Skip to main content

Buletin Asesmen Edisi April 2018

Page 1

Vol.15 ▪ No.1 ▪ April ▪ 2018

ISSN 9772089057114

MEDIA INFORMASI DAN KOMUNIKASI PENILAIAN PENDIDIKAN

Managed by Puspendik

3

Hasil UN untuk Perbaikan Kualitas Pendidikan

9

Membentuk Jaringan yang Bersinergi pada Rapat Koordinasi Helpdesk UNBK Provinsi

28

Seputar USBN, UNBK, dan HOTS SMA Khairul Imam Medan

32

Kemampuan Peserta Didik SMA IPS dalam Menjawab Soal Karakter Berdasarkan Hasil UN 2017


Daftar Isi 3 7 9 12 16

19 22

CAPAIAN Hasil UN untuk Perbaikan Kualitas Pendidikan REPORTASE Seminar Nasional Hasil Penilaian 2017 Membentuk Jaringan yang Bersinergi Pada Rapat Koordinasi Helpdesk UNBK Provinsi 2018 Pelatihan Pengkodean PISA, Laporan dari Malta Ujicoba PISA di SMPN 1 Wawotobi, Konawe Sulawesi Tenggara SHARING Panggung Peneliti, Modalnya 3P INTERNATIONAL VIEW Japan's Best Practice Peningkatan Mutu Sekolah: Peran Guru, Evaluasi, dan Penilaian

26

INSPIRASI Workshop Penulisan Soal Higher Order Thinking Skill (HOTS) di ALAZKA

28

SUARA DAERAH Seputar USBN, UNBK, dan HOTS SMA Khairul Imam Medan

32 45

KAJIAN Kemampuan Peserta Didik SMA IPS Dalam Menjawab Soal Karakter Berdasarkan Hasil UN 2017 Sekilas tentang soal Higher Order Thinking Skills (HOTS)

DARI REDAKSI Syukur alhamdulillah, Buletin Asesmen 2018 kembali hadir dengan substansi dan ilustrasi yang lebih variatif dan komunikatif. Hal tersebut kami tampilkan agar buletin ini dapat menunjang visi Puspendik menjadi lembaga asesmen nasional yang profesional dan berstandar internasional. Secara garis besar substansi Buletin Asesmen 2018 ini terbagi menjadi beberapa bagian yaitu informasi dari dalam Puspendik, informasi dari luar Puspendik, artikel internasional, inspirasi, kajian ilmiah, serta informasi pendukung lainnya. Sebagai lembaga asesmen nasional, liputan utama yang kami disampaikan adalah terkait sosialisasi dan pelaksanaan UNBK (Ujian Nasioal Berbasis Komputer), USBN (Ujian Nasional Berstandar Nasional), isu penulisan soal yang berkarakter HOTS (higher order thinking skills), dan pelaksanaan simulasi PISA di seluruh Indonesia. Sebagian besar artikel yang disajikan merupakan data primer hasil dari visitasi suatu program di dalam dan di luar Puspendik. Semoga sajian pada edisi ini bermanfaat dan menambah wawasan, inspirasi, dan pembelajaran bagi semua pembaca dalam upaya meningkatkan mutu pendidikan di Indonesia. Selamat membaca. Wassalam. Redaksi

STRUKTUR PENGELOLA Penanggung Jawab Moch. Abduh, Ph.D. Pemimpin Redaksi Dr. Bagus H. Prakoso, MA Redaksi Eksekutif Drs. Benny Widaryanto, M.Si, Asrijanty, Ph.D., Drs. Giri Sarana H.S., Sidik Pranyoto, MM, Dr. Safari, Subihardadi, MM., Lilis Windiarti, SE. Penanggung Jawab Kegiatan Teknis Lili Holiludin, M.Si Redaksi Pelaksana Heni Handayani, M.Pd. Rustomo, MM., Devi Febriastuti, SE., Arfan Farobi Desain Grafis Dicky Wahyudy Alamat Redaksi Pusat Penilaian Pendidikan (Puspendik) Lt. 7 Badan Penelitian dan Pengembangan, Kemdikbud Jl. Gunug Sahari Raya No. 4, Jakarta, 10710, Indonesia Tel. 62.21.3847537, Fax. 62.21.3849451 Web. http://litbang.kemdikbud.go.id/ Email. redaksiasesmen@gmail.com

Buletin Asesmen Vol.15 ▪ No.1 ▪ April ▪ 2018 ISSN 9772089057114


CAPAIAN

Hasil UN untuk Perbaikan Kualitas Pendidikan Moch. Abduh, Ph.D. Kepala Pusat Penilaian Pendidikan

Sebagaimana jadwal yang telah ditetapkan sebelumnya, hasil Ujian Nasional (UN) jenjang SMA/MA/SMK Tahun 2018 telah diumumkan pada setiap satuan pendidikan secara serentak pada tanggal 2 Mei 2018. Sebelumnya, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan telah menyelenggarakan Rapat Koordinasi Serah Terima Hasil UN jenjang SMA/MA/SMK kepada semua Dinas Pendidikan Provinsi pada tanggal 30 April 2018 di Jakarta. Secara umum, penyelenggaraan UN jenjang SMA/MA/SMK Tahun 2018 telah berlangsung dengan baik, aman dan lancar sebagaimana Prosedur Operasi Standar (POS) UN yang telah ditetapkan BSNP (Badan Standar Nasional Pendidikan). Penyelenggaraan UN tahun 2018 ini juga menjadi awal mula penggunaan format soal isian singkat untuk mata pelajaran Matematika. Berita baiknya adalah semakin meningkatnya antusiasme peserta didik dan sekolah untuk

PUSPENDIK

mengikuti UN dengan moda UNBK (Ujian Nasional Berbasis Komputer). Hal ini ditandai dengan melonjaknya jumlah peserta UNBK tahun ini dibandingkan tahun sebelumnya, pada jenjang SMA, dari 956.981 siswa (68,14%) menjadi 1.394.870 siswa (91,07%), jenjang MA dari 185.785 siswa (46,29%) menjadi 417.032 siswa (92,82%), dan jenjang SMK dari 1.174.229 siswa (63,29%) menjadi 1.460.965 siswa (98,38%). Lonjakan yang sangat tajam ini juga bisa dicermati dari perspektif jumlah sekolah penyelenggara UNBK. Jumlah SMA/MA penyelenggara UNBK Tahun 2018 sebanyak 18.348 sekolah (11.346 SMA dan 7.002 MA), meningkat dari tahun sebelumnya hanya 9.652 sekolah. Sedangkan jenjang SMK sejumlah 12.499 sekolah dari sebelumnya hanya 9.829 sekolah. Di lain pihak, pelaksanaan UNKP (Ujian Nasional berbasis Kertas dan Pensil) jenjang SMA/MA dan SMK diikuti oleh 197.606 peserta, yaitu 9% siswa SMA/MA dan 2% siswa SMK.

Buletin Asesmen Vol.15 â–Ş No.1 â–Ş April â–Ş 2018

3


CAPAIAN

Terkait dengan ketersediaan sarana prasarana, penyelenggaraan UNBK tahun 2018 menggunakan 77.996 server utama, 48.056 server cadangan dan 2.362.496 komputer client. Untuk j e n j a n g S M A , s e b a n ya k 7 0 , 8 % s e k o l a h menerapkan UNBK mandiri, 14,1% sekolah melakukannya dengan resource sharing, sisanya 15,1% menggunakan moda UNKP. Pada jenjang MA, sebanyak 67,8% sekolah menerapkan UNBK mandiri, 20,3% sekolah melakukannya d e n g a n re s o u r c e s h a r i n g , s i s a n ya 1 1 , 9 % menggunakan moda UNKP. Sedangkan di j e n j a n g S M K , s e b a n ya k 8 3 , 5 % s e k o l a h menerapkan UNBK mandiri, 12,2% sekolah melakukannya dengan resource sharing, sisanya 4,3% masih menggunakan moda UNKP. Meski persentase sekolah penyelenggara UNBK SMA/MA/SMK belum memenuhi target sebesar 100%, kenyataannya peningkatan jumlah sekolah penyelenggara UNBK relatif menggembirakan jika mempertimbangkan fakta bahwa kondisi pemenuhan kebutuhan sarana prasara di masingmasing sekolah sangat sulit dan beragam. Dibandingkan dengan hasil UN dua tahun sebelumnya, nilai UN SMA Matematika tahun 2018 mengalami penurunan, terutama pada

4

Buletin Asesmen Vol.15 â–Ş No.1 â–Ş April â–Ş 2018

program studi IPA dan IPS. Trend capaian 3 tahun menunjukkan penurunan nilai 2017-2018 lebih kecil jika dibandingkan penurunan nilai pada 2016-2017. Untuk program studi IPA, nilai Matematika pada 2017-2018 turun sebanyak 4,67 poin, sebelumnya untuk 2016-2017 turun sebanyak 11,62 poin. Mata pelajaran yang mengalami kenaikan nilai adalah Bahasa Inggris sebesar 1,18 poin. Untuk program studi IPS, nilai Matematika turun 4,73 poin dibandingkan penurunan tahun sebelumnya 9,79 poin. Mata pelajaran yang mengalami kenaikan nilai adalah Bahasa Inggris sebesar 0,78 poin. Sedangkan untuk program studi Bahasa, nilai mata pelajaran yang mengalami kenaikan nilai adalah Bahasa Indonesia 3,05 poin, Bahasa Inggris 1,04 poin, Sastra Indonesia 8,41 poin, dan Antropologi 1,48 poin. Untuk jenjang SMK, trend nilai UN menunjukkan penurunan dari tahun 2016 ke 2018. Capaian nilai pada tahun 2017 ke 2018 relatif stabil, kecuali pada mata pelajaran Matematika. Trend nilai UN Bahasa Inggris naik sebesar 0,24 poin, Bahasa Indonesia turun sebesar 0,43 poin, Matematika turun sebesar 3,08 poin dan teori kejuruan turun sebesar 0,45 poin.

PUSPENDIK


CAPAIAN Sementara itu, hasil UNKP menunjukkan terjadinya perbaikan Indeks Integritas Ujian Nasional (IIUN) dari sekolah yang IIUN rendah naik menjadi IIUN tinggi, yaitu sekitar 40% dari sekolah dengan IIUN lebih dari 80%. Kondisi ini secara faktual menunjukkan adanya perbaikan pelaksanaan UNKP dibandingkan tahun sebelumnya. Berdasarkan kajian awal Pusat Penilaian Pendidikan, terdapat indikasi yang relatif kuat bahwa penurunan rerata nilai UN tahun 2018 disebabkan oleh dua faktor yang sangat dominan. Pertama, faktor perubahan norma, dimana soal UN 2018 memang memiliki tingkat kesulitan yang lebih tinggi dibanding soal UN Tahun 2017. Kesulitan ini tampak dialami oleh siswa-siswa di hampir separuh sekolah penyelenggara UN yang ditunjukkan dengan rerata nilai UN yang menurun. Sementara itu nilai UN di separuh sekolah lainnya justru mengalami kenaikan. Namun secara agregat faktor kesulitan soal ini hanya berpengaruh kecil terhadap penurunan nilai tersebut. Faktor kedua, yang memiliki pengaruh lebih besar adalah faktor perubahan moda ujian, dari UNKP ke UNBK. Sekolahsekolah yang semula menggunakan moda UNKP dan berubah ke UNBK cenderung mengalami penurunan nilai (terkoreksi) sangat signifikan.

PUSPENDIK

Sekolah-sekolah dengan IIUN tahun 2017 rendah secara rata-rata terkoreksi nilainya (menurun) sebesar 39,3 poin pada jenjang SMA/MA dan 24,14 poin pada jenjang SMK. Bahkan ada beberapa sekolah yang rerata nilai UN-nya turun hampir 50 poin. Sedangkan sekolah-sekolah yang sudah menyelenggarakan UNBK sejak tahun sebelumnya relatif memiliki rerata nilai UN yang stabil, tidak mengalami per ubahan yang signifikan. Perubahan norma tingkat kesulitan soal UN tahun ini mer ujuk pada arahan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, bahwa hal tersebut perlu dilakukan sebagai ikhtiar pemerintah untuk menyesuaikan secara bertahap standar nasional pendidikan dengan standar internasional, antara lain seperti standar Program for International Student Assessment (PISA). Soal-soal UN yang menuntut penalaran, sebagaimana soal studi PISA, sudah harus diperkenalkan kepada para peserta didik. Pengenalan soal penalaran ini, merupakan upaya untuk mengejar ketertinggalan pencapaian k o m p e t e n s i s i swa I n d o n e s i a d i t i n g k a t internasional. Selain itu juga, model soal penalaran merupakan salah satu tuntutan kompetensi dalam pembelajaran abad 21, yakni ber pikir kritis, kreatif, komunikatif, dan kolaboratif.

Buletin Asesmen Vol.15 â–Ş No.1 â–Ş April â–Ş 2018

5


CAPAIAN Dengan pendekatan tersebut, peserta didik diharapkan mampu menganalisa data, membuat perbandingan, membuat kesimpulan, menyelesaikan masalah, dan menerapkan pengetahuan pada konteks kehidupan nyata. Untuk dapat menyelesaikan soal penalaran siswa tidak hanya perlu menguasai konsep tetapi juga perlu mengolah informasi yang disajikan untuk menemukan penyelesaian yang sesuai. Terkait dengan maraknya tanggapan siswa terhadap soal UN tahun ini khususnya mata pelajaran Matematika, perlu disikapi dengan baik bahwa sikap kritis siswa dalam menilai soal-soal yang diujikan tersebut merupakan sinyal untuk memfasilitasi dan mengarahkan sikap kritis tersebut menjadi kompetensi yang andal, sehingga siswa Indonesia menjadi siswa yang mampu

berpikir secara kritis, kreatif untuk menyelesaikan masalah yang dihadapi. Menindaklanjuti hasil UN tersebut, Pusat Penilaian Pendidikan akan segera melakukan analisis untuk mendiagnosa topik-topik yang harus diperbaiki di setiap sekolah/daerah untuk setiap mata pelajaran UN. Selanjutnya hasil analisis tersebut akan didistribusikan ke semua Direktorat teknis terkait dan Dinas Pendidikan dengan harapan untuk segera ditindaklanjuti dengan program-program peningkatan mutu pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan masing-masing sekolah/daerah. Tidak dapat dipungkiri bahwa hal terpenting yang perlu dilakukan dalam proses asesmen adalah menindaklanjuti hasil diagnosisnya.

MENDIKBUD BERHARAP, SEMUA PIHAK TERKAIT AGAR MENJADIKAN HASIL ANALISIS UN SEBAGAI SALAH SATU ALAT REFLEKSI DAN ACUAN UNTUK PENINGKATAN MUTU PENDIDIKAN. KEPALA DINAS PENDIDIKAN, GURU, KEPALA SEKOLAH, DAN PENGAWAS SUDAH SEHARUSNYA MENJADIKAN HASIL ANALISIS UN SEBAGAI “CERMIN” YANG JUJUR, DAN YANG TERPENTING DAPAT MENJADI PENDORONG PERBAIKAN MUTU PEMBELAJARAN.

6

Buletin Asesmen Vol.15 ▪ No.1 ▪ April ▪ 2018

PUSPENDIK


REPORTASE

Seminar Nasional Hasil Penilaian 2017 SEBAGAI SALAH SATU AKTUALISASI DARI KEGIATAN DAN PROGRAM, PUSPENDIK MENYELENGGARAKAN SEMINAR NASIONAL HASIL PENILAIAN UNTUK PENINGKATAN MUTU PENDIDIKAN. ACARA TERSEBUT TELAH DISELENGGARAKAN PADA 5 DESEMBER 2017 DI HOTEL CROWNE PLAZA JAKARTA. TUJUAN SEMINAR TERSEBUT SELAIN MELAKUKAN SOSIALISASI HASIL PENELITIAN TERKAIT DENGAN PROGRAM-PROGRAM PUSPENDIK, JUGA MELAKUKAN PROMOSI DAN PENGUATAN JEJARING PROGRAM PENILAIAN PENDIDIKAN NASIONAL.

Pada acara tersebut yang bertindak sebagai keynote speaker adalah Bapak Bahrul Hayat, Ph.D., mantan Kepala Puspendik sebelum Moch. Abduh, Prof. Nizam, Dr. Hari Setiadi, Dr. Nugaan Yulia Wardani, dan Prof. Dr. Burhanudin Tola. Acara tersebut dihadiri oleh Kepala Balitbang Dikbud Bapak Totok Suprayitno Ph.D dan serta Sekretaris Balitbang Dikbud Bapak Ir. Dadang Sudiarto, MA. Peserta tamu seminar berasal dari berbagai unit terkait seperti LPMP, universitas, Dinas Pendidikan, sekolah SD, SMP, SMA, dan SMK, dan lain-lain yang berasalah dari wilayah Jawa dan luar Jawa. Bahrul Hayat, Ph.D (Keynote Speaker)

PUSPENDIK

Buletin Asesmen Vol.15 ▪ No.1 ▪ April ▪ 2018

7


REPORTASE

Narasumber Seminar Dr. Bagus Hary Prakoso, MA Haryo Susetyo, M.Kom Januar Pribadi, S.Psi Dr. Idwin Irma Krisna Wahyu Nurhayati, Ph.D. Dra. Rahmah Zulaiha, MA

Ir. Rumondang Purwati, MA

Rina Rosdiana, M.Ed

8

Buletin Asesmen Vol.15 ▪ No.1 ▪ April ▪ 2018

Judul Makalah Best Practice Implementasi UNBK: Prestasi dan Tantangan Pengembangan Model Aplikasi Penilaian Faktor-faktor Non Akademis yang Mempengaruhi Hasil Ujian Prediksi Tes Bakat Skolastik Terhadap Prestasi Belajar Kesiapan Bersekolah di Indonesia Hasil Survei Asesmen Kompetensi Siswa Indonesia (AKSI) Jenjang SMP Diagnosa Konsep Matematika dan IPA di Jenjang Pendidikan Dasar Berdasarkan Hasil Trend in International Mathematics and Science Study (TIMSS) Pengenalan Isu-ise Sains Populer pada Pembelajaran

PUSPENDIK


REPORTASE

MEMBENTUK JARINGAN YANG BERSINERGI PADA RAPAT KOORDINASI HELPDESK UNBK PROVINSI 2018 HENI HANDAYANI Peneliti pada Bidang Analisis Sistem Penilaian Puspendik Ujian Nasional (UN) masih sangat diperlukan oleh bangsa Indonesia yang heterogen. Meskipun UN bukan alat deteksi persoalan yang sempurna, UN dapat disebut juga sebagai pendeteksi awal persoalan. UN dapat memberikan informasi mengenai kondisi terkini peserta didik dan sekolah serta diharapkan dapat mendeteksi kekuatan dan kelemahan yang dimiliki sekolah. Sejalan dengan kemajuan teknologi informasi yang mengglobal, maka Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK) sudah te pat apabila digunakan untuk mengukur persoalan awal secara massal. Demikian disampaikan oleh Kepala Balitbang Kemdikbud RI, Totok Suprayitno, Ph.D pada pengarahan sekaligus membuka kegiatan Rapat Koordinasi Helpdesk UNBK Provinsi yang diselenggarakan oleh Pusat Penilaian Pendidikan di Hotel Mercure Darmo Surabaya pada tanggal 22-25 Januari 2018.

terbatas, dengan skala kecil yaitu di SMP Indonesia Singapura dan SMP Indonesia Kuala Lumpur (SIKL) hingga pada tahun 2017 melonjak sangat eksponensial. Hal ini menggambarkan bahwa sesungguhnya kita mampu menjadi lebih baik, bahkan kini menjadi fenomena yang sangat bagus dimana sekolah yang memiliki komputer dan segala sarana prasarana menyediakan diri untuk sharing (resource sharing) demi meratanya pelaksanaan UNBK. Pelaksanaan UNBK dirasakan sangat bermanfaat untuk meningkatkan mutu ujian nasional seperti menghindari ter jadinya kebocoran soal, memudahkan pengadaan soal ujian nasional, serta hasil Ujian Nasional yang dapat diakses lebih cepat oleh siswa, orang tua, sekolah maupun instansi terkait, papar Kabalitbang dihadapan peserta Rapat Koordinasi yang terdiri dari koordinator helpdesk dan petugas pendataan dari provinsi.

Bila melihat sejarahnya, Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK) pertama kali diadakan pada tahun 2014 secara online dan

PUSPENDIK

Buletin Asesmen Vol.15 â–Ş No.1 â–Ş April â–Ş 2018

9


REPORTASE Puspendik mengadakan Rapat Koordinasi (Rakor) Helpdesk UNBK Tahun 2018 dengan tujuan menginformasikan hal-hal penting terkait kebijakan dan teknis pelaksanaan UNBK 2018 dan diharapkan setelah penyelenggaraan kegiatan ini, helpdesk UNBK Provinsi memperoleh pemahaman yang lebih baik tentang kebijakan dan teknis pelaksanaan UNBK 2018, serta dapat menyusun langkah-langkah yang strategis dan konkrit dalam rangka pelaksanaan UNBK 2018 di wilayahnya masing-masing.

Kepala Puspendik juga menyampaikan Kebijakan UNBK 2018 : Ÿ Ÿ

Ÿ Ÿ Ÿ

Totok Suprayitno Ph.D. Kepala Balitbang Kemdikbud Ÿ

Isu-isu UNBK yang dulunya cenderung diselesaikan di pusat kini dapat diselesaikan di daerah masing-masing. Artinya kawan-kawan (para helpdesk) yang mengerti betul seluk beluk UNBK dari A-Z termasuk kebijakannya telah bisa menyelesaikan isu di daerah masing-masing tanpa harus menunggu solusi dari pusat. Tren positif ini perlu dilanjutkan, tentu saja dengan mengutamakan koordinasi dan komunikasi. Selanjutnya Totok berharap agar para helpdesk yang sudah berpengalaman dapat membantu dan mengkondisikan helpdesk yang bar u melaksanakan UNBK sehingga terbentuk jaringan yang saling sinergi. Sementara itu Kepala Pusat Penilaian Pendidikan, Moch. Abduh, Ph.D dalam laporannya mengatakan bahwa dalam rangka pelaksanaan UNBK secara luas perlu adanya kerjasama, kesamaan informasi dan persepsi, serta cara menanggulangi masalah UNBK yang terjadi di Satuan Pendidikan. Oleh karena itu sebagai lembaga yang bertanggungjawab dalam mengembangkan model-model penilaian,

10

Buletin Asesmen Vol.15 ▪ No.1 ▪ April ▪ 2018

Jadwal ujian jenjang SMK, SMA/MA dan SMP/MTs tidak bersamaan. Sekolah yang belum memadai sarana komputernya dapat melakukan resource sharing. Pelaksanaan simulasi UNBK dilakukan sebelum ujian. Memperkuat peranan helpdesk UNBK di setiap kabupaten/kota dan provinsi. Kerjasama teknis dengan Universitas, PLN, Telkom, BPPT, Kemkominfo, Lemsaneg dan instansi lain. Mendorong daerah untuk memperluas pelaksanaan UNBK di zona masing-masing.

Pada sesi selanjutnya Ketua BSNP Dr. Bambang Suryadi menyampaikan target dan refleksi UNBK tahun 2018. Untuk jenjang SMA targetnya 100% dan SMP targetnya 70%. Selama 3 tahun pelaksanaan UNBK berhasil menaikkan tingkat kejujuran namun belum diikuti dengan naiknya prestasi siswa. Juga meningkatnya pemahaman terhadap UNBK yang dilaksanakan secara full online dan UNBK dilaksanakan dengan sistem shift (sesi).Bambang mengakui bahwa masih terjadi permasalahan UNBK di sekolah, namun kecenderungan masalah semakin menurun. Permasalahan dan kendala teknis yang masih ditemukan antara lain adalah sinkronisasi yang terlambat menimbulkan kecemasan pihak sekolah, siswa dan orang tua, pemadaman listrik (Kasus UNBK SMK di beberapa kabupaten di Aceh tahun 2017), server utama terkena virus, registrasi IP yang belum lancar dan switch client dan pengaturan zona waktu yang salah sehingga komputer tidak bisa terkoneksi ke internet.

PUSPENDIK


REPORTASE

Dari kiri ke kanan: Kapuspendik Moch. Abduh, Kabid Non Akademik Giri Sarana, dan Kasubag Kepegawaian Lilis Windiarti

Rakor Helpdesk UNBK Provinsi 2018 juga menghadirkan Pustekkom, Tim Pengembang Aplikasi UNBK Puspendik dan Tim Pendataan dari Kemdikbud dan Kemenag. Dalam rangka menyukseskan UNBK 2018 Pustekkom menyediakan dan mendukung secara penuh untuk server, jaringan dan bandwith dengan total server admin yang di handle sistem cloud Kemdikbud adalah 55 server aktif dan 12 server cadangan, demikian per nyataan Ke pala Pustekkom yang diwakili oleh Ade Kusnandar. Ada hal yang berbeda dari kebiasaan kegiatan Rakor Puspendik lainnya, kali ini panitia meminta Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur, Dinas Pendidikan Provinsi Papua, Dinas Pendidikan Provinsi Jambi dan Dinas Pendidikan Provinsi Gorontalo untuk berbagi pengalaman/informasi. Keempat provinsi penyelenggara UNBK tersebut mengatakan meskipun masih minimnya apresiasi terhadap kerja keras para helpdesk, proktor dan teknisi, tetapi mereka sepakat bahwa semangat

yang tinggi dari pemerintah, satuan pendidikan dan para helpdesk untuk saling berbagi dan saling memberikan penguatan merupakan kata kunci suksesnya penyelenggaraan UNBK dengan selalu mengupayakan upgrading untuk helpdesk, proktor dan teknisi. Pada akhir kegiatan Rakor, Kepala Bidang Non Akademik Puspendik, Giri Sarana HS, meminta agar petugas pendataan peserta UN harus selalu mengupdate dan memastikan bahwa peserta UN tahun 2018 sudah terdaftar dan masuk ke dalam sistem. Demikian pula Dinas Pendidikan Provinsi harus memastikan bahwa persyaratan umum dan persyaratan teknis sekolah UNBK sudah dipenuhi sebelum pelaksanaan UNBK. Hal ini menegaskan bahwa untuk melaksanakan UNBK secara menyelur uh diperlukan sebuah transformasi penyelenggaraan UN oleh semua pihak; sekolah, orangtua, masyarakat dan pemerintah.

“APA YANG KITA LAKUKAN ADALAH AMANAH YANG SANGAT PENTING UNTUK MEMBAWA PENDIDIKAN INDONESIA KE ARAH YANG BENAR. MENGUKUR BUKAN SEKEDAR MENGUKUR, BERCERMIN BUKAN SEKEDAR BERCERMIN TAPI UNTUK MENYADARI KEKURANGAN KITA, BUKAN UNTUK MERENDAHKAN DAN MENGHINA TETAPI UNTUK EVALUASI DEMI SEBUAH PERBAIKAN DAN KEBAIKAN.” (TOTOK SUPRAYITNO, 2018)

PUSPENDIK

Buletin Asesmen Vol.15 ▪ No.1 ▪ April ▪ 2018

11


REPORTASE

Pelatihan Pengkodean PISA L A P O R A N

D A R I

M A L T A

Wuri Rohayati Perancang Sistem Informasi di Puspendik

PELATIHAN PENGKODEAN PISA BERTUJUAN UNTUK MENYAMAKAN PERSEPSI DALAM PENGKODEAN SOAL ISIAN SINGKAT DAN SOAL URAIAN PADA SURVEI UTAMA PISA 2018. BERKAITAN DENGAN PELAKSANAAN PISA DI INDONESIA, HASIL PELATIHAN AKAN DIGUNAKAN UNTUK MELATIH PENGKODE NASIONAL DALAM MELAKUKAN PENGKODEAN TERHADAP HASIL TES PISA INDONESIA. MANFAAT LAIN DARI KEIKUTSERTAAN DALAM PELATIHAN INTERNASIONAL TERSEBUT ADALAH TIM SURVEI PUSPENDIK DAPAT BELAJAR MENGENAI PENYUSUNAN PEDOMAN PENGKODEAN UNTUK DIAPLIKASIKAN DALAM PENYUSUNAN PEDOMAN PENGKODEAN PADA SURVEI-SURVEI NASIONAL. Westat atas nama Organization for Economic Co-operation and Development (OECD) menyelenggarakan pelatihan internasional pengkodean survei utama Programme for International Student Assessment (PISA) 2018. Pelatihan ini diselenggarakan pada Senin - Jumat, 22 - 26 Januari 2018, di Grand Hotel Excelsior, Valleta, Malta. Pelatihan dihadiri oleh perwakilan dari seluruh negara peserta PISA. Setiap harinya, pelatihan dilakukan secara paralel dalam dua kelas yang berbeda. Karena domain utama PISA 2018 adalah materi membaca, satu kelas difokuskan untuk membahas materi membaca. Sedangkan satu

12

Buletin Asesmen Vol.15 ▪ No.1 ▪ April ▪ 2018

kelas lainnya membahas materi Matematika, IPA, Literasi Keuangan, dan Kompetensi Global. Selama pelatihan para peser ta diberi penjelasan mengenai pemberian kode terhadap respon/jawaban siswa pada seluruh butir soal isian singkat dan uraian. Penjelasan dilakukan per unit dengan diikuti praktik penskoran terhadap contoh jawaban siswa yang sudah disediakan pada materi pelatihan. Perbedaan persepsi dalam penskoran sering kali terjadi selama proses pelatihan. Diskusi lebih dalam dilakukan untuk menemukan persepsi yang sama pada seluruh peserta. Apabila semua sudah sepakat, maka pembahasan dilanjutkan pada unit berikutnya.

PUSPENDIK


REPORTASE Bagaimana Mengkode Jawaban Siswa? Seluruh jawaban siswa pada pertanyaan berupa isian singkat atau uraian harus diberi kode oleh pengkode yang sudah ahli. Dalam melakukan pengkodean, seorang pengkode harus mengacu pada pedoman pengkodean. Pedoman pengkodean pada setiap pertanyaan berisi informasi tentang label nilai, kode angka, deskripsi, dan contoh-contoh. Label nilai merupakan bagian yang mendeskripsikan nilai level tertinggi pada pertanyaan. Kode angka berisi kode angka yang berlaku pada pertanyaan. Deskripsi umum berisi penjelasan mengenai jawaban benar dan jawaban salah. Sedangkan contohcontoh berisi contoh beberapa kemungkinan jawaban siswa.

Dalam pengkodean PISA, kode level tertinggi dibedakan berdasarkan kompleksitas jawaban ya n g d i t u n t u t d a l a m s u a t u p e r t a n ya a n . Pertanyaan yang menuntut kemampuan berfikir yang lebih tinggi dari siswa biasanya memiliki kode level tertinggi 2. Pada soal jenis ini, kode yang mungkin diberikan adalah 2, 1, 0, dan 9. Kode 2 diberikan apabila jawaban siswa benar penuh, kode 1 diberikan apabila jawaban siswa benar sebagian, kode 0 diberikan apabila jawaban siswa salah, dan kode 9 diberikan apabila siswa tidak menjawab sama sekali. Pada pertanyaan yang menuntut jawaban yang tidak begitu kompleks, kode level tertinggi yang bisa diberikan yaitu 1. Kode 1 diberikan apabila jawaban siswa benar, kode 0 diberikan apabila jawaban siswa salah, dan kode 9 diberikan apabila siswa tidak m e n j awa b s a m a s e k a l i . Pa d a b e b e r a p a pertanyaan, kode 2, 1, dan 0 mungkin memiliki turunan seperti 22, 21, 12,11, 02,01, dsb. Kode turunan ini diberikan untuk memetakan jawaban siswa berdasarkan pemahaman siswa.

PUSPENDIK

Kode yang diberikan terhadap jawaban siswa ini bukanlah skor. Keputusan tentang nilai sebenarnya dari setiap kode akan dibuat di kemudian hari pada saat analisis data oleh Educational Testing Service (ETS) selaku kontraktor internasional penyelengga PISA yang ditunjuk oleh OECD. Selain mengacu pada deskripsi pemberian kode di dalam pedoman pengkodean, pengkode PISA juga harus memahami prinsip umum pengkodean PISA. Karena studi PISA bukanlah studi yang mengukur kemampuan menulis, prinsip umum yang berlaku adalah kesalahan ejaan dan tata bahasa harus diabaikan ketika penskoran, kecuali kesalahan yang mengaburkan makna. Khusus pada tes membaca, kesalahan kecil dalam menuliskan angka juga harus diabaikan, kecuali ada penjelasan khusus dalam pedoman pengkodean soal.

Buletin Asesmen Vol.15 â–Ş No.1 â–Ş April â–Ş 2018

13


REPORTASE

Contoh Pedoman Pengkodean Berikut ini disajikan contoh pedoman pengkodean pada soal Sains/ IPA PISA yang sudah rilis. Soal rilis adalah soal yang sudah boleh disebarluaskan ke publik. Soal ini tentu saja bukanlah soal yang akan diujikan dalam studi utama PISA 2018. Soal Isian Sains/IPA: S409Q04-019 Pada proses penjernihan tahap ke empat, ditambahkan klor ke dalam air. Mengapa klor ditambahkan ke dalam air? .................................................................................................................................. .................................................................................................................................. Pengkodean Nilai Penuh Kode 1: Jawaban mengarah pada penghilangan, mematikan atau menghancurkan bakteri. Ÿ Supaya air bebas dari bakteri. Ÿ Klor mematikan bakteri. Tidak Ada Nilai Kode 0: Jawaban lainnya. Ÿ Air menjadi kurang asam, dan lumut (alga) tidak dapat tumbuh. Ÿ Bakteri. Ÿ Karena klor seperti flourida. Kode 9: Kosong atau tidak menjawab.

14

Buletin Asesmen Vol.15 ▪ No.1 ▪ April ▪ 2018

PUSPENDIK


REPORTASE Soal Uraian Sains/IPA: S414Q06- 01 11 12 21 99 Dokter gigi telah melakukan pengamatan bahwa terdapat lebih banyak pembusukan di permukaan gigi geraham daripada di bagian depan atau belakang. Mengapa pembusukan lebih sering dijumpai pada permukaan gigi geraham? .................................................................................................................................. .................................................................................................................................. .................................................................................................................................. Pengkodean Nilai Penuh Kode 21: Penjelasan menunjukkan pengenalan terhadap fakta bahwa pada permukaan gigi geraham lebih banyak kesempatan bagi makanan atau bakteri terkumpul sehingga bakteri yang hidup di situ mendapat makanan lebih banyak dan dapat menghasilkan lebih banyak asam. Nilai Sebagian Kode 11: Penjelasan yang menunjukkan bahwa pada permukaan gigi geraham terdapat lebih banyak bakteri, tetapi tidak menyebut makanan; ATAU Penjelasan bahwa lebih banyak makanan melekat pada permukaan gigi geraham, tetapi tidak menyebutkan adanya bakteri. Kode 12: Pengunyahan makanan menyebabkan permukaan enamel lebih cepat aus daripada di bagian sisi gigi depan atau belakang. Tidak ada Nilai Kode 01: Penjelasan lain. Kode 99: Kosong atau tidak menjawab.

Pemandangan kota di Malta

PUSPENDIK

Buletin Asesmen Vol.15 â–Ş No.1 â–Ş April â–Ş 2018

15


REPORTASE

Ujicoba PISA di SMPN 1 Wawotobi Konawe Sulawesi Tenggara PROGRAMME FOR INTERNATIONAL STUDENT ASSESSMENT (PISA) MERUPAKAN STUDI YANG DIKOORDINASI OLEH NEGARA-NEGARA OECD (ORGANISATION ECONOMIC COOPERATION AND DEVELOPMENT) YANG BERKEDUDUKAN DI PARIS PERANCIS. PISA MENGUKUR KOMPETENSI SISWA USIA 15 TAHUN DALAM BEBERAPA PENGETAHUAN DAN KETERAMPILAN YANG DIPERLUKAN DALAM BERPARTISIPASI DI MASYARAKAT YANG DIFOKUSKAN PADA KOMPETENSI MEMBACA, MATEMATIKA, DAN SAINS. Salah satu tahapan dari PISA adalah melakukan ujicoba di sejumlah sekolah SMP di seluruh provinsi. Dalam ujicoba program ini dilakukan pendampingan dengan menugaskan pegawai Pusat Penilaian Pendidikan yang bekerja sama dengan Direktorat Pembinaan SMP. Kegiatan pendampingan ini bertujuan untuk persiapan studi utama PISA 2018 yang akan diselengarakan bulan April 2018, serta sebagai upaya mendorong guru untuk melakukan pembelajaran dan penilaian berbasis komputer. Selain itu, kegiatan ini membantu dalam pengukuran kompetensi berpikir tingkat tinggi (higher order thinking skills) pada siswa agar menjadi pembiasaan pada pembelajaran di kelas. Pada kegiatan ini materi yang diujicobakan adalah literasi keuangan (financial literacy).

16

Buletin Asesmen Vol.15 ▪ No.1 ▪ April ▪ 2018

PUSPENDIK


REPORTASE Kegiatan ujicoba PISA di Kabupaten Konawe Sulawesi Tenggara bertempat di SMPN 1 Wawotobi. Sekolah ini sekaligus sebagai tempat pelatihan bagi guru yang berasal dari SMPN 11 Bau Bau Sulawesi Tenggara. Pada pelaksanaan ujicoba di SMPN 1 Wawotobi ini dihadiri kepala sekolah yang didampingi 10 orang guru dari berbagai bidang studi. Mereka aktif dan bekerja sama dalam proses persiapan dan skoring hasil test. Salah satu nilai penting dari kegiatan ujicoba di sekolah ini adalah adanya ker jasama dan kebersamaan dalam menyelesaikan tugas. Implikasi dari nilai tersebut adalah pekerjaan cepat selesai, serta adanya pembelajaran untuk pelaksanaan test dan skoring berbasis komputer. Beberapa kelebihan atau inovasi ujicoba PISA pada periode ini adalah penggunaan komputer sebagai media pengganti kertas, bentuk soal yang menarik, variatif, kreatif, serta pelaksanaan skoring secara ototmatis dan manual. Hal ini yang membuat dapat berselancar dan mengeksplorasi kemampuannya untuk lebih bernalar dan kritis.

Secara konsep program PISA memiliki sejumlah manfaat yaitu (1) sekolah dan pemerintah dapat m e n g i d e n t i f i k a s i b a g i a n - b a g i a n ya n g p e r l u ditingkatkan dari waktu ke waktu, (2) memungkinkan dilakukan perbandingan prestasi siswa dan lingkungan belajar antarnegara, (3) dapat memonitor secara berkesinambungan mengenai kemajuan pendidikan di Indonesia dalam memenuhi tujuan pembelajaran, (4) memperoleh informasi tentang profil pengetahuan, keterampilan, dan kompetensi siswa di Indonesia yang dapat digunakan sebagai salah satu acuan dalam perumusan kebijakan kurikulum pendidikan, dan (5) memperoleh sekumpulan indikator kontekstual tentang demografi siswa, sekolah, dan variabel lainnya yang mempengaruhi pengetahuan dan keterampilan siwa (redbul-mar1-2018).

Suasana kebersamaan kepala sekolah dan guru-guru pada kegiatan skoring ujicoba PISA

PUSPENDIK

Buletin Asesmen Vol.15 â–Ş No.1 â–Ş April â–Ş 2018

17


NOTIFIKASI

18

Buletin Asesmen Vol.15 ▪ No.1 ▪ April ▪ 2018

PUSPENDIK


SHARING

Suasana international conference di Berlin

Panggung Peneliti, Modalnya 3P BAGUS HARY PRAKOSO

Peneliti pada Pusat Penilaian Pendidikan

TUGAS PENELITI SANGAT MULIA DAN BERAT, YAITU MEMBAKTIKAN DIRI PADA PENCARIAN KEBENARAN ILMIAH UNTUK MEMAJUKAN ILMU PENGETAHUAN, MENEMUKAN TEKNOLOGI, DAN MENGHASILKAN INOVASI BAGI PENINGKATAN PERADABAN DAN KESEJAHTERAAN MANUSIA (PROF. WASMEN MANALU). KARENA TUGASNYA MULIA DAN BERAT, MUNGKIN TIDAK PERLU HERAN JIKA JUMLAH PENELITI TIDAK BANYAK. Dalam konteks apresiasi, jabatan fungsional peneliti (JFP) belum memperoleh perhatian yang layak dari pemerintah. Hal ini dapat dilihat, sampai tahun 2017, Balitbang Kemdikbud yang merupakan lembaga utama di bidang penelitian dan pengembangan, baru memiliki satu Profesor Riset. Contoh lainnya, apresiasi jabatan peneliti dengan golongan IV/E (peneliti utama) hanya dihargai setingkat IV/C untuk tunjangan remunerasinya. Kondisi ini tentunya dapat

PUSPENDIK

mempengaruhi semangat menjadi peneliti dan kualitas peneliti. Namun demikian, bersyukurlah menjadi seorang peneliti yang bisa memanfaatkan kompetensi dan kesempatan yang dimiliki. Menurut orang bijak, prestasi tidak selalu ditentukan oleh remunerasi. Prestasi sejatinya lebih ditentukan oleh visi dan militansi (passion) pribadi seseorang.

Buletin Asesmen Vol.15 ▪ No.1 ▪ April ▪ 2018

19


SHARING Profesi peneliti seperti layaknya seorang penyanyi, membutuhkan aktualisasi seperti panggung. Istilah kerennya bisa disebut intellectual journey, karena setelah presentasi di panggung ilmiah dilanjutkan dengan jalan-jalan. Salah satu cara memperoleh panggung peneliti pada taraf internasional adalah mempresentasikan makalah

Untuk bisa tampil pada panggung internasional, yang dibutuhkan peneliti pada intinya adalah 3P (passion, paper, and passport). Passion adalah semangat, militansi, atau gairah yang tinggi dalam melakukan sesuatu, yang idealnya berarti dan bertujuan (meaningful and purposeful). Aktivitas inti peneliti adalah

Peserta konferensi melakukan registrasi

20

(paper) pada konferensi internasional. Ini bukan sekedar panggung. Panggung bergengsi ini memiliki multi peranan secara individual dan institusional dalam rangka memperoleh kredibilitas dan legitimasi.

membaca, mengoleksi data, menganalisis, menulis, dan mempublikasi. Passion di sini tidak hanya terkait aktivitas inti, tetapi juga memiliki semangat tinggi dalam memperoleh beasiswa atau sponsor untuk membiayai konferensi.

Banyak hal positif yang diperoleh peneliti dengan berpartisipasi pada suatu konferensi internasional. Peneliti tidak hanya memperoleh refreshing dengan jalan-jalan ke manca negara. Peneliti dapat mempromosikan instansi dan hasil penelitian, menguji makalah sebelum masuk ke publikasi jurnal, serta mengikuti workshop atau special lectures yang diisi oleh seorang pakar. Keuntungan lainnya, makalah yang dipublikasikan pada jurnal atau prosiding internasional yang terindeks global, peneliti akan memperoleh kredit tertinggi. Koin aman, poinnya super OK.

Untuk dipublikasikan melalui konferensi internasional, peneliti membutuhkan output yang disebut original and scientific paper. Untuk menghasilkan paper yang berkualitas dibutuhkan kegigihan, kesabaran, dan proses waktu yang cukup panjang. Langkah selanjutnya harus memiliki P ketiga yang disebut passport. P ketiga relatif mudah, modalnya uang tidak sampai setengah juta rupiah dan datang ke kantor imigrasi beberapa kali.

Buletin Asesmen Vol.15 â–Ş No.1 â–Ş April â–Ş 2018

PUSPENDIK


SHARING

Travelling: Blue Mosque di Istanbul Turki

Salah satu bonus sebagai peneliti yang telah mengirim dan mempresentasikan artikel adalah travelling ke tempat-tempat wisata yang menarik di berbagai wilayah. Untuk peneliti yang memiliki jiwa dan semangat back packer, benua Eropa dapat menjadi pilihan utama. Salah satu bonus mengikuti konferensi di Eropa adalah memiliki kesempatan

berkunjung ke 26 negara secara bebas. Untuk itu, sebelumnya peneliti harus mendaftar dan memiliki Visa Schengen pada salah satu kedutaan. Bisa jadi travelling-nya lebih heboh dan berkesan dibandingkan konferensinya. Selamat mencoba.

Travelling: Old city Dresden, Kota Florence-nya Jerman


INTERNATIONAL VIEW

Japan's Best Prac ce PENINGKATAN MUTU SEKOLAH: Peran Guru, Evaluasi, dan Penilaian

22

Mengembangkan lingkungan belajar yang positif untuk kepala sekolah dan guru agar sukses adalah sangat penting dalam rangka meningkatkan prestasi sekolah. Menurut laporan PISA 2012, Jepang memiliki skor yang rendah terkait ketidakhadiran siswa yaitu 8,9% (dibandingkan dengan rata-rata negara-negara OECD sebesar 35,3%). Untuk lingkungan belajar di kelas yang kondusif, Jepang memiliki juga memiliki skor di atas rata-rata negara-negara OECD.

Kepala sekolah di Jepang mendapat nilai di bawah rata-rata negara-negara OECD dalam indeks kepemimpinan instruksional (Gambar 5). Di Jepang, guru harus mengikuti ujian untuk menjadi kepala sekolah di sekolah umum. Proses seleksi ini dilakukan oleh dewan pendidikan prefektur. Menurut data TALIS 2013, para kepala sekolah Jepang melaporkan menghabiskan sekitar 25% waktu kerja mereka pada kurikulum dan tugas-tugas, serta pertemuan yang berhubungan dengan pengajaran (di atas rata-rata 21%).

Pada tahun 2011, Jepang meningkatkan jumlah jam belajar per tahun dalam rangka untuk mengurangi ketergantungan pada sekolah. Peningkatan ini dilakukan sekitar 300 jam untuk pendidikan dasar yang dimulai pada tahun 2012/2013, dan sekitar 100 jam di sekolah menengah pertama. Pada tahun 2014, jumlah jam pelajaran wajib di Jepang mencapai 4.575 jam per tahun untuk pendidikan dasar. Angka ini di atas rata-rata negara OECD yaitu 4.614 jam. Untuk pendidikan menengah pertama berjumlah 2.684 jam. Jumlah tersebut di bawah rata-rata negara OECD yaitu 2.957 jam.

Peran kepala sekolah telah berubah selama dekade terakhir yaitu dengan memberikan lebih b a n ya k o t o n o m i s e k o l a h d a n t u n t u t a n akuntabilitas yang lebih tinggi. Laporan PISA 2012 menunjukkan bahwa sekolah-sekolah di Jepang kurang memiliki alokasi sumber daya dibandingkan negara-negara OECD. Namun demikian Jepang memiliki tingkat otonomi tertinggi dalam hal kurikulum dan penilaian. Hal lainnya, Kepala sekolah di Jepang mencetak di bawah rata-rata negara-negara OECD dalam indeks kepemimpinan instruksional (gambar 5).

Buletin Asesmen Vol.15 â–Ş No.1 â–Ş April â–Ş 2018

PUSPENDIK


INTERNATIONAL VIEW

Guru di Jepang harus mematuhi beberapa prasyarat untuk mulai mengajar. Mereka bekerja lebih lama daripada guru di negara lain, namun demikian mereka merasa masih kurang siap untuk melaksanakan tugas sehari-hari. Calon guru harus menyelesaikan pendidikan guru awal, yang serupa dengan program yang ditawarkan di negara lain dalam hal kriteria seleksi, durasi dan isi. Pelatihan guru awal untuk semua tingkat pendidikan berlangsung selama empat tahun, dengan praktikum mengajar wajib. Selain itu, kandidat pengajar calon di Jepang harus lulus ujian kompetitif dan memperoleh lisensi mengajar setelah menyelesaikan pendidikan guru awal. Mereka juga mengikuti program induksi formal pada saat memasuki profesi. Guru di Jepang memiliki rata-rata waktu kerja paling lama dibanding negara-negara OECD, yaitu 1.899 jam per tahun (rata-rata negara OECD 1.603 jam). Pekerjaan mereka mencakup berbagai kegiatan sekolah, termasuk delapan jam untuk kegiatan ekstrakurikuler per minggu. Guru di Jepang juga bertanggung jawab atas bagaimana kurikulum diajarkan, dan mereka memiliki otoritas atas pengajaran dan praktik di kelas yang sebenarnya. Sekitar 75% guru Jepang melaporkan menerima umpan balik dari kepala sekolah (di atas rata-rata 54%). Data lainnya menyebutkan bahwa sekitar 16% gur u di Je pang

PUSPENDIK

melaporkan mampu membantu siswa mereka untuk berpikir kritis (dibandingkan dengan ratarata 80%). Selain itu, sekitar 24% guru di Jepang melaporkan bahwa mereka merasa tidak siap untuk mengajarkan konten, pedagogi, dan komponen praktis dari mata pelajaran yang mereka ajarkan (di atas rata-rata 7%). Guru Jepang juga sering melaporkan bahwa konflik jadwal ker ja merupakan hambatan untuk berpartisipasi dalam kegiatan pengembangan profesional (86,4%, dibandingkan rata-rata 50,6%). Proporsi guru yang lebih rendah di Jepang (28,1%) daripada rata-rata (30,9%) percaya bahwa profesi guru adalah mulia di masyarakat. Hanya 58,1% guru Jepang yang memilih bekerja sebagai guru jika mereka diberi pilihan lagi (dibandingkan dengan guru rata-rata 77,6%).

Menjaga ketertiban umum adalah salah satu ciri perilaku siswa-siswa di Jepang

Buletin Asesmen Vol.15 â–Ş No.1 â–Ş April â–Ş 2018

23


INTERNATIONAL VIEW

Seragam adalah bagian dari pembentukan identitas dan budaya sekolah di Jepang

EVALUASI DAN PENILAIAN UNTUK MENINGKATKAN PRESTASI SISWA Pemerintah pusat, dewan pendidikan dan sekolah lokal melakukan evaluasi dan penilaian. Selain itu, prefektur, pemerintah kota dan sekolah memiliki otonomi untuk menerapkan evaluasi dan penilaian. Secara keseluruhan, penilaian siswa digunakan kurang dari negara-negara OECD lainnya untuk memantau kemajuan sekolah dari tahun ke tahun. Namun demikian Jepang memiliki skor lebih tinggi daripada ratarata negara OECD untuk membuat keputusan tentang promosi siswa dan efektivitas guru. Evaluasi sistem dilakukan oleh dewan pendidikan masing-masing pemerintah daerah. Menurut Undang-Undang tentang Organisasi dan Pengoperasian Pendidikan Lokal, dewan pendidikan harus mengevaluasi penyediaan layanan pendidikan di yurisdiksinya setiap tahun, dan melaporkan hasilnya ke majelis dan menerbitkannya. Pemerintah nasional dan pemerintah daerah merumuskan rencana promosi

24

Buletin Asesmen Vol.15 â–Ş No.1 â–Ş April â–Ş 2018

pendidikan mereka setiap lima tahun, mencakup prinsip dasar dan persyaratan lainnya yang tercantum dalam Revisi Undang-Undang Dasar tentang Pendidikan (2006). Rencana promosi pendidikan ini digunakan untuk mengevaluasi kebijakan mereka. Kementerian Pendidikan, Budaya, Olahraga, Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (MEXT) Jepang mengevaluasi kebijakannya berdasarkan Undang-Undang Evaluasi Kebijakan Pemerintah. Evaluasi sekolah di Jepang dilakukan oleh masing-masing sekolah sesuai dengan kerangka nasional evaluasi sekolah yang ditetapkan pada tahun 2007 yaitu berdasarkan Undang-Undang Pendidikan Sekolah. Banyak dewan pendidikan prefektur juga mengembangkan pedoman mereka sendiri. Sekolah melakukan evaluasi diri setiap tahun. Orang tua dan masyarakat kemudian melakukan evaluasi ekster nal dengan menggunakan hasil evaluasi diri ini. Sebagian besar sekolah melaporkan hasil evaluasi ini di buletin sekolah mereka dan di situs web mereka.

PUSPENDIK


INTERNATIONAL VIEW Penilaian guru di sekolah negeri diatur dalam Undang-Undang Pelayanan Publik. Banyak dewan pendidikan telah mengembangkan sistem manajemen dengan tujuan sebagai bentuk penilaian guru. Hubungan langsung antara hasil dan gaji guru tidak umum. Hasil TALIS 2013 menunjukkan bahwa guru di Jepang menerima umpan balik atas pekerjaan mereka dari beberapa aktor di sekolah mereka: lebih dari 50% guru di Jepang melaporkan menerima umpan balik dari setidaknya tiga sumber, lebih tinggi dari rata-rata (sekitar 30%). Umpan balik cenderung digunakan secara efektif, karena sekitar 89% guru Jepang

melaporkan bahwa umpan balik yang mereka terima menyebabkan perubahan positif dalam praktik pengajaran mereka (di atas rata-rata sebesar 62%). Penilaian siswa reguler berlangsung di tingkat sekolah dan kelas. MEXT telah melakukan Penilaian Kemampuan Akademik Nasional sejak tahun 2007. Program ini mencakup penilaian prestasi siswa (penggunaan pengetahuan dan keterampilan praktis) dan pembelajaran siswa (pengetahuan subjek) pada kelas 6 dan 9 setiap tahun.

Siswa-siswi sekolah menengah di Jepang sedang kunjungan ke objek wisata religi di Kyoto

TANTANGAN: DAPAT MEMASTIKAN BAHWA PENINGKATAN JAM BELAJAR BAGI SISWA DI SEKOLAH DILAKUKAN DENGAN PENGAJARAN YANG BERKUALITAS, DAN MEMBERI KESEMPATAN KEPADA GURU UNTUK MEMPERBAIKI DIRI SECARA PROFESIONAL.

PUSPENDIK

Buletin Asesmen Vol.15 ▪ No.1 ▪ April ▪ 2018

25


Inspirasi

INSPIRASI

Guru SD, SMP, dan SMA Al Azhar Kelapa Gading pada sesi Pengenalan Konsep HOTS

Workshop Penulisan Soal Higher Order Thinking Skill (HOTS) di ALAZKA

p

erguruan Islam Al-Azhar Kelapa Gading (Alazka) yang didirikan di Jakarta pada tahun 1988 terus berupaya membuktikan sebagai sekolah yang dinamis. Sebagai Sekolah Plus Standar Nasional, Alazka secara kontinyu selalu berusaha meningkatkan kualitasnya melalui berbagai macam program yang bersifat nasional maupun internasional.

DALAM MERESPON PROGRAM PENILAIAN NASIONAL SEPERTI UJIAN SEKOLAH BERSTANDAR NASIONAL (USBN), ALAZKA TELAH DAN TERUS BERUPAYA MENINGKATKAN KAPASITAS GURU, KHUSUSNYA DALAM TEKNIK PENULISAN SOAL YANG BERNALAR TINGGI ATAU BIASA DIKENAL DENGAN HOTS (HIGHER ORDER THINKING SKILL). UNTUK MEMENUHI KEBUTUHAN TERSEBUT, ALAZKA TELAH MENGADAKAN WORKSHOP PENULISAN SOAL HOTS DENGAN MENGUNDANG PAKAR DI BIDANG PENILAIAN DAN EVALUASI PENDIDIKAN. Workshop tersebut sangat penting dan bermanfaat mengingat beberapa hal seperti: adanya tuntutan guru untuk dapat membuat soal secara mandiri untuk keperluan USBN dan keperluan test lainnya, mengingat USBN merupakan ujian yang meliputi hampir semua

26

Buletin Asesmen Vol.15 ▪ No.1 ▪ April ▪ 2018

bidang studi, serta keinginan yang lebih dari manajemen Alazka untuk memiliki bank soal yang berkarakter soal-soal yang terdapat dalam the Programme for International Student Assessment (PISA).

PUSPENDIK


INSPIRASI

Sebagai sekolah yang inovatif dan untuk mengetahui progress pelaksanaan workshop, semua peserta diminta mengikuti pre-test dan post-test. Sesuatu yang inovatif untuk pre-test dan post-test, setiap guru hanya menggunakan perangkat handphone (tidak menggunakan kertas atau paper less). Perangkat ini sangat efektif untuk pelaksanaan yang efisien, untuk melihat progress pelaksanaan, hingga hasilnya yang cepat dan akurat (redbul-feb26-2018).

PUSPENDIK

Buletin Asesmen Vol.15 â–Ş No.1 â–Ş April â–Ş 2018

27


SUARA DAERAH

Suasana simulasi UNBK di SMA Khairul Imam Medan

Seputar USBN, UNBK, dan HOTS SMA KHAIRUL IMAM MEDAN

PROFIL SEKOLAH Yayasan Pendidikan Islam Khairul Imam didirikan oleh Drs. H. Hasrul Azwar, MM dan Hj. Nani Muliani pada tanggal 12 Juni 2006 yang peduli terhadap dunia pendidikan khsususnya generasi muda Islam. Dengan mengusung visi “Berkarakter Cerdas dan Cerdas Berkarakter” diharapkan akan melahirkan generasi muda yang tidak hanya cerdas dari segi akademik namun juga cerdas dari segi akhlak dan tingkah lakunya, serta memiliki jiwa islami, berkarakter, berbudaya dan bermental tangguh. Dalam perencanaan proses pendidikan Yayasan Pendidikan Islam Khairul Imam menyelenggarakan sekolah Islam Terpadu mulai dari tingkat PG/KB-TK-SD-SMP-SMA yang menggunakan sistem pembelajaran terpadu antara ilmu pengetahuan umum dan teknologi (IPTEK) serta memadukan dengan pendidikan Agama Islam (IMTAQ) secara komprehensif dan terstruktur. SMA Islam Terpadu Khairul Imam sendiri sudah berdiri sejak tahun 2012, dan pada tahun 2017 kemarin SMA Islam Terpadu Khairul Imam sudah melaksanakan UNBK (Ujian Nasional Berbasis Komputer) secara mandiri dan akan

28

Buletin Asesmen Vol.15 ▪ No.1 ▪ April ▪ 2018

dilanjutkan kembali pada UNBK yang akan dilaksanakan pada bulan April tahun 2018 ini. Hal tersebut didukung oleh fasilitas sarana dan prasarana yang mumpuni sehingga kegiatan UNBK tersebut berjalan dengan lancar, selain itu SMA Islam Terpadu Khairul Imam memiliki tenaga pendidik dari berbagai Universitas terkemuka di Indonesia serta aktif mengkuti pelatihan-pelatihan yang berhubungan dengan dunia pendidikan.

PELAKSANAAN USBN Guru-guru di SMA Islam Khairul Imam sudah memiliki kesiapan dalam membuat soal HOT (Higher Order Thinking), hal ini dikarenakan para gur u sudah per nah mengikuti pelatihan sebelumnya tentang tata cara membuat soal-soal berbasis HOT. Kemudian strategi yang dilakukan oleh para guru antara lain pada saat proses pembelajaran guru mengajak peserta didik untuk berpikir secara kritis mengenai bagaimana memecahkan masalah, memberikan argumen atau pendapat sehingga siswa terbiasa untuk berpikir dan memberikan alasannya sesuai dengan fakta yang ada.

PUSPENDIK


SUARA DAERAH

Pe m b u a t a n s o a l d e n g a n m o d e l e s s a i menekankan kepada pertanyaan yang menuntut p e s e r t a d i d i k m e n j awa b d a l a m b e n t u k menguraikan, menjelaskan, mendiskusikan, membandingkan, serta memberikan alasan. Bentuk soal seperti ini memberikan peluang pada

Dalam implementasi kehidupan pelajar seharihari kemampuan memecahkan dan menyelesaikan soal-soal HOT secara tidak langsung memberikan dampak positif bagi pelajar, hal ini dikarenakan pelajar dilatih untuk menyesaikan permasalahan dengan berpikir secara cepat, kritis dan logis. Hal tersebut sangat berguna bagi kehidupan mereka di masa yang akan datang. Penerapan soal dengan model essai pada pelaksanaan USBN dan UNBK dapat menjadi tolok ukur kemampuan akademik siswa secara nasional, hal ini dikarenakan kesetaraan kualitas pendidikan dan kemampuan pemahaman pelajar di masing-masing daerah yang berbeda-beda. Kemudian juga dapat menjadi tolak ukur potensi diri pelajar, karena dari hasil ujian tersebut dapat diketahui pada mata pelajaran apa siswa tersebut kemampuannya lebih dominan sehingga lebih memudahkan pelajar dalam memilih program studi ke jenjang yang lebih tinggi.

peserta didik untuk berpikir secara kritis dalam menyelesaikan permasalahan dengan cepat, logis, dan stabil. Namun demikian, kebanyakan peserta didik lebih cenderung menggunakan bahasa buku teks pembelajaran dikarenakan peserta didik terbiasa untuk meniru tanpa memahami. Untuk itu s t r a t e g i ya n g d a p a t d i t e r a p k a n a d a l a h membiasakan peserta didik untuk mengeluarkan pendapatnya, namun tetap dalam arahan dan bimbingan dari para guru agar pendapat tersebut bisa dipertanggung jawabkan serta dapat meningkatkan semangat belajar para pelajar untuk meraih prestasi akademik.

PUSPENDIK

Kegiatan USBN dan UNBK dapat mengetahui kemampuan akademik mana yang lebih dominan pada diri pelajar tersebut, sebab hal tersebut membantu pelajar memilih program studi yang sesuai dengan minat dan bakatnya. Namun, tak jarang juga banyak pelajar yang masih merasa kebingungan dalam memilih mata pelajaran yang akan diujikan. Maka dalam hal ini peranan guru sangatlah dibutuhkan untuk mengarahkan pelajar memilih pelajaran yang sesuai dengan minat dan kemampuannya dengan melihat nilai-nilai akademiknya baik harian maupun nilai-nilai ulangannya. Dengan menambah dan meningkatkan pengetahuan tentang apa yang terjadi saat ini, hal tersebut dapat menjadi stimulus bagi para pelajar. Hal ini berdampak pada meningkatkan kreativitas, dan aktivitas dalam mendorong peserta didik untuk berpikir secara kritis, dan logis. Membuat soal berbasis HOTS juga melibatkan isu-isu yang terjadi saat ini, sehingga menarik minat pelajar untuk menyelesaikan masalah dengan cepat dan tepat.

Buletin Asesmen Vol.15 â–Ş No.1 â–Ş April â–Ş 2018

29


SUARA DAERAH PELAKSANAAN UNBK Dalam melaksanakan UNBK, sekolah kami memiliki konsep dan melakukan beberapa strategi yaitu: Pertama, sekolah harus mumpuni dalam hal sarana dan prasarana untuk bisa melaksanakan UNBK secara mandiri, kesiapan dalam data-data siswa yang akan mengikuti ujian, melakukan simulasi secara terjadwal demi kelancaran pelaksaan UNBK, mengadakan try out dan bimbingan belajar diluar jam sekolah. Kedua, dalam kurun waktu 2 tahun ini prestasi UNBK di sekolah SMA Islam Terpadu Khairul Imam sudah baik. Ketiga, melakukan sesi parenting dengan orang tua siswa sebagai bentuk kepedulian sekolah terhadap perkembangan siswa-siswi baik dari keseharian anak dan juga nilai akademiknya.

Kelima, sekolah memiliki program bimbingan belajar di luar jam sekolah yang dilakukan secara intensif untuk membantu siswa-siswi dalam mengikuti UNBK, selain itu juga pemantapan materi untuk mata pelajaran yang diikutsertakan dalam UNBK. Keenam, UNBK sekarang bukanlah menjadi penentu kelulusan siswa, namun nilai pada Ujian Nasional sangatlah dibutuhkan pelajar dalam memasuki jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Kelemahan UN sendiri lebih kepada menjadi momok yang menakutkan bagi pelajar, hal tersebut dikarenakan UN dianggap sebagai penentu kelulusan walaupun hal tersebut sudah tidak berlaku lagi untuk saat ini. Sedangkan kekuatannya sendiri dapat dijadikan sebagai indikator kemampuan siswa dalam pencapaian hasil belajar selama tiga tahun bersekolah (redbulMar2018).

Keempat, dengan cara memantau langsung kegiatan UNBK sehingga dapat mengetahui kekurangan dan permasalahan yang timbul pada saat UNBK berlangsung.

28

Buletin Asesmen Vol.15 â–Ş No.1 â–Ş April â–Ş 2018

Arsitektur yang indah di Sekolah Khairul Imam Medan

PUSPENDIK


NOTIFIKASI

INSYA ALLAH AKAN TERBIT New Scientific Journal with New Values OPEN JOURNAL SYSTEM, GLOBAL INDEX, ISSN PRINT & ONLINE, ETC

CALL FOR PAPERS & INFORMASI LEBIH LANJUT KUNJUNGI

http://ijeajournal.kemdikbud.go.id

PUSPENDIK

Buletin Asesmen Vol.15 ▪ No.1 ▪ April ▪ 2018

31


KAJIAN

KEMAMPUAN PESERTA DIDIK SMA IPS DALAM MENJAWAB SOAL KARAKTER BERDASARKAN HASIL UN 2017 Dr. Safari, M.A. Pusat Penilaian Pendidikan, Balitbang Kemendikbud E-mail: safari_puspendik@yahoo.com

Abstrak. Tujuan utama studi ini adalah menjawab pertanyaan berikut. Apakah terdapat perbedaan rata-rata skor kemampuan peserta didik SMA IPS di tiga wilayah (wib, wita, dan wit) dalam menjawab soal karakter (untuk aspek: (1) keteladanan tokoh, dan (2) nilai moral dalam kehidupan saat ini) dalam mata pelajaran Bahasa Indonesia hasil UN 2017? Populasi penelitian ini adalah peserta didik SMA IPS yang sedang belajar pada tahun 2016, adapun sampelnya adalah peserta didik SMA IPS kelas 12 yang mengikuti UN 2017. Berdasarkan hasil analisis Anova dengan program SPSS dan Mplus diperoleh hasil seperti berikut. Pertama, kemampuan peserta didik SMA di wilayah Indonesia Barat lebih tinggi (aspek 1, mean 67,85 dan aspek 2, mean 57,33) daripada kemampuan peserta didik SMA IPS di wilayah Indonesia Tengah (aspek 1, mean 55,68 dan aspek 2, mean 42,22), dan di wilayah Indonesia Timur (aspek 1, mean 60,84 dan aspek 2, mean 41,11). Nilai ini berdasarkan klasifikasi hasil ujian nasional masih tergolong rendah yaitu hanya pada klasifikasi cukup dan kurang. Kedua, perbedaan kemampuan peserta didik SMA IPS di tiga wilayah adalah terbukti, yaitu terdapat perbedaan yang signifikan kemampuan peserta didik SMA IPS di tiga wilayah dalam menjawab soal karakter (Sig.= 0,00). Kesimpulan penelitian ini adalah terdapat perbedaan yang signifikan kemampuan peserta didik IPS dalam menjawab soal karakter dalam mata pelajaran Bahasa Indonesia hasil UN 2017. Kemampuan peserta didik IPS dalam menjawab soal karakter adalah cukup dan kurang. Kata kunci: karakter, SMA, IPS, Bahasa Indonesia, UN.

32

Buletin Asesmen Vol.15 ▪ No.1 ▪ April ▪ 2018

PUSPENDIK


KAJIAN PENDAHULUAN Dalam Ujian Nasional (UN) 2017 untuk mata pelajaran Bahasa Indonesia SMA mengujikan dua butir soal yang berkaitan dengan karakter, yaitu nomor soal 9 dan 22. Indikator soalnya seperti berikut ini. Nomor soal 9, indikator soalnya adalah “Disajikan paragraf kutipan biografi tokoh (Sastrawan Indonesia) yang memuat keteladanan tokoh, peserta didik dapat menentukan hal yang dapat diteladani dari tokoh tersebut.” Nomor soal 22, indikator soalnya

keteladanan tokoh dan nilai moral yang baik, pendidikan akan menjadi timpang serta suatu bangsa dapat mengalami keterpurukan dan ketertinggalan, karena perilaku prososial berkorelasi positif dengan kematangan penalaran moral, apresiasi yang lebih tinggi dari nilai-nilai moral, identitas moral, dan orientasi persaingan kemitraan. Sebaliknya, perilaku antisosial berkorelasi negatif dengan kematangan penalaran moral, evaluasi nilai moral, identitas moral, dan

adalah “Disajikan kutipan cerpen /novel (yang di dalamnya tergambar: watak tokoh, nilai, dan amanat), peserta didik dapat menentukan pernyataan yang menunjukkan nilai-nilai tertentu dalam kutipan cerpen novel tersebut yang d i t e mu k a n d a l a m k e h i d u p a n s a a t i n i . ” Kemampuan yang diukur dari kedua indikator soal itu adalah: (1) aspek keteladanan tokoh, dan (2) contoh nilai moral dalam kehidupan saat ini.

orientasi kemitraan, (Shields dkk., 2018: 17). Ini menunjukkan pentingnya interaksi sosial bagi moral peserta didik baik dalam pembelajaran di dalam kelas maupun di luar kelas, (Aslan, 2011). Ini termasuk sikap menghargai individu karena merupakan sifat evaluatif yang dimiliki umat manusia, (Dorsey, 2018: 574). Peserta didik melakukan kenakalan yang bersifat a-moral atau anti-sosial karena melihat atau terinspirasi kenakalan sebelumnya. Pelanggaran moral seperti itu dapat mengundang emosi moral tertentu. Kasih sayang dan kesal terikat di dalam pembelajaran terhadap peserta didik. Namun, kemarahan, kebencian, dan ketakutan tidak terkait dengan satu pelanggaran moral apa pun, (Landmann dan Hess, 2017: 34).

Keteladanan tokoh dan contoh nilai moral dalam kehidupan saat ini merupakan salah satu bagian dari pendidikan moral di sekolah maupun di masyarakat. Pendidikan moral seperti itu memegang peranan yang sangat penting dalam dunia pendidikan di samping pendidikan ilmu pengetahuan dan teknologi. Tanpa disertai

PUSPENDIK

Buletin Asesmen Vol.15 ▪ No.1 ▪ April ▪ 2018

33


KAJIAN Kemampuan yang diukur dari kedua indikator soal dalam UN itu, (1) aspek keteladanan tokoh, dan (2) contoh nilai moral dalam kehidupan saat ini, merupakan perwujudan nilai-nilai yang terkandung di dalam sila kedua Pancasila yaitu “Kemanusiaan yang Adil dan Beradab”. Adil dalam hubungan kemanusiaan adalah bersikap adil terhadap diri sendiri, terhadap sesama, dan terhadap Tuhan. Beradab adalah terlaksananya semua unsur-unsur manusia yang monopluralis. Di negara barat antara kebebasan beragama dan kebebasan moral didefinisikan berbeda. Keduanya memerlukan perlakuan berbeda di bawah hukum. Perbedaannya adalah "hak untuk agama," di satu sisi, dan kebebasan moral hati nurani, di sisi lain, (Domingo, 2014). Jadi, dalam hal ini rasa hormat dan toleransi merupakan nilai kunci dalam pendidikan. Rasa hormat dan toleransi harus secara empiris dan kritis dipelajari dalam praktik pendidikan. Kedua nilai ini tidak dapat dipahami sebagai aspek kognitif individu tetapi sebagai proses multimodal dan sebagai aspek praktik kolektif, tubuh dan material, (Anker dan Afdal, 2018: 48). Sekarang masalahnya adalah apakah keteladanan tokoh dan contoh nilai moral dalam kehidupan saat ini terwujud di semua wilayah di Indonesia? Wilayah Republik Indonesia ini sangat luas, teridiri atas tiga zona waktu. Berdasarkan Keputusan Presiden (Kepres) No. 41 tahun 1987, Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dibagi menjadi 3 Zona waktu yaitu: (1) Waktu Indonesia Barat (WIB), (2) Waktu Indonesia Tengah (WITA), dan (3) Waktu Indonesia Timur (WIT). Pendidikan karakter memberikan kesempatan untuk meningkatkan kekuatan moral remaja karena pendidikan ini dapat bermanfaat untuk menilai variasi dalam implementasi program lintas guru, (Urban dkk., 2018:104). Pendidikan karakter juga menguntungkan kaum intelektual yang mampu melebihi para peserta didik yang

34

Buletin Asesmen Vol.15 ▪ No.1 ▪ April ▪ 2018

kurang mampu secara intelektual, (Tannir dan AHroub, 2013: 47). Di samping itu, karakter dan nilai merupakan kekuatan pendorong penting yang berfungsi sebagai panduan umum atau titik a c u a n b a g i i n d iv i d u u n t u k m e n d u k u n g pengambilan keputusan dan untuk bertindak secara bertanggung jawab tentang isu sosiosains global. Nilai-nilai ini termasuk pandangan dunia ekologis, akuntabilitas sosiokultural, dan welas asih sosial dan moral, (Lee dkk., 2012: 925). Oleh karena itu, pengembangan karakter melibatkan pencapaian perasaan, pikiran, dan keterampilan yang dibutuhkan untuk bertindak secara koheren di sepanjang waktu dan tempat untuk melayani

diri sendiri dan orang lain dengan cara yang positif dan menguntungkan. Ada tiga fitur utama dari inisiatif pengembangan karakter yang sukses untuk anak-anak dan remaja, yaitu: mentor dan model, peluang pengembangan keterampilan, dan peluang untuk berpartisipasi dalam dan untuk mengambil peran kepemimpinan dalam keluarga, sekolah, dan kegiatan komunitas. Implikasi dari pengembangan karakter dapat menjadi fondasi atau kunci dari perkembangan seseorang yang dapat dibangun (misalnya, kompetensi, kepercayaan diri, koneksi, dan kepedulian), dan dapat memberikan dasar kunci untuk memungkinkan setiap orang muda untuk berkontribusi positif terhadap kehidupan mereka sendiri dan untuk peningkatan keluarga, sekolah, dan komunitas mereka, (Lerner, 2017).

PUSPENDIK


KAJIAN

Moral yang salah dan keburukan moral adalah konsep yang berbeda. Ini merupakan dua konsep yang saling tumpang tindih tetapi berbeda: konsep yang berfungsi untuk menandai tipe moral yang salah, dan yang berfungsi untuk menandai jenis keburukan moral, (Garnett, 2018). Banyak konten hiburan yang menampilkan karakter yang melakukan hal-hal tak bermoral. Setiap individu dapat menyukai karakter-karakter ini meskipun perilaku immoral mereka melalui proses pelepasan moral. Terdapat hubungan antara pelepasan moral dan kesenangan. Selain itu, kecenderungan untuk melepaskan diri secara moral memprediksi pelepasan moral yang sebenarnya, tetapi pelepasan moral tidak terpengaruh oleh realita atau fiktifitas narasi, (Krakowiak dan Tsay, 2015). Inilah seni hidup, seni hidup dapat diterapkan dalam pendidikan etika karena seni-hidup dapat menumbuhkan kesadaran akan dinamika kekuasaan yang sedang dimainkan ketika personelnya menghadapi dilema moral, (Baarle dkk., 2018: 126). Dalam seni hidup mengandung perilaku etis dan tanggung jawab. Perilaku etis berkaitan dengan masalah formal: a priori, ekstrinsik, deduktif, universal, determinatif, tidak masalah, tidak dapat disangkal, menghambat dan tidak mementingkan diri sendiri, (Bagnall dan Nakar, 2018: 78).

PUSPENDIK

Adapun tanggung jawab secara moral ditentukan dalam batasan “berbasis perhatian”, karena hal ini ditentukan oleh keprihatinan sosial dasar yang dinamakan ekspresi, (Beglin, 2018: ). Dari berbagai uraian di atas muncullah permasalahan dalam penelitian ini. Pertama, apakah kemampuan peserta didik SMA IPS di tiga wilayah (Wib, Wita, dan Wit) dalam menjawab soal karakter dalam mata pelajaran Bahasa Indonesia yang di-UN-kan 2017 adalah sama? Kedua, apakah terdapat perbedaan tingkat kemampuan peserta didik SMA IPS di tiga wilayah dalam menjawab soal karakter pada mata pelajaran Bahasa Indonesia yang di-UN-kan 2017? Rumusan masalah penelitian ini adalah apakah terdapat perbedaan rata-rata skor kemampuan peserta didik SMA IPS di tiga wilayah dalam menjawab soal karakter dalam mata pelajaran Bahasa Indonesia hasil UN 2017? Oleh karena itu, tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah terdapat perbedaan rata-rata skor kemampuan peserta didik SMA IPS di tiga wilayah dalam menjawab soal karakter pada mata pelajaran Bahasa Indonesia hasil UN 2017.

Buletin Asesmen Vol.15 ▪ No.1 ▪ April ▪ 2018

35


KAJIAN

METODE PENELITIAN Metode penelitian yang dipergunakan adalah metode eksploratif. Dasar penggunaan metode ini adalah disesuaikan dengan tujuan utama penelitian ini di antaranya adalah untuk memperoleh fakta-fakta dari gejala-gejala yang ada dan mencari keterangan-keterangan secara faktual berdasarkan data penelitian ini. Populasi penelitian ini adalah peserta didik SMA IPS yang sedang belajar pada tahun 2016, sedangkan sampelnya adalah peserta didik SMA IPS kelas 12 yang mengikuti UN 2017. Instrumen penelitian ini adalah tes yang terdiri dari butir soal Bahasa Indonesia pada UN SMA 2016/2017 yang mengukur materi karakter, yaitu dengan indikator soal seperti berikut. (1) Disajikan paragraf kutipan biografi tokoh (Sastrawan Indonesia) yang memuat keteladanan tokoh, peserta didik dapat menentukan hal yang dapat diteladani dari tokoh tersebut. (2) Disajikan kutipan cerpen /novel (yang didalamnya tergambar: watak tokoh, nilai, dan amanat), peser ta didik dapat menentukan pernyataan yang menunjukkan nilainilai tertentu dalam kutipan cerpen novel tersebut yang ditemukan dalam kehidupan saat ini. Alasan pemilihannya adalah dari 50 butir soal yang

36

Buletin Asesmen Vol.15 â–Ş No.1 â–Ş April â–Ş 2018

diujikan hanya dua butir soal yang menanyakan materi karakter. Data dalam penelitian ini berbentuk skor tes yang dijawab peserta didik SMA IPS di 34 provinsi di seluruh Indonesia. Jumlah peserta didik SMA IPS yang mengikuti Ujian Nasional tahun pelajaran 2016/2017 adalah 649138 peserta didik yang terdiri dari 456807 peserta didik SMA negeri dan 192331 peserta didik SMA swasta. Metode analisis yang dipergunakan dalam penelitian ini adalah analisis varian satu jalur. Analisis ini dipergunakan untuk menghitung perbedaan hasil UN pada kemampuan peserta didik SMA IPS dalam menjawab soal karakter. AgAar hasil analisis penelitian ini dapat diperoleh secara akurat, semua data dalam penelitian ini diolah atau dianalisis dengan mempergunakan program SPSS 20.00 dan program Mplus versi 7,00 untuk mengetahui hubungan semua variabel penelitian.

PUSPENDIK


KAJIAN

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Berdasarkan nilai rata-rata nasional, kemampuan peserta didik SMA IPS dalam menjawab soal karakter dalam mata pelajaran Bahasa Indonesia adalah seperti berikut ini.

1. Aspek keteladanan tokoh. Berdasarkan nilai rata-rata nasional, kemampuan peserta didik SMA IPS dalam menjawab soal karakter yang berkaitan dengan keteladanan tokoh adalah seperti berikut ini. Peserta didik SMA yang memperoleh nilai rata-rata tertinggi adalah peserta didik yang berada di wilayah Indonesia Barat (Wib) (mean= 67,85, standar deviasi= 7,27), kemudian peserta didik yang berada di wilayah Indonesia Tengah (Wita) (mean 60,84 standar deviasi 2,12), adapun nilai rata-rata terendah adalah peserta didik yang berada di wilayah Timur (Wit) (mean 55,68 standar deviasi 5,85). Data selengkapnya dapat dilihat pada Tabel 1

Tabel 1 Nilai Rata-rata dan Standar Deviasi Kemampuan Peserta didik SMA IPS Dalam Menjawab Soal Karakter yang Berkaitan dengan Aspek Keteladanan Tokoh WAKTU Waktu Indonesia Barat (WIB)Waktu Indonesia Tengah (WITA)Waktu Indonesia Timur (WIT) Total

Mean

Std. Deviation

67,8483 55,6767 60,8350 62,7274

7,2749 35,8511 22,1164 48,47931

Tabel 1 menunjukkan bahwa kemampuan peserta didik SMA IPS di wilayah Indonesia Barat dalam menjawab soal karakter yang berkaitan dengan aspek keteladanan tokoh adalah lebih tinggi (mean 67,85) daripada kemampuan peserta didik SMA IPS di wilayah Indonesia Timur (mean = 60,84) dan di wilayah Indonesia Tengah (mean 55,68). Gambar 1 berikut menunjukkan perbedaan ketiganya.

Gambar 1. Perbedaan Rata-rata Skor Karakter pada Aspek Keteladanan Tokoh

PUSPENDIK

Buletin Asesmen Vol.15 ▪ No.1 ▪ April ▪ 2018

37


KAJIAN Nilai rata-rata peserta didik SMA IPS di wilayah Indonesia Barat (Wib)= 67,85, di wilayah Indonesia Tengah (Wita) = 55,68, dan di wilayah Indonesia Timur (Wit) = 60,84 bila dibandingkan dengan klasifikasi hasil ujian nasional tergolong cukup (C) dan kurang (D). Klasifikasinya seperti berikut. A= Sangat Baik (85-100); B= Baik (70-85); C= Cukup (5570); D= Kurang ( > 55), (Puspendik, 2017). Nilai rata-rata peserta didik SMA IPS di wilayah Indonesia Barat (Wib)= 67,85, di wilayah Indonesia Tengah (Wita) = 55,68, dan di wilayah Indonesia Timur (Wit) = 60,84 bila dibandingkan dengan klasifikasi hasil ujian nasional tergolong cukup (C) dan kurang (D). Klasifikasinya seperti berikut. A= Sangat Baik (85-100); B= Baik (70-85); C= Cukup (55-70); D= Kurang ( > 55), (Puspendik, 2017). Tabel 2 menunjukkan bahwa, perbedaan kemampuan peserta didik SMA IPS di tiga wilayah dalam menjawab soal karakter yang berkaitan dengan aspek keteladanan tokoh adalah terbukti. Artinya terdapat perbedaan yang signifikan kemampuan peserta didik SMA IPS di

Source

Corrected Model Intercept WAKTU Error Total Corrected Total

tiga wilayah dalam menjawab soal karakter yang berkaitan dengan aspek keteladanan tokoh (Sig.= 0,00). Kesimpulannya adalah terdapat perbedaan yang signifikan kemampuan menjawab soal k a r a k t e r ya n g b e r k a i t a n d e n g a n a s p e k keteladanan tokoh pada mata pelajaran Bahasa Indonesia bila ditinjau dari zona wilayah di Republik Indonesia. Kemampuan peserta didik di wilayah Indonesi Barat lebih tinggi daripada kemampuan peserta didik wilayah Timur dan Tengah.

Type III Sum of Squares

Mean Square

F

Sig.

1082,910a 87399,282 1082,910 1289,748 136153,166 2372,658

541,455 87399,282 541,455 41,605

13,014 2100,7031 3,014

,000 ,000 ,000

a. R Squared = ,456 (Adjusted R Squared = ,421)

38

Buletin Asesmen Vol.15 ▪ No.1 ▪ April ▪ 2018

PUSPENDIK


KAJIAN

2. Contoh Nilai Moral dalam Kehidupan Saat Ini. Berda sa rka n nila i ra ta -ra ta na siona l, kemampuan peserta didik SMA IPS dalam menjawab soal karakter yang berkaitan dengan contoh nilai moral dalam kehiduupan saat ini adalah seperti berikut. Peserta didik SMA yang memperoleh nilai rata-rata tertinggi adalah peserta didik yang berada di wilayah Indonesia Barat (Wib) (mean= 57,33, standar deviasi= 5,

wilayah Timur (Wit) (mean 41,11 standar deviasi 4,27). Data selengkapnya lihat pada Tabel 3. Tabel 3 menunjukkan bahwa kemampuan peserta didik SMA IPS di wilayah Indonesia Barat dalam menjawab soal karakter yang berkaitan dengan contoh nilai moral dalam kehidupan saat ini adalah lebih tinggi (mean 57,33) daripada

Tabel 3 Nilai Rata-rata dan Standar Deviasi Kemampuan Peserta didik SMA IPS Dalam Menjawab Soal Karakter yang Berkaitan dengan Contoh Nilai Moral dalam Kehidupan Saat Ini WAKTU Waktu Indonesia Barat (WIB) Waktu Indonesia Tengah (WITA) Waktu Indonesia Timur (WIT) Total

23), kemudian peserta didik yang berada di wilayah Indonesia Tengah (Wita) (mean 42,22 standar deviasi 6,37), adapun nilai rata-rata terendah adalah peserta didik yang berada di

Mean

Std. Deviation

57,3317 42,2217 41,1100 50,0903

5,22849 6,37249 4,27196 9,49580

kemampuan peserta didik SMA IPS di wilayah Indonesia Tengah (mean = 42,22) dan di wilayah Indonesia Timur (mean 41,11). Gambar 2 berikut menunjukkan perbedaan ketiganya.

Gambar 2. Perbedaan Rata-rata Skor Karakter pada Contoh Nilai Moral dalam Kehidupan Saat Ini

PUSPENDIK

Buletin Asesmen Vol.15 â–Ş No.1 â–Ş April â–Ş 2018

39


KAJIAN Nilai rata-rata peserta didik SMA IPS di wilayah Indonesia Barat (Wib)= 57,33, di wilayah Indonesia Tengah (Wita) = 42,22 dan di wilayah Indonesia Timur (Wit) = 41,11 bila dibandingkan dengan klasifikasi hasil ujian nasional tergolong cukup (C) dan kurang (D). Klasifikasinya seperti berikut. A= Sangat Baik (85-100); B= Baik (7085); C= Cukup (55-70); D= Kurang ( > 55), (Puspendik, 2017). Tabel 4 menunjukkan bahwa, perbedaan kemampuan peserta didik SMA IPS di tiga wilayah dalam menjawab soal karakter yang berkaitan dengan contoh nilai moral dalam kehidupan saat ini adalah terbukti. Artinya terdapat perbedaan yang signifikan kemampuan

peserta didik SMA IPS di tiga wilayah dalam menjawab soal karakter yang berkaitan dengan contoh nilai moral dalam kehidupan saat ini (Sig.= 0,00). Kesimpulannya adalah terdapat perbedaan yang signifikan kemampuan menjawab soal karakter yang berkaitan dengan contoh nilai moral dalam kehidupan saat ini pada mata pelajaran Bahasa Indonesia bila ditinjau dari zona wilayah di Republik Indonesia. Kemampuan peserta didik di wilayah Indonesi Barat lebih tinggi daripada kemampuan peserta didik wilayah Tengah dan Timur.

Tabel 4 Hasil Uji Analisis Varian

Source

Type III Sum of Squares

df

Mean Square

F

Sig.

Corrected Model Intercept WAKTU Error Total Corrected Total

2009,441a 50878,731 2009,441 966,174 88282,892 2975,615

2 1 2 31 34 33

1004,720 50878,731 1004,720 31,167

32,237 1632,4 60 32,237

,000 ,000 ,000

a. R Squared = ,675 (Adjusted R Squared = ,654)

40

Buletin Asesmen Vol.15 ▪ No.1 ▪ April ▪ 2018

PUSPENDIK


KAJIAN 3. Hubungan Keseluruhan Variabel Adapun hubungan keseluruhan variabel terlihat pada gambar 3 berikut, yaitu hasil analisis dengan program Mplus versi 7,00.

Berdasarkan gambar 3 informasinya seperti berikut. Varian Prediksi adalah 5,599. Hubungan terhadap karakter untuk skor "Keteladanan Tokoh" (p) adalah 1,00 dan "contoh nilai moral dalam kehidupan saat ini" (n) adalah 2,63. Hubungan antara keduanya adalah 21,57. Hubungan antara skor "Keteladanan Tokoh" (p) dengan kemampuan peserta didik SMA IPS di zona wib1 adalah 1,00; wita1 adalah 0,175; wit1 adalah 0,105. Hubungan antara skor "contoh nilai moral dalam kehidupan saat ini" dengan kemampuan peserta didik SMA IPS di zona wib2 adalah 1,00; wita2 adalah -0,161; wit2 adalah 0,855. Varian residu skor "Keteladanan Tokoh" SMA IPS untuk wib1 adalah 55,972; wita1 adalah 22,56; wit1 adalah 20,28. Varian residu skor "contoh nilai moral dalam kehidupan saat ini" peserta didik SMA IPS di zona wib2 adalah 0,016; wita2 adalah 14,03; wit2 adalah 12,07. Jadi berdasarkan data di atas, SMA yang memperoleh skor tinggi-terendah pada aspek "Keteladanan Tokoh" (p) adalah peserta didik SMA IPS di zona wib1 adalah 1,00; wita1 adalah

PUSPENDIK

0,175; wit1 adalah 0,105, sedangkan untuk aspek "contoh nilai moral dalam kehidupan saat ini" adalah di zona wib2 adalah 1,00; wita2 adalah 0,161; wit2 adalah -0,855. Berdasarkan semua hasil analisis di atas menunjukkan bahwa kemampuan peserta didik SMA IPS di tiga wilayah (wib, wita, dan wit) dalam menjawab soal karakter adalah tidak sama. Kemampuan peserta didik SMA di wilayah Indonesia Barat lebih tinggi daripada kemampuan peserta didik SMA IPS di wilayah Indonesia Tengah dan Timur. Hasil ini relatif sama dengan hasil penelitian Rissanen dkk yaitu kualitas manusia diketahui memiliki dampak yang kuat pada motivasi dan pembelajaran untuk mendidik kemampuan etika peserta didik, (Rissanen dkk., 2018: 63). Walaupun secara empiris, nilai ini berdasarkan klasifikasi hasil ujian nasional masih tergolong pada klasifikasi cukup dan kurang. Keadaan seperti ini menunjukkan bahwa nilai sikap peserta didik di sekolah masih berada pada klasifikasi “cukup” dan “kurang”.

Buletin Asesmen Vol.15 ▪ No.1 ▪ April ▪ 2018

41


KAJIAN Kesuksesan pendidikan karakter di sekolah hanya dapat dilakukan melalui tahapan pengetahuan, pelaksanaan, dan kebiasaan, (Farida, 2014). Di samping itu, semua warga sekolah dan masyarakat harus memberi contoh agar para peserta didik dapat melakukannya dengan baik. Ini merupakan janji setia. Belum s e mu a wa r g a s e k o l a h a t a u m a s ya r a k a t memberikan keteladanan moral, karena menerima atau menolak janji merupakan suatu kegiatan yang simetri. Menerima janji melibatkan berniat bahwa janji merupakan tindakan yang dijanjikan. Tindakan ini didukung oleh simetri rasional antara penerimaan dan niat berjanji, (Sharadin, 2018: ). Seperti halnya guru, kepala sekolah, pengawas sekolah, orangtua murid, masyarakat, dan para pejabat baik di lingkungan pendidikan maupun lainnya selalu memberikan nasihat kepada anak/peserta didik, agar jangan mencontek pada saat mengerjakan ulangan/ujian, kamu harus berbuat jujur karena “prestasi” penting, “jujur” yang utama. "Prestasi" tinggi, "integritas" terpuji. "Tak ada harta pusaka yang sama berharganya dengan "Kejujuran". Bagaimana dengan kita sendiri? Apakah kita sudah memberikan teladan kejujuran kepada mereka? Apakah kita konsisten selalu berbuat “jujur” dalam kehidupan sehari-hari? Kita diingatkan dalam Al-Qur'an, QS. Al-Baqarah ayat 44: “Mengapa kamu menyuruh orang lain (mengerjakan) kebajikan, sedangkan kamu melupakan dirimu sendiri, padahal kamu membaca kitab, tidakkah kamu mengerti?”

orang yang berakhlak dan mana yang sebenarnya merusak akhlak. Dalam kehidupan sehari-hari kita temui ada: tokoh masyarakat tidak memberi teladan, orang cerdas tetapi kurang arif, orang berkuasa tetapi tidak amanah, orang kaya tetapi tidak dermawan, pemimpin tidak berpihak pada kepentingan bersama (rakyat banyak) ini semua sangat merugikan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Akhlak memang merupakan satusatunya ukuran dan menjadi garis pemisah antara mana perbuatan yang baik dan mana yang tidak baik. Ar tinya, perilaku manusia disebut berkualitas, jika perilaku tersebut disertai dengan akhlak yang baik, sebaliknya jika suatu perbuatan tidak dibarengi dengan akhlak, maka perbuatan itu merupakan perbuatan yang hina dan tidak berkualitas, baik menurut manusia maupun menurut tuhan. Sekarang bagaimana menilai akhlak yang baik? Dalam hal penilaian, kriteria akhlak yang baik mengandung dua hal, yaitu (1) harus baik niat/tujuannya dan (2) harus baik prosesnya. Dua hal inilah yang menjadi ukuran baik/tidaknya akhlak seseorang, (Safari, 2017: 411).

“Sesungguhnya aku (Nabi Muhammad SAW) diutus ke bumi hanyalah untuk menyempurnakan kemuliaan akhlak”. Hadits ini menunjukkan bahwa akhlak merupakan ajaran yang paling dasar. Kata akhlak sering dipergunakan sama dengan kata budi pekerti, kelakuan, adab, etika, karakter, moral, sila, susila, tabiat, watak, sikap dan masih banyak istilah yang lainnya. Dalam kenyataannya, kadang-kadang, ajaran dasar ini menjadi kabur, sehingga sulit membedakan mana

42

Buletin Asesmen Vol.15 ▪ No.1 ▪ April ▪ 2018

PUSPENDIK


KAJIAN

SIMPULAN Berdasarkan uraian di atas, hasil penelitian dapat disimpulkan sebagai berikut. Pertama, (1) pada aspek keteladanan tokoh, kemampuan peserta didik SMA IPS di wilayah Indonesia Barat dalam menjawab soal karakter yang berkaitan dengan aspek keteladanan tokoh adalah lebih tinggi (mean 67,85) daripada kemampuan peserta didik SMA IPS di wilayah Indonesia Timur (mean = 60,84) dan di wilayah Indonesia Tengah (mean 55,68). (2) pada aspek contoh nilai moral dalam kehidupan saat ini, kemampuan peserta didik SMA IPS di wilayah Indonesia Barat dalam menjawab soal karakter yang berkaitan dengan aspek nilai moral dalam kehidupan saat ini adalah lebih tinggi (mean 57,33) daripada kemampuan peserta didik SMA IPS di wilayah Indonesia Tengah (mean = 42,22) dan di wilayah Indonesia Timur (mean 41,11). Nilai ini berdasarkan klasifikasi hasil ujian nasional masih tergolong rendah belum tergolong sangat baik (A) (85-100) dan baik (B) (70-85), yaitu hanya pada klasifikasi cukup (C) (55-70) dan kurang (D) ( > 55). Kedua, (1) pada aspek keteladanan tokoh, perbedaan kemampuan peserta didik SMA IPS di tiga wilayah dalam menjawab soal karakter yang berkaitan dengan aspek keteladanan tokoh adalah terbukti. Artinya terdapat perbedaan yang signifikan kemampuan peserta didik SMA IPS di tiga wilayah dalam menjawab soal karakter yang berkaitan dengan aspek keteladanan tokoh (Sig.= 0,00). (2) Pada aspek contoh nilai moral dalam kehidupan saat ini, perbedaan kemampuan peserta didik SMA IPS di tiga wilayah dalam menjawab soal karakter yang berkaitan dengan contoh nilai moral dalam kehidupan saat ini adalah terbukti. Artinya terdapat perbedaan yang signifikan kemampuan peserta didik SMA IPS di tiga wilayah dalam menjawab soal karakter yang berkaitan dengan contoh nilai moral dalam kehidupan saat ini (Sig.= 0,00). Kesimpulannya adalah terdapat perbedaan yang signifikan kemampuan menjawab soal karakter baik yang berkaitan dengan aspek: (1) keteladanan tokoh, maupun (2) contoh nilai moral dalam kehidupan saat ini pada mata pelajaran Bahasa Indonesia bila ditinjau dari zona wilayah di Republik Indonesia. Berdasarkan hasil penelitian di atas, ada saran penting kepada guru. Khususnya guru yang mengajar mata pelajaran Bahasa Indonesia baik yang mengajar di SMA IPS di wilayah barat, tengah, maupun timur dapat memberi contoh dan praktik yang konkret yang diprioritaskan pada materi dengan daya serap UN yang masih rendah khususnya pada soal yang mengukur materi karakter.

Ucapan Terima Kasih Penulis mengucapkan banyak terima kasih kepada Pusat Penilaian Pendidikan (Puspendik) yang telah mendokumentasikan data UN setiap tahun yang datanya dipergunakan untuk penelitian ini. Di samping itu, penulis mengucapkan banyak terima kasih kepada Dr. Bagus Hary Prakoso dan teman-teman di Puspendik yang telah memberikan masukan, saran, dan komentar, sehingga terwujudnya tulisan ini.

PUSPENDIK

Buletin Asesmen Vol.15 â–Ş No.1 â–Ş April â–Ş 2018

43


KAJIAN

Referensi Anker, Trine and Afdal, Geir. (2018). Relocating Respect and Tolerance: A Practice Approach in Empirical Philosophy. Journal of Moral Education, Volume 47. 2018=Issue 1. Pages 48-62. https://doi.org/10.1080/03057240.2017.1360847. Aslan, Mecit. (2011). Handbook of Moral and Character Education, Edt. Larry P. Nucci and Darcia Narvaez. International Journal of Instruction, e-ISSN: 1308-1470; www.e-iji.net. July 2011, Vol. 4, No. 2, p-ISSN: 1694-609X. Banall, Richard G. And Nakar, Sonal. (2018). A Critical Reflection on Codes of Conduct in Vocational Education. Journal of Moral Education, Volume 47. 2018-Issue 1. Pages 78-90. https://doi.org/10.1080/03057240.2017.1379964. Baarle, EV; Verwij, D.; Molewijk, B.; and Widdershoven, G.. (2018). The Relevance of Foucauldian art-of-Living for Ethics Education in a Military Context: Theory and Practice.Journal of Moral Education, Volume 47. 2018-Issue 1. Pages 126-143. https://doi.org/10.1080/03057240.2017.1389703. Beglin, David. (2018). Resonsibility, Libertarians, and the “Facts as We Know Them”: A Concern-Based Construal of Strawson's Reversal. Ethics, An International Journal of Social, Political, and Legal Philosophy, Volume 128, Number 3/pp. 612-625. April 2018.The University of Chicago Press Journals. Domingo, Rafael. (2014). A Right to Religious and Moral Freedom? International Journal of Constitutional Law, Volume 12, Issue 1, 1 January 2014, Pages 226-247, https://doi.org/10.1093/icon/mou001. Dorsey, Dale. (2018). A Perfectionist Humean Constructivism. Ethics, An International Journal of Social, Political, and Legal Philosophy, Volume 128, Number 3/pp. 574-602. April 2018.The University of Chicago Press Journals. Farida, Nur Aini. (2014). Konsep Pendidikan Karakter Menurut Thomas Lickona Dalam Buku Educating for Character: How Our Schools Can Teach Respect and Responsibility dan Relevansinya dengan Pendidikan Agama Islam. Skripsi. Yogyakarta: Jurusan pendidikan Agama Islam, Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan, Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga. Garnett, Michael. (2018). Coercion: The Wrong and The Bad. Ethics, An International Journal of Social, Political, and Legal Philosophy, Volume 128, Number 3/pp. 545-573. April 2018.The University of Chicago Press Journals. Krakowiak, K. Maja and Tsay, Mina. (2015). The Role of Moral Disengagement in The Enjoyment of Real and Fictional Characters. International Journal of Arts and Technology, Volume 4, Issue 1. Print ISSN: 1754-8853, Online ISSN: 17548861. https://doi.org/10.1504/IJART.2011.037772. Landmann, Helen and Hess, Ursula. (2017). Testing moral fountation Theory: Are Specific Moral Emotions Elicited by Specific Moral Transg ressions? Jour nal of Moral Education, Volume 47, 2018- Issue 1. Pages 3447.https://doi.org/10.1080/03057240.2017.1350569. Lee, H.; Chang, H.; Choi, K.; Kim, SW.; and Zeidler, DL. (2012). Developing Characer and Values for Global Citizens: Analysis of pre-service Science Teachers' Moral Reasoning on Socioscientific Issues. International Journal of Science Education, Volume 34, 2012- Issue 6; pages 925-953. https://doi.org/10.1080/09500693.2011.625505. Lerner, Richard M. (2017). Character Development Among Youth Lingking Lives in Time and Place. International Journal of Behavioral Development. May 29, 2017. Sage Journals. http:// journals.sagepub.com/doi/abs/10.1177/0165025417711057. Rissanen, Inkeri; Kuusisto, Elina; Hanhimaki, Eija; and Tirri, Kirsi. (2018). The Implications of Teachers' Implicit Theories for Moral Education: A Case Study from Finland. Journal of Moral Education, Volume 47. 2018-Issue 1. Pages 63-77. https://doi.org/10.1080/03057240.2017.1374244. Safari. (2017). Evaluasi Pendidikan: Penyusunan Kisi-kisi, Penulisan dan Analisis Butir Soal Berdasarkan Kurikulum 2013 Menuju Penilaian Abad Ke-21. Jakarta: Universitas Islam As-Syafiiyyah (UIA). Sharadin, Nathaniel. (2018). Two Problems for Acceting as Intending. Ethics, An International Journal of Social, Political, and Legal Philosophy, Volume 128, Number 3/pp. 626-641. April 2018.The University of Chicago Press Journals. Shields, DL.; Funk, CD.; and Bredemeier, BL. (2018). Relationships among Moral and Contesting Variables and Prosocial and Antisocial Behavior in Sport. Journal of Moral Education, Volume 47, 2018- Issue 1. Pages 17-33, https://doi.org/10.1080/03057240.2017.1350149. Tannir, Abir and Al-Hroub, Anies. (2013). Efects of Character Education on The Self-Esteem of Intellectually Able and Less Able Elementary Students in Kuwait. International Journal of Special Education, Vo. 28, No. 1, 2013, pp 47-59. Urban, JB; Linver, MR; Johnson, SK; MacDonnell, M.; Chauveron, LM; and Glina, M. (2018). Developing The Next Generation of Engaged Youth: Inspire Aspire-Global Citizens in The Making. Journal of Moral Education, Volume 47. 2018Issue 1. Pages 104-125. https://doi.org/10.1080/03057240.2017.1396967.

44

Buletin Asesmen Vol.15 ▪ No.1 ▪ April ▪ 2018

PUSPENDIK


KAJIAN

SEKILAS TENTANG SOAL HIGHER ORDER THINKING SKILLS (HOTS) Ir. Rumondang Purwati, M.A. Peneliti pada Pusat Penilaian Pendidikan

Ujian Nasional (UN) pada tahun ajaran 2017/2018 sudah dilaksanakan pada April 2018. Hasil UN tersebut menunjukkan penurunan dibandingkan dengan nilai UN pada tahun-tahun sebelumnya. Banyak pihak yang menyatakan bahwa soal-soal UN tahun ini sangat sulit karena soal-soalnya mengukur penalaran. Pemerintah memasukkan sekitar 10% - 15% soal-soal penalaran yang disebut soal Higher Order Thinking Skills (HOTS). Alasannya adalah untuk meningkatkan mutu pendidikan nasional. Indonesia telah mengikuti beberapa studi internasional seperti TIMSS, PIRLS, dan PISA. TIMSS mengukur prestasi siswa kelas 4 dan kelas 8 dalam mata pelajaran Matematika dan Sains, PIRLS mengukur kemampuan siswa kelas 4 dalam membaca, dan PISA mengukur kompetensis siswa usia 15 tahun dalam menerapkan kemampuan membaca, matematika, dan sains dalam kehidupan bermasyarakat. Pada ketiga studi tersebut, Indonesia selalu berada pada posisi yang rendah dibandingkan negara-negara lain di dunia. Sebagian besar pertanyaan-pertanyaan yang digunakan dalam ketiga studi tersebut mengukur tingkat kognitif yang tinggi, yaitu penalaran. Sementara itu, siswa-siswa Indonesia sangat j a r a n g d i h a d a p k a n p a d a s o a l - s o a l ya n g

PUSPENDIK

melibatkan proses berpikir yang dalam taksonomi Bloom di atas aplikasi (analisis, sintesis, dan evaluasi). Hal ini diperkirakan memberikan kontribusi pada rendahnya kompetensi siswasiswa Indonesia dalam studi Internasional. Berbagai upaya dilakukan untuk meningkatkan mutu pendidikan nasional, di antaranya dengan membiasakan siswa untuk mengerjakan soal-soal penalaran. Melalui analisis soal yang dilakukan terhadap soal-soal PISA ditemukan bahwa sebagian besar siswa Indonesia tidak dapat menjawab dengan benar soal-soal yang mengukur tingkat kognitif penalaran. Siswa Indonesia hanya dapat menjawab dengan benar soal-soal yang mengukur tingkat kognitif yang rendah. Demikian juga dengan bentuk soal, siswa Indonesia menunjukkan kemampuan yang lebih tinggi untuk soal-soal yang berbentuk pilihan ganda daripada soal-soal yang berbentuk uraian (Purwati R., 2017). Pendidik sudah seharusnya didorong untuk lebih banyak menyusun atau memberikan soalsoal penalaran kepada siswa sehingga siswa dipacu untuk belajar lebih giat lagi atau dibiasakan untuk mencari informasi lebih banyak tentang materi pelajaran, tidak hanya yang diperoleh dari guru atau yang dibaca dalam buku pelajaran di kelas.

Buletin Asesmen Vol.15 â–Ş No.1 â–Ş April â–Ş 2018

45


KAJIAN

Apakah soal Higher Order Thinking Skills? Tes dikatakan mengukur higher order thinking skills (HOTS) apabila soal-soal yang mengukur ingatan diminimalkan. Pada soal HOT, proses yang diukur adalah penalaran yang terdiri atas tingkat kognitif analisis, sintesis, dan evaluasi (Taxonomy Bloom) atau analisis, evaluasi, dan kreasi (Anderson & Krathwohl, 2001). Secara umum soal-soal higher order thinking skills (HOTS) terdiri atas stimulus yang diikuti dengan pertanyaan. Dari satu stimulus dapat dibuat satu atau lebih dari satu pertanyaan. Stimulus berisi i n f o r m a s i ya n g d i p e r o l e h d a r i b e r b a g a i permasalahan atau kasus yang terjadi dalam dunia nyata yang berkaitan dengan konsep yang akan diukur. Sebaiknya informasi dalam stimulus tidak diambil dari buku teks siswa karena soalnya menjadi tidak HOT ketika informasi yang disajikan terdapat dalam buku teks dan siswa telah familier dengan informasi tersebut. Salah satu ciri soal HOTS adalah adanya kebaruan informasi dengan tetap mengacu pada materi yang diajarkan sesuai dengan kurikulum. Stimulus dapat berupa teks atau wacana, gambar, grafik, tabel, dan sebagainya. Penekanan dari soal-soal higher order thinking (HOT) diberikan pada beberapa hal yang meliputi: (1) mentransfer informasi dari satu konteks ke konteks lain, (2) memproses dan menerapkan informasi, (3) melihat keterkaitan antara beberapa informasi yang berbeda, (4) menggunakan informasi untuk menyelesaikan masalah, dan (5) secara kritis mengkaji atau

46

Buletin Asesmen Vol.15 â–Ş No.1 â–Ş April â–Ş 2018

menelaah ide/gagasan. Pada intinya, dalam soal HOT disajikan informasi dalam stimulus kemudian siswa dapat mengolah informasi tersebut melalui proses bernalar untuk menjawab soal-soal HOT dengan tingkat kognitif analisis, sintesis, evaluasi, dan kreasi. Siswa harus dapat memahami informasi dalam stimulus dan menggunakannya untuk menyelesaikan masalah. Selain itu, siswa juga dapat memanfaatkan informasi tersebut untuk m e n geva l u a s i s u a t u g a g a s a n b a r u a t a u memberikan gagasan baru. Dalam menjawab soal HOTS, siswa tidak sekedar mengingat. Soal-soal HOT tidak selalu sulit, tetapi harus ada proses bernalar dalam menjawab pertanyaan. Jawaban dari soal HOTS tidak secara eksplisit terdapat dalam stimulus, tetapi siswa harus mengolah informasi dalam stimulus untuk dapat menjawab pertanyaan. Salah satu langkah dalam penulisan soal adalah penyusunan kisi-kisi. Untuk menulis soal HOT juga perlu disusun indikator soal. Indikator soal HOT harus merefleksikan soal HOT dan mengacu pada kurikulum. Dalam indikator tergambar tingkat kognitif yang diukur, yaitu analisis, sintesis, atau evaluasi. Ketika menulis soal, penulis soal harus memilih materi yang sesuai dengan indikator soal dan merusmuskannya menjadi stimulus. Informasi yang terkandung di dalam stimulus haruslah bermanfaat, merefleksikan kurikulum, menarik, relevan dalam kehidupan, dan sesuai dengan jenjang pendidikan.

PUSPENDIK


KAJIAN

Contoh soal HOTS dalam PISA.

SIMPULAN Sangat penting untuk membiasakan siswa dengan soal-soal HOTS yang melibatkan proses berpikir nalar. Siswa akan terpacu untuk mencari informasi lebih banyak dan tidak hanya belajar dari buku teks. Pada akhirnya akan tercipta siswa yang terbiasa berpikir kritis dalam menghadapi kehidupan dalam masyarakat.

Referensi Anderson, L.W. dan Krathwohl, D.R. (2001). A Taxonomy for Learning,. Teaching, and Asessing: A Revision of Bloom's Taxonomy of Educational. Objectives. A Bridged Edition. New York: Addison Wesley Longman, Inc. Purwati, R. 2011. Level Kompetensi Sains yang Dicapai oleh Siswa Indonesia dalam Studi PISA 2006, Asesmen. Buletin Puspendik Vol. 8 No.1 April 2011. Purwati, R. 2017. Soal-soal PISA 2015 bagi Peserta Didik Indonesia. Asesmen, Volume 17/No.9/November/2017 halaman 38-48. Jakarta.

PUSPENDIK

Buletin Asesmen Vol.15 ▪ No.1 ▪ April ▪ 2018

47


BULETIN ASESMEN

Vol.15 ▪ No.1 ▪ April ▪ 2018


Turn static files into dynamic content formats.

Create a flipbook
Buletin Asesmen Edisi April 2018 by Fajar - Issuu