24
Edisi 900/ 9 - 15 MEI 2016
redaksi@tokoh.co.id, iklan@tokoh.co.id
mingguantokoh
@mingguantokoh
mingguantokoh
www.tokoh.co.id
2
Ekspresso
Edisi 900/ 9 - 15 mei 2016
GORO-GORO “ Te rus-terang saya takut. Bahkan ketakutan. Waktu muda dulu saya Putu Wijaya juga bukan orang yang berani. Tapi kalau hak saya dilanggar, atau saya diremehkan atau dihina, saya akan marah. Kemarahan itu bisa membuat lupa pada takut. Seperti waktu saya jalan sama istri saya malam-malam ketemu orang mabok yang ...” “Tapi terus surat ancaman di bawah pintu bagaimana, pak Amat. Jangan ngelantur dulu. Cerita penodongan itu kan sudah sering diceritakan!” Amat tersipu. Lalu kembali
ke surat di bawah pintu itu. “Ya, saya takut. Bahkan tangan saya gemetar. Tapi kalau yang lain ikut takut, kalau seluruh rumah nanti ketakutan, teror itu akan berhasil menghancurkan kami dari dalam diri kami sendiri. Teror itu kan begitu kerjanya. Ya, kan? Jadi, “ “Jadi?” “Jadi, waktu semua muncul dari belakang menanyakan, siapa itu yang datang tadi, saya berbohong. Itu polisi yang menyamar seperti teroris untuk kamuflase menjaga rumah kita, kata saya.” “Surat itu?” “Surat itu, tadi di mana ya?” “Bapak pegang kan?” “O tidak. Begitu mereka
wawancara (narkoba 3) masuk, lepas dari tangan saya karena gugup. Mau saya ambil, mereka sudah menghampiri saya. Mau saya injak dengan kaki, tapi kaki menantu saya sudah lebih dulu menginjaknya.” “Terus dibaca?” “O, tidak. Karena diinjak Sugi secara tak sengaja.” “Terus?” “Terus, supaya perhatian mereka tetap ke saya, maksudnya jangan nengok ke lantai, saya ceritakan percakapan saya dengan orang itu. Saya tambahtambahin sedikit supaya mata mereka terus ke saya, jangan sampai melihat ke bawah.” “Bapak lebih-lebihkan ceritanya, bagaimana?” “Ya, dibuat tegang. Polisi itu
berpesan, rumah harus normal seperti biasa, jangan terlalu gelap, atau terlalu terang. Televisi dihidupkan. Boleh bicara. Ketawa juga bagus, asal wajar, supaya teroris itu tidak curiga dan terpancing masuk. Lalu,” “Mereka percaya?” “ O, ya. Semua yang saya bilang dipenuhi. Lampu dikurangi, tv dihidupkan. Ami ketawaketawa.” “Bapak?” “Saya diam saja menunggu Sugi beranjak. Tapi dia diam saja. Saya jadi bingung.” “Lalu?” “Untung cucu saya menangis. Tapi menantu saya masih belum beranjak juga. Baru setelah Ami berteriak dari kamar minta suaminya bikin susu, menantu saya beranjak. Begitu dia angkat kaki pergi ke kamar, saya jongkok mau mengambil surat ancaman itu. Eh?” “Eh apa?”
“Sudah tidak ada di situ!” “Diambil Pak Sugi?” Amat bingung. Bu Amat muncul membawa kopi. “Pak tolong sebentar ada tikus di kamar!” Amat cepat berdiri. “Maaf Pak Made. Silakan minum dulu kopinya, saya ngurus tikusnya!” Ta n p a m e n u n g g u j a w a ban, Amat langsung ke gudang mengambil pentungan, lalu mengendap-bgendap masuk kamar sambil mengangkat pentungan siap mengganyang tikus. Tapi di kamar tak ada tandatanda ada tikus. “Mana tikusnya?” gerutu Amat. “Tidak ada. Saya sengaja tarik Bapak masuk, sebab kelihatannya Bapak semangat sekali. Tidak tahu ya, Pak Made itu kan, kata istrinya, nanti malam mau diwawancarai wartawan tentang narkoba? Tapi dia tidak punya bahan!”
Mengenalkan Konsep “From Seed Until to Eat” pada Anak lewat Kegiatan Berkebun
Maraknya makanan cepat saji saat ini memberikan dampak yang signifikan bagi masyarakat. Makanan cepat saji memang sangat nikmat selain rasanya yang enak juga cara penyajiannya pun sangat cepat. Tentu ini sangat cocok bagi orang yang sangat sibuk dan tidak ada waktu lama untuk makan. Perlu diketahui makanan cepat saji tersebut sangatlah berbahaya jika dikonsumsi terlalu sering, karena mengandung kadar garam, gula, lemak, dan kalori yang sangat tinggi. Alih-alih alasan mudah didapat, harga murah, serta penyajiannya yang instan. Dibalik kelebihan yang didapat dari makanan cepat saji ternyata banyak kerugian yang disebabkan karena terlalu sering mengkonsumsi makanan cepat saji. Penggemar makanan cepat saji sekarang ini semakin meluas dikalangan masyarakat khususnya di negara Indonesia. Salah satu alasannya seperti sudah dijelaskan di atas yaitu karena rasanya yang enak dan lebih praktis. Sebelum mencobanya, hal yang harus dipertimbangkan adalah kondisi kesehatan kita. Makanan cepat saji sangatlah merugikan bagi kesehatan, yaitu diantaranya menyebabkan obesitas atau kegemukan karena kandungan gula dan garam dalam makanan cepat saji sangatlah banyak. Kandungan minyak dan bahan pengawet dalam makanan cepat saji juga membuat tubuh sulit untuk mengurai lemak. Mengonsumsi makanan cepat saji terlalu sering juga dapat menyebabkan kerusakan hati serta malnutrisi, hal ini dikarenakan makanan cepat saji yang banyak mengandung sodium dan lemak jahat yang membuat organ hati bekerja lebih ekstra untuk membersihkan zat yang beracun bagi tubuh. Jika kondisi tersebut
bacaan wanita dan keluarga
Penerbit PT Tarukan Media Dharma Terbit sejak 9 November 1998
sering terjadi maka kesehatan hati pun akan terganggu sehingga dapat menyebabkan kerusakan hati. Seperti yang kita ketahui bahwa tubuh sangat memerlukan nutrisi seimbang untuk menunjang kondisi kesehatan. Tapi dengan seringnya makan makanan cepat saji akan membuat nutrisi yang diperlukan dalam tubuh menjadi berkurang. Ini karena makanan cepat saji tidak mengandung vitamin, mineral, dan zat lainnya yang sangat berguna bagi kesehatan tubuh. Efek samping dari kekurangan nutrisi dapat menyebabkan gangguan pada organ-organ dalam tubuh sehingga tubuh menjadi cepat lelah, sakit, dan menurun fungsinya. Mungkin makanan cepat saji memang bisa menjadi solusi untuk menghemat waktu, namun makanan cepat saji bukan solusi untuk kebutuhan nutrisi yang diperlukan oleh kesehatan tubuh. Yang paling mengherankan adalah kebanyakan penggemar makanan cepat saji adalah anak-anak. Mereka cenderung lebih mengutamakan cita rasa yang enak dibandingkan dengan nilai gizi yang terdapat dalam makanan cepat saji yang mereka konsumsi. Sebagai orangtua dan tenaga pengajar, kita harus lebih kreatif dalam menyikapi fenomena ini. Berkebun merupakan salah satu metode belajar anak agar mengenal alam atau lingkungannya. Berkebun dapat memberikan pengetahuan pada anak dari mana makanan terutama buah dan sayur berasal.
Konsep “From Seed Until to Eat” dan Kegiatan Berkebun Pentingnya mengenalkan pembelajaran berkebun pada anak adalah untuk mengurangi kebiasaan anak dalam mengonsumsi makanan siap saji dan melatih mereka untuk
A.A.Pt.Chintya Putri Suardana, S.Psi
menyiapkan makanan yang sehat serta memperkenalkan mereka dengan metode-metode berkebun yang sederhana dan menyenangkan. Mengenalkan konsep “From Seed Until to Eat” pada anak memang tidak mudah, namun juga tidak sulit jika para orangtua dan tenaga pengajar dapat mengemas metodenya secara menarik. Pertama-tama kita harus memberikan informasi serta ulasan kepada anak-anak mengapa kita harus belajar berkebun. Kita bisa memberikan contoh nyata mengenai manfaat yang dapat diperoleh dari berkebun sendiri, misalnya dengan berkebun sendiri kita bisa mendapatkan makanan sehat seperti sayur dan buah secara gratis tanpa harus membeli di pasar, dengan berkebun sendiri kita bisa melakukan kegiatan penghijauan (udara akan semakin bersih karena dengan berkebun akan
banyak menciptakan ruang hijau dipekarangan rumah), berkebun dapat menghemat uang belanja karena kebutuhan buah dan sayur bisa kita dapatkan dengan memanen hasil kebun sendiri untuk dikonsumsi sendiri dan masih banyak contoh nyata yang bisa diterangkan kepada anak sebelum mengajak mereka terlibat langsung untuk belajar berkebun. Mengajak anak untuk membuat kebun mini di pekarangan rumah serta memanfaatkan kaleng bekas atau sisa-sisa pipa untuk dijadikan pot adalah ide yang sangat tepat, tentu saja hal itu akan membangkitkan ide-ide kreatif anak. Mereka akan berkreasi dan berani bermain tanah yang kotor sebagai proses awal belajar menanam tanaman. Pada dasarnya konsep “From Seed Until to Eat” adalah mengajarkan anak untuk mengetahui proses awal makanan itu berasal yaitu dari seed atau biji hingga siap untuk disajikan sebagai makanan atau to eat. Tentu dalam tahapan-tahapan tersebut anak-anak bisa banyak belajar dari cara menanam hingga pengolahan hasil panen tanaman mereka. Dengan mengembangkan konsep ini diharapkan kesadaran anak untuk mengonsumsi buah dan sayur akan meningkat serta dapat menambah wawasan anak mengenai manfaat buah dan sayur jika dikonsumsi secara rutin. Selain itu, dengan menanam, memanen dan
mengolahnya sendiri akan memunculkan rasa kebanggaan terhadap hasil jerih payah sendiri dan anak-anak akan menularkan kebiasaan mereka pada teman-teman sebayanya. Penting untuk kita (orangtua dan tenaga pengajar) ketahui, untuk menanamkan suatu nilai pembelajaran pada anak selain dengan metode klasikal, maka perlu adanya metode praktikum sederhana yang mendukung materi-materi belajar anak terutama tentang pelajaran yang berkaitan dengan lingkungan hidup seperti berkebun sehingga anak akan lebih tertarik dan termotivasi untuk belajar dan mendalami materi pembelajaran. Kita tidak akan menyangka ternyata guru yang paling hebat adalah berasal dari anak itu sendiri. Jika mengenalkan konsep yang baik serta menarik pada anak maka kebiasaan tersebut kemungkinan akan ditularkan bahkan akan ditiru oleh peer group atau teman sebayanya. Sehingga diharapkan anak-anak dapat semakin mengenal, membiasakan, dan menyukai berbagai makanan sehat terutama buah dan sayur sehingga dapat membandingkan terutama dari segi nilai gizi dan kesehatan antara makanan cepat saji dan makanan sehat yang berasal dari kebun sendiri. A.A.Pt.Chintya Putri Suardana, S.Psi Swasta
Kata Hati Rubrik ini khusus untuk wanita yang ingin menuangkan ide/pemikiran/ gagasan dalam bentuk tulisan. Tema terkait wanita dan keluarga serta tidak mengandung unsur SARA. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter (1,5 halaman A4; spasi 1,5; times new roman 12). Lampirkan juga foto close up (bukan pasfoto). Cantumkan nama lengkap, profesi, nomor hp, dan alamat email. Naskah dikirim ke redaksi@tokoh.co.id, redaksitokoh@yahoo.com. Tulisan yang dimuat mendapatkan bingkisan dari Telkomsel. Telkomsel sebagai satu-satunya operator paling Indonesia selalu berkomitmen untuk membangun dan memajukan Indonesia. #UntukIndonesia
Pemimpin Umum/Penanggung Jawab: Gde Palgunadi. Redaktur Pelaksana: Ngurah Budi. Staf Redaksi/Pemasaran Denpasar: IG.A. Sri A r d h i n i , W i r a t i A s t i t i , S a g u n g I n t e n . J a k a r t a : D i a n a Ru n t u . N T B : N a n i e k D w i S u r a h m i . D e s a i n G r a f i s : I D N A l i t Budia rtha, I Made Ary Supratman. Sirkulasi: Kadek Sepi Purnama. Sek retariat: Ayu A gustini, Putu Agus Mariantara, Hariyono. Alamat Redaksi/Iklan Denpasar: Gedung Pers Bali K. Nadha, Lantai III, Jalan Kebo Iwa 63 A Denpasar 80117–Telepon (0361) 425373, 7402414, 416676–Faksimile (0361) 425373. Alamat Redaksi/Iklan/Sirkulasi Jakarta: Jalan Palm erah B arat 21 G Jakarta Pusat 10270– Telepon (021) 5357603 - Faksimile (021) 5357605. NTB: Jalan Bangau No.15 Cakranegara, Mataram–Telepon (0370) 639543– Faksimile (0370) 628257. Jawa Timur: Permata Darmo Bintoro, Jalan Taman Ketampon 22-23 Surabaya–Telepon (031) 5633456– F aksim ile (031) 5675240. Surat Elektronik: redaksi@tokoh.co.id, iklan@tokoh.co.id. Website: www.tokoh.co.id. Bank: BRI Cabang G ajah Mada Denpasar. Nomor Rekening: PT Tarukan Media Dharma: 0017-01-001010-30-6. Percetakan: BP Jalan Kebo Iwa 63 A Denpasar.
Sudut Pandang
Edisi 900/ 9 - 15 mei 2016
23
Warga Jakarta belum Terbiasa di Hunian Vertikal
Geliat bisnis properti, khususnya perumahan, di Jakarta masih sama dengan tahun lalu alias masih melambat. Tahun ini diperkirakan tidaklah ‘separah’ tahun 2015. Sejumlah pengamat memperkirakan kemungkinan tahun ini atau tepatnya semester ke-2, bisnis properti akan membaik meski belum booming seperti tahun 2013 lalu. Sinyal ini ditangkap seiring dengan membaiknya perekonomian, termasuk adanya insetifinsentif dan paket kebijakan ekonomi yang dikeluarkan pemerintah.
“S
ekarang ini kondisinya (properti) masih mendung,” ungkap Direktur Riset Cushman&Wakefield, Arief Rahardjo, dalam paparan properti di Jakarta. Kelesuan ini bukan hanya di Jakarta saja tapi juga di Bodetabek (Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi). Hal senada juga dikatakan oleh Ferry Salanto, Associate Director Research Colliers Indonesia. Menurutnya, kinerja properti mengalami perlambatan antara lain karena sektor tersebut terkait erat dengan pertumbuhan perekonomian suatu negara. “Tanda-tanda pergerakan mungkin akan terjadi pada Semester II tahun 2016,” kata Ferry. Sektor yang paling terpukul
dengan kondisi ini adalah sektor penjualan apartemen dan rumah mewah. Para calon pembeli banyak yang melakukan wait and see karena harga penjualan apartemen melambung sejak tahun lalu, itu juga diikuti dengan harga sewa apartemen yang ikut melambung. Banyak kantor, khususnya yang mempekerjakan ekspatriat, memotong anggaran sewa apartemennya, dan memilih apartemen berharga lebih murah. Begitu juga rumah mewah yang mengalami pukulan cukup berat. Menurut Ketua Umum REI, Eddy Hussy, gejolak kurs rupiah mempengaruhi harga bahan baku juga harga jual rumah karenanya masyarakat lebih cenderung menahan pengeluaran, termasuk berin-
Rusun Marunda Jakarta Utara
vestasi di sektor properti. Namun, ada kabar baiknya. Meski bisnis apartemen dan rumah mewah lesu tidak demikian halnya dengan perumahan segmen menengah ke bawah yang boleh dibilang cenderung stabil karena permintaan cukup tinggi, ditambah lagi adanya dukungan dari pemerintah lewat program sejuta rumah.
Pembangunan Rusun Siasati Mahalnya Lahan Pengamat properti, Eka SanKebutuhan rumah untuk keluarga thi Indra Dewi menilai, prospek kecil dengan penghasilan menenbisnis perumahan di Bali masih gah 3-10jt/bulan. sangat bagus, mesti tidak boomIa menilai, dengan melihat ing seperti beberapa tahun lalu. kondisi pasar properti saat ini Ia mengatakan, dua tahun ke tentu lebih menarik jika mengembelakang, dunia properti memang bangkan perumahan tipe kecil sedang lesu. Ini dipacu oleh kondan sederhana. Bahkan jika medisi perekonomian secara global, mungkinkan membangun tipe RSS bukan sekadar karena situasi yang bersubsidi untuk mendudi Bali. “Memang saat ini laju kung program pemerintah untuk perkembangan harga properti di penyediaan rumah murah. Bali tidak sekencang tahun-tahun Untuk membangun rumah lalu,” ujar perempuan yang berpribadi tentu juga menarik karprofesi sebagai arsitek ini. ena akan memungkinkan kebeIa menyebutkan, kendala basan berkreasi dalam hal desain terbesar usaha properti, perdengan anggaran yang sesuai modalan dan akses permodalan. permintaan klien. Namun marEka Santhi Indra Dewi Harga lahan di Bali umumnya ket untuk itu jauh lebih sedikit. lebih tinggi dibanding daerah lain, sehingga harga “Sebenarnya bisa mulai dipikirkan oleh pemda jual rumah pun jadi lebih tinggi. Masalah lain, persetempat, utk pembangunan rumah vertikal atau izinan, yang kadang perlu waktu cukup lama. rusun. Agar dapat menyiasati keterbatasan lahan Eka Shanti pun memberi kiat-kiat yang bisa dan mahalnya harga lahan di Bali, namun tetap dilakukan pengembang atau pelaku bisnis propdapat memenuhi kebutuhan akan rumah murah erti di tengah kondisi persaingan yang ketat dan bagi masyarakat,” katanya. kondisi ekonomi yang pertumbuhannya melambat. Namun, aturan mengenai hal itu belum ada. “Mungkin dengan pilihan, beralih market customer. Sehingga pengembang juga tidak bisa mengerjakan Selama ini banyak pengembang yang lebih fokus proyek itu. “Saya berharap, stakeholder terkait ke market property menengah dan mewah seperti mau mulai memikirkan kemungkinan tersebut. Di villa atau rumah mewah dan kondotel. Saat ini seluruh kota besar, solusi akan kebutuhan rumah bisa beralih ke pembangunan rumah tipe kecil murah adalah membangun secara vertikal,” kata dan sederhana, dan di lokasi yang agak di pingEka Santhi. giran kota, dimana harga lahan masih terjangkau,” Jika ada benturan soal budaya, kata dia, tensarannya. tunya bisa dicari solusinya dengan desain yang Menurutnya, kebutuhan perumahan sesungmengadaptasi budaya setempat agar tidak benguhnya masih sangat besar di segmen market ini. turan. -Wirati Astiti
PROGRAM SEJUTA RUMAH Di Jakarta sendiri seiring dengan jumlah penduduk yang terus bertambah maka kebutuhan hunian pun bertambah pula. Hanya saja harga lahan yang tinggi membuat tidak banyak warga Jakarta yang mampu membeli rumah di kompleks perumahan yang harganya tinggi. Tapi dengan adanya kebijakan pemerintah ‘Program Sejuta Rumah’ yang dicanangkan Presiden Jokowi, harapan memiliki hunian di Jakarta untuk kalangan berpengahsilan menengah ke bawah cukup terbuka. Namun, seiring kondisi yang ada, lahan Jakarta yang terbatas, maka kebijakan pembangunan permukiman mengarah ke permukiman vertikal, tidak lagi horisontal. Hal ini sesuai dengan RTRW (Rencana Tata Ruang Wilayah) DKI Jakarta dimana pengembangan kawasan permukiman, komersial dan perkantoran diarahkan memanfaatkan ruang secara vertikal dan kompak. Karenanya tak heran kalau dalam beberapa tahun terakhir pengembang properti gencar pembangunan rumah vertikal, baik itu apartmen maupun rusunami atau rusunawa. Ketika kondisi memasuki masa lesu, pembangunan apartemen melambat, namun rusunawa dan rusunami tetap gencar. Hal ini bukan hanya karena adanya Program Sejuta Rumah yang dicanangkan pemerintah pusat namun juga karena kebutuhan pemerintah daerah Jakarta untuk menertibkan pemukiman liar. Terkait dengan ‘Program Sejuta Rumah’ , dari sembilan titik di Indonesia, salah satunya adalah di kawasan Cengkareng, Jakarta Barat yakni rusun sebanyak 18 tower (5400 unit) . Rusun yang dibangun Perumnas di kawasan elit Taman Palem Cengkareng ini, berharga Rp 186-Rp 372 juta per unit. Sayangnya, karena memang sudah menjadi budaya masyarakat, tidak semua orang suka tinggal
di hunian vertikal. Umumnya masyarakat lebih suka tinggal di rumah tapak atau rumah horisontal. Karena itu banyak masyarakat yang terkena penertiban, ketika dirinya bisa memilih antara tinggal di rusun dan rumah tapak, lebih memilih rumah tapak meski untuk itu harus menyingkir dari Jakarta atau tinggal di pinggiran Jakarta. CUMA KENAL MUKA Banyak warga yang mendapat jatah rusun kemudian menjual jatahnya dan memilih membeli rumah di pinggiran Jakarta meski lokasinya lebih jauh dari tempat kerja atau tempat mereka biasa berkegiatan. Sebagian warga mengaku tidak nyaman tinggal di rusun karena itu dia menjualnya. “Katanya mereka takut kebakaran atau gempa, kalau tinggal di rusun susah menyelamatkan diri,” ungkap Santi, yang sudah dua tahun menjadi penghuni Rusun Marunda. Hal yang sama juga dirasakan Lela yang tinggal di rusun Jatinegara setelah rumahnya di Menteng Pulo digusur. Meski diakui Nurlela tinggal di rusun menjadi lebih tertib dan bersih, namun dia merasakan ada sesuatu yang hilang yakni suasana kekerabatan dan kemudahan lainnya yang biasa didapat jika ia tinggal dihunian tapak. “Kalau dulu sesama tetangga bisa dekat malah seperti saudara. Kumpul-kumpul. Sekarang sepertinya masing-masing. Pintu rumah tetangga tertutup terus. Kalau mau ketemu, kumpul-kumpul ya, di bawah. Saya jadi kesepian. Kita cuma kenal muka saja sama tetangga samping rumah. Begitu juga belanjabelanja sayur mayur, jadi lebih jauh. Kalau dulu kan ada tukang jual sayur di depan rumah. Kalau sekarang ya harus turun ke bawah,” tuturnya. Kondisi yang belum sepenuhnya membuat dia terbiasa itu, akan dijalaninya terus. “Kalau dibilang terpaksa, ya terpaksa lah, emang kondisinya begitu. Saya dan keluarga berusaha menyesuaikan diri,” kata ibu dua anak ini. –Diana Runtu
22
Sosialita
Edisi 900/ 9 - 15 MEI 2016
Edisi 900/ 9 - 15 MEI 2016
3
Kota Tua Jakarta Menanti Pengakuan UNESCO Long weekend kali ini benar-benar luar biasa. Situasi lalu lintas menuju luar kota Jakarta hampir mirip seperti musim mudik lebaran, macet di mana-mana. Di jalan tol Cikampek, kecepatan kendaraan hanya bisa 20 km/jam. Rest area benar-benar padat. Untung bagi warga Jakarta yang tidak liburan ke luar kota, setidaknya selama empat hari dari Kamis (5/5) hingga Minggu (8/5) dapat menikmati Jakarta tanpa kemacetan.
L
ain lagi yang dirasakan Mema, warga Yogyakarta yang tadinya berniat berlibur ke Bandung. Mema datang ke Jakarta Rabu (4/5) maksudnya akan bersama saudara-saudaranya menghabiskan liburan empat hari di Kota Kembang. Tapi apa daya, niat warga Kota Gudeg ini harus diurungkan. Kendaraan keluarganya langsung terjebak macet begitu lepas dari Tol Cawang menuju Tol Cikampek. Berjam-jam terjebak macet rupanya membuat putus asa sebagian rombongan, dan mereka pun memutuskan kembali ke Jakarta. “Aku ndak sangka macetnya kayak gini. Jadi kami putuskan balik ke Jakarta. Aku sebenarnya datang ke Jakarta mau langsung ke Bandung, tapi bagaimana lagi, ndak bisa jalan,” kata Mema. Untuk menghibur hati, akhirnya rombongan yang tadinya ingin ke Bandung malah menuju kawasan Kota Tua dan sejumlah objek wisata yang ada di Jakarta. “Ya lumayan dari pada ndak jalan-jalan. Ternyata Kota Tua juga ra-
mai, ada banyak hiburan,” ucap wanita cantik ini yang sempat menyewa sepeda ontel untuk berkeliling Kota Tua ini. Sebagian orang yang beberapa kali pernah mengunjungi Kota Tua umumnya mengakui kalau penampilan kawasan itu kian hari kian menarik. Banyak gedung-gedung tua yang usianya telah ratusan tahun, yang dulunya dibiarkan terlantar, telah direnovasi sehingga tampil anggun. Tak terkecuali ikon Kota Tua yakni Museum Fatahillah yang selalu menjadi objek favorit wisatawan. Keseriusan Pemda DKI Jakarta untuk mempercantik kawasan yang menjadi cikal-bakal Jakarta, memang tidak main-main. Setidaknya sudah beberapa tahun terakhir ini revitalisasi secara serius dilakukan. Upaya ini bukan saja demi pelestarian kawasan bersejarah Jakarta, tapi juga untuk pengembangan objek wisata Jakarta. Apalagi saat ini Indonesia tengah berjuang agar Kota Tua bisa masuk sebagai salah satu warisan budaya dunia versi UNESCO. Sejak Februari 2016 lalu, Kota
Gencarkan Sosialisasi Pihak Kementerian Pariwisata dan berbagai pihak yang terlibat dalam revitalisasi Kota Tua Jakarta, terus melakukan sosialisasi Kota Tua Jakarta menuju World Heritage UNESCO 2017, di antaranya lewat berbagai diskusi-diskusi. Perlunya sosialisasi karena merevitalitasi Kota Tua Jakarta memerlukan keterlibatan banyak pihak, bukan hanya dari pihak pemerintah saja namun juga swasta. Hal ini terkait antara lain, banyaknya gedung-gedung tua yang direstorasi yang tentunya dibutuhkan biaya yang tidak sedikit. Di sisi lain, gedung-gedung itu ternyata hanya sebagian dimiliki pemerintah, justru lebih banyak yang dimiliki pihak swasta. Menteri Pariwisata, Arief Yahya, dalam diskusi Tourism Development Plan dan peluncuran Gedung OLVEH (peninggalan arsitek CP Wolff Schoemaker) dalam rangka sosialisasi di gedung OLVEH, Pinangsia, Jakarta, mengatakan, pihaknya optimis Kota Tua akan masuk dalam World Heritage UNESCO. Untuk mencapai itu, pemerintah akan membantu lewat berbagai hal yang memungkinkan. “Saya kira kalau pemerintah turun tangan revitalisasi Kota Tua akan bisa diselesaikan. Kami berkeinginan agar Kota Tua Jakarta bisa masuk situs UNESCO,” ujar Arief Yahya dihada-
pan para peserta diskusi di antaranya pihak perwakilan UNESCO. Ia mengimbau agar semua pihak ikut membantu agar apa yang diharapkan bersama dapat terwujud. Salah satu yang disinggungnya adalah tentang bangunan-bangunan yang semakin rentan kerusakan karena faktor alam. Ini akan menjadi bahan penilaian ICOMOS (International Council on Monuments and Sites), sebuah badan pengawas yang ditunjuk untuk membantu World Heritage Committee dalam nominasi situs kebudayaan sebelum dinobatkan sebagai situs warisan dunia. “Perencanaan konservasi yang matang dan pengembangan atas wilayah Kota Tua beserta bangunan yang semakin rentan kerusakan oleh faktor alam, dan pembangunan menjadi sorotan penilaian ICOMOS,” katanya. Acara diskusi ini diselenggarakan Jakarta Old Town Revitalization Corp (JOTRC) bekerjasama dengan Jakarta Endowment for Art and Heritage (Jeforah) dan Independent Research and Advisory Indonesia (IRAI) dan Sarasvati Art Communication and Publication. Dalam diskusi yang dihadiri perwakilan berbagai lembaga diungkapkan bahwa kawasan Kota Tua Jakarta memiliki karakter dan potensi yang kuat untuk bisa masuk sebagai Wolrd Heritage, apalagi adanya dukungan pemerintah yang kuat yang ikut membantu menangani revitalisasi kawasan ini. Namun, tetap saja, upaya-upaya dari pihak swasta sangat dibutuhkan, sehingga tercipta sinergi untuk bersama-sama memikirkan bagaimana menjadikan kota tua sebagai andalan wisata Indonesia untuk bisa bersaing di ranah internasional. Disebutkan, Kota Tua Jakarta merupakan contoh unik rencana kota kolonial Belanda oleh VOC–yang pada masa itu abad ke-17 dan 18 menguasai perdagangan dunia---yang terinspirasi konsep kota ideal Simon Stevin. VOC memberi nama Batavia untuk menghormati leluhur bangsa Belanda yaitu ’Batavieren’. –Diana Runtu
Ye n n i A g u n g
Lakukan dengan Cinta Tua Jakarta yang telah cukup lama mempersiapkan diri masuk dalam ‘World Haritage UNESCO’, dinyatakan masuk dalam daftar nominee setelah sebelumnya lama ‘ngedon’ dalam list tentative World Heritage. Selain Kota Tua Jakarta, sebenarnya ada beberapa situs Indonesia lain yang juga masuk dalam list tentative World Haritage, di antaranya; Raja Ampat, Sawahlunto, Taman Nasional Wakatobi, Sangkuriang, Tana Toraja , dll. Namun akhirnya Kota Tua Jakarta lah yang masuk nominasi mewakili Indonesia. Alasan terpilihnya Kota Tua Jakarta dibanding situs lain yang diusulkan, bukan karena keindahannya namun lebih karena Kota Tua Jakarta dinilai paling siap secara dokumen serta rencana pengembangan kawasan. Jika nantinya Kota Tua Jakarta berhasil masuk maka berarti Indonesia memiliki sembilan situs yang dilindungi UNESCO sebagai warisan dunia. Saat ini yang telah terdaftar di World Haritage UNESCO adalah; Candi Borobudur, Candi Prambanan, situs arkeologi Sangiran, Sistem Irigasi Subak, Pulau
Komodo, Taman Nasional Ujung Kulon, Larentz National Park dan Hutan Tropis Sumatera. Kabarnya, pengumuman World Haritage UNESCO akan dilakukan pada Juni 2017 mendatang. Paparan tentang Kota Tua Jakarta bisa dilihat di whc. unesco.org. Setidaknya untuk tahun
2017, terdapat 37 nominasi World Heritage. Dalam website UNESCO tersebut juga disebutkan bahwa negara yang bisa mendaftarkan situsnya hanyalah yang telah menandatangi Konvensi Warisan Dunia dan berjanji untuk melindungi warisan alam dan budaya mereka. –Diana Runtu
Jembatan Kota Intan di Kota Tua Jakarta
“Mutiara dari Timur” Berdasarkan catatan sejarah, Kota Tua dulunya hanyalah sebuah wilayah kecil di tepi Timur Sungai Ciliwung. Para abad ke-16 para pelayar dan pedagang Eropa menjuluki tempat ini sebagai ‘Mutiara dari Timur’ , ‘Ratu dari Timur’ . Konon, ketika penjelajah legendaris asal Inggris, James Cook menyambangi kota ini tahun 1770, ia menjulukinya sebagai ‘The Pearl of Orient’ atau ‘Mutiara dari Timur’. Julukan itu muncul karena Cook sangat terpesona oleh keindahan bangunan dan struktur tata ruang kota yang dianggapnya mirip kota Amsterdam di
negeri Belanda. Rencananya kolonial Belanda dalam hal ini VOC tengah mempersiapkan kota ini (Kota Tua) menjadi mirip ibu kota negeri kincir angin tersebut sehingga dilabeli sebagai ‘Koningen van Oosten’ atau ‘Ratu dari Timur’. Pada masa itu, sebagai pusat jaringan perdagangan internasional dalam Asia dan antarpulau, Kota Tua Jakarta mengembangkan tradisi silang budaya dan perbauran beragam masyarakat lokal dari berbagai pulau dengan etnis besar di dunia seperti; Barat, Cina, India dan Timur Tengah yang dikemu-
dian hari dapat dilihat dalam sisa-sisa peninggalannya dalam bentuk beragam bangunan dan tradisinya, mulai dari makanan, tarian, perayaan-perayaan, gereja, masjid, klenteng, dll. Menurut Lin Che Wei, CEO PT JOTRC, kondisi fisik bukanlah menjadi kriteria paling penting dalam penilaianWorld Heritage, namun bagaimana rencana pemerintah untuk melestarikan situs bersejarah itu. JOTRC dan Jeforah, katanya, merupakan kelompok-kelompok yang ikut terlibat dalam upaya melestarikan kota tua dan merevitalisasi menjadi tujuan pariwisata budaya berkelanjutan. “Kami memiliki rencana yang jelas tentang ini,” kata Che Wei. “Jika kita berhasil maka jumlah turis yang akan datang lebih banyak dari yang ada sekarang,” ucapnya. Saat ini tambahnya, proses revitalisasi masih terus berlanjut. Ada 12 situs yang masuk dalam agenda konservasi JOTRC, tiga di antaranya sudah rampung yakni Kantor Pos, Pantjoran Tea House (dahulu adalah Apotheek Chunghwa) dan OLVEH. Gedung lain yang sedang dalam pengerjaan antara lain Van Vleuten&Cox (eks Pasar Jeans), Kerta Niaga, Cipta Niaga dan Roa Malaka.—Diana Runtu
Setelah tertunda beberapakali, akhirnya tokoh berhasil juga “mencuri” waktu, di tengah-tengah kesibukan syuting perempuan yang satu ini. Dia adalah Yenni Agung, artis FTV asal Bali yang kini sudah merambah ke dunia layar lebar. Selasa (3/5) siang itu, dengan balutan busana kasual serba putih, Yenni Agung tampak fresh. “Maaf ya Dik, baru bisa ketemu nih,” ucapnya kepada tokoh. Rupanya, pemilik nama lengkap Anak Agung Yenni Arini Dewi, S.T. ini baru saja menyelesaikan syuting film layar lebar berjudul “Cinta 100% (Tamparan Cinta)” di Jakarta, produksi Multivision Plus, beradu akting dengan Kevin Julio, Jessica Mila, dan Fendy Chow, yang akan segera tayang di bioskop dalam waktu dekat ini.
D
i tengah keasyikan kami mengobrol, suara telepon seluler tak hentihentinya berdering untuk mengingatkan jadwal meeting setelah pertemuan, mengecek kemajuan proyek, atau sekadar dimintai solusi untuk mengatasi masalah di lapangan . Tak berselang beberapa lama, HP yang tak pernah jauh dari genggamannya itu kembali berdering. “Oke, nanti sore saya ngecek ke proyek,” sahutnya. Demikianlah Yenni Agung menjalani hari-harinya dengan seabrek aktivitas. “Saya menjalankan semuanya itu dengan cinta dan totalitas. Dengan kecanggihan teknologi sekarang, jarak Jakarta-Bali terasa dekat,” ucapnya tentang membagi waktunya untuk syuting dan pekerjaannya sebagai kontraktor. Memang, basic Yenni Agung adalah seorang kontraktor yang notabene
Rindukan Peran Gila FTV mulai booming di Indonesia sekitar tahun 2007-2008. Oleh beberapa Production House (PH), Bali menjadi salah satu tempat favorit yang dijadikan lokasi syuting. Melihat fenomena ini, Yenni Agung kembali bernostalgia dengan masa lalunya. Ia pun mengikuti beberapa casting FTV di Bali dan berhasil lolos. Dalam film pertama berjudul “Bunga Cinta Bunga”, ia bermain bersama aktor ganteng Mike Lewis, berperan sebagai ibu-ibu. Berlanjut ke film FTV kedua, ketiga, hingga hampir ratusan film FTV pernah dibintanginya. Selain peran ibu-ibu anggun yang sederhana dan bijak, ia juga pernah disodori peran ibu-ibu cerewet, orang penyakitan, nenek-nenek, manusia siluman, hingga sebagai penyanyi dangdut-- menjadi peran antagonis dan beradu akting dengan Cita Citata dalam film “Sakitnya tuh Disini”. Salah satu film yang paling menantang dikisahkannya ketika ia harus berperan sebagai master bela diri. “Sementara saya tidak punya basic ilmu bela diri. Syutingnya waktu itu di Pantai Semawang, siang-siang lari-larian di pasir, panas sekali,” kisahnya mengingat pengalamannya waktu itu. Dalam berakting, Yenni Agung tak pernah memilih peran. Peran apapun yang disodorkan, sedikit ataupun
Yenni Agung bersama sutradara George Hutabarat (kanan) sebelum syuting
banyak scene, selalu ia mainkan dengan profesional dan total. “Saya sangat percaya diri memainkan peran-peran yang diberikan kepada saya. Saya selalu berprinsip, harus melakukan yang terbaik dan total. Terserah respons publik menilainya seperti apa. Yang jelas saya sudah melakukan yang terbaik dan sudah pada jalurnya,” ujarnya. Hal ini dibenarkan seorang sutradara FTV Bobby Herlambang. “Sosok Yenni Agung ini sangat baik dan sangat serius memainkan beberapa tokoh yang diperankan dalam beberapa FTV yang saya sutradarai. Keseriusan dan totalitasnya itu yang saya hargai dan memacu saya untuk mengubah setiap karakter yang harus dia perankan,” ujarnya saat dihubungi via telepon. Ia menyontohkan, Yenni Agung sering diberikan peran sosok ibu yang sederhana. Suatu waktu, ia mencoba memutar dan mengolah peran Yenni Agung menjadi sosok ibu orang Sunda, dalam film berjudul “Putri Bebek Primadona Kampung” dan “Gado-gado”. “Umumnya dialek orang Bali kental sekali, saya tantang dia memerankan sosok ibu dengan dialek Sunda. Dia berani memerankannya dan mau belajar. Dari vokal, intonasi, dialog, semuanya dapat sekali,” ucap Bobby. Di matanya, sosok Yenni Agung adalah artis profesional. “Semua peran ia mainkan dengan total, dia tidak
Yenni Agung bersama sutradara Bobby Herlambang dan artis lainnya
melihat apakah dia hanya bermain sebagai ibu, atau hanya beberapa scene. Ia hanya melihat semua tokoh memiliki arti. Ini memang betul. Saya akui, sebagai pemain profesional, pemain yang benar-benar menjaga karakter, selalu memang seperti itu, tidak pernah melihat kapasitas scene atau tokoh. Dia sangat menghargai bahwa setiap tokoh/karakter mempunyai peran dalam setiap film/FTV/sinetron,” papar perempuan yang hobi travelling ini. Untuk peran orang Sunda tersebut, Yenni Agung mengaku banyak belajar dari berbaur dengan masyarakat. “Sebelum syuting, saya sengaja belanja ke warung sekadar membeli teh, sambil mencuri dengar obrolan mereka. Di warung-warung begini, saya dapat kehidupan yang riil. Demikian halnya ketika harus berperan dengan dialek Batak maupun Betawi,” kisahnya. Bahkan, Ben Jeffrey, pemeran anaknya dalam film “Putri Bebek Primadona Kampung” yang dihubungi via telepon, mengaku banyak belajar dari Yenni Agung. “Kemampuan akting Mbak Yenni Agung bagus. Saya banyak belajar dari dia, termasuk dialek bahasa Sunda, karena sebelumnya dia pernah berperan sebagai orang Sunda dan bagus,” ujar Ben, bintang iklan Pop mie cewek dari Hongkong dan Tea Juice yang baru pertamakali main FTV ini. Di mata Ben, Yenni Agung adalah sosok yang baik hati, penyayang, tidak sombong, mau sharing, dan sudah dianggap seperti ibunya sendiri. Sementara George Hutabarat yang menyutradarai film layar lebar terbaru Yenni Agung “Cinta 100% (Tamparan Cinta)” yang juga kami hubungi via telepon, mengatakan hal yang senada. “Kemampuan aktingnya bagus. Seperti peran ibu-ibu cerewet yang dilakoni Yenni Agung dalam film ini, karakternya dapat. Saya melihat dia banyak main di FTV dengan peran basa-biasa, makanya saya mengajak dia untuk peran yang lebih menantang, sebagai sosok ibu yang sesungguhnya baik hati namun cerewet yang nyeroscos tanpa henti untuk mendidik anaknya,” ujar George yang juga salah satu tim sutradara film “Ada Apa dengan Cinta 1”.
pekerjaannya berpanas-panasan mengawasi proyek di lapangan, dan harus tegas menangani para pekerjanya. Sangat berbeda 180 derajat dengan sebagian besar perannya di film-film
FTV, sebagai sosok ibu yang anggun. Namun, berakting juga bukan hal baru baginya. Sejak duduk di bangku SMP ia sudah bergabung di kelompok teater sekolah. Yenni Agung remaja juga pernah memainkan tokoh Ibu Kartini. Dari sana ia semakin keranjingan dalam hal seni peran. “ Teater itu seperti jiwa,” ucapnya. Ia juga rajin mengikuti lomba baca puisi, cipta puisi, dan baca cerpen. Itu berlanjut hingga SMA dan perguruan tinggi. Saat SMA, Yenni Agung sudah bermain di film penyuluhan KB untuk iklan layanan masyarakat. Pun saat kuliah, Yenni Agung yang pernah menjabat Ketua Senat Fakultas Teknik Warmadewa ini juga ikut bermain dalam beberapa drama TVRI. –ten
empatan, tanpa ada usaha menggali dan mengembangkan potensi diri. Karena itu, dalam waktu dekat ini, Yenni Agung ingin berbagi kasih berbagi ilmu berbagi cinta, bersama Parfi Bali mencanangkan lomba akting dan peran untuk menggali potensi anak muda Bali. Ketika ditanya siapa tokoh idola yang mungkin belum kesampaian main bareng? Yenni Agung berpikir seYenni Agung bersama Ben Jeffrey dalam film jenak. Sembari ber“Putri Bebek Primadona Kampung” gumam ia menyebut Kerja keras menempa kemampuan beberapa artis idola remaja seperti aktingnya selama ini berbuah manis. Wa- Rizky Nazar, Fero Tiger, Eza Gionino, jahnya yang kerap menghiasi layar kaca dan Derbi Romero, sudah pernah membuatnya banyak memiliki pengge- menjadi anaknya dalam film. Bahmar, dari usia anak-anak hingga ibu-ibu, kan, pernah juga satu film dengan yang melihat sosok Yenni Agung sebagai Miss Celebrity, Yuriko. “Saat remaja ibu panutan yang sederhana, anggun dan saya mengidolakan Tarzan Srimulat. baik hati. Bahkan saking ngefansnya, ada Lucunya dia tidak dibuat-buat. Tak beberapa dari mereka memakai foto hanya pintar melawak, improvisasinya Yenni Agung sebagai DP. Begitu juga saat juga bagus, saya banyak belajar dari syuting di daerah Garut, pagi-pagi sekali, dia,” ungkap Yenni Agung yang tak ia sudah dibawakan sekantung plastik menyangka ia bahkan bisa satu frame besar dodol garut dan dicium oleh salah dengan idolanya tersebut. Dalam film itu Yenni Agung berperan sebagai istri seorang penggemarnya. Banyak dari mereka tak percaya Tarzan dan anaknya diperankan oleh dengan penampilan asli Yenni Agung Indra Birowo. Jika disuruh memilih, peran atau yang rada tomboi, berbeda dengan karakternya di film. Pernah pula, ia hampir karakter apa yang ingin dimainkan ketinggalan pesawat demi meladeni para Yenni Agung berikutnya? Dengan serta penggemar yang meminta foto bareng. merta ia menjawab “orang gila”. Peran Yenni Agung menyadari, karena mereka- ini dinilainya cukup menantang. Dulu lah ia bisa seperti sekarang. Pengakuan saat masih SMA ia pernah memerankterhadap profesionalismenya di dunia an karakter orang gila dalam sebuah seni peran, cukup membuat hatinya pementasan teater. “Waktu itu saya bahagia. “Apa pun yang dilakukan dengan hampir ditimpukin penonton karena cinta, dan digerakkan dengan hati, pasti dipikir orang gila beneran, karena saya lebih bisa maksimal,” ucapnya diplomatis. keluarnya juga dari arah penonton dan megang-megangin penonton,” ujarnya HIDUPKAN PARFI BALI terbahak. Sebagai salah seorang pengurus Belum lama di Bali, Jumat (6/5) Parfi Bali, Yenni Agung berkeinginan Yenni Agung kembali terbang ke Jamelanjutkan generasi perfilman di karta untuk syuting FTV terbaru “Si Bali. Ia melihat potensinya ada namun Cantik Pengembala Cintaku”. Namun, banyak orang yang tak berani mengam- Senin (8/5) pagi ia harus ke Bali untuk bil tantangan. Yenni Agung melihat talkshow di TVRI Denpasar, dan semereka cukup puas hanya dengan sudahnya segera balik lagi ke Jakarta menjadi extras. Apa karena mereka untuk melanjutkan syuting film FTV tak percaya diri atau tidak ada kes- dengan judul baru. –ten
4
Edisi 900/ 9 - 15 mei 2016
Don Goenarto
Inspirasi
Triplek Bekas Jadi Tas Unik
Tas-tas cantik tertata rapi di stan mungil ukuran 1,5 x 1,5 meter. Penunggunya seorang lelaki dengan rambut sebagian sudah memutih. Penampilannya persis seperti seniman plus topi di kepala. Di salah satu sudut rak ada sebuah penghargaan sebagai salah satu kerajinan terbaik.
L
Don Goenarto
alu apa yang menarik? Ya, sudah pasti tastas hasil kerajinan yang tampil unik. Sepintas, tas berlabel Tridolbag ini seperti tas yang terbuat dari kayu. Ternyata bukan. Tas-tas tersebut terbuat dari limbah triplek alias triplek rusak. “Orang pasti tidak mengira kalau kreasi ini menggunakan bahan dasar triplek rusak atau triplek bekas. Itu sebabnya label produk ini ‘Tridol’ kepanjangan dari triplek brodol. Dalam bahasa Jawa, brodol itu artinya rusak,” ungkap Don Goenarto, pencipta tas Tridol.
Selain tas-tas unik itu, ada lagi ‘keunikan’ lain dari stan Don. Barang-barang yang dipajang di stan mungilnya itu, sebagian tidak untuk dijual alias hanya model. Don mengaku tastas cantik karyanya itu adalah koleksi istrinya. Hal ini terungkap setelah sejumlah pengunjung yang menghampiri stannya yang mungil---kebetulan, meski stan itu mungil namun letaknya sangat strategis--- tampak terkagum-kagum dengan produk itu dan mereka bertanya harga. “Wah ini bagus sekali, berapa harganya, pak?” ujar seorang Ibu.
Hal yang sama juga ditanyakan oleh sejumlah pengunjung lain sembari memegang-megang tas yang diinginkannya. Jawaban mengejutkan muncul dari Don, pemilik produk. “Ini tidak dijual,” katanya sembari tertawa. Ketika pengunjung bertanya tas lainnya, Don kembali menjawab, tas itu juga tidak dijual. Supaya pengunjung jelas, akhirnya lelaki asal Solo kelahiran tahun 1953 ini menjawab sebagian tas-tas ini tidak dijual, ini hanya contoh saja. “Ini tas-tas koleksi istri saya. Saya yang membuatnya. Nah tas-tas yang sebelah di sini (sambil menunjung sejumlah tas yang dipajang-red), ini dijual,” katanya sembari tersenyum. Sebagian pengunjung pun tampak kecewa karena tas-tas yang ditaksir mereka hanya pajangan bukan untuk dijual. “Tas koleksi istri saya ini usianya sudah lama, ada yang 10 tahun, 15 tahun, lagipula sudah tidak bagus lagi. Lihat saja, ini ada bagian cacatnya. Ini hanya untuk contoh saja, kalau mau pesan, bisa kok,” kata Don sembari membagi-bagikan kartu namanya.
Tas dari triplek bekas
Awalnya untuk Koleksi Terkait pembuatan tas yang kini ditekuninya, menurut Don awalnya dia hanya membuatkan itu untuk sang istri, Liliek Mintarti. “Setiap kali saya mendapat material triplek brodol yang bertekstur bagus, saya bikin tas untuk istri saya. Satu demi satu, tak terasa jumlah koleksi istri saya makin banyak. Modelnya pun macam-macam. Entah bagaimana tapi inspirasi model selalu saja muncul,” ujar Don yang mengaku dulu tak pernah terpikir untuk menjadikan hobinya membuat tas istri sebagai bisnis. Suatu ketika, tutur Don, ia mendapat proyek mendesain kapal pesiar. “Seusai proyek, sebagai uca-
pan terima kasih, saya membuatkan istri pemilik kapal sebuah tas dari bahan triplek brodol,” ucapnya. Istri pemilik kapal sangat surprise juga senang. “Saya juga senang karena karya saya diapresiasi dengan sangat bagus. Apalagi saya tahu, kan, dia orang kaya, tas-tasnya branded semua, tapi ternyata dia senang tas bikinan saya. Menurutnya, unik dan menarik,” katanya. Entah bagaimana, lanjut Don, beberapa waktu kemudian istri pemilik kapal pesiar itu menelepon dirinya dan bilang kalau teman-teman komunitasnya senang dengan tas Tridol. Mereka menganggap tas tersebut unik juga elegan. “Mas, teman-teman aku suka tas ini. Mereka ingin beli, bisa tidak,” kata Don bercerita tentang isi telepon ibu tersebut. “Jadi sejak itu, pesanan tas dari triplek bekas mulai mengalir. Dari sana pula akhirnya dia berpikir untuk menekuni dan mengem-
“Untuk membuatnya perlu waktu sekitar 2 minggu. Harganya Rp 1,5 juta, baik ukuran besar atau kecil, harganya sama,” ucap Don sembari menambahkan tas Tridol bisa bertahan sampai lebih dari 15 tahun. Setelah melayani membeli, Don pun melanjutkan perbincangan dengan Tokoh. Dia mengakui dirinya tidak terlalu pandai berdagang, apalagi menjadi marketing. “Selama ini hanya tahu memproduksi tas, tapi untuk menjual itu tugas istri. Saya benar-benar nggak ngerti hehhehe,” ucapnya sembari menambahkan, istrinya
bangkan bisnis pembuatan tas dari triplek,” tuturnya. “Ini bisnis istri saya, saya bantu di bidang produksi saja,” kata Don sambil menambahkan, kebetulan istrinya sudah pensiun dari pekerjaannya sehingga memiliki waktu untuk mengurus bisnis tas Tridol. Beruntung, katanya, ia mengenal Samuel Wattimena, desainer fashion terkenal. “Sami (panggilan akrab Samuel Wattimena) memberi arahan kepada saya tentang tas fashion, dia juga mengajak saya berpameran bersama. Jadi Sami mengerjakan baju-baju, saya menggarap aksesorisnya yakni tas,” ungkapnya. Don mengaku sangat senang akan kesempatan itu. Apalagi pameran pertamanya itu terbilang sukses. “Banyak yang tertarik dengan tas saya, kata mereka unik dan belum pernah ada tas dari triplek,” kata lelaki yang gemar bercanda itu. Tahun ini, katanya, dua kali ikut pameran, kedua-duanya menggondol penghargaan, yakni, pada Festival Smesco 2016 dan Inacraft. “Iya saya sering dapat penghargaan, alhamdulilah,” ucapnya. Ketika ditanya kenapa harga semua produknya seragam yaitu Rp
1,5 juta, Don mengatakan, harga itu sudah jauh lebih murah ketimbang dulu sebelum ia terjun ke bisnis. “Dulu, kalau orang tanya berapa harga tas bikinan saya, saya bilang Rp 2 juta atau 3 juta, dan mereka bayar saja tanpa tawar. Malah saya pernah menjual tas seperti ini seharga Rp 15 juta. Harga semahal itu karena bahan dasarnya, meski tripleks bekas namun memiliki tekstur istimewa. Teksturnya seperti buntut cendrawasih, indah sekali. Itu juga sebabnya orang mau membayar dengan harga seperti itu,” ungkap Don. Menentukan harga Tridolbag, katanya, berbeda dengan produk lainnya. Kalau produk lain menentukan berdasarkan bahan baku pembuatan, namun untuk Tridolbag, tidak. Komponen terbesarnya justru terletak pada pengerjaannya. “Materialnya kan hanya triplek bekas yang mudah didapat, jadi pengaruhnya hanya kecil sekali. Justru pengerjaannya yang berpengaruh besar. Itu sebabnya harga tas besar atau tas kecil sama saja. Malah kalau tas kecil kan lebih sulit dalam pengerjaan,” ungkapnya. Sampai sejauh ini, lanjut Don, ia belum memiliki toko khusus. Dia memproduksi hanya untuk pesanan, sehingga tidak banyak barang yang bisa dijadikan contoh. “Jadi kalau pameran, ya saya bawa tas tas koleksi istri untuk contoh,”
sedang keluar mengurus sesuatu karena itu ia menunggu stan mereka. Don bercerita, sebelum ia terjun dalam bisnis pembuatan tas Tridol, ia berprofesi sebagai desainer interior privat jet juga kapal pesiar. Kadang-kadang orang juga memakai jasanya untuk mendesain mobil antik agar terlihat unik dan mewah. Soal pekerjaan pertukangan, dalam hal ini kerajinan kayu, telah dia kuasai sejak puluhan tahun. Itu sudah dilakukannya sejak kecil karena di kampungnya dia kerap berinteraksi dengan kerajinan kayu. Bahkan keluarganya pun ada yang pengrajin meubel kayu. Karenanya untuk urusan kreasi kayu, mulai dari mendesain, pemotongan dan pengaplikasian dia tidak asing lagi. Selama itu, Don yang berlatar belakang pendidikan STM Kelistrikan, justru lebih mengembangkan kemampuannya dalam perkayuan untuk desain interior alat transportasi. Dia tidak terpikir untuk terjun ke dunia fashion. -Diana Runtu
katanya sambil tertawa. Berkat promosi dari mulut ke mulut, juga keikutsertaannya dalam beberapa pameran, produksi mulai meningkat. “Saya belum pernah ekspor ke luar negeri. Yang membeli produk saya banyak orang-orang bule, kebetulan mereka ada di Jakarta dan diantar ke tempat saya,” katanya. Menurut Don, ia ingin kemampuan mengkreasikan triplek bekas itu bukan hanya menjadi miliknya tapi juga bisa dimiliki masyarakat. Dengan begitu masyarakat pun bisa menarik keuntungan secara ekonomi dengan pembuatan tas ataupun produk lainnya. “Saya mau mengajarkannya. Saya ingin berbagi ilmu. Dengan begitu, kita bukan saja bisa mengurangi limbah tapi juga bisa menjadikan limbah bernilai ekonomi. Ini misi sosial saya,” kata Don. Dia sendiri mengaku tidak keberatan membagikan rahasia pembuatan tas triplek bekas. “Ini ada rahasianya lho, kenapa triplek bekas bisa jadi produk secantik ini. Ada caranya, nanti saya ajarkan,” kata Don sambil tertawa. Untuk mensosialisasikan ‘resep Tridolbag’ , Don saat ini sedang mencari seseorang ataupun perusahaan yang mau membiayai misi sosial itu yakni kursus kerajinan tripleks bekas. “Saya harap segera bisa mentransfer ilmu saya,” ujarnya. –Diana Runtu
Mandalika
Edisi 900/ 9 - 15 mei 2016
21
BUMDes Atasi Kesulitan Warga
Kisah buram terbelit rentenir sepertinya sudah tidak banyak lagi dijumpai di Desa Anyar. Keributan dan pertengkaran baik dalam rumah tangga maupun antar warga (khususnya antara rentenir dengan penghutang) sudah sangat jarang terdengar. Sebelumnya warga Desa Anyar mengenal nama ‘Bank’ Rontok, yang begitu ketemu nasabah langsung memberikan pinjaman dan harus mulai dibayar keesokan harinya dan harus mengangsur tiap hari dengan bunga mencapai 20% dan jangka waktu pelunasan hanya satu bulan.
A
da juga pinjaman yang diberikan secara pribadi yang operasionalnya lebih kurang sama. Demikian juga dengan tawaran sistem ijon yang sempat menjebak petani dalam kesulitan. Pinjaman-pinjaman yang diberikan seperti inilah yang kerap menimbulkan kesulitan bagi warga. Membayar cicilan tiap hari meskipun relatif dinilai kecil namun berbunga besar ini, tentu saja tidak mungkin dilakukan para petani misalnya. Sulitnya hidup dalam belitan rentenir termasuk yang kerap dialami para TKI asal desa ini, juga lambat laun memudar.
Kesulitan-kesulitan seperti ini kini telah teratasi dengan hadirnya BUMDes LKM Desa Anyar Kecamatan Bayan Kabupaten Lombok Utara. Badan Usaha Milik Desa Lembaga Keuangan Mikro yang berdiri tahun 2009 mampu menjawab hal tersebut. BUMDes ini bergerak pada usaha pembiayaan/penyediaan modal usaha bagi masyarakatnya dengan tujuan meningkatkan pendapatan dan taraf hidup masyarakat desa ini serta dapat menjadi sumber pemasukan asli desa. Cikal bakal BUMDes LKM Anyar adalah UPKD (Unit Pengelola Keuangan Desa) yang didirikan tahun 2000
Para petugas lapangan BUMDes LKM Anyar
dan beroperasi hingga tahun 2008 sampai akhirnya menjadi BUMDes di tahun 2009. Dalam kurun waktu enam tahun terakhir, BUMDes ini berkembang demikian pesat. Bahkan kini memiliki aset keseluruhan baik dari modal maupun simpanan warga telah mencapai Rp 5,5 Milyar. Nilai yang terbilang besar untuk sebuah desa kecil yang berada di kaki Gunung Rinjani. Pengelolaan
BUMDes LKM Anyar ini maju pesat sejak pertama kali didirikan-masih bernama UPKD di tahun 2000-2008, dengan dana awal Rp 315 juta yang diberikan dalam program pemerintah (bantuan bank dunia). Meski sempat terjadi masalah dalam pengelolaannya yang membuat LKM ini berada dalam situasi mati segan hidup tak mungkin, namun perangkat desa ini kemudian bangkit untuk
membuktikan bahwa dengan kepengurusan baru LKM ini akan dapat berdiri tegak kembali. Dan atas kerja keras seluruh perangkat desa, UPKD dan elemen lainnya, UPKD Anyar kala itu meraih Juara I se-NTB tahun 2005 sebagai UPKD terbaik karena memiliki nasabah terbanyak sekaligus penambahan modal terbanyak dengan perkembangan yang sangat baik. –Naniek I. Taufan
Bayar Saat Panen “Bermula dari niat kami semua, aparat desa dan masyarakat Anyar untuk saling membantu dan melayani masyarakat, LKM ini berjalan dengan baik,” ungkap Ritanom, Kepala Desa Anyar. Demi menghindari para rentenir, petani dan usaha-usaha kecil serta para TKI yang membutuhkan dana, diberikan dengan bunga yang murah dan keleluasaan waktu pelunasan. BUMDes LKM Anyar memberikan pinjaman kepada petani yang memiliki lahan irigasi, intesifikasi padi, palawija, lahan kering seperti tanaman jambu mente dan tanaman keras lainnya. Juga untuk mendukung usaha tani (pupuk dan insektisida) serta tataniaga tani. Selain itu pinjaman juga diberikan untuk usaha ekonomi produktif seperti, kerajinan dan industri
rumah tangga, pedagang desa (warung/kios), jasa pengojek, sopir, penjahit, bengkel dan lainnya serta bidang perikanan. Petani yang menjadi target utama pemberian pinjaman di awal berdirinya LKM ini, diberi kemudahan dan kemurahan serta kelonggaran waktu yang masuk akal dengan sistem membayar musiman. “Biasanya para petani meminjam uang untuk kebutuhan menanam dan kami beri waktu membayar saat panen tiba dengan jangka waktu sekitar lima bulan. Bunga yang diterapkan hanya 2% yang dipotong didepan saat realisasi. Sehingga pada saat panen nasabah hanya membayar pokok pinjamannya saja,” ungkap R. Ratmanik, Sekretaris BUMDes LKM Anyar. Tidak itu saja,
Nasabah BUMDes LKM Anyar paling banyak adalah petani dan pedagang usaha kecil
keringanan dan kelonggaran waktu juga didapat oleh petani ketika menghadapi kegagalan panen. Saat panen gagal maka ia mendapat kesempatan melunasi pinjamannya pada panen berikutnya dengan hanya membayar bunga saja. Begitu pula dengan nasabah para calon Tenaga Kerja Indonesia asal Lombok Utara. Mereka yang tidak lagi meminjam uang dari rentenir relatif tidak mengalami masalah saat pembayaran hutangnya. BUMDes LKM Anyar, bahkan memberi edukasi bagi TKI dan keluarganya tentang tanggung jawab baik dalam hal mengembalikan pinjaman maupun penggunaan hasil kerja TKI. “Sebelum kami memberikan pinjaman, calon TKI dan keluarganya kami panggil untuk berunding tentang bagaimana cara pembayaran pinjaman agar semua keluarga tahu bahwa ada tanggung jawab yang harus dibayar oleh keluarga mereka yang berangkat menjadi TKI tersebut,” kata Ratmanik. Komunikasi-komunikasi yang dibangun seperti inilah yang membuat jarang terjadinya kredit macet di LKM ini. Begitu juga dengan para tukang ojek yang membutuhkan sepeda motor diberikan pinjaman untuk membeli sepeda motor secara tunai dan mereka diberikan waktu untuk melunasi sedikit demi sedikit pada BUMDes LKM ini. Tentu saja cicilan dan bunganya lebih murah dibandingkan jika menempuh kredit motor biasa.
Aktivitas BUMDes LKM Anyar
Sistem pengelolaan yang berjalan dengan baik membuat BUMDes ini berkembang dengan sangat pesat dan mampu menyumbang PADes (pendapan asli desa) hingga Rp 90 juta/pertahun. “Tahun 2014, BUMDes LKM Anyar telah menyumbang PADes sebesar Rp 90 juta dan di tahun 2015 ini diperkirakan akan menyumbang sekitar Rp 100 juta,” kata Ritanom. Sumbangan PADes yang lumayan besar untuk desa seluas 1.276 hektar ini. Sebagai lembaga sosial dan ekonomi, BUMDes LKM Anyar ini tidak hanya berorientasi pada keuntungan semata melainkan juga berkontribusi untuk kegiatan sosial dalam masyarakat di Desa Anyar. BUMDes ini telah memberikan dividen (laba) kepada desa, memberikan bonus untuk pembangunan dusun terbaik, kegiatan perayaan hari-hari besar nasional, kepemudaan, pembangunan tempat ibadah, perbaikan sarana iriga-
si dan lainnya. Pesatnya perkembangan BUMDes ini tidak lepas dari meningkatkan kepercayaan masyarakat yang tidak hanya datang dari Desa Anyar melainkan juga dari beberapa desa sekitar Desa Anyar seperti Desa Sukadana, Desa Loloan, Desa Karang Bajo, Desa Senaru juga Desa Bayan bahkan hingga desa di Kabupaten Lombok Timur yakni Desa Obel-obel. Kini BUMDes LKM Anyar memiliki nasabah penabung sebanyak 1.100 dan nasabah peminjam 1.200. Dari 2.300 nasabah ini, 60%-nya berasal dari Desa Anyar. “Dari 2.581 KK yang ada Desa Anyar, hampir setengahnya terlayani menjadi nasabah BUMDes LKM Anyar,” ujar Ritanom. Suksesnya perjalanan pengelolaan BUMDes ini juga tidak lepas dari para petugas lapangn yang militan. “Militansi petugas lapangan turut menjadi penyumbang terbaik bagi berkembangnya BUMDes ini,” tutup Ratmanik. –Naniek I. Taufan
20
Nine
Edisi 900/ 9 - 15 mei 2016
Gubernur NTB Kunjungi SLBN
Hari Pendidikan Nasional tahun 2016 ini dimanfaatkan oleh Gubernur NTB, Dr. TGH. M. Zainul Majdi, dengan mengunjungi siswa di Sekolah Luar Biasa Negeri (SLBN) Pembina Kota Mataram, Senin (2/5). Dalam sambutan antusias dari para siswa SLBN tersebut Majdi mengajak para siswa belajar membaca, menulis, berhitung dan bahkan menyimak siswa menghafal Al-Qur’an.
“S
aya bangga pada kalian, anak-anakku. Tetaplah rajin belajar dan yakinlah suatu saat kalian akan meraih prestasi yang hebat,” ungkap Majdi ketika berinteraksi dengan siswa-siswa berkebutuhan khusus tersebut. Dalam kunjungan Hardiknas tersebut, Gubernur Majdi
berpesan kepada guru-guru di sekolah tersebut untuk tetap bersabar mengingat mereka membutuhkan perhatian dan kebutuhan khusus.“Memang mereka ini anakanak istimewa, kebutuhannya khusus. Kita harus lebih sabar, harus lebih menyayangi. Teruskan mendidik dan memberikan yang terbaik untuk anak-anak kita Insya
Allah semuanya akan jadi anakanak hebat,” ungkapnya. Saat itu pula Majdi menyampaikan kepada orangtua siswa untuk bersabar dan tetap merasa bangga dengan anak-anaknya, mengingat keberadaan anak mereka yang berkebutuhan khusus tersebut menjadi ladang pahala yang berlipat ganda dibanding dengan orangtua yang memiliki anak normal. Kepala SLBN Pembina Kota Mataram, Sungkono, S.Pd. mengungkapkan rasa bangga atas perhatian dan kepedulian Gubernur NTB bagi dunia pendidikan, khususnya bagi siswa berkebutuhan khusus. Sungkono berharap ke depan SLBN tersebut dapat berkembang dan maju serta siswa yang tamat dari sekolah tersebut dapat hidup mandiri dan memberikan sumbangsih bagi pembangunan daerah. -Naniek I. Taufan
Launching NTB sebagai Provinsi Literasi 2016 Hari Pendidikan Nasional 2 Mei 2016 dijadikan momentum oleh Pemerintah Provinsi NTB untuk mendeklarasikan diri sebagai Provinsi Literasi Tahun 2016 dengan melaunching Provinsi NTB sebagai Provinsi Literasi 2016 yang dilakukan oleh Wakil Gubernur NTB, H. Muh. Amin, SH., M.Si. Program literasi di NTB ini diharapkan dapat menjadikan Pendidikan NTB menjadi lebih naju maju karena pola pikir siswa akan semakin diasah dengan dengan pendayagunaan segala bentuk media sebagai sumber pelajaran. “Literasi lebih dari sekedar
membaca dan menulis, karena mencakup keterampilan berpikir pada tingkat yang lebih tinggi dengan menggunakan sumber pengetahuan dalam berbagai media. Pemerintah Provinsi NTB terus berusaha menyediakan media pembelajaran yang dapat dimanfaatkan siswa” tegasnya. Menurut Dr. Rosiady Sayuti, Kadis Dikpora NTB, sebelumnya, Dinas Dikpora NTB sempat mewacanakan wajib membaca sastra bagi pelajar, mulai sekolah dasar hingga sekolah menegah atas. Bahkan wacana tersebut telah dimunculkan jauh sebelum
Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Anies Baswedan mengeluarkan Permen Pendidikan (tahun 2015) yang mewajibkan siswa membaca sastra sebelum pelajaran pertama dimulai. Program Provinsi Literasi 2016 yang diluncurkan pada peringatan Hari Pendidikan Nasional tanggal 2 Mei lalu, merupakan bagian dari upaya meningkatkan minat baca dan membuka ruang bagi penulis daerah. “Peningkatan literasi bukan cuma seputar minat baca dan kreativitas penulisan, tapi juga mencakup pengembangan nalar dan pembentukan karakter
DR H Rosiady :
Mengimplementasikan kegiatan baca sastra Rosiady menuturkan, saat tengah menyelesaikan draf terkait literasi itu, dosen Unram DR Mahsun baru menyelesaikan tugasnya di Badan Pembinaan Bahasa Pusat. “DR Mahsun banyak memberi masukan untuk melengkapi terkait program literasi. “ akunya. Rekonstruksi Sastra Lokal Seperti diungkapkan saat melaunching program Provinsi Literasi 2016 saat peringatan Hari Pendidikan (2/5), peningkatan literasi tak sebatas persoalan minat baca dan kemampuan menulis. Waktu itu Wakil Gubernur, Muhammad Amin juga menekankan pentingnya kualitas pola pikir dan pengembangan nalar anak didik. Namun penekanan pada kemampuan membaca sastra dan mengapresiasi budaya daerah menjadi focus Tim Literasi. Yang
DR H Rosiady
dibentuk Dikpora Tim yang terdiri dari kalangan guru, budayawan dan akademisi itu, kini tengah menyelesaikan rekonstruksi sekaligus mereproduksi naskah yang bersumber dari karya-karya lokal
atau cerita rakyat. “Karya-karya yang ada kita reproduksi, sedang kegiatan merekonstruksi menyangkut penyesuaian bahasa yang disesuaikan dengan jenjang pendidikan,” ujar Rosiady. Kegiatan itu mencakup dua sasaran sekaligus, selain peningkatan minat baca juga mengapresiasi budaya lokal. Di luar itu, pihak Dikpora tetap akan memberi ruang bagi seniman, penulis dan sastrawan di daerah untuk meningkatkan khasanah karya sastra di daerah. Menurut Rosiady, keberhasilan program literasi justru saat semua pihak memandang penting peningkatan cara berpikir untuk memproyeksikan masa depan NTB yang lebih maju. “Membaca dan menulis hanyalah jalan mencapai tujuan kebangkitan manusia, khususnya warga NTB,” pungkas Rosiady.
Inspirasi
Suasana Munas IKAYUSMA
sep yang tengah disusun bersama timnya, pelajar SD diwajibkan membaca 6 buah buku sastra, SMP sebanyak 6 buku, sedang pelajar setingkat SMA sedikitnya membaca 9 buku. Prof. Mahsun, sebagai Ketua Tim Literasi mengungkapkan bahwa literasi sebagai kemampuan membaca dan menulis yang terkait dengan keberaksaraan sangat menentukan kemajuan peradaban suatu komunitas negara bangsa. “Masyarakat NTB harus menjadi komunitas negara bangsa yang berada pada gerda terdepan dalam memajukan peradaban bangsa melalui kemampuan literasi. Apa lagi bangsa ini memliki peringkat kemampuan literasi yang kurang menggembirakan,” ungkapnya.
WAJIBKAN BACA 15 MENIT SEBELUM JAM PERTAMA MULAI
Menurutnya, deklarasi ini bukan hanya formalitas Permen Dikbud: 23 Tahun 2015 yang salah satu poinnya mewajibkan siswa membaca 15 menit sebelum jam pertama dimulai, melainkan program literasi NTB lebih terencana, terarah dan terukur. “Kegiatan Literasi di NTB kita awali dengan pengembangan bahan literasi dengan melakukan penulisan kembali cerita-cerita lokal, biografi tokoh-tokoh lokal yang dapat memberi inspirasi tentang budi pekerti yang baik serta memberi pengetahun tentang implikasi jika suatu perilaku tertentu diterapkan dalam kehidupan,” ungkapnya. -Naniek I. Taufan
Mantan Ketua MA Suryono
Suasana reuni
5
Suasana makan siang bersama
Reuni XVII IKAYUSMA
Keakraban tanpa Mengenal Perbedaan Jabatan
Selasa (26/4) suasana di Lobby II Hotel Bali Beach nampak berbeda. Sekitar 134 orang anggota IKAYUSMA, yang berasal dari Jakarta, Jawa Barat, Jawa Timur, Kalimantan Timur, Kalimantan Barat, NTB serta Bali hadir untuk acara reuni XVII IKAYUSMA (Ikatan Keluarga Yustisia Malang).
kedaulatan politik KMB maka Republik Indonesia Serikat ( RIS ) diakui secara internasional. Karenanya, para hakim dan jaksa yang berkebangsaan Belanda harus kembali ke negaranya atau memilih menjadi WNI. Rupanya sebagian besar dari mereka memilih tetap menjadi warga Belanda, sehingga jabatan hakim dan jaksa menjadi vakum. Untuk mencari jalan pintas (crash program ) demi kepentingan sangat mendesak di bidang peradilan dan kejaksaan, maka Departemen Kehakiman , Kejaksaan Agung Kajati Bali, DR.H. Abdul Muni,S.H., M.H., bersama peserta bekerjasama dengan Departeenurut Ketua Panitia Reuni, Nyo- men Pendidikan dan Kebudayaan sepakat man Masni, acara Pembukaan mendirikan SMKA Negeri di Malang. Reuni XVII IKAYUSMAyang Masni yang pernah mengetuai beberapa dirangkaikan dengan makan malam bersama. organisasi seperti Badan Kerjasama Organisasi Rabu ( 27/4) , dilaksanakan Munas IKAYUSMA Wanita ( BKOW) Bali, Ketua Kaukus Perfem, dipimpin Ketua IKAYUSMA Pusat, Ben puan Politik Indonesia Provinsi Bali dan masih Sardjono didampingi H. Hubanyak yang lainnya, menuzaeni , LMM Samosir dan Lalu turkan pada zaman Belanda Mariyun. Munas menetapkan sekolah seperti ini bernama susunan pengurus baru IKAYRechtschool. SMKA Negeri USMA dan AD/ART. SelanMalang merupakan sekolah jutnya rombongan IKAYUSMA ketiga. Sekolah kedua adalah menikmati kunjungan wisata SMKA Medan sementara serta makan siang. sekolah pertama di Makasar, Puncak acara Reuni XVII keempat di Palembang, kelima IKAYUSMA dilaksanakan sedi Ambon, dan keenam di cara sederhana namun berkeBanjarmasin. Direktur SMKA san. Ada sambutan Ketua N Malang pertama yakni Mr. Panitia, Ketua IKAYUSMA G.G. Vodegel, kemudian diPusat, Perwakilan Alumnus gantikan oleh Mr. Mohamad dan Perwakilan Guru. Kepala Koesnoe dan terakhir dijabat Kejaksaan Tinggi Bali juga oleh Helak Soeheru BA. turut memberikan sambutan. Hubungan antara alumni Acara tersebut juga dihadiri sekolah ini sangat akrab dan Nyoman Masni tiga orang guru mereka, Pak kekeluargaan tanpa mengenal Soeryono, Pak Chabib Syarbini, dan Pak perbedaan jabatan, pangkat atau status sosial. Agung Basugiat. Acara diakhiri dengan malam Akhirnya dari pertemanan menjadi sebuah kenangan dan foto bersama. ikatan perkumpulan bernama IKAYUSMA Ditengah kebahagian berkumpul bersama yang dikukuhkan tahun 1980 dan dilanjutkan tersebut, Nyoman Masni, pendiri Lembaga pertemuan berkala bernama “ Reuni IKAYPerlindungan Anak (LPA) Bali dan peraih USMA“. Reuni pertama berlangsung di Hotel Penghargaan Ibu Teladan Se-Bali 2005 yang Hasta, Jakarta, tahun 1980. Sebelumnya Bali dilaksanakan Tokoh ini, sempat menyampaikan juga pernah menjadi tuan rumah Reuni X di kilasan sejarah IKAYUSMA. IKAYUSMA adalah Hotel Dyana Pura, Kuta, tahun 2007. perkumpulan alumnus, guru, dan pegawai Pada kesempatan yang sama, Agung Batata usaha dari sekolah SMKA/SHD, SPP yang sugiat, mewakili para guru menyatakan bahwa berdiri di Malang sejak 1 Juli 1953. seingatnya reuni IKAYUSMA pertama dilakAwal berdirinya Sekolah Menengah Keha- sanakan di Jakarta pada tahun 1980. Menurut kiman Atas/ SMKA yang kemudian bernama hitungan IKAYUSMA dari tahun 1980 sampai SHDN ( Sekolah Hakim Djaksa Negeri ), adalah saat terjadi peristiwa sejarah Nasional Bangsa Indonesia, yakni Konferesi Meja Bundar ( KMB) di Den Hag, Belanda yang menetapkan penyerahan kedaulatan ( Sovver Reinieteit Over Dracht) oleh Kerajaan Belanda kepada Indonesia. Menurut versi Indonesia bukan penyerahan kedaulatan tapi pengakuan kedaulatan (Sovvereinitit Erkenning). Karena itu, sebelum KMB, Indonesia sudah memiliki Republik Indonesia, sebab secara de fakto Indonesia sudah berdaulat. Foto bersama di depan museum Bajrasandi Ko n s e k u e n s i p e n g a k u a n
M
masyarakat NTB,” kata Rosiady. Karena itulah ketika dilantik kembali menjadi Kadis Dikpora pada awal tahun 2016 lalu, tugas pertama yang dilakukannya adalah menyusun Peraturan Daerah (Perda) Dinas Pendidikan. Momentum itu kembali dimanfaatkankannya untuk mewujudkan impian meningkatkan kegiatan baca sastra di kalangan pelajar. Dalam Perda (Peraturan Daerah) yang mengatur Tentang Penyelenggaraan Pendidikan Prov NTB 2015, turunannya ada 7 Peraturan Gubernur Pergub). Pergub itu disamping mengatur soal pendanaan pendidikan (drafnya selesai disusun), dan beberapa lainnya, yang tetap menjadi perhatian Rosiady adalah implementasi kegiatan baca sastra. Di mana dalam kon-
Edisi 900/ 9 - 15 mei 2016
Maka, reuni IKAYUSMA perlu diteruskan. Namun , mengingat kondisi yang ada, bahwa mereka saat ini kebanyakan sudah purna tugas bahkan diantaranya ada yang telah meninggalkan mereka untuk selamanya. Oleh karena itu, demi pelaksanaan reuni di masa mendatang agar diadakan sesederhana mungkin, terutama dalam segi pembiayaan. Belanja oleh-oleh di Krisna oke Ke t ua I K AY U S M A pada reuni XVII tahun ini sudah mencapai Pusat, sejak awal hingga saat ini, Ben Sardjono 36 tahun. Suatu kehidupan organisasi yang (79), ketika ditanya mengenai reuni tahun ini, dengan lugas ia mengatakan sangat mengharucukup lama. Karena itu, mereka harus bangga serta kan. Pertama, katanya melihat usia mereka sudah patut memberikan penilaian positif terhadap senja bahkan ada yang menggunakan kursi roda IKAYUSMA. Hal ini, tidak terlepas dari keteku- dari Kalimatan juga berupaya untuk datang. Selain itu, dengan dana seadanya panitia nan dan keuletan para pengurus, yang memperhatikan dan berusaha mengembangkan menyediakan tempat yang bagus. Mereka dan memajukan IKAYUSMA. Banyak sudah juga menikmati city tour yang menyenangpengorbanan yang diberikan para pengurus, kan. Keharuan lainnya lanjut Ben, karena salah satunya Ben Sardjono selaku ketua IK- kehadiran pejabat Kepala Kejaksaan Tinggi AYUSMA Pusat sejak dahulu hingga kini. Bali, yang sempat mengajak mereka makan Dikatakan oleh Agung, reuni sebagai sa- siang bahkan mereka semua memperoleh rana komunikasi dan silaturahmi sejak pertama kenang-kenangan kain tenun Bali. Keharuan hingga saat kini, berjalan dengan baik, hasil yang lainnya adalah kehadiran 3 orang mantan guru memuaskan bagi peserta reuni kesemuanya. mereka. –Sri Ardhini
KIPRAH DR. IGA DIAH WERDHI SRIKANDI WS (ANGGOTA DPRD BALI)
LAHIR DARI DINASTI POLITIK DAN PEMIMPIN SUKARNOIS DI BALI Jokowi dan Presiden SBY ke The Sukarno Center Tampaksiring dan juga menyambut Presiden Megawati Sukarno Putri ke Perpustakaan Bung Karno di Renon Denpasar. Belum lagi terhitung jumlah menteri kabinet yang hadir di tempat keluarga kami. Ini memberikan rasa optimis bahwa Bali bisa mendapat penghargaan di mata tokoh nasional. Ini berkat perjuangan orangtua kami (alm) Shri Wedastera Suyasa dan Ratu ISTANA - Dr. IGA Diah Werdhi Srikandi WS,S.E.,M.M. Biang I Gusti Ayu Suwitry. Be(anggota DPRD Bali) didampingi suami Notaris Ketut Ariyasa,S.H.,M.H., adinda IGA Ayu Sita Wedastiti WS,S.E. liaulah inisiator dari pendirian (Wakil Ketua DPD PDI Perjuangan Prov Bali) dan adinda sejumlah yayasan dan museum Shri IGN Wira Wedawitry WS,S.S,S.H.,M.H. (Wakil Ketua milik keluarga kami. Sekarang KNPI Provinsi Bali ) bersama Presiden Joko Widodo kami bagi–bagi tugas dengan di The Sukarno Center adik–adik untukmengelolanya,” Di Bali, mungkin hanya keluarga ungkap Dr. DiahWerdhi. (alm) Shri Wedastera Suyasa yang terIa pun menyatakan akan komitmen catat satu–satunya keluarga yang bisa untuk menjaga idealism partai yakni PDI mendatangkan tiga orang Presiden Re- Perjuangan untuk mengamankan Tri Sakti publik Indonesia secara khusus di situs Jokowi. “Saya berdoa agar pemerintahan milik keluarga dalam acara kebangsaan Tri Sakti ini bertahan 32 tahun. Ini masa yakni JokoWidodo, SBY, dan Megawati yang direbut oleh orde baru. Saya tahu Sukarno Putri. Hal ini diakui oleh putri betul penderitaan kami selama masa Orba, dari tokoh PNI zaman Bung Karno yakni bagaimana ayahanda saya mengamankan Dr. I Gusti Ayu Diah Werdhi Srikandi semua pusaka, buku, dan peninggalan Bung WS,S.E.,M.M. yang kini menjabat anggota Karno di masa sulit. Bersyukurlah ada Ibu DPRD Provinsi Bali. Megawati Soekarno Putri, tokoh utama re“Sebenarnya saya tidak begitu mem- formasi yang hebat. Jika tidak ada Ibu Megaperhatikan hal ini, karena kedatangan pe- wati Soekarno, mungkin Indonesia belum jabat tinggi ke situs milik keluarga adalah ada reformasi sekarang. Cukup dari satu hal hal yang biasa. Sampai ada seorang kader itu saja sudah membuat saya bangga pada di Jembrana yang mengingatkan bahwa Ibu Megawati. Saya akan balas jasa beliau kedatangan tiga presiden ke yayasan mi- dengan mengabdi di PDIP dengan kinerja lik keluarga kami adalah petunjuk Tuhan baik. Generasi muda harus bisa menghargai bahwa tanggung jawab kami ini besar sejarah,” pungkas Dr. Diah Werdhi yang juga pada Bali. Setelah saya pikir benar juga. adinda dari Senator DPD RI Shri I Gst Ngrh Saya sendiri yang menyambut Presiden Arya Wedakarna MWS III ini.
6
Edisi 900/ 9 - 15 MEI 2016
Belajar dari Orang Sukses dan tidak Sukses Pendidikan adalah penting dan merupakan kebutuhan dasar didalam berbagai langkah. Tingkat pendidikan sangat krusial. Pendidikan mampu membantu cara berpikir atau membentuk pola pikir seseorang dan secara pribadi maupun sosial dan bahkan membangun karakter yang baik. Pendidikan adalah modal untuk mencapai keberhasilan lebih lanjut di segala bidang. Begitu disampaikan IGA Mas Seri Lestari, S.H., M.Kn., seorang notaris dan PPAT di Kota Denpasar.
P
erempuan yang akrab disapa Gek Rani ini juga mengatakan dunia pendidikan atau belajar itu tidak ada batasnya. Belajar itu berarti terus menggali potensi diri dan membuka katup berpikir, yang juga berarti berupaya agar katup dapat diisi ilmu lebih banyak lagi. “Ketika tingkat pendidikan yang semakin tinggi, bisa menunjukkan bahwa kita memiliki komitmen untuk belajar dan menerapkan berbagai informasi dan pengetahuan dengan sebuah formula untuk mencapai tujuan dengan lebih baik,” ujar Gek Rani yang tengah meneruskan pendidikan doktoralnya di Universitas Brawijaya, Malang ini. Pendidikan dikatakannya sebagai proses belajar dan mengetahui yang tidak terbatas dari sekolah dan teks buku semata. Selain pendidikan yang diperoleh di sekolah atau lembaga
formal lainnya juga ada proses pendidikan yang berjalan secara informal. “Sesungguhnyalah pendidikan yang pertama kali adalah diawali dari rumah. Apalagi kita ketahui pendidikan yang sederhana adalah pendidikan dalam keluarga, sebagai masyarakat sosial yang terkecil. Hal ini merupakan langkah pembentukan karakter sejak dini, yang di dalamnya termasuk pendidikan tentang etika juga manner,” lanjut ibu empat anak ini. Berikutnya pendidikan dari lingkungan, bagaimana seseorang atau kita bisa berinteraksi sosial dengan lingkungan. Begitulah adanya kita bisa belajar dimana saja dan pada siapa saja. “Kita tidak hanya belajar dari guru di sekolah, tetapi juga menerima dan memperoleh pengetahuan dari orangtua, anggota keluarga dan bahkan kerabat yang lain hingga lingkungan, yakni
IGA Mas Seri Lestari, S.H., M.Kn.
Woman on Top hampir semua lapisan masyarakat. Tidak ada kata tua dan terlambat untuk belajar. Kita bukan hanya bisa belajar dari orangorang sukses, tapi dari yang disebut tidak sukses pun ada nilai yang bisa dipelajari. Semua proses pendidikan ini akan melengkapi segala bentuk bentuk pendidikan formal yang ada,” kata Gek Rani antusias. Begitu pula ketika kita berkecimpung di sebuah organisasi. Apakah itu organisasi sosial, olahraga, politik dan lain sebagainya. Di sana, katanya kita akan mendapatkan pendidikan menjadi seorang organisatorisyang berkompeten. Di dalam organisasi, seseorang digodok, seolah masuk dalam kawah candradimuka, yang selanjutnya akan terseleksi saat keluar, apakah seseorang itu nantinya bisa memiliki kemampuan sebagai leader atau tidak, disamping adanya seleksi alam yang tidak bisa dihindari. Adalah fakta, kata Gek Rani bahwa segala sesuatu yang kita buat saat ini berdasarkan ilmu pengetahuan yang kita peroleh sepanjang hidup melalui berbagai bentuk pendidikan yang pernah kita terima. Maka, melihat berbagai peristiwa yang dilaluinya, bagi Gek Rani pendidikan sangat penting baik formal maupun informal dalam memberi warna dan menunjang karier di manapun kita berkiprah. Soal karier, pengertiannya sangat luas, termasuk aktivitas sebagai ibu rumah tangga. “Kita jangan berpikir ranah domestik ini adalah tugas yang sederhana. Sangat banyak keterampilan dan inspirasi yang diperlukan untuk berhasil, baik itu mendidik anak, mengatur manajemen keuangan keluar ga hingga mengatur menu, semuanya memerlukan pendidikan. Apalagi tugas mendukung suami dan anak agar memiliki motivasi untuk maju. Ini artinya kita perlu, mesti dan harus mau terus belajar,” paparnya. -Sri Ardhini
Edisi 900/ 9 - 15 MEI 2016
Kampung Tempe Jadi Objek Wisata Arek-arek Suroboyo sangat akrab dengan tempe karena memang menjadi menu makanan setiap hari. Jenis makanan yang satu ini sebenarnya relatif kecil, tetapi kalau ditekuni bisa menghasilkan uang yang banyak. Buktinya, di kampung di Tenggilis Kauman Gang Buntu, Kelurahan Tenggilis, Kecamatan Tenggilis Mejoyo Kota ada sejumlah pengrajin tempe. Salah satunya, Nur Hasan, pengrajin tempe di kampung tempe.
Tempe dan kripik tempe milik Nur Hasan, pengrajin tempe
“AADT” …. Ada Apa Dengan Terlambat Salam Senyum… Film remaja dalam percintaan yang romantis 14 tahun yang lalu kembali membuat perfilman Indonesia sumringah. “Ada Apa Dengan Cinta (AADC)” versi lanjutan ya.. heheheh.. Dalam tulisan ini saya tidak membahas film itu. Tetapi membahas tentang AADT ( Ada Apa Dengan Terlambat ), mirip sedikit singkatannya, tidak apa-apa kan? Masih teringat ketika saya akan memulai sebuah meeting (rapat) yang dianggap “penting”, saya terpaksa terlambat datang karena ada alasan yang menurut saya dapat dipertanggung jawabkan. Saya tipe orang yang jarang terlambat. Tetapi, saya harus menerima ketika pemimpin rapat tidak mau mendengar alasan yang akan saya kemukakan. Waaahhhh… mungkin “dia lelah”.. heheheh.. Saya berusaha untuk tidak terpancing dalam situasi yang kurang nyaman tersebut. Yang tentunya dapat menurunkan daya kreativitas saya dalam memberi pendapat dengan situasional yang seperti itu. Oke.. kita tinggalkan ilustrasi “terlambat” tadi. Kita kembali ke dunia service yang selalu menjadi concern tulisan saya di rubrik ini. Hhhmmm.. kata orang bijak.. tidak ada kata terlambat untuk memulai sesuatu.. begitupun di dunia service. Banyak kejadian dan fakta saya temui, secara pribadi ataupun instansi mereka terlihat frustasi. Karena apa ??? Karena mereka merasa TERLAMBAT untuk memulai sesuatu yang berhubungan dengan service. Dalam dunia persaingan seperti ini kadang price sudah tidak terlalu mempengaruhi daya beli atau ketertarikan seseorang dengan sesuatu. Tetapi, bagaimana membuat service itu bisa menjadi daya jual yang tak ternilai ketika pelanggan sudah merasakan kenyamanan. Terlambat dalam service ada beberapa yang perlu kita bahas. Yang 1. Merasa terlambat karena melihat orang lain/ lembaga lain sudah melakukan dari jauh jauh hari bahkan tahun tahun sebelumnya. Melihat situasi seperti ini, suatu lembaga/ instansi /perusahaan ataupun perorangan malah
frustasi karena merasa terlambat. Hal ini pernah saya temui ketika memberikan pelatihan dan motivasi yang saya lakukan. Mereka tidak mau memperbaiki standar layanan ke pelanggan hanya karena merasa sudah jauh ketinggalan untuk memulai service ang baik. Padahal, tidak ada kata TERLAMBAT untuk memulai sesuatu. Coba bayangkan seandainya merasa kalah sebelum bertanding. Waaaahhh. Padahal dari teori motivasi, kalau mengejar orang yang berjalan satu langkah, kita harus berjalan minimal dua langkah bahkan tiga langkah jika ingin mendahuluinya. Heheheh…. Bukan malah melambat… ya kan… ? Kalau tidak yakin dengan hal tersebut, silahkan coba saja ya… Yang ke 2. Terlambat menyampaikan informasi ke pelanggan. Ini pernah saya alami ketika membeli barang di toko yang melakukan grand opening dan memberikan discount besar-besaran untuk promosi. Dengan bersemangat saya membeli salah satu barang keperluan rumah tangga karena di rak barang tertera discount sampai 50 persen. Tetapi setelah saya bayar di kasir, ternyata discount tersebut sudah berakhir siang tadi dengan selisih sekitar 2 jam dari saat saya berbelanja. Naaahhh.. kalau seperti ini siapa yang disalahkan? Keterlambatan menyampaikan informasi kepada pelanggan menjadikan pelanggan kecewa dan tentu membuat tidak nyaman. Yang ke 3. Terlambat melayani pelanggan karena kurang persiapan. Kalau yang ini sering terjadi ya… Contoh kecil yang sering ditemui ketika jam pelayanan tidak sesuai dengan keadaan yang terjadi. Layanan buka dari pukul 08.00 wita sampai 13.00 wita. Demikian yang tertera di counter. Tapi kenyataannya layanan seringkali dimulai tidak on time. Ini terlihat seperti counter masih kosong tidak ada satupun orang yang bertugas melayani. Atau, bahkan toko masih tutup rapat seperti libur. Ternyata…. salah satu penyebabnya karena petugas yang melayani masih ber make up, memakai uniform, dan lain lain. Waaaahhhh…. maunya sih kelihatan lebih cantik, lebih fresh, tapi mengorbankan jam pelayanan. Tentu membuat hal yang dapat mengecewakan pelanggan.
Yang ke 4, ke 5 dan seterusnya masih banyak hal KETERLAMBATAN yang membuat service tidak sesuai dengan yang diharapkan oleh pelanggan. Para pembaca Dhani’s Art in Service yang setia, hal ini tentunya dapat kita atasi. Salah satunya adalah dengan TIDAK MENUNDA sesuatu hal. Penyakit menunda-nunda pekerjaan tentunya sudah merupakan fenomena yang sebenarnya kita sadari. Dengan hal tersebut maka munculah teori Parkinson Law “Work expands so as to fill the time available for its completion” yang artinya, pekerjaan akan berkembang sesuai waktu yang tersedia untuk menyelesaikannya. Contohnya, dengan kualitas dan kuantitas pekerjaan yang sama, jika kita diberi waktu 1 jam, maka kita menyelesaikannya 1 jam. Tetapi jika pekerjaan itu diberikan waktu 3 jam, maka kita menyelesaikannya dalam 3 jam juga. So…… dengan adanya AADT.. Ada Apa Dengan Terlambat, sebaiknya kita kita menyelesaikan segala pekerjaan dengan tepat waktu. Kata terlambat itu jauh dari dunia yang kita geluti. Mulai saat ini ubahlah sifat penundaan menjadi percepatan. Karena lebih cepat lebih baik, kata seorang politikus. Ahaaaa…!!!!!!... Penundaan akan hanya menyebabkan pekerjaan bertumpuk. Bukankah dengan menemui hal yang mempunyai deadline yang sama, maka bisa-bisa kita tidak berhasil menyelesaikan satu tugas pun sesuai deadline yang diharapkan. Sebagai akhir tulisan saya ini saya ingin mengucapkan terima kasih kepada pembaca setia rubrik Dhani’s Art in Service yang telah ikut menyumbangkan ide berupa “JUDUL” pada tulisan saya edisi sebelumnya. Saya sudah memilih 3 judul yang sangat kreatif, yaitu, 1. Kembali ke (Basic) Laptop, 2. Berdiri atau Duduk, dan yang ke 3. Cepat itu (juga) Nyaman. Selamat kepada pemenang dan tunggu kiriman marchandise nya ya….. Jangan lupa juga untuk membuka link https:// www. youtube.com/watch?v=KnTnGOr7-Tw untuk menonton TVC saya yang ke II dengan edisi “Kopi Pahit Kopi Manis”. Selamat menikmati dan semoga bermanfaat. Salam 3SP Salam Senyum Sang Penyihir Sri Sumahardani
T
empe yang terbuat dari kacang kedele, yang diolahnya itu merupakan warisan leluhurnya. “Saya adalah generasi ketiga dalam mengolah tempe ini. Sejak dulu, Kampung Tenggilis Kauman terkenal sebagai pengrajin tempe yang paling enak di Surabaya,” kata Nur Hasan. Dulu pengrajin tempe banyak sekali disini. Tetapi, terus berkurang dan sekarang hanya tersisa 5 orang. Lainnya pendatang. Karena nilai budaya terus diwariskan Nur Hasan, bersama warga kampung lainnya, beberapa tahun lalu, Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya memberi predikat baru kepada Kampung Tenggilis Kauman ini menjadi “Kampung Tempe”. Menurut dia, Pemkot Surabaya tidak hanya sekadar memberi predikat Kampung Tempe, tetapi berusaha membantu para
pengrajin. Bentuknya dengan cara menggaet Bank Indonesia dan Dinas Perdagangan Surabaya untuk menjadi pembina. Kampung ini telah menjadi kampung binaan Bank Indonesia dan Dinas Perdagangan. Mereka telah memberi banyak bantuan, terutama peralatan untuk pengolahan tempe, bimbingan maupun mengembangkan pemasarannya. Bantuan peralatan yang diberikan nilainya sekitar Rp 500 juta. “Kami sangat berterima kasih kepada BI dan Disperindag,” ujar Nur Hasan. Ia menjelaskan, bahan baku tempe kacang kedele tidak terlalu sulit didapatkan karena ada pemasoknya secara rutin. Namun, karena kesulitan mendapatkan kacang kedelai lokal, mereka terpaksa membeli kacang kedelai impor dari Amerika Serikat, Argentina, dan Thailand. “Sebetulnya kacang kedelai
Beny di depan tempe yang siap dijual
lokal lebih enak daripada impor. Karena sulit didapat kami akhirnya membeli kacang kedelai impor dari Amerika,” ujarnya yang dibenarkan Beny, salah seorang ponakannya yang setia membantu Nur Hasan, dalam mengolah tempe. Menurut Nur Hasan, di Tenggilis Kauman Gang Buntu ini sekarang hanya tersisa lima pengrajin tempe. Yakni, Nur Hasan sendiri, Gofur, Juri, Untung dan Poniman. Sedangkan pengrajin tempe lainnya tinggal di Gang Tenggilis Lama dan Tenggilis Mulia dan totalnya sebanyak 200 orang. Yang disebut Gang Tempe cuma Gang Tenggilis Kauman Gang Buntu saja. “Gang ini termasuk yang masih asli mengolah tempe warisan leluhur. Sedangkan kedua gang yang lain adalah pendatang dari Pekalongan yang juga pengrajin tempe,” ujarnya. Ia mengaku sehari dia selalu membeli 250 kg tempe. Sedangkan Gofur 150 kg, Juri 100 kg, Pak Untung 110 kg dan Poniman 50 kg. Harga kacang kedelai impor saat ini Rp 6.300/kg. Pengolahan tempe ini dibantu tiga orang saudaranya dan dilakukan di rumahnya yang berada di tengah kampung. Untuk sampai di rumahnya harus melewati gang kecil dan sepeda motor harus dituntun tidak boleh dinaiki.
Nur Hasan, Pengrajin Tempe di Kampung Tempe
PENGOLAHAN SEDERHANA Proses pengolahan kacang kedelai sampai jadi tempe sebenarnya sangat sederhana. Kacang kedelai terlebih dahulu direbus. Setelah matang direndam selama satu malam, kemudian kulitnya dikupas dan dicuci. Setelah itu dimasukkan ke dalam cetakan yang terbuat dari kayu sepanjang 1,5 meter dan lebar 26 cm dan ditutupi dengan plastik agar tidak kena debu. Kalau sudah kering baru dipotong-potong sesuai keinginan konsumen dan siap dijual. Karena sudah terkenal, Nur Hasan, tak menjualnya ke pasarpasar tradisional tetapi ada langganannya yang datang membeli setiap malam sekitar pukul 24.00 hingga pagi hari untuk mereka jual lagi ke pasar. Saat ini, jumlah yang membeli tempe milik Nur Hasan sebanyak 16 pelanggan tetap. Setiap pembeli, kata dia, mem-
19
beli tiga hingga empat cetakan dan setiap cetakan seberat 5 kg. Harga setiap cetakan Rp 50.000 dan setiap pembeli rata-rata membeli 5 cetakan tempe. Ada juga pelanggan dari kantor yang menghendaki tempe dikemas dalam bungkusan plastik berukuran 20 cm dan lebar 10 cm. Selain mengolah tempe, Nur Hasan, juga membuat kripik tempe yang rasanya gurih dan enak. Kripik tempe ini dikemas secara bagus dalam packing dan selalu dibeli Disperindag dan sejumlah kantor. Menurut pengakuannya, Sekolah Al Ulsua menjadi pelanggan tetap membeli tempe dalam plastik sebanyak 110 bungkus setiap minggu dan harga per bungkus dengan berat 2,5 ons sekitar Rp 2.500. Selain itu, dia juga mengirim ke Balai Kota Surabaya, Nginden dan sejumlah pesanan lainnya. Sedangkan harga kripik per bungkusnya Rp 10.000. Agar kripiknya enak, harus digoreng dengan minyak baru dan jangan sekali-kali menggunakan minyak goreng bekas. Karena berpengaruh pada warna dan rasa. Ia mengaku dari penjual tempe hasil olahnya ini, sehari bisa meraup keuntungan Rp 2 juta per hari. Sedangkan dari kripik tempe mendapat laba Rp 500.000 per hari. Sehingga bila ditotal sekitar Rp 2,5 juta per hari. Dalam beberapa tahun terakhir, Kampung Tempe Tenggilis Kauman dijadikan sebagai salah satu objek wisata oleh Pemkot Surabaya. Hampir setiap bulan Dinas Pariwisata membawa turis mancanegara untuk berkunjung ke Kampung Tempe dan menyaksikan dari dekat teknik pembuatan tempe. -Yosef Sintar
Bisnis Spring Bed Beromzet Rp 10 Juta per Bulan Bermodal dari pengalaman kerja di tempat pembuatan spring bed di sejumlah kota di Jawa Timur, Jimun (48), warga Desa Morang, Kecamatan Kare, Kabupaten Madiun akhirnya membuka lapangan kerja sendiri meski masih tergolong usaha kecil. Berkat keuletannya, Jimun yang dibantu 5 pekerja tenaga borongan mampu membuat 8-9 tempat tidur jenis spring bed dalam sehari. Bahan baku yang digunakan yakni gergajian kayu tahun, per kawat dan busa tebal. “Harga yang kami tawarkan kepada masyarakat antara Rp 650 ribu hingga Rp 900 ribu, sesuai dengan ukuran spring bed,” kata Jimun saat ditemui di tempat usahanya di kawasan lereng Gunung Wilis Madiuni. Menurutnya sejak 5 tahun membuka usahanya itu, kini hampir sekitar 50% warga Desa Morang sebagai pembuat spring bed dan sisanya petani dan pegawai. Untuk pemasarannya, ia penyerahkan kepada tenaga pemasaran yang memiliki kendaraan untuk kekeliling dari desa ke desa. Masyarakat di perdesaan masih
bisa menjangkau harga spring bed yang ditawarkan itu. Namun jika sudah dibawa keliling perkampungan di wilayah Kabupaten Madiun, Magetan, Ngawi, Ponorogo dan Pacitan harganya pun sudah naik sekian persen. Mengingkat kebutuhan klaim bisnis yakni seperti biaya bahan bakar kendaraan roda empat serta tenaga marketingnya. “Biasanya teman-teman marketing menjual dengan harga tawar menawar kepada calon pembelinya antara
Rp 2 juta hingga Rp 2,5 juta. Harga itu, disesuaikan dengan ukuran spring bed,” ungkapnya. Ia menambahkan omzet pendapatan per bulan baru sekitar Rp 10 juta lebih. Nilai itu sudah dipotong biaya 5 tenaga kerja borongan dan pembelian bahan baku. “Ya kalau dihitung-hitung, hasilnya masih tipis atau dibawah standar. Tapi, kami tetap optimis karena di perdesaan masih ada masyarakat yang membutuhkan spring bed buatan kami,” tandas Jimun. -Ajun Ally
18
Life
Edisi 900/ 9 - 15 MEI 2016
Panen Jika Ada Pesanan Buah anggur adalah salah satu buah maskot dari Buleleng yang banyak ditemui di kecamatan Banjar. Tetapi ketika sebagian besar orang memilih anggur sebagai tanaman budidaya, lain halnya dengan Drs. Made Budiasa yang menjadikan buah bekul sebagai tanaman budidaya. Menurutnya bekul memiliki prospek bagus baik dari segi rasa, minat masyarakat dan berbuah sepanjang tahun.
Bekul yang sudah di panen
B
udi panggilan akrab pria ini mengaku, mulai menanam bekul ketika mengikuti pameran yang mengundang petani-petani di Bali. “Waktu itu saya beli bibit dua batang dan ditanam di pinggiran sawah tempat menanam anggur,” tuturnya. Pada saat itu guru Agama Hindu di SMP Negeri 2 Banjar tersebut belum cukup perhatian dengan bekul yang ditanamnya. Hingga ia mewakili Bali dalam pertemuan pakar petani di Surabaya. “Saat itu saya ketemu dengan teman lalu dianjurkan untuk menanam bekul sebagai buah primadona ke depannya,” jelasnya. Mulai saat itu Budi berinisiatif untuk membudidayakan buah bekul sebab proses perawatannya pun lebih mudah dari merawat pohon anggur Bergabung dalam kelompok tani Amertha Nadi, Budi bersama teman-temannya sudah mengembangkan 1,5 hektare tanaman
Made Budi
kan panen setiap saat. Ia hanya melakukan panen jika ada pesanan yang masuk. “Belum diterima pasar tradisional adalah alasan kenapa kami tidak bisa panen setiap saat, kami hanya mengandalkan pesanan saja,” jelasnya. Ia sangat berharap ke depan bisa mengisi peluang di supermarket dan juga pasar tradisional. -Wiwin
Di depan jenazah ibundanya, Kumala (55) menunduk menangis tersedu-sedu dalam sedih yang dalam. Hari itu, ia kehilangan satu-satunya orang yang paling dicintainya. Dalam balutan pakaian hitam, bersama warga sekitar tempatnya tinggal di Lombok Barat, Kumala mengantar jenazah Rina, ibundanya yang meninggal dalam usia 75 tahun ke pemakaman, tempat peristirahatan terakhirnya.
Bekul yang sudah di panen
Minimalis Bergaya Mewah Dari tahun ke tahun model dan tipe rumah kian beragam dan mengalami perkembangan yang cukup pesat. Model dan tipe tersebut harus disesuaikan dengan beberapa faktor di antaranya luas lahan yang tersedia, dana yang dimiliki dan jumlah anggota keluarga. Hal tersebut harus diperhatikan agar rumah yang dimiliki memberikan kenyamanan bagi penghuninya. Sebab memiliki rumah yang nyaman adalah impian bagi setiap keluarga. Saat ini di Buleleng bisnis properti memang sangat berkembang pesat. Begitu juga dengan selera masyarakat dalam bidang model rumah. Beberapa tahun belakangan, tren gaya minimalis memang sedang menjadi sorotan di kalangan masyarakat perkotaan. Alasannya adalah penghematan lahan serta penghematan biaya. Namun, seiring perkembangan waktu gaya minimalis tersebut juga dipadu-padankan agar terlihat lebih mewah. Hal ini disampaikan oleh Bayu Mandayana, Direktur PT Umah Bali Mesari. “Masalah tren rumah itu kan masalah selera masyarakat tetapi untuk saat ini tren rumah semi villa bergaya mewah memang
Edisi 900/ 9 - 15 MEI 2016
Ibu Melarangku Bertemu Ayah
Budidaya Buah Bekul
bekul di Subak Uma Desa, Desa Kalianget, Kecamatan Seririt dan sedang merintis agrowisata di Subak Banjar Ambengan, Desa Banjar, Kecamatan Banjar. Selain rasanya enak, harga jual buah bekul juga lebih menjanjikan ketimbang buah anggur. “Kalau jenis campuran dijual Rp 25 ribu per kilo sedangkan kalau kelas yang paling bagus bisa dijual sampai Rp 35 ribu per kilo,” ujar pria yang berasal dari Desa Munduk Bestala tersebut. Sampai sekarang Budi sudah banyak mengikuti pameran-pameran hingga ke Denpasar untuk mempromosikan buah bekul (bidara) tersebut. Belajar dari budidaya anggur, Budi tidak merasa kesulitan dalam membudidayakan buah bekul. “Kami menggunakan pupuk majemuk, tetapi agar lebih aman buat dikonsumsi kami menggunakan juga pupuk kandang,” imbuhnya. Proses perawatan yang baik membuat buah yang dihasilkan oleh budidaya yang dilakukan Budi berkualitas lebih baik dari buah bekul aslinya. “Rasanya lebih gurih, airnya cukup, buahnya juga lebih besar. Itu yang membuat masyarakat sangat meminati buah bekul ini,” ungkap pria yang lahir 31 Desember 1950 tersebut. Keunikan lain dari buah bekul adalah di antara buah apel dan pir. Berair seperti buah pir, manis dan gurih seperti buah apel. Dalam proses pemasaran, Budi menggunakan media sosial sebagai tempat berjualan. Konsumen yang ingin memesan bisa langsung datang atau bisa memesan terlebih dahulu. Dari sanalah usahanya makin berkembang karena mulut ke mulut. Budi juga tidak menampik jika peran media massa juga sangat membantu promosi usahanya sehingga banyak orderan yang masuk. “Kami saat ini belum mampu juga memasok ke swalayan-swalayan besar namun ada beberapa toko yang sudah kami ajak bekerja sama baik di Singaraja maupun Sanur,” tambahnya. Memang dalam pemasaran tidak ada kendala yang berarti namun ia tetap berharap kehadiran buah bekul dapat diterima di pasar tradisional. “Di pasar tradisional belum bisa diterima karena dianggap kemahalan,” ucapnya. Memiliki produk yang terbatas membuat Budi tidak bisa melaku-
Story
sedang digandrungi,” ungkap pria yang akrab disapa Bayu tersebut. Selain agar terlihat lebih mewah, penggunaan ventilasi yang memadai juga sangat diperhatikan dalam pembangunan rumah. “Singaraja kan panas, jadi sirkulasi udaranya harus bagus. Di depan ada jendela di belakang pun begitu,” ungkapnya. Pria kelahiran 14 Desember 1988 ini juga mengatakan meskipun masih mengusung gaya minimalis akan tetapi tetapi penyediaan halaman baik di depan maupun di belakang rumah harus diperhatikan. “Ini yang paling penting harus ada halaman. Tren rumah yang seperti ini yang disebut semi villa dan go green,” tambahnya. Bayu juga menegaskan dalam membangun sebuah rumah, perusahaannya sangat fleksibel untuk masalah konsep. “Kami sediakan standarisasi, kalau mereka punya desain sendiri akan kami layani tetapi tetap ada hitungannya,” imbuhnya. Meskipun dikatakan berkonsep semi villa dan go green, namun pembangunan rumah akan lebih bagus jika dilakukan di tengah kota atau di pinggiran kota. Hal ini akan lebih mengefisienkan waktu karena jarak dari rumah yang tidak begitu jauh dari pusat perkotaan. “Ini tergantung keper-
Bayu (kanan) bersama klien
luan, ada yang suka di kota ada yang suka di pinggiran kota, dan semua kembali juga ke masalah harga,” ujarnya. Perumahan di kota tentu akan lebih mahal dibandingkan perumahan di pinggiran kota. Berkenaan dengan masalah harga, Bayu mengungkapkan, daerah yang menjadi sasaran baru dalam proyeknya ke depan adalah di pinggiran kota Singaraja di antaranya daerah Panji, Selat, dan Kaliasem. “Untuk ke depan itu sih yang bagus, karena acuannya kan kota jadi yang dekat-dekat dengan kota saja,” ungkapnya. Hal ini dikarenakan agar lebih dekat dengan fasilitasfasilitas umum baik itu rumah sakit, perkantoran, pasar dan sekolah. Pria asal desa Pemaron ini juga mengatakan, saat ini masyarakat Buleleng memiliki minat yang sangat tinggi di bidang properti salah satunya kepemilikan rumah. Tetapi, peningkatan tersebut berbanding terbalik dengan melemahnya daya beli masyarakat. “Memiliki sebuah rumah itu kan harus bersakit-sakit dahulu, terkadang masyarakat tidak mau berinvestasi dan malah menghabiskan uangnya untuk hal-hal lain,” imbuhnya. -Wiwin
G
undukan tanah merah dengan batu nisan dan taburan bungabunga, makin membuat Kumala sedih terutama saat mengingat penderitaan ibundanya itu ketika mereka berdua ditinggal pergi oleh ayahandanya. “Sejak itu, Ibu sama sekali tidak ingin bertemu lagi dengan Ayah,” ungkap Kumala beberapa hari setelah kepergian ibundanya. Kisah hidup Kumala bersama Rina setengah abad yang lalu sungguh membuat hidup keduanya didera penderitaan yang cukup panjang. Cerita demi cerita pahit dikisahkan dengan begitu mengharukan oleh ibundanya setelah Kumala dewasa. “Dulu saat saya masih kecil, Ibu sama sekali tidak pernah mau menceritakan tentang asal usul saya dan mengapa kami tinggal di tempat yang terpencil saat itu di Lombok. Jauh dari perkotaan di salah satu daerah di NTB sebagai daerah asal ibu,” ujar Kumala yang kini menjadi guru di salah satu sekolah di Lombok Barat. Sejak itulah Kumala yang tidak dapat mengingat secara pasti kapan mereka pindah ke Lombok, akhirnya tumbuh besar di sebuah rumah sederhana di wilayah yang bisa dikatakan seperti hutan, saat ia masih kecil. Bunyi binatang malam dan gemericik dari dari bambu yang dialiri air dari mata air-mata air di sekitar tempat tinggal me
reka, menjadi sahabat Kumala di waktu malam. Air mata Kumala menetes ketika menceritakan kisah hidup ibundanya yang pahit. Pertemuan antara ayah dan ibunya terjadi ketika Rina, ibundanya berusia 25 tahun. Kala itu Rina telah bekerja sebagai pegawai pemerintahan di salah satu kabupaten di Nusa Tenggara Barat. Kala itu Rina adalah gadis yang sangat cantik. Pipinya seringkali bersemu merah dalam kulitnya yang putih dan bening. Tentu saja banyak lelaki yang menaruh hati padanya. Selain cantik, Rina juga adalah pribadi yang supel dengan karier yang baik. “Ibu saat itu sudah jadi bendahara di salah satu instansi penting di NTB,” ungkapnya. Tetapi dari banyak lelaki yang menaksir dirinya bahkan beberapa telah datang meminangnya, Rina menjatuhkan pilihan pada Bagus yang merupakan ayah dari Kumala. Dari segi penampilan dan wajah, Bagus tidaklah sebagus namanya, melainkan relatif biasa-biasa saja
dibandingkan dengan Rina yang demikian cantik. Namun, cinta telah membawa Rina menerima laki-laki yang juga merupakan pegawai salah satu kantor di Mataram tersebut dengan begitu tulus dan ikhlas. Rina begitu setia mendampingi suaminya tersebut. Dalam saat itu, karier Rina terus menunjukkan peningkatan. Begitu juga dengan suaminya. Mereka berdua sibuk bekerja bahkan hingga Kumala lahir. Kelahiran Kumala sesungguhnya telah memberikan kebahagiaan yang hampir sempurna bagi keduanya. Perhatian dan kasih sayang Bagus juga Rina pada Kumala begitu besar. Rina membagi waktunya dengan sangat cermat antara kesibukannya dengan pekerjaannya. Kariernya terus melaju melebihi suaminya. Hal inilah yang kemudian menciptakan bibit ‘kecemburuan’ dari suami. Hingga suatu hari, Bagus meminta Rina untuk berhenti bekerja dengan alasan agar bisa fokus mengurus anak mereka. Diskusi panjang antara Rina dan Bagus berlangsung cukup lama untuk memutuskan apakah Rina tetap bekerja atau berhenti saja. “Akhirnya Ibu menurut pada keinginan ayah dan berhenti bekerja waktu saya berusia dua tahun,” ujar Kumala. Sejak itulah Rina fokus mengurus anak dan suaminya dengan sangat telaten. Hidup mereka sangat bahagia. PERGI DARI RUMAH Namun, kebahagiaan itu tidak berlangsung lama karena malapetaka mengintip dan membuntutinya. Bagus mulai berulah dengan perselingkuhan demi
Rasa sakit yang dialami Rina membuatnya bergeming untuk mengetahui kabar suaminya. “Ibu malah melarang saya mencari ayah,”
7
tkh/net
perselingkuhan. Sampai akhirnya memutuskan menikah kembali. “Begitu ibu tahu, ibu tidak banyak bicara melainkan langsung pergi dari rumah membawa saya dan pakaian seadanya,” ungkap Kumala dengan senyumnya yang terlihat getir. Pernikahan suaminya begitu menggores luka di hati Rina. Ketika kabar pernikahan yang awalnya didengar dari desas desus tetangga sampai terkonfirmasi kebenarannya dari mulut Bagus secara langsung, Rina diam dan tidak banyak bicara. Tidak ada pertengkaran yang sengit antara keduanya melainkan yang tampak adalah kemurkaan Rina dalam diam yang teramat sakit. Dua hari kemudian, Rina mengemasi barang-barangnya dan pakaian anaknya seadanya saja lalu pergi meninggalkan rumah tanpa sepengetahuan suaminya. “Ibu sudah bertekad tidak akan pernah mau bertemu ayah lagi,” ujar Kumala. Dari Pulau Sumbawa Rina menggendong Kumala kecil sambil membawa tas pakaian seadanya menyeberang ke Pulau Lombok. Entah siapa yang dituju, Rina tidak tahu. “Bagi ibu waktu itu, meninggalkan rumah dan ayah adalah yang utama baginya. Ibu seperti ingin lari dari curamnya kepedihan yang dialaminya,” katanya. Sampai akhirnya yang diingat Kumala adalah mereka tinggal di tengah hutan (masa itu wilayah
Lombok Barat hutannya sangat lebat). Kumala hanya mengingat tumbuh besar di tengah hutan yang dingin dan lembab bersama ibundanya dan beberapa tetangga saja. Hingga akhirnya hutan tersebut sedikit demi sedikit terbuka membentuk sebuah desa saat Kumala akhirnya menjadi seorang guru. Rasa sakit yang dialami Rina membuatnya bergeming untuk mengetahui kabar suaminya. “Ibu malah melarang saya mencari ayah,” ujar Kumala. Rina sepertinya sama sekali tidak menginginkan Bagus menemukan dirinya dan Kumala putri mereka. Bahkan hingga akhir hayatnya, Rina sama sekali tidak pernah melihat lagi suaminya itu sekalipun. “Ibu sama sekali tidak pernah bertemu ayah sekalipun,” ungkap Kumala yang akhirnya diam-diam tanpa sepengetahuan ibundanya pernah mencari keberadaan ayahnya di Pulau Sumbawa. Kumala hanya sekali bertemu ayahnya dan menceritakan kisah ibunya serta keadaan mereka selama pelarian ibundanya yang tidak ingin ditemukan keberadaannya itu. Bagus sendiri karena didera rasa bersalah dan penyesalan, ia tidak berani bertemu dengan Rina bahkan ketika Rina meninggal. Ia hanya mendapat kabar berpulangnya Rina dari Kumala beberapa hari setelah kematiannya. -Naniek I. Taufan
8
Bunda & Ananda
Edisi 900/ 9 - 15 mei 2016
Siapkan Playground untuk Kenyamanan Anak
Bagi orangtua yang ingin mengajak anak-anak beraktivitas di luar rumah, kenali terlebih dahulu tujuan. Hal ini penting bagi kenyamanan orangtua dan anak. Jangan sampai aktivitas di luar rumah malah membuat repot karena anak rewel.
Sri Sutari
L
apangan Renon bisa menjadi lokasi olahraga bagi warga Denpasar. Tiap pagi dan sore, lapangan selalu ramai. Mulai dari anak-anak hingga orang dewasa memanfaatkan lapangan untuk olahraga. Di bagian tenggara lapangan tersedia beberapa mainan untuk anak-anak. Ada prosotan, jungkat-jungkit, dan ayunan. Anak-anak pun banyak yang
bermain di areal ini. Ketersediaan area bermain untuk anak-anak tentu menjadi hal yang bermanfaat bagi anak-anak dan orangtuanya. Di lapangan Puputan Badung dan Taman Kota Lumintang juga ada fasilitas yang sama. Areal bermain bagi anak-anak menjadi daya tarik bagi anak-anak. “Anak saya senang kalau diajak ke Puputan Badung. Dia bisa berlarian dan main ayunan,” ungkap Bu Wina yang datang bersama dua anaknya. Dunia anak yang lebih banyak diwarnai dengan bermain memang membuat mereka senang ketika bertemu dengan areal bermain. Kenyamanan saat bermain menjadi prioritas. Orangtua pun tak boleh lengah. Pengawasan harus terus dilakukan. Tak hanya ruang publik yang menyiapkan areal bermain bagi anak-anak. Beberapa pusat perbelanjaan pun menyiapkan playground untuk anak-anak. Playground menjadi bagian yang tak terpisahkan dalam upaya pemberian fasilitas kenyamanan bagi pengunjung, khususnya yang mengajak anak-anak. Salah satu tempat perbelanjaan di Denpasar yang menyiap-
Telkomsel Gelar Plaza Flashtival
Telkomsel bekerja sama dengan Plaza Refill untuk melayani pelanggan setia yang tersebar di seluruh Indonesia. Program dari Telkomsel tidak hanya difokuskan di kota-kota besar melainkan sampai ke kecamatan hingga ke kelurahan. Salah satu daerah yang di sasar adalah kecamatan Gerokgak. Hal ini dikarenakan pertumbuhan bisnis di broadband sedang pesat-pesatnya. “Jumlah pelanggan kami saat ini 37% dari seluruh pelanggan di Gerokgak, dan target kami tahun ini adalah 55%,” ujar Benedictus Ardi, Supervisor SOO Bali Barat. Untuk mewujudkan target 55% tersebut Telkomsel bersinergi dengan toko HP terbesar di Gerokgak yaitu Plaza Refill. Plaza Flashtival adalah salah satu program yang digelar memberikan benefit kepada pelanggan setia untuk mendapat hadiah senilai puluhan juta rupiah dan dilengkapi dengan grandprize berupa dua unit motor Yamaha Mio untuk periode bulan April sampai Desember 2016. Program ini berlaku untuk pelanggan yang melakukan pembelian paket internet Telkomsel 4 GB di Plaza Refill. “Program ini juga merupakan wujud apresiasi kami kepada pelanggan setia Plaza Refill. Sinergi bersama Telkomsel sebagai operator terkemuka dan penyedia produk serta layanan berkualitas terbaik di Bali,” jelas Gagut Agus Wiryawan, owner Plaza Refill. –Wiwin
Kendalikan Drone dengan Ponsel
Bagi masyarakat yang menggemari fotografi dan videografi, penggunaan drone menjadi salah satu pilihan. Bermacam-macam model pesawat tanpa awak ini bisa membantu mendukung kreativitas. Kini drone juga bisa dikendalikan dari ponsel. Rabu (4/5), Cellular World memperkenalkan tiga drone buatan Ehang, Ceewa, dan DJI. Menurut Marketing Manager Cellular World, Gede Wirakusuma, kegiatan mengenal lebih jauh tentang fungsi dan kemampuan drone ini bisa membuka wawasan konsumen terkait keberadaan pesawat tanpa awak ini. Ia menyebut, penjualan drone di Bali cukup menggembirakan, bahkan sudah ada komunitas drone. Ia mengakui drone mempunyai segmen berbeda dengan ponsel, namun seiring majunya teknologi, ponsel bisa digunakan untuk mengendalikan drone. “Jadi pemasaran drone ini sebenarnya tidak bergeser jauh dari core bisnis Cellular World yang memasarkan ponsel karena ponsel saat ini juga bisa digunakan mengendalikan drone,” paparnya. Davey Dai yang merupakan perwakilan Ceewa memaparkan drone saat ini cukup banyak digunakan penggemar aktivitas olahraga luar ruangan. Hal sama juga dikemukakan Sales Director Ehang Indonesia, Gan Wei dan perwakilan DJI, Frank. Mereka menilai saat ini teknologi yang disematkan di drone sudah makin canggih. Mengenai harga, ditawarkan mulai Rp 15 jutaan. –Ngurah Budi
Griya
Edisi 900/ 9 - 15 mei 2016
17
Maksimalkan Fungsi Ruang
Arena playgorund
kan playground adalah Cellular World Teuku Umar dan Cellular World Gatot Subroto. “Kami ingin orangtua yang berbelanja bisa nyaman. Anaknya pun nyaman dengan bermain di playground. Bahkan saking senangnya, ada anak yang menangis saat diajak pulang. Si anak masih ingin terus bermain sedangkan orangtuanya sudah selesai berbelanja,” ujar Gede Wirakusuma, Manajer Marketing Cellular World. ANUGERAH PELANGI Sekarang, mall atau pusat perbelanjaan, menjadi salah satu tujuan sebagian masyarakat atau keluarga di Indonesia sebagai tempat rekreasi untuk mengisi liburan. Makanya para pengelola perlu menyiapkan wahana atau area permain khusus bagi anakanak, jika memungkinkan lengkap dengan acara-acara yang edukatif juga menghibur.. Menurut Sri Sutari, Ketua Asosiasi Perusahaan Sahabat Anak Indonesia (APSAI) Kota Denpasar,
kalaupun kini makin banyak bisnis playground juga masih satu konsep dengan visi APSAI, apalagi jika permainan yang disediakan semakin bervariasi dan tidak lupa memasukkan unsur edukasi dan olahraga. Pusat perbelanjaan juga harus menyediakan ruang laktasi ruang khusus untuk kalangan disabilitas. Masih ada lagi, manajemen pusat perbelanjaan juga hendaknya menyediakan lift atau tangga khusus untuk anak-anak dan disabilitas. Begitu juga dengan tempat parkir khusus anak-anak disabilitas. “Hal lain yang perlu diperhatikan oleh manajemen pusat perbelanjaan atau mall adalah memperhatikan tenaga kerja wanitanya. Bagaimana dengan jadwal cuti hamilnya? Apakah sudah tersedia ruang menyusui. Sebab untuk menciptakan anak yang berkualitas harus dimulai dari dalam kandungan,” ujar Sri Sutari. Dikatakannya, APSAI Pusat sudah menjalin kerjasama dengan Asosiasi Pengelola Pusat Be-
lanja Indonesia dan (APPBI) untuk menghadirkan mall yang ramah terhadap anak-anak. APSAI, sudah pula melakukan penjajagan agar mall-mall di Indonesia memperhatikan fasilitas untuk anak-anak, seperti keberadaan toilet khusus anak-anak, dan ruang laktasi. Selanjutnya, bagi pengelola pusat perbelanjaan yang memenuhi kriteria ramah anak itu bisa menjadi perusahaan yang dicalonkan mendapatkan penghargaan yang bernama Anugerah Pelangi dari APSAI. Anugerah Pelangi dengan kriteria yang tinggi, karena merupakan pengakuan atas kiprah dan konsistensi pusat perbelanjaan dalam menerapkan kebijakan dan praktik bisnis yang mendukung hak anak di lingkungan kerja. “Kami APSAI, lanjutnya terus berkiprah, berupaya mendorong perlindungan serta pemenuhan hak anak melalui penyediaan fasilitas juga layanan, integrasi prinsipprinsip perusahaan layak anak,” tegas Sri Sutari. –Ngurah Budi, Sri Ardhini
Mendongeng Lima Menit
ayam petelur
Luh Lancah memelihara dua ekor ayam betina yang sedang bertelur. Ayam petelur itu diberi nama si Hitam dan si Putih, sesuai dengan warna bulunya. Ia berharap setiap hari mendapatMade Taro kan dua butir telur. “Kotek, kotek, kotek…!” seru si Hitam turun dari rumahnya. Luh Lancah segera mengambil telur yang baru saja lahir. Ia amat senang, lalu menaburkan makanan kepada si Hitam. “Kotek, kotek, kotek…!” seru si Putih. Luh Lancah mengulurkan tangannya ke rumah ayamnya yang kedua. Kosong! Ibu peternak ayam itu marah. “Hai, Putih! Kalau besok kamu tidak melahirkan telur, akan kusembelih kamu! Percuma aku memberimu makan.” Keesokan harinya, setelah matahari agak tinggi, kedua ayam itu berkotek. “Kotek, kotek, kotek…! Kotek, kotek, kotek…!” Luh Lancah mengambil sebutir telur dari rumah si Hitam. “Terimakasih, Hitam!” katanya berseri-seri. Kemudian ia mengulurkan tangannya ke rumah si Putih. Ia meraba
sebutir telur. Ia mengambil telur itu. “Aneh!” pikirnya. Telur itu lebih kecil dari telur si Hitam, tetapi jauh lebih berat. Warnanya kuning mengkilap. “Emaaasss…!” teriaknya gembira. Luh Lancah segera menjual telur emas itu. Dari segepok uang yang diperolehnya, ia membeli makanan enak untuk dirinya dan suaminya. Juga makanan enak untuk si Putih. Sisa uang yang masih banyak itu dibelikannya perabot rumah dan pakaian yang baru dan indah. Ketika asyik memasak makanan untuk suaminya, tiba-tiba ia berpikir. “Satu butir telur membuat aku kaya, dua butir, tiga butir, ….! Ah, aku pasti menjadi orang terkaya di desa ini. Kekayaanku akan melebihi Men Gentuh, perempuan terkaya di desa ini.” Ia segera bangkit lalu mengambil sebilah pisau. Ia menangkap si Putih. “Terimakasih, Putih!” serunya berseri-seri. Ia menorehkan pisau ke leher ayam yang ketakutan itu. Kemudian membelah perutnya. “Oh, oh…!” keluhnya. Dalam perut si Putih hanya terdapat sepuluh butir cairan mengental yang berwarna kuning keemasan. Luh Lancah menangis. “Kamu serakah!” teriak suaminya marah-marah setelah mendengar penjelasan dari istrinya. “Bila saja kamu bersabar dan mengendalikan diri, niscaya keinginanmu tercapai.”
Di ruang kecil dengan lahan terbatas, ruang tamu dan dapur dibatasi dengan mini bar yang berfungsi sebagai ruang makan
Ruang tidur utama dengan bukaan lebar untuk memaksimalkan flow udara dan masuknya sinar alami
Tiap orang pasti mengidamkan rumah tinggal yang nyaman untuk keluarganya. Jika lahan yang dimiliki terbatas, bisakah kita mewujudkan rumah idaman ini? Jawabannya, bisa. Tentunya dengan berbagai macam perencanaan yang matang. “Di lahan terbatas, hal yang paling utama dikonsepkan adalah memaksimalkan fungsi ruang. Tentukan ruang apa yang sangat dibutuhkan yang memungkinkan juga menjadi ruang multifungsi,” ujar owner CV Crea Bali Mandiri, I Gusti Agung Bagus Arimbawa, S.T., M.T.
S
ekarang ini, seperti pada beberapa proyek yang ia tangani, dikonsepkan ada modul mobil. Karena, tiap orang pasti menginginkan rumah yang ada akses bagus untuk kendaraan masuk ke rumah. “Di halaman depan pasti ada carport untuk tempat mobil. Carport bisa disebut sebagai ruang multifungsi, karena ketika mobil atau kendaraan di luar, carport bisa berfungsi sebagai halaman. Berbeda dengan garasi, meski fungsinya sama untuk tempat kendaraan, garasi adalah ruangan khusus yang tersekat,” jelas Arimbawa. Ia menyontohkan salah satu proyeknya di kawasan Kerobokan, yang hanya dengan luas lahan 84 meter persegi, mampu menampung segala kebutuhan ruang. “Dengan lahan terbatas ini, dengan tuntutan semua kebutuhan ruang harus ada, hanya bisa disiasati dengan membangun vertikal,
I Gusti Agung Bagus Arimbawa, S.T., M.T.
yakni bangunan berlantai 1 atau 2,” ucapnya. Pada prinsipnya, ia mengatakan semua kebutuhan ruang harus ada, terutama fungsi-fungsi pokok yang harus ada di lantai dasar, seperti carport, tuang tamu, dapur, dan ruang tidur utama, itu harus ada
di lantai dasar. Sementara ruang penujang lainnya seperti ruang tidur anak, ruang keluarga, ruang setrika, ruang jemur bisa diletakkan di lantai atas. Dalam konsep rumahnya ini, di lantai dasar ia menambahkan kamar mandi tamu, kamar pembantu, gudang, dan halaman belakang untuk flow udara agar bangunan tak tertutup dari depan ke belakang. “Jadi perputaran udara alaminya masih tetap bagus,” ujarnya. Konsep rumahnya moderntropis, dengan membuat banyak bukaan. Konsep ini sangat cocok diterapkan di Indonesia yang beriklim tropis, yang tentunya lebih hemat energi karena ada flow udara alami dan sinar alami yang bisa masuk. Meski minimalis, fasad (tampak depan) dibuat ada permainan batu dan kayu sehingga tampilannya jadi lebih menarik. Ia mengingatkan, pada ruang kecil atau terbatas, jangan terlalu
Fasad dengan permainan batu dan kayu membuat tampilan rumah semakin menarik
banyak sekat. “Buat ruang terbuka. Kalaupun ingin memberikan perbedaan ruang, cukup dengan furniture yang langsung bisa menunjukkan itu ruang apa. Misalkan antara ruang tamu dan dapur, disekat dengan mini bar. Ada perbedaan ruang namun masih terbuka,” ujarnya. Membedakan ruang juga bisa dilakukan dengan membedakan motif lantai. “Jika untuk rumah kecil sebaiknya tidak ada permainan level lantai, dibuat flat saja. Kalau untuk rumah besar, bagus,” sarannya. Untuk memberikan kesan luas, bisa dengan menempatkan cermin. Namun, Arimbawa merekomendasikannya ditempatkan pada tembok di areal halaman belakang. Karena jika diletakkan di dalam ruangan berisiko pecah. Sementara, untuk warna, pilih yang warnanya cerah.
Denah lantai dasar
–Inten Indrawati
Denah lantai atas
Edukasi
Edisi 900/9 - 15 MEI 2016
Peluncuran Buku di Museum Patung Wayan Pendet
Dari kiri: Prof. Windia, Dr. Ketut Wirata, Dr. Ketut Sudantra, dan Prof. Nurjaya
Sabtu, 30 April 2016, suasana di Museum Patung Wayan Pendet yang berlokasi di Banjar Nyuh Kuning, Desa Mas, Kecamatan Ubud, agak berbeda dari biasanya. Kalau biasanya relatif sepi, kali ini lumayan ramai. Sebabnya ada dua. Pertama, karena ada acara peluncuran buku. Kedua, karena keluarga besar Wayan Pendet menggelar acara khusus pada bulan April 2016.
A
da tiga buah buku sekaligus diluncurkan di Museum Patung yang bernaung di bawah Yayasan Wayan Pendet ini. Ketiga buku yang dimaksud (1). “Pengakuan Peradilan Adat dalam Politik Hukum Kekuasaan Kehakiman” karya Dr. I Ketut Sudantra, S.H.,M.H. (2). “Kebijakan Pengelolaan Wisata Ekoreligi Berkelanjutan Berbasis Masyarakat Hukum Adat Bali”, hasil karya Dr. Ketut Wirata, S.H.,M.Kn. (3). “Mapadik: Orang Biasa, Kawin Biasa, Cara Biasa di Bali”, karya Prof. Dr. Wayan P. Windia, S.H.,M.Si. Dua buku pertama (“Pengakuan Peradilan Adat dalam Politik Hukum Kekuasaan Kehakiman” dan “Kebijakan Pengelolaan Wisata Ekoreligi Berkelanjutan Berbasis Masyarakat Hukum Adat Bali”), merupakan buku ilmiah. Kedua buku ini berasal dari satu kawitan, yaitu hasil penelitian ilmiah yang kemudian dituangkan menjadi tulisan imiah dalam bentuk disertasi, sebagai salah satu syarat menyelesaikan jenjang pendidikan S3 di Universitas Brawijaya (UB), Malang. Itu sebabnya dalam acara tersebut turut hadir Guru Besar dari Fakultas Hukum UB, yaitu Prof. Dr. Nyoman Nurjaya, S.H.,M.H. dan Prof. Dr. Sudarsono, S.H.,M.H, serta Dr. Bambang Winarno, S.H.,M.H. Kedua mahaguru ini bukan saja menyaksikan acara peluncuran buku tersebut, melainkan sekalian memberikan sambutan. “Ekowisata (ecological tourisme) adalah suatu konsep dalam khasanah kepariwisataan yang diperkenalkan pada awal tahun 1980-an oleh CebalosLascurain, sebagai suatu perjalanan ke suatu wilayah yang masih alami, dimana unsur fauna dan floranya belum rusak dan terkontaminasi, dengan tujuan untuk dinikmati, dikagumi, dipelajari sebagai media pendidikan lingkungan hidup”, kata Prof Nurjaya dalam sambutannya. Ungkapan ini disambut oleh Prof. Sudarsono, “Itu sebabnya
buku Pak Wirata ini menarik untuk dibaca, karena ia mencoba menyentuh persoalan yang amat mendasar, yaitu “kebijakan” dan “religi” sebagai langkah antisipasi kerusakan lingkungan yang ditimbulkan oleh industri pariwisata”. Terhadap keberadaan negara hukum, Prof. Nurjaya mengemukakan bahwa Indonesia adalah negara hukum yang bercorak multikultural, termasuk multipranata hukum yang ber-
laku dalam masyarakat. Dalam hubungan dengan kenyataan ini dapat dicermati secara eksplisit bahwa sistem kekuasaan kehakiman yang dibangun cenderung mengedepankan anutan unifikasi dan uniformitas institusi pengadilan sebagai satu-satunya institusi penyelesaian sengketa dalam masyarakat, yang mencerminkan wujud kebijakan politik pengabaian terhadap fakta dan realitas kemajemukan pranata hukum (political of legal pluraryty ignorence) dalam pembangunan hukum dan institusi hukum di negeri ini. “Dari sudut ini, penting dibaca dan dipahami hasil penelitian I Ketut Sudantra”, kata Prof. Nurjaya. Dalam acara peluncuran buku tersebut, hadir beberapa intelektual dan tokoh masyarakat, seperti Prof. Dr. I.B. Wyasa Putra, S.H.,M.H., Prof. Dr. Made Suwitra, S.H.,M.H., Dr. Anak Agung Tini Gorda dan
Dr. Ketut Wirata saat memberikan sambutan
Dr. Anak Agung Sri Gorda, Dr. Ida Ayu Sadnyini, Dr. I Wayan Rideng. Hadir pula Brigjen Dewa Made Parsana, Made Suja (Bendesa Adat Nyuh Kuning) dan
Nyoman Weda (Kelihan Banjar Nyuh Kuning), Nyoman Gorim (pelukis dari Penestanan). Puluhan Notaris juga meramaikan acara seperti Dr. Ida Bagus Santika, Dr. Anak Agung Sri Agung,
Foto bersama para penulis buku dan penerima buku
Made Pria Darsana, Wayan Sugita. Beberapa mahasiswa S3 seperti Made Mahendrawati, Putra Darsana juga hadir. Keseluruhan rangkaian acara diakhiri dengan penyerahan buku oleh masing-masing penulis kepada sejumlah tokoh dan kalangan akademis yang hadir pada kesempatan tersebut. Sesudah acara peluncuran ketiga buku tersebut di atas selesai dan hadirin meninggalkan tempat, dilanjutkan dengan acara keluarga yang ditandai dengan pemberian wejangan keluarga dan penyerahan buku yang berjudul “Windia dalam Berita” kepada tujuh tugelan (saudara kandung) Wayan P. Windia, disaksikan oleh seluruh anggota keluarga besar Wayan Pendet. -wah
Dara
Pendidikan Nomor Satu
Tidak banyak artis sangat peduli pada pendidikannya. Dengan berbagai alasan banyak dari mereka lebih mendahulukan kariernya ketimbang mengejar pendidikannya, dengan pikiran ‘toh’ pendidikan (formal) bisa menunggu. ‘Aji mumpung’, itulah yang sering terdengar terdengar.
M
ungkin para artis ini lupa kalau ada juga sejumlah artis yang bisa tetap eksis di dunia hiburan namun bersamaan dengan itu mereka bisa meraih pendidikan tinggi, bukan sekadar sarjana S1 tapi bahkan S2. Mereka adalah Alyssa Soebandono, Dian Sastro, dan Cinta Laura yang mampu menjalankan karier dan pendidikannya seiring-sejalan. Alyssa tergolong artis laris di dunia sinetron, dia juga main film dan eksis di sejumlah acara entertainment, tapi ia juga sukses di bidang pendidikan. Usia 17 tahun Alyssa sudah kuliah di Monash University, Australia, kemudian dia mendapat beasiswa penuh untuk kuliah S2 di London School of Public Relation jurusan Coorporate Communication. Dalam usia 21 tahun, bintang film ‘Inikah Rasanya Cinta?’, ini, berhasil meraih gelar S2-nya. Tidak itu saja, dia juga meraih penghargaan ‘Best of The Best Student’ . Selain Alyssa ada artis terkenal lainnya yang juga tetap mendahulukan pendidikan yakni Dian Sastro. Bintang film AADC (Ada Apa Dengan Cinta) yang kini filmnya tengah tayang di bioskop-bioskop Tanah Air, tidak melupakan pendidikannya meski sibuk bermain film. Tahun 2014 lalu dia berhasil menamatkan S2 di Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia dengan capaian cum laude. Selain dua artis cantik itu, ada beberapa lagi yang juga mendahulukan pendidikan ketimbang kariernya di dunia entertainment, dia adalah Cinta Laura. Gadis kelahiran Quakenbruck, Jerman, 17 Agustus 1993,yang baru-baru ini sempat menghabiskan masa liburannya di Jakarta dan Bali, lewat e-mail mengungkapkan pandangannya tentang pentingnya pendidikan bagi dirinya. Anak tunggal pasangan Michael Kiehl dan Herdiana Soekarseno, ini, tanpa ragu meninggalkan dunia hiburan, padahal ketika itu kariernya tengah kinclongkinclongnya, baik di bidang seni peran (sinetron maupun film), juga tarik suara. Ia juga ikut meramaikan berbagai acara reality show juga laris jadi bintang iklan. Tapi semua itu ia tinggalkan dan lebih memilih mengejar pendidikannya di perguruan tinggi. Cinta pun berhasil masuk salah satu universitas terbaik dunia, yakni, Columbia University, tempat Presiden AS Barack Obama kuliah. Tidak tanggung-tanggung,
gadis cantik yang terkenal dengan ucapannya,”udah ujan, becek, ga ada ojek” mengambil dua jurusan sekaligus, yakni Psikologi dan Sastra Jerman. Keduanya diselesaikan tepat waktu dengan predikat cum laude pada 2014 lalu. “Bagi aku pendidikan tetap nomor satu. Aku punya cita-cita setinggi langit dan semua itu, aku pikir, hanya bisa diraih apabila aku meraih pendidikan setinggi mungkin. Memang benar karier aku di dunia entertainment ketika itu sedang sangat bagus, tapi aku pikir industri hiburan tidak bisa menjamin hidup aku. Karier di dunia hiburan, seperti menjadi aktris mungkin hanya bisa 25 atau 30 tahun, karena setelah usia tua, biasanya tidak banyak lagi tawaran tampil. Tapi dengan pendidikan, itu bisa menjadi andalan seumur hidup aku,” ungkap Cinta yang kini tengah sibuk syuting di Los Angeles. Atas dasar pemikiran itu, ia tak ragu meninggalkan kariernya. Sikapnya ini bukan lantaran dorongan orangtuanya. Justru sebaliknya, orangtuanya kadang heran dengan semangat menggebu dari
dirinya. “Mereka kadang menasihati aku agar jangan terlalu ngoyo. Itu karena mami-papi melihat aku belajar terus menerus, bahkan waktu kuliah pun mereka mendengar kalau aku kerap tertidur di perpustakaan karena belajar. Jadi dari sisi mami-papi, tidak ada tuntutan untuk aku harus bagaimana, harus mencapai apa. Justru diri aku sendiri yang menetapkan target. Aku memotivasi diri sendiri. Aku ini selalu ingin mencapai nilai terbaik, aku ingin selalu jadi nomor satu. Maka untuk mencapai itu semua aku belajar habis-habisan. Bahkan waktu-waktu libur dimana mahasiswa lain berlibur, aku pakai untuk mengambil kelas,” jelasnya. Bagaimana pandangannya tentang banyak artis yang lebih mendahulukan karier ketimbang pendidikan? Menurut Cinta, dirinya tidak menyalahkan para artis yang ‘aji mumpung’ karena pastinya mereka memiliki alasan untuk melakukan itu. “Aku rasa mereka tidak bisa disalahin. Mungkin mereka adalah tulang punggung keluarga makanya berbuat seperti itu. Kalau aku, kan, tidak. Aku bukan tulang punggung keluarga. Aku tidak perlu bekerja (syuting) dari pagi sampai pagi untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Selama ini, semua penghasilan aku untuk diri aku sendiri, sebagian aku gunakan untuk membantu Yayasan Soekarseno milik keluarga kami. Sementara teman-teman artis lainnya, mungkin, terpaksa harus mengesampingkan pendidikan,
Edisi 900/ 9 - 15 MEI 2016
berhenti sekolah atau home schooling karena mereka adalah tulang punggung keluarga. Jadi kasusnya memang berbeda,” paparnya. Tapi bagaimana pun, kalau dalam pandangan Cinta, memiliki pendidikan formal yang tinggi penting sekali.
9
Cinta Laura
16
Bahwa pendidikan ada dimana saja, itu adalah benar, namun dengan memiliki pendidikan formal yang tinggi maka cara berpikir dalam melihat permasalahan akan berbeda. “Jadi pendidikan formal perlu sekali, minimal S1 harus punya,” katanya. –Diana Runtu
Target Sukses di Hollywood Cinta sendiri merasa bersyukur setidaknya saat ini ia telah meraih dua gelar S1, dan kelak melanjutkan ke S2. Atas prestasinya meraih cum laude, Cinta mendapat penawaran beasiswa dari dua universitas kenamaan seperti Oxford dan Cambridge University. “Aku ditawari beasiswa program S2 di dua universitas itu. Penawaran itu bukan hanya untuk aku saja tapi untuk mereka yang berhasil mencapai cum laude,” katanya. Namun, meski ditawari beasiswa bukan berarti dirinya bakal melenggang masuk universitas terkenal itu. “Kalau masuk, sudah pasti masuk, tapi untuk mendapat beasiswa aku harus mengikuti tes beasiswa yang diikuti oleh para peraih cum laude. Jadi istilahnya nanti akan diambil yang terbaik dari yang terbaik,” kata Cinta. Saat ini Cinta masih menunda program S2 nya karena tengah fokus pada kariernya di industri perfilman Hollywood. Cinta sedang syuting dua film, satu bergenre horor di Los Angeles dan satu lagi persiapan syuting film bergenre drama di Yunani. “Aku belum bisa kasih tahu apa judul filmnya karena masih sangat confidential. Industri film Hollywood sangat ketat tentang aturan ini. Kami tidak diperbolehkan ngomong apapun sebelum premiere,” jelasnya. Tentang kariernya di industri film, pe-
meran Utami dalam film The Philosophers (After the Dark), mengatakan untuk karier di industri film Hollywood ia menetapkan target dua tahun. “Aku menetapkan kiprah di bidang ini sampai usia 25 tahun. Kalau aku berhasil maka aku akan terus berkarier di sini, tapi jika hasilnya hanya biasa-biasa saja, aku akan berhenti, dan langsung mengambil master (S2), mungkin, di Harvard,” tuturnya. “Sebenarnya baik itu di Oxford, Cambridge, Stanford, Harvard ataupun di Columbia University, itu sama saja. Karena universitas-universitas itu masuk top ten in the world. Tapi sampai saat ini saya masih memilih untuk masuk Harvard,” ungkapnya. Menjawab pertanyaan tentang apa yang dimaksud dengan karier biasa-biasa saja, Cinta mengatakan, dia ingin menjadi artis yang sukses di Hollywood, mendapat peran-peran penting dalam sebuah film. Itu adalah ukuran kesuksesannya. “Jadi kalau sampai umur 25 aku hanya dapat peran biasa-biasa saja, hanya dapat peran pembantu terus, aku bakal berhenti,” tegas Cinta yang 17 Agustus mendatang berusia 23 tahun. Cinta boleh dibilang sosok yang ‘keras’ terhadap dirinya sendiri. Gadis cantik ini selalu menetapkan target-target untuk dirinya. “Aku tidak mau menjadi wanita yang biasa-biasa saja. Karena itu aku selalu bekerja keras untuk mewujudkannya. Jika
aku sukses di industri film Hollywood, aku ingin seperti Angelina Jolie, Sandra Bullock ataupun Leonardo DiCaprio, yang menyumbangkan sebagian penghasilannya untuk kemanusiaan dan lingkungan. Aku ingin berkarya di bidang sosial dan ikut membantu semampu aku,” ujarnya. Tapi kalau dirinya tidak sukses di Hollywood maka selepas S2, dia ingin menjadi entrepreneur sukses. “Seperti yang aku katakan, aku tidak mau hanya jadi ‘biasa-biasa’ saja. Aku ingin berkiprah sebagai business woman yang sukses, aku ingin seperti Mark Zuckerberg (chairman and CEO of Facebook). Ya, aku ingin menjadi entrepreneur yang mendunia, nggak mau yang biasa-biasa saja,” ucap Cinta tentang obsesinya. Menjawab pertanyaan apakah dia tidak ingin berkiprah di Indonesia, Cinta bilang, kalau kelak dia sukses di luar negeri, entah itu sebagai artis ataupun bidang bisnis, maka ia akan tetap berkiprah di luar. Namun, ia akan tetap memberi sumbangsih pada masyarakat Indonesia. “Misalnya, kalau sebelumnya sebagai artis Indonesia aku hanya bisa membangun sekolah di desa, maka ketika aku sukses, aku ingin berbuat lebih besar lagi. Aku ingin bergerak di bidang pendidikan dan kesehatan seperti membangun universitas, rumah sakit dan kegiatan sosial lainnya. Yang pasti aku ingin berbuat sesuatu yang bermanfaat untuk Indonesia,” katanya. –Diana Runtu
10
Kreasi
Edisi 900/ 9 - 15 mei 2016
Pesona Kebaya Nusantara
Style
Edisi 900/ 9 - 15 mei 2016
Kebaya salah satu produk budaya yang tak terpisahkan dari para perempuan Bali. Indonesia Fashion Chamber (IFC) Denpasar bersama Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar bergandengan untuk terus menggaungkan tradisi busana ini ke kancah yang lebih luas lagi, dengan mengadakan Pagelaran 100 Kebaya , pada Sabtu (30/4) di Gedung Citta Klangen, ISI Denpasar.
A
cara yang mengusung tema “Pagelaran 100 Kebaya Pesona Nusantara”
ini juga mendapat dukungan dari Dewan Kerajinan Nasional (Dekranasda) Kota Denpasar. IA Selly D. Mantra, Ketua Dekranasda Denpasar yang juga Ketua TP PKK Kota Denpasar menyatakan dukungan ditunjukkan dengan menampilkan ibu-ibu PKK dan Dharma Wanita Persatuan Kota Denpasar. Dalam pagelaran yang dihadiri Rektor ISI Dr. I Gede Arya Sugiartha, SSKar., M.Hum., Ketua WHDI Bali Ny. Bintang Puspayoga dan undangan lainnya, Selly D. Mantra mengatakan Dekranasda Denpasar memiliki visi dan misi untuk berperan
serta dalam memperkenalkan serta meningkatkan eksistensi produk lokal ke tingkat nasional bahkan internasional. Begitu pula dengan adanya pagelaran tersebut, ini berarti para desainer dan pengrajin diajak terus berkreasi, berkreativitas dan dengan berkebaya kebaya, kita sudah ikut melestarikannya. Hal senada juga disampaikan Ketua Panitia Pagelaran 100 Kebaya, Dewi Suarjani. Melalui kebaya mereka ingin menjadikan Bali khususnya dan Indonesia umumnya sebagai pusat mode dunia. Pagelaran ini, menjadi salah satu langkah untuk lebih lagi meningkatkan eksistensi busana nasional yang bernama kebaya, mulai dari Bali untuk dunia. Selain sebagai sarana edukasi bagi masyarakat dalam mengenal
Salah satu sudut pameran
Usai Acara Talks Show Berkebaya Cantik
Chic and Simple
Sebagian peserta Pagelaran 100 Kebaya
tren serta perkembangan kebaya sambil menyaksikan karya kebaya dari yang simple hingga aneka modifikasi. Untuk Pagelaran 100 Kebaya kali ini, tercatat 120 kebaya yang diperagakan, baik oleh para model profesional, anggota PKK Kota Denpasar, Dharma Wanita Persatuan Kota Denpasar, murid sekolah mode di Bali, juga beberapa asosiasi seperti Iwapi Badung dan Asbest Kota Denpasar, KCKB, masyarakat umum dan mahasiswa Prodi Desain Mode ISI serta IFC Denpasar. Hadir juga para desainer IFC Bandung, IFC Makasar dan IFC Jakarta. KEANGGUNAN PEREMPUAN Dwi Iskandar, Ketua IFC Denpasar mengatakan selama ini beberapa negara memiliki busana tradisional yang cukup dikenal, seperti India dan Tiongkok. Ketika menyebut kebaya, sudah pasti dari Indonesia. Apalagi, saat ini masyarakat internasional sudah semakin kenal bahwa kebaya adalah salah satu identitas pakaian resmi nasional dari Indonesia. Ia menambahkan keberadaan IFC Denpasar memiliki visi utama untuk menjadikan Indonesia sebagai sumber inspirasi di bidang fashion, salah satu itemnya adalah kebaya, dan mempromosikan Indonesia sebagai pemimpin pusat fashion melalui kinerja yang kompetitif dari para desainernya di pasar domestik dan internasional. IFC saat ini lanjut menaungi
dengan Dewi Surjani, Dwi Iskandar dan Ratna Cora
para perancang busana, aksesoris, tas dan tekstil di Indonesia secara khusus yang berada di 11 kota, yakni Jakarta, Surabaya, Bandung, Yogyakarta, Semarang , Aceh, Padang. Makassar, Denpasar, Pontianak dan Medan. IFC Denpasar sendiri dibentuk pada 15 Februari 2016 dan memiliki 17 orang anggota. Dalam acara Talk Show ”Cantik Berkebaya “ bersama Ferry Sunarto, Vice Chairman IFC Nasional yang membawahi bidang Bussinnes Development dan Tjok Abi, dosen Desain Mode, spesialisasi Ilustrasi Desain di ISI dan dipandu oleh Dwi Iskandar ini, terungkap kebaya bukan hanya sebuah busana namun sebuah karya seni, tanpa meninggalkan nilai budaya Indonesia dan keanggunan perempuan Indonesia. Tjok Istri Ratna Cora, Ketua Prodi Desain Mode, menyampaikan ISI Denpasar yang bergerak di
Panitia Pagelaran bersama Ketua Dekranasda Kota Denpasar Selly D. Mantra
bidang seni dan budaya, memiliki visi menjadi pusat unggulan seni budaya berbasis kearifan lokal yang berwawasan universal. ISI merupakan satu-satunya dan kampus pertama di Indonesia yang memiliki Program Desain Mode yang mempersiapkan mahasiswanya untuk menjadi perancang busana atau praktisi mode. Dikatakannya dalam kegiatan ISI bersama bersama IFC Denpasar, ISI menyertakan semua program studi yang ada di dalamnya dilibatkan untuk mendukung pagelaran 100 Kebaya ini. Hal ini bisa dilihat dari rangkaian kegiatannya mulai dari pameran di bidang Fashion, Art, and Food pada Jumat (29/4), lomba fotografi dengan tema “Eksotika Kebaya “ yang mengedepankan komposisi dan kreativitas bekerjasama dengan jurusan fotografi begitu pula dengan seni tari sebagai pembuka pagelaran. – Sri Ardhini
Pembukaan Pagelaran 100 Kebaya
Kutubaru
Kebaya sebagai salah satu busana nasional, selalu mampu menjadikan para perempuan tampil semakin cantik dan anggun. Ibu-ibu Dharma Wanita dan PKK Kota Denpasar pun sukses melenggang di “Pagelaran 100 Kebaya Nusantara” pekan lalu di Gedung Citta Kelangen, ISI Denpasar.
K
ebaya yang dirancang oleh para desainer Asbest Kota Denpasar begitu anggun dengan mengunggulkan keindahan model klasik dan modern melalui aplikasi kutubaru-nya. Pesona yang tak pernah hilang di tengah kemajuan teknologi saat ini. Pemilihan warna yang istimewa dari lembut, segar hingga
terang, menjadikan kebaya ini sangat menarik, terlebih saat dipadukan warisan budaya lokal seperti songket. Ingin menyempurnakan penampilan dengan kebaya, baik untuk acara formal maupun nonformal? Ingin tampil dengan gaya chic dan simple? Berikut ini persembahan halaman Style untuk Anda -Sri Ardhini
15
14
Jelita
Edisi 900/ 9 - 15 MEI 2016
Make up Minimalis Manis Saat ini dengan semakin banyaknya tips make up di berbagai media, lebih memudahkan kita berdandan, terutama untuk gadis belia atau para remaja baik untuk acara keluarga, pesta sekolah maupun pesta lainnya di luar rumah.
B
agi remaja yang ingin berpenampilan yang berbeda lengkap dengan penataan rambut dan busananya, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan. “Perlu kemampuan memilih make up, tata rambut dan busana yang tepat,” ujar Dewi Kader, pemilik Dadari Salon di Kota Denpasar. Misalnya , ketika ingin tampil dengan kain dan kebaya remaja. Jika memutuskan untuk memakai foundation atau bedak, jangan terlalu berlebihan. Mengingat usia yang masih remaja, dengan kulit yang mulus dan masih bebas dari kerut wajah , maka biarkan orang lain melihat alami. Selain itu make up terlalu berat juga sangat tidak baik dan bisa berdampak burutk untuk kulit remaja. Sesungguhnya untuk make up remaja, cukup memakai moisturizer dan bb cream. Sebab, tekstur bb cream lebih ringan dibandingkan foundation. Bb cream juga bisa membuat wajah kamu terlihat segar dan tidak kusam.
Semuanya bisa membantu mengontrol penampilan agar tetap terlihat muda dan penuh dengan kelembutan. “Perhatikan pula alat-alat
yang digunakan ketika proses makeup, sebaiknya semua dalam keadaan steril ,” kata Dewi. Ia mengingatkan untuk membersihkan dan membilas semua make up setelah selesai menghadiri sebuah acara. Ini supaya bakteri dan kotoran tidak menempel pada wajah. Dewi juga menyampaikan salah satu trik agar kulit terlihat tetap natural namun segar menawan. Sedikit highliter dapat membuat make up menjadi bercahaya. Gunakanlah highliter tersebut pada hidung, area antara kedua mata dan sedikit di atas tulang pipi. Kalau masalah produk bisa disesuaikan dengan kemampuan kantong atau budgetnya. Yang penting adalah memperoleh highliter yang halus dan kilaunya tidak berlebihan. Untuk make up pada mata, bisa dioleskan minimal saja. Misalnya bisa menggunakan pilihan eyeshadow berwarna seperti coklat tua, coklat muda, pink, peach atau atau warna kelabu yang
dapat memunculkan kesan mendalam tapi tidak berlebihan. Poleskan eyeshadow sepanjang garis bulu mata bagian bawah dan atas memakai sikat lembut runcing, jangan lupakan sedikit di lipatan rongga mata. Jika merasa perlu kenakan eyeliner yang bisa mempertegas mata, agar tidak terlihat sayu. Terakhir setelah melentikkan bulu mata atau memasang bulu mata palsu yang bulunya tipis dan ringan gunakan maskara agar benarbenar terlihat tegas dan hidup namun alaminya tidak hilang.
Tampilan yang berkesan alami, maka untuk sentuhan terakhir pada bibir, pilihlah lipstik yang warnanya natural. Hindari warna lisptik yang terang . ”Intinya adalah membuat wajah menggunakan make up namun sangat soft. Kalau menggunakan make up misalnya penuh pada mata, pipi yang kemerahan, hasilnya justru akan terlihat lebih tua dari usia yang sebenarnya. Pilihlah make up yang bisa menjaga kulit tetap lembut. Begitu juga bibir, sedikit saja,” ungkap Dewi yang juga mantan model ini.
Dewi Kader
Mengenai busana, jika mengenakan kebaya, pilihlah yang modern khas anak muda dengan warna yang cerah tapi tidak begitu ramai, agar sisi ceriamu sebagai seorang remaja tetap bertahan. Sedangkan untuk alas kaki, bisa sepatu, high heels dengan tinggi yang tidak berlebihan. Untuk pilihan gaya rambutnya harus disesuaikan dengan pilihan busana yang dikenakan. Jangan sampai setelah pemilihan kebaya dan kainnya, sepatu, dan make up sudah sempurna, tibatiba gaya rambutnya sekadarnya saja atau bahkan amburadul, pasti sangat tidak enak dilihat. Sanggul simpel lipatan kepang salah satunya sangat cocok digunakan. “Kunci utamanya tetap menjadi diri sendiri serta percaya diri dengan apa yang kamu kenakan,” tandasnya. –Sri Ardhini
Bugar
Edisi 900/ 9 - 15 MEI 2016
Jaga Kesehatan dengan Air Ionasis Family Water PT Makmur Dewata, menggelar acara RTD (Round Table Disccusion), untuk mengetahui solusi sehat dengan memperkenalkan produk air minum berkualitas, untuk kalangan medis pada Jumat (29/4) di Quest San Hotel Denpasar dan di SMF Kulit dan Kelamin di RSUP Sanglah. Acara juga dirangkaikan dengan seminar kesehatan tentang Solusi Penuaan dan Peningkatan Kualitas Hidup untuk masyarakat umum, Sabtu (30/4) juga di Quest San Hotel, Denpasar.
S
ecara umum diketahui bahwa, tidak sedikit air kemasan yang beredar di masyarakat memiliki kualitas yang kurang baik, sehingga dapat mengakibatkan munculnya berbagai masalah kesehatan. Melihat kondisi ini, PT. Dewata Makmur Sejahtera bertekad membantu masyarakat untuk mendapatkan air minum berkualitas. Air minum ini tidak hanya berfungsi sebagai pelepas dahaga tetapi juga berfungsi untuk sehat yakni membantu penyembuhan berbagai penyakit.
Satu-satunya distributor Ionasis Family Water di Bali, yang beralamat di Jalan Pulau Nusa Penida No 33, mengundang secara khusus pembicara atau pakar yang sudah sangat mengerti bahwa air tersebut hidup dan bermanfaat untuk penyembuhan. Menurut Dewi, marketing PT Dewata Makmur Sejahtera, hal dilaksanakan agar tenaga kesehatan maupun masyarakat, mengerti tentang kriteria air yang berkualitas yang baik bagi tubuh. Terlebih saat ini, dengan teknologi yang semakin maju menimbulkan persaingan
yang ketat di kalangan pebisnis. Teknologi yang dikembangkan pun melakukan bekerjasama dengan pihak ketiga. Air merupakan elemen atau bahan yang sangat penting untuk kehidupan. Salah satu contoh praktis yakni ketika tanaman kekurangan air, maka tanaman akan mati. Begitu pula pada manusia. Apalagi diketahui bahwa 80% dari tubuh adalah cairan, yang juga berfungsi menentukan kualitas kesehatan tubuh manusia. Karenanya, jika seseorang mengalami kekurangan air dalam tubuhnya akan sangat mudah mengalami banyak gangguan fisik. Bahkan pada dehidrasi berat (kehilangan cairan yang sangat banyak) dapat berakibat kematian karena sel yang merupakan sumber kehidupan utama manusia tidak berfungsi sama sekali. Pada seminar yang dilaksanakan dalam dua hari tersebut, pembicara yang digandeng merupakan tokoh kawakan, yang juga
11
seorang pemerhati air di Indonesia, Prof. Dr.Winston Franklin Theodorus Waraow,Sp.KK(K), FAA-DV, FINS-DV. Ia mempresentasikan tentang kandungan air yang berkualitas dari segi ilmiahnya. Dikatakan oleh Prof. Winston, air memiliki sifat yang sangat labil. Air minum yang berkualitas bukan hanya dilihat dari tingkat keasamannya semata, tetapi air dengan bentuk hexagonal juga menjadi komponen penting untuk antioksidan, detox dan meregenerasi sel. Tingkat keasaman air (pH) yang direkomendasikan adalah 8.0-8.5, karena jika lebih dari itu justru akan menimbulkan penyakit. Bentuk air yang kecil (berukuran nano, 1x10-6 µDalton) juga dapat memaksimalkan penyerapan air sampai dengan tingkat sel bahkan tulang. Selanjutnya untuk memperoleh air yang berkualitas diperlukan kombinasi kandungan yang berteknologi canggih. Begitu pula menurut Roby Oktober, selaku COO PT. Prima Alam Internasional, Ionasis Family Water memiliki kandungan Crystallized Hexagonal, Nano cluster, Ionized Water, pH 8+ dan TDS 45, sehingga dapat dikonsumsi untuk penderita gagal ginjal sekalipun. Dalam acara tersebut, Roby Oktober juga melakukan demonstrasi mengenai kemampuan air yang bisa menetralkan rasa garam tanpa menyentuh air hingga penggunaan spray dan masker wajah sebagai salah satu produk terbaru dari Ionasis Family Water. -Sri Ardhini
Kuliner
Edisi 900/ 9 - 15 mei 2016
12
Bergedel Be Pasih Jukut Paku
BEBEK SAMBAL IJO MISI JUKUT NANGKA
Bahan : ½ ekor : bebek 3 sdm : base genep 3 sdm : sambal ijo 300 gr : nangka sayur 1 lembar : daun salam 1 sdm : bawang goreng Garam dan merica
Bahan sambal ijo: 100 gr : lombok hijau, diiris 40 gr : bawang merah, bawang putih, iris tipis 50 gr : tomat iris tipis Garam dan merica Wayan Bagiana
Cara membuat: - Tumis semua bahan sampai beraroma. - Lalu tambahkan sedikit air dan masak sampai empuk dan enak.
T
erinspirasi dari sang ibu yang memasak dengan bahanbahan tradisional, yang kini sudah banyak dilupakan, Wayan Bagiana, Corporate Executive Chef Komaneka Resorts Ubud, menampilkan masakan spesial untuk pembaca tokoh. Walaupun makanan tradisional,
bukan berarti harus kalah dengan masakan Barat. Yang penting, memasak dengan hati, itulah yang dilakukan Wayan Bagiana.
Cara membuat bebek: - Rebus bebek dengan 2 sendok base genep, garam, merica, sereh, daun salam. - Rebus sampai empuk. Air rebusan bisa untuk membuat sayur nangka. - Setelah bebek empuk lalu diangkat dan disuir-suir. - Masak bebek dengan sambal lombok ijo sampai meresap. - Panaskan panci dan isi base gede untuk membuat sayur nangka. - Tumis sampai beraroma lalu masukan air rebusan bebek tadi. - Masukkan nangka sayur, sereh, daun salam, garam merica. - Masak sampai matang. - Sajikan bebek dengan sayur nangka.
Harapannya, ia ingin para generasi muda tak melupakan masakan warisan nenek moyang. –Wirati Astiti
Nasi jinggo
SATE ASEM MISI NASI PANGGANG
Cara membuat: - Siapkan ulekan lalu masukkan semua bahan di atas terkecuali samsam babi. - Ulek sampai halus atau gunakan blender. - Rebus samsam babi dengan garam sampai setengah matang. - Angkat dan potong seperti ukuran sate, lalu tusuk samsam babi tersebut. - Bumbu samsam babi dengan bumbu halus tadi dipanggang sampai matang. - Sajikan dengan nasi kuning bakar.
Bahan: 300 gr : samsam babi 1 sdt : terasi 1 sdt : air lemo 1 ruas : kunir 3 biji : lombok kecil 3 biji : bawang merah 2 biji : bawang putih 1 ruas : kencur 1 sendok : gula merah Garam dan merica
Untuk nasi bakar : - Buat nasi kuning dengan santan yang agak banyak, bungkus dengan daun pisang, lalu panggang.
BERGEDEL BE PASIH JUKUT PAKU Bahan : 200 gr : cincang ikan dan udang 30 gr : bumbu kuning 1 sdm : cincang bawang merah 2 lembar : daun jeruk cincang ½ sdm : tepung kanji 1 sdt : air jeruk nipis 1 genggam : sayur paku yang muda Garam dan merica Cara membuat: - Campur daging ikan dan udang yang sudah dicincang dengan bumbu kuning, bawang merah, daun jeruk cincang, tepung kanji, air jeruk nipis, garam dan merica.
- Aduk rata lalu bentuk roda kecil agak tipis. - Dengan sedikit minya, panggang bergedel di atas teflon kedua sisinya sampai ¾ matang.
- Tumis sayur paku dengan bawang merah, bawang putih dan terasi. - Tata di atas piring dan sajikan.
Aneka Mie & Spaghetti
ati m k i N Hanya di...
Cafe Mie Santai
Ciri Khas Taiwan
KUAH SIAP MISI JAMUR DAN DON KAYU MANIS
Cara membuat: - Tumis bumbu kuning sampai beraroma dengan sauce pan, lalu tambahkan air. - Panaskan sampai mendidih, lalu masukkan semua bahan ke dalam souce pan. - Setelah semua matang dan rasanya enak, masukkan santan. - Aduk sebentar dan sajikan.
ati
Nikm
Sarwan Bahan: 200 gr : pepaya mangkal 200 gr : melon 200 gr : semangka
Chinese Food
Hanya di...
& Aneka Es Taiwan
Cafe Santai
Free lemon sugar
Setiap pembelanjaan Rp 100 ribu FREE
Nasi Goreng Setan Es Kasih Sayang
Murah Meriah & Bersih Taiwanese Spiced Chicken Noodles
Jln. Raya Sesetan No. 188 Pesanggaran. Tlp: (0361) 725544 Buka pukul 08.00 s.d 22.00 Wita
bisa diterima juga oleh para turis asing. Ia menciptakan nasi jinggo dengan aneka rasa, dengan isian daging sapi, kambing, ayam, ikan, dan udang. Untuk rasa, ada rasa rendang, balado, mushrom, sate, teriyaki, lada hitam, asam manis, kornet, rolade, dll. Harganya juga sangat bersahabat hanya Rp 6.000. Dikemas sangat higienis, setelah dibungkus daun pisang, lauk-pauk dimasukkan ke dalam cup plastik sehingga terlihat lebih bersih. Saat ini nasi jinggo Nusantara bisa didapatkan di Jalan Arjuna Denpasar di Warung Sate Meranggi, di dekat Kampus Jimbaran, dan Kuta. Tujuan ia melakukan kreasi nasi jinggo Nusantara ini adalah untuk eksistensi makanan yang sudah merakyat menjadi sesuatu yang berbeda. –Wirati Astiti
Minuman Spesial Menjadi bartender secara otodidak, itulah yang dilakoni Ogin. Lelaki tamatan STM ini, hanya berbekal dari kesukaannya melihat para peramu minuman membuat kreasi minuman. Ia merasa tertantang untuk menciptakan satu minuman spesial. Mulai terjun menjadi bartender sejak tahun 2012, saat ini Ogin bekerja di Baker Street Social Petitenget. Uniknya, Ogin berkenalan dengan seorang bartender dunia asal Belgia via media sosial. Dari sana, ia menjalin pertemanan dan saling berbagi ilmu soal bartender. Bahkan, ada resep minuman Ogin, yang disukai temannya yang asal Belgia tersebut. “Itu merupakan satu kebanggaan dong bagi saya,” kata Ogin, saat ditemui dalam gathering Indonesian Chef Association (ICA) Bali di Bali Safari Marine Park, pekan lalu. Menurut Ogin, bartender mempunyai peran penting dalam menciptakan satu mi-
13
Ogin numan yang unik. Bahkan, tiap bartender memiliki keterampilan yang berbedabeda. Dari tangan bartender tercipta aneka kreasi minuman, baik itu classic cocktail maupun minuman tanpa alkohol. Menurut Ogin, kebetulan sang kakak seorang bartender yang saat ini tinggal di Jerman. Ogin sering belajar dari sang kakak, agar keterampilannya meramu minuman terus meningkat. –Wirati Astiti
Es Buah Enak Segar
bagi 100 orang pembeli pertama
Authentic Pindang Spaghetti
Ahli masak Dedie Soekartin kembali menciptakan inovasi baru. Setelah menciptakan teknologi aging untuk mengempukkan daging, kini ia membuat kreasi nasi jinggo. Namanya nasi jinggo Nusantara. Ia menilai, nasi jinggo merupakan warisan Bali yang sudah sangat terkenal. Ia ingin mengangkat nasi jinggo tidak sekadar menjadi makanan rakyat, namun,
Bahan: 1/2 dada : daging ayam iris tipis 1/2 genggam : jamur iris 1 genggam : daun kayu manis 2 sdm : bumbu kuning 1 batang : sereh 1 sdm : bawang goreng 5 sendok : santan kental Garam dan merica
Dapatkan Discount 10%
Kolak Ice Cream
Nasi Jinggo Nusantara
Edisi 900/ 9 - 15 mei 2016
Lemon sugar
Udang Telor Asin
Jln. Raya Sesetan No. 293 Denpasar. Tlp. (0361) 8950526, 0811399214, 0811388698
Bahan Sirup: 300 gr : gula pasir 100 ml : air 2 sdm : air jeruk lemon Cara Membuat: - Potong buah melon, pepaya juga semangka bulat-bulat kecil. Lalu simpan dalam lemari pendingin.
- Rebus air, gula, air jeruk lemon sampai mendidih dan agak mengental, angkat, dinginkan. - Siapkan gelas saji, masukkan
irisan buah yang sudah dingin, ratakan, tambahkan dengan es serut lalu siram dengan sirup, siap disajikan.
Es Jamnasku Ala Katrok Bahan: 5 buah 1 buah 2 ruas 3 butir 600 ml 150 gr
: jambu batu ukuran besar : nanas potong menurut selera : telunjuk jari kayu manis : cengkih : air perasan air jeruk manis : gula pasir.
Cara Membuat: - Cuci bersih jambu batu, buang bijinya, potong menurut selera. - Didihkan air jeruk manis dengan kayu manis cengkih dan gula sampai mendidih, lalu masukkan irisan jambu biji dan nanas hingga jambu agak layu dan meresap. Angkat dan dinginkan, simpan dalam lemari pendingin. - Siap disajikan.
Kuliner
Edisi 900/ 9 - 15 mei 2016
12
Bergedel Be Pasih Jukut Paku
BEBEK SAMBAL IJO MISI JUKUT NANGKA
Bahan : ½ ekor : bebek 3 sdm : base genep 3 sdm : sambal ijo 300 gr : nangka sayur 1 lembar : daun salam 1 sdm : bawang goreng Garam dan merica
Bahan sambal ijo: 100 gr : lombok hijau, diiris 40 gr : bawang merah, bawang putih, iris tipis 50 gr : tomat iris tipis Garam dan merica Wayan Bagiana
Cara membuat: - Tumis semua bahan sampai beraroma. - Lalu tambahkan sedikit air dan masak sampai empuk dan enak.
T
erinspirasi dari sang ibu yang memasak dengan bahanbahan tradisional, yang kini sudah banyak dilupakan, Wayan Bagiana, Corporate Executive Chef Komaneka Resorts Ubud, menampilkan masakan spesial untuk pembaca tokoh. Walaupun makanan tradisional,
bukan berarti harus kalah dengan masakan Barat. Yang penting, memasak dengan hati, itulah yang dilakukan Wayan Bagiana.
Cara membuat bebek: - Rebus bebek dengan 2 sendok base genep, garam, merica, sereh, daun salam. - Rebus sampai empuk. Air rebusan bisa untuk membuat sayur nangka. - Setelah bebek empuk lalu diangkat dan disuir-suir. - Masak bebek dengan sambal lombok ijo sampai meresap. - Panaskan panci dan isi base gede untuk membuat sayur nangka. - Tumis sampai beraroma lalu masukan air rebusan bebek tadi. - Masukkan nangka sayur, sereh, daun salam, garam merica. - Masak sampai matang. - Sajikan bebek dengan sayur nangka.
Harapannya, ia ingin para generasi muda tak melupakan masakan warisan nenek moyang. –Wirati Astiti
Nasi jinggo
SATE ASEM MISI NASI PANGGANG
Cara membuat: - Siapkan ulekan lalu masukkan semua bahan di atas terkecuali samsam babi. - Ulek sampai halus atau gunakan blender. - Rebus samsam babi dengan garam sampai setengah matang. - Angkat dan potong seperti ukuran sate, lalu tusuk samsam babi tersebut. - Bumbu samsam babi dengan bumbu halus tadi dipanggang sampai matang. - Sajikan dengan nasi kuning bakar.
Bahan: 300 gr : samsam babi 1 sdt : terasi 1 sdt : air lemo 1 ruas : kunir 3 biji : lombok kecil 3 biji : bawang merah 2 biji : bawang putih 1 ruas : kencur 1 sendok : gula merah Garam dan merica
Untuk nasi bakar : - Buat nasi kuning dengan santan yang agak banyak, bungkus dengan daun pisang, lalu panggang.
BERGEDEL BE PASIH JUKUT PAKU Bahan : 200 gr : cincang ikan dan udang 30 gr : bumbu kuning 1 sdm : cincang bawang merah 2 lembar : daun jeruk cincang ½ sdm : tepung kanji 1 sdt : air jeruk nipis 1 genggam : sayur paku yang muda Garam dan merica Cara membuat: - Campur daging ikan dan udang yang sudah dicincang dengan bumbu kuning, bawang merah, daun jeruk cincang, tepung kanji, air jeruk nipis, garam dan merica.
- Aduk rata lalu bentuk roda kecil agak tipis. - Dengan sedikit minya, panggang bergedel di atas teflon kedua sisinya sampai ¾ matang.
- Tumis sayur paku dengan bawang merah, bawang putih dan terasi. - Tata di atas piring dan sajikan.
Aneka Mie & Spaghetti
ati m k i N Hanya di...
Cafe Mie Santai
Ciri Khas Taiwan
KUAH SIAP MISI JAMUR DAN DON KAYU MANIS
Cara membuat: - Tumis bumbu kuning sampai beraroma dengan sauce pan, lalu tambahkan air. - Panaskan sampai mendidih, lalu masukkan semua bahan ke dalam souce pan. - Setelah semua matang dan rasanya enak, masukkan santan. - Aduk sebentar dan sajikan.
ati
Nikm
Sarwan Bahan: 200 gr : pepaya mangkal 200 gr : melon 200 gr : semangka
Chinese Food
Hanya di...
& Aneka Es Taiwan
Cafe Santai
Free lemon sugar
Setiap pembelanjaan Rp 100 ribu FREE
Nasi Goreng Setan Es Kasih Sayang
Murah Meriah & Bersih Taiwanese Spiced Chicken Noodles
Jln. Raya Sesetan No. 188 Pesanggaran. Tlp: (0361) 725544 Buka pukul 08.00 s.d 22.00 Wita
bisa diterima juga oleh para turis asing. Ia menciptakan nasi jinggo dengan aneka rasa, dengan isian daging sapi, kambing, ayam, ikan, dan udang. Untuk rasa, ada rasa rendang, balado, mushrom, sate, teriyaki, lada hitam, asam manis, kornet, rolade, dll. Harganya juga sangat bersahabat hanya Rp 6.000. Dikemas sangat higienis, setelah dibungkus daun pisang, lauk-pauk dimasukkan ke dalam cup plastik sehingga terlihat lebih bersih. Saat ini nasi jinggo Nusantara bisa didapatkan di Jalan Arjuna Denpasar di Warung Sate Meranggi, di dekat Kampus Jimbaran, dan Kuta. Tujuan ia melakukan kreasi nasi jinggo Nusantara ini adalah untuk eksistensi makanan yang sudah merakyat menjadi sesuatu yang berbeda. –Wirati Astiti
Minuman Spesial Menjadi bartender secara otodidak, itulah yang dilakoni Ogin. Lelaki tamatan STM ini, hanya berbekal dari kesukaannya melihat para peramu minuman membuat kreasi minuman. Ia merasa tertantang untuk menciptakan satu minuman spesial. Mulai terjun menjadi bartender sejak tahun 2012, saat ini Ogin bekerja di Baker Street Social Petitenget. Uniknya, Ogin berkenalan dengan seorang bartender dunia asal Belgia via media sosial. Dari sana, ia menjalin pertemanan dan saling berbagi ilmu soal bartender. Bahkan, ada resep minuman Ogin, yang disukai temannya yang asal Belgia tersebut. “Itu merupakan satu kebanggaan dong bagi saya,” kata Ogin, saat ditemui dalam gathering Indonesian Chef Association (ICA) Bali di Bali Safari Marine Park, pekan lalu. Menurut Ogin, bartender mempunyai peran penting dalam menciptakan satu mi-
13
Ogin numan yang unik. Bahkan, tiap bartender memiliki keterampilan yang berbedabeda. Dari tangan bartender tercipta aneka kreasi minuman, baik itu classic cocktail maupun minuman tanpa alkohol. Menurut Ogin, kebetulan sang kakak seorang bartender yang saat ini tinggal di Jerman. Ogin sering belajar dari sang kakak, agar keterampilannya meramu minuman terus meningkat. –Wirati Astiti
Es Buah Enak Segar
bagi 100 orang pembeli pertama
Authentic Pindang Spaghetti
Ahli masak Dedie Soekartin kembali menciptakan inovasi baru. Setelah menciptakan teknologi aging untuk mengempukkan daging, kini ia membuat kreasi nasi jinggo. Namanya nasi jinggo Nusantara. Ia menilai, nasi jinggo merupakan warisan Bali yang sudah sangat terkenal. Ia ingin mengangkat nasi jinggo tidak sekadar menjadi makanan rakyat, namun,
Bahan: 1/2 dada : daging ayam iris tipis 1/2 genggam : jamur iris 1 genggam : daun kayu manis 2 sdm : bumbu kuning 1 batang : sereh 1 sdm : bawang goreng 5 sendok : santan kental Garam dan merica
Dapatkan Discount 10%
Kolak Ice Cream
Nasi Jinggo Nusantara
Edisi 900/ 9 - 15 mei 2016
Lemon sugar
Udang Telor Asin
Jln. Raya Sesetan No. 293 Denpasar. Tlp. (0361) 8950526, 0811399214, 0811388698
Bahan Sirup: 300 gr : gula pasir 100 ml : air 2 sdm : air jeruk lemon Cara Membuat: - Potong buah melon, pepaya juga semangka bulat-bulat kecil. Lalu simpan dalam lemari pendingin.
- Rebus air, gula, air jeruk lemon sampai mendidih dan agak mengental, angkat, dinginkan. - Siapkan gelas saji, masukkan
irisan buah yang sudah dingin, ratakan, tambahkan dengan es serut lalu siram dengan sirup, siap disajikan.
Es Jamnasku Ala Katrok Bahan: 5 buah 1 buah 2 ruas 3 butir 600 ml 150 gr
: jambu batu ukuran besar : nanas potong menurut selera : telunjuk jari kayu manis : cengkih : air perasan air jeruk manis : gula pasir.
Cara Membuat: - Cuci bersih jambu batu, buang bijinya, potong menurut selera. - Didihkan air jeruk manis dengan kayu manis cengkih dan gula sampai mendidih, lalu masukkan irisan jambu biji dan nanas hingga jambu agak layu dan meresap. Angkat dan dinginkan, simpan dalam lemari pendingin. - Siap disajikan.
14
Jelita
Edisi 900/ 9 - 15 MEI 2016
Make up Minimalis Manis Saat ini dengan semakin banyaknya tips make up di berbagai media, lebih memudahkan kita berdandan, terutama untuk gadis belia atau para remaja baik untuk acara keluarga, pesta sekolah maupun pesta lainnya di luar rumah.
B
agi remaja yang ingin berpenampilan yang berbeda lengkap dengan penataan rambut dan busananya, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan. “Perlu kemampuan memilih make up, tata rambut dan busana yang tepat,” ujar Dewi Kader, pemilik Dadari Salon di Kota Denpasar. Misalnya , ketika ingin tampil dengan kain dan kebaya remaja. Jika memutuskan untuk memakai foundation atau bedak, jangan terlalu berlebihan. Mengingat usia yang masih remaja, dengan kulit yang mulus dan masih bebas dari kerut wajah , maka biarkan orang lain melihat alami. Selain itu make up terlalu berat juga sangat tidak baik dan bisa berdampak burutk untuk kulit remaja. Sesungguhnya untuk make up remaja, cukup memakai moisturizer dan bb cream. Sebab, tekstur bb cream lebih ringan dibandingkan foundation. Bb cream juga bisa membuat wajah kamu terlihat segar dan tidak kusam.
Semuanya bisa membantu mengontrol penampilan agar tetap terlihat muda dan penuh dengan kelembutan. “Perhatikan pula alat-alat
yang digunakan ketika proses makeup, sebaiknya semua dalam keadaan steril ,” kata Dewi. Ia mengingatkan untuk membersihkan dan membilas semua make up setelah selesai menghadiri sebuah acara. Ini supaya bakteri dan kotoran tidak menempel pada wajah. Dewi juga menyampaikan salah satu trik agar kulit terlihat tetap natural namun segar menawan. Sedikit highliter dapat membuat make up menjadi bercahaya. Gunakanlah highliter tersebut pada hidung, area antara kedua mata dan sedikit di atas tulang pipi. Kalau masalah produk bisa disesuaikan dengan kemampuan kantong atau budgetnya. Yang penting adalah memperoleh highliter yang halus dan kilaunya tidak berlebihan. Untuk make up pada mata, bisa dioleskan minimal saja. Misalnya bisa menggunakan pilihan eyeshadow berwarna seperti coklat tua, coklat muda, pink, peach atau atau warna kelabu yang
dapat memunculkan kesan mendalam tapi tidak berlebihan. Poleskan eyeshadow sepanjang garis bulu mata bagian bawah dan atas memakai sikat lembut runcing, jangan lupakan sedikit di lipatan rongga mata. Jika merasa perlu kenakan eyeliner yang bisa mempertegas mata, agar tidak terlihat sayu. Terakhir setelah melentikkan bulu mata atau memasang bulu mata palsu yang bulunya tipis dan ringan gunakan maskara agar benarbenar terlihat tegas dan hidup namun alaminya tidak hilang.
Tampilan yang berkesan alami, maka untuk sentuhan terakhir pada bibir, pilihlah lipstik yang warnanya natural. Hindari warna lisptik yang terang . ”Intinya adalah membuat wajah menggunakan make up namun sangat soft. Kalau menggunakan make up misalnya penuh pada mata, pipi yang kemerahan, hasilnya justru akan terlihat lebih tua dari usia yang sebenarnya. Pilihlah make up yang bisa menjaga kulit tetap lembut. Begitu juga bibir, sedikit saja,” ungkap Dewi yang juga mantan model ini.
Dewi Kader
Mengenai busana, jika mengenakan kebaya, pilihlah yang modern khas anak muda dengan warna yang cerah tapi tidak begitu ramai, agar sisi ceriamu sebagai seorang remaja tetap bertahan. Sedangkan untuk alas kaki, bisa sepatu, high heels dengan tinggi yang tidak berlebihan. Untuk pilihan gaya rambutnya harus disesuaikan dengan pilihan busana yang dikenakan. Jangan sampai setelah pemilihan kebaya dan kainnya, sepatu, dan make up sudah sempurna, tibatiba gaya rambutnya sekadarnya saja atau bahkan amburadul, pasti sangat tidak enak dilihat. Sanggul simpel lipatan kepang salah satunya sangat cocok digunakan. “Kunci utamanya tetap menjadi diri sendiri serta percaya diri dengan apa yang kamu kenakan,” tandasnya. –Sri Ardhini
Bugar
Edisi 900/ 9 - 15 MEI 2016
Jaga Kesehatan dengan Air Ionasis Family Water PT Makmur Dewata, menggelar acara RTD (Round Table Disccusion), untuk mengetahui solusi sehat dengan memperkenalkan produk air minum berkualitas, untuk kalangan medis pada Jumat (29/4) di Quest San Hotel Denpasar dan di SMF Kulit dan Kelamin di RSUP Sanglah. Acara juga dirangkaikan dengan seminar kesehatan tentang Solusi Penuaan dan Peningkatan Kualitas Hidup untuk masyarakat umum, Sabtu (30/4) juga di Quest San Hotel, Denpasar.
S
ecara umum diketahui bahwa, tidak sedikit air kemasan yang beredar di masyarakat memiliki kualitas yang kurang baik, sehingga dapat mengakibatkan munculnya berbagai masalah kesehatan. Melihat kondisi ini, PT. Dewata Makmur Sejahtera bertekad membantu masyarakat untuk mendapatkan air minum berkualitas. Air minum ini tidak hanya berfungsi sebagai pelepas dahaga tetapi juga berfungsi untuk sehat yakni membantu penyembuhan berbagai penyakit.
Satu-satunya distributor Ionasis Family Water di Bali, yang beralamat di Jalan Pulau Nusa Penida No 33, mengundang secara khusus pembicara atau pakar yang sudah sangat mengerti bahwa air tersebut hidup dan bermanfaat untuk penyembuhan. Menurut Dewi, marketing PT Dewata Makmur Sejahtera, hal dilaksanakan agar tenaga kesehatan maupun masyarakat, mengerti tentang kriteria air yang berkualitas yang baik bagi tubuh. Terlebih saat ini, dengan teknologi yang semakin maju menimbulkan persaingan
yang ketat di kalangan pebisnis. Teknologi yang dikembangkan pun melakukan bekerjasama dengan pihak ketiga. Air merupakan elemen atau bahan yang sangat penting untuk kehidupan. Salah satu contoh praktis yakni ketika tanaman kekurangan air, maka tanaman akan mati. Begitu pula pada manusia. Apalagi diketahui bahwa 80% dari tubuh adalah cairan, yang juga berfungsi menentukan kualitas kesehatan tubuh manusia. Karenanya, jika seseorang mengalami kekurangan air dalam tubuhnya akan sangat mudah mengalami banyak gangguan fisik. Bahkan pada dehidrasi berat (kehilangan cairan yang sangat banyak) dapat berakibat kematian karena sel yang merupakan sumber kehidupan utama manusia tidak berfungsi sama sekali. Pada seminar yang dilaksanakan dalam dua hari tersebut, pembicara yang digandeng merupakan tokoh kawakan, yang juga
11
seorang pemerhati air di Indonesia, Prof. Dr.Winston Franklin Theodorus Waraow,Sp.KK(K), FAA-DV, FINS-DV. Ia mempresentasikan tentang kandungan air yang berkualitas dari segi ilmiahnya. Dikatakan oleh Prof. Winston, air memiliki sifat yang sangat labil. Air minum yang berkualitas bukan hanya dilihat dari tingkat keasamannya semata, tetapi air dengan bentuk hexagonal juga menjadi komponen penting untuk antioksidan, detox dan meregenerasi sel. Tingkat keasaman air (pH) yang direkomendasikan adalah 8.0-8.5, karena jika lebih dari itu justru akan menimbulkan penyakit. Bentuk air yang kecil (berukuran nano, 1x10-6 µDalton) juga dapat memaksimalkan penyerapan air sampai dengan tingkat sel bahkan tulang. Selanjutnya untuk memperoleh air yang berkualitas diperlukan kombinasi kandungan yang berteknologi canggih. Begitu pula menurut Roby Oktober, selaku COO PT. Prima Alam Internasional, Ionasis Family Water memiliki kandungan Crystallized Hexagonal, Nano cluster, Ionized Water, pH 8+ dan TDS 45, sehingga dapat dikonsumsi untuk penderita gagal ginjal sekalipun. Dalam acara tersebut, Roby Oktober juga melakukan demonstrasi mengenai kemampuan air yang bisa menetralkan rasa garam tanpa menyentuh air hingga penggunaan spray dan masker wajah sebagai salah satu produk terbaru dari Ionasis Family Water. -Sri Ardhini
10
Kreasi
Edisi 900/ 9 - 15 mei 2016
Pesona Kebaya Nusantara
Style
Edisi 900/ 9 - 15 mei 2016
Kebaya salah satu produk budaya yang tak terpisahkan dari para perempuan Bali. Indonesia Fashion Chamber (IFC) Denpasar bersama Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar bergandengan untuk terus menggaungkan tradisi busana ini ke kancah yang lebih luas lagi, dengan mengadakan Pagelaran 100 Kebaya , pada Sabtu (30/4) di Gedung Citta Klangen, ISI Denpasar.
A
cara yang mengusung tema “Pagelaran 100 Kebaya Pesona Nusantara”
ini juga mendapat dukungan dari Dewan Kerajinan Nasional (Dekranasda) Kota Denpasar. IA Selly D. Mantra, Ketua Dekranasda Denpasar yang juga Ketua TP PKK Kota Denpasar menyatakan dukungan ditunjukkan dengan menampilkan ibu-ibu PKK dan Dharma Wanita Persatuan Kota Denpasar. Dalam pagelaran yang dihadiri Rektor ISI Dr. I Gede Arya Sugiartha, SSKar., M.Hum., Ketua WHDI Bali Ny. Bintang Puspayoga dan undangan lainnya, Selly D. Mantra mengatakan Dekranasda Denpasar memiliki visi dan misi untuk berperan
serta dalam memperkenalkan serta meningkatkan eksistensi produk lokal ke tingkat nasional bahkan internasional. Begitu pula dengan adanya pagelaran tersebut, ini berarti para desainer dan pengrajin diajak terus berkreasi, berkreativitas dan dengan berkebaya kebaya, kita sudah ikut melestarikannya. Hal senada juga disampaikan Ketua Panitia Pagelaran 100 Kebaya, Dewi Suarjani. Melalui kebaya mereka ingin menjadikan Bali khususnya dan Indonesia umumnya sebagai pusat mode dunia. Pagelaran ini, menjadi salah satu langkah untuk lebih lagi meningkatkan eksistensi busana nasional yang bernama kebaya, mulai dari Bali untuk dunia. Selain sebagai sarana edukasi bagi masyarakat dalam mengenal
Salah satu sudut pameran
Usai Acara Talks Show Berkebaya Cantik
Chic and Simple
Sebagian peserta Pagelaran 100 Kebaya
tren serta perkembangan kebaya sambil menyaksikan karya kebaya dari yang simple hingga aneka modifikasi. Untuk Pagelaran 100 Kebaya kali ini, tercatat 120 kebaya yang diperagakan, baik oleh para model profesional, anggota PKK Kota Denpasar, Dharma Wanita Persatuan Kota Denpasar, murid sekolah mode di Bali, juga beberapa asosiasi seperti Iwapi Badung dan Asbest Kota Denpasar, KCKB, masyarakat umum dan mahasiswa Prodi Desain Mode ISI serta IFC Denpasar. Hadir juga para desainer IFC Bandung, IFC Makasar dan IFC Jakarta. KEANGGUNAN PEREMPUAN Dwi Iskandar, Ketua IFC Denpasar mengatakan selama ini beberapa negara memiliki busana tradisional yang cukup dikenal, seperti India dan Tiongkok. Ketika menyebut kebaya, sudah pasti dari Indonesia. Apalagi, saat ini masyarakat internasional sudah semakin kenal bahwa kebaya adalah salah satu identitas pakaian resmi nasional dari Indonesia. Ia menambahkan keberadaan IFC Denpasar memiliki visi utama untuk menjadikan Indonesia sebagai sumber inspirasi di bidang fashion, salah satu itemnya adalah kebaya, dan mempromosikan Indonesia sebagai pemimpin pusat fashion melalui kinerja yang kompetitif dari para desainernya di pasar domestik dan internasional. IFC saat ini lanjut menaungi
dengan Dewi Surjani, Dwi Iskandar dan Ratna Cora
para perancang busana, aksesoris, tas dan tekstil di Indonesia secara khusus yang berada di 11 kota, yakni Jakarta, Surabaya, Bandung, Yogyakarta, Semarang , Aceh, Padang. Makassar, Denpasar, Pontianak dan Medan. IFC Denpasar sendiri dibentuk pada 15 Februari 2016 dan memiliki 17 orang anggota. Dalam acara Talk Show ”Cantik Berkebaya “ bersama Ferry Sunarto, Vice Chairman IFC Nasional yang membawahi bidang Bussinnes Development dan Tjok Abi, dosen Desain Mode, spesialisasi Ilustrasi Desain di ISI dan dipandu oleh Dwi Iskandar ini, terungkap kebaya bukan hanya sebuah busana namun sebuah karya seni, tanpa meninggalkan nilai budaya Indonesia dan keanggunan perempuan Indonesia. Tjok Istri Ratna Cora, Ketua Prodi Desain Mode, menyampaikan ISI Denpasar yang bergerak di
Panitia Pagelaran bersama Ketua Dekranasda Kota Denpasar Selly D. Mantra
bidang seni dan budaya, memiliki visi menjadi pusat unggulan seni budaya berbasis kearifan lokal yang berwawasan universal. ISI merupakan satu-satunya dan kampus pertama di Indonesia yang memiliki Program Desain Mode yang mempersiapkan mahasiswanya untuk menjadi perancang busana atau praktisi mode. Dikatakannya dalam kegiatan ISI bersama bersama IFC Denpasar, ISI menyertakan semua program studi yang ada di dalamnya dilibatkan untuk mendukung pagelaran 100 Kebaya ini. Hal ini bisa dilihat dari rangkaian kegiatannya mulai dari pameran di bidang Fashion, Art, and Food pada Jumat (29/4), lomba fotografi dengan tema “Eksotika Kebaya “ yang mengedepankan komposisi dan kreativitas bekerjasama dengan jurusan fotografi begitu pula dengan seni tari sebagai pembuka pagelaran. – Sri Ardhini
Pembukaan Pagelaran 100 Kebaya
Kutubaru
Kebaya sebagai salah satu busana nasional, selalu mampu menjadikan para perempuan tampil semakin cantik dan anggun. Ibu-ibu Dharma Wanita dan PKK Kota Denpasar pun sukses melenggang di “Pagelaran 100 Kebaya Nusantara” pekan lalu di Gedung Citta Kelangen, ISI Denpasar.
K
ebaya yang dirancang oleh para desainer Asbest Kota Denpasar begitu anggun dengan mengunggulkan keindahan model klasik dan modern melalui aplikasi kutubaru-nya. Pesona yang tak pernah hilang di tengah kemajuan teknologi saat ini. Pemilihan warna yang istimewa dari lembut, segar hingga
terang, menjadikan kebaya ini sangat menarik, terlebih saat dipadukan warisan budaya lokal seperti songket. Ingin menyempurnakan penampilan dengan kebaya, baik untuk acara formal maupun nonformal? Ingin tampil dengan gaya chic dan simple? Berikut ini persembahan halaman Style untuk Anda -Sri Ardhini
15
Edukasi
Edisi 900/9 - 15 MEI 2016
Peluncuran Buku di Museum Patung Wayan Pendet
Dari kiri: Prof. Windia, Dr. Ketut Wirata, Dr. Ketut Sudantra, dan Prof. Nurjaya
Sabtu, 30 April 2016, suasana di Museum Patung Wayan Pendet yang berlokasi di Banjar Nyuh Kuning, Desa Mas, Kecamatan Ubud, agak berbeda dari biasanya. Kalau biasanya relatif sepi, kali ini lumayan ramai. Sebabnya ada dua. Pertama, karena ada acara peluncuran buku. Kedua, karena keluarga besar Wayan Pendet menggelar acara khusus pada bulan April 2016.
A
da tiga buah buku sekaligus diluncurkan di Museum Patung yang bernaung di bawah Yayasan Wayan Pendet ini. Ketiga buku yang dimaksud (1). “Pengakuan Peradilan Adat dalam Politik Hukum Kekuasaan Kehakiman” karya Dr. I Ketut Sudantra, S.H.,M.H. (2). “Kebijakan Pengelolaan Wisata Ekoreligi Berkelanjutan Berbasis Masyarakat Hukum Adat Bali”, hasil karya Dr. Ketut Wirata, S.H.,M.Kn. (3). “Mapadik: Orang Biasa, Kawin Biasa, Cara Biasa di Bali”, karya Prof. Dr. Wayan P. Windia, S.H.,M.Si. Dua buku pertama (“Pengakuan Peradilan Adat dalam Politik Hukum Kekuasaan Kehakiman” dan “Kebijakan Pengelolaan Wisata Ekoreligi Berkelanjutan Berbasis Masyarakat Hukum Adat Bali”), merupakan buku ilmiah. Kedua buku ini berasal dari satu kawitan, yaitu hasil penelitian ilmiah yang kemudian dituangkan menjadi tulisan imiah dalam bentuk disertasi, sebagai salah satu syarat menyelesaikan jenjang pendidikan S3 di Universitas Brawijaya (UB), Malang. Itu sebabnya dalam acara tersebut turut hadir Guru Besar dari Fakultas Hukum UB, yaitu Prof. Dr. Nyoman Nurjaya, S.H.,M.H. dan Prof. Dr. Sudarsono, S.H.,M.H, serta Dr. Bambang Winarno, S.H.,M.H. Kedua mahaguru ini bukan saja menyaksikan acara peluncuran buku tersebut, melainkan sekalian memberikan sambutan. “Ekowisata (ecological tourisme) adalah suatu konsep dalam khasanah kepariwisataan yang diperkenalkan pada awal tahun 1980-an oleh CebalosLascurain, sebagai suatu perjalanan ke suatu wilayah yang masih alami, dimana unsur fauna dan floranya belum rusak dan terkontaminasi, dengan tujuan untuk dinikmati, dikagumi, dipelajari sebagai media pendidikan lingkungan hidup”, kata Prof Nurjaya dalam sambutannya. Ungkapan ini disambut oleh Prof. Sudarsono, “Itu sebabnya
buku Pak Wirata ini menarik untuk dibaca, karena ia mencoba menyentuh persoalan yang amat mendasar, yaitu “kebijakan” dan “religi” sebagai langkah antisipasi kerusakan lingkungan yang ditimbulkan oleh industri pariwisata”. Terhadap keberadaan negara hukum, Prof. Nurjaya mengemukakan bahwa Indonesia adalah negara hukum yang bercorak multikultural, termasuk multipranata hukum yang ber-
laku dalam masyarakat. Dalam hubungan dengan kenyataan ini dapat dicermati secara eksplisit bahwa sistem kekuasaan kehakiman yang dibangun cenderung mengedepankan anutan unifikasi dan uniformitas institusi pengadilan sebagai satu-satunya institusi penyelesaian sengketa dalam masyarakat, yang mencerminkan wujud kebijakan politik pengabaian terhadap fakta dan realitas kemajemukan pranata hukum (political of legal pluraryty ignorence) dalam pembangunan hukum dan institusi hukum di negeri ini. “Dari sudut ini, penting dibaca dan dipahami hasil penelitian I Ketut Sudantra”, kata Prof. Nurjaya. Dalam acara peluncuran buku tersebut, hadir beberapa intelektual dan tokoh masyarakat, seperti Prof. Dr. I.B. Wyasa Putra, S.H.,M.H., Prof. Dr. Made Suwitra, S.H.,M.H., Dr. Anak Agung Tini Gorda dan
Dr. Ketut Wirata saat memberikan sambutan
Dr. Anak Agung Sri Gorda, Dr. Ida Ayu Sadnyini, Dr. I Wayan Rideng. Hadir pula Brigjen Dewa Made Parsana, Made Suja (Bendesa Adat Nyuh Kuning) dan
Nyoman Weda (Kelihan Banjar Nyuh Kuning), Nyoman Gorim (pelukis dari Penestanan). Puluhan Notaris juga meramaikan acara seperti Dr. Ida Bagus Santika, Dr. Anak Agung Sri Agung,
Foto bersama para penulis buku dan penerima buku
Made Pria Darsana, Wayan Sugita. Beberapa mahasiswa S3 seperti Made Mahendrawati, Putra Darsana juga hadir. Keseluruhan rangkaian acara diakhiri dengan penyerahan buku oleh masing-masing penulis kepada sejumlah tokoh dan kalangan akademis yang hadir pada kesempatan tersebut. Sesudah acara peluncuran ketiga buku tersebut di atas selesai dan hadirin meninggalkan tempat, dilanjutkan dengan acara keluarga yang ditandai dengan pemberian wejangan keluarga dan penyerahan buku yang berjudul “Windia dalam Berita” kepada tujuh tugelan (saudara kandung) Wayan P. Windia, disaksikan oleh seluruh anggota keluarga besar Wayan Pendet. -wah
Dara
Pendidikan Nomor Satu
Tidak banyak artis sangat peduli pada pendidikannya. Dengan berbagai alasan banyak dari mereka lebih mendahulukan kariernya ketimbang mengejar pendidikannya, dengan pikiran ‘toh’ pendidikan (formal) bisa menunggu. ‘Aji mumpung’, itulah yang sering terdengar terdengar.
M
ungkin para artis ini lupa kalau ada juga sejumlah artis yang bisa tetap eksis di dunia hiburan namun bersamaan dengan itu mereka bisa meraih pendidikan tinggi, bukan sekadar sarjana S1 tapi bahkan S2. Mereka adalah Alyssa Soebandono, Dian Sastro, dan Cinta Laura yang mampu menjalankan karier dan pendidikannya seiring-sejalan. Alyssa tergolong artis laris di dunia sinetron, dia juga main film dan eksis di sejumlah acara entertainment, tapi ia juga sukses di bidang pendidikan. Usia 17 tahun Alyssa sudah kuliah di Monash University, Australia, kemudian dia mendapat beasiswa penuh untuk kuliah S2 di London School of Public Relation jurusan Coorporate Communication. Dalam usia 21 tahun, bintang film ‘Inikah Rasanya Cinta?’, ini, berhasil meraih gelar S2-nya. Tidak itu saja, dia juga meraih penghargaan ‘Best of The Best Student’ . Selain Alyssa ada artis terkenal lainnya yang juga tetap mendahulukan pendidikan yakni Dian Sastro. Bintang film AADC (Ada Apa Dengan Cinta) yang kini filmnya tengah tayang di bioskop-bioskop Tanah Air, tidak melupakan pendidikannya meski sibuk bermain film. Tahun 2014 lalu dia berhasil menamatkan S2 di Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia dengan capaian cum laude. Selain dua artis cantik itu, ada beberapa lagi yang juga mendahulukan pendidikan ketimbang kariernya di dunia entertainment, dia adalah Cinta Laura. Gadis kelahiran Quakenbruck, Jerman, 17 Agustus 1993,yang baru-baru ini sempat menghabiskan masa liburannya di Jakarta dan Bali, lewat e-mail mengungkapkan pandangannya tentang pentingnya pendidikan bagi dirinya. Anak tunggal pasangan Michael Kiehl dan Herdiana Soekarseno, ini, tanpa ragu meninggalkan dunia hiburan, padahal ketika itu kariernya tengah kinclongkinclongnya, baik di bidang seni peran (sinetron maupun film), juga tarik suara. Ia juga ikut meramaikan berbagai acara reality show juga laris jadi bintang iklan. Tapi semua itu ia tinggalkan dan lebih memilih mengejar pendidikannya di perguruan tinggi. Cinta pun berhasil masuk salah satu universitas terbaik dunia, yakni, Columbia University, tempat Presiden AS Barack Obama kuliah. Tidak tanggung-tanggung,
gadis cantik yang terkenal dengan ucapannya,”udah ujan, becek, ga ada ojek” mengambil dua jurusan sekaligus, yakni Psikologi dan Sastra Jerman. Keduanya diselesaikan tepat waktu dengan predikat cum laude pada 2014 lalu. “Bagi aku pendidikan tetap nomor satu. Aku punya cita-cita setinggi langit dan semua itu, aku pikir, hanya bisa diraih apabila aku meraih pendidikan setinggi mungkin. Memang benar karier aku di dunia entertainment ketika itu sedang sangat bagus, tapi aku pikir industri hiburan tidak bisa menjamin hidup aku. Karier di dunia hiburan, seperti menjadi aktris mungkin hanya bisa 25 atau 30 tahun, karena setelah usia tua, biasanya tidak banyak lagi tawaran tampil. Tapi dengan pendidikan, itu bisa menjadi andalan seumur hidup aku,” ungkap Cinta yang kini tengah sibuk syuting di Los Angeles. Atas dasar pemikiran itu, ia tak ragu meninggalkan kariernya. Sikapnya ini bukan lantaran dorongan orangtuanya. Justru sebaliknya, orangtuanya kadang heran dengan semangat menggebu dari
dirinya. “Mereka kadang menasihati aku agar jangan terlalu ngoyo. Itu karena mami-papi melihat aku belajar terus menerus, bahkan waktu kuliah pun mereka mendengar kalau aku kerap tertidur di perpustakaan karena belajar. Jadi dari sisi mami-papi, tidak ada tuntutan untuk aku harus bagaimana, harus mencapai apa. Justru diri aku sendiri yang menetapkan target. Aku memotivasi diri sendiri. Aku ini selalu ingin mencapai nilai terbaik, aku ingin selalu jadi nomor satu. Maka untuk mencapai itu semua aku belajar habis-habisan. Bahkan waktu-waktu libur dimana mahasiswa lain berlibur, aku pakai untuk mengambil kelas,” jelasnya. Bagaimana pandangannya tentang banyak artis yang lebih mendahulukan karier ketimbang pendidikan? Menurut Cinta, dirinya tidak menyalahkan para artis yang ‘aji mumpung’ karena pastinya mereka memiliki alasan untuk melakukan itu. “Aku rasa mereka tidak bisa disalahin. Mungkin mereka adalah tulang punggung keluarga makanya berbuat seperti itu. Kalau aku, kan, tidak. Aku bukan tulang punggung keluarga. Aku tidak perlu bekerja (syuting) dari pagi sampai pagi untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Selama ini, semua penghasilan aku untuk diri aku sendiri, sebagian aku gunakan untuk membantu Yayasan Soekarseno milik keluarga kami. Sementara teman-teman artis lainnya, mungkin, terpaksa harus mengesampingkan pendidikan,
Edisi 900/ 9 - 15 MEI 2016
berhenti sekolah atau home schooling karena mereka adalah tulang punggung keluarga. Jadi kasusnya memang berbeda,” paparnya. Tapi bagaimana pun, kalau dalam pandangan Cinta, memiliki pendidikan formal yang tinggi penting sekali.
9
Cinta Laura
16
Bahwa pendidikan ada dimana saja, itu adalah benar, namun dengan memiliki pendidikan formal yang tinggi maka cara berpikir dalam melihat permasalahan akan berbeda. “Jadi pendidikan formal perlu sekali, minimal S1 harus punya,” katanya. –Diana Runtu
Target Sukses di Hollywood Cinta sendiri merasa bersyukur setidaknya saat ini ia telah meraih dua gelar S1, dan kelak melanjutkan ke S2. Atas prestasinya meraih cum laude, Cinta mendapat penawaran beasiswa dari dua universitas kenamaan seperti Oxford dan Cambridge University. “Aku ditawari beasiswa program S2 di dua universitas itu. Penawaran itu bukan hanya untuk aku saja tapi untuk mereka yang berhasil mencapai cum laude,” katanya. Namun, meski ditawari beasiswa bukan berarti dirinya bakal melenggang masuk universitas terkenal itu. “Kalau masuk, sudah pasti masuk, tapi untuk mendapat beasiswa aku harus mengikuti tes beasiswa yang diikuti oleh para peraih cum laude. Jadi istilahnya nanti akan diambil yang terbaik dari yang terbaik,” kata Cinta. Saat ini Cinta masih menunda program S2 nya karena tengah fokus pada kariernya di industri perfilman Hollywood. Cinta sedang syuting dua film, satu bergenre horor di Los Angeles dan satu lagi persiapan syuting film bergenre drama di Yunani. “Aku belum bisa kasih tahu apa judul filmnya karena masih sangat confidential. Industri film Hollywood sangat ketat tentang aturan ini. Kami tidak diperbolehkan ngomong apapun sebelum premiere,” jelasnya. Tentang kariernya di industri film, pe-
meran Utami dalam film The Philosophers (After the Dark), mengatakan untuk karier di industri film Hollywood ia menetapkan target dua tahun. “Aku menetapkan kiprah di bidang ini sampai usia 25 tahun. Kalau aku berhasil maka aku akan terus berkarier di sini, tapi jika hasilnya hanya biasa-biasa saja, aku akan berhenti, dan langsung mengambil master (S2), mungkin, di Harvard,” tuturnya. “Sebenarnya baik itu di Oxford, Cambridge, Stanford, Harvard ataupun di Columbia University, itu sama saja. Karena universitas-universitas itu masuk top ten in the world. Tapi sampai saat ini saya masih memilih untuk masuk Harvard,” ungkapnya. Menjawab pertanyaan tentang apa yang dimaksud dengan karier biasa-biasa saja, Cinta mengatakan, dia ingin menjadi artis yang sukses di Hollywood, mendapat peran-peran penting dalam sebuah film. Itu adalah ukuran kesuksesannya. “Jadi kalau sampai umur 25 aku hanya dapat peran biasa-biasa saja, hanya dapat peran pembantu terus, aku bakal berhenti,” tegas Cinta yang 17 Agustus mendatang berusia 23 tahun. Cinta boleh dibilang sosok yang ‘keras’ terhadap dirinya sendiri. Gadis cantik ini selalu menetapkan target-target untuk dirinya. “Aku tidak mau menjadi wanita yang biasa-biasa saja. Karena itu aku selalu bekerja keras untuk mewujudkannya. Jika
aku sukses di industri film Hollywood, aku ingin seperti Angelina Jolie, Sandra Bullock ataupun Leonardo DiCaprio, yang menyumbangkan sebagian penghasilannya untuk kemanusiaan dan lingkungan. Aku ingin berkarya di bidang sosial dan ikut membantu semampu aku,” ujarnya. Tapi kalau dirinya tidak sukses di Hollywood maka selepas S2, dia ingin menjadi entrepreneur sukses. “Seperti yang aku katakan, aku tidak mau hanya jadi ‘biasa-biasa’ saja. Aku ingin berkiprah sebagai business woman yang sukses, aku ingin seperti Mark Zuckerberg (chairman and CEO of Facebook). Ya, aku ingin menjadi entrepreneur yang mendunia, nggak mau yang biasa-biasa saja,” ucap Cinta tentang obsesinya. Menjawab pertanyaan apakah dia tidak ingin berkiprah di Indonesia, Cinta bilang, kalau kelak dia sukses di luar negeri, entah itu sebagai artis ataupun bidang bisnis, maka ia akan tetap berkiprah di luar. Namun, ia akan tetap memberi sumbangsih pada masyarakat Indonesia. “Misalnya, kalau sebelumnya sebagai artis Indonesia aku hanya bisa membangun sekolah di desa, maka ketika aku sukses, aku ingin berbuat lebih besar lagi. Aku ingin bergerak di bidang pendidikan dan kesehatan seperti membangun universitas, rumah sakit dan kegiatan sosial lainnya. Yang pasti aku ingin berbuat sesuatu yang bermanfaat untuk Indonesia,” katanya. –Diana Runtu
8
Bunda & Ananda
Edisi 900/ 9 - 15 mei 2016
Siapkan Playground untuk Kenyamanan Anak
Bagi orangtua yang ingin mengajak anak-anak beraktivitas di luar rumah, kenali terlebih dahulu tujuan. Hal ini penting bagi kenyamanan orangtua dan anak. Jangan sampai aktivitas di luar rumah malah membuat repot karena anak rewel.
Sri Sutari
L
apangan Renon bisa menjadi lokasi olahraga bagi warga Denpasar. Tiap pagi dan sore, lapangan selalu ramai. Mulai dari anak-anak hingga orang dewasa memanfaatkan lapangan untuk olahraga. Di bagian tenggara lapangan tersedia beberapa mainan untuk anak-anak. Ada prosotan, jungkat-jungkit, dan ayunan. Anak-anak pun banyak yang
bermain di areal ini. Ketersediaan area bermain untuk anak-anak tentu menjadi hal yang bermanfaat bagi anak-anak dan orangtuanya. Di lapangan Puputan Badung dan Taman Kota Lumintang juga ada fasilitas yang sama. Areal bermain bagi anak-anak menjadi daya tarik bagi anak-anak. “Anak saya senang kalau diajak ke Puputan Badung. Dia bisa berlarian dan main ayunan,” ungkap Bu Wina yang datang bersama dua anaknya. Dunia anak yang lebih banyak diwarnai dengan bermain memang membuat mereka senang ketika bertemu dengan areal bermain. Kenyamanan saat bermain menjadi prioritas. Orangtua pun tak boleh lengah. Pengawasan harus terus dilakukan. Tak hanya ruang publik yang menyiapkan areal bermain bagi anak-anak. Beberapa pusat perbelanjaan pun menyiapkan playground untuk anak-anak. Playground menjadi bagian yang tak terpisahkan dalam upaya pemberian fasilitas kenyamanan bagi pengunjung, khususnya yang mengajak anak-anak. Salah satu tempat perbelanjaan di Denpasar yang menyiap-
Telkomsel Gelar Plaza Flashtival
Telkomsel bekerja sama dengan Plaza Refill untuk melayani pelanggan setia yang tersebar di seluruh Indonesia. Program dari Telkomsel tidak hanya difokuskan di kota-kota besar melainkan sampai ke kecamatan hingga ke kelurahan. Salah satu daerah yang di sasar adalah kecamatan Gerokgak. Hal ini dikarenakan pertumbuhan bisnis di broadband sedang pesat-pesatnya. “Jumlah pelanggan kami saat ini 37% dari seluruh pelanggan di Gerokgak, dan target kami tahun ini adalah 55%,” ujar Benedictus Ardi, Supervisor SOO Bali Barat. Untuk mewujudkan target 55% tersebut Telkomsel bersinergi dengan toko HP terbesar di Gerokgak yaitu Plaza Refill. Plaza Flashtival adalah salah satu program yang digelar memberikan benefit kepada pelanggan setia untuk mendapat hadiah senilai puluhan juta rupiah dan dilengkapi dengan grandprize berupa dua unit motor Yamaha Mio untuk periode bulan April sampai Desember 2016. Program ini berlaku untuk pelanggan yang melakukan pembelian paket internet Telkomsel 4 GB di Plaza Refill. “Program ini juga merupakan wujud apresiasi kami kepada pelanggan setia Plaza Refill. Sinergi bersama Telkomsel sebagai operator terkemuka dan penyedia produk serta layanan berkualitas terbaik di Bali,” jelas Gagut Agus Wiryawan, owner Plaza Refill. –Wiwin
Kendalikan Drone dengan Ponsel
Bagi masyarakat yang menggemari fotografi dan videografi, penggunaan drone menjadi salah satu pilihan. Bermacam-macam model pesawat tanpa awak ini bisa membantu mendukung kreativitas. Kini drone juga bisa dikendalikan dari ponsel. Rabu (4/5), Cellular World memperkenalkan tiga drone buatan Ehang, Ceewa, dan DJI. Menurut Marketing Manager Cellular World, Gede Wirakusuma, kegiatan mengenal lebih jauh tentang fungsi dan kemampuan drone ini bisa membuka wawasan konsumen terkait keberadaan pesawat tanpa awak ini. Ia menyebut, penjualan drone di Bali cukup menggembirakan, bahkan sudah ada komunitas drone. Ia mengakui drone mempunyai segmen berbeda dengan ponsel, namun seiring majunya teknologi, ponsel bisa digunakan untuk mengendalikan drone. “Jadi pemasaran drone ini sebenarnya tidak bergeser jauh dari core bisnis Cellular World yang memasarkan ponsel karena ponsel saat ini juga bisa digunakan mengendalikan drone,” paparnya. Davey Dai yang merupakan perwakilan Ceewa memaparkan drone saat ini cukup banyak digunakan penggemar aktivitas olahraga luar ruangan. Hal sama juga dikemukakan Sales Director Ehang Indonesia, Gan Wei dan perwakilan DJI, Frank. Mereka menilai saat ini teknologi yang disematkan di drone sudah makin canggih. Mengenai harga, ditawarkan mulai Rp 15 jutaan. –Ngurah Budi
Griya
Edisi 900/ 9 - 15 mei 2016
17
Maksimalkan Fungsi Ruang
Arena playgorund
kan playground adalah Cellular World Teuku Umar dan Cellular World Gatot Subroto. “Kami ingin orangtua yang berbelanja bisa nyaman. Anaknya pun nyaman dengan bermain di playground. Bahkan saking senangnya, ada anak yang menangis saat diajak pulang. Si anak masih ingin terus bermain sedangkan orangtuanya sudah selesai berbelanja,” ujar Gede Wirakusuma, Manajer Marketing Cellular World. ANUGERAH PELANGI Sekarang, mall atau pusat perbelanjaan, menjadi salah satu tujuan sebagian masyarakat atau keluarga di Indonesia sebagai tempat rekreasi untuk mengisi liburan. Makanya para pengelola perlu menyiapkan wahana atau area permain khusus bagi anakanak, jika memungkinkan lengkap dengan acara-acara yang edukatif juga menghibur.. Menurut Sri Sutari, Ketua Asosiasi Perusahaan Sahabat Anak Indonesia (APSAI) Kota Denpasar,
kalaupun kini makin banyak bisnis playground juga masih satu konsep dengan visi APSAI, apalagi jika permainan yang disediakan semakin bervariasi dan tidak lupa memasukkan unsur edukasi dan olahraga. Pusat perbelanjaan juga harus menyediakan ruang laktasi ruang khusus untuk kalangan disabilitas. Masih ada lagi, manajemen pusat perbelanjaan juga hendaknya menyediakan lift atau tangga khusus untuk anak-anak dan disabilitas. Begitu juga dengan tempat parkir khusus anak-anak disabilitas. “Hal lain yang perlu diperhatikan oleh manajemen pusat perbelanjaan atau mall adalah memperhatikan tenaga kerja wanitanya. Bagaimana dengan jadwal cuti hamilnya? Apakah sudah tersedia ruang menyusui. Sebab untuk menciptakan anak yang berkualitas harus dimulai dari dalam kandungan,” ujar Sri Sutari. Dikatakannya, APSAI Pusat sudah menjalin kerjasama dengan Asosiasi Pengelola Pusat Be-
lanja Indonesia dan (APPBI) untuk menghadirkan mall yang ramah terhadap anak-anak. APSAI, sudah pula melakukan penjajagan agar mall-mall di Indonesia memperhatikan fasilitas untuk anak-anak, seperti keberadaan toilet khusus anak-anak, dan ruang laktasi. Selanjutnya, bagi pengelola pusat perbelanjaan yang memenuhi kriteria ramah anak itu bisa menjadi perusahaan yang dicalonkan mendapatkan penghargaan yang bernama Anugerah Pelangi dari APSAI. Anugerah Pelangi dengan kriteria yang tinggi, karena merupakan pengakuan atas kiprah dan konsistensi pusat perbelanjaan dalam menerapkan kebijakan dan praktik bisnis yang mendukung hak anak di lingkungan kerja. “Kami APSAI, lanjutnya terus berkiprah, berupaya mendorong perlindungan serta pemenuhan hak anak melalui penyediaan fasilitas juga layanan, integrasi prinsipprinsip perusahaan layak anak,” tegas Sri Sutari. –Ngurah Budi, Sri Ardhini
Mendongeng Lima Menit
ayam petelur
Luh Lancah memelihara dua ekor ayam betina yang sedang bertelur. Ayam petelur itu diberi nama si Hitam dan si Putih, sesuai dengan warna bulunya. Ia berharap setiap hari mendapatMade Taro kan dua butir telur. “Kotek, kotek, kotek…!” seru si Hitam turun dari rumahnya. Luh Lancah segera mengambil telur yang baru saja lahir. Ia amat senang, lalu menaburkan makanan kepada si Hitam. “Kotek, kotek, kotek…!” seru si Putih. Luh Lancah mengulurkan tangannya ke rumah ayamnya yang kedua. Kosong! Ibu peternak ayam itu marah. “Hai, Putih! Kalau besok kamu tidak melahirkan telur, akan kusembelih kamu! Percuma aku memberimu makan.” Keesokan harinya, setelah matahari agak tinggi, kedua ayam itu berkotek. “Kotek, kotek, kotek…! Kotek, kotek, kotek…!” Luh Lancah mengambil sebutir telur dari rumah si Hitam. “Terimakasih, Hitam!” katanya berseri-seri. Kemudian ia mengulurkan tangannya ke rumah si Putih. Ia meraba
sebutir telur. Ia mengambil telur itu. “Aneh!” pikirnya. Telur itu lebih kecil dari telur si Hitam, tetapi jauh lebih berat. Warnanya kuning mengkilap. “Emaaasss…!” teriaknya gembira. Luh Lancah segera menjual telur emas itu. Dari segepok uang yang diperolehnya, ia membeli makanan enak untuk dirinya dan suaminya. Juga makanan enak untuk si Putih. Sisa uang yang masih banyak itu dibelikannya perabot rumah dan pakaian yang baru dan indah. Ketika asyik memasak makanan untuk suaminya, tiba-tiba ia berpikir. “Satu butir telur membuat aku kaya, dua butir, tiga butir, ….! Ah, aku pasti menjadi orang terkaya di desa ini. Kekayaanku akan melebihi Men Gentuh, perempuan terkaya di desa ini.” Ia segera bangkit lalu mengambil sebilah pisau. Ia menangkap si Putih. “Terimakasih, Putih!” serunya berseri-seri. Ia menorehkan pisau ke leher ayam yang ketakutan itu. Kemudian membelah perutnya. “Oh, oh…!” keluhnya. Dalam perut si Putih hanya terdapat sepuluh butir cairan mengental yang berwarna kuning keemasan. Luh Lancah menangis. “Kamu serakah!” teriak suaminya marah-marah setelah mendengar penjelasan dari istrinya. “Bila saja kamu bersabar dan mengendalikan diri, niscaya keinginanmu tercapai.”
Di ruang kecil dengan lahan terbatas, ruang tamu dan dapur dibatasi dengan mini bar yang berfungsi sebagai ruang makan
Ruang tidur utama dengan bukaan lebar untuk memaksimalkan flow udara dan masuknya sinar alami
Tiap orang pasti mengidamkan rumah tinggal yang nyaman untuk keluarganya. Jika lahan yang dimiliki terbatas, bisakah kita mewujudkan rumah idaman ini? Jawabannya, bisa. Tentunya dengan berbagai macam perencanaan yang matang. “Di lahan terbatas, hal yang paling utama dikonsepkan adalah memaksimalkan fungsi ruang. Tentukan ruang apa yang sangat dibutuhkan yang memungkinkan juga menjadi ruang multifungsi,” ujar owner CV Crea Bali Mandiri, I Gusti Agung Bagus Arimbawa, S.T., M.T.
S
ekarang ini, seperti pada beberapa proyek yang ia tangani, dikonsepkan ada modul mobil. Karena, tiap orang pasti menginginkan rumah yang ada akses bagus untuk kendaraan masuk ke rumah. “Di halaman depan pasti ada carport untuk tempat mobil. Carport bisa disebut sebagai ruang multifungsi, karena ketika mobil atau kendaraan di luar, carport bisa berfungsi sebagai halaman. Berbeda dengan garasi, meski fungsinya sama untuk tempat kendaraan, garasi adalah ruangan khusus yang tersekat,” jelas Arimbawa. Ia menyontohkan salah satu proyeknya di kawasan Kerobokan, yang hanya dengan luas lahan 84 meter persegi, mampu menampung segala kebutuhan ruang. “Dengan lahan terbatas ini, dengan tuntutan semua kebutuhan ruang harus ada, hanya bisa disiasati dengan membangun vertikal,
I Gusti Agung Bagus Arimbawa, S.T., M.T.
yakni bangunan berlantai 1 atau 2,” ucapnya. Pada prinsipnya, ia mengatakan semua kebutuhan ruang harus ada, terutama fungsi-fungsi pokok yang harus ada di lantai dasar, seperti carport, tuang tamu, dapur, dan ruang tidur utama, itu harus ada
di lantai dasar. Sementara ruang penujang lainnya seperti ruang tidur anak, ruang keluarga, ruang setrika, ruang jemur bisa diletakkan di lantai atas. Dalam konsep rumahnya ini, di lantai dasar ia menambahkan kamar mandi tamu, kamar pembantu, gudang, dan halaman belakang untuk flow udara agar bangunan tak tertutup dari depan ke belakang. “Jadi perputaran udara alaminya masih tetap bagus,” ujarnya. Konsep rumahnya moderntropis, dengan membuat banyak bukaan. Konsep ini sangat cocok diterapkan di Indonesia yang beriklim tropis, yang tentunya lebih hemat energi karena ada flow udara alami dan sinar alami yang bisa masuk. Meski minimalis, fasad (tampak depan) dibuat ada permainan batu dan kayu sehingga tampilannya jadi lebih menarik. Ia mengingatkan, pada ruang kecil atau terbatas, jangan terlalu
Fasad dengan permainan batu dan kayu membuat tampilan rumah semakin menarik
banyak sekat. “Buat ruang terbuka. Kalaupun ingin memberikan perbedaan ruang, cukup dengan furniture yang langsung bisa menunjukkan itu ruang apa. Misalkan antara ruang tamu dan dapur, disekat dengan mini bar. Ada perbedaan ruang namun masih terbuka,” ujarnya. Membedakan ruang juga bisa dilakukan dengan membedakan motif lantai. “Jika untuk rumah kecil sebaiknya tidak ada permainan level lantai, dibuat flat saja. Kalau untuk rumah besar, bagus,” sarannya. Untuk memberikan kesan luas, bisa dengan menempatkan cermin. Namun, Arimbawa merekomendasikannya ditempatkan pada tembok di areal halaman belakang. Karena jika diletakkan di dalam ruangan berisiko pecah. Sementara, untuk warna, pilih yang warnanya cerah.
Denah lantai dasar
–Inten Indrawati
Denah lantai atas
18
Life
Edisi 900/ 9 - 15 MEI 2016
Panen Jika Ada Pesanan Buah anggur adalah salah satu buah maskot dari Buleleng yang banyak ditemui di kecamatan Banjar. Tetapi ketika sebagian besar orang memilih anggur sebagai tanaman budidaya, lain halnya dengan Drs. Made Budiasa yang menjadikan buah bekul sebagai tanaman budidaya. Menurutnya bekul memiliki prospek bagus baik dari segi rasa, minat masyarakat dan berbuah sepanjang tahun.
Bekul yang sudah di panen
B
udi panggilan akrab pria ini mengaku, mulai menanam bekul ketika mengikuti pameran yang mengundang petani-petani di Bali. “Waktu itu saya beli bibit dua batang dan ditanam di pinggiran sawah tempat menanam anggur,” tuturnya. Pada saat itu guru Agama Hindu di SMP Negeri 2 Banjar tersebut belum cukup perhatian dengan bekul yang ditanamnya. Hingga ia mewakili Bali dalam pertemuan pakar petani di Surabaya. “Saat itu saya ketemu dengan teman lalu dianjurkan untuk menanam bekul sebagai buah primadona ke depannya,” jelasnya. Mulai saat itu Budi berinisiatif untuk membudidayakan buah bekul sebab proses perawatannya pun lebih mudah dari merawat pohon anggur Bergabung dalam kelompok tani Amertha Nadi, Budi bersama teman-temannya sudah mengembangkan 1,5 hektare tanaman
Made Budi
kan panen setiap saat. Ia hanya melakukan panen jika ada pesanan yang masuk. “Belum diterima pasar tradisional adalah alasan kenapa kami tidak bisa panen setiap saat, kami hanya mengandalkan pesanan saja,” jelasnya. Ia sangat berharap ke depan bisa mengisi peluang di supermarket dan juga pasar tradisional. -Wiwin
Di depan jenazah ibundanya, Kumala (55) menunduk menangis tersedu-sedu dalam sedih yang dalam. Hari itu, ia kehilangan satu-satunya orang yang paling dicintainya. Dalam balutan pakaian hitam, bersama warga sekitar tempatnya tinggal di Lombok Barat, Kumala mengantar jenazah Rina, ibundanya yang meninggal dalam usia 75 tahun ke pemakaman, tempat peristirahatan terakhirnya.
Bekul yang sudah di panen
Minimalis Bergaya Mewah Dari tahun ke tahun model dan tipe rumah kian beragam dan mengalami perkembangan yang cukup pesat. Model dan tipe tersebut harus disesuaikan dengan beberapa faktor di antaranya luas lahan yang tersedia, dana yang dimiliki dan jumlah anggota keluarga. Hal tersebut harus diperhatikan agar rumah yang dimiliki memberikan kenyamanan bagi penghuninya. Sebab memiliki rumah yang nyaman adalah impian bagi setiap keluarga. Saat ini di Buleleng bisnis properti memang sangat berkembang pesat. Begitu juga dengan selera masyarakat dalam bidang model rumah. Beberapa tahun belakangan, tren gaya minimalis memang sedang menjadi sorotan di kalangan masyarakat perkotaan. Alasannya adalah penghematan lahan serta penghematan biaya. Namun, seiring perkembangan waktu gaya minimalis tersebut juga dipadu-padankan agar terlihat lebih mewah. Hal ini disampaikan oleh Bayu Mandayana, Direktur PT Umah Bali Mesari. “Masalah tren rumah itu kan masalah selera masyarakat tetapi untuk saat ini tren rumah semi villa bergaya mewah memang
Edisi 900/ 9 - 15 MEI 2016
Ibu Melarangku Bertemu Ayah
Budidaya Buah Bekul
bekul di Subak Uma Desa, Desa Kalianget, Kecamatan Seririt dan sedang merintis agrowisata di Subak Banjar Ambengan, Desa Banjar, Kecamatan Banjar. Selain rasanya enak, harga jual buah bekul juga lebih menjanjikan ketimbang buah anggur. “Kalau jenis campuran dijual Rp 25 ribu per kilo sedangkan kalau kelas yang paling bagus bisa dijual sampai Rp 35 ribu per kilo,” ujar pria yang berasal dari Desa Munduk Bestala tersebut. Sampai sekarang Budi sudah banyak mengikuti pameran-pameran hingga ke Denpasar untuk mempromosikan buah bekul (bidara) tersebut. Belajar dari budidaya anggur, Budi tidak merasa kesulitan dalam membudidayakan buah bekul. “Kami menggunakan pupuk majemuk, tetapi agar lebih aman buat dikonsumsi kami menggunakan juga pupuk kandang,” imbuhnya. Proses perawatan yang baik membuat buah yang dihasilkan oleh budidaya yang dilakukan Budi berkualitas lebih baik dari buah bekul aslinya. “Rasanya lebih gurih, airnya cukup, buahnya juga lebih besar. Itu yang membuat masyarakat sangat meminati buah bekul ini,” ungkap pria yang lahir 31 Desember 1950 tersebut. Keunikan lain dari buah bekul adalah di antara buah apel dan pir. Berair seperti buah pir, manis dan gurih seperti buah apel. Dalam proses pemasaran, Budi menggunakan media sosial sebagai tempat berjualan. Konsumen yang ingin memesan bisa langsung datang atau bisa memesan terlebih dahulu. Dari sanalah usahanya makin berkembang karena mulut ke mulut. Budi juga tidak menampik jika peran media massa juga sangat membantu promosi usahanya sehingga banyak orderan yang masuk. “Kami saat ini belum mampu juga memasok ke swalayan-swalayan besar namun ada beberapa toko yang sudah kami ajak bekerja sama baik di Singaraja maupun Sanur,” tambahnya. Memang dalam pemasaran tidak ada kendala yang berarti namun ia tetap berharap kehadiran buah bekul dapat diterima di pasar tradisional. “Di pasar tradisional belum bisa diterima karena dianggap kemahalan,” ucapnya. Memiliki produk yang terbatas membuat Budi tidak bisa melaku-
Story
sedang digandrungi,” ungkap pria yang akrab disapa Bayu tersebut. Selain agar terlihat lebih mewah, penggunaan ventilasi yang memadai juga sangat diperhatikan dalam pembangunan rumah. “Singaraja kan panas, jadi sirkulasi udaranya harus bagus. Di depan ada jendela di belakang pun begitu,” ungkapnya. Pria kelahiran 14 Desember 1988 ini juga mengatakan meskipun masih mengusung gaya minimalis akan tetapi tetapi penyediaan halaman baik di depan maupun di belakang rumah harus diperhatikan. “Ini yang paling penting harus ada halaman. Tren rumah yang seperti ini yang disebut semi villa dan go green,” tambahnya. Bayu juga menegaskan dalam membangun sebuah rumah, perusahaannya sangat fleksibel untuk masalah konsep. “Kami sediakan standarisasi, kalau mereka punya desain sendiri akan kami layani tetapi tetap ada hitungannya,” imbuhnya. Meskipun dikatakan berkonsep semi villa dan go green, namun pembangunan rumah akan lebih bagus jika dilakukan di tengah kota atau di pinggiran kota. Hal ini akan lebih mengefisienkan waktu karena jarak dari rumah yang tidak begitu jauh dari pusat perkotaan. “Ini tergantung keper-
Bayu (kanan) bersama klien
luan, ada yang suka di kota ada yang suka di pinggiran kota, dan semua kembali juga ke masalah harga,” ujarnya. Perumahan di kota tentu akan lebih mahal dibandingkan perumahan di pinggiran kota. Berkenaan dengan masalah harga, Bayu mengungkapkan, daerah yang menjadi sasaran baru dalam proyeknya ke depan adalah di pinggiran kota Singaraja di antaranya daerah Panji, Selat, dan Kaliasem. “Untuk ke depan itu sih yang bagus, karena acuannya kan kota jadi yang dekat-dekat dengan kota saja,” ungkapnya. Hal ini dikarenakan agar lebih dekat dengan fasilitasfasilitas umum baik itu rumah sakit, perkantoran, pasar dan sekolah. Pria asal desa Pemaron ini juga mengatakan, saat ini masyarakat Buleleng memiliki minat yang sangat tinggi di bidang properti salah satunya kepemilikan rumah. Tetapi, peningkatan tersebut berbanding terbalik dengan melemahnya daya beli masyarakat. “Memiliki sebuah rumah itu kan harus bersakit-sakit dahulu, terkadang masyarakat tidak mau berinvestasi dan malah menghabiskan uangnya untuk hal-hal lain,” imbuhnya. -Wiwin
G
undukan tanah merah dengan batu nisan dan taburan bungabunga, makin membuat Kumala sedih terutama saat mengingat penderitaan ibundanya itu ketika mereka berdua ditinggal pergi oleh ayahandanya. “Sejak itu, Ibu sama sekali tidak ingin bertemu lagi dengan Ayah,” ungkap Kumala beberapa hari setelah kepergian ibundanya. Kisah hidup Kumala bersama Rina setengah abad yang lalu sungguh membuat hidup keduanya didera penderitaan yang cukup panjang. Cerita demi cerita pahit dikisahkan dengan begitu mengharukan oleh ibundanya setelah Kumala dewasa. “Dulu saat saya masih kecil, Ibu sama sekali tidak pernah mau menceritakan tentang asal usul saya dan mengapa kami tinggal di tempat yang terpencil saat itu di Lombok. Jauh dari perkotaan di salah satu daerah di NTB sebagai daerah asal ibu,” ujar Kumala yang kini menjadi guru di salah satu sekolah di Lombok Barat. Sejak itulah Kumala yang tidak dapat mengingat secara pasti kapan mereka pindah ke Lombok, akhirnya tumbuh besar di sebuah rumah sederhana di wilayah yang bisa dikatakan seperti hutan, saat ia masih kecil. Bunyi binatang malam dan gemericik dari dari bambu yang dialiri air dari mata air-mata air di sekitar tempat tinggal me
reka, menjadi sahabat Kumala di waktu malam. Air mata Kumala menetes ketika menceritakan kisah hidup ibundanya yang pahit. Pertemuan antara ayah dan ibunya terjadi ketika Rina, ibundanya berusia 25 tahun. Kala itu Rina telah bekerja sebagai pegawai pemerintahan di salah satu kabupaten di Nusa Tenggara Barat. Kala itu Rina adalah gadis yang sangat cantik. Pipinya seringkali bersemu merah dalam kulitnya yang putih dan bening. Tentu saja banyak lelaki yang menaruh hati padanya. Selain cantik, Rina juga adalah pribadi yang supel dengan karier yang baik. “Ibu saat itu sudah jadi bendahara di salah satu instansi penting di NTB,” ungkapnya. Tetapi dari banyak lelaki yang menaksir dirinya bahkan beberapa telah datang meminangnya, Rina menjatuhkan pilihan pada Bagus yang merupakan ayah dari Kumala. Dari segi penampilan dan wajah, Bagus tidaklah sebagus namanya, melainkan relatif biasa-biasa saja
dibandingkan dengan Rina yang demikian cantik. Namun, cinta telah membawa Rina menerima laki-laki yang juga merupakan pegawai salah satu kantor di Mataram tersebut dengan begitu tulus dan ikhlas. Rina begitu setia mendampingi suaminya tersebut. Dalam saat itu, karier Rina terus menunjukkan peningkatan. Begitu juga dengan suaminya. Mereka berdua sibuk bekerja bahkan hingga Kumala lahir. Kelahiran Kumala sesungguhnya telah memberikan kebahagiaan yang hampir sempurna bagi keduanya. Perhatian dan kasih sayang Bagus juga Rina pada Kumala begitu besar. Rina membagi waktunya dengan sangat cermat antara kesibukannya dengan pekerjaannya. Kariernya terus melaju melebihi suaminya. Hal inilah yang kemudian menciptakan bibit ‘kecemburuan’ dari suami. Hingga suatu hari, Bagus meminta Rina untuk berhenti bekerja dengan alasan agar bisa fokus mengurus anak mereka. Diskusi panjang antara Rina dan Bagus berlangsung cukup lama untuk memutuskan apakah Rina tetap bekerja atau berhenti saja. “Akhirnya Ibu menurut pada keinginan ayah dan berhenti bekerja waktu saya berusia dua tahun,” ujar Kumala. Sejak itulah Rina fokus mengurus anak dan suaminya dengan sangat telaten. Hidup mereka sangat bahagia. PERGI DARI RUMAH Namun, kebahagiaan itu tidak berlangsung lama karena malapetaka mengintip dan membuntutinya. Bagus mulai berulah dengan perselingkuhan demi
Rasa sakit yang dialami Rina membuatnya bergeming untuk mengetahui kabar suaminya. “Ibu malah melarang saya mencari ayah,”
7
tkh/net
perselingkuhan. Sampai akhirnya memutuskan menikah kembali. “Begitu ibu tahu, ibu tidak banyak bicara melainkan langsung pergi dari rumah membawa saya dan pakaian seadanya,” ungkap Kumala dengan senyumnya yang terlihat getir. Pernikahan suaminya begitu menggores luka di hati Rina. Ketika kabar pernikahan yang awalnya didengar dari desas desus tetangga sampai terkonfirmasi kebenarannya dari mulut Bagus secara langsung, Rina diam dan tidak banyak bicara. Tidak ada pertengkaran yang sengit antara keduanya melainkan yang tampak adalah kemurkaan Rina dalam diam yang teramat sakit. Dua hari kemudian, Rina mengemasi barang-barangnya dan pakaian anaknya seadanya saja lalu pergi meninggalkan rumah tanpa sepengetahuan suaminya. “Ibu sudah bertekad tidak akan pernah mau bertemu ayah lagi,” ujar Kumala. Dari Pulau Sumbawa Rina menggendong Kumala kecil sambil membawa tas pakaian seadanya menyeberang ke Pulau Lombok. Entah siapa yang dituju, Rina tidak tahu. “Bagi ibu waktu itu, meninggalkan rumah dan ayah adalah yang utama baginya. Ibu seperti ingin lari dari curamnya kepedihan yang dialaminya,” katanya. Sampai akhirnya yang diingat Kumala adalah mereka tinggal di tengah hutan (masa itu wilayah
Lombok Barat hutannya sangat lebat). Kumala hanya mengingat tumbuh besar di tengah hutan yang dingin dan lembab bersama ibundanya dan beberapa tetangga saja. Hingga akhirnya hutan tersebut sedikit demi sedikit terbuka membentuk sebuah desa saat Kumala akhirnya menjadi seorang guru. Rasa sakit yang dialami Rina membuatnya bergeming untuk mengetahui kabar suaminya. “Ibu malah melarang saya mencari ayah,” ujar Kumala. Rina sepertinya sama sekali tidak menginginkan Bagus menemukan dirinya dan Kumala putri mereka. Bahkan hingga akhir hayatnya, Rina sama sekali tidak pernah melihat lagi suaminya itu sekalipun. “Ibu sama sekali tidak pernah bertemu ayah sekalipun,” ungkap Kumala yang akhirnya diam-diam tanpa sepengetahuan ibundanya pernah mencari keberadaan ayahnya di Pulau Sumbawa. Kumala hanya sekali bertemu ayahnya dan menceritakan kisah ibunya serta keadaan mereka selama pelarian ibundanya yang tidak ingin ditemukan keberadaannya itu. Bagus sendiri karena didera rasa bersalah dan penyesalan, ia tidak berani bertemu dengan Rina bahkan ketika Rina meninggal. Ia hanya mendapat kabar berpulangnya Rina dari Kumala beberapa hari setelah kematiannya. -Naniek I. Taufan
6
Edisi 900/ 9 - 15 MEI 2016
Belajar dari Orang Sukses dan tidak Sukses Pendidikan adalah penting dan merupakan kebutuhan dasar didalam berbagai langkah. Tingkat pendidikan sangat krusial. Pendidikan mampu membantu cara berpikir atau membentuk pola pikir seseorang dan secara pribadi maupun sosial dan bahkan membangun karakter yang baik. Pendidikan adalah modal untuk mencapai keberhasilan lebih lanjut di segala bidang. Begitu disampaikan IGA Mas Seri Lestari, S.H., M.Kn., seorang notaris dan PPAT di Kota Denpasar.
P
erempuan yang akrab disapa Gek Rani ini juga mengatakan dunia pendidikan atau belajar itu tidak ada batasnya. Belajar itu berarti terus menggali potensi diri dan membuka katup berpikir, yang juga berarti berupaya agar katup dapat diisi ilmu lebih banyak lagi. “Ketika tingkat pendidikan yang semakin tinggi, bisa menunjukkan bahwa kita memiliki komitmen untuk belajar dan menerapkan berbagai informasi dan pengetahuan dengan sebuah formula untuk mencapai tujuan dengan lebih baik,” ujar Gek Rani yang tengah meneruskan pendidikan doktoralnya di Universitas Brawijaya, Malang ini. Pendidikan dikatakannya sebagai proses belajar dan mengetahui yang tidak terbatas dari sekolah dan teks buku semata. Selain pendidikan yang diperoleh di sekolah atau lembaga
formal lainnya juga ada proses pendidikan yang berjalan secara informal. “Sesungguhnyalah pendidikan yang pertama kali adalah diawali dari rumah. Apalagi kita ketahui pendidikan yang sederhana adalah pendidikan dalam keluarga, sebagai masyarakat sosial yang terkecil. Hal ini merupakan langkah pembentukan karakter sejak dini, yang di dalamnya termasuk pendidikan tentang etika juga manner,” lanjut ibu empat anak ini. Berikutnya pendidikan dari lingkungan, bagaimana seseorang atau kita bisa berinteraksi sosial dengan lingkungan. Begitulah adanya kita bisa belajar dimana saja dan pada siapa saja. “Kita tidak hanya belajar dari guru di sekolah, tetapi juga menerima dan memperoleh pengetahuan dari orangtua, anggota keluarga dan bahkan kerabat yang lain hingga lingkungan, yakni
IGA Mas Seri Lestari, S.H., M.Kn.
Woman on Top hampir semua lapisan masyarakat. Tidak ada kata tua dan terlambat untuk belajar. Kita bukan hanya bisa belajar dari orangorang sukses, tapi dari yang disebut tidak sukses pun ada nilai yang bisa dipelajari. Semua proses pendidikan ini akan melengkapi segala bentuk bentuk pendidikan formal yang ada,” kata Gek Rani antusias. Begitu pula ketika kita berkecimpung di sebuah organisasi. Apakah itu organisasi sosial, olahraga, politik dan lain sebagainya. Di sana, katanya kita akan mendapatkan pendidikan menjadi seorang organisatorisyang berkompeten. Di dalam organisasi, seseorang digodok, seolah masuk dalam kawah candradimuka, yang selanjutnya akan terseleksi saat keluar, apakah seseorang itu nantinya bisa memiliki kemampuan sebagai leader atau tidak, disamping adanya seleksi alam yang tidak bisa dihindari. Adalah fakta, kata Gek Rani bahwa segala sesuatu yang kita buat saat ini berdasarkan ilmu pengetahuan yang kita peroleh sepanjang hidup melalui berbagai bentuk pendidikan yang pernah kita terima. Maka, melihat berbagai peristiwa yang dilaluinya, bagi Gek Rani pendidikan sangat penting baik formal maupun informal dalam memberi warna dan menunjang karier di manapun kita berkiprah. Soal karier, pengertiannya sangat luas, termasuk aktivitas sebagai ibu rumah tangga. “Kita jangan berpikir ranah domestik ini adalah tugas yang sederhana. Sangat banyak keterampilan dan inspirasi yang diperlukan untuk berhasil, baik itu mendidik anak, mengatur manajemen keuangan keluar ga hingga mengatur menu, semuanya memerlukan pendidikan. Apalagi tugas mendukung suami dan anak agar memiliki motivasi untuk maju. Ini artinya kita perlu, mesti dan harus mau terus belajar,” paparnya. -Sri Ardhini
Edisi 900/ 9 - 15 MEI 2016
Kampung Tempe Jadi Objek Wisata Arek-arek Suroboyo sangat akrab dengan tempe karena memang menjadi menu makanan setiap hari. Jenis makanan yang satu ini sebenarnya relatif kecil, tetapi kalau ditekuni bisa menghasilkan uang yang banyak. Buktinya, di kampung di Tenggilis Kauman Gang Buntu, Kelurahan Tenggilis, Kecamatan Tenggilis Mejoyo Kota ada sejumlah pengrajin tempe. Salah satunya, Nur Hasan, pengrajin tempe di kampung tempe.
Tempe dan kripik tempe milik Nur Hasan, pengrajin tempe
“AADT” …. Ada Apa Dengan Terlambat Salam Senyum… Film remaja dalam percintaan yang romantis 14 tahun yang lalu kembali membuat perfilman Indonesia sumringah. “Ada Apa Dengan Cinta (AADC)” versi lanjutan ya.. heheheh.. Dalam tulisan ini saya tidak membahas film itu. Tetapi membahas tentang AADT ( Ada Apa Dengan Terlambat ), mirip sedikit singkatannya, tidak apa-apa kan? Masih teringat ketika saya akan memulai sebuah meeting (rapat) yang dianggap “penting”, saya terpaksa terlambat datang karena ada alasan yang menurut saya dapat dipertanggung jawabkan. Saya tipe orang yang jarang terlambat. Tetapi, saya harus menerima ketika pemimpin rapat tidak mau mendengar alasan yang akan saya kemukakan. Waaahhhh… mungkin “dia lelah”.. heheheh.. Saya berusaha untuk tidak terpancing dalam situasi yang kurang nyaman tersebut. Yang tentunya dapat menurunkan daya kreativitas saya dalam memberi pendapat dengan situasional yang seperti itu. Oke.. kita tinggalkan ilustrasi “terlambat” tadi. Kita kembali ke dunia service yang selalu menjadi concern tulisan saya di rubrik ini. Hhhmmm.. kata orang bijak.. tidak ada kata terlambat untuk memulai sesuatu.. begitupun di dunia service. Banyak kejadian dan fakta saya temui, secara pribadi ataupun instansi mereka terlihat frustasi. Karena apa ??? Karena mereka merasa TERLAMBAT untuk memulai sesuatu yang berhubungan dengan service. Dalam dunia persaingan seperti ini kadang price sudah tidak terlalu mempengaruhi daya beli atau ketertarikan seseorang dengan sesuatu. Tetapi, bagaimana membuat service itu bisa menjadi daya jual yang tak ternilai ketika pelanggan sudah merasakan kenyamanan. Terlambat dalam service ada beberapa yang perlu kita bahas. Yang 1. Merasa terlambat karena melihat orang lain/ lembaga lain sudah melakukan dari jauh jauh hari bahkan tahun tahun sebelumnya. Melihat situasi seperti ini, suatu lembaga/ instansi /perusahaan ataupun perorangan malah
frustasi karena merasa terlambat. Hal ini pernah saya temui ketika memberikan pelatihan dan motivasi yang saya lakukan. Mereka tidak mau memperbaiki standar layanan ke pelanggan hanya karena merasa sudah jauh ketinggalan untuk memulai service ang baik. Padahal, tidak ada kata TERLAMBAT untuk memulai sesuatu. Coba bayangkan seandainya merasa kalah sebelum bertanding. Waaaahhh. Padahal dari teori motivasi, kalau mengejar orang yang berjalan satu langkah, kita harus berjalan minimal dua langkah bahkan tiga langkah jika ingin mendahuluinya. Heheheh…. Bukan malah melambat… ya kan… ? Kalau tidak yakin dengan hal tersebut, silahkan coba saja ya… Yang ke 2. Terlambat menyampaikan informasi ke pelanggan. Ini pernah saya alami ketika membeli barang di toko yang melakukan grand opening dan memberikan discount besar-besaran untuk promosi. Dengan bersemangat saya membeli salah satu barang keperluan rumah tangga karena di rak barang tertera discount sampai 50 persen. Tetapi setelah saya bayar di kasir, ternyata discount tersebut sudah berakhir siang tadi dengan selisih sekitar 2 jam dari saat saya berbelanja. Naaahhh.. kalau seperti ini siapa yang disalahkan? Keterlambatan menyampaikan informasi kepada pelanggan menjadikan pelanggan kecewa dan tentu membuat tidak nyaman. Yang ke 3. Terlambat melayani pelanggan karena kurang persiapan. Kalau yang ini sering terjadi ya… Contoh kecil yang sering ditemui ketika jam pelayanan tidak sesuai dengan keadaan yang terjadi. Layanan buka dari pukul 08.00 wita sampai 13.00 wita. Demikian yang tertera di counter. Tapi kenyataannya layanan seringkali dimulai tidak on time. Ini terlihat seperti counter masih kosong tidak ada satupun orang yang bertugas melayani. Atau, bahkan toko masih tutup rapat seperti libur. Ternyata…. salah satu penyebabnya karena petugas yang melayani masih ber make up, memakai uniform, dan lain lain. Waaaahhhh…. maunya sih kelihatan lebih cantik, lebih fresh, tapi mengorbankan jam pelayanan. Tentu membuat hal yang dapat mengecewakan pelanggan.
Yang ke 4, ke 5 dan seterusnya masih banyak hal KETERLAMBATAN yang membuat service tidak sesuai dengan yang diharapkan oleh pelanggan. Para pembaca Dhani’s Art in Service yang setia, hal ini tentunya dapat kita atasi. Salah satunya adalah dengan TIDAK MENUNDA sesuatu hal. Penyakit menunda-nunda pekerjaan tentunya sudah merupakan fenomena yang sebenarnya kita sadari. Dengan hal tersebut maka munculah teori Parkinson Law “Work expands so as to fill the time available for its completion” yang artinya, pekerjaan akan berkembang sesuai waktu yang tersedia untuk menyelesaikannya. Contohnya, dengan kualitas dan kuantitas pekerjaan yang sama, jika kita diberi waktu 1 jam, maka kita menyelesaikannya 1 jam. Tetapi jika pekerjaan itu diberikan waktu 3 jam, maka kita menyelesaikannya dalam 3 jam juga. So…… dengan adanya AADT.. Ada Apa Dengan Terlambat, sebaiknya kita kita menyelesaikan segala pekerjaan dengan tepat waktu. Kata terlambat itu jauh dari dunia yang kita geluti. Mulai saat ini ubahlah sifat penundaan menjadi percepatan. Karena lebih cepat lebih baik, kata seorang politikus. Ahaaaa…!!!!!!... Penundaan akan hanya menyebabkan pekerjaan bertumpuk. Bukankah dengan menemui hal yang mempunyai deadline yang sama, maka bisa-bisa kita tidak berhasil menyelesaikan satu tugas pun sesuai deadline yang diharapkan. Sebagai akhir tulisan saya ini saya ingin mengucapkan terima kasih kepada pembaca setia rubrik Dhani’s Art in Service yang telah ikut menyumbangkan ide berupa “JUDUL” pada tulisan saya edisi sebelumnya. Saya sudah memilih 3 judul yang sangat kreatif, yaitu, 1. Kembali ke (Basic) Laptop, 2. Berdiri atau Duduk, dan yang ke 3. Cepat itu (juga) Nyaman. Selamat kepada pemenang dan tunggu kiriman marchandise nya ya….. Jangan lupa juga untuk membuka link https:// www. youtube.com/watch?v=KnTnGOr7-Tw untuk menonton TVC saya yang ke II dengan edisi “Kopi Pahit Kopi Manis”. Selamat menikmati dan semoga bermanfaat. Salam 3SP Salam Senyum Sang Penyihir Sri Sumahardani
T
empe yang terbuat dari kacang kedele, yang diolahnya itu merupakan warisan leluhurnya. “Saya adalah generasi ketiga dalam mengolah tempe ini. Sejak dulu, Kampung Tenggilis Kauman terkenal sebagai pengrajin tempe yang paling enak di Surabaya,” kata Nur Hasan. Dulu pengrajin tempe banyak sekali disini. Tetapi, terus berkurang dan sekarang hanya tersisa 5 orang. Lainnya pendatang. Karena nilai budaya terus diwariskan Nur Hasan, bersama warga kampung lainnya, beberapa tahun lalu, Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya memberi predikat baru kepada Kampung Tenggilis Kauman ini menjadi “Kampung Tempe”. Menurut dia, Pemkot Surabaya tidak hanya sekadar memberi predikat Kampung Tempe, tetapi berusaha membantu para
pengrajin. Bentuknya dengan cara menggaet Bank Indonesia dan Dinas Perdagangan Surabaya untuk menjadi pembina. Kampung ini telah menjadi kampung binaan Bank Indonesia dan Dinas Perdagangan. Mereka telah memberi banyak bantuan, terutama peralatan untuk pengolahan tempe, bimbingan maupun mengembangkan pemasarannya. Bantuan peralatan yang diberikan nilainya sekitar Rp 500 juta. “Kami sangat berterima kasih kepada BI dan Disperindag,” ujar Nur Hasan. Ia menjelaskan, bahan baku tempe kacang kedele tidak terlalu sulit didapatkan karena ada pemasoknya secara rutin. Namun, karena kesulitan mendapatkan kacang kedelai lokal, mereka terpaksa membeli kacang kedelai impor dari Amerika Serikat, Argentina, dan Thailand. “Sebetulnya kacang kedelai
Beny di depan tempe yang siap dijual
lokal lebih enak daripada impor. Karena sulit didapat kami akhirnya membeli kacang kedelai impor dari Amerika,” ujarnya yang dibenarkan Beny, salah seorang ponakannya yang setia membantu Nur Hasan, dalam mengolah tempe. Menurut Nur Hasan, di Tenggilis Kauman Gang Buntu ini sekarang hanya tersisa lima pengrajin tempe. Yakni, Nur Hasan sendiri, Gofur, Juri, Untung dan Poniman. Sedangkan pengrajin tempe lainnya tinggal di Gang Tenggilis Lama dan Tenggilis Mulia dan totalnya sebanyak 200 orang. Yang disebut Gang Tempe cuma Gang Tenggilis Kauman Gang Buntu saja. “Gang ini termasuk yang masih asli mengolah tempe warisan leluhur. Sedangkan kedua gang yang lain adalah pendatang dari Pekalongan yang juga pengrajin tempe,” ujarnya. Ia mengaku sehari dia selalu membeli 250 kg tempe. Sedangkan Gofur 150 kg, Juri 100 kg, Pak Untung 110 kg dan Poniman 50 kg. Harga kacang kedelai impor saat ini Rp 6.300/kg. Pengolahan tempe ini dibantu tiga orang saudaranya dan dilakukan di rumahnya yang berada di tengah kampung. Untuk sampai di rumahnya harus melewati gang kecil dan sepeda motor harus dituntun tidak boleh dinaiki.
Nur Hasan, Pengrajin Tempe di Kampung Tempe
PENGOLAHAN SEDERHANA Proses pengolahan kacang kedelai sampai jadi tempe sebenarnya sangat sederhana. Kacang kedelai terlebih dahulu direbus. Setelah matang direndam selama satu malam, kemudian kulitnya dikupas dan dicuci. Setelah itu dimasukkan ke dalam cetakan yang terbuat dari kayu sepanjang 1,5 meter dan lebar 26 cm dan ditutupi dengan plastik agar tidak kena debu. Kalau sudah kering baru dipotong-potong sesuai keinginan konsumen dan siap dijual. Karena sudah terkenal, Nur Hasan, tak menjualnya ke pasarpasar tradisional tetapi ada langganannya yang datang membeli setiap malam sekitar pukul 24.00 hingga pagi hari untuk mereka jual lagi ke pasar. Saat ini, jumlah yang membeli tempe milik Nur Hasan sebanyak 16 pelanggan tetap. Setiap pembeli, kata dia, mem-
19
beli tiga hingga empat cetakan dan setiap cetakan seberat 5 kg. Harga setiap cetakan Rp 50.000 dan setiap pembeli rata-rata membeli 5 cetakan tempe. Ada juga pelanggan dari kantor yang menghendaki tempe dikemas dalam bungkusan plastik berukuran 20 cm dan lebar 10 cm. Selain mengolah tempe, Nur Hasan, juga membuat kripik tempe yang rasanya gurih dan enak. Kripik tempe ini dikemas secara bagus dalam packing dan selalu dibeli Disperindag dan sejumlah kantor. Menurut pengakuannya, Sekolah Al Ulsua menjadi pelanggan tetap membeli tempe dalam plastik sebanyak 110 bungkus setiap minggu dan harga per bungkus dengan berat 2,5 ons sekitar Rp 2.500. Selain itu, dia juga mengirim ke Balai Kota Surabaya, Nginden dan sejumlah pesanan lainnya. Sedangkan harga kripik per bungkusnya Rp 10.000. Agar kripiknya enak, harus digoreng dengan minyak baru dan jangan sekali-kali menggunakan minyak goreng bekas. Karena berpengaruh pada warna dan rasa. Ia mengaku dari penjual tempe hasil olahnya ini, sehari bisa meraup keuntungan Rp 2 juta per hari. Sedangkan dari kripik tempe mendapat laba Rp 500.000 per hari. Sehingga bila ditotal sekitar Rp 2,5 juta per hari. Dalam beberapa tahun terakhir, Kampung Tempe Tenggilis Kauman dijadikan sebagai salah satu objek wisata oleh Pemkot Surabaya. Hampir setiap bulan Dinas Pariwisata membawa turis mancanegara untuk berkunjung ke Kampung Tempe dan menyaksikan dari dekat teknik pembuatan tempe. -Yosef Sintar
Bisnis Spring Bed Beromzet Rp 10 Juta per Bulan Bermodal dari pengalaman kerja di tempat pembuatan spring bed di sejumlah kota di Jawa Timur, Jimun (48), warga Desa Morang, Kecamatan Kare, Kabupaten Madiun akhirnya membuka lapangan kerja sendiri meski masih tergolong usaha kecil. Berkat keuletannya, Jimun yang dibantu 5 pekerja tenaga borongan mampu membuat 8-9 tempat tidur jenis spring bed dalam sehari. Bahan baku yang digunakan yakni gergajian kayu tahun, per kawat dan busa tebal. “Harga yang kami tawarkan kepada masyarakat antara Rp 650 ribu hingga Rp 900 ribu, sesuai dengan ukuran spring bed,” kata Jimun saat ditemui di tempat usahanya di kawasan lereng Gunung Wilis Madiuni. Menurutnya sejak 5 tahun membuka usahanya itu, kini hampir sekitar 50% warga Desa Morang sebagai pembuat spring bed dan sisanya petani dan pegawai. Untuk pemasarannya, ia penyerahkan kepada tenaga pemasaran yang memiliki kendaraan untuk kekeliling dari desa ke desa. Masyarakat di perdesaan masih
bisa menjangkau harga spring bed yang ditawarkan itu. Namun jika sudah dibawa keliling perkampungan di wilayah Kabupaten Madiun, Magetan, Ngawi, Ponorogo dan Pacitan harganya pun sudah naik sekian persen. Mengingkat kebutuhan klaim bisnis yakni seperti biaya bahan bakar kendaraan roda empat serta tenaga marketingnya. “Biasanya teman-teman marketing menjual dengan harga tawar menawar kepada calon pembelinya antara
Rp 2 juta hingga Rp 2,5 juta. Harga itu, disesuaikan dengan ukuran spring bed,” ungkapnya. Ia menambahkan omzet pendapatan per bulan baru sekitar Rp 10 juta lebih. Nilai itu sudah dipotong biaya 5 tenaga kerja borongan dan pembelian bahan baku. “Ya kalau dihitung-hitung, hasilnya masih tipis atau dibawah standar. Tapi, kami tetap optimis karena di perdesaan masih ada masyarakat yang membutuhkan spring bed buatan kami,” tandas Jimun. -Ajun Ally
20
Nine
Edisi 900/ 9 - 15 mei 2016
Gubernur NTB Kunjungi SLBN
Hari Pendidikan Nasional tahun 2016 ini dimanfaatkan oleh Gubernur NTB, Dr. TGH. M. Zainul Majdi, dengan mengunjungi siswa di Sekolah Luar Biasa Negeri (SLBN) Pembina Kota Mataram, Senin (2/5). Dalam sambutan antusias dari para siswa SLBN tersebut Majdi mengajak para siswa belajar membaca, menulis, berhitung dan bahkan menyimak siswa menghafal Al-Qur’an.
“S
aya bangga pada kalian, anak-anakku. Tetaplah rajin belajar dan yakinlah suatu saat kalian akan meraih prestasi yang hebat,” ungkap Majdi ketika berinteraksi dengan siswa-siswa berkebutuhan khusus tersebut. Dalam kunjungan Hardiknas tersebut, Gubernur Majdi
berpesan kepada guru-guru di sekolah tersebut untuk tetap bersabar mengingat mereka membutuhkan perhatian dan kebutuhan khusus.“Memang mereka ini anakanak istimewa, kebutuhannya khusus. Kita harus lebih sabar, harus lebih menyayangi. Teruskan mendidik dan memberikan yang terbaik untuk anak-anak kita Insya
Allah semuanya akan jadi anakanak hebat,” ungkapnya. Saat itu pula Majdi menyampaikan kepada orangtua siswa untuk bersabar dan tetap merasa bangga dengan anak-anaknya, mengingat keberadaan anak mereka yang berkebutuhan khusus tersebut menjadi ladang pahala yang berlipat ganda dibanding dengan orangtua yang memiliki anak normal. Kepala SLBN Pembina Kota Mataram, Sungkono, S.Pd. mengungkapkan rasa bangga atas perhatian dan kepedulian Gubernur NTB bagi dunia pendidikan, khususnya bagi siswa berkebutuhan khusus. Sungkono berharap ke depan SLBN tersebut dapat berkembang dan maju serta siswa yang tamat dari sekolah tersebut dapat hidup mandiri dan memberikan sumbangsih bagi pembangunan daerah. -Naniek I. Taufan
Launching NTB sebagai Provinsi Literasi 2016 Hari Pendidikan Nasional 2 Mei 2016 dijadikan momentum oleh Pemerintah Provinsi NTB untuk mendeklarasikan diri sebagai Provinsi Literasi Tahun 2016 dengan melaunching Provinsi NTB sebagai Provinsi Literasi 2016 yang dilakukan oleh Wakil Gubernur NTB, H. Muh. Amin, SH., M.Si. Program literasi di NTB ini diharapkan dapat menjadikan Pendidikan NTB menjadi lebih naju maju karena pola pikir siswa akan semakin diasah dengan dengan pendayagunaan segala bentuk media sebagai sumber pelajaran. “Literasi lebih dari sekedar
membaca dan menulis, karena mencakup keterampilan berpikir pada tingkat yang lebih tinggi dengan menggunakan sumber pengetahuan dalam berbagai media. Pemerintah Provinsi NTB terus berusaha menyediakan media pembelajaran yang dapat dimanfaatkan siswa” tegasnya. Menurut Dr. Rosiady Sayuti, Kadis Dikpora NTB, sebelumnya, Dinas Dikpora NTB sempat mewacanakan wajib membaca sastra bagi pelajar, mulai sekolah dasar hingga sekolah menegah atas. Bahkan wacana tersebut telah dimunculkan jauh sebelum
Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Anies Baswedan mengeluarkan Permen Pendidikan (tahun 2015) yang mewajibkan siswa membaca sastra sebelum pelajaran pertama dimulai. Program Provinsi Literasi 2016 yang diluncurkan pada peringatan Hari Pendidikan Nasional tanggal 2 Mei lalu, merupakan bagian dari upaya meningkatkan minat baca dan membuka ruang bagi penulis daerah. “Peningkatan literasi bukan cuma seputar minat baca dan kreativitas penulisan, tapi juga mencakup pengembangan nalar dan pembentukan karakter
DR H Rosiady :
Mengimplementasikan kegiatan baca sastra Rosiady menuturkan, saat tengah menyelesaikan draf terkait literasi itu, dosen Unram DR Mahsun baru menyelesaikan tugasnya di Badan Pembinaan Bahasa Pusat. “DR Mahsun banyak memberi masukan untuk melengkapi terkait program literasi. “ akunya. Rekonstruksi Sastra Lokal Seperti diungkapkan saat melaunching program Provinsi Literasi 2016 saat peringatan Hari Pendidikan (2/5), peningkatan literasi tak sebatas persoalan minat baca dan kemampuan menulis. Waktu itu Wakil Gubernur, Muhammad Amin juga menekankan pentingnya kualitas pola pikir dan pengembangan nalar anak didik. Namun penekanan pada kemampuan membaca sastra dan mengapresiasi budaya daerah menjadi focus Tim Literasi. Yang
DR H Rosiady
dibentuk Dikpora Tim yang terdiri dari kalangan guru, budayawan dan akademisi itu, kini tengah menyelesaikan rekonstruksi sekaligus mereproduksi naskah yang bersumber dari karya-karya lokal
atau cerita rakyat. “Karya-karya yang ada kita reproduksi, sedang kegiatan merekonstruksi menyangkut penyesuaian bahasa yang disesuaikan dengan jenjang pendidikan,” ujar Rosiady. Kegiatan itu mencakup dua sasaran sekaligus, selain peningkatan minat baca juga mengapresiasi budaya lokal. Di luar itu, pihak Dikpora tetap akan memberi ruang bagi seniman, penulis dan sastrawan di daerah untuk meningkatkan khasanah karya sastra di daerah. Menurut Rosiady, keberhasilan program literasi justru saat semua pihak memandang penting peningkatan cara berpikir untuk memproyeksikan masa depan NTB yang lebih maju. “Membaca dan menulis hanyalah jalan mencapai tujuan kebangkitan manusia, khususnya warga NTB,” pungkas Rosiady.
Inspirasi
Suasana Munas IKAYUSMA
sep yang tengah disusun bersama timnya, pelajar SD diwajibkan membaca 6 buah buku sastra, SMP sebanyak 6 buku, sedang pelajar setingkat SMA sedikitnya membaca 9 buku. Prof. Mahsun, sebagai Ketua Tim Literasi mengungkapkan bahwa literasi sebagai kemampuan membaca dan menulis yang terkait dengan keberaksaraan sangat menentukan kemajuan peradaban suatu komunitas negara bangsa. “Masyarakat NTB harus menjadi komunitas negara bangsa yang berada pada gerda terdepan dalam memajukan peradaban bangsa melalui kemampuan literasi. Apa lagi bangsa ini memliki peringkat kemampuan literasi yang kurang menggembirakan,” ungkapnya.
WAJIBKAN BACA 15 MENIT SEBELUM JAM PERTAMA MULAI
Menurutnya, deklarasi ini bukan hanya formalitas Permen Dikbud: 23 Tahun 2015 yang salah satu poinnya mewajibkan siswa membaca 15 menit sebelum jam pertama dimulai, melainkan program literasi NTB lebih terencana, terarah dan terukur. “Kegiatan Literasi di NTB kita awali dengan pengembangan bahan literasi dengan melakukan penulisan kembali cerita-cerita lokal, biografi tokoh-tokoh lokal yang dapat memberi inspirasi tentang budi pekerti yang baik serta memberi pengetahun tentang implikasi jika suatu perilaku tertentu diterapkan dalam kehidupan,” ungkapnya. -Naniek I. Taufan
Mantan Ketua MA Suryono
Suasana reuni
5
Suasana makan siang bersama
Reuni XVII IKAYUSMA
Keakraban tanpa Mengenal Perbedaan Jabatan
Selasa (26/4) suasana di Lobby II Hotel Bali Beach nampak berbeda. Sekitar 134 orang anggota IKAYUSMA, yang berasal dari Jakarta, Jawa Barat, Jawa Timur, Kalimantan Timur, Kalimantan Barat, NTB serta Bali hadir untuk acara reuni XVII IKAYUSMA (Ikatan Keluarga Yustisia Malang).
kedaulatan politik KMB maka Republik Indonesia Serikat ( RIS ) diakui secara internasional. Karenanya, para hakim dan jaksa yang berkebangsaan Belanda harus kembali ke negaranya atau memilih menjadi WNI. Rupanya sebagian besar dari mereka memilih tetap menjadi warga Belanda, sehingga jabatan hakim dan jaksa menjadi vakum. Untuk mencari jalan pintas (crash program ) demi kepentingan sangat mendesak di bidang peradilan dan kejaksaan, maka Departemen Kehakiman , Kejaksaan Agung Kajati Bali, DR.H. Abdul Muni,S.H., M.H., bersama peserta bekerjasama dengan Departeenurut Ketua Panitia Reuni, Nyo- men Pendidikan dan Kebudayaan sepakat man Masni, acara Pembukaan mendirikan SMKA Negeri di Malang. Reuni XVII IKAYUSMAyang Masni yang pernah mengetuai beberapa dirangkaikan dengan makan malam bersama. organisasi seperti Badan Kerjasama Organisasi Rabu ( 27/4) , dilaksanakan Munas IKAYUSMA Wanita ( BKOW) Bali, Ketua Kaukus Perfem, dipimpin Ketua IKAYUSMA Pusat, Ben puan Politik Indonesia Provinsi Bali dan masih Sardjono didampingi H. Hubanyak yang lainnya, menuzaeni , LMM Samosir dan Lalu turkan pada zaman Belanda Mariyun. Munas menetapkan sekolah seperti ini bernama susunan pengurus baru IKAYRechtschool. SMKA Negeri USMA dan AD/ART. SelanMalang merupakan sekolah jutnya rombongan IKAYUSMA ketiga. Sekolah kedua adalah menikmati kunjungan wisata SMKA Medan sementara serta makan siang. sekolah pertama di Makasar, Puncak acara Reuni XVII keempat di Palembang, kelima IKAYUSMA dilaksanakan sedi Ambon, dan keenam di cara sederhana namun berkeBanjarmasin. Direktur SMKA san. Ada sambutan Ketua N Malang pertama yakni Mr. Panitia, Ketua IKAYUSMA G.G. Vodegel, kemudian diPusat, Perwakilan Alumnus gantikan oleh Mr. Mohamad dan Perwakilan Guru. Kepala Koesnoe dan terakhir dijabat Kejaksaan Tinggi Bali juga oleh Helak Soeheru BA. turut memberikan sambutan. Hubungan antara alumni Acara tersebut juga dihadiri sekolah ini sangat akrab dan Nyoman Masni tiga orang guru mereka, Pak kekeluargaan tanpa mengenal Soeryono, Pak Chabib Syarbini, dan Pak perbedaan jabatan, pangkat atau status sosial. Agung Basugiat. Acara diakhiri dengan malam Akhirnya dari pertemanan menjadi sebuah kenangan dan foto bersama. ikatan perkumpulan bernama IKAYUSMA Ditengah kebahagian berkumpul bersama yang dikukuhkan tahun 1980 dan dilanjutkan tersebut, Nyoman Masni, pendiri Lembaga pertemuan berkala bernama “ Reuni IKAYPerlindungan Anak (LPA) Bali dan peraih USMA“. Reuni pertama berlangsung di Hotel Penghargaan Ibu Teladan Se-Bali 2005 yang Hasta, Jakarta, tahun 1980. Sebelumnya Bali dilaksanakan Tokoh ini, sempat menyampaikan juga pernah menjadi tuan rumah Reuni X di kilasan sejarah IKAYUSMA. IKAYUSMA adalah Hotel Dyana Pura, Kuta, tahun 2007. perkumpulan alumnus, guru, dan pegawai Pada kesempatan yang sama, Agung Batata usaha dari sekolah SMKA/SHD, SPP yang sugiat, mewakili para guru menyatakan bahwa berdiri di Malang sejak 1 Juli 1953. seingatnya reuni IKAYUSMA pertama dilakAwal berdirinya Sekolah Menengah Keha- sanakan di Jakarta pada tahun 1980. Menurut kiman Atas/ SMKA yang kemudian bernama hitungan IKAYUSMA dari tahun 1980 sampai SHDN ( Sekolah Hakim Djaksa Negeri ), adalah saat terjadi peristiwa sejarah Nasional Bangsa Indonesia, yakni Konferesi Meja Bundar ( KMB) di Den Hag, Belanda yang menetapkan penyerahan kedaulatan ( Sovver Reinieteit Over Dracht) oleh Kerajaan Belanda kepada Indonesia. Menurut versi Indonesia bukan penyerahan kedaulatan tapi pengakuan kedaulatan (Sovvereinitit Erkenning). Karena itu, sebelum KMB, Indonesia sudah memiliki Republik Indonesia, sebab secara de fakto Indonesia sudah berdaulat. Foto bersama di depan museum Bajrasandi Ko n s e k u e n s i p e n g a k u a n
M
masyarakat NTB,” kata Rosiady. Karena itulah ketika dilantik kembali menjadi Kadis Dikpora pada awal tahun 2016 lalu, tugas pertama yang dilakukannya adalah menyusun Peraturan Daerah (Perda) Dinas Pendidikan. Momentum itu kembali dimanfaatkankannya untuk mewujudkan impian meningkatkan kegiatan baca sastra di kalangan pelajar. Dalam Perda (Peraturan Daerah) yang mengatur Tentang Penyelenggaraan Pendidikan Prov NTB 2015, turunannya ada 7 Peraturan Gubernur Pergub). Pergub itu disamping mengatur soal pendanaan pendidikan (drafnya selesai disusun), dan beberapa lainnya, yang tetap menjadi perhatian Rosiady adalah implementasi kegiatan baca sastra. Di mana dalam kon-
Edisi 900/ 9 - 15 mei 2016
Maka, reuni IKAYUSMA perlu diteruskan. Namun , mengingat kondisi yang ada, bahwa mereka saat ini kebanyakan sudah purna tugas bahkan diantaranya ada yang telah meninggalkan mereka untuk selamanya. Oleh karena itu, demi pelaksanaan reuni di masa mendatang agar diadakan sesederhana mungkin, terutama dalam segi pembiayaan. Belanja oleh-oleh di Krisna oke Ke t ua I K AY U S M A pada reuni XVII tahun ini sudah mencapai Pusat, sejak awal hingga saat ini, Ben Sardjono 36 tahun. Suatu kehidupan organisasi yang (79), ketika ditanya mengenai reuni tahun ini, dengan lugas ia mengatakan sangat mengharucukup lama. Karena itu, mereka harus bangga serta kan. Pertama, katanya melihat usia mereka sudah patut memberikan penilaian positif terhadap senja bahkan ada yang menggunakan kursi roda IKAYUSMA. Hal ini, tidak terlepas dari keteku- dari Kalimatan juga berupaya untuk datang. Selain itu, dengan dana seadanya panitia nan dan keuletan para pengurus, yang memperhatikan dan berusaha mengembangkan menyediakan tempat yang bagus. Mereka dan memajukan IKAYUSMA. Banyak sudah juga menikmati city tour yang menyenangpengorbanan yang diberikan para pengurus, kan. Keharuan lainnya lanjut Ben, karena salah satunya Ben Sardjono selaku ketua IK- kehadiran pejabat Kepala Kejaksaan Tinggi AYUSMA Pusat sejak dahulu hingga kini. Bali, yang sempat mengajak mereka makan Dikatakan oleh Agung, reuni sebagai sa- siang bahkan mereka semua memperoleh rana komunikasi dan silaturahmi sejak pertama kenang-kenangan kain tenun Bali. Keharuan hingga saat kini, berjalan dengan baik, hasil yang lainnya adalah kehadiran 3 orang mantan guru memuaskan bagi peserta reuni kesemuanya. mereka. –Sri Ardhini
KIPRAH DR. IGA DIAH WERDHI SRIKANDI WS (ANGGOTA DPRD BALI)
LAHIR DARI DINASTI POLITIK DAN PEMIMPIN SUKARNOIS DI BALI Jokowi dan Presiden SBY ke The Sukarno Center Tampaksiring dan juga menyambut Presiden Megawati Sukarno Putri ke Perpustakaan Bung Karno di Renon Denpasar. Belum lagi terhitung jumlah menteri kabinet yang hadir di tempat keluarga kami. Ini memberikan rasa optimis bahwa Bali bisa mendapat penghargaan di mata tokoh nasional. Ini berkat perjuangan orangtua kami (alm) Shri Wedastera Suyasa dan Ratu ISTANA - Dr. IGA Diah Werdhi Srikandi WS,S.E.,M.M. Biang I Gusti Ayu Suwitry. Be(anggota DPRD Bali) didampingi suami Notaris Ketut Ariyasa,S.H.,M.H., adinda IGA Ayu Sita Wedastiti WS,S.E. liaulah inisiator dari pendirian (Wakil Ketua DPD PDI Perjuangan Prov Bali) dan adinda sejumlah yayasan dan museum Shri IGN Wira Wedawitry WS,S.S,S.H.,M.H. (Wakil Ketua milik keluarga kami. Sekarang KNPI Provinsi Bali ) bersama Presiden Joko Widodo kami bagi–bagi tugas dengan di The Sukarno Center adik–adik untukmengelolanya,” Di Bali, mungkin hanya keluarga ungkap Dr. DiahWerdhi. (alm) Shri Wedastera Suyasa yang terIa pun menyatakan akan komitmen catat satu–satunya keluarga yang bisa untuk menjaga idealism partai yakni PDI mendatangkan tiga orang Presiden Re- Perjuangan untuk mengamankan Tri Sakti publik Indonesia secara khusus di situs Jokowi. “Saya berdoa agar pemerintahan milik keluarga dalam acara kebangsaan Tri Sakti ini bertahan 32 tahun. Ini masa yakni JokoWidodo, SBY, dan Megawati yang direbut oleh orde baru. Saya tahu Sukarno Putri. Hal ini diakui oleh putri betul penderitaan kami selama masa Orba, dari tokoh PNI zaman Bung Karno yakni bagaimana ayahanda saya mengamankan Dr. I Gusti Ayu Diah Werdhi Srikandi semua pusaka, buku, dan peninggalan Bung WS,S.E.,M.M. yang kini menjabat anggota Karno di masa sulit. Bersyukurlah ada Ibu DPRD Provinsi Bali. Megawati Soekarno Putri, tokoh utama re“Sebenarnya saya tidak begitu mem- formasi yang hebat. Jika tidak ada Ibu Megaperhatikan hal ini, karena kedatangan pe- wati Soekarno, mungkin Indonesia belum jabat tinggi ke situs milik keluarga adalah ada reformasi sekarang. Cukup dari satu hal hal yang biasa. Sampai ada seorang kader itu saja sudah membuat saya bangga pada di Jembrana yang mengingatkan bahwa Ibu Megawati. Saya akan balas jasa beliau kedatangan tiga presiden ke yayasan mi- dengan mengabdi di PDIP dengan kinerja lik keluarga kami adalah petunjuk Tuhan baik. Generasi muda harus bisa menghargai bahwa tanggung jawab kami ini besar sejarah,” pungkas Dr. Diah Werdhi yang juga pada Bali. Setelah saya pikir benar juga. adinda dari Senator DPD RI Shri I Gst Ngrh Saya sendiri yang menyambut Presiden Arya Wedakarna MWS III ini.
4
Edisi 900/ 9 - 15 mei 2016
Don Goenarto
Inspirasi
Triplek Bekas Jadi Tas Unik
Tas-tas cantik tertata rapi di stan mungil ukuran 1,5 x 1,5 meter. Penunggunya seorang lelaki dengan rambut sebagian sudah memutih. Penampilannya persis seperti seniman plus topi di kepala. Di salah satu sudut rak ada sebuah penghargaan sebagai salah satu kerajinan terbaik.
L
Don Goenarto
alu apa yang menarik? Ya, sudah pasti tastas hasil kerajinan yang tampil unik. Sepintas, tas berlabel Tridolbag ini seperti tas yang terbuat dari kayu. Ternyata bukan. Tas-tas tersebut terbuat dari limbah triplek alias triplek rusak. “Orang pasti tidak mengira kalau kreasi ini menggunakan bahan dasar triplek rusak atau triplek bekas. Itu sebabnya label produk ini ‘Tridol’ kepanjangan dari triplek brodol. Dalam bahasa Jawa, brodol itu artinya rusak,” ungkap Don Goenarto, pencipta tas Tridol.
Selain tas-tas unik itu, ada lagi ‘keunikan’ lain dari stan Don. Barang-barang yang dipajang di stan mungilnya itu, sebagian tidak untuk dijual alias hanya model. Don mengaku tastas cantik karyanya itu adalah koleksi istrinya. Hal ini terungkap setelah sejumlah pengunjung yang menghampiri stannya yang mungil---kebetulan, meski stan itu mungil namun letaknya sangat strategis--- tampak terkagum-kagum dengan produk itu dan mereka bertanya harga. “Wah ini bagus sekali, berapa harganya, pak?” ujar seorang Ibu.
Hal yang sama juga ditanyakan oleh sejumlah pengunjung lain sembari memegang-megang tas yang diinginkannya. Jawaban mengejutkan muncul dari Don, pemilik produk. “Ini tidak dijual,” katanya sembari tertawa. Ketika pengunjung bertanya tas lainnya, Don kembali menjawab, tas itu juga tidak dijual. Supaya pengunjung jelas, akhirnya lelaki asal Solo kelahiran tahun 1953 ini menjawab sebagian tas-tas ini tidak dijual, ini hanya contoh saja. “Ini tas-tas koleksi istri saya. Saya yang membuatnya. Nah tas-tas yang sebelah di sini (sambil menunjung sejumlah tas yang dipajang-red), ini dijual,” katanya sembari tersenyum. Sebagian pengunjung pun tampak kecewa karena tas-tas yang ditaksir mereka hanya pajangan bukan untuk dijual. “Tas koleksi istri saya ini usianya sudah lama, ada yang 10 tahun, 15 tahun, lagipula sudah tidak bagus lagi. Lihat saja, ini ada bagian cacatnya. Ini hanya untuk contoh saja, kalau mau pesan, bisa kok,” kata Don sembari membagi-bagikan kartu namanya.
Tas dari triplek bekas
Awalnya untuk Koleksi Terkait pembuatan tas yang kini ditekuninya, menurut Don awalnya dia hanya membuatkan itu untuk sang istri, Liliek Mintarti. “Setiap kali saya mendapat material triplek brodol yang bertekstur bagus, saya bikin tas untuk istri saya. Satu demi satu, tak terasa jumlah koleksi istri saya makin banyak. Modelnya pun macam-macam. Entah bagaimana tapi inspirasi model selalu saja muncul,” ujar Don yang mengaku dulu tak pernah terpikir untuk menjadikan hobinya membuat tas istri sebagai bisnis. Suatu ketika, tutur Don, ia mendapat proyek mendesain kapal pesiar. “Seusai proyek, sebagai uca-
pan terima kasih, saya membuatkan istri pemilik kapal sebuah tas dari bahan triplek brodol,” ucapnya. Istri pemilik kapal sangat surprise juga senang. “Saya juga senang karena karya saya diapresiasi dengan sangat bagus. Apalagi saya tahu, kan, dia orang kaya, tas-tasnya branded semua, tapi ternyata dia senang tas bikinan saya. Menurutnya, unik dan menarik,” katanya. Entah bagaimana, lanjut Don, beberapa waktu kemudian istri pemilik kapal pesiar itu menelepon dirinya dan bilang kalau teman-teman komunitasnya senang dengan tas Tridol. Mereka menganggap tas tersebut unik juga elegan. “Mas, teman-teman aku suka tas ini. Mereka ingin beli, bisa tidak,” kata Don bercerita tentang isi telepon ibu tersebut. “Jadi sejak itu, pesanan tas dari triplek bekas mulai mengalir. Dari sana pula akhirnya dia berpikir untuk menekuni dan mengem-
“Untuk membuatnya perlu waktu sekitar 2 minggu. Harganya Rp 1,5 juta, baik ukuran besar atau kecil, harganya sama,” ucap Don sembari menambahkan tas Tridol bisa bertahan sampai lebih dari 15 tahun. Setelah melayani membeli, Don pun melanjutkan perbincangan dengan Tokoh. Dia mengakui dirinya tidak terlalu pandai berdagang, apalagi menjadi marketing. “Selama ini hanya tahu memproduksi tas, tapi untuk menjual itu tugas istri. Saya benar-benar nggak ngerti hehhehe,” ucapnya sembari menambahkan, istrinya
bangkan bisnis pembuatan tas dari triplek,” tuturnya. “Ini bisnis istri saya, saya bantu di bidang produksi saja,” kata Don sambil menambahkan, kebetulan istrinya sudah pensiun dari pekerjaannya sehingga memiliki waktu untuk mengurus bisnis tas Tridol. Beruntung, katanya, ia mengenal Samuel Wattimena, desainer fashion terkenal. “Sami (panggilan akrab Samuel Wattimena) memberi arahan kepada saya tentang tas fashion, dia juga mengajak saya berpameran bersama. Jadi Sami mengerjakan baju-baju, saya menggarap aksesorisnya yakni tas,” ungkapnya. Don mengaku sangat senang akan kesempatan itu. Apalagi pameran pertamanya itu terbilang sukses. “Banyak yang tertarik dengan tas saya, kata mereka unik dan belum pernah ada tas dari triplek,” kata lelaki yang gemar bercanda itu. Tahun ini, katanya, dua kali ikut pameran, kedua-duanya menggondol penghargaan, yakni, pada Festival Smesco 2016 dan Inacraft. “Iya saya sering dapat penghargaan, alhamdulilah,” ucapnya. Ketika ditanya kenapa harga semua produknya seragam yaitu Rp
1,5 juta, Don mengatakan, harga itu sudah jauh lebih murah ketimbang dulu sebelum ia terjun ke bisnis. “Dulu, kalau orang tanya berapa harga tas bikinan saya, saya bilang Rp 2 juta atau 3 juta, dan mereka bayar saja tanpa tawar. Malah saya pernah menjual tas seperti ini seharga Rp 15 juta. Harga semahal itu karena bahan dasarnya, meski tripleks bekas namun memiliki tekstur istimewa. Teksturnya seperti buntut cendrawasih, indah sekali. Itu juga sebabnya orang mau membayar dengan harga seperti itu,” ungkap Don. Menentukan harga Tridolbag, katanya, berbeda dengan produk lainnya. Kalau produk lain menentukan berdasarkan bahan baku pembuatan, namun untuk Tridolbag, tidak. Komponen terbesarnya justru terletak pada pengerjaannya. “Materialnya kan hanya triplek bekas yang mudah didapat, jadi pengaruhnya hanya kecil sekali. Justru pengerjaannya yang berpengaruh besar. Itu sebabnya harga tas besar atau tas kecil sama saja. Malah kalau tas kecil kan lebih sulit dalam pengerjaan,” ungkapnya. Sampai sejauh ini, lanjut Don, ia belum memiliki toko khusus. Dia memproduksi hanya untuk pesanan, sehingga tidak banyak barang yang bisa dijadikan contoh. “Jadi kalau pameran, ya saya bawa tas tas koleksi istri untuk contoh,”
sedang keluar mengurus sesuatu karena itu ia menunggu stan mereka. Don bercerita, sebelum ia terjun dalam bisnis pembuatan tas Tridol, ia berprofesi sebagai desainer interior privat jet juga kapal pesiar. Kadang-kadang orang juga memakai jasanya untuk mendesain mobil antik agar terlihat unik dan mewah. Soal pekerjaan pertukangan, dalam hal ini kerajinan kayu, telah dia kuasai sejak puluhan tahun. Itu sudah dilakukannya sejak kecil karena di kampungnya dia kerap berinteraksi dengan kerajinan kayu. Bahkan keluarganya pun ada yang pengrajin meubel kayu. Karenanya untuk urusan kreasi kayu, mulai dari mendesain, pemotongan dan pengaplikasian dia tidak asing lagi. Selama itu, Don yang berlatar belakang pendidikan STM Kelistrikan, justru lebih mengembangkan kemampuannya dalam perkayuan untuk desain interior alat transportasi. Dia tidak terpikir untuk terjun ke dunia fashion. -Diana Runtu
katanya sambil tertawa. Berkat promosi dari mulut ke mulut, juga keikutsertaannya dalam beberapa pameran, produksi mulai meningkat. “Saya belum pernah ekspor ke luar negeri. Yang membeli produk saya banyak orang-orang bule, kebetulan mereka ada di Jakarta dan diantar ke tempat saya,” katanya. Menurut Don, ia ingin kemampuan mengkreasikan triplek bekas itu bukan hanya menjadi miliknya tapi juga bisa dimiliki masyarakat. Dengan begitu masyarakat pun bisa menarik keuntungan secara ekonomi dengan pembuatan tas ataupun produk lainnya. “Saya mau mengajarkannya. Saya ingin berbagi ilmu. Dengan begitu, kita bukan saja bisa mengurangi limbah tapi juga bisa menjadikan limbah bernilai ekonomi. Ini misi sosial saya,” kata Don. Dia sendiri mengaku tidak keberatan membagikan rahasia pembuatan tas triplek bekas. “Ini ada rahasianya lho, kenapa triplek bekas bisa jadi produk secantik ini. Ada caranya, nanti saya ajarkan,” kata Don sambil tertawa. Untuk mensosialisasikan ‘resep Tridolbag’ , Don saat ini sedang mencari seseorang ataupun perusahaan yang mau membiayai misi sosial itu yakni kursus kerajinan tripleks bekas. “Saya harap segera bisa mentransfer ilmu saya,” ujarnya. –Diana Runtu
Mandalika
Edisi 900/ 9 - 15 mei 2016
21
BUMDes Atasi Kesulitan Warga
Kisah buram terbelit rentenir sepertinya sudah tidak banyak lagi dijumpai di Desa Anyar. Keributan dan pertengkaran baik dalam rumah tangga maupun antar warga (khususnya antara rentenir dengan penghutang) sudah sangat jarang terdengar. Sebelumnya warga Desa Anyar mengenal nama ‘Bank’ Rontok, yang begitu ketemu nasabah langsung memberikan pinjaman dan harus mulai dibayar keesokan harinya dan harus mengangsur tiap hari dengan bunga mencapai 20% dan jangka waktu pelunasan hanya satu bulan.
A
da juga pinjaman yang diberikan secara pribadi yang operasionalnya lebih kurang sama. Demikian juga dengan tawaran sistem ijon yang sempat menjebak petani dalam kesulitan. Pinjaman-pinjaman yang diberikan seperti inilah yang kerap menimbulkan kesulitan bagi warga. Membayar cicilan tiap hari meskipun relatif dinilai kecil namun berbunga besar ini, tentu saja tidak mungkin dilakukan para petani misalnya. Sulitnya hidup dalam belitan rentenir termasuk yang kerap dialami para TKI asal desa ini, juga lambat laun memudar.
Kesulitan-kesulitan seperti ini kini telah teratasi dengan hadirnya BUMDes LKM Desa Anyar Kecamatan Bayan Kabupaten Lombok Utara. Badan Usaha Milik Desa Lembaga Keuangan Mikro yang berdiri tahun 2009 mampu menjawab hal tersebut. BUMDes ini bergerak pada usaha pembiayaan/penyediaan modal usaha bagi masyarakatnya dengan tujuan meningkatkan pendapatan dan taraf hidup masyarakat desa ini serta dapat menjadi sumber pemasukan asli desa. Cikal bakal BUMDes LKM Anyar adalah UPKD (Unit Pengelola Keuangan Desa) yang didirikan tahun 2000
Para petugas lapangan BUMDes LKM Anyar
dan beroperasi hingga tahun 2008 sampai akhirnya menjadi BUMDes di tahun 2009. Dalam kurun waktu enam tahun terakhir, BUMDes ini berkembang demikian pesat. Bahkan kini memiliki aset keseluruhan baik dari modal maupun simpanan warga telah mencapai Rp 5,5 Milyar. Nilai yang terbilang besar untuk sebuah desa kecil yang berada di kaki Gunung Rinjani. Pengelolaan
BUMDes LKM Anyar ini maju pesat sejak pertama kali didirikan-masih bernama UPKD di tahun 2000-2008, dengan dana awal Rp 315 juta yang diberikan dalam program pemerintah (bantuan bank dunia). Meski sempat terjadi masalah dalam pengelolaannya yang membuat LKM ini berada dalam situasi mati segan hidup tak mungkin, namun perangkat desa ini kemudian bangkit untuk
membuktikan bahwa dengan kepengurusan baru LKM ini akan dapat berdiri tegak kembali. Dan atas kerja keras seluruh perangkat desa, UPKD dan elemen lainnya, UPKD Anyar kala itu meraih Juara I se-NTB tahun 2005 sebagai UPKD terbaik karena memiliki nasabah terbanyak sekaligus penambahan modal terbanyak dengan perkembangan yang sangat baik. –Naniek I. Taufan
Bayar Saat Panen “Bermula dari niat kami semua, aparat desa dan masyarakat Anyar untuk saling membantu dan melayani masyarakat, LKM ini berjalan dengan baik,” ungkap Ritanom, Kepala Desa Anyar. Demi menghindari para rentenir, petani dan usaha-usaha kecil serta para TKI yang membutuhkan dana, diberikan dengan bunga yang murah dan keleluasaan waktu pelunasan. BUMDes LKM Anyar memberikan pinjaman kepada petani yang memiliki lahan irigasi, intesifikasi padi, palawija, lahan kering seperti tanaman jambu mente dan tanaman keras lainnya. Juga untuk mendukung usaha tani (pupuk dan insektisida) serta tataniaga tani. Selain itu pinjaman juga diberikan untuk usaha ekonomi produktif seperti, kerajinan dan industri
rumah tangga, pedagang desa (warung/kios), jasa pengojek, sopir, penjahit, bengkel dan lainnya serta bidang perikanan. Petani yang menjadi target utama pemberian pinjaman di awal berdirinya LKM ini, diberi kemudahan dan kemurahan serta kelonggaran waktu yang masuk akal dengan sistem membayar musiman. “Biasanya para petani meminjam uang untuk kebutuhan menanam dan kami beri waktu membayar saat panen tiba dengan jangka waktu sekitar lima bulan. Bunga yang diterapkan hanya 2% yang dipotong didepan saat realisasi. Sehingga pada saat panen nasabah hanya membayar pokok pinjamannya saja,” ungkap R. Ratmanik, Sekretaris BUMDes LKM Anyar. Tidak itu saja,
Nasabah BUMDes LKM Anyar paling banyak adalah petani dan pedagang usaha kecil
keringanan dan kelonggaran waktu juga didapat oleh petani ketika menghadapi kegagalan panen. Saat panen gagal maka ia mendapat kesempatan melunasi pinjamannya pada panen berikutnya dengan hanya membayar bunga saja. Begitu pula dengan nasabah para calon Tenaga Kerja Indonesia asal Lombok Utara. Mereka yang tidak lagi meminjam uang dari rentenir relatif tidak mengalami masalah saat pembayaran hutangnya. BUMDes LKM Anyar, bahkan memberi edukasi bagi TKI dan keluarganya tentang tanggung jawab baik dalam hal mengembalikan pinjaman maupun penggunaan hasil kerja TKI. “Sebelum kami memberikan pinjaman, calon TKI dan keluarganya kami panggil untuk berunding tentang bagaimana cara pembayaran pinjaman agar semua keluarga tahu bahwa ada tanggung jawab yang harus dibayar oleh keluarga mereka yang berangkat menjadi TKI tersebut,” kata Ratmanik. Komunikasi-komunikasi yang dibangun seperti inilah yang membuat jarang terjadinya kredit macet di LKM ini. Begitu juga dengan para tukang ojek yang membutuhkan sepeda motor diberikan pinjaman untuk membeli sepeda motor secara tunai dan mereka diberikan waktu untuk melunasi sedikit demi sedikit pada BUMDes LKM ini. Tentu saja cicilan dan bunganya lebih murah dibandingkan jika menempuh kredit motor biasa.
Aktivitas BUMDes LKM Anyar
Sistem pengelolaan yang berjalan dengan baik membuat BUMDes ini berkembang dengan sangat pesat dan mampu menyumbang PADes (pendapan asli desa) hingga Rp 90 juta/pertahun. “Tahun 2014, BUMDes LKM Anyar telah menyumbang PADes sebesar Rp 90 juta dan di tahun 2015 ini diperkirakan akan menyumbang sekitar Rp 100 juta,” kata Ritanom. Sumbangan PADes yang lumayan besar untuk desa seluas 1.276 hektar ini. Sebagai lembaga sosial dan ekonomi, BUMDes LKM Anyar ini tidak hanya berorientasi pada keuntungan semata melainkan juga berkontribusi untuk kegiatan sosial dalam masyarakat di Desa Anyar. BUMDes ini telah memberikan dividen (laba) kepada desa, memberikan bonus untuk pembangunan dusun terbaik, kegiatan perayaan hari-hari besar nasional, kepemudaan, pembangunan tempat ibadah, perbaikan sarana iriga-
si dan lainnya. Pesatnya perkembangan BUMDes ini tidak lepas dari meningkatkan kepercayaan masyarakat yang tidak hanya datang dari Desa Anyar melainkan juga dari beberapa desa sekitar Desa Anyar seperti Desa Sukadana, Desa Loloan, Desa Karang Bajo, Desa Senaru juga Desa Bayan bahkan hingga desa di Kabupaten Lombok Timur yakni Desa Obel-obel. Kini BUMDes LKM Anyar memiliki nasabah penabung sebanyak 1.100 dan nasabah peminjam 1.200. Dari 2.300 nasabah ini, 60%-nya berasal dari Desa Anyar. “Dari 2.581 KK yang ada Desa Anyar, hampir setengahnya terlayani menjadi nasabah BUMDes LKM Anyar,” ujar Ritanom. Suksesnya perjalanan pengelolaan BUMDes ini juga tidak lepas dari para petugas lapangn yang militan. “Militansi petugas lapangan turut menjadi penyumbang terbaik bagi berkembangnya BUMDes ini,” tutup Ratmanik. –Naniek I. Taufan
22
Sosialita
Edisi 900/ 9 - 15 MEI 2016
Edisi 900/ 9 - 15 MEI 2016
3
Kota Tua Jakarta Menanti Pengakuan UNESCO Long weekend kali ini benar-benar luar biasa. Situasi lalu lintas menuju luar kota Jakarta hampir mirip seperti musim mudik lebaran, macet di mana-mana. Di jalan tol Cikampek, kecepatan kendaraan hanya bisa 20 km/jam. Rest area benar-benar padat. Untung bagi warga Jakarta yang tidak liburan ke luar kota, setidaknya selama empat hari dari Kamis (5/5) hingga Minggu (8/5) dapat menikmati Jakarta tanpa kemacetan.
L
ain lagi yang dirasakan Mema, warga Yogyakarta yang tadinya berniat berlibur ke Bandung. Mema datang ke Jakarta Rabu (4/5) maksudnya akan bersama saudara-saudaranya menghabiskan liburan empat hari di Kota Kembang. Tapi apa daya, niat warga Kota Gudeg ini harus diurungkan. Kendaraan keluarganya langsung terjebak macet begitu lepas dari Tol Cawang menuju Tol Cikampek. Berjam-jam terjebak macet rupanya membuat putus asa sebagian rombongan, dan mereka pun memutuskan kembali ke Jakarta. “Aku ndak sangka macetnya kayak gini. Jadi kami putuskan balik ke Jakarta. Aku sebenarnya datang ke Jakarta mau langsung ke Bandung, tapi bagaimana lagi, ndak bisa jalan,” kata Mema. Untuk menghibur hati, akhirnya rombongan yang tadinya ingin ke Bandung malah menuju kawasan Kota Tua dan sejumlah objek wisata yang ada di Jakarta. “Ya lumayan dari pada ndak jalan-jalan. Ternyata Kota Tua juga ra-
mai, ada banyak hiburan,” ucap wanita cantik ini yang sempat menyewa sepeda ontel untuk berkeliling Kota Tua ini. Sebagian orang yang beberapa kali pernah mengunjungi Kota Tua umumnya mengakui kalau penampilan kawasan itu kian hari kian menarik. Banyak gedung-gedung tua yang usianya telah ratusan tahun, yang dulunya dibiarkan terlantar, telah direnovasi sehingga tampil anggun. Tak terkecuali ikon Kota Tua yakni Museum Fatahillah yang selalu menjadi objek favorit wisatawan. Keseriusan Pemda DKI Jakarta untuk mempercantik kawasan yang menjadi cikal-bakal Jakarta, memang tidak main-main. Setidaknya sudah beberapa tahun terakhir ini revitalisasi secara serius dilakukan. Upaya ini bukan saja demi pelestarian kawasan bersejarah Jakarta, tapi juga untuk pengembangan objek wisata Jakarta. Apalagi saat ini Indonesia tengah berjuang agar Kota Tua bisa masuk sebagai salah satu warisan budaya dunia versi UNESCO. Sejak Februari 2016 lalu, Kota
Gencarkan Sosialisasi Pihak Kementerian Pariwisata dan berbagai pihak yang terlibat dalam revitalisasi Kota Tua Jakarta, terus melakukan sosialisasi Kota Tua Jakarta menuju World Heritage UNESCO 2017, di antaranya lewat berbagai diskusi-diskusi. Perlunya sosialisasi karena merevitalitasi Kota Tua Jakarta memerlukan keterlibatan banyak pihak, bukan hanya dari pihak pemerintah saja namun juga swasta. Hal ini terkait antara lain, banyaknya gedung-gedung tua yang direstorasi yang tentunya dibutuhkan biaya yang tidak sedikit. Di sisi lain, gedung-gedung itu ternyata hanya sebagian dimiliki pemerintah, justru lebih banyak yang dimiliki pihak swasta. Menteri Pariwisata, Arief Yahya, dalam diskusi Tourism Development Plan dan peluncuran Gedung OLVEH (peninggalan arsitek CP Wolff Schoemaker) dalam rangka sosialisasi di gedung OLVEH, Pinangsia, Jakarta, mengatakan, pihaknya optimis Kota Tua akan masuk dalam World Heritage UNESCO. Untuk mencapai itu, pemerintah akan membantu lewat berbagai hal yang memungkinkan. “Saya kira kalau pemerintah turun tangan revitalisasi Kota Tua akan bisa diselesaikan. Kami berkeinginan agar Kota Tua Jakarta bisa masuk situs UNESCO,” ujar Arief Yahya dihada-
pan para peserta diskusi di antaranya pihak perwakilan UNESCO. Ia mengimbau agar semua pihak ikut membantu agar apa yang diharapkan bersama dapat terwujud. Salah satu yang disinggungnya adalah tentang bangunan-bangunan yang semakin rentan kerusakan karena faktor alam. Ini akan menjadi bahan penilaian ICOMOS (International Council on Monuments and Sites), sebuah badan pengawas yang ditunjuk untuk membantu World Heritage Committee dalam nominasi situs kebudayaan sebelum dinobatkan sebagai situs warisan dunia. “Perencanaan konservasi yang matang dan pengembangan atas wilayah Kota Tua beserta bangunan yang semakin rentan kerusakan oleh faktor alam, dan pembangunan menjadi sorotan penilaian ICOMOS,” katanya. Acara diskusi ini diselenggarakan Jakarta Old Town Revitalization Corp (JOTRC) bekerjasama dengan Jakarta Endowment for Art and Heritage (Jeforah) dan Independent Research and Advisory Indonesia (IRAI) dan Sarasvati Art Communication and Publication. Dalam diskusi yang dihadiri perwakilan berbagai lembaga diungkapkan bahwa kawasan Kota Tua Jakarta memiliki karakter dan potensi yang kuat untuk bisa masuk sebagai Wolrd Heritage, apalagi adanya dukungan pemerintah yang kuat yang ikut membantu menangani revitalisasi kawasan ini. Namun, tetap saja, upaya-upaya dari pihak swasta sangat dibutuhkan, sehingga tercipta sinergi untuk bersama-sama memikirkan bagaimana menjadikan kota tua sebagai andalan wisata Indonesia untuk bisa bersaing di ranah internasional. Disebutkan, Kota Tua Jakarta merupakan contoh unik rencana kota kolonial Belanda oleh VOC–yang pada masa itu abad ke-17 dan 18 menguasai perdagangan dunia---yang terinspirasi konsep kota ideal Simon Stevin. VOC memberi nama Batavia untuk menghormati leluhur bangsa Belanda yaitu ’Batavieren’. –Diana Runtu
Ye n n i A g u n g
Lakukan dengan Cinta Tua Jakarta yang telah cukup lama mempersiapkan diri masuk dalam ‘World Haritage UNESCO’, dinyatakan masuk dalam daftar nominee setelah sebelumnya lama ‘ngedon’ dalam list tentative World Heritage. Selain Kota Tua Jakarta, sebenarnya ada beberapa situs Indonesia lain yang juga masuk dalam list tentative World Haritage, di antaranya; Raja Ampat, Sawahlunto, Taman Nasional Wakatobi, Sangkuriang, Tana Toraja , dll. Namun akhirnya Kota Tua Jakarta lah yang masuk nominasi mewakili Indonesia. Alasan terpilihnya Kota Tua Jakarta dibanding situs lain yang diusulkan, bukan karena keindahannya namun lebih karena Kota Tua Jakarta dinilai paling siap secara dokumen serta rencana pengembangan kawasan. Jika nantinya Kota Tua Jakarta berhasil masuk maka berarti Indonesia memiliki sembilan situs yang dilindungi UNESCO sebagai warisan dunia. Saat ini yang telah terdaftar di World Haritage UNESCO adalah; Candi Borobudur, Candi Prambanan, situs arkeologi Sangiran, Sistem Irigasi Subak, Pulau
Komodo, Taman Nasional Ujung Kulon, Larentz National Park dan Hutan Tropis Sumatera. Kabarnya, pengumuman World Haritage UNESCO akan dilakukan pada Juni 2017 mendatang. Paparan tentang Kota Tua Jakarta bisa dilihat di whc. unesco.org. Setidaknya untuk tahun
2017, terdapat 37 nominasi World Heritage. Dalam website UNESCO tersebut juga disebutkan bahwa negara yang bisa mendaftarkan situsnya hanyalah yang telah menandatangi Konvensi Warisan Dunia dan berjanji untuk melindungi warisan alam dan budaya mereka. –Diana Runtu
Jembatan Kota Intan di Kota Tua Jakarta
“Mutiara dari Timur” Berdasarkan catatan sejarah, Kota Tua dulunya hanyalah sebuah wilayah kecil di tepi Timur Sungai Ciliwung. Para abad ke-16 para pelayar dan pedagang Eropa menjuluki tempat ini sebagai ‘Mutiara dari Timur’ , ‘Ratu dari Timur’ . Konon, ketika penjelajah legendaris asal Inggris, James Cook menyambangi kota ini tahun 1770, ia menjulukinya sebagai ‘The Pearl of Orient’ atau ‘Mutiara dari Timur’. Julukan itu muncul karena Cook sangat terpesona oleh keindahan bangunan dan struktur tata ruang kota yang dianggapnya mirip kota Amsterdam di
negeri Belanda. Rencananya kolonial Belanda dalam hal ini VOC tengah mempersiapkan kota ini (Kota Tua) menjadi mirip ibu kota negeri kincir angin tersebut sehingga dilabeli sebagai ‘Koningen van Oosten’ atau ‘Ratu dari Timur’. Pada masa itu, sebagai pusat jaringan perdagangan internasional dalam Asia dan antarpulau, Kota Tua Jakarta mengembangkan tradisi silang budaya dan perbauran beragam masyarakat lokal dari berbagai pulau dengan etnis besar di dunia seperti; Barat, Cina, India dan Timur Tengah yang dikemu-
dian hari dapat dilihat dalam sisa-sisa peninggalannya dalam bentuk beragam bangunan dan tradisinya, mulai dari makanan, tarian, perayaan-perayaan, gereja, masjid, klenteng, dll. Menurut Lin Che Wei, CEO PT JOTRC, kondisi fisik bukanlah menjadi kriteria paling penting dalam penilaianWorld Heritage, namun bagaimana rencana pemerintah untuk melestarikan situs bersejarah itu. JOTRC dan Jeforah, katanya, merupakan kelompok-kelompok yang ikut terlibat dalam upaya melestarikan kota tua dan merevitalisasi menjadi tujuan pariwisata budaya berkelanjutan. “Kami memiliki rencana yang jelas tentang ini,” kata Che Wei. “Jika kita berhasil maka jumlah turis yang akan datang lebih banyak dari yang ada sekarang,” ucapnya. Saat ini tambahnya, proses revitalisasi masih terus berlanjut. Ada 12 situs yang masuk dalam agenda konservasi JOTRC, tiga di antaranya sudah rampung yakni Kantor Pos, Pantjoran Tea House (dahulu adalah Apotheek Chunghwa) dan OLVEH. Gedung lain yang sedang dalam pengerjaan antara lain Van Vleuten&Cox (eks Pasar Jeans), Kerta Niaga, Cipta Niaga dan Roa Malaka.—Diana Runtu
Setelah tertunda beberapakali, akhirnya tokoh berhasil juga “mencuri” waktu, di tengah-tengah kesibukan syuting perempuan yang satu ini. Dia adalah Yenni Agung, artis FTV asal Bali yang kini sudah merambah ke dunia layar lebar. Selasa (3/5) siang itu, dengan balutan busana kasual serba putih, Yenni Agung tampak fresh. “Maaf ya Dik, baru bisa ketemu nih,” ucapnya kepada tokoh. Rupanya, pemilik nama lengkap Anak Agung Yenni Arini Dewi, S.T. ini baru saja menyelesaikan syuting film layar lebar berjudul “Cinta 100% (Tamparan Cinta)” di Jakarta, produksi Multivision Plus, beradu akting dengan Kevin Julio, Jessica Mila, dan Fendy Chow, yang akan segera tayang di bioskop dalam waktu dekat ini.
D
i tengah keasyikan kami mengobrol, suara telepon seluler tak hentihentinya berdering untuk mengingatkan jadwal meeting setelah pertemuan, mengecek kemajuan proyek, atau sekadar dimintai solusi untuk mengatasi masalah di lapangan . Tak berselang beberapa lama, HP yang tak pernah jauh dari genggamannya itu kembali berdering. “Oke, nanti sore saya ngecek ke proyek,” sahutnya. Demikianlah Yenni Agung menjalani hari-harinya dengan seabrek aktivitas. “Saya menjalankan semuanya itu dengan cinta dan totalitas. Dengan kecanggihan teknologi sekarang, jarak Jakarta-Bali terasa dekat,” ucapnya tentang membagi waktunya untuk syuting dan pekerjaannya sebagai kontraktor. Memang, basic Yenni Agung adalah seorang kontraktor yang notabene
Rindukan Peran Gila FTV mulai booming di Indonesia sekitar tahun 2007-2008. Oleh beberapa Production House (PH), Bali menjadi salah satu tempat favorit yang dijadikan lokasi syuting. Melihat fenomena ini, Yenni Agung kembali bernostalgia dengan masa lalunya. Ia pun mengikuti beberapa casting FTV di Bali dan berhasil lolos. Dalam film pertama berjudul “Bunga Cinta Bunga”, ia bermain bersama aktor ganteng Mike Lewis, berperan sebagai ibu-ibu. Berlanjut ke film FTV kedua, ketiga, hingga hampir ratusan film FTV pernah dibintanginya. Selain peran ibu-ibu anggun yang sederhana dan bijak, ia juga pernah disodori peran ibu-ibu cerewet, orang penyakitan, nenek-nenek, manusia siluman, hingga sebagai penyanyi dangdut-- menjadi peran antagonis dan beradu akting dengan Cita Citata dalam film “Sakitnya tuh Disini”. Salah satu film yang paling menantang dikisahkannya ketika ia harus berperan sebagai master bela diri. “Sementara saya tidak punya basic ilmu bela diri. Syutingnya waktu itu di Pantai Semawang, siang-siang lari-larian di pasir, panas sekali,” kisahnya mengingat pengalamannya waktu itu. Dalam berakting, Yenni Agung tak pernah memilih peran. Peran apapun yang disodorkan, sedikit ataupun
Yenni Agung bersama sutradara George Hutabarat (kanan) sebelum syuting
banyak scene, selalu ia mainkan dengan profesional dan total. “Saya sangat percaya diri memainkan peran-peran yang diberikan kepada saya. Saya selalu berprinsip, harus melakukan yang terbaik dan total. Terserah respons publik menilainya seperti apa. Yang jelas saya sudah melakukan yang terbaik dan sudah pada jalurnya,” ujarnya. Hal ini dibenarkan seorang sutradara FTV Bobby Herlambang. “Sosok Yenni Agung ini sangat baik dan sangat serius memainkan beberapa tokoh yang diperankan dalam beberapa FTV yang saya sutradarai. Keseriusan dan totalitasnya itu yang saya hargai dan memacu saya untuk mengubah setiap karakter yang harus dia perankan,” ujarnya saat dihubungi via telepon. Ia menyontohkan, Yenni Agung sering diberikan peran sosok ibu yang sederhana. Suatu waktu, ia mencoba memutar dan mengolah peran Yenni Agung menjadi sosok ibu orang Sunda, dalam film berjudul “Putri Bebek Primadona Kampung” dan “Gado-gado”. “Umumnya dialek orang Bali kental sekali, saya tantang dia memerankan sosok ibu dengan dialek Sunda. Dia berani memerankannya dan mau belajar. Dari vokal, intonasi, dialog, semuanya dapat sekali,” ucap Bobby. Di matanya, sosok Yenni Agung adalah artis profesional. “Semua peran ia mainkan dengan total, dia tidak
Yenni Agung bersama sutradara Bobby Herlambang dan artis lainnya
melihat apakah dia hanya bermain sebagai ibu, atau hanya beberapa scene. Ia hanya melihat semua tokoh memiliki arti. Ini memang betul. Saya akui, sebagai pemain profesional, pemain yang benar-benar menjaga karakter, selalu memang seperti itu, tidak pernah melihat kapasitas scene atau tokoh. Dia sangat menghargai bahwa setiap tokoh/karakter mempunyai peran dalam setiap film/FTV/sinetron,” papar perempuan yang hobi travelling ini. Untuk peran orang Sunda tersebut, Yenni Agung mengaku banyak belajar dari berbaur dengan masyarakat. “Sebelum syuting, saya sengaja belanja ke warung sekadar membeli teh, sambil mencuri dengar obrolan mereka. Di warung-warung begini, saya dapat kehidupan yang riil. Demikian halnya ketika harus berperan dengan dialek Batak maupun Betawi,” kisahnya. Bahkan, Ben Jeffrey, pemeran anaknya dalam film “Putri Bebek Primadona Kampung” yang dihubungi via telepon, mengaku banyak belajar dari Yenni Agung. “Kemampuan akting Mbak Yenni Agung bagus. Saya banyak belajar dari dia, termasuk dialek bahasa Sunda, karena sebelumnya dia pernah berperan sebagai orang Sunda dan bagus,” ujar Ben, bintang iklan Pop mie cewek dari Hongkong dan Tea Juice yang baru pertamakali main FTV ini. Di mata Ben, Yenni Agung adalah sosok yang baik hati, penyayang, tidak sombong, mau sharing, dan sudah dianggap seperti ibunya sendiri. Sementara George Hutabarat yang menyutradarai film layar lebar terbaru Yenni Agung “Cinta 100% (Tamparan Cinta)” yang juga kami hubungi via telepon, mengatakan hal yang senada. “Kemampuan aktingnya bagus. Seperti peran ibu-ibu cerewet yang dilakoni Yenni Agung dalam film ini, karakternya dapat. Saya melihat dia banyak main di FTV dengan peran basa-biasa, makanya saya mengajak dia untuk peran yang lebih menantang, sebagai sosok ibu yang sesungguhnya baik hati namun cerewet yang nyeroscos tanpa henti untuk mendidik anaknya,” ujar George yang juga salah satu tim sutradara film “Ada Apa dengan Cinta 1”.
pekerjaannya berpanas-panasan mengawasi proyek di lapangan, dan harus tegas menangani para pekerjanya. Sangat berbeda 180 derajat dengan sebagian besar perannya di film-film
FTV, sebagai sosok ibu yang anggun. Namun, berakting juga bukan hal baru baginya. Sejak duduk di bangku SMP ia sudah bergabung di kelompok teater sekolah. Yenni Agung remaja juga pernah memainkan tokoh Ibu Kartini. Dari sana ia semakin keranjingan dalam hal seni peran. “ Teater itu seperti jiwa,” ucapnya. Ia juga rajin mengikuti lomba baca puisi, cipta puisi, dan baca cerpen. Itu berlanjut hingga SMA dan perguruan tinggi. Saat SMA, Yenni Agung sudah bermain di film penyuluhan KB untuk iklan layanan masyarakat. Pun saat kuliah, Yenni Agung yang pernah menjabat Ketua Senat Fakultas Teknik Warmadewa ini juga ikut bermain dalam beberapa drama TVRI. –ten
empatan, tanpa ada usaha menggali dan mengembangkan potensi diri. Karena itu, dalam waktu dekat ini, Yenni Agung ingin berbagi kasih berbagi ilmu berbagi cinta, bersama Parfi Bali mencanangkan lomba akting dan peran untuk menggali potensi anak muda Bali. Ketika ditanya siapa tokoh idola yang mungkin belum kesampaian main bareng? Yenni Agung berpikir seYenni Agung bersama Ben Jeffrey dalam film jenak. Sembari ber“Putri Bebek Primadona Kampung” gumam ia menyebut Kerja keras menempa kemampuan beberapa artis idola remaja seperti aktingnya selama ini berbuah manis. Wa- Rizky Nazar, Fero Tiger, Eza Gionino, jahnya yang kerap menghiasi layar kaca dan Derbi Romero, sudah pernah membuatnya banyak memiliki pengge- menjadi anaknya dalam film. Bahmar, dari usia anak-anak hingga ibu-ibu, kan, pernah juga satu film dengan yang melihat sosok Yenni Agung sebagai Miss Celebrity, Yuriko. “Saat remaja ibu panutan yang sederhana, anggun dan saya mengidolakan Tarzan Srimulat. baik hati. Bahkan saking ngefansnya, ada Lucunya dia tidak dibuat-buat. Tak beberapa dari mereka memakai foto hanya pintar melawak, improvisasinya Yenni Agung sebagai DP. Begitu juga saat juga bagus, saya banyak belajar dari syuting di daerah Garut, pagi-pagi sekali, dia,” ungkap Yenni Agung yang tak ia sudah dibawakan sekantung plastik menyangka ia bahkan bisa satu frame besar dodol garut dan dicium oleh salah dengan idolanya tersebut. Dalam film itu Yenni Agung berperan sebagai istri seorang penggemarnya. Banyak dari mereka tak percaya Tarzan dan anaknya diperankan oleh dengan penampilan asli Yenni Agung Indra Birowo. Jika disuruh memilih, peran atau yang rada tomboi, berbeda dengan karakternya di film. Pernah pula, ia hampir karakter apa yang ingin dimainkan ketinggalan pesawat demi meladeni para Yenni Agung berikutnya? Dengan serta penggemar yang meminta foto bareng. merta ia menjawab “orang gila”. Peran Yenni Agung menyadari, karena mereka- ini dinilainya cukup menantang. Dulu lah ia bisa seperti sekarang. Pengakuan saat masih SMA ia pernah memerankterhadap profesionalismenya di dunia an karakter orang gila dalam sebuah seni peran, cukup membuat hatinya pementasan teater. “Waktu itu saya bahagia. “Apa pun yang dilakukan dengan hampir ditimpukin penonton karena cinta, dan digerakkan dengan hati, pasti dipikir orang gila beneran, karena saya lebih bisa maksimal,” ucapnya diplomatis. keluarnya juga dari arah penonton dan megang-megangin penonton,” ujarnya HIDUPKAN PARFI BALI terbahak. Sebagai salah seorang pengurus Belum lama di Bali, Jumat (6/5) Parfi Bali, Yenni Agung berkeinginan Yenni Agung kembali terbang ke Jamelanjutkan generasi perfilman di karta untuk syuting FTV terbaru “Si Bali. Ia melihat potensinya ada namun Cantik Pengembala Cintaku”. Namun, banyak orang yang tak berani mengam- Senin (8/5) pagi ia harus ke Bali untuk bil tantangan. Yenni Agung melihat talkshow di TVRI Denpasar, dan semereka cukup puas hanya dengan sudahnya segera balik lagi ke Jakarta menjadi extras. Apa karena mereka untuk melanjutkan syuting film FTV tak percaya diri atau tidak ada kes- dengan judul baru. –ten
2
Ekspresso
Edisi 900/ 9 - 15 mei 2016
GORO-GORO “ Te rus-terang saya takut. Bahkan ketakutan. Waktu muda dulu saya Putu Wijaya juga bukan orang yang berani. Tapi kalau hak saya dilanggar, atau saya diremehkan atau dihina, saya akan marah. Kemarahan itu bisa membuat lupa pada takut. Seperti waktu saya jalan sama istri saya malam-malam ketemu orang mabok yang ...” “Tapi terus surat ancaman di bawah pintu bagaimana, pak Amat. Jangan ngelantur dulu. Cerita penodongan itu kan sudah sering diceritakan!” Amat tersipu. Lalu kembali
ke surat di bawah pintu itu. “Ya, saya takut. Bahkan tangan saya gemetar. Tapi kalau yang lain ikut takut, kalau seluruh rumah nanti ketakutan, teror itu akan berhasil menghancurkan kami dari dalam diri kami sendiri. Teror itu kan begitu kerjanya. Ya, kan? Jadi, “ “Jadi?” “Jadi, waktu semua muncul dari belakang menanyakan, siapa itu yang datang tadi, saya berbohong. Itu polisi yang menyamar seperti teroris untuk kamuflase menjaga rumah kita, kata saya.” “Surat itu?” “Surat itu, tadi di mana ya?” “Bapak pegang kan?” “O tidak. Begitu mereka
wawancara (narkoba 3) masuk, lepas dari tangan saya karena gugup. Mau saya ambil, mereka sudah menghampiri saya. Mau saya injak dengan kaki, tapi kaki menantu saya sudah lebih dulu menginjaknya.” “Terus dibaca?” “O, tidak. Karena diinjak Sugi secara tak sengaja.” “Terus?” “Terus, supaya perhatian mereka tetap ke saya, maksudnya jangan nengok ke lantai, saya ceritakan percakapan saya dengan orang itu. Saya tambahtambahin sedikit supaya mata mereka terus ke saya, jangan sampai melihat ke bawah.” “Bapak lebih-lebihkan ceritanya, bagaimana?” “Ya, dibuat tegang. Polisi itu
berpesan, rumah harus normal seperti biasa, jangan terlalu gelap, atau terlalu terang. Televisi dihidupkan. Boleh bicara. Ketawa juga bagus, asal wajar, supaya teroris itu tidak curiga dan terpancing masuk. Lalu,” “Mereka percaya?” “ O, ya. Semua yang saya bilang dipenuhi. Lampu dikurangi, tv dihidupkan. Ami ketawaketawa.” “Bapak?” “Saya diam saja menunggu Sugi beranjak. Tapi dia diam saja. Saya jadi bingung.” “Lalu?” “Untung cucu saya menangis. Tapi menantu saya masih belum beranjak juga. Baru setelah Ami berteriak dari kamar minta suaminya bikin susu, menantu saya beranjak. Begitu dia angkat kaki pergi ke kamar, saya jongkok mau mengambil surat ancaman itu. Eh?” “Eh apa?”
“Sudah tidak ada di situ!” “Diambil Pak Sugi?” Amat bingung. Bu Amat muncul membawa kopi. “Pak tolong sebentar ada tikus di kamar!” Amat cepat berdiri. “Maaf Pak Made. Silakan minum dulu kopinya, saya ngurus tikusnya!” Ta n p a m e n u n g g u j a w a ban, Amat langsung ke gudang mengambil pentungan, lalu mengendap-bgendap masuk kamar sambil mengangkat pentungan siap mengganyang tikus. Tapi di kamar tak ada tandatanda ada tikus. “Mana tikusnya?” gerutu Amat. “Tidak ada. Saya sengaja tarik Bapak masuk, sebab kelihatannya Bapak semangat sekali. Tidak tahu ya, Pak Made itu kan, kata istrinya, nanti malam mau diwawancarai wartawan tentang narkoba? Tapi dia tidak punya bahan!”
Mengenalkan Konsep “From Seed Until to Eat” pada Anak lewat Kegiatan Berkebun
Maraknya makanan cepat saji saat ini memberikan dampak yang signifikan bagi masyarakat. Makanan cepat saji memang sangat nikmat selain rasanya yang enak juga cara penyajiannya pun sangat cepat. Tentu ini sangat cocok bagi orang yang sangat sibuk dan tidak ada waktu lama untuk makan. Perlu diketahui makanan cepat saji tersebut sangatlah berbahaya jika dikonsumsi terlalu sering, karena mengandung kadar garam, gula, lemak, dan kalori yang sangat tinggi. Alih-alih alasan mudah didapat, harga murah, serta penyajiannya yang instan. Dibalik kelebihan yang didapat dari makanan cepat saji ternyata banyak kerugian yang disebabkan karena terlalu sering mengkonsumsi makanan cepat saji. Penggemar makanan cepat saji sekarang ini semakin meluas dikalangan masyarakat khususnya di negara Indonesia. Salah satu alasannya seperti sudah dijelaskan di atas yaitu karena rasanya yang enak dan lebih praktis. Sebelum mencobanya, hal yang harus dipertimbangkan adalah kondisi kesehatan kita. Makanan cepat saji sangatlah merugikan bagi kesehatan, yaitu diantaranya menyebabkan obesitas atau kegemukan karena kandungan gula dan garam dalam makanan cepat saji sangatlah banyak. Kandungan minyak dan bahan pengawet dalam makanan cepat saji juga membuat tubuh sulit untuk mengurai lemak. Mengonsumsi makanan cepat saji terlalu sering juga dapat menyebabkan kerusakan hati serta malnutrisi, hal ini dikarenakan makanan cepat saji yang banyak mengandung sodium dan lemak jahat yang membuat organ hati bekerja lebih ekstra untuk membersihkan zat yang beracun bagi tubuh. Jika kondisi tersebut
bacaan wanita dan keluarga
Penerbit PT Tarukan Media Dharma Terbit sejak 9 November 1998
sering terjadi maka kesehatan hati pun akan terganggu sehingga dapat menyebabkan kerusakan hati. Seperti yang kita ketahui bahwa tubuh sangat memerlukan nutrisi seimbang untuk menunjang kondisi kesehatan. Tapi dengan seringnya makan makanan cepat saji akan membuat nutrisi yang diperlukan dalam tubuh menjadi berkurang. Ini karena makanan cepat saji tidak mengandung vitamin, mineral, dan zat lainnya yang sangat berguna bagi kesehatan tubuh. Efek samping dari kekurangan nutrisi dapat menyebabkan gangguan pada organ-organ dalam tubuh sehingga tubuh menjadi cepat lelah, sakit, dan menurun fungsinya. Mungkin makanan cepat saji memang bisa menjadi solusi untuk menghemat waktu, namun makanan cepat saji bukan solusi untuk kebutuhan nutrisi yang diperlukan oleh kesehatan tubuh. Yang paling mengherankan adalah kebanyakan penggemar makanan cepat saji adalah anak-anak. Mereka cenderung lebih mengutamakan cita rasa yang enak dibandingkan dengan nilai gizi yang terdapat dalam makanan cepat saji yang mereka konsumsi. Sebagai orangtua dan tenaga pengajar, kita harus lebih kreatif dalam menyikapi fenomena ini. Berkebun merupakan salah satu metode belajar anak agar mengenal alam atau lingkungannya. Berkebun dapat memberikan pengetahuan pada anak dari mana makanan terutama buah dan sayur berasal.
Konsep “From Seed Until to Eat” dan Kegiatan Berkebun Pentingnya mengenalkan pembelajaran berkebun pada anak adalah untuk mengurangi kebiasaan anak dalam mengonsumsi makanan siap saji dan melatih mereka untuk
A.A.Pt.Chintya Putri Suardana, S.Psi
menyiapkan makanan yang sehat serta memperkenalkan mereka dengan metode-metode berkebun yang sederhana dan menyenangkan. Mengenalkan konsep “From Seed Until to Eat” pada anak memang tidak mudah, namun juga tidak sulit jika para orangtua dan tenaga pengajar dapat mengemas metodenya secara menarik. Pertama-tama kita harus memberikan informasi serta ulasan kepada anak-anak mengapa kita harus belajar berkebun. Kita bisa memberikan contoh nyata mengenai manfaat yang dapat diperoleh dari berkebun sendiri, misalnya dengan berkebun sendiri kita bisa mendapatkan makanan sehat seperti sayur dan buah secara gratis tanpa harus membeli di pasar, dengan berkebun sendiri kita bisa melakukan kegiatan penghijauan (udara akan semakin bersih karena dengan berkebun akan
banyak menciptakan ruang hijau dipekarangan rumah), berkebun dapat menghemat uang belanja karena kebutuhan buah dan sayur bisa kita dapatkan dengan memanen hasil kebun sendiri untuk dikonsumsi sendiri dan masih banyak contoh nyata yang bisa diterangkan kepada anak sebelum mengajak mereka terlibat langsung untuk belajar berkebun. Mengajak anak untuk membuat kebun mini di pekarangan rumah serta memanfaatkan kaleng bekas atau sisa-sisa pipa untuk dijadikan pot adalah ide yang sangat tepat, tentu saja hal itu akan membangkitkan ide-ide kreatif anak. Mereka akan berkreasi dan berani bermain tanah yang kotor sebagai proses awal belajar menanam tanaman. Pada dasarnya konsep “From Seed Until to Eat” adalah mengajarkan anak untuk mengetahui proses awal makanan itu berasal yaitu dari seed atau biji hingga siap untuk disajikan sebagai makanan atau to eat. Tentu dalam tahapan-tahapan tersebut anak-anak bisa banyak belajar dari cara menanam hingga pengolahan hasil panen tanaman mereka. Dengan mengembangkan konsep ini diharapkan kesadaran anak untuk mengonsumsi buah dan sayur akan meningkat serta dapat menambah wawasan anak mengenai manfaat buah dan sayur jika dikonsumsi secara rutin. Selain itu, dengan menanam, memanen dan
mengolahnya sendiri akan memunculkan rasa kebanggaan terhadap hasil jerih payah sendiri dan anak-anak akan menularkan kebiasaan mereka pada teman-teman sebayanya. Penting untuk kita (orangtua dan tenaga pengajar) ketahui, untuk menanamkan suatu nilai pembelajaran pada anak selain dengan metode klasikal, maka perlu adanya metode praktikum sederhana yang mendukung materi-materi belajar anak terutama tentang pelajaran yang berkaitan dengan lingkungan hidup seperti berkebun sehingga anak akan lebih tertarik dan termotivasi untuk belajar dan mendalami materi pembelajaran. Kita tidak akan menyangka ternyata guru yang paling hebat adalah berasal dari anak itu sendiri. Jika mengenalkan konsep yang baik serta menarik pada anak maka kebiasaan tersebut kemungkinan akan ditularkan bahkan akan ditiru oleh peer group atau teman sebayanya. Sehingga diharapkan anak-anak dapat semakin mengenal, membiasakan, dan menyukai berbagai makanan sehat terutama buah dan sayur sehingga dapat membandingkan terutama dari segi nilai gizi dan kesehatan antara makanan cepat saji dan makanan sehat yang berasal dari kebun sendiri. A.A.Pt.Chintya Putri Suardana, S.Psi Swasta
Kata Hati Rubrik ini khusus untuk wanita yang ingin menuangkan ide/pemikiran/ gagasan dalam bentuk tulisan. Tema terkait wanita dan keluarga serta tidak mengandung unsur SARA. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter (1,5 halaman A4; spasi 1,5; times new roman 12). Lampirkan juga foto close up (bukan pasfoto). Cantumkan nama lengkap, profesi, nomor hp, dan alamat email. Naskah dikirim ke redaksi@tokoh.co.id, redaksitokoh@yahoo.com. Tulisan yang dimuat mendapatkan bingkisan dari Telkomsel. Telkomsel sebagai satu-satunya operator paling Indonesia selalu berkomitmen untuk membangun dan memajukan Indonesia. #UntukIndonesia
Pemimpin Umum/Penanggung Jawab: Gde Palgunadi. Redaktur Pelaksana: Ngurah Budi. Staf Redaksi/Pemasaran Denpasar: IG.A. Sri A r d h i n i , W i r a t i A s t i t i , S a g u n g I n t e n . J a k a r t a : D i a n a Ru n t u . N T B : N a n i e k D w i S u r a h m i . D e s a i n G r a f i s : I D N A l i t Budia rtha, I Made Ary Supratman. Sirkulasi: Kadek Sepi Purnama. Sek retariat: Ayu A gustini, Putu Agus Mariantara, Hariyono. Alamat Redaksi/Iklan Denpasar: Gedung Pers Bali K. Nadha, Lantai III, Jalan Kebo Iwa 63 A Denpasar 80117–Telepon (0361) 425373, 7402414, 416676–Faksimile (0361) 425373. Alamat Redaksi/Iklan/Sirkulasi Jakarta: Jalan Palm erah B arat 21 G Jakarta Pusat 10270– Telepon (021) 5357603 - Faksimile (021) 5357605. NTB: Jalan Bangau No.15 Cakranegara, Mataram–Telepon (0370) 639543– Faksimile (0370) 628257. Jawa Timur: Permata Darmo Bintoro, Jalan Taman Ketampon 22-23 Surabaya–Telepon (031) 5633456– F aksim ile (031) 5675240. Surat Elektronik: redaksi@tokoh.co.id, iklan@tokoh.co.id. Website: www.tokoh.co.id. Bank: BRI Cabang G ajah Mada Denpasar. Nomor Rekening: PT Tarukan Media Dharma: 0017-01-001010-30-6. Percetakan: BP Jalan Kebo Iwa 63 A Denpasar.
Sudut Pandang
Edisi 900/ 9 - 15 mei 2016
23
Warga Jakarta belum Terbiasa di Hunian Vertikal
Geliat bisnis properti, khususnya perumahan, di Jakarta masih sama dengan tahun lalu alias masih melambat. Tahun ini diperkirakan tidaklah ‘separah’ tahun 2015. Sejumlah pengamat memperkirakan kemungkinan tahun ini atau tepatnya semester ke-2, bisnis properti akan membaik meski belum booming seperti tahun 2013 lalu. Sinyal ini ditangkap seiring dengan membaiknya perekonomian, termasuk adanya insetifinsentif dan paket kebijakan ekonomi yang dikeluarkan pemerintah.
“S
ekarang ini kondisinya (properti) masih mendung,” ungkap Direktur Riset Cushman&Wakefield, Arief Rahardjo, dalam paparan properti di Jakarta. Kelesuan ini bukan hanya di Jakarta saja tapi juga di Bodetabek (Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi). Hal senada juga dikatakan oleh Ferry Salanto, Associate Director Research Colliers Indonesia. Menurutnya, kinerja properti mengalami perlambatan antara lain karena sektor tersebut terkait erat dengan pertumbuhan perekonomian suatu negara. “Tanda-tanda pergerakan mungkin akan terjadi pada Semester II tahun 2016,” kata Ferry. Sektor yang paling terpukul
dengan kondisi ini adalah sektor penjualan apartemen dan rumah mewah. Para calon pembeli banyak yang melakukan wait and see karena harga penjualan apartemen melambung sejak tahun lalu, itu juga diikuti dengan harga sewa apartemen yang ikut melambung. Banyak kantor, khususnya yang mempekerjakan ekspatriat, memotong anggaran sewa apartemennya, dan memilih apartemen berharga lebih murah. Begitu juga rumah mewah yang mengalami pukulan cukup berat. Menurut Ketua Umum REI, Eddy Hussy, gejolak kurs rupiah mempengaruhi harga bahan baku juga harga jual rumah karenanya masyarakat lebih cenderung menahan pengeluaran, termasuk berin-
Rusun Marunda Jakarta Utara
vestasi di sektor properti. Namun, ada kabar baiknya. Meski bisnis apartemen dan rumah mewah lesu tidak demikian halnya dengan perumahan segmen menengah ke bawah yang boleh dibilang cenderung stabil karena permintaan cukup tinggi, ditambah lagi adanya dukungan dari pemerintah lewat program sejuta rumah.
Pembangunan Rusun Siasati Mahalnya Lahan Pengamat properti, Eka SanKebutuhan rumah untuk keluarga thi Indra Dewi menilai, prospek kecil dengan penghasilan menenbisnis perumahan di Bali masih gah 3-10jt/bulan. sangat bagus, mesti tidak boomIa menilai, dengan melihat ing seperti beberapa tahun lalu. kondisi pasar properti saat ini Ia mengatakan, dua tahun ke tentu lebih menarik jika mengembelakang, dunia properti memang bangkan perumahan tipe kecil sedang lesu. Ini dipacu oleh kondan sederhana. Bahkan jika medisi perekonomian secara global, mungkinkan membangun tipe RSS bukan sekadar karena situasi yang bersubsidi untuk mendudi Bali. “Memang saat ini laju kung program pemerintah untuk perkembangan harga properti di penyediaan rumah murah. Bali tidak sekencang tahun-tahun Untuk membangun rumah lalu,” ujar perempuan yang berpribadi tentu juga menarik karprofesi sebagai arsitek ini. ena akan memungkinkan kebeIa menyebutkan, kendala basan berkreasi dalam hal desain terbesar usaha properti, perdengan anggaran yang sesuai modalan dan akses permodalan. permintaan klien. Namun marEka Santhi Indra Dewi Harga lahan di Bali umumnya ket untuk itu jauh lebih sedikit. lebih tinggi dibanding daerah lain, sehingga harga “Sebenarnya bisa mulai dipikirkan oleh pemda jual rumah pun jadi lebih tinggi. Masalah lain, persetempat, utk pembangunan rumah vertikal atau izinan, yang kadang perlu waktu cukup lama. rusun. Agar dapat menyiasati keterbatasan lahan Eka Shanti pun memberi kiat-kiat yang bisa dan mahalnya harga lahan di Bali, namun tetap dilakukan pengembang atau pelaku bisnis propdapat memenuhi kebutuhan akan rumah murah erti di tengah kondisi persaingan yang ketat dan bagi masyarakat,” katanya. kondisi ekonomi yang pertumbuhannya melambat. Namun, aturan mengenai hal itu belum ada. “Mungkin dengan pilihan, beralih market customer. Sehingga pengembang juga tidak bisa mengerjakan Selama ini banyak pengembang yang lebih fokus proyek itu. “Saya berharap, stakeholder terkait ke market property menengah dan mewah seperti mau mulai memikirkan kemungkinan tersebut. Di villa atau rumah mewah dan kondotel. Saat ini seluruh kota besar, solusi akan kebutuhan rumah bisa beralih ke pembangunan rumah tipe kecil murah adalah membangun secara vertikal,” kata dan sederhana, dan di lokasi yang agak di pingEka Santhi. giran kota, dimana harga lahan masih terjangkau,” Jika ada benturan soal budaya, kata dia, tensarannya. tunya bisa dicari solusinya dengan desain yang Menurutnya, kebutuhan perumahan sesungmengadaptasi budaya setempat agar tidak benguhnya masih sangat besar di segmen market ini. turan. -Wirati Astiti
PROGRAM SEJUTA RUMAH Di Jakarta sendiri seiring dengan jumlah penduduk yang terus bertambah maka kebutuhan hunian pun bertambah pula. Hanya saja harga lahan yang tinggi membuat tidak banyak warga Jakarta yang mampu membeli rumah di kompleks perumahan yang harganya tinggi. Tapi dengan adanya kebijakan pemerintah ‘Program Sejuta Rumah’ yang dicanangkan Presiden Jokowi, harapan memiliki hunian di Jakarta untuk kalangan berpengahsilan menengah ke bawah cukup terbuka. Namun, seiring kondisi yang ada, lahan Jakarta yang terbatas, maka kebijakan pembangunan permukiman mengarah ke permukiman vertikal, tidak lagi horisontal. Hal ini sesuai dengan RTRW (Rencana Tata Ruang Wilayah) DKI Jakarta dimana pengembangan kawasan permukiman, komersial dan perkantoran diarahkan memanfaatkan ruang secara vertikal dan kompak. Karenanya tak heran kalau dalam beberapa tahun terakhir pengembang properti gencar pembangunan rumah vertikal, baik itu apartmen maupun rusunami atau rusunawa. Ketika kondisi memasuki masa lesu, pembangunan apartemen melambat, namun rusunawa dan rusunami tetap gencar. Hal ini bukan hanya karena adanya Program Sejuta Rumah yang dicanangkan pemerintah pusat namun juga karena kebutuhan pemerintah daerah Jakarta untuk menertibkan pemukiman liar. Terkait dengan ‘Program Sejuta Rumah’ , dari sembilan titik di Indonesia, salah satunya adalah di kawasan Cengkareng, Jakarta Barat yakni rusun sebanyak 18 tower (5400 unit) . Rusun yang dibangun Perumnas di kawasan elit Taman Palem Cengkareng ini, berharga Rp 186-Rp 372 juta per unit. Sayangnya, karena memang sudah menjadi budaya masyarakat, tidak semua orang suka tinggal
di hunian vertikal. Umumnya masyarakat lebih suka tinggal di rumah tapak atau rumah horisontal. Karena itu banyak masyarakat yang terkena penertiban, ketika dirinya bisa memilih antara tinggal di rusun dan rumah tapak, lebih memilih rumah tapak meski untuk itu harus menyingkir dari Jakarta atau tinggal di pinggiran Jakarta. CUMA KENAL MUKA Banyak warga yang mendapat jatah rusun kemudian menjual jatahnya dan memilih membeli rumah di pinggiran Jakarta meski lokasinya lebih jauh dari tempat kerja atau tempat mereka biasa berkegiatan. Sebagian warga mengaku tidak nyaman tinggal di rusun karena itu dia menjualnya. “Katanya mereka takut kebakaran atau gempa, kalau tinggal di rusun susah menyelamatkan diri,” ungkap Santi, yang sudah dua tahun menjadi penghuni Rusun Marunda. Hal yang sama juga dirasakan Lela yang tinggal di rusun Jatinegara setelah rumahnya di Menteng Pulo digusur. Meski diakui Nurlela tinggal di rusun menjadi lebih tertib dan bersih, namun dia merasakan ada sesuatu yang hilang yakni suasana kekerabatan dan kemudahan lainnya yang biasa didapat jika ia tinggal dihunian tapak. “Kalau dulu sesama tetangga bisa dekat malah seperti saudara. Kumpul-kumpul. Sekarang sepertinya masing-masing. Pintu rumah tetangga tertutup terus. Kalau mau ketemu, kumpul-kumpul ya, di bawah. Saya jadi kesepian. Kita cuma kenal muka saja sama tetangga samping rumah. Begitu juga belanjabelanja sayur mayur, jadi lebih jauh. Kalau dulu kan ada tukang jual sayur di depan rumah. Kalau sekarang ya harus turun ke bawah,” tuturnya. Kondisi yang belum sepenuhnya membuat dia terbiasa itu, akan dijalaninya terus. “Kalau dibilang terpaksa, ya terpaksa lah, emang kondisinya begitu. Saya dan keluarga berusaha menyesuaikan diri,” kata ibu dua anak ini. –Diana Runtu
24
Edisi 900/ 9 - 15 MEI 2016
redaksi@tokoh.co.id, iklan@tokoh.co.id
mingguantokoh
@mingguantokoh
mingguantokoh
www.tokoh.co.id