Skip to main content

Scene

Page 1

SCENE HAS NO BORDER

SCENE VOL 1


VOL 1

SCENE

TABLE OF CONTENT


01

Joe Million x Indra Menus Tour Eropa & Main Synchronize Fest page 1 - 2

02 03

page 3 - 6

Sambut Pelantikan Presiden, Shaggydog Lantunkan Jangan Gontok-Gontokan page 9 - 10

04 05

Extreme dan Power Trip Sukseskan JogjaROCKarta Festival 2019

Tricotado Rilis Mini Album di Ngayogjazz page 13 - 14

Cloudburst, Rilis Ulang Album “Cloudburst� Dalam Bentuk Tour Edition page 11 - 12


Joe Million x Indra Menus Tour Eropa & Main Synchronize Fest

JOE MILLION X INDRA MENUS

Setelah kelar merekam 6 lagu

Di Synchronize Festival yang diselenggarakan selama 3 hari di dan direncanakan untuk diriJakarta International Expo (JIExpo) lis menjelang tour Eropa mereka, tanggal 4-6 Oktober 2019 ini, merekolaborasi kedua musisi ini pun ka akan bermain di hari ke tiga pada semakin berkembang menuju ke 6 Oktober 2019. Joe Million & Indra arah pertunjukan diatas panggung Menus dijadwalkan berlaga di Gigs musik. Gayung pun bersambut keStage bersama beberapa band tika Joe Million ditawari bermain di lain diantaranya Skandal, Airport Synchronize Festival dan memutusRadio, DOM 65, Begundal Lowok-


JOE MILLION X INDRA MENUS

Selain mementaskan beberapa repertoar solo-nya, Joe Million akan menggandeng Indra Menus untuk mempertontonkan 6 track kolaborasi mereka. Sebelum bermain di Synchronize Festival, duo ini akan menggelar sebuah showcase di Sukabumi sehari sebelumnya (Sabtu 5 Oktober 2019). Kedua acara tersebut akan menjadi ajang pemanasan sebelum mereka menembus dinginnya benua Eropa bulan Desember nanti.


Yogyakarta, 3 November 2019 – Rintik turun di langit gelap, menemani kesenduan yang seketika terjadi saat Extreme menyenandungkan salah satu karya terbaik mereka, “More Than Words” di atas panggung megah JogjaROCKarta International Rock Music Festival 2019, Minggu (3/11/2019) malam di Stadion Kridosono. Berkat “More Than Words”, energi para penonton yang sudah terkuras sejak siang hari dibuat rehat sejenak untuk bersuara bersama menyanyikan lagu yang telah mereka rilis pada tahun 1990 silam tersebut. Kehadiran mereka dalam festival yang dipromotori oleh Rajawali Indonesia ini bisa dikatakan sebagai pertemuan yang sangat berharga, di mana band yang kini digawangi oleh Gary Cherone (vokal), Nuno Bettercourt (gitar), Pat Badger (bass) dan Kevin Figueiredo (drum) tersebut akhirnya bisa berjumpa mata dan bernostalgia secara langsung dalam sebuah momen yang sakral. Dalam pertunjunkannya, ribuan penonton yang hadir tak henti-hentinya untuk ikut bernyanyi

“Extreme dan Pow JogjaROCKarta

ketiga, Nuno Bettencourt Cs berhasil membawakan sebanyak 13 buah lagu. Di antaranya

“More Than Words”, “Hole Hearted” dan tidak lupa mereka memberikan energi yang menghen-


wer Trip Sukseskan a Festival 2019”

saat Extreme mengakhiri konsernya di salah satu tempat bersejarah yang dimiliki Yogyakarta tersebut.

CEO Rajawali Indonesia sekaligus Founder JogjaROCKarta Festival, Anas Syahrul Alimi menuturkan, para penonton yang hadir dalam festival ini memilih untuk bertahan di tempat mereka masing-masing saat walau hujan terus turun mengguyur mereka. Setidaknya Power Trip berhasil membawakan 10 buah lagu dari dua album yang sudah mereka rilis. Namun di JogjaROCKarta 2019, band yang dihuni oleh Riley Gale (vokal), Chris Ulsh (drum), Chris Whetzel (bass), Blake “Rossover” Ibanez (gitar) dan Nick Stewart (gitar) lebih banyak membawakan karya-karyanya yang terdapat dalam album “Nightmare Logic” yang dirilis pada 2017 lalu.

Walau hujan turun hampir di seluruh pertunjukan Extreme, para penonton yang datang

bertahan untuk bisa menyaksikan semuanya secara utuh. “We one more. We one more. We

Lagu-lagu seperti “Soul Sacrifice”, “Executioners Tax”, “Firing Squad” dan “Nightmare Logic” yang terdapat dalam album kedua mereka itu benar-benar Power Trip presentasikan


EXTREME

“Power Trip memang layak mendapatkan predikat sebagai salah satu band dunia yang memiliki karya rock terbaik melalui album “Nightmare Logic”. Dan Alhamdulillah, berkat kehadiran Extreme, Power Trip dan beberapa musisi rock Indonesia di JogjaROCKarta 2019, apa yang kami targetkan dan kami harapkan bisa tercapai dengan sempurna. Malam ini setida-

upakan sebuah pencapaian-yang sangat membanggakan,” tutur Anas. Hal serupa pun diutarakan oleh Bakkar Wibowo, Project Director sekaligus Co Founder JogjaROCKarta Festival. Extreme, Power Trip begitu pun dengan para musisi Indonesia yang didaulat untuk menjadi line up dalam festival ini telah menyuguhkan

ka, para musisi yang bermain di atas panggung megah be- rukuran 18 x 12 meter tersebut bisa merepresentasikan pesan kebersamaan di tengah keberagaman yang ada di negeri ini. “Malam ini sangat luar biasa sekali. Tujuan yang ingin kami sampaikan melalui festival ini bisa tersampaikan dengan sangat sempurna kepada khalayak luas,”


Sambut Pelantikan Presiden, Shaggydog Lantunkan Jangan Gontok-Gontokan

S

haggydog kembali menelurkan sebuah single berjudul ‘Jangan Gontok-Gontokan’. Sesuai judulnya, lagu terbaru ciptaan band Ska asal Yogyakarta mengajak kita semua untuk merayakan perbedaan dengan ceria, tanpa perlu menjadikannya masalah hingga berujung amarah. Lagu ini sejatinya lahir di tengah hajatan politik Pemilu 2019 yang puncaknya berlangsung April lalu. Di tengah kesibukan bermusik, kami sebagai warga negara mengamati bagaimana pesta demokrasi justru bukan perayaan yang menyenangkan. Hal tersebut ternyata menimbulkan efek negatif yang bisa kita lihat sehari-hari. Rakyat Indonesia menjadi terkotakkan, terbelah menjadi banyak golongan yang sa-

Gesekan merambah dunia maya lewat hoaks bertebaran sosial media. Perbedaan yang seharusnya dirayakan sebagai berkah bukan lagi hal yang seru. “Keragaman suku dan budaya di bangsa ini tentu menjadi sebuah gem bagi kita semua, kekayaan yang tak ternilai,” kata vokalis Shaggydog, Heru Wahyono. Shaggydog berharap agar setelah ini tidak ada lagi kebencian. Seperti tertuang pada lirik, “Jangan gontok gontokan, hormati perbedaan, jangan gontok-gontokan, hapuskan kebencian”. Para kugiran Ska ini juga menyarankan supaya “molotov menyala berganti dengan bunga, orasi kebencian berganti nada cinta”.


sudah tidak ada lagi kubu 01 dan 02, cebong dan kampret. Perbedaan pendapat tentu saja masih ada, itu tidak masalah, tapi apakah masih harus ada gontok – gontokan? Sambil berdendang alunan khas musik Ska yang dipadu dengan Dangdut, Heruwa memasukkan toasting dengan menambahkan bahwa berbeda itu sudah biasa. “Mari kita singkirkan kepentingan pribadi, mari jaga bersama, jaga ibu pertiwi”. Single ‘Jangan Gontok-Gontokan’ yang merupakan bagian dari album ke-7 Shaggydog, hasil dari proses karantina sebelumnya ini akan dirilis secara resmi dalam bentuk video lirik via akun YouTube:


BY: SHAGGYDOG

JANGAN GONTOK - GONTOKAN

jangan gontok gontokan hormati perbedaan jangan gontok gontokan hapuskan kebencian suku boleh berbeda itulah nusantara berbeda itu biasa semua saudara indonesia jangan gontok gontokan hormati perbedaan jangan gontok gontokan hapuskan kebencian beta orang Ambon kulo tiyang Jowo si lae orang Batak wayan uling Bali kabeh sedulurrrr jangan gontok gontokan hormati perbedaan jangan gontok gontokan hapuskan kebencian


Semua saudara dan juga saudari semuanya sama di bawah satu matahari Berbeda beda suku bahasa dan budaya merangkai cinta bersama di lingkar nusantara Negeri ini ibaratnya kembang desa ditarik sana sini oleh para pemuda mari kita singkirkan kepentingan pribadi mari jaga bersama, jaga ibu pertiwi molotov menyala berganti dengan bunga orasi kebencian berganti nada cinta semoga negeri ini jadi aman sentosa gemah ripah sejahtera bhinneka tunggal ika sang saka merah putih berkibar di angkasa bhinekka tunggal ika marilah kita jaga suku boleh berbeda itulah nusantara berbeda itu biasa semua saudara indonesia jangan gontok gontokan hormati perbedaan jangan gontok gontokan hapuskan kebencian jangan gontok gontokan hormati perbedaan jangan gontok gontokan hapuskan kebencian


Cloudburst, Rilis Ula Dalam Bentu Cloudburst, band Metallic Hardcore asal Yogyakarta yang dibentuk sejak tahun 2011 merilis ulang album kedua mereka bertajuk “Self-titled�. Perilisan ulang album ini merupakan perayaan atas tur mereka bersama salah satu band Progresive Metal yang berasal dari kota yang sama, yaitu Goddes Of Fate pada tanggal 17 November 2019 di Singapura, dan 18 November 2019 di Kuala Lumpur, Malaysia. Album yang dirilis secara eksklusif dibawah label Pantura yaitu Samstrong Records ini nantinya akan dikemas dalam bentuk double disc. CD yang pertama merupakan album kedua Cloudburst yang sempat dirilis pada tanggal 20 Desember 2018 di Indonesia, dan 4 Januari 2019 untuk International Release. CD kedua merupakan lagu tambahan yang dikemas dengan tajuk Tour Edition. Berisikan dua lagu dengan nomor Animal Instinct yang merupakan single terbaru dari Cloudburst sendiri, dan juga satu lagu cover Drain Me milik Snapcase pelopor Metallic Hardcore asal Buffalo, New York.


ang Album “Cloudburst” uk Tour Edition Sebelumnya Cloudburst sempat merilis Dead Demo (2014), lalu dilanjutkan dengan merilis sebuah materi split dengan Warmouth (2014). Dua tahun berselang Cloudburst kembali membagikan teror gelap mereka berupa satu album penuh bertajuk Crying of Broken Beauty (2016), album perdana yang membawa mereka mendapatkan penghargaan “The Metal Rebel’s 20 Best Indonesian Metal Album”. Masih dengan tempo kencang khas Trap Them dibalut dengan sentuhan melodius nan membius ala Converge, Animal Instinct patut menjadi sebuah single pelengkap dari album kedua mereka yang dirilis dalam bentuk Tour Edition. Cloudburst yang beranggotakan Yogi SA (Gitar), Ridho N (Bass), J Yudha (Drum), dan A. Okta (Vokal) sempat mendapatkan pujian kritis dari beberapa media internasional seperti Vice, Metal Hammer Magazine, Unite Asia dan Decibel Magazine. Media – media tersebut menyebutkan bahwa album kedua milik Cloudburst sebagai album terbaik yang patut untuk didengarkan.


Tricotado Rilis Mini Album di Ngayogjazz YOGYA - Sabtu 16 November 2019 adalah hari maha penting bagi Tricotado. Cresen Naibaho (vokal), Paulus Neo (Kibor), Yabes Kurniawan (Bass), Yohanes Sapta Nugraha (Gitar), Andra (Kendang), dan Yosa (Drum) telah merilis mini album yang sudah lama mereka nantikan.

Mini album ini bagi mereka jadi media belajar bagi tiap personel Tricotado akhirnya mengeluarkan mini album mereka. Tepatnya pada Sabtu (16/11) band yang tumbuh dari hangatnya perkawanan di Komunitas Jazz Mben Senen ini menepati janji pada para pendengar yang sudah menantikan karya-karya mereka dalam media rekam sejak satu setengah tahun lalu. Tidak tanggung-tang-

Ngayogjazz yang tahun ini digelar di Dusun Kwagon Sleman. Hari penting di momen maha penting itu menandai langkah pertama mereka ke dunia musik rekam di Indonesia. Tricotado membuka pertunjukan lewat narasi yang dibacakan Jeanettha diiringi piano yang dimainkan Paulus Neo itu membincang megatruh yang akrab namun sulit dikenali. Dari sana Tricatado berbagi rasa lewat tujuh lagu dalam mini album yaitu ‘Singgahi Malam’,


yang ditutup ‘Tembang Hujan’ dengan santun. Mereka juga berbagi rasa kehilangan sosok Djaduk Ferianto yang sebelum berpulang sempat memberi wejangan ke Tricotado. “Sebelum ‘pulang’ Pak Djaduk bilang, ‘band ini harus dibuat wangun (bagus). Itu pesan terakhir beliau dan di sini (Ngayogjazz) adalah langkah pertama kami untuk menjalankan amanat lalu membawa semangat beliau,” kata Cressen. Itulah kenapa album ini berjudul ‘Cakrawala’ tanda bahwa ini langkah pertama Tricotado menuju tempat

tak berbatas. Untuk mini albumnya, pemaknaan Tricotado lewat mini album perdana mereka ditangkap dengan baik oleh ilustrator Jaka Utama dan Rangga Pratama Desainer Grafis yang menggarap sampul album fisik. Para perupa muda ini memvisualkan makna ‘Cakrawala’ dengan seorang anak yang bersiap pergi menuju langit luas. Kesederhanaan ini tidak hanya mampu menangkap tajuk album namun juga memanjakan mata. “Setiap orang punya perjalanannya masing-masing. Tapi selalu ada titik nol,

dimulai,” sambung Deasy. Prosesnya pembuatan sangat intim dan hangat di mana tiap personel membuat lagu yang mereka definisikan sebagai ruang berbagi rasa dan cerita masing-masing. Laiknya bunga rampai, tiap personel memaparkan sudut pandang masing-masing melalui musik dan lirik. Sejumlah lagu pun sudah dibawakan di banyak panggung dengan respon baik dari pendengar. Misalnya saja ‘Cakrawala ‘dan ‘Bulan Sabit’.

“Bisa dibilang mini album ini langkah awal yang sempat tertunda, jadi besok jangan tertunda lagi. Mungkin tidak punya impact yang besar secara pasar, tapi impact bagi masing-masing personel,”


Turn static files into dynamic content formats.

Create a flipbook
Scene by Jefri Halelluya - Issuu