Presentedby by HMGF FMIPA UNHAS presented
DIVISI RISET DAN PENDIDIKAN SEPTEMBER 2021
EKSKLUSIF
HAL. 55 HAL.43
HAL. 23
HAL.09
HAL. 05
HAL. 08
HAL. 57
HAL. 29
TIM REDAKSI | 61 HALAMAN
HMGFFMIPAUNHAS.SCI.UNHAS.AC.ID
02
LIST OF
CONTENTS 03
Salam Redaksi Editor's Greetings
04
Susunan Tim Redaksi Editorial Team
05
23 Gempa Bumi
Majene
Galeri HMGF Gallery HMGF
08
Tentang HMGF About HMGF
09
Geofisika Peduli Sosial Geophysics Social Care
29
Karya Tulis Kajian Isu Issue Study Paper
47
Geofisika Trivia
Geophysics Trivia
49
Puisi-puisi
Poetry
55
Prospek Karir Geofisika
Geophysics Career Prospects
57
Geofisika Ask
59
Salam-salam Greetings
03
SALAM REDAKSI Assalamualaikum Warrahmatullahi Wabarakatuh.
Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan rahmat-Nya sehingga tim redaksi Geolite dapat membuat inovasi baru dalam lingkup Himpunan Mahasiswa Geofisika Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Hasanuddin (HMGF FMIPA UNHAS) dengan terbitnya majalah Geolite ini. Geolite adalah majalah terkait ilmu geofisika yang menghimpun isu-isu kegeofisikaan dan kegiatan-kegiatan HMGF FMIPA UNHAS. Majalah ini hadir sebagai wadah yang memiliki tujuan untuk meningkatkan semangat menulis dan daya pikir kritis anggota HMGF FMIPA UNHAS. Terbit dengan harapan menambah ilmu pengetahuan para pembaca dan menjadi ajang pembelajaran yang terus mengasah skill dalam hal kepenulisan bagi para anggota. Atas nama tim redaksi Geolite, saya ucapkan terimakasih
kepada
anggota
serta alumni HMGF FMIPA UNHAS atas segala kontribusinya
dalam pembuatan
Geolite ini. Mohon maaf atas segala kekurangan yang hadir. Wassalamualaikum Wabarakatuh.
Warrahmatullahi Pimpinan redaksi
SUSUNAN TIM REDAKSI Pimpinan redaksi
Alfian
Divisi Kreatif
Divisi Editorial
Divisi Dana dan Usaha
Divisi Desain Grafis
04
05
GALERI HMGF
Pelantikan Pengurus
06
GALERI HMGF Rapat Kerja
KOMPAS 2021
07
GALERI HMGF Geofisika Peduli Sosial
HMGF Berseri dan HMGF Sehat
08
TENTANG HMGF ......Himpunan Mahasiswa Geofisika Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Hasanuddin atau disingkat HMGF FMIPA UNHAS, merupakan organisasi perkumpulan mahasiswa Geofisika yang berdiri secara resmi pada tanggal 18 Oktober 2019. Pengurus HMGF FMIPA Unhas merupakan lembaga eksekutif dilembaga kemahasiswaan tingkat Departemen Geofisika FMIPA UNHAS. Asas yang dianut oleh HMGF FMIPA UNHAS adalah asas kekeluargaan dan memiki tujuan untuk mencapai pendidikan nasional yang diamanahkan dalam tridarma perguruan tinggi serta terbinanya potensi diri mahasiswa di Departemen Geofisika FMIPA UNHAS. Anggota yang terdaftar dalam HMGF FMIPA UNHAS merupakan seluruh mahasiswa Departemen Geofisika FMIPA UNHAS yang telah dikukuhkan sebagai anggota HMGF FMIPA UNHAS oleh DPMG FMIPA UNHAS dan disahkan oleh Maperwa FMIPA UNHAS. Organisasi-organisasi yang terdapat di HMGF FMIPA UNHAS terdiri dari: 1. Dewan Perwakilan Mahasiswa Geofisika Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Hasanuddin (DPMG FMIPA UNHAS). 2. Pengurus HMGF FMIPA UNHAS. 3. Unit Kegiatan Himpunan. 4. Anggota HMGF FMIPA UNHAS. ......Ada pun lambang HMGF FMIPA UNHAS adalah lambang yang mengacu pada lambang Universitas Hasanuddin ditambah dengan ciri khas keberadaan HMGF FMIPA UNHAS. Adapula arti dan makna lambang, yaitu: Kepala ayam jantan pita dada bertulisakn HMGF FMIPA UNHAS yang berwarna merah berarti Himpunan Mahasiswa Geofisika yang bernanung dibawah panji-panji Universitas Hasanuddin, dengan tekad dan semangat yang tinggi, pantang menyerah dalam setiap usaha dan bergerak dalam mencapai cita-cita luhurnya.
Lingkaran berwarna putih sebagai objek penelitian mahasiswa geofisika. Bumi yang terdiri dari beberapa lapisan dipelajari oleh mahasiswa geofisika sehingga lebih meningkatkan rasa ingin tahu. Palu geologi berwarna emas merupakan lambang peralatan dasar dalam eksplorasi mineral. Gelombang berwarna merah menggambarkan satu lembah dan satu bukit sebagai lambang hubungan antara manusia dan Sang Pencipta, serta melambangkan sifat fisika yang dimiliki bumi (gelombang elektrik, gelombang magnetik, gelombang sesimik, dll). ......HMGF FMIPA UNHAS Periode 2020/2021 diketuai oleh seorang ketua dengan dibawahi lima divisi, yakni Divisi Pengaderan, Divisi Riset dan Pendidikan, Divisi Hubungan Masyarakat, Divisi Dana dan Kesekretariatan , dan Divisi Kerohanian. Kelima divisi tersebut menjalankan pprogramprogram yang sesuai dengan visi dan misi HMGF, yang mana visinya yaitu mewujudkan HMGF yang berintelektual, spritual, dan eksis serta unggul dan konsisten dalam pencapaian keorganisasian. Sedangkan misi HMFG, antara lain: Menjalin dan menjaga silahturahmi yang baik dalam keanggotaan maupun di luar lingkup himpunan. Mengadakan kegiatan-kegiatan sebagai wadah penyaluran minat, bakat, atau disiplin ilmu yang dapat membantu mengasah kreatifitas dan produktifitas. Menananmkan jiwa spritual melalui kegiatankegiatan kerohanian. Pengembangan sinergitas antara lembaga internal maupun eksternal lingkup fakultas. Menyelenggarakan kegiatan-kegiatan masyarakat.
09
Menilik Sudut Pandang Pengabdian Masyarakat Pengabdian kepada masyarakat pada umumnya merupakan sebuah bentuk upaya yang dilakukan dalam mengatasi masalah yang dihadapi oleh masyarakat dengan mengimplementasikan ilmu pengetahuan dan teknologi yang dimiliki. secara sukarela dengan iktikad menambah kesejahteraan masyarakat dengan aksi yang bersifat nyata. Melalui pengabdian masyarakat, mahasiswa dengan pemikiran dan inovasinya diharapkan mampu menjadi garda terdepandalam pembaharuan pola pikir masyarakat menjadi lebih modern. Kegiatan pengabdian dari organisasi kemahasiswaan dilakukan dalam bentuk program kerja. Dalam merumuskan bentuk kegiatan pengabdian masyarakat, organisatoris dituntut untuk membedah problema sosial yang dihadapi oleh masyarakat hingga memberikan kontribusi sebagai tindak solutif.
10
Himpunan mahasiswa departemen sejatinya merupakan ormawa yang cenderung berorientasi pada hal-hal terkhusus pada pengembangan keilmuan bidang studi. Sinkronisasi antara bentuk pengabdian dengan bidang keahlian yang merujuk pada pemanfaatan ilmu pengetahuan dan teknologi tentu akan memberikan kontribusi yang menjurus pada aspek keahlian yang dimiliki. Lebih lanjut, adanya sinkronisasi tersebut menunjukkan eksistensi dari keilmuan dan prospek yang memiliki nilai guna terhadap penyelesaian masalah yang dihadapi oleh masyarakat dalam bidang tertentu. Hal ini akan sangat berbeda bila pengabdian dilakukan dengan menyelesaikan perkara-perkara sosial yang umum kita jumpai sekaligus menjadi pengimplementasian yang konkret atas keahlian yang dimiliki.
Desa Cakura dan Problema yang Dihadapi Tiap tahunnya, masyarakat desa kerap kali mendapati kesulitan dalam memenuhi kebutuhan air untuk irigasi lahan pertanian dan tidak jarang mendapati kesulitan dalam mengakses kebutuhan air untuk keperluan sehari-hari sebagai dampak dari kemarau panjang. Untuk mengatasi permasalahan tersebut baik dari pihak desa dan masyarakat setempat memanfaatkan jasa sumur bor agar kiranya dapat menjadi sumber utama untuk pemenuhan kebutuhan air. Pada tahun 2017 melalui Program Penyedian Air Minum dan Sanitasi Berbasis Masyarakat (PAMSIMAS) telah dibangun sumur bor di desa tersebut untuk menyediakan akses kebutuhan air dan berhasil mengaliri hingga empat dusun di desa tersebut.
Namun meski demikian sebagian besar masyarakat memberikan keluhan dikarenakan tidak sampainya pemenuhan terhadap irigasi pertanian. Selanjutnya menurut informasi dari masyarakat setempat bahwa sebagai upaya antisipatif terhadap kemarau panjang maka masyarakat desa telah membangun sumur bor di kawasan pertanian. Langkah tersebut merupakan langkah yang sangat tepat untuk mengatasi permasalahan.
11
05 Namun mirisnya terdapat banyak titik sumur bor dari masyarakat yang penggunaannya hanya sementara waktu dan tidak fungsional lagi. Selain itu, dalam proses pembangunan sumur bor seringkali gagal akibat bor yang tidak dapat menembus lapisan batuan dibawah permukaan yang tergolong keras. Berangkat dari permasalahan tersebut, maka Himpunan Mahasiswa Geofisika Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Hasanuddin bersama dengan Desa Cakura, Kecamatan Polongbangkeng Selatan, Kabupaten Takalar menjalin kesepakatan untuk bekerjasama dalam melakukan pemetaan geolistrik untuk Desa Cakura. Kesepakatan tersebut dituai dalam Memorandum of Understanding (MoU) antara Ketua Umum HMGF FMIPA Unhas dengan Nurdiansyah, S,Pd selaku utusan yang mewakili Kepala Desa Cakura, MoU yang ditandatangani pada 10 Agustus 2021 lalu. Dalam kesepakatan tersebut berisi tentang pemetaan resistivitas menggunakan metode geolistrik jenis Vertical Eletrical Sounding (VES) untuk pengembangan pengelolaan air tanah oleh pihak HMGF di Desa Cakura. Kesepakatan tersebut dibentuk berdasarkan inisiasi oleh pihak himpunan sebagai bentuk program pengabdian kepada masyarakat
12
13
Penggunaan Geolistrik Sebagai Solusi Menanggapi permasalahan kebutuhan akan pengelolaan air tanah untuk kepentingan kebutuhan air dalam aktifitas sehari-hari dan untuk menujang keberlangsungan kegiatan pertanian tersebut tentunya diperlukan upaya penanggulangan dalam menghadapi peristiwa musiman tersebut. Sebagai salah satu solusi dalam menghadapi permasalahan tersebut belum cukup bila hanya dilakukan pemberdayaan sumber daya air tanah menggunakan sumur bor secara optimal untuk menjamin pemerataan pasokan kebutuhan air di desa tersebut. Pasalnya, masyarakat desa tidak mempunyai pemahaman tentang kondisi desanya bila ditinjau dari aspek geologis Adanya pengetahuan tentang kegeologian kiranya dapat memberikan informasi tentang potensi keterdapatan airtanah serta keterdapatan batuan keras yang menjadi momok permasalahan pengeboran di desa tersebut
Salah satu cara yang digunakan untuk melakukan penggambaran tentang kondisi bawah permukaan adalah geolistrik. Termasuk dalam eksplorasi airtanah survei geolistrik selain merupakan cara yang paling umum dan efektif digunakan, juga metode ini memerlukan biaya yang murah dan pengerjaan tidak memerlukan waktu yang lama dari metode geofisika lainnya.
Secara garis besar metode geolistrik menggunakan parameter fisis berupa resistivitas untuk mengetahui kondisi bawah permukaan. Hal ini dimungkinkan karena lapisan tanah dan batuan yang berisi air sangat mudah mengalirkan arus listrik (konduktif). Tiap lapisan tanah atau batuan memiliki nilai resistivitas yang identik sehingga harga yang didapatkan melalui survei dilapangan dapat dikategorikan jenisnya. Dengan mengetahui nilai resistivitas lapisan bumi bawah permukaan, maka dapat diprediksikan lapisan-lapisan tanah atau batuan yang mengandung air (akuifer) yang potensial. Hal ini bermanfaat untuk memprediksi lokasi dan kedalaman tempat perencanaan pengeboran eksplorasi air tanah. Nilai resistivitas untuk tiap bahan memiliki nilai yang identik sehingga angka yang didapatkan melalui survei dilapangan dapat dikategorikan jenisnya berdasarkan ketetapan yang telah melalui eksperimen sebelumnya.
14
Interpretasi Geolistrik Desa Cakura
Bila ditinjau secara geologis, Desa Cakura sendiri merupakan salah satu Desa di Kabupaten Takalar yang menurut kajian dari pihak himpunan yang dikutip dari beberapa referensi bahwa sebagian besar desa ini tersusun atas 3 formasi batuan yakni formasi batuan gunungapi Baturape Cindako disebelah Timur yang merupakan batuan vulkanis, Endapan Aluvium disebelah barat serta terdapat pula formasi Camba yang merupakan selingan dari batuan sedimen dan batuan gunung api. Untuk formasi batuan Gunungapi Baturappe-Cindako (Tpbv) terjadi secara setempat terdiri dari lava dan breksi bersusunan basal dengan sisipan sedikit tufa dan konglomerat, umumnya batuan didominasi oleh lava (Tpbl) berumur Pliosen Akhir. Satuan batuan gunungapi termuda adalah Batuan Gunungapi Lompobatang (Qlv), terdiri dari aglomerat, lava, breksi, endapan lahar dan tufa. Sebagian besar terkompaksi, andesit dan basal berumur Plistosen. Sedimen termuda berupa endapan aluvial dan pantai (Qac), berumur Holosen. Kajian tersebut didukung pula dengan kelimpahan singkapan jenis batuan beku vulkanis yakni aglomerat serta pengakuan masyarakat setempat yang mendapati batuan “hitam” yang digadang penyebab stuck-nya proses pengeboran. Berdasarkan kajian tersebut dapat disimpulkan keterdapatan lapisan batuan beku yang relatif keras yang digadang sebagai salah satu penyebab keresahan warga.
15
Hasil interpretasi metode geolistrik di desa tersebut menunjukkan keterdapatan batuan sedimen batupasir dengan rentan nilai resistivitas 1–76.7 Ωm, batuan basalt dengan rentan nilai resistivitas 55-101 Ωm, dan batuan sedimen vulkanis berupa breksi tufaan dengan rentan nilai resistivitas 142-234 Ωm. Penampang litologi di desa Cakura menunjukkan lapisan batupasir dan breksi tufaan yang berasosiasi dengan batupasir dan lava sebagai akuifer. Batupasir merupakan lapisan akuifer efektif dikarenakan sifatnya yang memiliki permeabilitas yang cocok untuk menampung dan mengalirkan air sedangkan breksi tufaan yang berasosiasi dangan pasir digolongkan juga sebagai tufa kasar dengan permeabilitas yang rendah dikategorikan sebagai akuifer tidak efektif. Sementara lapisan batuan basalt yang masif berperan sebagai batuan penahan (aquifuge) yang menahan dan tidak meloloskan aliran air diatasnya untuk masuk kebawah.
Berdasarkan hasil yang didapatkan melalui analisis resistivitas, daerah-daerah potensial akuifer berada pada daerah Area timur dusun Bontomaka sekitar 900 m dengan perbatasan dusun Jenelimbua dan laut-timur dusun Bontomaka, yang beradaa sampai utara perbatasan dengan dusun Buakanga dengan kedalaman akuifer 3 – 60 meter, area utara dusun Buakanga dengan kedalman akuifer 3 – 80 meter, area batas selatan desa Cakura di dusun Pangkajene dengan kedalaman akuifer 3 – 50 meter. Adapun keberadaan batuan keras yang tidak memiliki potensi akuiferberada di barat desa Cakura yang dimulai dari sebelah utara dusun Pangkajene yang berbatasan dengan dusun Buakanga sampai di batas Timur desa
16
17
Arti Penting dari Geofisika Peduli Sosial Geofisika Peduli Sosial yang menjadi bagian dari program kerja HMGF merupakan sebuah manifestasi dari pengabdian masyarakat berbasis profesi. Sebagai mahasiswa yang berkecimpung langsung dengan ranah geofisika haruslah menyadari akan pentingnya melihat kondisi aktual yang menjadi permasalahan dari masyarakat dalam disiplin ilmu yang dimiliki.
18
Bila hanya terpaku kepada hal-hal yang demikian kasarnya lumrah didapati sebagai masalah sosial dalam masyarakat maka kiranya pada permasalahan spesifik pada suatu bidang tertentu menjadi tidak tersentuh oleh pengabdian masyarakat. Oleh karenanya sangatlah penting untuk mengimplementasikan keahlian yang kita punya untuk turut menyalurkan kontribusi yang berarti bagi kesejahteraan masyarakat.
19
Survei Geologi Geofisika Peduli Sosial in frame: Wilda, Sarwan, Fhaika, Yansen (Geofisika 2018)
20
21
Sosialisasi Hasil Geofisika Peduli Sosial in frame: Pengurus HMGF 20/21 dan Warga Desa Cakura)
22
23
Grand Issue
Parameter Gempa Bumi Berdasarkan episenter dan hiposenter, gempabumi yang terjadi merupakan jenis gempabumi dangkal (shallow crustal earthquake) akibat aktivitas sesar lokal. Hasil analisis mekanisme fokal dari BMKG menunjukkan bahwa gempabumi memiliki mekanisme sesar naik (thrust fault) dengan kedudukan N 28°E, dip 21° dan rake 104° atau kedudukan N 351°E, dip 16° dan slip 94°). Berdasarkan data tersebut terlihat bahwa sesar naik ini tergolong sudut landai dan blok bagian timur relatif bergerak naik terhadap blok bagian barat bidang sesar. Jalur sesar naik ini berasosiasi dengan lipatan (fold thrust belt) yang banyak terdapat di bagian barat Provinsi Sulawesi Barat. Adapun rinciannya sebagai berikut:
·#1 Magnitudo 5.9 SR Waktu : Kamis 14 Januari 2021, pukul14.35.49 WITA Episenter: 2,99 LS dan 118,89 BT tepatnya di darat pada jarak 4 km arah Baratlaut Majene, Sulawesi Barat Kedalaman : 10 km. Status : Tidak berpotensi tsunami
·#2 Magnitudo 6.2 SR Waktu : Jumat, 15 Januari 2021, pukul 02.28.17 WITA Episenter : 2,98 LS dan 118,94 BT tepatnya di darat pada jarak 6 km arah TimurLaut Majene, Sulawesi Barat Kedalaman : 10 km. Status : Tidak berpotensi tsunami
#3 Magnitudo 5.0 SR Waktu : Sabtu, 16 Januari 2021, pukul 07:32:55 WITA Episenter : 2.89 LS dan 119.03 BT tepatnya di darat pada jarak 20 km arah TimurLaut Majene, Sulawesi Barat Kedalaman : 10 km. Status : Tidak berpotensi tsunami
24
Sejarah Singkat Gempabumi yang terjadi secara beruntun dengan mekanisme pergerakan naik di daerah lokasi diduga kuat bersumber dari sesar naik Mamuju. Sejarah mencatat untuk lokasi sumber gempa yang berdekatan dengan magnitudo yang signifikan sebelumnyapernah terjadi di tahun 1967, 1969, dan 1987. Pada 11 April 1967 gempa dengan magnitudo 6.3 mengguncang Polewali Mandar . Gempa tersebut menimbulkan tsunami dan menyebabkan 13 orang meninggal dunia. Selanjutnya di tahun 1969 merupakan gempa terdahsyat yang tercatat dalam sejarah di wilayah Sulawesi Barat dengan M 6.1 SR terjadi pada 23 Februari 1969 pukul 00:36:56 dengan koordinat 3,1 LS dan 118,9 BT dengan kedalaman 13 km. Dengan meninjau lokasi dari gempa ini yang berdekatan maka dapat dipastikan bahwa gempabumi ini berasal dari pembangkit yang sama pada 14,15, dan 16 Januari baru ini. Dilansir dari Tribunnews.com, melalui jumpa pers webinar BMKG, "Apa yang terjadi di Majene sekarang adalah pengulangan yang sama. Pada tanggal 23 Februari 1969 gempa dengan kekuatan 6,9 SR dan kedalaman 13 km pernah terjadi di sana," kata Kepala Bidang Mitigasi Gempa Bumi dan Tsunami BMKG Daryono, Jumat(15/1/2021). Gempa tersebut membangkitkan gelombang tsunami dengan ketinggian 4 m di daerah Paletoang dan 1,5 m di daerah Parasangan dan Palili. Kejadian tersebut merenggut korban jiwa sebanyak 64 orang meninggal dunia, 97 orang korban luka-luka, serta 1287 bangunan roboh.
Tabel. Perhitungan dan Pemilahan frekuensi gempa tiap provinsi tahun 2009-2019 berdasarkan waktu tahunan, bulanan, harian serta berdasarkan magnitudo dan kedalaman gempa (Sabtaji, 2020)
Berlanjut di tahun 1984 tepatnya tanggal 8 Januari 1984, gempabumi dengan kekuatan M 6.7 berpusat di Mamuju intensitas yang dirasakan berskala VII MMI. Catatan menyebutkan tidak terdapat korban jiwa pada kejadian tersebut namun dampak materi yang diakibatkan berupa bangunan yang rusak parah. Pada dasarnya, gempabumi yang terjadi merupakan akibat dari pergerakan tektonik yang ada dibawah permukaan. Hal tersebut dikaitkan pula dengan akumulasi energi yang sewaktu-waktu dapat dilepaskan untuk membangkitkan gempabumi. Oleh karena itu perlu untuk berwawas diri dengan mengetahui langkah tepat dalam upaya kesiapsiagaan menghadapi bencana gempabumi yang bisa menimpa sewaktu-waktu.
Kondisi Tektonik Untuk analisis struktur dan tektonik wilayah ini akan diambil daerah sampel yang dianggap paling representatif karena kelengkapan data struktur dan tektonik. Daerah tersebut adalah wilayah Propinsi Sulawesi Barat, yang meliputi daerah Mamuju dan Majene di bagian barat, sampai daerah Palopo di bagian timur. Di daerah ini terdapat dua lajur lipatan – sesar naik, yaitu Lajur Lipatan – sesar naik Majene dan Lajur Lipatan – Sesar naik Kalosi. Di daerah ini juga dijumpai pluton granit yang besar, kompleks ofiolit (Lamasi), serta batuan alas malihan Pra-Tersier Latimojong.
Sumber: Sukamto (1975b), Bergman drr (1996), Djuri drr. (1998) dan Bachri & Baharuddin (2001)
25
Berdasarkan data isotope Rb-Sr, Nd-Sm, dan U-Pb, dan data geokimia unsur utama dan unsur jarang, batuan induk dari batuan beku Miosen adalah himpunan kerak dan mantel litosfir berumur Proterozoik Akhir sampai Paleozoik Awal yang terpanaskan dan meleleh karena tumbukan benua–benua, dimana kerak benua yang berasal dari Lempeng Australia–Nugini tertunjamkan dibawah ujung timur Daratan Sunda (Bergman drr., 1996). Model tektonik ini menyatakan bahwa Selat Makassar ditafsirkan merupakan cekungan daratan-muka (foreland basin) di kedua sisi dari Daratan Sunda dan Lempeng Australia-Nugini. Sementara itu, obdaksi kerak samudera (Kompleks Lamasi) pra-Eosen ke Sulawesi Barat terjadi pada Oligosen Akhir sampai Miosen. Busur magmatik Sulawesi Barat yang berumur Miosen Akhir dianggap sebagai hasil tumbukan benua – benua , berbeda dengan model sebelumnya yang menyatakan busur tersebut terkait dengan tumbukan kerak samudera dengan benua, atau samudera dengan samudera. Daerah Majene-Mamuju sampai Palopo dapat dibagi menjadi tiga domain tektonik utama yang membujur utara – selatan. Ketiga domain tersebut mulai dari lajur lipatan – sesar naik aktif, lajur vulkano-plutonik, dan lajur batuan ofiolit (Kompleks Lamasi). Bukti dari wilayah daratan yang menunjukkan bahwa Selat Makassar telah mengalami fase kompresi adalah ditemukannya lajur lipatan dan sesar-naik di Sulawesi Barat, yaitu lajur lipatan dan sesar-naik Kalosi dan lajur lipatan dan sesarnaik Majene di sebelah baratnya, yang kedua-duanya memiliki arah kecondongan (vergence) ke barat, sementara di Kalimantan Timur dijumpai lajur lipa.tan dan sesarnaik Samarinda yang mempunyai kecondongan struktur ke arah timur
Pada Kapur, di sebelah timur Mandala Sulawesi Timur terdapat tunjaman landai. Selama proses penunjaman Mandala Sulawesi Timur ini bergerak ke barat, dan terjadi pengendapan tepi benua. Pada Kapur Akhir – Tersier Awal terjadi tumbukan dengan Mendala Sulawesi Barat. Akibat tunjaman ini endapan tepi kontinen termalihkan menjadi Kompleks Pompangeo dan Batugamping Malih; dan terbentuk Sesar naik Poso serta Sesar naik Wekuji. Kemudian terjadi tumbukan mikrokontinen yang merupakan pecahan Benua Australia dengan Ofiolit mengakibatkan pengaktifan kembali tumbukan yang ada dan terbentuknya Sesar Matano. Setelah tumbukan ini terjadi depresi Poso yang diakibatkan oleh gaya pelepasan. Di bagian utara depresi diendapkan Formasi Poso dan Formasi Puna, sedangkan di bagian selatan terbentuk Danau Poso. Pada Eosen Tengah diduga terjadi bukaan Selat Makassar (fase ekstensi) seperti dikemukakan oleh beberapa penulis, semetara pada Miosen hingga sekarang terjadi fase kompresi yang mengakibatkan terjadinya lajur lipatan dan sesar naik di Sulawesi Barat (lajur lipatan dan sesar naik Kalosi dan Majene) yang memiliki arah kecondongan struktur ke barat, sementara di Kalimatan Timur terbentuk lajur lipatan dan sesar naik Samarinda yang memiliki arah kecondonga struktur ke timur. Fenomena terdapatnya dua arah kecondongan struktur yang berlawanan ini tergambar pula pada data seismik di Selat Makassar. Lempeng Australia-Nugini tertunjamkan di bawah ujung timur Daratan Sunda (Bergman drr., 1996). Model tektonik ini menyatakan bahwa Selat Makassar ditafsirkan merupakan cekungan daratanmuka (foreland basin) di kedua sisi dari Daratan Sunda dan Lempeng Australia-Nugini Sementara itu, obdaksi kerak samudera (Kompleks Lamasi) pra-Eosen ke Sulawesi Barat terjadi pada Oligosen Akhir sampai Miosen. Busur magmatik Sulawesi Barat yang berumur Miosen Akhir dianggap sebagai hasil tumbukan benua – benua (Bergman drr., 1996).
26
Rumah adat Mamuju ambruk (Hermawan/detik.com)
Kantor Gubernur dilaporkan ambruk. (Liputan6.com/Istimewa-Abdul Rajab Umar)
27
BMKG menyebut gempa Kabupaten Majene mengguncang tiga provinsi di Sulawesi. Ilustrasi (AP/Rudy Akdyaksyah)
28
Sumber : BPBD Provinsi Sulawesi Barat. (Update 22 Januari Pukul. 20.00 WIB)
Daftar Pustaka
29
KARYA TULIS KAJIAN ISU
30
BATU BARA : Deforestasi, Biodiversity, Kriminalisasi Hingga Praktik Oligarki Rahmat Rastin, Geofisika 2018
Pendahuluan Kebutuhan akan sumber daya alam (SDA) akan terus meningkat sebagai konsekuensi logis dari kehidupan dan pembangunan. Semenjak nenek moyang hidup dengan pola nomaden dahulu hingga sekarang, manusia selalu bergantung pada sumber daya alam yang ada di bumi. Bedanya, dulu kita bergelut di dunia pertanian dan perkebunan sedangkan sekarang kita lebih beralih ke sektor industri pertambangan. Salah satu potensi sumber daya alam yang besar di Indonesia adalah batu bara. Saat ini, batubara dijadikan sebagai pemasok energi utama untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Jika menilik sejarah, batu bara sebenarnya sudah ada sejak lama, banyak hipotesis para yang menganggap bahwa sekitar 1000-400 SM sudah ditemukan di China dan Eropa. Secara umum, batu bara ditemukan setelah Marco Polo melakukan penjelajahan di China pada tahun 1271. Saat itu dikenal dengan istilah black stone yang digunakan masyarakat China sebagai bahan bakar. Di Indonesia, penggunaan batubara masif saat krisis moneter 1996. Cadangan batu bara ditemukan di beberapa tempat di Indonesia dengan jumlah yang melimpah. Salah satu penggunaan batu bara paling banyak adalah sebagai pembangkit listrik. Indonesia memiliki enam jenis pembangkit listrik, yakni bertenaga uap, gas, diesel, panas bumi, air, dan energi terbarukan. Pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) mendominasi kapasitas pembangkit di Indonesia. Jenis tersebut mampu menghasilkan hingga 35,22 GW yang setara dengan 50% dari total kapasitas pembangkit. Menurut Dirjen Mineral dan Batu bara (2013) yang ditulis oleh Fitriyanti (2016) bahwa ada 20 provinsi yang memiliki sumberdaya batu bara, dengan Sumatera Selatan dan Kalimantan Timur merupakan provinsi dengan tingkat sumberdaya batubara tertinggi di Indonesia, yaitu setara dengan 82% dari total sumber daya batubara di Indonesia. Sumber daya batubara Indonesia mencapai 161,34 miliar ton (MT) dan cadangan sebesar 28,17 MT.
Dikutip dari tirto.id, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mencatat energi fosil masih menjadi penyumbang utama pembangkit listrik di Indonesia. Sumbangan energi fosil dari seluruh pembangkit listrik Indonesia mencapai 60.485 MW setara 85,31 persen dari total kapasitas terpasang nasional. Di posisi pertama ada batu-
bara yang menjadi sumber listrik utama di Indonesia. Jumlah kapasitas pembangkit listrik terpasang dari PLTU misalnya mencapai 35.216 MW setara 49,67 persen dari total kapasitas nasional 70.900 MW. Selain karena Indonesia belum bisa keluar dari ketergantungan atas batu bara, kita juga meraup keuntungan dari devisanya. Sektor ini menyumbang 36% dari pendapatan negara pada tahun 2008 (Kementerian ESDM, 2009). Selain itu, sektor ini juga diklaim sebagai salah satu ruang penampung tenaga kerja sehingga mampu memperbaiki ekonomi masyarakat sekitar daerah eksplorasi.
Deforestasi dan Degradasi Lingkungan Hal-hal di atas tidak bisa dijadikan sebagai batu loncatan untuk menganggap batu bara sebagai malaikat di tengah-tengah kita hari ini. Terdapat banyak ketimpangan lain di sektor lingkungan sebagai akibat dari aktivitas tambang batu bara. Banyak daerah di sekitar eksploitasi mengalami penurunan kualitas lingkungan hidup yang sehat dan kerusakan lingkungan yang bervariasi. Kerusakan atau pencemaran lingkungan bisa terjadi di air, tanah dan udara serta timbulnnya deforestasi. Dalam Peraturan Menteri Kehutanan Republik Indonesia Nomor P.30/MENHUT-II/2009 tentang Tata Cara Pengurangan Emisi dari Deforestasi dan Degradasi Hutan menjelaskan tentang pengertian deforestasi, yakni pengubahan area hutan menjadi lahan tidak berhutan secara permanen, untuk aktivitas manusia. Secara singkatnya, deforestasi bisa kita sebut dengan penghilangan hutan alam. Seluas 6.028.414 Ha izin pertambangan di Pulau Kalimantan berada dalam kawasan hutan. Secara umum pertambangan batu bara menggunakan sistem pertambangan terbuka, karena seam batu bara terletak di daerah permukaan sehingga mengakibatkan perubahan tutupan lahan dari areal hutan menjadi bukan hutan. Studi yang dilakukan oleh Abood, dkk dalam Kartika, dkk (2015) menunjukkan, kurun waktu antara 20002010 di Indonesia telah kehilangan tutupan hutan sebesar 44,7% pada areal konsesi hak pengusahaan hutan alam, hutan tanaman industri, perkebunan kelapa sawit dan pertambangan. Hal ini akan terus berekskalasi, mengingat pembukaan atau perluasan lahan konsesi batu bara terus berlanjut. Akibatnya, terjadi ketidakstabilan ekosistem, pencemaran atau kerusakan lingkungan hidup dan berbagai bencana alam lainnya hingga krisis iklim. Agar tidak terjadi double standar, maka kita memakai pengertian pencemaran menurut J. Barros dan D. M. Jhonston. Di dalam bukunya The International Law of Pollution, masalah pencemaran timbul bila suatu zat atau energi dengan tingkat konsentrasi yang sedemikian rupa hingga dapat mengubah kondisi lingkungan, baik langsung maupun tidak langsung, dan pada akhirnya lingkungan tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Industri batu bara memang sangat erat kaitannya dengan lingkungan hidup, karena kegiatan usaha ini rentan-
terhadap kerusakan lingkungan. Akibatnya, kualitas lingkungan menurun yang diikuti penurunan kualitas hidup masyarakatnya. Abrar Saleng dalam Listiyani (2017) pernah menjelaskan mengenai dampak pertambangan batu bara, sebagai berikut : Usaha pertambangan dalam waktu relatif singkat dapat mengubah bentuk topografi tanah dan keadaan muka tanah (land impact) sehingga dapat mengubah sistem keseimbangan ekologi bagi daerah sekitarnya. Usaha pertambangan dapat menimbulkan berbagai macam gangguan, antara lain pencemaran akibat debu dan asap yang mengotori udara, air, limbah air, tailing, serta buangan tambang yang menjadi gas-gas beracun. Pertambangan yang dilakukan tanpa mengindahkan keselamatan kerja dan kondisi geologi lapangan dapat menimbulkan tanah longsor, ledakan tambang, keruntuhan tambang, dan gempa. Raden, dkk dalam Purwanto (2015) ikut menjelaskan secara lugas mengenai dampak kerusakan lingkungan yang ditimbulkan akibat eksplorasi dan eksploitasi batu bara, sebagai berikut : Perubahan bentang lahan Galian lubang akibat pengangkatan batu bara harus ditutupi melalui program reklamasi dan revegetasi. Namun, hal tersebut tidak mudah karena rata-rata deposit batu bara yang dkeluarkan lebih banyak daripada tanah untuk penutup lubang galian. Walaupun sebenarnya banyak aturan yang mengatur soal rehabilitasi lahan dalam dokumen Amdal (Analisis Mengenai Dampak Lingkungan) tetapi tetap saja banyak perusahaan-perusahaan yang lalai dalam hal itu. Dalam nasional.tempo.co Jatam (Jaringan Advokasi Tambang) Nasional menemukan 3.092 lubang tambang yang dibiarkan hingga tahun 2020. Dan lubang galian tambang sudah memakan korban jiwa sebanyak 24 orang sepanjang tahun 2020. Penurunan tingkat kesuburan tanah Tambang batu bara juga berdampak pada penurunan kesuburan tanah seperti pada kegiatan tanah pucuk (top soil) dan tanah penutup (overbeden). Pengupasan tanah pucuk dan tanah penutup akan merubah sifat-sifat fisik tanah, di mana lapisan tanah yang awalnya tersusun rapi dari atas ke bawah akan terombak akibat pengupasan. Biodiversity Pembukaan lahan pertambangan akan menyebabkan konversi lahan sehingga menyebabkan terganggunya keanekaragaman hayati, terutama flora dan fauna. Ekosistem sekitar kawasan konsesi pasti terganggu. Misal, seperti orang utan yang sudah masuk di area perkampungan dan sebagainya. Penurunan kualitas air Salah satu dampak tambang adalah sungai menjadi keruh dan memicu terjadi banjir. Prosesi pembukaan dan pembersihan lahan mengakibatkan bahan pencemar masuk ke badan air serta sumur masyarakat saat hujan lebat. Hal ini diakibatkan saat pencucian batu bara di mana bahan pencemar terbawa oleh air limpasan permukaan (surface run-off) ke bagian yang lebih rendah dan masuk ke badan air. Penurunan kualitas udara Penurunan indeks kualitas udara diakibatkan oleh pembongkaran batu bara dan mobilitas pengangkutan dari dalam dan keluar lokasi pertambangan. Tingginya kadar SO2, partikulat (PM 10 dan PM 2.5), NOxes, O3, benzene dan H2S yang dapat mengakibatkan gangguan pernapasan. Pembakaran spontan batu bara melepaskan senyawa beracun yaitu CO2, CO, methana, xylene, sulphur, arsenik, merkuri dan timbal. Selain yang telah disebutkan di atas, Jatam Nasional juga pernah mengatakan bahwa banjir yang pernah terjadi di Kalimantan Selatan (Kalsel) tidak terlepas dengan meluasnya ekspansi wilayah tambang batu bara. Dari 3,7 juta hektar (ha) luas wilayah Kalsel, sebanyak 1,2 juta hektar atau 33% dikuasai oleh pertambangan batu bara. Sektor batu bara menyumbang proporsi terbesar dalam meningkatnya kadar gas rumah kaca. Laporan World Resouces Institute (tirto.id) menjelaskan bahwa Indonesia menyumbang
31
tkenaikan emisi gas rumah kaca sebesar 1,88 persen. Kurun waktu 2007-2016, emisi karbon di Indonesia selalu meningkat, pada tahun 2007 sekitar 398 juta ton dan pada 2016 naik ke angka 530 juta ton. Hal ini tentunya tidak terlepas dari penggunaan energi batu bara di Indonesia. Indonesia menduduki peringkat kelima di dunia dalam urusan produsen batu bara, serta urutan ke-10 sebagai rumah cadangan batu bara di dunia. Maraknya kerusakan lingkungan dan tingginya kebutuhan akan batu bara ini bukan tanpa alasan, Joko Widodo selaku presiden meluncurkan rencana proyek yang ambisius dengan mengembangkan 35 ribu megawatt pembangkit listrik batu bara pada 2019 yang kemudian direvisi jadi 2024 dengan tujuan pemerataan pemanfaatan listrik ke daerah-daerah terpencil. Walaupun, langkah ini sebenarnya dikritik oleh seorang ekonom Faisal Basri, ia menyebutkan bahwa langkah tersebut sangat primitif. Mulai dari pendekatannya masih ekstraktif hingga keberlangsungan ekologi sehat di masa datang.
Konflik dan Kriminalisasi Dampak dari pertambangan memang begitu memprihatinkan, beberapa karya film dokumenter watchdoc memperlihatkan dunia gelap tambang batu bara. Seperti yang dimuat dalam film Asimetris, dan Sexy Killers. Deretan film tersebut menggambarkan potret kehidupan masyarakat yang berada di sekitar wilayah industri tersebut sangat terganggu, terutama kualitas udara, bencana alam dan deforestasi. Selain dampak lingkungan, industri batu bara juga mengalami banyak polemik di pembebasan lahan untuk area eksploitasi. Hal tersebut memicu konflik horizontal di tengah-tengah lapisan masyarakat. Konfliknya bisa antara perusahaan dan masyarakat atau pun antar masyarakat. Kemudian berujung pada upaya kriminalisasi masyarakat apabila ingin menolak wilayahnya dieksploitasi. Catatan Jatam (Jaringan Advokasi Tambang),44% wilayah Indonesia telah dikaveling tambang. Tahun 2020 tercatat 45 kasus konflik pertambangan. Jumlah itu meningkat dari tahun sebelumnya, yakni dengan 11 kasus. Jadi hasil akumulasi konflik pertambangan sejak 2014-2019 terdapat 116 kasus. Luasan konflik pertambangan dalam kurun waktu 2020 mencapai 714.692 hektar atau setara dengan tiga kali luas Kota Hongkong. Jika diakumulasi sejak 2014-2020 maka luasnya mencapai 1.640.440 hektar atau dianalogikan setara dengan tiga kali luas Pulau Bali. Konfliknya mencakup tambang emas (23 kasus), tambang batu bara (23 kasus) dan tambang pasir (11 kasus). Jatam Nasional merilis jenis konflik yang terjadi, yakni pencemaran dan perusakan lingkungan (22 kasus), perampasan lahan (13 kasus), kriminalisasi warga penolak tambang (8 kasus) dan pemutusan hubungan kerja (2 kasus). Dari keseluruhan konflik di atas, ada 13 kasus yang melibatkan aparat militer dan polisi. Dari 8 kasus upaya kriminalisasi tambang menimbulkan korban kriminalisasi sebanyak 69 orang dan 6 di antaranya remaja di bawah umur.Pasalnya pun beragam, seperti KUHP, UU Minerba No. 4 tahun 2009 maupun UU Minerba No. 3 tahun 2020, hingga UU Mata Uang No. 7 tahun 2011. Buku hitam kelam sudah menjadi catatan panjang mengenai maraknya upaya kriminalisasi terhadap warga atau masyarakat yang menolak pertambangan. Terjadi di beberapa wilayah di Indonesia dengan jeratan pasal beragam. Bukit Oligarki Sudah menjadi rahasia umum, dunia industri batu bara dikelilingi orang-orang dalam lingkaran pemerintahan. Sehingga tidak menutup kemungkinan industri ini dijadikan sebagai tools untuk melanggengkan kekuasaan dan menambah kekayaan atau yang biasa kita dengar sebagai oligarki.
32 Standar definisi oligarki diambil dari pendekatan Jeffry Winters dalam bukunya Oligarchy yang ditulis tahun 2011. Ia mendefinisikan oligarki sebagai pelaku yang menguasai dan mengendalikan konsentrasi besar sumber daya material yang bisa digunakan untuk mempertahanan dan meningkatkan kekayaan pribadi dan posisi sosial ekslusifnya. Praktik oligarki dalam industri batu bara di Indonesia dilakukan secara terang-terangan. Misal, Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI) mengesahkan UU No. 3 tahun 2020 tentang Pertambangan Mineral dan Batu Bara, padahal undang-undang ini mendapat penolakan dari berbagai pihak. Di dalam aturan ini ada sejumlah perubahan signifikan seperti status Izin Usaha Pertambangan Khusus (IUPK), pengurangan masa hukuman, dan penghapusan sanksi pada pihak tertentu. Aturan ini jelas mengakomodasi kepentingan kepentingan korporasi. Sejak menjadi isu hingga diundangkan, banyak pihak yang meragukan bahkan menolak UU Minerba ini. Beberapa pasal didalamnya dianggap sangat syarat akan kepentingan korporasi. Misal menyoal pasal mengenai perizinan yang menjelaskan bahwa izin perpanjangan tambang yang akan dipermudah. Inilah yang menyebabkan asumsi publik bahwa UU Minerba ini titipan menjadi nyata, mengingat banyaknya perusahaan yang akan habis kontraknya. Finance.detik.com memberitakan sejumlah perusahaan yang akan habis masa kontraknya dalam waktu dekat. Perusahaanperusahaan itu adalah PT Arutmin Indonesia yang kontraknya akan berakhir pada 1 November 2020, PT Kendilo Coal Indonesia yang Perjanjiannya akan berlaku hingga 13 September 2021, dan PT Kaltim Prima Coal yang masa berlaku PKP2B-nya akan habis pada 31 Desember 2021. Selain itu, dalam daftar tersebut juga terdapat PT Multi Harapan Utama yang pada 1 April 2022 kontraknya akan berakhir. Kemudian PT Adaro Indonesia, di mana masa kontraknya akan habis pada 1 Oktober 2022, PT Kideco Jaya Agung yang kontraknya hanya sampai 13 Maret 2023, dan PT Berau Coal yang masa kontraknya akan habis pada 26 April 2025.
Hal yang tidak kalah menarik adalah dalam pasal 165 UU Minerba yang baru ini adalah penghapusan sanksi bagi pemerintah apabia menyalahgunakan kewenangan dalam mengeluarkan Izin Usaha Pertambangan (IUP), Izini Pertambangan Rakyat (IPR) dan Izin Usaha Pertambangan Khusus (IUPK). Potensi konflik kepentingan dan praktik korupsi semakin kelihatan. Selain itu, ada pasal 42 menyoal jangka waktu penguasaan lahan yang dulu diberi 2 tahun sekarang menjadi 8 tahun dan dapat diperpanjang 1 tahun setiap kali perpanjangan. Ini kemudian dinilai sebagai pintu masuk oligarki dan kongkalikong antara perusahaan dan pemangku kepentingan. Industri tambang batu bara memang sangat dekat dengan pemangku kebijakan di negeri ini, misal Luhut Binsar Pandjaitan yang saat ini menjabat sebagai Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Indonesia, ia juga merupakan pemilik atau pemegang saham di sejumlah perusahaan yang bergerak di sektor tambang, seperti PT Toba Bara Sejahtera, PT Kutai Energi, PT Admitra Nusantara. Ditulis dalam Suara.com bahwa beberapa anak perusahaan PT Toba Bara milik Luhut Binsar Pandjaitan terlibat dalam kerusakan lingkungan yang telah meninggalkan 36 lubang tambang. Hal ini memperjelas asumsi yang terbangun ditengah masyarakat bahwasannya industri batu bara hanya menguntungkan segelintir orang dan merugikan banyak manusia lain, termasuk lingkungan yang di dalamnya termasuk flora dan fauna. Sementara, penggunaan energi batu bara terus meningkat hingga saat ini. Mengapa kita tidak beralih ke energi baru dan terbarukan? Kita bisa menggunakan air terjun untuk energi mikrohidro, kita bisa memanfaatkan turbin-turbin angin, kita bisa mengandalkan panel surya yang kita letakan di atap rumah sebagai langkah kemandirian energi. Jawabannya adalah politik kotor dan rakus di negeri sendiri.
Referensi: Febriani, dkk. Teori Oligarki Winters Atas Penambangan Batubara Di Kalimantan Timur (Relasi Pengusaha Menjadi Penguasa). Jurnal Ilmiah Widya Sosiopolitika. E-ISSN 2685-4570. Fitriyani, R. 2016. Pertambangan Batu Bara : Dampak Lingkungan, Sosial Dan Ekonomi. Jurnal Redoks Teknik Kimia. Vol. 1, No. 1. https://databoks.katadata.co.id/datapublish/2020/09/28/sebaran-pembangkit-listrik-di-indonesia# https://tirto.id/energi-fosil-sumbang-85-listrik-ri-per-mei-2020-terbanyak-pltu-fU1K https://www.cnnindonesia.com/nasional/20210124180253-20-597781/jatam-24-warga-jadi-korban-lubangtambang-sepanjang-2020 https://www.suara.com/bisnis/2019/02/12/095630/daftar-para-pebisnis-tambang-yang-berada-dekatdengan-jokowi-dan-prabowo?page=all Kartikasari, R., dkk. 2018. Dampak Pertambangan Batubara terhadap Laju Deforestasi di Kabupaten Kutai Kartanegara Provinsi Kalimantan Timur. Indonesian Green Technology Journal. ISSN. 2355-4010.
33 Dampak Penghapusan Limbah Batubara dari Limbah 3B dalam Perspektif Geofisika Terhadap Lingkungan
Dede Muhaimin Aziz, Geofisika 2018
Batubara merupakan bahan galian yang strategis dan salah satu bahan baku energi nasional yang mempunyai peran yang besar dalam pembangunan nasional(1). Menurut Dewan Energi Nasional, sumber daya batubara di Indonesia pada tahun 2013 mencapai 120,53 miliar ton dan cadangan batubara mencapai 31,36 miliar ton(2) yang tersebar pada Gambar.1. Angka yang dianggap dapat memenuhi kebutuhan energi fosil di Indonesia. Alasan tersebut menjadi penyebab masifnya eksplorasi dari SDA dibidang batubara.
Penyebaran Batu Bara di Indonesia
Eksplorasi dan eksploitasi yang masif pada batubara bagaikan simbiosis komensalisme. Pemerintah dan invenstor sangat diuntungkan oleh eksploitasi batubara yang dibuktikan oleh stabilnya harga batubara dibanding energi lain. Namun, lingkungan hidup dan organisme yang hidup didalamnya dirugikan oleh dampak ekploitasi yang berbanding lurus dengan produksi batubara, salah satu dampaknya adalah limbah dari penggunaan batubara. Limbah batubara salah satu bentuk manifesto yang buruk dari tingginya permintaan pasar akan batubara. Pasar terbentuk tidak lepas dari peranan regulasi pemerintah yang menjembatani investor dalam pengembangan energi. Pemerintah selaku pemegang kekuasaan tertinggi dalam hirarki negara menjadi aspek superior dalam pengembilan keputusan mengenai regulasi pengembangan energi batubara. Lantas apa yang terjadi jika regulasi tersebut semakin mengurangi pertimbangan dampak lingkungan? Pada pemerintahan saat tulisan ini dibuat, presiden selaku pengambil kebijakan tertinggi mengambil sebuah keputusan yang dianggap kurang bijak dalam menyikapi permasalahan limbah batubara. Peraturan yang dibuat tersebut merupakan turunan dari RUU cipta kerja atau dikenal dengan sebutan Omnibus Law. Salah satu turunan dari RUU cipta kerja yang tertuang pada Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 22 Tahun 2021 tentang Penyelenggaraan Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup(4). Turunan tersebut dibentuk pada 2 Februari 2021 yang bedasar Pada pasal 459 ayat 3 (C) dijelaskan Fly Ash dan Bottom Ash batu bara dari kegiatan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) dan kegiatan lainnya tidak termasuk sebagai limbah B3, melainkan non-B3. Limbah Fly Ash dan Bottom Ash menurut Jaringan Advokasi Tambang (JATAM) tidak dapat digolongkan menjadi limbah NON-B3 karena pada beberapa wilayah-
menyebabkan penurunan dan kerusakan kondisi lingkungan hidup(4). Lingkungan menjadi salah satu aspek dalam bidang ilmu geofisika yang membahas tentang lingkugan dalam pengembangan kegeofisikaan. Energi dan dampak yang ditimbulkan pada lingkungan menjadi hal yang penting dalam kajian geofisika lingkungan. Sehingga geofisika perlu memperhatikan akan dampak limbah batubara tersebut. Pada tulisan ini yang menjadi objek utamanya adalah limbah Fly Ash dan Bottom Ash pada batu bara. Limbah Fly Ash dan Bottom Ash merupakan limbah padat yang dihasilkan dari pembakaran batubara pada pembangkit tenaga listrik. Perusahaan pembangkit listrik yang saat ini menopang kelistrikan negara sangat bergantung pada bahan bakar fosil yakni batubara. Pembangkit listrik dengan berbagai sumber penggerak turbinnya seperti PLTN, PLTU, PLTD, PLTA. Untuk PLTU biasanya menggunakan batubara sebagai bahan bakar utama untuk menghasilkan uap penggerak turbin(5). Selain Pembangkit listrik, kendaraan bermotor, dan pabrikpabrik adalah penyebab utama terjadinya polusi udara. Polutan yang dikeluarkan biasanya dikelompokan menjadi hidrokarbon (HC), nitrogen oksida (NOx), dan karbon monoksida (CO). Polutan yang dihasilkan pada pembakaran fosil merupakan faktor terbesar terjadinya asap, hujan asam dan pemanasan global dan perubahan iklim(5). Contoh kasus pada PLTU di Panau Sulawesi Tengah yang menyebabkan perubahan kesuburan tanah dan kejernihan udara disekitar lokasi tersebut. Selain permasalahan lingkungan, penggunaan batubara sebagai bahan bakar pada unit pembangkit tenaga listrik menyebabkan tingginya kadar SO2, partikulat (PM10 and PM2.5), NOxes, O3, benzene dan H2S telah meningkatkan kejadian penyakit pernafasan pada warga panau. Bedasarkan kebutuhan pasar mengenai penggunaan batubara pada produksi listrik berbanding lurus dengan eksploitasi batubara. Regulasi yang hadir berupa peraturan Pemerintah (PP) Nomor 22 Tahun 2021 tentang Penyelenggaraan Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup, menjadi jalan mulus bagi para pengusaha dibidang batubara dalam mengembangkan produksi. Hal tersebut akan berkontribusi terhadap masalah lingkungan yang akan muncul nantinya. Pemanasan global dan perubahan iklim adalah efek secara makro yang akan dirasakn. Namun, efek mikro yang akan langsung dirasakan masyarakat adalah rusaknya ekologi dan ekosistem tempat hidup masyarakat disekitar wilayah eksploitasi. Akibat adanya regulasi yang mendorong ekploitasi batubara menjadi kabar buruk bagi lingkungan terlebih masyarakat yang hidup didalamnya. Masyarakat sipil tidak dapat diasingkan dari ruang hidupnya oleh kepentingan pemerintah yang memihak pada investor. Lingkungan tidak dapat digantikan oleh polusi ataupun limbah lainnya yang merusak ruang hidup. Oleh karena itu, pemerintah wajib mencabut Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 22 Tahun 2021 tersebut dan mencari solusi atas permasalahan limbah batubara saat ini. JAYA HMGF, LESTARI BUMIKU..
34
Analisis Dampak Keberadaan Industri Kelapa Sawit Terhadap Lingkungan dan Sosial di Desa Sukamaju, Luwu Utara
Nur A’isyah Nasrullah, Geofisika 2020
Istilah industri sering digunakan bagi suatu bagian produksi ekonomi yang terfokus pada proses manufakturisasi tertentu yang harus memiliki permodalan besar sebelum bisa meraih keuntungan. Industri sebagai tempat produksi yang mengolah bahan mentah menjadi bahan baku atau bahan siap pakai untuk memenuhi kebutuhan manusia, memang sangat dirasakan dampaknya. Keberadaannya sangat dibutuhkan di zaman sekarang, tidak hanya untuk memenuhi tuntutan kebutuhan pokok tetapi juga hal-hal lainnya. Tuntutan sosial pada perusahaan muncul sebagai refleksi pertanggungan jawab dari perusahaan (social responsibility) pada seluruh stakeholder utamanya. Mereka terdiri dari karyawan, pembeli, investor/nasabah, pemerintah, masyarakat dan kelangsungan lingkungan hidup bagi generasi penerus. Tanggung jawab sosial ini didefinisikan sebagai: “The way in which a business behaves towards other groups or individuals in its social environment: customer, other business, employees and investors”. Dengan dipenuhinya kewajiban-kewajiban ini maka perusahaan telah melakukan kegiatannya secara berkelanjutan dan tidak merugikan kepentingan para stakeholdernya. Perusahaan dalam mencari laba diperbolehkan, tetapi jangan pula mengabaikan hak-hak yang terkandung dan dimiliki oleh konsumen, investor dan masyarakat. Adapun tuntutan sosial semacam ini muncul sejak abad ke 19, yang kemudian berkembang sampai saat ini, dalam berbagai tahapan berikut ini : Entrepreneurial Era Bisnis pada abad ke 19 ditandai dengan bangkitnya semangat kewirausahaan dan filosofi mekanisme pasar bebas yang dipelopori oleh pengusaha Morgan dan Vanderbilt. Pada saat itu banyak terjadi pelanggaran pada hak-hak pekerja dan cara-cara berbisnis dengan baik. Beberapa negara kemudian mulai mengeluarkan undangundang yang membatasi kecurangan-kecurangan dalam praktek melakukan bisnis. The Great Depression Pada tahun 1930-an banyak pihak yang menuding bahwa kegagalan pasar didorong oleh adanya ketamakan dalam mengejar laba. Sehingga mulai timbul kesadaran perlunya UU yang mengatur perlindungan pada pekerja, konsumen dan masyarakat. The Era of Social Activism Dimulai tahun 1960-1970 kalangan bisnis dituding berkolaborasi dengan pemerintah, seperti dalam memanfaatkan berbagai kesempatan bisnis yang merugikan masyarakat. Contoh yang paling menonjol adalah produksi rokok dan kolaborasi bisnis dengan adanya perang Vietnam. Masyarakat kemudian menuntut adanya UU tentang pembatasan merokok dan UU tentang perlindungan lingkungan alam.
Contemporary Social Consciousness Sejak 1990 masuklah era kesadaran dari berbagai pihak perlunya bisnis memperhatikan tanggung sosial, yang didorong dari perkembangan globalisasi dan kerusakan lingkungan Berbagai UU Lingkungan hidup dan perlunya CSR program segera mulai diperkenalkan. Keberadaan sektor industri sawit pada kawasan permukiman tersebut dapat memberikan dampak positif seperti mengurangi penganguran masyarakat desa, menciptakan lapangan kerja baru, adanya sarana komunikasi, peningkatan pendapatan masyarakat, terbukanya akses Desa dengan Desa lain, mengurangi ketergantungan dengan Negara lain, memperbesar kegunaan bahan mentah, menghasilkan aneka barang dan menambah pengetahuan tentang budidaya kelapa sawit. Namun keberadaan sektor industri tidak selamanya memberikan dampak positif saja, melainkan memiliki dampak negatif terhadap lingkungan dan masyarakat sekitar. Seperti keberadaan industri kelapa sawit di Desa Sukamajuini juga memberikan dampak negatif seperti adanya sifat konsumerisme, lahan pertanian semakin kurang, pola hidup masyarakat berubah, limbah industri menyebabkan polusi tanah, terjadinya peralihan mata pencaharian dan juga sangat berpengaruh terhadap kondisi lingkungan seperti bertambahnya bukit-bukit di sekitar industri menjadi gundul, aroma yang tidak sedap juga terkadang muncul dari indsutri kelapa sawit tersebut. Hal ini mengakibatkan masyarakat yang terletak disekitar industri kelapa sawit dan juga pengguna jalan utama yang berada tepat di depan kawasan industri dapat terganggu. Infrastruktur di desa menjadi rusak dikarenakan dengan berdirinya industri tersebut, seperti kondisi jalan berdebu dan berlubang akibat dari aktivitas kendaraan berat yang mengakut buah kelapa sawit dari perkebunan ke lokasi industri. Selain itu, perkebunan kelapa sawit merupakan jenis perkebunan monokultur. Perkebunan jenis ini rentan akan degradasi dan erosi tanah serta penghancuran unsur-unsur hara dalam tanah.
35 Analisis Kerusakan Lingkungan Akibat Tambang Ilegal di Sungai Bila, Kecamatan Pitu Rias, Kabupaten Sidrap Hasminah, Geofisika 2020
Saat ini, aktivitas pertambangan sudah sangat banyak dilakukan di Indonesia. Namun, tidak sedikit aktivitas pertambangan tersebut justru berdampak buruk terhadap lingkungan. Salah satu contohnya adalah pertambanagan pasir di Sungai Bila, Kabupaten Sidrap. Sungai Bila merupakan sungai yang bermuara ke Danau Tempe, Kabupaten Wajo. Di Sungai ini terdapat bendungan yang didirikan oleh pemerintah pusat pada tahun 1995. Aliran Sungai Bila di Desa Bila Riase juga merupakan sumber pengairan bagi aktivitas pertanian masyarakat mulai dari Kecamatan Pitu Riase hingga Kecamatan Maniang Pajo, Kabupaten Wajo. Berdasarkan catatan WALHI (Wahana Lingkungan Hidup Indonesia) Sulawesi Selatan, aliran Sungai Bila mampu mengairi sawah masyarakat seluas 7.488 Ha. Selain itu, Sungai Bila merupakan sumber air bagi sekitar 16.500 warga, serta area ikan air tawar yang selalu ditangkap oleh masyarakat untuk kebutuhan sehari-hari. Namun, saat ini Sungai Bila telah rusak akibat aktivitas tambang. Sungai yang dulunya menjadi sumber penghidupan masyarakat telah berubah menjadi kubangan yang tidak memiliki manfaat, bahkan menjadi area yang berbahaya. Penambangan membuat kekeruhan air meningkat yang berdampak terhadap biota sungai yang ini mengakibatkan ekosistem sungai semakin tergerus. Dampak lainnya, menyebabkan udara kotor berupa debu yang dihirup oleh masyarakat karena mobilitas angkutan material tambang yang cukup tinggi. Selain itu, bendungan Bila juga terancam rusak akibat terkikisnya tanggul yang berada di bawah bendungan. Sudah banyak penolakan yang dilakukan oleh masyarakat, namun belum berhasil menghentikan pertambangan tersebut. Walaupun banyak warga yang menolak, nyatanya masih banyak juga warga yang mendukung pertambangan tersebut. Hal inilah yang membuat kurangnya persatuan masyarakat untuk menghentikan kegiatan pertambanagan dan bahkan menimbulkan konflik horizontal antar masyarakat. Masyarakat yang mendukung, kebanyakan dari warga yang bekerja di pertambangan tersebut. Pada Oktober 2018, terbit SK (Surat Keputusan) Bupati Sidrap yang memerintahkan penutupan aktivitas tambang dan kewajiban reklamasi serta penggantian ganti rugi lahan masyarakat yang rusak akibat aktivitas tambang. Termasuk permintaan kepada pihak Polres Sidrap untuk memproses hukum atas perusakan lingkungan yang dilakukan oleh CV. Egha, CV. Shinta Pratama, CV. Billboy dan UD. Ahmad. Aktivitas penambangan sempat terhenti, namun pada 3 April 2020 penambangan dilakukan kembali oleh CV. Egha, CV. Sumber Tani dan UD. Ahmad. Bahkan dilakukan tepat di bawah Bendungan Bila, yang disinyalir melanggar SK Bupati Sidrap yang dikeluarkan pada tahun 2018. Beberapa masyarakat telah melaporkan kembali kerusakan lingkungan yang diakibatkan oleh pertambanagan tersebut, namun bukannya mendapat dukungan dari kepolisian dan ditindaklanjuti laporannya, justru warga yang melapor tersebut dilaporkan kembali atas tuduhan pelanggaran informasi dan transaksi elektronik (ITE) karena membagikan video perihal aktivitas tambang di Sungai Bila pada akun Facebook-nya dan dugaan pengancaman nama baik kepada salah satu pihak penambang.
Masyarakat sangat kewalahan jika harus melawan pertambangan ini sendirian. Dibutuhkan bantuan dari golongan pelajar atau mahasiswa untuk membantu melakukan aksi penutupan pertambanagan ini. Namun informasi mengenai kerusakan lingkungan akibat pertambangan ini belum sepenuhnya menyebar ke masyarakat di seluruh Kabupaten Sidrap. Para mahasiswa di Kabupaten Sidrap belum beafiliasi untuk melawan pertambanagan ini. Juga masih terdapat sikap apatis dari mahasiswa di sekitar area pertambangan sehingga tidak ikut melakukan aksi bersama masyarakat. Selain itu aparat kepolisian juga tidak bertindak tegas terhadap laporan masyarakat, bahkan justru tidak menindaklanjuti laporan tersebut. Sebagai seorang mahasiswa geofisika yang salah satu konsentrasi ilmunya mengenai eksplorasi sumber daya alam seperti pertambangan, menurut saya permasalahan ini sudah sangat serius dan harus segera diatasi agar dampak yang ditimbulkan tidak bertambah parah. Diperlukan peran mahasiswa untuk menyosialisasikan mengenai permasalahan ini kepada seluruh masyarakat, agar mereka bisa bersatu untuk menentang aktivitas pertambangan ini. Mahasiswa di sekitar daerah tersebut juga harus bersatu dengan masyarakat untuk melakukan aksi penolakan pertambangan dan mendesak pemerintah dan pihak berwajib untuk mengatasi masalah tersebut dengan tegas. Salah satu solusi yang bisa diambil adalah melakukan uji amdal untuk menganalisis lebih dalam mengenai dampak yang akan ditimbulkan jika aktivitas pertambangan masih diteruskan.
Referensi Walhisulsel.or.id, “Kasus Kerusakan Lingkungan Akibat Tambang “Ilegal” di Sungai Bila, Kecamatan Pitu Riase, Kabupaten Sidrap”, 26 November 2018, https://walhisulsel.or.id/2175-kasus-kerusakanlingkungan-akibat-tambang-ilegal-di-sungai-bilakecamatan-pitu-riase-kabupaten-sidrap/ Suarasulsel.id, “Walhi Sulsel : Pertambangan di Sungai Bila Sidrap Merusak Lingkungan”, 6 Februari 2021, https://sulsel.suara.com/read/2021/02/06/060500/walhisulsel-pertambangan-di-sungai-bila-sidrap-merusaklingkungan Mongabay.co.id, “Tolak Tambang Sungai Ilegal, Tiga Warga Sidrap Malah Dikriminalisasi” 15 Februari 2021, https://www.mongabay.co.id/2021/02/15/tolak-tambangsungai-ilegal-tiga-warga-sidrap-malah-dikriminalisasi/
36
Identifikasi Dampak Pertambangan di Daerah Pegunungan Chealsea Jane Cenciana, Geofisika 2020
Bukti ketergantungan manusia kepada alam dapat dilihat dari pemanfaatan sumber daya alam yang besar-besaran tanpa melihat kelanjutan fungsinya. Setiap daerah saling berlombalomba untuk memanfaatkan kekayaan alam masing-masing. Salah satu kegiatan pemanfaatan sumber daya alam yang dapat “mengundang” pendapatan besar bagi suatu wilayah adalah penambangan pasir. Pasir merupakan salah satu sumber daya pendukung pada sektor pembangunan, baik secara fisik, ekonomi maupun sosial. Kebutuhan akan pasir pada sektor industri konstruksi semakin meningkat seiring dengan berkembangnya pembangunan sarana dan prasarana. Penambangan pasir, selain mendatangkan keuntungan yang cukup besar juga rawan terhadap terjadinya kerusakan lingkungan apabila tidak dikelola dengan efisien dan efektif. Dengan kata lain, setiap kegiatan penambangan tentu akan menimbulkan dampak baik maupun buruk. Gambaran tentang kondisi di masa yang akan datang bahwa keberadaan sumber daya alam akan menjadi semakin terbatas, berakibat pada menurunnya daya dukung lingkungan sebagai akibat dari semakin bertambahnya penduduk, pergeseran pola hidup dan dampak dari kegiatan pembangunan. Adanya fenomena yang menunjukan bahwa upaya manusia memanfaatkan sumber daya dengan cara yang tidak bijaksana, menyebabkan kondisi sumber daya menjadi rawan dan menjadi ancaman bagi kehidupan manusia, misalnya banjir, tanah longsor, erosi, polusi, dan sebagainya. Kegiatan penambangan pasir dikenal sebagai suatu kegiatan yang dapat ‘merubah’ struktur permukaan bumi.
Lebih jauh, pertambangan merupakan permasalahan yang erat kaitannya dengan isu pencemaran lingkungan atau kerusakan alam. Tidak jarang kasus pertambangan juga memicu konflik dengan warga di sekitar area tambang atau biasa disebut konflik horizontal. Ini disebabkan warga sekitar tambang terancam terkena dampak negatif dari proses pertambangan. Meskipun tidak dapat dipungkiri bahwa tambang juga dapat membawa dampak positif bagi warga di sekitar area pertambangan, seperti penyerapan tenaga kerja, pengembangan masyarakat, dan sebagainya . Namun, tidak jarang terdapat masyarakat yang mendukung operasi tambang karena merasa diuntungkan dengan adanya operasi tambang tersebut. Jika diperhatikan secara kasat mata, daerah-daerah yang memiliki potensi sumber daya yang melimpah, hal tersebut memang cenderung terjadi. Apalagi saat proses pemanfaatan berlangsung, tetapi yang perlu dicermati adalah kegiatan penambangan dilakukan oleh siapa, di mana proses tersebut dilakukan, dan kapan kegiatan tersebut dilakukan. Penambangan pasir tidak hanya memberikan keuntungan dan manfaat tetapi juga menimbulkan permasalahan. Dampak fisik lingkungan dengan adanya kegiatan penambangan pasir di kawasan pegunungan yaitu tingginya tingkat erosi di daerah penambangan pasir serta daerah sekitarnya, adanya tebing-tebing yang tinggi rawan terjadi bahaya tanah longsor karena penambangan yang tidak memakai sistem berteras sehingga sudut lereng menjadi terjal dan mudah longsor,, penurunan kualitas air, terjadi polusi udara, rusaknya jalan.
Referensi I.K.S Arimbawa. “Dampak Penambangan Pasir di Kawasan Pegunungan Perspektif Tri Hita karana”. Jurnal Sphatika. No.2, Vo.10, hh: 100-110, 2019. M.I Pradika, S.R Giyarsih, dan Hartono. “Peran Pemuda Dalam Pengurangan Risiko Bencana Dan Implikasinya Terhadap Ketahanan Wilayah Desa Kepuharjo, Kec. Cangkringan, Kab. Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta”. Jurnal Ketahanan Nasional. No.2, Vol.24, hh: 261-286, 2018.
37 Analisa Deformasi Menggunakan Tiltmeter sebagai Langkah Mitigasi Bencana Gunung Merapi Alfian, Geofisika 2018
Gunung Merapi merupakan salah satu gunung api aktif di Indonesia. Gunung Merapi memiliki tinggi 2978 mdpl dan secara geografis terletak pada koordinat 07o 32'30"- 07o52'30" LS dan 110o15'00"- 110o37'30" BT. Luas wilayah dari badan Gunung Merapi sebesar 300-400 km2. Aktivitas Gunung Merapi diperkirakan telah berlangsung sejak 50.000 tahun yang lalu, dengan kecepatan rata-rata material 8 yang dikeluarkan dari dalam bumi sebesar 1.000.000 m3 /tahun. Sejak tahun 1548, gunung ini sudah meletus sebanyak 68 kali. Salah satu letusan yang terjadi adalah pada tahun 2010 yang mengakibatkan 61.153 orang mengungsi, 341 tewas, dan 368 orang harus rawat inap. Amukan awan panas dan material jatuhan juga merusak beberapa fasilitas bangunan seperti rumah, sekolah, puskesmas, dan pasar yang membuat nilai kerugian mencapai Rp. 4,32 triliun. Kerugian yang besar melihat dari angka yang tertera. Untuk mencegah kerugian dan dampak dari bencana Gunung Merapi diperlukan suatu kegiatan berupa monitoring aktivitas Gunung Merapi dimana salah satunya adalah mengukur perubahan kemiringan Perubahan permukaan gunung dapat dijadikan sebagai salah satu indikator dalam memperkirakan terjadinya erupsi. Perubahan tersebut berupa perubahan ukuran ataupun perubahan bentuk mekanika deformasi akan lebih mudah dijelaskan dengan melihat hubungannya dengan stress (tegangan) dan strain (regangan). Dalam geofisika, stress adalah sepasang gaya yang sama besar tetapi berlawanan arah yang bekerja pada suatu satuan luas. Sedangkan strain adalah besarnya deformasi yang diakibatkan oleh kegiatan stress yang bekerja pada suatu benda. Regangan permukaan dapat dihitung dari panjang garis atau perubahan posisi horizontal.
ωx, ωy : displacement (x, y) : radius bola 𝑃 : perubahan tekanan di kantung magma 𝑣 : poisson’s ratio 𝐺 : modulus geser/rigiditas 𝑅 : (jarak dari titik magma ke permukaan) Alat untuk mengetahui besar permukaan perubahan kemiringan gunung salah satunya adalah Tiltmeter. Tiltmeter adalah pengamat deformasi yang menyediakan data dalam resolusi mikroradian secara mendekati real-time, dapat beroperasi pada
∝ ∆
segala macam kondisi, dan dapat diletakkan pada daerah yang sulit dijangkau atau terlalu berbahaya untuk dilakukan penelitian secara berkala. Data deformasi telemeter menyediakan rekaman yang hampir kontinyu untuk mendeteksi adanya perubahan pada gunungapi yang mungkin dapat terjadi dalam kerangka waktu yang singkat dibandingkan dengan pengamatan geodetik standar seperti EDM atau pengukuran Leveling. Tiltmeter sangat sensitif terhadap perubahan temperatur sehingga perlu ditanam dalam kedalaman 1-2 meter dengan tujuan agar instrumen terisolasi dari perubahan temperatur yang signifikan. Tiltmeter terdiri dari tiga komponen utama yaitu pelat tiltmeter, portabletiltmeter, dan readout unit. Tiltmeter memiliki tiga komponen, yaitu komponen radial (sumbu Y), komponen tangensial (sumbu X), serta komponen bacaan temperatur. Vektor tiltmeter memberikan kita gambaran mengenai deformasi gunungapi beserta orientasi arahnya. Kantung magma diasumsikan berbentuk menyerupai bola. Pada dasarnya kantung magma ini berisi batuan meleleh yang berada pada tekanan yang sangat tinggi. Tekanan pada kantung magma akan menyebar ke segala arah hingga menyebabkan batuan di sekitarnya mengalami retak atau pecah. Retak atau pecahnya batuan ini menyebabkan adanya jalur bagi magma untuk bergerak ke atas. Keretakan batuan ini juga menyebabkan adanya perubahan bentuk gunungapi atau yang disebut sebagai deformasi. Deformasi yang terukur di permukaan yang disebabkan oleh aktivitas internal gunung berapi dapat memberikan informasi mengenai lokasi kantong maupun dapur magma. Estimasi lokasi sumber tekanan dan volume suplai dari beberapa konsep model menghasilkan nilai yang hampir sama, walaupun model geometri sumber tekanan berbeda. Estimasi dengan menggunakan model invers dibutuhkan sampai memperoleh pendekatan terbaik, yaitu melalui linierisasi fungsi non-linier. Metode Grid Search digunakan untuk penentuan lokasi sumber tekanan, yaitu ditentukan saat diperoleh nilai residual terkecil antara pergeseran horizontal observasi dalam teoritis atau model. Pada sebagian besar gunung api yang ada di dunia, datadata deformasi memberikan nilai yang penting dalam meninjau aspek-aspek umum guna kepentingan prediksi letusan yang akan terjadi selanjutnya. Khususnya pada Gunung Merapi, metode ini sangat berguna untuk membantu akurasi prediksi dengan metode lainnya sehingga dapat meminimalisir kerugian dengan langkah mitigasi.
Referensi Aisyah, Nurnaning. 2013. Analisa Deformasi dari Data Tilt dan Estimasi Perubahan Volume Magma Merapi Tahun 2006 dengan Model Mogi. Universitas Gadjah Mada : Yogyakarta. Dzurisin, D. 2007. Volcano Deformation, Geodetic Monitoring Techniques. Springer : Checister. Elvien. 2004. Studi Deformasi Untuk Menentukan Lokasi dan Perubahan Volume Pusat Tekanan Di Gunungapi Batur, Bali Dengan Metode Survei GPS. Universitas Gajah Mada : Yogyakarta. Mogi, K. 1958. Relation Between The eruptiont of Various Vulcanoes and The Deformations of the Ground Surface Around Them, Bulletin of Earth Quake Research Institute Vol 36, 99-134 O.R.A Islmaiyah, dkk. 2018. Estimasi Kedalaman dan Perubahan Volume Sumber Tekanan Gunung Merapi Berdasarkan Pengamatan Data Tiltmeter. JURNAL SAINS DAN SENI ITS : Surabaya.
38
Mitigasi Dampak Pandemi Pada Industri Hulu Minyak dan Gas di Indonesia Dalam Menghadapi Wabah Covid-19
Irmawati, Geofisika 2018
Pada 2 Maret 2020, pemerintah mengumumkan secara publik awal masuknya Covid-19 di Indonesia. Sejak diumukannya wabah ini banyak orang yang berdiam diri dirumah, melakukan belajar dirumah dan melakukan pekerjaan dirumah atau biasa dikenal dengan Work From Home (WFH). Dampak Covid-19 memukul berbagai sendi kehidupan manusia, tidak terkecuali industri minyak dan gas bumi. Dibatasinya pergerakan manusia secara langsung mengakibatkan penurunan permintaan terhadap BBM. Industri minyak dan gas bumi memiliki peranan penting bagi Indonesia, diantaranya sebagai sumber pendapatan untuk APBN dan memberikan sumbangan ekonomi lokal pada daerah yang melakukan kegiatan eksplorasi, produksi, pengilangan maupun distribusi minyak dan gas bumi. Di samping itu, peran terbesar industi minyak dan gas bumi adalah menyediakan energi (khususnya BBM) yang dipergunakan untuk menggerakkan berbagai sektor kehidupan di seluruh Indonesia. Produksi minyak dan gas bumi dalam kuartal pertama 2020 masih berlangsung baik, sasaran produksi minyak dan gas bumi untuk kurun waktu tersebut relatif dapat dicapai. Pada kuartal I 2020, lifting minyak dan gas bumi nasional mencapai 1,749 juta setara barel minyak per hari (sbmph) atau 90,4% dari target lifting nasional sebesar 1,946 sbmph. Untuk minyak bumi, produksi tercatat 701 ribu barel per hari (bph) atau 93% dari target APBN, 755 bph. Sementara lifting gas bumi adalah 5,86 juta standar kaki kubik per hari (skkph) atau 88% dari target APBN sebesar 6,67 skkph. Produksi minyak mentah Indonesia belakangan pada kisaran sedikit di atas 700.000 barel per hari sebenarnya sudah jauh lebih rendah dibandingkan ketika mencapai puncaknya pada tahun 1977 dengan produksi 1,7 juta bph – ketika permintaan BBM di dalam negeri pun masih sangat rendah. Namun, hinggga kini pemerintah masih mengandalkan pendapatan dari minyak bumi, dan menjadikan jumlah produksi dan harga minyak bumi Indonesia sebagai acuan dalam pembuatan APBN.
Penurunan produksi dan penurunan harga minyak masih memberikan dampak yang signifikan terhadap profil APBN. Dari beberapa penjelasan yang telah diuraikan, penulis menawarkan beberapa solusi yang bisa kita lakukan untuk mitigasi dampak dari wabah covid-19 ini yaitu sebagai berikut : -Mengurangi pasokan minyak dan gas dari negara tetangga, sehingga kita bisa mengoptimalkan produksi minyak dan gas yang kita hasilkan sehingga dapat membantu perekonomian Indonesia. -Melakukan kegiatan yang memfokuskan pada lapangan – lapangan yang bernilai ekonomis dengan mempertimbangkan permintaan BBM sekarang, menunda untuk sementara proyek – proyek eksplorasi. Adapun langkah yang juga bisa di pertimbangkan yaitu Mengambil manfaat dari rendahnya harga minyak dunia, bangun “strategic reserves” di Indonesia. Hal ini dapat dilakukan dengan memanfaatkan sumur-sumur lapangan tua yang telah tidak berproduksi sebagai storage untuk minyak mentah (crude oil) yang diimpor. Tanki yang berada di kilang atau depo, atau fasilitas lain di Indonesia dapat dimanfaatkan untuk menampung stok menampung BBM yang digunakan guna memperpanjang reserves BBM di Indonesia. Pembangunan strategic reserves ini bertujuan untuk meningkatkan energy security Indonesia (Nugroho, 2018b). Oleh karena itu, dalam menanggapi wabah Covid – 19 ini. Kita harusnya lebih memperhatikan lagi mengenai penyeimbangan antara produksi dan kebutuhan masyarakat terkhususnya dalam kasus minyak dan gas. Karena sedikit banyaknya masyarakat membutuhkan minyak dan gas untuk melakukan aktivitasnya. Walaupun kita ketahui bahwa jumlah permintaan tidak seperti sebelum pandemi ini masuk di Indonesia. Dan menaikkan ekonomi Indonesia yang tengah anjlok di masa ini serta bisa mencapai target untuk memproduksi satu juta barel minyak pada tahun 2030.
Referensi: Nugroho, H. 2018. Pemikiran mengenai pembangunan industri gas bumi Indonesia. Depok:Institute of Development & Energy Economics. Skkmigas, maret 2020.Covid-19 dan budayaK3 Industri Hulumigas, diakses pada 18 Okober 2018 Widyastuti, L.N dan Nugroho, H. 2020. The Indonesia Jurnal of Development Planning. volume IV no.2.
39 Kilas Balik Pasar Pendidikan Negeri
Muhammad Syaifullah, Geofisika 2018
Hakikat pendidikan menurut KH Dewantara adalah seluruh daya upaya yang dikerahkan secara terpadu untuk tujuan memerdekaan aspek lahir dan batin manusia. Berbeda dengan pendapat ahli pendidikan pada umumnya, KH Dewantara memberikan definisi tentang pendidikan secara singkat namun memiliki makna yang luas. tuntunan ini tentu tidak bersifat hanya sekali pakai, tapi bisa digunakan berkali-kali ketika diperlukan. Pemikiran yang dituangkan oleh bapak pendidikan indonesia memunculkan benih polemik yang tumbuh dan sedang terasa antara hak dasar warga negara atau kesempatan yang dibatasi daripada tokoh pembuat kebijakan yang bermain disorotan bangku belakang, kesuguhan generasi muda sangat tinggi dalam mengenyam pendidikan demi menggapai cita-cita dan keinginannya untuk hidup yang lebih baik sekarang menjadi kebutuhan primer lantaran doktrin dini yang ditanamkan dari orang tua, " kelak yang akan merubah nasib dikelurga kita adalah kamu untuk itu teruslah sekolah nak" kalimat tersebut tidak asing dan menjadi momok yang memprihatinkan seolah pendidikan hanya sebatas jembatan untuk menuai pekerjaan yang layak dengan upah yang sebanding persfektif ini secara sadar dan tidak sadar telah terbangun dalam lingkup masyarakat dan sering dijumpai. Akan tetapi akses biaya pendidikan baik disekolah maupun dijenjang tinggi kini menjadi penghambat tersulit dalam menentukan identitas masa depan seseorang, beginilah labirin yang terbentuk dan menjadi jurang kelam pendidikan masyarakat Indonesia Pendidikan telah menjadi tanggung jawab dan kewajiban negara terhadap rakyatnya melalui amanat UUD 1945, menyediakan pendidikan yang layak dan bisa dinikmati bagi seluruh warga merupakan tugas wajib negara yang harus ditunaikan. Amanat tersebut telah tercantum pada alinea keempat UUD 1945 “Pemerintah negara Indonesia berkewajiban mencerdaskan kehidupan bangsa”, lebih lanjut lagi pada pasal 31 UUD 1945 ayat 1 juga tercantum bahwa “Tiap-tiap warga negara berhak mendapatkan pengajaran”. Walau pemerintah telah menyediakan program kebijakan wajib belajar 12 tahun, yang dikumandangkan era Presiden Joko Widodo, dimana pemerintah menjamin pendidikan warga negaranya selama 12 tahun. Akan tetapi, yang patut disadari bahwa pendidikan merupakan hak yang dasar dan bersifat sepanjang hidup. Namun yang kerap tercermin pada jenjang pendidikan hanyalah SD hingga SMA, khususnya pada kebijakan program wajib belajar 12 tahun, dan kian melupakan jenjang pendidikan perguruan tinggi. lantas, ada apa dengan pendidikan tinggi sehingga tidak pernah menjadi sorotan pemerintah untuk juga menerapkan pendidikan gratis, apaka hanya dalil atau pusat sentral bisnis? Kontribusi terhadap pendidikan tinggi terus meningkat seiring dengan pesatnya ruas arus globalisasi dan kesadaran masyarakat akan perlunya mendapatkan pekerjaan yang layak, dengan pendidikan tinggi menjadi salah satu alasan masyarakan di negeri ini mendapatkan kehidupan layak dengan derasnya globalisasi tanpa rem. Tahun 2019 Badan pusat statistik (BPS) telah merilis data tentang angka partisipasi terhadap pendidikan menurut masyarakat yang tinggal di daerah pedesaan dan perkotaan.
Tercantum bahwa, terjadi kesenjangan (Angka Partisipasi Murni) antara perdesaan dan perkotaan semakin terlihat seiring dengan tingginya jenjang pendidikan. Kesenjangan paling tinggi terlihat pada jenjang pendidikan perguruan tinggi, yaitu persentase APM daerah perkotaan lebih tinggi dari perdesaan dengan perbedaan yang mencapai lebih dari 16 persen (25,30 persen berbanding 9,60 persen) untuk kelompok umur 19-24 tahun dan lebih dari 17 persen(Sumber: https://www.bps.go.id55). Berdasar pada data tersebut , nampak jelas bahwa inisiatif masyarakat terhadap Perguruan Tinggi atau yang dapat menikmati pendidikan di perguruan tinggi lebih didominasi oleh etnis yang tinggal di daerah perkotaan dimana sebagian besar bahkan hampir seluruhnya memiliki strata sosial atas atau pendapatan yang tinggi, ketimbang mereka yang tinggal di daerah pedesaan yang pendapatannya hanya cukup memenuhi kebutuhan rumah tangga. Ini mengisayratkan bahwa pendidikan khususnya perguruan tinggi hanya dapat dinikmati oleh mereka golongan menengah hingga golongan atas. Sedangkan, keinginan mengecap manisnya perguruan tinggi besar, yang juga didukung oleh persfektif masyarakat bahwa pendidikan merupakan kendaraan menuju kesuksesan dan menggapai cita-cita dan sekarang menjadi pertanyaan adalah mengapa biaya pendidikan tinggi semakin meningkat seiring perkembangan zaman? Meningkatnya biaya pendidikan tinggi tentu tidak serta merta terjadi tanpa sebab? realitas tidak meratanya distribusi Pendidikan yang terjadi antara masyarakat pedesaan dan perkotaan, masyarakat golongan bawah dan golongan atas kian. Pengaruh perdagangan bebas di era globalisasi sekarang ini menjadi faktor meningkatnya biaya pendidikan tinggi serta kesenjangan yang terjadi. Perdagangan bebas yang berangkat dari paham liberalisme. Paham liberalisme menitikberatkan pada kebebasan individu, dimana masyarakat menolak adanya pembatasan baik oleh agama maupun pemerintahan. Liberalisme sendiri adalah sebuah paham yang dicetuskan oleh John Locke, menurutnya manusia pada dasarnya baik. Akan tetapi, kontrak sosial yang ada dalam masyarakat membuat ketakutan diantara satu sama lain. Oleh karena itu, mereka membuat perjanjian yang diserahkan oleh penguasa sebagai pihak penengah namun harus ada syarat bagi penguasa. Locke juga berpendapat bahwa negara dibatasi individu, sehingga sifat kekuasaan negara terbatas. Dalam bukunya “Two Treaties of Civil Government” lebih lanjut dia menambahkan, menurutnya melalui negara, cara lain melindungi kebebasan adalah dengan perdagangan bebas. Lalu bagaimana kaitan antara Perdagangan bebas dengan biaya pendidikan yang semakin meningkat? Lajunya arus perdagangan bebas semakin tak terbendungkan, ditandai juga dengan hadirnya lembaga- lembaga perdagangan dunia seperi, WTO (world trade organization) hingga GATS (General Agreement on Trade in Services). Dari kebijakan-kebijakan yang diambil oleh lembaga-lembaga ekonomi internasional seperti IMF, WTO, dan World Bank tercermin pada resep kebijakan yang dikemas, disebut sebagai “Washington Consensus"
40
Washington Consensus memiliki 12 kebijakan yang berlandaskan atas prinsip deregulasi, privatisasi, komersialisasi, atau secara sederhana dilandasi oleh semangat pro pasar bebas dan menghilangkan peran negara. Sepertinya kita dapat melihat relevansi atau kecocokan antara realitas kebijakan pendidikan saat ini dengan kebijakan yang tercermin pada (GATS) bahkan sampai kepada kebijakan "Washington Consensus". Melihat jejak pola pada kebijakan tersebut, semuanya tertuangkan oleh gagasan neoliberalisme sebagai organisasi dengan tujuan agar negara-negara berkembang bisa bangkit dari keterpurukan ekonomi. Hadirnya WTO dan perjanjian GATS semakin memperlancar penyebaran dan praktik-praktik liberalisasi dengan cara mendorong negara-negara yang termasuk dalam WTO untuk melakukan liberalisasi hingga deregulasi dan ini merembes pada sektor pendidikan tinggi Indonesia. Sebagai bentuk komitmen Indonesia menjadi anggota WTO diwujudkan dengan kesiapannya menandatangani perjanjian GATS mencakup 12 sektor jasa termasuk pendidikan. Skema liberalisasi pendidikan ini lahir tentu bukan sebuah reaksi spontan dari perguruan-perguan tinggi Indonesia terhadap arus perdagangan bebas. Skema ini diciptakan oleh lembagalembaga yang menjadi pilar neoliberalisme yaitu IMF, Bank Dunia, dan WTO dengan peranannya masing-masing. WTO berperan untuk mengubah konsepsi pendidikan yang tadinya barang publik (hak warga negara) menjadi barang privat berupa jasa yang diliberalisasikan. IMF berperan untuk mendorong negara agar menerapkan politik pengetatan anggaran (austerity) terutama mengurangi subsidi publik termasuk anggaran untuk pendidikan. Sedangkan Bank Dunia berperan untuk mendanai proyek-proyek bagi pemerintah dan perguruan tinggi untuk menjalankan skema liberalisasi seperti lahirnya sistem akreditasi, UU BHP, dan UU Dikti. Pada tahun 1999 Indonesia mengalami Krisis Moneter akibat dari kerusuhan yang terjadi pada tahun 1998. Untuk mengatasi dan mengembalikan kondisi ekonomi maka Indonesi di era Presiden B.J Habibie meminta bantuan pada IMF (International Monetary Fund) atau Dana Moneter Internasional. IMF pun mensyaratkan kepada Pemerintah Indonesia untuk segera meliberalisasi bidang jasa, salah satunya pendidikan. Disinilah awal mula liberalisasi jasa pendidikan, utamanya pendidikan tinggi. Oleh karena itu, pemerintah mengesahkan Peraturan Pemerintah (PP) No. 60 tahun 1999 tentang Pendidikan Tinggi. Dalam undangundang tersebut pemerintah di BAB XII mengatur persoalan Pembiayaan dan pada pasal 114 ayat 3 yang menghasilkan aturan bahwa sebagian pendanaan pendidikan tinggi dibebankan kepada masyarakat. Seperti: Sumbangan Pembinaan Pendidikan (SPP), biaya seleksi masuk perguruan tinggi, hasil kontrak kerja yang sesuai dengan peran dan fungsi perguruan tinggi, hasil penjualan produk dari penyelenggaraan pendidikan tinggi, sumbangan hibah, dan penerimaan dari masyarakat lainnya. Jalanya kebijakan terhadap liberalisasi pendidikan tinggi masih terus berlanjut dengan juga disahkannya UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (SISDIKNAS) yang diresmikan pada tanggal 23 Juli 2003. Beberapa pasal dalam undangundang tersebut sangat terang-terangngan membebankan pendanaan kepada masyarakat yaitu pada pasal 24 ayat 3 yang berbunyi. “Perguruan tinggi dapat memperoleh sumber dana dari masyarakat yang pengelolaannya dilakukan berdasarkan prinsip akuntabilitas publik”. Ayat tersebut juga dipertegas pada pasal 46 ayat 1 yang berbunyi “Pendanaan pendidikan menjadi tanggung jawab bersama antara pemerintah, pemerintah daerah, dan masyarakat”. Dalam pasal tersebut mengatakan bahwa pendanaan merupakan tanggung jawab bersama antara pemerintah dan masyarakat,
namun yang menjadi ketimpangan pada pasal ini adalah tidak disebutkannya besaran pembiayaan yang berasal dari masyarakat dan atau pemerintah, hal ini dapat menyebabkan ketidakadilan sumber pendanaan. Semisal perguruan tinggi merasa bantuan yang diberikan oleh pemerintah kurang, maka dapat memungut pendanaan dari masyarakat semaksimal mungkin. Masyarakat dalam hal ini tentunya adalah mahasiswa ataupun orang tua wali peserta didik. Pasal ini semakin menguatkan posisi pemerintah yang seakan melepaskan tanggung jawabnya terkhusus mendanai perguruaan tinggi yang kemudiaan dibebankan kebeberapa pihak terutama masyarakat. Ditambah pemerintah memberi kebebasan terhadap perguruan tinggi untuk menentukan kebijakannya sendiri dan memiliki wewenang untuk mengelolah dan menentukan klasifikasi dari apa yang dibutuhkan. Otonomi perguruan tinggi semakin dikekang dengan dikeluarkannya UU No.9 tahun 2009 tentang BHP (Badan Hukum Pendidikan) pada penghujung tahun 2008. Namun, sejak diberlakukannya, UU BHP mengundang hadirnya gelombang penolakan dari berbagai golongan masyarakat. Beberapa dari golongan masyarakat menghakimi kalau UU BHP hanyalah menciptakan garis pembatas yang secara tidak langsung melarang yang miskin untuk bisa menikmati bangku perguruan tinggi negeri, tentu hal ini juga bertentangan dengan janji negara pada pasal 4 ayat 1 UU No.20 tahun 2003 tentang SISDIKNAS, bahwa pendidikan di negeri ini mesti diselenggarakan dengan prinsip demokratis dan egaliter, dengan kata lain bahwa pendidikan harus di berikan kepada seluruh rakyat Indonesia, konsekuensinya adalah negara harus mengakomodasi pendidikan seluruh anak dimanapun dan jenis apapun. Bagaimanapun telah dibatalkanya UU BHP oleh Mahkamah Konstitusi, akan tetapi upaya pemerintah terus dilakukan untuk melanggengkan hak otonom perguruan tinggi. Tak samapai disini upaya pemerintah bercocok tanam di pendidikan tak akan pernah habis, olehnya itu, pemerintah kembali membuat undang-undang, yakni UU No.12 tahun 2012 tentang Pendidikan Tinggi. Keputusan dari undang-undang tersebut, nampak secara terbuka negara melepaskan dirinya terhadap pembiayaan perguruan tinggi, memberikan kelonggaran terhadap pemerintah untuk mendanai perguruan tinggi dan membebankan pembiayaan pada masyarakat. Hal yang dipersoalkan pada UUPT ini tentang badan hukum pendidikan yang menyajikan otonomi. Pasal 65 diterangkan bahwa pemerintah memberikan hak istimewa pada PTN badan hukum, di antaranya hak mengelola dana, mengangkat dosen sendiri, mendirikan badan usaha dan mengelola dana abadi. Pasal 86, negara memberikan peluang terhadap dunia usaha dan industri untuk dapat mendanai perguruan tinggi melalui mofasilitas dan insentif. Pasal 88 tentang standar satuan biaya operasional yang sepenuhnya dibebankan oleh mahasiswa dan masih banyak lagi pasal pasif yang menuai kejangalan terhadap sistem pendidikan indonesia. Konteks pendidikan yang sekarat dengan ditunggangi liberalisasi telah menjadi pondasi yang ambruk jauh dari cita dan harapan Ki Hajar Dewantara, pendidikan itu sendiri yang secara umum adalah upaya untuk memanusiakan manusia, namun dengan kondisi pendidikan saat ini hanya mengorientasikan pasar sehingga pungutan akal sehat akan terkikis secara perlahan dan menjerumuskan penanam modal asingmenjual negeri ini, pendidikan bukan lagi proses humanisasi melainkan dehumanisasi yang berimbas kepada kerugian terhadap manusia. Diberikannya Otonomi terhadap perguruan tinggi, dapat menciptakan potensi perguran tinggi berbuat sewenang-wenang.
41
meningkatkan biaya kuliah setiap tahunnya, mematikan demokrasi dalam kampus, hingga kurikulum yang diatur sesuai kehendak birokrasi kampus. Marwah pendidikan tinggi sebagai wadah pengembangan intelektual bertransformasi menjadi pabrik pencetak tenaga kerja yang dibutuhkan oleh pasar. Dampak lain dari lemahnya tatanan pendidikan yakni tidak meratanya pendistribusian pendidikan khususnya perguruan tinggi, pendidikan hanya bisa diemban dan dirasakan oleh kelompok masyarakat menengah keatas dan sangat jarang golongan minoritas taraf ekonomi rendah menikmatinya. Pada akhirnya, pendidikan justru semakin memperlebar jurang ketidakadilan antara yang mampu dan tidak mampu, sekaligus semakin memiskinkan kaum yang sudah miskin.
Sudah 76 tahun indonesia merdeka melewati berbagai perjalan tiap tahunya namun kemerdekaan belum dirasakan seutuhnya kendati pada sektor pendidikan yang sekarang hanya menjadi identitas belaka bangsaini, pemerintah sebagai heroik pada kedaulatan rakyat diharapkan merumuskan suatu kerangka alternatif untuk menyelesaikan persoalan pro dan kontra dalam isu pabrik dipasar pendidikan, terlebih di pendidikan tinggi juga memperhatikan secara sistematis. proses globalisasi pendidikan tinggi agar otonomi pendidikan tinggi dapat mendasar pada kepentingan seluruh rakyat Indonesia, mengingat kedepanya hanya pendidikan yang menjadi benteng terawal dan terakhir dari kemajuan dan kemunduran peradaban manusia.
Referensi: https://www.bps.go.id55 John Charvet dan Elisa Kaczynska-Nay, “what is liberalism?”, Cambridge University Press, 2016 Ahmad, Panji Mulkillah, Memahami Skema Liberalisasi Pendidikan Tinggi di Indonesia Undang-undang no 20. Tahun 2003 tentang pendidikan nasional UU No.12 Tahun 2012 tentang Pendidikan Tinggi Relevansi Konsep Pendidikan, Ki Hadjar Dewantar dengan Pendidikan Islam, Siti Shafa Marwah, Makhmud Syafe’i, Elan Sumarna
Karakteristik Sedimen Pantai Panrangluhu Berdasarkan Vs30 Dengan Menggunakan Metode MASW
Ahmad Fauzy Arif, Geofisika 2018
Pendahuluan Merupakan suatu hal yang umum bahwa metode geofisika merupakan cara yang digunakan dalam melakukan invetigasi tentang struktur bawah permukaan dengan menggunakan instrumen dan respon fisis. Geofisika dekat permukaan menggunakan metode penyelidikan geofisika untuk mempelajari sifat bagian terluar dari kerak bumi. Banyak praktisi berpendapat bahwa persentase yang signifikan dari penyelidikan dekat permukaan berada pada kedalaman kurang dari 10 meter, dan sebagian besar praktisi menganggap bahwa aplikasi yang paling umum dari geofisika dekat permukaan berada pada kedalaman kurang dari 30 meter (Butler, 2005). Gelombang permukaan memiliki potensi besar untuk karakterisasi lokasi di daerah seismik karena memungkinkan dalam mengestimasi profil kekakuan regangan dengan nilai yang kecil. Gelombang permukaan mudah dihasilkan dan dideteksi di permukaan tanah karena kombinasi faktor (pelemahan atenuasi terhadap jarak, besarnya energi yang dihasilkan). Gelombang permukaan dapat digunakan dengan mempelajari sifat tertentu dari gelombang permukaa seperti dispersi geometris yang menghasilkan frekuensi kecepatan fase yang tergantung pada medium heterogen. Jika kurva dispersi gelombang Rayleigh (kecepatan fase vs frekuensi) didapatkan, maka kurva tersebut dapat digunakan untuk menentukan solusi masalah inversI yang ditujukan untuk identifikasi parameter tanah (Foti,2007) Vs30 merupakan kecepatan gelombang geser hingga pada kedalaman 30 m dari permukaan. Menurut Roser dan Gosar (2010) nilai Vs30 ini dapat dipergunakan dalam penentuan standar bangunan tahan gempa. Nilai Vs30 digunakan untuk
menentukan klasifikasi batuan berdasarkan kekuatan getaran gempabumi akibat efek lokal serta digunakan untuk keperluan dalam perancangan bangunan tahan gempa.Vs30 merupakan data yang penting danpaling banyak digunakan dalam teknik geofisika untuk menentukankarakteristik struktur bawah permukaan hingga kedalaman 30 meter. hanya lapisan- lapisan batuan sampai kedalaman 30 m saja yang menentukan pembesaran gelombang gempa (Wangsadinata, 2006). Nilai Vs30 dapat ditentukan dengan menggunakan persamaan
dimana : i : indeks pelapisan m : jumlah perlapisan hingga kedalaman 30 meter ti : ketebalan lapisan ke i Vs30 : kecepatan gelombang geser pada kedalaman 30 meter Metode MASW (Multichannel Analysis Surface Wave), merupakan salah satu metode seismik dengan ketepatan dan resolusi yang tinggi pada struktur dekat permukaan untuk pemodelan struktur geologi bawah permukaan bumi (Park dkk, 2002). Metode ini merupakan metode yang memanfaatkan fenomena dispersi gelombang permukaan yang bertujuan untuk mengevaluasi karakter suatu medium solid. Secara garis besar metode ini digunakan dengan mengidentifikasi dan memisahkan noise serta kecepatan dari hasil akuisisi data. Pengolahan data MASW dilakukan dengan memisahkan kurva dispersi untuk fundamental mode dan higher mode. Kurva dispersi untuk higher mode dapat membantu dalam melakukan inversi pada gelombang permukaan untuk menghasilkan profil kecepatan terhadap kedalaman (Butler, 2005)
42
kedalaman (Butler, 2005). Dalam metode MASW, data seismik yang telah diukur dan direkam oleh seismograf atau sering disebut sebagai data rekaman multi-channel, selanjutnya akan diproses serta dianalisis. Terdapat dua tahapan untuk mengolah dan menganalisis data seismik tersebut sehingga pada akhirnya akan diperoleh satu profil material bawah permukaan (kecepatan geser tanah terhadap kedalaman). Kedua tahapan itu adalah tahapan pembentukan kurva dispersi dan proses inversi terhadap kurva dispersi untuk mendapatkan profil material bawah permukaan. Dengan metode MASW, suatu citra dari kurva dispersi yang memperlihatkan energi (amplitudo) dari sinyal- sinyal gelombang yang terekam dapat dibentuk langsung dari data rekaman multi-channel. Hal ini dapat dilakukan dengan suatu metode yang telah dikembangkan oleh Park et al (1998), yaitu metode pergeseran fase (phase-shift method). Data rekaman multi-channel berdomain waktu-jarak ditransformasi ke dalam domain frekuensi-kecepatan faseamplitudo Profl Vs dihitung dengan menggunakan inversi berbasis iterasi yang memerlukan data inversi dan estimasi poission ratio dan densitas. Pendekatan last square memungkinkan untuk melakukan proses secara otomatis. Untuk metode ini hanya Vs yang berubah setiap melakukan iterasi, sisanya poission ratio, densitas dan ketebalan tidak mengalami perubahan selama proses inversi. Inisial model bumi dibutuhkan sebagai langkah awal proses inversi berbasis iterasi. Model bumi terdiri dari parameter gelombang P dan gelombang S, densitas dan ketebalan. Diatara 4 parameter tersebut, Vs adalah paling signifikan (Choon B, dkk 1999). Vs (z) adalah kecepatan gelombang geser pada kedalaman, sementara z,c (λ) adalah kecepatan fasa yang berkaitan dengan panjang gelombang (λ) yang berkaitan dengan perkalian kedalaman (z) dan faktor konversi kedalaman (r) Metodologi
Peta lintasan pengukuran
Untuk akuisisi data, geophone dijajarkan dalam garis lurus di permukaan lokasi pengujian. Karena geofon hanya merekam gerakan vertikal, penting untuk menempatkannya secara vertikal di tanah. Geophone terhubung ke kartu akuisisi data dan komputer yang dilengkapi dengan perangkat lunak yang diperlukan. Geofon frekuensi rendah (misalnya 4,5 Hz) direkomendasikan (MASW, n.d.a.). Jumlah geofon yang digunakan biasanya dua belas atau lebih, masing-masing terhubung ke saluran perekaman terpisah (Park et al., 1997). Dalam survei yang dilaporkan, jumlah geofon yang umum digunakan adalah 24 dan 48. Umumnya, dengan meningkatkan jumlah geofon yang digunakan untuk merekam, resolusi gambar dispersi yang lebih tinggi dapat diperoleh. Penerima harus berbaris dengan jarak yang sama (Park et al., 1997).
Profil pengukuran umum untuk survei MASW aktif dengan 24 geofon ditunjukkan pada Gambar berikut.
Profil pengukuran MASW
Frekuensi perekaman (fs) 1000 Hz paling sering digunakan dalam survei MASW. Ini sesuai dengan interval pengambilan sampel (dt) 1 ms. Untuk survei MASW yang menggunakan sumber seismik impulsif, total waktu perekaman (T) biasanya sekitar 1 detik. Waktu perekaman yang lebih lama (misalnya T = 2 detik) direkomendasikan untuk sebaran penerima yang panjang, yaitu L > 100 m, atau jika kecepatan gelombang geser sangat rendah, yaitu Vs < 100 m/s, diharapkan (MASW, n.d.a.). Untuk rekaman frekuensi sapuan yang diperoleh secara langsung, yaitu rekaman gelombang permukaan yang dihasilkan oleh sumber seismik yang bergetar, diperlukan waktu perekaman yang lebih lama (Park et al., 1999) Penelitian dilaksanakan pada hari Jum’at, 11 Juni 2021 pukul 08.53 WITA di desa Bira, Kecamatan Bontobahari, Kabupaten Bulukumba dengan koordinat geofon 0218744 E, 9380822 N. Terdapat 24 geophone 4.5 Hz yang terbentang sepanjang 34.5 m dengan spasi 2 m. Panjang rekaman diatur 0.819.2 s dengan interval 0.2 ms. Hasil dan Pembahasan
Profil pengukuran MASW
Proses pertama setelah mendapatkan trace seismik pada gambar 3 yaitu dengan menggunakan Fast Fourier Transformation (FFT) dan selanjutnya proses transformasi integral yang menghasilkan citra dari kurva dispersi. Dari citra kurva dispersi, jenis-jenis gelombang dapat teridentifikasi dengan lebih jelas sehingga penentuan mode dasar untuk membentuk kurva dispersi dapat dilakukan dengan lebih akurat. Jika kurva dispersi dapat diperoleh dengan akurat, maka tingkat ketelitian profil kecepatan gelombang geser dari hasil inversi juga akan lebih tepat. Suatu model lapisan material bumi pertama-tama ditentukan dalam proses inversi ini. Kurva dispersi dari model lapisan tersebut kemudian dihitung dengan menggunakan metode Knopoff (Xia dkk, 1999a). Kurva dispersi hasil pengukuran dibandingkan dan dicocokkan dengan kurva hasil perhitungan dari model lapisan yang telah ditentukan di awal proses. Proses iterasi dilakukan dan metode least square digunakan sehingga akhirnya diperoleh satu profil lapisan material perkiraan yang paling sesuai. Matriks Jacobian digunakan untuk mengukur kepekaan perubahan nilai parameter-paramater kecepatan geser (vs), kecepatan gelombang tekan (vp), berat jenis (ρ ) dan ketebalan (h) dari model lapisan.
Kurva dispersi hasil inversi
44
Berdasarkan data dari kurva phase velocity dalam domain frekuensi setelah dilakukan inversi untuk, didapatkan kurva eksponensial yang menunjukkan frekuensi untuk fundamental mode berkisar 15 – 35 Hz dengan kecepatan fase 230-700 ms-1 dan higher mode pada kisaran 40-55 Hz dengan kecepatan fase 325 – 435 ms-1. Profl Vs dihitung dengan menggunakan inversi berbasis iterasi yang memerlukan data inversi dan estimasi poission ratio dan densitas. Pendekatan last square memungkinkan untuk melakukan proses secara otomatis. Untuk metode ini hanya Vs yang berubah setiap melakukan iterasi, sisanya poission ratio, densitas dan ketebalan tidak mengalami perubahan selama proses inversi. Inisial model bumi dibutuhkan sebagai langkah awal proses inversi berbasis iterasi. Model bumi terdiri dari parameter gelombang P dan gelombang S, densitas dan ketebalan. Diatara 4 parameter tersebut, Vs adalah paling signifikan (Choon B, dkk 1999).
Velocity model
Jenis Perlapisan
Vs (z) adalah kecepatan gelombang geser pada kedalaman, sementara z,c (λ) adalah kecepatan fasa yang berkaitan dengan panjang gelombang (λ) yang berkaitan dengan perkalian kedalaman (z) dan faktor konversi kedalaman (r) (antara 2 dan 4) (Ismed Kanli dkk, 2004). Profil kecepatan gelombang geser 1-D diperoleh dari hasil inversi kurva dispersi menggunakan metode algoritma genetik. Dimana dasarnya dilakukan untuk mendapatkan model yang paling baik (mendekati sebenarnya) dengan missfit minimum Missfit dirumuskan sebagai berikut :
Keterangan: kecepatan kurva teorirtis kecepatan kurva hasil perhitungan pada frekuensi ketidakpastian dari sample frekuensi jumlah dari sample frekuensi Dimana missfit adalah ketidakcocokan, adalah kecepatan kurva teorirtis, kecepatan kurva hasil perhitungan pada frekuensi, ketidakpastian sample frekuensi, adalah jumlah dari sample frekuensi, jika tidak ada ketidakpastian diganti oleh (Wahlet,dkk, 2004).
Profil Vs 1-D hasil inversi dari kurva dispersi
Klasifikasi tanah dapat dilakukan dengan melihat nilai variasi Vs dengan mengacu pada tabel berikut. Tabel 1 Klasifikasi tanah berdasarkan nilai Vs (Foti, 2015).
Adapun profil kecepatan terhadap kedalaman ditunjukkan oleh gambar 4.2. Profil kecepatan Vs merupakan parameter untuk mengidentifikasi jenis lapisan seperti yang terdapat pada gambar berikut.
Berdasarkan nilai Vs menurut Foti S., dkk (Tabel 1) untuk Vs dengan rentan 223.16 – 482.22 ms-1 serta poisson ratio 0.2 – 0.3 merupakan medium to dense sands ini berada pada kedalaman 7 m dan lapisan kedua dengan Vs 564.93– 729.16 ms-1 dengan poisson ratio berkisar 0.2-0.3 merupakan medium to dense gravels ini berada pada kedalaman 12 – 18 m serta lapisan ketiga dengan Vs 907.68 ms-1 merupakan soft rocks, very dense gravels pada kedalaman 28 m. Pada titik 2 untuk lapisan pertama dengan Vs 356.5 – 410 ms-1 medium to dense sands dengan poisson ratio 0.2 pada kedalaman 7.3 m dan lapisan kedua dengan Vs 600 – 850 ms-1 merupakan medium to dense gravels pada kedalaman 12 m, serta lapisan ketiga dengan Vs 940 ms-1 merupakan soft rocks, very dense gravels dengan poisson ratio berkisar0.2 – 0.3 pada kedalaman 28 m. Kesimpulan Melalui pengolahan data MASW yangdidapatkan kondisi sedimen bawah permukaan pada daerah pantai Panrangluhu terdiri dari 3 jenis yaitu medium to dense sands pada kedalaman 7 m dengan Vs 223.16 – 482.22 ms-1 , medium to dense gravelss pada kedalaman 12 m dengan Vs 564.93– 729.16 ms-1 dan soft rock pada kedalaman 28 m dengan Vs907.68 ms-1 .
Referensi: Park, C.B., Miller, R.D., and Xia, J., 1999. Multichannel analysis of surface waves, Geophysics, Vol. 64, No. 3 (May-June 1999); P. 800– 808 . Butler, Dwain K. Near-Surface Geophysics. Society of Exploration Geophysicists, 2005. Foti, Sebastiano. “Surface Wave Testing for Geotechnical Characterization.” Surface Waves in Geomechanics: Direct and Inverse Modelling for Soils and Rocks, n.d., 47–71. https://doi.org/10.1007/3-211-38065-5_2. Wangsadinata, W. 2006. Perencanaan Bangunan Tahan Gempa Berdasarkan SNI 726-2002. Shortcourse HAKI 2006. Jakarta Choon B. Park, Richard D. Miller and Jianghai Xia., 1999. Multichannel analysis of surface waves.. Geophysics, Vol. 64, No. 3 (May-June 1999); P. 800– 808, 7 Figs. Park, C.B., dkk.. “Multichannel analysis of surface waves (MASW) - active and passive methods” dalam The Leading Edge, Januari 2007. Lawrence, USA: Kansas Geological Survey Ali Ismed Kanli, Peter, T. Pronay, Z. Pinar, A. and Herman, L., 2005. VS30 mapping and soil classification for seismic site effect evaluation in Dinar region, SW Turkey Geophysical Journal International (2006) 165 (1): 223-235. Sholihan, A. dan Santosa, B. J., 2009. Analisis Dispersi Gelombang Rayleigh Struktur Geologi Bawah Permukaan Studi Kasus: Daerah Pasir Putih Dalegan Gresik, Jurusan Fisika FMIPA ITS, Surabaya
44 Identifikasi Potensi Air Tanah Menggunakan Vertical Eletrical Sounding di Desa Cakura, Polombangkeng Selatan, Takalar
Ahmad Fauzy Arif, Geofisika 2018
Pendahuluan Secara umum air tanah diartikan sebagai air yang terdapat di dalam lapisan tanah atau batuan yang terletak di bawah permuikaan tanah dab biasanya berasosiasi dengan lapisan berpasir atau rekahan-rekahan yang menjadi wadah untuk menampungnya, AirtanahDengan adanya pemberdayaan air tanah tentu dapat menujang aktifitas-aktifitas yang berkenaan dengan kebutuhan air. Dalam beberapa dekade terakhir penggunaan air tanah sebagai sumber air irigasi sudah menjadi hal yang umum di beberapa daerah lahan kering di berbagai belahan dunia. Dibandingkan dengan irigasi dari air permukaan, air tanah merupakan sumber yang lebih terjamin ketersediaannya, lebih tahan terhadap bencana kekeringan, dan lebih mudah diakses secara individu (Garrido et al. 2005). Sulawesi Selatan dimana bila ditinjau dari Utara ke Selatan memiliki curah hujan yangsemakin berkurang terutama pada pantai Barat Sulawesi Selatan yang paling kering yaitu Kabupaten Takalar (Badwi, 2017) Desa Cakura memiliki luas administratif 14.25 km2 yang terdiri dari enam dusun. Komoditas utama dari desa ini adalah pertanian yang dibuktikan dengan daerah tutupan lahan didominasi oleh area persawahan. Musim kemarau yang terjadi tiap tahunnya kerap mengancam produktifitas pertanian di desa tersebut. Selain itu, dampak kemarau yang berkepanjangan seringkali menyebabkan sulitnya warga desa dalam meperoleh kebutuhan air secara mandiri. Salah satu metode dalam mengatasi persoalan airtanah yaitu dengan mengetahui informasi seputar bawahpermukaan untuk mengetahui karakteristik dan sebaran potensial dari airtanah. Metode geofisika dalam hal ini geolistrik menjadi metode yang sangat penitng dalam eksplorasi airtanah (Parasnis, 1997). Salah satu metode geolistrik yang umunya digunakan adalah Vertical Eletrical Sounding (VES).Pengerjaan metode VES bila dibandingkan metode geolistrik lainnya terbilang lebih cepat dan murah serta memiliki akurasi vertikal yang akurat. Dengan digunakannya teknik VES di daerah Cakura kiranya dapat memberikan informasi tentang potensi akuifer pada desa untuk pengembangan dan pengelolaan airtanah didesa tersebut. Tinjauan Pustaka
Peta Geologi Regional Desa Cakura
Secara geologi Desa ini disusun atas tiga formasi utama yaitu Endapan Aluvium dan pantai (Qac) yang terdiri dari kerikil, pasir, lempung, lumpur, dan batugamping. Formasi Camba (Tmc) terdiri dari batuan sedimen laut berselingan dengan batuan gunungapi, batupasir tufaan berselingan dengan tufa, batupasir dan batu lempung bersisipan napal, batugamping, konglomerat, breksi gunungapi dan batubara. Batuan Gunungapi BaturappeCindako (Tpbv) terjadi secara setempat terdiri dari lava dan breksi bersusunan basal dengan sisispan sedikit tufa dan konglomerat, umumnya batuan didominasi oleh (Sukamto dan Supriatna, 1982) Metode geolistrik tahanan jenis didasarkan pada anggapan bahwa bumi mempunyai sifat homogen isotropis. harga resistivitas yang diukur seolah - olah merupakan harga resistivitas untuk satu lapisan saja. Resistivitas yang terukur sebenarnya adalah resistivitas semu (ρa). Parameter data lapangan yang diperoleh berupa harga arus (mA) dan beda potensial hingga besarnya resistivitas semu (ρa) dapat didapatkan melalui formula (Telford, 1990):
Dimana: 𝜌𝑎 = Resistivitas semu (Ohm.m) R = Resistansi (Ohm) V = Beda potensial (V) I = Kuat arus (A) r = Jarak antar elektroda (m) adanya faktor geometri dari konfigurasi yang digunakan mengharuskan untuk melakukan koreksi terlebih dahulu seperti pada konfigurasi Schluberger yaitu
Pada vertical eletrical sounding (VES) tujuan utamanya adalaH untuk mengobservasi variasi dari harga resistivitas terhadap kedalaman. Teknik ini sangat cocok digunakan untuk menentukan resistivitas dan kedalaman pada lapisan batuan, seperti lapisan sedimen, ataupun aquifer. Konfigurasi Teknik VES umumnya menggunakan kongfigurasi Schlumberger dimana titik tengah pada lintasan dibuat tetap sedangkan kedua elektroda berubah-ubah. Hal ini memungkinkan garis arus untuk melakukan penetrasi ke kedalaman yang lebih dalam (gambar 1), tergantung pada distribusi vertikal konduktivitasnya (Lowrie, 2007)
Cross section dari garis arus dan equipotensial
45
Ketiga titik sounding ini terletak pada dusun Bontomaka, dengan jarak antara GPS002-GPS003-GPS004 berturut-turut adalah 630 m dan 930 m. Berdasarkan hasil inversi nilai resistivitas dan interpolasi litologi didapatkan batupasir dengan nilai resistivitas 7 – 78 Ωm dan breksi tufaan dengan resistivitas 142 – 293 Ωm yang menerus dari ketiga titik. Namun terdapat perbedaan pada
titik
kedalaman
GPS002 yang
dimana dangkal
terdapat di
2.8-7.8
tufa
pasiran
meter
dengan
pada nilai
resistivitas 179 – 397 Ωm lalu basalt dengan resistivitas 55.5 Ωm dibawahnya. akuitard.
Konfigurasi Schlumberger
Tufa
Lapisan
pasiran batupasir
dapat pada
dikategorikan titik
ini
hanya
sebagai memiliki
ketebalan berkisar 5 meter. Kemudian dilapisan bawahnya
Selanjutnya pengolahan data menggunakan metode curve matching yaitu dengan mencocokkan kurva antar data observasi dan data kalkulasi. Dengan menggunakan metode pencocokkan kurva maka akan diketahui nilai resistivitas dan kedalaman tiap-tiap lapisan batuan.
merupakan breksi tufaan setebal 14 meter lalu basalt. Hal tersebut didukung kuat oleh kelimpahan singkapan tufa kasar yang berasosiasi dengan pasir, breksi tufaan dan aglomerat di area sekitar titik tersebut. Antara GPS003 dan GPS004 relatif sama dengan ketebalan batupasir berkisar 65 meter dengan kedalaman dari 2 – 70 meter dan lapisan breksi tufaan dibawahnya.
Metodologi
b.Korelasi titik GPS005, GPS006, dan GPS009
Peta sebaran titik pengukuran VES
Metode geolistrik menggunakan teknik Vertical Eletrical Sounding (VES). Proses akuisii data menggunakan alat Syscal R1 Plus Switch 48 pada 8 titik pengukuran (gambar 3). Pada konfigurasi Schlumberger dengan panjang bentangan 500 m digunakan spasi elektroda yang variatif pada AB/2 dan MN/2 dengan jarak 0.5 m, 1 m, 2 m, 3m , 5 m, 10 m, 20 m, 30 m,dan 50 msesuai dengan kebutuhan.
Pseudo Cross Section untuk titik GPS005, GPS006, dan GPS009
Korelasi titik-titik ini membentang dari GPS009 dibagian selatan ke GPS006 dibagian utara desa Cakura melewati dusun Buakanga, dusun Bontomaka, dan dusun Pangkajene. Batupasir didapati pada kedalaman 2.37-81.5 m di GPS006 , 2.21-34.8 m di GPS005, dan 2.23-53.3 m di GPS009. Lapisan batupasir dari ketiga titik memiliki resistivitas 13 – 81.5 Ωm yang menerus berwarna hitam dan biru yang ditunjukkan penampang pseudosection diikuti oleh batuan basalt dengan resistivitas 60.1- 101 Ωm dibawahnya. Nilai resistivitas 76.6 Ωm oleh batupasir di titik GPS009 pada kedalaman 2 m dibuktikan dengan adanya singkapan batupasir di sekitar titik tersebut.
c.Korelasi titik GPS007-GPS008
Hasil dan Pembahasan
Dari kedelapan titik dilakukan korelasi. Korelasi antar titik betujuan
mengetahui
gambaran
hubungan
dari
tiap
titik
pengukuran dengan menggunakan metode interpolasi. Metode analisis ini dilakukan dengan mengidentifikasi kesamaan litologi dan pencocokkan dengan survei geologi yang telah dilakukan sebelumnya. a.Korelasi Titik GPS002, GPS003, dan GPS004
Pseudo Cross Section untuk titik GPS002, GPS003, dan GPS004
Pseudo Cross Section untuk titik GPS007 dan GPS008
GPS007 dan GPS008 yang berjarak 855 m ini berada di dusun Pangkajene atau sebelah barat desa Cakura yang diketahui terusun atas batuan vulkanis. Hal ini didukung dengan kelimpahan singkapan-singkapan lava, tufa, yang berasosiasi dengan breksi dan basalt yang kita jumpai di wilayah sekitar pengukuran. Berdasarkan penampang pseudosection nampak jelas harga resistivitas yang secara lateral sama dari kedua titik yakni pada rentang 4.91 – 13 Ωm sebagai top soil dan 51.5 – 70.7 Ωm sebagai basalt. Pada GPS008 breksi tufaan pada kedalaman 1.89 – 27.7 m dengan resistivitas 236 Ωm. Sementara breksi tufaan pada GPS007 dijumpai tersingkap membentuk bukit. Selain itu pada dusun ini di sebelah timur desa Cakura terdapat penambangan batuan jenis vulkanis yaitu lava, andesit, dan basalt untuk keperluan material bangunan. Berdasarkan model
46
litologi yang didapatkan, breksi tufaan dan basalt menjadi penyusun litologi pada daerah ini. d. Korelasi titik GPS002 dan GPS009
Pseudo Cross Section untuk titik GPS002 dan GPS009
Kedua titik ini berjarak 860 m. Lapisan batupasir yang didapati pada kedalaman 2.8 -7.8 m di GPS002 semakin menebal ke arah GPS009
sampai
kedalaman
53.3
m.
Model
litologi
yang
didapatkan di GPS009 tidak dijumpai singkapan breksi ataupun tufaa seperti yang didapati di GPS002 melainkan singkapan batupasir di sekitar wilayah tersebut. Untuk menentukan sektor area yang meiliki potensi akuifer secara lateral , maka setelah melakukan korelasi antar titik VES dilanjutkan dengan pemetaan isoresistivitas. Pada pengolahan peta isoresistivity data resistivitas sebaran tiap titik disusun berdasarkan kedalamannya. Peta ini disusun masing-masing dengan sebaran resistivitas pada kedalaman 5 m, 10 m, 30 m, 40 m, 55 m, dan 80 m. Sebaran resitivitas pada tiap kedalaman diinterpolasi dengan metode krigging menggunakan Surfer 10 sehingga didapatkan sebaran nilai resistivitas semu secara lateral pada beberapa kedalaman.
Sebaran resistivitas yang diduga sebagai batupasir yang potensial berperan sebagai akuifer untuk kedalaman 5-10 meter berada pada GPS003, GPS004, GPS005, dan GPS006. Pada kedalaman 30 meter potensial akuifer berada pada GPS003, GPS004, GPS005, GPS006, dan GPS009. Pada kedalaman 40 meter potensial akuifer berada pada GPS003, GPS004, GPS006, dan GPS009. Pada kedalaman 55 meter kawasan potensial akuifer menyusut dan berada pada GPS003, GPS004, dan GPS006. Lalu pada kedalaman 80 meter kawasan potensial akuifer hanya berada pada GPS006. Sehingga identifikasi daerah potensial yang menyimpan air tanah pada kedalman 5-55 meter berada pada GPS003, GPS004, dan GPS006. Kawasan sekitaran GPS005 hanya mampu menyimpan air pada kedalaman 5-30 meter. Sedangkan kawasan sekitaran GPS009 keterdapatan akuifer optimal pada kedalaman 30-40 meter. Kesimpulan Litologi desa cakura tersusun atas tiga formasi utama yaitu Endapan aluvium dan pantai (Qac), Formasi Camba (Tmc), dan Formasi Baturape Cindako (Tpbv). terdiri dari batuan sedimen batupasir dengan rentan nilai resistivitas 1–76.7 Ωm, batuan basalt dengan rentan nilai resistivitas 55-101 Ωm, dan batuan sedimen vulkanis berupa breksi tufaan dengan rentan nilai resistivitas 142-234 Ωm. Penampang litologi dari sembilan titik sounding di desa Cakura menunjukkan lapisan batupasir dan breksi tufaan yang berasosiasi dengan batupasir dan lava sebagai aquifer. Batupasir merupakan lapisan aquifer efektif dikarenakan sifatnya yang memiliki permeabilitas yang cocok untuk menampung dan mengalirkan air sedangkan breksi tufaan yang digolongkan juga sebagai tufa kasar dengan permeabilitas yang rendah dikategorikan sebagai akuifer yang tidak efektif. Sementara lapisan batuan basalt yang masif berperan sebagai aquifuge yang menahan dan tidak meloloskan aliran air diatasnya. Lapisan aquifer didapatkan berada di area barat laut desa Cakura yaitu didusun Bontomaka di sekitar titik GPS003 padakedalaman 2.5 – 65 m dan titik GPS004 pada kedalaman 2.5 – 65.9 m, di area utara yaitu dusun Buakanga di sekitar titi GPS005 pada kedalaman 2.21- 34.8 m dan titik GPS006 pada kedalaman 2.37 – 81.5 m, dan di area selatana yaitu dusun Pangkajene di sekitar titik GPS009 pada kedalaman 2.23 – 53.3
Referensi: Badwi, N., Maru, R.,dan Abbas, I. 2017. Analisis Spasial Tingkat Kekeringan Sebagai Upaya Mitigasi Kegagalan Panen Di Kabupaten Takalar Sulawesi Selatan. Indonesian Journal of Fundamental Sciences, 3(2), 116. https://doi.org/10.26858/ijfs.v3i2.4782 Garrido, A., Martínez-Santos, P., & Llamas, M. R. (2006). Groundwater Irrigation And Its Implications For Water Policy In Semiarid Countries: The Spanish Experience. Hydrogeology Journal, 14(3), 340–349. https://doi.org/10.1007/s10040-005-0006-z Lowrie, W. 2007. Fundamentals of Geophysics. Cambridge University Press. Parasnis, D. S. 1997. Principles of Applied Geophysics. Chapman & Hall. Sukamto, R dan Supriatna S. (1982). Geologi Lembar Ujungpandang, Benteng dan Sinjai, Sulawesi. P3G, Direktorat Geologi, Departemen Pertambangan RI. Telford, W. M., Geldart, L. P., & Sheriff, R. E. 2010. Applied geophysics. Cambridge Univ. Press. Fetter, C.W. 2000. Applied Hydrogeology. United States: Prentice Hall.
HMGF TRIVIA Apa sih Geofisika itu? Geofisika merupakan ilmu yang menerapkan prinsip-prinsip fisika untuk mengetahui dan memecahkan masalah yang berhubungan dengan bumi, atau dapat pula diartikan ilmu yang mempelajari bumi dengan menggunakan prinsip-prinsip fisika. Ilmu geofisika dapat digunakan dalam eksplorasi dan pengembangan sumber daya hidrokarbon, mineral dan lingkungan. Banyak orang yang masih mempertanyakan perbedaan antara ilmu geofisika dan ilmu geologi. Menurut Santoso (2002), perbedaan utama dari disiplin kedua ilmu tersebut terletak pada jenis datanya. Di satu pihak, geologi termasuk ilmu yang mempelajari bumi dengan melakukan penelitian secara langsung terhadap batuan, meneliti gambaran struktur, komposisi ataupun sejarahnya yang dilakukan dengan berbagai analisis. Sementara untuk geofisika, termasuk kedalam ilmu yang mempelajari bagian-bagian bumi yang tidak nampak langsung dari permukaan, melalui pengukuran sifat fisikanya dengan perlatan yang tersedia. Selain itu, geofisika mencakup interpretasi pengukuran yang dilakukan untuk mendapatkan informasi mengenai struktur dan komposisi lapisan di bawah permukaan bumi.
Metode apa saja sih yang ada dalam geofisika? Menurut Philip Kearey (2002) dalam bukunya “An Introduction to Geophysical Exploration”, metode geofisika dibagi menjadi empat metode utama, yakni metode seismik, metode gravitasi,
metode magnetik, dan metode kelistrikan. Kemudian metode kelistrikan dibagi lagi menjadi metode resistivitas, induksi polarisasi, potensial diri, elektromagnetik, dan radar.
Prinsip dasar metode sesmik adalah menganalisa respon dari penjalaran gelombang seismik yang merambat pada media elastik, karena osilasi partikel-partikel medium terjadi akibat interaksi antara gaya gangguan (gradien stress) melawan gaya-gaya elastik. Dari interaksi tersebut, akan muncul gelombang longitudinal atau gelombang P (presusre) dan gelombang transversal atau gelombang S (shear). Gelombang itu akan direkam dalam fungsi waktu di dalam seismogram, dari data seismogram dapat dibaca waktu dan amplitudo secara visual (Refrizon dkk, 2008).
Metode gravitasi merupakan pengukuran terhadap variasi medan gravitasi bumi yang diakibatkan oleh adanya perbedaan densitas yang kemudian dikenal sebagai anomali gravitasi (Wachidah dan Minarto, 2018). Metode gravitasi bekerja berdasarkan kontras densitas dari batuan bumi, jika terdapat anomali di bawah permukaan maka nilai medan gravitasi akan menyimpan dari nilai normal yang diukur. Kemudian metode magnetik, merupakan metode yang ditafsirkan dalam bentuk distribusi bahan magnetik yang didasarkan pada pengukuran variasi intensitas medan magnetik dipermukaan bumi. Variasi intensitas magnetik ini disebabkan oleh adanya distribusi batuan dan magnetisasi dibawah permukaan bumi yang bisa disebabkan oleh adanya perubahan struktur geologi bawah permukaan (Panjaitan, 2015).
47
HMGF TRIVIA Metode selanjutnya yaitu metode kelistrikan, yang mana metode ini terbagi atas lima bagian, yakni:
1. Metode Resistivitas, metode ini digunakan untuk memetakan struktur geologi di bawah permukaan tanah. 2. Metode Induksi polarisasi, metode induksi polarisasi menggunakan sifat kelistrikan dan polarisabilitas batuan dasar. 3. Metode Potensial diri, self Potential (SP) meurpakan sebuah metode geofisika yang memanfaatkan parameter kelistrikan. Self Potential sering digunakan untuk pengkajian monitoring gunung api, rekahan, aliran air, eksplorasi infrastruktur, dan pengkajian pemetaan. 4. Metode Elektormagnetik, metode elektromagnetik digunakan untuk melihat distribusi parameter fisika dalam lapisan bumi dengan karakternya yang mencakup panjang gelombang 5. Metode Ground Penetrating Radar (GPR), metode GPR atau georadar merupakan metode yang mampu melakukan deteksi dengan sangat baik di bawah tanah. GPR menggunakan gelombang elektromagnetik yang bersifat non-destruktif dan memiliki resolusi tinggi sehingga mampu menggambarkan keadaan bawah tanah dengan cepat dan kontinyu.
Pengaplikasian metode geofisika dalam dunia kerja Ekplorasi bahan bakar fosil (minyak, gas, batubara)
Eksplorasi mineral mengandung logam
Eksplorasi dposit mineral dalam jumlah besar
Metode Seismik, Metode Gravitasi, Metode Magnetik
Metode Magnetik, Metode Elektromagnetik, Metode Resistivitas, Metode Potensial Diri, Metode Induksi Polarisasi, Metode Radiometrik Metode Seismik, Metode Resistivitas, Metode Gravitasi
Eksplorasi air tanah
Metode Resistivitas, Metode Seismik, Metode Gravitasi, Metode Georadar
Investigasi lokasi konstruksi
Metode Resistivitas, Metode Seismik, Metode Georadar, Metode Gravitasi, Metode Magnetik
Investigasi Arkeologi
Metode Georadar, Metode Resistivitas, Metode Elektromagnet, Metode Magnetik, Metode Seismik
Referensi
Kearey P. 2002. An Intoduction to Geophysical Exploation. Third Edition. USA : Blackwell Science Ltd. Refrizon, Suwarsono, Yudiansyah H. 2008. Penentuan Struktur Bawah Permukaan Daerah Pantai Panjang Kota Bengkulu Dengan Meode Seismik Refraksi. Jurnal Gradien, Vol4, No.2, Hal.337-338. Panjaitan M. 2015. Penerapan Metode Magnetik Dalam Menentukan Jenis Batuan dan Mineral. Jurnal Riset Komputer, Vol.2, No.6, Hh.69. Santoso D. 2002. Pengantar Teknik Geofisika. Bandung : Penerbit ITB. Wachidah N. dan Minarto E. 2018. Identifikasi Struktur Lapisan Bawah Permukaan Daerah Potensial Mineral dengan Menggunakan Metode Gravitasi di Lapangan “A”, Pongkor, Jawa Barat. Jurnal Sains dan Seni ITS Vol.7, No.1, Hh. B32.
48
PUISI-PUISI Menghadapi Penolakan Pernah kah kau sepulang melaut begitu payah kemudian membawa hasil tangkap ke depan pintu rumahnya hanya untuk sepotong hati? Apa dikata, bukan susu berbalas susu, tuba kau dapati Adakah ikan yang sanggup merasa?
Dan kau masih karang untuk ombak yang tak henti. Padahal kau telah lekang di panas lalu lapuk di hujan Itulah tubuhku hari ini
Adakah yang lebih getir selain air muka yang kini sahara? Atau aku hanya jemawa bahwa telaga adalah milikku seorang Ah, Aku lupa. Awan pernah berpesan bahwa air punya waktu kelana
Sayang, aku tak bertanya. Apakah kelana air akan berkunjung ke tempat yang sama? Ah, andai saja aku lebih pandai membaca cuaca
Makassar, 17 Juni 2021
Hasnan Sutadi, Geofisika 2018
49
PUISI-PUISI Tanah Ini Sebenarnya Milik Siapa? Ada seorang ibu bersandar di pojok bata Tak ada kata selain air mata Dia pilu Mati diperkosa sembilu negerinya Ngerinya, Dia Lahir dari rahim surga Besar tumbuh di tanah semesta raya Tapi tak makan padinya Padinya dimakan tikus sawah Sebagian tikus berkancing rapi Sebagian tembok-tembok pabrik Untuk memakmurkan sang gila korupsi
Di malam telanjang buta Bulan mengintip di balik jendelanya Anak mungil bercengkrama dengan patung Dan pohon di kirinya Heran melihat jenis tanah sekarang Bertanya dalam pelupuk mata Kenapa di tanah ini beton lebih subur dibanding pohon ?
Negeri ini memang aneh Jika miskin, kau akan diberi raskin Tapi ada jutawan ikut mengantri raskin Untuk makanan ternaknya Hingga buahnya Tidak semua orang miskin menikmati raskin
Dan tidak semua yang menikmati raskin adalah miskin Jika miskin, kau akan diberi subsidi Basiiii Ini hanya solusi humor Subsidi hari ini tidak lewat seleksi Tidak pandang bulu Jelata pasti pilu Belum lagi kaum minor
Jika kaya, kau bisa berinvestasi Terserah Bisa kau jadikan ladang koalisi Atau wahana kolusi Kau ber-uang, kau bebas
Hutanku dibabat, Tanahku digali Bukan dengan parang bapakku Bukan dengan kapak pamanku Terlebih Atau ternyata Bukan untuk sawah orang desaku Bukan untuk menanam jagung lagi Bukan untuk menyimpan bibit cengkeh Tapi untuk investor itu
Tanah ini sebenarnya milik siapa ?
Makassar, 2020
Rahmat Rastin, Geofisika 2018
50
51
Dokumentasi KOMPAS 2021 in frame: Alumni dan Warga HMGF beserta Pengurus HMGF 20/21)
52
53
54
Dokumentasi Pelantikan Pengurus in frame: Pengurus HMGF 20/21)
Kesan pesan
gue ya sebagai mahasiswa yang mengalami masa transisi dari luring ke daring merasa hal ini kurang efisien. Gimana ya kan kita dari awal luring terus ubah haluan ke luring, awalnya kaget dan susah buat nyesuain diri tapi akhirnya setelah pandemi 1 tahun akhirnya terbiasa tapi sekarang mau balik lagi ke luring , agak agak aneh gimana gitu. Seneng tapi kayak ada ketakutan gitu, kan pandemi belum selesai 100%, takutnya malah jadi klaster kesekian yg kena Covid. But overall, jika memang benar bakalan luring ada bagusnya juga buat adik adik yg belum pernah ngerasai kuliah tatap muka, it’s oke. Kalo kebijakan kampus yang mengharuskan berarti pihak birokrat sudah ada kajian memgenai kondisi terbaik untuk mahasiswanya. pesan sekaligus harapan, semoga nggak ada lagi klaster baru untuk covid. Walaupun nanti udah luring harus tetap patuhi protokol kesehatan buat antisipasi dan jaga jaga . Thanks
Arsyih Arjuna, Geofisika 2019
..........................saya Kesan
mengenai kemungkinan kuliah tatap muka di bulan juli 2021 tentunya sangat senang karena ahirnya kita bisa merasakan kuliah yang sesungguhnya setelah beberapa semester hanya dengan daring di rumah yang tentunya sulit bagi sebagian mahasiswa untuk menerima materi dengan baik.....semoga wacana tersebut akan benar benar terealisasi sehingga kami bisa menjalankan kuliah seperti biasanya
Yulianti, Geofisika 2019
Kalau menurut saya
..................................................................................., untuk kuliah tatap muka nanti saya setuju dan sangat senang mendengar berita dikarenakan ketika kuliah daring itu kurang efektif untuk saya dan juga saya menjadi kurang untuk mengatur waktu saya dan saya berharap nanti untuk kuliah tatap muka tetap menaati protokol kesehatan yang ada. Terima kasih
Johanna Diharti, Geofisika 2018
55
..............................................................saya sebagai mahasiswa Jurusan Geofisika FMIPA Unhas, Kesan dan pesan terkait dengan keputusan tersebut merupakan keputusan bagus te.tapi mahasiswa juga harus tetap menerapkan protokol kesehatan. Memang sebaiknya kuliah tatap muka dikembalikan dengan menerapkan protokol kesehatan yang ketat. Karena dari saya pribadi selama kuliah online minat belajar menurun, dikarenakan beberapa materi yang sulit dipahami terlebih sebagai Mahasiswa Mipa itu sangat sulit memahami materi hanya dengan membaca saja. Selain itu, kuliah juga bukan hanya belajar materi tapi butuh juga sosialisasi dengan orang lain. Jika memang akan benar-benar dilaksanakan pembelajaran secara tatap muka atau offline, maka perlu adanya komitmen bersama untuk menaati protokol kesehatan yang telah diterapkan saat ini.
Merlia Sinding, Geofisika 2020
Kesan dan Pesan
.........................................................................saya ketika mendengar kuliah tatap muka dibuka di bulan juli 2021 ini tentunya membuat saya sangat senang karena dengan dilaksanakan perkuliahan tatap muka saya bisa bertemu langsung dengan teman-teman dan senior yang ada di kampus dan dapat menjalin relasi yang lebih baik lagi. Selain itu saya merasa jika perkuliahan tatap muka kolaborasi kami dalam segala hal dari kerja kelompok dan berdiskusi pasti akan jauh lebih optimal karena kontak fisik, emosi yang kita rasakan lebih nyata di banding pertemuan secara ofline.
Ainul Sya'ban, Geofisika 2020
Kabar gembira
...........................................................sih. Kenapa kabar gembira? sepertinya mahasiswa ataupun pelajar di luar sana juga rindu sama suasana belajar tidak di depan layar. Melihat kondisi grafik covid yang menurun juga menurutku langkah yang bagus bagi dunia pendidikan, karena kenyataan yang kita liat sekarang juga, dalam konteks belajar daring masih banyak hal-hal yang perlu diperbaiki dan dipersiapkan, jadi lebih baik mengambil langkah yang memang sudah sejak lama kita gunakan yaitu belajar luring. Tapi disamping itu juga perlu diperhatikan bahwa dengan grafik penurunan covid, itu tidak menjadi alasan untuk kita lengah terhadap protokol kesehatan, untuk teman-teman universitas maupun sekolah, saya harap bisa mempersiapkan strategi yang bagus jikalau memang berani untuk mengambil langkah belajar luring juga harus mengatur strategi agar protokol kesehatan tetap dijalankan. Jadi sampai berjumpa di Juli teman-teman, stay healthy!
Juni Annisa Karim, Geofisika 2018
56
57
Dosen
Yang pertama, Kamu bisa memilih karir menjadi dosen. Kalau Kamu memang memiliki minat tinggi di bidang pendidikan, tidak ada salahnya memutuskan menjadi seorang pengajar atau dosen. Tentu Kamu harus bisa menamatkan kuliah Geofisika dengan nilai memuaskan. Tidak hanya itu, Kamu juga perlu melanjutkan studi minimal sampai jenjang S2 untuk bisa menjadi dosen.
Peneliti
Peluang atau prospek kerja geofisika berikutnya adalah menjadi peneliti. Program teknik Geofisika mencakup eksplorasi sumber daya bumi, reservoir, imaging dan pengolahan data serta teknik dan lingkungan. Kamu bisa memiliki prospek kerja Geofisika yang cukup apik seperti menjadi peneliti. Ada banyak lembaga penelitian yang bisa menjadi tempatmu bekerja seperti LIPI, Lemigas dan lain-lain.
BUMN
Yang keempat, Kamu memiliki kesempatan untuk berkarir di Badan Usaha Milik Negara atau BUMN. Kamu bisa menjadi staf di Badan Umum Milik Negara seperti Pertamina. Nantinya, Kamu bertugas eksplorasi sumber daya bumi untuk menemukan sumber minyak.
Departemen Energi Dan Sumber Daya Mineral
Seorang sarjana Teknik Geofisika memiliki kemampuan yang sangat dibutuhkan dalam mitigasi bencana mengingat Indonesia rawan bencana alam seperti tanah longsor, banjir, gempa bumi, tanah bergerak dan lainlain. Kamu bisa bekerja di Direktorat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi, Direktorat Inventarisasi Sumber Daya Mineral dan Pusat Penelitian Pengembangan Geologi.
58
Perusahaan Tambang
Yang keenam, lulusan dari jurusan geofisika juga bisa memilih perusahaan tambang sebagai tempat bekerja. Kamu juga memiliki prospek kerja yang bagus di berbagai perusahaan tambang atau perusahaan minyak dan gas bumi. Bisa jadi Kamu bakal bekerja di Freeport, British Petroleum, UNOCAL dan lain-lain.
Perusahaan Geothermal Yang ketujuh, lulusan geofisika juga bisa memilih berkarir di perusahaan geothermal. Perusahaan geothermal merupakan perusahaan yang bergerak di sektor energi panas bumi. Beberapa perusahaan sektor ini yang ada di Indonesia yaitu PT EDC Indonesia, PT ORMAT Geothermal Indonesia, PT Star Energy dan lain-lain.
Perusahaan Swasta Peluang atau prospek kerja geofisika berikutnya adalah Kamu bisa berkarir di perusahaan swasta. Tak harus selalu berkutat dengan instansi pemerintah, Kamu juga bisa bekerja sebagai karyawan di perusahaan swasta. Peluang lulusan Geofisika bisa bekerja sebagai manajer mengingat ada mata kuliah manajemen di jurusan ini.
Pengusaha Erat berkaitan dengan poin nomor 8, Kamu juga bisa membuka usaha sendiri yang memiliki omset besar tergantung kesuksesan usaha. Meskipun Kamu mempelajari segala hal tentang bumi, Kamu bisa menjadi seorang pengusaha sukses yang mendunia. Kamu bisa mengembangkan mata kuliah kewirausahaan dan manajemen yang didapatkan selama duduk di bangku kuliah.
Konsultan Yang terakhir, karir yang bisa Kamu bidik adalah menjadi seorang konsultan yang dibayar mahal untuk bekerja sama dengan lembaga penelitian pemerintah atau swasta. Kamu bisa menjadi konsultan di bidang eksplorasi bumi dan sumber daya alam. Gaji yang Kamu dapatkan bisa jadi jauh lebih tinggi daripada pegawai tetap di perusahaan tersebut.
59
from: Mahasiswa Pejuang Skripsi to: Teman-teman seperjuangan
"Aku tau kamu lelah, kadang bosan, kadang ingin nyerah dsb. Hanya saja, kau harus tetap bangkit demi orang-orang yang menyayangi kalian. Ingatlah perjuangan kalian sejak Maba, jangan berhenti ditengah jalan yaa. Jika diri mu merasakan down, jangan sungkan untuk meminta nasehat motivasi dari teman seperjuangan. Aku yakin kamu pasti bisa menyelesaikannya, fighting"
from: Bonchahahaha to: Team team LINE :)
"Semangat ya:) "
from: zefa
to: Bobby dan Blacky
"I LOVE YOU <3"
from: pop to: Indie
"Semangat terus, jangan gampang stress semua itu ujian aja kok hehe"
from: UNHAS to: UMI
"di geofisika ternyata bisa berhubungan sama teknik . sipil dalam bidang geoteknik semoga kita juga bisa berhubungan eaa"
from: Bonch to: Pengurus HMGF Periode 20/21
"Semangat semua! Yuk bisa Yuk!"
60
from: Per-netflix-an ang to: NETFLIX TEAM yang sed LDR
dan TA nya, KP t nga "Sema netflix bisalah ini sambil nonton " nya TA i esa juga bisa sel
from: Andi Muh Yusuf Abdullah to: Geofisikawan Indonesia
"Yang rajin belajarnya yah"
from: Sonya to: Sinyo
"Semangat TA saudara tiri"
from: Aku uh dimana to: Kamu yang ja ti namun dekat di Ha
hari mu, "Seberat apapun nyerah. I Please jangan me and stay it do n believe you ca " aa healty ya
from: Marni to: Mbak Wil
"Semangat KP nya sampai bulan Oktober, Terima kasih telah membersamai di Sobat Kurir, love you so much"
from: Anonym to: HMGF 2018
"Jangan tinggali temannya, jangan bureng sendiri, jangan ada yang menikah satu angkatan. Yang ceweknya jangan peccu terus, salah sedikit peccu, apalagi yang namanya Fira, auh berapa kalimi itu peccu. Tetap semangat, jangan lupa makan."