PENDIDIKAN NASIONAL UNTUK (MENUJU)
KEBANGKITAN NASIONAL
H
ari Pendidikan Nasional (2 Mei), sekaligus juga Hari Kebangkitan Nasional (20 Mei) adalah momentum untuk instropeksi diri. Sejauh mana arah pendidikan nasional untuk menuju kebangkitan nasional sebenar-benarnya. Oleh Ketua Dewan Pendidikan Kota Denpasar Dr. lr. I Putu Rumawan Salain, MSi menyimak bahwa dunia pendidikan arahnya ialah untuk kebangkitan nasional, namun sejauh ini sepertinya masih jauh dari harapan, dengan sisi - sisi banyak kekurangannya. Sementara seorang mantan ajudan Bung Karno, Ni luh Putu Sugianitri mengatakan sangat sedih dengan lunturnya rasa kebangkitan nasional dari contoh buruk ( merajalelanya korupsi, red) oleh sebagian pimpinan, yang tentu berbias negative pada generasi muda. Lalu, oleh Drs. Nyoman Purnajaya, Kepala SMAN 1 Denpasar, akan lebih memacu lagi konsep pendidikan Ki Hajar Dewantara, untuk menuju pembentukan karakter jatidiri bangsa Indonesia yang sebenarnya, seutuhnya.
Anak sekolah Suku Bajo
FOTO: SHINTA OR
visual_01.indd 1
5/8/2014 10:34:48 AM
2
REPORTASE
S R E
1
Perkenalkan, Tabloid Visual (satu induk dengan tabloid Metro Bali) hadir ditengah anda mulai hari ini. Terbitan perdana ini masih terbatas baru delapan halaman. Format Visual, mencoba memberikan sesuatu yang mungkin lebih fresh, lebih mudah dilihat, dan dicerna. Harapan kami, semoga sajian ini bisa memberikan nuansa baru, juga untuk lebih menyemarakan media- media cetak yang telah ada di Bali. Selanjutnya, bisa ikut memberikan kontribusi bagi kebutuhan informasi positif bagi kemajuan dan kesejahteraan Bali yang kita cintai bersama. Salam redaksi
P P O
ST
Pendidikan Untuk Kebangkitan
FOTO: VISUAL
R
Dr. Ir. Putu Rumawan Salain, M.Si
umawan Salain mengatakan, bahwa esensi pendidikan adalah kebangkitan. Maka pendidikan jangan dijadikan alat kekuasaan ataupun penguasa. Atau dengan kata lain pendidikan merupakan bagian penting, utama dan perlu bagi politik. Dengan demikian pendidikan bukan bagian dari budaya tapi menjadi bagian dari kekuasaan, politik yang bermuara pada komodifikasi. “Maka hanya yang kaya dan punya kekuasaanlah yang akan menikmati pendidikan,”ungkapnya. Tiga masalah dasar yang menjadi prioritas pembangunan oleh pemerintah pusat adalah, pendidikan, kesehatan, dan peningkatan kesejahteraan. Persoalan pendidikan bukan hanya sekedar menghitung biaya yang dibebankan pada APBN ataupun APBD sejumlah 20 persen. Pendidikan juga bukan persoalan kualitas, Angka Partisipasi Kasar (APK), Angka Partisipasi Murni (APM) juga tentang Indeks Pembangunan Manusia (IPM) ataupun juga persoalan tentang sertifikasi guru, unas, dan lainnya. “Akan tetapi dibalik itu persoalan pendidikan seharusnya diletakkan pada cetak biru yang memetakan potensi sumber daya manusia dan sumber daya alam NKRI serta kebutuhan untuk membangun bangsa dan negara mendatang,” tambahnya. Nah, dari titik itu harus diperoleh jawaban tentang berapa jumlah dan jenis pendidikan, sekolah yang dibutuhkan. Keinginan untuk memperbanyak jumlah sekolah menengah kejuruan (SMK) ketimbang sekolah menengah atas (SMA) yang digaungkan beberapa tahun lalu, lenyap dengan hinggar bingarnya sertifikasi, sekolah gratis, unas, dan persoalan lainnya yang lahir dan tumbuh terkait dengan dunia pendidikan. Maka, kata mendidik dan mengajar telah dipersepsi dan diimplementasikan sama, sehingga siswa seolah olah robot. Akar kata ajar yang bermuara pada perubahan dari tidak tahu, menjadi tahu bergeser menjadi doktrin atau rumus yang memformat siswa menjadi robot -robot cerdas yang jauh dari moral dan etika, bahkan juga kehilangan modal sosial dan budaya. Lalu dimana landasan UUD 45 yang mengamanatkan agar pendidikan di Indonesia ini wajib mudah di akses dan merata bagi seluruh masyarakat? Sementara itu sekolah mahal, eksklusif, ditambah dengan embel-embel nama asing atau tenaga pengajar asing semakin merajalela dan pasti hanya anak orang kaya saja yang dapat menikmatinya. “Sadar
Pemimpin Perusahaan/Umum : Nyoman Sutiawan Pemimpin Redaksi : Heru Prasetyo Redaktur Pelaksana : Boby Andalan Staf Redaksi : Jemiwi Jero Anggota Redaksi : Heru Prasetyo, Sutiawan, Redika, Sutarya, Boby Andalan, Hana Sutiawati. Denpasar : Triwidiyanti Kresia dan Dien, Badung : Sutarya, Karangasem : Budiasa, Bangli : Budi Krista, Klungkung : Susarjana, Buleleng : Emha Dien Syamsuddin, Jembrana : Komang Darmadi
visual_01.indd 2
atau tidak, suka atau tidak pendidikan telah menjadi etalase bagi perbedaan strata “kelas”. Kaum miskin akan semakin jauh dari urusan tiga layanan dasar negara,” tambahnya. dikatakan pula, rata -rata semua masih berkutat pada isu - isu yang tidak menuntaskan cita -cita negara melalui pencapaian tiga layanan dasar
Maka kata mendidik dan mengajar telah dipersepsi dan diimplementasikan sama, sehingga siswa seolah olah robot. Akar kata ajar yang bermuara pada perubahan dari tidak tahu, menjadi tahu bergeser menjadi doktrin atau rumus yang memformat siswa menjadi robot robot cerdas yang jauh dari moral dan etika, bahkan juga kehilangan modal sosial dan budaya.
tersebut diatas, seperti unas, kurikulum nasional dan sertifikasi. Tiga masalah tersebut menjadi persoalan multi years, artinya tidak dapat tuntas dalam waktu singkat. akibatnya persoalan pendidikan diurus bagaikan menangani proyek dan bukan atas asas kinerja. “Jangan pelaksanaan kurikulum nasional tuntas pada saat kita harus melakukan evaluasi terhadap kurikulum akibat perubahan ilmu pengetahuan dan teknologi ataupun pasar yang begitu cepat,” pesannya Oleh karenanya pendidikan tidak dapat dikelola bagaikan matematik belaka atau dengan peraturan yang tidak masuk akal dan biaya besar, namun perlu juga mempertimbangkan berbagai potensi manusia, yakni guru dan siswa. Sehingga mendatang, akan banyak anak bangsa yang cerdas dan eling (ingat) terhadap alam, sesama, dan keyakinannya.“Dengan begitu, pendidikan nasional itu, akan memegang peranan penting menuju kebangkitan nasional sesungguhnya,”imbuhnya. **
(Komang Tole), Tabanan : Made Nurbawa/Eka Bhuana. Fotografer : Shinta OR, Matsya Deva Nagendra Penerbit : CV Prana Bali Grafika SIUP : 0326/22-09/PK/III/2011 Marketing/Sirkulasi: Santy dan Gede Semadi Alamat Redaksi /Sirkulasi : Jalan Gunung Sari V/88 Denpasar Barat, Telp 0361-482852 Email : metrobali@ymail.com
5/8/2014 10:34:52 AM
3
NI Luh Putu Sugianitri (Mantan Ajudan Bung Karno)
Sedih Kebangkitan
FOTO: VISUAL
Nasional Bagi Ni Luh Putu Sugianitri, mantan ajudan pengantar makanan mantan Presiden RI pertama Bung Karno, Kebangkitan Nasional sekarang ini dirasa sangat kurang gregetnya. Baik itu dari semaraknya peringatan,bagi generasi mudanya, juga banyak pemimpinnya dalam melaksanakan, terlebih dalam mengaktualisasikan pada kehidupan bermasyarakat dan bernegara. “Ya, contoh kecil saja, kadang anakanak sekarang sampai yang sudah dewasa pun nggak begitu hafal, apalagi paham akan hari -hari nasional, kemudian juga dari pola hidup mereka yang sudah banyak cenderung kebaratan–baratan, asing, sehingga melupakan akan jatidirinya sebagai manusia Indonesia seutuhnya,” ungkapnya. Jaman memang telah berubah. Maka tak bisa dibantah bahwa kondisi dan situasi pastinya akan berubah. Namun apabila perubahan itu sampai menggerus akan rasa nasioalisme, dengan indikasi indikasi perubahan pola, hidup diatas, maka inilah yang selalu dikuatirkan. “ Jujur saja sedih sekali dengan kondisi Indonesia sekarang ini. Ya, semoga saja pemimpin kedepan akan bisa mengarahkan kepada ke Indonesian yang sebenar –benarnya seperti harapan para pendiri bangsa dan negara ini,” urainya. Dieranya adalah masa -masa awal kemerdekaan yang penuh dengan semangat perjuangan. Dalam setiap peringatan Hari Kebangkitan Nasional, gelora semangat itu nampak ada. “Aku masih
“Ya, contoh kecil saja, kadang anak-anak sekarang sampai yang sudah dewasa pun nggak begitu hafal, apalagi paham akan hari -hari nasional, kemudian juga dari pola hidup mereka yang sudah banyak cenderung kebaratan– baratan, asing, sehingga melupakan akan jatidirinya sebagai manusia Indonesia seutuhnya,” ungkapnya. ingat sekali ketika kecil, masih duduk di bangku sekolah dasar, saat presiden Soekarno datang ke Bali, kita anak -anak selalu didaulat menyambutnya. Disitu akan muncul aura semangat nasionalismenya yang tinggi, ‘ kenangnya. Kini, ketika Indonesia masih saja belum juga kelihatan ke indonesiaannya, sebab lain juga karena semakin merebaknyaa kasus korupsi. Namun begitu, harapan harus tetap ada, untuk menuju jatidiri, yang porosnya melalui keteladanan para pemimpin, bagaimana menumbuhkan rasa kebangsaan, menjadi kebanggaan sebagai anak Indonesia.“Ini tantangan pemimpin baru,” siratnya. **
SMAN 1 Denpasar
Dalam mengimplementasikan Hari Pendidikan Nasional, untuk menuju Kebangkitan Nasional seutuhnya, SMAN 1 Denpasar melalui kepala sekolahnya, Drs. I Nyoman Purnajaya.MPd akan lebih menggenjot tiga konsep dasar ajaran Ki Hajar Dewantara, yang terkenal itu, yakni “ ing ngarso sung tulodo, ing madyo mbangun karso, tut wuri handayani” (“di depan menjadi teladan, di tengah membangkitkan semangat, dari belakang mendukung”). Melalui keteladanan, dari para pendidik untuk ditanamkan pada siswa -siswinya, mesti harus lebih ditingkatkan. Kemudian juga memberikan semangat tinggi bagi para anak didik, serta memberikan dukungan dari belakang, untuk kesuksesan bagi para generasi penerus ini.” Maka konsep itu akan lebih kita pertajam. Lebih konkretnya, kita akan lebih pertajam lagi dengan sekaligus tentunya akan melaksanakan ajaran itu dengan lebih baik lagi,” papar Purnajaya. Lanjutnya pula, bahwa konsep pendi-
visual_01.indd 3
FOTO: NET
Pacu Konsep Pendidikan Ki Hajar Dewantara
dikan itu mempunyai makna pembentukan karakter diri yang kuat, ditengah arus globalisasi yang dewasa ini semakin menyeruak dalam segala lapisan kehidupan. Terlebih pula dalam kurikulum baru ini dengan kompetensi dari 1 (satu) dan 2 (dua) yang arahnya ialah pada pendidikan karakter, se-
dang kompetensi lll (tiga )dan IV( empat) barulah pada pendidikan akademik dan ketrampilan. “ Untuk itulah kami disini akan lebih mempertajam konsep ajaran Ki Hajar Dewantara , dengan acuan untuk menuju kebangkitan nasional sebenarnya, seutuhnya,” jelasnya.**
Dalam mengimplementasikan Hari Pendidikan Nasional, untuk menuju kebangkitan nasional seutuhnya, SMAN 1 Denpasar melalui kepala sekolahnya, Drs. I Nyoman Purnajaya.MPd akan lebih menggenjot tiga konsep dasar ajaran Ki Hajar Dewantara, yang terkenal itu, yakni “ ing ngarso sung tulodo, ing madyo mbangun karso, tut wuri handayani” (“di depan menjadi teladan, di tengah membangkitkan semangat, dari belakang mendukung”).
5/8/2014 10:34:52 AM
4
REPORTASE
2
Dibalik Pesona S
Alam Jatiluwih
ubak Jatiluwih telah diakui sebagai warisan budaya dunia pada tahun 2012. Namun hingga sejauh ini wisata alam nan indah ini masih menyimpan asa yang belum tersampaikan. Oleh kepala Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB) Bali NTB NTT, Drs Made Purna MSi dikatakan bahwa persoalan yang ada , diantaranya adalah belum optimalnya kerja badan pengelolanya. Ditambahkan pula, Indonesia sebetulnya sudah disarankan oleh UNESCO untuk segera membentuk badan pengelola.” Nah, bila saja saat itu sudah terealisasi tentu situasi akan seperti Taman Ayun yang tahun ini sudah mendapat dana besar,” ungkapnya. Lebih jauh dikatakan, lembaga atau
badan Warisan Budaya Dunia (WBD) belum maksimal bekerja sama dengan lintas kementrian maupun dinas. Misal seperti dengan Dinas PU, dan Dinas Pertanian, kecuali dengan Dinas Kebudayaan. Selanjutnya setiap dinas sendiri juga belum membuat program dan kegiatan agar Jatiluwih bisa ‘hidup’. “Disitu mungkin kendalanya pada soal dana yang belum disepakati. Badan pengelola juga belum diberi dana mandiri,” tambahnya. Maka boleh dikatakan dibalik alam jatiluwih nan indah itu, disayangkan, belum tertatanya dari berbagai segi pengelolaannya. Seperti untuk jalan masuk lokasi yang cukup sempit untuk kendaraan roda empat, dan banyak telah rusak . Juga belum adanya sistem pen-
Wisata Religi di
΄Ͳ;͑ ͑ ͼͿ visual_01.indd 4
gelolaannya, dari penjaga tiket masuk yang terlihat masih ‘malu-malu mematok harga ticketing masuk lokasi ’, serta belum adanya guide dalam menyambut para wisatawan, sebagai destinasi yang telah mendapat predikat warisan budaya dunia. Keindahan alam jatiluwih dengan subaknya yang mempesona, adalah satu tempat wisata alamiah yang sangat luar biasa indah.Wisata alam Jatiluwih, berada di Kabupaten Tabanan kurang lebih berjarak 40 km dari pusat kota Tabanan dan 60 km dari Kota Denpasar. lokasi objek wisata jatiluwih ini berada di daerah pegunungan dengan hawa yang sejuk dan tentunya hamparan teras sering yang sangat indah dengan luas 636 hektar. **
FOTO: VISUAL
Ditambahkan pula, Indonesia sebetulnya sudah disarankan oleh UNESCO, untuk segera membentuk badan pengelola. “ Nah, bila saja saat itu sudah terealisasi, tentu situasinya akan seperti di Taman Ayun yang tahun ini telah mendapat dana besar,” ungkapnya.
K
ota Semarang, Ibukota Jawa Tengah dikenal mempunyai banyak bangunan bersejarah. Satu diantaranya ialah kelenteng Sam Poo Kong, yang terletak di Jl Simongan, yang sekaligus juga sebagai tempat wisata religi. Kelenteng Sam Poo Kong awalnya dikenal oleh penduduk setempat dengan sebutan Gedung Batu. Puncak keramaian wisata religi satu ini adalah pada sekitar bulan Juli dan Agustus, sebagai peringatan kedatangan laksamana Ceng He ( Ceng Ho ) pada tahun 1416 itu, yang belakangan dinamai sebagai Sam Poo Kong. Oleh Suratman, guide kelenteng Sam Po Kong yang ditemui Visual belum lama ini berceritra singkat tentang berdirinya kelenteng yang terletak di Jl Simongan Semarang ini. “ Awalnya dari kedatangan utusan dari negeri Tiongkok dibawah pimpinan laksaman Ceng Ho dengan armada kapalnya atas perintah kaisar pada dinasti Ming, pertama pada tahun 1405, setelah sebelumnya sudah pernah menjelajajahi berbagai negara di dunia. Pada kedatangan yang kedua di sini pada tahun 1416, dengan misi hubungan persahabatan, perdagangan, seni dan budaya dan juga agama. Saat itu kapal sang laksamana kandas di pantai Simongan
5/8/2014 10:34:52 AM
5
ini. Tempat dimana kita berdiri ini dulunya pantai Simongan. Kemudian sampai menjadi daratan, lalu dinamai Simongan juga. Mereka lalu tinggal di sini sampai meninggal dunia,” jelas Suratman. Ratusan tahun kemudian pada tahun 1724, untuk menghormati sang laksamana, orang orang keturunan tionghoa disekitar kemudian mendirikan kelenteng dengan dinamai Sam Poo Kong. “ Sam Poo Kong, Itu sebutan sebagai seorang kakek (Cina, engkong, red) yang sangat dihormati,” sela
Suratman. Ditambahkan, kapal sang laksamana saat ini sudah hancur, sedangkan jangkar kapal tersebut masih ada di dalam komplek kelenteng yang sekarang ini dengan keseluruhan luas ada 3,2 hektar. Menariknya, bangunan yang ada tidak saja berupa khas bangunan kelenteng namun juga ada Jawa, serta symbol agama, selain Khong Hu Cu. “Bentuk bangunan di kawasan kelenteng ini adalah kombinasi antara budaya tionghoa, jawa dan juga agama antara konghucu dan islam. Maka di kelenteng satu ini banyak terlihat wisatawan dari bebagai etnis dan agama. Jadi bisa juga dikatakan bahwa, kelenteng Sam Poo Kong yang dikenal sebagai satu dari bangunan sejarah yang ada di kota tua Semarang, adalah juga perwujudan kebersamaan antar etnis, agama, dan budaya,” tambah Suratman. **
LAKSMI, PRAKTISI PARIWISATA
FOTO: DOK PRIBDI
Menengok ‘kekuatan’ Pariwisata Bangkok
visual_01.indd 5
Menyimak ‘kekuatan’ pariwisata Bangkok (Thailand,red) ada beberapa hal yang kiranya dapat diadopsi di Bali. “ Kekuatan Thailand dari segi pariwisatanya, pada intinya ialah dari Kolaborasi/sinergi antara Kebudayaan dan Pariwisata yang berjalan dengan baik. Dengan didukung sepenuhnya pula oleh Pemerintah (kerajaan Thailand) yang berkomitmen tentang hal tersebut,” ujar seorang praktisi pariwisata, Dewa Ayu Laksmi. Contoh yang dilihatnya belum lama ini di negara Gajah Putih, ialah pada kawasan wisata Pataya yang sekarang ini sudah bisa dikatakan tereksploitasi.” Sedangkan destinasi kuat lainnya seperti di Phuket, masih lebih baik dari Pataya namun juga sudah terbilang hampi rusak pula, hal ini akibat dari mass tourism “ ungkapnya. Nah, langkah Pemerintah Kerajaan (yang bersifat absolut) menyikapi hal itu segera mengambil kebijakan protektif terhadap daerah lain agar tidak terjadi kerusakan seperti 2 (dua) destinasi tersebut, ialah dengan sangat memproteksi daerah lainnya seperti Chiang Mai dan Chiang Rai, dan Doitung sebagai kawasan yang ramah lingkungan, mahal, elit. “ Disanalah benar-benar dikelola dan ditata pertimbangan dari segala perspektif. Integrasi semua pihak yang berkompeten pada pariwisata. Termasuk pengelolaan taman –taman dan ruang terbuka yang tertata apik, hijau asri dan sejuk Dari contoh sekilas itu, sebenarnya di Bali, bisa belajar dan melaksanakan hal tersebut. Seperti misal contoh untuk di Bali selatan, dimana pembangunan penunjang pariwisata sudah tidak terkendali, maka daerah/kabupaten lain jangan dieksploitasi seperti itu lagi ( Bali Selatan, red ). “ Nah, kita sebenarnya lebih kaya dengan keragaman, dari sisi seni budaya, juga epos sejarah kepahlawanan. Semua itu bisa kita kemas dengan baik untuk pariwisata. Sedangkan Thailand negara yang tidak pernah dijajah, notabene otomatis tidak punya pahlawan, namun mereka bisa mengemas kreativitas lain untuk daya tarik pariwisatanya,” urainya. Maka sekarang yang diperlukan - sekali lagi - adalah kerja sama yang lebih intens antara pemerintah (sebagai pengambil kebijakan) dengan instansi terkait, juga seniman, dan kaitannya, untuk juga meningkatkan
FOTO: VISUAL
FOTO: VISUAL
“Bentuk bangunan di kawasan kelenteng ini adalah kombinasi antara budaya tionghoa, jawa dan juga agama antara konghucu dan islam. Maka di kelenteng satu ini banyak terlihat wisatawan dari bebagai etnis dan agama. Jadi bisa juga dikatakan bahwa, kelenteng Sam Poo Kong yang dikenal sebagai satu dari bangunan sejarah yang ada di kota tua Semarang, adalah juga perwujudan kebersamaan antar etnis, agama, dan budaya,” tambah Suratman.
KETUT TENANG:
Cinta Seni, Rejeki Datang Sendiri Kecintaanya kepada dunia seni bagi seorang, Ketut Tenang, seniman sekaligus produser rekaman, juga seorang pengusaha itu kiranya patut diapresiasi. Maka dari tekadnya yang sudah bulat, ia akan terus berusaha menggairahkan dunia seni di Bali. Dari rekaman lagu -lagu Bali, dan juga membuat sinetron yang selama ini telah ia lakukan pula.” Untuk peredaran lagu Bali, mungkin pasar sedang sepi, namun kita akan terus berusaha menggairahkan kembali,” jelasnya. Nah, bentuk suntikan gairah itu ialah dengan membuat album lagu lagu berbahasa Bali yang dalam beberapa bulan ini akan segera beredar dipasaran. Ketut Tenang kembali akan merilis album rekamannya yang keempat dalam bentuk VCD dan semuanya berisi video klip. “ Klip dibuat oleh Dodik Kori Agung dan aransemennya oleh Dek Artha. Album itu berisi sembilan lagu yang semuanya berisi tentang syair cinta,” tambahnya. Ketut Tenang sebagai vocalis dalam album itu tidak sendiri, namun juga bersama putranya Bayu. Dari sembilan lagu yang ada diantaranya berjudul, ‘Perlu Iluh’,’ Cuek Gen Luh’, ‘Saya Tresna’ Pinme’ Tulolit’. Kemudian dalam waktu dekat ini, Ketut Tenang juga akan membuat sinetron dalam bentuk FTV. Ditanya bagaimana dengan profit yang akan didapat dari produksi sinetron yang biasanya memakan dana besar itu ? Ia menjawab dari sponsor dan kerjasama dengan lainnya. “ Selebihnya pula, saya selalu lebih mengedepankan kecintaanya saya kepada seni, soal rejeki, profit saya percaya nanti akan datang sendiri , “ ungkapnya.**
mutu SDM yang ada. “ Sebab sejauh ini dari sudut pariwisata, kita belum mampu menjadi price maker (baru price taker), kita masih tergantung harga pada mereka, bukan kita yang menentukan harga kita pada mereka (wisatawan, red). Sedangkan di Thailand soal Price Maker, mereka sudah mampu, “ jelas Laksmi. Yang juga sebagai Kasi Dokumentasi dan Informasi Taman Budaya. ** “ Kita sebenarnya lebih kaya dengan keragaman, dari sisi seni budaya, juga epos sejarah kepahlawanan. Semua itu bisa kita kemas dengan baik untuk pariwisata. Sedangkan Thailand negara yang tidak pernah dijajah, notabene otomatis tidak punya pahlawan, namun mereka bisa mengemas kreativitas lain untuk daya tarik pariwisatanya,” ujarnya.
5/8/2014 10:34:55 AM
6
REPORTASE
Leo Kristi musisi kawakan yang eksis mengusung music konser rakyat, masih tetap laku dipanggung musik diantara membludaknya group music muda. Kabar baru dari musisi asal Surabaya ini, akan segera merekam album baru berisi lagu -lagunya dari awal karirnya hingga sekarang dengan didukung oleh music orchestra serta para musisi beken di Kota Gudeg Yogyakarta. “ Antara lain oleh dosen dari UGM Yogya,” jelasnya ketika dihubungi pertelepon belum lama ini. Leo Kristi, lewat lagu -lagu khasnya seperti ‘Gulagalugu Suara Nelayan’,’ Tanah Merdeka’, ‘ Solus Agrety Supreme Lexes’ , ‘Salam Dari Desa’ dan masih banyak lagi itu kini lebih banyak tinggal di Bandung, Jawa Barat. Muncul sekitar tahun 1975, sampai sekarang, tetap mampu bertahan dengan
segudang fans fanatiknya, serta masih laku dijual dipasaran musik Indonesia. Seperti belum lama ini, pemilik nama lengkap Leo Imam Soekarno, tampil lengkap satu group di acara HUT Konferensi Asia Afrika di Kota Kembang, Bandung. “ Senang bisa kembali jumpa fans tidak saja di Bandung, namun juga Kota lain,” jelasnya. Leo Kristi, sosok yang mengingatkan akan tampilan yang lain daripada yang lain. Dengan sering memakai baret serta menyandang gitar dipunggung selain gitar yang ia mainkan, disertai suara yang menggelora, ditambah acting teatrikalnya yang memukau, adalah sosok Leo Kristi yang tidak asing lagi dieranya. “ Salam sejahtera untuk semua krama Bali, saya senang datang ke Bali, dan selalu akan datang ke Bali,“ ujarnya. **
FOTO: VISUAL
Leo Kristi Masih ‘Sakti ’
3
Pendekar Hukum Bersenjata Syukur
FOTO: NET
Dr. Simon Nahak S.H.MH, advokat beken dari Bali ini tidak saja menggandalkan keilmuannya dalam setiap tugas yang ada. Bahwa ia juga punya senjata lain saat sebagai seorang advokat dalam setiap membela kliennya.” Pertama sebagai penganut agama Khatolik saya mohon bimbingan Tuhan Yesus. Selanjutnya apapun hasilnya saya selalu harus bersyukur kepada Nya, maka senjata saya selalu bersyukur,” jelasnya. Ditambahkaan, rasa bersyukur adalah senjata yang ampuh, yang tidak bisa dipaparkan secara realitas, maupun kasat mata. Maka apa yang selama ini pegang adalah motto hidupnya, yang selalu bersukur kepada Tuhan Yesus. Bahwa yang terbaiklah yang selalu diharapkan, namun semua berpulang kepadaNya. (double ) ” Berterima kasih atas kebesarannya, yang selalu membimbing dalam setiap waktu, bahkan setiap detik. Selalu bersukur dari apa yang ada, dan kita dapatkan. Apapun sekecil dari bentuk keberhasilan itu, hingga sebesar apapun kesuksesan itu,” selanya. Pada moment besar seperti Natal, Tahun Baru, misalnya, tentu ada evaluasi diri. “ Karena sebagai seorang manusia yang selalu dalam ketidak kesempurnaan. Kesempurnaan hanya milik Tuhan. Tugas kita sebagai manusia adalah berusaha berbuat baik. Untuk itu maka sekali lagi, perlu kita tanamkan adalah rasa cinta kasih kepada sesama. Bahwa hidup kita manusia selalu dalam kebersamaan, berdampingan, artinya mesti bisa bersinergi satu sama lainnya tidak terkecuali,” pesannya.**
BALAI PELESTARIAN NILAI BUDAYA BALI - NTB - NTT
King Music Record
Mengucapkan Selamat & Sukses
Mengucapkan Selamat & Sukses
Atas Terbitnya
atas Terbitnya
Tabloid
VISUAL DRS. I MADE PURNA, M.SI Kepala
DEWAN PENDIDIKAN KOTA DENPASAR
Mengucapkan Selamat & Sukses
Mengucapkan Selamat & Sukses
TAMAN BUDAYA DENPASAR Mengucapkan Selamat & Sukses
Atas Terbitnya
Atas Terbitnya
visual_01.indd 6
VISUAL KETUT TENANG Direktur
SMP 3 DENPASAR
Tabloid
Tabloid
Tabloid
Atas Terbitnya Tabloid
VISUAL
VISUAL
VISUAL
Wayan Murdana, S.Pd, M.Psi Kepala Sekolah
Dr. Ir. Putu Rumawan Salain, M.Si Kepala
Drs. Ketut Mantara Gandhi, M.Si Kepala
5/8/2014 10:34:57 AM
REPORTASE
7
4
Piala Dunia Sepakbola Brasil 2014
Pertempuran Seru Para ‘Penguasa’ dan ‘Pemberontak’
FOTO: NET
Timnas Spanyol
DAFTAR JUARA PIALA DUNIA
DARI TAHUN KE TAHUN: 1930 Uruguay 1934 Italia 1938 Italia 1942 ditiadakan karena perang dunia II 1946 ditiadakan karena perang dunia II 1950 Uruguay 1954 Jerman Barat 1958 Brazil 1962 Brazil FOTO: NET
Sudah delapan negara yang telah mampu meraih piala dunia dari satu kali, dua, tiga,empat,hingga lima kali. Maka mereka layak disebut sebagai jawarajawara ‘penguasa’ piala dunia sepakbola. Sementara begitu banyak negara peserta yang belum pernah meraih piala bergengsi itu yang tentu sangat berambisi menjadi juara diperebutan piala dunia sepakbola Brasil 2014 . Maka disetiap gelaran olahraga paling akbar di jagad ini, akan bisa disaksikan, perebutan kekuasaan baik antara para ‘penguasa’ (langganan piala dunia) dan para ‘pemberontak’ (negara yang belum pernah juara).
Timnas Belanda
Sebut dulu perebutan kekuasaan antara para ‘penguasa’. Dari Brasil (lima kali juara), Italia (empat kali), Jerman Barat (tiga kali), Uruguay (dua kali) Argentina (dua kali), Inggris,Perancis dan Spanyol (satu kali). Nah, mereka adalah jawara sepakbola dunia yang satu sama lainnya punya kans sama untuk saling mengkudeta. Sedang peluang besar kali ini memang ada di Brasil, sebagai tuan rumah, namun
1966 Inggris 1970 Brazil 1974 Jerman Barat
itu bukan jaminan 100 persen (mengingat moment tahun 1950, saat Brasil tuan rumah digulingkan oleh Uruguay). Beralih, para ‘pemberontak’. Urutan pertama adalah, Belanda. Negara yang dijuluki juara tanpa mahkota’ karena seringnya menjadi runner up dan belum pernah juara, Nah, pada moment ini, pasukan oranye jelas akan menuntaskan obsesinya untuk menumbangkan para ‘penguasa’. Urutan selanjutnya
adalah para ‘pemberontak kuda hitam’ yang juga punya peluang untuk menggulingkan kekuasaan para ‘diktator’ sepakbola dunia. Hanya, yang biasa terjadi, para ‘pemberontak’ kelas ‘kuda hitam’ ini tumbang saat sudah hampir ada di dekat dengan garis finis. Nah, mari kita tunggu, apakah akan muncul juara dari ‘pemberontak’, atau masih saja bercokol ‘penguasa’ lama dengan segala kedigdayaannya.
1978 Argentina 1982 Italia 1986 Argentina 1990 Jerman Barat 1994 Brazil 1998 Prancis 2002 Brazil 2006 Italia 2010 Spanyol 2014 ...**
BMW Motorrad hadir di Bali. Acaranya sendiri dimulai pada Grand Opening Showroom yang beralamat di Jln. Raya By Pass Ngurah Rai No.3 Simpang Dewaruci Kuta, Badung yang dilaksanakan pada Jumat (11/4). Hadir dalam kesempatan itu, Kapolda Bali Irjen Pol. Drs. A. J. Benny Mokalu, S.H, Ketua Umum IMI (ikatan Mobil dan Motor Indonesia) Bali I Nyoman Seniweca, Ring Of Fire Youk Tanzil, BMW AG Sales Area Manager Asia Pacific, Middle East & Africa, Ferdinand Van Schau, Official BMW France Stunt Rider - Big Jim, Super Car Bali (Ferrari & Lamborgini Community Bali), serta banyak club motor besar Bali maupun Indonesia (Medan, Jawa Tengah, Jawa Timur dan Jakarta). Kegiatan itu berlangsung meriah dengan ditandai sirine varian motor besar BMW serta penandatangan prasasti oleh Kapolda Bali. Pada sambutannya Kapolda Bali menekankan tentang sangat pentingnya kesadaran
visual_01.indd 7
FOTO: DOK PRIBADI
“Bavarian Triangle featuring Big Jim - BMW Motorrad Bali Hadir di Bali
berkendara secara baik.” Karena setiap orang merupakan pelopor dan duta keselamatan berkendara,” tegasnya. Pada sore harinya,acara dirangkai dengan convoy tertib dan freestyle demo oleh Big Jim serta Zumba Fitness Party oleh Kusitimo Halemai - International Instructur.Digelar di Lapangan Bajra Sandhi Renon, melibatkan masyarakat
umum yang antusias menyaksikan kemahiran Big Jim mengendarai BMW Motorrad dalam berbagai aksi dan gaya. Acara berlanjut hingga Sabtu, 12 April 2014 di showroom BMW Motorrad Bali, dengan mengkhususkan pada Launching Product terbaru yang dijuluki “Bavarian Triangle” yaitu R 1200 GS Adventure K51, S 1000 R dan tipe unggulan R
nineT. Acara ini menyedot perhatian puluhan club motor besar seperti Geser, Bad Lander, Gold Wood, Ubud Chapter, HMT, Rascal, Ladies Biker, plus dikemas dengan video mapping khusus yang semakin membuat Owner, Duncan dan Ibu Tati serta GM BMW Mottorad Indonesia Jusuf Nathan bangga dan mengapresiasi acara yang dipandu oleh Master of Ceremoni (MC) yang juga alumni Putri Bali, Je Jero yang berlangsung marathon selama dua hari ini. Keramahan masyarakat Bali, dan kesiapannya menyambut perkembangan ekonomi dan pariwisata alam, budaya, serta teknologi dunia telah membuat merk kelas atas BMW, memilih Bali sebagai Main Dealer Motorrad. Sedangkan kota lain seperti Medan Jakarta - Semarang - Bandung - Surabaya sebagai Dealer Cabang. Hal ini tentunya boleh membuat masyarakat Bali bangga dan tetap menjaga keamanan kenyamanannya sehingga semakin kondusif untuk kemajuan. -Bien09-
5/8/2014 10:34:57 AM
Siapa Presiden Indonesia 2014…??? Dari Utak Atik Gatuk Ramalan Joyoboyo
S
iapa presiden pilihan anda, dari nama tokoh - tokoh beken seperti Jokowi, Prabowo Subianto, Abu Rizal Bakri, Mahfud MD, Wiranto, Surya Paloh, serta nama lainnya, dalam Pilpres (Pemilihan Presiden) yang sebentar lagi akan digelar. Nah, disimak dari Utak- Utik Gatuk (meramal) soal presiden lewat ramalan pujangga besar Jayabaya, yakni NO TO NO GO RO, ternyata nama-nama calon kuat sang presiden mendatang ini tidak ada ? Lalu…???
Menurut ramalan Joyoboyo yang ditulis oleh Ranggowarsito pujangga keraton Surakarta di jamannya, tetenger atau inisial nama para presiden Indonesia adalah NO, TO, NO, GO, RO.
LAPORAN COVER
Pertanyaannya adalah, bila saja huruf nama belakang sang presiden tidak cocok, maka jabatannya tidak sampai lima tahun saja (satu periode), apalagi sampai dua kali (peraturan sekarang ini). Nah, sebaliknya yang cocok dengan dua huruf belakang nama sang presiden, maka setidakanya bisa memerintah sampai lima tahun (hingga 8 kali oleh Presiden Soeharto, red) sebelum ada peraturan masa jabatan presiden selama dua periode. Maka benarkah, cocokkah ramalan peramal ulung Joyoboyo ini yang jelas jauh sebelum Indonesi merdeka? Kita coba menyimak kembali : NO, pertama adalah Presiden SoekarNO (menjabat sebagai presiden selama 20 tahun (1945 -1967). Berlanjut TO, yang adalah SoeharTO (bahkan menjabat sebagai kepala negara sampai 32 tahun (1967 – 1998). Dan NO, pasnya adalah Susilo Bambang YudhoyoNO. Lalu, bagaimana dengan presiden sebelumnya yakni BJ Habiie pengganti Soeharto ? Disini, bisa dikatakan bahwa presiden yang ahli tehnik lulusan Jerman itu, dari segi nama lengkap dan akhiran NO tidak ada, Simak saja nama aslinya ialah, Baharuddin Jusuf
Megawati Soekarnoputri, inipun juga tidak ada kesamaan dengan dua huruf, NO, maka putri Bung Karno inipun tak lama menjabat sebagai presiden (20012003). Nah, barulah muncul nama Susilo Bambang YudhoyoNO (SBY), yang ‘pas’ dengan nama huruf akhir (NO). Bukti sementara ini, jabatan presiden SBY sejauh ini sudah rampung lima tahun pertama, dan tampaknya akan selesai pula sampai tahun kedua (2014) lepas dari segala permasalahan yang ada. Berikut ‘jatah’ nama presiden menyusul (2014) adalah GO. Bila benar demikian utak atik gatuk ini, pertama siapa pemilik nama capres dengan akhiran GO ? Bila namanya tidak pas, (bukannya tidak mungkin menjadi presiden) namun mungkin ‘nasibnya’ akan sama dengan presiden -presiden yang diatas tadi? Bila pas, setidaknya adalah juga bisa merampungkan masa jabatannya, bisa sekali ataupun dua kali (ketentuan masa jabatan presiden sekarang). Sedang soal berhasil memimpin bangsa dan negara itu juga masih menjadi pertanyaan, bila semua itu mengacu kepada yang sudah terjadi…. **
(BJ) Habibie… Tidak cocok dengan akhiran NO…Lalu? Ternyata ia tidak lama menjabat sebagai presiden (hanya 1 tahun 1998 – 1999). Kemudian juga penggantinya, Gus Dur dengan nama aslinya Abdurrahman Wahid, tidak cocok dengan NO, yang ternyata pula negarawan satu ini juga tidak bisa bertahan sebagai kepala Negara selama lima tahun saja (1999 - 2001). Menyusul
DILEMA PENDIDIKAN SUKU BAJAU (BAJO)
Menunggu Pemerintah dan ‘Muslimah’
visual_01.indd 8
mendapatkan apa yang seharusnya didapat. Anak tidak mendapatkan pelajaran yang memadai, guru tidak berperan sebagai guru yang baik.Ironis lagi, konon anak-anak Bajau masih banyak yang tidak bisa berbahasa Indonesia ( baru bisa bahasa Bajau,red). Dan guru-guru yang berasal dari Kaledupa tidak begitu menguasai bahasa Bajau. Anak-anak yang berumuran dibawah 12 tahun ini tentu saja mengira menjadi nelayan saja cukup, menjadi perenang handal dan menangkap ikan adalah sumber utama hidup. Maka kelas dianggap membosankan, dan pendidikan adalah tidak ada gunanya. Memperparah masalah, orang tua anakanak ini yang juga tak berpendidikan, sama sekali, serta tidak memberi sumbangsih. Mereka kebanyakan belum sadar akan pendidikan, tidak sama sekali 10.00.”. membantu dengan memberi dorongan Komentar juga ada dari seorang guru lebih ke anak-anak mereka. Klop, jadilah, muda yang asli Bajau, namanya Nela ( 28 sistem pendidikan yang amburadul dan tahun ). Nela, cukup beruntung karena tidak jalan kemana-mana. ayahnya juga adalah guru dan mendorong Dimana peran pemerintah yang anak-anaknya untuk sekolah, plus dibantu setidaknya harus mengawasi jalannya seorang warga Belanda yang sempat pendidikan ini? Bukankah anak suku berkunjung. Jadilah Nela mendapatkan Bajau ini juga anak-anak Indonesia? pendidikan sampai Universitas dan Bukankah anak-anak yang mimisan kembali ke Sampela untuk menjadi guru. dan selalu bertelanjang dada ini juga “Aduh susah sekali jadi guru disini. adalah asset besar bangsa ini? Idealnya Terus terang saja, anak-anak tidak betah guru-guru di Kaledupa ini tidak melihat di kelas. Mereka kan anak nelayan, suka sebelah mata pada mereka, sebagai anak kebebasan, sukanya main dan berenang di kelas dua dan tidak butuh pendidikan. depan rumah, mana betah disuruh duduk Mestinya sebagai guru mereka tulus selama beberapa jam di kelas. Belum lagi mendidik. Idealnya orang tua murid kemudian gurunya sudah harus pulang juga lebih mendorong anak-anaknya karena Ikan yang mereka beli sudah mulai untuk bersekolah dan mengenyam kering, entah mana yang benar. Namun pendidikan. Idealnya Pemerintah turun tentu saja ini win-win solution buat tangan dan memberikan tindakan. keduanya. Anak-anak ini pulang dengan Idealnya ? Sayangnya dunia memang senang hati, guru pulang awal dengan jauh dari kata Ideal, dan khawatirnya, membawa Ikan (yang masih segar) untuk kalau faktanya, stok ‘Ibu Muslimah – lauk hari ini.” bebernya. Ibu Muslimah’ di Indonesia semakin Alhasil, tak satupun dari mereka berkurang sekarang ini… ** FOTO: SHINTA OR
Adalah Suku Bajau (Bajo), di Sulawesi Tenggara (Sulteng) yang saat ini sangat membutuhkan kehadiran nyata, kisah dalam film populer Laskar Pelangi dengan kisah sosok Ibu Muslimah yang sangat mendedikasikan seluruh hidupnya untuk anak-anak didikannya. Pasalnya, anakanak setingkat sekolah dasar Suku Bajau yang tepatnya berada di Desa Sama Bahari atau Sampela, di kepulauan Wakatobi, Sulteng, sangat dilematis sekali dalam menerima pendidikan di sekolah. Inilah laporan, reporter Visual dari Wakatobi, Sulteng. Suku Bajau, awalnya dikenal dengan kehidupan nomadennya dan hidup di atas laut. Berpindah tempat dengan menggunakan perahunya, dan berprofesi sebagai nelayan. Dalam 50 tahun terakhir, mereka mulai menetap, menggunakan batu karang sebagai pondasi rumah, dan membangun rumahnya dengan tiang panjang, meski masih saja ‘bermukim’ di laut sebagai lahannya. Mereka tersebar luas di Indonesia, dan sebagain besar di wilayah Sulawesi. Salah satunya adalah Desa Sama Bahari atau Sampela, di kepulauan Wakatobi, Sulteng. Desa yang berpenduduk 400 KK dan kurang lebih ada 1700 jiwa ini, terletak 800 m atau 10 menit berperahu dari daratan Kaledupa, salah satu pulau di Wakatobi,singkatan dari pulau,Wangi-Wangi,Kaledupa, Tomia dan Binongko. Melihat cermin luas pendidikan Indonesia sekarang ini, layak kalau menengok ke daerahdaerah pelosok dan terpencil yang masih tak terhitung jumlahnya di Indonesia. Salah satunya adalah Desa Sampela yang mempunyai 2 (dua) Sekolah Dasar. 1 Negeri dan 1 Madrasah. Anak-anak Suku Bajau berangkat sekolah pagi dari rumahnya.Sedang masuk sekolah dimulai pukul 08.00 pagi (namun, baru satu jam kemudian guru
baru datang). Maka kesempatan luang itu dipakai oleh, yang namanya anak anak, bermain dengan segala keceriaannya.Dan, saat kemudian guru datang, pelajaran di sekolah itu ternyata hanya, satu jam saja, Nah, oleh seorang bernama Suhaele (Mantan Kepala Desa selama kurang lebih 15 tahun yang baru saja lengser tahun lalu) diceriterakan, “Yang saya tahu hampir semuapenduduk Kaledupa memandang suku Bajau adalah kelas dua dan tidak patut diperhitungkan. Sayangnya hampir semua guru di sekolah ini berasal dari daratan Kaledupa. Begitu sampai di desa ini dengan menggunakan perahu, mereka tidak langsung ke sekolah melainkan ke rumah penduduk, untuk apalagi, bila tidak untuk berbelanja Ikan. Mbak, cek saja sendiri setiap pagi..”dikatakan lagi,” Selain harganya lebih murah, ikan ini juga ikan segar. Datang terlambat-lah mereka sampai di kelas. Ironisnya lagi, tak sampai 1 jam di kelas, mereka cenderung membubarkan kelas. Jadilah setiap hari sekolah sudah sepi meski masih pukul
5/8/2014 10:34:57 AM