PRA DESIGN
PELATARAN KOMPLEKS ISTANA DATU SOPPENG
Kompleks Istana yang dibangun pada tahun 1261 M berlokasi di jantung Kota Soppeng, berhadapan dengan Villa Yuliana. Kota Soppeng pada masa lalu merupakan bekas Kota Kerajaan yang memiliki kekuasaan cukup luas. Komplek ini dahulu dibangun oleh I Latemmamala yang bergelar Petta Bakkae. Di komplek ini terdapat sejumlah bangunan, diantaranya : Rumah Kuning (Bola Ridie), yang merupakan tempat penyimpanan benda-benda atribut Kerajaan Soppeng; SalassaE, yaitu bekas Istana Datu Soppeng; dan Menhir Latammapole, yaitu tempat melaksanakan hukuman bagi pelanggar adat.
KOMPLEKS ISTANA DATU SOPPENG
LOKASI BERADA DI JANTUNG KOTA WATANSOPPENG BERHADAPAN DENGAN VILLA YULIANA. DIANTARA BANGUNAN TERSEBUT TERDAPAT BATU PELANTIKAN RAJA SOPPENG YANG DINAMAKAN LAMUMPATUE
Menurut salah satu artikel Kompleks Istana Datu Soppeng juga dikenal dengan nama “Laleng Benteng” (dalam benteng) yang artinya sebuah kawasan kerajaan yang berada di dalam benteng sebagai pertahanan.
EXISTING
Perencanaan hanya berfokus pada depan pagar (pelataran) Salassa’e (bekas Istana Datu Soppeng)
Perencanaan pelataran depan Salassa’e menghadirkan kembali benteng kawasan kerajaan Datu Soppeng dengan menggunakan pahatan batu cadas yang berbentuk benteng pada dinding pelataran. Penambahan tulisan “KOMPLEKS ISTANA DATU SOPPENG” lebih mempertegas lokasi ikon cagar budaya tersebut.
PERENCANAAN
ADDENENG
Addeneng, yang terdiri dari : 1. Addeneng yang mempunyai ibu tangga tiga buah, khusus untuk Pabbicara, pembantu raja, Arung Lili’ dan pejabat-pejabat negeri dan golongan bangsawan. 2. Addeneng yang mempunyai ibu tangga dua buah, khusus untuk rakyat biasa.
Pada pelataran menggunakan (Addeneng) tangga mirip rumah panggung dengan dua tingkatan (seperti halnya Sao Raja) dan mempunyai tiga Induk Tangga (Balok Utama) dan anak tangga yang berjumlah ganjil. Tangga menggunakan material beton dan diďŹ nishing menyerupai warna kayu.
Walasuji berasal dari kata WALA yang artinya pemisah/pagar/penjaga dan SUJI yang berarti PUTRI /ANAK DARA/WELAMPELANG. Walasuji adalah sejenis pagar bambu dalam acara ritual yang berbentuk belah ketupat. Sulapa’ Eppa (empat sisi) adalah bentuk mistis kepercayaan Bugis klasik yang menyimbolkan susunan semesta, yakni api, angin, air, dan tanah . Demikian pula arah mata angin, yakni Timur, Barat, Utara, dan Selatan. Selanjutnya unsur pembentuk manusia itu sendiri, yakni api, air, angin, dan tanah.
WALASUJI
Penggunaan WALASUJI ini sebagai penghalang pada area pelataran, dengan menggunakan pipa besi Ǿ 2,5’’ sebagai pengganti material bambu, dan besi strip yang dianyam model 4 persegi. Tiang utama WALASUJI menggunakan material beton dengan finishing keramik motif kayu.
PERENCANAAN
EXISTING