1
2
Metabolight edisi pertama: Bioengineering ITB “Menuju era Bioindustri bersama Bioengineer�
(Indira)
3
REDAKSI
PIMPINAN UMUM Anggita Veningtia Sari
PIMPINAN REDAKSI Cintya Nursyifa Juwita Sari
TIM PENULISAN Koordinator: Wahyu Zuliansyah Lestari Aprina Ananda Teli R. Muhammad Arief A. Farhan Reynaldo H. Theresa Amorita Valenikhe Fitri N. Natalie Arazella Hafsah TIM LAYOUT Koordinator : Fathiyah Zahra Fathia Ainusyifa Felicia Tejo Jessica Kevin Sumendap Tjokorda I. Indira Syakina Shalsabila TIM FOTOGRAFI Koordinator : Lina Oktaviani Elisa Frederica S. Diah Prawitasari Maria Benita Pratiwi Wendo
TIM PRODUKSI Oka Pradhita Priyangga
Editor: Chrisyella Cendara P. Rahma Hanifah
Hafizhun L. Soekiswo
Mochamad Firmansyah KETUA HMRH 2016/2017
SEPUCUK 4SURAT
Pertama, saya panjatkan puji serta syukur kehadirat Allah SWT yang telah memberi kelancaran dalam proses pengerjaan hingga terbitnya majalah perdana HMRH ITB, Metabolight. Kedua, saya ucapkan selamat atas suksesnya rekan-rekan HMRH ITB yang dimotori oleh divisi Media Komunikasi dan Informasi (Medkominfo) dalam membuahkan karya bersejarah. Bukan hal yang mudah memang, memulai sesuatu yang baru. Namun dengan kerja keras, kesungguhan, dan komitmen, kesulitan tersebut pastinya bisa dilalui. Hal ini telah dibuktikan oleh kru Metabolight yang tak kenal lelah merumuskan, menyusun, menulis, memperindah tampilan, hingga dapat mencetak hal baru di himpunan yang hampir empat tahun berdiri ini. Ya, sebuah majalah perdana bernama Metabolight. Melalui beragam tulisan dengan corak keilmuan Rekayasa Hayati di dalam Metabolight, kami berharap masyarakat luas dapat sedikit banyak menjadi familiar dengan rumpun ilmu baru ini. Selain itu, karya ini diharapkan menjadi bukti nyata kontribusi mahasiswa Rekayasa Hayati ITB dalam menyebarkan ilmu pengetahuan, terkhusus di bidang ilmu dan teknologi hayati. Sebab sebagai negara bertitel Megabiodiversitas, sudah selayaknya masyarakat Indonesia sadar dan dapat unggul dalam bidang pengolahan serta pengelolaan sumber daya hayati. Sesuai nama majalah ini yang memiliki potongan kata light di dalamnya, semoga pembaca dapat tercerahkan tentang betapa diberkahinya kita dengan kelimpahan sumber daya hayati di dalam negeri. Kemudian dari sana akan tumbuh kesadaran serta semangat untuk memajukan Indonesia melalui pengembangan ilmu dan teknologi hayati. Akhir kata, sekali lagi saya ucapkan apresiasi setinggi-tingginya untuk para pejuang Metabolight yang telah berhasil membuahkan karya bersejarah ini. Semoga tak berhenti sampai di sini dan akan muncul Metabolight edisi selanjutnya. Terimakasih telah membuat HMRH bangga! #HMRHProduktif #HMRHJaya
Puji dan syukur saya panjatkan kepada Allah SWT atas rampungnya majalah Himpunan Mahasiswa Rekayasa Hayati ITB yang pertama, Metabolight Volume 01. Apresiasi setinggi-tingginya juga tak lupa saya berikan kepada seluruh tim majalah Metabolight dan pihak-pihak lainnya yang telah memberikan sumbangsih dalam penyusunan majalah Metabolight volume pertama ini.
ANGGITA VENINGTIA SARI PIMPINAN UMUM
Rekayasa Hayati, tentu untuk beberapa kalangan orang tidak familiar dengan kata tersebut. Maka dari itu, kata yang mempunyai bahasa keren Bioengineering menjadi pedoman kami dalam menyusun majalah Metabolight Volume 01 ini. Dalam majalah ini, akan dikupas tuntas mengenai apa itu Rekayasa Hayati ITB, cakupan keilmuan, kegiatan himpunan, hingga profil alumni. Kami memilih penggunaan bahasa yang sederhana dan mudah untuk dipahami agar dapat menjangkau lebih banyak kalangan masyarakat. Akhir kata, saya mewakili tim Metabolight mengucapkan selamat membaca dan menggali ilmu lewat tulisan-tulisan kami. Besar harapan kami Metabolight Volume 01 dapat membuka lebih banyak wawasan bagi para pembaca sekalian. Have a good day!
DAFTAR ISI 06 Botryococcus braunii Mikroalga potensial bahan baku biodiesel
09 Biological engineering Gerbang awal industri berbasis hayati
12 PROFIL ALUMNI
Serunya bioengineering
14 MAPRES BE
Atmosfer BE membentuk kami
24 PENGABDIAN MASYARAKAT
16 QUINOA
HMRH dan Kampung Cibeusi
The super food
26 POJOK KARYA 35 DIY
20 BIOFORTIFIKASI 22 BIOENGINEERING SUMMIT
Tulisan karya anggota HMRH
Make your own solar lamp!
Untuk ketahanan pangan
Seminar dan Lomba Bioindustri ala BE
5
6
Botryococcus Braunii Mikroalga Potensial
Bahan Baku Biodiesel
7
(Maria Benita P.)
B
8
otryococcus braunii merupakan mikroalga uniseluler fotoautotrof yang termasuk dalam famili Chlorophyta. Spesies mikroalga ini memiliki kemampuan untuk mengonversi 3% energi dari cahaya matahari menjadi beragam senyawa hidrokarbon. Kemampuan untuk menghasilkan senyawa-senyawa hidrokarbon dengan kuantitas yang lebih tinggi dibandingkan dengan spesies mikroalga lainnya membuat Botryococcus braunii terkenal sebagai sumber energi hayati terbarukan. Kandungan minyak yang mencapai 75% berat kering pada Botryococcus braunii membuat spesies ini berpotensi dijadikan bahan baku dalam proses produksi biodiesel. Waktu kultivasi yang dibutuhkan sebelum akhirnya dapat memanen Botryococcus braunii berkisar antara tiga sampai empat minggu. Pemeliharaan dan pemanenan Botryococcus braunii tergolong mudah. Angka produktivitas Botryococcus braunii mencapai 30 kali lipat dibandingkan dengan tanaman tingkat tinggi yang juga dapat digunakan sebagai bahan baku produksi biodiesel, seperti kelapa sawit dan tanaman jarak. Dalam proses kultivasi, mikroalga Botryococcus braunii membutuhkan nutrisi pendukung pertumbuhan, air, cahaya, dan CO2 dengan kadar yang sesuai untuk memaksimalkan proses pertumbuhan dan perkembangan sel. Salah satu peran dari sarjana Rekayasa Hayati (Bioengineer) adalah mengoptimalkan kondisi fisik lingkungan dan kebutuhan nutrisi agen hayati untuk mendapatkan hasil akhir yang diharapkan, yakni dapat berupa tingginya akumulasi metabolit sekunder. Kultivasi mikroalga Botryococcus braunii dapat dilakukan pada fotobioreaktor. Sistem kultivasi pada fotobioreaktor dirancang sedemikian rupa, mulai dari kapasitas medium dalam reaktor, pengaturan kadar nutrisi dan intensitas cahaya, hingga sistem aerasinya agar mikroalga Botryococcus braunii dapat tumbuh dengan optimal dan dapat dimanfaatkan untuk menghasilkan beragam bioproduk bernilai ekonomi tinggi. Mahasiswa Rekayasa Hayati Institut Teknologi Bandung yang sedang mengembangkan penelitian mengenai produksi minyak mikroalga Botryococcus braunii ialah Chrisyella Cendara Purba, Ivana Kurniawan, dan Tuah Fredy Yap. (Maria)
Laboratorium Teknik I-A ITB Jatinangor, adalah gedung utama program studi Rekayasa Hayati
BIOLOGICAL ENGINEERING “Gerbang Awal Industri Berbasis Hayati�
Oleh Ananda Teli, Rahma Hanifah, Lestari Aprina, dan Natalie Arazella
(Lina Oktaviani)
R
ekayasa Hayati (Bioengineering) merupakan interdisiplin llmu Hayati (Bio-sciences) dan Teknik (Engineering) yang diaplikasikan dalam perekayasaan berdasarkan biosistem untuk meningkatkan efisiensi proses dan nilai bioproduk untuk industri. Perekayasaan ini mencakup proses biologis, pengoperasian agen hayati yang terekayasa, serta pembuatan peralatan baru biosistem atau teknologi untuk pengembangan biomaterial. Bioengineering dapat diaplikasikan dalam perekayasaan sistem produksi untuk pengembangan industri bioproduk skala besar. Rekayasa hayati sendiri dibentuk karena Indonesia sebagai negara tropis, memiliki keanekaragaman sumber daya hayati yang tinggi dan kaya akan sumber biomaterial yang terbarukan serta berkelanjutan. Permasalahan utama bangsa Indonesia saat ini adalah bahwa sumber daya hayati yang kita miliki belum dapat secara optimal menjamin kesejahteraan bangsa. Untuk meningkatkan manfaat dan produktivitas sumber daya hayati, dibutuhkan pengelolaan secara profesional agar dapat menjawab tantangan ekonomi nasional dan global. Karena itu, diperlukan sumber daya manusia yang secara profesional memiliki kompetensi dalam perekayasaan sistem.
9
“Lulusan BE memiliki prospek kerja di bidang kesehatan, kosmetik, dan food/ingredients seperti di Biofarma, Wardah, dan Haldin�
10
Di Indonesia, program studi Rekayasa Hayati pertama kali dibentuk di Institut Teknologi Bandung dalam naungan Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati (SITH ITB) bagian Rekayasa pada tahun 2010. Namun, jika melihat lebih luas lagi, Rekayasa Hayati sebenarnya sudah menjadi bagian dari riset-riset yang telah dilakukan peneliti selama ini. Sebagai contoh, proses fermentasi yang dilakukan pada program studi teknik pertanian dan teknik kimia, sistem sanitasi yang dikembangkan oleh program studi teknik lingkungan, serta pembuatan organ tubuh artifisial yang dikembangkan oleh program studi teknik mesin. Hal tersebut merupakan cakupan dari program studi rekayasa hayati karena menggabungkan sistem biologis dengan teknik perekayasaan untuk menghasilkan suatu produk. Namun, riset-riset ini memerlukan waktu yang sangat lama hingga akhirnya menghasilkan sebuah produk. Alasannya adalah terdapat celah antara para peneliti dengan pengetahuan mereka mengenai makhluk hidup atau dengan para ilmuwan. Hal ini membuat komunikasi antar peneliti menjadi sulit. Oleh karena itu, beberapa guru besar di universitas kelas dunia seperti Universitas Stanford mulai membentuk Rekayasa Hayati menjadi suatu program studi yang nyata.
Rekayasa Hayati di ITB Jurusan Rekayasa Hayati (Bioengineering, disingkat ‘BE’) ITB didirikan dengan tujuan mendidik mahasiswanya untuk menguasai prospek agen hayati di Indonesia, dari tanaman hingga mikroba, serta memahami jalur metabolismenya. Bioengineering merupakan suatu komunitas akademik dan industri yang mendidik mahasiswa untuk menghasilkan insinyur-insinyur yang dapat
(Fathiyah Zahra)
bekerja sama. Bioengineering ITB merupakan jurusan pertama di Indonesia yang bergerak di bidang biologi dan keteknikan. Jurusan ini mengacu pada salah satu universitas di Hawaii dengan menyesuaikan kompetensi dosen-dosen di Rekayasa Hayati ITB yang memiliki latar belakang di jurusan teknik kimia dan biologi. Harapannya mahasiswa BE mampu merancang sistem produksi berbasis hayati dengan menggunakan makhluk hidup, khususnya tumbuhan, untuk menghasilkan bioproduk bernilai tambah dengan prinsip biorefinery. Konsep biorefinery memiliki tiga kata kunci yaitu mengoptimalkan sumber daya alam, meminimalkan limbah, dan memaksimalkan keuntungan serta manfaat. Perbedaan jurusan BE di ITB dengan jurusan serupa di universitas lain adalah mahasiswanya diharapkan
Mikroalga merupakan salah satu penghasil metabolit sekunder yang banyak diteliti oleh mahasiswa tingkat akhir Rekayasa Hayati
11
mampu menguasai mata kuliah dasar yang didapat di tahun pertama (Tahap Persiapan Bersama), ilmu dasar sains dan rekayasa, serta merancang sistem produksi yang menggabungkan jalur biosintesis dan kondisi operasi. Mahasiswa diberikan mata kuliah tambahan ekonomi seperti ekonomi teknik dan manajemen bisnis untuk mengevaluasi kelayakan sistem yang dirancang dari segi ekonomidan menyiapkan lulusannya untuk menjadi wirausaha. Kekuatan mahasiswa BE sendiri adalah mampu menguasai jalur metabolisme tumbuhan sehingga dapat menghasilkan produk dari bahan hayati yang bernilai jual tinggi. Mahasiswa juga mampu memanipulasi sistem tumbuhan dari luar sistem tumbuhan itu sendiri. BE ITB berbeda dengan Teknik Kimia ITB karena jurusan tersebut tidak meninjau hingga jalur metabolisme melainkan
berfokus ke kondisi operasi, seperti menaikkan temperatur dan tekanan. Jurusan serupa, seperti Bioproses di Universitas Indonesia dan Universitas Brawijaya, tidak mendalami jalur biosintesis dari sistem yang ditinjau. Jalur biosintesis adalah jalur pembentukan senyawa (metabolisme) dalam suatu makhluk hidup. Prospek lulusan BE sangat disesuaikan dengan kompetensi dari kurikulum. Mereka mampu merancang sistem produksi menggunakan agen hayati dengan prinsip biorefinery hingga menjadi sebuah bioindustri. Lulusan BE memiliki prospek kerja di bidang kesehatan, kosmetik, dan food/ ingredients seperti di Biofarma, Wardah, dan Haldin. Dengan perkembangan bioindustri yang pesat maka prospek lulusan BE semakin besar.
g n i r e e n i g n e o Bi ! h o l u r e itu s ni
lum A l i f o Pr
Dari tahun 2010 sampai saat ini sudah banyak lulusan Rekayasa Hayati ITB yang tersebar ke seluruh penjuru dunia. Ada yang melanjutkan kuliah S2 baik dalam maupun luar negeri, ada yang bekerja di industri, menjadi relawan di banyak tempat, bahkan ada yang berwirausaha. Semua yang mereka lakukan adalah untuk menerapkan ilmu yang telah didapat selama berkuliah di jurusan ini. Di antara semua alumni yang sudah lulus, ada dua alumni yang kami ‘interogasi’ nih untuk mengetahui sejauh apa ilmu rekayasa hayati dapat diterapkan di dunia kerja. Ada kak Christela Melviana dan Aswin Hindami Z. dari Rekayasa Hayati 2012. Yuk disimak lagi!! (C=Christela; A=Aswin)
12 Kak, kalau ada yang nanya ke kakak BE itu apa, kakak jawab apa? C: Menurut aku BE itu penggabungan dari prinsip-prinsip teknik pada sistem biologi. BE itu benar-benar tidak mengutak-atik genetika dari organisme tersebut. BE hanya merekayasa gimana sistem mempengaruhi genetiknya. Kalau bioteknologi itu kebalikannya. A: BE itu science-based engineering, yaitu multidisiplin ilmu yang menerapkan pendekatan rekayasa yang diaplikasikan pada biosistem guna meningkatkan efisiensi produk berbasis hayati. Menurut kakak, ilmu BE yang sangat bermanfaat ketika lulus apa sih, kak? A: Ada banyak, ada bioseparation, analisis dan intepretasi data, prarancangan bioreaktor, prarancangan sistem produksi bioproduk, biokimia, dan pemodelan dinamik. C: Menurut aku, pengalamanku di Praktikum Rekayasa Hayati 1 dan Praktikum Rekayasa Hayati 2, sih. Kalau di Praktikum Rekayasa Hayati
1 itu benar-benar menunjukkan tentang kultur, jadi yang membuat amazed banget gitu kenapa dari eksplan kalus bisa jadi pucuk. Terus jadi tahu ternyata se-powerfull itulah kemampuan totipotensi tanaman. That’s why, BE memilih tanaman sebagai fokus lima tahun program pembelajaran selain kandungan metabolitnya. Kalau di Praktikum Rekayasa Hayati 2 sih, pengalaman mengerjakan laporan praktikum, jurnal, dan pembicaraan awal sama dosennya yang benar-benar bikin gemetar. Tapi aku paling suka Fisiologi Kuantitatif Tumbuhan, soalnya pelajaran ini benar-benar menggambarkan korelasi antara sains dan teknik di dalam tumbuhan. Apa sih yang membuat kakak yakin berkuliah di BE? C: Motivasi aku tentang 3-P yang pernah disebut Pak Robert yaitu Purpose, Passion, dan Persistance. Selain itu aku memang suka banget dengan tanaman. Apalagi saat TA tentang Stevia sp., memang sesuai dengan cita-cita aku yaitu membuat bioindustri di bidang makanan, makanya jadi semangat
Christela Melviana, S.T.
belajarnya. Memangnya alumni BE bisa kerja dimana sih kak? A: Banyak. Misalnya saja di sektor industri Indonesia sendiri, BE itu bisa berkontribusi dalam beberapa bidang misalnya food and beverages, energy, environment, dan pharmacy juga. Wah banyak juga! Mau dong wejangan untuk mahasiswa BE lain biar semangat seperti kakak! C: Tips dari aku, selalu belajar bareng teman. Karena biasanya kalau belajar bareng kita bukan belajar hafal tapi belajar untuk mengerti. Dan yang paling penting jangan belajar dengan sistem kebut semalam. A: Tips and trick buat kalian yaitu jangan bergantung pada ilmu yang diberikan oleh dosen saja. Kembangkan ilmu yang diberikan dan cari tahu ilmu lain dengan mengikuti studi luar kampus, seperti seminar, pelatihan, dan lomba.
Aswin Hindami Z, S.T.
Wah, terima kasih banyak Kak Stela dan Kak Aswin. Semoga makin sukses ya, Kak! (Zella & Lestari)
13
14 Mahasiswa Berprestasi BE:
ATMOSFER BE MEMBENTUK KAMI
Khanza Jamalina B. (Rekayasa Hayati ’13) dan Pramesti Istiandari (Rekayasa Hayati ’11) adalah salah satu dari sekian orang yang menjadi inspirasi bagi mahasiwa Rekayasa Hayati. Dengan segala kesibukan di himpunan, akademik, dan kegiatan di luar kampus, mereka mampu bergabung dengan orang-orang yang menerima gelar mahasiswa berprestasi (mapres). Kira-kira sejauh apa ya pemahaman mereka tentang BE? Yuk kita lihat dialog antara reporter kita dengan mereka berdua! (R=reporter; K=Khanza; P=Pramesti). R: Menurut kakak-kakak, bioengineering (BE) itu apa sih? K: BE itu adalah pengaplikasian prinsip-prinsip engineering ke dalam suatu sistem biologis. Jadi, BE itu ilmu yang masih luas banget dan berpeluang untuk menjadi solusi dari berbagai bidang seperti pangan, energi, kesehatan, pertanian, dan lingkungan. P: BE itu ilmu merekayasa kondisi biologis suatu organisme dengan mengontrol lingkungannya
khususnya jalur metabolismenya. Bedanya dengan bioteknologi adalah bioteknologi mengubah jalur metabolisme dari dalam sedangkan bioengineering mengubah jalur metabolisme dari luar.
R: Apa saja yang sudah kakak dapatkan selama berada di BE? P: Sebenarnya dulu aku ingin bioteknologi, tapi aku baru sadar ternyata bioengineering lebih aplikatif dan lebih prospektif di industri. Aku juga mendapatkan bahwa ternyata seperti yang kita pelajari di BE, peningkatan produksi sebesar 1% di industri hanya karena penambahan air atau nutrisi mediumnya diubah itu sangat berharga. Berbeda dengan bioteknologi yang harus menggunakan halhal yang mahal dan lama, bioengineering hanya menggunakan metode murah dan cepat sehingga sangat dibutuhkan untuk industri. Di BE juga aku mendapatkan bahwa cara perhitungan yang sepele sangat penting, seperti cara membuat asumsiasumsi logis. R: Apa sih poin penting dari belajar ilmu BE, Kak?
15 P: Jembatan antara biologi dan tekniknya, yaitu di Fisiologi dan Kuantitatif Tumbuhan. Karena kita seharusnya mengetahui bahwa di tumbuhan ternyata ada rumus-rumus yang mempengaruhi dan justru kita harus sangat menguasai. R: Oh begitu, terus dosen-dosen di BE itu seperti apa sih, Kak? K: Dosen-dosen BE unik-unik. Semuanya ada, dari yang strict sampai yang baik banget. Tapi masingmasing dosen memiliki cara tersendiri untuk memotivasi mahasiswanya. Meskipun ada dosen BE yang sekarang background ilmunya bukan BE, tapi beliau berusaha memahami BE agar dapat memberikan gambaran ke kita tentang apa yang dilakukan bioengineer untuk ke depannya. R: Ada gak pengalaman tak terlupakan yang kakak rasakan selama di BE? K: Kalau kegiatan perkuliahan yang tidak terlupakan itu waktu praktikum Rekayasa Hayati 2. Soalnya kita piknik malam-malam untuk menyelesaikan jurnal dan laporan. Kalau kegiatan himpunan banyak sekali yang berkesan dari berbagai kepanitiaan. R: Mau tahu dong motivasi belajar kakak sampai bisa
jadi mapres! K: Motivasi belajar biasanya karena memang suka pelajaran biologi dan hitung-hitungan seperti matkul BE pada umumnya. Sebenarnya tidak ada harapan atau keinginan buat jadi mapres karena temen sekelas juga pintar-pintar dan lebih menjiwai BE daripada aku. Quote yang memotivasi sih “Don’t let your small mind convinces you that your dreams are too big�. R: Kalau tips dan tricks biar jadi mapres apa, Kak? P: Jalani saja karena saat lulus baru dibutuhkan, baru terasa betapa pentingnya ilmu ini. Jangan terlalu serius, take your time dengan perbanyak relasi, ikuti banyak lomba karena belajar tidak harus di kelas dan di atas kertas. Pelajari ilmu lain selain BE juga. K: Kalau dari aku, seimbangkan. Kehidupan punya banyak aspek, jadi harus pandai-pandai mengurutkan prioritas. Wah, seru ya bincang-bincang singkat kita dengan Kak Khanza dan Kak Pramesti. Semoga pesan mereka dapat kita serap dengan baik ya, teman-teman. (Zella & Lestari)
16
QUINOA • The super food • 17
Quinoa dalam perspektif
bioengineer
18
T
impangnya pertambahan jumlah pangan terhadap jumlah penduduk di muka bumi menyebabkan masalah ketahanan pangan akan selalu terjadi dari waktu ke waktu. Para ilmuwan pun terus melakukan penelitian dan menciptakan terobosan baru agar masalah yang berhubungan dengan kebutuhan utama manusia ini dapat teratasi. Salah satu yang kini hangat diperbincangkan ialah tanaman biji-bijian yang bernama Quinoa. Tanaman yang bijinya dapat langsung dimakan ini berasal dari wilayah Pegunungan Andes di Amerika Latin. Quinoa sangat diunggulkan karena memiliki jumlah protein dua kali lipat lebih banyak dari oat. Makanan yang kaya akan serat dan vitamin ini juga bebas gluten dan sangat mudah dicerna sehingga aman dikonsumsi oleh semua kalangan. Dalam penemuan terakhirnya bahkan para ilmuwan sudah mampu mengidentifikasi gen yang membawa rasa pahit pada Quinoa. Dengan memodifikasi gen tersebut tentu nantinya dapat dihasilkan Quinoa beragam rasa yang diinginkan oleh banyak manusia.
Akan tetapi seorang Sarjana Rekayasa Hayati bukanlah dipersiapkan untuk memodifikasi gen tersebut. Seorang Bioengineer justru dipersiapkan agar mampu merancang sistem produksi bagi tanaman Quinoa mulai dari hulu sampai hilir. Mulai dari hulu artinya mulai dari penumbuhan tanaman Quinoa dari biji atau melalui kultur in vitro, sedangkan sampai hilir berarti hingga merancang industrial business plan yang komprehensif mencakup spesifikasi alatalat yang digunakan, break-even point, rencana tempat produksi, dll. Sehingga pada akhirnya akan dihasilkan industri-industri berbasis agen hayati yang berkelanjutan demi memenuhi kebutuhan manusia di masa yang akan datang. (Arief)
FUN FACT
ABOUT BE
(Teli & Rahma)
Bioengineering (BE) merupakan
1
program studi pertama di Indonesia yang mengombinasikan ilmu biologi dan keteknikan untuk diaplikasikan dalam pembuatan bioproduk.
2 3
Lulusan Bioengineering pertama berjumlah 4 orang dengan predikat
“first Bioengineer versi Indonesia�. Kata-kata yield,
cost, quality, dan
productivity merupakan kata-kata sakti yang sering terngiang-ngiang dan harus ditanamkan baik-baik di dalam setiap pikiran mahasiswa BE.
Kamu bisa menghitung jumlah gelembung, mengukur diame-
4 5
ter gelembung, mencelupkan bola besi ke minyak, bermain es batu, mengamati air yang keluar dari tangki bocor, dan mengamati air yang mengalir dengan melewati unggun (bed) selagi di lab hanya di BE lho.
Topik penelitian tugas akhir favorit yang selalu tidak pernah absen
dipilih mahasiswa BE meliputi penelitian tentang essential oil yang bersumber dari tanaman herba, mikroalga, dan kultur jaringan tumbuhan.
6Kegiatan himpunan
di BE diwadahi oleh Himpunan Mahasiswa Rekayasa Hayati (HMRH) yang memiliki program kerja beraneka ragam, mulai dari kegiatan serius seperti pengabdian masyarakat hingga acara memasak bersama (cooking competition) dan piket sekre akbar.
7
HMRH memiliki anggota yang ambisius dan
berjiwa kompetitif, dibuktikan dengan peraihan secara konsisten peringkat
sepuluh besar di Liga Prestasi KM ITB hingga saat ini!
19
“
20
Indonesia merupakan salah satu negara berkembang yang masih berjuang melawan kelaparan. Istilah kelaparan ini sendiri bukan hanya berarti tidak bisa makan karena daya beli yang kurang, namun juga mengonsumsi makanan dengan diet yang salah atau biasa disebut hidden hunger. Dengan demikian, hidden hunger ini tidak hanya menyerang masyarakat yang memiliki tingkat ekonomi rendah, namun juga masyarakat dengan tingkat ekonomi menengah ke atas. Hal ini dapat dibilang cukup memprihatinkan mengingat Indonesia merupakan negara kepulauan dengan sumber daya alam yang melimpah. Salah satu solusi yang dapat digunakan untuk memecahkan masalah ini adalah biofortifikasi pangan.
BIOFORTIFIKASI Untuk ketahanan pangan
Fortifikasi merupakan penambahan gizi pada makanan yang ditunjukan untuk meningkatkan kualitas pangan. Menurut kamus kesehatan, biofortifikasi pangan sendiri berarti fortifikasi premature, dimana fortifikasi bukan diberikan pada produk melainkan bahan-bahan hasil pertanian. Contohnya ialah padi sudah memiliki kandungan zat gizi yang sengaja “ditambahkan� mulai dari saat budi daya. Salah satu produk hasil biofortifikasi pangan yang dikenal di Indonesia adalah golden rice. Golden rice adalah beras kaya beta karoten yang merupakan provitamin A. Biofortifikasi sendiri dapat dilakukan dengan berbagai cara, dua diantaranya adalah melalui rekayasa genetik (mulai dari persilangan konvensional hingga rekayasa gen) dan melalui rekayasa lingkungan budi daya tanaman sehingga kandungan senyawa yang diinginkan dapat ditingkatkan. Keilmuan Rekayasa Hayati sendiri lebih fokus pada peningkatan senyawa yang diinginkan melalui rekayasa lingkungan. Penelitian skala laboratorium juga sudah dilakukan oleh beberapa mahasiswa Rekayasa Hayati ITB. Dua diantaranya adalah peningkatan lycopene dalam tomat dan peningkatan antosianin dalam selada. Selain penelitian yang dilakukan oleh mahasiswa jurusan rekayasa hayati ITB, penelitian skala pilot juga sudah dilakukan oleh Stockbridge Technology Centre (STC) di Yorkshire, Inggris. STC meneliti pertumbuhan tanaman dengan rekayasa lingkungan berupa penggunaan cahaya biru dan merah. Beberapa variabel yang dapat diubah dengan rekayasa ini adalah waktu perbungaan, warna tanaman, kandungan antioksida, dan kandungan minyak pada tanaman. Penerapan biofortifikasi di Indonesia memang membutuhkan kajian mendalam bukan hanya dari berbagai aspek, termasuk di dalamnya aspek sains, teknologi, ekonomi, sosial, dan politik. Namun ide ini bukan tidak mungkin diterapkan di Indonesia mengingat kebutuhan akan pangan yang bergizi semakin meningkat, sumber daya alam Indonesia yang melimpah, dan iklim tropis Indonesia yang mendukung. (Hafsah)
21
Bioengineering summit 2016
November 2016 lalu Himpunan Mahasiswa Rekayasa Hayati (HMRH) ITB kembali menggelar rangkaian kegiatan Bioengineering Summit untuk yang kedua kalinya. Berbeda dengan tahun sebelumnya, Bioengineering Summit 2016 ini mengusung tema “Transcending the Transition to Biobased Products”.
22
THE EVENT November 2016 lalu Himpunan Mahasiswa Rekayasa Hayati (HMRH) ITB kembali menggelar rangkaian kegiatan Bioengineering Summit (BE Summit) untuk yang kedua kalinya. Berbeda dengan tahun sebelumnya, Bioengineering Summit 2016 ini mengusung tema “Transcending The Transition to Biobased Products”. Rangkaian acara yang diadakan pada 12-13 November 2016 di kampus ITB Ganesha ini ditujukan untuk memperkenalkan keilmuan dan karya-karya aplikatif dari ilmu rekayasa hayati kepada kalangan umum dan insan akademis. Pengenalan ini tertuang dalam berbagai bentuk kegiatan, yakni melalui penyelenggaraan lomba edukatif dan expo interaktif yang bertempat di ruang Lantai 1 Perpustakaan Pusat ITB serta seminar dengan
pembicara dari pelaku biondustri yang bertempat di GKU Timut lantai 4. Perhelatan Bioengineering Summit 2016 berfokus pada eksplorasi dan pengelolaan potensi sumber daya hayati di Indonesia sebagai sumber biofuel dan fine
23
a
a
Berbagai karya dari lomba BE SUMMIT 2016 yang dihasilkan sangat menarik dan bermanfaat, seperti karya tulis yang berjudul “Pemanfaatan Senyawa Proantosianidin dari Daun Jambu Biji (Psidium guajava) untuk Pembuatan Produk Sunscreen� yang meraih juara 1 dalam lomba BE SUMMIT 2016. Yang tak kalah menarik ialah terdapat karya-karya pada EXPO BE SUMMIT dari tugas akhir mahasiswa
Rekayasa Hayati dan proyek yang dikembangkan di Rekayasa Hayati. Melalui acara ini, diharapkan masyarakat luas dapat lebih mengenal keilmuan rekayasa hayati dan mampu melihat potensi aplikasi keilmuan rekayasa hayati untuk kemajuan green era. (Aldo)
a
chemical. Oleh karena itu, seminar BE SUMMIT 2016 dihadiri oleh pembicara-pembicara yang memiliki kompetensi di bidang biofuel dan fine chemical. Sesi pertama diisi oleh pembicara di bidang biofuel, yaitu Dr. M. Yusuf Abduh (dosen Rekayasa Hayati ITB) dan Drs. Yudi Sutresna, Apt. (PT. Sinkona Lestari Indonesia). Sesi kedua diisi oleh pembicara di bidang fine chemical, yaitu Sam Alfian, S.T. (PT. Agro Energi Nusantara) dan Dedi Hemarwan, S.T. (PT. Paragon Technology and Innovation).
a a
a
24
“
Pengabdian masyarakat Letaknya yang tersisihkan dari perkotaan membuat kampung Cibeusi kurang mendapat perhatian dari pemerintah setempat. Bahkan pembangunan infrastruktur seperti jalan dan masjid dilakukan sendiri oleh warga Cibeusi tanpa mendapat bantuan pihak luar yang berwenang. Padahal, kampung Cibeusi menyimpan begitu banyak potensi sumber daya alam.
Oleh: Asri Ifani Rahmawati
Kampung Cibeusi merupakan kampung yang terletak di Desa Cileunyiwetan, Cileunyi, Jawa Barat. Kampung ini merupakan bagian dari RW 20 dan terdiri dari 3 RT, yaitu RT 01, 02, dan 07. Letaknya yang tersisihkan dari perkotaan membuat kampung Cibeusi kurang mendapat perhatian dari pemerintah setempat. Bahkan pembangunan infrastruktur seperti jalan dan masjid dilakukan sendiri oleh warga Cibeusi tanpa mendapat bantuan pihak luar yang berwenang. Padahal, kampung Cibeusi menyimpan begitu banyak potensi sumber daya alam. Sawah dan perkebunan di sana cukup luas dengan berbagai komoditi tanaman seperti jagung, karet, padi, singkong, jahe, dan bambu. Beberapa warga di kampung Cibeusi juga memelihara beberapa hewan ternak diantaranya kambing, kelinci, dan ayam. Melihat potensi yang tersembunyi tersebut, Himpunan Mahasiswa Rekayasa Hayati (HMRH) ITB berkeinginan untuk memberdayakan warga kampung Cibeusi demi kemajuan kampung itu sendiri. Divisi Pengabdian Masyarakat HMRH ITB kemudian merancang program kerja berupa HMRH Bina Desa (HBD) dan Cibeusi Pintar untuk mewujudkan cita-cita tersebut. HMRH Bina Desa bertujuan untuk menjadikan kampung Cibeusi sebagai desa binaan, sehingga
potensi di kampung tersebut dapat lebih dikembangkan dan dikenal masyarakat luas. Kajian mengenai program yang akan diterapkan di kampung Cibeusi untuk pengembangan potensi tengah dilakukan. Aspirasi warga juga akan diikutsertakan dalam pengambilan keputusan program terapan melalui FGD (Focus Group Discussion), karena bagaimanapun dalam rencana jangka panjangnya warga harus menjadi mandiri dalam pelaksanaan hingga pengembangan program tersebut. Program kerja lain, yaitu Cibeusi Pintar, bertujuan untuk berbagi inspirasi dan membantu menunjang pelajaran anak-anak di kampung tersebut. Kegiatan di bidang pendidikan yang dilakukan setiap 1 bulan sekali ini dirasa perlu karena HMRH ITB melihat kurangnya motivasi belajar dari diri masing-masing anak. Anak-anak Cibeusi juga mengaku masih kesulitan mengikuti pelajaran di sekolah karena belum terlalu menguasai dasar-dasar pelajaran tersebut. Cibeusi Pintar ini juga dapat dijadikan sarana untuk mengakrabkan mahasiswa dan masyarakat. Terlepas dari kedua program kerja tersebut, HMRH ITB juga melakukan bantuan untuk kampung Cibeusi, seperti pendanaan pembangunan masjid dan pengadaan fasilitas masjid seperti alat sholat dan kitab suci.
Foto bersama setelah pemberian motivasi cita-cita pada anak Cibeusi. Cibeusi Pintar, 04/08/16
25
26
27
28
29
30
31
32
33
34
How to make your own
SOLAR LAMP 35
Alat dan Bahan yang dibutuhkan: • Solar light • Cat semprot krylon, frosted glass • Alat perekat (lem dan selotip) • Cutter • Koran/kertas bekas • Toples kaca
STEP 1
36
Pelapisan toples kaca
Siapkan toples kaca, cutter, selotip, dan koran bekas. Lapisi bagian luar toples kaca. Tahap ini dapat dilakukan dengan melubangi rongga dalam dengan cutter dan merekatkan koran bekas dengan selotip. Selajutnya, semprotkan cat pada bagian dalam toples. Beberapa hal yang harus diperhatikan selama melapisi toples kaca : >> Lakukan dalam area terbuka >> Pastikan untuk mengocok cat semprot sebelum digunakan >> Hasil pelapisan akan terlihat transparan untuk beberapa saat, sehingga pastikan untuk tidak menyentuhnya dengan tangan hingga cat kering dan hasil yang diinginkan muncul.
STEP 2
Perakitan Lepaskan solar light dari plastic bulb.
Berikan perekat pada bagian belakang solar light dan tempelkan pada tutup botol toples kaca
Lepaskan kertas strip pada solar light untuk mencegah kontak baterai. Tutup toples mu dan letakan di bawah sinar matahari.
STEP 3
Gunakan Solar Lamp mu TIPS • Berikan warna lain pada solar lamp mu! • Siapkan scotch tape bening dan warnai sesuai dengan keinginanmu • Rekatkan scotch tape tersebut di sekitar LED pada solar light
37
Pimpinan Umum
Pimpinan Redaksi
38
39
MENURUN Menurun
MENDATAR Mendatar 1. Sistem bioreaktor yang menjamin tersedianya cahaya dan nutrisi yang masuk 2. Suplai udara ke dalam bioreaktor 3. Unsur utama sebagai nutrisi pertumbuhan tanaman 4. Konsep industri ramah lingkungan 5. Tumbuhan (kingdom)
1. 2. 3. 4. 5.
Respirasi anaerobik Aplikasi teknik dalam bidang hayati Energi baru dan terbarukan Organisme mikroskopis dan dapat berfotosintesis Ranah kajian optimasi proses hayati
SILANG
TEKA-TEKI
3
2
1
F
E
40 S
5
4
I
4
I
2
N
3
5
L Fotobioreaktor Aerasi Karbon Biorefinery Plantae
Fermentasi Rekayasa Biofuel Mikroalga Biokonversi
41
42
Himpunan Mahasiswa Rekayasa Hayati 2017