NAMA : ERZA ALDI S
NPM : 1422110027
Kolonialisme Dan Imperialisme
Kolonialisme dan imperialisme sering digunakan secara bersamaan, tetapi keduanya tidak dapat dipandang sama. Kolonialisme biasanya lebih ditujukan untuk menggambarkan praktik-praktik ekonomi, sementara imperialisme lebih ditujukan untuk menggambarkan praktik-praktik politik. Kolonialisme berasal dari kata “colonus” yang memiliki arti menguasai. Kolonialisme memiliki arti upaya sebuah negara untuk mengembangkan kekuasaannya di luar wilayah kekuasaan negara tersebut. Kolonialisme memiliki tujuan mencapai dominasi kekuatan dalam bidang ekonomi, sumber daya alam, sumber daya manusia, dan politik. Wilayah koloni biasanya merupakan wilayah-wilayah yang memiliki kekayaan bahan mentah yang dibutuhkan oleh negara yang melakukan kolonialisme. Dalam kolonialisme, ada kepercayaan bahwa bangsa yang melakukan kolonialisasi jauh lebih superior dari bangsa yang dikoloni. Sementara imperialisme berasal dari kata “imperium” dalam bahasa Latin, yang berarti kekuasaan tertinggi, kedaulatan, atau sekadar kekuasaan. Imperialisme merupakan kebijakan atau ideologi untuk memperluas kekuasaan atas negara lain dan penduduk asli negara tersebut, dengan tujuan memperluas akses politik dan ekonomi, kekuasaan dan kontrol, dan seringkali dilakukan dengan menggunakan kekuatan militer.
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kolonialisme adalah paham tentang penguasaan oleh suatu negara atas daerah atau bangsa lain dengan maksud untuk memperluas negara itu. Sedangkan Menurut KBBI, imperialisme adalah sistem politik yang bertujuan menjajah negara lain untuk mendapatkan kekuasaan dan keuntungan yang lebih besar. Jadi dapat disimpulkan bahwa, Kolonialisme adalah upaya suatu negara untuk menguasai wilayah lain, dengan tujuan untuk memperluas negaranya dan mendapatkan keuntungan. Kolonialisme biasanya dilakukan melalui penjajahan atau penguasaan wilayah. Sedangkan Imperialisme adalah sistem politik yang bertujuan untuk menguasai negara lain dengan tujuan memperoleh kekuasaan dan keuntungan, baik melalui kekuatan militer maupun pengaruh ekonomi, budaya, dan politik. Penguasaan ini bisa bersifat langsung melalui penjajahan (kolonialisme) atau tidak langsung melalui pengaruh politik dan ekonomi.
Latar
Belakang Kolonialisme Dan Imperialisme Di Indonesia
Kolonialisme dan imperialisme sudah dilakukan oleh bangsa Eropa sejak abad ke-15 di seluruh dunia, sampai akhirnya masuk ke nusantara (Indonesia). Pada saat itu, latar belakang bangsa Eropa masuk ke wilayah nusantara disebabkan oleh beberapa hal, seperti jatuhnya Konstantinopel di kawasan Laut Tengah ke kekuasaan Turki Usmani pada tahun 1453, merosotnya ekonomi dan perdagangan bangsa Eropa, serta terjadinya revolusi industri. Kolonialisme dan imperialisme modern muncul setelah terjadinya revolusi industri karena bertujuan untuk mengembangkan perekonomian bangsa Eropa. Revolusi industri, membuat bangsa Eropa menciptakan kapal laut yang digunakan untuk menjelajah samudra demi mencari sumber daya di belahan dunia lain. Disamping itu, misi ini juga dilakukan untuk melanjutkan semangat Perang Salib. Dalam upaya tersebut, bangsa Eropa mulai menyebar ke seluruh dunia, sampai akhirnya kolonialisme dan imperialisme di Indonesia pun terjadi. Di sisi lain, kejatuhan Konstantinopel ke tangan Turki Usmani pada tahun 1453, menyebabkan akses bangsa
Eropa dalam mendapatkan rempah-rempah yang lebih murah di kawasan Laut Tengah menjadi tertutup dan membuat harga rempah-rempah di Eropa meningkat tajam. Bangsa Eropa kemudian terdorong untuk mencari dan menemukan wilayah-wilayah penghasil rempah-rempah ke dunia baru yang ada di timur Eropa. Lama-kelamaan, mereka semakin berambisi menguasai berbagai negara untuk keuntungan ekonomi dan kejayaan politik mereka, terutama pada wilayah-wilayah seperti Indonesia yang merupakan penghasil rempah-rempah, seperti lada, cengkih, pala, dan lain-lain. Rempah-rempah yang dihasilkan di Indonesia mendorong mereka untuk melakukan kolonialisme dan imperialisme karena rempah-rempah pada masa itu menjadi komoditas yang sangat laris di Eropa. Bangsa Eropa kemudian menyebut nusantara sebagai Hindia.
Berikut Latar Belakang Imperialisme Di Indonesia :
1. Jatuhnya Konstantinopel ke Turki Utsmani
Salah satu penyebab imperialisme di Indonesia adalah jatuhnya Konstatinopel ke Turki Utsmani. Konstatinopel adalah ibu kota Romawi Timur (Byzantium). Dulu, Konstatinopel merupakan pusat perdagangan rempah-rempah Eropa di kawasan Laut Tengah. Akses ke Konstatinopel pun dulu terbuka. Namun sejak jatuh ke tangan Turki Utsmani pada 1453, akses perdagangan Konstatinopel jadi tertutup. Harga rempah-rempah pun melambung tinggi di pasar Eropa, sehingga bangsa Eropa mulai mencari sumber rempah-rempah baru yang lebih murah. Mulanya, bangsa Eropa yang mencari rempah ke Indonesia adalah Portugis dan Spanyol. Kemudian, datang pula Belanda dan Inggris. Semuanya yang semula hanya ingin mendapatkan rempah-rempah berubah menjadi ingin menguasai Nusantara dengan menerapkan imperialisme. Dari sini dapat disimpulkan, contoh negara imperialisme atau yang menerapkan sistem politik ini adalah Portugis, Spanyol, Belanda, dan Inggris di Indonesia.
2. Gold, Glory, dan Gospel (3G)
Selain ingin mencari rempah-rempah, para bangsa Eropa juga ingin mencapai tujuan Gold atau harta, Glory atau kekuasaan, dan Gospel atau penyebaran agama di Indonesia. Makanya, mereka berusaha menguasai nusantara pada era penjajahan.
3. Pengaruh tulisan Marco Polo
Marco Polo adalah pedagang asal Venesia, Italia yang telah menjelajahi bumi, termasuk kekayaan rempah-rempah di bumi bagian timur. Kisah perjalanannya tertuang dalam buku dan beredar di Eropa.
4. Revolusi Industri
Revolusi Industri di Eropa mempercepat kebutuhan akan bahan baku untuk industri dan mendorong bangsa Eropa untuk mencari sumber daya alam di wilayah koloni, termasuk Indonesia.
Jenis Imperialisme :
Imperialisme Kuno
Imperialisme kuno adalah imperialisme yang berlangsung pada zaman kuno sampai revolusi industri. Imperialisme ini menekankan perluasan wilayah suatu negara melalui penaklukan negara-negara lain.
Imperialisme Modern
Imperialisme modern adalah imperialisme yang berlangsung setelah revolusi industri pada abad ke-19 sampai akhir Perang Dunia II. Tujuan imperialisme modern adalah untuk penguasaan bahan baku industri dan perluasan wilayah pasar untuk memasarkan hasil industri. Artinya, imperialisme ini lebih karena motif ekonomi.
Imperialisme Ultamodern
Imperialisme ultamodern adalah imperialisme yang berlangsung setelah Perang Dunia II sampai sekarang. Imperialisme ini menekankan penguasaan mental, ideologi, dan psikologi suatu negara kepada negara lain.
Jalur Masuk Bangsa Barat Ke Nusantra
Jalur Sutra merupakan jalur perdagangan internasional kuno yang melewati Selat Malaka dan berperan penting dalam perkembangan perdagangan di Indonesia. Jalur ini menghubungkan China dengan Asia Selatan, Asia Barat, dan Eropa. Jalur perniagaan dan pelayaran yang melalui laut, dimulai dari China menuju Kalkuta, India. Di mana jalur tersebut melalui Laut China Selatan kemudian Selat Malaka. Setelah sampai India, kemudian berlanjut ke Teluk Persia melalui Suriah. Jalur perdagangan berlanjut ke Laut Tengah melalui Laut Merah sampai ke Mesir menuju Laut Tengah. Indonesia, melalui Selat Malaka terlibat perdagangan dalam hal rempah-rempah. Posisi Indonesia cukup strategis dan memiliki sumber daya alam yang berlimpah. Sehingga Indonesia menjadi salah satu pusat perdagangan yang penting pada jalur perdagangan Timur Tengah dan semenanjung Arab dengan Selat Malaka.
Jalur Sutra sebagai pintu gerbang, Selat Malaka merupakan kawasan yang cukup penting bagi pelayaran dan perdagangan, terlebih bandar-bandar di sekitar Samudera Indonesia dan Teluk Persia. Selat Malaka menghubungkan Arab dan India di sebelah barat laut Nusantara, dengan China di sebelah timur laut Nusantara. Jalur tersebut diberi nama "jalur sutra" sejak abad pertama Masehi hingga abad ke-16 Masehi. Penamaan jalur tersebut karena China membawa komoditas sutera cukup banyak untuk dijual di wilayah lain. Ramainya rute pelayaran mendorong timbulnya bandar-bandar penting di sekitar jalur Selat Malaka, yaitu Samudra Pasai, Malaka, dan Sumatera Utara (dulunya Kota China). Kondisi masyarakat di sepanjang Selat Malaka mulai sejahtera dan terbuka dalam berbagai hal, di antaranya sosial ekonomi dan pengaruh budaya luar.
Respon Bangsa Indonesia Terhadap Kolonialisme dan Imperialisme
Ada empat aspek utama yang terjadi di Indonesia setelah merespon sistem kolonialisme dan imperialisme, antara lain ekonomi dan politik, sosial dan budaya, seni dan sastra, serta pendidikan. Bangsa Indonesia pada masa kolonialisme dan imperialisme dirugikan dalam bidang ekonomi dan politik. Oleh karena itu, bangsa Indonesia melakukan perlawanan terhadap Portugis, VOC, dan pemerintahan Hindia Belanda. Beberapa perlawanan berupa perang akibat ekonomi dan politik in, di antaranya:
Perlawanan Terhadap Portugis
Ada beberapa peristiwa besar yang terjadi akibat upaya bangsa Indonesia melawan penjajahan bangsa Portugis, antara lain:
Perlawanan Kesultanan Ternate
Kebijakan monopoli perdagangan bangsa Portugis membuat Sultan Hairun memimpin perlawanan rakyat Ternate terhadap mereka. Sayangnya, Sultan Hairun berhasil ditangkap dan dihukum mati oleh bangsa Portugis pada tahun 1570. Meski demikian, perlawanan Kesultanan Ternate tidak berhenti di situ. Perjuangan Sultan Hairun kemudian dilanjutkan oleh Sultan Baabulah. Di bawah kepemimpinan Sultan Baabulan inilah Kesultanan Ternate berhasil mengusir bangsa Portugis dari Maluku pada tahun 1575. Bangsa Portugis yang terusir dari Maluku ini kemudian menyingkir ke Pulai Timor dan berkuasa di Timor Timur hingga menjelang akhir abad ke-20.
Perlawanan Kesultanan Demak
Selain di Ternate, bangsa Portugis juga melakukan praktik monopoli perdagangan mereka di Malaka. Praktik monopoli tersebut membuat para saudagar Muslim di Malaka merasa terganggu. Kesultanan Demak yang khawatir bangsa Portugis juga akan mengekspansi pulau Jawa dan merasa perlu menunjukkan solidaritas mereka terhadap Kesultanan Malaka dan para saudagar Muslim yang ada di Malaka, akhirnya memutuskan untuk menyerang bangsa Portugis. Di bawah pimpinan Sultan Trenggono, Kesultanan Demak menyerang Sunda Kelapa pada tahun 1526 dan berhasil menguasai wilayah tersebut. Setahun kemudian, pada tahun 1527, bangsa Portugis yang saat itu tidak menyadari kalau Sunda Kelapa sudah dikuasai oleh Kesultanan Demak, datang untuk membangun benteng di sana. Akibatnya, bangsa Portugis pun berhasil diusir oleh Kesultanan Demak di bawah kepemimpinan Fatahillah. Fatahillah kemudian mengganti nama Sunda Kelapa menjadi Jayakarta, yang berarti kemenangan yang gemilang.
Perlawanan Kesultanan Aceh
Perlawanan Kesultanan Aceh terhadap bangsa Portugis dimulai pada tahun 1514–1540 di bawah kepemimpinan Sultan Ali Mughayat Syah. Pada masa itu Kesultanan Aceh berhasil mengusir bangsa Portugis dari wilayah Aceh. Perlawanan Kesultanan Aceh terhadap bangsa Portugis kemudian dilanjutkan oleh Sultan Alaudin Riayat Syah Al-Qahar pada tahun 1538–1571 dengan bantuan Turki. Sultan Alaudin Riayat Syah, yang menjadi penggantinya, juga menyerang bangsa Portugis di Malaka pada tahun 1573 dan 1575. Sultan Iskandar Muda pun pernah menyerang bangsa Portugis di Malaka pada tahun 1615 dan 1629. Sekalipun Sultan Iskandar Muda tidak berhasil mengusir bangsa Portugis, dari Malaka, perlawanan rakyat Aceh terus berlanjut sampai Malaka jatuh ke tangan VOC pada tahun 1641.
Perlawanan Terhadap VOC
Ada beberapa peristiwa penting yang terjadi sebagai upaya bangsa Indonesia melawan penjajahan VOC, antara lain:
Perlawanan Kesultanan Mataram
Awalnya, hubungan Kesultanan Mataram dengan VOC berjalan dengan baik, sampai-sampai Kesultanan Mataram mengizinkan VOC mendirikan benteng sebagai kantor perwakilan dagang di wilayah Jepara. Namun, lama-kelamaan Sultan Agung menyadari kalau keberadaan VOC
membahayakan pemerintahannya. Sultan Agung pun mulai menyerang VOC pada tahun 1628, tapi serangan pertama ini gagal dan mengakibatkan sekitar 1.000 prajurit Mataram gugur. Serangan kedua yang dilakukan pada bulan Agustus–Oktober 1629 pun mengalami kegagalan karena Kesultanan Mataram kalah persenjataan, kekurangan persediaan makanan (karena lumbung-lumbung persediaan makanan yang ada di Tegal, Cirebon, dan Karawang dimusnahkan VOC), jarak yang terlalu jauh, dan wabah penyakit yang menyerang pasukan Mataram.
Perlawanan Kesultanan Gowa
Perlawanan Kesultanan Gowa dimulai dengan pelucutan dan perampasan armada VOC di Maluku, di bawah kepemimpinan Sultan Hasanuddin. Perang Makassar pun pecah karena pelucutan dan perampasan armada tersebut. Perang Makassar berlangsung selama tiga tahun, dari tahun 1666–1669. Dalam Perang Makassar, VOC bersekutu dengan Arung Palaka, Raja Bone, yang saat itu berseteru dengan Kerajaan Gowa.
Perlawanan Kesultanan Banten
Perlawanan Kesultanan Banten dimulai karena persaingan dagang dengan VOC dan gangguan VOC terhadap politik Kerajaan Banten. Sultan Ageng Tirtayasa pada akhirnya melawan VOC dengan bekerja sama dengan pedagang-pedagang asing lainnya, seperti pedagang Inggris. Sultan Ageng kemudian menyerang kapal-kapal VOC yang ada di perairan Banten serta wilayah-wilayah yang berbatasan dengan Batavia, seperti peperangan di daerah Angke dan Tangerang pada tahun 1658–1659.
Perlawanan Terhadap Pemerintahan Hindia Belanda
Awalnya, masa pemerintahan Hindia Belanda tidak lagi menerapkan praktik kolonialisme ala VOC, namun hal tersebut tak membuat praktik dagang dan kerja rodi berakhir. Saat Belanda kembali berkuasa, penindasan pun terjadi lagi di Indonesia, berikut penjelasannya:
Perlawanan Rakyat Maluku
Perlawanan rakyat Maluku dilakukan karena mereka tidak mau orang Belanda kembali ke wilayah mereka. Saat Thomas Stamford Raffles berkuasa di Hindia Belanda, beberapa aturan VOC seperti praktik monopoli dagang dan kerja rodi tidak diterapkan. Namun, saat Belanda kembali berkuasa pada tahun 1817, aturan-aturan yang menindas seperti praktik monopoli perdagangan cengkih dan kerja rodi kembali diterapkan. J.R van den Berg, Residen Saparua yang baru pada saat itu, juga dianggap tidak peka pada keluhan rakyat. Belanda juga memaksa para pemuda Maluku untuk menjadi tentara yang ditugaskan ke Jawa.
Perlawanan Rakyat Palembang
Perlawanan rakyat Palembang yang dipimpin oleh Sultan Baharuddin terjadi karena Belanda berusaha menguasai Palembang yang memiliki letak strategis dan kaya akan barang (Kepulauan Bangka Belitung). Sultan Baharuddin kemudian memimpin penyerangan ke benteng-benteng pertahanan Belanda. Saat pergantian kekuasaan dari Belanda ke Inggris terjadi pada tahun 1811 karena Perjanjian Tuntang, Inggris memusatkan sebagian besar perhatiannya ke pulau Jawa. Sultan Baharuddin pun memanfaatkan kondisi ini dengan menyerang garnisun Belanda di Palembang. Sultan Baharuddin juga menentang keberadaan Inggris di wilayah kekuasaannya. Inggris yang tidak menyukai
perlawanan dari Sultan Baharuddin pun menyerang Palembang pada tahun 1812. Mereka menjarah isi istana dan melantik Ahmad Najamuddin, adik Sultan Baharuddin, menjadi Sultan.
Perlawanan Rakyat Sumatera Utara
Perlawanan rakyat Tapanuli di bawah kepemimpinan Raja Sisingamangaraja XII terjadi karena Belanda ingin menjajah Tapanuli dengan membentuk Pax Neerlandica (ambisi Belanda menguasai seluruh Nusantara). Keinginan Belanda inilah yang menyebabkan terjadinya Perang Tapanuli pada tahun 1870–1907.
Aspek Sosial dan Budaya
Perlawanan bangsa Indonesia terhadap kolonialisme dan imperialisme juga dilakukan dalam bentuk gerakan sosial-budaya. Beberapa gerakan tersebut adalah sebagai berikut:
Gerakan Sosial di atas Tanah Partikelir
Gerakan sosial ini adalah bentuk protes dan perlawanan atas peraturan Belanda yang tidak adil, serta rasa tidak puas atas kondisi sosial-ekonomi yang kurang memberikan tempat bagi kehidupan para pelaku dan pendukung gerakan sosial ini. Gerakan sosial ini muncul di kalangan petani yang merasakan ketidakadilan karena praktik penjualan atau pemberian hadiah tanah oleh Pemerintah Belanda kepada perseorangan atau swasta, yang kemudian menjadi tuan tanah. Tanah inilah yang kemudian menjadi tanah partikelir (swasta). Para tuan tanah tersebut merasa memiliki hak untuk menindas penduduk yang ada di tanah partikelir mereka. Penduduk di tanah tersebut diharuskan menyerahkan hasil garapan mereka dan memeras tenaga mereka selayaknya budak.
Gerakan Mesianisme
Gerakan mesianisme merupakan gerakan yang berasal dari harapan akan datangnya ratu adil atau imam mahdi sebagai juru selamat rakyat. Dalam gerakan ini biasanya terdapat seorang pimpinan yang dianggap sebagai juru selamat, pimpinan agama, atau bahkan nabi. Gerakan ini bersandar pada dasardasar kekuatan gaib sang pemimpin dan menghadapkan munculnya era baru dan datangnya zaman keemasan yang meniadakan penderitaan rakyat dan hilangnya konflik serta ketidakadilan. Beberapa contoh dari gerakan mesianisme adalah Kasan Mukmin (1903), Gerakan Darmojo (1907), dan dukun yang mengaku keturunan Sultan Hamengku Buwono V dan akan bertindak sebagai ratu adil dan calon sultan Yogyakarta (1918).
Aspek Seni dan Sastra
Seni sastra pada masa perjuangan melawan kolonialisme dan imperialisme juga memiliki peranan yang sangat penting. Karya-karya sastra yang lahir pada masa itu menyuarakan ketidakadilan yang dialami oleh para pribumi karena kolonialisme dan imperialisme yang dilakukan oleh bangsa Belanda ke luar Hindia Belanda, termasuk ke negara Belanda sendiri. Karya-karya sastra pada masa itu juga membangkitkan semangat kemerdekaan bagi para pembacanya. Beberapa sastrawan pada masa itu dan karya sastra mereka adalah sebagai berikut:
Eduard Douwes Dekker: Max Havelaar
Eduard Douwes Dekker merupakan nama pena dari Multatuli, seorang Belanda yang peduli pada nasib kaum pribumi. Nama Multatuli sendiri diambil dari bahasa Latin yang berarti “banyak yang sudah aku derita”. Kepedulian Douwes Dekker ini kemudian dituangkan dalam novelnya yang berjudul Max Havelaar (1860). Novel inilah yang kemudian menjadi inspirasi pergerakan nasional Indonesia serta mendorong sastrawan-sastrawan Indonesia menuangkan pemikiran mereka mengenai penjajahan Belanda, khususnya angkatan Pujangga Baru (1933–1942).
Soewarsih Djojopoespito: Manusia Bebas
Soewarsih merupakan pengarang perempuan yang menulis novel “Manusia Bebas” pada tahun 1940. Novel tersebut diterbitkan dalam bahasa Belanda dengan judul “Buiten het Gareel” yang berarti “Di Luar Kekang”. Novel ini berkisah mengenai para pendiri dan guru “sekolah liar” yang tak pernah putus asa walau hidup serba kekurangan dan tak pernah mengenal takut sekalipun diawasi dan diancam ditangkap pemerintah kolonial Hindia Belanda. Sekolah liar pada masa penjajahan Belanda adalah sekolah-sekolah swasta yang didirikan oleh para tokoh pendidikan Indonesia untuk memajukan pendidikan bagi masyarakat pribumi.
Aspek Pendidikan
Perjuangan para pahlawan Indonesia dalam bidang pendidikan merupakan salah satu perjuangan paling penting dalam melawan kolonialisme dan imperialisme Belanda. Para tokoh pendidikan di masa penjajahan Belanda membangun sekolah-sekolah swasta untuk memajukan pola pikir dan menumbuhkan semangat nasionalisme masyarakat pribumi. Sekolah-sekolah swasta ini kemudian dianggap sebagai “sekolah liar” oleh pemerintah kolonial Hindia Belanda karena dianggap mengancam kedaulatan dan kekuasaan mereka di Indonesia. Dua di antara sekolah swasta yang dibangun pada masa itu adalah sebagai berikut:
Taman Siswa
Taman Siswa didirikan pada tanggal 3 Juli 1922 oleh Ki Hajar Dewantara di Yogyakarta. Taman Siswa menjadi salah satu organisasi pergerakan yang bergerak di bidang pendidikan pada masa perjuangan kemerdekaan Indonesia. Ki Hajar Dewantara menerapkan tiga konsep pengajaran di Taman Siswa, yaitu ing ngarso sung tulodo, ing madya mangun karsa, dan tut wuri handayani. Ing ngarso sung tulodo memiliki arti bahwa para guru memiliki tanggung jawab dalam memberikan pendidikan dan harus mampu memberi contoh sikap dan perilaku yang baik, agar dapat menjadi teladan bagi para siswanya. Ing madya mangun karsa memiliki arti bahwa guru harus mampu memberikan motivasi yang baik pada para siswanya dan memberikan bimbingan yang terus-menerus supaya para siswanya mampu berkembang sesuai dengan bakat dan minat mereka.Sementara Tut wuri handayani memiliki arti bahwa guru wajib membimbing para siswanya agar dapat menggali sendiri pengetahuannya dan menemukan makna dari pengetahuan yang mereka peroleh, agar pengetahuan mereka dapat berguna bagi kehidupan mereka. Sementara Tut wuri handayani memiliki arti bahwa guru wajib membimbing para siswanya agar dapat menggali sendiri pengetahuannya dan menemukan makna dari pengetahuan yang mereka peroleh, agar pengetahuan mereka dapat berguna bagi kehidupan mereka.