Skip to main content

EKSPRESI

Page 1

00

Rp. 10.0

# 40

I/ Tahun II 011 2 R E B O T OK

m a g a z i n e

SASTRAWAN KESEHATAN Haid‌ Alamak Sakitnya

SEKOLAH

Andika

Dewi Tertusuk Angka Matematika


"Sayonara" Jerawat, Fleks Hitam, Kulit Kusam Paket perawatan komprehensif Jerawat Fleks hitam Kulit kusam

Krem

Injeksi Oral

Galvanic treatment Bahan alami, aman, harga terjangkau PRAKTEK : Senin-Jumat Pk. 15.00-19.00 WITA Jl. Seroja Gg. Nyuh Gading no. 9 Denpasar

Appointment: 081338373997; ossyrisa@yahoo.com


DAFTAR ISI EKSPRESI #40

Hal.

SOEMPAH PEMOEDA

4

CERITA UTAMA

PEMBICARAAN DI SEBUAH LOSMEN Hal.

Hal.

6

Hal.

8

16

GURU PUNYA KARYA

SEKOLAHKU SMK Pariwisata TP 45 Negara Hal.

PROFIL

Ratna Dwijayanti Bian

Warta Pendidikan Hal.

12

Hal.

18 & 23

ADVERTORIAL

10

Hal.

Pertama : - KAMI POETRA DAN POETRI INDONESIA MENGAKOE BERTOEMPAH DARAH JANG SATOE, TANAH AIR INDONESIA Kedua : - KAMI POETRA DAN POETRI INDONESIA, MENGAKOE BERBANGSA JANG SATOE, BANGSA INDONESIA Ketiga : - KAMI POETRA DAN POETRI INDONESIA MENGJOENJOENG BAHASA PERSATOEAN, BAHASA INDONESIA

19-22

Djakarta, 28 Oktober 1928

Hal.

31

COVER STORY 00

Rp. 10.0

# 40

/ Tahun III R 2011 OKTOBE

m a g a z i n e

SASTRAWAN

Hal.

32

PUISI

KESEHATAN Haid‌ Alamak Sakitnya

SEKOLAH

Andika Cover : masto kukuh

ANDIKA DEWI

Dewi Tertusuk Angka Matematika

Hal.

38

BASA BASI m a g a z i n e

magz team

ISSN: 2085-7373, Pemimpin Redaksi: I Gusti Putu Bawa Samar Gantang, Redaktur Pelaksana: AG Pramono, Redaksi: Marthin Kilimandu, Biro Jembrana: Ni Putu Yuli Astari, HP 085 739 134 433, Biro Karangasem: Wayan Arthawa, IDK Raka Kusuma, IBW Widiasa Keniten, Pemimpin Perusahaan: Made Rina, Keuangan: Ni Ketut Yeti Astuti, Alamat Redaksi: Jln Diwang Dangin No 54, Br Lodalang, Kukuh, Marga, Tabanan, Bali 82181 Telp (0361) 7849103, Biro Mataram: DG Kumarsana, Jl. Saturnus II/84, Tegalwaru, Labuapi, Lombok Barat, e-mail: expresikansaja@yahoo.com Redaksi menerima tulisan dalam bentuk puisi, esai, prosa, cerpen, catatan budaya serta artikel seputar dunia pendidikan serta dunia remaja Kritik dan saran bisa dilayangkan ke email: expresikansaja@yahoo.com atau SMS ke 085 739 134 433


Cerita Utama

Cerpen Irma Agryanti

Akhirnya kuputuskan untuk menempati sebuah kamar losmen kelas melati selama kunjunganku di kota X. Sengaja kusewa untuk mengirit biaya. Memang beberapa kawan lama yang tinggal di kota ini sempat menawarkanku untuk tinggal di kediaman mereka, tetapi dengan alasan tidak ingin merepotkan, aku menolak. Toh hanya beberapa hari saja. Lagipula rasanya akan lebih mudah untuk menyelesaikan pekerjaan-pekerjaanku nantinya.

S

4

m a g a z i n e

UDAH dua hari lamanya aku meliput berita, begitu sibuk sampai tidak sempat kemana-mana dan ini malam terakhirku berada di kota X. Besok, pagipagi benar aku harus mengantri tiket di stasiun. Pulang dan menyerahkan hasil liputan ke meja redaksi. Baru saja aku menyelesaikan pekerjaanku ketika angin malam masuk melalui celah-celah kaca yang pinggirannya mulai berkarat. Di meja kertas-kertas berserakan, kubiarkan begitu saja. Kuputar tubuhku ke belakang, bangkit dari kursi, dan merebahkan tubuh di atas ranjang. Hampir tengah malam dan aku tidak mengantuk sama sekali. Kupandangi dinding-dinding yang catnya mulai mengelupas, langit-langit kamar, semua yang ada di ruangan itu satu per satu, berharap mataku kelelahan kemudian tertidur dengan sendirinya.

waktu aku lupa pada namanya. Belakangan baru aku menyadari, ternyata nama perempuan itu memiliki arti yang tidak biasa. Seperti nama perempuan Yunani pada perang Troya yang terkenal paling cantik. Putri Zeus dan isterinya Leda yang menetas dari sebutir telur angsa. Aku jadi membayangkan sosoknya. Kulitnya yang putih bersih, lembut seperti bulu-bulu angsa. Juga lehernya yang jenjang. Aduhai, begitu anggunkah perempuan yang ada di ujung teleponku ini? Kusebutkan pula namaku. Nama yang lain. Tapi dia malah tertawa. Katanya namaku terdengar lucu. Dalam hati aku ikut tertawa juga, tak tahu dari mana nama itu terlontar begitu saja dari mulutku. Perempuan itu, tentu ia tak menyadarinya. Di luar kabut tipis mulai turun, sementara aku masih terjaga mendengar suara

Sial, malam itu aku benar-benar tidak bisa tidur. Tibatiba aku menjadi melankolis. Seperti ada sesuatu yang menghinggapi perasaanku, tapi entah aku pun tak tahu. Ponselku berdering. Tidak ada nama, hanya nomor asing tertera di layar. Mati. Ponsel berdering lagi, kali ini lebih lama. Barangkali telepon penting. Kuangkat. Rupa-rupanya telepon nyasar. Begitulah kemudian aku berkenalan dengannya. “Lantas ini siapa?” suaranya terdengar kebingungan. “Bukannya kau yang menelpon?” “Maksudku, aku ingin bicara dengan seseorang.” “Seseorang siapa?” “Siapa sajalah.” “Sebenarnya ini siapa? Aku jadi bingung.” “Bukan siapa-siapa, cuma seseorang yang ingin membicarakan hidupnya.” “Sekedar bicara aku juga bisa,” sahutku. Dan selanjutnya pembicaraan-pembicaraan kami berlangsung begitu saja. Ia kemudian mulai bercerita. Namanya Helena. Begitu yang ia sebutkan di awal-awal pembicaraan kami. Aku mencatatnya baik-baik dalam ingatanku sebab bagiku namanya terlampau biasa. Tentu aku tidak bermaksud menyinggung perasaannya sewaktu-

di ujung telepon. Aku bangun dan duduk di sisi ranjang. Kunyalakan rokok. Tinggal beberapa batang lagi, cukuplah sampai besok pagi. Sebentar aku menggumam sendiri, kemudian kudengarkan lagi suara perempuan di seberang sana. “Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan,” katanya. “Kenapa?” “Aku tak pernah menduga malam bisa begitu membara.” “Banyak hal yang tidak pernah kita duga bisa terjadi.” “Sepertinya benar. Hidup menjadi makin tidak wajar saja.” Malam itu Helena menumpahkan segenap perasaannya. Aku tak paham mengapa seketika dengan lancar ia mengeluarkan isi hatinya padaku. Pada laki-laki asing yang ia sendiri pun tak tahu macam apa. Kupikir ia butuh seorang teman. Perempuan itu benar-benar terdengar nelangsa. Dan aku tak banyak bicara, cukup mendengarkannya saja. Aku tak ingin mendebatnya, tentu bukan itu yang ia inginkan saat ini. Ia butuh untuk didengar. Entah kenapa aku tidak keberatan sama sekali. Barangkali karena aku tak kuasa mendengar suaranya

OKTOBER 2011


yang mendesah di telingaku. Suaranya yang gemetar dibawa angin malam. “Apakah kita perlu mempertahankan hal-hal yang sudah tidak jelas. Konyol barangkali, tapi tidak semua keputusan bisa diambil begitu saja, bukan?” Pertanyaannya menggantung di situ bersama sunyinya malam. Mulutku terasa asam. Aku menyalakan rokok lagi. “Apa aku membosankan?” lanjutnya. “Tidak. Kau membuatku bertanya-tanya.” “Ah, kalau saja kau tidak buru-buru pulang barangkali kita bisa mendengarkan musik bersama atau bermain kartu,” katanya lagi. “Rupanya tidak cuma malam, siang kau justru makin menyenangkan,” godaku. Lantas kami sama-sama tertawa. Perihal membosankan, aku jadi ingat isteriku di rumah. Isteriku yang manis, sopan, halus dan lembut tutur sapanya. Isteriku yang pintar memasak dan membersihkan rumah. Sayangnya ia terlalu penurut, demikian juga di ranjang. Kaku. Seringkali membuatku kesal, padahal sudah belasan tahun kami menikah. Benar-benar bosan aku menghadapinya. Isteriku itu memang perempuan baik-baik. Kudapati ia duduk di ruang tamu bersama bik Nah, saudara perempuan bapak. Rupanya ia memang sengaja dibawa untuk dikenalkan padaku. Dan sejak kedatangannya bila hari, bik Nah selalu bercerita tentang calon isteriku itu tiap kali ia mampir ke rumah. Tentu cerita yang baik-baik. Bahwa calon isteriku itu terampil mengerjakan apa saja. Hampir tiap hari mendengar itu, orang tua mana yang tidak ingin cepat-cepat mengawinkan anak bujangnya yang sudah cukup umur untuk berumah tangga. Kuakui dari kesemuanya pantaslah calon isteriku itu disebut menantu idaman maka menikahlah kami. Belakangan kutahu ia belum cukup pengalaman. Barangkali tak banyak yang ia pelajari dari kaumnya, atau mungkin hanya itulah yang ia tahu. Begitu-begitu saja rutinitas yang ia lakukan sepanjang hari. Aku

seperti berhadapan dengan manusia robot, padahal kita masih menonton televisi kabel. “Kau masih mendengarkanku?” suara di ujung telepon membuatku tersentak. “Ya, tentu, Helena.” “Aku cuma prempuan biasa tidak salahkan kalau tiap malam aku ingin ditemani suami. Tak tahulah kenapa ia tidak juga mengerti. Ataukah semua laki-laki… Perempuan itu menangis. Lama sekali. Baru kali ini aku mendengar perempuan menangis dengan jelas. Seingatku, isteriku di rumah tidak pernah begini. Hampir tak pernah ia bicara soal hati denganku terlebih lagi menangis. Aku jadi mengira-ngira seperti apakah perempuan yang satu ini. Tiba-tiba telepon mati. Pembicaraan kami terputus begitu saja. Pada subuh yang dingin menyentuh ujung-ujung kakiku, aku terpekur. Baru menyadari belum satu pun pakaian yang kumasukan ke dalam koper sementara stasiun sebentar lagi akan dipadati orang-orang yang sibuk dengan urusannya masingmasing. Tapi aku masih diam, tak beranjak dari ranjangku. Kunyalakan rokok yang terakhir. Kepulan asap memenuhi ruangan, namun masih saja aku merasa kosong. Tak berselang lama ponselku bergetar. Ada pesan masuk. “Jika sempat temui aku di losmen bla bla bla, jalan bla bla bla, kamar nomor sekian. Sudah 3 hari aku tak pulang. Aku bisa

membuatkan mie instan untukmu.” Helena. (Sender : +6281xxxxxxxxx, 26 Mei 2011, 05:15:21) Aku tertegun. Kubaca sekali lagi pesan darinya mencoba meyakinkan diriku. Kota yang sama, losmen yang sama denganku, hanya kamarnya yang selang beberapa meter dari kamarku. Ponselku bergetar lagi. “Apakah kita sama-sama merasa kesepian?” (Sender : +6281xxxxxxxxx, 26 Mei 2011, 05:30:18) Sulit sekali mengatur nafasku saat membaca kalimat itu. Aku begitu terkesiap. Seketika bayangan isteriku mulai timbul tenggelam dalam ingatan. Pagi masih terlalu mentah. Mestinya aku tidak berpikir lagi untuk pulang.  Mataram, 27 Mei 2011 IRMA AGRYANTI lahir di Mataram. Karyanya berupa puisi, cerpen dan opini dimuat beberapa media seperti Bali Post, Minggu Pagi, Majalah Story, Solo Pos, Joglosemar, Lombok Post, Koran Kampung. Cerpennya ikut dalam buku antologi cerpen Waktu yang Bercerita (Komunitas Sastra Alit, 2010) dan Joglo 9: Jagat Telantar (TBJT, 2010).

OKTOBER 2011

m a g a z i n e

5


WARTA

PENDIDIKAN

Tak Ada yang (Mau) Mengalah di Lomba Musikalisasi Puisi se-Bali

Teater Jineng Smasta saat acara pembinaan dan parade Musikalisasi Puisi di Tabanan.

S

ETELAH Parade Musikalisasi Puisi berlangsung di setiap kabupaten, terjaringlah 15 komunitas seni untuk berlaga di gedung Ksrirnawa Taman Budaya Denpasar, 19 - 20 Agustus 2011. Lomba Musikalisasi Puisi se-Bali yang diselenggarakan Dinas Kebudayaan Provinsi Bali ini mendatangkan tiga juri, I Gusti Putu Bawa Samar Gantang, Warit Wisatsana dan Helmi Hezka – putaran parade musikalisasi puisi sebelumnya Alit Atendra. Gedung Ksrirnawa riuh semarak selama dua hari. Ke 15 peserta musikalisasi puisi tampil maksimal. Semua memukau. Tak ada yang mau mengalah. Namun harus ada yang kalah. Dalam aksinya, para peserta setiap grup didukung oleh 8-10 orang, namun sayang Teater La Jose kurang lagi satu orang sehingga didiskualifikasi. Ada juga yang meskipun tampilnya sangat bagus, karena pemain musiknya mengambil dari seniornya yang ikut tahun lalu juga harus out, atau tak masuk dalam hitungan nilai. Masing-masing peserta membawakan dua puisi, berbahasa Bali dan Indonesia. Penampilan seluruh peserta baik. Peserta tampil kreatif dengan karakter masing-masing. Hal paling mendasar dalam menggelar musikalisasi puisi dan penghayatan akan puisi itu sendiri. Bagaimana mempadupadankan antara puisi dengan musik. Semua peserta tampil maksimal penuh daya pesona. Siapa pun yang tampil sebagai pemenang bukan berarti tanpa kekurangan. Di antara para peserta yang penampilannya memukau adalah

6

m a g a z i n e

OKTOBER 2011

Teater Bakta SMAN 1 Kediri, Tabanan yang sebelumnya meraih juara II lomba musikalisasi puisi yang diselenggarakan Balai Bahasa Denpasar, 9 Agustus 2011. Peserta lain yang tampil sangat bagus dengan nuansa puisi Bali yang reng (modulasi suara) nya bagus: SMAN 2 Amlapura, Karangasem. Teater Sunari SMAN 2 Semarapura, Klungkung. Teater Tanpa Nama, SMAN 2 Negara. Pada Demen, SMPN 2 Bangli yang kelimanya meraih juara harapan. Termasuk Teater Tek Tek Moralala, Badung. Sedangkan SMAN 1 Kediri meraih juara berbakat. Juara I, II dan III masing-masing diraih Komunitas Senang Berteman dengan Anda dari Gianyar, Teater Antariksa SMAN 7 Denpasar dan Komunitas Ampas Kopi, Singaraja. Selain sembilan peserta yang meraih kemenangan, peserta lain seperti Teater Jineng Smasta SMAN 1 Tabanan, Teater Angin SMAN 1 Denpasar, Teater La Jose Denpasar, Komunitas Lokananta Buleleng, Komunitas Lah Badung dan SMAN 1 Bangli juga tampil penuh pesona. Komunitas Senang Bertemu dengan Anda tampil paling memukau. Interpretasi dan penghayatan bagus. Ada dinamika. Nuansa musik dengan puisi menyatu. Aransemen bagus. Menggunakan alat-alat musik yang mengadopsi suara-suara alam, seperti air, angin, suara canon, noice, shaksophone. Komunitas ini pantas terbaik. Secara menyeluruh duta dari masing-masing kabupaten tampil memukau. Tak ada yang mau mengalah. Namun harus ada yang kalah. ď ś Bawa SG


Dari Ekspresi turut meriahkan Lomba Busana Muslim di Masjid Raya Negara Negara

Para pemenang lomba busana muslim di Masjid Raya Negara.

Dari Lomba Berbusana Islami Masjid Raya Negara

Mentradisikan Berbusana

Muslim di Kalangan Remaja

T

AK seperti hari-hari biasa tatkala berada di Masjid Raya Negara, penampilan para murid TK/RA hingga SMP/MTs yang tercatat sebagai peserta lomba busana Islami tampak lebih mempesona dan berkarakter pada hari Sabtu (30/7). Mulai dari ujung atas hingga ujung kaki, kiranya telah dipersiapkan dengan matang untuk menyambut Bulan Ramadhan yang diselenggarakan di Masjid Raya Negara. Apalagi untuk berjalan di atas catswalk dengan busana Islami menarik, unik, serta etnik seolah menyedot perhatian audiens. Namun, dari puluhan peserta, ada tiga performance terbaik. Mereka adalah Sendy Larinsa Clavinova dan Mega Risca Imania sebagai peraih kategori putra dan putri tingkat SMP/MTs, serta Risca Valentina juara pertama kategori putri tingkat sekolah dasar. Ketika diwawancarai, ternyata mereka bukanlah orang baru dalam dunia modeling berbusana Islami. Seperti Risca Valentina atau yang dipanggil Caca, siswi kelas 5 SDN 3 Dauhwaru. Sang jawara busana Islami di Masjid Raya yang mengenakan busana kombinasi putih dan coklat ini ternyata adalah peraih juara pertama lomba busana Islami pada HUT salah satu swalayan ternama di Jembrana pada 2010 lalu. Berbekal dari pengalamannya itulah, putri dari Retno Merdiana dan Drg Bambang Sridadi memberanikan diri tampil lagi dalam kegiatan yang sama di Masjid Raya Negara. Senang merupakan kesan klasik yang dilontarkan manakala ia kembali sebagai

jawara. Namun, bagi Caca, lomba ini merupakan ajang mencari pengalaman baru. Rasa senang juga tidak mampu disembunyikan Sendy Larinsa Clavinova. Itu terlihat dari wajahnya yang berbinar-binar ketika meraih tropy penghargaan. Dengan malu-malu siswa kelas VIII SMPN 1 Negara mengatakan bahwa dirinya pun senang meraih juara pertama kategori putra tingkat SMP/MTs. Pemakai busana yang didominasi dengan warna orange ini pernah meraih juara pertama dalam lomba busana Muslim yang diselenggarakan MGMP Agama Islam di Kantor Kementeriaan Agama tahun 2011 lalu. “Ya, saya senang,” ucap putra dari Wartana dan Ni Made Arining. Selain Caca dan Sendy, ada satu lagi yang tak kalah tenarnya dalam dunia berbusana Islami. Dia adalah Mega Riska Imania. Ega panggilan akrabnya mengaku bahwa kejuaraannya dalam lomba busana Islami 2011 di Masjid Raya Negara sebagai prestasinya yang ke-14. Siswi kelas IX C SMPN 3 Negara ini juga mengaku rutin mengikuti perlombaan yang diadakan salah satu produk sepeda motor di Jembrana saat memperingati HUT RA Kartini dan salah satu perusahaan busana di Jembrana, dan masih banyak lainnya. ”Ya, juara dalam lomba busana Islami ini merupakan prestasi saya yang ke empat belas dalam bidang ini. Sebab, dimana dan siapa saja yang menyelenggarakan lomba busana dan casual selalu saya ikuti. Dan syukur tetap meraih juara. Paling sering antara juara satu, dua, atau tiga,”aku putri dari Syamsul Arif dan Nining Fatmawati.  Yuli Astari

Sendy Larinsa Clavinova

Mega Risca Imania OKTOBER 2011

m a g a z i n e

7


SEKOLAHKU

SMK Pariwisata

TP 45 Negara Siap Lahirkan Siswa Siap Kerja di Industri Pariwisata Hamparan rumput yang tumbuh di halaman sekolah dan sekitarnya tampak mulai meranggas. Sebagian halaman berwarna kuning kecoklatan, sebagiannya lagi berwarna coklat akibat timbunan tanah yang direncakan akan dijadikan lahan lapangan bola basket. Aura setengah kegersangan yang mendominasi tersebut kiranya berpotensi mengendurkan gairah bagi setiap yang memandang. Lukisan itulah yang tampak ketika menginjakkan kaki di SMK Pariwisata TP 45 Negara.

8

m a g a z i n e

OKTOBER 2011

PEMANDANGAN lingkungan sekolah swasta yang berdiri di Jalan Merak, No19 Negara tak sampai di situ saja, ada pemandangan lain yang tampak lebih mengharukan. Hal ini tercermin dari infrastruktur sekolah yang sebagian besar adalah bangunan kuno. Misalnya, plafon di beberapa ruangan kelas yang masih tersusun dari gedeg. Tak perlu diteropong dengan jeli, secara kasat mata pun mudah ditembak rupanya model gedung pun sangat klasik. “Ya pemandangan di sekolah ini terasa kurang bergairah. Selain itu, bila ditinjau dari unsur fisik sekolah ini juga, kami akui sangat jauh ketinggalan. Model bangunan di sekolah ini pun masih seperti model tahun 1990-an. Tidak seperti sekolah lain pada umumnya saat ini, misalnya, masingmasing unit gedungnya terpisah. Tetapi lain adanya di sekolah ini, unit gedungnya tak terputus. Bahkan kami khawatir bila ada gempa, satu saja yang roboh mungkin semua bisa ambruk. Maklum saja, kondisi ini juga akibat dari jarangnya ada bantuan berupa rehabilitasi bangunan sekolah,� papar kepala SMK Pariwisata TP 45 Negara, Drs I Wayan Muliastra. Menurut Muliastra, sepanjang

perjalanan dan pergerakan dunia pendidikan di sekolah yang dulunya berbandrol SMA TP 45 pada tahun 1972 atau yang populer di telinga masyarakat dengan sebutan Sekolah Menengah Ilmu Pariwisata atau SMIP TP 45 mengatakan, bahwa sentuhan bantuan berupa rehabilitasi itu pernah ada hanya sekali pada tahun 2008 dan bantuan itu pun datangnya dari pemerintah pusat. Bagian yang direhabilitasi dititikberatkan hanya pada ruang kelas baru (RKB). Sementara sampai saat ini, katanya lagi, campur tangan soal bantuan rehabilitasi dari pihak pemerintah daerah justru tak ada sama sekali. “Dulu saya pernah berbincang-bincang dengan pihak DPRD Kabupaten Jembrana soal terkait, namun kami selalu diarahkan untuk meminta bantuan kepada pemerintah provinsi atau pemerintah pusat. Pemkab Jembrana hanya merealisasikan bantuan berupa beasiswa tuntas wajib belajar dua belas tahun. Tahun ajaran 2010-2011 siswa yang menerima beasiswa itu sebanyak 427 orang masing-masing sebesar Rp 75.000. Karena ada peningkatan input murid pada


Siswa SMK TP 45 ketika praktek merapikan tempat tidur di sekolah.

Siswa SMK TP 45 ketika praktek menerima tamu di sekolah.

tahun ajaran baru dengan total jumlah 464 orang, maka 37 murid baru tambahan dari jumlah sebelumnya itu akan mendapatkan beasiswa tersebut kemungkinan pada tahun 2012 mendatang. Beasiswa itu diterima pihak sekolah untuk honorer guru, operasional pendidikan dan menyokong kebutuhan sekolah lainnya. Sementara untuk menutupi kekurangan itu, kami juga mengusahakan melalui komite sekolah,” ujar Muliastra, yang menjabat kepala sekolah sejak tahun 2002 ini. Sekolah swasta tertua tingkat SMA/ SMK/MA atau sederajat ini sempat mengecap masa kejayaannnya pada tahun 1983-1985 dengan jumlah 30 rombongan belajar (rombel). Hal inilah yang membuat prestise-nya seketika melejit dan populer di kalangan masyarakat. Namun, masa keemasan tidak bertahan lama. Keadaan tersebut justru berbanding terbalik seiring mencuatnya tragedi Bom Bali II yang mempengaruhi denyut nadi sektor pariwisata Bali. Secara tidak langsung, maka implikasinya berdampak pula pada sekolah berbasis pariwisata yang mengakomodasikan perhotelan seperti SMK Pariwisata TP 45 Negara ini. Namun hal itu jelas tidak membuat denyut nadi pendidikan di sekolah yang memiliki lahan seluas 53,30 are ini lumpuh. Terbukti, dengan motto kejuruan “SMK Bisa”, sekolah yang diasuh Yayasan Taman Pendidikan 45 ini mulai lagi menunjukkan taringnya. SMK Priwisata TP 45 ini mulai dilirik dan diminati kalangan masyarakat untuk menempuh studi khusus pengembangan ilmu pariwisata. Tahun ajaran ini tercatat 12 rombel dengan jumlah murid kelas X ratarata mencapai 43-45 kepala, untuk kelas XI rata-rata berjumlah 36-39 kepala, dan kelas XII rata-rata dari 30-35 murid. Di sekolah yang terakreditasi B ini mentok pada satu jurusan yakni akomodasi perhotelan (AP) dengan enam jenis mata diklat, misalnya Reservasi, Resepcionis, Room Division, Loundry, dan lain sebagainya. Kemudian extra life skill yang dikembangkan mencakup Bahasa Korea, Bahasa Jepang, Tata Graha dan Tata Hidangan, Komputer, Bola Voli,

Seni Tari, PIK-Remaja (Pusat Informasi dan Konseling Remaja) “TragiaTangar Tur Eling”, Seni budaya, Pesantian, Sispala dan English Study Club. Pun di dalam menjalin hubungan kerja sama di bidang pariwisata, sekolah ini sudah menggandeng empat hotel lokal Jembrana dan khusus untuk praktek kerja industri (PKL) difokuskan ke beberapa perhotelan di daerah Kuta, Bali. Dengan permasalahan yang ada pada sekolah ini, tentu harapan akan senantiasa menjadi pacuan dalam penyelenggaraan pendidikan ke depan. Apalagi, jika didukung kuat oleh harmonisasi keluarga besar sekolah dan kinerja 30 tenaga didik, 3 Staf TU dan seorang tukang kebun, masyarakat, terlebih lagi pada pemerintah baik pemerintah daerah, provinsi, pusat dalam implementasinya. Upaya untuk membangun estetika lingkungan sekolah yang serasi, selaras, dan seimbang sehingga terwujud kualitas pendidikan yang sesuai harapan bangsa dan negara rupanya akan diperjuangkan segenap pihak sekolah. “Saya sebagai kepala sekolah tidak tinggal diam. Saat ini saya berusaha lagi membuat rancangan atau sketsa soal bangunan sekolah yang akan diperbaharui dan akan segera kami ajukan ke pemerintah pusat. Mudah-mudahan disetujui dan direalisasikan sehingga kita semua bisa mewujudkan performance yang lebih baik dan menuju kualitas pendidikan yang lebih bermutu lagi. Benar-benar akan kami perjuangkan,” harapnya sambil menunjukkan contoh rancangan bangunan sekolah di ruang kerjanya. Muliastra menambahkan, kendati gedung tidak bagus, namun semangat pengajar dan pelajar di sekolah itu tetap membara untuk menjadi yang terbaik. Ada pun kekurangan dijadikan penyemangat untuk melahirkan kelebihan. Mereka bertekad, mempersembahkan yang terbaik kepada masyarakat. Out put atau siswa yang tamat dari SMK Pariwisata TP 45 merupakan siswa yang telah memiliki ketrampilan. “Di tengah keterbatasan kami siap melahirkan alumnus yang siap diserap dunia kerja di industri pariwisata,” tandas Muliastra.  Yuli Astari

OKTOBER 2011

m a g a z i n e

9


TEATER

Sebuah panggung yang dikonstruksi oleh beberapa batang bambu khas Dusun Senja tampak tersusun apik di kalangan Angsoka, Taman Budaya Art Centre, Bali. Begitu pula para penonton tampak dengan rapi membentuk setengah lingkaran besar. Dari jarak jauh, seperti terpancar sebuah nuansa ritual magis yang digelar oleh seorang perempuan cantik nan anggun berbusana baju tidur warna putih di malam minggu itu. 10

m aa gg aa zz ii nn ee m

OKTOBER 2011


S

EMBARI bersolek di depan wajan besar, sayupsayup terdengar lirih irama dari mulutnya yang kian lama kian mengeras volumenya. “Anacarakadatasawalamagabangapajayanya” dilontarkan secara tidak teratur dan bergelombang tinggi rendah. Suara petasan yang terbuat dari bambu yang dimainkan oleh warga Dusun Senja dari arah yang berhadapan dengan panggung itu bergema berkali-kali. Akting meludah, telur dipecahkan, memasak di wajan besar, hingga akting melahirkan pun dipresentasikan oleh aktris Lisna Efendi. Seorang aktor muda berkepala gundul yang berperan sebagai sang anak (baca: bayi) seolah-olah terseok-seok keluar. Seorang lelaki lain yang bertubuh kekar membawa pedang dan vokal yang cukup besar berdiri di belakang perempuan itu. Lelaki bertubuh kekar tengah menimang bayi sambil bersua dengan nada geram “maem maem maeeem!”. Kata itu diucapkannya berkali-kali, begitu pula seorang perempuan dengan akting yang sama seolah-olah memaksa si anak untuk

bahkan dalam rumah tangga. Di tengah- tengah “Rezim” itulah peran perempuan harus tetap ada. Mau tidak mau perempuan tetap ditugaskan sebagai orang yang harus tetap menghibur di rumah, artinya membuat kebahagiaan dalam keluarga. “Kebetulan aku visualisasikan dengan lagunya yang sumbang bahwa perempuan di tengah-tengah kekerasan tetap harus nyanyi. Nah di tengah-tengah silang sengkarutnya negeri ini, perempuan juga harus tetap masak. Di samping itu, perempuan juga harus melahirkan sebagai kodratnya. Ketika melahirkan itulah, kadang-kadang yang lahir itu “Rezim” atau kekuasaan apalah itu dalam suatu “Rezim”. Anak yang lahir sudah dicekoki dengan sesuatu yang tidak sepantasnya dia (anak yang lahir) terima. Alternatif lainnya misalnya, seorang pacar ingin begitu, pacarnya bilang oh, jangan, gak boleh, kamu jangan begitu, harusnya begini. Atau bisa jadi orang tua ingin anaknya kerja di tempat itu, tapi anaknya ingin kerja di tempat ini. Itu juga bisa dikatakan sebuah “Rezim”,”paparnya lagi.

makan. Tak ketinggalan, perempuan itu juga menyanyikan lagu kebangsaaan “Indonesia tanah air beta, pusaka abadi nan jaya……” dengan nada sumbang. Dalam klimaks cerita, sang anak yang membawa tali dan menarik beban tiga kantong besar berisi jagung, pasir, dan air yang bergelayut di tiang bambu. Semua itu dibocorkan dengan pedang oleh lelaki yang bertubuh kekar. Semua bocor dan terurai ke ibu pertiwi. Lalu, warga Dusun Senja memasuki panggung dengan memukuli tiang bambu seolah-olah diruntuhkan. Itulah sekilas kisah “Rezim”, sebuah pentas teater eksperimen yang dipersembahkan oleh Bali Eksperimental Teater (BET) dalam Parade Teater Bali 2011 pada 10 September 2011. Naskah dan pementasan “Rezim” ditulis dan disutradarai Nanoq da Kansas ini lebih banyak menggunakan bahasa simbol lewat gerak, suara, dan bunyi, dan akting eksperimen dengan konsep minikata. Konsep panggung bersifat instalatif. Hal inilah yang menggantikan bahasa verbal yang pada umumnya dipergunakan pada teater konvensional. Maka “Rezim” bukan drama realis yang memaparkan cerita secara lugas. Menurut Nanoq, pada setiap kali pementasan “Rezim” konteksnya selalu berubah-ubah. Awal “Rezim” dipentaskan sekitar tahun 1998 konteksnya itu adalah silang sengkarut politik negeri ini di zaman Soeharto. Namun pada pementasan “Rezim” kali ini, itu dominasi laki-laki dalam suatu “Rezim”. Bagi Nanoq, “Rezim” dapat diartikan dengan kekuasaan secara kenegaraan, kepemimpinan secara kemasyarakatan atau

Soal instalasi. Nanoq memilih sumber daya alam yang ada di Dusun Senja. Seperti instalasi buah nyuh pompongan – kelapa yang isi di dalamnya sudah raib dirampas tupai menggelayut serupa tirai. Itu dapat disimbolkan sebagai pemimpin yang banyak omong tapi tak ada isinya, kosong, dan perempuan tetap berada di bawah itu. Benda-benda yang sengaja dibocorkan seperti jagung, pasir, dan air itu merupakan visualisasi dari kebocoran sumber daya alam di negeri kita. Padahal Indonesia kaya sumber daya alam, namun rakyatnya masih banyak yang kelaparan. Akibat kebocoran air kemanamana, petani kita susah mencari irigasi untuk sawahnya. Jadi, sumber daya bangsa kita bocor kemana-mana. Fenomena inilah juga yang rupanya direfleksikan BET dalam pementasan “Rezim” kali ini. “Ya begitulah. Apa yang aku punya itulah yang aku pakai untuk pementasan. Aku sebenarnya ingin pentas menggunakan sepeda motor atau barang-barang elektronik yang canggihcanggih seperti zaman sekarang, tapi kan gak punya itu. Maka aku manfaatkan apa yang mudah dicari seperti nyuh pompongan itu misalnya,” ungkap pria berkacamata berambut gondrong ini. Naskah “Rezim” sudah beberapa kali dipentaskan BET di Bali maupun luar Bali. Beberapa pemain terdahulu yang tercatat sebagai aktor “Rezim” di antaranya adalah AG Pramono, Ibed Surgana Yuga, Gembong Ismadi, Agus Beniq Anwar, dan aktris Dina Ningsih Septian.  Yuli Astari

OKTOBER 2011

m a g a z i n e

11


Profil & Prestasi

Bangga Sambut Menteri

R

ATNA Dwijayanti merasakan hidupnya penuh hoki. Dari berbagai kegiatan yang dilakukannya semua menunjukkan prestasi bagus. Diakuinya, keberhasilan yang ia raih saat ini berkat usaha dan doa. Ia tak mau takabur atau berbesar kepala dengan raihan yang telah dicapai. Namun ia merasakan kompetisi ke depan, baik dalam karir dan kehidupan masing membentang. Keberhasilan saat ini hanyalah pengingat untuk senantiasa berbuat maksimal dalam setiap kesempatan. Pemilik nama Ni Made Ratna Dwijayanti ini, terakhir sangat beruntung terpilih sebagai Putri Jembrana Agustus 2010 lalu. Dia yang menyandang Putri Jembrana berkesempatan menjadi ratu untuk menyambut kedatangan Menteri Pariwisata Jero Wacik saat Parade Budaya Nusantara serangkaian HUT Kota Negara, Bali. Penampilannya kala itu penuh pesona, mengundang ribuan mata untuk menatapnya lekat-lekat. Gadis asal Sangkaragung ini mengenakan pepayasan agung ciri khas pengantin adat Bali. Dia berdiri di atas sebuah wahana berwujud lambang kehormatan Kota Negara yang diarak sepanjang jalan di kawasan Kantor Bupati Jembrana. Ratna laiknya sang putri benar-benar menakjubkan. Selain menyandang Putri Jenbrana, alumnus SMKN 1 Negara pun dinobatkan sebagai wanita karir dari salah satu majalah fashion bergengsi. Sekaligus pula, ia dilibatkan sebagai salah satu model pemotretan di majalah tersebut belakangan ini. “Aku diberikan penghargaan tersebut secara tiba-tiba saja dari manager majalah itu dalam rangka peringatan Hari Kartini beberapa bulan lalu. Dan itu cukup mengagetkan buatku. Aku memang ikut serta dalam ajang di segala bidang seperti nari, olah raga dan fashion saat itu. Mungkin dilihat dari situ kali ya hingga aku mendapat penghargaan sebagai wanita karir,â€? terang peraih juara pertama olah raga sepak takraw pada ajang Porda 2007 dan juara pertama fashion show bertema Fantastis Kreatif ini. Namun dari semua itu, putri dari pasangan Ni Ketut Meni Antari dan I Ketut Suana ini mengaku sangat berkesan ketika mendapat kesempatan menyambut kedatangan sang menteri. ď ś Yuli Astari

12

m a g a z i n e

OKTOBER 2011


A

NGGOTA pengibar bendera pusaka (paskibraka) asal Tabanan, I Putu Brian Obie Putra mengaku meneteskan air mata saat menginjakkan kaki di istana negara, Jakarta. Ia yang terpilih menjalankan tugas negara mendapatkan kesempatan mewujudkan mimpi melihat bendera pusaka serta bersalaman dengan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. “Ini seperti sebuah mimpi yang menjadi kenyataan. Jujur saya merasakah de javu, serasa sudah pernah menginjakkan kaki di istana merdeka, padahal baru sekali saja ke sana,” ungkap Putu Brian. Pelajar Kelas XII IPA 5 SMAN 1 Kediri ini bersyukur terpilih mewakili Bali untuk menjadi anggota paskibraka. Bulu tangannya merinding kala menceritakan pengalaman pertama kali masuk istana negara. “Yang namanya istana negara pastilah sakral. Kita tak berani sembarang ucap di sana. Paskibraka tahun 2006 pernah mengalami kesurupan kala sembarangan berbincang di istana. Bulu kuduk seperti berdiri kala memasuki istana negara,” kenang Brian, putra pertama dari empat bersaudara pasangan suami istri, I Gede Sudiartha dengan Yuli Prastiani, ini. Bulu kuduknya kian berdiri kala berkesempatan melihat bendera pusaka yang dijarit oleh Ibu Fatmawati. Warna sang saka sudah memudar, namun mampu memberi rasa magis sehingga anggota paskibraka dari 33 provinsi di Indonesia merinding dan merasakan kekuatan sang dwi warna. Putu Brian selama lima minggu berada di Jakarta. Empat minggu untuk menjalankan tugas negara sebagai pasukan pengibar bendera pusaka. Sementara 1 minggu tugas dari Menteri Luar Negeri sebagai duta belia. Sebagai anggota paskibraka, Putu Brian bertemu dengan presiden dan sejumlah menteri pada acara pengukuhan pada 15 Agustus 2011. Mendapat tugas negara, Brian mengaku senang karena bisa berkawan dengan orang-orang hebat dari 33 provinsi. Selain dilatih untuk mengerek bendera pusaka, Brian mengaku terkenang ketika diajarkan menjadi seorang pemimpin. “Dukanya, saat berpisah dengan kawan-kawan dari seluruh provinsi yang sudah rasakan sebagai saudara. Belasan tahun pun kami belum tentu akan berjumpa lagi seutuhnya dengan kawan-kawan paskibraka tahun 2011,” ungkap Brian yang berada di posisi kelompok 14 serpihan kiri.  Kukuh S

OKTOBER 2011

m a g a z i n e

13


CERPEN

Oleh : Emur Paembonan

Kuburan semakin sepi. Pelayat lain tak nampak sudah. Kecuali dua sekawan yang masih bertahan duduk mencangkung samping pusara tanpa peduli hembus angin menguar gigil. Tangis mereka belum usai.

B

ULAN sabit pun menyuluh walau samar dikepul mendung. “Ayo pulang!” kata Anto yang duluan tenang. Bayu diam, masih enggan dia beranjak membuat Anto tetap menanti. Hingga air mata berbaur air hujan mengiring langkah mereka ke teras rumah. “Kamu tidur di rumahku saja malam ini,” ucap Anto pelan. “Kalau kamu mau tidur duluan, silakan!” lirih Bayu tanpa menoleh. Tatapan kosongnya terus menekuri tanah yang perlahan becek. Akhirnya, mereka lebih banyak diam malam itu, membiarkan berbagai pikiran berkecamuk di kepala masing-masing. Wawan, lelaki yang diratapi hari itu, nyawanya terenggut narkoba. Seorang dari sobat mereka selain Rudi yang kabarnya juga sering terdengar tak sedap. Semenjak lahir, Bayu, Anto, Wawan dan Rudi sudah tinggal sedesa. SD pun selalu sekelas. Bermain, nongkrong, bekerja di ladang dan sawah, belajar kelompok, jalan-jalan ke mana saja dan berkelahi dilakoni bersama. Keempat sebaya itu juga selalu saling membantu dalam hal ekonomi. Mereka bahkan pernah rangking satu bersamaan bukan dari hasil menyontek. Meski begitu, minat mereka berbeda-beda. Wawan senang olahraga, Bayu gemar pelajaran mengarang, Anto suka Ilmu Pengetahuan Alam, sedang Rudi hobby musik, namun mereka tak punya arogansi. Mereka kerap mewakili sekolah di berbagai pertandingan. Sepakbola adalah yang paling sering. Dalam hal ini, wajarlah Wawan jagonya. Larinya cepat, tendangannya akurat, fisiknya kuat, tehniknya hebat. Sekali mereka persembahkan juara pertama bagi sekolah. Ketika masa SMP tiba, Wawan memutuskan untuk menjadi pemain sepakbola profesional. Dia ingin mendaftar pada sebuah klub amatiran di ibukota kabupaten yang jaraknya lebih sepuluh kilometer dari domisilinya. Konsekuensinya, dia mesti pindah. Ketiga sobatnya sangat mendukung rencananya. Pelatih klub tempatnya akan mendaftar bantu meminta izin ke orangtua Wawan. “Kalau anda sanggup membiayai sekolah dan keperluan lainnya, silakan bawa anak saya,” ujar ayah Wawan dengan nada emosi ke si pelatih setelah mencoba menjelaskan impian sang anak. Si pelatih tak bisa melawan. Ketiga sobat Wawan ikut dimarahi karena dianggap mempengaruhi Wawan yang tidak-tidak. Dilanjutkan kemarahan dari orang tua masing-masing, kecuali Anto. Ayahnya ingin Wawan menjadi polisi yang saat itu tingginya telah mencapai 165 cm dengan berat badan seimbang, sementara ibunya yang gemar baca, dengar dan nonton ramalan bertutur: “Kamu cocok juga jadi arsitek, kamu kan pintar.” Tak lama kemudian, Wawan menghilang dari desa bersamaan raibnya beberapa ratus ribu uang milik ayah dan perhiasan ibunya. Bayu, Anto dan Rudi diinterogasi orang tua Wawan dan warga desa lainnya. Si pelatih ikut ditanya. “Mungkin ia sengaja tidak

14

m a g a z i n e

OKTOBER 2011

memberitahukan kepergiannya kepada kami karena tahu kami pasti akan ditanya,” jawab si pelatih. Polisi pun turun tangan tapi Wawan tak juga ditemukan. Enam tahun setelah peristiwa itu barulah Wawan kembali ke desa walau hanya namanya saja. Mayat Wawan ditemukan dalam kamar kos sempit di sebuah kota besar. Beberapa butir pil ekstasi, serbuk kokain, lintingan-lintingan ganja, sebuah jarum suntik berisi morfin dan setengah kilogram sabu-sabu tergeletak bersamanya di atas kasur. Abu dan puntung rokok menyatu dengan beling-beling yang berserakan di lantai. Bekas tumpahan minuman keras berceceran di lantai dan kasur bercampur bekas muntahan Wawan. Bau alkohol menyengat isi kamar itu. Saksi mata itu melihat Wawan sehari sebelum meninggal di sebuah bar dalam keadaan mabuk berat. Wawan berteriak-teriak, “Hore...! Hore...! Indonesia sudah dapat Piala Dunia...” Wawan melakukannya sambil mengangkat beberapa botol minuman keras seolah-olah ia mengangkat sebuah trofi. *** BENGKEL tak sedang ramai, di rumah tak ada kegiatan. Anto menyusur jalan desa yang tak beraspal. Dalam dekap guyuran gerimis, meregat lalui pematang sawah berlumpur, setengah berlari dia menuju kediaman Bayu. Sesuai dugaannya, sobatnya itu pasti sedang berkutat dengan kertas dan alat tulisnya. Ayah-ibu Bayu sedang asyik nonton film yang diadaptasi dari sebuah novel karya penulis top dan pastilah jadi bagian yang tak dihiraukan pasangan suami istri itu. Tak disadarinya kehadiran Anto yang sudah berada di gerbang pintu kamarnya. Beberapa novel dan antologi cerpen tergeletak di atas mejanya. “Kamu tidak kerja?” tanya Bayu saat Anto membuka baju dan celananya yang sedikit basah lalu menggantungnya pada hanger belakang pintu. “Tidak, sedang sepi, lagipula ada anak baru gantikan saya sebentar,” jawab Anto, ia duduk di ranjang lantas mengambil beberapa buku tadi. Memerhatikan judul dan nama penulisnya. “Kamu pake apa ke sini?” “Jalan kaki kawan,” jawab Anto pelan, ia mulai membaca buku yang diambilnya tadi. Ia melirik Bayu yang duduk di depannya. “Kamu mau ke kota lagi ya?” “Ya, sekarang, besok juga tak apa-apa,” lalu Bayu kembali menulis, membelakangi Anto. Anto pun terdiam. Belum selesai dibacanya buku di tangannya, ia mengambil buku lain. Membiarkan sobatnya konsentrasi pada karyakaryanya. Sedang dia sendiri tak bisa konsentrasi pada buku yang dibacanya. Terlebih setelah obrolan singkatnya dengan Bayu barusan. Tak perlu lagi mereka meneruskan perbincangan karena sudah tahu arahnya. Tak lain untuk mengurus segala hal berbau tulis-menulis. Memang beberapa kali Anto bisa memanfaatkan kendaraan yang diperbaikinya di tempat kerja untuk menemani Bayu ke kota. Pernah pula menemani Bayu jalan kaki ke kota. Bayu bahkan pernah jalan kaki sendiri ke kota. Entah sudah berapa biaya yang dikeluarkan Bayu untuk mengurus tulisan-tulisannya. Beli pulpen, pensil, mengirim lewat kantor pos, internetan, foto copy, ongkos angkot, ngeprint, beli buku, koran, majalah dan lainnya. Persoalan ditambah dengan hanya sedikit koleksi buku di perpustakaan desa dan ibukota kabupaten yang membahas tentang tulis-menulis. Tak ada taman


baca di desa itu. Buku-buku bekas pun sulit didapat termasuk kios sewanya. Penerbit? Di daerah itu, mungkin sampai kiamat terbenam. Untunglah Bayu telah mempersiapkan tabungan pribadi sejak SMP begitu menyadari ada gejala orang tua tidak merestui asanya. Hanya Wawan, Anto dan Rudi yang tahu hal itu. Saldo tabungan kian menipis. Beberapa barang terpaksa dijual dibantu Anto yang kadang turut menjual barang pribadi demi sobatnya itu. Tak jarang dia pun menjual barang yang tak lagi dipakai di tempat kerjanya. *** SEBUAH sepeda motor, hadiahnya karena selalu rangking satu dari SD hingga SMA, dijual orangtuanya tanpa sepengetahuannya. Begitu pun ponsel yang hanya bisa dipakai di luar desa sebab belum kena sinyal. “Memangnya kamu yang beli,” kata Ayahnya saat Bayu menanyakan perihal benda-benda itu. Laptop yang rencana akan dibelikan untuknya batal terwujud. Bayu pun tak bisa kuliah selama ia tetap bersikukuh akan memilih jurusan sastra atau seni. Seorang guru bahasa Indonesianya menyarankan agar Bayu mengikuti saja kemauan orangtuanya sambil tetap menulis. “Tapi jika saya tiba-tiba berhenti kerja dan fokus ke dunia tulis-menulis justru bisa menambah masalah,” tampik Bayu dengan hormat. Ayah Bayu menginginkannya menjadi pilot, sedang ibunya mengharapkannya jadi dokter. Warga desa ikut bergunjing. “Bodoh betul Bayu itu, orangtuanya kaya, ia pintar, tampan lagi tapi punya cita-cita aneh.” “Menulis? Apa itu pekerjaan? Ada-ada saja si Bayu.” “Kalau saya jadi Bayu, saya akan kuliah di luar negeri.” Penduduk desa yang punya komputer termasuk mesin ketik tak mau meminjamkannya ke Bayu dan Anto karena takut dipakai melakukan kegiatan yang mereka anggap tak lazim. Tapi Bayu bukanlah orang yang cepat menyerah dengan hal-hal seperti itu, lagipula dia masih punya Anto di desa itu. “Andaikan ada penulis yang datang ke desa ini mungkin lain jadinya,” kata Bayu suatu ketika. “Tempat kita terpencil, mungkin tak ada di peta, he..he.. he...” “Tapi ada penulis yang tinggal di desa,” Bayu menyebut sebuah nama sekaligus nama desa dan daerahnya. Dan masih banyak lagi nama yang Bayu perkenalkan pada Anto. Sebelumnya Anto tak pernah tahu Anton Chekhov juga Prem Chand. Yang masih diingatnya hanya Marah Roesli, Chairil Anwar, William Shakespeare, St Takdir Alisjahbana, WS Rendra dan tentu saja Agatha Christie novelis favorit Bayu sejak kecil. Kalaulah ada tempat bergiat yang dekat sudah pasti diikutinya. Tapi di provinsinya, dunia sastra boleh dibilang mati. Jadilah Bayu aktif bergiat di Komunitas Diri Sendiri alias belajar otodidak. Sudah setahun Bayu tamat SMA dan sudah setahun pula ia mulai mengirim cerpen, puisi juga eseinya ke berbagai media. Ada yang cepat memberi konfirmasi, ada pula yang sampai dua bulan tak memberi konfirmasi hingga Bayu terpaksa melayangkan surat barulah diberi konfirmasi. Namun lebih banyak yang tak digubrisnya. Yang penting, dia bisa menulis dan mengirimkan hasil karyanya. Sempat pula dia mengikuti berbagai lomba dan sayembara menulis meski tak pernah mendapat penghargaan dalam kategori apapun. Tapi dia tetap tersenyum karena baginya praktek lebih baik daripada tidak sama sekali.

*** PAGI itu, warga desa dikejutkan penangkapan sepasang ayah dan anak yang terkenal sangat akur. Termasuk akur dalam berjudi, mencuri dan menyabung. Mereka disergap polisi di rumahnya. Peristiwa itu diliput beberapa media, termasuk media tempat Bayu biasa mengirimkan karyanya. Bayu dan Anto mengamati kejadian itu dari jauh. Besoknya, peristiwa itu ditayangkan di beberapa stasiun TV. Tayangan yang menjadi santapan informasi Anto selain tayangan tentang teroris dimana ada pembahasan perihal pelaku bom bunuh diri yang masih berusia remaja. Ketukan dan suara dari pintu depanlah yang membuat Anto menghentikan aktivitasnya itu. Terkejut dia bersua seorang pegawai negeri yang sudah setahun bertugas di kabupaten lain, Rudi. Ada keriangan di wajah dan hati mereka. Bayu ikut gembira. Rudi memang baru tiba hari itu dan hingga detik itu dia belum menjejak kaki di rumahnya. “Saya sudah tahu tentang Wawan dan sudah berziarah ke makamnya tadi,” Rudi menunduk. Dia nampak murung. Mengepulkan asap rokoknya. Kamar tamu hening sejenak. Sekilas duka merubung mereka. “Orang tuanya sudah menyesal, sayang,” Rudi membuka kembali pembicaraan. Kata-kata itu dilepaskannya seolah tanpa makna. Dia menghela nafasnya. “Katanya kamu...” “Ya, saya PNS yang malas masuk kantor, tahu kan kenapa,” Rudi memotong perkataan Anto. Anto menggangguk. Penuh rasa maklum. Mengingat Rudi yang dipaksa keluarganya jadi PNS. “PNS itu ada uang pensiunnya, seniman ada tidak?” Terngiang lagi kata-kata Ayah Rudi yang masih mendekam di penjara karena kasus korupsi di instansi pemerintah tempatnya berkarier. Anto memerhatikan barang bawaan Rudi dan Bayu. “Kalian mau pergi?” tanya Anto. “Ya,” jawab Bayu. “Ke tempat yang banyak penulis dan gitaris kumpul kan,” Anto tersenyum pun dua sobatnya. “Mau ikut?” Rudi mengajak. “Maaf kawan, tidak bisa,” Anto menggeleng. “Tak apa-apa To, kami mengerti,” ujar Bayu. Bayu menoleh ke Rudi, “Ayo!” Dia mengangguk seolah memberi kode. Rudi menyodorkan beberapa lembar uang ke Anto. “Ambillah!” katanya sambil berdiri. Anto terkesiap berusaha menolak. “Ambil To!” Bayu ikut memohon. Ada tekanan pemaksaan dalam nada bicaranya. Dengan lincah, Rudi menyelipkan sebagian uang yang diambilnya dari kredit khusus PNS itu ke kantong celana Anto. Rudi tak peduli gajinya harus dipotong tiap bulan, bahkan dipecat sekalipun karena justru itu keinginannya. Mendengar suara ribut-ribut, ibu Anto keluar dari kamarnya. Ia menyapa manis Rudi dan Bayu yang segera permisi. Lengang subuh berjerait kabut saat sepeda motor yang membawa Rudi dan Bayu mulai bergerak meninggalkan desa demi menggapai harapan mereka. Meninggalkan Anto yang tetap setia di tempatnya sampai mereka lenyap dari penglihatan dan pendengarannya. Ada tetes-tetes bergulir membasahi pipinya. Ibu Anto mengintip dari balik jendela. Janda itu turut terharu.  Emur Paembonan lahir di Pare Pare, Sulawesi Selatan 16 Maret 1978. Pendidikan formal pada Jurusan Administrasi Negara FISIP Universitas Hasanuddin Makassar 1996-2003. Memulai menulis dengan mengirim komentar di kolom Suara Tifosi Tabloid Bola. Belajar menulis cerpen secara otodidak. Cerpen antara lain pernah dimuat di Seputar Indonesia, Harian Fajar, Suara Pembaruan juga Jurnal Nasional.

OKTOBER 2011

m a g a z i n e

15


GURU PUNYA KARYA

STRATEGI PENGELOLAAN PURI AGUNG SEBAGAI DAYA TARIK WISATA DI DESA KERAMBITAN AGUS MURIAWAN PUTRA*

K

ABUPATEN Tabanan merupakan salah satu kabupaten di Bali yang memiliki daya tarik wisata bagi wisatawan yang datang mengunjunginya. Pengembangan pariwisata Kabupaten Tabanan diarahkan pada pengembangan produk wisata alam dan budaya, pemasaran daya tarik wisata, pembinaan dan pengembangan nilai-nilai budaya, pembinaan kesenian, peninggalan sejarah yang bertujuan untuk mengembangkan daya tarik wisata potensial sebagai daya tarik utama bagi wisatawan, yang menjadikan pariwisata sebagai sarana peningkatan pendapatan masyarakat dan daerah serta media bagi penciptaan lapangan dan kesempatan kerja. Salah satu daya tarik yang berpotensi untuk di kembangkan adalah Daya Tarik Wisata Puri Agung Kerambitan. Puri Agung Kerambitan merupakan salah satu daya tarik wisata yang terletak di Desa Kerambitan, Kecamatan Kerambitan, Kabupaten Tabanan yang memiliki keunikan dan daya tarik tersendiri, yakni bentuk arsitektur puri serta fungsi dari masing-masing bangunan di dalam puri. Puri Agung Kerambitan juga menawarkan paket dan atraksi wisata bagi wisatawan, seperti: Puri Night, Puri Wedding, Puri Day, serta atraksi Tektekan, Joged Bumbung, Okokan, dan lainnya. Puri Agung Kerambitan memiliki potensi seni dan budaya yang khas untuk dikelola ke depannya sebagai pariwisata yang mengedepankan budaya, sehingga dapat berpartisipasi dalam pelestarian budaya lokal dan meningkatkan rasa memiliki terhadap budaya yang sudah ada, akan tetapi pengelolaan yang dilakukan kurang maksimal karena adanya berbagai kendala internal dan eksternal, sehingga membutuhkan suatu strategi pengelolaan yang tepat dan bertanggung-jawab yang dapat memberikan manfaat ekonomi, sosial, dan budaya. Secara geografis Desa Kerambitan merupakan salah satu desa yang terletak di Kecamatan Kerambitan, Kabupaten Tabanan, Provinsi Bali. Desa Kerambitan memiliki 5 banjar atau dusun yang terdiri dari: Banjar Wani, Banjar Pekandelan, Banjar Tengah Kangin, Banjar Tengah, dan Banjar Tengah Kawan. Desa Kerambitan berada pada ketinggian + 500 meter dari permukaan laut dengan curah hujan 200 sentimeter/tahun. Dilihat dari segi topografi, Desa Kerambitan merupakan dataran rendah dengan suhu udara rata-rata 23oC. Desa Kerambitan memiliki luas wilayah + 158 Ha, dengan batas wilayah desa secara geografis adalah: Sebelah Utara : Wilayah Desa Baturiti dan Desa Kukuh. Sebelah Timur : Sungai Abe. Sebelah Selatan : Wilayah Desa Penarukan. Sebelah Barat : Sungai Lating. Sejarah Puri Agung Kerambitan Pada abad ke-17 seorang raja yang bernama Ida Cokorda Mur Pemade, bertahta di Puri Agung Tabanan. Sejak bertahtanya almarhum Ayahnda Baginda Sri Magada Sakti, Ratu Singgasana Tabanan ke-12 ketika itu, Negara Tabanan sudah meliputi wilayah yang luas dan subur dengan batasan sebelah utara Gunung Beratan, di sebelah timur Sungai Sungi, di sebelah selatan laut, dan di sebelah barat Sungai Pulukan. Selama Baginda Raja bertahta hingga mencapai usia lanjut namun belum dikaruniai seorang putra untuk menggantikan kedudukan baginda, sehingga baginda mengambil tekad dan janji apabila dia memiliki seorang putra, maka yang paling sulung akan dijadikan raja meskipun putra itu lahir dari putra penawing. Sebab menurut tradisi sesana, Putra Mahkota adalah putra yang dilahirkan oleh Permasuri Raja, maka terkabullah permintaan baginda memperoleh putra lelaki yang lahir dari istri penawing yang bernama Ni Mekel Sekar dari Sekar Taji, Wanasari-Tabanan dan diberi nama Siarya Ngurah Sekar dan ditetapkan sebagai Putra Mahkota karena putra lelaki yang lahir pertama kali. Kemudian memiliki seorang putra lelaki lagi bernama Siarya Ngurah Gede lahir dari Permasuri Raja berasal dari Lodrurung yang bernama Gusti Wayan, Putri dari Nyai Babadan dan ibunya dari Grokgak. Setelah Ida Cokorda Mur Pemade wafat, sesuai dengan janji yang dibuat oleh almarhum Baginda Raja, Siarya Ngurah Sekar menggantikan kedudukan ayahnya dan bergelar Cokorda Di- Sekar, Beliau adalah ratu pertama Tabanan ke-14 dan adiknya Siarya Ngurah Gede tetap tinggal di Puri Agung Tabanan. Setelah beberapa lama Siarya Ngurah Gede tinggal bersama kakaknya Ida Cokorda Di-Sekar di Puri Agung Tabanan tanpa kedudukan yang pasti, maka suatu hari pergilah Beliau meninggalkan Puri Agung Tabanan dengan keadaan bingung dan sedih ke rumahnya di sebelah utara gunung menuju Ki Pasek Gobleg. Dari sana meneruskan perjalanan sampai di Desa Banjar Buleleng. Menginap di sebuah gerai dari Brahmana Wangsa bernama Gerai Ageng Banjar. Kemudian baginda mengirimkan utusan untuk memanggil pulang Adinda Baginda Siarya Ngurah Gede hingga tiga kali, namun tidak berhasil dan Beliau belum mau pulang kembali ke Tabanan. Akhirnya, Ida Cokorda Di-Sekar mengirimkan utusan dan memberikan kekuasaan kepada pimpinan Kyayi Subamya Gadungan (Jero Subamya sekarang). Tugas tersebut terlaksana, Siarya Ngurah Gede pulang ke Tabanan dengan perjanjian: 1. Separuh dari Negara Tabanan dan rakyatnya diserahkan kepada Beliau.

16

m a g a z i n e

OKTOBER 2011

2. Dibuatkan puri yang sama megah dan lengkap seperti Puri Agung Tabanan. Lalu Sang Pandita di Gerai Ageng Banjar berkata pada Siarya Ngurah Gede dengan pesan, jika paduka membuat puri pilihlah tanah yang mengeluarkan asap, di atas tanah itulah puri paduka harus dibangun. Maka, sejak peristiwa itu Siarya disebut dengan nama Siarya Ngurah Gede Banjar. Baginda Raja memerintahkan beberapa orang untuk melihat lokasi yang akan dibangun sesuai dengan pesan, maka terlihatlah dataran tinggi bernama Dukuh Pengembungan. Dari arah selatan terlihat asap mengepul dari dalam tanah yang sekarang disebut Desa Kerambitan yang merupakan pilihan untuk dibangun puri. Puri Agung Kerambitan dibangun pada tahun 1650-1670 dan Siarya Ngurah Gede Banjar yang kemudian dinobatkan menjasi raja disebut Ida Cokorda Ngurah Gede Banjar. Beliau menurunkan para bangsawan keluarga besar Puri Agung Kerambitan, yang sampai pada dewasa ini merupakan generasi ke-8 (Sumber : seperti yang diceritakan oleh AA. Ngurah Anom Mayun, Anglurah Puri Agung Kerambitan). Potensi Puri Agung Kerambitan Puri Agung Kerambitan dibagi atas 9 (sembilan) lokasi, yaitu: 1. Ancak Saji Pada jaman dahulu lokasi ini sebagai tempat masyarakat untuk menyambut para tamu agung yang akan menghadap raja. 2. Cangkem Kodok Pada jaman dahulu lokasi ini merupakan tempat masyarakat melakukan persiapan segala perlengkapan upacara besar yang dilaksanakan di puri. 3. Jaba Tandeg Pada jaman dahulu lokasi ini merupakan tempat para tamu mempersiapkan diri untuk menghadap raja. 4. Tandakan Lokasi ini merupakan tempat penyelenggaraan upacara adat seperti: perkawinan, mepandes, tiga bulanan, dan lain-lain. 5. Saren Agung Lokasi ini merupakan sentral puri karena letaknya di tengah, lokasi inilah yang pertama kali dibangun pada tahun 1650 dan lokasi yang disakralkan/disucikan, upacara-upacara tertentu saja yang boleh dilakukan di lokasi ini. 6. Palemahan (tempat tinggal warga puri) Di Puri Agung Kerambitan terdapat 3 lokasi, yaitu: Saren Gede, Saren Kaja, dan Saren Kangin. 7. Pura Batur Agung Merupakan tempat persembahyangan keluarga puri yang terdiri dari: Pura Kawitan, Pelinggih, Persimpangan Pura-Pura besar di Bali, dan Pelinggih Persimpangan Pura Adat Bale Agung. Adapun potensi-potensi yang dimiliki oleh Puri Agung Kerambitan adalah sebagai berikut: Atraksi Wisata Pihak pengelola menawarkan atraksi wisata yang terdiri dari: 1. Tari Tektekan Tari Tektekan adalah tarian khas budaya Kerambitan, tarian ini menggambarkan pertarungan antara karakter yang baik dengan karakter yang jahat. Tarian ini dilakukan oleh 13 penari dan 50 sekaa tabuh. Tari Tektekan ini merupakan atraksi unggulan pada Daya Tarik Wisata Puri Agung Kerambitan. 2. Tari Joged Tari Joged biasanya dipentaskan sebelum Tari Tektekan. Tarian ini dilakukan oleh sekitar 7 orang penari wanita. Tarian ini merupakan tarian pergaulan antara masyarakat lokal dengan para pendatang, dalam tarian ini wisatawan ikut berpartisipasi di dalamnya dan tarian ini menunjukkan suasana riang antara penari dan wisatawan. 3. Permainan Rakyat Permainan rakyat meliputi: metejogan (engrang), metembing (melempar uang logam Bali ke dalam lubang yang telah disediakan), dan permainan ini menggambarkan suasana pedesaan. Paket Wisata Paket wisata yang ada dalam Puri Agung Kerambitan adalah Puri Night, Puri Wedding, dan Puri Day. Puri Night merupakan paket kegiatan atraksi wisata yang di dalamnya merupakan tiruan dari kegiatan yang dilakukan pada malam hari di masa lalu oleh raja dan keluarga kerajaan untuk dinikmati oleh para wisatawan. Kegiatan ini diawali dengan ucapan selamat datang dari keluarga raja yang dilakukan dengan menjemput wisatawan di batas desa yang kemudian dilanjutkan dengan prosesi yang diiringi oleh keluarga puri, simbol-simbol kerajaan dan gamelan baleganjur. Kegiatan yang dapat dilakukan oleh


GURU PUNYA KARYA wisatawan adalah makan malam ala raja yang diselenggarakan di halaman puri dengan menyajikan berbagai jenis menu makanan tradisional yang disiapkan secara khusus diiringi berbagai seni pertunjukan, diantaranya: Tektekan, Calonarang, Tari Legong, dan Tari Joged Bungbung sebagai tari pergaulan, di mana wisatawan dapat ikut menari bersama-sama. Sebagai gambaran dapat dilihat dalam Puri Night Package sebagai berikut: Harga per Paket Number Of Pax 10 s/d 15 16 s/d 20 21 s/d 30 31 s/d 40 41 s/d 50 51 s/d 60

Package US$ 65/pax US$ 60/Pax US$ 57/Pax US$ 55/Pax US$ 50/Pax US$ 47/Pax

Number Of Pax 61 s/d 70 71 s/d 80 81 s/d 90 91 s/d 100 101 s/d 150 150 UP

Package US$ 45/pax US$ 40/Pax US$ 37/Pax US$ 35/Pax US$ 33/Pax US$ 30/Pax

Rangkaian Program Puri Night meliputi: 1. Wisatawan tiba di Kerambitan kemudian disambut oleh tiga grup musik tradisional dan sekelompok orang yang mengenakan seragam tradisional Bali. 2. Wisatawan berjalan menuju Ancak Saji yang merupakan halaman depan puri. 3. Wisatawan memasuki Candi Bentar, di mana keluarga raja berdiri untuk menyambut kedatangan mereka. 4. Minuman segera disajikan dan mempersilahkan wisatawan duduk di tempatnya untuk menonton atraksi yang telah disiapkan. Atraksi tersebut meliputi: Musik Okokan, Tari Pendet, Tari Topeng, Kendang Mebarung, prosesi pernikahan tradisional Bali. 5. Wisatawan berjalan memasuki puri yang kemudian diberi penjelasan mengenai tiap bangunan dan hal lain dari puri. 6. Mempersilahkan wisatawan duduk di area yang telah disediakan untuk menikmati hidangan makan malam dengan menu: sup ayam, nasi steam, babi muda, ayam panggang ala Bali, ikan goreng, telur rebus saus Bali, sate ikan, mie goreng, sate daging babi, saus cabe, udang, sayuran dan makanan penutup (kue Bali, buah segar, kopi, dan teh). 7. Musik dimainkan selama makan malam dan pada waktu dessert menampilkan pertunjukan Tari Joged Bumbung, di mana penari melibatkan wisatawan ikut serta menari bersama. 8. Setelah selesai makan malam wisatawan diantar ke halaman puri untuk menonton pertunjukan drama Calonarang dan Tektekan yang merupakan atraksi terakhir dalam program puri night. 9. Program selesai, wisatawan diantar keluarga puri menuju halaman puri. Paket Puri Wedding ini merupakan suatu kegiatan yang merupakan tiruan kegiatan para raja pada masa lampau seperti: Upacara Potong Gigi, Upacara Kelahiran, Upacara Perkawinan, dan Upacara Ngaben. Diawali dengan sambutan oleh keluarga puri yang dilakuan dengan menjemput wisatawan di batas desa kemudian dilanjutkan dengan prosesi yang diiringi dengan simbol-simbol kerajaan dan seperangkat gamelan baleganjur. Sesampai di areal puri, wisatawan dijelaskan mengenai berbagai jenis bangunan dan fungsinya, serta fungsi dan peranan puri dalam masyarakat. Kegiatan yang dapat dilakukan wisatawan adalah melihat proses Upacara Manusa Yadnya, dalam kegiatan ini wisatawan dijelaskan tentang makna dari setiap rangkaian upacara yadnya, setelah berakhir wisatawan disuguhkan makan siang ala raja dan keluarganya yang dilakukan di halaman tengah puri diiringi musik dan Tarian Legong. Paket Puri Day ini menyajikan tiruan kegiatan raja pada siang hari di masa lalu. Kegiatan ini diawali dengan sambutan ucapan selamat datang dari kelurga raja yang dilakukan dengan menjemput wisatawan di batas desa disertai prosesi yang diiringi dengan simbol-simbol kerajaan serta gamelan baleganjur. Kemudian wisatawan dijelaskan mengenai kondisi puri. Kegiatan yang dapat dilakukan wisatawan adalah mengunjungi wilayah-wilayah kekuasaan puri di masa lalu dan berbagai kegiatan masyarakatnya, diantaranya adalah mengunjungi pantai, pasar, dan berbagai kegiatan masyarakat sehari-hari yang dilakukan masyarakat sekitar pada masa itu. Lalu wisatawan dipersilahkan berkomunikasi langsung dengan masyarakat dan wisatawan dibuat seolah-olah menyatu dengan masyarakat serta dalam kegiatan ini wisatawan disuguhkan makanan kecil dan minuman tradisional yang khas dari produk masyarakat sekitar juga permainan tradisional. Setelah selesai, wisatawan kembali ke puri untuk selanjutnya disuguhkan makan siang ala raja diiringi berbagai jenis musik tradisional yang khas. Setelah selesai sebagai penutup wisatawan diantar kembali ke batas desa oleh petugas yang ditunjuk. Koleksi Puri Puri Agung Kerambitan memiliki berbagai macam peninggalan keluarga puri yang diwariskan turun-menurun, seperti: arca-arca yang dianggap suci, busana raja terdahulu, keris, tombak, lukisan, dan peninggalan lainnya yang menjadi corak tersendiri bagi keunikan puri, sehingga dapat membuat wisatawan tertarik akan keunikan budaya yang dimiliki puri tersebut. Arsitektur Puri Adanya puri yang berfungsi sebagai tempat tinggal bangsawan merupakan salah satu hasil kebudayaan tradisional Bali yang berkaitan erat dengan sistem budaya, di mana yang menata struktur letak bangunan puri dengan menganut sistem klasifikasi dua arah, sehingga terjadi keseimbangan

antara yang baik dan buruk, di mana oleh orang Bali disebut Rwa Bhineda. Struktur letak bangunan Puri Agung Kerambitan dibagi menjadi dua bagian, di mana bagian yang dianggap suci dan sakral diletakkan mengarah ke utara/kaja dan bagian bangunan yang tidak dianggap suci diletakkan mengarah ke barat dan selatan. Bangunan yang dianggap sakral terdiri dari: Saren Agung yang digunakan untuk menyimpan benda-benda warisan keluarga puri yang dianggap sakral, dan Bale Kembar yang digunakan untuk melaksanakan upacara agama, seperti: Manusa Yadnya. Sedangkan, bangunan yang tidak dianggap suci terdiri dari: Saren Gede sebagai tempat untuk melaksanakan pertemuan antar keluarga puri, di samping untuk melaksanakan kegiatan kesenian; Saren Kelod sebagai tempat peristirahatan keluarga puri; dan Sandekan yang digunakan sebagai tempat peristirahatan raja-raja jaman dahulu. Di samping itu, bangunan Puri Agung Kerambitan juga didukung oleh seni arsitektur Bali, seperti: ukiran-ukiran yang menggambarkan cerita pewayangan yang bisa dilihat pada dinding bangunan puri. Makanan Khas Makanan khas yang disediakan atau yang diperkenalkan kepada wisatawan asli dari Bali, seperti: lawar, babi guling, sate, dan urutan. Tujuannya, di samping menikmati keindahan alam, kesenian, tata cara hidup tradisional, dan keramahtamahan penduduk, juga bertujuan menggali potensi kuliner khas Bali sebagai produk pengembangan pariwisata Bali. Aktivitas Keluarga Puri Aktivitas dalam keluarga puri yang sering dilakukan, sehingga dalam perkembangan pariwisata dapat dijadikan daya tarik wisata bagi yang berkunjung ke puri dapat melakukannya dengan berbagai kegiatan, yaitu: demo memasak tradisional ala Bali, memperkenalkan cara berpakaian Bali, demonstrasi cara pembuatan obat-obat tradisional Bali, jarit-menjarit, membuat canang, dan melukis. Tata Cara Menerima Tamu dan Keramahtamahan Keunikan tata cara menerima tamu yang dilakukan oleh keluarga puri berdasarkan aturan pada zaman terdahulu, di mana tamu yang baru tiba di halaman, pertama disambut dengan tari-tarian, seperti: Tari Pendet dan Okokan yang disertai dengan obor atau alat penerangan, jika tamu datang pada malam hari. Wisatawan kemudian disuguhkan hidangan khas puri yang diiringi dengan Tarian Joged. Setelah itu tamu diantar ke Pandakan (tempat khusus untuk menerima para tamu), di mana di Pandakan inilah wisatawan dijelaskan tentang segala sesuatu yang berhubungan dengan puri. Strategi Pengelolaan Puri Agung Kerambitan Strategi pengelolaan merupakan upaya yang dilakukan pihak manajemen dalam mengelola Daya Tarik Wisata Puri Agung Kerambitan untuk tetap melestarikan adat dan budaya yang dimiliki, menumbuhkan rasa cinta dan memiliki kepada keluarga puri, masyarakat lokal, serta wisatawan terhadap adat dan budaya, meningkatkan kunjungan wisatawan, serta meningkatkan pendapatan puri. Pengelolaan Puri Agung Kerambitan sangat terbuka bagi pariwisata. Di sini pihak pengelola tidak tertutup dengan adanya pariwisata, justru pihak pengelola sangat terbuka (open) dengan adanya pariwisata dan memberikan respon (tanggapan) yang sangat positif. Hal ini, dapat dilihat dari keseriusan pengelola dalam meningkatkan kualitas produk wisata dalam puri, melakukan kerjasama dengan travel agent, mengirim anggota keluarga puri untuk mengemban pendidikan khusus mengenai pengelolaan dan upayaupaya lainnya. Strategi pengelolaan yang sudah dilaksanakan oleh pihak pengelola Daya Tarik Wisata Puri Agung Kerambitan sebagai berikut: 1. Mengadakan promosi berupa brosur yang disebar ke travel agent dan melalui website. 2. Mengadakan paket wisata seperti: Puri Wedding, Puri Night, dan Puri Day. 3. Mempertunjukkan atraksi-atraksi wisata, seperti: Tari Tektekan, Joged, Okokan, Baleganjur (seni gamelan), dan atraksi lainnya. 4. Berusaha menggalakkan lagi budaya Bali yang sudah mulai tergeser dengan budaya modern. 5. Pihak keluarga puri menekuni pendidikan mengenai pengelolaan. 6. Melibatkan masyarakat sekitar dalam paket dan atraksi yang dipertunjukkan untuk wisatawan. 7. Menyediakan fasilitas-fasilitas yang dibutuhkan oleh wisatawan, seperti: toilet, tempat peristirahatan, dan fasilitas penunjang lainnya. 8. Melakukan perawatan terhadap bangunan puri dan penataan terhadap taman yang berada di dalam puri. 9. Sebagai salah satu pengembangan produk pariwisata yang akan dimajukan potensi wisata puri. 10. Menjual puri dengan kebudayaan melalui pelayanan yang berkualitas oleh tenaga profesional dan mempertahankan originalitas. Penyusunan suatu strategi pengelolaan yang tepat dan bertanggungjawab sangat diperlukan oleh pengelola untuk lebih meningkatkan dan memajukan puri yang sedang dikelolanya. Strategi pengelolaan yang dapat dilakukan pengelola adalah dengan merubah atau mengganti rencanarencana yang sudah ada yang dianggap tidak efektif dalam pengelolaan dan menambahkan suatu rencana dan program kerja untuk meningkatkan kualitas pengelolaan. * Dosen di Fakultas Pariwisata, Universitas Udayana dan Kepala SMK Pariwisata Dwi Tunggal Tabanan

OKTOBER 2011

m a g a z i n e

17


ADVETORIAL

Pengurus KNPI Bali foto bersama dengan Bupati Tabanan Ni Putu Eka Wiryastuti, Senin (26/9).

KNPI Bali Siap Gelar Jambore

di Bedugul

T

ERKAIT rencana Jambore yang dikemas dalam Bulan Kreatifitas Pemuda menyambut Sumpah Pemuda itu, pengurus KNPI Bali melakukan audensi dengan Bupati Tabanan, Senin (26/9). Ketua Panitia Bulan Kreatifitas Pemuda KNPI Bali, Ngurah Putra mengungkapkan, pada even ini pihaknya akan menggelar berbagai kegiatan seperti, donor darah, pengobatan gratis dan kunjungan sosial ke panti asuhan dan panti jompo. Di samping itu pada kegiatan ini juga akan dilasanakan lomba pidato, debat, karya tulis, fun bike dan festival band pelajar se-Bali. “Pada even ini kami juga akan menggelar berbagai kegiatan yang mendukung program go green dan go clean,” imbuhnya. Sementara Ketua Panitia Jambore, Putu Eka Nurcahyadi mengatakan, pada kegiatan ini juga akan dilaksanakan jambore bertempat di Kebun Raya Eka Karya Bali, Bedugul. Eka berharap pemkab Tabanan memberikan dukungan positif, sehingga kegiatan menyambut dan memeriahkan hari Sumpah Pemuda tahun ini bisa berjalan sesuai dengan rencana.

18

m a g a z i n e

OKTOBER 2011

Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Bali akan menggelar kegiatan jambore di Kebun Raya Eka Karya Bali di Bedugul serangkaian kegiatan Sumpah Pemuda, 28 Oktober mendatang.

“Kami berharap Pemkab Tabanan memberikan respon dana sebagai bentuk dikungan dukungan agar kegiatan ini bisa berjalan dengan baik sesuai dengan rencana,” ujarnya. Dikatakannya, jambore pemuda sangat penting dalam upaya membangun karakter building pemuda dalam mengambil peran yang bisa dinikmati masyarakat. Kegiatan ini melibatkan unsur organisasi kepemudaan di Bali yang jumlahnya diharapkan mencapai 100 orang. Sementara Bupati Tabanan Ni Putu Eka Wiryastuti menyambut positif kegiatan tersebut. Bupati berpesan agar pemuda dengan segala eksistensinya, mampu mengambil peran yang dapat dirasakan masyarakat. Untuk itu pemuda diminta untuk membentuk karakter building yang benar-benar terkonsep yang mampu menjadi inspirasi untuk membangunan ke depan yang lebih baik. “Sebagai generasi muda saya berharap teman-teman KNPI berbuat sesuatu yang sifatnya menumental namun beda dari yang sudah dilakukan pendahulunya, dan berguna bagi masyarakat,” pintanya.  E-Magz


K E D AT O N PAPARIKAN SATUA MASAMBUNG

Sing Jodoh (II)

Ni Wayan Margiani

 Kukuh Sugianto 

Orti sampunang iwang miragi puniki orti sané sujati boya matulak sahananing margi duk wengi kalangkungin wengi tatkalaning Sang Hyang Surya sampun mawali napi malih kasumbungang byutané sampun nyihnayang buut, tan prasida ngwaliyang ajerih, pasemetonané tan kaélingang rikanjekanné mangkin yukti, pikobeté sayan nyakitin sang gawi sang nyaksinin nglebur keduhkitanin sampunang iwang miragi wyakti, puniki orti sané sujati sibanggedé, 18092010

Ratu Ayu sunar bulané nudut kayun kasandingin bintang masemu manis tan binayang dedari Supraba kairingin dayang-dayang suarga loka tatkalaning purnama liang nyaksiang nadak gulem peteng remrem ngawi Ratu Ayu ajerih... ajerih rauhing meseh musuh... mamisuh rah ring toyané membah rahinané megat lampah ring rurungé nungkak I Ratu sampun mapendak

K

URANG asem, anak muani ento nékad sajan. Damayanti paling ngéka daya. Ia takut tamiuné lakar keciwa nepukin pangadegné ané tuara jegég. Damayanti laut pesu ngalih anak muani ané nélpon ento. Kala macepuk, Damayanti lan anaké muani ento tangkejut. Damayanti tusing ngadén anak muani ané matamiu ento bagus gati. Ebokné ginceng, kulitné selem manis, maimbuh makumis tipis. “Tiang Susanto,” ucapné ngenalang raga. Putu Damayanti keled-keled udang masalaman. Susanto tekek ngisi limanné Putu Damayanti. “Tusing ja kalébang. Yan kelésang, sinah Mbok Putu lakar énggal magedi!” ucapné, sada makejit nakal. “Pasti Mbok Damayanti tangkejut ningalin tiang, baan kulit tiangé selem magoba bocok,” imbuhné. “Ragané sajan kieng. Tusing ja kieng di ambara dogén, di darat masé nakal!” ucap Putu Damayanti. Kenehné suud masalaman, nanging Susanto ngancan tekek ngisi limanné. Sami tanpa raos. Saling dengneng. Damayanti tangkahné nerugtug, sawiréh anak muani ento tan pakijapan ningalan raganné. Buina Susanto terus ngajumang Damayanti baan kasadaranané. Usan patemuanné ento, ada rasa tresna tumbuh di atiné Putu Damayanti. Ipun tusing nyidaang ngengsapang Susanto, anak muani ané tusing keciwa kala macepuk ajak déwékné. Buina Susanto ngorahang padéwékanné jegég lan anak bajang polos. Sadarana. Putu Damayanti makenyem padidi. Ngrestiti ring Ida Sang Hyang Parama Kawi apang prasida majatukarma ajak Kadék Susanto. Aminggu tusing matemu ajak Kadék Susanto, Putu Damayanti tusing nyidaang nanggehang rasa rindu maimbuh keciwa. Apabuin anak muani ané dotanga tusing taén nélpon kala ia nengil jumah wiadin kala siaran di ambara. Kadék Susanto sarasa ilang engkebang memedi. Tusing taén magatra. Ento ané ngranaang Putu Damayanti keciwa. “Makejang anaké ané suba nawang kasujatian tiangé keciwa. Tusing cara kala nélponné galak-galak. Mara tawanga tiang bocok, makejang ngelidin. Ratu Hyang Widhi dados jelé gati nasib tiangé, yén terus kakéné sinah tiang dadi bajang tua, tuara ada anak muani ané ngedotin tiang!” Putu Damayanti manyeselin déwék, lekad magoba tusing ayu. Tusing cara biasané, kala siaran di radio, Mbok Damayanti satata liang di ambara. Kadék Susanto ané kenehanga tusing taén magatra. Nganti ngipi-ngipi asané anak bagus ento lakar nélpon padéwékanné,

kéwala tusing ja taén dadi seken. Nganti soré, ada panggemarné nélpon turin ngorin nebak sapasira padéwékanné. “Ampura tiang kari makarya, boya ja magaé nebak-nebak adan anak. Yan nunas tembang Bali, durusang!” sautné Damayanti, sada ngambrés ngambul. “Tiang Kadék Susanto....” Putu Damayanti bungah. Kenehné apang télponné tekén Kadék Susanto suba misi. Kéwala Putu Damayanti masikap normal, sakadi siaran biasa. “Nunas tembang napi, durusang magatra dumun!” Kadék Susanto laut nunas tembang “Ngipiang Tunangan”. Putu Damayanti makesiab kala Kadék Susanto magatra ané katuju céwék spésial ané satata ngranayang padéwékanné lemah peteng uyang paling. “Tembang puniki aturin tiang buat Putu Damayanti ané satata ngaénang atin tiangé uyang. Dumogi ada rasa tresna kapaica sareng tiang, i baduda ....” Kaketug bayuné Putu Damayanti. Kenyemné manis. Ada di kenehné ngwales ané ucapanga tekén Kadék Susanto, nanging ipun kimud mesuang. Suud Kadék Susanto magatra, turin ngucapang rasa tresna lan rinduné, Putu Damayanti laut muterang tembang ‘Ngipiang Tunangan’. Putu Damayanti maimbuh tangkejut, tusing ngadén Kadék Susanto nélpon uli malun radioné. Ia nepukin Kadék Susanto negak di duur montorné, kala Putu Damayanti pesu ngojong WC. Kadék Susanto laut maekin ipun. “Tiang sabilang wai ngenehang raganné. Mbok Damayanti ngaé tiang buduh paling, yadiastun tusing ja sajegég widyadari, nanging tan urunang ngaé tiang mabuk kepayang. Kenyem ragané nyidaang nayuhin atin tiangé....” “Terusang suba ngegombal!” saut Damayanti. Di kenehné metu rasa jengah lan liang. “Béh tiang katuduh ngegombal, tusing nyidaang tiang nerima. Napi sané ucapang tiang wau wantah metu saking dasarin ati.” “O, malih jebos Mbok Damayanti budal, banggiang tiang nyantosang, banggiang tiang sané ngateh ragané budal nuju jero!” “Suksma. Tiang énggal-énggal. Bénjang pungkur jumunin!” sautné. Nanging Susanto tusing ja kalah akal. Sedeng nepukin Putu Damayanti ngantosang montor nambang, ia maekin turin ngenjuhin hélm. Putu Damayanti tusing nyidaang nulak sawiréh langité suba ngancan peteng. Gulem. Kala patemuanné ento, Putu Damayanti idupné bungah. Apabuin ia nawang kasujatian kenehné Kadék Susanto, ané seken tresna. Tusing nolih goba, apabuin artha. Sasukat ento, Putu Damayanti ngancan leket ajak Kadék Susanto, sakadi amplop lan perangko. 

OKTOBER 2011

m a g a z i n e

19


KEDATON SATUA BALI MODÉRN

IDK Raka Kusuma

W

IRÉH sing dadi singang, mantunné apang operasi ja. Wayan Suantara, lad bupati di kota tongosné jenek, nekain rumah sakit swasta di Dénpasar. Tetujoné, nakonang gedén prabéané, yén payu operasi. Makesiab Wayan Suantara maca angka ané matulis di kertasé. “Satus yuta. Déwa Ratu,” Wayan Suantara maclepeh ngraos, adéng, “Dija ngalih pipis amonto liunné?” Pesu uli rumah sakit Wayan Suantara ngrasaang awakné baat. Baat ulian makeneh. Ngenehang pipis satus yuta. Yén sing Putu Ardita, supir pribadinné ané ajaka uli teruna ngisiang, kéweh ia ningtingang awakné. Ningtingang, apang nyidaang menék tur nglejigang jit di korsi mobilné ané di arep. Putu Ardita, sambil ngisi setir tur ngenjek gas, nyledét Wayan Suantara. Ningalin Wayan Suantara masebeng ucem, Putu Ardita nyeh ngajak ngorta. Sing bani ngenyit roko. Kapin kecap bibihné masem rasaanga. “Satus yuta,” adéng Wayan Suantara ngraos. Kapin adéng Putu Ardita ningeh. Mabani takut Putu Ardita mancingin. “Wénten napi Pak? Dados dingeh tiang bapak ngandikaang satus yuta?” Wayan Suantara mendep. Mapan suba biasa ngajak Wayan Suantara kija-kija, Putu Ardita ngerti. Yén mendep, artinné dadi ajak ngraos. Artinné, dadi takonin unduk ané ngapelekang. Unduk ané ngranaang belbelan. Lantas, sing ngutang témpo, Putu Ardika buin mesuang pancingan. Sasidansidan, nabuhang pancingan, banban lan manis. “Sakéng dumun, yén wénten pikobet, bapak ngarsaang tetimbang ring tiang. Wantah dados uning, napi pikobet sané meletang bapak?” Wayan Suantara, ningeh raosné Putu Ardita kéto, nadaksara makebieng inget. Uli mara telung bulan dadi bupati, sakancan kakéwehan ané nepén déwékné setata timbanganga tekén Putu Ardita. Sing nyak ia matimbang wirasa ajak kurenané. Kurenané gelem jantung kronér, ngranaang ia nyeh nekedang kakéwehan ané nepén déwékné tur ngidih tetimbang. Inget tekén unduké ento, Wayan Suantara nekedang kakéwehan ané ngranaang

20

m a g a z i n e

OKTOBER 2011

sebengné ucem. Maklesét raos di kenehné Putu Ardita, apang Wayan Suantara ngadep tanah utawi apa dogén ané dadi adep. Putu Ardita sing bani mesuang. Nyeh yén Wayan Suantara salah tampi. Maklesét buin raos di kenehné Putu Ardita, apang Wayan Suantara nyilih di bank. Nyeh masi nekedang. Krana telung bulan ané liwat ia ngatehang Wayan Suantara nyilih pipis di BPD. Ané pang telu, maklesét raos di kenehné, apang Wayan Suantara nyilih tekén sekancan pengusaha ané taén tulungina dugasé nu dadi bupati. Unduké ténénan tekedanga tekén Wayan Suantara. Wayan Suantara nyautin aji raos: “Lek bapak, Tu.” “Dados lek?” “Kadéna bapak ngenténgang kamelahan bapaké ané suba liwat.” “Ten ja kénten, Pak.” “Yén sing kéto, kénkén?” “Dumun pengusahané nunas tulung ring bapak, sinah ipun tepén pikobet. Mangkin bapak tepén pikobet, sampun sapatutné ngarsaang pitulung. Samaliha bapak ngarsaang pitulung ring sané naén tulungin bapak.” Wayan Suantara mendep. Putu Ardita makenyem. Kenehné mabunga-bunga. Bapakk mendep, kéto ia ngraos di keneh, artinné cumpu tekén tetimbang i déwéké. Artinné, i déwék tinggal ngantiang, kija orahina tekén i bapak. Raosne Putu Ardita ané munyianga di keneh ento mabukti. Wayan Suantara ngorahin, yén suba teked di kota tongosné jenek, tongosné taén dadi bupati, apang ka perusahané Ketut Panca. “Kénkén yén kemu?” Wayan Suantara ngidih tetimbang. “Yén ten iwang, duk bapak kari dados bupati, bapak naen ngandikain tiang. Ketut Panca naen nunas ring bapak mangda kicén proyék. Yén ten iwang, bapak ngandikain tiang, bapak ngicén proyék wewangunan gedung kantor lurah. Akéhné tetiga.” “Buat ento saja pesan. Ané idihang bapak tetimbang, pantes apa sing kemu nyilih pipis pinih malu?” “Patut pisan. Pak Panca mangkin sampun dados


KEDATON kontraktor ageng. Samaliha bapak ngicén ipun proyék nénten ja sapisan. Yén petékin tiang, wénten pang dasa ipun tulungin bapak antuk proyék. Padaang ring pengusaha sios, ring ipun pinih akéh bapak mapica proyék.” Wayan Suantara mendep. Lantas anggutanggut. Suud kéto ngusap mua aji sapu tangan. Putu Ardita makenyem. Teked di Gianyar, Wayan Suantara ngorahin Putu Ardita ka tongos langganané madaar uli ia mara nem bulan dadi bupati. Sambil ngantiang nasi mabé guling, Wayan Suantara nadaksara inget tekén dagang koran teruna ané ngojog déwékné tur nanjaang koran. Kala ento, mara pangawit ia mabelanja ditu. Ia inget di pang limané madaar ditu, ngorahin anaké teruna ento apang nglimbakang dedagangan. “Tiang ten ngelah modal, Pak,” anaké teruna ento masaut. “Yén Gus nyak, baanga ya modal.” Nepukin anaké teruna ento manggutan, Wayan Suantara ngorahin ajudané nyemak

tasné di mobilé. mobilé Wayan Suantara inget, inget ia ngenjuhin pipis anaké teruna ento duang yuta. Wayan Suantara inget, suud ngorahang suksma lan niman limané, anaké teruna ento ngidih kartu adané. Wayan Suantara inget, anaké teruna ento nyesed nagih tulisang: di jalan apa ia nongos tur dija, mapan ngorahang sing ngelah kartu adan. Wayan Suantara inget, ajudané ngisinin pangidihné apang di kertas ané enjuhanga nulisang, laut ngenjuhin anaké teruna ento. Kanti suud madaar ia inget tekén unduké totonan. Teked di malun apotik di wates kauh kota tongosné jenek, Wayan Suantara ngorahin apang Putu Ardita sing engsap ka perusahan gelahné Ketut Panca. Sonder orahina pindo,

Putu Ardita mélokang mobilé ka kébot lantas nerbéng beneng kaja. Buin limolas menitné mobilé suba teked di arep perusahané Ketut Panca. Putu Ardita ngenjek rim. Satondén tuun Wayan Suantara ngorahin Putu Ardita ngantiang di mobilé. Tengan jam galahé majalan. Wayan Suantara tondén teka. Setimaan menit galahé majalan. Wayan Suantara teka. Sarwi ngidupang mobil Putu Ardita matakon, “Sapunapi Pak, polih?” Wayan Suantara sing masaut. Suba mobilé majalan duang kilo, mara Wayan Suantara mesuang pasaut. “Sing maan, Tu. Ketut Panca ngorahang uli atiban perusahané sing maan proyék.” Putu Ardita, mekeneh ngorahang bogbog. Nanging buung. Nyeh yén Wayan Suantara gedeg. Laut ngalih Ketut Panca tur matbat aji munyi sepet. “Mangkin kija, Pak?” Suud kituk-kituk Putu Ardita nakonin Wayan Suantara. peru usa s “Ka perusahané Ali Syarifudin.” Pajalané Wayan Suantara sig Ali Syarifudiné patuh tekén sig perusahané Ketut Panca. Lantas ka perusahané Gusti Ayu Laksmi, pocol. Ka perusahané Ida Bagus Anom, sing maan apa. Ka perusahan Déwa Putu Oka Ardana. Patuh. Sing maan apa. Ka perusahané Sang Madé Méndra. Sing maan apa masi. Ka perusahané Nining Bestari. Pocol. Kanti sanja guminé, Wayan Suantara tondén masi maan nyilih pipis. Marasa leleh, Wayan Suantara ngorahin Putu Ardita mulih. Padalem bapak. Pedalem bapak. Dugasé nu dadi bupati sakancan ané tekaina ento pang kuda kadén tangkil ngidih proyék. Jani duga sing nyak nulungin. Padalem bapak. Padalem bapak. Tuah raosé ento ané sida sambata tekén Ardita Sambata Sa Putu Ardita. di keneh. Iseng Putu Ardita nyledét Wayan Suantara. Sebet ia nepukin Wayan Suantara nyédér di korsiné. Peluh pidit. Sebengné ucem tan kadi. Limané ngamel saputangan belus lépég. Ciri pangkuda-kuda anggona nyusutin peluh ané tan parérénan ngecah. Padalem bapak. Padalem bapak. Buin Putu Ardita nyambat. Nu di keneh. Yén iraga té ngelah, iraga nulungin bapak. Sakéwala apa anggon nulungin? Ah, yén dugasé nu dadi bupati bapak nyak aji mumpung, miribang sing kakéné dadinné. Déwa Ratu! Kakéné dadin anaké dugasé kuasa jujuré kaliwat? Putu Ardita buin nyledét. Tingalina Wayan Suantara bengong. Paliatné joh. Joh sawat. Nrawang sawang. 

OKTOBER 2011

m a g a z i n e

21


KEDATON Ngandang Nganjuh

IBW Widiasa Kenitén

Berung Bojog N

ÉNTEN naen uas tatun koruptoré. Usan asiki sané katengerin wénten malih nimbal. Tan bina sakadi berung bojog. Yan bojogé berung, demen pisan ipun mitbit kantos nénten mrasidayang uas. Kajengat-kajingit nyinggidang angga. Kantos nénten purun ngantenang angga. Nyuti rupa sayan wikan. Genah mengkeb katah pisan. Makeblés manten wau kaejuk. Pakantenané bersih, alep alus, tutur manis. Nénten narka jagi ngawetuang pinyungkan ring panegara Indonésia. Sayan nglimbakang, sayan ngagengang manten sang kaucap dados koruptor. Nénten naen ortiné majadengan abosbos lianan ring parindikan korupsi. Sang sané korupsi samaliha ngamel mandala. Dados pamucuk ring soangsoang pagenahan. Wénten ring partai, wénten ring bank, wénten naen dados gubernur, naen dados bupati.

22

m a g a z i n e

OKTOBER 2011

Janten sang asapunika sampun uning ring dija pagenahan jinahé, utawi sapunapi ngindikang jinahé mangda sida kapikolihang. Ngrereh artha brana mangda gelis. Nénten ngamedalang peringet. Maseneng-seneng sarwi maicaicaan ngrorupsiang jinah. Lian sareng ring sang katunan. Katunan kaweruhan, katunan pakaryan, katunan artha brana. Sang katunan kantos paling ngrereh pangupajiwa mangda mrasidayang maurip. Mangda mrasidayang nyekolahang sentana. Sané ngangenin kantos jiwa pramanané ical saking angga sarira. Antuk meledé madué jinah. Cingak manten katah pisan sang ngrereh pakaryan ka duranagara, sakadi ka Arab Saudi, ka Malaysia. Kantos kanibakin ukum pancung. Kantos kadaldal, ukum cambuk mangda mrasidayang ngajengang. Wénten kaparikosa, kaentungang mayit ipunné. Kamanusanné ical rikalané asapunika. Sang dados koruptor maica-icaan ngajengang, kantos mataag, nyisaang antuk rangkuang sané kaajeng. Usan ngajengang ring panegara S nimbal ka panegara M mapincer genahé. Nagingin indriané. Lali ring arthané sané ngranjing ring anggané nénten gumanti kadruénang. Ngrubéda manten korupsiné ring Indonésia. Minab jabatané sané kagamel anggén galah ngorupsiang jinah rakyat. Macingakan punapi tedun abosbos manten. Sampunang sampun sué-sué. Cingakin sané magenah ring pinggir-pinggir tukadé. Cingakin sané nénten mrasidayang ngranjing. Cingakin sané panganggénné sétsét pasuranting. Cingakin sané urip ipunné ring lampu setopané malomba mangda mrasidayang nunas ajengan ring rahinané punika. Nénten ké nué kayun mapitulung? Biasané ipun katulungin ring nampek-nampek pamiluné. Sami ngangken prabéla ring sang kalaran. Saling pariinin ngrauhin. Éncol pamarginé nyantenang prabéla. Sang kalaran polih nué arga abosbos. Dados pamérang déwék ipunné. Kantambetan ipunné kapamérang nénten katulungin. Polih ipun baju kaos sareng beras akilo sampun kaucap prabéla. Liang kayun sang kalaran abosbos pisan. Polih kasalamin. Polih kagelut. Usan punika mangda nyudi dados manggala praja. Ring sampuné kajudi, jinah sané gumanti katiba ring sang kalaran raris kimkimang mangda ngranjing taler ring rékéningé soang-soang. Nénten mapitulung dadosné. Ngawetuang pinyungkan ring anak lian sasenenganné. Ngorupsiang jinah sané gumanti katiba ring sang kalaran nénten wénten pikenohné. Pracuma ngamel mandala wantah matetujon ngorupsiang artha brana. Dados manggala praja boya galah anggén nyungkanin anak lian. Gumanti anggén galah ngyadnyayang angga. 


ADVETORIAL

Ketua Koni Tabanan IKG Sanjaya menyerahkan bonus kepada atlet penyumbang medali Porprov di Kediri, Kamis (22/9) malam.

Yakin Perbaiki Peringkat di Porprov Mendatang

S

EJUMLAH atlet berprestasi penyumbang medali dalam Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) di Jembrana menerima bonus, Kamis (22/9) malam. Ketua KONI Tabanan, IKG Sanjaya mengatakan, kendati kontingen Tabanan tahun ini berhasil menambah pundi medali, namun tak mampu memperbaiki peringkat, bahkan harus puas duduk sebagai juru kunci. Namun demikian, Sanjaya yang juga wakil bupati Tabanan optimis, Porprov yang akan datang, Tabanan mampu memperbaiki peringkat. Sanjaya menyampaikan terima kasih serta bangganya kepada pengurus cabang olah raga, seluruh atlet serta pelatih serta official yang telah berjuang keras di ajang Porprov X di Jembrana. “Kegagalan tahun ini merupakan keberhasilan yang masih tertunda. Saya yakin apabila kita mampu menerima kekalahan dengan lapang dada dan selalu

optimis untuk meraihnya lagi, pada perhelatan Porprov mendatang Tabanan bisa menjadi lebih baik lagi,” hiburnya. Dia menambahkan, kegagalan meraih yang terbaik tahun ini dijadikan cambuk untuk lebih fokus dan lebih semangat lagi menggali serta mengeksploitasi diri mencapai kemampuan yang terbaik. Sementara kepada masyarakat Tabanan, Sanjaya mohon maaf karena capaian di Porprov tahun ini belum sesuai dengan harapan. “Mari kita bangkit untuk menjadi terhormat sesuai dengan motto Porprov kita. Kita sudah berupaya melakukan yang terbaik, namun ternyata ada yang lebih baik. Mudah-mudahan hal ini bisa menjadi pemicu semangat kita,” imbuhnya. Dijelaskannya, pada Proprov tahun ini Tabanan berhasil meraih 9 medali emas, 12 perak dan 25 perunggu. Para atlet penyumbang medali pun dikucurkan bonus dan piagam penghargaan.  E-Magz

OKTOBER 2011

m a g a z i n e

23


Serial Bracuk 2

Di Bawah Rembulan Oleh : Komang Mayusa

R

UPANYA pasangan yang menikmati liburan di pinggir danau Beratan, masih menonton ulah Bracuk dengan pembacaan puisi-puisi cintanya. Sedangkan sang pengantin istri yang masih muda dan cantik itu, selalu bertepuk tangan dan berteriak gembira setiap saat Bracuk mengakhiri pembacaan puisinya. “Ayo, bacakan lagi satu puisi saja, Ganteng!” pinta sang istri. Lalu Bracuk meneriakkan kata-kata puisi terakhirnya, untuk honeymoon pengantin remaja ini. “Adik jika musim hujan tiba, Marilah kita mulai merakit perahu kertas, perahu yang kuat untuk kita berlayar nanti, Agar kuat menahan hempasan badai ketika di tengah samudra, agar ombak yang ganas tidak mampu membuat oleng perahu kita, Walaupun perahu kertas, Tapi kalau kita rakit dengan cinta yang kuat Ia akan bertahan hingga di pelabuhan kasih sayang kita, Yang bertaburan bunga-bunga, di atas rumput hijau di bawah pohon yang teduh, Kita bangun pondok untuk masa depan yang harmoni Untuk bakal tempat bermain anak-anak dan cucu kita.” Sang istri muda memeluk erat-erat suaminya. Dadanya bergetar mendengar baris-baris puisi yang didaraskan oleh Bracuk. Ingin rasanya mereka menikmati bulan madu ini sepanjang malam di bawah rembulan. Tapi mereka tidak mampu lagi melawan dingin. Lalu mereka menepi menuju dermaga. Sampan ditambatkan di ujung dermaga. Beberapa ratusan ribu diserahkan pada Bracuk oleh sang istri. “Ini, untuk kamu dik. Kamu telah membuat bulan madu kami penuh nuansa romantik. Aku akan mengingat selalu malam yang indah di bawah rembulan ini.” “Lho, apa ini, Bu?” tanya Bracuk. Ia memang bingung disodorkan berlembar-lembar ratusan ribu. “Ya, uang untukmu.” “O tidak, Bu. Jangan, saya melakukan ini, ikhlas kok bu. Melihat ibu senang itu saja sudah membuat saya bangga pada diri saya. Ibu, nanti bayar sampannya saja.” “Lho, uang ini banyak, tentu nanti bisa adik belikan apa saja.” “Makasi, saya biasa bidup tidak pegang uang. Dan uang bukan kebahagiaan saya.” Bracuk bergegas hendak meninggalkan pasangan pengantin muda. Dengan cepat pengantin laki, mengeluarkan kartu nama dari dompetnya. “Dik sebentar. Ini kartu nama saya. Kalau adik memerlukan sesuatu, atau pertolongan apa gitu. Hubungi saya, ya!”

24

m a g a z i n e

OKTOBER 2011

“Makasi, Bu, Pak!” kata Bracuk meninggalkan pasangan pengantin baru itu. Pengantin wanita yang muda dan cantik itu, tidak berkedip menatap kepergian Bracuk. Ia sangat terharu pada keikhlasan Bracuk, mengajaknya bersampan keliling danau Beratan sambil membacakan puisi-puisi cinta di bawah rembulan. *** Udara Bedugul jika malam tidak pernah bisa diajak kompromi. Dinginnya seperti mengiris-ngiris kulit. Kabut tidak pernah berhenti turun, seperti sutra bidadari yang menyebar melanbai-lambai menutupi semua yang tegak di bumi. Sepanjang jalan menuju Villa Bukit Pacung dari Dermaga Wisata Danau Beratan sangat lengang. Hanya beberapa kunang-kunang melintas di jalan, lalu merayap pelan di semak-semak pinggiran jalan. Tiba di Villa Bukit Pacung, rasa luka di hati Bracuk kembali terasa perih. Dadanya seperti ada pisau tipis yang asing menyayat-nyayat. Ia hampir tidak bisa menahan rasa perih itu. Dengan kuat-kuat Bracuk menahan agar tidak sampai menangis. Jam dinding di dalam villa berdentang sepuluh kali. Suaranya jelas dan nyaring terdengar hingga di halaman, karena suasana sepi sesepi hati Bracuk. Bracuk enggan bergegas ke dalam villa. Ia membiarkan hatinya yang membara dibakar cemburu didinginkan oleh embun yang semakin deras melembabkan sekujur pakaian di tubuhnya. Sepi villa ini adalah sepi hatinya. Langit cerah bertaburkan manikan bintang-bintang. Rembulan sempurna menebarkan pesona cemerlangnya. Semua yang ditumpahkan sinarnya menjadi bercahaya keemasan. Terang temaram mempesona. Bracuk melihat endapan embun di daun mawarnya memantulkan cahaya rembulan, bagaikan permata yang berkilau menakjubkan. Tapi pohon durian yang diimpikan sebagai pohon kunang-kunang itu, kini diam membatu. Tak ada satu kunang-kunang pun hinggap di daunnya. Tapi mawar merah dadu yang sudah tumbuh kokoh berdampingan dengan pohon durian memamerkan bungabunganya yang kemilau. Bunga mawar merah dadu itu kembali mengingatkannya pada Diah Seroja ketika turun dari mobil berdanpingan dengan Bagus Taskara Wiguna. “Kamu cantik sekali mawarku. Dulu aku kira Diah Seroja secantik dirimu. Ternyata ia memang cantik di luar saja. Dan tidak bisa menandingi kecantikanmu. Selain kamu kelihatan cantik dengan kelopak-kelopakmu yang lembut, yang selalu kelihatan basah dan sangat berkilau ketika dibiasi sinar rembulan. Tetapi kamu juga sangat harum, berikanlah harummu pada mereka yang pantas menikmatinya. Harummu tidak untuk Diah Seroja. Tidak wamarku. Diah Seroja telah menyakitiku.”


Bracuk membelai bunga mawar merah jingganya yang sudah mulai mekar. Hanya pada mawar ini saat ini ia bisa tumpahkan rasa lukanya. Karena Pak Delut dan teman-temannya yang lain sedang ronda menjaga kebun strawberrynya dari gangguan hama binatang hutan. Tapi ternyata rasa luka di hati Bracuk semakin terasa perih. Ia tidak kuat mengendalikan rasa itu. Hampir saja desakan rasa di dadanya berimbas pada tumpahnya tangis dan air mata. Bracuk menahannya dengan sekuat-kuatnya. Melihat sinar rembulan begitu cerahnya dan jalanan begitu tampak jelas. Bracuk mengalihkan rasa lukanya dengan berjalan menelusuri alam dalam malam yang dingin. Bracuk melangkah begitu saja menelusuri jalan setapak. Ia tidak peduli kemana langkah itu membawanya. Sesekali ia disambut oleh binatang hutan. Kadang-kadang angin mendesau menggesek batang pinus dan menyapu daun-daun cemara. Ia ingin

langkahnya ini secepatnya membawanya ke kebun strawberry agar bisa bergabung dengan Pak Delut dan teman-temannya. Dengan harapan di kebun ia bisa melakukan kegiatan apa saja yang bisa melupakan bayangan Diah Seroja berdampingan dengan Bagus Taskara Wiguna. Tiba-tiba Bracuk dikagetkan oleh berjuta-juta cahaya yang berkerlap-kerlip. Ia disambut oleh berjuta-juta kunang-kunang Lembah Cinta. Bracuk terhenyak. Di Telaga Lerabah Cinta Jero Lanang dan Jero Istri tersenyum menyambutnya. Seketika Bracuk merasakan kesejukan dan kenyamanan dalam hatinya. Di pinggir telaga Bracuk melihat sarana upacara yang sangat sederhana sudah digelar. Ada berwarna-warni bunga mawar, air dalam kendi dan periuk serta api dari kayu khusus dengan bau yang sangat harum sudah menyebar ke seluruh sudut Lembah Cinta. Bracuk tak pernah bisa memecahkan misteri Lembah Cinta

ini. Ia selalu bertanya dalam hati, “Kenapa aku selalu bisa masuk ke lembah ini dalam kondisi hati yang terluka, dan tanpa bisa disengaja.” Andai saja Jero Lanang dan Jero Istri belum muncul ketika ia tiba di Lembah Cinta, pasti Bracuk bermain dulu dengan sahabat kunang-kunangnya. Nalurinya sudah tidak bisa dibendung. Ingin rasanya Bracuk menumpahkan rasa kesalnya pada teman kunangkunangnya. Namun kenyataannya Bracuk hanya menunggu kehendak penghuni Lembah Cinta. Beberapa sahabat kunangkunangya menyapa Bracak dengan cara hinggap dan berputarputar di sekitarnya. “Selain kunang-kunang lihatlah keindahan Lembah Cinta ini di bawah rembulan purnama. Keindahan cinta sejati tetap akan terkalahkan oleh pesona Lembah Cinta ini, ketika semuanya bersanding menjadi satu kesatuan yang harmoni. Rasa cemburu butamu akan sirna dalam sekejap,” kata Jero Lanang disertai anggukan dan senyuman yang sangat menyejukkan dari bibir Jero Istri. DEG! Bracuk benar-benar tak menduga begitu mudah dibaca perasaannya oleh Jero Lanang. “Jangan-jangan Jero Lanang dan Jero Istri tahu, pada siapa aku cemburu. Aduh mati aku,” pikir Bracuk. “Kehidupanmu masih panjang nak. Bahkan sangat panjang. Diah Seroja juga harus melewati tahapan hidup yang bakalan penuh dengan penderitaan. Maka lebih baik kamu lebih giat belajar. Belajar memahami etika, keindahan, dan ilmu pengetahuan tentang alam. Katanya kamu Sahabat Alam? Dan tidak boleh tidak mempelajari kitab-kitab sastra warisan leluhur,” kata Jero Lanang. Bracuk mendengarkannya dengan tekun. Ia sudah merasa mati kutu. Ia sudah ditelanjangi, seperti buku yang terbuka tanpa sampul. Jadi Jero Lanang dan Jero Istri mengetahui benar perasaannya terhadap Diah Seroja. Tiba-tiba Bracuk menjadi teringat lagi, ketika pertama kali ia memasuki Lembah Cinta. Ia mengaku bahwa gadis yang menyebabkannya nelangsa hingga tersesat di Lembah Cinta adalah Diah Seroja. Bracuk tersenyum malu. “Hi hi hi hi.... sudah bisa tersenyum ya,” goda Jero Istri. “Nah, sekarang tumpahkan dulu rasa kesalmu, bermainlah dengan sahabat kunang-kunangmu. Setelah itu di bawah rembulan aku akan melukatmu untuk selanjutnya menerima pengetahuan yang akan aku ajarkan padamu.” Bracuk langsung menuju tempat pavoritnya di Lembah Cinta, yaitu sebuah tebing menjorok yang dikelilingi bungabunga hutan yang berwrna-warni. Dan dari tempat itu ia dapat memandang hamparan lembah dan hutan cemara di bawah rembulan. Ia mendengar seakan-akan ada nyanyian dari jauh yang dihempaskan oleh angin merayap lewat daun-daun cemara. Beribu cahaya kunang-kunang mengurung tubuh Bracuk yang bergerak menuju tempat pavoritnya. “Diah, seandainya malam purnama ini kamu ada bersamaku di sini. Kamu akan menyaksikan betapa indahnya taksu malam ketika bulan purnama menyinarinya. Kita akan bermain-main dengan beribu kunang-kunang di antara warna-warni bunga hutan. Sayang kamu lebih memilih Bagus Taskara Wiguna yang kaya dan menikmati kerlap-kerlip metropolitan. Jadi aku semakin memahami kini keberadaanku. Apalah artinya aku ini, manusia alam yang tak pernah pegang uang.” Bracuk duduk mencakung di tebing yang dari ketinggiannya dapat terlihat hutan, ladang dan pondok-pondok penduduk dalam malam yang hening. 

OKTOBER 2011

m a g a z i n e

25


CERPEN

 Sri Sumartini 

D

I RUANG tengah rumah kami, terdenganr suara adikku yang ogah-ogahan belajar membaca alquran dengan dibimbing ayah. Aku yang sudah khatam 2 tahun lalu mendengar geli sambil terus melirik jam. Aku yakin saat ini Rahim adikku juga sedang gelisah menunggu. Hm.. harusnya sudah 10 menit yang lalu, “Huaammm….” Rahim menguap keras, kayu tipis yang dipegang ayah mendarat di kepalanya. Ia meringis kesakitan. Kulirik ia dengan pandangan mengejek dari seberang ruangan, ia membalasku dengan juluran lidahnya dan tiba-tiba… Semua ruangan mendadak gelap, cahaya seolah-olah hilang terserap secara misterius. “Hooreeeeee…….” Teriak kami bersamaan. Ayah dan ibu merutuk kesal. Tapi tidak denganku dan Rahim karena inilah yang kami tunggu. Saat pemadaman listrik secara bergilir, tanpa dikomando dan seolah telah menyepakati perjanjian tak tertulis semua bocah di komplekku ini, termasuk aku akan berkumpul di halaman rumahku untuk menikmati malam gelap yang hanya diterangi cahaya bulan dan bintang. Dan sedikit cahaya lilin dari rumah-rumah para warga yang cukup menghibur tentunya. Kami bermain dan membuat keributan sepuasnya tanpa takut akan terkena kemarahan oleh para orang dewasa yang cenderung menyukai kesunyian. Karena pada saat yang bersamaan para ayah dan ibu kami juga berkumpul di berugak milik papuq Imah. Jika kami asyik bermain sut nungkep, ato jawak bute maka mereka lebih senang saling baku hantam dalam perdebatan sengit tentang segala topik. Mulai dari persoalan sepele hingga masalah-masalah dunia yang sangat membingungkan saat kudengar. Suatu hari mereka berdebat tentang pemerintah, mencela dan merutuk para menteri yang kami diwajibkan menghafalnya di sekolah. Tak tanggung-tanggung urusan luar negeri juga mereka rambah. Perang di negara entah berantah yang aku yakin, tak pernah mereka kunjungi satu kali pun bahkan dalam mimpi mereka bahas bak para negarawan. Aku sering tertawa sendiri jika ingat kelakuan orang-orang tua yang suka sok pintar ini. O ya, terkadang mereka juga mendengar papuq Imah bercerita tentang sejarah asal muasal suku kami di pulau Lombok ini. Aku mengetahui hal itu saat tak bisa ikut bermain karena patah kaki yang kuderita setelah terjatuh dari pohon kelapa yang kupanjat bersama teman-teman untuk mengumpulkan batang lidi yang akan kami jadikan bahan kerajinan tangan di sekolah. Dengan menyesal aku terpaksa duduk bersama semua kepala orang-orang dewasa yang entah mengapa sangat senang berdebat tentang segala hal. Hampir sebulan aku menikmati liburan sekolah dan perlakuan manja dari ayah dan ibu juga teman-teman sekolahku. Ah.. tapi sekarang sudah berakhir, aku kembali menjadi Rahman. Kembali menjalani kesibukanku, menyusun agenda dan mengatur kegiatan kelompok belajarku atau tepatnya

26

m a g a z i n e

OKTOBER 2011

kelompok petualangku. Bocah kelas 5 SD yang menjadi pemimpin geng kelas, sebuah sekumpulan bocah ingusan yang senang bermain di malam hari, terutama saat listrik tiba-tiba dipadamkan oleh sang penguasa cahaya dengan seribu alasan yang terus berubah setiap hari. “Man… Man… Man….” Teriak teman-temanku di luar rumah. Aku langsung menyelinap di tengah kegelapan dan suara rutukan ayah dan ibu, mendadak Rahim menyambar sarung yang kukalungkan di leher, ia merengek dalam bisikan untuk turut serta dalam pertualangan kami kali ini. Aku pasrah saja, ketika ia mengancam hendak berteriak.

Bocah tengik ini, memang senang sekali membuatku terjepit dan susah. Inilah tipikal kakak-beradik sejenis yang dilahirkan tanpa perencanaan dengan jarak sangat dekat. “Gimana rencana malam ini?” tanya Hendri, sambil bersungut sungut menggosok hidung jeleknya dengan sarung yang juga terkalung di leher. Aksinya ini sungguh tak kusuka, aku membuang pandang darinya dan melirik semua yang hadir satu-satu. “Karena belum sembuh, aku belum sempat memikirkan jadwal,” jawabku santai. Beberapa rekan menggerutu, yang lain hanya menunduk. “Selama kakimu patah, kamu kan tidak sekolah dan


beraktifitas harusnya punya banyak waktu untuk menyusun rencana,” kritik Faozan, membuatku sedikit kesal. “Harusnya kamu saja yang menyusun jadwal, atau sakitku kau saja yang merasakannya!” jawabku ketus. Ia diam, tak berani lagi menatapku. Aku puas, sedikit menunjukkan kuasaku sebagai pimpinan geng misterius ini. Semua terdiam dan menunggu keputusanku tentang ke mana dan apa yang akan kami lakukan malam ini. “Ayo kita lakukan sedikit pemanasan!” ajakku sambil berjalan ke arah barat. Sepanjang jalan, tak ada satu pun yang bertanya. Mereka hanya mengikuti langkahku. Setelah sampai di ujung jalan, aku mengambil posisi berjongkok untuk bersembunyi di balik sebuah rumpun melati yang sedang berbunga lebat. Semua juga mengikuti, hanya Rahim yang terdiam di ujung jalan melihat tingkah kami. Segera kuseret dia dan kupaksa untuk ikut menyembunyikan tubuh mungilnya di balik rumpun melati dengan berjejal-jejalan bersama semua anggota gengku. Beberapa menit kami diam menunggu, kulekatkan jari telunjuk ke mulutku, sambil berdesis pelan meminta yang lain untuk tenang, tak bergerak dan tak bersuara. Tak berapa lama, segermobolan anak-anak perempuan keluar dari sebuah gang sempit, mereka berjalan pelan sekali penuh ketegangan. Seorang yang memegang senter dan berdiri paling depan, kukenali sebagai Rani. Ia anak perempuan yang dikenal sangat cerdas dan pemberani. Mereka tentu baru saja selesai mengaji di rumah pak ketua RT, aku mengambil segenggam tanah.

Hendri yang mulai memahami isi kepalaku segera mengendap-endap ke balik rumpun bambu tak jauh dari tempat kami sedang bertumpuk sembunyi. Dua anggota geng yang lain mengikutinya, lalu saat Rani semakin dekat, semakin jelaslah pemandangan yang sebenarnya. Sekelompok anak perempuan ini terlihat sangat takut, suasana malam itu memang sangat pas. Efek horor timbul dengan sendirinya dari situasi yang serba-tepat. Malam ini kebetulan adalah malam Jum’at dan aku juga tak tahu asal muasalnya tetapi malam Jum’at selalu dianggap mengerikan, kebetulan pula sedang sangat gelap karena listrik sedang padam, kebetulan jalan juga sangat sepi, dan kebetulan pula kami di sini untuk menyempurnakan

efek horor yang ada di benak mereka. Aku tersenyum melihat Rani yang hampir tak dapat menyeret kakinya untuk berjalan karena tingkah teman-temannya yang memeluk, memegang dan menarik mukenanya. Aku menarik napas, dan dengan dramatis kulempar segenggam pasir di tanganku, dan Hendri pelan dan sangat meyakinkan menggoyang-goyangkan bambu di hadapannya hingga terdengar suara riuh gesekan daunnya. Pohon-pohon bambu yang bergoyang tanpa ada sedikit pun angin yang bertiup saat itu sungguh membuat takut. Sontak kelompok yang baru saja selesai mempelajari al-quran itu terkaget- kaget, berteriak ketakutan. Ketika teman-temannya hendak kabur, bahkan duo orang sudah lari terbirit- birit, Rani terlihat tenang dan berusaha menenangkan yang lain. “Jangan takut, jin itu kalau tahu kita takut mereka akan semakin senang mengganggu, besok-besok setiap kita pulang mengaji pasti akan terus diganggu. Jadi jangan takut!” pidatonya mantap meyakinkan teman-temannya. Kembali kuraup segenggam tanah di tangan, dan kulemparkan ke arah mereka, terdengar pekik ketakutan. Seseorang dengan lantang melafalkan ayat kursi yang menurut cerita dan kepercayaan hampir sebagian teman-teman juga orangtua kami dapat mengusir setan dan sebangsanya. Aku cekikian menahan tawa. Hendri dan yang lain semakin bersemangat menggoyang pohon bambu, hingga seakan-akan bambu itu sangat marah dan hendak menerjang mereka. Lalu mendadak entah bagaimana, terdengar suara lengkingan dari belakang punggungku, sangat dalam. Mengerikan, penuh kesedihan, derita dan dendam. “Hihhhhhiiiiiiiihiiiiiiii....” Aku terlonjak kaget, hampir disaksikan Rani dan teman-temannya kalau saja mereka tidak lari terbirit-birit. Hendri dan Faozan juga kaget dan terlihat sangat pucat, hanya Rahim yang tertawa terpingkalpingkal. Ia mengelus perut dan merebahkan badan di tanah sambil terbahak-bahak. Rupanya aksi penutup yang sangat mempesona itu adalah karyanya. Aku tak pernah menyangka, Rahim memiliki bakat yang sangat bagus untuk menirukan suara kuntilanak tertawa yang biasanya di adegan film-film sambil bergelantungan di atas pohon. Kurasa suara Rahim tadi juga tak hanya menakutkan kami, tetapi jin sesungguhnya pun akan lari ketakutan. Setengah jengkel, kupaksa Rahim untuk bangun dan berhenti tertawa. Kami pulang dengan puas, teman-temanku setuju untuk menerima Rahim menjadi anggota geng yang baru. Ia adalah aset yang sangat berharga untuk geng kami ini. Sepanjang jalan hingga ke rumah, Rahim tak hentinya menahan senyum. Tak pernah kulihat ia begitu senang - seperti bukan Rahim saja - keluhku dalam hati. Sesampainya di halaman rumah yang masih terlihat gelap, dapat kulihat sosok ayah dan ibu yang berdiri menunggu kami di depan pintu dengan wajah sangat kesal dan marah. Aku menarik napas dan bersyukur kali ini Rahim ikut bersamaku, paling tidak aku tidak akan menjalani hukuman seorang diri. “Assalamualikum…” sapaku datar seolah sangat menyesal telah mengajak adikku yang sakit-sakitan ini ikut menghirup udara malam yang dingin dan dapat membuat penyakit sesak napasnya kambuh. “Kemana saja?” tanya ayah galak. Biasanya ibu yang bertanya seperti itu dan lebih galak dari ayah. “Rahim jatuh pingsan, sesaknya kambuh setelah menangis karena kau tinggal bermain.” Ibu memandangku marah. Aku tak mengerti apa yang disampaikan ayah. Tiba-tiba saja di tengah-tengah ayah dan ibu, menyembul Rahim. Lalu sambil mengusap kedua matanya yang sembab ia berkata pelan, “kakak jangan dimarahi …” Kutoleh, kanan-kiriku dan belakang, tak ada lagi Rahim riang yang sejak tadi ada bersamaku. Bulu kudukku berdiri seketika, dan aku benar-benar teringat kembali suara lengkingan Rahim yang tadi begitu menderita saat mendengar lantunan ayat kursi yang dilafazkan teman Rani! 

OKTOBER 2011

m a g a z i n e

27


BULAN & BINTANG CAPRICORN (22 Desember-19 Januari) KALI ini Anda mendapat cobaan di pertengahan minggu. Saatnya mengambil keputusan besar yang akan mengubah hidup Anda. Tidak ada salahnya minta bantuan ke sebuah lembaga tertentu yang bersikap netral. Jangan khawatir bantuan akan Anda dapatkan. Karir: Ada tugas. Keuangan: Butuh bantuan. Cinta: Selalu tegar. Hari Keberuntungan : Sabtu

AQUARIUS (20 Januari- 18 Februari) HATI-hati tidak selamanya pertemuan dengan sahabat lama mendatangkan keberuntungan. Bisa-bisa malah menjadi beban baru yang harus dipikul. Ada baiknya dipikir kembali agar semuanya berjalan normal dan terkendali. Karir: Beban baru. Keuangan: Ada sisa. Cinta: Masih menunggu. Hari Keberuntungan : minggu

PISCES (19 Februari- 20 Maret) OMONGAN miring tentang A n d a d i k a n t o r, t i d a k perlu ditelan mentah-mentah. Ada kemungkinan hanya omong kosong yang tidak bermutu. Bisa jadi ada orang yang iri dengan kesuksesan Anda. Jadi, jangan bersikap sombong dan angkuh. Karir: Tetap merendah. Keuangan: Kaya mendadak. Cinta: Kurang cocok. Hari Keberuntungan : selasa

ARIES (21Maret-19 April) JANGAN terus menerus memikirkan masalah duniawi. Bukalah wawasan Anda dalam kehidupan l e b i h l u a s . Pe n i n g k a t a n hubungan yang makin luas akan mempertajam karier Anda. Banyak masukan positif yang Anda terima. Karir: Buka wawasan. Keuangan: Boros. Cinta: Buat janji. Hari Keberuntungan : Sabtu

28

m a g a z i n e

OKTOBER 2011

TAURUS (20 April-20 Mei) MESKI semangat kerja Anda menggebu-gebu, tapi imbangi dengan sikap teliti dan hati-hati. Sikap sembrono malah membuat hasil pekerjaan Anda kurang berkualitas. Diam-diam atasan memperhatikan semangat dan cara kerja Anda. Karir: Penuh semangat. Keuangan: Gunakan logika. Cinta: Cari perhatian. Hari Keberuntungan : Rabu

GEMINI (21 Mei-21 Juni) JANGAN menutup masalah hanya karena Anda malas memulai pembicaraan. Sikap Anda yang uring-uringan malah memperkeruh suasana kerja. Boleh saja menyimpan masalah tapi jangan terlampau lama. Ayo, segera selesaikan. Karir: Menutup masalah. Keuangan: Kuras tabungan. Cinta: Belahan jiwa. Hari Keberuntungan : kamis

CANCER (22 Juni-22 Juli) HAL-HAL kecil jika dijalani dengan tekun dan teliti akan membuahkan h a s i l g e m i l a n g . Te t a p jalin komunikasi dengan relasi agar jangan terjadi kesalahpahaman. Ada kesempatan melakukan peluang bisnis meski tidak terlampau besar. Karir: Jalin komunikasi. Keuangan: Ada kesempatan. Cinta: Mulai berpaling. Hari Keberuntungan : Sabtu

LEO (23 Juli-22 Agustus) PENGELUARAN Anda yang membengkak mengakibatkan kurangnya keharmonisan hubungan dengan kekasih. Ada baiknya jangan terlalu konsumtif. Mulailahmembagibagi kebutuhan penting dan mendesak. Dahulukan masalah keluarga. Karir: Berat sebelah. Keuangan: Membengkak. Cinta: Apa adanya. Hari Keberuntungan : Rabu

VIRGO (23 Agst- 22 September) PERJALANAN jauh membuat kondisi kesehatan Anda agak terganggu. Sebaiknya ambil cuti agak lama untuk memulihkan kesehatan Anda. Jangan banyak pikiran karena penyakit awalnya dari adanya masalah. Tetap semangat dan bergairah. Karir: Banyak pikiran. Keuangan: Kurang beruntung. Cinta: Ajakan nikah. Hari Keberuntungan : kamis

LIBRA (23 Sept- 23 Oktober) PEKERJAAN Anda menjadi konsentrasi minggu ini. Tekanan dari atasan sedikit menganggu pikiran Anda. Apalagi belum ada orang yang membantu pekerjaan Anda. Pelanpelan selesaikan pekerjaan dan mulai mencari orang yang bisa membantu. Karir: Konsentrasi kerja. Keuangan: Melebihi waktu. Cinta: Kembali gagal. Hari Keberuntungan : minggu

SCORPIO (24 Okt - 21November) ANDA terkena masalah finansial. Penyebabnya karena Anda terlalu banyak mencicil barang. Kurangi sedikit sifat konsumtif Anda, mulailah memikirkan hal yang lebih penting. Untungnya ada dewa penolong di akhir minggu ini. Karir: Menumpuk tugas. Keuangan: Masalah finansial. Cinta: Batasi diri. Hari Keberuntungan : jumat

SAGITARIUS (22 Nov- 21 Desember) MESKI usaha yang Anda lakukan sudah maksimal, hasilnya harus tetap pasrah. Jangan berharap terlalu banyak, takutnya hasilnya mengecewakan. Tata kembali hidup Anda dan jangan lupakan jasa orang-orang di sekitar Anda. Karir: Tetap pasrah. Keuangan: Sukses. Cinta: Sedikit kecewa. Hari Keberuntungan :kamis


KESEHATAN

Alamak Sakitnya‌‌

Oleh:

dr. Ossyris Abu Bakar, M. Biomed (Konsentrasi Anti-Aging Medicine)

Silakan kirim pertanyaan Anda seputar dunia kecantikan dan kesehatan ke email: expresikansaja@yahoo. com atau SMS ke 0361 7849103 dr. Ossyris Abu Bakar akan langsung menjawab sekaligus mengulas pertanyaan Anda

Tanya Yth. Bu Dokter, saya Dewi pelajar SMP. Saya duduk di kelas X dan mengalami menstruasi pertama. Kenapa datang bulan menjadi tersiksa, perut terasa sakit dan melilit. Bolehkah saya minum obat sesuai iklan di televisi yang mudah didapatkan di warung atau toko ? Atas penjelasan Bu Dokter, saya ucapkan terima kasih. Dewi, Negara; 081805408xxx Saya Andi dari Tabanan. Saya mau tanya kenapa sehabis ML sama pacar alat kelamin saya pas kencing terasa nyeri. Sakit gitu Dok. Mohon berikan saya solusi. Terima kasih. Andi, Tabanan; 08563844xxx Jawab Lebih dari 50 persen perempuan mengalami nyeri haid pada hari pertama-kedua menstruasi. Nyeri haid (dismenorrhea) adalah nyeri di daerah panggul akibat menstruasi dan produksi prostaglandin. Uterus dibentuk dari otot. Seperti otot lainnya bisa berkontraksi dan relaksasi. Selama menstruasi kontraksi uterus lebih kuat. Ketika berkontraksi tak jarang menyebabkan kram perut. Uterus berkontraksi ketika prostaglandin diproduksi. Sebelum menstruasi kadar prostaglandin meningkat. Awal menstruasi prostaglandin lebih tinggi lagi. Hari berikutnya kadarnya

menurun. Hal ini menjelaskan mengapa nyeri akan berkurang beberapa hari setelah menstruasi dimulai. Nyeri haid bisa bersifat primer atau sekunder. Nyeri haid primer disebabkan karena menstruasi dan produksi alami prostaglandin. Umumnya dimulai segera setelah haid pertama (menarche). Dalam banyak kasus nyeri haid akan berkurang sejalan dengan bertambahnya usia atau setelah melahirkan. Tidak menutup kemungkinan nyeri haid berkelanjutan tak membaik. Nyeri haid sekunder disebabkan bukan karena menstruasi itu sendiri dan produksi alami prostaglandin. Bisa muncul bertahun-tahun kemudian sejak dimulainya haid pertama. Nyeri tipe sekunder tak hanya terjadi pada hari 1-2 menstruasi. Dapat dimulai beberapa pekan sebelum menstruasi dimulai. Nyeri bertambah buruk ketika menstruasi dan menetap bahkan ketika menstruasi telah berakhir. Penyebab tersering nyeri haid sekunder: endometriosis (tumbuhnya jaringan rahim di luar kandungan), mioma uteri (tumor jinak rahim). Obat golongan NSAID (Non-Steroidal Anti-Inflammation Drug) seperti ibuprofen, naproxen dapat menghambat produksi prostaglandin dan membantu meringankan gejala. Waspadai penggunaan obat jenis ini bila memiliki gangguan perdarahan, gangguan hati, lambung atau menderita ulkus lambung. Penyakit menular seksual adalah infeksi yang penularannya melalui hubungan seksual; vagina, anus, oral seks, alat seksual. Penyakit menular seksual pada pria dikelompokkan menjadi tiga. Kelompok pertama: penyakit menular seksual disertai kelainan pada alat kelamin. Kelompok kedua: penyakit menular seksual akibat keradangan uretra (saluran kencing dan semen di dalam penis). Kelompok ketiga: penyakit menular seksual sistemik (melibatkan berbagai organ tubuh). Membaca surat Saudara Andi dari Tabanan, saya menduga Anda terkena uretritis (radang pada uretra). Radang uretra ditandai klinis rasa terbakar saat kencing, keluar cairan kental atau bening yang menetes dari penis. Penyebab tersering uretritis adalah Neisseria gonorrhea dan Chlamidya trachomatis. Infeksi bisa menyebar ke testis dan epididimis (saluran dari testis ke uretra). Penanganan dengan pemeriksaan laboratorium cairan yang keluar dari alat kelamin untuk memastikan penyebabnya. Pasangan seksual juga harus diobati agar tidak terjadi fenomena pingpong (infeksi bolak-balik). Penggunaan kondom saat berhubungan seksual bisa membantu menekan penyebaran penyakit menular seksual. ď ś


KETUT GEDE WIGUNA

SISWA PUNYA KARYA

30

aku menghadapi ambigu hidup dalam dekapan berbutakan arah, terkaburkan kamuflase jiwa pintar pintarku membual semua titik memadupadankannya tanpa keteraturan menyulamnya dengan harap tanpa target nian terikat ara aku mungkin salah mematok haluan tersandiwara mungkin juga lengah pada pusat yangg tertunjuk sebelumnya tapi jalan ini berbaris tak berirama pa langkahku kini mengutuk mengalibi seiring depa dan hingga nanti sampai petang, langkahku kian terseret kekonyolan ang tak mau ketinggalan muka tertindas ego yang mplementasiku ini langkah dan implementasiku uputar menuju pagi kembali semua jalan bisa kuputar e yang dulu jadi rumahku merujuk indah sunrise adi langit langit hidupku menapak cerah yang jadi teraklamasi diriku, lik logika membentur teoritis membalik

pada bening sungai berkali kali kuubah arusnya menjadi yang kuharap dari padas gemercik alunan air menabuh ketipung alam jiwa ini tak bersenggama dengan putih air sungai tak mencair pada lelehannya sang harum lumut hendak menyulami hening insang sang sungai renta memeram segala busuk membumbu gurauan sang penyair di bidang sungai memasung hujan menggantung air asing yang cuma mengikuti menggulung biru pada destinasiku hingga entah kurasa hingga terseok seok mencibir bibir sungaiku menenggelamkan tanpa tumpu berbaling baling senja surut tubuhmu dan semuaku menguap menjadi garam

Penulis adalah siswa SMAN 2 Amlapura, tinggal di Jalan Untung Surapati, Gg. Kapulaga III No. 05, Paya, Amlapura-Karangasem

m a g a z i n e

OKTOBER 2011

renungan indah dalam simpul hati tanpa ujung yang terbelit menggulung harap indah berbaur tak terpola seperti kucipta entah pada epos yang mana epos tergulung membentuk dawai lembar melenting mengorek dan menulis nian tersumbu putarku terporos maya menggelak getar gulita tanpa nada terus tercipta, memberikan ruh pada tulis dahi yang salim dalam dan dalam membutakan telinga yang papa menulikan mata yang tengadah membelai pelipis tanpa dosa persimpangan terus mengajak melawan jalan mengeram sengsara air benih embrio mengutuk segala kata tak mungkin berbalas kata tergoda pantun buta tanpa rima mengigau aku mengigau‌.


COVER STORY

B

ILA pada umumnya para pelajar phobia dengan Matematika dan Fisika, tidak demikian dengan Nyoman Andika Dewi. Ia mengaku jatuh hati dengan dua mata pelajaran yang sarat teka-teki angka itu. Jika diibaratkan dengan manusia, dara cantik ini mengaku jatuh cinta pada pandangan pertama. “Aku terlanjur jatuh hati dengan pelajaran Matematika dan Fisika. Ada angka-angka yang harus dipecahkan di dalamnya. Bila berhasil menjawab rahasia angka itu, serasa ada di surga,” curhat Andika Dewi, pelajar SMAN 2 Mengwi, ini. Demi kecintaannya pada mata pelajaran Matematika dan Fisika, Dewi demikian ia diakrabi, sampai merelakan waktunya untuk ikut kursus Matematika dan Fisika yang membuatnya jatuh hati itu. Kemampuannya di bidang utak-atik rumus dua mata pelajaran itu kerap diujicoba pada berbagai lomba. Hanya sayang, kelahiran Tabanan 15 Januari 1995 ini belum mampu mengukir prestasi. Kendati demikian, putri ketiga I Nyoman Sudarta dengan Ni Wayan Sukerti ini tak lantas patah arang. Belum sukses di luar sekolah, setidaknya ia mampu membuktikannya di lingkungan sekolah dengan menyabet juara umum ketiga, sewaktu di kelas X dulu. Pelajar yang kini duduk di kelas XI IPA 1 SMAN 2 Mengwi Badung ini mengaku tak stres atau borring ketika mendapat pelajaran Matematika ataupun Fisika di kelas. Justru kantuknya menyingkir karena otaknya harus bekerja menyelesaikan soal dengan rumusrumus yang terkandung di dalamnya. “Wah betapa senangnya kalau kita mampu menjawab soal yang ribet itu. Disitulah seninya pelajaran Matematika dan Fisika yang penuh tantangan,” ungkap gadis yang laris manis sebagai model fotografi, ini. Kelak ketika ia tamat SMA pun, Dewi ingin meneruskan ke sekolah keguruan. Cita-citanya ingin menjadi guru Matematika. Jika di setiap sekolah guru pengajar Matematika dan Fisika ‘bening’ seperti Dewi, tentu para siswa akan betah dengan pelajaran itu. Ya nggak? Yuli Astari

OKTOBER 2011

m a g a z i n e

31


Puisi-puisi

JH O I W DY. M. ADRO SERUNAI LAGUMU DI UJUNG SENJA

;Do’a untuk sahabatku yang setia dengan kertas kusam dan pena bertinta getah Disana‌ Kau sedang duduk berdandan berling mata dari biola yang kau maenkan Sekejap kau terseduh menggelengkan kepalamu Lalu kau mengangguk dan akhirnya kaupun terus mendendangkan syairsyairmu Kau sedang melawan waktu Menceritakan sunyi pada jarak dan terik senja Entah apaapa Di sudut keningmu aku melihat ada garis yang lurus Lurus seperti jari telunjukmu yang kotor Seperti berabad lamanya tidak kau bersihkan Namun dendang lagumu nyaris membuatmu sempurna di mata senja pada hari itu Tataplah dengan lekang Dengan sorot yang tajam Raba di hadapanmu ada siapa Bukan burungburung yang sedang diburu Bukan buaya ganas yang menguasai rawa dan ditakuti Bukan juga malaikat yang turun di antara selasela antara malam pagi dan fajar Seperti yang kau lagukan pada saat aku belum lahir Maka Teruslah kau cari siapa yang ada di hadapanmu itu Dengan dawai dan gesekan biolamu kau kan dapatkan kerinduan lewat garis lurus di sudut keningmu itu Yogyakarta, 2011

Seperti kata yang kau hujamkan pada hatimu yang lusuh Terlantarkan kearifan dalam gantung bajubaju di kamarmu Sesekali kau masukkan kata ke dalam saku celanamu Sebulan kemudian kau bingung mencarinya Tak lagi kau temukan

JHODY. M. ADROWI, lahir

1987 di kampung Sumber Sirih Gapura. Menjalani harinya dengan berkarya, membaca dan terus mencari sesuatu, saat ini studi di Fakultas Adab dan Ilmu budaya UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Bergiat di forum kesusastraan Nemmu-Pei Yogyakarta.

Terik menterik Matahari Memulangkan kau dari Sawah Jalanan Dan kuburan Sujudlah di sini Sebelum purnama kembali menjadi bintang di siang hari. Yogyakarta, 2011

Kau mulai menghujamkan kata yang baru Dari pikiranmu yang kau sayat dengan batang bambu yang tumbuh di tengah hutan Kau berbaring kesakitan Waktu telah memaksamu untuk pergi ke kota Dengan terpaksa kau harus memakai celanamu yang bau anyir dan berbulanbulan kau terlantarkan Kau kembali meraba saku celanamu Ada benda terlipat tipis Tipis seperti lembarlembar alismu yang kau pajang Itulah kata yang selama ini kau cari Kau menangis Berdiam Dan kau hentikan langkahmu Kau pun tak jadi pergi Yogyakarta, 2011

32

m a g a z i n e

OKTOBER 2011


IGD Aries Pidrawan

Puisi-puisi

semusim berkawin dengan alam mencintai padi, poligami ternak-ternak saatnya melacur pada perenungan memaknai padi yang dikawini tempo hari ibu bapak ternak kuberi kesempatan mengasihi anak-anaknya sebab, esok setelah perenungan itu samapai pada titik yang mati aku kembali mengawini mereka anak ternak yang tumbuh dewasa

buatmu yang telah memberiku semangat kukirimkan sebuah puisi dari kata yang kupungut di jalanan sewaktu lari pagi jalanan menjadi tempat terindah untukku hingga kuberanikan mengambil maklumat melalui kata yang berserakan di atasnya jangan kau pandang jalanan itu pesing atau kotor dan puisi itu pun kian tak bermakna untukmu tapi yakinkan, hanya dari tempat itulah cita-cita sesungguhnya ada dan taman tak lebih dari sebuah jebakan agar Kau Tersenyum Memberiku Penghargaan

apa makna kata bila terpisah dari kata yang lain? : yang ada hanya kebekuan nestapa hitam dan kelam harusnya…. kata kini hidup dirangkai menjadi puisi atau sajak karena olehnya gunung nun jauh akan terengkuh dan spageti tak selalu santapan kelas atas

Pantai-panta di Ponjok Ba i tu

air jernih karang hitam meruncingruncing ca ntik dipahat de buran omb ak ikan meliu k indah beri penye juk mata-m ata sesejuk de sir angin d esa-desa di sana… nelayan m enjelajah menebar p ancing dan jala akhirnya…. indah itu ki an tertangk ap mata mereka me rajut rayu pada pohon -pohon lugu penghuni d i situ “Tuan puan , bolehkah kusorgakan dan pada ka lautmu, ra serupa Krisn ng kan kupahat relie f-relief a?!.”

IGD Aries Pidrawan, Guru Sastra Indonesia SMA PGRI 1 Amlapura. Mengelola blog sastra Kukutakatik.kutulastulis blogspot.com

OKTOBER 2011

m a g a z i n e

33


NOVELET I WAYAN ARTHAWA

(4)

B

ETUL juga, betul juga aku mengambil inisiatip pada ibu bahwa usai sekolah aku dan kakakku Latri ingin mengumpulkan batu dan pasir. Oh, syukurlah dengan batu dan pasir keluarga kami bisa hidup begitu juga warga dusun kami banyak yang mencari batu dan pasir. Hari-hari kami mulai bergelut dengan batu dan pasir. Coba saksikan pada pagi hari palupalu godam mulai berdentang memukul batu besar. Sore hari warga dusun baru usai mencari batu, memukul batu besar dan mencari pasir. Tembang pangkur, tembang sekar alit dan juga seruling bambu sudah mulai menghias di sore-sore hari yang senggang. Berarti warga kami sudah mulai menawarkan suatu kebahagiaan sekalipun masih sekelumit. Malam hari remaja putri belajar “Tari Joged” di Bale Banjar dekat rumahku. Tentu saja itu merupakan suatu kegiatan baru mengisi waktu luang buat para putri yang putus sekolah. Aku senang juga menonton joged bumbung, menyaksikan orang ngibing. Apalagi orang yang ngibing kebanyakan orang tua, karena para pemuda masih malu atau nyalinya masih ciut. Kakakku Latri juga ikut belajar menari joged, sungguh lucu, kakakku yang baru kelas enam sudah berani mendolat orang tua untuk menemani ngibing, tentu orang tua yang didolat terkekeh-kekeh karena yang diajak menari anak masih ingusan. Kakakku memang mental baja, biarpun bagaimana suatsuit orang yang menontonnya kakakku balas dengan senyum dan sekali-sekali memutar-mutar kipasnya. Orang-orang sudah kecanduan joged bumbung, sehingga kakakku bisa saja diupah untuk menari joged. Di antara sekian joged kakakku termasuk penari handalan. Aku selalu menjadi pengantar dan pengawas kakakku di kala latihan menari joged. Tentu aku mendapat persenan dari kakak. Oh, ibu sepulang kakak dari latihan mudahmudahan ibu tidak bersedih, ibu harus bahagia karena anakmu sudah dijalari rasa seni pada darahnya, begitu bathinku berbisik. Sepulang aku dari mengantar kakak latihan tari joged bumbung ibu masih menganyam bakul. Ibu menghentikan sebentar rajutan tangannya melihat kami masuk kamar. “Nak, di sini duduk,” Ibu memanggil kami. Tentu kami mendekati Ibu duduk disampingnya, mungkin ada yang ingin dibicarakannya. “Nak, Latri ketua sekehe joged dapat kemari. Ia minta supaya Nak Latri diberikan sebagai sekehe joged yang dibentuknya.” “Pada mulanya meme canggung memberikannya, karena kamu masih kecil. Tapi dikatakan kamu satu-satunya penari joged andalan dan ia siap menjaga keselamatanmu, karena ia begitu mengharapkan keikutsertaanmu akhirnya meme memberikan,” kata ibuku. Tentu aku dan kakakku Latri merasa senang karena dibolehkan ikut dalam sekehe joged. “Tapi pesan ibu (meme), ingat jaga diri baik-baik”. Kakakku Latri mengangguk dan aku juga ikut mengangguk-angguk. Dalam satu bulan sampai empat atau lima kali diupah menari joged, menari sampai ke Desa Duda, Sidemen, Wates. Aku sebagai pengawal merasa senang karena aku ikut kecipratan upah dari kakak perempuanku. Yang paling mengesankan setiap akan pentas kemana-mana selalu ditempuh dengan jalan kaki sampai berkilo-kilo. Pernah kakakku menangis waktu diupah di Duda, seorang pengibing yang sudah tua dan kebetulan mabuk ikut ngibing dan mencium pipi kakakku. Entah bagaimana caranya orang tua ini ngibing tanpa setahu kakak pipinya sudah mendarat di pipi kakakku, tentu sontak penonton bersorak-sorai. Saat itu kakakku mengurangi pentas menari joged bumbung dan juga kebetulan sudah dekat ujian kakakku perlu lebih banyak belajar lagi. Ketua sekehe joged menyadari hal itu, sehingga kakakku diberikan berhenti menari joged. Di sekolah tentu kakakku menjadi menarik perhatian teman-

34

m a g a z i n e

OKTOBER 2011

temannya. Waktu yang terus berpacu mengalir tanpa henti-hentinya begitu juga aku tumbuh menjadi remaja. Saat remaja aku dengan ibuku terdampar di Karangasem dan kakak perempuanku melanjutkan ke sekolah tari Denpasar diajak oleh kakak laki-lakiku. Tentu juga di Karangasem ibu melanjutkan sebagai seorang pedagang keliling menjajakan beras, ubi dan gaplek. Di Karangasem ibu sampai bisa membeli tanah untuk membuat rumah tentu aku berbahagia, begitu juga saudara-saudaraku yang di Denpasar juga bahagia apalagi kakak perempuanku. Kakak perempuanku sering mengirim surat padaku bahwa ia sekarang sering pentas di kota Denpasar. Aku berbahagia karena seorang gadis desa dari daerah lahar menjadi seorang penari. Latri kakakku seorang penari desa yang telah menyentuh keberadaban kota Denpasar. Suatu ketika kakak perempuanku mengirimi aku surat untuk memberitahu bahwa ia bersama teman akan pentas di Jawa. Aku pun membilang sama ibu, tetapi selalu gusar pada Latri. “Nak Wayan apakah Jawa tempat kakakmu menari tidak jauh?” tanya ibuku. “Meme, Jawa itu jauh kalau memakai bus bisa sampai berjamjam kadang-kadang berhari-hari”. “Nak Wayan kenapa begitu, sekarang kakakmu sudah berani kemana-mana”. “Kakak kan sudah dewasa, kenapa ada lagi rasa takut,” jawabku. “Meme yang takut, nanti Latri di daerah Jawa hilang dan tak lagi pulang.” Aku tertawa mendengar kata-kata ibu. Begitulah orang desa seperti ibuku, kalau anaknya pergi agak jauh sang ibu sudah sedih atau menangis. Kapan lagi seorang ibu memberikan semangat kepada anaknya, kalau selalu setiap pergi harus diikuti oleh lelehan air mata. “Kalau anak ibu yang laki-laki merantau ke Denpasar, kenapa ibu tidak sedih.” “Nak Wayan, kalau laki-laki itu ia lebih bisa membawa diri, tentu saja tidak akan mungkin ada orang mengusiknya.” “Anak perempuan sama saja meme,” kataku. Sekalipun aku memberikan saran demikian ibu selalu prihatin kepada kakakku Latri. Mungkin karena Latri anak perempuan satusatunya dan merupakan bagian dari figur ibu. Untuk itulah ibu selalu memperhatikan Latri dan menyayangi Latri. Bhatin ibu memang peka, naluri kewanitaannya masih berjalan sebagai seorang ibu. Telegram di tanganku gemetar, benarkah bunyi telegeram ini menyatakan kakakku Latri meninggal. Meninggal karena kecelakaan bus yang ditumpanginya. Aku membuka mata lebar-lebar dan tetap tulisan itu menyatakan kakakku meninggal dalam kecelakaan. Dalam penguburan kakakku Latri. Aku dengan ibu kembali ke Desa. Ibu menangis histeris di saat kakakku Latri dimandikan, ibu mengelinjang ingin menubruk mayat Latri, tapi kakak-kakakku cepat menghalangi dan memegang tangannya. “Biarkan aku anak-anakku………. biarkan aku. Meme ingin bersama Latri. Biarkan meme, jangan dihalangi!” Ibuku akhirnya pingsan. Inilah kodrat alam antara mati dan hidup tak dapat dielakkan. Aku juga sebagai adiknya yang paling dekat dengan Latri tak bisa membendung air mata. Saat penguburan kakakku Latri, aku menjauh duduk di bawah pohon beringin. Aku menumpahkan seluruh air mata. Aku juga seperti kehilangan sebagian dari jiwaku. Latri adalah satusatunya kakakku yang paling akrab dengan aku, dalam penderitaan pun kakakku paling akrab dengan aku. Kakakku dapat aku jadikan


sebagian dari figur pengganti ibu untuk aku. Menari kembali bayangan kakakku Latri di antara awan gemawan, ia melambaikan tangan. Kakak Latri…… Kakak Latri begitu bathinku berbisik. Kakakku memang cantik figur dari penari desa. Aku menatap langit, bayang-bayang kakakku menjadi banyak, ia menari dari tari Legong Keraton sampai menari joged. Ini merupakan pukulan untuk kedua kalinya setelah meninggalnya ayah. Dengan kehilangan kakakku, aku mulai dimainkan oleh perasaanku yang sedih, aku mulai menumpahkan perasaan sedihku ke dalam catatan-catatan harian lepas. Aku mulai digoyang oleh bahasa puisi, sehingga aku mulai menumpahkan segala renungan kesedihan ke dalam bahasa puisi. Aku mulai mencari kehidupan sebagai manusia. Aku kembali ke Karangasem menempati rumah ibu. Sedangkan ibu masih dirawat di desa. Setiap bathinku tersentuh aku selalu menumpahkannya dalam puisi atau catatan-catatan harian. Melalui itu baru bathinku terasa longgar dan tidak sumpek, baru rasanya dada longgar. Setiap saat aku senang bertualang ke desa-desa untuk menetralkan bathinku dan juga mencari renungan tentang diriku. Dengan demikian setidaknya bisa menggeser kenangan-kenangan yang pahit dengan kakakku Latri. dengan penderitaan yang menggasakku akhirnya aku bisa berpikir lebih dewasa. Lebih bersyukur lagi aku sudah mendapat pekerjaan sekalipun sebatas mandor atau pengawas pekerja pada suatu perusahaan kontraktor bangunan, berarti aku sudah mempunyai suatu kegiatan. Aku menjadi pengawas pekerja pada pengaspalan jalan di desa-desa. Basang Alas merupakan salah satu daerah tempat tugasku. Pesona daerah Basang Alas mirip dengan dusun kelahiranku sebelum dilindas oleh lahar Gunung Agung. Basang Alas juga mempunyai ciri khas yaitu membuat anyaman dari bahan bambu seperti: lampu, tempat roti dan juga alat-alat rumah tangga lainnya. Di samping itu juga lahir penari-penari alam yang berbakat. Tentu setiap malam purnama di Balai Banjar Dusun Basang Alas latihan penari. Aku dengan buruh-buruh pengaspalan juga sering menonton latihan menari. Persawahan juga suatu yang menarik perhatian aku selama tugas menjadi mandor di Dusun Basang Alas. Setiap sore usai bekerja aku sering mandi ke sungai. Dengan mandi di sungai aku dapat memperhatikan gadis-gadis Basang Alas mencari air. Aku mulai belajar melirik gadis, tentu aku masih sangat gugup dalam hal itu. Sehabis mandi sore aku menyempatkan jalan-jalan di seputar Basang Alas sambil mengontrol jalan yang sudah diaspal. Di Basang Alas aku mulai berkenalan dengan serang gadis yang menimbulkan gairah irama kehidupan bagiku. Ni Putu Suwantari namanya, tentu gadis itu juga seorang penari. Rambutnya panjang sampai ke pinggul. Ia selalu memanggil aku Beli Wayan, beberapa kali aku menyuruh Suwantari supaya memanggil Wayan saja, tetapi karena ia sudah akrab memanggil Beli Wayan sehingga sukar mengubahnya sebutan itu. Dari perantaraan Suwantari menyebabkan aku banyak kenal dengan masyarakat di sana dari pengerajin, petani sampai senimanseniman tua. Pada suatu sore saat aku sedang jalan-jalan ketemu Suwantari membawa air. “Beli Wayan jadi mampir ke rumah saya?” kata Suwantari. “Jadi, tapi lagi sebentar aku ke sana. Sekarang masih mengontrol pengerjaan pengaspalan yang sudah selesai,” kataku. “Kalau begitu saya duluan, Beli Wayan. Ingat ya, nanti mampir jangan lagi ingkar!” “Tentu aku nanti ke sana, tidak bohong Dik. Su.” Suwantari bergegas jalannya dan tak lupa pula melempar senyum padaku dan aku tak lupa pula membalas senyumnya. Suwantari betul-betul mirip kakakku Latri, cuma Suwantari perawakannya lebih gemuk dibandingkan dengan kakakku. Aku melanjutkan mengontrol pengaspalan di setiap jalan. Ada bagian jalan yang aspalnya belum merata. Suwantari tahukah kau irama kehidupanku. Sebagai anak lakilaki dusun sejak kecil sudah akrab dengan pecut penderitaan. Tahukah kau dendang bathinku adalah gejolak tumpahan lahar yang kehilangan Bapak dan Kakak tercinta. Setidaknya itu merupakan suatu catatan perjalanan hidup sebagai seorang manusia yang pernah menginjakkan kaki di Dusun Basang Alas dan mulai gejolak bathin ditenangkan oleh suasana dan hawa Dusun Basang Alas. Mungkin Basang Alas yang juga merupakan ibu pertiwi bagiku pribadi tempatku mengadu anak manusia dengan bathin yang menjerit-jerit. Setidaknya pertemuan ini memperpanjang catatan harianku selama di Dusun Basang Alas tercinta.

Demikianlah dunia bahwa sadarku kembali menetas lewat gumpalan tinta pada sebuah buku yang akrab denganku. Sebuah danau yang sepi di dekat sungai menjadi suatu saksi dalam guratan-guratan tanganku pada keremangan senja. Usia aku menulis catatan harian pada buku kecil yang aku akrab bawa kemana-mana baru aku melanjutkan perjalanan menuju rumahnya Putu Suwantari. Kerdipkerdip lampu temple mewarnai serambi depan rumah Putu Suwantari. “Oh, Beli Wayan. Saya kira Beli tidak jadi datang,” kelakar Suwantari. “Aku kan janji pada Dik. Su”. “Beli Wayan silakan duduk. Tapi maaf ya, tidak ada kursinya.” “Duduk di bawah dengan sehelai tikar kan bagus juga. Ini menendakan kita orang Bali tulen lho,” guyonku. “Bapa……. Meme. Beli Wayan datang”. “Nak Wayan duduk dulu. Meme sedang merapikan pekerjaan”. “Silakan Meme,”jawabku. Aku agak kikuk rasanya duduk karena ditemani oleh Suwantari. Dan Bapaknya ikut duduk di sampingku. “Bagaimana Nak Wayan pengaspalannya sudah akan selesai?” Bapa Semara menepuk bahuku. “Mungkin lagi satu minggu baru selesai”. “Sekarang pemerintah sudah memperhatikan desa-desa. Desa-desa sudah dibangun, jadi segala sesuatu di sini baik tentang perekonomian dan transportasi sudah lancar Dik Wayan.” “Bapa kan juga atas partisipasi dusun dan juga semangat kerja masyarakat di sini ikut membantu sehingga juga lancar”. Kami bercakap-cakap dengan keluarga Putu Suwantari kesanakemari tanpa ada ujung pangkalnya. “Nak Wayan, besok di jabaan Pura di sini akan ada pertunjukan tari-tarian,” kata Meme Sari. “Yang akan menari siapa?” tanyaku. “Anak Bapa. Putu Suwantari,” jawab Bapa Semara. “Wah, kalau begitu aku menonton.” “Kalau Beli Wayan menonton, saya malu,” kata Suwantari. “Kalau begitu kau tak cocok jadi penari,” kata Bapa Semara. “Kenapa ditonton takut,” sahut Meme Sari. Itulah suatu percakapan dengan menghadapi segelas kopi dan jagung bakar. Tapi dalam percakapan itu kadang-kadang juga menggelisahkan aku. Karena kenangan yang pahit begitu merambat, kadang-kadang melecut-lecut relung hatiku. Aku balik saja kenangan pahit itu. Suwantari aku anggap figur kakakku sebagai penari dan sekaligus gadis desa yang alami. Tak pernah memakai alat kecantikan yang berlebihan. “Lho kok Nak Wayan bengong. Ayo silakan kopinya dan ini jagungnya didiamkan, ambil,” Bapa Semara menyuguhi aku jagung bakar. Aku memakannya sambil menikmati hangatnya kopi di malam yang sangat dingin. “Bapa Sara di sini banyak ada penari-penari yang berbakat ya?” tanyaku. “Kalau mencari penari di sini banyak Nak. Wayan dari penari anakanak sampai dewasa. Tapi kebanyakan belajar menari bermula dari meniru, sehingga penari di sini lahir bukan dari bangku sekolah tapi dari meniru orang tua atau kakaknya”. “Tapi penari di sini kan cukup bagus-bagus sekalipun tanpa melalui jalur sekolah. Aku kira penari yang terkenal seperti Ni Reneng, Geruh dan Ni Pokok kan bukan dari jalur sekolah formal toh orang-orang itu menjadi penari terkenal, asal saja baru bisa menari jangan merasa puas diri”. “Di samping itu Nak Wayan, menari merupakan suatu kepuasan bathin,” kata Meme Sari. “Betul itu Nak Wayan. Coba dulu waktu istri Bapa masih muda sampai meninggalkan pekerjaan untuk dapat menari.” “Menari bagi meme sudah merupakan panggilan nurani. Dulu waktu masih muda kemana disuruh menari tak pernah menolak. Sekalipun kondisi badan payah asal masih bisa bergerak siap saja untuk menari”. Malam semakin merambat dihiasi oleh tangis burung kedasih di kejauhan. Aku meninggalkan rumah Putu Suwantari. Orang-orang di Bale Banjar belum juga tidur ada yang nembang, ada yang bercakapcakap. Itu adalah pesona teman-temanku para pekerja pengaspal yang tidurnya menjadi satu pada sebuah Balai Banjar. Mereka tertawa dan bersenda gurau untuk melupakan kepenatan dari bekerja dan kesumpekan pikiran. 

OKTOBER 2011

m a g a z i n e

35


WARTA

PENDIDIKAN

SMP Swastika Karya Dibantu Dermawan California

S

MP SWASTIKA KARYA merupakan sekolah swasta tertua di Jembrana. Berdiri sejak 1962, sekolah yang dipimpin Dra Sudarijah berjuang keras mengukir prestise terbaik sebagai upaya menyejajarkan diri dengan sekolah negeri lainnya. “Kami akui, prestise sekolah kami di mata masyarakat masih jauh di bawah apabila dibandingkan dengan sekolah negeri yang bergelar SSN atau pun SBI. Tetapi, kalau dibandingkan dengan sekolah

swasta lainnya di Jembrana, animo jumlah murid SMP Swastika karya ini terbesar, mencapai 223 kepala untuk tahun ajaran baru ini,” ungkap Sudarijah. Saat Ekspresi mampir, Sabtu 27 Agustus lalu, sekolah

yang berlokasi di Jalan Rajawali No 3 Lingkungan Satria, Kelurahan Pendem, Negara, tengah menerima tamu istimewa. Ada dermawan remaja San Jose, California, USA, Ni Putu Dewi Ayu Vanessa Subana ditemani neneknya, Tina Subana datang menyerahkan bantuan sosial berupa uang tunai Rp 7.5 juta plus bonus sebuah sepeda gayung. Dana itu lalu dihibahkan kepada 23 siswa yatimpiatu, 20 siswa piatu, dan 20 siswa yatim, masing-masing menerima Rp1 juta. Dua siswa yang kurang mampu di sekolah itu juga diberikan beasiswa selama satu tahun, masing-masing dengan nilai Rp 600 ribu. Salah seorang siswa kurang mampu, I Putu Adi Sanjaya dihadiahi sepeda gayung guna meringankan bebannya ketika pulang pergi sekolah lantaran mengidap sakit jantung (jantung bocor). “Berapa pun besarnya bansos yang diberikan kepada keluarga besar SMP Swastika Karya, saya mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya. Bantuan ini jarang sekali ada, apalagi dari pihak luar negeri. Tentu kami bersyukur. Dan apa yang kami dapatkan semoga berguna untuk masa depan pendidikan anak didik kami di masa mendatang,” ungkap Kasek Sudarijah. SMP Swastika Karya tahun ajaran ini membentuk dua rombongan belajar (rombel) untuk kelas VII. Jika dibandingkan tahun lalu, SMP Swastka Karya mengalami penurunan satu kelas menerima siswa baru. Krisis perhatian dari masyarakat menjadi beban berat yang harus ditopang SMP Swastika Karya. Bagaimana tidak, sekolah ini terlanjur dipandang sebelah mata. Mereka menganggap SMP Swastika Karya hanya dihuni “siswa buangan” yang tidak diterima di sekolah negeri. Tapi tentunya, ini tidak membuat SMP Swastika Karya berkecil hati. Semangat juang anak didik, kinerja guru, prestasi serta meningkatkan mutu pendidikan di bidang akademik dan non akademik masih berkobar di sekolah yang berdiri di atas lahan seluas 3150 m2. Prestasinya antara lain, meraih juara 3 lomba rindik tingkat provinsi tahun 2009, juara I TIK se-Kabupaten Jembrana tahun 2009, hingga beberapa kali meraih juara pada lomba PMR. Bahkan beberapa siswanya merupakan atlet yang pernah bersaing di tingkat nasional.  Yuli Astari

RALAT DARI REDAKSI MOHON maaf ada kesalahan nama pada foto kepala sekolah dan wakil kepala sekolah di berita halaman Sekolah, dengan judul SMK Negeri 1 Negara, Pertahankan RSBI, dengan Efisiensi dan Efektifitas Sumber Dana Sekolah, edisi Bulan Agustus 2011. Untuk itu yang benar adalah seperti di samping ini.

36

m a g a z i n e

OKTOBER 2011


SMAN 1 Baturiti

Duta Tabanan Lomba WWM P

EMBANGUNAN bidang pendidikan merupakan tangung jawab bersama, baik keluarga, pemerintah dan masyarakat. Hal tersebut diungkapkan Bupati Tabanan Ni Putu Eka Wiryastuti saat menyampaikan sambutan selamat datang untuk Tim Penilai Lomba Wawasan Wiyata Mandala (WWM) tingkat Provinsi Bali di SMA Negeri I Baturiti, Rabu (14/9) siang. Ketiga unsur terkait tersebut diharapkan bisa berperan secara aktif dalam pelaksanaan WWM. “Ketiga unsur ini kami harapkan bisa berperan secara aktif dan sinergis, sehingga program Wawasan Wiyata Mandala bisa berjalan dengan baik,� ujarnya. WWM, kata Bupati Eka, merupakan suatu pandangan yang mengandung unsur-unsur di mana sekolah mempunyai wewenang dan tanggung jawab penuh atas penyelenggaraan pendidikan dalam lingkungan sekolah, antara guru dan orang tua siswa harus ada saling pengertian dan kerja

Bupati Tabanan Ni Putu Eka Wiryastuti berbincang dengan siswi SMAN 1 Baturiti saat penilaian lomba WWM, Rabu (14/9)

sama erat untuk mengemban tugas pendidikan. Harus menjunjung tinggi martabat dan citra guru, sekolah harus bertumpu pada masyarakat sekitar dan mendukung kerukunan antarwarga sekolah. Ke t u a Ti m Pe n i l a i L o m b a W W M B a l i diwakili Kepala Bidang Pemuda dan Olah Raga Disdikumudora Bali, Ni Made Suarti mengatakan, ada tiga aspek penilaian WWM. Seperti aspek penataan lingkungan, sarana dan prasarana sekolah, aspek pengelolaan admintrasi dan aspek kegiatan belajar mengajar. Kepala Sekolah SMA Negeri I Baturiti, I Nyoman Wija mengatakan, sekolahnya didirikan pada tahun 1990. Pada usia 21 tahun ini sekolahnya tergolong masih muda. Oleh karenanya, pihaknya masih membutuhkan banyak pembinaan baik dari pemerintah pusat maupun pemerintah daerah. Dalam menjalankan kegiatan belajar mengajar, di SMA Negeri I Baturiti kini ada 67 orang guru dengan tiga guru berpendidikan S2. E-Magz

OKTOBER 2011

m a g a z i n e

37


Basa-Basi

TEMANKU akrab disapa Robet. Padahal nama sewaktu lahir dan di akte kelahirannya Putu Andika Wibawa. Pergaulannya lincah, kerap melanglang berbagai belahan dunia, termasuk banyak relasi di luar negeri, panggilan Robet pun melekat padanya. Kata dia, sebutan itu lebih membawa hoki. Dia itu, karibku ketika SMP dulu. Aku satu kampung dengannya. Hanya saja, aku tak ubahnya seperti katak dalam tempurung, pergaulanku sempit. Pola pikirku pun ikut-ikutan sempit. Dia berwawasan luas, cara pandang dan pola pikirnya pun maju. Kendati demikian, ia selalu suka tukar pendapat denganku. Setidaknya aku juga dapat pengetahuan baru dari cerita yang ia sampaikan. Kemarin ia bertamu ke rumahku. Ia berkeluh kesah. Ia merasa kecewa berat dengan sikap masyarakat di banjarnya. Kala ayahnya meninggal, melahirkan sakit hati. Perjalanan mayat ayahnya ke tempat peristirahatan terakhir seperti ular, zigzag. Digoyang-goyang. Diperlakukan tidak secara manusia. Dia sedih melihat perjalanan ayahnya ke tempat peristirahatan terakhir dengan tidak enak. Ia tak habis pikir, padahal ayahnya rajin bermasyarakat. Dia pun rajin mepunia, termasuk meli ayahan di banjar. Namun siapa nyana, kala dia merasa telah menunaikan kewajibannya, dia tak mendapat hak yang setimpal. Kabar burung dari mulut ke mulut yang ditangkap kupingnya, warga banjar ‘menghajar’ seperti itu karena dirinya sama sekali tak pernah ngayah di banjar. Apalagi datang melayat ketika ada warga mengalami duka. “Tapi kan aku sudah meli ayahan. Aku kan bekerja di luar negeri. Aku mencari nafkah di negeri orang. Bukankah aku tidak serakah. Buktinya, penghasilanku dari bekerja aku sumbangkan, termasuk aku rajin menyumbang ke banjar. Apa itu belum

38

m a g a z i n e

OKTOBER 2011

cukup untuk menunaikan kewajibanku makrama. Bila kita harus tinggal di rumah agar senantiasa bisa ngayah, anak istri kita makan apa?” Robet menumpahkan unek-uneknya padaku. Aku menghela nafas panjang. Tak berani menyela, karena aku ingin mendengar lebih lengkap tentang kelanjutan ceritanya. “ S u n g g u h a k u t a k h a b i s p i k i r. Masyarakat kita kok kelakuannya barbar. Hidup kita sudah susah, mati pun kini susah. Penderitaan ayahku mungkin tak seberapa. Di koran aku baca, bahkan sampai ada pelarangan mayat untuk dikuburkan. Bahkan antarbanjar bertetangga saling serang memperebutkan lahan kuburan. Amerika sudah buat kapal terbang, kita kok masih berbau feodal. Aku heran, setra dan pelaba pura kok jadi prekara atau perkara. Apa yang salah dengan kita De?” Aku kaget, ternyata di bagian akhir kalimatnya ada pertanyaan yang menohok. Aku tak mampu menjawab. Aku menarik napas panjang. Aku cari cara lain menghindar pertanyaannya sembari aku memikirkan jawaban yang aku sampaikan. Dalam kekakuan itu, aku menemukan cara mengindar yang manis dengan mempersilakannya menyeruput kopi yang dibuatkan istriku. C a r a k u m u m p u n i . Te r b u k t i i a melanjutkan keluh kesahnya. “Aku memang jarang ke pura. Tidak seperti ketika aku tinggal di rumah dulu. Aku sekarang bekerja di luar negeri. Lokasi pura pun sangat jauh. Tapi aku tetap ingat Tuhanku. Aku bersusah payah membangun pura di dalam hatiku. Aku merasakan Tuhan itu dekat. Tidak seperti ketika aku di Bali dulu. Ke pura penuh pura-pura agar dilihat oleh warga banjar aku orang yang beragama. Tetapi ketika aku hidup di luar. Ketika jumlah pura bisa dihitung dengan jari, dan lokasinya harus ditempuh berhari-hari, aku merasakan

Tuhan itu ada dimana-mana. Lebih baik membangun pura dalam hati, daripada kita mati sia-sia memperebutkan pura. Seperti saudara kita yang di Klungkung tewas ketika memperebutkan pura. Siapa yang menjamin dia masuk surga?. Apa yang mati itu bisa disebut pahlawan?” Kembali di akhir ceritanya, dia memberondongku dengan sebuah pertanyaan. Sungguh aku tak mampu menjawab semua itu. Apa yang diucapkannya masuk akal bagiku. Dalam hati aku mengangguk setuju. Aku ingin mendengar lagi dharma wacananya, yang tak pernah kudapatkan dari pedanda yang kerap berkoar-koar di layar kaca. Aku menemukan kesejukan dari curahan hatinya, yang diam-diam kusetarakan dengan dharma wacana. “Aku bahkan setuju dengan sikap kelompok kecil dari Pangkung Karung, Kerambitan, Tabanan. Ketika mereka merasa sulit untuk mendapatkan hak menggunakan setra. Mereka pilih krematorium. Alasannya agar tidak terjadi bentrok fisik di tanah pekuburan. Selain itu, secara hitunghitungan bisnis, ngaben di krematorium juga irit biaya, tidak seperti ngaben pada umumnya yang menghabiskan puluhan juta rupiah. Aku sungguh senang, ada warga Hindu yang membangun krematorium dan membantu warga Bali yang kesekepakang bisa menunaikan upacara Pitra Yadnya dengan tenang, dengan khusuk. Aku tahu sekarang, ayahku ketika meninggal bermasalah karena aku tak pernah ngayah. Dari sekarang aku titip pesan ke anak istri, kelak kalau aku mati nanti bawa saja ke krematorium. Daripada anak istriku sakit hati melihat mayatku dipermainkan menuju tempat peristirahatan terakhirku. Semoga jalan pikiranku tak keliru!”  Kukuh Sugianto


KANKER PAYUDARA

Jangan Putus Asa Dulu Semua Penyakit Pasti Ada Ramuan / Obatnya

TUMOR GANAS

PAKAR HERBALIS SUPRANATURAL

SPESIALIS PENYAKIT KANKER DAN TUMOR TANPA OPERASI Alamat Praktek : Jl. Palapa XI – Sidakarya DPS. Telp. 0361-8950577 , 7448097 HP. 081 835 6255

TABIB ABU HUSEIN

SUDAH PENGALAMAN BUKA PRAKTEK SELAMA + 25 TAHUN DAN TELAH RIBUAN PASIEN KANKER DAN TUMOR DISEMBUHKAN TANPA HARUS DIOPERASI DI INDONESIA SAMPAI KEMANCA NEGARA TELAH MENDAPAT PENGAKUAN DARI MASYARAKAT LUAS & STATUSNYA BETUL-BETUL TELAH DI AKUI OLEH BANGSA LAIN JARANG ADA PASIEN YANG GAGAL DISEMBUHKAN.

Tersedia Ramuan khusus Super Kejantanan dan Keperkasaan Pria Wanita Super/Joss untuk : Memperbesar Alat Vital (Panjang/Paten) Lemah syahwat/Cepat Loyo /Tahan Lama /kuat Mani encer Haid Tidak Lancar Datang Bulan tidak Cocok Menyemburkan Sperma Ejakulasi Dini/cepat keluar Sex Kurang Bergairah Biar perkasa di Ranjang Istri susah orgasme Keputihan Sperma kurang subur Rahim Biar kuat Kandungan kurang subur atau tertutup lemak Cepat bisa hamil 30 hari Perut langsung isi. BERGARANSI !!!.

Cara TABIB ABU HUSSEIN mengobati pasien Tumor kandungan/Tumor Perut di rumah alamat praktek Jl. Palapa XI Sidakarya telah banyak Pasien Kanker & Tumor yang sudah disembuhkan oleh Tabib Abu Hussein ditempat prakteknya dirumah.

TUMOR LIDAH

TUMOR USUS

TUMOR HIDUNG

TUMOR KELAMIN

TUMOR OTAK

LANGSUNG DITANGANI OLEH PAKARNYA YANG SUDAH PROFESIONAL UNTUK : KANKER MULUT RAHIM KANKER PROSTAT / USUS KANKER PAYUDARA KANKER LEHER / RADANG KANKER HATI / DARAH/LIDAH KANKER GETAH BENING / DARAH KANKER OTAK / TULANG KISTA KANDUNGAN / MION PERUT SERING NYERI SEBELUM HAID (SAKIT)

TUMOR BUAH DADA TUMOR PERUT- OVARIUM TUMOR TULANG –KULIT TUMOR RAHIM / HIDUNG TUMOR GANAS/LEHER TUMOR JINAK / RADANG TUMOR HATI / OTAK TUMOR KANDUNGAN TUMOR MATA / RAHANG - HIDUNG TUMOR RADANG TENGGOROKAN

KENCING MANIS / DIABETES KENCING BATU / BATU GINJAL HERNIA/KHOLIB RADANG BENJOLAN DI BADAN WASIR DAGING TUMBUH TELOID DAGING NEMPEL DIBADAN HEPATITIS B GONDOK KELENJAR KUTIL DIBADAN AMANDEL DLL

TABIB ABU HUSSEIN SIAP MELAYANI PASIEN YANG SAKIT SAMPAI SEMBUH TOTAL Tabib juga mengobati penyakit tahunan dan bulanan yang kronis atau yang sudah ditolak dari berbagai pihak dari manapun. Tabib Abu Hussien sanggup tangani.

TABIB ABU HUSSEIN / www.tabib-hussein.com E-mail : info@tabib-hussein.com/www.msdewata.com ALAMAT PRAKTEK : JL. PALAPA XI SIDAKARYA DIDEPAN PERUMAHAN LIVA KAVLING I SIDAKARYA –DENSEL-BALI –INDONESIA TELP : (0361) 7448097 / FAX (0361) 8950577 HP. 081 835 6255 - 081 999000022 BUKA SETIAP HARI : JAM 09.00 S/D 20.00 MALAM

Tabib Abu Hussein juga menangani problem anda seperti ; l Lancar Usaha l anti selingkuh l memikat wanita l memisah Wil/Pil l dll

3 macam Ramuan : Cair - Serbuk - untuk Luar Jl. Raya Sesetan

Jl. Kresek Gg. Ikan Cucut

Br. Pegok Br. Taman Suci Jl. Raya Palapa

Jl. Kresek

Perum Liva Kavling I

Jl. Raya Sidakarya

PUSAT PENGOBATAN ALTERNATIF SUPRANATURAL

Kapsul Tinggi badan 1 bulan 4-8 cm untuk usia 30 Tahun ke bawah, ingin langsing 2 minggu Turun 6 kg Gempur Lemak Diperut Bergaransi Resmi Gemuk Badan 3 Minggu Naik 5-7 kg beratnya (tanpa efek samping)

Jl. Palapa XI

KONSULTASI GRATIS HUBUNGI :

KAMI JUGA MENYEDIAKAN KAPSUL/RAMUAN SERBUK :

Jl. Palapa XIV

Tidak buka cabang di tempat lain

Gg. Lumba2

Mengobati Semua jenis penyakit Kulit & Kelamin

BUKA PRAKTEK UNTUK UMUM

Jl. Suwung Batan Kendal

IZIN PRAKTEK : 314/IP/ITH/2000.39/THI/2000 IZIN KEJARI NO : B-1334/P.1.10/DPS.5/04/2007 IZIN DINKES NO : 448.3/2.PT.19.1.09

POM Bensin Lampu Merah Pegok Sidakarya

Rumah Praktek ABU HUSSEIN

PESAN TABIB ABU HUSSEIN, YAKINKAN DIRI ANDA UNTUK BEROBAT KE TABIB ABU HUSSEIN. INSYA ALLAH 3 S / D 5 HARI MINUM RAMUAN HERBAL TABIB ABU HUSSEIN PASTI SUDAH ADA PERUBAHAN. AMIEN.


Turn static files into dynamic content formats.

Create a flipbook
EKSPRESI by GUSRYAN bima - Issuu