Skip to main content

Tokoh Edisi 875 | Tokoh

Page 1

24

What’s UP

Edisi 875/ 16 - 22 November 2015

Kemeriahan Festival Keluarga Tokoh 2015 & HUT ke-17 Tokoh

Penyerahan bingkisan untuk pengisi rubrik Tokoh

Para sahabat Tokoh yang hadir pada acara HUT ke-17 Tokoh

Suasana lomba mewarnai dalam acara Festival Keluarga Tokoh 2015

Pemenang Lomba Fotogenik

Kategori A (Usia s.d. 3 tahun) Juara I: Ni Luh Sarita Putri Eka Suari Juara II: Ni Putu Bintang Shagalung Darmawanta Juara III: Shakila Anindya Putri Prayoga Harapan I: Ni Putu Arsyakayla Mahasaraswati Harapan II: Dominic Federico Santoso Harapan III: Gede Bagus Rendy Wisnu Jaya Manggala Favorit: Gede Bagus Rendy Wisnu Jaya Manggala

Suasana stan bazaar di acara Festival Keluarga Tokoh 2015

Penampilan Yudia di acara Festival Keluarga Tokoh 2015

Kategori B (Usia 4 s.d. 6 tahun) Juara I: I.A. Anindya Raina Wikananda Juara II: I Kadek Rizky Judisthira Juara III: Ni Luh Ayu Kaiyca Putri Suryadi Harapan I: Putu Mahendra Putra Harapan II: Myela Miska Fatma Azizah Harapan III: I Gusti Agung Istri Diah Anjani Putri Favorit: I.A. Anindya Raina Wikananda Kategori C (Usia 7 s.d. 12 tahun) Juara I: Ida Ayu Ketut Mas Widiari Juara II: Ni Putu Ninda Lestari Juara III: Putu Ayu Wulan Satya Harapan I: Ni Putu Eka Maheswari Purnama Dewi Harapan II: Putu Mayvil Widya H Harapan III: Ni Kadek Ayu Kharisma Putri Maharani Favorit: Putu Mayvil Widya H

Suasana lomba di acara Festival Keluarga Tokoh 2015

Kategori D ( Usia 13 s.d. 18 tahun) Juara I: Putu Widdi Aulia Angka Juara II: Nathan Enoch Terry Wijaya Juara III: Nadya Alifha Hildebrad Harapan I: Komang Ayu Putri Mentari Wirajhana Harapan II: Luh Marcelina Wima Pratiwi Harapan III: Cynthia Prisilia Winawan Komang Favorit: Luh Marcelina Wima Pratiwi

UCAPAN TERIMA KASIH MITRA KERJA FESTIVAL KELUARGA TOKOH 2015 & HUT ke-17 Tokoh l Ny.

Bintang Puspayoga Selly D.Mantra l AA Ngr.Tini Rusmini Gorda l Ninik Sutadiasih l d’Tunjung l Balibatiku l Adibi Salon & Spa l Gaya Warna Suplier Spa l Cempaka Butik l Dewi Anyar l Kamaratih Bag l Bali Sekar l Bara Silver l Candra Collection l Bali Creativ l Erika Sedana Putra l Ninik Kebaya Lukisan l Calista Kebaya l Andri Jewellery l Dewi Fashion l Yenli Wijaya l Ny.

l de

Galuh Boutique l Heny Santy l Koperasi Amoghasiddhi l MOV Shoes l Rumah Boneka l dr. Laksmi Duarsa l Tatik Skin Care l Amour Boutique l Izatta Wedding Decoration l STIKOM Bali l ACCOR Hotel l GOLDEN TULIP ESSENTIAL l KOKITA l D&I Klinik l SAMANI RESTO l BPR Bali Dana Niaga l BANK CENTRAL ASIA l Kecap AAA l Rai Fitness l Gelang Tridatu l Minardi

l Tupperware l PIE

21

l Telkomsel l Celluler

World PGRI Bali l LPK Salon Agung l House Of Dura l Cafe Santai l AUTO 2000 Tabanan l RSIA Puri Bunda l XL l Larasari l Yupi l Karang l Kumala l Dewa Sugama l Yudia l The Glitterzs l Amri dan Dek Mani l Saka Bros l Kelompok Media Bali Post l IKIP

Email: redaksi@tokoh.co.id, iklan@tokoh.co.id

mingguantokoh

@mingguantokoh

mingguantokoh

Website: www.tokoh.co.id


2

Edisi 875/ 16 - 22 November 2015

GORO-GORO Siapa yang lebih berhak disebut pahlawan? Suami atau istri? Bapak atau ibu? Bapak-bapak yang Putu Wijaya berjuang di lapangan, atau ibu-ibu yang memberikan motivasi dan dukungan moril agar terus berjuang tanpa pamrih di garis belakang? Dia yang garang menentang musuh di lapangan, atau dia yang dengan lembut bisa memelintir lawan takluk jadi kawan yang setia? Pertanyaan itu adalah kuis yang harus dijawab dengan minimal 10 buah alasan. Diumumkan di hunian Amat, untuk merayakan Hari Pahlawan 10 November 2015. Digulirkan oleh kelompok ibu setempat dalam rangka pembinaan generasi muda, yang disponsori oleh sebuah lembaga swadaya KHAP: Kesetaraan Hak-Hak Azasi Perempuan. Hadiahnya Rp 10 juta untuk 10 orang pemenang. Amat sebagai ketua juri, pusing. Sampai hari penutupan kuis, belum ada jawaban yang masuk. Amat terpaksa meminta panitia mengundurkan hari penutupan. “Sebab perhatian masyarakat sedang terfokus pada masalah air karena kemarau terlalu panjang dan ketegangan antara RRT dan AS garagara Taiwan, mencemaskan dunia,” kata Amat, “jadi p e r t a n y a a n

PAHLAWAN

tentang kepahlawanan meskipun pening terasa tidak seksi.” Panitia setuju. Tapi mereka menolak permintaan Amat, yang meminta agar pertanyaan-pertanyaan yang harus dijawab dalam kuis agar diubah redaksinya. “Meskipun tanpa mengubah gol yang mau dibobol sponsor yang saya yakini, ingin mengajak kawula muda untuk menghargai para pahlawan di balik layar yang sering dilupakan, yakni kaum perempuan,” kata Amat, “tetapi kalau tidak taktis, kawula muda yang banyak masih suka jahil, akan tergugah mau menyabotnya, meski pun saya yakini, maksudnya semula hanya ‘just for laugh’, hanya untuk lelucon!” Panitia menjawab tegas. “Maaf, kami tidak bisa mengubah kesepakatan kami dengan sponsor yang punya visi dan misi untuk mengajak generasi muda kita, tidak sekadar berpikir kritis, tetapi juga tidak diskriminatif, tetapi betul-betul adil dalam segala hal. Kalau Bapak Amat tidak setuju dengan visi dan misi ini, kami tidak berkeberatan kalau Bapak mengundurkan diri sebagai ketua juri!” Amat merasa ditantang. Hampir saja ia mundur. Tapi Bu Amat marah, lalu memaksanya tetap jadi ketua juri. “Bapak ini bagaimana. Jangan baru ditolak usulnya, mau mundur. Itu namanya ngambul! Jadilah pahlawan! Katanya mau mau memberikan masukan KHAP bahwa melawan perlakuan diskriminatif terhadap perempuan tidak boleh diskriminatif!” Amat tak jadi mun-

dur. Tetapi bencana masih muncul. Walau penutupan kuis sudah molor, peserta yang masuk kurang dari 10. Amat kontan usul lagi. “Dulu hadiah sejuta sudah bikin ngiler. Sekarang Rp 10 juta jangankan untuk 10 orang, untuk 1 pemenang saja orang belum tentu tertarik. Apalagi untuk memberikan jawaban yang sudah terlalu diarahkan! Kecuali gandakan hadiahnya, kalau betul-betul KHAP mau memberikan pendidikan pada kawula muda! Atau aku mundur!” Bu Amat terkejut dan marah pada kenekatan suaminya. Tapi dilalah KHAP setuju, lalu menaikkan hadiah jadi Rp 30 juta untuk 10 pemenang. Ajaibnya, peserta membludak, jadi 200-an jawaban masuk. Panitia bersorak. KHAP menganggap event itu sukses besar. Amat disanjung. Tetapi ketika pemenang kuis diumumkan, semua kaget. Baik panitia, maupun sponsor kecewa berat. Ternyata dari 10 pemenang, hanya 1 orang yang menyatakan, pahlawan itu adalah para ibu, istri dan kaum perempuan yang telah memberi motivasi dan dukungannya dari belakang layar. Dan, jawaban itu ditulis oleh Bu Amat, salah seorang panitia. Amat dikecam, karena kuis dianggap sudah keluar dari tujuan KHAP. Tapi Amat dengan berapi-api menjawab: “Salah! Kuis sukses besar! Tujuannya tercapai! Sekarang terungkap, bagaimana sejatinya apresiasi masyarakat yang memang diskriminatif terhadap kaum perempuan. Itu masalah penting yang harus kita perbaiki sekarang!”

Ekspresso bacaan wanita dan keluarga

Penerbit PT Tarukan Media Dharma Terbit sejak 9 November 1998 Pemimpin Umum/Penanggung Jawab Gde Palgunadi Redaktur Pelaksana Ngurah Budi Staf Redaksi/Pemasaran Denpasar IG.A. Sri Ardhini, Wirati Astiti, Sagung Inten Jakarta Diana Runtu NTB Naniek Dwi Surahmi Desain Grafis IDN Alit Budi­artha, I Made Ary Supratman Sirkulasi Kadek Sepi Purnama Se­kretariat Ayu ­Agustini, Putu Agus Mariantara, Hariyono Alamat Redaksi/Iklan Denpasar Gedung Pers Bali K. Nadha, Lantai III, Jalan Kebo Iwa 63 A ­Denpasar 80117–Telepon (0361) 425373,

Sudut Pandang

INSPIRASI CINTA 17 TAHUN TOKOH

Perjalanan ke Bali menjadi hal yang istimewa. Saya bisa bekerja sekaligus jalan-jalan. Ini berkah dari buka-tutup yang diterapkan otoritas Bandara Ngurah Rai karena erupsi Gunung Barujari, NTB. Daripada bingung dan tak pasti, lebih baik naik mobil saja dari Surabaya ke Denpasar. Saya berangkat bersama Chef Sarwan dan istrinya serta seorang teman. Perjalanan ini termasuk yang terjauh yang pernah saya lakukan. Awalnya semua berjalan lancar, termasuk mengantar Chef Sarwan ke lokasi acara. Setelah semua beres, kami pun jalan-jalan. Tujuan utama pantai Kuta dan beberapa objek wisata yang ada di Denpasar. Puas jalan-jalan, kami kembali ke hotel. Kami ingin beristirahat lebih awal karena keesokan harinya akan kembali ke Surabaya. Masalah muncul ketika saya lupa mencabut kunci mobil dan keburu menutup pintu. Oh my God…. pintu terkunci dan kunci masih di dalam. Saya dan Chef Sarwan dibantu security hotel berusaha untuk membuka. Tetapi, karena mobil keluaran baru, sistemnya beda dengan mobil lama. Security hotel lalu menghubungi temannya yang bekerja di bengkel

Minggu (8/11), dari pukul 06.30, Gedung Pers Bali K. Nadha sudah mulai didatangi peserta Festival Keluarga Tokoh 2015. Mereka sangat antusias untuk melakukan registrasi sekaligus mengambil nomor. Ada yang ikut lomba mewarnai, lomba menggambar, dan lomba fashion show.

E

vent tahunan Festival Keluarga Tokoh merupakan agenda tahunan yang mulai dilaksanakan tahun 2006. Saat itu diawali dengan kejuaraan catur wanita open dan lomba fotogenik. Tahun berikutnya lomba yang dibuat makin banyak, seperti lomba mewarnai,

lomba menggambar, lomba memasang puzzle, lomba masak, dan bazaar. Seiring perjalanan waktu, kegiatan bertambah lagi dengan jalan sehat, sepeda sehat, serta senam massal. Satu rangkaian acara yang bisa diikuti semua anggota keluarga. Festival Keluarga Tokoh 2015 yang dipandu Yupi dan Karang di-

416676–Faksimile (0361) 425373 Alamat Redaksi/Iklan/Sirkulasi Jakarta Jalan ­Pal­merah ­Barat 21 G Jakarta Pusat 10270– Telepon (021) 5357603-Faksimile (021) 5357605 NTB Jalan Bangau No.15 Cakranegara, Mataram–­Telepon (0370) 639543– ­Faksimile (0370) 628257 Jawa Timur Permata Darmo Bintoro, Jalan Taman Ketampon 22-23 ­Faksi­mile (031) 5675240 Surat Elektronik redaksi@tokoh.co.id, iklan@tokoh.co.id

Suasana lomba mewarnai dalam acara Festival Keluarga Tokoh 2015

Website

Hujan Deras saat Tiup Lilin

www.tokoh.co.id Bank BRI Cabang ­G ajah Mada Denpasar. Nomor Rekening: PT Tarukan Media Dharma: 0017-01-001010-30-6 Percetakan BP Jalan Kebo Iwa 63 A Denpasar

mobil. Bengkel itu menyarankan untuk mencari tukang kunci. Waktu itu pukul 23.00, tidak ada tukang kunci yang mengangkat telepon. Upaya mencari langsung ke tukang kunci pun tidak berhasil. Setelah agak tenang, saya membuka ponsel dan mencari di Google dengan kata kunci, tukang kunci di Denpasar. Ternyata membuahkan hasil. Muncul beberapa nama dan nomor telepon. Saya langsung hubungi. Tukang kuncinya menjawab

telepon. Ia menanyakan lokasi kami, jenis mobil, dan kami transaksi harga. Setelah deal, ia bilang segera berangkat. Tak sampai 15 menit, tukang kunci datang dengan peralatannya. Ia bekerja dengan sigap. Hanya 5 menit, pintu bisa dibuka. Lega rasanya karena pintu terbuka dan kunci mobil sudah ditangan. Terima kasih untuk semua yang sudah membantu kami. Bayu, Surabaya

Bagi pembaca yang memiliki kisah unik, seru, menyebalkan, atau mengasyikkan dan ingin berbagi dengan pembaca ­lainnya, silakan kirim kisah Anda ke redaksi@tokoh.co.id. ­Panjang naskah maksimal 3.000 karakter. Sertakan juga nama dan nomor kontak Anda. Naskah yang muat di rubrik “OMG” akan mendapat bingkisan Tokoh. Info lebih lanjut, silakan hubungi Redaksi Mingguan Tokoh (0361) 425373

Pemenang Kupon Undian Fotogenik Favorit Tabloid Tokoh 1. Kadek Edi (08263757xxx) Br. Auman 2. Rifky Firmansyah Anwar (085739799xxx) Jln. A. Yani 3. Farrin Isra Susanto (0816582xxx) Jln. Puri Kesambi 4. Dina Musasenga (08123836xxx) Jln. Belimbing, Dps. 5. Dewa Gede Budiman ( 082145917xxx) Jln. Gn. Patuha Para pemenang kupon undian Tokoh dapat mengambil hadiahnya ke Sekretariat Tokoh. Jln. Kebo Iwa 63A Denpasar. Tlp. (0361) 425373), dengan membawa identitas diri.

23

Bu Menteri Hadiri Festival Keluarga Tokoh 2015

Surabaya–Telepon (031) 5633456–­­

Diselamatkan “Google”

Edisi 875/ 16 - 22 November 2015

Puncak acara HUT ke-17 Tokoh dilaksanakan Senin (9/11), diawali dengan persembahyangan bersama yang juga dihadiri Pimpinan Kelompok Media Bali Post ABG Satria Naradha beserta Ny. Satria Naradha. “Semoga Tokoh bisa terus memberi inspirasi bagi wanita dan keluarga di Bali khususnya dan Indonesia umumnya. Tetap se-

mangat dalam berkarya,” ujarnya. Dalam kesempatan itu juga dilakukan pemotongan tumpeng dan pelepasan burung merpati. Selanjutnya diadakan penganugerahan Perempuan Inspiratif Tokoh 2015. Acara diawali dengan tarian dongeng (taridong) berjudul Ratna Mangali yang dibawakan Laras serta pemberian motivasi spiritual dari Ninik Sutadiasih.

Pelepasan burung oleh Pimpinan Kelompok Media Bali Post ABG Satria Naradha didampingi Ny. Satria Naradha

Ny. Bintang Puspayoga saat mengunjungi salah satu stan bazaar

awali dengan tabuhan rindik dari Amri dan Dek Mani. Pukul 09.00, lomba dimulai. Ketika anak-anak berlomba, orangtua ada yang duduk memantau anaknya lomba dan ada yang keliling stand bazaar. Festival Keluarga tahun ini juga menjadi spesial karena kehadiran Ny. Bintang Puspayoga, istri Menteri Koperasi dan UKM RI. “Festival Keluarga ini sangat menarik karena melibatkan anakanak, remaja, dan orangtua. Ini menunjukkan kebersamaan keluarga. Anaknya lomba, ibunya ikut demo masak, bapaknya bisa liat bazaar, apalagi ada yang jual akik juga,” ujar Ny. Bintang Puspayoga yang didampingi Ny. Satria Naradha, Widminarko (mantan Pemimpin Umum/Pemimpin Redaksi Tokoh), dan Ngurah Budi (Redaktur Pelaksana Tokoh) saat

berkeliling menyaksikan peserta lomba mewarnai, menggambar, fashion show, dan stand bazaar. Pengunjung Festival Keluarga

juga dapat menyaksikan demo masak yang dibawakan Chef Sarwan. Ia adalah finalis lomba masak yang diadakan salah satu televisi nasional serta pengisi rubrik “Resepne Sarwan” di tabloid Tokoh. Selain itu, pengunjung mendapat hiburan yang dipersembahkan The Glitterzs, Yudi, dan Dewa Sugama. Para pemenang lomba-lomba mendapatkan piala, piagam, hadiah tabungan, serta bingkisan dari para sponsor. “Kami mengucapkan terima kasih kepada para peserta, juri, serta mitra kerja yang sudah mendukung acara ini,” ujar Gde Palgunadi, Penanggung Jawab Festival Keluarga Tokoh 2015 yang juga Penanggung Jawab/ Pemimpin Redaksi Tokoh.

Penampilan The Glitterzs

Kru Tokoh saat berfoto bersama dengan Ny. Satria Naradha dan Perempuan Inspiratif 2015

Gede Palgunadi, Penanggung Jawab/Pemimpin Redaksi Tokoh dalam sambutannya mengatakan rangkaian HUT ke-17 Tokoh dimulai dengan kunjungan ke SLB Negeri Tabanan dan tabur bunga di Taman Pujaan Bangsa Margarana pada Selasa (3/11), Festival Keluarga pada Minggu (8/11). “Puncak acara ulang tahun pada Senin (9/11) berupa syukuran serta penganugerahan Perempuan Inspiratif Tokoh 2015. Kami mengundang para sahabat dan relasi Tokoh sebagai wujud syukur kami,” tandasnya.

Tiup lilin yang dilakukan oleh kru Tokoh

Saat perkenalan para kru Tokoh dan mereka naik ke panggung bersama para Perempuan Inspiratif Tokoh 2015, Ny. Satria

Naradha, Ny.Ambari, dan Ny. Antari Jayanegara, hujan mulai turun. Acara tiup lilin bersama pun diiringi hujan deras.


22

Sosialita

Edisi 875/ 16 - 22 November 2015

Selebriti dan Tas Branded

Behind the Story Pengaruhi Harga Selebriti dan tas branded seolah tak terpisahkan. Sebagai publik figur, begitu umumnya mereka memberi alasan, penampilan cantik dan termasuk ­aksesoris pendukungnya seperti tas branded haruslah dimiliki. Setidaknya harus memiliki satu-dua, sudah cukup, tidak harus menjadi kolektor.

“A

ku punya tas branded dua, hanya seka­ dar punya-pu­ nyaan saja ya. Kita kan sudah bek­ erja capai, boleh dong sekali-sekali memanjakan diri sendiri. Misalnya dengan membeli tas branded,” ujar Iis Dahlia, pedangdut papan atas. Tapi, tambahnya, ia bukanlah orang yang ‘maniak’ tas branded hingga mengejar-ngejar untuk membeli tas branded limited edition, misalnya, apalagi memaksakan diri hanya dengan alasan gengsi atau gaya-gayaan. “Aku nggak gitu. Nggak maksa juga, apalagi ngejarngejar. Aku beli sesuai kemampuan saja,” ujar pelantun tembang ‘Tamu Tak Diundang’, ini. Adanya kasus penipuan tas mewah seharga Rp 950 juta yang sempat menghebohkan kalangan artis dan sosialita itu, baginya bisa menjadi pelajaran bagi semua orang yang memang menyukai tas branded. Setidaknya membeli tas pada penjual terpercaya yang sudah diketahui track record nya atau kepada store langsung. Sebagaimana diketahui kasus Devita alias Ping Ping beberapa waktu lalu sempat membuat heboh. Pasalnya, harga tas yang ramai diperbincangkan itu tidak tanggung tanggung hingga Rp 950 juta. Kasus itu berawal dari Devita yang menjual tas merek tertentu kepada Margareth Vivi seharga Rp 850 juta. Beberapa bulan setelah tas tersebut terjual, Devita mena­ nyakan kepada Vivi akan membeli kembali tas itu dengan harga Rp 950 juta. Melihat peluang untuk mendapat untung, Vivi yang menjadikan tas-tas koleksinya se­ bagai investasi, dengan senang hati memenuhi permintaan Devita. Namun harapannya pu­ pus. Berharap untung malah buntung. Devita tidak melu­ nasi pembayaran. Akhirnya Vivi melaporkan kasusnya ke polisi. Walhasil, Devita pun divonis dua tahun penjara pada September lalu. Tapi adanya kasus menghebohkan ini tidak menyurutkan kegemaran para artis ber­ buru tas me­ wah. Mereka mengaku tak terpengaruh, meski kasus itu tetap menjadi pelaja­ ran untuk lebih ber­ hati-hati. Sejumlah artis dikenal se­

bagai kolektor tas di antaranya adalah Yuni Shara dan Angle Lelga. Keduanya mengaku memang hobi berbelanja tas branded namun bu­ kan untuk gaya-gayaan atau gengsigengsian. Bagi mereka selain hobi, juga melihat adanya peluang bisnis dari mengoleksi tas branded. “Tas branded itu untuk investasi jangka panjang bukan untuk gayagayaan. Smart shopping. Saya ingin apa yang saya koleksi itu punya nilai in vestasi,” ujar Angel yang memiliki koleksi tas dari harga puluhan juta sampai ratusan juta. Angle mengaku memperoleh keuntungan yang lumayan dari berinvestasi pada tas. “Nilai jualnya sangat bagus, bisa sampai Rp 1 miliar,” tambah pemeran sinetron ‘Ibnu Sabil’ ini. Karena keuntungan yang meng­ giurkan itu, ia rela merogoh kocek dalam-dalam. Salah satu koleksi miliknya adalah Hermes Hima­ layan yang dulu dibelinya dengan harga hampir Rp 900 juta. “Keis­ timewaan tas ini adalah kulitnya yang sangat halus. Kulit buaya. Ini juga limited edition. Jadi kalau bisa terjual di atas harga beli saya, ya bagus sekali. Minimal harga modal ya...ha­ hahah,” kata penyuka produk

Hermes ini. “Harganya memang mahal tapi berguna,” ujar wanita kelahiran 1985 ini. Angle Lelga sudah beberapa tahun ini berkecimpung dalam bisnis tas branded, mengaku su­ dah paham betul tentang kualitas maupun keaslian tas, khususnya Hermes yang dia suka. Bahkan sepintas melihat pun, dia sudah bisa tahu apakah tas tersebut asli atau palsu. “Kalau merek yang satu itu, aku bisa tahu meski melihat sepintas. Misalnya dari lipatannya, besinya, dll. Jadi aku menyarankan kepada yang ingin membeli tas seken, agar sebelum membeli, pinjam dulu tas tersebut kemudian bawa ke ‘spa’ tapi jangan di Indonesia. Lebih baik ‘spa’ di Singapura. Nanti akan ketahuan itu asli atau palsu. Kalau asli, Anda bisa langsung membeli. Soalnya sekarang ini ada banyak tas dan itu bikin orang bingung. Bahkan surat (tanda keaslian tas) pun bisa dipalsukan,” tuturnya. TAS SECOND HARGA SELANGIT Menurut Angel, koleksinya banyak diburu meski second alias sudah beberapa kali dipakainya, pun harga tetap tinggi. Itu sebab­ nya, katanya, dia sangat menyukai berinvetasi di bidang ini. “Malah ada tas saya yang sudah saya pakai selama 5 tahun bisa dibeli dengan harga tinggi,” kata Angel. Hal senada juga diakui oleh Yuni Shara, penyanyi lagu lawas papan atas. Kakak kandung Krisdayanti ini mengaku memiliki koleksi tas kar­ ena memang dia adalah penyuka tas. Dalam perjalanannya, ternyata koleksi tasnya itu menjadi investasi yang menarik karena keuntungan­ nya menjanjikan. “Awalnya hanya hobi biasa. Sejak dulu saya suka tas. Saya dan Yanti (Krisdayanti), dulu, kalau beli tas ya beli saja, bukan karena mer­ ek-nya atau apa. Dulu kita tidak ngerti merek-merek. Kami beli tas karena suka modelnya. Kebetulan juga kemampuan ada, ya beli saja. Tapi dalam perkembanngannya ternyata tas branded bagus juga buat investasi. Tas branded, apalagi yang sekarang lagi nget­ ren di masyarakat, meski second dan seri-nya sudah lama, tapi bisa dijual lagi dengan harga tinggi,” kata pelantun tem­ bang ‘Men­ gapa Tiada Maaf’, ini. Tapi kata Yuni, meski dia hobi berburu tas, bukan berarti dia memaksakan diri. Tetap saja, katanya, kemam­ puan ‘kantong’ tetap menjadi pertimbangannya. “Saya sih tidak mau maksa, jadi mem­ beli sesuai kemampuan saja. Jangan sampai besar pasak dari pada tiang,” ucap wanita bertubuh mungil ini. Menurut Sonny Muchlison,

pengamat mode dan gaya hidup, bisnis tas branded berbeda dari bisnis-bisnis lain. Si penjual harus memiliki komunitas tersendiri. “Bisnis ini berbeda. Harus punya komunitas tersendiri, komu­ nitas itu harus satu level. Jadi harus tahu ‘ngadepnya’ ke mana, bertemu dengan siapa. Karena kalau ‘ngadep’-nya salah, ber­ temu orang yang salah, ya bisa nggak kejual dong produknya. Jadi, misalnya, ketika saya menjual, saya sudah tahu kepada siapa produk ini ditujukan. Itu yang penting,” kata Sonny. Daya beli para ‘pem­ buru tas’ ini, tidak perlu diragukan. Bahkan seka­ lipun situasi ekonomi sedang melemah seperti sekarang ini pun, tidak masalah bagi mereka. Jadi boleh dibilang mer­ eka tidak mengenal krisis ekonomi. Tapi tentu saja, jumlah mereka tidak lah banyak. “Bisa dihitung jari,” katanya. Menurutnya ada ber­ bagai sebab kenapa harga tas brand ter­ tentu bisa menjadi semakin mahal. Salah satu sebabnya ada­ lah adanya ‘kisah di balik tas tersebut’ atau behind the story. Misalnya saja tas Hermes Hi­ malayan yang sempat menghe­ bohkan karena kasus penipuan beberapa waktu lalu. Tas yang menjadi favorit bintang Hol­ lywood itu, terbuat dari kulit buaya asal Afrika. Konon,

pembuatannya sangat rumit dan penuh ketelitian untuk menghasil­ kan warna yang terang. Tak heran kalau tas tersebut selain berharga mahal, dan menjadi paling diburu saat ini. “Behind the story adalah pent­ ing. Misalnya saja kulit buaya itu sulit didapat, proses pembuatan­ nya juga sulit. Behind the story kedua adalah, siapa yang memakai tas itu pertama kali. Jadi halhal semacam itu lah yang membuat tas berharga mahal,” jelas­ nya. -Diana Runtu

Edisi 875/ 16 - 22 November 2015

3

Perempuan Inspiratif Tokoh 2015 Pada HUT ke-17, Tokoh yang mengusung tema “Inspirasi Cinta 17 Tahun Tokoh” memberi penghargaan kepada lima perempuan yang dinilai mampu menjadi inspirasi bagi perempuan khususnya dan masyarakat umumnya. Kiprah mereka ada di berbagai bidang. Apa yang mereka lakukan didasarkan atas cinta. Inilah profil para Perempuan Inspiratif Tokoh 2015.

Dr. A.A. Ngr. Tini Rusmini Gorda, S.H.,M.M.,M.H. Sosoknya dikenal sebagai perempuan bukan hanya gesit dan energik tapi juga langkah sigap disamping kemampuan leadership yang mumpuni. Saat ini ia menjadi penggerak utama beberapa organisasi besar di Bali, seperti menjadi Ketua BKOW Bali, periode kedua kalinya, Ket­ ua Iwapi Bali, Ketua Perwatusi, Ketua Perdiknas hingga Ketua Koperasi Perempuan Ramah Keluarga (KPRK). Putri tokoh pendidikan Bali Prof.Dr. IGN Gorda ini,sangat loyal pada perannya dalam me­ nyelamatkan dan mengembang­ kan identitas, idealisme dan integritas karakter bangsa. Baik melalui dunia pendidikan formal, sebagai seorang dosen di FH Undiknas , maupun dalam berbagai bentuk kegiatan lainnya yang banyak menggerakkan generasi muda. Karenanya, ibu dari AA Bagus Ngurah Agung Surya Putra dan AA Ayu Agung Candra Dewi ini termasuk salah satu perempuan tangguh yang siap mencetak generasi unggul Bepegang pada motto hidupnya kerja cerdas, kerja ikhlas dan kerja tuntas pada semua kiprah dan karyanya ini, melalui organ­ isasi BKOW Bali , Tini Gorda yang berhasil meraih gelar doktor dengan predikat sangat memuaskan di Universitas Brawijaya ini berhasil membidani banyak hal, mulai dari menerbitkan buku hingga lahirnya KPRK . Begitu juga melalui Iwapi Bali , bersama penguirus lainnya ia menghadirkan Klinik Konsultasi Bisnis Iwapi yang berhasil membimbing para calon entrepreneur muda. Dengan prestasinya di berbagai bidang, istri dari AA Bagus Ngurah Agung ini, hampir setiap minggu diminta sebagai nara­ sumber di berbagai kesemptan. Namun, dibalik semua karyanya tersebut, Tini Gorda memiliki keinginan yang sederhana, yakni menjadi teladan bagi buah hatinya serta kebanggaan bisa menjadi terbaik dari sekian banyak perempuan terbaik di Bali.

dr. I.A.Ratih Wulansari Manuaba, Sp.PD-KR, M.Kes Lulus sebagai dokter di Fakultas Kedok­ teran Universitas Udayana, dengan Indeks Prestasi Tertinggi, perempuan kelahiran Surabaya, 21 April 1970, memulai kariernya di Puskesmas Tabanan II. Setelah melanjutkan pendidikannya ke spesialis penyakit dalam, ia memutuskan mengabdi di RS Manuaba, rumah sakit yang didirikan ayahnya, Prof. Ida Bagus Manuaba, Sp.OG. Istri dr. Ida Bagus Tatwa Yatindra, Sp.U. ini memiliki banyak prestasi. Juara II Peneliti Muda dalam rangka Kongres Perhimpunan Ahli Penyakit Dalam (KOPAPDI) 2003. Peme­ nang Pembicara Makalah Bebas Oral (Kasus) dengan Judul: “Osteonekrosis Kaput Femur Pada Seorang Pasien Lupus Eritematosus Sistemik dan Korelasi antara Autoantibodi” dan “IL-18 dengan Diseases Activity Score 28 dan Kerusakan Sendi Radiografi Manus Pasien Artritis Rheumatoid”. Ia juga menyabet prestasi pemenang Grand Peneliti Muda: “Korelasi Reumatoid Faktor, AntiCCP dengan DAS 28 dan Kerusakan Sendi”.

Di sela kesibukannya, ia masih sempat menulis dalam buku Temu Ilmiah Reumatologi. Saat ini juga, ia dipercaya menjadi dosen tamu di STIKES Bali, STIKES Bina Husada, dan Undiknas University. Perempuan yang mengikuti Workshop USG Guided with Cadaveric for Pain Intervention di Singapura ini, rutin menjadi pembicara seminar kesehatan tidak saja di Bali tapi juga tingkat nasional. Beberapa organisasi diikuti, diantaranya, Sekretaris Umum Perkumpulan Warga Tulang Sehat Indonesia (Per­ watusi) sejak 2012, Pengurus Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Denpasar Sie. Pengabdian Profesi sejak 2013, Ang­ gota IDI Bali, Anggota Asia Pasific League of Rheumatology (APLAR), Perhimpunan Reumatologi Indonesia (IRA), Ikatan Kedokteran Laser Indonesia (IKLASI), Yayasan Hita Karana Lupus Bali, Perhimpunan Masyarakat Peduli Reumatik Indonesia (PERMARI), dan Perhimpunan Ahli Penyakit Dalam (PAPDI) cabang Bali. Dalam keseharian dan kesukaannya mengikuti perkembangan IT di media sosial, ia rutin ia mengampanyekan prilaku hidup sehat dan betapa pentingnya menjaga kesehatan tulang.

Dra. Anak Agung Ayu Ketut Agung, M.M. Sudah lebih dari 30 tahun, perempuan ini berkecimpung di dunia tata rias. Komitmennya untuk terus melestarikan dan meng-ajegkan budaya Bali lewat tata rias dan busana adat Bali, tak pernah berhenti. Lewat Lembaga Kursus dan Pelatihan (LKP) Agung, yang ia dirikan, perempuan kelahiran 30 Oktober 1959 ini membagi ilmunya kepada masyarakat luas. “Segalanya butuh uang, tapi uang bukan segalanya,” ujar Dra. Anak Agung Ayu Ketut Agung, M.M. Karena itu, dengan konsep “ngayah” ia pun bekerjasama dengan berbagai pihak, baik negeri, swasta, komunitas, dan kel­ ompok media untuk menyosialisasikan tata rias dan busana adat Bali, hingga ke pelosok desa. Materi yang diajarkan dalam pelatihan singkat

Helga Riftiana, S.E. Ibu dua putra ini melakoni empat aktivitas yang berbeda. Ia seorang ibu rumah tangga, penulis novel, model, dan at­ let tembak. Semua dilakoni perempuan bernama lengkap Helga Riftiana, S.E. ini karena ia mencintai semuanya. Ia juga mengaku tak kesulitan mengatur jadwal karena keluarga memberi dukungan, terutama sang suami, Made Ngurah Bagus Sakapute­ ra, S.E., M.M. dan dua buah hatinya Gede Ngurah Arkana Putera Saka dan Made Ngurah Arkananta Putera Saka. Di luar urusan rumah tangga, Helga seorang novelis yang sudah menghasilkan enam karya, “Gara-gara Irana jadi Arini”, “Menemukanmu”, “Kepingan Cinta Lalu”, “Melepaskanmu”, “First Love”, dan “Dibawah Langit yang Sama”. Perempuan kelahiran Situbondo, 28 Maret 1981 ini terbiasa menulis di malam hari setelah anak-anaknya tidur. Malam hari, inspirasi yang ia dapatkan untuk menulis bisa lebih banyak. Alumnus SMAN 1 Denpasar dan FE Universitas Udayana ini menuturkan dirinya bisa menulis karena senang menulis dan membaca. Saat SMA, ia sering menulis buku harian. Curahan hati tentang apa yang dialami atau apa yang dilihat selalu dituangkan dalam diary. Mama dan teman sekelas pun paham kebiasaan Helga menulis buku harian. Mereka jadi ingin tahu apa yang Helga tulis. “Saya sering menulis dengan huruf terbalik agar orang lain tidak bisa baca,” ujarnya sembari tertawa. Prestasinya di dunia modeling juga lumayan. Tahun 2012 ia menjadi juara 1 peraga busana endek di Pesta Kesenian Bali. Fashion show di berbagai acara nasional dan internasional per­ nah dilakoninya. Satu hal yang bertolak belakang dengan dunia model yang feminin adalah hobi menembak yang ditekuninya yang cenderung maskulin. Tetapi, prestasinya tidak bisa diremehkan. Pada Porprov Bali 2015 lalu ia meraih 3 medali perak (perorangan 10 m air rifle match woman, tim 50 m prone woman, dan tim 50 m 3 pos woman).

“tanpa dipungut biaya” ini mencakup, tata rias untuk diri sendiri, membuat dan memasang sanggul Bali (tengkuluk lelunakan), dan etika berbusana adat Bali yang baik dan benar. Di tengah perkembangan zaman yang diikuti dengan perkembangan mode ini, ada kekha­ watirannya bahwa tata rias dan busana adat Bali yang sesuai dengan pakemnya, juga akan turut tergerus. Seringkali ia “mengelus dada” melihat pemakaian tata rias dan busana adat Bali dalam upacara-upacara sakral khususnya, sedikit keluar dari pakem yang sesungguhnya sarat akan simbol dan makna. “Modifikasi boleh saja, tapi jangan kebablasan,” ujarnya dalam berbagai kesempatan.

Bintang Mira Afriningrum Ia adalah seorang desainer papan atas Bali. Ia makin dike­ nal ketika mengangkat dan memperkenalkan kembali batik Bali sebagai salah satu alternatif kain etnik tradisional di industri fashion tanah air. Perempuan kelahiran 26 Maret 1971 ini mengeksplor keindahan batik Bali dengan menghadirkan mo­ tif-motif ikonik Bali, seperti po­ leng, barong, patra, dan ilustrasi seni tari Bali di atas lembaran kain katun. Tidak hanya batik yang dita­ warkan, ia juga mengkreasikan­ nya ke dalam beragam bentuk barang siap pakai, seperti busana, tas, sepatu, kipas, dan akse­ soris fashion lainnya. Melalui brand “Balibatiku” yang dirintisnya sejak 2012 silam, Bintang Mira menjadikan Batik Bali berkibar bukan hanya di kancah nasional tapi juga internasional. Bahkan partisipasinya berbagai ajang fashion show termasuk di Indonesian Fashion Week selalu sukses untuk memperkenalkan batik Bali baik melalui pagelaran busana maupun pamerannya. Istri Pande Putu Gede Wiratama ini memberdayakan masyarakat di Desa Sidan menjadi pembatik sekaligus pengusaha batik. Ia juga menjadi motivator di SMA 1 Gianyar dan dengan sukarela mentransfer ilmu dan pengalamannya tentang batik dan fashion industri yang dimilikinya melalui organisasi sosial non proft bernama Akademi Berbagi. Karier desain ibu dari Pande Putu Rangga Raditya, Pande Kadek Anggara Wedhaswara, dan Pande Nyoman Bintang Paramitha ini mulai di ajang Hongkong Fashion Week tahun 2006 silam. Dengan batik Bali , Bintang Mira ingin berbuat untuk masyarakat Bali dan Gianyar khususnya, baik untuk pengem­ bangan UKM maupun Pariwisata di Gianyar. Selain itu, ia juga menggantungkan mimpinya suatu saat kelak Desan Sidan , tempat tinggalnya kini bisa menjadi Kampung Batik.


4

Inspirasi

Edisi 875/ 16 - 22 November 2015

Dewa Sugama

Lagu Ibarat Mesin Waktu Popularitas Dewa Sugama sebagai penyanyi solo yang kerap bermain dengan gitar akustik merupakan buah dari usaha kerasnya. Ia tak mencapainya dengan mudah. Dulu ia kerap dibully karena suara seraknya. Bagaimana musisi yang juga dosen Fakultas Hukum Universitas Udayana ini menjalani aktivitasnya?

“S

ejak SD kelas 3 saya sudah belajar main gitar. Waktu itu ada paman saya, guru matematika yang ngajar les untuk kakak. Saat ngajar, dia bawa gitar. Disela-sela waktunya, ia main gitar. Saya pun tertarik dan ikut belajar,” ungkap pria kelahiran 12 Maret 1988 ini. Walaupun mahir bermain gitar ternyata Dewa Sugama tidak hapal

kunci. Ia mengaku bermain gitar menggunakan feeling. Baginya yang penting adalah suara yang dihasilkan merdu dan enak didengar. Saat SMP, ia punya band. Posisinya sebagai gitaris. Hobi bermusiknya berlanjut ketika menempuh pendidikan di SMAN 7 Denpasar. Band ini beraliran rock. Bermain musik dan bernyanyi ternyata menjadi pelampiasan beban Dewa Sugama. Putra pasangan I Dewa Nyoman Sekar,S.H., M.M.,M.Hum dan I Gusti Ayu Sumiathie ini punya pengalaman buruk mengenai suaranya. “Dari kecil saya diejek karena suara saya serak. Saya di-bully gara-gara suara. Waktu SMA saya sampai berjalan memutar untuk menghindari orang yang suka mengejek saya. Ternyata setelah sekian lama berlalu, sekarang jawabannya. Suara serak saya menjadi berkah untuk bernyanyi,” kenangnya dengan mata berkaca-kaca. Ia juga menuturkan pengalamannya terjun sebagai penyanyi. Awalnya Dewa Sugama diminta menjadi model untuk video klip lagu Bali. Setelah selesai produksi, ia diajak ke studio Sugeng Production oleh Putu Sutama untuk melihat video. Sambil menunggu, suami Gusti Ayu Wulandari dan ayah I Dewa Ayu Alindya Nada Sugama ini memainkan gitar sambil bernyanyi. “Pak Sutama nanya itu lagu siapa. Saya bilang lagu sendiri. Lalu disarankan untuk membuat rekaman akustik. Saya mau saja. Selain rekaman dalam bentuk CD,saya lampirkan Dewa Sugama biodata singkat. Selanjutnya saat tampil di Festival Keluarga Tokoh 2015 bawa ke radio Phoenix

FM dan beberapa radio yang ada di Denpasar. Ini adalah lagu pertama saya yang berjudul “Saat Kau Mendua” tahun 2010,” ujarnya. Sejak saat itu, Dewa Sugama merilis satu lagu tiap tahunnya, “Buatmu Bahagia” (2011), “Mencari Kekasih” (2012), “Kita untuk Mereka” (2013), “Senyuman Terakhir” (2014), dan “Takkan Ada Kata Berpisah” (2016). Semua lagu ini lahir dari inspirasi yang ia dapatkan dari mana-mana. Baginya lagu itu punya kekuatan misterius seperti mesin waktu karena

Dewa Sugama bisa membuat penikmatnya ke masa dimana lagu itu diciptakan. Tahun 2015 ia jeda sesaat karena fokus untuk menempuh pendidikan S3 Ilmu Hukum di Universitas Udayana. “Saya bukan orang pintar tetapi saya mau belajar. Banyak hal yang belum saya tahu makanya saya belajar. Karena

itulah saya ingin berbagai dengan mahasiswa tentang pentingnya bakat selain di bidang akademis. Menjadi dosen merupakan salah satu cara saya untuk berkomunikasi dengan mahasiswa agar mereka menjadi dirinya sendiri,” ujar Dewa Sugama yang menjadi dosen mulai tahun 2015 ini.

Dikira Artis Jakarta Pilihannya menekuni bidang akademik sebagai dosen dan bidang nonakademik sebagai musisi menurutnya suatu perpaduan unik. Ada kesamaan keduanya, yakni sama-sama berhadapan dengan audiens. Dosen berhadapan dengan mahasiswa, musisi berhadapan dengan penonton dan fans. Dewa Sugama pun melakoni keduanya dengan baik. Tetapi, dulu ia sempat ditentang oleh ayahnya untuk menekuni musik. Ini bermula dari kenekatan Dewa Sugama pergi ke Jakarta untuk mengadu nasib di bidang musik. Ia tinggal di rumah Yosef Manurung, seorang music engineering. “Saya kenal Pak Yosef karena lagu “Saat Kau Mendua” menjadi lagu indie yang paling banyak di-request di Phoenix. Di Jakarta saya banyak bertemu musisi dan mendapat banyak pengalaman. Saya pun makin mantap untuk memilih jalur solo karena untuk format band sangat sulit mencarinya,” kenang musisi yang hobi naik Vespa ini. Yosef adalah orang yang mengorbitkan Wali dan Nidji. Sekarang ia menjadi sound engineering Noah. Sebagai penyanyi yang punya idealisme dalam bermusik, Dewa Sugama sempat dianggap sebelah mata. Dalam sebuah kompetisi, ia tampil sebagai solois indie Bali dengan lagu berbahasa Indonesia. Ia pun tetap menggunakan nama Dewa Sugama untuk mencirikan dirinya adalah orang Bali. “Ada yang mengira saya artis Jakarta karena lagu yang saya bawakan berbahasa Indonesia. Pilihan saya untuk jalur indie juga dianggap sebelah mata. Tetapi, setelah mendengarkan lagu saya, orang-orang mulai mencari tahu siapa Dewa Sugama,” ujar penyanyi yang memilih promo di media sosial ini

dan tampil di acara-acara nonreguler ini. Dulu, sebelum terkenal, Dewa Sugama sering menonton konser musik, diantara konser Vierra dan Glen Freddly. Ia pun memimpikan dirinya suatu saat bisa berada di atas panggung dan penonton ikut bernyanyi. Ternyata semua itu menjadi kenyataan. Ia mengalami de javu. Dalam sebuah acara, para penonton bisa mengikuti lagu Dewa Sugama. Ayahnya yang sempat menentang keinginan Dewa Sugama untuk menjadi musisi akhirnya bisa menerima pilihan anaknya. Apalagi ketika tahu lagu Dewa Sugama banyak di-request. Dewa Sugama pun banyak belajar dari ayah dan ibunya tentang kerja keras dan kesederhanaan. “Saya bukan selebritis. Saya musisi dan akademisi yang mencintai profesi. Fans dan popularitas adalah bonus dari kerja keras saya,” tegasnya. Disela-sela kesibukannya mengajar dan bermusik, ia juga menyempatkan diri mengurus kos-kosan dan hotel. Kehadiran buah hati juga membuatnya makin bersemangat menjalani hidup ini. Kepada generasi muda, ia berharap mereka mau menekuni apa yang menjadi bakatnya tanpa mengesampingkan pendidikan akademik. Pesan yang ia sampaikan, lebih baik dihina karena jadi diri sendiri daripada dipuja karena jadi orang lain. Semua ini ia dapatkan dalam perjalanan hidupnya. Ketika ia memilih menjadi kuliah sambil musisi, ada teman yang mencibir, mau jadi apa kamu. Kini Dewa Sugama sudah membuktikan, ia bisa menyelesaikan pendidikan hingga S2 dan tengah menempuh pendidikan S3 dan kegiatan bermusiknya tetap berjalan. –Ngurah Budi

Mandalika

Edisi 875/ 16 - 22 November 2015

NTB Raih “National Procurement Award”

Atas keberhasilannya melaksanakan peran LPSE Provinsi dalam mengawal proses pengadaan barang dan jasa pemerintah secara efektif dan efisien, Layanan Pengadaan Secara Elektronik (LPSE) Provinsi Nusa Tenggara Barat, mendapatkan penghargaan nasional berupa “National Procurement Award” tahun 2015. Penghargaan tersebut diserahkan langsung Kepala LKPP Dr. Agus Raharjo, M.Eg., didampingi Deputi Monev Pengembangan Sistem Informasi Sarah Sadiqa, SH.M.Sc., di Balai Sudirman Jakarta, beberapa waktu lalu kepada Provinsi Nusa Tenggara Barat. NTB mendapatkan penghargaan ini bersama delapan provinsi lainnya, yaitu Sumatera Barat, Aceh, Bangka Belitung, Jawa Barat, Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan, Sulawesi Tengah dan Papua.

A

da empat kategori Nominasi National Procurement Award yang diserahkan pemerintah melalui Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang dan Jasa Pemerintah (LPSE) Republik Indonesia tahun ini yaitu, Kepemimpinan Kepala Daerah dalam Transformasi Pengadaan secara Elektronik, Konsistensi menerapkan Inpres Nomor 7 Tahun 2015 terkait transparansi

dan akuntabilitas pengadaan, Peran LPSE Provinsi dan Inovasi LPSE. “LPSE Provinsi NTB berhasil meraih sebagai terbaik nasional dalam kategori pelaksanaan Peran LPSE di Provinsi NTB,” ungkap Kepala Bagian PDE pada Biro Umum Setda NTB I GP. Aryadi, S.Sos, MH. Menurut GP Aryadi, penghargaan ini diraih karena pengelolaan LPSE pada lingkup Pemerintah Provinsi NTB dinilai baik oleh Pe-

Kepala LKPP RI, Dr Ir agus Raharjo M.Eng (kanan) saat menyerahkan penghargaan National Procurement Award tahun 2015 kepada Pemprov NTB

merintah Pusat dengan lima indikator fungsi dan peran LPSE NTB, seperti fasilitasi ULP dalam proses pemanfaatan Sistem Pengadaan Secara Elektronik (SPSE), kesiapan sistem lelang elektronik secara handal, edukasi dan pelayanan masyarakat untuk bisa menggerakkan sistem, melayani verifikasi para penyedia jasa secara ontime, serta pelayanan prima pada mitra pengadaan berjalan strategis dan dinilai selama ini telah berjalan dengan baik. “Karena kelima hal tersebut yang telah dijalankan menyebabkan minimnya keluhan dari para penyedia jasa. Ini menjadi salah satu parameter NTB dapat mengungguli daerah lainnya di Indonesia,” ujarnya. LPSE Provinsi mengemban peran yang sangat penting dalam mengawal proses pengadaan barang dan jasa pemerintah secara efektif dan efisien, untuk men-

jamin Pengelolaan Sistem Pengadaan Secara Elektronik (SPSE) beserta infrastruktur pendukungnya secara handal. Selain itu, lanjut GP Aryadi, LPSE juga melayani registrasi dan verifikasi pengguna SPSE, menfasilitasi Pengguna Anggaran/Kuasa pengguna Anggaran, mengumumkan Rencana Umum Pengadaan (RUP), memasilitasi Panitia Pengadaan (ULP) dalam mengumumkan pelaksanaan pengadaan dan pemilihan penyedia barang/jasa secara elektronik serta pelayanan pelatihan dan dukungan teknis operasional kepada seluruh masyarakat agar dapat mengakses dan memanfaatkan LPSE dengan sebaik-baiknya. Keunggulan NTB sehingga dapat meraih anugerah ini lebih kepada kesiapan pelayanan terkait bantuan petugas (PNS) yang siap melayani upload dokumen lelang secara gratis juga kesiapan petu-

Layanan 24 Jam Dalam dua tahun terakhir, LPSE NTB terus berupaya meningkatkan layanan kepada masyarakat, khususnya dalam pemanfaatan teknologi informasi. “Kami menyediakan layanan 24 jam untuk masyarakat pengguna

Sistem Pengadaan Secara Elektronik (SPSE), khususnya bila penyedia atau masyarakat mengalami kendala terhadap LPSE,” ungkapnya. Sistem Pengadaan Secara Elektronik (SPSE) yang telah dikembangkan ini, lanjutnya,

21

dirasa mampu mengefensiensi keuangan negara mencapai miliaran rupiah. Progres lelang e-procurement sampai dengan bulan Oktober 2015, melalui LPSE NTB sebanyak 382 paket, terdiri dari 89 paket kegiatan APBN senilai Rp 101, 62 Milyar lebih dan 293 paket dari APBD Provinsi NTB senilai Rp 754,11 Milyar lebih. Paket lelang APBN yang sudah selesai dari 89 tersebut adalah 83 paket sehingga masih terdapat 6 paket lelang APBN yang masih dalam proses, dengan nilai efisiensi sekitar Rp 5,23 Milyar lebih atau 5,61 persen dari HPS. Sedangkan paket lelang APBD Provinsi NTB yang telah selesai sampai akhir Oktober 2015 sebanyak 275 paket dengan nilai penawaran sebesar Rp. 688, 170 Milyar lebih dan terdapat efisiensi sekitar 55,006 Milyar lebih atau 7,40 persen dari HPS. Dan, jika ada keluhan dapat

disampaikan melalui e-mail, SMS atau datang langsung ke kantor LPSE di lantai III kantor gubernur, karena setiap hari ada petugas yang piket di kantor yang siap melayani masyarakat ini. Juga ketika mengalami kendala dalam meng-upload dokumen, LPSE NTB juga menyediakan ruang dan akses internet yang memadai, tanpa biaya. Penghargaan ini diterima setelah sebelumnya, tahun lalu, Provinsi NTB juga telah meraih Regional E- Procurement. -Naniek I. Taufan

I GP Aryadi

gas piket yang standby selama 24 jam untuk menerima konsultasi para pengguna jasa ULP manakala ada keluhan dan gangguan. -Naniek I. Taufan


20

Nine

Edisi 875/ 16 - 22 November 2015

Menabung Sampah, Nilainya Uang

Membawa sekeranjang sampah plastik, Kiptiah, salah seorang ibu rumah tangga yang tinggal di Lingkungan Banjar Selaparang Ampenan Kota Mataram, menuju Bank Sampah NTB Mandiri (BSNTBM), yang tidak jauh dari rumahnya. Saat ditanya akan kemana ia pagi itu membawa sekeranjang sampah, Kiptiah menjawab hendak menabung sampah miliknya. Menabung biasanya identik dengan uang dan banknya menyimpan uang tersebut. Namun Kiptiah tidak datang untuk menabung uang melainkan menabung sampah. Uniknya, sampah yang ditabung, tapi nilai uang yang dicatat dalam buku rekeningnya.

P

erempuan berusia lebih dari setengah abad ini tidak sendiri saat mengantar sampah ke bank sampah tersebut, melainkan banyak pula ibu-ibu rumah tangga lainnya dan para gadis yang secara rutin

Foto-foto: koleksi aisyah odist

menabung sampah di sini. Mereka adalah para nasabah Bank Sampah NTB Mandiri. Secara rutin para ibu rumah tangga ini datang membawa dan menyetorkan sampah plastik lunak untuk ditabung di sini. Saat tiba di bank sampah, sampah-sampah mereka

ditimbang, dihitung lalu dicatat dalam buku rekening tabungan masing-masing oleh petugas di bank tersebut. Inilah salah satu aktivitas ibu rumah tangga di lingkungan ini beberapa tahun terakhir. Meski awalnya sulit untuk membuat bank sampah ini berjalan baik seperti hari ini, Aisyah Odist sang perintis Bank Sampah NTB Mandiri ini mengaku lega karena telah muncul kesadaran setidaknya dari para ibu rumah tangga yang tinggal di sekitar bank sampah untuk memanfaatkan sampah menjadi barang yang berguna bagi kehidupan manusia. “Sampah tidak lagi dilihat sebagai barang yang dapat merusak lingkungan melainkan dapat dimanfaatkan secara maksimal dan bernilai ekonomi, baik bagi pengelolaannya maupun bagi penabung sampah,” ungkapnya. Bagi ibu rumah tangga, aktivitas menabung sampah sesungguhnya adalah pekerjaan yang

Foto-foto: koleksi aisyah odist

mudah dilakukan karena dapat kerjakan sembari mengurus rumah tangga. Tidak butuh waktu khusus untuk mengumpulkan sampah plastik lunak misalnya, melainkan bisa didapat dari sisasisa bungkusan minuman instan seperti kopi dan minuman lainnya. Juga plastik-plastik bekas deterjen, botol minuman, bekas pengharum pakaian atau lainnya yang merupakan jenis plastik lunak. Karena semuanya bisa dimanfaatkan untuk membuat kerajinan tangan. Sampah plastik ini bisa disetor dalam bentuk aslinya. Namun bisa juga disetor dalam bentuk lipatan, digunting melebar sesuai kebutuhan kerajinan atau sesuai kebutuhan lainnya. Dengan begitu harganya bisa lebih tinggi.

Kegitan melipat, mengunting dan sebagainya ini tidak harus dilakukan di bank sampah, melainkan dilakukan oleh para ibu rumah tangga ini di rumah masing-masing sembari menonton televisi ataupun di sela-sela kegiatan mengurus rumah tangga. “Biasanya saya melipat plastik sesuai kebutuhan di bank sampah sambil menonton televisi,” kata Indrawati yang hari itu datang menyetor sampah yang sudah dilipat rapi. Lipatan plastiknya itu dihargai Rp 5.000/100 biji. Jika digunting biasa, harganya Rp 2000/100 biji. Demikian pula dengan Dewi yang juga rajin menabung sampah di bank ini. Ia datang menabung hasil lipatannya yang lumayan banyak dan mencatatnya dalam buku tabungannya. –Naniek I. Taufan

Pilah Sampah untuk Dijadikan Anyaman Di sudut lain bank sampah ini, Kiptiah sibuk dengan sampah plastiknya yang digunting melebar sebelum dilipat. Ia memilah jenis dan motif sampah plastik yang serupa agar sama. Beberapa saat kemudian bank sampah ini menjadi semakin ramai oleh para ibu rumah tangga dan gadis-gadis yang datang menyetor hasil anyaman sampah plastiknya. Ada pula yang datang mengambil sampah plastik yang sudah dilipat untuk dianyam di rumah masing-masing. “Mereka membawa pulang bahan sampah plastik yang sudah dilipat untuk dianyam di rumah masing-masing,” kata Aisyah yang mengelola bank sampah ini dengan sistem konvensional berbasis rumah tangga. Setelah jadi, mereka mengembalikan anyamananyaman sederhana yang sangat mudah dikerjakan itu, menyetor pekerjaannya untuk kemudian dicatat dalam buku tabungannya yang dinilaikan dengan sejumlah uang, tergantung berapa banyak yang mereka setorkan dari pekerjaan tersebut. Selain itu, kegiatan para ibu rumah tangga di lingkungan ini, terutama bagi mereka yang ingin meningkatkan jumlah tabungannya, belajar gratis untuk menganyam dan menjahit kerajinan yang pelatihannya di-

lakukan rutin seminggu sekali. Mata rantai kegiatan pembuatan kerajinan dari sampah yang merupakan bagian dari kegiatan bank sampah ini telah membuka lapangan kerja khususnya bagi para ibu rumah tangga di lingkungan ini. Sesunguhnya, jika seluruh proses dalam pengerjaan kerajinan dari sampah plastik ini dikerjakan sendiri oleh bank sampah, modal yang keluar hanya sekitar Rp 2.000 untuk menghasilkan satu dompet seharga Rp 25.000an. Namun bank sampah ini sengaja melibatkan masyarakat, khususnya ibu rumah tangga di sekitar untuk ikut ambil bagian dalam usaha setidaknya untuk melestarikan lingkungan agar terbebas dari sampah plastik dengan membeli sampah mereka dan juga proses yang dikerjakan oleh mereka juga seperti, menggunting, melipat, menganyam dan lainnya sehingga mereka mendapatkan manfaat ekonominya. Inilah yang membuat modal fisiknya saja dari kerajinan ini yang dapat dibagi kepada masyarakat menjadi sekitar Rp 12.500-an. Belum lagi finishing dan proses lainnya. Berbagai produk bercita rasa seni dihasilkan dari sampahsampah plastik lunak ini, mulai dari berbagai jenis tas, dompet,

Foto-foto: koleksi aisyah odist

Hasil kerajinan dari sampah plastik yang ditabung ibu rumah tangga di lingkungan Banjar Selaparang Ampenan

tikar, tempat tisu dan lainnya. Setiap datang menyetor sampah maupun hasil pekerjaannya, para ibu rumah tangga ini selalu menyempatkan diri memeriksa nilai tabungan mereka. Jika mereka rajin menabung sampah ataupun mengerjakan bagian-bagian pekerjaan dari kerajinan sampah ini, mereka bisa mendapat lebih banyak. Bahkan pernah ada yang membawa sampah plastik ini hingga 30 kg. “Itu berarti mereka bisa menabung sekitar rata-rata (tergantung hasil apakah dilipat, digunting saja), setidaknya Rp 150.000,” ujar Aisyah. Bagi mereka yang membutuhkan uang Rp 5.000 saja uang tersebut sangat bernilai apalagi pekerjaan

mengumpulkan sampah ini bisa dikatakan tidak membutuhkan tenaga dan waktu khusus. Tabungan yang dikumpulkan para ibu rumah tangga ini dapat diambil sewaktu-waktu. “Bisa diambil langsung atau bisa ditabung. Atau bisa juga diambil nanti kalau sudah banyak,” kata Dewi. Selain itu bagi nasabah aktif sekurang-kurangnya tiga bulan yang membutuhkan pinjaman uang dapat meminjam pada bank ini sesuai dengan criteria, misalnya untuk modal usaha. Untuk mengaktifkan kegiatan bank sampah ini, butuh waktu yang tidak sebentar karena ini berkaitan langsung dengan pola pikir dalam menyikapi sampah

yang selama ini dianggap tidak berguna. Mengurus sampah seperti ini, apalagi menarik minat orang mau melakukannya, menurut Aisyah tidaklah cukup hanya dengan diteorikan saja. Melainkan harus dikerjakan terlebih dahulu dan orang melihat hasilnya dan dibuktikan bisa barulah tumbuh minat untuk ikut serta seperti yang kini dilakukan para ibu rumah tangga ini. Resicle semacam ini adalah jalan terakhir yang diambil dalam mengelola sampah, bukan masalah jual beli sampahnya. Seharusnya yang mestinya dilakukan adalah menyelesaikan masalah sampah ini mulai dari sumbernya. “Namun karena hal tersebut masih sangat sulit dilakukan mengingat kurang kesadaran dalam menyikapi sampah secara bijak, maka resicle menjadi jalan terakhir yang bisa diambil saat ini,” kata Aisyah yang berkeliling mengkampanyekan pengelolaan sampah secara bijak setidaknya dengan memanfaatkan sampah plastik menjadi berguna bagi kehidupan manusia. Bank sampah menerima siapa saja untuk menjadi nasabahnya, tidak terbatas hanya untuk mereka yang tinggal di sekitar bank tersebut. -Naniek I. Taufan

Inspirasi

Edisi 875/ 16 - 22 November 2015

Melatih Mental Anak

Saat Festival Keluarga Tokoh 2015, yang sibuk bukan hanya peserta. Para pendamping juga ikut sibuk untuk mengurus perlengkapan yang dibawa peserta. Semua saling bekerja sama untuk meraih prestasi. Bagi mereka, yang penting sudah berupaya maksimal. Kalau menang syukur, kalau kalah tidak apa. “Saya mengantarkan anak ikut lomba untuk melatih mentalnya. Biar dia tahu suasana lomba dan bagaimana rasanya berada di lingkungan yang banyak orang,” ujar seorang peserta dari Pejaten, Tabanan. Baginya, ajang lomba sangat bagus untuk anak dan orangtua untuk menunjukkan potensi. Tetapi, orangtua jangan sampai memaksakan kehendak. Ia mencontohkan, ada orangtua yang marah-marah ketika anaknya menangis sebelum lomba. Pengalaman lain diungkapkan Dwi. Ia iseng mengirimkan foto anaknya untuk lomba fotogenik. Ternyata anaknya mendapat juara 2. Ajang Festival Keluarga ini juga menjadi wahana baginya untuk menyaksikan talenta-talenta berbakat. “Kalau bisa dibuat lomba fashion show tingkat SD. Pasti banyak peminatnya,” ujar karyawati PLN Denpasar yang datang bersama suami dan anaknya ini. Ia juga salut dengan kiprah Tokoh sebagai media yang selain menjalankan fungsi jurnalistik juga mampu menyelenggarakan Festival Keluarga. Sementara itu, Moses, salah satu pengisi stand bazaar sangat puas dengan kegiatan ini. Pria yang membuka stand makanan ini mengaku dagangannya habis. “Es krim Singapura yang paling banyak dibeli. Festival Keluarga ini benar-benar member kesempatan kepada keluarga untuk berpartisipasi. Semoga tahun depan kami bisa ikut berpartisipasi lagi,” ungkapnya. Para mitra kerja yang mendukung Festival Keluarga Tokoh 2015 pun puas dengan aneka kegiatan yang dilaksanakan. “Kami cukup puas dan akan melaporkan ke pimpinan. Semoga kerja sama yang sudah terjalin bisa ditingkatkan lagi,” kata Bu Krisna, perwakil Kecap AAA yang datang khusus dari Surabaya bersama Chef Sarwan. Hal senada diungkapkan Bu Connie, perwakilan Tupperwear yang mendukung peralatan untuk demo masak bersama Chef Sarwan. “Antusiasme peserta sangat luar biasa. Kami berharap Tokoh dan Tupperwear bisa bekerja sama lagi untuk event-event lain. Apalagi Tokoh punya segmen wanita dan keluarga yang cocok dengan segmen Tupperwear,” ujarnya. Pas untuk Anak Muda Salah satu agenda untuk menyemarakkan tahun ke 17 ke-

beradaan Tabloid Tokoh adalah “Lomba Fashion Show”. Menurut salah seorang juri, Ary Agung yang juga seorang mantan model papan atas Bali, ada beberapa hal yang

menarik dari lomba yang diikuti sekitar 60 0rang peserta ini. Pertama, katanya tema yang diangkat “Touch of Endek” merupakan sebuah upaya menyertakan produk dari budaya lokal namun tetap ada kebebasan bagi para model untuk berkreasi dan itu terlihat sangat bervariasi di panggung. “Sangat kekinian dan pas untuk kalangan anak muda,” katanya. Selain itu, dikatakan sepertinya cukup banyak wajah baru, namun rata-rata memiliki kemampuan penguasaan catwalk yang bagus. Begitu pula penampilan secara keseluruhan (total look)-nya, ini

5

Dari Kiri: Ari Agung, Dewi Suarjani, Helga, dan Gde Palgunadi

pertanda baik untuk dunia fashion. Khususnya modeling di Bali. Catatan lain yang disampaikan Ary Agung adalah partisipasi model cowok yang lumayan jumlahnya, bahkan mereka hadir

dengan tampilan yang oke termasuk dalam mengaplikasikan tema lomba. “Mereka mampu memadukan endek dengan item fashion lainnya menjadi eye catching,” tandasnya. –Sri Ardhini


6

masa lalu ini belum mendapat pemuli­ han nama baik.

Indriyati Suparno

Relasi Kuasa tak Seimbang

Dunia sudah modern, pemikiran manusia sudah semakin maju, namun kebanyakan perempuan masih menemui hambatan dalam menemukan keadilan jika berhadapan dengan kekerasan yang menimpa dirinya. Entah itu kekerasan dalam rumah tangga ataupun kejadian lainnya. Bahkan tak jarang banyak perempuan tidak berani melaporkan kejadian kekerasan yang me­nimpa dirinya karena khawatir dikriminalisasi.

K

ekhawatiran ini bukan mengada-ngada, kar­ ena faktanya ada ban­ yak kejadian dimana perempuan sebagai korban kekerasan yang melaporkan kasusnya kepada pihak yang berwajib, berunjung pada kriminalisasi pada yang bersangkutan. “Ya, kasus semacam itu banyak terjadi meski ada undang-undang yang melindungi wanita seperti UU KDRT, dll. Ada kasus dimana perempuan me­ laporkan kekerasan, dia malah dikrimi­ nalisasi dengan undang-undang itu, yang sesungguhnya dibuat untuk melindungi wanita. Tapi justru dijadikan senjata un­ tuk mengkriminalkan korban,”ungkap Indriyati Suparno kepada Tokoh. Berdasarkan data, kasus kekerasan terhadap perempuan yang terjadi sepanjang 2014 adalah 293.220 kasus. Jumlah kasus ini, diyakini bukanlah jumlah sebenarnya. Diyakini, jumlahnya lebih besar dari yang terdata. “Kenapa begitu? Karena, salah satu penyebabnya adalah, banyak perempuan enggan me­ laporkan kasusnya, baik karena alasan norma budaya atau alasan lain. Perem­ puan memilih diam,” tambahnya. Dalam kesempatan perbincangan itu, Indri, begitu wanita kelahiran 1975 ini akrab disapa, dengan bersemangat

bercerita tentang bagaimana kekerasan terhadap perempuan terus berlangsung sekalipun ada sejumlah undang-undang yang melindungi perempuan. “Ada banyak undang-undang yang melindungi perempuan tapi kekerasan tetap saja terjadi. Ini adalah persoalan yang serius. Harusnya negara bertanggung jawab,” tegas Indri. Keseriusan persoalan kekerasan terhadap perempuan, lanjut Indri, ter­ gambar dari kesaksian korban dalam Konferensi Nasional Pemulihan yang baru-baru ini digelar di Medan. Kon­ ferensi Pemulihan ini sangat penting

artinya bagi para perempuan Indone­ sia, khususnya mereka yang menjadi korban kekerasan. “Banyak hal yang dipaparkan. Juga dihadirkan mereka yang menjadi korban kekerasan untuk berbicara. Kami ingin pemerintah men­ dengarkan,” ungkapnya. Kekerasan terhadap perempuan, kata Indri, terjadi sebagai akibat dari sebuah sistem sosial yang merendah­ kan status dan kedudukan perempuan sehingga relasi kuasanya menjadi tidak seimbang di dalam masyarakat.Hal lain­ nya adalah struktur politik otoritarian dan militeristik yang cenderung mem­ batasi kebebasan, bertindak represif, menghukum yang berseberangan secara politik dan membenarkan peng­ gunaan kekerasan sebagai mekanisme pelemahan. “Kombinasi budaya patriarkhi dan struktur politik otoritarian-militeristik membuat perempuan memiliki posisi tawar yang rendah dan tak mampu

Indriyati Suparno

bertindak cepat mendapatkan keadilan ketika mengalami kekerasan. Di sisi lain, penyedia layanan pemerintah tidak responsif. Apalagi jika pelaku kekerasan adalah pejabat publik, pengusaha besar. Situasi ini membuat impunitas pelaku kekerasan terus berlanjut,” katanya. Contoh lain yang dikemukakan Indri adalah perlakukan terhadap kor­ ban 1965. Sampai sekarang, katanya, perempuan korban pelanggaran HAM

Indriyati Suparno (dua dari kanan) dan para Komisioner Komnas Perempuan

TIDAK SEBATAS PSIKIS Secara garis besar, ada beberapa hal yang dihasilkan dalam konferensi tersebut, di antaranya adalah tentang penguatan konsep pemulihan. Adanya desakan agar pemulihan terhadap korban dilakukan secara terintegrasi sejak awal penanganan. “Pemulihan ini tidak sebatas psikis semata tapi juga dukungan masyarat , dukungan negara, termasuk dukungan kebijakan,” tegas Indri. Terkait kebijakan, Indri yang menjadi Peneliti Utama Solidaritas Perempuan untuk Kemanusiaan & HAM pada 20012004, menjelaskan, termasuk adalah dukungan anggaran. Ia memaknai ang­ garan adalah sebagai alat negara dalam pemenuhan hak bagi warga negaranya. “Selama ini kami melihat dukungan anggaran hanya normatif saja. Memang terlihat anggaran sepertinya besar, namun jika diamati postur anggarannya tidak menyentuh sampai kepada kebu­ tuhan korban. Justru anggaran itu banyak dipakai untuk hal-hal seperti koordinasikoordinasi, rapat-rapat, pembentukan tim, kegiatan seremonial, dll,” katanya panjang lebar. Hal lainnya yang juga terungkap dalam konferensi adalah tentang perem­ puan-perempuan pembela HAM yang rentan mengalami kekerasan. Para aktivis perempuan ini merasa pekerjaan­ nya tidak dihargai, tidak diakui. Di sisi lain, mereka juga merasa keamanannya tidak terlindungi. Kasus-kasus ini terjadi di sejumlah daerah. “Jadi masalah ini pun menjadi salah satu rekomendasi kami. Ada doron­ gan tentang pengakuan terhadap ke­ beradaan mereka. Pengakuan ini dalam bentuk kebijakan negara, misalnya, terkait penanganan korban dan pen­ dampingan korban, biaya pendampun­ gan kasus, keamanan, dll,” tuturnya. –Diana Runtu

Toward A Winning Thinking ini sebagai a wake-up call atau a ringing bell – sebuah alarm untuk bangun dari tidur.

Fakta menyenangkan mengenai tantangan yang dihadapi wanita seharihari dalam bisnis adalah pada setiap tantangan ada kesempatan untuk membuat langkah besar ke depan. Mereka bahkan meyakini bahwa; A chaos is a perfect chance for you to do best. A PERFECT CHAOS AS AN ASSET Seorang kawan baik berbagi cerita tentang masa sulit beberapa tahun silam sebelum usaha agrowisata yang ia miliki, didirikan hingga sukses besar seperti sekarang. Masalah datang ber­ samaan dan dalam kadar yang samasama besar dan memberi pukulan kuat terhadap sisi finansial, hubungan de­ ngan keluarga, serta hubungan dengan lingkungan terdekat dan membuat standar hidup mereka menurun drastis. Satu situasi perfect chaos lain untuk sama-sama kita amati. Seorang eksekutif muda di Jakarta melepas posisi strategis di perusahaan multi-national yang ia peroleh dengan ketekunan dan kerja

Mozaik

Woman on Top

Edisi 875/ 16 - 22 november 2015

keras. Alasannya sederhana, memba­ ngun sebuah mimpi untuk mendirikan perusahaan bersama. Pemikiran yang menimbulkan masalah adalah; mimpi orang lain yang ia copy-paste ke dalam mimpinya sendiri yang menyebabkan dependability (ketergantungan) dari sisi pemikiran dan langkah-langkah bisnis yang akan diambil. Kemerosotan perusahaan, finansial, hubungan profesional dan menurunnya kemampuan berpikir obyektif menjadi indikator kuat terjadinya perfect chaos. Ada satu pemikiran yang muncul saat itu meski sesungguhnya pemikiran ini bukan merupakan pilihan: acceptance (penerimaan). Menerima dan menyadari situasi yang terjadi. Ia menekankan, sangat penting untuk menyadari dan menerima kondisi yang sebenarnya. Openness (keterbukaan berpikir) dalam kondisi kesulitan yang sempurna seperti ini bisa menjadi aset jalan keluar yang luar biasa kuat. Bagi mereka yang terbiasa dengan winning thinking, mereka menyebut acceptance

OPTIMISTIC INFLATION ASSUMPTIONS Inflasi. Barangkali boleh kita pinjam sebentar istilah ekonomi ini. Apa yang terjadi saat seseorang mengalami inflasi terhadap asumsi optimis mereka? Asumsi yang optimis mendorong per­ gerakan mereka ke arah positif. Mereka meyakini bahwa optimistic inflation assumption ini memberi momentum luar biasa untuk menentukan arah pikiran untuk keluar dari kondisi pemasalahan yang kompleks. Lantas seperti apa mereka berjalan ke arah winning thinking? Mereka meyakini perbedaan cara berpikir pada saat masalah itu terjadi dan cara berpikir pada saat mereka menyelesaikan masalah itu; ‘We cannot solve our problems with the same thinking we used when we created them’. Pertanyaan berikutnya, bagaimana mereka merubah cara berpikir ini? Hal yang tentu tidak mudah untuk diaplikasikan oleh banyak orang. Saya melempar pertanyaan ini pada sebuah perbincangan santai dengan dua kawan yang sama-sama memiliki ketertarikan mendalam tentang psikologi komunikasi. Salah satunya mengatakan bahwa kematangan seseorang dalam mengolah pikiran dapat menjadi satu-satunya elemen yang menyelamatkan dan membawa mereka ke arah winning thinking.

Mereka memiliki asumsi positif yang muncul dari diri sendiri (self-driven). Bagaimana dengan mereka yang masih belum ada di tingkat kematangan mengolah pikiran itu? Konsep lama yang sampai saat ini masih sering kita dengar adalah paradigm shifting melalui orang lain. Beberapa di antara mereka mendapat momentum untuk melakukan perubahan cara berpikir dari encouragement orang lain, keyakinan yang diberikan oleh orang lain serta komitmen terhadap supports yang diberikan orang-orang terdekat. Proses ini masih sangat kuat memberi pengaruh terhadap penyelesaian masalah. Orang lain yang dipercaya sebagai penggagas ide positif dan pemberi inspirasi dapat menjadi bagian yang membentuk nilai positif (value). Mereka begitu memahami bahwa nilai (value) yang mereka bawa akan membentuk hal-hal yang mereka yak­ini dalam pikiran mereka (belief). Keyakinan mereka akan menentukan sikap yang perlu mereka ambil. Dari siklus behavior learning kita dapat menyimpulkan bersama bahwa; my value shapes my belief dan my belief shapes my attitude. Terlepas dari semua proses yang dijalankan untuk keluar dari perfect chaos, konsep toward a wining thin­king menekankan betapa pentingnya acceptance itu sebagai pemicu untuk membuat lompatan besar ke depan. Acceptance adalah menerima dan memahami dengan matang bahwa sometimes you win, sometimes you learn.

Perusahaan pelat merah ini sukses mengulang panen raya padi program Kam­ pung Petroganik. Setelah sukses di Kediri pada Maret 2015, mitra produksi pupuk Petroganik PT Petro­ kimia Gresik (PG) kembali melakukan panen raya pada program yang sama di Desa Kepuhkajang, Kecamatan Perak, Kabupaten Jombang, Jawa Timur.

Edisi 875/ 16 - 22 november 2015

19

Kampung Petroganik Tingkatkan Produktivitas Padi

K

ampung Petro­ ganik merupakan program edukasi, sosialisasi, serta promosi yang diinisiasi oleh mi­ tra produksi Petroganik beker­ jasama dengan distributor PG untuk petani yang berada di daerahnya. Program ini ber­ tujuan untuk membina petani padi, mulai dari pemilihan benih unggul, pola pemupukan, pe­ ngolahan lahan, hingga panen.

Agus Triyono

Loyalitas Tinggi Berbuah Manis Ia mengawali karier di Santika Hotel sejak 1993 di Yogyakarta, dengan jabatan Finansial Kompoler, Assisten Manager Eksekutif. Ia juga pernah di Santika Bandung tahun 2000 dengan jabatan General Manager, pernah juga pernah menjajaki Santika Pandigiling Surabaya 2003-2004. Tahun 2006 lalu pindah ke Semarang, lalu hijrah ke Bogor 20082012, akhirnya kembali ke Surabaya di Santika Premiere dengan jabatan General Manager 2013 hingga sekarang. Loyalitas kerja yang tinggi dan profesionalisme dalam berkarya terlihat jelas dari sosok pria kelahiran Yogyakarta ini. Melihat perjalanan kariernya di dunia perhotelan di Santika selama 22 tahun ini, Agus Triyono sudah mem­ buktikan kerja kerasnya hingga bisa sukses menduduki kariernya sebagai General Manager di Santika Premiere Gubeng Surabaya. Bekerja di industri perhotelan ini adalah cita-citanya sejak kecil. Tak hanya itu, selama menekuni kariernya, Agus Tri­ yono tak pernah berpindah ke lain hati. Dua puluh dua tahun sudah kariernya dia abdikan pada Santika Group karena dirinya menyukai corporate culture yang ada. “Saya yakin, inilah amanah yang sudah dipercayakan untuk dijalankan. Saya percaya, Tuhan pasti akan memberi­ kan kemudahan apapun caranya. Awalnya saya memang merasa punya ikatan emosional dengan hotel ini, dan gak tau kenapa saya merasa nyaman di Grup Santika hotel ini,” ungkapnya. Selain itu, Agus Triyono juga dengan bangga menga­ takan, bahwa dirinya memiliki super tim yang solid untuk bersama-sama memajukan hotel bintang empat ini. “Brand dari Santika benar-benar sangat manjur dan juga kita hanya perlu menjaga brand hotel tersebut. Tentunya banyak fasilitas pendukung yang menarik sehingga tamu merasa nyaman menginap di Santika Premiere Hotel,” katanya. Agus juga menambah­ kan, dengan hadirnya hotel budget ini, secara otoma­ tis menurunkan okupansi hotel bintang empat ini. Masyarakat tidak lagi me­ mandang image, namun lebih pada mereka hanya butuh tempat istirahat yang nyaman juga bersih, serta bisa menghilangkan kejenu­ hannya. Oleh karena itu, dengan kekompakan seluruh tim­ nya, maka hotel ini menda­ pat respons yang luar biasa positif dari masyarakat dan mengalami progress yang sangat bagus. “Kami sadar betul bahwa selain kami bekerja sebagai profesional manajerial, namun tetap

dibutuhkan pengabdian se­ luruh daya pikir, batin, jerih payah dan laku. Karenanya, kami kombinasikan antara pe­ layanan dengan tanpa mening­ galkan budaya, sehingga akan menghasilkan hotel yang bagus dan profesional,”papar suami Ratna Ningsih ini. Untuk kedepannya, pria yang memiliki prin­ sip hidup bermanfaat bagi sesama ini men­ gatakan bahwa selain tetap memuliakan tra­ disi, akan tetap ada ren­ cana tindakan den­ gan pelayanan yang profe­ sional dan terbaik untuk mendapat hasil yang luar biasa. -Bayu Pangarso

Program ini telah dimulai pada 2014. Dirut PG Hidayat Nyakman menyatakan perusahaan akan terus mendorong kegiatan pem­ berdayaan yang dilakukan oleh mitra produksi Petroganik yang bekerjasama dengan distributor ini. Karena program ini sejalan dengan keinginan Kementerian Pertanian yang akan memaksi­ malkan penggunaan pupuk or­ ganik sebagai komposisi utama dalam mengembalikan tingkat kesuburan tanah. “Kami berharap kegiatan seperti ini dapat dikembangkan oleh mitra produksi Petroganik dan distributor, tidak hanya di Kediri dan Jombang saja, tetapi juga di daerah lainnya,” ujar Hidayat Nyakman usai panen raya bersama sejumlah pejabat, diantaranya Dirjen Tanaman Pangan Kementerian Pertanian, Anggota Komisi IV DPR RI, Bu­ pati di Jombang Rabu (4/11). Adapun mitra produksi di Jombang yang menjadi pembina dalam program ini adalah adalah CV Daun Thakker Indonesia,

CV Cahaya Baru, UD Phalosari Unggul Jaya, UD Bima Sakti, dan PT Mitra Prasetya Gemilang. Se­ dangkan distributor yang terlibat adalah UD Mujiarto, CV Kembar Jaya, dan Koperasi Mitra Tani. Estimasi panen pada lahan seluas 54 ha milik kelompok tani Bekel Kepuhsari ini berkisar 10 ton/ha gabah kering panen (GKP). Angka ini lebih tinggi dari rata-rata panen di Keca­ matan Perak yang mencapai 6,5 ton/ha. Pola pemupukan yang digunakan adalah pemupukan berimbang 5:3:2, yaitu 500 kg Petroganik, 300 kg NPK Phons­ ka, dan 200 kg Urea). Tanaman menggunakan varietas ciherang, pola tanam padi-padi-palawija, dan umur panen 95 hari. “Kami sangat merekomen­ dasikan kepada petani untuk menggunakan pola pemupu­ kan berimbang 5:3:2. Karena berdasarkan berbagai demplot yang pernah kami lakukan, formulasi ini terbukti mampu meningkatkan produktivitas padi,” tambah Hidayat Nyak­ man. -Samudera Ghozuwan


18

Kreasi

Edisi 875/ 16 - 22 november 2015

TA R I D O N G

“ R AT N A

R

Larasari

atna Mangali adalah seorang gadis cantik jelita putri semata wayang Ni Calonarang, seorang janda yang tinggal di desa Dirah. Entah apa yang menjadi menyebabnya, tak ada seorang pemuda pun yang memiliki keberanian untuk melabuhkan cintanya pada Ratna Mangali. Besar kemungkinan para pemuda yang jatuh hati pada kemolekan Mangali tak bernyali menghadapi Ni Calonarang yang

ditakuti penduduk desa sebagai penganut ilmu hitam. Gara-gara Mangali tak kunjung memperoleh jodoh, Ni Calonarang mengancam akan menebar teror. Raja Airlangga yang membawahi desa Dirah kemudian turun tangan menyusun siasat dengan mengutus Bahula, putra Mpu Baradah, menikahi Ratna Mangali. Bukan main girangnya Ni Calonarang melihat kebahagiaan putrinya bersanding dengan seorang pemuda tampan. Dongeng dari desa Dirah tersebut, di tengah masyarakat Bali, lazim disajikan dalam dramatari calonarang. Namun, melalui seni seni pentas Taridong yang lebih fokus mengeksplorasi tokoh Ratna Mangali, terasa mengayun emosi penonton pada persoalan kompleksitas kehidupan, kegetiran cinta, dan hegemoni penguasa terhadap rakyat jelata yang tak berdaya. Nilai-nilai moral yang terlontar dari sajian pentas Taridong “Ratna Mangali” ini memancarkan subtansi kultural yang patut kita renungkan dan

koreksi bersama. Misalnya, di tengah masyarakat Bali modern masa kini masih sering menyembul prasangka bahkan tudingan provokatif menuduh seseorang sebagai praktisi leak. Jagat seni adalah media edukatif mencerahkan. Dongeng sebagai salah satu sumber beragam tema atau lakon ungkapan seni tak bisa dipungkiri sangat kaya dengan kandungan nilai-nilai moralitasnya. Pada masa lalu, ketika budaya sastra lisan masih kokoh, kontribusi tradisi mendongeng berperan penting memberi asupan pada pembentukan karakter masyarakat zamannya. Namun kini, ketika tradisi mendongeng sudah sayup-sayup menjauh, dari manakah generasi sumber insani bangsa kita mereguk nilai-nilai kultural-edukatif untuk membetengi dirinya dari dampak terjangan pengaruh multidimensi negatif-destruktif yang begitu agresif mengiming-imingi k i t a semua, setiap saat dan setiap waktu, melalui teknologi digital televisi, HP, internet yang demikian merasuk? Diperlukan kreativitas untuk mereaktualisasikan dan mereposisi tradisi mendongeng di tengah masyarakat kita yang cenderung sibuk dan serba terburu-buru ini. Kreativitas itu, salah satunya melalui seni pertunjukan yang khusus dikemas seperti telah diluncurkan, Taridong, seni tari yang dipadukan dengan seni mendongong. Tentu diperlukan kemampuan khusus bagi para pelaku yang membawakannnya. Pertama, adalah keperigelan menari, termasuk di dalamnya pengkarakteran tokoh-tokoh yang diceritakan. Kedua, adalah kepiawaian mendongeng, tentu termasuk di dalamnya olah vokal dramatik ima-

Story

MANGALI”

Menari Sembari Mendongeng Menari sembari mendongeng atau mendongeng sambari menari. Inilah sebuah tawaran kreasi seni pentas baru yang diberi nama Taridong yakni perpaduan seni tari dengan seni mendongeng. Senin (9/11) siang lalu disajikan di Wantilan Gedung Pers Bali K. Nadha, Denpasar, pada puncak HUT ke-17 mingguan berita wanita Tokoh. Mengangkat lakon “Ratna Mangali”, Taridong yang dibawakan oleh penari dan pendongeng Bali, Sri Ayu Pradnya Larasari, bertutur tentang kemelut batin seorang wanita yang tak berdaya menghadapi pengkhianatan cinta dan kesewenangwenangan penguasa. Penonton yang terdiri dari tokoh-tokoh wanita Bali terpukau.

Life

jinatif. Dua bekal kemampuan ini kiranya sudah cukup untuk mementaskan Taridong. Terakhir, tinggal cerdik memilih dongeng sesuai dengan siapa penontonnya serta konteks peristiwanya. Sebagai perintis seni pentas Taridong, Sri Ayu Pradnya Larasari yang akrab disapa Laras, telah membekali diri de­n gan pengalaman sebagai penari dan pendongeng. Alumnus SMA Negeri 3 Denpasar yang kini mulai menapak bangku kuliah di ISI Denpasar ini, sejak SD hingga SMA telah berkali-kali menyabet Juara I se-Bali, baik untuk bidang seni tari maupun dalam bidang masatua atau mendongeng. Bahkan atas capaian reputasinya itu, tahun 2014 lalu, oleh Pemerintah Re-

publik Indonesia, ia dianugrahkan Piagam Kebudayaan sebagai Remaja yang Berdedikasi dalam Bidang Seni Tari dan Seni Bercerita. Tahun itu juga, gadis berambut panjang ini diutus sebagai duta Festival Dongeng Se-Asia di Korea Selatan. Kini, melalui seni pentas Taridong, “Saya ingin terus mengasah diri pada kedua bidang seni yang saya digeluti sejak usia belia, sekaligus ingin menawarkan suatu kreativitas seni dengan harapan diapresiasi masyarakat,” ujar Laras seusai pentas. Taridong “Ratna Mangali” disajikan Laras dengan sarat totalitas. Diawali dengan utai­a n tari nan impresif, kemudian melenggang dengan rona wajah kemayu menuju ke tengah panggung. Menggunakan tata busana modivikasi kain cepuk dengan sedikit ornamen prada, kisah dimulai. Dibuka dengan kalimat: Tersebutlah di sebuah desa yang bernama Dirah, kemudian digarisbawahi dengan alunan tembang pupuh ginada basur: kocapan ni calonarang, okan nyane ratna mangali. Ratna Mangali digambarkan Laras dengan kalimat: segala tanda tanya berkecamuk dalam batin Mangali, namun tak berani mempertanyakan kepada ibunya yang pemberang. Namun setelah Bahula kabur mencuri buku tenung ibunya, Ratna Manga­li menggugat menumpahkan isi hatinya. Ungkap Laras dengan suara lantang: Kenapa Bahula mengkhianatiku? Kenapa ibuku harus menyabung nyawa demi mempertahankan harga dirinya? Kenapa? Kiranya, seni pentas Taridong akan terus mempertanyakan berbagai persoalan kemanusiaan dengan kehidupannya, lewat kisah dongeng yang lain.

7

Edisi 875/ 16 - 22 november 2015

Ary

Juliant

Belum Menemukan Produser “Gila” Memilih untuk tetap bertahan dengan cara, gaya dan khususnya dalam hal idealisme berkarya tentulah tidak mudah. Banyak godaan yang menghampiri menjadi salah satu tantangan yang harus ditaklukan oleh seorang yang bertahan dengan idealisme tersebut. Godaan itu tidak hanya berasal dari luar melainkan juga dari diri sendiri. Godaan untuk tergiur mengikuti arus atau tetap bertahan pada apa yang sudah dipilih.

Ary Juliant bersama warga di Dusun Pancasila, Pekat Dompu, saat Tour Gerilya Balada Nusa Gora tahun 2010

B

agi seorang musisi, Ary Juliant tantangan dari luar maupun dari diri sendiri dengan sangat mudah ditaklukkannya karena dalam berkarya ia mengalir seperti air. Mengikuti perjalanan karyanya tanpa mesti rumit dengan banyak syarat. Ary memilih konsep berkarya yang sederhana, merespons apa yang ada di sekelilingnya. Ia tidak pernah bergantung pada gedung pertunjukan, sound system yang mapan atau juga penonton yang membludak melainkan ia bisa tampil di mana saja dengan sangat bersahaja. Ary yang telah memulai karier bermusiknya sejak tahun 1985 ini bisa memainkan musiknya di tengah padang bernyanyi bersama alam atau bahkan memetik gitarnya di atas gunung atau

di tengah sawah juga tempat-tempat lain yang tidak biasa dijadikan sebagai ‘panggung’ secara umum. Namun, ia juga biasa tampil di panggung-panggung musik bergengsi bahkan bersama musisi-musisi ternama dan ia bisa ‘berkeliaran’ memainkan musiknya di nusantara ini hingga ke luar negeri. Sederhana, itulah yang ditampilkan Ary dalam proses-proses kreatifnya selama ini. Bermula dari ketertarikannya pada kemurnian gerakan indie di era 1990an yang makin membangkitkan gairah bermusiknya, Ary terus melakukan pencarian. Sebuah konser yang pernah dihelat di Arena Teater Terbuka Taman Budaya NTB. Pada artistik panggung konsernya yang bertajuk “Bunyi Koran di Mana-mana”, Ary bermain dengan banyak koran. Di

tangan Ary Juliyant, koran hadir dalam berbagai rupa. Tidak banyak orang yang memperhatikan Koran seperti dirinya yang menganggap betapa bernilainya koran. “Betapa menyedihkan ketika koran kini hanya berada dalam posisi sebagai produk kebudayaan yang dimurahkan, karena pada akhirnya selalu menjadi sampah. Sementara sebagai titisan produk seni grafis, sampah koran masih menggoda saya untuk lebih memaksimalkannya menjadi karya seni lainnya,” ungkapnya. TOUR GERILYA Tiga puluh tahun bukan waktu yang sebentar bagi Ary untuk menemukan jati diri bermusik yang menjadi pilihan hidupnya kini. Dalam prosesnya berkesenian inilah ia lalu menemukan konsep gerilya di tahun 1990-an. “Dari gerakan gerilya ini akhirnya memberikan ruang berfikir yang jernih untuk menyikapi apa yang saya lakukan. Dan saya mematangkan konsep gerilya setelah menetap di Lombok,” ujar pria kelahiran Bandung, 31 Juli 1964 ini. Dengan konsep ini, Ary lalu melakukan perjalanan untuk membangun silaturahmi dengan berbagai komunitas di nusantara dalam Tour Gerilya yang dimulai sejak tahun 2000an dan kini secara rutin ia lakukan dua tahun sekali. Tour gerilya Ary Juliant merupakan pengembangan dari ‘ketidakpuasannya’ bergerak di situ-situ saja (tempat yang itu-itu saja). Perjalanan-perjalanan tour gerilya ini dilakukan untuk memberi ruang dalam membuat jaringan-jaringan kesenian a la Ary Juliant. Jangan membayangkan tour gerilya sang musisi ini sebagai sebuah perhelatan yang ‘wah’ dari sisi infrastruktur berkesenian melainkan ia tampil dalam kesederhanaan namun sarat makna dan menghadirkan apa saja yang ada di sekitarnya. Ia terbiasa mengerjakan sendiri apappun yang dibutuhkan dalam konser tour gerilyanya. Tidak hanya pada tour gerilya, pada konser-konser gerilya lainnya Ary ‘membangun’ sendiri infrastrukturnya sesuai kemampuannya. Dalam berkarya tidak ada ambisi untuk mencapai apapun baginya kecuali terus berkarya yang mengalir mengikuti perjalanannya. Dengan bergerilya ia ingin mengatakan bahwa kesenian bukan melulu soal hiburan melainkan proses membangun peradaban. Ary sampai pada hari ini dengan konsep gerilya, sebelumnya telah me-

Kadek Suartaya

Ary Juliant, gerilyawan kesenian yang kerap menembus keterbatasan dengan tidak tergantung gedung pertunjukan ataupun soundsystem memadai

lewati masa-masa mendekati -hingga akhirnya ‘melawan’ kemapanan industri. Rupanya, bagi seorang Ary dalam proses karyanya ia tidak beruntung masuk industri karena tidak menawarkan kenyaman dalam berkarya. Kebanyakan ketika masuk wilayah bisnis maka semua akan diatur berdasarkan kebutuhan industri dan gairah kesenian akan sulit untuk bisa diakomodir. Itulah yang membuat Ary tidak lagi mendekatkan dirinya dengan dunia bisnis tersebut. Sembari berseloroh, Ary mengatakan bahwa ia belum menemukan produser yang ‘gila’ sehingga membuatnya tidak beruntung. Karena ada orang yang beruntung yang menemukan produser ‘gila’ dan cerdas yang mampu mengawinkan dengan bijaksana ruang industri dan harkat berkesenian. “Saya belum beruntung menemukan yang mampu mengawinkan dua hal tersebut, yang mampu tidak hanya menjual tetapi juga melibatkan kekaryaan saya,” kata musisi yang karyanya pernah ditawari oleh salah satu label bergengsi di negeri ini. Karena itu, Ary memilih tidak ketika tawaran itu datang dengan tidak melibatkan kekaryaannya. Baginya ketika harkat berkesenian tidak terjaga dengan baik, maka akan menimbulkan resiko yang tidak akan memberinya kenyamanan berkarya. Namun begitu, Ary tidak menyalahkan dunia bisnis karena setiap orang punya sikap dan pilihan masing-masing. Bukan berarti industri itu tidak bagus melainkan ini hanya sebuah pilihan dan sikap hidup masing-masing orang. Tampaknya karena kesederhanaannya dalam berkarya inilah yang membuat Ary sempat mengungkapkan keheranan pada dirinya sendiri yang disebutnya memiliki ‘kelainan’ karena tidak lagi punya cita-cita. Ia merasa selalu cukup dengan segala prosesnya dalam berkarya, sesederhana apapun bentuknya. Keunikan gerilyawan kes-

Ary Juliant

enian ini ada pada mottonya yang tidak perlu terkenal. “Justru kalau terkenal berarti saya gagal,” ungkapnya tertawa. Baginya terkenal ataupun tidak terkenal bukanlah persoalan, melainkan yang penting bisa bermanfaat. Memaksimalkan segala yang ada untuk menembus keterbatasan dalam berkarya. Karena itu ia kini berlindung di bawah label yang dibuatnya bernama “Foto Kopi Record”. Semua hal menyangkut karyanya ia perbanyak dengan cara foto kopi. Sepanjang perjalanannya bermusik, Ary telah melahirkan 30 album dengan tidak kurang dari 180 lagu yang bertema gejolak dan perjalanan rasa, lingkungan, kemanusiaan, sosial, religi dan lainnya. Kini Ary menghabiskan waktunya untuk berkarya di Mataram bersama istrinya Indrastuti Daryanto dan dua anaknya, Nisa dan Satria. Selain berkesenian dengan cara bergerilya ia juga sebagai seorang pekerja bidang musik. Selain menjadi juri pada event-event musik di Mataram, ia juga banyak mendapat undangan dalam berbagai event lain. Baru-baru ini Ary menjadi salah satu pengisi acara pada panggung pentas bersama yang digelar oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) bertajuk, Berani Sederhana, di Omah Petruk Jogjakarta. Selain itu, Ary juga menjadi seorang penyanyi cafe. Semua ini adalah bagian dari ia tengah menjalani proses berkarya yang terus menerus. -Naniek I. Taufan


8

Bunda & Ananda

Edisi 875/ 16 - 22 November 2015

Amri dan Dek Mani

Menabuh Berdua, Suara Tiga

Meski tak ada kesepakatan sebelumnya, dua bersaudara I Wayan Amrita Dharma Darsanam yang biasa disapa Amri dan I Made Manipuspaka yang akrab disapa Dek Mani samasama memiliki hobi menabuh. Kakak beradik beda umur tiga tahun itu selalu kompak memainkan gamelan gender wayang dan rindik. Sang kakak berperan sebagai juru slangsih (suara dua seperti dalam lagu) dan sang adik yang biasa memainkan gending polos (suara satu).

K

ebersamaan itu sempat mereka pertontonkan saat Festival Keluarga Tokoh 2015 di Wantilan Gedung Pers Bali K. Nadha, Denpasar, Minggu (8/11). Amri dan Dek Mani memainkan rindik untuk menyambut kehadiran para peserta. Penampilannya memang polos, tetapi aksi mereka sungguh memesona. Walau menabuh berdua, tetapi suara rindik yang terdengar seakan dimainkan oleh tiga penabuh, saling tindih, padat dan menghibur.

Sebagai penabuh belia, Amri yang kini duduk di kelas VII SMPN 2 Kuta Utara dan Dek Mani yang masih kelas IV SD Imanuel Dalung itu menyajikan beberapa gending diantaranya Tabuh Telu (dengan dua versi), Sekar Jepun, Caplok Bangkung, dan tabuh bebarisan sebagai gending penutup. “Kami sudah melakukan persiapan sejak awal. Kalau waktunya lama, kami akan menampilkan gending tambahan,” katanya polos. Menurut Amri, melakukan persiapan sebelum tampil sudah menjadi kebiasaan mereka. Tak

Amri dan Dek Mani saat tampil di acara Festival Keluarga Tokoh 2015

hanya berlaku untuk permainan rindik, tetapi juga gender wayang, baik untuk acara ngayah ataupun tampil dalam event-event resmi. Latihan tak hanya berdua, tetapi terkadang datang langsung ke pelatihnya, sehingga setiap akan pentas ataupun ngayah pasti ada tambahan satu lagu baru. Buah hati dari pasangan I Nyoman Budarsana, S.Sn dan Ni Made Sri Astuti, S.Si itu selalu menjadi pasangan dalam menabuh. Amri yang lebih awal menekuni seni tabuh sering tampil sebagai duta Kabupaten Tabanan di ajang Pesta Kesenian Bali, baik dalam pawai ataupun parade. KOMUNITAS TUSUK GIGI Amri sempat dipercaya sebagai penabuh barong bangkung duta Kabupaten Tabanan dalam pawai pembukaan PKB 2008, selanjutnya Parade Ngelawang PKB 2009 dan mendukung Sekaa Gong Anak-anak Putra Jaya Kerambitan sebagai penabuh gender rambat PKB 2011. Pada PKB 2014, Amri

mendukung Sanggar Kembang Bali Desa Tunjuk mengikuti lomba gender wayang. Sebagai duta Kabupaten Tabanan, Amri dan tiga temannya berhasil sebagai juara II. Pada PKB 2015, Amri kelahiran Denpasar 23 Agustus itu tampil dua kali. Pertama mendukung Sekeha Gong Anak-anak Pucil Makembang, Banjar Ole, Desa Marga Dauh Puri, Kecamatan Marga sebagai penabuh reong duta Kabupaten Tabanan. Kemudian mendukung Sanggar Seni Gender Restu Budaya Banjar Lambing, Desa Mekar Bhuana mengiringi dalang cilik I Gusti Putu Gede Sastrawan pada Parade Wayang Anak-anak sebagai duta Kabupaten Badung. Dalam musik modern, Amri yang suka traveling itu juga pasih memainkan gitar dan drum. Ia lebih banyak tampil dalam acaraacara ulang tahun bukan dalam ajang lomba. “Saya akan mendirikan komunitas tusuk gigi yang konsentrasi pada musik modern,”

harap Amri yang pernah sebagai juara drum dan mewarnai itu. Hal itu berbeda dengan adiknya yang lebih sering tampil dalam kegiatan ngayah. Dek Mani yang lahir di Denpasar, 18 Juli 2006 itu mulai belajar menabuh sejak umur lima tahun yang diawali dari memainkan rindik. Kemudian nyantrik di Sanggar Maha Bajra Sandi Denpasar mengikuti jejak Amri. Dari pengalaman itu, ekspresi Dek Mani dalam memainkan gamelan Bali terus berkembang hingga dipercaya ikut dalam pementasan. Bersama kakaknya, ia sering terlibat dalam pementasan Gerebeg Aksara yang berlangsung di Tabanan, Karangasem, Klungkung, Denpasar dan Buleleng. Pernah juga tampil di Gedung Indonesia Menggugat Bandung dalam acara Manifesto kebudayaan solusi abad 21 dan mendukung pementasan ISI Denpasar yang berjudul “Gerhana Bulan Merah” di Taman Budaya Denpasar. “Sekarang ini masih rajin latihan yoga, disamping menabuh,” ujar Dek Mani kalem Disamping itu, Dek Mani juga masih aktif belajar magender di Sanggar Restu Budaya bimbingan I Gusti Lumbung. Sementara di kampungnya, Dek Mani bersama Amri juga aktif dalam komunitas seni dibawah naungan Pasraman Buratwangi. Di pasraman ini mereka selalu berekspresi lewat sekaa barong bangkung yang biasa ngelawang setiap Galungan dan Kuningan. Bahkan, sekaa barong bangkung dibawah naungan Pasraman Buratwangi itu sudah beberapa kali direkam TV nasional. Bahkan pernah menjadi peserta Festival Anak yang tayangkan di seluruh Indonesia. –Ngurah Budi

Mendongeng Lima Menit Bima ke Akhirat

Dek Mani

Made Taro

Amri

Mendengar berita Rsi Narada bahwa Sang Pandu dan Dewi Madri tinggal di neraka, Pandawa Bersaudara terkejut bercampur marah. Lebih-lebih dikatakan, orangtuanya itu menjadi kerak dari kawah

Candradimuka. “Tidak adil!” teriak Bima. “Aku harus menyelamatkan orangtua kita!” “Sabar anakku!” cegah Rsi Narada. “Orangtuamu sedang menjalani hukum karma, karena perbuatannya membunuh sepasang kijang yang sedang berkasih-kasihan di dalam hutan. Pasangan kijang itu sesungguhnya adalah jelmaan rsi.” Bima tidak mau menerima hukuman berat seperti itu. “Bukankah hukuman itu sudah ditimpakan kepada orangtuanya, yakni meninggal mendadak ketika sedang berkasih-kasihan?” Pandawa Bersaudara sepakat menunjuk Bima untuk menyelamatkan orangtuanya. Namun Bima sendiri tidak cukup, karena perjalanan menuju akhirat sangat jauh dan memerlukan tenaga besar. Untuk menambah kekuatan Bima, maka kakaknya Yudistira membantunya dengan duduk di bahu Bima, dan adik-adiknya Arjuna, Nakula, Sahadewa, bersembunyi di hati sanubari Bima. Setelah siap, lalu Bima terbang melesat menuju neraka.

“Hai, kau manusia! Jangan coba-coba masuk ke pintu gerbang neraka!” demikian cegat pengawalpengawal bersenjata di pintu gerbang. Mereka adalah anak buah Dewa Yama yang menjadi penanggung-jawab neraka. Bima tambah beringas. Dengan tenaganya yang besar, ia seketika dapat melumpuhkan perlawanan pengawal-pengawal itu. Di kawah Candradimuka, Bima mondar-mandir mencari orangtuanya. Namun sia-sia. Ia mencurigai sebuah jambangan besar yang dipanasi api terusmenerus. Ia gulingkan jambangan itu. Benar! Di jambangan itu terdapat banyak atma (roh) termasuk atma orangtuanya, Sang Pandu dan Dewi Madri yang sedang tidak sadarkan diri. Tak lama kemudian Dewi Madri mulai sadar, namun ayahnya Sang Pandu tampaknya tidak akan sadar. Yudistira mengajak adik-adiknya menyembah orangtuanya, namun Bima menolaknya. Saudarasaudara itu yakin apabila Bima mau menyembah orangtuanya, maka Sang Pandu akan siuman. Karena Bima tidak juga mau menyembah, maka timbul akal-akalan Nakula dan Sahadewa. “Kakanda! Mengapa tangan kakak tidak sama panjang?” kata Nakula dan Sahadewa pura-pura heran. Bima mencocokkan kedua tangannya dengan mengatupkannya. Nakula dan Sahadewa yang berpura-pura itu lalu membantu mengangkatnya ke depan kening Bima. Nah, terjadilah keajaiban itu! Perlahan-lahan Sang Pandu bangkit dari pembaringannya. Ia tersenyum melihat putra-putranya menyembah di hadapannya.

Edisi 875/ 16 - 22 November 2015

17

Di Balik Penjurian Lomba Menggambar dan Mewarnai

“Kekuatan Mereka Sama”

Lomba Mewarnai dan Menggambar untuk anak-anak tingkat PG/TK dan SD yang dihelat dalam Festival Keluarga Tokoh 2015, diikuti tak kurang dari 160 anak. Mereka sangat bersemangat mengikuti dan menyelesaikan gambar dan warna mereka dalam waktu 2 jam yang telah ditetapkan panitia.

T

ema “Kuliner ” yang disodorkan panitia, diaplikasikan beragam oleh peserta, khususnya kategori C (menggambar) yang diikuti anakanak kelas 4 s.d. 6 SD. Ada yang membuat gambar pedagang

harus menjadi juara, karena hampir sebagian besar hasilnya bagus dan memiliki kelebihan masing-masing. “Gambargambar ini kekuatannya sama. Karena kami harus mentukan 6 terbaik, terpaksa kami harus cari kelemahan-kelemahannya Suasana lomba menggambar dalam acara Festival Keluarga Tokoh 2015

Ny. Bintang Puspayoga bersama Ny. Satria Naradha saat memantau peserta lomba menggambar

dengan beragam pilihan menu Bali. Ada juga yang menampilkan menu khas Bali, babi guling dengan finishing warna yang pas. “Pas sekali warna babi guling ini. Dari warnanya, bisa dibayangkan kulitnya renyah,” ujar Dewa Aditya kepada Wayan Merdangga, didampingi tim Tokoh yang menjadi juri. Demikian halnya ketika menilai hasil mewarnai anak-anak PG/TK (kategori A) dan anakanak kelas 1 s.d. 3 SD (kategori B). Juri sempat bingung menentukan 6 gambar yang

dan harus tega menyingkirkan beberapa gambar,” ucap Wayan Merdangga sembari menjejerkan beberapa hasil karya anak-anak tersebut. Ny. Bintang Puspayoga yang hadir dalam acara tersebut juga berkesempatan memantau lomba. Tak henti-hentinya istri Menteri Koperasi dan UMKM ini berdecak kagum dengan hasil karya mereka. “Anakanak sekarang pintar-pintar mewarnai dan menggambar. Mereka banyak menggunakan

Para juri saat melakukan penilaian lomba menggambar

Pemenang Lomba Mewarnai Kategori A (PG/TK) Juara I : Putu Queenzha Ganika Dewi Juara II : Putu Savira Juara III : Dio Harapan I : Ami Harapan II : Nabila Bunga Wijaya Harapan III : Nayla Diva Octaviany

Pemenang Lomba Mewarnai Kategori B (kelas 1 s.d. 3 SD) Juara I : Eksa Eningtyas Juara II : Pande Regita AP Juara III : Karisha Niara Harapan I : Alif Harapan II : Nadia Harapan III : Ave

alat bantu, seperti kuas yang dipakai membersihkan,” ujarnya didampingi Ny. Satria Naradha, Widminarko, dan Ketua Panitia Ngurah Budi. Ia pun berharap untuk lebih sering lagi dilaksanakan keg-

iatan serupa untuk mewadahi kreativitas anak bangsa.Dengan kegiatan semacam ini dikatakannya turut menggugah imaginasi mereka dalam merealisasikan sebuah ide, khususnya dalam bentuk gambar. –Inten Indrawati

Peserta lomba mewarnai

Pemenang Lomba Menggambar Kategori C (kelas 4 s.d. 6 SD) Juara I : Tanaya Nazahwa Juara II : Steven Oktaviano Juara III : Luh Gede Intan Kusuma Pradnyani Harapan I : Leon Naga Harapan II : Aqila Adriana Putri Harapan III : Agung Surya Darma


16

Edukasi

Edisi 875/ 16 - 22 november 2015

Edisi 875/ 16 - 22 november 2015

Kiat Sukses Pemasaran UMKM Juara

MarkPlus Institute beker­ jasama dengan BRI menggelar Seminar “Pemasaran untuk UMKM” di 18 kota besar di Indo­ nesia. Seminar yang dilaksanakan Kamis (12/11) di Gedung Sewaka Dharma, Lumintang Denpasar adalah seminar hari ketujuh ber­ samaan dengan Kota Medan.

Satu lagi air terjun yang belum banyak diketahui oleh wisatawan, namanya Air Terjun Batu Lantang. Kesan alami ini bisa dilhat dari adanya bukit hijau dan perkebunan cengkeh milik warga setempat. Untuk menuju ke lokasi ini perlu perjalanan kaki yang jaraknya sekitar 500 meter dari pinggir Jalan Desa Sulangai, Petang, Kabupaten Badung, Bali. Air Terjun Batu Lantang meru­ juk dari sebuah nama desa disini, warga lokal pun menyebut dengan nama Air Terjun Gong, “ Karena dulu air terjun ini mengeluarkan suara seperti Gong, yang bersum­ ber dari aliran air yang jatuh ke bawah, “ ungkap Arik, warga Desa Adat Sulangai. Di sekitaran kawasan ini me­ mang masih terbilang alami. Pano­ rama perpaduan bukit dan per­ kebunan nampak jelas. Keberadaan perkebunan yang berada di lereng bukit ini menjadi satu- satunya akses yang menghubungkan hingga ke tempat hulu sungai, sekaligus keberadaan Air Terjun Batu Lan­ tang ini. Perlu waktu 30 menit perjalan­

Iwapi Kota Denpasar

Gelar “Fun Women Preneur Exhibition” Kegiatan “Fun Women Preneur Exibition” yang berlangsung sejak 30 Oktober hingga 3 November 2015 di Lippo Mall Kuta ini adalah implementasi dari perjanjian kerjasama atau MoU yang terjalin antara DPC Iwapi Kota Denpasar dengan Management Lippo Mall Kuta. Demikian diungkapkan ketua DPC Iwapi Kota Denpasar Jro Puspawati, S.Par. didampingi Sekretarisnya Made Asri Restuastuti Kardha, S.P., dan Bendahara Kenrina Anggoro Wulandari, pekan lalu ditemui di arena Lippo Mall.

D

alam seminar yang dihadiri para pelaku UMKM tersebut diisi dengan materi “Mana­ jemen Finansial untuk UMKM” oleh Widodo Januarso, Pemimpin Wilayah BRI Denpasar. Ia menyebut ada 5 langkah awal yang bisa dilakukan untuk membuka usaha sendiri, yakni ide usaha, rencana usaha, survei, persiapan, dan pengelolaan keuangan. “Cara memu­ lainya, belajar berkelompok dulu agar dapat keahlian keterampilan,” ujarnya. Langkah berikutnya adalah belajar men­ gelola keuangan. Hal ini bisa dilakukan dengan mengelola keuangan sendiri atau dengan bantuan konsultan. Tahap berikutnya, mencari setiap kegiatan terkait keuangan, membedakan kebu­ tuhan dan keinginanan, serta rekening koran. “Kuncinya disini har­ us disi­p lin ter­h adap pengeluaran. Dasarnya, mencatat,” imbuhnya. Setiap halnya harus direncanakan, ter­ masuk menyusun rencana pengeluaran. Langkah pertama, mulai membuat budget di awal bulan untuk mengeluarkan bulan berjalan, kemudian budget untuk tahunan. “Pastikan seluruhnya lebih ke­ cil dari pendapatan Anda,” ingatnya. Selain itu, Widodo mengingatkan pastikan ada uang disisihkan untuk ditabung. “Tentukan nilai tabungan yang wajar yang dapat Anda lakukan, perhatikan pola utang dan cicilan, juga asuransi,” ucapnya. Menabung ini pun dikatakannya dilakukan secara periode, dibuat di bank yang sama sehingga lebih efisien, dan anggap jumlah tersebut sebagai pengeluaran wajib. Narasumber lainnya ada­

9

Seminar “Pemasaran untuk UMKM” dilaksanakan Kamis (12/11) di Gedung Sewaka Dharma

lah Danu Sofwan, CEO PT JHD Randol Visi Utama. Ia menuturkan bagaimana dirinya yang berasal dari keluarga tak mampu, sepeninggal ayahnya, sejak tahun 2008 mencoba

berbagai usaha, namun usahanya tersebut kurang berjalan (bukan ga­ gal). Bahkan ia tak malu mengakui dirinya sempat jadi kuli angkut pasir yang hanya mendapat upah Rp 50 ribu

“Kecantol Brondong” Mengapa UMKM? Jumlah UMKM di Indonesia mencapai 55,2 juta, yang menyerap 97,2% tenaga kerja dari total angkatan kerja yang ada. Data Kementerian Koperasi dan UKM September 2013 mencatat UMKM ini memberikan kontribusi sebesar 57% pada Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia. Karena itu, Danu Sofwan, CEO PT JHD Randol Visi Utama mengatakan UMKM wajib meningkatkan daya saingnya, menjadi UMKM juara di negeri sendiri dan berani memasuki pasar luar negeri. Kiat sukses untuk pemasaran UMKM juara, harus berani mengubah sudut pandang, menyusun strategi dan taktik yang jitu. “Jual dengan cara kreatif diimbangi dengan jurus komunikasi yang efektif,” tandasnya. Bagaimana agar usaha kita berumur panjang? Danu Sofwan yang dalam waktu 5 bulan telah berhasil memiliki lebih dari 66 gerai Randol di Jakarta dan di luar Jakarta ini berbagi pengalaman. Ia menuturkan ketika dulu akan menentukan jenis usaha yang akan dilakoni, ia sempat bingung. “Dulu zaman bubble, jika saya ngikutin bubble akan jauh terting­ gal dari yang lebih duluan. Karena itu saya menciptakan pasar dan trend sendiri,” ujarnya. Pertama yang harus diketahui, usaha apa kita yang tak habis dimakan zaman, yang peminatnya sudah banyak. Setelah searching di internet, ia menemukan cendol. “Cendol itu dari zaman dulu peminatnya sudah banyak, tapi bagaimana caranya agar

Air Terjun Batu Lantang an dari jalan raya menyusuri jalan tanah perkebunan warga. Layaknya sebuah perkebunan cengkeh yang tumbuh di kawasan kemiringan lahan yang terjal. Ladang cengkeh, tanaman kopi, dan pohon kakao menjadikan perjalanan tambah sejuk memberikan keteduhan ke­ tika matahari berada tepat di atas kepala kita. Perlahan, bagian kemiringan bukit terlewati, suara gemerincing air terjun yang cukup deras mulai terdengar perlahan makin dekat. Keberadaan kandang sapi menam­ bah kesan alami alam pedesaan di­ sini. Kemiringan ini hanya dirasakan beberapa langkah saja, dan akhirnya sampailah di pinggiran sungai yang airnya merupakan aliran air jernih dari Air Terjun Batu Lantang. Sesampainya di bawah dengan tebing yang ada di sisi timur serta perkebunan warga di sisi baratnya menjadikan lokasi air terjun ini seolah dihimpit dan tersembunyi. Airnya yang dingin sangat terasa berhembus bersama angin men­ jadi udara sejuk yang terhempas dari ketinggian 25 meter. Sungguh keberadaan yang tersembunyi, dan masih terkesan alami, air

jernih ­dingin di siang yang terik ini menambah keindahan eksotis. Suara- suara serangga dan burung pun masih bisa jelas didengar me­ lengkapi suara air terjun.

seminggu, tahun 2013, demi untuk bisa menyambung hidup. “Rp 40 ribu saya berikan ke Ibu untuk biaya hidup, Rp 10 ribu disisihkan untuk disimpan,” ungkapnya.

“Karena waktu tidak pernah ber­ jalan mundur, maka hidup adalah ten­ tang maju. Jadi apapun yang terjadi, kita harus tetap maju,” imbuh Danu bersemangat. –Inten Indrawati

cendol ini market-nya bisa lebih luas lagi. Saya poles sedikit, santan diganti susu, topping-nya saya pakai yang diminati pasar sekarang,” kisahnya. “Jadi kalau mau buat usaha, jangan ikut-ikutan, cobalah melawan arus. Namun harus dipahami dulu produknya tidak musiman,” imbuhnya lagi. Ketika musim hujan, bagaimana agar es cendel ini tetap laku? Danu pun menawarkan produk baru yakni roti pang­ gang saus cendol. Di tengah maraknya UKM-UKM yang menawar­ kan produk sejenis, bagaimana agar konsumen ingat dengan produk kita? “Ciptakan keunikan. Keunikan ini akan membedakan kita dari para pesaing,” tegas Danu Sofwan yang karena sukses di Randol, diundang menjadi bintang tamu dalam siaran “Hitam Putih” dan Danu Sofwan “Fesbuker” ini. Keunikan bisa dilihat dari isi, penyajian, maupun infrastruktur. Terkait isi misalkan, sampaikan dan lengkapi produk dengan data yang relevan, mendukung dan memberikan nilai lebih bagi konsumen. Bisa juga dengan memberikan nama yang unik. Seperti be­ berapa varian Randol yang ia beri nama “Kejendol” (keju en cendol), “Kecantol Brondong” (keju campur cendol brownies enak dong). Untuk infrastrukstur, ia memakai gerobak warna-warni. –Inten Indrawati

Luas bibir sungai tidaklah begitu luas dan tidak memberikan arus sungai yang deras. Keberadaan batu yang berlumut menambah yakin jika tempat ini memang jarang dikunjungi pengunjung dan masih dibiarkan begitu saja tanpa dihiasi penanda sebagai layaknya tempat wisata. Salah seorang pengunjung, Made Suartana, untuk ketiga kalinya datang ke Air Terjun Batu Lantang mengagumi kesan alami yang disu­

guhkan, “ Saya sangat menyukai air terjun di Bali, dan yang ini masih alami diantara yang lainnya, “ ung­ kap pria asal Kerobokan, Badung. Kawasan ini bisa menjadi pilihan sebagai tujuan agrowisata, karena masih alami, fasilitas berupa lahan parkir dan fasilitas umum belum ada sama sekali. Parkir hanya me­ manfaatkan pinggir jalan raya atau memanfaatkan lapangan bola yang tidak jauh dari tempat air terjun berada. – Eka Juni Artawan

IA Selly D. Mantra

AAA Ngr. Tini Rusmini Gorda

ikatakan oleh Jro Puspa bahwa kegiatan terse­ but merupakan pro­ gram kerja dari bidang Humas dan Kemitraaan serta Bidang Perindang dan Luar Negeri. Acara ini juga untukmenumbuhkan rasa percaya diri para penggeliat usaha khususnya anggota Iwapi Kota Denpasar dalam menjawab serbuan globalisasi, dengan memasuki pasar modern dan siap menghadapi MEA. Namun, lanjutnya mereka leb­ ih menekankan kepada esensi dari

ekonomi kreatif itu sendiri. Karena ide dan inovasi dapat terus mengalir dari pencetus ide. Dan, ini menjamin pemilik ide kreatif bisa memperoleh manfaat ekonomi serta keuntungan yang layak dari hasil kreativitas mer­ eka, selanjutnya akan menjadi stimulus munculnya ide-ide baru lagi.

D

BUKAN SEKADAR NGUMPUL Menurut AAA Ngr. Tini Rusmini Gorda, sebuah organisasi bisa berjalan dengan baik, jika mampu mengelola team work dan networking. Apalagi Iwapi

sudah semestinya mengedepankan networking dengan siapa saja, dimanapun, kapanpun agar dapat menjalankan program kerja dalam hal berpameran. Selaku ketua DPD Iwapi Bali, Tini Gorda sangat mengapresiasi cara cerdas DPC Iwapi Denpasar yang sudah sangat mengedepankan net working dalam menggelar sebuah acara trade fair. Hal ini, katanya patut ditiru oleh DPC Iwapi Kabupaten lainnya. “Kenapa trade fair seperti ini penting dilakukan? Sebab di sinilah ruang yang paling cerdas untuk para pelaku UKM belajar menata barang,berkomunikasi, belajar menjadi marketing agar produkproduknya dapat diminati orang. Juga belajar menanggung risiko dan masih banyak lagi yang bisa dipelajari jika bisa membuat kegiatan pameran,” ujar Tini Gorda. Selanjutnya dikatakan inilah man­ faat kita bisa berorganisasi di Iwapi. Ada media untuk promo. DPC Iwapi Denpasar sudah menunjukkan bahwa bergabung dengan Iwapi tidak hanya sekadar ngumpul tapi ada nilai positif yang diraih. Begitu juga dengan IA Selly D.

Mantra, mengatakan salut kepada Iwapi Kota Denpasar yang sudah melakukan kerja sama dengan Lippo Mall Kuta, melalui program “Women Preneur Exhibititon”. UKM yang dikoordinir oleh Iwapi Denpasar, katanya di sini diberikan peluang untuk mengenalkan produk mereka pada khalayak sekali­ gus memperluas peluang pasar, meng­ ingat lokasi mal yang banyak dikunjungi wisatawan lokal maupun luar. Dengan adanya Preneur Exhibi­ tion ini, Selly D Mantra yang juga Pembina DPC Iwapi Kota Denpasar

ini menambahkan bahwa momen ini merupakan ajang promosi yang efek­ tif pada wisatawan lokal atau manca negara bisa lebih mengenal produk dari Bali dan Denpasar khususnya, apakah itu kain tenunnya, ragam handycraft, perhiasan maupun makanannya. Selain dapat menjadi kesempatan emas untuk mem-branding image produk. Dengan begitu, awareness di benak pengunjung akan mudah tertanam.Visual adalah aspek penting untuk diperhatikan, dan ini sudah dilakukan oleh Iwapi Kota Denpasar. -ard

Terima Kasih Kepada Kanwil BNI 46 Bali BNI 46 Gatot Subroto Management Lippo Mall Kuta Pembina DPC Iwapi Kota Denpasar Dewi Setyowati, Pimpinan Perwakilan BI Provinsi Bali DPD Iwapi Bali HIPMI Bali Asephi Bali DPC Iwapi Badung DPC Iwapi Gianyar Klinik Konsultasi Bisnis Iwapi Bali IODI Bali Sanggar Penggak Mersi Dance Sport Calish Band Atrizu Band Tabloid Tokoh Peserta Pameran Andrayna Art, Bali Wine, AUBEAU, Mayoci Bali, Nikki & Meiga Collection, Izatta Wedding & Decoration, Arda Wooden Shoes & Bags, Pramada Rumah Kebaya, Lili Fauziah Diamond, Pie Susu Chacha, Bali Puspa, Neluwung Art Accessories, Paras Ayu Butik, Belanglicius, De Sutra, Araya, Pie Susu 21, My Preciouse, Nature Cake, Ardiani Collection


10

Edisi 875/ 16 - 22 November 2015

Waria Rentan HIV? Keberadaan waria (wanita pria) di tengah-tengah masyarakat adalah sebuah realita. Mereka adalah kelompok minoritas yang juga ingin diperlakukan layaknya orang normal, secara manusiawi. Namun, sampai saat ini masih ada stigma negatif masyarakat akan keberadaan mereka. Apakah waria ini rentan menularkan HIV/AIDS?

“T

idak juga. Jika mereka rentan penyakit, itu karena gaya hidupnya. Misalnya seks bebas, pemakaian narkoba dengan berbagi jarum suntik. Inilah yang bisa menjadi HIV/ AIDS atau terkenan penyakit kelamin (infeksi menular seksual/ IMS). Waria, tidak cenderung pasti menjadi seperti itu,” tegas Kepala Puskesmas Denpasar Utara 2 dr. Emilia Sabiruddin, disela-sela acara peresmian Rumah Singgah di Jalan Bung Tomo III Denpasar. Dokter Emilia menjelaskan, sikap mereka menjadi wanitapria (waria) ini, mengutip dari sebuah penelitian tahun 2002, oleh Moris (Amerika), dikarenakan sumber hormon di otak (hipotalamus) ukurannya 1/3 lebih kecil dari ukuran normal. Hal ini yang tak disadari dari kecil, orangtua juga tidak menyadarinya sehingga sikap bawaan ini tumbuh dengan sendirinya. “Bahkan ada di antara mereka yang diusir dari rumahnya karena orangtua tidak menerima kondisi anaknya seperti itu,” ujar ‘Bunda’nya para Waria ini. Penyebab utamanya mereka seperti itu, dikatakan dr. Emilia karena tuntutan ekonomi. “Jadi mata pencaharian ya nyebong (mejeng) itu, semacam PSK,” imbuhnya. Hal ini juga dikarenakan stigma negatif di masyarakat yang belum menerima keadaan waria. Dari penuturan beberapa waria kepada dr. Emilia yang menyarankan mereka untuk bekerja biasa, terungkap beberapa kisah pilu. “Saya pernah

Dr. Emilia Sabiruddin

bekerja ngangkat batu, tapi saya tidak kuat pakai baju laki-laki, itu saya lakukan sebulan. Saya tidak tahan, akhirnya pakai baju perempuan. Saya diledekin bencong dan diusir, dan akhirnya berhenti kerja,” tutur seorang waria kepada dr. Emilia. Kisah lainnya, ada juga yang bekerja di Spa sebagai tukang refleksi khusus laki-laki. Ketika sesuatu jatuh sesuatu,…ehhh (latah) kewanitaannya keluar. Akhirnya diberhentikan dan mereka tidak punya kerjaan, terpaksa nyebong. Ada juga yang bekerja sebagai waitres di Ubud, tetapi gaji tak memadai karena harus mengontrak kamar di Ubud. “Terpaksa mereka nyebong lagi, karena tuntutan ekonomi dan stigma negatif masyarakat,” tegas dr. Emilia. Dengan keberadaan Rumah Singgah yang diresmikan Jumat (13/11) yang merupakan bantuan dari para donatur Bali Rainbow Community dan dukungan

Mitos

Dr. Emilia serta perwakilan dari Bali Rainbow Community dan Yayasan Spint Paramacita berfoto bersama Warcan

Yayasan Spint Paramacita ini, ia Warcan ini tidak mau bergabung dengan adanya Rumah Singberharap tempat ini bisa menjadi dengan PSK atau ibu-ibu hamil gah ini, ia menyarankan agar tempat berkumpulnya para war- yang positif HIV. “Dari segi kes- anggota Warcan selalu mejaga ia untuk diberikan edukasi, pen- ehatan, kami senang ada lokal- kebersihan lingkungan, memilah gobatan dan perawatan penyakit isasi seperti Rumah Singgah ini. sampah, den melakukan pemersecara umum, khususnya HIV Karena lebih memudahkan kami iksaan kesehatan rutin. “Rumah dan IMS. “Dengan terlokalisasi memantau penularan penyakit,” Singgah juga bisa menjadi pusat ini akan lebih memudahkan kami ujar dr. Emilia yang kini sedang informasi, edukasi, dan pe(Puskesmas) untuk melakukan mencoba memasilitasi agar War- nyuluhan kesehatan bagi warga pemantauan,” ujarnya. can ini memiliki kartu BPJS. sekitar,” tandasnya. Koordinator Warcan (waria Yang paling penting adalah, –Inten Indrawati cantik), Emil menyampaikan rasa terimakasihnya atas dukun“Saya pernah bekerja ngangkat batu, tapi saya tidak kuat gan ini. Rumah Singgah, walau pakai baju laki-laki, itu saya lakukan sebulan. Saya tidak tempatnya kecil dikatakannya tahan, akhirnya pakai baju perempuan. Saya diledekin ditujukan sebagai wadah berkumpulnya para waria, untuk bencong dan diusir, dan akhirnya berhenti kerja” meningkatkan rasa kekeluargaan dan tali silaturahmi makin erat. “Karena kami rentan dengan penyakit tersebut, kami rutin melakukan pemeriksaan 3 bulan sekali berkoordinasi dengan PuskesIkutilah Pemilihan Top Models Bali 2015, memperebutkan Piala Gubernur. mas Denut 2,” Pendaftaran Gratis. Untuk Kota Denpasar, Audisi dilaksanakan pada Minggu, ujarnya. 22 November 2015. Grand final, Minggu 19 Desember 2015 di Art Centre Dokter EmilDenpasar. Menangkan total hadiah Rp 60 Juta dan hadiah menarik lainnya. ia mengimbuhPersyaratan : Pria dan Wanita usia 15-23 tahun, tinggi badan minimum wanita kan, program 165 cm dan pria 175 cm, setiap peserta wajib mengisi formulir dan melampirkan Puskesmas : 1 lembar foto close up, 1 lembar foto seluruh badan (foto yang dikirim adalah Denut 2 yang foto tanpa proses editing). Peserta yang terpilih akan dihubungi oleh panitia kini gencar diuntuk mengikuti penyisihan. lakukan adalah Peserta dapat melakukan pendaftaran online ke: pemilihanmodelbali@gmail.com. dapat menekan Atau diserahkan langsung ke: Malia Boutique, Jalan Raya Basangkasa Seminyak. Info peningkatan lebih lanjut, hubungi Ary Agung ( Montana Agency), Telepon (0361) 7151033, kasus HIV dan mobile 08123929356, BIMA Management : Pin 59D9C480, WA 082145312183, FB IMS, baik keBIMA, IG bima_management, Email : pemilihanmodelbali@gmail.com. pada ibu hamil, maupun populasi risiko tinggi, juga pada PSK. Hanya memang

Ikuti Top Models Bali 2015

Kunjungan Sales Hotel Santika Seminyak

Tim sales Hotel Santika Seminyak yang dipimpin Sales Manager Kd. Dwi Yanni melakukan kunjungan ke Gedung Pers Bali K. Nadha, Denpasar, Rabu (11/11). Mereka diterima Manajer IKlan Bisnis Bali Dewa Budiyasa dan Redaktur Pelaksana Tokoh Ngurah Budi. Dalam kesempatan tersebut, Dwi Yanni yang akrab disapa Angel mengatakan siap menjalin kerja sama dengan Bisnis Bali dan Tokoh. Mereka juga mengharap dukungan karena Hotel Santika Seminyak akan segera melaksanakan grand opening.

Kunjungan tim sales Hotel Santika, Seminyak ke Gedung Pers Bali K. Nadha, Rabu (11/11).

Style

Edisi 875/ 16 - 22 November 2015

Sporty tetap Feminin Busana kasual adalah pilihan model ready to wear atau siap pakai yang paling cocok dikenakan dalam kegiatan seharihari. Apalagi modelnya memberikan kesan santai dan ­terasa nyaman saat dikenakan.

P

ekan lalu, beberapa model muda berbakat tampil di panggung “Lomba Fashion Show” HUT ke 17 –Tokoh, hadir menyuguhkan berbagai kreativitas. Mulai dari kasual feminin, sporti , seksi dan lainnya dengan desain yang sangat trendi sehingga semua tampil menawan. Gaya pakaian kasual perempuan ditampilkan diantaranya dalam bentuk padanan celana pendek atau dress yang memadukan nuansa etnik endek dan mod-

ern dilengkapi sentuhan aksesori cantik. Sedangkan yang pria meski lebih simpel termasuk pemilhan motifnya namun tetap tampil gaya. Bagi para remaja, busana tersebut dapat dikenakan untuk jalan – jalan, berkunjung ke rumah teman, kerabat, ke kampus atau sekadar untuk gaya berpakaian saat keluar rumah. Berikut beberapa pilihan busana kasual remaja, pria dan wanita pilihan pekan ini yang dipamerkan beberapa orang model. -Sri Ardhini

15


14

Jelita

Edisi 875/ 16 - 22 november 2015

Wajah Bercahaya saat Pesta Jika dalam suatu kesempatan seseorang hadir di suatu acara pesta kemudian terden­ gar ­komentar atau ucapan yang mengatakan “wow cantik sekali”, ini salah satu yang tanda make up yang digunakan berhasil membuat pe­ makainya tampil lebih baik.

Suhartatik

M

enurut Suhartatik, salah seorang MUA (Make Up Artis) Bali, pemilik Tatik Skin Care di Denpasar, make up atau tata rias terbaik adalah yang mampu menjadikan seseorang tampil beda, bahkan lebih cantik dari biasanya. “Jika berhasil membuat orang pangling itu artinya riasannya sudah cocok dengan wajah dan usianya, sehingga mampu menonjolkan kelebihan wajah seseorang,” katanya. Sesungguhnya, kata Tatik setiap orang memiliki kelebihan masing-masing, untuk bisa lebih terlihat dengan make up. Ini bisa dilakukan sendiri jika sudah mengetahui panduan menggunakan make up untuk ke acara pesta. Langkah awal dalam proses make up, yang penting adalah adalah memilih warna foundation yang sesuai dengan kulit wajah.

Selanjutnya jika ingin menggunakan concealer jangan yang warnanya lebih terang dari kulit wajah atau jangan terlalu tebal. “Untuk make up pesta juga, bedak terbaik adalah memakai loose powder dengan kuas yang besar. Maka kita tidak akan memulaskan bedak terlalu tebal pada wajah, sehingga dapat mencegah bentuk alami wajah seseorang tertutupi,” terangnya. Kalau ingin memilih compact powder, pastikan warnanya sesuai dengan tone kulit. Bagi pemilik kulit yang kebetulan tengah berjerawat, gunakan foundation dan concealer terlebih dahulu sebelum memakai bedak. Untuk lebih sempurna, aplikasikan juga wajah dengan illuminating powder memakai kuas. “Bedak yang biasanya terdiri dari gradasi warna yang lembut ini, dapat membuat kulit wajah terlihat lebih sehat dan bercahaya,” ujarnya. Selanjutnya menangani kulit wajah yang biasanya pucat di wajah, yakni pipi, adalah dengan mengaplikasikan blusher dan berikan ketajaman pada tulang pipi agar struktur wajah lebih menonjol. Tatik juga mengatakan untuk memilih blush on yang menggandung shimmer demi memberikan kesan sparkling pada wajah. Ketika bicara lips­ tik, pilih yang warna­ nya kuat dan paling

kelihatan pada bagian wajah, maka gunakanlah warna lipstik yang senada dengan warna rambut. Selain lipstik, kita juga bisa menggunakan liptint. Warna pada liptint biasanya lebih mudah muncul dan tahan lama. Ujungnya yang berbentuk seperti pena, menjadikannya lebih mudah diaplikasikan. WARNA GELAP UNTUK MALAM Jika acara pesta dilakukan pada malam hari, yang cocok adalah kesan vampy dengan lipstik warna yang gelap. Ini juga pas untuk mereka yang berambut hitam. Untuk acara pada siang hari, dapat memilih warna yang lebih cerah dan lembut seperti warna peach. Eyeliner dapat sesuaikan dengan warna lipstik. Eyeliner

Bugar

Edisi 875/ 16 - 22 november 2015

MASALAH KEBUTAAN UTAMA DI MASYARAKAT dr. Wayan Gde Dharyata,Sp.M.(K). Ophthalmologist Consultant & Ketua Komite Medik Siloam Hospitals Bali

tebal tidak masalah yang penting proses pemakaiannya benar dan tidak melenceng keluar dari area mata. Sama seperti lipstik, kata Tatik gunakanlah warna gelap untuk malam hari dan warna yang lebih lembut untuk acara pesta di siang hari. Bagi mereka yang ingin menambah kesan yang unik, cobalah memakai eyeliner berkilau pada bagian ujung dalam mata dekat tulang hidung. “Warna berkilau ini juga dapat Anda pakai tepat di bawah alis mata, trik ini akan menyamarkan mata yang ‘beler’ atau lelah,” ucap Tatik, dan mengatakan untuk acara pesta lebih

dianjurkan menggunkan eye liner cair atau bentuk gel, karena, selain warnanya lebih “keluar”, eye liner dengan jenis ini juga lebih tahan lama Mengenai warna eye shadow, sebaiknya disesuaikan dengan dress yang akan dikenakan. Bubuhkan eyeshadow yang gelap di kelopak mata bagian bawah, lalu yang lebih terang di bagian atas kelopak. Jika suka dapat menambahkan bulu mata palsu, untuk tampilan mata yang lebih glamor dan menarik. Untuk mascara aplikasikan secara perlahan serta hati-hati agar tidak terjadi tumpukan pada bulu mata. - Sri Ardhini

11

Kebutaan telah menjadi masalah sosial di Indonesia dengan angka kebutaan 1,5% (Hasil survey Depkes RI 1993-1996). Adapun penyebab kebutaan yang utama adalah kebutaan lensa (katarak.) 52,0%, ke­ butaan saraf mata (glaucoma) 13,4%, kebutaan re­ fraksi 9,5%, ­­kebutaan retina 8,5%, kebutaan kornea 6,4%, kebutaan karena radang 2,4% dan lainnya 7,8%. Setiap tahun kebutaan bertambah 0,1%. Di Indonesia terjadinya ­kebutaan setiap 3,5 menit. (Prof.Istiantoro.2004).

A

da 2 katagori kebutaan yaitu pertama kebutaan sosial dimana seseorang sudah tidak mampu menghitung jari sampai jarak 3 me­ ter sedangkan yang kedua kebutaan ekonomi dimana seseorang sudah tidak mampu menghitung jari pada jarak 6 meter. Kebutaan sosial mengandung pengertian bahwa kehidupan sese­ orang sangat tergantung dari orang lain baik untuk kegiatan sehari-hari seperti makan atau ke kamar mandi dll. Sedangkan yang dimaksud den­ gan kebutaan ekonomi adalah ketika orang tersebut sudah tidak mampu lagi bekerja produktif secara ekonomi atau untuk mendapat penghasilan perlu bantuan orang lain. Kebutaan bisa bersifat sementara, seperti kebutaan katarak apabila telah dilakukan operasi akan bisa melihat kembali secara optimal, berbeda de­ ngan kebutaan akibat glaucoma atau kelainan saraf lainnya sering menyebab­ kan kebutaan yang permanen karena terlambat mendapat penanganan.

Katarak Katarak adalah setiap kekeruhan yang terjadi mengenai lansa mata. Kata­ rak dapat terjadi sejak bayi dilahirkan dapat juga terjadi pada anak-anak, orang dewasa dan yang terbanyak adalah pada orang tua karena proses degenerasi.

Penyebab katarak antara lain karena keturunan, gangguan saat bayi dalam kandungan, trauma atau kecelakaan, obat-obatan, infeksi mata dll. Katarak yang disebabkan proses degenerasi bia­ sanya terjadi secara berangsur-angsur sehingga ada yang disebut katarak in­ sipient, immature, sampai hipermatur. Keluhan yang sering adalah penglihatan seperti berkabut, silau sampai buta. Ada 2 indikasi operasi katarak yaitu indikasi medis apabila katarak telah menyebabkan kebutaan atau katarak telah menimbulkan banyak komplikasi. Indikasi yang lain adalah indikasi sosialyaitu apabila katarak telah me­ nyebabkan terganggunya kegiatan yang sehari-hari dikerjakan. Operasi katarak pada prinsipnya adalah mengeluarkan kekeruhan lensa yang telah mengganggupenglihatan un­ tuk kemudian menggantikannya dengan lansa yang baru sehingga seseorang bisa melihat kernbali dengan lebih baik. Teknik operasi yang banyak di­ lakukan adalah teknik intrakapsuler, ekstrakapsuler, small incision, fekoe­ mulsifikasi dan femtolaser dengan fekoemulsifikasi. Glaukoma Glaukoma merupakan kumpulan gejala atau sindroma yaitu terjadinya kerusakan saraf optik atau penglihatan, penyempitan sampai hilangnya lapang

Upaya pencegahan sangat penting karena glaukoma dapat me­ nyebabkan kebutaan permanen sehingga menjaga tekanan bola mata normnl meme­ gang peran utama. Te­ kanan bola mata yang normal berkisar dari 8 mmHg sampai 18 mmHg, apabila lebih dari 20 mmHg perlu mendapat perhatian. Penggunaan obat-obat tetes mata yang ber­ langsung lama perlu juga dilakukan pemer­ iksaan tekanan bola mata. Walaupun tidak ada keluhan sebaiknya sejak usia 40 tahun perlu sering melakukan pemeriksaan tekanan bola mata, pemeriksaan lapang pandangan dan yang lebih penting ada­ lah pemeriksaan fundus atau retina secara rutin untuk melihat progress atau perubahan yang terjadi terutama pada dr. Wayan Gde Dharyata,Sp.M.(K). saraf optik atau papil. Dalam rangka pencegahan kebutaan pandangan yang disertai oleh pening­ pada penyakit, glaukoma diawali den­ katan tekanan bola mata. Glaukoma bisa bersifat herediter gan pengobatan untuk menurunkan yang terjadi sejak dilahirkan dan makin tekanan bola mata melalui penurunan tampak dengan bertambahnya usia, ka­ produksi akuos humor atau menin­ tarak, karena sering mengalami infeksi gkatkan pengeluaran akuos humor dalam bola mata atau karena penggu­ melalui penyerapan bahkan operasi trabekulektomi untuk memperluas naan obat-obatan seperti steroid. sudut pengeluaran akuos humor. Seseorang yang mengalami glau­ coma sering tidak menyadari karena Penutup gejalanya terselubung oleh keluhan Ada beberapa penyebab kebutaan yang lain sehingga terasa mendadak yang lain di Indonesia akan tetapi tiba-tiba saja menjadi buta sehingga apabila kebutaan katarak dapat di­ glaukoma disebut sebagai si pencuri tanggulangi dengan serentak dan ke­ penglihatan. butaan glaukoma dapat dicegah baik Gejala penyakit glaukoma tergantung dengan pengobatan atau operasi maka penyebabnya, ada yang akut dan kronis. masalah kebutaan tidak lagi menjadi Gejala glaukoma akut dirasakan sakit masalah sosial. kepala yang hebat, adanya penglihatan Penanggulangan kebutaan di halo seperti pelangi, dan mendadak masyarakat harus dilakukan secara kabur sering karena sudut pembuangan serentak, bersama dan terintegrasi akuos humor yang sempit sampai ter­ oleh semua pihak yaitu political will tutup, sedangkan pada glaucoma sudut pemerintah, private sector, lembaga yang terbuka sering hampir tanpa gejala swadaya masyarakat, dokter spe­ tetapi lama-kelamaan menjadi kebutaan sialis mata dan peran serta seluruh masyarakat. yang permanen.


Kuliner Demo Masak Chef Sarwan Makaroni dan Pudding Istimewa Diserbu Penonton

12

Edisi 875/ 16 - 22 November 2015

W

Demo masak bersama Chef Sarwan

alaupun ia mengatakan, sering berkunjung ke Bali, tapi perjalanan kali ini menjadi sangat menarik dan penuh kenangan. Meletusnya anak Gunung Rinjani yang membuat Bandara Ngurah

Rai buka-tutup mengharuskan ia memilih jalan darat menuju Bali. “Saya berangkat pukul 5 pagi dari Surabaya naik travel. Sampai Bali pukul 7 malam. Capeknya. Eh, ini malah kena sakit gigi sampai di Bali,” ujarnya sambil memegang

Makaroni Kukus Saus Tiram AAA Chef Sarwan saat beraksi di demo masak Festival Keluarga Tokoh 2015

Setelah itu, ia mengaku tidurnya kurang bagus. “Mungkin karena kecapekan,” kata Sarwan. Namun, di hari kedua, Sarwan dan istri bisa menikmati istirahat dengan baik di Hotel Golden Tulip Denpasar. “Hari kedua lumayan baik dan mulai bisa menyesesuaikan, apalagi sakit giginya juga sudah ikut membaik. Yang jelas saya senang banget bisa mendemokan masakan di depan para penonton yang memenuhi halaman Gedung Pers Bali K. Na-

dha. Resep yang saya sajikan juga sangat mudah,” ucapnya. Salah seorang penonton demo masak, Iin Eka Santhi mengatakan sangat menikmati demo masak dari Sarwan. “Dengan alat-alat dari Tupperware memasak jadi lebih mudah ya. Saya baru tahu,” katanya. Sementara, Desak Astari yang datang bersama lima orang temannya mengatakan, makaroninya enak dan sangat inovatif. –Wirati Astiti

Bahan: 500 gr : makaroni rebus setengah matang 200 ml : susu UHT 200 gr : kornet daging 2 butir : telur ayam 1 buah : bawang Bombay cincang dengan coper Tupperware 4 siung : bawang putih cincang halus 2 buah : sosis ayam cincang dadu 1 sdm : daun seledri cincang 1 sdm : daun bawang cincang 200 gr : keju cheddar parut 2 sdm : saus tiram AAA 1 sdm : saus rasa sedap 1 sdm : minyak wijen AAA Garam dan lada secukupnya Margarin secukupnya Cara membuat: - Panaskan margarin, masukkan irisan bawang Bombay dan

Luncurkan Buku Keempat Menjadi OB (office boy) bukanlah halangan bagi seorang Sarwan untuk mengejar mimpinya sebagai chef. Dengan gayanya yang polos, lucu, dan sangat Jawa, Sarwan menarik perhatian penonton terutama ibu-ibu. Masakan Sarwan begitu juga menampilkan dirinya yang polos. Walaupun tidak masuk 3 besar dalam Master Chef Indonesia, Sarwan yang kini dikenal sebagai selebrity chef ini, kebanjiran job. Suami Umiyatin ini dipercaya medemokan masakan dengan produk Tupperware, Indofood, Benardi, Fiesta. Selain itu, ia juga menjadi konsultan beberapa rumah makan, café, dan hotel. Lelaki yang bolak-balik JakartaSurabaya untuk urusan kerjaan ini, mengatakan sangat menikmati kesibukannya setelah terkenal menjadi chef. Bahkan, beberapa resep ciptaannya telah dibukukan dan laku di pasaran. Malah saat ini ia sudah meluncurkan bukunya yang keempat yang berjudul “Khusus Penyetan”. Buku ini sudah dicetak ulang. Cetakan pertama sebanyak 20 ribu eksemplar laku di pasaran. Menurut Sarwan, buku khusus penyetan sangat digemari karena berisi bermacam-macam sambal. “Masyarakat Indonesia paling suka sambal. Dalam buku itu, ada berbagai kreasi sambal baik untuk ayam dan ikan,” tuturnya beberapa saat sebelum demo masak digelar. Sejak menjadi artis, Sarwan mengatakan, jarang ada waktu

Sarwan

Buku resep Chef Sarwan

untuk keluarga. Karena itu, ia manfaatkan waktu bekerja dengan mengajak istri tercintanya, Umiyatin. “Kebetulan ada undangan demo masak di Bali, saya ajak istri. Saya anggap saja bulan madu ketiga,” ujarnya sembari tertawa. Walaupun belum dikarunia momongan, Sarwan tetap semangat. Bersama teman-temannya dan teman istrinya di pondok pesantren, ia mendirikan Yayasan Yatim Duafa, untuk membantu anak-anak yang kurang beruntung. Walaupun banyak yang menyebutkannya celebrity chef, ia menampik sebutan itu. Ia dengan percaya diri malah memanggil dirinya dengan sebutan chef katrok. “Justru saya bangga dari OB bisa jadi chef. Nggak apa-apa disebut chef katrok,” ujarnya cekikikan. Nasib Sarwan memang lagi mujur. Bos di tempatnya bekerja seba-

gai OB di PT Gio Given, Bapak Anton memiliki satu food court. Sarwan dipercaya menjadi konsultannya. Tugasnya sebagai konsultan makanan, adalah memperbaiki rasa masakan agar menjadi lebih enak. Sebelumnya, walaupun tidak bekerja lagi sebagai OB, Sarwan tetap digaji. “Tahun lalu saya masih digaji. Tapi sekarang, saya bilang ke Pak Anton, sekarang saya sudah dapat uang dari jerih payah sebagai chef,” katanya. Ada satu pesan Sarwan kepada generasi muda. “Jangan pantang menyerah untuk meraih cita-cita. Jangan pernah berharap punya cita-cita kalau tidak ada kemauan. Kalau tidak punya kemauan, tidak akan terlaksana. Pokoknya harus semangat, pantang menyerah. Walaupun mengalami kegagalan jangan menyerah,” ujarnya. –Wirati Astiti

Puding Busa

13

Acara demo masak yang digelar dalam rangkaian Festival Keluarga ­Tokoh 2015, menghadirkan selebrity chef sarwan yang juga ­mengisi rubrik kuliner di Tabloid Tokoh. Ada dua resep disajikan yang ­pembuatannya sangat mudah. Berikut resepnya. –Wirati Astiti

Ada yang istimewa dalam perhelatan Festival Keluarga Tokoh 2015, yang digelar Minggu (8/11) di Wantilan Gedung Pers K. Nadha. Salah satu acara, demo masak yang dibawakan chef Sarwan, finalis pencarian bakat memasak Master Chef Indonesia yang digelar salah satu televisi swasta nasional. pipi kirinya sembari meringis. Namun, walaupun capek dan sakit gigi, tak mengganggu konsentrasinya untuk mendemokan masakan racikannya. “Ada kesempatan bisa berlibur di Bali, sekaligus berkunjung ke seorang teman. Untung juga sudah dibelikan obat sakit gigi oleh kru Tokoh,” kata Sarwan sembari tertawa. Sampai di Bali, ia tak langsung bisa istirahat. Walaupun jam sudah menunjukkan pukul 8 malam, ia harus menyiapkan satu makanan sebagai tasting food demo masak keesokan harinya. Bersama kru dari Tupperware, Sarwan datang malam-malam ke Gedung Pers Bali K. Nadha dan memasak pudding busa di kantin. “Syukurnya ada kantin dan ada kulkas. Ada tempat untuk menyimpan pudding agar bisa beku,” kata Sarwan yang juga pengisi rubrik tetap kuliner di Tabloid Tokoh ini.

Edisi 875/ 16 - 22 November 2015

Chinesse Food

ati Nikm Hanya di...

& Aneka Es Taiwan

Cafe Santai

Dapatkan free ximilu setiap pembelanjaan Rp 50.000 ke atas

Es Teler

iah Murah Mer & Bersih

Cumi Saus Tiram

Berlaku mulai 1 s.d. 30 November 2015

Jln. Raya Sesetan No. 293 Denpasar. Tlp. (0361) 7440658, 7427678

Bahan: 2 ekor : kepiting, bersihkan, rebus 2 lbr : daun jeruk, buang tangkainya, iris halus 2 ruas : jari lengkuas, memarkan 1 batang : serai, memarkan 4 sdm : kecap manis 1 sdt : lada bubuk Garam, gula, kaldu bubuk, air dan minyak secukupnya Bumbu halus: 3 siung : bawang putih 5 buah : bawang merah 2 buah : cabe merah besar 5 buah : cabe rawit Cara membuat: - Tumis bumbu halus bersama irisan daun jeruk, lengkuas dan serai hingga harum, lalu masukkan kecap manis, lada, garam, gula dan kaldu bubuk rasa ayam. Kemudian tambahkan air dan masuk-

Bahan 1: 1 bungkus : agar-agar putih 500 ml : susu cair 10 sdm : gula pasir 3 butir : putih telur Sedikit garam

bawang putih hingga harum. Lalu masukkan kornet, sosis, dan aduk hingga tercampur dengan irisan bawang Bombay. - Masukkan makaroni, susu, dan bahan lain, telur, keju, irisan wortel. Lalu aduk hingga tercampur rata. Matikan kompor. - Kocok telur lalu siram ke dalam

makaroni, aduk hingga tercampur rata. Cetak makaroni ke dalam cetakan menurut selera. Taburi atasnya dengan irisan wortel dan parutan keju. - Kukus dengan panci steam tupperware selama 20 menit atau sampai matang. Sajikan bersama sambal.

Resep Kepiting Bumbu Kecap kan kepiting, masak hingga bumbu meresap dan air mengental.

- Siap untuk disajikan dengan taburan bawang putih goreng di atasnya.

Bahan 2: 1 bungkus 600 ml 10 sdm 3 sdm

: agar-agar warna merah atau warna kesukaan : air : gula pasir : susu kental manis cokelat

Cara membuat: bahan 1: - Campur agar-agar putih, gula pasir, susu cair, garam, rebus hingga mendidih. Masukkan putih telur ke dalam spedy chef lalu putar sampai berbusa dan dibolakbalik agar tidak tumpah.

- Masukkan rebusan agar-agar yang sudah agak dingin ke dalam kocokan putih telur tadi, lalu aduk hingga bahan agaragar tercampur rata bersama kocokan putih telur. - Masukkan ke dalam cetakan pudding Tupperware, diamkan sampai dingin dan beku. Cara membuat bahan 2: - Campur semua bahan menjadi satu, rebus hingga mendidih dan gula larut. Lalu diamkan sebentar agar tidak terlalu panas. Kalau sudah dingin, siram/ tuang agar-agar cokelat di atas agar-agar putih yang sudah dingin. - Tunggu agar-agar cokelat menjadi dingin kemudian siap untuk dipotong-potong, sajikan.

Gurami Masak Tauco

Bahan: 500 gr : gurami, bersihkan, lumuri dengan air jeruk nipis dan garam, diamkan. Tepung terigu secukupnya 1 bungkus: tepung bumbu siap pakai 1 buah : bawang bombai, cincang dadu kecil 1 buah : cabe besar merah, iris serong 3 buah : cabe rawit, cincang halus 1 sdm : tauco Air, gula, garam secukupnya 1 sdm : air jeruk manis 2 sdm : kecap manis 1 sdm : saus tiram 1 sdt : lada bubuk 1 sdt : kaldu bubuk 1 batang : daun bawang bombai, cincang serong 3 buah : bawang merah, cincang serong 5 buah : belimbing wuluh, potong tipis-tipis 5 buah : tomat ceri, potong jadi dua

Cara Membuat: - Ikan gurami di fille, lalu potong-potong, utuhkan kepala dan tulangnya, lalu lumuri ikan dengan tepung sagu yang dicampur dengan tepung bumbu. - Goreng hingga matang dan kecokelatan, kepala dan tulang juga dilumuri dengan tepung siap saji, goreng sampai matang, tiriskan. - Panaskan minyak, tumis irisan bawang bombai, irisan bawang merah dan bawang pre, juga jahe dan irisan bahan lainnya hingga harum dan matang. Masukkan air, kecap, saus tiram, tauco, lada dan bahan lainnya, kentalkan dengan air sagu, masak hingga mendidih dan mengental. Tahap terakhir masukkan belimbing wuluh, angkat lalu siramkan di atas gorengan gurami, beri irisan tomat ceri dan taburi dengan bawang putih goreng.


Kuliner Demo Masak Chef Sarwan Makaroni dan Pudding Istimewa Diserbu Penonton

12

Edisi 875/ 16 - 22 November 2015

W

Demo masak bersama Chef Sarwan

alaupun ia mengatakan, sering berkunjung ke Bali, tapi perjalanan kali ini menjadi sangat menarik dan penuh kenangan. Meletusnya anak Gunung Rinjani yang membuat Bandara Ngurah

Rai buka-tutup mengharuskan ia memilih jalan darat menuju Bali. “Saya berangkat pukul 5 pagi dari Surabaya naik travel. Sampai Bali pukul 7 malam. Capeknya. Eh, ini malah kena sakit gigi sampai di Bali,” ujarnya sambil memegang

Makaroni Kukus Saus Tiram AAA Chef Sarwan saat beraksi di demo masak Festival Keluarga Tokoh 2015

Setelah itu, ia mengaku tidurnya kurang bagus. “Mungkin karena kecapekan,” kata Sarwan. Namun, di hari kedua, Sarwan dan istri bisa menikmati istirahat dengan baik di Hotel Golden Tulip Denpasar. “Hari kedua lumayan baik dan mulai bisa menyesesuaikan, apalagi sakit giginya juga sudah ikut membaik. Yang jelas saya senang banget bisa mendemokan masakan di depan para penonton yang memenuhi halaman Gedung Pers Bali K. Na-

dha. Resep yang saya sajikan juga sangat mudah,” ucapnya. Salah seorang penonton demo masak, Iin Eka Santhi mengatakan sangat menikmati demo masak dari Sarwan. “Dengan alat-alat dari Tupperware memasak jadi lebih mudah ya. Saya baru tahu,” katanya. Sementara, Desak Astari yang datang bersama lima orang temannya mengatakan, makaroninya enak dan sangat inovatif. –Wirati Astiti

Bahan: 500 gr : makaroni rebus setengah matang 200 ml : susu UHT 200 gr : kornet daging 2 butir : telur ayam 1 buah : bawang Bombay cincang dengan coper Tupperware 4 siung : bawang putih cincang halus 2 buah : sosis ayam cincang dadu 1 sdm : daun seledri cincang 1 sdm : daun bawang cincang 200 gr : keju cheddar parut 2 sdm : saus tiram AAA 1 sdm : saus rasa sedap 1 sdm : minyak wijen AAA Garam dan lada secukupnya Margarin secukupnya Cara membuat: - Panaskan margarin, masukkan irisan bawang Bombay dan

Luncurkan Buku Keempat Menjadi OB (office boy) bukanlah halangan bagi seorang Sarwan untuk mengejar mimpinya sebagai chef. Dengan gayanya yang polos, lucu, dan sangat Jawa, Sarwan menarik perhatian penonton terutama ibu-ibu. Masakan Sarwan begitu juga menampilkan dirinya yang polos. Walaupun tidak masuk 3 besar dalam Master Chef Indonesia, Sarwan yang kini dikenal sebagai selebrity chef ini, kebanjiran job. Suami Umiyatin ini dipercaya medemokan masakan dengan produk Tupperware, Indofood, Benardi, Fiesta. Selain itu, ia juga menjadi konsultan beberapa rumah makan, café, dan hotel. Lelaki yang bolak-balik JakartaSurabaya untuk urusan kerjaan ini, mengatakan sangat menikmati kesibukannya setelah terkenal menjadi chef. Bahkan, beberapa resep ciptaannya telah dibukukan dan laku di pasaran. Malah saat ini ia sudah meluncurkan bukunya yang keempat yang berjudul “Khusus Penyetan”. Buku ini sudah dicetak ulang. Cetakan pertama sebanyak 20 ribu eksemplar laku di pasaran. Menurut Sarwan, buku khusus penyetan sangat digemari karena berisi bermacam-macam sambal. “Masyarakat Indonesia paling suka sambal. Dalam buku itu, ada berbagai kreasi sambal baik untuk ayam dan ikan,” tuturnya beberapa saat sebelum demo masak digelar. Sejak menjadi artis, Sarwan mengatakan, jarang ada waktu

Sarwan

Buku resep Chef Sarwan

untuk keluarga. Karena itu, ia manfaatkan waktu bekerja dengan mengajak istri tercintanya, Umiyatin. “Kebetulan ada undangan demo masak di Bali, saya ajak istri. Saya anggap saja bulan madu ketiga,” ujarnya sembari tertawa. Walaupun belum dikarunia momongan, Sarwan tetap semangat. Bersama teman-temannya dan teman istrinya di pondok pesantren, ia mendirikan Yayasan Yatim Duafa, untuk membantu anak-anak yang kurang beruntung. Walaupun banyak yang menyebutkannya celebrity chef, ia menampik sebutan itu. Ia dengan percaya diri malah memanggil dirinya dengan sebutan chef katrok. “Justru saya bangga dari OB bisa jadi chef. Nggak apa-apa disebut chef katrok,” ujarnya cekikikan. Nasib Sarwan memang lagi mujur. Bos di tempatnya bekerja seba-

gai OB di PT Gio Given, Bapak Anton memiliki satu food court. Sarwan dipercaya menjadi konsultannya. Tugasnya sebagai konsultan makanan, adalah memperbaiki rasa masakan agar menjadi lebih enak. Sebelumnya, walaupun tidak bekerja lagi sebagai OB, Sarwan tetap digaji. “Tahun lalu saya masih digaji. Tapi sekarang, saya bilang ke Pak Anton, sekarang saya sudah dapat uang dari jerih payah sebagai chef,” katanya. Ada satu pesan Sarwan kepada generasi muda. “Jangan pantang menyerah untuk meraih cita-cita. Jangan pernah berharap punya cita-cita kalau tidak ada kemauan. Kalau tidak punya kemauan, tidak akan terlaksana. Pokoknya harus semangat, pantang menyerah. Walaupun mengalami kegagalan jangan menyerah,” ujarnya. –Wirati Astiti

Puding Busa

13

Acara demo masak yang digelar dalam rangkaian Festival Keluarga ­Tokoh 2015, menghadirkan selebrity chef sarwan yang juga ­mengisi rubrik kuliner di Tabloid Tokoh. Ada dua resep disajikan yang ­pembuatannya sangat mudah. Berikut resepnya. –Wirati Astiti

Ada yang istimewa dalam perhelatan Festival Keluarga Tokoh 2015, yang digelar Minggu (8/11) di Wantilan Gedung Pers K. Nadha. Salah satu acara, demo masak yang dibawakan chef Sarwan, finalis pencarian bakat memasak Master Chef Indonesia yang digelar salah satu televisi swasta nasional. pipi kirinya sembari meringis. Namun, walaupun capek dan sakit gigi, tak mengganggu konsentrasinya untuk mendemokan masakan racikannya. “Ada kesempatan bisa berlibur di Bali, sekaligus berkunjung ke seorang teman. Untung juga sudah dibelikan obat sakit gigi oleh kru Tokoh,” kata Sarwan sembari tertawa. Sampai di Bali, ia tak langsung bisa istirahat. Walaupun jam sudah menunjukkan pukul 8 malam, ia harus menyiapkan satu makanan sebagai tasting food demo masak keesokan harinya. Bersama kru dari Tupperware, Sarwan datang malam-malam ke Gedung Pers Bali K. Nadha dan memasak pudding busa di kantin. “Syukurnya ada kantin dan ada kulkas. Ada tempat untuk menyimpan pudding agar bisa beku,” kata Sarwan yang juga pengisi rubrik tetap kuliner di Tabloid Tokoh ini.

Edisi 875/ 16 - 22 November 2015

Chinesse Food

ati Nikm Hanya di...

& Aneka Es Taiwan

Cafe Santai

Dapatkan free ximilu setiap pembelanjaan Rp 50.000 ke atas

Es Teler

iah Murah Mer & Bersih

Cumi Saus Tiram

Berlaku mulai 1 s.d. 30 November 2015

Jln. Raya Sesetan No. 293 Denpasar. Tlp. (0361) 7440658, 7427678

Bahan: 2 ekor : kepiting, bersihkan, rebus 2 lbr : daun jeruk, buang tangkainya, iris halus 2 ruas : jari lengkuas, memarkan 1 batang : serai, memarkan 4 sdm : kecap manis 1 sdt : lada bubuk Garam, gula, kaldu bubuk, air dan minyak secukupnya Bumbu halus: 3 siung : bawang putih 5 buah : bawang merah 2 buah : cabe merah besar 5 buah : cabe rawit Cara membuat: - Tumis bumbu halus bersama irisan daun jeruk, lengkuas dan serai hingga harum, lalu masukkan kecap manis, lada, garam, gula dan kaldu bubuk rasa ayam. Kemudian tambahkan air dan masuk-

Bahan 1: 1 bungkus : agar-agar putih 500 ml : susu cair 10 sdm : gula pasir 3 butir : putih telur Sedikit garam

bawang putih hingga harum. Lalu masukkan kornet, sosis, dan aduk hingga tercampur dengan irisan bawang Bombay. - Masukkan makaroni, susu, dan bahan lain, telur, keju, irisan wortel. Lalu aduk hingga tercampur rata. Matikan kompor. - Kocok telur lalu siram ke dalam

makaroni, aduk hingga tercampur rata. Cetak makaroni ke dalam cetakan menurut selera. Taburi atasnya dengan irisan wortel dan parutan keju. - Kukus dengan panci steam tupperware selama 20 menit atau sampai matang. Sajikan bersama sambal.

Resep Kepiting Bumbu Kecap kan kepiting, masak hingga bumbu meresap dan air mengental.

- Siap untuk disajikan dengan taburan bawang putih goreng di atasnya.

Bahan 2: 1 bungkus 600 ml 10 sdm 3 sdm

: agar-agar warna merah atau warna kesukaan : air : gula pasir : susu kental manis cokelat

Cara membuat: bahan 1: - Campur agar-agar putih, gula pasir, susu cair, garam, rebus hingga mendidih. Masukkan putih telur ke dalam spedy chef lalu putar sampai berbusa dan dibolakbalik agar tidak tumpah.

- Masukkan rebusan agar-agar yang sudah agak dingin ke dalam kocokan putih telur tadi, lalu aduk hingga bahan agaragar tercampur rata bersama kocokan putih telur. - Masukkan ke dalam cetakan pudding Tupperware, diamkan sampai dingin dan beku. Cara membuat bahan 2: - Campur semua bahan menjadi satu, rebus hingga mendidih dan gula larut. Lalu diamkan sebentar agar tidak terlalu panas. Kalau sudah dingin, siram/ tuang agar-agar cokelat di atas agar-agar putih yang sudah dingin. - Tunggu agar-agar cokelat menjadi dingin kemudian siap untuk dipotong-potong, sajikan.

Gurami Masak Tauco

Bahan: 500 gr : gurami, bersihkan, lumuri dengan air jeruk nipis dan garam, diamkan. Tepung terigu secukupnya 1 bungkus: tepung bumbu siap pakai 1 buah : bawang bombai, cincang dadu kecil 1 buah : cabe besar merah, iris serong 3 buah : cabe rawit, cincang halus 1 sdm : tauco Air, gula, garam secukupnya 1 sdm : air jeruk manis 2 sdm : kecap manis 1 sdm : saus tiram 1 sdt : lada bubuk 1 sdt : kaldu bubuk 1 batang : daun bawang bombai, cincang serong 3 buah : bawang merah, cincang serong 5 buah : belimbing wuluh, potong tipis-tipis 5 buah : tomat ceri, potong jadi dua

Cara Membuat: - Ikan gurami di fille, lalu potong-potong, utuhkan kepala dan tulangnya, lalu lumuri ikan dengan tepung sagu yang dicampur dengan tepung bumbu. - Goreng hingga matang dan kecokelatan, kepala dan tulang juga dilumuri dengan tepung siap saji, goreng sampai matang, tiriskan. - Panaskan minyak, tumis irisan bawang bombai, irisan bawang merah dan bawang pre, juga jahe dan irisan bahan lainnya hingga harum dan matang. Masukkan air, kecap, saus tiram, tauco, lada dan bahan lainnya, kentalkan dengan air sagu, masak hingga mendidih dan mengental. Tahap terakhir masukkan belimbing wuluh, angkat lalu siramkan di atas gorengan gurami, beri irisan tomat ceri dan taburi dengan bawang putih goreng.


14

Jelita

Edisi 875/ 16 - 22 november 2015

Wajah Bercahaya saat Pesta Jika dalam suatu kesempatan seseorang hadir di suatu acara pesta kemudian terden­ gar ­komentar atau ucapan yang mengatakan “wow cantik sekali”, ini salah satu yang tanda make up yang digunakan berhasil membuat pe­ makainya tampil lebih baik.

Suhartatik

M

enurut Suhartatik, salah seorang MUA (Make Up Artis) Bali, pemilik Tatik Skin Care di Denpasar, make up atau tata rias terbaik adalah yang mampu menjadikan seseorang tampil beda, bahkan lebih cantik dari biasanya. “Jika berhasil membuat orang pangling itu artinya riasannya sudah cocok dengan wajah dan usianya, sehingga mampu menonjolkan kelebihan wajah seseorang,” katanya. Sesungguhnya, kata Tatik setiap orang memiliki kelebihan masing-masing, untuk bisa lebih terlihat dengan make up. Ini bisa dilakukan sendiri jika sudah mengetahui panduan menggunakan make up untuk ke acara pesta. Langkah awal dalam proses make up, yang penting adalah adalah memilih warna foundation yang sesuai dengan kulit wajah.

Selanjutnya jika ingin menggunakan concealer jangan yang warnanya lebih terang dari kulit wajah atau jangan terlalu tebal. “Untuk make up pesta juga, bedak terbaik adalah memakai loose powder dengan kuas yang besar. Maka kita tidak akan memulaskan bedak terlalu tebal pada wajah, sehingga dapat mencegah bentuk alami wajah seseorang tertutupi,” terangnya. Kalau ingin memilih compact powder, pastikan warnanya sesuai dengan tone kulit. Bagi pemilik kulit yang kebetulan tengah berjerawat, gunakan foundation dan concealer terlebih dahulu sebelum memakai bedak. Untuk lebih sempurna, aplikasikan juga wajah dengan illuminating powder memakai kuas. “Bedak yang biasanya terdiri dari gradasi warna yang lembut ini, dapat membuat kulit wajah terlihat lebih sehat dan bercahaya,” ujarnya. Selanjutnya menangani kulit wajah yang biasanya pucat di wajah, yakni pipi, adalah dengan mengaplikasikan blusher dan berikan ketajaman pada tulang pipi agar struktur wajah lebih menonjol. Tatik juga mengatakan untuk memilih blush on yang menggandung shimmer demi memberikan kesan sparkling pada wajah. Ketika bicara lips­ tik, pilih yang warna­ nya kuat dan paling

kelihatan pada bagian wajah, maka gunakanlah warna lipstik yang senada dengan warna rambut. Selain lipstik, kita juga bisa menggunakan liptint. Warna pada liptint biasanya lebih mudah muncul dan tahan lama. Ujungnya yang berbentuk seperti pena, menjadikannya lebih mudah diaplikasikan. WARNA GELAP UNTUK MALAM Jika acara pesta dilakukan pada malam hari, yang cocok adalah kesan vampy dengan lipstik warna yang gelap. Ini juga pas untuk mereka yang berambut hitam. Untuk acara pada siang hari, dapat memilih warna yang lebih cerah dan lembut seperti warna peach. Eyeliner dapat sesuaikan dengan warna lipstik. Eyeliner

Bugar

Edisi 875/ 16 - 22 november 2015

MASALAH KEBUTAAN UTAMA DI MASYARAKAT dr. Wayan Gde Dharyata,Sp.M.(K). Ophthalmologist Consultant & Ketua Komite Medik Siloam Hospitals Bali

tebal tidak masalah yang penting proses pemakaiannya benar dan tidak melenceng keluar dari area mata. Sama seperti lipstik, kata Tatik gunakanlah warna gelap untuk malam hari dan warna yang lebih lembut untuk acara pesta di siang hari. Bagi mereka yang ingin menambah kesan yang unik, cobalah memakai eyeliner berkilau pada bagian ujung dalam mata dekat tulang hidung. “Warna berkilau ini juga dapat Anda pakai tepat di bawah alis mata, trik ini akan menyamarkan mata yang ‘beler’ atau lelah,” ucap Tatik, dan mengatakan untuk acara pesta lebih

dianjurkan menggunkan eye liner cair atau bentuk gel, karena, selain warnanya lebih “keluar”, eye liner dengan jenis ini juga lebih tahan lama Mengenai warna eye shadow, sebaiknya disesuaikan dengan dress yang akan dikenakan. Bubuhkan eyeshadow yang gelap di kelopak mata bagian bawah, lalu yang lebih terang di bagian atas kelopak. Jika suka dapat menambahkan bulu mata palsu, untuk tampilan mata yang lebih glamor dan menarik. Untuk mascara aplikasikan secara perlahan serta hati-hati agar tidak terjadi tumpukan pada bulu mata. - Sri Ardhini

11

Kebutaan telah menjadi masalah sosial di Indonesia dengan angka kebutaan 1,5% (Hasil survey Depkes RI 1993-1996). Adapun penyebab kebutaan yang utama adalah kebutaan lensa (katarak.) 52,0%, ke­ butaan saraf mata (glaucoma) 13,4%, kebutaan re­ fraksi 9,5%, ­­kebutaan retina 8,5%, kebutaan kornea 6,4%, kebutaan karena radang 2,4% dan lainnya 7,8%. Setiap tahun kebutaan bertambah 0,1%. Di Indonesia terjadinya ­kebutaan setiap 3,5 menit. (Prof.Istiantoro.2004).

A

da 2 katagori kebutaan yaitu pertama kebutaan sosial dimana seseorang sudah tidak mampu menghitung jari sampai jarak 3 me­ ter sedangkan yang kedua kebutaan ekonomi dimana seseorang sudah tidak mampu menghitung jari pada jarak 6 meter. Kebutaan sosial mengandung pengertian bahwa kehidupan sese­ orang sangat tergantung dari orang lain baik untuk kegiatan sehari-hari seperti makan atau ke kamar mandi dll. Sedangkan yang dimaksud den­ gan kebutaan ekonomi adalah ketika orang tersebut sudah tidak mampu lagi bekerja produktif secara ekonomi atau untuk mendapat penghasilan perlu bantuan orang lain. Kebutaan bisa bersifat sementara, seperti kebutaan katarak apabila telah dilakukan operasi akan bisa melihat kembali secara optimal, berbeda de­ ngan kebutaan akibat glaucoma atau kelainan saraf lainnya sering menyebab­ kan kebutaan yang permanen karena terlambat mendapat penanganan.

Katarak Katarak adalah setiap kekeruhan yang terjadi mengenai lansa mata. Kata­ rak dapat terjadi sejak bayi dilahirkan dapat juga terjadi pada anak-anak, orang dewasa dan yang terbanyak adalah pada orang tua karena proses degenerasi.

Penyebab katarak antara lain karena keturunan, gangguan saat bayi dalam kandungan, trauma atau kecelakaan, obat-obatan, infeksi mata dll. Katarak yang disebabkan proses degenerasi bia­ sanya terjadi secara berangsur-angsur sehingga ada yang disebut katarak in­ sipient, immature, sampai hipermatur. Keluhan yang sering adalah penglihatan seperti berkabut, silau sampai buta. Ada 2 indikasi operasi katarak yaitu indikasi medis apabila katarak telah menyebabkan kebutaan atau katarak telah menimbulkan banyak komplikasi. Indikasi yang lain adalah indikasi sosialyaitu apabila katarak telah me­ nyebabkan terganggunya kegiatan yang sehari-hari dikerjakan. Operasi katarak pada prinsipnya adalah mengeluarkan kekeruhan lensa yang telah mengganggupenglihatan un­ tuk kemudian menggantikannya dengan lansa yang baru sehingga seseorang bisa melihat kernbali dengan lebih baik. Teknik operasi yang banyak di­ lakukan adalah teknik intrakapsuler, ekstrakapsuler, small incision, fekoe­ mulsifikasi dan femtolaser dengan fekoemulsifikasi. Glaukoma Glaukoma merupakan kumpulan gejala atau sindroma yaitu terjadinya kerusakan saraf optik atau penglihatan, penyempitan sampai hilangnya lapang

Upaya pencegahan sangat penting karena glaukoma dapat me­ nyebabkan kebutaan permanen sehingga menjaga tekanan bola mata normnl meme­ gang peran utama. Te­ kanan bola mata yang normal berkisar dari 8 mmHg sampai 18 mmHg, apabila lebih dari 20 mmHg perlu mendapat perhatian. Penggunaan obat-obat tetes mata yang ber­ langsung lama perlu juga dilakukan pemer­ iksaan tekanan bola mata. Walaupun tidak ada keluhan sebaiknya sejak usia 40 tahun perlu sering melakukan pemeriksaan tekanan bola mata, pemeriksaan lapang pandangan dan yang lebih penting ada­ lah pemeriksaan fundus atau retina secara rutin untuk melihat progress atau perubahan yang terjadi terutama pada dr. Wayan Gde Dharyata,Sp.M.(K). saraf optik atau papil. Dalam rangka pencegahan kebutaan pandangan yang disertai oleh pening­ pada penyakit, glaukoma diawali den­ katan tekanan bola mata. Glaukoma bisa bersifat herediter gan pengobatan untuk menurunkan yang terjadi sejak dilahirkan dan makin tekanan bola mata melalui penurunan tampak dengan bertambahnya usia, ka­ produksi akuos humor atau menin­ tarak, karena sering mengalami infeksi gkatkan pengeluaran akuos humor dalam bola mata atau karena penggu­ melalui penyerapan bahkan operasi trabekulektomi untuk memperluas naan obat-obatan seperti steroid. sudut pengeluaran akuos humor. Seseorang yang mengalami glau­ coma sering tidak menyadari karena Penutup gejalanya terselubung oleh keluhan Ada beberapa penyebab kebutaan yang lain sehingga terasa mendadak yang lain di Indonesia akan tetapi tiba-tiba saja menjadi buta sehingga apabila kebutaan katarak dapat di­ glaukoma disebut sebagai si pencuri tanggulangi dengan serentak dan ke­ penglihatan. butaan glaukoma dapat dicegah baik Gejala penyakit glaukoma tergantung dengan pengobatan atau operasi maka penyebabnya, ada yang akut dan kronis. masalah kebutaan tidak lagi menjadi Gejala glaukoma akut dirasakan sakit masalah sosial. kepala yang hebat, adanya penglihatan Penanggulangan kebutaan di halo seperti pelangi, dan mendadak masyarakat harus dilakukan secara kabur sering karena sudut pembuangan serentak, bersama dan terintegrasi akuos humor yang sempit sampai ter­ oleh semua pihak yaitu political will tutup, sedangkan pada glaucoma sudut pemerintah, private sector, lembaga yang terbuka sering hampir tanpa gejala swadaya masyarakat, dokter spe­ tetapi lama-kelamaan menjadi kebutaan sialis mata dan peran serta seluruh masyarakat. yang permanen.


10

Edisi 875/ 16 - 22 November 2015

Waria Rentan HIV? Keberadaan waria (wanita pria) di tengah-tengah masyarakat adalah sebuah realita. Mereka adalah kelompok minoritas yang juga ingin diperlakukan layaknya orang normal, secara manusiawi. Namun, sampai saat ini masih ada stigma negatif masyarakat akan keberadaan mereka. Apakah waria ini rentan menularkan HIV/AIDS?

“T

idak juga. Jika mereka rentan penyakit, itu karena gaya hidupnya. Misalnya seks bebas, pemakaian narkoba dengan berbagi jarum suntik. Inilah yang bisa menjadi HIV/ AIDS atau terkenan penyakit kelamin (infeksi menular seksual/ IMS). Waria, tidak cenderung pasti menjadi seperti itu,” tegas Kepala Puskesmas Denpasar Utara 2 dr. Emilia Sabiruddin, disela-sela acara peresmian Rumah Singgah di Jalan Bung Tomo III Denpasar. Dokter Emilia menjelaskan, sikap mereka menjadi wanitapria (waria) ini, mengutip dari sebuah penelitian tahun 2002, oleh Moris (Amerika), dikarenakan sumber hormon di otak (hipotalamus) ukurannya 1/3 lebih kecil dari ukuran normal. Hal ini yang tak disadari dari kecil, orangtua juga tidak menyadarinya sehingga sikap bawaan ini tumbuh dengan sendirinya. “Bahkan ada di antara mereka yang diusir dari rumahnya karena orangtua tidak menerima kondisi anaknya seperti itu,” ujar ‘Bunda’nya para Waria ini. Penyebab utamanya mereka seperti itu, dikatakan dr. Emilia karena tuntutan ekonomi. “Jadi mata pencaharian ya nyebong (mejeng) itu, semacam PSK,” imbuhnya. Hal ini juga dikarenakan stigma negatif di masyarakat yang belum menerima keadaan waria. Dari penuturan beberapa waria kepada dr. Emilia yang menyarankan mereka untuk bekerja biasa, terungkap beberapa kisah pilu. “Saya pernah

Dr. Emilia Sabiruddin

bekerja ngangkat batu, tapi saya tidak kuat pakai baju laki-laki, itu saya lakukan sebulan. Saya tidak tahan, akhirnya pakai baju perempuan. Saya diledekin bencong dan diusir, dan akhirnya berhenti kerja,” tutur seorang waria kepada dr. Emilia. Kisah lainnya, ada juga yang bekerja di Spa sebagai tukang refleksi khusus laki-laki. Ketika sesuatu jatuh sesuatu,…ehhh (latah) kewanitaannya keluar. Akhirnya diberhentikan dan mereka tidak punya kerjaan, terpaksa nyebong. Ada juga yang bekerja sebagai waitres di Ubud, tetapi gaji tak memadai karena harus mengontrak kamar di Ubud. “Terpaksa mereka nyebong lagi, karena tuntutan ekonomi dan stigma negatif masyarakat,” tegas dr. Emilia. Dengan keberadaan Rumah Singgah yang diresmikan Jumat (13/11) yang merupakan bantuan dari para donatur Bali Rainbow Community dan dukungan

Mitos

Dr. Emilia serta perwakilan dari Bali Rainbow Community dan Yayasan Spint Paramacita berfoto bersama Warcan

Yayasan Spint Paramacita ini, ia Warcan ini tidak mau bergabung dengan adanya Rumah Singberharap tempat ini bisa menjadi dengan PSK atau ibu-ibu hamil gah ini, ia menyarankan agar tempat berkumpulnya para war- yang positif HIV. “Dari segi kes- anggota Warcan selalu mejaga ia untuk diberikan edukasi, pen- ehatan, kami senang ada lokal- kebersihan lingkungan, memilah gobatan dan perawatan penyakit isasi seperti Rumah Singgah ini. sampah, den melakukan pemersecara umum, khususnya HIV Karena lebih memudahkan kami iksaan kesehatan rutin. “Rumah dan IMS. “Dengan terlokalisasi memantau penularan penyakit,” Singgah juga bisa menjadi pusat ini akan lebih memudahkan kami ujar dr. Emilia yang kini sedang informasi, edukasi, dan pe(Puskesmas) untuk melakukan mencoba memasilitasi agar War- nyuluhan kesehatan bagi warga pemantauan,” ujarnya. can ini memiliki kartu BPJS. sekitar,” tandasnya. Koordinator Warcan (waria Yang paling penting adalah, –Inten Indrawati cantik), Emil menyampaikan rasa terimakasihnya atas dukun“Saya pernah bekerja ngangkat batu, tapi saya tidak kuat gan ini. Rumah Singgah, walau pakai baju laki-laki, itu saya lakukan sebulan. Saya tidak tempatnya kecil dikatakannya tahan, akhirnya pakai baju perempuan. Saya diledekin ditujukan sebagai wadah berkumpulnya para waria, untuk bencong dan diusir, dan akhirnya berhenti kerja” meningkatkan rasa kekeluargaan dan tali silaturahmi makin erat. “Karena kami rentan dengan penyakit tersebut, kami rutin melakukan pemeriksaan 3 bulan sekali berkoordinasi dengan PuskesIkutilah Pemilihan Top Models Bali 2015, memperebutkan Piala Gubernur. mas Denut 2,” Pendaftaran Gratis. Untuk Kota Denpasar, Audisi dilaksanakan pada Minggu, ujarnya. 22 November 2015. Grand final, Minggu 19 Desember 2015 di Art Centre Dokter EmilDenpasar. Menangkan total hadiah Rp 60 Juta dan hadiah menarik lainnya. ia mengimbuhPersyaratan : Pria dan Wanita usia 15-23 tahun, tinggi badan minimum wanita kan, program 165 cm dan pria 175 cm, setiap peserta wajib mengisi formulir dan melampirkan Puskesmas : 1 lembar foto close up, 1 lembar foto seluruh badan (foto yang dikirim adalah Denut 2 yang foto tanpa proses editing). Peserta yang terpilih akan dihubungi oleh panitia kini gencar diuntuk mengikuti penyisihan. lakukan adalah Peserta dapat melakukan pendaftaran online ke: pemilihanmodelbali@gmail.com. dapat menekan Atau diserahkan langsung ke: Malia Boutique, Jalan Raya Basangkasa Seminyak. Info peningkatan lebih lanjut, hubungi Ary Agung ( Montana Agency), Telepon (0361) 7151033, kasus HIV dan mobile 08123929356, BIMA Management : Pin 59D9C480, WA 082145312183, FB IMS, baik keBIMA, IG bima_management, Email : pemilihanmodelbali@gmail.com. pada ibu hamil, maupun populasi risiko tinggi, juga pada PSK. Hanya memang

Ikuti Top Models Bali 2015

Kunjungan Sales Hotel Santika Seminyak

Tim sales Hotel Santika Seminyak yang dipimpin Sales Manager Kd. Dwi Yanni melakukan kunjungan ke Gedung Pers Bali K. Nadha, Denpasar, Rabu (11/11). Mereka diterima Manajer IKlan Bisnis Bali Dewa Budiyasa dan Redaktur Pelaksana Tokoh Ngurah Budi. Dalam kesempatan tersebut, Dwi Yanni yang akrab disapa Angel mengatakan siap menjalin kerja sama dengan Bisnis Bali dan Tokoh. Mereka juga mengharap dukungan karena Hotel Santika Seminyak akan segera melaksanakan grand opening.

Kunjungan tim sales Hotel Santika, Seminyak ke Gedung Pers Bali K. Nadha, Rabu (11/11).

Style

Edisi 875/ 16 - 22 November 2015

Sporty tetap Feminin Busana kasual adalah pilihan model ready to wear atau siap pakai yang paling cocok dikenakan dalam kegiatan seharihari. Apalagi modelnya memberikan kesan santai dan ­terasa nyaman saat dikenakan.

P

ekan lalu, beberapa model muda berbakat tampil di panggung “Lomba Fashion Show” HUT ke 17 –Tokoh, hadir menyuguhkan berbagai kreativitas. Mulai dari kasual feminin, sporti , seksi dan lainnya dengan desain yang sangat trendi sehingga semua tampil menawan. Gaya pakaian kasual perempuan ditampilkan diantaranya dalam bentuk padanan celana pendek atau dress yang memadukan nuansa etnik endek dan mod-

ern dilengkapi sentuhan aksesori cantik. Sedangkan yang pria meski lebih simpel termasuk pemilhan motifnya namun tetap tampil gaya. Bagi para remaja, busana tersebut dapat dikenakan untuk jalan – jalan, berkunjung ke rumah teman, kerabat, ke kampus atau sekadar untuk gaya berpakaian saat keluar rumah. Berikut beberapa pilihan busana kasual remaja, pria dan wanita pilihan pekan ini yang dipamerkan beberapa orang model. -Sri Ardhini

15


16

Edukasi

Edisi 875/ 16 - 22 november 2015

Edisi 875/ 16 - 22 november 2015

Kiat Sukses Pemasaran UMKM Juara

MarkPlus Institute beker­ jasama dengan BRI menggelar Seminar “Pemasaran untuk UMKM” di 18 kota besar di Indo­ nesia. Seminar yang dilaksanakan Kamis (12/11) di Gedung Sewaka Dharma, Lumintang Denpasar adalah seminar hari ketujuh ber­ samaan dengan Kota Medan.

Satu lagi air terjun yang belum banyak diketahui oleh wisatawan, namanya Air Terjun Batu Lantang. Kesan alami ini bisa dilhat dari adanya bukit hijau dan perkebunan cengkeh milik warga setempat. Untuk menuju ke lokasi ini perlu perjalanan kaki yang jaraknya sekitar 500 meter dari pinggir Jalan Desa Sulangai, Petang, Kabupaten Badung, Bali. Air Terjun Batu Lantang meru­ juk dari sebuah nama desa disini, warga lokal pun menyebut dengan nama Air Terjun Gong, “ Karena dulu air terjun ini mengeluarkan suara seperti Gong, yang bersum­ ber dari aliran air yang jatuh ke bawah, “ ungkap Arik, warga Desa Adat Sulangai. Di sekitaran kawasan ini me­ mang masih terbilang alami. Pano­ rama perpaduan bukit dan per­ kebunan nampak jelas. Keberadaan perkebunan yang berada di lereng bukit ini menjadi satu- satunya akses yang menghubungkan hingga ke tempat hulu sungai, sekaligus keberadaan Air Terjun Batu Lan­ tang ini. Perlu waktu 30 menit perjalan­

Iwapi Kota Denpasar

Gelar “Fun Women Preneur Exhibition” Kegiatan “Fun Women Preneur Exibition” yang berlangsung sejak 30 Oktober hingga 3 November 2015 di Lippo Mall Kuta ini adalah implementasi dari perjanjian kerjasama atau MoU yang terjalin antara DPC Iwapi Kota Denpasar dengan Management Lippo Mall Kuta. Demikian diungkapkan ketua DPC Iwapi Kota Denpasar Jro Puspawati, S.Par. didampingi Sekretarisnya Made Asri Restuastuti Kardha, S.P., dan Bendahara Kenrina Anggoro Wulandari, pekan lalu ditemui di arena Lippo Mall.

D

alam seminar yang dihadiri para pelaku UMKM tersebut diisi dengan materi “Mana­ jemen Finansial untuk UMKM” oleh Widodo Januarso, Pemimpin Wilayah BRI Denpasar. Ia menyebut ada 5 langkah awal yang bisa dilakukan untuk membuka usaha sendiri, yakni ide usaha, rencana usaha, survei, persiapan, dan pengelolaan keuangan. “Cara memu­ lainya, belajar berkelompok dulu agar dapat keahlian keterampilan,” ujarnya. Langkah berikutnya adalah belajar men­ gelola keuangan. Hal ini bisa dilakukan dengan mengelola keuangan sendiri atau dengan bantuan konsultan. Tahap berikutnya, mencari setiap kegiatan terkait keuangan, membedakan kebu­ tuhan dan keinginanan, serta rekening koran. “Kuncinya disini har­ us disi­p lin ter­h adap pengeluaran. Dasarnya, mencatat,” imbuhnya. Setiap halnya harus direncanakan, ter­ masuk menyusun rencana pengeluaran. Langkah pertama, mulai membuat budget di awal bulan untuk mengeluarkan bulan berjalan, kemudian budget untuk tahunan. “Pastikan seluruhnya lebih ke­ cil dari pendapatan Anda,” ingatnya. Selain itu, Widodo mengingatkan pastikan ada uang disisihkan untuk ditabung. “Tentukan nilai tabungan yang wajar yang dapat Anda lakukan, perhatikan pola utang dan cicilan, juga asuransi,” ucapnya. Menabung ini pun dikatakannya dilakukan secara periode, dibuat di bank yang sama sehingga lebih efisien, dan anggap jumlah tersebut sebagai pengeluaran wajib. Narasumber lainnya ada­

9

Seminar “Pemasaran untuk UMKM” dilaksanakan Kamis (12/11) di Gedung Sewaka Dharma

lah Danu Sofwan, CEO PT JHD Randol Visi Utama. Ia menuturkan bagaimana dirinya yang berasal dari keluarga tak mampu, sepeninggal ayahnya, sejak tahun 2008 mencoba

berbagai usaha, namun usahanya tersebut kurang berjalan (bukan ga­ gal). Bahkan ia tak malu mengakui dirinya sempat jadi kuli angkut pasir yang hanya mendapat upah Rp 50 ribu

“Kecantol Brondong” Mengapa UMKM? Jumlah UMKM di Indonesia mencapai 55,2 juta, yang menyerap 97,2% tenaga kerja dari total angkatan kerja yang ada. Data Kementerian Koperasi dan UKM September 2013 mencatat UMKM ini memberikan kontribusi sebesar 57% pada Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia. Karena itu, Danu Sofwan, CEO PT JHD Randol Visi Utama mengatakan UMKM wajib meningkatkan daya saingnya, menjadi UMKM juara di negeri sendiri dan berani memasuki pasar luar negeri. Kiat sukses untuk pemasaran UMKM juara, harus berani mengubah sudut pandang, menyusun strategi dan taktik yang jitu. “Jual dengan cara kreatif diimbangi dengan jurus komunikasi yang efektif,” tandasnya. Bagaimana agar usaha kita berumur panjang? Danu Sofwan yang dalam waktu 5 bulan telah berhasil memiliki lebih dari 66 gerai Randol di Jakarta dan di luar Jakarta ini berbagi pengalaman. Ia menuturkan ketika dulu akan menentukan jenis usaha yang akan dilakoni, ia sempat bingung. “Dulu zaman bubble, jika saya ngikutin bubble akan jauh terting­ gal dari yang lebih duluan. Karena itu saya menciptakan pasar dan trend sendiri,” ujarnya. Pertama yang harus diketahui, usaha apa kita yang tak habis dimakan zaman, yang peminatnya sudah banyak. Setelah searching di internet, ia menemukan cendol. “Cendol itu dari zaman dulu peminatnya sudah banyak, tapi bagaimana caranya agar

Air Terjun Batu Lantang an dari jalan raya menyusuri jalan tanah perkebunan warga. Layaknya sebuah perkebunan cengkeh yang tumbuh di kawasan kemiringan lahan yang terjal. Ladang cengkeh, tanaman kopi, dan pohon kakao menjadikan perjalanan tambah sejuk memberikan keteduhan ke­ tika matahari berada tepat di atas kepala kita. Perlahan, bagian kemiringan bukit terlewati, suara gemerincing air terjun yang cukup deras mulai terdengar perlahan makin dekat. Keberadaan kandang sapi menam­ bah kesan alami alam pedesaan di­ sini. Kemiringan ini hanya dirasakan beberapa langkah saja, dan akhirnya sampailah di pinggiran sungai yang airnya merupakan aliran air jernih dari Air Terjun Batu Lantang. Sesampainya di bawah dengan tebing yang ada di sisi timur serta perkebunan warga di sisi baratnya menjadikan lokasi air terjun ini seolah dihimpit dan tersembunyi. Airnya yang dingin sangat terasa berhembus bersama angin men­ jadi udara sejuk yang terhempas dari ketinggian 25 meter. Sungguh keberadaan yang tersembunyi, dan masih terkesan alami, air

jernih ­dingin di siang yang terik ini menambah keindahan eksotis. Suara- suara serangga dan burung pun masih bisa jelas didengar me­ lengkapi suara air terjun.

seminggu, tahun 2013, demi untuk bisa menyambung hidup. “Rp 40 ribu saya berikan ke Ibu untuk biaya hidup, Rp 10 ribu disisihkan untuk disimpan,” ungkapnya.

“Karena waktu tidak pernah ber­ jalan mundur, maka hidup adalah ten­ tang maju. Jadi apapun yang terjadi, kita harus tetap maju,” imbuh Danu bersemangat. –Inten Indrawati

cendol ini market-nya bisa lebih luas lagi. Saya poles sedikit, santan diganti susu, topping-nya saya pakai yang diminati pasar sekarang,” kisahnya. “Jadi kalau mau buat usaha, jangan ikut-ikutan, cobalah melawan arus. Namun harus dipahami dulu produknya tidak musiman,” imbuhnya lagi. Ketika musim hujan, bagaimana agar es cendel ini tetap laku? Danu pun menawarkan produk baru yakni roti pang­ gang saus cendol. Di tengah maraknya UKM-UKM yang menawar­ kan produk sejenis, bagaimana agar konsumen ingat dengan produk kita? “Ciptakan keunikan. Keunikan ini akan membedakan kita dari para pesaing,” tegas Danu Sofwan yang karena sukses di Randol, diundang menjadi bintang tamu dalam siaran “Hitam Putih” dan Danu Sofwan “Fesbuker” ini. Keunikan bisa dilihat dari isi, penyajian, maupun infrastruktur. Terkait isi misalkan, sampaikan dan lengkapi produk dengan data yang relevan, mendukung dan memberikan nilai lebih bagi konsumen. Bisa juga dengan memberikan nama yang unik. Seperti be­ berapa varian Randol yang ia beri nama “Kejendol” (keju en cendol), “Kecantol Brondong” (keju campur cendol brownies enak dong). Untuk infrastrukstur, ia memakai gerobak warna-warni. –Inten Indrawati

Luas bibir sungai tidaklah begitu luas dan tidak memberikan arus sungai yang deras. Keberadaan batu yang berlumut menambah yakin jika tempat ini memang jarang dikunjungi pengunjung dan masih dibiarkan begitu saja tanpa dihiasi penanda sebagai layaknya tempat wisata. Salah seorang pengunjung, Made Suartana, untuk ketiga kalinya datang ke Air Terjun Batu Lantang mengagumi kesan alami yang disu­

guhkan, “ Saya sangat menyukai air terjun di Bali, dan yang ini masih alami diantara yang lainnya, “ ung­ kap pria asal Kerobokan, Badung. Kawasan ini bisa menjadi pilihan sebagai tujuan agrowisata, karena masih alami, fasilitas berupa lahan parkir dan fasilitas umum belum ada sama sekali. Parkir hanya me­ manfaatkan pinggir jalan raya atau memanfaatkan lapangan bola yang tidak jauh dari tempat air terjun berada. – Eka Juni Artawan

IA Selly D. Mantra

AAA Ngr. Tini Rusmini Gorda

ikatakan oleh Jro Puspa bahwa kegiatan terse­ but merupakan pro­ gram kerja dari bidang Humas dan Kemitraaan serta Bidang Perindang dan Luar Negeri. Acara ini juga untukmenumbuhkan rasa percaya diri para penggeliat usaha khususnya anggota Iwapi Kota Denpasar dalam menjawab serbuan globalisasi, dengan memasuki pasar modern dan siap menghadapi MEA. Namun, lanjutnya mereka leb­ ih menekankan kepada esensi dari

ekonomi kreatif itu sendiri. Karena ide dan inovasi dapat terus mengalir dari pencetus ide. Dan, ini menjamin pemilik ide kreatif bisa memperoleh manfaat ekonomi serta keuntungan yang layak dari hasil kreativitas mer­ eka, selanjutnya akan menjadi stimulus munculnya ide-ide baru lagi.

D

BUKAN SEKADAR NGUMPUL Menurut AAA Ngr. Tini Rusmini Gorda, sebuah organisasi bisa berjalan dengan baik, jika mampu mengelola team work dan networking. Apalagi Iwapi

sudah semestinya mengedepankan networking dengan siapa saja, dimanapun, kapanpun agar dapat menjalankan program kerja dalam hal berpameran. Selaku ketua DPD Iwapi Bali, Tini Gorda sangat mengapresiasi cara cerdas DPC Iwapi Denpasar yang sudah sangat mengedepankan net working dalam menggelar sebuah acara trade fair. Hal ini, katanya patut ditiru oleh DPC Iwapi Kabupaten lainnya. “Kenapa trade fair seperti ini penting dilakukan? Sebab di sinilah ruang yang paling cerdas untuk para pelaku UKM belajar menata barang,berkomunikasi, belajar menjadi marketing agar produkproduknya dapat diminati orang. Juga belajar menanggung risiko dan masih banyak lagi yang bisa dipelajari jika bisa membuat kegiatan pameran,” ujar Tini Gorda. Selanjutnya dikatakan inilah man­ faat kita bisa berorganisasi di Iwapi. Ada media untuk promo. DPC Iwapi Denpasar sudah menunjukkan bahwa bergabung dengan Iwapi tidak hanya sekadar ngumpul tapi ada nilai positif yang diraih. Begitu juga dengan IA Selly D.

Mantra, mengatakan salut kepada Iwapi Kota Denpasar yang sudah melakukan kerja sama dengan Lippo Mall Kuta, melalui program “Women Preneur Exhibititon”. UKM yang dikoordinir oleh Iwapi Denpasar, katanya di sini diberikan peluang untuk mengenalkan produk mereka pada khalayak sekali­ gus memperluas peluang pasar, meng­ ingat lokasi mal yang banyak dikunjungi wisatawan lokal maupun luar. Dengan adanya Preneur Exhibi­ tion ini, Selly D Mantra yang juga Pembina DPC Iwapi Kota Denpasar

ini menambahkan bahwa momen ini merupakan ajang promosi yang efek­ tif pada wisatawan lokal atau manca negara bisa lebih mengenal produk dari Bali dan Denpasar khususnya, apakah itu kain tenunnya, ragam handycraft, perhiasan maupun makanannya. Selain dapat menjadi kesempatan emas untuk mem-branding image produk. Dengan begitu, awareness di benak pengunjung akan mudah tertanam.Visual adalah aspek penting untuk diperhatikan, dan ini sudah dilakukan oleh Iwapi Kota Denpasar. -ard

Terima Kasih Kepada Kanwil BNI 46 Bali BNI 46 Gatot Subroto Management Lippo Mall Kuta Pembina DPC Iwapi Kota Denpasar Dewi Setyowati, Pimpinan Perwakilan BI Provinsi Bali DPD Iwapi Bali HIPMI Bali Asephi Bali DPC Iwapi Badung DPC Iwapi Gianyar Klinik Konsultasi Bisnis Iwapi Bali IODI Bali Sanggar Penggak Mersi Dance Sport Calish Band Atrizu Band Tabloid Tokoh Peserta Pameran Andrayna Art, Bali Wine, AUBEAU, Mayoci Bali, Nikki & Meiga Collection, Izatta Wedding & Decoration, Arda Wooden Shoes & Bags, Pramada Rumah Kebaya, Lili Fauziah Diamond, Pie Susu Chacha, Bali Puspa, Neluwung Art Accessories, Paras Ayu Butik, Belanglicius, De Sutra, Araya, Pie Susu 21, My Preciouse, Nature Cake, Ardiani Collection


8

Bunda & Ananda

Edisi 875/ 16 - 22 November 2015

Amri dan Dek Mani

Menabuh Berdua, Suara Tiga

Meski tak ada kesepakatan sebelumnya, dua bersaudara I Wayan Amrita Dharma Darsanam yang biasa disapa Amri dan I Made Manipuspaka yang akrab disapa Dek Mani samasama memiliki hobi menabuh. Kakak beradik beda umur tiga tahun itu selalu kompak memainkan gamelan gender wayang dan rindik. Sang kakak berperan sebagai juru slangsih (suara dua seperti dalam lagu) dan sang adik yang biasa memainkan gending polos (suara satu).

K

ebersamaan itu sempat mereka pertontonkan saat Festival Keluarga Tokoh 2015 di Wantilan Gedung Pers Bali K. Nadha, Denpasar, Minggu (8/11). Amri dan Dek Mani memainkan rindik untuk menyambut kehadiran para peserta. Penampilannya memang polos, tetapi aksi mereka sungguh memesona. Walau menabuh berdua, tetapi suara rindik yang terdengar seakan dimainkan oleh tiga penabuh, saling tindih, padat dan menghibur.

Sebagai penabuh belia, Amri yang kini duduk di kelas VII SMPN 2 Kuta Utara dan Dek Mani yang masih kelas IV SD Imanuel Dalung itu menyajikan beberapa gending diantaranya Tabuh Telu (dengan dua versi), Sekar Jepun, Caplok Bangkung, dan tabuh bebarisan sebagai gending penutup. “Kami sudah melakukan persiapan sejak awal. Kalau waktunya lama, kami akan menampilkan gending tambahan,” katanya polos. Menurut Amri, melakukan persiapan sebelum tampil sudah menjadi kebiasaan mereka. Tak

Amri dan Dek Mani saat tampil di acara Festival Keluarga Tokoh 2015

hanya berlaku untuk permainan rindik, tetapi juga gender wayang, baik untuk acara ngayah ataupun tampil dalam event-event resmi. Latihan tak hanya berdua, tetapi terkadang datang langsung ke pelatihnya, sehingga setiap akan pentas ataupun ngayah pasti ada tambahan satu lagu baru. Buah hati dari pasangan I Nyoman Budarsana, S.Sn dan Ni Made Sri Astuti, S.Si itu selalu menjadi pasangan dalam menabuh. Amri yang lebih awal menekuni seni tabuh sering tampil sebagai duta Kabupaten Tabanan di ajang Pesta Kesenian Bali, baik dalam pawai ataupun parade. KOMUNITAS TUSUK GIGI Amri sempat dipercaya sebagai penabuh barong bangkung duta Kabupaten Tabanan dalam pawai pembukaan PKB 2008, selanjutnya Parade Ngelawang PKB 2009 dan mendukung Sekaa Gong Anak-anak Putra Jaya Kerambitan sebagai penabuh gender rambat PKB 2011. Pada PKB 2014, Amri

mendukung Sanggar Kembang Bali Desa Tunjuk mengikuti lomba gender wayang. Sebagai duta Kabupaten Tabanan, Amri dan tiga temannya berhasil sebagai juara II. Pada PKB 2015, Amri kelahiran Denpasar 23 Agustus itu tampil dua kali. Pertama mendukung Sekeha Gong Anak-anak Pucil Makembang, Banjar Ole, Desa Marga Dauh Puri, Kecamatan Marga sebagai penabuh reong duta Kabupaten Tabanan. Kemudian mendukung Sanggar Seni Gender Restu Budaya Banjar Lambing, Desa Mekar Bhuana mengiringi dalang cilik I Gusti Putu Gede Sastrawan pada Parade Wayang Anak-anak sebagai duta Kabupaten Badung. Dalam musik modern, Amri yang suka traveling itu juga pasih memainkan gitar dan drum. Ia lebih banyak tampil dalam acaraacara ulang tahun bukan dalam ajang lomba. “Saya akan mendirikan komunitas tusuk gigi yang konsentrasi pada musik modern,”

harap Amri yang pernah sebagai juara drum dan mewarnai itu. Hal itu berbeda dengan adiknya yang lebih sering tampil dalam kegiatan ngayah. Dek Mani yang lahir di Denpasar, 18 Juli 2006 itu mulai belajar menabuh sejak umur lima tahun yang diawali dari memainkan rindik. Kemudian nyantrik di Sanggar Maha Bajra Sandi Denpasar mengikuti jejak Amri. Dari pengalaman itu, ekspresi Dek Mani dalam memainkan gamelan Bali terus berkembang hingga dipercaya ikut dalam pementasan. Bersama kakaknya, ia sering terlibat dalam pementasan Gerebeg Aksara yang berlangsung di Tabanan, Karangasem, Klungkung, Denpasar dan Buleleng. Pernah juga tampil di Gedung Indonesia Menggugat Bandung dalam acara Manifesto kebudayaan solusi abad 21 dan mendukung pementasan ISI Denpasar yang berjudul “Gerhana Bulan Merah” di Taman Budaya Denpasar. “Sekarang ini masih rajin latihan yoga, disamping menabuh,” ujar Dek Mani kalem Disamping itu, Dek Mani juga masih aktif belajar magender di Sanggar Restu Budaya bimbingan I Gusti Lumbung. Sementara di kampungnya, Dek Mani bersama Amri juga aktif dalam komunitas seni dibawah naungan Pasraman Buratwangi. Di pasraman ini mereka selalu berekspresi lewat sekaa barong bangkung yang biasa ngelawang setiap Galungan dan Kuningan. Bahkan, sekaa barong bangkung dibawah naungan Pasraman Buratwangi itu sudah beberapa kali direkam TV nasional. Bahkan pernah menjadi peserta Festival Anak yang tayangkan di seluruh Indonesia. –Ngurah Budi

Mendongeng Lima Menit Bima ke Akhirat

Dek Mani

Made Taro

Amri

Mendengar berita Rsi Narada bahwa Sang Pandu dan Dewi Madri tinggal di neraka, Pandawa Bersaudara terkejut bercampur marah. Lebih-lebih dikatakan, orangtuanya itu menjadi kerak dari kawah

Candradimuka. “Tidak adil!” teriak Bima. “Aku harus menyelamatkan orangtua kita!” “Sabar anakku!” cegah Rsi Narada. “Orangtuamu sedang menjalani hukum karma, karena perbuatannya membunuh sepasang kijang yang sedang berkasih-kasihan di dalam hutan. Pasangan kijang itu sesungguhnya adalah jelmaan rsi.” Bima tidak mau menerima hukuman berat seperti itu. “Bukankah hukuman itu sudah ditimpakan kepada orangtuanya, yakni meninggal mendadak ketika sedang berkasih-kasihan?” Pandawa Bersaudara sepakat menunjuk Bima untuk menyelamatkan orangtuanya. Namun Bima sendiri tidak cukup, karena perjalanan menuju akhirat sangat jauh dan memerlukan tenaga besar. Untuk menambah kekuatan Bima, maka kakaknya Yudistira membantunya dengan duduk di bahu Bima, dan adik-adiknya Arjuna, Nakula, Sahadewa, bersembunyi di hati sanubari Bima. Setelah siap, lalu Bima terbang melesat menuju neraka.

“Hai, kau manusia! Jangan coba-coba masuk ke pintu gerbang neraka!” demikian cegat pengawalpengawal bersenjata di pintu gerbang. Mereka adalah anak buah Dewa Yama yang menjadi penanggung-jawab neraka. Bima tambah beringas. Dengan tenaganya yang besar, ia seketika dapat melumpuhkan perlawanan pengawal-pengawal itu. Di kawah Candradimuka, Bima mondar-mandir mencari orangtuanya. Namun sia-sia. Ia mencurigai sebuah jambangan besar yang dipanasi api terusmenerus. Ia gulingkan jambangan itu. Benar! Di jambangan itu terdapat banyak atma (roh) termasuk atma orangtuanya, Sang Pandu dan Dewi Madri yang sedang tidak sadarkan diri. Tak lama kemudian Dewi Madri mulai sadar, namun ayahnya Sang Pandu tampaknya tidak akan sadar. Yudistira mengajak adik-adiknya menyembah orangtuanya, namun Bima menolaknya. Saudarasaudara itu yakin apabila Bima mau menyembah orangtuanya, maka Sang Pandu akan siuman. Karena Bima tidak juga mau menyembah, maka timbul akal-akalan Nakula dan Sahadewa. “Kakanda! Mengapa tangan kakak tidak sama panjang?” kata Nakula dan Sahadewa pura-pura heran. Bima mencocokkan kedua tangannya dengan mengatupkannya. Nakula dan Sahadewa yang berpura-pura itu lalu membantu mengangkatnya ke depan kening Bima. Nah, terjadilah keajaiban itu! Perlahan-lahan Sang Pandu bangkit dari pembaringannya. Ia tersenyum melihat putra-putranya menyembah di hadapannya.

Edisi 875/ 16 - 22 November 2015

17

Di Balik Penjurian Lomba Menggambar dan Mewarnai

“Kekuatan Mereka Sama”

Lomba Mewarnai dan Menggambar untuk anak-anak tingkat PG/TK dan SD yang dihelat dalam Festival Keluarga Tokoh 2015, diikuti tak kurang dari 160 anak. Mereka sangat bersemangat mengikuti dan menyelesaikan gambar dan warna mereka dalam waktu 2 jam yang telah ditetapkan panitia.

T

ema “Kuliner ” yang disodorkan panitia, diaplikasikan beragam oleh peserta, khususnya kategori C (menggambar) yang diikuti anakanak kelas 4 s.d. 6 SD. Ada yang membuat gambar pedagang

harus menjadi juara, karena hampir sebagian besar hasilnya bagus dan memiliki kelebihan masing-masing. “Gambargambar ini kekuatannya sama. Karena kami harus mentukan 6 terbaik, terpaksa kami harus cari kelemahan-kelemahannya Suasana lomba menggambar dalam acara Festival Keluarga Tokoh 2015

Ny. Bintang Puspayoga bersama Ny. Satria Naradha saat memantau peserta lomba menggambar

dengan beragam pilihan menu Bali. Ada juga yang menampilkan menu khas Bali, babi guling dengan finishing warna yang pas. “Pas sekali warna babi guling ini. Dari warnanya, bisa dibayangkan kulitnya renyah,” ujar Dewa Aditya kepada Wayan Merdangga, didampingi tim Tokoh yang menjadi juri. Demikian halnya ketika menilai hasil mewarnai anak-anak PG/TK (kategori A) dan anakanak kelas 1 s.d. 3 SD (kategori B). Juri sempat bingung menentukan 6 gambar yang

dan harus tega menyingkirkan beberapa gambar,” ucap Wayan Merdangga sembari menjejerkan beberapa hasil karya anak-anak tersebut. Ny. Bintang Puspayoga yang hadir dalam acara tersebut juga berkesempatan memantau lomba. Tak henti-hentinya istri Menteri Koperasi dan UMKM ini berdecak kagum dengan hasil karya mereka. “Anakanak sekarang pintar-pintar mewarnai dan menggambar. Mereka banyak menggunakan

Para juri saat melakukan penilaian lomba menggambar

Pemenang Lomba Mewarnai Kategori A (PG/TK) Juara I : Putu Queenzha Ganika Dewi Juara II : Putu Savira Juara III : Dio Harapan I : Ami Harapan II : Nabila Bunga Wijaya Harapan III : Nayla Diva Octaviany

Pemenang Lomba Mewarnai Kategori B (kelas 1 s.d. 3 SD) Juara I : Eksa Eningtyas Juara II : Pande Regita AP Juara III : Karisha Niara Harapan I : Alif Harapan II : Nadia Harapan III : Ave

alat bantu, seperti kuas yang dipakai membersihkan,” ujarnya didampingi Ny. Satria Naradha, Widminarko, dan Ketua Panitia Ngurah Budi. Ia pun berharap untuk lebih sering lagi dilaksanakan keg-

iatan serupa untuk mewadahi kreativitas anak bangsa.Dengan kegiatan semacam ini dikatakannya turut menggugah imaginasi mereka dalam merealisasikan sebuah ide, khususnya dalam bentuk gambar. –Inten Indrawati

Peserta lomba mewarnai

Pemenang Lomba Menggambar Kategori C (kelas 4 s.d. 6 SD) Juara I : Tanaya Nazahwa Juara II : Steven Oktaviano Juara III : Luh Gede Intan Kusuma Pradnyani Harapan I : Leon Naga Harapan II : Aqila Adriana Putri Harapan III : Agung Surya Darma


18

Kreasi

Edisi 875/ 16 - 22 november 2015

TA R I D O N G

“ R AT N A

R

Larasari

atna Mangali adalah seorang gadis cantik jelita putri semata wayang Ni Calonarang, seorang janda yang tinggal di desa Dirah. Entah apa yang menjadi menyebabnya, tak ada seorang pemuda pun yang memiliki keberanian untuk melabuhkan cintanya pada Ratna Mangali. Besar kemungkinan para pemuda yang jatuh hati pada kemolekan Mangali tak bernyali menghadapi Ni Calonarang yang

ditakuti penduduk desa sebagai penganut ilmu hitam. Gara-gara Mangali tak kunjung memperoleh jodoh, Ni Calonarang mengancam akan menebar teror. Raja Airlangga yang membawahi desa Dirah kemudian turun tangan menyusun siasat dengan mengutus Bahula, putra Mpu Baradah, menikahi Ratna Mangali. Bukan main girangnya Ni Calonarang melihat kebahagiaan putrinya bersanding dengan seorang pemuda tampan. Dongeng dari desa Dirah tersebut, di tengah masyarakat Bali, lazim disajikan dalam dramatari calonarang. Namun, melalui seni seni pentas Taridong yang lebih fokus mengeksplorasi tokoh Ratna Mangali, terasa mengayun emosi penonton pada persoalan kompleksitas kehidupan, kegetiran cinta, dan hegemoni penguasa terhadap rakyat jelata yang tak berdaya. Nilai-nilai moral yang terlontar dari sajian pentas Taridong “Ratna Mangali” ini memancarkan subtansi kultural yang patut kita renungkan dan

koreksi bersama. Misalnya, di tengah masyarakat Bali modern masa kini masih sering menyembul prasangka bahkan tudingan provokatif menuduh seseorang sebagai praktisi leak. Jagat seni adalah media edukatif mencerahkan. Dongeng sebagai salah satu sumber beragam tema atau lakon ungkapan seni tak bisa dipungkiri sangat kaya dengan kandungan nilai-nilai moralitasnya. Pada masa lalu, ketika budaya sastra lisan masih kokoh, kontribusi tradisi mendongeng berperan penting memberi asupan pada pembentukan karakter masyarakat zamannya. Namun kini, ketika tradisi mendongeng sudah sayup-sayup menjauh, dari manakah generasi sumber insani bangsa kita mereguk nilai-nilai kultural-edukatif untuk membetengi dirinya dari dampak terjangan pengaruh multidimensi negatif-destruktif yang begitu agresif mengiming-imingi k i t a semua, setiap saat dan setiap waktu, melalui teknologi digital televisi, HP, internet yang demikian merasuk? Diperlukan kreativitas untuk mereaktualisasikan dan mereposisi tradisi mendongeng di tengah masyarakat kita yang cenderung sibuk dan serba terburu-buru ini. Kreativitas itu, salah satunya melalui seni pertunjukan yang khusus dikemas seperti telah diluncurkan, Taridong, seni tari yang dipadukan dengan seni mendongong. Tentu diperlukan kemampuan khusus bagi para pelaku yang membawakannnya. Pertama, adalah keperigelan menari, termasuk di dalamnya pengkarakteran tokoh-tokoh yang diceritakan. Kedua, adalah kepiawaian mendongeng, tentu termasuk di dalamnya olah vokal dramatik ima-

Story

MANGALI”

Menari Sembari Mendongeng Menari sembari mendongeng atau mendongeng sambari menari. Inilah sebuah tawaran kreasi seni pentas baru yang diberi nama Taridong yakni perpaduan seni tari dengan seni mendongeng. Senin (9/11) siang lalu disajikan di Wantilan Gedung Pers Bali K. Nadha, Denpasar, pada puncak HUT ke-17 mingguan berita wanita Tokoh. Mengangkat lakon “Ratna Mangali”, Taridong yang dibawakan oleh penari dan pendongeng Bali, Sri Ayu Pradnya Larasari, bertutur tentang kemelut batin seorang wanita yang tak berdaya menghadapi pengkhianatan cinta dan kesewenangwenangan penguasa. Penonton yang terdiri dari tokoh-tokoh wanita Bali terpukau.

Life

jinatif. Dua bekal kemampuan ini kiranya sudah cukup untuk mementaskan Taridong. Terakhir, tinggal cerdik memilih dongeng sesuai dengan siapa penontonnya serta konteks peristiwanya. Sebagai perintis seni pentas Taridong, Sri Ayu Pradnya Larasari yang akrab disapa Laras, telah membekali diri de­n gan pengalaman sebagai penari dan pendongeng. Alumnus SMA Negeri 3 Denpasar yang kini mulai menapak bangku kuliah di ISI Denpasar ini, sejak SD hingga SMA telah berkali-kali menyabet Juara I se-Bali, baik untuk bidang seni tari maupun dalam bidang masatua atau mendongeng. Bahkan atas capaian reputasinya itu, tahun 2014 lalu, oleh Pemerintah Re-

publik Indonesia, ia dianugrahkan Piagam Kebudayaan sebagai Remaja yang Berdedikasi dalam Bidang Seni Tari dan Seni Bercerita. Tahun itu juga, gadis berambut panjang ini diutus sebagai duta Festival Dongeng Se-Asia di Korea Selatan. Kini, melalui seni pentas Taridong, “Saya ingin terus mengasah diri pada kedua bidang seni yang saya digeluti sejak usia belia, sekaligus ingin menawarkan suatu kreativitas seni dengan harapan diapresiasi masyarakat,” ujar Laras seusai pentas. Taridong “Ratna Mangali” disajikan Laras dengan sarat totalitas. Diawali dengan utai­a n tari nan impresif, kemudian melenggang dengan rona wajah kemayu menuju ke tengah panggung. Menggunakan tata busana modivikasi kain cepuk dengan sedikit ornamen prada, kisah dimulai. Dibuka dengan kalimat: Tersebutlah di sebuah desa yang bernama Dirah, kemudian digarisbawahi dengan alunan tembang pupuh ginada basur: kocapan ni calonarang, okan nyane ratna mangali. Ratna Mangali digambarkan Laras dengan kalimat: segala tanda tanya berkecamuk dalam batin Mangali, namun tak berani mempertanyakan kepada ibunya yang pemberang. Namun setelah Bahula kabur mencuri buku tenung ibunya, Ratna Manga­li menggugat menumpahkan isi hatinya. Ungkap Laras dengan suara lantang: Kenapa Bahula mengkhianatiku? Kenapa ibuku harus menyabung nyawa demi mempertahankan harga dirinya? Kenapa? Kiranya, seni pentas Taridong akan terus mempertanyakan berbagai persoalan kemanusiaan dengan kehidupannya, lewat kisah dongeng yang lain.

7

Edisi 875/ 16 - 22 november 2015

Ary

Juliant

Belum Menemukan Produser “Gila” Memilih untuk tetap bertahan dengan cara, gaya dan khususnya dalam hal idealisme berkarya tentulah tidak mudah. Banyak godaan yang menghampiri menjadi salah satu tantangan yang harus ditaklukan oleh seorang yang bertahan dengan idealisme tersebut. Godaan itu tidak hanya berasal dari luar melainkan juga dari diri sendiri. Godaan untuk tergiur mengikuti arus atau tetap bertahan pada apa yang sudah dipilih.

Ary Juliant bersama warga di Dusun Pancasila, Pekat Dompu, saat Tour Gerilya Balada Nusa Gora tahun 2010

B

agi seorang musisi, Ary Juliant tantangan dari luar maupun dari diri sendiri dengan sangat mudah ditaklukkannya karena dalam berkarya ia mengalir seperti air. Mengikuti perjalanan karyanya tanpa mesti rumit dengan banyak syarat. Ary memilih konsep berkarya yang sederhana, merespons apa yang ada di sekelilingnya. Ia tidak pernah bergantung pada gedung pertunjukan, sound system yang mapan atau juga penonton yang membludak melainkan ia bisa tampil di mana saja dengan sangat bersahaja. Ary yang telah memulai karier bermusiknya sejak tahun 1985 ini bisa memainkan musiknya di tengah padang bernyanyi bersama alam atau bahkan memetik gitarnya di atas gunung atau

di tengah sawah juga tempat-tempat lain yang tidak biasa dijadikan sebagai ‘panggung’ secara umum. Namun, ia juga biasa tampil di panggung-panggung musik bergengsi bahkan bersama musisi-musisi ternama dan ia bisa ‘berkeliaran’ memainkan musiknya di nusantara ini hingga ke luar negeri. Sederhana, itulah yang ditampilkan Ary dalam proses-proses kreatifnya selama ini. Bermula dari ketertarikannya pada kemurnian gerakan indie di era 1990an yang makin membangkitkan gairah bermusiknya, Ary terus melakukan pencarian. Sebuah konser yang pernah dihelat di Arena Teater Terbuka Taman Budaya NTB. Pada artistik panggung konsernya yang bertajuk “Bunyi Koran di Mana-mana”, Ary bermain dengan banyak koran. Di

tangan Ary Juliyant, koran hadir dalam berbagai rupa. Tidak banyak orang yang memperhatikan Koran seperti dirinya yang menganggap betapa bernilainya koran. “Betapa menyedihkan ketika koran kini hanya berada dalam posisi sebagai produk kebudayaan yang dimurahkan, karena pada akhirnya selalu menjadi sampah. Sementara sebagai titisan produk seni grafis, sampah koran masih menggoda saya untuk lebih memaksimalkannya menjadi karya seni lainnya,” ungkapnya. TOUR GERILYA Tiga puluh tahun bukan waktu yang sebentar bagi Ary untuk menemukan jati diri bermusik yang menjadi pilihan hidupnya kini. Dalam prosesnya berkesenian inilah ia lalu menemukan konsep gerilya di tahun 1990-an. “Dari gerakan gerilya ini akhirnya memberikan ruang berfikir yang jernih untuk menyikapi apa yang saya lakukan. Dan saya mematangkan konsep gerilya setelah menetap di Lombok,” ujar pria kelahiran Bandung, 31 Juli 1964 ini. Dengan konsep ini, Ary lalu melakukan perjalanan untuk membangun silaturahmi dengan berbagai komunitas di nusantara dalam Tour Gerilya yang dimulai sejak tahun 2000an dan kini secara rutin ia lakukan dua tahun sekali. Tour gerilya Ary Juliant merupakan pengembangan dari ‘ketidakpuasannya’ bergerak di situ-situ saja (tempat yang itu-itu saja). Perjalanan-perjalanan tour gerilya ini dilakukan untuk memberi ruang dalam membuat jaringan-jaringan kesenian a la Ary Juliant. Jangan membayangkan tour gerilya sang musisi ini sebagai sebuah perhelatan yang ‘wah’ dari sisi infrastruktur berkesenian melainkan ia tampil dalam kesederhanaan namun sarat makna dan menghadirkan apa saja yang ada di sekitarnya. Ia terbiasa mengerjakan sendiri apappun yang dibutuhkan dalam konser tour gerilyanya. Tidak hanya pada tour gerilya, pada konser-konser gerilya lainnya Ary ‘membangun’ sendiri infrastrukturnya sesuai kemampuannya. Dalam berkarya tidak ada ambisi untuk mencapai apapun baginya kecuali terus berkarya yang mengalir mengikuti perjalanannya. Dengan bergerilya ia ingin mengatakan bahwa kesenian bukan melulu soal hiburan melainkan proses membangun peradaban. Ary sampai pada hari ini dengan konsep gerilya, sebelumnya telah me-

Kadek Suartaya

Ary Juliant, gerilyawan kesenian yang kerap menembus keterbatasan dengan tidak tergantung gedung pertunjukan ataupun soundsystem memadai

lewati masa-masa mendekati -hingga akhirnya ‘melawan’ kemapanan industri. Rupanya, bagi seorang Ary dalam proses karyanya ia tidak beruntung masuk industri karena tidak menawarkan kenyaman dalam berkarya. Kebanyakan ketika masuk wilayah bisnis maka semua akan diatur berdasarkan kebutuhan industri dan gairah kesenian akan sulit untuk bisa diakomodir. Itulah yang membuat Ary tidak lagi mendekatkan dirinya dengan dunia bisnis tersebut. Sembari berseloroh, Ary mengatakan bahwa ia belum menemukan produser yang ‘gila’ sehingga membuatnya tidak beruntung. Karena ada orang yang beruntung yang menemukan produser ‘gila’ dan cerdas yang mampu mengawinkan dengan bijaksana ruang industri dan harkat berkesenian. “Saya belum beruntung menemukan yang mampu mengawinkan dua hal tersebut, yang mampu tidak hanya menjual tetapi juga melibatkan kekaryaan saya,” kata musisi yang karyanya pernah ditawari oleh salah satu label bergengsi di negeri ini. Karena itu, Ary memilih tidak ketika tawaran itu datang dengan tidak melibatkan kekaryaannya. Baginya ketika harkat berkesenian tidak terjaga dengan baik, maka akan menimbulkan resiko yang tidak akan memberinya kenyamanan berkarya. Namun begitu, Ary tidak menyalahkan dunia bisnis karena setiap orang punya sikap dan pilihan masing-masing. Bukan berarti industri itu tidak bagus melainkan ini hanya sebuah pilihan dan sikap hidup masing-masing orang. Tampaknya karena kesederhanaannya dalam berkarya inilah yang membuat Ary sempat mengungkapkan keheranan pada dirinya sendiri yang disebutnya memiliki ‘kelainan’ karena tidak lagi punya cita-cita. Ia merasa selalu cukup dengan segala prosesnya dalam berkarya, sesederhana apapun bentuknya. Keunikan gerilyawan kes-

Ary Juliant

enian ini ada pada mottonya yang tidak perlu terkenal. “Justru kalau terkenal berarti saya gagal,” ungkapnya tertawa. Baginya terkenal ataupun tidak terkenal bukanlah persoalan, melainkan yang penting bisa bermanfaat. Memaksimalkan segala yang ada untuk menembus keterbatasan dalam berkarya. Karena itu ia kini berlindung di bawah label yang dibuatnya bernama “Foto Kopi Record”. Semua hal menyangkut karyanya ia perbanyak dengan cara foto kopi. Sepanjang perjalanannya bermusik, Ary telah melahirkan 30 album dengan tidak kurang dari 180 lagu yang bertema gejolak dan perjalanan rasa, lingkungan, kemanusiaan, sosial, religi dan lainnya. Kini Ary menghabiskan waktunya untuk berkarya di Mataram bersama istrinya Indrastuti Daryanto dan dua anaknya, Nisa dan Satria. Selain berkesenian dengan cara bergerilya ia juga sebagai seorang pekerja bidang musik. Selain menjadi juri pada event-event musik di Mataram, ia juga banyak mendapat undangan dalam berbagai event lain. Baru-baru ini Ary menjadi salah satu pengisi acara pada panggung pentas bersama yang digelar oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) bertajuk, Berani Sederhana, di Omah Petruk Jogjakarta. Selain itu, Ary juga menjadi seorang penyanyi cafe. Semua ini adalah bagian dari ia tengah menjalani proses berkarya yang terus menerus. -Naniek I. Taufan


6

masa lalu ini belum mendapat pemuli­ han nama baik.

Indriyati Suparno

Relasi Kuasa tak Seimbang

Dunia sudah modern, pemikiran manusia sudah semakin maju, namun kebanyakan perempuan masih menemui hambatan dalam menemukan keadilan jika berhadapan dengan kekerasan yang menimpa dirinya. Entah itu kekerasan dalam rumah tangga ataupun kejadian lainnya. Bahkan tak jarang banyak perempuan tidak berani melaporkan kejadian kekerasan yang me­nimpa dirinya karena khawatir dikriminalisasi.

K

ekhawatiran ini bukan mengada-ngada, kar­ ena faktanya ada ban­ yak kejadian dimana perempuan sebagai korban kekerasan yang melaporkan kasusnya kepada pihak yang berwajib, berunjung pada kriminalisasi pada yang bersangkutan. “Ya, kasus semacam itu banyak terjadi meski ada undang-undang yang melindungi wanita seperti UU KDRT, dll. Ada kasus dimana perempuan me­ laporkan kekerasan, dia malah dikrimi­ nalisasi dengan undang-undang itu, yang sesungguhnya dibuat untuk melindungi wanita. Tapi justru dijadikan senjata un­ tuk mengkriminalkan korban,”ungkap Indriyati Suparno kepada Tokoh. Berdasarkan data, kasus kekerasan terhadap perempuan yang terjadi sepanjang 2014 adalah 293.220 kasus. Jumlah kasus ini, diyakini bukanlah jumlah sebenarnya. Diyakini, jumlahnya lebih besar dari yang terdata. “Kenapa begitu? Karena, salah satu penyebabnya adalah, banyak perempuan enggan me­ laporkan kasusnya, baik karena alasan norma budaya atau alasan lain. Perem­ puan memilih diam,” tambahnya. Dalam kesempatan perbincangan itu, Indri, begitu wanita kelahiran 1975 ini akrab disapa, dengan bersemangat

bercerita tentang bagaimana kekerasan terhadap perempuan terus berlangsung sekalipun ada sejumlah undang-undang yang melindungi perempuan. “Ada banyak undang-undang yang melindungi perempuan tapi kekerasan tetap saja terjadi. Ini adalah persoalan yang serius. Harusnya negara bertanggung jawab,” tegas Indri. Keseriusan persoalan kekerasan terhadap perempuan, lanjut Indri, ter­ gambar dari kesaksian korban dalam Konferensi Nasional Pemulihan yang baru-baru ini digelar di Medan. Kon­ ferensi Pemulihan ini sangat penting

artinya bagi para perempuan Indone­ sia, khususnya mereka yang menjadi korban kekerasan. “Banyak hal yang dipaparkan. Juga dihadirkan mereka yang menjadi korban kekerasan untuk berbicara. Kami ingin pemerintah men­ dengarkan,” ungkapnya. Kekerasan terhadap perempuan, kata Indri, terjadi sebagai akibat dari sebuah sistem sosial yang merendah­ kan status dan kedudukan perempuan sehingga relasi kuasanya menjadi tidak seimbang di dalam masyarakat.Hal lain­ nya adalah struktur politik otoritarian dan militeristik yang cenderung mem­ batasi kebebasan, bertindak represif, menghukum yang berseberangan secara politik dan membenarkan peng­ gunaan kekerasan sebagai mekanisme pelemahan. “Kombinasi budaya patriarkhi dan struktur politik otoritarian-militeristik membuat perempuan memiliki posisi tawar yang rendah dan tak mampu

Indriyati Suparno

bertindak cepat mendapatkan keadilan ketika mengalami kekerasan. Di sisi lain, penyedia layanan pemerintah tidak responsif. Apalagi jika pelaku kekerasan adalah pejabat publik, pengusaha besar. Situasi ini membuat impunitas pelaku kekerasan terus berlanjut,” katanya. Contoh lain yang dikemukakan Indri adalah perlakukan terhadap kor­ ban 1965. Sampai sekarang, katanya, perempuan korban pelanggaran HAM

Indriyati Suparno (dua dari kanan) dan para Komisioner Komnas Perempuan

TIDAK SEBATAS PSIKIS Secara garis besar, ada beberapa hal yang dihasilkan dalam konferensi tersebut, di antaranya adalah tentang penguatan konsep pemulihan. Adanya desakan agar pemulihan terhadap korban dilakukan secara terintegrasi sejak awal penanganan. “Pemulihan ini tidak sebatas psikis semata tapi juga dukungan masyarat , dukungan negara, termasuk dukungan kebijakan,” tegas Indri. Terkait kebijakan, Indri yang menjadi Peneliti Utama Solidaritas Perempuan untuk Kemanusiaan & HAM pada 20012004, menjelaskan, termasuk adalah dukungan anggaran. Ia memaknai ang­ garan adalah sebagai alat negara dalam pemenuhan hak bagi warga negaranya. “Selama ini kami melihat dukungan anggaran hanya normatif saja. Memang terlihat anggaran sepertinya besar, namun jika diamati postur anggarannya tidak menyentuh sampai kepada kebu­ tuhan korban. Justru anggaran itu banyak dipakai untuk hal-hal seperti koordinasikoordinasi, rapat-rapat, pembentukan tim, kegiatan seremonial, dll,” katanya panjang lebar. Hal lainnya yang juga terungkap dalam konferensi adalah tentang perem­ puan-perempuan pembela HAM yang rentan mengalami kekerasan. Para aktivis perempuan ini merasa pekerjaan­ nya tidak dihargai, tidak diakui. Di sisi lain, mereka juga merasa keamanannya tidak terlindungi. Kasus-kasus ini terjadi di sejumlah daerah. “Jadi masalah ini pun menjadi salah satu rekomendasi kami. Ada doron­ gan tentang pengakuan terhadap ke­ beradaan mereka. Pengakuan ini dalam bentuk kebijakan negara, misalnya, terkait penanganan korban dan pen­ dampingan korban, biaya pendampun­ gan kasus, keamanan, dll,” tuturnya. –Diana Runtu

Toward A Winning Thinking ini sebagai a wake-up call atau a ringing bell – sebuah alarm untuk bangun dari tidur.

Fakta menyenangkan mengenai tantangan yang dihadapi wanita seharihari dalam bisnis adalah pada setiap tantangan ada kesempatan untuk membuat langkah besar ke depan. Mereka bahkan meyakini bahwa; A chaos is a perfect chance for you to do best. A PERFECT CHAOS AS AN ASSET Seorang kawan baik berbagi cerita tentang masa sulit beberapa tahun silam sebelum usaha agrowisata yang ia miliki, didirikan hingga sukses besar seperti sekarang. Masalah datang ber­ samaan dan dalam kadar yang samasama besar dan memberi pukulan kuat terhadap sisi finansial, hubungan de­ ngan keluarga, serta hubungan dengan lingkungan terdekat dan membuat standar hidup mereka menurun drastis. Satu situasi perfect chaos lain untuk sama-sama kita amati. Seorang eksekutif muda di Jakarta melepas posisi strategis di perusahaan multi-national yang ia peroleh dengan ketekunan dan kerja

Mozaik

Woman on Top

Edisi 875/ 16 - 22 november 2015

keras. Alasannya sederhana, memba­ ngun sebuah mimpi untuk mendirikan perusahaan bersama. Pemikiran yang menimbulkan masalah adalah; mimpi orang lain yang ia copy-paste ke dalam mimpinya sendiri yang menyebabkan dependability (ketergantungan) dari sisi pemikiran dan langkah-langkah bisnis yang akan diambil. Kemerosotan perusahaan, finansial, hubungan profesional dan menurunnya kemampuan berpikir obyektif menjadi indikator kuat terjadinya perfect chaos. Ada satu pemikiran yang muncul saat itu meski sesungguhnya pemikiran ini bukan merupakan pilihan: acceptance (penerimaan). Menerima dan menyadari situasi yang terjadi. Ia menekankan, sangat penting untuk menyadari dan menerima kondisi yang sebenarnya. Openness (keterbukaan berpikir) dalam kondisi kesulitan yang sempurna seperti ini bisa menjadi aset jalan keluar yang luar biasa kuat. Bagi mereka yang terbiasa dengan winning thinking, mereka menyebut acceptance

OPTIMISTIC INFLATION ASSUMPTIONS Inflasi. Barangkali boleh kita pinjam sebentar istilah ekonomi ini. Apa yang terjadi saat seseorang mengalami inflasi terhadap asumsi optimis mereka? Asumsi yang optimis mendorong per­ gerakan mereka ke arah positif. Mereka meyakini bahwa optimistic inflation assumption ini memberi momentum luar biasa untuk menentukan arah pikiran untuk keluar dari kondisi pemasalahan yang kompleks. Lantas seperti apa mereka berjalan ke arah winning thinking? Mereka meyakini perbedaan cara berpikir pada saat masalah itu terjadi dan cara berpikir pada saat mereka menyelesaikan masalah itu; ‘We cannot solve our problems with the same thinking we used when we created them’. Pertanyaan berikutnya, bagaimana mereka merubah cara berpikir ini? Hal yang tentu tidak mudah untuk diaplikasikan oleh banyak orang. Saya melempar pertanyaan ini pada sebuah perbincangan santai dengan dua kawan yang sama-sama memiliki ketertarikan mendalam tentang psikologi komunikasi. Salah satunya mengatakan bahwa kematangan seseorang dalam mengolah pikiran dapat menjadi satu-satunya elemen yang menyelamatkan dan membawa mereka ke arah winning thinking.

Mereka memiliki asumsi positif yang muncul dari diri sendiri (self-driven). Bagaimana dengan mereka yang masih belum ada di tingkat kematangan mengolah pikiran itu? Konsep lama yang sampai saat ini masih sering kita dengar adalah paradigm shifting melalui orang lain. Beberapa di antara mereka mendapat momentum untuk melakukan perubahan cara berpikir dari encouragement orang lain, keyakinan yang diberikan oleh orang lain serta komitmen terhadap supports yang diberikan orang-orang terdekat. Proses ini masih sangat kuat memberi pengaruh terhadap penyelesaian masalah. Orang lain yang dipercaya sebagai penggagas ide positif dan pemberi inspirasi dapat menjadi bagian yang membentuk nilai positif (value). Mereka begitu memahami bahwa nilai (value) yang mereka bawa akan membentuk hal-hal yang mereka yak­ini dalam pikiran mereka (belief). Keyakinan mereka akan menentukan sikap yang perlu mereka ambil. Dari siklus behavior learning kita dapat menyimpulkan bersama bahwa; my value shapes my belief dan my belief shapes my attitude. Terlepas dari semua proses yang dijalankan untuk keluar dari perfect chaos, konsep toward a wining thin­king menekankan betapa pentingnya acceptance itu sebagai pemicu untuk membuat lompatan besar ke depan. Acceptance adalah menerima dan memahami dengan matang bahwa sometimes you win, sometimes you learn.

Perusahaan pelat merah ini sukses mengulang panen raya padi program Kam­ pung Petroganik. Setelah sukses di Kediri pada Maret 2015, mitra produksi pupuk Petroganik PT Petro­ kimia Gresik (PG) kembali melakukan panen raya pada program yang sama di Desa Kepuhkajang, Kecamatan Perak, Kabupaten Jombang, Jawa Timur.

Edisi 875/ 16 - 22 november 2015

19

Kampung Petroganik Tingkatkan Produktivitas Padi

K

ampung Petro­ ganik merupakan program edukasi, sosialisasi, serta promosi yang diinisiasi oleh mi­ tra produksi Petroganik beker­ jasama dengan distributor PG untuk petani yang berada di daerahnya. Program ini ber­ tujuan untuk membina petani padi, mulai dari pemilihan benih unggul, pola pemupukan, pe­ ngolahan lahan, hingga panen.

Agus Triyono

Loyalitas Tinggi Berbuah Manis Ia mengawali karier di Santika Hotel sejak 1993 di Yogyakarta, dengan jabatan Finansial Kompoler, Assisten Manager Eksekutif. Ia juga pernah di Santika Bandung tahun 2000 dengan jabatan General Manager, pernah juga pernah menjajaki Santika Pandigiling Surabaya 2003-2004. Tahun 2006 lalu pindah ke Semarang, lalu hijrah ke Bogor 20082012, akhirnya kembali ke Surabaya di Santika Premiere dengan jabatan General Manager 2013 hingga sekarang. Loyalitas kerja yang tinggi dan profesionalisme dalam berkarya terlihat jelas dari sosok pria kelahiran Yogyakarta ini. Melihat perjalanan kariernya di dunia perhotelan di Santika selama 22 tahun ini, Agus Triyono sudah mem­ buktikan kerja kerasnya hingga bisa sukses menduduki kariernya sebagai General Manager di Santika Premiere Gubeng Surabaya. Bekerja di industri perhotelan ini adalah cita-citanya sejak kecil. Tak hanya itu, selama menekuni kariernya, Agus Tri­ yono tak pernah berpindah ke lain hati. Dua puluh dua tahun sudah kariernya dia abdikan pada Santika Group karena dirinya menyukai corporate culture yang ada. “Saya yakin, inilah amanah yang sudah dipercayakan untuk dijalankan. Saya percaya, Tuhan pasti akan memberi­ kan kemudahan apapun caranya. Awalnya saya memang merasa punya ikatan emosional dengan hotel ini, dan gak tau kenapa saya merasa nyaman di Grup Santika hotel ini,” ungkapnya. Selain itu, Agus Triyono juga dengan bangga menga­ takan, bahwa dirinya memiliki super tim yang solid untuk bersama-sama memajukan hotel bintang empat ini. “Brand dari Santika benar-benar sangat manjur dan juga kita hanya perlu menjaga brand hotel tersebut. Tentunya banyak fasilitas pendukung yang menarik sehingga tamu merasa nyaman menginap di Santika Premiere Hotel,” katanya. Agus juga menambah­ kan, dengan hadirnya hotel budget ini, secara otoma­ tis menurunkan okupansi hotel bintang empat ini. Masyarakat tidak lagi me­ mandang image, namun lebih pada mereka hanya butuh tempat istirahat yang nyaman juga bersih, serta bisa menghilangkan kejenu­ hannya. Oleh karena itu, dengan kekompakan seluruh tim­ nya, maka hotel ini menda­ pat respons yang luar biasa positif dari masyarakat dan mengalami progress yang sangat bagus. “Kami sadar betul bahwa selain kami bekerja sebagai profesional manajerial, namun tetap

dibutuhkan pengabdian se­ luruh daya pikir, batin, jerih payah dan laku. Karenanya, kami kombinasikan antara pe­ layanan dengan tanpa mening­ galkan budaya, sehingga akan menghasilkan hotel yang bagus dan profesional,”papar suami Ratna Ningsih ini. Untuk kedepannya, pria yang memiliki prin­ sip hidup bermanfaat bagi sesama ini men­ gatakan bahwa selain tetap memuliakan tra­ disi, akan tetap ada ren­ cana tindakan den­ gan pelayanan yang profe­ sional dan terbaik untuk mendapat hasil yang luar biasa. -Bayu Pangarso

Program ini telah dimulai pada 2014. Dirut PG Hidayat Nyakman menyatakan perusahaan akan terus mendorong kegiatan pem­ berdayaan yang dilakukan oleh mitra produksi Petroganik yang bekerjasama dengan distributor ini. Karena program ini sejalan dengan keinginan Kementerian Pertanian yang akan memaksi­ malkan penggunaan pupuk or­ ganik sebagai komposisi utama dalam mengembalikan tingkat kesuburan tanah. “Kami berharap kegiatan seperti ini dapat dikembangkan oleh mitra produksi Petroganik dan distributor, tidak hanya di Kediri dan Jombang saja, tetapi juga di daerah lainnya,” ujar Hidayat Nyakman usai panen raya bersama sejumlah pejabat, diantaranya Dirjen Tanaman Pangan Kementerian Pertanian, Anggota Komisi IV DPR RI, Bu­ pati di Jombang Rabu (4/11). Adapun mitra produksi di Jombang yang menjadi pembina dalam program ini adalah adalah CV Daun Thakker Indonesia,

CV Cahaya Baru, UD Phalosari Unggul Jaya, UD Bima Sakti, dan PT Mitra Prasetya Gemilang. Se­ dangkan distributor yang terlibat adalah UD Mujiarto, CV Kembar Jaya, dan Koperasi Mitra Tani. Estimasi panen pada lahan seluas 54 ha milik kelompok tani Bekel Kepuhsari ini berkisar 10 ton/ha gabah kering panen (GKP). Angka ini lebih tinggi dari rata-rata panen di Keca­ matan Perak yang mencapai 6,5 ton/ha. Pola pemupukan yang digunakan adalah pemupukan berimbang 5:3:2, yaitu 500 kg Petroganik, 300 kg NPK Phons­ ka, dan 200 kg Urea). Tanaman menggunakan varietas ciherang, pola tanam padi-padi-palawija, dan umur panen 95 hari. “Kami sangat merekomen­ dasikan kepada petani untuk menggunakan pola pemupu­ kan berimbang 5:3:2. Karena berdasarkan berbagai demplot yang pernah kami lakukan, formulasi ini terbukti mampu meningkatkan produktivitas padi,” tambah Hidayat Nyak­ man. -Samudera Ghozuwan


20

Nine

Edisi 875/ 16 - 22 November 2015

Menabung Sampah, Nilainya Uang

Membawa sekeranjang sampah plastik, Kiptiah, salah seorang ibu rumah tangga yang tinggal di Lingkungan Banjar Selaparang Ampenan Kota Mataram, menuju Bank Sampah NTB Mandiri (BSNTBM), yang tidak jauh dari rumahnya. Saat ditanya akan kemana ia pagi itu membawa sekeranjang sampah, Kiptiah menjawab hendak menabung sampah miliknya. Menabung biasanya identik dengan uang dan banknya menyimpan uang tersebut. Namun Kiptiah tidak datang untuk menabung uang melainkan menabung sampah. Uniknya, sampah yang ditabung, tapi nilai uang yang dicatat dalam buku rekeningnya.

P

erempuan berusia lebih dari setengah abad ini tidak sendiri saat mengantar sampah ke bank sampah tersebut, melainkan banyak pula ibu-ibu rumah tangga lainnya dan para gadis yang secara rutin

Foto-foto: koleksi aisyah odist

menabung sampah di sini. Mereka adalah para nasabah Bank Sampah NTB Mandiri. Secara rutin para ibu rumah tangga ini datang membawa dan menyetorkan sampah plastik lunak untuk ditabung di sini. Saat tiba di bank sampah, sampah-sampah mereka

ditimbang, dihitung lalu dicatat dalam buku rekening tabungan masing-masing oleh petugas di bank tersebut. Inilah salah satu aktivitas ibu rumah tangga di lingkungan ini beberapa tahun terakhir. Meski awalnya sulit untuk membuat bank sampah ini berjalan baik seperti hari ini, Aisyah Odist sang perintis Bank Sampah NTB Mandiri ini mengaku lega karena telah muncul kesadaran setidaknya dari para ibu rumah tangga yang tinggal di sekitar bank sampah untuk memanfaatkan sampah menjadi barang yang berguna bagi kehidupan manusia. “Sampah tidak lagi dilihat sebagai barang yang dapat merusak lingkungan melainkan dapat dimanfaatkan secara maksimal dan bernilai ekonomi, baik bagi pengelolaannya maupun bagi penabung sampah,” ungkapnya. Bagi ibu rumah tangga, aktivitas menabung sampah sesungguhnya adalah pekerjaan yang

Foto-foto: koleksi aisyah odist

mudah dilakukan karena dapat kerjakan sembari mengurus rumah tangga. Tidak butuh waktu khusus untuk mengumpulkan sampah plastik lunak misalnya, melainkan bisa didapat dari sisasisa bungkusan minuman instan seperti kopi dan minuman lainnya. Juga plastik-plastik bekas deterjen, botol minuman, bekas pengharum pakaian atau lainnya yang merupakan jenis plastik lunak. Karena semuanya bisa dimanfaatkan untuk membuat kerajinan tangan. Sampah plastik ini bisa disetor dalam bentuk aslinya. Namun bisa juga disetor dalam bentuk lipatan, digunting melebar sesuai kebutuhan kerajinan atau sesuai kebutuhan lainnya. Dengan begitu harganya bisa lebih tinggi.

Kegitan melipat, mengunting dan sebagainya ini tidak harus dilakukan di bank sampah, melainkan dilakukan oleh para ibu rumah tangga ini di rumah masing-masing sembari menonton televisi ataupun di sela-sela kegiatan mengurus rumah tangga. “Biasanya saya melipat plastik sesuai kebutuhan di bank sampah sambil menonton televisi,” kata Indrawati yang hari itu datang menyetor sampah yang sudah dilipat rapi. Lipatan plastiknya itu dihargai Rp 5.000/100 biji. Jika digunting biasa, harganya Rp 2000/100 biji. Demikian pula dengan Dewi yang juga rajin menabung sampah di bank ini. Ia datang menabung hasil lipatannya yang lumayan banyak dan mencatatnya dalam buku tabungannya. –Naniek I. Taufan

Pilah Sampah untuk Dijadikan Anyaman Di sudut lain bank sampah ini, Kiptiah sibuk dengan sampah plastiknya yang digunting melebar sebelum dilipat. Ia memilah jenis dan motif sampah plastik yang serupa agar sama. Beberapa saat kemudian bank sampah ini menjadi semakin ramai oleh para ibu rumah tangga dan gadis-gadis yang datang menyetor hasil anyaman sampah plastiknya. Ada pula yang datang mengambil sampah plastik yang sudah dilipat untuk dianyam di rumah masing-masing. “Mereka membawa pulang bahan sampah plastik yang sudah dilipat untuk dianyam di rumah masing-masing,” kata Aisyah yang mengelola bank sampah ini dengan sistem konvensional berbasis rumah tangga. Setelah jadi, mereka mengembalikan anyamananyaman sederhana yang sangat mudah dikerjakan itu, menyetor pekerjaannya untuk kemudian dicatat dalam buku tabungannya yang dinilaikan dengan sejumlah uang, tergantung berapa banyak yang mereka setorkan dari pekerjaan tersebut. Selain itu, kegiatan para ibu rumah tangga di lingkungan ini, terutama bagi mereka yang ingin meningkatkan jumlah tabungannya, belajar gratis untuk menganyam dan menjahit kerajinan yang pelatihannya di-

lakukan rutin seminggu sekali. Mata rantai kegiatan pembuatan kerajinan dari sampah yang merupakan bagian dari kegiatan bank sampah ini telah membuka lapangan kerja khususnya bagi para ibu rumah tangga di lingkungan ini. Sesunguhnya, jika seluruh proses dalam pengerjaan kerajinan dari sampah plastik ini dikerjakan sendiri oleh bank sampah, modal yang keluar hanya sekitar Rp 2.000 untuk menghasilkan satu dompet seharga Rp 25.000an. Namun bank sampah ini sengaja melibatkan masyarakat, khususnya ibu rumah tangga di sekitar untuk ikut ambil bagian dalam usaha setidaknya untuk melestarikan lingkungan agar terbebas dari sampah plastik dengan membeli sampah mereka dan juga proses yang dikerjakan oleh mereka juga seperti, menggunting, melipat, menganyam dan lainnya sehingga mereka mendapatkan manfaat ekonominya. Inilah yang membuat modal fisiknya saja dari kerajinan ini yang dapat dibagi kepada masyarakat menjadi sekitar Rp 12.500-an. Belum lagi finishing dan proses lainnya. Berbagai produk bercita rasa seni dihasilkan dari sampahsampah plastik lunak ini, mulai dari berbagai jenis tas, dompet,

Foto-foto: koleksi aisyah odist

Hasil kerajinan dari sampah plastik yang ditabung ibu rumah tangga di lingkungan Banjar Selaparang Ampenan

tikar, tempat tisu dan lainnya. Setiap datang menyetor sampah maupun hasil pekerjaannya, para ibu rumah tangga ini selalu menyempatkan diri memeriksa nilai tabungan mereka. Jika mereka rajin menabung sampah ataupun mengerjakan bagian-bagian pekerjaan dari kerajinan sampah ini, mereka bisa mendapat lebih banyak. Bahkan pernah ada yang membawa sampah plastik ini hingga 30 kg. “Itu berarti mereka bisa menabung sekitar rata-rata (tergantung hasil apakah dilipat, digunting saja), setidaknya Rp 150.000,” ujar Aisyah. Bagi mereka yang membutuhkan uang Rp 5.000 saja uang tersebut sangat bernilai apalagi pekerjaan

mengumpulkan sampah ini bisa dikatakan tidak membutuhkan tenaga dan waktu khusus. Tabungan yang dikumpulkan para ibu rumah tangga ini dapat diambil sewaktu-waktu. “Bisa diambil langsung atau bisa ditabung. Atau bisa juga diambil nanti kalau sudah banyak,” kata Dewi. Selain itu bagi nasabah aktif sekurang-kurangnya tiga bulan yang membutuhkan pinjaman uang dapat meminjam pada bank ini sesuai dengan criteria, misalnya untuk modal usaha. Untuk mengaktifkan kegiatan bank sampah ini, butuh waktu yang tidak sebentar karena ini berkaitan langsung dengan pola pikir dalam menyikapi sampah

yang selama ini dianggap tidak berguna. Mengurus sampah seperti ini, apalagi menarik minat orang mau melakukannya, menurut Aisyah tidaklah cukup hanya dengan diteorikan saja. Melainkan harus dikerjakan terlebih dahulu dan orang melihat hasilnya dan dibuktikan bisa barulah tumbuh minat untuk ikut serta seperti yang kini dilakukan para ibu rumah tangga ini. Resicle semacam ini adalah jalan terakhir yang diambil dalam mengelola sampah, bukan masalah jual beli sampahnya. Seharusnya yang mestinya dilakukan adalah menyelesaikan masalah sampah ini mulai dari sumbernya. “Namun karena hal tersebut masih sangat sulit dilakukan mengingat kurang kesadaran dalam menyikapi sampah secara bijak, maka resicle menjadi jalan terakhir yang bisa diambil saat ini,” kata Aisyah yang berkeliling mengkampanyekan pengelolaan sampah secara bijak setidaknya dengan memanfaatkan sampah plastik menjadi berguna bagi kehidupan manusia. Bank sampah menerima siapa saja untuk menjadi nasabahnya, tidak terbatas hanya untuk mereka yang tinggal di sekitar bank tersebut. -Naniek I. Taufan

Inspirasi

Edisi 875/ 16 - 22 November 2015

Melatih Mental Anak

Saat Festival Keluarga Tokoh 2015, yang sibuk bukan hanya peserta. Para pendamping juga ikut sibuk untuk mengurus perlengkapan yang dibawa peserta. Semua saling bekerja sama untuk meraih prestasi. Bagi mereka, yang penting sudah berupaya maksimal. Kalau menang syukur, kalau kalah tidak apa. “Saya mengantarkan anak ikut lomba untuk melatih mentalnya. Biar dia tahu suasana lomba dan bagaimana rasanya berada di lingkungan yang banyak orang,” ujar seorang peserta dari Pejaten, Tabanan. Baginya, ajang lomba sangat bagus untuk anak dan orangtua untuk menunjukkan potensi. Tetapi, orangtua jangan sampai memaksakan kehendak. Ia mencontohkan, ada orangtua yang marah-marah ketika anaknya menangis sebelum lomba. Pengalaman lain diungkapkan Dwi. Ia iseng mengirimkan foto anaknya untuk lomba fotogenik. Ternyata anaknya mendapat juara 2. Ajang Festival Keluarga ini juga menjadi wahana baginya untuk menyaksikan talenta-talenta berbakat. “Kalau bisa dibuat lomba fashion show tingkat SD. Pasti banyak peminatnya,” ujar karyawati PLN Denpasar yang datang bersama suami dan anaknya ini. Ia juga salut dengan kiprah Tokoh sebagai media yang selain menjalankan fungsi jurnalistik juga mampu menyelenggarakan Festival Keluarga. Sementara itu, Moses, salah satu pengisi stand bazaar sangat puas dengan kegiatan ini. Pria yang membuka stand makanan ini mengaku dagangannya habis. “Es krim Singapura yang paling banyak dibeli. Festival Keluarga ini benar-benar member kesempatan kepada keluarga untuk berpartisipasi. Semoga tahun depan kami bisa ikut berpartisipasi lagi,” ungkapnya. Para mitra kerja yang mendukung Festival Keluarga Tokoh 2015 pun puas dengan aneka kegiatan yang dilaksanakan. “Kami cukup puas dan akan melaporkan ke pimpinan. Semoga kerja sama yang sudah terjalin bisa ditingkatkan lagi,” kata Bu Krisna, perwakil Kecap AAA yang datang khusus dari Surabaya bersama Chef Sarwan. Hal senada diungkapkan Bu Connie, perwakilan Tupperwear yang mendukung peralatan untuk demo masak bersama Chef Sarwan. “Antusiasme peserta sangat luar biasa. Kami berharap Tokoh dan Tupperwear bisa bekerja sama lagi untuk event-event lain. Apalagi Tokoh punya segmen wanita dan keluarga yang cocok dengan segmen Tupperwear,” ujarnya. Pas untuk Anak Muda Salah satu agenda untuk menyemarakkan tahun ke 17 ke-

beradaan Tabloid Tokoh adalah “Lomba Fashion Show”. Menurut salah seorang juri, Ary Agung yang juga seorang mantan model papan atas Bali, ada beberapa hal yang

menarik dari lomba yang diikuti sekitar 60 0rang peserta ini. Pertama, katanya tema yang diangkat “Touch of Endek” merupakan sebuah upaya menyertakan produk dari budaya lokal namun tetap ada kebebasan bagi para model untuk berkreasi dan itu terlihat sangat bervariasi di panggung. “Sangat kekinian dan pas untuk kalangan anak muda,” katanya. Selain itu, dikatakan sepertinya cukup banyak wajah baru, namun rata-rata memiliki kemampuan penguasaan catwalk yang bagus. Begitu pula penampilan secara keseluruhan (total look)-nya, ini

5

Dari Kiri: Ari Agung, Dewi Suarjani, Helga, dan Gde Palgunadi

pertanda baik untuk dunia fashion. Khususnya modeling di Bali. Catatan lain yang disampaikan Ary Agung adalah partisipasi model cowok yang lumayan jumlahnya, bahkan mereka hadir

dengan tampilan yang oke termasuk dalam mengaplikasikan tema lomba. “Mereka mampu memadukan endek dengan item fashion lainnya menjadi eye catching,” tandasnya. –Sri Ardhini


4

Inspirasi

Edisi 875/ 16 - 22 November 2015

Dewa Sugama

Lagu Ibarat Mesin Waktu Popularitas Dewa Sugama sebagai penyanyi solo yang kerap bermain dengan gitar akustik merupakan buah dari usaha kerasnya. Ia tak mencapainya dengan mudah. Dulu ia kerap dibully karena suara seraknya. Bagaimana musisi yang juga dosen Fakultas Hukum Universitas Udayana ini menjalani aktivitasnya?

“S

ejak SD kelas 3 saya sudah belajar main gitar. Waktu itu ada paman saya, guru matematika yang ngajar les untuk kakak. Saat ngajar, dia bawa gitar. Disela-sela waktunya, ia main gitar. Saya pun tertarik dan ikut belajar,” ungkap pria kelahiran 12 Maret 1988 ini. Walaupun mahir bermain gitar ternyata Dewa Sugama tidak hapal

kunci. Ia mengaku bermain gitar menggunakan feeling. Baginya yang penting adalah suara yang dihasilkan merdu dan enak didengar. Saat SMP, ia punya band. Posisinya sebagai gitaris. Hobi bermusiknya berlanjut ketika menempuh pendidikan di SMAN 7 Denpasar. Band ini beraliran rock. Bermain musik dan bernyanyi ternyata menjadi pelampiasan beban Dewa Sugama. Putra pasangan I Dewa Nyoman Sekar,S.H., M.M.,M.Hum dan I Gusti Ayu Sumiathie ini punya pengalaman buruk mengenai suaranya. “Dari kecil saya diejek karena suara saya serak. Saya di-bully gara-gara suara. Waktu SMA saya sampai berjalan memutar untuk menghindari orang yang suka mengejek saya. Ternyata setelah sekian lama berlalu, sekarang jawabannya. Suara serak saya menjadi berkah untuk bernyanyi,” kenangnya dengan mata berkaca-kaca. Ia juga menuturkan pengalamannya terjun sebagai penyanyi. Awalnya Dewa Sugama diminta menjadi model untuk video klip lagu Bali. Setelah selesai produksi, ia diajak ke studio Sugeng Production oleh Putu Sutama untuk melihat video. Sambil menunggu, suami Gusti Ayu Wulandari dan ayah I Dewa Ayu Alindya Nada Sugama ini memainkan gitar sambil bernyanyi. “Pak Sutama nanya itu lagu siapa. Saya bilang lagu sendiri. Lalu disarankan untuk membuat rekaman akustik. Saya mau saja. Selain rekaman dalam bentuk CD,saya lampirkan Dewa Sugama biodata singkat. Selanjutnya saat tampil di Festival Keluarga Tokoh 2015 bawa ke radio Phoenix

FM dan beberapa radio yang ada di Denpasar. Ini adalah lagu pertama saya yang berjudul “Saat Kau Mendua” tahun 2010,” ujarnya. Sejak saat itu, Dewa Sugama merilis satu lagu tiap tahunnya, “Buatmu Bahagia” (2011), “Mencari Kekasih” (2012), “Kita untuk Mereka” (2013), “Senyuman Terakhir” (2014), dan “Takkan Ada Kata Berpisah” (2016). Semua lagu ini lahir dari inspirasi yang ia dapatkan dari mana-mana. Baginya lagu itu punya kekuatan misterius seperti mesin waktu karena

Dewa Sugama bisa membuat penikmatnya ke masa dimana lagu itu diciptakan. Tahun 2015 ia jeda sesaat karena fokus untuk menempuh pendidikan S3 Ilmu Hukum di Universitas Udayana. “Saya bukan orang pintar tetapi saya mau belajar. Banyak hal yang belum saya tahu makanya saya belajar. Karena

itulah saya ingin berbagai dengan mahasiswa tentang pentingnya bakat selain di bidang akademis. Menjadi dosen merupakan salah satu cara saya untuk berkomunikasi dengan mahasiswa agar mereka menjadi dirinya sendiri,” ujar Dewa Sugama yang menjadi dosen mulai tahun 2015 ini.

Dikira Artis Jakarta Pilihannya menekuni bidang akademik sebagai dosen dan bidang nonakademik sebagai musisi menurutnya suatu perpaduan unik. Ada kesamaan keduanya, yakni sama-sama berhadapan dengan audiens. Dosen berhadapan dengan mahasiswa, musisi berhadapan dengan penonton dan fans. Dewa Sugama pun melakoni keduanya dengan baik. Tetapi, dulu ia sempat ditentang oleh ayahnya untuk menekuni musik. Ini bermula dari kenekatan Dewa Sugama pergi ke Jakarta untuk mengadu nasib di bidang musik. Ia tinggal di rumah Yosef Manurung, seorang music engineering. “Saya kenal Pak Yosef karena lagu “Saat Kau Mendua” menjadi lagu indie yang paling banyak di-request di Phoenix. Di Jakarta saya banyak bertemu musisi dan mendapat banyak pengalaman. Saya pun makin mantap untuk memilih jalur solo karena untuk format band sangat sulit mencarinya,” kenang musisi yang hobi naik Vespa ini. Yosef adalah orang yang mengorbitkan Wali dan Nidji. Sekarang ia menjadi sound engineering Noah. Sebagai penyanyi yang punya idealisme dalam bermusik, Dewa Sugama sempat dianggap sebelah mata. Dalam sebuah kompetisi, ia tampil sebagai solois indie Bali dengan lagu berbahasa Indonesia. Ia pun tetap menggunakan nama Dewa Sugama untuk mencirikan dirinya adalah orang Bali. “Ada yang mengira saya artis Jakarta karena lagu yang saya bawakan berbahasa Indonesia. Pilihan saya untuk jalur indie juga dianggap sebelah mata. Tetapi, setelah mendengarkan lagu saya, orang-orang mulai mencari tahu siapa Dewa Sugama,” ujar penyanyi yang memilih promo di media sosial ini

dan tampil di acara-acara nonreguler ini. Dulu, sebelum terkenal, Dewa Sugama sering menonton konser musik, diantara konser Vierra dan Glen Freddly. Ia pun memimpikan dirinya suatu saat bisa berada di atas panggung dan penonton ikut bernyanyi. Ternyata semua itu menjadi kenyataan. Ia mengalami de javu. Dalam sebuah acara, para penonton bisa mengikuti lagu Dewa Sugama. Ayahnya yang sempat menentang keinginan Dewa Sugama untuk menjadi musisi akhirnya bisa menerima pilihan anaknya. Apalagi ketika tahu lagu Dewa Sugama banyak di-request. Dewa Sugama pun banyak belajar dari ayah dan ibunya tentang kerja keras dan kesederhanaan. “Saya bukan selebritis. Saya musisi dan akademisi yang mencintai profesi. Fans dan popularitas adalah bonus dari kerja keras saya,” tegasnya. Disela-sela kesibukannya mengajar dan bermusik, ia juga menyempatkan diri mengurus kos-kosan dan hotel. Kehadiran buah hati juga membuatnya makin bersemangat menjalani hidup ini. Kepada generasi muda, ia berharap mereka mau menekuni apa yang menjadi bakatnya tanpa mengesampingkan pendidikan akademik. Pesan yang ia sampaikan, lebih baik dihina karena jadi diri sendiri daripada dipuja karena jadi orang lain. Semua ini ia dapatkan dalam perjalanan hidupnya. Ketika ia memilih menjadi kuliah sambil musisi, ada teman yang mencibir, mau jadi apa kamu. Kini Dewa Sugama sudah membuktikan, ia bisa menyelesaikan pendidikan hingga S2 dan tengah menempuh pendidikan S3 dan kegiatan bermusiknya tetap berjalan. –Ngurah Budi

Mandalika

Edisi 875/ 16 - 22 November 2015

NTB Raih “National Procurement Award”

Atas keberhasilannya melaksanakan peran LPSE Provinsi dalam mengawal proses pengadaan barang dan jasa pemerintah secara efektif dan efisien, Layanan Pengadaan Secara Elektronik (LPSE) Provinsi Nusa Tenggara Barat, mendapatkan penghargaan nasional berupa “National Procurement Award” tahun 2015. Penghargaan tersebut diserahkan langsung Kepala LKPP Dr. Agus Raharjo, M.Eg., didampingi Deputi Monev Pengembangan Sistem Informasi Sarah Sadiqa, SH.M.Sc., di Balai Sudirman Jakarta, beberapa waktu lalu kepada Provinsi Nusa Tenggara Barat. NTB mendapatkan penghargaan ini bersama delapan provinsi lainnya, yaitu Sumatera Barat, Aceh, Bangka Belitung, Jawa Barat, Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan, Sulawesi Tengah dan Papua.

A

da empat kategori Nominasi National Procurement Award yang diserahkan pemerintah melalui Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang dan Jasa Pemerintah (LPSE) Republik Indonesia tahun ini yaitu, Kepemimpinan Kepala Daerah dalam Transformasi Pengadaan secara Elektronik, Konsistensi menerapkan Inpres Nomor 7 Tahun 2015 terkait transparansi

dan akuntabilitas pengadaan, Peran LPSE Provinsi dan Inovasi LPSE. “LPSE Provinsi NTB berhasil meraih sebagai terbaik nasional dalam kategori pelaksanaan Peran LPSE di Provinsi NTB,” ungkap Kepala Bagian PDE pada Biro Umum Setda NTB I GP. Aryadi, S.Sos, MH. Menurut GP Aryadi, penghargaan ini diraih karena pengelolaan LPSE pada lingkup Pemerintah Provinsi NTB dinilai baik oleh Pe-

Kepala LKPP RI, Dr Ir agus Raharjo M.Eng (kanan) saat menyerahkan penghargaan National Procurement Award tahun 2015 kepada Pemprov NTB

merintah Pusat dengan lima indikator fungsi dan peran LPSE NTB, seperti fasilitasi ULP dalam proses pemanfaatan Sistem Pengadaan Secara Elektronik (SPSE), kesiapan sistem lelang elektronik secara handal, edukasi dan pelayanan masyarakat untuk bisa menggerakkan sistem, melayani verifikasi para penyedia jasa secara ontime, serta pelayanan prima pada mitra pengadaan berjalan strategis dan dinilai selama ini telah berjalan dengan baik. “Karena kelima hal tersebut yang telah dijalankan menyebabkan minimnya keluhan dari para penyedia jasa. Ini menjadi salah satu parameter NTB dapat mengungguli daerah lainnya di Indonesia,” ujarnya. LPSE Provinsi mengemban peran yang sangat penting dalam mengawal proses pengadaan barang dan jasa pemerintah secara efektif dan efisien, untuk men-

jamin Pengelolaan Sistem Pengadaan Secara Elektronik (SPSE) beserta infrastruktur pendukungnya secara handal. Selain itu, lanjut GP Aryadi, LPSE juga melayani registrasi dan verifikasi pengguna SPSE, menfasilitasi Pengguna Anggaran/Kuasa pengguna Anggaran, mengumumkan Rencana Umum Pengadaan (RUP), memasilitasi Panitia Pengadaan (ULP) dalam mengumumkan pelaksanaan pengadaan dan pemilihan penyedia barang/jasa secara elektronik serta pelayanan pelatihan dan dukungan teknis operasional kepada seluruh masyarakat agar dapat mengakses dan memanfaatkan LPSE dengan sebaik-baiknya. Keunggulan NTB sehingga dapat meraih anugerah ini lebih kepada kesiapan pelayanan terkait bantuan petugas (PNS) yang siap melayani upload dokumen lelang secara gratis juga kesiapan petu-

Layanan 24 Jam Dalam dua tahun terakhir, LPSE NTB terus berupaya meningkatkan layanan kepada masyarakat, khususnya dalam pemanfaatan teknologi informasi. “Kami menyediakan layanan 24 jam untuk masyarakat pengguna

Sistem Pengadaan Secara Elektronik (SPSE), khususnya bila penyedia atau masyarakat mengalami kendala terhadap LPSE,” ungkapnya. Sistem Pengadaan Secara Elektronik (SPSE) yang telah dikembangkan ini, lanjutnya,

21

dirasa mampu mengefensiensi keuangan negara mencapai miliaran rupiah. Progres lelang e-procurement sampai dengan bulan Oktober 2015, melalui LPSE NTB sebanyak 382 paket, terdiri dari 89 paket kegiatan APBN senilai Rp 101, 62 Milyar lebih dan 293 paket dari APBD Provinsi NTB senilai Rp 754,11 Milyar lebih. Paket lelang APBN yang sudah selesai dari 89 tersebut adalah 83 paket sehingga masih terdapat 6 paket lelang APBN yang masih dalam proses, dengan nilai efisiensi sekitar Rp 5,23 Milyar lebih atau 5,61 persen dari HPS. Sedangkan paket lelang APBD Provinsi NTB yang telah selesai sampai akhir Oktober 2015 sebanyak 275 paket dengan nilai penawaran sebesar Rp. 688, 170 Milyar lebih dan terdapat efisiensi sekitar 55,006 Milyar lebih atau 7,40 persen dari HPS. Dan, jika ada keluhan dapat

disampaikan melalui e-mail, SMS atau datang langsung ke kantor LPSE di lantai III kantor gubernur, karena setiap hari ada petugas yang piket di kantor yang siap melayani masyarakat ini. Juga ketika mengalami kendala dalam meng-upload dokumen, LPSE NTB juga menyediakan ruang dan akses internet yang memadai, tanpa biaya. Penghargaan ini diterima setelah sebelumnya, tahun lalu, Provinsi NTB juga telah meraih Regional E- Procurement. -Naniek I. Taufan

I GP Aryadi

gas piket yang standby selama 24 jam untuk menerima konsultasi para pengguna jasa ULP manakala ada keluhan dan gangguan. -Naniek I. Taufan


22

Sosialita

Edisi 875/ 16 - 22 November 2015

Selebriti dan Tas Branded

Behind the Story Pengaruhi Harga Selebriti dan tas branded seolah tak terpisahkan. Sebagai publik figur, begitu umumnya mereka memberi alasan, penampilan cantik dan termasuk ­aksesoris pendukungnya seperti tas branded haruslah dimiliki. Setidaknya harus memiliki satu-dua, sudah cukup, tidak harus menjadi kolektor.

“A

ku punya tas branded dua, hanya seka­ dar punya-pu­ nyaan saja ya. Kita kan sudah bek­ erja capai, boleh dong sekali-sekali memanjakan diri sendiri. Misalnya dengan membeli tas branded,” ujar Iis Dahlia, pedangdut papan atas. Tapi, tambahnya, ia bukanlah orang yang ‘maniak’ tas branded hingga mengejar-ngejar untuk membeli tas branded limited edition, misalnya, apalagi memaksakan diri hanya dengan alasan gengsi atau gaya-gayaan. “Aku nggak gitu. Nggak maksa juga, apalagi ngejarngejar. Aku beli sesuai kemampuan saja,” ujar pelantun tembang ‘Tamu Tak Diundang’, ini. Adanya kasus penipuan tas mewah seharga Rp 950 juta yang sempat menghebohkan kalangan artis dan sosialita itu, baginya bisa menjadi pelajaran bagi semua orang yang memang menyukai tas branded. Setidaknya membeli tas pada penjual terpercaya yang sudah diketahui track record nya atau kepada store langsung. Sebagaimana diketahui kasus Devita alias Ping Ping beberapa waktu lalu sempat membuat heboh. Pasalnya, harga tas yang ramai diperbincangkan itu tidak tanggung tanggung hingga Rp 950 juta. Kasus itu berawal dari Devita yang menjual tas merek tertentu kepada Margareth Vivi seharga Rp 850 juta. Beberapa bulan setelah tas tersebut terjual, Devita mena­ nyakan kepada Vivi akan membeli kembali tas itu dengan harga Rp 950 juta. Melihat peluang untuk mendapat untung, Vivi yang menjadikan tas-tas koleksinya se­ bagai investasi, dengan senang hati memenuhi permintaan Devita. Namun harapannya pu­ pus. Berharap untung malah buntung. Devita tidak melu­ nasi pembayaran. Akhirnya Vivi melaporkan kasusnya ke polisi. Walhasil, Devita pun divonis dua tahun penjara pada September lalu. Tapi adanya kasus menghebohkan ini tidak menyurutkan kegemaran para artis ber­ buru tas me­ wah. Mereka mengaku tak terpengaruh, meski kasus itu tetap menjadi pelaja­ ran untuk lebih ber­ hati-hati. Sejumlah artis dikenal se­

bagai kolektor tas di antaranya adalah Yuni Shara dan Angle Lelga. Keduanya mengaku memang hobi berbelanja tas branded namun bu­ kan untuk gaya-gayaan atau gengsigengsian. Bagi mereka selain hobi, juga melihat adanya peluang bisnis dari mengoleksi tas branded. “Tas branded itu untuk investasi jangka panjang bukan untuk gayagayaan. Smart shopping. Saya ingin apa yang saya koleksi itu punya nilai in vestasi,” ujar Angel yang memiliki koleksi tas dari harga puluhan juta sampai ratusan juta. Angle mengaku memperoleh keuntungan yang lumayan dari berinvestasi pada tas. “Nilai jualnya sangat bagus, bisa sampai Rp 1 miliar,” tambah pemeran sinetron ‘Ibnu Sabil’ ini. Karena keuntungan yang meng­ giurkan itu, ia rela merogoh kocek dalam-dalam. Salah satu koleksi miliknya adalah Hermes Hima­ layan yang dulu dibelinya dengan harga hampir Rp 900 juta. “Keis­ timewaan tas ini adalah kulitnya yang sangat halus. Kulit buaya. Ini juga limited edition. Jadi kalau bisa terjual di atas harga beli saya, ya bagus sekali. Minimal harga modal ya...ha­ hahah,” kata penyuka produk

Hermes ini. “Harganya memang mahal tapi berguna,” ujar wanita kelahiran 1985 ini. Angle Lelga sudah beberapa tahun ini berkecimpung dalam bisnis tas branded, mengaku su­ dah paham betul tentang kualitas maupun keaslian tas, khususnya Hermes yang dia suka. Bahkan sepintas melihat pun, dia sudah bisa tahu apakah tas tersebut asli atau palsu. “Kalau merek yang satu itu, aku bisa tahu meski melihat sepintas. Misalnya dari lipatannya, besinya, dll. Jadi aku menyarankan kepada yang ingin membeli tas seken, agar sebelum membeli, pinjam dulu tas tersebut kemudian bawa ke ‘spa’ tapi jangan di Indonesia. Lebih baik ‘spa’ di Singapura. Nanti akan ketahuan itu asli atau palsu. Kalau asli, Anda bisa langsung membeli. Soalnya sekarang ini ada banyak tas dan itu bikin orang bingung. Bahkan surat (tanda keaslian tas) pun bisa dipalsukan,” tuturnya. TAS SECOND HARGA SELANGIT Menurut Angel, koleksinya banyak diburu meski second alias sudah beberapa kali dipakainya, pun harga tetap tinggi. Itu sebab­ nya, katanya, dia sangat menyukai berinvetasi di bidang ini. “Malah ada tas saya yang sudah saya pakai selama 5 tahun bisa dibeli dengan harga tinggi,” kata Angel. Hal senada juga diakui oleh Yuni Shara, penyanyi lagu lawas papan atas. Kakak kandung Krisdayanti ini mengaku memiliki koleksi tas kar­ ena memang dia adalah penyuka tas. Dalam perjalanannya, ternyata koleksi tasnya itu menjadi investasi yang menarik karena keuntungan­ nya menjanjikan. “Awalnya hanya hobi biasa. Sejak dulu saya suka tas. Saya dan Yanti (Krisdayanti), dulu, kalau beli tas ya beli saja, bukan karena mer­ ek-nya atau apa. Dulu kita tidak ngerti merek-merek. Kami beli tas karena suka modelnya. Kebetulan juga kemampuan ada, ya beli saja. Tapi dalam perkembanngannya ternyata tas branded bagus juga buat investasi. Tas branded, apalagi yang sekarang lagi nget­ ren di masyarakat, meski second dan seri-nya sudah lama, tapi bisa dijual lagi dengan harga tinggi,” kata pelantun tem­ bang ‘Men­ gapa Tiada Maaf’, ini. Tapi kata Yuni, meski dia hobi berburu tas, bukan berarti dia memaksakan diri. Tetap saja, katanya, kemam­ puan ‘kantong’ tetap menjadi pertimbangannya. “Saya sih tidak mau maksa, jadi mem­ beli sesuai kemampuan saja. Jangan sampai besar pasak dari pada tiang,” ucap wanita bertubuh mungil ini. Menurut Sonny Muchlison,

pengamat mode dan gaya hidup, bisnis tas branded berbeda dari bisnis-bisnis lain. Si penjual harus memiliki komunitas tersendiri. “Bisnis ini berbeda. Harus punya komunitas tersendiri, komu­ nitas itu harus satu level. Jadi harus tahu ‘ngadepnya’ ke mana, bertemu dengan siapa. Karena kalau ‘ngadep’-nya salah, ber­ temu orang yang salah, ya bisa nggak kejual dong produknya. Jadi, misalnya, ketika saya menjual, saya sudah tahu kepada siapa produk ini ditujukan. Itu yang penting,” kata Sonny. Daya beli para ‘pem­ buru tas’ ini, tidak perlu diragukan. Bahkan seka­ lipun situasi ekonomi sedang melemah seperti sekarang ini pun, tidak masalah bagi mereka. Jadi boleh dibilang mer­ eka tidak mengenal krisis ekonomi. Tapi tentu saja, jumlah mereka tidak lah banyak. “Bisa dihitung jari,” katanya. Menurutnya ada ber­ bagai sebab kenapa harga tas brand ter­ tentu bisa menjadi semakin mahal. Salah satu sebabnya ada­ lah adanya ‘kisah di balik tas tersebut’ atau behind the story. Misalnya saja tas Hermes Hi­ malayan yang sempat menghe­ bohkan karena kasus penipuan beberapa waktu lalu. Tas yang menjadi favorit bintang Hol­ lywood itu, terbuat dari kulit buaya asal Afrika. Konon,

pembuatannya sangat rumit dan penuh ketelitian untuk menghasil­ kan warna yang terang. Tak heran kalau tas tersebut selain berharga mahal, dan menjadi paling diburu saat ini. “Behind the story adalah pent­ ing. Misalnya saja kulit buaya itu sulit didapat, proses pembuatan­ nya juga sulit. Behind the story kedua adalah, siapa yang memakai tas itu pertama kali. Jadi halhal semacam itu lah yang membuat tas berharga mahal,” jelas­ nya. -Diana Runtu

Edisi 875/ 16 - 22 November 2015

3

Perempuan Inspiratif Tokoh 2015 Pada HUT ke-17, Tokoh yang mengusung tema “Inspirasi Cinta 17 Tahun Tokoh” memberi penghargaan kepada lima perempuan yang dinilai mampu menjadi inspirasi bagi perempuan khususnya dan masyarakat umumnya. Kiprah mereka ada di berbagai bidang. Apa yang mereka lakukan didasarkan atas cinta. Inilah profil para Perempuan Inspiratif Tokoh 2015.

Dr. A.A. Ngr. Tini Rusmini Gorda, S.H.,M.M.,M.H. Sosoknya dikenal sebagai perempuan bukan hanya gesit dan energik tapi juga langkah sigap disamping kemampuan leadership yang mumpuni. Saat ini ia menjadi penggerak utama beberapa organisasi besar di Bali, seperti menjadi Ketua BKOW Bali, periode kedua kalinya, Ket­ ua Iwapi Bali, Ketua Perwatusi, Ketua Perdiknas hingga Ketua Koperasi Perempuan Ramah Keluarga (KPRK). Putri tokoh pendidikan Bali Prof.Dr. IGN Gorda ini,sangat loyal pada perannya dalam me­ nyelamatkan dan mengembang­ kan identitas, idealisme dan integritas karakter bangsa. Baik melalui dunia pendidikan formal, sebagai seorang dosen di FH Undiknas , maupun dalam berbagai bentuk kegiatan lainnya yang banyak menggerakkan generasi muda. Karenanya, ibu dari AA Bagus Ngurah Agung Surya Putra dan AA Ayu Agung Candra Dewi ini termasuk salah satu perempuan tangguh yang siap mencetak generasi unggul Bepegang pada motto hidupnya kerja cerdas, kerja ikhlas dan kerja tuntas pada semua kiprah dan karyanya ini, melalui organ­ isasi BKOW Bali , Tini Gorda yang berhasil meraih gelar doktor dengan predikat sangat memuaskan di Universitas Brawijaya ini berhasil membidani banyak hal, mulai dari menerbitkan buku hingga lahirnya KPRK . Begitu juga melalui Iwapi Bali , bersama penguirus lainnya ia menghadirkan Klinik Konsultasi Bisnis Iwapi yang berhasil membimbing para calon entrepreneur muda. Dengan prestasinya di berbagai bidang, istri dari AA Bagus Ngurah Agung ini, hampir setiap minggu diminta sebagai nara­ sumber di berbagai kesemptan. Namun, dibalik semua karyanya tersebut, Tini Gorda memiliki keinginan yang sederhana, yakni menjadi teladan bagi buah hatinya serta kebanggaan bisa menjadi terbaik dari sekian banyak perempuan terbaik di Bali.

dr. I.A.Ratih Wulansari Manuaba, Sp.PD-KR, M.Kes Lulus sebagai dokter di Fakultas Kedok­ teran Universitas Udayana, dengan Indeks Prestasi Tertinggi, perempuan kelahiran Surabaya, 21 April 1970, memulai kariernya di Puskesmas Tabanan II. Setelah melanjutkan pendidikannya ke spesialis penyakit dalam, ia memutuskan mengabdi di RS Manuaba, rumah sakit yang didirikan ayahnya, Prof. Ida Bagus Manuaba, Sp.OG. Istri dr. Ida Bagus Tatwa Yatindra, Sp.U. ini memiliki banyak prestasi. Juara II Peneliti Muda dalam rangka Kongres Perhimpunan Ahli Penyakit Dalam (KOPAPDI) 2003. Peme­ nang Pembicara Makalah Bebas Oral (Kasus) dengan Judul: “Osteonekrosis Kaput Femur Pada Seorang Pasien Lupus Eritematosus Sistemik dan Korelasi antara Autoantibodi” dan “IL-18 dengan Diseases Activity Score 28 dan Kerusakan Sendi Radiografi Manus Pasien Artritis Rheumatoid”. Ia juga menyabet prestasi pemenang Grand Peneliti Muda: “Korelasi Reumatoid Faktor, AntiCCP dengan DAS 28 dan Kerusakan Sendi”.

Di sela kesibukannya, ia masih sempat menulis dalam buku Temu Ilmiah Reumatologi. Saat ini juga, ia dipercaya menjadi dosen tamu di STIKES Bali, STIKES Bina Husada, dan Undiknas University. Perempuan yang mengikuti Workshop USG Guided with Cadaveric for Pain Intervention di Singapura ini, rutin menjadi pembicara seminar kesehatan tidak saja di Bali tapi juga tingkat nasional. Beberapa organisasi diikuti, diantaranya, Sekretaris Umum Perkumpulan Warga Tulang Sehat Indonesia (Per­ watusi) sejak 2012, Pengurus Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Denpasar Sie. Pengabdian Profesi sejak 2013, Ang­ gota IDI Bali, Anggota Asia Pasific League of Rheumatology (APLAR), Perhimpunan Reumatologi Indonesia (IRA), Ikatan Kedokteran Laser Indonesia (IKLASI), Yayasan Hita Karana Lupus Bali, Perhimpunan Masyarakat Peduli Reumatik Indonesia (PERMARI), dan Perhimpunan Ahli Penyakit Dalam (PAPDI) cabang Bali. Dalam keseharian dan kesukaannya mengikuti perkembangan IT di media sosial, ia rutin ia mengampanyekan prilaku hidup sehat dan betapa pentingnya menjaga kesehatan tulang.

Dra. Anak Agung Ayu Ketut Agung, M.M. Sudah lebih dari 30 tahun, perempuan ini berkecimpung di dunia tata rias. Komitmennya untuk terus melestarikan dan meng-ajegkan budaya Bali lewat tata rias dan busana adat Bali, tak pernah berhenti. Lewat Lembaga Kursus dan Pelatihan (LKP) Agung, yang ia dirikan, perempuan kelahiran 30 Oktober 1959 ini membagi ilmunya kepada masyarakat luas. “Segalanya butuh uang, tapi uang bukan segalanya,” ujar Dra. Anak Agung Ayu Ketut Agung, M.M. Karena itu, dengan konsep “ngayah” ia pun bekerjasama dengan berbagai pihak, baik negeri, swasta, komunitas, dan kel­ ompok media untuk menyosialisasikan tata rias dan busana adat Bali, hingga ke pelosok desa. Materi yang diajarkan dalam pelatihan singkat

Helga Riftiana, S.E. Ibu dua putra ini melakoni empat aktivitas yang berbeda. Ia seorang ibu rumah tangga, penulis novel, model, dan at­ let tembak. Semua dilakoni perempuan bernama lengkap Helga Riftiana, S.E. ini karena ia mencintai semuanya. Ia juga mengaku tak kesulitan mengatur jadwal karena keluarga memberi dukungan, terutama sang suami, Made Ngurah Bagus Sakapute­ ra, S.E., M.M. dan dua buah hatinya Gede Ngurah Arkana Putera Saka dan Made Ngurah Arkananta Putera Saka. Di luar urusan rumah tangga, Helga seorang novelis yang sudah menghasilkan enam karya, “Gara-gara Irana jadi Arini”, “Menemukanmu”, “Kepingan Cinta Lalu”, “Melepaskanmu”, “First Love”, dan “Dibawah Langit yang Sama”. Perempuan kelahiran Situbondo, 28 Maret 1981 ini terbiasa menulis di malam hari setelah anak-anaknya tidur. Malam hari, inspirasi yang ia dapatkan untuk menulis bisa lebih banyak. Alumnus SMAN 1 Denpasar dan FE Universitas Udayana ini menuturkan dirinya bisa menulis karena senang menulis dan membaca. Saat SMA, ia sering menulis buku harian. Curahan hati tentang apa yang dialami atau apa yang dilihat selalu dituangkan dalam diary. Mama dan teman sekelas pun paham kebiasaan Helga menulis buku harian. Mereka jadi ingin tahu apa yang Helga tulis. “Saya sering menulis dengan huruf terbalik agar orang lain tidak bisa baca,” ujarnya sembari tertawa. Prestasinya di dunia modeling juga lumayan. Tahun 2012 ia menjadi juara 1 peraga busana endek di Pesta Kesenian Bali. Fashion show di berbagai acara nasional dan internasional per­ nah dilakoninya. Satu hal yang bertolak belakang dengan dunia model yang feminin adalah hobi menembak yang ditekuninya yang cenderung maskulin. Tetapi, prestasinya tidak bisa diremehkan. Pada Porprov Bali 2015 lalu ia meraih 3 medali perak (perorangan 10 m air rifle match woman, tim 50 m prone woman, dan tim 50 m 3 pos woman).

“tanpa dipungut biaya” ini mencakup, tata rias untuk diri sendiri, membuat dan memasang sanggul Bali (tengkuluk lelunakan), dan etika berbusana adat Bali yang baik dan benar. Di tengah perkembangan zaman yang diikuti dengan perkembangan mode ini, ada kekha­ watirannya bahwa tata rias dan busana adat Bali yang sesuai dengan pakemnya, juga akan turut tergerus. Seringkali ia “mengelus dada” melihat pemakaian tata rias dan busana adat Bali dalam upacara-upacara sakral khususnya, sedikit keluar dari pakem yang sesungguhnya sarat akan simbol dan makna. “Modifikasi boleh saja, tapi jangan kebablasan,” ujarnya dalam berbagai kesempatan.

Bintang Mira Afriningrum Ia adalah seorang desainer papan atas Bali. Ia makin dike­ nal ketika mengangkat dan memperkenalkan kembali batik Bali sebagai salah satu alternatif kain etnik tradisional di industri fashion tanah air. Perempuan kelahiran 26 Maret 1971 ini mengeksplor keindahan batik Bali dengan menghadirkan mo­ tif-motif ikonik Bali, seperti po­ leng, barong, patra, dan ilustrasi seni tari Bali di atas lembaran kain katun. Tidak hanya batik yang dita­ warkan, ia juga mengkreasikan­ nya ke dalam beragam bentuk barang siap pakai, seperti busana, tas, sepatu, kipas, dan akse­ soris fashion lainnya. Melalui brand “Balibatiku” yang dirintisnya sejak 2012 silam, Bintang Mira menjadikan Batik Bali berkibar bukan hanya di kancah nasional tapi juga internasional. Bahkan partisipasinya berbagai ajang fashion show termasuk di Indonesian Fashion Week selalu sukses untuk memperkenalkan batik Bali baik melalui pagelaran busana maupun pamerannya. Istri Pande Putu Gede Wiratama ini memberdayakan masyarakat di Desa Sidan menjadi pembatik sekaligus pengusaha batik. Ia juga menjadi motivator di SMA 1 Gianyar dan dengan sukarela mentransfer ilmu dan pengalamannya tentang batik dan fashion industri yang dimilikinya melalui organisasi sosial non proft bernama Akademi Berbagi. Karier desain ibu dari Pande Putu Rangga Raditya, Pande Kadek Anggara Wedhaswara, dan Pande Nyoman Bintang Paramitha ini mulai di ajang Hongkong Fashion Week tahun 2006 silam. Dengan batik Bali , Bintang Mira ingin berbuat untuk masyarakat Bali dan Gianyar khususnya, baik untuk pengem­ bangan UKM maupun Pariwisata di Gianyar. Selain itu, ia juga menggantungkan mimpinya suatu saat kelak Desan Sidan , tempat tinggalnya kini bisa menjadi Kampung Batik.


2

Edisi 875/ 16 - 22 November 2015

GORO-GORO Siapa yang lebih berhak disebut pahlawan? Suami atau istri? Bapak atau ibu? Bapak-bapak yang Putu Wijaya berjuang di lapangan, atau ibu-ibu yang memberikan motivasi dan dukungan moril agar terus berjuang tanpa pamrih di garis belakang? Dia yang garang menentang musuh di lapangan, atau dia yang dengan lembut bisa memelintir lawan takluk jadi kawan yang setia? Pertanyaan itu adalah kuis yang harus dijawab dengan minimal 10 buah alasan. Diumumkan di hunian Amat, untuk merayakan Hari Pahlawan 10 November 2015. Digulirkan oleh kelompok ibu setempat dalam rangka pembinaan generasi muda, yang disponsori oleh sebuah lembaga swadaya KHAP: Kesetaraan Hak-Hak Azasi Perempuan. Hadiahnya Rp 10 juta untuk 10 orang pemenang. Amat sebagai ketua juri, pusing. Sampai hari penutupan kuis, belum ada jawaban yang masuk. Amat terpaksa meminta panitia mengundurkan hari penutupan. “Sebab perhatian masyarakat sedang terfokus pada masalah air karena kemarau terlalu panjang dan ketegangan antara RRT dan AS garagara Taiwan, mencemaskan dunia,” kata Amat, “jadi p e r t a n y a a n

PAHLAWAN

tentang kepahlawanan meskipun pening terasa tidak seksi.” Panitia setuju. Tapi mereka menolak permintaan Amat, yang meminta agar pertanyaan-pertanyaan yang harus dijawab dalam kuis agar diubah redaksinya. “Meskipun tanpa mengubah gol yang mau dibobol sponsor yang saya yakini, ingin mengajak kawula muda untuk menghargai para pahlawan di balik layar yang sering dilupakan, yakni kaum perempuan,” kata Amat, “tetapi kalau tidak taktis, kawula muda yang banyak masih suka jahil, akan tergugah mau menyabotnya, meski pun saya yakini, maksudnya semula hanya ‘just for laugh’, hanya untuk lelucon!” Panitia menjawab tegas. “Maaf, kami tidak bisa mengubah kesepakatan kami dengan sponsor yang punya visi dan misi untuk mengajak generasi muda kita, tidak sekadar berpikir kritis, tetapi juga tidak diskriminatif, tetapi betul-betul adil dalam segala hal. Kalau Bapak Amat tidak setuju dengan visi dan misi ini, kami tidak berkeberatan kalau Bapak mengundurkan diri sebagai ketua juri!” Amat merasa ditantang. Hampir saja ia mundur. Tapi Bu Amat marah, lalu memaksanya tetap jadi ketua juri. “Bapak ini bagaimana. Jangan baru ditolak usulnya, mau mundur. Itu namanya ngambul! Jadilah pahlawan! Katanya mau mau memberikan masukan KHAP bahwa melawan perlakuan diskriminatif terhadap perempuan tidak boleh diskriminatif!” Amat tak jadi mun-

dur. Tetapi bencana masih muncul. Walau penutupan kuis sudah molor, peserta yang masuk kurang dari 10. Amat kontan usul lagi. “Dulu hadiah sejuta sudah bikin ngiler. Sekarang Rp 10 juta jangankan untuk 10 orang, untuk 1 pemenang saja orang belum tentu tertarik. Apalagi untuk memberikan jawaban yang sudah terlalu diarahkan! Kecuali gandakan hadiahnya, kalau betul-betul KHAP mau memberikan pendidikan pada kawula muda! Atau aku mundur!” Bu Amat terkejut dan marah pada kenekatan suaminya. Tapi dilalah KHAP setuju, lalu menaikkan hadiah jadi Rp 30 juta untuk 10 pemenang. Ajaibnya, peserta membludak, jadi 200-an jawaban masuk. Panitia bersorak. KHAP menganggap event itu sukses besar. Amat disanjung. Tetapi ketika pemenang kuis diumumkan, semua kaget. Baik panitia, maupun sponsor kecewa berat. Ternyata dari 10 pemenang, hanya 1 orang yang menyatakan, pahlawan itu adalah para ibu, istri dan kaum perempuan yang telah memberi motivasi dan dukungannya dari belakang layar. Dan, jawaban itu ditulis oleh Bu Amat, salah seorang panitia. Amat dikecam, karena kuis dianggap sudah keluar dari tujuan KHAP. Tapi Amat dengan berapi-api menjawab: “Salah! Kuis sukses besar! Tujuannya tercapai! Sekarang terungkap, bagaimana sejatinya apresiasi masyarakat yang memang diskriminatif terhadap kaum perempuan. Itu masalah penting yang harus kita perbaiki sekarang!”

Ekspresso bacaan wanita dan keluarga

Penerbit PT Tarukan Media Dharma Terbit sejak 9 November 1998 Pemimpin Umum/Penanggung Jawab Gde Palgunadi Redaktur Pelaksana Ngurah Budi Staf Redaksi/Pemasaran Denpasar IG.A. Sri Ardhini, Wirati Astiti, Sagung Inten Jakarta Diana Runtu NTB Naniek Dwi Surahmi Desain Grafis IDN Alit Budi­artha, I Made Ary Supratman Sirkulasi Kadek Sepi Purnama Se­kretariat Ayu ­Agustini, Putu Agus Mariantara, Hariyono Alamat Redaksi/Iklan Denpasar Gedung Pers Bali K. Nadha, Lantai III, Jalan Kebo Iwa 63 A ­Denpasar 80117–Telepon (0361) 425373,

Sudut Pandang

INSPIRASI CINTA 17 TAHUN TOKOH

Perjalanan ke Bali menjadi hal yang istimewa. Saya bisa bekerja sekaligus jalan-jalan. Ini berkah dari buka-tutup yang diterapkan otoritas Bandara Ngurah Rai karena erupsi Gunung Barujari, NTB. Daripada bingung dan tak pasti, lebih baik naik mobil saja dari Surabaya ke Denpasar. Saya berangkat bersama Chef Sarwan dan istrinya serta seorang teman. Perjalanan ini termasuk yang terjauh yang pernah saya lakukan. Awalnya semua berjalan lancar, termasuk mengantar Chef Sarwan ke lokasi acara. Setelah semua beres, kami pun jalan-jalan. Tujuan utama pantai Kuta dan beberapa objek wisata yang ada di Denpasar. Puas jalan-jalan, kami kembali ke hotel. Kami ingin beristirahat lebih awal karena keesokan harinya akan kembali ke Surabaya. Masalah muncul ketika saya lupa mencabut kunci mobil dan keburu menutup pintu. Oh my God…. pintu terkunci dan kunci masih di dalam. Saya dan Chef Sarwan dibantu security hotel berusaha untuk membuka. Tetapi, karena mobil keluaran baru, sistemnya beda dengan mobil lama. Security hotel lalu menghubungi temannya yang bekerja di bengkel

Minggu (8/11), dari pukul 06.30, Gedung Pers Bali K. Nadha sudah mulai didatangi peserta Festival Keluarga Tokoh 2015. Mereka sangat antusias untuk melakukan registrasi sekaligus mengambil nomor. Ada yang ikut lomba mewarnai, lomba menggambar, dan lomba fashion show.

E

vent tahunan Festival Keluarga Tokoh merupakan agenda tahunan yang mulai dilaksanakan tahun 2006. Saat itu diawali dengan kejuaraan catur wanita open dan lomba fotogenik. Tahun berikutnya lomba yang dibuat makin banyak, seperti lomba mewarnai,

lomba menggambar, lomba memasang puzzle, lomba masak, dan bazaar. Seiring perjalanan waktu, kegiatan bertambah lagi dengan jalan sehat, sepeda sehat, serta senam massal. Satu rangkaian acara yang bisa diikuti semua anggota keluarga. Festival Keluarga Tokoh 2015 yang dipandu Yupi dan Karang di-

416676–Faksimile (0361) 425373 Alamat Redaksi/Iklan/Sirkulasi Jakarta Jalan ­Pal­merah ­Barat 21 G Jakarta Pusat 10270– Telepon (021) 5357603-Faksimile (021) 5357605 NTB Jalan Bangau No.15 Cakranegara, Mataram–­Telepon (0370) 639543– ­Faksimile (0370) 628257 Jawa Timur Permata Darmo Bintoro, Jalan Taman Ketampon 22-23 ­Faksi­mile (031) 5675240 Surat Elektronik redaksi@tokoh.co.id, iklan@tokoh.co.id

Suasana lomba mewarnai dalam acara Festival Keluarga Tokoh 2015

Website

Hujan Deras saat Tiup Lilin

www.tokoh.co.id Bank BRI Cabang ­G ajah Mada Denpasar. Nomor Rekening: PT Tarukan Media Dharma: 0017-01-001010-30-6 Percetakan BP Jalan Kebo Iwa 63 A Denpasar

mobil. Bengkel itu menyarankan untuk mencari tukang kunci. Waktu itu pukul 23.00, tidak ada tukang kunci yang mengangkat telepon. Upaya mencari langsung ke tukang kunci pun tidak berhasil. Setelah agak tenang, saya membuka ponsel dan mencari di Google dengan kata kunci, tukang kunci di Denpasar. Ternyata membuahkan hasil. Muncul beberapa nama dan nomor telepon. Saya langsung hubungi. Tukang kuncinya menjawab

telepon. Ia menanyakan lokasi kami, jenis mobil, dan kami transaksi harga. Setelah deal, ia bilang segera berangkat. Tak sampai 15 menit, tukang kunci datang dengan peralatannya. Ia bekerja dengan sigap. Hanya 5 menit, pintu bisa dibuka. Lega rasanya karena pintu terbuka dan kunci mobil sudah ditangan. Terima kasih untuk semua yang sudah membantu kami. Bayu, Surabaya

Bagi pembaca yang memiliki kisah unik, seru, menyebalkan, atau mengasyikkan dan ingin berbagi dengan pembaca ­lainnya, silakan kirim kisah Anda ke redaksi@tokoh.co.id. ­Panjang naskah maksimal 3.000 karakter. Sertakan juga nama dan nomor kontak Anda. Naskah yang muat di rubrik “OMG” akan mendapat bingkisan Tokoh. Info lebih lanjut, silakan hubungi Redaksi Mingguan Tokoh (0361) 425373

Pemenang Kupon Undian Fotogenik Favorit Tabloid Tokoh 1. Kadek Edi (08263757xxx) Br. Auman 2. Rifky Firmansyah Anwar (085739799xxx) Jln. A. Yani 3. Farrin Isra Susanto (0816582xxx) Jln. Puri Kesambi 4. Dina Musasenga (08123836xxx) Jln. Belimbing, Dps. 5. Dewa Gede Budiman ( 082145917xxx) Jln. Gn. Patuha Para pemenang kupon undian Tokoh dapat mengambil hadiahnya ke Sekretariat Tokoh. Jln. Kebo Iwa 63A Denpasar. Tlp. (0361) 425373), dengan membawa identitas diri.

23

Bu Menteri Hadiri Festival Keluarga Tokoh 2015

Surabaya–Telepon (031) 5633456–­­

Diselamatkan “Google”

Edisi 875/ 16 - 22 November 2015

Puncak acara HUT ke-17 Tokoh dilaksanakan Senin (9/11), diawali dengan persembahyangan bersama yang juga dihadiri Pimpinan Kelompok Media Bali Post ABG Satria Naradha beserta Ny. Satria Naradha. “Semoga Tokoh bisa terus memberi inspirasi bagi wanita dan keluarga di Bali khususnya dan Indonesia umumnya. Tetap se-

mangat dalam berkarya,” ujarnya. Dalam kesempatan itu juga dilakukan pemotongan tumpeng dan pelepasan burung merpati. Selanjutnya diadakan penganugerahan Perempuan Inspiratif Tokoh 2015. Acara diawali dengan tarian dongeng (taridong) berjudul Ratna Mangali yang dibawakan Laras serta pemberian motivasi spiritual dari Ninik Sutadiasih.

Pelepasan burung oleh Pimpinan Kelompok Media Bali Post ABG Satria Naradha didampingi Ny. Satria Naradha

Ny. Bintang Puspayoga saat mengunjungi salah satu stan bazaar

awali dengan tabuhan rindik dari Amri dan Dek Mani. Pukul 09.00, lomba dimulai. Ketika anak-anak berlomba, orangtua ada yang duduk memantau anaknya lomba dan ada yang keliling stand bazaar. Festival Keluarga tahun ini juga menjadi spesial karena kehadiran Ny. Bintang Puspayoga, istri Menteri Koperasi dan UKM RI. “Festival Keluarga ini sangat menarik karena melibatkan anakanak, remaja, dan orangtua. Ini menunjukkan kebersamaan keluarga. Anaknya lomba, ibunya ikut demo masak, bapaknya bisa liat bazaar, apalagi ada yang jual akik juga,” ujar Ny. Bintang Puspayoga yang didampingi Ny. Satria Naradha, Widminarko (mantan Pemimpin Umum/Pemimpin Redaksi Tokoh), dan Ngurah Budi (Redaktur Pelaksana Tokoh) saat

berkeliling menyaksikan peserta lomba mewarnai, menggambar, fashion show, dan stand bazaar. Pengunjung Festival Keluarga

juga dapat menyaksikan demo masak yang dibawakan Chef Sarwan. Ia adalah finalis lomba masak yang diadakan salah satu televisi nasional serta pengisi rubrik “Resepne Sarwan” di tabloid Tokoh. Selain itu, pengunjung mendapat hiburan yang dipersembahkan The Glitterzs, Yudi, dan Dewa Sugama. Para pemenang lomba-lomba mendapatkan piala, piagam, hadiah tabungan, serta bingkisan dari para sponsor. “Kami mengucapkan terima kasih kepada para peserta, juri, serta mitra kerja yang sudah mendukung acara ini,” ujar Gde Palgunadi, Penanggung Jawab Festival Keluarga Tokoh 2015 yang juga Penanggung Jawab/ Pemimpin Redaksi Tokoh.

Penampilan The Glitterzs

Kru Tokoh saat berfoto bersama dengan Ny. Satria Naradha dan Perempuan Inspiratif 2015

Gede Palgunadi, Penanggung Jawab/Pemimpin Redaksi Tokoh dalam sambutannya mengatakan rangkaian HUT ke-17 Tokoh dimulai dengan kunjungan ke SLB Negeri Tabanan dan tabur bunga di Taman Pujaan Bangsa Margarana pada Selasa (3/11), Festival Keluarga pada Minggu (8/11). “Puncak acara ulang tahun pada Senin (9/11) berupa syukuran serta penganugerahan Perempuan Inspiratif Tokoh 2015. Kami mengundang para sahabat dan relasi Tokoh sebagai wujud syukur kami,” tandasnya.

Tiup lilin yang dilakukan oleh kru Tokoh

Saat perkenalan para kru Tokoh dan mereka naik ke panggung bersama para Perempuan Inspiratif Tokoh 2015, Ny. Satria

Naradha, Ny.Ambari, dan Ny. Antari Jayanegara, hujan mulai turun. Acara tiup lilin bersama pun diiringi hujan deras.


24

What’s UP

Edisi 875/ 16 - 22 November 2015

Kemeriahan Festival Keluarga Tokoh 2015 & HUT ke-17 Tokoh

Penyerahan bingkisan untuk pengisi rubrik Tokoh

Para sahabat Tokoh yang hadir pada acara HUT ke-17 Tokoh

Suasana lomba mewarnai dalam acara Festival Keluarga Tokoh 2015

Pemenang Lomba Fotogenik

Kategori A (Usia s.d. 3 tahun) Juara I: Ni Luh Sarita Putri Eka Suari Juara II: Ni Putu Bintang Shagalung Darmawanta Juara III: Shakila Anindya Putri Prayoga Harapan I: Ni Putu Arsyakayla Mahasaraswati Harapan II: Dominic Federico Santoso Harapan III: Gede Bagus Rendy Wisnu Jaya Manggala Favorit: Gede Bagus Rendy Wisnu Jaya Manggala

Suasana stan bazaar di acara Festival Keluarga Tokoh 2015

Penampilan Yudia di acara Festival Keluarga Tokoh 2015

Kategori B (Usia 4 s.d. 6 tahun) Juara I: I.A. Anindya Raina Wikananda Juara II: I Kadek Rizky Judisthira Juara III: Ni Luh Ayu Kaiyca Putri Suryadi Harapan I: Putu Mahendra Putra Harapan II: Myela Miska Fatma Azizah Harapan III: I Gusti Agung Istri Diah Anjani Putri Favorit: I.A. Anindya Raina Wikananda Kategori C (Usia 7 s.d. 12 tahun) Juara I: Ida Ayu Ketut Mas Widiari Juara II: Ni Putu Ninda Lestari Juara III: Putu Ayu Wulan Satya Harapan I: Ni Putu Eka Maheswari Purnama Dewi Harapan II: Putu Mayvil Widya H Harapan III: Ni Kadek Ayu Kharisma Putri Maharani Favorit: Putu Mayvil Widya H

Suasana lomba di acara Festival Keluarga Tokoh 2015

Kategori D ( Usia 13 s.d. 18 tahun) Juara I: Putu Widdi Aulia Angka Juara II: Nathan Enoch Terry Wijaya Juara III: Nadya Alifha Hildebrad Harapan I: Komang Ayu Putri Mentari Wirajhana Harapan II: Luh Marcelina Wima Pratiwi Harapan III: Cynthia Prisilia Winawan Komang Favorit: Luh Marcelina Wima Pratiwi

UCAPAN TERIMA KASIH MITRA KERJA FESTIVAL KELUARGA TOKOH 2015 & HUT ke-17 Tokoh l Ny.

Bintang Puspayoga Selly D.Mantra l AA Ngr.Tini Rusmini Gorda l Ninik Sutadiasih l d’Tunjung l Balibatiku l Adibi Salon & Spa l Gaya Warna Suplier Spa l Cempaka Butik l Dewi Anyar l Kamaratih Bag l Bali Sekar l Bara Silver l Candra Collection l Bali Creativ l Erika Sedana Putra l Ninik Kebaya Lukisan l Calista Kebaya l Andri Jewellery l Dewi Fashion l Yenli Wijaya l Ny.

l de

Galuh Boutique l Heny Santy l Koperasi Amoghasiddhi l MOV Shoes l Rumah Boneka l dr. Laksmi Duarsa l Tatik Skin Care l Amour Boutique l Izatta Wedding Decoration l STIKOM Bali l ACCOR Hotel l GOLDEN TULIP ESSENTIAL l KOKITA l D&I Klinik l SAMANI RESTO l BPR Bali Dana Niaga l BANK CENTRAL ASIA l Kecap AAA l Rai Fitness l Gelang Tridatu l Minardi

l Tupperware l PIE

21

l Telkomsel l Celluler

World PGRI Bali l LPK Salon Agung l House Of Dura l Cafe Santai l AUTO 2000 Tabanan l RSIA Puri Bunda l XL l Larasari l Yupi l Karang l Kumala l Dewa Sugama l Yudia l The Glitterzs l Amri dan Dek Mani l Saka Bros l Kelompok Media Bali Post l IKIP

Email: redaksi@tokoh.co.id, iklan@tokoh.co.id

mingguantokoh

@mingguantokoh

mingguantokoh

Website: www.tokoh.co.id


Turn static files into dynamic content formats.

Create a flipbook