Skip to main content

Tuan Gunung Berambut Merah Full Pages

Page 1

1


Ribuan tahun silam, hiduplah Lempeng Benua

bernama Ben dan Lempeng Samudra Bernama Sam. Keduanya merupakan sahabat yang tidak pernah terpisahkan semenjak kecil. Namun, suatu hari bencana alam yang sangat dahsyat melanda kampung halaman mereka dan mereka pun terpisah jauh.

2


Ribuan tahun berlalu, Sam kini tinggal di tengah samudra yang sangat luas seorang diri. Ia merasa sangat kesepian.

Sam sangat merindukan sahabatnya, Ben, yang berada sangat jauh disana. Ia pun memutuskan untuk melakukan perjalanan jauh untuk menemui Ben.

3


4


Dalam perjalanannya, Sam bertemu dengan batu yang sangat unik. Ia sangat besar dan berwarna gelap.

5


“Halo Tuan Batu! Siapa namamu?” tanya Sam. “Aku Asa si Batu Basalt.” jawab batu besar tersebut dengan ramah. Asa paham bahwa Sam kebingungan mencari arah. Ia pun menjelaskan kepada Sam jalan mana yang harus ditempuh olehnya. 6


Setelah menempuh perjalanan yang sangat jauh, Sam pun berhasil bertemu dengan Ben si Lempeng Benua.

7


Keduanya merasa sangat bahagia, hingga meneteskan air mata kebahagiaan.

8


Ada banyak hal yang terjadi selama mereka berpisah. Ben bercerita bagaimana ia takjub karena ada banyak anak kecil yang peduli pada lingkungan dan menjaga lingkungan hijau. Sementara itu, Sam menjelaskan saat ia bertemu ikan hiu yang menari-nari dan ikan kecil yang bermigrasi.

9


10


Hari demi hari berlalu dipenuhi canda tawa Sam dan Ben. Kehangatan pun menyelimuti hati mereka. Hati Sam dan Ben yang

merupakan batuan pun lama kelamaan meleleh.

11


Lelehan tersebut adalah Maggie si Magma. Maggie yang berwarna merah dan panas terlihat sangat bahagia dan ia pun meluncur ke dalam penampungan yang penuh itu.

“Wah, Sam dan Ben pasti merasa sangat bahagia” ujar Maggie sambil tersenyum. 12


Karena penampungan yang terlalu penuh, dengan tenaga dari panas tubuhnya, Maggie dan teman-teman berusaha mencari celah ke dunia luar.

Dengan dorongan yang sangat kuat, lama kelamaan terbukalah celah untuk mereka lewat. Mereka sangat bahagia karena berhasil menemukan jalan keluar.

13


Maggie dan teman-temannya merasa lelah setelah perjalanan panjang. Lama kelamaan suhu tubuh mereka menurun seiring mereka tertidur.

14


Teman-teman Maggie si Magma terus-menerus keluar dan menumpuk di permukaan bumi hingga terbentuklah

gunung berapi. Gunung berapi tersebut tidak memiliki nama. Sesekali di kepalanya mengeluarkan cahaya merah yang berasal dari magma serta asap yang menandakan panas.

15


16


Gunung berapi itu merasa kesepian karena ia hanya tinggal seorang diri. Suatu hari, ada seorang anak laki-laki yang dengan ceria menghampirinya.

17


“Hai Tuan, siapa namamu dan kenapa kau terlihat murung?” Gunung berapi tersebut kebingungan. “Perkenalkan aku Andi. Hmm, kalau begitu aku akan memanggilmu Gupi si Gunung Berapi, ayo kita berteman!”

Setiap hari Andi selalu menemani Gupi si Gunung Berapi, hari-hari yang dulu sepi menjadi sangat seru bagi Gupi dan ia pun merasa bahagia.

18


Suatu hari, Gupi dan Andi mendengar nyanyian dari arah yang sangat jauh. Ternyata di tengah laut sana ada Gunung Api Laut tengah bernyanyi.

19


Gupi dan Andi merasa bahagia karena kembali mendapatkan teman baru. Setiap hari mereka bernyanyi dan menari bersama dengan bahagia.

20


Gupi yang merasa sangat bahagia meneteskan air mata kebahagiaan. Ternyata, air mata kebahagiaan itu membangunkan Maggie si Magma yang tengah tertidur dan membuat ia ingin keluar dari perut Gupi. “Andi, lihatlah asap di kepalaku! Ada

runtuhan batu juga dari tubuhku dan aku yang selalu bergoyang sepertinya terlalu bahagia dan aku akan meledak!” ujar Gupi saat menyadari Maggie akan keluar.

21


Ini tidak buruk, tapi kamu dan warga desa di dekatku harus menjauh dariku. Carilah

tempat yang aman ya! Cepat sampaikan pada warga desa dan teman-temanmu!” ujar Gupi kepada Andi.

22


Saat itu, Gupi mengeluarkan asap dari kepalanya. Warna merah pun juga berpendar disana. Warga desa yang mengetahui bahwa Gupi akan meletus pun bergegas pindah ke tempat

yang lebih aman.

23


Tidak menunggu waktu lama, Gupi meledak dan mengeluarkan Maggie si Magma sebagai wujud dari kebahagiaannya.

Maggie kini disebut sebagai Lava. Teman-teman lainnya seperti abu

vulkanik dan bebatuan pun ikut keluar. 24


25


Setelah letusan Gupi, warga desa baik-baik saja karena mengikuti himbauan Andi. Sawah dan perkebunan menjadi subur. Dedaunan dan sayur-mayur tumbuh berwarna hijau. Ini semua karena ledakan kebahagiaan dari Gupi yang merupakan anugerah Tuhan Yang Maha Esa. “Gupi!! Rambutmu merah menyala saat meletus kemarin. Mulai sekarang aku akan menyebutmu “Tuan Gunung Berambut Merah” karena itu sangat keren!”.

26


Di suatu pagi, Andi terbangun dari tidurnya. Ia mengerjapkan mata sambil menggumam, “Wah mimpi yang aneh tapi terasa nyata!” Dia langsung mencari ibunya untuk bercerita tentang hal tersebut. Tapi, ibu memintanya bersiap untuk bergegas.

Setiap akhir pekan, ia diajak untuk pergi ke sawah menemani sang ayah bekerja. Desa mereka terletak di kaki Gunung Merapi Yogyakarta, bernama Desa Cangkringan. Desa itu memiliki sumber daya alam yang banyak dan dapat dimanfaatkan, terutama pertanian, perkebunan, dan peternakan. 27


Setiap ke sawah bersama, mereka pulang dan pergi melintasi lereng gunung sambil membawa hasil panen. Karena rutinitasnya itu, Andi mulai menyukai alam dan segala isinya. Andi juga sering bertanya kepada orangtuanya mengenai desa mereka yang tercipta seindah ini.

“Ibu, bagaimana sih cara mencintai tempat tinggal kita, Gunung Merapi ini?” “Mudah saja, kita cukup menjaga dan melestarikannya. Selain itu memanfaatkan sumber daya alamnya dengan sebaik mungkin.” jawab Ibu sambil tersenyum. 28


“Ibu, semalam Andi bermimpi bahwa tempat tinggal kita akan meletus kembali! Kalau gunung mau meletus tanda-tandanya apa ya, Bu?” lanjut Andi.

29


Ternyata Andi masih memiliki segudang pertanyaan tak terduga. “Memang apa lagi yang dikeluarkan gunung sehingga bisa membuat sekitarnya hancur, Bu?” Ibunya menjawab...

30


Tak terasa cerita yang panjang tersebut membuat mereka tiba di suatu rumah lapuk, bernama Omahku Memoriku. Rumah ini berjarak sekitar 7 km dari kawah Merapi dan akhirnya dijadikan museum yang berisi sisa peninggalan letusan Merapi.

Mereka memasuki dan menjelajahi museum tersebut. Andi merasa senang dan bersyukur bisa mempelajari sejarah tempat tinggalnya lebih dalam. Dia sadar di balik suatu bencana, terdapat hikmah yang dapat dipelajari.

31


Bencana tersebut berbahaya, tapi akhirnya membuat Desa Cangkringan menjadi subur dan makmur. Setelah puas berkeliling, mereka memutuskan untuk kembali ke sawah menemui ayahnya.

32


Mereka pun tiba kembali di tepi sawah. Andi melihat sebuah pohon besar di tengah sawah. Pohon itu lebat, tinggi, dan tidak jauh dari pematang sawah.

Dahannya besar serta kokoh. Menghadap ke gunung besar secara langsung. Biasanya, Andi dan teman-temannya bermain di pohon itu.

Ia mulai memanjat pohon tersebut dan berdiri di atas sebuah batang pohon yang kuat dan kokoh. Andi dengan lantang berteriak, sambil melambai dengan semangat ke arah gunung Merapi. 33


Ia tersenyum puas dan duduk disana kembali mengingat kisah gunung Merapi yang diceritakan oleh ibunya.

Ternyata sang tuan gunung mendengar dan melihat Andi berteriak memanggilnya. Ia tersenyum sumringah menatap jauh Andi yang tengah bersantai menghabiskan sorenya. 34


Turn static files into dynamic content formats.

Create a flipbook
Tuan Gunung Berambut Merah Full Pages by Fajrinissa Iren - Issuu