24
Sudut Pandang
Edisi 924/ 24 - 30 OKTOBER 2016
Jaga Spirit Sumpah Pemuda dengan Aksi Sosial Peringatan Sumpah Pemuda setiap bulan Ok tober adalah sejarah penting yang harus dimaknai sebagai bersatunya para pemuda Indonesia de ngan dasar bangsa, bahasa, dan tumpah darah yang satu tanpa mempedulikan latar belakang suku, agama, ras, ataupun keyakinan kita. Meskip un sudah 88 tahun berlalu, spirit atau semangat Sumpah Pemuda tetap perlu digelorakan karena kolonialisme yang dulu dihadapi para pejuang kita telah berganti menjadi neo-imperialisme sebagai efek domino dari globalisasi dan dunia.
L
antas bagaimana agar spirit atau seman gat persatuan dalam Sumpah Pemuda ini tetap bergelora ? Salah satunya hal yang paling mudah serta efektif adalah memaknainya dengan aksi nyata. Bukan hanya menghapal isi dari Sumpah Pemuda, tetapi juga memaknainya dengan kegiatankegiatan yang bermanfaat. Karena kita hidup adalah untuk memberi sebesar-besarnya manfaat bagi sebanyak-banyaknya orang. Begitu disampaikan IGN Erlangga Bayu
Rahmanda P, yang saat ini diantaran ya tercatat aktif di Purna Paskibra Indonesia Bali, JCI Denpasar, HIPMI Denpasar, PCMI Bali, Komunitas Wirausaha Denpasar dan Leo Club Bali Shanti. Sebagai seorang Purna Paskibra, Angga begitu panggilannya mengaku sangat merasakan arti dari per satuan serta nasionalisme. “Kami 70 orang pemuda dari berbagai latar belakang digojlok ala militer selama hampir sebulan hanya untuk satu tujuan, mengibarkan bendera Merah Putih. Setelah sekian tahun
berlalunya kerja keras untuk pen gibaran bendera itu, kini saya serta teman-teman dari beragam bidang mengambil kesempatan untuk Indonesia yang lebih baik melalui Leo Club Bali Shanti,” tutur maha siswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis Unud ini. Dikatakannya Leo Club adalah komunitas pengabdian masyarakat bagi anak muda yang berada di bawah naungan Lions Club Inter national. Untuk Bali sendiri, Leo Club Bali Shanti sudah terbentuk
Sebelum Pulang Nyanyi Lagu Daerah Banyak hal yang menyangkut kebijakan di masing-masing sat uan pendidikan sudah berubah, salah satunya, penyelenggaraan ujian nasional (UN). Kalau dulu berlomba-lomba mengejar ke lulusan dengan segala cara, su paya mendapatkan nilai terbaik. Sekarang kebijakan pemerintah secara nasional, pelaksanaan UN tetap dilaksanakan tapi tidak sebagai penentu kelulusan. Demikian diungkapkan Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga Provinsi Bali, TIA Kusuma Wardhani. Saat ini, kata dia, tingkat ko rupsi ada di semua lini. “Hampir di semua sektor kehidupan ko rupsi itu ada. Salah satu upaya yang dipakai pemerintah untuk mengurangi korupsi melalui dunia pendidikan. Sehingga se mua satuan pendidikan dituntut bisa mengubah apa yang terjadi
saat ini,” ujarnya. Caranya, dengan penyeleng garaan UN yang berintegritas, yakni pelaksanaan UN dengan jujur, adil, dan bertanggungjawab. “Kalau dulu dalam UN, nilai yang dipakai ukuran, sekarang diberi kan indeks integritas sekolah. Artinya apa, pemerintah menaruh harapan besar, agar dunia pen didikan memberi kontribusi yang besar meminimalisir korupsi Ini salah satu cara penerapan nilai Sumpah Pemuda dalam bidang pendidikan,” ujarnya. Implementasi lain, dalam kes eharian yang terjadi di semua satuan pendidikan. Ia menya takan, ada pemikiran besar dari pemerintah menumbuhkan cinta tanah air kepada generasi muda. Saat ini, dirasakan ada sesuatu yang berubah. “Sekarang ini kalau mendengar lagu daerah, sepertinya anak-anak tidak terlalu
tertarik. Beda sekali dengan dulu, lagu daerah selalu didengungkan di mana-mana. Sekarang ini nilainya sudah berubah,” ujarnya. Ia menilai, dengan adanya fasilitas IT dan perkembangan teknologi yang semakin cang gih banyak memberi dampak. “Untuk mengembalikan suasana kebersamaan dan ada rasa per satuan antar anak-anak, ada satu aturan dibuat, 15 menit sebelum jam pelajaran dimulai, setelah berdoa, siswa menyanyikan lagu Indonesia Raya. Kemudian, 10 menit berikutnya, siswa bisa membaca buku apa saja, setelah itu bercerita. Ini memang protap, tapi di masing-masing sekolah tentu berbeda atau ada tambahan nya Tapi ini adalah hal yang men dasar untuk menyadarkan para generasi muda, kita ini satu nusa satu bangsa,” kata TIA Kusuma Wardhani.
sejak 7 Mei 2013. Berbagai kegia tan yang biasanya mereka lakukan seperti renovasi sekolah di daerah terpencil, pemeriksaan gigi gratis, pembagian susu ataupun alat bela jar; volunteering untuk penyandang disabilitas baik itu tuna netra, tuna rungu, tuna daksa, hingga tuna grahita. Selain itu mereka juga melakukan kunjungan ke yayasan yang menampung bayi terlantar, panti asuhan hingga panti jompo; atau kegiatan bidang lingkungan seperti penanaman mangrove, aksi
Kemudian, menjelang pulang, siswa diminta lagi menyanyikan lagu daerah. Kalau dulu, sistem nya, siapa yang menjawab betul boleh pulang. Ia menyebutkan, ada satu hasil penelitian, kalau yang ditunjuk satu anak, presta sinya tidak baik tapi dia betul menjawab, bagi anak-anak yang punya kemampuan lebih tapi tidak ditunjuk gurunya, akan merasa marah. “Kalau anak marah saat pulang, sampai di rumah anak ini akan melampiaskan kepada orang-orang terdekat. Dia bisa marah dengan ibunya, kakak atau adiknya. Sehingga kalau sistem ini dilaksanakan serentak di Indonesia, berapa banyak anak yang marah. Kalau sudah marah, pikiran tidak sehat. Sehingga pemerintah ber harap itu tidak boleh lagi dilaku kan,” ucapnya. Ia berharap, saat jam pulang sekolah, anak-anak dibuat nya man. “Kalau mereka nyaman, sam pai di rumah mereka pun gembira. Caranya, anak-anak diminta me nyanyikan lagu daerah, misalnya, Meong-meong. Ketika sampai di rumah, anak pun masih gembira. Ketika ditanya ibunya, ayo makan dulu, anak akan menjawab iya bu,” katanya memberi contoh.
bersih pantai; ataupun kegiatan in tern seperti tirtayatra, melukat, dan ngayah membersihkan Pura, hingga pemberdayaan anak muda seperti Leo Leadership Camp. Terkadang, lanjut Angga mereka mengadakan penggalangan dana bagi daerah-daerah yang terkena musibah seperti meletusnya Gu nung Kelud, gempa Nepal, ataupun korban asap di Sumatera dan Kali mantan atau bahkan penggalangan dana bagi saudara –saudara yang menderita sakit keras tapi tidak mampu secara finansial. “Dalam kegiatan-kegiatan terse but seringkali pula kami mendapat kan cibiran seperti misalnya, men gapa kami melakukan penggalangan dana untuk orang-orang di luar Bali (Hindu) atau sekadar ikut tren mencari popularitas. Disinilah kami merasakan semangat persatuan sebagai pemuda Indonesia, karena kami membantu bukan atas dasar suku ataupun agama, bahkan kenal pun kami tidak dengan orang yang kami bantu. Semua hanya karena kami merasa mendapatkan bahagia yang sebenarnya ketika juga bisa membuat orang lain bahagia. Kata Guru Gede Prama, compassion healing..We Serve ,” ujarnya Selanjutnya untuk bisa terus menjaga spirit sosial bersama te man-temannya, Angga ingin bisa mengembangkan usaha yang dijalan inya saat ini ini agar mampu mendu kung kegiatan sosialnya, Selain itu, se bagai pemuda Indonesia, untuk jangka panjangnya ia juga ingin memiliki usaha ekonomi berbasis masyarakat dan pastinya akan terus mengem bangkan Leo Club Bali Shanti. – sri.ardhini@cybertokoh.com
TIA Kusuma Wardhani
Ia menegaskan, kita tidak perlu mempertentangkan apa yang sudah terjadi, tapi itu ada lah upaya yang bisa dilakukan. Memang, ia mengakui, peran ini tidak bisa hanya dilakukan dunia pendidikan, karena peran orangtua juga penting. Ibarat sebuah pohon, yang menanam orangtua tapi yang menum buhkan sekolah. Para orangtua selamanya menanam, merawat, dan menjaga. -wirati.astiti@cybertokoh.com
redaksi@cybertokoh.com, iklan@cybertokoh.com
cybertokoh
@cybertokoh
@cybertokoh
2
Edisi 924/ 24 - 30 Oktober 2016
GORO-GORO N a m paknya 2016 menjadi tahun emas media sosial. Siapa yang tak penasaran inPutu Wijaya gin lebih tahu tentang kasus Mirna, perkosaan/pembunuhan anak di bawah umur, pembunuhan dosen, mahasiswi, kecelakaan pesawat, gunung meletus, banjir, penyanderaan pelaut, persiapan pemilihan gubernur DKI, vaksin palsu, pengampunan pajak, mutilasi bayi oleh ibu sendiri dll.nya. Terutama kasus Dimas Kanjeng Taat Pribadi. “Ya, rezekinya koran dan TV, Pak. Tapi kalau tidak ada mereka susah juga. Mana kita tahu, banyak yang aneh-aneh terjadi di negeri kita yang sekarang seperti negeri dongeng ini.” “Tapi jangan lupa, itu berkat adanya kebebasan dalam memberitakan. Kalau dari dulu kebebasan media sudah seperti sekarang, siapa tahu dongeng-dongengnya di masa
lalu, lebih seru!” “Tapi kalau betul duit bisa digandakan, Pak Kanjeng, apa tidak malah ribet, Pak?” “Ribet bagaimana?” “Kalau semua pada kaya punya uang triliunan, nggak ada yang bakal mau jadi rakyat. Semua pasti mau jadi pemimpin. Pasti akan berkelahi terus kita. Ujung-ujungnya yang tidak mau ribut, atau ngambul, akan lari hidup di luar negeri. Satu trilyun saja kan sudah cukup hidup enak sampai anak cucu!” Amat ketawa. “Bu, penggandaan atau pengadaan uang itu, hanya boleh dilakukan oleh BI, Bank Indonesia. Kalau dilakukan oleh yang lain, biar bernama Kanjeng Maha Diraja DewaDewa Antah-Berantah sekalipun, itu tindakan kriminal. Bisa diseret ke meja hijau! Itu pengacau! Kalau rakyat kecil terlibat, itu pasti karena kurang paham hukum. Tapi kalau sampai oramg pinter terlibat, tidak boleh diampuni, itu sudah subversif!!!” “Jadi bapak tidak setuju, kan?!” “Kalau setuju, sudah lama Bapak
Ekspresso
kanjeng
bergabung ke Probolinggo!” “Tidak setuju atau karena tidak tahu?” Amat terdiam. “Tidak setuju atau karena tidak tahu? Jujur saja, Pak, masak tidak ngiler kalau betul uang bisa digandakan 1000 kali, masak tidak terpikat? Doktor lulusan Amerika saja begitu kepincut! Coba hanya satu juta bisa jadi satu M!” Amat termenung. Kemudian menjawab lirih. “Itulah sihirnya. Siapa tidak akan rontok pertahanan jiwanya kalau bisa melipatgandakan uang seribu kali. Ya terus-terang bukan yang menipu saja sakit, kita juga semua sedang sakit. Ini PR semua agama dan pendidikan nasional untuk memperkuat ketahanan moral dan mental bangsa kita, Bu!” Amat lalu keluar karena ada yang mengetok pintu. Ternyata ada tamu yang ia belum kenal. “Maaf, Pak, ibu ada?” “Maaf, Ibu siapa?” “Saya Raden Ajeng Ratu Siti Kridit.”
Amat terkejut. “Ibu mau ketemu siapa? Ini rumah saya, Amat.” “Saya ingin berkenalan dengan ibu.” “Maaf, soal apa, Bu, kalau boleh saya tahu?” “Itu, soal uang mahar yang dikirim. Karena bulan depan akan diturunkan hasilnya, mohon supaya didorong sedikit lagi supaya jangan berbelok. Ya sekitar 100 juta lagi, saja. Supaya cepat bisa diserahkan ke saya saja.” Amat bengong. Ia cepat memutar otak. Pasti itu salah satu sultannya Pak Kanjeng yang belum sempat nonton TV, tidak tahu bosnya sudah diamankan. “Silakan duduk dulu, Bu, saya
panggilkan, silakan.” Begitu ibu itu duduk, Amat langsung masuk, tapi terus menyelinap keluar. Mau mengerahkan pemuda untuk menangkap. “Siapa itu, Pak?” Amat tak menjawab. Langsung ke tetangga, menggaet dua pemuda yang mau berangkat main futsal. Tapi begitu kembali ke rumah. Ternyata tamu itu tak ada. Bu Amat sendiri heran melihat suaminya datang bersama kedua pemuda itu. “Lho, Bapak mau ikut main futsal?” Amat bingung. Akhirnya menjelaskan yang terjadi. Bu Amat ketawa. “Berarti dongeng dan kenyataan sekarang sudah mulai mau nyambung. Apa kita sudah siap jadi warga dongeng, Pak? Itu tadi bu Siti, tukang kredit, orangnya kan memang suka bercanda!” Amat terdiam malu.
Mengaplikasikan Nilai Sumpah Pemuda Oktober memiliki makna yang spesial untuk Bangsa Indonesia. Pada 28 Oktober 1928, Sumpah Pemuda dikumandangkan para generasi muda sebagai bentuk penyatuan tekad dan semangat. Sebelumnya, para pemuda berjuang sendiri-sendiri di wilayah masing-masing. Mereka berjuang demi daerahnya sendiri. Namun, hasilnya tak maksimal. Hingga muncul gerakan nasional melalui Kongres Pemuda Kedua yang dilaksanakan di Batavia (Jakarta) pada 27-28 Oktober 1928. Keputusan dari kongres ini antara lain menegaskan cita-cita “tanah air Indonesia”, “bangsa Indonesia”, dan “bahasa Indonesia”. Semuanya dirangkum dalam Sumpah Pemuda: Kami putra dan putri Indonesia, mengaku bertumpah darah yang satu, tanah Indonesia. Kami putra dan putri Indonesia mengaku berbangsa yang satu, bangsa Indonesia. Kami putra dan putri Indonesia menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia. Ikrar Sumpah Pemuda pun satu tonggak utama dalam sejarah pergerakan kemerdekaan Indonesia. Ikrar ini dianggap sebagai kristalisasi semangat untuk menegaskan citacita berdirinya negara Indonesia. Seiring perjalanan waktu, Sumpah Pemuda berhasil menyatukan para pemuda di seluruh Indonesia. Ada tiga poin penting yang
bacaan wanita dan keluarga
Penerbit PT Tarukan Media Dharma Terbit sejak 9 November 1998
dibisa dicamkan dari peristiwa bersejarah tersebut. Pertama, sebagai generasi masa kini, kita wajib memberi apresiasi yang setinggi-tingginya dengan selalu hormat kepada para pahlawan yang sudah berjuang hingga berhasilkan mewujudkan sebuah ikrar yang masih relevan hingga saat ini. Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai perjuangan pahlawannya. Kalau dulu tidak ada pahlawan yang berjuang, bagaimana bisa bangsa kita eksis. Pahlawan berjuang hingga titik darah penghabisan. Mereka rela meninggalkan keluarga demi kepentingan yang lebih luas. Sikap mengutamakan kepentingan negara diatas kepentingan pribadi merupakan bukti kepedulian mereka. Kedua, semangat Sumpah Pemuda menjadi trigger untuk membangkitkan semangat anak-anak muda untuk terus berkarya menjadi kebanggan bangsa. Saat ini banyak peluang yang bisa dimanfaatkan para generasi muda. Selain itu, kecanggihan teknologi juga makin mempermudah generasi masa kini. Teknologi membuat dunia seperti tanpa batas. Bagi generasi muda di era serba canggih ini, sekarang kesempatan mereka untuk berkarya. Jika dulu pahlawan berjuang dengan senjata tradisional seperti keris dan bambu runcing, kini senjata utamanya adalah pemikiran yang cerdas serta aplikasi
Agustin Ramli
yang lugas. Bagaimana cara memiliki pemikiran yang cerdas? Tentunya dengan belajar. Media pembelajaran tersebar dimana-mana, tidak hanya melalui buku yang konvensional tetapi bisa melalui bugu digital. Semua serba mudah di era teknologi ini. Tergantung kita bijak memilih mana yang bermanfaat. Setelah dipelajari, kemampuan yang dimiliki itu diaplikasikan dalam aksi nyata. Salah satunya yang dilaksanakan Ant Charity yang berawal dari sekelompok orang-orang yang peduli terhadap anak-anak kurang beruntung yang hidup di bawah garis kemiskinan. Ant Charity terinspirasi
dari semut yang rajin bekerja tanpa kenal lelah dengan kemampuan masing-masing dan bersinergi dalam meraih kemakmuran bersama untuk mencapai tujuan. Lokasi jangkauannya di Jakarta Utara, Jawa Tengah, Bali, dan Sulawesi Tengah. Ant Charity juga merupakan school of life untuk para sukarelawan karena bisa belajar untuk melayani sesame yang kurang beruntung. Program yang dilakukan antara lain bimbingan belajar, latihan kepemimpinan, kelas seni, workshop, kelasentrepreneur, pemeriksaan kesehatan, serta penyuluhan kesehatan dan kebersihan. Dengan aneka kegiatan yang dilakukan generasi muda ini, diharapkan bisa membuat perubahan bagi Indonesia untuk menciptakan generasi masa depan yang bersinar bagi Indonesia maupun dunia. Ketiga, semangat Sumpah Pemuda menjadi pengikat kekompakan dan persatuan generasi muda Indo-
nesia. Dulu para pahlawan harus melintasi daratan dan menyeberangi lautan untuk mengikuti kongres. Perjuangan tanpa lelah yang akhirnya terbayar dengan lahirnya Sumpah Pemuda. Rasa suka dan duka dalam sebuah perjuangan menjadikan mereka sebagai satu kesatuan yang sulit terpisahkan. Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh. Kini dengan kemudahan teknologi juga, generasi muda harus bisa meneladani semangat Sumpah Pemuda. Tak ada alasan generasi muda untuk berjalan sendiri. Manusia dasarnya adalah mahluk sosial yang saling berinteraksi. Makin kuat interaksi makin kuat ikatan sosialnya yang nantinya menjadi modal. Karena itu kehadiran media sosial harus dimanfaatkan dengan bijaksana untuk memperkuat tali silaturahmi dan jejaring. Agustin Ramli Founder Ant Charity Indonesia
Kata Hati Rubrik ini khusus untuk menuangkan ide/pemikiran/gagasan dalam bentuk tulisan. Tema terkait wanita dan keluarga serta tidak mengandung unsur SARA. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter. Lampirkan juga foto close up (bukan pasfoto). Cantumkan nama lengkap, profesi, nomor hp, dan alamat email. Naskah dikirim ke redaksi@tokoh.co.id, redaksitokoh@yahoo.com. Tulisan yang dimuat mendapatkan bingkisan dari Telkomsel. Telkomsel sebagai satu-satunya operator paling Indonesia selalu berkomitmen untuk membangun dan memajukan Indonesia. #UntukIndonesia
Pemimpin Umum/Penanggung Jawab: Gde Palgunadi. Redaktur Pelaksana: Ngurah Budi. Staf Redaksi/Pemasaran Denpasar: IG.A. Sri Ardhini, Wirati Astiti, Sagung Inten. Buleleng: Wiwin Meliana. Jakarta: Diana Runtu. NTB: Naniek Dwi Surahmi. Desain Grafis: IDN Alit Budiartha, I Made Ary Supratman. Sirkulasi: Kadek Sepi Purnama, Ayu Wika Yuliani. Sek retariat: Ayu A gustini, Putu Agus Mariantara, Hariyono. Alamat Redaksi/Iklan Denpasar: Gedung Pers Bali K. Nadha, Lantai III, Jalan Kebo Iwa 63 A Denpasar 80117–Telepon (0361) 425373, 7402414, 416676–Faksimile (0361) 425373. Alamat Redaksi/Iklan/Sirkulasi Jakarta: Jalan Palm erah B arat 21 G Jakarta Pusat 10270– Telepon (021) 5357603 - Faksimile (021) 5357605. NTB: Jalan Bangau No.15 Cakranegara, Mataram–Telepon (0370) 639543– Faksimile (0370) 628257. Jawa Timur: Permata Darmo Bintoro, Jalan Taman Ketampon 22-23 Surabaya–Telepon (031) 5633456– F aksim ile (031) 5675240. Surat Elektronik: redaksi@cybertokoh.com, redaksitokoh@yahoo.com, iklan@cybertokoh.com. Bank: BRI Cabang G ajah Mada Denpasar. Nomor Rekening: PT Tarukan Media Dharma: 0017-01-001010-30-6. Percetakan: BP Jalan Kebo Iwa 63 A Denpasar.
Edisi 924/ 24 - 30 Oktober 2016
23
Padukan Sains dan Teknologi
I Wayan Karyasa bersama Direktur Riset dan Pengabdian Masyarakat saat pembukaan pameran produk penelitian kayu sintetik di gedung Mr. Ketut Pudja
I
Wayan Karyasa adalah seorang anak yang dibesarkan dengan budaya agraris Bali yang kental dengan aneka kerajinan. Pria yang dilahirkan di Desa Kedewatan, Kecamatan Ubud, Kabupaten Gianyar, 31 Desember 1969 itu berada di keluarga yang paspasan. Hidup berdampingan dengan budaya dan seni membentuknya menjadi seorang tradisional yang ingin melestarikan budaya Ubud dan budaya Bali pada umumnya. Dia memandang saat itu, seni dan budaya Bali hanya bisa ajeg jika memiliki ketahanan dari gempuran pengaruh budaya lain yang merambah Bali. Hal ini hanya akan terealisasi apabila masyarakatnya memiliki daya saing agar mampu berkompetisi di era global melalui ilmu pengetahuan dan teknologi. I Wayan Tekek sapaan akrabnya mengatakan, ketika ilmu pengetahuan dan teknologi modern terpadu dengan seni budaya Bali maka ajeg Bali akan menjadi kenyataan. “Untuk dapat mewujudkan angan-angan itu harus melalui jalur pendidikan,” ujar putra pertama dari pasangan I Ketut Pundut dan Ni Wayan Sepil tersebut. Pandangan inilah yang membuat suami dari Ni Wayan Rati telah menamatkan pendidikan S-3 di bidang Kimia Anorganik Padatan (Feskoeper Chemie). Tekek tidak menyia-nyiakan beasiswa yang diperoleh dari DAAD yang didahului dengan pendidikan bahasa Jerman di Goethe Institut di Kota Dresden sebelum resmi menjadi mahasiswa di Technische Universitaet Berlin. Waktu berangkat ke Jerman dia membawa sekantong sekam padi, dengan harapan sekam padi dari Bali ini akan membawa keberuntungan. Pada tahun 2001,
pria yang menamatkan pendidikan S-1 Pendidikan Kimia di STKIP Negeri Singaraja itu turut memboyong istri dan anak pertama ke Jerman. “Ketika itu istri saya telah lulus S1 dan anak sudah berumur cukup untuk turut serta dalam penerbangan jauh,” ujar dosen Undiksha tersebut. Melalui penelitian-penelitian, dia berhasil mensintesis serbuk nano silikon-karbida dari sekam padi yang dulu dibawanya dari Bali. Penemuan material maju inilah memacunya untuk mengembangkan berbagai materials berbasis silikon-karbon-logam yang menghantarkannya meraih gelar Doctor der naturwissenschaften (Dr.rer.nat.) di bidang kimia anorganik pada bulan Nopember 2004. Dengan promotor terdahulu Prof. Dr. R. Steudel dan Prof. Dr. M. Pickaard dan promotor pengganti yaitu Prof. Dr. Martin Lerch dan Dr. Dirk Walter. Atas dukungan dari promotornya, ia tidak saja dibekali kompetensi keilmuan dan soft skill melainkan juga mendidiknya untuk selalu bersyukur dan berdoa kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. “Ilmu diibaratkan sebagai kaki kanan dan ketrampilan adalah kaki kirinya sedangkan agama sebagai kendali dari kedua kaki tadi,” papar ayahanda dari Made Rama Krysara, Komang Diamantiarani Karyasa, dan Ketut Ray Wedana Karyasa. Setelah kembali ke tanah air pada tahun 2005, lulusan S2 University of Manchester Institute of Science and Technology tersebut telah konsisten menggeluti penelitian terkait material anorganik terbarukan dari biomassa tropis utamanya material berbasis silika dari sekam dan jerami padi. Penelitian tersebut digunakan dalam pembuatan ultrafine amorphous silica (UFAS)
dari abu sekam padi dan jerami padi. Dalam pemanfaatannya digunakan dalam pengembangan bata merah super tahan lumut yang menggunakan campuran tanah liat, pigmen batu merah tajun dan UFAS, batako lego-like tahan gempa yang menggunakan campuran pasir-semen-pigmen anorganik alami batu merah Tajun dan UFAS. Sejak tahun 2012 hingga 2013 dengan penelitian skim Hibah Bersaing yang didanai oleh DRPM Kemenristekdikti, ia bersama koleganya mengembangkan material nanokomposit silikakarbon dari abu sekam padi, abu jerami dan tiga belas biomassa tropis kaya silicon. “Ketigabelas boimassa itu di antaranya bagian-bagian tumbuhan bambu, kelapa, aren, lontar, salak, jagung, rumput gajah, dan alang-alang,” jelas mantan Ketua Lembaga Perencanaan dan Pengembangan Undiksha tahun 2014 tersebut. Biomassa ini tidak saja mengandung silikon tinggi dan menghasilkan bubuk silika amorp yang mudah dimurnikan dan diolah lebih lanjut, tetapi juga bisa menghasilkan serat lignoselulosa kaya silikon yang memiliki prospek tinggi sebagai bahan baku berbagai produk industri yang menggunakan serat alam (natural fiber). Pemberian nilai tambah terhadap biuomassa tropis kaya silikon, utamanya limbah jerami dan sekam padi menjadi produk-produk bernilai
tinggi tentu akan berdampak pada peningkatan keuntungan bagi petani padi. Ia mencontohkan, satu ton gabah kering giling yang dihasilkan petani, akan menghasilkan 300 kg sekam padi dan sekitar 700 kg beras, sementara itu karkas jeraminya sekitar 10 ton atau sekitar 3 ton jerami kering. Pengolahan menjadi nanokomposit silikakarbon dan serat lignoselulosa menjadikan harga serbuk sekam dan jerami kering Rp. 3.000/ kg dengan biaya pengolahan sekitar Rp.1.000/kg, berarti nilai tambah pengolahan sekam dan jerami kering menjadi bubuk kering adalah Rp. 2.000/kg. “Nilai tambah yang diberikan dari pengolahan sekam dan jerami padi menjadi bubuk halusnya adalah sekitar 74%,” jelasnya.
Lebih lanjut, nilai jual akan lebih besar jika serbuk sekam dan jerami ini diolah menjadi lignoselulosa maupun menjadi nanokomposit silika-karbon. Nilai tambah yang hampir dua kali harga penjualan beras ini memberikan harapan keuntungan bagi petani dan pelaku usaha pengolahan hasil dan produk samping pertanian padi. Dengan demikian, penerapan sains dan teknologi material maju ini pada sektor pertanian padi akan berdampak pada keterjaminan peningkatan kesejahteraan petani. “Ini merupakan solusi dari laju alih fungsi persawahan di Bali dan akhirnya dapat diharapkan budaya agraris Bali (subak) bisa ajeg,” tandas peraih penghargaan Dosen Bermutu Terbaik Undiksha tahun 2013 itu. -win
I Wayan Karyasa bersama keluarga
Revitalisasi Kerajinan Kayu Bali dengan Kayu Sintetik
Dedikasinya terhadap masyarakat tidak sampai di situ, Karyasa kembali melihat persoalan para pengerajin kayu Bali akibat adanya penolakan produk-produk kayu tropis oleh negara-negara tujuan ekspor. Melalui sebuah penelitian ia berhasil mengembangkan kayu sintetik dari jerami dan sekam padi dengan teknologi triaksial blend moulding and casting campuran serbuk lignoselulosa kaya silikon dari jerami atau sekam padi dengan serbuk nanokomposit silika-karbon dari sekam padi dan resin khusus. “Produk kerajinan yang dapat dihasilkan seperti set pintu glodog, set pintu gebyog, saka pat, beraneka patung dan pandil ukir,” ungkapnya. Teknologi ini telah dipatenkan di Kementerian Hukum dan HAM. Produk-produknya telah dipamerkan pada tanggal 26 September hingga 2 Oktober 2015 di Gedung Laksmi Graha Singaraja. Pameran kedua bertempat di Gedung eks. Pelabuhan Buleleng yang diselenggarakan dari tanggal 15 hingga 22 Oktober 2016. Pameran
Beberapa foto terkait pameran bersama Nyoman Sujana Kenyem
bersama I Nyoman Sujana Kenyem dibuka langsung oleh Direktur Riset dan Pengabdian kepada Masyarakat, Direktoirat Jenderal Penguatan Riset dan Pengembangan, Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi, Prof. Dr. Ocky Karna Radjasa, M.Sc. Acara pembukaan pameran juga dirangkaikan dengan Seminar Kebijakan Pengelolaan Karya Intelektual dan Luaran Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat. Temuan teknologi kayu sintetik dari jerami dan sekam padi yang diperkuat nanokomposit silika-karbon ini diharapkan dapat meningkatan kepedulian terhadap kelestarian hutan tropis dengan menerapkan teknologi ramah lingkungan dan memberi nilai tambah terhadap limbah pertanian padi. “Kami juga berharap dapat merevitalisasi industri kerajinan kayu Bali yang berdampak pada peningkatan produktivitas dan efisiensi produksi aneka kerajinan,” pungkas dosen terpilih mewakili Undiksha dalam ajang pemilihan Dosen Berprestasi tingkat nasional tersebut. -win
22
Sosialita
Edisi 924/ 24 - 30 OKTOBER 2016
41 Tahun IWAPI Satu kan Hati Tingkatkan Inovasi & Daya Saing Produk Bangsa, Guna Memenangkan Pasar Global demikian tema Rakernas XXVI IWAPI di Lombok Raya Hotel, Mataram, NTB, 9 s.d. 12 Oktober 2016.
Para pemerhati ling kungan, termasuk Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia kecewa ketika kebijakan kantong plastik berbayar dihentikan. Padahal dengan adanya program uji coba tersebut penggunaan kantong plastik di masyarakat menunjukkan tren menurun. Meski belum sesuai dengan yang diharapkan namun jika pemerintah juga swasta dalam hal ini peritel konsisten menerapkannya, diharapkan ada penurunan yang lebih signifikan. Karena makin lama diterapkan akan membuat masyarakat semakin terbiasa.
Edisi 924/ 24 - 30 OKTOBER 2016
Iwapi Bali
3
Kerja Cerdas Penuh Prestasi IWAPI dengan Kementrian Perindustrian dan Pertamina. Seluruh peserta juga sempat menikmati jamuan makan malam bersama Bupati Lombok Barat dan Wali Kota Mataram. Rakernas ditutup Menteri Pemberdayaan Perempuan
Iwapi Bali bersama Meneg PP, Pendiri Iwapi, Ketum DPP Iwapi, dan istri Wali Kota Denpasar
P
Siti Nurbaya Bakar
S
ayangnya kebijakan yang mulai diberlakukan pada Februari 2016 lalu akhirnya dihentikan per 1 Oktober 2016. Awalnya kebijakan tersebut hanya dari Februari hingga Mei untuk 22 kabupaten/kota, kemudian diperpanjang hingga Oktober dan berlaku secara nasional. Namun entah bagaimana Aprindo (Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia) memutuskan tidak lagi mendukung program tersebut per 1 Oktober dengan alasan adanya pro-kontra di berbagai daerah, selain itu program tersebut juga belum memiliki payung hukum yang jelas. “Nanti jika sudah diterbitkan Permen KLHK yang berkekuatan hukum program ini bisa dijalankan lagi, jadi untuk sementara dihentikan,” ungkap Ketua Umum Aprindo Roy Mandey. Pro-kontra tersebut disebabkan karena tidak adanya payung hukum yang kuat untuk menjalankan program tersebut. Hal ini menjadi kendala bagi peritel di lapangan. Padahal, pihaknya telah melakukan sosialisasi baik lewat media, personel toko maupun memasang surat edaran Dirjen KLHK. “Tapi pro-kontra tetap saja terjadi. Akhirnya setelah dipikirkan masak-masak, untuk sementara dihentikan dulu sambil menunggu payung hukumnya,” jelas Roy. Menurut Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya Bakar, payung hukum tentang plastik berbayar masih menunggu evaluasi dari Dirjen Pengelolaan Sampah, Limbah
dan Bahan Beracun Berbahaya, KLHK. “Aturan sudah disiapkan, tapi masih harus dikonfirmasikan lagi dengan hal-hal di lapangan,” ucapnya. Menurutnya, kebijakan tersebut mendapat dukungan dari masyarakat dan hasilnya pun cukup baik, terjadi penurunan sangat besar terhadap penggunaan kantong plastik. Berdasarkan hasil survei dan evaluasi terhadap penerapan kebijakan kantong plastik berbayar di 22 kota besar dan lima kota administratif di Jakarta, hasilnya 92% sadar bahwa plastik berdampak buruk bagi lingkungan, 67% setuju membawa tas belanja sendiri. Kalau dulu orang menghabiskan tiga kantong plastik saat berbelanja, maka kini hanya dua. Hasilnya terjadi rata-rata penurunan yang lumayan besar di kabupaten/kota yang menjadi tempat uji coba, yakni antara 5 hingga 80%. Di Banjarmasin misalnya, turun 80%, Palembang turun 40%, Surabaya antara 30-40%. Hanya di Kendari yang penurunannya tipis yakni 5%. Dengan demikian penurunan rata-rata hampir 25%. Menurut hasil penelitian pihak KLHK, suksesnya penurunan di Banjarmasin karena peran pemerintahan setempat yang sigap menyosialisasikan dan mengoordinasikan masalah ini dengan komunitas setempat. Masyarakat di sana diwajibkan membawa tas khas Banjarmasin, yaitu tas bakul purun. Dengan
demikian selain bisa menurunkan penggunaan kantong plastik juga melestarikan kerajinan tangan yang menjadi indentitas lokal. Itu sebabnya penurunan di Banjarmasin menjadi sangat signifikan. Lain lagi dengan Kendari, yang menurun pemantauan kecilnya persentase penurunan karena masyarakat, belum tahu adanya kebijakan tersebut. Ternyata informasi tersebut belum menyebar di masyarakat Kendari. YLKI KECEWA PADA APRINDO DAN PEMERINTAH Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia menyatakan sangat kecewa dengan dihentikannya program ini. Aprindo sebagai pihak yang tadinya mendukung kemudian malah menghentikan dukungannya, dan kembali menggratiskan kantong plastik kepada konsumennya. Hal ini, menunjuk-
Roy Mandey
kan Aprindo tidak punya concern untuk mengurangi sampah plasti yang ditimbulkan transaksi bisnisnya. Seharusnya, Aprindo mendorong anggotanya menerapkan kebijakan serupa. Di sisi lain, YLKI menilai Kementerian LHK tidak konsiten. Hal ini terbukti dengan lemahnya regulasi yang ada. “Kementerian LHK terlalu lamban dalam menggodok penguatan regulasi plastik berbayar,” ujar YLKI dalam siaran persnya. Padahal, dukungan masyarakat terhadap pengurangan sampah plastik melalui plastik berbayar lumayan tinggi. “Gagalnya uji coba kebijakan tersebut menunjukkan pemerintah tidak mempunyai road map yang jelas untuk pengurangan konsumsi plastik. Kementrian LHK dengan program plastik berbayar, Kementerian Keuangan dengan wacana pengenaan cukai pada plastik. Kedua kebijakan ini seharusnya terintegrasi. Tidak jalan sendiri-sendiri,” papar YLKI. Selain itu, ketidakjelasan kebijakan plastik berbayar juga terindikasi dengan tidak jelasnya penggunaan dana yang diperoleh dari plastik berbayar itu sendiri. Seharusnya dana yang dikorelasikan dari plastik berbayar, dikembalikan menjadi dana publik untuk penanggulangan pencemaran lingkungan akibat sampah plastik. Saat uji coba tahap pertama berlangsung, YLKI juga sempat melakukan survei terhadap 25 gerai dari 15 nama ritel terke-
muka di wilayah DKI Jakarta. Hasilnya antara lain, transaksi tertinggi selama 10 menit adalah 21 transaksi dengan 10 konsumen di antaranya masih menggunakan kantong plastik. YLKI juga melihat ada 12% ritel yang tidak mencantumkan papan informasi uji coba kebijakan plastik berbayar pada kasir dan di dalam gerainya, sementara ada beberapa yang meletakkan di tempat yang tak terlihat konsumen. Dari hasil wawancara di lapangan, sebanyak 52% kasir yang diwawancarai mengaku sudah dilatih untuk sosialisasi pada konsumen tapi kenyataan di lapangan sebanyak 88% kasir tidak memberikan penjelasan tambahan tentang kebijakan, dan SOP yang berlaku belum seragam karena masih ada kasir yang tidak menanyakan pada konsumen mau pakai kantong plastik atau tidak. Namun demikian YLKI melihat adanya penurunan dalam hal jumlah konsumsi kantong plastik pada konsumen. Menurut YLKI dari wawancara dengan konsumen, sebanyak 33,7% mengeluh karena merasa tidak jelasnya pengelolaan dana hasil penjualan kantong plastik, 34% mengaku belum mengetahui tujuan dari kebijakan tersebut, namun 26,1% konsumen memiliki persepsi bahwa kebijakan tersebut untuk pengurangan sampak dan menjaga lingkungan. Konsumen (33%) juga menyarankan agar meniadakan kantong plastik. -dianaruntu@cybertokoh.com
Persiapan Sidang Pleno II
ada Rakernas yang dibuka oleh Menteri Koperasi dan UMKM, AA Puspayoga dan dihadiri oleh pendiri IWAPI, Dewi Motik Pramono juga hadir pula pihak Kementerian Pariwisata, Pertanian, Perindustrian, Kadin Indonesia, Gubernur NTB, Pejabat Pertamina , Telkom, Facebook Asia Pasifik, istri Wali Kota Sumba dan istri Wali Kota Denpasar. Di arena itu IWAPI Bali berkibar lagi. Predikat Teladan kembali diraih. Menurut Ketua Umum IWAPI Bali Dr. AAA Ngr Tini Rusmini Gorda, S.H.,M.M.,M.H., didampingi Sekretaris Umum, Ni Wayan Agek Parwati Asih, S.Pd.,M.Pd., pada usia ke 38, keistimewaan terjadi lagi. IWAPI Bali kembali mengawinkan dan mempertahankan piala yang juga diraih saat Munas IWAPI di Jakarta tahun lalu. Tahun ini, setelah evaluasi ternyata IWAPI Bali berhasil mempertahankan prestasi, meraih Juara III sebagai DPD IWAPI Teladan Tingkat Nasional, dan DPC IWAPI Kota Denpasar meraih Juara I DPC IWAPI Teladan Tingkat Nasional. Dikatakannya pada Rakernas yang dilaksanakan setiap tahun ini, juga membahas peraturan & ketentuan organisasi IWAPI, dan evaluasi terhadap program kerja DPP/DPD IWAPI. Selajutnya diisi diskusi panel, pameran produk unggulan IWAPI se- Indonesia, launching “IWAPI Goes To Digital with Telkom, Penandatanganan MoU antara
dan Perlindungan Anak. Agek Parwati menambahkan di usia ke-38 tahun pula, untuk pertama kalinya DPD IWAPI Bali hadir bersama 56 orang pengurus, lebih banyak dibandingkan tahun sebelumnya. Bersama Ketum dan Sekum juga turut peninjau dari DPD IWAPI Bali, DPC IWAPI Kota Denpasar, IWAPI Gianyar, IWAPI Badung, IWAPI Karangasem, IWAPI Klungkung dan IWAPI Bangli. Disamping itu, juga turut berpameran dengan menyuguhkan produk unggulan dari pengurus dan anggota IWAPI Kabupaten/Kota se-Bali. Gung Tini menyatakan, keberhasilan yang diperoleh selama ini, selain telah terbangunnya team work dengan SDM yang solid, juga dikuatkan dengan “kecerdasan” dalam inovasi ketika menjalankan program. Kerja cerdas inipun menghasilkan prestasi. Misalnya saat Kementerian PP dan PA memiliki pro-
Persiapan Sidang Pleno I
gram tentang partisipasi masyarakat dengan “Three Ends”, IWAPI pun bisa masuk pada program Akhiri Ketidakadilan Akses Ekonomi Terhadap Perempuan”. Disinilah, katanya peran IWAPI untuk menggali potensi, demi turut mempercepat capaian “Three Ends”. Ini juga sesungguhnya peluang IWAPI seluruh Indonesia untuk membesut peluang ini. Selama, kata Gung Tini program kerja IWAPI Bali sudah jelas, seperti sharing dalam kegiata n seminar, pelatihan bagi anggota, pameran dan juga berbagai kegiatan yang bermanfaat bagi masyarakat. Namun, dengan dibukanya partisipasi masyarakat, maka ini semakin memudahkan melihat tolok ukur sebuah pencapaian. Disamping itu, terkait Three End, IWAPI bisa mengambil peluang ini dan disinilah terujinya kecerdasan organisasi yang bergerak di bidang usaha sebagai partner pemerintah. Meskipun saat ini makin banyaknya organisasi kekinian bermunculan, namun dengan kecerdasan dan keunikan program kerjanya IWAPI Bali mampu melakukan eksekusi dengan baik, meski IWAPI Bali belum memiliki sekretariat
Welcome Dinner di kediaman Bupati Lombok Barat
Ketum dan Sekum Iwapi Bali bersama pembina DPC Iwapi Kota Denpasar
sendiri dan kurangnya database . Sedangkan urusan rekening giro, dengan tidak ada lagi dualisme, dengan akte pendirian IWAPI maka DPD seluruh Indonesia akan dapat membuka rekening atas nama IWAPI. FOKUS USAHA MIKRO Sementara pada pandangan umum, IWAPI Bali di Rakernas tahun ini yakni bagaimana mengembalikan pola pikir pendirian dari IWAPI yang fokusnya di UMKM. Mendorong keberadaan usaha Mikro. Selanjutnya DPD IWAPI seluruh Indonesia harus di kalster, siapa dan apa fokusnya. Tahun ini pula IWAPI Bali juga menjadi salah satu unit kerja Koperasi Perempuan Ramah Keluarga (KPRK). Ketum IWAPI Bali menyatakan, sebenarnya IWAPI Bali sudah menjadi partner pemerintah, secara tidak langsung terlebih setahun terakhir ini hadirnya Klinik Konsultasi Bisnis IWAPI
Iwapi Bali bersama Menkop dan pendiri Iwapi saat penyerahan piala Juara III DPD Teladan Tingkat Nasional dan Juara I DPC Teladan Tingkat Nasional tahun 2016
BALI. Jika setiap DPD membentuk klinik tentu makin mempercepat melahirkan embrio wirausaha. Meningkatkan usaha mikro menjadi menengah dan seterusnya. Di inkubator bisnis inilah proses pembuatkan dan penggodokan calon wirausaha terjadi. Hal ini juga yang didengungkan dalam Rakernas dan berhasil menjadi catatan penting bagi DPP agar setiap IWAPI memiliki inkubator bisnis. Pada kesempatan tersebut Menteri Koperasi dan UMKM mengatakan jika IWAPI bisa fokus di UKM Indonesia pasti bangkit. Karena perempuan punya peran yang sangat penting ini, maka diharapkan IWAPI menjadi penggerak koperasi. Bahkan untuk itu pula Dr. Dewi Motik Pramono dinobatkan menjadi Duta Koperasi oleh Menkop. Sedangkan IWAPI Bali diminta menjadi pelopor dalam gerakan koperasi agar usaha mikro bisa dibina untuk naik kelas. Menkop juga berpesan agar DPD IWAPI Bali memaksimalkan fungsi Klinik Konsultasi Bisnis untuk melahirkan embrio wirausaha baru dan mampu mengentaskan permasalahan yang dialami para penggiat wirausaha. Kedepannya lanjut Agek Parwati mereka akan mengeksekusi program kerja IWAPI, dan khusus dengan adanya Klinik Konsultasi Bisnis IWAPI Bali bisa mewujudkan program mencetak 1000 pengusaha baru. Saat ini Klinik Konsultasi Bisnis IWAPI Bali sudah memiliki 50 usaha binaan. Disamping itu IWAPI Bali juga sudah menandatangani MoU dengan beberapa pihak diantaranya STMIK PRIMAKARA, Hardys GH Holdings, Pegadaian, dan BPJS Ketenagakerjaan agar program kerja IWAPI bisa berjalan dengan maksimal disamping itu kita akan menjalankan program DPP IWAPI yang sesuai daerah, melalui 9 DPC IWAPI Kabupaten/ Kota, yang saat ini memiliki 600 anggota di seluruh Bali. Selama ini, selain menjalankan MoU yang sudah ditandatangani antara IWAPI Bali tersebut, dan juga menjalankan MOU yang ditantangani DPP diantaranya MoU antara IWAPI dengan Citilink, IWAPI dengan perum LKBN Antara, IWAPI dengan Menteri Pertanian, IWAPI dengan Direktorat Jenderal Industri Kecil dan Menengah Kementrian Perindustrian, IWAPI dengan Tabloid Cek & Ricek, IWAPI dengan Media Group, IWAPI dengan Majalah Kartini, IWAPI dengan Direktorat Jenderal Penguatan Daya Saing Produk Kelautan dan Perikanan Kementrian Kelautan dan Perikanan, IWAPI dengan PT Telkom, antara IWAPI dengan Asosiasi Penulis dan Inspirator Seluruh Indonesia (Aspirasi). -ard
4
Inspirasi
Edisi 924/ 24 - 30 Oktober 2016
Mandalika
Edisi 924/ 24 - 30 Oktober 2016
21
Gubernur NTB Produk Bambu Serius Berantas Pembalakan Liar Kurang Diminati di Indonesia Khairul Pulungan
Maraknya pembalakan liar (ilegal logging) yang terjadi di Nusa Tenggara Barat, mendapat perhatian serius dari Gubernur NTB, Dr. TGH. M. Zainul Majdi dengan melakukan inspeksi mendadak ke lapangan. Bersama Danrem, Kapolda, Kejaksaan serta didampingi Sekda NTB Ir. H. Rosiadi Sayuti dan Kepala Dinas Kehutanan NTB, Gubernur NTB turun mulai dari Kodim Lombok Barat untuk melihat dari dekat hasil sitaan sebanyak 28 truk kayu illegal yang tertangkap saat razia di beberapa wilayah di NTB. Kemudian melakukan peninjauan kesiap-siagaan aparatur kehutanan di UPT Kesatuan Pengolahan Hutan Lindung di Kelurahan Sayang-sayang.
Pohon bambu yang oleh sebagian masyarakat kita, khususnya di perkotaan, hanya ‘dipandang sebelah mata’ , bahkan produknya pun kurang diminati, di tangan Khairul Pulungan justru disulap menjadi furniture nan eksotis dan sangat disukai pasar Eropa. Saking sukanya, meski dunia sempat berkali-kali kena krisis ekonomi, Khairul tetap bisa survive mempertahankan bisnisnya ini.
Khairul Pulungan dan istrinya Sundari di depan rumah bambu
“S
aya sudah hampir 20 tahun bisnis furniture bambu, berkali-kali didera krisis ekonomi, bahkan Eropa yang menjadi pasar utama saya pun berkali-kali dihantam krisis, namun usaha saya ini bisa tetap bertahan. Tren memang menurun ketika krisis, tapi tetap masih bisa eksis karena di Eropa, meski krisis, permintaan akan furniture bambu Indonesia, tetap tinggi,” ungkap Khairul yang menjalankan bisnis furniture bambu ini bersama istrinya, Sundari Pulungan. Buyer asing, tuturnya, sangat suka produk bambu Indonesia, salah satunya karena ketahanannya yang bisa sampai puluhan tahun, harganya pun relatif jauh lebih murah dibanding kayu. “Saya punya aneka produk, tapi yang paling disukai masyarakat Eropa adalah tempat tidur,” ucapnya. Anehnya, kata Khairul, justru masyarakat dalam negeri kurang menyukai furnitur bambu. Di dalam negeri, produk bambu hanya dipandang ‘sebelah mata’ karena sebagian orang belum paham tentang bambu. Masyarakat berpikir produk bambu cepat rusak, mudah reyot, dll. Padahal tidak demikian. Dengan pembuatan yang benar, produk bambu bisa tahan puluhan tahun. “Kalau produk bambu saya cepat rusak, pastilah buyer komplain, orang Eropa tidak mau membeli. Dan yang pasti bisnis saya ini tidak akan sampai bertahan sampai sekarang. Justru karena awet dan harganya murah, perawatan mudah, maka mereka suka. Desainnya pun menarik. Pengetahuan tentang itu yang dikurang dimiliki masyarakat kita, sayang sekali,” katanya.
Karena kurangnya minat di dalam negeri maka katanya, lebih memfokuskan penggarapan pasar luar negeri. “Selama hampir 20 tahun saya menggeluti usaha ini, minat masyarakat kita pada produk bambu tidak ada kenaikan yang berarti, masih biasa saja,” tambahnya. TINGGALKAN PROFESI WARTAWAN Perjalanan Khairul menjadi pengusaha furnitur bambu, boleh dibilang tidak sengaja. Karena sebelumnya lelaki usia 52 tahun ini adalah seorang wartawan sebuah media cetak nasional. Kariernya di bidang jurnalistik lumayan moncer, bahkan dia sempat meraih penghargaan ‘Adinegoro’, sebuah penghargaan tertinggi untuk karya jurnalistik yang diberikan oleh Persatuan Wartawan Indonesia. Namun ketika terjadi perubahan manajemen di kantornya, Khairul pun mengundurkan diri.
“Nah saat itu saya jadi sering ke kampung istri saya di Rangkasbitung, Jawa Barat. Di sana saya melihat begitu banyak pohon bambu, namun kurang dimanfaatkan menjadi sebuah produk yang bernilai lebih. Entah bagaimana lalu muncul ide membuat furniture dari bambu,” tutur alumi Institut Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Jakarta, ini. Walhasil, dia pun mulai mempelajari tentang bambu lewat literatur-literatur yang ada. “Uang pesangon yang saya dapat, saya gunakan sebagian untuk memulai bisnis ini. Kebetulan di Rangkas ada beberapa pengrajin bambu, maka saya ajak kerja sama.Saya mencari tahu bagaimana caranya menjadikan furniture bambu ini berkualitas, awet dan menarik (desain). Itu semua saya pelajari,” paparnya. Ia juga melakukan pembinaan dan pelatihan secara khusus kepada pekerja juga petani-petani bambu di sana. Semuanya bersemangat karena bukan hanya mendapat lapangan pekerjaan tapi secara penghasilan mereka mendapat lebih. “Bambu petani saya beli lebih mahal dibanding harga yang dia jual ke tengkulak. Karenanya mereka semangat,” tambahnya. Berkat ketekunan dan keuletannya dalam memasarkan produknya, akhirnya Khairul pun berhasil menembus pasar ekspor, padahal boleh dibilang dia adalah seorang pemula yang belum sampai dua tahun menekuni bisnisnya. Tak tanggung-tanggung, dia mendapat kontrak pengiriman 11 kontainer furnitur bambu dari Spanyol. “Itulah awalnya saya akhirnya memutuskan untuk fokus di pasar luar negeri. Tahun 1999 saya dapat order 11 kontainer ke Spanyol, padahal waktu itu
Tempat tidur yang digemari pasar Eropa
Produk rumah bambu yang sedang dikembangkan Khairul
saya belum lama menekuni bisnis ini. Nah sejak itu, buyer saya di Eropa terus berkembang. Setiap bulan saya ekspor ke berbagai negara di Eropa tak penah putus. Buyer saya di Perancis, Italia, Jerman, Austria, Yunani, dll,” ungkap Khairul yang kini tengah giat mengembangkan ‘rumah bambu’ dan interior bambu. Tren bisnisnya terus menanjak , tahun 2003 hingga 2008 adalah tahun keemasan baginya dimana bisnisnyabooming. Kala itu Khairul mengaku sempat kewalahan karena begitu banyaknya permintaan dari pasar Eropa. Rata-rata setiap bulan dia mengekspor 15 kontainer furniture bambu ke berbagai negara, yang terbanyak adalah Perancis dan Jerman. “Waktu booming, orderan yang datang melimpah setiap bulannya, sampai-sampai kala itu saya punya karyawan 400 orang, hampir semuanya orang Rangkasbitung. Bagi saya ini sungguh membahagiakan karena selain produk saya digemari juga karena bisa memberi masyarakat setempat lapangan pekerjaan,” ungkap peraih penghargaan ‘Primaniyarta 2013’, penghargaan tertinggi yang diberikan pemerintah kepada eksportir yang dinilai paling berprestasi di bidang ekspor dan dapat menjadi teladan bagi eksportir lain. Namun masa keemasan itu akhirnya terhenti lantaran negaranegara di Uni Eropa terhantam krisis pada 2008 yang dipicu oleh krisis perekonomian di Yunani. “Saat itu banyak buyer saya menghilang, tren ekspor menurun drastis. Hanya Jerman yang masih bertahan meski pesanan tidak sebanyak sebelumnya,” kata pemilik usaha ‘Shaniqua Bamboo’ ini. Tahun 2016 ini, lanjutnya, dia merasa ada perbaikan perekonomian di sejumlah negara di Eropa. Hal itu terlihat dari sejumlah buyer yang menghilang, menghubunginya. “Baru-baru ini buyer lama saya dari Italia datang ke saya dan berencana bisnis
bambu kembali. Ia bilang kondisi di negaranya sudah mulai membaik. Saya berharap ke depannya perekonomian benar-benar pulih,” ungkap Khairul yang kini setiap bulan menangani ekspor ke Jerman dan Perancis. PERLU KETELATENAN DAN KESABARAN TINGGI Kembali ke masalah dalam negeri. Menurut Khairul, meski prospek furniture bambu memiliki prospek yang bagus di pasar ekspor, namun di Indonesia sedikit sekali pemainnya. Dia sendiri sangat heran dengan keadaan ini. “Pasar furnitur bambu di luar negeri bagus, tapi entah kenapa tidak banyak orang kita yang tertarik,” ucapnya. Hanya saja, mungkin, karena mengerjakan furniture bambu butuh ketelatenan dan kesabaran yang tinggi, menyebabkan pengusaha lain menjadi tidak tertarik. “Mengerjakan produk bambu itu memang banyak masalahnya, namun bukan berarti tidak terpecahkan. Asalkan kita mau bersusah-susah dan tekun mencari solusi, pasti bisa. Saya pun menggeluti usaha ini bukannya tanpa masalah. Ada banyak masalah dari yang ringan sampai yang berat dan jelimet. Tapi saya tetap berjuang untuk mencari solusi, itu makanya usaha saya bisa bertahan. Dan saya konsisten tidak berpindah ke produk lain selain bambu,” katanya. Terkait dengan mulai membaiknya pasar ekspor furniture bambu, menurut Khairul, salah satunya bisa dilihat dari tren transaksi akhir-akhir ini. Di pameran ‘Trade Export Indonesia 2016’ di Kemayoran baru-baru ini, dia mendapat cukup banyak transaksi, di antaranya beberapa buyer dari Irak, juga Republik Senegal, Afrika Barat. “Ini perkembangan yang sangat menggembirakan, saya dapat sejumlah buyer. Semoga tren naik terus berlanjut,” ucapnya. -Diana runtu@cybertokoh.com
Gubernur NTB saat turun lapangan melakukan sidak terhadap pembalakan liar di wilayah NTB
K
epada petugas, Gubernur meminta untuk mengajak masyarakat menjaga kelestarian hutan, karena kelestarian hutan lindung sangat tergantung pada peran masyarakat yang berdomisili di sekitarnya. Menurut Gubernur, aparatur pemerintah harus dapat bersamasama memberantas pembalakan liar seperti halnya masalah narkoba dan terorisme. Karena hutan memiliki beribu manfaat bagi kelangsungan hidup di masa kini dan masa yang akan datang. “Sebagai petugas tidak perlu ragu-ragu untuk menindak setiap oknum yang ingin menjarah kayu di hutan kita, karena kita melaksanakan tugas tersebut berdasarkan undangundang,” ujarnya. Usai mampir di UPT tersebut, Gubernur dan rombongan langsung menuju ke lokasi hutan di Desa Setiling Kecamatan Batukliang Utara, sekaligus meninjau lokasi yang sering dijadikan rute untuk membawa kayu hasil pembalakan liar yang dilakukan oleh oknum yang tidak bertanggung jawab. “Pembalakan liar dilakukan di dalam areal hutan lindung sehingga berpotensi merusak lingkungan dan membahayakan struktur tanah. Kami tidak ingin akibat pembalakan liar itu berbuah bencana longsor. Harus ada pelajaran dari beberapa kasus
bencana di daerah lain,” katanya. Ia pun meminta masyarakat untuk memanfaatkan layanan pengaduan yang tersedia untuk melapor secara cepat jika ada gerakan atau tindakan yang mencurigakan agar dapat diproses secepat mungkin agar tidak terlanjur berakibat bencana. Sebagai bentuk perhatian pemerintah yang berpihak kepada masyarakat, maka bagi masyarakat yang tinggal di sekitar kawasan hutan diberikan hak untuk menanam jenis komoditi yang dapat memberikan manfaat bagi peningkatan kesejahteraan warga asalkan pohon-pohon yang telah tumbuh dan berkembang tidak ditebang untuk tetap menjaga keseimbangan antara kelestarian hutan dan kemanfaatan bagi masyarakat. Menindaklanjuti maraknya aksi pembalakan liar tersebut, guna mencegah hal tersebut berlangsung terus-menerus, Gubernur NTB kemudian melakukan rapat koordinasi dengan instansi dan SKPD terkait, seperti Asisten Bidang Ekonomi dan Pembangunan, Kepala Dinas Kehutanan, Kepala Bappeda, Kepala Biro BKPMPT, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata, Kepala Biro Hukum dan kepala Biro Humas dan Protokol Provinsi NTB. Setidaknya, ada tiga poin penting yang menjadi instruksi Gubernur
NTB untuk mengatasi pembalakan liar tersebut yang disampaikan pada rapat koordinasi tersebut. Yang pertama, Gubernur menyampaikan perlunya pendekatan ekologis terhadap keberadaan hutan selama ini. “Untuk poin ini, kualitas dan kuantitas hutan harus betul-betul diperhatikan. Hutan merupakan aset yang tidak tergantikan,” instruksi Gubernur saat itu. Kedua adalah melakukan pendekatan ekonomis terhadap hutan dan masyarakat yang ada di sekitar hutan, mengingat hutan juga merupakan sumber ekonomi masyarakat. “Hutan yang ada harus menjadi sumber ekonomi masyarakat. Namun perlu diingat, pemanfaatan hutan ini tidak boleh sedikit pun menurunkan kualitas dan kuantitas hutan kita,” kata Gubernur. Hal ketiga yang disampaikan oleh Gubernur adalah terkait dengan masalah regulasi. Gubernur meminta Kepala Dinas Kehutanan dan Kepala BPMPT untuk meninjau kembali regulasi terkait perizinan pemanfaatan kayu hutan selama ini. “Saya minta agar dapat menyiapkan regulasi yang menopang fungsi-
Di dampingi Kepala Dinas Kehutanan NTB Ir. Husnanidyati Nurdin (baju coklat), Gubernur NTB turun lapangan melakukan sidak terhadap pembalakan liar di wilayah NTB
fungsi hutan, untuk jangka panjang, agar hutan kita tetap terjaga dan terpelihara,” ungkapnya. Terdapat dua bentuk regulasi yang perlu diperhatikan, yaitu regulasi koordinatif dan regulasi taktis. Regulasi koordinatif terkait regulasi yang melawan praktik pembalakan liar selama ini. Sementara, regulasi
taktis terkait dengan regulasi yang nyata, riil dan memiliki efek jera bagi pelaku pembalakan liar. Selain itu, Gubernur meminta kepala SKPD terkait untuk mendata dan menginventaris pelaku illegal logging yang melakukan aksinya selama ini, baik perorangan maupun koorporasi. -Naniek I. Taufan
Gubernur NTB melakukan Rapat Koordinasi dengan instansi dan SKPD terkait.
Persoalan Gender masih Timpang
Wakil Gubernur NTB dalam perlindungan sosial korban tindak kekerasan
Seringnya terjadi tindak kekerasan yang menimpa kaum perempuan dan anak-anak disebabkan karena masih adanya ketimpangan persoalan gender yang terjadi di tengah masyarakat. Menurut Wakil Gubernur NTB, H. Muh. Amin, pemahaman tentang kesetaraan gender ini yang harus diluruskan dan ketimpangan gender harus dikikis. Dalam fungsi sosial, posisi perempuan dan laki-laki adalah sejajar, seharusnya saling melengkapi. Namun, kaum perempuan masih saja kerapkali menjadi korban diskriminasi dan eksploitasi, seperti halnya korban perdagangan manusia. Hal ini disampaikan Wagub NTB dalam kegiatan hari kesetiakawanan sosial nasional di Mataram, Nusa Tenggara Barat. Untuk membahas permasalahan tersebut, Direktorat Rehabilitasi Sosial Tuna Sosial Korban Perdagangan Orang Kementerian Sosial RI melalui Dinas Sosial Kependudukan dan Catatan Sipil Provinsi Nusa Tenggara Barat meng-
gelar seminar perlindungan sosial korban tindak kekerasan. Kegiatan ini dihadiri 125 orang yang terdiri dari perwakilan pemerintah provinsi, kabupaten/kota, tokoh agama tokoh masyarakat dan organisasi lainnya. Seminar ini diaksanakan dalam rangka mensinergikan kebijakan Pemerintah Provinsi NTB dengan stakeholder di kabupaten dan kota serta organisasi sosial yang ada di NTB, agar tahu bagaimana dan dengan cara apa yang harus diambil untuk menangani korban tindak kekerasan. “Melalui kegiatan kami berharap dapat memberi pemahaman kepada masyarakat, untuk bisa lebih membuka diri atas masalah yang dialami dalam rumah tangga, khususnya bagi anak, perempuan dan pekerja migran di NTB,” ungkap Kepala Dinas Sosial Dukcapil Prov. NTB, H . Ahsanul Khaliq, S.Sos. Perempuan memiliki peran yang penting dalam pembangunan. Jika menilik dari perjuangan dan perannya, perempuan sepatutnya berada di posisikan yang dimuliakan. Namun begitu, dewasa ini masih saja terjadi kasus-kasus kekerasan terhadap perempuan. Untuk itulah Wagub NTB mengimbau agar berbagai elemen masyarakat turut terlibat aktif dalam mengedukasi masyarakat tentang pentingnya mencegah tindak kekerasan maupun upaya yang harus dilakukan dalam menangani korban kekerasan terhadap wanita dan anak. “Aktifkan kembali peran lembaga dan organisasi keagaaman seperti forum remaja masjid, serta berbagai organisasi lintas sektor lainnya, sebagai upaya preventif terhadap tindak kekerasan, khususnya yang terjadi terhadap perempuan dan anak. Mencegah jauh lebih baik daripada mengobati,” katanya. -Naniek I. Taufan
20
Nine
Edisi 924/ 24 - 30 Oktober 2016
Fitri Nugrahaningrum
Kekurangan bukan Kelemahan Dunianya memang gelap. Hanya seberkas cahaya samar yang dapat ditangkap oleh sisa-sisa indra penglihatannya (mata) bagian kiri. Namun, mata hatinya senantiasa bercahaya benderang bagi anak-anak dan para perempuan yang ada di sekitarnya. Fitri Nugrahaningrum memang seorang tuna netra yang tidak bisa melihat seluruh benda-benda secara nyata dengan kedua matanya.
S
Fitri (tengah) bersama pengurus Pertuni
ejak usianya 12 tahun, ia mulai kehilangan penglihatannya. Dan pada tahun 1998, saat duduk di kelas 2 SMA, ia telah kehilangan penglihatannya secara total. “Saya tidak lagi bisa melihat, buta total saat kelas dua SMA,” ungkap Fitri. Tetapi kekurangan yang ada dalam dirinya itu tidak membuatnya menjadi sosok yang lemah apalagi harus dikasihani. Mata hatinya yang peka mampu merasakan semua yang ada di dekatnya dengan hati, perasaan dan empatinya yang besar untuk mengangkat harkat, martabat dan kehormatan orang lain. Dalam kekurangannya itu, ia justru mampu mendorong dan memotivasi serta memberi manfaat bagi orang lain. Kegigihan dan keikhlasannya untuk berjuang menaklukan semua kendala dan
rintangan dalam kerja sosial yang dijalankannya, membuatnya layak disebut perempuan tangguh. Bagaimana tidak, dengan keterbatasannya sebagai tuna netra, perempuan asal Solo yang sejak tahun 2011 sudah tinggal di Kediri Lombok Barat
ini, telah peduli pada pendidikan anak-anak yang tinggal di sekitar lingkungannya dengan mendirikan Taman Belajar yang diberi nama Samara (Satelit Masa Depan Negara), dengan moto cerdas berkualitas indah terkemas. Di rumah pribadi milik suaminya yang berdiri di atas lahan 4 are itulah, ia dan suaminya Muhammad Zaki berbagi ruangan dengan anak-anak dari usia dini hingga lansia yang belajar di sana secara gratis. Di rumah yang sesungguhnya merupakan tempat usaha produksi peci suaminya itu ‘disulapnya’ menjadi ruang-ruang kelas dengan berbagai sebutan yang memotivasi, seperti kelas Smart dan kelas Ilmuwan serta kelas lainnya. Penamaan kelas tersebut sengaja diberikan selain sebagai motivasi juga sebagai doa untuk
Kerjasama antar orang tua dan anak di Samara
Gerakkan Potensi Sekitar Ada empat ruangan yang selalu berganti nama sesuai dengan kelas yang masuk. Anak-anak usia 2 tahun masuk hanya sekali dalam sepekan yaitu hari Jumat yang pendidikannya lebih dititikberatkan pada wali murid atau kelas parenting. Melalui wali murid ini, Fitri ingin menyentuh lingkungan dasar bagi tumbuh kembang anak-anak yang sehat bukan hanya fisik tetapi juga psikis mereka. Para wali murid mendapat pelajaran tentang membangun kehidupan yang sehat dalam lingkungan dan hal-hal lain yang bersifat praktis serta dibutuhkan untuk tumbuh kembang anak seperti belajar adab dalam berbagai hal. Orang tua juga secara bersama-sama belajar tentang kebersihan untuk anak-anak mereka termasuk sikat gigi, adab berpakaian, ucapan-ucapan yang baik kepada anak. Samara kerapkali mengadakan lomba-lomba bagi wali murid seperti lomba kerjasama orangtua dan anak. Tidak ada pembelajaran lebih pada anak-anak usia 2 tahun ini melainkan mereka diajarkan bernyanyi dan pembagian makanan sehat. “Mengajarkan anak-anak untuk bisa percaya diri sejak usia dini,” ungkap Fitri yang lulusan Pendidikan Luar Biasa FKIP Universitas Sebelas Maret Solo ini. Di universitas yang sama, Fitri juga menyelesaikan S2-nya pada Ilmu Penyuluhan dan Pengembangan Masyarakat. Anak-anak usia 3 tahun masuk tiap Senin dan Kamis untuk belajar mengenal huruf dan kegiatan lain bermain sambil belajar. “Anak-anak usia empat
tahun, pra TK diajarkan untuk mandiri dan pembelajaran pra TK seperti belajar baca, tulis, berhitung dan belajar serta belajar melipat, origami dan lainnya yang merangsang motorik mereka,” ujar Fitri yang sejak tahun 1998 juga mendidirikan Yayasan Al Fitrah di Solo. Seperti halnya Taman Belajar Samara di Lombok, Yayasan tersebut didirikan oleh Fitri atas kepeduliannya pada anak-anak yang kurang beruntung. Kepedulian Fitri pada anak-anak lebih karena ia menganggap bahwa anak-anak adalah investasi dunia dan akhirat. Namun bedanya, Samara Lombok belum merupakan yayasan melainkan hanya taman belajar. Menurutnya biaya untuk proses membuat yayasan sangat besar. “Ketimbang dana yang besar itu untuk buat yayasan lebih baik kami pakai lebih dahulu untuk kebutuhan anak-anak dan kebutuhan lainnya,” kata perempuan kelahiran 18 Juni 1979 ini. Bagaimana tidak, Fitri masih banyak membutuhkan biaya untuk operasional Samara seperti untuk memberi honor bagi para guru yang notabene mereka itu mantan TKW. Belum lagi ia harus membiayai kegiatan-kegiatan outbond, biaya sewa mobil untuk antar jemput penyandang difabel, biaya bahan-bahan untuk kursus bagi para ibu dan lainnya. Dengan tangan dan pikirannya sendiri, peraih “She Can dari Tupperware tahun 2012” dan Anugerah Hero dari Kick Andy tahun 2014 serta beberapa penghargaan lainnya ini mendidik dan menggerakkan semua potensi yang ada di sekitarnya semampu yang ia bisa. -Naniek I. Taufan
Inspirasi Orang yang senang berlari memiliki motivasi yang berbeda. Ada yang berlari untuk dirinya sendiri, ada yang berlari untuk kepentingan orang lain. Berlari sejauh 3000 km di 184 negara merupakan proyek yang dilakoni Claire McFarlane sebagai bentuk kepedulian terhadap korbankorban pemerkosaan.
Fitri Nugrahaningrum
anak-anak didiknya. “Penamaan kelas itu sebagai doa dan harapan kami ingin menjadikan anak-anak yang terdidik, berilmu, cerdas dan brilian sesuai maksud dari namanama kelas tersebut,” ujar Ketua Persatuan Tuna Netra Indonesia (Pertuni) NTB ini. Tidak kurang dari 400 orang yang belajar di Samara sampai saat ini dengan telah menelurkan 600 alumni. Mereka ini terdiri dari anak-anak PAUD usia 2-4 tahun dan juga anak-anak usia SD dan SMP yang belajar di Tempat Pendidikan Anak (TPA). Selain itu, Samara juga membina remaja usia SMA dan para penyandang disabilitas. Ditambah lagi para ibu yang belajar mengasah keterampilan membuat kue dan produksi rumah tangga lainnya. Melihat banyaknya orang yang belajar di sini, janganlah berpikir bahwa Samara memiliki fasilitas yang mentereng dengan donatur yang besar. Dua hal ini sesungguhnya menjadi kendala yang sangat berarti bagi Samara. Di samping itu dana Samara juga diperoleh dari persentase usaha para ibu yang telah ia latih keterampilan membuat kue dengan seluruh pembiayaan dari hadiah uang Rp 8 juta saat Fitri mendapatkan penghargaan “She Can Tupperware tahun 2012”. Persentase itu pun jika kue hasil buatan para ibu di lingkungan tersebut dipasarkan oleh Samara. Tetapi sejauh ini Samara tetap dapat berjalan karena ketekunan, kesabaran dan kegigihan Fitri yang didukung sepenuhnya oleh suaminya dalam menghadapi berbagai tantangan dan kendala tersebut. Fasilitas yang ada di
Samara sangatlah sederhana bahkan lebih cocok disebut serba kekurangan, terutama ruangruang kelasnya yang terbatas. “Di sini anak-anak sekolah ‘saling gusur’ karena harus bergantian memakai ruang kelas,” ungkap Fitri tersenyum. Selain itu, biaya untuk kelangsungan taman belajar ini dibiayai sendiri oleh Fitri dan suaminya. Mereka selalu menyisakan rezeki untuk kepentingan taman belajar ini. Satu dua bantuan yang datang, meskipun terbatas diakui Fitri sangat membantu mereka. Namun begitu, Fitri tidak pernah mengeluh melainkan terus memperjuangkan taman belajar ini agar senantiasa hidup demi anak-anak dan mereka yang membutuhkan. Membiayai begitu banyak orang yang belajar di Samara dengan kemampuan sendiri, sempat membuat nada sumbang ‘mata curiga’ bahwa Fitri tengah memanfaatkan anak-anak dan warga belajar Samara untuk mendapatkan dana yang besar. “Ini yang membuat anak-anak sempat bubar waktu itu,” kata Fitri. Namun dengan keteguhan hati, Fitri melewati semua itu dengan sabar demi mencapai tujuannya untuk menjadikan anak-anak didik Samara memiliki tujuan hidup yang mampu meningkatkan harkat dan derajat mereka dengan ilmu. Begitu pula dengan penyandang disabilitas dan juga para ibu yang belajar di taman belajar ini. “Saya tidak mau sibuk mendengarkan celoteh yang tidak produktif. Lebih baik fokus mengurus mereka yang belajar di Samara,” ujarnya.
Fitri mengajar anak-anak mengaji
–Naniek I. Taufan
P
Claire McFarlane
erempuan kelahiran Afrika Selatan, April 1978 ini menuturkan pengalaman yang membuatnya peduli dengan korban pemerkosaan. Tahun 1999, saat berusia 21 tahun, Claire kuliah di Paris, Perancis. Selain kuliah, ia bekerja part time di sebuah pub. Suatu malam, pulang dari pub ia disergap pria besar dan bertenaga kuat. “Aku diperkosa dan disiksa hingga sekarat. Tapi aku masih bisa memohon untuk dilepaskan dan dibiarkan tetap hidup. Akhirnya aku ditinggalkan begitu saja di jalanan. Aku berusaha bangkit dan mencari pertolongan hingga mendapat perawatan di rumah sakit. Perlu waktu tiga bulan untuk pemulihan dengan obat maupun terapi,” ungkap perempuan yang kini menjadi survivor korban pemerkosaan ini Kasus pemerkosaan ini ditangani polisi Perancis. Dari hasil investigasi, diketahui pelaku sudah sering melakukan aksi serupa. Claire yang sudah pulih memilih untuk pulang ke Australia. Ia berharap bisa melupakan semua kejadian yang menimpanya. Usaha untuk “move on” hampir gagal karena Claire mengalami fase penolakan. Ia menjadi trauma. Sering mengalami ketakutan dan sulit untuk berkomunikasi. “Aku mengalami fase ini sekitar 10 tahun. Tetapi, aku berhasil men-
Edisi 924/ 24 - 30 Oktober 2016
Claire McFarlane
5
Lari 3.000 Kilometer di 184 Negara
gubah hidupku. Aku konsultasi dengan psikolog dan pulih kembali. Aku kuliah dan bekerja lagi,” kenang perempuan yang bekerja di bidang desain grafis ini. Setelah benar-benar pulih, Claire kembali ke Perancis, tetapi tak mau tinggal di Paris. Ia memilih bekerja di Lyon. Dari Lyon, ia pindah lagi ke Inggris, kemudian ke Swiss. Tahun 2009, polisi Perancis menghubunginya agar datang ke Paris. Ada beberapa orang yang mirip pelaku yang ditangkap. Peristiwa yang sudah ia lupakan itu muncul lagi. Demi mendapatkan keadilan, ia pun pergi ke Paris dan membantu polisi menangkap si pelaku. “Dari tahun 2009 hingga 2011, aku bolakbalik untuk mengurus kasus ini. Sistem hukum yang berlaku di Perancis sangat beda. Korban harus membayar untuk menjebloskan pelaku kejahatan ke penjara. Karena sudah telanjur, akhirnya aku lakukan segalanya agar pelaku di penjara. Sidang berakhir tahun 2011. Pelaku terbukti bersalah dan dihukum 12 tahun penjara. Tetapi, ia hanya menjalani 3,5 tahun saja. Aku sangat kecewa. Tahun 2015 baru selesai semua urusan. Kasusku ini karena yang pertama, menjadi jurisprudensi di Perancis,” jelas Claire.
BICARA KEPADA DUNIA Tahun 2014, Claire mulai mempublikasikan apa yang dia alami kepada media massa di Australia. Ternyata banyak yang merespons. Beberapa orang yang pernah menjadi korban pemerkosaan pun menjadi menghubunginya. Dari situ, Claire yakin, jika korban hanya diam, akan berbahaya bagi hidupnya. Ia pun menyarankan mereka untuk berbicara dengan orang-orang yang tepat seperti psikolog serta bergabung dalam support group. Sebagai langkah yang lebih luas, Claire memilih berbicara kepada dunia dengan membuat program Beach Run for Awareness (BRA). Di tiap negara yang ia kunjungi, ia berlari di pantai sejauh 16 kilometer. “Aku menghabiskan waktu 16 tahun, dari 1999 hingga 2015 untuk kasusku. Inilah alasan aku berlari 16 kilometer di pantai di tiap negara yang aku kunjungi. Untuk Indonesia, selain di Bali aku juga akan berlari di Nanggroe Aceh Darussalam. Total 3000 kilometer yang akan aku tempuh selama tiga tahun. Start pertama sudah dilakukan 18 Juli 2016 di Afrika Selatan,” ujar pecinta kopi pahit dan penganut pola hidup sehat ini. Dari Afsel, Claire berlari di Australia, Selandia Baru, Fiji, Papua Nugini, Solomon, Indonesia (Bali), Sri Lanka, India, Thailand, Brunei Darussalam, Malaysia, Indonesia (NAD) dan terus keliling hingga mencapai 184 negara. Ia mengaku banyak dibantu teman-temannya untuk menyukseskan program ini. Di Bali, Claire berlari Pantai Sanur, Sabtu (22/10). Acara ini didukung Mercure Resort Sanur.
tkh/larisa armstrong
Penyuka yoga dan meditasi ini menuturkan dirinya memilih lari karena lari bagus untuk kesehatan. Dengan lari, stres menjadi hilang, membuka wawasan baru, serta mengalahkan diri sendiri. Selain lari sendiri, lari bersama akan menginspirasi orang lain untuk ikut. Di Papua Nugini, ada 2000 pelari yang ikut berlari bersama Claire dan ini membuatnya terharu. Di negara-negara yang sudah dilalui, ia menemukan berbagai cara untuk menunjukkan kepedulian. Dari programnya ini, ia menemukan korban-korban pemerkosaan yang akhirnya mau bercerita setelah diajak berlari. “Dari penelitian yang pernah aku baca, 1 dari 4 perempuan pernah
mengalami kekerasan seksual dan 1 dari 6 laki-laki juga pernah mengalami kekerasan seksual saat berusia dibawah 18 tahun. Di beberapa tempat, korban pemerkosaan juga dianggap aib bagi keluarga atau kelompoknya. Hal inilah yang harus disikapi. Perlu ada peningkatan kepedulian terhadap korban pemerkosaan,” tegas perempuan yang fasih bahasa Inggris, Perancis, dan Afrikaans ini Impian Claire adalah membuat buku yang merangkum semua perjalanannya dan menjadi pembicara yang tampil di TEDx di Amerika Serikat. Ini adalah forum penting dimana orang bisa berbicara selama 15 menit. Satu hal yang juga ia impikan adalah membuat event BRA tiap tahun. “Aku ingin mengumpulkan dana melalui BRA dan menyumbangkan untuk orang-orang yang memerlukannya,” tegasnya. -ngurahbudi@cybertokoh.com
Claire bersama pelari yang mendukungnya di Pantai Sanur
“Aku diperkosa dan disiksa hingga sekarat. Tapi aku masih bisa memohon untuk dilepaskan dan dibiarkan tetap hidup. Akhirnya aku ditinggalkan begitu saja di jalanan. Aku berusaha bangkit dan mencari pertolongan hingga mendapat perawatan di rumah sakit. Perlu waktu tiga bulan untuk pemulihan dengan obat maupun terapi”
Usianya masih muda, 23 tahun. Namun, kalau diajak berbincang tentang kepemudaan dan nasionalisme, ia sangat bersemangat. Akhirakhir ini, kegiatannya padat dengan diskusi-diskusi tentang kepemudaan dan tantangan masa depan bangsa Indonesia. Nanda, begitu sapaan akrab gadis bernama lengkap Tianda Kusuma Dewi, saat ini aktif di sejumlah organisasi kepemudaan GMNI (Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia), Voxmuda, dll.
K
Woman on Top
Edisi 924/ 24 - 30 OKTOBER 2016
etika ditanya masih relevankah tetap memelihara spirit ‘Sumpah Pemuda’ di era globalisasi saat ini, maka dengan tegas alumni jurusan Hubungan Internasional FISIP Universitas Nasional, Jakarta, ini pun mengatakan, amat sangat masih. “Spirit ‘Sumpah Pemuda’ masih sangat relevan sampai sekarang ini, sekalipun kita berada di era globalisasi dimana komunikasi dan teknologi semakin canggih sehingga begitu mudah kita berkomunikasi antara satu dengan lainnya, menerima informasi dari mana pun. Saya merasa justru di era seperti ini kita para pemuda harus mampu menjaga spirit ‘Sumpah Pemuda’ agar kita tetap bersatu, tidak terpecah-pecah yang pada akhirnya dapat mengikis rasa nasionalisme kita,” ungkap Nanda yang juga Sekre-
Tianda Kusuma Dewi
bersikap demikian. Karena, masih banyak pemuda Indonesia yang memiliki rasa nasionalisme yang tinggi dan tidak mudah ‘termakan’ intrik-intrik politik yang ingin memecah belah. Harusnya, para pemuda kita mengingat kembali tentang sejarah lahirnya Sumpah Pemuda, dimana ketika itu tanggal 27-28 Oktober 1928 para pemuda Indonesia dari berbagai daerah berkumpul merumuskan persatuan; Satu Tanah Air, Satu Bangsa, Satu Bahasa, sehingga akhirnya lahirlah Sumpah Pemuda. MENYATUKAN PANDANGAN DENGAN TNI Saat ini, kata Nanda yang juga sebagai salah satu pendiri organisasi kepemudaan ‘Voxmuda’ bersama teman-temannya dari berbagai organisasi kepemudaan tengah giat berdiskusi tentang bagaimana caranya membangkitkan rasa nasionalisme khususnya di kalangan para pemuda, menyatukan kembali pandangan tentang persatuan dan kesatuan Indonesia. “Kami berencana audensi dengan pihak TNI untuk membicarakan ini. Kami ingin bekerja sama
dengan TNI, ibaratnya menyatukan pandangan. Kami ingin TNI karena merasa ‘elite-elite’ kita yang ada saat ini ‘bermain’ untuk kepentingan sendiri-sendiri/kelompoknya. Kami merasa mereka tidak akan mau mendengar suara kami,” ujarnya. Bahkan di kampus pun, gerakan para pemuda yang ingin mendiskusikan tentang kebangsaan dan nasionalisme, terkesan dibatasi. “Di kampus aku pun begitu, juga di Universitas Indonesia pun kami kesulitan untuk mengadakan acara yang bertema nasionalisme. Tidak tahu kenapa begitu. Kami para pemuda menjadi merasa tidak nyaman dan ‘terancam’ dengan adanya ‘policy’ seperti itu. Padahal kami para pemuda memerlukan sebuah gebrakan yang bisa mempersatukan, meningkatkan nasionalisme. Tapi sulit. Karena itu ada rencana, salah satunya dengan audensi dengan pihak TNI, “ ungkapnya. Nanda sendiri mengaku mulai tertarik berbicara tentang kebangsaan saat dia di bangku SMA, namun ketika ia mahasiswa ketertarikannya semakin kuat apalagi ia menimba ilmu di jurusan Hubungan Internasional dimana sedikit ban-
Tak puas dengan sepak terjang di dunia akting, Rio Dewanto menjajal tugas baru sebagai produser dalam film “Wonderful Life”. Untuk pertama kalinya, dirinya menjadi produser film berdurasi panjang. Suami Atiqah Hasiholan ini, sengaja memilih profesi produser karena dianggap sejalan dengan pendidikannya.
Tianda Kusuma Dewi
yak mendapat pengetahuan tentang politik. “Waktu aku di kampus, ketertarikan makin kuat karena bertemu dengan teman-teman sehaluan. Kami sering terlibat diskusi-diskusi tentang kebangsaan, membicarakan bagaimana Indonesia ke depan,” katanya. Dari pengetahuan yang didapat dari berbagai diskusi juga keterlibatannya di berbagai organisasi kepemudaan membuat Nanda menjadi makin ‘gemas’ dengan kondisi yang ada dan ingin berbuat sesuatu untuk bangsa dan negara. “Jadi sekarang ini selain aku sibuk mempersiapkan diri untuk melanjutkan pendidikan ke S2, juga sibuk berorganisasi,” kata Nanda yang sempat aktif di Forum Komunikasi Mahasiswa Hubungan Internasional se-Indonesia. -dianaruntu@cybertokoh.com
“KESAKTIAN” SANG PELAYAN
Salam Senyum,... “Uang Anda seratus ribu akan kami gandakan menjadi satu juta, asalkan dapat memenuhi persyaratan yang kami minta”....... Berita penggandaan uang menjadi topik hangat di beberapa media, dimana Pelakunya saat ini sudah ditangkap aparat karena “kesaktian” yang dia miliki dianggap meresahkan masyarakat yang banyak merasa dirugikan. Naaaahhh... kali ini kita akan membahas bagaimana Sang Pelayan dapat menunjukkan “kesaktiannya” sehingga pelanggan merasa nyaman dan tentu... “kesaktian” ini tidak akan ditangkap oleh aparat... heheheheh... Seorang ibu tergesa-gesa menuju sebuah loket bank karena ibu tersebut baru saja Kehilangan tas beserta isinya. Di dalam tas yang hilang terdapat buku tabungan, kartu ATM, serta beberapa identitas. Dengan wajah khawatir dia menceritakan hal tersebut ke petugas Bank atau lebih dikenal dengan Customer Service (CS). Dengan pengalaman bertahun-tahun telah terjun di dunia layanan. Dapat diamati bagaimana pelayan tersebut melayani si ibu. Apa yang terjadi.....? Ibu tadi keluar dengan wajah yang masam, penuh amarah, dan tentu tidak ada senyum sama sekali di raut wajahnya. Sudah bisa ditebak... Permintaan ibu tadi untuk segera mengganti buku tabungan dan kartu ATM yang hilang ditolak oleh CS karena persyaratannya tentu belum dipenuhi. Cerita lainnya seperti ini.... malam minggu ceria ketika saya memesan makanan untuk dibawa pulang di sebuah rumah makan. Berharap akan makan bersama di rumah dengan keluarga, saya cepat-cepat membayar pesanan
ketika makanan sudah siap untuk dibawa pulang. Namun..sungguh di luar dugaan.. Sampai di rumah saya buka pesanan makanan itu ternyata isinya bukan seperti yang saya pesan. Semua dengan menu yang berbeda... oooohhh sepertinya tertukar dengan pelanggan lain... Dengan perasaan kecewa saya kembali ke rumah makan tadi untuk bermaksud menukar. Namun... apa yang terjadi,...Saya ceritakan kepada pelayan bahwa makanan tertukar dan makanan yang saya bawa sama sekali bukan makanan yang saya pesan. Dengan alasan-alasan lain di antaranya kami sekeluarga kurang menyukai makanan yang dibawa, kemudian adanya pantangan terhadap jenis sayuran dan daging, saya ceritakan semuanya agar dapat dimengerti sekaligus diganti oleh pelayan rumah makan tadi. Hmmmmmm... ternyata saya ditanggapi dengan dingin, wajah bersungut-sungut, menyalahkan sang kasir, dan berteriak kepada juru masak untuk dibuatkan kembali. Walaupun akhirnya saya pulang dengan membawa makanan pengganti yang saya pesan dengan benar, hati saya tetap tidak puas dengan layanan rumah makan tadi. Pembaca Dhani’s Art in Service yang setia.... sebenarnya dimana letak Kesalahan Pelayanan terhadap pelanggan tadi. Selain hal-hal teknis, ternyata ada satu yang sangat penting. Ketika pelanggan bercertita tentang hal yang menimpanya, sang pelayan terkesan kurang ber ‘empati’. Kenapa demikian? Bukankah sudah diganti dengan makanan yang sesuai permintaan..atau bukankah sudah diberikan persyaratan-persyaratan agar buku tabungan dan kartu ATM dapat
tergantikan......???? (sesuai cerita di atas). Betuuul..... Menjadi seorang pelaku kemudian pengamat layanan serta trainer layanan, dapat saya berikan masukan bahwa sebenarnya “KESAKTIAN” pelayanan dapat tercipta ketika dia ber-EMPATI dengan bersungguh-sungguh, sebelum menemukan dan memberikan solusi terhadap kejadian yang menimpa pelanggan. Saat ini pelaku layanan lebih mementingkan solusi yang akan diberikan, namun mengindahkan rasa empati. Padahal... coba dua buah cerita tadi kita lakukan dengan si pelayan melakukan empati yang bersungguh-sungguh. Walaupun keinginan pelanggan belum dapat dipenuhi tapi saya yakin, perasaan lega, perasaan diperhatikan dan dipedulikan oleh pelayanan akan memberikan perasaan yang nyaman kepada pelanggan. Begitupun sebaliknya,walaupun seandainya keinginan pelanggan dapat terpenuhi, tetapi rasa empati tidak Nampak dari pelayan, hal itu akan berdampak pada “penerimaan yang terpaksa” dari pelanggan. Apalagi, jika kedua-duanya (tidak ada rasa empati dan tidak ada solusi), itu menjadi pelayanan yang sangat buruk. Dan... bagaimana cara atau tips nya agar Empati dapat dijadikan sebagai “kesaktian” bagi pelayan?... Yang pertama..PINTAR MEMBACA RAUT WAJAH. Sebagai seorang pelayanan harus mampu membaca raut wajah dan bahasa tubuh orang dengan baik karena ekspresi wajah menunjukkan perasaan yang sesungguhnya yang tidak disuarakan. (Daniel Pink : A Whole New Mind) Yang Kedua.. AKTIF MENDENGARKAN. Seorang pelayan sebaiknya dilatih agar dapat menjadi seorang pendengar yang baik. Ada dua komponen yang harus dilakukan, yaitu dia harus merasa tertarik dengan apa yang dikatakan oleh klien, dan dia harus menyimak dengan fokus apa yang diceritakan oleh orang kepadanya. Selanjutnya yang ketiga adalah MENEMPATKAN DIRI KITA KE DALAM POSISI ORANG
19
Rio Dewanto
Pemuda harus Jadi Ikon Perubahan taris Umum di Yayasan Aku dan Bung Karno ini. Di era sekarang, tantangan pemuda makin berat. Karena masuknya budaya asing, paham-paham asing, yang jika tidak hati-hati justru bisa menggerus jati diri kita sebagai bangsa Indonesia. Sekarang ini, katanya, sebagian pemuda seolah sudah lupa makna Sumpah Pemuda, rasa nasionalisme memudar. Misal, mereka lebih menyukai budaya asing, entah itu budaya barat ataupun Korea, dll, sehingga lupa pada budaya sendiri. Mudah terjebak dengan isu-isu yang memecah belah yang sebenarnya dimainkan oleh pihak-pihak tertentu untuk menggerus kesatuan para pemuda dan rasa nasionalisme. “Tidak usah jauh-jauh melihatnya, di lingkungan teman-teman saya saja banyak yang bersikap cuek dan tidak peduli dengan keadaan bangsa sendiri. Mereka lebih asyik menikmati budaya barat atau Korea, dll. Padahal pemuda Indonesia seharusnya menjadi ‘ikon perubahan’, ‘agent of change’. Tapi yang terjadi sebagian pemuda malah larut dengan kondisi yang ada,” paparnya. Memang, tidak semua pemuda
Edisi 924/ 24 - 30 OKTOBER 2016
LAIN. Hal ini termasuk lebih sulit melakukannya karena manusia mempunyai sifat ‘ego’ yang tinggi. Salah satu caranya adalah melatih fokus dengan sudut pandang yang berbeda. Mulai berlatih dengan hal-hal kecil seperti ketika antre di sebuah kasir, tidak mengeluh dengan antrean itu, tetapi bagaimana memfokuskan ketika kita yang menjadi kasirnya dan ditunggu pelanggan dengan antrean yang panjang... he he he heh. Disaat itulah kita merasakan posisi sebagai orang lain.. Dan yang keempat adalah dengan MEMPERHATIKAN BAHASA TUBUH SENIDIRI. Banyak orang tidak tersadar bahwa bahasa tubuhnya sendiri yang membuat rasa empati itu tidak tercermin. Contoh kecil, ketika pelanggan bicara, tangannya terlipat,...atau ketika pelanggan bercerita ia menggosok-gosok dagunya, atau menutup mulut dan menggarukgaruk hidung. Masih banyak lagi bahasa tubuh sendiri yang jarang terperhatikan oleh diri sendiri. Dan, itu membuat rasa empati dari pelayan tidak tercermin kepada pelanggan. Malah menimbulkan kesan yang buruk. Pembaca setia,...dengan keempat hal di atas, sebagai pelayan sudah dapat dikatakan memberikan “kesaktian” dengan menunjukkan empati yang bersungguh sungguh. Dan itu menjadikan senjata untuk kenyamanan pelanggan. Bukankah kata orang bijak “Empati itu seperti mencoba sepatu orang lain, dan simpati itu diibaratkan memakai sepatu tersebut?”. Ayo... mulai untuk berlatih... Ingin lebih dalam mengetahui dan cara mempraktikkan hal tersebut dalam dunia layanan? Silahkan hubungi manajemen kami. Dengan kesempatan yang diberikan, kami siap membantu perusahaan/instansi Bapak/Ibu. Salam 3SP Salam Senyum Sang Penyihir Sri Sumahardani Sri Sumahardani3sp@gmail.com
“L
atar belakang pendidikan saya advertising. Strategi advertising bisa diaplikasikan sebagai produser film,” kata Rio Dewanto, usai jumpa wartawan terkait film “Wonderful Life” di Eclectic Sutos Surabaya. Peran baru rupanya tidak mudah dilakukan bagi Rio Dewanto. Bintang film “Filosofi Kopi” ini pun mengaku kelimpungan. Segala hal harus terencana dengan baik di tangannya.
Jadi Produser sebagai Pelajaran Hidup “Saya pusing karena semua tanggung jawab ada pada produser. Misalkan, di lapangan berhenti syuting itu kan tanggung jawab produser,” tutur Rio Dewan-
“Saya pusing karena semua tanggung jawab ada pada produser. Misalkan, di lapangan berhenti syuting itu kan tanggung jawab produser,”
Rio Dewanto
6
to sambil tersenyum. Meski mengaku pusing, aktor kelahiran 28 Agustus 1987 ini menganggap peran barunya sebagai pelajaran hidup. Banyak hal baru yang ia temukan saat menjadi produser. “Memang untuk film pertama kalinya. Banyak hal dan banyak belajar. Dibalik layar ada keseruan. Pastinya banyak belajar dari buku, sama teman-teman produser juga,” ungkap Rio Dewanto. -Dona
Dinsos Ngawi Gelar Pelatihan Untuk memberi keterampilan pada masyarakat perlu diadakan pelatihan. Hal ini dilakukan Dinas Sosial dan Transmigrasi Ngawi dengan mengadakan pelatihan ketrampilan bagi masyarakat usia produktif. Pelatihan digelar selama 30 hari. Kesempatan inipun digunakan sebaik-baiknya oleh calon masyarakat. “Pelatihan akan dilaksanakan tiap tahun oleh Dinsos. Kami berharap ini bisa terekspos dan diketahui masyarakat,” papar Sunarto, S.Sos, Kepala Dinas Sosial dan Transmigrasi Ngawi di kantornya. Ia berharap pelatihan bermanfaat bagi orangtua yang ingin anaknya memiliki keterampilan namun tidak memiliki dana untuk ikut kursus. Kegiatan yang dilaksanakan Dinsos tidak berbayar alias gratis. Untuk gelombang pertama, program pelatihan untuk kecantikan dan bengkel. Menurut Yeni dan Mariana dari lembaga pendidikan Kencana Dwi Ngawi, pelatihan kecantikan yang diberikan antara lain cuci rambut, blow, creambath, smoothing, toning dan macam perawatan rambut lain. Gelombang kedua akan dilaksanakan pada Oktober nanti. Sunarto menambahkan di era pasar bebas Asia, masyarakat harus mempersiapkan diri dengan mempunyai skill tertentu, karena pengusaha luar negeri dari perdagangan bebas yang masuk memakai tenaga-tenaga yang kompeten, siap pakai. Selain itu juga bahasa asing juga harus dikuasai,” tegas Sunarto. -Eko Setiyowati
18
Life Story
Edisi 924/24 - 30 OKTOBER 2016
Penduduk di Desa Pakraman Menyali, Kecamatan Sawan, Buleleng, merupakan masyarakat yang hidup secara mandiri. Hal ini dapat dilihat dari sebagian masyarakatnya yang mengantungkan hidup dari usaha kreatif utamanya kerajinan aluminum. Salah satu perajin yang sudah lama menekuni usaha kerajinan aluminium adalah Ketut Sukrawenten.
Padukan Aluminium dan Kayu untuk Bokor Inovatif
M
enurutnya, menjadi seorang perajin merupakan pekerjaan yang didapat secara turun menurun. Sejak kecil ia lahir dari keluarga yang telah menggeluti usaha kerajinan bokor aluminium sehingga ia pun secara otodidak memiliki bakat tersebut. Untuk memutus rantai kemiskinan dalam keluarga ia memutuskan untuk merantau ke luar desa namun akhirnya kem-
Ketut Sukrawenten
Aneka jenis kerajinan aluminium inovatif
bali karena lebih senang menjadi seorang perajin. Bokor aluminium desa Menyali memang sudah sangat dikenal baik di Buleleng hingga di seluruh Bali. Sukra tidak perlu jauh-jauh memasarkan barang kerajinannya sebab di Bali pada khususnya sangat memerlukan bokor sebagai sarana upakara. Akan tetapi seiring perkembangan waktu, perajin bokor aluminium yang makin bertambah dan penggunaan bokor yang tidak sekali pakai sehingga menurunkan jumlah produksinya. “Kalau di pasar lokal penggunaan bokor hanya pada saat ada upacara keagamaan saja,” tuturnya. Melihat situasi inilah, sebagai pelaku ekonomi kreatif ia melakukan inovasi terhadap hasil
produksi kerajinannya. Jika dulu Sukra banjir order hanya saat menjelang hari raya namun tidak dengan sekarang. Saat ini ia selalu mendapat pesanan tetap dari artshop-artshop di luar Buleleng utamanya kabupaten Gianyar. Dengan memadukan aluminium dan kayu, Sukra dapat membuat kerajinan inovatif dengan menambah nilai guna produk yang dihasilkan. “Pertamanya kami mencoba membuat hiasan dinding dengan mengombinasikan aluminium dan kayu sehingga tercipta hiasan yang begitu indah,” imbuhnya. Setelah membuat hiasan dinding, dirinya makin giat mencoba menghasilkan produk yang dapat digunakan dalam kehidupan sehari-hari dan memiliki nilai
Proses pembuatan kerajinan hiasan pintu
jual tinggi. “Kami dapat pesanan membuat box yang biasanya terbuat dari rotan sehingga perlu usaha untuk mendapatkan hasil yang memang menyerupai pesanan,” paparnya. Sampai saat ini barang-barang produksinya diterima dengan baik dan telah mampu masuk pasar ekspor. Untuk memenuhi pasar lokal, pria kelahiran 1 Oktober tersebut membuat produk berbahan dasar aluminium seperti pot, gantungan pintu, kotak tisu, kotak buku, dan masih banyak lagi. Beberapa kendala yang dihadapi dalam produksi adalah mahalnya bahan baku aluminium. “Kami beli dekat sini saja agar bisa beli sedikit, kalau beli di Jawa sekali pembelian bisa mencapai
puluhan juta rupiah,” jelasnya. Kendala lain dalam produksi adalah penentuan motif produk. Biasanya dalam produksi ia menggunakan tiga macam motif yaitu motif Bali, Klasik, dan Wajik, namun ketika pembeli membawa motif sendiri cenderung produk yang akan dihasilkan akan gagal. “Kami menggunakan teknik pukul sedangkan motif yang diprint out akan berbeda hasilnya ketika diaplikasikan dengan teknik yang kami gunakan,” jelasnya. Kendala yang paling utama adalah mudah ditirunya produk yang dihasilkan oleh perajin lain. “Semua sudah tahu tekniknya jadi tidak begitu sulit untuk meniru yang lain,” pungkasnya. -wiwinmeliana22@cybertokoh.com
Menikmati Pemandangan Air Terjun Sekumpul Selain wisata pantai, Bali Utara memang dikenal dengan wisata pegunungan yang identik dengan air terjun. Beberapa air terjun di Buleleng memang sudah cukup tenar bahkan keberadaanya dikenal hingga ke mancanegara. Salah satunya adalah air terjun Sekumpul yang berada di Desa Sekumpul Kecamatan Sawan. Air terjun ini berbeda dengan air terjun kebanyakan. Air Terjun Sekumpul bukan hanya terdiri dari satu atau dua air terjun melainkan ada tujuh air terjun yang letaknya terpisah-pisah dan berjauhan. Tujuh air terjun tersebut tersebar di tebing-tebing yang tinggi dan dikelilingi pepohonan hijau yang menyejukkan mata. Ketujuh air terjun tersebut memiliki bentuk dan ketinggian yang berbeda-beda. Dari tujuh air terjun yang ada hanya dua air terjun yang bisa didatangi lebih dekat. Uniknya, dua air terjun yang letaknya berdampingan tersebut memiliki ketinggian dan debit air berbeda. Meskipun dua air terjun ini letaknya bersampingan namun berasal dari dua sumber mata air yang berbeda. Air terjun yang lebih rendah bersumber dari mata air sedangkan air terjun di sebelah kanan (yang lebih tinggi) bersumber dari sungai. Di musim hujan, perbedaan warna air akan sangat terlihat sebab air terjun yang bersumber dari mata air akan tetap bening sedangkan air terjun yang berasal dari sungai akan berwarna coklat keruh. Untuk dapat melihat dua air terjun utama, pengunjung harus menuruni ratusan anak tangga dan menyeberangi sungai
yang cukup dalam. ia berharap dalam pelaksanaanya tetap melibatkan partisipasi Keindahan air terjun Semasyarakat desa. Maka dari itu, kumpul rupanya tidak hanya ke depan ia berencana ingin dikunjungi oleh wisatawan melakukan perluasan kawasan lokal melainkan juga oleh wisata dengan konsep one day in wisatawan asing. Sejak dirasa to the village. “Kami rencanakan jumlah pengunjung semakin ini tahun depan sehingga tamu meningkat, obyek wisata yang datang bisa menginap tersebut akhirnya dikelola selama sehari dengan paket dengan baik oleh desa melatour yang akan disediakan,” lui BUMDes. Perbekel Desa papar pria kelahiran 22 Juli Sekumpul, I Made Suarta 1968 tersebut. mengatakan, sejak ditetapkan sebagai Daerah Tujuan Ia juga menuturkan Wisata, objek wisata tersedalam rencana yang akan but memang sangat dirasakan diterapkan tersebut akan manfaatnya bagi masyarakat mengutamakan konsep Tri I Made Suarta setempat. “Setelah dikelola Hita Karana. “Tamu yang dengan baik, dapat menyerap tenaga kerja datang akan kami kenalkan bagaimana lokal yang cukup banyak,” jelasnya. Hal ini budaya dan keagamaan masyarakat di terlihat dari banyaknya tenaga yang dibu- sini, baik dari segi Prhyangan, Pawongan, tuhkan dalam pengelolaan di antaranya dan Palemahannya,” ungkapnya. Tentu guide lokal, tukang ojek, penjaga karcis, dan rencana tersebut didukung dengan fasilipenjaga parkir. tas yang relevan yang dimiliki oleh desa. Suarta juga menambahkan setelah me- “Untuk pengenalan keagamaan kami sulengkapi fasilitas MCK saat ini pihak BUMDes dah ada Pura sedangan untuk kebudayaan tengah terfokus untuk menyiapkan lahan kami sudah ada panggung terbuka untuk parkir untuk para pengunjung. Tujuannya un- pertunjukan seni,” tambahnya. tuk memberikan kenyaman bagi pengunjung Selain itu, Suarta juga akan menyiapbahkan karena akses jalan menuju air terjun kan fasilatas SDM yang memadai untuk sangat sulit sehingga disediakan juga ojek agar mendukung rencana perluasan kawasan pengunjung tidak kelelahan. “Kami sediakan wisatanya tersebut. Salah satunya adaojek dengan tarif dua puluh ribu rupiah sekali lah penyiapan tenaga guide lokal yang antar,” imbuhnya. berkompeten. “Pihak desa akan memMeskipun dikelola oleh BUMDes namun beri pelatihan agar masyarakat minimal
bisa berbahasa Inggris dan kami juga akan berdayakan ibu-ibu PKK sebagai juru masak untuk para tamu yang mengambil paket tour,” pungkasnya. Dengan berbagai persiapan tersebut pihaknya sangat berharap dapat menjadi desa Sekumpul tujuan wisata desa dengan konsep Tri Hita Karana. –wiwinmeliana22@cybertokoh.com
Air Terjun Sekumpul
Ketika sepuluh tahun yang lalu memutus kan menikah dengan kekasihnya yang se orang aparat penegak hukum, Marina (38), begitu bahagia. Se lain karena cinta yang telah ia jalin dengan kekasihnya itu selama empat tahun sebelum nya, ia juga gembira mendapatkan suami seorang penegak hu kum. “Saya merasa aman hidup bersama nya. Sebagai penegak hukum ia tidak mung kin dengan mudah me langgar hukum karena tentu ia paham benar konsekuensinya bagi pelanggar hukum,” ungkap Marina.
Edisi 924/ 24 - 30 OKTOBER 2016
Suamiku Jadi Suami Keempat
P
ernikahan meriah menjadi awal kebahagiaan Marina. Manisnya madu berumah tangga begitu membahagiakannya. Bertahun-tahun ia mengecap indahnya kehidupan berumah tangga sampai ia memiliki tiga orang anak. Ia begitu bangga dengan pakaian organisasi istri para penegak hukum. Selain ia bekerja, ia juga mendukung karier suaminya dengan aktif dalam organisasi istri penegak hukum di mana suaminya bertugas. Sampai pada tahun keempat pernikahannya, suaminya pindah tugas ke Nusa Tenggara Barat. Begitu mendapat kabar suaminya pindah setelah menyelesaikan pendidikannya, hati Marina sempat berdegup. Ada perasaan aneh yang tidak bisa dijelaskannya kala itu. Namun, ia tidak ingin larut dalam kekhawatiran, tidak pula ingin terlalu memikirkannya meski ia sedikit resah tapi ia abaikan perasaan itu. “Saya hanya diam sejak mendapat kabar itu,” ujarnya. Suaminya sendiri sempat bertanya kenapa ia terlihat murung belakangan itu. Ia hanya menjawab singkat, ia baik-baik saja. Sebelum kepindahan suaminya ke NTB, mereka pun berdiskusi. “Saya tidak mungkin ikut suami karena pekerjaan saya tidak bisa pindah. Kantor saya hanya ada di Pulau Jawa dan tidak ada di NTB. Saya juga memikirkan sekolah anak-anak. Jadi kami memutuskan sementara saya tidak ikut pindah sembari berpikir ulang,” ungkap Marina. Ia dan anak-anaknya ikut mengantar suaminya pindah ke NTB. Setelah semua beres, mencari kontrakan dan mengatur rumah dan berkenalan dengan ibu-ibu di organisasi tempat suaminya bertugas, Mariana dan anak-anaknya kembali ke Pulau Jawa. Masih jelas diingatnya ketika mata suaminya itu merah menahan sedih saat melambaikan tangan di bandara ketika ia meninggalkannya. Tidak lama setelah itu, suaminya kemudian mendapatkan jabatan yang bagus. “Sempat terpikir oleh saya untuk mendampingi suami, tapi kantor berat melepas saya karena keahlian saya yang masih belum ada penggantinya,” katanya. Marina tetap tidak bisa pindah ke NTB. Mereka akhirnya hidup terpisah. Marina tetap mengunjungi suaminya dua
bulan sekali ke NTB. Itu berlangsung selama setahun. Karena kesibukan Marina dan suaminya mereka kemudian jarang punya waktu saling berkunjung. “Kalau sebelumnya dua bulan sekali saya datang, setahun kemudian saya hanya bisa datang tiga bulan sekali,” katanya. Rupanya masalah ini menjadi pemicu suaminya tidak setia. Tanda-tanda bahwa suaminya itu memiliki wanita idaman lain, sudah terbaca oleh Marina sejak kunjungan terakhir Marina ke NTB di tahun 2010. Saat ia mengunjungi suaminya, ia melihat tingkah suaminya mulai lain. “Dia banyak alasan sampai selalu pulang malam ke kontrakan. Padahal saya hanya sekali-sekali saja datang. Saya maklum kalau ia memiliki jabatan kemudian pulangnya selalu malam namun saya sudah mulai curiga ada hal lain,” katanya. Selain itu banyak alasan lain yang membuat Marina patut menduga suaminya sudah jauh melangkah. Sampai akhirnya ia tahu bahwa suaminya memiliki istri simpanan. “Katanya menikah siri,” ujarnya singkat. Pertengkaran demi pertengkaran mulai mewarnai obrolan lewat telepon maupun saat Marina datang ke NTB. Hubungan mereka mulai renggang dan terus merenggang. Sakit hati Marina bagai tersayat sembilu. PAMER KEMESRAAN DI MEDIA SOSIAL Suaminya semakin terang-terangan memperlihatkan istri sirinya itu. “Bahkan dalam kegiatan organisasi istri sirinya itulah yang secara legal masuk dan bergabung dengan ibu-ibu di sana,” ujarnya. Yang lebih mengecewakan lagi bahwa perempuan itu bukan perempuan baikbaik yang dipandang umum karena pernah kawin cerai sudah tiga kali. “Suami saya adalah suami keempatnya,” kata Marina. Perempuan itu di mata Marina tidak lebih dari perempuan penghibur. Ada apa dengan suaminya sehingga begitu jauh jatuh dalam pelukannya. “Dia pakai guna-guna,” ujarnya menduga. Namun, ia tidak sepenuhnya meyakini
itu karena tidak mungkin mereka sampai menikah siri jika suaminya juga tidak menginginkannya. Suaminya bahkan mengumbar foto-foto kemesraan dengan istri
7
sirinya di media sosial. Sementara itu ia terus berusaha memperbaiki hubungan dengan suaminya namun gagal. Hingga tiba pada titik di mana ia tidak lagi bisa menerimanya. “Saya hanya ingin minta keadilan saja,” katanya. Ia pun melaporkan suaminya pada petinggi di institusi tempat suaminya bekerja. Lagi-lagi ia mengalami rasa kecewa berat. “Tidak ada tindaklanjut dari institusi tersebut dan saya sudah berulang-ulang memohon agar kasus ini diperhatikan,” katanya. Usaha-usaha itu gagal semua sampai Marina capek berusaha. Maka jalan terakhir baginya adalah menggantung perkawinannya dengan tidak memberikan sikap apa-apa. “Saya biarkan semua berjalan seperti ini. Sampai dimana ia mau menyakiti saya akan saya jalani,” katanya. Meski kasusnya sudah beberapa tahun berjalan, Marina tidak menggugat cerai suaminya. Suaminya sendiri seperti tidak berani menceraikanya. “Saya tunggu dia mengajukan cerai pada saya, maka disanalah akan saya buka semuanya,” ujar Marina dengan nada kesal. Entah sampai kapan kasus tersebut usai, Marina siap me nantinya. -naniek.itaufan@cybertokoh.com
MINAT ANAK MUDA HINDU BERBISNIS KULINER MAKIN TINGGI
GUSTI WEDAKARNA RESMIKAN SUKLA DI GERAI FRANCHISE AMAZY GIANYAR warung orang Bali, warung yang ada plangkiran dan warung Sukla. Ini tentu menggembirakan karena berpotensi mengangkat ekonomi lokal,” ungkap Senator Wedakarna. “Sukla adalah branding masa depan Bali. Sukla bermakna suci, artinya semua proses makanan harus menggunakan bahan yang diperlakukan suci, menggunakan perabot yang suci, dan juga harus menggunakan budaya Hindu. Misalkan bagaimana yang memasak dan menghidangkan tidak boleh wanita menstruasi, SATYAGRAHA - Senator Gusti Arya Wedakarna bersama I Gusti sebelum menjual harus Ngurah Putra ( Pemilik Franchise Amazy Naga Mas ) dan Wayan ada proses ngejot/saiban Widi Adnyana ( Ketum Gerakan Sukla ) di Blahbatuh Gianyar sebagai wujud persembahan pada Tuhan dan tentu Geliat gerakan Satyagraha Sukla yang ada proses warung atau restoran diperciki merupakan ikon pemersatu umat Hindu di Bali oleh tirta melanting termasuk ketika memakin merambah semua kalangan, dimulai dari nyembelih makanan dari hewan harus ada kalangan pengusaha kecil sejak beberapa tahun doa/mantra terlebih dahulu. Dalam Weda lalu, kini gerakan ini diminati oleh pengusaha diajarkan agar ruh hewani menuju ke alam menengah Bali. Sebagaimana terekam dalam yang lebih tinggi,” ungkap Gusti Wedakarna kegiatan peresmian Sertifikat Sukla di Gerai yang President The Hindu Center of IndoFranchise Ayam Goreng Amazy Naga Mas di nesia. Kini DPD RI bersama Tim Gerakan Blahbatuh Gianyar. Gerakan yang dipelopori Sukla secara intens terus mensosialisasikan oleh tokoh muda Bali Dr. Shri I Gusti Ngurah gerakan Sukla ke seluruh daerah, sejumlah Arya Wedakarna MWS III ini disambut antusias produk pun sudah mencantumkan logo Sukla oleh kalangan anak muda Bali diberbagai segmen di kemasannya. “Saya mendapat laporan dari mengingat Bali memerlukan ikon pemersatu tim seluruh Bali bahwa gerakan ini sudah bagi umat Hindu khususnya dibidang kuliner. merambah kawasan pariwisata. Satu contoh “Gerakan Sukla ini adalah siasat untuk yang nyata, kawasan Bedugul dulunya tidak menghadapi UU No. 33 Tahun 2014 tentang ada kuliner babi, tapi saat ini sudah mulai Jaminan Produk Halal. Saat berlaku tentu akan bermunculan pengusaha pengusaha babi. Ini merugikan umat Hindu, agama minoritas dan wujud konsistensi Bali yang sudah menolak kawasan Indonesia Timur. Maka dari itu saya desa syariah dan wisata syariah. Kita akan ingin mengedukasi orang Bali agar mereka dukung warung warung babi juga didirikan paham akan nilai-nilai kesucian dalam makanan di seluruh Bali. Ya menolong petani marhaen orang Bali. Hikmahnya, sekarang orang Bali juga, “ pungkas Senator Wedakarna. mulai fanatik dan mulai makan di warung-
8
Cara berkomunikasi masing-masing orang berbeda-beda. Ada yang to the point, ada yang menggunakan perumpamaan, dan ada yang mutar-mutar. Walaupun caranya berbeda, etika tetap harus dijunjung. Sopan kepada lawan bicara sangat penting, termasuk menggunakan magic words atau katakata ajaib seperti permisi, maaf, tolong, dan terima kasih. Bagaimana dengan anak-anak?
“M
Bunda & Ananda
Edisi 924/ 24 - 30 Oktober 2016
aaf om, sudah menunggu lama. Tadi bangunnya kesiangan,” ujar Bayu kepada tukang ojek yang biasa mengantarnya ke sekolah. Bocah kelas 4 SD lalu naik ke motor dan berangkat ke sekolah. Di lain kesempatan, Ade seorang supir yang biasa mengantar jemput anak majikannya mengeluh karena sering diminta untuk mengantar teman dari anak majikannya. “Kalau rumah dekat dan searah, tidak masalah. Ini rumahnya jauh dan harus memutar. Turun dari mobil tidak bilang terima kasih, main ngloyor aja,” ungkapnya. Mengapa ada anak yang bisa mengucapkan maaf dengan tulus dan mengapa ada anak yang tidak bisa mengatakan terima kasih. Dari beberapa referensi dijelaskan, seseorang yang terbiasa menggunakan kata-kata ajaib; terima kasih, maaf, permisi, dan tolong dalam kehidupannya, pasti lebih dihargai karena dengan terbiasa menggunakan kata-kata ajaib tersebut sesuai dengan konteks situasi berarti menghargai lawan bicaranya atau orang-orang yang berinteraksi dengannya. “Mengucapkan kata-kata ajaib sesungguhnya tidaklah sulit, asalkan dibiasakan dan diucapkan dengan tulus. Signifikansi katakata ajaib ini dalam berkomunikasi dapat dirasakan oleh lawan bicara yang berdampak pada rasa dihargai dan dihormati. Kata-kata tersebut sangat sederhana namun
Kenalkan
Magic Words
sejak Dini
dampaknya sangat luar biasa,” jelas Sad Yuli Prihartati, S.Psi. Psikolog. Yuli mengidentifikasi ada tujuh yang termasuk kata-kata ajaib. Pertama, salam yang berupa sapaan, hai, halo, selamat pagi, selamat siang, selamat sore, selamat malam, selamat datang, dll. Salam ini kesannya sederhan tetapi memiliki makna mendalam. Ada interaksi dari dari si anak dengan orang yang dilihat atau diajak. Kedua, permisi. Kata permisi ini wajib digunakan ketika anak harus minta izin untuk melakukan sesuatu. Permisi juga sering digunakan ketika anak melewati orang yang lebih tua. Ketiga, maaf. Kata maaf yang dilontarkan menunjukkan adanya rasa bersalah. Saat mengucapkan maaf harus dengan ikhlas. Jangan hanya sekadar maaf lalu mengulangi kesalahan yang sama. Keempat, tolong. Penggunaan kata tolong menunjukkan seseorang memerlukan bantuan orang lain. Permintaan tolong ini juga harus dengan sopan. Jika minta tolong dengan nada tinggi, sama saja dengan memerintah orang lain. Kelima, terima kasih. Mengucapkan terima kasih merupakan perwujudan rasa syukur atas apa yang sudah diraih atau dilakukan. Terima kasih juga diucapkan kepada orang yang sudah membantu. Keenam, ya. Mengucapkan ya sembari mengangguk menunjukkan adanya respons dari suatu permintaan. Jika ada yang memerlukan respons, namun tidak ditanggapi bisa menimbulkan miskomunikasi. Karena itu, memberikan jawaban secara jelas itu sangat penting. Ketujuh, bisa. Mengatakan bisa sebagai bentuk keyakinan untuk mengerjakan sesuatu juga perlu. Jika ada yang meminta pertolongan, namun tidak diberikan jawaban, tentu akan membingungan. Tetapi, kalau sudah memberikan jawaban bisa, tentu orang yang minta tolong merasa lega karena ada yang membantu.
Bagaimana caranya agar anakanak bisa menggunakan kata-kata ajaib tersebut? “Buatlah penggunaan kata-kata ajaib sebagai sebuah kebiasaan khususnya di rumah. Orangtua harus menjadi role model. Satu hal yang juga penting adalah memberi penjelasan tentang makna dari masing-masing kata-kata ajaib. Tujuannya, anak paham dan bisa menggunakannya dengan tepat,” ujar psikolog yang aktif sebagai pengurus Himpunan Psikologi (Himpsi) wilayah Bali ini. Penjelasan makna kata-kata ajaib ini juga menjadi untuk menghargai interaksi sosial dengan orang lain. Jika hal ini sudah dibiasakan oleh orangtua, anak pun akan menghargai tiap proses interaksi sosial. Pada zaman dulu, orang lebih menggunakan sikap atau bahasa tubuh untuk menunjukkan hormat. Kini, perlu dikombinasikan antara bahasa tubuh dengan kata-kata. Selain orangtua, guru pun harus menjadi contoh bagi anak didiknya. Yuli mengingatkan, tiap anak memiliki kepribadian yang beda. Ada yang mudah untuk diberikan contoh dan ada yang sulit diajarkan. Pola asuh di keluarga serta situasi lingkungan juga berperan
dalam proses pemahaman anak tentang kata-kata ajaib. Yang penting adalah melakukan pembiasaan dan orangtua menjadi contoh yang baik. “A n a k p a d a dasarnya sangat mudah beradaptasi, mudah menyerap apa yang dilihat dan dirasakan. Fase imitasi ini harus dimanfaatkan dengan baik oleh orangtua untuk memberikan pengalaman yang baik sehingga melekat di memori. Yang penting cara memberi contoh harus benar, jangan sekadar diucapkan saja, harus dilaksanakan dengan baik dan tulus,” ujar ibu satu putri ini. Anak yang mudah untuk mudah untuk menggunakan katakata ajaib ini akan lebih responsif, tahu situasi dan kondiai serta bisa menghargai dan menghormati orang lain. Jika berhasil menerapkan atau menggunakan kata-kata ajaib se-
Edisi 924/ 24 - 30 Oktober 2016
Sad Yuli Prihartati
jak kecil, bukan hanya anak yang diberi predikat santun. Orangtua pun dinilai sukses mendidik anaknya. Sebaliknya jika anak tidak bisa menggunakan kata-kata ajaib, orangtualah yang dinilai gagal dalam mendidik anaknya. -ngurahbudi@cybertokoh.com
mengapa ada pelangi?
secara diam-diam. Kedua kakak Soy sangat tersinggung dan merasa dendam. Mereka sepakat untuk menghancurkan pernikahan dua sejoli itu. Ketika musim panen ikan tiba, Joy dan Moy mengajak Soy menangkap ikan di tengah laut. Mereka bertiga naik jukung, lengkap dengan peralatan seperti jala, tombak dan parang. Di tengah laut yang dalam, mereka asyik menghitung ikan-ikan besar yang terperangkap jala. Tiba-tiba gelombang besar menghantam badan jukung. Nah, pada saat itulah Joy dan Moy menangkap tubuh adiknya, lalu melemparkannya ke tengah laut. Soy yang kurus dan bertenaga lemah itu tidak dapat mengatasi dirinya. Mati. Perbuatan jahat itu dilihat oleh seekor elang laut yang kebetulan melayang-layang di atasnya. Elang itu segera melaporkan kematian Soy kepada Lamari yang sedang menunggu di rumah. Mendengar berita yang menyedihkan itu, perempuan pengantin baru itu, mengambil tombak, lalu tanpa ragu-ragu menghunjamkannya ke dadanya. Darahnya muncrat. Ajaib! Angin bertiup kencang. Dari segala penjuru awan-awan berarakan. Dari jasad Lamari muncul cahaya cemerlang warna-warni. Cahaya yang indah itu meliuk-liuk, makin lama makin panjang, lalu melengkung. Ujungnya kemudian mendekap mayat Soy yang terapung-apung. Joy dan Moy, kakak kandung Soy melihat keadaan ajaib itu. Mereka segera mendatangi rumah Lamari. Didapatinya perempuan cantik itu terbaring memegang tombak yang menembus dadanya. Dari dada itulah muncul cahaya melengkung yang berakhir di tengah laut. Kedua kakak kandung Soy menangis sejadi-jadinya. Mereka menyesali perbuatannya yang menghancurkan cinta sejati itu. (Aborijin Australia)
17
Lebih Kuat dan Murah dengan Konstruksi Atap Baja Ringan
Atap merupakan bagian dari bangunan gedung (rumah) yang letaknya berada di bagian paling atas, sehingga untuk perencanaannya atap ini haruslah diperhitungkan dan harus mendapat perhatian yang khusus dari si perencana (arsitek). Karena atap merupakan bagian dari struktur bangunan yang berfungsi sebagai penutup/pelindung bangunan dari panas terik matahari dan hujan sehingga memberikan kenyamanan bagi penggunan bangunan.
Mendongeng Lima Menit Tersebutlah tiga orang laki-laki bersaudara. Yang sulung bernama Joy, yang menengah Moy dan yang bungsu Soy. Tidak jauh dari rumahnya, tinggal seorang gadis cantik bernama Lamari. Joy dan Moy sudah seMade Taro jak lama jatuh cinta kepada gadis itu, tetapi cintanya bertepuk sebelah tangan. Lamaran kedua pemuda itu ditolak mentahmentah. Sesungguhnya saudara bungsu, yang bernama Soy itu pun jatuh cinta kepada Lamari, tetapi ia selalu mengurungkan hasratnya. Ia merasa rendah diri. “Kakak-kakakku yang tampan ditolak, apalagi aku yang berbadan kurus dan lemah,” katanya sendirian. Namun pada suatu hari, Soy yang kurus itu tidak dapat memendam cintanya. Ia memberanikan diri mendatangai rumah Lamari sendirian. Kalau kakakkakaknya waktu melamar membawa oleh-oleh ikan kegemaran Lamari, maka Soy membawa oleh-oleh seekor kangguru hasil buruannya di dalam hutan. Sungguh di luar dugaan! Lamaran Soy diterima dengan mulus. Bak gayung bersambut. Hari itu juga mereka yang saling jatuh cinta itu melangsungkan pernikahan. Sebulan kemudian Joy dan Moy pergi berburu ke dalam hutan. Alangkah terkejutnya mereka, mendapati adiknya yang bungsu berkasih-kasihan dengan Lamari. Mereka berdua sama sekali tidak mengetahui, bahwa Lamari telah nikah dengan Soy
Griya
I Putu Adi Wijaya, S.T.
A
da beberapa jenis konstruksi atap yang dipakai di masyarakat sekarang ini, seperti konstruksi kayu, konstruksi baja konvensional, dan yang lagi ramai digunakan konstruksi baja ringan. Selain itu, masih ada juga dijumpai konstruksi atap yang menggunakan bahan bambu. Tentunya dari sekian jenis konstruksi atap tersebut, masingmasing memiliki keunggulan dan kelemahan. Konstruksi kayu misalkan, keunggulannya adalah kuat dan memang paling dikenal di masyarakat. Namun kayu juga memiliki banyak kelemahan, seperti kelangkaan kayu, harga mahal, butuh biaya perawatan (semprot anti rayap secara berkala). Konstruksi baja memilik keunggulan kuat dan tahan lama, namun harganya mahal sekali, cocok untuk bangunan dengan bentang yang lebar, seperti gudang, dll. Sementara konstruksi baja ringan, keunggulannya kuat, pemasangan cepat, lebih murah dari kayu, dan tidak memerlukan perawatan berkala seperti kayu. “Kelemahannya, kita harus hati-hati memilih baja ringan yang bagus, karena begitu banyak jenis dan bentuk profilnya,” ucap I Putu Adi Wijaya, S.T. Konstruksi atap baja ringan, dijelaskannya adalah konstruksi atap dengan bahan utama baja tipis yang dilapisi dengan lapisan anti karat, yang membentuk satu kesatuan yang utuh dari beberapa bentuk kuda-kuda pembentuk atap yang dilengkapi dengan pengaku. Konstruksi ini
bisa diaplikasikan pada bangunan apa saja yang menggunakan atap, seperti rumah tinggal, hotel, restoran, dll. “Konstruksi Baja ringan harus menggunakan perhitungan struktur khusus sebagai syarat kekuatan rangka atap yang dibuat (software perhitungan konstruksi, masing-masing produk punya software sendiri),” jelas desainer konstruksi baja ringan ini. Jenis-jenis profil yang beredar dipasaran, ada Profil C, Profil UK, Profil Z. Bentuk reng semua sama, hanya berbeda pada ukuran dan ketebalannya. Masing-masing jenis profil juga memiliki ketebalan dan lapisan anti karat yang berbeda. Sistem pemasangan masing-masing produk juga ber-
hatikan saat memilih rangka atap baja ringan. Pertama, bahan baja yang umum dipakai adalah baja mutu tinggi atau biasa disebut high tension steel. Umumnya digunakan standar G550. Orang awam sulit mengetahui mutu bahan yang ada, tetapi dengan mengetahui bahwa standar baja minimum G550, kita bisa meminta jaminan tertulis bahwa bahan baku yang akan kita pakai adalah G550. Kedua, alat penghubung tiap profil ke profil lainnya sehingga menjadi suatu rangkaian kuda-
beda, ada yang dirakit langsung di lokasi, ada juga yang dirakit di pabrik (sistem prefabrikasi). Setiap produk baja ringan dijelaskannya mengeluarkan surat garansi yang berbeda-beda sebagai jaminan kekuatan struktur rangka atap yang dibuat. “Tipsnya, hati-hati memilih, jangan terpengaruh lamanya berlaku surat garansi, tapi perhatikan produk yang dijual, cara pemasangan, dll,” sarannya. Semakin sulitnya pasokan bahan kayu, membuat baja ringan menjadi alternatif material rangka atap yang semakin populer. Tetapi, bagaimana kita yakin telah memilih rangka atap baja ringan yang tepat? Masalahnya, di Indonesia sendiri peraturan struktur bangunan dengan baja ringan belum jelas. Adi Wijaya menyampaikan beberapa hal yang perlu diper-
kuda maupun sistem rangka atap digunakan sekrup steelfixx. Sekrup steelfixx adalah self drilling screw. Ketiga, alat sambung untuk baja ringan umumnya menggunakan Self Drilling Screw (SDS) atau sekrup dengan ujung penembus tanpa mur. SDS yang dipakai harus memiliki alur yang kasar dan terdapat ruang di bawah kepala baut. Alur yang kasar akan membuat baja tipis tersusun di antara alur, bukan dirusak oleh alur, sehingga SDS mampu memikul beban yang besar di sambungan. Keempat, lapisan anti karat. Di Indonesia lapisan anti karat yang umum dipakai adalah lapisan AZ (allumunium dan zinc) atau Z (zinc). Allumunium zinc lebih tahan korosif terhadap air garam, tetapi ia tidak tahan terhadap adukan semen (korosif). Sedangkan lapisan
zinc kurang tahan terhadap air garam, tetapi tidak korosif terhadap akibat adukan semen. Lapisan zinc cocok untuk peutup atap genteng keramik atau genteng beton, karena bagian nok (kerpus) biasanya diisi dengan adukan semen. Ketebalan lapisan anti karat ini juga perlu diperhatikan. Ada anggapan salah bahwa allumunium zinc lebih baik daripada zinc, padahal yang menentukan adalah ketebalan lapisan. Secara umum, untuk bahan struktural (menanggung beban) lapisan allumunium zinc tidak boleh kurang dari 150 gr/m2, sedangkan lapisan zinc tidak boleh kurang dari 200 gr gr/m2. Ketebalan lapisan anti karat sulit dicek secara visual, pengecekan harus dilakukan di laboratorium. Yang paling mudah adalah meminta jaminan secara tertulis tentang ketebalan lapisan yang akan dipakai. Kelima, desain struktur. Perhitungan desain struktur sulit dipahami orang awam (tidak mempunyai kompetensi di bidang teknik sipil). Karena itu lebih baik memilih produk yang bisa memberi jaminan struktur dengan benar, baik jaminan kualitas bahan dan hitungan struktur maupun dukungan purnajual dari penyedia produk Rangka Atap Baja Ringan tersebut. Karena, analisa struktur rangka atap baja ringan berbeda dengan analisa pada baja konvensional. Perhitungan struktur rangka atap baja ringan dihitung sesuai dengan metoda cold formed steel
yaitu perhitungan struktur baja dengan ketebalan tidak lebih dari 3 mm (baja tipis). Keenam, sistem pengaku (bracing). Rangka atap baja ringan dibuat dari baja tipis. Akibatnya meskipun telah berbentuk profil yang kokoh, kekuatannya tinggi tetapi kekakuannya lemah. Karena itu struktur rangka atap harus dilengkapi batang pengaku atau bracing yang cukup. Bracing rangka atap terdiri dari pengaku bawah yang dipasang melintang di atas batang bawah kudakuda. Ikatan angin yang dipasang melintang dari satu kuda-kuda ke kuda-kuda lain secara menyilang. Lateral tie untuk memperkecil panjang tekuk (buckling) batang tekan. Strap brace yang berupa pita baja berfungsi untuk mengaku kuda-kuda menjadi satu kesatuan sistem. Penggunaan Strap brace tergantung dari desain struktur (biasanya pada bentang-bentang lebih dari 10,5 m). Ketujuh, proses perakitan. Di Indonesia umumnya kudakuda rangka atap dirakit di lokasi, meskipun ada juga yang dirakit di pabrik. Proses perakitan di proyek memerlukan kontrol kualitas yang baik, karena bentuk, kerapian, serta kesempurnaan proses penyambungan sangat tergantung pada keahlian tukang. Kuda-kuda yang dirakit di pabrik memiliki kontrol kualitas kerja yang lebih baik, meskipun proses pengangkutan ke lokasi menjadi lebih boros. Untuk itu, Adi Wijaya mengingatkan konsumen harus lebih jeli dalam memilih rangka atap baja ringan. Karena pada kudakuda konvensional, jika satu kuda-kuda yang gagal maka hanya satu kuda-kuda itu yang gagal. Berbeda dengan prinsip kerja sistem rangka atap baja ringan, dimana apabila ada kegagalan pada satu kuda-kuda maka akan menarik kuda-kuda lainnya (sifat dari kuda-kuda baja ringan satu kesatuan sistem). Untuk harga baja ringan di pasaran sangat bervariasi, tergantung kualitas, jenis profil, ketebalan profil, dan bentuk atap itu sendiri. Harga mulai Rp 135.000,- per m2 – Rp 250.000,- per m2. –inten.indrawati@cybertokoh.com
16
Sumpah Pemuda adalah salah satu tonggak sejarah yang penting bagi bangsa Indonesia. Ada tiga hal pen ting dalam Sumpah Pemuda, yaitu bertanah air satu, berbangsa satu, dan berbahasa satu. Sesuai namanya, Sumpah Pemuda dirumuskan oleh para pemuda. Mereka kemudian menjadikannya sebagai dasar untuk membangkitkan rasa nasionalisme pemuda Indonesia. Hal ini disampaikan oleh Ketua Pimpinan Cabang Kesatuan Mahasiswa Hindu Dharma Indonesia Buleleng, Made Teja Artha Sakti Sukma.
M
Sudut Pandang
Edisi 924/ 24 - 30 OKTOBER 2016
enurutnya, banyak hal yang melandasi pemuda untuk mendeklarasikan sumpah yang dikenal dengan Sumpah Pemuda yang diperingati setiap tanggal 28 Oktober. Salah satunya bertujuan untuk bersatunya rakyat untuk mencapai kemerdekaan. Semangat persatuan para pemuda dulu harus diikuti semangat juang pemuda masa kini. “Caranya ya, mengisi kemerdekaan dengan hal yang positif dan berguna,” tuturnya. Pria yang akrab disapa Teja ini juga mengatakan sebagai generasi muda seharusnya meneruskan kembali perjuangan para pemuda agar tidak kehilangan identitas sebagai pemuda yang cerdas, kritis, kreatif dan inovatif. Wujud nyata yang harus dilakukan pemuda adalah merealisasikan dharma agama dan dharma negara. “Misalkan saja melakukan pengawasan terhadap pemerintah agar roda pemerin-
Berjuang Melalui Media Sosial tahan berjalan dengan baik dan bersih,” ucapnya. Selain itu, pemuda sebagai agen perubahan juga harus mampu menjadi pembela dan memperjuangkan keadilan. Dalam era perkembangan teknologi seperti ini, salah satu bentuk perjuangan yang dapat dilakukan oleh pemuda adalah melalui sosial media. Media sosial saat ini sebagai penunjang untuk dapat menyuarakan aspirasi melalui media sosial dari FB, twitter, blog dan lain sebagainya. “Itu menunjukkan hal positif yang bisa kita lakukan selain turun ke jalan seperti era 1998an dahulu, di mana pemuda atau mahasiswa Indonesia menyuarakan aspirasinya di jalanan,” paparnya. Pria kelahiran 21 Desember 1993 tersebut itu mengaku tidak sedikit juga pemuda yang memanfaatkan sosial media secara negatif. Pemuda yang awalnya diharapkan sebagai agen perubahan telah terombang-ambing dalam krisis identitas tanpa tahu arah dan tujuan. Sudah sepantasnya, seorang pemuda menggali potensi diri untuk mewujudkan cita-cita bangsa dari sekarang. “Kemajuan bangsa bukan hanya dilihat dari pembangunan saja, melainkan dari perubahan sosial yang lebih baik dari kesenjangan yang terjadi di masyarakat,” pungkas mahasiswa jurusan Pendidikan Teknik Elektro Undiksha tersebut. DIGITALISASI MENGUATKAN NARASI Sementara itu Ketua Pusat Kajian Budaya Undiksha Dr. Drs. I
I Made Pageh
Made Teja Artha Sakti Sukma
Made Pageh, M.Hum. mengatakan sejarah begitu penting bagi sebuah bangsa dan negara tanpa bermaksud mengabaikan arti pentingnya masa depan. Kesadaran akan sejarah hanya dimiliki oleh manusia yang berbudaya karena hanya manusia yang berbudayalah yang dapat mengenal waktu. Ketika berbicara sejarah berarti berbicara tentang hal yang telah berlalu namun ketika tidak dibarengi dengan bukti autentik tentu akan hanya menjadi sebuah opini yang tidak didukung oleh fakta. Terkait dengan waktu dan peristiwa yang terjadi di masa lalu, Pageh sapaan akrabnya mengaku seorang guru harus memiliki bukti sejarah. “Agar dalam bercerita tidak sekedar bercerita seperti
fiksi,” jelasnya. Cerita sejarah yang diharapkan adalah cerita yang berfakta dan penuh dengan kesadaran waktu. “Sehingga anakanak bisa mengerti bahwa bangsa ini telah mengalami perkembangan secara dinamik mengikuti lintas waktu hingga sampai saat ini,” imbuhnya. Perkembangan zaman yang diikuti oleh perkembangan elektronik seharusnya mampu meningkatkan kesadaran sejarah masyarakat utama anak-anak. “Di zaman tehknologi bahkan serba materialistis, tidak seharusnya jika anak-anak hanya disuguhkan bacaan tentang sejarah,” ungkapnya. Dosen Pendidikan Sejarah FHIS Undiksha tersebut juga mengungkapkan perlu dilakukannya digitalisasi
untuk menarik minat anak-anak mempelajari sejarah. Hal kecil yang pernah ia lakukan sebagai seorang dosen sejarah adalah membuat film dokumenter mengenai Puputan Jagaraga bersama mahasiswa pada tahun 2002. Ini merupakan salah satu cara untuk menyadarkan anak-anak bahwa sejarah bukanlah cerita masa lalu yang tidak bisa diaktulisasi dimasa kini. Pria kelahiran 31 Desember 1962 tersebut menjelaskan jika perang Jagaraga telah terjadi menjelang abad XX sehingga tentu tidak bisa mencari peristiwa persis pada waktu itu. Oleh karena itu, agar peristiwa tersebut dapat disaksikan kembali maka disajikan dalam bentuk film dokumenter yang berdurasi pendek. Untuk dapat menyajikan kejadian sejarah dalam bentuk video tentu tidak terlepas dari jejak dokumen tulis yang ada. “Mahasiswa mencoba gambarkan dengan cat air kemudian dituangkan dalam animasi sederhana yang menggambarkan sari pati dari peristiwa sejarah tersebut,” jelasnya. Melalui cara digitalisasi itu, Pageh meyakini dapat mengaktualisasi kembali nilai-nilai kepahlawanan. “Kalau hanya ngomong saja akan lebih menarik mendengarkan cerita yang lain,” tuturnya. Meskipun dengan digitalisasi yang sederhana, namun ia percaya dengan begitu dapat menguatkan narasi yang disampaikan. “Narasi yang diikuti dengan bukti-bukti akan menguatkan ingatan anak-anak mengenai suatu peristiwa,”pungkasnya.
Tunggal Ika, UUD’45, dan Pancasila. Wacana yang dilontarkan Presiden Jokowi untuk menggalakkan kembali “Pendidikan Karakter” diacunginya jempol. Namun, apakah pelaksanaannya ke bawah sudah benar, tidak hanya sekadar untuk pencintraan? Jika saja hal ini dilaksanakan dengan sungguh-sungguh, Made Suarta memastikan rasa bangga pada bangsa sendiri pasti tertanam. Di IKIP PGRI Bali, pendidikan karakter memang menjadi fokus dan konsisten dilakukan. “Saya yang langsung memberikannya pada jam ke nol tiap Jumat,” jelasnya. Hal lainnya, sebut saja tentang kebhinekaan yang memang saat ini nampak terlihat jelas di lingkungan IKIP PGRI Bali karena banyak mahasiswanya datang dari luar Bali. “Ada mahasiswa dari Kalimantan, NTT, NTB, dll. Kami sangat saling menghormati, toleransi beragama, menerima perbedaan itu dengan sangat harmonis. Lembaga ini mewadahinya dengan m e m bentuk organisasi-organisasinya dan kerap merayakan hari-hari besar agama bersama di kampus,” ujarnya. Selain di lembaga pendidikan, pendidikan karakter juga harus ditanamkan di lingkungan keluarga. Sistem yang dikembangkan pemerintah ini dikatakannya sudah bagus. “Sekarang tinggal sejauh mana pemahaman dan implementasi pendidikan karakter dengan empat pilar tersebut. Tapi sekarang orang lebih berpikir pragmatis, lebih memilih kursus bahasa Inggris daripada bahasa Bali karena lebih berpeluang dapat kerja, ada kesan seperti itu karena salah satu syarat melamar pekerjaan sekarang menguasai IT dan menguasai bahasa asing,” paparnya. Menurutnya, bahasa daerah juga harus dimasukkan karena merupakan akar budaya. Terutama lagi dalam ajang pemilihan putri-putrian atau duta-duta di daerah yang memang tujuannya melestarikan budaya daerah. –inten.indrawati@ cybertokoh.com
Dr. I Made Suarta, S.H., M.Hum.
9
TUK Agung Gelar Uji Kompetensi Gratis Mendukung “Denpasar Kota Kompeten” dan “Gerakan Indonesia Kompeten”, Tempat Uji Kompetensi (TUK) Agung kembali akan menggelar Uji Kompetensi selama 4 hari. Yakni, Uji Kompetensi Tata Rias Pengantin Bali Modifikasi, Kamis 27 Oktober 2016; Uji Kompetensi Tata Kecantikan Kulit, Jumat 28 Oktober s.d. Sabtu 29 Oktober 2016; dan Uji Kompetensi Tata Rias Pengantin Bali Agung & Madya, Minggu 30 Oktober 2016. Peserta kali ini diikuti oleh beberapa lembaga kursus dan pelatihan yang bergerak di bidang tata kecantikan di antaranya dari Denpasar, Gianyar, Tabanan, Singaraja, Klungkung, bahkan dari luar Bali, yakni dari Jambi terdaftar 16 peserta.
–wiwinmeliana22@cybertokoh.com
Tanamkan Rasa Bangga sebagai Bangsa Indonesia Tiap 28 Oktober, diperingati sebagai Hari Sumpah Pemuda. Lalu, bagaimana pandangan Rektor IKIP PGRI Bali Dr. I Made Suarta, S.H., M.Hum. terhadap generasi sekarang? “Selama ini kita tahu dan dari pengamatan saya, generasi muda sekarang cenderung alergi dengan bahasa daerah tapi lebih menjunjung bahasa asing,” ucapnya miris. Ia tak menampik, saat ini khususnya dalam dunia kerja, keterampilan menguasai bahasa asing memang dibutuhkan. Namun, ia tetap mengingatkan untuk kembali menoleh ke belakang. “Boleh saja sebanyak-banyaknya menguasai bahasa asing, tapi ingat kita ada karena bangsa ini. Kita harus bangga jadi bangsa Indonesia, bangga terhadap produk dalam negeri, bangga menggunakan bahasa Indonesia,” tegasnya. Ia mengilustrasikan sebuah lagu … “Bukan lautan hanya kolam susu. Kail dan jala cukup menghidupimu. Tiada badai tiada topan kau temui. Ikan dan hujan menghampiri dirimu. Orang bilang tanah kita tanah surga. Tongkat kayu dan batu jadi tanaman..”. Dari lirik lagu tersebut, yang perlu diingat adalah Indonesia kita ini kaya secara geografis dan tanahnya sangat subur. Lalu bagaimana jadinya jika kita bangga dengan bangsa lain? Ini akan menggurangi nilai kebangsaan yang ada pada diri kita, dan patut dipertanyakan rasa belapatinya terhadap negara. “Tapi semoga saja pengamatan saya selama ini salah,” ucapnya. Sebagai “orang Bahasa Indonesia” (lulusan Bahasa Indonesia), meskipun tahu bahasa asingnya, ia tetap konsisten dan mengaku bangga memakai bahasa Indonesia dalam setiap pidatonya, entah itu dengan menyelipkan peribahasa, pantun, dsb. “Terkecuali ada istilah asing yang memang tidak bisa diterjemahkan dalam bahasa Indonesia, kita pinjam istilah asingnya,” ucap praktisi pendidikan yang cukup vokal menyuarakan ketimpangan-ketimpangan yang terjadi di dunia pendidikan ini. Pemerintah, dikatakannya sebenarnya sudah mengarahkan ke hal tersebut. Seperti kata “snack” yang dulu sering digunakan, kini sudah diubah menjadi “kudapan”, moderator jadi pemandu. “Ini adalah kiat-kiat pemerintah untuk mengarahkan agar kita cinta pada bahasa sendiri. Sekalipun ada beberapa bahasa Indonesia yang mengadopsi dari bahasa atau istilah asing, namun itu sudah di-Indonesiakan. Ini menjadi bagian dari bangga sebagai bangsa Indonesia, bangga menggunakan bahasa Indonesia, yang diperkaya dengan bahasa daerah untuk melengkapi dan memperkaya khasanah bahasa Indonesia, ditambah dengan bahasa asing yang tidak bisa tidak karena pengaruh perkembangan modern. Karena itu, spirit Sumpah Pemuda (berbahasa, bertanah air, dan berbangsa satu, bangsa Indonesia) ini ditegaskannya harus dipertahankan. Caranya dengan meningkatkan pendidikan karakter yang memiliki 4 pilar, yakni NKRI, Bhinneka
Edisi 924/ 24 - 30 OKTOBER 2016
Kegiatan Ibu Agung melestarikan budaya Bali dalam bidang tata rias mendapat dukungan penuh dari Kelompok Media Bali Post dan Viva Cosmetics. Tampak Ibu Agung berfoto bersama Ny. Sri Utari Naradha (berdiri kiri), owner Viva Cosmetics Theresia I. Kuntjoro (berdiri tengah) dan Murni Tjandra (duduk)
“T
ata rias pengantin menjadi salah satu bidang/sektor yang menjadi prioritas dalam sektor pariwisata yang harus ditingkatkan dan didukung. Dan, uji kompetensi ini merupakan penilaian pencapaian kompetensi akhir dari sebuah proses pembalajaran yang diikuti peserta didik,” ucap Direktur Pembinaan Kursus dan Pelatihan Dr. Yusuf Muhyiddin, M.Pd., saat membuka Uji Kompetensi Tata Rias Pengantin
Bali yang menyabet Rekor MURI dengan peserta terbanyak, 3 Juni 2016 lalu. Hal senada juga disampaikan Wali Kota Denpasar IB Rai D. Mantra saat itu. Bahwa, sertifikat uji kompetensi ini pen ting untuk keberlang sungan ke depan. Ser tifikat uji kompetensi ibaratnya SIM (surat izin mengemudi), yang Ibu Agung (kiri) berkesempatan berfoto bersama dengan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI, Prof. Dr. Ing Wardiman dalam hal ini, surat izin Djojonegoro, dan Direktur Pembinaan Pendidikan Anak Usia Dini, R. Ella Yulaelawati R., M.A., Ph.D (kanan) untuk berusaha sesuai dengan kompetensi/ Selanjutnya, Ibu Agung menyam Bali di tingkat nasional. keahlian masing-masing. “Nanti ke paikan, dalam kesempatan yang sama, Untuk pendaftaran Uji Kompetensi depannya, hal ini akan dipersyaratkan uji kompetensi ini akan turut meme dan informasi lebih lengkap, hubungi baik oleh negara-negara Asean, per riahkan acara Pemilihan Putri Citra Sekretariat TUK Agung: Jalan WR Suprat izinan pun demikian. Jika mau mem Indonesia Tingkat Nasional ke-32 di man 303A Tohpati, Denpasar, Bali. Con buka salon atau usaha lainnya, harus Bali. Selain itu, kegiatan ini juga dika tact Person: Desiana (08562996258), punya sertifikat kompetensi dulu. Jika takannya bisa menjadi ajang untuk Dewa Ayu (087861424158), Ibu Agung tidak ada, tidak bisa buka usaha,” ucap memperkenalkan Tata Rias Pengantin (0811393602). –inten orang nomor 1 di Denpasar tersebut. Untuk itu, Dr. Dra. Anak Agung Ayu Ketut Agung, M.M., Ketua Tempat Uji Kompetensi (TUK) Agung sekali gus pimpinan Lembaga Kursus dan Pelatihan (LKP) Agung, mengimbau kepada para pemilik salon, praktisi, dan mereka yang memiliki usaha di bidang tata rias, yang belum mengan tongi sertifikat uji kompetensi, untuk segera mendaftar ke Sekretariat TUK Agung. “Kami sangat berterimakasih ke pada Ditbinsuslat Kemendikbud dan Pemkot Denpasar yang selalu siap mendukung upaya-upaya mencerdas kan bangsa melalui proses pendidikan khususnya di bidang tata rias, dengan memberikan beasiswa uji kompetensi ini,” ucap Ibu Agung saat ditemui di TUK Agung, sepulangnya dari Palu untuk menerima penghargaan dalam Puncak Hari Aksara, Kamis 20 Oktober 2016.
Ibu Agung bersama Kabid Bina Program Dikpora Kota Denpasar (kiri) usai menerima Penghargaan dalam Hari Aksara Nasional di Palu
10
Kreasi
Edisi 924/ 24 - 30 Oktober 2016
Wayang Kulit Bali akan Berjaya Kembali
Sekelompok mahasiswa dari Amerika Serikat mengunjungi rumah seorang dalang wayang kulit di Desa Sukawati, Gianyar, awal Oktober lalu. Lima belas orang mahasiswa jurusan sejarah dan antropologi The College of Wooster, Ohio tersebut, siang itu, menimba pengetahuan budaya melalui pengamatannya terhadap teater boneka pipih dua dimensi yang dikenal dengan wayang, salah satu kesenian Indonesia yang telah diakui Unesco PBB sebagai warisan budaya agung dunia. Si pemilik rumah, dalang sepuh Sukawati, I Wayan Nartha (74), menyambut dengan senang hati serta dengan penuh kesungguhan meladeni anak-anak muda Negeri Adidaya itu.
B
ertempat di bale dangin, Dalang Wayan Nartha memaparkan segala sesuatu yang berkaitan dengan wayang kulit Bali. Para mahasiswa AS itu duduk bersila dan dengan tekun menyimak tuturan Dalang Nartha. Diawali dengan penjabaran sumber cerita wayang kulit Bali yaitu epos Ramayana dan Mahabharata. Dilanjutkan kemudian dengan memperkenalkan watak tokohtokoh utama cerita. Dicontohkan oleh Dalang Nartha dalam wayang kulit dengan lakon dari epos Mahabharata yaitu tokohtokoh protagonis Pandawa yang terdiri dari Yudistira, Bima, Arjuna, Nakula dan Sahadewa yang bermusuhan dengan Duryadana, Drona, Karna, Sakuni dan seratus Korawa lainnyanya sebagai tokoh-tokoh antagonis. Mahasiswa muda-mudi Negeri Paman Sam itu mencatat dengan serius tutur kata Dalang Nartha. Dijelaskan oleh dalang yang pernah tampil mendalang di Kanada, Jepang, Jerman, dan Australia itu, bahwa dalam wayang kulit Bali ada empat tokoh punakawan yang berfungsi sebagai penerjemah ucapan tokoh-tokoh utama yang menggunakan bahasa Jawa Kuno ke dalam bahasa Bali, yaitu Malen
dan Merdah di pihak protagonis dan Delem dan Sangut di pihak antagonis. Ketika Dalang Nartha mencontohkan warna suara dari para punakawan yang berbeda-beda, para mahasiswa itu terkesima dan tampak surprise. Mahasiswi Hope Nelson terperangah kagum dengan kemampuan menyajikan karakter suara yang berbeda-beda oleh seorang dalang Bali itu. Hope Nelson dan kawankawan kian terpana ketika Dalang Nartha, menampilkan sekilas pagelaran wayang saat adegan peperangan. Sembari memainkan beberapa tokoh wayang, berdialog, menembang, ditimpali dengan aksenaksen hentakan suara keropak (kotak wayang) dengan menggunakan cepala yang dijepit di jemari kaki kanan, membuat para mahasiswa itu heran. “Wao…wao complicated,” seru mereka hampir serempak. Di akhir ceramah dan demontrasinya, Dalang Nartha juga menabuh gender wayang, memainkan gending-gending yang biasanya dipakai mengiringi pertunjukan wayang kulit Bali. Para mahasiswa AS itu bertepuk tangan ceria mengagumi keserbabisaan seorang dalang. “Wayang Bali berfungsi dalam ritual keagamaan dan sebagai seni tonto-
nan,” pungkas Nartha. Banjar Babakan di Desa Sukawati dikenal sebagai kantong seni pertunjukan wayang kulit Bali. Selain Wayan Nartha, sejumlah dalang di sana juga sering didatangi orang-orang asing untuk belajar ngewayang, menabuh gender wayang, membuat wayang, dan tidak sedikit pula yang menyambangi desa ini melakukan penelitian tentang seni pentas wayang kulit Bali. Dalang I Wayan Wija, I Made Juanda, dan I Wayan Mardika dengan suka cita telah membagikan keterampilan dan pengetahuannya kepada peminat wayang atau peneliti seni dari mancanegara. Maria, seorang wanita pekerja teater dari San Francisco, Amerika, yang dibina Dalang Nartha sejak tahun 1987, kini sering mementaskan wayang kulit Bali di negerinya. Minagawa, seorang profesor musik dari Tokyo, Jepang, yang belajar menabuh gender di Sukawati sejak tahun 1983 pada I Wayan Loceng (almarhum),
kini telah mengajarkan gender wayang di Negeri Sakura. Eksistensi wayang kulit Bali di Desa Sukawati, kini memang masih melegakan, diwariskan dari generasi ke generasi. Demikian pula popularitas Wayang Cenblonk-nya I Wayan Nardayana kini memang sedang berkibar di tengah masyarakat Bali. Namun, bila dicermati, kini denyut pagelaran wayang kulit secara umum di Bali sungguh memprihatinkan. Di bawah tahun 1980-an geliat pementasan wayang masih sumringah. Dalang-dalang terkenal di masing-masing kabupaten atau desa sering diundang pentas oleh masyarakat. Sajian wayang kulit menjadi hiburan favorit, tontonan yang memberikan tuntunan. Pagelaran wayang kulit sebagai tontonan nan menuntun sungguh disadari oleh Presiden I RI, Bung Karno. Pada tahun 1963, presiden berdarah Bali itu secara khusus mengundang seorang dalang masyur Su-
kawati, I Nyoman Granyam, ke Istana Tampiksiring untuk mementaskan wayang dengan lakon Sutasoma. Ternyata tujuan Bung Karno menonton wayang kulit dengan lakon Sutasoma itu adalah untuk memahami lebih dalam tentang sasanti bhineka tunggal ika sebagai pemersatu kemajemukan Indonesia, yang dalam lakon itu menjadi filsafat perdamaian tanpa kekerasan. Namun kini, di tengah “kekerasan” kehidupan, sungguh tak gampang memergoki pertunjukan wayang kulit, di desa sekali pun. Jika ada, karismanya sudah melorot dibawah hegemoni televisi yang sudah merasuk menjadi tontonan rumahan. Si cantik Hope Nelson dan kawankawannya mungkin belum tahu bahwa wayang kulit yang diamatinya sedang terpuruk, karena Dalang Nartha tentu tak elok mengeluhkannya. Kendati demikian, optimisme terhadap masa depan wayang kulit Bali rupanya masih memercik. Seorang dalang muda Sukawati, Bagus Baratanatya (27 tahun), Juara I Dalang Remaja Pesta Kesenian Bali (PKB) 2013, berungkap bahwa wayang kulit masih memiliki pontensi kuat untuk kembali berjaya. “Sepanjang nilai estetiknya diasah kreatif dan dikontekstualisasikan dengan perkembangan zaman tentu ia akan berbinar cemerlang,” ujar dosen ISI Denpasar yang pernah mempesona masyarakat Korea Selatan, ketika berkesempatan melawat mementaskan wayang kulit Bali di negeri itu pada tahun 2014 dalam sebuah forum festival seni budaya Asia. Kadek Suartaya
Style
Pesona Kebaya
Edisi 924/ 24 - 30 Oktober 2016
Kebaya adalah salah satu pakaian nasional yang semakin digemari. Apalagi di Bali, cukup besar aktivitas para perempuan mengenakan kebaya. Pesona kebaya yang tak pernah pupus ini menjadi tema koleksi Rhea Cempaka dalam Fashion Show di acara “Grand Final Duta Endek Kota Denpasar 2016” di Hotel Aston beberapa waktu lalu.
“E
nchanting of Kebaya” ini dipersembahkan Rhea untuk perempuan yang ingin tampil modis dan tetap elegan. Begitu pula dengan pilihan warna pastel yang masih tren tahun ini dan diperkirakan bertahan sampai 2017, menjadikan kebaya ini bisa dikenakan segala usia dan diberbagai acara. Desain kebaya yang khas dari
Rhea Cempaka dengan bahan endek ini juga mampu menghadirkan kesan nyaman dan sopan, dikuatkan pula dengan katun yang tidak transparan. Semakin indah dengan warna dan motif endek dan saat dikombinasikan dengan lace, payet serta tepi india. Selain itu ada pesona tersendiri bagi yang mengenakan sebab dilengkapi dengan sentuhan etnik Bali. – Sri Ardhini
15
14
Cantik Alami dengan Inner Beauty
Byang Mangku Hypno
Inner Beauty terkait erat dengan kecantikan yang terpancar dari dalam diri seorang perempuan dengan daya tarik alami dan kharismatik, dengan satu hal terpenting yang menyertainya adalah ketulusan. Dengan ketulusan, bersikap apa adanya , akan membuat seseorang nyaman dimanapun serta kapanpun. Nyaman dan aman tanpa syarat. Demikian disampaikan Byang Mangku Hypno, salah seorang pakar Hypno Beauty saat ditemui di Center Brahma Kunta, pekan lalu.
S
Jelita
Edisi 924/ 24 - 30 oktober 2016
ebagai contoh dikatakannya, perempuan yang secara fisik biasa saja, namun memiliki banyak sahabat, selalu dirindukan, dikasihi, dan membuat para sahabatnya nyaman dan menyayanginya dengan tulus. Tapi, ada juga perempuan yang beruntung dikaruniai daya tarik dan kharisma secara alami. Selanjutnya dengan gamblang Byang Mangku memaparkan perihal inner beauty. Bahwa Inner Beauty (IB), katanya meliputi 4 kecerdasan yaitu : Pertama, .IQ (intelegentia quotient) ; kecerdasan atau kemampuan berpikir dalam membuat keputusan yang tepat. Kedua, EQ (emotional quotien); Sensitifitas atau insting terhadap kesempatan yang ada. Ketiga, SQ (spiritual quotien) ; Kecerdasan untuk mendapatkan resistensi (meredam ledakan emosional / energi negatif dalam menjalani kehidupan . Keempat, CQ (cosmic quotien ); Kemampuan untuk menyelaraskan diri terhadap situasi dan kondisi nyata yang dialami dalam kehidupan nyata.”Keempat kecerdasan inilah yang akan menghasilkan sebuah kecerdasan holistik dan disebut AQ (advercity quotien) yaitu; kemampuan seseorang untuk mengatasi segala fenomena kehidupan / daya tahan terhadap kesehatan, kesuksesan, keberlimpahan kasih sayang dan harta, lalu bahagia,” tuturnya. Hal sederhana yang dapat dilakukan dalam keseharian untuk memperoleh dan mempertahankan inner beauty dan bisa dijadikan kriteria untuk membangkitkannya adalah ; (1) Fisik, tidak harus identik dengan mata belok, hidung mancung dan lainnya. Namun, bagaimana seorang perempuan mampu bersyukur padaTuhan, dengan jalan menjaga dan merawat raga. Ini karena Tuhan telah bermurah hati memberi raga yang utuh dan berfungsi sebagaimana mestinya. (2) Kepribadian ,terkait sikap mental positif , matang dalam berpikir, bertanggung jawab dan mampu mengendalikan diri. (3) Indipenden / kemandirian; terbukti kemandirian membuat perempuan semakin cantik, mampu membina mental menjadi kuat, tegar, serta bermanfaat bagi lingkungannya.(4) Spiritual; mampu menggiring perempuan memiliki pola pikir yang hebat dan mulia, mematuhi norma dan nilai di masyarakat. Dengan begitu perempuan lebih percaya diri, semakin anggun, cantik, dan bermartabat. (5) Harmoni, inilah yang menyempurnakan sehingga inner beauty menetap disetian perempuan (interpersonal relationships skill) keterampilan untuk membina hubungan antar manusia secara harmonis dan luwes dalam bergaul. Byang Mangku juga mengatakan, dengan memiliki inner
beauty seorang perempuan akan mau dan mampu menerima diri apa adanya, selalu berusaha menggali potensi diri. Memberdayakan diri melalui pikiran karenan pikiran positif akan membuat perempuan bermanfaat bagi lingkungannya. “Hypno Beauty merupakan salah satu cara terdahsyat untuk membangkitkan inner beauty, melalui metode hipnosis. Perempuan bisa dengan mudah mengubah mindset agar memperoleh dan mendapatkan pancaran inner beauty-nya,” ucap Byang Mangku. Hypno Beauty , katanya merupakan metode memaksimalkan potensi diri agar perempuan menjadi cantik luar dalam melalui kekuatan pikiran. Hypno Beauty dapat mengoptimalkan fungsi zat kimiawi otak sehingga jumlah hormon yang diproduksi dapat terjaga dan bagian terpenting dari otak mendapat cukup asupan. Hormon yang mampu meningkatkan vitalitas hidup,kecantikan dan kesehatan lahir batin antara lain: 1. Endorphine; membuat hati senang , ceria, semangat dan memiliki motivasi 2. Encyphalein; membuat perasaan menjadi tenang, nyaman, dan lebih fokus. 3. Beta-Endorphine; membuat hati tidak mudah putus asa, cengeng, malu, ini membangkitkan kepercayaan diri. 4. Melatonine; membuat mata lelah, ngantuk, sayup , malas, dan nyaman.Hormon ini dapat mengatur prilaku dan katup emosi sehingga menjadikan Anda pribadi yang lebih nyaman, bahagia dan percaya diri. Untuk tahapan dalam Hypno Beauty, dari pengalaman serta hasil berpraktik di berbagai wilayah Indonesia serta kunjungan pasien dari manca negara, langkah-langkah yang biasa dilakukan di center Brahma Kunta adalah sebagai berikut: 1. Tahap Pre- Talk, tahap penggalian informasi dan masalah, atau menemukan pemicu jika memiliki trauma. 2. Tahap Pre- Induction , dimana sugesti mulai disiapkan untuk nantinya dimasukkan kealam bawah sadar, sesuai disease
(masalah) dan distress (akibat dari permasalahan) untuk semua masalah yang dihadapi. 3. Tahap Induc”on , dimana seseorang diantar menuju gelombang theta ; kondisi subjek dibuat mengantuk, nyaman , diantar memasuki alam relaksasi dan sejenak melupakan realita yang dialami. 4. Tahapan Hipnosis, tahap dimana seseorang dalam keadaan atau kondisi setengah bangun dan setengah tidur, berada pada gelombang theta (heavy trance) 5. Tahapan Post – Hypnotic Suggestions, tahap diberikan sugesti positif pasca proses hypnosis ,yang diharapkan terus menerus menetap dialam bawah sadar seseorang dan mampu memberikan perubahan saat ia terbangun, dan sugesti yang diberikan memiliki tujuan agar prilaku tetap terbentuk sesuai harapan 6. Tahap Termination, tahap seseorang yang dalam kondisi terhipnosis dibangunkan dan dibawa kembali kealam sadar. “Inner beauty terlihat pada bahasa tubuh seseorang karena merupakan cerminan jujur apa yang dirasakan di dalam hati. Tatap mata yang tajam, bahu tegak, selalu tersenyum mengungkapkan bahasa tubuh yang dinamis. Seseorang akan terlihat begitu nyaman melakukan segala aktivitasnya tanpa ada keraguan dan tidak ada bagian tubuh yang menunjukkan ketertekanan,” terang Byang Mangku. Menurut Byang mangku, selalu dan penuhi diri dengan rasa syukur. Menjadi diri sendiri adalah hal terbaik. Meningkatkan potensi diri adalah sebuah tanggung jawab. Kemudian berpikir, berkata serta berprilaku yang baik haruslah tetap dijaga. “Berteman dengan orang-orang yang berpikir positif dapat membantu kita termotivasi,” ucapnya mengakhiri obrolan dengan Tokoh. –sri.ardhini@cybertokoh.com
Bugar Kesehatan reproduksi atau disingkat kespro tidak hanya urusan remaja namun, kespro merupakan urusan kita sepanjang hidup. Mengapa remaja menjadi ujung tombak karena dialah yang akan melanjutkan untuk menjadi generasi yang berkualitas. Demikian diungkapkan dr. Ayu Witriasih, M.Kes, Kabid Binkesmas Dinas Kesehatan Kota Denpasar, saat menyampaikan materi kespro di depan anggota WHDI Kota Denpasar.
S
aat ini, usia mulai berpacaran dan berhubungan seks bebas sekitar 15-19 tahun. Ironisnya, Indonesia menduduki prosentase pernikahan usia muda
Edisi 924/ 24 - 30 oktober 2016
11
Tiap Orang Punya Hak Reproduksi nomor dua di ASEAN. Angka kematian bayi dan balita lebih banyak terjadi pada ibu yang berusia di bawah 20 tahun. Pengetahuan remaja tentang kespro belum memadai. Di Jawa Tengah sebanyak 60 ibu tiap bulannya melakukan aborsi, dan sekitar 15%-30% adalah usia remaja. Ia menegaskan, kesehatan reproduksi merupakan isu penting yang kini dihadapi masyarakat. Angka kematian ibu melahirkan, kekerasan seksual, hamil
di luar nikah merupakan kejadian-kejadian yang mengancam masyarakat. Oleh sebab itu, kata dia, masyarakat harus memahami seperti apa persisnya persoalan kesehatan reproduksi tersebut. Perubahan psikologis remaja, masa storm dan stress, sensitif (tersinggung, marah), irasional, nekad, takut, ingin mandiri, ekspresif, rasa ingin tahu, sifat membangkang.Masa remaja merupakan masa pancaroba, masa kritis, dan masa pencarian identitas. Remaja pubertas mengalami
KPPAD Imbau Media Lebih Sensitif dalam Pemberitaan Anak Media masih dianggap kurang sensitif dalam pemberitaan kasus anak yang berhadapan dengan hukum. Demikian tergambar dalam sarasehan yang digelar Komisi Penyelenggara Perlindungan Anak Daerah (KPPAD) Provinsi Bali, Jumat (21/10) di Denpasar. Ketua KPPAD Provinsi Bali AA Sagung Anie Asmoro berharap dengan adanya sarasehan ini dapat menyamakan persepsi dalam menyikapi berbagai kasus anak yang berhadapan dengan hukum. Wakil Ketua KPPAD, Eka Santhi Indra Dewi menambahkan, pemberitaan media terhadap kasus anak harus selalu melihat kepentingan terbaik bagi si anak. Sementara, menurut Siti Sapurah, media memegang peranan penting dalam perjuangan kasus-kasus anak. “Tanpa media kita akan sulit berjuang karena ada beberapa kasus anak yang dihentikan penyelidikannya oleh kepolisian jika tidak dikawal media,” ujarnya. Ia sangat yakin, walaupun masih ada para jurnalis yang tidak sensitif, tapi persentasinya sangat kecil diban dingkan para jurnalis yang sangat beretika dalam menulis isu tentang anak yang berhadapan dengan hukum. Rofiqi Hasan dari Komisi Etik AJI Denpasar menegaskan, sebenarnya sudah banyak aturan yang mengikat para jurnalis ketika meliput kasus yang berkaitan dengan anak, seperti halnya dalam kode etik jurnalistik sudah diatur dengan tegas mengenai larangan untuk mengekpose korban pelecehan seksual termasuk identitasnya. Masalahnya, bisa jadi kurang sosialisasi di tengah
kehidupan media yang sangat dinamis yang cepat memunculkan jurnalis baru. Karena itu, beberapa jurnalis pun menyetujui, perlu diadakan sosialisasi yang berkesinambungan dan pelatihan bagi jurnalis. Acara yang dihadiri pemimpin media, para jurnalis, organisasi profesi wartawan, dan LSM peduli anak, menyepakati beberapa hal, media akan memberikan perhatian khsuus terhadap pemberitaan anak yang berhadapan dengan hukum meliputi, anak yang melakukan tindak pidana, anak sebagai korban tindak pidana, dan anak yang menjadi saksi. Media tidak akan memberikan indentitas anak yang menjadi korban tindak pidana, menjadi pelaku tindak pidana, dan menjadi saksi tindak pidana. Adapun identitas yang dimaksud, nama anak, nama orangtua, alamat rumah, wajah/foto, sekolah/alamat sekolah dan hal lain yang mengungkapkan identitas diri anak. Penyebutkan alamat anak yang terkena kasus pelecahan seksual dibatasi hanya sampai pada tingkat kecamatan. Penyebutan nama dalam pemberitaan hanya menggunakan inisial yang berupa singkatan. Anak yang dilaporkan hilang dapat dipublikasikan untuk segera ditemukan tetapi apabila ada indikasi anak tersebut menjadi korban sebuah tindak pidana dan kekerasan seksual maka media dalam pemberitaaan akan berupaya menjaga kerahasiaan identitas anak. Penggunaan istilah pemberitaan anak terutama anak yang menjadi korban kekerasan seksual, menggunakan bahasa yang baik, tidak seperti “digarap atau digagahi”. -wirati.astiti@cybertokoh.com
Dari kiri: Eka Santhi Indra Dewi, I Ketut Anjasmara, AA Sagung Anie Asmoro, dan Ni Luh GedeYastini
dr. Ayu Witriasih, M.Kes
pematangan fungsi organ yang membuat dorongan seksual, keinginan coba-coba, dan rasa ingin tahu. “Bentuk prilaku seksual yang dilakukan pelajar seperti pegang tangan, ciuman, cumbu, senggama. Yang dimaksud seks pranikah, pelukan, ciuman, raba bagian tubuh yang sensitif, peting, oral genital seks, dan senggama,” ujarnya. Mengapa remaja mau melakukan hubungan seks pranikah? Menurutnya, hal ini disebabkan dua faktor, dari dalam, dorongan seksual dari otak, rasa ingin tahu, dan kurang pengendalian diri. Faktor dari luar karena informasi kurang dan pergaulan. Menurutnya, yang menjadi faktor risiko, mobilitas penduduk tinggi dengan berbagai budaya berkumpul, teknologi canggih sehingga mudah meng akses gambar atau film porno, alat kontrasepsi mudah dibeli di toko/supermarket, pacaran bebas, pengendalian diri kurang, dan pengawasan orangtua yang terlalu longgar. Hubungan seks pranikah akan mengakibatkan hilang keperawanan, kehamilan tidak diinginkan, aborsi, dll. Dampak media dan psikososial, infeksi menular seksual dan hamil. Aborsi akan mengakibatkan kerusakan rahim, pendarahan, kemandulan, komplikasi bahkan kematian. Ia menilai, alasan remaja aborsi, untuk melanjutkan sekolah, takut ketahuan, malu, dan belum siap ekonomi. Menurutnya, risiko seks bebas dapat diminimalisir dengan pendidikan agama, pendidikan orangtua, dan pendidikan kespro. “Setiap anak diupayakan menyadari tangungjawab sebagai ge nerasi menerus yang membawa karma keluarga, generasi penerus bangsa dan negara,” ujar dokter yang pernah menjabat sebagai Kepala Puskemas IV Denpasar
Selatan ini. Untuk membentuk keluarga yang bahagia dan sejahtera, seorang calon suami atau istri usianya harus cukup dewasa, sehat jasmani rohani serta sudah mempunyai kemampuan mencari nafkah. Pendewasaan usia perkawinan ini bertujuan, memberikan pengertian dan kesadaran generasi muda agar di dalam merencanakan keluarga calon suami atau istri benar-benar mempertimbangkan: kesiapan fisik, mental, dan sosial ekonomi dharma agama, mempersiapkan masa reproduksi seorang ibu, meningkatkan kesejahteraan/ kesehatan ibu dan anak. Ia menyebutkan usia terbaik melangsungkan perkawinan, wanita usia 20 tahun ke atas sedangkan pria 25 tahun ke atas. Upaya yang dilakukan men dewasakan usia kawin, adalah dengan meningkatkan kesempatan pendidikan baik formal maupun nonformal, memperoleh pekerjaan, meningkatkan kemandirian dan kesiapan bekal memasuki perkawinan, memberikan peran dan kegiatan kemasyarakat an dalam organisasi kepemudaan seperti STT, memberikan penyuluhan kepada orang tua tentang bahaya negatif yang dapat ditimbulkan dari perkawinan pada usia muda, memberi penyuluhan terhadap tokoh masyarakat agar mendukung upaya pendewasaan usia perkawinan. Ia menyebutkan, usia terbaik bagi perempuan untuk hamil pertama adalah usia 20 tahun karena rahim sudah siap menerima kehamilan, secara mental dan sosial telah siap menjadi ibu. “Tiap orang memiliki hak reproduksi. Artinya, setiap orang baik laki-laki maupun perempuan mempunyai hak yang sama untuk memutuskan secara bebas dan bertanggung jawab kepada diri, keluarga, dan masyarakat mengenai jumlah anak, jarak antar anak, serta untuk menentukan waktu kelahiran anak dan dimana akan melahirkan. Tiap orang berhak memperoleh standar pelayanan kespro yang terbaik. Perempuan dan laki-laki berhak memperoleh informasi lengkap tentang seksualitas, kespro, manfaat dan efek samping obat-obatan dan tindakan medis. Memperoleh pelayanan KB yang aman dan efektif terjangkau, dapat diterima sesuai dengan pilihan, tampak paksaan tidak melawan hukum,” kata dr. Ayu. Selain itu, hubungan suami istri didasari penghargaan terhadap pasangan masing-masing dan dilakukan dalam situasi dan kondisi yang diinginkan bersama. -wirati.astiti@cybertokoh.com
12
Kuliner
Edisi 924/ 24 - 30 Oktober 2016
Edisi 924/ 24 - 30 Oktober 2016
Ni Nyoman Ariani
13
Festival Pepes Ikan Terpanjang di Bali
Pasta kering
Pasta aneka warna
Black spaghetti with smoked marlin cream sauce
P
asta dijadikan berbagai hidangan yang lezat setelah dimasak dengan cara direbus dan diberi aneka bumbu. Di Indonesia jenis pasta yang popular spageti, macaroni, dan lasagna. Restoran Stiff Chill Gelato yang berlokasi di Jalan Hayam Wuruk ini, menampilkan membuat pasta yang unik. Menurut pemiliknya, Putri Girindrawardani, pasta yang disajikan di restorannya sangat alami. Artinya, ia tidak memakai bahan pengawet ataupun pewarna sintetis. Ia membuat aneka pasta dengan warna-warni dari pewarna alami. “Untuk warna kuning saya memakai kunyit, warna oranye dari tomat, warna hijau memakai bayam dan lombok hijau besar, warna pink dari beetroot, dan warna hitam dari tinta cumi,” ujar perempuan yang bersuamikan lelaki asal Italia ini.
Untuk pembuatan pasta ini, ia mencampur semua bahan yang terdiri dari tepung, telur, olive oil, dan pewarna alami. Setelah menjadi satu adonan, kemudian dipipihkan sesuai ketebalan yang diinginkan. Kemudian dicetak sesuai keinginannya, entah untuk dibuat spageti, macaroni, fetucini, marmadele atau yang lainnya. Kemudian pasta ini ditaruh di tempat
yang teduh dan diangin-anginkan sampai menjadi kering. Saat akan digunakan, pasta kering ini tinggal direbus dan diberi bumbu atau saus sesuai kreasi menu yang diinginkan. Salah satu menu andalan Stiff Chill Gelato adalah fettucini ciocara dan black spaghetti with smoked marlin cream sauce. Fettucini ciocara terdiri dari campuran beberapa pasta dengan warna-warni yang menarik ditambah bacon, tuna, dan jamur. Menurut Putri Girindrawardani, cara memasaknya sangat mudah, aneka pasta hanya dimasak dengan tambahan bumbu, bawang putih cincang, garam, dan merica. Makanan ini sudah siap disantap dengan potongan cabai rawit hijau bagi
Linguini green curry
Fettucini ciocara
Anda yang suka pedas. Ia menambahkan, untuk rasa memang ia sudah cocokkan dengan lidah orang Indonesia sehingga rasa pasta ini bisa diterima oleh semua kalangan, baik anak-
Grilled chicken salad with thai dressing
anak maupun orang dewasa. “Jika suka pedas, kita tinggal memasukkan potongan cabai rawit hijau ke dalam pasta. Setelah diaduk-aduk dan rasa menyatu, siap dinikmati,” ujarnya. Untuk menu pasta, black spaghetti with smoked marlin cream sauce, lebih unik lagi. Bentuk pasta ini seperti mi dan warnanya hitam legam. Namun, Anda tak usah khawatir karena rasanya sangat lezat. Pasta ini dipadupadankan dengan seafood agar lebih menyatu karena ada kandungan tinta cumi di dalam pasta. “Tambahan krim di dalam pasta, membuat rasa pasta ini menjadi lebih gurih,” ujarnya. -wirati.astiti@cybertokoh.com
Es Warna-warni
Es krim, gelato, dan sorbet sepintas memang mirip. Banyak yang mengatakan ketiganya adalah jenis es krim. Namun, es krim, gelato, dan sorbet berbeda baik dari bahan maupun proses pembuatannya. Bahan baku sorbet sangat sederhana terbuat dari buah, air, dan gula. Sorbet dikenal dengan rasa buahnya yang dominan, karena memang terbuat dari buah asli yang segar.
Coconut delight
Stiff Chill Gelato menyajikan aneka sorbet yang menarik baik dari rasa maupun bentuk penyajiannya. Stiff Chill Gelato sorbet memiliki aneka sorbet yang unik, di antaranya, sorbet es lilin. Sorbet ini bentuknya memanjang seperti lilin. Bahannya terdiri dari buah semangka, jeruk nipis, dan mangga. Ada juga, fruit di sole terbuat dari mangga, jeruk nipis, dan semangka. Tropicale lebih unik lagi kar-
Fruit di sole
Hari Chef Sedunia Tanggal 20 Oktober menjadi hal yang sangat spesial bagi para penggiat kuliner karena pada tanggal tersebut diperingati sebagai Hari Chef Sedunia. Menurut Agung, sebagai bentuk kepedulian para chef, mereka yang tergabung dalam Bali Cullinary Professionals melakukan kegiatan sosial dengan mengajarkan anak-anak panti asuhan membuat kue dan menyerahkan bantuan satu oven kepada mereka. Tujuan acara ini, kata Agung, agar setelah latihan, mereka bisa membuat kue sendiri dan hasilnya bisa dijual untuk membantu membiayai keperluan mereka di panti asuhan.
M
berlangsung di seluruh mal yang ada di Indonesia. Kebetulan kami mengambil tema, festival pepes ikan terpanjang di Bali. Sambutan pengunjung juga lumayan bagus, karena mereka bisa ikut berpartisipasi dalam festival ini. Selain ikut mengipasi ikan yang dibakar, mereka juga bisa menikmati hasil yang sudah matang,” kata Gita ditemani Rusdy dari Bali Collection. Menurut President BCP, I Gusti Agung Ardiawan, festival ikan terpanjang ini memerlukan ikan sebanyak 80 kilogram. UnPresident BCP I Gusti Agung Ardiawan dan Representative Bali Collection Gita Sunarwulan sedang mencicipi pepes ikan tuk bumbu me-
enurut Representative Bali Collection, Gita Sunarwulan, pihaknya menyelenggarakan acara tersebut sebagai upaya mendukung promosi pariwisata Indonesia. “Kegiatan ini
Aneka Pasta Lezat Anda tentu mengenal pasta. Makanan asal Italia ini sudah dikenal banyak masyarakat Indonesia. Bahkan, malah menjadi favorti kaum muda. Pasta merupakan makanan olahan yang dibuat dari tepung terigu, olive oil, telur, dan garam yang dibentuk menjadi variasi ukuran dan bentuk.
Perhelatan kuliner yang sangat menarik pengunjung digelar Bali Collection, Kamis (20/10). Membuat pepes ikan dengan panjang 10 meter digelar di areal lobi Bali Collection, Nusa Dua. Acara yang bertajuk “Wonderful Indonesia Culinary & Shopping Festival 2016” ini, bekerja sama dengan Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI), Bali Cullinary Professionals (BCP), dan Kementerian Pariwisata.
ena selain dibuat dari sorbet nenas disajikan langsung dalam buah nenas segar. Coconut delight terbuat dari santan dan mangga yang disajikan di dalam buah kelapa. Bagi Anda yang suka salad, ada dua salad yang paling direkomendasikan di Stiff Chill Gelato. Grilled chicken salad with thai dressing dan linguini green curry. Linguini green curry ini memakai pasta warna hijau yang bahan pewarnanya dari lombok hijau besar, sehingga rasa pasta agak pedas. Pasta ini dipadukan dengan sayursayuran dan dicampur dengan bumbu kari. Sedangkan, Grilled chicken salad with thai dressing, merupakan campuran daun selada yang ditambahkan dengan
daging ayam panggang dan campuran saus thai. Rasa salad ini agak asam, tapi sangat enak dimakan sebagai makanan pembuka karena akan meningkatkan selera makan. Nah, bagaimana para pembaca setia Tokoh, Anda tertarik dengan hidangan menu spesial minggu ini. Banyak lagi menu lain andalan dari restoran yang banyak dikunjungi kaum muda ini. Selamat mencoba. –wirati.astiti@cybertokoh.com
makai basa genep Bali yang sangat kental dengan rempah-rempahnya. “Untuk bumbu tambahan daun kemangi yang membuat rasa pepes makin sedap. Prosesnya setelah dibungkus dengan daun dibakar dalam bambu,” kata Agung. Ia menambahkan, untuk pembakaran, pepes ikan ini dialasi dengan bambu ukuran 10 meter. Tujuan menggunakan bambu, selain kematangan pepes ikan menjadi lebih sempurna, bambu juga memberi tambahan aroma dan rasa pada pepes. “Rasa pepes ikan menjadi lebih lezat,” tambah Agung. Untuk bahan utama ikan dipilih ikan mahi-mahi, karena teksturnya lebih lembut dan harga lebih murah dibandingkan ikan tuna. Dengan
pembakaran selama 1,5 jam, pepes ikan sudah bisa dinikmati pengunjung yang berada di Bali Collection. Bali Collection juga menyediakan nasi tumpeng putih dan minuman gratis kepada para pengunjung yang datang melihat pertunjukan tersebut. Salah satu turis asal Eropa yang sedang jalanjalan ke Bali Collection mengaku sangat tertarik dengan acara festival ikan tersebut. Ia sempat mencicipi pepes ikan tersebut dan mengatakan rasanya sangat enak dan aroma bumbunya sangat harum.
–wirati.astiti@cybertokoh.com
Asap mengepul
Saos Asam Manis Cumi
Bahan: 750 gr 1 buah 2 buah 1 sdt 5 sdm 3 sdm 1 sdm
Sarwan : cumi agak besar buang tintanya : bawang bombay cincang bulat : bawang prai, iris serong : lada bubuk : saus tomat : saus sambal : saus Bangkok
1 sdm : saus tiram 1 sdm : margarine 1 buah : kaldu blok rasa ayam 1 ruas : jari jahe memarkan 1 sdm : air jeruk lemon Gula, garam secukupnya.
Bahan : 500 gr : daging sapi 300 gr : babat 150 gr : usus 3 lembar : daun jeruk 3 batang : serai memarkan 2 ruas : jari lengkuas, memarkan 1 buah : kaldu blok, rasa sapi Gula, garam, minyak secukupnya Bumbu Halus : 11 buah : bawang merah 5 siung : bawang putih
aduk juga bersama air, biarkan sampai mendidih lalu masukkan irisan cumi aduk-aduk sebentar kira-kira 5 menit, matang, masukkan air jeruk lemon, aduk, siap disajikan.
Cara Membuat: - Potong bulat cumi lalu cuci bersih, tiriskan. - Tumis irisan bawang bombay dan irisan daun bawang prai sampai harum lalu masukkan bahanbahan lainnya, aduk-
Soto Madura
Es lilin
Pepes ikan sepanjang 10 meter
3 4 1 4 2 1
ruas butir sdt butir ruas sdt
: : : : : :
jari kunyit, bakar kemiri sangrai ketumbar sangrai kemiri sangrai jari jahe lada butir
Cara Membuat: - Cuci bersih daging dan babat, juga usus sampai bersih. Lalu rebus daging sapi dan babat juga usus, beda tempat, masak sampai empuk, tiriskan,
Gulai Daging Sapi
potong-potong. - Tumis bumbu halus bersama serai, daun jeruk dan lengkuas, masak hingga harum, lalu masukkan irisan daging dan babat juga usus, masukkan 1 liter air dan sisa rebusan air daging sapi, saring, masak hingga mendidih lalu masukkan gula, garam dan kaldu bubuk. - Masak sampai bumbu benarbenar meresap dan siap disajikan dengan taburan bawang putih goreng dan bahan pelengkap lainnya, irisan daun seledri dan daun bawang.
Bahan : 1 kg : daging sapi, potong dadu sedang 3 lembar : daun jeruk 2 ruas : lengkuas memarkan 3 batang : serai memarkan 1 buah : kaldu blok rasa sapi 1 batang : jari kayu manis 4 buah : pekak 650 ml : santan encer 300 ml : santan kental 1 sdt : klabet Gula, garam, minyak secukupnya Bumbu Halus : 11 buah : bawang merah 5 siung : bawang putih 1 sdm : ketumbar ½ sdt : jinten 3 ruas : jari jahe 2 ruas : jari kunyit bakar 4 butir : kemiri sangrai
1 ruas : jari kencur 3 buah : cabe besar merah 7 buah : cabe rawit kecil Cara Membuat: - Rebus irisan daging sampai matang, tiriskan. Tumis bumbu halus bersama daun jeruk, serai, kayu manis, pekak dan klabet, masak hingga harum. - Masukkan daging, aduk, lalu masukkan santan encer, masak hingga mendidih dan daging empuk, masukkan kaldu bubuk, gula, garam, aduk. - Masukkan santan kental, masak dengan api sedang, aduk perlahan biar santan tidak pecah, biarkan bumbu meresep dan matang, siap disajikan dengan bawang putih goreng.
12
Kuliner
Edisi 924/ 24 - 30 Oktober 2016
Edisi 924/ 24 - 30 Oktober 2016
Ni Nyoman Ariani
13
Festival Pepes Ikan Terpanjang di Bali
Pasta kering
Pasta aneka warna
Black spaghetti with smoked marlin cream sauce
P
asta dijadikan berbagai hidangan yang lezat setelah dimasak dengan cara direbus dan diberi aneka bumbu. Di Indonesia jenis pasta yang popular spageti, macaroni, dan lasagna. Restoran Stiff Chill Gelato yang berlokasi di Jalan Hayam Wuruk ini, menampilkan membuat pasta yang unik. Menurut pemiliknya, Putri Girindrawardani, pasta yang disajikan di restorannya sangat alami. Artinya, ia tidak memakai bahan pengawet ataupun pewarna sintetis. Ia membuat aneka pasta dengan warna-warni dari pewarna alami. “Untuk warna kuning saya memakai kunyit, warna oranye dari tomat, warna hijau memakai bayam dan lombok hijau besar, warna pink dari beetroot, dan warna hitam dari tinta cumi,” ujar perempuan yang bersuamikan lelaki asal Italia ini.
Untuk pembuatan pasta ini, ia mencampur semua bahan yang terdiri dari tepung, telur, olive oil, dan pewarna alami. Setelah menjadi satu adonan, kemudian dipipihkan sesuai ketebalan yang diinginkan. Kemudian dicetak sesuai keinginannya, entah untuk dibuat spageti, macaroni, fetucini, marmadele atau yang lainnya. Kemudian pasta ini ditaruh di tempat
yang teduh dan diangin-anginkan sampai menjadi kering. Saat akan digunakan, pasta kering ini tinggal direbus dan diberi bumbu atau saus sesuai kreasi menu yang diinginkan. Salah satu menu andalan Stiff Chill Gelato adalah fettucini ciocara dan black spaghetti with smoked marlin cream sauce. Fettucini ciocara terdiri dari campuran beberapa pasta dengan warna-warni yang menarik ditambah bacon, tuna, dan jamur. Menurut Putri Girindrawardani, cara memasaknya sangat mudah, aneka pasta hanya dimasak dengan tambahan bumbu, bawang putih cincang, garam, dan merica. Makanan ini sudah siap disantap dengan potongan cabai rawit hijau bagi
Linguini green curry
Fettucini ciocara
Anda yang suka pedas. Ia menambahkan, untuk rasa memang ia sudah cocokkan dengan lidah orang Indonesia sehingga rasa pasta ini bisa diterima oleh semua kalangan, baik anak-
Grilled chicken salad with thai dressing
anak maupun orang dewasa. “Jika suka pedas, kita tinggal memasukkan potongan cabai rawit hijau ke dalam pasta. Setelah diaduk-aduk dan rasa menyatu, siap dinikmati,” ujarnya. Untuk menu pasta, black spaghetti with smoked marlin cream sauce, lebih unik lagi. Bentuk pasta ini seperti mi dan warnanya hitam legam. Namun, Anda tak usah khawatir karena rasanya sangat lezat. Pasta ini dipadupadankan dengan seafood agar lebih menyatu karena ada kandungan tinta cumi di dalam pasta. “Tambahan krim di dalam pasta, membuat rasa pasta ini menjadi lebih gurih,” ujarnya. -wirati.astiti@cybertokoh.com
Es Warna-warni
Es krim, gelato, dan sorbet sepintas memang mirip. Banyak yang mengatakan ketiganya adalah jenis es krim. Namun, es krim, gelato, dan sorbet berbeda baik dari bahan maupun proses pembuatannya. Bahan baku sorbet sangat sederhana terbuat dari buah, air, dan gula. Sorbet dikenal dengan rasa buahnya yang dominan, karena memang terbuat dari buah asli yang segar.
Coconut delight
Stiff Chill Gelato menyajikan aneka sorbet yang menarik baik dari rasa maupun bentuk penyajiannya. Stiff Chill Gelato sorbet memiliki aneka sorbet yang unik, di antaranya, sorbet es lilin. Sorbet ini bentuknya memanjang seperti lilin. Bahannya terdiri dari buah semangka, jeruk nipis, dan mangga. Ada juga, fruit di sole terbuat dari mangga, jeruk nipis, dan semangka. Tropicale lebih unik lagi kar-
Fruit di sole
Hari Chef Sedunia Tanggal 20 Oktober menjadi hal yang sangat spesial bagi para penggiat kuliner karena pada tanggal tersebut diperingati sebagai Hari Chef Sedunia. Menurut Agung, sebagai bentuk kepedulian para chef, mereka yang tergabung dalam Bali Cullinary Professionals melakukan kegiatan sosial dengan mengajarkan anak-anak panti asuhan membuat kue dan menyerahkan bantuan satu oven kepada mereka. Tujuan acara ini, kata Agung, agar setelah latihan, mereka bisa membuat kue sendiri dan hasilnya bisa dijual untuk membantu membiayai keperluan mereka di panti asuhan.
M
berlangsung di seluruh mal yang ada di Indonesia. Kebetulan kami mengambil tema, festival pepes ikan terpanjang di Bali. Sambutan pengunjung juga lumayan bagus, karena mereka bisa ikut berpartisipasi dalam festival ini. Selain ikut mengipasi ikan yang dibakar, mereka juga bisa menikmati hasil yang sudah matang,” kata Gita ditemani Rusdy dari Bali Collection. Menurut President BCP, I Gusti Agung Ardiawan, festival ikan terpanjang ini memerlukan ikan sebanyak 80 kilogram. UnPresident BCP I Gusti Agung Ardiawan dan Representative Bali Collection Gita Sunarwulan sedang mencicipi pepes ikan tuk bumbu me-
enurut Representative Bali Collection, Gita Sunarwulan, pihaknya menyelenggarakan acara tersebut sebagai upaya mendukung promosi pariwisata Indonesia. “Kegiatan ini
Aneka Pasta Lezat Anda tentu mengenal pasta. Makanan asal Italia ini sudah dikenal banyak masyarakat Indonesia. Bahkan, malah menjadi favorti kaum muda. Pasta merupakan makanan olahan yang dibuat dari tepung terigu, olive oil, telur, dan garam yang dibentuk menjadi variasi ukuran dan bentuk.
Perhelatan kuliner yang sangat menarik pengunjung digelar Bali Collection, Kamis (20/10). Membuat pepes ikan dengan panjang 10 meter digelar di areal lobi Bali Collection, Nusa Dua. Acara yang bertajuk “Wonderful Indonesia Culinary & Shopping Festival 2016” ini, bekerja sama dengan Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI), Bali Cullinary Professionals (BCP), dan Kementerian Pariwisata.
ena selain dibuat dari sorbet nenas disajikan langsung dalam buah nenas segar. Coconut delight terbuat dari santan dan mangga yang disajikan di dalam buah kelapa. Bagi Anda yang suka salad, ada dua salad yang paling direkomendasikan di Stiff Chill Gelato. Grilled chicken salad with thai dressing dan linguini green curry. Linguini green curry ini memakai pasta warna hijau yang bahan pewarnanya dari lombok hijau besar, sehingga rasa pasta agak pedas. Pasta ini dipadukan dengan sayursayuran dan dicampur dengan bumbu kari. Sedangkan, Grilled chicken salad with thai dressing, merupakan campuran daun selada yang ditambahkan dengan
daging ayam panggang dan campuran saus thai. Rasa salad ini agak asam, tapi sangat enak dimakan sebagai makanan pembuka karena akan meningkatkan selera makan. Nah, bagaimana para pembaca setia Tokoh, Anda tertarik dengan hidangan menu spesial minggu ini. Banyak lagi menu lain andalan dari restoran yang banyak dikunjungi kaum muda ini. Selamat mencoba. –wirati.astiti@cybertokoh.com
makai basa genep Bali yang sangat kental dengan rempah-rempahnya. “Untuk bumbu tambahan daun kemangi yang membuat rasa pepes makin sedap. Prosesnya setelah dibungkus dengan daun dibakar dalam bambu,” kata Agung. Ia menambahkan, untuk pembakaran, pepes ikan ini dialasi dengan bambu ukuran 10 meter. Tujuan menggunakan bambu, selain kematangan pepes ikan menjadi lebih sempurna, bambu juga memberi tambahan aroma dan rasa pada pepes. “Rasa pepes ikan menjadi lebih lezat,” tambah Agung. Untuk bahan utama ikan dipilih ikan mahi-mahi, karena teksturnya lebih lembut dan harga lebih murah dibandingkan ikan tuna. Dengan
pembakaran selama 1,5 jam, pepes ikan sudah bisa dinikmati pengunjung yang berada di Bali Collection. Bali Collection juga menyediakan nasi tumpeng putih dan minuman gratis kepada para pengunjung yang datang melihat pertunjukan tersebut. Salah satu turis asal Eropa yang sedang jalanjalan ke Bali Collection mengaku sangat tertarik dengan acara festival ikan tersebut. Ia sempat mencicipi pepes ikan tersebut dan mengatakan rasanya sangat enak dan aroma bumbunya sangat harum.
–wirati.astiti@cybertokoh.com
Asap mengepul
Saos Asam Manis Cumi
Bahan: 750 gr 1 buah 2 buah 1 sdt 5 sdm 3 sdm 1 sdm
Sarwan : cumi agak besar buang tintanya : bawang bombay cincang bulat : bawang prai, iris serong : lada bubuk : saus tomat : saus sambal : saus Bangkok
1 sdm : saus tiram 1 sdm : margarine 1 buah : kaldu blok rasa ayam 1 ruas : jari jahe memarkan 1 sdm : air jeruk lemon Gula, garam secukupnya.
Bahan : 500 gr : daging sapi 300 gr : babat 150 gr : usus 3 lembar : daun jeruk 3 batang : serai memarkan 2 ruas : jari lengkuas, memarkan 1 buah : kaldu blok, rasa sapi Gula, garam, minyak secukupnya Bumbu Halus : 11 buah : bawang merah 5 siung : bawang putih
aduk juga bersama air, biarkan sampai mendidih lalu masukkan irisan cumi aduk-aduk sebentar kira-kira 5 menit, matang, masukkan air jeruk lemon, aduk, siap disajikan.
Cara Membuat: - Potong bulat cumi lalu cuci bersih, tiriskan. - Tumis irisan bawang bombay dan irisan daun bawang prai sampai harum lalu masukkan bahanbahan lainnya, aduk-
Soto Madura
Es lilin
Pepes ikan sepanjang 10 meter
3 4 1 4 2 1
ruas butir sdt butir ruas sdt
: : : : : :
jari kunyit, bakar kemiri sangrai ketumbar sangrai kemiri sangrai jari jahe lada butir
Cara Membuat: - Cuci bersih daging dan babat, juga usus sampai bersih. Lalu rebus daging sapi dan babat juga usus, beda tempat, masak sampai empuk, tiriskan,
Gulai Daging Sapi
potong-potong. - Tumis bumbu halus bersama serai, daun jeruk dan lengkuas, masak hingga harum, lalu masukkan irisan daging dan babat juga usus, masukkan 1 liter air dan sisa rebusan air daging sapi, saring, masak hingga mendidih lalu masukkan gula, garam dan kaldu bubuk. - Masak sampai bumbu benarbenar meresap dan siap disajikan dengan taburan bawang putih goreng dan bahan pelengkap lainnya, irisan daun seledri dan daun bawang.
Bahan : 1 kg : daging sapi, potong dadu sedang 3 lembar : daun jeruk 2 ruas : lengkuas memarkan 3 batang : serai memarkan 1 buah : kaldu blok rasa sapi 1 batang : jari kayu manis 4 buah : pekak 650 ml : santan encer 300 ml : santan kental 1 sdt : klabet Gula, garam, minyak secukupnya Bumbu Halus : 11 buah : bawang merah 5 siung : bawang putih 1 sdm : ketumbar ½ sdt : jinten 3 ruas : jari jahe 2 ruas : jari kunyit bakar 4 butir : kemiri sangrai
1 ruas : jari kencur 3 buah : cabe besar merah 7 buah : cabe rawit kecil Cara Membuat: - Rebus irisan daging sampai matang, tiriskan. Tumis bumbu halus bersama daun jeruk, serai, kayu manis, pekak dan klabet, masak hingga harum. - Masukkan daging, aduk, lalu masukkan santan encer, masak hingga mendidih dan daging empuk, masukkan kaldu bubuk, gula, garam, aduk. - Masukkan santan kental, masak dengan api sedang, aduk perlahan biar santan tidak pecah, biarkan bumbu meresep dan matang, siap disajikan dengan bawang putih goreng.
14
Cantik Alami dengan Inner Beauty
Byang Mangku Hypno
Inner Beauty terkait erat dengan kecantikan yang terpancar dari dalam diri seorang perempuan dengan daya tarik alami dan kharismatik, dengan satu hal terpenting yang menyertainya adalah ketulusan. Dengan ketulusan, bersikap apa adanya , akan membuat seseorang nyaman dimanapun serta kapanpun. Nyaman dan aman tanpa syarat. Demikian disampaikan Byang Mangku Hypno, salah seorang pakar Hypno Beauty saat ditemui di Center Brahma Kunta, pekan lalu.
S
Jelita
Edisi 924/ 24 - 30 oktober 2016
ebagai contoh dikatakannya, perempuan yang secara fisik biasa saja, namun memiliki banyak sahabat, selalu dirindukan, dikasihi, dan membuat para sahabatnya nyaman dan menyayanginya dengan tulus. Tapi, ada juga perempuan yang beruntung dikaruniai daya tarik dan kharisma secara alami. Selanjutnya dengan gamblang Byang Mangku memaparkan perihal inner beauty. Bahwa Inner Beauty (IB), katanya meliputi 4 kecerdasan yaitu : Pertama, .IQ (intelegentia quotient) ; kecerdasan atau kemampuan berpikir dalam membuat keputusan yang tepat. Kedua, EQ (emotional quotien); Sensitifitas atau insting terhadap kesempatan yang ada. Ketiga, SQ (spiritual quotien) ; Kecerdasan untuk mendapatkan resistensi (meredam ledakan emosional / energi negatif dalam menjalani kehidupan . Keempat, CQ (cosmic quotien ); Kemampuan untuk menyelaraskan diri terhadap situasi dan kondisi nyata yang dialami dalam kehidupan nyata.”Keempat kecerdasan inilah yang akan menghasilkan sebuah kecerdasan holistik dan disebut AQ (advercity quotien) yaitu; kemampuan seseorang untuk mengatasi segala fenomena kehidupan / daya tahan terhadap kesehatan, kesuksesan, keberlimpahan kasih sayang dan harta, lalu bahagia,” tuturnya. Hal sederhana yang dapat dilakukan dalam keseharian untuk memperoleh dan mempertahankan inner beauty dan bisa dijadikan kriteria untuk membangkitkannya adalah ; (1) Fisik, tidak harus identik dengan mata belok, hidung mancung dan lainnya. Namun, bagaimana seorang perempuan mampu bersyukur padaTuhan, dengan jalan menjaga dan merawat raga. Ini karena Tuhan telah bermurah hati memberi raga yang utuh dan berfungsi sebagaimana mestinya. (2) Kepribadian ,terkait sikap mental positif , matang dalam berpikir, bertanggung jawab dan mampu mengendalikan diri. (3) Indipenden / kemandirian; terbukti kemandirian membuat perempuan semakin cantik, mampu membina mental menjadi kuat, tegar, serta bermanfaat bagi lingkungannya.(4) Spiritual; mampu menggiring perempuan memiliki pola pikir yang hebat dan mulia, mematuhi norma dan nilai di masyarakat. Dengan begitu perempuan lebih percaya diri, semakin anggun, cantik, dan bermartabat. (5) Harmoni, inilah yang menyempurnakan sehingga inner beauty menetap disetian perempuan (interpersonal relationships skill) keterampilan untuk membina hubungan antar manusia secara harmonis dan luwes dalam bergaul. Byang Mangku juga mengatakan, dengan memiliki inner
beauty seorang perempuan akan mau dan mampu menerima diri apa adanya, selalu berusaha menggali potensi diri. Memberdayakan diri melalui pikiran karenan pikiran positif akan membuat perempuan bermanfaat bagi lingkungannya. “Hypno Beauty merupakan salah satu cara terdahsyat untuk membangkitkan inner beauty, melalui metode hipnosis. Perempuan bisa dengan mudah mengubah mindset agar memperoleh dan mendapatkan pancaran inner beauty-nya,” ucap Byang Mangku. Hypno Beauty , katanya merupakan metode memaksimalkan potensi diri agar perempuan menjadi cantik luar dalam melalui kekuatan pikiran. Hypno Beauty dapat mengoptimalkan fungsi zat kimiawi otak sehingga jumlah hormon yang diproduksi dapat terjaga dan bagian terpenting dari otak mendapat cukup asupan. Hormon yang mampu meningkatkan vitalitas hidup,kecantikan dan kesehatan lahir batin antara lain: 1. Endorphine; membuat hati senang , ceria, semangat dan memiliki motivasi 2. Encyphalein; membuat perasaan menjadi tenang, nyaman, dan lebih fokus. 3. Beta-Endorphine; membuat hati tidak mudah putus asa, cengeng, malu, ini membangkitkan kepercayaan diri. 4. Melatonine; membuat mata lelah, ngantuk, sayup , malas, dan nyaman.Hormon ini dapat mengatur prilaku dan katup emosi sehingga menjadikan Anda pribadi yang lebih nyaman, bahagia dan percaya diri. Untuk tahapan dalam Hypno Beauty, dari pengalaman serta hasil berpraktik di berbagai wilayah Indonesia serta kunjungan pasien dari manca negara, langkah-langkah yang biasa dilakukan di center Brahma Kunta adalah sebagai berikut: 1. Tahap Pre- Talk, tahap penggalian informasi dan masalah, atau menemukan pemicu jika memiliki trauma. 2. Tahap Pre- Induction , dimana sugesti mulai disiapkan untuk nantinya dimasukkan kealam bawah sadar, sesuai disease
(masalah) dan distress (akibat dari permasalahan) untuk semua masalah yang dihadapi. 3. Tahap Induc”on , dimana seseorang diantar menuju gelombang theta ; kondisi subjek dibuat mengantuk, nyaman , diantar memasuki alam relaksasi dan sejenak melupakan realita yang dialami. 4. Tahapan Hipnosis, tahap dimana seseorang dalam keadaan atau kondisi setengah bangun dan setengah tidur, berada pada gelombang theta (heavy trance) 5. Tahapan Post – Hypnotic Suggestions, tahap diberikan sugesti positif pasca proses hypnosis ,yang diharapkan terus menerus menetap dialam bawah sadar seseorang dan mampu memberikan perubahan saat ia terbangun, dan sugesti yang diberikan memiliki tujuan agar prilaku tetap terbentuk sesuai harapan 6. Tahap Termination, tahap seseorang yang dalam kondisi terhipnosis dibangunkan dan dibawa kembali kealam sadar. “Inner beauty terlihat pada bahasa tubuh seseorang karena merupakan cerminan jujur apa yang dirasakan di dalam hati. Tatap mata yang tajam, bahu tegak, selalu tersenyum mengungkapkan bahasa tubuh yang dinamis. Seseorang akan terlihat begitu nyaman melakukan segala aktivitasnya tanpa ada keraguan dan tidak ada bagian tubuh yang menunjukkan ketertekanan,” terang Byang Mangku. Menurut Byang mangku, selalu dan penuhi diri dengan rasa syukur. Menjadi diri sendiri adalah hal terbaik. Meningkatkan potensi diri adalah sebuah tanggung jawab. Kemudian berpikir, berkata serta berprilaku yang baik haruslah tetap dijaga. “Berteman dengan orang-orang yang berpikir positif dapat membantu kita termotivasi,” ucapnya mengakhiri obrolan dengan Tokoh. –sri.ardhini@cybertokoh.com
Bugar Kesehatan reproduksi atau disingkat kespro tidak hanya urusan remaja namun, kespro merupakan urusan kita sepanjang hidup. Mengapa remaja menjadi ujung tombak karena dialah yang akan melanjutkan untuk menjadi generasi yang berkualitas. Demikian diungkapkan dr. Ayu Witriasih, M.Kes, Kabid Binkesmas Dinas Kesehatan Kota Denpasar, saat menyampaikan materi kespro di depan anggota WHDI Kota Denpasar.
S
aat ini, usia mulai berpacaran dan berhubungan seks bebas sekitar 15-19 tahun. Ironisnya, Indonesia menduduki prosentase pernikahan usia muda
Edisi 924/ 24 - 30 oktober 2016
11
Tiap Orang Punya Hak Reproduksi nomor dua di ASEAN. Angka kematian bayi dan balita lebih banyak terjadi pada ibu yang berusia di bawah 20 tahun. Pengetahuan remaja tentang kespro belum memadai. Di Jawa Tengah sebanyak 60 ibu tiap bulannya melakukan aborsi, dan sekitar 15%-30% adalah usia remaja. Ia menegaskan, kesehatan reproduksi merupakan isu penting yang kini dihadapi masyarakat. Angka kematian ibu melahirkan, kekerasan seksual, hamil
di luar nikah merupakan kejadian-kejadian yang mengancam masyarakat. Oleh sebab itu, kata dia, masyarakat harus memahami seperti apa persisnya persoalan kesehatan reproduksi tersebut. Perubahan psikologis remaja, masa storm dan stress, sensitif (tersinggung, marah), irasional, nekad, takut, ingin mandiri, ekspresif, rasa ingin tahu, sifat membangkang.Masa remaja merupakan masa pancaroba, masa kritis, dan masa pencarian identitas. Remaja pubertas mengalami
KPPAD Imbau Media Lebih Sensitif dalam Pemberitaan Anak Media masih dianggap kurang sensitif dalam pemberitaan kasus anak yang berhadapan dengan hukum. Demikian tergambar dalam sarasehan yang digelar Komisi Penyelenggara Perlindungan Anak Daerah (KPPAD) Provinsi Bali, Jumat (21/10) di Denpasar. Ketua KPPAD Provinsi Bali AA Sagung Anie Asmoro berharap dengan adanya sarasehan ini dapat menyamakan persepsi dalam menyikapi berbagai kasus anak yang berhadapan dengan hukum. Wakil Ketua KPPAD, Eka Santhi Indra Dewi menambahkan, pemberitaan media terhadap kasus anak harus selalu melihat kepentingan terbaik bagi si anak. Sementara, menurut Siti Sapurah, media memegang peranan penting dalam perjuangan kasus-kasus anak. “Tanpa media kita akan sulit berjuang karena ada beberapa kasus anak yang dihentikan penyelidikannya oleh kepolisian jika tidak dikawal media,” ujarnya. Ia sangat yakin, walaupun masih ada para jurnalis yang tidak sensitif, tapi persentasinya sangat kecil diban dingkan para jurnalis yang sangat beretika dalam menulis isu tentang anak yang berhadapan dengan hukum. Rofiqi Hasan dari Komisi Etik AJI Denpasar menegaskan, sebenarnya sudah banyak aturan yang mengikat para jurnalis ketika meliput kasus yang berkaitan dengan anak, seperti halnya dalam kode etik jurnalistik sudah diatur dengan tegas mengenai larangan untuk mengekpose korban pelecehan seksual termasuk identitasnya. Masalahnya, bisa jadi kurang sosialisasi di tengah
kehidupan media yang sangat dinamis yang cepat memunculkan jurnalis baru. Karena itu, beberapa jurnalis pun menyetujui, perlu diadakan sosialisasi yang berkesinambungan dan pelatihan bagi jurnalis. Acara yang dihadiri pemimpin media, para jurnalis, organisasi profesi wartawan, dan LSM peduli anak, menyepakati beberapa hal, media akan memberikan perhatian khsuus terhadap pemberitaan anak yang berhadapan dengan hukum meliputi, anak yang melakukan tindak pidana, anak sebagai korban tindak pidana, dan anak yang menjadi saksi. Media tidak akan memberikan indentitas anak yang menjadi korban tindak pidana, menjadi pelaku tindak pidana, dan menjadi saksi tindak pidana. Adapun identitas yang dimaksud, nama anak, nama orangtua, alamat rumah, wajah/foto, sekolah/alamat sekolah dan hal lain yang mengungkapkan identitas diri anak. Penyebutkan alamat anak yang terkena kasus pelecahan seksual dibatasi hanya sampai pada tingkat kecamatan. Penyebutan nama dalam pemberitaan hanya menggunakan inisial yang berupa singkatan. Anak yang dilaporkan hilang dapat dipublikasikan untuk segera ditemukan tetapi apabila ada indikasi anak tersebut menjadi korban sebuah tindak pidana dan kekerasan seksual maka media dalam pemberitaaan akan berupaya menjaga kerahasiaan identitas anak. Penggunaan istilah pemberitaan anak terutama anak yang menjadi korban kekerasan seksual, menggunakan bahasa yang baik, tidak seperti “digarap atau digagahi”. -wirati.astiti@cybertokoh.com
Dari kiri: Eka Santhi Indra Dewi, I Ketut Anjasmara, AA Sagung Anie Asmoro, dan Ni Luh GedeYastini
dr. Ayu Witriasih, M.Kes
pematangan fungsi organ yang membuat dorongan seksual, keinginan coba-coba, dan rasa ingin tahu. “Bentuk prilaku seksual yang dilakukan pelajar seperti pegang tangan, ciuman, cumbu, senggama. Yang dimaksud seks pranikah, pelukan, ciuman, raba bagian tubuh yang sensitif, peting, oral genital seks, dan senggama,” ujarnya. Mengapa remaja mau melakukan hubungan seks pranikah? Menurutnya, hal ini disebabkan dua faktor, dari dalam, dorongan seksual dari otak, rasa ingin tahu, dan kurang pengendalian diri. Faktor dari luar karena informasi kurang dan pergaulan. Menurutnya, yang menjadi faktor risiko, mobilitas penduduk tinggi dengan berbagai budaya berkumpul, teknologi canggih sehingga mudah meng akses gambar atau film porno, alat kontrasepsi mudah dibeli di toko/supermarket, pacaran bebas, pengendalian diri kurang, dan pengawasan orangtua yang terlalu longgar. Hubungan seks pranikah akan mengakibatkan hilang keperawanan, kehamilan tidak diinginkan, aborsi, dll. Dampak media dan psikososial, infeksi menular seksual dan hamil. Aborsi akan mengakibatkan kerusakan rahim, pendarahan, kemandulan, komplikasi bahkan kematian. Ia menilai, alasan remaja aborsi, untuk melanjutkan sekolah, takut ketahuan, malu, dan belum siap ekonomi. Menurutnya, risiko seks bebas dapat diminimalisir dengan pendidikan agama, pendidikan orangtua, dan pendidikan kespro. “Setiap anak diupayakan menyadari tangungjawab sebagai ge nerasi menerus yang membawa karma keluarga, generasi penerus bangsa dan negara,” ujar dokter yang pernah menjabat sebagai Kepala Puskemas IV Denpasar
Selatan ini. Untuk membentuk keluarga yang bahagia dan sejahtera, seorang calon suami atau istri usianya harus cukup dewasa, sehat jasmani rohani serta sudah mempunyai kemampuan mencari nafkah. Pendewasaan usia perkawinan ini bertujuan, memberikan pengertian dan kesadaran generasi muda agar di dalam merencanakan keluarga calon suami atau istri benar-benar mempertimbangkan: kesiapan fisik, mental, dan sosial ekonomi dharma agama, mempersiapkan masa reproduksi seorang ibu, meningkatkan kesejahteraan/ kesehatan ibu dan anak. Ia menyebutkan usia terbaik melangsungkan perkawinan, wanita usia 20 tahun ke atas sedangkan pria 25 tahun ke atas. Upaya yang dilakukan men dewasakan usia kawin, adalah dengan meningkatkan kesempatan pendidikan baik formal maupun nonformal, memperoleh pekerjaan, meningkatkan kemandirian dan kesiapan bekal memasuki perkawinan, memberikan peran dan kegiatan kemasyarakat an dalam organisasi kepemudaan seperti STT, memberikan penyuluhan kepada orang tua tentang bahaya negatif yang dapat ditimbulkan dari perkawinan pada usia muda, memberi penyuluhan terhadap tokoh masyarakat agar mendukung upaya pendewasaan usia perkawinan. Ia menyebutkan, usia terbaik bagi perempuan untuk hamil pertama adalah usia 20 tahun karena rahim sudah siap menerima kehamilan, secara mental dan sosial telah siap menjadi ibu. “Tiap orang memiliki hak reproduksi. Artinya, setiap orang baik laki-laki maupun perempuan mempunyai hak yang sama untuk memutuskan secara bebas dan bertanggung jawab kepada diri, keluarga, dan masyarakat mengenai jumlah anak, jarak antar anak, serta untuk menentukan waktu kelahiran anak dan dimana akan melahirkan. Tiap orang berhak memperoleh standar pelayanan kespro yang terbaik. Perempuan dan laki-laki berhak memperoleh informasi lengkap tentang seksualitas, kespro, manfaat dan efek samping obat-obatan dan tindakan medis. Memperoleh pelayanan KB yang aman dan efektif terjangkau, dapat diterima sesuai dengan pilihan, tampak paksaan tidak melawan hukum,” kata dr. Ayu. Selain itu, hubungan suami istri didasari penghargaan terhadap pasangan masing-masing dan dilakukan dalam situasi dan kondisi yang diinginkan bersama. -wirati.astiti@cybertokoh.com
10
Kreasi
Edisi 924/ 24 - 30 Oktober 2016
Wayang Kulit Bali akan Berjaya Kembali
Sekelompok mahasiswa dari Amerika Serikat mengunjungi rumah seorang dalang wayang kulit di Desa Sukawati, Gianyar, awal Oktober lalu. Lima belas orang mahasiswa jurusan sejarah dan antropologi The College of Wooster, Ohio tersebut, siang itu, menimba pengetahuan budaya melalui pengamatannya terhadap teater boneka pipih dua dimensi yang dikenal dengan wayang, salah satu kesenian Indonesia yang telah diakui Unesco PBB sebagai warisan budaya agung dunia. Si pemilik rumah, dalang sepuh Sukawati, I Wayan Nartha (74), menyambut dengan senang hati serta dengan penuh kesungguhan meladeni anak-anak muda Negeri Adidaya itu.
B
ertempat di bale dangin, Dalang Wayan Nartha memaparkan segala sesuatu yang berkaitan dengan wayang kulit Bali. Para mahasiswa AS itu duduk bersila dan dengan tekun menyimak tuturan Dalang Nartha. Diawali dengan penjabaran sumber cerita wayang kulit Bali yaitu epos Ramayana dan Mahabharata. Dilanjutkan kemudian dengan memperkenalkan watak tokohtokoh utama cerita. Dicontohkan oleh Dalang Nartha dalam wayang kulit dengan lakon dari epos Mahabharata yaitu tokohtokoh protagonis Pandawa yang terdiri dari Yudistira, Bima, Arjuna, Nakula dan Sahadewa yang bermusuhan dengan Duryadana, Drona, Karna, Sakuni dan seratus Korawa lainnyanya sebagai tokoh-tokoh antagonis. Mahasiswa muda-mudi Negeri Paman Sam itu mencatat dengan serius tutur kata Dalang Nartha. Dijelaskan oleh dalang yang pernah tampil mendalang di Kanada, Jepang, Jerman, dan Australia itu, bahwa dalam wayang kulit Bali ada empat tokoh punakawan yang berfungsi sebagai penerjemah ucapan tokoh-tokoh utama yang menggunakan bahasa Jawa Kuno ke dalam bahasa Bali, yaitu Malen
dan Merdah di pihak protagonis dan Delem dan Sangut di pihak antagonis. Ketika Dalang Nartha mencontohkan warna suara dari para punakawan yang berbeda-beda, para mahasiswa itu terkesima dan tampak surprise. Mahasiswi Hope Nelson terperangah kagum dengan kemampuan menyajikan karakter suara yang berbeda-beda oleh seorang dalang Bali itu. Hope Nelson dan kawankawan kian terpana ketika Dalang Nartha, menampilkan sekilas pagelaran wayang saat adegan peperangan. Sembari memainkan beberapa tokoh wayang, berdialog, menembang, ditimpali dengan aksenaksen hentakan suara keropak (kotak wayang) dengan menggunakan cepala yang dijepit di jemari kaki kanan, membuat para mahasiswa itu heran. “Wao…wao complicated,” seru mereka hampir serempak. Di akhir ceramah dan demontrasinya, Dalang Nartha juga menabuh gender wayang, memainkan gending-gending yang biasanya dipakai mengiringi pertunjukan wayang kulit Bali. Para mahasiswa AS itu bertepuk tangan ceria mengagumi keserbabisaan seorang dalang. “Wayang Bali berfungsi dalam ritual keagamaan dan sebagai seni tonto-
nan,” pungkas Nartha. Banjar Babakan di Desa Sukawati dikenal sebagai kantong seni pertunjukan wayang kulit Bali. Selain Wayan Nartha, sejumlah dalang di sana juga sering didatangi orang-orang asing untuk belajar ngewayang, menabuh gender wayang, membuat wayang, dan tidak sedikit pula yang menyambangi desa ini melakukan penelitian tentang seni pentas wayang kulit Bali. Dalang I Wayan Wija, I Made Juanda, dan I Wayan Mardika dengan suka cita telah membagikan keterampilan dan pengetahuannya kepada peminat wayang atau peneliti seni dari mancanegara. Maria, seorang wanita pekerja teater dari San Francisco, Amerika, yang dibina Dalang Nartha sejak tahun 1987, kini sering mementaskan wayang kulit Bali di negerinya. Minagawa, seorang profesor musik dari Tokyo, Jepang, yang belajar menabuh gender di Sukawati sejak tahun 1983 pada I Wayan Loceng (almarhum),
kini telah mengajarkan gender wayang di Negeri Sakura. Eksistensi wayang kulit Bali di Desa Sukawati, kini memang masih melegakan, diwariskan dari generasi ke generasi. Demikian pula popularitas Wayang Cenblonk-nya I Wayan Nardayana kini memang sedang berkibar di tengah masyarakat Bali. Namun, bila dicermati, kini denyut pagelaran wayang kulit secara umum di Bali sungguh memprihatinkan. Di bawah tahun 1980-an geliat pementasan wayang masih sumringah. Dalang-dalang terkenal di masing-masing kabupaten atau desa sering diundang pentas oleh masyarakat. Sajian wayang kulit menjadi hiburan favorit, tontonan yang memberikan tuntunan. Pagelaran wayang kulit sebagai tontonan nan menuntun sungguh disadari oleh Presiden I RI, Bung Karno. Pada tahun 1963, presiden berdarah Bali itu secara khusus mengundang seorang dalang masyur Su-
kawati, I Nyoman Granyam, ke Istana Tampiksiring untuk mementaskan wayang dengan lakon Sutasoma. Ternyata tujuan Bung Karno menonton wayang kulit dengan lakon Sutasoma itu adalah untuk memahami lebih dalam tentang sasanti bhineka tunggal ika sebagai pemersatu kemajemukan Indonesia, yang dalam lakon itu menjadi filsafat perdamaian tanpa kekerasan. Namun kini, di tengah “kekerasan” kehidupan, sungguh tak gampang memergoki pertunjukan wayang kulit, di desa sekali pun. Jika ada, karismanya sudah melorot dibawah hegemoni televisi yang sudah merasuk menjadi tontonan rumahan. Si cantik Hope Nelson dan kawankawannya mungkin belum tahu bahwa wayang kulit yang diamatinya sedang terpuruk, karena Dalang Nartha tentu tak elok mengeluhkannya. Kendati demikian, optimisme terhadap masa depan wayang kulit Bali rupanya masih memercik. Seorang dalang muda Sukawati, Bagus Baratanatya (27 tahun), Juara I Dalang Remaja Pesta Kesenian Bali (PKB) 2013, berungkap bahwa wayang kulit masih memiliki pontensi kuat untuk kembali berjaya. “Sepanjang nilai estetiknya diasah kreatif dan dikontekstualisasikan dengan perkembangan zaman tentu ia akan berbinar cemerlang,” ujar dosen ISI Denpasar yang pernah mempesona masyarakat Korea Selatan, ketika berkesempatan melawat mementaskan wayang kulit Bali di negeri itu pada tahun 2014 dalam sebuah forum festival seni budaya Asia. Kadek Suartaya
Style
Pesona Kebaya
Edisi 924/ 24 - 30 Oktober 2016
Kebaya adalah salah satu pakaian nasional yang semakin digemari. Apalagi di Bali, cukup besar aktivitas para perempuan mengenakan kebaya. Pesona kebaya yang tak pernah pupus ini menjadi tema koleksi Rhea Cempaka dalam Fashion Show di acara “Grand Final Duta Endek Kota Denpasar 2016” di Hotel Aston beberapa waktu lalu.
“E
nchanting of Kebaya” ini dipersembahkan Rhea untuk perempuan yang ingin tampil modis dan tetap elegan. Begitu pula dengan pilihan warna pastel yang masih tren tahun ini dan diperkirakan bertahan sampai 2017, menjadikan kebaya ini bisa dikenakan segala usia dan diberbagai acara. Desain kebaya yang khas dari
Rhea Cempaka dengan bahan endek ini juga mampu menghadirkan kesan nyaman dan sopan, dikuatkan pula dengan katun yang tidak transparan. Semakin indah dengan warna dan motif endek dan saat dikombinasikan dengan lace, payet serta tepi india. Selain itu ada pesona tersendiri bagi yang mengenakan sebab dilengkapi dengan sentuhan etnik Bali. – Sri Ardhini
15
16
Sumpah Pemuda adalah salah satu tonggak sejarah yang penting bagi bangsa Indonesia. Ada tiga hal pen ting dalam Sumpah Pemuda, yaitu bertanah air satu, berbangsa satu, dan berbahasa satu. Sesuai namanya, Sumpah Pemuda dirumuskan oleh para pemuda. Mereka kemudian menjadikannya sebagai dasar untuk membangkitkan rasa nasionalisme pemuda Indonesia. Hal ini disampaikan oleh Ketua Pimpinan Cabang Kesatuan Mahasiswa Hindu Dharma Indonesia Buleleng, Made Teja Artha Sakti Sukma.
M
Sudut Pandang
Edisi 924/ 24 - 30 OKTOBER 2016
enurutnya, banyak hal yang melandasi pemuda untuk mendeklarasikan sumpah yang dikenal dengan Sumpah Pemuda yang diperingati setiap tanggal 28 Oktober. Salah satunya bertujuan untuk bersatunya rakyat untuk mencapai kemerdekaan. Semangat persatuan para pemuda dulu harus diikuti semangat juang pemuda masa kini. “Caranya ya, mengisi kemerdekaan dengan hal yang positif dan berguna,” tuturnya. Pria yang akrab disapa Teja ini juga mengatakan sebagai generasi muda seharusnya meneruskan kembali perjuangan para pemuda agar tidak kehilangan identitas sebagai pemuda yang cerdas, kritis, kreatif dan inovatif. Wujud nyata yang harus dilakukan pemuda adalah merealisasikan dharma agama dan dharma negara. “Misalkan saja melakukan pengawasan terhadap pemerintah agar roda pemerin-
Berjuang Melalui Media Sosial tahan berjalan dengan baik dan bersih,” ucapnya. Selain itu, pemuda sebagai agen perubahan juga harus mampu menjadi pembela dan memperjuangkan keadilan. Dalam era perkembangan teknologi seperti ini, salah satu bentuk perjuangan yang dapat dilakukan oleh pemuda adalah melalui sosial media. Media sosial saat ini sebagai penunjang untuk dapat menyuarakan aspirasi melalui media sosial dari FB, twitter, blog dan lain sebagainya. “Itu menunjukkan hal positif yang bisa kita lakukan selain turun ke jalan seperti era 1998an dahulu, di mana pemuda atau mahasiswa Indonesia menyuarakan aspirasinya di jalanan,” paparnya. Pria kelahiran 21 Desember 1993 tersebut itu mengaku tidak sedikit juga pemuda yang memanfaatkan sosial media secara negatif. Pemuda yang awalnya diharapkan sebagai agen perubahan telah terombang-ambing dalam krisis identitas tanpa tahu arah dan tujuan. Sudah sepantasnya, seorang pemuda menggali potensi diri untuk mewujudkan cita-cita bangsa dari sekarang. “Kemajuan bangsa bukan hanya dilihat dari pembangunan saja, melainkan dari perubahan sosial yang lebih baik dari kesenjangan yang terjadi di masyarakat,” pungkas mahasiswa jurusan Pendidikan Teknik Elektro Undiksha tersebut. DIGITALISASI MENGUATKAN NARASI Sementara itu Ketua Pusat Kajian Budaya Undiksha Dr. Drs. I
I Made Pageh
Made Teja Artha Sakti Sukma
Made Pageh, M.Hum. mengatakan sejarah begitu penting bagi sebuah bangsa dan negara tanpa bermaksud mengabaikan arti pentingnya masa depan. Kesadaran akan sejarah hanya dimiliki oleh manusia yang berbudaya karena hanya manusia yang berbudayalah yang dapat mengenal waktu. Ketika berbicara sejarah berarti berbicara tentang hal yang telah berlalu namun ketika tidak dibarengi dengan bukti autentik tentu akan hanya menjadi sebuah opini yang tidak didukung oleh fakta. Terkait dengan waktu dan peristiwa yang terjadi di masa lalu, Pageh sapaan akrabnya mengaku seorang guru harus memiliki bukti sejarah. “Agar dalam bercerita tidak sekedar bercerita seperti
fiksi,” jelasnya. Cerita sejarah yang diharapkan adalah cerita yang berfakta dan penuh dengan kesadaran waktu. “Sehingga anakanak bisa mengerti bahwa bangsa ini telah mengalami perkembangan secara dinamik mengikuti lintas waktu hingga sampai saat ini,” imbuhnya. Perkembangan zaman yang diikuti oleh perkembangan elektronik seharusnya mampu meningkatkan kesadaran sejarah masyarakat utama anak-anak. “Di zaman tehknologi bahkan serba materialistis, tidak seharusnya jika anak-anak hanya disuguhkan bacaan tentang sejarah,” ungkapnya. Dosen Pendidikan Sejarah FHIS Undiksha tersebut juga mengungkapkan perlu dilakukannya digitalisasi
untuk menarik minat anak-anak mempelajari sejarah. Hal kecil yang pernah ia lakukan sebagai seorang dosen sejarah adalah membuat film dokumenter mengenai Puputan Jagaraga bersama mahasiswa pada tahun 2002. Ini merupakan salah satu cara untuk menyadarkan anak-anak bahwa sejarah bukanlah cerita masa lalu yang tidak bisa diaktulisasi dimasa kini. Pria kelahiran 31 Desember 1962 tersebut menjelaskan jika perang Jagaraga telah terjadi menjelang abad XX sehingga tentu tidak bisa mencari peristiwa persis pada waktu itu. Oleh karena itu, agar peristiwa tersebut dapat disaksikan kembali maka disajikan dalam bentuk film dokumenter yang berdurasi pendek. Untuk dapat menyajikan kejadian sejarah dalam bentuk video tentu tidak terlepas dari jejak dokumen tulis yang ada. “Mahasiswa mencoba gambarkan dengan cat air kemudian dituangkan dalam animasi sederhana yang menggambarkan sari pati dari peristiwa sejarah tersebut,” jelasnya. Melalui cara digitalisasi itu, Pageh meyakini dapat mengaktualisasi kembali nilai-nilai kepahlawanan. “Kalau hanya ngomong saja akan lebih menarik mendengarkan cerita yang lain,” tuturnya. Meskipun dengan digitalisasi yang sederhana, namun ia percaya dengan begitu dapat menguatkan narasi yang disampaikan. “Narasi yang diikuti dengan bukti-bukti akan menguatkan ingatan anak-anak mengenai suatu peristiwa,”pungkasnya.
Tunggal Ika, UUD’45, dan Pancasila. Wacana yang dilontarkan Presiden Jokowi untuk menggalakkan kembali “Pendidikan Karakter” diacunginya jempol. Namun, apakah pelaksanaannya ke bawah sudah benar, tidak hanya sekadar untuk pencintraan? Jika saja hal ini dilaksanakan dengan sungguh-sungguh, Made Suarta memastikan rasa bangga pada bangsa sendiri pasti tertanam. Di IKIP PGRI Bali, pendidikan karakter memang menjadi fokus dan konsisten dilakukan. “Saya yang langsung memberikannya pada jam ke nol tiap Jumat,” jelasnya. Hal lainnya, sebut saja tentang kebhinekaan yang memang saat ini nampak terlihat jelas di lingkungan IKIP PGRI Bali karena banyak mahasiswanya datang dari luar Bali. “Ada mahasiswa dari Kalimantan, NTT, NTB, dll. Kami sangat saling menghormati, toleransi beragama, menerima perbedaan itu dengan sangat harmonis. Lembaga ini mewadahinya dengan m e m bentuk organisasi-organisasinya dan kerap merayakan hari-hari besar agama bersama di kampus,” ujarnya. Selain di lembaga pendidikan, pendidikan karakter juga harus ditanamkan di lingkungan keluarga. Sistem yang dikembangkan pemerintah ini dikatakannya sudah bagus. “Sekarang tinggal sejauh mana pemahaman dan implementasi pendidikan karakter dengan empat pilar tersebut. Tapi sekarang orang lebih berpikir pragmatis, lebih memilih kursus bahasa Inggris daripada bahasa Bali karena lebih berpeluang dapat kerja, ada kesan seperti itu karena salah satu syarat melamar pekerjaan sekarang menguasai IT dan menguasai bahasa asing,” paparnya. Menurutnya, bahasa daerah juga harus dimasukkan karena merupakan akar budaya. Terutama lagi dalam ajang pemilihan putri-putrian atau duta-duta di daerah yang memang tujuannya melestarikan budaya daerah. –inten.indrawati@ cybertokoh.com
Dr. I Made Suarta, S.H., M.Hum.
9
TUK Agung Gelar Uji Kompetensi Gratis Mendukung “Denpasar Kota Kompeten” dan “Gerakan Indonesia Kompeten”, Tempat Uji Kompetensi (TUK) Agung kembali akan menggelar Uji Kompetensi selama 4 hari. Yakni, Uji Kompetensi Tata Rias Pengantin Bali Modifikasi, Kamis 27 Oktober 2016; Uji Kompetensi Tata Kecantikan Kulit, Jumat 28 Oktober s.d. Sabtu 29 Oktober 2016; dan Uji Kompetensi Tata Rias Pengantin Bali Agung & Madya, Minggu 30 Oktober 2016. Peserta kali ini diikuti oleh beberapa lembaga kursus dan pelatihan yang bergerak di bidang tata kecantikan di antaranya dari Denpasar, Gianyar, Tabanan, Singaraja, Klungkung, bahkan dari luar Bali, yakni dari Jambi terdaftar 16 peserta.
–wiwinmeliana22@cybertokoh.com
Tanamkan Rasa Bangga sebagai Bangsa Indonesia Tiap 28 Oktober, diperingati sebagai Hari Sumpah Pemuda. Lalu, bagaimana pandangan Rektor IKIP PGRI Bali Dr. I Made Suarta, S.H., M.Hum. terhadap generasi sekarang? “Selama ini kita tahu dan dari pengamatan saya, generasi muda sekarang cenderung alergi dengan bahasa daerah tapi lebih menjunjung bahasa asing,” ucapnya miris. Ia tak menampik, saat ini khususnya dalam dunia kerja, keterampilan menguasai bahasa asing memang dibutuhkan. Namun, ia tetap mengingatkan untuk kembali menoleh ke belakang. “Boleh saja sebanyak-banyaknya menguasai bahasa asing, tapi ingat kita ada karena bangsa ini. Kita harus bangga jadi bangsa Indonesia, bangga terhadap produk dalam negeri, bangga menggunakan bahasa Indonesia,” tegasnya. Ia mengilustrasikan sebuah lagu … “Bukan lautan hanya kolam susu. Kail dan jala cukup menghidupimu. Tiada badai tiada topan kau temui. Ikan dan hujan menghampiri dirimu. Orang bilang tanah kita tanah surga. Tongkat kayu dan batu jadi tanaman..”. Dari lirik lagu tersebut, yang perlu diingat adalah Indonesia kita ini kaya secara geografis dan tanahnya sangat subur. Lalu bagaimana jadinya jika kita bangga dengan bangsa lain? Ini akan menggurangi nilai kebangsaan yang ada pada diri kita, dan patut dipertanyakan rasa belapatinya terhadap negara. “Tapi semoga saja pengamatan saya selama ini salah,” ucapnya. Sebagai “orang Bahasa Indonesia” (lulusan Bahasa Indonesia), meskipun tahu bahasa asingnya, ia tetap konsisten dan mengaku bangga memakai bahasa Indonesia dalam setiap pidatonya, entah itu dengan menyelipkan peribahasa, pantun, dsb. “Terkecuali ada istilah asing yang memang tidak bisa diterjemahkan dalam bahasa Indonesia, kita pinjam istilah asingnya,” ucap praktisi pendidikan yang cukup vokal menyuarakan ketimpangan-ketimpangan yang terjadi di dunia pendidikan ini. Pemerintah, dikatakannya sebenarnya sudah mengarahkan ke hal tersebut. Seperti kata “snack” yang dulu sering digunakan, kini sudah diubah menjadi “kudapan”, moderator jadi pemandu. “Ini adalah kiat-kiat pemerintah untuk mengarahkan agar kita cinta pada bahasa sendiri. Sekalipun ada beberapa bahasa Indonesia yang mengadopsi dari bahasa atau istilah asing, namun itu sudah di-Indonesiakan. Ini menjadi bagian dari bangga sebagai bangsa Indonesia, bangga menggunakan bahasa Indonesia, yang diperkaya dengan bahasa daerah untuk melengkapi dan memperkaya khasanah bahasa Indonesia, ditambah dengan bahasa asing yang tidak bisa tidak karena pengaruh perkembangan modern. Karena itu, spirit Sumpah Pemuda (berbahasa, bertanah air, dan berbangsa satu, bangsa Indonesia) ini ditegaskannya harus dipertahankan. Caranya dengan meningkatkan pendidikan karakter yang memiliki 4 pilar, yakni NKRI, Bhinneka
Edisi 924/ 24 - 30 OKTOBER 2016
Kegiatan Ibu Agung melestarikan budaya Bali dalam bidang tata rias mendapat dukungan penuh dari Kelompok Media Bali Post dan Viva Cosmetics. Tampak Ibu Agung berfoto bersama Ny. Sri Utari Naradha (berdiri kiri), owner Viva Cosmetics Theresia I. Kuntjoro (berdiri tengah) dan Murni Tjandra (duduk)
“T
ata rias pengantin menjadi salah satu bidang/sektor yang menjadi prioritas dalam sektor pariwisata yang harus ditingkatkan dan didukung. Dan, uji kompetensi ini merupakan penilaian pencapaian kompetensi akhir dari sebuah proses pembalajaran yang diikuti peserta didik,” ucap Direktur Pembinaan Kursus dan Pelatihan Dr. Yusuf Muhyiddin, M.Pd., saat membuka Uji Kompetensi Tata Rias Pengantin
Bali yang menyabet Rekor MURI dengan peserta terbanyak, 3 Juni 2016 lalu. Hal senada juga disampaikan Wali Kota Denpasar IB Rai D. Mantra saat itu. Bahwa, sertifikat uji kompetensi ini pen ting untuk keberlang sungan ke depan. Ser tifikat uji kompetensi ibaratnya SIM (surat izin mengemudi), yang Ibu Agung (kiri) berkesempatan berfoto bersama dengan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI, Prof. Dr. Ing Wardiman dalam hal ini, surat izin Djojonegoro, dan Direktur Pembinaan Pendidikan Anak Usia Dini, R. Ella Yulaelawati R., M.A., Ph.D (kanan) untuk berusaha sesuai dengan kompetensi/ Selanjutnya, Ibu Agung menyam Bali di tingkat nasional. keahlian masing-masing. “Nanti ke paikan, dalam kesempatan yang sama, Untuk pendaftaran Uji Kompetensi depannya, hal ini akan dipersyaratkan uji kompetensi ini akan turut meme dan informasi lebih lengkap, hubungi baik oleh negara-negara Asean, per riahkan acara Pemilihan Putri Citra Sekretariat TUK Agung: Jalan WR Suprat izinan pun demikian. Jika mau mem Indonesia Tingkat Nasional ke-32 di man 303A Tohpati, Denpasar, Bali. Con buka salon atau usaha lainnya, harus Bali. Selain itu, kegiatan ini juga dika tact Person: Desiana (08562996258), punya sertifikat kompetensi dulu. Jika takannya bisa menjadi ajang untuk Dewa Ayu (087861424158), Ibu Agung tidak ada, tidak bisa buka usaha,” ucap memperkenalkan Tata Rias Pengantin (0811393602). –inten orang nomor 1 di Denpasar tersebut. Untuk itu, Dr. Dra. Anak Agung Ayu Ketut Agung, M.M., Ketua Tempat Uji Kompetensi (TUK) Agung sekali gus pimpinan Lembaga Kursus dan Pelatihan (LKP) Agung, mengimbau kepada para pemilik salon, praktisi, dan mereka yang memiliki usaha di bidang tata rias, yang belum mengan tongi sertifikat uji kompetensi, untuk segera mendaftar ke Sekretariat TUK Agung. “Kami sangat berterimakasih ke pada Ditbinsuslat Kemendikbud dan Pemkot Denpasar yang selalu siap mendukung upaya-upaya mencerdas kan bangsa melalui proses pendidikan khususnya di bidang tata rias, dengan memberikan beasiswa uji kompetensi ini,” ucap Ibu Agung saat ditemui di TUK Agung, sepulangnya dari Palu untuk menerima penghargaan dalam Puncak Hari Aksara, Kamis 20 Oktober 2016.
Ibu Agung bersama Kabid Bina Program Dikpora Kota Denpasar (kiri) usai menerima Penghargaan dalam Hari Aksara Nasional di Palu
8
Cara berkomunikasi masing-masing orang berbeda-beda. Ada yang to the point, ada yang menggunakan perumpamaan, dan ada yang mutar-mutar. Walaupun caranya berbeda, etika tetap harus dijunjung. Sopan kepada lawan bicara sangat penting, termasuk menggunakan magic words atau katakata ajaib seperti permisi, maaf, tolong, dan terima kasih. Bagaimana dengan anak-anak?
“M
Bunda & Ananda
Edisi 924/ 24 - 30 Oktober 2016
aaf om, sudah menunggu lama. Tadi bangunnya kesiangan,” ujar Bayu kepada tukang ojek yang biasa mengantarnya ke sekolah. Bocah kelas 4 SD lalu naik ke motor dan berangkat ke sekolah. Di lain kesempatan, Ade seorang supir yang biasa mengantar jemput anak majikannya mengeluh karena sering diminta untuk mengantar teman dari anak majikannya. “Kalau rumah dekat dan searah, tidak masalah. Ini rumahnya jauh dan harus memutar. Turun dari mobil tidak bilang terima kasih, main ngloyor aja,” ungkapnya. Mengapa ada anak yang bisa mengucapkan maaf dengan tulus dan mengapa ada anak yang tidak bisa mengatakan terima kasih. Dari beberapa referensi dijelaskan, seseorang yang terbiasa menggunakan kata-kata ajaib; terima kasih, maaf, permisi, dan tolong dalam kehidupannya, pasti lebih dihargai karena dengan terbiasa menggunakan kata-kata ajaib tersebut sesuai dengan konteks situasi berarti menghargai lawan bicaranya atau orang-orang yang berinteraksi dengannya. “Mengucapkan kata-kata ajaib sesungguhnya tidaklah sulit, asalkan dibiasakan dan diucapkan dengan tulus. Signifikansi katakata ajaib ini dalam berkomunikasi dapat dirasakan oleh lawan bicara yang berdampak pada rasa dihargai dan dihormati. Kata-kata tersebut sangat sederhana namun
Kenalkan
Magic Words
sejak Dini
dampaknya sangat luar biasa,” jelas Sad Yuli Prihartati, S.Psi. Psikolog. Yuli mengidentifikasi ada tujuh yang termasuk kata-kata ajaib. Pertama, salam yang berupa sapaan, hai, halo, selamat pagi, selamat siang, selamat sore, selamat malam, selamat datang, dll. Salam ini kesannya sederhan tetapi memiliki makna mendalam. Ada interaksi dari dari si anak dengan orang yang dilihat atau diajak. Kedua, permisi. Kata permisi ini wajib digunakan ketika anak harus minta izin untuk melakukan sesuatu. Permisi juga sering digunakan ketika anak melewati orang yang lebih tua. Ketiga, maaf. Kata maaf yang dilontarkan menunjukkan adanya rasa bersalah. Saat mengucapkan maaf harus dengan ikhlas. Jangan hanya sekadar maaf lalu mengulangi kesalahan yang sama. Keempat, tolong. Penggunaan kata tolong menunjukkan seseorang memerlukan bantuan orang lain. Permintaan tolong ini juga harus dengan sopan. Jika minta tolong dengan nada tinggi, sama saja dengan memerintah orang lain. Kelima, terima kasih. Mengucapkan terima kasih merupakan perwujudan rasa syukur atas apa yang sudah diraih atau dilakukan. Terima kasih juga diucapkan kepada orang yang sudah membantu. Keenam, ya. Mengucapkan ya sembari mengangguk menunjukkan adanya respons dari suatu permintaan. Jika ada yang memerlukan respons, namun tidak ditanggapi bisa menimbulkan miskomunikasi. Karena itu, memberikan jawaban secara jelas itu sangat penting. Ketujuh, bisa. Mengatakan bisa sebagai bentuk keyakinan untuk mengerjakan sesuatu juga perlu. Jika ada yang meminta pertolongan, namun tidak diberikan jawaban, tentu akan membingungan. Tetapi, kalau sudah memberikan jawaban bisa, tentu orang yang minta tolong merasa lega karena ada yang membantu.
Bagaimana caranya agar anakanak bisa menggunakan kata-kata ajaib tersebut? “Buatlah penggunaan kata-kata ajaib sebagai sebuah kebiasaan khususnya di rumah. Orangtua harus menjadi role model. Satu hal yang juga penting adalah memberi penjelasan tentang makna dari masing-masing kata-kata ajaib. Tujuannya, anak paham dan bisa menggunakannya dengan tepat,” ujar psikolog yang aktif sebagai pengurus Himpunan Psikologi (Himpsi) wilayah Bali ini. Penjelasan makna kata-kata ajaib ini juga menjadi untuk menghargai interaksi sosial dengan orang lain. Jika hal ini sudah dibiasakan oleh orangtua, anak pun akan menghargai tiap proses interaksi sosial. Pada zaman dulu, orang lebih menggunakan sikap atau bahasa tubuh untuk menunjukkan hormat. Kini, perlu dikombinasikan antara bahasa tubuh dengan kata-kata. Selain orangtua, guru pun harus menjadi contoh bagi anak didiknya. Yuli mengingatkan, tiap anak memiliki kepribadian yang beda. Ada yang mudah untuk diberikan contoh dan ada yang sulit diajarkan. Pola asuh di keluarga serta situasi lingkungan juga berperan
dalam proses pemahaman anak tentang kata-kata ajaib. Yang penting adalah melakukan pembiasaan dan orangtua menjadi contoh yang baik. “A n a k p a d a dasarnya sangat mudah beradaptasi, mudah menyerap apa yang dilihat dan dirasakan. Fase imitasi ini harus dimanfaatkan dengan baik oleh orangtua untuk memberikan pengalaman yang baik sehingga melekat di memori. Yang penting cara memberi contoh harus benar, jangan sekadar diucapkan saja, harus dilaksanakan dengan baik dan tulus,” ujar ibu satu putri ini. Anak yang mudah untuk mudah untuk menggunakan katakata ajaib ini akan lebih responsif, tahu situasi dan kondiai serta bisa menghargai dan menghormati orang lain. Jika berhasil menerapkan atau menggunakan kata-kata ajaib se-
Edisi 924/ 24 - 30 Oktober 2016
Sad Yuli Prihartati
jak kecil, bukan hanya anak yang diberi predikat santun. Orangtua pun dinilai sukses mendidik anaknya. Sebaliknya jika anak tidak bisa menggunakan kata-kata ajaib, orangtualah yang dinilai gagal dalam mendidik anaknya. -ngurahbudi@cybertokoh.com
mengapa ada pelangi?
secara diam-diam. Kedua kakak Soy sangat tersinggung dan merasa dendam. Mereka sepakat untuk menghancurkan pernikahan dua sejoli itu. Ketika musim panen ikan tiba, Joy dan Moy mengajak Soy menangkap ikan di tengah laut. Mereka bertiga naik jukung, lengkap dengan peralatan seperti jala, tombak dan parang. Di tengah laut yang dalam, mereka asyik menghitung ikan-ikan besar yang terperangkap jala. Tiba-tiba gelombang besar menghantam badan jukung. Nah, pada saat itulah Joy dan Moy menangkap tubuh adiknya, lalu melemparkannya ke tengah laut. Soy yang kurus dan bertenaga lemah itu tidak dapat mengatasi dirinya. Mati. Perbuatan jahat itu dilihat oleh seekor elang laut yang kebetulan melayang-layang di atasnya. Elang itu segera melaporkan kematian Soy kepada Lamari yang sedang menunggu di rumah. Mendengar berita yang menyedihkan itu, perempuan pengantin baru itu, mengambil tombak, lalu tanpa ragu-ragu menghunjamkannya ke dadanya. Darahnya muncrat. Ajaib! Angin bertiup kencang. Dari segala penjuru awan-awan berarakan. Dari jasad Lamari muncul cahaya cemerlang warna-warni. Cahaya yang indah itu meliuk-liuk, makin lama makin panjang, lalu melengkung. Ujungnya kemudian mendekap mayat Soy yang terapung-apung. Joy dan Moy, kakak kandung Soy melihat keadaan ajaib itu. Mereka segera mendatangi rumah Lamari. Didapatinya perempuan cantik itu terbaring memegang tombak yang menembus dadanya. Dari dada itulah muncul cahaya melengkung yang berakhir di tengah laut. Kedua kakak kandung Soy menangis sejadi-jadinya. Mereka menyesali perbuatannya yang menghancurkan cinta sejati itu. (Aborijin Australia)
17
Lebih Kuat dan Murah dengan Konstruksi Atap Baja Ringan
Atap merupakan bagian dari bangunan gedung (rumah) yang letaknya berada di bagian paling atas, sehingga untuk perencanaannya atap ini haruslah diperhitungkan dan harus mendapat perhatian yang khusus dari si perencana (arsitek). Karena atap merupakan bagian dari struktur bangunan yang berfungsi sebagai penutup/pelindung bangunan dari panas terik matahari dan hujan sehingga memberikan kenyamanan bagi penggunan bangunan.
Mendongeng Lima Menit Tersebutlah tiga orang laki-laki bersaudara. Yang sulung bernama Joy, yang menengah Moy dan yang bungsu Soy. Tidak jauh dari rumahnya, tinggal seorang gadis cantik bernama Lamari. Joy dan Moy sudah seMade Taro jak lama jatuh cinta kepada gadis itu, tetapi cintanya bertepuk sebelah tangan. Lamaran kedua pemuda itu ditolak mentahmentah. Sesungguhnya saudara bungsu, yang bernama Soy itu pun jatuh cinta kepada Lamari, tetapi ia selalu mengurungkan hasratnya. Ia merasa rendah diri. “Kakak-kakakku yang tampan ditolak, apalagi aku yang berbadan kurus dan lemah,” katanya sendirian. Namun pada suatu hari, Soy yang kurus itu tidak dapat memendam cintanya. Ia memberanikan diri mendatangai rumah Lamari sendirian. Kalau kakakkakaknya waktu melamar membawa oleh-oleh ikan kegemaran Lamari, maka Soy membawa oleh-oleh seekor kangguru hasil buruannya di dalam hutan. Sungguh di luar dugaan! Lamaran Soy diterima dengan mulus. Bak gayung bersambut. Hari itu juga mereka yang saling jatuh cinta itu melangsungkan pernikahan. Sebulan kemudian Joy dan Moy pergi berburu ke dalam hutan. Alangkah terkejutnya mereka, mendapati adiknya yang bungsu berkasih-kasihan dengan Lamari. Mereka berdua sama sekali tidak mengetahui, bahwa Lamari telah nikah dengan Soy
Griya
I Putu Adi Wijaya, S.T.
A
da beberapa jenis konstruksi atap yang dipakai di masyarakat sekarang ini, seperti konstruksi kayu, konstruksi baja konvensional, dan yang lagi ramai digunakan konstruksi baja ringan. Selain itu, masih ada juga dijumpai konstruksi atap yang menggunakan bahan bambu. Tentunya dari sekian jenis konstruksi atap tersebut, masingmasing memiliki keunggulan dan kelemahan. Konstruksi kayu misalkan, keunggulannya adalah kuat dan memang paling dikenal di masyarakat. Namun kayu juga memiliki banyak kelemahan, seperti kelangkaan kayu, harga mahal, butuh biaya perawatan (semprot anti rayap secara berkala). Konstruksi baja memilik keunggulan kuat dan tahan lama, namun harganya mahal sekali, cocok untuk bangunan dengan bentang yang lebar, seperti gudang, dll. Sementara konstruksi baja ringan, keunggulannya kuat, pemasangan cepat, lebih murah dari kayu, dan tidak memerlukan perawatan berkala seperti kayu. “Kelemahannya, kita harus hati-hati memilih baja ringan yang bagus, karena begitu banyak jenis dan bentuk profilnya,” ucap I Putu Adi Wijaya, S.T. Konstruksi atap baja ringan, dijelaskannya adalah konstruksi atap dengan bahan utama baja tipis yang dilapisi dengan lapisan anti karat, yang membentuk satu kesatuan yang utuh dari beberapa bentuk kuda-kuda pembentuk atap yang dilengkapi dengan pengaku. Konstruksi ini
bisa diaplikasikan pada bangunan apa saja yang menggunakan atap, seperti rumah tinggal, hotel, restoran, dll. “Konstruksi Baja ringan harus menggunakan perhitungan struktur khusus sebagai syarat kekuatan rangka atap yang dibuat (software perhitungan konstruksi, masing-masing produk punya software sendiri),” jelas desainer konstruksi baja ringan ini. Jenis-jenis profil yang beredar dipasaran, ada Profil C, Profil UK, Profil Z. Bentuk reng semua sama, hanya berbeda pada ukuran dan ketebalannya. Masing-masing jenis profil juga memiliki ketebalan dan lapisan anti karat yang berbeda. Sistem pemasangan masing-masing produk juga ber-
hatikan saat memilih rangka atap baja ringan. Pertama, bahan baja yang umum dipakai adalah baja mutu tinggi atau biasa disebut high tension steel. Umumnya digunakan standar G550. Orang awam sulit mengetahui mutu bahan yang ada, tetapi dengan mengetahui bahwa standar baja minimum G550, kita bisa meminta jaminan tertulis bahwa bahan baku yang akan kita pakai adalah G550. Kedua, alat penghubung tiap profil ke profil lainnya sehingga menjadi suatu rangkaian kuda-
beda, ada yang dirakit langsung di lokasi, ada juga yang dirakit di pabrik (sistem prefabrikasi). Setiap produk baja ringan dijelaskannya mengeluarkan surat garansi yang berbeda-beda sebagai jaminan kekuatan struktur rangka atap yang dibuat. “Tipsnya, hati-hati memilih, jangan terpengaruh lamanya berlaku surat garansi, tapi perhatikan produk yang dijual, cara pemasangan, dll,” sarannya. Semakin sulitnya pasokan bahan kayu, membuat baja ringan menjadi alternatif material rangka atap yang semakin populer. Tetapi, bagaimana kita yakin telah memilih rangka atap baja ringan yang tepat? Masalahnya, di Indonesia sendiri peraturan struktur bangunan dengan baja ringan belum jelas. Adi Wijaya menyampaikan beberapa hal yang perlu diper-
kuda maupun sistem rangka atap digunakan sekrup steelfixx. Sekrup steelfixx adalah self drilling screw. Ketiga, alat sambung untuk baja ringan umumnya menggunakan Self Drilling Screw (SDS) atau sekrup dengan ujung penembus tanpa mur. SDS yang dipakai harus memiliki alur yang kasar dan terdapat ruang di bawah kepala baut. Alur yang kasar akan membuat baja tipis tersusun di antara alur, bukan dirusak oleh alur, sehingga SDS mampu memikul beban yang besar di sambungan. Keempat, lapisan anti karat. Di Indonesia lapisan anti karat yang umum dipakai adalah lapisan AZ (allumunium dan zinc) atau Z (zinc). Allumunium zinc lebih tahan korosif terhadap air garam, tetapi ia tidak tahan terhadap adukan semen (korosif). Sedangkan lapisan
zinc kurang tahan terhadap air garam, tetapi tidak korosif terhadap akibat adukan semen. Lapisan zinc cocok untuk peutup atap genteng keramik atau genteng beton, karena bagian nok (kerpus) biasanya diisi dengan adukan semen. Ketebalan lapisan anti karat ini juga perlu diperhatikan. Ada anggapan salah bahwa allumunium zinc lebih baik daripada zinc, padahal yang menentukan adalah ketebalan lapisan. Secara umum, untuk bahan struktural (menanggung beban) lapisan allumunium zinc tidak boleh kurang dari 150 gr/m2, sedangkan lapisan zinc tidak boleh kurang dari 200 gr gr/m2. Ketebalan lapisan anti karat sulit dicek secara visual, pengecekan harus dilakukan di laboratorium. Yang paling mudah adalah meminta jaminan secara tertulis tentang ketebalan lapisan yang akan dipakai. Kelima, desain struktur. Perhitungan desain struktur sulit dipahami orang awam (tidak mempunyai kompetensi di bidang teknik sipil). Karena itu lebih baik memilih produk yang bisa memberi jaminan struktur dengan benar, baik jaminan kualitas bahan dan hitungan struktur maupun dukungan purnajual dari penyedia produk Rangka Atap Baja Ringan tersebut. Karena, analisa struktur rangka atap baja ringan berbeda dengan analisa pada baja konvensional. Perhitungan struktur rangka atap baja ringan dihitung sesuai dengan metoda cold formed steel
yaitu perhitungan struktur baja dengan ketebalan tidak lebih dari 3 mm (baja tipis). Keenam, sistem pengaku (bracing). Rangka atap baja ringan dibuat dari baja tipis. Akibatnya meskipun telah berbentuk profil yang kokoh, kekuatannya tinggi tetapi kekakuannya lemah. Karena itu struktur rangka atap harus dilengkapi batang pengaku atau bracing yang cukup. Bracing rangka atap terdiri dari pengaku bawah yang dipasang melintang di atas batang bawah kudakuda. Ikatan angin yang dipasang melintang dari satu kuda-kuda ke kuda-kuda lain secara menyilang. Lateral tie untuk memperkecil panjang tekuk (buckling) batang tekan. Strap brace yang berupa pita baja berfungsi untuk mengaku kuda-kuda menjadi satu kesatuan sistem. Penggunaan Strap brace tergantung dari desain struktur (biasanya pada bentang-bentang lebih dari 10,5 m). Ketujuh, proses perakitan. Di Indonesia umumnya kudakuda rangka atap dirakit di lokasi, meskipun ada juga yang dirakit di pabrik. Proses perakitan di proyek memerlukan kontrol kualitas yang baik, karena bentuk, kerapian, serta kesempurnaan proses penyambungan sangat tergantung pada keahlian tukang. Kuda-kuda yang dirakit di pabrik memiliki kontrol kualitas kerja yang lebih baik, meskipun proses pengangkutan ke lokasi menjadi lebih boros. Untuk itu, Adi Wijaya mengingatkan konsumen harus lebih jeli dalam memilih rangka atap baja ringan. Karena pada kudakuda konvensional, jika satu kuda-kuda yang gagal maka hanya satu kuda-kuda itu yang gagal. Berbeda dengan prinsip kerja sistem rangka atap baja ringan, dimana apabila ada kegagalan pada satu kuda-kuda maka akan menarik kuda-kuda lainnya (sifat dari kuda-kuda baja ringan satu kesatuan sistem). Untuk harga baja ringan di pasaran sangat bervariasi, tergantung kualitas, jenis profil, ketebalan profil, dan bentuk atap itu sendiri. Harga mulai Rp 135.000,- per m2 – Rp 250.000,- per m2. –inten.indrawati@cybertokoh.com
18
Life Story
Edisi 924/24 - 30 OKTOBER 2016
Penduduk di Desa Pakraman Menyali, Kecamatan Sawan, Buleleng, merupakan masyarakat yang hidup secara mandiri. Hal ini dapat dilihat dari sebagian masyarakatnya yang mengantungkan hidup dari usaha kreatif utamanya kerajinan aluminum. Salah satu perajin yang sudah lama menekuni usaha kerajinan aluminium adalah Ketut Sukrawenten.
Padukan Aluminium dan Kayu untuk Bokor Inovatif
M
enurutnya, menjadi seorang perajin merupakan pekerjaan yang didapat secara turun menurun. Sejak kecil ia lahir dari keluarga yang telah menggeluti usaha kerajinan bokor aluminium sehingga ia pun secara otodidak memiliki bakat tersebut. Untuk memutus rantai kemiskinan dalam keluarga ia memutuskan untuk merantau ke luar desa namun akhirnya kem-
Ketut Sukrawenten
Aneka jenis kerajinan aluminium inovatif
bali karena lebih senang menjadi seorang perajin. Bokor aluminium desa Menyali memang sudah sangat dikenal baik di Buleleng hingga di seluruh Bali. Sukra tidak perlu jauh-jauh memasarkan barang kerajinannya sebab di Bali pada khususnya sangat memerlukan bokor sebagai sarana upakara. Akan tetapi seiring perkembangan waktu, perajin bokor aluminium yang makin bertambah dan penggunaan bokor yang tidak sekali pakai sehingga menurunkan jumlah produksinya. “Kalau di pasar lokal penggunaan bokor hanya pada saat ada upacara keagamaan saja,” tuturnya. Melihat situasi inilah, sebagai pelaku ekonomi kreatif ia melakukan inovasi terhadap hasil
produksi kerajinannya. Jika dulu Sukra banjir order hanya saat menjelang hari raya namun tidak dengan sekarang. Saat ini ia selalu mendapat pesanan tetap dari artshop-artshop di luar Buleleng utamanya kabupaten Gianyar. Dengan memadukan aluminium dan kayu, Sukra dapat membuat kerajinan inovatif dengan menambah nilai guna produk yang dihasilkan. “Pertamanya kami mencoba membuat hiasan dinding dengan mengombinasikan aluminium dan kayu sehingga tercipta hiasan yang begitu indah,” imbuhnya. Setelah membuat hiasan dinding, dirinya makin giat mencoba menghasilkan produk yang dapat digunakan dalam kehidupan sehari-hari dan memiliki nilai
Proses pembuatan kerajinan hiasan pintu
jual tinggi. “Kami dapat pesanan membuat box yang biasanya terbuat dari rotan sehingga perlu usaha untuk mendapatkan hasil yang memang menyerupai pesanan,” paparnya. Sampai saat ini barang-barang produksinya diterima dengan baik dan telah mampu masuk pasar ekspor. Untuk memenuhi pasar lokal, pria kelahiran 1 Oktober tersebut membuat produk berbahan dasar aluminium seperti pot, gantungan pintu, kotak tisu, kotak buku, dan masih banyak lagi. Beberapa kendala yang dihadapi dalam produksi adalah mahalnya bahan baku aluminium. “Kami beli dekat sini saja agar bisa beli sedikit, kalau beli di Jawa sekali pembelian bisa mencapai
puluhan juta rupiah,” jelasnya. Kendala lain dalam produksi adalah penentuan motif produk. Biasanya dalam produksi ia menggunakan tiga macam motif yaitu motif Bali, Klasik, dan Wajik, namun ketika pembeli membawa motif sendiri cenderung produk yang akan dihasilkan akan gagal. “Kami menggunakan teknik pukul sedangkan motif yang diprint out akan berbeda hasilnya ketika diaplikasikan dengan teknik yang kami gunakan,” jelasnya. Kendala yang paling utama adalah mudah ditirunya produk yang dihasilkan oleh perajin lain. “Semua sudah tahu tekniknya jadi tidak begitu sulit untuk meniru yang lain,” pungkasnya. -wiwinmeliana22@cybertokoh.com
Menikmati Pemandangan Air Terjun Sekumpul Selain wisata pantai, Bali Utara memang dikenal dengan wisata pegunungan yang identik dengan air terjun. Beberapa air terjun di Buleleng memang sudah cukup tenar bahkan keberadaanya dikenal hingga ke mancanegara. Salah satunya adalah air terjun Sekumpul yang berada di Desa Sekumpul Kecamatan Sawan. Air terjun ini berbeda dengan air terjun kebanyakan. Air Terjun Sekumpul bukan hanya terdiri dari satu atau dua air terjun melainkan ada tujuh air terjun yang letaknya terpisah-pisah dan berjauhan. Tujuh air terjun tersebut tersebar di tebing-tebing yang tinggi dan dikelilingi pepohonan hijau yang menyejukkan mata. Ketujuh air terjun tersebut memiliki bentuk dan ketinggian yang berbeda-beda. Dari tujuh air terjun yang ada hanya dua air terjun yang bisa didatangi lebih dekat. Uniknya, dua air terjun yang letaknya berdampingan tersebut memiliki ketinggian dan debit air berbeda. Meskipun dua air terjun ini letaknya bersampingan namun berasal dari dua sumber mata air yang berbeda. Air terjun yang lebih rendah bersumber dari mata air sedangkan air terjun di sebelah kanan (yang lebih tinggi) bersumber dari sungai. Di musim hujan, perbedaan warna air akan sangat terlihat sebab air terjun yang bersumber dari mata air akan tetap bening sedangkan air terjun yang berasal dari sungai akan berwarna coklat keruh. Untuk dapat melihat dua air terjun utama, pengunjung harus menuruni ratusan anak tangga dan menyeberangi sungai
yang cukup dalam. ia berharap dalam pelaksanaanya tetap melibatkan partisipasi Keindahan air terjun Semasyarakat desa. Maka dari itu, kumpul rupanya tidak hanya ke depan ia berencana ingin dikunjungi oleh wisatawan melakukan perluasan kawasan lokal melainkan juga oleh wisata dengan konsep one day in wisatawan asing. Sejak dirasa to the village. “Kami rencanakan jumlah pengunjung semakin ini tahun depan sehingga tamu meningkat, obyek wisata yang datang bisa menginap tersebut akhirnya dikelola selama sehari dengan paket dengan baik oleh desa melatour yang akan disediakan,” lui BUMDes. Perbekel Desa papar pria kelahiran 22 Juli Sekumpul, I Made Suarta 1968 tersebut. mengatakan, sejak ditetapkan sebagai Daerah Tujuan Ia juga menuturkan Wisata, objek wisata tersedalam rencana yang akan but memang sangat dirasakan diterapkan tersebut akan manfaatnya bagi masyarakat mengutamakan konsep Tri I Made Suarta setempat. “Setelah dikelola Hita Karana. “Tamu yang dengan baik, dapat menyerap tenaga kerja datang akan kami kenalkan bagaimana lokal yang cukup banyak,” jelasnya. Hal ini budaya dan keagamaan masyarakat di terlihat dari banyaknya tenaga yang dibu- sini, baik dari segi Prhyangan, Pawongan, tuhkan dalam pengelolaan di antaranya dan Palemahannya,” ungkapnya. Tentu guide lokal, tukang ojek, penjaga karcis, dan rencana tersebut didukung dengan fasilipenjaga parkir. tas yang relevan yang dimiliki oleh desa. Suarta juga menambahkan setelah me- “Untuk pengenalan keagamaan kami sulengkapi fasilitas MCK saat ini pihak BUMDes dah ada Pura sedangan untuk kebudayaan tengah terfokus untuk menyiapkan lahan kami sudah ada panggung terbuka untuk parkir untuk para pengunjung. Tujuannya un- pertunjukan seni,” tambahnya. tuk memberikan kenyaman bagi pengunjung Selain itu, Suarta juga akan menyiapbahkan karena akses jalan menuju air terjun kan fasilatas SDM yang memadai untuk sangat sulit sehingga disediakan juga ojek agar mendukung rencana perluasan kawasan pengunjung tidak kelelahan. “Kami sediakan wisatanya tersebut. Salah satunya adaojek dengan tarif dua puluh ribu rupiah sekali lah penyiapan tenaga guide lokal yang antar,” imbuhnya. berkompeten. “Pihak desa akan memMeskipun dikelola oleh BUMDes namun beri pelatihan agar masyarakat minimal
bisa berbahasa Inggris dan kami juga akan berdayakan ibu-ibu PKK sebagai juru masak untuk para tamu yang mengambil paket tour,” pungkasnya. Dengan berbagai persiapan tersebut pihaknya sangat berharap dapat menjadi desa Sekumpul tujuan wisata desa dengan konsep Tri Hita Karana. –wiwinmeliana22@cybertokoh.com
Air Terjun Sekumpul
Ketika sepuluh tahun yang lalu memutus kan menikah dengan kekasihnya yang se orang aparat penegak hukum, Marina (38), begitu bahagia. Se lain karena cinta yang telah ia jalin dengan kekasihnya itu selama empat tahun sebelum nya, ia juga gembira mendapatkan suami seorang penegak hu kum. “Saya merasa aman hidup bersama nya. Sebagai penegak hukum ia tidak mung kin dengan mudah me langgar hukum karena tentu ia paham benar konsekuensinya bagi pelanggar hukum,” ungkap Marina.
Edisi 924/ 24 - 30 OKTOBER 2016
Suamiku Jadi Suami Keempat
P
ernikahan meriah menjadi awal kebahagiaan Marina. Manisnya madu berumah tangga begitu membahagiakannya. Bertahun-tahun ia mengecap indahnya kehidupan berumah tangga sampai ia memiliki tiga orang anak. Ia begitu bangga dengan pakaian organisasi istri para penegak hukum. Selain ia bekerja, ia juga mendukung karier suaminya dengan aktif dalam organisasi istri penegak hukum di mana suaminya bertugas. Sampai pada tahun keempat pernikahannya, suaminya pindah tugas ke Nusa Tenggara Barat. Begitu mendapat kabar suaminya pindah setelah menyelesaikan pendidikannya, hati Marina sempat berdegup. Ada perasaan aneh yang tidak bisa dijelaskannya kala itu. Namun, ia tidak ingin larut dalam kekhawatiran, tidak pula ingin terlalu memikirkannya meski ia sedikit resah tapi ia abaikan perasaan itu. “Saya hanya diam sejak mendapat kabar itu,” ujarnya. Suaminya sendiri sempat bertanya kenapa ia terlihat murung belakangan itu. Ia hanya menjawab singkat, ia baik-baik saja. Sebelum kepindahan suaminya ke NTB, mereka pun berdiskusi. “Saya tidak mungkin ikut suami karena pekerjaan saya tidak bisa pindah. Kantor saya hanya ada di Pulau Jawa dan tidak ada di NTB. Saya juga memikirkan sekolah anak-anak. Jadi kami memutuskan sementara saya tidak ikut pindah sembari berpikir ulang,” ungkap Marina. Ia dan anak-anaknya ikut mengantar suaminya pindah ke NTB. Setelah semua beres, mencari kontrakan dan mengatur rumah dan berkenalan dengan ibu-ibu di organisasi tempat suaminya bertugas, Mariana dan anak-anaknya kembali ke Pulau Jawa. Masih jelas diingatnya ketika mata suaminya itu merah menahan sedih saat melambaikan tangan di bandara ketika ia meninggalkannya. Tidak lama setelah itu, suaminya kemudian mendapatkan jabatan yang bagus. “Sempat terpikir oleh saya untuk mendampingi suami, tapi kantor berat melepas saya karena keahlian saya yang masih belum ada penggantinya,” katanya. Marina tetap tidak bisa pindah ke NTB. Mereka akhirnya hidup terpisah. Marina tetap mengunjungi suaminya dua
bulan sekali ke NTB. Itu berlangsung selama setahun. Karena kesibukan Marina dan suaminya mereka kemudian jarang punya waktu saling berkunjung. “Kalau sebelumnya dua bulan sekali saya datang, setahun kemudian saya hanya bisa datang tiga bulan sekali,” katanya. Rupanya masalah ini menjadi pemicu suaminya tidak setia. Tanda-tanda bahwa suaminya itu memiliki wanita idaman lain, sudah terbaca oleh Marina sejak kunjungan terakhir Marina ke NTB di tahun 2010. Saat ia mengunjungi suaminya, ia melihat tingkah suaminya mulai lain. “Dia banyak alasan sampai selalu pulang malam ke kontrakan. Padahal saya hanya sekali-sekali saja datang. Saya maklum kalau ia memiliki jabatan kemudian pulangnya selalu malam namun saya sudah mulai curiga ada hal lain,” katanya. Selain itu banyak alasan lain yang membuat Marina patut menduga suaminya sudah jauh melangkah. Sampai akhirnya ia tahu bahwa suaminya memiliki istri simpanan. “Katanya menikah siri,” ujarnya singkat. Pertengkaran demi pertengkaran mulai mewarnai obrolan lewat telepon maupun saat Marina datang ke NTB. Hubungan mereka mulai renggang dan terus merenggang. Sakit hati Marina bagai tersayat sembilu. PAMER KEMESRAAN DI MEDIA SOSIAL Suaminya semakin terang-terangan memperlihatkan istri sirinya itu. “Bahkan dalam kegiatan organisasi istri sirinya itulah yang secara legal masuk dan bergabung dengan ibu-ibu di sana,” ujarnya. Yang lebih mengecewakan lagi bahwa perempuan itu bukan perempuan baikbaik yang dipandang umum karena pernah kawin cerai sudah tiga kali. “Suami saya adalah suami keempatnya,” kata Marina. Perempuan itu di mata Marina tidak lebih dari perempuan penghibur. Ada apa dengan suaminya sehingga begitu jauh jatuh dalam pelukannya. “Dia pakai guna-guna,” ujarnya menduga. Namun, ia tidak sepenuhnya meyakini
itu karena tidak mungkin mereka sampai menikah siri jika suaminya juga tidak menginginkannya. Suaminya bahkan mengumbar foto-foto kemesraan dengan istri
7
sirinya di media sosial. Sementara itu ia terus berusaha memperbaiki hubungan dengan suaminya namun gagal. Hingga tiba pada titik di mana ia tidak lagi bisa menerimanya. “Saya hanya ingin minta keadilan saja,” katanya. Ia pun melaporkan suaminya pada petinggi di institusi tempat suaminya bekerja. Lagi-lagi ia mengalami rasa kecewa berat. “Tidak ada tindaklanjut dari institusi tersebut dan saya sudah berulang-ulang memohon agar kasus ini diperhatikan,” katanya. Usaha-usaha itu gagal semua sampai Marina capek berusaha. Maka jalan terakhir baginya adalah menggantung perkawinannya dengan tidak memberikan sikap apa-apa. “Saya biarkan semua berjalan seperti ini. Sampai dimana ia mau menyakiti saya akan saya jalani,” katanya. Meski kasusnya sudah beberapa tahun berjalan, Marina tidak menggugat cerai suaminya. Suaminya sendiri seperti tidak berani menceraikanya. “Saya tunggu dia mengajukan cerai pada saya, maka disanalah akan saya buka semuanya,” ujar Marina dengan nada kesal. Entah sampai kapan kasus tersebut usai, Marina siap me nantinya. -naniek.itaufan@cybertokoh.com
MINAT ANAK MUDA HINDU BERBISNIS KULINER MAKIN TINGGI
GUSTI WEDAKARNA RESMIKAN SUKLA DI GERAI FRANCHISE AMAZY GIANYAR warung orang Bali, warung yang ada plangkiran dan warung Sukla. Ini tentu menggembirakan karena berpotensi mengangkat ekonomi lokal,” ungkap Senator Wedakarna. “Sukla adalah branding masa depan Bali. Sukla bermakna suci, artinya semua proses makanan harus menggunakan bahan yang diperlakukan suci, menggunakan perabot yang suci, dan juga harus menggunakan budaya Hindu. Misalkan bagaimana yang memasak dan menghidangkan tidak boleh wanita menstruasi, SATYAGRAHA - Senator Gusti Arya Wedakarna bersama I Gusti sebelum menjual harus Ngurah Putra ( Pemilik Franchise Amazy Naga Mas ) dan Wayan ada proses ngejot/saiban Widi Adnyana ( Ketum Gerakan Sukla ) di Blahbatuh Gianyar sebagai wujud persembahan pada Tuhan dan tentu Geliat gerakan Satyagraha Sukla yang ada proses warung atau restoran diperciki merupakan ikon pemersatu umat Hindu di Bali oleh tirta melanting termasuk ketika memakin merambah semua kalangan, dimulai dari nyembelih makanan dari hewan harus ada kalangan pengusaha kecil sejak beberapa tahun doa/mantra terlebih dahulu. Dalam Weda lalu, kini gerakan ini diminati oleh pengusaha diajarkan agar ruh hewani menuju ke alam menengah Bali. Sebagaimana terekam dalam yang lebih tinggi,” ungkap Gusti Wedakarna kegiatan peresmian Sertifikat Sukla di Gerai yang President The Hindu Center of IndoFranchise Ayam Goreng Amazy Naga Mas di nesia. Kini DPD RI bersama Tim Gerakan Blahbatuh Gianyar. Gerakan yang dipelopori Sukla secara intens terus mensosialisasikan oleh tokoh muda Bali Dr. Shri I Gusti Ngurah gerakan Sukla ke seluruh daerah, sejumlah Arya Wedakarna MWS III ini disambut antusias produk pun sudah mencantumkan logo Sukla oleh kalangan anak muda Bali diberbagai segmen di kemasannya. “Saya mendapat laporan dari mengingat Bali memerlukan ikon pemersatu tim seluruh Bali bahwa gerakan ini sudah bagi umat Hindu khususnya dibidang kuliner. merambah kawasan pariwisata. Satu contoh “Gerakan Sukla ini adalah siasat untuk yang nyata, kawasan Bedugul dulunya tidak menghadapi UU No. 33 Tahun 2014 tentang ada kuliner babi, tapi saat ini sudah mulai Jaminan Produk Halal. Saat berlaku tentu akan bermunculan pengusaha pengusaha babi. Ini merugikan umat Hindu, agama minoritas dan wujud konsistensi Bali yang sudah menolak kawasan Indonesia Timur. Maka dari itu saya desa syariah dan wisata syariah. Kita akan ingin mengedukasi orang Bali agar mereka dukung warung warung babi juga didirikan paham akan nilai-nilai kesucian dalam makanan di seluruh Bali. Ya menolong petani marhaen orang Bali. Hikmahnya, sekarang orang Bali juga, “ pungkas Senator Wedakarna. mulai fanatik dan mulai makan di warung-
Usianya masih muda, 23 tahun. Namun, kalau diajak berbincang tentang kepemudaan dan nasionalisme, ia sangat bersemangat. Akhirakhir ini, kegiatannya padat dengan diskusi-diskusi tentang kepemudaan dan tantangan masa depan bangsa Indonesia. Nanda, begitu sapaan akrab gadis bernama lengkap Tianda Kusuma Dewi, saat ini aktif di sejumlah organisasi kepemudaan GMNI (Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia), Voxmuda, dll.
K
Woman on Top
Edisi 924/ 24 - 30 OKTOBER 2016
etika ditanya masih relevankah tetap memelihara spirit ‘Sumpah Pemuda’ di era globalisasi saat ini, maka dengan tegas alumni jurusan Hubungan Internasional FISIP Universitas Nasional, Jakarta, ini pun mengatakan, amat sangat masih. “Spirit ‘Sumpah Pemuda’ masih sangat relevan sampai sekarang ini, sekalipun kita berada di era globalisasi dimana komunikasi dan teknologi semakin canggih sehingga begitu mudah kita berkomunikasi antara satu dengan lainnya, menerima informasi dari mana pun. Saya merasa justru di era seperti ini kita para pemuda harus mampu menjaga spirit ‘Sumpah Pemuda’ agar kita tetap bersatu, tidak terpecah-pecah yang pada akhirnya dapat mengikis rasa nasionalisme kita,” ungkap Nanda yang juga Sekre-
Tianda Kusuma Dewi
bersikap demikian. Karena, masih banyak pemuda Indonesia yang memiliki rasa nasionalisme yang tinggi dan tidak mudah ‘termakan’ intrik-intrik politik yang ingin memecah belah. Harusnya, para pemuda kita mengingat kembali tentang sejarah lahirnya Sumpah Pemuda, dimana ketika itu tanggal 27-28 Oktober 1928 para pemuda Indonesia dari berbagai daerah berkumpul merumuskan persatuan; Satu Tanah Air, Satu Bangsa, Satu Bahasa, sehingga akhirnya lahirlah Sumpah Pemuda. MENYATUKAN PANDANGAN DENGAN TNI Saat ini, kata Nanda yang juga sebagai salah satu pendiri organisasi kepemudaan ‘Voxmuda’ bersama teman-temannya dari berbagai organisasi kepemudaan tengah giat berdiskusi tentang bagaimana caranya membangkitkan rasa nasionalisme khususnya di kalangan para pemuda, menyatukan kembali pandangan tentang persatuan dan kesatuan Indonesia. “Kami berencana audensi dengan pihak TNI untuk membicarakan ini. Kami ingin bekerja sama
dengan TNI, ibaratnya menyatukan pandangan. Kami ingin TNI karena merasa ‘elite-elite’ kita yang ada saat ini ‘bermain’ untuk kepentingan sendiri-sendiri/kelompoknya. Kami merasa mereka tidak akan mau mendengar suara kami,” ujarnya. Bahkan di kampus pun, gerakan para pemuda yang ingin mendiskusikan tentang kebangsaan dan nasionalisme, terkesan dibatasi. “Di kampus aku pun begitu, juga di Universitas Indonesia pun kami kesulitan untuk mengadakan acara yang bertema nasionalisme. Tidak tahu kenapa begitu. Kami para pemuda menjadi merasa tidak nyaman dan ‘terancam’ dengan adanya ‘policy’ seperti itu. Padahal kami para pemuda memerlukan sebuah gebrakan yang bisa mempersatukan, meningkatkan nasionalisme. Tapi sulit. Karena itu ada rencana, salah satunya dengan audensi dengan pihak TNI, “ ungkapnya. Nanda sendiri mengaku mulai tertarik berbicara tentang kebangsaan saat dia di bangku SMA, namun ketika ia mahasiswa ketertarikannya semakin kuat apalagi ia menimba ilmu di jurusan Hubungan Internasional dimana sedikit ban-
Tak puas dengan sepak terjang di dunia akting, Rio Dewanto menjajal tugas baru sebagai produser dalam film “Wonderful Life”. Untuk pertama kalinya, dirinya menjadi produser film berdurasi panjang. Suami Atiqah Hasiholan ini, sengaja memilih profesi produser karena dianggap sejalan dengan pendidikannya.
Tianda Kusuma Dewi
yak mendapat pengetahuan tentang politik. “Waktu aku di kampus, ketertarikan makin kuat karena bertemu dengan teman-teman sehaluan. Kami sering terlibat diskusi-diskusi tentang kebangsaan, membicarakan bagaimana Indonesia ke depan,” katanya. Dari pengetahuan yang didapat dari berbagai diskusi juga keterlibatannya di berbagai organisasi kepemudaan membuat Nanda menjadi makin ‘gemas’ dengan kondisi yang ada dan ingin berbuat sesuatu untuk bangsa dan negara. “Jadi sekarang ini selain aku sibuk mempersiapkan diri untuk melanjutkan pendidikan ke S2, juga sibuk berorganisasi,” kata Nanda yang sempat aktif di Forum Komunikasi Mahasiswa Hubungan Internasional se-Indonesia. -dianaruntu@cybertokoh.com
“KESAKTIAN” SANG PELAYAN
Salam Senyum,... “Uang Anda seratus ribu akan kami gandakan menjadi satu juta, asalkan dapat memenuhi persyaratan yang kami minta”....... Berita penggandaan uang menjadi topik hangat di beberapa media, dimana Pelakunya saat ini sudah ditangkap aparat karena “kesaktian” yang dia miliki dianggap meresahkan masyarakat yang banyak merasa dirugikan. Naaaahhh... kali ini kita akan membahas bagaimana Sang Pelayan dapat menunjukkan “kesaktiannya” sehingga pelanggan merasa nyaman dan tentu... “kesaktian” ini tidak akan ditangkap oleh aparat... heheheheh... Seorang ibu tergesa-gesa menuju sebuah loket bank karena ibu tersebut baru saja Kehilangan tas beserta isinya. Di dalam tas yang hilang terdapat buku tabungan, kartu ATM, serta beberapa identitas. Dengan wajah khawatir dia menceritakan hal tersebut ke petugas Bank atau lebih dikenal dengan Customer Service (CS). Dengan pengalaman bertahun-tahun telah terjun di dunia layanan. Dapat diamati bagaimana pelayan tersebut melayani si ibu. Apa yang terjadi.....? Ibu tadi keluar dengan wajah yang masam, penuh amarah, dan tentu tidak ada senyum sama sekali di raut wajahnya. Sudah bisa ditebak... Permintaan ibu tadi untuk segera mengganti buku tabungan dan kartu ATM yang hilang ditolak oleh CS karena persyaratannya tentu belum dipenuhi. Cerita lainnya seperti ini.... malam minggu ceria ketika saya memesan makanan untuk dibawa pulang di sebuah rumah makan. Berharap akan makan bersama di rumah dengan keluarga, saya cepat-cepat membayar pesanan
ketika makanan sudah siap untuk dibawa pulang. Namun..sungguh di luar dugaan.. Sampai di rumah saya buka pesanan makanan itu ternyata isinya bukan seperti yang saya pesan. Semua dengan menu yang berbeda... oooohhh sepertinya tertukar dengan pelanggan lain... Dengan perasaan kecewa saya kembali ke rumah makan tadi untuk bermaksud menukar. Namun... apa yang terjadi,...Saya ceritakan kepada pelayan bahwa makanan tertukar dan makanan yang saya bawa sama sekali bukan makanan yang saya pesan. Dengan alasan-alasan lain di antaranya kami sekeluarga kurang menyukai makanan yang dibawa, kemudian adanya pantangan terhadap jenis sayuran dan daging, saya ceritakan semuanya agar dapat dimengerti sekaligus diganti oleh pelayan rumah makan tadi. Hmmmmmm... ternyata saya ditanggapi dengan dingin, wajah bersungut-sungut, menyalahkan sang kasir, dan berteriak kepada juru masak untuk dibuatkan kembali. Walaupun akhirnya saya pulang dengan membawa makanan pengganti yang saya pesan dengan benar, hati saya tetap tidak puas dengan layanan rumah makan tadi. Pembaca Dhani’s Art in Service yang setia.... sebenarnya dimana letak Kesalahan Pelayanan terhadap pelanggan tadi. Selain hal-hal teknis, ternyata ada satu yang sangat penting. Ketika pelanggan bercertita tentang hal yang menimpanya, sang pelayan terkesan kurang ber ‘empati’. Kenapa demikian? Bukankah sudah diganti dengan makanan yang sesuai permintaan..atau bukankah sudah diberikan persyaratan-persyaratan agar buku tabungan dan kartu ATM dapat
tergantikan......???? (sesuai cerita di atas). Betuuul..... Menjadi seorang pelaku kemudian pengamat layanan serta trainer layanan, dapat saya berikan masukan bahwa sebenarnya “KESAKTIAN” pelayanan dapat tercipta ketika dia ber-EMPATI dengan bersungguh-sungguh, sebelum menemukan dan memberikan solusi terhadap kejadian yang menimpa pelanggan. Saat ini pelaku layanan lebih mementingkan solusi yang akan diberikan, namun mengindahkan rasa empati. Padahal... coba dua buah cerita tadi kita lakukan dengan si pelayan melakukan empati yang bersungguh-sungguh. Walaupun keinginan pelanggan belum dapat dipenuhi tapi saya yakin, perasaan lega, perasaan diperhatikan dan dipedulikan oleh pelayanan akan memberikan perasaan yang nyaman kepada pelanggan. Begitupun sebaliknya,walaupun seandainya keinginan pelanggan dapat terpenuhi, tetapi rasa empati tidak Nampak dari pelayan, hal itu akan berdampak pada “penerimaan yang terpaksa” dari pelanggan. Apalagi, jika kedua-duanya (tidak ada rasa empati dan tidak ada solusi), itu menjadi pelayanan yang sangat buruk. Dan... bagaimana cara atau tips nya agar Empati dapat dijadikan sebagai “kesaktian” bagi pelayan?... Yang pertama..PINTAR MEMBACA RAUT WAJAH. Sebagai seorang pelayanan harus mampu membaca raut wajah dan bahasa tubuh orang dengan baik karena ekspresi wajah menunjukkan perasaan yang sesungguhnya yang tidak disuarakan. (Daniel Pink : A Whole New Mind) Yang Kedua.. AKTIF MENDENGARKAN. Seorang pelayan sebaiknya dilatih agar dapat menjadi seorang pendengar yang baik. Ada dua komponen yang harus dilakukan, yaitu dia harus merasa tertarik dengan apa yang dikatakan oleh klien, dan dia harus menyimak dengan fokus apa yang diceritakan oleh orang kepadanya. Selanjutnya yang ketiga adalah MENEMPATKAN DIRI KITA KE DALAM POSISI ORANG
19
Rio Dewanto
Pemuda harus Jadi Ikon Perubahan taris Umum di Yayasan Aku dan Bung Karno ini. Di era sekarang, tantangan pemuda makin berat. Karena masuknya budaya asing, paham-paham asing, yang jika tidak hati-hati justru bisa menggerus jati diri kita sebagai bangsa Indonesia. Sekarang ini, katanya, sebagian pemuda seolah sudah lupa makna Sumpah Pemuda, rasa nasionalisme memudar. Misal, mereka lebih menyukai budaya asing, entah itu budaya barat ataupun Korea, dll, sehingga lupa pada budaya sendiri. Mudah terjebak dengan isu-isu yang memecah belah yang sebenarnya dimainkan oleh pihak-pihak tertentu untuk menggerus kesatuan para pemuda dan rasa nasionalisme. “Tidak usah jauh-jauh melihatnya, di lingkungan teman-teman saya saja banyak yang bersikap cuek dan tidak peduli dengan keadaan bangsa sendiri. Mereka lebih asyik menikmati budaya barat atau Korea, dll. Padahal pemuda Indonesia seharusnya menjadi ‘ikon perubahan’, ‘agent of change’. Tapi yang terjadi sebagian pemuda malah larut dengan kondisi yang ada,” paparnya. Memang, tidak semua pemuda
Edisi 924/ 24 - 30 OKTOBER 2016
LAIN. Hal ini termasuk lebih sulit melakukannya karena manusia mempunyai sifat ‘ego’ yang tinggi. Salah satu caranya adalah melatih fokus dengan sudut pandang yang berbeda. Mulai berlatih dengan hal-hal kecil seperti ketika antre di sebuah kasir, tidak mengeluh dengan antrean itu, tetapi bagaimana memfokuskan ketika kita yang menjadi kasirnya dan ditunggu pelanggan dengan antrean yang panjang... he he he heh. Disaat itulah kita merasakan posisi sebagai orang lain.. Dan yang keempat adalah dengan MEMPERHATIKAN BAHASA TUBUH SENIDIRI. Banyak orang tidak tersadar bahwa bahasa tubuhnya sendiri yang membuat rasa empati itu tidak tercermin. Contoh kecil, ketika pelanggan bicara, tangannya terlipat,...atau ketika pelanggan bercerita ia menggosok-gosok dagunya, atau menutup mulut dan menggarukgaruk hidung. Masih banyak lagi bahasa tubuh sendiri yang jarang terperhatikan oleh diri sendiri. Dan, itu membuat rasa empati dari pelayan tidak tercermin kepada pelanggan. Malah menimbulkan kesan yang buruk. Pembaca setia,...dengan keempat hal di atas, sebagai pelayan sudah dapat dikatakan memberikan “kesaktian” dengan menunjukkan empati yang bersungguh sungguh. Dan itu menjadikan senjata untuk kenyamanan pelanggan. Bukankah kata orang bijak “Empati itu seperti mencoba sepatu orang lain, dan simpati itu diibaratkan memakai sepatu tersebut?”. Ayo... mulai untuk berlatih... Ingin lebih dalam mengetahui dan cara mempraktikkan hal tersebut dalam dunia layanan? Silahkan hubungi manajemen kami. Dengan kesempatan yang diberikan, kami siap membantu perusahaan/instansi Bapak/Ibu. Salam 3SP Salam Senyum Sang Penyihir Sri Sumahardani Sri Sumahardani3sp@gmail.com
“L
atar belakang pendidikan saya advertising. Strategi advertising bisa diaplikasikan sebagai produser film,” kata Rio Dewanto, usai jumpa wartawan terkait film “Wonderful Life” di Eclectic Sutos Surabaya. Peran baru rupanya tidak mudah dilakukan bagi Rio Dewanto. Bintang film “Filosofi Kopi” ini pun mengaku kelimpungan. Segala hal harus terencana dengan baik di tangannya.
Jadi Produser sebagai Pelajaran Hidup “Saya pusing karena semua tanggung jawab ada pada produser. Misalkan, di lapangan berhenti syuting itu kan tanggung jawab produser,” tutur Rio Dewan-
“Saya pusing karena semua tanggung jawab ada pada produser. Misalkan, di lapangan berhenti syuting itu kan tanggung jawab produser,”
Rio Dewanto
6
to sambil tersenyum. Meski mengaku pusing, aktor kelahiran 28 Agustus 1987 ini menganggap peran barunya sebagai pelajaran hidup. Banyak hal baru yang ia temukan saat menjadi produser. “Memang untuk film pertama kalinya. Banyak hal dan banyak belajar. Dibalik layar ada keseruan. Pastinya banyak belajar dari buku, sama teman-teman produser juga,” ungkap Rio Dewanto. -Dona
Dinsos Ngawi Gelar Pelatihan Untuk memberi keterampilan pada masyarakat perlu diadakan pelatihan. Hal ini dilakukan Dinas Sosial dan Transmigrasi Ngawi dengan mengadakan pelatihan ketrampilan bagi masyarakat usia produktif. Pelatihan digelar selama 30 hari. Kesempatan inipun digunakan sebaik-baiknya oleh calon masyarakat. “Pelatihan akan dilaksanakan tiap tahun oleh Dinsos. Kami berharap ini bisa terekspos dan diketahui masyarakat,” papar Sunarto, S.Sos, Kepala Dinas Sosial dan Transmigrasi Ngawi di kantornya. Ia berharap pelatihan bermanfaat bagi orangtua yang ingin anaknya memiliki keterampilan namun tidak memiliki dana untuk ikut kursus. Kegiatan yang dilaksanakan Dinsos tidak berbayar alias gratis. Untuk gelombang pertama, program pelatihan untuk kecantikan dan bengkel. Menurut Yeni dan Mariana dari lembaga pendidikan Kencana Dwi Ngawi, pelatihan kecantikan yang diberikan antara lain cuci rambut, blow, creambath, smoothing, toning dan macam perawatan rambut lain. Gelombang kedua akan dilaksanakan pada Oktober nanti. Sunarto menambahkan di era pasar bebas Asia, masyarakat harus mempersiapkan diri dengan mempunyai skill tertentu, karena pengusaha luar negeri dari perdagangan bebas yang masuk memakai tenaga-tenaga yang kompeten, siap pakai. Selain itu juga bahasa asing juga harus dikuasai,” tegas Sunarto. -Eko Setiyowati
20
Nine
Edisi 924/ 24 - 30 Oktober 2016
Fitri Nugrahaningrum
Kekurangan bukan Kelemahan Dunianya memang gelap. Hanya seberkas cahaya samar yang dapat ditangkap oleh sisa-sisa indra penglihatannya (mata) bagian kiri. Namun, mata hatinya senantiasa bercahaya benderang bagi anak-anak dan para perempuan yang ada di sekitarnya. Fitri Nugrahaningrum memang seorang tuna netra yang tidak bisa melihat seluruh benda-benda secara nyata dengan kedua matanya.
S
Fitri (tengah) bersama pengurus Pertuni
ejak usianya 12 tahun, ia mulai kehilangan penglihatannya. Dan pada tahun 1998, saat duduk di kelas 2 SMA, ia telah kehilangan penglihatannya secara total. “Saya tidak lagi bisa melihat, buta total saat kelas dua SMA,” ungkap Fitri. Tetapi kekurangan yang ada dalam dirinya itu tidak membuatnya menjadi sosok yang lemah apalagi harus dikasihani. Mata hatinya yang peka mampu merasakan semua yang ada di dekatnya dengan hati, perasaan dan empatinya yang besar untuk mengangkat harkat, martabat dan kehormatan orang lain. Dalam kekurangannya itu, ia justru mampu mendorong dan memotivasi serta memberi manfaat bagi orang lain. Kegigihan dan keikhlasannya untuk berjuang menaklukan semua kendala dan
rintangan dalam kerja sosial yang dijalankannya, membuatnya layak disebut perempuan tangguh. Bagaimana tidak, dengan keterbatasannya sebagai tuna netra, perempuan asal Solo yang sejak tahun 2011 sudah tinggal di Kediri Lombok Barat
ini, telah peduli pada pendidikan anak-anak yang tinggal di sekitar lingkungannya dengan mendirikan Taman Belajar yang diberi nama Samara (Satelit Masa Depan Negara), dengan moto cerdas berkualitas indah terkemas. Di rumah pribadi milik suaminya yang berdiri di atas lahan 4 are itulah, ia dan suaminya Muhammad Zaki berbagi ruangan dengan anak-anak dari usia dini hingga lansia yang belajar di sana secara gratis. Di rumah yang sesungguhnya merupakan tempat usaha produksi peci suaminya itu ‘disulapnya’ menjadi ruang-ruang kelas dengan berbagai sebutan yang memotivasi, seperti kelas Smart dan kelas Ilmuwan serta kelas lainnya. Penamaan kelas tersebut sengaja diberikan selain sebagai motivasi juga sebagai doa untuk
Kerjasama antar orang tua dan anak di Samara
Gerakkan Potensi Sekitar Ada empat ruangan yang selalu berganti nama sesuai dengan kelas yang masuk. Anak-anak usia 2 tahun masuk hanya sekali dalam sepekan yaitu hari Jumat yang pendidikannya lebih dititikberatkan pada wali murid atau kelas parenting. Melalui wali murid ini, Fitri ingin menyentuh lingkungan dasar bagi tumbuh kembang anak-anak yang sehat bukan hanya fisik tetapi juga psikis mereka. Para wali murid mendapat pelajaran tentang membangun kehidupan yang sehat dalam lingkungan dan hal-hal lain yang bersifat praktis serta dibutuhkan untuk tumbuh kembang anak seperti belajar adab dalam berbagai hal. Orang tua juga secara bersama-sama belajar tentang kebersihan untuk anak-anak mereka termasuk sikat gigi, adab berpakaian, ucapan-ucapan yang baik kepada anak. Samara kerapkali mengadakan lomba-lomba bagi wali murid seperti lomba kerjasama orangtua dan anak. Tidak ada pembelajaran lebih pada anak-anak usia 2 tahun ini melainkan mereka diajarkan bernyanyi dan pembagian makanan sehat. “Mengajarkan anak-anak untuk bisa percaya diri sejak usia dini,” ungkap Fitri yang lulusan Pendidikan Luar Biasa FKIP Universitas Sebelas Maret Solo ini. Di universitas yang sama, Fitri juga menyelesaikan S2-nya pada Ilmu Penyuluhan dan Pengembangan Masyarakat. Anak-anak usia 3 tahun masuk tiap Senin dan Kamis untuk belajar mengenal huruf dan kegiatan lain bermain sambil belajar. “Anak-anak usia empat
tahun, pra TK diajarkan untuk mandiri dan pembelajaran pra TK seperti belajar baca, tulis, berhitung dan belajar serta belajar melipat, origami dan lainnya yang merangsang motorik mereka,” ujar Fitri yang sejak tahun 1998 juga mendidirikan Yayasan Al Fitrah di Solo. Seperti halnya Taman Belajar Samara di Lombok, Yayasan tersebut didirikan oleh Fitri atas kepeduliannya pada anak-anak yang kurang beruntung. Kepedulian Fitri pada anak-anak lebih karena ia menganggap bahwa anak-anak adalah investasi dunia dan akhirat. Namun bedanya, Samara Lombok belum merupakan yayasan melainkan hanya taman belajar. Menurutnya biaya untuk proses membuat yayasan sangat besar. “Ketimbang dana yang besar itu untuk buat yayasan lebih baik kami pakai lebih dahulu untuk kebutuhan anak-anak dan kebutuhan lainnya,” kata perempuan kelahiran 18 Juni 1979 ini. Bagaimana tidak, Fitri masih banyak membutuhkan biaya untuk operasional Samara seperti untuk memberi honor bagi para guru yang notabene mereka itu mantan TKW. Belum lagi ia harus membiayai kegiatan-kegiatan outbond, biaya sewa mobil untuk antar jemput penyandang difabel, biaya bahan-bahan untuk kursus bagi para ibu dan lainnya. Dengan tangan dan pikirannya sendiri, peraih “She Can dari Tupperware tahun 2012” dan Anugerah Hero dari Kick Andy tahun 2014 serta beberapa penghargaan lainnya ini mendidik dan menggerakkan semua potensi yang ada di sekitarnya semampu yang ia bisa. -Naniek I. Taufan
Inspirasi Orang yang senang berlari memiliki motivasi yang berbeda. Ada yang berlari untuk dirinya sendiri, ada yang berlari untuk kepentingan orang lain. Berlari sejauh 3000 km di 184 negara merupakan proyek yang dilakoni Claire McFarlane sebagai bentuk kepedulian terhadap korbankorban pemerkosaan.
Fitri Nugrahaningrum
anak-anak didiknya. “Penamaan kelas itu sebagai doa dan harapan kami ingin menjadikan anak-anak yang terdidik, berilmu, cerdas dan brilian sesuai maksud dari namanama kelas tersebut,” ujar Ketua Persatuan Tuna Netra Indonesia (Pertuni) NTB ini. Tidak kurang dari 400 orang yang belajar di Samara sampai saat ini dengan telah menelurkan 600 alumni. Mereka ini terdiri dari anak-anak PAUD usia 2-4 tahun dan juga anak-anak usia SD dan SMP yang belajar di Tempat Pendidikan Anak (TPA). Selain itu, Samara juga membina remaja usia SMA dan para penyandang disabilitas. Ditambah lagi para ibu yang belajar mengasah keterampilan membuat kue dan produksi rumah tangga lainnya. Melihat banyaknya orang yang belajar di sini, janganlah berpikir bahwa Samara memiliki fasilitas yang mentereng dengan donatur yang besar. Dua hal ini sesungguhnya menjadi kendala yang sangat berarti bagi Samara. Di samping itu dana Samara juga diperoleh dari persentase usaha para ibu yang telah ia latih keterampilan membuat kue dengan seluruh pembiayaan dari hadiah uang Rp 8 juta saat Fitri mendapatkan penghargaan “She Can Tupperware tahun 2012”. Persentase itu pun jika kue hasil buatan para ibu di lingkungan tersebut dipasarkan oleh Samara. Tetapi sejauh ini Samara tetap dapat berjalan karena ketekunan, kesabaran dan kegigihan Fitri yang didukung sepenuhnya oleh suaminya dalam menghadapi berbagai tantangan dan kendala tersebut. Fasilitas yang ada di
Samara sangatlah sederhana bahkan lebih cocok disebut serba kekurangan, terutama ruangruang kelasnya yang terbatas. “Di sini anak-anak sekolah ‘saling gusur’ karena harus bergantian memakai ruang kelas,” ungkap Fitri tersenyum. Selain itu, biaya untuk kelangsungan taman belajar ini dibiayai sendiri oleh Fitri dan suaminya. Mereka selalu menyisakan rezeki untuk kepentingan taman belajar ini. Satu dua bantuan yang datang, meskipun terbatas diakui Fitri sangat membantu mereka. Namun begitu, Fitri tidak pernah mengeluh melainkan terus memperjuangkan taman belajar ini agar senantiasa hidup demi anak-anak dan mereka yang membutuhkan. Membiayai begitu banyak orang yang belajar di Samara dengan kemampuan sendiri, sempat membuat nada sumbang ‘mata curiga’ bahwa Fitri tengah memanfaatkan anak-anak dan warga belajar Samara untuk mendapatkan dana yang besar. “Ini yang membuat anak-anak sempat bubar waktu itu,” kata Fitri. Namun dengan keteguhan hati, Fitri melewati semua itu dengan sabar demi mencapai tujuannya untuk menjadikan anak-anak didik Samara memiliki tujuan hidup yang mampu meningkatkan harkat dan derajat mereka dengan ilmu. Begitu pula dengan penyandang disabilitas dan juga para ibu yang belajar di taman belajar ini. “Saya tidak mau sibuk mendengarkan celoteh yang tidak produktif. Lebih baik fokus mengurus mereka yang belajar di Samara,” ujarnya.
Fitri mengajar anak-anak mengaji
–Naniek I. Taufan
P
Claire McFarlane
erempuan kelahiran Afrika Selatan, April 1978 ini menuturkan pengalaman yang membuatnya peduli dengan korban pemerkosaan. Tahun 1999, saat berusia 21 tahun, Claire kuliah di Paris, Perancis. Selain kuliah, ia bekerja part time di sebuah pub. Suatu malam, pulang dari pub ia disergap pria besar dan bertenaga kuat. “Aku diperkosa dan disiksa hingga sekarat. Tapi aku masih bisa memohon untuk dilepaskan dan dibiarkan tetap hidup. Akhirnya aku ditinggalkan begitu saja di jalanan. Aku berusaha bangkit dan mencari pertolongan hingga mendapat perawatan di rumah sakit. Perlu waktu tiga bulan untuk pemulihan dengan obat maupun terapi,” ungkap perempuan yang kini menjadi survivor korban pemerkosaan ini Kasus pemerkosaan ini ditangani polisi Perancis. Dari hasil investigasi, diketahui pelaku sudah sering melakukan aksi serupa. Claire yang sudah pulih memilih untuk pulang ke Australia. Ia berharap bisa melupakan semua kejadian yang menimpanya. Usaha untuk “move on” hampir gagal karena Claire mengalami fase penolakan. Ia menjadi trauma. Sering mengalami ketakutan dan sulit untuk berkomunikasi. “Aku mengalami fase ini sekitar 10 tahun. Tetapi, aku berhasil men-
Edisi 924/ 24 - 30 Oktober 2016
Claire McFarlane
5
Lari 3.000 Kilometer di 184 Negara
gubah hidupku. Aku konsultasi dengan psikolog dan pulih kembali. Aku kuliah dan bekerja lagi,” kenang perempuan yang bekerja di bidang desain grafis ini. Setelah benar-benar pulih, Claire kembali ke Perancis, tetapi tak mau tinggal di Paris. Ia memilih bekerja di Lyon. Dari Lyon, ia pindah lagi ke Inggris, kemudian ke Swiss. Tahun 2009, polisi Perancis menghubunginya agar datang ke Paris. Ada beberapa orang yang mirip pelaku yang ditangkap. Peristiwa yang sudah ia lupakan itu muncul lagi. Demi mendapatkan keadilan, ia pun pergi ke Paris dan membantu polisi menangkap si pelaku. “Dari tahun 2009 hingga 2011, aku bolakbalik untuk mengurus kasus ini. Sistem hukum yang berlaku di Perancis sangat beda. Korban harus membayar untuk menjebloskan pelaku kejahatan ke penjara. Karena sudah telanjur, akhirnya aku lakukan segalanya agar pelaku di penjara. Sidang berakhir tahun 2011. Pelaku terbukti bersalah dan dihukum 12 tahun penjara. Tetapi, ia hanya menjalani 3,5 tahun saja. Aku sangat kecewa. Tahun 2015 baru selesai semua urusan. Kasusku ini karena yang pertama, menjadi jurisprudensi di Perancis,” jelas Claire.
BICARA KEPADA DUNIA Tahun 2014, Claire mulai mempublikasikan apa yang dia alami kepada media massa di Australia. Ternyata banyak yang merespons. Beberapa orang yang pernah menjadi korban pemerkosaan pun menjadi menghubunginya. Dari situ, Claire yakin, jika korban hanya diam, akan berbahaya bagi hidupnya. Ia pun menyarankan mereka untuk berbicara dengan orang-orang yang tepat seperti psikolog serta bergabung dalam support group. Sebagai langkah yang lebih luas, Claire memilih berbicara kepada dunia dengan membuat program Beach Run for Awareness (BRA). Di tiap negara yang ia kunjungi, ia berlari di pantai sejauh 16 kilometer. “Aku menghabiskan waktu 16 tahun, dari 1999 hingga 2015 untuk kasusku. Inilah alasan aku berlari 16 kilometer di pantai di tiap negara yang aku kunjungi. Untuk Indonesia, selain di Bali aku juga akan berlari di Nanggroe Aceh Darussalam. Total 3000 kilometer yang akan aku tempuh selama tiga tahun. Start pertama sudah dilakukan 18 Juli 2016 di Afrika Selatan,” ujar pecinta kopi pahit dan penganut pola hidup sehat ini. Dari Afsel, Claire berlari di Australia, Selandia Baru, Fiji, Papua Nugini, Solomon, Indonesia (Bali), Sri Lanka, India, Thailand, Brunei Darussalam, Malaysia, Indonesia (NAD) dan terus keliling hingga mencapai 184 negara. Ia mengaku banyak dibantu teman-temannya untuk menyukseskan program ini. Di Bali, Claire berlari Pantai Sanur, Sabtu (22/10). Acara ini didukung Mercure Resort Sanur.
tkh/larisa armstrong
Penyuka yoga dan meditasi ini menuturkan dirinya memilih lari karena lari bagus untuk kesehatan. Dengan lari, stres menjadi hilang, membuka wawasan baru, serta mengalahkan diri sendiri. Selain lari sendiri, lari bersama akan menginspirasi orang lain untuk ikut. Di Papua Nugini, ada 2000 pelari yang ikut berlari bersama Claire dan ini membuatnya terharu. Di negara-negara yang sudah dilalui, ia menemukan berbagai cara untuk menunjukkan kepedulian. Dari programnya ini, ia menemukan korban-korban pemerkosaan yang akhirnya mau bercerita setelah diajak berlari. “Dari penelitian yang pernah aku baca, 1 dari 4 perempuan pernah
mengalami kekerasan seksual dan 1 dari 6 laki-laki juga pernah mengalami kekerasan seksual saat berusia dibawah 18 tahun. Di beberapa tempat, korban pemerkosaan juga dianggap aib bagi keluarga atau kelompoknya. Hal inilah yang harus disikapi. Perlu ada peningkatan kepedulian terhadap korban pemerkosaan,” tegas perempuan yang fasih bahasa Inggris, Perancis, dan Afrikaans ini Impian Claire adalah membuat buku yang merangkum semua perjalanannya dan menjadi pembicara yang tampil di TEDx di Amerika Serikat. Ini adalah forum penting dimana orang bisa berbicara selama 15 menit. Satu hal yang juga ia impikan adalah membuat event BRA tiap tahun. “Aku ingin mengumpulkan dana melalui BRA dan menyumbangkan untuk orang-orang yang memerlukannya,” tegasnya. -ngurahbudi@cybertokoh.com
Claire bersama pelari yang mendukungnya di Pantai Sanur
“Aku diperkosa dan disiksa hingga sekarat. Tapi aku masih bisa memohon untuk dilepaskan dan dibiarkan tetap hidup. Akhirnya aku ditinggalkan begitu saja di jalanan. Aku berusaha bangkit dan mencari pertolongan hingga mendapat perawatan di rumah sakit. Perlu waktu tiga bulan untuk pemulihan dengan obat maupun terapi”
4
Inspirasi
Edisi 924/ 24 - 30 Oktober 2016
Mandalika
Edisi 924/ 24 - 30 Oktober 2016
21
Gubernur NTB Produk Bambu Serius Berantas Pembalakan Liar Kurang Diminati di Indonesia Khairul Pulungan
Maraknya pembalakan liar (ilegal logging) yang terjadi di Nusa Tenggara Barat, mendapat perhatian serius dari Gubernur NTB, Dr. TGH. M. Zainul Majdi dengan melakukan inspeksi mendadak ke lapangan. Bersama Danrem, Kapolda, Kejaksaan serta didampingi Sekda NTB Ir. H. Rosiadi Sayuti dan Kepala Dinas Kehutanan NTB, Gubernur NTB turun mulai dari Kodim Lombok Barat untuk melihat dari dekat hasil sitaan sebanyak 28 truk kayu illegal yang tertangkap saat razia di beberapa wilayah di NTB. Kemudian melakukan peninjauan kesiap-siagaan aparatur kehutanan di UPT Kesatuan Pengolahan Hutan Lindung di Kelurahan Sayang-sayang.
Pohon bambu yang oleh sebagian masyarakat kita, khususnya di perkotaan, hanya ‘dipandang sebelah mata’ , bahkan produknya pun kurang diminati, di tangan Khairul Pulungan justru disulap menjadi furniture nan eksotis dan sangat disukai pasar Eropa. Saking sukanya, meski dunia sempat berkali-kali kena krisis ekonomi, Khairul tetap bisa survive mempertahankan bisnisnya ini.
Khairul Pulungan dan istrinya Sundari di depan rumah bambu
“S
aya sudah hampir 20 tahun bisnis furniture bambu, berkali-kali didera krisis ekonomi, bahkan Eropa yang menjadi pasar utama saya pun berkali-kali dihantam krisis, namun usaha saya ini bisa tetap bertahan. Tren memang menurun ketika krisis, tapi tetap masih bisa eksis karena di Eropa, meski krisis, permintaan akan furniture bambu Indonesia, tetap tinggi,” ungkap Khairul yang menjalankan bisnis furniture bambu ini bersama istrinya, Sundari Pulungan. Buyer asing, tuturnya, sangat suka produk bambu Indonesia, salah satunya karena ketahanannya yang bisa sampai puluhan tahun, harganya pun relatif jauh lebih murah dibanding kayu. “Saya punya aneka produk, tapi yang paling disukai masyarakat Eropa adalah tempat tidur,” ucapnya. Anehnya, kata Khairul, justru masyarakat dalam negeri kurang menyukai furnitur bambu. Di dalam negeri, produk bambu hanya dipandang ‘sebelah mata’ karena sebagian orang belum paham tentang bambu. Masyarakat berpikir produk bambu cepat rusak, mudah reyot, dll. Padahal tidak demikian. Dengan pembuatan yang benar, produk bambu bisa tahan puluhan tahun. “Kalau produk bambu saya cepat rusak, pastilah buyer komplain, orang Eropa tidak mau membeli. Dan yang pasti bisnis saya ini tidak akan sampai bertahan sampai sekarang. Justru karena awet dan harganya murah, perawatan mudah, maka mereka suka. Desainnya pun menarik. Pengetahuan tentang itu yang dikurang dimiliki masyarakat kita, sayang sekali,” katanya.
Karena kurangnya minat di dalam negeri maka katanya, lebih memfokuskan penggarapan pasar luar negeri. “Selama hampir 20 tahun saya menggeluti usaha ini, minat masyarakat kita pada produk bambu tidak ada kenaikan yang berarti, masih biasa saja,” tambahnya. TINGGALKAN PROFESI WARTAWAN Perjalanan Khairul menjadi pengusaha furnitur bambu, boleh dibilang tidak sengaja. Karena sebelumnya lelaki usia 52 tahun ini adalah seorang wartawan sebuah media cetak nasional. Kariernya di bidang jurnalistik lumayan moncer, bahkan dia sempat meraih penghargaan ‘Adinegoro’, sebuah penghargaan tertinggi untuk karya jurnalistik yang diberikan oleh Persatuan Wartawan Indonesia. Namun ketika terjadi perubahan manajemen di kantornya, Khairul pun mengundurkan diri.
“Nah saat itu saya jadi sering ke kampung istri saya di Rangkasbitung, Jawa Barat. Di sana saya melihat begitu banyak pohon bambu, namun kurang dimanfaatkan menjadi sebuah produk yang bernilai lebih. Entah bagaimana lalu muncul ide membuat furniture dari bambu,” tutur alumi Institut Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Jakarta, ini. Walhasil, dia pun mulai mempelajari tentang bambu lewat literatur-literatur yang ada. “Uang pesangon yang saya dapat, saya gunakan sebagian untuk memulai bisnis ini. Kebetulan di Rangkas ada beberapa pengrajin bambu, maka saya ajak kerja sama.Saya mencari tahu bagaimana caranya menjadikan furniture bambu ini berkualitas, awet dan menarik (desain). Itu semua saya pelajari,” paparnya. Ia juga melakukan pembinaan dan pelatihan secara khusus kepada pekerja juga petani-petani bambu di sana. Semuanya bersemangat karena bukan hanya mendapat lapangan pekerjaan tapi secara penghasilan mereka mendapat lebih. “Bambu petani saya beli lebih mahal dibanding harga yang dia jual ke tengkulak. Karenanya mereka semangat,” tambahnya. Berkat ketekunan dan keuletannya dalam memasarkan produknya, akhirnya Khairul pun berhasil menembus pasar ekspor, padahal boleh dibilang dia adalah seorang pemula yang belum sampai dua tahun menekuni bisnisnya. Tak tanggung-tanggung, dia mendapat kontrak pengiriman 11 kontainer furnitur bambu dari Spanyol. “Itulah awalnya saya akhirnya memutuskan untuk fokus di pasar luar negeri. Tahun 1999 saya dapat order 11 kontainer ke Spanyol, padahal waktu itu
Tempat tidur yang digemari pasar Eropa
Produk rumah bambu yang sedang dikembangkan Khairul
saya belum lama menekuni bisnis ini. Nah sejak itu, buyer saya di Eropa terus berkembang. Setiap bulan saya ekspor ke berbagai negara di Eropa tak penah putus. Buyer saya di Perancis, Italia, Jerman, Austria, Yunani, dll,” ungkap Khairul yang kini tengah giat mengembangkan ‘rumah bambu’ dan interior bambu. Tren bisnisnya terus menanjak , tahun 2003 hingga 2008 adalah tahun keemasan baginya dimana bisnisnyabooming. Kala itu Khairul mengaku sempat kewalahan karena begitu banyaknya permintaan dari pasar Eropa. Rata-rata setiap bulan dia mengekspor 15 kontainer furniture bambu ke berbagai negara, yang terbanyak adalah Perancis dan Jerman. “Waktu booming, orderan yang datang melimpah setiap bulannya, sampai-sampai kala itu saya punya karyawan 400 orang, hampir semuanya orang Rangkasbitung. Bagi saya ini sungguh membahagiakan karena selain produk saya digemari juga karena bisa memberi masyarakat setempat lapangan pekerjaan,” ungkap peraih penghargaan ‘Primaniyarta 2013’, penghargaan tertinggi yang diberikan pemerintah kepada eksportir yang dinilai paling berprestasi di bidang ekspor dan dapat menjadi teladan bagi eksportir lain. Namun masa keemasan itu akhirnya terhenti lantaran negaranegara di Uni Eropa terhantam krisis pada 2008 yang dipicu oleh krisis perekonomian di Yunani. “Saat itu banyak buyer saya menghilang, tren ekspor menurun drastis. Hanya Jerman yang masih bertahan meski pesanan tidak sebanyak sebelumnya,” kata pemilik usaha ‘Shaniqua Bamboo’ ini. Tahun 2016 ini, lanjutnya, dia merasa ada perbaikan perekonomian di sejumlah negara di Eropa. Hal itu terlihat dari sejumlah buyer yang menghilang, menghubunginya. “Baru-baru ini buyer lama saya dari Italia datang ke saya dan berencana bisnis
bambu kembali. Ia bilang kondisi di negaranya sudah mulai membaik. Saya berharap ke depannya perekonomian benar-benar pulih,” ungkap Khairul yang kini setiap bulan menangani ekspor ke Jerman dan Perancis. PERLU KETELATENAN DAN KESABARAN TINGGI Kembali ke masalah dalam negeri. Menurut Khairul, meski prospek furniture bambu memiliki prospek yang bagus di pasar ekspor, namun di Indonesia sedikit sekali pemainnya. Dia sendiri sangat heran dengan keadaan ini. “Pasar furnitur bambu di luar negeri bagus, tapi entah kenapa tidak banyak orang kita yang tertarik,” ucapnya. Hanya saja, mungkin, karena mengerjakan furniture bambu butuh ketelatenan dan kesabaran yang tinggi, menyebabkan pengusaha lain menjadi tidak tertarik. “Mengerjakan produk bambu itu memang banyak masalahnya, namun bukan berarti tidak terpecahkan. Asalkan kita mau bersusah-susah dan tekun mencari solusi, pasti bisa. Saya pun menggeluti usaha ini bukannya tanpa masalah. Ada banyak masalah dari yang ringan sampai yang berat dan jelimet. Tapi saya tetap berjuang untuk mencari solusi, itu makanya usaha saya bisa bertahan. Dan saya konsisten tidak berpindah ke produk lain selain bambu,” katanya. Terkait dengan mulai membaiknya pasar ekspor furniture bambu, menurut Khairul, salah satunya bisa dilihat dari tren transaksi akhir-akhir ini. Di pameran ‘Trade Export Indonesia 2016’ di Kemayoran baru-baru ini, dia mendapat cukup banyak transaksi, di antaranya beberapa buyer dari Irak, juga Republik Senegal, Afrika Barat. “Ini perkembangan yang sangat menggembirakan, saya dapat sejumlah buyer. Semoga tren naik terus berlanjut,” ucapnya. -Diana runtu@cybertokoh.com
Gubernur NTB saat turun lapangan melakukan sidak terhadap pembalakan liar di wilayah NTB
K
epada petugas, Gubernur meminta untuk mengajak masyarakat menjaga kelestarian hutan, karena kelestarian hutan lindung sangat tergantung pada peran masyarakat yang berdomisili di sekitarnya. Menurut Gubernur, aparatur pemerintah harus dapat bersamasama memberantas pembalakan liar seperti halnya masalah narkoba dan terorisme. Karena hutan memiliki beribu manfaat bagi kelangsungan hidup di masa kini dan masa yang akan datang. “Sebagai petugas tidak perlu ragu-ragu untuk menindak setiap oknum yang ingin menjarah kayu di hutan kita, karena kita melaksanakan tugas tersebut berdasarkan undangundang,” ujarnya. Usai mampir di UPT tersebut, Gubernur dan rombongan langsung menuju ke lokasi hutan di Desa Setiling Kecamatan Batukliang Utara, sekaligus meninjau lokasi yang sering dijadikan rute untuk membawa kayu hasil pembalakan liar yang dilakukan oleh oknum yang tidak bertanggung jawab. “Pembalakan liar dilakukan di dalam areal hutan lindung sehingga berpotensi merusak lingkungan dan membahayakan struktur tanah. Kami tidak ingin akibat pembalakan liar itu berbuah bencana longsor. Harus ada pelajaran dari beberapa kasus
bencana di daerah lain,” katanya. Ia pun meminta masyarakat untuk memanfaatkan layanan pengaduan yang tersedia untuk melapor secara cepat jika ada gerakan atau tindakan yang mencurigakan agar dapat diproses secepat mungkin agar tidak terlanjur berakibat bencana. Sebagai bentuk perhatian pemerintah yang berpihak kepada masyarakat, maka bagi masyarakat yang tinggal di sekitar kawasan hutan diberikan hak untuk menanam jenis komoditi yang dapat memberikan manfaat bagi peningkatan kesejahteraan warga asalkan pohon-pohon yang telah tumbuh dan berkembang tidak ditebang untuk tetap menjaga keseimbangan antara kelestarian hutan dan kemanfaatan bagi masyarakat. Menindaklanjuti maraknya aksi pembalakan liar tersebut, guna mencegah hal tersebut berlangsung terus-menerus, Gubernur NTB kemudian melakukan rapat koordinasi dengan instansi dan SKPD terkait, seperti Asisten Bidang Ekonomi dan Pembangunan, Kepala Dinas Kehutanan, Kepala Bappeda, Kepala Biro BKPMPT, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata, Kepala Biro Hukum dan kepala Biro Humas dan Protokol Provinsi NTB. Setidaknya, ada tiga poin penting yang menjadi instruksi Gubernur
NTB untuk mengatasi pembalakan liar tersebut yang disampaikan pada rapat koordinasi tersebut. Yang pertama, Gubernur menyampaikan perlunya pendekatan ekologis terhadap keberadaan hutan selama ini. “Untuk poin ini, kualitas dan kuantitas hutan harus betul-betul diperhatikan. Hutan merupakan aset yang tidak tergantikan,” instruksi Gubernur saat itu. Kedua adalah melakukan pendekatan ekonomis terhadap hutan dan masyarakat yang ada di sekitar hutan, mengingat hutan juga merupakan sumber ekonomi masyarakat. “Hutan yang ada harus menjadi sumber ekonomi masyarakat. Namun perlu diingat, pemanfaatan hutan ini tidak boleh sedikit pun menurunkan kualitas dan kuantitas hutan kita,” kata Gubernur. Hal ketiga yang disampaikan oleh Gubernur adalah terkait dengan masalah regulasi. Gubernur meminta Kepala Dinas Kehutanan dan Kepala BPMPT untuk meninjau kembali regulasi terkait perizinan pemanfaatan kayu hutan selama ini. “Saya minta agar dapat menyiapkan regulasi yang menopang fungsi-
Di dampingi Kepala Dinas Kehutanan NTB Ir. Husnanidyati Nurdin (baju coklat), Gubernur NTB turun lapangan melakukan sidak terhadap pembalakan liar di wilayah NTB
fungsi hutan, untuk jangka panjang, agar hutan kita tetap terjaga dan terpelihara,” ungkapnya. Terdapat dua bentuk regulasi yang perlu diperhatikan, yaitu regulasi koordinatif dan regulasi taktis. Regulasi koordinatif terkait regulasi yang melawan praktik pembalakan liar selama ini. Sementara, regulasi
taktis terkait dengan regulasi yang nyata, riil dan memiliki efek jera bagi pelaku pembalakan liar. Selain itu, Gubernur meminta kepala SKPD terkait untuk mendata dan menginventaris pelaku illegal logging yang melakukan aksinya selama ini, baik perorangan maupun koorporasi. -Naniek I. Taufan
Gubernur NTB melakukan Rapat Koordinasi dengan instansi dan SKPD terkait.
Persoalan Gender masih Timpang
Wakil Gubernur NTB dalam perlindungan sosial korban tindak kekerasan
Seringnya terjadi tindak kekerasan yang menimpa kaum perempuan dan anak-anak disebabkan karena masih adanya ketimpangan persoalan gender yang terjadi di tengah masyarakat. Menurut Wakil Gubernur NTB, H. Muh. Amin, pemahaman tentang kesetaraan gender ini yang harus diluruskan dan ketimpangan gender harus dikikis. Dalam fungsi sosial, posisi perempuan dan laki-laki adalah sejajar, seharusnya saling melengkapi. Namun, kaum perempuan masih saja kerapkali menjadi korban diskriminasi dan eksploitasi, seperti halnya korban perdagangan manusia. Hal ini disampaikan Wagub NTB dalam kegiatan hari kesetiakawanan sosial nasional di Mataram, Nusa Tenggara Barat. Untuk membahas permasalahan tersebut, Direktorat Rehabilitasi Sosial Tuna Sosial Korban Perdagangan Orang Kementerian Sosial RI melalui Dinas Sosial Kependudukan dan Catatan Sipil Provinsi Nusa Tenggara Barat meng-
gelar seminar perlindungan sosial korban tindak kekerasan. Kegiatan ini dihadiri 125 orang yang terdiri dari perwakilan pemerintah provinsi, kabupaten/kota, tokoh agama tokoh masyarakat dan organisasi lainnya. Seminar ini diaksanakan dalam rangka mensinergikan kebijakan Pemerintah Provinsi NTB dengan stakeholder di kabupaten dan kota serta organisasi sosial yang ada di NTB, agar tahu bagaimana dan dengan cara apa yang harus diambil untuk menangani korban tindak kekerasan. “Melalui kegiatan kami berharap dapat memberi pemahaman kepada masyarakat, untuk bisa lebih membuka diri atas masalah yang dialami dalam rumah tangga, khususnya bagi anak, perempuan dan pekerja migran di NTB,” ungkap Kepala Dinas Sosial Dukcapil Prov. NTB, H . Ahsanul Khaliq, S.Sos. Perempuan memiliki peran yang penting dalam pembangunan. Jika menilik dari perjuangan dan perannya, perempuan sepatutnya berada di posisikan yang dimuliakan. Namun begitu, dewasa ini masih saja terjadi kasus-kasus kekerasan terhadap perempuan. Untuk itulah Wagub NTB mengimbau agar berbagai elemen masyarakat turut terlibat aktif dalam mengedukasi masyarakat tentang pentingnya mencegah tindak kekerasan maupun upaya yang harus dilakukan dalam menangani korban kekerasan terhadap wanita dan anak. “Aktifkan kembali peran lembaga dan organisasi keagaaman seperti forum remaja masjid, serta berbagai organisasi lintas sektor lainnya, sebagai upaya preventif terhadap tindak kekerasan, khususnya yang terjadi terhadap perempuan dan anak. Mencegah jauh lebih baik daripada mengobati,” katanya. -Naniek I. Taufan
22
Sosialita
Edisi 924/ 24 - 30 OKTOBER 2016
41 Tahun IWAPI Satu kan Hati Tingkatkan Inovasi & Daya Saing Produk Bangsa, Guna Memenangkan Pasar Global demikian tema Rakernas XXVI IWAPI di Lombok Raya Hotel, Mataram, NTB, 9 s.d. 12 Oktober 2016.
Para pemerhati ling kungan, termasuk Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia kecewa ketika kebijakan kantong plastik berbayar dihentikan. Padahal dengan adanya program uji coba tersebut penggunaan kantong plastik di masyarakat menunjukkan tren menurun. Meski belum sesuai dengan yang diharapkan namun jika pemerintah juga swasta dalam hal ini peritel konsisten menerapkannya, diharapkan ada penurunan yang lebih signifikan. Karena makin lama diterapkan akan membuat masyarakat semakin terbiasa.
Edisi 924/ 24 - 30 OKTOBER 2016
Iwapi Bali
3
Kerja Cerdas Penuh Prestasi IWAPI dengan Kementrian Perindustrian dan Pertamina. Seluruh peserta juga sempat menikmati jamuan makan malam bersama Bupati Lombok Barat dan Wali Kota Mataram. Rakernas ditutup Menteri Pemberdayaan Perempuan
Iwapi Bali bersama Meneg PP, Pendiri Iwapi, Ketum DPP Iwapi, dan istri Wali Kota Denpasar
P
Siti Nurbaya Bakar
S
ayangnya kebijakan yang mulai diberlakukan pada Februari 2016 lalu akhirnya dihentikan per 1 Oktober 2016. Awalnya kebijakan tersebut hanya dari Februari hingga Mei untuk 22 kabupaten/kota, kemudian diperpanjang hingga Oktober dan berlaku secara nasional. Namun entah bagaimana Aprindo (Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia) memutuskan tidak lagi mendukung program tersebut per 1 Oktober dengan alasan adanya pro-kontra di berbagai daerah, selain itu program tersebut juga belum memiliki payung hukum yang jelas. “Nanti jika sudah diterbitkan Permen KLHK yang berkekuatan hukum program ini bisa dijalankan lagi, jadi untuk sementara dihentikan,” ungkap Ketua Umum Aprindo Roy Mandey. Pro-kontra tersebut disebabkan karena tidak adanya payung hukum yang kuat untuk menjalankan program tersebut. Hal ini menjadi kendala bagi peritel di lapangan. Padahal, pihaknya telah melakukan sosialisasi baik lewat media, personel toko maupun memasang surat edaran Dirjen KLHK. “Tapi pro-kontra tetap saja terjadi. Akhirnya setelah dipikirkan masak-masak, untuk sementara dihentikan dulu sambil menunggu payung hukumnya,” jelas Roy. Menurut Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya Bakar, payung hukum tentang plastik berbayar masih menunggu evaluasi dari Dirjen Pengelolaan Sampah, Limbah
dan Bahan Beracun Berbahaya, KLHK. “Aturan sudah disiapkan, tapi masih harus dikonfirmasikan lagi dengan hal-hal di lapangan,” ucapnya. Menurutnya, kebijakan tersebut mendapat dukungan dari masyarakat dan hasilnya pun cukup baik, terjadi penurunan sangat besar terhadap penggunaan kantong plastik. Berdasarkan hasil survei dan evaluasi terhadap penerapan kebijakan kantong plastik berbayar di 22 kota besar dan lima kota administratif di Jakarta, hasilnya 92% sadar bahwa plastik berdampak buruk bagi lingkungan, 67% setuju membawa tas belanja sendiri. Kalau dulu orang menghabiskan tiga kantong plastik saat berbelanja, maka kini hanya dua. Hasilnya terjadi rata-rata penurunan yang lumayan besar di kabupaten/kota yang menjadi tempat uji coba, yakni antara 5 hingga 80%. Di Banjarmasin misalnya, turun 80%, Palembang turun 40%, Surabaya antara 30-40%. Hanya di Kendari yang penurunannya tipis yakni 5%. Dengan demikian penurunan rata-rata hampir 25%. Menurut hasil penelitian pihak KLHK, suksesnya penurunan di Banjarmasin karena peran pemerintahan setempat yang sigap menyosialisasikan dan mengoordinasikan masalah ini dengan komunitas setempat. Masyarakat di sana diwajibkan membawa tas khas Banjarmasin, yaitu tas bakul purun. Dengan
demikian selain bisa menurunkan penggunaan kantong plastik juga melestarikan kerajinan tangan yang menjadi indentitas lokal. Itu sebabnya penurunan di Banjarmasin menjadi sangat signifikan. Lain lagi dengan Kendari, yang menurun pemantauan kecilnya persentase penurunan karena masyarakat, belum tahu adanya kebijakan tersebut. Ternyata informasi tersebut belum menyebar di masyarakat Kendari. YLKI KECEWA PADA APRINDO DAN PEMERINTAH Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia menyatakan sangat kecewa dengan dihentikannya program ini. Aprindo sebagai pihak yang tadinya mendukung kemudian malah menghentikan dukungannya, dan kembali menggratiskan kantong plastik kepada konsumennya. Hal ini, menunjuk-
Roy Mandey
kan Aprindo tidak punya concern untuk mengurangi sampah plasti yang ditimbulkan transaksi bisnisnya. Seharusnya, Aprindo mendorong anggotanya menerapkan kebijakan serupa. Di sisi lain, YLKI menilai Kementerian LHK tidak konsiten. Hal ini terbukti dengan lemahnya regulasi yang ada. “Kementerian LHK terlalu lamban dalam menggodok penguatan regulasi plastik berbayar,” ujar YLKI dalam siaran persnya. Padahal, dukungan masyarakat terhadap pengurangan sampah plastik melalui plastik berbayar lumayan tinggi. “Gagalnya uji coba kebijakan tersebut menunjukkan pemerintah tidak mempunyai road map yang jelas untuk pengurangan konsumsi plastik. Kementrian LHK dengan program plastik berbayar, Kementerian Keuangan dengan wacana pengenaan cukai pada plastik. Kedua kebijakan ini seharusnya terintegrasi. Tidak jalan sendiri-sendiri,” papar YLKI. Selain itu, ketidakjelasan kebijakan plastik berbayar juga terindikasi dengan tidak jelasnya penggunaan dana yang diperoleh dari plastik berbayar itu sendiri. Seharusnya dana yang dikorelasikan dari plastik berbayar, dikembalikan menjadi dana publik untuk penanggulangan pencemaran lingkungan akibat sampah plastik. Saat uji coba tahap pertama berlangsung, YLKI juga sempat melakukan survei terhadap 25 gerai dari 15 nama ritel terke-
muka di wilayah DKI Jakarta. Hasilnya antara lain, transaksi tertinggi selama 10 menit adalah 21 transaksi dengan 10 konsumen di antaranya masih menggunakan kantong plastik. YLKI juga melihat ada 12% ritel yang tidak mencantumkan papan informasi uji coba kebijakan plastik berbayar pada kasir dan di dalam gerainya, sementara ada beberapa yang meletakkan di tempat yang tak terlihat konsumen. Dari hasil wawancara di lapangan, sebanyak 52% kasir yang diwawancarai mengaku sudah dilatih untuk sosialisasi pada konsumen tapi kenyataan di lapangan sebanyak 88% kasir tidak memberikan penjelasan tambahan tentang kebijakan, dan SOP yang berlaku belum seragam karena masih ada kasir yang tidak menanyakan pada konsumen mau pakai kantong plastik atau tidak. Namun demikian YLKI melihat adanya penurunan dalam hal jumlah konsumsi kantong plastik pada konsumen. Menurut YLKI dari wawancara dengan konsumen, sebanyak 33,7% mengeluh karena merasa tidak jelasnya pengelolaan dana hasil penjualan kantong plastik, 34% mengaku belum mengetahui tujuan dari kebijakan tersebut, namun 26,1% konsumen memiliki persepsi bahwa kebijakan tersebut untuk pengurangan sampak dan menjaga lingkungan. Konsumen (33%) juga menyarankan agar meniadakan kantong plastik. -dianaruntu@cybertokoh.com
Persiapan Sidang Pleno II
ada Rakernas yang dibuka oleh Menteri Koperasi dan UMKM, AA Puspayoga dan dihadiri oleh pendiri IWAPI, Dewi Motik Pramono juga hadir pula pihak Kementerian Pariwisata, Pertanian, Perindustrian, Kadin Indonesia, Gubernur NTB, Pejabat Pertamina , Telkom, Facebook Asia Pasifik, istri Wali Kota Sumba dan istri Wali Kota Denpasar. Di arena itu IWAPI Bali berkibar lagi. Predikat Teladan kembali diraih. Menurut Ketua Umum IWAPI Bali Dr. AAA Ngr Tini Rusmini Gorda, S.H.,M.M.,M.H., didampingi Sekretaris Umum, Ni Wayan Agek Parwati Asih, S.Pd.,M.Pd., pada usia ke 38, keistimewaan terjadi lagi. IWAPI Bali kembali mengawinkan dan mempertahankan piala yang juga diraih saat Munas IWAPI di Jakarta tahun lalu. Tahun ini, setelah evaluasi ternyata IWAPI Bali berhasil mempertahankan prestasi, meraih Juara III sebagai DPD IWAPI Teladan Tingkat Nasional, dan DPC IWAPI Kota Denpasar meraih Juara I DPC IWAPI Teladan Tingkat Nasional. Dikatakannya pada Rakernas yang dilaksanakan setiap tahun ini, juga membahas peraturan & ketentuan organisasi IWAPI, dan evaluasi terhadap program kerja DPP/DPD IWAPI. Selajutnya diisi diskusi panel, pameran produk unggulan IWAPI se- Indonesia, launching “IWAPI Goes To Digital with Telkom, Penandatanganan MoU antara
dan Perlindungan Anak. Agek Parwati menambahkan di usia ke-38 tahun pula, untuk pertama kalinya DPD IWAPI Bali hadir bersama 56 orang pengurus, lebih banyak dibandingkan tahun sebelumnya. Bersama Ketum dan Sekum juga turut peninjau dari DPD IWAPI Bali, DPC IWAPI Kota Denpasar, IWAPI Gianyar, IWAPI Badung, IWAPI Karangasem, IWAPI Klungkung dan IWAPI Bangli. Disamping itu, juga turut berpameran dengan menyuguhkan produk unggulan dari pengurus dan anggota IWAPI Kabupaten/Kota se-Bali. Gung Tini menyatakan, keberhasilan yang diperoleh selama ini, selain telah terbangunnya team work dengan SDM yang solid, juga dikuatkan dengan “kecerdasan” dalam inovasi ketika menjalankan program. Kerja cerdas inipun menghasilkan prestasi. Misalnya saat Kementerian PP dan PA memiliki pro-
Persiapan Sidang Pleno I
gram tentang partisipasi masyarakat dengan “Three Ends”, IWAPI pun bisa masuk pada program Akhiri Ketidakadilan Akses Ekonomi Terhadap Perempuan”. Disinilah, katanya peran IWAPI untuk menggali potensi, demi turut mempercepat capaian “Three Ends”. Ini juga sesungguhnya peluang IWAPI seluruh Indonesia untuk membesut peluang ini. Selama, kata Gung Tini program kerja IWAPI Bali sudah jelas, seperti sharing dalam kegiata n seminar, pelatihan bagi anggota, pameran dan juga berbagai kegiatan yang bermanfaat bagi masyarakat. Namun, dengan dibukanya partisipasi masyarakat, maka ini semakin memudahkan melihat tolok ukur sebuah pencapaian. Disamping itu, terkait Three End, IWAPI bisa mengambil peluang ini dan disinilah terujinya kecerdasan organisasi yang bergerak di bidang usaha sebagai partner pemerintah. Meskipun saat ini makin banyaknya organisasi kekinian bermunculan, namun dengan kecerdasan dan keunikan program kerjanya IWAPI Bali mampu melakukan eksekusi dengan baik, meski IWAPI Bali belum memiliki sekretariat
Welcome Dinner di kediaman Bupati Lombok Barat
Ketum dan Sekum Iwapi Bali bersama pembina DPC Iwapi Kota Denpasar
sendiri dan kurangnya database . Sedangkan urusan rekening giro, dengan tidak ada lagi dualisme, dengan akte pendirian IWAPI maka DPD seluruh Indonesia akan dapat membuka rekening atas nama IWAPI. FOKUS USAHA MIKRO Sementara pada pandangan umum, IWAPI Bali di Rakernas tahun ini yakni bagaimana mengembalikan pola pikir pendirian dari IWAPI yang fokusnya di UMKM. Mendorong keberadaan usaha Mikro. Selanjutnya DPD IWAPI seluruh Indonesia harus di kalster, siapa dan apa fokusnya. Tahun ini pula IWAPI Bali juga menjadi salah satu unit kerja Koperasi Perempuan Ramah Keluarga (KPRK). Ketum IWAPI Bali menyatakan, sebenarnya IWAPI Bali sudah menjadi partner pemerintah, secara tidak langsung terlebih setahun terakhir ini hadirnya Klinik Konsultasi Bisnis IWAPI
Iwapi Bali bersama Menkop dan pendiri Iwapi saat penyerahan piala Juara III DPD Teladan Tingkat Nasional dan Juara I DPC Teladan Tingkat Nasional tahun 2016
BALI. Jika setiap DPD membentuk klinik tentu makin mempercepat melahirkan embrio wirausaha. Meningkatkan usaha mikro menjadi menengah dan seterusnya. Di inkubator bisnis inilah proses pembuatkan dan penggodokan calon wirausaha terjadi. Hal ini juga yang didengungkan dalam Rakernas dan berhasil menjadi catatan penting bagi DPP agar setiap IWAPI memiliki inkubator bisnis. Pada kesempatan tersebut Menteri Koperasi dan UMKM mengatakan jika IWAPI bisa fokus di UKM Indonesia pasti bangkit. Karena perempuan punya peran yang sangat penting ini, maka diharapkan IWAPI menjadi penggerak koperasi. Bahkan untuk itu pula Dr. Dewi Motik Pramono dinobatkan menjadi Duta Koperasi oleh Menkop. Sedangkan IWAPI Bali diminta menjadi pelopor dalam gerakan koperasi agar usaha mikro bisa dibina untuk naik kelas. Menkop juga berpesan agar DPD IWAPI Bali memaksimalkan fungsi Klinik Konsultasi Bisnis untuk melahirkan embrio wirausaha baru dan mampu mengentaskan permasalahan yang dialami para penggiat wirausaha. Kedepannya lanjut Agek Parwati mereka akan mengeksekusi program kerja IWAPI, dan khusus dengan adanya Klinik Konsultasi Bisnis IWAPI Bali bisa mewujudkan program mencetak 1000 pengusaha baru. Saat ini Klinik Konsultasi Bisnis IWAPI Bali sudah memiliki 50 usaha binaan. Disamping itu IWAPI Bali juga sudah menandatangani MoU dengan beberapa pihak diantaranya STMIK PRIMAKARA, Hardys GH Holdings, Pegadaian, dan BPJS Ketenagakerjaan agar program kerja IWAPI bisa berjalan dengan maksimal disamping itu kita akan menjalankan program DPP IWAPI yang sesuai daerah, melalui 9 DPC IWAPI Kabupaten/ Kota, yang saat ini memiliki 600 anggota di seluruh Bali. Selama ini, selain menjalankan MoU yang sudah ditandatangani antara IWAPI Bali tersebut, dan juga menjalankan MOU yang ditantangani DPP diantaranya MoU antara IWAPI dengan Citilink, IWAPI dengan perum LKBN Antara, IWAPI dengan Menteri Pertanian, IWAPI dengan Direktorat Jenderal Industri Kecil dan Menengah Kementrian Perindustrian, IWAPI dengan Tabloid Cek & Ricek, IWAPI dengan Media Group, IWAPI dengan Majalah Kartini, IWAPI dengan Direktorat Jenderal Penguatan Daya Saing Produk Kelautan dan Perikanan Kementrian Kelautan dan Perikanan, IWAPI dengan PT Telkom, antara IWAPI dengan Asosiasi Penulis dan Inspirator Seluruh Indonesia (Aspirasi). -ard
2
Edisi 924/ 24 - 30 Oktober 2016
GORO-GORO N a m paknya 2016 menjadi tahun emas media sosial. Siapa yang tak penasaran inPutu Wijaya gin lebih tahu tentang kasus Mirna, perkosaan/pembunuhan anak di bawah umur, pembunuhan dosen, mahasiswi, kecelakaan pesawat, gunung meletus, banjir, penyanderaan pelaut, persiapan pemilihan gubernur DKI, vaksin palsu, pengampunan pajak, mutilasi bayi oleh ibu sendiri dll.nya. Terutama kasus Dimas Kanjeng Taat Pribadi. “Ya, rezekinya koran dan TV, Pak. Tapi kalau tidak ada mereka susah juga. Mana kita tahu, banyak yang aneh-aneh terjadi di negeri kita yang sekarang seperti negeri dongeng ini.” “Tapi jangan lupa, itu berkat adanya kebebasan dalam memberitakan. Kalau dari dulu kebebasan media sudah seperti sekarang, siapa tahu dongeng-dongengnya di masa
lalu, lebih seru!” “Tapi kalau betul duit bisa digandakan, Pak Kanjeng, apa tidak malah ribet, Pak?” “Ribet bagaimana?” “Kalau semua pada kaya punya uang triliunan, nggak ada yang bakal mau jadi rakyat. Semua pasti mau jadi pemimpin. Pasti akan berkelahi terus kita. Ujung-ujungnya yang tidak mau ribut, atau ngambul, akan lari hidup di luar negeri. Satu trilyun saja kan sudah cukup hidup enak sampai anak cucu!” Amat ketawa. “Bu, penggandaan atau pengadaan uang itu, hanya boleh dilakukan oleh BI, Bank Indonesia. Kalau dilakukan oleh yang lain, biar bernama Kanjeng Maha Diraja DewaDewa Antah-Berantah sekalipun, itu tindakan kriminal. Bisa diseret ke meja hijau! Itu pengacau! Kalau rakyat kecil terlibat, itu pasti karena kurang paham hukum. Tapi kalau sampai oramg pinter terlibat, tidak boleh diampuni, itu sudah subversif!!!” “Jadi bapak tidak setuju, kan?!” “Kalau setuju, sudah lama Bapak
Ekspresso
kanjeng
bergabung ke Probolinggo!” “Tidak setuju atau karena tidak tahu?” Amat terdiam. “Tidak setuju atau karena tidak tahu? Jujur saja, Pak, masak tidak ngiler kalau betul uang bisa digandakan 1000 kali, masak tidak terpikat? Doktor lulusan Amerika saja begitu kepincut! Coba hanya satu juta bisa jadi satu M!” Amat termenung. Kemudian menjawab lirih. “Itulah sihirnya. Siapa tidak akan rontok pertahanan jiwanya kalau bisa melipatgandakan uang seribu kali. Ya terus-terang bukan yang menipu saja sakit, kita juga semua sedang sakit. Ini PR semua agama dan pendidikan nasional untuk memperkuat ketahanan moral dan mental bangsa kita, Bu!” Amat lalu keluar karena ada yang mengetok pintu. Ternyata ada tamu yang ia belum kenal. “Maaf, Pak, ibu ada?” “Maaf, Ibu siapa?” “Saya Raden Ajeng Ratu Siti Kridit.”
Amat terkejut. “Ibu mau ketemu siapa? Ini rumah saya, Amat.” “Saya ingin berkenalan dengan ibu.” “Maaf, soal apa, Bu, kalau boleh saya tahu?” “Itu, soal uang mahar yang dikirim. Karena bulan depan akan diturunkan hasilnya, mohon supaya didorong sedikit lagi supaya jangan berbelok. Ya sekitar 100 juta lagi, saja. Supaya cepat bisa diserahkan ke saya saja.” Amat bengong. Ia cepat memutar otak. Pasti itu salah satu sultannya Pak Kanjeng yang belum sempat nonton TV, tidak tahu bosnya sudah diamankan. “Silakan duduk dulu, Bu, saya
panggilkan, silakan.” Begitu ibu itu duduk, Amat langsung masuk, tapi terus menyelinap keluar. Mau mengerahkan pemuda untuk menangkap. “Siapa itu, Pak?” Amat tak menjawab. Langsung ke tetangga, menggaet dua pemuda yang mau berangkat main futsal. Tapi begitu kembali ke rumah. Ternyata tamu itu tak ada. Bu Amat sendiri heran melihat suaminya datang bersama kedua pemuda itu. “Lho, Bapak mau ikut main futsal?” Amat bingung. Akhirnya menjelaskan yang terjadi. Bu Amat ketawa. “Berarti dongeng dan kenyataan sekarang sudah mulai mau nyambung. Apa kita sudah siap jadi warga dongeng, Pak? Itu tadi bu Siti, tukang kredit, orangnya kan memang suka bercanda!” Amat terdiam malu.
Mengaplikasikan Nilai Sumpah Pemuda Oktober memiliki makna yang spesial untuk Bangsa Indonesia. Pada 28 Oktober 1928, Sumpah Pemuda dikumandangkan para generasi muda sebagai bentuk penyatuan tekad dan semangat. Sebelumnya, para pemuda berjuang sendiri-sendiri di wilayah masing-masing. Mereka berjuang demi daerahnya sendiri. Namun, hasilnya tak maksimal. Hingga muncul gerakan nasional melalui Kongres Pemuda Kedua yang dilaksanakan di Batavia (Jakarta) pada 27-28 Oktober 1928. Keputusan dari kongres ini antara lain menegaskan cita-cita “tanah air Indonesia”, “bangsa Indonesia”, dan “bahasa Indonesia”. Semuanya dirangkum dalam Sumpah Pemuda: Kami putra dan putri Indonesia, mengaku bertumpah darah yang satu, tanah Indonesia. Kami putra dan putri Indonesia mengaku berbangsa yang satu, bangsa Indonesia. Kami putra dan putri Indonesia menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia. Ikrar Sumpah Pemuda pun satu tonggak utama dalam sejarah pergerakan kemerdekaan Indonesia. Ikrar ini dianggap sebagai kristalisasi semangat untuk menegaskan citacita berdirinya negara Indonesia. Seiring perjalanan waktu, Sumpah Pemuda berhasil menyatukan para pemuda di seluruh Indonesia. Ada tiga poin penting yang
bacaan wanita dan keluarga
Penerbit PT Tarukan Media Dharma Terbit sejak 9 November 1998
dibisa dicamkan dari peristiwa bersejarah tersebut. Pertama, sebagai generasi masa kini, kita wajib memberi apresiasi yang setinggi-tingginya dengan selalu hormat kepada para pahlawan yang sudah berjuang hingga berhasilkan mewujudkan sebuah ikrar yang masih relevan hingga saat ini. Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai perjuangan pahlawannya. Kalau dulu tidak ada pahlawan yang berjuang, bagaimana bisa bangsa kita eksis. Pahlawan berjuang hingga titik darah penghabisan. Mereka rela meninggalkan keluarga demi kepentingan yang lebih luas. Sikap mengutamakan kepentingan negara diatas kepentingan pribadi merupakan bukti kepedulian mereka. Kedua, semangat Sumpah Pemuda menjadi trigger untuk membangkitkan semangat anak-anak muda untuk terus berkarya menjadi kebanggan bangsa. Saat ini banyak peluang yang bisa dimanfaatkan para generasi muda. Selain itu, kecanggihan teknologi juga makin mempermudah generasi masa kini. Teknologi membuat dunia seperti tanpa batas. Bagi generasi muda di era serba canggih ini, sekarang kesempatan mereka untuk berkarya. Jika dulu pahlawan berjuang dengan senjata tradisional seperti keris dan bambu runcing, kini senjata utamanya adalah pemikiran yang cerdas serta aplikasi
Agustin Ramli
yang lugas. Bagaimana cara memiliki pemikiran yang cerdas? Tentunya dengan belajar. Media pembelajaran tersebar dimana-mana, tidak hanya melalui buku yang konvensional tetapi bisa melalui bugu digital. Semua serba mudah di era teknologi ini. Tergantung kita bijak memilih mana yang bermanfaat. Setelah dipelajari, kemampuan yang dimiliki itu diaplikasikan dalam aksi nyata. Salah satunya yang dilaksanakan Ant Charity yang berawal dari sekelompok orang-orang yang peduli terhadap anak-anak kurang beruntung yang hidup di bawah garis kemiskinan. Ant Charity terinspirasi
dari semut yang rajin bekerja tanpa kenal lelah dengan kemampuan masing-masing dan bersinergi dalam meraih kemakmuran bersama untuk mencapai tujuan. Lokasi jangkauannya di Jakarta Utara, Jawa Tengah, Bali, dan Sulawesi Tengah. Ant Charity juga merupakan school of life untuk para sukarelawan karena bisa belajar untuk melayani sesame yang kurang beruntung. Program yang dilakukan antara lain bimbingan belajar, latihan kepemimpinan, kelas seni, workshop, kelasentrepreneur, pemeriksaan kesehatan, serta penyuluhan kesehatan dan kebersihan. Dengan aneka kegiatan yang dilakukan generasi muda ini, diharapkan bisa membuat perubahan bagi Indonesia untuk menciptakan generasi masa depan yang bersinar bagi Indonesia maupun dunia. Ketiga, semangat Sumpah Pemuda menjadi pengikat kekompakan dan persatuan generasi muda Indo-
nesia. Dulu para pahlawan harus melintasi daratan dan menyeberangi lautan untuk mengikuti kongres. Perjuangan tanpa lelah yang akhirnya terbayar dengan lahirnya Sumpah Pemuda. Rasa suka dan duka dalam sebuah perjuangan menjadikan mereka sebagai satu kesatuan yang sulit terpisahkan. Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh. Kini dengan kemudahan teknologi juga, generasi muda harus bisa meneladani semangat Sumpah Pemuda. Tak ada alasan generasi muda untuk berjalan sendiri. Manusia dasarnya adalah mahluk sosial yang saling berinteraksi. Makin kuat interaksi makin kuat ikatan sosialnya yang nantinya menjadi modal. Karena itu kehadiran media sosial harus dimanfaatkan dengan bijaksana untuk memperkuat tali silaturahmi dan jejaring. Agustin Ramli Founder Ant Charity Indonesia
Kata Hati Rubrik ini khusus untuk menuangkan ide/pemikiran/gagasan dalam bentuk tulisan. Tema terkait wanita dan keluarga serta tidak mengandung unsur SARA. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter. Lampirkan juga foto close up (bukan pasfoto). Cantumkan nama lengkap, profesi, nomor hp, dan alamat email. Naskah dikirim ke redaksi@tokoh.co.id, redaksitokoh@yahoo.com. Tulisan yang dimuat mendapatkan bingkisan dari Telkomsel. Telkomsel sebagai satu-satunya operator paling Indonesia selalu berkomitmen untuk membangun dan memajukan Indonesia. #UntukIndonesia
Pemimpin Umum/Penanggung Jawab: Gde Palgunadi. Redaktur Pelaksana: Ngurah Budi. Staf Redaksi/Pemasaran Denpasar: IG.A. Sri Ardhini, Wirati Astiti, Sagung Inten. Buleleng: Wiwin Meliana. Jakarta: Diana Runtu. NTB: Naniek Dwi Surahmi. Desain Grafis: IDN Alit Budiartha, I Made Ary Supratman. Sirkulasi: Kadek Sepi Purnama, Ayu Wika Yuliani. Sek retariat: Ayu A gustini, Putu Agus Mariantara, Hariyono. Alamat Redaksi/Iklan Denpasar: Gedung Pers Bali K. Nadha, Lantai III, Jalan Kebo Iwa 63 A Denpasar 80117–Telepon (0361) 425373, 7402414, 416676–Faksimile (0361) 425373. Alamat Redaksi/Iklan/Sirkulasi Jakarta: Jalan Palm erah B arat 21 G Jakarta Pusat 10270– Telepon (021) 5357603 - Faksimile (021) 5357605. NTB: Jalan Bangau No.15 Cakranegara, Mataram–Telepon (0370) 639543– Faksimile (0370) 628257. Jawa Timur: Permata Darmo Bintoro, Jalan Taman Ketampon 22-23 Surabaya–Telepon (031) 5633456– F aksim ile (031) 5675240. Surat Elektronik: redaksi@cybertokoh.com, redaksitokoh@yahoo.com, iklan@cybertokoh.com. Bank: BRI Cabang G ajah Mada Denpasar. Nomor Rekening: PT Tarukan Media Dharma: 0017-01-001010-30-6. Percetakan: BP Jalan Kebo Iwa 63 A Denpasar.
Edisi 924/ 24 - 30 Oktober 2016
23
Padukan Sains dan Teknologi
I Wayan Karyasa bersama Direktur Riset dan Pengabdian Masyarakat saat pembukaan pameran produk penelitian kayu sintetik di gedung Mr. Ketut Pudja
I
Wayan Karyasa adalah seorang anak yang dibesarkan dengan budaya agraris Bali yang kental dengan aneka kerajinan. Pria yang dilahirkan di Desa Kedewatan, Kecamatan Ubud, Kabupaten Gianyar, 31 Desember 1969 itu berada di keluarga yang paspasan. Hidup berdampingan dengan budaya dan seni membentuknya menjadi seorang tradisional yang ingin melestarikan budaya Ubud dan budaya Bali pada umumnya. Dia memandang saat itu, seni dan budaya Bali hanya bisa ajeg jika memiliki ketahanan dari gempuran pengaruh budaya lain yang merambah Bali. Hal ini hanya akan terealisasi apabila masyarakatnya memiliki daya saing agar mampu berkompetisi di era global melalui ilmu pengetahuan dan teknologi. I Wayan Tekek sapaan akrabnya mengatakan, ketika ilmu pengetahuan dan teknologi modern terpadu dengan seni budaya Bali maka ajeg Bali akan menjadi kenyataan. “Untuk dapat mewujudkan angan-angan itu harus melalui jalur pendidikan,” ujar putra pertama dari pasangan I Ketut Pundut dan Ni Wayan Sepil tersebut. Pandangan inilah yang membuat suami dari Ni Wayan Rati telah menamatkan pendidikan S-3 di bidang Kimia Anorganik Padatan (Feskoeper Chemie). Tekek tidak menyia-nyiakan beasiswa yang diperoleh dari DAAD yang didahului dengan pendidikan bahasa Jerman di Goethe Institut di Kota Dresden sebelum resmi menjadi mahasiswa di Technische Universitaet Berlin. Waktu berangkat ke Jerman dia membawa sekantong sekam padi, dengan harapan sekam padi dari Bali ini akan membawa keberuntungan. Pada tahun 2001,
pria yang menamatkan pendidikan S-1 Pendidikan Kimia di STKIP Negeri Singaraja itu turut memboyong istri dan anak pertama ke Jerman. “Ketika itu istri saya telah lulus S1 dan anak sudah berumur cukup untuk turut serta dalam penerbangan jauh,” ujar dosen Undiksha tersebut. Melalui penelitian-penelitian, dia berhasil mensintesis serbuk nano silikon-karbida dari sekam padi yang dulu dibawanya dari Bali. Penemuan material maju inilah memacunya untuk mengembangkan berbagai materials berbasis silikon-karbon-logam yang menghantarkannya meraih gelar Doctor der naturwissenschaften (Dr.rer.nat.) di bidang kimia anorganik pada bulan Nopember 2004. Dengan promotor terdahulu Prof. Dr. R. Steudel dan Prof. Dr. M. Pickaard dan promotor pengganti yaitu Prof. Dr. Martin Lerch dan Dr. Dirk Walter. Atas dukungan dari promotornya, ia tidak saja dibekali kompetensi keilmuan dan soft skill melainkan juga mendidiknya untuk selalu bersyukur dan berdoa kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. “Ilmu diibaratkan sebagai kaki kanan dan ketrampilan adalah kaki kirinya sedangkan agama sebagai kendali dari kedua kaki tadi,” papar ayahanda dari Made Rama Krysara, Komang Diamantiarani Karyasa, dan Ketut Ray Wedana Karyasa. Setelah kembali ke tanah air pada tahun 2005, lulusan S2 University of Manchester Institute of Science and Technology tersebut telah konsisten menggeluti penelitian terkait material anorganik terbarukan dari biomassa tropis utamanya material berbasis silika dari sekam dan jerami padi. Penelitian tersebut digunakan dalam pembuatan ultrafine amorphous silica (UFAS)
dari abu sekam padi dan jerami padi. Dalam pemanfaatannya digunakan dalam pengembangan bata merah super tahan lumut yang menggunakan campuran tanah liat, pigmen batu merah tajun dan UFAS, batako lego-like tahan gempa yang menggunakan campuran pasir-semen-pigmen anorganik alami batu merah Tajun dan UFAS. Sejak tahun 2012 hingga 2013 dengan penelitian skim Hibah Bersaing yang didanai oleh DRPM Kemenristekdikti, ia bersama koleganya mengembangkan material nanokomposit silikakarbon dari abu sekam padi, abu jerami dan tiga belas biomassa tropis kaya silicon. “Ketigabelas boimassa itu di antaranya bagian-bagian tumbuhan bambu, kelapa, aren, lontar, salak, jagung, rumput gajah, dan alang-alang,” jelas mantan Ketua Lembaga Perencanaan dan Pengembangan Undiksha tahun 2014 tersebut. Biomassa ini tidak saja mengandung silikon tinggi dan menghasilkan bubuk silika amorp yang mudah dimurnikan dan diolah lebih lanjut, tetapi juga bisa menghasilkan serat lignoselulosa kaya silikon yang memiliki prospek tinggi sebagai bahan baku berbagai produk industri yang menggunakan serat alam (natural fiber). Pemberian nilai tambah terhadap biuomassa tropis kaya silikon, utamanya limbah jerami dan sekam padi menjadi produk-produk bernilai
tinggi tentu akan berdampak pada peningkatan keuntungan bagi petani padi. Ia mencontohkan, satu ton gabah kering giling yang dihasilkan petani, akan menghasilkan 300 kg sekam padi dan sekitar 700 kg beras, sementara itu karkas jeraminya sekitar 10 ton atau sekitar 3 ton jerami kering. Pengolahan menjadi nanokomposit silikakarbon dan serat lignoselulosa menjadikan harga serbuk sekam dan jerami kering Rp. 3.000/ kg dengan biaya pengolahan sekitar Rp.1.000/kg, berarti nilai tambah pengolahan sekam dan jerami kering menjadi bubuk kering adalah Rp. 2.000/kg. “Nilai tambah yang diberikan dari pengolahan sekam dan jerami padi menjadi bubuk halusnya adalah sekitar 74%,” jelasnya.
Lebih lanjut, nilai jual akan lebih besar jika serbuk sekam dan jerami ini diolah menjadi lignoselulosa maupun menjadi nanokomposit silika-karbon. Nilai tambah yang hampir dua kali harga penjualan beras ini memberikan harapan keuntungan bagi petani dan pelaku usaha pengolahan hasil dan produk samping pertanian padi. Dengan demikian, penerapan sains dan teknologi material maju ini pada sektor pertanian padi akan berdampak pada keterjaminan peningkatan kesejahteraan petani. “Ini merupakan solusi dari laju alih fungsi persawahan di Bali dan akhirnya dapat diharapkan budaya agraris Bali (subak) bisa ajeg,” tandas peraih penghargaan Dosen Bermutu Terbaik Undiksha tahun 2013 itu. -win
I Wayan Karyasa bersama keluarga
Revitalisasi Kerajinan Kayu Bali dengan Kayu Sintetik
Dedikasinya terhadap masyarakat tidak sampai di situ, Karyasa kembali melihat persoalan para pengerajin kayu Bali akibat adanya penolakan produk-produk kayu tropis oleh negara-negara tujuan ekspor. Melalui sebuah penelitian ia berhasil mengembangkan kayu sintetik dari jerami dan sekam padi dengan teknologi triaksial blend moulding and casting campuran serbuk lignoselulosa kaya silikon dari jerami atau sekam padi dengan serbuk nanokomposit silika-karbon dari sekam padi dan resin khusus. “Produk kerajinan yang dapat dihasilkan seperti set pintu glodog, set pintu gebyog, saka pat, beraneka patung dan pandil ukir,” ungkapnya. Teknologi ini telah dipatenkan di Kementerian Hukum dan HAM. Produk-produknya telah dipamerkan pada tanggal 26 September hingga 2 Oktober 2015 di Gedung Laksmi Graha Singaraja. Pameran kedua bertempat di Gedung eks. Pelabuhan Buleleng yang diselenggarakan dari tanggal 15 hingga 22 Oktober 2016. Pameran
Beberapa foto terkait pameran bersama Nyoman Sujana Kenyem
bersama I Nyoman Sujana Kenyem dibuka langsung oleh Direktur Riset dan Pengabdian kepada Masyarakat, Direktoirat Jenderal Penguatan Riset dan Pengembangan, Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi, Prof. Dr. Ocky Karna Radjasa, M.Sc. Acara pembukaan pameran juga dirangkaikan dengan Seminar Kebijakan Pengelolaan Karya Intelektual dan Luaran Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat. Temuan teknologi kayu sintetik dari jerami dan sekam padi yang diperkuat nanokomposit silika-karbon ini diharapkan dapat meningkatan kepedulian terhadap kelestarian hutan tropis dengan menerapkan teknologi ramah lingkungan dan memberi nilai tambah terhadap limbah pertanian padi. “Kami juga berharap dapat merevitalisasi industri kerajinan kayu Bali yang berdampak pada peningkatan produktivitas dan efisiensi produksi aneka kerajinan,” pungkas dosen terpilih mewakili Undiksha dalam ajang pemilihan Dosen Berprestasi tingkat nasional tersebut. -win
24
Sudut Pandang
Edisi 924/ 24 - 30 OKTOBER 2016
Jaga Spirit Sumpah Pemuda dengan Aksi Sosial Peringatan Sumpah Pemuda setiap bulan Ok tober adalah sejarah penting yang harus dimaknai sebagai bersatunya para pemuda Indonesia de ngan dasar bangsa, bahasa, dan tumpah darah yang satu tanpa mempedulikan latar belakang suku, agama, ras, ataupun keyakinan kita. Meskip un sudah 88 tahun berlalu, spirit atau semangat Sumpah Pemuda tetap perlu digelorakan karena kolonialisme yang dulu dihadapi para pejuang kita telah berganti menjadi neo-imperialisme sebagai efek domino dari globalisasi dan dunia.
L
antas bagaimana agar spirit atau seman gat persatuan dalam Sumpah Pemuda ini tetap bergelora ? Salah satunya hal yang paling mudah serta efektif adalah memaknainya dengan aksi nyata. Bukan hanya menghapal isi dari Sumpah Pemuda, tetapi juga memaknainya dengan kegiatankegiatan yang bermanfaat. Karena kita hidup adalah untuk memberi sebesar-besarnya manfaat bagi sebanyak-banyaknya orang. Begitu disampaikan IGN Erlangga Bayu
Rahmanda P, yang saat ini diantaran ya tercatat aktif di Purna Paskibra Indonesia Bali, JCI Denpasar, HIPMI Denpasar, PCMI Bali, Komunitas Wirausaha Denpasar dan Leo Club Bali Shanti. Sebagai seorang Purna Paskibra, Angga begitu panggilannya mengaku sangat merasakan arti dari per satuan serta nasionalisme. “Kami 70 orang pemuda dari berbagai latar belakang digojlok ala militer selama hampir sebulan hanya untuk satu tujuan, mengibarkan bendera Merah Putih. Setelah sekian tahun
berlalunya kerja keras untuk pen gibaran bendera itu, kini saya serta teman-teman dari beragam bidang mengambil kesempatan untuk Indonesia yang lebih baik melalui Leo Club Bali Shanti,” tutur maha siswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis Unud ini. Dikatakannya Leo Club adalah komunitas pengabdian masyarakat bagi anak muda yang berada di bawah naungan Lions Club Inter national. Untuk Bali sendiri, Leo Club Bali Shanti sudah terbentuk
Sebelum Pulang Nyanyi Lagu Daerah Banyak hal yang menyangkut kebijakan di masing-masing sat uan pendidikan sudah berubah, salah satunya, penyelenggaraan ujian nasional (UN). Kalau dulu berlomba-lomba mengejar ke lulusan dengan segala cara, su paya mendapatkan nilai terbaik. Sekarang kebijakan pemerintah secara nasional, pelaksanaan UN tetap dilaksanakan tapi tidak sebagai penentu kelulusan. Demikian diungkapkan Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga Provinsi Bali, TIA Kusuma Wardhani. Saat ini, kata dia, tingkat ko rupsi ada di semua lini. “Hampir di semua sektor kehidupan ko rupsi itu ada. Salah satu upaya yang dipakai pemerintah untuk mengurangi korupsi melalui dunia pendidikan. Sehingga se mua satuan pendidikan dituntut bisa mengubah apa yang terjadi
saat ini,” ujarnya. Caranya, dengan penyeleng garaan UN yang berintegritas, yakni pelaksanaan UN dengan jujur, adil, dan bertanggungjawab. “Kalau dulu dalam UN, nilai yang dipakai ukuran, sekarang diberi kan indeks integritas sekolah. Artinya apa, pemerintah menaruh harapan besar, agar dunia pen didikan memberi kontribusi yang besar meminimalisir korupsi Ini salah satu cara penerapan nilai Sumpah Pemuda dalam bidang pendidikan,” ujarnya. Implementasi lain, dalam kes eharian yang terjadi di semua satuan pendidikan. Ia menya takan, ada pemikiran besar dari pemerintah menumbuhkan cinta tanah air kepada generasi muda. Saat ini, dirasakan ada sesuatu yang berubah. “Sekarang ini kalau mendengar lagu daerah, sepertinya anak-anak tidak terlalu
tertarik. Beda sekali dengan dulu, lagu daerah selalu didengungkan di mana-mana. Sekarang ini nilainya sudah berubah,” ujarnya. Ia menilai, dengan adanya fasilitas IT dan perkembangan teknologi yang semakin cang gih banyak memberi dampak. “Untuk mengembalikan suasana kebersamaan dan ada rasa per satuan antar anak-anak, ada satu aturan dibuat, 15 menit sebelum jam pelajaran dimulai, setelah berdoa, siswa menyanyikan lagu Indonesia Raya. Kemudian, 10 menit berikutnya, siswa bisa membaca buku apa saja, setelah itu bercerita. Ini memang protap, tapi di masing-masing sekolah tentu berbeda atau ada tambahan nya Tapi ini adalah hal yang men dasar untuk menyadarkan para generasi muda, kita ini satu nusa satu bangsa,” kata TIA Kusuma Wardhani.
sejak 7 Mei 2013. Berbagai kegia tan yang biasanya mereka lakukan seperti renovasi sekolah di daerah terpencil, pemeriksaan gigi gratis, pembagian susu ataupun alat bela jar; volunteering untuk penyandang disabilitas baik itu tuna netra, tuna rungu, tuna daksa, hingga tuna grahita. Selain itu mereka juga melakukan kunjungan ke yayasan yang menampung bayi terlantar, panti asuhan hingga panti jompo; atau kegiatan bidang lingkungan seperti penanaman mangrove, aksi
Kemudian, menjelang pulang, siswa diminta lagi menyanyikan lagu daerah. Kalau dulu, sistem nya, siapa yang menjawab betul boleh pulang. Ia menyebutkan, ada satu hasil penelitian, kalau yang ditunjuk satu anak, presta sinya tidak baik tapi dia betul menjawab, bagi anak-anak yang punya kemampuan lebih tapi tidak ditunjuk gurunya, akan merasa marah. “Kalau anak marah saat pulang, sampai di rumah anak ini akan melampiaskan kepada orang-orang terdekat. Dia bisa marah dengan ibunya, kakak atau adiknya. Sehingga kalau sistem ini dilaksanakan serentak di Indonesia, berapa banyak anak yang marah. Kalau sudah marah, pikiran tidak sehat. Sehingga pemerintah ber harap itu tidak boleh lagi dilaku kan,” ucapnya. Ia berharap, saat jam pulang sekolah, anak-anak dibuat nya man. “Kalau mereka nyaman, sam pai di rumah mereka pun gembira. Caranya, anak-anak diminta me nyanyikan lagu daerah, misalnya, Meong-meong. Ketika sampai di rumah, anak pun masih gembira. Ketika ditanya ibunya, ayo makan dulu, anak akan menjawab iya bu,” katanya memberi contoh.
bersih pantai; ataupun kegiatan in tern seperti tirtayatra, melukat, dan ngayah membersihkan Pura, hingga pemberdayaan anak muda seperti Leo Leadership Camp. Terkadang, lanjut Angga mereka mengadakan penggalangan dana bagi daerah-daerah yang terkena musibah seperti meletusnya Gu nung Kelud, gempa Nepal, ataupun korban asap di Sumatera dan Kali mantan atau bahkan penggalangan dana bagi saudara –saudara yang menderita sakit keras tapi tidak mampu secara finansial. “Dalam kegiatan-kegiatan terse but seringkali pula kami mendapat kan cibiran seperti misalnya, men gapa kami melakukan penggalangan dana untuk orang-orang di luar Bali (Hindu) atau sekadar ikut tren mencari popularitas. Disinilah kami merasakan semangat persatuan sebagai pemuda Indonesia, karena kami membantu bukan atas dasar suku ataupun agama, bahkan kenal pun kami tidak dengan orang yang kami bantu. Semua hanya karena kami merasa mendapatkan bahagia yang sebenarnya ketika juga bisa membuat orang lain bahagia. Kata Guru Gede Prama, compassion healing..We Serve ,” ujarnya Selanjutnya untuk bisa terus menjaga spirit sosial bersama te man-temannya, Angga ingin bisa mengembangkan usaha yang dijalan inya saat ini ini agar mampu mendu kung kegiatan sosialnya, Selain itu, se bagai pemuda Indonesia, untuk jangka panjangnya ia juga ingin memiliki usaha ekonomi berbasis masyarakat dan pastinya akan terus mengem bangkan Leo Club Bali Shanti. – sri.ardhini@cybertokoh.com
TIA Kusuma Wardhani
Ia menegaskan, kita tidak perlu mempertentangkan apa yang sudah terjadi, tapi itu ada lah upaya yang bisa dilakukan. Memang, ia mengakui, peran ini tidak bisa hanya dilakukan dunia pendidikan, karena peran orangtua juga penting. Ibarat sebuah pohon, yang menanam orangtua tapi yang menum buhkan sekolah. Para orangtua selamanya menanam, merawat, dan menjaga. -wirati.astiti@cybertokoh.com
redaksi@cybertokoh.com, iklan@cybertokoh.com
cybertokoh
@cybertokoh
@cybertokoh