24
Edisi 892/ 14 - 20 MARET 2016
redaksi@tokoh.co.id, iklan@tokoh.co.id
mingguantokoh
@mingguantokoh
mingguantokoh
www.tokoh.co.id
2
Edisi 892/ 14 - 20 maret 2016
GORO-GORO “Intros peksi lewat perenungan hanya cocok buat anak seko lahan. AnakPutu Wijaya anak nakal lebih mudah diajak masuk ke dalam batinnya lewat kegiatan tubuh. Maka minggu ini kita akan adakan pertandingan: lomba membuat sesuatu dari sampah plastik,” kata Amat kepada Ami. “Sesuatu itu apa? Boleh peralatan yang bisa dipakai dalam kenyataan sehari-hari, seperti kursi, sangkar burung, misalnya. Atau, bisa sesuatu yang menarik atau indah dilihat. Misalnya bunga, patung, hiasan apa saja yang bagus, lucu atau bisa juga serem.” “Kenapa harus pakai sampah plastik?” “Itu mengikuti trend, perkembangan dunia global yang ingin mengamankan bumi hunian kita. Industri barang pakai dari plastik makin gencar karena plastik murah, tapi
sampahnya yang tak bisa hancur dan menimbulkan polusi kalau dibakar akan menjadi musuh besar anak cucu kita kalau tidak digemboskan sekarang. Supermarket sudah mulai ngerem tidak memberikan tentengan plastik gratis lagi. Masih dijual tapi kelak pembeli harus bawa kantong dari rumah. Kita ikut mengajak masyarakat untuk ingat dunia sudah dikepung plastik!” Ketua lingkungan serta warga serta-merta mendukung lomba yang misinya introspeksi itu. Pesertanya membludak. Warga dari lingkungan sebelah juga sangat berminat ikut. “Kami banyak punya sampah plastik tapi tidak tahu mau dibuat apa. Ini lomba yang kreatif sekali dan mengandung filosofi tinggi tentang daur ulang,”puji mereka. Amat jadi bangga dan tambah bersemangat. Apalagi ia berhasil mendapatkan sponsor dari pabrik yang mendaur ulang sampah plastik dan menjadikannya barang seperti sandal, ember
Ekspresso
plastik
dan sebagainya. Karena ada sponsor, pemenang lomba dijanjikan dapat hadiah uang. Ini menambah banyak lagi peserta yang mau ikut berlomba. Tak hanya anak-anak muda, orang tua juga turun. “Kalau sudah begini, jelas semuanya mau ikut karena ingin dapat hadiah uang. Di mana letak introspeksinya?” sentil Bu Amat sinis. Amat ketawa. “Kalau sudah sukses be gini, soal introspeksinya ke sampingkan saja dulu. Yang jelas kita sudah berhasil mengajak masyarakat melihat bahaya plastik yang harus segera kita hindari!” “Menghindari dengan cara memestakannya? Itu kan terbalik!” Amat ketawa lebih lebar. Ia tak mendengar yang dikatakan istrinya. Ia terlalu bangga sebab koran lokal memuji kegiatannya sebagai upaya konkrit melawan pengrusakan bumi. Lomba mengambil tempat di lapangan bola yang segera akan
dibangun jadi Taman Rekreasi. Pe s e r t a d a n p e n g u n j u n g membludak. Kompetisi berlangsung seru dan menarik. Berbagai kejutan muncul sebagai tanda betapa kreatifnya para peserta. Ternyata banyak peserta membuat karya dari bahan plastik yang baru dibeli. Pemenangnya adalah patung r a k s a s a Ku m b a k a r n a y a n g digerogoti puluhan kera serta sebuah sofa yang bisa dilipat jadi tempat tidur dan bisa dilipat lagi jadi kap lampu taman/patung. Tengah malam, baru Amat sampai di rumah. Gembung oleh perasaan berguna. Ia tak mampu menanggung pujian lomba sendirian. Lalu ia membangunkan istrinya dan berbisik mesra. “Usia manula membuat kita merasa diri seperti sampah
tak berguna. Dan, perasaan itu menambah kita lebih tua. Tapi kalau sampah plastik saja bisa didaur ulang jadi barang berharga, usia pun sama. Hanya kita harus terus bergerak tak boleh mengerak, seperti yang sudah terjadi pada kita selama ini. Itu hasil introspeksi yang keluar dari lomba ini.” Bu Amat hanya mengangguk, tapi tidur lagi. Pukul 11 siang esoknya, ia mengguncang membangunkan Amat. Amat terkejut bangun. “Ada apa? Beritanya sudah dimuat?” Bu Amat membentak. “Pak Bupati dan Dinas Ke bersihan Kota ada di lapangan bola yang mau dipakai ber tanding. Beliau marah besar, karena lapangan penuh sampah plastik. Pembangunan Taman Rekreasi ditunda sampai warga sadar lingkungan dan berhenti menggunakan plastik, katanya!”
Fungsi Makanan dalam Menyelaraskan Pikiran dan Emosi
Makanan dan minuman yang masuk ke dalam tubuh sangat berkaitan dengan kesehatan psikologis, dan berpengaruh terhadap keadaan emosi, pikiran, dan tindakan. Baik yang pengaruh jangka pendek, misalnya: zat pewarna dan perasa tambahan, cabai, alkohol, kafein, gula, maupun yang berpengaruh jangka panjang, misalnya: lemak tak jenuh, makanan yang diproses, garam. Apabila ada mengalami insomnia (gangguan tidur), kecemasan, tingkat keasaman tubuh menaik, cobalah untuk meneliti apakah terlalu banyak minum teh atau kopi, atau sering merasa lemas dan mengantuk sehabis makan cobalah teliti apakah terlalu banyak menyantap lauk yang terlalu pedas, karena cabai bisa membuat energi berkurang, lemas, dan mengantuk. Apabila suami/istri mudah marah, cobalah diteliti apakah makanan yang disantapnya banyak mengandung garam atau lemak tak jenuh. Dengan mengetahui makanan dan hubungannya dengan mental, maka kita bisa meningkatkan kualitas mental keluarga dengan mengatur makananmakanan yang lebih sehat dan yang akan membentuk keadaan psikologis lebih ke arah satvic. Apabila kesehatan psikologis kita sedang dalam keadaan kurang seim-
bacaan wanita dan keluarga
Penerbit PT Tarukan Media Dharma Terbit sejak 9 November 1998
bang, atau sedang menjurus ke rajasic – tamasic, maka salah satu cara jitu untuk mengatasinya adalah dengan meneliti lalu mengubah pola makan kita. Dengan mengurangi makanan-makanan yang mempunyai stimulan terhadap emosi kita (misal kopi, teh, alkohol, bumbu yang merangsang, gula, lemak tak jenuh) dan dengan menambah pasokan makanan yang menyehatkan baik fisik kita maupun makanan yang baik untuk pikiran kita. Makanan mempunyai fungsi yang sangat penting dalam menyelaraskan pikiran dan emosi kita. Makanan sangat mempengaruhi keadaan mental kita. Contohnya, untuk sebagian orang begitu minum alkohol maka mereka langsung gemetar, pikiran sulit diajak kompromi, dan tidak bisa mengambil keputusan dengan baik. Ada lagi yang setelah makan makanan yang pedas, menjadi lemas dan mengantuk. Pikiran adalah mitra tubuh dalam memperoleh dan mengelola kesehatan. Pikiran dan tubuh tidak bisa terpisahkan dan berdiri sendiri-sendiri. Pikiran dan tubuh saling mempengaruhi dan saling melengkapi kesehatan dan kebahagiaan pada diri kita. Kita bisa disebut sehat apabila memenuhi kriteria: sehat secara fisiologis, sehat secara psikologis, dan terakhir sehat secara spiritual.
Dr.Ir.Ketut Suriasih,M.App.Sc
Dalam bukunya yang berjudul ‘Eternal Health, The Essence of Ayurveda’, dr. Partap Chauhan membagi keadaan psikologis kita menjadi 3 bagian yang disebut triguna, yaitu satvic, rajasic, dan tamasic. Tipe satvic mempunyai ciri: memiliki disiplin diri yang tinggi, menyukai ketertiban dan keteraturan, pembersih, mempunyai memori yang tajam, mencintai kedamaian, tenang pembawaannya, tinggi keasadaran akan kesehatan, mandiri, berkelakuan baik, dan memiliki keinginan maju dan belajar seumur hidup serta mempunyai kesadaran nilai spiritual
yang tinggi. Tipe rajasic memiliki ciri: dinamis, enerjik, dan cenderung dominan, ambisius, temperamental, memiliki kecerdasan yang juga cukup tinggi, mengejar kenikmatan duniawai (makanan enak, seks, suka pesta dan barang bermerek), memiliki motivasi yang sangat tinggi dalam mengejar kekayaan dan kedudukan, cenderung popular dan suka menonjolkan diri, cenderung mudah terganggu serta gampang bosan. Tipe tamasic mempunyai ciri: cenderung acuh tak acuh, malas, tidak peduli dengan sesama, memori lemah, keras kepala, tidak disiplin, kurang memperhatikan pengembangan diri, kurang memiliki motivasi yang kuat untuk maju, tidak mempunyai tujuan, kurang memegang nilai moral, dan cenderung melakukan tindak ekerasan. Dalam kehidupan, setiap orang
memiliki ketiga unsur tersebut, hanyalah penekanan unsur yang mana yang lebih dominan. Sehingga selain tipe satvic, rajasic, dan tamasic, ada unsur penggabungan satvic-rajasic, satvic-tamasic, rajasic–tamasic, dan satvic-rajasic-tamasic. Salah satu faktor penting yang mempengaruhi kesehatan psikologis kita adalah ‘makanan’ yang masuk ke dalam tubuh kita. Dalam Ayurveda, atau ilmu kesehatan kuno India, konsep ‘mind balance’ bisa diperoleh dengan mengatur pola diet, yaitu ‘makanan’ yang melalui disantapan melalui mulut, serta menjaga kualitas hidup yang sehat melalui ‘makanan’ yang masuk ke dalam tubuh melalui organ lainnya atau disebut juga santapan pikiran. Dr.Ir.Ketut Suriasih,M.App.Sc Dosen Fapet Unud
Kata Hati Rubrik ini khusus untuk wanita yang ingin menuangkan ide/pemikiran/ gagasan dalam bentuk tulisan. Tema terkait wanita dan keluarga serta tidak mengandung unsur SARA. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter (1,5 halaman A4; spasi 1,5; times new roman 12). Lampirkan juga foto close up (bukan pasfoto). Cantumkan nama lengkap, profesi, nomor hp, dan alamat email. Naskah dikirim ke redaksi@tokoh.co.id, redaksitokoh@yahoo.com. Tulisan yang dimuat mendapatkan bingkisan dari Telkomsel. Telkomsel sebagai satu-satunya operator paling Indonesia selalu berkomitmen untuk membangun dan memajukan Indonesia. #UntukIndonesia
Pemimpin Umum/Penanggung Jawab: Gde Palgunadi. Redaktur Pelaksana: Ngurah Budi. Staf Redaksi/Pemasaran Denpasar: IG.A. Sri A r d h i n i , W i r a t i A s t i t i , S a g u n g I n t e n . J a k a r t a : D i a n a Ru n t u . N T B : N a n i e k D w i S u r a h m i . D e s a i n G r a f i s : I D N A l i t Budia rtha, I Made Ary Supratman. Sirkulasi: Kadek Sepi Purnama. Sek retariat: Ayu A gustini, Putu Agus Mariantara, Hariyono. Alamat Redaksi/Iklan Denpasar: Gedung Pers Bali K. Nadha, Lantai III, Jalan Kebo Iwa 63 A Denpasar 80117–Telepon (0361) 425373, 7402414, 416676–Faksimile (0361) 425373. Alamat Redaksi/Iklan/Sirkulasi Jakarta: Jalan Palm erah B arat 21 G Jakarta Pusat 10270– Telepon (021) 5357603 - Faksimile (021) 5357605. NTB: Jalan Bangau No.15 Cakranegara, Mataram–Telepon (0370) 639543– Faksimile (0370) 628257. Jawa Timur: Permata Darmo Bintoro, Jalan Taman Ketampon 22-23 Surabaya–Telepon (031) 5633456– F aksim ile (031) 5675240. Surat Elektronik: redaksi@tokoh.co.id, iklan@tokoh.co.id. Website: www.tokoh.co.id. Bank: BRI Cabang G ajah Mada Denpasar. Nomor Rekening: PT Tarukan Media Dharma: 0017-01-001010-30-6. Percetakan: BP Jalan Kebo Iwa 63 A Denpasar.
Sudut Pandang
Perlu Kesadaran Masyarakat dan Pebisnis Wacana go green mungkin sudah tidak asing lagi bagi masyarakat. Banyak tindakan yang dilakukan oleh pemerintah untuk merealisasi kebijakan tersebut. Salah satunya adalah diberlakukannya aturan tas kantong plastik berbayar. Aturan ini sudah mulai dijalankan beberapa minggu terakhir di beberapa perusahaan ritel di seluruh Indonesia. Tentu hal ini akan mendapat respon dari masyarakat baik positif maupun kurang baik.
Ketut Ardika
K
etut Ardika adalah salah satu masyarakat yang memberi perhatian dengan aturan tas kantong plastik berbayar ini. Pria kelahiran desa Panji ini mengaku bahwa kebijakan dari pemerintah ini sangat baik, namun akan lebih baik lagi jika aturan ini disosialisasikan terlebih dahulu kepada masyarakat. Hal ini agar masyarakat yang kurang mendapat informasi tidak
kaget jika kantong plastik yang dulunya gratis sekarang dikenakan biaya. “Ini bukan masalah uang 200 rupiah tapi mental pebisnis yang perlu diperbaiki,” tambah Tut Adi, nama karibnya. Menurutnya sebagai pengelola ritel seharusnya menawarkan dulu jika konsumen sudah membawa kresek sendiri maka tidak perlu membayar plastik lagi. Hal ini seolah-olah pengusaha ritel menjadikan kesempatan aturan ini. Dengan banyaknya konsumen setiap hari, tinggal dikalikan saja berapa keuntungan yang didapat. Seharusnya keuntungan yang didapat juga harus jelas akan kemana dan dibawa kemana. Jika aturan tas kantong plastik ini dikatakan bisa mengurangi sampah maka Tut Adi tidak merasa setuju. Yang paling utama adalah mental masyarakat dulu yang harus sadar. Jika memang ingin mengurangi sampah plastik mengapa tidak mencari solusi dari produksi plastik itu sendiri. Produksi plastik yang ramah lingkungan adalah salah satu cara untuk mengurangi limbah plastik. Menyikapi masalah kantong plas-
Kadek Lia Suryani
tik Tut Adi juga mengungkapkan pengelola ritel bisa menciptakan kantong plastik yang ramah lingkungan dan bisa segera hancur di tanah. “Jika nantinya itu berbayar kan gak jadi masalah, plastiknya bisa segera hancur jika dibuang,” lanjut Tut Adi. BAWA KRESEK SENDIRI Di sisi lain, Kadek Lia Suryani yang merupakan salah satu karyawan ritel di kota Singaraja ini memang tidak menampik jika ada konsumen yang menyambut baik dan tidak aturan ini. Tetapi, sejak diterapkan aturan ini banyak konsumen yang berbelanja bawa kresek sendiri, tambah Dek Lia. Sebagai karyawan yang bertugas di bagian kasir Dek Lia memang merasa serba salah. Ada konsumen yang tidak menerima aturan ini bahkan marah-marah mengetahui jika kantong plastiknya dikenakan biaya. Namun, dari
Kardus pun Dijual Program pemerintah untuk menerapkan aturan tas plastik berbayar ditanggapi beragam oleh masyarakat. “Ada yang menerima ada yang protes. Kalau anakanak muda menanggapinya biasabiasa saja, ibu-ibu yang banyak protesnya,” ujar salah seorang pegawai toko alat-alat tulis di Denpasar. Tiap terjadi transaksi, petugas kasir ini selalu menyampaikan kepada pembelinya bahwa mulai saat ini, untuk pemakaian kantong plastik dikenakan biaya tambahan Rp 200. Atau, para konsumen ini disarankan agar barang belanjaan mereka dimasukkan saja dalam tas lain yang sudah dibawa sebelumnya. “Kalau tiap belanja kesini saya harus beli kantong plastik, tekor dong saya,” demikian keluhan salah seorang konsumen seperti yang dikutip petugas kasir tersebut. Tetapi bagi konsumen yang sudah mengerti dengan aturan ini, biasanya tak banyak komentar
ketika mereka memang memerlukan kantong plastik meskipun ada tambahan biaya. “Iya tidak apaapa, pakai kantong plastik saja, saya takut nanti rusak barangnya,” ujar seorang pria yang saat itu membeli party popper, kepada petugas kasir yang menyampaikan aturan tas plastik berbayar tersebut. Petugas kasir yang enggan namanya disebutkan ini mengatakan, jauh sebelum ada aturan pemerintah ini, di toko tempatnya bekerja tersebut telah menyosialisasikan pengurangan penggunaan kantong plastik, kepada para konsumennya. Selain disampaikan oleh para petugas kasir, pesan tersirat tersebut juga disampaikan dengan memasang poster bertulisakan “Kotaku Cantik tanpa Sampah Plastik”. Untuk barang-barang belanjaan kecil, seperti pensil, penghapus, cokelat, mapun aksesori, pihak toko sudah menyiapkan tas mungil dari bahan kertas. “Tapi jika belanjaannya banyak,
kami sudah siapkan kardus,” ujar petugas kasir tersebut. KARDUS HABIS Sementara itu di sebuah pusat perbelanjaan di Surabaya, kebanyakan konsumen sudah tahu tentang aturan membayar tas plastik. Karena itu, mereka membawa sendiri tas belanjaan. “Lebih baik saya bawa tas sendiri. Kebetulan saya punya banyak tas belanjaan,” ujar Dina yang berbelanja bersama ibunya. Saat transaksi, Dina pun langsung memasukkan belanjaan ke dalam tasnya. Kasir pun tak perlu repot untuk menawarkan tas plastik. “Sejak ada aturan plastik berbayar, banyak juga konsumen yang jeli. Mereka tidak mau plastik tetapi minta kardus. Lama-lama kardus kami habis. Manajemen lalu membuat kebijakan, kardus pun dijual. Kardus kecil dijual Rp 500, kardus besar Rp 1000,” ujar kasir yang bernama Aminah itu. –Inten Indrawati/Ngurah Budi
Edisi 892/ 14 - 20 maret 2016
23
Bawa Tas Kain yang bisa Dilipat “Saya sering belanja membawa tas sendiri. Itu sudah saya lakukan jauh-jauh hari sebelum ada aturan pengurangan tas plastik. Awalnya sih, karena saya merasa ribet kalau diberi tas kresek apalagi berbelanja barang-barang yang kecil. Saya masukkan saja ke dalam tas saya yang terbuat dari kain. Kemana pun saya pergi, saya selalu membawa tas kain yang bisa dilipat, ada kancingnya dan retsletingnya. Jadi sangat praktis,” ungkap Utami Dwi Suryadi, saat ditanya komentarnya tentang pengurangan penggunaan tas plastik. Ia pribadi sangat setuju dengan aturan pemerintah pengurangan tas plastik. Kalau ada pendapat Utami Dwi Suryadi yang mengatakan, toko harus memberikan tas sebagai pelayanan kepada konsumen, itu sah-sah saja. “Kalau misalnya, tas plastik sekarang diganti dengan tas dari kertas, itu bagus juga,” kata Utami. Namun, bagaimana kalau belanja banyak. Apa tas kertasnya tidak robek. Jadi, kata anggota Komisi IV DPRD Bali ini, sebaiknya masyarakat membawa saja tas kain sendiri kalau berbelanja. Apalagi, sebagian besar masyarakat naik sepeda motor. “Bagi yang naik mobil, mungkin tak masalah dengan tas dari kertas, tapi bagaimana dengan yang naik motor. Kalau tas kertas apa tidak ribet dan bisa robek, belanjaan bisa jatuh di jalan. Kalau tas kain tentu lebih mudah dan praktis,” kata anggota Fraksi Demokrat ini. Ia menambahkan, sekarang ini banyak ada tas kain yang bisa dilipat dan sangat praktis. Kalau dibuka, bisa membesar dan bisa menampung banyak barang. Jadi menurutnya, tas kain lebih fleksibel dibandingkan tas kertas yang tetap ada kekurangannya. Ia sendiri memiliki lima tas kain seperti itu. Ia menyadari, sering bepergian, sehingga tas kain itu selalu ia bawa, karena pasti selalu akan diperlukan mendadak. Menurut Utami, coba kita lihat di zaman dulu, para orangtua kalau belanja ke pasar, mereka selalu membawa tas atau tempat belanjaan. Menurut pandangannya, memang semua harus dimulai dari diri sendiri. “Kalau semua sudah sadar, tentu gerakan pengurangan tas plastik ini akan berhasil,” ujarnya. -Wirati Astiti pihaknya selalu bertanya terlebih dahulu kepada konsumen jika ingin menggunakan plastik berbayar. “Kadang juga langsung saya input di komputer karena ada konsumen yang marah kalau ditanya lagi dibilang saya campah,” cerita wanita
kelahiran 11 Februari ini. Dek Lia juga menambahkan aturan ini didukung oleh konsumen luar negeri. “Kalau bule malah bilang bagus ada aturan plastik berbayar ini,” ucapnya. -Wiwin
22
Sosialita
Edisi 892/ 14 - 20 MARET 2016
E k a W i r ya s t u t i
Edisi 892/ 14 - 20 MARET 2016
3
Tantangan dan Perjuangan Eka Wiryastuti mengukir sejarah sebagai bupati perempuan pertama di Bali tahun 2010-2015. Ia maju menggantikan Bupati Tabanan sebelumnya, Adi Wiryatama, yang merupakan ayahnya sendiri. Dalam pilkada 2015, ia kembali lolos sebagai Bupati Tabanan bersama I Komang Gede Sanjaya di posisi Wakil Bupati Tabanan untuk kepemimpinan 2016-2021.
S
Pasar Seni Ancol
Dulu Berjaya Sekarang Setengah Mati Tadinya Achrif Wibowo berharap kedatangan pengunjung ke Taman Impian Jaya Ancol (TIJA) untuk nonton bareng Gerhana Matahari bakal memberi imbas pada usaha kerajinan ukir kayu miliknya di Pasar Seni. Namun apa mau dikata, lagilagi pemilik ‘Jati Wood Carver’ itu terpaksa menelan pil pahit. Para pengunjung hanya berkumpul di sekitar pantai, kalaupun berminat keliling TIJA mereka masuk ke wahana-wahana yang bertebaran di sana.
Pasar Seni Ancol pun semakin lenggang dan muram. Seorang seniman yang kerap menyambangi temannya di Pasar Seni mengatakan, harus ada perubahan konsep secara radikal jika ingin Pasar Seni kembali berjaya. Zaman sudah berubah maka penyesuaian-penyesuaian harus dilakukan. “Jika tidak ada perubahan yang radikal, ya akan tetap seperti ini. Sayang sekali,” ucapnya.
H
HARGA SEWA BEDA Jika kita berkunjung ke Pasar Seni sekarang, memang masih terlihat kioskios yang terisi. Kios lukisan, kerajinan, dll, masih bisa kita lihat, meski terkadang pemiliknya entah kemana. Rupanya seniman dan pengrajin kebanyakan hanya menjadikan kiosnya sebagai tempat mereka berkarya. Termasuk Achrif, salah satu pengrajin kayu yang paling lama bercokol di Pasar Seni. “Dengan kondisi yang sekarang, sulit mengharap ada pengunjung yang datang dan membeli. Sudah lama saya tidak merasakannya. Tapi kita harus pintar-pintar agar bisa tetap bertahan. Saya bekerja di sini dan menjual produk di luar. Atau, saya bawa konsumen ke sini. Jadi kita memang harus punya strategi,” tambah Achrif yang mendalami ukiran kayu jati. Meski Pasar Seni sepi bukan berarti dirinya mendapat tempat gratis di sana. “Saya membayar, kok, meski tidak mahal. Harga sewa per-kios dengan ukuran 4x4 meter Rp 300 ribu sebulan. Tidak mahal, tapi tetap membayar. Harga untuk seniman dan pengrajin berbeda dengan pengusaha. Kalau pengusaha dikenakan sewa Rp 1,3 juta,” jelasnya. Bagi seniman pengrajin seperti dirinya, harga yang relatif murah itu cukup membantu dan membuatnya tetap bertahan di Pasar Seni. “Meski sepi, saya merasa di sini cukup baik. Kita punya workshop sendiri, kalau di luar belum tentu dapat harga seperti ini. Memang sepi pengunjung tapi kita bisa kreatif mencari pembeli di luar, sekaligus bisa membawanya ke sini (TIJA),” katanya. –Diana Runtu
anya sedikit sekali yang tergerak untuk mampir ke Pasar Seni untuk melihat-lihat aneka kerajinan yang dipamerkan. Kalaupun ada beberapa yang menyempatkan singgah, paling mereka hanya sekadar berfoto-foto ria karena memang Pasar Seni saat itu berdandan cantik dengan ornamen-ornamen khas perayaan Tahun Baru Imlek. Warna-warni menarik membuat pengunjung yang kebetulan lewat tertarik untuk berfoto-foto. Tapi setelah itu mereka pergi ketempat lain, seolah tidak tertarik melihat ‘isi’ Pasar Seni lebih jauh. “Ya memang seperti itulah,” ungkap Achrif kecewa. Suasana Pasar Seni memang tidak seperti pada masa kejayaannya tahun 70 an hingga awal 90-an. Jangankan kali ini karena ada
GMT (gerhana matahari total) yang kampanyenya sungguh masif, hari libur dan weekend pun ketika tempat-tempat rekreasi lain di lingkungan TIJA kebanjiran pengunjung, Pasar Seni lengang. Pun ketika digelar acara di tempat itu, pengunjung pun tidak terlalu banyak. “Biasa aja, tidak banyak. Zaman memang sudah berubah,” keluhnya. Dulu era 1970-1980-an galeri seni, tempat-tempat pertunjukan seni maupun tempat-tempat pameran, tidak banyak di Jakarta. Maka itu ketika Gubernur Jakarta Ali Sadikin menghadirkan Pasar Seni pada 1975, sambutannya luar biasa. Padahal bentuk Pasar Seni ketika itu belum seperti sekarang. Dulu, tahun 1970-an, yang disebut Pasar Seni hanyalah gubuk-gubuk dimana digelar bazar dan acara-acara kesenian. Namun, pengunjungnya sangat ramai, persis seperti pasar. Ketika 1977, Pasar Seni dipindah tak jauh dari tempat lamanya (Gelanggang Samudra). Di tempat yang baru, Pasar Seni ditata lebih baik. Tahun 1980-an nama Pasar Seni Ancol berkibar seantero Indonesia. Pengunjung melimpah karena berbagai acara kerap digelar di sini, khususnya pentas-pentas musik. Musisi-musisi dan bandband top masa itu kerap manggung di sini. Sebut saja Abadi Soesman, Elfa Secoria, Vonny Sumlang, Bill Saragih, Idang Rasydi, Ireng Maulana, Karimata, Krakatau, dll. Kehadiran bintang-bintang idola ini ikut memberi andil bagi ramainya Achrif Wibowo salah satu seniman ukir kayu jati yang masih bertahan di Pasar Seni Ancol Pasar Seni.
Pasar Seni Ancol yang lengang
“Bukan hanya musik pop, tapi pementasan wayang sampai acara anak-anak pun ada di sini pada masa itu,” kata Achrif yang mengaku merasa beruntung sempat menikmati masa kejayaan Pasar Seni. Pada masa jayanya, Pasar Seni seakan tidak pernah tidur. Bahkan hingga larut malam ada saja pengunjung yang mampir, padahal kioskios banyak yang sudah tutup. “Kalau datang larut malam, biasanya mereka berkeliling sambil melihat-lihat, lalu kongkow di restoran-restoran yang ada di sini,” kata Achrif. Tahun 1980-1990an awal, tempat tersebut menjadi magnet para pengunjung TIJA. Sekalipun tidak ada acara, pengunjung banyak yang mampir. “Dulu dan sekarang sungguh berbeda, ya. Dulu pengunjung banyak, mereka bukan cuma melihat-lihat tapi juga membeli. Saya sendiri sempat kewalahan melayani pembeli. Dulu seniman berjaya, sekarang kami setengah mati,” ungkapnya sembari mengerjakan ukiran. Masa keemasan itu sudah berlalu lama. Menjelang penghujung tahun 1990-an, banyak seniman hengkang. Bersamaan dengan itu, jumlah pengunjung pun kian surut. Pasar Seni
ini pun akhirnya ‘mati suri’.Berbagai upaya telah dilakukan oleh pengelola untuk menghidupkan kembali Pasar Seni yang pernah menjadi icon Taman Impian Jaya Ancol. Mulai dari pembangunan fisik hingga menggelar berbagai program. Misalnya acara edukasi seni pada Sabtu dan Minggu, di mana masyarakat bisa ikut belajar di sini. Begitu juga panggung
Seni instalasi tambang
musik, Porseni hingga wisata kuliner secara rutin digelar. Namun entah kenapa, berbagai upaya itu seolah tidak membuahkan hasil. Entah apa yang salah. Untuk pengusaha kuliner, jelas kondisi seperti ini tak tertahankan. Walhasil, satu per satu pun hengkang.
elama periode pertama (2010-2015) Bupati Eka Wiryastuti mempersembahkan 400 prestasi dan 18 penghargaan MURI. Menurutnya, pencapaiannya itu tak mudah. Penuh tantangan dan perjuangan. Memang ia mengakui, dalam kepemimpinan lima tahun sebelumnya, banyak program yang belum terselesaikan, karena itu dalam kepemimpinan sekarang, ia ingin menuntaskan program yang sebelumnya belum sempurna. Untuk program jangka pendek, perbaikan infrastruktur jalan tetap menjadi fokus. “Dalam kepemimpinan lima tahun sebelumnya, kami sudah berhasil menangani infrastruktur sepanjang 450 km jalan sudah di-hotmix. Masih ada sekitar 250 km jalan yang harus segera diselesaikan, karena hampir 750 km jalan rusak di Tabanan,” kata Eka Wiryastuti, saat ditemui Tokoh, di rumahnya, di Desa Tegeh, Desa Angsri, Baturiti, Tabanan, Jumat (11/3). Menurut Eka Wiryastuti, disamping program jalan hotmix pemerintah, ada juga, program partisipatif, yang mengondisikan partisipasi masyarakat untuk ikutserta berperan. “Material nya tetap dari pemerintah, dan tenaganya dari masyarakat. Program ini sudah berhasil untuk 300 km jalan. Program ini memang bersifat gotong-royong. Program ini memang sedang diminati dan populer. Apalagi, di zaman s ekarang, dimana rasa kegotongroyongan sudah mulai luntur. Karena itu, saya ingin membangkitkan kembali rasa gotong-royong tersebut, melalui program partisipatif ini,” kata Eka Wiryastuti. Namun, di tahun 20016-2017 karena aturan, program partisipatif ini akan disalurkan lewat bantuan khusus ke desa (BKD), bentuknya tetap ada partisipasi dari masyarakat yang menyiapkan tenaganya. Program mendesak lainnya, soal penambahan tempat tidur rumah sakit. “Saat ini, kapasitas tempat tidur rumah sakit ada 200 ribu. Padahal yang diperlukan 450 ribu. Dalam jangka pendek harus segera kami wujudkan, paling tidak tahun depan harus sudah ditangani,” tegasnya. Menurut Eka Wiryastuti, dalam kepemimpinannya yang sekarang, ia tidak mau banyak program. Mungkin hanya perlu penambahan, misalnya penambahan armada mobil sehat. Saat ini baru ada dua, mungkin di tahun depan ditambah dua lagi. Puskesmas rawat inap juga perlu ditambah. Program Pembentukan Bumdes dan BUMD juga menjadi prioritas. Bumdes dan BUMD bertugas membeli produk hasil pertanian masyarakat, b ekerja sama dengan pihak ketiga untuk menjualnya. Selain itu, masalah raskin juga menjadi program jangka pendek. Program membeli gabah petani untuk diberikan sebagai tunjangan beras kepada 11 ribu PNS di Tabanan. Program ini sudah berjalan dalam kepemimpinan sebelumnya, dan akan disempurnakan. Program yang dulu terpatok dengan beras organik. “Sekarang ini, yang penting gabah itu datang dari petani, mau organik atau tidak, tetap kami beli,“ ujarnya. Intinya, kata Eka Wiryastuti, sesuai ajaran Bung Karno, ekonomi kerakyatan itu harus dikembangkan. Kemandirian rakyat harus kita bangkitkan, gotong royong harus diwujudkan kembali, dan
keberpihakan kepada petani harus dilakukan. Karena itu, ia getol membuat desa wisata. BALAI BANJAR “DISULAP” Saat ini, sudah ada 21 desa wisata di Tabanan. Ia berharap, semua desa menjadi desa wisata. “Dengan desa wisata, fungsi alih lahan dapat kita tekan, pertanian bisa menjadi tuan rumah sendiri, dan memberi efek ekonomi kepada rakyat, sebagai pelaku dan penikmat. Kita tak tak perlu hotel yang luar biasa. Karena kita sudah punya budaya yang luar biasa. Kalau itu kita bisa jual tanpa merusak alam, dapat menambah pendapatan,” kata Eka Wiryastuti. Menurutnya, pertanian seharusnya tidak hanya menghasilkan gabah, tapi juga, bisa menghasilkan destinasi wisata baru. Memang, ia mengakui, tak semua desa memiliki sawah, namun, dengan keanekaragaman kearifan lokal, itu merupakan modal sebagai desa wisata. Program ini bekerja sama dengan perguruan tinggi perhotelan, untuk melatih warga desa menjadi guide dan pramusaji. Desa wisata di Desa Penge, Marga, dan Desa Belimbing, Pupuan contohnya. Mereka sering kedatangan tamu asing, dari Australia, Thailand, dan Korea. Makanan dibuat oleh masyarakat, turis menginap di rumah penduduk. Balai banjarnya “disulap” menjadi tempat untuk breakfast dan dinner, ada pertunjukkan. Warga desa menjual hasil kerajinan atau camilan produk mereka. Ada kebun manggis, kebun kopi, ada sawah, turis dekat dengan masyarakat, turis bisa menikmati alam, men cicipi makanan tradisional di desa itu. “Thailand bisa seperti itu, mengapa kita tidak? Itulah yang sedang kami gagas di Tabanan,” kata Eka Wiryastuti. Walaupun, kata Bupati Eka, Tabanan sudah memiliki Tanah Lot yang sudah terkenal, namun, akan dikemas menjadi lebih baik. Mungkin ke depan, ada pasar oleh-oleh di Tanah Lot. Bila perlu dikemas langsung dengan tiket masuk. Karena pada intinya, semua program harus menggerakkan roda perekonomian kerakyatan. Untuk program jangka panjang, urusan IT sangat penting. Ia ingin ada inovasi kecamatan dengan system IT, terutama program IT di urusan keuang an daerah. “Dengan teknologi ini kami harapkan, tahun 2021 program sudah bisa berjalan. Untuk saat ini, sedang disosialisasikan IT untuk SDM. Dengan IT, lebih efisien dan efektif. Anggaran tidak bisa jadi “siluman”. Kita harus berjejaring antara pemerintah daerah dan pusat, karena itu IT sangat diperlukan, mulai dari perangkat desa,” kata Eka. Jangka panjang, pembangunan pasar revitalisasi pasar juga digalakkan. Saat ini baru ada empat pasar yang direvitalisasi. Di periode keduanya ini Eka ingin semua pasar bisa direvitalisasi. Namun, ia juga mengingatkan ke masyarakat, untuk menjaga kebersihan pasar mereka. Penataan kota, juga tetap menjadi prioritasnya. Ia ingin mewujudkan ruang bebas. Penataan Gedung Maria juga akan dituntaskan, dengan pengadaan taman di depannya. Pembangunan museum Sagung Wah yang belum terwujud, juga akan dilanjutkan. URUSAN SAMPAH TETAP PRIORITAS Untuk urusan sampah, tetap diutamakan. Saat ini, Tabanan telah memiliki 9 bank sampah. Satu kilo sampah dibeli
Rp 1000. Namun, program ini harus disempurnakan. Wacana pengantian tas plastik juga sedang menjadi kajiannya. “Tapi harus ada tim yang membahas soal ini dan bisa menjalankan perda yang baik tentang kebersihan. Jangan sampai kita larang pakai kantung plastik, masih ada yang menggunakan kantung plastik. Musuh kita bukan hanya tas kresek. Sampah plastik banyak termasuk botol sampo, botol air mineral, sepanjang kita hidup masih membutuh kan plastik Bagaimana akhirnya? Ini yang harus dipikirkan. Tidak bisa hanya melarang saja,” tegas Eka. Menurutnya, perlu sentral pengumpulan sampah plastik, kemudian sampah diolah. Sampah botol pastik dan botol air mineral bisa diolah menjadi gagang sapu. Perlu teknologi, tak bisa hanya melarang, pemerintah harus membuat penyelesaiannya. Menurut Eka Wiryastuti, konsepnya sedang dibuat seperti apa. Misalnya, BUMD menciptakan tas kertas belanja dan dibagikan di pasar atau bagaimana, Pemda yang membeli sampah. Tapi, setelah itu bagaimana? Ini yang harus dipikirkan. “Melarang penggunaan kantong plastik itu hanya untuk mengurangi bukan menyelesaikan, Karena itu, kita perlu cari solusi penyelesaiannya,” saran Eka Wiryastuti. Program revolusi mental juga menjadi pemikirannya. Karena ia melihat, saat ini generasi muda sudah sangat tidak ada kepedulian. “Saat ini, sudah mulai sifat ego sektoral, kita harus kembali ke adat ketimuran yang selalu menjaga dan saling menghormati. Memang kuncinya di keluarga. Anak-anak sejak dini harus dibekali budi pekerti dan moral yang baik sehingga rasa kepedulian dengan lingkungan sekitar
itu ada,” ujarnya. Program revolusi mental ini memang sifatnya tidak formal, karena program ini harus lebih luwes mewacanakan. Pendidikan dasar Pancasila dan pembangunan mental harus diperkuat dalam revolusi mental. Ini juga masuk dalam konsepnya jangka panjang. Dalam kepemimpinanya yang kedua ini, Eka Wiryastuti tetap berharap dukungan ke masyarakat. Ia tak bisa
bekerja sendiri, ia perlu dukungan dari masyarakat. Karena, apapun program yang dilakukan, tanpa dukungan sepenuhnya, memang tak sempurna. Dalam lima tahun kepemimpinan nya yang pertama, sudah banyak keberhasilan yang ia raih dengan kerja keras. Namun, memang, masih banyak kekurangan yang akan ia sempurnakan di kepemimpinan yang sekarang. –Wirati Astiti
Belajar dari Pengalaman Eka Wiryastuti tak menampik, banyak tantangan dalam perjuangan untuk mewujudkan keinginan pro rakyat. “Jalannya kami perbaiki, desa wisata kami kembangkan, hasil sawah kami beli, kalau sudah begitu, malas orang jual sawah. Kami buat aturan jalur hijau, eh malah ada oknum nakal. Orang itu pintar, tiba-tiba saja ada IMB jalur hijau, saya sendiri tidak tahu. Saya ditanya, bagaimana fungsi alih lahannya? Jangan saya sendiri yang menjaga, desanya juga, ada awigawignya ditekan, kalau ada alihfungsi lahan jangan dikasi. Kalau sudah sawah produktif jangan diloloskan, atau dibuat lebih mahal dari harga tanahnya, bisa tidak jadi. Keinginan saya pro rakyat, tapi ada kepentingan lain ikut menghambat. Saya bisa jaga rumah saya, tapi di sekitar saya tidak bisa. itu menjadi kendala dalam pejuangan saya,” ungkap bupati perempuan pertama di Bali ini tentang kendalanya dalam menjalankan tugas. Tantangan lain, soal pengadaan rumah server IT yang belum bisa terwujud. “Tujuan IT itu bagus. Tidak ada anggaran “siluman”. Tidak ada temuan. Kalau manual, bisa tutup mata. Contohnya soal perizinan. Kalau memang jalur hijau, izin tak bisa terbit. Banyak alih fungsi lahan, bupati disalahk an. Birokrasi juga perlu direvolusi mental,” tegas Eka.
Ia menambahkan, rancangan program berasal dari desa, kemudian apa yang diusulkan desa, masuk dan di-input di Bapedda, nanti akan dijabarkan masuk ke SKPD terkait. Anggaran pro rakyat bisa terwujud. “Kalau tidak pakai IT, bisa “sim salabim”. Kalau saya tidak siapkan gembok dari sekarang, seperti menambal ban, bocor sudah ditambal, bocor lagi. Saya anggap ini perjuangan, memang tidak ada sekolah bupati. Saya belajar dari pengalaman. Ini saya pakai untuk bisa berbuat lebih baik,” kata Eka Wiryastuti. Menurutnya, kondisi yang ia alami
terjadi di semua kota, namun, walaupun Tabanan kecil, ia hanya ingin Tabanan bisa nyaman dan serasi. Karena itu, ia lebih suka turun ke desa, menyerap aspirasi dibandingkan hanya mendengar laporan dari SKPD. “Saya tidak peduli ada gerakan yang tidak bertanggungjawab. Yang penting jalan saya lurus dan terprogram, tidak usah tergoyahkan. Saya senang dengan semangat masyarakat yang luar biasa setiap kedatangan saya ke desa. Itu menjadi semangat dan inspirasi untuk terus berjuang,” kata Eka Wiryastuti. –Wirati Astiti
Bupati Eka Wiryastuti meninjau salah satu program Tabanan Serasi
4
Inspirasi
Edisi 892/ 14 - 20 maret 2016
BRI Segera Luncurkan BRIsat
Bank Pertama yang Punya Satelit
BRI segera meluncurkan satelitnya yakni BRIsat di Launch Site atau kawasan peluncuran milik Arianespace di Kourou, Guyana Perancis, Amerika Latin, Juni 2016. Pengoperasian Platform di L1300 dan roket Ariane 5 ini akan memperluas jangkauan layanan kepada masyarakat di daerah terpencil dan wilayah perbatasan. Hal ini diungkapkan SEVP IT Strategy & Satelite BRI Hexana Tri Sasongko di acara media gathering di Bandung, Sabtu (5/3).mengorbit tanggal 8 Juni 2016 mendatang. Diluncurkan dari Kourou karena dekat dengan equator dan cuacanya paling stabil di dunia,” kata Hexana.
M
enurut Hexana, BRI akan tercatat dalam sejarah dunia, karena merupakan perbankan pertama di dunia yang memiliki satelit. “BRI menjadi satusatunya bank di Indonesia dan dunia yang memiliki satelit sendiri. “Rencananya satelit ini akan mula Ia mengatakan, BRI menggandeng perusahaan asal AS Space System Loral LLC (SSL) untuk membangun satelit dan perusahan peluncur roket asal Prancis, Arianespace. Dikatakan, satelit yang akan diluncurkan tersebut senilai 250 juta dolar AS atau sekitar
Rp 3,25 triliun. Dengan umur satelit secara elektronis selama 15 tahun. Sementara, umur operasional satelit minimal 17 tahun dengan kapasitas 45 transponder. Sebanyak 4 transponder diberikan kepada pemerintah sebagai bentuk kompensasi. “Satelit BRIsat beroperasi minimal 17 tahun. C -Band 3.000-3.600 Ghz dan Ku-Band 11.00014.000 Ghz,” ungkap Hexana. Adapun kompensasi yang diberikan kepada pemerintah, dari 4 transporder nilainya sebesar Rp 70 juta per tahun. Dan jangka waktunya selama 17 tahun operasional. “Kita
Hindari Antrean dengan Manfaatkan e-Money Bagi pengguna jalan tol, alasan utamanya adalah menghindari kemacetan di jalan biasa. Namun, yang sering terjadi, tol juga macet terutama di pintu tol. Salah satu penyebab adalah antrean pembelian tiket. Kendaraan bisa mengantri panjang. “Untuk menghindari kemacetan, kami memberikan solusi berupa penggunaan kartu Brizzi e-Toll. Pengendara yang punya kartu ini tinggal tap kartunya, tidak perlu antri menunggu kembalian. Ini juga bagian dari manfaat penggunaan e-money,” ujar Pinwil BRI Denpasar Fankar Umran. Ke depan, pihaknya akan terus menyosialisasikan pemanfaatkan e-money yang menjadi bagian dari program cashless society. - Ngurah Budi
Fankar Umran (pakai kacamata)
Mandalika
Edisi 892/ 14 - 20 maret 2016
PIN NTB Sasar 462.057 Anak
Pekan Imunisasi Nasional (PIN) serentak dilakukan di seluruh Indonesia pada tanggal 8-15 Maret 2016. Demikian juga halnya di Provinsi Nusa Tenggara Barat yang telah mencanangkan PIN pada 8 Maret 2016 di Pendopo Gubernur NTB. Secara simbolis tujuh balita NTB mendapatkan imunisasi sebagai tanda dibukanya Pekan Imuniasai Nasional (PIN) Provinsi NTB tahun 2016.
Gubernur NTB Dr. TGH. M. Zainul Majdi, Hj. Erica Zainul Majdi, dan Wakil Gubernur NTB, H. Muh. Amin meneteskan imunisasi polio kepada Balita NTB saat pencanangan PIN 2016
H
adir dalam kegiatan pencanangan PIN tahun 2016 tersebut ibu-ibu yang membawa serta bayi dan balita mereka. Kegiatan imunisasi ini dinilai sangat penting diberikan pada bayi dan balita agar terhindar dari polio. Karena itu, dari speaker-speaker masjid di beberapa wilayah di Mataram khususnya,
terdengar pengumuman agar para ibu yang memiliki balita untuk segera membawa balita-balita mereka ke pos-pos yang telah siap menerima imunisasi yang tersebar di lingkungan-lingkungan tempat warga tinggal. Pentingnya imunisasi ini dilakukan guna melindungi anak sebagai generasi penerus bangsa dari penyakit polio dan itu menjadi
Hexana memberi penjelasan tentang BRIsat
kapasitas ada 45, ada 4 transponder nilainya Rp 70 juta pertahun selama 17 tahun merupakan kompensasi yang diberikan ke pemerintah,” katanya. Hexana mengatakan, meski BRIsat diluncurkan pada pertengahan tahun, namun dia mengklaim manfaatnya belum akan signifikan terasa hingga akhir tahun ini. Pihaknya membutuhkan waktu integrasi 1 tahun. Diharapkan, dengan adanya satelit yang dioperasikan BRI ini, layanan bank tersebut bisa
menjangkau masyarakat yang selama ini tidak tersentuh oleh perbankan yang ada di pelosok pelosok tanah air. Sesuai dengan rencana bisnis jangka panjang BRI, kaa Hexana, keberadaan satelit tersebut akan mendukung perkembangan bisnis BRI. Satelit itu diharapkan tidak hanya mampu menjangkau kawasan Indonesia, namun juga mampu menjangkau kawasan Asia Tenggara, sebagian wilayah Pasifik hingga Australia Barat. Hexana juga mengungkap-
kan, langkah BRI mengorbitkan BRIsat karena beberapa hal. Yakni, tantangan jaringan kerja, meningkatkan efisiensi proses otoritas, menjaga kualitas jaringan, mewujudkan financial inclusion, memanfaatkan slot orbit 150,5BT, dan meningkatkan fungsi intermediasi. “Tantangan literasi keuangan adalah telekomunikasi. Kini BRI dengan status penyelenggara sarana dan prasarana telekomunikasi bisa lebih mudah beroperasional di seluruh pelosok, tentu tak masuk telko,” ungkapnya. -Ngurah Budi
Bisnis Bancassurance Garap Nasabah KUR BRI menargetkan perolehan pendapat berbasis biaya (fee based income/FBI) dari bisnis bancassurance tahun ini sebesar Rp 120 miliar atau meningkat sebesar 200 persen dibanding perolehan tahun lalu yang tercatat Rp 40 miliar. “Kami targetkan perolehan FBI dari bisnis bancassurance pada 2016 sebesar Rp 120 miliar atau meningkat sebesar 200 persen dibanding perolehan 2015 yang tercatat Rp 40 miliar,” kata Senior Executive Vice President Network and Services BRI Catur Budi Harto di acara media gathering di Bandung, Sabtu (5/3). Target peningkatan FBI itu akan diupayakan dengan mendongkrak pemasasaran produk asuransi mikro dari tahun lalu tiga juta nasabah, menjadi 11 juta nasabah tahun ini. “Misalnya dari Asuransi Mikro KKM (Kecelakaan, Kesehatan dan Meninggal) merupakan produk asuransi mikro yang kami pasar-
kan melalui bancassurance. Fee based income yang tahun lalu Rp 40 miliar,” jelasnya. Menurut Catur, manajemen telah menyiapkan beberapa strategi untuk merealisasikan target tersebut. Pertama dengan menggarap nasabah Kredit Usaha Rakyat (KUR) yang jumlahnya jutaan. Kedua, memanfaatkan jaringan BRI-Link untuk memasarkan produk asuransi mikro perseroan. Sedangkan ketiga, mengembangkan kerja sama cross selling dengan perusahaan asuransi, yakni menempatkan tenaga pemasaran perushaan di kantor-kantor BRI untuk memasarkan produk asuransi. Saat ini, kata Catur, KKM perseroan bersinergi dengan PT Bringin Jiwa Sejahtera (Bringin Life) sebagai Ketua Konsorsium, PT Asuransi Bringin Sejahtera Artamakmur (BSAM), dan PT AJ Jiwasraya. Karena membidik segmen mikro KKM menetap-
kan tarif yang sangat terjangkau. Untuk peserta individu cukup membayar Rp 50.000 per tahun. Sedangkan perserta plus suami atau istri diwajibkan mengangsur Rp 90.000 per tahun. Adapun lima manfaat yang bisa didapatkan peserta yakni santunan harian rawat inap rumah sakit sebesar Rp 100.000,- per hari (untuk maksimal 90 hari), penggantian biaya operasi maksimal Rp 2,5 juta untuk semua tindakan, dan santunan meninggal dunia karena kecelakaan maksimal Rp 19,5 juta. Selanjutnya, santunan meninggal dunia karena sakit maksimal Rp 2,5 juta dan santunan cacat tetap akibat kecelakaan maksimal Rp 5 juta. Menurut Catur, persyaratan peserta cukup mudah ialah rentang usia 18-59 tahun. Dengan masih banyaknya pasar kelas menengah, perusahaan membidik pemegang polis KKM sebanyak 11 juta hingga 2016. -Ngurah Budi
Gubernur NTB bersama istri dan para ibu serta balita usai Pencanangan PIN 2016 di Provinsi NTB
Putri Raja Thailand Kagumi NTB Kamis, 10 Maret 2016, Nusa Tenggara Barat kedatangan tamu putri dari Raja Thailand yakni Princess Maha Chakri Sirindhorn’s. Ia tertarik dengan ragam budaya dan keindahan wisata daerah ini dengan mengunjungi objek-objek wisata dan mempelajari kebudayaan Nusa Tenggara Barat. Selama berada di Lombok, Princess Maha Chakri Sirindhorn’s, berkeliling mengunjungi berbagai obyek wisata alam dan budaya seperti daerah Sembalun untuk menikmati pemandangan alam berlatar Gunung Rinjani. Kunjungan juga dilakukannya
21
ke Museum Negeri NTB untuk melihat koleksi budaya daerah ini sejak zaman prasejarah hingga modern berupa sekitar 7.513 koleksi peninggalan bersejarah suku yang mendiami Lombok dan Sumbawa serta peninggalan bangsa Cina yang pernah singgah untuk berdagang di Lombok dan Sumbawa. Didampingi Gubernur NTB, Dr. TGH M. Zainul Majdi beserta Istri, Hj. Erica Zainul Majdi, Princess Maha Chakri Sirindhorn’s sangat tertarik dengan bendabenda bersejarah peninggalan nenek moyang masyarakat NTB tersebut, berkeliling dan sesekali memotret koleksi yang ada.
Kunjungan Princess Maha Chakri Sirindhorn’s ke Museum Negeri NTB1
Princess Maha Chakri Sirindhorn’s turut memainkan alat musik bumbung sebelum beranjak melanjutkan perjalanan menuju Pura Meru, Taman Mayura dan Desa Adat Suku Sasak Ende, di Rembitan, Lombok Tengah. Di kawasan desa adat ini Princess Maha Chakri Sirindhorn’s memperhatikan berbagai hal tentang kehidupan masyarakat Suku Sasak khususnya yang berada di Lombok Tengah bagian Selatan ini. Ia juga sempat masuk ke rumah adat dan juga berfoto depan lumbung padi yang menjadi ciri khas rumah adat Sasak.
tanggung jawab orang tua yang difasilitasi oleh pemerintah melalui kegiatan PIN. “Mengimunisasi anak adalah kewajiban orangtua dan kegiatan PIN ini merupakan bagian dari tugas bangsa dalam menyiapkan masa depan anak-anak atau generasi muda kita,” ungkap Gubernur NTB, Dr. TGH. M. Zainul Majdi saat membuka acara Pencanangan PIN tahun 2016 di Pendopo Gubernur NTB. Pencanangan PIN yang akan dilaksanakan selama sepekan mulai dari tanggal 8-15 Maret 2016 ini dihadiri oleh Wagub NTB H. Muh. Amin, S.H., M.Si, Kepala SKPD dan anggota FKPD lingkup Provinsi NTB, Ketua TP.PKK Provinsi NTB Hj. Erica Zainul Majdi, dan Ketua BKOW Provinsi NTB Hj. Syamsiah M. Amin. Pada kesempatan tersebut, Gubernur menyampaikan bahwa manusia terbaik adalah manusia yang memberikan kontribusi maksimal untuk manusia lain dan juga dapat memberikan kontribusi untuk kebaikan bangsa dan negara. Oleh karena itu, pencanangan PIN dinilainya merupakan bentuk kontribusi dalam upaya menciptakan generasi muda yang berkualitas. “Agama mengajarkan kepada kita untuk menyiapkan seluruh hal yang terbaik untuk anak-anak kita di masa yang akan datang, agama juga mengajarkan kita untuk menyiapkan tindakan preventif sehingga terhindar dari hal-hal yang dapat merusak potensi mereka,” jelasnya. Gubernur yang juga seorang Tuan Guru ini menambahkan bahwa Allah SWT tidak pernah menurunkan suatu penyakit kecuali telah menyiapkan obat untuk menyembuhkannya, serta Allah SWT mendidik manusia untuk selalu melakukan yang terbaik terutama dalam hal membangun bangsa dan daerah. “Oleh karena itu, Pencanangan PIN ini adalah bagian yang tidak terpisahkan dalam membangun daerah NTB yang lebih baik di masa mendatang,” ujarnya
Gubernur NTB mengajak kepada pihak-pihak terkait yang hadir untuk menyerukan seluruh warga masyarakat agar tidak lupa membawa anak yang berumur 0-59 bulan untuk melakukan imunisasi polio. “Salah satu tugas orang tua adalah memberikan hak anak, salah satunya hak kesehatan. Alhamdulillah dengan kerja sama dari berbagai stakeholder kita dapat melaksanakan PIN ini,” katanya. Ke p a l a D i n a s Ke s e h a t a n Provinsi NTB drg. Eka Junaidi selaku ketua panitia melaporkan PIN dilaksanakan berdasarkan kesepakatan World Health Assembly tahun 2012 agar pada tahun 2020 seluruh dunia dapat terbebas dari polio. Sasaran PIN di Provinsi NTB sebanyak 462.057 anak dengan kebutuhan vaksin sebanyak 30.375 vial dan pos PIN yang disiapkan di seluruh NTB sebanyak 6.902 pos PIN baik di fasilitas pelayanan kesehatan pemerintah maupun swasta yang nantinya akan dilayani oleh 21.555 orang kader. “Semua kegiatan PIN di Provinsi NTB didukung oleh APBD Provinsi dan Kabupaten/Kota Tahun 2016, serta dukungan APBN Kementerian Kesehatan tahun 2016. Seluruh vaksin polio yang digunakan pada PIN tahun ini sepenuhnya disiapkan oleh Kementerian Kesehatan RI,” ujarnya. Pada kesempatan yang sama, Ketua TP.PKK Provinsi NTB Hj. Erica Zainul Majdi mengatakan PIN tahun 2016 ini menargetkan 95% anak yang harus diimunisasi polio. “Saya juga menginstruksikan kader TP. PKK untuk proaktif mengecek bayi yang belum imunisasi polio dan mengajak bayi tersebut untuk segera diimunisasi,” ujarnya. Ia juga mengatakan balita yang terkena penyakit polio tidak dapat disembuhkan. Oleh karena itu, pencegahan dengan imunisasi polio penting dilakukan agar anak-anak Indonesia, khususnya anak-anak NTB terbebas dari penyakit polio. -Naniek I. Taufan
-Naniek I. Taufan/Hms
Princess Maha Chakri Sirindhorn’s, memainkan alat musik tradisional Lombok
Didampingi Gubernur NTB Dr. TGH. M. Zainul Majdi dan istri, Princess Maha Chakri Sirindhorn’s berkunjung ke NTB
20
Edisi 892/ 14 - 20 maret 2016
Berdagang tanpa Modal
Terik matahari siang itu, tidak menyurutkan langkah para perempuan pedagang asongan kain tenun Lombok di sepanjang Pantai Kuta Lombok Tengah. Tumpukan kain tenun dan songket khas serta kaos Lombok yang meninggi di kepala mereka bagai junjungan rejeki yang siap dibawa pulang untuk keluarganya.
B
egitu juga dengan berbagai asesoris, seperti gelang, kalung, gantungan kunci dan lainnya yang terbuat dari tangan-tangan terampil pengrajin di Lombok Tengah, melengkapi dagangan mereka. Puluhan pedagang asongan kain tenun, songket, aksesoris dan kaos Lombok menyebar di sepanjang Pantai Kuta Lombok. “Sebagian besar adalah perempuan,” ungkap Biardi (35). Kulit mereka ada yang menghitam akibat sengatan panas matahari. Bagaimana tidak, sekitar pukul 11.00 wita hingga sore hari mereka hidup di bawah terik matahari Pantai Kuta untuk menjajakan dagangannya. Itu dilakukan setiap hari. “Hanya harihari besar atau ada halangan yang sangat penting saja yang membuat kami tidak turun untuk berjualan di sini,” kata Inaq Undi (40). Mereka biasanya libur ketika musim tanam dan panen padi. Itupun bagi mer-
eka yang mendapatkan pekerjaan sebagai buruh tani. Bagi yang tidak mendapat pekerjaan sebagai buruh tani, tetap berdagangan asongan di tempat ini. Namun, semua itu tiadalah berarti dibandingkan harapan yang mereka bangun selama bertahuntahun bahkan ada yang telah puluhan tahun berjualan di tempat ini sebagai pedagang asongan kain tenun, songket dan asesoris serta kaos Lombok. Tiap wisatawan baik lokal maupun wisatawan asing yang datang ke pantai itu menjadi harapan bagi para perempuan penyanggah ekonomi keluarga ini. Di berugak-berugak sepanjang Pantai Kuta ini mereka mendekati para wisatawan yang beristirahat di tempat tersebut untuk menjajakan dagangannya. Tampak mereka ramah kepada para wisatawan. Dengan bahasa dan tutur kata yang lembut, para perempuan ini ‘merayu’ wisatawan agar mau membeli
dagangannya. Tak jarang terjadi obrolan yang hangat antara pedagang ini dengan para wisatawan. Rupanya, para pedagang asongan ini telah paham bagaimana menghadapi wisatawan dalam menjajakan dagangannya. Ada yang menawarkan dagangannya sambil datang duduk dan mendekati wisatawan, namun ada pula yang mengikuti selama wisatawan menikmati keindahan Pantai Kuta. Mereka tidak segan berlari ke sana kemari demi menawarkan dagangannya dari dekat. Mereka juga hafal apa yang disukai oleh wisatawan asing dan wisatawan lokal/domestik. “Kalau wisatawan asing biasanya suka motif-motif unik kain tenun atau songket,” ujar Inaq Unggul yang sudah 25 tahun menjadi pedagang asongan kain tenun dan songket ini.
Harga kain tenun dan songket khas Lombok serta kain biasa ini dijual rata-rata antara Rp 30 ribu hingga Rp 50 ribu/buah. Tentu saja kain songket dan kain tenun yang dimaksud adalah yang kualitas biasa namun tidak kalah indah ragam corak, motif dan warnanya. “Jika beli banyak, kami juga bisa memberikan diskon yang lumayan, ujar Uut (32), pedagang asongan lainnya. Hari libur atau hari Jumat, Sabtu dan Minggu biasanya menjadi hari yang sumringah bagi para perempuan penjaja kain tenun dan songket ini. “Tamu sangat banyak dan biasanya dagangan kami pun laku banyak,” ungkap Biardi. BAGI DAGANGAN Mereka yang menjadi pedagang asongan ini rata-rata berasal dari Desa Ketapang, Bontor Lombok Tenha dekat Desa Sade
Nine Lombok Tengah. Barang dagangan berupa kain tenun dan songket mereka peroleh dari Desa Sade. Bagi mereka yang telah berdagang puluhan tahun di Pantai Kuta ini, merasakan sekali pahit manisnya menjalankan aktivitas ini. “Lain dulu lain sekarang,” ujar Inaq Unggul. Menurutnya, dulu wisatawan lebih banyak yang belanja asongan seperti ini dibandingkan sekarang. “Satu orang bisa membeli lima kain, tetapi sekarang tidak begitu banyak yang berminat,” ujar Inaq Unggul. Situasi ini tentu saja karena semakin banyaknya jumlah pedagang asongan kain tenun dan songket yang berdagang. Baiknya, antar sesama pedagang asongan ini mereka saling membantu sama lain. “Kalau ada yang beli lebih dari satu, kami biasanya membagi agar dagangan yang lain juga laku, asalkan ada motif yang sama seperti yang diinginkan pembeli,” kata Uut. Usaha para perempuan ini bergulir dengan baik. Ini disebabkan oleh mereka sesungguhnya hanya menjual jasa (tenaga) saja karena kain-kain yang dijajakan tidak mereka beli pada pengrajin melainkan mereka menjualkan barang para perajin. Mereka berdagang tanpa modal. “Kami menjualkan kain tenun atau songket ini, dengan keuntungan yang sudah disepakati untuk dibagi dengan pemiliknya,” kata Inaq Undi. Barang yang tidak laku, bisa mereka kembalikan untuk menggantinya dengan barang yang baru. Berdagang tanpa modal inilah yang membuat semakin hari semakin banyak pedagang asongan di sekitar Pantai Kuta Lombok Tengah. -Naniek I. Taufan
Inspirasi
Edisi 892/ 14 - 20 maret 2016
5
Tri Amelia Terapkan Bisnis “Gokil”
Tekun dan tak mudah putus asa. Itulah prinsip yang dipatut ditiru dari Tri Amelia dalam menekuni bisnisnya. Ibu tiga anak ini, tak putus asa mengejar peluang usaha meski sempat berkali-kali gagal dalam membangun bisnis. Ketika bisnis laundrykiloan booming, Amelia dan suaminya, Irsan sempat terjun ke bisnis ini. Namun hanya bertahan dua tahun.
T
ak putus asa, pasangan muda ini kemudian memutuskan hanya menangani bisnis gosok pakaian. “Tadinya kami menangani laundry dan strika. Awalnya memang ramai, tapi lama kelamaan konsumen makin berkurang. Saingan semakin banyak, orang ramai-ramai buka bisnis ini. Akhirnya karena perkembangan kurang bagus, usaha ini kami tutup,” kata wanita 31 tahun itu. Namun peralatan bisnis laundry seperti setrika uap yang teronggok di rumah, kembali menarik minat Amelia dan suaminya untuk kembali berbisnis. Tapi kali ini mereka tidak lagi berbisnis laundry kiloan yang memang sudah mulai meredup, tapi lebih konsentrasi pada pada setrika kiloan. “Soalnya sayang, peralatannya, kan, sudah ada,” tambah Irsan yang hanya bekerja membantu istrinya pada hari libur karena dia sendiri bekerja di perusahaan otomotif di Cikarang, Bekasi. Pertimbangannya, kata Irsan, mungkin banyak orang mencuci pakaian sendiri dengan mesin cuci tapi ketika pakaian itu harus digosok mereka malas melakukannya karena tidak memiliki waktu. Ini biasanya terjadi pada keluarga yang sibuk, suami-istri bekerja jadi waktu yang dimiliki tidak banyak. Sehingga untuk menggosok pakaian yang telah dicuci diserahkan pada jasa gosok kiloan. Tapi ternyata terjun ke bisnis ini pun tidak mudah, ungkap Amelia menambahkan. Apalagi setrika uap ketika itu masih asing bagi warga. Maka tak heran ketika awal memulai bisnisnya, meski mereka telah menyebarkan brosuk plus nomor telp ke komplek-komplek perumahan di dekat mereka tinggal, kawasan Villa Mutiara Gading, Babelan, Bekasi, tidak ada warga yang tertarik. “Kami sudah sebar brosur, nomor telp, namun selama beberapa hari tetap sepi. Tidak ada yang datang. Lalu ada satu-dua orang mulai datang menyetrika pakaian,” tutur Amelia.
Meski begitu pasangan ini tak putus asa, promosi dan sosialisasi terus digencarkan. Berkat kerja keras mereka, perlahan bisnis gosok kiloan mereka mulai berkembang. Konsumen yang meminta jasa semakin banyak, per hari bisa mencapai 240 kg. Amel pun mulai kewalahan dan akhirnya merekrut beberapa tetangganya untuk bekerja sebagai tenaga penyetrika dan pengepakan pakaian. Ia mengenakan tarif Rp 3.500 per-kg untuk mereka yang rumahnya dekat, sedang yang agak jauh antara Rp 4000 hingga 4.500 per-kg. SISTEM JEMPUT BOLA MELUASKAN PASAR Hasil yang sudah lumayan itu, ternyata tidak membuat pasangan ini puas. Amel ingin usahanya semakin berkembang lagi, ia ingin konsumennya semakin banyak. Ia pun teringat pada ide menjajakan jasa gosok keliling secara door to door. Ia merasa bisnis model ‘jemput bola’ semacam ini tengah ngetren di lingkungan masyarakat. Model konvensional di mana penjual jasa hanya menunggu konsumen yang datang di ‘warung’ , sudah tidak jaman lagi. Jika ingin mudah dikenal dan cepat memiliki konsumen, harus mendatangi konsumen itu sendiri. Maka tak heran kalau sekarang ini banyak sekali bisnis-bisnis yang tadinya dikerjakan di tempat (di rumah), kini banyak
Irsan dan Tri Amelia jalankan bisnis kreatif
dijumpai di jalanan. Ada tukang jahit keliling, salon keliling, bahkan cuci mobil keliling pun ada. Dan kini Amel dan suaminya memperkenalkan bisnis setrika uap keliling. Ada banyak bisnis kreatif yang dilakukan masyarakat, namun pasangan suami-istri ini mengaku, belum pernah melihat adanya jasa setrika uap kiloan keliling. “Saya dan suami merasa bisnis ini punya peluang bagus karena jarang atau malah belum ada. Apalagi ini menggunakan setrika uap. Orang kan selama ini lebih kenal setrika listrik, nah kami perkenalkan setrika uap,” kata Amel yang diiyakan oleh suaminya. Menurut Irsan, peralatan bisnis setrika uang cukup sederhana. Ia dibantu beberapa temannya melakukan modifikasi pada bagian belakang motor istrinya. “Bagian belakang motor dibuat semacam boks untuk ditaruh tabung gas 3 kg, tempat air dan selang yang dimodifikasi agar bisa tersambung dengan setrika. Sistem kerjanya juga sederhana. Air yang dipanaskan akan menghasilkan uap yang kemudian dialirkan lewat selang ke setrika,” jelasnya. Tadinya, kata Amel, bisnis yang diberi nama ‘Gokil’ –Gosok Keliling--- ini akan dijalankan oleh
Tri Amelia tidak malu menawarkan jasa gosok pakaian
suaminya pada saat ia libur kerja. Tapi ternyata sang suami tidak ‘PD’ menjalankannya. “Iya, awalnya suami saya mencoba berkeliling naik motor menawarkan jasa menggosok pakaian. Namun dia agak malu menawarkannya, jadi hanya berkeliling saja. Akhirnya saya bilang, ya sudah saya saja yang menjalankan,” ungkap Amelia bercerita awal mulai memulai bisnis tukang gosok pakaian keliling. Sejak saat itu, Amel lah yang giat berkeliling. Ia mengaku tidak malu, malah bersemangat karena banyak warga yang ditemuinya justru sangat antusias karena memang jasa seperti ini jarang ada. Biasanya, lanjut wanita berjilbab ini, dia mulai berkeliling sejak pagi dan kembali pada sore hari. Kalau hari Sabtu dan Minggu, dia dibantu Irsan. “Biasanya kalau Minggu pagi, kami mangkal di tempat-tempat ramai. Banyak warga menghampiri, dikira saya jualan sesuatu. Mereka tanya saya berjualan apa. saya bilang, saya menawarkan jasa menggosok pakaian di tempat. Biasanya mereka bertanya bagaimana cara kerjanya, jadi saya jelaskan. Ada beberapa yang tertarik membawa pakaiannya dan saya langsung gosok ditempat. Ternyata demo menggosok ditempat menarik warga lain yang juga ingin mencoba. Akhirnya jadi ramai,” ungkap Amelia. Untuk jasa setrika pakaian keliling, Amelia biasa mematok harga Rp4000 per-kg. “Banyaknya pakaian yang distrika perkilonya tergantung tebal tipisnya bahan. Kalau bahannya tebal seperti jeans, paling 1 kg hanya bisa ada 3potong. Tapi kalau bahan biasa seperti kemeja, kaos bisa lebih banyak potong,” tutur wanita ini. Dari berkeliling, katanya, ratarata ia mendapat order strika 3040 kg. “Tidak semua bisa distrika ditempat. Kalau orderan banyak, saya minta ijin untuk bawa pulang untuk diselesaikan di rumah. Karena
nomor telp dan brosur selalu saya sebarkan, banyak juga yang nelp untuk minta diambil pakaiannya,” ungkap Amel seraya menambahkan menggunakan setrika uap hasilnya lebih bagus daripada setrika listrik. Dengan strika uap tidak perlu lagi menggunakan air untuk membantu melicinkan pakaian. “Saya kira hasilnya lebih bagus dibanding strika biasa. Lebihlicin dan rapih,” ucap Amel yang menjalankan bisnis setrika kiloan sejak 2013 lalu. Sebenarnya, tambah Irsan, mereka ingin sekali bisnisnya bisa berkembang lebih besar melihat potensi pasar yang luas. Misalnya dengan menambah armada setrika keliling. Sayangnya untuk itu dibutuhkan modal yang tidak sedikit, dan itu mereka belum punya. “Di daerah rumah kami ada banyak komplek perumahan, itu saja merupakan lahan yang bagus untuk digarap. Karena namanya menggosok pakaian kerap dilakukan. Belum lagi ada panggilan dari komplek-komplek perumahan yang cukup jauh. Ini bisa jadi karena dia dulu sering menyebarkan brosur juga nomor telp. Kalau terlalu jauh kami terpaksa menolak,” katanya. Amel bertutur, bisnisnya menjadi cukup populer akhir-akhir ini lantaran muncul di facebook. Suatu ketika, tuturnya, ia memposting foto sedang menjalankan bisnis ini. Ada beberapa foto diunggah. Tadinya setelah mengunggah foto tidak ada reaksi yang mencolok. Amel juga tidak terlalu memperhatikan hal tersebut karena sibuk bekerja. Sampai suatu hari ketika ia membuka facebooknya dan mendapat kejutan luar biasa. Postingan fotonya di-like ribuan orang, banyak yang minta berteman dan bertanya alamat dan nomor telp. Menurut Amel itu suatu hal yang sungguh diluar pemikirannya. Ia sangat terkejut tapi juga gembira karena menganggap ini merupakan peluangnya untuk bisa lebih maju. “Saya merasa ini adalah jalan dan kesempatan dari Tuhan sehingga bisa dikenal masyarakat,” tambahnya. Irsan menambahkan, saat ini ia sedang mencari cara bagaimana agar ‘beban’ di bagian belakang motor istrinya bisa tetap aman dan tidak menyulitkan sang istri dalam berkeliling. “Iya awalnya saya sempat ngeri bawa boks berkeliling. Kan kadang kita lewat di jalan yang tidak besar atau di jalan yang lalu lintasnya ramai. Saya takut malah membaret mobil orang. Tapi akhirnya sekarang saya sudah terbiasa. Tidak ngeri lagi, alhamdulilah,” ucapnya. -Diana Runtu
6
Woman on Top
Edisi 892/ 14 - 20 MARET 2016
Faridah Lim
Tak Nonton Gerhana Matahari di Televisi
Mencari pekerjaan tidak lagi LiNA yang tersedia lewat email dengan sistem konvensional. serta perangkat mobile dengan Pencari kerja tidak perlu datang memberikan informasi lowongan ke perusahaan untuk mencari inpekerjaan yang sesuai dengan formasi. Di era digital ini, pencarkualifikasi pencari kerja. ian kerja bisa dilakukan darimana “Pertumbuhan jumlah perusaja asalkan ada jaringan internet sahaan yang menayangkan iklan dan gadget untuk mengakses. melalui situs JobStreet.com di Inilah yang dijadikan dijadikan Bali meningkat rata-rata 15% per peluang oleh JobStreet.com untuk tahun. Sedangkan pencari kerja “mempertemukan” pencari kerja yang menggunakan situs kami dengan pemberi kerja. untuk mencari pekerjaan juga “Kami hadir untuk membantu meningkat hingga 23%,” ungkap mencocokkan pencari kerja dalam Faridah. mendapatkan informasi pekerjaan Pertumbuhan pencari kerja berkualitas dengan cara mencosebesar 23% ini menunjukkan cokkan keperluan perusahaan kesadaran warga Bali tentang untuk mendapatkan kandidat yang efektivitas situs pencarian kerja. Faridah Lim relevan, serius, dan berkualitas,” Di sisi lain, Faridah menegaskan ujar Faridah Lim, Country Manager JobStreet. pihaknya tetap melakukan upaya-upaya offline, com Indonesia. seperti mengadakan job fair yang bekerja sama Ia menuturkan pengalaman para pencari dengan DInas Tenaga Kerja dan kampus, membuat kerja yang dulu harus datang ke perusahaan branding di angkutan umum, serta memasang iklan tujuan, lalu antre untuk menunggu panggilan di media cetak. dari Bagian SDM. Banyak yang mengibaratkan Lowongan kerja yang sesuai menjadi aset Bagian SDM adalah “dewa” karena menentukan penting untuk meningkatkan kualitas hidup. “Penglolos atau tidaknya lamaran kerja. Namun, seirgunaan situs pencari kerja online merupakan salah ing perjalanan waktu dan kecanggihan teknologi, satu cara paling efektif untuk menghadapi persainkondisi berbalik. Bagian SDM yang kesulitan gan Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA). Dengan untuk mendapatkan pelamar. Tiap membuka jumnlah lowongan yang tersedia secara online, lowongan, jumlah pelamar sangat minim. pencari kerja mampu mendapatkan kesempatan Untuk menyiasati kondisi inilah, perlu ada kerja yang relevan dan berkualitas di skala nasional “jembatan penghubung”. Bagian SDM bisa maupun internasional,” tegasnya. membuat kualifikasi calon pekerja yang diinginkan Faridah juga mengatakan hal terpenting bagi sekaligus mengisi gaji yang akan diperoleh. Calon pencari kerja ialah mendapatkan informasi lowonpelamar pun bisa memilih mana lowongan yang gan pekerjaan. Dengan membuat akun lewat sesuai dengan kualifikasi mereka. JobStreet.com, mereka langsung terhubungan Ia menambahkan, pihaknya memfasilitasi dengan berbagai informasi lowongan kerja di di perusahaan dengan keberadaan sistem SiVA yang seluruh Indonesia dan negar-negara ASEAN. Semampu memberikan efisiensi waktu serta biaya lain itu, untuk menonjolkan diri di era MEA yang perekrutan untuk mendapatkan kandidat yang diperlukan adalah kepercayaan diri, keterampilan akurat, berkualitas, dan sesuai. Demikian juga dan keahlian di bidangnya masing-masing serta dari sisi pencari kerja, adanya fitur notifikasi keinginan belajar yang tinggi. –Ngurah Budi
Ratusan umat Hindu di kawasan Surabaya Selatan dan Sidoarjo, Selasa (8/3) merayakan upacara Pecaruan di Pura Jalasidhi Amertha, Kompleks TNI AL, Juanda.
M
angku Wayan Yasa, Pemangku Pura Jalasdhi Amertha ditemui di sela-sela acara itu, mengatakan upacara Pecaruan ini dilaksanakan dengan tujuan utama untuk memohon kepada Tuhan agar pelaksanaan penyepian dan yoga semedi dalam perayaan Nyepi ini dapat berjalan lancar dan sukses tanpa gangguan sedikit pun. Mangku Wayan Yasa yang
“AKU BUKAN MANUSIA ROBOT (SOP)…. “ Salam Senyum, Masih tentang senyuman, masih ingat dengan analogi membiasakan tersenyum dengan belajar mengendarai mobil? Ya… untuk menjadi driver yang handal selain belajar cara dan teknik mengendarai yang baik dan benar yang lebih penting lagi adalah ‘jam terbang’ harus lebih diperbanyak lagi. Sehingga tersenyum akan menjadi kebiasaan dan refleks seperti refleksnya kedipan mata kita. SOP dalam judul saya di atas bukanlah sejenis makanan berkuah yang sering kita lihat tulisannya pada banner warung-warung kaki lima. Melainkan Standart Operational Procedure yang berisikan kumpulan dari rangkaian proses atau prosedur operasional. Dalam SOP layanan, terutama pada bisnis yang bergerak pada bidang jasa, kita akan dengan mudah mendapati standar operasional tentang senyum yang dengan sengaja dituliskan (tersurat) seperti memberikan senyum, tersenyum dsb. Kelihatannya wajar-wajar saja sih… tapi dalam benak saya muncul pertanyaan kenapa sampai dituliskan? Apakah para pekerja sekarang sudah begitu susahnya tersenyum sehingga harus di SOP kan? Haaaaaa…. Kemana nilai-nilai luhur budaya bangsa ini yang terkenal dengan keramah tamahannya sehingga tersenyum pun harus diperintah? Yup… senyum serasa menjadi “produk” yang mahal sehingga tidak semua orang dengan bebas memilikinya. Senyum tidak lagi menjadi keseharian sehingga harus diaturmainkan dalam SOP dan para pelaku layanan harus menjalankannya. Dampaknya apa? Ya seperti mengendari mobil di jalan yang penuh dengan rambu-rambu lalu lintas, kapan kita boleh tersenyum, kapan kita boleh tidak tersenyum, kapan tersenyum harus lama dan kapan harus senyum sekilas. Kaku ! itu jelas kesan yang akan muncul dalam interaksi layanan. Robotic Service, tanpa kesan, tanpa pengalaman.
19
Nyepi di Surabaya dan Sidoarjo
“Jembatan Penghubung”
Layanan seperti ini tidak akan menciptakan pelanggan yang loyal, bahkan pun tidak akan terjadi. Ya… kecuali memang produknya tidak ada substitusinya sehingga mau tidak mau pelanggan kembali. “Produk” seperti itu relatif banyak dan saya yakin pembaca dapat dengan mudah mengambil contohnya. Pribadi (jiwa) melayani, pribadi yang selalu tersenyum bukanlah produk “karbitan” yang dapat terbentuk dalam semalam. Bukan juga semudah menekan tombol on/off pada saklar listrik yang dapat merubah gelap menjadi terang dalam sekejap. Tetapi merupakan sebuah proses yang lamanya tergantung kepada kesungguhan pribadi tersebut untuk merubah diri. Selain itu masih banyak faktor yang lain, seperti lingkungan kerja maupun lingkungan keluarga yang juga tidak sedikit memberikan pengaruh. Kisah motivasi berikut bisa kita contoh ataupun kita ambil pelajaran tentang senyum dan kebaikan. Tentang sebuah perusahaan yang mengalami penurunan kinerja yang sangat signifikan, pemiliknya melihat perusahaannya berjalan begitu monoton, tak ada warna, tak ada dinamika. Maka, pemilik perusahaan memilih dan menunjuk seseorang untuk mengganti pimpinan yang lama. Sang pimpinan baru mulai mengamati dan menganalisa kenapa perusahaan yang dulunya bagus tersebut menjadi menurun kinerjanya. Suatu pagi, saat brifieng dan doa pagi, dengan wajah yang ceria dan senyum terbaiknya pimpinan baru tersebut berkata, “Bapak ibu, kenapa saya menerima tawaran menjadi pimpinan di sini? Itu karena semata-mata saya menyukai perusahaan ini dan saya yakin saya mencintai para pekerja yang ada di perusahaan ini. Mari kita bangun perusahaan ini dengan mencintai pekerjaan dan rekan kerja kita. Dan sebagai salah satu bukti kecintaan, kita mulai pagi ini setiap briefing dan doa pagi sebelum kita bekerja kita membiasakan diri menceritakan kebaikan sekecil apapun
Edisi 892/ 14 - 20 MARET 2016
yang ada pada rekan kerja kita yang ada di sebelah kita de ngan senyum dan ketulusan”. Tiga bulan pun kebiasaan baru tersebut berlalu, sang pimpinan mulai melihat perubahan kinerja yang semakin membaik. Setiap orang yang berusaha untuk menceritakan kebaik an orang lain, pasti akan dilakukan dengan hati yang tulus dan wajah penuh dengan senyuman. Semangat seperti itu yang sebenarnya akan ditanamkan dalam hati para pekerja oleh sang pemimpin. Sekarang.. apa hubungannya dengan manusia robot….? Bayangkan bila semua senyuman harus diatur dengan SOP. Kita diminta tersenyum hanya karena menjalankan tugas… heheheheh… Beberapa hal yang dapat membuat layanan kita tidak seperti robot kita dapat memulai dari pemimpin layanan. 1. Berikan visi layanan yang kreatif agar pelaku layanan dapat bergairah dan bergelora dengan tim-nya. 2. Berikan selalu contoh contoh nyata dari visi layanan yang dibuat kepada karyawan dengan rajin sebagai pengamat dari berbagai jasa layanan yang ada. Tentunya kalau dibuat dalam bentuk cerita yang menarik, lucu,dan berkesan akan membuat karyawan mengingatnya dengan mudah. 3. Berikan pemahaman de ngan budaya lokal setempat yang tentunya sangat berpengaruh terhadap keberhasilan layanan tersebut. Mereka akan lebih paham, lebih bersifat kekeluargaan dan masuk dalam keseharian dari karyawan sebagai pelaku jasa dan pelanggan sebagai pemanfaat dari jasa tersebut. 4. Membiasakan dengan hal hal kebaikan, karena hati, mata, tangan, mulut akan bicara otomatis melalui sebuah senyuman (yang dalam hal ini tanpa harus menekan remote). Naah… ternyata mudah ya untuk segera berbenah dan memulai dengan layanan dengan senyuman non robotic.,, hehehehehe… ayooooo… mulai dari sekarang ya, .. dan kita “bukan manusia robot” lagi. Salam Senyum Sang Penyihir (3SP) Sri Sumahardani
Pemimpin upacara sedang melakukan acara Pecaruan menyongsong Nyepi di Pura Jalasidhi Amertha, Juanda
sudah 15 tahun menjadi Mangku di Pura yang bersebelahan dengan Gedung Gereja Katolik Santu Paulus Juanda itu, mengatakan selama melaksanakan penyepian dan yoga semedi, umat Hindu tidak boleh bepergian kemana-mana, tidak boleh menyalakan lampu, tidak makan dan minum, tidak tidur dan tidak boleh menonton televisi dan mendengarkan radio atau musik. “Kami tidak boleh pergi
Mangku Wayan Yasa
kemana-mana (ngebleng) tetapi hanya tinggal dalam rumah saja. Dan, tidak boleh ada sinar (amati geni) dan semuanya melaksanakan yoga semedi,” ujarnya. Didampingi Nyoman Arta,
Inspirasi Superhero
Suasana pameran tunggal superhero
Pameran Tunggal Super Hero digelar oleh Riki Antoni dalam format Seni Animasi figur kartun, dengan menjadikan tinta minyak di atas kanvas sebagai medianya. Pameran ini berlangsung selama dua bulan mulai tanggal 25 Februari 2015 hingga 28 April 2016 di Artspace yang berada di Lobby Artotek Surabaya. Riki Antoni adalah seniman yang berasal dari Padang Pariaman Sumatra Barat. Seniman kelahiran 1 Januari 1977 ini aktif mengembangkan karyakaryanya secara kartunis dan ilustrasi di Yogyakarta. Riki juga
pernah berkuliah di Institut Seni Indonesia Yogyakarta pada tahun 1996. Minatnya yang besar terhadap seni rupa, membuat Riki sangat aktif di berbagai acara pameran seni rupa mulai tahun 2000 sampai sekarang. Sekitar 44 pameran pernah ia ikuti, baik itu yang pameran tunggal maupun gabungan. Pada pameran tunggal ini Riki mengangkat tema Super Hero sebagai judul pameran dan menampilkan karya-karya ilustrasinya yang banyak terinspirasi dari superhero Marvel dan DC comics. Pada pameran ini, Riki sengaja
merealisasikan imajinasi tanpa batasnya ke dalam bentuk seni visual. Karena Riki melihat manfaat seni visual sebagai media edukasi generasi muda khususnya anak. Ketika belajar tentang seni rupa tidak hanya bertujuan untuk berproses berkarya seni saja, selain itu juga diharapkan dapat memberikan fisik motorik, kognitif, bahasa, sosial, emosional serta kemandirian pada anak. Jadi dengan bimbingan yang tepat, seorang anak akan dapat melatih potensi-potensi yang bermanfaat. -Dona
yang juga Mangku di Pura Jalasidhi Amertha Juanda tersebut, Mangku Wayan Yasa mengatakan acara penyepian ini, berlangsung selama 24 jam, mulai Rabu (9/3) pukul 06.00 sampai Kamis (10/3) pukul 06.00. Setelah itu, acara penyepian dan yoga semedi dinyatakan selesai. Umat kemudian melakukan upacara persembahyangan. Dilanjutkan dengan kegiatan saling memaafkan satu sama lain atas segala dosa dan kesalahan yang
dibuat selama setahun yang telah lewat. Menurut Mangku Wayan Yasa, karena selama penyepian dan yoga semedi tidak boleh mendengarkan dan menonton televisi, maka umat tidak akan keluar rumah untuk melihat gerhana matahari termasuk menonton di televisi atau mendengarkan siaran radio. Perayaan Nyepi tahun ini memang menarik karena bertepatan dengan gerhana matahari total. -Josef sintar
18
Life
Edisi 892/ 14 - 20 MARET 2016
Pilih Besi Bekas D Di tengah himpitan ekonomi, memaksa Gede Nurita untuk memutar otak demi memenuhi kebutuhan hidup. Sulitnya mencari pekerjaan dan tidak memiliki keahlian membuat kehidupannya karut-marut. Banyaknya tanggungan adalah alasan pria yang mempunyai tiga orang istri ini harus bekerja lebih keras lagi.
itinggal oleh istri pertama dan kedua membuat Nurit sapaan akrabnya hidup bersama istri ketiga, anak serta cucunya. Berawal ketika dirinya diajak berjualan ke pasar oleh sang istri, namun ia memutuskan untuk di rumah membuat kerajinan. Bermodal drum bekas yang diminta dari tetangganya, ia mencoba membuat gong. “Awalnya seperti gong jawa, itu terjual Rp 10.000,” ujar pria kelahiran 1930 tersebut.
Gede Nurita dan beberapa kerajinan buatannya
Nurit yang sudah 10 tahun menjalani pekerjaan itu kian mengasah bakatnya. Hingga banyak warga yang tahu kemudian meminta pesanan kepada Nurit. “Ada yang membayar Rp 150 ribu langsung makan,” ujar warga Dajan Margi, Desa Naga Sepeha, Kecamatan Sukasada ini. Sampai sekarang ia masih mendapat pesanan dari warga yang ingin membuat gong. Di zaman yang sudah serba berkembang, Nurit hanya menggunakan tangan dan peralatan seadanya dalam proses pembuatan gong besi. Peralatannya hanya gergaji besi dan palu. Namun, jangan khawatir kualitas gong hasil buatan tangannya tidak kalah dengan gong yang dibuat menggunakan peralatan yang lebih memadai. Bahan baku seperti besi pun ia beli tidak dari sembarang orang. Biasanya ia membeli pipa besi dari orang yang kerja di PDAM. Besi yang digunakan tidak berupa besi baru melainkan besi yang sudah dipakai. Hal ini dikarenakan besi yang sudah dipakai akan menghasilkan bunyi lebih bagus dibandingkan besi yang baru. “Kalau besi baru masih banyak kandungan timah,” ucap Nurit. Sekian lama sebagai pengrajin gong besi, rupanya perjalanan pahit pernah ia rasakan. Dapat pesanan namun tiba-tiba dibatalkan tanpa tahu alasan. Dia pun membuat gong besi tersebut dengan lengkap (abarung) dan berjanji tidak akan menjual den-
Story
Gede Nurita
gan harga berapa pun. “Ada yang mau beli Rp 10 juta tapi tidak saya jual,” ucap kakek dari 26 cucu itu.Setelah istri ketiganya meninggal, membuat gong adalah satu-satunya sumber penghasilan Nurit. Sampai sekarang Nurit masih menekuni pekerjaanya. Biasanya dia mendapat pesanan dari luar daerah seperti desa Pancasari, Ala Sangker, Sangsit, Lovina dan Sambangan. Nurit akan mulai membuat gong jika sudah ada pesanan. Kalau yang pesan biasanya duang tungguh atau telung tungguh. Satu tungguh gong besi dihargai Rp 600.000 namun sayang pesanan tidak selalu datang. Dua atau tiga bulan sekali baru ada pesanan. Selama tidak ada pesanan dia hanya diam di rumah mengurusi anak terkecilnya yang masih TK. -Wiwin
Pilih yang Gampang Diingat Menurutnya penggemar musik reggae adalah orang yang selalu berpenampilan sederhana dan bisa makan apa adanya. Memilih reggae sebagai genre dalam musiknya dikarenakan masih langkanya pemusik reggae yang ada di Buleleng. “Di Bali banyak sekali pemusik reggae, saya ingin di Buleleng ini ada juga,” tegasnya. Musik reggae bisa diterima dari kalangan bawah sampai kalangan atas hanya saja tidak se-glamour musik hardcore dan rock yang notabene digemari anak-anak muda. “Reggae bisa diterima oleh semua kalangan, dan saya hanya ingin ada yang berani mengatakan dirinya (grup band) bergenre reggae,” imbuh manajer band yang terbentuk 3 tahun silam ini. Band yang digawangi oleh Adi Betox di vokal, Duwiq di gitar, Komang Ikrar (Komang
A.O) di drum, Gusti Bagus Trikaya di keyboard, dan Felix di saxophone ini terbentuk sejak 29 Juni 2013. Tanggapan positif yang diterima tiap manggung membuat band yang bermarkas di Seririt ini makin bersemangat. Mereka mencoba untuk membagikan jadwal manggung atau event-event tempat manggung di sosial media. Dilihat dari sanalah mereka merasa yakin musik reggae dapat diterima di Buleleng ini. Terlepas dari hanya sekadar memuji yang jelas tanggapan negatif dari masyarakat tidak ada. Jadwal manggung yang lebih banyak di luar daerah membuat band yang pernah mengisi acara Buleleng Festival dan Buleleng Bali Dive Festival ini berharap akan banyak berkembang pemusik-pemusik reggae. “Jujur saja di Buleleng cuma kami yang mewakili padahal di Denpasar
Dengan raut wajah bahagia yang tak terlukiskan, Papuq Pinah (60), tersenyum pada Kolonel CZi Lalu Rudi Irham Srigede, S.T., M.Si, ketika Komandan Korem 162/Wirabhakti tersebut menyerahkan rumah yang telah direhab kepadanya. Sungguh beruntung bagi seorang Pinah ketika Allah SWT mengabulkan doa-doanya mempertemukannya dengan orang-orang yang peduli pada ketidakberuntungan hidupnya selama ini.
Papuq Pinah saat pertama kali ditemukan oleh Ocong Diesel di rumahnya yang tidak layak huni.
B
ermula ketika Ocong Diesel (54), salah seorang pekerja sosial yang menemukannya dalam kondisi yang sangat memprihatinkan di rumahnya di gang sempit di Kampung Banjar Ampenan Mataram. “Ketika saya datang hari itu sekitar sebulan yang lalu, Papuq Pinah tengah salat di rumah yang tampak
lebih layak disebut kandang,” ungkap Ocong. Ocong menemukannya dalam kondisi tengah sakit dan mata buta akibat katarak. Dari sanalah Ocong kemudian mengabarkan pada Kolonel Lalu Rudi tentang kondisinya. Gayung bersambut, Papuq Pinah kembali bertemu dengan orang yang peduli padanya yang langsung pada saat itu juga, Lalu Rudi Irham mendatanginya dengan membawakannya sembako. Naluri kemanusiaan seorang prajurit abdi negara membuatnya tidak butuh waktu yang lama, Danrem 162/WB ini datang padanya dengan penuh empati. Dengan rasa haru yang ditahannya, Lalu Rudi Irham mengamati rumah Papuq Pinah yang berada dalam kondisi sangat buruk dan mengukur tiap sudut rumah tersebut. Saking buruknya kondisi rumah tersebut, Lalu Rudi bahkan menemukan kotoran manusia yang berserakan di manamana. Tertatih-tatih Papuq Pinah yang buta karena katarak itu menyambut kedatangannya. Naluri kemanusiaan Lalu Rudi tergerak melihat kondisinya hari itu. Ia datang padanya bukan sebagai Danrem, melainkan sebagai seorang manusia yang tergugah melihat kondisinya yang sangat memprihatinkan itu. Atas nama kemanusiaan Lalu Rudi datang untuk Papuq Pinah. “Terenyuh saya melihat kondisinya,” ungkap Lalu Rudi usai menyerahkan rumah yang sudah direhab kepada Papuq Pinah. Tinggal bersama seorang anak angkatnya yang masih duduk di bangku Sekolah Dasar, Papuq Pinah yang tidak bisa melihat itu, menjalani
Papuq Pinah (tengah depan) bersama anak angkatnya dan Danrem 162/WB beserta istri, di rumah yang baru direhab.
hari-harinya dengan sangat prihatin. Rumahnya yang lebih mirip kandang tersebut tidak dilengkapi dengan kamar mandi apalagi WC. Rumah berukuran sekitar 5x10 meter ini hanya memiliki satu kamar tak layak huni. Atapnya bocor di sana sini. Terlihat sempat ada aktivitas pembangunan namun terbengkalai begitu saja. Dengan tangannya sendiri, Lalu Rudi sempat mengukur dan menggambar rencana rehabilitasi rumah tersebut. Tentu saja ia tidak bisa membangun rumah tersebut sendiri. Ia lalu membangun komunikasi dengan berbagai pihak untuk bisa membangunkan rumah yang layak bagi Papuq Pinah. Selalu ada jalan
untuk sebuah keihklasan dan niat baik. “Asal ada kemauan, Allah SWT pasti memberikan jalan,” ujarnya. Bantuan datang dari berbagai pihak yang menyumbang untuk pembangunan rumah Papuq Pinah. Kemudian ia memerintahkan anak buahnya untuk melakukan pembangunan rumah tersebut. Lalu Rudi menggerakkan anak buahnya pada bagian yang biasa mengurus pemeliharaan bangunan militer untuk bergotong-royong merehabilitasi rumah tersebut. Ia meminta agar rumah Papuq Pinah dibongkar total dan dibangun ulang. Tidak kurang dari 5-10 orang anggota ia kerahkan untuk mengerjakannya tiap hari. “Satu bulan
rehabilitasi rumah ini jadi dan selesai dikerjakan,” ungkap Rudi. Bantuan datang dari berbagai pihak termasuk dari Dinas Sosial Kota Mataram yang memberikan bantuan untuk mengisi kebutuhan Papuq Pinah di rumahnya yang sederhana itu. Selain itu Ocong menggalang dana untuk pembangunan rumah tersebut melalui media sosial. “Alhamdulillah, banyak sahabat FB yang membantu Papuq Pinah,” ujar Ocong usai mengantar kipas angin permintaan Papuq Pinah. Kini rumah bercat hijau itu telah tampak sangat layak huni. Papuq Pinah tiada hentinya tersenyum bahagia. Senyum abadi akan ibadah dari orang-orang yang peduli padanya. Ia juga tidak berhenti mengucapkan kata-kata terima kasih dalam suara yang lirih yang pelan kepada Danrem yang memandangnya dengan penuh simpati. “Terima kasih, terima kasih, terima kasih,” ungkap Papuq Pinah kepada Danrem 162/WB yang didampingi istrinya, Rineke L. Rudi yang sekaligus Ketua Persit Kartika Chandra Kirana, Koorcab. Rem 162 PD IX/Udayana. Kini di rumah hijau dekat pantai yang dilengkapi dengan MCK itu, Papuq Pinah dan anak angkatnya telah bisa tidur dengan tenang. Tidak lagi kepanasan dan kehujanan akibat bocor. Ruangan rumah tersebut juga bersih dan Papuq Pinah bisa buang hajat pada tempat yang semestinya. Ia sangat bersyukur dipertemukan dengan orang-orang yang peduli. Doa dilantunkan Papuq Pinah bagi mereka yang telah mau berbagi pada mereka yang tidak beruntung seperti dirinya. -Naniek I. Taufan
Personil Rasta Pora Kecap Asin
ada puluhan band yang bergenre reggae,” tambah sang manajer. Mereka mengaku bangga bisa mewakili Buleleng pada acaraacara di luar daerah namun akan lebih bangga lagi jika ada pemusik reggae lain. Mempunyai lagu yang tergabung dalam sebuah album kompilasi membuat band ini harus memiliki loyalitas yang tinggi. Personil yang cukup banyak mengharuskan band yang mem-
7
“Kandang” Itu sudah Jadi Rumah
Rasta Pora Kecap Asin
Memiliki konsep dan tujuan yang sama merupakan salah satu kunci utama terbentuknya sebuah band. Berawal dari hobi kumpul hingga manggung di beberapa acara memaksa band yang satu ini memiliki nama. Rasta Pora Kecap Asin adalah nama yang dipilih secara spontan melihat lagu-lagu yang dimainkan bergenre reggae ska ala Shaggy Dog. Jika diartikan kata per kata Rasta Pora Kecap Asin yaitu Rasta merupakan kaum atau orang-orang berambut gimbal penggemar musik reggae, Pora artinya pesta pora. “Munculnya nama Kecap Asin karena merupakan nama yang paling sederhana dan gampang diingat untuk sebuah band reggae dengan diiringi tari-tarian. Kalau diibaratkan makanan, jika tanpa kecap asin rasanya pasti hambar,” cerita sang manajer Made Trijaya.
Edisi 892/ 14 - 20 MARET 2016
punyai lagu “Alih Bojog” ini menyamakan jadwal latihan. “Kami punya jadwal latihan regular yaitu hari Minggu,” ungkap Adi Betox, sang vokalis. Memiliki kesibukan yang berbeda tidak lantas membuat Kecap Asin vakum dalam berkarya. Bagi mereka lirik dari musik reggae sangat mengena bagi pendengarnya. “Ke depannya kami ingin membangkitkan musik reggae di Buleleng,” ungkap Adi Betox. -Wiwin
Rineke L. Rudi menggunting pita tanda penyerahan rumah yang dibangun atas kerja keras Korem 162/WB yang dibantu berbagai pihak, kepada Papuq Pinah.
Rumah Papuq Pinah sebelum dan setelah dibangun kembalim
8
Bunda & Ananda
Edisi 892/ 14 - 20 maret 2016
badan 120 cm memerlukan zat gizi sebagai berikut: energi 1800 kkal, protein 45 g, vitamin A 500 RE, tiamin 0,9 mg, asam folat 200 ug, vitamin C 45 mg, kalsium 600 mg, fosfor 400 mg, besi 10 mg, yodium 120 ug, seng 11,2 mg, selenium 20 ug, flour 1,2 mg. Untuk memenuhi kebutuhan zat gizi anak tersebut dapat dihidangkan makanan sebagai berikut: Makan pagi: nasi putih 200 g, telur dadar 50 g, bening bayam 100 g, teh manis, snack di sekolah bubur tumbuh disamping harus tercukkacang hijau 15 g, Makan siang: upi makanannya, juga sangat perlu nasi putih 200 g, semur ayam 75 beristirahat pada siang hari, sehg, cah sawi hijau 100 g + tahu 50 ingga tubuh memiliki kesempatan g, buah segar pepaya 100 g, Makan melakukan metabolisme makanan malam: nasi putih 200 g, ikan kakap Rai Widowati lebih sempurna. Makanan yang goreng 75 g, tempe bacem 50 g, dikonsumsi apabila hanya cukup sebelumnya yaitu saat pertama plecing kangkung 100 g, jeruk untuk aktivitas fisik menyebabkan anak diperkenalkan makanan manis 100 g. anak terhambat pertumbuhannya. pendamping air susu ibu (MP“Ibu yang memiliki hobi meUntuk hal ini ibu-ibu harus tetap ASI). Anak yang pada awalnya masak dan mempunyai waktu memerhatikan jumlah makanan selalu diperkenalkan makanan luang dapat menyiapkan makanan yang dikonsumsi putra-putrinya yang rasanya manis-manis, se- anaknya dengan melakukan variasi dan kegiatan fisik yang dilakukan lanjutnya sering bermasalah menu dan variasi bahan sehingga pada saat diperkenalkan makan anak selalu dihidangkan makanan di sekolah atau di rumah. “Pedoman gizi seimbang men- sayur. Sayur untuk anak sebai- yang bervariasi untuk mencegah ganjurkan seorang anak sebaiknya knya dimasak tersendiri, dipisah timbulnya kebosanan terhadap mengonsumsi beragam makanan memasaknya dengan sayur yang makanan yang monoton disajikan,” dengan porsi sesuai anjuran yang akan dikonsumsi oleh orangtua ujar Ketua DPD Persagi Bali ini. terdiri dari sumber karbohidrat atau kakaknya yang lebih besar. Ia juga mengatakan anak yang sebagai zat tenaga (nasi, roti, sing- Ibu yang menyiapkan makanan sedang dalam periode pertumkong, mie, dll.), sumber protein atau sayur untuk anaknya akan buhan dan perkembangan perlu hewani dan nabati sebagai zat dapat menyajikan makanan dan disajikan hidangan yang disukai pembangun (telor, daging, ikan, sayur yang disukai. Hal ini dapat dengan memperhatikan prinsip tahu, tempe, dll.), vitamin dan min- meningkatkan nafsu makan dan menu seimbang untuk memenuhi eral sebagai zat pengatur (bayam, anak merasakan kelezatan maka- kebutuhan gizi tubuhnya. Ibu-ibu kangkung, wortel, pepaya, melon, nan yang dimakan,” paparnya. yang menyayangi anaknya jangan Yang perlu mendapat perha- terobsesi memberikan makanan jeruk, dll.). Kemudian diimbangi dengan melakukan aktivitas fisik tian adalah besarnya porsi atau dengan tujuan agar anaknya atau berolehraga secara rutin jumlah makanan yang sebaiknya gemuk, namun anak sebaiknya dan jangan lupa minum air putih dimakan untuk memperoleh memiliki status gizi yang optiminimal 8 gelas sehari atau setara status gizi yang optimal. Sebagai mal sehingga periode tumbuh contoh seorang anak sekolah dan kembang selanjutnya juga 1.5 liter. Pola makan anak saat ini ser- dasar yang berumur 9 tahun den- optimal. ing dipengaruhi oleh pola makan gan berat badan 25 kg dan tinggi -Sri Ardhini/Ngurah Budi
Keluarga Sehat
dengan Gizi Seimbang
Kesehatan bagi setiap orang sangatlah berharga. Badan yang sehat juga ditentukan pula oleh pola makan dan jenis makanan yang dikonsumsi setiap hari. Pola makan gizi seimbang adalah pola makan bervariasi.
M
enurut IGA Rai Widowati, hal ini juga sangat disarankan oleh Kementerian Kesehatan untuk diterapkan. Sebab, memilih pangan padat gizi sekaligus bervariasi menjadi kunci keberhasilan para ibu untuk menyediakan makanan yang menyehatkan juga enak. Dikatakan oleh salah seorang pengurus Perwatusi Bali ini, sinilah peran ibu, menjaga serta memastikan kesehatan anggota keluarganya, dengan cara memberikan makanan yang menyehatkan. Tidak mesti menghitung jumlah kalori yang masuk setiap hari, tapi cukup disesuaikan dengan aktivitas, kapasitas tubuh dan daya tampung perut, dan menjaga berat badan tetap ideal. Sebab, hal ini yang menunjukkan kalau asupan gizi tubuh seseorang terpenuhi. Menu makanan sehari- hari di keluarga, sangat penting diperhatikan, meski kelihatannya sepele. Makanya, para ibu mesti memiliki pengetahuan dengan membaca atau mencari referensi tentang gizi seimbang. Apalagi, asupan makanan dengan kandungan gizi yang seimbang berperan pada kecerdasan yang dimiliki anggota keluarga terutama anak anak. Gung Rai lantas menyampaikan bahwa yang dimaksud dengan gizi seimbang adalah kandungan dalam makanan juga berfungsi sebagai sumber tenaga, zat pengatur dan zat pembangun. “Untuk saya pribadi saat ini tidaklah terlalu sulit. Sebab anak saya yang pertama sudah mandiri dan kebetulan tengah menempuh studi di luar. Sedangkan yang masih sekolah di sini si bungsu rupanya sudah cukup memiliki pengetahuan dari internet atau media sosial lainnya perihal apa itu makanan sehat,” katanya. Namun, sebagai seorang ibu ia wajib menyediakan menu baik untuk sarapan ataupun waktu makan lainnya. Menunya disesuaikan dengan kebutuhan putranya yang sangt aktif di kegiatan pecinta alam dan bela diri. Karena kebetulan anaknya tidak suka nasi maka ia pun menggantinya dengan kentang dan roti agar keperluan karbohidrat sebagai sumber tenaga tercukupi. “Begitu juga dengan kurang sukanya ia terhadap sayur, juga saya alihkan ke buah. Buah juga saya pilih yang mudah dicari seperti apel, papaya dan pisang. Kalau untuk protein, lebih mudah karena bisa di dapat dari tempe dan telur,” tuturnya. Anak muda sekarang lanjutnya, juga tidak lagi terlalu tergiur dengan fast food atau jenis makanan instan lainnya. Mereka juga sudah tidak mau minuman yang
Agusjaya Mataram
berwarna, tapi lebih memilih air putih. “Selain sehat katanya sekalian jaga bodi. Kalaupun mereka sesekali makan makanan siap saji, kulitnya dibuang. Begitu juga urusan gula mereka memilih gula diet,” ujarnya lagi. APAKAH ANAK PERLU DIET? Sementara itu, di sebuah sekolah ada perbincangan dua ibu usai mengantar anaknya. Salah satunya bertanya bagaimana caranya mengatur makanan anaknya mau gemuk, sedangkan yang satunya bertanya bagaimana agar anaknya bisa kurus. Apakah anak yang gemuk perlu diet, atau anak yang kurus perlu banyak makan? “Ibu yang senang melihat anaknya gemuk, akan terus mempertahankan pola makan anaknya sehingga berat badanya akan terus meningkat. Sedangkan ibu yang mengetahui kegemukan dapat berdampak negatif pada perkembangan anak selanjutnya, akan berusaha melakukan diit, dengan cara mengurangi porsi makannya,” ujar Dr. Ir. I Komang Agusjaya Mataram, M.Kes. Dosen Jurusan Gizi Poltekkes Denpasar ini menjelaskan seorang anak untuk memperoleh status gizi yang optimal tidak perlu melakukan diet mengurangi porsi makan. Yang dimaksud diet adalah pengaturan pola makan sehingga asupan zat gizi sesuai dengan kebutuhan tubuh. Pada periode ini anak sedang mengalami pertumbuhan fisik dan aktivitas fisiknya yang tinggi baik di sekolah maupun setelah pulang sekolah. Untuk itu sangat diperlukan konsumsi makanan yang bergizi agar aktivitas yang dilakukan tidak mengganggu pertumbuhan. Kadangkala ada orangtua yang menyatakan anak sudah banyak namun tubuhnya tetap kurus. Anak yang sedang
Mendongeng Lima Menit
tawuran antar semut
Serombongan semut merah berangkat beriringan mencari makan ke tempat yang lebih jauh. Di tengah jalan berpapasan dengan iring-iringan semut hitam yang mencari makan ke tempat lain. “Minggir kau! Ini Made Taro jalanku!” kata Semut Merah. “Ini jalanku! Minggir kau!” jawab Semut Hitam. Semut merah tersinggung, lalu katanya, “Belum tahu kau! Aku semut merah, dewaku Dewa Pencipta. Beliaulah yang meciptakan bumi, langit, matahari, hewan, semut, dllnya. Tanpa kehendak beliau, kamu tidak ada!” Semut hitam merasa direndahkan, lalu balasnya, “Belum tahu kau! Aku semut hitam, dewaku Dewa Pemelihara. Beliaulah yang memelihara segala ciptaan. Tanpa beliau, segala yang diciptakan akan hancur.” Masing-masing semut itu merasa direndahkan. Mereka terpaksa mengunggulkan peranan Dewanya masing-masing. Mula-mula mereka bersitegang urat leher, lalu berlanjut dengan saling ejek. Semut hitam menonjokkan pantatnya ke moncong semut merah. Semut merah membalasnya dengan menyemburkan kencing ke mata semut hitam. Semut-semut yang mula-mula beriringan itu lalu berhamburan. Masingmasing membela pemimpinnya. Mereka bertarung adu kekuatan, saling jambak, saling banting, saling robek. Ya, mereka tawuran, saling mengalahkan dan saling meniadakan yang lain. Lihat, mereka bergumul saling bunuh. Lihat tubuh-tubuh yang meregang di tanah. Lihat, darah tercecer di mana-mana! Ada yang kepalanya pecah, ada yang perutnya terburai.
Dan dengar, mereka yang masih sempat bertarung berteriak-teriak sekuat tenaga. Pada saat peristiwa itu terjadi, dari kejauhan tampak iringan rombongan semut lain menuju arena tawuran itu. Mereka mendengar rintihan dan teriakan. Setelah menyaksikan apa yang terjadi, pemimpin rombongan itu berteriak, “Hai, semut-semut! Ngapain kamu saling bunuh?” Semut-semut yang sedang bertarung menghentikan pergumulannya. Mereka semua menoleh ke arah suara itu. Mereka heran. Di depannya berdiri serombongan semut yang berwarna hitam, ah, bukan hitam; merah, ah, bukan merah. Ada putihnya, ada cokelatnya, ada kuningnya. Bukan! Semut itu berhiaskan semua warna. Ketika pemimpin semut itu mendengarkan keterangan salah satu pihak, semut pihak lawan membantahnya. Mereka kembali marah dan berancang-ancang melanjutkan tawuran itu lagi. Akhirnya pemimpin semut segala warna itu berkata. “Sebab dari pertarungan itu adalah kebodohan. Kamu tidak memahami dirimu sendiri dan juga tidak memahami diri orang lain. Kami adalah semut segala warna. Dewaku Dewa Pelebur. Kalau dewaku menginginkan, maka segala ciptaan, segala yang dipelihara, tak ada artinya. Semua musnah, termasuk semut-semut. Yang Maha Kuasa menugaskan kita untuk memelihara hukum kehidupan. Ada kelahiran, ada kehidupan dan ada kematian. Hargailah dan dukunglah tugas dewamu itu! Kehidupan akan berlangsung harmonis, apabila dewadewa itu saling memahami dan bertugas menjalankan kewenangannya dengan baik. Semut-semut yang habis tawuran itu menyadari kesalahannya. Mereka saling bersalaman, lalu meneruskan perjalanan. Sekali-sekali mereka menoleh ke belakang, memandang bangkai-bangkai semut yang berserakan di tanah.
Griya
Edisi 892/ 14 - 20 maret 2016
Kekokohan Sanggah
Batu Lahar
Di balik musibah pasti ada hikmah. Ungkapan itu sepertinya tepat mewakili aktivitas para pengeraajin batu lahar di seputaran Jalan By Pass Prof. IB Mantra, Ketewel, Bali. Salah satu usaha pembuatan kerajinan dari batu lahar ini adalah UD. Surya Jaya.
S
e p e r t i d i t u t u rkan salah seorang pengerajinnya, Komang Suparta, muntahan batu dari Gunung Agung, Karangasem, selain menjadi bongkahan batu biasa, bisa dimanfaatkan dan dibentuk menjadi bangunan sanggah atau candi yang pada umum dipakai masyarakat Bali. Bongkahan batu hitam besar serta memiliki tekstur keras ini, diproses dengan cara dipotong-potong terlebih dahulu, setelah itu dibentuk menjadi bentuk yang diinginkan. Meski harga sanggah dari batu lahar ini lebih tinggi dari material lainnya seperti batu bata merah, paras maupun batu palimanan, peminatnya masih tetap ada, walaupun menurun dari tahun-tahun sebelumnya. “Pertengahan tahun 2015, orderan agak sepi,” ujar Suparta yang sudah 5 tahun bekerja di sana. Harga sanggah batu lahar dengan alas 60-70 cm dan tinggi sekitar 3 meter ini mencapai angka Rp 7 juta. Tak heran memang, karena karakter barunya yang keras, tentu proses pemotongan maupun memahat/mengukirnya pun memerlukan alat khusus. “Alat pahatnya memakai pahat baja, dan ongkos ngukirnya bisa sampai setengah dari harga sanggahnya, sekitar Rp3 juta,” jelasnya. Karena karakternya yang kokoh, selain sanggah, batu lahar juga banyak dibentuk menjadi patung, candi bentar, dan tembok penyengker. Suparta mengatakan kalau sekarang sudah mulai ban-
yak orang yang melirik sanggah batu hitam. Selain karena bahannya yang kuat, warna hitam dari batu tersebut membuat bangunan sanggah terlihat lebih berwibawa. “Banyak orang yang membongkar bangunan sanggahnya hanya untuk menggantinya dengan sanggah batu hitam,” ucapnya. Ia menambahkan, sanggah batu lahar ini sangat awet. Walaupun diterjang hujan ataupun terik matahari, batu hitam tidak akan bermasalah seperti batu putih yang lebih cepat berlumut ataupun seperti kayu yang cepat lapuk. Mungkin itu juga yang menjadikan banyak orang yang memilih batu hitam menjadi bahan bangunan sanggah mereka. –Inten Indrawati
17
16
Edukasi
Edisi 892/ 14 - 20 MARET 2016
Utamakan Layanan untuk Pelanggan
Diberlakukannya penerapan kebijakan kantong plastik ber bayar sepertinya belum berjalan sepenuhnya di pedagang di pasar tradisional. Mereka masih berpikir keberadaan kantong plastik paling praktis sebagai pembungkus barang dagangannya.
B
u Gung Dewi, salah seorang konsumen yang biasa belanja di pasar tradisional menuturkan kebijakan yang dikeluarkan pemerintah tidak sampai
menyentuh pedagang pasar tradisional. “Saya belanja di pasar tradisional, tetap saja diberi tas plastik tanpa ada biaya tambahan. Pedagang di pasar tradisional tidak terpengaruh dengan kebijakan
Kampanye Indonesia Bebas Anemia Berdasarkan hasil Riset Kesehatan Dasar tahun 2013, tercatat 1 dari 5 orang Indonesia berisiko menderita anemia. Mayoritas penderita anemia adalah wanita dan pria dengan produktivitas tinggi yang memiliki peran ganda sebagai pekerja maupun orang tua yang seringkali merasa mudah lelah dan kerap mengalami penurunan konsentrasi. Namun, banyak dari mereka yang tidak menyadari bahwa hal-hal tersebut adalah gejala dari anemia yang berdampak pada penurunan kinerja mereka sehari-hari. Menyadari hal tersebut, Merck dengan komitmennya untuk meningkatkan kesadaran akan pentingnya pengetahuan mengenai risiko anemia dan dampaknya terhadap kinerja sehari hari, bekerja sama dengan Perhimpunan Dokter Gizi Medik Indonesia (PDGMI) meluncurkan kampanye dengan tema “Indonesia Bebas Anemia” yang akan diselenggarakan pada 16 Maret 2016, di Grand Ballroom I Hotel JS Luwansa, Jakarta Selatan. Ada tiga pembicara dalam acara tersebut, Head of Marketing Consumer Health PT Merck Tbk. Indonesia Anie Rachmayani, Wakil Ketua PP-PDGMI Dr. dr. Yustina Anie Indriastuti, MSc, SpGK, dan artis Mona Ratuliu.-rls
baru tas plastik bayar Rp 200,” ujarnya. Ia menambahkan di pasar swalayan juga menerapkan aturan beda. Ada yang langsung mengenakan biaya Rp 200 per tas plastik dan ada yang menggratiskan. Dari kitir yang diberikan kasir ada yang mecantumkan biaya tas platik Rp 0 dan ada juga yang berisi Rp 200. Pedagang tas plastik di pasar tradisional juga tak terpengaruh dengan kebijakan tas plastik berbayar. “Pedagang masih perlu tas plastik. Mereka beli tas plastik kemudian dipakai untuk membungkus barang konsumen. Ini bagian dari layanan mereka,” ujar seorang pedagang plastik di Pasar Satria, Denpasar. Sementara itu Herry, salah seorang pedagang tas di Pasar Baru, Bandung mengatakan ia sudah mengetahui soal sosialisasi kebijakan yang bertujuan untuk mengurangi sampah plastik tersebut, namun diakuinya ia belum menjalankannya. Ia juga mendengar kalau nantinya dana hasil pembayaran kantong plastik berbayar itu akan diambil setiap bulannya dihitung dari omzet. Ia menggunakan kantong plas-
P
Bali memiliki kekayaan alam yang sangat indah dan sangat menakjubkan di mata dunia. Banyak tamu nusantara maupun mancanegara datang ke Bali untuk melihat adat dan budaya Bali serta keindahan alam Bali. Pantai menjadi salah tujuan wisata saat berada di Bali.
Edisi 892/ 14 - 20 MARET 2016
Terus Berinovasi Kembangkan Beatbox Beatbox sudah dikenal di Buleleng khususnya Singaraja. Salah satu yang getol mengembangkan beatbox di Singaraja adalah Made Ravi Ramayana.
Suasana pasar tradisional
tik untuk membungkus dagangannya yang berupa berbagai jenis tas. Dalam sehari katanya tidak lebih dari sepuluh menghabiskan kantung plastik. “Sampai saat ini belum ada juga yang belanja bawa kantung sendiri dari rumah. Saya juga masih memberikannya sebagai layanan kepada pelanggan,” katanya. Sementara, Udin seorang pedagang martabak manis juga di lokasi yang sama mengatakan
hingga saat ini belum mengetahui kebijakan tersebut dan masih menggunakan kantong plastik untuk tempat jajanan jualannya tanpa meminta bayaran. “Saya kan hanya memakai kantong palstik yang kecil-kecil...ndak tega nambah minta bayarannya. Kalaupun mesti pakai kertas bekas kan repot juga pembeli untuk membawanya. Kantung plastik kecil ini yang paling praktis ” katanya. – Sri Ardhini
Menikmati Matahari Terbenam di Pantai Pasut ulau Bali dikelilingi oleh pantai. Ada yang sudah terkenal seperti Pantai Kuta, Sanur. Nusa Dua, dan Amed. Namun, ada juga pantai yang belum banyak dikenal wisatawan. Salah satunya adalah Pantai Pasut yang menawarkan pemandangan yang indah. Pantai Pasut terletak di Desa Tibubiyu, Kecamatan Kerambitan, Kabupaten Tabanan, sekitar 13 km dari kota Tabanan. Suasana pantai pasut ini masih sangat sepi dan nyaman cocok bagi pengunjung yang menyukai ketenangan. Pantai Pasut ini berpasir hitam, pemandangannya sangat menawan. “Pada sore hari pengunjung yang datang ke pantai dapat menyaksikan indahnya panorama alam matahari tenggelam,” ujar Putu Erawati, salah seorang warga yang kerap jalan-jalan ke pantai ini. Ia menambahkan masyarakat sekitar pantai ini umumnya bekerja sebagai petani dan nelayan. Ini bisa terlihat masih banyaknya sawah saat menuju ke Pantai Pasut serta perahu-perahu nelayan berjejer rapi. Di sebelah barat pantai
Dara
terdapat Pura Segara dan muara Sungai Yeh Po. Saat tertentu di Sungai Yeh Po sering dijadikan tempat perlombaan sampan. Para pengunjung yang datang ke Pantai Pasut juga bisa bersantai bahkan ada juga yang berjemur. Beberapa vila ada di dekat pantai ini. Selain untuk keperluan pribadi, ada juga vila yang disewakan. “Pantai Pasut biasanya banyak dikunjungi oleh para muda-mudi pada hari Minggu dan hari-hari libur lainnya. Mereka memanfaat-
kan hari libur untuk menikmati indahnya matahari terbenam. Ada juga yang mengisi waktu untuk bermain sepak bola serta main voli,” ujar Erawati. Untuk mendukung kepariwisataan di Pantai Pasut, sudah ada area parkir dan warung makanan serta minuman. Bagi Anda yang berkunjung ke Bali dan ingin menikmati suasana pantai yang masih sepi dan nyaman, Pantai Pasut ini bisa dijadikan salah satu alternatif pilihan liburan. -Rukanta
Made Ravi Ramayana
B
eatbox merupakan sebuah karya seni suara yang dihasilkan melalui mulut, lidah, bibir, dan rongga ucap lainya yang bisa menghasilkan suara. Beatbox juga dapat menghasilkan bunyi ritmis, ketukan drum, dan suara turntable. Beatbox awalnya identik dengan budaya hiphop. Namun saat ini beatbox juga sudah dimainkan untuk genre musik lain seperti rock, pop, dan RnB. “Untuk mempelajari beatbox, kita harus mengetahui dasardasar beatbox yaitu “B T & K” yang dihilangkan huruf vokalnya,” ungkap Ravi. Setelah mempelajarinya, tentu ada beberapa kesulitan, diantaranya teknik atau menciptakan bunyi yang keluar dari dalam mulut. Teknik yang sulit dipelajari seperti riproll dan tkt. Ravi menambahkan cukup banyak karena seni beatbox ini
dapat meniru seni musik yang menghasilkan bunyi. Seorang beatboxer yang profesional dapat membunyikan suara atau teknik suara lebih dari 5 teknik. Ketika ditanya mengapa memilih beatbox, Ravi menuturkan awalnya ia terinspirasi dari salah satu musisi terkenal di Indonesia. Salah satu personil mereka memiliki seni beatbox. Tiap mereka tampil di atas panggung selalu mengolaborasikan musik beatbox dengan musik pop dan rap. Mereka adalah Bondan Prakoso & Fade2Black. Saya tertarik untuk mempelajari karena mereka dan keunikan yang diciptakan membuat musik tanpa menggunakan instrumen. Saya pun tertarik untuk mempelajarinya disamping unik seni beatbox juga hanya membutuhkan mikrofon saja saat latihan atau tampil di atas panggung,” ujar Ravi. Ia sudah sejak tahun 2010 me-
Komunitas beatbox Singaraja
nekuni beatbox, namun baru fokus berkarier dalam seni beatbox ini pada tahun 2011. Sudah banyak pengalaman yang ia dapatkan di dunia beatbox hingga saat ini. Namun. Ravi mengaku masih terus belajar karena merasa belum puas dengan apa ia punya saat ini. Tiap tampil, Ravi berkolaborasi dengan grup dance yang bernama Grasshopper Beatbox Dancing. Mereka terdiri dari 4 orang yaitu Ravi sebagai beatboxer, Jason sebagai robotic dance dan sekaligus manajer Grasshopper Beatbox Dancing, Mang Ame dan Catur sebagai popping. “Mereka adalah grup saya dan saya sudah mengganggap mereka adalah keluarga. Dari grup ini saya melesat hingga sampai saya dapat mewakili Bali ke Jakarta dalam ajang pencari
an bakat, mewakili Bali sudah kesekian kalinya dan mendapat sponsor yang melimpah berkat grup dance ini,” tegas Ravi yang juga Ketua Komunitas Singaraja Beatbox ini. Di Singaraja, sudah ada perkumpulan beatbox sejak tahun 2012. Sudah banyak acara yang dibuat oleh komunitas ini. Belum lama ini Ravi dan anggota Singaraja Beatbox serta komunitas lain seperti Bboy dan Street People mengadakan acara yang dibuat di Rumah Music Demores. “Acara yang kami buat sudah lumayan sukses karena kami kedatangan peserta lomba dari luar wilayah Bali. Dari acara tersebut kami di komunutas akan terus berinovasi dalam mengembangkan seni beatbox,” tegas Ravi. -Vijay
Kisah Keangkuhan Mahishasura
Seka Karang Asta Gina Desa Tangkas
Malam pengrupukan identik dengan ogoh-ogoh. Namun, sebelumnya, ogoh-ogoh itu dilombakan, seperti yang dilakukan di Klungkung. Para pemuda Desa Tangkas Klungkung menyiapkan diri untuk membuat ogoh-ogoh untuk dilombakan sekaligus diarak keliling desa. “Untuk tahun ini kami ditunjuk menjadi salah satu peserta di perlombaan ogoh-ogoh yang dilaksanakan di kota Klungkung. Kita sudah bersiap diri dari beberapa bulan sebelumnya. Sesuai dengan usul Bendesa Adat, kami mengambil cerita Mahishasura Pralaya,” ujar I Wayan Mustika Ketua Seka Karang Asta Gina Desa Tangkas. Kisah Mahishasura Pralaya itu menceritakan seorang raja bernama Mahishasura yang memiliki kekuatan dahsyat. Kekuatannya mampu menyaingi para dewa. Karena kekuatan tersebut Mahishasura menjadi angkuh dan berusaha mengalahkan Dewa Trimurti yaitu Dewa Brahma, Dewa Wisnu, dan Dewa Siwa. Hal
9
itu membuat Dewi Durga geram, ia lalu membunuh Mahishasura yang memiliki ciri kepala kerbau itu dengan senjata Trisula. Mustika mengatakan pembuatan ogoh-ogoh ini sekitar 2 bulan dan menghabiskan anggaran hingga Rp 30 juta lebih. Sumber dana sebagian besar diperoleh dari iuran warga Desa Tangkas. Saat perlombaan, mereka melibatkan 5orang untuk peran sendratari dan untuk yang mengangkat ogoh-ogoh sekitar 90 orang. “Sudah empat kali berturut-turut desa kami ikut serta dalam meramaikan perlombaan ini dan selalu meraih juara,” ujarnya tentang lomba yang start dari jalur Simpang Lima, Klungkung menuju
ke monumen Puputan pada Jumat (4/3) ini. Tahun 2016 ini peserta lomba terdiri dari 11 ogoh-ogoh yang berasal dari 4 Kecamatan di Klungkung.Kecamatan Klungkung diwakili oleh Desa Tangkas, Desa Bendul, dan Desa Sengguan. Kecamatan Dawan diwakili oleh Dawan Tengah, Desa Kusamba dan Desa Paksebali. Kecamatan Banjarangkan diwakili oleh Desa Tusan, Desa Nyalian, Desa Pakramaan Aan, dan untuk di Nusa Penida diambil dari Banjar Kelod Desa Jungut Batu dan Banjar Kaje Desa Jungut Batu. Saat malam pengurupukan, ogoh-ogoh Mahishasura ini menjadi salah satu ogh-ogoh yang diarak lagi. Ogoh-ogoh lain merupakan karya banjar lain dan hasil karya anak-anak muda Desa Tangkas. -Suarni
10
Mozaik
Edisi 892/ 14 - 20 maret 2016
Siapkan Kantong Nonplastik
Style
Edisi 892/ 14 - 20 maret 2016
Pemerintah telah menerapkan aturan tas plastik berbayar Rp 200/ kantong (tas) plastik. Beragam respons muncul dalam menyikapi hal ini. Respons yang paling cepat datang dari pihak pengelola ritel modern yang segera menjalankan aturan ini. Sejak aturan itu berlaku, Diana (41) ibu rumah tangga yang tinggal di Mataram mengatakan bahwa kini tiap kali ia berbelanja di supermarket ataupun minimarket sudah dikenakan biaya Rp 200/tas plastik. “Kasir dengan cekatan memperlihatkan aturan pemerintah itu yang sengaja dipasang di depan mesin penghitung,” kata Diana.
A
turan untuk mengurangi penggunaan sampah plastik itu sangatlah bagus, namun menurut Diana, semestinya pengelola ritel bisa berpikir lebih bijaksana untuk lingkungan dengan menyiapkan kantong nonplastik bagi pelanggannya. “Ini saya lihat pengelola ritel malah senang kantong plastiknya dibayar,” ujarnya kesal. Bagi Diana, kalau mau menyelamatkan lingkungan seharusnya pengelola ritel bersama-sama masyarakat sekalian saja stop kantong plastik, pengelola ritel menyiapkan kantong nonplastik atau masyarakat membawa kantong sendiri Selain Diana, banyak ibu rumah tangga lainnya yang menyikapi aturan baru ini secara beragam. Sumiati, ibu rumah tangga lainnya mengatakan bahwa kalau untuk mengurangi sampah plastik dan membiasakan setiap yang berbelanja bawa keranjang sendiri tentu ini lebih baik.
“Namun sosialisasi secara terus menerus harus dilakukan oleh pemerintah, pemerhati lingkungan sehingga kesadaran akan hal ini menjadi tanggung jawab bersama. Akan tetapi jika kemudian harus dibayar, kembali juga harus diinformasikan kepada konsumen dan seharusnyalah semua tempat belanja menyediakan tas yang ramah lingkungan,” ungkapnya. Selain itu cara lain menyelamatkan lingkungan dari sampah plastik, Sumiati menyarankan agar membawa tas sendiri saat berbelanja. TAS “DORAEMON” Kritik juga diungkapkan Nyayu Ernawati, aktivis anak yang juga sejak lama lebih banyak menggunakan tas sendiri dari pada tas plastik dari toko saat berbelanja. “Pertanyaan saya bagaimana dengan plasti-plastik untuk kemasan yang masih digunakan sebagai membungkus barang-barang yang dijual. Kenapa tidak sekaligus mereka gunakan kertas yang lebih mudah
didaur ulang untuk memperkecil jumlah sampah plastik,” ujar Nyayu. Peduli pada lingkungan sudah lama dilakukannya. Karena itu ia memiliki tas khusus yang disebutnya tas “Doraemon” yang bisa menampung banyak barang tiap kali berbelanja. “Dari dulu saya kalau belanja jarang mau jika dimasukan ke plastik, saya minta dimasukan saja ke tas saya supaya mengurangi sampah plastik,” katanya. Demikian halnya dengan Ir. Husnanidyati Nurdin, yang anti dengan tas plastik sejak dulu. Bahkan sejak lima tahun terakhir, ia selalu menggunakan tas karung miliknya untuk menampung barang-barang belanjaannya. “Bagus sih untuk mengurangi penggunaan tas plastik. Tapi kalau mau mengajak masyarakat meninggalkan penggunaan tas plastik, seharusnya supermarket juga sudah mulai beralih ke tas berbahan kertas dan itu harus disediakan oleh pihak supermarket sebagai bentuk pelayanan kepada konsumen,” katanya.
Harga Rp 200 terlalu Murah Meskipun bermaksud baik namun tidak semua orang setuju dengan kebijakan kantong plastik berbayar. Kebijakan itu bukan saja dianggap tidak efektif mengurangi sampah plastik—salah satu sebabnya karena harga kantong yang terlalu murah Rp 200 per-kantong—juga karena uang hasil pengumpulan dana kantong plastik itu tidak jelas kemana ‘larinya’. Kebijakan yang dinilai sebagian orang sebagai ‘kebijakan setengah hati’ ini, malah dianggap hanya menguntungkan peritel. Anggaran kantong plastik ini sudah masuk dalam cost production mereka dan itu ikut mempengaruhi harga barang. Jadi meski terlihat seolah pembungkus itu diberikan secara cuma-cuma, namun sesungguhnya komponen produksi bungkus plastik sudah masuk dalam harga barang yang dibeli. Tidak ada yang gratis dalam bisnis. Ditambah lagi, sudah tiga pekan kebijakan ini berjalan, belum ada payung hukumnya. Dasarnya hanya surat edaran dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan. Ya memang, kebijakan ini masih bersifat uji coba yang konon baru akan dievaluasi tiga bulan kemu-
Tulus Abadi
dian. Meski baru uji coba, namun uang penjualan tas plastik sudah masuk ke peritel dan belum ada regulasi soal penyaluran dan pengawasan dana kantong plastik. Tak heran kalau banyak yang mengritik. Mengritik bukan karena tidak peduli lingkungan yang sudah sangat tercemar sampah plastik tapi lebih pada kebijakan yang diambil untuk mengurangi sampah plastik itu. Sebuah LSM menyebut jumlah dana penjualan kantong plastik itu bisa mencapai triliuan rupiah dengan asumsi 20% dari 250 juta penduduk Indonesia berbelanja dan membeli kantong plastik. Lalu uang triliuan rupiah itu dikemanakan dan digunakan untuk apa. Tulus Abadi, Ketua Harian Yayasan Lembaga Konsumen In-
donesia menyebut, dalam pertemuan dengan Aprindo (Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia), pihak Aprindo mengatakan bahwa harga jual Rp 200 per-kantong plastik masih murni harga produksi kantong tersebut. “Jadi cost-nya segitu. Karenanya, dana yang terkumpul tersebut belum bisa dikembalikan kepada masyarakat untuk kepentingan lingkungan. Pengertiannya, kalau hendak dikembalikan ke masyarakat, harga per-kantong plastik harus jauh di atas itu,” ungkapnya. Misalnya, harga Rp 1.000 per kantong maka selisih dari ongkos produksi bisa dikembalikan kepada masyarakat dalam bentuk kegiatan untuk kepentingan lingkungan. “Wong namanya produsen, kan, setiap barang yang dikeluarkan sudah dihitung sebagai cost production, tidak mungkin dia memberikan secara gratis. Jadi wajar saja, kita kan jual-beli dengan mereka. Apa yang mereka keluarkan harus kita bayar, kan,” ujar Tulus. TURUNKAN HARGA BARANG Kalau sebelum adanya kebijakan ini komponen kantong
Ayou Butik Lombok sejak berdiri tidak menggunakan tas plastik untuk pelanggan melainkan tas yang terbuat dari kain puring dan diberikan gratis untuk pembeli.
Sementara itu, Indras mengatakan bahwa ini tidak menyelesaikan masalah jika hanya pelanggan yang dikenai biaya Rp 200/kantong. Karena menurutnya, semua pihak harus memiliki pandangan dan sikap yang sama dalam hal ini, termasuk tentang pengelolaan sampahnya. Berdasarkan pengalamannya ketika berkunjung ke beberapa negara di Eropa, selain pelanggan membawa tas sendiri juga toko menyiapkan wadah yang terbuat dari nonplastik. “Di sana pengelolaan sampahnya juga sudah jelas. Di mana-mana tempat sampah ada 3 macam, untuk sampah plastik, sampah basah dan barang lain seperti kertas serta
lainnya,” kata Indras yang juga seorang ibu rumah tangga. Produsen yang sejak pertama kali membuka usaha telah menggunakan tas nonplastik adalah Ayoe Butik Batik Lombok. “Saya tidak menggunakan tas plastik untuk pelanggan sejak butik dibuka tahun 2012. Tas tersebut saya berikan gratis untuk pembeli tanpa harus membayarnya,” ungkap Ayu Setiawaty, pemilik Ayoe Butik Batik Lombok. Seperti halnya yang lain, ia juga menyarankan sebaiknya produsen tidak memproduksi tas plastik lagi dan jika berbelanja sebaiknya membawa tas sendiri yang bukan plastik.
plastik ini sudah masuk dalam cost production dan itu tentunya berpengaruh juga pada harga produk. Karena itu, dengan berlakunya kebijakan ini, harusnya pihak ritel mengeluarkan komponen produksi kantong plastik ini dari cost-nya karena sudah dibayar konsumen. Dengan begitu harga produk (barang) bisa turun. “Jadi yang sekarang harus dicermati adalah, apakah biaya kantong plastik yang sebelumnya masuk dalam komponen cost production mereka, sudah dikeluarkan atau belum dari angka produksi. Karena dengan konsumen membayar Rp 200, harusnya ada penurunan harga produk (barang). Hal ini (soal pengurangan cost dan pengurangan harga produk) silahkan dicek oleh pihak kementerian atau siapapun yang terkait. Pihak Aprindo juga bisa menjelaskan kepada masyarakat tentang hal ini,” papar Tulus. YLKI sendiri memiliki beberapa usulan terkait kebijakan pengurangan sampah plastik ini. Salah satunya adalah agar sampah plastik berkurang pihak retailer lebih baik tidak menyediakan kantong plastik. “Jadi tidak perlu kantong plastik berbayar, melainkan sama sekali tidak ada (tidak sediakan) kantong plastik,” katanya. Dengan begitu, konsumen menjadi terpaksa membawa tas sendiri dari rumah jika akan berbelanja. Karena tidak mungkin membawa barang belanjaan yang banyak tanpa tas.
Kalau pun disediakan tas maka hendaknya pihak retailer menyediakan tas nonplastik atau tas plastik ramah lingkungan. Baru-baru ini di Batam ada UKM yang meluncurkan tas ramah lingkungan. “Misalnya, tas ramah lingkungan dari Batam itu, tolong itu difasilitasi pemerintah,” tambahnya. “Jadi ada beberapa pilihan untuk mengurangi sampah plastik, tidak menyediakan tas plastik sama sekali atau siapkan plastik ramah lingkungan atau siapkan tas nonplastik,” jelasnya. Tapi kata Tulus lagi seraya mewanti-wanti, jangan sampai kebijakan ini justru berubah menjadi bisnis atau jualan tas plastik. Melihat harga kantong plastik Rp 200, menurut Tulus, terlalu murah, kurang mendorong masyarakat untuk membawa tas sendiri. YLKI mengusulkan harganya dinaikkan menjadi Rp 1000 per-kantong. “Harga ini sudah mempertimbangkan daya beli masyarakat, jangan juga terlalu mahal, cukup Rp 1000. Karena kalau Rp 5000 terasa terlalu mahal,” katanya. Soal dana penjualan kantong plastik, Tulus mengatakan, mungkin sudah saatnya pemerintah pusat maupun daerah memikirkannya. Sempat ada kabar akan dibentuk tim terpadu di daerah. “Nah, tim terpadu itu nantinya bertugas mengumpulkan dana hasil penjualan plastik. Tapi dana itu jangan dimasukkan ke dalam PAD (Pendapatan Asli Daerah),” tegasnya.
-Naniek I. Taufan
–Diana Runtu
Gaya Inovasi
Modern I
novasi adalah salah satu hal penting yang perlu di lakukan oleh seorang penata rias dan perancang busana pengantin agar dapat bertahan bahkan berkembang terus bersama dengan perubahan dan tren gaya busana. Hal ini juga tak henti dilakukan seorang Tut De pemilik Tut De Wedding di Denpasar. Dengan tetap berpegang pada kekayaan seni budaya Bali, ia pun mempersembahkan gagasan kreatifnya dalam inovasi modern untuk tata rias dan busana pengantin. Apalagi bicara tren inovasi busana pengantin, memang tidak akan pernah ada habisnya, khususnya menyangkut inovasi modern. Alangkah indahnya jika momen istimewa, sebuah perkawinan yang akan diabadikan dilengkapi dengan busana yang indah dan spesial sesuai dengan tema yang diinginkan. Untuk itu, pekan ini bisa dilihat beberapa hasil inovasi modern keahlian tangan seorang Tut De, untuk menjadikan pilihan yang lebih banyak lagi Dan, silakan pembaca Tokoh dan masyarakat menilainya. –Sri Ardhini
15
14
Jelita
Edisi 892/ 14 - 20 MARET 2016
Pijat Solusi Segarkan Badan dan Wajah Permisi bu, apakah kepalanya juga dimassage? Begitu si ibu menganggukkan kepala, maka sang terapis dengan cekatan melakukan tugasnya. Kemudian si ibu pun terlihat sangat rileks dan menikmatinya.
M
assage atau pijatan adalah salah satu layanan perawatan yang paling banyak digemari. Apakah saat se seorang tengah melakukan facial, reflexology ataukah body spa. Rata –rata merasa lebih rileks setelah sampai tahapan dipijat. Mereka umumnya merasakan gerakan tangan para terapis saat pijatan dilakukan bukan hanya menjadikan lebih rileks tapi juga dapat menghilangkan, diantaranya rasa penat. Apalagi saat ini di sebagian besar klinik perawatan menyediakan tambahan berbagai aromaterapi yang membantu menjadikan lebih rileks dan nyaman. Begitu disampaikan Yanni, pemilik Cosmic Aromatheraphy Reflexology di Denpasar. Dikatakannya , sebagian besar alasan orang datang ke spa atau rumah refleksi dan salah satunya mencari body massage, sebab selama ini katanya, sangat banyak yang merasakan pijatan pada badan tersebut bukan sekadar akibat kebiasaan sejak kecil namun mereka mengakui kalau dipijat setelah banyak aktivitas adalah kebutuhan. “Ya itu tadi terutama saat mereka usai melakukan kegiatan yang cukup padat dalam waktu yang panjang. Badan yang lelah sudah pasti perlu relaksasi, dan pijatan para terapis mampu membantu mengatasinya,” tutur Yanni Ketika tubuh kita sehat, maka wajah pun akan terlihat lebih segar, apalagi wajah juga di rawat tentu menjadikan semakin berseri. Apabila hal ini rutin di-
lakukan baik itu body spa, facial atupaun refleksologi akan sangat membantu penampilan secara keseluruhan. “Relaksasi dengan pijatan penting, agar tubuh menjadi segar kembali,” cetus Yanni telah setelah belasan tahun menekuni dunia refleksologi ini. Betapa tidak, dengan bantuan pijatan pula, lanjut Yanni selain berhasil menyegarkan juga dapat melancarkan aliran darah. Hal ini juga diakui oleh salah seorang ibu rumah tangga yang juga seorang pengusaha, Hartini. Ia pun sependapat dengan Yanni, bahwa banyak orang yang telah merasakan tenaganya dipulihkan dari rasa lelah dengan pijatan. Menurut Hartini, hampir semua keluarganya suka di pijat, termasuk dirinya kalau sudah di pijat ia merasakan kondisi fisiknya lebih segar. “Terasa lebih baik untuk bisa lanjut ke kegiatan berikutnya atau lanjut istirahat sekalian, soalnya kan sudah PW (baca posisi wuenak),” katanya tertawa. Lebih lanjut Yanni juga menekankan, tidak salah jika saat ini semakin banyak orang yang suka melakukan kegiatan perawatan diri yang ada pijatannya. Ketika aliran darah lancar berarti pula tubuh sehat. Dengan demikian kesegaran juga
perawatan body massage de ngan rutin dapat menyehatkan fungsi otot, mempercepat waktu penyembuh an, serta sirkulasi tubuh
terpancar dari wajah. Apalagi kalau kita tepat memilih tempat untuk di pijat begitu juga dengan keahlian terapisnya yang teruji. kata Hartini, maka kita tidak hanya berguna untuk kesegaran fisiknya saja, namun bisa memelihara kesehatan secara keseluruhan. Mulai dari meningkatkan sirkulasi darah, sistem imun tubuh, tidur lebih berkualitas dan mengurangi ketegangan pada otot. Selanjutnya Yanni menambahkan meski kini disebut era digital , faktanya sebagian masyarakat lebih memilih terapi pijat termasuk untuk target penyembuhan beragam keluhan terhadap gangguan kesehatan. Sedangkan, perihal memilih tempat untuk melakukan perawatan, kita mesti mencari bukan semata tempat yang nyaman tapi merasa cocok dengan teknik perawatannya dan yang pasti mendapatkan manfaat dari pemijatan yang dilakukan.
Yanni
Ketika seluruh perawatan dengan pijtan yang dilakukan secara benar, lanjut Yanni maka kita tidak hanya merasa rileks namun dapat membantu peregangan otot berikutnya kita bisa tidur lebih nyenyak. “Ada lagi bonus hasil lainnya yakni kulit menjadi tidak mudah kering dan keriput, terutama kulit wajah yang sensitif,” katanya. Kualitas Terapis Tentukan Hasil Pijatan Masih berbicara soal pijatan, Yanni pun kembali menekankan , bahwa ketika seseorang memilih perawatan body massage dengan rutin dapat menyehatkan fungsi otot, mempercepat waktu penyembuhan, serta sirkulasi tubuh. Selain itu, perawatan dari luar ini aman dinikmati remaja hingga lansia. Pijatan, lanjut an sangat bagus diperlukan mulai dari anak-anak hingga lansia. Tentunya dengan harapan mereka terutama yang
bekerja agar kesehatannya tetap terjaga. “Akan menjadi lebih baik dan maksimal lagi jika diserta olahraga teratur dan nutrisi yang seimbang,”lanjutnya. Pijatan kata Yanni juga Hartini bisa membantu menjaga kesehatan dengan mengeluarkan racun dan zat merugikan dari dalam tubuh secara alami. Dan, pada beberapa kejadian atau asus, pijatan sehat malah dapat membantu penderita insomnia atau sulit tidur. “ body massage yang mengombinasikan teknik pemijatan tertentu akan meningkatkan aliran darah ke jaringan dan organ, meningkatkan proses reduksi oksidasi, memfasilitasi jantung dan berkontribusi terhadap redistribusi darah dalam tubuh. Selain itu dengan menggunakan bahan tradisional yang terpilih sekaligus mengangkat sel kulit mati dan mengencangkan. Kombinasi yang sangat bermanfaat untuk membersihkan, merelaksasikan dan menyegarkan tubuh. Pijatan, berdsar pengalaman Yanni dan Hartini selama ini,tidak jauh berbeda. Mereka sama-sama menyatakan mampu menolong memperbaiki sirkulasi dan menurunkan tekanan darah. Setelah sirkulasi membaik, pada giliran berikutnya organ dalam tubuh akan berfungsi dan bekerja lebih baik pula. Selanjutnya efek terapi dan santai yang didapatkan dari pijatan sangat baik untuk tubuh, karenanya setiap orang perlu mendapatkan pemijatan yang baik. –Sri Ardhini
Bugar
Edisi 892/ 14 - 20 MARET 2016
11
Operasi BPI Pertama di RS Sanglah Masih ingatkah Anda dengan kasus “Iron Man” dari Karangasem yang sempat menghebohkan warga Bali? “Iron Man” kini sudah ditangani Divisi Hand SMF Orthopaedi & Traumatologi RS Sanglah.
M
e n u r u t d r. Made Bramantya Karna, SpOT(K), Ketua Divisi Hand SMF Orthopaedi & Traumatologi, sebenarnya kasus yang dialami lelaki asal Karangasem tersebut, hanya salah satu dari puluhan kasus cedera serat saraf yang melayani lengan, yang ditangani oleh Divisi Hand RS Sanglah. Kasus ini termasuk dalam brachial plexus injury (BPI) yang merupakan cedera pada jaringan saraf (plexus brachialis) yang berjalan dari leher (dari celah tulang leher ke lima hingga celah tulang belakang dada pertama) menuju bahu, lengan atas, lengan bawah hingga ke tangan. Saraf ini berfungsi melayani rasa raba dan juga mengatur pergerakan dari otot-otot mulai bahu hingga ke tangan dan jari jemari. Cedera pada saraf ini
dapat mengenai sebagian jaring an saraf maupun seluruhnya, yang mengakibatkan kelumpuh an pada lengan. Cedera pada saraf ini dapat diakibatkan oleh berb agai macam cedera, baik cedera saat lahir maupun kecelakaan. Menurut data pasien yang tercatat di RS Sanglah, kecelaka an sepeda motor menempati penyebab terbanyak. Ia me ngatakan, sejauh ini penanganan kasus ini masih sedikit yang mampu memberikan harapan kesembuhan pada penderita. Di samping itu, kata dia, sebagian besar penderita datang sangat terlambat, penanganannya pun sangat sulit karena memerlukan keterampilan operasi yang tinggi serta peralatan yang khusus, dan waktu operasi yang cukup panjang. Hari Sabtu, 5 Maret, di Ruang Pertemuan Dr. Nukarna, SMF
Cedera saraf plexus brachialis
Operasi BPI di RS Sanglah
Orthopaedi &Traumatologi RS Sanglah, telah digelar seminar dan workshop “Meet The Expert: Brachial Plexus Injury” yang dibuka Direktur Utama RS Sanglah. Acara dilanjutkan dengan penanganan operasi salah satu penderita BPI, yang merupakan pertama kali dilakukan di Bali. Dr. I Ketut Suyasa, Sp.B, Sp.OT(K), Kepala SMF Orthopaedi & Traumatologi, menyatakan, RS Sanglah patut berbangga karena sumber daya tenaga kerja serta peralatan yang ter sedia saat ini sudah mampu untuk memfasilitasi dilakukannya operasi ini. Operasi ini dikerjakan di Ruang Bedah Sentral RS Sanglah oleh Tim Bedah Ta
Tim Bedah Tangan RS Sanglah dan RS Dr. Soetomo
Teknik operasi free functional muscle transfer
ngan Orthopaedi dari RS Sanglah yang dipimpin dr. Made Bramantya Karna, SpOT(K) dan dr. AA Yuda Asmara, SpOT., bersama Tim Bedah Tangan dari RS Dr. Soetomo Surabaya yang dipimpin Dr. dr. Heri Suroto, SpOT(K). Operasi yang di-
lakukan lebih kurang lima jam ini berjalan sangat lancar. Pada pasien ini dilakukan berupa free functional muscle transfer, yaitu pencangkokan otot yang diambil dari salah satu otot paha kanan pasien kemudian dipindahkan ke bahu hingga ke lengan bawah. “Operasi pencangkokan ini diharapkan mampu menggantikan fungsi otot-otot lengan yang lumpuh, hingga bahu siku dan tangan dapat bergerak fungsional,” ujarnya. Dr. Bramantya Karna menambahkan, setelah dilakukan operasi, rehabilitasi medis sebagai bagian dari Tim Bedah Tangan RS Sanglah, akan memainkan peran yang sangat penting dalam melatih pasien pasca operasinya. Melalui pertemuan yang diikuti dokter-dokter spesialis orthopedi yang ada di Bali tersebut, ia berharap, informasi mengenai cedera saraf pleksus brachialis dapat disebarluaskan sehingga kasusnya dapat ditangani lebih dini dan harapan kesembuhannya dapat lebih baik dan sudah dapat dikerjakan di RS Sanglah. –Wirati Astiti
12
Kuliner
Edisi 892/ 14 - 20 maret 2016
Jus Sehat Sayuran
Si Manis Gelato dari Italia Bagi para penggemar ice cream, tentu sudah tidak asing lagi dengan gelato. Kudapan khas Italia yang dibuat dengan susu, krim, gula, dan dicampur olahan berbagai jenis buah segar ini memang sangat mirip dengan ice cream. Hanya saja gelato memiliki tekstur yang lebih lembut bila dibandingkan dengan ice cream biasa. Berasal dari kata latin gelatus yang berarti beku, gelato kini menjelma menjadi salah satu panganan yang digemari orang di seluruh dunia. Tahukah Anda, gelato Italia memiliki standar khusus dalam proses pembuatannya agar cita rasanya tetap terjaga. Ini dipamerkan dalam ajang “Food, Hotel and Tourism”, di Nusa Dua, pekan lalu.
Gelato
S
Chef Francesco mendemokan membuat gelato
eorang chef dari Italia, Francesco Giordano mendemokan cara membuat gelato. MEC3 adalah perusahaan Italia terkemuka dunia yang memproduksi bahan-bahan untuk gelato, dan telah diakui di pasar sebagai inovator produk yang paling bagus. Di Italia, gelato dibuat dengan 700 rasa, sementara di Indonesia hanya dikembangkan 70 rasa. Produk dari MEC3 ini free gluten, bebas gula, dan ada juga untuk vegetarian, dan sudah mendapatkan sertifikat halal. Dengan bahan dari MEC3, chef Francesco membuat gelato dari buah jambu dengan waktu 15 menit. Gelato yang dihasilkan bertekstur sangat lembut. Selain ditunjang dari bahan utama MEC3, ia memakai mixer pengaduk dari carpigiani. Mesin ini membuat gelato pasti berhasil hanya dengan waktu 15 menit. Selain itu, setelah diaduk, dimasukkan ke dalam mesin pendingin blast freezer hiber sangat membantu agar gelato tidak cepat meleleh. Produk gelato dari Italia ini dipasarkan di Indonesia oleh Lotus Food. –Wirati Astiti
Ayam Penyet Spesial Masakan ayam memang begitu variatif dan selalu tersaji dengan cita rasa gurih dan sedap seperti yang satu ini, ayam penyet. Jenis masakan ayam goreng ini memiliki cara penyajian yang unik di mana ayam dicampur dengan sambal penyet, setelah digoreng kemudian ditekan-tekan dengan menggunakan ulekan sampai sambal menempel dengan daging ayam. Menu ayam penyet bisa disajikan untuk makan siang atau makan malam. Apalagi, bagi yang suka pedas, menu ayam penyet pasti menjadi favorit. Ada satu warung yang menyajikan menu ayam penyet spesial, yakni warung D’Sambal. Warung ini dapat dicari di Jalan Kampus Unud - Politeknik Negeri Bali, Jimbaran. Menurut Made Sariada, pemilik warung, bagi penyuka pedas, aneka sambal tersedia.
Jus sehat
M
Chef Francesco
Camilan Ting Ting Garuda
Ting Ting Garuda merupakan camilan baru yang memadukan permen dan biskuit dengan rasa kacang dan susu yang manis. Paduan kacang dan perasa susu yang tepat menjadikan Ting Ting Garuda sebagai camilan yang sangat tepat dinikmati dalam segala suasana. Ting Ting Garuda “bukan permen, bukan biskuit”. Menurut Ida Bagus Asta Wibawa, Regional Sales Promotion Bali Nusra Garudafood, Ting Ting Garuda rasanya sangat enak di lidah. Ting Ting Garuda sangat tepat dijadikan teman saat bersantai bersama keluarga. “Garuda Ting Ting juga bisa dipakai untuk sarana banten (rarapan) sehari-hari. Jangan lupa, bekas pembungkus Ting Ting Garuda bisa dimanfaatkan kreasi seperti tamiang hiasan, taplak, tas, tempat permen, atau yang lainnya. –Wirati Astiti
e n u r u t A r i f, dari Plaga Farm yang ditemui di ajang pameran Food, Hotel, and Tourism, (FHT) pekan lalu, menanam dengan teknik hidroponik berarti kita bercocok tanam dengan memperhatikan pada pemenuhan kebutuhan nutrisi bagi tanaman yang bersangkutan. “Kami menambahkan unsur hara yang mengandung hitrogen, fosfor, kalium, dll., ke dalam cairan,” kata Arif. Ia mengatakan, teknologi hidroponik bisa menjadi alternatif bercocok tanam sayuran
berdaun, seperti aneka selada, pakcoy, caisim, bayam, dan kangkung. “Hidroponik kit untuk bercocok tanam, dapat dibuat dari paralon atau media tanam rockwool,” kata Arif. Caranya, semaikan benih ke media yang sudah disiapkan. Benih dibenamkan ke media sedalam kira-kira 2-5 mm. Penyiraman benih yang sudah disemai disiram sampai media tanam menjadi basah. Tutup kit dengan plastik selama 3-5 hari. Tujuannya, agar media jadi lembab dan selalu hangat sehingga perkecambahan akan mudah. Benih akan berkecambah setelah
Ikan bakar
sesuai dengan nama warungnya D’Sambal. Ia mengatakan, ayam penyet di tempatnya berbeda dengan ayam penyet di warung lain, karena bumbu yang melumuri daging ayam, merupakan racikan dia sendiri. Bumbu ini ia praktikkan dengan beberapa kali percobaan sampai mendapatkan rasa yang pas. Selain ayam penyet, ikan bakar bumbu pedas juga tak kalah menarik. Rasa pedasnya sama dengan kelezatan yang berbeda. “Walaupun ikan bakar sudah dibumbui, tak ada salahnya Anda mencoba menikmati ikan bakar ditambah dengan sambal ijo. Sensasinya pasti beda,” ujar Made berpromosi. Anda tertarik, selamat mencoba. – Wirati Astiti
i kmat
Ni
Chinesse Food
Hanya di...
Cafe Santai
& Aneka Es Taiwan
Gratis Tampin Spesial
Setiap pembelanjaan di atas Rp 100 ribu
Berlaku Mulai 1 s.d. 31 Maret 2016
Es Toping Traditional
Murah Meriah & Bersih
Cumi Saus Tiram
Jln. Raya Sesetan No. 293 Denpasar. Tlp. (0361) 7440658, 7427678
Hidroponik
-Wirati Astiti
Fettuccine Kornet Sayuran
Bahan : 200 gr 100 gr 50 gr 2 sdm 100 gr 500 ml 1 sdm
Ayam penyet
3-5 hari. Isi hidroponik kit dengan larutan nutrisi sampai menyentuh bagian bawah dari media tanam. Hidroponik kit harus diletakan pada tempat yang datar, mendapat sinar matahari dan sebaiknya tidak kena hujan. Setelah 50 hari, sayuran bisa dipanen. Dari sayuram berdaun ini bisa dibuatkan jus sehat. Seperti yang dilakukan Dewi di stan Plaga Farm ini. Tinggal memetik sayuran yang sudah panen, dicuci bersih, kemudian diblender dan ditambahkan jeruk nipis dan madu. Jadilah minuman sehat dan berkhasiat.
Lasagna Van Java
Sarwan
Bumbu: 1 buah 3 siung 1 sdt ¼ sdt
: : : : : : :
fettuccine tomat matang segar kacang polong siap pakai irisan daun seledri kornet Bernardi air untuk merebus margarin atau minyak secukupnya
: bawang bombai cincang halus : bawang putih cincang halus : lada bubuk : pala bubuk
13
Istilah menanam menggunakan sistem hidroponik saat ini menjadi sangat populer. Kata hidroponik berasal dari bahasa Yunani yaitu “hydro” yang berarti air dan “ponics” yang artinya daya atau tenaga atau tenaga kerja. Jadi, menanam dengan sistem hidroponik artinya menanam menggunakan media air atau tenaga kerja air. Hidroponik juga dikenal sebagai budidaya tanaman tanpa menggunakan media tanah.
Garam, kaldu bubuk secukupnya
“Ayam penyet memang menjadi menu favorit bagi para mahasiswa yang ingin makan enak dengan harga yang pas di kantong,” kata Sariada. Ayam penyet disajikan di daun pisang, dengan nasi dan sayur plecing yang bumbunya tak kalah pedas. Memang, kata Made Sariada, semua menu di warungnya bercita-rasa pedas
Edisi 892/ 14 - 20 maret 2016
Cara Membuat : - Rebus fettuccine dengan air sampai matang lalu tiriskan. Sisa air rebusannya gunakan untuk merendam tomat, lalu tutup selama 10 menit. - Blender tomat sampai halus, lalu tumis cincangan bawang bombai dan bawang putih bersama margarin sampai matang, lalu
masukkan bumbu bumbu lainya dan juga kornet dan blenderan tomat, tumis hingga mendidih dan matang. - Terakhir, masukkan kacang polong dan irisan daun seledri, aduk-aduk sebentar lalu angkat. - Hidangkan futtuccine selagi panas, disiran dengan saus kornet dan kacang polong dan dapat juga ditaburi irisan daun sledri dan bawang putih goreng
Bahan : 8 lembar : 250 ml : 100 gr : 2 sdm : 2 sdm : 3 batang : 100 gr : 500 ml :
lasagna siap pakai ukuran 10 x 20 cm susu cair jamur merang iris tipis-tipis tepung terigu margarin untuk buat saus sosis ayam keju miozarella air untuk merebus
Bumbu : 1 buah : bawang bombai sedang cincang halus 4 siung : bawang putih cincang halus 1 sdt : lada bubuk Garam, gula, kaldu bubuk secukupnya. Cara Membuat : - Rebus lasagna dengan air mendidih selama 8 atau 10 menit lalu angkat, tiriskan. - Sementara merendam lasagna, iris jamur merang dan cincang sosis ayam hingga halus, lalu
panaskan 2 sdm mentega dalam wajan anti lengket. Tumis cincangan bawang bombai dan bawang putih hingga harum, masukkan tepung terigu, tumis hingga tepung terigu setengah matang lalu tuangi susu cair dan bumbu sambil diaduk perlahan agar tercampur rata dan menjadi saus kental. - Masukkan irisan jamur merang dan cincangan sosis ayam. Aduk-aduk, angkat, lalu siapkan tempat tahan panas, olesi dengan margarin, lalu letakkan kulit lasagna dalam cetakan, tutup atasnya dengan adonan jamur dan tutup kembali dengan kulit lasagna, lalu buat lapis, dan tutup lagi paling atas dengan adonan jamur dan taburi dengan parutan keju mozarella. - Masukkan dalam oven yang sudah dipanaskan, lalu oven sampai matang. Hidangkan selagi panas dengan saus sambal siap pakai.
12
Kuliner
Edisi 892/ 14 - 20 maret 2016
Jus Sehat Sayuran
Si Manis Gelato dari Italia Bagi para penggemar ice cream, tentu sudah tidak asing lagi dengan gelato. Kudapan khas Italia yang dibuat dengan susu, krim, gula, dan dicampur olahan berbagai jenis buah segar ini memang sangat mirip dengan ice cream. Hanya saja gelato memiliki tekstur yang lebih lembut bila dibandingkan dengan ice cream biasa. Berasal dari kata latin gelatus yang berarti beku, gelato kini menjelma menjadi salah satu panganan yang digemari orang di seluruh dunia. Tahukah Anda, gelato Italia memiliki standar khusus dalam proses pembuatannya agar cita rasanya tetap terjaga. Ini dipamerkan dalam ajang “Food, Hotel and Tourism”, di Nusa Dua, pekan lalu.
Gelato
S
Chef Francesco mendemokan membuat gelato
eorang chef dari Italia, Francesco Giordano mendemokan cara membuat gelato. MEC3 adalah perusahaan Italia terkemuka dunia yang memproduksi bahan-bahan untuk gelato, dan telah diakui di pasar sebagai inovator produk yang paling bagus. Di Italia, gelato dibuat dengan 700 rasa, sementara di Indonesia hanya dikembangkan 70 rasa. Produk dari MEC3 ini free gluten, bebas gula, dan ada juga untuk vegetarian, dan sudah mendapatkan sertifikat halal. Dengan bahan dari MEC3, chef Francesco membuat gelato dari buah jambu dengan waktu 15 menit. Gelato yang dihasilkan bertekstur sangat lembut. Selain ditunjang dari bahan utama MEC3, ia memakai mixer pengaduk dari carpigiani. Mesin ini membuat gelato pasti berhasil hanya dengan waktu 15 menit. Selain itu, setelah diaduk, dimasukkan ke dalam mesin pendingin blast freezer hiber sangat membantu agar gelato tidak cepat meleleh. Produk gelato dari Italia ini dipasarkan di Indonesia oleh Lotus Food. –Wirati Astiti
Ayam Penyet Spesial Masakan ayam memang begitu variatif dan selalu tersaji dengan cita rasa gurih dan sedap seperti yang satu ini, ayam penyet. Jenis masakan ayam goreng ini memiliki cara penyajian yang unik di mana ayam dicampur dengan sambal penyet, setelah digoreng kemudian ditekan-tekan dengan menggunakan ulekan sampai sambal menempel dengan daging ayam. Menu ayam penyet bisa disajikan untuk makan siang atau makan malam. Apalagi, bagi yang suka pedas, menu ayam penyet pasti menjadi favorit. Ada satu warung yang menyajikan menu ayam penyet spesial, yakni warung D’Sambal. Warung ini dapat dicari di Jalan Kampus Unud - Politeknik Negeri Bali, Jimbaran. Menurut Made Sariada, pemilik warung, bagi penyuka pedas, aneka sambal tersedia.
Jus sehat
M
Chef Francesco
Camilan Ting Ting Garuda
Ting Ting Garuda merupakan camilan baru yang memadukan permen dan biskuit dengan rasa kacang dan susu yang manis. Paduan kacang dan perasa susu yang tepat menjadikan Ting Ting Garuda sebagai camilan yang sangat tepat dinikmati dalam segala suasana. Ting Ting Garuda “bukan permen, bukan biskuit”. Menurut Ida Bagus Asta Wibawa, Regional Sales Promotion Bali Nusra Garudafood, Ting Ting Garuda rasanya sangat enak di lidah. Ting Ting Garuda sangat tepat dijadikan teman saat bersantai bersama keluarga. “Garuda Ting Ting juga bisa dipakai untuk sarana banten (rarapan) sehari-hari. Jangan lupa, bekas pembungkus Ting Ting Garuda bisa dimanfaatkan kreasi seperti tamiang hiasan, taplak, tas, tempat permen, atau yang lainnya. –Wirati Astiti
e n u r u t A r i f, dari Plaga Farm yang ditemui di ajang pameran Food, Hotel, and Tourism, (FHT) pekan lalu, menanam dengan teknik hidroponik berarti kita bercocok tanam dengan memperhatikan pada pemenuhan kebutuhan nutrisi bagi tanaman yang bersangkutan. “Kami menambahkan unsur hara yang mengandung hitrogen, fosfor, kalium, dll., ke dalam cairan,” kata Arif. Ia mengatakan, teknologi hidroponik bisa menjadi alternatif bercocok tanam sayuran
berdaun, seperti aneka selada, pakcoy, caisim, bayam, dan kangkung. “Hidroponik kit untuk bercocok tanam, dapat dibuat dari paralon atau media tanam rockwool,” kata Arif. Caranya, semaikan benih ke media yang sudah disiapkan. Benih dibenamkan ke media sedalam kira-kira 2-5 mm. Penyiraman benih yang sudah disemai disiram sampai media tanam menjadi basah. Tutup kit dengan plastik selama 3-5 hari. Tujuannya, agar media jadi lembab dan selalu hangat sehingga perkecambahan akan mudah. Benih akan berkecambah setelah
Ikan bakar
sesuai dengan nama warungnya D’Sambal. Ia mengatakan, ayam penyet di tempatnya berbeda dengan ayam penyet di warung lain, karena bumbu yang melumuri daging ayam, merupakan racikan dia sendiri. Bumbu ini ia praktikkan dengan beberapa kali percobaan sampai mendapatkan rasa yang pas. Selain ayam penyet, ikan bakar bumbu pedas juga tak kalah menarik. Rasa pedasnya sama dengan kelezatan yang berbeda. “Walaupun ikan bakar sudah dibumbui, tak ada salahnya Anda mencoba menikmati ikan bakar ditambah dengan sambal ijo. Sensasinya pasti beda,” ujar Made berpromosi. Anda tertarik, selamat mencoba. – Wirati Astiti
i kmat
Ni
Chinesse Food
Hanya di...
Cafe Santai
& Aneka Es Taiwan
Gratis Tampin Spesial
Setiap pembelanjaan di atas Rp 100 ribu
Berlaku Mulai 1 s.d. 31 Maret 2016
Es Toping Traditional
Murah Meriah & Bersih
Cumi Saus Tiram
Jln. Raya Sesetan No. 293 Denpasar. Tlp. (0361) 7440658, 7427678
Hidroponik
-Wirati Astiti
Fettuccine Kornet Sayuran
Bahan : 200 gr 100 gr 50 gr 2 sdm 100 gr 500 ml 1 sdm
Ayam penyet
3-5 hari. Isi hidroponik kit dengan larutan nutrisi sampai menyentuh bagian bawah dari media tanam. Hidroponik kit harus diletakan pada tempat yang datar, mendapat sinar matahari dan sebaiknya tidak kena hujan. Setelah 50 hari, sayuran bisa dipanen. Dari sayuram berdaun ini bisa dibuatkan jus sehat. Seperti yang dilakukan Dewi di stan Plaga Farm ini. Tinggal memetik sayuran yang sudah panen, dicuci bersih, kemudian diblender dan ditambahkan jeruk nipis dan madu. Jadilah minuman sehat dan berkhasiat.
Lasagna Van Java
Sarwan
Bumbu: 1 buah 3 siung 1 sdt ¼ sdt
: : : : : : :
fettuccine tomat matang segar kacang polong siap pakai irisan daun seledri kornet Bernardi air untuk merebus margarin atau minyak secukupnya
: bawang bombai cincang halus : bawang putih cincang halus : lada bubuk : pala bubuk
13
Istilah menanam menggunakan sistem hidroponik saat ini menjadi sangat populer. Kata hidroponik berasal dari bahasa Yunani yaitu “hydro” yang berarti air dan “ponics” yang artinya daya atau tenaga atau tenaga kerja. Jadi, menanam dengan sistem hidroponik artinya menanam menggunakan media air atau tenaga kerja air. Hidroponik juga dikenal sebagai budidaya tanaman tanpa menggunakan media tanah.
Garam, kaldu bubuk secukupnya
“Ayam penyet memang menjadi menu favorit bagi para mahasiswa yang ingin makan enak dengan harga yang pas di kantong,” kata Sariada. Ayam penyet disajikan di daun pisang, dengan nasi dan sayur plecing yang bumbunya tak kalah pedas. Memang, kata Made Sariada, semua menu di warungnya bercita-rasa pedas
Edisi 892/ 14 - 20 maret 2016
Cara Membuat : - Rebus fettuccine dengan air sampai matang lalu tiriskan. Sisa air rebusannya gunakan untuk merendam tomat, lalu tutup selama 10 menit. - Blender tomat sampai halus, lalu tumis cincangan bawang bombai dan bawang putih bersama margarin sampai matang, lalu
masukkan bumbu bumbu lainya dan juga kornet dan blenderan tomat, tumis hingga mendidih dan matang. - Terakhir, masukkan kacang polong dan irisan daun seledri, aduk-aduk sebentar lalu angkat. - Hidangkan futtuccine selagi panas, disiran dengan saus kornet dan kacang polong dan dapat juga ditaburi irisan daun sledri dan bawang putih goreng
Bahan : 8 lembar : 250 ml : 100 gr : 2 sdm : 2 sdm : 3 batang : 100 gr : 500 ml :
lasagna siap pakai ukuran 10 x 20 cm susu cair jamur merang iris tipis-tipis tepung terigu margarin untuk buat saus sosis ayam keju miozarella air untuk merebus
Bumbu : 1 buah : bawang bombai sedang cincang halus 4 siung : bawang putih cincang halus 1 sdt : lada bubuk Garam, gula, kaldu bubuk secukupnya. Cara Membuat : - Rebus lasagna dengan air mendidih selama 8 atau 10 menit lalu angkat, tiriskan. - Sementara merendam lasagna, iris jamur merang dan cincang sosis ayam hingga halus, lalu
panaskan 2 sdm mentega dalam wajan anti lengket. Tumis cincangan bawang bombai dan bawang putih hingga harum, masukkan tepung terigu, tumis hingga tepung terigu setengah matang lalu tuangi susu cair dan bumbu sambil diaduk perlahan agar tercampur rata dan menjadi saus kental. - Masukkan irisan jamur merang dan cincangan sosis ayam. Aduk-aduk, angkat, lalu siapkan tempat tahan panas, olesi dengan margarin, lalu letakkan kulit lasagna dalam cetakan, tutup atasnya dengan adonan jamur dan tutup kembali dengan kulit lasagna, lalu buat lapis, dan tutup lagi paling atas dengan adonan jamur dan taburi dengan parutan keju mozarella. - Masukkan dalam oven yang sudah dipanaskan, lalu oven sampai matang. Hidangkan selagi panas dengan saus sambal siap pakai.
14
Jelita
Edisi 892/ 14 - 20 MARET 2016
Pijat Solusi Segarkan Badan dan Wajah Permisi bu, apakah kepalanya juga dimassage? Begitu si ibu menganggukkan kepala, maka sang terapis dengan cekatan melakukan tugasnya. Kemudian si ibu pun terlihat sangat rileks dan menikmatinya.
M
assage atau pijatan adalah salah satu layanan perawatan yang paling banyak digemari. Apakah saat se seorang tengah melakukan facial, reflexology ataukah body spa. Rata –rata merasa lebih rileks setelah sampai tahapan dipijat. Mereka umumnya merasakan gerakan tangan para terapis saat pijatan dilakukan bukan hanya menjadikan lebih rileks tapi juga dapat menghilangkan, diantaranya rasa penat. Apalagi saat ini di sebagian besar klinik perawatan menyediakan tambahan berbagai aromaterapi yang membantu menjadikan lebih rileks dan nyaman. Begitu disampaikan Yanni, pemilik Cosmic Aromatheraphy Reflexology di Denpasar. Dikatakannya , sebagian besar alasan orang datang ke spa atau rumah refleksi dan salah satunya mencari body massage, sebab selama ini katanya, sangat banyak yang merasakan pijatan pada badan tersebut bukan sekadar akibat kebiasaan sejak kecil namun mereka mengakui kalau dipijat setelah banyak aktivitas adalah kebutuhan. “Ya itu tadi terutama saat mereka usai melakukan kegiatan yang cukup padat dalam waktu yang panjang. Badan yang lelah sudah pasti perlu relaksasi, dan pijatan para terapis mampu membantu mengatasinya,” tutur Yanni Ketika tubuh kita sehat, maka wajah pun akan terlihat lebih segar, apalagi wajah juga di rawat tentu menjadikan semakin berseri. Apabila hal ini rutin di-
lakukan baik itu body spa, facial atupaun refleksologi akan sangat membantu penampilan secara keseluruhan. “Relaksasi dengan pijatan penting, agar tubuh menjadi segar kembali,” cetus Yanni telah setelah belasan tahun menekuni dunia refleksologi ini. Betapa tidak, dengan bantuan pijatan pula, lanjut Yanni selain berhasil menyegarkan juga dapat melancarkan aliran darah. Hal ini juga diakui oleh salah seorang ibu rumah tangga yang juga seorang pengusaha, Hartini. Ia pun sependapat dengan Yanni, bahwa banyak orang yang telah merasakan tenaganya dipulihkan dari rasa lelah dengan pijatan. Menurut Hartini, hampir semua keluarganya suka di pijat, termasuk dirinya kalau sudah di pijat ia merasakan kondisi fisiknya lebih segar. “Terasa lebih baik untuk bisa lanjut ke kegiatan berikutnya atau lanjut istirahat sekalian, soalnya kan sudah PW (baca posisi wuenak),” katanya tertawa. Lebih lanjut Yanni juga menekankan, tidak salah jika saat ini semakin banyak orang yang suka melakukan kegiatan perawatan diri yang ada pijatannya. Ketika aliran darah lancar berarti pula tubuh sehat. Dengan demikian kesegaran juga
perawatan body massage de ngan rutin dapat menyehatkan fungsi otot, mempercepat waktu penyembuh an, serta sirkulasi tubuh
terpancar dari wajah. Apalagi kalau kita tepat memilih tempat untuk di pijat begitu juga dengan keahlian terapisnya yang teruji. kata Hartini, maka kita tidak hanya berguna untuk kesegaran fisiknya saja, namun bisa memelihara kesehatan secara keseluruhan. Mulai dari meningkatkan sirkulasi darah, sistem imun tubuh, tidur lebih berkualitas dan mengurangi ketegangan pada otot. Selanjutnya Yanni menambahkan meski kini disebut era digital , faktanya sebagian masyarakat lebih memilih terapi pijat termasuk untuk target penyembuhan beragam keluhan terhadap gangguan kesehatan. Sedangkan, perihal memilih tempat untuk melakukan perawatan, kita mesti mencari bukan semata tempat yang nyaman tapi merasa cocok dengan teknik perawatannya dan yang pasti mendapatkan manfaat dari pemijatan yang dilakukan.
Yanni
Ketika seluruh perawatan dengan pijtan yang dilakukan secara benar, lanjut Yanni maka kita tidak hanya merasa rileks namun dapat membantu peregangan otot berikutnya kita bisa tidur lebih nyenyak. “Ada lagi bonus hasil lainnya yakni kulit menjadi tidak mudah kering dan keriput, terutama kulit wajah yang sensitif,” katanya. Kualitas Terapis Tentukan Hasil Pijatan Masih berbicara soal pijatan, Yanni pun kembali menekankan , bahwa ketika seseorang memilih perawatan body massage dengan rutin dapat menyehatkan fungsi otot, mempercepat waktu penyembuhan, serta sirkulasi tubuh. Selain itu, perawatan dari luar ini aman dinikmati remaja hingga lansia. Pijatan, lanjut an sangat bagus diperlukan mulai dari anak-anak hingga lansia. Tentunya dengan harapan mereka terutama yang
bekerja agar kesehatannya tetap terjaga. “Akan menjadi lebih baik dan maksimal lagi jika diserta olahraga teratur dan nutrisi yang seimbang,”lanjutnya. Pijatan kata Yanni juga Hartini bisa membantu menjaga kesehatan dengan mengeluarkan racun dan zat merugikan dari dalam tubuh secara alami. Dan, pada beberapa kejadian atau asus, pijatan sehat malah dapat membantu penderita insomnia atau sulit tidur. “ body massage yang mengombinasikan teknik pemijatan tertentu akan meningkatkan aliran darah ke jaringan dan organ, meningkatkan proses reduksi oksidasi, memfasilitasi jantung dan berkontribusi terhadap redistribusi darah dalam tubuh. Selain itu dengan menggunakan bahan tradisional yang terpilih sekaligus mengangkat sel kulit mati dan mengencangkan. Kombinasi yang sangat bermanfaat untuk membersihkan, merelaksasikan dan menyegarkan tubuh. Pijatan, berdsar pengalaman Yanni dan Hartini selama ini,tidak jauh berbeda. Mereka sama-sama menyatakan mampu menolong memperbaiki sirkulasi dan menurunkan tekanan darah. Setelah sirkulasi membaik, pada giliran berikutnya organ dalam tubuh akan berfungsi dan bekerja lebih baik pula. Selanjutnya efek terapi dan santai yang didapatkan dari pijatan sangat baik untuk tubuh, karenanya setiap orang perlu mendapatkan pemijatan yang baik. –Sri Ardhini
Bugar
Edisi 892/ 14 - 20 MARET 2016
11
Operasi BPI Pertama di RS Sanglah Masih ingatkah Anda dengan kasus “Iron Man” dari Karangasem yang sempat menghebohkan warga Bali? “Iron Man” kini sudah ditangani Divisi Hand SMF Orthopaedi & Traumatologi RS Sanglah.
M
e n u r u t d r. Made Bramantya Karna, SpOT(K), Ketua Divisi Hand SMF Orthopaedi & Traumatologi, sebenarnya kasus yang dialami lelaki asal Karangasem tersebut, hanya salah satu dari puluhan kasus cedera serat saraf yang melayani lengan, yang ditangani oleh Divisi Hand RS Sanglah. Kasus ini termasuk dalam brachial plexus injury (BPI) yang merupakan cedera pada jaringan saraf (plexus brachialis) yang berjalan dari leher (dari celah tulang leher ke lima hingga celah tulang belakang dada pertama) menuju bahu, lengan atas, lengan bawah hingga ke tangan. Saraf ini berfungsi melayani rasa raba dan juga mengatur pergerakan dari otot-otot mulai bahu hingga ke tangan dan jari jemari. Cedera pada saraf ini
dapat mengenai sebagian jaring an saraf maupun seluruhnya, yang mengakibatkan kelumpuh an pada lengan. Cedera pada saraf ini dapat diakibatkan oleh berb agai macam cedera, baik cedera saat lahir maupun kecelakaan. Menurut data pasien yang tercatat di RS Sanglah, kecelaka an sepeda motor menempati penyebab terbanyak. Ia me ngatakan, sejauh ini penanganan kasus ini masih sedikit yang mampu memberikan harapan kesembuhan pada penderita. Di samping itu, kata dia, sebagian besar penderita datang sangat terlambat, penanganannya pun sangat sulit karena memerlukan keterampilan operasi yang tinggi serta peralatan yang khusus, dan waktu operasi yang cukup panjang. Hari Sabtu, 5 Maret, di Ruang Pertemuan Dr. Nukarna, SMF
Cedera saraf plexus brachialis
Operasi BPI di RS Sanglah
Orthopaedi &Traumatologi RS Sanglah, telah digelar seminar dan workshop “Meet The Expert: Brachial Plexus Injury” yang dibuka Direktur Utama RS Sanglah. Acara dilanjutkan dengan penanganan operasi salah satu penderita BPI, yang merupakan pertama kali dilakukan di Bali. Dr. I Ketut Suyasa, Sp.B, Sp.OT(K), Kepala SMF Orthopaedi & Traumatologi, menyatakan, RS Sanglah patut berbangga karena sumber daya tenaga kerja serta peralatan yang ter sedia saat ini sudah mampu untuk memfasilitasi dilakukannya operasi ini. Operasi ini dikerjakan di Ruang Bedah Sentral RS Sanglah oleh Tim Bedah Ta
Tim Bedah Tangan RS Sanglah dan RS Dr. Soetomo
Teknik operasi free functional muscle transfer
ngan Orthopaedi dari RS Sanglah yang dipimpin dr. Made Bramantya Karna, SpOT(K) dan dr. AA Yuda Asmara, SpOT., bersama Tim Bedah Tangan dari RS Dr. Soetomo Surabaya yang dipimpin Dr. dr. Heri Suroto, SpOT(K). Operasi yang di-
lakukan lebih kurang lima jam ini berjalan sangat lancar. Pada pasien ini dilakukan berupa free functional muscle transfer, yaitu pencangkokan otot yang diambil dari salah satu otot paha kanan pasien kemudian dipindahkan ke bahu hingga ke lengan bawah. “Operasi pencangkokan ini diharapkan mampu menggantikan fungsi otot-otot lengan yang lumpuh, hingga bahu siku dan tangan dapat bergerak fungsional,” ujarnya. Dr. Bramantya Karna menambahkan, setelah dilakukan operasi, rehabilitasi medis sebagai bagian dari Tim Bedah Tangan RS Sanglah, akan memainkan peran yang sangat penting dalam melatih pasien pasca operasinya. Melalui pertemuan yang diikuti dokter-dokter spesialis orthopedi yang ada di Bali tersebut, ia berharap, informasi mengenai cedera saraf pleksus brachialis dapat disebarluaskan sehingga kasusnya dapat ditangani lebih dini dan harapan kesembuhannya dapat lebih baik dan sudah dapat dikerjakan di RS Sanglah. –Wirati Astiti
10
Mozaik
Edisi 892/ 14 - 20 maret 2016
Siapkan Kantong Nonplastik
Style
Edisi 892/ 14 - 20 maret 2016
Pemerintah telah menerapkan aturan tas plastik berbayar Rp 200/ kantong (tas) plastik. Beragam respons muncul dalam menyikapi hal ini. Respons yang paling cepat datang dari pihak pengelola ritel modern yang segera menjalankan aturan ini. Sejak aturan itu berlaku, Diana (41) ibu rumah tangga yang tinggal di Mataram mengatakan bahwa kini tiap kali ia berbelanja di supermarket ataupun minimarket sudah dikenakan biaya Rp 200/tas plastik. “Kasir dengan cekatan memperlihatkan aturan pemerintah itu yang sengaja dipasang di depan mesin penghitung,” kata Diana.
A
turan untuk mengurangi penggunaan sampah plastik itu sangatlah bagus, namun menurut Diana, semestinya pengelola ritel bisa berpikir lebih bijaksana untuk lingkungan dengan menyiapkan kantong nonplastik bagi pelanggannya. “Ini saya lihat pengelola ritel malah senang kantong plastiknya dibayar,” ujarnya kesal. Bagi Diana, kalau mau menyelamatkan lingkungan seharusnya pengelola ritel bersama-sama masyarakat sekalian saja stop kantong plastik, pengelola ritel menyiapkan kantong nonplastik atau masyarakat membawa kantong sendiri Selain Diana, banyak ibu rumah tangga lainnya yang menyikapi aturan baru ini secara beragam. Sumiati, ibu rumah tangga lainnya mengatakan bahwa kalau untuk mengurangi sampah plastik dan membiasakan setiap yang berbelanja bawa keranjang sendiri tentu ini lebih baik.
“Namun sosialisasi secara terus menerus harus dilakukan oleh pemerintah, pemerhati lingkungan sehingga kesadaran akan hal ini menjadi tanggung jawab bersama. Akan tetapi jika kemudian harus dibayar, kembali juga harus diinformasikan kepada konsumen dan seharusnyalah semua tempat belanja menyediakan tas yang ramah lingkungan,” ungkapnya. Selain itu cara lain menyelamatkan lingkungan dari sampah plastik, Sumiati menyarankan agar membawa tas sendiri saat berbelanja. TAS “DORAEMON” Kritik juga diungkapkan Nyayu Ernawati, aktivis anak yang juga sejak lama lebih banyak menggunakan tas sendiri dari pada tas plastik dari toko saat berbelanja. “Pertanyaan saya bagaimana dengan plasti-plastik untuk kemasan yang masih digunakan sebagai membungkus barang-barang yang dijual. Kenapa tidak sekaligus mereka gunakan kertas yang lebih mudah
didaur ulang untuk memperkecil jumlah sampah plastik,” ujar Nyayu. Peduli pada lingkungan sudah lama dilakukannya. Karena itu ia memiliki tas khusus yang disebutnya tas “Doraemon” yang bisa menampung banyak barang tiap kali berbelanja. “Dari dulu saya kalau belanja jarang mau jika dimasukan ke plastik, saya minta dimasukan saja ke tas saya supaya mengurangi sampah plastik,” katanya. Demikian halnya dengan Ir. Husnanidyati Nurdin, yang anti dengan tas plastik sejak dulu. Bahkan sejak lima tahun terakhir, ia selalu menggunakan tas karung miliknya untuk menampung barang-barang belanjaannya. “Bagus sih untuk mengurangi penggunaan tas plastik. Tapi kalau mau mengajak masyarakat meninggalkan penggunaan tas plastik, seharusnya supermarket juga sudah mulai beralih ke tas berbahan kertas dan itu harus disediakan oleh pihak supermarket sebagai bentuk pelayanan kepada konsumen,” katanya.
Harga Rp 200 terlalu Murah Meskipun bermaksud baik namun tidak semua orang setuju dengan kebijakan kantong plastik berbayar. Kebijakan itu bukan saja dianggap tidak efektif mengurangi sampah plastik—salah satu sebabnya karena harga kantong yang terlalu murah Rp 200 per-kantong—juga karena uang hasil pengumpulan dana kantong plastik itu tidak jelas kemana ‘larinya’. Kebijakan yang dinilai sebagian orang sebagai ‘kebijakan setengah hati’ ini, malah dianggap hanya menguntungkan peritel. Anggaran kantong plastik ini sudah masuk dalam cost production mereka dan itu ikut mempengaruhi harga barang. Jadi meski terlihat seolah pembungkus itu diberikan secara cuma-cuma, namun sesungguhnya komponen produksi bungkus plastik sudah masuk dalam harga barang yang dibeli. Tidak ada yang gratis dalam bisnis. Ditambah lagi, sudah tiga pekan kebijakan ini berjalan, belum ada payung hukumnya. Dasarnya hanya surat edaran dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan. Ya memang, kebijakan ini masih bersifat uji coba yang konon baru akan dievaluasi tiga bulan kemu-
Tulus Abadi
dian. Meski baru uji coba, namun uang penjualan tas plastik sudah masuk ke peritel dan belum ada regulasi soal penyaluran dan pengawasan dana kantong plastik. Tak heran kalau banyak yang mengritik. Mengritik bukan karena tidak peduli lingkungan yang sudah sangat tercemar sampah plastik tapi lebih pada kebijakan yang diambil untuk mengurangi sampah plastik itu. Sebuah LSM menyebut jumlah dana penjualan kantong plastik itu bisa mencapai triliuan rupiah dengan asumsi 20% dari 250 juta penduduk Indonesia berbelanja dan membeli kantong plastik. Lalu uang triliuan rupiah itu dikemanakan dan digunakan untuk apa. Tulus Abadi, Ketua Harian Yayasan Lembaga Konsumen In-
donesia menyebut, dalam pertemuan dengan Aprindo (Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia), pihak Aprindo mengatakan bahwa harga jual Rp 200 per-kantong plastik masih murni harga produksi kantong tersebut. “Jadi cost-nya segitu. Karenanya, dana yang terkumpul tersebut belum bisa dikembalikan kepada masyarakat untuk kepentingan lingkungan. Pengertiannya, kalau hendak dikembalikan ke masyarakat, harga per-kantong plastik harus jauh di atas itu,” ungkapnya. Misalnya, harga Rp 1.000 per kantong maka selisih dari ongkos produksi bisa dikembalikan kepada masyarakat dalam bentuk kegiatan untuk kepentingan lingkungan. “Wong namanya produsen, kan, setiap barang yang dikeluarkan sudah dihitung sebagai cost production, tidak mungkin dia memberikan secara gratis. Jadi wajar saja, kita kan jual-beli dengan mereka. Apa yang mereka keluarkan harus kita bayar, kan,” ujar Tulus. TURUNKAN HARGA BARANG Kalau sebelum adanya kebijakan ini komponen kantong
Ayou Butik Lombok sejak berdiri tidak menggunakan tas plastik untuk pelanggan melainkan tas yang terbuat dari kain puring dan diberikan gratis untuk pembeli.
Sementara itu, Indras mengatakan bahwa ini tidak menyelesaikan masalah jika hanya pelanggan yang dikenai biaya Rp 200/kantong. Karena menurutnya, semua pihak harus memiliki pandangan dan sikap yang sama dalam hal ini, termasuk tentang pengelolaan sampahnya. Berdasarkan pengalamannya ketika berkunjung ke beberapa negara di Eropa, selain pelanggan membawa tas sendiri juga toko menyiapkan wadah yang terbuat dari nonplastik. “Di sana pengelolaan sampahnya juga sudah jelas. Di mana-mana tempat sampah ada 3 macam, untuk sampah plastik, sampah basah dan barang lain seperti kertas serta
lainnya,” kata Indras yang juga seorang ibu rumah tangga. Produsen yang sejak pertama kali membuka usaha telah menggunakan tas nonplastik adalah Ayoe Butik Batik Lombok. “Saya tidak menggunakan tas plastik untuk pelanggan sejak butik dibuka tahun 2012. Tas tersebut saya berikan gratis untuk pembeli tanpa harus membayarnya,” ungkap Ayu Setiawaty, pemilik Ayoe Butik Batik Lombok. Seperti halnya yang lain, ia juga menyarankan sebaiknya produsen tidak memproduksi tas plastik lagi dan jika berbelanja sebaiknya membawa tas sendiri yang bukan plastik.
plastik ini sudah masuk dalam cost production dan itu tentunya berpengaruh juga pada harga produk. Karena itu, dengan berlakunya kebijakan ini, harusnya pihak ritel mengeluarkan komponen produksi kantong plastik ini dari cost-nya karena sudah dibayar konsumen. Dengan begitu harga produk (barang) bisa turun. “Jadi yang sekarang harus dicermati adalah, apakah biaya kantong plastik yang sebelumnya masuk dalam komponen cost production mereka, sudah dikeluarkan atau belum dari angka produksi. Karena dengan konsumen membayar Rp 200, harusnya ada penurunan harga produk (barang). Hal ini (soal pengurangan cost dan pengurangan harga produk) silahkan dicek oleh pihak kementerian atau siapapun yang terkait. Pihak Aprindo juga bisa menjelaskan kepada masyarakat tentang hal ini,” papar Tulus. YLKI sendiri memiliki beberapa usulan terkait kebijakan pengurangan sampah plastik ini. Salah satunya adalah agar sampah plastik berkurang pihak retailer lebih baik tidak menyediakan kantong plastik. “Jadi tidak perlu kantong plastik berbayar, melainkan sama sekali tidak ada (tidak sediakan) kantong plastik,” katanya. Dengan begitu, konsumen menjadi terpaksa membawa tas sendiri dari rumah jika akan berbelanja. Karena tidak mungkin membawa barang belanjaan yang banyak tanpa tas.
Kalau pun disediakan tas maka hendaknya pihak retailer menyediakan tas nonplastik atau tas plastik ramah lingkungan. Baru-baru ini di Batam ada UKM yang meluncurkan tas ramah lingkungan. “Misalnya, tas ramah lingkungan dari Batam itu, tolong itu difasilitasi pemerintah,” tambahnya. “Jadi ada beberapa pilihan untuk mengurangi sampah plastik, tidak menyediakan tas plastik sama sekali atau siapkan plastik ramah lingkungan atau siapkan tas nonplastik,” jelasnya. Tapi kata Tulus lagi seraya mewanti-wanti, jangan sampai kebijakan ini justru berubah menjadi bisnis atau jualan tas plastik. Melihat harga kantong plastik Rp 200, menurut Tulus, terlalu murah, kurang mendorong masyarakat untuk membawa tas sendiri. YLKI mengusulkan harganya dinaikkan menjadi Rp 1000 per-kantong. “Harga ini sudah mempertimbangkan daya beli masyarakat, jangan juga terlalu mahal, cukup Rp 1000. Karena kalau Rp 5000 terasa terlalu mahal,” katanya. Soal dana penjualan kantong plastik, Tulus mengatakan, mungkin sudah saatnya pemerintah pusat maupun daerah memikirkannya. Sempat ada kabar akan dibentuk tim terpadu di daerah. “Nah, tim terpadu itu nantinya bertugas mengumpulkan dana hasil penjualan plastik. Tapi dana itu jangan dimasukkan ke dalam PAD (Pendapatan Asli Daerah),” tegasnya.
-Naniek I. Taufan
–Diana Runtu
Gaya Inovasi
Modern I
novasi adalah salah satu hal penting yang perlu di lakukan oleh seorang penata rias dan perancang busana pengantin agar dapat bertahan bahkan berkembang terus bersama dengan perubahan dan tren gaya busana. Hal ini juga tak henti dilakukan seorang Tut De pemilik Tut De Wedding di Denpasar. Dengan tetap berpegang pada kekayaan seni budaya Bali, ia pun mempersembahkan gagasan kreatifnya dalam inovasi modern untuk tata rias dan busana pengantin. Apalagi bicara tren inovasi busana pengantin, memang tidak akan pernah ada habisnya, khususnya menyangkut inovasi modern. Alangkah indahnya jika momen istimewa, sebuah perkawinan yang akan diabadikan dilengkapi dengan busana yang indah dan spesial sesuai dengan tema yang diinginkan. Untuk itu, pekan ini bisa dilihat beberapa hasil inovasi modern keahlian tangan seorang Tut De, untuk menjadikan pilihan yang lebih banyak lagi Dan, silakan pembaca Tokoh dan masyarakat menilainya. –Sri Ardhini
15
16
Edukasi
Edisi 892/ 14 - 20 MARET 2016
Utamakan Layanan untuk Pelanggan
Diberlakukannya penerapan kebijakan kantong plastik ber bayar sepertinya belum berjalan sepenuhnya di pedagang di pasar tradisional. Mereka masih berpikir keberadaan kantong plastik paling praktis sebagai pembungkus barang dagangannya.
B
u Gung Dewi, salah seorang konsumen yang biasa belanja di pasar tradisional menuturkan kebijakan yang dikeluarkan pemerintah tidak sampai
menyentuh pedagang pasar tradisional. “Saya belanja di pasar tradisional, tetap saja diberi tas plastik tanpa ada biaya tambahan. Pedagang di pasar tradisional tidak terpengaruh dengan kebijakan
Kampanye Indonesia Bebas Anemia Berdasarkan hasil Riset Kesehatan Dasar tahun 2013, tercatat 1 dari 5 orang Indonesia berisiko menderita anemia. Mayoritas penderita anemia adalah wanita dan pria dengan produktivitas tinggi yang memiliki peran ganda sebagai pekerja maupun orang tua yang seringkali merasa mudah lelah dan kerap mengalami penurunan konsentrasi. Namun, banyak dari mereka yang tidak menyadari bahwa hal-hal tersebut adalah gejala dari anemia yang berdampak pada penurunan kinerja mereka sehari-hari. Menyadari hal tersebut, Merck dengan komitmennya untuk meningkatkan kesadaran akan pentingnya pengetahuan mengenai risiko anemia dan dampaknya terhadap kinerja sehari hari, bekerja sama dengan Perhimpunan Dokter Gizi Medik Indonesia (PDGMI) meluncurkan kampanye dengan tema “Indonesia Bebas Anemia” yang akan diselenggarakan pada 16 Maret 2016, di Grand Ballroom I Hotel JS Luwansa, Jakarta Selatan. Ada tiga pembicara dalam acara tersebut, Head of Marketing Consumer Health PT Merck Tbk. Indonesia Anie Rachmayani, Wakil Ketua PP-PDGMI Dr. dr. Yustina Anie Indriastuti, MSc, SpGK, dan artis Mona Ratuliu.-rls
baru tas plastik bayar Rp 200,” ujarnya. Ia menambahkan di pasar swalayan juga menerapkan aturan beda. Ada yang langsung mengenakan biaya Rp 200 per tas plastik dan ada yang menggratiskan. Dari kitir yang diberikan kasir ada yang mecantumkan biaya tas platik Rp 0 dan ada juga yang berisi Rp 200. Pedagang tas plastik di pasar tradisional juga tak terpengaruh dengan kebijakan tas plastik berbayar. “Pedagang masih perlu tas plastik. Mereka beli tas plastik kemudian dipakai untuk membungkus barang konsumen. Ini bagian dari layanan mereka,” ujar seorang pedagang plastik di Pasar Satria, Denpasar. Sementara itu Herry, salah seorang pedagang tas di Pasar Baru, Bandung mengatakan ia sudah mengetahui soal sosialisasi kebijakan yang bertujuan untuk mengurangi sampah plastik tersebut, namun diakuinya ia belum menjalankannya. Ia juga mendengar kalau nantinya dana hasil pembayaran kantong plastik berbayar itu akan diambil setiap bulannya dihitung dari omzet. Ia menggunakan kantong plas-
P
Bali memiliki kekayaan alam yang sangat indah dan sangat menakjubkan di mata dunia. Banyak tamu nusantara maupun mancanegara datang ke Bali untuk melihat adat dan budaya Bali serta keindahan alam Bali. Pantai menjadi salah tujuan wisata saat berada di Bali.
Edisi 892/ 14 - 20 MARET 2016
Terus Berinovasi Kembangkan Beatbox Beatbox sudah dikenal di Buleleng khususnya Singaraja. Salah satu yang getol mengembangkan beatbox di Singaraja adalah Made Ravi Ramayana.
Suasana pasar tradisional
tik untuk membungkus dagangannya yang berupa berbagai jenis tas. Dalam sehari katanya tidak lebih dari sepuluh menghabiskan kantung plastik. “Sampai saat ini belum ada juga yang belanja bawa kantung sendiri dari rumah. Saya juga masih memberikannya sebagai layanan kepada pelanggan,” katanya. Sementara, Udin seorang pedagang martabak manis juga di lokasi yang sama mengatakan
hingga saat ini belum mengetahui kebijakan tersebut dan masih menggunakan kantong plastik untuk tempat jajanan jualannya tanpa meminta bayaran. “Saya kan hanya memakai kantong palstik yang kecil-kecil...ndak tega nambah minta bayarannya. Kalaupun mesti pakai kertas bekas kan repot juga pembeli untuk membawanya. Kantung plastik kecil ini yang paling praktis ” katanya. – Sri Ardhini
Menikmati Matahari Terbenam di Pantai Pasut ulau Bali dikelilingi oleh pantai. Ada yang sudah terkenal seperti Pantai Kuta, Sanur. Nusa Dua, dan Amed. Namun, ada juga pantai yang belum banyak dikenal wisatawan. Salah satunya adalah Pantai Pasut yang menawarkan pemandangan yang indah. Pantai Pasut terletak di Desa Tibubiyu, Kecamatan Kerambitan, Kabupaten Tabanan, sekitar 13 km dari kota Tabanan. Suasana pantai pasut ini masih sangat sepi dan nyaman cocok bagi pengunjung yang menyukai ketenangan. Pantai Pasut ini berpasir hitam, pemandangannya sangat menawan. “Pada sore hari pengunjung yang datang ke pantai dapat menyaksikan indahnya panorama alam matahari tenggelam,” ujar Putu Erawati, salah seorang warga yang kerap jalan-jalan ke pantai ini. Ia menambahkan masyarakat sekitar pantai ini umumnya bekerja sebagai petani dan nelayan. Ini bisa terlihat masih banyaknya sawah saat menuju ke Pantai Pasut serta perahu-perahu nelayan berjejer rapi. Di sebelah barat pantai
Dara
terdapat Pura Segara dan muara Sungai Yeh Po. Saat tertentu di Sungai Yeh Po sering dijadikan tempat perlombaan sampan. Para pengunjung yang datang ke Pantai Pasut juga bisa bersantai bahkan ada juga yang berjemur. Beberapa vila ada di dekat pantai ini. Selain untuk keperluan pribadi, ada juga vila yang disewakan. “Pantai Pasut biasanya banyak dikunjungi oleh para muda-mudi pada hari Minggu dan hari-hari libur lainnya. Mereka memanfaat-
kan hari libur untuk menikmati indahnya matahari terbenam. Ada juga yang mengisi waktu untuk bermain sepak bola serta main voli,” ujar Erawati. Untuk mendukung kepariwisataan di Pantai Pasut, sudah ada area parkir dan warung makanan serta minuman. Bagi Anda yang berkunjung ke Bali dan ingin menikmati suasana pantai yang masih sepi dan nyaman, Pantai Pasut ini bisa dijadikan salah satu alternatif pilihan liburan. -Rukanta
Made Ravi Ramayana
B
eatbox merupakan sebuah karya seni suara yang dihasilkan melalui mulut, lidah, bibir, dan rongga ucap lainya yang bisa menghasilkan suara. Beatbox juga dapat menghasilkan bunyi ritmis, ketukan drum, dan suara turntable. Beatbox awalnya identik dengan budaya hiphop. Namun saat ini beatbox juga sudah dimainkan untuk genre musik lain seperti rock, pop, dan RnB. “Untuk mempelajari beatbox, kita harus mengetahui dasardasar beatbox yaitu “B T & K” yang dihilangkan huruf vokalnya,” ungkap Ravi. Setelah mempelajarinya, tentu ada beberapa kesulitan, diantaranya teknik atau menciptakan bunyi yang keluar dari dalam mulut. Teknik yang sulit dipelajari seperti riproll dan tkt. Ravi menambahkan cukup banyak karena seni beatbox ini
dapat meniru seni musik yang menghasilkan bunyi. Seorang beatboxer yang profesional dapat membunyikan suara atau teknik suara lebih dari 5 teknik. Ketika ditanya mengapa memilih beatbox, Ravi menuturkan awalnya ia terinspirasi dari salah satu musisi terkenal di Indonesia. Salah satu personil mereka memiliki seni beatbox. Tiap mereka tampil di atas panggung selalu mengolaborasikan musik beatbox dengan musik pop dan rap. Mereka adalah Bondan Prakoso & Fade2Black. Saya tertarik untuk mempelajari karena mereka dan keunikan yang diciptakan membuat musik tanpa menggunakan instrumen. Saya pun tertarik untuk mempelajarinya disamping unik seni beatbox juga hanya membutuhkan mikrofon saja saat latihan atau tampil di atas panggung,” ujar Ravi. Ia sudah sejak tahun 2010 me-
Komunitas beatbox Singaraja
nekuni beatbox, namun baru fokus berkarier dalam seni beatbox ini pada tahun 2011. Sudah banyak pengalaman yang ia dapatkan di dunia beatbox hingga saat ini. Namun. Ravi mengaku masih terus belajar karena merasa belum puas dengan apa ia punya saat ini. Tiap tampil, Ravi berkolaborasi dengan grup dance yang bernama Grasshopper Beatbox Dancing. Mereka terdiri dari 4 orang yaitu Ravi sebagai beatboxer, Jason sebagai robotic dance dan sekaligus manajer Grasshopper Beatbox Dancing, Mang Ame dan Catur sebagai popping. “Mereka adalah grup saya dan saya sudah mengganggap mereka adalah keluarga. Dari grup ini saya melesat hingga sampai saya dapat mewakili Bali ke Jakarta dalam ajang pencari
an bakat, mewakili Bali sudah kesekian kalinya dan mendapat sponsor yang melimpah berkat grup dance ini,” tegas Ravi yang juga Ketua Komunitas Singaraja Beatbox ini. Di Singaraja, sudah ada perkumpulan beatbox sejak tahun 2012. Sudah banyak acara yang dibuat oleh komunitas ini. Belum lama ini Ravi dan anggota Singaraja Beatbox serta komunitas lain seperti Bboy dan Street People mengadakan acara yang dibuat di Rumah Music Demores. “Acara yang kami buat sudah lumayan sukses karena kami kedatangan peserta lomba dari luar wilayah Bali. Dari acara tersebut kami di komunutas akan terus berinovasi dalam mengembangkan seni beatbox,” tegas Ravi. -Vijay
Kisah Keangkuhan Mahishasura
Seka Karang Asta Gina Desa Tangkas
Malam pengrupukan identik dengan ogoh-ogoh. Namun, sebelumnya, ogoh-ogoh itu dilombakan, seperti yang dilakukan di Klungkung. Para pemuda Desa Tangkas Klungkung menyiapkan diri untuk membuat ogoh-ogoh untuk dilombakan sekaligus diarak keliling desa. “Untuk tahun ini kami ditunjuk menjadi salah satu peserta di perlombaan ogoh-ogoh yang dilaksanakan di kota Klungkung. Kita sudah bersiap diri dari beberapa bulan sebelumnya. Sesuai dengan usul Bendesa Adat, kami mengambil cerita Mahishasura Pralaya,” ujar I Wayan Mustika Ketua Seka Karang Asta Gina Desa Tangkas. Kisah Mahishasura Pralaya itu menceritakan seorang raja bernama Mahishasura yang memiliki kekuatan dahsyat. Kekuatannya mampu menyaingi para dewa. Karena kekuatan tersebut Mahishasura menjadi angkuh dan berusaha mengalahkan Dewa Trimurti yaitu Dewa Brahma, Dewa Wisnu, dan Dewa Siwa. Hal
9
itu membuat Dewi Durga geram, ia lalu membunuh Mahishasura yang memiliki ciri kepala kerbau itu dengan senjata Trisula. Mustika mengatakan pembuatan ogoh-ogoh ini sekitar 2 bulan dan menghabiskan anggaran hingga Rp 30 juta lebih. Sumber dana sebagian besar diperoleh dari iuran warga Desa Tangkas. Saat perlombaan, mereka melibatkan 5orang untuk peran sendratari dan untuk yang mengangkat ogoh-ogoh sekitar 90 orang. “Sudah empat kali berturut-turut desa kami ikut serta dalam meramaikan perlombaan ini dan selalu meraih juara,” ujarnya tentang lomba yang start dari jalur Simpang Lima, Klungkung menuju
ke monumen Puputan pada Jumat (4/3) ini. Tahun 2016 ini peserta lomba terdiri dari 11 ogoh-ogoh yang berasal dari 4 Kecamatan di Klungkung.Kecamatan Klungkung diwakili oleh Desa Tangkas, Desa Bendul, dan Desa Sengguan. Kecamatan Dawan diwakili oleh Dawan Tengah, Desa Kusamba dan Desa Paksebali. Kecamatan Banjarangkan diwakili oleh Desa Tusan, Desa Nyalian, Desa Pakramaan Aan, dan untuk di Nusa Penida diambil dari Banjar Kelod Desa Jungut Batu dan Banjar Kaje Desa Jungut Batu. Saat malam pengurupukan, ogoh-ogoh Mahishasura ini menjadi salah satu ogh-ogoh yang diarak lagi. Ogoh-ogoh lain merupakan karya banjar lain dan hasil karya anak-anak muda Desa Tangkas. -Suarni
8
Bunda & Ananda
Edisi 892/ 14 - 20 maret 2016
badan 120 cm memerlukan zat gizi sebagai berikut: energi 1800 kkal, protein 45 g, vitamin A 500 RE, tiamin 0,9 mg, asam folat 200 ug, vitamin C 45 mg, kalsium 600 mg, fosfor 400 mg, besi 10 mg, yodium 120 ug, seng 11,2 mg, selenium 20 ug, flour 1,2 mg. Untuk memenuhi kebutuhan zat gizi anak tersebut dapat dihidangkan makanan sebagai berikut: Makan pagi: nasi putih 200 g, telur dadar 50 g, bening bayam 100 g, teh manis, snack di sekolah bubur tumbuh disamping harus tercukkacang hijau 15 g, Makan siang: upi makanannya, juga sangat perlu nasi putih 200 g, semur ayam 75 beristirahat pada siang hari, sehg, cah sawi hijau 100 g + tahu 50 ingga tubuh memiliki kesempatan g, buah segar pepaya 100 g, Makan melakukan metabolisme makanan malam: nasi putih 200 g, ikan kakap Rai Widowati lebih sempurna. Makanan yang goreng 75 g, tempe bacem 50 g, dikonsumsi apabila hanya cukup sebelumnya yaitu saat pertama plecing kangkung 100 g, jeruk untuk aktivitas fisik menyebabkan anak diperkenalkan makanan manis 100 g. anak terhambat pertumbuhannya. pendamping air susu ibu (MP“Ibu yang memiliki hobi meUntuk hal ini ibu-ibu harus tetap ASI). Anak yang pada awalnya masak dan mempunyai waktu memerhatikan jumlah makanan selalu diperkenalkan makanan luang dapat menyiapkan makanan yang dikonsumsi putra-putrinya yang rasanya manis-manis, se- anaknya dengan melakukan variasi dan kegiatan fisik yang dilakukan lanjutnya sering bermasalah menu dan variasi bahan sehingga pada saat diperkenalkan makan anak selalu dihidangkan makanan di sekolah atau di rumah. “Pedoman gizi seimbang men- sayur. Sayur untuk anak sebai- yang bervariasi untuk mencegah ganjurkan seorang anak sebaiknya knya dimasak tersendiri, dipisah timbulnya kebosanan terhadap mengonsumsi beragam makanan memasaknya dengan sayur yang makanan yang monoton disajikan,” dengan porsi sesuai anjuran yang akan dikonsumsi oleh orangtua ujar Ketua DPD Persagi Bali ini. terdiri dari sumber karbohidrat atau kakaknya yang lebih besar. Ia juga mengatakan anak yang sebagai zat tenaga (nasi, roti, sing- Ibu yang menyiapkan makanan sedang dalam periode pertumkong, mie, dll.), sumber protein atau sayur untuk anaknya akan buhan dan perkembangan perlu hewani dan nabati sebagai zat dapat menyajikan makanan dan disajikan hidangan yang disukai pembangun (telor, daging, ikan, sayur yang disukai. Hal ini dapat dengan memperhatikan prinsip tahu, tempe, dll.), vitamin dan min- meningkatkan nafsu makan dan menu seimbang untuk memenuhi eral sebagai zat pengatur (bayam, anak merasakan kelezatan maka- kebutuhan gizi tubuhnya. Ibu-ibu kangkung, wortel, pepaya, melon, nan yang dimakan,” paparnya. yang menyayangi anaknya jangan Yang perlu mendapat perha- terobsesi memberikan makanan jeruk, dll.). Kemudian diimbangi dengan melakukan aktivitas fisik tian adalah besarnya porsi atau dengan tujuan agar anaknya atau berolehraga secara rutin jumlah makanan yang sebaiknya gemuk, namun anak sebaiknya dan jangan lupa minum air putih dimakan untuk memperoleh memiliki status gizi yang optiminimal 8 gelas sehari atau setara status gizi yang optimal. Sebagai mal sehingga periode tumbuh contoh seorang anak sekolah dan kembang selanjutnya juga 1.5 liter. Pola makan anak saat ini ser- dasar yang berumur 9 tahun den- optimal. ing dipengaruhi oleh pola makan gan berat badan 25 kg dan tinggi -Sri Ardhini/Ngurah Budi
Keluarga Sehat
dengan Gizi Seimbang
Kesehatan bagi setiap orang sangatlah berharga. Badan yang sehat juga ditentukan pula oleh pola makan dan jenis makanan yang dikonsumsi setiap hari. Pola makan gizi seimbang adalah pola makan bervariasi.
M
enurut IGA Rai Widowati, hal ini juga sangat disarankan oleh Kementerian Kesehatan untuk diterapkan. Sebab, memilih pangan padat gizi sekaligus bervariasi menjadi kunci keberhasilan para ibu untuk menyediakan makanan yang menyehatkan juga enak. Dikatakan oleh salah seorang pengurus Perwatusi Bali ini, sinilah peran ibu, menjaga serta memastikan kesehatan anggota keluarganya, dengan cara memberikan makanan yang menyehatkan. Tidak mesti menghitung jumlah kalori yang masuk setiap hari, tapi cukup disesuaikan dengan aktivitas, kapasitas tubuh dan daya tampung perut, dan menjaga berat badan tetap ideal. Sebab, hal ini yang menunjukkan kalau asupan gizi tubuh seseorang terpenuhi. Menu makanan sehari- hari di keluarga, sangat penting diperhatikan, meski kelihatannya sepele. Makanya, para ibu mesti memiliki pengetahuan dengan membaca atau mencari referensi tentang gizi seimbang. Apalagi, asupan makanan dengan kandungan gizi yang seimbang berperan pada kecerdasan yang dimiliki anggota keluarga terutama anak anak. Gung Rai lantas menyampaikan bahwa yang dimaksud dengan gizi seimbang adalah kandungan dalam makanan juga berfungsi sebagai sumber tenaga, zat pengatur dan zat pembangun. “Untuk saya pribadi saat ini tidaklah terlalu sulit. Sebab anak saya yang pertama sudah mandiri dan kebetulan tengah menempuh studi di luar. Sedangkan yang masih sekolah di sini si bungsu rupanya sudah cukup memiliki pengetahuan dari internet atau media sosial lainnya perihal apa itu makanan sehat,” katanya. Namun, sebagai seorang ibu ia wajib menyediakan menu baik untuk sarapan ataupun waktu makan lainnya. Menunya disesuaikan dengan kebutuhan putranya yang sangt aktif di kegiatan pecinta alam dan bela diri. Karena kebetulan anaknya tidak suka nasi maka ia pun menggantinya dengan kentang dan roti agar keperluan karbohidrat sebagai sumber tenaga tercukupi. “Begitu juga dengan kurang sukanya ia terhadap sayur, juga saya alihkan ke buah. Buah juga saya pilih yang mudah dicari seperti apel, papaya dan pisang. Kalau untuk protein, lebih mudah karena bisa di dapat dari tempe dan telur,” tuturnya. Anak muda sekarang lanjutnya, juga tidak lagi terlalu tergiur dengan fast food atau jenis makanan instan lainnya. Mereka juga sudah tidak mau minuman yang
Agusjaya Mataram
berwarna, tapi lebih memilih air putih. “Selain sehat katanya sekalian jaga bodi. Kalaupun mereka sesekali makan makanan siap saji, kulitnya dibuang. Begitu juga urusan gula mereka memilih gula diet,” ujarnya lagi. APAKAH ANAK PERLU DIET? Sementara itu, di sebuah sekolah ada perbincangan dua ibu usai mengantar anaknya. Salah satunya bertanya bagaimana caranya mengatur makanan anaknya mau gemuk, sedangkan yang satunya bertanya bagaimana agar anaknya bisa kurus. Apakah anak yang gemuk perlu diet, atau anak yang kurus perlu banyak makan? “Ibu yang senang melihat anaknya gemuk, akan terus mempertahankan pola makan anaknya sehingga berat badanya akan terus meningkat. Sedangkan ibu yang mengetahui kegemukan dapat berdampak negatif pada perkembangan anak selanjutnya, akan berusaha melakukan diit, dengan cara mengurangi porsi makannya,” ujar Dr. Ir. I Komang Agusjaya Mataram, M.Kes. Dosen Jurusan Gizi Poltekkes Denpasar ini menjelaskan seorang anak untuk memperoleh status gizi yang optimal tidak perlu melakukan diet mengurangi porsi makan. Yang dimaksud diet adalah pengaturan pola makan sehingga asupan zat gizi sesuai dengan kebutuhan tubuh. Pada periode ini anak sedang mengalami pertumbuhan fisik dan aktivitas fisiknya yang tinggi baik di sekolah maupun setelah pulang sekolah. Untuk itu sangat diperlukan konsumsi makanan yang bergizi agar aktivitas yang dilakukan tidak mengganggu pertumbuhan. Kadangkala ada orangtua yang menyatakan anak sudah banyak namun tubuhnya tetap kurus. Anak yang sedang
Mendongeng Lima Menit
tawuran antar semut
Serombongan semut merah berangkat beriringan mencari makan ke tempat yang lebih jauh. Di tengah jalan berpapasan dengan iring-iringan semut hitam yang mencari makan ke tempat lain. “Minggir kau! Ini Made Taro jalanku!” kata Semut Merah. “Ini jalanku! Minggir kau!” jawab Semut Hitam. Semut merah tersinggung, lalu katanya, “Belum tahu kau! Aku semut merah, dewaku Dewa Pencipta. Beliaulah yang meciptakan bumi, langit, matahari, hewan, semut, dllnya. Tanpa kehendak beliau, kamu tidak ada!” Semut hitam merasa direndahkan, lalu balasnya, “Belum tahu kau! Aku semut hitam, dewaku Dewa Pemelihara. Beliaulah yang memelihara segala ciptaan. Tanpa beliau, segala yang diciptakan akan hancur.” Masing-masing semut itu merasa direndahkan. Mereka terpaksa mengunggulkan peranan Dewanya masing-masing. Mula-mula mereka bersitegang urat leher, lalu berlanjut dengan saling ejek. Semut hitam menonjokkan pantatnya ke moncong semut merah. Semut merah membalasnya dengan menyemburkan kencing ke mata semut hitam. Semut-semut yang mula-mula beriringan itu lalu berhamburan. Masingmasing membela pemimpinnya. Mereka bertarung adu kekuatan, saling jambak, saling banting, saling robek. Ya, mereka tawuran, saling mengalahkan dan saling meniadakan yang lain. Lihat, mereka bergumul saling bunuh. Lihat tubuh-tubuh yang meregang di tanah. Lihat, darah tercecer di mana-mana! Ada yang kepalanya pecah, ada yang perutnya terburai.
Dan dengar, mereka yang masih sempat bertarung berteriak-teriak sekuat tenaga. Pada saat peristiwa itu terjadi, dari kejauhan tampak iringan rombongan semut lain menuju arena tawuran itu. Mereka mendengar rintihan dan teriakan. Setelah menyaksikan apa yang terjadi, pemimpin rombongan itu berteriak, “Hai, semut-semut! Ngapain kamu saling bunuh?” Semut-semut yang sedang bertarung menghentikan pergumulannya. Mereka semua menoleh ke arah suara itu. Mereka heran. Di depannya berdiri serombongan semut yang berwarna hitam, ah, bukan hitam; merah, ah, bukan merah. Ada putihnya, ada cokelatnya, ada kuningnya. Bukan! Semut itu berhiaskan semua warna. Ketika pemimpin semut itu mendengarkan keterangan salah satu pihak, semut pihak lawan membantahnya. Mereka kembali marah dan berancang-ancang melanjutkan tawuran itu lagi. Akhirnya pemimpin semut segala warna itu berkata. “Sebab dari pertarungan itu adalah kebodohan. Kamu tidak memahami dirimu sendiri dan juga tidak memahami diri orang lain. Kami adalah semut segala warna. Dewaku Dewa Pelebur. Kalau dewaku menginginkan, maka segala ciptaan, segala yang dipelihara, tak ada artinya. Semua musnah, termasuk semut-semut. Yang Maha Kuasa menugaskan kita untuk memelihara hukum kehidupan. Ada kelahiran, ada kehidupan dan ada kematian. Hargailah dan dukunglah tugas dewamu itu! Kehidupan akan berlangsung harmonis, apabila dewadewa itu saling memahami dan bertugas menjalankan kewenangannya dengan baik. Semut-semut yang habis tawuran itu menyadari kesalahannya. Mereka saling bersalaman, lalu meneruskan perjalanan. Sekali-sekali mereka menoleh ke belakang, memandang bangkai-bangkai semut yang berserakan di tanah.
Griya
Edisi 892/ 14 - 20 maret 2016
Kekokohan Sanggah
Batu Lahar
Di balik musibah pasti ada hikmah. Ungkapan itu sepertinya tepat mewakili aktivitas para pengeraajin batu lahar di seputaran Jalan By Pass Prof. IB Mantra, Ketewel, Bali. Salah satu usaha pembuatan kerajinan dari batu lahar ini adalah UD. Surya Jaya.
S
e p e r t i d i t u t u rkan salah seorang pengerajinnya, Komang Suparta, muntahan batu dari Gunung Agung, Karangasem, selain menjadi bongkahan batu biasa, bisa dimanfaatkan dan dibentuk menjadi bangunan sanggah atau candi yang pada umum dipakai masyarakat Bali. Bongkahan batu hitam besar serta memiliki tekstur keras ini, diproses dengan cara dipotong-potong terlebih dahulu, setelah itu dibentuk menjadi bentuk yang diinginkan. Meski harga sanggah dari batu lahar ini lebih tinggi dari material lainnya seperti batu bata merah, paras maupun batu palimanan, peminatnya masih tetap ada, walaupun menurun dari tahun-tahun sebelumnya. “Pertengahan tahun 2015, orderan agak sepi,” ujar Suparta yang sudah 5 tahun bekerja di sana. Harga sanggah batu lahar dengan alas 60-70 cm dan tinggi sekitar 3 meter ini mencapai angka Rp 7 juta. Tak heran memang, karena karakter barunya yang keras, tentu proses pemotongan maupun memahat/mengukirnya pun memerlukan alat khusus. “Alat pahatnya memakai pahat baja, dan ongkos ngukirnya bisa sampai setengah dari harga sanggahnya, sekitar Rp3 juta,” jelasnya. Karena karakternya yang kokoh, selain sanggah, batu lahar juga banyak dibentuk menjadi patung, candi bentar, dan tembok penyengker. Suparta mengatakan kalau sekarang sudah mulai ban-
yak orang yang melirik sanggah batu hitam. Selain karena bahannya yang kuat, warna hitam dari batu tersebut membuat bangunan sanggah terlihat lebih berwibawa. “Banyak orang yang membongkar bangunan sanggahnya hanya untuk menggantinya dengan sanggah batu hitam,” ucapnya. Ia menambahkan, sanggah batu lahar ini sangat awet. Walaupun diterjang hujan ataupun terik matahari, batu hitam tidak akan bermasalah seperti batu putih yang lebih cepat berlumut ataupun seperti kayu yang cepat lapuk. Mungkin itu juga yang menjadikan banyak orang yang memilih batu hitam menjadi bahan bangunan sanggah mereka. –Inten Indrawati
17
18
Life
Edisi 892/ 14 - 20 MARET 2016
Pilih Besi Bekas D Di tengah himpitan ekonomi, memaksa Gede Nurita untuk memutar otak demi memenuhi kebutuhan hidup. Sulitnya mencari pekerjaan dan tidak memiliki keahlian membuat kehidupannya karut-marut. Banyaknya tanggungan adalah alasan pria yang mempunyai tiga orang istri ini harus bekerja lebih keras lagi.
itinggal oleh istri pertama dan kedua membuat Nurit sapaan akrabnya hidup bersama istri ketiga, anak serta cucunya. Berawal ketika dirinya diajak berjualan ke pasar oleh sang istri, namun ia memutuskan untuk di rumah membuat kerajinan. Bermodal drum bekas yang diminta dari tetangganya, ia mencoba membuat gong. “Awalnya seperti gong jawa, itu terjual Rp 10.000,” ujar pria kelahiran 1930 tersebut.
Gede Nurita dan beberapa kerajinan buatannya
Nurit yang sudah 10 tahun menjalani pekerjaan itu kian mengasah bakatnya. Hingga banyak warga yang tahu kemudian meminta pesanan kepada Nurit. “Ada yang membayar Rp 150 ribu langsung makan,” ujar warga Dajan Margi, Desa Naga Sepeha, Kecamatan Sukasada ini. Sampai sekarang ia masih mendapat pesanan dari warga yang ingin membuat gong. Di zaman yang sudah serba berkembang, Nurit hanya menggunakan tangan dan peralatan seadanya dalam proses pembuatan gong besi. Peralatannya hanya gergaji besi dan palu. Namun, jangan khawatir kualitas gong hasil buatan tangannya tidak kalah dengan gong yang dibuat menggunakan peralatan yang lebih memadai. Bahan baku seperti besi pun ia beli tidak dari sembarang orang. Biasanya ia membeli pipa besi dari orang yang kerja di PDAM. Besi yang digunakan tidak berupa besi baru melainkan besi yang sudah dipakai. Hal ini dikarenakan besi yang sudah dipakai akan menghasilkan bunyi lebih bagus dibandingkan besi yang baru. “Kalau besi baru masih banyak kandungan timah,” ucap Nurit. Sekian lama sebagai pengrajin gong besi, rupanya perjalanan pahit pernah ia rasakan. Dapat pesanan namun tiba-tiba dibatalkan tanpa tahu alasan. Dia pun membuat gong besi tersebut dengan lengkap (abarung) dan berjanji tidak akan menjual den-
Story
Gede Nurita
gan harga berapa pun. “Ada yang mau beli Rp 10 juta tapi tidak saya jual,” ucap kakek dari 26 cucu itu.Setelah istri ketiganya meninggal, membuat gong adalah satu-satunya sumber penghasilan Nurit. Sampai sekarang Nurit masih menekuni pekerjaanya. Biasanya dia mendapat pesanan dari luar daerah seperti desa Pancasari, Ala Sangker, Sangsit, Lovina dan Sambangan. Nurit akan mulai membuat gong jika sudah ada pesanan. Kalau yang pesan biasanya duang tungguh atau telung tungguh. Satu tungguh gong besi dihargai Rp 600.000 namun sayang pesanan tidak selalu datang. Dua atau tiga bulan sekali baru ada pesanan. Selama tidak ada pesanan dia hanya diam di rumah mengurusi anak terkecilnya yang masih TK. -Wiwin
Pilih yang Gampang Diingat Menurutnya penggemar musik reggae adalah orang yang selalu berpenampilan sederhana dan bisa makan apa adanya. Memilih reggae sebagai genre dalam musiknya dikarenakan masih langkanya pemusik reggae yang ada di Buleleng. “Di Bali banyak sekali pemusik reggae, saya ingin di Buleleng ini ada juga,” tegasnya. Musik reggae bisa diterima dari kalangan bawah sampai kalangan atas hanya saja tidak se-glamour musik hardcore dan rock yang notabene digemari anak-anak muda. “Reggae bisa diterima oleh semua kalangan, dan saya hanya ingin ada yang berani mengatakan dirinya (grup band) bergenre reggae,” imbuh manajer band yang terbentuk 3 tahun silam ini. Band yang digawangi oleh Adi Betox di vokal, Duwiq di gitar, Komang Ikrar (Komang
A.O) di drum, Gusti Bagus Trikaya di keyboard, dan Felix di saxophone ini terbentuk sejak 29 Juni 2013. Tanggapan positif yang diterima tiap manggung membuat band yang bermarkas di Seririt ini makin bersemangat. Mereka mencoba untuk membagikan jadwal manggung atau event-event tempat manggung di sosial media. Dilihat dari sanalah mereka merasa yakin musik reggae dapat diterima di Buleleng ini. Terlepas dari hanya sekadar memuji yang jelas tanggapan negatif dari masyarakat tidak ada. Jadwal manggung yang lebih banyak di luar daerah membuat band yang pernah mengisi acara Buleleng Festival dan Buleleng Bali Dive Festival ini berharap akan banyak berkembang pemusik-pemusik reggae. “Jujur saja di Buleleng cuma kami yang mewakili padahal di Denpasar
Dengan raut wajah bahagia yang tak terlukiskan, Papuq Pinah (60), tersenyum pada Kolonel CZi Lalu Rudi Irham Srigede, S.T., M.Si, ketika Komandan Korem 162/Wirabhakti tersebut menyerahkan rumah yang telah direhab kepadanya. Sungguh beruntung bagi seorang Pinah ketika Allah SWT mengabulkan doa-doanya mempertemukannya dengan orang-orang yang peduli pada ketidakberuntungan hidupnya selama ini.
Papuq Pinah saat pertama kali ditemukan oleh Ocong Diesel di rumahnya yang tidak layak huni.
B
ermula ketika Ocong Diesel (54), salah seorang pekerja sosial yang menemukannya dalam kondisi yang sangat memprihatinkan di rumahnya di gang sempit di Kampung Banjar Ampenan Mataram. “Ketika saya datang hari itu sekitar sebulan yang lalu, Papuq Pinah tengah salat di rumah yang tampak
lebih layak disebut kandang,” ungkap Ocong. Ocong menemukannya dalam kondisi tengah sakit dan mata buta akibat katarak. Dari sanalah Ocong kemudian mengabarkan pada Kolonel Lalu Rudi tentang kondisinya. Gayung bersambut, Papuq Pinah kembali bertemu dengan orang yang peduli padanya yang langsung pada saat itu juga, Lalu Rudi Irham mendatanginya dengan membawakannya sembako. Naluri kemanusiaan seorang prajurit abdi negara membuatnya tidak butuh waktu yang lama, Danrem 162/WB ini datang padanya dengan penuh empati. Dengan rasa haru yang ditahannya, Lalu Rudi Irham mengamati rumah Papuq Pinah yang berada dalam kondisi sangat buruk dan mengukur tiap sudut rumah tersebut. Saking buruknya kondisi rumah tersebut, Lalu Rudi bahkan menemukan kotoran manusia yang berserakan di manamana. Tertatih-tatih Papuq Pinah yang buta karena katarak itu menyambut kedatangannya. Naluri kemanusiaan Lalu Rudi tergerak melihat kondisinya hari itu. Ia datang padanya bukan sebagai Danrem, melainkan sebagai seorang manusia yang tergugah melihat kondisinya yang sangat memprihatinkan itu. Atas nama kemanusiaan Lalu Rudi datang untuk Papuq Pinah. “Terenyuh saya melihat kondisinya,” ungkap Lalu Rudi usai menyerahkan rumah yang sudah direhab kepada Papuq Pinah. Tinggal bersama seorang anak angkatnya yang masih duduk di bangku Sekolah Dasar, Papuq Pinah yang tidak bisa melihat itu, menjalani
Papuq Pinah (tengah depan) bersama anak angkatnya dan Danrem 162/WB beserta istri, di rumah yang baru direhab.
hari-harinya dengan sangat prihatin. Rumahnya yang lebih mirip kandang tersebut tidak dilengkapi dengan kamar mandi apalagi WC. Rumah berukuran sekitar 5x10 meter ini hanya memiliki satu kamar tak layak huni. Atapnya bocor di sana sini. Terlihat sempat ada aktivitas pembangunan namun terbengkalai begitu saja. Dengan tangannya sendiri, Lalu Rudi sempat mengukur dan menggambar rencana rehabilitasi rumah tersebut. Tentu saja ia tidak bisa membangun rumah tersebut sendiri. Ia lalu membangun komunikasi dengan berbagai pihak untuk bisa membangunkan rumah yang layak bagi Papuq Pinah. Selalu ada jalan
untuk sebuah keihklasan dan niat baik. “Asal ada kemauan, Allah SWT pasti memberikan jalan,” ujarnya. Bantuan datang dari berbagai pihak yang menyumbang untuk pembangunan rumah Papuq Pinah. Kemudian ia memerintahkan anak buahnya untuk melakukan pembangunan rumah tersebut. Lalu Rudi menggerakkan anak buahnya pada bagian yang biasa mengurus pemeliharaan bangunan militer untuk bergotong-royong merehabilitasi rumah tersebut. Ia meminta agar rumah Papuq Pinah dibongkar total dan dibangun ulang. Tidak kurang dari 5-10 orang anggota ia kerahkan untuk mengerjakannya tiap hari. “Satu bulan
rehabilitasi rumah ini jadi dan selesai dikerjakan,” ungkap Rudi. Bantuan datang dari berbagai pihak termasuk dari Dinas Sosial Kota Mataram yang memberikan bantuan untuk mengisi kebutuhan Papuq Pinah di rumahnya yang sederhana itu. Selain itu Ocong menggalang dana untuk pembangunan rumah tersebut melalui media sosial. “Alhamdulillah, banyak sahabat FB yang membantu Papuq Pinah,” ujar Ocong usai mengantar kipas angin permintaan Papuq Pinah. Kini rumah bercat hijau itu telah tampak sangat layak huni. Papuq Pinah tiada hentinya tersenyum bahagia. Senyum abadi akan ibadah dari orang-orang yang peduli padanya. Ia juga tidak berhenti mengucapkan kata-kata terima kasih dalam suara yang lirih yang pelan kepada Danrem yang memandangnya dengan penuh simpati. “Terima kasih, terima kasih, terima kasih,” ungkap Papuq Pinah kepada Danrem 162/WB yang didampingi istrinya, Rineke L. Rudi yang sekaligus Ketua Persit Kartika Chandra Kirana, Koorcab. Rem 162 PD IX/Udayana. Kini di rumah hijau dekat pantai yang dilengkapi dengan MCK itu, Papuq Pinah dan anak angkatnya telah bisa tidur dengan tenang. Tidak lagi kepanasan dan kehujanan akibat bocor. Ruangan rumah tersebut juga bersih dan Papuq Pinah bisa buang hajat pada tempat yang semestinya. Ia sangat bersyukur dipertemukan dengan orang-orang yang peduli. Doa dilantunkan Papuq Pinah bagi mereka yang telah mau berbagi pada mereka yang tidak beruntung seperti dirinya. -Naniek I. Taufan
Personil Rasta Pora Kecap Asin
ada puluhan band yang bergenre reggae,” tambah sang manajer. Mereka mengaku bangga bisa mewakili Buleleng pada acaraacara di luar daerah namun akan lebih bangga lagi jika ada pemusik reggae lain. Mempunyai lagu yang tergabung dalam sebuah album kompilasi membuat band ini harus memiliki loyalitas yang tinggi. Personil yang cukup banyak mengharuskan band yang mem-
7
“Kandang” Itu sudah Jadi Rumah
Rasta Pora Kecap Asin
Memiliki konsep dan tujuan yang sama merupakan salah satu kunci utama terbentuknya sebuah band. Berawal dari hobi kumpul hingga manggung di beberapa acara memaksa band yang satu ini memiliki nama. Rasta Pora Kecap Asin adalah nama yang dipilih secara spontan melihat lagu-lagu yang dimainkan bergenre reggae ska ala Shaggy Dog. Jika diartikan kata per kata Rasta Pora Kecap Asin yaitu Rasta merupakan kaum atau orang-orang berambut gimbal penggemar musik reggae, Pora artinya pesta pora. “Munculnya nama Kecap Asin karena merupakan nama yang paling sederhana dan gampang diingat untuk sebuah band reggae dengan diiringi tari-tarian. Kalau diibaratkan makanan, jika tanpa kecap asin rasanya pasti hambar,” cerita sang manajer Made Trijaya.
Edisi 892/ 14 - 20 MARET 2016
punyai lagu “Alih Bojog” ini menyamakan jadwal latihan. “Kami punya jadwal latihan regular yaitu hari Minggu,” ungkap Adi Betox, sang vokalis. Memiliki kesibukan yang berbeda tidak lantas membuat Kecap Asin vakum dalam berkarya. Bagi mereka lirik dari musik reggae sangat mengena bagi pendengarnya. “Ke depannya kami ingin membangkitkan musik reggae di Buleleng,” ungkap Adi Betox. -Wiwin
Rineke L. Rudi menggunting pita tanda penyerahan rumah yang dibangun atas kerja keras Korem 162/WB yang dibantu berbagai pihak, kepada Papuq Pinah.
Rumah Papuq Pinah sebelum dan setelah dibangun kembalim
6
Woman on Top
Edisi 892/ 14 - 20 MARET 2016
Faridah Lim
Tak Nonton Gerhana Matahari di Televisi
Mencari pekerjaan tidak lagi LiNA yang tersedia lewat email dengan sistem konvensional. serta perangkat mobile dengan Pencari kerja tidak perlu datang memberikan informasi lowongan ke perusahaan untuk mencari inpekerjaan yang sesuai dengan formasi. Di era digital ini, pencarkualifikasi pencari kerja. ian kerja bisa dilakukan darimana “Pertumbuhan jumlah perusaja asalkan ada jaringan internet sahaan yang menayangkan iklan dan gadget untuk mengakses. melalui situs JobStreet.com di Inilah yang dijadikan dijadikan Bali meningkat rata-rata 15% per peluang oleh JobStreet.com untuk tahun. Sedangkan pencari kerja “mempertemukan” pencari kerja yang menggunakan situs kami dengan pemberi kerja. untuk mencari pekerjaan juga “Kami hadir untuk membantu meningkat hingga 23%,” ungkap mencocokkan pencari kerja dalam Faridah. mendapatkan informasi pekerjaan Pertumbuhan pencari kerja berkualitas dengan cara mencosebesar 23% ini menunjukkan cokkan keperluan perusahaan kesadaran warga Bali tentang untuk mendapatkan kandidat yang efektivitas situs pencarian kerja. Faridah Lim relevan, serius, dan berkualitas,” Di sisi lain, Faridah menegaskan ujar Faridah Lim, Country Manager JobStreet. pihaknya tetap melakukan upaya-upaya offline, com Indonesia. seperti mengadakan job fair yang bekerja sama Ia menuturkan pengalaman para pencari dengan DInas Tenaga Kerja dan kampus, membuat kerja yang dulu harus datang ke perusahaan branding di angkutan umum, serta memasang iklan tujuan, lalu antre untuk menunggu panggilan di media cetak. dari Bagian SDM. Banyak yang mengibaratkan Lowongan kerja yang sesuai menjadi aset Bagian SDM adalah “dewa” karena menentukan penting untuk meningkatkan kualitas hidup. “Penglolos atau tidaknya lamaran kerja. Namun, seirgunaan situs pencari kerja online merupakan salah ing perjalanan waktu dan kecanggihan teknologi, satu cara paling efektif untuk menghadapi persainkondisi berbalik. Bagian SDM yang kesulitan gan Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA). Dengan untuk mendapatkan pelamar. Tiap membuka jumnlah lowongan yang tersedia secara online, lowongan, jumlah pelamar sangat minim. pencari kerja mampu mendapatkan kesempatan Untuk menyiasati kondisi inilah, perlu ada kerja yang relevan dan berkualitas di skala nasional “jembatan penghubung”. Bagian SDM bisa maupun internasional,” tegasnya. membuat kualifikasi calon pekerja yang diinginkan Faridah juga mengatakan hal terpenting bagi sekaligus mengisi gaji yang akan diperoleh. Calon pencari kerja ialah mendapatkan informasi lowonpelamar pun bisa memilih mana lowongan yang gan pekerjaan. Dengan membuat akun lewat sesuai dengan kualifikasi mereka. JobStreet.com, mereka langsung terhubungan Ia menambahkan, pihaknya memfasilitasi dengan berbagai informasi lowongan kerja di di perusahaan dengan keberadaan sistem SiVA yang seluruh Indonesia dan negar-negara ASEAN. Semampu memberikan efisiensi waktu serta biaya lain itu, untuk menonjolkan diri di era MEA yang perekrutan untuk mendapatkan kandidat yang diperlukan adalah kepercayaan diri, keterampilan akurat, berkualitas, dan sesuai. Demikian juga dan keahlian di bidangnya masing-masing serta dari sisi pencari kerja, adanya fitur notifikasi keinginan belajar yang tinggi. –Ngurah Budi
Ratusan umat Hindu di kawasan Surabaya Selatan dan Sidoarjo, Selasa (8/3) merayakan upacara Pecaruan di Pura Jalasidhi Amertha, Kompleks TNI AL, Juanda.
M
angku Wayan Yasa, Pemangku Pura Jalasdhi Amertha ditemui di sela-sela acara itu, mengatakan upacara Pecaruan ini dilaksanakan dengan tujuan utama untuk memohon kepada Tuhan agar pelaksanaan penyepian dan yoga semedi dalam perayaan Nyepi ini dapat berjalan lancar dan sukses tanpa gangguan sedikit pun. Mangku Wayan Yasa yang
“AKU BUKAN MANUSIA ROBOT (SOP)…. “ Salam Senyum, Masih tentang senyuman, masih ingat dengan analogi membiasakan tersenyum dengan belajar mengendarai mobil? Ya… untuk menjadi driver yang handal selain belajar cara dan teknik mengendarai yang baik dan benar yang lebih penting lagi adalah ‘jam terbang’ harus lebih diperbanyak lagi. Sehingga tersenyum akan menjadi kebiasaan dan refleks seperti refleksnya kedipan mata kita. SOP dalam judul saya di atas bukanlah sejenis makanan berkuah yang sering kita lihat tulisannya pada banner warung-warung kaki lima. Melainkan Standart Operational Procedure yang berisikan kumpulan dari rangkaian proses atau prosedur operasional. Dalam SOP layanan, terutama pada bisnis yang bergerak pada bidang jasa, kita akan dengan mudah mendapati standar operasional tentang senyum yang dengan sengaja dituliskan (tersurat) seperti memberikan senyum, tersenyum dsb. Kelihatannya wajar-wajar saja sih… tapi dalam benak saya muncul pertanyaan kenapa sampai dituliskan? Apakah para pekerja sekarang sudah begitu susahnya tersenyum sehingga harus di SOP kan? Haaaaaa…. Kemana nilai-nilai luhur budaya bangsa ini yang terkenal dengan keramah tamahannya sehingga tersenyum pun harus diperintah? Yup… senyum serasa menjadi “produk” yang mahal sehingga tidak semua orang dengan bebas memilikinya. Senyum tidak lagi menjadi keseharian sehingga harus diaturmainkan dalam SOP dan para pelaku layanan harus menjalankannya. Dampaknya apa? Ya seperti mengendari mobil di jalan yang penuh dengan rambu-rambu lalu lintas, kapan kita boleh tersenyum, kapan kita boleh tidak tersenyum, kapan tersenyum harus lama dan kapan harus senyum sekilas. Kaku ! itu jelas kesan yang akan muncul dalam interaksi layanan. Robotic Service, tanpa kesan, tanpa pengalaman.
19
Nyepi di Surabaya dan Sidoarjo
“Jembatan Penghubung”
Layanan seperti ini tidak akan menciptakan pelanggan yang loyal, bahkan pun tidak akan terjadi. Ya… kecuali memang produknya tidak ada substitusinya sehingga mau tidak mau pelanggan kembali. “Produk” seperti itu relatif banyak dan saya yakin pembaca dapat dengan mudah mengambil contohnya. Pribadi (jiwa) melayani, pribadi yang selalu tersenyum bukanlah produk “karbitan” yang dapat terbentuk dalam semalam. Bukan juga semudah menekan tombol on/off pada saklar listrik yang dapat merubah gelap menjadi terang dalam sekejap. Tetapi merupakan sebuah proses yang lamanya tergantung kepada kesungguhan pribadi tersebut untuk merubah diri. Selain itu masih banyak faktor yang lain, seperti lingkungan kerja maupun lingkungan keluarga yang juga tidak sedikit memberikan pengaruh. Kisah motivasi berikut bisa kita contoh ataupun kita ambil pelajaran tentang senyum dan kebaikan. Tentang sebuah perusahaan yang mengalami penurunan kinerja yang sangat signifikan, pemiliknya melihat perusahaannya berjalan begitu monoton, tak ada warna, tak ada dinamika. Maka, pemilik perusahaan memilih dan menunjuk seseorang untuk mengganti pimpinan yang lama. Sang pimpinan baru mulai mengamati dan menganalisa kenapa perusahaan yang dulunya bagus tersebut menjadi menurun kinerjanya. Suatu pagi, saat brifieng dan doa pagi, dengan wajah yang ceria dan senyum terbaiknya pimpinan baru tersebut berkata, “Bapak ibu, kenapa saya menerima tawaran menjadi pimpinan di sini? Itu karena semata-mata saya menyukai perusahaan ini dan saya yakin saya mencintai para pekerja yang ada di perusahaan ini. Mari kita bangun perusahaan ini dengan mencintai pekerjaan dan rekan kerja kita. Dan sebagai salah satu bukti kecintaan, kita mulai pagi ini setiap briefing dan doa pagi sebelum kita bekerja kita membiasakan diri menceritakan kebaikan sekecil apapun
Edisi 892/ 14 - 20 MARET 2016
yang ada pada rekan kerja kita yang ada di sebelah kita de ngan senyum dan ketulusan”. Tiga bulan pun kebiasaan baru tersebut berlalu, sang pimpinan mulai melihat perubahan kinerja yang semakin membaik. Setiap orang yang berusaha untuk menceritakan kebaik an orang lain, pasti akan dilakukan dengan hati yang tulus dan wajah penuh dengan senyuman. Semangat seperti itu yang sebenarnya akan ditanamkan dalam hati para pekerja oleh sang pemimpin. Sekarang.. apa hubungannya dengan manusia robot….? Bayangkan bila semua senyuman harus diatur dengan SOP. Kita diminta tersenyum hanya karena menjalankan tugas… heheheheh… Beberapa hal yang dapat membuat layanan kita tidak seperti robot kita dapat memulai dari pemimpin layanan. 1. Berikan visi layanan yang kreatif agar pelaku layanan dapat bergairah dan bergelora dengan tim-nya. 2. Berikan selalu contoh contoh nyata dari visi layanan yang dibuat kepada karyawan dengan rajin sebagai pengamat dari berbagai jasa layanan yang ada. Tentunya kalau dibuat dalam bentuk cerita yang menarik, lucu,dan berkesan akan membuat karyawan mengingatnya dengan mudah. 3. Berikan pemahaman de ngan budaya lokal setempat yang tentunya sangat berpengaruh terhadap keberhasilan layanan tersebut. Mereka akan lebih paham, lebih bersifat kekeluargaan dan masuk dalam keseharian dari karyawan sebagai pelaku jasa dan pelanggan sebagai pemanfaat dari jasa tersebut. 4. Membiasakan dengan hal hal kebaikan, karena hati, mata, tangan, mulut akan bicara otomatis melalui sebuah senyuman (yang dalam hal ini tanpa harus menekan remote). Naah… ternyata mudah ya untuk segera berbenah dan memulai dengan layanan dengan senyuman non robotic.,, hehehehehe… ayooooo… mulai dari sekarang ya, .. dan kita “bukan manusia robot” lagi. Salam Senyum Sang Penyihir (3SP) Sri Sumahardani
Pemimpin upacara sedang melakukan acara Pecaruan menyongsong Nyepi di Pura Jalasidhi Amertha, Juanda
sudah 15 tahun menjadi Mangku di Pura yang bersebelahan dengan Gedung Gereja Katolik Santu Paulus Juanda itu, mengatakan selama melaksanakan penyepian dan yoga semedi, umat Hindu tidak boleh bepergian kemana-mana, tidak boleh menyalakan lampu, tidak makan dan minum, tidak tidur dan tidak boleh menonton televisi dan mendengarkan radio atau musik. “Kami tidak boleh pergi
Mangku Wayan Yasa
kemana-mana (ngebleng) tetapi hanya tinggal dalam rumah saja. Dan, tidak boleh ada sinar (amati geni) dan semuanya melaksanakan yoga semedi,” ujarnya. Didampingi Nyoman Arta,
Inspirasi Superhero
Suasana pameran tunggal superhero
Pameran Tunggal Super Hero digelar oleh Riki Antoni dalam format Seni Animasi figur kartun, dengan menjadikan tinta minyak di atas kanvas sebagai medianya. Pameran ini berlangsung selama dua bulan mulai tanggal 25 Februari 2015 hingga 28 April 2016 di Artspace yang berada di Lobby Artotek Surabaya. Riki Antoni adalah seniman yang berasal dari Padang Pariaman Sumatra Barat. Seniman kelahiran 1 Januari 1977 ini aktif mengembangkan karyakaryanya secara kartunis dan ilustrasi di Yogyakarta. Riki juga
pernah berkuliah di Institut Seni Indonesia Yogyakarta pada tahun 1996. Minatnya yang besar terhadap seni rupa, membuat Riki sangat aktif di berbagai acara pameran seni rupa mulai tahun 2000 sampai sekarang. Sekitar 44 pameran pernah ia ikuti, baik itu yang pameran tunggal maupun gabungan. Pada pameran tunggal ini Riki mengangkat tema Super Hero sebagai judul pameran dan menampilkan karya-karya ilustrasinya yang banyak terinspirasi dari superhero Marvel dan DC comics. Pada pameran ini, Riki sengaja
merealisasikan imajinasi tanpa batasnya ke dalam bentuk seni visual. Karena Riki melihat manfaat seni visual sebagai media edukasi generasi muda khususnya anak. Ketika belajar tentang seni rupa tidak hanya bertujuan untuk berproses berkarya seni saja, selain itu juga diharapkan dapat memberikan fisik motorik, kognitif, bahasa, sosial, emosional serta kemandirian pada anak. Jadi dengan bimbingan yang tepat, seorang anak akan dapat melatih potensi-potensi yang bermanfaat. -Dona
yang juga Mangku di Pura Jalasidhi Amertha Juanda tersebut, Mangku Wayan Yasa mengatakan acara penyepian ini, berlangsung selama 24 jam, mulai Rabu (9/3) pukul 06.00 sampai Kamis (10/3) pukul 06.00. Setelah itu, acara penyepian dan yoga semedi dinyatakan selesai. Umat kemudian melakukan upacara persembahyangan. Dilanjutkan dengan kegiatan saling memaafkan satu sama lain atas segala dosa dan kesalahan yang
dibuat selama setahun yang telah lewat. Menurut Mangku Wayan Yasa, karena selama penyepian dan yoga semedi tidak boleh mendengarkan dan menonton televisi, maka umat tidak akan keluar rumah untuk melihat gerhana matahari termasuk menonton di televisi atau mendengarkan siaran radio. Perayaan Nyepi tahun ini memang menarik karena bertepatan dengan gerhana matahari total. -Josef sintar
20
Edisi 892/ 14 - 20 maret 2016
Berdagang tanpa Modal
Terik matahari siang itu, tidak menyurutkan langkah para perempuan pedagang asongan kain tenun Lombok di sepanjang Pantai Kuta Lombok Tengah. Tumpukan kain tenun dan songket khas serta kaos Lombok yang meninggi di kepala mereka bagai junjungan rejeki yang siap dibawa pulang untuk keluarganya.
B
egitu juga dengan berbagai asesoris, seperti gelang, kalung, gantungan kunci dan lainnya yang terbuat dari tangan-tangan terampil pengrajin di Lombok Tengah, melengkapi dagangan mereka. Puluhan pedagang asongan kain tenun, songket, aksesoris dan kaos Lombok menyebar di sepanjang Pantai Kuta Lombok. “Sebagian besar adalah perempuan,” ungkap Biardi (35). Kulit mereka ada yang menghitam akibat sengatan panas matahari. Bagaimana tidak, sekitar pukul 11.00 wita hingga sore hari mereka hidup di bawah terik matahari Pantai Kuta untuk menjajakan dagangannya. Itu dilakukan setiap hari. “Hanya harihari besar atau ada halangan yang sangat penting saja yang membuat kami tidak turun untuk berjualan di sini,” kata Inaq Undi (40). Mereka biasanya libur ketika musim tanam dan panen padi. Itupun bagi mer-
eka yang mendapatkan pekerjaan sebagai buruh tani. Bagi yang tidak mendapat pekerjaan sebagai buruh tani, tetap berdagangan asongan di tempat ini. Namun, semua itu tiadalah berarti dibandingkan harapan yang mereka bangun selama bertahuntahun bahkan ada yang telah puluhan tahun berjualan di tempat ini sebagai pedagang asongan kain tenun, songket dan asesoris serta kaos Lombok. Tiap wisatawan baik lokal maupun wisatawan asing yang datang ke pantai itu menjadi harapan bagi para perempuan penyanggah ekonomi keluarga ini. Di berugak-berugak sepanjang Pantai Kuta ini mereka mendekati para wisatawan yang beristirahat di tempat tersebut untuk menjajakan dagangannya. Tampak mereka ramah kepada para wisatawan. Dengan bahasa dan tutur kata yang lembut, para perempuan ini ‘merayu’ wisatawan agar mau membeli
dagangannya. Tak jarang terjadi obrolan yang hangat antara pedagang ini dengan para wisatawan. Rupanya, para pedagang asongan ini telah paham bagaimana menghadapi wisatawan dalam menjajakan dagangannya. Ada yang menawarkan dagangannya sambil datang duduk dan mendekati wisatawan, namun ada pula yang mengikuti selama wisatawan menikmati keindahan Pantai Kuta. Mereka tidak segan berlari ke sana kemari demi menawarkan dagangannya dari dekat. Mereka juga hafal apa yang disukai oleh wisatawan asing dan wisatawan lokal/domestik. “Kalau wisatawan asing biasanya suka motif-motif unik kain tenun atau songket,” ujar Inaq Unggul yang sudah 25 tahun menjadi pedagang asongan kain tenun dan songket ini.
Harga kain tenun dan songket khas Lombok serta kain biasa ini dijual rata-rata antara Rp 30 ribu hingga Rp 50 ribu/buah. Tentu saja kain songket dan kain tenun yang dimaksud adalah yang kualitas biasa namun tidak kalah indah ragam corak, motif dan warnanya. “Jika beli banyak, kami juga bisa memberikan diskon yang lumayan, ujar Uut (32), pedagang asongan lainnya. Hari libur atau hari Jumat, Sabtu dan Minggu biasanya menjadi hari yang sumringah bagi para perempuan penjaja kain tenun dan songket ini. “Tamu sangat banyak dan biasanya dagangan kami pun laku banyak,” ungkap Biardi. BAGI DAGANGAN Mereka yang menjadi pedagang asongan ini rata-rata berasal dari Desa Ketapang, Bontor Lombok Tenha dekat Desa Sade
Nine Lombok Tengah. Barang dagangan berupa kain tenun dan songket mereka peroleh dari Desa Sade. Bagi mereka yang telah berdagang puluhan tahun di Pantai Kuta ini, merasakan sekali pahit manisnya menjalankan aktivitas ini. “Lain dulu lain sekarang,” ujar Inaq Unggul. Menurutnya, dulu wisatawan lebih banyak yang belanja asongan seperti ini dibandingkan sekarang. “Satu orang bisa membeli lima kain, tetapi sekarang tidak begitu banyak yang berminat,” ujar Inaq Unggul. Situasi ini tentu saja karena semakin banyaknya jumlah pedagang asongan kain tenun dan songket yang berdagang. Baiknya, antar sesama pedagang asongan ini mereka saling membantu sama lain. “Kalau ada yang beli lebih dari satu, kami biasanya membagi agar dagangan yang lain juga laku, asalkan ada motif yang sama seperti yang diinginkan pembeli,” kata Uut. Usaha para perempuan ini bergulir dengan baik. Ini disebabkan oleh mereka sesungguhnya hanya menjual jasa (tenaga) saja karena kain-kain yang dijajakan tidak mereka beli pada pengrajin melainkan mereka menjualkan barang para perajin. Mereka berdagang tanpa modal. “Kami menjualkan kain tenun atau songket ini, dengan keuntungan yang sudah disepakati untuk dibagi dengan pemiliknya,” kata Inaq Undi. Barang yang tidak laku, bisa mereka kembalikan untuk menggantinya dengan barang yang baru. Berdagang tanpa modal inilah yang membuat semakin hari semakin banyak pedagang asongan di sekitar Pantai Kuta Lombok Tengah. -Naniek I. Taufan
Inspirasi
Edisi 892/ 14 - 20 maret 2016
5
Tri Amelia Terapkan Bisnis “Gokil”
Tekun dan tak mudah putus asa. Itulah prinsip yang dipatut ditiru dari Tri Amelia dalam menekuni bisnisnya. Ibu tiga anak ini, tak putus asa mengejar peluang usaha meski sempat berkali-kali gagal dalam membangun bisnis. Ketika bisnis laundrykiloan booming, Amelia dan suaminya, Irsan sempat terjun ke bisnis ini. Namun hanya bertahan dua tahun.
T
ak putus asa, pasangan muda ini kemudian memutuskan hanya menangani bisnis gosok pakaian. “Tadinya kami menangani laundry dan strika. Awalnya memang ramai, tapi lama kelamaan konsumen makin berkurang. Saingan semakin banyak, orang ramai-ramai buka bisnis ini. Akhirnya karena perkembangan kurang bagus, usaha ini kami tutup,” kata wanita 31 tahun itu. Namun peralatan bisnis laundry seperti setrika uap yang teronggok di rumah, kembali menarik minat Amelia dan suaminya untuk kembali berbisnis. Tapi kali ini mereka tidak lagi berbisnis laundry kiloan yang memang sudah mulai meredup, tapi lebih konsentrasi pada pada setrika kiloan. “Soalnya sayang, peralatannya, kan, sudah ada,” tambah Irsan yang hanya bekerja membantu istrinya pada hari libur karena dia sendiri bekerja di perusahaan otomotif di Cikarang, Bekasi. Pertimbangannya, kata Irsan, mungkin banyak orang mencuci pakaian sendiri dengan mesin cuci tapi ketika pakaian itu harus digosok mereka malas melakukannya karena tidak memiliki waktu. Ini biasanya terjadi pada keluarga yang sibuk, suami-istri bekerja jadi waktu yang dimiliki tidak banyak. Sehingga untuk menggosok pakaian yang telah dicuci diserahkan pada jasa gosok kiloan. Tapi ternyata terjun ke bisnis ini pun tidak mudah, ungkap Amelia menambahkan. Apalagi setrika uap ketika itu masih asing bagi warga. Maka tak heran ketika awal memulai bisnisnya, meski mereka telah menyebarkan brosuk plus nomor telp ke komplek-komplek perumahan di dekat mereka tinggal, kawasan Villa Mutiara Gading, Babelan, Bekasi, tidak ada warga yang tertarik. “Kami sudah sebar brosur, nomor telp, namun selama beberapa hari tetap sepi. Tidak ada yang datang. Lalu ada satu-dua orang mulai datang menyetrika pakaian,” tutur Amelia.
Meski begitu pasangan ini tak putus asa, promosi dan sosialisasi terus digencarkan. Berkat kerja keras mereka, perlahan bisnis gosok kiloan mereka mulai berkembang. Konsumen yang meminta jasa semakin banyak, per hari bisa mencapai 240 kg. Amel pun mulai kewalahan dan akhirnya merekrut beberapa tetangganya untuk bekerja sebagai tenaga penyetrika dan pengepakan pakaian. Ia mengenakan tarif Rp 3.500 per-kg untuk mereka yang rumahnya dekat, sedang yang agak jauh antara Rp 4000 hingga 4.500 per-kg. SISTEM JEMPUT BOLA MELUASKAN PASAR Hasil yang sudah lumayan itu, ternyata tidak membuat pasangan ini puas. Amel ingin usahanya semakin berkembang lagi, ia ingin konsumennya semakin banyak. Ia pun teringat pada ide menjajakan jasa gosok keliling secara door to door. Ia merasa bisnis model ‘jemput bola’ semacam ini tengah ngetren di lingkungan masyarakat. Model konvensional di mana penjual jasa hanya menunggu konsumen yang datang di ‘warung’ , sudah tidak jaman lagi. Jika ingin mudah dikenal dan cepat memiliki konsumen, harus mendatangi konsumen itu sendiri. Maka tak heran kalau sekarang ini banyak sekali bisnis-bisnis yang tadinya dikerjakan di tempat (di rumah), kini banyak
Irsan dan Tri Amelia jalankan bisnis kreatif
dijumpai di jalanan. Ada tukang jahit keliling, salon keliling, bahkan cuci mobil keliling pun ada. Dan kini Amel dan suaminya memperkenalkan bisnis setrika uap keliling. Ada banyak bisnis kreatif yang dilakukan masyarakat, namun pasangan suami-istri ini mengaku, belum pernah melihat adanya jasa setrika uap kiloan keliling. “Saya dan suami merasa bisnis ini punya peluang bagus karena jarang atau malah belum ada. Apalagi ini menggunakan setrika uap. Orang kan selama ini lebih kenal setrika listrik, nah kami perkenalkan setrika uap,” kata Amel yang diiyakan oleh suaminya. Menurut Irsan, peralatan bisnis setrika uang cukup sederhana. Ia dibantu beberapa temannya melakukan modifikasi pada bagian belakang motor istrinya. “Bagian belakang motor dibuat semacam boks untuk ditaruh tabung gas 3 kg, tempat air dan selang yang dimodifikasi agar bisa tersambung dengan setrika. Sistem kerjanya juga sederhana. Air yang dipanaskan akan menghasilkan uap yang kemudian dialirkan lewat selang ke setrika,” jelasnya. Tadinya, kata Amel, bisnis yang diberi nama ‘Gokil’ –Gosok Keliling--- ini akan dijalankan oleh
Tri Amelia tidak malu menawarkan jasa gosok pakaian
suaminya pada saat ia libur kerja. Tapi ternyata sang suami tidak ‘PD’ menjalankannya. “Iya, awalnya suami saya mencoba berkeliling naik motor menawarkan jasa menggosok pakaian. Namun dia agak malu menawarkannya, jadi hanya berkeliling saja. Akhirnya saya bilang, ya sudah saya saja yang menjalankan,” ungkap Amelia bercerita awal mulai memulai bisnis tukang gosok pakaian keliling. Sejak saat itu, Amel lah yang giat berkeliling. Ia mengaku tidak malu, malah bersemangat karena banyak warga yang ditemuinya justru sangat antusias karena memang jasa seperti ini jarang ada. Biasanya, lanjut wanita berjilbab ini, dia mulai berkeliling sejak pagi dan kembali pada sore hari. Kalau hari Sabtu dan Minggu, dia dibantu Irsan. “Biasanya kalau Minggu pagi, kami mangkal di tempat-tempat ramai. Banyak warga menghampiri, dikira saya jualan sesuatu. Mereka tanya saya berjualan apa. saya bilang, saya menawarkan jasa menggosok pakaian di tempat. Biasanya mereka bertanya bagaimana cara kerjanya, jadi saya jelaskan. Ada beberapa yang tertarik membawa pakaiannya dan saya langsung gosok ditempat. Ternyata demo menggosok ditempat menarik warga lain yang juga ingin mencoba. Akhirnya jadi ramai,” ungkap Amelia. Untuk jasa setrika pakaian keliling, Amelia biasa mematok harga Rp4000 per-kg. “Banyaknya pakaian yang distrika perkilonya tergantung tebal tipisnya bahan. Kalau bahannya tebal seperti jeans, paling 1 kg hanya bisa ada 3potong. Tapi kalau bahan biasa seperti kemeja, kaos bisa lebih banyak potong,” tutur wanita ini. Dari berkeliling, katanya, ratarata ia mendapat order strika 3040 kg. “Tidak semua bisa distrika ditempat. Kalau orderan banyak, saya minta ijin untuk bawa pulang untuk diselesaikan di rumah. Karena
nomor telp dan brosur selalu saya sebarkan, banyak juga yang nelp untuk minta diambil pakaiannya,” ungkap Amel seraya menambahkan menggunakan setrika uap hasilnya lebih bagus daripada setrika listrik. Dengan strika uap tidak perlu lagi menggunakan air untuk membantu melicinkan pakaian. “Saya kira hasilnya lebih bagus dibanding strika biasa. Lebihlicin dan rapih,” ucap Amel yang menjalankan bisnis setrika kiloan sejak 2013 lalu. Sebenarnya, tambah Irsan, mereka ingin sekali bisnisnya bisa berkembang lebih besar melihat potensi pasar yang luas. Misalnya dengan menambah armada setrika keliling. Sayangnya untuk itu dibutuhkan modal yang tidak sedikit, dan itu mereka belum punya. “Di daerah rumah kami ada banyak komplek perumahan, itu saja merupakan lahan yang bagus untuk digarap. Karena namanya menggosok pakaian kerap dilakukan. Belum lagi ada panggilan dari komplek-komplek perumahan yang cukup jauh. Ini bisa jadi karena dia dulu sering menyebarkan brosur juga nomor telp. Kalau terlalu jauh kami terpaksa menolak,” katanya. Amel bertutur, bisnisnya menjadi cukup populer akhir-akhir ini lantaran muncul di facebook. Suatu ketika, tuturnya, ia memposting foto sedang menjalankan bisnis ini. Ada beberapa foto diunggah. Tadinya setelah mengunggah foto tidak ada reaksi yang mencolok. Amel juga tidak terlalu memperhatikan hal tersebut karena sibuk bekerja. Sampai suatu hari ketika ia membuka facebooknya dan mendapat kejutan luar biasa. Postingan fotonya di-like ribuan orang, banyak yang minta berteman dan bertanya alamat dan nomor telp. Menurut Amel itu suatu hal yang sungguh diluar pemikirannya. Ia sangat terkejut tapi juga gembira karena menganggap ini merupakan peluangnya untuk bisa lebih maju. “Saya merasa ini adalah jalan dan kesempatan dari Tuhan sehingga bisa dikenal masyarakat,” tambahnya. Irsan menambahkan, saat ini ia sedang mencari cara bagaimana agar ‘beban’ di bagian belakang motor istrinya bisa tetap aman dan tidak menyulitkan sang istri dalam berkeliling. “Iya awalnya saya sempat ngeri bawa boks berkeliling. Kan kadang kita lewat di jalan yang tidak besar atau di jalan yang lalu lintasnya ramai. Saya takut malah membaret mobil orang. Tapi akhirnya sekarang saya sudah terbiasa. Tidak ngeri lagi, alhamdulilah,” ucapnya. -Diana Runtu
4
Inspirasi
Edisi 892/ 14 - 20 maret 2016
BRI Segera Luncurkan BRIsat
Bank Pertama yang Punya Satelit
BRI segera meluncurkan satelitnya yakni BRIsat di Launch Site atau kawasan peluncuran milik Arianespace di Kourou, Guyana Perancis, Amerika Latin, Juni 2016. Pengoperasian Platform di L1300 dan roket Ariane 5 ini akan memperluas jangkauan layanan kepada masyarakat di daerah terpencil dan wilayah perbatasan. Hal ini diungkapkan SEVP IT Strategy & Satelite BRI Hexana Tri Sasongko di acara media gathering di Bandung, Sabtu (5/3).mengorbit tanggal 8 Juni 2016 mendatang. Diluncurkan dari Kourou karena dekat dengan equator dan cuacanya paling stabil di dunia,” kata Hexana.
M
enurut Hexana, BRI akan tercatat dalam sejarah dunia, karena merupakan perbankan pertama di dunia yang memiliki satelit. “BRI menjadi satusatunya bank di Indonesia dan dunia yang memiliki satelit sendiri. “Rencananya satelit ini akan mula Ia mengatakan, BRI menggandeng perusahaan asal AS Space System Loral LLC (SSL) untuk membangun satelit dan perusahan peluncur roket asal Prancis, Arianespace. Dikatakan, satelit yang akan diluncurkan tersebut senilai 250 juta dolar AS atau sekitar
Rp 3,25 triliun. Dengan umur satelit secara elektronis selama 15 tahun. Sementara, umur operasional satelit minimal 17 tahun dengan kapasitas 45 transponder. Sebanyak 4 transponder diberikan kepada pemerintah sebagai bentuk kompensasi. “Satelit BRIsat beroperasi minimal 17 tahun. C -Band 3.000-3.600 Ghz dan Ku-Band 11.00014.000 Ghz,” ungkap Hexana. Adapun kompensasi yang diberikan kepada pemerintah, dari 4 transporder nilainya sebesar Rp 70 juta per tahun. Dan jangka waktunya selama 17 tahun operasional. “Kita
Hindari Antrean dengan Manfaatkan e-Money Bagi pengguna jalan tol, alasan utamanya adalah menghindari kemacetan di jalan biasa. Namun, yang sering terjadi, tol juga macet terutama di pintu tol. Salah satu penyebab adalah antrean pembelian tiket. Kendaraan bisa mengantri panjang. “Untuk menghindari kemacetan, kami memberikan solusi berupa penggunaan kartu Brizzi e-Toll. Pengendara yang punya kartu ini tinggal tap kartunya, tidak perlu antri menunggu kembalian. Ini juga bagian dari manfaat penggunaan e-money,” ujar Pinwil BRI Denpasar Fankar Umran. Ke depan, pihaknya akan terus menyosialisasikan pemanfaatkan e-money yang menjadi bagian dari program cashless society. - Ngurah Budi
Fankar Umran (pakai kacamata)
Mandalika
Edisi 892/ 14 - 20 maret 2016
PIN NTB Sasar 462.057 Anak
Pekan Imunisasi Nasional (PIN) serentak dilakukan di seluruh Indonesia pada tanggal 8-15 Maret 2016. Demikian juga halnya di Provinsi Nusa Tenggara Barat yang telah mencanangkan PIN pada 8 Maret 2016 di Pendopo Gubernur NTB. Secara simbolis tujuh balita NTB mendapatkan imunisasi sebagai tanda dibukanya Pekan Imuniasai Nasional (PIN) Provinsi NTB tahun 2016.
Gubernur NTB Dr. TGH. M. Zainul Majdi, Hj. Erica Zainul Majdi, dan Wakil Gubernur NTB, H. Muh. Amin meneteskan imunisasi polio kepada Balita NTB saat pencanangan PIN 2016
H
adir dalam kegiatan pencanangan PIN tahun 2016 tersebut ibu-ibu yang membawa serta bayi dan balita mereka. Kegiatan imunisasi ini dinilai sangat penting diberikan pada bayi dan balita agar terhindar dari polio. Karena itu, dari speaker-speaker masjid di beberapa wilayah di Mataram khususnya,
terdengar pengumuman agar para ibu yang memiliki balita untuk segera membawa balita-balita mereka ke pos-pos yang telah siap menerima imunisasi yang tersebar di lingkungan-lingkungan tempat warga tinggal. Pentingnya imunisasi ini dilakukan guna melindungi anak sebagai generasi penerus bangsa dari penyakit polio dan itu menjadi
Hexana memberi penjelasan tentang BRIsat
kapasitas ada 45, ada 4 transponder nilainya Rp 70 juta pertahun selama 17 tahun merupakan kompensasi yang diberikan ke pemerintah,” katanya. Hexana mengatakan, meski BRIsat diluncurkan pada pertengahan tahun, namun dia mengklaim manfaatnya belum akan signifikan terasa hingga akhir tahun ini. Pihaknya membutuhkan waktu integrasi 1 tahun. Diharapkan, dengan adanya satelit yang dioperasikan BRI ini, layanan bank tersebut bisa
menjangkau masyarakat yang selama ini tidak tersentuh oleh perbankan yang ada di pelosok pelosok tanah air. Sesuai dengan rencana bisnis jangka panjang BRI, kaa Hexana, keberadaan satelit tersebut akan mendukung perkembangan bisnis BRI. Satelit itu diharapkan tidak hanya mampu menjangkau kawasan Indonesia, namun juga mampu menjangkau kawasan Asia Tenggara, sebagian wilayah Pasifik hingga Australia Barat. Hexana juga mengungkap-
kan, langkah BRI mengorbitkan BRIsat karena beberapa hal. Yakni, tantangan jaringan kerja, meningkatkan efisiensi proses otoritas, menjaga kualitas jaringan, mewujudkan financial inclusion, memanfaatkan slot orbit 150,5BT, dan meningkatkan fungsi intermediasi. “Tantangan literasi keuangan adalah telekomunikasi. Kini BRI dengan status penyelenggara sarana dan prasarana telekomunikasi bisa lebih mudah beroperasional di seluruh pelosok, tentu tak masuk telko,” ungkapnya. -Ngurah Budi
Bisnis Bancassurance Garap Nasabah KUR BRI menargetkan perolehan pendapat berbasis biaya (fee based income/FBI) dari bisnis bancassurance tahun ini sebesar Rp 120 miliar atau meningkat sebesar 200 persen dibanding perolehan tahun lalu yang tercatat Rp 40 miliar. “Kami targetkan perolehan FBI dari bisnis bancassurance pada 2016 sebesar Rp 120 miliar atau meningkat sebesar 200 persen dibanding perolehan 2015 yang tercatat Rp 40 miliar,” kata Senior Executive Vice President Network and Services BRI Catur Budi Harto di acara media gathering di Bandung, Sabtu (5/3). Target peningkatan FBI itu akan diupayakan dengan mendongkrak pemasasaran produk asuransi mikro dari tahun lalu tiga juta nasabah, menjadi 11 juta nasabah tahun ini. “Misalnya dari Asuransi Mikro KKM (Kecelakaan, Kesehatan dan Meninggal) merupakan produk asuransi mikro yang kami pasar-
kan melalui bancassurance. Fee based income yang tahun lalu Rp 40 miliar,” jelasnya. Menurut Catur, manajemen telah menyiapkan beberapa strategi untuk merealisasikan target tersebut. Pertama dengan menggarap nasabah Kredit Usaha Rakyat (KUR) yang jumlahnya jutaan. Kedua, memanfaatkan jaringan BRI-Link untuk memasarkan produk asuransi mikro perseroan. Sedangkan ketiga, mengembangkan kerja sama cross selling dengan perusahaan asuransi, yakni menempatkan tenaga pemasaran perushaan di kantor-kantor BRI untuk memasarkan produk asuransi. Saat ini, kata Catur, KKM perseroan bersinergi dengan PT Bringin Jiwa Sejahtera (Bringin Life) sebagai Ketua Konsorsium, PT Asuransi Bringin Sejahtera Artamakmur (BSAM), dan PT AJ Jiwasraya. Karena membidik segmen mikro KKM menetap-
kan tarif yang sangat terjangkau. Untuk peserta individu cukup membayar Rp 50.000 per tahun. Sedangkan perserta plus suami atau istri diwajibkan mengangsur Rp 90.000 per tahun. Adapun lima manfaat yang bisa didapatkan peserta yakni santunan harian rawat inap rumah sakit sebesar Rp 100.000,- per hari (untuk maksimal 90 hari), penggantian biaya operasi maksimal Rp 2,5 juta untuk semua tindakan, dan santunan meninggal dunia karena kecelakaan maksimal Rp 19,5 juta. Selanjutnya, santunan meninggal dunia karena sakit maksimal Rp 2,5 juta dan santunan cacat tetap akibat kecelakaan maksimal Rp 5 juta. Menurut Catur, persyaratan peserta cukup mudah ialah rentang usia 18-59 tahun. Dengan masih banyaknya pasar kelas menengah, perusahaan membidik pemegang polis KKM sebanyak 11 juta hingga 2016. -Ngurah Budi
Gubernur NTB bersama istri dan para ibu serta balita usai Pencanangan PIN 2016 di Provinsi NTB
Putri Raja Thailand Kagumi NTB Kamis, 10 Maret 2016, Nusa Tenggara Barat kedatangan tamu putri dari Raja Thailand yakni Princess Maha Chakri Sirindhorn’s. Ia tertarik dengan ragam budaya dan keindahan wisata daerah ini dengan mengunjungi objek-objek wisata dan mempelajari kebudayaan Nusa Tenggara Barat. Selama berada di Lombok, Princess Maha Chakri Sirindhorn’s, berkeliling mengunjungi berbagai obyek wisata alam dan budaya seperti daerah Sembalun untuk menikmati pemandangan alam berlatar Gunung Rinjani. Kunjungan juga dilakukannya
21
ke Museum Negeri NTB untuk melihat koleksi budaya daerah ini sejak zaman prasejarah hingga modern berupa sekitar 7.513 koleksi peninggalan bersejarah suku yang mendiami Lombok dan Sumbawa serta peninggalan bangsa Cina yang pernah singgah untuk berdagang di Lombok dan Sumbawa. Didampingi Gubernur NTB, Dr. TGH M. Zainul Majdi beserta Istri, Hj. Erica Zainul Majdi, Princess Maha Chakri Sirindhorn’s sangat tertarik dengan bendabenda bersejarah peninggalan nenek moyang masyarakat NTB tersebut, berkeliling dan sesekali memotret koleksi yang ada.
Kunjungan Princess Maha Chakri Sirindhorn’s ke Museum Negeri NTB1
Princess Maha Chakri Sirindhorn’s turut memainkan alat musik bumbung sebelum beranjak melanjutkan perjalanan menuju Pura Meru, Taman Mayura dan Desa Adat Suku Sasak Ende, di Rembitan, Lombok Tengah. Di kawasan desa adat ini Princess Maha Chakri Sirindhorn’s memperhatikan berbagai hal tentang kehidupan masyarakat Suku Sasak khususnya yang berada di Lombok Tengah bagian Selatan ini. Ia juga sempat masuk ke rumah adat dan juga berfoto depan lumbung padi yang menjadi ciri khas rumah adat Sasak.
tanggung jawab orang tua yang difasilitasi oleh pemerintah melalui kegiatan PIN. “Mengimunisasi anak adalah kewajiban orangtua dan kegiatan PIN ini merupakan bagian dari tugas bangsa dalam menyiapkan masa depan anak-anak atau generasi muda kita,” ungkap Gubernur NTB, Dr. TGH. M. Zainul Majdi saat membuka acara Pencanangan PIN tahun 2016 di Pendopo Gubernur NTB. Pencanangan PIN yang akan dilaksanakan selama sepekan mulai dari tanggal 8-15 Maret 2016 ini dihadiri oleh Wagub NTB H. Muh. Amin, S.H., M.Si, Kepala SKPD dan anggota FKPD lingkup Provinsi NTB, Ketua TP.PKK Provinsi NTB Hj. Erica Zainul Majdi, dan Ketua BKOW Provinsi NTB Hj. Syamsiah M. Amin. Pada kesempatan tersebut, Gubernur menyampaikan bahwa manusia terbaik adalah manusia yang memberikan kontribusi maksimal untuk manusia lain dan juga dapat memberikan kontribusi untuk kebaikan bangsa dan negara. Oleh karena itu, pencanangan PIN dinilainya merupakan bentuk kontribusi dalam upaya menciptakan generasi muda yang berkualitas. “Agama mengajarkan kepada kita untuk menyiapkan seluruh hal yang terbaik untuk anak-anak kita di masa yang akan datang, agama juga mengajarkan kita untuk menyiapkan tindakan preventif sehingga terhindar dari hal-hal yang dapat merusak potensi mereka,” jelasnya. Gubernur yang juga seorang Tuan Guru ini menambahkan bahwa Allah SWT tidak pernah menurunkan suatu penyakit kecuali telah menyiapkan obat untuk menyembuhkannya, serta Allah SWT mendidik manusia untuk selalu melakukan yang terbaik terutama dalam hal membangun bangsa dan daerah. “Oleh karena itu, Pencanangan PIN ini adalah bagian yang tidak terpisahkan dalam membangun daerah NTB yang lebih baik di masa mendatang,” ujarnya
Gubernur NTB mengajak kepada pihak-pihak terkait yang hadir untuk menyerukan seluruh warga masyarakat agar tidak lupa membawa anak yang berumur 0-59 bulan untuk melakukan imunisasi polio. “Salah satu tugas orang tua adalah memberikan hak anak, salah satunya hak kesehatan. Alhamdulillah dengan kerja sama dari berbagai stakeholder kita dapat melaksanakan PIN ini,” katanya. Ke p a l a D i n a s Ke s e h a t a n Provinsi NTB drg. Eka Junaidi selaku ketua panitia melaporkan PIN dilaksanakan berdasarkan kesepakatan World Health Assembly tahun 2012 agar pada tahun 2020 seluruh dunia dapat terbebas dari polio. Sasaran PIN di Provinsi NTB sebanyak 462.057 anak dengan kebutuhan vaksin sebanyak 30.375 vial dan pos PIN yang disiapkan di seluruh NTB sebanyak 6.902 pos PIN baik di fasilitas pelayanan kesehatan pemerintah maupun swasta yang nantinya akan dilayani oleh 21.555 orang kader. “Semua kegiatan PIN di Provinsi NTB didukung oleh APBD Provinsi dan Kabupaten/Kota Tahun 2016, serta dukungan APBN Kementerian Kesehatan tahun 2016. Seluruh vaksin polio yang digunakan pada PIN tahun ini sepenuhnya disiapkan oleh Kementerian Kesehatan RI,” ujarnya. Pada kesempatan yang sama, Ketua TP.PKK Provinsi NTB Hj. Erica Zainul Majdi mengatakan PIN tahun 2016 ini menargetkan 95% anak yang harus diimunisasi polio. “Saya juga menginstruksikan kader TP. PKK untuk proaktif mengecek bayi yang belum imunisasi polio dan mengajak bayi tersebut untuk segera diimunisasi,” ujarnya. Ia juga mengatakan balita yang terkena penyakit polio tidak dapat disembuhkan. Oleh karena itu, pencegahan dengan imunisasi polio penting dilakukan agar anak-anak Indonesia, khususnya anak-anak NTB terbebas dari penyakit polio. -Naniek I. Taufan
-Naniek I. Taufan/Hms
Princess Maha Chakri Sirindhorn’s, memainkan alat musik tradisional Lombok
Didampingi Gubernur NTB Dr. TGH. M. Zainul Majdi dan istri, Princess Maha Chakri Sirindhorn’s berkunjung ke NTB
22
Sosialita
Edisi 892/ 14 - 20 MARET 2016
E k a W i r ya s t u t i
Edisi 892/ 14 - 20 MARET 2016
3
Tantangan dan Perjuangan Eka Wiryastuti mengukir sejarah sebagai bupati perempuan pertama di Bali tahun 2010-2015. Ia maju menggantikan Bupati Tabanan sebelumnya, Adi Wiryatama, yang merupakan ayahnya sendiri. Dalam pilkada 2015, ia kembali lolos sebagai Bupati Tabanan bersama I Komang Gede Sanjaya di posisi Wakil Bupati Tabanan untuk kepemimpinan 2016-2021.
S
Pasar Seni Ancol
Dulu Berjaya Sekarang Setengah Mati Tadinya Achrif Wibowo berharap kedatangan pengunjung ke Taman Impian Jaya Ancol (TIJA) untuk nonton bareng Gerhana Matahari bakal memberi imbas pada usaha kerajinan ukir kayu miliknya di Pasar Seni. Namun apa mau dikata, lagilagi pemilik ‘Jati Wood Carver’ itu terpaksa menelan pil pahit. Para pengunjung hanya berkumpul di sekitar pantai, kalaupun berminat keliling TIJA mereka masuk ke wahana-wahana yang bertebaran di sana.
Pasar Seni Ancol pun semakin lenggang dan muram. Seorang seniman yang kerap menyambangi temannya di Pasar Seni mengatakan, harus ada perubahan konsep secara radikal jika ingin Pasar Seni kembali berjaya. Zaman sudah berubah maka penyesuaian-penyesuaian harus dilakukan. “Jika tidak ada perubahan yang radikal, ya akan tetap seperti ini. Sayang sekali,” ucapnya.
H
HARGA SEWA BEDA Jika kita berkunjung ke Pasar Seni sekarang, memang masih terlihat kioskios yang terisi. Kios lukisan, kerajinan, dll, masih bisa kita lihat, meski terkadang pemiliknya entah kemana. Rupanya seniman dan pengrajin kebanyakan hanya menjadikan kiosnya sebagai tempat mereka berkarya. Termasuk Achrif, salah satu pengrajin kayu yang paling lama bercokol di Pasar Seni. “Dengan kondisi yang sekarang, sulit mengharap ada pengunjung yang datang dan membeli. Sudah lama saya tidak merasakannya. Tapi kita harus pintar-pintar agar bisa tetap bertahan. Saya bekerja di sini dan menjual produk di luar. Atau, saya bawa konsumen ke sini. Jadi kita memang harus punya strategi,” tambah Achrif yang mendalami ukiran kayu jati. Meski Pasar Seni sepi bukan berarti dirinya mendapat tempat gratis di sana. “Saya membayar, kok, meski tidak mahal. Harga sewa per-kios dengan ukuran 4x4 meter Rp 300 ribu sebulan. Tidak mahal, tapi tetap membayar. Harga untuk seniman dan pengrajin berbeda dengan pengusaha. Kalau pengusaha dikenakan sewa Rp 1,3 juta,” jelasnya. Bagi seniman pengrajin seperti dirinya, harga yang relatif murah itu cukup membantu dan membuatnya tetap bertahan di Pasar Seni. “Meski sepi, saya merasa di sini cukup baik. Kita punya workshop sendiri, kalau di luar belum tentu dapat harga seperti ini. Memang sepi pengunjung tapi kita bisa kreatif mencari pembeli di luar, sekaligus bisa membawanya ke sini (TIJA),” katanya. –Diana Runtu
anya sedikit sekali yang tergerak untuk mampir ke Pasar Seni untuk melihat-lihat aneka kerajinan yang dipamerkan. Kalaupun ada beberapa yang menyempatkan singgah, paling mereka hanya sekadar berfoto-foto ria karena memang Pasar Seni saat itu berdandan cantik dengan ornamen-ornamen khas perayaan Tahun Baru Imlek. Warna-warni menarik membuat pengunjung yang kebetulan lewat tertarik untuk berfoto-foto. Tapi setelah itu mereka pergi ketempat lain, seolah tidak tertarik melihat ‘isi’ Pasar Seni lebih jauh. “Ya memang seperti itulah,” ungkap Achrif kecewa. Suasana Pasar Seni memang tidak seperti pada masa kejayaannya tahun 70 an hingga awal 90-an. Jangankan kali ini karena ada
GMT (gerhana matahari total) yang kampanyenya sungguh masif, hari libur dan weekend pun ketika tempat-tempat rekreasi lain di lingkungan TIJA kebanjiran pengunjung, Pasar Seni lengang. Pun ketika digelar acara di tempat itu, pengunjung pun tidak terlalu banyak. “Biasa aja, tidak banyak. Zaman memang sudah berubah,” keluhnya. Dulu era 1970-1980-an galeri seni, tempat-tempat pertunjukan seni maupun tempat-tempat pameran, tidak banyak di Jakarta. Maka itu ketika Gubernur Jakarta Ali Sadikin menghadirkan Pasar Seni pada 1975, sambutannya luar biasa. Padahal bentuk Pasar Seni ketika itu belum seperti sekarang. Dulu, tahun 1970-an, yang disebut Pasar Seni hanyalah gubuk-gubuk dimana digelar bazar dan acara-acara kesenian. Namun, pengunjungnya sangat ramai, persis seperti pasar. Ketika 1977, Pasar Seni dipindah tak jauh dari tempat lamanya (Gelanggang Samudra). Di tempat yang baru, Pasar Seni ditata lebih baik. Tahun 1980-an nama Pasar Seni Ancol berkibar seantero Indonesia. Pengunjung melimpah karena berbagai acara kerap digelar di sini, khususnya pentas-pentas musik. Musisi-musisi dan bandband top masa itu kerap manggung di sini. Sebut saja Abadi Soesman, Elfa Secoria, Vonny Sumlang, Bill Saragih, Idang Rasydi, Ireng Maulana, Karimata, Krakatau, dll. Kehadiran bintang-bintang idola ini ikut memberi andil bagi ramainya Achrif Wibowo salah satu seniman ukir kayu jati yang masih bertahan di Pasar Seni Ancol Pasar Seni.
Pasar Seni Ancol yang lengang
“Bukan hanya musik pop, tapi pementasan wayang sampai acara anak-anak pun ada di sini pada masa itu,” kata Achrif yang mengaku merasa beruntung sempat menikmati masa kejayaan Pasar Seni. Pada masa jayanya, Pasar Seni seakan tidak pernah tidur. Bahkan hingga larut malam ada saja pengunjung yang mampir, padahal kioskios banyak yang sudah tutup. “Kalau datang larut malam, biasanya mereka berkeliling sambil melihat-lihat, lalu kongkow di restoran-restoran yang ada di sini,” kata Achrif. Tahun 1980-1990an awal, tempat tersebut menjadi magnet para pengunjung TIJA. Sekalipun tidak ada acara, pengunjung banyak yang mampir. “Dulu dan sekarang sungguh berbeda, ya. Dulu pengunjung banyak, mereka bukan cuma melihat-lihat tapi juga membeli. Saya sendiri sempat kewalahan melayani pembeli. Dulu seniman berjaya, sekarang kami setengah mati,” ungkapnya sembari mengerjakan ukiran. Masa keemasan itu sudah berlalu lama. Menjelang penghujung tahun 1990-an, banyak seniman hengkang. Bersamaan dengan itu, jumlah pengunjung pun kian surut. Pasar Seni
ini pun akhirnya ‘mati suri’.Berbagai upaya telah dilakukan oleh pengelola untuk menghidupkan kembali Pasar Seni yang pernah menjadi icon Taman Impian Jaya Ancol. Mulai dari pembangunan fisik hingga menggelar berbagai program. Misalnya acara edukasi seni pada Sabtu dan Minggu, di mana masyarakat bisa ikut belajar di sini. Begitu juga panggung
Seni instalasi tambang
musik, Porseni hingga wisata kuliner secara rutin digelar. Namun entah kenapa, berbagai upaya itu seolah tidak membuahkan hasil. Entah apa yang salah. Untuk pengusaha kuliner, jelas kondisi seperti ini tak tertahankan. Walhasil, satu per satu pun hengkang.
elama periode pertama (2010-2015) Bupati Eka Wiryastuti mempersembahkan 400 prestasi dan 18 penghargaan MURI. Menurutnya, pencapaiannya itu tak mudah. Penuh tantangan dan perjuangan. Memang ia mengakui, dalam kepemimpinan lima tahun sebelumnya, banyak program yang belum terselesaikan, karena itu dalam kepemimpinan sekarang, ia ingin menuntaskan program yang sebelumnya belum sempurna. Untuk program jangka pendek, perbaikan infrastruktur jalan tetap menjadi fokus. “Dalam kepemimpinan lima tahun sebelumnya, kami sudah berhasil menangani infrastruktur sepanjang 450 km jalan sudah di-hotmix. Masih ada sekitar 250 km jalan yang harus segera diselesaikan, karena hampir 750 km jalan rusak di Tabanan,” kata Eka Wiryastuti, saat ditemui Tokoh, di rumahnya, di Desa Tegeh, Desa Angsri, Baturiti, Tabanan, Jumat (11/3). Menurut Eka Wiryastuti, disamping program jalan hotmix pemerintah, ada juga, program partisipatif, yang mengondisikan partisipasi masyarakat untuk ikutserta berperan. “Material nya tetap dari pemerintah, dan tenaganya dari masyarakat. Program ini sudah berhasil untuk 300 km jalan. Program ini memang bersifat gotong-royong. Program ini memang sedang diminati dan populer. Apalagi, di zaman s ekarang, dimana rasa kegotongroyongan sudah mulai luntur. Karena itu, saya ingin membangkitkan kembali rasa gotong-royong tersebut, melalui program partisipatif ini,” kata Eka Wiryastuti. Namun, di tahun 20016-2017 karena aturan, program partisipatif ini akan disalurkan lewat bantuan khusus ke desa (BKD), bentuknya tetap ada partisipasi dari masyarakat yang menyiapkan tenaganya. Program mendesak lainnya, soal penambahan tempat tidur rumah sakit. “Saat ini, kapasitas tempat tidur rumah sakit ada 200 ribu. Padahal yang diperlukan 450 ribu. Dalam jangka pendek harus segera kami wujudkan, paling tidak tahun depan harus sudah ditangani,” tegasnya. Menurut Eka Wiryastuti, dalam kepemimpinannya yang sekarang, ia tidak mau banyak program. Mungkin hanya perlu penambahan, misalnya penambahan armada mobil sehat. Saat ini baru ada dua, mungkin di tahun depan ditambah dua lagi. Puskesmas rawat inap juga perlu ditambah. Program Pembentukan Bumdes dan BUMD juga menjadi prioritas. Bumdes dan BUMD bertugas membeli produk hasil pertanian masyarakat, b ekerja sama dengan pihak ketiga untuk menjualnya. Selain itu, masalah raskin juga menjadi program jangka pendek. Program membeli gabah petani untuk diberikan sebagai tunjangan beras kepada 11 ribu PNS di Tabanan. Program ini sudah berjalan dalam kepemimpinan sebelumnya, dan akan disempurnakan. Program yang dulu terpatok dengan beras organik. “Sekarang ini, yang penting gabah itu datang dari petani, mau organik atau tidak, tetap kami beli,“ ujarnya. Intinya, kata Eka Wiryastuti, sesuai ajaran Bung Karno, ekonomi kerakyatan itu harus dikembangkan. Kemandirian rakyat harus kita bangkitkan, gotong royong harus diwujudkan kembali, dan
keberpihakan kepada petani harus dilakukan. Karena itu, ia getol membuat desa wisata. BALAI BANJAR “DISULAP” Saat ini, sudah ada 21 desa wisata di Tabanan. Ia berharap, semua desa menjadi desa wisata. “Dengan desa wisata, fungsi alih lahan dapat kita tekan, pertanian bisa menjadi tuan rumah sendiri, dan memberi efek ekonomi kepada rakyat, sebagai pelaku dan penikmat. Kita tak tak perlu hotel yang luar biasa. Karena kita sudah punya budaya yang luar biasa. Kalau itu kita bisa jual tanpa merusak alam, dapat menambah pendapatan,” kata Eka Wiryastuti. Menurutnya, pertanian seharusnya tidak hanya menghasilkan gabah, tapi juga, bisa menghasilkan destinasi wisata baru. Memang, ia mengakui, tak semua desa memiliki sawah, namun, dengan keanekaragaman kearifan lokal, itu merupakan modal sebagai desa wisata. Program ini bekerja sama dengan perguruan tinggi perhotelan, untuk melatih warga desa menjadi guide dan pramusaji. Desa wisata di Desa Penge, Marga, dan Desa Belimbing, Pupuan contohnya. Mereka sering kedatangan tamu asing, dari Australia, Thailand, dan Korea. Makanan dibuat oleh masyarakat, turis menginap di rumah penduduk. Balai banjarnya “disulap” menjadi tempat untuk breakfast dan dinner, ada pertunjukkan. Warga desa menjual hasil kerajinan atau camilan produk mereka. Ada kebun manggis, kebun kopi, ada sawah, turis dekat dengan masyarakat, turis bisa menikmati alam, men cicipi makanan tradisional di desa itu. “Thailand bisa seperti itu, mengapa kita tidak? Itulah yang sedang kami gagas di Tabanan,” kata Eka Wiryastuti. Walaupun, kata Bupati Eka, Tabanan sudah memiliki Tanah Lot yang sudah terkenal, namun, akan dikemas menjadi lebih baik. Mungkin ke depan, ada pasar oleh-oleh di Tanah Lot. Bila perlu dikemas langsung dengan tiket masuk. Karena pada intinya, semua program harus menggerakkan roda perekonomian kerakyatan. Untuk program jangka panjang, urusan IT sangat penting. Ia ingin ada inovasi kecamatan dengan system IT, terutama program IT di urusan keuang an daerah. “Dengan teknologi ini kami harapkan, tahun 2021 program sudah bisa berjalan. Untuk saat ini, sedang disosialisasikan IT untuk SDM. Dengan IT, lebih efisien dan efektif. Anggaran tidak bisa jadi “siluman”. Kita harus berjejaring antara pemerintah daerah dan pusat, karena itu IT sangat diperlukan, mulai dari perangkat desa,” kata Eka. Jangka panjang, pembangunan pasar revitalisasi pasar juga digalakkan. Saat ini baru ada empat pasar yang direvitalisasi. Di periode keduanya ini Eka ingin semua pasar bisa direvitalisasi. Namun, ia juga mengingatkan ke masyarakat, untuk menjaga kebersihan pasar mereka. Penataan kota, juga tetap menjadi prioritasnya. Ia ingin mewujudkan ruang bebas. Penataan Gedung Maria juga akan dituntaskan, dengan pengadaan taman di depannya. Pembangunan museum Sagung Wah yang belum terwujud, juga akan dilanjutkan. URUSAN SAMPAH TETAP PRIORITAS Untuk urusan sampah, tetap diutamakan. Saat ini, Tabanan telah memiliki 9 bank sampah. Satu kilo sampah dibeli
Rp 1000. Namun, program ini harus disempurnakan. Wacana pengantian tas plastik juga sedang menjadi kajiannya. “Tapi harus ada tim yang membahas soal ini dan bisa menjalankan perda yang baik tentang kebersihan. Jangan sampai kita larang pakai kantung plastik, masih ada yang menggunakan kantung plastik. Musuh kita bukan hanya tas kresek. Sampah plastik banyak termasuk botol sampo, botol air mineral, sepanjang kita hidup masih membutuh kan plastik Bagaimana akhirnya? Ini yang harus dipikirkan. Tidak bisa hanya melarang saja,” tegas Eka. Menurutnya, perlu sentral pengumpulan sampah plastik, kemudian sampah diolah. Sampah botol pastik dan botol air mineral bisa diolah menjadi gagang sapu. Perlu teknologi, tak bisa hanya melarang, pemerintah harus membuat penyelesaiannya. Menurut Eka Wiryastuti, konsepnya sedang dibuat seperti apa. Misalnya, BUMD menciptakan tas kertas belanja dan dibagikan di pasar atau bagaimana, Pemda yang membeli sampah. Tapi, setelah itu bagaimana? Ini yang harus dipikirkan. “Melarang penggunaan kantong plastik itu hanya untuk mengurangi bukan menyelesaikan, Karena itu, kita perlu cari solusi penyelesaiannya,” saran Eka Wiryastuti. Program revolusi mental juga menjadi pemikirannya. Karena ia melihat, saat ini generasi muda sudah sangat tidak ada kepedulian. “Saat ini, sudah mulai sifat ego sektoral, kita harus kembali ke adat ketimuran yang selalu menjaga dan saling menghormati. Memang kuncinya di keluarga. Anak-anak sejak dini harus dibekali budi pekerti dan moral yang baik sehingga rasa kepedulian dengan lingkungan sekitar
itu ada,” ujarnya. Program revolusi mental ini memang sifatnya tidak formal, karena program ini harus lebih luwes mewacanakan. Pendidikan dasar Pancasila dan pembangunan mental harus diperkuat dalam revolusi mental. Ini juga masuk dalam konsepnya jangka panjang. Dalam kepemimpinanya yang kedua ini, Eka Wiryastuti tetap berharap dukungan ke masyarakat. Ia tak bisa
bekerja sendiri, ia perlu dukungan dari masyarakat. Karena, apapun program yang dilakukan, tanpa dukungan sepenuhnya, memang tak sempurna. Dalam lima tahun kepemimpinan nya yang pertama, sudah banyak keberhasilan yang ia raih dengan kerja keras. Namun, memang, masih banyak kekurangan yang akan ia sempurnakan di kepemimpinan yang sekarang. –Wirati Astiti
Belajar dari Pengalaman Eka Wiryastuti tak menampik, banyak tantangan dalam perjuangan untuk mewujudkan keinginan pro rakyat. “Jalannya kami perbaiki, desa wisata kami kembangkan, hasil sawah kami beli, kalau sudah begitu, malas orang jual sawah. Kami buat aturan jalur hijau, eh malah ada oknum nakal. Orang itu pintar, tiba-tiba saja ada IMB jalur hijau, saya sendiri tidak tahu. Saya ditanya, bagaimana fungsi alih lahannya? Jangan saya sendiri yang menjaga, desanya juga, ada awigawignya ditekan, kalau ada alihfungsi lahan jangan dikasi. Kalau sudah sawah produktif jangan diloloskan, atau dibuat lebih mahal dari harga tanahnya, bisa tidak jadi. Keinginan saya pro rakyat, tapi ada kepentingan lain ikut menghambat. Saya bisa jaga rumah saya, tapi di sekitar saya tidak bisa. itu menjadi kendala dalam pejuangan saya,” ungkap bupati perempuan pertama di Bali ini tentang kendalanya dalam menjalankan tugas. Tantangan lain, soal pengadaan rumah server IT yang belum bisa terwujud. “Tujuan IT itu bagus. Tidak ada anggaran “siluman”. Tidak ada temuan. Kalau manual, bisa tutup mata. Contohnya soal perizinan. Kalau memang jalur hijau, izin tak bisa terbit. Banyak alih fungsi lahan, bupati disalahk an. Birokrasi juga perlu direvolusi mental,” tegas Eka.
Ia menambahkan, rancangan program berasal dari desa, kemudian apa yang diusulkan desa, masuk dan di-input di Bapedda, nanti akan dijabarkan masuk ke SKPD terkait. Anggaran pro rakyat bisa terwujud. “Kalau tidak pakai IT, bisa “sim salabim”. Kalau saya tidak siapkan gembok dari sekarang, seperti menambal ban, bocor sudah ditambal, bocor lagi. Saya anggap ini perjuangan, memang tidak ada sekolah bupati. Saya belajar dari pengalaman. Ini saya pakai untuk bisa berbuat lebih baik,” kata Eka Wiryastuti. Menurutnya, kondisi yang ia alami
terjadi di semua kota, namun, walaupun Tabanan kecil, ia hanya ingin Tabanan bisa nyaman dan serasi. Karena itu, ia lebih suka turun ke desa, menyerap aspirasi dibandingkan hanya mendengar laporan dari SKPD. “Saya tidak peduli ada gerakan yang tidak bertanggungjawab. Yang penting jalan saya lurus dan terprogram, tidak usah tergoyahkan. Saya senang dengan semangat masyarakat yang luar biasa setiap kedatangan saya ke desa. Itu menjadi semangat dan inspirasi untuk terus berjuang,” kata Eka Wiryastuti. –Wirati Astiti
Bupati Eka Wiryastuti meninjau salah satu program Tabanan Serasi
2
Edisi 892/ 14 - 20 maret 2016
GORO-GORO “Intros peksi lewat perenungan hanya cocok buat anak seko lahan. AnakPutu Wijaya anak nakal lebih mudah diajak masuk ke dalam batinnya lewat kegiatan tubuh. Maka minggu ini kita akan adakan pertandingan: lomba membuat sesuatu dari sampah plastik,” kata Amat kepada Ami. “Sesuatu itu apa? Boleh peralatan yang bisa dipakai dalam kenyataan sehari-hari, seperti kursi, sangkar burung, misalnya. Atau, bisa sesuatu yang menarik atau indah dilihat. Misalnya bunga, patung, hiasan apa saja yang bagus, lucu atau bisa juga serem.” “Kenapa harus pakai sampah plastik?” “Itu mengikuti trend, perkembangan dunia global yang ingin mengamankan bumi hunian kita. Industri barang pakai dari plastik makin gencar karena plastik murah, tapi
sampahnya yang tak bisa hancur dan menimbulkan polusi kalau dibakar akan menjadi musuh besar anak cucu kita kalau tidak digemboskan sekarang. Supermarket sudah mulai ngerem tidak memberikan tentengan plastik gratis lagi. Masih dijual tapi kelak pembeli harus bawa kantong dari rumah. Kita ikut mengajak masyarakat untuk ingat dunia sudah dikepung plastik!” Ketua lingkungan serta warga serta-merta mendukung lomba yang misinya introspeksi itu. Pesertanya membludak. Warga dari lingkungan sebelah juga sangat berminat ikut. “Kami banyak punya sampah plastik tapi tidak tahu mau dibuat apa. Ini lomba yang kreatif sekali dan mengandung filosofi tinggi tentang daur ulang,”puji mereka. Amat jadi bangga dan tambah bersemangat. Apalagi ia berhasil mendapatkan sponsor dari pabrik yang mendaur ulang sampah plastik dan menjadikannya barang seperti sandal, ember
Ekspresso
plastik
dan sebagainya. Karena ada sponsor, pemenang lomba dijanjikan dapat hadiah uang. Ini menambah banyak lagi peserta yang mau ikut berlomba. Tak hanya anak-anak muda, orang tua juga turun. “Kalau sudah begini, jelas semuanya mau ikut karena ingin dapat hadiah uang. Di mana letak introspeksinya?” sentil Bu Amat sinis. Amat ketawa. “Kalau sudah sukses be gini, soal introspeksinya ke sampingkan saja dulu. Yang jelas kita sudah berhasil mengajak masyarakat melihat bahaya plastik yang harus segera kita hindari!” “Menghindari dengan cara memestakannya? Itu kan terbalik!” Amat ketawa lebih lebar. Ia tak mendengar yang dikatakan istrinya. Ia terlalu bangga sebab koran lokal memuji kegiatannya sebagai upaya konkrit melawan pengrusakan bumi. Lomba mengambil tempat di lapangan bola yang segera akan
dibangun jadi Taman Rekreasi. Pe s e r t a d a n p e n g u n j u n g membludak. Kompetisi berlangsung seru dan menarik. Berbagai kejutan muncul sebagai tanda betapa kreatifnya para peserta. Ternyata banyak peserta membuat karya dari bahan plastik yang baru dibeli. Pemenangnya adalah patung r a k s a s a Ku m b a k a r n a y a n g digerogoti puluhan kera serta sebuah sofa yang bisa dilipat jadi tempat tidur dan bisa dilipat lagi jadi kap lampu taman/patung. Tengah malam, baru Amat sampai di rumah. Gembung oleh perasaan berguna. Ia tak mampu menanggung pujian lomba sendirian. Lalu ia membangunkan istrinya dan berbisik mesra. “Usia manula membuat kita merasa diri seperti sampah
tak berguna. Dan, perasaan itu menambah kita lebih tua. Tapi kalau sampah plastik saja bisa didaur ulang jadi barang berharga, usia pun sama. Hanya kita harus terus bergerak tak boleh mengerak, seperti yang sudah terjadi pada kita selama ini. Itu hasil introspeksi yang keluar dari lomba ini.” Bu Amat hanya mengangguk, tapi tidur lagi. Pukul 11 siang esoknya, ia mengguncang membangunkan Amat. Amat terkejut bangun. “Ada apa? Beritanya sudah dimuat?” Bu Amat membentak. “Pak Bupati dan Dinas Ke bersihan Kota ada di lapangan bola yang mau dipakai ber tanding. Beliau marah besar, karena lapangan penuh sampah plastik. Pembangunan Taman Rekreasi ditunda sampai warga sadar lingkungan dan berhenti menggunakan plastik, katanya!”
Fungsi Makanan dalam Menyelaraskan Pikiran dan Emosi
Makanan dan minuman yang masuk ke dalam tubuh sangat berkaitan dengan kesehatan psikologis, dan berpengaruh terhadap keadaan emosi, pikiran, dan tindakan. Baik yang pengaruh jangka pendek, misalnya: zat pewarna dan perasa tambahan, cabai, alkohol, kafein, gula, maupun yang berpengaruh jangka panjang, misalnya: lemak tak jenuh, makanan yang diproses, garam. Apabila ada mengalami insomnia (gangguan tidur), kecemasan, tingkat keasaman tubuh menaik, cobalah untuk meneliti apakah terlalu banyak minum teh atau kopi, atau sering merasa lemas dan mengantuk sehabis makan cobalah teliti apakah terlalu banyak menyantap lauk yang terlalu pedas, karena cabai bisa membuat energi berkurang, lemas, dan mengantuk. Apabila suami/istri mudah marah, cobalah diteliti apakah makanan yang disantapnya banyak mengandung garam atau lemak tak jenuh. Dengan mengetahui makanan dan hubungannya dengan mental, maka kita bisa meningkatkan kualitas mental keluarga dengan mengatur makananmakanan yang lebih sehat dan yang akan membentuk keadaan psikologis lebih ke arah satvic. Apabila kesehatan psikologis kita sedang dalam keadaan kurang seim-
bacaan wanita dan keluarga
Penerbit PT Tarukan Media Dharma Terbit sejak 9 November 1998
bang, atau sedang menjurus ke rajasic – tamasic, maka salah satu cara jitu untuk mengatasinya adalah dengan meneliti lalu mengubah pola makan kita. Dengan mengurangi makanan-makanan yang mempunyai stimulan terhadap emosi kita (misal kopi, teh, alkohol, bumbu yang merangsang, gula, lemak tak jenuh) dan dengan menambah pasokan makanan yang menyehatkan baik fisik kita maupun makanan yang baik untuk pikiran kita. Makanan mempunyai fungsi yang sangat penting dalam menyelaraskan pikiran dan emosi kita. Makanan sangat mempengaruhi keadaan mental kita. Contohnya, untuk sebagian orang begitu minum alkohol maka mereka langsung gemetar, pikiran sulit diajak kompromi, dan tidak bisa mengambil keputusan dengan baik. Ada lagi yang setelah makan makanan yang pedas, menjadi lemas dan mengantuk. Pikiran adalah mitra tubuh dalam memperoleh dan mengelola kesehatan. Pikiran dan tubuh tidak bisa terpisahkan dan berdiri sendiri-sendiri. Pikiran dan tubuh saling mempengaruhi dan saling melengkapi kesehatan dan kebahagiaan pada diri kita. Kita bisa disebut sehat apabila memenuhi kriteria: sehat secara fisiologis, sehat secara psikologis, dan terakhir sehat secara spiritual.
Dr.Ir.Ketut Suriasih,M.App.Sc
Dalam bukunya yang berjudul ‘Eternal Health, The Essence of Ayurveda’, dr. Partap Chauhan membagi keadaan psikologis kita menjadi 3 bagian yang disebut triguna, yaitu satvic, rajasic, dan tamasic. Tipe satvic mempunyai ciri: memiliki disiplin diri yang tinggi, menyukai ketertiban dan keteraturan, pembersih, mempunyai memori yang tajam, mencintai kedamaian, tenang pembawaannya, tinggi keasadaran akan kesehatan, mandiri, berkelakuan baik, dan memiliki keinginan maju dan belajar seumur hidup serta mempunyai kesadaran nilai spiritual
yang tinggi. Tipe rajasic memiliki ciri: dinamis, enerjik, dan cenderung dominan, ambisius, temperamental, memiliki kecerdasan yang juga cukup tinggi, mengejar kenikmatan duniawai (makanan enak, seks, suka pesta dan barang bermerek), memiliki motivasi yang sangat tinggi dalam mengejar kekayaan dan kedudukan, cenderung popular dan suka menonjolkan diri, cenderung mudah terganggu serta gampang bosan. Tipe tamasic mempunyai ciri: cenderung acuh tak acuh, malas, tidak peduli dengan sesama, memori lemah, keras kepala, tidak disiplin, kurang memperhatikan pengembangan diri, kurang memiliki motivasi yang kuat untuk maju, tidak mempunyai tujuan, kurang memegang nilai moral, dan cenderung melakukan tindak ekerasan. Dalam kehidupan, setiap orang
memiliki ketiga unsur tersebut, hanyalah penekanan unsur yang mana yang lebih dominan. Sehingga selain tipe satvic, rajasic, dan tamasic, ada unsur penggabungan satvic-rajasic, satvic-tamasic, rajasic–tamasic, dan satvic-rajasic-tamasic. Salah satu faktor penting yang mempengaruhi kesehatan psikologis kita adalah ‘makanan’ yang masuk ke dalam tubuh kita. Dalam Ayurveda, atau ilmu kesehatan kuno India, konsep ‘mind balance’ bisa diperoleh dengan mengatur pola diet, yaitu ‘makanan’ yang melalui disantapan melalui mulut, serta menjaga kualitas hidup yang sehat melalui ‘makanan’ yang masuk ke dalam tubuh melalui organ lainnya atau disebut juga santapan pikiran. Dr.Ir.Ketut Suriasih,M.App.Sc Dosen Fapet Unud
Kata Hati Rubrik ini khusus untuk wanita yang ingin menuangkan ide/pemikiran/ gagasan dalam bentuk tulisan. Tema terkait wanita dan keluarga serta tidak mengandung unsur SARA. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter (1,5 halaman A4; spasi 1,5; times new roman 12). Lampirkan juga foto close up (bukan pasfoto). Cantumkan nama lengkap, profesi, nomor hp, dan alamat email. Naskah dikirim ke redaksi@tokoh.co.id, redaksitokoh@yahoo.com. Tulisan yang dimuat mendapatkan bingkisan dari Telkomsel. Telkomsel sebagai satu-satunya operator paling Indonesia selalu berkomitmen untuk membangun dan memajukan Indonesia. #UntukIndonesia
Pemimpin Umum/Penanggung Jawab: Gde Palgunadi. Redaktur Pelaksana: Ngurah Budi. Staf Redaksi/Pemasaran Denpasar: IG.A. Sri A r d h i n i , W i r a t i A s t i t i , S a g u n g I n t e n . J a k a r t a : D i a n a Ru n t u . N T B : N a n i e k D w i S u r a h m i . D e s a i n G r a f i s : I D N A l i t Budia rtha, I Made Ary Supratman. Sirkulasi: Kadek Sepi Purnama. Sek retariat: Ayu A gustini, Putu Agus Mariantara, Hariyono. Alamat Redaksi/Iklan Denpasar: Gedung Pers Bali K. Nadha, Lantai III, Jalan Kebo Iwa 63 A Denpasar 80117–Telepon (0361) 425373, 7402414, 416676–Faksimile (0361) 425373. Alamat Redaksi/Iklan/Sirkulasi Jakarta: Jalan Palm erah B arat 21 G Jakarta Pusat 10270– Telepon (021) 5357603 - Faksimile (021) 5357605. NTB: Jalan Bangau No.15 Cakranegara, Mataram–Telepon (0370) 639543– Faksimile (0370) 628257. Jawa Timur: Permata Darmo Bintoro, Jalan Taman Ketampon 22-23 Surabaya–Telepon (031) 5633456– F aksim ile (031) 5675240. Surat Elektronik: redaksi@tokoh.co.id, iklan@tokoh.co.id. Website: www.tokoh.co.id. Bank: BRI Cabang G ajah Mada Denpasar. Nomor Rekening: PT Tarukan Media Dharma: 0017-01-001010-30-6. Percetakan: BP Jalan Kebo Iwa 63 A Denpasar.
Sudut Pandang
Perlu Kesadaran Masyarakat dan Pebisnis Wacana go green mungkin sudah tidak asing lagi bagi masyarakat. Banyak tindakan yang dilakukan oleh pemerintah untuk merealisasi kebijakan tersebut. Salah satunya adalah diberlakukannya aturan tas kantong plastik berbayar. Aturan ini sudah mulai dijalankan beberapa minggu terakhir di beberapa perusahaan ritel di seluruh Indonesia. Tentu hal ini akan mendapat respon dari masyarakat baik positif maupun kurang baik.
Ketut Ardika
K
etut Ardika adalah salah satu masyarakat yang memberi perhatian dengan aturan tas kantong plastik berbayar ini. Pria kelahiran desa Panji ini mengaku bahwa kebijakan dari pemerintah ini sangat baik, namun akan lebih baik lagi jika aturan ini disosialisasikan terlebih dahulu kepada masyarakat. Hal ini agar masyarakat yang kurang mendapat informasi tidak
kaget jika kantong plastik yang dulunya gratis sekarang dikenakan biaya. “Ini bukan masalah uang 200 rupiah tapi mental pebisnis yang perlu diperbaiki,” tambah Tut Adi, nama karibnya. Menurutnya sebagai pengelola ritel seharusnya menawarkan dulu jika konsumen sudah membawa kresek sendiri maka tidak perlu membayar plastik lagi. Hal ini seolah-olah pengusaha ritel menjadikan kesempatan aturan ini. Dengan banyaknya konsumen setiap hari, tinggal dikalikan saja berapa keuntungan yang didapat. Seharusnya keuntungan yang didapat juga harus jelas akan kemana dan dibawa kemana. Jika aturan tas kantong plastik ini dikatakan bisa mengurangi sampah maka Tut Adi tidak merasa setuju. Yang paling utama adalah mental masyarakat dulu yang harus sadar. Jika memang ingin mengurangi sampah plastik mengapa tidak mencari solusi dari produksi plastik itu sendiri. Produksi plastik yang ramah lingkungan adalah salah satu cara untuk mengurangi limbah plastik. Menyikapi masalah kantong plas-
Kadek Lia Suryani
tik Tut Adi juga mengungkapkan pengelola ritel bisa menciptakan kantong plastik yang ramah lingkungan dan bisa segera hancur di tanah. “Jika nantinya itu berbayar kan gak jadi masalah, plastiknya bisa segera hancur jika dibuang,” lanjut Tut Adi. BAWA KRESEK SENDIRI Di sisi lain, Kadek Lia Suryani yang merupakan salah satu karyawan ritel di kota Singaraja ini memang tidak menampik jika ada konsumen yang menyambut baik dan tidak aturan ini. Tetapi, sejak diterapkan aturan ini banyak konsumen yang berbelanja bawa kresek sendiri, tambah Dek Lia. Sebagai karyawan yang bertugas di bagian kasir Dek Lia memang merasa serba salah. Ada konsumen yang tidak menerima aturan ini bahkan marah-marah mengetahui jika kantong plastiknya dikenakan biaya. Namun, dari
Kardus pun Dijual Program pemerintah untuk menerapkan aturan tas plastik berbayar ditanggapi beragam oleh masyarakat. “Ada yang menerima ada yang protes. Kalau anakanak muda menanggapinya biasabiasa saja, ibu-ibu yang banyak protesnya,” ujar salah seorang pegawai toko alat-alat tulis di Denpasar. Tiap terjadi transaksi, petugas kasir ini selalu menyampaikan kepada pembelinya bahwa mulai saat ini, untuk pemakaian kantong plastik dikenakan biaya tambahan Rp 200. Atau, para konsumen ini disarankan agar barang belanjaan mereka dimasukkan saja dalam tas lain yang sudah dibawa sebelumnya. “Kalau tiap belanja kesini saya harus beli kantong plastik, tekor dong saya,” demikian keluhan salah seorang konsumen seperti yang dikutip petugas kasir tersebut. Tetapi bagi konsumen yang sudah mengerti dengan aturan ini, biasanya tak banyak komentar
ketika mereka memang memerlukan kantong plastik meskipun ada tambahan biaya. “Iya tidak apaapa, pakai kantong plastik saja, saya takut nanti rusak barangnya,” ujar seorang pria yang saat itu membeli party popper, kepada petugas kasir yang menyampaikan aturan tas plastik berbayar tersebut. Petugas kasir yang enggan namanya disebutkan ini mengatakan, jauh sebelum ada aturan pemerintah ini, di toko tempatnya bekerja tersebut telah menyosialisasikan pengurangan penggunaan kantong plastik, kepada para konsumennya. Selain disampaikan oleh para petugas kasir, pesan tersirat tersebut juga disampaikan dengan memasang poster bertulisakan “Kotaku Cantik tanpa Sampah Plastik”. Untuk barang-barang belanjaan kecil, seperti pensil, penghapus, cokelat, mapun aksesori, pihak toko sudah menyiapkan tas mungil dari bahan kertas. “Tapi jika belanjaannya banyak,
kami sudah siapkan kardus,” ujar petugas kasir tersebut. KARDUS HABIS Sementara itu di sebuah pusat perbelanjaan di Surabaya, kebanyakan konsumen sudah tahu tentang aturan membayar tas plastik. Karena itu, mereka membawa sendiri tas belanjaan. “Lebih baik saya bawa tas sendiri. Kebetulan saya punya banyak tas belanjaan,” ujar Dina yang berbelanja bersama ibunya. Saat transaksi, Dina pun langsung memasukkan belanjaan ke dalam tasnya. Kasir pun tak perlu repot untuk menawarkan tas plastik. “Sejak ada aturan plastik berbayar, banyak juga konsumen yang jeli. Mereka tidak mau plastik tetapi minta kardus. Lama-lama kardus kami habis. Manajemen lalu membuat kebijakan, kardus pun dijual. Kardus kecil dijual Rp 500, kardus besar Rp 1000,” ujar kasir yang bernama Aminah itu. –Inten Indrawati/Ngurah Budi
Edisi 892/ 14 - 20 maret 2016
23
Bawa Tas Kain yang bisa Dilipat “Saya sering belanja membawa tas sendiri. Itu sudah saya lakukan jauh-jauh hari sebelum ada aturan pengurangan tas plastik. Awalnya sih, karena saya merasa ribet kalau diberi tas kresek apalagi berbelanja barang-barang yang kecil. Saya masukkan saja ke dalam tas saya yang terbuat dari kain. Kemana pun saya pergi, saya selalu membawa tas kain yang bisa dilipat, ada kancingnya dan retsletingnya. Jadi sangat praktis,” ungkap Utami Dwi Suryadi, saat ditanya komentarnya tentang pengurangan penggunaan tas plastik. Ia pribadi sangat setuju dengan aturan pemerintah pengurangan tas plastik. Kalau ada pendapat Utami Dwi Suryadi yang mengatakan, toko harus memberikan tas sebagai pelayanan kepada konsumen, itu sah-sah saja. “Kalau misalnya, tas plastik sekarang diganti dengan tas dari kertas, itu bagus juga,” kata Utami. Namun, bagaimana kalau belanja banyak. Apa tas kertasnya tidak robek. Jadi, kata anggota Komisi IV DPRD Bali ini, sebaiknya masyarakat membawa saja tas kain sendiri kalau berbelanja. Apalagi, sebagian besar masyarakat naik sepeda motor. “Bagi yang naik mobil, mungkin tak masalah dengan tas dari kertas, tapi bagaimana dengan yang naik motor. Kalau tas kertas apa tidak ribet dan bisa robek, belanjaan bisa jatuh di jalan. Kalau tas kain tentu lebih mudah dan praktis,” kata anggota Fraksi Demokrat ini. Ia menambahkan, sekarang ini banyak ada tas kain yang bisa dilipat dan sangat praktis. Kalau dibuka, bisa membesar dan bisa menampung banyak barang. Jadi menurutnya, tas kain lebih fleksibel dibandingkan tas kertas yang tetap ada kekurangannya. Ia sendiri memiliki lima tas kain seperti itu. Ia menyadari, sering bepergian, sehingga tas kain itu selalu ia bawa, karena pasti selalu akan diperlukan mendadak. Menurut Utami, coba kita lihat di zaman dulu, para orangtua kalau belanja ke pasar, mereka selalu membawa tas atau tempat belanjaan. Menurut pandangannya, memang semua harus dimulai dari diri sendiri. “Kalau semua sudah sadar, tentu gerakan pengurangan tas plastik ini akan berhasil,” ujarnya. -Wirati Astiti pihaknya selalu bertanya terlebih dahulu kepada konsumen jika ingin menggunakan plastik berbayar. “Kadang juga langsung saya input di komputer karena ada konsumen yang marah kalau ditanya lagi dibilang saya campah,” cerita wanita
kelahiran 11 Februari ini. Dek Lia juga menambahkan aturan ini didukung oleh konsumen luar negeri. “Kalau bule malah bilang bagus ada aturan plastik berbayar ini,” ucapnya. -Wiwin
24
Edisi 892/ 14 - 20 MARET 2016
redaksi@tokoh.co.id, iklan@tokoh.co.id
mingguantokoh
@mingguantokoh
mingguantokoh
www.tokoh.co.id