanfaatan kepedulian sosial untuk kepentingan pribadi individu. Isu seperti kesehatan mental kerap dijadikan tameng oleh generasi kita. Mereka yang merasa terpojokan mengeluarkan kartu “saya punya penyakit mental” atau “saya pengidap depresi” agar publik lebih berbaik hati kepada mereka. Kenyataannya, mungkin orang itu terpuruk karena dirinya yang tidak berusaha dan takut dengan realita, hingga mencari simpati publik agar merasa lebih baik. Sikap-sikap seperti inilah yang membuat perkembangan isu sosial menjadi murah.

Dekade ini tidak hanya membuat manusia menjadi sadar, tapi juga membuat mereka menjadi hipokrit. Semakin banyak orang yang berpura-pura hanya demi pengakuan semata. Apakah perkembangan sosial benar-benar membuat kita miskin perhatian? Mengapa manusia sekarang sangat gila perhatian? Saya rasa, masyarakat sekarang harus sadar bahwa kita semua perlu evaluasi diri. Dunia tidak melulu tentang mendapat pengakuan. Untuk apa terlihat pintar jika hanya demi mencari aman? Kita butuh belajar cara berjuang tanpa harus saling merendahkan. Kita harus bisa berkembang dengan tanpa merugikan orang lain. Isu sosial tidak bisa sekedar digunakan hanya untuk menjilat muka publik. Manusia perlu paham apa yang mereka bicarakan, karena kualitas kita hanya akan berjalan di tempat jika sekadar ikutikutan. Mereka perlu sadar akan satu hal: Tuhan memberikan pikiran bukan hanya untuk menjadi pajangan.

Muhammad Daffa Haikal

WH / 13


FEATURE BEYOND Z:

MEET THE ALPHA

R

asanya sudah tidak tepat lagi menyebut era ini sebagai era millenial. Kepopuleran generasi Y (milenial) yang lahir pada rentang tahun 1981-1994-an ini seakan sudah tergeser dengan kehadiran generasi-generasi penerusnya. Kemunculan Generasi Z di akhir 1990-an, siap mengambil alih kendali dunia dari para milenial. Melihat dunia yang bergerak semakin cepat, dunia pasca-millenial bukan lagi ada pada masa transisi, melainkan inovasi. Generasi Z mengubah dunia menjadi lebih akrab dengan teknologi. Tidak heran karena sejak kelahirannya, generasi ini dikenal sebagai ‘native technology.’ Di tangan generasi yang dianggap lebih global dan individual ini, media sosial menjadi bagian dari kehidupan. Hal tersebut ditandai dengan parameter kepopuleran seseorang yang juga ikut berubah. Bukan lagi seberapa sering mereka muncul di televisi, melainkan seberapa banyak pengikut mereka di media sosial. Pada generasi ini muncul pula istilah baru yaitu internet star syndrome.

Istilah tersebut merubah cara pandang dan gaya hidup masyarakat dari konvensional menjadi inkonvensional. Sebuah dorongan luar biasa untuk menjadi bintang internet, bukan lagi bintang film atau bintang televisi yang dianggap sudah basi. Namun, di tengah-tengah kesibukan Gen Z untuk mencapai popularitas sesuai dengan standarnya, lahir lagi generasi baru yang siap menginvasi dunia. Tahun 2019 sebagai garis akhir dekade 2010, menandakan sudah 10 tahun berlalu dari kelahiran generasi penerus generasi Z yang disebut sebagai Generasi Alpha (Gen A). Generasi yang dinilai adaptif terhadap perubahan ini diprediksi menjadi generasi paling cerdas di antara generasi-generasi lainnya. Terlebih karena Gen A lahir di masa pertumbuhan teknologi dan informasi yang masif di era disruptif. Adik dari Gen Z ini dituntut untuk terus berevolusi dan bertahan di dunia yang bukan hanya serba cepat dan efisien, namun juga semakin instan. Berbeda dengan generasi pendahulunya, Gen A sudah punya rekam jejak digital sebelum mereka lahir. Misalnya, bayi artis sudah memiliki account Instagram sejak masih di dalam kandungan. Bukan lagi fenomena internet stardom, melainkan dunia maya bertransformasi menjadi instant clickable world of celebrities. Generasi Alpha diprediksi akan mencapai angka 2 miliar pada 2025. Dengan populasi yang besar ini, dapat diprediksi pula bahwa gaya hidup digital yang hanya mencari viral akan menjadi sebuah budaya. Selangkah lagi menuju dekade yang baru, semakin banyak pula tantangan di era media digital. Dekade yang lama telah mengkonversi esensi media sosial dari sarana komunikasi menjadi sarana eksistensi diri. Untuk itu, sebagai individu yang lahir di generasi yang progresif, kita harus mampu meredefinisi dunia dewasa ini. Apakah hidup hanya perkara angka dan obsesi? Apakah generasi yang baru mampu meningkatkan kualitas diri sebelum menjadi terkenal, alih-alih hanya menjadi sekedar viral? (VQ)

WH / 14


MEME MERAJALELA MEDIA

S

ecara harafiah, kata meme adalah suatu fenomena sosial di mana ada sesuatu yang dilekatkan dengan makna atau guyonan sendiri. Biasanya hal tersebut berbentuk sebuah gambar, video atau omongan tertentu. Tren sosial ini sudah ada sejak awal tahun 1900an dalam bentuk guyonan, poster ataupun coretan dinding. Salah satu meme yang terkenal dari tahun 1940-an adalah ‘Kilroy Was Here.’ Meme tersebut adalah coretan dinding yang sering digambar oleh orang-orang di berbagai bagian Amerika Serikat dan hanya menjadi suatu guyonan di antara para orang-orang yang menggambarkan coretan tersebut. Di tahun 2010-an, meme menjadi suatu hal yang semakin mendunia. Meme dari internet mulai memasuki kesadaran publik di berbagai negara akibat kehadiran situs-situs komedi populer yang memang setiap hari mengunggah gambar-gambar meme, seperti 9GAG. Setiap tahun, berbagai meme kerap kali bermunculan dan membanjiri berbagai unggahan media sosial seperti video-video Vine pada pertengahan tahun 2010-an. Bahkan konsep ‘meme’ kini dilekatkan oleh masyarakat secara tidak sadar sebagai suatu gambar atau video yang bersifat satire atau candaan. Kultur meme kini menjadi suatu hal yang memunculkan kelompok tertentu di internet. Di situs-situs seperti Reddit, ada beberapa orang yang menghabiskan banyak waktunya mengunggah meme dengan tulisan-tulisan di bawah gambar tersebut yang mengandung guyonan orang tersebut. Para ‘meme connoisseur’ ini bahkan beberapa kali menunjukan sifat eksklusifitas dan agresif dengan mem-bully seorang content creator Youtube yang sering mengunggah video yang menjelaskan asalusul meme. Mereka menyatakan bahwa content creator tersebut terlalu menyederhanakan dan meremehkan subkultur yang mereka dalami.

FEATURE

Para meme connoisseur seringkali berusaha membuat meme-meme baru yang bahkan sering tidak memiliki unsur humor yang dapat dipahami secara umum. Kini, tidak sedikit gambar-gambar aneh yang surealis menjadi meme yang mengandung plesetan atau guyonan yang dapat dipandang sebagai lelucon yang mungkin amoral dan provokatif. Tetapi memememe dark joke tersebut digemari meskipun seringkali mengandung unsur-unsur lelucon yang menyinggung kesehatan mental yang kurang baik. Bahkan banyak orang yang memiliki akun sosial media yang khusus mengunggah berbagai meme, terang-terangan membuat berbagai lelucon tentang kesehatan mentalnya sendiri yang kurang baik. Meme, dari segi antropologis, adalah salah satu simbolisasi yang mengandung makna-makna semiotika yang dapat dipahami oleh sesama manusia lainnya yang turut mengerti simbol tersebut. Secara sosiologis, meme merupakan simbolisasi yang penting untuk seorang manusia dalam konteks sosial. Dalam konteks sosial tersebut, sekelompok manusia memiliki sebuah format komunikasi yang melambangkan persahabatan atau kesamaan pemahaman. Hal tersebut dapat kita lihat apabila kita menunjukan sebuah gambar meme dari internet kepada seseorang yang kurang mengerti konteks guyonan atau arti dari meme tersebut, seperti jika saudara memperlihatkan meme kepada orang tua yang mungkin tidak dapat mengerti makna atau guyonan dibalik gambar tersebut. Intinya, meme bukanlah fenomena yang endemik pada dekade 2010-an. Tetapi, adanya subkultur yang terbentuk dan meluas dari fenomena sosial tersebut berkat adanya internet, adalah fenomena yang dapat dikatakan sangat 2010-an. Adakah fenomena sosial lainnya yang mungkin akan lebih marak juga berkat adanya internet pada tahun 2020-an? Meme, aktivisme dan melek politik telah menjadi mainstream. Kira-kira apa trend sosial selanjutnya yang akan terdongkrak oleh hadirnya internet? (DPW)

WH / 15


FEATURE

J

ika dahulu informasi dapat diperoleh dari sebuah surat kabar atau media penyimpanan dengan kapasitas yang kecil, dalam satu dekade terakhir ini, tidak perlu berlama-lama untuk menanti informasi terkini. Dengan kehadiran big data, semua informasi di dunia dapat ditampung dan diakses publik. Big data lambat laun menjadi cultural shift, bukan hanya sebuah konsep.

Tiga tahun setelah fappening tersebut, muncul fappening 2.0 dengan lebih banyak foto tersebar. Artinya, walaupun Apple iCloud telah memperketat penjagaannya, pemanfaatan big data dapat tetap dilakukan untuk hal-hal yang memuaskan orang-orang yang membajak foto-foto tersebut. Jika pengguna lebih berhatihati tentang apa yang mereka bagikan dan kepada siapa mereka membagikannya di internet, mungkin fenomena fappening Namun, apakah semua perkembangan tidak terjadi. teknologi yang bersangkutan dengan big data menyenangkan dan membawa pengaruh positif bagi penggunanya? Setiap produk yang dihasilkan dari perkembangan teknologi seperti big data tentu memiliki konsekuensi. Tetapi, apakah big data bertanggung jawab atas segala kebocoran data yang disebarluaskan kepada publik? Jika disimak lebih dalam lagi, ternyata dunia internet memang tidak seaman yang kita kira.

BIG DATA:

Apabila berada di tangan yang salah, kehadiran big data dapat menjadi negatif. Fappening merupakan contoh penyalahgunaan big data yang terjadi di tahun 2014. Fenomena ini menyebabkan tersebarnya foto pribadi beberapa selebriti dari aplikasi Apple iCloud yang mengandung unsur nudity yang lalu disebarluaskan ke situs web terkenal, seperti Reddit. Fenomena fappening tentu merugikan korban dan menguntungkan pihak-pihak yang bertanggung jawab di balik terjadinya fappening tersebut. Pihak yang bertanggung jawab, seperti perusahaan maupun individu, tidak segan untuk menggunakan data informasi pribadi seseorang sebagai ‘modal’ mereka untuk meraup keuntungan yang besar.

WH / 16

THE POWER WE HOLD


FEATURE

Diskusi yang muncul tentang bagaimana perusahaan teknologi mengambil data dari media sosial pengguna seharusnya lebih ditekankan pada fappening yang melanggar hak privasi dan hak asasi seorang individu ataupun sekelompok orang. Dalam dunia internet, tidak ada jaminan penuh terhadap keamanan data pengguna, bahkan ketika pengguna tersebut menghapus datanya; membuat akun baru dengan informasi yang minim; atau berhenti menggunakan layanan iCloud di ponselnya. Sehingga, orangorang harus memperbanyak wawasan tentang teknologi apa yang ada dan mereka gunakan. Kesalahan bukan berada pada kemajuan informasi dan teknologi, melainkan terletak pada penggunanya sendiri. Kesuksesan oknum di balik fappening dalam membobol sistem dari Apple iCloud untuk menemukan informasi pribadi seseorang, tidak lalu membuktikan bahwa big data sepenuhnya bertanggung jawab atas segalanya. Faktanya, segala hal yang kita masukan ke internet, selalu akan ada celah bagi orang lain untuk mendapatkan informasi kita. Sisi positif big data juga tidak dapat diabaikan karena dapat memberikan keuntungan di berbagai aspek kehidupan. Seperti dalam mengoptimalkan arus lalu lintas berdasarkan informasi lalu lintas atau data cuaca. Penilaian anda terhadap big data mungkin dapat berubah jika terjadi kemajuan di sisi positifnya di dekade selanjutnya. Walau begitu, tidak menutup kemungkinan kembali terjadinya fappening 3.0 atau bentuk penjualan informasi pribadi lainnya. (KP)

WH / 17


FEATURE

IT’S OK NOT TO BE OK

WH / 18


FEATURE

D

ekade 2010-an menjadi waktu yang memegang banyak peristiwa dinamis yang terjadi di dunia. Fenomena yang ada menjadi berkembang, aktornya pun menjadi dinamis, tak lupa cara berpikir orang berubah dengan berbagai alasan. Dalam dunia yang bisa dibilang sudah tidak ada batasnya ini, media sosial dapat dengan mudah mengubah cara orang melihat dan bertindak terhadap sesuatu. Sadar atau ‘melek’ akan isu sosial bisa menjadi salah satu hal yang banyak terjadi selama sepuluh tahun kebelakang. Kadang, permasalahan yang diangkat merupakan isu yang jarang, atau bahkan tabu untuk dibicarakan sebelumnya. Salah satu isu sosial yang diangkat adalah mental illness. Apakah ini karena seri televisi 13 Reasons Why yang mengangkat tentang mental issue, atau memang karena media sosial yang mempunyai kekuatan untuk mengkatalisasi perubahan? Namun yang pasti, orang-orang sudah mulai memperhatikan isu sosial ini. Orang yang mengalami mental illness selalu dipandang ganjil oleh masyarakat dan tidak jarang mendapat celaan. Banyak sekali orang yang malu untuk mengatakan bahwa mereka mengalami ketidakstabilan mental. Mereka memilih untuk diam di dalam kekacauan pikiran, daripada berbicara dan dicap ‘gila’ oleh orang sekitarnya. Seringkali, mereka juga mendapatkan celaan saat mengonsumsi obat yang dimiliki. Orang yang memiliki mental illness pun menjadi tidak percaya diri dan menyebabkan penyakitnya semakin parah. Diskriminasi terhadap penderita mental illness telah membuat mereka berkecil hati dan mengurungkan hak yang ingin mereka capai untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Namun, keadaan berubah beberapa tahun belakangan ini, ketika kesehatan mental telah menjadi salah satu topik yang santer untuk dibicarakan. Salah satu gerakan yang menarik perhatian adalah tagar #MyFavoriteMeds yang merupakan kampanye untuk menghentikan penghinaan terhadap orangorang yang mengonsumsi obat untuk kesehatan mental mereka. Seseorang yang mengonsumsi obat untuk kesehatan mental, akan mengunggah foto tangannya yang sedang memegang obat-obatan tersebut ke Instagram, sambil menceritakan pengalamannya menghadapi mental illness. Dengan adanya kampanye ini membuat orang-orang tidak malu lagi untuk menyatakan bahwa betul, mereka membutuhkan sedikit pertolongan lewat obat-obatan untuk membuat mereka lebih tenang. Dukungan ini mendapat respon positif. Penderita mental illness tidak lagi malu dengan keadaan mereka, justru mereka berani mengutarakannya agar menjadi pembelajaran bagi orang lain. Sedikit demi sedikit mental illness tidak lagi menjadi bahan omongan yang tabu di masyarakat. Perlahan juga, kita bisa menunjukkan empati kepada penderitanya. Kita semua hanya akan tenggelam dalam permasalahan yang itu-lagiitu-lagi, apabila tidak ada yang ingin mengubah cara berpikirnya. Mental illness memang bukanlah isu “kemarin,� namun dalam beberapa tahun terakhir ini diangkat sebagai isu sosial yang dianggap penting dan perlu disikapi. Penting untuk menjadikan hal ini sebagai permasalahan sosial yang dianggap serius, bukan hanya sebagai bahan lelucon. Seberapa banyaknya kampanye yang dilakukan, apabila tidak ada sedikit rasa empati yang dapat ditunjukkan, tidak akan menyelesaikan masalah yang ada. (JR)

WH / 19


FEATURE

DEKADE NERD KEREN B

ayangkan seorang pria berumur 20-an pada tahun 2002, yang bekerja sebagai programer komputer di Microsoft, dan hobinya bermain video game. Ia juga seorang penggemar buku komik seri Marvel dan menghabiskan banyak waktunya berpartisipasi di berbagai acara seperti ComiCon dengan mengenakan kostum Captain America – pahlawan super idolanya. Pada masa itu, di tahun 2000-an awal, profil seseorang seperti itu sering diasosiasikan dengan kaum nerd – kaum yang notabene tidak dipandang ‘keren’ oleh masyarakat. Tetapi mari kita percepat waktu dan pindah ke pertengahan tahun 2010-an. Ada seorang pria berumur 20-an yang bekerja sebagai programer di Apple – suatu profesi yang kini sangat diincar dan membawa gengsi besar. Ia mempunyai hobi bermain video game online bersama rekan-rekannya di waktu luangnya. Pria ini juga merupakan seorang penggemar film-film layar lebar dari studio Marvel Cinematic Universe (MCU)– studio film yang kerap kali merilis film yang sangat

WH / 20

populer dan digemari oleh jutaan orang di dunia. Bahkan, pria ini pun seringkali mengunggah foto dirinya mengenakan kostum Captain America di akun media sosialnya – tanpa dihina oleh para temantemannya, mungkin bahkan dipuji. Intinya, pria ini tidak akan dikategorikan sebagai nerd yang canggung dan tidak memiliki keterampilan sosial. Seseorang yang dicap nerd dahulu seringkali dianggap kurang memiliki keterampilan sosial. Seorang nerd bahkan sering digambarkan di film-film keluaran tahun 1990-an dan 2000-an sebagai sosok yang canggung, tidak keren dan bahkan seringkali menjadi bahan rundungan oleh teman-teman sekolahnya. Tetapi, di tahun 2010-an, dapat dilihat bahwa beberapa hal yang sering diasosiasikan dengan para orangorang yang dipanggil nerd menjadi hal yang umum dan digemari oleh berbagai kalangan masyarakat luas.orang yang dipanggil nerd menjadi hal yang umum dan digemari oleh berbagai kalangan masyarakat luas.


FEATURE

Contohnya, film-film MCU yang tidak pernah gagal menghasilkan keuntungan finansial yang besar. Beberapa film dari studio ini bahkan dinobatkan sebagai karya sinematik terbaik pada dekade 2010-an oleh berbagai kritikus film – seperti Avengers: Infinity War. Film-film MCU bahkan menarik minat dari para penonton yang berasal dari berbagai kalangan--umur, profesi, tingkat pendapatan tidak menjadi halangan. Seperti banyak negara lainnya di dunia, Indonesia kini juga tengah mengalami trend ketika seorang nerd dapat dianggap keren. Sehingga, dampak dari menjadi mainstream-nya film dan hobi bermain game juga dapat dirasakan di Indonesia. Muncul satu studio film layar lebar yang kini gencar merilis film-film superhero lokal, yakni BumiLangit Studios. Studio film ini menampilkan aktor Indonesia yang terkenal dan digemari sebagai jagoan dengan nama tokoh mitologi kuno Indonesia.

Pembahasan mengenai mitologi kuno Indonesia kini memang masih sangat tidak umum. Hanya beberapa orang yang antusias mengenai hal ini. Namun, dalam satu dekade, kita bisa melihat betapa kini subkultur nerd menjadi umum. Hal-hal seperti cerita superhero, video game dan profesi yang dulu dianggap tidak mainstream, kini menjadi hal yang lazim. Maka, melihat dari pergeseran pandangan nerd di dekade 2010-an, apakah mungkin di dekade ke depannya mitologi kuno Indonesia dapat menjadi trend baru yang akan dianggap keren dan mainstream, berkat munculnya film-film BumiLangit Studios? (DPW)

WH / 21


FEATURE

D

MELAWAN TANPA RASA TAKUT

ekade tahun 2010 ini dikenal sebagai awal terlihatnya langkah serta peran generasi milenial dalam segala aspek demi memajukan dunia menjadi semakin lebih baik. Kepedulian generasi milenial terhadap isu - isu sosial yang terjadi di masyarakat memunculkan dinamika yang baru di berbagai aspek kehidupan. Memperjuangkan hak asasi manusia menjadi warna baru yang digambarkan generasi milenial di dekade ini. Dibutuhkan keberanian yang tinggi dalam memperjuangkan hak asasi manusia, dan sifat keberanian ini dimiliki oleh Nadia Murad, seorang perempuan yang mendedikasikan hidupnya untuk memperjuangkan hak asasi manusia terutama korban pelecehan seksual.

senjata perang.

Langkah yang diambil oleh Nadia Murad merupakan tindakan yang berani. Demi menyelamatkan hak asasi perempuan di seluruh dunia, Nadia memilih untuk menyuarakan dan membela para korban pemerkosaan tanpa memikirkan ancaman ke depannya, terutama dari kelompok ISIS. Segala aksi pembelaan yang telah Nadia lakukan menjadi contoh nyata bahwa generasi milenia peduli terhadap masalah sosial yang terjadi di dunia serta memiliki rasa empati yang tinggi mengenai masalah sosial yang merampas kebebasan manusia dalam hidup. Fokus untuk membela hak asasi manusia harus disadari oleh seluruh lapisan masyarakat demi membela kehidupan tanpa Nadia Murad mendapatkan hadiah rasa takut. penghargaan The Nobel Peace Prize 2018 serta diangkat menjadi duta United Nations KawanWH sebagai generasi muda dapat dalam Dignity of Survivors of Human belajar dari kisah Nadia Murad tentang Trafficking atas aksi yang dilakukannya betapa pentingnya memperjuangkan hak asasi untuk membela hak asasi manusia. Isu manusia. Langkah kecil yang bisa kita lakukan pelecehan seksual serta pemerkosaan adalah untuk generasi muda dalam membela hak fokus utama Nadia dalam memperjuangkan asasi manusia dapat dilakukan di lingkungan hak asasi manusia. Ia merupakan korban sekitar kita, mulai dari menghargai sesama pemerkosaan yang dilakukan oleh ISIS pada manusia serta menyebarkan kesadaran tahun 2014, di tanah hasil rampasan ISIS pentingnya membela hak asasi manusia yang terletak di Mosul, Irak. Dua tahun silam, agar terjadinya isu pelecehan yang kerap Nadia berhasil kabur dari genggaman ISIS terjadi dapat terberantas. Nadia Murad dan menyuarakan peristiwa mengenaskan dapat dijadikan contoh nyata yang perlu yang dialaminya dalam wawancara khusus disebarkan agar masyarakat mengetahui bersama BBC. Tanpa rasa takut, Nadia bahwa melawan isu pelecehan seksual masih menceritakan peristiwa pemerkosaan yang perlu diperjuangkan. (AA) terjadi kepadanya dengan tujuan agar tidak ada lagi korban yang merasakan penderitaan yang ia rasakan. Setelah bebas dari jeratan ISIS, Nadia sering melakukan kampanye hingga menjadi aktivis. Hal ini ia lakukan agar perempuan yang mengalami pelecehan seksual dapat dibela dan diselamatkan, serta mencegah dijadikannya pemerkosaan sebagai

WH / 22


KONTRIBUTOR

The “Kayak” Generation Reiva Areta Djoened Poesponegoro

M

illennials sampai Generasi Z menjadi sorotan belakangan ini. Tingkah laku dan pola pikir yang sangat berbeda dengan generasi-generasi sebelumnya menjadi topik perbincangan di sana sini. Berbagai sudut pandang, baik maupun buruk, juga terus terlontarkan publik. Salah satu hal yang cukup menarik dari generasi muda-mudi ini adalah gaya bahasa mereka yang cukup unik. “Jadi tuh, gua tuh kaya(k) kesel gitu, hmm…kaya(k) apa ya? Gitu deh! Bingung jelasinnya!” pasti terdengar sangat akrab di dalam kalangan anak muda zaman sekarang. Pengulangan kata, terutama “kayak”, sering terjadi dalam penggunaan tata bahasa perbincangan sehari-hari mereka. Namun, yang lebih mengkhawatirkan adalah gaya bahasa seperti ini juga diimplementasikan pada saat berdiskusi secara formal, forum resmi, atau bahkan presentasi kelas. Entah dari mana hal ini bermula, tetapi seakan-akan hal ini sudah menjadi hal yang sangat lumrah untuk diucapkan secara repetitif. Hal ini memunculkan pertanyaan, mengapa timbul gaya bahasa yang mengherankan dan terkesan kurang baik ini? Limitasi diksi anak muda saat ini menjadi penyebab utama peralihan gaya bahasa ini. Penggunaan kata “kayak” seakan-akan menjadi bridging untuk penggunaan kata selanjutnya. Mengapa membutuhkan kata “kayak” dalam menyatakan kata selanjutnya? Apakah karena secara tidak sadar mereka berpikir sejenak untuk mencari kata yang tepat yang dapat menggambarkan apa yang ada di pikiran mereka? Hal ini cukup miris, ketika para milenial memiliki keterbatasan diksi, padahal milenial punya akses informasi dan edukasi yang sangat mudah dan banyak. Tetapi, tidak menutup kemungkinan hal itulah yang menjadi penyebabnya, bukan? Kemudahan

akses yang dimiliki oleh anak muda sekarang membuat mereka tidak lagi membutuhkan keahlian khusus untuk menulis secara baik dan benar, seperti pada saat zaman suratmenyurat dulu. Contohnya, pesan yang dikirimkan melalui online chatting, dengan mudah dapat dihapus jika terjadi kesalahan. Selain itu, hadirnya nalar instant gratification melalui penyajian informasi yang sederhana dan singkat menghambat mereka untuk mencari dan memproses informasi yang berat dan banyak. Dampaknya? Kurangnya minat baca pada linimasa. Memang, membaca – terutama membaca buku – bukanlah hal yang menyenangkan bagi sebagian orang. Selain karena membutuhkan waktu yang cukup lama, membaca buku juga membutuhkan imajinasi dan kesabaran yang cukup tinggi terlebih jika harus membaca sekitar 300 - 400-an halaman, bahkan lebih. Akhirnya, YouTube, Instagram, atau Twitter pun menjadi sarana bermain yang lebih asyik daripada membaca buku yang tebal. Hal ini menjadi penyebab buruknya literasi anak muda saat ini. Buruknya literasi pun menjadi awal mula keterbatasan diksi, yang menyebabkan gaya bicara yang kurang baik. Pada akhirnya, seluruh individu akan dipaksa berkembang dalam suatu lingkungan yang dinamis. Mereka yang stagnan akan tertinggal seiring perkembangan zaman. Seleksi alam dan permainan hidup yang cukup pontangpanting tidak akan memilih mereka yang layak. Mulailah dari hal yang kecil, mulailah dari cara Anda berbicara. Mulailah berdiksi, berbahasa, berbicara yang baik. Semuanya belum terlambat, membaca buku menjadi salah satu alternatifnya. Sedangkan, mengasah literasi individu dapat dilakukan dengan seribu satu cara.

WH / 23


REGULAR CONTENT

WH / 24


REGULAR CONTENT

WH / 25


REGULAR CONTENT

REVIEW BUKU DAN FILM 11/22/63 (2011)

S

ebuah karya anomali dari Stephen King yang keluar dari genre Horror ,Supernatural, & Paranormal. Dalam penulisannya, King melakukan riset yang mendetail untuk menuliskan segala sesuatu yang berhubungan dengan setiap kejadian. Juga karakter-karakter yang berdasarkan kehidupan nyata dan tertulis di sejarah yang menjadi kelebihan sekaligus kekurangan membuat berjalannya narasi terasa lambat. Buku ini berangkat dengan premis “What happened If John Fitzgerald Kennedy didn’t die on 11/22/63”. Dinarasikan melalui perjalanan Jake Epping, seorang guru General Educational Development di Lisbon, Maine, yang berteman baik dengan pemilik kedai makan lokal bernama Al Templeton, seorang mantan tentara angkatan laut yang memiliki obsesi terhadap John F Kennedy dan kematiannya. Suatu malam Jake diminta datang ke kedainya dengan alasan keadaan darurat oleh Al, yang saat ditemui tiba-tiba menua secara drastis dan mengidap terminal cancer lalu meminta Jake untuk meneruskan obsesinya. Al menjelaskan beberapa hal yang perlu Jake lakukan untuk menyelematakan John F. Kennedy, dimulai dengan menemukan dan mengintai Lee Harvey Oswald lalu mencegah pembunuhan. Yang akan memiki dampak berantai seperti mencegah kematian Robert Kennedy, mencegah pecahnya kerusuhan rasial di Amerika juga pembunuhan Martin Luther King Jr, mencgakhiri perang vietnam lebih cepat dan menyudahi arms race nuklir antara blok barat dan timur.

by Stephen King

L

Al memberikan kesempatan pada Jake untuk mengubah dunia dengan cara kembali ke masa lalu melalui “Rabbit Hole” suatu lubang waktu yang secara anomali terletak diujung pantry yang sempit dan gelap dari kedai milik Al, yang akan selalu membawa siapapun yang masuk kedalamnya kembali ke waktu yang spesifik pada September 9th, 1958 pada pukul 11:58 siang, yang memberikan jake waktu satu bulan untuk mencegah terjadinya pembunuhan. (RA)

THE MASTER (2012)

ama berada dalam kondisi peperangan, Freddie Quell (Joaquin Phoenix) mengalami ketidakstabilan mental yang membuatnya sulit diterima di masyarakat. Melalui berbagai perjalanan pascaperang, ia akhirnya bertemu dengan sebuah cult bernama “The Cause” yang dipimpin oleh “The Master” yaitu Lancaster Dodd (Philip Seymour Hoffman). Dari sini perjalanan Freddie dimulai. Freddie yang semula mengalami ketidakstabilan mental kemudian menjadi pasien sekaligus subjek penelitian dari Lancaster Dodd dan diberi nama “Proses”. Melalui yang dinamakan “Proses” inilah kedekatan keduanya kemudian terjalin. Film garapan Paul Thomas Anderson ini menuai banyak kritik positif terutama dari kalangan kritikus film. Joaquin Phoenix dan Philip Seymour Hoffman nyatanya berhasil mengembangkan karakter mereka dengan kuat, sehingga ikatan emosional dari masing-masing karakter tersampaikan dengan sangat baik. Selain itu, teknik pengambilan gambar yang menggunakan format kamera 70 mm merupakan yang pertama kali semenjak Kenneth Branagh menggarap film Hamlet di tahun 1996. Gambar yang dihasilkan pun lebih jernih dengan pewarnaan yang lebih tajam dibandingkan dengan menggunakan format 35 mm seperti pada umumnya. Film yang sangat menarik perhatian secara visual dan komposisi scoring yang indah dari Jonny Greenwood (Radiohead) menjadikan film The Master (2012) sebagai salah satu film terbaik pada dekade ini. (AF)

WH / 26


REGULAR CONTENT

WH / 27


REGULAR CONTENT

INSTAGRAM:

A DECADE FULL OF JOURNEY KawanWH!

Saat ini, siapa sih yang tidak familiar dengan aplikasi Instagram? salah satu aplikasi dengan angka pengunduhan terbanyak dunia, Instagram berdiri kokoh sejak tahun 2010 hingga saat ini. Instagram pertama kali dibentuk oleh Kevin Systrom dan Mike Krieger di San Francisco, Amerika Serikat, sebagai photo and videosharing app. Those probably a-dime-a-thousand things, tetapi, sebagai social media yang dirancang agar user friendly, Instagram berinovasi dengan menyediakan fitur-fitur seperti filters, account private accessibility, dan saat ini berkembang hingga business page. Hal ini menjadi terobosan baru dalam ‘ranah’ media sosial, setelah kemunculan Facebook dan Twitter pada tahun 2009. Instagram muncul dengan tujuan agar para penggunanya senantiasa menggunakan aplikasi tersebut sebagai blog dengan user interference yang lebih simpel, efisien dan mudah digunakan.

But, what’s actually the purpose of Instagram itself? Hal menarik yang di-highlight oleh Instagram adalah bagaimana Instagram dapat memudahkan para penggunanya untuk membentuk relasi dengan cara semenarik mungkin, yaitu melalui foto yang diunggah oleh setiap akunnya. Terlebih, foto-foto unggahan pada setiap akun adalah bukti atau tanda dari profil yang muncul sebagai ‘identitas’ sang pemilik akun. Selain itu, adanya fitur like dan comment pada setiap foto yang diunggah merupakan mekanisme yang dapat menimbulkan keseruan tersendiri, dan membuat para pengguna semakin memiliki keinginan berlebih untuk mengunggah foto di akunnya.

WH / 28


REGULAR CONTENT

Sejak kemunculan Instagram dari 2010, setiap tahunnya perusahaan ini mencoba untuk melakukan inovasi dengan memperbaharui fitur-fitur yang ada. Rupanya, pembaruan fitur-fitur dalam Instagram memicu adanya perubahan dalam keseharian para penggunanya. In these past decade, Instagram had improved rapidly. Sebelumnya, Instagram hanyalah sarana untuk users mengunggah foto, turns out Instagram had changed the game. Cakupan Instagram semakin luas, seperti kemunculan para pebisnis dalam laman Instagram, menjadikan Instagram sebagai salah satu e-commerce dunia. Terlebih, para pengguna juga dipermudah apabila mereka ingin berbelanja atau berbisnis di Instagram, karena mereka dapat mengunggah foto produk yang ditawarkan. Hingga akhirnya di tahun 2016, Instagram mengeluarkan fitur business page untuk mempermudah akun-akun bisnis untuk berpromosi. Surprisingly, Instagram doesn’t stop here. Salah satu fitur terobosan Instagram pada tahun 2018 yaitu instastory, merupakan bukti bahwa Instagram dengan mudah menggantikan posisi aplikasi Snapchat yang sempat booming di tahun 2014 hingga 2016. Hingga saat ini, instastory pada Instagram menjadi suatu hal yang dijadikan sebuah ‘keharusan’ dalam upaya para users membentuk blognya, untuk sekadar mempercantik laman profilnya atau bahkan mempromosikan bisnis mereka.

Karena system updates yang dikeluarkan oleh Instagram sangat pesat, lagi-lagi aplikasi ini telah menjangkau dunia lebih luas lagi mulai dari masyarakat kecil hingga petinggi-petinggi negara. Hal ini ditandai dengan adanya peralihan fungsi Instagram untuk kepentingan berpolitik, sarana penghimbauan, atau bahkan sebagai platform untuk seseorang menjadi aktivis. Maraknya content creator yang semakin kreatif dalam mengembangkan ide dan Instagram sebagai platformnya menjadi alasan mengapa cakupan Instagram dapat meluas, hingga Instagram sudah menjadi habit bagi kehidupan sosial saat ini. Dengan ini, Instagram berhasil mewadahi setiap lapisan masyarakat dunia, and those amazingly came from an app. Luasnya cakupan Instagram membuat segala hal dapat dilihat melalui aplikasi ini. Hal ini justru dapat menggiring Instagram memasuki titik deadlock, ketika tidak ada lagi inovasi yang bertambah, dikhawatirkan dengan adanya segala bentuk akomodasi bagi penggunanya sudah terpenuhi demi kenyamanan penggunanya. Dalam hal ini, akankah Instagram terus menerus menyajikan fitur-fitur baru guna memenuhi kenyamanan para pengguna? Atau justru hal tersebut merupakan tujuan dari perusahaan ini, guna mencegah terjadinya replacement sebagaimana Facebook menggantikan Friendster? What do you think, KawanWH? (KR)

WH / 29


REGULAR CONTENT

WH Stop Choice KawanWH! berikut adalah beberapa rekomendasi café yang baru hadir di pertengahan tahun 2019 lalu dan bisa dijadikan referensi untuk hangout bareng temen-temen kamu. Let’s check it out!

1. Dua Coffee Jika kamu sedang mencari café yang ‘instagramable’ dan aesthetically pleasing, Dua Coffee adalah tempat yang cocok untuk kamu datangi! Terletak di Jl. Taman Cempaka No.7, Riau, Bandung, Dua Coffee menyuguhkan ambience yang cocok untuk kamu yang hobi nongkrong. Konsep outdoor dan eksterior yang dilengkapi dengan cermin membuat tempat ini sangat menarik untuk disinggahi. Makanan serta minuman seperti Tiramisu Float, Cereal Star Latte, dan Crispy Chicken Skin juga menarik untuk kamu cicipi! dengan menyiapkan uang sekitar Rp 40.000-100.000, kamu sudah bisa menikmati menu-menu yang ada di sini. Dua Coffee buka dari jam 07.0022.00 WIB, jadi pastikan untuk datang ya! (KR)

WH / 30


REGULAR CONTENT 2. Makanan Miwa Bernuansa cerah dan mengadopsi Japanese style, Makanan Miwa bisa menjadi tempat yang pas untuk kamu mencicipi Salmon Mentainya yang sedang hits ini. Meski tempatnya terbilang kecil, namun terdapat spot menarik yang dipenuhi oleh poster-poster anime yang cocok untuk dijadikan background foto kamu dan teman-temanmu! Resto yang baru hadir di tahun 2019 ini terletak di Jl. Progo No.15A, Bandung dan buka setiap hari jam 11.00-21.00 WIB. Jika kamu berniat untuk mampir, cukup siapkan Rp 30.000- 60.000 untuk mencicipi menu makanan di sini. Jadi, tunggu apa lagi, KawanWH? (KR)

WH / 31


KONTRIBUTOR

The New Annoying Orange Yohanes Amadeus Raditya

WH / 32


KONTRIBUTOR

Y

ouTube in 2009 introduced us to NigaHiga, and also brought us the Annoying Orange. Do you guys remember the weird show that started back in 2009 displaying face-talking fruits, with the main character as titled, an orange being incredibly annoying. But besides his main and probably sole life purpose to be irritating, he’s actually a warmhearted fellow who cared for his friends, usually cheerful, and his usual annoying puns intended to put a smile on his best fruit-friends. Fast forward to January 2017, a billionaire and a businessman was inaugurated to be the 45th President of the United States. Yes, everyone knows him, its Donald Trump. The first natural word to describe him wouldn’t probably be blonde, or tall, it’d probably be that he’s orange. But apart from that obvious trait, the most powerful man on earth might quite also possibly be the new ‘annoying orange’. What portray him as annoying isn’t what he is, it’s what he does, it’s mainly his foreign policies. Let’s review some of his unconventional, or some might say absurd policies, shall we? Maybe after you would find this ‘Russian doll’, yes pun intended, to be a nuisance or on the contrary to be quite likeable. His comments and actions has made him somewhat of a racist. His first action as President is to build his Mexican border wall and withdraw the U.S. from the TransPacific Partnership, as promised on his presidential campaign. Then, on the first week that he took the Oval Office, Trump signed an executive order that bans people from Muslim countries, such as Iran, Yemen, and Syria, from entering the U.S. Though it was eventually ruled back by the Supreme Court, it became the first of many widelycontested foreign policies of Donald Trump. His approval ratings are plummeting, just like the world economy. We can all thank him for the trade war. He is most annoying on Twitter, which he has made as his stage to be as personal with the world as he can get. Some president can be vague when carrying out his or her views on a sensitive matter, but not Trump. He has made it a habit to speak out his mind and be as ruthless as possible. He will viciously attack his counterparts with tweets, and if Kim Jong-Un can share his experience on the matter, he would. Trump did successfully create peace in the Korean Peninsula, though some would argue that he could manage without putting the world on edge with his provoking tweets aimed at the Supreme Leader. All in all, the world has a new annoying orange, in the figure of a 1.9 meters tall Donald Trump. Truth be told, the people who loves him are his fellow businessmen, grateful for tax cuts. Let’s face it, Trump will hinder from criticism while he screams out fake news! We can only stand await another episode of controversial act from POTUS and wonder what will he do to annoy us with next? (YAR)

WH / 33


KONTRIBUTOR

mematahkan sebelum dipatahkan Kita berada dalam tiga bulan terakhir menuju akhir dekade, tiga bulan terakhir untuk memulai tahun yang baru, resolusi baru, atau mungkin akan dikelilingi orang yang baru. Ada yang melanjutkan resolusinya, ada yang membuat resolusi, rencana, wacana tentang kehidupan yang baru. Kebanyakan dari mereka hampa, pasrah terhadap resolusi lama yang sudah berlumut. Di antara orang-orang tadi, ada kita. Kita yang sedari awal bersama memasuki Kampus Tiga, terjebak lagi dalam tiga bulan terakhir. Kita mau ke mana? Apa yang kita rencanakan? Menciptakan wacana-wacana baru bersama atau menjalani hidup lama tanpa kehadiran masingmasing? Memasuki awal Oktober, kita juga harus ingat bahwa kita sudah lama berpisah. Saling menolak untuk mengingat kejadian lampau, meyakinkan bahwa kita tidak pernah membuat memori bersama. Mengingat lagi, bahwa kita sedari awal ingin menjalani akhir bersama, nyatanya kita sendiri yang berakhir lebih cepat daripada akhir tahun ini. Kenyataan memang lebih pahit, entah siapa yang menciptakan kalimat itu. Namun, benar adanya. Kebersamaan kita memanglah patut hanya untuk dikenang, tidak untuk diulang kedua kalinya. Mempunyai resolusi masing-masing mungkin jalannya.

WH / 34


KONTRIBUTOR

Kembali lagi ke rencana menuju berakhirnya tahun, aku selalu memikirkan tiap-tiap rencana yang ingin kubuat, yang ingin aku realisasikan adanya. Kali ini, aku mengundang kalian, membuat nama-nama kalian hadir di dalamnya, mengikutsertakan apatisnya hadir kalian. Ternyata sama saja, seperti debu di kosmik, kalian semu adanya. Aku tidak menyalahkan keberadaan kalian yang semu, aku menyalahkan diriku yang terlalu cepat untuk mengikutsertakan diri kalian ke dalam hal ini. Karena, sedari awal seperti yang selalu aku bilang, aku sulit untuk percaya. Entah kenapa, diri suka sekali mengulang dengan menaruh kepercayaan kepada orang yang salah. Untuk itu, aku akan berbagi sedikit resolusi untuk kalian yang dipatahkan sebelum dipatahkan. Percayalah pada diri sendiri, jangan menaruh kepercayaan sepenuhnya kepada manusia. Kembali lagi, memang tidak semua manusia seperti “itu�. Tapi, berbaik hatilah untuk tidak membuat hatimu patah berulang kali. Itu mungkin resolusi pertama. Untuk resolusi kedua, mungkin hanya akan memperberat malam. Jangan lupa untuk selalu menjaga perasaan orang lain, walau aku tahu kita sendiri tidak dapat menjaga perasaan. Menyulitkan, bukan. Mungkin, nantinya dua resolusi di atas hanya akan menjadi wacana saja untuk diterapkan ke depannya. Karena kita hanya manusia, terlebih jika suka mencari risiko dan masalah. Semangat untuk menjalani hidup saja sudah banyak terkelupas, boro-boro bukan membuat resolusi tiap tahunnya? Untuk itu, maka resolusi yang tepat untuk perubahan dekade kali ini menjadi apatis. Kalian tidak salah baca, memang apatis atau tidak peduli, atau nama awamnya bodo amat, sangat membuat hidup menjadi praktis. Maka dari itu, ini merupakan awal yang baru bagi kita yang terlalu menjaga perasaan sekitar sehingga lupa sudah terinjak. Belajar untuk menjadi pribadi yang bodo amat terhadap mereka yang selalu menginjak, mereka yang meremehkan apapun itu yang kita lakukan--baik buruknya nanti dulu. Buang semua perhatian tadi ke sekitar, ke hewan yang haknya dirampas untuk hidup tenang di hutan, hutan yang terbakar oleh panas isu-isu negara. Lihat sekitar, buang lagi semua perhatian yang kau pusatkan ke hal negatif tadi ke orang yang lebih membutuhkan. Selamat menjalani akhir tahun dengan wacana, resolusi--rencana apapun itu semoga tersemogakan. -@akacilak

WH / 35


KONTRIBUTOR

K

esuksesan Spotify bersama kawan-kawan media streaming digital lainnya sukses menimbulkan beberapa perubahan fundamental pada industri musik yang mempengaruhi fungsi dari musik sendiri hingga bergesernya pola masyarakat dalam mengkonsumsi musik. Pada hakikatnya, musik berfungsi untuk membuat hidup manusia agar menjadi lebih baik, seperti yang dikemukakan oleh H.T. Silaen melalui jurnalnya yang berjudul “Pergeseran Fungsi Musik di Tengah Kehidupan Masyarakat.� Ia juga mengatakan bahwa musik merupakan sebuah karya seni yang memiliki nilai estetis yang dapat dihayati dan memiliki simbol ekspresi yang indah sehingga sebenarnya musik memiliki substansi yang lebih lagi dari hanya sekedar enak atau tidak enak. Namun dewasa ini, H.T. Silaen berpendapat bahwa kedudukan musik sudah bergeser menjadi bahan habis pakai atau barang dagangan. Nilai-nilai estetis, pembentuk watak, dan penenang rohani pun hilang entah ke mana. Yang paling mengejutkan, H.T. Silaen menulis jurnalnya pada tahun 1995, jauh sebelum Spotify dan dedengkot media streaming musik lainnya muncul ke permukaan bumi, edan! Musik populer di era digital ini juga digambarkan mirip dengan seks dan kekerasan, sehingga tidak memerlukan banyak tenaga dan pikiran untuk menikmatinya, karena sederhana, bersifat dan hanya memenuhi selera sesaat saja.

WH / 36

Pergeseran kedudukan musik menjadi komoditas ekonomi seakan semakin didukung dengan adanya Spotify dan kawan-kawannya. Musisi mulai enggan untuk merilis karyanya dalam bentuk album dan lebih memilih untuk merilisnya dalam bentuk single yang dipasarkan melalui media streaming digital. Akhirnya, kreativitas musisi semakin terkekang oleh kebutuhan yang terbentuk karena hadirnya Spotify. Solo gitar ala Shine On You Crazy Diamond-nya Pink Floyd ditiadakan, agar musik menjadi lebih pendek dan lebih mudah didengarkan. Belum lagi semakin jarang musisi yang merilis karyanya secara fisik, padahal membeli dan mengoleksi rilisan fisik menjadi kepuasan tersendiri bagi sebagian orang. Bukan hanya memanjakan telinga, namun juga hati dan mata yang terpuaskan ketika melihat artwork dari album kesukaan. Hal tersebut juga seakan menjustifikasi pertanyaan mengapa sudah sangat jarang ada lagi album-album konsep seperti Dark Side of The Moon-nya Pink Floyd, Revolver-nya The Beatles, hingga The Rise and Fall of Ziggy Stardust and the Spiders from Mars-nya David Bowie.


KONTRIBUTOR

Strategi marketing karya melalui media sosial juga menjadi salah satu tolak ukur bahwa musik bukan lagi sebagai barang seni. Banyak musisi yang menjadikan bandnya sebagai produk yang mudah diterima publik, seperti grup band .Feast. Musik yang cenderung biasa saja namun dibalut dengan marketing yang baik pun bisa menjadikan band tersebut digemari oleh muda-mudi di seluruh Indonesia terlepas dari personilnya yang ganteng-ganteng, eh!, entahlah.

Pada intinya, industri musik di era digital ini mengalami kemunduran dalam hal kreativitas dan substansi karya yang ingin disampaikan oleh para penciptanya, karena pemilihan nada dan lirik romansa percintaan yang itu-itu saja. Walau begitu, masih banyak juga musisi era digital ini yang memiliki kualitas yang sangat baik. Akhir kata, terima kasih kepada H.T. Silaen, Kang Idhar, dan Ferdin kolega saya di Incotive karena tulisan kalian yang menjadi dasar penulisan artikel ini.

SP TIFY:

KIAMAT SUGRO BAGI INDUSTRI MUSIK DI ERA DIGITAL Abyan Hanif

WH / 37


TENTANG KAVER

Orang yang berjalan turun dari gurun atau dekade mengartikan bahwa perjalanannya telah selesai dan ia akan melewati tempat-tempat lainnya. Selain itu, matahari yang terbenam juga adalah simbol lain dari pergantian dekade, di mana matahari akan terbit di hari selanjutnya – memulai hari yang baru, cerita baru.

WH / 38


Unpar for Harvard National Model United Nations 2020

1 3

-

B O S T O N , 1 6 F e b r u a r y

2 0 2 0 WH / 39


WH / 40


Turn static files into dynamic content formats.

Create a flipbook