24
Edisi 913/ 8 - 14 agustus 2016
Peserta Lomba Membludak k e d Busana En Para juri lomba fashion show dari kiri: Heny Shanti, Helga Rif, dan Bintang Mira
JUARA FASHION SHOW Kategori A ( TK) I Dewa Ayu Anandita Suar Utami (Juara I) l Aulia Lituhayu (Juara II) l Ni Putu Chantika Putri (Juara III) l Putu Veda Daniswara (Harapan I) l Keishya Dhyani (Harapan II) l Cahya Puja Saraswati (Harapan III) r Ayu Tirta Dewi (Favorit) l
P
Suasana lomba fashion show di acara “KMB Food Truck Festival 2016”
e r h e l a t a n “ K M B Food Truck Festival 2016” di Taman Kota Lumintang, tambah semarak dan meriah dengan digelarnya berbagai lomba di panggung utama, salah satunya lomba fashion show dengan tema “Busana Casual Touch of Endek.”, Sabtu ( 30/7). Tabloid Tokoh sebagai penyelenggara, meng-
Richelle Prameswari yang ikut memeriahkan di acara fashion show
hadirkan juri yang kompeten di bidangnya, Heny Shanti (pemain sinetron dan penyanyi artis Bali), Helga Rif (model, penulis buku, dan atlit tembak), dan Bintang Mira (designer nasional). Peserta dibagi lima kategori yakni kategori A untuk TK, kategori B untuk SD kelas I- III, kategori C untuk SD kelas IV-VI, kategori D untuk SMP, dan kategori E untuk SMA. Peserta fashion show sa ngat antusias mengikuti lomba, terbukti dari jumlah peserta 186 orang. “Peserta lomba ini sudah termasuk membludak karena biasanya batasnya 130 orang,” ujar Show Director Bagus Saka. Menurut Bintang Mira, lomba ini sangat mampu merangsang perajin dan pelaku bisnis di bidang endek untuk terus berinovasi. “Busana casual yang baik dipakai anak-anak adalah busana yang sesuai dengan umurn ya. Tidak berlebihan namun juga tidak terlalu sederhana. Yang terpenting, yang saya nilai adalah kreativitasnya dalam mengolah kain endek agar tidak terlihat terlalu berat,” jelasnya. Sementara, Helga menilai, sangat banyak anak-anak yang berbakat sehingga ketiga juri ke-
sulitan dalam menentukan pemenang. “Memang anak-anak sudah punya talent, jadi kami sangat sulit memberikan nilai, nilainya juga mepet-mepet semua,” imbuhnya. Ditambahkan, Heny Shanti, dalam sebuah perlombaan utamanya fashion show, ekspresi yang baik sangat berpengaruh terhadap penilaian. “Mereka ha rus tahu kapan saatnya senyum, karena anak-anak kadang-kadang mereka cengengesan,” paparnya. Menurutnya, ekspresi harus disesuaikan dengan kostum yang digunakan. “Ini kan busana casual jadi ekspresinya harus lebih santai jangan tegang,” tandasnya. Lomba fashion show kali ini memang berbeda karena nilai langsung diumumkan setelah peserta tampil. “Cukup menegangkan sih, saya juga tidak tahu bagaimana penilaian juri. Syukur anak saya dapat juara,” ujar ibunda Putu Deva Daniswara, yang anaknya meraih juara Harapan 1 Kategori TK. Sementara itu, peraih Juara I kategori E Alvina Agnesia Putri sangat apresiasi dengan terlaksananya lomba fashion tersebut. “Senang banget apalagi bisa sampai juara karena ini akan menjadi motivasi dan menambahkan kecintaan saya terhadap kain endek,” ujarnya. –Wiwin/Wirati Astiti
Kategori B ( SD Kelas I s.d. 3) l Luh Made Kesya Pradnya Andari (Juara I) l AA Ayu Indira Maharani (Juara II) l Kristine Lambert (Juara III) l Kiara Dewi (Harapan I) l Tu Dyah (Harapan II) l IGA Kayana Yulia (Harapan III) r Anastasya A. Andreason (Favorit) Kategori C ( SD kelas 4 s.d. 6) l Madelaine Putri Edna Slinger (Juara I) l Ni Luh Chandani (Juara II) l Ni Ketut Dini Kurnia SG (Juara III) l Alicia A Andresson (Harapan I) l IGA A Gita Kartikayasa (Harapan II) l Ni Putu Gita Maharani (Harapan III) r IGA Eira Ewindia Kharisna D. (Favorit) Kategori D ( SMP) Ni Made Ayu Cantika Ratih (Juara I) l Angelica Patricia (Juara II) l AA Istayani Kusuma (Juara III) l Kadek Bagas Pradipta Kusuma (Harapan I) l IGA Ratih Citra (Harapan II) l Putu Prity Andani (Harapan III) r Ni Putu Aura Pradnya Shinta (Favorit) l
Kategori E ( SMA) l Alvina Agnesia Putri (Juara I) l Km Mutiara Ayu Putriana Sari (Juara II) l Dewa Ayu Cindy Pratiwi (Juara III) l Mi Putu Ninda Lestari (Harapan I) l Ni Luh Putu Pritha Dewi Karunika (Harapan II) l Maria Anggelia Usfunan (Harapan III) r AA Desinta Putri (Favorit)
Ucapan terima kasih kami ucapkan kepada para mitra kerja Mingguan Tokoh dalam Acara Lomba Fashion Show 2016
Suasana technical meeting
Foto bersama juri dan panitia usai lomba fashion show
1. BPR Kanti 2. Bank Mandiri 3. Sosro 4. Asbest Kota Denpasar 5. Gaya Warna 6. Dewi House of Fashion 7. bintang mirA 8. MOV. Shoes 9. Rumah Boneka 10. Cempaka Butik
11. Dewi Anyar Collection 12. Bara Silver 13. Candra Collection 14. Warung D’Sambal 15. Odenant textile 16. Pod chocolate 17. True Bali Experience 18. Sakabros 19. Kelompok Media Bali Post
redaksi@tokoh.co.id, iklan@tokoh.co.id
mingguantokoh
@mingguantokoh
mingguantokoh
www.tokoh.co.id
2
Edisi 913/ 8 - 14 agustus 2016
GORO-GORO “Ternyata bahaya yang kita hadapi nambah. Bukan hanya kepungan narkoba, wabah korupsi, kekejian terhPutu Wijaya adap anak-anak dan perempuan dan lain sebagainya, tapi sudah tambah satu lagi yang baru, Bu” keluh Amat. “Vaksin palsu! Itu kejahatan yang harus dihukum berat, sebab korbannya anak yang tak berdosa. Masak baru terbongkar setelah 13 tahun!” Amat tertegun. Ia menatap istrinya. “Bukan itu, Bu!” “Bukan? Kenapa bukan? Itu bahaya besar, Pak!” “Memang! Kalau itu belum ketahuan. Sekarang sudah jelas. Pembuatnya sudah diamankan, rumah sakit yang tersentuh juga sudah diketahui, bahkan dokter yang dipersangkakan tersangkut juga akan diusut. Tinggal membereskannya. Dan, pasti tidak akan berani diulang. Kita serahkan saja pada para petugasnya. Ini, ada bahaya lain!” “Apa?” “ Biangnya! Hulunya!” “Ya, apa?”
“Hulunya! Semua bahaya tadi hanya hilirnya! Kita sudah terkecoh hanya membersihkan ujungnya, pangkalnya yang mesti dibasmi. Kalau tidak, akan kambuh lagi!” “Memang itu yang dilakukan sekarang, kan?” “Ibu tidak mengertu. Dengerin dulu! Ternyata, kita sekarang, andaikan mobil, suka pakai lampu pendek. Yang dipikir hanya yang di depan mata. Apa di depan mata? Keuntungan! Akibatnya, dampaknya, tidak peduli. Makanya pedagang narkoba, vaksin palsu, penjual daging yang pakai formalin, pengawet, pemutih dan sebagainya, cuma lihat untungnya. Perkara itu bisa bunuh orang, tidak dipikirin! Ini dampak makanan siap saji. Asal cepat, padahal tidak sehat! Kita sudah dijajah lagi, dijajah tata nilai dagang! Kita memasuki bulan ultah kemerdekaan yang ke-71, tetapi sebenarnya kita sedang dijajah lagi. Mata kita dipasangi kacamata kuda, hanya bisa lihat satu: kepentingan, keuntungan sendiri, peduli orang lain! Ini menunjukkan pendidikan kita sudah gagal! Kenapa? Karena pelajaran budi pekerti diabaikan! Pendidikan kita hanya mencetak robot-robot pintar tapi tak punya kepribadian!” Amat terus ngoceh. Sementara Bu
vaksin palsu
Amat mulai tidur, seakan-akan suara Amat meninabobokannya. “Inilah, persoalan besar kita sekarang,” sambung Amat melihat istrinya tertidur,”diajak ngomong serius, pasti tidur. Kalau diajak membicarakan gosip atau sinetron baru galak. Bagaimana pendidikan bisa jalan, kalau yang mau dididik lebih suka mimpi?” Pak Made, yang kemudian dihujani curhat oleh Amat, membantah. “Pak Amat, saya setuju permasalahan hulu harus diberantas. Saya setuju pendidikan kita sudah mencetak robot, bukan manusia berkarakter. Saya setuju, kita sekarang berlomba hanya pakai lampu pendek dan kacamata kuda.” Amat senyum bangga. “Terimakasih, Pak Made.” “Terimakasih kembali. Tapi saya tidak setuju kalau Pak Amat memaksa kita, masyarakat sekarang ini, membenahi hulu! Habis kita kan hidup di hilir. Saya anggap Pak Amat lari dari kenyataan!” Amat tersenyum sinis. “Terimakasih Pak Made saya memang lari, tapi bukan lari menjauh. Saya lari mendekati kenyataan!” “Itu kenyataan palsu, Pak Amat. Hulu itu urusan tingkat tinggi, tanggungjawab penguasa. Kita hidup di hilir,
vaksin palsu itulah masalah terbesar kita sekarang! Karena itu nyata menimpa anak-anak kita. Lha penguasa kan tidak punya anak! Urusannya kosep! Silakan! Diurus, dibasmi tuntas, tapi jangan menyuruh kita yang lagi repot kena getah vaksin palsu ngurus hulu. Biarkan kami menyelesaikan nasa depan anak kami! Kenapa mesti lari ke hulu, padahal kejahatan ada di depan mata, ini dong yang harus diselesaikan dulu? Memangnya pak Amat pejabat?!!” Amat terkejut. Ia tak mau berdebat. Lalu menanyai istrinya. “Bu, sudah cerita apa saja pada Pak Made, tentang vaksin palsu?” “Saya? Saya cerita apa? Mana mungkin sudah 10 hari ini saya tidak ketemu beliau. Saya cuma ngobrol dengan Bu Made.” “Ngobrol apa?” “Soal vaksin palsu yang katanya sudah ada sejak 13 tahun itu, kok baru ketahuan?! Kita sebagai anggota masyarakat yang punya anak kan jadi
bacaan wanita dan keluarga
Penerbit PT Tarukan Media Dharma Terbit sejak 9 November 1998
anak. Makanya, keluarga ramah anak merupakan jawaban untuk beragam masalah, hubungan serta pola pengasuhan. Melihat tantangan dan dinamika global saat ini, untuk mewujudkan keluarga ramah anak tersebut tidaklah mudah. Namun, perlu dicatat bahwa usaha dan komitmen kita melakukan langkah positif, menjadi proses yang sangat bernilai. Apalagi, selama ini , meskipun posisi keluarga sangat vital, namun belum semua masyarakat Indonesia menjadikan keluarga sebagai laboratorium tumbuh kembang yang ramah anak. Kemudian, menyadari bahwa setiap anak memiliki keunikan dan kecenderungan yang berbeda, kita semua perlu membangun persepsi dalam keluarga bahwa anak bukan miniatur manusia melainkan manusia seutuhnya yang menjalani proses tumbuh kembangnya.Mereka memerlukan jaminan pemenuhan hak dasar anak. Mulai dari identitas, hak memperoleh sekolah ramah anak, kesehatan komprehensif, pangan sehat dan bermutu, lingkungan sehat, hak sosial, bermain hingga hak memperoleh perlindungan. Sebagai orangtua, mari kita buka ruang untuk anak menyampaikan pendapatnya. Biasa mengakomodasi perasaan usulan atau kritik dan curhatan anak seyogyanya juga menjadi hal biasa dalam pola relasi sehari-hari. Ketika kita para orangtua open minded, maka anak pun
Tini Rusmini Gorda
akan semakin nyaman. Teruskan kebersamaan dengan membangun kehangatan dengan anak dan keluarga. Misalnya bermain bersama, rekreasi atau kebersamaan lainnya yakni makan bersama termasuk mendampingi anak saat menonton televisi. Begitulah pula sebagian langkahlangkah yang kami laksanakan selama ini, melalui terbentuknya Komunitas Anak Bangsa (KAB) Bali pada 23 Juli 2014. Aktivitas kami sejalan dengan kampanye program unggulan Kementerian Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak (KPP dan PPA) yakni
ketakutan!” “Kita tidak ada urusan dengan vaksin palsu, tahun 2003, Ami kan sudah divaksin!” “Nah, itu dia! Bapak sendiri yang sukanya pakai lampu pendek dan kacamata kuda. Yang dilihat hanya kepentingan sendiri. Kita, itu maksud saya bukan kita berdua, tapi semua kita yang punya anak! Amat bingung. “Darimana Pak Made tahu, Bapak bicara soal persoalan hulu?” “Pak Made? Pak Made kan belum pulang?!” Amat terkejut. Ia tak bisa melanjutkan omongannya. Memang Pak Made, sudah 10 hari menengok anaknya di Surabaya. “Pak Made menolak ngurus masalah hulu! Dia bilang itu urusan pemerintah! Kita lebih baik ngurus anak kita yang jadi korban vaksin palsu, katanya!” Bu Amat tertawa. “Lho yang ngomong begitu kan saya! Saya! Bukan Pak Made! Bapak ini suka tidur sih sekarang, kalau diajak rembugan. Kalau nonton bola baru melek sampai pagi! Amat bengong.
Sudut Pandang Olahraga adalah hal penting dalam kehidup an. Namun, sebaiknya dilakukan dengan senang hati. Itulah prinsip dari AA Sagung Rat Mudiani. Sekretaris Material Grand Hyatt Nua Dua Bali ini, sejak dulu memilih menari sebagai olahraga terbaik dalam kesehariannya. “Sejak remaja, saya terbiasa menari. Bahkan sampai sekarang walau usia sudah 55 tahun,” kata Sagung Rat Mudiani.
M
Mari Bersama Ambil Peran
Keluarga menjadi wilayah tempat tinggal yang aman, tenang, nyaman, menyenangkan dan membahagiakan bagi anak dan seluruh keluarga. Untuk membuat anak hebat, orangtua harus terlibat, bersama dalam konsep ramah keluarga. Anak-anak merupakan aset bangsa yang sangat berharga. Jika aset ini tidak dijaga maka bisa dipastikan di kemudian hari bangsa kita bisa mengalami krisis generasi yang mumpuni. Sebab, generasinya mengalami disorientasi dan kehilangan makna hidup. Tidak bisa kita pungkiri bahwa anak-anak Indonesia saat ini berada dalam kungkungan pengaruh budaya kapitalistik yang instan, hedonis dan glamor. Hal ini terjadi seiring berjalanya arus modernisasi diikuti berkembang serta menjalarnya arus informasi yang cepat sehingga menyebabkan arus budaya ini semakin cepat menjamah masyarakat hingga ke seluruh pelosok negeri. Dan, kondisi ini dapat memberi dampak negatif yang cukup signifikan bagi perkembangan kepribadian seorang anak. Sejatinya pula keluarga merupakan fondasi pertama bagi tumbuh kembang seorang anak. Pola interaksi, sikap dan perilaku ibu, ayah, adik, kakak, nenek dan kakek, keluarga lainnya hingga pengasuh juga ikut memberi andil terhadap perkembangan seorang
Ekspresso
Three Ends yang juga didukung penuh oleh Badan Pemerdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (BP3A) Provinsi Bali. Three Ends Strategi yang dimaksud adalah End Violence Against Women and \Children (akhiri kekerasan terhadap perempuan dana nak); End Human Trafficking (akhiri perdagangan manusia), dan End Barriers To Economic Justice (akhiri ketidakadilan akses ekonomi untuk perempuan). Untuk ini juga mari kita bersama-sama mendukung program Three Ends, supaya berbagai pelanggaran hukum terhadap perempuan dan anak dapat diminimalisir. Perdagangan manusia dapat diberantas, serta perempuan memperoleh akses yang sama dengan laki-laki dalam bidang ekonomi. Disamping peran orangtua, peran kelembagaan pendidikan dan peran komunitas yang peduli Anak seperti KAB, sangat penting dalam memberikan fungsi bimbingan moral
enurutnya, menari Bali merupakan olahraga terbaik baginya. “Menurut saya, menari bisa melemaskan otot secara keseluruhan, bahkan setelah menari, keringat saya bercucuran,” kata Sagung. Ia menuturkan, kegiatan menari, biasa ia lakukan tiap sore sepulang kerja. Sebelum menari, ia melakukan pemanasan terlebih dapada anak-anak. Karena dunia pendidikan dalam berbagai bentuk juga mempunyai mandat luhur dari orangtua untuk memberikan atmosfir yang baik bagi anakanak. Disamping memang sudah seharusnya kita semua bersama kelembagaan pendidikan yang ada bersama-sama menjadi sarana komunikasi yang manusiawai untuk membentuk anak menjadi manusia seutuhnya, yakni pribadi yang tangguh, cerdas, berkepribadian, mempunyai orientasi dan bermoral. Karena itu pula, keberadaan Komunitas Anak Bangsa siap lebih lanjut menjadi partner pemerintah untuk program Three Ends yang di-launching di Makasar 2016. Ini juga sebagai wujud dari Partisipasi Publik untuk Kesejahtreraan Perempuan dan Anak (Puspa) 2016 yang deklarasinya di Yogya (30/5) s.d (1/6) silam. Terakhir Serukan Anak Hebat, Keluarga Harus Terlibat, Menuju Indonesia Hebat. Bersama Kita Bisa. Dr. A.A.A Ngurah Tini Rusmini Gorda., S.H., M.M., M.H.
Kata Hati Rubrik ini khusus untuk wanita yang ingin menuangkan ide/pemikiran/ gagasan dalam bentuk tulisan. Tema terkait wanita dan keluarga serta tidak mengandung unsur SARA. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter (1,5 halaman A4; spasi 1,5; times new roman 12). Lampirkan juga foto close up (bukan pasfoto). Cantumkan nama lengkap, profesi, nomor hp, dan alamat email. Naskah dikirim ke redaksi@tokoh.co.id, redaksitokoh@yahoo.com. Tulisan yang dimuat mendapatkan bingkisan dari Telkomsel. Telkomsel sebagai satu-satunya operator paling Indonesia selalu berkomitmen untuk membangun dan memajukan Indonesia. #UntukIndonesia
Pemimpin Umum/Penanggung Jawab: Gde Palgunadi. Redaktur Pelaksana: Ngurah Budi. Staf Redaksi/Pemasaran Denpasar: IG.A. Sri Ardhini, Wirati Astiti, Sagung Inten. Buleleng: Wiwin Meliana. Jakarta: Diana Runtu. NTB: Naniek Dwi Surahmi. Desain Grafis: IDN Alit Budiartha, I Made Ary Supratman. Sirkulasi: Kadek Sepi Purnama, Ayu Wika Yuliani. Sek retariat: Ayu A gustini, Putu Agus Mariantara, Hariyono. Alamat Redaksi/Iklan Denpasar: Gedung Pers Bali K. Nadha, Lantai III, Jalan Kebo Iwa 63 A Denpasar 80117–Telepon (0361) 425373, 7402414, 416676–Faksimile (0361) 425373. Alamat Redaksi/Iklan/Sirkulasi Jakarta: Jalan Palm erah B arat 21 G Jakarta Pusat 10270– Telepon (021) 5357603 - Faksimile (021) 5357605. NTB: Jalan Bangau No.15 Cakranegara, Mataram–Telepon (0370) 639543– Faksimile (0370) 628257. Jawa Timur: Permata Darmo Bintoro, Jalan Taman Ketampon 22-23 Surabaya–Telepon (031) 5633456– F aksim ile (031) 5675240. Surat Elektronik: redaksi@tokoh.co.id, iklan@tokoh.co.id. Website: www.tokoh.co.id. Bank: BRI Cabang G ajah Mada Denpasar. Nomor Rekening: PT Tarukan Media Dharma: 0017-01-001010-30-6. Percetakan: BP Jalan Kebo Iwa 63 A Denpasar.
Olahraga
Edisi 913/ 8 - 14 agustus 2016
Pilih
daripada Terjebak Macet hulu, sekitar 10 menit. Kemudian, ia lanjutkan dengan menari Bali. Kadang, ia memilih tari tenun, legong keraton, atau oleg tamulilingan. Baginya, dengan menari, ia merasakan sehat jasmani dan rohani. Sementara, pagi hari, ia rutin naik sepeda statis di rumahnya. Hal itu dilakukan sekitar 15 menit, untuk melemaskan otot kakinya, sebelum berangkat ke kantor. Sementara, bagi Putu Ayu Aristyadewi, Group VP Marketing & Communications Smailing Tour, olahraga yang rutin dilakukan fitness. “Kalau dulu sewaktu masih muda saya suka atletik, basket, dan bela diri karate karena di rumah ada dojo (tempat latihan)nya, malah pernah mewakili Bali di PON tapi itu dulu, waktu masih duduk di bangku SMA 1 Denpasar,” ujarnya. Ia menuturkan, awal bekerja, ia masih suka main basket seminggu sekali. “Namun, sekarang, sudah tidak kuat napasnya,” ucapnya
Putu Ayu Aristyadewi
Sagung Rat Mudiani
sembari tertawa. Menurutnya, fitness itu yang paling memungkinkan untuk dilakukan, karena bisa dilakukan saat pulang kerja. “Tempat latihan, juga dekat kantor dan saya
pakai personal trainer jadi ada yang mengatur dan mengawasi latihannya. Daripada terjebak macet lebih baik olahraga dulu sebelum pulang,” imbuhnya. Ia melakukan olahraga selama satu jam, dan
Sesuaikan Usia dan Kondisi Olahraga bisa dikatakan menjadi salah satu kegiatan yang tidak dapat dilepaskan dari keseharian sebagian besar masyarakat kita. Sebab, selain menyehatkan tubuh, juga bisa berfungsi sebagai penghilang stres bahkan sumber penghasilan. Pentingnya olahraga juga berdampak ke postur tubuh yang baik. Seseorang yang suka berolahraga secara teratur lebih sering untuk dapat memiliki postur tubuh yang lebih baik dibandingkan dengan orang yang tidak pernah berolahraga dengan teratur. Lantas olahraga apa saja yang paling banyak dipilih atau digemari para perempuan? Candra Upadani, seorang pengusaha, pemilik Candra Collection di Denpasar, mengatakan dirinya memilih melakukan kegiatan olahraga bersama kelompok Ibu-Ibu PKK Banjar Mekar Jaya Pemogan. Mereka, katanya aktif melakukan senam tera dan olahraga body language (BL). Menurut Candra, mengingat mereka bukan anak remaja lagi, maka selain senam tera , olahraga BL menjadi pilihan. Hal ini, karena gerakannya tidak disentak seperti halnya yang ada di gerakan olahraga aerobik pada umumnya. Dikatakannya olahraga BL, selain urusan gerakannya, juga manfaatnya baiknya bagi para ibu, yakni untuk melatih dan membentuk otot perut dan otot bokong. Disamping itu juga dapat menghilangkan kelebihan lemak, melancarkan peredaran darah dan melancarkan sistem pernapasan panggul. Olahraga BL juga efektif untuk mengencangkan dan melangsingkan tubuh, bahkan melancarkan haid yang terganggu. Olahraga BL juga, lanjut Candra, ia dan ibu-ibu lainnya merasa lebih mudah mengikuti sebab BL banyak
23
Candra Upadani
Made Puspawati
menggunakan dasar gerakan senam nafas dan pembentukan. Aktivitas BL ini djadwalkannya secara rutin setiap minggu pagi di banjarnya, tentu saja dengan menghadirkan seorang instruktur. Disamping BL lanjut Candra ia juga mengggeber senam tera setiap hari Kamis. Dengan olahraga tersebut, Candra berharap agar dirinya sendiri serta seluruh warga Banjar Mekar Jaya selalu sehat, bugar dan segar, sehingga menunjang kekuatan sekaligius kenyamanan dalam melakukan berbagai aktivitas mereka sehari-hari. Sementara itu Made Puspawati, pemilik usaha bidang optik yakni Komplit Jaya dan mini market ini mengaku menyukai olahraga yoga dan poco-poco. Kegiatan yoga kata Puspa, selain bermanfaat untuk perkembangan jasmani juga rohani. Sebelum aktif melakukan yoga di rumah, ia mengaku pernah begabung bersma yoga Seger Oger, namun karena sempat
mengalami kecelakaan, ia memilih istirahat sementara. Sesuai dengan situasi sekarang, Puspa lebih memilih melakukan yoga sendiri di rumah, secara selama 15 menit setiap hari. Memang diakuinya dengan melakukan yoga, sangat membantu dirinya memperoleh energi dalam melakukan sejumlah pekerjaan. Dengan bantuan olahraga pula, tubuhnya lebih efisien dalam pengelolaan energi, serta dalam meningkatkan stamina. Berikutnya dengan tambahan kegiatan olahraga lainnya , yakni senam poco-poco badan mengeluarkan energi sehingga memberikan kesegaran bagi tubuh. Apalagi dalam melakukan senam poco-poco banyak unsur happy-nya karena dilakukan dengan riang gembira. Ini menariknya olahraga poco-poco yang sekaligus dapat menghibur suasana hati. Disamping, katanya gerakan poco-poco mudah diikuti atau dilakukan karena tidak ribet. – Sri Ardhini
tiga kali seminggu. Ia mengatakan, dalam berolahraga targetnya, tak muluk-muluk. “Yang penting badan sehat dan bugar,” kata Putu Ayu Aristyadewi. Sementara, bagi Chika, olahraga yang biasa ia lakukan naik sepeda. “Biasanya tiap hari minggu saya naik sepeda, keliling areal Sanur. Ketemu dengan beberapa teman dengan berbagai profesi. Kenalnya juga karena sering ketemu naik sepeda. Kemudian setelah itu, mandi di pantai. Rasanya segar,” kata perempuan usia 30 tahun ini. Kesibukannya bekerja, membuatnya hanya bisa melakukan olahraga tiap Minggu. Namun, ia siasati dengan kegembiraan, agar hasil yang dicapai maksimal. “Naik sepeda cuma satu jam. Kemudian berenang di pantai satu jam, cukuplah untuk menjaga kebugaran. Berenangnya juga santai sembari bercengkrama dengan teman, jadi mengasyikkan,” kata Chika. –Wirati Astiti
Olahraga untuk Jaga Diri Masih tetap energik dan segar di usia yang telah lewat setengah abad, ternyata tidak membutuhkan perawatan khusus apalagi sampai mengeluarkan biaya mahal. Cukup dengan olahraga dan tubuh selalu bergerak serta beraktivitas menjadi ‘ramuan’ mujarab yang murah untuk tetap tampil sehat dan segar. Bagi dua birokrat perempuan NTB, Ir. Husnanidyati Nurdin, Kepala Dinas Kehutanan Provinsi NTB dan Hj. Putu Selly Andayani, Kepala Dinas Koperasi dan UMKM Provinsi NTB, meski tidak secara rutin berolah raga dalam artia yang formal, keduanya mengaku bahwa olahraga itu penting terutama di saat usia mereka telah lebih dari 50 tahun. “Olahraga itu penting dan harus,” ungkap Ir. Husnanidyati Nurdin. Di tengah kesibukannya yang padat, Eni, sapaan akrabnya, memang tidak menyiapkan waktu khusus untuk berolahraga secara formal, melainkan hari-harinya yang aktif secara otomatis disebutnya sebagai “olahraga”. Bagaimana tidak, sejak menjadi Kepala Badan Ketahanan Pangan NTB, lalu berpindah memimpin Bakorluh NTB serta kini menjadi Kepala Dinas Kehutanan Provinsi NTB, Eni selalu rajin turun lapangan dan berkeliling dari satu tempat ke tempat yang lainnya. Tidak jarang ia harus berjalan ke pematang-pematang sawah, keluar masuk desa hingga kini keluar masuk kawasan hutan dan perbukitan. Tampaknya tubuh yang selalu bergerak inilah yang membuatnya, menjadi perempuan yang sangat energik. Mantan atlet pencak silat Perisai Diri ini, menganggap olahraga (tubuh yang terus bergerak) harus selalu dilakukan. Meski sekarang tidak lagi turun langsung dalam pencak silat, Eni tetap mencintai olahraga yang telah memberikan sebuah medali perak pada tahun 1982 ini dengan tetap menjadi Pengurus Daerah Pencak Silat NTB sampai saat ini. ia menjadi salah seorang official yang akan ikut mengantar atlet pencak silat NTB ke PON Jawa Barat dalam waktu dekat. Ia mengaku memilih pencak silat awalnya untuk menjaga diri sebagai seorang perempuan. Namun lama-lama ia jatuh hati pada olahraga ini saat menjadi mahasiswa di Universitas Mataram. “Selain untuk jaga diri saya lihat dulu itu sedikit atlit perempuan dan sepertinya ada peluang,” ujarnya. Karena itulah ia kemudian menggeluti pencak silat dan ikut bertanding dalam Pekan Olahraga Mahasiswa. Selain banyak jalan, Eni juga sesekali menjajal olah raga bersepeda untuk membakar lemak dan alasan vitalitas. Maka kini ia kerap bersepeda terutama dengan komunitas bersepeda yang ada di lingkup Pemerintah Provinsi NTB, bersama Gubernur NTB, Dr. TGH. M. Zainul Majdi. “Lumayan bisa refreshing sambil berolahraga,” ungkapnya. Begitu juga dengan Selly Andayani yang memiliki olah raga favorit selama ini. Ia memilih olahraga senam, fitness dan renang. “Favorit saya renang,” ungkapnya. Namun meski kini tidak lagi memiliki waktu yang banyak untuk melakukan olahraga tersebut karena kesibukannya, Selly tetap menganggap penting berolahraga. Ia bahkan pernah menjajal yoga di rumahnya untuk tetap menjaga vitalitasnya. Meski renang dan senam tidak lagi banyak dilakukan, yoga dan fitness di rumah dipilihnya karena bisa dilakukan kapan saja di rumah selagi tidak sibuk. “Yoga bisa memberikan efek tenang dan membuat tubuh terasa selalu fit,” ujarnya. -Naniek I. Taufan
22
Edisi 913/ 8 - 14 agustus 2016
“Penasaran!” Itulah salah satu alasan kedatangan masyarakat ke pameran Koleksi Seni Rupa Istana Kepresidenan RI di Galeri Nasional, Jakarta. Maklumlah lukisan-lukisan koleksi Istana Kepresidenan ini memang baru kali ini dipamerkan kepada masyarakat. Sebut saja lukisan karya Raden Saleh yang berjudul “Penangkapan Pangeran Diponegoro” yang dibuat tahun 1857, atau karya Henk Ngantung yang berjudul ‘Memanah’ yang memiliki nilai sejarah tersendiri.
S
elain para pelukis kesohor itu, juga dipamerkan karya para pelukis kenamaan lainnya seperti Affandi, Dullah, Gambiranom Suhardi yang melukis Jenderal Sudirman, Trubus Sudarsono, S Soedjojono, dll. Tak ketinggalan, masyarakat juga dapat melihat lukisan karya Presiden Sukarno yang diberi judul ‘Rini’. Pameran bertajuk ‘Goresan Juang Kemerdekaan’ Koleksi Seni Rupa Istana RI ini dapat dinikmati masyarakat sepanjang Agustus ini. Ada 28 lukisan yang dipamerkan, terdiri dari 18 lukisan tokohtokoh bangsa serta perjuangan masyarakat menuju kemerdekaan, termasuk di antaranya lukisan yang menggambarkan kondisi masyarakat pada masa itu, dan 10 lukisan bertema nusantara. Selain itu juga dipamerkan buku-buku yang menyimpan data-data koleksi Istana, baik itu lukisan, patung, keramik, dll. Selain ruang pamer lukisan, juga ada ruang pamer yang berisi koleksi foto-foto jaman perjuangan serta display tentang perjalanan sejarah koleksi benda seni Istana Kepresiden RI. Untuk memahami lukisan-lukisan tersebut, pengunjung tak perlu khawatir selain masing-masing lukisan diberi narasi singkat tentang latar belakang lukisan itu, pengunjung juga dapat meminta bantuan pemandu yang jumlahnya cukup banyak di arena pameran. Beberapa lukisan terlihat sangat menarik pengunjung, di antaranya adalah karya Basoeki Abdullah yang berjudul ‘Diponegoro Memimpin Pertempuran’. Lukisan yang berukuran 120 x 150 cm yang dibuat tahun 1949 langsung berhadapan dengan pintu masuk ruang pamer. Setidaknya di antara koleksi lukisan yang dipamerkan ada tiga karya terkait dengan Pangeran Diponegoro, di antaranya yang dibuat oleh Soedjono Abdullah. Sedang lukisan lainnya adalah karya Raden Saleh yang berjudul ‘Penangkapan Pangeran Diponegoro’. Inilah lukisan paling tua (1857) yang berada di ruang pamer Koleksi Seni Rupa Istana Kepresidenan. Raden Saleh lahir di Semarang 1811 dan meninggal di Bogor 1880, merupakan pelopor seni rupa modern Indonesia. Ada cerita menarik dibalik lahirnya lukisan yang dibuat oleh maestro seni rupa Indonesia itu. Dijelaskan, lukisan yang berukuran 112x179 cm ini terinspirasi oleh lukisan pelukis Belanda Nicholaas Pienemaan yang bertajuk ‘Penyerahan Diri Dipo Negoro kepada Letnan Jenderal HM de Kock, 28 Maret 1930, yang mengakhiri Perang Jawa. Berbeda dengan Pienemaan, lukisan Raden Saleh lebih bernada nasionalisme sekaligus memberi gambaran tentang dramatisasi hidup Sang Pangeran di depan tentara penjajah. Hal ini terlihat dari judul dan sikap figur Diponegoro yang ada pada lukisan tersebut. Lukisan itu sendiri dikerjakan Raden Saleh di Belanda yang kemudian diserahkan kepada Ratu Belanda. Lukisan ini mengecam sikap penjajahan di Jawa dan menuntut agar Belanda mengembalikan martabat orang Jawa. Karena itu Raden Saleh juga menggambarkan dirinya dalam lukisan sebagai seorang saksi penangkapan yang penuh kecurangan tersebut. Lukisan ini diberikan Pemerintah Belanda ke-
Koleksi Istana Kepresidenan dan Kisahnya dan temannya-temannya tidak bisa langsung mereka harus mengantri dulu menunggu giliran. “Kami urut ke 60, sekarang baru urut ke 12,” kata Rika sambil menunjuk ID Card yang dikenakannya yang bertuliskan angka 60. Ia juga mengaku telah menitipkan sebagian barang-barangnya di counter penitipan karena tidak diperbolehkan dibawa masuk ke ruang pamer. “Kita tidak boleh bawa kamera dan tas. Hanya boleh bawa HP dan dompet,” ucap gadis berkerudung itu. Tidak seperti pameran pada umumnya, pameran lukisan koleksi Istana ini memang memberlakukan aturan yang ketat. “Tas, jaket, topi, kacamata, peralatan tulis-menulis, kamera, dll, harus dititipkan di counter penitipan. Yang diperbolehkan hanya bawa HP dan dompet. HP boleh dipakai untuk memotret tapi dilarang memotret close-up juga tidak boleh pakai blitz,” ungkap petugas. Untuk menonton pameran, pengunjung harus registrasi dulu di loket pendaftaran. Di sana pengunjung akan dicatat namanya, e-mail juga nomor Suasana ruang pameran seni rupa koleksi istana kepresidenan kontaknya, setelah itu diberi ID Card yang bertupada Pemerintah Indonesia pada 1978 bersamaan datang ke Bali guna beristirahat selama 10 hari. liskan nomor antrian. dengan peristiwa kembalinya sejumlah artefak Tentu saja ada banyak perubahan yang dibuat Su“Iya memang tidak bisa langsung masuk, harus warisan budaya lainnya. karno dari sketsa semula. menunggu giliran. Kuota pengunjung di dalam ruLukisan lain yang juga menarik perhatian adalah ang pamer hanya untuk karya Henk Ngantung berjudul ‘Memanah’. Karya SERIBU 50 orang. Pengaturan ini pelukis yang juga mantan Gubernur DKI Jakarta demi keamanan juga kePENGUNJUNG (1964-65) ini secara kebetulan dipakai sebagai latar nyamanan pengunjung PER HARI belakang pembacaan Proklamasi RI. Itulah sebabnya dalam melihat berbagai Sejumlah warga yang lukisan berukuran 153 x 153 cm yang dibuat tahun koleksi yang dipamerkan,” tengah sabar mengantri gil1943 ini ikut dipamerkan. ungkap petugas registrasi iran melihat lukisan-lukisan Namun begitu ada cerita menarik di balik dengan ramah. koleksi Istana Kepresidenan lukisan yang menjadi salah satu favorit Bung Karno Menurutnya, sejak mengaku mereka antusias ini. Ceritanya, sebagai terungkap dalam penjelasan pameran digelar 2 Agusdatang kepameran bukan lukisan, Bung Karno menemukan lukisan tersebut tus lalu, masyarakat begitu hanya karena baru kali ini pada 1944 saat pameran di Keimin Bunka Sidosho antusias berkunjung. SetIstana Kepresidenan terbu(Pusat kebudayan Jepang), Jakarta. “Ini adalah ka dengan berbagai koleksi iap hari, ucapnya, pengunsebuah simbol bangsa Indonesia yang terus terus yang dimiliki, tapi juga kisahjung mencapai lebih dari bergerak maju,” kata Sukarno. kisah menarik di balik ke1000 orang. “Pengunjung Begitu tertariknya Bung Karno sampai-sampai beradaan lukisan itu. banyak sekali, jadi harus dia pun mendatangi studio Henk Ngantung begitu sabar,” katanya sembari “Iya sih penasaran, penReplika karya Henk Ngantung berjudul pameran usai. “Aku ingin membeli lukisan ini,” kata menambahkan, registrasi gen tahu dan lihat langsung. Sukarno. Hank menjawab bahwa lukisan itu sebebisa dilakukan secara onYa sekalian jalan-jalan ke Memanah dimana Sukarno menjadi model untuk menyelesaikan lukisan ini narnya belum selesai. Ada bagian lengan yang belum line. “Kalau sudah regisJakarta,” kata Rika, warga sempurna dan untuk menyelesaikannya harus ada trasi secara online, datang ke sini bisa langsung Bogor yang datang bersama dua teman ke Jakarta model. “Aku akan menjadi model,” ucap Sukarno ambil ID Card dan masuk, tidak perlu antri lagi,” naik kereta api. lagi. Henk terperangah dan tak bisa menolak. Lalu ia tambahnya. –Diana Runtu Saat sampai di Gedung Galeri Nasional, Rika pun menyelesaikan lukisan tersebut dalam tempo 30 menit. Setelah itu, lukisan langsung dibawa Sukarno ke rumahnya di Pengangsaan Timur 56 Jakarta . Sayangnya, lukisan karya Henk yang dibuat di triplek sudah tidak bagus kondisinya, beberapa bagian sudah rusak. Jadi dalam pameran, selain lukisan asli yang ditaruh di dalam kaca, dibuat juga replikanya yang dipajang di dinding. Replika ‘Memanah’ itu dibuat oleh Haris Purnomo tahun 2016. Lukisan lain yang juga tak dilewatkan pengunjung adalah karya Presiden Sukarno. Lukisan berukuran 50 x 70 cm itu diberi judul ‘Rini’. Dullah, pelukis Istana, dalam penjelasannya pada buku koleksi lukisan Sukarno mengatakan, lukisan tersebut berawal saat Bung Karno dan dirinya berada di Bali. Seperti biasanya, di sana ia pun berkegiatan melukis. Namun baru membuat garis-garis cengkorongan atau sket yang belum berarti, Dullah meninggalkannya dan kembali ke Jakarta. Peninggalan Dullah inilah yang kemudian diteruskan Bung Karno pada 1958, ketika ia kembali
Lukisan berjudul Penangkapan Pangeran Diponegoro tahun 1857 karya Raden Saleh
Sosialita Berinvestasi, menjadi pilihan bijak untuk mempersiapkan masa depan yang lebih baik. Paling tidak, itulah alasan Erwien Novelina dan suaminya I Nyoman Aris Wijaya memutuskan untuk berinvestasi di Atta Labeji Villas. “Dibandingkan jenis investasi lain, kami lihat ini lebih menguntungkan dan aman,” ujar ibu Gana dan Gita ini. Dengan dana yang terjangkau, pasutri ini tak pernah bermimpi bisa memiliki villa, dan menjadi seorang investor. Mimpi-mimpi itu kini sudah menjadi nyata. Bahkan, jika ada rejeki lebih, mereka berencana akan menambah membeli lot lagi.
Erwien Novelina
Edisi 913/ 8 - 14 AGUSTUS 2016
3
Investasi di Atta Labeji Villas Menguntungkan dan Aman
N
yoman Aris mengimbuhkan, keputusan tersebut diambil karena juga melihat prospek ke depannya bagus. Atta Labeji Villas yang berlokasi di Desa Kenderan di kawasan eksotik Ubud ini menawarkan panorama alam perdesaan yang masih asri. “Banyak sudutsudut cantik yang bisa dijadikan objek fotografi. Jika jalan, banyak dapat hunting foto humant interest,” ujar Nyoman Aris yang seorang fotografer
ini. Ia pula yang kerap dipercaya mendokumentasikan beberapa project Villas. Dengan bidikan lensanya, objek-objek fotografi menjadi lebih indah dari aslinya. Tak heran jika kliennya, selain orang Indonesia juga banyak orang asing. Ia juga kerap memasang hasil jepretannya di IG: xnyoman. “Selain lokasinya bagus untuk objek fotografi, suasananya pas banget untuk tempat berlibur bersama keluarga. Jadi keduanya bisa jalan, foto dapat, berlibur juga dapat,” ucapnya. –ten
HANYA 12 Juta BISA PUNYA ATTA LABEJI VILLAS DI UBUD BALI
Made Robert dan Ni Made Ayu Dewi
Kehadiran villatel bernama Atta Labeji Villas yang dimotori “putra daerah” ini, mendapatkan respons yang cukup luar biasa dari masyarakat Bali. Prinsip kegotongroyongan dan saling menolong dengan konsep mepatung yang ditawarkan Atta Labeji Villas ini memberikan peluang bagi masyarakat lokal untuk menjadi investor di tanahnya sendiri. Para investor yang bergabung optimis villatel yang
berbasiskan kerakyatan ini, akan berkembang. Mengingat, prospek ke depan cukup bagus, dengan lokasi villa yang berada di tempat yang sangat representatif, baik dilihat dari destinasi maupun dari cultural tourism yang menjadi ikon Ubud. Bahkan, antisipasi terhadap risiko yang paling buruk sekali pun sudah benar-benar dikalkulasi dengan pengelolaan manajemen yang matang. Beberapa investor juga sudah melirik peluang menjanjikan ini ketika Atta Labeji Villas dipresentasikan di kota-kota besar di Indonesia. Bahkan, beberapa dari mereka berharap proyek villatel dengan konsep mepatung dan berbasis kerakyatan ini juga bisa dikembangkan di daerah lain karena dinilai sangat menguntungkan bagi masyarakat setempat. Karena itu, Made Robert sang konseptor dan Made Ayu Dewi, Komisaris Utama Atta Labeji Villas mengimbau masyarakat Bali, bahwa peluang yang cukup bagus untuk menjadi investor dan owner villa ini harus segera ditangkap dengan cepat. Dengan menjadi investor di Atta Labeji Villas berarti orang Bali juga telah menyelamatkan tanah Bali. Apalagi kini, untuk kepemilikan unit Atta Labeji Villas tersebut sudah dipermudah dengan ditawarkannya program “Yuk Nabung Lot”. Hanya dengan menyisihkan uang mulai Rp 1 juta tiap bulannya, mereka sudah bisa memiliki villa di Ubud. Program “Yuk Nabung Lot” ini khusus dikonsep Made Robert, Founder Mesari Land & Direktur Utama BOS Land, untuk menjawab kendala yang kerap dilontarkan para calon investor. Sehingga dengan hadirnya program baru ini, semua orang bisa menjadi investor/pemilik villa dan mendapatkan benefit lainnya. Dengan program “Yuk Nabung Lot”, masyarakat tak harus membayar cash Rp 12 juta, bisa membayar bertahap selama 1 tahun dengan jalan menyimpan di KSP Silamukti, koperasi yang diajak bekerjasama karena
Atta Labeji Villas
Erwien Novelina bersama putra-putrinya dalam bidikan lensa suaminya Nyoman Aris
memiliki kesamaan visi misi dengan villatel ini. Made Robert mengingatkan, bahwa investasi sangat penting untuk kebebasan finansial ke depan, membiarkan uang yang bekerja untuk kita, bukan sebaliknya. Dan tentunya, siapa pun pasti ingin menikmati hari tua tanpa harus pusing dengan urusan finansial. Solusinya hanya satu, berinvestasilah di tempat yang aman yaitu di Atta Labeji Villas, mulai sekarang. 100% Uang Kembali Dengan ikut program “Yuk Nabung Lot” yang pembayarannya lunas dalam 1 tahun, para investor tetap mendapatkan benefit lainnya. Di antaranya, uang pembelian lot akan dikembalikan 100% di tahun ke-11. “Perbedaannya dengan yang langsung melunasi Rp 12 juta per lot nya, uang pembelian lot-nya dikembalikan di tahun ke-10, dan langsung dapat free menginap di Atta Mesari Villas,” jelas Made Ayu. Keuntungan lainnya yang didapat dengan berinvestasi di Atta Labeji Villas adalah; mendapatkan 1 surat lot yang saat ini nilainya Rp 12 juta dan seiring waktu harganya pasti naik, voucher menginap senilai Rp 12 juta, penghasilan pasif 10% setiap tahun selama 2 tahun dan setiap 6 bulan selama 23 tahun, komisi 10% setiap mengajak tamu ke Atta Labeji Villas, tergabung dalam komunitas “Atta Labeji Investor Club” yang tentunya akan memperluas jejaring, satu box kartu nama Atta Labeji Villas dengan jabatan owner, kupon undian untuk memenangkan grand prize 2 hektare hutan jabon dengan hasil milyaran rupiah, dan lain-lain. Klausa ini dituangkan dalam perjanjian notaris. Beberapa investor pun telah melakukan penandatanganan kontrak kepemilikan unit Atta Labeji Villas di notaris. Untuk itu, Made Robert dan Ni Made Ayu mengajak masyarakat Bali yang belum bergabung, untuk bersama-sama sukses di investasi villatel ini, bersamasama mempertahankan tanah Bali dengan menjadi investor (owner) Atta Labeji Villas. Untuk informasi lebih jelas, silakan datang langsung ke kantor Bos Land di Jalan Tukad Pakerisan No. 79 Panjer, Denpasar, tlp. 0361-4723 260, 082 247 365 888, 087 861 999 658. –ten
4
Inspirasi
Mimpikan
Edisi 913/ 8 - 14 agustus 2016
Arya
Mini Album Terkadang harapan tidak sesuai dengan kenyataan, begitulah ungkapan yang menggambarkan kehidupan pria berlesung pipit ini. Terlahir di keluarga sederhana membuat Putu Arya Suarnata, S.Pd., menggantungkan cita-cita setinggi langit. Alumni SMAN 1 Gerokgak ini sangat berantusias menjadi anggota TNI, akan tetapi nasib belum berpihak kepadanya.
D
ari tiga kali mengikuti seleksi mengikuti seleksi namun kandas di penentuan akhir (pantuhir) hingga ahirnya memutuskan untuk kembali mencari ilmu di bangku kuliah. Ibarat jatuh tertimpa tangga pula,lagi-lagi kekecewaan datang menghampiri. Jurusan pendidikan jasmani yang ia inginkan dan mencoba mengikuti seleksinya juga dinyatakan tidak lolos. Arya, sapaan akrabnya tidak pernah menyerah, tahun 2009 kampus STKIP Agama Hindu Singaraja menjadi tumpuan akhir dengan mengambil Jurusan Ilmu Pendidikan prodi pendidikan Agama Hindu. Mungkin inilah yang dikatakan jalan-Nya lebih indah dari jalan yang ia inginkan. Semasih menjadi mahasiswa, pria yang lahir 4 November 1988 ini banyak menorehkan prestasi. Berbagai organisasi yang diikuti di antaranya, menjabat sek-
retaris II HMJ tahun 20102 0 1 1 , Wa k i l Ke t u a H M P S Pendidikan Agama Hindu tahun 2011-2012, menjabat sebagai Wakil Ketua Pimpinan Cabang Kesatuan Mahasiswa Hindu Dharma Indonesia Buleleng tahun 2011-2013, dan Ketua Pimpinan Cabang Kesatuan Mahasiswa Hindu Dharma Indonesia Buleleng tahun 20132015. “Saya menggemari organisasi dari awal perkuliahan tepatnya di tahun 2009. Mungkin ini yang dibilang Hyang Widhi merestui Karma Yoga ini, tidak ada yadnya yang sia-sia,” ujarnya. Tidak hanya di bidang nonakademik, anak dari pasangan Made Samiana dan Ketut Suarmini, S.Pd, SD., juga berprestasi di bidang akademik. Ia diwisuda pada bulan November 2013 dengan predikat cumlaude dengan IPK 3,78. Selain mendapatkan peringkat ketiga dari ratusan mahasiwa
Putu Arya Suarnata, S.Pd.
Arya juga mendapatkan apresiasi dari kampus sebagai mahasiswa berbakat dan berprestasi pada saat wisuda. Rupanya pria yang dipercaya sebagai Sekretaris Umum Dewan Pimpinan Daerah Komite Nasional Pemuda Indonesia Kab. Buleleng masa bakti 20162019 ini sejak kecil memiliki hobi bernyanyi. Tetapi karena keterbatasan biaya, orangtuanya tidak terlalu fokus dengan bakat tersebut. Barulah ketika memasuki bangku SMA, Arya mengasah bakat menyanyi dengan mengikuti berbagai festival band dan Porseni yang dilatih oleh guru vokal. Selain itu banyak juara yang pernah diraihnya, diantaranya juara 1 Tingkat Nasioanal Cipta Lagu Keagamaan Hindu Tingkat Nasional Perguruan Tinggi Agama Hindu SeIndonesia, Juara III Lomba Menyanyikan Lagu Presiden SBY Tingkat Provinsi Bali, juara 1 Tingkat Provinsi Bali Pemilihan Bintang Radio Indonesia Dan ASEAN, Semifinalis Bintang Radio Indonesia dan ASEAN 2013 di Jayapura (Papua), Juara 1 Pemilihan Bintang Radio Indonesia dan Asean RRI Singaraja tahun 2012, Semifinalis Bintang Radio Indonesia dan ASEAN tahun 2012 di Sumatra Utara (Medan), Juara 1 Pemilihan Bintang Radio Tingkat Nasional dan ASEAN RRI Singaraja Tahun
2011, dan Semifinalis Pemilihan Bintang Radio Tingkat Nasional dan A SEAN tahun 2011 di Manado. Dari segudang prestasi yang pernah diraihnya, cita-cita yang belum sempat diwujudkan adalah memiliki mini album. “Mini album ini sebagai bukti sejarah hidup dalam tarik suara. Semoga cita-cita ini cepat bisa diwujudkan,” tambahnya pria murah senyum ini. Ketika diminta memilih antara pekerjaan dan menekuni hobi, Arya mengungkapkan dunia tarik suara adalah sebatas hobi bukan sebagai prioritas. “Dunia tarik suara bukan untuk menunjang hidup, tetapi sebagai pondasi untuk menunjang kehidupan saya harus bekerja,” paparnya. Pengalamannya di organisasi membukakan jalan menjadi tenaga outsorsing di Kantor Komisi Pemilihan Umum (KPU) tahun 2014. Terakhir Arya mencoba mengikuti seleksi dan diterima di Kantor Kementerian Agama Kabupaten Buleleng tahun 2015 sebagai pegawai sampai sekarang. Baginya, semua prestasi yang diraihnya merupakan hasil kerja keras sang ibu. Menurut-
Mandalika
21
Edisi 913/ 8 - 14 agustus 2016
Presiden Jokowi Buka MTQN ke-26 di NTB
Ketika pembukaan MTQN ke-26 beberapa waktu lalu, masyarakat telah menyemut di Islamic Center Mataram yang merupakan pusat diselenggarakannya kegiatan MTQN 26. Warga yang berdesakan itu antusias menyambut peristiwa yang pernah terjadi 43 tahun di kala NTB menjadi tuan rumah MTQN tahun 1973. Selain ingin menyaksikan pembukaan MTQN, mereka juga menantikan kehadiran Presiden RI Joko Widodo. Benar saja, begitu tiba di Islamic Center, Presiden RI yang didampingi Ibu Negara, Hj. Iriana Joko Widodo, tidak langsung masuk ke arena utama MTQN melainkan berjalan mendekat kepada masyarakat.
P
residen RI yang dikenal dekat dengan masyarakat ini, tanpa segan menyalami rakyatnya yang histeris menyambutnya. Gemuruh tepuk tangan dan histeria warga terjadi selama lebih kurang 20 menit sepanjang Presiden RI menyapa rakyatnya yang berada di luar arena utama yang dipenuhi oleh para kafilah, tamu-tamu negara, pimpinan lembaga negara, para duta besar perwakilan negara sahabat, para
menteri kabinet kerja, Sekjen Robitoh Alam Islami para peserta konferensi internasional, para gubernur se-Indonesia, tokoh agama dan tokoh masyarakat serta khafilah dari 34 Provinsi seIndonesia. Pada saat itulah, Joko Widodo memperlihatkan “kelasnya” sebagai seorang pemimpin yang mencintai rakyatnya. Tentu saja sikap dan teladan Sang Pemimpin ini merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari isi dan kandungan Alquran.
Presiden RI, Gubernur NTB dan Menteri Agama memukul Gendang Beleq pada acara pembukaan MTQN 2016
Puluhan ribu warga memadati arena Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) Nasional ke-26 yang berlangsung di Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat. Sejak dibuka secara resmi oleh Presiden RI Joko Widodo tanggal 30 Juli 2016, setiap malam masyarakat tumpah ruah menyaksikan dan mendengarkan lantunan ayat-ayat suci Alquran yang dibacakan oleh para Qori dan Qoriah terbaik dari seluruh Indonesia.
Seluruh areal Islamic Center yang menjadi pusat diselenggarakannya MTQN ke-26 ini, penuh sesak oleh manusia. Demikian pula di sepanjang jalan Langko sekitar Islamic Center dan juga jalan Udayana Mataram, warga berdesak-desakan untuk bisa mendapatkan tempat yang nyaman untuk menonton menyaksikan dan mendengar khusyuknya para Qori dan Qoriah melantunkan ayat-ayat suci Alquran.
Tribun yang membentang luas dari utara ke selatan memenuhi kawasan utama arena di dalam areal utama Islamic Center tiap malam sesak oleh penonton. Mereka yang tidak dapat masuk ke dalam areal utama terpaksa berdesak-desakan menonton dari layar lebar (videotron) yang disiapkan panitia di simpang jalan Langko dan Jalan Udayana. Bahkan untuk sekedar jalan saja, penonton dan pengunjung harus saling berdesakan. –Naniek I. Taufan
Keluarkan PP Bentuk Universitas Islam Internasional
nya ibu adalah seorang yang sangat sabar dan bijaksana. “Sosok ibu adalah orang yang sangat luar biasa, perjuangan dari dalam kandungan hingga melahiran saya,” lanjutnya. Orangtua merupakan contoh dan anutan baginya. - Wiwin
“Dunia tarik suara bukan untuk menunjang hidup, tetapi sebagai pondasi untuk menunjang kehidupan saya harus bekerja”
Ini sebuah peristiwa yang tidak akan pernah dilupakan oleh masyarakat NTB, khususnya yang tinggal di Pulau Lombok. Mereka rela datang menempuh jarak puluhan kilometer, dari Lombok Timur, Lombok Barat, Lombok Tengah hingga Lombok Utara demi bisa menyaksikan peristiwa Islami yang pernah terjadi 43 tahun silam di NTB dan baru kini terulang kembali. Sesungguhnya antusiasme warga memadati Islamic Center selama kegiatan yang berlangsung hingga ditutup pada tanggal 7 Agustus 2016 ini, lebih karena memang nuansa Islami di pulau dengan julukan Pulau Seribu Masjid ini sangat kental. Karena itulah mereka rela datang dari jauh bahkan menggunakan mobil-mobil pick up membawa serta seluruh keluarga demi dapat menjadi bagian dari peristiwa Islami yang senyawa dengan kehidupan keagamaan mereka. “Saya berangkat dari Lombok Timur sejak tadi jam setengah lima sore. Shalat Magrib di Masjid Raya Mataram
agar bisa dapat duduk di tribun dalam,” ungkap Rohmah asal Lombok Timur yang datang bersama anak-anak dan keluarganya. Rohmah hampir tiap malam datang menonton MTQN ini. Beberapa kali menonton ia hanya kebagian menonton layar lebar di simpang BI dan duduk di aspal jalan raya. Itulah sebabnya di malam ke empat ia sengaja datang lebih awal dan ia sukses mendapatkan tempat duduk terbaik di tribun depan panggung utama. Ia merasa sangat bahagia sekaligus terharu ketika mendengarkan suara Qori dan Qoriah yang begitu indah melantunkan ayat-ayat suci Alquran. Jiwanya tersentuh sampaisampai ia menangis. “Masya Allah… suara mengajinya menggetarkan hati saya,” ujarnya dengan mata berkaca. Hal yang sama juga terjadi pada Raihan, penonton asal Lombok Utara yang datang pada malam final MTQN 2016. Karena jarak yang jauh, ia hanya dapat dua kali menonton dan ikut berdesakan
Warga yang antusias menyaksikan MTQN 2016 di Islamic Center
dengan puluhan ribu manusia lainnya. Di malam final itu, Raihan meneteskan air mata tatkala ayat-ayat suci yang diperdengarkan dengan begitu indah. Umat Islam mana yang tidak bergetar ketika mendengar lantunan ayat-ayat suci dibacakan dengan suara yang merdu dan komunikatif. “Langsung masuk ke dalam hati saya,” ujarnya. Begitulah MTQN 2016, telah menggetarkan jiwa-jiwa kaum muslim yang memaknai Alquran sebagai pegangan hidupnya. Tampaknya apa yang menjadi harapan Presiden RI Joko Widodo kala membuka MTQN 2016 ini terwujud di Pulau Lombok. Membumikan Alquran sehingga lebih dapat dipahami dan dilaksanakan oleh seluruh masyarakat, demikian pesan Sang Presiden. “Prestasi adalah utama namun yang lebih utama lagi adalah syiar dan dakwah tentang bagaimana membumikan Alquran itu,” ungkapnya. Presiden RI ini mengajak seluruh masyarakat Indonesia untuk menjadikan Alquran sebagai pegangan kehidupan yang hakiki, sehingga dapat menuntun masyarakat menjadi pribadi yang santun dalam bertutur bersikap serta berperilaku. Presiden menyentil kebiasaan mengungkapkan sindiran-sindiran pedas, mencela, mengumpat, mengejek, menjelek-jelekan orang lain salah satunya melalui media sosial terutama saat kontelasi politik meningkat tiap kali pesta demokrasi berlangsung di negeri ini, dinilainya sebagai sebuah sikap yang tidak sesuai dengan isi dan kandungan Alquran. Ia mengajak agar MTQN ini dilihat sebagai perekat yang hakekatnya harus diamalkan diresapi serta diamalkan dalam kehidupan sehari-hari.
Salah satu acara kesenian pada pembukaan MTQN 2016
Ke depannya, presiden menaruh harapan besar agar Indonesia dapat menjadi sumber pembelajaran Islam di dunia. Karena itu telah dikeluarkan Peraturan Presiden untuk membentuk Universitas Islam Internasional. “Kita ingin kehidupan berbangsa dan bernegara sejuk, damai dan indah. Mari jaga kehidupan berbangsa dan bernegara. Jadikan MTQN ini sebagai stimulan untuk meningkatkan pengamalan ajaran Islam yang Rahmatallil Alamin,” pesan Presiden. Gubernur NTB Dr. TGH M Zainul Majdi juga mengungkap, hakikat MTQN ini bagi masyarakat NTB adalah suatu motifasi untuk selalu bekerja keras memberi kontribusi terbaik bagi bangsa. Gubernur yang merupakan lulusan tafsir terbaik pada universitas Islam Al Azhar Mesir ini juga menyebut, kesukacitaan MTQN di NTB ini tidak hanya dirasakan umat Islam semata, melainkan seluruh masyarakat NTB juga turut bersuka cita. “Saudara kita dari warga Tionghoa juga ikut berpartisipasi dengan memasang lampion di sepanjang ruas jalan di wilayah
Cakranegara,” terangnya. Gubernur juga mengaku beberapa waktu yang lalu menerima surat yang ditandatangani pendeta yang ingin turut berpartisipasi menyukseskan MTQN di Mataram. Hal ini, lanjutnya, membuktikan bahwa seluruh umat beragama di NTB punya tekad yang sama untuk ikut menyukseskan MTQ Nasional. Hal yang sama juga diungkapkan Menteri Agama, Lukman yang mengungkapkan bahwa perlombaan dalam MTQ tidak hanya bicara soal penampilan seni membacanya, melainkan juga adanya keterbukaan agar tercipta perlombaan yang jujur. “MTQ bukan soal seni suara maupun forum ilmiah dalam menafsir dan menalar serta mengartikan ayat-ayat Tuhan, tetapi juga diperlukan sikap keterbukaan dalam upaya yang konkrit untuk menciptakan sportivitas bagi seluruh peserta,” katanya. Tentu saja pesan ini adalah kandungan yang ada dalam Alquran yang harus dijalankan baik oleh seluruh peserta dan penyelenggara MTQN maupun dalam kehidupan masyarakat sehari-hari. -Naniek I. Taufan
20
Nine
Edisi 913/ 8 - 14 agustus 2016
Fithriati Kahar
Awali dengan Percaya Diri
Tampaknya tidak banyak orang yang lahir dengan begitu banyak talenta dan nyaris seluruh talenta yang dimiliki itu pernah meraih prestasi. Fithriati Kahar adalah satu satu dari tidak banyak perempuan yang lahir dengan beragam talenta tersebut.
S
ejak kecil ia telah menjurai lomba-lomba baca puisi dan menari. Di usia yang terus beranjak remaja prestasi demi prestasi terus diraihnya bahkan hingga dewasa. Sejak SD ia sangat sering mewakili sekolahnya dalam berbagai lomba. Di masa kuliah di Fakultas Pertanian Universitas Mataram, perempuan kelahiran 25 November 1967 ini sangat aktif dalam berbagai kegiatan kesenian. Selain sebagai seorang penari, Yatik juga adalah pemain teater yang telah memainkan cukup banyak naskah
teater bersama para teaterawan dan seniman di Mataram. Ia juga seorang MC berbakat, desainer serta penata rias. Semua bakat dan keahlian yang dimilikinya itu ia peroleh dengan cara otodidak. Tidak satu pun dari bakat yang dimilikinya ini dipelajarinya secara khusus melalui kursus atau pun semacamnya. Bakat-bakat tersebut seperti telah ada dalam dirinya secara alami. “Semua saya coba dan memulai dengan rasa percaya diri saja,” ujar Yatik mengungkap tentang kunci suksesnya. Yang unik adalah, dua keahlian-
Yatik Kahar
nya sebagai desainer dan penata rias, ia dapatkan juga secara otodidak dan dengan percaya diri ia langsung tampil mengikuti sebuah ajang lomba dan dengan sangat
mengejutkan ia berhasil meraih juara satu. “Dari sana saya baru mengerti bahwa untuk menjadi sesuatu itu harus diawali dengan percaya diri,” katanya. Kisah ini menjadi unik bagi Yatik yang sama sekali tidak pernah merias wajah namun ia bisa tampil percaya diri. Hal ini terjadi di tahun 2007 ketika ia telah hijrah ke Sumbawa sejak tahun 1993. Ia dipanggil oleh kakaknya nomor 6 (Fatana) yang sekaligus mentornya itu, untuk mengikuti lomba rias pengantin di Mataram. “Semua itu karena dorongan yang kuat dari kakak saya yang menyuruh saya mengikuti lomba padahal kakak saya juga tahu saya tidak pernah sama sekali merias wajah siapa pun. Tapi saya memulainya dengan Bismillah…,” kata putri ke 10 dari 12 bersaudara yang lahir dari pasangan Abdul
Kahar dan Hj. Siti Fatmah ini. Dari lomba tersebut, ia berhasil menyabet juara satu dengan sangat mengejutkan. Padahal, Yatik mengaku hanya sesekali saja ia memperhatikan kakaknya tersebut merias pengantin karena ia memang seorang perias pengantin. Tidak ada keraguan sedikit pun dalam dirinya ketika mengikuti lomba rias pengantin untuk pertama kalinya ini.Iia hanya bermodalkan percaya diri dan yakin bisa. “Saya bahkan tidak pernah memakai model untuk mencoba merias sebelum tampil lomba. Saat lomba itulah saya pertama kali menyentuhkan peralatan rias di wajah model,” ungkap pemilik Griya Rias dan Dekorasi TYRA di Sumbawa ini.
Yatik Kahar bersama kliennya. Mendalami make up korektif, mengkoreksi kekurangan menjadi kelebihan tanpa mengubah wajah asli kliennya
lainkan tengah belajar untuk membuat sendiri melalui seluruh proses yang dimulai dari memilih bahan, menjahit hingga menghasilkan produknya. Dan banyak lagi prestasi lainnya yang berhasil ia raih. Dengan berbagai keahlian tersebut, Yatik yang kini bekerja sebagai Kepala Seksi Pengembangan Nilai Budaya Dinas Pendidikan, Olahraga, Kebudayaan dan Pariwisata (Disdikporabudbar) Kabupaten Sumbawa ini, menjadi salah seorang perempuan dengan pergaulan yang luas. Ia mengenal banyak orang sehingga banyak bersosialisasi dalam berbagai ruang dan waktu. Dari sanalah Yatik mengenal banyak klien yang kemudian memakai jasa Griya Rias dan Dekorasi TYRA. Inilah yang membuat usaha yang diberinya berdasarkan nama dirinya, suami dan dua anaknya, berjalan dengan baik. TYRA adalah singkatan dari nama suaminya Totok Sugiharto, Yatik namanya dan nama dua anaknya Rian (21) dan Aldi (17). Di Griya Rias dan Dekorasi TYRA, Yatik yang memiliki 12 karyawan ini menyYatik Kahar dengan salah satu piala kemenangannya iapkan paket lengkap
up. Make up itulah modal awal saya,” ujarnya tertawa. Saat merias p e n g a n t i n , Ya tik mendalami make up korektif yang mengoreksi kekurangan menjadi sebuah kelebihan bagi seorang perempuan, tanpa merubah terlalu banyak dari wajah aslinya. Adalah kebahagiaan tersendiri bagi Yatik ketika melihat klien puas dan semua kekurangannya tertutupi dengan menghasilkan kelebihan yang tidak merubah wajah asli kliennya. Yatik tidak hanya berprestasi dari sisi talenta yang dimilikinya, melainkan ia adalaah perempuan yang cerdas. Sejak sekolah dasar, sekolah menengah pertama dan sekolah menengah atas ia se-
untuk pernikahan dan acara lainnya seperti, dekorasi, rias pengantin, wardrobe pengantin yang ia jahit sendiri dan ia juga biasanya langsung menjadi pembawa acara (MC). Saat memulai Griya rias dan dekorasi TYRA ini, Yatik mengaku tak mengeluarkan modal yang banyak, melainkan hanya modal kepercayaan. “Ada yang memberi kepercayaan pada saya dengan memberi sejumlah uang untuk saya kelola pada sebuah acara pernikahan. Nah… dari uang itulah saya memulai semuanya,” katanya. Kecepatan berpikir, percaya diri dan yakin bisa disertai kecerdasan, m e m b u a t Ya t i k sukses mengelola kepercayaan tersebut yang kemudian menghasilkan hal yang memuaskan bagi kliennya. Begitu juga modal dalam merias. “Hadiah juara satu lomba merias adaYatik Kahar bersama suami dan dua anaknya lah peralatan make
Edisi 913/ 8 - 14 agustus 2016
Rahadewi Neta
Rahadewi Neta tak pernah mengira kalau mimpinya tampil di Olimpiade yang telah terkubur lama akhirnya menjadi nyata. Neta, begitu wanita cantik ini akrab disapa, sebagaimana atlet lainnya merindukan untuk bisa berlaga di Olimpiade, pesta olahraga terbesar di dunia, namun tahun 2007 ia terpaksa menelan pil pahit gagal dalam kualifikasi persiapan Olimpiade Beijing 2008.
Rahadewi Neta wasit terbaik pada US Open Taekwondo Championship 2014
M
lalu menjadi juara kelas. Dan saat mengakhiri kuliahnya di Fakutas Pertanian Universitas Mataram, Yatik membawa pulang gelar sarjana dengan IPK nyaris Summa Cum Laude. Begitu juga saat ia mendapat beasiswa dari Bappenas RI ketika ia mengambil Magister Perencanaan Kota dan Daerah di Fakultas Arsitektur UGM, ia berhasil lulus dengan IPK 3,9 dan menyelesaikan pendidikannya selama 13 bulan. Yatik memang perempuan yang sangat aktif dan tidak pernah diam. Hari-harinya selalu diisi dengan berbagai kegiatan positif. Di antara segudang aktivitasnya itu, Yatik masih sempat aktif sebagai Koordinator Bina Dewasa pada Pramuka Korcab. Sumbawa. Sebagai instruktur tingkat nasional bidang tata rambut dan memiliki sederet keahlian lainnya, Yatik tengah mencita-citakan untuk memiliki sebuah lembaga pendidikan semacam pusat kegiatan belajar tempat ia berbagai ilmu merias, busana bahkan kesenian. “Saya ingin berbagi ilmu yang saya miliki kepada orang lain agar bisa dimanfaatkan untuk kehidupannya,” katanya. -Naniek I. Taufan
5
Wasit Perempuan Pertama di Olimpiade
–Naniek I. Taufan
Tak pernah Mulai tak kan pernah Bisa
Secara jujur Yatik mengungkapkan bahwa ketika pertama kali merias dan langsung ikut lomba ia memang grogi. Namun dengan satu keyakinan yang dipegangnya yakni kalau tidak pernah memulai maka tidak akan pernah bisa. Dan, Yatik memang membuktikan hal tersebut, bahkan melampaui hasil yang tidak pernah dibayangkan, langsung keluar sebagai yang terbaik. Sejak itulah, berturut-turut hampir setiap tahun ada lomba sejenis, Yatik selalu meraih prestasi sebagai juara satu. Tidak hanya pada tata rias pengantin, Yatik juga sukses meraih juara satu instruktur tata rias rambut dan begitu pula dengan lomba tata busana ia sukses sebagai juara 1 kategori Baju Internasional. Pada tahun 2009 ia meraih juara 1 Desain Busana Kerja. Kini ia tidak saja mendesain busana me-
Inspirasi
eski gagal, wanita kelahiran Surabaya Mei 1984 ini tak patah arang dengan olah raga yang telah ditekuninya sejak 1993. Namun ia banting stir, setelah meraih medali perak pada SEA Games, Laos, 2009, ia pun langsung mendaftar ikut pelatihan wasit. Di bidang ini lah yang akhirnya mempertemukan Neta dengan mimpinya berlaga di Olimpiade. “Saya sungguh tidak mengira kalau pada akhirnya bisa juga sampai ke Olimpiade. Yang tadinya dream failed menjadi ‘dream come true’,” ungkap Neta di kantor UTI Pro (Universal Taekwondo Indonesia Profesional) Pluit, Jakarta Utara. Berawal dari datangnya surat panggilan dari Federasi Taekwono Dunia (WTF), di mana ia menjadi salah satu yang diundang untuk ikut seleksi wasit taekwondo dari Asia untuk ajang Olimpiade Rio De Janeiro, Brasil yang digelar 5-21 Agustus 2016 mendatang. “Surat panggilan by email itu April tahun lalu. Awalnya saya tidak mengerti.Lalu saya tanya pada master saya yang tahu tentang hal itu. Master saya bilang, panggilan itu memang bukan karena apply kita tapi karena federasi yang memilihnya berdasarkan ranking. Jadi, mereka yang berada di ranking 1 sampai 100 akan diundang untuk ikut tahapan seleksi. Saya sendiri nggak nyangka ya, karena kan saya nggak pernah ngecek ranking sendiri,” jelas Neta. Tentu saja Neta senang luar biasa karena jalannya untuk ke Olimpiade terbuka kembali, meski tidak sebagai atlet. Di sisi lain dia juga sadar tantangan untuk bisa mencapai impiannya itu luar biasa berat. Pasalnya, ia harus
bertarung prestasi dengan wasit di seluruh dunia untuk masuk dalam 30 besar wasit dunia. Untuk sukses tentu bukan pekerjaan mudah. “Uhh berat banget,” kata Neta yang mengaku tahapan tes berlangsung berbulan- bulan. Dia bukan hanya harus mengikuti training camp, tapi juga harus memimpin sejumlah pertandingan internasional. Walhasil, dia harus berkeliling ke banyak negara un-
equality atau kesetaraan. Dan saya bukan satu-satunya wasit dari Asia yang terpilih,” ucapnya. “Kalau ngomong perjuangannya, wah jangan ditanya, panjang banget. Selama setahun ikut berbagai macam seleksi yang digelar di beberapa negara. Selain itu, kita tidak diperbolehkan berbuat kesalahan sedikitpun, baik itu secara teknis maupun non-teknis, termasuk dalam hal attitude kita. Nggak boleh salah. Jika itu terjadi, nama kita langsung dicoret. Seleksinya memang super ketat. Seleksi ketat ini terjadi sejak menjelang Olimpiade London 2012. Hasil dari seleksi ketat itu maka pertandingan taekwondo pada Olimpiade London sukses tanpa protes,” papar Neta yang menikah dengan Rizal Syamsul, sesama taekwondoin pada 2011. KELUARGA TAEKWONDO Menurut Neta, taekwondo sudah mendarah-daging dalam hidupnya. Tak heran karena dia dibesarkan dalam keluarga yang
Rahadewi Neta saat memimpin turnamen di korea
tuk menjalani berbagai tes, di antaranya Fujairah, Uni Emirat Arab, Manchester, Inggris, juga Turki. Tapi ibu dua anak yang telah mendapat restu suaminya untuk melakoni itu semua, bertekad akan melakukan yang terbaik yang ia bisa untuk lolos ke Olimpiade. Hasil kerja keras dan pengorbanan Neta pun membuahkan hasil. Dalam pemeringkatan wasit dunia, Neta sempat bertengger di ranking empat dunia, dia juga berhasil menyabet penghargaan sebagai wasit terbaik. Ditambah hasil positif dalam berbagai tes yang dijalaninya, akhirnya wanita murah senyum ini pun melaju ke Olimpiade Rio. Menariknya, kata Neta, dari 30-an wasit yang terpilih, setengahnya adalah wanita. “WTF sekarang mengutamakan
semuanya bergelut di bidang taekwondo. Ia sendiri mulai belajar olah raga asal Korea itu saat usianya 9 tahun. “Di rumah ada samsak, tiap hari sama bapak disuruh nendang –nendang samsak, latihan mukul, terus lari berkilo-kilo,” cerita anak bungsu dari empat bersaudara tentang awal berlatih. Kedisiplinan yang diterapkan sang ayah, tak sia-sia. Sejumlah prestasi telah ditoreh Neta, baik dari dalam maupun luar negeri, di antaranya; medali perunggu di Kejuaraan Taekwondo Asia di Hong Kong, medali perak di Amerika Terbuka di Oregon, dan medali emas di Woman Islamic Solidarity International Taekwondo Championship di Iran. Tahun 2009, kata Neta dia pun
Rahadewi Neta
mengambil lisensi wasit nasional kemudian meningkat ke lisensi internasional. “Untuk mendapat lisensi internasional kita harus memiliki pengalaman, jam terbang tertentu, khususnya memimpin event-event resmi WTF, hal ini untuk mendapat ranking dunia,” ucap Neta yang akan berangkat menuju Brasil pada 13 Agustus mendatang. Pertandingan taekwondo sendiri akan digelar pada 17 Agutus. Neta bercerita tentang awalnya tertarik menjadi wasit. “Iya awalnya sih hanya simple aja ya, dulu waktu jadi atlet ngeliat wasit pakai dasi kok sepertinya keren betul, sementara kita atlet latihan pakai kaos oblong. Alasan lainnya ya ketika di tingkat nasional ternyata hanya segelintir wanita saja yang punya keberanian menjadi wasit. Trus saya tanya, boleh nggak wanita jadi wasit, dijawab boleh. Lalu saya ikut seminar nasional dan internasional untuk jadi wasit,” tuturnya. Secara terus terang diakuinya, saat ini selain senang bisa lolos tapi juga merasa ada beban. Pasalnya, ini lah pertama kali ia akan tampil memimpin pertandingan di event sebesar Olimpiade. Belum lagi ia dan semua wasit terpilih mendapat wantiwanti serius tidak boleh melakukan kesalahan sekecil apapun dalam memimpin pertandingan. “Induk organisasi dunia bilang, ini adalah top-nya event, nggak ada lagi event di atas Olimpiade. Jadi kami jangan berbuat kesalahan. Semua yang kamu dapat selama edukasi, harus benarbenar diterapkan di lapangan, jangan sampai ada miss. Kami terpilih karena kami adalah best of the best-nya refree in the
world,” ujarnya. “Jadi memang perlu persiapan mental karena, terus terang saja ya, semakin mendekat event rasanya semakin nervous, ya seperti atlet yang mau bertanding. Karena posisi wasit penting, harus membawa pertandingan benar-benar berjalan baik,” katanya. Ia merasa yakin, meski sudah dinyatakan terpilih, namun tes-tes tetap dilakukan. “Istilahnya, dari artikel satu sampai artikel terakhir benar-benar harus di luar kepala. Karena itu penting banget. Misalnya, pas dalam kondisi panik. Karena kan pertandingan berjalan cepat banget, lalu tiba-tiba kita nggak tahu harus ngapain. Blank. Blank itu yang kadang menjadi presure tersendiri. Makanya kita harus menguasai semuanya. Jangan sampai terjadi seperti beberapa tahun lalu, banyak kasus terjadi karena wasit nggak nguasain,” tutur Neta. Gara-gara seringnya terjadi protes dari peserta kemudian induk organisasi membuat berbagai terobosan, di antaranya dengan membuat electronic head guard dan electronic body protector. Ini dimaksudkan agar semua pertandingan bisa berjalan fair, tidak terjadi protes. -Diana Runtu
Rahadewi Neta
6
Satu persatu maestro tari Bali amor ring acintya. Penari legendaris Legong Peliatan yang ikut memperkuat misi kesenian Bali ke Eropa dan Amerika Serikat tahun 1952, Anak Agung Anom Setiari meninggal dunia 26 Juli 2016. Ibunda mantan Sekda Gianyar, Cokorda Gde Putra Nindia ini meninggal karena stroke.
S
ari Woman on Top ti e S m o n A g n u g emoriam Anak A
Edisi 913/ 8 - 14 agustus 2016
etiari dilahirkan di Banjar Teruna, Desa Pe l i a t a n p a d a 2 6 November 1938. Ia adalah keponakan Anak Agung Gede Mandera, pendiri sekaligus pimpinan Gong Peliatan. Sekaa ini telah pernah tampil di Colonial Exhibition, Paris tahun 1931. Sejak itu kemasyuran tari Legong merebak ke mancanegara sebagai salah satu jenis tari Bali yang paling elok seiring dimulainya kapal-kapal pesiar Belanda yang menandai awal
In M
bisnis pariwisata Bali. Beberapa tahun kemudian para peneliti dan budayawan Eropa berdatangan ke Bali untuk mendokumentasikan kebudayaan Bali. Usaha mereka membuahkan berbagai buku dan film, satu diantaranya Island of Bali yang memuat sketsa gerakan legong secara lengkap oleh Covarrubias. Tahun 1950 Mandera dipanggil Presiden Soekarno untuk ditawari membawa tarian Legong ke Eropa dan Amerika Serikat bersama rombongan yang dipimpin John Coast. Coast jatuh hati pada gong Peliatan berkat kharisma permainan kendang Mandera yang ekspresif dan mempesona sehingga amat layak ditampilkan untuk panggung internasional. Untuk penari Legong, Mandera
Pose legong Peliatan
Rangkesari Legong Peliatan
menjatuhkan pilihannya pada tiga penari muda belia yakni Gusti Ayu Raka, Anak Agung Anom Setiari dan Anak Agung Oka. Mereka dilatih oleh Gusti Made Sengog bersama Mandera. Keduanya menanamkan gerak tari yang spesifik sebagai kekhasan gaya Peliatan, diantaranya ngelayak. Dari ketiga penari Legong belia tersebut, sebagai condong Gusti Ayu Raka, AA Anom Setiari terpilih sebagai pemeran Rangkesari yakni putri raja cantik jelita yang dirayu Prabu Lasem, dibawakan A A Oka. Dalam kurun waktu dua tahun setelah kembali dari lawatan sepuluh bulan di luar negeri, sekaa gong Gunung Sari dibawah pimpinan Mandera makin terkenal. Mereka sering tampil di Istana Tampak Siring dan Bali Hotel mengisi acara kesenian untuk tamu kenegaraan. Orang-orang asing yang berada di Bali pun berdatangan ke Puri Kaleran untuk menonton atraksi Mandera dan kelompok seninya. Tahun 1958, Setiari menikah dengan Cokorda Gde Agung dari Puri Peliatan yang memberikan empat orang anak yakni Cokorda Istri Agung Murniati, Cok. Gde
Putra Nindia, Cok. Istri Ratih Iriani dan Cok. Istri Dalem Astiti. Diantara putra putrinya, hanya Cok. Ratih yang mewarisi bakat ibundanya. Setiari pernah mengatakan beberapa hal penting bagi penari legong Peliatan adalah posisi ngagem harus dilakukan dengan cengked dan selalu dengan posisi rendah (ngeed). Bila dalam gerakan nyeregseg pada waktu kembali ke arah semula harus diikuti dengan gerakan dagu seiring putaran tangan. Menurut penuturan Cokorda Gede Putra Nindia, ibunya menolak menerima segala tanda AA Anom Setiari dalam peran Rangkesari penghargaan dari pihak manapun karena kiprahnya di bi- tuk selama-lamanya di-pelebon dang tari diakui sebagai pengabdian 20 Agustus 2016 mendatang. diri pada seni tari. Disamping itu Namanya tetap dikenang sebagai ibunya mempunyai gagasan untuk pemeran Rangkesari yang tiada memperpendek durasi tarian yang bandingannya dalam pelegongan akan disuguhkan sebagai konsumsi Peliatan. Generasi penerus cukup wisatawan. antusias menggeluti tarian ini sehSetiari yang meninggalkan ingga akan tetap lestari sepanjang tujuh orang cucu telah pergi un- masa. -Kusuma Arini
Edisi 913/ 8 - 14 agustus 2016
Badan Penelitian Tanaman Jeruk dan Buah Subtropika (Balitjestro), Batu, Jawa Timur sukses menghasilkan tujuh jenis jeruk baru. Launching ketujuh jenis jeruk baru tersebut dilakukan oleh Dr Mohamad Zakir pada saat Balitjestro Innovation Technology Expo. Pada kesempatan yang sama juga dilakukan launching Buku Teknologi Inovasi Balai Penelitian sekaligus Tanaman Jeruk dan Buah Subtropika.
Balitjestro Hasilkan Tujuh Jenis Jeruk Baru
P
ada kesempatan sama Zakir menyerahkan ketujuh jenis jeruk tersebut kepada tujuh perwakilan daerah dari seluruh Indonesia untuk mengembangbiakan jeruk tersebut. Salah satu diantaranya adalah anak jenis jeruk Kepro Batu 53 yang diserahkan oleh Zakir kepada Putu Santika, Kepala Seksi Pengembangan Produksi Hortikultura, Dinas Pertanian Kabupaten Buleleng, Bali. Expo ini mengambil tema: Dukungan Innovasi Teknologi Jeruk dan Buah Subtropika dalam Mewujudkan Pertanian Bioindustri dan Kemandirian Pangan di Era Masyarakat Ekonomi Asean (MEA). Acara ini dihadiri ratusan utusan dari 16 Provinsi dan 40 kabupaten/kota se Indonesia dan berlangsung selama 4 hingga 6 Agustus 2016. Selama expo tersebut dilakukan
sejumlah kegiatan seperti kontes buah jeruk nasional, open house laboratorium dan kebun koleksi apel, kelengkeng, stroberi, anggur, wisata petik jeruk, display inovasi teknologi, aneka kursus gratis, lomba fotografi buah dan event via instagram, aneka lomba untuk
Segera Lengkapi Diri dengan “SIM” Ayo Ikuti Uji Kompetensi Tata Kecantikan Kulit & Tata Rias Pengantin Bali Mendukung “Gerakan negara Asean, perizinan Indonesia Kompeten” dan pun demikian. Jika mem“Denpasar Kota Kompeten”, buka salon atau yang lainTempat Uji Kompetensi nya, harus punya sertifikat (TUK) Agung kembali akan kompetensi dulu. Jika tidak menggelar Uji Kompetensi ada, tidak bisa buka usaha,” Tata Kecantikan Kulit dan ucapnya saat memberi Kewirausahaan, Sabtu 13 sambutan dalam pelaksaAgustus 2016, serta Uji naan Uji Kompetensi Tata Kompetensi Tata Rias PenRias Pengantin Bali, 3 juni gantin Bali (Payas Agung) 2016 di Gedung Bali TV. dan Madya, Minggu 14 Uji kompetensi yang Agustus 2016 bertempat diikuti 550 peserta itu pun di Wantilan Gedung Pers tercatat dalam Rekor MURI Bali K. Nadha (Bali TV), Dunia Indonesia sebagai Jalan Kebo Iwa 63A Denpeserta terbanyak. Atas pasar. dukungan penuh Pemkot Anak Agung Ayu Ketut Denpasar akan kegiatan Agung, Ketua TUK Agung tersebut, selain TUK Agung AA Ayu Ketut Agung yang juga Ketua Lembaga dan Viva Cosmetics, Wali Kursus dan Pelatihan (LKP) Agung Kota Denpasar, IB Rai D. Mantra pun menegaskan akan pentingnya memiliki menerima Piagam MURI. sertifikat uji kompetensi ini. “Sertifikat Mengingat pentingnya mengantongi ini ibaratnya SIM bagi pengemudi. Jadi sertifikat uji kompetensi tersebut, TUK jika tak mengantongi sertifikat uji kom- Agung kembali menggelar Uji Kompetensi, keahlian atau keterampilan petensi Tata Kecantikan Kulit dan Uji kita tak akan diakui,” ujar Bu Agung- Kompetensi Tata Rias Pengantin Bali sapaan akrabnya. (Payas Agung) dan Madya. Bekerjasama Hal tersebut juga berulangkali dis- dengan LSK Tata Kecantikan, LKP Agung, ampaikan orang nomer satu di Kota Lembaga Sertifikasi Kompetensi Tata Denpasar dalam berbagai kesempatan. Rias Pengantin, Viva Cosmetics, Moritz, Wali Kota Denpasar IB Rai D. Mantra dan Harian BisnisBali (Kelompok Media mengatakan sertifikat uji kompetensi Bali Post). Para pemilik salon, tukang ini penting untuk keberlangsungan ke payas, atau yang bergelut di bidang depan. “Apalagi sekarang dalam era tata rias yang belum mengantongi MEA yang mengharuskan jika ingin sertifikat uji kompetensi, diharapkan hidup, berusaha, dan berkelanjutan, mengikuti uji kompetensi ini. Untuk pendaftaran, hubungi Sekkita diharuskan memiliki SIM. Dalam hal ini, surat izin untuk berusaha retariat TUK Agung, Jalan Anggrek sesuai dengan kompetensi/keahlian No. 12 Kreneng, Denpasar. Telepon: kita. Karena nanti ke depannya, hal ini (0361) 233850, 087 861 424 158 akan dipersyaratkan baik oleh Negara- (Dewa Ayu). -inten
19
Wali Kota Batu, Edi Rumpoko (dua dari kiri) bersama Muhammad Zakir (dua dari kanan)
anak-anak, lomba membuat kudapan untuk anak berbahan jeruk dan buah subtropika, bursa benih dan buah dan kursus perbenihan jeruk. Walikota Batu Eddy Rumpoko yang hadir pada kesempatan itu, menyatakan terima kasih kepada kepala pusat penelitian dan pengembangan jeruk dan buah subtropika yang telah memilih Batu menjadi tempat penelitian jeruk dan buah subtropika ini. “Saya sangat berterima kasih karena acara ini dilangsungkan di Batu. Semoga dengan kegiatan ini bisa mendorong para petani buah khususnya jeruk di Batu untuk lebih mengembangkan lagi kegiatan mereka di bidang jeruk,” ujarnya. Eddy Rumpoko mengatakan sebagian besar masyarakat Batu adalah petani khususnyua buah-buahan dan sayur-sayuran. Berkat keberhasilan para petani mengembangkan pertaniannya, hal ini telah mendorong banyaknya wisatawan domestik dan asing datang ke Batu. Saat ini setahun kunjungan wisatawan asing dan domestik ke Batu sebanyak 4 juta orang. Semoga ke depan lebih banyak lagi wisatawan
yang datang ke Batu untuk menikmati berbagai ob”jek wisata khusus wisata pertanian di Batu,” harapnya. Eddy menambahkan saat ini Pemkot Batu sudah memiliki Balai Kota baru yang bernama Balai Kota Among Tani. Ini menunjukkan bahwa Pemkota sangat mendukung upaya untuk meningkatkan kesejahteraan para petani di Batu. “Balai Kota ini memang belum diresmikan tetapi sudah mulai ditempati. Jika sudah selesai semua nanti saya akan mengundang Bapak Presiden untuk meresmikannya. Balai Kota ini dinilai Balai Kota termegah seluruh Indonesia dan menelan biaya Rp 300 miliar,” jelasnya. Sementara itu, Zakir meminta kepada seluruh daerah yang menerima anakan jeruk baru tersebut untuk dikembangbiakan di daerahnya masing-masing. Sehingga ke depan bisa menghasilkan buah jeruk yang lebih banyak lagi di Indonesia dengan varietas unggul. Kepada para peneliti, Zakir meminta untuk terus menerus melakukan
penelitian dan pengembangan jeruk dan buah subtropika. Sehingga dapat menghasilkan bibit unggul yang tahan terhadap penyakit. “Saya minta peneliti tidak hanya sibuk duduk di laboratorium dan memberikan ceramah dalam berbagai seminar saja, tetapi saya minta agar mereka aktif turun ke lapangan. Lapangan ini menjadi lahan tempur dari para penelitian untuk menghasilkan varietas unggul yang tahan hama penyakit,” tegasnya. Menyinggung buah impor yang sekarang banyak mengalir ke Indonesia saat ini, Mohamad Zakir mengatakan saat ini pemerintah khususnya Kementerian Pertanian melakukan langkah untuk proteksi terhadap buah impor. Caranya dilakukan dengan melakukan penelitian dan pengembangan untuk menghasilkan varietas unggul yang tahan terhadap hama penyakit. “Jika kita memiliki buah yang dengan varietas ungguld dan tahan terhadap penyakit maka penghasilan buah kita ke depan lebih meningkatkan lagi dan hal ini bisa membendung buah impor.“Apalagi kalau buah lokal kita lebih manis, warnanya lebih bagus dan rasanya enak. Pasti orang kita lebih suka buah lokal daripada buah impor,” tegasnya. Setelah pembukaan, Mohamad Zakir dengan didampingi Eddy Rumpoko berkeliling menyaksikan dan mencicipi berbagai jenis buah jeruk yang dipamerkan dalam acara expo ini. ‘Ini jeruk rasanya manis dan enak,” ujarnya sambil mengarahkan sebagian buah yang sudah digigitnya kepada Eddy Rumpoko yang ada di sampingnya. Baik Mohamad Zakir maupun Eddy Rumpoko sangat kagum terhadap patung gurita yang terbuat dari ratusan buah jeruk dan terpampang di tepi jalan menuju arena pembukaan expo tersebut. -Yosef Sintar
Kerajinan Autoart Berbahan Limbah Kayu Jati Lokasi strategis, ternyata bukan satusatunya jaminan dalam mengembangkan bisnis. Buktinya, di Tulungagung ada salah satu tempat usaha yang lokasinya terpencil, tapi cukup tersohor. Namanya dikenal dimana-mana. Terutama di kalangan kolektor benda-benda antik, baik lokal maupun mancanegara. Usaha apa itu? Membuat kerajinan miniatur atau yang lebih dikenal dengan sebutan autoart. Lokasi kerajinan ini, berada di Desa Tawangsari, Kecamatan Kedungwaru, Tulungagung, Jawa Timur. yang dikelola oleh dua pemuda bernama Benny Mardiono dan Andhika Trisaputra. Tempatnya pun sederhana. Mereka hanya memanfaatkan lahan kosong samping rumah yang ukurannya tidak terlalu luas. Kurang lebih hanya 4x7 meter saja. Tapi di dalamnya, dipenuhi banyak kerajinan autoart yang unik dan menarik. “Ini termasuk kosong, Mas. Kemarin sebelum dikirm numpuk sampai
ke atas sana,” kata Benny Mardiono, sambil menunjuk arah penyimpanan barang. Dua pemuda ini terlihat sibuk membuat miniatur pesawat terbang kuno (Arado A-R) buatan Rusia pada 1937 yang dipesan sejumlah kolektor yang ada di Pulau Dewata, Bali. Pada saat itulah, pemuda berambut gondrong ini menceritakan semua bagaimana proses pembuatan autoart tersebut. Awalnya, kata Benny, memilih jenis limbah kayu yang cocok. Mulai dari ketebalan, panjang, lebar, dan serat kayu. Jika sudah ditemukan, kayu digosok sampai rata dan halus. Setelah itu, kayu dimal atau digambar sesuai bentuk yang diinginkan.”Ngemal ini kelihatannya sepele, tapi penting. Karena menentukan bentuk,” ujar Benny seraya mewanti-wanti bahwa setiap pekerjaan harus dilakukan dengan hati-hati. Kayu yang selesai dimal ini, kemudian di-
gergaji atau dipotong sesuai bentuk dan ukurannya. Yang perlu dingat harus hati-hati, jangan sampai kayunya patah atau mata gergaji mengenai kayu yang akan rakit. Selain tidak efektif , hasilnya juga kurang bagus. Setelah semuanya beres, masingmasing potongan kayu yang sudah jadi ini, dirakit menjadi satu. Jika tak ada masalah, proses finishing baru diBenny Mardiono & Andika Trisaputra lakukan. Kayu yang sudah dirangkai tersebut digosok atau diamplas lagi Benny ini selalu mengedepankan unsur detail sampai halus. Termasuk sambungan yang produk, sehingga menyerupai prototipe kurang rapat didempul menggunakan serbuk aslinya. Bentuk dan karakternya sama,” kata dan lem kayu. Agar kelihatan rapi. Biar keliBenny yang sudah 1 tahun menggeluti kerahatan sesuai aslinya kerajinan autoart buatan jinan autoart ini. Produk atau kerajinan yang dibuat Benny bersama Andika ini, memang fokus pada miniatur transportasi, diantaranya kapal udara, kapal laut, kapal perang, tank, dan sejumlah kendaraan darat lainnnya. Untuk masingmasing autoart dijual dari harga Rp 250.000 hingga Rp 2 juta per unit, tergantung ukuran dan sulitnya pekerjaan. Dari usaha kerajinan ini, Benny mengaku omzetnya rata-rata mencapai ratusan juta per bulan. Apalagi pada bulan-bulan tertentu, seperti liburan sekolah, hari raya, omzetnya bisa naik 10-15 persen. “Ya lumayanlah. Bisa cari penghasilan sendiri tanpa menggantungkan orang lain,” ujar Benny bangga dengan usaha mandirinya tersebut. -Khoirul Abadi
18
Edisi 913/ 8 - 14 agustus 2016
l a v i t s e F g n e l Bule
Daya Tarik Kearifan Lokal Sebagai kabupaten terluas, Buleleng memiliki kekuatan besar dalam memenangkan kompetisi antar daerah dan persaingan global. Namun kenyataannya tidak demikian, maka itulah pemerintah terus menggali dan mengidentifikasi potensi sebagai suatu mutlak dilakukan. Hal tersebutlah yang melatarbelakangi pelaksanaan Buleleng Festival ke 4 tahun 2016. Seluruh kegiatan yang akan menampilkan kesenian tradisional maupun modern akan berlangsung dari tanggal 2-6 Agustus 2016.
S
alah satu kesenian tradisional yang coba direkontruksi adalah tari Legong Tombol massal. Tari Legong Tombol merupakan salah satu tari klasik yang dahulu berkembang di Desa Banyuastis, Kecamatan Banjar, Buleleng. Tarian ini diyakini telah ada sejak ratusan tahun lalu dan hanya ada di Buleleng. Tujuan merekontruksi tari ini adalah untuk mengenalkan kepada generasi muda dan dipelajari oleh penari penerus di Buleleng. hal ini disebabkan tarian yang sudah ada
sejak ratusan tahun lalu ini, penari dari daerah tersebut mulai habis. Tarian yang ditarikan 50 orang penari ini sangat diharapkan dapat menyelamatkan tari ini dari kepunahan. Buleleng Festival yang mengusung tema Masterpieces of Buleleng (persembahan karya terbaik dari Buleleng) ini juga menampilkan 10 sekaa ngoncang, paduan suara SMAN Bali Mandara dan Harmony Den Bukit. Tidak hanya kese nian tradisional, hiburan modern yang ditampilkan juga mampu menyedot penonton untuk memadati panggung
utama. Band-band lokal juga turut serta memeriahkan pembukaan Buleleng festival, dan tidak ketinggalan band nasional Slank juga mampu membius para penonton serta penggemarnya. Bupati Putu Agus Suradnyana, mengucap syukur karena Bulfest dapat berlangsung hingga tahun keempat. “Kami mengucapkan terima kasih dan penghargaan atas kehadiran undangan dalam meluangkan waktu di pembukaan Bulfest ke empat tahun 2016 di Kota Singaraja. Bulfest digelar atas dasar pemikiran untuk menggali, mengidentifikasi, melestarikan dan mempromosikan keragaman potensi di Buleleng,” ujar bupati /dalam sambutannya. Diharapkan Bulfest mampu mempermudah pemerintah dalam menjalankan program pembangunan sekaligus meningkatkan pembangunan dan kesejahteraan. Sementara itu, Kadisbudpar Buleleng Ir. Nyoman Sutrisna, MM., menambahkan Bulfest merupakan gelaran
Bupati Buleleng Putu Agus Suradnyana meninjau pembukaan Bulfest
dengan sentuhan kearifan lokal dengan karakteristik masyarakat Buleleng yang terbuka, kreatif, inovatif, dan dinamis sehingga memiliki daya tarik tersendiri. Diharapkan Bulfest dapat memberikan informasi kepada masyarakat terkait dengan potensi pembangunan kabupaten Buleleng dan memberikan ruang kreativitas dan partisipasi kepada masyarakat sebagai bentuk rasa syukur terhadap potensi daerah Buleleng. Sementara itu, Dirjen
Tradisi ngoncang
syukur kepada leluhur jika ada Pengabenan. “Di desa kami tradisi ini memang sangat disakralkan dan dipertahankan,” ujar koordinator Sekaa Lega Sawitra desa Suwug tersebut. Selain mengucapkan rasa syukur, saat tradisi ini dilakukan menjelang perayaan hari raya Nyepi maka akan memiliki makna untuk mengusir bhutakala. Masyarakat desa Suwug yang sebagain besar memang merupakan keluarga yang memiliki kultur tani yang kuat meyakini ritual ngoncang dilakukan sejak berabad-abad silam. Lesung yang digunakan sebagai sarana ngoncang juga sudah berusia ratusan tahun dan digunakan turuntemurun, dari generasi ke generasi. Lesung tak boleh digunakan sebagai tempat duduk, apalagi sebagai tempat menjemur pakaian. “Kalau orang tua bilang pamali,” imbuhnya.
Kebudayaan Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan RI melalui Pemerintah Kabupaten Buleleng, di malam pembukaan Buleleng Festival ke-4 telah menyerahkan sertifikat penghargaan penetapan wayang wong Desa Tejakula, sebagai warisan budaya tak benda dari Unesco.Kesenian wayang wong asal Desa Tejakula, Buleleng, makin dikenal di mata dunia. Lakon cerita ramayana dibawakan menggunakan bahasa kawi di setiap pementasan. Kini generasi muda diharapkan ikut melestarikan sebagai tantangan di era globalisasi. Sejumlah undangan di Bulfest 2016 antara lain, Menteri Pariwisata RI diwakili Putu Ngurah, Asdep Komunikasi Pemasaran Pengembangan Pariwisata Kementrian Pariwisata RI. Dirjen Kebudayaan Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan RI diwakili Arie Budhiman, Staf Ahli Menteri Bidang Pembangunan Karakter Kemendikbud. Gubernur Bali Made Mangku Pastika diwakili Dinas Pariwisata Provinsi Bali. Hadir Ketua DPRD Buleleng Gede Supriatna, SH., Kapolres Buleleng AKBP. I Made Sukawijaya, M.Si., Kepala Kejari Buleleng Sumarjo, SH., MH., beserta para undangan lainnya.-Wiwin
Tradisi ngoncang sebagai salah satu bentuk seni musik yang dilahirkan oleh masyarakat agraris di Bali memang sejatinya tidak boleh hilang. Justru karena ngoncang sudah menjadi sebuah seni dalam kehidupan masyarakat Hindu, maka seni itu harus terpelihara dengan baik. Padahal, ketika zaman agraris masih jaya, ngoncang adalah sebuah seni tradisi yang dilakukan dengan penuh gairah dan penuh makna. Para remaja, pemuda dan orang tua, biasanya saling berlomba untuk menunjukkan stamina memukulkan Lu ke dalam atau ke bibir lesung. Namun, ada pemandangan yang berbeda dari pembukaan Bulfest yang dibuka dengan tradisi Ngoncang tersebut, kebanyakan yang melakukan adalah ibu-ibu malahan tidak ada remaja yang ikut serta. Hal ini memang mengundang keprihatinan Ketut Srinadi sebab anak-anak bahkan remaja enggan belajar tradisi tersebut. “Anak-anak zaman sekarang susah sekali diajari, apalagi untuk hal yang seperti ini,” ungkapnya. dengan adanya Bulfest ini sangat diharapkan dapat mempertahankan dan membangkitkan kecintaan masyarakat terhadap kebudayaan dan tradisi sebagai cirri khas Buleleng. Pihaknya melalui sanggar Lega Sawitra juga melakukan upaya-upaya agar agar anak-anak belajar tradisi tersebut dengan ang wong Penghargaan penetapan way menggelar latihan secara rutin. -Wiwin budaya isan war i aga Desa Tejakula, seb
a r t u P a m h a R g n Agu
Story
Terlahir dari keluarga seniman dan figur masyarakat membuat Anak Agung Gede Agung Rahma Putra yang sering dipangil Gungde Rahma atau Agung Rahma, tidak berpangku tangan dalam upaya pelestarian seni budaya baik di tingkat lingkungan tempat tinggal sampai pada tingkat internasional. Ini terbukti dengan usaha dan kreativitas seni yang digeluti mulai dari duduk di bangku Sekolah Dasar sampai saat sekarang ini. Kegiatan yang dilakukannya antara lain adalah pernah sebagai penari dolanan, pemain drama gong anak-anak serta menarikan berbagai jenis tarian Bali maupun Jawa. Tari Legong Tombol di pembukaan Bulfest
Tradisi Ngoncang Warisan Budaya Agraris Tradisi Ngoncang atau memukul lesung merupakan salah satu tradisi yang ada di beberapa daerah di Buleleng yang saat ini keberadaannya mulai ditinggalkan. Umumnya Ngoncang akan dilakukan ketika menjelang perayaan hari raya Nyepi dan setiap kali akan dilakukan upacara Pengabenan. Selain sebagai warisan tradisi yang unik, ngoncang juga untuk melestarikan kebudayaan agraris atau kebudayaan petani yang kini makin punah seiring maraknya alih fungsi sawah menjadi pemukiman. Melihat kebudayaan dan tradisi kuno yang kian memprihatinkan, pemerintah menaruh perhatian besar guna mempertahankan hal tersebut. Tradisi Ngoncang ditampilkan kembali untuk menyemarakkan pembukaan Buleleng Festival 2016, Jumat (2/8). Tradisi ini ditampilkan di depan panggung utama di depan tugu Singa Ambara Raja yang melibatkan sepuluh sekaa yang berasal dari beberapa desa yang ada di Kabupaten Buleleng. Melakukan tradisi Ngoncang cukup dilakukan oleh delapan orang saja, dengan menggunakan alat yang disebut ketungan dan lu. Alat-alat yang digunakan pun merupakan alat yang sudah ada sejak zaman Belanda dan berusia ratusan tahun sehingga baik alat maupun tradisi ini memang sangat disakralkan. Uniknya lagi, tradisi ini hanya dilakukan oleh perempuan saja, baik anak-anak, remaja maupun yang sudah tua. Ketut Srinadi mengatakan tradisi Ngoncang merupakan tradisi yang sudah ada sejak nenek moyang yang dilakukan untuk mengucapkan rasa
Life
D
alam perkembangan kedewasaan, sampai saat ini Agung Rahma selalu mengemban berbagai macam kegiatan yang berhubungan dengan seni, baik yang berhubungan dengan kegiatan ngayah di Pura, pembina seni, penata tari, sampai pada ditugaskan sebagai duta seni Republik Indonesia ke berbagai negara seperti: RRC, Meksiko, Amerika Serikat, India, Jepang, Malaysia dan Singapura. Semua kegiatan ini dilakukan dengan penuh rasa pengabdian dan tanggung jawab terhadap kelangsungan seni budaya yang kita miliki. Semua itu dapat dilihat dari aktivitas berkeseniannya yang secara nyata dilakukan di lingkungan desa tempat tinggalnya. “Saya selalu menyempatkan diri untuk ngayah menarikan (nyungsung) tapakan Ida Bhatara sesuhunan, yaitu melalui nyolahang tapakan barong ketika upacara piodalan berlangsung. Selain itu secara berkesinambungan juga mengadakan pembinaan-pembinaan kepada generasi penerus dalam hal menarikan tari barong ataupun taritari yang lain,” ujar suami Ni Luh Wahyu Sri Noviani ini. Pada kegiatan Gelar Budaya yang diselengarakan oleh Kabupaten Badung, Agung Rahma juga turut berpartisipasi sebagai penata tari dalam
Edisi 913/ 8 - 14 agustus 2016
7
Pertahankan Jati Diri Bangsa Agung Rahma di Candi Sukuh Jawa Tengah
lomba beleganjur maupun tari kreasi anak-anak dengan hasil yang memuaskan. Di tingkat kabupaten, selalu terlibat dalam kegiatan seni seperti peserta dan pembina gong kebyar,
Anak Agung Gede Agung Rahma Putra
peserta festival barong dengan hasil sebagai juara I, Lomba busana adat Juara I. Di tingkat provinsi Bali kegiatan–kegiatan yang Agung Rama ikuti antara lain sebagai penari Kebyar Trompong (juara I), penari Palawakya (juara II), juru bapang Barong (juara I), serta sebagai partisipan dalam berbagai kegiatan seni bidang tari. Di tingkat Nasional ikut berkreatifitas sebagai peserta PEKSIMINAS di Jambi sebagai wakil dari Institut Seni Indonesia Denpasar dengan hasil sebagai juara I. Di tingkat internasional Agung Rama mendapatkan juara ke 3 dalam NEXTREAM 21 di Jepang dengan judul karya “Tari Lanang Wadon”. Keaktifannya di bidang kesenian ini menjadikannya pemuda pelopor bidang sosial, budaya, pariwisata dan bela Negara. Dosen Fakultas Pendidikan Seni dan Bahasa IKIP PGRI BALI��������� ini pernah diundang oleh The Music Circle untuk tinggal selama satu bulan di California dalam pembuatan Sendratari Ramayana di CALART Univercity pada bulan 16 Oktober 2009 sampai 18 November 2009. Selain menari, prestasi yang sempat Agung Rahma raih adalah sebagai juara 3 melukis tingkat sekolah dasar se-kabupaten badung di SLTPK Harapan th 2000, juara 2 Teruna Teruni Bali Tahun 2003, juara 1 Lomba busana adat ta-
hun 2003 dan 2006, sebagai pasukan delapan dalam Paskibra Kabupaten Gianyar Tahun 2005, dan menjadi tokoh utama dalam Film Drama Klasik yang berjudul “Manik Angkeran” oleh TVRI Denpasar tahun 2008. Agung Rahma juga pernah menjadi penari tetap di Puri Peliatan Ubud (Grup Gunung Sari) untuk tontonan para Wisatawan yaitu menarikan Tari Kebyar Terompong, dan Oleg Tamulilingan dari tahun 2004-2010. Aktivitas lainnya, ia pernah ditunjuk untuk mengikuti program pertukaran pelajar SMKI Bali-Yogyakarta dari bulan Oktober 2004 sampai Februari 2005. Dalam Program tersebut Agung Rahma banyak belajar tentang tari jawa diantaranya belajar tari klana topeng gagah dengan Sumardi yang merupakan guru SMKN 1 Kasihan Bantul ( SMKI Yogyakarta ), belajar Tari Klana topeng Gunung Sari dan Klana Alus Sri Suwela dengan Suwantoro yang merupakan guru SMKN 1 Kasihan, Bantul Yogyakata, dan belajar Tari Sekar Pudyastuti dengan Siti Sutiyah di Dalem Puja Kusuman Yogyakarta. Kegiatan rutin yang dilakukan mahasiswa program doktoral di ISI Surakarta ini sebagai pembina tari putra di Sanggar Tari Bali Yudhistira Puri Muncan Kapal, sebagai pendiri Komunitas Seni Kontemporer Pan-
cer Langit dan juga pendiri Pancer Traditional Archery Club tahun 2012. Tiap tahun ia selalu terlibat dalam mengkoreografi tari dalam event Pesta Kesenian Bali duta kabupaten Badung. Juga aktif membantu pemuda di Banjar ataupun di desa untuk kegiatan seni salah satunya membuat ogoh-ogoh. Selain itu kegiatan lainnya adalah perancang dan pembuat kostum tari dan karnaval. Beberapa karya kostumnya pernah mendapat predikat The Best National kostum baik di tingkat daerah, nasional ataupun international. Dalam dunia fotografi Agung Rahma pernah mendapatkan juara 1 Fotografi on the spot pada Garda Badung Festival 2015. Pria kelahiran 26 April 1988 ini dipercaya sebagai Koordinator bidang kesenian Karang Taruna Widya Dharma Bhakti Kelurahan Kapal, juga pernah mengabdikan diri sebagai pembina Ashram Gandi Puri dalam bidang seni budaya. “Di tengah negeri ini diguncang berbagai krisis termasuk krisis moralitas, maka sudah saatnya Prabhajnana Timur Raya (local genius) yang terpatri dalam konsep local-global dibangkitkan untuk mempertahankan jati diri bangsa serta untuk menapak masa depan emas mahasurgawi,” tegas Agung Rahma. –Ngurah Budi
Mozaik
Dapat Ide Langsung Kerjakan Tempat nongkrong menentukan kualitas karya. Kira-kira begitulah ungkapan yang biasa ditujukan untuk seseorang yang berkarya. Tempat dan komunitas serta lingkungan bergaul tidak jarang banyak memberikan pengaruh
bagi seseorang, khususnya dalam berkarya, setidaknya terjadi kontinuitas terhadap karya tersebut. Menilik Warung Jack yang berada di pojok bagian timur Taman Budaya NTB, yang selama ini dijadikan tempat nongkrong bagi seniman di Mataram, menjadi salah satu tempat bagi para seniman untuk meng ekspresikan karyanya dalam Pentas Selasa. “Setiap Selasa malam, kami menggelar pentas yang menampilkan musik, seni rupa, teater dan lainnya,” ungkap Agus Wintarno, pengelola pentas selasa Warung Jack. Warung sederhana ini selain untuk menggelar karya, juga kerap dijadikan ruang diskusi bagi para seniman yang kerap berkumpul untuk minum kopi dan bertemu sembari membuat rencana-
Warung Jack tidak hanya tempat menongkrong bagi seniman, melainkan juga bagi anak-anak mereka yang akhirnya juga dapat tampil di pentas selasa
rencana karya. Memang sebagai tempat nong krongnya seniman, Warung Jack tentu saja tidak menggelar pentas-pentas besar yang lengkap pada Pentas Selasanya, melainkan pentas sederhana namun bermakna. Bermakna guna menjaga daya hidup karya para seniman yang terlibat dalam pentas-pentas selasa yang selama ini digelar. “Setidaknya ini cara untuk menjaga daya hidup karya kawan-kawan seniman di Mataram,” kata Agus Win. Setiap hari, cukup ramai seniman datang berkumpul di warung kecil yang sederhana ini. Jika tidak sedang berkarya, tentulah pertemuan-pertemuan semacam ini adalah ajang silaturrahmi, bertemu untuk saling bicara dan saling melempar ide yang mengalir begitu saja.
“Tiba-tiba saja dapat ide dan langsung dikerjakan, misalnya diskusi tentang keroncong, ya akhirnya jadi Pentas Selasa bertema keroncong. Begitu juga dengan hal lain, bahkan pernah dilakukan pentas bagi mereka yang selama ini bukanlah vokalis namun akhirnya bisa tampil menyanyi dengan baik di Pentas Selasa,” kata Agus Win. Tentu saja dari ide tersebut kemudian diolah saat menongkrong dan yang tidak biasa bernyanyi harus latihan sebelum tampil. “Ternyata ada orang-orang yang selama ini dikenal tidak bisa menyanyi, dia bisa tampil oke pada Pentas Selasa,” ujar Agus Win. Inilah proses berkarya yang lahir dari sebuah tongkrongan ala seniman di Mataram. –Naniek I. Taufan
8
Bunda & Ananda
Edisi 913/ 8 - 14 agustus 2016
Kebersamaan Meraih Prestasi
Griya
Edisi 913/ 8 - 14 agustus 2016
Olahraga menembak termasuk olahraga yang berisiko karena menggunakan senjata. Kini olahraga me nembak tak hanya ditekuni orang dewasa, anak-anak sudah banyak yang tertarik untuk menekuni olahraga ini. “Asalkan mengikuti prosedur, tidak usah khawatir anak-anak menekuni olahraga menembak,” ungkap Helga Riftiana, salah satu atlet tembak Denpasar.
P
erempuan yang biasa disapa Helga Rif ini menuturkan dirinya mulai menekuni olahraga menembak setelah menikah. “Dulu saya hanya melihat ayah saya yang suka berburu. Dari kecil sudah biasa lihat senjata. Setelah menikah, baru mulai menekuni olahraga ini,” ujar istri MadeNgurah Bagus Sakaputera ini. Prestasi Helga di olahraga ini cukup lumayan. Ia menjadi bagian dari tim menembak Kota Denpasar di ajang Porprov Bali. “Impian selanjutntya bisa membela Bali di kancah nasional dan Indonesia di kancah internasional,” kata perempuan yang juga berprofesi sebagai model dan penulis novel ini.
Sebagai atlet, Helga tentu harus disiplin dalam latihan dan mengatur waktu di tengah kesibukan yang banyak. Begitu lomba, ia harus konsentrasi penuh. Petembak yang baru saja meraih juara I nomor 10 m air rifle match Kapolda Bali Cup 2016 ini mengaku tak punya ritual khusus. Ia hanya berdoa dan konsentrasi sebelum menembak. Hal yang sama ia tularkan ke putra keduanya, Arkananta Putera Saka yang menekuni olahraga menembak. Prestasi Nanta juga lumayan. Ia menjadi juara I nomor air pompa SD Kapolda Bali Cup 2016. Helga menuturkan, dulu ia juga mengajak putranya sulungnya, Arkana Putera Saka untuk
Olahraga Sesuai Proporsi
Dewi Indriani Salah satu cara untuk mencapai kesehatan yang optimal adalah dengan berolahraga secara teratur. Olahraga sangat besar dirasa manfaatnya bagi kebugaran tubuh, di antaranya memperlancar metabolisme, kesegaran pikiran serta menyehatkan sehingga mampu menambah usia. Hal tersebut yang disampaikan oleh Guru Olahraga SMA Negeri 4 Singaraja Nyoman Dewi Indriani, S.Pd. Dewi sapaan akrabnya menuturkan, olahraga dalam kehidupan sangat penting sekali dilakukan terkait dengan banyak manfaat yang didapatkan. Seiring waktu olahraga tidak hanya digunakan sebagai usaha untuk menjaga kebugaran badan melainkan sebagai gaya hidup untuk mengikuti perkembangan zaman. Menurutnya hal tersebut merupakan hal yang sah-sah saja tergantung individu masing-masing memaknai olahraga tersebut. “Masing-masing orang mungkin memiliki cara pandang
yang berbeda. Ada yang olahraga untuk mendapat prestasi, ada yang sebagai gaya hidup atau kebutuhan, dan olahraga untuk mendapat kebugaran,” jelasnya. Sebagai seorang yang mencintai dunia olahraga, Dewi memilih tenis lapangan sebagai favoritnya. Masing-masing individu akan memiliki kesenangan terhadap olahraga tertentu, dan pasti disertai dengan alasan tersendiri. Begitu juga dengannya, memilih tenis lapangan sebagai olahraga untuk pergaulan karena bisa bergaul dengan berbagai kalangan. Ia menambahkan selain itu pergaulan, olahraga ini juga sebagai ajang untuk memeroleh prestasi dengan ikut klub tenis dan mengikuti jadwal latihan secara rutin. Wanita kelahiran 11 Januari 1982 tersebut menuturkan olahraga yang baik itu adalah olahraga yang sesuai dengan proporsinya. “Apa pun jenis olahraganya dan berapa pun usianya tidak jadi masalah,” ungkapnya. Banyak rekannya yang berusia di atas 50 tahun masih mengikuti olahraga tenis asalkan latihannya yang disesuaikan. Begitu juga dengan perbedaan jenis kelamin, tidak memengaruhi jenis olahraga yang disenangi atau dilakukan. “Perempuan dan laki-laki sama saja, tidak ada aturan wanita harus ikut olahraga ini dan laki-laki olah raga ini,” ucapnya. Sebagai guru olahraga, ia juga selalu menyusunkan program-program yang disesuaikan dengan usia siswa-siswanya agar tidak melebihi proporsi. “Program untuk anakanak kami buatkan sesuai dengan usia baik latihan umum, latihan fisik, teknik, dan sebagainya yang diatur sesuai dengan proporsinya,” tandasnya. -Wiwin
Kreasi Pot Batu Dewa Nyoman Alit di antara pot-pot batu produksinya
Sekilas tampilannya seperti pot batu. Namun sesungguhnya pot tersebut terbuat dari cetakan campuran pasir dan semen, dan memang diproduksi agar mirirp seperti batu.
Helga dan Nanta saat latihan menembak
ikut latihan. Namun, Nanta yang terus bersemangat. “Awalnya saya mengajak mereka ikut latihan karena tidak ada yang jaga. Lama-lama mereka tertarik dan saya pun memberikan mereka kesempatan berlatih. Nanta yang semangat kapan latihan lagi. Akhirnya, sampai sekarang dia ikut menembak bersama saya,” ujar Helga. Kebersamaan ibu dan anak dalam menekuni olahraga ini memberikan nilai plus. Selain bisa mengawasi langsung putranya, Helga bisa memotivasi langsung. Misalnya, saat lomba, ia selalu mengatakan agar Nanta rileks dan anggap seperti latihan. Motivasi ini cukup ampuh untuk memberikan semangat bagi siswa kelas VI SD Cipta Dharma ini. Kedekatan dengan anak ini
juga membuat sang ibu tahu bagaimana karakter dan mood si anak. Kalau harus dimarahi, ia tahu kapan saatnya memarahi. Namun, tak ada paksaan dari orangtua terhadap hobi anak. Di sisi lain, kendala yang dihadapi soal waktu latihan. Kesibukan Nanta di sekolah apalagi menjelang ujian membuatnya harus pintar-pintar membagi waktu. “Impian Nanta sama seperti saya. Ingin menjadi atlet yang berprestasi di kancah nasional dan internasional,” tegasnya. Mengenai kekhawatiran penggunaan senjata, Helga tak risau. Sepanjang semua aturan diikuti, ia yakin tak ada masalah. Misalnya, senjata jangan diarahkan ke orang, moncong senjata arahkan ke atas, dan jangan melintas saat orang menembak. –Ngurah Budi
M
Helga Riftiana
Mendongeng Lima Menit
PERUT DAN TEMAN-TEMANNYA
Pe r u t p u n y a banyak teman. Di antara teman-teman itu, yang paling akrab adalah tangan, kaki, dan gigi. Mereka rajin bekerja gotongroyong, tak pernah irihati, apalagi Made Taro benci-membenci. Ketika beristirahat, si Tangan tiba-tiba berpikiran buruk. Ia sangat iri kepada si Perut. Sambil meremas-remas jari, ia mengeluh. “Enak ya jadi perut! Tidak bekerja tetapi mendapatkan makanan enak. Aku lelah setiap saat harus mengirim makanan melalui mulut.” “Benar katamu, Tangan!” Si Kaki menyahut. “Sejak dulu aku ingin mengajukan protes. Lihatlah, sepanjang waktu aku harus menopang si Perut. Aku membawanya ke mana-mana. Kakiku lesu, padahal ia enak-enak saja.” “Bukankah demikian juga aku?” celoteh si Gigi. “Setiap saat aku menggigit dan mengunyah makanan. Setelah halus, semua makanan itu dinikmati oleh si Perut. Apakah tidak ada jalan
lain untuk mendapatkan keadilan?” “Tentu ada, Teman-teman!” seru si Tangan. “Ayo kita mogok sehari! Biar dia tahu bagaimana pentingnya peranan kita!” Si Tangan, si Kaki dan si Gigi sangat kompak. Mereka tidak mau bekerja. Kaki tidak mau mengantar badan ke pasar untuk membeli bahan makanan. Tangan tidak mau mengantar makanan ke Gigi melalui mulut. Gigi juga demikian. Ia menyuruh mulut tidak membuka pintu, sehingga si Gigi tak perlu bekerja. Satu hari, dua hari, lewat. Tangan, Kaki, dan Gigi tampak lemah. Mereka diam, tidak mampu bergerak karena tidak punya tenaga. Mereka hanya bisa mendengar ocehan si Perut. “Beginilah jadinya kalau semangat gotongroyong dikotori oleh rasa malas dan irihati. Kamu mengira aku bermalas-malasan, padahal aku bekerja siang-malam. Apa yang kukerjakan bukan saja untukku, tetapi untuk kita sekalian.” Semenjak peristiwa itu, si Kaki rajin melangkah, si Tangan memasukkan makanan ke mulut, dan si Gigi pun mulai mengunyah. Setelah halus makanan itu dikirim ke perut. Semua merasa sehat, semua menyadari bahwa gotong-royong itu harus dipelihara dengan baik. (Aesop)
enurut pengerajinnya, Dewa Nyoman Alit (46), pot batu ini mulai diproduksinya 5 tahun terakhir, terinspirasi dari pot-pot batu (asli) yang tampilannya sangat natural dan klasik. “Harga pot batu asli bisa sampai jutaan rupiah. Karena itu, saya terinspirasi membuat pot batu dengan harga yang lebih terjangkau, namun tampilannya benar-benar seperti batu asli,” ucap pria asal Bangli yang menetap
di Batu Bulan, Gianyar ini. Mulailah ia mencoba-coba memproduksi pot dengan beragam bentuk dan ukuran. Bentuk pot yang agak ceper ia beri nama pot terakota. Yang lainnya bernama pot kendang dan pot lesung, disesuaikan dengan bentuknya yang menyerupai kendang dan lesung. Prosesnya pembuatannya cukup sederhana, campuran pasir dan semen dimasukkan ke dalam cetakan. Setelah setengah kering, proses kreatif dimulai untuk mendapatkan serat/karakter batu. “Permukaan pot dikerok dengan gergaji besi untuk mendapatkan permukaan tak rata dan menyerupai batu. Kemudian dicat hitam. Lama-kelamaan warna cat ini akan memudar, dan pot batu akan lebih menyerupai pot batu asli,” jelasnya. Pengerjaannya membutuhkan waktu empat hari. Dalam seminggu, Dewa Nyoman dibantu dua karyawan bisa memproduksi hingga 40 pot batu. Harga jualnya
berkisar antara Rp 75 ribu untuk ukuran kecil, hingga Rp 400 ribu untuk ukuran terbesar. Replika pot batu ini kemudian dipajang di stan Yunita Sari Garden di kawasan Jalan By Pass Ngurah Rai, Padanggalak, Denpasar. Peminatnya kebanyakan tamu kewarganegaraan Australia, Amerika, dan Cinegal (Afrika). Sementara orang lokal, dikatakannya lebih menyukai pot paras taro. –Inten Indrawati
17
Edukasi
Edisi 913/ 8 - 14 agustus 2016
Celoteh anak-anak Desa Sesela dan sekitar selalu terdengar mengisi halaman belakang rumah Asmuni AS. Mereka adalah murid sekolah gratis bernama Alang-alang School Lombok yang berada di Dusun Barat Kubur Desa Sesela Gunung Sari Lombok Barat. Sekolah gratis ini telah dibuka sejak tahun 2010 yang dimulai dengan 20 murid. Anak-anak berusia 3-7 tahun yang bersekolah di tempat tersebut kebanyakan adalah anak-anak yang kurang beruntung. “Banyak yang anak yatim, ada juga yang tidak memiliki orang tua karena bekerja ke luar negeri, ada juga yang orang tuanya bercerai dan mereka juga banyak yang hanya diasuh oleh nenek mereka yang kondisinya tidak mampu,” ungkap Asmuni.
H
ampir 100 anak yang setiap hari menerima pelajaran secara gratis dalam tiga kelas dengan empat orang guru yang mengajar juga dengan sukarela di PAUD ini. Anak-anak bersekolah di PAUD ini tampak berani dan percaya diri. Rupanya inilah salah satu pembelajaran yang diberikan kepada mereka. “Mereka harus percaya diri agar dapat mengembangkan bakatnya secara maksimal,” kata Asmuni. Selain itu, pelajaran budi pekerti juga tidak lupa diberikan kepada mereka. Di PAUD ini guru hanya menjadi fasilitator dan teman bagi anak. “Ketika anak tidak mampu menyelesaikan sendiri tugasnya, barulah guru akan membantu,” katanya. Selama ini anak-anak yang tidak mampu di dusun tersebut tiap hari hanya menghabiskan waktu dengan bermain di rumah. Setelah mereka sekolah di PAUD, pagi-pagi mereka sudah bersih dan rapi sehingga jiwa-jiwa mereka menjadi lebih bersemangat. Hal ini tidak hanya baik bagi anak melainkan
Orangtua Giliran Bersihkan “Sekolah” juga baik bagi orang tua dan keluarga di desa yang menyekolahkan anaknya di PAUD tersebut. Pagipagi mereka menjadi memiliki aktivitas yang bermanfaat terutama bagi anak-anak mereka dengan kegiatan memandikan dan menyiapkan kebutuhan sekolah bagi anak. Bekerja sama dengan salah seorang pengacara muda di Mataram, Imam Sofiyan, Asmuni yang sengaja menyiapkan halaman belakangan rumahnya yang tidak terlalu luas itu, demi untuk membantu pendidikan anak-anak kurang mampu ini. Menurut Asmuni, biaya untuk menjalankan sekolah gratis ini diperoleh dari Imam Sofiyan yang juga banyak menemukan dermawan-dermawan yang peduli pada sekolah ini. Mereka berkolaborasi untuk menyelamatkan pendidikan generasi mulai dari usia dini. Sekolah gratis ini dibuka berangkat dari keadaan dan kondisi masyarakat di desa tersebut yang tidak semua orangtua mampu menyekolahkan anaknya pada tingkat PAUD. “Kebanyakan anak-anak di Sesela tidak mampu sekolah di PAUD, padahal pendidikan usia dini sangat perlu untuk meletakkan dasar-dasar pendidikan bagi anak,” ungkapnya. Sekolah ini juga berupaya menemukan potensi anak sejak usia dini atas bakat yang dimilikinya. Asmuni yang menjadi Kepala Desa Sesela sejak tahun 2013 ini dengan sukarela memberikan tempat untuk anak-anak PAUD di halaman belakang rumahnya seluas 2 are ini sekaligus
Asmuni bersama guru dan murid PAUD Alang-alang School Lombok
ikut mengelolanya, sesungguhnya lebih karena keinginannya untuk ambil bagian dalam mencerdaskan anak-anak mulai dari lingkungan dusun dan desa. Ia juga mengajarkan orangtua di desa tersebut, khususnya yang anak-anaknya bersekolah di PAUD ini untuk mau berbagi dengan cara berpartisipasi dalam menjaga dan memelihara kebersihan lingkungan belajar anak. “Semua harus ambil bagian untuk bertanggung jawab dalam pendidikan anak-anak,” ungkapnya. Karena itulah PAUD gratis ini dikelola dengan cara kekeluargaan dan gotong royong pada apa yang seharusnya bisa dilakukan bersama-sama. Sejauh ini, orangtua hanya “menyiapkan” anak-anak mereka yang berusia 3-7 tahun untuk bersekolah secara gratis di PAUD ini tanpa dipungut biaya. Bahkan seluruh peralatan sekolah dan material yang dibutuhkan selama proses belajar dan mengajar juga disiapkan oleh PAUD ini. “Orangtua atau keluarga anak hanya kami mintakan kerjasamanya
untuk secara bergiliran dan terjadwal untuk membersihkan PAUD tiap hari agar anak-anak bisa belajar dengan nyaman,” ungkap Asmuni. Ini dilakukan juga agar para orangtua dan keluarga murid merasa memiliki PAUD tersebut. Apa yang diajarkan di sekolah ini, selain mengenal angka dan huruf serta pendidikan konvensional lainnya, juga diajarkan mulai dari hal-hal yang sangat sederhana, seperti mengajarkan kebersihan gigi dan badan serta kebersihan lingkungan. Meskipun mereka adalah anak-anak desa di PAUD ini mereka diajarkan untuk menjaga kualitas hidup dan dirinya sejak usia dini dengan pola hidup sehat. “Anak harus mandi dan sikat gigi serta mengerti membuang sampah pada tempatnya,” kata Asmuni. Anak-anak diberikan dua sikat gigi gratis. Satu dibawa pulang ke rumah masing-masing lengkap dengan odolnya dan satu lagi sikat gigi untuk mereka masing-masing di sekolah PAUD terse-
but. Pola hidup sehat ini rupanya tidak hanya diterapkan di PAUD ini melainkan juga sebagai Kepala Desa Sesela, ketika pertama kali menjadi Kades Asmuni telah mengajak masyarakatnya untuk melakukan gerakan bungkus sampah dalam plastik. Menurut Asmuni, gerakan ini dilakukan karena sebagai wilayah yang masuk dalam daerah wisata dulunya mengalami masalah serius soal sampah. Sesela merupakan pusat kerajinan ukir dan cukli khas Lombok yang memberikan kontribusi ekonomi yang baik bagi masyarakatnya. Di sini juga ada pasar seni yang merupakan salah satu tujuan wisata. “Maka itulah desa ini harus bersih,” ujarnya. Saat itulah ia mengajak seluruh masyarakat Sesela untuk terlibat dalam gerakan bungkus sampah dalam plastik untuk memudahkan para petugas sampah memindahkan sampah-sampah tersebut ke tempatnya dan tidak berserakan sehingga mengganggu kesehatan masyarakat dan lingkungan. “Selama dua minggu pertama saya menjadi kepala desa, kerjaan saya mengurus sampah,” ujarnya. Selama dua minggu itulah alat-alat berat bekerja tiada henti mengangkut sampah dari Desa Sesela. Biaya untuk mengangkut sampah ini, didapatkan dari pendekatan kepada warga yang mampu menyumbang seikhlasnya untuk kepentingan bersama ini. Hasilnya desa tersebut menjadi lebih bersih dari sebelumnya. -Naniek I. Taufan
Universitas Dwijendra Siap Bersaing di Era Global Tahun pendidikan 2016/2017 segera mulai.Universitas Dwijendrabersiap menyambut mahasiswa baru.Kampus yang berlokasi diJalan Kamboja No 17 Denpasar ini memiliki 5 fakultas, antara lain Fakultas Teknik, Fakultas Pertanian, Fakultas Ilmu Komunikasi, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, dan Fakultas Hukum serta Program Magister (S2) Ilmu Hukum. Rektor Universitas Dwijendra Dr. Putu Dyatmikawati, S.H.,M.Hum menjelaskan Universitas Dwijendra merupakan salah satu unit pendidikan yang berada di bawah naungan Yayasan Dwijendra Denpasar. “Embrio kelahiran Universitas Dwijendra berawal dari Sekolah Tinggi Arsitektur Tradisional Bali yang kemudianmenjadi Universitas Dwijendra pada 28 Juli 1982.Universitas Dwijendra mendapat pengakuan dari pemerintah berdasarkan KeputusanMenteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor: 0600/0/1984 tertanggal 28 November 1984,” ujarnya. Dyatmikawati mengatakan seiring perjalanan waktu, Universitas Dwijendra telah memiliki gedungsendiri, perpustakaan e-library, laboratorium Radio KomunitasDwijendra 107,7 FM, laboratorium PeradilanSemu, Studio Perancangan Arsitektur, Pusat Studi Subak dan Agribisnis, Pusat Studi dan Konsultasi Literasi Media, serta Pusat Studi dan Konsultasi Hukum Keluarga. “Kami juga membuka Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasardan Program Pertanian Agro Teknologi sehingga program studi di Universitas Dwijendra ada 10,” jelas mantan Dekan Fakultas Hukum UniversitasDwijendra ini.
man dengan suasana kemasyarakatan dilingkungan kampus. Selain Luray, ada juga Jennifer Merema dari Australia yang menjadi volunteer di FKIP untuk mengajar bahasa Inggris di SD dan SMP. “Kehadiran Luray dan Jennifer menunjukkan Universitas Dwijendra siap bersaing di kancah global. Kami tetap menjadi kampus yang berbasis budaya Bali namun bisa menerima kehadiran budaya lain. Saat ini, kami juga menekankanbagaimana sapaan dan senyum sebagai bagian
dari aktivitas. Menyapa, selamat pagi atau selamat siang atau selamat sore atau selamat malamdan Om Swastyastu merupakan hal yang sederhana tetapi itu menunjukkan kultur kekeluargaan yang menjadi ciri khascivitasakademikaUniversitasDwijendra,” tegas Dyatmikawati. Ia juga mengungkapkan selama tahun 2016, sudah ada dua Menteri yang berkunjung ke Universitas Dwijendra, yakni Menteri Agraria/ Kepala BPN serta Menteri Koperasi dan UMKM. -wah
Rektor Universitas Dwijendra bersama Luray Goddes Joy Dekan FKIP dan Kaprodi Sastra Inggris
Selain berbagai fasilitas dan program ini, Universitas Dwijendrajuga memberikan gratis biaya pendaftaran dan DPP selama 1 semester bagi lulusan SMA/SMK Dwijendra.Bagi yang berprestasi, banyak peluang untuk mendapatkan beasiswa.Pendaftaranmahasiswa baru gelombang I dilakukan 5 April-30 Juni 2016 dengan test 1 Juli 2016. Pendaftaran gelombang II dilaksanakan 4 Juli-18 Agustus 2016 dengan tes 19 Agustus 2016. MAHASISWA UCLA Di tengah persaingan era global, Universitas Dwijendra tetap memperkuat identitas sebagai kampus
yang bernuansa Bali. Penguatan identitas ini memberi dampak terhadap perhatian kampus luar Bali dan luar Indonesia. Hal ini dibuktikan dengan adanya mahasiswa UCLA Amerika Serikat yang mendapatbeasiswa untuk belajar bahasa Indonesia dan budaya di Universitas Dwijendra. Mahasiswa tersebut bernama Luray Goddes Joy yang berada di Universitas Dwijendra selama 6 minggu( 20 Juni-29 Juli 2016). Selama di Universitas Dwijendra, Luray didampingi Kaprodi Sastra Inggris FKIP Ni Putu Ferryanti, S.S., M.Hum.Luray belajar pencak silat dan tari Bali. Ia juga kagum dan nya-
Rektor meninjau kebun gumitir di daerah Karangasem
Universitas Dwijendra Menerima Mahasiswa Baru
Info lebih lanjut Jalan Kamboja No 17 Denpasar, telp (0361) 224383, 233974, faks (0361) 233974 Website: www.undwi.ac.id Email: universitasdwijendra@yahoo.co.id, info@undwi.ac.id
Dara
9
Edisi 913/ 8 - 14 agustus 2016
Antara Olahraga atau Entertainment Belakangan semakin banyak artis yang menekuni olahraga bukan sekadar untuk kesehatan tubuh tapi juga untuk bela diri. Di antaranya adalah Andien dan Julia Perez yang menekuni thai boxing, Julie Estele dan Prisia Nasution yang giat berlatih silat, Chelsea Olivia yang aktif muay thai. Tak ketinggalan Tya Ariestya yang menekuni taekwondo dan muay thai.
Tya Ariestya
16
T
api khusus untuk taekwondo, menurut Tya telah menekuninya sejak kecil, bahkan ia termasuk cukup berprestasi di olahraga ini dengan sejumlah medali yang berhasil didulangnya di berbagai pertandingan. Namun, meski mengaku cinta setengah mati pada taekwondo, pada akhirnya ia harus memilih, antara menjadi atlet atau serius di dunia entertainment. “Aku cinta banget sama taekwondo, itu sudah menjadi bagian dari hidup aku. Aku mulai latihan saat kelas dua SD, kelas lima SD sudah ikut pertandingan. Namun kemudian aku harus memilih antara menjadi atlet atau karier di dunia entertainment. Jadi taekwondo hanya sebagai hobi saja, latihan-latihan biasa bukan sebagai atlet,” ungkap mantan finalis Gadis Sampul 2001 yang baru saja melahirkan bayi pertamanya ini. Kecintaan wanita kelahiran 1986 terhadap taekwondo bisa terlihat dari prestasi yang didulang sebelum ia akhirnya memutuskan terjun ke dunia akting. Total medali yang berhasil diraih Tya dari berbagai kejuaraan yang diikutinya adalah delapan emas, dua perak dan satu perunggu. Tapi, kata pemeran film ‘I Love You Mas Bro’ ini, ia untuk sementara stop taekwondo dan muay thai karena hamil. “Dulu waktu kehamilan trisemester aku diharuskan mengurangi kegiatan yang berat-berat termasuk olahraga juga syuting yang berat. Tapi setelah trisemester aku boleh olahraga lagi tapi yang tidak berat, seperti senam hamil untuk memperlancar kelahiran,” tutur mantan Duta Taekwondo Indonesia, yang melahirkan bayi laki-laki yang diberi nama Muhammad Kanaka Ratinggang. –Diana Runtu
S
E
X DU
Joged merupakan salah satu tari pergaulan yang sangat popular di Bali, tidak terkecuali di Buleleng. gerakan yang lincah dan gamelan yang sederhana membuat joged menjadi tontonan yang sangat menarik untuk dinikmati. Tari ini memiliki pola-pola gerak yang bebas, lincah, dan dinamis. Gerak-gerak dasar tari ini diambil dari Legong maupun Kekebyaran, dan dibawakan secara improvisasi. Sayangnya saat ini stigma tarian porno untuk tarian joged menjadi tantangan terbesar bagi pecinta seni tari dan penari itu sendiri. Kondisi ini menyusul makin maraknya peredaran video layak sensor pentas joged di media sosial. Imbasnya, stigma itu jadi beban psikis bagi remaja putri yang hendak terjun menjadi penari joged. Sebagai sebuah kesenian rakyat, tari joged diiringi dengan barungan gamelan yang didominasi oleh instrumen-instrumen bambu. Di antara semua jenis joged yang ada di Bali, Joged Bumbunglah yang paling populer. Buleleng Festival 2016 sebagai ajang promosi sekaligus sebagai ajang untuk mengahapus kesan porno untuk tarian joged. Pembukaan Bulfest disemarakkan dengan penampilan joged massal yang diikuti sebanyak 16 sekaa dari berbagai sanggar yang ada di kabupaten Buleleng. salah satunya sekaa Gita Ulangun dari Desa Menyali menampilkan joged sakral yang merupakan hasil pemekaran dari tari Legong Keraton. Gede Redana selaku koordinator sekaa Gita Ulangun menuturkan jika pihaknya sangat memerhatikan gerakan-gerakan dari sang penari. “Ini kan joged sakral jadi penarinya harus sopan dan pengibingnya juga sopan, andaikata jika ada yang berminat mencari joged yang dengan goyang ngebor saya alihkan kepada yang lain saja,” tuturnya. Ni Luh Nita Kusuma Dewi pengelola sanggar Kusuma Dewi menuturkan dengan adanya Bulfest ini sangat baik untuk dapat mengembalikan citra joged yang saat ini negatif. Menurutnya saat ini tarian joged sudah bergeser dan kebablasan dari makna yang sebenarnya. “Sebenarnya joged itu tidak seperti yang dilihat seperti sekarang ini melainkan merupakan tarian sakral yang hanya dipentaskan pada hari tertentu saja,” papar Nita. Menurutnya ada beberapa hal yang harus dilakukan untuk menipis anggapan joged porno tersebut. Salah satunya adalah dari segi pakaian. “Pakaiannya harus tertutup jangan terlalu terbuka,” imbuhnya. Ia juga menambahkan jika dari sanggarnya sendiri sudah memiliki pakem-pakem sendiri dari tarian joged tersebut. -Wiwin
Kirim surat Anda ke Redaksi Tokoh dan cantumkan “Sex Edu” di amplop. Bisa juga dikirim ke redaksi@tokoh.co.id. Rubrik ini diasuh Asosiasi Seksologi Indonesia (ASI) Denpasar.
dr. Oka Negara, FIAS
Suka Sejenis
“Dok, aku sudah pernah beberapa kali pacaran dengan laki-laki, yang kujalani biasa saja, layaknya perempuan lain. Termasuk saat berhubungan seksual. Tetapi aku sekarang dekat dengan seorang perempuan teman sekantor. Bersamanya aku menikmati rasa sayang dan ada kenikmatan saat bercinta yang berbeda dan lebih dari yang sudah-sudah. Apakah menjalankan hubungan sejenis seperti ini masih wajar dan tidak berisiko, Dok?” (Eve, 23 th) Seseorang disebut berorientasi seks homoseksual jika hanya tertarik dan terangsang terhadap yang sesama jenis kelamin dan malah tidak tertarik dan tidak terangsang terhadap lawan jenis. Akibatnya, dia tidak tertarik untuk melakukan hubungan seksual dengan lawan jenis. Untuk yang sesama perempuan, lebih dikenal dengan istilah lesbian. Kalau dilihat dari kasus di atas, di mana sebelumnya dapat melakukan dan menikmati hubungan seksual dengan laki-laki yang dipacari, maka cinta sejenis yang kini dijalaninya sebenarnya bukanlah homoseksual murni, tetapi lebih cenderung dapat dianggap sebagai seorang biseksual. Atau orientasi seksual ganda, bisa kepada laki-laki dan perempuan. Masih banyak persepsi masyarakat
Hilangkan Stigma Tarian Porno
menyatakan homoseksualitas sebagai sebuah abnormalitas. Padahal itu keliru, homoseksual, biseksual dan heteroseksual adalah orientasi seksual. Itu artinya adalah sebuah pilihan, yang tergantung dari penyebabnya. Penyebabnya adalah beberapa faktor. Pertama, faktor biologi, berupa gangguan pada pusat seks di otak atau permasalahan genetik dan kromosomnya. Kedua, faktor psikodinamik, yaitu gangguan perkembangan psikoseksual pada masa kecil. Ketiga, faktor sosiokultural, yaitu kebiasaan yang berakar pada budaya setempat. Keempat, faktor lingkungan, yaitu akibat pengaruh pergaulan atau pengalaman pertama kejadian cinta sejenis. Dilihat dari kasus di atas, cinta sejenis yang disampaikan besar kemungkinan disebabkan oleh faktor lingkungan, dan bila ditanya apakah mungkin dapat diubah kembali menjadi heteroseksual, tentu saja tidak selalu mudah. Tergantung kemauan, kuatnya pengaruh lingkungan dan penting atau tidaknya diubah. Kalau penyebab lain, misalnya karena faktor sosiokultural mungkin dapat diubah kalau yang bersangkutan segera keluar atau meninggalkan budayanya, walau ini juga tidak mudah dilakukan karena faktor sosiokultural pada umumnya sudah
melekat sejak masa kecil. Kalau karena faktor biologi, misalnya kelainan genetik, sudah dapat dipastikan tidak mungkin dapat diubah menjadi heteroseksual. Sedang yang karena faktor psikodinamik juga hampir pasti tidak dapat diubah, kecuali didukung oleh kesadaran dan kemauan yang luar biasa. Jadi cinta sejenis itu sesungguhnya adalah lebih ke permasalahan pilihan hidup atau orientasi. Hanya saja, yang menjalaninya sering kali merasa akhirnya tidak nyaman karena menjadi berbeda dengan orang banyak. Akan terlihat menjadi aneh dan dicap mengalami kelainan oleh masyarakat banyak jika ketahuan, sehingga lebih banyak yang menyembunyikan orientasi seksualnya ini. Keinginan itu dapat hilang sama sekali atau tidak, sangat tergantung kepada apa penyebabnya tadi. Apakah cinta sejenis ini berbahaya? Sesungguhnya risikonya sama saja dengan hubungan cinta yang biasa, akan dapat muncul problem psikis dan emosional dari hubungan ini dan risiko medis seperti infeksi ringan hingga infeksi menular, jika dilakukan berganti pasangan, selama kontak seksual yang dilakukan tanpa proteksi kondom. Pasangan homoseksual biasanya melakukan hubungan seksual dengan melakukan oral seks dan petting (menggesek-gesekkan kelamin atau bercumbu berat). Jangan salah, oral seks dan petting juga bisa memunculkan luka
lecet atau mikrolesi yang menjadi jalan masuk virus, jamur maupun bakteri yang diidap oleh salah satu pihak diantaranya. Lalu, jika ada yang berniat buat meninggalkan aktivitas cinta sejenis, apa bisa? Kalau penyebabnya “hanya” karena pengaruh lingkungan, keadaan ini dapat diatasi. Selama ada kemauan kuat, pengaruh lingkungan juga bisa dikendalikan dan tetap berupaya mengontrol keinginan untuk konsisten tidak mencoba hubungan dengan sesama jenis. Sebaliknya, jika seandainya ingin dilanjutkan, apa bisa? Bisa saja, selama lingkungan sekitarnya tidak mempermasalahkan dan pelakunya tidak merugikan pihak lain. Karena saat ini sudah makin banyak masyarakat yang bisa tetap toleransi dan lebih menerima perilaku homoseksual. Seorang lesbian atau gay, tetap bisa sukses di profesi masing-masing yang digelutinya. Ada yang menjadi seniman, penyiar televisi, pengusaha, ataupun menteri. Bahkan di banyak negara saat ini ada kecenderungan perilaku homoseksual sudah bukan lagi sebuah aib, sebaliknya banyak yang kemudian muncul sebuah trend, akibat banyaknya artis yang secara eksplisist menunjukkan kehomoseksualan mereka. Karena cinta sejenis sesungguhnya lebih tepat adalah sebuah pilihan. Sekarang tinggal bagaimana kita menyikapinya. It`s your choice.
10
Kreasi
Edisi 913/ 8 - 14 agustus 2016
Bawa Visi Cinta Lingkungan Rare Kual merupakan nama yang sudah tidak asing lagi bagi masyarakat Bali dan Buleleng pada khususnya. Siapa sangka Bondres kocak asli Buleleng ini, dulunya merupakan kelompok tabuh yang mengisi acara dalam Pesta Kesenian Bali. Awalnya bernama play group sebab kelompok tabuh itu mendapat tema anak-anak, akan tetapi dalam sebuah tabuh harus menggunakan bahasa Bali maka nama diganti menjadi Rare Kual. Rare Kual artinya anak yang nakal dalam arti rasa ingin tahu yang besar dan kreatifnya.
D
alam acara KMB Food Truck Festival 2016 di lapangan Taman Kota, Lumintang, Denpasar, mereka menjadi salah satu bintang tamu. Penampilan Rare Kual di malam pertama event dalam rangka HUT ke-68 Bali Post ini berhasil menghibur penonton. Awal terbentuknya bondres Rare Kual, ketika para personilnya menjuarai sebuah perlombaan bondres di ISI (Institut Seni Indonesia) Denpasar. Nama Rare Kual terus menanjak setelah terekspos media sehingga sampai sekarang mereka masih tetap eksis di dunia hiburan. Rare Kual yang beranggotakan empat orang yaitu Ngurah Indra Wijaya (Ngurah Joni), Made Artana (Bojes), Made Sukantara Arpin (Ayuk Sintya Bella), dan Kadek Agus Ria Arnawan (Slowly) merasa jika nama Rare Kual memang begitu pas untuk bondresnya. “Itu kan nama grup tabuhnya tetapi akhirnya kami pakai karena terlalu manis untuk dibuang meskipun tabuhnya memang sudah tidak ada lagi,” ungkap Ngurah Joni. Perjalanan menuju kesuksesan saat ini memang tidak mudah,
Kebaya Kasual Siluet kebaya dengan beragam desain yang simpel menjadi pilihannya. Harmoni perpaduan antara tradisi dan unsur modern menjadi salah satu kekuatan rancangan milik Putu Swandewi atau yang dikenal dengan Dewi Anyar ini.
B
mentasan mereka selalu menyelipkan pesan-pesan mengenai lingkungan dengan kata lain mengangkat tema lingkungan. “Apapun jenis acaranya baik itu bersifat anak-anak atau tema yang ditentukan tetap kami membawa visi cinta lingkungan,” jelas Ngurah Joni yang akrab disapa Wah Rare Kual. Ia juga menambahkan sejak terbentuk 2008 silam, Rare Kual baru peka terhadap lingkungan sekitar empat tahun yang lalu. “Memang lambat sekali padahal kerusakan lingkungan itu sudah terjadi jauh-jauh hari,” ucapnya. Mengambil tema lingkungan dikarenakan para personilnya merasa hatinya terketuk melihat lingkungan yang kian hari kian tercemar akibat kurang kesadaran dari masyarakat. Meskipun
mengajak melalui hiburan namun mereka merasakan pengaruh yang sangat luar biasa. “Kami semua awalnya meboye dengan hal seperti itu namun ketika orang lain mau mendengarkan pesan yang kami sampaikan, sangat positif k e l i h a t a n nya,” ditambahkan Bojes. Mereka sangat berharap masyarakat dapat menyadari pentingnya menjaga lingkungan. Sebagai grup bondres yang terbilang baru dan sedang naik daun, mereka mengklaim bahwa memiliki cirri khas dibandingkan dengan grup bondres lainnya. Selain mengangkat tema lingkungan, mereka juga selalu menghadirkan hiburan-hiburan yang inovatif. “Isu-isu yang sedang menjadi trending topic di masyarakat itulah yang kami angkat dan kami balut dengan lebih kocak,” papar Wah. Kelebihan yang paling utama dalam grup ini adalah
masing-masing personilnya yang memiliki kelebihan yang berbeda. “Ada yang pintar main musik, ada yang pintar menyanyi, ada yang pintar main drum, dan ada yang pintar menari, sehingga kami dan mengkolaborasikan keunggulan-keunggulan tersebut,” tambahnya. Sempat dikatakan menjiplak karakter Ayuk dari grup yang lain, Rare Kual dengan tegas membantah jika karakter Ayuk dalam Rare Kual tidak sama dengan karakter grup lain. “Banyak perbedaan baik dari segi tapel dan juga keahlian dalam pementasan,” tegas Wah. Menurutnya karakter Ayuk banyak memiliki keahlian seperti bernyanyi, menari, dan bermain drum. Selain itu, dalam grup Rare Kual tidak membiarkan salah satu karakter lebih menonjol dibandingkan dengan karakter yang lain. “Kami tidak ingin salah satu dari kami mendominasi yang lain karena kami bentuk formasi yang memang satu sama lainnya saling membutuhkan,” lanjutnya. Begitu juga dalam pementasan, jika ada yang meminta Rare Kual tampil satu atau dua anggota saja mereka akan menolak. “Kami ini anggotanya empat orang ya kalau pentas harus empat orang juga,” tandasnya. -Wiwin
15
Edisi 913/ 8 - 14 agustus 2016
ahan kain sutra polos yang lembut dan nyaman berhasil dipadukan dengan kain prada dan endek oleh pemilik merek “Anyar” ini sebagai upaya mempertahankan unsur budaya lokalnya. Kebaya semi kimono, kebaya kutu baru, kebaya lengan setali adalah sederet koleksi kebaya kasual yang dipilihkannya untuk para pecinta fashion, khususnya para remaja yang ingin tampil gaya namun tetap segar sesuai usianya. Selanjutnya, untuk memper-
keluar dari manajemen Shanti Budaya membuat anggota Rare Kual berdiri sendiri. “Setelah kami keluar dari manajemen kami berkumpul dengan orang-orang pecinta seni dan terbagi menjadi Rare Kual bondres, kolaborasi, dan gamelan,”
tambahnya. Akan tetapi untuk Rare Kual kolaborasi dan gamelan belum terlalu jalan sehingga orang-orang hanya mengenal bondresnya saja. Bondres asli Buleleng ini mengaku bahwa dalam setiap pe-
Style
oleh penampilan yang berbeda, anggota ASBEST (Asosiasi Bordir, Endek dan Songket) Kota Denpasar ini membentuk kain padanan kebaya tersebut dengan beragam bentuk, misalnya lipatan kain ala Ali Baba. Selain itu sentuhan atau ciri khas seorang Swandewi pun tak pernah lepas, yakni disematkannya aksesori berupa anting,kalung dan gelang bertumpuk yang mampu menghadirkan kesan look gypsy style yang chic.. Begitu pula dengan gaya model
Putu Swandewi
busana lainnya, yang juga berbahan sama perpaduan sutra yang menjuntai dan kain endek. – Sri Ardhini
14
Jerawat atau istilah medisnya akne vulgaris merupakan keadaan kulit yang banyak kita jumpai di masyarakat, adalah suatu penyakit inflamasi kronik yang sering mengenai remaja dan dewasa. Di Indonesia penyakit ini menempati urutan tiga besar dari jumlah pengunjung Departemen Kulit dan Kelamin di rumah sakit maupun klinik dermatologi. “Jerawat ini bukanlah merupakan kondisi kesehatan yang serius. Jerawat bahkan dapat sembuh sendiri, akan tetapi jaringan parut yang ditimbulkan dapat bertahan lama dan dapat menimbulkan stres emosional, membuat seseorang merasa tidak percaya diri, marah, bahkan depresi,” ujar dr. AAA Laksmi Dewi B, Sp.KK.
J
Jelita
Edisi 913/ 8 - 14 agustus 2016
erawat sering digambarkan sebagai bencana pada anak remaja, meskipun dapat mengenai semua umur. Jerawat dapat terjadi pada hampir 80% - 100% populasi dan pada rentang usia bayi sampai orangtua dengan puncak tertinggi pada remaja usia 16-19 tahun
pada pria dan 14-17 tahun pada wanita. National Institute of Health Amerika menyatakan bahwa 80% dari populasi masyarakat usia 11-30 tahun akan mengalami kelainan kulit ini pada suatu waktu. Berbagai faktor diduga terlibat dalam pembentukan jerawat ini. Beberapa hal
Ada Apa dengan
Jerawat?
di antaranya adalah adanya sumbatan sel kulit mati pada pori-pori kulit, produksi kelenjar minyak yang berlebihan, peran kuman Propionebactrium acnes (P. acnes), peradangan, faktor-faktor eksternal meliputi stres, merokok, minum alkohol, makanan (diet) serta genetik, dimana semua faktor ini saling mempengaruhi. Telah teridentifikasi empat faktor pertama tersebut sebagai penyebab jerawat. Penyakit peradangan kronis ini ditandai dengan adanya kelainan kulit polimorfik yaitu komedo baik tertutup maupun terbuka, papul, pustul (bernanah), nodul dan kista di muka, leher, bahu, lengan atas, dada atas, dan punggung bagian atas. Jerawat dapat juga timbul di daerah lain yang mengandung kelenjar minyak seperti paha dan bokong. Jerawat ada beberaba jenis, di antaranya akne vulgaris, akne venenata, dan akne komedonal. Akne vulgaris adalah jerawat yang terjadi pada masa remaja akibat berbagai faktor pencetus. Variannya adalah akne tropikalis dan akne mekanik. Akne venenata terjadi akibat kontaktan eksternal kimiawi termasuk disini adalah akne kosmetik, akne pomade, dan akne deterjen. Sedangkan akne komedonal atau akne fisik adalah akibat agen fisik sinar matahari. Jerawat ini seringkali menggemaskan, sehingga orang akan kerap menyentuh bahkan memijit jerawat. Hal ini dapat memperparah keadaan karena dapat terjadi luka terbuka pada kulit yang rentan terhadap infeksi. Alhasil akan timbul bercak kehitaman (hiperpigmentasi) bahkan
terapi penunjang. . “Untuk pengobatan .KK p S B, i jerawat di area yang w De luas seperti dada, pungsmi k a L gung dan bokong dengan area AAA dr. muka tidak ada perbedaan. Hanya saja d a p a t untuk memudahkan aplikasinya maka terjadi jar- bentuk sediaannya adalah lotion atau obat ingan parut. Jaringan kocok,” jelas dr. Amy-panggilan akrab parut (skar) ini sulit dihilangkan, Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin Prima memerlukan tindakan lebih lanjut sep- Medika Hospital ini. erti dermabrasi atau derma roller. Untuk Pada prinsipnya perawatan wajah pengobatan jerawat derajat ringan- pada jerawat adalah mengurangi kadar sedang, pilihan utamanya adalah obat minyak pada kulit dan tetap menjaga intopikal yaitu obat yang dioleskan pada tegritas dan kelembaban kulit. Beberapa tempat jerawat. Obat topikal ini sebagai hal perlu diperhatikan pada perawatan terapi pemeliharaan untuk mencegah kulit orang dewasa di antaranya mengekekambuhan jerawat setelah sukses tahui kondisi dan jenis kulit, memilih dalam pengobatan sebelumnya. kosmetik yang cocok, serta melakukan Untuk jerawat yang berat digunakan perawatan secara tepat dan teratur. kombinasi obat topikal dan obat minum. Pemeliharaan kulit wajah berjeraBerbagai sediaan topikal untuk jerawat wat dapat dimulai dengan pemilihan antara lain meliputi pembersih kulit pembersih wajah, pelembab, tabir surya (cleanser), astringent, benzoil peroksida, yang tepat serta melakukan facial secara retinoid topikal, antibiotik topikal, asam berkala. Facial diindikasikan untuk jerasalisilat, sulfur, alpha-hydroxy acid (AHAs), wat komedonal dan non inflamasi (tanpa asam azeleat, nikotinamid dan resorsinol. peradangan) setiap 4-6 minggu sekali. Beberapa kombinasi pengobatan sitemik Dengan demikian akan diperoleh kulit (obat minum) antara lain antibiotik oral, yang sehat dan bisa menjalankan fungsinterapi hormonal, isotertinoin oral dan ya dengan baik. –Inten Indrawati
Bugar Faktor risiko selalu menjadi penyebab terjadinya serangan jantung. Beberapa faktor risiko, seperti hipertensi, merokok, diabetes, gangguan kolesterol, ditenggarai, sebagai faktor risiko pencetus serangan jantung. Patut diwaspadai, bagi pria pada usia di atas 40 tahun, dan di atas 50 tahun pada wanita. “Disamping faktor risiko yang sering kita temui, penyakit ini juga diwaspadai ketika peningkatan usia. Ironisnya, sebagian besar pasien tidak tahu factor risiko yang sedang membuntutinya,” ujar dokter ahli jantung RS Wangaya, dr. I Putu Parwata, Sp.PJ.
Edisi 913/ 8 - 14 agustus 2016
Faktor Risiko Serangan Jantung dapat Dicegah suai berat badan. Jangan lupakan, olahraga. Yang disarankan aerobik, gerakan tubuh berulang-ulang ritmis yang fungsinya merangsang fungsi kardiovaskuler dengan baik seperti jalan santai, jogging, naik sepeda, dan berenang. Sebaiknya dilakukan 30 menit tiap latihan, dan dilakukan tiga sampai 5 kali seminggu. Selain itu, pikiran dibuat santai, jangan dibuat tegang. Menurutnya, olahraga yang
I
a memberi contoh, penyakit hipertensi, jarang ada keluhan, ketika memeriksakan diri tahu-tahu, pasien tensinya sudah tinggi. Contoh lain, penyakit diabetes, kadang pasien tanpa keluhan, ternyata setelah dicek kadar gulanya tinggi. Pasien dengan gangguan kolesterol juga tidak ada keluhan. Inilah factor risiko, yang bisa meningkatkan seseorang itu mengalami serangan jantung. Namun, bagaimana mekanisme pembuluh darah jantung itu mengalami suatu gangguan? “Ini karena pengaruh dari kolesterol LDL yang kurang baik terhadap pembuluh darah. Pembuluh darah mengalami gangguan, mengakibatkan penyempitan pembuluh darah. Kalau suatu saat, ada yang mencetuskan, cenderung bisa terjadi plak lepas dan menyumbat pembuluh darah jantung. Sumbatan inilah yang akhirnya, mengakibatkan pasien dengan keluhan nyeri dada. Selain itu, terjadi perubahan pada rekaman jantungnya. Menurutnya, bukan hanya karena serangan jantung orang bisa meninggal mendadak, gangguan pada irama jantung juga bisa memicu mati mendadak. Pasien dengan kelainan bawaan seperti kelainan pada sistem listrik jantungnya, juga bisa mengakibatkan mati mendadak. Ini bisa terjadi pada pasien usia muda, yang tidak jelas memiliki faktor risiko.
11
dr. I Putu Parwata, Sp.PJ.
Nyeri dada pada pasien penyakit jantung memiliki ciri khas. Ada rasa berat di bawah tulang dada, seperti tertekan benda berat atau tersobek atau teriris pisau. Rasa ini tembus sampai ke punggung, leher, dan kadang diserta keluhan sesak, atau gagal jantung sehingga pasien mengalami sesak napas. “Sesak napas yang membedakan dengan penderita asma, pada riwayat penyakit sebelumnya. Biasanya, penyakit asma, sering terjadi berulang, dan pasien memiliki riwayat asma sebelumnya. Selain itu, bunyi sesak napas pada asma seperti bunyi mengik. Walaupun pasien gagal jantung juga ada yang sesak napas ngik, tapi jarang,” jelasnya. Untuk mencegah agar terhindar dari penyakit jantung, ada beberapa kiat sehat yang dianjurkan. “Sebagian besar penyakit pada saat ini, disebabkan karena gaya hidup karena itu, life style yang harus diperbaiki,” sarannya. Caranya, Pertama, mengurangi faktor risiko, seperti mengurangi merokok. Dari segi makanan, yang disarankan, gizi seimbang, seimbang, sehat, rendah lemak, dan tinggi serat. Makanan seimbang, artinya, cukup kebutuhan kalori, protein, vitamin, mineral se-
bisa merangsang serangan jantung, sifatnya kompetitif, karena merangsang andrenalin semakin tinggi dan membuat beban jantung semakin besar. Contohnya, futsal, tidak semua olahraga ritmis, kadang diperlukan berlari cepat, dan karena kompetitif inilah yang membuat respons simpatis semakin cepat. Namun, kata dia, bukan berarti semua orang bisa terkena serangan jantung ketika bermain
futsal. “Pada dasarnya, mereka yang mati mendadak sudah mempunyai faktor risiko penyakit jantung, tapi mereka tidak ngeh dan tetap berolahraga yang bisa memicu terjadinya serangan jantung,” katanya. Ia menyarankan, bagi masyarakat umum, pola hidup yang baik adalah hal yang paling baik dan penting terhadap pencegahan penyakit. Pada dasarnya, faktor risiko dapat dicegah. –Wirati Astiti
Sehat dengan Senam Jantung Sehat Senam jantung adalah olahraga yang baik untuk kesehatan jantung. Di Indonesia, senam jantung cukup populer. Bahkan senam jantung sudah dibuat sampai beberapa seri dan cocok digunakan semua orang, tua muda, laki-laki dan wanita. Menurut Ketua Klub Jantung Sehat Kota Denpasar, Prof. Mangku Karmaya, ketika otot bergerak, bukan hanya membuat sehat tapi juga bugar. Tensi juga bisa menjadi normal. Bugar itu berkaitan dengan otot sendi. Senam jantung sehat banyak manfaatnya, selain memperbaiki kinerja jantung, kekuatan jantung meningkat, dan mencegah agar terhindar dari penyakit jantung. Senam jantung sehat adalah olah raga yang disusun dengan selalu mengutamakan kemampuan jantung, gerakan otot besar dan kelenturan sendi, agar dapat memasukkan oksigen sebanyak mungkin ke dalam tubuh. Senam jantung sehat bertujuan merawat jantung dan pembuluh darah. Pembuluh darah yang sehat, membuat kerja jantung menjadi optimal, karena kedua organ tersebut bekerja saling berhubungan. Beberapa tahapan, dalam senam jantung sehat, pemanasan adalah mengondisikan fungsi fisik dengan cara meningkatkan suhu tubuh, meningkatkan mobilitas gerak persendian dan penguluran otot, agar siap menerima pembebanan pada tahap conditioning. Tahap conditioning terdiri dari bagian aerobik yakni gerak kontinu ritmis (20-30 menit) dan bagian penguatan atau tahanan: berisi gerak melawan beban. Pendinginan, mengembalikan fungsi fisik seperti keadaan awal secara bertahap yang ditandai dengan menurunnya suhu, berkurangnya keringat, frekuensi detak jantung kembali normal. Sebaiknya Anda
melakukan pemanasan dan pendinginan dalam melakukan senam jantung. Dengan tujuan menjaga tubuh agar tidak cedera dan denyut nadi dapat naik dan turun secara bertahap. Ia menyarankan, pengukuran nadi dilakukan sebelum memulai senam jantung sehat. Saat istirahat, denyut nadi normalnya 80 per menit. Bagi olahragawan, denyut nadinya bisa mencapai 60 per menit. “Kalau sedang istirahat, denyut nadinya berkisar 90-100 per menit, artinya, jantungnya ada masalah. Bisa karena pembuluh darah menyempit atau karena tidak pernah berolahraga,” ujarnya. Setelah melakukan pemanasan, kembali denyut nadi diukur, tidak boleh lebih dari 100, paling tidak 95. Kemudian masuk ke olahraga inti, 2030 menit. Denyut nadi kembali dihitung. Contohnya, usia 40 tahun, denyut nadinya, harus mencapai 160 per menit. Kalau belum mencapai itu, artinya, belum berolahraga yang benar. Saat pendinginan, denyut nadi lebihkurang sama dengan pemanasan. Senam jantung sehat di Bali sudah digiatkan sejak tahun 1990-an. Sampai saat ini rutin diadakan tiap Hari Minggu, pukul 6.30 sampai 7.30 di Lapangan Renon Denpasar. –Wirati Astiti
injeksi.online.com
12
Kuliner
Edisi 913/ 8 - 14 agustus 2016
Cantik dan Manis
Kreasi Paon
Masih dari kreasi chef Karmana, menampilkan tiga makanan manis yang juga cantik dalam penampilan.
Sesuai namanya, Paon, aura dapur khas Bali sudah tampak ketika masuk ke dalam restoran yang berlokasi di Swiss-Belhotel Petitenget ini. Pengunjung akan langsung bisa melihat, perlengkapan memasak yang digunakan dalam dapur masyarakat Bali. Menurut chef Karmana, makanan yang dijual pun disesuaikan dengan nama restorannya, yakni Paon, identik dengan masakan Bali, yang disajikan dengan gaya kekinian. Walaupun begitu, jika tamu menginginkan menu makanan Barat tetap dilayani. Untuk melengkapi Paon, rencananya, akan dipasang patung melapa-melapi, agar konsep dapur khas Bali lebih sempurna. Anda penasaran dengan menumenu yang disajikan, berikut resepnya. –Wirati Astiti
Siap Betutu
Edisi 913/ 8 - 14 agustus 2016
Bahan: 150 gr : 100 gr : 2 lembar : 150 gr : 1500 ml :
Chef Karmana
Siap Sambal Matah Megulung
beras ketan hitam beras ketan putih daun pandan gula pasir air
Cara membuat: - Masak beras ketan dengan 1500 ml air, beri tambahan daun pandan, aduk-aduk agar tidak menggumpal. Tambahkan
Bahan: 1 ekor : ayam kampung 15 buah : lombok merah besar 4 cm : jahe 6 cm : kunyit 2 cm : lengkuas 2 batang : sereh 1 bungkus: basa wangen (beli di pasar) 100 gr : bawang merah 50 gr bawang putih
20 gr : kemiri 10 gr : merica hitam 4 lembar : daun jeruk 2 batang : sereh Daun pisang secukupnya Cara membuat: - Bumbu dihaluskan, tumis sampai harum. Lumuri ayam dengan bumbu tadi, tambahkan daun salam, sereh, dan
bungkus ayam dengan daun pisang. - Kemudian bungkus lagi ayam dengan aluminium foil. Kukus 2 jam. - Setelah matang, panggang ayam sampai berwarna kecokelatan. Hidangkan ayam betutu dengan sisa bumbu tadi.
Calon Siap Jukut Gedang
Bahan: 150 gr : pepaya muda/ jukut gedang 2 lembar : daun jeruk 2 lembar : daun kemangi 200 gr : daging ayam 100 gr : basa genep Garam dan merica secukupnya
Cara Membuat : - Ayam dicincang, tambahkan basa genep. Kemudian diben-
tuk bulat dan direbus. Sisihkan. - Pepaya muda dipotong kotakkotak. - Tumis basa genep sampai harum. Masukkan air secukupnya, tambahkan daun jeruk, garam dan merica. Masukkan pulung an ayam tadi dan pepaya muda, aduk rata. - Setelah matang, sajikan dengan hiasan daun kemangi.
Menyambut Hari Kemerdekaan RI ke-71
Cara membuat: - Tumis basa genep sampng air secukupnya, tambahkan daun jeruk, daun salam, sereh. - Masukkan ikan yang sudah dibersihkan. Setelah mendidih, tambahkan garam. Siap sajikan.
DISKON 10%
: garam
Cara membuat: - Mangga diparut memanjang/ diserut. - Bumbu dicampur jadi satu, ulek sampai halus. - Aduk bumbu bersama mangga yang sudah diserut. - Ambil rice paper, rendam 5 menit di air, kemudian bungkus rujak dengan rice paper. Siap dihidangkan. –Wirati Astiti
Bebek Bumbu Acar Kuning
*untuk pembelanjaan di atas 250 ribu Berlaku mulai tanggal 8 s.d. 31 Agustus 2016
rapa Nikmati bebe !!! Menu Baru
Spaghetti Fettuccine Alfredo
Chinese & Balinese Food Hanya di...
Cafe Santai Berlaku mulai tanggal 15 s.d. 21 Agustus 2016
& Aneka Es Taiwan Menyambut Hari Kemerdekaan RI ke-71
DISKON 10%
*untuk pembelanjaan di atas 250 ribu
Murah Meriah & Bersih Cumi Saus Tiram
½ sdt
Ciri Khas Taiwan
Nikmati
ikan kakap yang sudah bersih, potong-potong basa genep sereh daun jeruk daun salam
rujak: : asam jawa : cabai rawi : gula bali : terasi
kemudian goreng sampai berwarna kecokelatan. - Hidangkan dengan saus vanilla.
Cafe Mie Santai
Jln. Raya Sesetan No. 188 Pesanggaran. Tlp: (0361) 725544 Buka pukul 08.00 s.d 22.00 Wita
1 ekor : 100 gr : 1 batang : 2 lembar : 2 lembar :
gula dan garam, aduk terus sampai rata. Sisihkan. - Ambil kulit lumpia, tuang bubur injin beberapa sendok. Gulung,
Bumbu ½ sdt 3 butir 3 sdm ½ sdt
Aneka Mie & Spaghetti
ati Nikm Hanya di...
Serabut Ice Cream
Jln. Raya Sesetan No. 293 Denpasar. Tlp. (0361) 8950526, 0811399214, 0811388698
- Campur tepung beras, air, gula, dan garam, aduk sampai rata. - Pisang dipotong-potong sesuai selera. Masukkan pisang ke dalam adonan, kemudian masukkan ke dalam air mendidih. Tunggu sampai mengapung, kemudian angkat. - Gulingkan pisang rai di atas kelapa parut dan sajikan bersama gula merah cair.
Bubur Injin Megulung
Bahan: Rice paper Mangga muda Mentimun
Cencunaicha
Cram Cam Segara Petitenget
Cara membuat: - Campur kelapa parut dengan garam lalu kukus.
Rujak Gula
Bahan: Ayam panggang Sambal matah Daun selada Rice paper
Cara membuat: - Ayam dipanggang, kemudian disuwir-suwir. - Daun selada dipotong-potong. - Campur ayam suwir dengan daun selada dan sambal matah. Rice paper rice paper. Gulung dan potong menjadi dua, sajikan.
Bahan: Pisang kepok 140 gr : tepung beras ½ sdt : garam 150 gr : kelapa parut 2 sdt : gula pasir 2 lembar : daun pandan
13
Bebek Bakar Padang
Sarwan Bahan: 1 ekor : bebek potong jadi empat bagian 1 batang : kayu manis 2 biji : cengkih 4 lembar : daun jeruk 1 lembar : daun kunyit 2 batang : serai, memarkan 500 ml : santan encer 100 ml : santan kental Minyak goreng, gula, garam, kaldu bubuk secukupnya. Bumbu yang Dihaluskan: 7 buah : bawang merah 3 siung : bawang putih
4 buah : cabe besar merah ½ sdt : ketumbar ½ sdm : adas manis ½ sdt : lada 2 ruas : jari jahe 2 ruas : lengkuas 3 ruas : jari kunyit bakar 4 butir : kemiri sangrai Cara Membuat: Tumis bumbu halus cengkih kayu manis, serai, daun jeruk, daun kunyit sampai harum dan matang. Masukkan bebek, bolak-balik hingga berubah warna lalu masukkan santan encer. Kecilkan api, masak sampai kuah tingal sedikit lalu masukkan gula, asam kandis, garam dan kaldu bubuk, lalu tambahkan santan kental, masak kem-
bali sampai kuah mulai mengering. angkat, dinginkan. Setelah dingin, lumuri permukaan bebek dengan sisa kuah yang agak menggering, kemudian bakar bolak-balik hingga matang, siap disajikan.
Bahan : 1 ekor : bebek, potong-potong menurut selera 1 sdm : air jeruk nipis 3 ruas : jari lengkuas, memarkan 2 lembar : daun salam 3 lembar : daun jeruk purut 500 ml : air 2 sdm : cuka 3 buah : mentimun, potong korek api 250 gr : wortel, iris korek api 20 buah : cabe rawit utuh Gula, garam, kaldu bubuk secukupnya Haluskan Bumbu : 5 siung : bawang putih 7 buah : bawang merah 2 ruas : kunyit bakar 4 butir : kemiri sangrai Cara Membuat : - Lumuri bebek dengan air jeruk nipis dan garam, diamkan selama 15 menit
lalu goreng bebek setengah matang, angkat, sisihkan. - Tumis bumbu halus sampai harum, masukkan lengkuas, daun jeruk, daun salam, cuka air, masukkan bebek. - Rebus sampai bebek lunak, lalu masukkan irisan wortel, mentimun, cabe rawit masak sampai matang dan bumbu meresap dan agak mengental. - Siap disajikan dengan taburan bawang putih goreng.
12
Kuliner
Edisi 913/ 8 - 14 agustus 2016
Cantik dan Manis
Kreasi Paon
Masih dari kreasi chef Karmana, menampilkan tiga makanan manis yang juga cantik dalam penampilan.
Sesuai namanya, Paon, aura dapur khas Bali sudah tampak ketika masuk ke dalam restoran yang berlokasi di Swiss-Belhotel Petitenget ini. Pengunjung akan langsung bisa melihat, perlengkapan memasak yang digunakan dalam dapur masyarakat Bali. Menurut chef Karmana, makanan yang dijual pun disesuaikan dengan nama restorannya, yakni Paon, identik dengan masakan Bali, yang disajikan dengan gaya kekinian. Walaupun begitu, jika tamu menginginkan menu makanan Barat tetap dilayani. Untuk melengkapi Paon, rencananya, akan dipasang patung melapa-melapi, agar konsep dapur khas Bali lebih sempurna. Anda penasaran dengan menumenu yang disajikan, berikut resepnya. –Wirati Astiti
Siap Betutu
Edisi 913/ 8 - 14 agustus 2016
Bahan: 150 gr : 100 gr : 2 lembar : 150 gr : 1500 ml :
Chef Karmana
Siap Sambal Matah Megulung
beras ketan hitam beras ketan putih daun pandan gula pasir air
Cara membuat: - Masak beras ketan dengan 1500 ml air, beri tambahan daun pandan, aduk-aduk agar tidak menggumpal. Tambahkan
Bahan: 1 ekor : ayam kampung 15 buah : lombok merah besar 4 cm : jahe 6 cm : kunyit 2 cm : lengkuas 2 batang : sereh 1 bungkus: basa wangen (beli di pasar) 100 gr : bawang merah 50 gr bawang putih
20 gr : kemiri 10 gr : merica hitam 4 lembar : daun jeruk 2 batang : sereh Daun pisang secukupnya Cara membuat: - Bumbu dihaluskan, tumis sampai harum. Lumuri ayam dengan bumbu tadi, tambahkan daun salam, sereh, dan
bungkus ayam dengan daun pisang. - Kemudian bungkus lagi ayam dengan aluminium foil. Kukus 2 jam. - Setelah matang, panggang ayam sampai berwarna kecokelatan. Hidangkan ayam betutu dengan sisa bumbu tadi.
Calon Siap Jukut Gedang
Bahan: 150 gr : pepaya muda/ jukut gedang 2 lembar : daun jeruk 2 lembar : daun kemangi 200 gr : daging ayam 100 gr : basa genep Garam dan merica secukupnya
Cara Membuat : - Ayam dicincang, tambahkan basa genep. Kemudian diben-
tuk bulat dan direbus. Sisihkan. - Pepaya muda dipotong kotakkotak. - Tumis basa genep sampai harum. Masukkan air secukupnya, tambahkan daun jeruk, garam dan merica. Masukkan pulung an ayam tadi dan pepaya muda, aduk rata. - Setelah matang, sajikan dengan hiasan daun kemangi.
Menyambut Hari Kemerdekaan RI ke-71
Cara membuat: - Tumis basa genep sampng air secukupnya, tambahkan daun jeruk, daun salam, sereh. - Masukkan ikan yang sudah dibersihkan. Setelah mendidih, tambahkan garam. Siap sajikan.
DISKON 10%
: garam
Cara membuat: - Mangga diparut memanjang/ diserut. - Bumbu dicampur jadi satu, ulek sampai halus. - Aduk bumbu bersama mangga yang sudah diserut. - Ambil rice paper, rendam 5 menit di air, kemudian bungkus rujak dengan rice paper. Siap dihidangkan. –Wirati Astiti
Bebek Bumbu Acar Kuning
*untuk pembelanjaan di atas 250 ribu Berlaku mulai tanggal 8 s.d. 31 Agustus 2016
rapa Nikmati bebe !!! Menu Baru
Spaghetti Fettuccine Alfredo
Chinese & Balinese Food Hanya di...
Cafe Santai Berlaku mulai tanggal 15 s.d. 21 Agustus 2016
& Aneka Es Taiwan Menyambut Hari Kemerdekaan RI ke-71
DISKON 10%
*untuk pembelanjaan di atas 250 ribu
Murah Meriah & Bersih Cumi Saus Tiram
½ sdt
Ciri Khas Taiwan
Nikmati
ikan kakap yang sudah bersih, potong-potong basa genep sereh daun jeruk daun salam
rujak: : asam jawa : cabai rawi : gula bali : terasi
kemudian goreng sampai berwarna kecokelatan. - Hidangkan dengan saus vanilla.
Cafe Mie Santai
Jln. Raya Sesetan No. 188 Pesanggaran. Tlp: (0361) 725544 Buka pukul 08.00 s.d 22.00 Wita
1 ekor : 100 gr : 1 batang : 2 lembar : 2 lembar :
gula dan garam, aduk terus sampai rata. Sisihkan. - Ambil kulit lumpia, tuang bubur injin beberapa sendok. Gulung,
Bumbu ½ sdt 3 butir 3 sdm ½ sdt
Aneka Mie & Spaghetti
ati Nikm Hanya di...
Serabut Ice Cream
Jln. Raya Sesetan No. 293 Denpasar. Tlp. (0361) 8950526, 0811399214, 0811388698
- Campur tepung beras, air, gula, dan garam, aduk sampai rata. - Pisang dipotong-potong sesuai selera. Masukkan pisang ke dalam adonan, kemudian masukkan ke dalam air mendidih. Tunggu sampai mengapung, kemudian angkat. - Gulingkan pisang rai di atas kelapa parut dan sajikan bersama gula merah cair.
Bubur Injin Megulung
Bahan: Rice paper Mangga muda Mentimun
Cencunaicha
Cram Cam Segara Petitenget
Cara membuat: - Campur kelapa parut dengan garam lalu kukus.
Rujak Gula
Bahan: Ayam panggang Sambal matah Daun selada Rice paper
Cara membuat: - Ayam dipanggang, kemudian disuwir-suwir. - Daun selada dipotong-potong. - Campur ayam suwir dengan daun selada dan sambal matah. Rice paper rice paper. Gulung dan potong menjadi dua, sajikan.
Bahan: Pisang kepok 140 gr : tepung beras ½ sdt : garam 150 gr : kelapa parut 2 sdt : gula pasir 2 lembar : daun pandan
13
Bebek Bakar Padang
Sarwan Bahan: 1 ekor : bebek potong jadi empat bagian 1 batang : kayu manis 2 biji : cengkih 4 lembar : daun jeruk 1 lembar : daun kunyit 2 batang : serai, memarkan 500 ml : santan encer 100 ml : santan kental Minyak goreng, gula, garam, kaldu bubuk secukupnya. Bumbu yang Dihaluskan: 7 buah : bawang merah 3 siung : bawang putih
4 buah : cabe besar merah ½ sdt : ketumbar ½ sdm : adas manis ½ sdt : lada 2 ruas : jari jahe 2 ruas : lengkuas 3 ruas : jari kunyit bakar 4 butir : kemiri sangrai Cara Membuat: Tumis bumbu halus cengkih kayu manis, serai, daun jeruk, daun kunyit sampai harum dan matang. Masukkan bebek, bolak-balik hingga berubah warna lalu masukkan santan encer. Kecilkan api, masak sampai kuah tingal sedikit lalu masukkan gula, asam kandis, garam dan kaldu bubuk, lalu tambahkan santan kental, masak kem-
bali sampai kuah mulai mengering. angkat, dinginkan. Setelah dingin, lumuri permukaan bebek dengan sisa kuah yang agak menggering, kemudian bakar bolak-balik hingga matang, siap disajikan.
Bahan : 1 ekor : bebek, potong-potong menurut selera 1 sdm : air jeruk nipis 3 ruas : jari lengkuas, memarkan 2 lembar : daun salam 3 lembar : daun jeruk purut 500 ml : air 2 sdm : cuka 3 buah : mentimun, potong korek api 250 gr : wortel, iris korek api 20 buah : cabe rawit utuh Gula, garam, kaldu bubuk secukupnya Haluskan Bumbu : 5 siung : bawang putih 7 buah : bawang merah 2 ruas : kunyit bakar 4 butir : kemiri sangrai Cara Membuat : - Lumuri bebek dengan air jeruk nipis dan garam, diamkan selama 15 menit
lalu goreng bebek setengah matang, angkat, sisihkan. - Tumis bumbu halus sampai harum, masukkan lengkuas, daun jeruk, daun salam, cuka air, masukkan bebek. - Rebus sampai bebek lunak, lalu masukkan irisan wortel, mentimun, cabe rawit masak sampai matang dan bumbu meresap dan agak mengental. - Siap disajikan dengan taburan bawang putih goreng.
14
Jerawat atau istilah medisnya akne vulgaris merupakan keadaan kulit yang banyak kita jumpai di masyarakat, adalah suatu penyakit inflamasi kronik yang sering mengenai remaja dan dewasa. Di Indonesia penyakit ini menempati urutan tiga besar dari jumlah pengunjung Departemen Kulit dan Kelamin di rumah sakit maupun klinik dermatologi. “Jerawat ini bukanlah merupakan kondisi kesehatan yang serius. Jerawat bahkan dapat sembuh sendiri, akan tetapi jaringan parut yang ditimbulkan dapat bertahan lama dan dapat menimbulkan stres emosional, membuat seseorang merasa tidak percaya diri, marah, bahkan depresi,” ujar dr. AAA Laksmi Dewi B, Sp.KK.
J
Jelita
Edisi 913/ 8 - 14 agustus 2016
erawat sering digambarkan sebagai bencana pada anak remaja, meskipun dapat mengenai semua umur. Jerawat dapat terjadi pada hampir 80% - 100% populasi dan pada rentang usia bayi sampai orangtua dengan puncak tertinggi pada remaja usia 16-19 tahun
pada pria dan 14-17 tahun pada wanita. National Institute of Health Amerika menyatakan bahwa 80% dari populasi masyarakat usia 11-30 tahun akan mengalami kelainan kulit ini pada suatu waktu. Berbagai faktor diduga terlibat dalam pembentukan jerawat ini. Beberapa hal
Ada Apa dengan
Jerawat?
di antaranya adalah adanya sumbatan sel kulit mati pada pori-pori kulit, produksi kelenjar minyak yang berlebihan, peran kuman Propionebactrium acnes (P. acnes), peradangan, faktor-faktor eksternal meliputi stres, merokok, minum alkohol, makanan (diet) serta genetik, dimana semua faktor ini saling mempengaruhi. Telah teridentifikasi empat faktor pertama tersebut sebagai penyebab jerawat. Penyakit peradangan kronis ini ditandai dengan adanya kelainan kulit polimorfik yaitu komedo baik tertutup maupun terbuka, papul, pustul (bernanah), nodul dan kista di muka, leher, bahu, lengan atas, dada atas, dan punggung bagian atas. Jerawat dapat juga timbul di daerah lain yang mengandung kelenjar minyak seperti paha dan bokong. Jerawat ada beberaba jenis, di antaranya akne vulgaris, akne venenata, dan akne komedonal. Akne vulgaris adalah jerawat yang terjadi pada masa remaja akibat berbagai faktor pencetus. Variannya adalah akne tropikalis dan akne mekanik. Akne venenata terjadi akibat kontaktan eksternal kimiawi termasuk disini adalah akne kosmetik, akne pomade, dan akne deterjen. Sedangkan akne komedonal atau akne fisik adalah akibat agen fisik sinar matahari. Jerawat ini seringkali menggemaskan, sehingga orang akan kerap menyentuh bahkan memijit jerawat. Hal ini dapat memperparah keadaan karena dapat terjadi luka terbuka pada kulit yang rentan terhadap infeksi. Alhasil akan timbul bercak kehitaman (hiperpigmentasi) bahkan
terapi penunjang. . “Untuk pengobatan .KK p S B, i jerawat di area yang w De luas seperti dada, pungsmi k a L gung dan bokong dengan area AAA dr. muka tidak ada perbedaan. Hanya saja d a p a t untuk memudahkan aplikasinya maka terjadi jar- bentuk sediaannya adalah lotion atau obat ingan parut. Jaringan kocok,” jelas dr. Amy-panggilan akrab parut (skar) ini sulit dihilangkan, Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin Prima memerlukan tindakan lebih lanjut sep- Medika Hospital ini. erti dermabrasi atau derma roller. Untuk Pada prinsipnya perawatan wajah pengobatan jerawat derajat ringan- pada jerawat adalah mengurangi kadar sedang, pilihan utamanya adalah obat minyak pada kulit dan tetap menjaga intopikal yaitu obat yang dioleskan pada tegritas dan kelembaban kulit. Beberapa tempat jerawat. Obat topikal ini sebagai hal perlu diperhatikan pada perawatan terapi pemeliharaan untuk mencegah kulit orang dewasa di antaranya mengekekambuhan jerawat setelah sukses tahui kondisi dan jenis kulit, memilih dalam pengobatan sebelumnya. kosmetik yang cocok, serta melakukan Untuk jerawat yang berat digunakan perawatan secara tepat dan teratur. kombinasi obat topikal dan obat minum. Pemeliharaan kulit wajah berjeraBerbagai sediaan topikal untuk jerawat wat dapat dimulai dengan pemilihan antara lain meliputi pembersih kulit pembersih wajah, pelembab, tabir surya (cleanser), astringent, benzoil peroksida, yang tepat serta melakukan facial secara retinoid topikal, antibiotik topikal, asam berkala. Facial diindikasikan untuk jerasalisilat, sulfur, alpha-hydroxy acid (AHAs), wat komedonal dan non inflamasi (tanpa asam azeleat, nikotinamid dan resorsinol. peradangan) setiap 4-6 minggu sekali. Beberapa kombinasi pengobatan sitemik Dengan demikian akan diperoleh kulit (obat minum) antara lain antibiotik oral, yang sehat dan bisa menjalankan fungsinterapi hormonal, isotertinoin oral dan ya dengan baik. –Inten Indrawati
Bugar Faktor risiko selalu menjadi penyebab terjadinya serangan jantung. Beberapa faktor risiko, seperti hipertensi, merokok, diabetes, gangguan kolesterol, ditenggarai, sebagai faktor risiko pencetus serangan jantung. Patut diwaspadai, bagi pria pada usia di atas 40 tahun, dan di atas 50 tahun pada wanita. “Disamping faktor risiko yang sering kita temui, penyakit ini juga diwaspadai ketika peningkatan usia. Ironisnya, sebagian besar pasien tidak tahu factor risiko yang sedang membuntutinya,” ujar dokter ahli jantung RS Wangaya, dr. I Putu Parwata, Sp.PJ.
Edisi 913/ 8 - 14 agustus 2016
Faktor Risiko Serangan Jantung dapat Dicegah suai berat badan. Jangan lupakan, olahraga. Yang disarankan aerobik, gerakan tubuh berulang-ulang ritmis yang fungsinya merangsang fungsi kardiovaskuler dengan baik seperti jalan santai, jogging, naik sepeda, dan berenang. Sebaiknya dilakukan 30 menit tiap latihan, dan dilakukan tiga sampai 5 kali seminggu. Selain itu, pikiran dibuat santai, jangan dibuat tegang. Menurutnya, olahraga yang
I
a memberi contoh, penyakit hipertensi, jarang ada keluhan, ketika memeriksakan diri tahu-tahu, pasien tensinya sudah tinggi. Contoh lain, penyakit diabetes, kadang pasien tanpa keluhan, ternyata setelah dicek kadar gulanya tinggi. Pasien dengan gangguan kolesterol juga tidak ada keluhan. Inilah factor risiko, yang bisa meningkatkan seseorang itu mengalami serangan jantung. Namun, bagaimana mekanisme pembuluh darah jantung itu mengalami suatu gangguan? “Ini karena pengaruh dari kolesterol LDL yang kurang baik terhadap pembuluh darah. Pembuluh darah mengalami gangguan, mengakibatkan penyempitan pembuluh darah. Kalau suatu saat, ada yang mencetuskan, cenderung bisa terjadi plak lepas dan menyumbat pembuluh darah jantung. Sumbatan inilah yang akhirnya, mengakibatkan pasien dengan keluhan nyeri dada. Selain itu, terjadi perubahan pada rekaman jantungnya. Menurutnya, bukan hanya karena serangan jantung orang bisa meninggal mendadak, gangguan pada irama jantung juga bisa memicu mati mendadak. Pasien dengan kelainan bawaan seperti kelainan pada sistem listrik jantungnya, juga bisa mengakibatkan mati mendadak. Ini bisa terjadi pada pasien usia muda, yang tidak jelas memiliki faktor risiko.
11
dr. I Putu Parwata, Sp.PJ.
Nyeri dada pada pasien penyakit jantung memiliki ciri khas. Ada rasa berat di bawah tulang dada, seperti tertekan benda berat atau tersobek atau teriris pisau. Rasa ini tembus sampai ke punggung, leher, dan kadang diserta keluhan sesak, atau gagal jantung sehingga pasien mengalami sesak napas. “Sesak napas yang membedakan dengan penderita asma, pada riwayat penyakit sebelumnya. Biasanya, penyakit asma, sering terjadi berulang, dan pasien memiliki riwayat asma sebelumnya. Selain itu, bunyi sesak napas pada asma seperti bunyi mengik. Walaupun pasien gagal jantung juga ada yang sesak napas ngik, tapi jarang,” jelasnya. Untuk mencegah agar terhindar dari penyakit jantung, ada beberapa kiat sehat yang dianjurkan. “Sebagian besar penyakit pada saat ini, disebabkan karena gaya hidup karena itu, life style yang harus diperbaiki,” sarannya. Caranya, Pertama, mengurangi faktor risiko, seperti mengurangi merokok. Dari segi makanan, yang disarankan, gizi seimbang, seimbang, sehat, rendah lemak, dan tinggi serat. Makanan seimbang, artinya, cukup kebutuhan kalori, protein, vitamin, mineral se-
bisa merangsang serangan jantung, sifatnya kompetitif, karena merangsang andrenalin semakin tinggi dan membuat beban jantung semakin besar. Contohnya, futsal, tidak semua olahraga ritmis, kadang diperlukan berlari cepat, dan karena kompetitif inilah yang membuat respons simpatis semakin cepat. Namun, kata dia, bukan berarti semua orang bisa terkena serangan jantung ketika bermain
futsal. “Pada dasarnya, mereka yang mati mendadak sudah mempunyai faktor risiko penyakit jantung, tapi mereka tidak ngeh dan tetap berolahraga yang bisa memicu terjadinya serangan jantung,” katanya. Ia menyarankan, bagi masyarakat umum, pola hidup yang baik adalah hal yang paling baik dan penting terhadap pencegahan penyakit. Pada dasarnya, faktor risiko dapat dicegah. –Wirati Astiti
Sehat dengan Senam Jantung Sehat Senam jantung adalah olahraga yang baik untuk kesehatan jantung. Di Indonesia, senam jantung cukup populer. Bahkan senam jantung sudah dibuat sampai beberapa seri dan cocok digunakan semua orang, tua muda, laki-laki dan wanita. Menurut Ketua Klub Jantung Sehat Kota Denpasar, Prof. Mangku Karmaya, ketika otot bergerak, bukan hanya membuat sehat tapi juga bugar. Tensi juga bisa menjadi normal. Bugar itu berkaitan dengan otot sendi. Senam jantung sehat banyak manfaatnya, selain memperbaiki kinerja jantung, kekuatan jantung meningkat, dan mencegah agar terhindar dari penyakit jantung. Senam jantung sehat adalah olah raga yang disusun dengan selalu mengutamakan kemampuan jantung, gerakan otot besar dan kelenturan sendi, agar dapat memasukkan oksigen sebanyak mungkin ke dalam tubuh. Senam jantung sehat bertujuan merawat jantung dan pembuluh darah. Pembuluh darah yang sehat, membuat kerja jantung menjadi optimal, karena kedua organ tersebut bekerja saling berhubungan. Beberapa tahapan, dalam senam jantung sehat, pemanasan adalah mengondisikan fungsi fisik dengan cara meningkatkan suhu tubuh, meningkatkan mobilitas gerak persendian dan penguluran otot, agar siap menerima pembebanan pada tahap conditioning. Tahap conditioning terdiri dari bagian aerobik yakni gerak kontinu ritmis (20-30 menit) dan bagian penguatan atau tahanan: berisi gerak melawan beban. Pendinginan, mengembalikan fungsi fisik seperti keadaan awal secara bertahap yang ditandai dengan menurunnya suhu, berkurangnya keringat, frekuensi detak jantung kembali normal. Sebaiknya Anda
melakukan pemanasan dan pendinginan dalam melakukan senam jantung. Dengan tujuan menjaga tubuh agar tidak cedera dan denyut nadi dapat naik dan turun secara bertahap. Ia menyarankan, pengukuran nadi dilakukan sebelum memulai senam jantung sehat. Saat istirahat, denyut nadi normalnya 80 per menit. Bagi olahragawan, denyut nadinya bisa mencapai 60 per menit. “Kalau sedang istirahat, denyut nadinya berkisar 90-100 per menit, artinya, jantungnya ada masalah. Bisa karena pembuluh darah menyempit atau karena tidak pernah berolahraga,” ujarnya. Setelah melakukan pemanasan, kembali denyut nadi diukur, tidak boleh lebih dari 100, paling tidak 95. Kemudian masuk ke olahraga inti, 2030 menit. Denyut nadi kembali dihitung. Contohnya, usia 40 tahun, denyut nadinya, harus mencapai 160 per menit. Kalau belum mencapai itu, artinya, belum berolahraga yang benar. Saat pendinginan, denyut nadi lebihkurang sama dengan pemanasan. Senam jantung sehat di Bali sudah digiatkan sejak tahun 1990-an. Sampai saat ini rutin diadakan tiap Hari Minggu, pukul 6.30 sampai 7.30 di Lapangan Renon Denpasar. –Wirati Astiti
injeksi.online.com
10
Kreasi
Edisi 913/ 8 - 14 agustus 2016
Bawa Visi Cinta Lingkungan Rare Kual merupakan nama yang sudah tidak asing lagi bagi masyarakat Bali dan Buleleng pada khususnya. Siapa sangka Bondres kocak asli Buleleng ini, dulunya merupakan kelompok tabuh yang mengisi acara dalam Pesta Kesenian Bali. Awalnya bernama play group sebab kelompok tabuh itu mendapat tema anak-anak, akan tetapi dalam sebuah tabuh harus menggunakan bahasa Bali maka nama diganti menjadi Rare Kual. Rare Kual artinya anak yang nakal dalam arti rasa ingin tahu yang besar dan kreatifnya.
D
alam acara KMB Food Truck Festival 2016 di lapangan Taman Kota, Lumintang, Denpasar, mereka menjadi salah satu bintang tamu. Penampilan Rare Kual di malam pertama event dalam rangka HUT ke-68 Bali Post ini berhasil menghibur penonton. Awal terbentuknya bondres Rare Kual, ketika para personilnya menjuarai sebuah perlombaan bondres di ISI (Institut Seni Indonesia) Denpasar. Nama Rare Kual terus menanjak setelah terekspos media sehingga sampai sekarang mereka masih tetap eksis di dunia hiburan. Rare Kual yang beranggotakan empat orang yaitu Ngurah Indra Wijaya (Ngurah Joni), Made Artana (Bojes), Made Sukantara Arpin (Ayuk Sintya Bella), dan Kadek Agus Ria Arnawan (Slowly) merasa jika nama Rare Kual memang begitu pas untuk bondresnya. “Itu kan nama grup tabuhnya tetapi akhirnya kami pakai karena terlalu manis untuk dibuang meskipun tabuhnya memang sudah tidak ada lagi,” ungkap Ngurah Joni. Perjalanan menuju kesuksesan saat ini memang tidak mudah,
Kebaya Kasual Siluet kebaya dengan beragam desain yang simpel menjadi pilihannya. Harmoni perpaduan antara tradisi dan unsur modern menjadi salah satu kekuatan rancangan milik Putu Swandewi atau yang dikenal dengan Dewi Anyar ini.
B
mentasan mereka selalu menyelipkan pesan-pesan mengenai lingkungan dengan kata lain mengangkat tema lingkungan. “Apapun jenis acaranya baik itu bersifat anak-anak atau tema yang ditentukan tetap kami membawa visi cinta lingkungan,” jelas Ngurah Joni yang akrab disapa Wah Rare Kual. Ia juga menambahkan sejak terbentuk 2008 silam, Rare Kual baru peka terhadap lingkungan sekitar empat tahun yang lalu. “Memang lambat sekali padahal kerusakan lingkungan itu sudah terjadi jauh-jauh hari,” ucapnya. Mengambil tema lingkungan dikarenakan para personilnya merasa hatinya terketuk melihat lingkungan yang kian hari kian tercemar akibat kurang kesadaran dari masyarakat. Meskipun
mengajak melalui hiburan namun mereka merasakan pengaruh yang sangat luar biasa. “Kami semua awalnya meboye dengan hal seperti itu namun ketika orang lain mau mendengarkan pesan yang kami sampaikan, sangat positif k e l i h a t a n nya,” ditambahkan Bojes. Mereka sangat berharap masyarakat dapat menyadari pentingnya menjaga lingkungan. Sebagai grup bondres yang terbilang baru dan sedang naik daun, mereka mengklaim bahwa memiliki cirri khas dibandingkan dengan grup bondres lainnya. Selain mengangkat tema lingkungan, mereka juga selalu menghadirkan hiburan-hiburan yang inovatif. “Isu-isu yang sedang menjadi trending topic di masyarakat itulah yang kami angkat dan kami balut dengan lebih kocak,” papar Wah. Kelebihan yang paling utama dalam grup ini adalah
masing-masing personilnya yang memiliki kelebihan yang berbeda. “Ada yang pintar main musik, ada yang pintar menyanyi, ada yang pintar main drum, dan ada yang pintar menari, sehingga kami dan mengkolaborasikan keunggulan-keunggulan tersebut,” tambahnya. Sempat dikatakan menjiplak karakter Ayuk dari grup yang lain, Rare Kual dengan tegas membantah jika karakter Ayuk dalam Rare Kual tidak sama dengan karakter grup lain. “Banyak perbedaan baik dari segi tapel dan juga keahlian dalam pementasan,” tegas Wah. Menurutnya karakter Ayuk banyak memiliki keahlian seperti bernyanyi, menari, dan bermain drum. Selain itu, dalam grup Rare Kual tidak membiarkan salah satu karakter lebih menonjol dibandingkan dengan karakter yang lain. “Kami tidak ingin salah satu dari kami mendominasi yang lain karena kami bentuk formasi yang memang satu sama lainnya saling membutuhkan,” lanjutnya. Begitu juga dalam pementasan, jika ada yang meminta Rare Kual tampil satu atau dua anggota saja mereka akan menolak. “Kami ini anggotanya empat orang ya kalau pentas harus empat orang juga,” tandasnya. -Wiwin
15
Edisi 913/ 8 - 14 agustus 2016
ahan kain sutra polos yang lembut dan nyaman berhasil dipadukan dengan kain prada dan endek oleh pemilik merek “Anyar” ini sebagai upaya mempertahankan unsur budaya lokalnya. Kebaya semi kimono, kebaya kutu baru, kebaya lengan setali adalah sederet koleksi kebaya kasual yang dipilihkannya untuk para pecinta fashion, khususnya para remaja yang ingin tampil gaya namun tetap segar sesuai usianya. Selanjutnya, untuk memper-
keluar dari manajemen Shanti Budaya membuat anggota Rare Kual berdiri sendiri. “Setelah kami keluar dari manajemen kami berkumpul dengan orang-orang pecinta seni dan terbagi menjadi Rare Kual bondres, kolaborasi, dan gamelan,”
tambahnya. Akan tetapi untuk Rare Kual kolaborasi dan gamelan belum terlalu jalan sehingga orang-orang hanya mengenal bondresnya saja. Bondres asli Buleleng ini mengaku bahwa dalam setiap pe-
Style
oleh penampilan yang berbeda, anggota ASBEST (Asosiasi Bordir, Endek dan Songket) Kota Denpasar ini membentuk kain padanan kebaya tersebut dengan beragam bentuk, misalnya lipatan kain ala Ali Baba. Selain itu sentuhan atau ciri khas seorang Swandewi pun tak pernah lepas, yakni disematkannya aksesori berupa anting,kalung dan gelang bertumpuk yang mampu menghadirkan kesan look gypsy style yang chic.. Begitu pula dengan gaya model
Putu Swandewi
busana lainnya, yang juga berbahan sama perpaduan sutra yang menjuntai dan kain endek. – Sri Ardhini
Edukasi
Edisi 913/ 8 - 14 agustus 2016
Celoteh anak-anak Desa Sesela dan sekitar selalu terdengar mengisi halaman belakang rumah Asmuni AS. Mereka adalah murid sekolah gratis bernama Alang-alang School Lombok yang berada di Dusun Barat Kubur Desa Sesela Gunung Sari Lombok Barat. Sekolah gratis ini telah dibuka sejak tahun 2010 yang dimulai dengan 20 murid. Anak-anak berusia 3-7 tahun yang bersekolah di tempat tersebut kebanyakan adalah anak-anak yang kurang beruntung. “Banyak yang anak yatim, ada juga yang tidak memiliki orang tua karena bekerja ke luar negeri, ada juga yang orang tuanya bercerai dan mereka juga banyak yang hanya diasuh oleh nenek mereka yang kondisinya tidak mampu,” ungkap Asmuni.
H
ampir 100 anak yang setiap hari menerima pelajaran secara gratis dalam tiga kelas dengan empat orang guru yang mengajar juga dengan sukarela di PAUD ini. Anak-anak bersekolah di PAUD ini tampak berani dan percaya diri. Rupanya inilah salah satu pembelajaran yang diberikan kepada mereka. “Mereka harus percaya diri agar dapat mengembangkan bakatnya secara maksimal,” kata Asmuni. Selain itu, pelajaran budi pekerti juga tidak lupa diberikan kepada mereka. Di PAUD ini guru hanya menjadi fasilitator dan teman bagi anak. “Ketika anak tidak mampu menyelesaikan sendiri tugasnya, barulah guru akan membantu,” katanya. Selama ini anak-anak yang tidak mampu di dusun tersebut tiap hari hanya menghabiskan waktu dengan bermain di rumah. Setelah mereka sekolah di PAUD, pagi-pagi mereka sudah bersih dan rapi sehingga jiwa-jiwa mereka menjadi lebih bersemangat. Hal ini tidak hanya baik bagi anak melainkan
Orangtua Giliran Bersihkan “Sekolah” juga baik bagi orang tua dan keluarga di desa yang menyekolahkan anaknya di PAUD tersebut. Pagipagi mereka menjadi memiliki aktivitas yang bermanfaat terutama bagi anak-anak mereka dengan kegiatan memandikan dan menyiapkan kebutuhan sekolah bagi anak. Bekerja sama dengan salah seorang pengacara muda di Mataram, Imam Sofiyan, Asmuni yang sengaja menyiapkan halaman belakangan rumahnya yang tidak terlalu luas itu, demi untuk membantu pendidikan anak-anak kurang mampu ini. Menurut Asmuni, biaya untuk menjalankan sekolah gratis ini diperoleh dari Imam Sofiyan yang juga banyak menemukan dermawan-dermawan yang peduli pada sekolah ini. Mereka berkolaborasi untuk menyelamatkan pendidikan generasi mulai dari usia dini. Sekolah gratis ini dibuka berangkat dari keadaan dan kondisi masyarakat di desa tersebut yang tidak semua orangtua mampu menyekolahkan anaknya pada tingkat PAUD. “Kebanyakan anak-anak di Sesela tidak mampu sekolah di PAUD, padahal pendidikan usia dini sangat perlu untuk meletakkan dasar-dasar pendidikan bagi anak,” ungkapnya. Sekolah ini juga berupaya menemukan potensi anak sejak usia dini atas bakat yang dimilikinya. Asmuni yang menjadi Kepala Desa Sesela sejak tahun 2013 ini dengan sukarela memberikan tempat untuk anak-anak PAUD di halaman belakang rumahnya seluas 2 are ini sekaligus
Asmuni bersama guru dan murid PAUD Alang-alang School Lombok
ikut mengelolanya, sesungguhnya lebih karena keinginannya untuk ambil bagian dalam mencerdaskan anak-anak mulai dari lingkungan dusun dan desa. Ia juga mengajarkan orangtua di desa tersebut, khususnya yang anak-anaknya bersekolah di PAUD ini untuk mau berbagi dengan cara berpartisipasi dalam menjaga dan memelihara kebersihan lingkungan belajar anak. “Semua harus ambil bagian untuk bertanggung jawab dalam pendidikan anak-anak,” ungkapnya. Karena itulah PAUD gratis ini dikelola dengan cara kekeluargaan dan gotong royong pada apa yang seharusnya bisa dilakukan bersama-sama. Sejauh ini, orangtua hanya “menyiapkan” anak-anak mereka yang berusia 3-7 tahun untuk bersekolah secara gratis di PAUD ini tanpa dipungut biaya. Bahkan seluruh peralatan sekolah dan material yang dibutuhkan selama proses belajar dan mengajar juga disiapkan oleh PAUD ini. “Orangtua atau keluarga anak hanya kami mintakan kerjasamanya
untuk secara bergiliran dan terjadwal untuk membersihkan PAUD tiap hari agar anak-anak bisa belajar dengan nyaman,” ungkap Asmuni. Ini dilakukan juga agar para orangtua dan keluarga murid merasa memiliki PAUD tersebut. Apa yang diajarkan di sekolah ini, selain mengenal angka dan huruf serta pendidikan konvensional lainnya, juga diajarkan mulai dari hal-hal yang sangat sederhana, seperti mengajarkan kebersihan gigi dan badan serta kebersihan lingkungan. Meskipun mereka adalah anak-anak desa di PAUD ini mereka diajarkan untuk menjaga kualitas hidup dan dirinya sejak usia dini dengan pola hidup sehat. “Anak harus mandi dan sikat gigi serta mengerti membuang sampah pada tempatnya,” kata Asmuni. Anak-anak diberikan dua sikat gigi gratis. Satu dibawa pulang ke rumah masing-masing lengkap dengan odolnya dan satu lagi sikat gigi untuk mereka masing-masing di sekolah PAUD terse-
but. Pola hidup sehat ini rupanya tidak hanya diterapkan di PAUD ini melainkan juga sebagai Kepala Desa Sesela, ketika pertama kali menjadi Kades Asmuni telah mengajak masyarakatnya untuk melakukan gerakan bungkus sampah dalam plastik. Menurut Asmuni, gerakan ini dilakukan karena sebagai wilayah yang masuk dalam daerah wisata dulunya mengalami masalah serius soal sampah. Sesela merupakan pusat kerajinan ukir dan cukli khas Lombok yang memberikan kontribusi ekonomi yang baik bagi masyarakatnya. Di sini juga ada pasar seni yang merupakan salah satu tujuan wisata. “Maka itulah desa ini harus bersih,” ujarnya. Saat itulah ia mengajak seluruh masyarakat Sesela untuk terlibat dalam gerakan bungkus sampah dalam plastik untuk memudahkan para petugas sampah memindahkan sampah-sampah tersebut ke tempatnya dan tidak berserakan sehingga mengganggu kesehatan masyarakat dan lingkungan. “Selama dua minggu pertama saya menjadi kepala desa, kerjaan saya mengurus sampah,” ujarnya. Selama dua minggu itulah alat-alat berat bekerja tiada henti mengangkut sampah dari Desa Sesela. Biaya untuk mengangkut sampah ini, didapatkan dari pendekatan kepada warga yang mampu menyumbang seikhlasnya untuk kepentingan bersama ini. Hasilnya desa tersebut menjadi lebih bersih dari sebelumnya. -Naniek I. Taufan
Universitas Dwijendra Siap Bersaing di Era Global Tahun pendidikan 2016/2017 segera mulai.Universitas Dwijendrabersiap menyambut mahasiswa baru.Kampus yang berlokasi diJalan Kamboja No 17 Denpasar ini memiliki 5 fakultas, antara lain Fakultas Teknik, Fakultas Pertanian, Fakultas Ilmu Komunikasi, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, dan Fakultas Hukum serta Program Magister (S2) Ilmu Hukum. Rektor Universitas Dwijendra Dr. Putu Dyatmikawati, S.H.,M.Hum menjelaskan Universitas Dwijendra merupakan salah satu unit pendidikan yang berada di bawah naungan Yayasan Dwijendra Denpasar. “Embrio kelahiran Universitas Dwijendra berawal dari Sekolah Tinggi Arsitektur Tradisional Bali yang kemudianmenjadi Universitas Dwijendra pada 28 Juli 1982.Universitas Dwijendra mendapat pengakuan dari pemerintah berdasarkan KeputusanMenteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor: 0600/0/1984 tertanggal 28 November 1984,” ujarnya. Dyatmikawati mengatakan seiring perjalanan waktu, Universitas Dwijendra telah memiliki gedungsendiri, perpustakaan e-library, laboratorium Radio KomunitasDwijendra 107,7 FM, laboratorium PeradilanSemu, Studio Perancangan Arsitektur, Pusat Studi Subak dan Agribisnis, Pusat Studi dan Konsultasi Literasi Media, serta Pusat Studi dan Konsultasi Hukum Keluarga. “Kami juga membuka Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasardan Program Pertanian Agro Teknologi sehingga program studi di Universitas Dwijendra ada 10,” jelas mantan Dekan Fakultas Hukum UniversitasDwijendra ini.
man dengan suasana kemasyarakatan dilingkungan kampus. Selain Luray, ada juga Jennifer Merema dari Australia yang menjadi volunteer di FKIP untuk mengajar bahasa Inggris di SD dan SMP. “Kehadiran Luray dan Jennifer menunjukkan Universitas Dwijendra siap bersaing di kancah global. Kami tetap menjadi kampus yang berbasis budaya Bali namun bisa menerima kehadiran budaya lain. Saat ini, kami juga menekankanbagaimana sapaan dan senyum sebagai bagian
dari aktivitas. Menyapa, selamat pagi atau selamat siang atau selamat sore atau selamat malamdan Om Swastyastu merupakan hal yang sederhana tetapi itu menunjukkan kultur kekeluargaan yang menjadi ciri khascivitasakademikaUniversitasDwijendra,” tegas Dyatmikawati. Ia juga mengungkapkan selama tahun 2016, sudah ada dua Menteri yang berkunjung ke Universitas Dwijendra, yakni Menteri Agraria/ Kepala BPN serta Menteri Koperasi dan UMKM. -wah
Rektor Universitas Dwijendra bersama Luray Goddes Joy Dekan FKIP dan Kaprodi Sastra Inggris
Selain berbagai fasilitas dan program ini, Universitas Dwijendrajuga memberikan gratis biaya pendaftaran dan DPP selama 1 semester bagi lulusan SMA/SMK Dwijendra.Bagi yang berprestasi, banyak peluang untuk mendapatkan beasiswa.Pendaftaranmahasiswa baru gelombang I dilakukan 5 April-30 Juni 2016 dengan test 1 Juli 2016. Pendaftaran gelombang II dilaksanakan 4 Juli-18 Agustus 2016 dengan tes 19 Agustus 2016. MAHASISWA UCLA Di tengah persaingan era global, Universitas Dwijendra tetap memperkuat identitas sebagai kampus
yang bernuansa Bali. Penguatan identitas ini memberi dampak terhadap perhatian kampus luar Bali dan luar Indonesia. Hal ini dibuktikan dengan adanya mahasiswa UCLA Amerika Serikat yang mendapatbeasiswa untuk belajar bahasa Indonesia dan budaya di Universitas Dwijendra. Mahasiswa tersebut bernama Luray Goddes Joy yang berada di Universitas Dwijendra selama 6 minggu( 20 Juni-29 Juli 2016). Selama di Universitas Dwijendra, Luray didampingi Kaprodi Sastra Inggris FKIP Ni Putu Ferryanti, S.S., M.Hum.Luray belajar pencak silat dan tari Bali. Ia juga kagum dan nya-
Rektor meninjau kebun gumitir di daerah Karangasem
Universitas Dwijendra Menerima Mahasiswa Baru
Info lebih lanjut Jalan Kamboja No 17 Denpasar, telp (0361) 224383, 233974, faks (0361) 233974 Website: www.undwi.ac.id Email: universitasdwijendra@yahoo.co.id, info@undwi.ac.id
Dara
9
Edisi 913/ 8 - 14 agustus 2016
Antara Olahraga atau Entertainment Belakangan semakin banyak artis yang menekuni olahraga bukan sekadar untuk kesehatan tubuh tapi juga untuk bela diri. Di antaranya adalah Andien dan Julia Perez yang menekuni thai boxing, Julie Estele dan Prisia Nasution yang giat berlatih silat, Chelsea Olivia yang aktif muay thai. Tak ketinggalan Tya Ariestya yang menekuni taekwondo dan muay thai.
Tya Ariestya
16
T
api khusus untuk taekwondo, menurut Tya telah menekuninya sejak kecil, bahkan ia termasuk cukup berprestasi di olahraga ini dengan sejumlah medali yang berhasil didulangnya di berbagai pertandingan. Namun, meski mengaku cinta setengah mati pada taekwondo, pada akhirnya ia harus memilih, antara menjadi atlet atau serius di dunia entertainment. “Aku cinta banget sama taekwondo, itu sudah menjadi bagian dari hidup aku. Aku mulai latihan saat kelas dua SD, kelas lima SD sudah ikut pertandingan. Namun kemudian aku harus memilih antara menjadi atlet atau karier di dunia entertainment. Jadi taekwondo hanya sebagai hobi saja, latihan-latihan biasa bukan sebagai atlet,” ungkap mantan finalis Gadis Sampul 2001 yang baru saja melahirkan bayi pertamanya ini. Kecintaan wanita kelahiran 1986 terhadap taekwondo bisa terlihat dari prestasi yang didulang sebelum ia akhirnya memutuskan terjun ke dunia akting. Total medali yang berhasil diraih Tya dari berbagai kejuaraan yang diikutinya adalah delapan emas, dua perak dan satu perunggu. Tapi, kata pemeran film ‘I Love You Mas Bro’ ini, ia untuk sementara stop taekwondo dan muay thai karena hamil. “Dulu waktu kehamilan trisemester aku diharuskan mengurangi kegiatan yang berat-berat termasuk olahraga juga syuting yang berat. Tapi setelah trisemester aku boleh olahraga lagi tapi yang tidak berat, seperti senam hamil untuk memperlancar kelahiran,” tutur mantan Duta Taekwondo Indonesia, yang melahirkan bayi laki-laki yang diberi nama Muhammad Kanaka Ratinggang. –Diana Runtu
S
E
X DU
Joged merupakan salah satu tari pergaulan yang sangat popular di Bali, tidak terkecuali di Buleleng. gerakan yang lincah dan gamelan yang sederhana membuat joged menjadi tontonan yang sangat menarik untuk dinikmati. Tari ini memiliki pola-pola gerak yang bebas, lincah, dan dinamis. Gerak-gerak dasar tari ini diambil dari Legong maupun Kekebyaran, dan dibawakan secara improvisasi. Sayangnya saat ini stigma tarian porno untuk tarian joged menjadi tantangan terbesar bagi pecinta seni tari dan penari itu sendiri. Kondisi ini menyusul makin maraknya peredaran video layak sensor pentas joged di media sosial. Imbasnya, stigma itu jadi beban psikis bagi remaja putri yang hendak terjun menjadi penari joged. Sebagai sebuah kesenian rakyat, tari joged diiringi dengan barungan gamelan yang didominasi oleh instrumen-instrumen bambu. Di antara semua jenis joged yang ada di Bali, Joged Bumbunglah yang paling populer. Buleleng Festival 2016 sebagai ajang promosi sekaligus sebagai ajang untuk mengahapus kesan porno untuk tarian joged. Pembukaan Bulfest disemarakkan dengan penampilan joged massal yang diikuti sebanyak 16 sekaa dari berbagai sanggar yang ada di kabupaten Buleleng. salah satunya sekaa Gita Ulangun dari Desa Menyali menampilkan joged sakral yang merupakan hasil pemekaran dari tari Legong Keraton. Gede Redana selaku koordinator sekaa Gita Ulangun menuturkan jika pihaknya sangat memerhatikan gerakan-gerakan dari sang penari. “Ini kan joged sakral jadi penarinya harus sopan dan pengibingnya juga sopan, andaikata jika ada yang berminat mencari joged yang dengan goyang ngebor saya alihkan kepada yang lain saja,” tuturnya. Ni Luh Nita Kusuma Dewi pengelola sanggar Kusuma Dewi menuturkan dengan adanya Bulfest ini sangat baik untuk dapat mengembalikan citra joged yang saat ini negatif. Menurutnya saat ini tarian joged sudah bergeser dan kebablasan dari makna yang sebenarnya. “Sebenarnya joged itu tidak seperti yang dilihat seperti sekarang ini melainkan merupakan tarian sakral yang hanya dipentaskan pada hari tertentu saja,” papar Nita. Menurutnya ada beberapa hal yang harus dilakukan untuk menipis anggapan joged porno tersebut. Salah satunya adalah dari segi pakaian. “Pakaiannya harus tertutup jangan terlalu terbuka,” imbuhnya. Ia juga menambahkan jika dari sanggarnya sendiri sudah memiliki pakem-pakem sendiri dari tarian joged tersebut. -Wiwin
Kirim surat Anda ke Redaksi Tokoh dan cantumkan “Sex Edu” di amplop. Bisa juga dikirim ke redaksi@tokoh.co.id. Rubrik ini diasuh Asosiasi Seksologi Indonesia (ASI) Denpasar.
dr. Oka Negara, FIAS
Suka Sejenis
“Dok, aku sudah pernah beberapa kali pacaran dengan laki-laki, yang kujalani biasa saja, layaknya perempuan lain. Termasuk saat berhubungan seksual. Tetapi aku sekarang dekat dengan seorang perempuan teman sekantor. Bersamanya aku menikmati rasa sayang dan ada kenikmatan saat bercinta yang berbeda dan lebih dari yang sudah-sudah. Apakah menjalankan hubungan sejenis seperti ini masih wajar dan tidak berisiko, Dok?” (Eve, 23 th) Seseorang disebut berorientasi seks homoseksual jika hanya tertarik dan terangsang terhadap yang sesama jenis kelamin dan malah tidak tertarik dan tidak terangsang terhadap lawan jenis. Akibatnya, dia tidak tertarik untuk melakukan hubungan seksual dengan lawan jenis. Untuk yang sesama perempuan, lebih dikenal dengan istilah lesbian. Kalau dilihat dari kasus di atas, di mana sebelumnya dapat melakukan dan menikmati hubungan seksual dengan laki-laki yang dipacari, maka cinta sejenis yang kini dijalaninya sebenarnya bukanlah homoseksual murni, tetapi lebih cenderung dapat dianggap sebagai seorang biseksual. Atau orientasi seksual ganda, bisa kepada laki-laki dan perempuan. Masih banyak persepsi masyarakat
Hilangkan Stigma Tarian Porno
menyatakan homoseksualitas sebagai sebuah abnormalitas. Padahal itu keliru, homoseksual, biseksual dan heteroseksual adalah orientasi seksual. Itu artinya adalah sebuah pilihan, yang tergantung dari penyebabnya. Penyebabnya adalah beberapa faktor. Pertama, faktor biologi, berupa gangguan pada pusat seks di otak atau permasalahan genetik dan kromosomnya. Kedua, faktor psikodinamik, yaitu gangguan perkembangan psikoseksual pada masa kecil. Ketiga, faktor sosiokultural, yaitu kebiasaan yang berakar pada budaya setempat. Keempat, faktor lingkungan, yaitu akibat pengaruh pergaulan atau pengalaman pertama kejadian cinta sejenis. Dilihat dari kasus di atas, cinta sejenis yang disampaikan besar kemungkinan disebabkan oleh faktor lingkungan, dan bila ditanya apakah mungkin dapat diubah kembali menjadi heteroseksual, tentu saja tidak selalu mudah. Tergantung kemauan, kuatnya pengaruh lingkungan dan penting atau tidaknya diubah. Kalau penyebab lain, misalnya karena faktor sosiokultural mungkin dapat diubah kalau yang bersangkutan segera keluar atau meninggalkan budayanya, walau ini juga tidak mudah dilakukan karena faktor sosiokultural pada umumnya sudah
melekat sejak masa kecil. Kalau karena faktor biologi, misalnya kelainan genetik, sudah dapat dipastikan tidak mungkin dapat diubah menjadi heteroseksual. Sedang yang karena faktor psikodinamik juga hampir pasti tidak dapat diubah, kecuali didukung oleh kesadaran dan kemauan yang luar biasa. Jadi cinta sejenis itu sesungguhnya adalah lebih ke permasalahan pilihan hidup atau orientasi. Hanya saja, yang menjalaninya sering kali merasa akhirnya tidak nyaman karena menjadi berbeda dengan orang banyak. Akan terlihat menjadi aneh dan dicap mengalami kelainan oleh masyarakat banyak jika ketahuan, sehingga lebih banyak yang menyembunyikan orientasi seksualnya ini. Keinginan itu dapat hilang sama sekali atau tidak, sangat tergantung kepada apa penyebabnya tadi. Apakah cinta sejenis ini berbahaya? Sesungguhnya risikonya sama saja dengan hubungan cinta yang biasa, akan dapat muncul problem psikis dan emosional dari hubungan ini dan risiko medis seperti infeksi ringan hingga infeksi menular, jika dilakukan berganti pasangan, selama kontak seksual yang dilakukan tanpa proteksi kondom. Pasangan homoseksual biasanya melakukan hubungan seksual dengan melakukan oral seks dan petting (menggesek-gesekkan kelamin atau bercumbu berat). Jangan salah, oral seks dan petting juga bisa memunculkan luka
lecet atau mikrolesi yang menjadi jalan masuk virus, jamur maupun bakteri yang diidap oleh salah satu pihak diantaranya. Lalu, jika ada yang berniat buat meninggalkan aktivitas cinta sejenis, apa bisa? Kalau penyebabnya “hanya” karena pengaruh lingkungan, keadaan ini dapat diatasi. Selama ada kemauan kuat, pengaruh lingkungan juga bisa dikendalikan dan tetap berupaya mengontrol keinginan untuk konsisten tidak mencoba hubungan dengan sesama jenis. Sebaliknya, jika seandainya ingin dilanjutkan, apa bisa? Bisa saja, selama lingkungan sekitarnya tidak mempermasalahkan dan pelakunya tidak merugikan pihak lain. Karena saat ini sudah makin banyak masyarakat yang bisa tetap toleransi dan lebih menerima perilaku homoseksual. Seorang lesbian atau gay, tetap bisa sukses di profesi masing-masing yang digelutinya. Ada yang menjadi seniman, penyiar televisi, pengusaha, ataupun menteri. Bahkan di banyak negara saat ini ada kecenderungan perilaku homoseksual sudah bukan lagi sebuah aib, sebaliknya banyak yang kemudian muncul sebuah trend, akibat banyaknya artis yang secara eksplisist menunjukkan kehomoseksualan mereka. Karena cinta sejenis sesungguhnya lebih tepat adalah sebuah pilihan. Sekarang tinggal bagaimana kita menyikapinya. It`s your choice.
8
Bunda & Ananda
Edisi 913/ 8 - 14 agustus 2016
Kebersamaan Meraih Prestasi
Griya
Edisi 913/ 8 - 14 agustus 2016
Olahraga menembak termasuk olahraga yang berisiko karena menggunakan senjata. Kini olahraga me nembak tak hanya ditekuni orang dewasa, anak-anak sudah banyak yang tertarik untuk menekuni olahraga ini. “Asalkan mengikuti prosedur, tidak usah khawatir anak-anak menekuni olahraga menembak,” ungkap Helga Riftiana, salah satu atlet tembak Denpasar.
P
erempuan yang biasa disapa Helga Rif ini menuturkan dirinya mulai menekuni olahraga menembak setelah menikah. “Dulu saya hanya melihat ayah saya yang suka berburu. Dari kecil sudah biasa lihat senjata. Setelah menikah, baru mulai menekuni olahraga ini,” ujar istri MadeNgurah Bagus Sakaputera ini. Prestasi Helga di olahraga ini cukup lumayan. Ia menjadi bagian dari tim menembak Kota Denpasar di ajang Porprov Bali. “Impian selanjutntya bisa membela Bali di kancah nasional dan Indonesia di kancah internasional,” kata perempuan yang juga berprofesi sebagai model dan penulis novel ini.
Sebagai atlet, Helga tentu harus disiplin dalam latihan dan mengatur waktu di tengah kesibukan yang banyak. Begitu lomba, ia harus konsentrasi penuh. Petembak yang baru saja meraih juara I nomor 10 m air rifle match Kapolda Bali Cup 2016 ini mengaku tak punya ritual khusus. Ia hanya berdoa dan konsentrasi sebelum menembak. Hal yang sama ia tularkan ke putra keduanya, Arkananta Putera Saka yang menekuni olahraga menembak. Prestasi Nanta juga lumayan. Ia menjadi juara I nomor air pompa SD Kapolda Bali Cup 2016. Helga menuturkan, dulu ia juga mengajak putranya sulungnya, Arkana Putera Saka untuk
Olahraga Sesuai Proporsi
Dewi Indriani Salah satu cara untuk mencapai kesehatan yang optimal adalah dengan berolahraga secara teratur. Olahraga sangat besar dirasa manfaatnya bagi kebugaran tubuh, di antaranya memperlancar metabolisme, kesegaran pikiran serta menyehatkan sehingga mampu menambah usia. Hal tersebut yang disampaikan oleh Guru Olahraga SMA Negeri 4 Singaraja Nyoman Dewi Indriani, S.Pd. Dewi sapaan akrabnya menuturkan, olahraga dalam kehidupan sangat penting sekali dilakukan terkait dengan banyak manfaat yang didapatkan. Seiring waktu olahraga tidak hanya digunakan sebagai usaha untuk menjaga kebugaran badan melainkan sebagai gaya hidup untuk mengikuti perkembangan zaman. Menurutnya hal tersebut merupakan hal yang sah-sah saja tergantung individu masing-masing memaknai olahraga tersebut. “Masing-masing orang mungkin memiliki cara pandang
yang berbeda. Ada yang olahraga untuk mendapat prestasi, ada yang sebagai gaya hidup atau kebutuhan, dan olahraga untuk mendapat kebugaran,” jelasnya. Sebagai seorang yang mencintai dunia olahraga, Dewi memilih tenis lapangan sebagai favoritnya. Masing-masing individu akan memiliki kesenangan terhadap olahraga tertentu, dan pasti disertai dengan alasan tersendiri. Begitu juga dengannya, memilih tenis lapangan sebagai olahraga untuk pergaulan karena bisa bergaul dengan berbagai kalangan. Ia menambahkan selain itu pergaulan, olahraga ini juga sebagai ajang untuk memeroleh prestasi dengan ikut klub tenis dan mengikuti jadwal latihan secara rutin. Wanita kelahiran 11 Januari 1982 tersebut menuturkan olahraga yang baik itu adalah olahraga yang sesuai dengan proporsinya. “Apa pun jenis olahraganya dan berapa pun usianya tidak jadi masalah,” ungkapnya. Banyak rekannya yang berusia di atas 50 tahun masih mengikuti olahraga tenis asalkan latihannya yang disesuaikan. Begitu juga dengan perbedaan jenis kelamin, tidak memengaruhi jenis olahraga yang disenangi atau dilakukan. “Perempuan dan laki-laki sama saja, tidak ada aturan wanita harus ikut olahraga ini dan laki-laki olah raga ini,” ucapnya. Sebagai guru olahraga, ia juga selalu menyusunkan program-program yang disesuaikan dengan usia siswa-siswanya agar tidak melebihi proporsi. “Program untuk anakanak kami buatkan sesuai dengan usia baik latihan umum, latihan fisik, teknik, dan sebagainya yang diatur sesuai dengan proporsinya,” tandasnya. -Wiwin
Kreasi Pot Batu Dewa Nyoman Alit di antara pot-pot batu produksinya
Sekilas tampilannya seperti pot batu. Namun sesungguhnya pot tersebut terbuat dari cetakan campuran pasir dan semen, dan memang diproduksi agar mirirp seperti batu.
Helga dan Nanta saat latihan menembak
ikut latihan. Namun, Nanta yang terus bersemangat. “Awalnya saya mengajak mereka ikut latihan karena tidak ada yang jaga. Lama-lama mereka tertarik dan saya pun memberikan mereka kesempatan berlatih. Nanta yang semangat kapan latihan lagi. Akhirnya, sampai sekarang dia ikut menembak bersama saya,” ujar Helga. Kebersamaan ibu dan anak dalam menekuni olahraga ini memberikan nilai plus. Selain bisa mengawasi langsung putranya, Helga bisa memotivasi langsung. Misalnya, saat lomba, ia selalu mengatakan agar Nanta rileks dan anggap seperti latihan. Motivasi ini cukup ampuh untuk memberikan semangat bagi siswa kelas VI SD Cipta Dharma ini. Kedekatan dengan anak ini
juga membuat sang ibu tahu bagaimana karakter dan mood si anak. Kalau harus dimarahi, ia tahu kapan saatnya memarahi. Namun, tak ada paksaan dari orangtua terhadap hobi anak. Di sisi lain, kendala yang dihadapi soal waktu latihan. Kesibukan Nanta di sekolah apalagi menjelang ujian membuatnya harus pintar-pintar membagi waktu. “Impian Nanta sama seperti saya. Ingin menjadi atlet yang berprestasi di kancah nasional dan internasional,” tegasnya. Mengenai kekhawatiran penggunaan senjata, Helga tak risau. Sepanjang semua aturan diikuti, ia yakin tak ada masalah. Misalnya, senjata jangan diarahkan ke orang, moncong senjata arahkan ke atas, dan jangan melintas saat orang menembak. –Ngurah Budi
M
Helga Riftiana
Mendongeng Lima Menit
PERUT DAN TEMAN-TEMANNYA
Pe r u t p u n y a banyak teman. Di antara teman-teman itu, yang paling akrab adalah tangan, kaki, dan gigi. Mereka rajin bekerja gotongroyong, tak pernah irihati, apalagi Made Taro benci-membenci. Ketika beristirahat, si Tangan tiba-tiba berpikiran buruk. Ia sangat iri kepada si Perut. Sambil meremas-remas jari, ia mengeluh. “Enak ya jadi perut! Tidak bekerja tetapi mendapatkan makanan enak. Aku lelah setiap saat harus mengirim makanan melalui mulut.” “Benar katamu, Tangan!” Si Kaki menyahut. “Sejak dulu aku ingin mengajukan protes. Lihatlah, sepanjang waktu aku harus menopang si Perut. Aku membawanya ke mana-mana. Kakiku lesu, padahal ia enak-enak saja.” “Bukankah demikian juga aku?” celoteh si Gigi. “Setiap saat aku menggigit dan mengunyah makanan. Setelah halus, semua makanan itu dinikmati oleh si Perut. Apakah tidak ada jalan
lain untuk mendapatkan keadilan?” “Tentu ada, Teman-teman!” seru si Tangan. “Ayo kita mogok sehari! Biar dia tahu bagaimana pentingnya peranan kita!” Si Tangan, si Kaki dan si Gigi sangat kompak. Mereka tidak mau bekerja. Kaki tidak mau mengantar badan ke pasar untuk membeli bahan makanan. Tangan tidak mau mengantar makanan ke Gigi melalui mulut. Gigi juga demikian. Ia menyuruh mulut tidak membuka pintu, sehingga si Gigi tak perlu bekerja. Satu hari, dua hari, lewat. Tangan, Kaki, dan Gigi tampak lemah. Mereka diam, tidak mampu bergerak karena tidak punya tenaga. Mereka hanya bisa mendengar ocehan si Perut. “Beginilah jadinya kalau semangat gotongroyong dikotori oleh rasa malas dan irihati. Kamu mengira aku bermalas-malasan, padahal aku bekerja siang-malam. Apa yang kukerjakan bukan saja untukku, tetapi untuk kita sekalian.” Semenjak peristiwa itu, si Kaki rajin melangkah, si Tangan memasukkan makanan ke mulut, dan si Gigi pun mulai mengunyah. Setelah halus makanan itu dikirim ke perut. Semua merasa sehat, semua menyadari bahwa gotong-royong itu harus dipelihara dengan baik. (Aesop)
enurut pengerajinnya, Dewa Nyoman Alit (46), pot batu ini mulai diproduksinya 5 tahun terakhir, terinspirasi dari pot-pot batu (asli) yang tampilannya sangat natural dan klasik. “Harga pot batu asli bisa sampai jutaan rupiah. Karena itu, saya terinspirasi membuat pot batu dengan harga yang lebih terjangkau, namun tampilannya benar-benar seperti batu asli,” ucap pria asal Bangli yang menetap
di Batu Bulan, Gianyar ini. Mulailah ia mencoba-coba memproduksi pot dengan beragam bentuk dan ukuran. Bentuk pot yang agak ceper ia beri nama pot terakota. Yang lainnya bernama pot kendang dan pot lesung, disesuaikan dengan bentuknya yang menyerupai kendang dan lesung. Prosesnya pembuatannya cukup sederhana, campuran pasir dan semen dimasukkan ke dalam cetakan. Setelah setengah kering, proses kreatif dimulai untuk mendapatkan serat/karakter batu. “Permukaan pot dikerok dengan gergaji besi untuk mendapatkan permukaan tak rata dan menyerupai batu. Kemudian dicat hitam. Lama-kelamaan warna cat ini akan memudar, dan pot batu akan lebih menyerupai pot batu asli,” jelasnya. Pengerjaannya membutuhkan waktu empat hari. Dalam seminggu, Dewa Nyoman dibantu dua karyawan bisa memproduksi hingga 40 pot batu. Harga jualnya
berkisar antara Rp 75 ribu untuk ukuran kecil, hingga Rp 400 ribu untuk ukuran terbesar. Replika pot batu ini kemudian dipajang di stan Yunita Sari Garden di kawasan Jalan By Pass Ngurah Rai, Padanggalak, Denpasar. Peminatnya kebanyakan tamu kewarganegaraan Australia, Amerika, dan Cinegal (Afrika). Sementara orang lokal, dikatakannya lebih menyukai pot paras taro. –Inten Indrawati
17
18
Edisi 913/ 8 - 14 agustus 2016
l a v i t s e F g n e l Bule
Daya Tarik Kearifan Lokal Sebagai kabupaten terluas, Buleleng memiliki kekuatan besar dalam memenangkan kompetisi antar daerah dan persaingan global. Namun kenyataannya tidak demikian, maka itulah pemerintah terus menggali dan mengidentifikasi potensi sebagai suatu mutlak dilakukan. Hal tersebutlah yang melatarbelakangi pelaksanaan Buleleng Festival ke 4 tahun 2016. Seluruh kegiatan yang akan menampilkan kesenian tradisional maupun modern akan berlangsung dari tanggal 2-6 Agustus 2016.
S
alah satu kesenian tradisional yang coba direkontruksi adalah tari Legong Tombol massal. Tari Legong Tombol merupakan salah satu tari klasik yang dahulu berkembang di Desa Banyuastis, Kecamatan Banjar, Buleleng. Tarian ini diyakini telah ada sejak ratusan tahun lalu dan hanya ada di Buleleng. Tujuan merekontruksi tari ini adalah untuk mengenalkan kepada generasi muda dan dipelajari oleh penari penerus di Buleleng. hal ini disebabkan tarian yang sudah ada
sejak ratusan tahun lalu ini, penari dari daerah tersebut mulai habis. Tarian yang ditarikan 50 orang penari ini sangat diharapkan dapat menyelamatkan tari ini dari kepunahan. Buleleng Festival yang mengusung tema Masterpieces of Buleleng (persembahan karya terbaik dari Buleleng) ini juga menampilkan 10 sekaa ngoncang, paduan suara SMAN Bali Mandara dan Harmony Den Bukit. Tidak hanya kese nian tradisional, hiburan modern yang ditampilkan juga mampu menyedot penonton untuk memadati panggung
utama. Band-band lokal juga turut serta memeriahkan pembukaan Buleleng festival, dan tidak ketinggalan band nasional Slank juga mampu membius para penonton serta penggemarnya. Bupati Putu Agus Suradnyana, mengucap syukur karena Bulfest dapat berlangsung hingga tahun keempat. “Kami mengucapkan terima kasih dan penghargaan atas kehadiran undangan dalam meluangkan waktu di pembukaan Bulfest ke empat tahun 2016 di Kota Singaraja. Bulfest digelar atas dasar pemikiran untuk menggali, mengidentifikasi, melestarikan dan mempromosikan keragaman potensi di Buleleng,” ujar bupati /dalam sambutannya. Diharapkan Bulfest mampu mempermudah pemerintah dalam menjalankan program pembangunan sekaligus meningkatkan pembangunan dan kesejahteraan. Sementara itu, Kadisbudpar Buleleng Ir. Nyoman Sutrisna, MM., menambahkan Bulfest merupakan gelaran
Bupati Buleleng Putu Agus Suradnyana meninjau pembukaan Bulfest
dengan sentuhan kearifan lokal dengan karakteristik masyarakat Buleleng yang terbuka, kreatif, inovatif, dan dinamis sehingga memiliki daya tarik tersendiri. Diharapkan Bulfest dapat memberikan informasi kepada masyarakat terkait dengan potensi pembangunan kabupaten Buleleng dan memberikan ruang kreativitas dan partisipasi kepada masyarakat sebagai bentuk rasa syukur terhadap potensi daerah Buleleng. Sementara itu, Dirjen
Tradisi ngoncang
syukur kepada leluhur jika ada Pengabenan. “Di desa kami tradisi ini memang sangat disakralkan dan dipertahankan,” ujar koordinator Sekaa Lega Sawitra desa Suwug tersebut. Selain mengucapkan rasa syukur, saat tradisi ini dilakukan menjelang perayaan hari raya Nyepi maka akan memiliki makna untuk mengusir bhutakala. Masyarakat desa Suwug yang sebagain besar memang merupakan keluarga yang memiliki kultur tani yang kuat meyakini ritual ngoncang dilakukan sejak berabad-abad silam. Lesung yang digunakan sebagai sarana ngoncang juga sudah berusia ratusan tahun dan digunakan turuntemurun, dari generasi ke generasi. Lesung tak boleh digunakan sebagai tempat duduk, apalagi sebagai tempat menjemur pakaian. “Kalau orang tua bilang pamali,” imbuhnya.
Kebudayaan Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan RI melalui Pemerintah Kabupaten Buleleng, di malam pembukaan Buleleng Festival ke-4 telah menyerahkan sertifikat penghargaan penetapan wayang wong Desa Tejakula, sebagai warisan budaya tak benda dari Unesco.Kesenian wayang wong asal Desa Tejakula, Buleleng, makin dikenal di mata dunia. Lakon cerita ramayana dibawakan menggunakan bahasa kawi di setiap pementasan. Kini generasi muda diharapkan ikut melestarikan sebagai tantangan di era globalisasi. Sejumlah undangan di Bulfest 2016 antara lain, Menteri Pariwisata RI diwakili Putu Ngurah, Asdep Komunikasi Pemasaran Pengembangan Pariwisata Kementrian Pariwisata RI. Dirjen Kebudayaan Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan RI diwakili Arie Budhiman, Staf Ahli Menteri Bidang Pembangunan Karakter Kemendikbud. Gubernur Bali Made Mangku Pastika diwakili Dinas Pariwisata Provinsi Bali. Hadir Ketua DPRD Buleleng Gede Supriatna, SH., Kapolres Buleleng AKBP. I Made Sukawijaya, M.Si., Kepala Kejari Buleleng Sumarjo, SH., MH., beserta para undangan lainnya.-Wiwin
Tradisi ngoncang sebagai salah satu bentuk seni musik yang dilahirkan oleh masyarakat agraris di Bali memang sejatinya tidak boleh hilang. Justru karena ngoncang sudah menjadi sebuah seni dalam kehidupan masyarakat Hindu, maka seni itu harus terpelihara dengan baik. Padahal, ketika zaman agraris masih jaya, ngoncang adalah sebuah seni tradisi yang dilakukan dengan penuh gairah dan penuh makna. Para remaja, pemuda dan orang tua, biasanya saling berlomba untuk menunjukkan stamina memukulkan Lu ke dalam atau ke bibir lesung. Namun, ada pemandangan yang berbeda dari pembukaan Bulfest yang dibuka dengan tradisi Ngoncang tersebut, kebanyakan yang melakukan adalah ibu-ibu malahan tidak ada remaja yang ikut serta. Hal ini memang mengundang keprihatinan Ketut Srinadi sebab anak-anak bahkan remaja enggan belajar tradisi tersebut. “Anak-anak zaman sekarang susah sekali diajari, apalagi untuk hal yang seperti ini,” ungkapnya. dengan adanya Bulfest ini sangat diharapkan dapat mempertahankan dan membangkitkan kecintaan masyarakat terhadap kebudayaan dan tradisi sebagai cirri khas Buleleng. Pihaknya melalui sanggar Lega Sawitra juga melakukan upaya-upaya agar agar anak-anak belajar tradisi tersebut dengan ang wong Penghargaan penetapan way menggelar latihan secara rutin. -Wiwin budaya isan war i aga Desa Tejakula, seb
a r t u P a m h a R g n Agu
Story
Terlahir dari keluarga seniman dan figur masyarakat membuat Anak Agung Gede Agung Rahma Putra yang sering dipangil Gungde Rahma atau Agung Rahma, tidak berpangku tangan dalam upaya pelestarian seni budaya baik di tingkat lingkungan tempat tinggal sampai pada tingkat internasional. Ini terbukti dengan usaha dan kreativitas seni yang digeluti mulai dari duduk di bangku Sekolah Dasar sampai saat sekarang ini. Kegiatan yang dilakukannya antara lain adalah pernah sebagai penari dolanan, pemain drama gong anak-anak serta menarikan berbagai jenis tarian Bali maupun Jawa. Tari Legong Tombol di pembukaan Bulfest
Tradisi Ngoncang Warisan Budaya Agraris Tradisi Ngoncang atau memukul lesung merupakan salah satu tradisi yang ada di beberapa daerah di Buleleng yang saat ini keberadaannya mulai ditinggalkan. Umumnya Ngoncang akan dilakukan ketika menjelang perayaan hari raya Nyepi dan setiap kali akan dilakukan upacara Pengabenan. Selain sebagai warisan tradisi yang unik, ngoncang juga untuk melestarikan kebudayaan agraris atau kebudayaan petani yang kini makin punah seiring maraknya alih fungsi sawah menjadi pemukiman. Melihat kebudayaan dan tradisi kuno yang kian memprihatinkan, pemerintah menaruh perhatian besar guna mempertahankan hal tersebut. Tradisi Ngoncang ditampilkan kembali untuk menyemarakkan pembukaan Buleleng Festival 2016, Jumat (2/8). Tradisi ini ditampilkan di depan panggung utama di depan tugu Singa Ambara Raja yang melibatkan sepuluh sekaa yang berasal dari beberapa desa yang ada di Kabupaten Buleleng. Melakukan tradisi Ngoncang cukup dilakukan oleh delapan orang saja, dengan menggunakan alat yang disebut ketungan dan lu. Alat-alat yang digunakan pun merupakan alat yang sudah ada sejak zaman Belanda dan berusia ratusan tahun sehingga baik alat maupun tradisi ini memang sangat disakralkan. Uniknya lagi, tradisi ini hanya dilakukan oleh perempuan saja, baik anak-anak, remaja maupun yang sudah tua. Ketut Srinadi mengatakan tradisi Ngoncang merupakan tradisi yang sudah ada sejak nenek moyang yang dilakukan untuk mengucapkan rasa
Life
D
alam perkembangan kedewasaan, sampai saat ini Agung Rahma selalu mengemban berbagai macam kegiatan yang berhubungan dengan seni, baik yang berhubungan dengan kegiatan ngayah di Pura, pembina seni, penata tari, sampai pada ditugaskan sebagai duta seni Republik Indonesia ke berbagai negara seperti: RRC, Meksiko, Amerika Serikat, India, Jepang, Malaysia dan Singapura. Semua kegiatan ini dilakukan dengan penuh rasa pengabdian dan tanggung jawab terhadap kelangsungan seni budaya yang kita miliki. Semua itu dapat dilihat dari aktivitas berkeseniannya yang secara nyata dilakukan di lingkungan desa tempat tinggalnya. “Saya selalu menyempatkan diri untuk ngayah menarikan (nyungsung) tapakan Ida Bhatara sesuhunan, yaitu melalui nyolahang tapakan barong ketika upacara piodalan berlangsung. Selain itu secara berkesinambungan juga mengadakan pembinaan-pembinaan kepada generasi penerus dalam hal menarikan tari barong ataupun taritari yang lain,” ujar suami Ni Luh Wahyu Sri Noviani ini. Pada kegiatan Gelar Budaya yang diselengarakan oleh Kabupaten Badung, Agung Rahma juga turut berpartisipasi sebagai penata tari dalam
Edisi 913/ 8 - 14 agustus 2016
7
Pertahankan Jati Diri Bangsa Agung Rahma di Candi Sukuh Jawa Tengah
lomba beleganjur maupun tari kreasi anak-anak dengan hasil yang memuaskan. Di tingkat kabupaten, selalu terlibat dalam kegiatan seni seperti peserta dan pembina gong kebyar,
Anak Agung Gede Agung Rahma Putra
peserta festival barong dengan hasil sebagai juara I, Lomba busana adat Juara I. Di tingkat provinsi Bali kegiatan–kegiatan yang Agung Rama ikuti antara lain sebagai penari Kebyar Trompong (juara I), penari Palawakya (juara II), juru bapang Barong (juara I), serta sebagai partisipan dalam berbagai kegiatan seni bidang tari. Di tingkat Nasional ikut berkreatifitas sebagai peserta PEKSIMINAS di Jambi sebagai wakil dari Institut Seni Indonesia Denpasar dengan hasil sebagai juara I. Di tingkat internasional Agung Rama mendapatkan juara ke 3 dalam NEXTREAM 21 di Jepang dengan judul karya “Tari Lanang Wadon”. Keaktifannya di bidang kesenian ini menjadikannya pemuda pelopor bidang sosial, budaya, pariwisata dan bela Negara. Dosen Fakultas Pendidikan Seni dan Bahasa IKIP PGRI BALI��������� ini pernah diundang oleh The Music Circle untuk tinggal selama satu bulan di California dalam pembuatan Sendratari Ramayana di CALART Univercity pada bulan 16 Oktober 2009 sampai 18 November 2009. Selain menari, prestasi yang sempat Agung Rahma raih adalah sebagai juara 3 melukis tingkat sekolah dasar se-kabupaten badung di SLTPK Harapan th 2000, juara 2 Teruna Teruni Bali Tahun 2003, juara 1 Lomba busana adat ta-
hun 2003 dan 2006, sebagai pasukan delapan dalam Paskibra Kabupaten Gianyar Tahun 2005, dan menjadi tokoh utama dalam Film Drama Klasik yang berjudul “Manik Angkeran” oleh TVRI Denpasar tahun 2008. Agung Rahma juga pernah menjadi penari tetap di Puri Peliatan Ubud (Grup Gunung Sari) untuk tontonan para Wisatawan yaitu menarikan Tari Kebyar Terompong, dan Oleg Tamulilingan dari tahun 2004-2010. Aktivitas lainnya, ia pernah ditunjuk untuk mengikuti program pertukaran pelajar SMKI Bali-Yogyakarta dari bulan Oktober 2004 sampai Februari 2005. Dalam Program tersebut Agung Rahma banyak belajar tentang tari jawa diantaranya belajar tari klana topeng gagah dengan Sumardi yang merupakan guru SMKN 1 Kasihan Bantul ( SMKI Yogyakarta ), belajar Tari Klana topeng Gunung Sari dan Klana Alus Sri Suwela dengan Suwantoro yang merupakan guru SMKN 1 Kasihan, Bantul Yogyakata, dan belajar Tari Sekar Pudyastuti dengan Siti Sutiyah di Dalem Puja Kusuman Yogyakarta. Kegiatan rutin yang dilakukan mahasiswa program doktoral di ISI Surakarta ini sebagai pembina tari putra di Sanggar Tari Bali Yudhistira Puri Muncan Kapal, sebagai pendiri Komunitas Seni Kontemporer Pan-
cer Langit dan juga pendiri Pancer Traditional Archery Club tahun 2012. Tiap tahun ia selalu terlibat dalam mengkoreografi tari dalam event Pesta Kesenian Bali duta kabupaten Badung. Juga aktif membantu pemuda di Banjar ataupun di desa untuk kegiatan seni salah satunya membuat ogoh-ogoh. Selain itu kegiatan lainnya adalah perancang dan pembuat kostum tari dan karnaval. Beberapa karya kostumnya pernah mendapat predikat The Best National kostum baik di tingkat daerah, nasional ataupun international. Dalam dunia fotografi Agung Rahma pernah mendapatkan juara 1 Fotografi on the spot pada Garda Badung Festival 2015. Pria kelahiran 26 April 1988 ini dipercaya sebagai Koordinator bidang kesenian Karang Taruna Widya Dharma Bhakti Kelurahan Kapal, juga pernah mengabdikan diri sebagai pembina Ashram Gandi Puri dalam bidang seni budaya. “Di tengah negeri ini diguncang berbagai krisis termasuk krisis moralitas, maka sudah saatnya Prabhajnana Timur Raya (local genius) yang terpatri dalam konsep local-global dibangkitkan untuk mempertahankan jati diri bangsa serta untuk menapak masa depan emas mahasurgawi,” tegas Agung Rahma. –Ngurah Budi
Mozaik
Dapat Ide Langsung Kerjakan Tempat nongkrong menentukan kualitas karya. Kira-kira begitulah ungkapan yang biasa ditujukan untuk seseorang yang berkarya. Tempat dan komunitas serta lingkungan bergaul tidak jarang banyak memberikan pengaruh
bagi seseorang, khususnya dalam berkarya, setidaknya terjadi kontinuitas terhadap karya tersebut. Menilik Warung Jack yang berada di pojok bagian timur Taman Budaya NTB, yang selama ini dijadikan tempat nongkrong bagi seniman di Mataram, menjadi salah satu tempat bagi para seniman untuk meng ekspresikan karyanya dalam Pentas Selasa. “Setiap Selasa malam, kami menggelar pentas yang menampilkan musik, seni rupa, teater dan lainnya,” ungkap Agus Wintarno, pengelola pentas selasa Warung Jack. Warung sederhana ini selain untuk menggelar karya, juga kerap dijadikan ruang diskusi bagi para seniman yang kerap berkumpul untuk minum kopi dan bertemu sembari membuat rencana-
Warung Jack tidak hanya tempat menongkrong bagi seniman, melainkan juga bagi anak-anak mereka yang akhirnya juga dapat tampil di pentas selasa
rencana karya. Memang sebagai tempat nong krongnya seniman, Warung Jack tentu saja tidak menggelar pentas-pentas besar yang lengkap pada Pentas Selasanya, melainkan pentas sederhana namun bermakna. Bermakna guna menjaga daya hidup karya para seniman yang terlibat dalam pentas-pentas selasa yang selama ini digelar. “Setidaknya ini cara untuk menjaga daya hidup karya kawan-kawan seniman di Mataram,” kata Agus Win. Setiap hari, cukup ramai seniman datang berkumpul di warung kecil yang sederhana ini. Jika tidak sedang berkarya, tentulah pertemuan-pertemuan semacam ini adalah ajang silaturrahmi, bertemu untuk saling bicara dan saling melempar ide yang mengalir begitu saja.
“Tiba-tiba saja dapat ide dan langsung dikerjakan, misalnya diskusi tentang keroncong, ya akhirnya jadi Pentas Selasa bertema keroncong. Begitu juga dengan hal lain, bahkan pernah dilakukan pentas bagi mereka yang selama ini bukanlah vokalis namun akhirnya bisa tampil menyanyi dengan baik di Pentas Selasa,” kata Agus Win. Tentu saja dari ide tersebut kemudian diolah saat menongkrong dan yang tidak biasa bernyanyi harus latihan sebelum tampil. “Ternyata ada orang-orang yang selama ini dikenal tidak bisa menyanyi, dia bisa tampil oke pada Pentas Selasa,” ujar Agus Win. Inilah proses berkarya yang lahir dari sebuah tongkrongan ala seniman di Mataram. –Naniek I. Taufan
6
Satu persatu maestro tari Bali amor ring acintya. Penari legendaris Legong Peliatan yang ikut memperkuat misi kesenian Bali ke Eropa dan Amerika Serikat tahun 1952, Anak Agung Anom Setiari meninggal dunia 26 Juli 2016. Ibunda mantan Sekda Gianyar, Cokorda Gde Putra Nindia ini meninggal karena stroke.
S
ari Woman on Top ti e S m o n A g n u g emoriam Anak A
Edisi 913/ 8 - 14 agustus 2016
etiari dilahirkan di Banjar Teruna, Desa Pe l i a t a n p a d a 2 6 November 1938. Ia adalah keponakan Anak Agung Gede Mandera, pendiri sekaligus pimpinan Gong Peliatan. Sekaa ini telah pernah tampil di Colonial Exhibition, Paris tahun 1931. Sejak itu kemasyuran tari Legong merebak ke mancanegara sebagai salah satu jenis tari Bali yang paling elok seiring dimulainya kapal-kapal pesiar Belanda yang menandai awal
In M
bisnis pariwisata Bali. Beberapa tahun kemudian para peneliti dan budayawan Eropa berdatangan ke Bali untuk mendokumentasikan kebudayaan Bali. Usaha mereka membuahkan berbagai buku dan film, satu diantaranya Island of Bali yang memuat sketsa gerakan legong secara lengkap oleh Covarrubias. Tahun 1950 Mandera dipanggil Presiden Soekarno untuk ditawari membawa tarian Legong ke Eropa dan Amerika Serikat bersama rombongan yang dipimpin John Coast. Coast jatuh hati pada gong Peliatan berkat kharisma permainan kendang Mandera yang ekspresif dan mempesona sehingga amat layak ditampilkan untuk panggung internasional. Untuk penari Legong, Mandera
Pose legong Peliatan
Rangkesari Legong Peliatan
menjatuhkan pilihannya pada tiga penari muda belia yakni Gusti Ayu Raka, Anak Agung Anom Setiari dan Anak Agung Oka. Mereka dilatih oleh Gusti Made Sengog bersama Mandera. Keduanya menanamkan gerak tari yang spesifik sebagai kekhasan gaya Peliatan, diantaranya ngelayak. Dari ketiga penari Legong belia tersebut, sebagai condong Gusti Ayu Raka, AA Anom Setiari terpilih sebagai pemeran Rangkesari yakni putri raja cantik jelita yang dirayu Prabu Lasem, dibawakan A A Oka. Dalam kurun waktu dua tahun setelah kembali dari lawatan sepuluh bulan di luar negeri, sekaa gong Gunung Sari dibawah pimpinan Mandera makin terkenal. Mereka sering tampil di Istana Tampak Siring dan Bali Hotel mengisi acara kesenian untuk tamu kenegaraan. Orang-orang asing yang berada di Bali pun berdatangan ke Puri Kaleran untuk menonton atraksi Mandera dan kelompok seninya. Tahun 1958, Setiari menikah dengan Cokorda Gde Agung dari Puri Peliatan yang memberikan empat orang anak yakni Cokorda Istri Agung Murniati, Cok. Gde
Putra Nindia, Cok. Istri Ratih Iriani dan Cok. Istri Dalem Astiti. Diantara putra putrinya, hanya Cok. Ratih yang mewarisi bakat ibundanya. Setiari pernah mengatakan beberapa hal penting bagi penari legong Peliatan adalah posisi ngagem harus dilakukan dengan cengked dan selalu dengan posisi rendah (ngeed). Bila dalam gerakan nyeregseg pada waktu kembali ke arah semula harus diikuti dengan gerakan dagu seiring putaran tangan. Menurut penuturan Cokorda Gede Putra Nindia, ibunya menolak menerima segala tanda AA Anom Setiari dalam peran Rangkesari penghargaan dari pihak manapun karena kiprahnya di bi- tuk selama-lamanya di-pelebon dang tari diakui sebagai pengabdian 20 Agustus 2016 mendatang. diri pada seni tari. Disamping itu Namanya tetap dikenang sebagai ibunya mempunyai gagasan untuk pemeran Rangkesari yang tiada memperpendek durasi tarian yang bandingannya dalam pelegongan akan disuguhkan sebagai konsumsi Peliatan. Generasi penerus cukup wisatawan. antusias menggeluti tarian ini sehSetiari yang meninggalkan ingga akan tetap lestari sepanjang tujuh orang cucu telah pergi un- masa. -Kusuma Arini
Edisi 913/ 8 - 14 agustus 2016
Badan Penelitian Tanaman Jeruk dan Buah Subtropika (Balitjestro), Batu, Jawa Timur sukses menghasilkan tujuh jenis jeruk baru. Launching ketujuh jenis jeruk baru tersebut dilakukan oleh Dr Mohamad Zakir pada saat Balitjestro Innovation Technology Expo. Pada kesempatan yang sama juga dilakukan launching Buku Teknologi Inovasi Balai Penelitian sekaligus Tanaman Jeruk dan Buah Subtropika.
Balitjestro Hasilkan Tujuh Jenis Jeruk Baru
P
ada kesempatan sama Zakir menyerahkan ketujuh jenis jeruk tersebut kepada tujuh perwakilan daerah dari seluruh Indonesia untuk mengembangbiakan jeruk tersebut. Salah satu diantaranya adalah anak jenis jeruk Kepro Batu 53 yang diserahkan oleh Zakir kepada Putu Santika, Kepala Seksi Pengembangan Produksi Hortikultura, Dinas Pertanian Kabupaten Buleleng, Bali. Expo ini mengambil tema: Dukungan Innovasi Teknologi Jeruk dan Buah Subtropika dalam Mewujudkan Pertanian Bioindustri dan Kemandirian Pangan di Era Masyarakat Ekonomi Asean (MEA). Acara ini dihadiri ratusan utusan dari 16 Provinsi dan 40 kabupaten/kota se Indonesia dan berlangsung selama 4 hingga 6 Agustus 2016. Selama expo tersebut dilakukan
sejumlah kegiatan seperti kontes buah jeruk nasional, open house laboratorium dan kebun koleksi apel, kelengkeng, stroberi, anggur, wisata petik jeruk, display inovasi teknologi, aneka kursus gratis, lomba fotografi buah dan event via instagram, aneka lomba untuk
Segera Lengkapi Diri dengan “SIM” Ayo Ikuti Uji Kompetensi Tata Kecantikan Kulit & Tata Rias Pengantin Bali Mendukung “Gerakan negara Asean, perizinan Indonesia Kompeten” dan pun demikian. Jika mem“Denpasar Kota Kompeten”, buka salon atau yang lainTempat Uji Kompetensi nya, harus punya sertifikat (TUK) Agung kembali akan kompetensi dulu. Jika tidak menggelar Uji Kompetensi ada, tidak bisa buka usaha,” Tata Kecantikan Kulit dan ucapnya saat memberi Kewirausahaan, Sabtu 13 sambutan dalam pelaksaAgustus 2016, serta Uji naan Uji Kompetensi Tata Kompetensi Tata Rias PenRias Pengantin Bali, 3 juni gantin Bali (Payas Agung) 2016 di Gedung Bali TV. dan Madya, Minggu 14 Uji kompetensi yang Agustus 2016 bertempat diikuti 550 peserta itu pun di Wantilan Gedung Pers tercatat dalam Rekor MURI Bali K. Nadha (Bali TV), Dunia Indonesia sebagai Jalan Kebo Iwa 63A Denpeserta terbanyak. Atas pasar. dukungan penuh Pemkot Anak Agung Ayu Ketut Denpasar akan kegiatan Agung, Ketua TUK Agung tersebut, selain TUK Agung AA Ayu Ketut Agung yang juga Ketua Lembaga dan Viva Cosmetics, Wali Kursus dan Pelatihan (LKP) Agung Kota Denpasar, IB Rai D. Mantra pun menegaskan akan pentingnya memiliki menerima Piagam MURI. sertifikat uji kompetensi ini. “Sertifikat Mengingat pentingnya mengantongi ini ibaratnya SIM bagi pengemudi. Jadi sertifikat uji kompetensi tersebut, TUK jika tak mengantongi sertifikat uji kom- Agung kembali menggelar Uji Kompetensi, keahlian atau keterampilan petensi Tata Kecantikan Kulit dan Uji kita tak akan diakui,” ujar Bu Agung- Kompetensi Tata Rias Pengantin Bali sapaan akrabnya. (Payas Agung) dan Madya. Bekerjasama Hal tersebut juga berulangkali dis- dengan LSK Tata Kecantikan, LKP Agung, ampaikan orang nomer satu di Kota Lembaga Sertifikasi Kompetensi Tata Denpasar dalam berbagai kesempatan. Rias Pengantin, Viva Cosmetics, Moritz, Wali Kota Denpasar IB Rai D. Mantra dan Harian BisnisBali (Kelompok Media mengatakan sertifikat uji kompetensi Bali Post). Para pemilik salon, tukang ini penting untuk keberlangsungan ke payas, atau yang bergelut di bidang depan. “Apalagi sekarang dalam era tata rias yang belum mengantongi MEA yang mengharuskan jika ingin sertifikat uji kompetensi, diharapkan hidup, berusaha, dan berkelanjutan, mengikuti uji kompetensi ini. Untuk pendaftaran, hubungi Sekkita diharuskan memiliki SIM. Dalam hal ini, surat izin untuk berusaha retariat TUK Agung, Jalan Anggrek sesuai dengan kompetensi/keahlian No. 12 Kreneng, Denpasar. Telepon: kita. Karena nanti ke depannya, hal ini (0361) 233850, 087 861 424 158 akan dipersyaratkan baik oleh Negara- (Dewa Ayu). -inten
19
Wali Kota Batu, Edi Rumpoko (dua dari kiri) bersama Muhammad Zakir (dua dari kanan)
anak-anak, lomba membuat kudapan untuk anak berbahan jeruk dan buah subtropika, bursa benih dan buah dan kursus perbenihan jeruk. Walikota Batu Eddy Rumpoko yang hadir pada kesempatan itu, menyatakan terima kasih kepada kepala pusat penelitian dan pengembangan jeruk dan buah subtropika yang telah memilih Batu menjadi tempat penelitian jeruk dan buah subtropika ini. “Saya sangat berterima kasih karena acara ini dilangsungkan di Batu. Semoga dengan kegiatan ini bisa mendorong para petani buah khususnya jeruk di Batu untuk lebih mengembangkan lagi kegiatan mereka di bidang jeruk,” ujarnya. Eddy Rumpoko mengatakan sebagian besar masyarakat Batu adalah petani khususnyua buah-buahan dan sayur-sayuran. Berkat keberhasilan para petani mengembangkan pertaniannya, hal ini telah mendorong banyaknya wisatawan domestik dan asing datang ke Batu. Saat ini setahun kunjungan wisatawan asing dan domestik ke Batu sebanyak 4 juta orang. Semoga ke depan lebih banyak lagi wisatawan
yang datang ke Batu untuk menikmati berbagai ob”jek wisata khusus wisata pertanian di Batu,” harapnya. Eddy menambahkan saat ini Pemkot Batu sudah memiliki Balai Kota baru yang bernama Balai Kota Among Tani. Ini menunjukkan bahwa Pemkota sangat mendukung upaya untuk meningkatkan kesejahteraan para petani di Batu. “Balai Kota ini memang belum diresmikan tetapi sudah mulai ditempati. Jika sudah selesai semua nanti saya akan mengundang Bapak Presiden untuk meresmikannya. Balai Kota ini dinilai Balai Kota termegah seluruh Indonesia dan menelan biaya Rp 300 miliar,” jelasnya. Sementara itu, Zakir meminta kepada seluruh daerah yang menerima anakan jeruk baru tersebut untuk dikembangbiakan di daerahnya masing-masing. Sehingga ke depan bisa menghasilkan buah jeruk yang lebih banyak lagi di Indonesia dengan varietas unggul. Kepada para peneliti, Zakir meminta untuk terus menerus melakukan
penelitian dan pengembangan jeruk dan buah subtropika. Sehingga dapat menghasilkan bibit unggul yang tahan terhadap penyakit. “Saya minta peneliti tidak hanya sibuk duduk di laboratorium dan memberikan ceramah dalam berbagai seminar saja, tetapi saya minta agar mereka aktif turun ke lapangan. Lapangan ini menjadi lahan tempur dari para penelitian untuk menghasilkan varietas unggul yang tahan hama penyakit,” tegasnya. Menyinggung buah impor yang sekarang banyak mengalir ke Indonesia saat ini, Mohamad Zakir mengatakan saat ini pemerintah khususnya Kementerian Pertanian melakukan langkah untuk proteksi terhadap buah impor. Caranya dilakukan dengan melakukan penelitian dan pengembangan untuk menghasilkan varietas unggul yang tahan terhadap hama penyakit. “Jika kita memiliki buah yang dengan varietas ungguld dan tahan terhadap penyakit maka penghasilan buah kita ke depan lebih meningkatkan lagi dan hal ini bisa membendung buah impor.“Apalagi kalau buah lokal kita lebih manis, warnanya lebih bagus dan rasanya enak. Pasti orang kita lebih suka buah lokal daripada buah impor,” tegasnya. Setelah pembukaan, Mohamad Zakir dengan didampingi Eddy Rumpoko berkeliling menyaksikan dan mencicipi berbagai jenis buah jeruk yang dipamerkan dalam acara expo ini. ‘Ini jeruk rasanya manis dan enak,” ujarnya sambil mengarahkan sebagian buah yang sudah digigitnya kepada Eddy Rumpoko yang ada di sampingnya. Baik Mohamad Zakir maupun Eddy Rumpoko sangat kagum terhadap patung gurita yang terbuat dari ratusan buah jeruk dan terpampang di tepi jalan menuju arena pembukaan expo tersebut. -Yosef Sintar
Kerajinan Autoart Berbahan Limbah Kayu Jati Lokasi strategis, ternyata bukan satusatunya jaminan dalam mengembangkan bisnis. Buktinya, di Tulungagung ada salah satu tempat usaha yang lokasinya terpencil, tapi cukup tersohor. Namanya dikenal dimana-mana. Terutama di kalangan kolektor benda-benda antik, baik lokal maupun mancanegara. Usaha apa itu? Membuat kerajinan miniatur atau yang lebih dikenal dengan sebutan autoart. Lokasi kerajinan ini, berada di Desa Tawangsari, Kecamatan Kedungwaru, Tulungagung, Jawa Timur. yang dikelola oleh dua pemuda bernama Benny Mardiono dan Andhika Trisaputra. Tempatnya pun sederhana. Mereka hanya memanfaatkan lahan kosong samping rumah yang ukurannya tidak terlalu luas. Kurang lebih hanya 4x7 meter saja. Tapi di dalamnya, dipenuhi banyak kerajinan autoart yang unik dan menarik. “Ini termasuk kosong, Mas. Kemarin sebelum dikirm numpuk sampai
ke atas sana,” kata Benny Mardiono, sambil menunjuk arah penyimpanan barang. Dua pemuda ini terlihat sibuk membuat miniatur pesawat terbang kuno (Arado A-R) buatan Rusia pada 1937 yang dipesan sejumlah kolektor yang ada di Pulau Dewata, Bali. Pada saat itulah, pemuda berambut gondrong ini menceritakan semua bagaimana proses pembuatan autoart tersebut. Awalnya, kata Benny, memilih jenis limbah kayu yang cocok. Mulai dari ketebalan, panjang, lebar, dan serat kayu. Jika sudah ditemukan, kayu digosok sampai rata dan halus. Setelah itu, kayu dimal atau digambar sesuai bentuk yang diinginkan.”Ngemal ini kelihatannya sepele, tapi penting. Karena menentukan bentuk,” ujar Benny seraya mewanti-wanti bahwa setiap pekerjaan harus dilakukan dengan hati-hati. Kayu yang selesai dimal ini, kemudian di-
gergaji atau dipotong sesuai bentuk dan ukurannya. Yang perlu dingat harus hati-hati, jangan sampai kayunya patah atau mata gergaji mengenai kayu yang akan rakit. Selain tidak efektif , hasilnya juga kurang bagus. Setelah semuanya beres, masingmasing potongan kayu yang sudah jadi ini, dirakit menjadi satu. Jika tak ada masalah, proses finishing baru diBenny Mardiono & Andika Trisaputra lakukan. Kayu yang sudah dirangkai tersebut digosok atau diamplas lagi Benny ini selalu mengedepankan unsur detail sampai halus. Termasuk sambungan yang produk, sehingga menyerupai prototipe kurang rapat didempul menggunakan serbuk aslinya. Bentuk dan karakternya sama,” kata dan lem kayu. Agar kelihatan rapi. Biar keliBenny yang sudah 1 tahun menggeluti kerahatan sesuai aslinya kerajinan autoart buatan jinan autoart ini. Produk atau kerajinan yang dibuat Benny bersama Andika ini, memang fokus pada miniatur transportasi, diantaranya kapal udara, kapal laut, kapal perang, tank, dan sejumlah kendaraan darat lainnnya. Untuk masingmasing autoart dijual dari harga Rp 250.000 hingga Rp 2 juta per unit, tergantung ukuran dan sulitnya pekerjaan. Dari usaha kerajinan ini, Benny mengaku omzetnya rata-rata mencapai ratusan juta per bulan. Apalagi pada bulan-bulan tertentu, seperti liburan sekolah, hari raya, omzetnya bisa naik 10-15 persen. “Ya lumayanlah. Bisa cari penghasilan sendiri tanpa menggantungkan orang lain,” ujar Benny bangga dengan usaha mandirinya tersebut. -Khoirul Abadi
20
Nine
Edisi 913/ 8 - 14 agustus 2016
Fithriati Kahar
Awali dengan Percaya Diri
Tampaknya tidak banyak orang yang lahir dengan begitu banyak talenta dan nyaris seluruh talenta yang dimiliki itu pernah meraih prestasi. Fithriati Kahar adalah satu satu dari tidak banyak perempuan yang lahir dengan beragam talenta tersebut.
S
ejak kecil ia telah menjurai lomba-lomba baca puisi dan menari. Di usia yang terus beranjak remaja prestasi demi prestasi terus diraihnya bahkan hingga dewasa. Sejak SD ia sangat sering mewakili sekolahnya dalam berbagai lomba. Di masa kuliah di Fakultas Pertanian Universitas Mataram, perempuan kelahiran 25 November 1967 ini sangat aktif dalam berbagai kegiatan kesenian. Selain sebagai seorang penari, Yatik juga adalah pemain teater yang telah memainkan cukup banyak naskah
teater bersama para teaterawan dan seniman di Mataram. Ia juga seorang MC berbakat, desainer serta penata rias. Semua bakat dan keahlian yang dimilikinya itu ia peroleh dengan cara otodidak. Tidak satu pun dari bakat yang dimilikinya ini dipelajarinya secara khusus melalui kursus atau pun semacamnya. Bakat-bakat tersebut seperti telah ada dalam dirinya secara alami. “Semua saya coba dan memulai dengan rasa percaya diri saja,” ujar Yatik mengungkap tentang kunci suksesnya. Yang unik adalah, dua keahlian-
Yatik Kahar
nya sebagai desainer dan penata rias, ia dapatkan juga secara otodidak dan dengan percaya diri ia langsung tampil mengikuti sebuah ajang lomba dan dengan sangat
mengejutkan ia berhasil meraih juara satu. “Dari sana saya baru mengerti bahwa untuk menjadi sesuatu itu harus diawali dengan percaya diri,” katanya. Kisah ini menjadi unik bagi Yatik yang sama sekali tidak pernah merias wajah namun ia bisa tampil percaya diri. Hal ini terjadi di tahun 2007 ketika ia telah hijrah ke Sumbawa sejak tahun 1993. Ia dipanggil oleh kakaknya nomor 6 (Fatana) yang sekaligus mentornya itu, untuk mengikuti lomba rias pengantin di Mataram. “Semua itu karena dorongan yang kuat dari kakak saya yang menyuruh saya mengikuti lomba padahal kakak saya juga tahu saya tidak pernah sama sekali merias wajah siapa pun. Tapi saya memulainya dengan Bismillah…,” kata putri ke 10 dari 12 bersaudara yang lahir dari pasangan Abdul
Kahar dan Hj. Siti Fatmah ini. Dari lomba tersebut, ia berhasil menyabet juara satu dengan sangat mengejutkan. Padahal, Yatik mengaku hanya sesekali saja ia memperhatikan kakaknya tersebut merias pengantin karena ia memang seorang perias pengantin. Tidak ada keraguan sedikit pun dalam dirinya ketika mengikuti lomba rias pengantin untuk pertama kalinya ini.Iia hanya bermodalkan percaya diri dan yakin bisa. “Saya bahkan tidak pernah memakai model untuk mencoba merias sebelum tampil lomba. Saat lomba itulah saya pertama kali menyentuhkan peralatan rias di wajah model,” ungkap pemilik Griya Rias dan Dekorasi TYRA di Sumbawa ini.
Yatik Kahar bersama kliennya. Mendalami make up korektif, mengkoreksi kekurangan menjadi kelebihan tanpa mengubah wajah asli kliennya
lainkan tengah belajar untuk membuat sendiri melalui seluruh proses yang dimulai dari memilih bahan, menjahit hingga menghasilkan produknya. Dan banyak lagi prestasi lainnya yang berhasil ia raih. Dengan berbagai keahlian tersebut, Yatik yang kini bekerja sebagai Kepala Seksi Pengembangan Nilai Budaya Dinas Pendidikan, Olahraga, Kebudayaan dan Pariwisata (Disdikporabudbar) Kabupaten Sumbawa ini, menjadi salah seorang perempuan dengan pergaulan yang luas. Ia mengenal banyak orang sehingga banyak bersosialisasi dalam berbagai ruang dan waktu. Dari sanalah Yatik mengenal banyak klien yang kemudian memakai jasa Griya Rias dan Dekorasi TYRA. Inilah yang membuat usaha yang diberinya berdasarkan nama dirinya, suami dan dua anaknya, berjalan dengan baik. TYRA adalah singkatan dari nama suaminya Totok Sugiharto, Yatik namanya dan nama dua anaknya Rian (21) dan Aldi (17). Di Griya Rias dan Dekorasi TYRA, Yatik yang memiliki 12 karyawan ini menyYatik Kahar dengan salah satu piala kemenangannya iapkan paket lengkap
up. Make up itulah modal awal saya,” ujarnya tertawa. Saat merias p e n g a n t i n , Ya tik mendalami make up korektif yang mengoreksi kekurangan menjadi sebuah kelebihan bagi seorang perempuan, tanpa merubah terlalu banyak dari wajah aslinya. Adalah kebahagiaan tersendiri bagi Yatik ketika melihat klien puas dan semua kekurangannya tertutupi dengan menghasilkan kelebihan yang tidak merubah wajah asli kliennya. Yatik tidak hanya berprestasi dari sisi talenta yang dimilikinya, melainkan ia adalaah perempuan yang cerdas. Sejak sekolah dasar, sekolah menengah pertama dan sekolah menengah atas ia se-
untuk pernikahan dan acara lainnya seperti, dekorasi, rias pengantin, wardrobe pengantin yang ia jahit sendiri dan ia juga biasanya langsung menjadi pembawa acara (MC). Saat memulai Griya rias dan dekorasi TYRA ini, Yatik mengaku tak mengeluarkan modal yang banyak, melainkan hanya modal kepercayaan. “Ada yang memberi kepercayaan pada saya dengan memberi sejumlah uang untuk saya kelola pada sebuah acara pernikahan. Nah… dari uang itulah saya memulai semuanya,” katanya. Kecepatan berpikir, percaya diri dan yakin bisa disertai kecerdasan, m e m b u a t Ya t i k sukses mengelola kepercayaan tersebut yang kemudian menghasilkan hal yang memuaskan bagi kliennya. Begitu juga modal dalam merias. “Hadiah juara satu lomba merias adaYatik Kahar bersama suami dan dua anaknya lah peralatan make
Edisi 913/ 8 - 14 agustus 2016
Rahadewi Neta
Rahadewi Neta tak pernah mengira kalau mimpinya tampil di Olimpiade yang telah terkubur lama akhirnya menjadi nyata. Neta, begitu wanita cantik ini akrab disapa, sebagaimana atlet lainnya merindukan untuk bisa berlaga di Olimpiade, pesta olahraga terbesar di dunia, namun tahun 2007 ia terpaksa menelan pil pahit gagal dalam kualifikasi persiapan Olimpiade Beijing 2008.
Rahadewi Neta wasit terbaik pada US Open Taekwondo Championship 2014
M
lalu menjadi juara kelas. Dan saat mengakhiri kuliahnya di Fakutas Pertanian Universitas Mataram, Yatik membawa pulang gelar sarjana dengan IPK nyaris Summa Cum Laude. Begitu juga saat ia mendapat beasiswa dari Bappenas RI ketika ia mengambil Magister Perencanaan Kota dan Daerah di Fakultas Arsitektur UGM, ia berhasil lulus dengan IPK 3,9 dan menyelesaikan pendidikannya selama 13 bulan. Yatik memang perempuan yang sangat aktif dan tidak pernah diam. Hari-harinya selalu diisi dengan berbagai kegiatan positif. Di antara segudang aktivitasnya itu, Yatik masih sempat aktif sebagai Koordinator Bina Dewasa pada Pramuka Korcab. Sumbawa. Sebagai instruktur tingkat nasional bidang tata rambut dan memiliki sederet keahlian lainnya, Yatik tengah mencita-citakan untuk memiliki sebuah lembaga pendidikan semacam pusat kegiatan belajar tempat ia berbagai ilmu merias, busana bahkan kesenian. “Saya ingin berbagi ilmu yang saya miliki kepada orang lain agar bisa dimanfaatkan untuk kehidupannya,” katanya. -Naniek I. Taufan
5
Wasit Perempuan Pertama di Olimpiade
–Naniek I. Taufan
Tak pernah Mulai tak kan pernah Bisa
Secara jujur Yatik mengungkapkan bahwa ketika pertama kali merias dan langsung ikut lomba ia memang grogi. Namun dengan satu keyakinan yang dipegangnya yakni kalau tidak pernah memulai maka tidak akan pernah bisa. Dan, Yatik memang membuktikan hal tersebut, bahkan melampaui hasil yang tidak pernah dibayangkan, langsung keluar sebagai yang terbaik. Sejak itulah, berturut-turut hampir setiap tahun ada lomba sejenis, Yatik selalu meraih prestasi sebagai juara satu. Tidak hanya pada tata rias pengantin, Yatik juga sukses meraih juara satu instruktur tata rias rambut dan begitu pula dengan lomba tata busana ia sukses sebagai juara 1 kategori Baju Internasional. Pada tahun 2009 ia meraih juara 1 Desain Busana Kerja. Kini ia tidak saja mendesain busana me-
Inspirasi
eski gagal, wanita kelahiran Surabaya Mei 1984 ini tak patah arang dengan olah raga yang telah ditekuninya sejak 1993. Namun ia banting stir, setelah meraih medali perak pada SEA Games, Laos, 2009, ia pun langsung mendaftar ikut pelatihan wasit. Di bidang ini lah yang akhirnya mempertemukan Neta dengan mimpinya berlaga di Olimpiade. “Saya sungguh tidak mengira kalau pada akhirnya bisa juga sampai ke Olimpiade. Yang tadinya dream failed menjadi ‘dream come true’,” ungkap Neta di kantor UTI Pro (Universal Taekwondo Indonesia Profesional) Pluit, Jakarta Utara. Berawal dari datangnya surat panggilan dari Federasi Taekwono Dunia (WTF), di mana ia menjadi salah satu yang diundang untuk ikut seleksi wasit taekwondo dari Asia untuk ajang Olimpiade Rio De Janeiro, Brasil yang digelar 5-21 Agustus 2016 mendatang. “Surat panggilan by email itu April tahun lalu. Awalnya saya tidak mengerti.Lalu saya tanya pada master saya yang tahu tentang hal itu. Master saya bilang, panggilan itu memang bukan karena apply kita tapi karena federasi yang memilihnya berdasarkan ranking. Jadi, mereka yang berada di ranking 1 sampai 100 akan diundang untuk ikut tahapan seleksi. Saya sendiri nggak nyangka ya, karena kan saya nggak pernah ngecek ranking sendiri,” jelas Neta. Tentu saja Neta senang luar biasa karena jalannya untuk ke Olimpiade terbuka kembali, meski tidak sebagai atlet. Di sisi lain dia juga sadar tantangan untuk bisa mencapai impiannya itu luar biasa berat. Pasalnya, ia harus
bertarung prestasi dengan wasit di seluruh dunia untuk masuk dalam 30 besar wasit dunia. Untuk sukses tentu bukan pekerjaan mudah. “Uhh berat banget,” kata Neta yang mengaku tahapan tes berlangsung berbulan- bulan. Dia bukan hanya harus mengikuti training camp, tapi juga harus memimpin sejumlah pertandingan internasional. Walhasil, dia harus berkeliling ke banyak negara un-
equality atau kesetaraan. Dan saya bukan satu-satunya wasit dari Asia yang terpilih,” ucapnya. “Kalau ngomong perjuangannya, wah jangan ditanya, panjang banget. Selama setahun ikut berbagai macam seleksi yang digelar di beberapa negara. Selain itu, kita tidak diperbolehkan berbuat kesalahan sedikitpun, baik itu secara teknis maupun non-teknis, termasuk dalam hal attitude kita. Nggak boleh salah. Jika itu terjadi, nama kita langsung dicoret. Seleksinya memang super ketat. Seleksi ketat ini terjadi sejak menjelang Olimpiade London 2012. Hasil dari seleksi ketat itu maka pertandingan taekwondo pada Olimpiade London sukses tanpa protes,” papar Neta yang menikah dengan Rizal Syamsul, sesama taekwondoin pada 2011. KELUARGA TAEKWONDO Menurut Neta, taekwondo sudah mendarah-daging dalam hidupnya. Tak heran karena dia dibesarkan dalam keluarga yang
Rahadewi Neta saat memimpin turnamen di korea
tuk menjalani berbagai tes, di antaranya Fujairah, Uni Emirat Arab, Manchester, Inggris, juga Turki. Tapi ibu dua anak yang telah mendapat restu suaminya untuk melakoni itu semua, bertekad akan melakukan yang terbaik yang ia bisa untuk lolos ke Olimpiade. Hasil kerja keras dan pengorbanan Neta pun membuahkan hasil. Dalam pemeringkatan wasit dunia, Neta sempat bertengger di ranking empat dunia, dia juga berhasil menyabet penghargaan sebagai wasit terbaik. Ditambah hasil positif dalam berbagai tes yang dijalaninya, akhirnya wanita murah senyum ini pun melaju ke Olimpiade Rio. Menariknya, kata Neta, dari 30-an wasit yang terpilih, setengahnya adalah wanita. “WTF sekarang mengutamakan
semuanya bergelut di bidang taekwondo. Ia sendiri mulai belajar olah raga asal Korea itu saat usianya 9 tahun. “Di rumah ada samsak, tiap hari sama bapak disuruh nendang –nendang samsak, latihan mukul, terus lari berkilo-kilo,” cerita anak bungsu dari empat bersaudara tentang awal berlatih. Kedisiplinan yang diterapkan sang ayah, tak sia-sia. Sejumlah prestasi telah ditoreh Neta, baik dari dalam maupun luar negeri, di antaranya; medali perunggu di Kejuaraan Taekwondo Asia di Hong Kong, medali perak di Amerika Terbuka di Oregon, dan medali emas di Woman Islamic Solidarity International Taekwondo Championship di Iran. Tahun 2009, kata Neta dia pun
Rahadewi Neta
mengambil lisensi wasit nasional kemudian meningkat ke lisensi internasional. “Untuk mendapat lisensi internasional kita harus memiliki pengalaman, jam terbang tertentu, khususnya memimpin event-event resmi WTF, hal ini untuk mendapat ranking dunia,” ucap Neta yang akan berangkat menuju Brasil pada 13 Agustus mendatang. Pertandingan taekwondo sendiri akan digelar pada 17 Agutus. Neta bercerita tentang awalnya tertarik menjadi wasit. “Iya awalnya sih hanya simple aja ya, dulu waktu jadi atlet ngeliat wasit pakai dasi kok sepertinya keren betul, sementara kita atlet latihan pakai kaos oblong. Alasan lainnya ya ketika di tingkat nasional ternyata hanya segelintir wanita saja yang punya keberanian menjadi wasit. Trus saya tanya, boleh nggak wanita jadi wasit, dijawab boleh. Lalu saya ikut seminar nasional dan internasional untuk jadi wasit,” tuturnya. Secara terus terang diakuinya, saat ini selain senang bisa lolos tapi juga merasa ada beban. Pasalnya, ini lah pertama kali ia akan tampil memimpin pertandingan di event sebesar Olimpiade. Belum lagi ia dan semua wasit terpilih mendapat wantiwanti serius tidak boleh melakukan kesalahan sekecil apapun dalam memimpin pertandingan. “Induk organisasi dunia bilang, ini adalah top-nya event, nggak ada lagi event di atas Olimpiade. Jadi kami jangan berbuat kesalahan. Semua yang kamu dapat selama edukasi, harus benarbenar diterapkan di lapangan, jangan sampai ada miss. Kami terpilih karena kami adalah best of the best-nya refree in the
world,” ujarnya. “Jadi memang perlu persiapan mental karena, terus terang saja ya, semakin mendekat event rasanya semakin nervous, ya seperti atlet yang mau bertanding. Karena posisi wasit penting, harus membawa pertandingan benar-benar berjalan baik,” katanya. Ia merasa yakin, meski sudah dinyatakan terpilih, namun tes-tes tetap dilakukan. “Istilahnya, dari artikel satu sampai artikel terakhir benar-benar harus di luar kepala. Karena itu penting banget. Misalnya, pas dalam kondisi panik. Karena kan pertandingan berjalan cepat banget, lalu tiba-tiba kita nggak tahu harus ngapain. Blank. Blank itu yang kadang menjadi presure tersendiri. Makanya kita harus menguasai semuanya. Jangan sampai terjadi seperti beberapa tahun lalu, banyak kasus terjadi karena wasit nggak nguasain,” tutur Neta. Gara-gara seringnya terjadi protes dari peserta kemudian induk organisasi membuat berbagai terobosan, di antaranya dengan membuat electronic head guard dan electronic body protector. Ini dimaksudkan agar semua pertandingan bisa berjalan fair, tidak terjadi protes. -Diana Runtu
Rahadewi Neta
4
Inspirasi
Mimpikan
Edisi 913/ 8 - 14 agustus 2016
Arya
Mini Album Terkadang harapan tidak sesuai dengan kenyataan, begitulah ungkapan yang menggambarkan kehidupan pria berlesung pipit ini. Terlahir di keluarga sederhana membuat Putu Arya Suarnata, S.Pd., menggantungkan cita-cita setinggi langit. Alumni SMAN 1 Gerokgak ini sangat berantusias menjadi anggota TNI, akan tetapi nasib belum berpihak kepadanya.
D
ari tiga kali mengikuti seleksi mengikuti seleksi namun kandas di penentuan akhir (pantuhir) hingga ahirnya memutuskan untuk kembali mencari ilmu di bangku kuliah. Ibarat jatuh tertimpa tangga pula,lagi-lagi kekecewaan datang menghampiri. Jurusan pendidikan jasmani yang ia inginkan dan mencoba mengikuti seleksinya juga dinyatakan tidak lolos. Arya, sapaan akrabnya tidak pernah menyerah, tahun 2009 kampus STKIP Agama Hindu Singaraja menjadi tumpuan akhir dengan mengambil Jurusan Ilmu Pendidikan prodi pendidikan Agama Hindu. Mungkin inilah yang dikatakan jalan-Nya lebih indah dari jalan yang ia inginkan. Semasih menjadi mahasiswa, pria yang lahir 4 November 1988 ini banyak menorehkan prestasi. Berbagai organisasi yang diikuti di antaranya, menjabat sek-
retaris II HMJ tahun 20102 0 1 1 , Wa k i l Ke t u a H M P S Pendidikan Agama Hindu tahun 2011-2012, menjabat sebagai Wakil Ketua Pimpinan Cabang Kesatuan Mahasiswa Hindu Dharma Indonesia Buleleng tahun 2011-2013, dan Ketua Pimpinan Cabang Kesatuan Mahasiswa Hindu Dharma Indonesia Buleleng tahun 20132015. “Saya menggemari organisasi dari awal perkuliahan tepatnya di tahun 2009. Mungkin ini yang dibilang Hyang Widhi merestui Karma Yoga ini, tidak ada yadnya yang sia-sia,” ujarnya. Tidak hanya di bidang nonakademik, anak dari pasangan Made Samiana dan Ketut Suarmini, S.Pd, SD., juga berprestasi di bidang akademik. Ia diwisuda pada bulan November 2013 dengan predikat cumlaude dengan IPK 3,78. Selain mendapatkan peringkat ketiga dari ratusan mahasiwa
Putu Arya Suarnata, S.Pd.
Arya juga mendapatkan apresiasi dari kampus sebagai mahasiswa berbakat dan berprestasi pada saat wisuda. Rupanya pria yang dipercaya sebagai Sekretaris Umum Dewan Pimpinan Daerah Komite Nasional Pemuda Indonesia Kab. Buleleng masa bakti 20162019 ini sejak kecil memiliki hobi bernyanyi. Tetapi karena keterbatasan biaya, orangtuanya tidak terlalu fokus dengan bakat tersebut. Barulah ketika memasuki bangku SMA, Arya mengasah bakat menyanyi dengan mengikuti berbagai festival band dan Porseni yang dilatih oleh guru vokal. Selain itu banyak juara yang pernah diraihnya, diantaranya juara 1 Tingkat Nasioanal Cipta Lagu Keagamaan Hindu Tingkat Nasional Perguruan Tinggi Agama Hindu SeIndonesia, Juara III Lomba Menyanyikan Lagu Presiden SBY Tingkat Provinsi Bali, juara 1 Tingkat Provinsi Bali Pemilihan Bintang Radio Indonesia Dan ASEAN, Semifinalis Bintang Radio Indonesia dan ASEAN 2013 di Jayapura (Papua), Juara 1 Pemilihan Bintang Radio Indonesia dan Asean RRI Singaraja tahun 2012, Semifinalis Bintang Radio Indonesia dan ASEAN tahun 2012 di Sumatra Utara (Medan), Juara 1 Pemilihan Bintang Radio Tingkat Nasional dan ASEAN RRI Singaraja Tahun
2011, dan Semifinalis Pemilihan Bintang Radio Tingkat Nasional dan A SEAN tahun 2011 di Manado. Dari segudang prestasi yang pernah diraihnya, cita-cita yang belum sempat diwujudkan adalah memiliki mini album. “Mini album ini sebagai bukti sejarah hidup dalam tarik suara. Semoga cita-cita ini cepat bisa diwujudkan,” tambahnya pria murah senyum ini. Ketika diminta memilih antara pekerjaan dan menekuni hobi, Arya mengungkapkan dunia tarik suara adalah sebatas hobi bukan sebagai prioritas. “Dunia tarik suara bukan untuk menunjang hidup, tetapi sebagai pondasi untuk menunjang kehidupan saya harus bekerja,” paparnya. Pengalamannya di organisasi membukakan jalan menjadi tenaga outsorsing di Kantor Komisi Pemilihan Umum (KPU) tahun 2014. Terakhir Arya mencoba mengikuti seleksi dan diterima di Kantor Kementerian Agama Kabupaten Buleleng tahun 2015 sebagai pegawai sampai sekarang. Baginya, semua prestasi yang diraihnya merupakan hasil kerja keras sang ibu. Menurut-
Mandalika
21
Edisi 913/ 8 - 14 agustus 2016
Presiden Jokowi Buka MTQN ke-26 di NTB
Ketika pembukaan MTQN ke-26 beberapa waktu lalu, masyarakat telah menyemut di Islamic Center Mataram yang merupakan pusat diselenggarakannya kegiatan MTQN 26. Warga yang berdesakan itu antusias menyambut peristiwa yang pernah terjadi 43 tahun di kala NTB menjadi tuan rumah MTQN tahun 1973. Selain ingin menyaksikan pembukaan MTQN, mereka juga menantikan kehadiran Presiden RI Joko Widodo. Benar saja, begitu tiba di Islamic Center, Presiden RI yang didampingi Ibu Negara, Hj. Iriana Joko Widodo, tidak langsung masuk ke arena utama MTQN melainkan berjalan mendekat kepada masyarakat.
P
residen RI yang dikenal dekat dengan masyarakat ini, tanpa segan menyalami rakyatnya yang histeris menyambutnya. Gemuruh tepuk tangan dan histeria warga terjadi selama lebih kurang 20 menit sepanjang Presiden RI menyapa rakyatnya yang berada di luar arena utama yang dipenuhi oleh para kafilah, tamu-tamu negara, pimpinan lembaga negara, para duta besar perwakilan negara sahabat, para
menteri kabinet kerja, Sekjen Robitoh Alam Islami para peserta konferensi internasional, para gubernur se-Indonesia, tokoh agama dan tokoh masyarakat serta khafilah dari 34 Provinsi seIndonesia. Pada saat itulah, Joko Widodo memperlihatkan “kelasnya” sebagai seorang pemimpin yang mencintai rakyatnya. Tentu saja sikap dan teladan Sang Pemimpin ini merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari isi dan kandungan Alquran.
Presiden RI, Gubernur NTB dan Menteri Agama memukul Gendang Beleq pada acara pembukaan MTQN 2016
Puluhan ribu warga memadati arena Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) Nasional ke-26 yang berlangsung di Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat. Sejak dibuka secara resmi oleh Presiden RI Joko Widodo tanggal 30 Juli 2016, setiap malam masyarakat tumpah ruah menyaksikan dan mendengarkan lantunan ayat-ayat suci Alquran yang dibacakan oleh para Qori dan Qoriah terbaik dari seluruh Indonesia.
Seluruh areal Islamic Center yang menjadi pusat diselenggarakannya MTQN ke-26 ini, penuh sesak oleh manusia. Demikian pula di sepanjang jalan Langko sekitar Islamic Center dan juga jalan Udayana Mataram, warga berdesak-desakan untuk bisa mendapatkan tempat yang nyaman untuk menonton menyaksikan dan mendengar khusyuknya para Qori dan Qoriah melantunkan ayat-ayat suci Alquran.
Tribun yang membentang luas dari utara ke selatan memenuhi kawasan utama arena di dalam areal utama Islamic Center tiap malam sesak oleh penonton. Mereka yang tidak dapat masuk ke dalam areal utama terpaksa berdesak-desakan menonton dari layar lebar (videotron) yang disiapkan panitia di simpang jalan Langko dan Jalan Udayana. Bahkan untuk sekedar jalan saja, penonton dan pengunjung harus saling berdesakan. –Naniek I. Taufan
Keluarkan PP Bentuk Universitas Islam Internasional
nya ibu adalah seorang yang sangat sabar dan bijaksana. “Sosok ibu adalah orang yang sangat luar biasa, perjuangan dari dalam kandungan hingga melahiran saya,” lanjutnya. Orangtua merupakan contoh dan anutan baginya. - Wiwin
“Dunia tarik suara bukan untuk menunjang hidup, tetapi sebagai pondasi untuk menunjang kehidupan saya harus bekerja”
Ini sebuah peristiwa yang tidak akan pernah dilupakan oleh masyarakat NTB, khususnya yang tinggal di Pulau Lombok. Mereka rela datang menempuh jarak puluhan kilometer, dari Lombok Timur, Lombok Barat, Lombok Tengah hingga Lombok Utara demi bisa menyaksikan peristiwa Islami yang pernah terjadi 43 tahun silam di NTB dan baru kini terulang kembali. Sesungguhnya antusiasme warga memadati Islamic Center selama kegiatan yang berlangsung hingga ditutup pada tanggal 7 Agustus 2016 ini, lebih karena memang nuansa Islami di pulau dengan julukan Pulau Seribu Masjid ini sangat kental. Karena itulah mereka rela datang dari jauh bahkan menggunakan mobil-mobil pick up membawa serta seluruh keluarga demi dapat menjadi bagian dari peristiwa Islami yang senyawa dengan kehidupan keagamaan mereka. “Saya berangkat dari Lombok Timur sejak tadi jam setengah lima sore. Shalat Magrib di Masjid Raya Mataram
agar bisa dapat duduk di tribun dalam,” ungkap Rohmah asal Lombok Timur yang datang bersama anak-anak dan keluarganya. Rohmah hampir tiap malam datang menonton MTQN ini. Beberapa kali menonton ia hanya kebagian menonton layar lebar di simpang BI dan duduk di aspal jalan raya. Itulah sebabnya di malam ke empat ia sengaja datang lebih awal dan ia sukses mendapatkan tempat duduk terbaik di tribun depan panggung utama. Ia merasa sangat bahagia sekaligus terharu ketika mendengarkan suara Qori dan Qoriah yang begitu indah melantunkan ayat-ayat suci Alquran. Jiwanya tersentuh sampaisampai ia menangis. “Masya Allah… suara mengajinya menggetarkan hati saya,” ujarnya dengan mata berkaca. Hal yang sama juga terjadi pada Raihan, penonton asal Lombok Utara yang datang pada malam final MTQN 2016. Karena jarak yang jauh, ia hanya dapat dua kali menonton dan ikut berdesakan
Warga yang antusias menyaksikan MTQN 2016 di Islamic Center
dengan puluhan ribu manusia lainnya. Di malam final itu, Raihan meneteskan air mata tatkala ayat-ayat suci yang diperdengarkan dengan begitu indah. Umat Islam mana yang tidak bergetar ketika mendengar lantunan ayat-ayat suci dibacakan dengan suara yang merdu dan komunikatif. “Langsung masuk ke dalam hati saya,” ujarnya. Begitulah MTQN 2016, telah menggetarkan jiwa-jiwa kaum muslim yang memaknai Alquran sebagai pegangan hidupnya. Tampaknya apa yang menjadi harapan Presiden RI Joko Widodo kala membuka MTQN 2016 ini terwujud di Pulau Lombok. Membumikan Alquran sehingga lebih dapat dipahami dan dilaksanakan oleh seluruh masyarakat, demikian pesan Sang Presiden. “Prestasi adalah utama namun yang lebih utama lagi adalah syiar dan dakwah tentang bagaimana membumikan Alquran itu,” ungkapnya. Presiden RI ini mengajak seluruh masyarakat Indonesia untuk menjadikan Alquran sebagai pegangan kehidupan yang hakiki, sehingga dapat menuntun masyarakat menjadi pribadi yang santun dalam bertutur bersikap serta berperilaku. Presiden menyentil kebiasaan mengungkapkan sindiran-sindiran pedas, mencela, mengumpat, mengejek, menjelek-jelekan orang lain salah satunya melalui media sosial terutama saat kontelasi politik meningkat tiap kali pesta demokrasi berlangsung di negeri ini, dinilainya sebagai sebuah sikap yang tidak sesuai dengan isi dan kandungan Alquran. Ia mengajak agar MTQN ini dilihat sebagai perekat yang hakekatnya harus diamalkan diresapi serta diamalkan dalam kehidupan sehari-hari.
Salah satu acara kesenian pada pembukaan MTQN 2016
Ke depannya, presiden menaruh harapan besar agar Indonesia dapat menjadi sumber pembelajaran Islam di dunia. Karena itu telah dikeluarkan Peraturan Presiden untuk membentuk Universitas Islam Internasional. “Kita ingin kehidupan berbangsa dan bernegara sejuk, damai dan indah. Mari jaga kehidupan berbangsa dan bernegara. Jadikan MTQN ini sebagai stimulan untuk meningkatkan pengamalan ajaran Islam yang Rahmatallil Alamin,” pesan Presiden. Gubernur NTB Dr. TGH M Zainul Majdi juga mengungkap, hakikat MTQN ini bagi masyarakat NTB adalah suatu motifasi untuk selalu bekerja keras memberi kontribusi terbaik bagi bangsa. Gubernur yang merupakan lulusan tafsir terbaik pada universitas Islam Al Azhar Mesir ini juga menyebut, kesukacitaan MTQN di NTB ini tidak hanya dirasakan umat Islam semata, melainkan seluruh masyarakat NTB juga turut bersuka cita. “Saudara kita dari warga Tionghoa juga ikut berpartisipasi dengan memasang lampion di sepanjang ruas jalan di wilayah
Cakranegara,” terangnya. Gubernur juga mengaku beberapa waktu yang lalu menerima surat yang ditandatangani pendeta yang ingin turut berpartisipasi menyukseskan MTQN di Mataram. Hal ini, lanjutnya, membuktikan bahwa seluruh umat beragama di NTB punya tekad yang sama untuk ikut menyukseskan MTQ Nasional. Hal yang sama juga diungkapkan Menteri Agama, Lukman yang mengungkapkan bahwa perlombaan dalam MTQ tidak hanya bicara soal penampilan seni membacanya, melainkan juga adanya keterbukaan agar tercipta perlombaan yang jujur. “MTQ bukan soal seni suara maupun forum ilmiah dalam menafsir dan menalar serta mengartikan ayat-ayat Tuhan, tetapi juga diperlukan sikap keterbukaan dalam upaya yang konkrit untuk menciptakan sportivitas bagi seluruh peserta,” katanya. Tentu saja pesan ini adalah kandungan yang ada dalam Alquran yang harus dijalankan baik oleh seluruh peserta dan penyelenggara MTQN maupun dalam kehidupan masyarakat sehari-hari. -Naniek I. Taufan
22
Edisi 913/ 8 - 14 agustus 2016
“Penasaran!” Itulah salah satu alasan kedatangan masyarakat ke pameran Koleksi Seni Rupa Istana Kepresidenan RI di Galeri Nasional, Jakarta. Maklumlah lukisan-lukisan koleksi Istana Kepresidenan ini memang baru kali ini dipamerkan kepada masyarakat. Sebut saja lukisan karya Raden Saleh yang berjudul “Penangkapan Pangeran Diponegoro” yang dibuat tahun 1857, atau karya Henk Ngantung yang berjudul ‘Memanah’ yang memiliki nilai sejarah tersendiri.
S
elain para pelukis kesohor itu, juga dipamerkan karya para pelukis kenamaan lainnya seperti Affandi, Dullah, Gambiranom Suhardi yang melukis Jenderal Sudirman, Trubus Sudarsono, S Soedjojono, dll. Tak ketinggalan, masyarakat juga dapat melihat lukisan karya Presiden Sukarno yang diberi judul ‘Rini’. Pameran bertajuk ‘Goresan Juang Kemerdekaan’ Koleksi Seni Rupa Istana RI ini dapat dinikmati masyarakat sepanjang Agustus ini. Ada 28 lukisan yang dipamerkan, terdiri dari 18 lukisan tokohtokoh bangsa serta perjuangan masyarakat menuju kemerdekaan, termasuk di antaranya lukisan yang menggambarkan kondisi masyarakat pada masa itu, dan 10 lukisan bertema nusantara. Selain itu juga dipamerkan buku-buku yang menyimpan data-data koleksi Istana, baik itu lukisan, patung, keramik, dll. Selain ruang pamer lukisan, juga ada ruang pamer yang berisi koleksi foto-foto jaman perjuangan serta display tentang perjalanan sejarah koleksi benda seni Istana Kepresiden RI. Untuk memahami lukisan-lukisan tersebut, pengunjung tak perlu khawatir selain masing-masing lukisan diberi narasi singkat tentang latar belakang lukisan itu, pengunjung juga dapat meminta bantuan pemandu yang jumlahnya cukup banyak di arena pameran. Beberapa lukisan terlihat sangat menarik pengunjung, di antaranya adalah karya Basoeki Abdullah yang berjudul ‘Diponegoro Memimpin Pertempuran’. Lukisan yang berukuran 120 x 150 cm yang dibuat tahun 1949 langsung berhadapan dengan pintu masuk ruang pamer. Setidaknya di antara koleksi lukisan yang dipamerkan ada tiga karya terkait dengan Pangeran Diponegoro, di antaranya yang dibuat oleh Soedjono Abdullah. Sedang lukisan lainnya adalah karya Raden Saleh yang berjudul ‘Penangkapan Pangeran Diponegoro’. Inilah lukisan paling tua (1857) yang berada di ruang pamer Koleksi Seni Rupa Istana Kepresidenan. Raden Saleh lahir di Semarang 1811 dan meninggal di Bogor 1880, merupakan pelopor seni rupa modern Indonesia. Ada cerita menarik dibalik lahirnya lukisan yang dibuat oleh maestro seni rupa Indonesia itu. Dijelaskan, lukisan yang berukuran 112x179 cm ini terinspirasi oleh lukisan pelukis Belanda Nicholaas Pienemaan yang bertajuk ‘Penyerahan Diri Dipo Negoro kepada Letnan Jenderal HM de Kock, 28 Maret 1930, yang mengakhiri Perang Jawa. Berbeda dengan Pienemaan, lukisan Raden Saleh lebih bernada nasionalisme sekaligus memberi gambaran tentang dramatisasi hidup Sang Pangeran di depan tentara penjajah. Hal ini terlihat dari judul dan sikap figur Diponegoro yang ada pada lukisan tersebut. Lukisan itu sendiri dikerjakan Raden Saleh di Belanda yang kemudian diserahkan kepada Ratu Belanda. Lukisan ini mengecam sikap penjajahan di Jawa dan menuntut agar Belanda mengembalikan martabat orang Jawa. Karena itu Raden Saleh juga menggambarkan dirinya dalam lukisan sebagai seorang saksi penangkapan yang penuh kecurangan tersebut. Lukisan ini diberikan Pemerintah Belanda ke-
Koleksi Istana Kepresidenan dan Kisahnya dan temannya-temannya tidak bisa langsung mereka harus mengantri dulu menunggu giliran. “Kami urut ke 60, sekarang baru urut ke 12,” kata Rika sambil menunjuk ID Card yang dikenakannya yang bertuliskan angka 60. Ia juga mengaku telah menitipkan sebagian barang-barangnya di counter penitipan karena tidak diperbolehkan dibawa masuk ke ruang pamer. “Kita tidak boleh bawa kamera dan tas. Hanya boleh bawa HP dan dompet,” ucap gadis berkerudung itu. Tidak seperti pameran pada umumnya, pameran lukisan koleksi Istana ini memang memberlakukan aturan yang ketat. “Tas, jaket, topi, kacamata, peralatan tulis-menulis, kamera, dll, harus dititipkan di counter penitipan. Yang diperbolehkan hanya bawa HP dan dompet. HP boleh dipakai untuk memotret tapi dilarang memotret close-up juga tidak boleh pakai blitz,” ungkap petugas. Untuk menonton pameran, pengunjung harus registrasi dulu di loket pendaftaran. Di sana pengunjung akan dicatat namanya, e-mail juga nomor Suasana ruang pameran seni rupa koleksi istana kepresidenan kontaknya, setelah itu diberi ID Card yang bertupada Pemerintah Indonesia pada 1978 bersamaan datang ke Bali guna beristirahat selama 10 hari. liskan nomor antrian. dengan peristiwa kembalinya sejumlah artefak Tentu saja ada banyak perubahan yang dibuat Su“Iya memang tidak bisa langsung masuk, harus warisan budaya lainnya. karno dari sketsa semula. menunggu giliran. Kuota pengunjung di dalam ruLukisan lain yang juga menarik perhatian adalah ang pamer hanya untuk karya Henk Ngantung berjudul ‘Memanah’. Karya SERIBU 50 orang. Pengaturan ini pelukis yang juga mantan Gubernur DKI Jakarta demi keamanan juga kePENGUNJUNG (1964-65) ini secara kebetulan dipakai sebagai latar nyamanan pengunjung PER HARI belakang pembacaan Proklamasi RI. Itulah sebabnya dalam melihat berbagai Sejumlah warga yang lukisan berukuran 153 x 153 cm yang dibuat tahun koleksi yang dipamerkan,” tengah sabar mengantri gil1943 ini ikut dipamerkan. ungkap petugas registrasi iran melihat lukisan-lukisan Namun begitu ada cerita menarik di balik dengan ramah. koleksi Istana Kepresidenan lukisan yang menjadi salah satu favorit Bung Karno Menurutnya, sejak mengaku mereka antusias ini. Ceritanya, sebagai terungkap dalam penjelasan pameran digelar 2 Agusdatang kepameran bukan lukisan, Bung Karno menemukan lukisan tersebut tus lalu, masyarakat begitu hanya karena baru kali ini pada 1944 saat pameran di Keimin Bunka Sidosho antusias berkunjung. SetIstana Kepresidenan terbu(Pusat kebudayan Jepang), Jakarta. “Ini adalah ka dengan berbagai koleksi iap hari, ucapnya, pengunsebuah simbol bangsa Indonesia yang terus terus yang dimiliki, tapi juga kisahjung mencapai lebih dari bergerak maju,” kata Sukarno. kisah menarik di balik ke1000 orang. “Pengunjung Begitu tertariknya Bung Karno sampai-sampai beradaan lukisan itu. banyak sekali, jadi harus dia pun mendatangi studio Henk Ngantung begitu sabar,” katanya sembari “Iya sih penasaran, penReplika karya Henk Ngantung berjudul pameran usai. “Aku ingin membeli lukisan ini,” kata menambahkan, registrasi gen tahu dan lihat langsung. Sukarno. Hank menjawab bahwa lukisan itu sebebisa dilakukan secara onYa sekalian jalan-jalan ke Memanah dimana Sukarno menjadi model untuk menyelesaikan lukisan ini narnya belum selesai. Ada bagian lengan yang belum line. “Kalau sudah regisJakarta,” kata Rika, warga sempurna dan untuk menyelesaikannya harus ada trasi secara online, datang ke sini bisa langsung Bogor yang datang bersama dua teman ke Jakarta model. “Aku akan menjadi model,” ucap Sukarno ambil ID Card dan masuk, tidak perlu antri lagi,” naik kereta api. lagi. Henk terperangah dan tak bisa menolak. Lalu ia tambahnya. –Diana Runtu Saat sampai di Gedung Galeri Nasional, Rika pun menyelesaikan lukisan tersebut dalam tempo 30 menit. Setelah itu, lukisan langsung dibawa Sukarno ke rumahnya di Pengangsaan Timur 56 Jakarta . Sayangnya, lukisan karya Henk yang dibuat di triplek sudah tidak bagus kondisinya, beberapa bagian sudah rusak. Jadi dalam pameran, selain lukisan asli yang ditaruh di dalam kaca, dibuat juga replikanya yang dipajang di dinding. Replika ‘Memanah’ itu dibuat oleh Haris Purnomo tahun 2016. Lukisan lain yang juga tak dilewatkan pengunjung adalah karya Presiden Sukarno. Lukisan berukuran 50 x 70 cm itu diberi judul ‘Rini’. Dullah, pelukis Istana, dalam penjelasannya pada buku koleksi lukisan Sukarno mengatakan, lukisan tersebut berawal saat Bung Karno dan dirinya berada di Bali. Seperti biasanya, di sana ia pun berkegiatan melukis. Namun baru membuat garis-garis cengkorongan atau sket yang belum berarti, Dullah meninggalkannya dan kembali ke Jakarta. Peninggalan Dullah inilah yang kemudian diteruskan Bung Karno pada 1958, ketika ia kembali
Lukisan berjudul Penangkapan Pangeran Diponegoro tahun 1857 karya Raden Saleh
Sosialita Berinvestasi, menjadi pilihan bijak untuk mempersiapkan masa depan yang lebih baik. Paling tidak, itulah alasan Erwien Novelina dan suaminya I Nyoman Aris Wijaya memutuskan untuk berinvestasi di Atta Labeji Villas. “Dibandingkan jenis investasi lain, kami lihat ini lebih menguntungkan dan aman,” ujar ibu Gana dan Gita ini. Dengan dana yang terjangkau, pasutri ini tak pernah bermimpi bisa memiliki villa, dan menjadi seorang investor. Mimpi-mimpi itu kini sudah menjadi nyata. Bahkan, jika ada rejeki lebih, mereka berencana akan menambah membeli lot lagi.
Erwien Novelina
Edisi 913/ 8 - 14 AGUSTUS 2016
3
Investasi di Atta Labeji Villas Menguntungkan dan Aman
N
yoman Aris mengimbuhkan, keputusan tersebut diambil karena juga melihat prospek ke depannya bagus. Atta Labeji Villas yang berlokasi di Desa Kenderan di kawasan eksotik Ubud ini menawarkan panorama alam perdesaan yang masih asri. “Banyak sudutsudut cantik yang bisa dijadikan objek fotografi. Jika jalan, banyak dapat hunting foto humant interest,” ujar Nyoman Aris yang seorang fotografer
ini. Ia pula yang kerap dipercaya mendokumentasikan beberapa project Villas. Dengan bidikan lensanya, objek-objek fotografi menjadi lebih indah dari aslinya. Tak heran jika kliennya, selain orang Indonesia juga banyak orang asing. Ia juga kerap memasang hasil jepretannya di IG: xnyoman. “Selain lokasinya bagus untuk objek fotografi, suasananya pas banget untuk tempat berlibur bersama keluarga. Jadi keduanya bisa jalan, foto dapat, berlibur juga dapat,” ucapnya. –ten
HANYA 12 Juta BISA PUNYA ATTA LABEJI VILLAS DI UBUD BALI
Made Robert dan Ni Made Ayu Dewi
Kehadiran villatel bernama Atta Labeji Villas yang dimotori “putra daerah” ini, mendapatkan respons yang cukup luar biasa dari masyarakat Bali. Prinsip kegotongroyongan dan saling menolong dengan konsep mepatung yang ditawarkan Atta Labeji Villas ini memberikan peluang bagi masyarakat lokal untuk menjadi investor di tanahnya sendiri. Para investor yang bergabung optimis villatel yang
berbasiskan kerakyatan ini, akan berkembang. Mengingat, prospek ke depan cukup bagus, dengan lokasi villa yang berada di tempat yang sangat representatif, baik dilihat dari destinasi maupun dari cultural tourism yang menjadi ikon Ubud. Bahkan, antisipasi terhadap risiko yang paling buruk sekali pun sudah benar-benar dikalkulasi dengan pengelolaan manajemen yang matang. Beberapa investor juga sudah melirik peluang menjanjikan ini ketika Atta Labeji Villas dipresentasikan di kota-kota besar di Indonesia. Bahkan, beberapa dari mereka berharap proyek villatel dengan konsep mepatung dan berbasis kerakyatan ini juga bisa dikembangkan di daerah lain karena dinilai sangat menguntungkan bagi masyarakat setempat. Karena itu, Made Robert sang konseptor dan Made Ayu Dewi, Komisaris Utama Atta Labeji Villas mengimbau masyarakat Bali, bahwa peluang yang cukup bagus untuk menjadi investor dan owner villa ini harus segera ditangkap dengan cepat. Dengan menjadi investor di Atta Labeji Villas berarti orang Bali juga telah menyelamatkan tanah Bali. Apalagi kini, untuk kepemilikan unit Atta Labeji Villas tersebut sudah dipermudah dengan ditawarkannya program “Yuk Nabung Lot”. Hanya dengan menyisihkan uang mulai Rp 1 juta tiap bulannya, mereka sudah bisa memiliki villa di Ubud. Program “Yuk Nabung Lot” ini khusus dikonsep Made Robert, Founder Mesari Land & Direktur Utama BOS Land, untuk menjawab kendala yang kerap dilontarkan para calon investor. Sehingga dengan hadirnya program baru ini, semua orang bisa menjadi investor/pemilik villa dan mendapatkan benefit lainnya. Dengan program “Yuk Nabung Lot”, masyarakat tak harus membayar cash Rp 12 juta, bisa membayar bertahap selama 1 tahun dengan jalan menyimpan di KSP Silamukti, koperasi yang diajak bekerjasama karena
Atta Labeji Villas
Erwien Novelina bersama putra-putrinya dalam bidikan lensa suaminya Nyoman Aris
memiliki kesamaan visi misi dengan villatel ini. Made Robert mengingatkan, bahwa investasi sangat penting untuk kebebasan finansial ke depan, membiarkan uang yang bekerja untuk kita, bukan sebaliknya. Dan tentunya, siapa pun pasti ingin menikmati hari tua tanpa harus pusing dengan urusan finansial. Solusinya hanya satu, berinvestasilah di tempat yang aman yaitu di Atta Labeji Villas, mulai sekarang. 100% Uang Kembali Dengan ikut program “Yuk Nabung Lot” yang pembayarannya lunas dalam 1 tahun, para investor tetap mendapatkan benefit lainnya. Di antaranya, uang pembelian lot akan dikembalikan 100% di tahun ke-11. “Perbedaannya dengan yang langsung melunasi Rp 12 juta per lot nya, uang pembelian lot-nya dikembalikan di tahun ke-10, dan langsung dapat free menginap di Atta Mesari Villas,” jelas Made Ayu. Keuntungan lainnya yang didapat dengan berinvestasi di Atta Labeji Villas adalah; mendapatkan 1 surat lot yang saat ini nilainya Rp 12 juta dan seiring waktu harganya pasti naik, voucher menginap senilai Rp 12 juta, penghasilan pasif 10% setiap tahun selama 2 tahun dan setiap 6 bulan selama 23 tahun, komisi 10% setiap mengajak tamu ke Atta Labeji Villas, tergabung dalam komunitas “Atta Labeji Investor Club” yang tentunya akan memperluas jejaring, satu box kartu nama Atta Labeji Villas dengan jabatan owner, kupon undian untuk memenangkan grand prize 2 hektare hutan jabon dengan hasil milyaran rupiah, dan lain-lain. Klausa ini dituangkan dalam perjanjian notaris. Beberapa investor pun telah melakukan penandatanganan kontrak kepemilikan unit Atta Labeji Villas di notaris. Untuk itu, Made Robert dan Ni Made Ayu mengajak masyarakat Bali yang belum bergabung, untuk bersama-sama sukses di investasi villatel ini, bersamasama mempertahankan tanah Bali dengan menjadi investor (owner) Atta Labeji Villas. Untuk informasi lebih jelas, silakan datang langsung ke kantor Bos Land di Jalan Tukad Pakerisan No. 79 Panjer, Denpasar, tlp. 0361-4723 260, 082 247 365 888, 087 861 999 658. –ten
2
Edisi 913/ 8 - 14 agustus 2016
GORO-GORO “Ternyata bahaya yang kita hadapi nambah. Bukan hanya kepungan narkoba, wabah korupsi, kekejian terhPutu Wijaya adap anak-anak dan perempuan dan lain sebagainya, tapi sudah tambah satu lagi yang baru, Bu” keluh Amat. “Vaksin palsu! Itu kejahatan yang harus dihukum berat, sebab korbannya anak yang tak berdosa. Masak baru terbongkar setelah 13 tahun!” Amat tertegun. Ia menatap istrinya. “Bukan itu, Bu!” “Bukan? Kenapa bukan? Itu bahaya besar, Pak!” “Memang! Kalau itu belum ketahuan. Sekarang sudah jelas. Pembuatnya sudah diamankan, rumah sakit yang tersentuh juga sudah diketahui, bahkan dokter yang dipersangkakan tersangkut juga akan diusut. Tinggal membereskannya. Dan, pasti tidak akan berani diulang. Kita serahkan saja pada para petugasnya. Ini, ada bahaya lain!” “Apa?” “ Biangnya! Hulunya!” “Ya, apa?”
“Hulunya! Semua bahaya tadi hanya hilirnya! Kita sudah terkecoh hanya membersihkan ujungnya, pangkalnya yang mesti dibasmi. Kalau tidak, akan kambuh lagi!” “Memang itu yang dilakukan sekarang, kan?” “Ibu tidak mengertu. Dengerin dulu! Ternyata, kita sekarang, andaikan mobil, suka pakai lampu pendek. Yang dipikir hanya yang di depan mata. Apa di depan mata? Keuntungan! Akibatnya, dampaknya, tidak peduli. Makanya pedagang narkoba, vaksin palsu, penjual daging yang pakai formalin, pengawet, pemutih dan sebagainya, cuma lihat untungnya. Perkara itu bisa bunuh orang, tidak dipikirin! Ini dampak makanan siap saji. Asal cepat, padahal tidak sehat! Kita sudah dijajah lagi, dijajah tata nilai dagang! Kita memasuki bulan ultah kemerdekaan yang ke-71, tetapi sebenarnya kita sedang dijajah lagi. Mata kita dipasangi kacamata kuda, hanya bisa lihat satu: kepentingan, keuntungan sendiri, peduli orang lain! Ini menunjukkan pendidikan kita sudah gagal! Kenapa? Karena pelajaran budi pekerti diabaikan! Pendidikan kita hanya mencetak robot-robot pintar tapi tak punya kepribadian!” Amat terus ngoceh. Sementara Bu
vaksin palsu
Amat mulai tidur, seakan-akan suara Amat meninabobokannya. “Inilah, persoalan besar kita sekarang,” sambung Amat melihat istrinya tertidur,”diajak ngomong serius, pasti tidur. Kalau diajak membicarakan gosip atau sinetron baru galak. Bagaimana pendidikan bisa jalan, kalau yang mau dididik lebih suka mimpi?” Pak Made, yang kemudian dihujani curhat oleh Amat, membantah. “Pak Amat, saya setuju permasalahan hulu harus diberantas. Saya setuju pendidikan kita sudah mencetak robot, bukan manusia berkarakter. Saya setuju, kita sekarang berlomba hanya pakai lampu pendek dan kacamata kuda.” Amat senyum bangga. “Terimakasih, Pak Made.” “Terimakasih kembali. Tapi saya tidak setuju kalau Pak Amat memaksa kita, masyarakat sekarang ini, membenahi hulu! Habis kita kan hidup di hilir. Saya anggap Pak Amat lari dari kenyataan!” Amat tersenyum sinis. “Terimakasih Pak Made saya memang lari, tapi bukan lari menjauh. Saya lari mendekati kenyataan!” “Itu kenyataan palsu, Pak Amat. Hulu itu urusan tingkat tinggi, tanggungjawab penguasa. Kita hidup di hilir,
vaksin palsu itulah masalah terbesar kita sekarang! Karena itu nyata menimpa anak-anak kita. Lha penguasa kan tidak punya anak! Urusannya kosep! Silakan! Diurus, dibasmi tuntas, tapi jangan menyuruh kita yang lagi repot kena getah vaksin palsu ngurus hulu. Biarkan kami menyelesaikan nasa depan anak kami! Kenapa mesti lari ke hulu, padahal kejahatan ada di depan mata, ini dong yang harus diselesaikan dulu? Memangnya pak Amat pejabat?!!” Amat terkejut. Ia tak mau berdebat. Lalu menanyai istrinya. “Bu, sudah cerita apa saja pada Pak Made, tentang vaksin palsu?” “Saya? Saya cerita apa? Mana mungkin sudah 10 hari ini saya tidak ketemu beliau. Saya cuma ngobrol dengan Bu Made.” “Ngobrol apa?” “Soal vaksin palsu yang katanya sudah ada sejak 13 tahun itu, kok baru ketahuan?! Kita sebagai anggota masyarakat yang punya anak kan jadi
bacaan wanita dan keluarga
Penerbit PT Tarukan Media Dharma Terbit sejak 9 November 1998
anak. Makanya, keluarga ramah anak merupakan jawaban untuk beragam masalah, hubungan serta pola pengasuhan. Melihat tantangan dan dinamika global saat ini, untuk mewujudkan keluarga ramah anak tersebut tidaklah mudah. Namun, perlu dicatat bahwa usaha dan komitmen kita melakukan langkah positif, menjadi proses yang sangat bernilai. Apalagi, selama ini , meskipun posisi keluarga sangat vital, namun belum semua masyarakat Indonesia menjadikan keluarga sebagai laboratorium tumbuh kembang yang ramah anak. Kemudian, menyadari bahwa setiap anak memiliki keunikan dan kecenderungan yang berbeda, kita semua perlu membangun persepsi dalam keluarga bahwa anak bukan miniatur manusia melainkan manusia seutuhnya yang menjalani proses tumbuh kembangnya.Mereka memerlukan jaminan pemenuhan hak dasar anak. Mulai dari identitas, hak memperoleh sekolah ramah anak, kesehatan komprehensif, pangan sehat dan bermutu, lingkungan sehat, hak sosial, bermain hingga hak memperoleh perlindungan. Sebagai orangtua, mari kita buka ruang untuk anak menyampaikan pendapatnya. Biasa mengakomodasi perasaan usulan atau kritik dan curhatan anak seyogyanya juga menjadi hal biasa dalam pola relasi sehari-hari. Ketika kita para orangtua open minded, maka anak pun
Tini Rusmini Gorda
akan semakin nyaman. Teruskan kebersamaan dengan membangun kehangatan dengan anak dan keluarga. Misalnya bermain bersama, rekreasi atau kebersamaan lainnya yakni makan bersama termasuk mendampingi anak saat menonton televisi. Begitulah pula sebagian langkahlangkah yang kami laksanakan selama ini, melalui terbentuknya Komunitas Anak Bangsa (KAB) Bali pada 23 Juli 2014. Aktivitas kami sejalan dengan kampanye program unggulan Kementerian Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak (KPP dan PPA) yakni
ketakutan!” “Kita tidak ada urusan dengan vaksin palsu, tahun 2003, Ami kan sudah divaksin!” “Nah, itu dia! Bapak sendiri yang sukanya pakai lampu pendek dan kacamata kuda. Yang dilihat hanya kepentingan sendiri. Kita, itu maksud saya bukan kita berdua, tapi semua kita yang punya anak! Amat bingung. “Darimana Pak Made tahu, Bapak bicara soal persoalan hulu?” “Pak Made? Pak Made kan belum pulang?!” Amat terkejut. Ia tak bisa melanjutkan omongannya. Memang Pak Made, sudah 10 hari menengok anaknya di Surabaya. “Pak Made menolak ngurus masalah hulu! Dia bilang itu urusan pemerintah! Kita lebih baik ngurus anak kita yang jadi korban vaksin palsu, katanya!” Bu Amat tertawa. “Lho yang ngomong begitu kan saya! Saya! Bukan Pak Made! Bapak ini suka tidur sih sekarang, kalau diajak rembugan. Kalau nonton bola baru melek sampai pagi! Amat bengong.
Sudut Pandang Olahraga adalah hal penting dalam kehidup an. Namun, sebaiknya dilakukan dengan senang hati. Itulah prinsip dari AA Sagung Rat Mudiani. Sekretaris Material Grand Hyatt Nua Dua Bali ini, sejak dulu memilih menari sebagai olahraga terbaik dalam kesehariannya. “Sejak remaja, saya terbiasa menari. Bahkan sampai sekarang walau usia sudah 55 tahun,” kata Sagung Rat Mudiani.
M
Mari Bersama Ambil Peran
Keluarga menjadi wilayah tempat tinggal yang aman, tenang, nyaman, menyenangkan dan membahagiakan bagi anak dan seluruh keluarga. Untuk membuat anak hebat, orangtua harus terlibat, bersama dalam konsep ramah keluarga. Anak-anak merupakan aset bangsa yang sangat berharga. Jika aset ini tidak dijaga maka bisa dipastikan di kemudian hari bangsa kita bisa mengalami krisis generasi yang mumpuni. Sebab, generasinya mengalami disorientasi dan kehilangan makna hidup. Tidak bisa kita pungkiri bahwa anak-anak Indonesia saat ini berada dalam kungkungan pengaruh budaya kapitalistik yang instan, hedonis dan glamor. Hal ini terjadi seiring berjalanya arus modernisasi diikuti berkembang serta menjalarnya arus informasi yang cepat sehingga menyebabkan arus budaya ini semakin cepat menjamah masyarakat hingga ke seluruh pelosok negeri. Dan, kondisi ini dapat memberi dampak negatif yang cukup signifikan bagi perkembangan kepribadian seorang anak. Sejatinya pula keluarga merupakan fondasi pertama bagi tumbuh kembang seorang anak. Pola interaksi, sikap dan perilaku ibu, ayah, adik, kakak, nenek dan kakek, keluarga lainnya hingga pengasuh juga ikut memberi andil terhadap perkembangan seorang
Ekspresso
Three Ends yang juga didukung penuh oleh Badan Pemerdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (BP3A) Provinsi Bali. Three Ends Strategi yang dimaksud adalah End Violence Against Women and \Children (akhiri kekerasan terhadap perempuan dana nak); End Human Trafficking (akhiri perdagangan manusia), dan End Barriers To Economic Justice (akhiri ketidakadilan akses ekonomi untuk perempuan). Untuk ini juga mari kita bersama-sama mendukung program Three Ends, supaya berbagai pelanggaran hukum terhadap perempuan dan anak dapat diminimalisir. Perdagangan manusia dapat diberantas, serta perempuan memperoleh akses yang sama dengan laki-laki dalam bidang ekonomi. Disamping peran orangtua, peran kelembagaan pendidikan dan peran komunitas yang peduli Anak seperti KAB, sangat penting dalam memberikan fungsi bimbingan moral
enurutnya, menari Bali merupakan olahraga terbaik baginya. “Menurut saya, menari bisa melemaskan otot secara keseluruhan, bahkan setelah menari, keringat saya bercucuran,” kata Sagung. Ia menuturkan, kegiatan menari, biasa ia lakukan tiap sore sepulang kerja. Sebelum menari, ia melakukan pemanasan terlebih dapada anak-anak. Karena dunia pendidikan dalam berbagai bentuk juga mempunyai mandat luhur dari orangtua untuk memberikan atmosfir yang baik bagi anakanak. Disamping memang sudah seharusnya kita semua bersama kelembagaan pendidikan yang ada bersama-sama menjadi sarana komunikasi yang manusiawai untuk membentuk anak menjadi manusia seutuhnya, yakni pribadi yang tangguh, cerdas, berkepribadian, mempunyai orientasi dan bermoral. Karena itu pula, keberadaan Komunitas Anak Bangsa siap lebih lanjut menjadi partner pemerintah untuk program Three Ends yang di-launching di Makasar 2016. Ini juga sebagai wujud dari Partisipasi Publik untuk Kesejahtreraan Perempuan dan Anak (Puspa) 2016 yang deklarasinya di Yogya (30/5) s.d (1/6) silam. Terakhir Serukan Anak Hebat, Keluarga Harus Terlibat, Menuju Indonesia Hebat. Bersama Kita Bisa. Dr. A.A.A Ngurah Tini Rusmini Gorda., S.H., M.M., M.H.
Kata Hati Rubrik ini khusus untuk wanita yang ingin menuangkan ide/pemikiran/ gagasan dalam bentuk tulisan. Tema terkait wanita dan keluarga serta tidak mengandung unsur SARA. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter (1,5 halaman A4; spasi 1,5; times new roman 12). Lampirkan juga foto close up (bukan pasfoto). Cantumkan nama lengkap, profesi, nomor hp, dan alamat email. Naskah dikirim ke redaksi@tokoh.co.id, redaksitokoh@yahoo.com. Tulisan yang dimuat mendapatkan bingkisan dari Telkomsel. Telkomsel sebagai satu-satunya operator paling Indonesia selalu berkomitmen untuk membangun dan memajukan Indonesia. #UntukIndonesia
Pemimpin Umum/Penanggung Jawab: Gde Palgunadi. Redaktur Pelaksana: Ngurah Budi. Staf Redaksi/Pemasaran Denpasar: IG.A. Sri Ardhini, Wirati Astiti, Sagung Inten. Buleleng: Wiwin Meliana. Jakarta: Diana Runtu. NTB: Naniek Dwi Surahmi. Desain Grafis: IDN Alit Budiartha, I Made Ary Supratman. Sirkulasi: Kadek Sepi Purnama, Ayu Wika Yuliani. Sek retariat: Ayu A gustini, Putu Agus Mariantara, Hariyono. Alamat Redaksi/Iklan Denpasar: Gedung Pers Bali K. Nadha, Lantai III, Jalan Kebo Iwa 63 A Denpasar 80117–Telepon (0361) 425373, 7402414, 416676–Faksimile (0361) 425373. Alamat Redaksi/Iklan/Sirkulasi Jakarta: Jalan Palm erah B arat 21 G Jakarta Pusat 10270– Telepon (021) 5357603 - Faksimile (021) 5357605. NTB: Jalan Bangau No.15 Cakranegara, Mataram–Telepon (0370) 639543– Faksimile (0370) 628257. Jawa Timur: Permata Darmo Bintoro, Jalan Taman Ketampon 22-23 Surabaya–Telepon (031) 5633456– F aksim ile (031) 5675240. Surat Elektronik: redaksi@tokoh.co.id, iklan@tokoh.co.id. Website: www.tokoh.co.id. Bank: BRI Cabang G ajah Mada Denpasar. Nomor Rekening: PT Tarukan Media Dharma: 0017-01-001010-30-6. Percetakan: BP Jalan Kebo Iwa 63 A Denpasar.
Olahraga
Edisi 913/ 8 - 14 agustus 2016
Pilih
daripada Terjebak Macet hulu, sekitar 10 menit. Kemudian, ia lanjutkan dengan menari Bali. Kadang, ia memilih tari tenun, legong keraton, atau oleg tamulilingan. Baginya, dengan menari, ia merasakan sehat jasmani dan rohani. Sementara, pagi hari, ia rutin naik sepeda statis di rumahnya. Hal itu dilakukan sekitar 15 menit, untuk melemaskan otot kakinya, sebelum berangkat ke kantor. Sementara, bagi Putu Ayu Aristyadewi, Group VP Marketing & Communications Smailing Tour, olahraga yang rutin dilakukan fitness. “Kalau dulu sewaktu masih muda saya suka atletik, basket, dan bela diri karate karena di rumah ada dojo (tempat latihan)nya, malah pernah mewakili Bali di PON tapi itu dulu, waktu masih duduk di bangku SMA 1 Denpasar,” ujarnya. Ia menuturkan, awal bekerja, ia masih suka main basket seminggu sekali. “Namun, sekarang, sudah tidak kuat napasnya,” ucapnya
Putu Ayu Aristyadewi
Sagung Rat Mudiani
sembari tertawa. Menurutnya, fitness itu yang paling memungkinkan untuk dilakukan, karena bisa dilakukan saat pulang kerja. “Tempat latihan, juga dekat kantor dan saya
pakai personal trainer jadi ada yang mengatur dan mengawasi latihannya. Daripada terjebak macet lebih baik olahraga dulu sebelum pulang,” imbuhnya. Ia melakukan olahraga selama satu jam, dan
Sesuaikan Usia dan Kondisi Olahraga bisa dikatakan menjadi salah satu kegiatan yang tidak dapat dilepaskan dari keseharian sebagian besar masyarakat kita. Sebab, selain menyehatkan tubuh, juga bisa berfungsi sebagai penghilang stres bahkan sumber penghasilan. Pentingnya olahraga juga berdampak ke postur tubuh yang baik. Seseorang yang suka berolahraga secara teratur lebih sering untuk dapat memiliki postur tubuh yang lebih baik dibandingkan dengan orang yang tidak pernah berolahraga dengan teratur. Lantas olahraga apa saja yang paling banyak dipilih atau digemari para perempuan? Candra Upadani, seorang pengusaha, pemilik Candra Collection di Denpasar, mengatakan dirinya memilih melakukan kegiatan olahraga bersama kelompok Ibu-Ibu PKK Banjar Mekar Jaya Pemogan. Mereka, katanya aktif melakukan senam tera dan olahraga body language (BL). Menurut Candra, mengingat mereka bukan anak remaja lagi, maka selain senam tera , olahraga BL menjadi pilihan. Hal ini, karena gerakannya tidak disentak seperti halnya yang ada di gerakan olahraga aerobik pada umumnya. Dikatakannya olahraga BL, selain urusan gerakannya, juga manfaatnya baiknya bagi para ibu, yakni untuk melatih dan membentuk otot perut dan otot bokong. Disamping itu juga dapat menghilangkan kelebihan lemak, melancarkan peredaran darah dan melancarkan sistem pernapasan panggul. Olahraga BL juga efektif untuk mengencangkan dan melangsingkan tubuh, bahkan melancarkan haid yang terganggu. Olahraga BL juga, lanjut Candra, ia dan ibu-ibu lainnya merasa lebih mudah mengikuti sebab BL banyak
23
Candra Upadani
Made Puspawati
menggunakan dasar gerakan senam nafas dan pembentukan. Aktivitas BL ini djadwalkannya secara rutin setiap minggu pagi di banjarnya, tentu saja dengan menghadirkan seorang instruktur. Disamping BL lanjut Candra ia juga mengggeber senam tera setiap hari Kamis. Dengan olahraga tersebut, Candra berharap agar dirinya sendiri serta seluruh warga Banjar Mekar Jaya selalu sehat, bugar dan segar, sehingga menunjang kekuatan sekaligius kenyamanan dalam melakukan berbagai aktivitas mereka sehari-hari. Sementara itu Made Puspawati, pemilik usaha bidang optik yakni Komplit Jaya dan mini market ini mengaku menyukai olahraga yoga dan poco-poco. Kegiatan yoga kata Puspa, selain bermanfaat untuk perkembangan jasmani juga rohani. Sebelum aktif melakukan yoga di rumah, ia mengaku pernah begabung bersma yoga Seger Oger, namun karena sempat
mengalami kecelakaan, ia memilih istirahat sementara. Sesuai dengan situasi sekarang, Puspa lebih memilih melakukan yoga sendiri di rumah, secara selama 15 menit setiap hari. Memang diakuinya dengan melakukan yoga, sangat membantu dirinya memperoleh energi dalam melakukan sejumlah pekerjaan. Dengan bantuan olahraga pula, tubuhnya lebih efisien dalam pengelolaan energi, serta dalam meningkatkan stamina. Berikutnya dengan tambahan kegiatan olahraga lainnya , yakni senam poco-poco badan mengeluarkan energi sehingga memberikan kesegaran bagi tubuh. Apalagi dalam melakukan senam poco-poco banyak unsur happy-nya karena dilakukan dengan riang gembira. Ini menariknya olahraga poco-poco yang sekaligus dapat menghibur suasana hati. Disamping, katanya gerakan poco-poco mudah diikuti atau dilakukan karena tidak ribet. – Sri Ardhini
tiga kali seminggu. Ia mengatakan, dalam berolahraga targetnya, tak muluk-muluk. “Yang penting badan sehat dan bugar,” kata Putu Ayu Aristyadewi. Sementara, bagi Chika, olahraga yang biasa ia lakukan naik sepeda. “Biasanya tiap hari minggu saya naik sepeda, keliling areal Sanur. Ketemu dengan beberapa teman dengan berbagai profesi. Kenalnya juga karena sering ketemu naik sepeda. Kemudian setelah itu, mandi di pantai. Rasanya segar,” kata perempuan usia 30 tahun ini. Kesibukannya bekerja, membuatnya hanya bisa melakukan olahraga tiap Minggu. Namun, ia siasati dengan kegembiraan, agar hasil yang dicapai maksimal. “Naik sepeda cuma satu jam. Kemudian berenang di pantai satu jam, cukuplah untuk menjaga kebugaran. Berenangnya juga santai sembari bercengkrama dengan teman, jadi mengasyikkan,” kata Chika. –Wirati Astiti
Olahraga untuk Jaga Diri Masih tetap energik dan segar di usia yang telah lewat setengah abad, ternyata tidak membutuhkan perawatan khusus apalagi sampai mengeluarkan biaya mahal. Cukup dengan olahraga dan tubuh selalu bergerak serta beraktivitas menjadi ‘ramuan’ mujarab yang murah untuk tetap tampil sehat dan segar. Bagi dua birokrat perempuan NTB, Ir. Husnanidyati Nurdin, Kepala Dinas Kehutanan Provinsi NTB dan Hj. Putu Selly Andayani, Kepala Dinas Koperasi dan UMKM Provinsi NTB, meski tidak secara rutin berolah raga dalam artia yang formal, keduanya mengaku bahwa olahraga itu penting terutama di saat usia mereka telah lebih dari 50 tahun. “Olahraga itu penting dan harus,” ungkap Ir. Husnanidyati Nurdin. Di tengah kesibukannya yang padat, Eni, sapaan akrabnya, memang tidak menyiapkan waktu khusus untuk berolahraga secara formal, melainkan hari-harinya yang aktif secara otomatis disebutnya sebagai “olahraga”. Bagaimana tidak, sejak menjadi Kepala Badan Ketahanan Pangan NTB, lalu berpindah memimpin Bakorluh NTB serta kini menjadi Kepala Dinas Kehutanan Provinsi NTB, Eni selalu rajin turun lapangan dan berkeliling dari satu tempat ke tempat yang lainnya. Tidak jarang ia harus berjalan ke pematang-pematang sawah, keluar masuk desa hingga kini keluar masuk kawasan hutan dan perbukitan. Tampaknya tubuh yang selalu bergerak inilah yang membuatnya, menjadi perempuan yang sangat energik. Mantan atlet pencak silat Perisai Diri ini, menganggap olahraga (tubuh yang terus bergerak) harus selalu dilakukan. Meski sekarang tidak lagi turun langsung dalam pencak silat, Eni tetap mencintai olahraga yang telah memberikan sebuah medali perak pada tahun 1982 ini dengan tetap menjadi Pengurus Daerah Pencak Silat NTB sampai saat ini. ia menjadi salah seorang official yang akan ikut mengantar atlet pencak silat NTB ke PON Jawa Barat dalam waktu dekat. Ia mengaku memilih pencak silat awalnya untuk menjaga diri sebagai seorang perempuan. Namun lama-lama ia jatuh hati pada olahraga ini saat menjadi mahasiswa di Universitas Mataram. “Selain untuk jaga diri saya lihat dulu itu sedikit atlit perempuan dan sepertinya ada peluang,” ujarnya. Karena itulah ia kemudian menggeluti pencak silat dan ikut bertanding dalam Pekan Olahraga Mahasiswa. Selain banyak jalan, Eni juga sesekali menjajal olah raga bersepeda untuk membakar lemak dan alasan vitalitas. Maka kini ia kerap bersepeda terutama dengan komunitas bersepeda yang ada di lingkup Pemerintah Provinsi NTB, bersama Gubernur NTB, Dr. TGH. M. Zainul Majdi. “Lumayan bisa refreshing sambil berolahraga,” ungkapnya. Begitu juga dengan Selly Andayani yang memiliki olah raga favorit selama ini. Ia memilih olahraga senam, fitness dan renang. “Favorit saya renang,” ungkapnya. Namun meski kini tidak lagi memiliki waktu yang banyak untuk melakukan olahraga tersebut karena kesibukannya, Selly tetap menganggap penting berolahraga. Ia bahkan pernah menjajal yoga di rumahnya untuk tetap menjaga vitalitasnya. Meski renang dan senam tidak lagi banyak dilakukan, yoga dan fitness di rumah dipilihnya karena bisa dilakukan kapan saja di rumah selagi tidak sibuk. “Yoga bisa memberikan efek tenang dan membuat tubuh terasa selalu fit,” ujarnya. -Naniek I. Taufan
24
Edisi 913/ 8 - 14 agustus 2016
Peserta Lomba Membludak k e d Busana En Para juri lomba fashion show dari kiri: Heny Shanti, Helga Rif, dan Bintang Mira
JUARA FASHION SHOW Kategori A ( TK) I Dewa Ayu Anandita Suar Utami (Juara I) l Aulia Lituhayu (Juara II) l Ni Putu Chantika Putri (Juara III) l Putu Veda Daniswara (Harapan I) l Keishya Dhyani (Harapan II) l Cahya Puja Saraswati (Harapan III) r Ayu Tirta Dewi (Favorit) l
P
Suasana lomba fashion show di acara “KMB Food Truck Festival 2016”
e r h e l a t a n “ K M B Food Truck Festival 2016” di Taman Kota Lumintang, tambah semarak dan meriah dengan digelarnya berbagai lomba di panggung utama, salah satunya lomba fashion show dengan tema “Busana Casual Touch of Endek.”, Sabtu ( 30/7). Tabloid Tokoh sebagai penyelenggara, meng-
Richelle Prameswari yang ikut memeriahkan di acara fashion show
hadirkan juri yang kompeten di bidangnya, Heny Shanti (pemain sinetron dan penyanyi artis Bali), Helga Rif (model, penulis buku, dan atlit tembak), dan Bintang Mira (designer nasional). Peserta dibagi lima kategori yakni kategori A untuk TK, kategori B untuk SD kelas I- III, kategori C untuk SD kelas IV-VI, kategori D untuk SMP, dan kategori E untuk SMA. Peserta fashion show sa ngat antusias mengikuti lomba, terbukti dari jumlah peserta 186 orang. “Peserta lomba ini sudah termasuk membludak karena biasanya batasnya 130 orang,” ujar Show Director Bagus Saka. Menurut Bintang Mira, lomba ini sangat mampu merangsang perajin dan pelaku bisnis di bidang endek untuk terus berinovasi. “Busana casual yang baik dipakai anak-anak adalah busana yang sesuai dengan umurn ya. Tidak berlebihan namun juga tidak terlalu sederhana. Yang terpenting, yang saya nilai adalah kreativitasnya dalam mengolah kain endek agar tidak terlihat terlalu berat,” jelasnya. Sementara, Helga menilai, sangat banyak anak-anak yang berbakat sehingga ketiga juri ke-
sulitan dalam menentukan pemenang. “Memang anak-anak sudah punya talent, jadi kami sangat sulit memberikan nilai, nilainya juga mepet-mepet semua,” imbuhnya. Ditambahkan, Heny Shanti, dalam sebuah perlombaan utamanya fashion show, ekspresi yang baik sangat berpengaruh terhadap penilaian. “Mereka ha rus tahu kapan saatnya senyum, karena anak-anak kadang-kadang mereka cengengesan,” paparnya. Menurutnya, ekspresi harus disesuaikan dengan kostum yang digunakan. “Ini kan busana casual jadi ekspresinya harus lebih santai jangan tegang,” tandasnya. Lomba fashion show kali ini memang berbeda karena nilai langsung diumumkan setelah peserta tampil. “Cukup menegangkan sih, saya juga tidak tahu bagaimana penilaian juri. Syukur anak saya dapat juara,” ujar ibunda Putu Deva Daniswara, yang anaknya meraih juara Harapan 1 Kategori TK. Sementara itu, peraih Juara I kategori E Alvina Agnesia Putri sangat apresiasi dengan terlaksananya lomba fashion tersebut. “Senang banget apalagi bisa sampai juara karena ini akan menjadi motivasi dan menambahkan kecintaan saya terhadap kain endek,” ujarnya. –Wiwin/Wirati Astiti
Kategori B ( SD Kelas I s.d. 3) l Luh Made Kesya Pradnya Andari (Juara I) l AA Ayu Indira Maharani (Juara II) l Kristine Lambert (Juara III) l Kiara Dewi (Harapan I) l Tu Dyah (Harapan II) l IGA Kayana Yulia (Harapan III) r Anastasya A. Andreason (Favorit) Kategori C ( SD kelas 4 s.d. 6) l Madelaine Putri Edna Slinger (Juara I) l Ni Luh Chandani (Juara II) l Ni Ketut Dini Kurnia SG (Juara III) l Alicia A Andresson (Harapan I) l IGA A Gita Kartikayasa (Harapan II) l Ni Putu Gita Maharani (Harapan III) r IGA Eira Ewindia Kharisna D. (Favorit) Kategori D ( SMP) Ni Made Ayu Cantika Ratih (Juara I) l Angelica Patricia (Juara II) l AA Istayani Kusuma (Juara III) l Kadek Bagas Pradipta Kusuma (Harapan I) l IGA Ratih Citra (Harapan II) l Putu Prity Andani (Harapan III) r Ni Putu Aura Pradnya Shinta (Favorit) l
Kategori E ( SMA) l Alvina Agnesia Putri (Juara I) l Km Mutiara Ayu Putriana Sari (Juara II) l Dewa Ayu Cindy Pratiwi (Juara III) l Mi Putu Ninda Lestari (Harapan I) l Ni Luh Putu Pritha Dewi Karunika (Harapan II) l Maria Anggelia Usfunan (Harapan III) r AA Desinta Putri (Favorit)
Ucapan terima kasih kami ucapkan kepada para mitra kerja Mingguan Tokoh dalam Acara Lomba Fashion Show 2016
Suasana technical meeting
Foto bersama juri dan panitia usai lomba fashion show
1. BPR Kanti 2. Bank Mandiri 3. Sosro 4. Asbest Kota Denpasar 5. Gaya Warna 6. Dewi House of Fashion 7. bintang mirA 8. MOV. Shoes 9. Rumah Boneka 10. Cempaka Butik
11. Dewi Anyar Collection 12. Bara Silver 13. Candra Collection 14. Warung D’Sambal 15. Odenant textile 16. Pod chocolate 17. True Bali Experience 18. Sakabros 19. Kelompok Media Bali Post
redaksi@tokoh.co.id, iklan@tokoh.co.id
mingguantokoh
@mingguantokoh
mingguantokoh
www.tokoh.co.id