Skip to main content

People of Color - November 2017

Page 1

CONTENTS 1 - Editor’s Letter 2 - Voice of KawanWH NEWS 4 Farinet: Mata Uang Lokal yang Terinspirasi oleh Kriminal 5 Hubungan Diplomatik India-Korea Utara: Rex Tillerson Berikan Tanggapan 6 Singapura Sebagai Pemilik Paspor Terkuat di Dunia 7 Antisipasi AS dan Korsel Hadapi Ancaman Nuklir Korut FEATURE 8 10 – 11 12 – 13 14 – 15 16 17 18 – 19

Special Report: Scholarship Expo 2017 Si Pensil Warna Putih di Kampus Jingga Terjebak dalam Konsepsi Ideal Appreciating Diversity Through Rihanna’s Innovation of Beauty Batas Diskriminasi Antara Putih dan Warna Kontributor: Tawianese Aborigine: Penduduk Asli Taiwan di Era Modern dan Demokrasi Photo Essay: Henry Mulyana REGULAR CONTENT

20 – 21 24 – 25 26 27 28

WH Lookbook Regcont Special Trivia Review Jukebox

“PEOPLE OF COLOR” COVER PHOTOGRAPHED BY AKHMAD Z. NURRAFI DIRECTED AND EDITED BY AKHMAD Z. NURRAFI AND NIQA HAUNA HAIR AND MAKE-UP BY VERINS AURA MODELS NABELA DARA, SAMUEL RIO PASARIBU, ANTONIO RAOUL


EDITORIAL TEAM Editor-in-Chief BRIGETTE GIOVANDRETTA POHAN Vice Editor-in-Chief SARITA LARAS Editorial Secretary ARYANNE REGITA Editorial Treasurer KERIN DESYOLA Feature Editor ERIANA ERIGE Feature Writers FLORENCIA MARIA SURYA SONIA MEILIANA STELLA NONGKA YOLANDA JUNIAR RAYO News Editor VERONICA CINDY IRAWAN News Writers BRIGITA PRINSILA HANIFAH RAHADIANTY KUSUMANA JOSEPHINE DIVA ANINDITA YOHANES AMADEUS RADITYA Regular Content Editor SITI ADELA Regular Content Writers EZRA REYHAN MARZUKI HANI INDITA IGNATIUS KRISTIAN NUGROHO IVAN IMMANUEL M. Event Manager KENNY NATHANE Event Staff ALYA KHALIDA ANWAR EZRAELLA MEIRANI GERALDI HALOMOAN MARIA FAUSTINA DWI KISMADRIANI MARVEL TANARA Creative Director PUPUT PRADANI ALIYA RASHATI Content Designer ALOYSIUS EFRAIM LEONARD GABRIELLA CARMEN YEGI WIJAYA Head of Photographer ANDREW ADUSA Photographer / Videographer AKHMAD Z. NURRAFI NIQA HAUNA PRISCILLA PUSPITA RANESSA TRI J. NAINGGOLAN Public Relations and Marketing Manager MARIKA GANISTI IMANTIA Public Relations and Marketing Staff ANSELMA AMBAR ARUMDALU BELLA APRILIA NAOMI VERIAWAN RADITYA FAUZAN PUTRA UTOMO Special Thanks to Our Contributor HENRY MULYANA RUFAIDA NURUL VIQRI STAY CONNECTED! TWITTER @KawanWH INSTAGRAM @wartahimahi FACEBOOK Warta Himahi YOUTUBE youtube.com/wartahimahi LINE @bxi1173b whimahi@gmail.com

EDITOR’S LETTER Hello, KawanWH! Tiap mendengar People of Color pasti otomatis kita langsung terbayang orang kulit gelap karena istilah tersebut dibuat oleh negara Barat dengan maksud mendeskripsikan masyarakat non-kulit putih atau non-kaukasian. Padahal sebenarnya, baik yang berkulit putih, sawo matang, kuning, dan lainnya adalah sama, hanya dibedakan oleh konstruksi sosial yang sudah lama terbentuk. Maka dari itu, kami harap dapat merekonstruksi hal tersebut agar bisa menjadi hal yang positif. Selain itu, minimnya pemberitaan mengenai tokoh inspiratif non-kaukasian di dunia internasional menjadi alasan lain kami mengangkat tema ini. Kami harap dengan mengangkat tema ini, kami dapat mengingatkan kembali kawanWH mengenai pentingnya toleransi dan apresiasi terhadap sesama serta makna dari keberagaman. Last but not least, kami ingin menyatakan puji dan syukur kepada pihak-pihak yang telah membantu selama proses pembuatan WH Edisi 2 Periode 2017/2018 serta kawanWH yang senantiasa membaca WH Edisi. Keep being smart, active, and talkative!:D Yours truly,

Brigette Giovandretta, Pimpinan Redaksi.

WH / 1


VOICE OF KAWANWH

MENURUT KAMU, SIAPA SAJA SIH TOKOH NON-KULIT PUTIH YANG USAHANYA PATUT DIAPRESIASI? Shella Lodra (2016) Winnie Harlow patut diapresiasi! Di saat orang lain minder dengan kondisi kulit yang berbeda seperti orang pada umumnya, Winnie justru menjadikan kondisi kulitnya sebagai kelebihan. Kepercayaan dirinya mampu membawanya menjadi kontestan America’s Next Stop Model season 21. Intinya, menerima kekurangan adalah suatu kelebihan! Inelya Zeafira (2017) Inspirasi datang dari Malala Yousafzai. Ia patut diteladani oleh generasi muda yang moralitas dan keinginan untuk belajarnya sangat kontras dibandingkan dengan Malala. Ia lebih suka dikenang sebagai anak perempuan yang memperjuangkan kesetaraan hak pendidikan daripada sebagai seorang anak perempuan yang ditembak Taliban. Sejak usia 12 tahun, ia dengan gigih memperjuangkan hak perempuan untuk sekolah meskipun itu menentang keras pasukan Taliban yang sedang menyerang Pakistan. Tembakan yang sempat nyaris membunuhnya tidak mematahkan semangat Malala dalam perjuangannya. Setelah sembuh, ia melanjutkan sekolah dan aktif menulis buku. Pengorbanannya berbuah manis karena ia mendapatkan Nobel bidang perdamaian pada tahun 2014. Pada salah satu pidatonya ia mengatakan, “Satu anak, satu guru, satu buku, satu pena, bisa mengubah dunia”. Rifki F (2017) Menurut gue sih, Victoria Woodhull. Ia adalah tokoh yang cukup penting dalam pergerakan Suffragette which is pergerakan untuk penyetaraan hak-hak wanita di Eropa dan Amerika sana. Ia wanita pertama yang secara resmi mencalonkan diri sebagai presiden di Amerika Serikat, meskipun penuh skandal. Melalui perceraiannya, Woodhull berhasil mengubah stigma bahwa perceraian itu adalah suatu hal yang tabu. Meskipun banyak ia berhasil capai, tapi sedikit yang tahu namanya bahkan di Amerika.

2 / WH

Rozaan Maulana (2015) Solomon Northup, warga Afrika-Amerika (18081863) dan aktivis anti-slavery di Amerika Serikat yang sebelumnya adalah musisi yang diculik tahun 1841 oleh penjual budak. Pada saat itu perbudakan masih diperbolehkan oleh hukum dan selama 12 tahun menjadi budak, Solomon selalu menjadi korban kekerasan majikannya. Tahun 1853 ia bebas setelah bertemu Samuel Bass, pria kelahiran Kanada yang menentang perbudakan. Semenjak itu, ia aktif di gerakan abolitionist dengan memberikan kuliah tentang anti-slavery dan membantu membebaskan korban perbudakan. Fransiska Andita (2016) Kalau dari definisi yang beredar yaitu kulit berwarna = kulit non-putih, aku akan bilang bahwa semua pejuang nasional kita merupakan tokoh kulit warna yang bisa diapresiasi hehe. Tapi menurutku, yang paling penting bukan warna kulitnya, tapi perbuatannya. Perlu adanya reminder untuk menghargai kaum kulit warna berarti selama ini kita atau mereka kurang dihargai dalam sehari-hari. Anastasia Akira (2015) Queen Bey atau Beyonce. Bukan hanya prestasinya di industri musik saja yang membuat kagum, tapi ia memanfaatkan status dan ketenarannya untuk berbuat baik dan mengangkat berbagai isu. Misalnya ikut menyumbang ke organisasi yang membantu korban bencana alam (Survivor Foundation) dengan mengirim kebutuhan pokok korban badai Katrina dan juga bekerja sama dengan Chime for Change yang mengkampanyekan pemberdayaan perempuan. Ia merasa bahwa “power” yang dimilikinya dalam dunia entertainment harus dimanfaatkan sebaik-baiknya untuk meningkatkan kesadaran terhadap isu yang sering kali dianggap kurang penting. Regardless of your personal opinion on her music, sulit untuk mengelak bahwa Beyonce merupakan pribadi yang patut untuk diapresiasi.


NEWS

FARINET:

MATA UANG LOKAL YANG TERINSPIRASI KRIMINAL

S

wiss resmi meluncurkan mata uang lokal terbaru di kota Sion, Mei 2017 lalu. Mata uang ini telah resmi berlaku di berbagai toko di Valais, Swiss. Farinet sendiri memiliki nilai yang sama dengan Franc Swiss dengan pecahan mata uang sebesar 1, 2, 5, 10, 13, 20, 50, dan 100. Turis dan masyarakat lokal dapat menggunakan farinet di lebih dari 100 toko termasuk kafe, restoran, bisnis kecil, dan pedagang mandiri. Bisnis-bisnis yang berpartisipasi akan menerima farinet baik secara penuh maupun sebagian. Farinet diambil dari nama Joseph-Samuel Farinet, seorang kriminal pada abad ke-19 sekaligus pahlawan bagi rakyat Valais. Farinet memalsukan mata uang pada masa tersebut untuk membantu masyarakat miskin Valais yang menderita dibawah kekuasaan kaum borjuis. Farinet kemudian dijuluki sebagai Robin Hood dari Alps, sebelum akhirnya meninggal dalam sebuah pengejaran polisi pada usia 35 tahun. Bertahun-tahun setelah kejadian tersebut, nama Farinet masih terus melekat dan dilestarikan oleh masyarakat Valais berkat jasa-jasanya terhadap kaum tertindas. Farinet disusun untuk mendorong perkembangan bisnis lokal serta memberikan insentif bagi masyarakat untuk melakukan transaksi lokal. Berbeda dari mata uang lainnya, farinet bersifat komplementari dan tidak bertujuan untuk menggantikan mata uang franc. Sebagai mata uang lokal, farinet memang dipatok satu banding satu dengan mata uang franc terlebih karena franc diterbitkan oleh salah satu bank terkuat, Swiss

4 / WH

Central Bank. Namun hal ini bukan merupakan jaminan bahwa farinet tidak akan mengalami depresiasi dikemudian hari. Hal ini pernah dialami Argentina pada krisis keuangan 2001. Sebelumnya, peso berpatokan satu banding satu dengan dolar Amerika. Ketika terjadi krisis keuangan, nilai mata uang peso jatuh dan berbanding 1-4 dengan mata uang dolar Amerika. Untuk mengatasi hal ini, hal yang dapat dilakukan untuk mengkompensasi pemegang mata uang lokal pasak seperti farinet adalah dengan memasang interest rate yang lebih tinggi terhadap mata uang patokan, hal yang tidak diaplikasikan pada farinet. Masalah lain yang dapat dihadapi oleh farinet adalah kurangnya minat masyarakat untuk menggunakan mata uang farinet karena belum diterimanya farinet secara luas serta farinet tidak dapat ditukar kembali ke franc. Dalam mengatasi masalah ini, pemerintah dapat menerapkan kebijakan yang dilakukan Tiongkok hingga tahun 1994. Pada masa tersebut pemerintah Tiongkok menetapkan kewajiban bagi turis untuk menggunakan Chinese Foreign Exchange Certificate yang bernilai lebih tinggi dari mata uang patokannya. Selain itu dapat juga dibentuk toko khusus yang hanya menerima farinet sebagai alat tukar. Hal ini akan mendorong farinet menjadi eksklusif dan dicari oleh masyarakat meskipun tetap terdapat resiko toko tersebut tidak dapat menjual apapun kepada masyarakat yang tidak memegang farinet. Hal yang kemudian menjadi pertanyaan apakah farinet betul-betul dibutuhkan oleh masyarakat? (VCI)


NEWS

HUBUNGAN DIPLOMATIK INDIA-KOREA UTARA: REX TILLERSON BERIKAN TANGGAPAN

K

eputusan India untuk tidak menutup hubungan diplomatik dengan Korea Utara dianggap sebagai sebuah langkah untuk tetap membuka saluran komunikasi dengan negara komunis tersebut. Hal ini disampaikan oleh Menteri Luar Negeri Amerika Serikat, Rex Tillerson pada hari Kamis (26/10/2017). Dalam perjalanan kembali dari kunjungannya ke India dan Pakistan, Tillerson dimintai keterangan terkait dengan penolakan India untuk menutup kedutaannya di Pyongyang. Tillerson mengungkapkan bahwa keputusan India tersebut dilandasi atas pentingnya keberadaan kedutaan India sebagai jalan untuk berkomunikasi dengan Korea Utara. Tillerson juga menambahkan bahwa dirinya harus dan sangat setuju dengan keputusan yang diambil oleh India. Dalam pertemuan dengan Menteri Urusan Luar Negeri India, Sushma Swaraj, kedua belah pihak sempat membahas mengenai hubungan antara India dengan Korea Utara. Menurut Swaraj, India memiliki hubungan dagang yang ‘minim’ dengan Korea Utara. Hubungan dagang antara India dan Korea Utara mengalami penurunan dari USD 130 juta menjadi USD 10,95 juta dalam kurun waktu 2016-2017. Bahkan pada bulan April, India menutup semua hubungan perdagangan dengan Korea Utara, kecuali makanan dan obat-obatan, sesuai dengan sanksi PBB. Hal inilah yang kemudian mendorong India untuk tetap menjalin komunikasi dengan Korea Utara.

Ketegangan antara Amerika Serikat dan Korea Utara semakin meningkat, terutama setelah Pyongyang melakukan uji coba senjata nuklir dan rudal yang mampu mencapai wilayah Amerika Serikat. Pemimpin Korea Utara, Kim Jong-Un secara langsung telah mengancam Amerika Serikat dan Presiden Donald Trump berjanji akan melakukan pembalasan. Dengan segera, Amerika Serikat memberi ultimatum bagi setiap negara yang mempunyai hubungan dagang dengan Korea Utara. Keputusan ini dipertegas oleh Menteri Keuangan Amerika Serikat, Steven Mnuchin yang berucap, “Saya memiliki perintah eksekutif yang telah disiapkan. Perintah ini akan memberikan wewenang untuk menghentikan mereka yang melakukan perdagangan dan memberikan sanksi kepada siapapun yang terus melakukan perdagangan dengan Korea Utara,” Akan tetapi, ultimatum yang dikeluarkan oleh Amerika Serikat justru melahirkan tanggapan yang bertolak belakang dengan pemikiran Swaraj. Swaraj menyampaikan kepada Tillerson bahwa seharusnya beberapa negara sahabat tetap menjaga kedutaan mereka di Pyongyang agar saluran komunikasi tetap terbuka. Pemikiran Swaraj tersebut mendapatkan dukungan dari Tillerson lewat pernyataan yang diberikannya di depan media. Bahkan pernyataan Tillerson dapat dianggap kepentingan AS di India. (JDA)

sebagai

cerminan

WH / 5


NEWS

SINGAPURA SEBAGAI PEMILIK PASPOR TERKUAT DI DUNIA

S

ingapura merupakan negara dengan paspor terkuat di dunia, berdasarkan laporan Passport Index terbaru. Pencapaian tersebut terjadi setelah Paraguay memutuskan untuk membebaskan pemegang paspor negara Asia Tenggara tersebut dari visa, pada Selasa (24/10/2017. Hal ini berarti pemegang paspor Singapura dapat berpergian secara bebas ke 159 negara di dunia, tanpa harus memiliki visa atau akan mendapatkan visa sesaat setelah mencapai negara destinasi. Menurut Arcon Capital, perusahaan konsultan yang merilis Passport Index, kekuatan paspor Amerika Serikat telah berkurang semenjak Donald Trump menjabat sebagai presiden. Turki dan Afrika Tengah merupakan negara yang belum lama ini menghapus status bebas visa bagi para pemegang paspor AS. Berbeda dengan pemegang paspor AS, pemegang paspor Singapura tidak memerlukan visa untuk mendatangi negara seperti Brazil, Kuba, dan Republik Rakyat Tiongkok. Hal ini terjadi berkat keberhasilan praktik diplomasi yang dilakukan pemerintah Singapura dengan berbagai negara di dunia. Menurut Armand Arton, presiden Arton Capital, kebebasan visa menawarkan kesempatan dan keamanan lebih pada manusia, terutama bagi pejabat dan pebisnis yang memiliki nilai aset tinggi. Passport Index memberikan nilai sebagai acuan kekuatan paspor suatu negara berdasarkan kebebasan visa bagi pemegang paspor tersebut pada 193 negara anggota Perserikatan BangsaBangsa serta 6 wilayah seperti Taiwan, Kosovo, dan

6 / WH

Hong Kong. Negara-negara Eropa seringkali mengisi posisi teratas. Dalam 2 tahun terakhir Jerman menduduki peringkat pertama sebelum akhirnya tahun ini digeser oleh Singapura, diikuti oleh Swedia dan Korea Selatan di peringkat 3, serta Inggris dan Perancis di peringkat 4. Singapura telah mencetak sejarah baru sebagai negara Asia pertama yang menempati peringkat teratas pada indeks tersebut, di atas negara Asia lainnya yang berada di peringkat 10 besar seperti Jepang, Korea Selatan, dan Malaysia. Menurut direktur pelaksana Arton Capital Phillipe May, Singapura tidak terkunci dalam suatu zona perjalanan yang sama seperti negara ASEAN lainnya dan tidak pernah mengharuskan visa pada individu tertentu, hanya karena negara anggota ASEAN lainnya memiliki kebijakan yang sama. Saat ini, Indonesia berada di peringkat 63 bersama Tunisia dan Zambia, karena hanya 63 negara yang membebaskan visa bagi pemegang paspor Indonesia. Meskipun Indonesia membebaskan visa bagi 169 negara, Indonesia tidak dapat memaksa negara lain untuk membebaskan visa bagi pemegang paspor Indonesia. May juga mengatakan, “Negara kecil yang tidak menimbulkan ancaman bagi negara lain, serta negara dengan warga yang cerdas dan berpikiran terbuka, akan terus meningkatkan kekuatan paspornya, tentu saja didukung dengan pengimplementasian hukum yang tegas.� (YAR)


NEWS

ANTISIPASI AS DAN KORSEL HADAPI ANCAMAN NUKLIR KORUT

D

alam kunjungannya ke Seoul, Korea Selatan, pada hari Sabtu (28/10/2017), Menteri Pertahanan Amerika Serikat, James Mattis dan Ketua Dewan Kepala Staf Angkatan Bersenjata Amerika Serikat, Jenderal Joseph Dunford bertemu Presiden Korea Selatan, Moon Jae-in dan Menteri Pertahanan Korea Selatan, Song Youngmoo dalam Pertemuan Konsultasi Keamanan ke49 antara Korea Selatan dan Amerika Serikat yang digelar di Gedung Kementrian Pertahanan Korea Selatan. Pertemuan itu merupakan pertemuan keamanan yang diadakan untuk pertama kalinya sejak pelantikan Presiden Korea Selatan, Moon Jae-in dan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump. Dalam kesempatan ini, perwakilan AS berkunjung ke zona demiliterisasi atau Area Keamanan Bersama yang terletak di Desa Panmunjom di perbatasan antara Korea Utara dengan Korea Selatan. Mattis mengungkapkan perlunya kolaborasi militer dan diplomatik antara AS dengan Korea Selatan terutama karena meningkatnya ancaman dari Korea Utara yang terus menerus melakukan uji coba misil dan nuklir. “Ancaman Korea Utara kepada Korea Selatan dan dunia semakin nyata, terbukti melalui rudal dan senjata nuklirnya,” kata Mattis. ”Ancaman yang dilakukan oleh Korea Utara sebenarnya tidak diperlukan. Amerika tidak akan pernah menerima senjata nuklir Korea Utara.” Terkait dengan uji coba senjata nuklir dan rudal yang diluncurkan oleh Korea Utara terhadap Jepang bulan lalu, Amerika Serikat dan PBB menetapkan

sanksi baru kepada Korea Utara. Meskipun pada awalnya memilih jalur diplomatik, Presiden Trump menegaskan tanggung jawab AS dalam membela sekutunya. “Serangan terhadap Amerika Serikat dan sekutunya akan mendapatkan respons militer secara keras. Korea Utara tidak dapat bermain-main dalam hal ini,” jelas Mattis. Mattis bersama Song mendiskusikan berbagai topik diantaranya pencarian kemampuan militer baru dan pertahanan pasukan militer Korea Selatan berupa, pengalihan hak operasional militer masa perang, pengaturan kapal selam nuklir, serta tindakan lanjut setelah kedua pemimpin sepakat untuk mencabut batasan berat hulu ledak misil pasukan Korea Selatan pada bulan September lalu. Sementara itu, penggunaan kembali senjata nuklir taktis oleh AS kepada Korea Utara sejak terakhir kali diluncurkan pada akhir Perang Dingin tidak disinggung. Selain Mattis, Presiden Trump juga akan melakukan kunjungan pertamanya ke Asia selama 12 hari ke 5 negara dimulai pada 12 November 2017. Banyak pihak menduga bahwa kunjungan Trump akan didominasi oleh tuntutan Trump kepada Korea Utara untuk meninggalkan ambisi negara tersebut untuk menggunakan senjata nuklir. Namun, dalam sebuah konferensi pers di South Lawn, Gedung Putih, pada Rabu (25/10/2017), Trump menolak menjawab apakah ia akan mengunjungi Zona Demiliterisasi (DMZ) di Semenanjung Korea. (HR)

WH / 7


SPECIAL REPORT

SCHOLARSHIP EXPO 2017

“J

angan berdoa supaya hujan itu reda, tapi berdoalah agar payung kita semakin kuat.” Begitulah salah satu kutipan yang menginspirasi dalam rangkaian acara Scholarship Expo tahun ini. Tak hanya bertujuan untuk mengedukasi, Scholarship Expo juga ingin memotivasi para mahasiswa yang ingin mencari beasiswa. Khawatir dengan berbagai fenomena di ranah edukasi saat ini, Kementerian Advokasi dan Kesejahteraan Mahasiswa BEM Kema FEB Unpad mengadakan Scholarship Expo pada Selasa (31/10/2017) dan bertempat di wilayah Bale Sartika, Unpad Jatinangor. Scholarship Expo merupakan wadah bagi mahasiswa untuk mengetahui berbagai informasi mengenai beasiswa baik di dalam maupun luar negeri dan difokuskan untuk mahasiswamahasiswa perguruan tinggi negeri maupun swasta yang berada di wilayah Jatinangor dan sekitarnya. Scholarship Expo terdiri dari 3 mata acara yaitu seminar, talk show, dan expo. Seminar dilaksanakan dalam rangka menghadirkan narasumber dari panitia seleksi beasiswa yang kemudian dapat membagikan pengetahuan mengenai berbagai program beasiswa serta proses seleksi kepada para peserta. Talk show dilaksanakan terutama untuk memberikan motivasi, inspirasi, serta gambaran mengenai kehidupan peraih beasiswa melalui narasumber yang merupakan mahasiswa berprestasi yang tengah atau pernah menerima beasiswa. Sedangkan expo diadakan untuk memberikan akses kepada mahasiswa untuk mendaftar dan mencari informasi mengenai beasiswa. Dengan demikian Scholarship Expo 2017 dapat memberikan pembekalan dan kiat-

8 / WH

kiat bagaimana meningkatkan kualitas dan mengasah kemampuan serta strategi untuk meraih beasiswa. Tahun ini expo dimeriahkan oleh beberapa lembaga beasiswa seperti IDP Education, MONBUKAGAKUSHO, PT. Internasional Test Center, Sister Company, Rumah Kepemimpinan, Beastudi Etos Bandung, dan MRU Foundation. Melalui expo ini, mahasiswa dan peserta yang datang dapat berkeliling dan bertanya mengenai berbagai jenis beasiswa yang ditawarkan termasuk mengenai beasiswa S2 yang banyak dicari oleh mahasiswa S1 yang ingin melanjutkan studinya ke jenjang yang lebih tinggi. Scholarship expo mendatangkan Dian Masyita, Head of Study Islamic Economics Padjadjaran University dan Reviewer LPDP serta Abellia Anggi Wardhani, Awardee of Indonesian Endowment Fund for Education (LPDP) dan PK 28 Awardee of 10 Other International Scholarship Programs Junior Lecturer of University of Indonesia. Peserta berkesempatan untuk mendapatkan kiat-kiat untuk menghadapi berbagai tahap dalam proses untuk mendapatkan beasiswa. “Scholarship expo merupakan peluang bagi mahasiswa untuk mendapatkan berbagai informasi mengenai beasiswa. Tidak hanya mengenai prasyarat untuk mendapatkan beasiswa, scholarship expo juga dapat menginspirasi mahasiswa yang tengah mencari beasiswa. Terutama dalam sesi Kak Abel, beliau bercerita bahwa semua orang dapat berpendikan tinggi dengan gratis apabila dia mau berusaha keras.” tutur Sofi, panitia acara Scholarship Expo.


WH FEATURE: PEOPLE OF COLOR


FEATURE

SI PENSIL WARNA PUTIH DI KAMPUS JINGGA

T

aman FISIP terasa lebih hangat kala itu. Seperti kakak-beradik kandung, mesra melekat erat pada dua raga yang dengan suka membagi sepenggal cerita mereka. Mereka adalah Dorthea Wabiser dan Grasiana Novalia Siep: dua mahasiswa HI Unpar yang berasal dari Jayapura, Papua. Selagi duduk di bangku taman dekat satusatunya pohon di sana, mereka yang kerap disapa Defe dan Ana panjang-lebar mendeskripsikan seberapa lezat Bandung yang telah mereka cicipi semenjak pindah dari

10 / WH

Papua. Mungkin memang tidak ada pahit atau manis yang mutlak sebagai kesimpulan, hanya saja, perbedaan antara dua tempat tinggal ini sanggup untuk meyajikan serangkaian kisah terkait usaha keduanya dalam menyesuaikan diri. Ada peribahasa yang mengatakan, �Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung.� Betapa makna yang dikandungnya esensial terhadap konteks yang dihadapi Defe dan Ana. Sayangnya, ini menjadi ironis ketika apa


FEATURE yang terjadi di lapangan malah berbanding terbalik. Defe bercerita bagaimana masih banyak pertanyaan-pertanyaan klasik yang dilontarkan oleh orang sekitar. Sebut saja pertanyaan seputar keadaan masyarakat di Papua saat ini yang dipicu oleh stigma “terbelakang” yang terpatri pada tubuh mereka. Di awal kuliah, ia bahkan ditanya apakah masyarakat Papua sudah tinggal di rumah yang layak atau belum. Kendati sejatinya perbedaan tidak bisa disangkal, pengalaman keduanya seolah menorehkan tanya yang retoris. Apa dunia luar akan terus-terusan memberi warna dan menolak diwarnai? Lagipula, di Papua, orangorang juga sering melihat berita tentang daerah luar itu seperti apa. Ditambah lagi pluralitas dalam masyarakat Papua yang membuat mereka lebih sadar akan apa yang terjadi di luar sana. “Ketika menapakkan kaki di Bandung, kita sudah harus bisa menyesuaikan logat, aksen, serta bahasa. Kita beradaptasi dengan baik. Tetapi masih saja dilihat beda.” jelas Ana.

kekeluargaan yang kental itu. Kamapar didirikan supaya anak-anak Papua yang merasa sendirian saat datang ke Bandung tidak merasa sepi karena ada keluarganya juga ada di sini. Perbedaan sebenarnya tidak melulu soal batas. Itu hanya akan menjadi rumit ketika yang dibahas mencakup ini atau itu yang tidak sama. Apalagi ketika ada setetes kecil kesamaan di antaranya. Ibarat pensil warna putih yang selalu diabaikan eksistensinya karena dianggap minim berkontribusi. Tapi adakah justru sambut keterlibatan dalam memberi warna itu yang kurang? Adakah itu yang tersemat pada Papua? Seandainya saja bukan. Kita sadar, Papua tetap Indonesia. Satu identitas, satu warna. (EME)

Dalam skala yang lebih sempit, rangkulan HI Unpar benar terasa lebih akrab dengan keduanya. “Ada teman-teman yang berusaha mengerti. Mereka bahkan membiarkan saya jika berbicara dengan logat asli Papua.” tutur Defe. Ini sangat membantu. Sangat membantu ketika ruang gerak minoritas tidak dibatasi, mengingat Defe dan Ana berbicara merepresentasikan anak-anak Papua lainnya. Selain itu, kehadiran satu sama lain juga merupakan dukungan bagi mereka–semacam keluarga. Di Papua, tingkat kekeluargaan itu tinggi. Defe dan Ana baru saling mengenal sejak berkuliah di Unpar, tapi keduanya sudah seperti saudara kandung. Contoh lainnya, adanya Keluarga Mahasiswa Papua Unpar (Kamapar) juga membuktikan rasa

WH / 11


FEATURE

Tanpa disadari, hingga saat ini kita seringkali masih terjebak dalam isu rasial. Mungkin bukan lagi diskriminasi lewat cara pengekangan atau kekerasan. Namun, kita secara tidak langsung mendiskreditkan kelompok tertentu lewat stereotip-stereotip yang kita ciptakan sebagai suatu kondisi ideal di tengah masyarakat. Setidaknya kondisi itulah yang digambarkan oleh kebanyakan iklan tentang “cantik” yang ideal dan “cantik” yang seharusnya. Iklan Dove untuk kampanye produk bodywash terbarunya pada jejaring Facebook, misalnya. Dalam iklan tersebut, digambarkan seorang model keturunan Nigeria yang terus berganti pakaian dari warna gelap menuju terang seiring menggunakan produk tersebut. Tak lama setelah iklan tersebut diunggah,

12 / WH

publik langsung melayangkan tuntutan agar iklan itu diturunkan karena dianggap mengandung unsur rasisme. Jika dilihat dari sudut pandang pihak produksi, iklan tersebut semata-mata dibuat untuk mempromosikan keunggulan produk terbarunya yang bisa memutihkan kulit dalam waktu sekejap. Sekali lagi, tanpa niatan untuk menetapkan kulit putih sebagai standar kecantikan. Namun tetap saja, publik merasa keberatan karena iklan tersebut dianggap menyinggung kelompok ras berkulit gelap lewat transformasi warna baju (yang menggambarkan warna kulit) yang disajikan. Sebenarnya permasalahan iklan di atas menggambarkan bahwa hingga saat ini publik masih sangat sensitif tentang isu rasial di tengah masyarakat. Tak sedikit, antarkelompok saling menutup diri agar tidak bersinggungan dengan kelompok lain yang berbeda dengan mereka. Sikap eksklusif inilah yang berpotensi menciptakan perpecahan dan membuat jarak di antara mereka semakin sulit untuk dipersatukan. Namun, apa yang sudah terjadi biarkanlah menjadi kenangan dan pelajaran. Kini yang terpenting adalah

mashable.com

C

antik. Setiap orang memiliki cara berbeda untuk mendefinisikan “cantik” di mata mereka. Entah sebagai perempuan berkulit putih, berambut lurus dengan kaki jenjang dan badan tinggi-kurus semampai. Atau mungkin sebagai perempuan berkulit eksotis dengan rambut bergelombang dan badan sedikit berisi. Namun, bagaimana jika kita bukan keduanya?


FEATURE menanggapi isu rasial tersebut. Berangkat dari kesadaran akan pluralitas, kita perlu lebih berhati-hati dalam melahirkan stereotip-stereotip yang dapat menyinggung golongan tertentu. Sebab stereotip yang berangsur-angsur disebarkan dan digeneralisasikan dapat membentuk paradigma yang salah di tengah masyarakat, seperti konsep cantik yang telah dibahas sebelumnya. Pada akhirnya, berakhir atau tidaknya isu rasial ada di tangan kita. Tak ada konsep ideal, jika stereotip tidak pernah lahir. Tak ada konsep superior, jika kita semua merasa sama tanpa ada faktor pembeda. Seperti kata Nelson Mandela, jika kita bisa belajar untuk membenci maka kita pun bisa belajar untuk mencintai satu sama lain. (FMS)

TERJEBAK DALAM KONSEPSI

IDEAL WH / 13


FEATURE

APPRECIATING DIVERSITY THROUGH RIHANNA’S INNOVATION OF BEAUTY

14 / WH


FEATURE

M

ake up. Sebuah kata yang menjadi standar kecantikan bagi semua wanita di dunia ini. Tidak sedikit wanita yang mengaku menggunakan kosmetik karena ingin terlihat lebih menarik atau agar merasa lebih percaya diri. Salah satu produk yang penting dalam dunia make up adalah foundation. Foundation atau alas bedak biasanya digunakan untuk mendapatkan hasil akhir riasan yang flawless. Bagi kebanyakan wanita, mencari warna foundation yang sama dengan warna kulitnya sangatlah sulit, terlebih bagi wanita dengan warna kulit yang sangat gelap atau bagi mereka yang berkulit sangat pucat. Siapa yang akan menyangka, Rihanna, seorang penyanyi sekaligus aktris ini akhirnya meluncurkan produk kecantikannya sendiri. Meski sudah banyak artis yang meluncurkan lini produk kecantikannya sendiri seperti Kylie Jenner, produk kecantikan Rihanna ini sangat berbeda dari semua produk kecantikan lainnya dan bisa saja mengubah industri kecantikan untuk kedepannya. Fenty Beauty merupakan lini produk kecantikan yang sudah Rihanna kembangkan selama kurang lebih dua tahun. Setelah mengalami berbagai percobaan, Rihanna akhirnya memperkenalkan Fenty Beauty kepada dunia pada musim gugur 2017. Produk yang paling ditunggu-tunggu dari Fenty Beauty adalah foundation-nya. Tahun

ini mungkin saja menjadi tahun yang sangat membahagiakan bagi para wanita dengan pigmen yang berbeda dari ras kaukasia. Pasalnya, Rihanna dengan bangga meluncurkan 40 shades foundation dengan warna yang sangat beragam untuk semua warna kulit. Saat ditanya alasannya, Rihanna menuturkan bahwa semua wanita di dunia harus disertakan, semua wanita dengan warna kulit yang sangat beragam mulai dari kulit pucat sampai dengan kulit yang sangat gelap. Banyak sekali wanita dengan kulit yang sangat gelap dan yang berkulit pucat membagikan reaksi positifnya terhadap Fenty Beauty, karena tidak banyak merek kosmetik yang berani untuk meluncurkan foundation dengan shades yang beragam. Tidak hanya itu, dalam kampanye untuk mempromosikan produk kecantikannya pun Rihanna menggunakan keberagaman ras dalam model-modelnya. Hal ini menjadi sesuatu yang sangat penting untuk diperbincangkan. Tak jarang kebanyakan label make up masih tergolong eksklusif, yaitu masih mementingkan beberapa golongan saja. Berbeda dengan Fenty Beauty, inklusivitas dan keberagaman adalah tujuan utamanya. Ditambah lagi keberhasilan Fenty Beauty memberikan pukulan keras bagi berbagai brand kecantikan lainnya, karena kebanyakan brand sering kali kurang merepresentasikan people of color. (YJR)

WH / 15


FEATURE

A

BATAS DISKRIMINASI ANTARA PUTIH DAN WARNA

da sebuah batas yang memisahkan antara kata “putih” dan “warna”. Pada dasarnya, putih adalah warna. Tapi terkadang tidak sedikit yang cenderung memisahkan kedua hal tersebut menjadi konsep yang berbeda. Pemisahan itu telah terjadi sejak akhir tahun 1800an yang dilakukan oleh para kolonialisme dari bangsa Barat atau “kulit putih”. Mereka melakukan ekspedisi penjelajahan ke belahan bumi yang lain untuk maksud tertentu, khususnya pengetahuan. Namun, penjelajahan tersebut berkamuflase menjadi suatu bentuk penjajahan atas masyarakat di belahan bumi lainnya yang juga disebut dengan masyarakat “primitif dan eksotis”. Bangsa Barat menganggap bahwa diri mereka lebih baik daripada kelompok etnis yang mereka temukan. Kolonialisme dan imperialisme itu semakin menguat sehingga memunculkan fenomena diskriminasi Human Zoo atau Pergelaran Manusia. Bangsa Barat membawa kelompok primitif yang mereka temukan untuk ditampilkan di wilayah mereka seperti di Paris, Berlin, London, Brussels bahkan hingga ke New York dan wilayah lain di benua Amerika. Pergelaran ini dimaksudkan untuk keperluan hiburan, ilmu pengetahuan, hingga perdagangan internasional. Sebagian kelompok etnis tersebut hidup dan tinggal di dalam sebuah kandang yang berpagar seolah-olah mereka adalah kawanan binatang buas. Kulit putih memandang mereka lebih rendah daripada manusia, selayaknya sedang menonton atraksi di kebun binatang.

16 / WH

Martabat dan hak kelompok primitif dirampas begitu saja tanpa sepengetahuan mereka. Tak ada kata lain yang dapat menggambarkan fenomena tersebut selain sebagai sebuah peristiwa sejarah yang lebih dari kata tragis dan mengerikan. Namun kemanusiaan memang tidak akan lari jauh dari maknanya. Beberapa tahun kemudian, sebagian besar Pergelaran Manusia diberhentikan oleh protes-protes terhadap aksi diskriminasi ini. Alasan lain juga dikarenakan adanya kemajuan teknologi dalam bidang perfilman yang jauh lebih menarik hati para kulit putih. Meskipun demikian, dampak dari diskriminasi ini tidak pernah lepas dari para korban, seperti Ota Benga, korban dari pergelaran manusia di St. Louis yang berasal dari Kongo, Afrika. Setelah ia terbebaskan dari jeruji diskriminasi ini, Ota menembak dirinya sendiri karena kehilangan rasa identitasnya. Batas diskriminasi dan rasisme di antara putih dan warna ini haruslah dihapuskan seperti jeda pada pagar di pergelaran manusia. Meskipun pergelaran manusia sudah tidak ada lagi, pandangan diskriminasi seperti itu tetap terbawa hingga sekarang. Tak hanya tentang warna kulit, perbedaan kebudayaan dari sisi etnis, ras, gender, hingga agama yang ada di dalam masyarakat haruslah selalu kita hormati. Karena putih sama dengan warna, dan kamu sama dengan kami. (SN)


FEATURE

TAIWANESE ABORIGINE:

PENDUDUK ASLI TAIWAN DI ERA MODERN DAN DEMOKRASI OLEH : RUFAIDA NURUL VICRI

A

pakah yang terlintas dalam benakmu ketika mendengar kata ‘Bangsa Taiwan’? Hmm… mayoritas dari kalian pasti memikirkan orang-orang di Tiongkok yang berkulit kuning langsat, bermata sipit, dan berambut hitam lurus. Namun tahukah kalian bahwa Taiwan, yang memiliki julukan Negara Sunyi, juga memiliki masyarakat pribumi yang memiliki karakteristik fisik yang berbeda dari masyarakat Tiongkok dan Taiwan pada umumnya dan bahkan disebut-sebut sebagai nenek moyang bangsa kita? Mereka adalah Taiwanese Aborigines, penduduk asli Taiwan yang hidup di sana sejak 8.000 tahun yang lalu sampai kedatangan Suku Han secara masif pada abad ke-17. Sejak saat itu, mereka mulai melakukan proses asimilasi dan akulturasi dengan Suku Han. Fakta menarik menunjukkan bahwa sekitar 85% warga Taiwan kini memiliki darah pribumi akibat proses homogenisasi tersebut. Tercatat bahwa jumlah populasi penduduk asli Taiwan kini adalah sebanyak 530.000 orang dan terbagi dalam 16 suku berbeda yang telah diakui secara resmi oleh Pemerintah Taiwan dan Pemerintah Tiongkok. Asal usul suku pribumi Taiwan berasal dari rumpun bangsa Austronesia; suku-bangsa yang memiliki kedekatan bahasa dan genetik dengan orang-orang Filipina, Malaysia, negara-negara Oseania, dan Indonesia. Kebanyakan dari mereka memiliki karakteristik wajah bak orang-orang Melayu dengan kulit kecokelatan dan mata yang bulat dan besar. Tak heran bahwa banyak teori dan perdebatan bermunculan mengenai asal-usul nenek moyang Indonesia yang berasal dari Taiwan. Penduduk pribumi Taiwan merupakan sekelompok masyarakat yang integral dalam negara Tiongkok dan juga Taiwan sehingga keberadaan mereka tak bisa dikesampingkan begitu saja. Faktanya, mereka bahkan berjuang bersama rakyat Tiongkok lainnya dalam menyingkirkan dominasi Jepang di tanah mereka. Kendati demikian, suku pribumi kerap dihadapkan dengan masalah sosial, ekonomi, politik, sampai pendidikan yang tidak setara dengan ras mayoritas di Tiongkok. Kenyataannya, masyarakat berlatar belakang pribumi cenderung lebih sulit dalam mengakses pendidikan dan mendapat pekerjaan yang layak. Lebih parah lagi, mereka pun terancam kehilangan identitas budaya asli mereka yang disebabkan oleh proses asimilasi yang menyebabkan budaya mereka bercampur-baur sampai akhirnya menghilang. Namun, seiring dengan perkembangan zaman modern, HAM, dan mekarnya demokrasi di Taiwan, penduduk pribumi menjadi lebih mudah mengekspresikan identitas dan budaya mereka. Sejumlah seniman dan para atlet pribumi pun mulai meraih sukses di berbagai kontes ternama dan olimpiade di Taiwan. Seiring dengan demokratisasi, bukan hanya pribumi Taiwan yang berupaya keras untuk mencapai kesetaraan hak ekonomi dan politik untuk diri mereka. Warga Taiwan, terutama dari kalangan generasi muda, mulai menyadari akan pentingnya menjalin kebersamaan dengan penduduk pribumi dan berjuang bersama mereka untuk memberikan hak yang pantas diterima masyarakat pribumi, terlepas dari perbedaan rasial dan warna kulit mereka. Berbagai upaya yang telah dilakukan untuk mencapai misi tersebut ialah dengan pemanggilan orang-orang pribumi sebagai ‘orang-orang Taiwan’, promosi budaya serta hasil karya penduduk pribumi seperti CD musik dan kerajinan asli pribumi, sampai pembuatan film yang bertemakan sejarah pribumi Taiwan. Dengan demikian, semangat inklusivitas seharusnya ditanamkan dalam diri suatu bangsa terlepas dari perbedaan fisik antar individu maupun kelompok. Divisi terhadap people of color di era global dan demokrasi seharusnya tak lagi valid dalam membangun persatuan antar individu dan semangat kebersamaan untuk membangun bangsa, negara, dan dunia yang lebih baik.

WH / 17


FEATURE

“I am not a Chinese� Penggunaan kata Asian oleh banyak orang terutama yang berasal dari Barat telah menghasilkan interpretasi yang salah. Bagi orang-orang yang tinggal di Amerika Serikat, apa yang mereka maksud sebagai Asian adalah masyarakat Tiongkok. Pemakaian kata yang salah ini disebabkan oleh stereotip masyarakat Barat yang menganggap bahwa semua Asian adalah orang Tiongkok. Bangsa Asia diidentifikasikan memiliki kulit kuning, namun ketika membicarakan orang-orang yang memiliki kulit kuning, pada kenyataannya tidak hanya terbatas pada keturunan Tiongkok, namun juga pada ras lainnya. HENRY MULYANA

WH / 19


REGULAR CONTENT

20 / WH


REGULAR CONTENT

WH / 21


REGULAR CONTENT

MEMANGNYA WARNA KULITMU ITU ADA ARTINYA?

T

agline di atas bukanlah iklan merek perawatan kulit Bersih & Jernih. Kali ini, topik yang diangkat adalah diskriminasi. Diskriminasi sudah menjadi makanan sehari-hari mata manusia. Entah dirinya menjadi korban atau ia yang mendominasi. Apapun bentuknya, hal ini mengurangi harga diri seseorang. Seseorang tidak lagi memiliki jiwa yang utuh, ia terpecah karena ia sudah tidak lagi percaya eksistensi dirinya masih ada. Di lain kasus, ada pula pribadi yang menolak kalah dan melawan balik sehingga dapat meruntuhkan kultur negatif ini. Nah, di bawah ini ada empat film yang dapat memperjelas pandangan kawanWH atas masalah diskriminasi. Ayo cermati! (IKN)

1. FRUITVALE STATION BY RYAN COOGLER (2013) Film yang berdasarkan kisah nyata ini menceritakan kisah “cinta” klasik polisi dan penduduk kulit hitam di benua Amerika. Oscar Grant III adalah seorang kulit hitam sekaligus mantan napi yang berusaha untuk kembali ke kehidupan baiknya yang dulu sempat ditanggalkan. Oscar ditembak oleh seorang polisi di sebuah stasiun bernama Fruitvale, di malam tahun baru. Ironinya pada malam itu disaat mayoritas merayakan berkat bagi mereka, di sisi lain satu kelompok kehilangan anak, suami, teman, dan ayah dalam satu pribadi yang sama.

2. MOONLIGHT BY BARRY JENKINS (2016) Film ini menggambarkan apa jadinya seorang lelaki penyuka sesama jenis yang berada di dalam lingkungan kulit hitam yang keras dan terbilang “macho”. Moonlight membagi kisah hidupnya dalam tiga jenjang waktu, saat ia masih kecil, remaja, dan dewasa. Ia selalu menjadi bahan ejekan, ia mengalami kekerasan fisik karena orang melihat ia berbeda, dan, bagi mereka, menjadi berbeda itu buruk. Hingga akhirnya Chiron sampai di titik terendahnya. Jiwanya hancur, ia tak sanggup menerima kenyataan, ia membuang jauh-jauh jati dirinya, dan ia melawan keadaan tanpa memedulikan risiko.

24 / WH


REGULAR CONTENT

3. BEASTS OF NO NATION BY CARY FUKUNAGA (2015) Agu adalah seorang anak kecil yang terjebak sebuah perang di sebuah negara yang namanya tidak disebut, terletak di Afrika Barat. Ia dan keluarganya hidup miskin, hanya ayahnya yang bekerja untuk seluruh keluarga yang beranggotakan tujuh orang. Suatu hari datang berita perang akan sampai ke kotanya, hanya Agu dan sisa keluarganya yang laki-laki harus tinggal. Apa daya, pada akhirnya, bapak, kakek, dan kakak tertuanya meninggal ketika tentara negara mengira mereka pemberontak. Agu berhasil kabur dan ditemukan oleh salah satu komandan perang dari pihak pemberontak lalu ia pun direkrut. Hariharinya dilalui penuh dengan kekerasan, namun dari situ ia mulai berpikir bagaimana hidup memberinya pelajaran. Agu mengerti bagaimana hidup baru muncul dari kematian, ia pun dianiaya secara seksual dari pemimpin pasukannya, dan ia mengerti ia tidak akan bisa kembali hidup sebagai manusia. Terlalu muda, untuk merasakan darah disaat yang lain masih merasakan meja dan bangku.

4. FRIDA BY JULIE TAYMOR (2002) Penutup tulisan ini diwakilkan oleh film yang mengangkat kehidupan seorang perempuan bernama Frida Kahlo. Ia adalah seorang pelukis yang bebas dalam hidupnya menghadapi free world. Inspirasi dari setiap lukisannya adalah kehidupannya sendiri dan lukisannya adalah self-portrait. Ia pernah melukis dengan air matanya yang mencerminkan kesedihannya terhadap suaminya yang selingkuh. Dia adalah seorang biseksual padahal menurut masyarakat jaman itu seorang wanita tidak mudah mengubah orientasi seksualnya. Ia juga orang yang tidak memperdulikan gender. Frida adalah seorang yang luar biasa. Ia menyadari kekurangannya dan membuat sebuah kehidupan dan keindahan yang juga menjadi refleksi kritis terhadap orang yang melihatnya. Cara ia hidup adalah kritik untuk lingkungan di sekitarnya yang terkungkung, terlalu kolot, dan yang jarang berkaca di kamarnya.

WH / 25


REGULAR CONTENT

TRIVIA:TOP SITCOMS 90’s - 00’s

E

ra 90-an sampai awal 2000an selalu membawa nostalgia yang baik untuk kita. Salah satu hal yang tak bisa dipisahkan dari era ini adalah munculnya sitkom legendaris nan bermakna. Berikut paparan lima sitkom paling memorable ‘90 sampai awal 2000an untuk kawanWH! (IM)

1 2 3 4 5 26 / WH

Friends (1994) Casts: Jennifer Aniston, Courteney Cox, Lisa Kudrow, Matt LeBlanc Ross Geller, Rachel Green, Monica Geller, Joey Tribbiani, Chandler Bing, dan Phoebe Buffay yang tinggal di jantung kota New York dan menghidupi kehidupannya masing-masing di umur 20 sampai 30an. Perbedaan sifat tiap karakter, tantangan hidup di usia dewasa, dan kisah cinta yang terjalin di antara enam sekawan ini memberi warna tersendiri bagi sitkom ini. Lebih dari itu, Friends mengajarkan kita apa makna persahabatan. The Fresh Prince of Bel-Air (1990) Casts: Will Smith, James Avery, Alfonso Ribeiro, Tatyana Ali Kini Will Smith berperan sebagai anak yang biasa bergaul di jalanan dan tumbuh di Philadelphia. Akibat perkelahiannya di lapangan basket, ia dikirim untuk tinggal bersama pamannya yang mapan di Bel-Air. Hal ini memberi humorous clash antara Will dan keluarga pamannya yang biasa hidup dengan kelimpahan serta sense of glamour khas orang Bel-Air. How I Met Your Mother (2005) Casts: Josh Radnor, Jason Segel, Cobie Smulders, Neil Patrick Harris How I Met Your Mother mengambil kisah Ted Mosby yang bercerita kepada dua anaknya bagaimana ia bertemu dengan pasangan jiwanya. Serial ini sarat akan alur flashback masa lalunya yang penuh twist dan petualangan percintaan. That 70’s Show (1998) Casts: Topher Grace, Laura Prepon, Mila Kunis Masa-masa dimana bell-bottomed pants dan poster Farrah Fawcett adalah hal yang hip saat itu. That 70’s Show menceritakan hidup sederhana Eric Forman sebagai murid sekolah menengah atas dan kehidupannya bersama tetangga, pacar, dan kawankawannya. Perpaduan warna berbagai karakter di sitcom ini memberi Forman keberanian dan pengalaman untuk berkembang dari seorang geeky teenager menjadi individu dewasa. It’s Always Sunny in Philadelphia (2005) Casts: Charlie Day, Glenn Howerton, Rob McElhenney Lima sekawan dengan sikap arogannya masing-masing dan ego yang besar yang menjadi pemilik Irish Bar di Philadelphia. Hal ini membawa mereka kepada berbagai pengalaman hari-hari yang absurd nan ajaib!


R E V I E W S

REGULAR CONTENT

MOVIES AND BOOKS

D

aftar buku dan film pilihan bertema figur ras negroid dan aspek-aspek kehidupan mereka yang sungguh dinamis. Silakan disimak kalau-kalau Anda tergugah untuk menyaksikan sekaligus membacanya. (SA)

Babylon (1980)

(Cast: Brinsley Forde, Trevor Laird, Brian Bovell) Tak banyak yang tahu bahwa orang-orang keturunan Jamaika telah lama menetap di daratan Inggris sejak abad ke-19. Mereka memberikan banyak kontribusi yang masih bertahan hingga kini dengan mengawinkan berbagai budaya hingga lahirlah karakteristik kelompok etnis yang unik. Bila Anda cukup akrab dengan beberapa lagu hip-hop asal Inggris, niscaya telinga Anda akan mengenali aksen dan bahasa mereka yang khas. Namun bagi yang belum, kami sarankan Anda untuk menonton Babylon untuk memulai. Mengambil suasana jalanan kota London selatan tahun 1980, film ini berhasil mengumpulkan cuplikan terbaik dari berbagai isu yang sering dihadapi oleh orang-orang Jamaika seperti rasisme dan praktik Rastafarian. Menceritakan kisah seorang seniman reggae bernama Blue (diperankan oleh Brinsley Forde) yang dulunya adalah seorang mekanik, dan menjadi frustasi ketika ia merasa diperlakukan tidak adil oleh bosnya. Satu per satu lembar hidup Blue berubah, mulai dari kesuksesan Blue dalam meramu lagu reggae, hingga keterlibatannya dalam berbagai kejahatan kriminal. Disajikan dengan narasi yang begitu menggugah dan akting yang menarik.

The Motorcycle Diaries (2004)

(Cast: Gael Garcia Bernal, Rodrigo de lar Serna, Mercedes Moran) Jasad Che Guevara boleh terbujur kaku di tanah, tetapi tidak dengan jasajasanya yang abadi. Dikenang sebagai pejuang yang rendah hati dan berani untuk berkorban bagi rakyatnya, sosoknya tetap hidup di lubuk hati para pendukung Guevara. Hal itu pula yang menjadi latar belakang atas film berjudul The Motorcycle Diaries berdasarkan memoar Guevara dari judul yang sama. Film yang bertipe roadmovie dan coming-of-age ini mengisahkan perjalanan Guevara muda dan sahabat karibnya, Alberto Granado, yang memutuskan untuk meninggalkan Buenos Aires dan berkelana di Amerika Selatan. Rupanya jalanan menyajikan berbagai macam kisah hidup yang tak pernah disaksikannya secara langsung, yang utamanya adalah kemiskinan rakyat yang tak pernah tuntas. Mungkin akan terlihat cukup informatif bagi orang-orang yang tak pernah mengetahui masa muda dari Guevara. Jangan berpaling dari film ini karena setiap scene-nya menyimpan pesan bernada rendah hati, dikemas dalam cara yang mengharukan.

A Fine Balance (written by Rohinton Misry)

Misry menggunakan empat orang tokoh dari berbagai latar belakang yang berbeda sebagai perantara ide tulisan: Dina, Ishvar, Om dan Maneck. Sekilas buku ini mengingatkan saya pada And the Mountains Echoed karya Khaled Hosseini (penulis bestseller The Kite Runner) karena sudut pandang yang dipakai tidak berfokus di satu orang saja namun saling berhubungan, membuat A Fine Balance pun tak jauh berbeda. Mengambil latar waktu pada masa pemerintahan Indira Gandhi di tahun 1975-1977 (dikenal sebagai periode ‘The Emergency’), Misry mendeskripsikan efek dari keputusan Gandhi yang dirasakan oleh masyarakat India saat itu.

The Round House (written by Louise Erdrich)

Karya-karya Erdrich dikenal sebagai representasi dari ketertarikannya untuk mengeksplor budaya native America, seiring dengan darah Erdrich yang mengalir dari suku Chippewa Indian. Kali ini ia mencoba untuk mengungkap sisi lain dari sistem peradilan dari Amerika Serikat yang minim rasa keadilan pada orang-orang asli Amerika. Berujung pada kritik terhadap kemunafikan hukum Amerika yang gagal melindungi segenap rakyat asli Amerika dan hak-haknya, terutama para perempuan.

WH / 27


REGULAR CONTENT

Sudah cek laman Spotify WH belum?

Kalau belum, ayo dicek!!

RAINY DAYS Who would have thought the sound of the pouring rain goes well with some melancholy guitar strums? (HI)

ROMANSA SECANGKIR TAWA Manis-pahit obrolan kopi yang membawa dirimu pergi ke langit petang. (IKN)

I’LL THINK ABOUT IT Hearts don’t break, they bend. They say. (IM)

CAMPUR SARI Mungkin bukan favoritmu, tapi hendaklah dicoba. (SA)

28 / WH

JUKEBOX

3 Rounds and a Sound (Blind Pilot) (3 Rounds and a Sound) (2008)

Re: Stacks (Bon Iver) (For Emma, Forever Ago) (2007)

Fire Escape (Foster The People) (Supermodel) (2014)

The Truest Stars We Know (Iron & Wine) (Beast Epic) (2017)

What You Won’t Do For Love (Bobby Caldwell) (Bobby Caldwell) (1978)

Kissing A Fool (Michael Bublé) (Michael Bublé) (2003)

Kiss of Life (Sade) (Love Deluxe) (1992)

Don’t Let Me Be Lonely Tonight (Boney James) (Send One Your Love) (2009)

Love Foolosophy (Jamiroquai) (A Funk Odyssey) (2001)

So Right (Music For Sale) (Daydream) (2010)

Cigarettes Daydream (Cage The Elephant) (Melophobia) (2013)

Stop Crying Your Heart Out (Oasis) (Heathen Chemistry) (2002)

A Good Night’s Sleep and A Cab Fare Home (The Strypes) (Little Victories) (2015)

Just The Thrill (Molotov Jukebox) (Ttropical Gypsy) (2016)

Chasing Your Shadow (Ikkubaru) (Amusement Park) (2014)

Blue Song (Mint Royale) (Dancehall Places) (2003)

Gale Song (The Lumineers) (Cleopatra) (2016)

Your Song (Al Jarreau) (Tenderness) (1994)

Elastic Heart (Reality Club) (Never Get Better) (2017)

From Nowhere (Dan Croll) (Sweet Disarray) (2014)


COMING SOON

MEDIA VISIT 2018!

THIS COULD BE YOURS! ADVERTISED THROUGH

whimahi@gmail.com OR

LINE@: @bxi1173b


Turn static files into dynamic content formats.

Create a flipbook
People of Color - November 2017 by Warta Himahi - Issuu