Page 1


DIALOG BULAN PUASA

7

Keterangan :

Selaku Pak Kyai oleh : Haji Bakri Wahid, B.A. Daeng Naba oleh : Syamsul Marlin, B.A. 1


LAKSANAKAN : SHALAT FARDU, PUASA DAN BANYAK ZAKAT DG. NABA :

Kenapa ini Pak Kiay belum datang, sudah waktu belum datang. Lebih baik saya bacakan surat-surat dulu sambil menunggu Pak Kiay. Ini surat baru, kami dengan identitas, nama arifin Rasang alamat Jl. Nuri 23B Ujung Pandang. Surat Sdr. Sudah diterima Dg. Naba. Selanjutnya dari Ati Abduryatum Hidayat, ini agak lucu sayang Pak Kiay tidak ada. Kan Kiay dan Babe Naba, dari abduryatum Jl. Belibis L No. 5. Selanjutnya Syamsir B. Ujung Pandang. Kemudian Mallembasang Dg. Gasing, di S. Minasa Surat anda sudah kami terima. Muslimin K. Ujung Pandang. Dari Siregar Muhammad Jl. Veteran 291 Uj. Pandang. Surat anda sudah diterima. Selanjutnya di Murtin Anis, Mah. Fak. Sospol Univ Hasanuddin UP. Selanjutnya Saleh H. Bellu Jl. S. Walanae Uj. Pandang. Dari U. pandang lagi dari Sdr. MangguluanUP. Surat anda sudah diterima, jawab an bersabar. Selanjutnya dari kami Temangambari bapaknya Ude. Ini rupanya surat dari Palopo Luwu. Selanjutnya Muslimin Kawasi, tadi sudah ada lagi Muslimin, Uj. Pandang. Surat anda sudah diterima. Sekarang Sdr. Saut dari Selayar. M. Hasan Zainuddin Pekalongan Jawa Tengah. Ini sudah juga saya rasa dulu. Kenapa Pak Kiay belum datang ini. Mi’ra Dg. Tapala Jl. 2


Tarakan 102 Uj. Pandang. Kemudian dari Enrekang, Sdr. Muh. Ridwan. Selanjutnya surat dari Kahar Masbih Campalagian daerah Mandar, Sulsel. Dari Hajrah Uj. Pandang. Surat anda sudah diterima. Selanjutnya dari R.H. Edy Said Jawatan Hukum Kodam XIV HN Uj. Pandang. Surat Bapak sudah diterima. PAK KIAY : Assalamu Alaikum. DG. NABA : Wa alaikummussalam. PAK KIAY : Sudah ada Dg. Naba ? DG. NABA : Ia, kenapa terlambat Pak Kiay PAK KIAY : Ketiduran sedikit Dg. Naba. DG. NABA : Tapi Pak Kiay sempat makan sahur ? PAK KIAY : Alhamdulillah DG. NABA : Tidak apa-apa Pak Kiay. Disini tidak disediakan makan sahur Pak Kiay. Dg. Naba sudah setengah mati dari tadi tunggu-tunggu, sudah cemas. Andaikata Pak Kiay tidak datang, ini surat saya baca semua. Ini surat-surat yang saya telah baca Pak Kiay, yang ini belum. PAK KIAY : Biar, nanti lain kali lagi DG. NABA : Ini terakhir dari Arif Gaffar di Uj. Pandang. Tadi ada surat yang aneh Pak Kiay ? PAK KIAY : Apa yang aneh ?

3


DG. NABA : Diundang makan sahur dari Afriatum Jl. Belibis, tapi bukan Pak Kiay di panggil. PAK KIAY : Siapaji ? DG. NABA : Kan Kiay dan babe Naba. PAK KIAY : Bagus juga ya. Rupanya beliau dari mana itu. DG. NABA : Kira-kira dari Jawa kira-kira Pak Kiay. Ini Pak Kiay jawab pertanyaan dulu. Ini minta jawaban Pak Kiay. Ini dari Limau manis dari Blitung. Ini pertanyaannya Pak Kiay. Bagaimana menurut pendapat Pak Kiay jika kita ummat Islam ini ada yang mengerjakan ibadahnya misalnya mereka mengerjakan puasa cukup dalam sebulan, mengerjakan sembahyang Idul Fitri dan Idul Adha dan lain-lain amal bakti lainnya. Tetapi mereka ini tidak mengerjakan sembahyang Fardhu. Ini Pak Kiay bagaimana itu. PAK KIAY : Jawabannya Dg. Naba, menjalankan ibadah puasa, shalat, zakat fitrah, terutama bulan puas, selesai puasa, ibadah sholat tidak lagi dikerjakan. Begini Dg. Naba mereka belum mencapai derajat taqwa. Jadi ibadah puasanya kalau ditanya sahkan itu atau tidak, tentu sah saja. Cuma tidak akan tercapai keampunan dosa keseluruhannya. Karena ibadah sholat tarawih dan sholat fardu, itu tidak bisa dipisah-pisahkan Dg. Naba. DG. NABA : Dengan kata lain Pak Kiay, perbuatan itu tidak betul. Begitukah ? PAK KIAY : Betul 4


DG. NABA : Yang betul bagaimana Pak Kiay PAK KIAY : Harus dia laksanakan sholat fardu, puasa, bayar zakat begitu Dg. Naba. DG. NABA : Dg. Naba agak lain sedikit PAK KIAY : Bagaimana Dg. Naba DG. NABA : Bukan bayar zakat, tapi terima zakat. Ini lagi Pak Kiay (No. 2). Ada beberapa orang di sekitar daerah kami yang melakukan perkawinan. Mula-mulanya laki-lakinya agama Islam perempuan lain. Tetapi berhubung untuk melakukan perkawinan, terpaksalah si perempuan ini masuk agama Islam. Setelah mereka akad nikah dan menjadi suami isteri, kemudian si istri ini kembali lagi keagamanya semula, tapi mereka ini tidak bercerai, masih terus sebagai suami isteri. Yang ingin saya tanyakan kepada Pak Kiay, bagaimana hukumnya kepada mereka itu menurut pandangan Islam. Terutama mereka bila sudah punya anak. Bagaimana hukumnya kepada si anak tadi apakah anak itu dianggap anak haram, anak jadah, anak di luar nikah. PAK KIAY : Begini Dg. Naba. Bila wanita masuk agama Islam, kalau terpaksa, itu tidak benar sebab dalam agama tidak boleh ada paksaan. Jadi dia sudah masuk agama Islam kemudian mereka melakukan akad nikah, sah perkawinannya. Anak yang lahir dari perkawinan tadi, adalah anak sah. Tetapi, Dg. Naba bila si wanita kembali kepada agama yang dianut semula, (sebelum agama Islam), itu murtad namanya. 5


DG. NABA : O. ia, sudah Islam, lalu keluar lagi, itu namanya murtad. Dengan sendirinya Dg. Naba, perkawinannya jadi batal. DG. NABA : Perkawinannya batal, secara otomatis karena murtadnya tadi. PAK KIAY : Betul. Bila terjadi hubungan sex, jelas akan dimasukkan kepada hukum zina karena perkawinannya sudah batal. DG. NABA : Ia, lalu hubungannya sex juga berarti zina itu. PAK KIAY : Ia, karena dia tidak ceraikan isterinya. Pada hal istilahnya sudah otomatis cerai dengan murtadnya. Bila lahir sesudah murtad ini, anak itu dimasukkan dalam hukum anak zina. DG. NABA : Anak zina, begitu ya ? Tidak ada lagi Pak Kiay ? PAK KIAY : Tidak ada lagi. DG. NABA : Itulah jawabannya Pak Kiay terhadap pertanyaan Sdr. Nurdin tadi. Sekarang ada lagi pertanyaan Pak Kiay , dari Yunus Ibrahim Uj. Pandang. Tapi pertanyaannya adalah : 1. Apakah sah menurut hukum Islam kawin dengan seorang laki-laki yang bukan Isalm. PAK KIAY : Jawabannya singkat saja itu Dg. Naba, tidak sah. DG. NABA : Tidak sah, kalau Dg. Naba, lain lagi, tidak boleh. PAK KIAY : Ini sudah banyak pertanyaannya semacam ini. Sudah banyak kita jawab. DG. NABA : Kalau dibalik, bagaimana, yaitu laki-lakinya Islam. 6


PAK KIAY : Itu kita kembali kepada surat Muntahina Dg. Naba. Sebab Tuhan memerintahkan selidiki dulu. DG. NABA : Yang kedua, bagaimanakah hukumnya kalau ada mubaliq Islam turut mengawinkan/merestui atau turut manghadiri perkawinan semacam itu. PAK KIAY : Perkawinan yang tidak sah ikut direstui, berarti ikut berestui yang tidak dihalalkan Tuhan. DG. NABA : Dengan kata lain merestui yang salah, tentu kita salah. Pintar orangnya yang bertanya ini Pak Kiay, macam-macam ditanya. Yang ketiga Pak Kiay, didalam dialog bulan puasa. PAK KIAY : Kalau Dg. Naba tanya apa kira-kira sebab itu antara lain, pertama kemungkinan sebabnya begini : Karena tidak tahu kandungan ibadat itu dari segi kehidupan dunianya sehingga tidak ada keinginan untuk menyuruh anaknya menjalankan ibadah, itu diantaranya. DG. NABA : Yang kedua Pak Kiay ? PAK KIAY : Yang kedua Dg. Naba, karena orang tua itu sendiri tidak menjalankan ibadah. DG. NABA : O. ia, ia, orang tua itu sendiri tidak beribadah, maka tidak punya perhatian anaknya supaya beribadah. PAK KIAY : Betul, sebab Dg. Naba, jangan-jangan disuruh anaknya berpuasa, disuruh sembahyang, puasa, sedangkan saya lihat Bapak dan Ibu sendiri tidak pernah saya lihat puasa, kenapa saya disuruh. Itu kan kecele orang tua. 7


DG. NABA : Betul-betul Pak Kiay, itu antara lain sebabnya. PAK KIAY : Sebabnya juga Dg. Naba, didalam menyuruh anak sembahyang dan berpuasa, itu sama dengan menyuruh kambing masuk sungai. Tidak sama dengan menyuruh itik masuk sungai. DG. NABA : Maksudnya Pak Kiay ? PAK KIAY : Kalau itik, begitu nampak air di bisa terjun kalau dihalau kesitu. Tetapi kalau kambing, melihat air, dia takut. Jadi tidak bisa dia disuruh. Tetapi dia ditarik, diikat lehernya si Bapak Ibu terjun masuk sungai lalu kambing ditarik, begitu baru bisa jadi. DG. NABA : Jadi begitu pula kalau menyuruh anak sembahyang, kita sembahyang lebih dahulu. Jadi Pak Kiay, kalau mau anak jadi orang baik, Ibu, Bapak, terlebih dahulu harus jadi orang baik. Kan begitu ? PAK KIAY : Benar Dg. Naba. DG. NABA : Menyuruh anak sembahyang.

sembahyang,

kita

dahulu

PAK KIAY : Karena itu ada pantun berkata Dg. Naba. DG. NABA : Bagaimana bunyi pantunnya Pak Kiay. PAK KIAY : Kalau kurik bapaknya, rintik anaknya. Buah jatuh tidak jauh dari dahannya. Ada lagi kata-kata lain, tutur air itu jatuh tidak jauh dari tuturan atapnya. Kemana jatuh air kalau tidak dipelembaha. Itu peribahasa. 8


DG. NABA : O, Ia. Maksudnya, sifat-sifat orang tua, menurun kepada anak. PAK KIAY : Kalau Bapak tukang sembahyang, anaknya ikut, ini selamanya yang membawa acara hanya Pak Kiay dan Dg. Naba. Pertanyaan kami, siapa nama sebenarnya yang dimaksud di atas ? Siap aKay, siapa Dg. Naba. PAK KIAY : Tunggu saja tanggal mainnya Dg. Naba, nanti lain ki. DG. NABA : O. o. begitu, tapi saya mau jawab. PAK KIAY : Bagaimana Dg. Naba ? DG. NABA : Pak Kiay dan Dg. Naba, kedua-duanya adalah karyawan Dep. Agama. PAK KIAY : Dia tanya namanya‌ DG. NABA : Nanti, tunggu tanggal mainnya. Begini Pak Kiay, kita lanjutkan yang lalu jawab surat-surat cukup sekian dulu. Dulu Pak Kiay sudah menerangkan yang lalu ini tentang masih menjalankan perintah Tuhan dan Rasulnya akan berakibat baik di dunia dan berakibat baik di akhirat. Kalau begitu, kalau tidak menjalankan perintah Allah dan Rasulnya, akan berakibat buruk di dunia dan akan berakibat buruk di akhirat. Kalau begitu, besar akibatnya. Kenapa ada orang tua tidak menyarankan, tidak menyuruh anaknya beribadah. PAK KIAY : Itu mungkin ada beberapa sebab Dg. Naba.

9


DG. NABA : Mungkin ada beberapa sebab. Apa sebab-sebab itu antara lain ? DG. NABA : Kalau Bapak tidak sembahyang, anaknya tidak sembahyang ton. PAK KIAY : Malah bisa sebaliknya, Bapaknya sembahyang, anaknya tidak karena tidak disuruh-suruh. Ini kebiasaan umum Dg. Naba. DG. NABA : Faktor-faktor apa yang menyebabkan anak-anak itu jadi nakal Pak Kiay ? Menurut Pak Kiay, apa ? PAK KIAY : Faktor – faktornya, itu banyak kemungkinan Dg. Naba. DG. NABA : Ia, banyak kemungkinan, antara lain ? PAK KIAY : Antara lain saya dapat sebutkan disini, 5 faktor yang terbesar. Diantara faktor ini Dg. Naba, tidak menjalankan ibadah atau tidak melaksanakan ajaran-ajaran agama, ini atau karena, yang membuat anak itu nakal. Karena Dg. Naba kalau tidak menjalankan aga, anak tidak pernah berlatih mengikuti suara hatinya yang disadarkan kepada Tuhan. Itu akibatnya kalau ia tidak menjalankan agama. Akibat yang kedua, si anak tidak pernah tertanam yang baik, yaitu kebiasaan menahan dan mengendalikan nafsu menurut yang dikehendaki Tuhan. Itu akibat berikut. Akibat yang terakhir lagi, anak yang tidak menjalankan ajaran agam, tidak pernah terbiasa memecahkan kesulitan bathin yang selalu dihadapi manusia yang hidup dengan mohon hidayat Tuhan hingga ia mencari jalan 10


pelarian kepada bentuk-bentuk Kenakalan itu faktor pertama. DG. NABA : Ia Pak Kiay. Lalu faktor kedua, apalagi Pak Kiay ? PAK KIAY : Kalau Dg. Naba tanya faktor kedua yang menjadi penyebab anak-anak itu nakal, faktor kedua ialah faktor broken home. DG. NABA : Broken Home, apa ini Pak Kiay ? PAK KIAY : Ini Dg. Naba, istilah orang Inggris. Kalau istilah kita itu keretakan rumah tangga antara si Ayah dan si Ibu. DG. NABA : O . ia . ia. , keretakan Ibu dan Bapak, Ibu maunya lain, Bapak maunya lain, akhirnya bercerai, Ibu atau berkelahi dengan Bapak. PAK KIAY : Jadi antara ayah dan Ibu Dg. Naba, selalu cekcok, tidak terdapat saling pengertian, saling cinta mencintai, saling harga menghargai. Si anak Dg. Naba, semenjak kecilnya, sampai kepada masa remajanya, itu tidak pernah merasai hangatnya kasih sayang Ibu dan kasih sayang Bapaknya. DG. NABA : O, ia. Ia lalu ? PAK KIAY : Hingga anak itu kehilangan bumi tempat berpijak, kehilangan dahan tempat bergantung, kehilangan harapan tempat menggantungkan nasib, ini membawa bahaya bagi generasi muda. DG. NABA : A. a. a‌, jadi Pak Kiay, ini faktor kedua, faktor rumah tangga. Kalau Ibu dan Bapak selalu cekcok, pengaruhnya kepada anak. 11


PAK KIAY : Ia benar sekali. Karena itu Dg. Naba, tidak sia-sia Allah memperingatkan di dalam tentang kehidupan suami isteri. DG. NABA : Ada peringatan Tuhan ? Bagaimana bunyinya Pak Kiay. PAK KIAY : Di dalam firman Allah surat Annis Dg. Naba, Tuhan memperingatkan begini : WA’ ASSYIRUHUNNA, BIL MA’RUF, FAINKARI HATUMUU MNNA FAASA ANTARKRAMUU SYAYAN WABAJ’ ALALLAHU FIIHI KHAIRAN KASHIRAN. DG. NABA : Artinya Pak Kiay PAK KIAY : Artinya, pergaulilah olehmu isteri kamu dengan cara yang baik.. DG. NABA : O, ini suruhan, harus pergauli isteri dengan baik. PAK KIAY : Karena kalau pergaulan itu baik, nanti anak itu jadi baik. Kalau akibat buruk, anak yang dibawa pimpinan isteri jadi nakal. DG. NABA : Betul, kalau kita pergauli isteri kita dengan baik, artinya isteri kita baik ton sama kita. PAK KIAY : Betul, jangan Bapak saja yang baik, isteri tidak baik. Atau isteri saja yang mau baik, Bapak tidak baik. DG. NABA : Tegasnya , harus cinta mencintai Pak Kiay PAK KIAY : Ia, sebab ini masalah interaksi sosial Dg. Naba. Lalu selanjutnya Dg. Naba ayat tadi, jadi kamu benci akan mereka, (benci sama isteri), karena 12


tindak tanduknya, karena tingkah lakunya, kamu harus benar. Maka boleh jadi engkau membenci sesuatu, padahal berakibat baik. DG. NABA : Tapi ada orang bilang Pak Kiay, sabar itu ada batas. PAK KIAY : Bagaimana maksudnya ada batasnya ? DG. NABA : Artinya, pada suatu saat, dia tidak sumber lagi. PAK KIAY : Sudah tidak benar sabar kalau begitu Dg. Naba, kalau sabar pakai batas begitu. DG. NABA : Jadi yang baik sabar Pak Kiay, dan yang tidak betul, perlu kita perbaiki. PAK KIAY : Sabar kalau maksudnya batas kesabaran itu kalau orang melanggar, tidak lagi kita harus menasehati. Ayat tadi mengatakan boleh jadi bahwa dibalik kebencianmu itu nanti dan kamu bersabar, itu Allah akan jadikan dibaliknya itu kebaikan yang banyak. DG. NABA : O.. mungkin kita benci kepada sesuatu, tetapi Allah menjadikan kebaikan kepada sesuatu itu. PAK KIAY : Ia betul Dg. Naba. Contohnya, dia benci kepada isterinya karena tingkah lakunya, lantas dia sabar, pergaulannya juga tetap jadi baik, anak dibelakang jadi baik. Tetapi kalau dia tadi sabar terus marah, dia benci, berkelahi, akibatnya tidak baik, goncang rumah tangga. DG. NABA : Itu namanya broken home. 13


PAK KIAY : Ia, akibatnya anaknya jadi tidak dapat mempunyai pandangan pegangan percontohan yang baik terhadap kedua orang tuanya. DG. NABA : Faktor ketiga, apa lagi Pak Kiay PAK KIAY : Faktor ketiga Dg. Naba, ialah orang tua t dk memberi perhatian untuk membimbing anaknya. DG. NABA : Ia, tidak ada perhatian orang tua, apa mau anak, di biarkan saja. PAK KIAY : Ia, kadang-kadang karena terlalu dimanja.. DG. NABA : Ia, biar begadang malam-malam biar saja, laki perempuan campur, biar. Ini super modern. PAK KIAY : Di dalam bertingkah laku yang baik Dg. Naba, itu mula-mula berbicara anaknya pintar. Kadangkadang anak yang baru pandai bicara, juga mencoba-coba mengikuti orang lain mengamung, dia mengamung juga. Dia dengar orang memakimaki, dia juga memaki-maki. Yang jadi sasaran makinya mungkin neneknya, mungkin kakaknya, mungkin adiknya, semua orang bergembira dengan tidak membiasakan kepada adat-adat yang baik. Akhirnya kelancangan mulutnya Dg. Naba, tingkah lakunya berjalan terus. Dengan bertambah pula usianya, tanpa ditanamkan kebiasaan yang baik, tanpa perhatian pihak Ibu Bapak, akhirnya api rokok membakar rumah. DG. NABA : A. ia, akhirnay api rokok membakar rumah, api yang kecil..

14


PAK KIAY : Ia, tapi karena tidak diperhatikan, sudah menjadi besar. Besar, akhirnya terbakar rumah. Tingkah laku yang kecil mula-mulanya karena kurang perhatian dari pihak Ibu Bapak, tentang pendidikan anaknya, mulanya gembira, akhirnya jadi marah. Karena apinya sudah besar. DG. NABA : Kalau begitu Pak Kiay, ini acara menarik sekali. Ini sebagai orang tua, sebab Dg. Naba juga merasa bertanggung jawab. Begitu Pak Kiay, tapi waktu sudah sampai Pak Kiay. PAK KIAY : Waktu sudah sampai Dg. Naba ? DG. NABA : Ia, kita selesaikan sampai disini dulu Pak Kiay, Insya Allah besok lagi kita sambung. Sampai sekian Pak Kiay, saya permisi dulu, Assalamu Alaikum PAK KIAY : Alaikummussalam w.w.

15


BERCAMPUR ISTRI PADA HARI PUASA RAMADHAN

DG. NABA : Assalamu Alaikum. Rupanya Pak Kiay belum ada ini. Ini surat-surat sudah banyak di atas meja ini. Ini saya lihat ada surat lagi dari namanya Abd. Kadir T. Kab. Enrekang, Pantia Mesjid Jami subuh. Ini lagi dari B.D Mangeba, ini surat dari Uj. Pandang. Selanjutnya dari R.S. Bayangkara Hemma Kamiseng Perawat R.S. Bayangkara Up. Terima kasih atas pertanyaan Bapak. Ini rupanya surat berhubungan dengan masalah-masalah kesehatan. Nanti saya sampaikan sama Pak Kiay. Selanjutnya ada lagi dari P.K. Waty Tideng Tulang tulang Muh. Cabbali. Selanjutnya ada lagi surat dari Ahmad M.Uj. Pandang. A.R. Dengan. Mattola dari pulau Sabaru. Ini surat dari Abd. Rahim Makasim Luwu Banggai. Surat anda sudah Dg. Naba terima. Nanti disampaikan sama Pak Kiay. Abdul Rahim Makkasim, Luwu Banggai juga. Kemudian Idris Ariin Uj. Pandang. Dan Landari Uj. Pandang. Selanjutnya Muh. Hasan ini juga Uj. Pandang. Selanjutnya dari masyarakat Desa Julubori Kab. Gow Abdullah A.D. Uj. Pandang. Dari Laccu-laccu Bontotangnga Limbung, Dari Asman Uj. Pandang. Kemudian surat dari Muh. Nur Amin Gru SD M. Kanca Monta Bima Nusatenggara Barat. Dari Ibrahim Uj. Pandang. Kemudian St. Sartya B. dari Kabupaten Jeneponto. Surat anda sudah sampai. Anton Basri Uj. 16


Pandang. Selanjutnya surat dari Ibnu Abbas R. Bara-baraya Uj. Pandang. Selanjutnya surat dari S. Wlaana E tanpa nama Uj. Pansang. Dari A di Mapiare surat anda sudah diteirma. Selanjutnya dari S. Hambali Uj. Pandang. Amrullah Mamma Uj. Pandang surat anda sudah diterima. Selanjutnya dari Hariuddin Abd. Haid M. Bampir Toli-toli. Selanjutnya T. Andi Patongani ini dari Gorontalo. Ya surat Bapak sudah diterima. Sabarauddin Hellu, Abubakar Lambogo Uj. Pandang. Ini lagi dari Uj. Pandang, Jamaluddin. PAK KIAY : Assalamu Alaikum. DG. NABA : Alaikummussalam, kebetulan Pak Kiay PAK KIAY : Bagaimana kebetulan Dg. Naba. DG. NABA : Surat selesai dibaca Pak Kiay datang. Itu artinya perut lapar, undangan datang. PAK KIAY : Undang apa, undangan makan ? DG. NABA : Ia. PAK KIAY : Cocok Dg. Naba. DG. NABA : Artinya, surat selesai dibaca, Pak Kiay datang tapi masih tinggal satu. Ini Burhan Muh. Yusuf Pak Kiay. Ini surat terakhir Burhan Muh. Yusu. Dari Uj. Pandang. Itulah Pak Kiay surat-surat yang masuk sampai saat ini yang saya ketemu di meja ini Pak Kiay. Subuh-subuh rupanya sudah ditaruh di meja tempat ini dan sudah saya bacakan Pak Kiay surat-surat itu. Adapun surat-surat yang sudah sampai sama Pak Kiay, barangkali sudah 17


bisa dijawab Pak Kiay ? ini dari Jawa Barat Pak Kiay, H. Kadari Indramayu Jawa Barat. Yang ditanyakan Pak Kiay, membayar zakat sebelum cukup haul, belum sampai setahun. Bagaimana itu. Ini pertanyaan dipendekkan, mengingat waktu. PAK KIAY : Begini Dg. Naba, tentang orang yang akan mengeluarkan zakat tetapi belum cukup haulnya atau belum cukup atau tahun, apakah itu dibolehkan atau tidak. Begini Dg. Naba, itu sudah ada rupanya petunjuk. Ada di dalam kita Syahrul Qadis, dimana dinyatakan INNA ABBASA SA’ALA RASUULULLLAHI S.A.W. I TA’JILI SHADAKATIHI GABLA ANTAHULLA ARAKHA SHALLAHU II ZALIKA. DG. NABA : Artinya Pak Kiay ? PAK KIAY : Bahwa Ibnu Abbas telah bertanya kepada Rasulullah tentang mempercepat pembayaran zakatnya sebelum cukup tahunnya. Maka Nabi membolehkan kejadian yang begitu. DG. NABA : O. ia, jadi zakat itu walaupun belum sampai satu tahun, sudah boleh dikeluarkan. Itu percepat namanya berbuat yang baik. PAK KIAY : Jadi Dg. Naba, zakat yang memakai haul, itu kan sudah jelas, Peternakan, Perdagangan, itu memakai haul. DG. NABA : Nah sekarang begini Pak Kiay. Ini kalau orang campur di bulan Ramadhan, suami isteri, kan ken Kaarah dapat denda, dapat hukuman. Yang dapat 18


hukuman itu, kenapa hanya laki-laki saja yang dikenakan. Wanitanya kenapa tidak. PAK KIAY : Ia, betul Dg. Naba. Di dalam ‌. DG. NABA : Barangkali bagus kalau Pak Kiay ceritakan dulu Hadistnya itu. PAK KIAY : Begini Dg. Naba, tidak usaha saya sampaikan hadistnya, ceritanya sajalah. Jawaban saya karena memperpanjang waktu kalau saya bacakan Dg. Naba. Begini Dg. Naba, perempuan tidak dikenakan Kaffarah, karena persoalannya begini. Laki-laki dipandang yang bersalah dalam persoalan ini. DG. NABA : Ia laki-laki yang dipandang bersalah ? PAK KIAY : Ia, sebab itu dia dihukum DG. NABA : Padahal, sama-sama salah. Kalau tidak ada perempuan, tidak jadi Pak Kiay PAK KIAY : Betul Dg. Naba. Tetapi sebab biar bagaimana perempuan itu mau kalau laki-lakinya tidak berdaya, atau tidak bernafsu, maka tidak akan terjadi apa-apa. Tetapi sebaliknya bisa terjadi apaapa, walaupun wanitanya tidak bernafsu kalau lakilakinya mempunyai nafsu, bisa terjadi apa-apa. Yang kedua Dg. Naba, wanita itu tidak bisa berpuasa dua bulan berturut dalam membayar Kaffarah, karena ada haid yang datang setiap bulan bagi wanita. Jadi dalam persoalan ini, soal yang pertama laki-laki yang dipandang agressor. DG. NABA : Jadi laki-laki dipandang agressor. 19


PAK KIAY : Laki-laki dianggap agressor kan penyerang Dg. Naba. Wanita itu hanya kena serang, walaupun sama-sama dirasakan keenakannya, tapi satu menyerang, satu diserang. Lantas yang menyerang dikenakan hukuman. Dan wanita ini tidak dikenakan hukum, oleh karena ia sebagai yang diserang, yang kedua tidak mungkin puasa dua bulan berturut-turut karena adanya haid yang membatasinya. Begini Dg. Naba. DG. NABA : Betul, betul Pak Kiay. Jadi tegasnya kalau Kaffarah campur dalam bulan Ramadhan, yang dikenakan kelonggaran Tuhan kepada perempuan Pak Kiay. Pak Kadri, itulah jawaban untuk Bapak, semoga puas, dan terima kasih atas perhatiannya. Sekarang dari Maddi, Samarinda hulu Kaltim. Yang ditanyakan Pak Kiay, yang pertama, a. I. Lampu Stromking, Tikar dan Lampit kain dinding sajadah, 4 kipas, yang kelima pengeras suara dan lain-lain. Bolehkah semuanya ini dipergunakan atau dipinjamkan untuk keperluan umpamanya pengentenan, selamatan kematian, dan lain-lain sebagainya. Sedang dari orang yang mewakafkan itu, hanya untuk kepentingan Mesjid kepentingan langgar, kepentingan Surau. Apakah kesemuanya ini tidak bertentangan dengan hukum Islam. PAK KIAY : Ini jelas Dg. Naba. Kalau orang yang mewakafkan sudah menentukan hanya, kita pahami dari pertanyaannya, hanya diwakafkan untuk Mesjid dan Langgar. Maka bolehkah itu dipinjamkan kepada pengantenan, kematian dan dan sebagainya. Jawabnya sudah jelas. Kalau orang mewakafkan hanya untuk Mesjid, Langgar, lampu 20


stromking, tikar, lampit, kain dinding, sajadah, kipas angin, pengeras suara, semua tidak dibolehkan dipergunakan untuk pengantenan, selamatan, hitanan dan sebagainya. DG. NABA : Ia, kecuali sesuai dengan kemauan orang yang mewakafkan. Bgi lagi Pak Kiay, b. Mengenai shalat Tarwi yang 8 rakaat, tambah 3 rakaat (Dengan shalat Wittri) menjadi 11 rakaat, apakah yang 11 rakaat ini yang pernah dikerjakan oleh Nabi Muhammad s.a.w. sebab ada yang mengatakan bahwa shalat Tarwih yang 11 rakaat itu, memang ada hadistnya. Tetapi dikatakan orang, hadist tersebut daif dan shalat Tarwih yang 23 rakaat dengan Wittirnya itu, dikatakan orang benar. Maka dengan ini saya mohon diberikan penjelasan, dari huruf a dan b. PAK KIAY : Jawabannya singkat saja Dg. Naba. Adapun orang yang mengatakan hadistnya daif, sembahyang Tarwih yang 11 rakaat yang dibuat Nabi itu, itu dapat dikatakan penjelasan itu tidak benar. Yang benar adalah bahwa sembahyang yang 11 rakaat itu, hadistnya sah. Adapun mereka yang ingin melaksanakan sembahyang 23 rakaat atau yang mau sembahyang 11 rakaat, silahkan sembahyang menurut keyakinan masing-masing. Tidak usha daif mendaifkan. Tetapi kalau mau tanyakan apakah hadistnya sah atau daif, disini Pak Kiay menjelaskan Hadistnya Sah. DG. NABA : O, ia, kalau Dg. Naba, lain lagi Pak Kiay. Itu hadistnya tidak ada. Yang mana maksud, orang yang Islam lalu tidak sembahyang. 21


PAK KIAY : Ia. Cocok. Jadi yang tidak sembahyang 11, yang tidak sembahyang 23, itu tidak ada hadistnya, baik Sahe atau yang daif cocok. DG. NABA : Cocok yah. Memang kalau Dg. Naba, naba memang. Selanjutnya ini lagi Pak Kiay dari Ismail Salam, dari Suroco Malili. a. apakah hukumnya dan bagaimana keadaan puasa orang yang sedang menjalankan ibadah puasa, lalu melihat-lihat photo-photo porno, yang sudah terpasang dinding kamarnya. Ini keadaan sekarang Pak Kiay. Katanya tidak modern rumah kalau tidak ada photo porno. PAK KIAY : Jadi kalau begitu, modern porno. DG. NABA : Ia, cocokmi Pak Kiay. Sekarang kita puasa, lalu lihat itu. Bagaimana. PAK KIAY : Bgi Dg. Naba, termasuk yang serba memancing masalah sex, itu harus dapat dipindahkan. Bukan sekedar yang berbuat dilarang Dg. Naba, termasuk yang memancing datangnya sex, seperti melihat, membuka-buka gambar, porno, cerita-cerita yang porno, film-film porno, termasuk dalam rangka pengendalian nafsu. Sebab itu Dg. Naba, masalah persoalan sexuil, bukan saja ditindak pencegahan tetapi harus ada tindakan preventip, mengukung diri untuk tidak terpancing kepada perbuatan. Itulah yang dikatakan Dg. Naba, “MAN LAMYADAMGAULAZUU RI WAL’AMALABIHI FALAYSALILLAHI HAJATUN FII AYYADA’A THA’AMAHU WASYARABAHU. 22


DG. NABA : Artinya ? PAK KIAY : Artinya “siapa yang tidak dapat meninggalkan berkata-kata dusta, atau melakukan perbuatanperbuatan yang berdosa, Allah tidak berhajat menerima ibadah puasanya. DG. NABA : Skrg nasehat Dg. Naba. Kalau ada di kamar kita photo-photo porno, turunkan itu. PAK KIAY : Sebagai pengendalian. Ia kalau pelupakan. Begitu kalau Dg. Naba. DG. NABA : Jangan porno modern. Yang kedua Pak Kiay, orang Islam yang bekerja pada suatu proyek atau tambang. Apakah ia boleh meninggalkan puasa atau berfidiah dengan alasan ia bekerja berat padahal kerjanya hanya di kantor proyek. Karena ia pegawai pertambangan, bukan ia bekerja di tambang. Tentu begitu Pak Kiay. Jadi tidak ada bedanya dengan Pegawai Negeri. Hanya jam kerjanya lebih banyak, karena tiap hari mendapat lembur. Bagaimana orang ini Pak Kiay. PAK KIAY : O, ya, apakah mereka boleh bayar fidiah juga. Itu pertanyaannya, boleh dia tidak berpuasa atau berbuka puasa pada bulan ramadhan karena dia bekerja di pertambangan, tetapi di kantornya. DG. NABA : Ia, dia pegawai kantor pertambangan. PAK KIAY : Ini tidak bisa Dg. Naba. DG. NABA : Ini tidak bisa, artinya tidak boleh 23


PAK KIAY : Tidak boleh dia makan di tengah hari dengan alasan dia bekerja di kantor pertambangan sebab kantornya bukan kerja di tambangnya. DG. NABA : Kalau dia kerja ditambangnya, bagaimana ? PAK KIAY : Itu lain Dg. Naba. Kalau dia kerja keras di tambang, itu mereka dibenarkan untuk tidak puasa, dengan jalan membayar fidiah. DG. NABA : O, ia, tidak usah qada, tapi bayar fidiah. Ketiga, apakah sah sembahyang sunat yang dikerjakan tergesah-gesah ? atau cepat-cepat ? dan apakah bisa juga mendapat pahala di sisi Allah s.w.t. padahal bacaannya cepat, rukunya cepat, sujutnya pun cepat aqidahnya pun cepat, rukunya cepat, sujudnya pun cepat aqidahnya pun cepat, semua serba cepat. PAK KIAY : Ini semuanya kilat Dg. Naba. Itu kalau surat kilat, itu bagus. Kalau surat kilat, cepat sampai. Tapi kalau sembahyang kilat semacam itu, itu tidak jadi sampai. DG. NABA : Tidak sampai ya. Kalau surat kilat, bagus, cepat sampainya. Tapi kalau sembahyang kilat, tidak sampai malah. Kalau begitu, mau sembahyang khusus itu. Sebab ada ton kilat khusus. PAK KIAY : Ini Dg. Naba, sembahyang yang semacam itu, bilang sudah kehilangan thama’minannya di dalam ketentuan hukum, sembahyangnya sudah tidak sah. Jadi pahala otomatis tidak ada. Malah dosa bisa dapat “Wailunhil mushallin� Neraka untuk orang 24


sembahyang. Tetapi tidak boleh diartikan. Sebab orang yang malas sembahyang, kalau begitu tidak usah sembahyang karena masuk neraka. Tapi harus diartikan, sedangkan masih sembahyang, masih masuk neraka, apalagi kalau tidak. Tetapi sembahyang yang masuk neraka, inilah dia sembahyang kilat. DG. NABA : Baiklah Pak Kiay. Nah itulah Sdr. Ismail Slaam jawaban terhadap pertanyaan Anda. Atas perhatian anda, kami ucapkan banyak terima kasih. Selanjutnya Pak Kiay, kita lanjutkan dialog kita yang lalu. Yaitu masalah pendidikan anak-anak. Ini bagus Pak Kiay. Memang orang tua mempunyai tanggung jawab terhadap pembinaan anakanaknya. Dan itu sebagaimana yang sudah dikemukakan Pak Kiay yang lalu, jadi diperlukan kebiasaan yang baik, harus dimulai sejak kecil. Tentu begitu Pak Kiay. PAK KIAY : Benar demikian Dg. Naba, karena itu ada dua pantun yang menjelaskan tentang pembiasaan semasa kecil. DG. NABA : Ia, ada dua pantun yang menjelaskan, pembinaan semasa kecil. PAK KIAY : Kalau dalam hadist sudah cukup kita jelaskan pada beberapa malam yang lalu, anak disuruh sembahyang umur 7 tahun, disuruh puasa kalau sudah mampu 3 hari, satu bulan dan seterusnya, maka dalam pantun kita juga sudah terbayang bahwa Bangsa Indonesia itu juga mempunyai keahlian mendidik anaknya. 25


PAK KIAY : Diantaranya ada yang bukan bersifat Pantun, tetapi bersifat pepatah. Kalau mau membentuk bambu, bentuklah semasa mudah. DG. NABA : Kalau sudah tua baru dibentuk itu akan patah. PAK KIAY : Ia, bambu yang sudah tua mau dibentuk, itu akan patah. Ini pengertiannya Dg. Naba, jadi harus semasa kecil ditempah. Yang kedua lagi Dg. Naba (ini memang pantun) karena ada sampirangnay dan ada isinya. Demikian dikatakan pantun ini “Kecil teranjak-anjak, besar terbawa-bawa, sampai tua tidak bisa dirobah. DG. NABA : O, begitu, kecil teranjak-anaj, besar terbawa-bawa kalau tua, tidak bisa dirobah. PAK KIAY : Kalau teranjak-anjak kepada yang baik, pantunya begini “Kecil teranjak-anjak, besar terbawa-bawa sampai tua tidak bisa dirobah, akhirnya mati masuk surga. DG. NABA : A.a.a. kalau yang baik. Jadi semenjak kecil, dibiasakan sembahyang, sudah besar, bersembahyang terus. Kalau tua, tidak bisa meninggalkan sembahyang, akhirnya ke surga. PAK KIAY : Sebaliknya lagi. Kalau teranjak kepada yang jahat, kepada yang tidak baik, lain lagi pantunnya. DG. NABA : A. a. bagaimana ? PAK KIAY : Kecil teranjak-anjak, besar terbawa-bawa, sampai tua tidak bisa dirobah, akhirnya mati masuk neraka. 26


DG. NABA : Jadi ke neraka perginya karena yang tadi ke sorga. PAK KIAY : Ia, tadi ke sorga. Karena biasa mencuri, karena biasa merampok, karena biasa minum tuak, berzina, sampai tua tidak bisa dirobah, akhirnya mati masuk neraka Dg. Naba. Apalagi Dg. Naba sudah ada memang peringatan Nabi itu, tentang pembinaan semasa kecil. DG. NABA : Bagaimana peringatan Nabi itu. PAK KIAY : disini peringatan Rasulullah. Kalau tadi pantun Indonesia, sekarang berdasarkan Hadist. DG. NABA : Bagaimana hadistnya Pak Kiay. PAK KIAY : Nabi bersabda begini Dg. Naba : MANAHALAWAA LIDUN WALADAN AFDHALUMIN ADABIN HASANI. DG. NABA : Artinya Pak Kiay ? PAK KIAY : Artinya, tidak ada satu pemberian Bapak terhadap anaknya yang lebih berharga daripada pendidikan yang baik. DG. NABA : A. a. a‌ tidak ada pemberian Bapak kepada anak yang paling baik, paling utama, kecuali pendidikan yang baik. PAK KIAY : Betul Dg. Naba. Kalau diberikan emas sebesar gunung tapi anaknya tolol, tidak ada gunanya. Tapi diberikan ilmu dan pendidikan yang baik, biar tidak ada emas sebesar gunung, dia bisa membuat emas sebesar gunung. 27


DG. NABA : O, ie, betul, betul Pak Kiay. Nah selanjutnya Pak Kiay, dulu Pak Kiay sudah kemukakan ada 3 faktor Pak Kiay tentang yang menentukan nakal tidaknya anak-anak. Sekarang faktor keempat apa. PAK KIAY : Ia. Memang dulu Dg. Naba, bertanya faktor-faktor apa yang membuat kenakalan anak-anak itu. Diantaranya sudah ktia jelaskan dulu tentang broken home (rumah tangga yang pecah belah). Yang kedua kurang perhatian orang tua. Sekarang Dg. Naba tanya faktor yang keempat lagi, apa. Faktor yang keempat Dg. Naba, ialah fkr guru Dg. Naba. Guru tidak sungguh-sungguh membentuk pembinaan mental si anak di sekolah. DG. NABA : O. o . o. .. guru tidak sungguh-sungguh membina mental anak di sekolah, karena gaji guru tidak cukup. PAK KIAY : Jangan dulu kita lihat kesana. Faktor lain lagi itu. DG. NABA : O. o. ia‌ ia‌. PAK KIAY : Jadi si Guru disini Dg. Naba, hanya bertindak sebagai pengajar tok. Tidak sebagai pendidik. Kalau sudah diajar, sudah, beres, biar dia pulang. Begitu Dg. Naba. DG. NABA : Tapi begini Pak Kiay. Itu juga berbeda kita dulu Pak Kiay dengan anak-anak skrg ini. Wah dulu itu kita sama guru, kita hormat memang. Tapi sekarang, sudah banyak anak-anak itu tidak hormat sama gurunya.

28


PAK KIAY : Itu ada faktor lain mungkin Dg. Naba. Faktor understanding dari pada guru itu‌ DG. NABA : Itu ma barangkali tidak enak mengajar. PAK KIAY : Ia, lemparkan saja pelajaran, selesai. Jadi dia tidak dapat mendidik dengan baik, Cuma sekedar mengajar. DG. NABA : Ia, jadi dia bukan mendidik, hanya mengajar saja. Kalau begitu, berbeda mendidik dengan mengajar. PAK KIAY : Memang ada Dg. Naba perbedaannya. DG. NABA : Apa perbedaannya mendidik dengan mengajar Pak Kiay PAK KIAY : Kalau Dg. Naba bertanya beda antara mengajar dengan mendidik, mengajar, memberikan pengetahuan. Mendidik, membiasakan sesuatu yang baik untuk berulang-ulang sampai tertanam jadi sifat pada anak didik. Sifat-sifat yang baik, harus dicontohkan oleh guru lebih dahulu. Begitu Dg. Naba. DG. NABA : Kalau begitu Pak Kiay, sudah waktu, sampai disini saja dulu Pak Kiay. PAK KIAY : Baiklah. DG. NABA : Saya permisi dulu Pak Kiay, Assalamu Alaikum. PAK KIAY : Wa’alakummussalam w.w.

29


Dialog Bulan Puasa 7  

H Bakri Wahid

Read more
Read more
Similar to
Popular now
Just for you