Hunian Nelayan Danau Tempe
i
Hunian Nelayan Danau Tempe
Faris jumawan
HUNIAN NELAYAN DANAU TEMPE Kabupaten Soppeng
ii
Hunian Nelayan Danau Tempe
HUNIAN NELAYAN DANAU TEMPE Kabupaten Soppeng Penulis
: Faris jumawan
Penyunting
: Tahang, Meldayati Artayani.
Desain Sampul
: Sri Wulandari
Tata Letak
: Faris jumawan
Penerbit
: Celebes Media Perkasa
ISBN
: 978-602-61517-6-6
Produksi oleh Studio Arsitektur Universitas Fajar Makassar
iii
Hunian Nelayan Danau Tempe
KATA PENGANTAR Dengan memanjatkan puji syukur kehadirat Allah SWT, yang senantiasa melimpahkan rakhmar dan hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan penelitian ini dengan baik. Adapun gagasan yang melatari tajuk permasalahan ini, timbul dari kondisi permukiman di daerah perairan dan pesisir Danau Tempe Kabupaten Soppeng. Bahkan, penulis menjumpai beberapa keunikan dan karakter hunian nelayan yang berada pada tiga zona yang berbeda (darat, rawa-rawa, dan perairan). Fenomena inilah yang menjadi latar belakang penulisan. Secara spesifik, buku ini mengkaji hunian nelayan Danau Tempe di Kelurahan Limpomajang Kecamatan Marioriawa Kabupaten Soppeng. Namun demikian banyak kendala yang telah dihadapi oleh penulis dalam rangka penyusunan buku ini, dan berkat bantuan berbagai pihaklah, maka penulisan buku ini dapat terselesaikan. Dalam kesempatan ini penulis dengan tulus menyampaikan terima kasih kepada Ayahanda H. Fajar Usman dan Ibunda Hj. Tisnawati, yang senantiasa mendoakan penulis, tak lupa juga buat adik-adikku Risna Rafika Muthia, Fina Ramadhani dan Vino Hissyam serta istriku yang tercinta Sri Wulandari, atas dukungan dan motivasinya selama penulisan buku ini. Dan akhirnya penulis ucapkan terima kasih kepada semua pihak yang penulis tidak dapat penulis sebutkan satu per satu yang telah banyak membantu dan mendoakan penulis dalam menyelesaikan buku ini. Makassar,
Mei 2017
Faris Jumawan
iv
Hunian Nelayan Danau Tempe
DAFTAR ISI Kata Pengantar Daftar isi Daftar tabel Daftar gambar Glosarium BAB I. PENDAHULUAN BAB II. KELURAHAN LIMPOMAJANG KECAMATAN MARIORIWAWO KABUPATEN SOPPENG A. Letak Geografis B. Wilayah Administrasi C. Kondisi Topografi D. Tata Guna Lahan E. Jumlah Penduduk F. Kondisi Perekonomian G. Sejarah, Adat dan Budaya 1. Sejarah singkat Danau Tempe 2. Adat dan Budaya H. Pola Permukiman Nelayan BAB III. HUNIAN NELAYAN DANAU TEMPE A. Tipologi Hunian 1. Zonasi 2. Bentuk atau tipe hunian 3. Fungsi ruang 4. Pola tata massa 5. Orientasi hunian B. Konstruksi Hunian 1. Alliri (tiang)
halaman iii iv v vi ix 1 4 4 5 5 5 6 7 9 9 11 14 18 18 18 19 23 26 28 30 32
v
Hunian Nelayan Danau Tempe 2. Dapara (lantai) 3. Renring (dinding) 4. Pabbingeng (atap) BAB IV. KESIMPULAN DAFTAR PUSTAKA
36 39 43 46 48
vi
Hunian Nelayan Danau Tempe
DAFTAR TABEL halaman Tabel 1. Tata guna lahan. 5 Tabel 2. Klasifikasi jumlah penduduk kelurahan limpomajang. 5 Tabel 3. Kondisi ekonomi masyarakat Kelurahan Limpomajang. 7 Tabel 5. Jumlah hunian menurut bentuk dan zonasi tapak. 15
vii
Hunian Nelayan Danau Tempe
DAFTAR GAMBAR halaman Gambar 1. Peta wilayah Kabupaten Soppeng. 3 Gambar 2. Peta Kelurahan Limpomajang. 4 Gambar 3. Cara penangkapan ikan secara tradisional 6 Gambar 4. Lahan yang kering dimanfaatkan lahan pertanian 7 Gambar 5. Gambar Ilustrasi pembetukan danau tempe 8 Gambar 6. Ritual maccera tappareng di danau tempe. 11 Gambar 7. Pembagian zona pada kawasan 13 Gambar 8. Photo udara pesisir Danau Tempe 14 Gambar 9. Ilustrasi bentuk rumah tradisional Bugis 16 Gambar 10. Ilustrasi bentuk awal rumah terapung 16 Gambar 11. Ilustrasi perbedaan ketinggian tiang rumah 17 Gambar 12. Cara memindahkan rumah terapung (bola rai) 18 Gambar 13. Pemanfaatan ruang Danau Tempe berdasarkan 18 Gambar 14. Pembagian fungsi ruang secara vertikal pada hunian 20 Gambar 15. Pembagian fungsi ruang secara horizontal 21 Gambar 16. Ilustrasi pola tata massa dan arah pengembangan 22 Gambar 17. Dermaga penambatan perahu 24 Gambar 18. Ilustrasi orientasi rumah terapung di Danau Tempe. 24 Gambar 19. Pembagian konstruksi pada rumah panggung. 26 Gambar 20. Bentuk dan dimensi konstruksi tiang (aliri). 27 Gambar 21. Konstruksi tiang rumah 28 Gambar 22. Ilustrasi tiang rumah panggung di rawa-rawa 28 Gambar 23. Persiapan bambu sebagai rakit 29 Gambar 24. Sistem konstruksi pada tiang rumah terapung. 30 Gambar 25. Sistem konstruksi lantai dari papan (dapara) 31 Gambar 26. Sistem konstruksi lantai pada zona darat 31 Gambar 27. Sistem konstruksi lantai pada zona rawa-rawa 32 Gambar 28. Sistem konstruksi lantai pada zona perairan 32
viii
Hunian Nelayan Danau Tempe Gambar 29. Sistem konstruksi dinding dari material seng Gambar 30. Material konstruksi dinding rumah nelayan Gambar 31. Konstruksi dinding dari perangkap ikan bambu Gambar 32. Bukaan pada bagian pintu dan jendela Gambar 33. Bukaan jendela (tellongeng) pada hunian nelayan. Gambar 34. Sistem konstruksi atap (pabbingeng) Gambar 35. Model atap hunian nelayan
33 34 34 35 35 36 37
ix
Hunian Nelayan Danau Tempe
GLOSARIUM Addeneng Aju lekke Aju paccipi Aju te Ale bola Aliri Arateng Awa bola Awo tetta Baju bodo Bare Bissu Belle Bola rai Bungka Cappeang Dapara Dapureng De’de Gamacca Idosai Lego-lego Lontang rilaleng Lontang risaliwang Lontang ritengga
: Tangga : Balok bubungan : Balok apit : Balok kuda-kuda : Badan rumah : Tiang : Balok pipih pengikat tiang ke belakang bagian bawah : Kolong rumah : Bambu yang dibelah : Pakaian adat Bugis-Makassar : Balok pipih pengikat tiang ke belakang bagian atas : Waria yang bertugas sebagai pemimpin upacara adat : Perangkap ikan dari bambu : Rumah rakit : penangkaran ikan ditengah danau : lokasi tempat penangkaran ikan yang terletak di pesisir danau. : Lantai rumah bermaterial papan : Dapur : Belahan bambu : Anyaman bambu : Berbuat salah/melanggar aturan : Balkon : Petak rumah area belakang : Petak rumah area depan : Petak rumah area tengah
x
Hunian Nelayan Danau Tempe Maccera tappareng Macoa tappareng Makkaja Mappadendang Mappatama arateng Pallangga Pallawang Pangate Panre bola Panrita lopi Panrita bola Parewa bola Pattikkeng Pattumpe Pattolo Pa’bingeng Rakkeang Renring Salima Seajing/sumpulolo Sitibang Siujung Sulapa appa Sompe Tabba Tana koti Tange Tellongeng Timpa laja Tunebba
: Upacara panen nelayan : Pemuka adat : Mencari ikan : Menabuh lesung : Memasang balok : Penyangga/umpak : Lokasi penangkaran ikan : Atap : Tukang kayu : Ahli perahu : Ahli rumah/arsitek tradisional : Perkakas rumah : Gording : Balok tumpu : Balok pipih panjang pengikat : Atap : Bagian atas rumah/ruang pada atap : Dinding : Belahan bambu dengan ukuran yang kecil : Dukun rumah : Satu ikat : Satu ikat : Empat persegi : Rantau : Ayaman bambu : Tanah pada area danau yang mengering : Pintu : Jendela : Singkap atap yang bersusun : Balok lantai
xi
Hunian Nelayan Danau Tempe
BAB I PENDAHULUAN Secara tradisional di Asia Tenggara, hampir semua masyarakat membangun rumah panggung kecuali Jawa, Madura, Bali, Lombok, Buru, dan Pantai Barat dari Vietnam. Diantara masyarakat tradisional tersebut juga ada suku yang tidak mengenal tanah sabagai dasar pembangunan, misalnya orang laut yang membangun rumah panggung diatas air, dan orang kelasi yang hidup di kapal (Frick, 2006:66). Pada Danau Tempe Kelurahan Limpomajang Kecamatan Marioriawa Kabupaten Soppeng merupakan kampung nelayan yang terdiri dari tiga zona, berdasarkan letak huniannya adalah wilayah daratan, rawa-rawa, dan perairan danau. Dengan adanya penyesuaian terhadap keadaan alam tersebut, maka muncul perbedaan tipologi hunian yang disesuaikan dengan wilayah/zona yang ditempati dalam upaya beradaptasi dengan lingkungannya. Perilaku penyesuaian diri menurut Ronald (2008: 99), ada dua jenis, pertama adalah merubah tingkah laku agar sesuai dengan lingkungan yang disebut adaptasi dan kedua adalah merubah lingkungan agar sesuai dengan tingkah lakunya. Adaptasi merupakan perubahan populasi melalui seleksi alam terhadap reaksinya terhadap tuntutan lingkungan. Kemampuan manusia untuk mengadaptasikan
1
Hunian Nelayan Danau Tempe dirinya pada lingkungan terjadi berkaitan dengan kondisi lingkungan fisik dan kemampuan membentuk rumah yang berakibat munculnya variasi konsep dalam perubahan fisik sebuah rumah (Budiharjo, 1997). Bentuk rumah pada ketiga wilayah di Kampung Salo Mate Kelurahan Limpomajang ialah berbentuk rumah panggung seperti rumah Bugis yaitu berbentuk segi empat, menggunakan tiang dari kayu yang menumpu pada lantai tanah pada zona daratan. Pada zona rawa-rawa bentuk dari rumah panggung ukuran bentangannya lebih kecil dibandingkan yang berda di daratan dan menggunakan umpak tiang lebih tinggi, sedangkan di zona perairan (danau) menggunakan rakit yang terbuat dari bambu sebagai pengapung rumah mereka. Bentuk rumah terapung atau biasa juga dinamakan bola rai adalah rumah panggung dengan tiang yang menumpu pada rakit, material struktur dan konstruksinya dari material yang mudah dijangkau oleh masyarakat nelayan dan dibangun dengan cara gotong-royong dan kekeluargaan. Rumah Tradisional Bugis merupakan rumah panggung yang terdiri dari tiang-tiang kayu berbentuk segi empat yang muncul karena filsafah orang bugis yang disebut Sulapa Eppa atau bentuk empat persegi panjang (Mattulada, 1985). Rumah Suku Bugis menunjukkan tanda-tanda keseragaman dalam bentuk homogeneity of form terutama terlihat dalam pola dan bentuk ruang, sistem
2
Hunian Nelayan Danau Tempe struktur dan konstruksi serta beberapa komponen non-struktur lainnya seperti perletakan tangga, pintu dan bukaan ventilasi. Sedangkan, menurut Pribadi (2012), rumah apung adalah suatu rumah dengan sistem konstruksi yang tidak melekat/ menempel pada permukaan tanah, melainkan bertumpu pada suatu sistem pengapung di atas permukaan air. Harapan dari hasil penulisan buku ini kiranya dapat memperkenalkan arsitektur lokal khususnya di Kelurahan Limpomajang dan melestarikan kearifan lokal masyarakat nelayan untuk beradaptasi dengan lingkungannya hidup berdampingan dengan alam demi kelangsungan hidup mereka.
3
Hunian Nelayan Danau Tempe
BAB II KELURAHAN LIMPOMAJANG KECAMATAN MARIORIWAWO KABUPATEN SOPPENG A. Letak Geografis Limpomajang merupakan salah satu kelurahan di Kecamatan Marioriawa, Kabupaten Soppeng. Sebagian wilayah Kelurahan Limpomajang merupakan area perairan Danau Tempe yang berbatasan langsung dengan Kabupaten Wajo. Jarak Kelurahan Limpomajang dari Ibu Kota Kabupaten Soppeng adalah ± 28,83 Km, dan ±190 Km dari Kota Makassar (hasil pengamatan peneliti,2012). Luas Kelurahan Limpomajang secara keseluruhan adalah 1.248 Ha (17,28 Km²).
4
Hunian Nelayan Danau Tempe
Kelurahan Limpomajang
Gambar 1. Peta wilayah Kabupaten Soppeng.
B. Wilayah Administrasi Wilayah
Kelurahan
Limpomajang
secara
administrasi
mempunyai batasan-batasan-batasan sabagai berikut (Gambar 18): 1. Sebelah Utara berbatasan dengan Kelurahan Manorang Salo. 2. Sebelah Timur berbatasan dengan Kabupaten Wajo. 3. Sebelah Selatan berbatasan dengan Desa Kaca. 4. Sebelah Barat berbatasan dengan Kelurahan Batu-batu.
5
Hunian Nelayan Danau Tempe
Gambar 2. Peta Kelurahan Limpomajang.
C. Kondisi Topografi Kelurahan Limpomajang terletak pada depresiasi sungai Walennae dan berada pada ketinggian rata-rata 100-120 meter diatas permukaan laut. Kelurahan Limpomajang adalah daerah tepian danau karena sebagian wilayahnya merupakan area perairan Danau Tempe yang berbatasan langsung dengan Kabupaten Wajo. D. Tata Guna Lahan Tata guna lahan di Kelurahan Limpomajang sebagian merupakan area perairan Danau Tempe yang dimanfaatkan masyarakat sebagai mata
6
Hunian Nelayan Danau Tempe pencaharian mereka sebagai nelayan. Penggunaan wilayah ini lebih dominan sebagai lahan pertanian dan perkebunan (Tabel 1). Tabel 1. Tata guna lahan (Arsip Kelurahan Limpomajang, 2011) Peruntukan lahan
Luas (Ha)
Perairan danau
665,41 Ha
Sawah
518,00 Ha
Kebun
24,15 Ha
Hutan
32,62 Ha
Permukiman
25,90 Ha
Lainnya
7,82 Ha
Jumlah
1248 Ha
E. Jumlah Penduduk Jumlah penduduk kelurahan limpomajang sebanyak 2.387 Jiwa dan 582 Kepala Keluarga. Berdasarkan etnis pada Kelurahan Limpomajang maryoritas suku bugis (penduduk asli), dan hampir setiap masyarakat mempunyai hubungan darah dekat atau jauh ini biasa disebut “seajing (sumpung lolo)”. Sebagian juga penduduk di Kelurahan Limpomajang merantau ke Kalimantan dan Malaysia, istilah merantau ini lebih dikenal dengan kata “sompe”. Tabel 2. Klasifikasi jumlah penduduk kelurahan limpomajang. (Arsip Kelurahan Limpomajang, 2011)
7
Hunian Nelayan Danau Tempe Data Penduduk Laki-Laki
Perempuan
Jumlah
Jumlah Penduduk (P)
1149
1238
2387
Jumlah Kepala Keluarga (KK)
-
-
582
F. Kondisi Perekonomian Hasil survey lapangan menunjukkan bahwa mata pencaharian terbesar masyarakat Kelurahan Limpomajang adalah di bidang perikanan, baik sebagai nelayan buruh maupun nelayan utama. Kehidupan masyarakat sangat bergantung pada pemanfaatan sumber daya perairan Danau Tempe, kegiatan mereka hanya terbatas sebagai nelayan penangkap ikan dan pengumpul hasil tangkapan. Disamping memiliki mata pencaharian sebagai nelayan, banyak juga masyarakat yang mengandalkan kehidupannya dengan bertani dan berkebun. Sebagia nelayan juga mencari pekerjaan alternatif pada musim kemarau dengan bertani di tanah koti. Pertanian tanah koti dilakukan pada musim kering dan pekerjaan sebagai nelayan dilakukan pada musim hujan atau air menggenangi tanah koti. Selain itu sebagian masyarakat juga menggeluti bidang perdagangan, panrita lopi, pegawai negeri dan lain-lain.
8
Hunian Nelayan Danau Tempe
Gambar 3. Cara penangkapan ikan secara tradisional menggunakan jala.
Gambar 4. Lahan yang kering dimanfaatkan sebagai lahan pertanian pada musim kemarau.
9
Hunian Nelayan Danau Tempe Tabel 3. Kondisi ekonomi masyarakat Kelurahan Limpomajang. (Arsip Kelurahan Limpomajang,2011) Mata Pencaharian
Jumlah Penduduk
Pegawai
38 jiwa
Wiraswasta / Pedagang
35 jiwa
Petani
24 jiwa
Pertukangan
6 jiwa
Nelayan
421 jiwa
Lain-lain
2 jiwa
Jumlah
526 jiwa
G. Sejarah, Adat dan Budaya 1. Sejarah singkat Danau Tempe Perjalanan perubahan Danau Tempe saat ini diperoleh bahwa Danau Tempe pada awalnya adalah bagian dari selat yang menghubungkan Selat Makasar yakni Teluk Pare-pare di Sebelah Barat dan Teluk Bone di Sebelah Timur. Atau dengan kata lain, bahwa Danau Tempe adalah bagian selat yang memisahkan Sulawesi Bagian selatan dengan bagian Sulawesi lainnya di bagian Utara. Pernyataan tersebut didasarkan pada Naskah La Gaigo dan tulisan Bompeng Ri Langi (Enrekang) dan lainnya. Oleh karena itu, kawasan Danau Tempe saat dulu (saat masih selat) adalah merupakan kawasan pusat perdagangan yang telah dikenal para pedagang luar daerah Sulawesi, sebelum Bandar Makasar yang kemudian menjadi pusat perdagangan wilayah Timur
10
Hunian Nelayan Danau Tempe Indonesia. Barang perniagaan yang diperjual belikan meliputi emas, perak, sutra, bijih besi, bijih tembaga, arang, beras, keramik, rempahrempah, hasil hutan, hasil laut, budak dan lain-lain. Pergerakan lempengan dan proses sedimentasi yang terus menerus membuat selat menyempit dan mendangkal. Sehingga yang tersisa saat ini adalah tiga wilayah perairan yang terpisah, yakni Danau Tempe, Danau Buaya, dan Danau Sidenreng (pada awalnya adalah satu kesatuan yaitu Danau Tempe), serta Sungai Cenrana yang menghubungkan Danau Tempe ke Teluk Bone. Kalau ketiga danau itu disatukan oleh genangan air pada elevasi 10 m dpl akan memiliki luasan hingga 47.800 Ha
Gambar 5. Gambar Ilustrasi pembetukan danau tempe menurut Naskah Lagaligo. (Diilustrasikan menurut penjelasan Naskah Lagaligo ,2012)
Dari penjelasan proses terbentuknya Danau Tempe yang diawali dengan Danau Tempe Purba pada zaman Halosen Tua dapat
11
Hunian Nelayan Danau Tempe ditarik kesimpulan bahwa bagian daratan di pesisir danau tempe pada masa sekarang dulunya merupakan bagian dari perairan. Daratan terbentuk akibat sedimentasi secara terus menerus yang membuat danau menyempit dan mendangkal yang menyisakan tiga wilayah perairan yakni Danau Tempe, Danau Sidenreng, dan Danau Buaya. Hingga akhir 1960-an Danau Tempe masih dikenal sebagai sentra terpenting produksi perikanan air tawar di Indonesia. Selama kurun waktu tahun 1948 – 1969 produksi ikan danau terluas di Sulawesi Selatan ini tiap tahun mencapai 37.000 – 40.000 ton berbagai jenis ikan. Bahkan tahun 1957 – 1959 sempat menembus angka 50.000 ton/tahun. Melimpahnya produksi ikan Danau Tempe dikenal dengan mangkuk ikannya Indonesia. Seiring berjalannya waktu dan terjadi kerusakan pada ekosistem danau hasil alam perairan ini cenderung terus merosot. Pada tahun 1999 dan 2000 , hanya mencatat masing-masing 17.077 ton dan 17.200 ton cuma setengah produksi. 2. Adat dan budaya Aspek budaya masyarakat yang dilakukan oleh nelayan Kelurahan Limpomajang adalah tanda kesyukuran kepada Tuhan Yang Maha Kuasa atas rezeki yang diperoleh dari hasil menangkap ikan di danau. Budaya ini dikenal dengan nama maccera tappareng. Biasanya setiap pertengahan tahun diadakan acara pesta ritual nelayan ini disebut Maccera Tappareng atau upacara menyucikan danau yang
12
Hunian Nelayan Danau Tempe ditandai dengan pemotongan sapi yang dipimpin oleh seorang ketua nelayan yang diikuti berbagai atraksi wisata. Pada hari perayaan Festival Danau Tempe ini, semua peserta upacara Maccera Tappareng memakai baju bodo. Acara ini dimeriahkan dengan berbagai atraksi seperti lomba perahu tradisional, lomba perahu hias, lomba permainan rakyat, lomba
menabuh
lesung
(mappadendang),
pergelaran
musik
tradisional dan tari bissu yang dibawakan oleh waria, dan berbagai pergelaran tradisional lainnya. Bentuk prosesi yang dilakukan dalam acara adat maccera tappareng adalah acara syukuran makan bersama dengan hidangan dari sumbangan nelayan, sosialisasi larangan yang terdiri dari dilarang menangkap pada malam Jumat dan hari Jumat, tidak boleh membawa dua alat tangkap dan tidak boleh berselisih di danau. Ketiga larangan tersebut memiliki makna lingkungan terhadap pengelolaan perikanan di Danau Tempe, yaitu: a. Larangan menangkap ikan di danau pada malam jumat dan hari jumat, memiliki makna ekologis dan makna religius. Makna ekologisnya adalah dengan adanya satu hari dalam seminggu tidak menangkap ikan di danau dapat mengurangi tekanan ekologis akibat penangkapan ikan. Makna lainnya adalah makna religius yaitu adanya nilai religius nelayan
13
Hunian Nelayan Danau Tempe Danau Tempe yang menganggap malam jumat dan hari jumat sebagai waktu yang sakral untuk beribadah. b. Tidak boleh membawa dua parewa mabbenni atau alat tangkap menetap yang bermalam, memiliki makna ekologis dan makna sosial. Makna ekologisnya adalah untuk mengurangi eksploitasi terhadap ikan di danau akibat alat penangkapan ikan yang terlalu banyak. Makna sosialnya adalah agar tidak ada kesan perbedaan antara nelayan kaya yang
memiliki
alat
tangkap
banyak
sehingga
dapat
menangkap ikan lebih banyak dibandingkan dengan nelayan yang hanya memiliki satu alat tangkap dan hanya dapat menangkap ikan sedikit. c. Tidak boleh berselisih dan menyelesaikan masalah di danau. Maknanya adalah makna lingkungan sosial masyarakat yang menghindari konflik sosial antar nelayan. Nelayan yang berselisih di danau tidak boleh menyelesaikan masalahnya di danau karena dapat berakibat fatal jika terjadi perkelahian dan tidak ada orang yang melerai. Oleh karena itu masalah yang terjadi di danau harus diselesaikan di darat dengan cara musyawarah yang difasilitasi oleh tokoh masyarakat, tokoh adat atau aparat. Pelanggaran aturan maccera tappareng tersebut disebut idosai dan jika terjadi pelanggaran maka nelayan bersangkutan harus
14
Hunian Nelayan Danau Tempe melakukan maccera tappareng sendiri. Orang yang memimpin pelaksanaan maccera tappareng adalah Macoa Tappareng yang dipilih dari nelayan karena memiliki pengetahuan mengenai adat istiadat di danau. Maccera Tappareng diadakan setelah nelayan Danau Tempe mendapatkan hasil menangkap ikan yang banyak, umumnya setelah banjir dan air sudah tenang serta pa’bungka toddo dipanen hasilnya.
Gambar 6. Ritual maccera tappareng di danau tempe. (http://southcelebes.com)
H. Pola Permukiman Nelayan Menurut Rapoport (1989) dalam Machpudin (2008), klasifikasi pola permukiman secara garis besar dapat dikenali melalui 4 (empat) klasifikasi, yaitu: a. Batas (boundaries) merupakan batas daerah kekuasaan suatu wilayah atau sebuah permukiman yang dibuat oleh
15
Hunian Nelayan Danau Tempe masyarakat setempat, baik dalam bentuk fisik maupun non fisik, b. Jenis fasilitas (massa), yaitu pengelompokan elemen fisik dalam suatu permukiman yang merupakan tempat melakukan aktivitas sekaligus sebagai fasilitas bagi penghuni dan penggunanya. Fasilitas permukiman ini dapat berbentuk fasilitas umum (fasum) dan fasilitas sosial (fasos), c. Tata ruang (zona) merupakan pembagian daerah kegiatan penghuni dalam suatu permukiman, yang diatur berdasarkan struktur keyakinan, aturan-aturan adat atau kebiasaan masyarakat setempat, d. Ragam hias, yaitu unsur-unsur dominan yang banyak ditemukan pada permukiman, baik alami maupun buatan manusia (craftmanship). Ragam hias juga ada yang memiliki latar belakang kebudayaan yang berhubungan dengan kepercayaan masyarakat adat setempat, ada juga yang tidak. Batas antara Kelurahan Limpomajang dengan Kelurahan/Desa lainnya yaitu: a. Sebelah utara merupakan area persawahan dan perairan Danau
Tempe
yang
bersebelahan
dengan
Kelurahan
Manorang Salo. b. Sebelah timur merupakan area perairan Danau Tempe yang berbatasan langsung dengan Kabupaten Wajo.
16
Hunian Nelayan Danau Tempe c. Sebelah selatan merupakan aliran sungai dan bersebelahan dengan Desa Kaca yang dihubungkan dengan jembatan. d. Sebelah barat merupakan area persawahan dan permukiman yang berbatasan langsung dengan Kelurahan Batu-batu yang ditandai dengan tugu batas kelurahan. Pola permukiman ditinjau dari klasifikasi geografis dan topografi sangat menonjol pada lingkungan Lajarella Kampung Salo Mate yang terletak di bagian utara Kelurahan Limpomajang. Lokasi ini terbagi atas tiga zonasi yakni, zona daratan yang berada pada pertengahan permukiman, zona rawa-rawa yang terletak pada area pesisir Danau Tempe, dan zona perairan yang berada pada area parairan Danau Tempe.
Gambar. 7. Pembagian zona pada kawasan di Kampung Salo Mate.
17
Hunian Nelayan Danau Tempe Kondisi topografi dari Kampung Salo Mate Lingkungan Lajarella lebih rendah dibandingkan lingkungan sekitarnya. Hal ini mengakibatkan terendamnya sebagian area permukiman bila terjadi banjir pada setiap musim penghujan. Banjir yang terjadi setiap musim penghujan ini juga diakibatkan karena meluapnya perairan danau tempe yang sudah semakin dangkal akibat sedimentasi yang merupakan daerah hilir dari beberapa sungai besar diantaranya Sungai Bila, Sungai Cenranae dan Sungai Walennae. Perairan Danau Tempe merupakan sumber utama penghasilan masyarakat nelayan di Kelurahan Limpomajang. Musim Kemarau
Musim Hujan
Gambar 8. Photo udara pesisir Danau Tempe Kelurahan Limpomajang.
18
Hunian Nelayan Danau Tempe
BAB III HUNIAN NELAYAN DANAU TEMPE A. Tipologi Hunian Hunian nelayan di Kelurahan Limpomajang merupakan salah satu hunian nelayan yang berada di Kabupaten Soppeng. Penjelasan mengenai tipologi hunian nelayan ditinjau dari zonasi tapak diuraikan terhadap zonasi, orientasi dan pola tata massa. 1. Zonasi Tinjauan terhadap zonasi diukur berdasarkan lokasi, yang terbagi atas tiga zona yaitu, zona darat, zona rawa-rawa dan zona perairan. Pada zona darat dan zona rawa-rawa, hunian nelayan berbentuk panggung sedangkan di zona perairan merupakan rumah terapung atau biasa disebut bola rai. Dari perbedaan zonasi tapak maka ditentukan 20 rumah panggung pada zona darat, 16 rumah panggung pada zona rawa-rawa, dan 23 rumah terapung pada zona perairan. Tabel 5. Jumlah hunian menurut bentuk dan zonasi tapak. Jumlah Hunian Rumah Panggung
Rumah Terapung
Zona Darat
20
-
Zona Rawa-rawa
16
-
Zona Perairan
36
23 23
Total
19
Hunian Nelayan Danau Tempe 2. Bentuk atau tipe hunian Bentuk rumah panggung pada zona darat dan zona rawa-rawa sama halnya dengan bentuk rumah Tradisional Bugis pada umumnya yakni, berbentuk panggung menggunakan tiang kayu sebagai penopang lantai dan atap, denah berbentuk segiempat panjang, tiang berbentuk segiempat, dinding berbentuk segiempat panjang dan atap berbentuk segitiga pelana. Hal ini sesuai dengan yang diungkap Mardanas (1985), bahwa tipologi rumah Tradisional Bugis berbentuk panggung, lantainya mempunyai jarak tertentu dengan tanah, dan denah berbentuk segi empat panjang.
Gambar 9. Ilustrasi bentuk rumah tradisional Bugis (Mardanas, 1985) & Bentuk rumah panggung di zona daratan kampung Salo Mate.
Sedangkan hunian pada zona perairan yakni rumah yang mengapung di atas air. Menurut hasil wawancara (2012) pada masyarakat nelayan di Kelurahan Limpomajang, rumah terapung (bola rai) di Danau Tempe pertama kali diperkenalkan oleh masyarakat
20
Hunian Nelayan Danau Tempe nelayan Kabupaten Wajo. Bentuk rumah hampir sama dengan rumah tradisional bugis tetapi tidak mempunyai tiang, serta hanya menggunakan material bambu dan rumbia sebagai penutup atap.
Gambar 10. Ilustrasi bentuk awal rumah terapung di Danau Tempe. & Bentuk rumah terapung (bola rai) di Danau Tempe.
Pada dasarnya bentuk rumah terapung (bola rai) di Danau Tempe mencirikan arsitektur Tradisional Bugis yaitu berbentuk panggung tetapi tinggi tiang lebih rendah dan menggunakan rakit dari bambu sebagai pengapung. Jika tinggi tiang pada rumah panggung di daratan 2,5 – 3 meter maka jarak lantai dengan rakit adalah 0,4 – 0,75 meter.
Gambar 11. Ilustrasi perbedaan ketinggian tiang rumah panggung dengan rumah terapung.
21
Hunian Nelayan Danau Tempe Rumah terapung (bola rai) merupakan hunian nelayan yang tidak menetap pada suatu lokasi (nomaden). Hunian mengapung ini selalu berpindah tempat berdasarkan pasang surut air danau. Pada musim kemarau, sebagian area perairan Danau Tempe akan mengering maka dari itu permukiman terapung berpindah ke tengah danau dimana masih terdapat genangan air. Namun jika musim penghujan tiba, air danau akan meluap, maka permukiman terapung akan berpindah ke pesisir danau mendekati daratan. Hal seperti ini berlangsung secara terus-menerus sepanjang musim. Sebagian masyarakat nelayan memilih bermukim di atas air ini dilakukan karena beberapa faktor antara lain: a. Merupakan tradisi turun temurun dari orang tua mereka. b. Dekat
dengan
tempat
dimana
mereka
bekerja
dan
beraktifitas. c. Belum memiliki lokasi/ tanah yang bisa ditempati di daratan. Cara memindahkan rumah terapung (bola rai) dengan cara didorong menggunakan 2 sampai 4 perahu motor, satu perahu motor berada pada sisi samping untuk mengarahkan kemana lokasi yang akan menjadi tujuan menambatkan rumah mereka. Tambatan rumah terapung ini menggunakan tiang kayu dengan ukuran panjang 2 – 4 meter yang ditancapkan pada danau.
22
Hunian Nelayan Danau Tempe
Gambar 12. Cara memindahkan rumah terapung (bola rai) dengan menggunakan perahu motor di Danau Tempe.
Pada area perairan Danau Tempe telah dibagi beberapa aturan adat menurut pemanfaatan ruang. Aturan adat menyangkut pemanfaatan ruang danau ini menyangkut aturan lokasi tempat menangkap ikan (cappeang, palawang, bungka dan makkaja lalla’), aturan lokasi tempat bermukim, daerah larangan menangkap ikan dan area tempat tumbuhnya vegetasi mengapung di air (Naing, 2009).
Area Floating House
Gambar 13. Pemanfaatan ruang Danau Tempe berdasarkan kearifan lokal (Naing, 2009).
23
Hunian Nelayan Danau Tempe 3. Fungsi ruang Fungsi ruang pada umumnya adalah sebagai wadah untuk beraktifitas. Didalam teori arsitektur modern, bangunan dibangun berdasarkan aktifitasnya atau istilah form follow function, sehingga aktifitas merupakan fungsi yang utama. Pada dasarnya rumah orang Bugis yang merupakan rumah panggung terbagi atas beberapa pembagian ruang secara horizontal dan vertikal. Untuk pembagian ruang secara horizontal orang Bugis hanya mengenal tiga ruang yang disebut lontang yang terletak pada bagian badan rumah (ale bola) , dan terbagi atas lontang risaliweng (ruang depan) yang mempunyai fungsi menerima tamu, tempat tidur tamu. Lontang ritengnga (ruang tengah) yang berfungsi sebagai tempat tidur keluarga bersama istri dan anak. Lontang rilaleng (ruang belakang) yang berfungsi sebagai tempat tidur anak gadis dan orang tua seperti nenek atau kakek. Sedangkan pembagian ruang secara vertikal terbagi atas awa bola (bawah rumah/kolong) yang biasanya difungsikan sebagai tempat perkakas, alat-alat pertanian dan nelayan, serta binatang ternak, ale bola (badan rumah) yang fungsinya seperti yang dijelaskan pada pembagian ruang secara horizontal, dan rakkeang (atap rumah) yang berfungsi sebagai tempat penyimpanan hasil panen. Rumah bugis pada dasarnya tidak mengenal sistem kamarisasi sebagai pembatas ruang pada rumah mereka (Mardanas, 1985).
24
Hunian Nelayan Danau Tempe Pada hunian nelayan Danau Tempe di tiga zona terdapat beberapa perbedaan dari pembagian ruang baik secara vertikal dan horizontal. Pembagian ruang secara vertikal pada dasarnya sama dengan rumah Tradisional Bugis yang terbagi tiga yakni awa bola (bawah rumah), ale bola (badan rumah) dan rakkeang (atap rumah). Menurut fungsi ruang ada beberapa faktor yang mempengaruhi antara lain zonasi, kondisi ekonomi, jumlah penghuni dan kebutuhannya serta pengaruh sosial lainnya. Fungsi ruang bawah rumah (awa bola) di ketiga zona terdapat beberapa perbedaan yakni pada zona darat bawah rumah sering difungsikan sebagai tempat bersosialisasi dengan masyarakat sekitar, tempat kendaraan (motor, gerobak, dan perahu), tempat binatang ternak dan ala-alat pertanian dan nelayan. Sedangkan di zona rawarawa yang sering tergenang oleh air maka bagian bawah rumahnya jarang difungsikan. Perahu mereka ditambatkan di dermaga karena rumah mereka tidak jauh dari dermaga ini. Lain halnya di zona perairan yang bagian bawah rumah mereka adalah rakit dari bambu. Diatara rakit dan lantai rumah yang masih tersisa ruang setinggi Âą 70 cm sebagian penghuni terapung mengfusikan sebagai tempat perlatan nelayan , binatang ternak (ayam), dan beberapa kebutuhan sehari-hari seperti alat dapur, kayu bakar, dan lain-lain.
25
Hunian Nelayan Danau Tempe Zona darat
Zona rawa-rawa
Zona perairan
Gambar 14. Pembagian fungsi ruang secara vertikal pada hunian nelayan Danau Tempe di tiga zona.
Secara horizontal pembagian ruang pada rumah di tiga zona berada pada bagian ale bola (badan rumah) yang terdiri dari tiga lontang. Di tiga terdapat baberapa perbedaan fungsi ruang seperti yang telah dijelaskan sebelumnya menurut pembagian ruang pada rumah tradisional bugis. rumah mulai mengenal pembatasan ruang dengan dinding pada bagian tempat tidur. Biasanya hanya terdapat dua kamar tidur untuk orang tua dan anak, akan tetapi jika jumlah penghuni dalam satu rumah terus bertambah maka jumlah kamar
26
Hunian Nelayan Danau Tempe tidur ini pun ikut bertambah. Penambahan ruang ini sering mengikut pada penambahan tiang kearah belakang, agar luas rumah makin bertambah. Bagian belakang (lontang rilaleng) difungsikan sebagai dapur (dapureng) dan ruangan makan dan tempat cuci piring. Bahkan sebagian rumah membuat jamban/kamar mandi pada bagian dapur pada zona darat dan rawa-rawa, sedangkan
di zona perairan
jambannya diletakkan pada sisi belakang rakit. Zona Darat
Zona Rawa-rawa
Zona Perairan
Gambar 15. Pembagian fungsi ruang secara horizontal pada hunian nelayan Danau Tempe di tiga zona.
Pada bagian atap rumah (rakkeang) hanya sebagian kecil rumah dari ketiga zona yang mengfungsikan sebagai tempat hasil pertanian dan alat nelayan karena sebagian besar rumah tidak mempunyai
lantai
papan
pada
rakkeang
dan
juga
hanya
menggunakan karoro sebagai plafond pada rumah mereka.
27
Hunian Nelayan Danau Tempe 4. Pola tata massa Pola tata massa hunian nelayan pada zona daratan umumnya berbentuk pola linear yang dibentuk oleh satu jalan yang kedua sisinya dibatasi oleh barisan rumah-rumah yang berkesinambungan. Deretan ini terdiri dari 20 buah rumah yang berhadap-hadapan. Sama halnya dengan hunian nelayan di zona rawa-rawa juga berbentuk linear, tetapi sebagian besar hunian menghadap ke dermaga. Pengembangan arah hunian nelayan baik di zona darat dan zona rawa-rawa tidak meluas kearah belakang tetapi terus mengikuti sepanjang jalan, sehingga pola perkembangan hunian adalah dengan cara menyamping. Hal ini disebabkan karena masih banyaknya lahan kosong di sisi sepanjang jalan sedangkan bagian belakang hunian telah digarap sebagai area persawahan, juga rentang terhadap kenaikan air pada musim penghujan.
Gambar 16. Ilustrasi pola tata massa dan arah pengembangan hunian pada zona darat da zona rawa-rawa.
28
Hunian Nelayan Danau Tempe Beda halnya dengan hunian nelayan di zona perairan yang diklarifikasikan sebagai pola menyebar secara berkelompok. Karena pada area-area tertentu terdapat kelompok-kelompok kecil yang terdiri dari beberapa rumah terapung yang tersebar di area perairan danau Tempe. Kelompok-kelompok kecil yang terdiri dari beberapa rumah mempunyai hubungan kekerabatan yang sangat dekat dan saling
membantu
sesama
mereka.
Pola
persebaran
secara
mengelompok ini juga dipengaruhi oleh area penguasaan territorial yang ditempati bekerja sebagai nelayan. Akan tetapi pola permukiman pada hunian terapung tidak berlangsung lama dan cenderung
selalu
berubah-ubah
dikarenakan
mereka
selalu
berpindah-pindah. Tidak menutup kemungkinan pada saat tertentu permukiman ini berkelompok secara besar pada area yang telah ditetapkan sebelumnya. 5. Orientasi hunian Orientasi hunian sangat erat kaitannya dengan pembangunan dan pemilihan lokasi untuk mendirikan rumah bagi masyarakat nelayan. Setelah menentukan lokasi mendirikan rumah, tentunya harus memperhatikan arah mana rumahnya akan menghadap. Bagi permukiman tradisional nelayan umumnya menghadap kajalan, sungai, perairan danau atau laut. Sedangkan menurut Mardanas (1985) bahwa pada umumnya orientasi sebuah rumah dapat saja menghadap mana saja (arah timur, selatan, barat, dan utara). Hal ini
29
Hunian Nelayan Danau Tempe berkaitan dengan pandangan kosmologi orang Bugis Makassar menganggap dunia ini segi empat, oleh karena itu keempat mata angin itu kedudukannya sama. Di zona daratan pada hunian nelayan Danau Tempe umumnya orientasi hunian nelayan menghadap ke jalan. Dari 20 kasus rumah hanya 1 rumah yang tidak menghadap ke jalan, ini disebabkan oleh luasan lahan yang tidak memungkinkan karena luasan lahan yang dimiliki penghuni memanjang kesamping searah dengan jalan. Menurut masyarakat dengan menghadap ke jalan lebih mudah dalam akses transportasi menuju ke hunian mereka. Sedangkan di zona rawa-rawa dari 16 rumah terdapat 7 rumah menghadap ke jalan dan 9 rumah menghadap ke dermaga. Dari sebagian besar rumah yang menghadap ke dermaga ini beralasan disamping lebih mudah dalam pencapaian menuju huniannya juga dapat lebih mudah memantau perahu-perahu mereka yang ditambatkan di dermaga.
Gambar 17. Dermaga penambatan perahu yang menjadi orientasi hunian nelayan di Kelurahan Limpomajang.
30
Hunian Nelayan Danau Tempe Lain halnya di zona perairan danau, arah rumah terapung tidak menetap pada satu arah. Orientasi Rumah terapung yang ditambatkan pada tiang selalu berubah berdasarkan pengaruh pergerakan angin. Jika angin bertiup dari arah timur, maka rumah terapung menghadap arah timur, begitu seterusnya.
Gambar 18. Ilustrasi orientasi rumah terapung di Danau Tempe.
Dalam penentuan orientasi hunian nelayan Danau Tempe di Kelurahan Limpomajang seperti yang telah dideskripsikan di atas tidak sesuai dengan diungkap Marwah (2011), bahwa kebanyakan masyarakat percaya bahwa arah depan sisi rumah menghadap ke matahari terbit dianggap menyongsong kehidupan dan rejeki, sebaliknya dianggap pantang dan dapat mendatangkan bencana apabila membelakangi matahari terbit. Ini menunjukkan bahwa masyarakat nelayan Danau Tempe lebih mementingkan aspek fungsional dan aksesibilitas pada orientasi hunian mereka.
31
Hunian Nelayan Danau Tempe B. Konstruksi Hunian Konstruksi merupakan komponen dasar untuk membentuk suatu bangunan. Beberapa komponen utama dari sistem konstruksi bangunan memberikan bentuk dan menjadikan bangunan itu kokoh (struktur). Konstruksi pada rumah terdiri dari tiga bagian yaitu konstruksi bagian bawah yang menyangga dan menahan beban bangunan, konstruksi bagian tengah membentuk dan melingkupi ruang-ruang aktifitas, dan konstruksi bagian atas yang berfungsi melindungi aktifitas didalam bangunan dari pengaruh iklim dan cuaca serta gangguan alam lainnya. Jika ditinjau dari material konstruksinya ada beberapa macam material yang dapat digunakan antara lain, kayu, bambu, beton, kaca, seng, dan baja. Pada rumah panggung dan rumah terapung pada umumnya menggunakan sistem struktur dan konstruksi yang sederhana karena dipengaruhi oleh kemampuan dan pengalaman membangun rumah oleh panre bola dan masyarakat. Komponen-komponen utama pada konstruksi rumah panggung dan rumah terapung terdiri atas tiang (aliri), lantai (dapara), dinding (renring), atap (pabbingeng). Konstruksi ini dirangkai secara knock down (bongkar pasang) dengan sistem takik dan pen. Berikut ini dijelaskan komponen-komponen struktur dan konstruksi rumah nelayan Danau Tempe di Kelurahan Limpomajang yang terbagi atas tiga zona (darat, lahan rawa-rawa, dan perairan danau).
32
Hunian Nelayan Danau Tempe
Gambar 19. Pembagian konstruksi pada rumah panggung.
1. Aliri (tiang) Secara umum material dari tiang baik dari rumah panggung maupun rumah terapung adalah kayu yang berbentuk balok empat persegi panjang dengan ukuran sisinya 10x10 centimeter sampai 15x15
centimeter.
Tiang-tiang
tersebut
diletakkan
diatas
umpak/penyangga tiang yang terbuat dari batu cadas atau batu kali. Namun sekarang seiring perkembangan waktu bahan dari penopang ini diganti dengan campuran beton, penopang tiang ini biasa dikatakan pallangga aliri. Lain halnya di rumah terapung, tiang tidak ditumpu seperti rumah panggung tetapi diletakka diatas balok/papan yang berada diatas rakit.
33
Hunian Nelayan Danau Tempe
Gambar 20. Bentuk dan dimensi konstruksi tiang (aliri).
Penggunaan umpak tiang (pallangga aliri) dari di zona darat pada dasarnya berfungsi sebagai penahan pada tiang atau material yang menerima beban bangunan yang bertumpu pada lantai dasar dan supaya tiang tidak bersentuhan langsung dengan tanah yang mengakibatkan material kayu dari tiang akan lapuk dan berjamur karena lembab. Dengan penggunaan umpak tiang (palangga alliri) rumah menjadi lebih fleksibel terhadap getaran (gempa) karena dapat bergerak lebih elastis untuk mengurangi pengaruh goncangan. Disamping itu umpak tiang (palangga aliri) dipergunakan untuk membuat bangunan rumah lebih merata pada tanah yang berkontur. Sedangkan penggunaan umpak tiang di zona rawa-rawa terdapat sedikit perbedaan karena sebagian besar rumah pada zona ini menggunakan umpak yang lebih tinggi antara 50cm – 100cm .
34
Hunian Nelayan Danau Tempe Fungsi utama umpak tiang pada zona rawa-rawa yakni untuk meninggikan bangunannya karena pada setiap musim penghujan sering terjadi banjir. Untuk mencegah bergesernya tiang dari umpak maka diikat menggunakan tali. Umpak tiang dari campuran beton yang ukurannya lebih tinggi dan dimensinya lebih besar dibanding di zona daratan, digunakan pada rumah yang dulunya adalah rumah terapung. Hal ini dapat diamati pada ukuran tiang dari umpak ke balok lantai terlihat rendah dan ukuran luas rumah lebih kecil. Proses perpindahan rumah mereka salah satunya karena sebagian masyarakat perairan danau telah memiliki lahan di zona lahan rawarawa untuk mendirikan sebuah rumah. Zona rawa-rawa Zona darat
Gambar 21. Konstruksi tiang rumah pada zona darat dan rawa-rawa.
Hal berbeda yang diungkap Frick (2006) penggunaan tiang pada daerah rawa-rawa dengan cara meruncingkan pada ujungnya sehingga dapat tertancap pada tanah dan menggunakan dua batang kayu bulat yang dipasang pada tiang untuk menghindari turunnya tiang struktur rumah panggung .
35
Hunian Nelayan Danau Tempe Tiang pancang pada rawa-rawa menggunakan batang kayu sebagai sepatu untuk menghindari turunnya tiang struktur
Gambar 22. Ilustrasi tiang rumah panggung di rawa-rawa (Frick. 2005)
Sistem konstruksi tiang pada zona perairan berbeda dari zona darat dan rawa-rawa. Tiang (aliri) tidak ditopang dengan umpak tiang (palangga aliri) sama seperti didaratan, akan tetapi hanya bertumpu pada balok atau papan kayu yang memanjang selurus dengan deretan tiang diatas rakit. Fungsi balok/ papan tumpuan ini supaya tiang tidak bersentuhan langsung dengan rakit (susunan bambu) sehingga pembebanan tersalurkan dengan merata. Material pembentuk rakit pada rumah terapung berasal dari bambu. Banyaknya bambu yang digunakan untuk mengapungkan sebuah rumah terapung tergantung dari besarnya rumah yang akan dibangun. Biasanya dalam satu ikatan bambu terdiri dari 25-30 batang bambu yang dinamakan siujung. Bahan pengikat bambu dari material tali berbahan plastic atau karet ban bekas. Proses pembuatan rakit ini biasanya
dilakukan
di
perairan
pesisir
danau
untuk
lebih
memudahkan dalam perakitan.
36
Hunian Nelayan Danau Tempe
Gambar 23. Persiapan bambu sebagai rakit pada rumah terapung
Untuk menghindari pergeseran posisi tiang pada balok/ papan tumpuan akibat gerakan/ goncangan pada rumah terapung maka tiang diikat dengan tali atau karet dengan cara melubangi pada ujung tiang. Sistem sambungan balok pada tiang umumnya sama dengan rumah yang ada pada zona daratan.
Gambar 24. Sistem konstruksi pada tiang rumah terapung (bola rai) .
37
Hunian Nelayan Danau Tempe 2. Dapara (lantai) Konstruksi lantai pada rumah panggung maupun rumah terapung pada umumnya sama yakni lantainya diangkat dari permukaan tanah atau rakit pada zona perairan. konstruksi lantai terdiri dari balok lantai dari material kayu dan penutup lantai dari material papan kayu (dapara) atau material bambu (salima). Pada hunian nelayan Danau Tempe balok lantai sebagian besar menggunakan balok kelas dua dengan ukuran 5x5 cm atau 6x6cm. sedangkan material penutup lantai menggunakan papan kayu kelas dua tebal 2 cm dengan lebar 20 sampai 25 cm. Sistem sambungan antara papan penutup lantai dengan balok lantai menggunakan perkuatan paku, sama halnya dengan balok lantai yang diletakkan diatas balok pengikat (arateng) juga menggunakan perkuatan paku. Fungsi dapara atau salima adalah sebagai pijakan pada ruang dalam rumah (watampola) yang dibagi atas beberapa ruang yakni lontang risaliweng, lontang ritengnga dan lontang rilaleng.
Gambar 25. Sistem konstruksi lantai dari papan (dapara)
38
Hunian Nelayan Danau Tempe Rumah panggung pada zona darat dan rawa-rawa ditinjau dari elevasi lantai pada umunya relatif rata (tidak ada perbedaan ketinggian). Dari segi penggunaan material penutup lantai, pada zona rawa-rawa sebagian
rumah masih menggunakan bambu (salima)
sebagai material lantai pada ruang dapur. Disamping harganya lebih ekonomis dibandingkan papan kayu, material bambu juga dianggap lebih mudah membersihkan sisa-sisa makanan di dapur karena susunannya tidak terlalu rapat.
Gambar 26. Sistem konstruksi lantai pada zona darat
Gambar 27. Sistem konstruksi lantai pada zona rawa-rawa
39
Hunian Nelayan Danau Tempe Sedangkan pada rumah terapung di zona perairan umumnya dari material papan kayu sama dengan di zona darat, hanya beberapa yang menggunakan konstruksi lantai bambu (salima) dan batang bambu sebagai penopang. Perbedaan ketinggian lantai bagian dapur atau lontang rilaleng, hal berbeda yang diungkap Mardanas dkk (1985) pada rumah bangsawan
suku bugis terdapat perbedaan
ketinggian lantai, lantai yang lebih rendah dinamakan tamping.
Gambar 28. Sistem konstruksi lantai pada zona perairan
3. Renring (dinding) Renring (dinding) pada rumah panggung maupun rumah terapung di Kelurahan Limpomajang dapat digolongkan sebagai dinding non structural, artinya dinding hanya berfungsi sebagai pelindung cuaca (skin building) dan pembatas/pembagi ruang yang tidak menerima beban bangunan. Rangka dinding dipasang diantara tiang-tiang rumah menggunakan sambungan sederhana dengan paku/ikatan.
40
Hunian Nelayan Danau Tempe
Gambar 29. Sistem konstruksi dinding dari material seng
Pada konstruksi dinding rangka kayu terdapat dua lapisan dinding, yaitu lapisan dinding luar dan dinding dalam yang berfungsi sebagai pelindung bangunan terhadap cuaca dan kebisingan serta lapisan dinding dalam berfungsi sebagai pembatas ruang (Frick, 1997). Material pengisi dinding pada pada hunian nelayan Danau Tempe umumnya terbuat dari papan kayu, dipasang secara berturutturut dengan sistem gapit. Sedangkan jika berasal dari material bambu ada dua macam tergantung cara pembuatannya. Bambu yang dipecah lalu dijepit dengan belahan bambu lain disebut renring De’de atau Awo tetta sedangkan bambu yang dibelah, diraut tipis-tipis lalu dianyam disebut Gamacca atau Tabba. Pada zona darat terdapat 2 rumah menggunakan material tegel keramik yang dijepit dengan balok kecil. Penggunaan material ini untuk menunjukkan estetika pada bagia depan rumahnya.
41
Hunian Nelayan Danau Tempe
Gambar 30. Material konstruksi dinding rumah nelayan
Di zona perairan pemilihan material dinding (renring) pada umumnya menggunakan material bambu. Material bambu yang digunakan kebanyakan dari bambu perangkap ikan (belle) yang tidak digunakan lagi untuk menangkap ikan.
Gambar 31. Konstruksi dinding dari perangkap ikan bambu (belle)
Pada konstruksi dinding (renring) terdapat bukaan yang berupa pintu (tange) dan jendela/ventilasi (tellongeng). Dikatakan sebagai bukaan karena dalam kondisi terbuka atau transparan jika berasal dari material kaca. Pintu merupakan elemen bangunan yang berfungsi sebagai bukaan menuju ruang. Perletakannya sendiri membentuk pola pergerakan di dalam bangunan, biasanya diletakkan pada dinding luar, dinding kamar tidur dan pada bagian dapur. Sedangkan jendela (tellongeng) berfungsi sebagai hubungan visual
42
Hunian Nelayan Danau Tempe antara ruang dalam dan ruang luar juga sebagai bukaan pencahayaan dan penghawaan pada rumah.
Gambar 32. Bukaan pada bagian pintu dan jendela pada rumah panggung.
Penggunaan material pada pintu biasanya mengikut pada material dindingnya, misalkan dindingnya dari material kayu maka pintunya pun dari material yang sama. Ukuran pintu rumah pada hunian nelayan biasanya 2 x 0,7 meter. Pada bagian jendela (tellongeng) terdiri dari bentuk, jendela yang memiliki dan pintu dan jendela yang tidak memiliki daun pintu. Jendela yang tidak memiliki daun ini cuma menggunakan terali kayu dan kain gorden sebagai penutup. Pada rumah terapung di zona perairan menghindari bukaan jendela
pada huniannya, karena pergerakan angin pada wilayah
perairan cukup kencang sehingga beberapa rumah diantaranya menggunakan karoro (karung bekas) sebagai pelindung dinding pada rumah mereka.
43
Hunian Nelayan Danau Tempe Memiliki daun pintu
Tampa daun pintu
Gambar 33. Bukaan jendela (tellongeng) pada hunian nelayan.
Pada hunian nelayan di Kelurahan Limpomajang, karakter lokal berupa ukiran yang mencerminkan budaya setempat pada dinding bangunan tidak terdapat pada ketiga zona, bagian dinding depan (renring pangolo) lebih diperhatikan atau diperindah dibanding dinding bagian samping dan belakang karena, bagian depan rumah langsung diterlihat jika menuju rumah. 4. Pabbingeng (atap) Pabbingeng (atap) merupakan penutup bagian atas bangunan yang berfungsi sebagai pelindung bangunan dari pengaruh iklim dan cuaca. Bentuk atap mempengaruhi bentuk akhir sebuah bangunan artinya, bentuk atap juga memberikan pengaruh fasad dan wujud sebuah bangunan. Pada dasarnya, atap terdiri dari beberapa elemen, yaitu: kuda-kuda, gording, kasau, reng, listplan, dan penutup atap. Bentuk, penggunaan material dan sistem konstruksi atap pada hunian nelayan di ketiga zona umunya sama. Bentuk atapnya menggunakan bentuk segitiga pelana yang merupakan karaktur hunian tropis yang dibangun
44
Hunian Nelayan Danau Tempe secara sederhana dan menggunakan material dari kayu, seng dan rumbia. Untuk sistem sambungan atap dilakukan secara sederhana dengan perkuatan paku.
Gambar 34. Sistem konstruksi atap (pabbingeng)
Dimensi atap pada hunian nelayan melebihi panjang dari bangunan itu sendiri, hal ini untuk menghindari tempias air hujan pada musim penghujan. Kelebihan atap kesamping biasanya antara 50cm sampai 120cm. Untuk kemiringan atap umunya antara 25ยบ sampai 45ยบ. Penentuan ukuran tinggi atap rumah tidak lagi menggunakan ukuran tradisional dalam pembangunan rumah Bugis yakni diambil dari seperdua pattolo riase ditambah dua jari dari istri tuan rumah (Mardanas, 1985). Penentuan tinggi rumah hanya ditentukan oleh kesepakatan panre bola dengan yang punya rumah. Hal ini disebabkan oleh tidak adanya panrita bola dan kurangnya pengetahuan tentang tradisi dan aturan membangun rumah Tradisional Suku Bugis. Untuk model atap pada hunian nelayan sesuai pengamatan dilapangan ditemukan dua
45
Hunian Nelayan Danau Tempe model, yakni model atap bugis dan model atap safari. Dinamakan model atap Bugis karena bentuknya sama dengan model atap rumah tradisional Bugis dan Sao Raja kerajaan Bugis yakni berbentuk segitiga sama sisi. Sedangkan penamaan model atap safari yang berbentuk segitiga yang mempunyai patahan pada sisi tengahnya.
Model atap safari
Model atap Bugis
Gambar 35. Model atap hunian nelayan di Kelurahan Limpomajang
Faktor budaya juga masih sangat erat dalam pemodelan timpalaja (penutup bubungan atap) pada hunian nelayan Danau Tempe. Pengetahuan akan susunan singkap pada timpalaja masih dipahami, ini nampak pada penggunaan singkap yang hanya terdiri dari 1 sampai 2 susun yang dalam aturan suku Bugis bahwa rakyat biasa yang diklarifikasikan kedalam kelompok to maradeka dapat memakai timpalaja pada atap rumahnya akan tetapi hanya dibenarkan membuat dua tingkatan timpalaja . Penggunaan 1 sampai 2 susun ini dikarenakan pada tiga zona hunian nelayan tidak ada yang merupakan keturunan bangsawan. Sebagian besar hunian nelayan Danau Tempe tidak menggunakan ragam hias pada ujung atapnya. Untuk material timpa laja dan penutup atap pada umumnya menggunakan material seng karena
46
Hunian Nelayan Danau Tempe dianggap efektif melindungi saat musim hujan dan tahan lama. Sedangkan penggunaan material rumbia di zona rawa-rawa hanya terdapat satu rumah, sedangkan pada zona perairan terdapat lima rumah. Penggunaan material dari rumbia dianggap lebih murah bahkan dapat dibuat sendiri oleh pemilik rumah.
47
Hunian Nelayan Danau Tempe
BAB IV KESIMPULAN Hunian nelayan Danau Tempe di Kelurahan Limpomajang dilatar belakangi oleh kehidupan sosial budaya dan masyarakat nelayan. Selain itu hunian nelayan merupakan hasil adaptasi terhadap alam/lingkungan yang berbeda. Tipologi hunian nelayan Danau Tempe di Kelurahan Limpomajang mempunyai karakter tersendiri ditinjau dari perbedaan atas tiga zona yaitu zona darat, rawa-rawa, dan perairan. Bentuk hunian terdiri atas tipe rumah panggung di zona darat dan rawa-rawa, tipe rumah terapung di zona darat. Fungsi ruang kolong pada rumah yang dimanfaatkan terdapat pada zona darat dan perairan. Pola tata massa berbentuk pola linear di sona darat dan rawa-rawa, dan pola menyebar secara kelompok pada zona perairan. Orientasi hunian menghadap ke jalan pada zona darat, sebagian besar menghadap ke dermaga pada zona rawa-rawa, dan menghadap arah mata angin pada zona perairan. Konstruksi hunian di tiga zona umumnya sama yaitu terdiri dari tiang, lantai, dinding dan atap. Jenis sambungan menggunakan sistem bongkar pasang (knock down) dengan cara takik dan pen. Tiang rumah menggunakan umpak dari beton di zona darat dan rawa-rawa, menggunakan balok/papan di zona perairan. Rumah terapung ukuran tiangnya lebih rendah dibanding rumah panggung. Penggunaan
48
Hunian Nelayan Danau Tempe material bambu (salima) pada konstruksi lantai hanya sebagian kecil terdapat di zona rawa-rawa dan perairan. Pada dinding rumah menggunakan material kayu, bambu dan seng. Sedangkan material penutup atap sebagian besar menggunakan material seng.
49
Hunian Nelayan Danau Tempe
DAFTAR PUSTAKA Budiharjo, Eko. 1997. Arsiktektur Sebagai Warisan Budaya. Jakarta: Karya Uniperss. Departemen Pendidikan Nasional. 2002. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Edisi Ketiga. Jakarta: Balai Pustaka. Frick, Heinz. 2005. Arsitektur dan Lingkungan. Catakan kelima. Yogyakarta: Penerbit Kanisius. Mardanas, Izarwisma. Abu, Rivai. Maria. 1985. Arsitektur Tradisional Sulawesi Selatan. Inventarisasi dan Dokumentasi Kebudayaan Daerah Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Marwah. 2011. Orientasi Bangunan Terhadap Kenyamanan Hunian Nelayan di Dusun Nelayan Salanrang Kabupaten Maros. Tesis Program Pascasarjana Universitas Hasanuddin. Makassar. Mattulada. 1985. La Toa Suatu Lukisan Analisis Terhadap Antropologi Politik Orang Bugis. Makassar: Hasanuddin University Perss. Naing, Naidah. 2009. Kearifan Lokal Tradisional Masyarakat Nelayan pada Permukiman Mengapung di Danau Tempe Sulawesi Selatan. Disertasi, Jurusan Arsitektur, ITS Surabaya. Pribadi, Septana Bagus., dkk. 2012 Sistem Konstruksi Bangunan Sederhana pada Perbaikan Rumah Warga di Daerah ROB. Jurnal (online), (http://eprints.undip.ac.id, kata kunci: bangunan sederhana, perbaikan rumah daerah ROB. Diakses 9 september 2012). Rapoport, Amos. 1969. House from and Culture, Prentice Hall Englewood Cliffs. New Jersey. Ronald, Arya. 2008. Kekayaan dan Kelenturan Arsitektur. Penerbit: Muhammadiyah University Press. Surakarta.
50
Hunian Nelayan Danau Tempe
Tentang Penulis Faris jumawan, ST. MT. IAI. Lulus S1 di Program Studi Arsitektur Universitas 45 Makassar tahun 2009, lulus S2 di Program
Magister Teknik
Arsitektur Pascasarjana Universitas Hasanuddin (UNHAS) tahun 2013. Saat ini mengajar sebagai dosen tetap di Program Studi Arsitektur Universitas Fajar (UNIFA) Makassar. Menjadi anggota di Assosiasi Profesi Ikatan Arsitektur Indonesia Sulawesi Selatan (IAI Sul-sel). Selain akademisi juga aktif sebagai praktisi arsitek dan menjabat Komisaris di PT. Kubana Pratama Indonesia sebuah perusahaan bidang jasa konsultasi di Makassar, yang menangani beberapa perencanaan dan pengawasan proyek konstruksi gedung, lansekap, interior, dan pekerjaan sipil.
51
Hunian Nelayan Danau Tempe
52