ASD 1 - Pemilihan Tapak Pembangunan gedung ini memiliki tempat strategis dan sudah memenuhi 8 dari dari 12 prasarana kota yang akan menunjang aktivitas untuk bagi pengguna gedung.
3. Jaringan Drainase
1. Jaringan Jalan Jaringan jalan yang menghubungkan ketapak (lebar 4 meter) cukup untuk mengakses tapak. Akan tetapi, jalur yang berlaku hanya akses 2 arah dan bukan merupakan jalan umum (jalan raya) tapi merupakan jalan pemukiman warga.
2. Jaringan Penerangan dan Listrik
Area lahan banyak dipenuhi bangunan ataupun area hardscape sehingga perlu diberikan area resapan untuk memasok air tanah pada lahan.
4. Danau Buatan Danau buatan minimal 1% dari luas area lahan. Danau buatan ini bisa diletakkan diarea area negatif pada tapak.
Perletakan penerangan jalan umum pada akses keluar-masuk tapak dengan radius tertentu. PJU yang digunakan bisa menggunakan PJU tenaga surya atau PJU yang bersumber dari tenaga listrik PLN.
5. Jalur Pejalan Kaki Disediakannya trotoar untuk akses pejalan kaki disekitar gedung 01A.
ASD 2 - Aksesibilitas Komunitas Pembangunan gedung ini tidak berada di tempat yang strategis untuk menjangkau minimal 7 dari 12 prasarana kota yang akan menunjang aktivitas untuk bagi pengguna gedung. Sehingga perlu ditambahkannya beberapa fasilitas publik dalam jangkauan min<1.500 m dari gedung. Fasilitas umum yang bisa ditambahkan diantaranya yakni: Tempat ibadah ATM Center / Bank Tempat Parkir Warung Foto Kopi Umum Taman Umum Perpustakaan
Rekomendasi Desain Tempat ibadah ATM Center / Bank Tempat Parkir Warung Foto Kopi Umum Taman Umum Perpustakaan
Desain dari fasilitas umum yang disyaratkan dalam GBCI berupa bangunan sederhana yang memprioritaskan terhadap fungsi bangunan dengan tetap memperhatikan dan mengambil pendekatan Green Architecture.
ASD 3 - Transportasi Umum Mendorong pengguna gedung untuk menggunakan kendaraan umum massal dan mengurangi kendaraan pribadi Tolok ukur yang dinilai dalam greenship adalah dengan adanya halte atau stasiun transportasi umum dan jalur pedestrian untuk mengaksesnya.
Rekomendasi Desain Memberikan halte transpotasi bus, berada di selatan gedung 1 A
Jalur pedestrian disambungkan gedung 01A dengan halte bus.
antara
Tempat Parkir Halte Bus Pedestrian
ASD 3 - Transportasi Umum Tujuan dari kriteria ASD 4 ini adalah mendorong penggunaan sepeda bagi pengguna gedung dengan memberikan fasilitas yang memadai sehingga dapat mengurangi penggunaan kendaraan bermotor.
Rekomendasi Desain Memberikan parkir sepeda dengan minimal 20 unit yang berada di sebelah utara gedung 01A. Apabila tolok ukur (tempat parkir) diatas terpenuhi, perlu tersedianya shower sebanyak 1 unit untuk setiap 10 parkir sepeda untuk menambah poin greenship sebesar 2 pada kategori ASD 4.
ASD 5 - Lansekap pada Lahan Area dasar hijau yang ada pada tapak (area sekitar gedung 01A) setidaknya berisi minimal 10% area softscape tanpa adanya struktur bangunan. Kemudian 50% dari area lahan tersebut diisi dengan pohon (kecil atau besar).
Luas lahan : 3.430 m2 Luas Bangunan : 1.280 m2 Luas RTH : 2150 m2
Rekomendasi Desain
Jenis tanaman yang digunakan sebagai berikut:
Pohon Glogok Tiang
Pohon Ketapang
Tanaman Perdu
ASD 6 - Iklim Mikro Tujuannya yaitu untuk meningkatkan kualitas iklim mikro di sekitar gedung.
Rekomendasi Desain
Menggunakan greenroof sebesar 50% dari luas atap
Penempatan Green Roof
EEC P2 - Perhitungan OTTV
Dari hasir perhitungan OTTV menunjukkan bahwa keadaan thermal dalam gedung O1A Kampus 3 UIN Malang sudah sesuai dengan standar GBCI. Nilai OTTV gedung 01A sebesar 23.14 w/m2.
SOLUSI Solusi yang bisa diterapkan yakni dengan penambahan bukaan pada bangunan yang tetap menggunakan shading device. Melihat sudah adanya partisi pada selubung bangunan, maka permainan bukaan pada partisi bisa dipertimbangkan untuk menambah bukaan pada selubung bangunan gedung 01A.
Dengan penambahan shading device tersebut, maka dapat meminimalkan lagi nilai dari OTTV gedung 01A.
EEC 2 - Pencahayaan Alami Pergerakan matahari tidak sepenuhnya dari timur-barat, tapi karena pergerakan bumi terhadap matahari mengakibatkan matahari seolah terbit dari utara atau selatan.
November
Agustus
Juli
Maret
Fasad gedung 01A yang terkena cahaya matahati pada pagi hari.
Rekomendasi Desain Untuk mengurangi intensitas cahaya matahari yang masuk pada pagi hari, maka bisa dihadirkan secondary skin pada selubung bangunan terutama di sisi bagian timur dan selatan.
Selain secondary skin, juga dihadirkan shading device dalam bentuk kanopi ataupun horiontal fin yang ukurannya didasarkan pada perhitungan sun path diagram.
Penyinaran dari arah TIMUR
Dilakukan analisis terhadap pembayangan yang dihasilkan bangunan pada tapak. Dari hasil simulasi, akan muncul daerah yang selalu terbayangi sepanjang tahun. Area sisi timur bangunan harus diberi shading device yang sesuai karena banyaknya sinar matahari langsung yang masuk ke dalam bangunan.
Alternatif 1: Pemberian Kanopi
Alternatif 2: Pemberian Horizontal Fin (x)
Panjang kanopi = Tinggi / tanVSA = 1800 / tan25 = 3860
Panjang kanopi = Panjang / 5 = 3860 / 5 = 772 mm x = 772 cm
karena masih terlalu panjang maka diberlakukan alternatif 2 yaitu dengan menggunakan horizontal fin t = 1800 cm
EEC 3 - Ventilasi
Arah angin pada tapak dominan bergerak dari arah selatan-tenggara dengan kecepatan 1-33 mph. kecepatan tertinggi pada 33 mph. Angin paling sering bertiup dari selatan selama 3 hari dari 16 maret hingga 19 maret da selama 5,5 bulan dari 11 juli hingga 25 desember, dengan presentase tertinggi 73%.
Ruang Power System Laboratory (Electrical) N = 60
Q V
Luas Ruangan Panjang = 8,2 m Lebar = 8 m Tinggi = 4,5 m
Q = Laju Udara N = ACH di Laboratory = 0,5682 Av = 0,5682 x 6 m² x 3,12 m/s 10,6367 m³/min = 60 = 10,6367 m³/min 295,2 m³ V = Volume Ruang = 8,2 m x 8 m x 4,5 m = 295,2 m³
= 60 x 0,036 = 2,16 (Belum memenuhi ACH Ruang Laboratory)
Rekomendasi Desain
Karena tidak memenuhi ACH, maka perlu diperlebar ventilasi & jendela ataupun ukuran ruang, supaya mendapatkan penghawaan ACH yang sesuai dengan ruang tersebut
Perhitungan menggunakan software DIALUX Pada bagian ini, merupakan hasil pengukuran menggunakan software Dialux Evo 8.1 untuk menilai tingkat pencahayaan, dan menghitung serta mendesain ruangan.
Hasil Simulasi Perangkat Menggunakan DIALux EVO 8.1
Lunak
Hasil Pengukuran Matematis Menggunakan Metode Lumen Pada perhitungan ini, ruangan yang digunakan untuk mewakili ruangan yang ada di gedung 01A yaitu ruangan laboratorium teknik. Untuk ruangan laboratorium teknik
Desain ruangan laboratorium teknik pada DIALux EVO 8.1
Hasil Simulasi Ruangan Laboratorium Teknik
Untuk ruangan laboratorium dibutuhkan titik luminer sebanyak 13,61 atau digenapkan menjadi 14 titik luminer.
Pada gambar disamping, Penyebaran cahaya cukup merata, telah didapatkan tingkat pencahayaan ratarata sebesar 446 lux dari 14 titik luminer yang dipasang pada ruangan.
Pada tabel, terlihat selilih perhitungan antara matematis dan DIALux dengan selisih sebesar 15,6%.
Kontur Penyebaran Cahaya Pada Ruangan Laboratorium Teknik
Berdasarkan hasil evaluasi pencahayaan dapat diambil kesimpulan bahwa sistem pencahayaan belum mencapai standar SNI (350 lux). Maka perlu diadakan perbaikan dengan menambahkan jumlah titik luminer pada ruangan.
Pencahayaan agar mencapai standar SNI bisa dengan menggunakan lampu merek Philips LED bulb watt sebanyak 27 lampu.
MRC P - Refigeran Fundamental Tujuan dari kriteria ini adalah untuk mencegah penipisan (perusakan) ozon yang tinggi pada gedung
Gedung tidak menggunakan chloro fluoro-carbon (CFC) sebagai refrigeran dan halon sebagai bahan pemadam kebakaran. Seperti pendingin ruangan (AC), lemari pendingin, dan pengharum ruangan.
Solusi dan Rekomendasi Desain Solusi yang bisa dihadirkan dari zat CFC pada pendingin ruangan adalah dengan menggunakan penghawaan alami.
Solusi yang bisa dihadirkan dari halon pada bahan pemadam kebakaran adalah dengan menggunakan AF11 ataupun HFC-227. Jenis zat pengganti holon ini rendah akan penyebab pemanasan global dan tidak merusak ozon (non ozon).
MRC 2 - Material Ramah Lingkungan Tujuannya adalah Mengurangi jejak ekologi dari proses ekstraksi bahan mentah dan proses produksi material. Sehingga digunakan material yang memiliki sertifikat sistem manajemen lingkungan pada proses produksinya minimal bernilai 30% dari total biaya material. Sertifikat dinilai sah bila masih berlaku dalam rentang waktu proses pembelian dalam konstruksi berjalan. Material-material tersebut diantaranya :
Bata Merah
Linoleum
Bata Ringan
Mampu menyerap panas matahari di siang hari, dan meredam hawa dingin di malam hari.
Tersusun dari material organik, dan daya tahan terhadap panas tinggi serta mudah diurai oleh tanah.
Kedap air dan mempunyai kekedapan suara yang baik, serta tahan terhadap gempa bumi.
Rekomendasi Desain Bata merah untuk bahan utama pembentuk bangunan.
Bata Merah
MRC 4 - Kayu Bersertifikasi Tujuan dari kriteria ini supaya bahan baku kayu yang digunakan dapat dipertanggungjawabkan asal-usulnya untuk melindungi kelestarian hutan.
Kayu Meranti
Rekomendasi Desain
Kayu meranti yang digunakan pada kusen.
Kayu ulin yang dikombinasikan dengan kayu meranti untuk secondary skin.
Sehingga, kayu-kayu yang digunakan harus bersertifikat legal sesuai peraturan pemerintah ataupun dari pihak Lembaga Ekolabel Indonesia (LEI) atau Forest Stewardship Council (FSC).
Kayu Ulin
Kayu Meranti
MRC 5 - Material Prafabrikasi Tujuan dari kriteria ini adalah meningkatkan efisiensi dalam penggunaan material dan mengurangi sampah konstruksi.
Baja WF
Material-material prafabrikasi yang digunakan diantaranya yaitu Beton Precast, Baja WF. Material Prafabrikasi tersebut digunakan sebagai material utama pada struktur bangunan.
Beton Precast
Petikemas Rekomendasi Desain Material-material Prafabrikasi yang digunakan pada struktur bangunan-bangunan yang ada pada tapak sebagai respon dari aspek-aspek green building sebelumnya, seperti tempat parkir dan sebagainya.
Fasilitas yang menggunakan material petikemas
Fasilitas yang menggunakan material Baja WF
BEM P - Dasar Pengelolaan Sampah Tujuan dari kriteria ini adalah mendorong gerakan pemilahan sampah secara sederhana yang mempermudah proses daur ulang.
Gedung perlu menyediakan instalasi atau fasilitas untuk memilah dan mengumpulkan sampah sejenis sampah rumah tangga (UU No. 18 Tahun 2008) berdasarkan jenis organik, anorganik, dan B3 Pemilahan dan pengumpulan sampah sejenis rumah tangga dilakukan dalam 2 tahap. Tahap 1 dilakukan dalam skala gedung 01A yang kemudian diakumulasikan dalam skala besar (Lingkup kampus 3 UIN Malang). Fasilitas Pemilahan Sampah Skala Gedung 01A Fasilitas Pemilahan Sampah Skala kawasan "ArRohim" Akses menuju Fasilitas Pemilahan Sampah Pengelolaan Sampah Organik Skala kawasan "ArRohim" Pengelolaan Sampah Anorganik Skala kawasan "ArRohim"
Penempatan fasilitas pemilahan sampah skala kawasan dijauhkan dari area gedung yang ada pada kawasan "ArRohim" agar segala aktivitas yang terjadi saat proses pengolahan sampah tidak menganggu aktivitas pada area utama.
BEM 3 - Pengelolaan Sampah Tingkat Lanjut Pengelolaan sampah (organik dan anorganik) dilakukan secara mandiri, bekerja sama dengan pihak ketiga. Sehingga mengurangi beban TPA yang ada disekitar kawasan. Tong Pemilahan Sampah Rumah Tangga