Skip to main content

Tokoh Edisi 869 | Tokoh

Page 1

24

What’s Up

Edisi 869/ 5 - 11 Oktober 2015

Vicky Burki

Melawan Godaan Makan Menjadi vegetarian itu tidak mudah. Apalagi untuk orangorang yang doyan makan atau penggemar kuliner. Tak heran kalau banyak orang yang mencoba namun gagal hanya dalam hitungan hari atau bulan. Sebut saja Julia Perez, artis kondang, yang mengaku hanya tahan beberapa hari saja. “Sekarang aku, ya, kadang-kadang vegetarian, kadang-kadang, tidak,” ucap Jupe, begitu artis ini akrab disapa. Entah apa maksudnya. Bisa jadi ketika ‘godaan’ makan daging-dagingan begitu kuat maka Jupe pun akhirnya menuruti kata hatinya, alias melupakan niatnya menjadi vegetarian.

M

asa-masa berat itu juga dialami oleh Vicky Burki, artis senior, yang mengaku sudah menjadi vegetarian sejak 11 tahun lalu. “Aku vegetarian tapi bukan vegan. Aku tidak mengonsumsi semua hewan bernyawa, tapi masih mengonsumsi produk turunannya, seperti keju, telur susu. Kalau vegan, kan, juga tidak mengonsumsi produk turunannya,” jelas Vicky yang pernah menjadi Ratu Aerobik seAsia 1988 ini. Vicky yang dulunya penggemar makan, khususnya dagingdagingan, memutuskan menjadi vegetarian tanpa tahapan. Dia langsung menghentikan kebiasaannya memakan dagingdagingan, dan mengalihkan menu hariannya dengan hanya memakan tempe, tahu,sayur-sayuran dan buah-buahan. “Begitu aku memutuskan untuk menjadi vegetarian, aku langsung menyetop semua makanan dagingdagingan. Pokoknya semua hewan bernyawa, aku stop memakannya. Nggak pake tahapan-tahapan, atau pelan-pelan. Kalau temanteman aku kan memulainya secara bertahap, misalnya, tidak makan daging merah tapi masih mengonsumsi daging putih. Itu dikurangi pelan-pelan, sampai akhirnya tidak makan daging-dagingan sama sekali. Tapi Vicky nggak begitu. Aku langsung berhenti. Karena aku tahu, kalau aku melakukannya secara bertahap, pasti akan gagal. Pasti aku akan tergoda dan akhirnya niat menjadi vegetarian akan sia-sia. Maka itu aku langsung berhenti, nggak pakai tahapantahapan,” ungkapnya. Pada masa awal, tuturnya, terasa sangat berat. “Pada masa itu, ya ampunnnnn menderitanya. Rasanya sulit Vicky lukiskan, berattt,..rat..banget,” ungkapnya wanita bernama lengkap Victorine Cherryline Soedarjono Burki, penuh ekspresi. Pemeran ibu tiri Aldi dalam sinetron ‘Cinta di Langit Taj Mahal’ ini bertutur bukan tanpa sebab kalau tiba-tiba ia memutuskan menjadi vegetarian pada 11 tahun lalu. Saat itu ia sedang melakukan terapi urine atau terapi dengan meminum air seni sendiri setiap hari. “Jadi kalau kita mengonsumsi segala macam, apalagi daging-

dagingan maupun ikan, maka air seni kita selain berbau tak sedap juga rasanya sungguh tidak enak. Karena itu, agar terapi urine berjalan lancar, maka aku putuskan berhenti mengonsumsi makananmakanan yang membuat air seni berbau dan berasa tidak enak. Ya, akhirnya aku menjadi vegetarian,” kata Vicky. DUA TAHUN HINDARI RESTORAN Ternyata menjalani hidup sebagai vegetarian itu sungguh berat. Apalagi untuk orang yang penggemar makan seperti dirinya. Pada dua tahun pertama, katanya, perjuangannya sungguh berat. Godaan untuk berhenti sebagai vegetarian kerap menggoda, apalagi kalau teringat makanan-makanan favoritnya. “Sulit menggambarkannya, tapi itu sangat berat. Maka tak heran kalau banyak orang gagal melakukannya. Untuk menjadi vegetarian, bukan hanya sekadar niat, tapi juga dibutuhkan mental yang kuat (untuk melawan godaan makan) juga kedisiplinan,” tambahnya. Karena khawatir dirinya tergoda, akhirnya selama dua tahun ia mengaku amat jarang mengunjungi restoran. “Vicky takut kalau datang ke restoran, trus melihat orang-orang makan macem-macem, jadi tergoda. Makanya Vicky jadi jarang ke restoran selama dua tahun,” katanya. Setelah melalui masa dua tahun itu, katanya, selain sudah mulai terbiasa dengan pola hidup yang dijalaninya, godaan pun jauh berkurang. Bahkan kini setelah 11 tahun, Vicky merasa semakin mantap menjadi vegetarian. “Kalau sekarang sih nggak takut lagi. Biar lihat orang makan di restoran dengan lahap, Vicky nggak bakal tergoda,” kata wanita enerjik ini. Ia merasa, dengan manfaat yang didapatnya dari pola hidup sehat yang dijalaninya, sebanding dengan pengorbanan yang telah dia lakukan. Terapi urine, juga menjadi vegetarian, membuat tubuhnya sehat. Penyakit-penyakit yang banyak ‘menghantui’ orang zaman sekarang seperti kolesterol, diabetes, hipertensi, dll, jauh dari hidupnya. “Man-

faatnya sangat Vicky rasakan. Badan terasa lebih kuat, jarang sakit, jarang lemas. Untuk emosional juga lebih terkontrol. Kalau dulu, Vicky kan mudah emosi, tapi kini tidak lagi. Vicky menjadi lebih tenang. Tapi itu semua kan diperoleh tidak instan, setelah bertahun-tahun baru dirasakan hasilnya. Semua ada prosesnya”. “Beberapa teman Vicky sempat meledek juga. Katanya, ‘Ya ampun Vicky, hidup ini sudah

susah, kenapa sih elu bikin tambah susah.. Hahaha... aku hanya bisa tertawa saja. Biar saja orang mau bilang apa, yang penting Vicky enjoy kok. Nggak masalah. Kalau aku lagi kangen makanan-makanan yang seperti dulu, ya, aku datang aja ke restoranrestoran vegetarian yang sekarang kan banyak bertebaran. Di restoranrestoran itu bisa ditemukan makanan-makanan yang dibuat seperti ayam, sate, dll, tapi semuanya dari bahan-bahan yang bebas dari daging-dagingan. Ya tampilannya sih mirip tapi rasanya...hahahahha,” kata Vicky sembari tertawa. –Diana Runtu


2

Sosialita

GORO-GORO

Edisi 869/ 5 - 11 OKTOBER 2015

D r. P u t u D ya t m i ka wa t i , S . H . , M . H u m

Harus Jadi Contoh

M

enurut ahli Gizi Klinik FK Unud, Dr. dr. Gde Ngurah Indraguna Pinatih, Sp.GK, ada beberapa alasan orang memilih menjalani pola hidup vegetarian, seperti alasan menjaga kesehatan, menjaga lingkungan, dan berbagai alasan lainnya. Ada beberapa jenis vegetarian seperti vegan vegetarian, yaitu vegetarian yang murni tidak makanan dari daging, ikan maupun produk ikutannya dan hanya mengonsumsi makanan dari sayuran, dan buah-buahan. Lacto

sela-sela kegiatan sebagai rektor, saya tetap melakukan penelitian. Rektor itu kan dosen yang dipercaya untuk menjadi pimpinan universitas. Dasarnya ya tetap dosen,” ujar Dosen Berprestasi di Kopertis Wilayah VIII tahun 2008 yang sudah menghasilkan 4 buku individu dan beberapa buku yang dikerjakan bersama tim ini.

Dyatmikawati bersama Menkop dan UKM AA Ngurah Puspayoga

S

ebagai rektor perempuan pertama di Universitas Dwijendra, Dyatmikawati memikul tugas dan tanggung jawab besar. Ia harus menjadikan Universitas Dwijendra lebih baik dari hari ini. Pendekatan kekeluargaan terhadap dosen, pegawai, dan mahasiswa menjadi salah satu kiatnya. Namun, di sisi lain, ia memiliki sikap otoriter. “Inilah seni memimpin. Ada saatnya menggunakan pendekatan kekeluargaan karena dosen dan staf saya anggap saudara, mahasiswa saya anggap adik. Ada juga saatnya saya harus otoriter. Kalau aturan sudah disepakati, ya harus diikuti,” ujar perempuan kelahiran Denpasar, 27 Juli 1958 ini. Ia menuturkan pengalamannya ketika masih menjadi Dekan Fakultas Hukum Universitas Dwijendra. Mahasiswa yang tidak pernah kuliah atau jarang kuliah “diancam” tidak diperkenankan ikut ujian akhir semester. Mereka dipanggil untuk diberi pengarahan tentang pentingnya kehadiran

di kelas. Kuliah bukan sekadar mencari gelar tetapi kesempatan untuk mendapatkan ilmu pengetahuan sesuai dengan jurusan yang dipilih. Semua harus dijalani dengan ikhlas dan tanpa beban. Manajemen waktu menjadi salah satu kuncinya. Dari pendekatan dengan seni kepemimpinan yang elegan ini, Dyatmikawati menegaskan bukan untuk memunculkan rasa takut. Ia lebih mengedepankan rasa malu. Misalnya, malu karena sering terlambat, malu karena sering tidak ke kampus. Selain itu menjadi civitas akademika tidak hanya berkutat dengan pendidikan karena Tri Dharma Perguruan Tinggi mencakup pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk penelitian, istri Drs. M.S. Chandra Jaya, M.Hum ini selalu mendorong para dosen untuk melakukan penelitian kemudian membukukan hasil penelitian serta menyosialisasikan. “Saya tidak bisa hanya memberi contoh. Saya harus menjadi contoh. Di

Suka-duka dialami Dr. Putu Dyatmikawati, S.H.,M.Hum sejak menjadi Rektor Universitas Dwijendra Denpasar tahun 2014 menggantikan Dr. I Ketut Wirawan, S.H., M.Hum. Apalagi sebagai seorang wanita ia memiliki tanggung jawab di rumah dan di tempat bekerja. “Saya selalu mengatur waktu dengan baik. Urusan rumah tangga dibereskan dulu, setelah itu urusan kampus. Syukurnya semua dapat berjalan dengan baik,” ujarnya. Ibu tiga putra, Agung Satrya Wibawa Taira, Krishna Satrya Nugraha Taira, dan

“Kami melakukan survey terlebih dahulu sebelum memberikan bantuan. Ada beberapa syarat, yakni penerima bantuan tidak merokok, tidak punya ponsel, tidak berjudi, dan tanah yang ditempati milik sendiri. Tujuan dari persyaratan ini adalah kami ingin bantuan tepat sasaran. Begitu nama penerima masuk, kami langsung rapat dengan tim. Fakultas Teknik bertugas membuatkan gambar. Begitu gambar jadi, mer-

Aditya Satrya Iswara Taira ini mengaku berusaha untuk menjalankan hidup dengan keikhlasan dan penuh rasa syukur. Ia juga tidak mau membebani diri dengan target yang muluk-muluk. “Dulu saya punya target harus menyelesaikan S3. Kalau standar tercepat selesai 3 tahun, saya pasang target 6 tahun agar tidak stress. Dalam perjalanan, saya berusaha melakukan yang terbaik, mengatur diri, akhirnya bisa selesai 3 tahun. Semua ini juga berkat dukungan keluarga,” tegas dosen yang mulai kariernya tahun 1987 ini. Bersama suami yang menjadi Ketua

Yayasan Dwijendra Pusat Denpasar, ia juga lebih mudah untuk melakukan koordinasi. “Menjadi pimpinan yang harus menghadapi berbagai macam karakter harus disikapi dengan bijaksana. Tidak mungkin semua senang. Pro-kontra pasti ada saja. Saya berusaha menjalani proses ini dengan seni kepemimpinan yang saya pilih. Muaranya adalah Universitas Dwijendra yang memiliki Fakultas Teknik, Fakultas Hukum, Fakultas Pertanian, Fakultas Ilmu Komunikasi, dan Fakultas Ilmu Keguruan dan Ilmu Pendidikan serta Yayasan Dwijendra selalu menjadi pilihan masyarakat,” tegas putri pasangan I Made Anom-Luh Putu Karti ini. –Ngurah Budi

vegetarian menghindari telur tapi minum susu. Ovo vegetarian, mereka yang memakan telur namun menghindari susu. Lacto-ovo vegetarian, yaitu kelompok vegetarian yang sudah menghindari berbagai jenis daging maupun ikan, namun masih memakan produk-produk ikutan hewani seperti susu maupun telur. Menurut Kepala Program Studi Biomedik Pascasarjana Unud ini, bagi yang memilih vegetarian, mendapatkan keuntungan dari segi kesehatan “Karena memakan hormon pada hewan sangat sedikit. Kemungkinan mendapatkan penya-

Dr. Indraguna Pinatih

kit karena hewani juga sedikit,” katanya. Keuntungan lain, makanan dari sumber tanaman, ada beberapa yang menimbulkan hormon estrogen. Namun, tidak akan melebihi

Hidup Vegetarian untuk Sehat

Dr. Putu Dyatmikawati, S.H.,M.Hum

Dyatmikawati di acara peletakan batu pertama program bedah rumah Universitas Dwijendra di Karangasem

Ikhlas dan Bersyukur

Plus Minus Vegetarian

Saat ini, vegetarian makin banyak diminati orang dan sudah menjadi gaya hidup. Apalagi dengan makin tingginya sejumlah penyakit degeneratif yang mematikan seperti penyakit jantung, hipertensi, maupun diabetes.

Menjadi rektor tidak hanya berdiam diri di ruangan. Rektor juga harus sering turun ke lapangan untuk melihat langsung situasi. Jika ada kendala, solusi yang diperlukan bisa lebih cepat. Selain itu, rektor harus bisa menjadi contoh, bukan memberi contoh. Hal inilah yang menjadi pedoman Dr. Putu Dyatmikawati, S.H.,M.Hum, Rektor Universitas Dwijendra Denpasar.

BEDAH RUMAH Di bidang pengabdian masyarakat, Universitas Dwijendra Denpasar melalui LPPM Universitas Dwijendra melaksanakan program bedah rumah. Dua penerima bantuan adalah I Wayan Galing dan Ketut Muderati, warga Dusun Kiduling Kreter, Besakih, Karangasem. Penyerahan rumah hasil pengabdian ini dilaksanakan Minggu (27/9). Acara ini dihadiri Ketua Yayasan Dwijendra Pusat Denpasar, Drs. M.S. Chandra Jaya, M.Hum, Perbekel Desa Besakih I Wayan Benya, Kelian Dinas Kiduling Kreteg I Wayan Yasa, serta civitas akademika Universitas Dwijendra.

Sudut Pandang

eka langsung mengerjakannya. Semua bekerja dengan tulus ikhlas dan maksimal,” jelas ibu tiga anak dan niang tiga cucu ini. Ia menegaskan program bedah rumah ini juga menjadi bagian dari pengaplikasian filosofi Tri Hita Karana, khususnya pawongan (harmonisasi manusia dengan manusia). Dyatmikawati berharap program ini bisa terus berlanjut sebagai bentuk kepedulian Universitas Dwijendra Denpasar kepada masyarakat kurang mampu. Kegiatan pengabdian yang juga sudah dilakukan adalah penyuluhan kepada masyarakat dan penanaman pohon langka. Untuk menambah soft skill mahasiswa, Universitas Dwijendra kerap mengundang para pakar atau narasumber untuk berbagi pengalaman dengan dosen dan mahasiswa. “Kami bekerja sama diantaranya dengan Kementerian Koperasi dan UKM, Kodam IX/ Udayana, dan Joger. Kami ingin mahasiswa setelah lulus memiliki pengetahuan tambahan sehingga masyarakat tidak bisa menganggap enteng alumni Universitas Dwijendra,” tegas Dyatmikawati. -Ngurah Budi

Dyatmikawati saat talkshow radio

Pola hidup vegetarian diakui memang menyehatkan, meski ada juga sebagian orang tak setuju dengan pernyataan tersebut. “Jika tak makan daging sepertinya tubuh kurang kalori, lemas”. Demikian selentingan yang terdengar di masyarakat, yang menjadi alasan mereka tak menerapkan pola hidup vegetarian. Namun bagi mereka yang menjalankannya, vegetarian justru membuat tubuh lebih sehat, lebih segar, dan emosi lebih terkontrol. Seperti apa yang dilakoni Dra. Ni Made Rinu, M. Si. sejak 27 tahun lalu. Dekan FRSD ISI Denpasar ini menuturkan semuanya bermula karena dulu ia terserang penyakit tipes komplikasi ginjal, paru, dan jantung, yang lama tak kunjung sembuh. “Waktu itu dokter menyarankan saya untuk tidak mengonsumsi nasi. Hanya makan air kacang ijo, telur rebus, tahu rebus, pisang kapok, dan sayur labu siam rebus tanpa garam. Saya sembuh. Karena terus-menerus makan itu saja, tanpa sadar tubuh ini menjadi terbiasa. Saya hidup vegetarian, awalnya ya karena alasan kesehatan,” ucapnya. Demikian halnya dengan sang suami Drs. I Ketut Murdana, M.Sn. yang juga sakit lama hingga 3 tahun tak kunjung sembuh dengan pengobatan medis. Atas suatu petunjuk, pasutri ini diminta sembahyang ke pura-pura dan dituntun ke Ashram Lembah Bayan, Tabanan, menghadap Mahaguru Sri Jayanara. “Kami masuk Ashram tahun 1992. Di sini kami

Made Rinu

ditempa dengan pendidikan spiritual untuk lebih dekat dengan Tuhan. Dan disini pula saya bisa hamil setelah 4 tahun usia pernikahan,” ungkapnya. Di Ashram, Made Rinu mengikuti program vegetarian. Konsumsi makanan lebih diatur, seperti makan sayur hinis-sayur yang direbus tanpa bumbu apapun. Ia merasakan semuanya menjadi ringan, terutama emosi menjadi terkendali dan pikiran jernih. Makanya ketika ada orang yang menyebutkan merasa lemas jika tak makan daging, Made Rinu justru merasa lebih segar. Memang benar daging itu sumber kalori, namun sumber kalori nabati juga bisa didapatkan dari kacang-kacangan. “Yang paling penting juga kita melakoni hidup vegetarian ini dengan keyakinan, doa, dan tirta (air suci),” imbuh ibu dari Putu Wahyuning Sri Purnami ini.

Dengan pola makan vegetarian, Made Rinu mengaku jiwanya menjadi lebih hening untuk meditasi, spiritual, dan menerima wahyu dari Tuhan. Vegetarian dikatakannya semacam berpuasa untuk mengendalikan diri dan penyucian diri sehingga lebih berkonsentrasi. Bahkan untuk lebih mendekatkan dirinya kepada Tuhan, Made Rinu juga kerapkali berpuasa makan dan minum. “Dari segi kesehatan, di usia saya yang sekarng 59 tahun ini, kolesterol bisa berkurang,” ujarnya. Made Rinu yang awalnya sama sekali tak mengonsumsi makanan dari makhluk hidup tersebut, sejak 2013 atas petunjuk Mahagurunya diperbolehkan buka puasa, mulai makan ikan. Made Rinu mengaku cukup lama, hampir 2 bulan harus beradaptasi dengan hal ini. “Awalnya, melihat ikan saja saya bisa muntah,” akunya. Namun, lama-lama ia bisa juga. Walaupun sampai saat ini ia mengaku hanya sesekali saja mengonsumsi ikan dan itu pun dipilihpilih . Ada perbedaan yang ia rasakan, terutama dari segi kesehatan, kolesterolnya naik. Bahkan kadang-kadang ia merasa gatal jika mengonsumsi jenis ikan tertentu. “Mungkin karena tubuh saya terbiasa tidak makan ikan, jadinya begitu,” ujarnya. Namun yang jelas, jika diminta jujur, Made Rinu lebih memilih vegetarian. Karena dengan berpuasa tersebut ia merasa lebih sehat, pikiran lebih jernih, solidaritas tinggi. –Inten Indrawati

Edisi 869/ 5 - 11 OKTOBER 2015

hormon yang dihasilkan hewan. Tanaman juga mengandung serat yang tinggi sehingga penyerapan lemak tidak berlebihan. Namun, di samping keuntungan, ada juga kelemahannya. “Kalau dia memilih vegetarian murni kebutuhan pasokan protein menjadi lebih sulit,” ujarnya. Memang, orang dewasa tidak membutuhkan protein dalam jumlah besar. Namun, produk hewani sudah mengandung protein lengkap sehingga kita tidak perlu lagi berpikir mengombinasikan protein yang kita butuhkan. Sedangkan, tanaman mempunyai kandungan asam amino yang berlebih dan yang kurang, sehingga perlu mengombinasikan untuk mendapatkan asam amino yang lengkap yang disebut asam amino essensial. Untuk itu, ia menyarankan, seorang vegetarian harus memiliki pengetahuan tentang komposisi makanan. Namun, yang sering terjadi orang vegetarian lebih banyak mengonsumsi makanan yang mengandung karbohidrat. “Kalau dia terjebak dalam karbohidrat sederhana sama juga dengan bohong, tidak ada artinya,” katanya. Ia menyebutkan, sumber pro-

23

tein nabati memiliki nilai bologis rendah sehingga untuk mendapatkan jumlah yang cukup dia harus mengombinasikan jenis makanan. Selain itu, ada satu vitamin yang hanya ada di hewan yakni vitamin B12. Kekurangan vitamin B 12 menyebabkan anemia, dan fungsi dari vitamin B12 untuk mencegah penyakit jantung. Untungnya, tempe masih dianggap nonhewani yang memang mengandung vitamin B12 dan bisa dikonsumsi orang vegetarian. Padahal, tempe merupakan makanan fermentasi dengan bantuan bakteri. Menurutnya, tidak ada yang lebih baik mau vegetarian murni atau kombinasi. “Yang terpenting mengerti, apa yang dimakan, supaya tahu jumlahnya dan kecukupan gizinya, jenis makanan, komposisi, frekwensi, dan bagaimana cara olahnya. Kalau itu sudah diketahui, kita tidak perlu khawatir mau vegetarian atau tidak,” sarannya. Ia mengatakan, kebutuhan makan setiap hari dipengaruhi jenis kelamin, usia, berat badan, tinggi badan, dan aktivitas. Tiap orang tidak bisa disamakan. –Wirati Astiti

Vegetarian Selamatkan Lingkungan

Seiring dengan perubahan zaman dan lifestyle kebiasaan orang pun berubah, mulai dari gaya berpakaian, gaya hidup serta pola makan. Sejalan dengan perubahan tersebut maka banyak orang mulai merubah gaya hidup mereka. Gaya hidup sehat kini menjadi tema sentral dalam segala ruang perbincangan publik. Menurut Ni Kadek Martina, salah seorang lulusan Filsafat Agama IHDN Denpasar, untuk menjaga agar tubuh sehat sesorang juga perlu untuk mengurangi konsumsi daging, yang sangatlah penting yaitu dapat mengurangi kolestrol dalam tubuh. Pilihan untuk tidak mengonsumsi daging atau vegetarian sangatlah tepat agar tubuh sehat. Selain sangat dianjurkan dalam dunia kesehatan vegetarian juga diajarkan dalam ajaran agama Hindu. Vegetarianisme adalah ajaran yang dibutuhkan dalam doktrin ahimsa. Ahimsa artinya tidak menyakiti, agama Hindu menganggap bahwa vegetarian adalah kebijakan yang sangat penting. Vegetarian tidak hanya sekadar kode dari kebiasaan makan tetapi didasarkan pada kebutuhan untuk menyeimbangkan pikiran dan tubuh. Memakan daging tidak hanya berpengaruh pada kehidupan spiritual tetapi pada lingkungan dimana kita hidup. Filsafat Hindu tentang vegetarian, kata Kadek Martina didasarkan pada pertimbangan spiritual,

ekologi, ekonomi dan kesehatan. Hampir dalam pustaka suci Veda menyebutkan bahwa badan adalah tidak kekal adanya. Yang kekal adalah jiva atau guha yang menghuni badan. Badan yang tidak kekal dan hanya sementara sifatnya bukan berarti kita melakukan penafikan terhadap eksistensinya. Dengan menjadi seorang vegetarian maka umat Hindu telah melaksanakan ajaran Ahimsa. Ahimsa Parama Dharma Ahimsa berarti tanpa kekerasan, dan parama berarti tertinggi. Sedangkan kata dharma berarti kewajiban-kewajiban suci. Kadek juga mengutip kata Chandogya Upanisad, bahwa pikiran terbentuk dari makanan. jumlah makanan yang dimakan, yang melewati tubuh sebagai kotoran. Komponen yang terbaik dari makanan akan membentuk tubuh, dan makanan yang terbaik dan komponen yang terhalus membentuk pikiran kita. “Dirimu adalah apa yang kamu makan,” ujarnya. Untuk menjadi seorang vegan dalam ajaran Hindu sangatlah penting karena makanan yang kita makan tergolong kedalam makanan yang bersifat sattwika, sehingga dapat berpengaruh pada kehidupan seseorang baik itu pikiran maupun perilaku orang yang menjalankan vegetarian. Dengan menjadi seorang yang vegetarian maka kita juga akan dapat menyelamatkan lingkungan. – Sri Ardhini


22

GORO-GORO

Edisi 869/ 5 - 11 oktober 2015

Penghasilan “Pengojek” tak Seindah Dulu Transportasi berbasis aplikasi tengah ngetren di Jakarta. ‘Gojek’, Grabbike, Grab Taxi, Uber, begitu menarik perhatian masyarakat lantaran beritanya setiap hari muncul di media massa. Mulai dari soal murahnya tarif transportasi berbasis aplikasi itu jika dibanding dengan transportasi umumnya, juga kisah perseteruan pengemudi Gojek, Grabbike vs pengojek pangkalan.

K

isah-kisah sukses para pengojek yang terangkat perekonomiannya setelah bekerja di Gojek, Grabbike, ikut mewarnai kehadiran transportasi berbasis aplikasi. Adalah media yang turut ‘membesarkan’ ini sehingga akhirnya perhatian seluruh masyarakat tersedot pada kemunculan layanan transportasi model baru ini. Perhatian dan mengundang penasaran, sehingga jutaan orang pun mengunduh aplikasinya, dan mencoba menikmati layanan murah-meriah yang ditawarkan. Bayangkan dengan Rp 10 ribu (tarif Gojek) atau bahkan Rp 5 ribu untuk jarak tempuh di bawah 25 km, siapa yang tidak mau?! Berbondong-bondong naik Gojek,Grabbike, penghasilan pengojek pun melejit. Mereka yang tadinya hidup ‘ngos-ngosan’ lantaran tingginya biaya hidup di Jakarta, kini bisa menikmati penghasilan setinggi atau bahkan lebih dari pegawai kantoran biasa, bahkan dua atau malah tiga kali lipat dari UMR Jakarta yang Rp 2,7 juta. Kisah-kisah menarik yang dipublikasi berbagai media massa ini mengundang banyak orang ingin menjadi pengojek. Maka tak heran kalau dalam pemberitaan, ketika Gojek dan Grabbike membuka lowongan pengojek di Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta, ribuan orang pelamar menyerbu. Mereka yang berasal dari berbagai latar belakang, dari mulai pengojek pangkalan, mahasiswa, ibu rumah tangga, bahkan orang-orang

yang sebenarnya secara resmi sudah bekerja di sebuah perusahaan tertentu. “Hanya untuk sambilan saja, untuk mencari tambahan,” kata Rivai, seorang yang sehari-hari bekerja sebagai sales otomotif. Walhasil jumlah Gojek dan Grabbike yang ‘luber’ membuat penghasilan para pengojek tidak lagi seindah dulu. Penghasilan Gojek dan Grabbike, menurun. Agaknya ‘bulan madu’ hampir berakhir. Jumlah pengojek berbasis aplikasi yang membludak, membuat persaingan perebutan calon penumpang pun menjadi sangat ketat. “Dulu sebulan saya bisa dapat sekitar Rp 5 jutaan, tapi sekarang ‘boro-boro’. Bisa dapat Rp 3 juta se-bulan rasanya sudah bagus. Itu pun harus kerja keras. Kalau dulu mengambil penumpang yang dekat-dekat saja, tapi sekarang saya nekad ambil penumpang yang jauh. Sekarang temanteman jadi berebut penumpang, siapa cepat dia dapat. Makanya setiap saat saya ‘melototi’ ponsel terus,” tutur Jangkung, pengemudi ojek online. Situasi sudah tidak seperti dulu, katanya. “Kalau dulu bisa lebih santai, memilih-milih penumpang. Itu lantaran pengojek tidak banyak, sementara calon penumpang banyak sekali. Malah dulu saya sempat kewalahan karena calon penumpang tidak ada hentiknya. Memang bawa pulang uang banyak, tapi capenya minta ampun. Tapi sekarang, agak berat,” ucap mantan pengemudi becak ini. Tapi tambahnya lagi, meski

Musibah Belum sebulan, 2 musibah terjadi, menerpa umat Muslim yang tengah menunaikan rukun kelima. Pertama di Mekah, kemudian menyusul di Mina. Ada korban jiwa jemaah haji asal Indonesia. Semua terkejut dan tak putus-putusnya menatap televisi. Ingin lebih tahu apa yang sudah terjadi. Padahal tak ada yang bertanya-tanya, apakah musibah itu sebuah pertanda akan ada apa-apa. Amat mendadak marah sekali. Dia langsung membentak dengan geram. “Ada apa-apa, apa?!! Jangan begitu dong reaksinya! Itu namanya menebar kasak-kusuk! Ya! Pasti akan ada apa-apa! Tidak usah dipertanyakan! Pasti akan ada evaluasi, oleh pemerintah Saudi Arabia, bagaimana agar ke depan musibah yang sama tidak akan terjadi lagi! Artinya pasti akan ada tindakan, perbaikan, perubahan, pengawasan, penyempurnaan, dll, sehingga keamanan dan kenyamanan para jamaah akan terjamin tambah sempurna! Tidak perlu keraguan soal itu!!!” Bu Amat langsung menyikut Amat. “Bapak kok begitu berangasan sih!” “Berangasan bagaimana?” “Marah-marah tak jelas begitu?!” “Tak jelas bagaimana? Jelas sekali! Bapak marah kepada siapa saja yang suka usil, mengorek-orek seakan-akan kalau ada musibah, langsung pikirannya melompat ke depan, akan ada sesuatu apa begitu, yang bakalan menyusul terjadi karena adanya musibah itu. Itu bebiasaan lama yang buruk. Itu tradisi berprasangka yang tendensius. Kebiasaan jelek itu, harus ditinggalkan! Kita harus selalu berpikir positif ! Musibah itu jangan diukir, ditambahtambahi dengan prasangka! Musibah itu musibah itu saja, titik. Bukan tanda-tanda akan datang musibah lain lagi! Kita orang modern. Kalau ada musibah, cepat-cepat kita atasi, cepat kita antisipasi, sehingga tak mugkin ada buntut musibahnya lagi!” “Itu dia! Zaman sudah berubah! Bapak jangan terus menuduh orang lain, masih berpikir negatif ! Jangan-jangan yang berpikir negatif itu Bapak sendiri! Dulu, kata Ami, memang kita semua suka reaktif begitu. Kalau ada apa-apa, refleknya, pasti bakal ada apa-apa. Tapi sekarang, kalau ada apa-apa, semua orang akan mengunci persoalan di situ saja, sehingga tidak blunder, tidak merembet ke manamana tidak karuan!” “Ya, Bapak kan mencegah jangan sampai ada yang mundur lagi digondeli kebiasaan berpikir negatif!”

Putu Wijaya

berbeda dari sebelumnya, Jangkung mengaku tetap bersyukur karena dibanding dengan pendapatannya sebagai pengojek pangkalan, penghasilan menjadi pengojek online masih jauh lebih baik. “Ya, sejeblok-jebloknya penghasilan, tidak seperti dulu lah waktu masih di pangkalan,” ucap lelaki berjaket hijau itu. Selain jumlah pengojek yang semakin banyak, ternyata ada penyebab lain kenapa Jangkung dkk merasakan penurunan calon penumpang. Rupanya, baik Gojek dan Grabbike tidak lagi memberlakukan tarif promo yang murah meriah itu. Menurutnya, itu juga kemungkinan ikut berpengaruh. Kalau dulu tarif promo hanya Rp 10 ribu maka kini tarif naik menjadi Rp 15 ribu. Kembali ke tarif normal membuat sebagian masyarakat kecewa. Sebagian dari mereka menumpahkan kekesalannya lewat media sosial. “Gojek jadi mahal akhirnya gue kembali naik bus lagi,” ucap salah seorang pengguna medsos mengungkapkan kekesalannya. Memang, sejak September lalu manajemen Gojek membuat perubahan tarif lagi. Yang berubah hanyalah tarif pada saat rush hour atau jam sibuk dari pu-

kul 16.00-19.00, khusus wilayah Jakarta. Sedang di luar jam sibuk, tarif tetap flat Rp 15 ribu. Jadi pada Senin-Jumat pukul 16.00-19 berlaku tarif minimum Rp 15 ribu untuk enam kilometer pertama dan Rp 2.500 per-kilometer berikutnya. Inilah yang membuat para pelanggan menjerit. PEMAIN-PEMAIN BARU BERMUNCULAN Uniknya, di tengah situasi demikian, muncul pemain-pemain baru. Sebut saja Blu-Jek yang baru-baru ini terjun ke bisnis ojek online. Pasukan berjaket biru ini masuk ’gelanggang’ bertarung dengan Gojek dan Grabbike. Pendiri Blu-Jek merasa optimis pasar pengguna ojek di Jakarta masih terbuka lebar. Blu-Jek adalah singkatan dari Blusukan dan Ojek. Pada dasarnya, tidak ada yang berbeda antara sistem layanan Blu-Jek dengan dua terdahulu. Hanya saja, Blu-Jek memberi tambahan pada sistem pembayaran yakni penumpang bisa membayar dengan menggunakan e-cash dari Bank Mandiri. “Secara model bisnis sama dengan kompetitor lain. Hanya bedanya, kami menambahkan fitur pembayaran dengan menggunakan ecash Mandiri,”ungkap pendiri Blu

Jek, Michael Manuhutu. Sedang untuk pendapatan, tetap sama, yakni, 80% untuk pengojek dan 20% untuk perusahaan. Namun, karena masih baru (beroperasi mulai 17 September), tentu saja di jalan-jalan di Jakarta, masih sulit ditemui Blu-Jek. Tidak heran, karena jumlah pengemudinya baru 1000-an orang. Hal ini juga diakui oleh pihak Blu-Jek. Mereka tengah terus memproses penambahan jumlah pengojek. Targetnya sekitar 10.000 pengojek. “Yang 5000 lagi sedang dalam proses,” kata Garret Kartono, pendiri Blu Jek lainnya. Selain Blu Jek, layanan transportasi online yang akan masuk adalah bajaj online yang rencananya bakal diluncurkan oleh Organda DKI Jakarta. Namun pengamat transportasi, Damaningtyas mengaku pesimis kalau layanan bajaj online ini akan diminati masyarakat sebagaimana halnya ojek. Ini lantaran daya jangkau bajaj yang terbatas, tidak seluas ojek. Kalau ingin meningkatkan layanan bajaj, menurut Ketua Bidang Advokasi Masyarakat Transportasi Indonesia ini, sebaiknya dengan menerapkan tarif berdasarkan argo daripada dengan sistem online. –Diana Runtu

Edisi 869/ 5 - 11 oktober 2015

3

bacaan wanita dan keluarga

“Lho, Pak. kata Ami, masih ingat? Kita semua sudah tahu, kok, kita harus berpikir positif. Terutama di lingkungan keluarga besar kita sendiri di Indonesia ini, yang beraneka-ragam ini! Kita harus peka pada keberadaan dan kenyamanan bersama. Tapi kalau pakai diingat-ingatkan, apalagi pakai marah-marah dan sok lebih tahu seperti kelakuan Bapak tadi, seperti yang Bapak buat-buat tadi, itu bahaya, Pak?!” Amat tercengang. “Bahayanya apa?” “Sebaliknya dari mengajak semua orang berpikir positif, penyakit lama, kebiasaan lama, justru bisa kambuh lagi, Pak!” Amat tertegun. “Terus terang saja, yang Bapak bentak tadi siapa sebenarnya?” Amat diam. “Yang Bapak anggap akan kambuh lagi reflek berpikir negatifnya, siapa? Terus-terang saja, siapa? Pak Made?” Amat menggeleng. “Pak Alit?” Amat menggeleng. “Bodoh kalau mencurigai mereka berpikir negatif. Mereka justru yang selalu mengajak masyarakat berpikir jernih agar tidak ada gesekangesekan sehalus apa pun! Mereka itu amat hati-hati. Dan, selalu waspada. Tapi tidak dibuat-buat! Jadi siapa? Siapa sebenarnya yang Bapak bentak dan marahi tadi?” Amat mencoba mencari siapa yang harus “dikambing-hitamkan”. Ternyata ia tak berhasil menemukan siapa pun juga. “Jadi siapa dong, Pak? Siapa?” Amat tak menjawab. “Atau dirimu sendiri? Ya? Dirimu sendiri, Pak?” Setelah lama diam, Amat mengangguk. Bu Amat menarik nafas panjang. “Itu namanya Bapak sudah lempar batu sembunyi tangan!!” Amat tak menjawab. “Tapi ada baiknya juga, Pak, daripada batunya tidak ada yang melempar, kita bisa adem ayem, lupa, kurang waspada! Memang cubit-cubitan sedikit perlu, asal jangan keterusan. Sekalian ngecek apa semuanya masih afdol. Jadi terimakasih dari seluruh warga, termasuk dari Pak Made dan Pak Alit serta dokter Soegianto yang baru diangkat jadi pengurus baru masjid di kompleks kita ini.” Amat terkejut.

Penerbit PT Tarukan Media Dharma Terbit sejak 9 November 1998 Pemimpin Umum/Penanggung Jawab Gde Palgunadi Redaktur Pelaksana Ngurah Budi Staf Redaksi/Pemasaran Denpasar IG.A. Sri Ardhini, Wirati Astiti, Sagung Inten Jakarta Diana Runtu NTB Naniek Dwi Surahmi Desain Grafis IDN Alit Budi­artha, I Made Ary Supratman Sirkulasi Kadek Sepi Purnama Se­kretariat Ayu ­Agustini, Putu Agus Mariantara, Hariyono Alamat Redaksi/Iklan Denpasar Gedung Pers Bali K. Nadha, Lantai III, Jalan Kebo Iwa 63 A ­Denpasar 80117–Telepon (0361) 425373, 416676–Faksimile (0361) 425373 Alamat Redaksi/Iklan/Sirkulasi Jakarta Jalan ­Pal­merah ­Barat 21 G Jakarta Pusat 10270– Telepon (021) 5357603-Faksimile (021) 5357605 NTB Jalan Bangau No.15 Cakranegara, Mataram–­Telepon (0370) 639543– ­Faksimile (0370) 628257 Jawa Timur Permata Darmo Bintoro, Jalan Taman Ketampon 22-23 Surabaya–Telepon (031) 5633456–­­ ­Faksi­mile (031) 5675240 Surat Elektronik redaksi@tokoh.co.id, iklan@tokoh.co.id Website www.tokoh.co.id Bank BRI Cabang ­Gajah Mada Denpasar. Nomor Rekening: PT Tarukan Media Dharma: 0017-01-001010-30-6 Percetakan BP Jalan Kebo Iwa 63 A Denpasar

Dompet Ketinggalan di Celana Setelah pekerjaan di kantor beres, saya mampir ke sebuah kafe yang ada dekat kantor. Kafe ini berada di dalam hotel. Karena masih sore, suasana agak sepi. Niat untuk bersantai sembari menikmati makanan pun kesampaian. Makanan dan minuman pun saya pesan. Sambil menunggu, saya membuka-buka ponsel untuk membaca status teman di media social dan membaca berita terkini. Rasanya tak afdol kalau tidak mengikuti perkembangan berita.

Ketika pesanan sudah datang, saya pun dengan lahap untuk makan. Benar-benar hari yang menyenangkan. Kerjaan beres, perut kenyang. Setelah merasa cukup, saya memanggil pelayan untuk meminta bill. Oh my God….ketika mau mengambil dompet di kantong, ada yang ganjil. Kantong saya kosong. Dompet tak ada di kantong. Saya baru sadar, celana yang saya pakai berbeda dengan celana hari sebelumnya. Dompet saya ada di kantong

celana yang sebelumnya. Saya berusaha mengendalikan diri agar tidak panic. Saya menelelepon manajer kafe yang kebetulan saya kenal. Manajer datang dan saya pun menceritakan keapesan saya. Ujung-ujungnya minta tolong dibayarkan dahulu. Sebagai gantinya saya akan menraktir dia di lain kesempatan. Manajer itu tertawa dengan apa yang saya alami. Dia pun membereskan tagihan. Lega rasanya. Ternyata banyak yang bilang ketinggalan ponsel lebih

mengkhawatirkan daripada ketinggalan dompet. Tetapi, pelajaran bagi saya ketinggalan dompet juga mengkhawatirkan. Jadi lebih baik tidak ada yang ketinggalan. Sejak pengalaman itu, saya selalu menempatkan dom-

pet, ponsel, dan kunci mobil berdekatan. Hal ini memudahkan saya untuk mengambil. Jangan pernah menyimpan barang-barang tersebut di celana karena celana bisa berganti. (Putra Ariawan, Gianyar)

Bagi pembaca yang memiliki kisah unik, seru, menyebalkan, atau mengasyikkan dan ingin berbagi dengan pembaca ­lainnya, silakan kirim kisah Anda ke redaksi@tokoh.co.id. ­Panjang naskah maksimal 3.000 karakter. Sertakan juga nama dan nomor kontak Anda. Naskah yang muat di rubrik “OMG” akan mendapat bingkisan Tokoh. Info lebih lanjut, silakan hubungi Redaksi Mingguan Tokoh (0361) 425373


4

Inspirasi

Edisi 869/ 5 - 11 OKTOBER 2015

Ni Nyoman Suciati

Mencari Hiburan dan Penghasilan Usia senja tak halangan bagi Ni Nyoman Suciati untuk terus berdagang di Pasar Kereneng, Denpasar. Aktivitas ini sudah ia lakoni sejak tahun 1970. Apa yang membuat ibu lima anak ini bertahan sebagai pedagang? Bagaimana ia mengelola permodalan?

S

iang hari, suasana pasar Kereneng tak begitu ramai. Para pedagang sudah mulai santai. Demikian juga dengan Suciati yang berjualan jaja (kue) kering dan jaja banten di lantai 2. “Tiang jualan sejak tahun 1970-an. Waktu itu jualan jaja basah, Tempatnya pindahpindah. Mulai tahun 1978 baru menetap di los lantai 2 dan beralih ke jaja kering,” ujar istri Ketut Diakta ini. Ia menuturkan penjualan jaja kering dan jaja banten sangat stabil. Tiap hari ada saja orang yang mencari jaja banten. Hal ini dimaklumi karena hampir tiada hari tanpa upacara agama di Bali. Tentu saja keperluan seperti jaja banten menjadi. Ia banyak mendapat pasokan dari pedagang jaja yang ada di Sukawati, Gianyar dan Bangli. Suciati berjualan tiap hari mulai pukul 05.30 hingga 14.00. “Selesai jualan, tiang pulang ke rumah, ngempu cucu,” ujar nenek 8 cucu ini. Tak ada raut wajah kelelahan walaupun usai bekerja di pasar. Baginya, bekerja itu mencari hiburan sekaligus penghasilan. Dari hasil berjualan, ia bisa menyekolahkan lima anaknya

hingga menjadi sarjana. Mereka adalah Wayan Darmayasa, S.E., Kadek Sudiantari, S.E., Komang Daryana, S.T., Ketut Widarsana, S.E., dan Putu Ayu Trisnawati, S.S. Selain anak kandung, wanita yang hanya tamat SR ini punya 7 anak angkat. Mengenai permodalan, Suciati mengaku sudah menjadi nasabah BRI sejak berjualan di pasar Kereneng. Hingga kini pun ia setia dengan bank yang pada 16 Desember 2015 merayakan ulang tahun ke-120 ini. “Prosesnya cepat, bunganya rendah, maksimal tiga hari sudah bisa cair,” ujar penerima Kredit Usaha Rakyat (KUR) ini. Ia menggunakan dana KUR untuk menambah permodalan. Suciati juga salut dengan kinerja tim BRI yang siap melayani konsumen. Ia tak perlu repot meninggalkan dagangan karena pegawai Teras BRI yang datang memberikan pelayanan. Proses administrasi pun dibantu BRI sehingga memudahkan pedagang kecil untuk mendapatkan kredit. MENUMBUHKAN SEKTOR EKONOMI RIIL Menurut Widodo Januarso, Pemimpin Wilayah BRI Den-

Suciati

Mandalika

Edisi 869/ 5 - 11 OKTOBER 2015

Jaga Momentum, Pastikan Percepatan

Lima tahun pertama kepemimpinan Gubernur Muhammad Zainul Majdi (2008-2013), NTB meraih sejumlah capaian yang mendapat pengakuan luas secara nasional. Sebut saja misalnya kinerja penanggulangan kemiskinan yang progresif, angka putus sekolah turun tajam, “ledakan” satu juta kunjungan wisatawan, beroperasinya Bandara Internasional Lombok (BIL) sekaligus menjadi embarkasi haji nasional, penyelesaian infrastruktur jalan terutama di Pulau Sumbawa, semua itu merupakan buah dari satu tekad besar untuk melakukan satu lompatan, bekerja dengan sprit percepatan.

Suciati saat melayani pembeli

pasar, KUR merupakan pembiayaan kepada usaha mikro kecil dalam bentuk pemberian modal kerja dan investasi yang didukung fasilitas penjaminan untuk usaha produktif. Ini merupakan program yang dicanangkan pemerintah namun sumber dana berasal sepenuhnya dari dana bank. KUR dibedakan menjadi dua, KUR mikro untuk debitur di bidang usaha produktif dengan plafon sampai Rp 25 juta serta KUR ritel untuk usaha produktif dengan plafon sampai Rp 500 juta. “Dulu di era Presiden SBY, KUR sudah ada tetapi kemudian vakum. Ada moratorium dari pemerintah dan adanya pengkajian ulang karena bunga yang terlalu tinggi dirasa sangat memberatkan nasabah. Sejak 18 Agustus 2015, pemerintahan Presiden Jokowi kembali menjalankan program KUR dengan bunga lebih murah untuk menumbuhkan perekonomian di sektor riil,” jelas Widodo. BRI sebagai salah satu bank milik pemerintah yang terbesar

S

Widodo Januarso

di Indonesia pun mengambil peran dalam upaya menumbuhkan sektor riil ini. BRI Kanwil Denpasar yang membawahi Bali, NTB, dan NTT menargetkan penyaluran KUR hingga Rp 1,2 triliun. “Dari diluncurkan 18 Agustus 2015 hingga akhir September 2015 sudah 30% yang tersalur-

Suciati di los Pasar Kereneng

kan baik untuk mikro maupun ritel. Masih ada waktu hingga akhir tahun 2015 ini. Kami bekerja all out untuk mendukung program pemerintah, termasuk bekerja Sabtu dan Minggu untuk melayani nasabah,” ungkap Widodo seraya mengatakan secara persentase penyaluran KUR di wilayah BRI Denpasar merupakan yang tertinggi di Indonesia saat ini. Kendala yang dihadapi salah satunya pengurusan Izin Usaha Mikro dan Kecil (IUMK). Banyak pedagang yang tidak sempat untuk mengurus dokumen ini karena kesibukan mereka. Koordinasi antara Departemen Koperasi dan UMKM serta Departemen Dalam Negeri sudah dilakukan untuk mempermudah syarat ini. “BRI punya misi melakukan kegiatan perbankan yang terbaik dengan mengutamakan pelayanan kepada usaha mikro, kecil, dan menengah untuk menunjang peningkatan ekonomi masyarakat,” tegas Widodo. –Ngurah Budi

21

Percepatan pembangunan PLTU Jeranjang

pirit percepatan inilah yang hendak dipastikan tetap terjaga pada kepemimpinan Dr. TGH. M. Zainul Majdi untuk kedua kalinya 2013-2018. Pada 17 September 2015 lalu, tepat dua tahun kepemimpinan Dr. M. Zainul Majdi sebagai Gubernur NTB periode kedua yang didampingi Wakil Gubernur NTB, H. Muh. Amin dalam memimpin NTB. Sejumlah ikhtiar percepatan telah dilakukan pasangan yang populer disebut TGB-Amin ini. Sebagian besar merupakan kelanjutan, sebagian lainnya merupakan terobosan awal yang meletakkan dasar untuk percepatan pada tahun-tahun berikutnya. Pada masa depan beberapa hal yang menjadi fokus capaian dan agenda percepatan, yang sedang dan terus diikhtiarkan oleh TGB-Amin. Lompatan tiga tingkat Indeks Pembangunan Manusia Badan Pusat Statistik pada awal September 2015 merilis Indeks Pembangunan Manusia (IPM) secara nasional. NTB menjadi “bintang” dengan masuk sebagai Indonesia Top Movers 2010-2014. NTB melompat dari peringkat 33 menjadi peringkat 30 nasional. Dari tiga indikator IPM, indikator kesehatan harus menjadi perhatian serius untuk terus dibenahi. Sementara untuk indikator pendidikan dan ekonomi, kinerjanya relatif kompetitif untuk bersaing dengan daerah lainnya. Mendorong Percepatan Penanggulangan Kemiskinan Pelambatan kinerja ekonomi nasional dan pelemahan drastis nilai tukar rupiah, memang jadi faktor eksternal yang menghantam daya tahan ekonomi di hampir semua daerah. Menurut data BPS, jumlah orang miskin di NTB pada 2015 bertambah hingga 7.000 jiwa dibandingkan tahun sebelumnya.

Ini menjadi tantangan besar bagi percepatan kinerja penanggulangan kemiskinan di NTB yang mematok target menekan kemiskinan hingga rata-rata 1 persen pertahun seperti yang dimandatkan di RPJMD 2014-2018. Mendorong Percepatan Pengelolaan Kawasan Strategis Antara lain Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Mandalika di Lombok Tengah. Inilah kawasan seluas kurang lebih 1.300 hektar yang nantinya akan “disulap” menjadi kawasan pertumbuhan ekonomi dengan fokus utama pada pengembangan pariwisata dan ekonomi penunjangnya. Selain KEK Mandalika, terdapat pula kawasan Bandar Kayangan di Lombok Utara. Inilah kawasan yang benar-benar baru dirintis untuk untuk menjadi kota pelabuhan internasional. Kawasan lainnya yang juga begitu potensial dikembangkan, adalah kawasan SAMOTA (Teluk Saleh, Moyo dan Tambora) di Pulau Sumbawa. Kawasan ini ibarat aquarium raksasa. Menyimpan potensi perikanan dan pertanian yang dasyat, sekaligus daya tarik pariwisata yang mempesona.

Penopang Utama Swasembada Pangan Nasional Awal 2015 Presiden Jokowi mencanangkan target nasional swasembada pangan terutama untuk komoditas padi, jagung dan kedelai (pajale). NTB ditetapkan sebagai salah satu daerah penyangga utama keberhasilan target swasembada itu. Tak kurang dari Rp 500 miliar dana dikucurkan dari pusat untuk mendukung percepatan peningkatan produksi. Pada pertengahan 2015, untuk pertama kalinya NTB mengekspor jagung ke Filipina sebesar 140 ribu ton. Percepatan Industrialisasi Komoditas PIJAR PIJAR singkatan dari Sapi, Jagung, Rumput Laut. Inilah tiga komoditas unggulan daerah NTB.

Bendungan Pandan Dure Lombok Timur

dilakukan untuk itu. Antara lain revitalisasi rumah potong hewan, peningkatan kapasitas rumah kemasan, Merintis pendirian pabrik kosmetik berbahan baku rumput laut, serta mendorong berkembangnya wirausaha baru berbasis komoditas PIJAR. Percepatan realisasi 500 koperasi syariah dan pembenahan 32 sentra UMKM Dua program strategis ini diharapkan mampu menjadi pendukung untuk penguatan daya

Peresmian bendungan Rababaka

Jika pada periode pertama 20082013, titik tekan percepatan difokuskan pada peningkatan populasi dan produksi, maka pada periode kedua 2014-2018, pemerintah NTB berusaha keras merintis dan mendorong tumbuhnya industrialisasi produk PIJAR. Sejumlah langkah strategis

Salah satu komitmen Pemerintah Provinsi NTB di bawah kepemimpinan TGB-Amin, yakni meningkatkan kualitas dan kuantitas pendidikan bagi seluruh masyarakat NTB

tahan ekonomi daerah, sekaligus menjadi tumpuan peningkatan kesejahteraan masyarakat. Percepatan Penuntasan Pembangunan Infrastruktur Pertanian, antara lain pembangunan Teluk Awang di Sebagai Pelabuhan Perikanan Nasional. Ini mega proyek strategis nasional yang

lama dinanti penyelesaiannya. Infrastruktur pertanian lainnya, yaitu Bendungan Pandandure di Lombok Timur, dua tahun terakhir sudah mulai beroperasi. Sementara pembangunan Bendungan Rababaka di Dompu dan Bintang Bano di Sumbawa, sedang dalam tahap persiapan pembangunan. Percepatan Menuju Dua Juta Kunjungan Wisata pada 2017 Pertumbuhan angka kunjungan ke NTB relatif stabil. Berkisar antara 20-25 persen dalam tiga tahun terakhir. Pada 2013 angka kunjungan telah mencapai 1,3 juta, meningkat menjadi 1,6 juta pada akhir 2014. Pada 2015 ditargetkan bisa menembus 1,8 juta. Dengan tingkat pertumbuhan yang stabil, besar harapan dan keyakinan sektor pariwisata bisa menjadi lokomotif pengerak utama pertumbuhan ekonomi NTB, sekaligus menjadi sumber penyerapan tenaga kerja dan pengerak ekonomi produktif masyarakat. Percepatan NTB Sebagai Destinasi Utama Wisata Syariah di Indonesia Trend wisata syariah yang melaju cepat seiring dengan pertumbuhan kelas menengah ekonomi muslim di tanah air, dan belum tersentuhnya dengan maksimal pasar wisata Timur Tengah, menjadi peluang bagi NTB untuk mengelola wisata syariahnya. – Hms/Naniek I. Taufan

Peningkatan layangan kesehatan yang membaik turut menunjang naiknya peringkat IPM NTB


20

Nine

Edisi 869/ 5 - 11 OKTOBER 2015

Nirmala Qurbani

Tomat Organik Sistem Kue Lapis Sempat menangis karena dua kali gagal meraih prestasi sebagai Penyuluh Swadaya Berprestasi tingkat Provinsi Nusa Tenggara Barat, membawa Nirmala Qurbani, SP (33) menyemangati dirinya dengan melahirkan karya penelitian bidang pertanian.

K

isahnya, di tahun 2011 Nirmala mulai mengikuti lomba tingkat Kabupaten Lombok Barat dan ia hanya bisa meraih juara III. Prestasi ini tidak cukup membuatnya puas sehingga dengan tekun ia kembali mengikutinya pada tahun-tahun berikutnya hingga ia mampu membuktikan dirinya menjadi yang terbaik. Dua kali ikut

lomba Penyuluh Swadaya Berprestasi tingkat Kabupaten Lombok Barat di tahun 2012 dan 2013, Nirmala akhirnya tampil sebagai juara I. Namun ketika melanjutkan lomba tersebut ke tingkat Provinsi Nusa Tenggara Barat, ia selalu gagal meraih juara I. Nirmala harus puas menduduki peringkat II. “Saya menangis karena dua kali gagal padahal saya sudah berusaha sekuat

Nirmala saat meneriman penghargaan di Penas

tenaga menyiapkan diri mengikuti lomba ini,” katanya. kegagalan itu menjadi pecut semangat Nirmala yang akhirnya berdiri sebagai Juara

Nirmala (dua dari kiri depan) mewakili Indonesia dalam kegiatan di Jepang

Sarjana Penggerak Pembangunan Sejak tamat kuliah di Fakultas Pertanian Universitas Mataram, tahun 2005, Nirmala sibuk dengan aktivitas menjadi guru les berbagai bidang studi bagi anak-anak TK, SD, SMP dan SMA. Sampai akhirnya di tahun 2007, Nirmala mulai mengabdikan dirinya dalam kegiatan-kegiatan di desa tempatnya tinggal, Dusun Merembu Barat Desa Merembu Kecamatan Labu Api Kabupaten Lombok Barat NTB ketika ia diangkat sebagai KAUR Kesra selama dua bulan. Kegesitan Nirmala membawanya pada berbagai aktivitas di desanya seperti menjadi Sarjana Penggerak Pembangunan di Perdesaan dan lainnya. Ia juga aktif sebagai seorang penyuluh swadaya yang melakukan pendekatan pada kelompok-kelompok

tani sejak tahun 2012. Ia sangat senang menjalankan aktivitasnya khususnya bersama para petani. Bakat mengajar yang ada dalam dirinya, ditambah ia rajin buka internet dan membeli buku seputar pertanian membuat ia mudah berinteraksi dengan petani. Pengalaman bersama petani membuatnya betah menjadi penyuluh swadaya meski ia tak bergaji tetap dalam menjalankan pekerjaan ini. Ia hanya mendapat insentif pada tiap kali ada program dan pertemuan dengan petani. “Mengajarkan petani cara bertani, tentu kalah ilmu lapangan saya dengan mereka. Para petani sangat menyukai pengetahuan tentang jenis tanaman, hama penyakit dan cara penanggulangannya. Selain itu ternyata para petani suka dengan sejarah tanaman yang mereka tanam,” kata Nirmala. Nirmala yang tertarik dengan pertanian sejak kecil akhirnya membuktikan diri bahwa ia bisa berkontribusi di dunia pertanian ini dengan berbagai prestasi. Memilih kuliah di fakultas pertanian awalnya sesungguhnya ‘kurang’ direstui orangtuanya yang menginginkan ia menjadi seorang guru. Karena itu, Nirmala bertekad membuktikan pada orangtuanya bahwa pilihannya pada pertanian tidak salah. Namun, bakat dan naluri mengajar Nirmala yang yang dilihat oleh orangtuanya ini, rupanya tidak bisa padam. Karena itu, sejak tamat kuliah Nirmala langsung menjadi guru les bagi anak-anak sekolah baik di desanya maupun di banyak tempat lain yang mempercayakannya untuk mengajar. Selain mengajar baca tulis bagi anak-anak TK di rumahnya, seusai mereka pulang sekolah, ia juga mengajar les untuk berbagai bidang studi bagi anak SD, SMP dan SMA. Nirmala menjadi guru les panggilan yang sewaktu-waktu dibutuhkan. Langganan lesnya bahkan menurun dari satu murid ke murid lainnya dalam satu keluarga ataupun berantai dari satu siswa ke siswa lainnya. “Honornya lumayan bisa menjadi penghasilan tambahan dalam keluarga,” ungkapnya tersenyum. -Naniek I. Taufan

Nirmala (paling kanan depan) saat berada di Jepang

I pada Lomba Temu Karya Petani PENAS Nusa Tenggara Barat, di tahun 2014, dengan karya “Tomat Organik Sistem Kue Lapis”. Dan karya ini akhirnya juga membawa nama Nusa Tenggara Barat sebagai terbaik ketiga dalam ajang nasional Lomba Temu Karya Petani pada PENAS di Malang, Jawa Timur, 2014. Tidak itu saja, Nirmala juga akhirnya menjadi salah seorang dari tiga orang (dari Kementrian Pertanian RI, Lembaga Ekonomi Pertanian dari Aceh dan Penyuluh Swadaya dari NTB) yang mewakili Indonesia berkesempatan berkunjung ke Jepang, Agustus 2015 lalu untuk mengikuti kegiatan Training Course on “The Roles of Agricultural Cooperatives in Formation of Food Value Shain yang diselenggarakan MAFF Japan ASEAN IDACA JA Zenchu, di Tokyo dan Gunma, Jepang. Nirmala adalah sosok perempuan aktif yang tekun dan gigih. Meski sempat menangis ketika menemui kegagalan itu, namun Nirmala tidak pernah menyerah. Baginya kegagalan yang membawa kesedihan itu adalah bagian dari prosesnya dalam meraih prestasi. Karya tulis tentang tomat organik sistem kue lapis itu idenya ia dapat begitu saja berdasarkan ilmu yang pernah dipelajarinya. Ditambah lagi selama bergaul dengan para petani ia banyak mendengar bahwa menanam dan merawat tomat itu gampang-gampang susah. “Tapi rupanya banyak sulitnya karena tomat sangat rentan terhadap penyakit. Saya ingin menemukan cara menyelesaikan masalah tomat

ini mulai dari ibu rumah tangga hingga ke sawah. Karena kalau tomat mahal, ibu rumah tangga juga yang susah,” ujarnya. Karena keinginan besarnya untuk bisa meraih prestasi, Nirmala melakukan penelitian dan menulis segala hal tentang karyanya itu. Di samping ingin karya ini sebagai prestasinya, ia juga memikirkan tentang upaya untuk membuat tanaman tomat menjadi lebih subur dan tahan lama. “Yang paling penting juga menghasilkan tomat organik yang subur tanpa pupuk kimia sehingga lebih sehat untuk dikonsumsi,” katanya. Selain itu sistem tanam ini mudah dan dapat dilakukan di rumah tangga menggunakan pot-pot sederhana. Satu media dapat digunakan hingga empat kali tanam. “Disebut sistem kue lapis karena media tanamnya berlapis-lapis seperti kue lapis. Mulai dari lapisan terbawah yaitu sekam yang telah dibakar (arang sekam), lalu di atasnya pupuk organik (kompos) dan lapisan teratas adalah atas tanah,” katanya. Berdasarkan hasil penelitiannya, tanaman tomat senang dan cocok dengan media ini. Dalam media ini, pertumbuhan tomat semakin hari akan semakin membaik, karena akarnya akan terus menembus ke lapisan-lapisan terbawah yang semakin subur. Menurut Nirmala, karena menggunakan pupuk organik dari media ini, hasilnya tomat dapat tahan dari penyakit dan awet alami selama dua minggu tanpa dimasukan ke lemari pendingin dengan rasa yang lebih gurih dan tidak kecut.. -Naniek I. Taufan

Ralat: Pada rubrik Mandalika edisi 867/21-27 September 2015, tertulis lomba mewarnai tenun NTB diikuti tidak kurang dari 7.000 anak yang digelar di depan Pendopo Gubernur NTB berhasil mencatat rekor MURI. Seharusnya bukan rekor MURI melainkan mencatat rekor dunia yang diberikan oleh Lembaga Prestasi Rekor Indonesia Dunia (LEPRID). Atas kesalahan ini kami mohon maaf.

Caption tertulis:

Rekor MURI untuk lomba mewarnai tenun khas NTB yang diikuti oleh 7.000 peserta anak-anak.

Caption yang benar:

Paulus Pangka (dua dari kanan) usai menyerahkan piagam dari LEPRID kepada Bunda PAUD NTB, Hj. Erica Zainul Majdi dan instansi penyelenggara lainnya atas prestasi NTB dalam lomba mewarnai tenun NTB yang diikuti oleh tidak kurang dari 7.000 anak NTB.

Inspirasi Haniva Azzahra

Edisi 869/ 5 - 11 OKTOBER 2015

5

Pendiri Flohope Indonesia

Berawal dari tugas kampus yang mengharuskan mahasiwa penerima beasiswa UI Leaderships Development Programme membuat kegiatan pemberdayaan ekonomi , Haniva Az Zahra dkk-nya justru berhasil menciptakan peluang bisnis bagi para ibu-ibu penyapu jalan. Lewat Flohope (Flower of Hope), komunitas yang dia dirikan bersama teman-temannya, bukan saja membantu meningkatkan perekonomian para ibu penyapu jalan yang sebagian besar adalah tulang punggung keluarga, tapi juga mendidik mereka bagaimana mengelola keuangan secara benar.

Para ibu penyapu jalan binaan flohope sedang membuat bunga

“M

ereka, kami ajarkan cara membuat bunga-bunga dari kain flanel, mengemasnya dengan baik. Hasilnya, kami pasarkan antara lain lewat media sosial seperti twitter, Facebook juga padaeventevent di kampus. Hasilnya cukup bagus, meski tidak terlalu besar, namun dapat membantu meningkatkan penghasilan mereka,” ungkap Haniva Az Zahra seraya menambahkan, resminya Flohope didirikan pada 1 Desember 2012. Kegiatan ini, memang pada awalnya merupakan tugas kampus untuk membuat kegiatan sosial yang memberi keuntungan ekonomi pada komunitas yang diberdayakan (social entrepreneurship). Namun setelah tugas kampus selesai, Zahra dkk tidak meninggalkan para ibu itu begitu saja. Kegiatan ini tetap berlanjut bahkan dikembangkan lebih besar lagi. “Kebanyakan teman mahasiswa mencari di luar kampus, tapi kami justru mengambil yang ada di dalam lingkungan kampus. Sesuatu yang kita temui sehari-hari ketika berjalan di kampus. Ya, kadang orang tidak sadar bahwa ada sosok-sosok di dekat kita yang membutuhkan perhatian, mereka berjasa kepada kita. Mereka (ibu-ibu penyapu jalan) dekat dengan mahasiswa. Pendapatan mereka di bawah UMR,” ujar Zahra menceritakan latarbelakang berdirinya Flohope. Waktu melakukan kajian, katanya Zahra, penghasilan para ibu itu sekitar Rp165.000 per-minggu. Jumlah itu tentunya jauh dari cukup untuk memenuhi kebutuhan perekonomian keluarganya. Apalagi, katanya, sebagian besar dari mereka adalah

para janda yang sudah barang tentu menjadi tulang punggung perekonomian keluarga. “Jadi kami pikir, mereka bisa diberdayakan, karena mereka kan membutuhkan secara ekonomi,” ucap gadis kelahiran Yokohama, Jepang, 23 tahun lalu ini. Bersama lima temannya, Zahra pun merancang sebuah bisnis yang bisa memberdayakan ekonomi para ibu penyapu jalan. Pilihan mereka adalah kerajinan tangan dari kain flanel. Saat itu, paparnya, jumlah ibu-ibu penyapu jalan di UI sekitar 40 orang. Namun ketika dicoba, ternyata, tidak semua dari ibu-ibu tersebut mampu mengerjakan pembuatan bunga. Karena bunga-bunga ini akan dijual, tentunya dibutuhkan orang yang mampu mengerjakannya dengan baik. Akhirnya dari 40 orang, Zahra dkk menyaring sekitar enam ibu untuk mengerjakan proyek tahap pertama tersebut.

“Yang mengajarkan adalah teman kami, Rahma Ayudya, mahasiswa Fakultas Sastra. Dia memiliki keahlian membuat bunga-bungaan dari kain flanel. Selain Rahma, kami sendiri pun juga ikut membantu mengajar. Dari 40 orang ibu, kami mengambil enam orang untuk mengerjakan proyek tahap pertama,” katanya. Soal permodalan pada awal proyek, tambahnya, awalnya berasal dari tim Flohope. Namun setelah bisnis ini berkembang maka Flohope mendapat suntikan dana dari Sedekah Brutal. Per-dua pekan, para ibu ini mendapat dropping kain flanel plus perlengkapan lainnya untuk pembuatan bunga. “Ibu-ibu yang trampil, dapat menghasilkan sekitar 80 bunga. Tapi bagi yang kurang trampil, mereka hanya bisa menghasilkan sekitar 50 bunga. Kami membayar Rp2000 per bunga,” jelasnya. Kepada para ibu ini, katanya, juga diajarkan tentang kualiti kontrol, dimana mereka diajarkan tentang membuat produk dengan stardar tertentu agar jika disampaikan ke konsumen, hasilnya tidak berbeda antara satu produk dengan lainnya. “Selain itu, kami juga mengajarkan mereka bagaimana mengelola penghasilan dengan baik. Pelatihan financial planning, itu yang kami lakukan agar uang yang kami berikan bisa dikendalikan dengan baik oleh para ibu sehingga tak habis begitu saja. Tidak lagi ‘gali lubang-tutup lubang’ dalam menjalani hidupnya. Jadi ketika mendapat uang pembayaran atas karya mereka, kami tawarkan berapa yang akan diambil, berapa yang akan ditabung untuk keperluan darurat mereka,” tambahnya. Semua pengerjaan ini, lanjutnya, dikerjakan para ibu di rumah di

Haniva Azzahra sela-sela waktu istirahat mereka. “Para ibu ini kan sebelumnya telah memiliki pekerjaan di kampus kami. Jadi mereka mengerjakannya di rumah, setelah pulang kerja,” ucapnya. Diakui Zahra, sejauh ini memang apa yang didapat ibu-ibu penyapu jalan tidak lah besar, tidak sampai mencapai UMR. Namun begitu, ‘sedikit-banyak’ kegiatan ini bisa membantu meningkatkan perekonomian mereka. Setidaknya hal ini diakui oleh para ibu yang terlibat dalam proyek tersebut. Di sisi lain, tambah Zahra, adanya kegiatan ini juga semakin membuka mata bagi para mahasiswa tentang keberadaan para ibu penyapu jalan yang selama ini banyak berjasa. “Jadi setidaknya dengan ini para mahasiswa menjadi semakin perhatian, tidak lagi membuang sampah sembarangan, dll,” katanya. MELEBARKAN SAYAP Tak disangka, buket bunga kain flanel yang cantik itu mendapat respon bagus dari masyarakat, khususnya kalangan mahasiswa dari berbagai kampus. Hal itu ditandai dengan semakin meningkatnya jumlah pemesan, terutama pada event-event yang digelar di kampus, seperti acara wisuda, dll. Para ibu sudah barang tentu bergembira. Karena dengan pesanan meningkat, berarti penghasilan meningkat pula. Tak terasa usia Flohope hampir 3 tahun, perkembangannya pun cukup pesat. Untuk menjalankan organisasi ini, kata Zahra, bukannya tanpa kendala dan tantangan. Salah satunya adalah pada mahasiswa itu sendiri. “Salah satu tantangannya adalah dari para mahasiswa itu sendiri. Biasanya kan mahasiswa selalu punya semangat untuk memberikan manfaat untuk orang lain. Hanya saja, terkadang terbentur dengan peran utama sebagai mahasiwa. Ada tugas-

tugas kuliah yang harus dikerjakan, ujian-ujian yang harus dihadapi, yang tentunya perlu persiapan belajar. Belum lagi, karena pertemuan dengan para ibu biasanya dilakukan pada akhir pekan, terkadang ada saja di antara kami yang tidak bisa datang karena ada acara keluarga, dll,” jelasnya. Kini para pengurus Flohope tidak hanya menangani bisnis penjualan bunga flanel, tapi juga melebarkan sayap ke bidang pendidikan anak. Di antaranya adalah mengajar anak-anak di LP dan juga sekolah non formal untuk anakanak beberapa daerah di antaranya ; Susukan, Bojonggede, Bogor. Saat memulai proyek tersebut, Zahra dan kawan-kawannya telah menginjak Semester VI. Artinya tak lama lagi mereka akan lulus dan berkiprah di luar kampus. Karenanya regenerasi kepengurusan Flohope harus dilakukan agar organisasi ini bisa terus hidup dan berkembang. “Jadi kami membuka rekrutmen untuk adik-adik kelas agar nanti ketika para pendiri sudah lulus dan berkiprah di luar, Flohope bisa tetap hidup dan berkembang karena ada penggantinya,” kata Zahra yang lulus Sarjana Psikologi tahun 2013. “Saya kuliah 3,5 tahun, diwisuda tahun 2013, kemudian bulan September saya mengambil program S2 untuk Profesi Psikolog,” tambahnya. Kini kepengurusan Flohope telah berganti, para pendiri, Zahra dkk telah berkipah di luar kampus. Namun begitu, tambahnya, mereka tidak ‘melepaskan’ perhatiannya kepada organisasi yang mereka dirikan itu. “Kami memang tidak lagi seaktif dulu. Tapi kami tetap memantau perkembangannya, memberi saran-saran jika memang dibutuhkan. Kami juga sesekali terjun langsung,”ucapgadis cantik yang kini membuka praktek sebagai konsultan psikolog untuk perusahaan dan sekolah. -Diana Runtu


6

Woman on Top

Edisi 869/ 5 - 11 oktober 2015

Dewi Mas Bloem

“From Zero to Hero” Untuk menjadi seorang pemimpin ba­nyak hal yang harus diperhatikan. Ia harus bisa menciptakan kondisi har­monis hubungan manusia de­ngan manusia, alam, dan juga Tuhan. Seper­ti apa? Ber­ikut penuturan Dewi Mas Bloem, ­General Manager Hotel The One Legian dan Hotel Villa Lumbung Seminyak.

D

ewi menyebut­ kan, hubungan manusia dengan manusia ini, harus dimulai dari saat membangun fondasi hotel. “Apakah visinya sama. Mau membangun hotel yang bagaimana? Karena ho­ tel itu hanya sebuah bangunan. Yang menghidupkannya adalah manusia, termasuk karyawan atau tamu,” ujarnya. Pada saat kita percaya hubungan ini harus adil, jadi dari pihak perusahaaan harus mendukung. Misalnya, ada upacara odalan, harus didukung. Kalau ingin menuntut karyawan

dapat memberikan hasil yang terbaik, tanpa pernah memberi pelatihan itu jelas tidak mungkin. Pemimpin bertugas memberi warna. Tidak masalah hotel itu bentuknya seperti apa, yang pen­ ting konsep harmonis ini bisa juga dilihat oleh tamu. Dewi Mas Bloem saat ini di­ percaya menjadi GM dua hotel, The One Legian dan Hotel Villa Lumbung Seminyak, dengan total staf 300-an. Menurutnya, tugas­ nya lebih banyak sebagai adviser yang memberi arah­an kepada manajemen dan pemilik perusa­ haan karena ia berfungsi sebagai

jembatan. Namun, ia juga per­ caya, kalau cuma memberi arahan tanpa turun langsung ke lapangan, siapapun yang diberikan arahkan tidak percaya. Karena itu, prin­ sipnya, bagaimana mengubah yang tidak mungkin itu menjadi mungkin. “Klise memang, tapi astungkara sampai saat ini berjalan dengan baik,” ujar istri President Indonesia Chef Association ( ICA) Henry Alexie Bloem ini. Ia mengatakan, melalui berba­ gai kegiatan sosial, keharmonisan tiga hubungan yang lebih dikenal dengan Tri Hita Karana tersebut bisa dicapai. Kegiatan tirtayatra, hubungan manusia dengan tuhan. Namun, mulai dari proses berem­ bug, membuat persiapan biaya, siapa saja yang ikut, ke Pura mana saja, apa saja kegiatan yang dilaku­ kan, itu juga termasuk hubungan harmonis de­ngan manusia. Begitu juga kegiatan pemberian penghar­ gaan kepada karyawan dan mana­ jemen yang berprestasi. Tentu saja hal ini akan memacu semangat dan produktivitas ke arah yang lebih baik.

Dewi Mas Bloem

Ia juga membuat satu kegiat­an pertemuan tiap enam bulan sekali, khusus antara karyawan dengan GM. Tujuannya, untuk sharing dan memberi langsung informasi ke karyawan dan karya­wan langsung bisa bertanya ke GM. Tentu semua bermuara agar hotel menjadi lebih baik. Namun, ia mengingatkan, ada hal yang bisa dikontrol dan ada

yang tidak. Misalnya, Bu makanan di kantin tidak seperi yang kita mau. “Saya balik ber­ tanya, apa yang kalian mau. Saya jelaskan, apa yang kita inginkan berbeda dengan apa yang kita butuhkan. Kita butuhkan maka­ nan sehat. Kalau yang diinginkan makanan enak, siapapun tidak bisa memenuhi karena itu tergantung selera. Saya banyak diskusi dengan karyawan,” kata Dewi. Karyawan menganggapnya se­ bagai ibu. Ibu itu bisa memarahi juga bisa mengarahkan. Tujuan­ nya demi kebaikan. Dalam proses ini, ia tidak menampik, ada 5 persen yang gu­ gur. Mungkin mereka tidak sepaham dengan konsep hotel. Atau, mereka ingin bekerja dengan hasil yang jelas pada hari ini juga. Namun, ia percaya, proses dari “zero to hero”. “Daripada mencari orang yang sudah jadi dari luar lebih baik saya mencari daily worker yang bisa dididik menjadi lebih baik. Saat ini saya punya enam manajer yang awalnya dari karyawan,” ujar perempuan usia 38 tahun ini. –Wirati Astiti

Mozaik

Hobi Belajar Raih Prestasi Terbaik Raut wajah gadis ini tampak ceria. Ia berhasil menjadi lulusan terbaik Program Studi D-3 Kebidanan Stikes William Booth, Surabaya. Dengan indeks prestasi kumulatif (IPK) 3,85, Brenda Rahasyim, begitu nama gadis tersebut, menjadi yang terbaik dari 132 wisudawan yang digelar di Balai Kartika, Makodam V/Brawijaya, Selasa (15/9).

B

erkat prestasi gemi­ langnya itu, gadis kelahiran Surabaya 20 Agustus 1994 ini, berhak mendapat penghar­ gaan dari lembaga pendidikan milik Gereja Bala Keselamatan tersebut yang diserahkan di saat

acara wisuda itu. Ditemui disela-sela acara itu, Brenda, begitu dia biasa dipang­ gil teman-temannya, menyatakan senang dan bangga atas prestasi yang diraihnya itu. “Saya tidak menyangka bahwa saya bisa meraih prestasi terbaik dalam

wisuda kali ini,” ujarnya sambil tersenyum gembira dalam balutan seragam wisuda. Prestasi ini, tambah alumnus siswa SMA Intensif Taruna Pem­ bangunan Surabaya ini, berkat dorongan dari orangtuanya dan dari teman-temannya di sekolah. Selain itu, prestasi tersebut memang pantas diraihnya karena dia adalah tipe wanita yang senang belajar. Setiap ada kesempatan, gadis yang senang makan nasi goreng ini, pasti gunakan untuk belajar terutama setelah pulang sekolah, di waktu senggang, pagi hari atau di tengah malam serta dinihari. “Belajar dan bisnis memang menjadi hobi saya sejak kecil dan saya senang kalau saya da­ pat nilai bagus dalam setiap kali ujian,” ujarnya. Anak kedua dari pasangan Muhamad Hasyim, S.H. dan Ana Irawati ini, ingin melanjut­ kan studi ke Universitas Kediri.

Woman & Business – Sebuah Perspektif

Made Herry Erika Sedana Senior Professional Logistics & Supply Chain Asia Pacific QSE Certified Facilitator

K

etika saya mendengar diskusi tentang wanita dan bisnis, sekilas muncul sebuah imajinasi yang kuat tentang wanita cerdas, pandai berbahasa, dengan penampilan luar biasa menarik. Membuat kita kagum dengan talenta mereka. Dulu kita selalu mendengar “let’s seat and talk’, namun paradigm shifting yang terjadi sekarang memberi inspirasi kepada mereka untuk memilih “to stand up and talk”. Minggu lalu saya bertemu dengan seorang penulis muda berbakat yang membuat saya kagum. Beberapa menit awal dikusi, saya melihat wanita ini sangat sederhana dan mena­ruh respect yang tinggi ter­hadap lawan bicara. Komunikasi non verbal memang begitu kuat untuk memberi pemahaman lebih

dalam akan lawan bicara kita. Sesaat sebelum mengakhiri pembicaraan, saya mendapat jawaban atas afirmasi saya. Luar biasa. Penulis berbakat Indonesia ini telah meluncurkan banyak novel politik Indonesia yang cerdas, inspiratif dan motivating. Dengan passion di bidang creative writing, ia memilih untuk menyelesaikan PhD di UK. Non verbal Intelligence, It’s Louder Than Words ! Ada pertanyaan yang sedikit mengganggu pikiran saya.Wanita dalam bisnis, bagaimana ia melihat fungsinya dalam rumah tangga. Seorang kawan baik pernah bertanya kepada saya sambil memperlihatkan jari tengah dan telunjuknya. Apa yang Anda lihat? Dengan spontan saya menjawab; jari tengah dan telunjuk. Ia kemudian bertanya lagi. Apa yang Anda lihat? Sejenak saya berpikir apa jawaban yang diinginkan kawan saya dan kemana arah diskusi ini. Ada perbedaan panjang antara jari tengah dan jari telunjuk (portion gap). Mari kita bawa analisa ini ke porsi karier/bisnis dan keluarga. Fokus pada kedua sisi ini tidak akan sama (focus gap), terkadang tanpa disadari fokus karier/bisnis lebih besar dibanding fokus terhadap keluarga yang memberi dampak kurang baik terhadap hubungan inter-personal dalamkeluarga. Sebaliknya, bisa terjadi fokus

waktu yang tepat, demi tujuan yang benar, dan dengan cara yang baik – bukanlah hal mudah (Aristoteles, The Nicomachean Ethics). Mari sama-sama kita bayangkan apabila kita boleh mengukur pride & empathy coreboard. Definisi sukses wanita dalam bisnis akan memberi kebanggaan bagi mereka, orang-orang terdekat dan publik. Situasi ini menstimulasi kebanggan (pride) yang dalam. Pertanyaan yang mungkin akan kita dengar adalah seberapa jauh pride ini bermain dengan empathy. Kalau kita gambarkan pride & empathy metrics, saya akan memilih kuadran I dimana pride dan empathy sama-sama kuat sehingga mereka ada di baris wanita dengan self-motivation yang tinggi dan generous dengan empati yang kuat dalam hubungan inter- personal dengan kerabat. Menemukan wanita sukses dalam sosialita dan bisnis serta masih memiliki hati yang sederhana dan empati yang kuat, tidaklah mudah. Rupanya wanita-wanita dalam kuadran ini telah tumbuh dengan karak­ ter positif yang kuat. They have grown with character& emotionally intelligent.

Mike seorang pengusaha asal Australia datang ke Bali untuk mencari rekan kerja di industri logistics & supply chain. Ada lima perusahaan yang dikunjungi dan ia memutuskan untuk memilih satu perusahaan lokal. Sebenarnya perusahaan ini tergolong baru dalam industri meskipun pelaku bisnisnya adalah seorang senior professional wanita. Saya bertanya, apa yang membuat Mike memilih perusahaan ini? Mike memaparkan dengan sederhana bahwa ia mendapat apa yang ia butuhkan; communication clarity (kejelasan dalam komunikasi), openness, knowledge accuracydanservice assurance. Apakah itu semua cukup membuat Mike yakin akan keputusan yang diambil? Saya mencoba mengambil afirmasi untuk menyimpulkan analisa Mike dengan memberi keyakinan dan kepercayaan penuh. Communication engagement pada awal diskusi mereka sangat kuat sehingga consultative selling yang dilakukan wanita ini memberi pengaruh begitu besar terhadap keputusan Mike. Saya menyebutnya sebagai bagian dari The Speed of Trust.

Menurut pen­ gakuan wanita dengan tinggi ba­ dan 156 cm dan berat 47 kg ini, sudah mendaftar dan sudah diterima di sana. “Saya ingin mendapat jen­ jang pendidi­ kan yang lebih tinggi sebagai sarjana kebi­ danan. Den­ gan jenjang pendidi­ kan yang

Brenda Rahasyim

lebih tinggi, saya berharap mu­ dah mendapatkan kerja di ru­ mah sakit setelah tamat nanti,” katanya. Ditanya kenapa memilih sekolah di Wiliam Booth, menu­ rut gadis yang murah senyum ini, karena diarahkan oleh bapaknya sekitar 15 sampai 20 orang bekerja sebagai pengan­ yam,” jelasnya. Usaha ini sudah berjalan 15 tahun. Ide bisnis tas anyaman muncul ketika Murtini menjadi korban pemutu­ san hubungan kerja (PHK) perusahaan tas anyaman di Jakarta. Awalnya, pengem­ bangan bisnis ini terkendala modal. Ia berulang kali men­ gajukan bantuan kredit dan modal dari dinas terkait, namun tidak pernah ada realisasi. Berbekal kegigihan, ia terus berkarya dan mengikuti berbagai pameran. Ke depannya, usaha tas

The Missing Key

keluarga lebih besar dibanding fokus karier/bisnis sehingga potential optimization pun tidak dapat dilakukan. Yang menjadi pertanyaan adalah bagaimana membuat portion gap atau focus gap ini semakin kecil. Banyak wanita yang sangat piawai menjalankan bisnis dan berorganisasi. Banyak juga yang sukses dengan melakukan rencana kerja dengan compliance level tinggi. Pertanyaan yang muncul apakah semua selalu member value & result yang diharapkan? Bagaimana jika value & result scoreboard menunjukkan penundaan terhadap keberhasilan mereka? Apakah secara emosional kondisi ini akan member gelombang efek dan respons yang tidak searah dengan personal development? Rupanya kecerdasan emosional mereka berperan sangat penting dalam kondisi fluktuatif seperti ini. Daniel Goleman dalam Emotional Intelligence memaparkan betapa EI lebih penting daripada IQ. Ada satu quote yang bagi saya selalu memberikan inspirasi tentang arti kecerdasan emosional; Siapa pun bisa marah –marah itu mudah.Tetapi marah pada orang yang tepat, dengan kadar yang sesuai, pada

Tas Anyaman Plastik Pulung Diminati Jepang Siapa sangka, industri rumahan tas anyaman plastik bisa menem­ bus pasar ekspor. Kerajinan anya­ man asal Ponorogo ini, mayoritas dikerjakan ibu-ibu paruh baya, yang berada di Desa Pulung, Kecamatan Pulung. Sejak 2010, anyaman tas berbahan plastik tidak hanya dipasarkan dalam negeri tetapi sudah menembus ekspor. Murtini, salah satu pengusaha kerajinan tas anyaman plastik mengatakan, kebutuhan ekspor tas ini cukup besar dengan omzet

19

Edisi 869/ 5 - 11 oktober 2015

ratusan juta rupiah per bulan. Harga jual tiap unit untuk pasar lokal berkisar Rp 10.000 sampai Rp 75.000. Sedangkan untuk pasar ekspor, menembus Rp 14.000 sampai Rp 180.000. “Ekspor tas biasanya ke Amer­ ika Serikat, Jepang, Malaysia, dan Korea. Permintaannya lumayan tinggi, terlebih Jepang,” ujar Murtini. Namun, kendala yang dih­ adapi saat ini adalah bahan dasar plastik. Stok yang tersedia kurang memenuhi, apabila pesanan men­

ingkat. Meskipun demikian, dalam satu bulan, ia mampu memroduksi 15.000 sampai 20.000 tas plastik. “Sangat disayangkan sebenarnya, jika kerajinan ini tersendat garagara bahan bakunya,” imbuhnya. Tidak hanya bahan baku yang menjadi kendala. Pengusaha muda ini juga kesulitan mendapatkan tenaga kerja. Kesulitan tenaga kerja biasanya terjadi saat musim panen tiba. “Biasanya kalau musim panen tiba, pekerja lebih memilih bek­ erja di sawah. Pada hari biasa,

yang seorang perwira Angkatan Laut. “Bapak saya mengarahkan saya untuk sekolah di Program Studi Kebidanan Wiliam Booth, karena sekolah ini dinilai baik, berkualitas dan sangat disiplin dalam mendidik mahasiswa,” tambahnya. -Jos

an plastik

Tas anyam

anyaman ini masih memiliki pros­ pek menjanjikan. Oleh karena itu, pihaknya harus melatih warga sekitar agar memiliki kemampuan membuat tas anyaman. -Dinar Perdana


18

Kreasi

Edisi 869/ 5 - 11 Oktober 2015

Masa muda adalah masamasa yang paling indah. Gejolak hati, guncangan jiwa yang tak terkendali sering melahirkan rasa sombong, angkuh, bebas hingga sering mencari perhatian dengan kegiatan tak bermoral. Semua pengaruh negative itu mesti dikendalikan. Caranya, de­ ngan mengisi kegiatan positif, pendidikan serta keterampil­ an, sehingga berguna bagi diri sendiri, orang lain juga nusa dan bangsa.

Tari Kreasi Diwasa

Gambarkan Gejolak Jiwa Anak Muda I

tulah ide lahirnya tari kreasi baru berjudul “Diwasa” ini. Tari berdurasi 10 menit ini digarap oleh Komang Adi Pranata, Putu Purnawan sebagai penggarap iringan dan Wayan Mudiasih sebagai pembina. Tari yang didukung oleh 35 orang penari dan penabuh merupakan mahasiswa Prodi Sendratasik, Fakultas Seni Pertunjukan Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar itu pernah ditampilkan pada malam kesenian dies natalis ke-12 dan wisuda ke-15 di kampus setempat, beberapa waktu lalu. Tari Diwasa menampilkan

tiga penari dengan konsep busana sesaputan. Dua orang penari yang mengekspresikan gejolak jiwa muda-mudi yang berjuang untuk mencari jati diri dalam menggapai kebahagiaan. Dan satu orang lagi bertugas menarikan topeng raksasa berukuran besar sebagai gambaran dari lobang kehancuran. “Diwasa kalau dalam bahasa kawi memiliki arti “saat”. Maka saat muda itu mesti mampu mengendalikan gejolak jiwa,” kata Asi Pranata. Garapan tari ini tidak menyajikan alur ceritera yang utuh, namun lebih menegaskan pada ekpresi gerak. Gejolak jiwa anak muda tidak disajikan secara

nyata melalui perbuatan, tetapi diungkapkan melalui karakter dan gerak yang tertata apik. Para penari juga menggunakan property topeng (topeng laki yang gagah dan topeng wanita yang cantik) dengan sistem pemakaian dengan cara digigit, sehingga mudah dimengerti oleh penonton. Setidaknya ada tiga karakter yang disajikan melalui pembagian dari tari itu sendiri, seperti pepeson, pengawak, pengecet dan ending. Pada bagian pepeson dua penari laki dan perempuan itu menari menggambarkan karakter pria yang kokoh, angkuh dan berjiwa besar. Gerak tarinya lebih banyak terinpirasi dari tari pertopengan dan bebarisan. Misalnya gerakan nabdab saput, nyambir (kedua ta­ngan memegang saput/kain) dan tetayungan. Sedangkan gerak malpal, nayog, nyeledet dan ulap-ulap terinspirasi dari gerak Tari baris. Namun, semua gerak itu sudah dikreasikan dan disesuaikan dengan kebutuhan tema. Bagian pengawak, kedua penari menampilkan gerak tari putri dengan sifat anggun, cantik dan menawan. Walaupun menggunkan kostum yang sama, tetapi mere­ ka mampu mengungkapkan karakter putri yang lembut. Motif-motif gerak tari putri lebih banyak mewarnai pada babaik ini, baik dalam sikap pokok (agem), tandang dan gerak berjalan. Pada bagian pengecet menggambarkan penggabungan dari dua karakter yaitu pria dan wanita yang ditandai dengan gerak bersolek, malu_malu, dan sering mencari perhatian lebih untuk menarik perhatian. Geraknya lembut serta karakter wanita, namun ada nuansa tegas seperti gerak laki-laki, sehingga mencerminkan seorang tomboy atau bencong. Meski lebih banyak melakukan gerak modern, tetapi masih berpijak pada tari tradsiai seperti Panji Semirang dan Margapati. Sementara pada bagian ending, klimak timbul sebuah bencana dalam diri seorang remaja yang digambarkan dengan topeng besar yang menyerankan. Topeng itu sebagai symbol masalah besar, jika tidak mampu mengendalikan diri. Babak ini mengambarkan kesadaran dari muda muda untuk memecahkan segala masalahknya yang diwujudkan dalam perlawanannya terhadap topeng seram itu. Dalam perlawanan itu, mereka menggunakan kain berwarna merah sebagai symbol laki-laki dan ku­ning symbol wanita, sehingga menemukan jati diri untuk kebahagiaan. -Darsana

Life

Story

Edisi 869/ 5 - 11 Oktober 2015

7

Menanggung Malu karena Bangkrut Dengan terbata-bata Ranti (56) dan suaminya menjelaskan bahwa ia akan segera melunasi utangutangnya kepada salah seorang dari banyak pe­ nagih utang yang datang ke rumahnya akhir-akhir ini. Wajah Ranti yang dulu selalu terangkat dengan angkuhnya kini tertunduk sedih. Ini tampaknya menjadi pelajaran dan teguran Tuhan atas kesombongan hidupnya selama ini.

L

ahir dan besar dari keluarga berada di salah satu kabupaten di Nusa Tenggara Barat, sejak kecil Ranti telah merasakan hidup enak bergelimang fasilitas dan pelayanan. Banyak orang yang tinggal di rumahnya yang bisa diperintah kapan saja olehnya. Bahkan dengan cara dan katakata kasar yang kerap membuat sakit hati. Jangankan terhadap orang-orang yang menumpang hidup di rumahnya itu, terhadap suaminya sendiri ia juga berlaku demikian. Dandanan khas kelas mewah selalu ditampilkannya dengan sorot mata yang angkuh dan sikap yang tinggi menjadi ciri khas pembawaannya. Apalagi ia bergaul dengan istri para pejabat tinggi di daerahnya, membuat kekayaannya terus berlipat. “Karena dekat dengan penajat tinggi, banyak proyek pemerintah diambil seluruhnya oleh dia (Ranti), bahkan danadana koperasi diraup sendiri dalam jumlah miliaran rupiah,” ungkap Agus, salah seorang tetangganya. Hidup kaya, berkelas bak jetset membuai hidup Ranti hingga puluhan tahun. “Dia kelihatan lupa diri,” kata tetangga lainnya yang akhir-akhir ini menyaksikan Ranti kerap ribut dengan penagih utang. Menurut para tetangga, kehidupan Ranti terus menurun sejak salah seorang pejabat tinggi yang selama ini mem-backup-nya meninggal dunia. “Praktis tidak lama setelah itu hidup Ranti menurun,” ungkap Agus. Tagihan demi tagihan mulai menghampiri Ranti, khususnya dari dana koperasi yang dikelolanya. Ia harus membayar puluhan juta rupiah tiap bulan. Ia tidak memiliki penghasilan yang memadai untuk mencukupi tagihan bulanan yang besar itu karena suaminya hanya pensiunan pegawai biasa dan sesungguhnya Ranti tidak memiliki pekerjaan atau usaha lain kecuali mengelola koperasi dan bermain proyek-proyek yang didasari atas kedekatan dengan para pejabat. Maka ketika pejabat tinggi rekannya itu meninggal, kini Ranti harus menanggung akibatnya.

Beberapa aset miliknya mulai terjual satu persatu, mulai dari tanah, rumah hingga mobil yang dipunyainya. Ranti tampaknya mulai kewalahan menanggung beban tagihan bulanan termasuk biaya hidup mewah yang selama ini dijalaninya. Ia terancam jatuh bangkrut. Jika selama ini ia bisa hidup semaunya karena merasa dekat dengan pejabat, maka kini ia harus menanggung malu karena jatuh bangkrut. Ranti sudah jarang keluar rumah apalagi mengikuti kegiatan-kegiatan ibu pejabat seperti biasa. Ia kehilangan ruang untuk berekspresi seperti dulu. Masalah terakhir yang dihadapinya adalah soal jual beli tanah miliknya. Karena kepepet dan sangat butuh uang, ia memaksa menjual tanah tersebut pada seseorang yang sesungguhnya tidak tertarik membelinya. “Uang saya tidak cukup untuk membayar tanah tersebut waktu itu, tapi Ranti memaksa dan meminta saya bayar setengah saja dan sisanya bisa dicicil tiga bulan ke depan,” ungkap Juna yang akhirnya sepakat membeli tanah tersebut beberapa bulan lalu. Saat jual beli tanah tersebut, Ranti memperlihatkan sertifikat asli tanah tersebut atas namanya. Juna memaklumi jika sertifikat tersebut belum boleh ia miliki sebelum ia melunasi tanah tersebut dalam tiga bulan ke depan sesuai perjanjian. Namun, dalam perjalanan, Ranti terus meminta bantuan agar bisa dibayar sisanya. “Saya sempat mau kembalikan tanah itu karena hampir tiap minggu Ranti minta tolong agar saya memberinya pembayaran tersebut,” ujarnya. Tetapi karena kebetulan rezeki Juna ada saat yang dibutuhkan Ranti, ia pun memberi Ranti uang yang dibutuhkan itu. Rupanya ia perlu dana untuk membayar setoran koperasi yang dikelolanya itu. LIMA BULAN Karena terlalu sering Ranti meminta dan Juna dapat memenuhinya, akhirnya Juna dapat melunasi sisa pembayaran tanah tersebut hanya satu setengah bulan dari janji tiga bulan yang mereka sepakati. “Saat saya datang melunasi sisa pem-

tkh/net

bayaran terakhir, saya minta kwitansi pembayaran sekaligus sertifikat tanah tersebut,” ujar Juna. Alangkah terkejutnya Juna ketika Ranti mengatakan bahwa sertifikat tersebut telah ia gadaikan. Jelas Juna marah. Ribut tak dapat dihindari. Juna yang merasa menjalani kesepakatan dengan baik-baik dan lurus-lurus saja apalagi ia lebih cepat menyelesaikan tanggung jawabnya dari waktu yang disepakati, merasa sangat kecewa. Karena, ia ingin segera melakukan proses balik nama terhadap tanah tersebut. Juna yang kecewa bahkan nyaris melaporkan Ranti pada pihak yang berwajib. Namun, Ranti memohon-mohon agar Juna memberinya waktu hingga lima bulan ke depan untuk ia mengeluarkan sertifikat yang digadaikan itu dan menyerahkannya pada Juna. Ranti tampaknya kena batunya. Jika selama ini ia suka semena-mena dan semaunya pada orang lain karena merasa dekat dengan para pejabat tinggi, maka kini ia berhadapan dengan Juna yang juga memiliki kedekatan dengan pejabat tinggi, bahkan lebih tinggi dari yang pernah dikenal Ranti. Juna bisa saja memenjarakan Ranti dengan mudah jika ia mau karena ia benarbenar berada pada posisi yang benar. Ranti menyadari hal itu sehingga ia ketakutan. Ketakutannya lebih karena ia telah

beritikad tidak baik pada Juna. Namun, hidup Ranti masih beruntung, karena Juna tidak bertipe seperti dirinya. Mengenal pejabat tinggi lalu sewenang-wenang sepertinya. Juna memberinya kesempatan sesuai dengan janjinya akan menyerahkan sertifikat tanah tersebut, di bulan Februari tahun depan. Tampaknya benar Ranti takut ‘bermain-main” dengan Juna. Yang ada di kepal-

anya adalah Juna banyak dekat dengan pejabat. Padahal tanpa pejabat sekali pun, Juna tetap berada pada posisi yang benar dalam hal ini. Obsesi Ranti yang besar pada pergaulan dengan pejabat yang membuatnya menjadi ketakutan sendiri menghadapi Juna. Teguran Tuhan semoga menyadarkan Ranti. Setidaknya inilah harap­an dari para tetangga Ranti. -Naniek I. Taufan


8

Bunda & Ananda

Edisi 869/ 5 - 11 OKTOBER 2015

Anak Banyak Tanya

Tanda Kecerdasan Verbal Anak-anak memiliki fase dalam hidupnya. Ketika mereka mulai tumbuh dan makin aktif, makin banyak pula perbendaharaan kata-katanya. Orangtua wajib untuk memperhatikan dan mengarahkan anak agar kemampuan yang dimiliki makin terasah.

Wiriana, S.Psi, M.Pd

J

ika anak Anda suka bertanya tentang berbagai hal, jangan memarahinya. Berikan jawaban sehingga anak itu puas. Anak yang banyak bertanya memiliki bakat kecerdasan verbal. Selain itu, anak yang suka bermain scrabble juga memiliki bakat kecerdasan verbal. “Anak saya suka mendengarkan orang berbicara. Ia menyimak apa yang disampaikan orang. Ketika disuruh menceritakan kembali, ia pun bisa. Hal ini pernah saya coba ketika ia berlibur di kampung halaman selama seminggu.

Saya memintanya untuk bercerita, ternyata ceritanya lengkap dan runut,” ujar Bu Ati. Kemampuan buah hatinya untuk bercerita menurut Bu Ati berkaitan dengan aktivitas sejak hamil. Kala itu Bu Ati sering membaca cerita. Bahkan hingga kini, sang ayah menyempatkan waktu untuk membacakan dongeng sebelumk tidur. Pengalaman Bu Sari tak jauh beda. Ketika kehamilan anak ketiga, ia sibuk menjalani profesi sebagai penceramah dari satu seminar ke seminar lain. Tiada hari ia lewatkan untuk belajar dan berbicara. Ternyata kini ia baru menyadari, anaknya itu menjadi serba ingin tahu. Apa pun yang dilihat selalu ditanyakan. “Dari referensi yang saya baca, ini merupakan dampak dari kesibukan saya saat hamil,” ujarnya. Anak yang banyak bertanya, selalu ingin tahu tidak bisa dikategorikan cerewet. Orangtua harus bangga jika anaknya banyak bertanya. Apalagi jika pertanyaan yang diajukan berkelanjutan. Artinya anak itu ingin mendapatkan pengetahuan baru. Selanjutnya, ia

Anak-anak berkumpul untuk bercerita

akan meneruskan pengetahuan itu kepada teman-temannya. “Normalnya anak usia 18 bulan sudah bisa berbicara dengan menyebut beberapa kata. Susunan kalimatnya baru subjek dan predikat. Seiring pertambahan usia, kemampuan berbahasanya akan bertambah. Dari sini kecerdasan verbalnya akan mulai terlihat,” ujar Wiriana, S.Psi, M.Pd, psikolog dari Biro Konsultasi dan Layanan Psikologi Wira Kasih Dharma. Ia menjelaskan kecerdasan verbal adalah kemampuan yang berkaitan dengan bahasa baik tulisan maupun bahasa. Kecerdasan verbal ini juga berkaitan dengan kecerdasan interpersonal karena menyangkut komunikasi dengan orang lain. Perempuan yang akrab disapa Ana ini mengatakan ciri-ciri anak yang kecerdasan verbal antara lain banyak berbicara tetapi bicaranya

PERMAINAN INDUKTIF Ana menambahkan, kecerdasan verbal ini didapat dari dua faktor, yakni keturunan (genetik) dan lingkungan. Faktor genetik sudah dibawa sejak lahir. Biasanya kemampuan ini diturunkan langsung dari orangtua. Ini termasuk faktor internal. Faktor lingkungan merupakan hal-hal yang dilihat dan dirasakan di luar sebagai pengaruh. Ini dapat dikategorikan faktor eksternal. Anak yang rutin mendengarkan dongeng dari orangtuanya

gerhana bulan

Made Taro

Setelah Raksasa Kala Rau berhasil menghancurkan bumi Balidwipa, para dewa di kayangan resah. Terbetik berita bahwa raksasa bertubuh kekar, kebal dan serakah itu akan menggempur kayangan. Ia akan mengamuk karena cinta asmaranya terhadap Dewi Bulan,

dihalang-halangi oleh para dewa. Dewa Wisnu yang bertanggung-jawab atas keselamatan kayangan, sangat waswas. Beliau menyuruh Dewa Kuwera mengumpulkan semua dewa. Di depan dewa-dewa itu Dewa Wisnu berkata, “Hai, para dewa! Sebentar lagi Kala Rau akan menyerbu kayangan. Untuk menghindari korban, maka semua dewa kuharuskan minum tirta amerta, yakni air suci keabadian. Setiap dewa hanya boleh minum seteguk saja,” katanya sambil mengedarkan kendi berisi tirta amerta. Demikianlah, dewa-dewa itu meminum tirta amerta bergiliran mulai dari Dewa Iswara. Ketika giliran tiba pada Dewa Kuwera, Sanghyang Wisnu curiga. Dewa yang satu itu bertubuh kekar, gelisah dan mendelikkan mata. Apalagi dewa itu meminum tirta amerta lebih dari satu teguk. “Kau bukan Kuwera, tetapi Kala Rau!” teriak Dewa Wisnu. Seketika semua dewa bangkit mengambil senjata. Sebelum dewa palsu itu melarikan diri, Dewa Wisnu membidik kepala dewa itu dengan panah. Apa yang terjadi?

Edisi 869/ 5 - 11 OKTOBER 2015

Si Cantik

Kayu Liana Sesuai dengan namanya, kayu liana memang cantik. Kayu ini memiliki karakter batang yang keras, serat yang indah, dan bentuk batang melingkar seperti terpilin. Inilah yang menjadi daya tarik kayu liana.

P

aling tidak, demikian pengakuan Adri, salah seorang karyawan sebuah showroom mebel di kawasan Jalan By Pass Ngurah Rai, Kuta Bali, yang juga menjual kayu liana. Ia mengatakan, kayu-kayu liana tersebut dipasok dari Sumbawa. Kayu-kayu yang sudah dikuliti ini, kemudian disikat, diberi obat antirayap, dan difinishing sesuai pesanan konsumen. Di antaranya, warna natural gloss/dop, dan white natural. Konsumennya sebagian besar

warga asing, meski ada beebrapa warga lokal. “Kayu liana banyak disukai bule berkewargaan Korea dan Jerman,” imbuhnya. Kecantikan serat dan bentuk kayu liana ini kerap diaplikasikan sebagai partisi, pegangan pintu, batang kap lampu, dsb. “Belum lama ini, kami mengirim ke Korea kayu liana dengan finishing white natural. Kayunya dipotong-potong kecil 40 cm, saya tidak tahu akan dipakai apa itu,” aku Andri. Tentunya dengan ide kreatif, apapun bisa dilakukan dengan

–Ngurah Budi

Mendongeng Lima Menit

Generali Menuju Transformasi Digital Saat ini perusahaan asuransi jiwa di Indonesia didominasi perusahaan asing hampir sekitar 60%. Generali bisa berada di posisi ke-7 di tahun 2015. Demikian diungkapkan Wianto Chen, Director Agency Group Head Generali Indonesia saat media briefing roadshow di Hotel Aston, Selasa (29/9). Wianto menyatakan, sebagai asuransi yang sudah lima tahun berdiri Generali patut berbangga karena dari 47 perusahaan asuransi jiwa di Indonesia, Generali berada di peringkat 7. Data Generali menunjukkan data Gross Written Premium (GWP) mencapai IDR 934 miliar berkat pertumbuhan yang kuat dari unit link (lebih kurang 23%) dan ini meningkat di semua segmen pasar. Selain itu, indikator kontribusi kanal agency meningkat menjadi 35%. Ia menambahkan Generali tengah menuju ke arah transformasi era digital. Seiring dengan misi perusahaan Generali terus tumbuh menjadi pilihan utama dalam pelayanan. “Tahun depan kami akan mengenalkan asuransi dalam layanan media sosial. Kami bekerja sama dengan OBI (salah satu produk HP) nanti tinggal touch saja Generali,” katanya. Ketakutan nasabah akan uang yang tidak kembali tidak akan terjadi karena Generali satu-satunya yang memiliki Auto Risk Management System (ARMS) yakni satu pengendali otomatis terhadap risiko dana yang diinvestasikan. –Wirati Astiti

terarah, suka membaca buku, suka berdiskusi, suka menulis. “Anak yang kemampuan verbalnya bagus cenderung tampilannya ceria,” ujar anggota Himpunan Psikologi (Himpsi) Bali yang lama berkiprah di Surabaya sebagai dosen psikologi Universitas Ciputra dan Universitas Surabaya (Ubaya) ini.

sebelum tidur cenderung menjadikan anak mendapat stimulus untuk rajib bertanya. Hal ini akan memberi kesempatan bagi anak untuk mengembangkan ideidenya. Bahkan anak mengarah ke anak yang kritis dalam bertanya, mengapa ini mengapa itu. Orangtua pun harus bisa memberi jawaban atau alasan ketika melarang anak melakukan sesuatu. Salah satu tes yang dipakai untuk mengukur kecerdasan verbal anak adalah dengan tes kemampuan verbal (TKV). Kini dengan makin canggihnya teknologi, guru-guru harus lebih kreatif dalam mengembangkan metode pembelajaran. Misalnya dengan permainan induktif berupa tebak benda. “Contohnya, guru ingin memiliki wortel. Siswa tidak langsung ditunjukkan wortel. Ada kata kunci yang diberikan, misalnya benda ini berwarna oranye, benda ini disukai kelinci, dan petunjuk lain yang nanti mengarah kepada wortel. Anak-anak akan lebih senang diajak belajar sembari bermain,” ujar perempuan kelahiran 2 November 1975 ini. Bagi anak yang lebih memilih bahasa tulis, permainan scrabble menjadi salah satu kegemarannya. Dengan membuat kombinasi huruf sehingga menjadi satu kata, kecerdasan verbal anak akan makin terasah. Jika anak menyukai pengetahuan umum, cenderung akan menyukai tekateki silang. “Anak-anak yang memiliki kecerdasan verbal di masa depannya bisa diarahkan untuk menjadi dubber, pengacara, marketing, novelis, wartawan. Jadi jangan abaikan anak yang banyak bertanya. Itu adalah modal kecerdasan verbalnya,” tegas lulusan S1 dan profesi Psikologi Ubaya dan S2 Pendidikan di Universitas Negeri Surabaya (Unesa) ini.

Griya

Leher dewa itu putus. Tubuhnya jatuh ke bumi, berubah menjadi ketungan. Namun kepala dan tenggorokan yang kena tirta amerta itu masih hidup dan menggelayut-gelayut di angkasa sampai sekarang. Walaupun Kala Rau gagal menghancurkan kayangan, namun dendam asmaranya belum padam. “Awas, Dewi Bulan!” ancamnya. “Sekali waktu aku akan melampiaskan keinginanku!” Bulan berganti bulan, tahun berganti tahun. Semua dewa dan penduduk bumi lupa akan peristiwa yang menegangkan itu. Tibalah pada suatu bulan purnama, Dewi Bulan hendak berjalan-jalan di angkasa. Dia ingin menikmati keindahan alam. Walaupun ia sudah cantik, namun ia bersolek juga, sehingga alam yang indah itu betambah indah dan cerah. Bintang-bintang yang mengiringinya semua memuji kecantikan dewi yang satu itu. Juga penduduk bumi beramai-ramai melantunkan lagu-lagu yang indah sambil menikmati siraman cahaya bulan. Tetapi kegembiraan itu tak berlangsung lama. Tiba-tiba langit berubah, makin lama makin buram, dan akhirnya gelap gulita. Dewi Bulan sama sekali tidak menyadari bahwa sejak lama ia dikuntit oleh Kala Rau. Dalam satu kesempatan yang tepat, raksasa itu menyergap kekasihnya, lalu menelannya. Itulah saat terjadinya gerhana bulan! Para dewa ribut dan kebingungan. Agar penyekapan raksasa Kala Rau itu segera berakhir, maka gadis-gadis Balidwipa memukul ketungan bekas tubuh Kala Rau. Laki-laki dan anak-anak memukul kulkul dan alat bunyi-bunyian lainnya. Syukurlah, atas kehendak Yang Kuasa, Dewi Bulan berhasil melepaskan diri melalui lubang tenggorokan Kala Rau. Para dewa dan penduduk bumi pun kembali bersukaria, menikmati cerahnya cahaya bulan.

Ardi

kayu cantik ini. Seperti pengakuan Andri yang menyebut konsumen lokal lebih banyak menggunakannya untuk dekorasi tertentu. Satu lonjor kayu liana ini meliki panjang 2,8 sampai 3 meter dengan diameter berkisar antara 4-6 cm. Pada sebuah sumber disebutkan, kayu liana adalah suatu habitus tumbuhan. Suatu tumbuhan dikatakan liana jika dalam pertumbuhannya memerlukan kaitan atau objek lain agar ia dapat bersaing mendapatkan cahaya matahari. Liana dapat pula dikatakan tumbuhan merambat, memanjat, atau menggantung. Berbeda dengan epifit yang mampu sepenuhnya tumbuh lepas dari tanah. Akar liana berada di tanah/memerlukan tanah sebagai sumber haranya. Bagi Anda yang kreatif, karakter kayu liana yang artistik dan unik ini bisa dipakai sebagai craft atau dekorasi lainnya. –Inten Indrawati

17


16

Edukasi

Edisi 869/ 5 - 11 oktober 2015

TUK Agung Gelar Uji Kompetensi Gratis Menghadapi MEA 2015, uji kompetensi sudah menjadi keharusan bagi setiap tenaga kerja, baik itu guru, dokter, hingga profesi perias. “Dalam uji kompetensi ini, kualitas keahlian dan keterampilan kita di bidang masing-masing akan diuji LSP atau LSK. Dengan mengantongi sertifikat uji kompetensi ini, tentunya tenaga kerja, khususnya profesi perias akan mendapat pengakuan atas kompetensi (kemampuan) nya oleh masyarakat luas, yang secara otomatis akan mendongkrak nilai jualnya,” ujar Anak Agung Ayu Ketut Agung, pemilik TUK Agung.

U

ntuk itu pula, Bu Agung-demikian sapaan karibnya, selalu mengimbau para perias maupun pemilik salon untuk mengikuti uji kompetensi. Bahkan Bu Agung melalui TUK (Tempat Uji Kompetensi) Agung, kerapkali memberikan uji kompetensi gratis. Ini tak lain karena komitmen tingginya untuk melestarikan budaya Bali lewat tata rias, dengan mempersiapkan dan mencetak perias-perias andal agar memiliki daya saing tinggi. “Jangan sampai kita (perias lokal) hanya menjadi penonton. Dan, jangan sampai kejadian pula peluang dalam tata rias Bali ini justru diambil orang asing,” tegasnya ketika ditemui usai merias peserta upacara potong gigi keluarga besar Ida I Dewa Surahardi, di Pejeng, Gianyar, pekan lalu. Istimewanya, Ketua LSK Sri Hartati-yang akrab disapa Bu Rita, juga berkesempatan hadir dalam upacara tersebut dan melihat praktik langsung tata rias pengantin Bali. “Saya

bangga terhadap Bali, ternyata tata rias ini (payas agung) tak hanya bisa untuk pengantin, tetapi bisa juga untuk upacara potong gigi. Da saya tak kalah bangganya juga kepada Bu Agung, karena di antara TUK di seluruh Indonesia, peserta uji kompetensi di TUK Agung selalu terbanyak dan membludak,” ucapnya kagum. Sejak 2009, TUK Agung menggelar uji kompetensi tiga kali dalam setahun. Uji kompetensi tata kecantikan kulit yang dilaksanakan pekan lalu merupakan angkatan ke21yang diikuti 62 peserta. Uji kompetensi berikutnya, yakni Tata Rias Pengantin B a l i d a n

Tata rias pengantin Bali modifikasi yang diujikan.

Modifikasi akan kembali digelar Minggu, 11 Oktober 2015, bertempat di Peninsula Island Nusa Dua Bali yang terkemas dalam ajang bergengsi Nusa Dua Fiesta 2015. “Hasilnya akan langsung diparadekan disana yang notabene akan disaksikan dunia internasional,” ucapnya. Karena itu, Bu Agung berharap bagi para pemilik salon dan perias yang belum mengantongi sertifikat uji kompetensi, untuk segera mendaftarkan diri di Sekretariat LKP/TUK Agung. “Dan uji kompetensi ini gratis,” imbuhnya. Bu Agung mengingatkan, untuk Tata Rias Pengantin Bali ini harus sesuai dengan pakemnya. Sementara Tata Rias Modifikasi, hanya boleh memodifikasi hingga 30%. Ketentuan yang sudah ditetapkan Katalia (Asosiasi Ahli Tata Rias Pengantin Modifikasi dan Mo­dern) ini tak lain untuk membatasi tata

Bagian depan Museum Bali

mereka berasal dari SD Cipta Dharma Denpasar, SD Santo Yoseph, SD 5 Sumerta, dan TK Alit Kirana. Sebelum masuk museum, para siswa ini mendapat pengarahan dari petugas museum. Salah satunya Adi Wibowo yang mendampingi siswa SD

Cipta Dharma. Ia menuturkan sejarah singkat museum yang berdiri sejak zaman Belanda ini. “Pada masa pemerintahan Belanda, banyak benda-benda seni yang dibawa keluar Bali. Residen Belanda yang bertugas tahun 1910 lalu mengusulkan pembuatan museum.

rias modifikasi jangan sampai kebabalsan, sehingga warna identitas lokal (Bali khususnya) masih tetap terjaga. Dan yang perlu diingat pula, fungsi dari kedua jenis tata rias ini sangat berbeda. Ini yang perlu dipahami betul oleh masyarakat Bali. Tata rias pengantin Bali (Payas Agung dan payas madya) diperuntukkan upacara (ritual agama), bukan untuk menyambut tamu. “Kalau tata rias modifikasi, baru boleh dipergunakan untuk menyambut tamu, MC, pemukul gong, dsb.,” ingat Bu Agung yang bangga dan terus mendukung Denpasar sebagai Kota Kompeten pertama di Indonesia. DISKON 50% KURSUS TATA RIAS Sebagai bentuk apresiasi yang besar terhadap pelestarian budaya Bali serta untuk lebih menyosialisasikan dan membangkitkan

Arsiteknya dari Jerman dan dibantu arsitek Bali. Akhirnya museum Bali selesai dibangun 8 Desember 1932,” jelasnya. Museum Bali memiliki empat gedung, Gedung Timur, Gedung Buleleng, Gedung Karangasem, dan Gedung Tabanan. Karena siswa yang masuk cukup banyak, mereka harus bergiliran. Selain melihat-lihat museum, para siswa juga sibuk mencatat. Ada yang sudah pernah berkunjung sebelumnya, ada juga yang baru pertama kali. Di Gedung Timur yang menjadi tempat penyimpanan benda pra sejarah, ada fosil manusia purba Gilimanuk, batu-batu, patung, dan guci. Di lantai II ada sarana persembahyangan, patung, alat pertanian, tombak, pistol, telepon, dan radio. “Ada bambu runcing yang menjadi alat untuk berperang. Telepon yang terbuat dari besi sebagai alat komunikasi. Ada radio yang juga terbuat dari besi sebagai media informasi,” ujar Ata, siswa kelas IIIC SD Cipta Dharma sembari memperlihatkan catatannya. Di Gedung Buleleng tersimpan berbagai mata uang serta sarana persembahyangan, termasuk koin bolong yang dipakai untuk banten. Di Gedung Karangasem tersimpan berbagai patung, lukisan seperti cili, hiasan, dan banten. Di gedung ini ada contoh

minat masyarakat dalam tata rias dan busana adat Bali, LKP Agung memberikan diskon 50% kursus regular. Materi yang diajarkan mencakup 3 paket yakni Tata Kecantikan Kulit, Tata Kecantikan Rambut, dan Tata Rias Pengantin (payas nista, payas madya, payas agung, modifikasi, dan tengkuluk lelunakan). Disediakan juga beasiswa kursus gratis bagi mereka yang kurang mampu dan putus sekolah, yang benar-benar berminat di bidang tata kecantikan. Syarat dan ketentuan berlaku. Silakan menghubungi Sekretariat LKP Agung, Jalan Anggrek No. 12 Kreneng, Denpasar. Telepon 0361 233850, 081 1393602 (Bu Agung), 087861424158 (Ayu), faks. 0361 247153. Cabang Tohpati, Jalan WR. Supratman No. 303 A, Tohpati, Denpasar. Email: lkp_agung@ yahoo.com. website: www.salonagung.com. –inten

daksina berbahan daun rotan, bunga, kelapa, kain, yang fungsinya sebagai persembahan kepada Tuhan. Di Gedung Tabanan tersimpan beraneka keris dan pedang serta barong.”Ada keris luk 17 dan keris luk 7,” imbuh Delon yang juga teman sekelas Ata seraya menggambarkan bentuk keris itu dengan tangannya. Setelah mengunjungi semua gedung, para siswa terlihat gembira. Mereka bisa melihat langsung benda-benda bersejarah dan belajar tentang apa manfaat benda tersebut. –Ngurah Budi

Meriam kecil yang menjadi pelengkap koleksi Museum Bali

Edisi 869/ 5 - 11 oktober 2015

9

Siwanataraja Gelorakan Tari Kebesaran Di Bali, belakangan ini, terasa ada gelora penciptaan seni tari di sejumlah perguruan tinggi hingga di sekolah-sekolah jenjang menengah. Karya cipta seni tari itu ditampilkan dalam ke­ sempatan-kesempatan penting seperti misalnya saat dies natalis dan wisuda atau ulang tahun sekolah. Sajian seni pertunjukan eksklusif itu disebut tari kebesaran.

Tata rias pengantin Bali tradisonal yang diujikan. Tampak Bu Agung (kiri) bersama Ny. I Gusti Gede Raka Wiratma, serta Ida I Dewa Gede Surahardi dan putranya

Belajar Sejarah di Museum Bali Selasa (29/9), pukul 07.30, jalan di sebelah Timur Lapangan Puputan Badung sudah ramai. Anak-anak berpakaian seragam sekolah didampingi orangtua dan guru. Mereka akan melakukan kunjungan ke Museum Bali. Dari pakaian yang dikenakan terlihat

Dara

M

elalui tari kebesaran masingmasing-- dilukiskan dalam estetika gerak dengan iringan gamelan--identitas atau visi dan misi universitas, institusi, sekolah bersangkutan. Misalnya, Universitas Udayana (Unud) punya tari kebesaran “Udayana”, Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha) bangga dengan tari kebesaran “Ganesha”, dan Universitas Saraswati memiliki tari kebesaran “Saraswati”. Gairah penciptaan dan pementasan tari-tari kebesaran itu membinarkan atsmosfer berkesenian yang menggembirakan. Seni tari sebagai ekspresi budaya, diapresiasi dan menunjukkan kemahadayaannya dalam konteks asumsi sebagai penciri, pencitra, dan pencerah, baik untuk kepentingan internal universitas atau sekolah pemiliknya maupun untuk permakluman kepada masyarakat luas. Hadirnya beragam cipta tari kebesaran tersebut, merupakan ruang berkesenian yang meletupkan denyut kreatif seniman Bali, khususnya para penata seni tari dan pencipta tabuh iringan tari.

Untuk menciptakan sebuah tari kebesaran memerlukan suatu rentetan proses kreatif, mulai dari rancangan konsep, tahap-tahap penggarapan, dan penampilan atau pementasan. Proses kreatif merancang konsep tari kebesaran “Saraswati” milik Universitas Saraswati misalnya, tentu harus disangga oleh pemahaman tentang figur Dewi Saraswati dari aspek mitologis, fiosofis, dan aspek relegikultural. Demikian pula pada proses kreatif tahap-tahap penggarapan, sang penggarap tari dan iringannya menjelajahi berbagai simbol gerak (koreografi) dan bunyi musik (komposisi), dalam tapsir estetik yang mampu mewakili isi atau pesan yang ingin dikomunikasikan. Komunikasi seni adalah dengan bahasa simbolik. Simbolisasi dalam bentuk tari kebesaran itu kini menjadi salah satu pemberi identitas perguruan tinggi-perguruan tinggi atau sekolah-sekolah di Bali. Tampaknya tak ada yang meng-

haruskan atau kewajiban perguruan tinggi atau sekolah di Bali memiliki tari kebesaran. Belum jelas pula, apakah dengan simbolisasi identitas atau visi-misi melalui media tari kebesaran itu akan atau telah mampu lebih memberikan spirit konstruktif kepada civitas akademika sebuah perguruan tinggi atau guruguru dan para siswa sekolah. Namun yang tampak, keberadaan tari-tari kebesaran itu, saat dipentaskan, mampu menciptakan semacam “kewibawaan” dan debur kebanggaan pemiliknya. Jika diteliksik, euforia merebaknya tari-tari kebesaran di Bali, tampak ada kaitannya dengan menguaknya tari kebesaran “Siwanataraja”. Mitologi Hindu menuturkan, Siwanataraja adalah manifestasi Dewa Siwa sebagai raja diraja kesenian. Geliat tubuh yang magis dan gerakan tangan kedua tangan Siwanataraja yang disebut mudra memancarkan energi aneka rupa wujud nan indah yang dianugrahkan kepada umat manusia. Pesona indahnya ciptaan Dewa Siwa itulah memercikkan kedamaian hati sanubari kehidupan manusia di bumi. Seni dalam beragam ekspresinya menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan religi-sosial-kultural masyarakat manusia. Umat Hindu lalu memuja Siwanataraja sebagai dewa kesenian yang maha asih. Figur Dewa Siwa sebagai dewa kesenian itu divisualisasikan menjadi tari kebesaran Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar pada tahun 1990. Sajian

tari kebesaran yang bertajuk “Siwanataraja” dalam setiap dies natalis dan wisuda kampus seni itu, yang mengundang berbagai kalangan, rupanya menggugah kampus-kampus lainnya di Bali untuk membuat tari kebesaran. Selain Unud, Undiksa, Universitas Saraswati yang telah disinggung di atas, sekolah-sekolah menengah juga tak ketinggalan membuat tari kebesarannya masing-masing, seperti SMK Negeri 3 Sukawati (dulu bernama Kokar) memiliki tari kebesaran “Semara Adi Guna”. Tari kebesaran “Siwanataraja” ISI Denpasar digarap oleh N. L. N. Swasthi Widjaja Bandem (koreografer) dan I Nyoman Windha (komposer). Cipta tari yang berdurasi sekitar 7 menit ini dibawakan oleh sembilan penari putri, seorang sebagai Dewa Siwa, dan delapan orang lainnya sebagai pancaran cahaya atau sinar suci. Struktur sajiannya terbagi tiga yaitu diawali dengan penampilan Dewa Siwa menari tunggal dalam laku koreografi yang simbolik magis, lalu memancar sinar dibawakan delapan penari dalam lenggang mengayun lembut berseling

beberapa variasi perubahan pola lantai, dan terakhir Dewa Siwa dengan sinar-sinarnya bersatu padu dalam tempo menanjak menuju ritme nan lincah, ditutup dengan konfigurasi seluruh penari di mana tokoh Siwanataraja menjadi pusat pujaan. Ditata dalam balutan kostum modivikasi yang memadukan warna biru dan kuning, tari kebesaran “Siwanataraja” terasa anggun dan agung. Perbendaharaan gerak tari Bali dalam ramuan stilisasi unsur-unsur tari Bharatanatyam India, menjadikan tari ini hadir dengan penampilan estetika yang apik lewat simbol laku tari serta tata karawitan yang imajinatif. Penampilan tari kebesaran “Siwanataraja” yang menawan secara bentuk dan mengesankan secara makna dan isi itulah yang diduga kuat, kini menginspirasi penciptaan tari-tari kebesaran di sejumlah perguruan tinggi dan sekolah-sekolah di Bali. Tampaknya di Bali, Siwanataraja sebagai dewa kesenian tak hanya hidup dalam psiko-mitologis namun nyata menganugrahkan sinarnya dalam realita berkesenian. -Kadek Suartaya


10

Mitos

Edisi 869/ 5 - 11 OKTOBER 2015

Bolehkah

Ibu Hamil Vegetarian?

Dr. Made Suyasa Jaya, Sp. OG (K)

V

egetarian adalah sebutan untuk mereka yang tidak mengonsumsi makanan yang bersunber dari hewani. Sehingga untuk memenuhi kecukupan gizinya, seorang vegetarian mendapatkannya dari sumber nabati. Apakah itu cukup? Khususnya untuk ibu hamil, bolehkan vegetarian? Dr. Made Suyasa Jaya, Sp. OG (K), menjelaskan dari bukti-bukti analisa dari penelitian, memang tidak dilarang ibu hamil vegetarian.

Dari beberapa laporan yang ada, kecukupan gizi ibu hamil vegetarian masih boleh dikompensansi dengan makanan tambahan non-daging. Dokter spesialis kandungan yang akrab disapa dr. Kadek ini menyebut ada 3 kebutuhan utama pada ibu hamil, yakni zat besi, asam folat, dan kalsium. “Namun, ada zat-zat lain yang juga harus dipenuhi, terutama B12 yang susah dicari pada sayursayuran(nabati). Ada, tetapi tidak banyak,” ungkapnya. Ia menegaskan, memang tak ada larangan ibu hamil vegetarian, dengan catatan ibu hamil harus paham betul makanan-makanan tambahan yang harus didapatkan selama kehamilan. “Karena jangan lupa ibu hamil itu sekarang makannya untuk dua orang. Jadi kecukupan gizi pada bayi itu harus benar-benar dijamin,” tegasnya. Sumber zat besi bisa didapatkan pada sumber sayuran, sumber kalsium ada pada buah-buahan, dan asam folat dari kacang-kacangan. “Intinya ibu hamil harus paham betul, makanan apa yang harus ditambahkan lagi untuk menjamin perkembangan janin dalam kandungan maksimal,” ingatnya lagi. Sebagai dokter kandungan, ia mengatakan dirinya harus menjamin bayi itu betul-betul terjamin. Bayi

Kirim surat Anda ke Redaksi T ­ okoh dan cantumkan “Sex Edu” di ­amplop. Bisa juga dikirim ke redaksi@tokoh.co.id. Rubrik ini diasuh Asosiasi ­Seksologi Indonesia (ASI) Denpasar.

dr.Oka Negara, FIAS

Anak Mulai Masturbasi

“Dok, anak saya yang masih sekolah kelas enam SD, tanpa sengaja sempat saya lihat mempermainkan kelaminnya sendiri di kamarnya, dan terlihat sekali dia kesenangan. Saat terkejut dan merasa belum siap menghadapi hal seperti. Apa yang harus saya lakukan, Dok?” (Dayu, 38 thn) Hal serupa ditanyakan juga oleh beberapa orang tua yang memiliki anak yang sudah memasuki masa remaja awal, atau sering disebut dengan istilah ABG (Anak Baru Gede). Jika memang para orangtua mengalami situasi yang serupa, sebaiknya memang tidak perlu khawatir, karena kejadian seperti ini masih tergolong wajar. Di usia ini, sesuai dengan perkembangan psikoseksualnya, si anak sudah berada pada awal fase genital, atau fase di

mana si anak merasakan sensasi seksual sudah berada di kelaminnya secara sadar, karena saat ini juga sudah mulai muncul dorongan seksual yang dibentuk karena faktor mulai bekerjanya hormon seksual. Fase ini juga dikenal dengan istilah pubertas, saat mana juga sering kali pada laki-laki ditandai dengan kejadian munculnya mimpi basah. Fase genital biasanya dimulai sekitar usia 12 atau 13 tahun, yang saat ini sesungguhnya seorang manusia mulai masuk ke tahapan

bukan objek, tapi bayi adalah subjek. Bayi juga pasien. Ketika pasien (ibu hamil) mendatangi dokter, ia tidak melihat ibu hamilnya saja, tetapi juga melihat bayainya. Artinya, bayi wajib mendapat curahan perhatian yang cukup, jangan ibunya saja. “Obsesi dan impian saya, ras manusia yang lahir berikutnya harus lebih baik kualitasnya dari yang sebelumnya. Berkualitas itu apa? Mulai dari makanan. Apalagi sekarang dari Kemenkes ada Gerakan 1000 hari petama. Jadi mulai dari 0 bulan dalam kandungan sampai dia lahiritu sangat mennetukan kualitas manusia berikutnya,” paparnya. Ibu harus paham benar apa asupan-asupan tambahan yang harus dipenuhi untuk menjamin perkembangan bayinya dengan optimal, karena ibu hamil vegetarian ini menjadi ibu yang khusus. Ibu hamil harus cukup gizi cukup nutrisi. “Jangan lupa minum vitamin yang sudah diresepkan dokter. Karena vitamin mutlak diperlukan , seberapa banyak pun makananyang sudah dikonsumsi. Vitamin ini untuk mencukupi kebutuhan-kebutuhan gizi yang kurang yang didapat dari makanan. Tolong diminum teratur sesuai dosisinya karena dosis tidak sembarangan, itu bergantung pada waktu kerja zat waktu kerja obat,” ungkapnya. Asam folat penting untuk mencegah kelainan susunan saraf pusat pada bayi. Sementara zat besi dari sayuran hijau, penting untuk mencegah anemia, sebagai salah satu produk untuk membentuk sel darah merah. Celakanya memang pada kehamilan secara normal/ fisiologis, tubuh ibu hamil menyerap cairan lebih banyak, volume cairan meningkat selama kehamilan, sehingga seolah-olah sel darah merah diencerkan, jadinya seperti anemia. Makanya pada kehamilan ada istilahnya anemia fisiologis, dan itu tidak

masalah. Tetapi di satu sisi, memang ada ibu hamil yang benar-benar anemia. Jika ini terjadi, sel darah merah yang berfungsi mengantarkan oksigen, nutrisi termasuk nutrisi ke ari-ari

kehidupan seksual sesungguhnya yang ditandai dengan adanya tanda-tanda pubertas, dan sensasi seksual sudah dinikmati di organorgan seksnya secara sadar. Salah satu bentuk sadar buat menikmati sensasi dan dorongan seksual yang muncul adalah dengan melakukan hal seperti yang disebutkan dalam pertanyaan, yang biasa disebut dengan masturbasi atau onani. Masturbasi itu sendiri adalah aktifitas menggosok-gosokkan kelamin sendiri untuk mendapatkan kepuasan seksual. Dahulu kala, saat berbicara tentang seksualitas menjadi sesuatu hal yang sangat ditabukan, membicarakan tentang masturbasi pada akhirnya juga sering kali dianggap negatif, malu dan cenderung tidak diakui. Tanpa harus menutup mata, sesungguhnya masturbasi sudah sangat umum dilakukan oleh anak muda. Baik pada laki-laki maupun perempuan. Laki-laki hampir keseluruhan pernah melakukannya, sedangkan pada perempuan masih dalam jumlah lebih sedikit dibanding laki-laki, misalnya dengan meraba kelamin, menggesekgesekkan kelamin dengan benda tertentu atau memasukkan benda tertentu ke dalam vagina mi­ salnya. Di zaman yang semakin terbuka, di mana saatnya semua itu bisa didiskusikan dengan ilmiah dan

masuk akal, membicarakan seks dengan cara yang lebih terbuka, asalkan dengan orang yang tepat, misalnya anak dengan orang tua, atau berbicara dengan dokter yang paham kesehatan seksual, seharusnya tidak lagi dipandang sebagai sebuah tabu. Karena aktivitas masturbasi sebenarnya bukanlah sebuah dosa dan berefek buruk, karena secara medis tidak ada akibat buruk yang ditimbulkannya selama tidak menggunakan alat bantu yang kotor dan dilakukan terlalu sering. Menggunakan alat bantu yang kotor, atau bisa juga jika tangan masih dalam keadaan kotor, dapat mengakibatkan infeksi, sementara jika dilakukan sering kali dan berlebihan, terutama di usia yang masih muda, akan berpotensi mengakibatkan ketergantungan. Lalu, bagaimana cara menjelaskan hal ini pada si remaja ABG? Apa yang dilakukan oleh Ibu yang menanyakan hal ini sudah benar, tinggal coba lebih tenang dan jangan panik berlebihan. Yang terjadi, secara biologis sebenarnya memang sudah memungkinkan dan tidak salah, tinggal bagaimana bisa berkomunikasi yang baik dengan anak, agar anak dan orangtua tetap bisa nyaman selama anak ada dalam masa barunya dengan berbagai macam perubahan,

selama kehamilan menjadi terhambat. Bayi yang sejak awal kekurangan gizi menjadikan perkembangannya terhambat, bahkan bisa sampai kegugurankarena perkembangannya tidak optimal. –Inten Indrawati

Workshop Fashion “Endek Kreatif” Demi meningkatkan kreativitas para pecinta fashion di Bali, Asosiasi Bordir, Endek dan Songket (ASBESTS) Kota Denpasar, bekerja sama dengan Bali Creative Industri Center ( BCIB) mengadakan acara workshop “Desain Fashion Endek Kreatif“. Acara yang menghadirkan Tjok Istri Ratna Cora, dosen ISI Denpasar, sebagai narasumber ini berlangsung di Gedung BCIC Tohpati. Kegiatan diikuti oleh anggota ASBEST Kota Denpasar dan mahasiswa ISI jurusan Fashion Desain. Hadir pula Pejabat Ketua Dekransda Kota Denpasar, Ny. AA Gede Geria serta pengamat fashion IA Selly D.Wijaya Mantra. Pada kesemptan tersebut dibahas mengenai endek sebagai produk unggulan dan betapa fashion bisa membentuk karakter seseorang maupun menunjukkan identitas bangsa. Selain itu juga dilakukan review produk fashion karya ASBEST dan diakhiri dengan penandatangan MOU antara ASBEST Denpasar dengan BCIC, yang dilakukan Ketua ASBEST Rhea Cempaka dan Dian Prijomustiko dari BCIC. “Bali Fashion Tendance 2016” Sementara itu, “Bali Fashion Tendance 2016” , acara tahunan milik APPMI (Asosiasi Perancang Pengusaha Mode Indonesia) Bali segera digelar. Untuk tahun ini pagelaran akan dilangsungkan di TS Suites Leisure, Seminyak, 9–11 Oktober 2015. Menurut Ketua Panitia Neli Gunawan, “Bali Fashion Tendance 2016” tahun ini yang mengusung tema “Runway to The Word” akan menghadirkan 38 orang desainer Indonesia, yang dalam penampilannya melibatkan 80 orang model. Ajang ini dihgarapkan semakin memajukan idustri fashion di Bali, bukan hanya menasional tapi juga mendunia. Dikatakannya pula bahwa pada “Bali Fashion Tendance 2016” , juga memiliki tujuan turut memupuk generasi muda pecinta fashion tanah air agar terus berkemban, dengan melaksankan kompetisi desain fashion dan modelling serta coaching clinic bidang fotografi. Selain itu juga dikembangkan Pop Up Market yang mengundang banyak label dari Bali maupun luar Bali. – Sri Ardhini

tumbuh dan berkembang sebagai remaja. Semuanya ini adalah tentang perubahan di masa pubertas. Baik sekali jika orangtua sanggup berdiskusi dan menyempatkan diri bertanya tentang hal ini, untuk kemudian menjadi pendengar yang baik tentang apa yang saat ini sedang dilalui si anak. Pastikan kemudian memberitahukan pada akhirnya dua hal tadi. Pertama, meminta anak agar tidak terpaku dan terlalu sering melakukan aktivitas masturbasi untuk kemudian mengelola waktu luang masa remaja yang ada dengan ingat pelajaran di sekolah, pekerjaan rumah dan ekstrakurikuler yang disenangi. Dukung selalu si anak untuk mengisi waktu luang dengan kegiatan hobi dan hal lain yang lebih bermanfaat, tentu saja yang disenangi agar tidak banyak waktu kosong terbuang percuma, yang kemudian malah memberinya kesempatan lebih banyak untuk berpikir dan berfantasi seksual yang kemudian mendorongnya melakukan masturbasi. Kedua, berikan informasi, jika masturbasi tetap dilakukan, hendaknya jangan menggunakan tangan dan alat yang kotor atau yang bisa mengakibatkan perlukaan. Semoga penjelasan ini bisa membantu. Terima kasih.

Style

Edisi 869/ 5 - 11 OKTOBER 2015

Simpel dan Chic

Tenun ikat dengan segala keindahan motifnya selalu memikat. Endek atau songket sebagai salah satu kekayaan budaya lokal ini pun semakin banyak dilirik dan digemari untuk memenuhi selera dunia fashion.

B

elum lama ini serangkaian dengan acara Lomba Desain Tenun di Kantor Perwakilan Bank Indonesia, Provinsi Bali, berlangsung fashion show busana kerja. Sederetan model pria dan wanita, terdiri dari karyawan perbankan yang ada di Bali, dengan penuh percaya diri melenggang mengenakan busana berbahan buatan lokal ini. Desain rok dan blus juga kemeja yang mengedepankan model simpel, praktis namun

tetap mengesankan serta elegan ini juga indah dipandang. Pilihan bahan tenun ikat dengan beragam warnanya ini pun berhasil memukau pengunjung. Tentu penampilan keseluruhan koleksi pakaian kerja karyawan perbankan yang sederhan namun chic ini adalah bentuk dukungan Kantor Bank Indonesia, Perwakilan Bali, agar eksplor dari produk tradisional yang sarat makna ini semakin dikenal dan terus berkembang bersamaan dengan pelestariannya. –Sri Ardhini

15


14

Jelita

Edisi 869/ 5 - 11 oktober 2015

Apakah Anda pernah ditebak usianya dengan menyebut angka jauh di bawah atau justru di atas usia sebenarnya? Kemudian yang bertanya menjadi kaget ketika tahu umur Anda sesungguhnya.

J

ika Anda terlihat memiliki wajah yang selalu terlihat muda, apakah itu karena faktor keberuntungan, perawatan atau cara berdandan yang tepat? Memang, tak dapat dipungkiri bahwa urusan make up atau riasan wajah juga cukup berperan dalam menjaga penampilan sesuai dengan usia. Semuanya menjadi lengkap dengan sikap dan cara membawa diri yang santun di berbagai kesempatan. Cantik itu tidak mesti mengenakan make up lengkap dengan rambut diblow atau pun disasak tinggi. Cantik yang pas itu, cantik dengan dandanan sesuai usia. Saat usia anak- anak, tampilah anak-anak. Begitu juga saat remaja dan selanjutnya dewasa. Demikian disampaikan Dewi Kader, mantan model yang sudah puluhan tahun menjadi make up artist ini. Dikatakannya, bagi siapa saja untuk bisa tampil dengan kesan lebih muda dan tidak lebih tua dari usia, bukan hanya berurusan dengan perawatan kecantikan wajah semata. Namun, terkait pula penampilan dari ujung rambut hingga ujung kaki. Selanjutnya untuk urusan busana, cukup menggunakan koleksi busana yang wajar dengan aksesori yang timeless. “Jika kita seorang ibu, tidak perlu memaksakan atau mencoba terlalu keras untuk terlihat seperti anak muda, Sebab jika dipaksakan justru malah menjadikan kita terlihat sebaliknya. Begitu juga dengan anak muda, misalnya kita lihat kulit wajah anak kita yangh masih SMP, usianya masih belasan, apalagi dia baru saja mengalami pubertas, ibaratnya masih harus adaptasi, tapi sudah memoleskan bedak padat, ini belum tentu pas dengan kulitnya yang masih remaja,” paparnya pemilik Dadari Salon & Rias Pengantin di Denpasar ini. Dewi mengatakan ketika usia belasan atau bagi perempuan usia remaja cukup memakai bedan tabur. Ketika memasuki usia dewasa yakni 20-an, make up pun disesuaikan dalam rangka apa dan dimana. “Menjadi muda tidak harus membohongi usia dengan make up berlebihan,” cetusnya. TRIK YANG BOLEH DAN TIDAK Dikatakan oleh Dewi Kader, pada

Pilih Tata Rias Sesuai Usia

usia 20 an tahun adalah saat yang pas bagi perempuan untuk mencoba berbagai gaya riasan. Mulai dari bermain warna, mengikuti tren terbaru hingga mencoba produk-produk terkini. Namun mesti diingat pula pada usia ini seseorang juga perlu mulai serius merawat kulit secara rutin supaya kecantikan kulitnya berlangsung lama hingga rentang usia berikutnya. Hal yang wajib dilakukan adalah menggunakan pelembab yang mengandung tabir surya. Pilihan ringan yang sesuai usia adalah BB cream yang bertekstur ringan dengan kandungan SPF minimal 15.Untuk riasan mata cobalah untuk memberanikan diri bermain dengan warna-warna yang cerah melalui goresan eye liner. Sedangkan untuk riasan bibir hindari kesan menor dengan memulaskan lipstik warna pastel atau pink. Pastikan lipstik pilihan kita memiliki kandungan pelembab yang cukup. Mengenai riasan wajah, setelah mengoleskan BB cream secara merata, bubuhkan bedak tabur sesuai warna kulit. Sebagai pemanis, pilih perona pipi segar dengan Selanjutnya pada usia 30an tahun, dimana permukaan kulit mulai kehilangan kelembabannya dan -garis halus pada area mata dan kerutan halus di sekitar garis senyum juga mulai terlihat. Untuk ini, bisa dilakukan teknik menyamarkan dengan riasan. Pastikan semua produk yang akan digunakan ditujukan untuk memperbaiki tekstur kulit dan memiliki kandungan pelembab seperti vitamin E. Pada riasan wajah dan pipi, gunakan alas bedak dengan tekstur liquid yang sekaligus dapat menjaga kelembaban kulit. Tambahkan sentuhan blush on warna peach untuk kesan cerah. Sedangkan, soal riasan bibir, agar terlihat elegan dan anggun, kamu dapat memilih lipstik dengan warna merah marun atau warna burgundy. Berikutnya riasan mata, kita dapat mengaplikasikan concealer satu tingkat lebih muda pada area kantung mata kemudian berikan bedak tabur yang sesuai dengan warna kulitmu. Berikan eye shadow berwarna coklat alami atau warna tosca untuk memberikan kesan yang dinamis. Bagi perempuan usia 40an tahun, lanjut Dewi mereka dapat memakai krim yang mengandung

Dewi Kader

liposome, anti-oksidan, vitamin A, C, dan E yang menag diperlukan pada usia 40an ini. Uuntuk riasan, pilihlah hydrating foundation jenis camouflage sebagai dasar riasan yang sekaligus berfungsi sebagai pelembab. Hindari tata rias wajah yang bernuansa gelap, pilihlah warna pastel agar memberikan kesan yang lebih segar. Pada mata, oleskan eye shadow dengan warna tembaga supaya sorot mata lebih tajam dan tidak sayu. Aplikasikan eye liner yang membentuk cat eye untuk membuat kelopak

mata yang kendor menjadi terlihat lebih baik. Selanjutnya , gunakan lipstik dengan warna fuchsia untuk memberikan kesan lebih muda. Jika ingin menghadiripesta, kita dapat mengoleskan warna merah dengan glitter untuk penampilan yang lebih glamour. Untuk pipi, dapat memilih compact powder yang dapat meratakan warna kulit wajah dengan maksimal. Dengan memulas pipi menggunakan warna rose pink yang dibaurkan dengan warna apricot, bisa menonjolkan

dan menyegarkan area pipi. Memang pada umumnya perempuan mengenakan make up salah satunya demi terlihat lebih muda. Namun, jika kita salah memakainya, mungkin saja wajah dapat terkesan lebih tua. Karenanya ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam berdandan. Tidak perleu berlebihan mengaplikasikan concealer dengan alasan menutupi kerutan dan kantung mata, sebab dapat mengakibatkan justru terlihat lebih tua. Kalaupun ingin mengaplikasikan concealer, campurkan terlebih dahulu dengan pelembab sehingga diperoleh hasil yang lebih natural. Atau dapat memilih concealer bertekstur cair dan teksturnya ringan agar lebih mudah dibaurkan dan mengisi permukaan garis-garis halus yang ada. Sedangkan untuk lipstik , untuk menjadikan tampilan lebih muda, pakailah lipstik dengan warna natural atau sheer color. Aplikasikan lipstik dengan aksen glossy. Bagi perempuan yang berkulit kering , Dewi juga tidak menyarankan untuk mengaplikasikan bedak namun cukup menggunakan foundation dan pelembab untuk membuat kulit terlihat kenyal. Jika memang diperlukan berikan sedikit bedak di area-area tertentu. jangan menutupi seluruh muka. kecuali jika kulit berminyak Namun diingatkan pula oleh Dewi, intinya kita semua hendaknya selalu bersyukur dengan apa yang kita miliki. Sebab, belum tentu gaya make up seseorang yang kita lihat langsung atau pun yang ada di majalah terlihat bagus, cocok dengan diri kita. “Kecantikan dari dalam tetap nomer satu berapapun usia kita,” katanya– Sri Ardhini

Bugar

Edisi 869/ 5 - 11 oktober 2015

11

CT Angiografi untuk Deteksi Aneurisma pada Otak Oleh: dr. I Made Wijaya, SpRad

Aneurisma adalah dilatasi atau pelebaran yang abnormal pembuluh darah arteri. Aneurisma otak adalah dilatasi abnormal pembuluh darah arteri otak dan dapat melibatkan disetiap cabang-cabangnya. Darah ke otak di­ suplai oleh empat pembuluh darah utama yang bergabung bersama di Lingkaran Wildr. I Made Wijaya, SpRad lis (Circle of Willis) di dasar otak. Pembuluh darah arteri cabang kecil meninggalkan lingkaran untuk memasok oksigen dan nutrisi ke sel-sel otak. Titik persimpangan pembuluh darah arteri dapat menjadi lemah , menyebabkan pelebaran pada dinding pembuluh darah yang dapat membentuk suatu kantung kecil atau disebut aneurisma.Sebuah aneurisma otak merupakan daerah yang menggembung pada din­ ding pembuluh darah arteri yang memasok otak.

Gambaranatomi normal pembuluhdaraharteriotakmanusia (Circle of Willis)

Aneurisma pada otak cukup sering terjadi , tetapi sebagian besar tidak menunjukkan gejala dan ditemukan secara kebetulan pada saat otopsi. Dalam kebanyakan kasus, aneurisma pada otak tidak menimbulkan gejala. Tetapi pada beberapa kasus , aneurisma dapat menyebabkan gejala berupa pendorongan daerah lain dari otak oleh aneurisma tersebut yang tergantung pada ukuran aneurisma dan daerah yang terlibat. Gejala-gejala ini dapat meliputi: - Sakit kepala - Sakit pada leher - Pengelihatan kabur - dan perubahan bicara Ketika aneurisma pada otak tersebut pecah, akan timbul pendarahan di dalam otak. Gejala aneu­risma

pada otak yang pecah (ruptur) ini datang tiba-tiba dan termasuk parah, sakit kepala mendadak yang hebat yang berbeda dari sakit kepala lainnya yang pernah dialami, seperti gejala stroke atau bahkan dapat menimbulkan kematian. Sakit kepala yang tiba-tiba dan kuat tersebut biasanya merupakan gejala utama pada pasien dengan perdarahan subarachnoid (SAH) yang di­ sebabkan oleh pecahnya aneurisma di dalam otak. Perdarahan subarachnoid adalah penyakit serius dengan kasus kematian sekitar 50%. Aneurisma adalah penyebab SAH di 85% kasus. Hal yang sa­ ngat perlu diperhatikan adalah timbulnya perdarahan kembali (re-bleeding), oleh karena itu, oklusi atau penyumbatan aneurisma yang pecah adalah merupakan tujuan pertamanya. Suatu kecurigaan secara klinis yang kuat adanya aneurisma dapat divalidasi dengan menggunakan beberapa studi diagnostik, termasuk computed tomography (CT) scan, pungsi lumbal, magnetic resonance imaging angiografi (MRA) dan CT angiografi (CTA) otak. CT biasanya merupakan tes diagnostik pertama yang dipergunakan, ketika ada kemungkinan suatu perdarahan subarachnoid (SAH). SAH yang letaknya terlokalisir, sangat mungkin dapat ditunjukkan lokasi dari pecahnya aneurisma tersebut oleh CT angiografi (CTA). CT angiografi adalah metode atau modalitas diagnostik yang minimal invasif. Metode ini menampilkan detail anatomi pembuluh darah lebih baik daripada magnetic resonance angiography (MRA). CT angiography (CTA) menggunakan CT scanner untuk menghasilkan gambar yang rinci, baik pembuluh darah dan jaringan di berbagai bagian tubuh. CT angiografi (CTA) adalah tesx-ray, ia akan memancarkan radiasi ke tubuh. Selama pemeriksaan, pasien akan berbaring di atas meja, yang melewati perangkat berbentuk se­ perti donat. Selama CT angiogram (CTA), sejumlah dosis bahan media kontras akan disuntikkan ke dalam tubuh melalui salah satu pembuluh darah vena pasien. Bahan media kontras yang mengalir melalui sistem peredaran darah akan memberikan gambaran pembuluh darah sangat jelas pada scan. Komputer kemudian akan menghasilkan gambar tiga dimensi (3D) pembuluh darah pasien dari gambar sinar-x tersebut. Dokter akan meminta pasien untuk menghindari makanan dan cairan untuk sekitar minimal 4 jam sebelum tes dilakukan. Tes darah perlu dilakukan untuk mengevaluasi fungsi ginjal pasien sebelum CT angiografi dilakukan. CT angiografi tidak akan dilakukan apabila: - Memiliki alergi terhadap bahan media kontras yang akan disuntikkan - Memiliki masalah pada ginjal - Memiliki penyakit diabetes yang berat

- Hamil, karena radiasi dapat membahayakan janin - Memiliki tanda-tanda vital yang tidak stabil

Pasien harus minum banyak cairan setelah mengikuti tes CT angiografi untuk mempercepat ekskresi atau pengeluaran agen media kontras tersebut dan untuk mencegah timbulnya dehidrasi atau kekurangan cairan tubuh.

Gambar unit Computed Tomography (CT) scan and CT Angiografi (CTA)

Gambar hasil pencitraan CTA pada pasien dengan aneurysma (tanda panah)

Contoh kasus seorang pasien 20 tahun dengan sakit kepala yang tiba-tiba. (A) CT scan menunjukkan perdarahan SAH yang luas yang disertai hidrosefalus. (B) CTA menunjukkan suatu aneurisma yang besar pada persimpangan pembuluh darah arteri vertebralis (panah). (C) 3D angiografi dengan bahan media kontras yang mengalami ekstravasasi dari aneurisma (panah).

Pengobatan untuk memperbaiki aneurisma mungkin melibatkan operasi untuk menempatkan klip atau penjepit pada dinding pembuluh darah yang lemah. Koil juga dapat digunakan untuk mengisi aneurisma tersebut sehingga dapat mencegah aneurisma tersebut pecah dan berdarah.


Kuliner

Edisi 869/ 5 - 11 OKTOBER 2015

12

Yummy Tum Ayam

Sensasi Warung Bloem

Resep Spesial Men Jenggo Anda ingin menikmati hidangan khas Bali dengan resep spesial Men Jenggo, cobalah datang ke Warung Bloem di Jalan Toyaning Kedonganan. Warung ini baru dibuka bertepatan dengan bulan Purnama, 28 September pekan lalu. Pemiliknya, Chef Henry Alexie Bloem, President Indonesian Chef Association (ICA). Lelaki keturunan Indo-Belanda ini awalnya, pernah juga membuka warung makan. Namun, karena kesibukannya bekerja di hotel, warungnya akhirnya tutup. Kini, ia mencoba konsep baru dengan menyajikan masakan autentik Indonesia. Uniknya, beberapa masakan khas Bali, merupakan masak­an dengan resep dari ibunya Men Jenggo.

Sisca Soewitomo

W

alaupun nama­ nya warung, bukan berarti ia mengabaikan kebersihan dan sanitasi dari bahan dan peralatan memasak. Kata wa­ rung ia gunakan untuk menjaring konsumen dari semua lapisan. Bahkan uniknya, harga makanan dibandrol mulai dari Rp 10 ribu. Ia

memiliki angan-angan mensejajarkan warung dengan resto. Bangun­ an dua lantai ini menampung 100 orang. Makanan spesial seperti nasi jembung dapat Anda nikmati. Ada babi kecap, sambal bongkot, gurita kesuna cekuh, bahkan pizza babi kecap sedang digagasnya. Grand opening Warung Bloem berbarengan dengan gathering

ICA Bali. Beberapa tamu spesial yang datang, di antaranya, Celebrity Chef Juna, dan pakar kuliner yang kerap menjadi presenter kuliner Sisca Soewitomo. Menurut Sisca Soewitomo, warung Bloem sangat menarik. “Tempat makan seperti ini sekarang lagi disukai. Tamu jadi lebih santai. Makanan yang disajikan juga

Bu Intan

S

Pemberian penghargaan kepada Chef Henry Alexie Bloem dari Ketua ICA Bali Chef Komang Adi Arsana, yang disajikan Sekjen ICA Chef Picha, dan celebrity Chef Juna

sangat tradisional seperti sayur gedebong pisang dan aneka sate yang ditampilkan dengan sentuhan hotel berbintang,” ujarnya. Ia menilai, warung ini tentu menjadi daya tarik tersendiri bagi banyak komunitas. Jangan lupa, harga yang dibandrol juga sangat

alah satu kuliner yang dapat kita jumpai di Bali adalah tum ayam. Sesuai namanya, bahan dasarnya menggunakan daging ayam. Masakan ini diproses dengan cara dikukus. Kata “tum” yang artinya dibungkus dengan sejenis daun, biasanya lazim menggunakan daun pisang sebagai pembungkus. Salah seorang penjual tum

ayam, adalah Bu Intan. Sehari-hari ia berjualan tipat cantok di Jalan Bukit Sari, Br. Batu Paras, Padangsambian Kaja, Denpasar Barat. Menurut Bu Intan, awalnya ia hanya membuat tum ayam sebagai lauk-pauk makanan keluarganya. Ia iseng menaruh beberapa bungkus di warungnya. “Ternyata, sambutan konsumen sangat bagus. Banyak yang beli tum,” katanya. Tiap hari, ia membuat 50 bungkus tum

Edisi 869/ 5 - 11 OKTOBER 2015

ayam dan sudah ludes beberapa jam saja. Tum ayam Bu Intan adalah makanan khas Gianyar, resep asli dari ibunya. Waktu kecil, ibunya berjualan nasi bungkus. Intan bocah biasa melihat-liat cara ibunya memasak. Lama-kelamaan, Bu Intan mahir membuat beberapa makanan yang biasa dijual ibunya. Kini, keterampilannya waktu kecil, bisa menjadi bekal hidupnya setelah menikah. Dengan membuka warung di depan rumahnya, ia berjualan makanan tradisional Bali seperti tipat cantok, plecing, rujak, kolak, dan tum ayam. Bu Intan tak bisa menerima pesanan tum dalam jumlah besar. Ia hanya melayani 50 bungkus tiap hari. “Saya jualan tum hanya sebagai lauknya tipat,” kata Bu Intan. Tum ayam buatan Bu Intan sangat spesial. Selain menggunakan bumbu basa genep, ada campuran telur ayam dan santan dalam tumnya. Menurut Bu Intan, dengan tambahan santan dan telur ayam membuat tum menjadi lembek, tidak padat, tapi kenyal. Anda penasaran, cobalah cicipi tum ayam Bu Intan. –Wirati Astiti

Tahu Campur nya

Sarwan Bahan: 2 buah : tahu, lumuri garam sedikit, goreng sampai matang 200 gr : mi kuning telur rebus, sisihkah 100 gr : daun selada 200 gr : tauge, siangi tangkai nya, seduh dengan air panas 4 sdm : bawang putih goreng Krupuk secukupnya

Asal Mula Nasi Jenggo Chef Henry Alexie Bloem tak pernah bercita-cita berkarier di dunia kuliner. Kehidupan remajanya diisi dengan kenakalannya bahkan selulus SMA, ia lebih suka nongkrong di Kuta. Dorongan sang ibu memaksanya melanjutkan sekolah di PPLP Dyana Pura. Kebetulan, sang ibu sudah memiliki usaha kuliner nasi bungkus berisikan daging babi guling yang biasa dijual ke para kuli di Pelabuhan Benoa sejak tahun 1970-an. Henry Alexie Bloem sejak kecil sangat menyukai film koboi dengan peran utamanya Si Jenggo. Lantaran sangat mengandrungi film Jenggo, ia pun dipanggil Si Jenggo. Ibunya pun dipanggil Men Jenggo, termasuk nasinya disebut nasi jenggo. De­ ngan berkembangnya zaman, nasi jenggo memiliki lauk-pauk yang bisa dikreasikan macam-macam.

Bahan prekedel singkong: 250 gr : singkong parut batang : daun bawang, cincang halus Minyak goreng

i kmat

Nasi jenggo

Henry Alexie Bloem bersama Men Jenggo

Nasi jenggo pun kini sudah menjadi makanan khas Kota Denpasar. Men Jenggo kini sudah tua. Usianya sudah mencapai 74 tahun. Namun, walaupun demikian, Men Jenggo tetap eksis di bidang kuliner. Saat ini, ia menyuplai bumbu jadi khas Bali ke salah satu hotel di Kuta. Tiap bulan ia mengirim 40 kg s.d. 80 kg bumbu jadi. Men Jenggo tidak bekerja sendiri. Ia dibantu beberapa anggota keluarganya untuk menyiapkan bumbu-bumbu tersebut. Tugas Men Jenggo hanya mengupas bawang atau rempah-rempah. Sementara, anggota keluarga lainnya yang ditugaskan mengiris bumbu dan menguleknya. Menurut Men Jenggo, untuk menjaga kesehatannya, selain minum obat, ia juga minum jamu campuran daun intaran dan kunyit putih. “Tiang kena sakit gula sudah lama,” tuturnya. –Wirati Astiti

Chinesse Food

Ni Hanya di...

& Aneka Es Taiwan

Cafe Santai

Beli 10 Mangkok Es

Gratis

1 Mangkok Nasi Lawar

riah Murah Meih & Bers

Coffee Ice Cream

Berlaku mulai 1 s.d. 31 Oktober 2015

Jln. Raya Sesetan No. 293 Denpasar. Tlp. (0361) 7440658, 7427678

Tum

Soto Mi

terjangkau sehingga siapa saja bisa masuk. “Saya suka penyajiannya, apalagi melihat peralatan yang digunakan. Piring-piring ini biasa dipakai waktu tempo dulu. Rasanya piring ini sudah langka. Tapi menjadi menarik karena sebagai alas sajian makanan,” kata Sisca. –Wirati Astiti

Beberapa makanan yang disajikan dalam gathering ICA

13

Bumbu Halus Perkedel: 3 siung : bawang putih ½ sdt : ketumbar 1 ruas : jari kunyit 3 buah : cabe merah kriting 2 buah : daun jeruk, buang tulangnya Garam, kaldu bubuk secukup-

Bahan Kuah: 500 gr : daging tetelan 1 liter : air 5 lemar : daun jeruk, ­­ buang tulangnya 3 batang : serai, memarkan 1 sdt : lada bubuk 2 blok : kaldu sapi Garam, gula, minyak secukupnya buat menumis Bumbu halus: 5 siung : bawang putih 1 sdm : ketumbar 2 ruas : jari kunyit 5 butir : kemiri sangrai Bahan Pelengkap Perporsi: ½ sdm : petis 2 buah : cabe rawit Cara membuat: - Rebus daging tetelan sampai empuk, saring dan ukur sisa kuah hingga 750 ml air kaldu. - Tumis bumbu halus, daun jeruk dan serai sampai

-

- - -

harum, tuang ke dalam rebusan daging, tambahkan kaldu sapi, garam, gula dan lada, masak sampai mendidih. Perkedel singkong; aduk rata bahan perkedel singkong dan bumbu halus perkedel. Bentuk oval atau pipih, goreng sampai matang. Letakkan petis dan cabe rawit di piring saji, tekan-tekan dengan sendok sampai halus. Tata bahan kecuali krupuk dan bawang putih goreng. Tuang kuah, lalu taburi dengan bawang putih goreng, siap

disajikan panas-panas.

Bahan: 750 gr : daging sapi yang bagus 200 gr : lidah sapi, buang tulangnya 4 lbr : daun salam 3 buah : batang serai, ambil daging putihnya 2 liter : air 4 blok : kaldu sapi 2 buah : bawang pre, potong 1cm Gula, garam dan minyak secukupnya Bumbu Halus: 12 buah : bawang merah 7 siung : bawang putih 2 sdt : lada 4 ruas : jari jahe 3 ruas : jari kunyit bakar 7 buah : cabe merah besar

Bahan pelengkap: 2 buah : kentang kukus, goreng bersama kulitnya, potong-potong 2 buah : tomat, potong dadu kecil 2 tangkai : seledri, cincang halus 300 gr : kol, potong kasar 150 gr : mi kuning rebus 150 gr : bihun seduh 10 buah : resoles bihun 4 buah : jeruk limau 5 sdm : kecap manis Cara Membuat: - Rebus lidah sapi dalam air men-

didih, angkat, kupas kulitnya. - Presto lidah sapi sampai empuk, angkat, sisihkan, iris kotak, sisihkan. - Rebus daging bersama air sampai empuk, angkat, potong-potong, lalu saring, sisakan air rebusan tingal 1.300 ml. - Air kaldu: Rebus lagi sampai mendidih, tambahkan daging dan lidah, tumis bumbu halus dan daun jeruk juga daun salam dan serai sampai harum. Masukkan ke dalam rebusan daging dan lidah, masukan kaldu blok, daging, gula dan garam. Masak sampai matang dan bumbu meresap, tambahkan daun bawang, aduk merata, siap disajikan bersama bahan pelengkap.


Kuliner

Edisi 869/ 5 - 11 OKTOBER 2015

12

Yummy Tum Ayam

Sensasi Warung Bloem

Resep Spesial Men Jenggo Anda ingin menikmati hidangan khas Bali dengan resep spesial Men Jenggo, cobalah datang ke Warung Bloem di Jalan Toyaning Kedonganan. Warung ini baru dibuka bertepatan dengan bulan Purnama, 28 September pekan lalu. Pemiliknya, Chef Henry Alexie Bloem, President Indonesian Chef Association (ICA). Lelaki keturunan Indo-Belanda ini awalnya, pernah juga membuka warung makan. Namun, karena kesibukannya bekerja di hotel, warungnya akhirnya tutup. Kini, ia mencoba konsep baru dengan menyajikan masakan autentik Indonesia. Uniknya, beberapa masakan khas Bali, merupakan masak­an dengan resep dari ibunya Men Jenggo.

Sisca Soewitomo

W

alaupun nama­ nya warung, bukan berarti ia mengabaikan kebersihan dan sanitasi dari bahan dan peralatan memasak. Kata wa­ rung ia gunakan untuk menjaring konsumen dari semua lapisan. Bahkan uniknya, harga makanan dibandrol mulai dari Rp 10 ribu. Ia

memiliki angan-angan mensejajarkan warung dengan resto. Bangun­ an dua lantai ini menampung 100 orang. Makanan spesial seperti nasi jembung dapat Anda nikmati. Ada babi kecap, sambal bongkot, gurita kesuna cekuh, bahkan pizza babi kecap sedang digagasnya. Grand opening Warung Bloem berbarengan dengan gathering

ICA Bali. Beberapa tamu spesial yang datang, di antaranya, Celebrity Chef Juna, dan pakar kuliner yang kerap menjadi presenter kuliner Sisca Soewitomo. Menurut Sisca Soewitomo, warung Bloem sangat menarik. “Tempat makan seperti ini sekarang lagi disukai. Tamu jadi lebih santai. Makanan yang disajikan juga

Bu Intan

S

Pemberian penghargaan kepada Chef Henry Alexie Bloem dari Ketua ICA Bali Chef Komang Adi Arsana, yang disajikan Sekjen ICA Chef Picha, dan celebrity Chef Juna

sangat tradisional seperti sayur gedebong pisang dan aneka sate yang ditampilkan dengan sentuhan hotel berbintang,” ujarnya. Ia menilai, warung ini tentu menjadi daya tarik tersendiri bagi banyak komunitas. Jangan lupa, harga yang dibandrol juga sangat

alah satu kuliner yang dapat kita jumpai di Bali adalah tum ayam. Sesuai namanya, bahan dasarnya menggunakan daging ayam. Masakan ini diproses dengan cara dikukus. Kata “tum” yang artinya dibungkus dengan sejenis daun, biasanya lazim menggunakan daun pisang sebagai pembungkus. Salah seorang penjual tum

ayam, adalah Bu Intan. Sehari-hari ia berjualan tipat cantok di Jalan Bukit Sari, Br. Batu Paras, Padangsambian Kaja, Denpasar Barat. Menurut Bu Intan, awalnya ia hanya membuat tum ayam sebagai lauk-pauk makanan keluarganya. Ia iseng menaruh beberapa bungkus di warungnya. “Ternyata, sambutan konsumen sangat bagus. Banyak yang beli tum,” katanya. Tiap hari, ia membuat 50 bungkus tum

Edisi 869/ 5 - 11 OKTOBER 2015

ayam dan sudah ludes beberapa jam saja. Tum ayam Bu Intan adalah makanan khas Gianyar, resep asli dari ibunya. Waktu kecil, ibunya berjualan nasi bungkus. Intan bocah biasa melihat-liat cara ibunya memasak. Lama-kelamaan, Bu Intan mahir membuat beberapa makanan yang biasa dijual ibunya. Kini, keterampilannya waktu kecil, bisa menjadi bekal hidupnya setelah menikah. Dengan membuka warung di depan rumahnya, ia berjualan makanan tradisional Bali seperti tipat cantok, plecing, rujak, kolak, dan tum ayam. Bu Intan tak bisa menerima pesanan tum dalam jumlah besar. Ia hanya melayani 50 bungkus tiap hari. “Saya jualan tum hanya sebagai lauknya tipat,” kata Bu Intan. Tum ayam buatan Bu Intan sangat spesial. Selain menggunakan bumbu basa genep, ada campuran telur ayam dan santan dalam tumnya. Menurut Bu Intan, dengan tambahan santan dan telur ayam membuat tum menjadi lembek, tidak padat, tapi kenyal. Anda penasaran, cobalah cicipi tum ayam Bu Intan. –Wirati Astiti

Tahu Campur nya

Sarwan Bahan: 2 buah : tahu, lumuri garam sedikit, goreng sampai matang 200 gr : mi kuning telur rebus, sisihkah 100 gr : daun selada 200 gr : tauge, siangi tangkai nya, seduh dengan air panas 4 sdm : bawang putih goreng Krupuk secukupnya

Asal Mula Nasi Jenggo Chef Henry Alexie Bloem tak pernah bercita-cita berkarier di dunia kuliner. Kehidupan remajanya diisi dengan kenakalannya bahkan selulus SMA, ia lebih suka nongkrong di Kuta. Dorongan sang ibu memaksanya melanjutkan sekolah di PPLP Dyana Pura. Kebetulan, sang ibu sudah memiliki usaha kuliner nasi bungkus berisikan daging babi guling yang biasa dijual ke para kuli di Pelabuhan Benoa sejak tahun 1970-an. Henry Alexie Bloem sejak kecil sangat menyukai film koboi dengan peran utamanya Si Jenggo. Lantaran sangat mengandrungi film Jenggo, ia pun dipanggil Si Jenggo. Ibunya pun dipanggil Men Jenggo, termasuk nasinya disebut nasi jenggo. De­ ngan berkembangnya zaman, nasi jenggo memiliki lauk-pauk yang bisa dikreasikan macam-macam.

Bahan prekedel singkong: 250 gr : singkong parut batang : daun bawang, cincang halus Minyak goreng

i kmat

Nasi jenggo

Henry Alexie Bloem bersama Men Jenggo

Nasi jenggo pun kini sudah menjadi makanan khas Kota Denpasar. Men Jenggo kini sudah tua. Usianya sudah mencapai 74 tahun. Namun, walaupun demikian, Men Jenggo tetap eksis di bidang kuliner. Saat ini, ia menyuplai bumbu jadi khas Bali ke salah satu hotel di Kuta. Tiap bulan ia mengirim 40 kg s.d. 80 kg bumbu jadi. Men Jenggo tidak bekerja sendiri. Ia dibantu beberapa anggota keluarganya untuk menyiapkan bumbu-bumbu tersebut. Tugas Men Jenggo hanya mengupas bawang atau rempah-rempah. Sementara, anggota keluarga lainnya yang ditugaskan mengiris bumbu dan menguleknya. Menurut Men Jenggo, untuk menjaga kesehatannya, selain minum obat, ia juga minum jamu campuran daun intaran dan kunyit putih. “Tiang kena sakit gula sudah lama,” tuturnya. –Wirati Astiti

Chinesse Food

Ni Hanya di...

& Aneka Es Taiwan

Cafe Santai

Beli 10 Mangkok Es

Gratis

1 Mangkok Nasi Lawar

riah Murah Meih & Bers

Coffee Ice Cream

Berlaku mulai 1 s.d. 31 Oktober 2015

Jln. Raya Sesetan No. 293 Denpasar. Tlp. (0361) 7440658, 7427678

Tum

Soto Mi

terjangkau sehingga siapa saja bisa masuk. “Saya suka penyajiannya, apalagi melihat peralatan yang digunakan. Piring-piring ini biasa dipakai waktu tempo dulu. Rasanya piring ini sudah langka. Tapi menjadi menarik karena sebagai alas sajian makanan,” kata Sisca. –Wirati Astiti

Beberapa makanan yang disajikan dalam gathering ICA

13

Bumbu Halus Perkedel: 3 siung : bawang putih ½ sdt : ketumbar 1 ruas : jari kunyit 3 buah : cabe merah kriting 2 buah : daun jeruk, buang tulangnya Garam, kaldu bubuk secukup-

Bahan Kuah: 500 gr : daging tetelan 1 liter : air 5 lemar : daun jeruk, ­­ buang tulangnya 3 batang : serai, memarkan 1 sdt : lada bubuk 2 blok : kaldu sapi Garam, gula, minyak secukupnya buat menumis Bumbu halus: 5 siung : bawang putih 1 sdm : ketumbar 2 ruas : jari kunyit 5 butir : kemiri sangrai Bahan Pelengkap Perporsi: ½ sdm : petis 2 buah : cabe rawit Cara membuat: - Rebus daging tetelan sampai empuk, saring dan ukur sisa kuah hingga 750 ml air kaldu. - Tumis bumbu halus, daun jeruk dan serai sampai

-

- - -

harum, tuang ke dalam rebusan daging, tambahkan kaldu sapi, garam, gula dan lada, masak sampai mendidih. Perkedel singkong; aduk rata bahan perkedel singkong dan bumbu halus perkedel. Bentuk oval atau pipih, goreng sampai matang. Letakkan petis dan cabe rawit di piring saji, tekan-tekan dengan sendok sampai halus. Tata bahan kecuali krupuk dan bawang putih goreng. Tuang kuah, lalu taburi dengan bawang putih goreng, siap

disajikan panas-panas.

Bahan: 750 gr : daging sapi yang bagus 200 gr : lidah sapi, buang tulangnya 4 lbr : daun salam 3 buah : batang serai, ambil daging putihnya 2 liter : air 4 blok : kaldu sapi 2 buah : bawang pre, potong 1cm Gula, garam dan minyak secukupnya Bumbu Halus: 12 buah : bawang merah 7 siung : bawang putih 2 sdt : lada 4 ruas : jari jahe 3 ruas : jari kunyit bakar 7 buah : cabe merah besar

Bahan pelengkap: 2 buah : kentang kukus, goreng bersama kulitnya, potong-potong 2 buah : tomat, potong dadu kecil 2 tangkai : seledri, cincang halus 300 gr : kol, potong kasar 150 gr : mi kuning rebus 150 gr : bihun seduh 10 buah : resoles bihun 4 buah : jeruk limau 5 sdm : kecap manis Cara Membuat: - Rebus lidah sapi dalam air men-

didih, angkat, kupas kulitnya. - Presto lidah sapi sampai empuk, angkat, sisihkan, iris kotak, sisihkan. - Rebus daging bersama air sampai empuk, angkat, potong-potong, lalu saring, sisakan air rebusan tingal 1.300 ml. - Air kaldu: Rebus lagi sampai mendidih, tambahkan daging dan lidah, tumis bumbu halus dan daun jeruk juga daun salam dan serai sampai harum. Masukkan ke dalam rebusan daging dan lidah, masukan kaldu blok, daging, gula dan garam. Masak sampai matang dan bumbu meresap, tambahkan daun bawang, aduk merata, siap disajikan bersama bahan pelengkap.


14

Jelita

Edisi 869/ 5 - 11 oktober 2015

Apakah Anda pernah ditebak usianya dengan menyebut angka jauh di bawah atau justru di atas usia sebenarnya? Kemudian yang bertanya menjadi kaget ketika tahu umur Anda sesungguhnya.

J

ika Anda terlihat memiliki wajah yang selalu terlihat muda, apakah itu karena faktor keberuntungan, perawatan atau cara berdandan yang tepat? Memang, tak dapat dipungkiri bahwa urusan make up atau riasan wajah juga cukup berperan dalam menjaga penampilan sesuai dengan usia. Semuanya menjadi lengkap dengan sikap dan cara membawa diri yang santun di berbagai kesempatan. Cantik itu tidak mesti mengenakan make up lengkap dengan rambut diblow atau pun disasak tinggi. Cantik yang pas itu, cantik dengan dandanan sesuai usia. Saat usia anak- anak, tampilah anak-anak. Begitu juga saat remaja dan selanjutnya dewasa. Demikian disampaikan Dewi Kader, mantan model yang sudah puluhan tahun menjadi make up artist ini. Dikatakannya, bagi siapa saja untuk bisa tampil dengan kesan lebih muda dan tidak lebih tua dari usia, bukan hanya berurusan dengan perawatan kecantikan wajah semata. Namun, terkait pula penampilan dari ujung rambut hingga ujung kaki. Selanjutnya untuk urusan busana, cukup menggunakan koleksi busana yang wajar dengan aksesori yang timeless. “Jika kita seorang ibu, tidak perlu memaksakan atau mencoba terlalu keras untuk terlihat seperti anak muda, Sebab jika dipaksakan justru malah menjadikan kita terlihat sebaliknya. Begitu juga dengan anak muda, misalnya kita lihat kulit wajah anak kita yangh masih SMP, usianya masih belasan, apalagi dia baru saja mengalami pubertas, ibaratnya masih harus adaptasi, tapi sudah memoleskan bedak padat, ini belum tentu pas dengan kulitnya yang masih remaja,” paparnya pemilik Dadari Salon & Rias Pengantin di Denpasar ini. Dewi mengatakan ketika usia belasan atau bagi perempuan usia remaja cukup memakai bedan tabur. Ketika memasuki usia dewasa yakni 20-an, make up pun disesuaikan dalam rangka apa dan dimana. “Menjadi muda tidak harus membohongi usia dengan make up berlebihan,” cetusnya. TRIK YANG BOLEH DAN TIDAK Dikatakan oleh Dewi Kader, pada

Pilih Tata Rias Sesuai Usia

usia 20 an tahun adalah saat yang pas bagi perempuan untuk mencoba berbagai gaya riasan. Mulai dari bermain warna, mengikuti tren terbaru hingga mencoba produk-produk terkini. Namun mesti diingat pula pada usia ini seseorang juga perlu mulai serius merawat kulit secara rutin supaya kecantikan kulitnya berlangsung lama hingga rentang usia berikutnya. Hal yang wajib dilakukan adalah menggunakan pelembab yang mengandung tabir surya. Pilihan ringan yang sesuai usia adalah BB cream yang bertekstur ringan dengan kandungan SPF minimal 15.Untuk riasan mata cobalah untuk memberanikan diri bermain dengan warna-warna yang cerah melalui goresan eye liner. Sedangkan untuk riasan bibir hindari kesan menor dengan memulaskan lipstik warna pastel atau pink. Pastikan lipstik pilihan kita memiliki kandungan pelembab yang cukup. Mengenai riasan wajah, setelah mengoleskan BB cream secara merata, bubuhkan bedak tabur sesuai warna kulit. Sebagai pemanis, pilih perona pipi segar dengan Selanjutnya pada usia 30an tahun, dimana permukaan kulit mulai kehilangan kelembabannya dan -garis halus pada area mata dan kerutan halus di sekitar garis senyum juga mulai terlihat. Untuk ini, bisa dilakukan teknik menyamarkan dengan riasan. Pastikan semua produk yang akan digunakan ditujukan untuk memperbaiki tekstur kulit dan memiliki kandungan pelembab seperti vitamin E. Pada riasan wajah dan pipi, gunakan alas bedak dengan tekstur liquid yang sekaligus dapat menjaga kelembaban kulit. Tambahkan sentuhan blush on warna peach untuk kesan cerah. Sedangkan, soal riasan bibir, agar terlihat elegan dan anggun, kamu dapat memilih lipstik dengan warna merah marun atau warna burgundy. Berikutnya riasan mata, kita dapat mengaplikasikan concealer satu tingkat lebih muda pada area kantung mata kemudian berikan bedak tabur yang sesuai dengan warna kulitmu. Berikan eye shadow berwarna coklat alami atau warna tosca untuk memberikan kesan yang dinamis. Bagi perempuan usia 40an tahun, lanjut Dewi mereka dapat memakai krim yang mengandung

Dewi Kader

liposome, anti-oksidan, vitamin A, C, dan E yang menag diperlukan pada usia 40an ini. Uuntuk riasan, pilihlah hydrating foundation jenis camouflage sebagai dasar riasan yang sekaligus berfungsi sebagai pelembab. Hindari tata rias wajah yang bernuansa gelap, pilihlah warna pastel agar memberikan kesan yang lebih segar. Pada mata, oleskan eye shadow dengan warna tembaga supaya sorot mata lebih tajam dan tidak sayu. Aplikasikan eye liner yang membentuk cat eye untuk membuat kelopak

mata yang kendor menjadi terlihat lebih baik. Selanjutnya , gunakan lipstik dengan warna fuchsia untuk memberikan kesan lebih muda. Jika ingin menghadiripesta, kita dapat mengoleskan warna merah dengan glitter untuk penampilan yang lebih glamour. Untuk pipi, dapat memilih compact powder yang dapat meratakan warna kulit wajah dengan maksimal. Dengan memulas pipi menggunakan warna rose pink yang dibaurkan dengan warna apricot, bisa menonjolkan

dan menyegarkan area pipi. Memang pada umumnya perempuan mengenakan make up salah satunya demi terlihat lebih muda. Namun, jika kita salah memakainya, mungkin saja wajah dapat terkesan lebih tua. Karenanya ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam berdandan. Tidak perleu berlebihan mengaplikasikan concealer dengan alasan menutupi kerutan dan kantung mata, sebab dapat mengakibatkan justru terlihat lebih tua. Kalaupun ingin mengaplikasikan concealer, campurkan terlebih dahulu dengan pelembab sehingga diperoleh hasil yang lebih natural. Atau dapat memilih concealer bertekstur cair dan teksturnya ringan agar lebih mudah dibaurkan dan mengisi permukaan garis-garis halus yang ada. Sedangkan untuk lipstik , untuk menjadikan tampilan lebih muda, pakailah lipstik dengan warna natural atau sheer color. Aplikasikan lipstik dengan aksen glossy. Bagi perempuan yang berkulit kering , Dewi juga tidak menyarankan untuk mengaplikasikan bedak namun cukup menggunakan foundation dan pelembab untuk membuat kulit terlihat kenyal. Jika memang diperlukan berikan sedikit bedak di area-area tertentu. jangan menutupi seluruh muka. kecuali jika kulit berminyak Namun diingatkan pula oleh Dewi, intinya kita semua hendaknya selalu bersyukur dengan apa yang kita miliki. Sebab, belum tentu gaya make up seseorang yang kita lihat langsung atau pun yang ada di majalah terlihat bagus, cocok dengan diri kita. “Kecantikan dari dalam tetap nomer satu berapapun usia kita,” katanya– Sri Ardhini

Bugar

Edisi 869/ 5 - 11 oktober 2015

11

CT Angiografi untuk Deteksi Aneurisma pada Otak Oleh: dr. I Made Wijaya, SpRad

Aneurisma adalah dilatasi atau pelebaran yang abnormal pembuluh darah arteri. Aneurisma otak adalah dilatasi abnormal pembuluh darah arteri otak dan dapat melibatkan disetiap cabang-cabangnya. Darah ke otak di­ suplai oleh empat pembuluh darah utama yang bergabung bersama di Lingkaran Wildr. I Made Wijaya, SpRad lis (Circle of Willis) di dasar otak. Pembuluh darah arteri cabang kecil meninggalkan lingkaran untuk memasok oksigen dan nutrisi ke sel-sel otak. Titik persimpangan pembuluh darah arteri dapat menjadi lemah , menyebabkan pelebaran pada dinding pembuluh darah yang dapat membentuk suatu kantung kecil atau disebut aneurisma.Sebuah aneurisma otak merupakan daerah yang menggembung pada din­ ding pembuluh darah arteri yang memasok otak.

Gambaranatomi normal pembuluhdaraharteriotakmanusia (Circle of Willis)

Aneurisma pada otak cukup sering terjadi , tetapi sebagian besar tidak menunjukkan gejala dan ditemukan secara kebetulan pada saat otopsi. Dalam kebanyakan kasus, aneurisma pada otak tidak menimbulkan gejala. Tetapi pada beberapa kasus , aneurisma dapat menyebabkan gejala berupa pendorongan daerah lain dari otak oleh aneurisma tersebut yang tergantung pada ukuran aneurisma dan daerah yang terlibat. Gejala-gejala ini dapat meliputi: - Sakit kepala - Sakit pada leher - Pengelihatan kabur - dan perubahan bicara Ketika aneurisma pada otak tersebut pecah, akan timbul pendarahan di dalam otak. Gejala aneu­risma

pada otak yang pecah (ruptur) ini datang tiba-tiba dan termasuk parah, sakit kepala mendadak yang hebat yang berbeda dari sakit kepala lainnya yang pernah dialami, seperti gejala stroke atau bahkan dapat menimbulkan kematian. Sakit kepala yang tiba-tiba dan kuat tersebut biasanya merupakan gejala utama pada pasien dengan perdarahan subarachnoid (SAH) yang di­ sebabkan oleh pecahnya aneurisma di dalam otak. Perdarahan subarachnoid adalah penyakit serius dengan kasus kematian sekitar 50%. Aneurisma adalah penyebab SAH di 85% kasus. Hal yang sa­ ngat perlu diperhatikan adalah timbulnya perdarahan kembali (re-bleeding), oleh karena itu, oklusi atau penyumbatan aneurisma yang pecah adalah merupakan tujuan pertamanya. Suatu kecurigaan secara klinis yang kuat adanya aneurisma dapat divalidasi dengan menggunakan beberapa studi diagnostik, termasuk computed tomography (CT) scan, pungsi lumbal, magnetic resonance imaging angiografi (MRA) dan CT angiografi (CTA) otak. CT biasanya merupakan tes diagnostik pertama yang dipergunakan, ketika ada kemungkinan suatu perdarahan subarachnoid (SAH). SAH yang letaknya terlokalisir, sangat mungkin dapat ditunjukkan lokasi dari pecahnya aneurisma tersebut oleh CT angiografi (CTA). CT angiografi adalah metode atau modalitas diagnostik yang minimal invasif. Metode ini menampilkan detail anatomi pembuluh darah lebih baik daripada magnetic resonance angiography (MRA). CT angiography (CTA) menggunakan CT scanner untuk menghasilkan gambar yang rinci, baik pembuluh darah dan jaringan di berbagai bagian tubuh. CT angiografi (CTA) adalah tesx-ray, ia akan memancarkan radiasi ke tubuh. Selama pemeriksaan, pasien akan berbaring di atas meja, yang melewati perangkat berbentuk se­ perti donat. Selama CT angiogram (CTA), sejumlah dosis bahan media kontras akan disuntikkan ke dalam tubuh melalui salah satu pembuluh darah vena pasien. Bahan media kontras yang mengalir melalui sistem peredaran darah akan memberikan gambaran pembuluh darah sangat jelas pada scan. Komputer kemudian akan menghasilkan gambar tiga dimensi (3D) pembuluh darah pasien dari gambar sinar-x tersebut. Dokter akan meminta pasien untuk menghindari makanan dan cairan untuk sekitar minimal 4 jam sebelum tes dilakukan. Tes darah perlu dilakukan untuk mengevaluasi fungsi ginjal pasien sebelum CT angiografi dilakukan. CT angiografi tidak akan dilakukan apabila: - Memiliki alergi terhadap bahan media kontras yang akan disuntikkan - Memiliki masalah pada ginjal - Memiliki penyakit diabetes yang berat

- Hamil, karena radiasi dapat membahayakan janin - Memiliki tanda-tanda vital yang tidak stabil

Pasien harus minum banyak cairan setelah mengikuti tes CT angiografi untuk mempercepat ekskresi atau pengeluaran agen media kontras tersebut dan untuk mencegah timbulnya dehidrasi atau kekurangan cairan tubuh.

Gambar unit Computed Tomography (CT) scan and CT Angiografi (CTA)

Gambar hasil pencitraan CTA pada pasien dengan aneurysma (tanda panah)

Contoh kasus seorang pasien 20 tahun dengan sakit kepala yang tiba-tiba. (A) CT scan menunjukkan perdarahan SAH yang luas yang disertai hidrosefalus. (B) CTA menunjukkan suatu aneurisma yang besar pada persimpangan pembuluh darah arteri vertebralis (panah). (C) 3D angiografi dengan bahan media kontras yang mengalami ekstravasasi dari aneurisma (panah).

Pengobatan untuk memperbaiki aneurisma mungkin melibatkan operasi untuk menempatkan klip atau penjepit pada dinding pembuluh darah yang lemah. Koil juga dapat digunakan untuk mengisi aneurisma tersebut sehingga dapat mencegah aneurisma tersebut pecah dan berdarah.


10

Mitos

Edisi 869/ 5 - 11 OKTOBER 2015

Bolehkah

Ibu Hamil Vegetarian?

Dr. Made Suyasa Jaya, Sp. OG (K)

V

egetarian adalah sebutan untuk mereka yang tidak mengonsumsi makanan yang bersunber dari hewani. Sehingga untuk memenuhi kecukupan gizinya, seorang vegetarian mendapatkannya dari sumber nabati. Apakah itu cukup? Khususnya untuk ibu hamil, bolehkan vegetarian? Dr. Made Suyasa Jaya, Sp. OG (K), menjelaskan dari bukti-bukti analisa dari penelitian, memang tidak dilarang ibu hamil vegetarian.

Dari beberapa laporan yang ada, kecukupan gizi ibu hamil vegetarian masih boleh dikompensansi dengan makanan tambahan non-daging. Dokter spesialis kandungan yang akrab disapa dr. Kadek ini menyebut ada 3 kebutuhan utama pada ibu hamil, yakni zat besi, asam folat, dan kalsium. “Namun, ada zat-zat lain yang juga harus dipenuhi, terutama B12 yang susah dicari pada sayursayuran(nabati). Ada, tetapi tidak banyak,” ungkapnya. Ia menegaskan, memang tak ada larangan ibu hamil vegetarian, dengan catatan ibu hamil harus paham betul makanan-makanan tambahan yang harus didapatkan selama kehamilan. “Karena jangan lupa ibu hamil itu sekarang makannya untuk dua orang. Jadi kecukupan gizi pada bayi itu harus benar-benar dijamin,” tegasnya. Sumber zat besi bisa didapatkan pada sumber sayuran, sumber kalsium ada pada buah-buahan, dan asam folat dari kacang-kacangan. “Intinya ibu hamil harus paham betul, makanan apa yang harus ditambahkan lagi untuk menjamin perkembangan janin dalam kandungan maksimal,” ingatnya lagi. Sebagai dokter kandungan, ia mengatakan dirinya harus menjamin bayi itu betul-betul terjamin. Bayi

Kirim surat Anda ke Redaksi T ­ okoh dan cantumkan “Sex Edu” di ­amplop. Bisa juga dikirim ke redaksi@tokoh.co.id. Rubrik ini diasuh Asosiasi ­Seksologi Indonesia (ASI) Denpasar.

dr.Oka Negara, FIAS

Anak Mulai Masturbasi

“Dok, anak saya yang masih sekolah kelas enam SD, tanpa sengaja sempat saya lihat mempermainkan kelaminnya sendiri di kamarnya, dan terlihat sekali dia kesenangan. Saat terkejut dan merasa belum siap menghadapi hal seperti. Apa yang harus saya lakukan, Dok?” (Dayu, 38 thn) Hal serupa ditanyakan juga oleh beberapa orang tua yang memiliki anak yang sudah memasuki masa remaja awal, atau sering disebut dengan istilah ABG (Anak Baru Gede). Jika memang para orangtua mengalami situasi yang serupa, sebaiknya memang tidak perlu khawatir, karena kejadian seperti ini masih tergolong wajar. Di usia ini, sesuai dengan perkembangan psikoseksualnya, si anak sudah berada pada awal fase genital, atau fase di

mana si anak merasakan sensasi seksual sudah berada di kelaminnya secara sadar, karena saat ini juga sudah mulai muncul dorongan seksual yang dibentuk karena faktor mulai bekerjanya hormon seksual. Fase ini juga dikenal dengan istilah pubertas, saat mana juga sering kali pada laki-laki ditandai dengan kejadian munculnya mimpi basah. Fase genital biasanya dimulai sekitar usia 12 atau 13 tahun, yang saat ini sesungguhnya seorang manusia mulai masuk ke tahapan

bukan objek, tapi bayi adalah subjek. Bayi juga pasien. Ketika pasien (ibu hamil) mendatangi dokter, ia tidak melihat ibu hamilnya saja, tetapi juga melihat bayainya. Artinya, bayi wajib mendapat curahan perhatian yang cukup, jangan ibunya saja. “Obsesi dan impian saya, ras manusia yang lahir berikutnya harus lebih baik kualitasnya dari yang sebelumnya. Berkualitas itu apa? Mulai dari makanan. Apalagi sekarang dari Kemenkes ada Gerakan 1000 hari petama. Jadi mulai dari 0 bulan dalam kandungan sampai dia lahiritu sangat mennetukan kualitas manusia berikutnya,” paparnya. Ibu harus paham benar apa asupan-asupan tambahan yang harus dipenuhi untuk menjamin perkembangan bayinya dengan optimal, karena ibu hamil vegetarian ini menjadi ibu yang khusus. Ibu hamil harus cukup gizi cukup nutrisi. “Jangan lupa minum vitamin yang sudah diresepkan dokter. Karena vitamin mutlak diperlukan , seberapa banyak pun makananyang sudah dikonsumsi. Vitamin ini untuk mencukupi kebutuhan-kebutuhan gizi yang kurang yang didapat dari makanan. Tolong diminum teratur sesuai dosisinya karena dosis tidak sembarangan, itu bergantung pada waktu kerja zat waktu kerja obat,” ungkapnya. Asam folat penting untuk mencegah kelainan susunan saraf pusat pada bayi. Sementara zat besi dari sayuran hijau, penting untuk mencegah anemia, sebagai salah satu produk untuk membentuk sel darah merah. Celakanya memang pada kehamilan secara normal/ fisiologis, tubuh ibu hamil menyerap cairan lebih banyak, volume cairan meningkat selama kehamilan, sehingga seolah-olah sel darah merah diencerkan, jadinya seperti anemia. Makanya pada kehamilan ada istilahnya anemia fisiologis, dan itu tidak

masalah. Tetapi di satu sisi, memang ada ibu hamil yang benar-benar anemia. Jika ini terjadi, sel darah merah yang berfungsi mengantarkan oksigen, nutrisi termasuk nutrisi ke ari-ari

kehidupan seksual sesungguhnya yang ditandai dengan adanya tanda-tanda pubertas, dan sensasi seksual sudah dinikmati di organorgan seksnya secara sadar. Salah satu bentuk sadar buat menikmati sensasi dan dorongan seksual yang muncul adalah dengan melakukan hal seperti yang disebutkan dalam pertanyaan, yang biasa disebut dengan masturbasi atau onani. Masturbasi itu sendiri adalah aktifitas menggosok-gosokkan kelamin sendiri untuk mendapatkan kepuasan seksual. Dahulu kala, saat berbicara tentang seksualitas menjadi sesuatu hal yang sangat ditabukan, membicarakan tentang masturbasi pada akhirnya juga sering kali dianggap negatif, malu dan cenderung tidak diakui. Tanpa harus menutup mata, sesungguhnya masturbasi sudah sangat umum dilakukan oleh anak muda. Baik pada laki-laki maupun perempuan. Laki-laki hampir keseluruhan pernah melakukannya, sedangkan pada perempuan masih dalam jumlah lebih sedikit dibanding laki-laki, misalnya dengan meraba kelamin, menggesekgesekkan kelamin dengan benda tertentu atau memasukkan benda tertentu ke dalam vagina mi­ salnya. Di zaman yang semakin terbuka, di mana saatnya semua itu bisa didiskusikan dengan ilmiah dan

masuk akal, membicarakan seks dengan cara yang lebih terbuka, asalkan dengan orang yang tepat, misalnya anak dengan orang tua, atau berbicara dengan dokter yang paham kesehatan seksual, seharusnya tidak lagi dipandang sebagai sebuah tabu. Karena aktivitas masturbasi sebenarnya bukanlah sebuah dosa dan berefek buruk, karena secara medis tidak ada akibat buruk yang ditimbulkannya selama tidak menggunakan alat bantu yang kotor dan dilakukan terlalu sering. Menggunakan alat bantu yang kotor, atau bisa juga jika tangan masih dalam keadaan kotor, dapat mengakibatkan infeksi, sementara jika dilakukan sering kali dan berlebihan, terutama di usia yang masih muda, akan berpotensi mengakibatkan ketergantungan. Lalu, bagaimana cara menjelaskan hal ini pada si remaja ABG? Apa yang dilakukan oleh Ibu yang menanyakan hal ini sudah benar, tinggal coba lebih tenang dan jangan panik berlebihan. Yang terjadi, secara biologis sebenarnya memang sudah memungkinkan dan tidak salah, tinggal bagaimana bisa berkomunikasi yang baik dengan anak, agar anak dan orangtua tetap bisa nyaman selama anak ada dalam masa barunya dengan berbagai macam perubahan,

selama kehamilan menjadi terhambat. Bayi yang sejak awal kekurangan gizi menjadikan perkembangannya terhambat, bahkan bisa sampai kegugurankarena perkembangannya tidak optimal. –Inten Indrawati

Workshop Fashion “Endek Kreatif” Demi meningkatkan kreativitas para pecinta fashion di Bali, Asosiasi Bordir, Endek dan Songket (ASBESTS) Kota Denpasar, bekerja sama dengan Bali Creative Industri Center ( BCIB) mengadakan acara workshop “Desain Fashion Endek Kreatif“. Acara yang menghadirkan Tjok Istri Ratna Cora, dosen ISI Denpasar, sebagai narasumber ini berlangsung di Gedung BCIC Tohpati. Kegiatan diikuti oleh anggota ASBEST Kota Denpasar dan mahasiswa ISI jurusan Fashion Desain. Hadir pula Pejabat Ketua Dekransda Kota Denpasar, Ny. AA Gede Geria serta pengamat fashion IA Selly D.Wijaya Mantra. Pada kesemptan tersebut dibahas mengenai endek sebagai produk unggulan dan betapa fashion bisa membentuk karakter seseorang maupun menunjukkan identitas bangsa. Selain itu juga dilakukan review produk fashion karya ASBEST dan diakhiri dengan penandatangan MOU antara ASBEST Denpasar dengan BCIC, yang dilakukan Ketua ASBEST Rhea Cempaka dan Dian Prijomustiko dari BCIC. “Bali Fashion Tendance 2016” Sementara itu, “Bali Fashion Tendance 2016” , acara tahunan milik APPMI (Asosiasi Perancang Pengusaha Mode Indonesia) Bali segera digelar. Untuk tahun ini pagelaran akan dilangsungkan di TS Suites Leisure, Seminyak, 9–11 Oktober 2015. Menurut Ketua Panitia Neli Gunawan, “Bali Fashion Tendance 2016” tahun ini yang mengusung tema “Runway to The Word” akan menghadirkan 38 orang desainer Indonesia, yang dalam penampilannya melibatkan 80 orang model. Ajang ini dihgarapkan semakin memajukan idustri fashion di Bali, bukan hanya menasional tapi juga mendunia. Dikatakannya pula bahwa pada “Bali Fashion Tendance 2016” , juga memiliki tujuan turut memupuk generasi muda pecinta fashion tanah air agar terus berkemban, dengan melaksankan kompetisi desain fashion dan modelling serta coaching clinic bidang fotografi. Selain itu juga dikembangkan Pop Up Market yang mengundang banyak label dari Bali maupun luar Bali. – Sri Ardhini

tumbuh dan berkembang sebagai remaja. Semuanya ini adalah tentang perubahan di masa pubertas. Baik sekali jika orangtua sanggup berdiskusi dan menyempatkan diri bertanya tentang hal ini, untuk kemudian menjadi pendengar yang baik tentang apa yang saat ini sedang dilalui si anak. Pastikan kemudian memberitahukan pada akhirnya dua hal tadi. Pertama, meminta anak agar tidak terpaku dan terlalu sering melakukan aktivitas masturbasi untuk kemudian mengelola waktu luang masa remaja yang ada dengan ingat pelajaran di sekolah, pekerjaan rumah dan ekstrakurikuler yang disenangi. Dukung selalu si anak untuk mengisi waktu luang dengan kegiatan hobi dan hal lain yang lebih bermanfaat, tentu saja yang disenangi agar tidak banyak waktu kosong terbuang percuma, yang kemudian malah memberinya kesempatan lebih banyak untuk berpikir dan berfantasi seksual yang kemudian mendorongnya melakukan masturbasi. Kedua, berikan informasi, jika masturbasi tetap dilakukan, hendaknya jangan menggunakan tangan dan alat yang kotor atau yang bisa mengakibatkan perlukaan. Semoga penjelasan ini bisa membantu. Terima kasih.

Style

Edisi 869/ 5 - 11 OKTOBER 2015

Simpel dan Chic

Tenun ikat dengan segala keindahan motifnya selalu memikat. Endek atau songket sebagai salah satu kekayaan budaya lokal ini pun semakin banyak dilirik dan digemari untuk memenuhi selera dunia fashion.

B

elum lama ini serangkaian dengan acara Lomba Desain Tenun di Kantor Perwakilan Bank Indonesia, Provinsi Bali, berlangsung fashion show busana kerja. Sederetan model pria dan wanita, terdiri dari karyawan perbankan yang ada di Bali, dengan penuh percaya diri melenggang mengenakan busana berbahan buatan lokal ini. Desain rok dan blus juga kemeja yang mengedepankan model simpel, praktis namun

tetap mengesankan serta elegan ini juga indah dipandang. Pilihan bahan tenun ikat dengan beragam warnanya ini pun berhasil memukau pengunjung. Tentu penampilan keseluruhan koleksi pakaian kerja karyawan perbankan yang sederhan namun chic ini adalah bentuk dukungan Kantor Bank Indonesia, Perwakilan Bali, agar eksplor dari produk tradisional yang sarat makna ini semakin dikenal dan terus berkembang bersamaan dengan pelestariannya. –Sri Ardhini

15


16

Edukasi

Edisi 869/ 5 - 11 oktober 2015

TUK Agung Gelar Uji Kompetensi Gratis Menghadapi MEA 2015, uji kompetensi sudah menjadi keharusan bagi setiap tenaga kerja, baik itu guru, dokter, hingga profesi perias. “Dalam uji kompetensi ini, kualitas keahlian dan keterampilan kita di bidang masing-masing akan diuji LSP atau LSK. Dengan mengantongi sertifikat uji kompetensi ini, tentunya tenaga kerja, khususnya profesi perias akan mendapat pengakuan atas kompetensi (kemampuan) nya oleh masyarakat luas, yang secara otomatis akan mendongkrak nilai jualnya,” ujar Anak Agung Ayu Ketut Agung, pemilik TUK Agung.

U

ntuk itu pula, Bu Agung-demikian sapaan karibnya, selalu mengimbau para perias maupun pemilik salon untuk mengikuti uji kompetensi. Bahkan Bu Agung melalui TUK (Tempat Uji Kompetensi) Agung, kerapkali memberikan uji kompetensi gratis. Ini tak lain karena komitmen tingginya untuk melestarikan budaya Bali lewat tata rias, dengan mempersiapkan dan mencetak perias-perias andal agar memiliki daya saing tinggi. “Jangan sampai kita (perias lokal) hanya menjadi penonton. Dan, jangan sampai kejadian pula peluang dalam tata rias Bali ini justru diambil orang asing,” tegasnya ketika ditemui usai merias peserta upacara potong gigi keluarga besar Ida I Dewa Surahardi, di Pejeng, Gianyar, pekan lalu. Istimewanya, Ketua LSK Sri Hartati-yang akrab disapa Bu Rita, juga berkesempatan hadir dalam upacara tersebut dan melihat praktik langsung tata rias pengantin Bali. “Saya

bangga terhadap Bali, ternyata tata rias ini (payas agung) tak hanya bisa untuk pengantin, tetapi bisa juga untuk upacara potong gigi. Da saya tak kalah bangganya juga kepada Bu Agung, karena di antara TUK di seluruh Indonesia, peserta uji kompetensi di TUK Agung selalu terbanyak dan membludak,” ucapnya kagum. Sejak 2009, TUK Agung menggelar uji kompetensi tiga kali dalam setahun. Uji kompetensi tata kecantikan kulit yang dilaksanakan pekan lalu merupakan angkatan ke21yang diikuti 62 peserta. Uji kompetensi berikutnya, yakni Tata Rias Pengantin B a l i d a n

Tata rias pengantin Bali modifikasi yang diujikan.

Modifikasi akan kembali digelar Minggu, 11 Oktober 2015, bertempat di Peninsula Island Nusa Dua Bali yang terkemas dalam ajang bergengsi Nusa Dua Fiesta 2015. “Hasilnya akan langsung diparadekan disana yang notabene akan disaksikan dunia internasional,” ucapnya. Karena itu, Bu Agung berharap bagi para pemilik salon dan perias yang belum mengantongi sertifikat uji kompetensi, untuk segera mendaftarkan diri di Sekretariat LKP/TUK Agung. “Dan uji kompetensi ini gratis,” imbuhnya. Bu Agung mengingatkan, untuk Tata Rias Pengantin Bali ini harus sesuai dengan pakemnya. Sementara Tata Rias Modifikasi, hanya boleh memodifikasi hingga 30%. Ketentuan yang sudah ditetapkan Katalia (Asosiasi Ahli Tata Rias Pengantin Modifikasi dan Mo­dern) ini tak lain untuk membatasi tata

Bagian depan Museum Bali

mereka berasal dari SD Cipta Dharma Denpasar, SD Santo Yoseph, SD 5 Sumerta, dan TK Alit Kirana. Sebelum masuk museum, para siswa ini mendapat pengarahan dari petugas museum. Salah satunya Adi Wibowo yang mendampingi siswa SD

Cipta Dharma. Ia menuturkan sejarah singkat museum yang berdiri sejak zaman Belanda ini. “Pada masa pemerintahan Belanda, banyak benda-benda seni yang dibawa keluar Bali. Residen Belanda yang bertugas tahun 1910 lalu mengusulkan pembuatan museum.

rias modifikasi jangan sampai kebabalsan, sehingga warna identitas lokal (Bali khususnya) masih tetap terjaga. Dan yang perlu diingat pula, fungsi dari kedua jenis tata rias ini sangat berbeda. Ini yang perlu dipahami betul oleh masyarakat Bali. Tata rias pengantin Bali (Payas Agung dan payas madya) diperuntukkan upacara (ritual agama), bukan untuk menyambut tamu. “Kalau tata rias modifikasi, baru boleh dipergunakan untuk menyambut tamu, MC, pemukul gong, dsb.,” ingat Bu Agung yang bangga dan terus mendukung Denpasar sebagai Kota Kompeten pertama di Indonesia. DISKON 50% KURSUS TATA RIAS Sebagai bentuk apresiasi yang besar terhadap pelestarian budaya Bali serta untuk lebih menyosialisasikan dan membangkitkan

Arsiteknya dari Jerman dan dibantu arsitek Bali. Akhirnya museum Bali selesai dibangun 8 Desember 1932,” jelasnya. Museum Bali memiliki empat gedung, Gedung Timur, Gedung Buleleng, Gedung Karangasem, dan Gedung Tabanan. Karena siswa yang masuk cukup banyak, mereka harus bergiliran. Selain melihat-lihat museum, para siswa juga sibuk mencatat. Ada yang sudah pernah berkunjung sebelumnya, ada juga yang baru pertama kali. Di Gedung Timur yang menjadi tempat penyimpanan benda pra sejarah, ada fosil manusia purba Gilimanuk, batu-batu, patung, dan guci. Di lantai II ada sarana persembahyangan, patung, alat pertanian, tombak, pistol, telepon, dan radio. “Ada bambu runcing yang menjadi alat untuk berperang. Telepon yang terbuat dari besi sebagai alat komunikasi. Ada radio yang juga terbuat dari besi sebagai media informasi,” ujar Ata, siswa kelas IIIC SD Cipta Dharma sembari memperlihatkan catatannya. Di Gedung Buleleng tersimpan berbagai mata uang serta sarana persembahyangan, termasuk koin bolong yang dipakai untuk banten. Di Gedung Karangasem tersimpan berbagai patung, lukisan seperti cili, hiasan, dan banten. Di gedung ini ada contoh

minat masyarakat dalam tata rias dan busana adat Bali, LKP Agung memberikan diskon 50% kursus regular. Materi yang diajarkan mencakup 3 paket yakni Tata Kecantikan Kulit, Tata Kecantikan Rambut, dan Tata Rias Pengantin (payas nista, payas madya, payas agung, modifikasi, dan tengkuluk lelunakan). Disediakan juga beasiswa kursus gratis bagi mereka yang kurang mampu dan putus sekolah, yang benar-benar berminat di bidang tata kecantikan. Syarat dan ketentuan berlaku. Silakan menghubungi Sekretariat LKP Agung, Jalan Anggrek No. 12 Kreneng, Denpasar. Telepon 0361 233850, 081 1393602 (Bu Agung), 087861424158 (Ayu), faks. 0361 247153. Cabang Tohpati, Jalan WR. Supratman No. 303 A, Tohpati, Denpasar. Email: lkp_agung@ yahoo.com. website: www.salonagung.com. –inten

daksina berbahan daun rotan, bunga, kelapa, kain, yang fungsinya sebagai persembahan kepada Tuhan. Di Gedung Tabanan tersimpan beraneka keris dan pedang serta barong.”Ada keris luk 17 dan keris luk 7,” imbuh Delon yang juga teman sekelas Ata seraya menggambarkan bentuk keris itu dengan tangannya. Setelah mengunjungi semua gedung, para siswa terlihat gembira. Mereka bisa melihat langsung benda-benda bersejarah dan belajar tentang apa manfaat benda tersebut. –Ngurah Budi

Meriam kecil yang menjadi pelengkap koleksi Museum Bali

Edisi 869/ 5 - 11 oktober 2015

9

Siwanataraja Gelorakan Tari Kebesaran Di Bali, belakangan ini, terasa ada gelora penciptaan seni tari di sejumlah perguruan tinggi hingga di sekolah-sekolah jenjang menengah. Karya cipta seni tari itu ditampilkan dalam ke­ sempatan-kesempatan penting seperti misalnya saat dies natalis dan wisuda atau ulang tahun sekolah. Sajian seni pertunjukan eksklusif itu disebut tari kebesaran.

Tata rias pengantin Bali tradisonal yang diujikan. Tampak Bu Agung (kiri) bersama Ny. I Gusti Gede Raka Wiratma, serta Ida I Dewa Gede Surahardi dan putranya

Belajar Sejarah di Museum Bali Selasa (29/9), pukul 07.30, jalan di sebelah Timur Lapangan Puputan Badung sudah ramai. Anak-anak berpakaian seragam sekolah didampingi orangtua dan guru. Mereka akan melakukan kunjungan ke Museum Bali. Dari pakaian yang dikenakan terlihat

Dara

M

elalui tari kebesaran masingmasing-- dilukiskan dalam estetika gerak dengan iringan gamelan--identitas atau visi dan misi universitas, institusi, sekolah bersangkutan. Misalnya, Universitas Udayana (Unud) punya tari kebesaran “Udayana”, Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha) bangga dengan tari kebesaran “Ganesha”, dan Universitas Saraswati memiliki tari kebesaran “Saraswati”. Gairah penciptaan dan pementasan tari-tari kebesaran itu membinarkan atsmosfer berkesenian yang menggembirakan. Seni tari sebagai ekspresi budaya, diapresiasi dan menunjukkan kemahadayaannya dalam konteks asumsi sebagai penciri, pencitra, dan pencerah, baik untuk kepentingan internal universitas atau sekolah pemiliknya maupun untuk permakluman kepada masyarakat luas. Hadirnya beragam cipta tari kebesaran tersebut, merupakan ruang berkesenian yang meletupkan denyut kreatif seniman Bali, khususnya para penata seni tari dan pencipta tabuh iringan tari.

Untuk menciptakan sebuah tari kebesaran memerlukan suatu rentetan proses kreatif, mulai dari rancangan konsep, tahap-tahap penggarapan, dan penampilan atau pementasan. Proses kreatif merancang konsep tari kebesaran “Saraswati” milik Universitas Saraswati misalnya, tentu harus disangga oleh pemahaman tentang figur Dewi Saraswati dari aspek mitologis, fiosofis, dan aspek relegikultural. Demikian pula pada proses kreatif tahap-tahap penggarapan, sang penggarap tari dan iringannya menjelajahi berbagai simbol gerak (koreografi) dan bunyi musik (komposisi), dalam tapsir estetik yang mampu mewakili isi atau pesan yang ingin dikomunikasikan. Komunikasi seni adalah dengan bahasa simbolik. Simbolisasi dalam bentuk tari kebesaran itu kini menjadi salah satu pemberi identitas perguruan tinggi-perguruan tinggi atau sekolah-sekolah di Bali. Tampaknya tak ada yang meng-

haruskan atau kewajiban perguruan tinggi atau sekolah di Bali memiliki tari kebesaran. Belum jelas pula, apakah dengan simbolisasi identitas atau visi-misi melalui media tari kebesaran itu akan atau telah mampu lebih memberikan spirit konstruktif kepada civitas akademika sebuah perguruan tinggi atau guruguru dan para siswa sekolah. Namun yang tampak, keberadaan tari-tari kebesaran itu, saat dipentaskan, mampu menciptakan semacam “kewibawaan” dan debur kebanggaan pemiliknya. Jika diteliksik, euforia merebaknya tari-tari kebesaran di Bali, tampak ada kaitannya dengan menguaknya tari kebesaran “Siwanataraja”. Mitologi Hindu menuturkan, Siwanataraja adalah manifestasi Dewa Siwa sebagai raja diraja kesenian. Geliat tubuh yang magis dan gerakan tangan kedua tangan Siwanataraja yang disebut mudra memancarkan energi aneka rupa wujud nan indah yang dianugrahkan kepada umat manusia. Pesona indahnya ciptaan Dewa Siwa itulah memercikkan kedamaian hati sanubari kehidupan manusia di bumi. Seni dalam beragam ekspresinya menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan religi-sosial-kultural masyarakat manusia. Umat Hindu lalu memuja Siwanataraja sebagai dewa kesenian yang maha asih. Figur Dewa Siwa sebagai dewa kesenian itu divisualisasikan menjadi tari kebesaran Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar pada tahun 1990. Sajian

tari kebesaran yang bertajuk “Siwanataraja” dalam setiap dies natalis dan wisuda kampus seni itu, yang mengundang berbagai kalangan, rupanya menggugah kampus-kampus lainnya di Bali untuk membuat tari kebesaran. Selain Unud, Undiksa, Universitas Saraswati yang telah disinggung di atas, sekolah-sekolah menengah juga tak ketinggalan membuat tari kebesarannya masing-masing, seperti SMK Negeri 3 Sukawati (dulu bernama Kokar) memiliki tari kebesaran “Semara Adi Guna”. Tari kebesaran “Siwanataraja” ISI Denpasar digarap oleh N. L. N. Swasthi Widjaja Bandem (koreografer) dan I Nyoman Windha (komposer). Cipta tari yang berdurasi sekitar 7 menit ini dibawakan oleh sembilan penari putri, seorang sebagai Dewa Siwa, dan delapan orang lainnya sebagai pancaran cahaya atau sinar suci. Struktur sajiannya terbagi tiga yaitu diawali dengan penampilan Dewa Siwa menari tunggal dalam laku koreografi yang simbolik magis, lalu memancar sinar dibawakan delapan penari dalam lenggang mengayun lembut berseling

beberapa variasi perubahan pola lantai, dan terakhir Dewa Siwa dengan sinar-sinarnya bersatu padu dalam tempo menanjak menuju ritme nan lincah, ditutup dengan konfigurasi seluruh penari di mana tokoh Siwanataraja menjadi pusat pujaan. Ditata dalam balutan kostum modivikasi yang memadukan warna biru dan kuning, tari kebesaran “Siwanataraja” terasa anggun dan agung. Perbendaharaan gerak tari Bali dalam ramuan stilisasi unsur-unsur tari Bharatanatyam India, menjadikan tari ini hadir dengan penampilan estetika yang apik lewat simbol laku tari serta tata karawitan yang imajinatif. Penampilan tari kebesaran “Siwanataraja” yang menawan secara bentuk dan mengesankan secara makna dan isi itulah yang diduga kuat, kini menginspirasi penciptaan tari-tari kebesaran di sejumlah perguruan tinggi dan sekolah-sekolah di Bali. Tampaknya di Bali, Siwanataraja sebagai dewa kesenian tak hanya hidup dalam psiko-mitologis namun nyata menganugrahkan sinarnya dalam realita berkesenian. -Kadek Suartaya


8

Bunda & Ananda

Edisi 869/ 5 - 11 OKTOBER 2015

Anak Banyak Tanya

Tanda Kecerdasan Verbal Anak-anak memiliki fase dalam hidupnya. Ketika mereka mulai tumbuh dan makin aktif, makin banyak pula perbendaharaan kata-katanya. Orangtua wajib untuk memperhatikan dan mengarahkan anak agar kemampuan yang dimiliki makin terasah.

Wiriana, S.Psi, M.Pd

J

ika anak Anda suka bertanya tentang berbagai hal, jangan memarahinya. Berikan jawaban sehingga anak itu puas. Anak yang banyak bertanya memiliki bakat kecerdasan verbal. Selain itu, anak yang suka bermain scrabble juga memiliki bakat kecerdasan verbal. “Anak saya suka mendengarkan orang berbicara. Ia menyimak apa yang disampaikan orang. Ketika disuruh menceritakan kembali, ia pun bisa. Hal ini pernah saya coba ketika ia berlibur di kampung halaman selama seminggu.

Saya memintanya untuk bercerita, ternyata ceritanya lengkap dan runut,” ujar Bu Ati. Kemampuan buah hatinya untuk bercerita menurut Bu Ati berkaitan dengan aktivitas sejak hamil. Kala itu Bu Ati sering membaca cerita. Bahkan hingga kini, sang ayah menyempatkan waktu untuk membacakan dongeng sebelumk tidur. Pengalaman Bu Sari tak jauh beda. Ketika kehamilan anak ketiga, ia sibuk menjalani profesi sebagai penceramah dari satu seminar ke seminar lain. Tiada hari ia lewatkan untuk belajar dan berbicara. Ternyata kini ia baru menyadari, anaknya itu menjadi serba ingin tahu. Apa pun yang dilihat selalu ditanyakan. “Dari referensi yang saya baca, ini merupakan dampak dari kesibukan saya saat hamil,” ujarnya. Anak yang banyak bertanya, selalu ingin tahu tidak bisa dikategorikan cerewet. Orangtua harus bangga jika anaknya banyak bertanya. Apalagi jika pertanyaan yang diajukan berkelanjutan. Artinya anak itu ingin mendapatkan pengetahuan baru. Selanjutnya, ia

Anak-anak berkumpul untuk bercerita

akan meneruskan pengetahuan itu kepada teman-temannya. “Normalnya anak usia 18 bulan sudah bisa berbicara dengan menyebut beberapa kata. Susunan kalimatnya baru subjek dan predikat. Seiring pertambahan usia, kemampuan berbahasanya akan bertambah. Dari sini kecerdasan verbalnya akan mulai terlihat,” ujar Wiriana, S.Psi, M.Pd, psikolog dari Biro Konsultasi dan Layanan Psikologi Wira Kasih Dharma. Ia menjelaskan kecerdasan verbal adalah kemampuan yang berkaitan dengan bahasa baik tulisan maupun bahasa. Kecerdasan verbal ini juga berkaitan dengan kecerdasan interpersonal karena menyangkut komunikasi dengan orang lain. Perempuan yang akrab disapa Ana ini mengatakan ciri-ciri anak yang kecerdasan verbal antara lain banyak berbicara tetapi bicaranya

PERMAINAN INDUKTIF Ana menambahkan, kecerdasan verbal ini didapat dari dua faktor, yakni keturunan (genetik) dan lingkungan. Faktor genetik sudah dibawa sejak lahir. Biasanya kemampuan ini diturunkan langsung dari orangtua. Ini termasuk faktor internal. Faktor lingkungan merupakan hal-hal yang dilihat dan dirasakan di luar sebagai pengaruh. Ini dapat dikategorikan faktor eksternal. Anak yang rutin mendengarkan dongeng dari orangtuanya

gerhana bulan

Made Taro

Setelah Raksasa Kala Rau berhasil menghancurkan bumi Balidwipa, para dewa di kayangan resah. Terbetik berita bahwa raksasa bertubuh kekar, kebal dan serakah itu akan menggempur kayangan. Ia akan mengamuk karena cinta asmaranya terhadap Dewi Bulan,

dihalang-halangi oleh para dewa. Dewa Wisnu yang bertanggung-jawab atas keselamatan kayangan, sangat waswas. Beliau menyuruh Dewa Kuwera mengumpulkan semua dewa. Di depan dewa-dewa itu Dewa Wisnu berkata, “Hai, para dewa! Sebentar lagi Kala Rau akan menyerbu kayangan. Untuk menghindari korban, maka semua dewa kuharuskan minum tirta amerta, yakni air suci keabadian. Setiap dewa hanya boleh minum seteguk saja,” katanya sambil mengedarkan kendi berisi tirta amerta. Demikianlah, dewa-dewa itu meminum tirta amerta bergiliran mulai dari Dewa Iswara. Ketika giliran tiba pada Dewa Kuwera, Sanghyang Wisnu curiga. Dewa yang satu itu bertubuh kekar, gelisah dan mendelikkan mata. Apalagi dewa itu meminum tirta amerta lebih dari satu teguk. “Kau bukan Kuwera, tetapi Kala Rau!” teriak Dewa Wisnu. Seketika semua dewa bangkit mengambil senjata. Sebelum dewa palsu itu melarikan diri, Dewa Wisnu membidik kepala dewa itu dengan panah. Apa yang terjadi?

Edisi 869/ 5 - 11 OKTOBER 2015

Si Cantik

Kayu Liana Sesuai dengan namanya, kayu liana memang cantik. Kayu ini memiliki karakter batang yang keras, serat yang indah, dan bentuk batang melingkar seperti terpilin. Inilah yang menjadi daya tarik kayu liana.

P

aling tidak, demikian pengakuan Adri, salah seorang karyawan sebuah showroom mebel di kawasan Jalan By Pass Ngurah Rai, Kuta Bali, yang juga menjual kayu liana. Ia mengatakan, kayu-kayu liana tersebut dipasok dari Sumbawa. Kayu-kayu yang sudah dikuliti ini, kemudian disikat, diberi obat antirayap, dan difinishing sesuai pesanan konsumen. Di antaranya, warna natural gloss/dop, dan white natural. Konsumennya sebagian besar

warga asing, meski ada beebrapa warga lokal. “Kayu liana banyak disukai bule berkewargaan Korea dan Jerman,” imbuhnya. Kecantikan serat dan bentuk kayu liana ini kerap diaplikasikan sebagai partisi, pegangan pintu, batang kap lampu, dsb. “Belum lama ini, kami mengirim ke Korea kayu liana dengan finishing white natural. Kayunya dipotong-potong kecil 40 cm, saya tidak tahu akan dipakai apa itu,” aku Andri. Tentunya dengan ide kreatif, apapun bisa dilakukan dengan

–Ngurah Budi

Mendongeng Lima Menit

Generali Menuju Transformasi Digital Saat ini perusahaan asuransi jiwa di Indonesia didominasi perusahaan asing hampir sekitar 60%. Generali bisa berada di posisi ke-7 di tahun 2015. Demikian diungkapkan Wianto Chen, Director Agency Group Head Generali Indonesia saat media briefing roadshow di Hotel Aston, Selasa (29/9). Wianto menyatakan, sebagai asuransi yang sudah lima tahun berdiri Generali patut berbangga karena dari 47 perusahaan asuransi jiwa di Indonesia, Generali berada di peringkat 7. Data Generali menunjukkan data Gross Written Premium (GWP) mencapai IDR 934 miliar berkat pertumbuhan yang kuat dari unit link (lebih kurang 23%) dan ini meningkat di semua segmen pasar. Selain itu, indikator kontribusi kanal agency meningkat menjadi 35%. Ia menambahkan Generali tengah menuju ke arah transformasi era digital. Seiring dengan misi perusahaan Generali terus tumbuh menjadi pilihan utama dalam pelayanan. “Tahun depan kami akan mengenalkan asuransi dalam layanan media sosial. Kami bekerja sama dengan OBI (salah satu produk HP) nanti tinggal touch saja Generali,” katanya. Ketakutan nasabah akan uang yang tidak kembali tidak akan terjadi karena Generali satu-satunya yang memiliki Auto Risk Management System (ARMS) yakni satu pengendali otomatis terhadap risiko dana yang diinvestasikan. –Wirati Astiti

terarah, suka membaca buku, suka berdiskusi, suka menulis. “Anak yang kemampuan verbalnya bagus cenderung tampilannya ceria,” ujar anggota Himpunan Psikologi (Himpsi) Bali yang lama berkiprah di Surabaya sebagai dosen psikologi Universitas Ciputra dan Universitas Surabaya (Ubaya) ini.

sebelum tidur cenderung menjadikan anak mendapat stimulus untuk rajib bertanya. Hal ini akan memberi kesempatan bagi anak untuk mengembangkan ideidenya. Bahkan anak mengarah ke anak yang kritis dalam bertanya, mengapa ini mengapa itu. Orangtua pun harus bisa memberi jawaban atau alasan ketika melarang anak melakukan sesuatu. Salah satu tes yang dipakai untuk mengukur kecerdasan verbal anak adalah dengan tes kemampuan verbal (TKV). Kini dengan makin canggihnya teknologi, guru-guru harus lebih kreatif dalam mengembangkan metode pembelajaran. Misalnya dengan permainan induktif berupa tebak benda. “Contohnya, guru ingin memiliki wortel. Siswa tidak langsung ditunjukkan wortel. Ada kata kunci yang diberikan, misalnya benda ini berwarna oranye, benda ini disukai kelinci, dan petunjuk lain yang nanti mengarah kepada wortel. Anak-anak akan lebih senang diajak belajar sembari bermain,” ujar perempuan kelahiran 2 November 1975 ini. Bagi anak yang lebih memilih bahasa tulis, permainan scrabble menjadi salah satu kegemarannya. Dengan membuat kombinasi huruf sehingga menjadi satu kata, kecerdasan verbal anak akan makin terasah. Jika anak menyukai pengetahuan umum, cenderung akan menyukai tekateki silang. “Anak-anak yang memiliki kecerdasan verbal di masa depannya bisa diarahkan untuk menjadi dubber, pengacara, marketing, novelis, wartawan. Jadi jangan abaikan anak yang banyak bertanya. Itu adalah modal kecerdasan verbalnya,” tegas lulusan S1 dan profesi Psikologi Ubaya dan S2 Pendidikan di Universitas Negeri Surabaya (Unesa) ini.

Griya

Leher dewa itu putus. Tubuhnya jatuh ke bumi, berubah menjadi ketungan. Namun kepala dan tenggorokan yang kena tirta amerta itu masih hidup dan menggelayut-gelayut di angkasa sampai sekarang. Walaupun Kala Rau gagal menghancurkan kayangan, namun dendam asmaranya belum padam. “Awas, Dewi Bulan!” ancamnya. “Sekali waktu aku akan melampiaskan keinginanku!” Bulan berganti bulan, tahun berganti tahun. Semua dewa dan penduduk bumi lupa akan peristiwa yang menegangkan itu. Tibalah pada suatu bulan purnama, Dewi Bulan hendak berjalan-jalan di angkasa. Dia ingin menikmati keindahan alam. Walaupun ia sudah cantik, namun ia bersolek juga, sehingga alam yang indah itu betambah indah dan cerah. Bintang-bintang yang mengiringinya semua memuji kecantikan dewi yang satu itu. Juga penduduk bumi beramai-ramai melantunkan lagu-lagu yang indah sambil menikmati siraman cahaya bulan. Tetapi kegembiraan itu tak berlangsung lama. Tiba-tiba langit berubah, makin lama makin buram, dan akhirnya gelap gulita. Dewi Bulan sama sekali tidak menyadari bahwa sejak lama ia dikuntit oleh Kala Rau. Dalam satu kesempatan yang tepat, raksasa itu menyergap kekasihnya, lalu menelannya. Itulah saat terjadinya gerhana bulan! Para dewa ribut dan kebingungan. Agar penyekapan raksasa Kala Rau itu segera berakhir, maka gadis-gadis Balidwipa memukul ketungan bekas tubuh Kala Rau. Laki-laki dan anak-anak memukul kulkul dan alat bunyi-bunyian lainnya. Syukurlah, atas kehendak Yang Kuasa, Dewi Bulan berhasil melepaskan diri melalui lubang tenggorokan Kala Rau. Para dewa dan penduduk bumi pun kembali bersukaria, menikmati cerahnya cahaya bulan.

Ardi

kayu cantik ini. Seperti pengakuan Andri yang menyebut konsumen lokal lebih banyak menggunakannya untuk dekorasi tertentu. Satu lonjor kayu liana ini meliki panjang 2,8 sampai 3 meter dengan diameter berkisar antara 4-6 cm. Pada sebuah sumber disebutkan, kayu liana adalah suatu habitus tumbuhan. Suatu tumbuhan dikatakan liana jika dalam pertumbuhannya memerlukan kaitan atau objek lain agar ia dapat bersaing mendapatkan cahaya matahari. Liana dapat pula dikatakan tumbuhan merambat, memanjat, atau menggantung. Berbeda dengan epifit yang mampu sepenuhnya tumbuh lepas dari tanah. Akar liana berada di tanah/memerlukan tanah sebagai sumber haranya. Bagi Anda yang kreatif, karakter kayu liana yang artistik dan unik ini bisa dipakai sebagai craft atau dekorasi lainnya. –Inten Indrawati

17


18

Kreasi

Edisi 869/ 5 - 11 Oktober 2015

Masa muda adalah masamasa yang paling indah. Gejolak hati, guncangan jiwa yang tak terkendali sering melahirkan rasa sombong, angkuh, bebas hingga sering mencari perhatian dengan kegiatan tak bermoral. Semua pengaruh negative itu mesti dikendalikan. Caranya, de­ ngan mengisi kegiatan positif, pendidikan serta keterampil­ an, sehingga berguna bagi diri sendiri, orang lain juga nusa dan bangsa.

Tari Kreasi Diwasa

Gambarkan Gejolak Jiwa Anak Muda I

tulah ide lahirnya tari kreasi baru berjudul “Diwasa” ini. Tari berdurasi 10 menit ini digarap oleh Komang Adi Pranata, Putu Purnawan sebagai penggarap iringan dan Wayan Mudiasih sebagai pembina. Tari yang didukung oleh 35 orang penari dan penabuh merupakan mahasiswa Prodi Sendratasik, Fakultas Seni Pertunjukan Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar itu pernah ditampilkan pada malam kesenian dies natalis ke-12 dan wisuda ke-15 di kampus setempat, beberapa waktu lalu. Tari Diwasa menampilkan

tiga penari dengan konsep busana sesaputan. Dua orang penari yang mengekspresikan gejolak jiwa muda-mudi yang berjuang untuk mencari jati diri dalam menggapai kebahagiaan. Dan satu orang lagi bertugas menarikan topeng raksasa berukuran besar sebagai gambaran dari lobang kehancuran. “Diwasa kalau dalam bahasa kawi memiliki arti “saat”. Maka saat muda itu mesti mampu mengendalikan gejolak jiwa,” kata Asi Pranata. Garapan tari ini tidak menyajikan alur ceritera yang utuh, namun lebih menegaskan pada ekpresi gerak. Gejolak jiwa anak muda tidak disajikan secara

nyata melalui perbuatan, tetapi diungkapkan melalui karakter dan gerak yang tertata apik. Para penari juga menggunakan property topeng (topeng laki yang gagah dan topeng wanita yang cantik) dengan sistem pemakaian dengan cara digigit, sehingga mudah dimengerti oleh penonton. Setidaknya ada tiga karakter yang disajikan melalui pembagian dari tari itu sendiri, seperti pepeson, pengawak, pengecet dan ending. Pada bagian pepeson dua penari laki dan perempuan itu menari menggambarkan karakter pria yang kokoh, angkuh dan berjiwa besar. Gerak tarinya lebih banyak terinpirasi dari tari pertopengan dan bebarisan. Misalnya gerakan nabdab saput, nyambir (kedua ta­ngan memegang saput/kain) dan tetayungan. Sedangkan gerak malpal, nayog, nyeledet dan ulap-ulap terinspirasi dari gerak Tari baris. Namun, semua gerak itu sudah dikreasikan dan disesuaikan dengan kebutuhan tema. Bagian pengawak, kedua penari menampilkan gerak tari putri dengan sifat anggun, cantik dan menawan. Walaupun menggunkan kostum yang sama, tetapi mere­ ka mampu mengungkapkan karakter putri yang lembut. Motif-motif gerak tari putri lebih banyak mewarnai pada babaik ini, baik dalam sikap pokok (agem), tandang dan gerak berjalan. Pada bagian pengecet menggambarkan penggabungan dari dua karakter yaitu pria dan wanita yang ditandai dengan gerak bersolek, malu_malu, dan sering mencari perhatian lebih untuk menarik perhatian. Geraknya lembut serta karakter wanita, namun ada nuansa tegas seperti gerak laki-laki, sehingga mencerminkan seorang tomboy atau bencong. Meski lebih banyak melakukan gerak modern, tetapi masih berpijak pada tari tradsiai seperti Panji Semirang dan Margapati. Sementara pada bagian ending, klimak timbul sebuah bencana dalam diri seorang remaja yang digambarkan dengan topeng besar yang menyerankan. Topeng itu sebagai symbol masalah besar, jika tidak mampu mengendalikan diri. Babak ini mengambarkan kesadaran dari muda muda untuk memecahkan segala masalahknya yang diwujudkan dalam perlawanannya terhadap topeng seram itu. Dalam perlawanan itu, mereka menggunakan kain berwarna merah sebagai symbol laki-laki dan ku­ning symbol wanita, sehingga menemukan jati diri untuk kebahagiaan. -Darsana

Life

Story

Edisi 869/ 5 - 11 Oktober 2015

7

Menanggung Malu karena Bangkrut Dengan terbata-bata Ranti (56) dan suaminya menjelaskan bahwa ia akan segera melunasi utangutangnya kepada salah seorang dari banyak pe­ nagih utang yang datang ke rumahnya akhir-akhir ini. Wajah Ranti yang dulu selalu terangkat dengan angkuhnya kini tertunduk sedih. Ini tampaknya menjadi pelajaran dan teguran Tuhan atas kesombongan hidupnya selama ini.

L

ahir dan besar dari keluarga berada di salah satu kabupaten di Nusa Tenggara Barat, sejak kecil Ranti telah merasakan hidup enak bergelimang fasilitas dan pelayanan. Banyak orang yang tinggal di rumahnya yang bisa diperintah kapan saja olehnya. Bahkan dengan cara dan katakata kasar yang kerap membuat sakit hati. Jangankan terhadap orang-orang yang menumpang hidup di rumahnya itu, terhadap suaminya sendiri ia juga berlaku demikian. Dandanan khas kelas mewah selalu ditampilkannya dengan sorot mata yang angkuh dan sikap yang tinggi menjadi ciri khas pembawaannya. Apalagi ia bergaul dengan istri para pejabat tinggi di daerahnya, membuat kekayaannya terus berlipat. “Karena dekat dengan penajat tinggi, banyak proyek pemerintah diambil seluruhnya oleh dia (Ranti), bahkan danadana koperasi diraup sendiri dalam jumlah miliaran rupiah,” ungkap Agus, salah seorang tetangganya. Hidup kaya, berkelas bak jetset membuai hidup Ranti hingga puluhan tahun. “Dia kelihatan lupa diri,” kata tetangga lainnya yang akhir-akhir ini menyaksikan Ranti kerap ribut dengan penagih utang. Menurut para tetangga, kehidupan Ranti terus menurun sejak salah seorang pejabat tinggi yang selama ini mem-backup-nya meninggal dunia. “Praktis tidak lama setelah itu hidup Ranti menurun,” ungkap Agus. Tagihan demi tagihan mulai menghampiri Ranti, khususnya dari dana koperasi yang dikelolanya. Ia harus membayar puluhan juta rupiah tiap bulan. Ia tidak memiliki penghasilan yang memadai untuk mencukupi tagihan bulanan yang besar itu karena suaminya hanya pensiunan pegawai biasa dan sesungguhnya Ranti tidak memiliki pekerjaan atau usaha lain kecuali mengelola koperasi dan bermain proyek-proyek yang didasari atas kedekatan dengan para pejabat. Maka ketika pejabat tinggi rekannya itu meninggal, kini Ranti harus menanggung akibatnya.

Beberapa aset miliknya mulai terjual satu persatu, mulai dari tanah, rumah hingga mobil yang dipunyainya. Ranti tampaknya mulai kewalahan menanggung beban tagihan bulanan termasuk biaya hidup mewah yang selama ini dijalaninya. Ia terancam jatuh bangkrut. Jika selama ini ia bisa hidup semaunya karena merasa dekat dengan pejabat, maka kini ia harus menanggung malu karena jatuh bangkrut. Ranti sudah jarang keluar rumah apalagi mengikuti kegiatan-kegiatan ibu pejabat seperti biasa. Ia kehilangan ruang untuk berekspresi seperti dulu. Masalah terakhir yang dihadapinya adalah soal jual beli tanah miliknya. Karena kepepet dan sangat butuh uang, ia memaksa menjual tanah tersebut pada seseorang yang sesungguhnya tidak tertarik membelinya. “Uang saya tidak cukup untuk membayar tanah tersebut waktu itu, tapi Ranti memaksa dan meminta saya bayar setengah saja dan sisanya bisa dicicil tiga bulan ke depan,” ungkap Juna yang akhirnya sepakat membeli tanah tersebut beberapa bulan lalu. Saat jual beli tanah tersebut, Ranti memperlihatkan sertifikat asli tanah tersebut atas namanya. Juna memaklumi jika sertifikat tersebut belum boleh ia miliki sebelum ia melunasi tanah tersebut dalam tiga bulan ke depan sesuai perjanjian. Namun, dalam perjalanan, Ranti terus meminta bantuan agar bisa dibayar sisanya. “Saya sempat mau kembalikan tanah itu karena hampir tiap minggu Ranti minta tolong agar saya memberinya pembayaran tersebut,” ujarnya. Tetapi karena kebetulan rezeki Juna ada saat yang dibutuhkan Ranti, ia pun memberi Ranti uang yang dibutuhkan itu. Rupanya ia perlu dana untuk membayar setoran koperasi yang dikelolanya itu. LIMA BULAN Karena terlalu sering Ranti meminta dan Juna dapat memenuhinya, akhirnya Juna dapat melunasi sisa pembayaran tanah tersebut hanya satu setengah bulan dari janji tiga bulan yang mereka sepakati. “Saat saya datang melunasi sisa pem-

tkh/net

bayaran terakhir, saya minta kwitansi pembayaran sekaligus sertifikat tanah tersebut,” ujar Juna. Alangkah terkejutnya Juna ketika Ranti mengatakan bahwa sertifikat tersebut telah ia gadaikan. Jelas Juna marah. Ribut tak dapat dihindari. Juna yang merasa menjalani kesepakatan dengan baik-baik dan lurus-lurus saja apalagi ia lebih cepat menyelesaikan tanggung jawabnya dari waktu yang disepakati, merasa sangat kecewa. Karena, ia ingin segera melakukan proses balik nama terhadap tanah tersebut. Juna yang kecewa bahkan nyaris melaporkan Ranti pada pihak yang berwajib. Namun, Ranti memohon-mohon agar Juna memberinya waktu hingga lima bulan ke depan untuk ia mengeluarkan sertifikat yang digadaikan itu dan menyerahkannya pada Juna. Ranti tampaknya kena batunya. Jika selama ini ia suka semena-mena dan semaunya pada orang lain karena merasa dekat dengan para pejabat tinggi, maka kini ia berhadapan dengan Juna yang juga memiliki kedekatan dengan pejabat tinggi, bahkan lebih tinggi dari yang pernah dikenal Ranti. Juna bisa saja memenjarakan Ranti dengan mudah jika ia mau karena ia benarbenar berada pada posisi yang benar. Ranti menyadari hal itu sehingga ia ketakutan. Ketakutannya lebih karena ia telah

beritikad tidak baik pada Juna. Namun, hidup Ranti masih beruntung, karena Juna tidak bertipe seperti dirinya. Mengenal pejabat tinggi lalu sewenang-wenang sepertinya. Juna memberinya kesempatan sesuai dengan janjinya akan menyerahkan sertifikat tanah tersebut, di bulan Februari tahun depan. Tampaknya benar Ranti takut ‘bermain-main” dengan Juna. Yang ada di kepal-

anya adalah Juna banyak dekat dengan pejabat. Padahal tanpa pejabat sekali pun, Juna tetap berada pada posisi yang benar dalam hal ini. Obsesi Ranti yang besar pada pergaulan dengan pejabat yang membuatnya menjadi ketakutan sendiri menghadapi Juna. Teguran Tuhan semoga menyadarkan Ranti. Setidaknya inilah harap­an dari para tetangga Ranti. -Naniek I. Taufan


6

Woman on Top

Edisi 869/ 5 - 11 oktober 2015

Dewi Mas Bloem

“From Zero to Hero” Untuk menjadi seorang pemimpin ba­nyak hal yang harus diperhatikan. Ia harus bisa menciptakan kondisi har­monis hubungan manusia de­ngan manusia, alam, dan juga Tuhan. Seper­ti apa? Ber­ikut penuturan Dewi Mas Bloem, ­General Manager Hotel The One Legian dan Hotel Villa Lumbung Seminyak.

D

ewi menyebut­ kan, hubungan manusia dengan manusia ini, harus dimulai dari saat membangun fondasi hotel. “Apakah visinya sama. Mau membangun hotel yang bagaimana? Karena ho­ tel itu hanya sebuah bangunan. Yang menghidupkannya adalah manusia, termasuk karyawan atau tamu,” ujarnya. Pada saat kita percaya hubungan ini harus adil, jadi dari pihak perusahaaan harus mendukung. Misalnya, ada upacara odalan, harus didukung. Kalau ingin menuntut karyawan

dapat memberikan hasil yang terbaik, tanpa pernah memberi pelatihan itu jelas tidak mungkin. Pemimpin bertugas memberi warna. Tidak masalah hotel itu bentuknya seperti apa, yang pen­ ting konsep harmonis ini bisa juga dilihat oleh tamu. Dewi Mas Bloem saat ini di­ percaya menjadi GM dua hotel, The One Legian dan Hotel Villa Lumbung Seminyak, dengan total staf 300-an. Menurutnya, tugas­ nya lebih banyak sebagai adviser yang memberi arah­an kepada manajemen dan pemilik perusa­ haan karena ia berfungsi sebagai

jembatan. Namun, ia juga per­ caya, kalau cuma memberi arahan tanpa turun langsung ke lapangan, siapapun yang diberikan arahkan tidak percaya. Karena itu, prin­ sipnya, bagaimana mengubah yang tidak mungkin itu menjadi mungkin. “Klise memang, tapi astungkara sampai saat ini berjalan dengan baik,” ujar istri President Indonesia Chef Association ( ICA) Henry Alexie Bloem ini. Ia mengatakan, melalui berba­ gai kegiatan sosial, keharmonisan tiga hubungan yang lebih dikenal dengan Tri Hita Karana tersebut bisa dicapai. Kegiatan tirtayatra, hubungan manusia dengan tuhan. Namun, mulai dari proses berem­ bug, membuat persiapan biaya, siapa saja yang ikut, ke Pura mana saja, apa saja kegiatan yang dilaku­ kan, itu juga termasuk hubungan harmonis de­ngan manusia. Begitu juga kegiatan pemberian penghar­ gaan kepada karyawan dan mana­ jemen yang berprestasi. Tentu saja hal ini akan memacu semangat dan produktivitas ke arah yang lebih baik.

Dewi Mas Bloem

Ia juga membuat satu kegiat­an pertemuan tiap enam bulan sekali, khusus antara karyawan dengan GM. Tujuannya, untuk sharing dan memberi langsung informasi ke karyawan dan karya­wan langsung bisa bertanya ke GM. Tentu semua bermuara agar hotel menjadi lebih baik. Namun, ia mengingatkan, ada hal yang bisa dikontrol dan ada

yang tidak. Misalnya, Bu makanan di kantin tidak seperi yang kita mau. “Saya balik ber­ tanya, apa yang kalian mau. Saya jelaskan, apa yang kita inginkan berbeda dengan apa yang kita butuhkan. Kita butuhkan maka­ nan sehat. Kalau yang diinginkan makanan enak, siapapun tidak bisa memenuhi karena itu tergantung selera. Saya banyak diskusi dengan karyawan,” kata Dewi. Karyawan menganggapnya se­ bagai ibu. Ibu itu bisa memarahi juga bisa mengarahkan. Tujuan­ nya demi kebaikan. Dalam proses ini, ia tidak menampik, ada 5 persen yang gu­ gur. Mungkin mereka tidak sepaham dengan konsep hotel. Atau, mereka ingin bekerja dengan hasil yang jelas pada hari ini juga. Namun, ia percaya, proses dari “zero to hero”. “Daripada mencari orang yang sudah jadi dari luar lebih baik saya mencari daily worker yang bisa dididik menjadi lebih baik. Saat ini saya punya enam manajer yang awalnya dari karyawan,” ujar perempuan usia 38 tahun ini. –Wirati Astiti

Mozaik

Hobi Belajar Raih Prestasi Terbaik Raut wajah gadis ini tampak ceria. Ia berhasil menjadi lulusan terbaik Program Studi D-3 Kebidanan Stikes William Booth, Surabaya. Dengan indeks prestasi kumulatif (IPK) 3,85, Brenda Rahasyim, begitu nama gadis tersebut, menjadi yang terbaik dari 132 wisudawan yang digelar di Balai Kartika, Makodam V/Brawijaya, Selasa (15/9).

B

erkat prestasi gemi­ langnya itu, gadis kelahiran Surabaya 20 Agustus 1994 ini, berhak mendapat penghar­ gaan dari lembaga pendidikan milik Gereja Bala Keselamatan tersebut yang diserahkan di saat

acara wisuda itu. Ditemui disela-sela acara itu, Brenda, begitu dia biasa dipang­ gil teman-temannya, menyatakan senang dan bangga atas prestasi yang diraihnya itu. “Saya tidak menyangka bahwa saya bisa meraih prestasi terbaik dalam

wisuda kali ini,” ujarnya sambil tersenyum gembira dalam balutan seragam wisuda. Prestasi ini, tambah alumnus siswa SMA Intensif Taruna Pem­ bangunan Surabaya ini, berkat dorongan dari orangtuanya dan dari teman-temannya di sekolah. Selain itu, prestasi tersebut memang pantas diraihnya karena dia adalah tipe wanita yang senang belajar. Setiap ada kesempatan, gadis yang senang makan nasi goreng ini, pasti gunakan untuk belajar terutama setelah pulang sekolah, di waktu senggang, pagi hari atau di tengah malam serta dinihari. “Belajar dan bisnis memang menjadi hobi saya sejak kecil dan saya senang kalau saya da­ pat nilai bagus dalam setiap kali ujian,” ujarnya. Anak kedua dari pasangan Muhamad Hasyim, S.H. dan Ana Irawati ini, ingin melanjut­ kan studi ke Universitas Kediri.

Woman & Business – Sebuah Perspektif

Made Herry Erika Sedana Senior Professional Logistics & Supply Chain Asia Pacific QSE Certified Facilitator

K

etika saya mendengar diskusi tentang wanita dan bisnis, sekilas muncul sebuah imajinasi yang kuat tentang wanita cerdas, pandai berbahasa, dengan penampilan luar biasa menarik. Membuat kita kagum dengan talenta mereka. Dulu kita selalu mendengar “let’s seat and talk’, namun paradigm shifting yang terjadi sekarang memberi inspirasi kepada mereka untuk memilih “to stand up and talk”. Minggu lalu saya bertemu dengan seorang penulis muda berbakat yang membuat saya kagum. Beberapa menit awal dikusi, saya melihat wanita ini sangat sederhana dan mena­ruh respect yang tinggi ter­hadap lawan bicara. Komunikasi non verbal memang begitu kuat untuk memberi pemahaman lebih

dalam akan lawan bicara kita. Sesaat sebelum mengakhiri pembicaraan, saya mendapat jawaban atas afirmasi saya. Luar biasa. Penulis berbakat Indonesia ini telah meluncurkan banyak novel politik Indonesia yang cerdas, inspiratif dan motivating. Dengan passion di bidang creative writing, ia memilih untuk menyelesaikan PhD di UK. Non verbal Intelligence, It’s Louder Than Words ! Ada pertanyaan yang sedikit mengganggu pikiran saya.Wanita dalam bisnis, bagaimana ia melihat fungsinya dalam rumah tangga. Seorang kawan baik pernah bertanya kepada saya sambil memperlihatkan jari tengah dan telunjuknya. Apa yang Anda lihat? Dengan spontan saya menjawab; jari tengah dan telunjuk. Ia kemudian bertanya lagi. Apa yang Anda lihat? Sejenak saya berpikir apa jawaban yang diinginkan kawan saya dan kemana arah diskusi ini. Ada perbedaan panjang antara jari tengah dan jari telunjuk (portion gap). Mari kita bawa analisa ini ke porsi karier/bisnis dan keluarga. Fokus pada kedua sisi ini tidak akan sama (focus gap), terkadang tanpa disadari fokus karier/bisnis lebih besar dibanding fokus terhadap keluarga yang memberi dampak kurang baik terhadap hubungan inter-personal dalamkeluarga. Sebaliknya, bisa terjadi fokus

waktu yang tepat, demi tujuan yang benar, dan dengan cara yang baik – bukanlah hal mudah (Aristoteles, The Nicomachean Ethics). Mari sama-sama kita bayangkan apabila kita boleh mengukur pride & empathy coreboard. Definisi sukses wanita dalam bisnis akan memberi kebanggaan bagi mereka, orang-orang terdekat dan publik. Situasi ini menstimulasi kebanggan (pride) yang dalam. Pertanyaan yang mungkin akan kita dengar adalah seberapa jauh pride ini bermain dengan empathy. Kalau kita gambarkan pride & empathy metrics, saya akan memilih kuadran I dimana pride dan empathy sama-sama kuat sehingga mereka ada di baris wanita dengan self-motivation yang tinggi dan generous dengan empati yang kuat dalam hubungan inter- personal dengan kerabat. Menemukan wanita sukses dalam sosialita dan bisnis serta masih memiliki hati yang sederhana dan empati yang kuat, tidaklah mudah. Rupanya wanita-wanita dalam kuadran ini telah tumbuh dengan karak­ ter positif yang kuat. They have grown with character& emotionally intelligent.

Mike seorang pengusaha asal Australia datang ke Bali untuk mencari rekan kerja di industri logistics & supply chain. Ada lima perusahaan yang dikunjungi dan ia memutuskan untuk memilih satu perusahaan lokal. Sebenarnya perusahaan ini tergolong baru dalam industri meskipun pelaku bisnisnya adalah seorang senior professional wanita. Saya bertanya, apa yang membuat Mike memilih perusahaan ini? Mike memaparkan dengan sederhana bahwa ia mendapat apa yang ia butuhkan; communication clarity (kejelasan dalam komunikasi), openness, knowledge accuracydanservice assurance. Apakah itu semua cukup membuat Mike yakin akan keputusan yang diambil? Saya mencoba mengambil afirmasi untuk menyimpulkan analisa Mike dengan memberi keyakinan dan kepercayaan penuh. Communication engagement pada awal diskusi mereka sangat kuat sehingga consultative selling yang dilakukan wanita ini memberi pengaruh begitu besar terhadap keputusan Mike. Saya menyebutnya sebagai bagian dari The Speed of Trust.

Menurut pen­ gakuan wanita dengan tinggi ba­ dan 156 cm dan berat 47 kg ini, sudah mendaftar dan sudah diterima di sana. “Saya ingin mendapat jen­ jang pendidi­ kan yang lebih tinggi sebagai sarjana kebi­ danan. Den­ gan jenjang pendidi­ kan yang

Brenda Rahasyim

lebih tinggi, saya berharap mu­ dah mendapatkan kerja di ru­ mah sakit setelah tamat nanti,” katanya. Ditanya kenapa memilih sekolah di Wiliam Booth, menu­ rut gadis yang murah senyum ini, karena diarahkan oleh bapaknya sekitar 15 sampai 20 orang bekerja sebagai pengan­ yam,” jelasnya. Usaha ini sudah berjalan 15 tahun. Ide bisnis tas anyaman muncul ketika Murtini menjadi korban pemutu­ san hubungan kerja (PHK) perusahaan tas anyaman di Jakarta. Awalnya, pengem­ bangan bisnis ini terkendala modal. Ia berulang kali men­ gajukan bantuan kredit dan modal dari dinas terkait, namun tidak pernah ada realisasi. Berbekal kegigihan, ia terus berkarya dan mengikuti berbagai pameran. Ke depannya, usaha tas

The Missing Key

keluarga lebih besar dibanding fokus karier/bisnis sehingga potential optimization pun tidak dapat dilakukan. Yang menjadi pertanyaan adalah bagaimana membuat portion gap atau focus gap ini semakin kecil. Banyak wanita yang sangat piawai menjalankan bisnis dan berorganisasi. Banyak juga yang sukses dengan melakukan rencana kerja dengan compliance level tinggi. Pertanyaan yang muncul apakah semua selalu member value & result yang diharapkan? Bagaimana jika value & result scoreboard menunjukkan penundaan terhadap keberhasilan mereka? Apakah secara emosional kondisi ini akan member gelombang efek dan respons yang tidak searah dengan personal development? Rupanya kecerdasan emosional mereka berperan sangat penting dalam kondisi fluktuatif seperti ini. Daniel Goleman dalam Emotional Intelligence memaparkan betapa EI lebih penting daripada IQ. Ada satu quote yang bagi saya selalu memberikan inspirasi tentang arti kecerdasan emosional; Siapa pun bisa marah –marah itu mudah.Tetapi marah pada orang yang tepat, dengan kadar yang sesuai, pada

Tas Anyaman Plastik Pulung Diminati Jepang Siapa sangka, industri rumahan tas anyaman plastik bisa menem­ bus pasar ekspor. Kerajinan anya­ man asal Ponorogo ini, mayoritas dikerjakan ibu-ibu paruh baya, yang berada di Desa Pulung, Kecamatan Pulung. Sejak 2010, anyaman tas berbahan plastik tidak hanya dipasarkan dalam negeri tetapi sudah menembus ekspor. Murtini, salah satu pengusaha kerajinan tas anyaman plastik mengatakan, kebutuhan ekspor tas ini cukup besar dengan omzet

19

Edisi 869/ 5 - 11 oktober 2015

ratusan juta rupiah per bulan. Harga jual tiap unit untuk pasar lokal berkisar Rp 10.000 sampai Rp 75.000. Sedangkan untuk pasar ekspor, menembus Rp 14.000 sampai Rp 180.000. “Ekspor tas biasanya ke Amer­ ika Serikat, Jepang, Malaysia, dan Korea. Permintaannya lumayan tinggi, terlebih Jepang,” ujar Murtini. Namun, kendala yang dih­ adapi saat ini adalah bahan dasar plastik. Stok yang tersedia kurang memenuhi, apabila pesanan men­

ingkat. Meskipun demikian, dalam satu bulan, ia mampu memroduksi 15.000 sampai 20.000 tas plastik. “Sangat disayangkan sebenarnya, jika kerajinan ini tersendat garagara bahan bakunya,” imbuhnya. Tidak hanya bahan baku yang menjadi kendala. Pengusaha muda ini juga kesulitan mendapatkan tenaga kerja. Kesulitan tenaga kerja biasanya terjadi saat musim panen tiba. “Biasanya kalau musim panen tiba, pekerja lebih memilih bek­ erja di sawah. Pada hari biasa,

yang seorang perwira Angkatan Laut. “Bapak saya mengarahkan saya untuk sekolah di Program Studi Kebidanan Wiliam Booth, karena sekolah ini dinilai baik, berkualitas dan sangat disiplin dalam mendidik mahasiswa,” tambahnya. -Jos

an plastik

Tas anyam

anyaman ini masih memiliki pros­ pek menjanjikan. Oleh karena itu, pihaknya harus melatih warga sekitar agar memiliki kemampuan membuat tas anyaman. -Dinar Perdana


20

Nine

Edisi 869/ 5 - 11 OKTOBER 2015

Nirmala Qurbani

Tomat Organik Sistem Kue Lapis Sempat menangis karena dua kali gagal meraih prestasi sebagai Penyuluh Swadaya Berprestasi tingkat Provinsi Nusa Tenggara Barat, membawa Nirmala Qurbani, SP (33) menyemangati dirinya dengan melahirkan karya penelitian bidang pertanian.

K

isahnya, di tahun 2011 Nirmala mulai mengikuti lomba tingkat Kabupaten Lombok Barat dan ia hanya bisa meraih juara III. Prestasi ini tidak cukup membuatnya puas sehingga dengan tekun ia kembali mengikutinya pada tahun-tahun berikutnya hingga ia mampu membuktikan dirinya menjadi yang terbaik. Dua kali ikut

lomba Penyuluh Swadaya Berprestasi tingkat Kabupaten Lombok Barat di tahun 2012 dan 2013, Nirmala akhirnya tampil sebagai juara I. Namun ketika melanjutkan lomba tersebut ke tingkat Provinsi Nusa Tenggara Barat, ia selalu gagal meraih juara I. Nirmala harus puas menduduki peringkat II. “Saya menangis karena dua kali gagal padahal saya sudah berusaha sekuat

Nirmala saat meneriman penghargaan di Penas

tenaga menyiapkan diri mengikuti lomba ini,” katanya. kegagalan itu menjadi pecut semangat Nirmala yang akhirnya berdiri sebagai Juara

Nirmala (dua dari kiri depan) mewakili Indonesia dalam kegiatan di Jepang

Sarjana Penggerak Pembangunan Sejak tamat kuliah di Fakultas Pertanian Universitas Mataram, tahun 2005, Nirmala sibuk dengan aktivitas menjadi guru les berbagai bidang studi bagi anak-anak TK, SD, SMP dan SMA. Sampai akhirnya di tahun 2007, Nirmala mulai mengabdikan dirinya dalam kegiatan-kegiatan di desa tempatnya tinggal, Dusun Merembu Barat Desa Merembu Kecamatan Labu Api Kabupaten Lombok Barat NTB ketika ia diangkat sebagai KAUR Kesra selama dua bulan. Kegesitan Nirmala membawanya pada berbagai aktivitas di desanya seperti menjadi Sarjana Penggerak Pembangunan di Perdesaan dan lainnya. Ia juga aktif sebagai seorang penyuluh swadaya yang melakukan pendekatan pada kelompok-kelompok

tani sejak tahun 2012. Ia sangat senang menjalankan aktivitasnya khususnya bersama para petani. Bakat mengajar yang ada dalam dirinya, ditambah ia rajin buka internet dan membeli buku seputar pertanian membuat ia mudah berinteraksi dengan petani. Pengalaman bersama petani membuatnya betah menjadi penyuluh swadaya meski ia tak bergaji tetap dalam menjalankan pekerjaan ini. Ia hanya mendapat insentif pada tiap kali ada program dan pertemuan dengan petani. “Mengajarkan petani cara bertani, tentu kalah ilmu lapangan saya dengan mereka. Para petani sangat menyukai pengetahuan tentang jenis tanaman, hama penyakit dan cara penanggulangannya. Selain itu ternyata para petani suka dengan sejarah tanaman yang mereka tanam,” kata Nirmala. Nirmala yang tertarik dengan pertanian sejak kecil akhirnya membuktikan diri bahwa ia bisa berkontribusi di dunia pertanian ini dengan berbagai prestasi. Memilih kuliah di fakultas pertanian awalnya sesungguhnya ‘kurang’ direstui orangtuanya yang menginginkan ia menjadi seorang guru. Karena itu, Nirmala bertekad membuktikan pada orangtuanya bahwa pilihannya pada pertanian tidak salah. Namun, bakat dan naluri mengajar Nirmala yang yang dilihat oleh orangtuanya ini, rupanya tidak bisa padam. Karena itu, sejak tamat kuliah Nirmala langsung menjadi guru les bagi anak-anak sekolah baik di desanya maupun di banyak tempat lain yang mempercayakannya untuk mengajar. Selain mengajar baca tulis bagi anak-anak TK di rumahnya, seusai mereka pulang sekolah, ia juga mengajar les untuk berbagai bidang studi bagi anak SD, SMP dan SMA. Nirmala menjadi guru les panggilan yang sewaktu-waktu dibutuhkan. Langganan lesnya bahkan menurun dari satu murid ke murid lainnya dalam satu keluarga ataupun berantai dari satu siswa ke siswa lainnya. “Honornya lumayan bisa menjadi penghasilan tambahan dalam keluarga,” ungkapnya tersenyum. -Naniek I. Taufan

Nirmala (paling kanan depan) saat berada di Jepang

I pada Lomba Temu Karya Petani PENAS Nusa Tenggara Barat, di tahun 2014, dengan karya “Tomat Organik Sistem Kue Lapis”. Dan karya ini akhirnya juga membawa nama Nusa Tenggara Barat sebagai terbaik ketiga dalam ajang nasional Lomba Temu Karya Petani pada PENAS di Malang, Jawa Timur, 2014. Tidak itu saja, Nirmala juga akhirnya menjadi salah seorang dari tiga orang (dari Kementrian Pertanian RI, Lembaga Ekonomi Pertanian dari Aceh dan Penyuluh Swadaya dari NTB) yang mewakili Indonesia berkesempatan berkunjung ke Jepang, Agustus 2015 lalu untuk mengikuti kegiatan Training Course on “The Roles of Agricultural Cooperatives in Formation of Food Value Shain yang diselenggarakan MAFF Japan ASEAN IDACA JA Zenchu, di Tokyo dan Gunma, Jepang. Nirmala adalah sosok perempuan aktif yang tekun dan gigih. Meski sempat menangis ketika menemui kegagalan itu, namun Nirmala tidak pernah menyerah. Baginya kegagalan yang membawa kesedihan itu adalah bagian dari prosesnya dalam meraih prestasi. Karya tulis tentang tomat organik sistem kue lapis itu idenya ia dapat begitu saja berdasarkan ilmu yang pernah dipelajarinya. Ditambah lagi selama bergaul dengan para petani ia banyak mendengar bahwa menanam dan merawat tomat itu gampang-gampang susah. “Tapi rupanya banyak sulitnya karena tomat sangat rentan terhadap penyakit. Saya ingin menemukan cara menyelesaikan masalah tomat

ini mulai dari ibu rumah tangga hingga ke sawah. Karena kalau tomat mahal, ibu rumah tangga juga yang susah,” ujarnya. Karena keinginan besarnya untuk bisa meraih prestasi, Nirmala melakukan penelitian dan menulis segala hal tentang karyanya itu. Di samping ingin karya ini sebagai prestasinya, ia juga memikirkan tentang upaya untuk membuat tanaman tomat menjadi lebih subur dan tahan lama. “Yang paling penting juga menghasilkan tomat organik yang subur tanpa pupuk kimia sehingga lebih sehat untuk dikonsumsi,” katanya. Selain itu sistem tanam ini mudah dan dapat dilakukan di rumah tangga menggunakan pot-pot sederhana. Satu media dapat digunakan hingga empat kali tanam. “Disebut sistem kue lapis karena media tanamnya berlapis-lapis seperti kue lapis. Mulai dari lapisan terbawah yaitu sekam yang telah dibakar (arang sekam), lalu di atasnya pupuk organik (kompos) dan lapisan teratas adalah atas tanah,” katanya. Berdasarkan hasil penelitiannya, tanaman tomat senang dan cocok dengan media ini. Dalam media ini, pertumbuhan tomat semakin hari akan semakin membaik, karena akarnya akan terus menembus ke lapisan-lapisan terbawah yang semakin subur. Menurut Nirmala, karena menggunakan pupuk organik dari media ini, hasilnya tomat dapat tahan dari penyakit dan awet alami selama dua minggu tanpa dimasukan ke lemari pendingin dengan rasa yang lebih gurih dan tidak kecut.. -Naniek I. Taufan

Ralat: Pada rubrik Mandalika edisi 867/21-27 September 2015, tertulis lomba mewarnai tenun NTB diikuti tidak kurang dari 7.000 anak yang digelar di depan Pendopo Gubernur NTB berhasil mencatat rekor MURI. Seharusnya bukan rekor MURI melainkan mencatat rekor dunia yang diberikan oleh Lembaga Prestasi Rekor Indonesia Dunia (LEPRID). Atas kesalahan ini kami mohon maaf.

Caption tertulis:

Rekor MURI untuk lomba mewarnai tenun khas NTB yang diikuti oleh 7.000 peserta anak-anak.

Caption yang benar:

Paulus Pangka (dua dari kanan) usai menyerahkan piagam dari LEPRID kepada Bunda PAUD NTB, Hj. Erica Zainul Majdi dan instansi penyelenggara lainnya atas prestasi NTB dalam lomba mewarnai tenun NTB yang diikuti oleh tidak kurang dari 7.000 anak NTB.

Inspirasi Haniva Azzahra

Edisi 869/ 5 - 11 OKTOBER 2015

5

Pendiri Flohope Indonesia

Berawal dari tugas kampus yang mengharuskan mahasiwa penerima beasiswa UI Leaderships Development Programme membuat kegiatan pemberdayaan ekonomi , Haniva Az Zahra dkk-nya justru berhasil menciptakan peluang bisnis bagi para ibu-ibu penyapu jalan. Lewat Flohope (Flower of Hope), komunitas yang dia dirikan bersama teman-temannya, bukan saja membantu meningkatkan perekonomian para ibu penyapu jalan yang sebagian besar adalah tulang punggung keluarga, tapi juga mendidik mereka bagaimana mengelola keuangan secara benar.

Para ibu penyapu jalan binaan flohope sedang membuat bunga

“M

ereka, kami ajarkan cara membuat bunga-bunga dari kain flanel, mengemasnya dengan baik. Hasilnya, kami pasarkan antara lain lewat media sosial seperti twitter, Facebook juga padaeventevent di kampus. Hasilnya cukup bagus, meski tidak terlalu besar, namun dapat membantu meningkatkan penghasilan mereka,” ungkap Haniva Az Zahra seraya menambahkan, resminya Flohope didirikan pada 1 Desember 2012. Kegiatan ini, memang pada awalnya merupakan tugas kampus untuk membuat kegiatan sosial yang memberi keuntungan ekonomi pada komunitas yang diberdayakan (social entrepreneurship). Namun setelah tugas kampus selesai, Zahra dkk tidak meninggalkan para ibu itu begitu saja. Kegiatan ini tetap berlanjut bahkan dikembangkan lebih besar lagi. “Kebanyakan teman mahasiswa mencari di luar kampus, tapi kami justru mengambil yang ada di dalam lingkungan kampus. Sesuatu yang kita temui sehari-hari ketika berjalan di kampus. Ya, kadang orang tidak sadar bahwa ada sosok-sosok di dekat kita yang membutuhkan perhatian, mereka berjasa kepada kita. Mereka (ibu-ibu penyapu jalan) dekat dengan mahasiswa. Pendapatan mereka di bawah UMR,” ujar Zahra menceritakan latarbelakang berdirinya Flohope. Waktu melakukan kajian, katanya Zahra, penghasilan para ibu itu sekitar Rp165.000 per-minggu. Jumlah itu tentunya jauh dari cukup untuk memenuhi kebutuhan perekonomian keluarganya. Apalagi, katanya, sebagian besar dari mereka adalah

para janda yang sudah barang tentu menjadi tulang punggung perekonomian keluarga. “Jadi kami pikir, mereka bisa diberdayakan, karena mereka kan membutuhkan secara ekonomi,” ucap gadis kelahiran Yokohama, Jepang, 23 tahun lalu ini. Bersama lima temannya, Zahra pun merancang sebuah bisnis yang bisa memberdayakan ekonomi para ibu penyapu jalan. Pilihan mereka adalah kerajinan tangan dari kain flanel. Saat itu, paparnya, jumlah ibu-ibu penyapu jalan di UI sekitar 40 orang. Namun ketika dicoba, ternyata, tidak semua dari ibu-ibu tersebut mampu mengerjakan pembuatan bunga. Karena bunga-bunga ini akan dijual, tentunya dibutuhkan orang yang mampu mengerjakannya dengan baik. Akhirnya dari 40 orang, Zahra dkk menyaring sekitar enam ibu untuk mengerjakan proyek tahap pertama tersebut.

“Yang mengajarkan adalah teman kami, Rahma Ayudya, mahasiswa Fakultas Sastra. Dia memiliki keahlian membuat bunga-bungaan dari kain flanel. Selain Rahma, kami sendiri pun juga ikut membantu mengajar. Dari 40 orang ibu, kami mengambil enam orang untuk mengerjakan proyek tahap pertama,” katanya. Soal permodalan pada awal proyek, tambahnya, awalnya berasal dari tim Flohope. Namun setelah bisnis ini berkembang maka Flohope mendapat suntikan dana dari Sedekah Brutal. Per-dua pekan, para ibu ini mendapat dropping kain flanel plus perlengkapan lainnya untuk pembuatan bunga. “Ibu-ibu yang trampil, dapat menghasilkan sekitar 80 bunga. Tapi bagi yang kurang trampil, mereka hanya bisa menghasilkan sekitar 50 bunga. Kami membayar Rp2000 per bunga,” jelasnya. Kepada para ibu ini, katanya, juga diajarkan tentang kualiti kontrol, dimana mereka diajarkan tentang membuat produk dengan stardar tertentu agar jika disampaikan ke konsumen, hasilnya tidak berbeda antara satu produk dengan lainnya. “Selain itu, kami juga mengajarkan mereka bagaimana mengelola penghasilan dengan baik. Pelatihan financial planning, itu yang kami lakukan agar uang yang kami berikan bisa dikendalikan dengan baik oleh para ibu sehingga tak habis begitu saja. Tidak lagi ‘gali lubang-tutup lubang’ dalam menjalani hidupnya. Jadi ketika mendapat uang pembayaran atas karya mereka, kami tawarkan berapa yang akan diambil, berapa yang akan ditabung untuk keperluan darurat mereka,” tambahnya. Semua pengerjaan ini, lanjutnya, dikerjakan para ibu di rumah di

Haniva Azzahra sela-sela waktu istirahat mereka. “Para ibu ini kan sebelumnya telah memiliki pekerjaan di kampus kami. Jadi mereka mengerjakannya di rumah, setelah pulang kerja,” ucapnya. Diakui Zahra, sejauh ini memang apa yang didapat ibu-ibu penyapu jalan tidak lah besar, tidak sampai mencapai UMR. Namun begitu, ‘sedikit-banyak’ kegiatan ini bisa membantu meningkatkan perekonomian mereka. Setidaknya hal ini diakui oleh para ibu yang terlibat dalam proyek tersebut. Di sisi lain, tambah Zahra, adanya kegiatan ini juga semakin membuka mata bagi para mahasiswa tentang keberadaan para ibu penyapu jalan yang selama ini banyak berjasa. “Jadi setidaknya dengan ini para mahasiswa menjadi semakin perhatian, tidak lagi membuang sampah sembarangan, dll,” katanya. MELEBARKAN SAYAP Tak disangka, buket bunga kain flanel yang cantik itu mendapat respon bagus dari masyarakat, khususnya kalangan mahasiswa dari berbagai kampus. Hal itu ditandai dengan semakin meningkatnya jumlah pemesan, terutama pada event-event yang digelar di kampus, seperti acara wisuda, dll. Para ibu sudah barang tentu bergembira. Karena dengan pesanan meningkat, berarti penghasilan meningkat pula. Tak terasa usia Flohope hampir 3 tahun, perkembangannya pun cukup pesat. Untuk menjalankan organisasi ini, kata Zahra, bukannya tanpa kendala dan tantangan. Salah satunya adalah pada mahasiswa itu sendiri. “Salah satu tantangannya adalah dari para mahasiswa itu sendiri. Biasanya kan mahasiswa selalu punya semangat untuk memberikan manfaat untuk orang lain. Hanya saja, terkadang terbentur dengan peran utama sebagai mahasiwa. Ada tugas-

tugas kuliah yang harus dikerjakan, ujian-ujian yang harus dihadapi, yang tentunya perlu persiapan belajar. Belum lagi, karena pertemuan dengan para ibu biasanya dilakukan pada akhir pekan, terkadang ada saja di antara kami yang tidak bisa datang karena ada acara keluarga, dll,” jelasnya. Kini para pengurus Flohope tidak hanya menangani bisnis penjualan bunga flanel, tapi juga melebarkan sayap ke bidang pendidikan anak. Di antaranya adalah mengajar anak-anak di LP dan juga sekolah non formal untuk anakanak beberapa daerah di antaranya ; Susukan, Bojonggede, Bogor. Saat memulai proyek tersebut, Zahra dan kawan-kawannya telah menginjak Semester VI. Artinya tak lama lagi mereka akan lulus dan berkiprah di luar kampus. Karenanya regenerasi kepengurusan Flohope harus dilakukan agar organisasi ini bisa terus hidup dan berkembang. “Jadi kami membuka rekrutmen untuk adik-adik kelas agar nanti ketika para pendiri sudah lulus dan berkiprah di luar, Flohope bisa tetap hidup dan berkembang karena ada penggantinya,” kata Zahra yang lulus Sarjana Psikologi tahun 2013. “Saya kuliah 3,5 tahun, diwisuda tahun 2013, kemudian bulan September saya mengambil program S2 untuk Profesi Psikolog,” tambahnya. Kini kepengurusan Flohope telah berganti, para pendiri, Zahra dkk telah berkipah di luar kampus. Namun begitu, tambahnya, mereka tidak ‘melepaskan’ perhatiannya kepada organisasi yang mereka dirikan itu. “Kami memang tidak lagi seaktif dulu. Tapi kami tetap memantau perkembangannya, memberi saran-saran jika memang dibutuhkan. Kami juga sesekali terjun langsung,”ucapgadis cantik yang kini membuka praktek sebagai konsultan psikolog untuk perusahaan dan sekolah. -Diana Runtu


4

Inspirasi

Edisi 869/ 5 - 11 OKTOBER 2015

Ni Nyoman Suciati

Mencari Hiburan dan Penghasilan Usia senja tak halangan bagi Ni Nyoman Suciati untuk terus berdagang di Pasar Kereneng, Denpasar. Aktivitas ini sudah ia lakoni sejak tahun 1970. Apa yang membuat ibu lima anak ini bertahan sebagai pedagang? Bagaimana ia mengelola permodalan?

S

iang hari, suasana pasar Kereneng tak begitu ramai. Para pedagang sudah mulai santai. Demikian juga dengan Suciati yang berjualan jaja (kue) kering dan jaja banten di lantai 2. “Tiang jualan sejak tahun 1970-an. Waktu itu jualan jaja basah, Tempatnya pindahpindah. Mulai tahun 1978 baru menetap di los lantai 2 dan beralih ke jaja kering,” ujar istri Ketut Diakta ini. Ia menuturkan penjualan jaja kering dan jaja banten sangat stabil. Tiap hari ada saja orang yang mencari jaja banten. Hal ini dimaklumi karena hampir tiada hari tanpa upacara agama di Bali. Tentu saja keperluan seperti jaja banten menjadi. Ia banyak mendapat pasokan dari pedagang jaja yang ada di Sukawati, Gianyar dan Bangli. Suciati berjualan tiap hari mulai pukul 05.30 hingga 14.00. “Selesai jualan, tiang pulang ke rumah, ngempu cucu,” ujar nenek 8 cucu ini. Tak ada raut wajah kelelahan walaupun usai bekerja di pasar. Baginya, bekerja itu mencari hiburan sekaligus penghasilan. Dari hasil berjualan, ia bisa menyekolahkan lima anaknya

hingga menjadi sarjana. Mereka adalah Wayan Darmayasa, S.E., Kadek Sudiantari, S.E., Komang Daryana, S.T., Ketut Widarsana, S.E., dan Putu Ayu Trisnawati, S.S. Selain anak kandung, wanita yang hanya tamat SR ini punya 7 anak angkat. Mengenai permodalan, Suciati mengaku sudah menjadi nasabah BRI sejak berjualan di pasar Kereneng. Hingga kini pun ia setia dengan bank yang pada 16 Desember 2015 merayakan ulang tahun ke-120 ini. “Prosesnya cepat, bunganya rendah, maksimal tiga hari sudah bisa cair,” ujar penerima Kredit Usaha Rakyat (KUR) ini. Ia menggunakan dana KUR untuk menambah permodalan. Suciati juga salut dengan kinerja tim BRI yang siap melayani konsumen. Ia tak perlu repot meninggalkan dagangan karena pegawai Teras BRI yang datang memberikan pelayanan. Proses administrasi pun dibantu BRI sehingga memudahkan pedagang kecil untuk mendapatkan kredit. MENUMBUHKAN SEKTOR EKONOMI RIIL Menurut Widodo Januarso, Pemimpin Wilayah BRI Den-

Suciati

Mandalika

Edisi 869/ 5 - 11 OKTOBER 2015

Jaga Momentum, Pastikan Percepatan

Lima tahun pertama kepemimpinan Gubernur Muhammad Zainul Majdi (2008-2013), NTB meraih sejumlah capaian yang mendapat pengakuan luas secara nasional. Sebut saja misalnya kinerja penanggulangan kemiskinan yang progresif, angka putus sekolah turun tajam, “ledakan” satu juta kunjungan wisatawan, beroperasinya Bandara Internasional Lombok (BIL) sekaligus menjadi embarkasi haji nasional, penyelesaian infrastruktur jalan terutama di Pulau Sumbawa, semua itu merupakan buah dari satu tekad besar untuk melakukan satu lompatan, bekerja dengan sprit percepatan.

Suciati saat melayani pembeli

pasar, KUR merupakan pembiayaan kepada usaha mikro kecil dalam bentuk pemberian modal kerja dan investasi yang didukung fasilitas penjaminan untuk usaha produktif. Ini merupakan program yang dicanangkan pemerintah namun sumber dana berasal sepenuhnya dari dana bank. KUR dibedakan menjadi dua, KUR mikro untuk debitur di bidang usaha produktif dengan plafon sampai Rp 25 juta serta KUR ritel untuk usaha produktif dengan plafon sampai Rp 500 juta. “Dulu di era Presiden SBY, KUR sudah ada tetapi kemudian vakum. Ada moratorium dari pemerintah dan adanya pengkajian ulang karena bunga yang terlalu tinggi dirasa sangat memberatkan nasabah. Sejak 18 Agustus 2015, pemerintahan Presiden Jokowi kembali menjalankan program KUR dengan bunga lebih murah untuk menumbuhkan perekonomian di sektor riil,” jelas Widodo. BRI sebagai salah satu bank milik pemerintah yang terbesar

S

Widodo Januarso

di Indonesia pun mengambil peran dalam upaya menumbuhkan sektor riil ini. BRI Kanwil Denpasar yang membawahi Bali, NTB, dan NTT menargetkan penyaluran KUR hingga Rp 1,2 triliun. “Dari diluncurkan 18 Agustus 2015 hingga akhir September 2015 sudah 30% yang tersalur-

Suciati di los Pasar Kereneng

kan baik untuk mikro maupun ritel. Masih ada waktu hingga akhir tahun 2015 ini. Kami bekerja all out untuk mendukung program pemerintah, termasuk bekerja Sabtu dan Minggu untuk melayani nasabah,” ungkap Widodo seraya mengatakan secara persentase penyaluran KUR di wilayah BRI Denpasar merupakan yang tertinggi di Indonesia saat ini. Kendala yang dihadapi salah satunya pengurusan Izin Usaha Mikro dan Kecil (IUMK). Banyak pedagang yang tidak sempat untuk mengurus dokumen ini karena kesibukan mereka. Koordinasi antara Departemen Koperasi dan UMKM serta Departemen Dalam Negeri sudah dilakukan untuk mempermudah syarat ini. “BRI punya misi melakukan kegiatan perbankan yang terbaik dengan mengutamakan pelayanan kepada usaha mikro, kecil, dan menengah untuk menunjang peningkatan ekonomi masyarakat,” tegas Widodo. –Ngurah Budi

21

Percepatan pembangunan PLTU Jeranjang

pirit percepatan inilah yang hendak dipastikan tetap terjaga pada kepemimpinan Dr. TGH. M. Zainul Majdi untuk kedua kalinya 2013-2018. Pada 17 September 2015 lalu, tepat dua tahun kepemimpinan Dr. M. Zainul Majdi sebagai Gubernur NTB periode kedua yang didampingi Wakil Gubernur NTB, H. Muh. Amin dalam memimpin NTB. Sejumlah ikhtiar percepatan telah dilakukan pasangan yang populer disebut TGB-Amin ini. Sebagian besar merupakan kelanjutan, sebagian lainnya merupakan terobosan awal yang meletakkan dasar untuk percepatan pada tahun-tahun berikutnya. Pada masa depan beberapa hal yang menjadi fokus capaian dan agenda percepatan, yang sedang dan terus diikhtiarkan oleh TGB-Amin. Lompatan tiga tingkat Indeks Pembangunan Manusia Badan Pusat Statistik pada awal September 2015 merilis Indeks Pembangunan Manusia (IPM) secara nasional. NTB menjadi “bintang” dengan masuk sebagai Indonesia Top Movers 2010-2014. NTB melompat dari peringkat 33 menjadi peringkat 30 nasional. Dari tiga indikator IPM, indikator kesehatan harus menjadi perhatian serius untuk terus dibenahi. Sementara untuk indikator pendidikan dan ekonomi, kinerjanya relatif kompetitif untuk bersaing dengan daerah lainnya. Mendorong Percepatan Penanggulangan Kemiskinan Pelambatan kinerja ekonomi nasional dan pelemahan drastis nilai tukar rupiah, memang jadi faktor eksternal yang menghantam daya tahan ekonomi di hampir semua daerah. Menurut data BPS, jumlah orang miskin di NTB pada 2015 bertambah hingga 7.000 jiwa dibandingkan tahun sebelumnya.

Ini menjadi tantangan besar bagi percepatan kinerja penanggulangan kemiskinan di NTB yang mematok target menekan kemiskinan hingga rata-rata 1 persen pertahun seperti yang dimandatkan di RPJMD 2014-2018. Mendorong Percepatan Pengelolaan Kawasan Strategis Antara lain Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Mandalika di Lombok Tengah. Inilah kawasan seluas kurang lebih 1.300 hektar yang nantinya akan “disulap” menjadi kawasan pertumbuhan ekonomi dengan fokus utama pada pengembangan pariwisata dan ekonomi penunjangnya. Selain KEK Mandalika, terdapat pula kawasan Bandar Kayangan di Lombok Utara. Inilah kawasan yang benar-benar baru dirintis untuk untuk menjadi kota pelabuhan internasional. Kawasan lainnya yang juga begitu potensial dikembangkan, adalah kawasan SAMOTA (Teluk Saleh, Moyo dan Tambora) di Pulau Sumbawa. Kawasan ini ibarat aquarium raksasa. Menyimpan potensi perikanan dan pertanian yang dasyat, sekaligus daya tarik pariwisata yang mempesona.

Penopang Utama Swasembada Pangan Nasional Awal 2015 Presiden Jokowi mencanangkan target nasional swasembada pangan terutama untuk komoditas padi, jagung dan kedelai (pajale). NTB ditetapkan sebagai salah satu daerah penyangga utama keberhasilan target swasembada itu. Tak kurang dari Rp 500 miliar dana dikucurkan dari pusat untuk mendukung percepatan peningkatan produksi. Pada pertengahan 2015, untuk pertama kalinya NTB mengekspor jagung ke Filipina sebesar 140 ribu ton. Percepatan Industrialisasi Komoditas PIJAR PIJAR singkatan dari Sapi, Jagung, Rumput Laut. Inilah tiga komoditas unggulan daerah NTB.

Bendungan Pandan Dure Lombok Timur

dilakukan untuk itu. Antara lain revitalisasi rumah potong hewan, peningkatan kapasitas rumah kemasan, Merintis pendirian pabrik kosmetik berbahan baku rumput laut, serta mendorong berkembangnya wirausaha baru berbasis komoditas PIJAR. Percepatan realisasi 500 koperasi syariah dan pembenahan 32 sentra UMKM Dua program strategis ini diharapkan mampu menjadi pendukung untuk penguatan daya

Peresmian bendungan Rababaka

Jika pada periode pertama 20082013, titik tekan percepatan difokuskan pada peningkatan populasi dan produksi, maka pada periode kedua 2014-2018, pemerintah NTB berusaha keras merintis dan mendorong tumbuhnya industrialisasi produk PIJAR. Sejumlah langkah strategis

Salah satu komitmen Pemerintah Provinsi NTB di bawah kepemimpinan TGB-Amin, yakni meningkatkan kualitas dan kuantitas pendidikan bagi seluruh masyarakat NTB

tahan ekonomi daerah, sekaligus menjadi tumpuan peningkatan kesejahteraan masyarakat. Percepatan Penuntasan Pembangunan Infrastruktur Pertanian, antara lain pembangunan Teluk Awang di Sebagai Pelabuhan Perikanan Nasional. Ini mega proyek strategis nasional yang

lama dinanti penyelesaiannya. Infrastruktur pertanian lainnya, yaitu Bendungan Pandandure di Lombok Timur, dua tahun terakhir sudah mulai beroperasi. Sementara pembangunan Bendungan Rababaka di Dompu dan Bintang Bano di Sumbawa, sedang dalam tahap persiapan pembangunan. Percepatan Menuju Dua Juta Kunjungan Wisata pada 2017 Pertumbuhan angka kunjungan ke NTB relatif stabil. Berkisar antara 20-25 persen dalam tiga tahun terakhir. Pada 2013 angka kunjungan telah mencapai 1,3 juta, meningkat menjadi 1,6 juta pada akhir 2014. Pada 2015 ditargetkan bisa menembus 1,8 juta. Dengan tingkat pertumbuhan yang stabil, besar harapan dan keyakinan sektor pariwisata bisa menjadi lokomotif pengerak utama pertumbuhan ekonomi NTB, sekaligus menjadi sumber penyerapan tenaga kerja dan pengerak ekonomi produktif masyarakat. Percepatan NTB Sebagai Destinasi Utama Wisata Syariah di Indonesia Trend wisata syariah yang melaju cepat seiring dengan pertumbuhan kelas menengah ekonomi muslim di tanah air, dan belum tersentuhnya dengan maksimal pasar wisata Timur Tengah, menjadi peluang bagi NTB untuk mengelola wisata syariahnya. – Hms/Naniek I. Taufan

Peningkatan layangan kesehatan yang membaik turut menunjang naiknya peringkat IPM NTB


22

GORO-GORO

Edisi 869/ 5 - 11 oktober 2015

Penghasilan “Pengojek” tak Seindah Dulu Transportasi berbasis aplikasi tengah ngetren di Jakarta. ‘Gojek’, Grabbike, Grab Taxi, Uber, begitu menarik perhatian masyarakat lantaran beritanya setiap hari muncul di media massa. Mulai dari soal murahnya tarif transportasi berbasis aplikasi itu jika dibanding dengan transportasi umumnya, juga kisah perseteruan pengemudi Gojek, Grabbike vs pengojek pangkalan.

K

isah-kisah sukses para pengojek yang terangkat perekonomiannya setelah bekerja di Gojek, Grabbike, ikut mewarnai kehadiran transportasi berbasis aplikasi. Adalah media yang turut ‘membesarkan’ ini sehingga akhirnya perhatian seluruh masyarakat tersedot pada kemunculan layanan transportasi model baru ini. Perhatian dan mengundang penasaran, sehingga jutaan orang pun mengunduh aplikasinya, dan mencoba menikmati layanan murah-meriah yang ditawarkan. Bayangkan dengan Rp 10 ribu (tarif Gojek) atau bahkan Rp 5 ribu untuk jarak tempuh di bawah 25 km, siapa yang tidak mau?! Berbondong-bondong naik Gojek,Grabbike, penghasilan pengojek pun melejit. Mereka yang tadinya hidup ‘ngos-ngosan’ lantaran tingginya biaya hidup di Jakarta, kini bisa menikmati penghasilan setinggi atau bahkan lebih dari pegawai kantoran biasa, bahkan dua atau malah tiga kali lipat dari UMR Jakarta yang Rp 2,7 juta. Kisah-kisah menarik yang dipublikasi berbagai media massa ini mengundang banyak orang ingin menjadi pengojek. Maka tak heran kalau dalam pemberitaan, ketika Gojek dan Grabbike membuka lowongan pengojek di Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta, ribuan orang pelamar menyerbu. Mereka yang berasal dari berbagai latar belakang, dari mulai pengojek pangkalan, mahasiswa, ibu rumah tangga, bahkan orang-orang

yang sebenarnya secara resmi sudah bekerja di sebuah perusahaan tertentu. “Hanya untuk sambilan saja, untuk mencari tambahan,” kata Rivai, seorang yang sehari-hari bekerja sebagai sales otomotif. Walhasil jumlah Gojek dan Grabbike yang ‘luber’ membuat penghasilan para pengojek tidak lagi seindah dulu. Penghasilan Gojek dan Grabbike, menurun. Agaknya ‘bulan madu’ hampir berakhir. Jumlah pengojek berbasis aplikasi yang membludak, membuat persaingan perebutan calon penumpang pun menjadi sangat ketat. “Dulu sebulan saya bisa dapat sekitar Rp 5 jutaan, tapi sekarang ‘boro-boro’. Bisa dapat Rp 3 juta se-bulan rasanya sudah bagus. Itu pun harus kerja keras. Kalau dulu mengambil penumpang yang dekat-dekat saja, tapi sekarang saya nekad ambil penumpang yang jauh. Sekarang temanteman jadi berebut penumpang, siapa cepat dia dapat. Makanya setiap saat saya ‘melototi’ ponsel terus,” tutur Jangkung, pengemudi ojek online. Situasi sudah tidak seperti dulu, katanya. “Kalau dulu bisa lebih santai, memilih-milih penumpang. Itu lantaran pengojek tidak banyak, sementara calon penumpang banyak sekali. Malah dulu saya sempat kewalahan karena calon penumpang tidak ada hentiknya. Memang bawa pulang uang banyak, tapi capenya minta ampun. Tapi sekarang, agak berat,” ucap mantan pengemudi becak ini. Tapi tambahnya lagi, meski

Musibah Belum sebulan, 2 musibah terjadi, menerpa umat Muslim yang tengah menunaikan rukun kelima. Pertama di Mekah, kemudian menyusul di Mina. Ada korban jiwa jemaah haji asal Indonesia. Semua terkejut dan tak putus-putusnya menatap televisi. Ingin lebih tahu apa yang sudah terjadi. Padahal tak ada yang bertanya-tanya, apakah musibah itu sebuah pertanda akan ada apa-apa. Amat mendadak marah sekali. Dia langsung membentak dengan geram. “Ada apa-apa, apa?!! Jangan begitu dong reaksinya! Itu namanya menebar kasak-kusuk! Ya! Pasti akan ada apa-apa! Tidak usah dipertanyakan! Pasti akan ada evaluasi, oleh pemerintah Saudi Arabia, bagaimana agar ke depan musibah yang sama tidak akan terjadi lagi! Artinya pasti akan ada tindakan, perbaikan, perubahan, pengawasan, penyempurnaan, dll, sehingga keamanan dan kenyamanan para jamaah akan terjamin tambah sempurna! Tidak perlu keraguan soal itu!!!” Bu Amat langsung menyikut Amat. “Bapak kok begitu berangasan sih!” “Berangasan bagaimana?” “Marah-marah tak jelas begitu?!” “Tak jelas bagaimana? Jelas sekali! Bapak marah kepada siapa saja yang suka usil, mengorek-orek seakan-akan kalau ada musibah, langsung pikirannya melompat ke depan, akan ada sesuatu apa begitu, yang bakalan menyusul terjadi karena adanya musibah itu. Itu bebiasaan lama yang buruk. Itu tradisi berprasangka yang tendensius. Kebiasaan jelek itu, harus ditinggalkan! Kita harus selalu berpikir positif ! Musibah itu jangan diukir, ditambahtambahi dengan prasangka! Musibah itu musibah itu saja, titik. Bukan tanda-tanda akan datang musibah lain lagi! Kita orang modern. Kalau ada musibah, cepat-cepat kita atasi, cepat kita antisipasi, sehingga tak mugkin ada buntut musibahnya lagi!” “Itu dia! Zaman sudah berubah! Bapak jangan terus menuduh orang lain, masih berpikir negatif ! Jangan-jangan yang berpikir negatif itu Bapak sendiri! Dulu, kata Ami, memang kita semua suka reaktif begitu. Kalau ada apa-apa, refleknya, pasti bakal ada apa-apa. Tapi sekarang, kalau ada apa-apa, semua orang akan mengunci persoalan di situ saja, sehingga tidak blunder, tidak merembet ke manamana tidak karuan!” “Ya, Bapak kan mencegah jangan sampai ada yang mundur lagi digondeli kebiasaan berpikir negatif!”

Putu Wijaya

berbeda dari sebelumnya, Jangkung mengaku tetap bersyukur karena dibanding dengan pendapatannya sebagai pengojek pangkalan, penghasilan menjadi pengojek online masih jauh lebih baik. “Ya, sejeblok-jebloknya penghasilan, tidak seperti dulu lah waktu masih di pangkalan,” ucap lelaki berjaket hijau itu. Selain jumlah pengojek yang semakin banyak, ternyata ada penyebab lain kenapa Jangkung dkk merasakan penurunan calon penumpang. Rupanya, baik Gojek dan Grabbike tidak lagi memberlakukan tarif promo yang murah meriah itu. Menurutnya, itu juga kemungkinan ikut berpengaruh. Kalau dulu tarif promo hanya Rp 10 ribu maka kini tarif naik menjadi Rp 15 ribu. Kembali ke tarif normal membuat sebagian masyarakat kecewa. Sebagian dari mereka menumpahkan kekesalannya lewat media sosial. “Gojek jadi mahal akhirnya gue kembali naik bus lagi,” ucap salah seorang pengguna medsos mengungkapkan kekesalannya. Memang, sejak September lalu manajemen Gojek membuat perubahan tarif lagi. Yang berubah hanyalah tarif pada saat rush hour atau jam sibuk dari pu-

kul 16.00-19.00, khusus wilayah Jakarta. Sedang di luar jam sibuk, tarif tetap flat Rp 15 ribu. Jadi pada Senin-Jumat pukul 16.00-19 berlaku tarif minimum Rp 15 ribu untuk enam kilometer pertama dan Rp 2.500 per-kilometer berikutnya. Inilah yang membuat para pelanggan menjerit. PEMAIN-PEMAIN BARU BERMUNCULAN Uniknya, di tengah situasi demikian, muncul pemain-pemain baru. Sebut saja Blu-Jek yang baru-baru ini terjun ke bisnis ojek online. Pasukan berjaket biru ini masuk ’gelanggang’ bertarung dengan Gojek dan Grabbike. Pendiri Blu-Jek merasa optimis pasar pengguna ojek di Jakarta masih terbuka lebar. Blu-Jek adalah singkatan dari Blusukan dan Ojek. Pada dasarnya, tidak ada yang berbeda antara sistem layanan Blu-Jek dengan dua terdahulu. Hanya saja, Blu-Jek memberi tambahan pada sistem pembayaran yakni penumpang bisa membayar dengan menggunakan e-cash dari Bank Mandiri. “Secara model bisnis sama dengan kompetitor lain. Hanya bedanya, kami menambahkan fitur pembayaran dengan menggunakan ecash Mandiri,”ungkap pendiri Blu

Jek, Michael Manuhutu. Sedang untuk pendapatan, tetap sama, yakni, 80% untuk pengojek dan 20% untuk perusahaan. Namun, karena masih baru (beroperasi mulai 17 September), tentu saja di jalan-jalan di Jakarta, masih sulit ditemui Blu-Jek. Tidak heran, karena jumlah pengemudinya baru 1000-an orang. Hal ini juga diakui oleh pihak Blu-Jek. Mereka tengah terus memproses penambahan jumlah pengojek. Targetnya sekitar 10.000 pengojek. “Yang 5000 lagi sedang dalam proses,” kata Garret Kartono, pendiri Blu Jek lainnya. Selain Blu Jek, layanan transportasi online yang akan masuk adalah bajaj online yang rencananya bakal diluncurkan oleh Organda DKI Jakarta. Namun pengamat transportasi, Damaningtyas mengaku pesimis kalau layanan bajaj online ini akan diminati masyarakat sebagaimana halnya ojek. Ini lantaran daya jangkau bajaj yang terbatas, tidak seluas ojek. Kalau ingin meningkatkan layanan bajaj, menurut Ketua Bidang Advokasi Masyarakat Transportasi Indonesia ini, sebaiknya dengan menerapkan tarif berdasarkan argo daripada dengan sistem online. –Diana Runtu

Edisi 869/ 5 - 11 oktober 2015

3

bacaan wanita dan keluarga

“Lho, Pak. kata Ami, masih ingat? Kita semua sudah tahu, kok, kita harus berpikir positif. Terutama di lingkungan keluarga besar kita sendiri di Indonesia ini, yang beraneka-ragam ini! Kita harus peka pada keberadaan dan kenyamanan bersama. Tapi kalau pakai diingat-ingatkan, apalagi pakai marah-marah dan sok lebih tahu seperti kelakuan Bapak tadi, seperti yang Bapak buat-buat tadi, itu bahaya, Pak?!” Amat tercengang. “Bahayanya apa?” “Sebaliknya dari mengajak semua orang berpikir positif, penyakit lama, kebiasaan lama, justru bisa kambuh lagi, Pak!” Amat tertegun. “Terus terang saja, yang Bapak bentak tadi siapa sebenarnya?” Amat diam. “Yang Bapak anggap akan kambuh lagi reflek berpikir negatifnya, siapa? Terus-terang saja, siapa? Pak Made?” Amat menggeleng. “Pak Alit?” Amat menggeleng. “Bodoh kalau mencurigai mereka berpikir negatif. Mereka justru yang selalu mengajak masyarakat berpikir jernih agar tidak ada gesekangesekan sehalus apa pun! Mereka itu amat hati-hati. Dan, selalu waspada. Tapi tidak dibuat-buat! Jadi siapa? Siapa sebenarnya yang Bapak bentak dan marahi tadi?” Amat mencoba mencari siapa yang harus “dikambing-hitamkan”. Ternyata ia tak berhasil menemukan siapa pun juga. “Jadi siapa dong, Pak? Siapa?” Amat tak menjawab. “Atau dirimu sendiri? Ya? Dirimu sendiri, Pak?” Setelah lama diam, Amat mengangguk. Bu Amat menarik nafas panjang. “Itu namanya Bapak sudah lempar batu sembunyi tangan!!” Amat tak menjawab. “Tapi ada baiknya juga, Pak, daripada batunya tidak ada yang melempar, kita bisa adem ayem, lupa, kurang waspada! Memang cubit-cubitan sedikit perlu, asal jangan keterusan. Sekalian ngecek apa semuanya masih afdol. Jadi terimakasih dari seluruh warga, termasuk dari Pak Made dan Pak Alit serta dokter Soegianto yang baru diangkat jadi pengurus baru masjid di kompleks kita ini.” Amat terkejut.

Penerbit PT Tarukan Media Dharma Terbit sejak 9 November 1998 Pemimpin Umum/Penanggung Jawab Gde Palgunadi Redaktur Pelaksana Ngurah Budi Staf Redaksi/Pemasaran Denpasar IG.A. Sri Ardhini, Wirati Astiti, Sagung Inten Jakarta Diana Runtu NTB Naniek Dwi Surahmi Desain Grafis IDN Alit Budi­artha, I Made Ary Supratman Sirkulasi Kadek Sepi Purnama Se­kretariat Ayu ­Agustini, Putu Agus Mariantara, Hariyono Alamat Redaksi/Iklan Denpasar Gedung Pers Bali K. Nadha, Lantai III, Jalan Kebo Iwa 63 A ­Denpasar 80117–Telepon (0361) 425373, 416676–Faksimile (0361) 425373 Alamat Redaksi/Iklan/Sirkulasi Jakarta Jalan ­Pal­merah ­Barat 21 G Jakarta Pusat 10270– Telepon (021) 5357603-Faksimile (021) 5357605 NTB Jalan Bangau No.15 Cakranegara, Mataram–­Telepon (0370) 639543– ­Faksimile (0370) 628257 Jawa Timur Permata Darmo Bintoro, Jalan Taman Ketampon 22-23 Surabaya–Telepon (031) 5633456–­­ ­Faksi­mile (031) 5675240 Surat Elektronik redaksi@tokoh.co.id, iklan@tokoh.co.id Website www.tokoh.co.id Bank BRI Cabang ­Gajah Mada Denpasar. Nomor Rekening: PT Tarukan Media Dharma: 0017-01-001010-30-6 Percetakan BP Jalan Kebo Iwa 63 A Denpasar

Dompet Ketinggalan di Celana Setelah pekerjaan di kantor beres, saya mampir ke sebuah kafe yang ada dekat kantor. Kafe ini berada di dalam hotel. Karena masih sore, suasana agak sepi. Niat untuk bersantai sembari menikmati makanan pun kesampaian. Makanan dan minuman pun saya pesan. Sambil menunggu, saya membuka-buka ponsel untuk membaca status teman di media social dan membaca berita terkini. Rasanya tak afdol kalau tidak mengikuti perkembangan berita.

Ketika pesanan sudah datang, saya pun dengan lahap untuk makan. Benar-benar hari yang menyenangkan. Kerjaan beres, perut kenyang. Setelah merasa cukup, saya memanggil pelayan untuk meminta bill. Oh my God….ketika mau mengambil dompet di kantong, ada yang ganjil. Kantong saya kosong. Dompet tak ada di kantong. Saya baru sadar, celana yang saya pakai berbeda dengan celana hari sebelumnya. Dompet saya ada di kantong

celana yang sebelumnya. Saya berusaha mengendalikan diri agar tidak panic. Saya menelelepon manajer kafe yang kebetulan saya kenal. Manajer datang dan saya pun menceritakan keapesan saya. Ujung-ujungnya minta tolong dibayarkan dahulu. Sebagai gantinya saya akan menraktir dia di lain kesempatan. Manajer itu tertawa dengan apa yang saya alami. Dia pun membereskan tagihan. Lega rasanya. Ternyata banyak yang bilang ketinggalan ponsel lebih

mengkhawatirkan daripada ketinggalan dompet. Tetapi, pelajaran bagi saya ketinggalan dompet juga mengkhawatirkan. Jadi lebih baik tidak ada yang ketinggalan. Sejak pengalaman itu, saya selalu menempatkan dom-

pet, ponsel, dan kunci mobil berdekatan. Hal ini memudahkan saya untuk mengambil. Jangan pernah menyimpan barang-barang tersebut di celana karena celana bisa berganti. (Putra Ariawan, Gianyar)

Bagi pembaca yang memiliki kisah unik, seru, menyebalkan, atau mengasyikkan dan ingin berbagi dengan pembaca ­lainnya, silakan kirim kisah Anda ke redaksi@tokoh.co.id. ­Panjang naskah maksimal 3.000 karakter. Sertakan juga nama dan nomor kontak Anda. Naskah yang muat di rubrik “OMG” akan mendapat bingkisan Tokoh. Info lebih lanjut, silakan hubungi Redaksi Mingguan Tokoh (0361) 425373


2

Sosialita

GORO-GORO

Edisi 869/ 5 - 11 OKTOBER 2015

D r. P u t u D ya t m i ka wa t i , S . H . , M . H u m

Harus Jadi Contoh

M

enurut ahli Gizi Klinik FK Unud, Dr. dr. Gde Ngurah Indraguna Pinatih, Sp.GK, ada beberapa alasan orang memilih menjalani pola hidup vegetarian, seperti alasan menjaga kesehatan, menjaga lingkungan, dan berbagai alasan lainnya. Ada beberapa jenis vegetarian seperti vegan vegetarian, yaitu vegetarian yang murni tidak makanan dari daging, ikan maupun produk ikutannya dan hanya mengonsumsi makanan dari sayuran, dan buah-buahan. Lacto

sela-sela kegiatan sebagai rektor, saya tetap melakukan penelitian. Rektor itu kan dosen yang dipercaya untuk menjadi pimpinan universitas. Dasarnya ya tetap dosen,” ujar Dosen Berprestasi di Kopertis Wilayah VIII tahun 2008 yang sudah menghasilkan 4 buku individu dan beberapa buku yang dikerjakan bersama tim ini.

Dyatmikawati bersama Menkop dan UKM AA Ngurah Puspayoga

S

ebagai rektor perempuan pertama di Universitas Dwijendra, Dyatmikawati memikul tugas dan tanggung jawab besar. Ia harus menjadikan Universitas Dwijendra lebih baik dari hari ini. Pendekatan kekeluargaan terhadap dosen, pegawai, dan mahasiswa menjadi salah satu kiatnya. Namun, di sisi lain, ia memiliki sikap otoriter. “Inilah seni memimpin. Ada saatnya menggunakan pendekatan kekeluargaan karena dosen dan staf saya anggap saudara, mahasiswa saya anggap adik. Ada juga saatnya saya harus otoriter. Kalau aturan sudah disepakati, ya harus diikuti,” ujar perempuan kelahiran Denpasar, 27 Juli 1958 ini. Ia menuturkan pengalamannya ketika masih menjadi Dekan Fakultas Hukum Universitas Dwijendra. Mahasiswa yang tidak pernah kuliah atau jarang kuliah “diancam” tidak diperkenankan ikut ujian akhir semester. Mereka dipanggil untuk diberi pengarahan tentang pentingnya kehadiran

di kelas. Kuliah bukan sekadar mencari gelar tetapi kesempatan untuk mendapatkan ilmu pengetahuan sesuai dengan jurusan yang dipilih. Semua harus dijalani dengan ikhlas dan tanpa beban. Manajemen waktu menjadi salah satu kuncinya. Dari pendekatan dengan seni kepemimpinan yang elegan ini, Dyatmikawati menegaskan bukan untuk memunculkan rasa takut. Ia lebih mengedepankan rasa malu. Misalnya, malu karena sering terlambat, malu karena sering tidak ke kampus. Selain itu menjadi civitas akademika tidak hanya berkutat dengan pendidikan karena Tri Dharma Perguruan Tinggi mencakup pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk penelitian, istri Drs. M.S. Chandra Jaya, M.Hum ini selalu mendorong para dosen untuk melakukan penelitian kemudian membukukan hasil penelitian serta menyosialisasikan. “Saya tidak bisa hanya memberi contoh. Saya harus menjadi contoh. Di

Suka-duka dialami Dr. Putu Dyatmikawati, S.H.,M.Hum sejak menjadi Rektor Universitas Dwijendra Denpasar tahun 2014 menggantikan Dr. I Ketut Wirawan, S.H., M.Hum. Apalagi sebagai seorang wanita ia memiliki tanggung jawab di rumah dan di tempat bekerja. “Saya selalu mengatur waktu dengan baik. Urusan rumah tangga dibereskan dulu, setelah itu urusan kampus. Syukurnya semua dapat berjalan dengan baik,” ujarnya. Ibu tiga putra, Agung Satrya Wibawa Taira, Krishna Satrya Nugraha Taira, dan

“Kami melakukan survey terlebih dahulu sebelum memberikan bantuan. Ada beberapa syarat, yakni penerima bantuan tidak merokok, tidak punya ponsel, tidak berjudi, dan tanah yang ditempati milik sendiri. Tujuan dari persyaratan ini adalah kami ingin bantuan tepat sasaran. Begitu nama penerima masuk, kami langsung rapat dengan tim. Fakultas Teknik bertugas membuatkan gambar. Begitu gambar jadi, mer-

Aditya Satrya Iswara Taira ini mengaku berusaha untuk menjalankan hidup dengan keikhlasan dan penuh rasa syukur. Ia juga tidak mau membebani diri dengan target yang muluk-muluk. “Dulu saya punya target harus menyelesaikan S3. Kalau standar tercepat selesai 3 tahun, saya pasang target 6 tahun agar tidak stress. Dalam perjalanan, saya berusaha melakukan yang terbaik, mengatur diri, akhirnya bisa selesai 3 tahun. Semua ini juga berkat dukungan keluarga,” tegas dosen yang mulai kariernya tahun 1987 ini. Bersama suami yang menjadi Ketua

Yayasan Dwijendra Pusat Denpasar, ia juga lebih mudah untuk melakukan koordinasi. “Menjadi pimpinan yang harus menghadapi berbagai macam karakter harus disikapi dengan bijaksana. Tidak mungkin semua senang. Pro-kontra pasti ada saja. Saya berusaha menjalani proses ini dengan seni kepemimpinan yang saya pilih. Muaranya adalah Universitas Dwijendra yang memiliki Fakultas Teknik, Fakultas Hukum, Fakultas Pertanian, Fakultas Ilmu Komunikasi, dan Fakultas Ilmu Keguruan dan Ilmu Pendidikan serta Yayasan Dwijendra selalu menjadi pilihan masyarakat,” tegas putri pasangan I Made Anom-Luh Putu Karti ini. –Ngurah Budi

vegetarian menghindari telur tapi minum susu. Ovo vegetarian, mereka yang memakan telur namun menghindari susu. Lacto-ovo vegetarian, yaitu kelompok vegetarian yang sudah menghindari berbagai jenis daging maupun ikan, namun masih memakan produk-produk ikutan hewani seperti susu maupun telur. Menurut Kepala Program Studi Biomedik Pascasarjana Unud ini, bagi yang memilih vegetarian, mendapatkan keuntungan dari segi kesehatan “Karena memakan hormon pada hewan sangat sedikit. Kemungkinan mendapatkan penya-

Dr. Indraguna Pinatih

kit karena hewani juga sedikit,” katanya. Keuntungan lain, makanan dari sumber tanaman, ada beberapa yang menimbulkan hormon estrogen. Namun, tidak akan melebihi

Hidup Vegetarian untuk Sehat

Dr. Putu Dyatmikawati, S.H.,M.Hum

Dyatmikawati di acara peletakan batu pertama program bedah rumah Universitas Dwijendra di Karangasem

Ikhlas dan Bersyukur

Plus Minus Vegetarian

Saat ini, vegetarian makin banyak diminati orang dan sudah menjadi gaya hidup. Apalagi dengan makin tingginya sejumlah penyakit degeneratif yang mematikan seperti penyakit jantung, hipertensi, maupun diabetes.

Menjadi rektor tidak hanya berdiam diri di ruangan. Rektor juga harus sering turun ke lapangan untuk melihat langsung situasi. Jika ada kendala, solusi yang diperlukan bisa lebih cepat. Selain itu, rektor harus bisa menjadi contoh, bukan memberi contoh. Hal inilah yang menjadi pedoman Dr. Putu Dyatmikawati, S.H.,M.Hum, Rektor Universitas Dwijendra Denpasar.

BEDAH RUMAH Di bidang pengabdian masyarakat, Universitas Dwijendra Denpasar melalui LPPM Universitas Dwijendra melaksanakan program bedah rumah. Dua penerima bantuan adalah I Wayan Galing dan Ketut Muderati, warga Dusun Kiduling Kreter, Besakih, Karangasem. Penyerahan rumah hasil pengabdian ini dilaksanakan Minggu (27/9). Acara ini dihadiri Ketua Yayasan Dwijendra Pusat Denpasar, Drs. M.S. Chandra Jaya, M.Hum, Perbekel Desa Besakih I Wayan Benya, Kelian Dinas Kiduling Kreteg I Wayan Yasa, serta civitas akademika Universitas Dwijendra.

Sudut Pandang

eka langsung mengerjakannya. Semua bekerja dengan tulus ikhlas dan maksimal,” jelas ibu tiga anak dan niang tiga cucu ini. Ia menegaskan program bedah rumah ini juga menjadi bagian dari pengaplikasian filosofi Tri Hita Karana, khususnya pawongan (harmonisasi manusia dengan manusia). Dyatmikawati berharap program ini bisa terus berlanjut sebagai bentuk kepedulian Universitas Dwijendra Denpasar kepada masyarakat kurang mampu. Kegiatan pengabdian yang juga sudah dilakukan adalah penyuluhan kepada masyarakat dan penanaman pohon langka. Untuk menambah soft skill mahasiswa, Universitas Dwijendra kerap mengundang para pakar atau narasumber untuk berbagi pengalaman dengan dosen dan mahasiswa. “Kami bekerja sama diantaranya dengan Kementerian Koperasi dan UKM, Kodam IX/ Udayana, dan Joger. Kami ingin mahasiswa setelah lulus memiliki pengetahuan tambahan sehingga masyarakat tidak bisa menganggap enteng alumni Universitas Dwijendra,” tegas Dyatmikawati. -Ngurah Budi

Dyatmikawati saat talkshow radio

Pola hidup vegetarian diakui memang menyehatkan, meski ada juga sebagian orang tak setuju dengan pernyataan tersebut. “Jika tak makan daging sepertinya tubuh kurang kalori, lemas”. Demikian selentingan yang terdengar di masyarakat, yang menjadi alasan mereka tak menerapkan pola hidup vegetarian. Namun bagi mereka yang menjalankannya, vegetarian justru membuat tubuh lebih sehat, lebih segar, dan emosi lebih terkontrol. Seperti apa yang dilakoni Dra. Ni Made Rinu, M. Si. sejak 27 tahun lalu. Dekan FRSD ISI Denpasar ini menuturkan semuanya bermula karena dulu ia terserang penyakit tipes komplikasi ginjal, paru, dan jantung, yang lama tak kunjung sembuh. “Waktu itu dokter menyarankan saya untuk tidak mengonsumsi nasi. Hanya makan air kacang ijo, telur rebus, tahu rebus, pisang kapok, dan sayur labu siam rebus tanpa garam. Saya sembuh. Karena terus-menerus makan itu saja, tanpa sadar tubuh ini menjadi terbiasa. Saya hidup vegetarian, awalnya ya karena alasan kesehatan,” ucapnya. Demikian halnya dengan sang suami Drs. I Ketut Murdana, M.Sn. yang juga sakit lama hingga 3 tahun tak kunjung sembuh dengan pengobatan medis. Atas suatu petunjuk, pasutri ini diminta sembahyang ke pura-pura dan dituntun ke Ashram Lembah Bayan, Tabanan, menghadap Mahaguru Sri Jayanara. “Kami masuk Ashram tahun 1992. Di sini kami

Made Rinu

ditempa dengan pendidikan spiritual untuk lebih dekat dengan Tuhan. Dan disini pula saya bisa hamil setelah 4 tahun usia pernikahan,” ungkapnya. Di Ashram, Made Rinu mengikuti program vegetarian. Konsumsi makanan lebih diatur, seperti makan sayur hinis-sayur yang direbus tanpa bumbu apapun. Ia merasakan semuanya menjadi ringan, terutama emosi menjadi terkendali dan pikiran jernih. Makanya ketika ada orang yang menyebutkan merasa lemas jika tak makan daging, Made Rinu justru merasa lebih segar. Memang benar daging itu sumber kalori, namun sumber kalori nabati juga bisa didapatkan dari kacang-kacangan. “Yang paling penting juga kita melakoni hidup vegetarian ini dengan keyakinan, doa, dan tirta (air suci),” imbuh ibu dari Putu Wahyuning Sri Purnami ini.

Dengan pola makan vegetarian, Made Rinu mengaku jiwanya menjadi lebih hening untuk meditasi, spiritual, dan menerima wahyu dari Tuhan. Vegetarian dikatakannya semacam berpuasa untuk mengendalikan diri dan penyucian diri sehingga lebih berkonsentrasi. Bahkan untuk lebih mendekatkan dirinya kepada Tuhan, Made Rinu juga kerapkali berpuasa makan dan minum. “Dari segi kesehatan, di usia saya yang sekarng 59 tahun ini, kolesterol bisa berkurang,” ujarnya. Made Rinu yang awalnya sama sekali tak mengonsumsi makanan dari makhluk hidup tersebut, sejak 2013 atas petunjuk Mahagurunya diperbolehkan buka puasa, mulai makan ikan. Made Rinu mengaku cukup lama, hampir 2 bulan harus beradaptasi dengan hal ini. “Awalnya, melihat ikan saja saya bisa muntah,” akunya. Namun, lama-lama ia bisa juga. Walaupun sampai saat ini ia mengaku hanya sesekali saja mengonsumsi ikan dan itu pun dipilihpilih . Ada perbedaan yang ia rasakan, terutama dari segi kesehatan, kolesterolnya naik. Bahkan kadang-kadang ia merasa gatal jika mengonsumsi jenis ikan tertentu. “Mungkin karena tubuh saya terbiasa tidak makan ikan, jadinya begitu,” ujarnya. Namun yang jelas, jika diminta jujur, Made Rinu lebih memilih vegetarian. Karena dengan berpuasa tersebut ia merasa lebih sehat, pikiran lebih jernih, solidaritas tinggi. –Inten Indrawati

Edisi 869/ 5 - 11 OKTOBER 2015

hormon yang dihasilkan hewan. Tanaman juga mengandung serat yang tinggi sehingga penyerapan lemak tidak berlebihan. Namun, di samping keuntungan, ada juga kelemahannya. “Kalau dia memilih vegetarian murni kebutuhan pasokan protein menjadi lebih sulit,” ujarnya. Memang, orang dewasa tidak membutuhkan protein dalam jumlah besar. Namun, produk hewani sudah mengandung protein lengkap sehingga kita tidak perlu lagi berpikir mengombinasikan protein yang kita butuhkan. Sedangkan, tanaman mempunyai kandungan asam amino yang berlebih dan yang kurang, sehingga perlu mengombinasikan untuk mendapatkan asam amino yang lengkap yang disebut asam amino essensial. Untuk itu, ia menyarankan, seorang vegetarian harus memiliki pengetahuan tentang komposisi makanan. Namun, yang sering terjadi orang vegetarian lebih banyak mengonsumsi makanan yang mengandung karbohidrat. “Kalau dia terjebak dalam karbohidrat sederhana sama juga dengan bohong, tidak ada artinya,” katanya. Ia menyebutkan, sumber pro-

23

tein nabati memiliki nilai bologis rendah sehingga untuk mendapatkan jumlah yang cukup dia harus mengombinasikan jenis makanan. Selain itu, ada satu vitamin yang hanya ada di hewan yakni vitamin B12. Kekurangan vitamin B 12 menyebabkan anemia, dan fungsi dari vitamin B12 untuk mencegah penyakit jantung. Untungnya, tempe masih dianggap nonhewani yang memang mengandung vitamin B12 dan bisa dikonsumsi orang vegetarian. Padahal, tempe merupakan makanan fermentasi dengan bantuan bakteri. Menurutnya, tidak ada yang lebih baik mau vegetarian murni atau kombinasi. “Yang terpenting mengerti, apa yang dimakan, supaya tahu jumlahnya dan kecukupan gizinya, jenis makanan, komposisi, frekwensi, dan bagaimana cara olahnya. Kalau itu sudah diketahui, kita tidak perlu khawatir mau vegetarian atau tidak,” sarannya. Ia mengatakan, kebutuhan makan setiap hari dipengaruhi jenis kelamin, usia, berat badan, tinggi badan, dan aktivitas. Tiap orang tidak bisa disamakan. –Wirati Astiti

Vegetarian Selamatkan Lingkungan

Seiring dengan perubahan zaman dan lifestyle kebiasaan orang pun berubah, mulai dari gaya berpakaian, gaya hidup serta pola makan. Sejalan dengan perubahan tersebut maka banyak orang mulai merubah gaya hidup mereka. Gaya hidup sehat kini menjadi tema sentral dalam segala ruang perbincangan publik. Menurut Ni Kadek Martina, salah seorang lulusan Filsafat Agama IHDN Denpasar, untuk menjaga agar tubuh sehat sesorang juga perlu untuk mengurangi konsumsi daging, yang sangatlah penting yaitu dapat mengurangi kolestrol dalam tubuh. Pilihan untuk tidak mengonsumsi daging atau vegetarian sangatlah tepat agar tubuh sehat. Selain sangat dianjurkan dalam dunia kesehatan vegetarian juga diajarkan dalam ajaran agama Hindu. Vegetarianisme adalah ajaran yang dibutuhkan dalam doktrin ahimsa. Ahimsa artinya tidak menyakiti, agama Hindu menganggap bahwa vegetarian adalah kebijakan yang sangat penting. Vegetarian tidak hanya sekadar kode dari kebiasaan makan tetapi didasarkan pada kebutuhan untuk menyeimbangkan pikiran dan tubuh. Memakan daging tidak hanya berpengaruh pada kehidupan spiritual tetapi pada lingkungan dimana kita hidup. Filsafat Hindu tentang vegetarian, kata Kadek Martina didasarkan pada pertimbangan spiritual,

ekologi, ekonomi dan kesehatan. Hampir dalam pustaka suci Veda menyebutkan bahwa badan adalah tidak kekal adanya. Yang kekal adalah jiva atau guha yang menghuni badan. Badan yang tidak kekal dan hanya sementara sifatnya bukan berarti kita melakukan penafikan terhadap eksistensinya. Dengan menjadi seorang vegetarian maka umat Hindu telah melaksanakan ajaran Ahimsa. Ahimsa Parama Dharma Ahimsa berarti tanpa kekerasan, dan parama berarti tertinggi. Sedangkan kata dharma berarti kewajiban-kewajiban suci. Kadek juga mengutip kata Chandogya Upanisad, bahwa pikiran terbentuk dari makanan. jumlah makanan yang dimakan, yang melewati tubuh sebagai kotoran. Komponen yang terbaik dari makanan akan membentuk tubuh, dan makanan yang terbaik dan komponen yang terhalus membentuk pikiran kita. “Dirimu adalah apa yang kamu makan,” ujarnya. Untuk menjadi seorang vegan dalam ajaran Hindu sangatlah penting karena makanan yang kita makan tergolong kedalam makanan yang bersifat sattwika, sehingga dapat berpengaruh pada kehidupan seseorang baik itu pikiran maupun perilaku orang yang menjalankan vegetarian. Dengan menjadi seorang yang vegetarian maka kita juga akan dapat menyelamatkan lingkungan. – Sri Ardhini


24

What’s Up

Edisi 869/ 5 - 11 Oktober 2015

Vicky Burki

Melawan Godaan Makan Menjadi vegetarian itu tidak mudah. Apalagi untuk orangorang yang doyan makan atau penggemar kuliner. Tak heran kalau banyak orang yang mencoba namun gagal hanya dalam hitungan hari atau bulan. Sebut saja Julia Perez, artis kondang, yang mengaku hanya tahan beberapa hari saja. “Sekarang aku, ya, kadang-kadang vegetarian, kadang-kadang, tidak,” ucap Jupe, begitu artis ini akrab disapa. Entah apa maksudnya. Bisa jadi ketika ‘godaan’ makan daging-dagingan begitu kuat maka Jupe pun akhirnya menuruti kata hatinya, alias melupakan niatnya menjadi vegetarian.

M

asa-masa berat itu juga dialami oleh Vicky Burki, artis senior, yang mengaku sudah menjadi vegetarian sejak 11 tahun lalu. “Aku vegetarian tapi bukan vegan. Aku tidak mengonsumsi semua hewan bernyawa, tapi masih mengonsumsi produk turunannya, seperti keju, telur susu. Kalau vegan, kan, juga tidak mengonsumsi produk turunannya,” jelas Vicky yang pernah menjadi Ratu Aerobik seAsia 1988 ini. Vicky yang dulunya penggemar makan, khususnya dagingdagingan, memutuskan menjadi vegetarian tanpa tahapan. Dia langsung menghentikan kebiasaannya memakan dagingdagingan, dan mengalihkan menu hariannya dengan hanya memakan tempe, tahu,sayur-sayuran dan buah-buahan. “Begitu aku memutuskan untuk menjadi vegetarian, aku langsung menyetop semua makanan dagingdagingan. Pokoknya semua hewan bernyawa, aku stop memakannya. Nggak pake tahapan-tahapan, atau pelan-pelan. Kalau temanteman aku kan memulainya secara bertahap, misalnya, tidak makan daging merah tapi masih mengonsumsi daging putih. Itu dikurangi pelan-pelan, sampai akhirnya tidak makan daging-dagingan sama sekali. Tapi Vicky nggak begitu. Aku langsung berhenti. Karena aku tahu, kalau aku melakukannya secara bertahap, pasti akan gagal. Pasti aku akan tergoda dan akhirnya niat menjadi vegetarian akan sia-sia. Maka itu aku langsung berhenti, nggak pakai tahapantahapan,” ungkapnya. Pada masa awal, tuturnya, terasa sangat berat. “Pada masa itu, ya ampunnnnn menderitanya. Rasanya sulit Vicky lukiskan, berattt,..rat..banget,” ungkapnya wanita bernama lengkap Victorine Cherryline Soedarjono Burki, penuh ekspresi. Pemeran ibu tiri Aldi dalam sinetron ‘Cinta di Langit Taj Mahal’ ini bertutur bukan tanpa sebab kalau tiba-tiba ia memutuskan menjadi vegetarian pada 11 tahun lalu. Saat itu ia sedang melakukan terapi urine atau terapi dengan meminum air seni sendiri setiap hari. “Jadi kalau kita mengonsumsi segala macam, apalagi daging-

dagingan maupun ikan, maka air seni kita selain berbau tak sedap juga rasanya sungguh tidak enak. Karena itu, agar terapi urine berjalan lancar, maka aku putuskan berhenti mengonsumsi makananmakanan yang membuat air seni berbau dan berasa tidak enak. Ya, akhirnya aku menjadi vegetarian,” kata Vicky. DUA TAHUN HINDARI RESTORAN Ternyata menjalani hidup sebagai vegetarian itu sungguh berat. Apalagi untuk orang yang penggemar makan seperti dirinya. Pada dua tahun pertama, katanya, perjuangannya sungguh berat. Godaan untuk berhenti sebagai vegetarian kerap menggoda, apalagi kalau teringat makanan-makanan favoritnya. “Sulit menggambarkannya, tapi itu sangat berat. Maka tak heran kalau banyak orang gagal melakukannya. Untuk menjadi vegetarian, bukan hanya sekadar niat, tapi juga dibutuhkan mental yang kuat (untuk melawan godaan makan) juga kedisiplinan,” tambahnya. Karena khawatir dirinya tergoda, akhirnya selama dua tahun ia mengaku amat jarang mengunjungi restoran. “Vicky takut kalau datang ke restoran, trus melihat orang-orang makan macem-macem, jadi tergoda. Makanya Vicky jadi jarang ke restoran selama dua tahun,” katanya. Setelah melalui masa dua tahun itu, katanya, selain sudah mulai terbiasa dengan pola hidup yang dijalaninya, godaan pun jauh berkurang. Bahkan kini setelah 11 tahun, Vicky merasa semakin mantap menjadi vegetarian. “Kalau sekarang sih nggak takut lagi. Biar lihat orang makan di restoran dengan lahap, Vicky nggak bakal tergoda,” kata wanita enerjik ini. Ia merasa, dengan manfaat yang didapatnya dari pola hidup sehat yang dijalaninya, sebanding dengan pengorbanan yang telah dia lakukan. Terapi urine, juga menjadi vegetarian, membuat tubuhnya sehat. Penyakit-penyakit yang banyak ‘menghantui’ orang zaman sekarang seperti kolesterol, diabetes, hipertensi, dll, jauh dari hidupnya. “Man-

faatnya sangat Vicky rasakan. Badan terasa lebih kuat, jarang sakit, jarang lemas. Untuk emosional juga lebih terkontrol. Kalau dulu, Vicky kan mudah emosi, tapi kini tidak lagi. Vicky menjadi lebih tenang. Tapi itu semua kan diperoleh tidak instan, setelah bertahun-tahun baru dirasakan hasilnya. Semua ada prosesnya”. “Beberapa teman Vicky sempat meledek juga. Katanya, ‘Ya ampun Vicky, hidup ini sudah

susah, kenapa sih elu bikin tambah susah.. Hahaha... aku hanya bisa tertawa saja. Biar saja orang mau bilang apa, yang penting Vicky enjoy kok. Nggak masalah. Kalau aku lagi kangen makanan-makanan yang seperti dulu, ya, aku datang aja ke restoranrestoran vegetarian yang sekarang kan banyak bertebaran. Di restoranrestoran itu bisa ditemukan makanan-makanan yang dibuat seperti ayam, sate, dll, tapi semuanya dari bahan-bahan yang bebas dari daging-dagingan. Ya tampilannya sih mirip tapi rasanya...hahahahha,” kata Vicky sembari tertawa. –Diana Runtu


Turn static files into dynamic content formats.

Create a flipbook
Tokoh Edisi 869 | Tokoh by e-Paper KMB - Issuu