Lokatari
Bicara Badan, Badan Bicara
Berkolaborasi dengan
Tentang Inklusivitas Tari dicipta dalam berbagai macam bentuk dan jenis. Beberapa diantaranya bergeser menjauhi keseharian akibat diperlukannya pemahaman tubuh akan tata gerak dan “kosa gerak” yang ada. Pergeseran ini tidak harus dipandang sebagai suatu hal yang buruk, namun hal ini membuat tari memiliki dinding dan jurang yang memisahkan antar penari dengan “genre” yang berbeda, serta menciptakan kategori penari dan bukan penari. Padahal sejatinya tari adalah sesederhana tubuh, gerak dan makna, dan ketiga hal tersebut adalah milik siapa dan apapun yang hidup. Lokatari ini di tujukan untuk menambah wawasan tentang tari, dari sudut pandang yang mencoba menjembatani jurang – jurang antara “genre” dengan memandang tari sebagai bahasa. Diharapkan dengan melihat dari perspektif bahasan dan makna kita dapat saling memahami terlepas dari ragam tubuh dan ragam gerak sehingga tari dapat dimiliki dan dinikmati oleh siapapun, kapanpun dan dimanapun.
Capaian Lokatari Setelah lokatari ini diharapkan peserta dapat: •Memiliki kepekaan terhadap ruang dan kepekaan serta kendali terhadap tubuh •Mengapresiasi karya tari dalam segala bentuk dan jenisnya •Berbahasa dengan gerak
Tentang Tari dan Komunikasi Seni merupakan salah satu bahasa internasional dan substansial di mana seni hadir dengan bahasa yang mendasar. Tari sebagai bagian dari seni, mengalami proses yang sama sebagai bahasa. Namun, apa yang membedakan tari dengan seni seni lainnya?. Pertama, tari merupakan seni yang memiliki bentuk 4 dimensi, di mana ia memiliki jangka waktu selama ditampilkan. Selain itu, tari juga kaya pengalaman dan kaya informasi. Waktu menjadi salah satu medium dalam menari, di mana sebuah karya tari memiliki masanya tertentu, masa di mana dia ada dan masa di mana dia tiada. Hal kedua merupakan kesederhanaan yang terdapat dalam sebuah tarian. Hal yang dibutuhkan oleh seorang penari hanya berupa anggota tubuh dan juga sebuah ruang tempat ia bergerak. Dengan kesederhanaannya, tari dapat dilakukan kapanpun dimanapun, dan dengan hanya dibutuhkannya anggota tubuh, penikmat tari dapat berhubungan secara lebih dekat dengan pemahaman yang lebih dekat pula.
Meneruskan poin sebelumnya tentang bahasa, dalam berkomunikasi kita melakukan suatu proses pertukaran citra mental dengan orang lain yang dimana akan terjadi aktivitas penerjemahan menjadi kode dan dekode untuk mengartikan pesan yang dikirimkan. Tarian juga dapat menjadi salah satu medium untuk melakukan komunikasi non-verbal. Postur, ekspresi wajah, dan gerakan yang kita tarikan dapat menggantikan kata-kata untuk mengungkapkan sesuatu pesan. Dalam proses komunikasi ini, isyarat atau simbol yang kita gunakan dapat berasal dari bahasa, konteks sosial dan budaya yang berlaku ataupun membuat bahasa baru dengan proses pembiasaan dan pengulangan.
Selanjutnya, jika dalam bahasa kita mengenal paragraf untuk menyampaikan suatu informasi dan huruf sebagai elemen terkecilnya. Dalam menggunakan tubuh, kita dapat membentuk suatu huruf dari anggota badan yang kita pilih, sudut yang digunakan, dan arahan badan,
Kode/Bahasa
Kesamaan Aturan
Diciptakan dengan
Familiaritas Sudah dibakukan
Sosial Budaya Historis
Sesuatu yang pernah terjadi, terus terjadi dan berulang
Dibakukan dengan asosiasi
Tipologi Spasial Aksi & Reaksi Bentuk & Bagian Tubuh Pergerakan Bentuk - bentuk pengulangan lain
Aturan Membuat Makna Sama seperti bahasa, suatu postur tubuh sudah memiliki arti tanpa perlu diberikan gerakan. Contohnya adalah saat kita mengangkat tangan bisa diartikan sebagai mengajukan diri atau menunjukkan bahwa kita ingin bertanya. Saat postur tersebut diberikan gerakan, makna lain akan didaptkan dari bentuk tersebut. Contohnya, setelah kita mengangkat tangan dan lalu menggerakannya ke kanan dan ke kiri, hal ini dapat diartikan sebagai mengucapkan selamat tinggal. Prosess dekode ini dapat dilakukan karena adanya ‘aturan’ dalam budaya manusia. Aturan adalah salah satu dasar yang dapat digunakan untuk menciptakan atau mencari makna. Makna tersebut tercipta karena adanya familiaritas yang terjadi karena pengulangan atau kebiasaan. Aturan ini lah yang membantu kita dalam membuat kode dan melakukan dekode. Berikut adalah beberapa aturan yang dapat digunakan dalam tarian: o Tipologi keruangan Aturan yang diciptakan karena perbedaan tempat. E.g. Jika di bumi gerakan kita ‘grounded’ karena adanya gravitasi, jika di bulan gerakan kita akan lebih ringan karena gaya gravitasi lebih kecil o Aksi dan Reaksi Aturan yang diciptakan karena adanya respon tertentu terhadap stimuli E.g. Jika diberikan suara kencang, kita akan menutup telinga. Jika diberikan sinar menyilaukan, kita akan memincingkan mata. o Aturan Bentuk dan Bagian Tubuh Aturan yang kita berikan pada tubuh kita untuk menggambarkan suatu hal. E.g. Saat ingin menarikan suatu pohon, kita menjadikan kaki kita akar, lengan kita ranting, dan jari kita daun. Saat ingin menggambarkan perasaan tidak bisa ‘move on’ kita memberikan aturan agar kaki kanan kita diam di satu tempat. o Aturan Gerak Aturan yang diberikan kepada gerakan untuk menggambarkan suatu hal E.g. Saat ingin menceritakan proses kebakaran, karena kebakaran dimulai dari api yang kecil hingga besar menjalar gerakannya dapat dimulai dari suatu gerakan kecil yang lama-lama menjadi besar. o Aturan Lainnya Selain aturan – aturan diatas kita juga dapat menggunakan bahasa yang biasa di temukan sehari – hari dan sudah menjadi budaya. Ataupun dapat juga kita mencipta bahasa baru dengan mengulang – ulang suatu aturan tertentu untuk menciptakan kesamaan persepsi antara makna dan kode antar penari dan penonton.
Tubuh Kita Tubuh kita memiliki banyak kemungkinan kosakata melalui kombinasi empat elemen; anggota tubuh, sendi, besar sudut, dan arah tubuh. Dimulai dari gerak gestural yang hanya melibatkan sedikit anggota badan, gerak postural yang melibatkan seluruh anggota badan, hingga gerak lokomotor yang membuat seluruh anggota badan berpindah dari satu titik ke titik lainnya. Gerak memiliki elemen dinamika berupa tenaga yang dibutuhkan tubuh dalam menyelesaikan gerakan. Dinamika meliputi tiga komponen, yaitu gaya, aliran usaha, dan kualitas proyeksi. Gaya merupakan besaran energi baik fisik maupun emosional yang dibutuhkan untuk melakukan sebuah gerakan. Aliran usaha merupakan perubahan dalam pengeluaran energi yang mengkualifikasikan pergerakan kontinyu antara derajat gerak terkontrol ke tidak terkontrol. Kualitas proyeksi merupakan tekstur gerak dari kombinasi kecepatan pelepasan energi. Pada bahasa tubuh, terdapat kosakata biasa yang merupakan gerakan motorik sehari-hari yang dinilai relatif terhadap kelompok masyarakat tertentu. Sebuah gerak atau gestur tubuh yang memiliki interpretasi makna yang jelas pada satu budaya, dapat berarti sangat berbeda pada budaya lain atau bahkan tidak memiliki arti. Kita dapat menciptakan kosakata baru dengan gerakan yang tidak biasa. Gerak tersebut dapat terbentuk dengan memanipulasi kosakata biasa dengan unsur estetika yang menitikberatkan pada kepentingan gerakan dan ilusi yang dihasilkan atau dengan menerapkan penanaman beberapa aturan dari sifat makna yang hendak dimaksud.
Penanaman makna dalam gerak setidaknya dapat dilakukan melalui enam cara, yaitu: 1.Concretization Mewujudkan aspek luar / yang terlihat dari suatu hal, peristiwa, atau kondisi. Contohnya ialah dengan meniru, mereplika, atau mengimitasi perilaku hewan. 2.Icon Mewujudkan perwakilan sebagian besar sifat atau karakteristik dari suatu hal, peristiwa, atau kondisi. Salah satu contohnya ialah topeng pada tarian kachina dipercaya orang Indian Amerika Utara memilki nilai supernatural dan diperlakukan dengan hormat. 3.Stylization Mencakup sebagian gestur atau gerakan yang merupakan hasil kesepakatan atau melakukan gerakan tertentu sebagai lambang suatu identitas. Contohnya ialah dengan menunjukkan jari ke dada sebagai lambang pernyataan cinta. 4.Metonym Mengkonseptualisasikan suatu gerakan yang ditautkan dengan hal, peristiwa, atau kondisi sebagai penggantinya. Contohnya ialah konsep tarian berpasangan untuk merepresentasikan perselingkuhan. 5.Metaphor Mengekspresikan sebuah pikiran, pengalaman, atau fenomena dengan suatu ilustrasi gerak berdasarkan persamaan atau perbandingan. Contohnya penggunaan anggota tubuh bagian punggung sebagai pekerja karena kesamaan sifatnya yaitu menopang. 6.Actualization Penggambaran sesungguhnya dari sebagian maupun seluruh peran. Contohnya ialah dengan menggunakan penari perempuan untuk mengaktualisasikan sifat keibuan dalam peran ibu.
Komponen Gerak Tubuh
Besaran Sudut
Arah
Bagian Tubuh
Sendi
Alamiah sendi
Bermain Peran Budaya Keseharian
Stamina Keseimbangan
Potensi Gerak
Pertimbangan Memilih Bagian Tubuh
Makna yang sudah dikandung
Irama Bebas
Frase Tekanan
Nominal
Komunikasi Intra-Tari
Komunikasi Inter-Tari
Susunan Ketukan
Hubungan antar gerak
Tempo Durasi
Sebagai kanvas atau medium dari tarian
“Ruang dapat membentuk tari sebagaimana tari dapat membentuk ruang�
Potensi
Pengubahan ruang
Tubuh penari lain
Properti
Pemaknaan
Pemanfaatan Aturan
RUANG dalam Tari
Ruang & Lingkung Tempat/wadah dimana penari bergerak melalui tariannya. Dapat pula diartikan sebagai suatu cara penari bergerak dan/atau berinteraksi dengan lingkungan sekitarnya. Ruang yang bersifat statis membuat penari harus bergerak menyesuaikan keadaan lingkungannya. Namun secara psikologis, ruang imajiner juga terbentuk dari serangkaian pola gerakan yang tercipta dari penari.
“Ruang dapat membentuk tari sebagaimana tari dapat membentuk ruang” Proses menari yang berinteraksi secara aktif dengan ruang eksisting menciptakan penampilan tari yang bersifat khusus pada ruang itu, atau antara lain disebut:
Aspek
RUANG
“Site Spesific Performance” Elemen-elemen ruang yang berinteraksi dengan tari yaitu: Fisik → Bidang Horisontal, Bidang Vertikal, Objek, dll.
Non Fisik → Cahaya, Warna, Suara, Suhu, dll. Elemen-elemen ruang ini pada pertunjukan modern dimanipulasi untuk memperkaya pertunjukan: kita mengenal panggung dan segala propertinya sebagai bentuk manipulasi tersebut. Namun, dalam konteks ruang sehari-hari, baik alami maupun buatan, seperti bukit, sawah, hingga kamar tidur, penari tidak bisa memanipulasi elemen ruangnya secara menyeluruh, sehingga justru penari harus jeli dalam mengolah tariannya agar selaras dengan potensi eksisting ruang tempatnya menari.
Ruang & Lingkung Elemen Waktu Dalam Tarian Dalam membahas tentang elemen waktu, salah satu kata kunci yang juga menjadi komponen terpenting adalah “Kapan�. Untuk lingkup gerakan tari sendiri, “Kapan� memiliki artian bagaimana antar satu gerakan dengan yang lainnya perlu diatur dan dikombinasikan dengan sedemikian rupa untuk menghasilkan sebuah rangkaian tarian. Nantinya, hasil dari perpaduan tersebut menghasilkan tarian yang lebih harmonis dan terkoordinasi, baik itu kepada antar gerakan tari, maupun antara tarian dan musik yang mengiringi. Fungsi Elemen Waktu Dalam Tari Keberadaan elemen waktu dalam tarian memiliki beberapa fungsi, yaitu membantu mengarut dan menyusun tata letak antar gerakan tari yang satu dengan yang lainnya sehingga dapat menciptakan rangkaian gerakan tari yang lebih variatif. Selain itu, elemen waktu juga dapat melahirkan dinamika dalam tarian dengan perpaduan gerakan tari yang telah disusun. Elemen waktu juga mempermudah komunikasi baik itu antar penari, penari dengan koreografer, maupun koroegrafer dengan tim produksi. Jenis Elemen Waktu - Ketukan - Tempo - Tekanan - Durasi - Frase
: Hasil dari rangkaian pola gerakan dan musik. :Menggambarkan tentang seberapa cepat suatu gerakan berlangsung. : Aksen tertentu yang dihasilkan dari rangkaian gerakan. : Seberapa lama sebuah gerakan ditarikan, dimulai sejak awal hingga akhir. : Rangkaian gerakan yang berlangsung lebih lama.
Ukuran Elemen Waktu - Irama Bebas : Memanfaatkan spontanitas yang terjadi dengan sengaja antar penari. ¡ - Hubungan Antar Waktu : Memanfaatkan momentum urutan antar gerakan - Nominal : Menggunakan satuan angka untuk memberikan tanda pada setiap transisi gerakan. Contoh: Gerakan A pada hitungan ke 5, Gerakan B pada menit ke 3, Gerakan C pada 1x8 ke tiga.
P r a t i n j a u
Bagaimana?
Bagian Tubuh Sendi Besaran Sudut Arah
Susunan Ketukan Tempo Durasi
Kineka adalah wadah seni partisipatif, yang berusaha mengintegrasikan seni ke kehidupan sehari - hari. Seni pertunjukan, tari dan ruang menjadi topik utama yang hangat didiskusikan.
Kontributor Kineka
Prabowo Hanifianto bowo.hanifianto@gmail.com
089528393934 Penari Tradisional
Sekar Jatiningrum sekarjtn@gmail.com 085719078413 Penari Tradisional & Ballet
Balqis Fara Norita balqisfrnt@gmail.com 087788541948 Penari Ballet Kontemporer
Millatina Mirrah P. millatina@yahoo.com 082125298400 Penari Jazz Kontemporer
M.F. Pristantyo mfpristantyo@gmail.com 081380658211 Penari Eksperimental & Penata Artistik
Tania Arvianti tania@yahoo.com 0877880013041 Penari Street
Berkolaborasi dengan