Skip to main content

Tokoh Edisi 854 | Tokoh

Page 1

24

What’s Up

Edisi 854/ 22 - 28 Juni 2015

Konsumen adalah Teman

10 hal yang harus dikonfrontasi dengan 10 kredo baru:

M

enurutnya, UKM itu harus mandiri. Jadi, kalau tidak mandiri bukan UKM. Jangan sampai, orang yang tidak punya pekerjaan, akhirnya membuat UKM. Parahnya lagi, kadang berproduksi, kadang tidak. Karena itu, sangat diperlukan revolusi mental untuk menjadi mandiri, kreatif, dan jujur. Ia mengatakan, orang kreatif itu harus “gila”. Gila inilah yang harus dikelola sehingga memunculkan ide-ide cemerlang dan tindakan yang WOW. Ia memberikan contoh pada kesuksesan orang Tionghoa Singapura. Mereka saja yang sudah kaya, kerjanya tetap kreatif dan produktif. Mengapa kita yang belum kaya sudah bermalas-malasan. MEA tidak hanya persaingan barang saja, tapi juga persaingan SDM. Keterampilan berbahasa asing sangat diperlukan. Kalau tidak bisa berbahasa asing, jangan salahkan banyak orang asing yang bekerja di Bali. Ia menegaskan, WOW itu produktif dan kreatif. “Harus selalu ada produksi yang berkesinambungan. Produksi juga harus terus diperbaiki. Jadilah pribadi yang mandiri dan kreatif. Pelaku UKM jangan jadi motivator. Kadang dia sendiri belum sukses kok bisa memberikan ceramah kepada

tkh/eka

Sebuah perusahaan yang tidak bertumpu pada strategi, taktik, dan ­value marketing yang terbaik akan kandas. Konsumen itu bukan lagi seorang raja. Costumer is human. Kalau dia merasa WOW, dia akan me­respons. Kita tidak bisa menipu konsumen. Jadikan konsumen itu sebagai teman. Demikian di­sampaikan pakar marketing Hermawan Kartajaya, dalam seminar “Indonesia WOW” di Aston Denpasar, Selasa (16/6).

Hermawan Kartajaya memberikan motivator pada para peserta seminar Indonesia Wow di Denpasar

orang lain,” kata Hermawan. Sama seperti dengan prinsip leadership. Seorang pemimpin tidak harus selalu mengumpulkan gelar tapi selalu meng-update ilmu dan wawasannya. “Saya contohnya, tidak tamat di ITS tapi bisa jadi seperti sekarang,” katanya yang disambut tepuk tangan peserta seminar. Ia juga menambahkan, seorang pemimpin harus pintar dalam bergaul dan selalu menjaga moral, berbuat baik kepada konsumen. Selalu berusaha perbaiki diri untuk terus bisa memberi pelayanan yang terbaik. Hal lain yang juga ditegaskan Hermawan, produktif itu artinya efektif dan efisien untuk mencapai tujuan yang jelas. Kreatif itu penuh ide cemerlang dan eksekusi. Menurutnya, untuk menjadi sukses berbisnis, tak perlu lagi ada anggapan harus masuk sekolah bisnis. “Contohnya, orang Tiongkok dan India ketika mereka merantau ke luar negaranya, mereka sangat kreatif sehingga mereka bisa sukses,” kata Hermawan.

Dulu, di Fakultas Ekonomi, mahasiswa paling pintar selalu masuk jurusan akuntansi. Jurusan marketing dianggap tidak bergengsi karena dianggap sekolah menjadi salesman. Marketing juga sering disamakan dengan iklan yang sering membual. “Saya sendiri adalah salah satu orang yang giat mempopulerkan marketing di Indonesia. Sejak MarkPlus berdiri 1 Mei 1990, saya menyiarkan marketing kemana-mana. Saya kampanye kemana–mana marketing sesungguhnya dimulai dari menganalisa costumer, competitor, dan change yang akan dihadapi company,” kata Hermawan. Dalam buku best seller terbitan John Wiley tahun 2010, ada ten credos of compassionate marketing. Ini bertentangan sekali dengan pakem marketing di era dulu. Menurutnya, marketing merupakan ujung tombak sebuah perusahaan. “Sebuah perusahaan yang tidak bertumpu pada strategi, taktik, dan value marketing yang terbaik akan kandas,” tegasnya. –Wirati Astiti

1.Love your costumers, respect your competitors. Costumer memang bukan sekadar target market, dan kompetitor bukanlah musuh. Jadikanlah costumer Anda sebagai teman. 2.Be sensitive to change, be ready to transform. Dunia bisnis akan selalu bersifat dinamis. Oleh karena itu, setiap perusahaan harus selalu berupaya melakukan antisipasi dan cepat melakukan perubahan. 3.Guard your name, be clear about who you are. Di dalam dunia pemasaran, reputasi merek menjadi hal yang sangat penting. Lebih jauh lagi, karakter dari suatu produk atau perusahaan seringkali menjadi daya tarik di tengah persaingan sengit. 4.Costumers are diverse, go first to those who can benefit most from you. Dalam operasionalnya tentu perusahaan memiliki keterbatasan sumber daya. Oleh karena itu, perusahaaan sebaiknya fokus menjalin hubungan dengan segmen pasar yang hendak didekati. 5.Always offer a good packaged at fair price. Pemasar yang baik tidak berupaya menipu konsumen demi meraih keuntungan sebesarbesarnya. Tetapi selalu menawarkan solusi dengan harga dan produk yang pantas. 6.Always make yourself available. Spread the good news. Agar dapat makin dikenal konsumen, perusahaaan sebaiknya berupaya memposisikan diri agar mudah ditemukan. Baik secara proaktif memberikan informasi kepada konsumen dan juga menyediakan channels yang mempermudah konsumen berinteraksi dengan perusahaan. 7.Get your costumers, keep, and grow them. Karena pemasar yang baik akan berupaya untuk selalu mengenal lebih dekat dengan kosumen. Secara berkelanjutan akan berupaya menjalin hubungan baik dan mendalam dengan konsumen. Kita bisa berteman dengan konsumen di media social, FB, Twitter, instagram, dari sana kita melihat apa yang disukai konsumen, apa yang dibagikan konsumen kepada temannya di media social. 8.Whatever your services, it is a services business. Sadar atau tidak sadar, apapun produk Anda pasti akan terdapat unsur pelayanan. Oleh karena itu, apapun bisnis Anda, perlu memiliki semangat melayani konsumen. 9.Always refine your business process in terms of quality, cost, and delivery. Tujuannya agar dapat memuaskan sejumlah pemangku kepentingan perusahaan mulai dari konsumen, supplier, channels, sampai dengan shareholder. Karena dengan kegiatan operasional yang terjaga, kegiatan operasional dapat berjalan secara produktif dalam arti efektif dan sekaligus efisien. 10.Gather relevant information but use wisdom in making your final decision. Karena sejumlah keputusan yang diambil perusahaan bisa jadi tidak hanya berpengaruh pada konsumen ataupun internal perusahaan. Tetapi juga dapat berpengaruh lebih luas pada sejumlah pemangku kepentingan di lingkungan sekitar.


2

Ekspresso

Edisi 854/ 22 - 28 JUNI 2015

GORO-GORO

DAri daPUr Redaksi

Engeline

Keluarga Berkualitas Bulan Juni merupakan bulan liburan karena bertepatan dengan liburan sekolah. Kesempatan bagi anak-anak untuk menikmati liburan bersama keluarga. Ada yang ke luar kota bahkan ke luar negeri. Tetapi, liburan dalam kota juga bias mengasyikan, apalagi banyak event yang bias dikunjungi. Di Denpasar, ada Pesta Kesenian Bali yang bias dijadikan lokasi hiburan. Bagi anak-anak, momen liburan ini saatnya untuk menyegarkan pikiran setelah berkutat dengan pelajaran di sekolah. Kini saatnya berlibur dan mencari pengalaman baru. Bagi orangtua, liburan juga kesempatan untuk mendekatkan diri dengan anak. Jika di hari biasa, jarang bias berkumpul dengan anak karena sama-sama sibuk, kini saatnya merajut kebersamaan. Luangkan waktu untuk keluarga karena keluarga adalah tempat memberikan pendidikan yang pertama dan utama. Pendidikan karakter yang didapat di keluarga merupakan modal bagi anak untuk menjalani kehidupan di masyarakat. Kualitas masyarakat pun dapat dilihat dari kualitas keluarga-keluarga yang ada di masyarakat tersebut. Begitu pentingnya peran keluarga, pemerintah sejak tahun 1994 mengadakan

peringatan Hari Keluarga Nasional yang dirayakan tiap tanggal 29 J u n i . Pe r i n g a t a n i n i u n t u k mengingatkan masyarakat mengenai pentingnya arti keluarga. Selain itu, untuk mengajak seluruh keluarga Indonesia untuk melakukan instrospeksi diri serta berbenah untuk melakukan yang terbaik bagi keluarga Pesan yang ingin disampaikan adalah untuk membangun sebuah keluarga diperlukan perencanaan yang matang, antara lain merencanakan usia perkawinan (20-30 tahun), membina hubungan antar pasangan (dengan keluarga lain, kelompok sosial), merencanakan kelahiran anak pertama (persiapan menjadi orangtua), mengatur jarak kelahiran (menggunakan alat kontrasepsi), berhenti melahirkan di usia 35 tahun (agar dapat merawat balita secara optimal), serta merawat serta mengasuh anak (memenuhi kebutuhan dasar anak berupa fisik, kasih sayang, dan stimulasi). Masyarakat juga diingatkan tentang delapan fungsi keluarga yakni fungsi agama, fungsi sosial budaya, fungsi cinta kasih, fungsi perlindungan, fungsi reproduksi, fungsi sosialisasi dan pendidikan, fungsi ekonomi, serta fungsi pembinaan lingkungan. Penerapan delapan fungsi keluarga merupakan benteng untuk melindungi keluarga dari berbagai permasalahan sosial. Semoga semua keluarga bisa menjadi keluarga berkualitas. Salam.

Dompet Kembali Pengalaman ini dialami anak saya di Denpasr. Tiap pagi ia ke pasar untuk belanja. Dompetnya biasa ditaruh di bagasi depan motornya. Suatu hari, anak saya ke pasar. Setelah memarkir motor, ia bergegas ke pasar. Karena barang-barang yang dicari sudah terkumpul semua, ia bergegas menuju motor. Tas belanjaan digantung di depan, dompet dimasukkan di baghasi depan. Saat mau menghidupkan motor, kunci tak bisa masuk. Ternyata salah motor. Agar tidak memalukan, anak saya segera memindahkan tas belanjaan ke motornya yang ternyata ada di sebelah. Sampai di rumah, ia kaget karena dompet tertinggal di motor yang tadi. Balik ke pasar untuk mencari, ternyata motor sudah tak ada. Dengan perasaan sedih dan tatapan kosong, pulang

bacaan wanita dan keluarga

Penerbit PT Tarukan Media Dharma Terbit sejak 9 November 1998

ke rumah. Semua uang dapur ada di dompet itu. Siangnya, sambil minum teh, anak saya dihibur suaminya. Suaminya menasehati agar jangan terlalu dipikirkan, nanti bias stress. Mari berdoa semoga yang menemukan dompet itu berhati mulia dan mau mengembalikan. Mungkin ini sudah jalan hidup dan nasib. Tiba-tiba di depan rumah berhenti sepeda motor dan seorang ibu dengan anaknya bertanya, apakah ibu punya KTP yang di dompet ini? Anak saya terkesima. Tangannya gemetar menerima KTP dan dompet itu. Oh my God….dompet kembali dalam

keadaan utuh. Uang pun dikeluarkan sebagai tanda terima kasih. Tetapi, ditolak ibu itu. Ibu itu mengatakan dari pagi ia mencari alamat anak saya. Ia ternyata senasib karena minggu lalu dompetnya hilang tetapi ditemukan dan dikembalikan oleh pedagang langganannya di pasar. Anak saya pun mengucapkan terima kasih. Cucu saya berceloteh, Bu pintar yang dompet itu kembali setelah hilang. Berkat doa keluarga, permintaan dikabulkan Tuhan. Karena itu rajinlah berdoa dan selalu ingat Tuhan. I Nengah Mangku, Amlapura

Bagi pembaca yang memiliki kisah unik, seru, menyebalkan, atau mengasyikkan dan ingin berbagi dengan pembaca ­lainnya, silakan kirim kisah Anda ke redaksi@tokoh.co.id. ­Panjang naskah maksimal 3.000 karakter. Sertakan juga nama dan nomor kontak Anda. Naskah yang muat di rubrik “OMG” akan mendapat bingkisan Tokoh. Info lebih lanjut, silakan hubungi Redaksi Mingguan Tokoh (0361) 425373

Mozaik

Tragedi yang menimpa Engeline mengguncang layar kaca. Tak hanya di Bali, pemirsa televisi di seluruh Indonesia semua terguncang. Ingin tahu bagaimana sebenarnya kisah pembunuhan Engeline “Yang saya pikirkan bukan hanya siapa pembunuhnya,” kata Bu Amat, “tetapi bagaimana nasib anak-anak yang tak berdaya menghadapi kekerasan dari baik orangtuanya sediri atau orang lain!” “Ya, itu serahkan saja pada negara. Pasti ada aturannya. Meskipun anak sendiri, tidak berarti seseorang boleh sewenang-wenang pada anak. Anak itu bukan barang yang bisa dimiliki. Anak adalah tanggungjawab orangtuanya supaya jadi dewasa, cukup pendidikan dan mampu hidup bermasyarakat.” “Ada tetangga kita memukul anaknya karena mencuri uang 20 ribu milik ibunya. Ada ibu yang nyetrap anaknya dalam kamar satu hari, karena anak itu memecahkan barang keramik yang katanya berharga jutaan.” “Bapak juga pernah dikunci dalam gudang sampai terkencing-­kencing tidak mau sekolah!” “Nah itu! Itu kan berarti orangtua sendiri pun bisa berbuat kejam ke anak, dengan dalih sayang anak!” Amat terdiam. Ia juga pernah dihukum pukul dengan sabuk kulit, waktu itu ia memang bandel. Ia memukuli anak tetangga sampai gegar otak. Sejak hukuman badan itu, ia tak pernah berkelahi lagi. “Kadang-kadang hukuman keras diperlukan untuk mendidik anak,” kata Amat dalam hati. Karena Amat diam saja, esoknya Bu Amat ke rumah Ami. “Mi, apakah Ibu atau Bapak, pernah melakukan kekerasan kepada kamu?” Ami tercengang oleh pertanyaan itu. “Apa maksud Ibu?” “Kamu tahu pembunuhan Engeline, kan?” “Ya,tahu. Kenapa?” “Ibu dan Bapakmu minta maaf kalau kami pernah melakukan tindakan kekersan kepadamu, dengan alasan pendidikan atau kasih sayang. Pasti itu kami lakukan tanpa sadar. Karena kami masih berpikir, anak itu hak milik orangtuanya.” “O, begitu!” “Ya, pernah tidak?” Ami berpikir dan mencoba mengingat-ingat. “Pernah? Tidak kan!” “Pernah.” Bu Amat terkejut. “Pernah?” “Pernah satu kali.” “Masak? Tidak mungkin! Kapan?” “Waktu Ibu melarang saya berhubungan denga Bli Ktut!” “Lho itu kan, karena Ibu tahu siapa Ktut itu! Mukanya saja ganteng, tapi kelakuannya semua orang sudah tahu siapa dia. Coba kamu jadi dengan dia hidup kamu akan berantakan, karena dia penipu, untung Ibu larang! Itu bukan kekerasan Ami itu karena Ibu sayang kepada kamu. Coba kalau Ibu tidak sayang sama kamu?! Apa kamu menuduh ibu dan Bapakmu tidak sayang kamu?” “Sayang sih sayang, sampai ibu tidak ngomong seminggu dengan saya, itu tindakan kekerasan” “Tapi itu demi masa depanmu, Ami!” “Ibu mungkin tidak menganggap itu kekerasan tapi buat Ami sudah kekerasan.” “Tidak bisa! Kamu salah mengerti!!” Bu Amat pulang membawa marah, Tanpa ditanya, ia ceritakan percakapannya dengan Ami. Amat mendengarkan dengan sabar, tapi karena terlalu panjang, ia menyela. “Kenapa ibu begitu marah?” “Habis kalau bukan kita, ia sudah jadi korban si Ktut itu. Mestinya dia berterima kasih kepada kita! Kok malah mengritik! Itu tindakan kekerasan!!”

Putu Wijaya

Pemimpin Umum/Penanggung Jawab: Gde Palgunadi. Redaktur Pelaksana: Ngurah Budi. Staf Redaksi/Pemasaran Denpasar: IG.A. Sri A r d h i n i , W i r a t i A s t i t i , S a g u n g I n t e n . J a k a r t a : D i a n a Ru n t u . N T B : N a n i e k D w i S u r a h m i . D e s a i n G r a f i s : I D N A l i t Budi­a rtha, I Made Ary Supratman. Sirkulasi: Kadek Sepi Purnama. Se­k retariat: Ayu ­A gustini, Putu Agus Mariantara, Hariyono. Alamat Redaksi/Iklan Denpasar: Gedung Pers Bali K. Nadha, Lantai III, Jalan Kebo Iwa 63 A ­Denpasar 80117–Telepon (0361) 425373, 7402414, 416676–Faksimile (0361) 425373. Alamat Redaksi/Iklan/Sirkulasi Jakarta: Jalan ­Pal­m erah ­B arat 21 G Jakarta Pusat 10270– Telepon (021) 5357603 - Faksimile (021) 5357605. NTB: Jalan Bangau No.15 Cakranegara, Mataram–­Telepon (0370) 639543– ­Faksimile (0370) 628257. Jawa Timur: Permata Darmo Bintoro, Jalan Taman Ketampon 22-23 Surabaya–Telepon (031) 5633456–­­ ­F aksi­m ile (031) 5675240. Surat Elektronik: redaksi@tokoh.co.id, iklan@tokoh.co.id. Website: www.tokoh.co.id. Bank: BRI Cabang ­G ajah Mada Denpasar. Nomor Rekening: PT Tarukan Media Dharma: 0017-01-001010-30-6. Percetakan: BP Jalan Kebo Iwa 63 A Denpasar.

23

Edisi 854/ 22 - 28 JUNI 2015

Ubi Manis Pengganti Beras

bagus, Kartini menambahkan zat pewarna makanan. “Bahannya sama, ubi manis. Tapi rasa sengaja saya buat beda,” paparnya. Bupati Blitar Hery Noegroho mengatakan, tujuan dari pemeran agro festival ini untuk meningkatkan produktivitas petani dalam mengolah lahan. Sedikit apapun lahan yang dimiliki petani, harus dimanfaatkan untuk tanaman. Jangan sampai kosong. “Eman, kalau sampai ada lahan kosong, tapi tidak dimanfaatkan.” ujar Hery Noegroho disela-sela menghadiri pameran agro festival tersebut.

Untuk meningkatkan produktivitas para petani dalam mengolah hasil bumi, pemerintah ­Kabupaten Blitar, menggelar pameran agro festival. Acara ini diselenggarakan di lapangan Kesatreyan, Kecamatan Kanigoro.

P

ameran ini diikuti oleh puluhan peserta yang sebagian besar kelompok tani. Produk hasil bumi yang dipamerkan pun beranega ragam, mulai dari jagung, ketela rambat, ketela pohon, ubi manis, talas, mobte, suwek, dan lainnya. Ada juga daun papaya, daun singkong, kol, sawi, kenikir, dan bungkul. Semuanya masih terlihat segar karena baru dipetik dari pohonnya. Pameran ini mendapat respons positif dari masyarakat Kabupaten maupun Kota Blitar. Masing-masing pengunjung

-Khoirul Abadi

Agro Festival

ini, memiliki banyak tujuan. Ada yang membeli sayur, makanan tradisional, dan lain sebagainya. Namun, yang paling banyak diburu adalah ubi manis. Salah satunya adalah Kartini Susilowati, seorang pengunjung asal Kademangan. Ia langsung memborong ubi manis. Berapapun jumlahnya langsung ia dibeli. “Hanya dapat 15 kilogram. Padahal saya ingin beli banyak,” ujarnya sedikit kecewa. Wanita murah senyum ini

mengatakan, ubi manis merupakan makanan tradisional yang rasanya enak. Manisnya alami dan berserat. Enaknya lagi tidak mengandung kolestrol, sehingga aman untuk kesehatan. “Pagi sama malam, keluarga saya pasti sarapan ubi manis ini. Makan nasinya hanya siang saja,” ujar wanita berhijab ini. Ubi manis ini, lanjut Kartini, sangat cocok dijadikan makanan alternatif pengganti beras. Selain harganya murah

juga baik untuk kesehatan. Untuk memastikan agar tidak kekurangan stok, Kartini juga menanam sendiri tanaman jenis polo pendem ini. Hampir seluruh pekarangan yang ada di samping rumahnya terdapat tanaman merambat ini. Untuk menghindari kebosanan, Kartini selalu mengubah menu ubi manis tersebut. Mulai dari dikukus, dijenang, dibungkus daun pisang, dan dibuat dodol. Yang penting setiap hari dibuat beda. Kalau ingin sedikit

Masjid Jami Kyai Muhammad Besari Tegalsari

masyarakat dari sisi ekonomi, sosial dan budaya sehingga di harapkan mampu memberikan dampak ekonomis bagi lingkungan masyarakat sekitar. Keunikan masjid ini bisa ditemui pada pilar-pilar kayu jati yang keseluruhannya berdan doa bersama serta sholat jumlah 36 buah, atau tembok setebal 0,5 meter. Sirap, usuk, hajad. Beberapa keunikan Masjid selukat dan lain-lain, sebelum Jami Kyai Muhammad Besari direhab pada 1978 masih asli. menurut Mbah Sujak, antara Ketika rehab pada 1998 pun, lain adalah kubah masjid yang tidak mampu mengembalikan terbuat dari tanah liat (sejenis keaslian bangunan. Lebih parah gerabah) yang masih asli mulai lagi, pada masjid putri, di sebepembuatan awal masjid sampai lah kanan masjid utama, semua bagian telah berubah dan nyaris sekarang. “Soko guru berjumlah em- tak ada bedanya dengan banpat buah yang masing-masing gunan pada umumnya. Tempat mempunyai kekuatan tersendiri tinggal Ronggowarsito semasa apabila ada orang yang berdoa jadi santri juga sudah tak jelas di dekat tiang tersebut dan keasliannya. Di sisi barat masjid terdapat didukung oleh tiang-tiang penyangga masjid lainnya,” tutur makam keluarga besar Kyai Ageng Besari. Pada saat bulan Mbah Sujak. Kepala Dinas Kebudayaan, puasa, terutama sepuluh hari Pariwisata, Pemuda dan Olah- terakhir, kawasan ini kebanjiran raga Pemkab Ponorogo, Sapto pengunjung. Tak cukup hanya Djatmiko menjelaskan bahwa di lingkungan masjid, bahMasjid Kyai Muhammad Besari kan meluber sampai kawasan selesai dipugar dan diresmikan desa. Pada 1990-an, pemeroleh Presiden RI ke-2 HM. intah bersama tokoh-tokoh Soeharto pada 2 Maret 1978 agama setempat berkeinginan membesarkan pesantren itu silam. “Memperbaiki prasarana dengan nama pesantren Uluseperti akses jalan, transpor- mul Quran. Namun, kata Afif tasi, instalasi listrik atau air, Azhari, keinginan itu hingga pengelolaan lingkungan se- kini belum berhasil diwujudkan. hingga memberikan tingkat Yang masih berjalan hingga kini keamanan dan kenyamanan bagi adalah pesantren dengan sistem wisatawan yang berkunjung modern, yaitu Madrasah Tsanke objek tersebut,” tambah- awiyah dan madrasah Aliyah nya. Selain itu pihaknya juga Ronggowarsito. -Dinar Perdana memberikan kesempatan pada

Tempat Belajar Ronggowarsito Salah satu objek wisata r e l i g i d i Ka b u p a t e n Po n o rogo adalah Masjid Tegalsari. Konon, masjid ini dipercaya sebagai masjid cikal bakal penyebaran Islam di Bumi Reyog. Masjid yang pernah dikunjungi mantan Presiden RI HM. Soeharto dan KH. Abdurahman Wahid ini ter-

letak di RT. 01, RW. 01, Dukuh Gendol, Desa Tegalsari Kecamatan Jetis, Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur. Masjid Tegalsari merupakan bagian dari cagar budaya yang merupakan satu dari sekian banyak objek wisata andalan di Kabupaten Ponorogo, konon merupakan peninggalan Kyai

Ageng Muhammad Besari, seorang ulama sakti dan berbudi luhur yang konon merupakan keturunan ke sebelas Nabi Muhammad SAW. Banyak kyai yang tumbuh dan berkembang dari keturunan ini diantaranya Kyai Zainal putra kesembilan dari Kyai Muhammad Besari yang menjadi Raja Selangor Malaysia, Kyai Moh. Muhji menjadi raja penerus dari ayahandanya dan Nyai Ngaisah dinobatkan sebagai Sultan Johor Malaysia. Menurut sejarah karena Tegalsari melahirkan orang-orang yang sakti maka sampai sekarang pun dipercaya sebagai salah satu tempat yang mempunyai daya tarik sendiri sehingga muncul keunikan dan kekhasan yang dipercayai oleh banyak orang. Menurut Mbah Sujak, salah satu sesepuh Desa Tegalsari yang juga juru kunci Kompleks Makam Kyai Ageng Muhammad Besari yang berada di Kompleks Masjid Jami Muhammad Besari Desa Tegalsari, hampir tiap hari masjid dikunjungi ratusan orang. Mereka ngalap berkah atau mencari hidayah, apalagi dalam bulan suci Ramadan maupun menjelang pelaksanaan Ujian Nasional, puluhan ribuan pelajar melakukan dzikir

Kartini Susilowati


22

Sosialita

Edisi 854/22 - 28 Juni 2015

Kibarkan Juni Kebaya Perkembangan kebaya yang kian menggeliat be­ berapa tahun ter­akhir ini, rupanya juga menggelitik hati Ni ­Nengah Juni Astryani, S.Pd., untuk memantapkan diri terjun di dunia jahit-menjahit kebaya. Peluang pasar ini khususnya di Bali dilihatnya cukup potensial. Masyarakat bali khususnya kaum perempuan, mulai anak-anak, remaja, hingga dewasa, tak bisa lepas dari kebaya.

K

Wajah Bu Sumarni tampak sumringah sore itu. Aneka makanan buka puasa yang digelarnya laris manis sejak hari pertama puasa. Mulai dari aneka kolak, kue-kue, es buah, es podeng ­hingga beberapa makanan buka puasa, dijual Sumarni dalam Bazar Ramadan yang digelar pe­ngurus RWnya. “Alhamdulilah hampir habis semua. Sudah dua hari ini, sejak pertama puasa, dagangan saya laku banyak. Ini rezeki Ramadan,” ungkap wanita 52 tahun ini tersenyum lebar.

I

Beragam makanan berbuka puasa di bazar ramadhan

pulang belanjannya. Karena kami tidak menyediakan tempat untuk makan. Lagi pula, bazar ini tutup setelah buka puasa,” tambah Leila yang berjualan disamping Sumarni. Seperti Sumarni, Leila yang menjual makanan rumahan pun, mengaku menangguk keuntungan dari hasil dagangannya. “Saya ikut bazar ini

setiap tahun dan selalu untung,” ucap Leila yang mengaku mendapat untung bersih per-hari rata-rata Rp 500 ribu. Pasar kaget makanan dan jajanan buka puasa seperti di Kebon Bawang itu, memang saat ini sedang marak di Jakarta dan itu terjadi setiap tahun sepanjang Bulan Ramadan. Salah satu

3

Juni Astryani

Berburu Hidangan Buka Puasa di Pasar Kaget ni adalah keempat kali­ nya Sumarni berparti­ sipasi dalam Bazar Ra­ madan dan ia mengaku selalu untung. “Tahun ini saya be­ lum tahu, karena bulan puasa baru saja mulai. Tapi dalam dua hari ini keuntungan saya antara Rp 500 ribu -700 ribu per hari. Tahun lalu juga hampir sama, keuntungan­nya seperti itu juga. Saya harap hasil tahun ini lebih bagus,” ucap janda beranak empat itu. Sumarni adalah salah satu dari sekitar 50 warga RW 06 Kelu­ rahan Kebon Bawang, Tanjung Priok, yang ikut berpartisipasi dalam Bazar Ramadan yang di­ adakan pengurus RW-nya setiap tahun. Untuk acara tersebut, ruas jalan penghubung Jl Bugis, ditutup selama bulan Puasa. Kar­ ena letaknya yang strategis maka Bazar Ramadhan itu menjadi terkenal, khususnya di kawasan Tanjung Priok. “Umumnya orang datang membeli, tidak makan di tem­ pat. Mereka datang membawa

Edisi 854/ 22 - 28 juni 2015

yang cukup terkenal adalah di ka­ wasan Benhil atau Bendungan Hilir, Jakarta Pusat. Tempat ini, memang, meski bukan bulan puasa telah menjadi salah satu destinasi belanja kuliner paling favorit di Jakarta. Mulai dari restoran, rumah ma­ kan, cafe, hingga pedagang kaki lima yang berjualan makanan, ramai di sini. Jenis makanannya pun sangat beragam, dari makanan nusantara hingga mancanegara, ada. Tak heran kawasan ini kerap kali macet karena banyak mobil parkir di ping­ gir jalan. Juga, letak yang strategis yakni dekat dengan Jl Jenderal Sudirman yang merupakan pusat perkantoran, membuat Benhil menjadi salah satu pilihan tempat makan para karyawan di sana. Ketika Bulan Puasa seperti sekarang, keramaian pusat kuliner Benhil semakin menjadi-jadi. Selain pedagang tetap, di sana juga diban­ gun ‘pasar kaget’ Bazar Ramadan. Persisnya di depan Pasar Benhil. Namanya ‘pasar kaget’ maka ini hanya muncul pada saat Ramadan saja. Menurut Ace, salah satu yang mengkoordinir Bazar Ramadan, kegiatan ini telah ada sejak tahun 1990-an dan pesertanya adalah warga sekitar. Dulu, hanya sedikit warga yang tertarik berpartisipasi berjualan di bazar itu. Namun seir­ ing perkembangan kawasan Benhil menjadi pusat kuliner, jumlah warga yang berpartisipasi pun terus ber­ tambah. Dari yang hanya puluhan kini menjadi ratusan.

“Rata-rata berdagang di sini pasti untung karena pembelinya banyak sekali. Sekalipun di daerah sini sudah banyak pedagang makanan tetap, banyak rumah makan, warung juga restoran, namun tetap saja ban­ yak pembeli datang ke sini untuk mencari makanan buka puasa,” ungkapnya panjang lebar. Ragam makanan yang dijual di sini lebih banyak dan harganya pun lebih murah ketimbang di restoran. “Pembeli yang datang bukan hanya dari warga sekitar tapi banyak juga dari luar Benhil. Liputan media massa juga ikut mendongkrak popu­ laritas Benhil menjadi pusat jajanan,” tambahnya. Untuk bisa berjualan di Bazar Ramadan warga dikenakan biaya tertentu, besarannya bervariasi antara Rp 1,5-2 jutaan, tergantung seberapa besar lapak yang digu­ nakan. Harga ini, menurut warga relatif murah, apalagi berlaku se­ lama sebulan penuh selama puasa. “Biayanya nggak mahal, kok, bisa ‘ketutup’ dengan pendapatan selama berjualan,” ucap seorang pedagang yang mengaku sudah lima kali ber­ jualan di bazar ini. Bulan Puasa tahun lalu, Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Mari Elka Pangestu sempat melihat dari dekat aktivitas di Bazar Rama­ dhan Benhil. “Bukan hanya menteri yang datang ke sini tapi artis-artis pun banyak yang datang. Waktu kampanye Pilpres lalu banyak tokoh dan artis datang,” ujarnya bangga. –Diana Runtu

ebaya tak hanya dipakai saat upacara adat, namun seka­ rang ini kebaya juga digunakan saat acara perpisahan sekolah atau kampus, dan acara lainnya. Alasan inilah yang kemudian memantapkan Juni-demikian sapaan akrabnya, untuk berkiprah di dunia fashion. Apalagi ia sudah sejak kecil akrab dengan dunia ini. Juni kecil tumbuh dalam sebuah keluarga sederhana di Seraya Ba­ rat, Karangasem, yang mencoba peruntungan dengan merantau ke Denpasar. Di Denpasar, keluarga pasutri I Made Reta dan Ni Wayan Sukaryani yang masih hidup paspasan ini menempati sebuah rumah kos di daerah Padangsambian, bersama kedua anaknya, Juni dan sang kakak I Wayan Rekayana Yasaputra,S.E. “Ibu saya adalah seorang tukang bordir kerawang kebaya. Entah saya mengambil keturunan itu atau tidak, tetapi kesenangan saya dalam dunia jahit-menjahit adalah sebuah hobi yang hingga kini saya tekuni. Dengan menjahit saya merasa pede karena di sini saya dapat menu­ angkan ide-ide yang ada di otak saya.” Demikian ungkap Juni yang baru saja menamatkan gelar sarjana S1nya di Jurusan Sastra daerah IKIP PGRI Bali. Perempuan kelahiran 11 Juni 1992 ini menuturkan ikhwal ia men­ genal dunia ini. Bermula dari suatu ketika, Bapak dan ibunya mengam­ bil pasuh (orderan) di garmen atau temannya yang sebagai pengepul untuk memasang mote pada kanc­

ing bungkus, yang ongkosnya saat itu tak seberapa hanya Rp 200. Waktu itu usia Juni baru 9 tahun. Karena penasaran dengan bentuk mote-mote itu, ia lalu meminta dia­ jarkan untuk menjahitnya. “Awalnya saya tidak dibolehkan sama Bapak karena takut hasilnya rusak dan tidak diterima pengepul. Tapi saya tetap bersikeras mencoba, sampai Bapak dan Meme (ungkapan Ibu dalan bahasa Bali) melihat hasilnya tidak buruk dan setelah diserah­ kan ke pengepul, ternyata lolos,” tuturnya. Begitu seterusnya, sehingga setiap pulang sekolah, pekerjaan sambilan itu dilakukan Juni dengan senang hati. Selain karena senang menjahit, terbersit juga keinginan Juni waktu itu untuk bisa cepat pu­ nya uang, agar bisa belanja sesuka hati. “Jangankan untuk berbelanja, untuk makan saja, dulu itu kami harus irit,” kisahnya. Saat itu, saat anak seusia Juni masih bebas bermain sepuasnya, tak dilakoninya. Juni justru lebih memilih mengerjakan hobinya, sekaligus membantu meringankan tugas ibunya, yang sekaligus juga bisa cepat dapat uang. Pekerjaan sambilan itu dilakoni Juni sejak masih duduk di bangku SD sampai SMP. Setamat SMP, Juni bingung untuk meneruskan pendidikan­ nya ke SMA atau SMK. Sang ayah mengarahkan untuk melanjutkan ke SMK dengan pertimbangan setamat sekolah bisa langsung kerja dan menghasilkan uang. Juni menuruti nasihat itu. Ia mendaftar di SMKN 4 Den­

pasar Jurusan Tata Busana. Setelah 3 tahun mengenyam pendidikan di sana dan menamatkan sekolahnya, Juni mencoba bekerja di beberapa butik milih desainer papan atas di Bali. Selain di sekolah, dari sana pula ia mengaku banyak mendapatkan ilmu tambahan tentang pecah pola, cutting, masang payet, ngesum, dan menjahit. Itu yang kemudian membuatnya memberanikan diri mengambil orderan menjahit baju anak-anak yang harganya Rp 1200 per potong. Hitung-hitung cari pengalaman, demikian pikirnya saat itu. Sampai akhirnya di tahun 2012, Juni mantap membuka jasa menjahit dengan plang nama Junie Fashion.

Namun sete­lah berjalan 2 tahun, bertepatan dengan hari ulang ta­ hunnya 11 juni 2014, ia merubah benderanya menjadi Juni Kebaya, dengan nama pada akun instagram: juni kebaya. Media sosial seperti instagram, facebook dan path inilah yang selama ini menjadi tempat promosinya di dunia maya. –ten Dukungan keluarga beserta teman-teman dan orang-orang terdekat yang senantiasa terus mendukung kiprah Juni di dunia fashion

Tak Perlu Kain Mahal untuk Dapatkan Kebaya Indah Dalam berkarya, Juni yang mengaku sudah suka menggam­ bar sejak SMP ini terinspirasi dari seringnya melihat orang-orang di sekitar yang setiap hari raya selalu berganti model kebaya, tak seperti dirinya. Dari sanalah kemudian terbersit keinginannya untuk belajar membuat baju, teru­ tama kebaya. Minimal untuk diri sendiri dulu karena tanpa harus membayar ongkos jahitnya. Selain itu, Juni juga suka melihat-lihat model-model kebaya di koran, majalah, televisi dan berselancar di dunia maya. Kebaya hasil jahitannya, me­ madukan bentuk atau aksen-aksen dari kain tersebut agar dapat terlihat lebih indah, meskipun tidak simetris namun kesan in­ dahnya tetap ada. Ditambah dengan manik-manik atau payet yang membuat kebaya semakin indah. “Tidak perlu kain yang mahal untuk mendapatkan kebaya yang indah,” ucap Juni yang selalu berpegang pada moto “pelayanan dengan penuh senyum tanpa me­ mandang segi ekonomi pelanggan dan kepuasan pelanggan adalah hal yang nomor 1”, dalam men­ jalankan bisnis jasanya ini. Juni sangat bersyukur bahwa apa yang dijalaninya kini didukung penuh keluarga dan orang-orang terdekatnya yang selalu ada di kala ia menghadapi titik jenuh. Terkadang Juni merasa lelah kar­ ena semua dikerjakannya sendiri, mulai dari mencari kain atau ba­ han-bahan untuk keperluan jahit, mengukur, mendesain, membuat pola, menjahit, hingga memasang aksen lainnya. Semua benar-benar dikerjakannya sendiri. Namun, itu yang justru memberikannya kepuasan lebih. Menjalani sebuah bisnis, apal­ agi yang bergerak di bidang jasa seperti apa yang dilakoni Juni saat

Keikutsertaan Juni dalam pagelaran 100 kebaya di ISI Denpasar belum lama ini . Juni menampilkan karyanya, Black & White yang terinspirasi dari konsep Rwabinedha

ini, tentunya juga tak lepas dari kendala. Yang paling sering ada­ lah ketika harus berkejar-kejaran dengan waktu, sementara banyak pekerjaan yang belum tersele­ saikan. Mau tak mau ia mencoba memberikan pengertian kepada konsumen agar membawa kain yang akan dijadikan kebaya sem­ inggu bahkan sebulan sebelumnya. Dan tentunya, kendala pada modal untuk membuat tempat kerjanya

semakin indah dan nyaman. Juni berharap bisnis jasanya ini terus berkembang dan bisa mem­ banggakan orangtuanya. Bahkan ia memiliki impian suatu saat nanti Juni Kebaya bisa dikenal di nasional hingga internasional. Dengan moto “Hidup itu tak mudah, namun ke­ sabaran dan kemauan adalah kunci dari kesuksesan”, ini pulalah Juni terus berkarya untuk menggapai mimpinya itu. –ten


4

Inspirasi

Edisi 854/ 22 - 28 JUNI 2015

d r. B e n e d i c t a Wa y a n S u r y a n i Wu l a n d a r i

Menyelam dan Operasi “I

MENGENAL KULINER UNIK Beruntung, penerimaan masyarakat di sana sangat positif. Keberadaan dok-

dr. Benedicta Wayan Suryani Wulandari ter yang menetap, apalagi serarang spesialis, memang sejak lama dirindukan masyarakat Selayar. Karenanya kehadiran Ben membuat masyarakat sukacita. Apalagi di sana ada banyak kasus mata sehingga dengan kehadiran dokter muda ini, bisa memudahkan masyarakat mendapat pelayanan. “Saya sangat terkesan dengan penerimaan mereka. Mereka sangat menyenangkan, ramah dan cepat akrab. Apalagi kalau pekerjaan kita atau apapun yang kita lakukan membawa manfaat. Saya serta merta mendapatkan keluarga baru, saudara-saudari yang baru,” jelasnya. Masyarakat Selayar, jelas Ben lagi, umumnya bersuku Bugis-Makassar, dengan beberapa adat yang hampir sama dengan yang di Makassar, tapi beberapa kata dalam bahasa mereka berbeda. Seperti kata ‘Ghele’ yang artinya ‘tidak’, menjadi ciri khas orang Selayar. Dari pergaulannya dengan masyarakat pula lah, Ben mendapatkan banyak pengalaman baru di dunia kuliner. Ia berkesempatan berkenalan dengan berbagai makanan laut yang baru, seperti macam-macam kerang/siput, ikan pari, bulu babi, gurita dan rumput laut. “Semuanya enak dan unik. Saya baru pertama kali menjumpai makanan seperti itu. Khasanah kuliner saya makin bertambah,” ucapnya sambil tertawa. “Di sana juga saya belajar ikut menjalankan siklus makan saat Bulan Suci Ramadhan karena kebetulan saya tinggal dengan orang tua angkat yang haji,” ungkap Ben yang beragama Katolik. Meskipun segala sesuatunya berjalan relatif lancar, namun perlahan Ben mulai merasakan kejenuhan. Ya, maklum saja tinggal di tempat terpencil yang sangat minim hiburan. Hidup terasa monoton. Secara intelektual pun ia tak dapat berbuat banyak karena fasilitas medis yang dimiliki sangat minim. “Saya merasa kemampuan saya stagnan, tidak berkembang,” ucapnya. JATUH CINTA DUNIA BAWAH LAUT Beruntunglah, dia segera menemukan ‘obat’ dari kejenuhannya yakni dunia bawah laut. Penemuan ini bisa jadi secara tak sengaja ketika ia tengah browsing di internet tentang Selayar. “Saat saya browshing, yang pertama kali muncul adalah tentang dunia bawah laut Selayar yang indah. Saya tertarik dan ingin tahu lebih jauh tentang ini,” kata Ben. Berbekal info dari internet itu, ia pun berusaha mencari tahu. Tak dinyana, tidak mudah mendapat info itu karena ternyata orang Selayar banyak yang takut laut. “Ini aneh! Tidak tampak aktivitas bahari seperti di dunia maya, bahkan

sebaliknya ternyata orang Selayar banyak yang takut laut,” ucapnya. Tapi Ben sudah terlanjur penasaran, maka ia pun terus mencari tahu. Akhirnya, beruntung, ia bertemu seorang instruktur diving berkebangsaan Jerman yang kebetilan mengelola salah satu resort baru di sana. Bisa jadi inilah jalan yang diberikan ‘Tuhan’ agar Ben betah mengabdi di Selayar. Sejak itu, ia pun belajar diving dari instruktur asal Jerman itu. “Saya menemukan kegairahan baru, belajar sesuatu yang baru yang luar biasa indah,” kata Ben senang. Kegairahan baru membuat Ben yang pernah mewakili Bali untuk cabang bela diri Kempo pada PON XII, bangkit semangatnya untuk menjelajah dari pulau ke pulau untuk memberi pelayanan kesehatan mata. “Saya memberanikan diri melakukan turne ke pulau Jampea untuk pemeriksaan gratis dan operasi katarak. Kabar yang saya dapat, di sana banyak penderita buta katarak tapi tidak bisa menyeberang ke Selayar. Jadi saya putuskan untuk mendatangi mereka,” tuturnya. Untuk mencapai pulau itu, katanya, dia dan timnya menggunakan kapal kayu dengan jarak tempuh sekitar 8 jam. Selama sepekan ia menghabiskan waktu disana untuk pengobatan masyarakat. “Banyak pengalaman berharga yang saya dapat. Saya merasa puas bisa mengabdikan diri saya untuk masyarakat,” tambahnya. Dari Jampea, Ben pun merambah ke pulau lainnya. Hidup Ben di Pulau Selayar pun menjadi lebih berwarna. Dia bukan saja mengabdi pada masyarakat sebagai tenaga kesehatan tapi juga menemukan hobi baru yakni menyelam. Ketertarikan Ben semakin menjadi-jadi karena ternyata dunia bawah laut itu luar biasa indah. “Banyak yang menarik dari laut. Laut itu seperti dunia baru. Surga yang sama sekali berbeda dengan keseharian kita. Saya dulu takut sekali dengan laut, apalagi kalo melintas di perairan dalam dengan kapal dan melihat laut gelap dan dasarnya hitam. Apalagi kalau ombak tinggi. Ya, sepertinya kita semua begitu ya? “ kata Ben sembari tertawa. Saat belajar diving lah, tuturnya, ia mengetahui banyak hal. Mulai dari musim, siklus pasang-surut, belum lagi berjumpa langsung dengan makhluk-makhluk ciptaan Tuhan yang berwarna-warni, mempelajari cara hidup mereka, dan mengetahui bagaimana beberapa dari spesies itu sudah hampir punah dari muka bumi. “Saya jatuh cinta!” tandasnya. Baginya, gelombang laut bukan lagi ancaman yang menakutkan, tapi irama kehidupan yang didalamnya terdapat bermacam-macam keindahan yang sangat menakjubkan. Ya, Ben seolah telah menemukan dunianya. Suatu yang tak pernah dibayangkan sebelumnya. Tak hanya sampai di situ, Ben yang telah mengantongi lisensi penyelam advance pun melamar ke Taman Nasional Taka Bonerate sebagai relawan untuk memonitor terumbu karang. Awalnya, kata Ben, niatnya selain melakukan konservasi terumbu karang juga untuk menambah pengalam menyelam. Tapi siapa nyana, ternyata pihak Taman Nasional yang tahu bahwa Ben adalah seorang dokter spesialis, menawarkan dirinya untuk juga melakukan pelayanan kepada masyarakat di pulaupulau yang ada di sana. “Tentu saja saya menyambut gembira tawaran itu. Ini luar biasa sekali....hehheh ‘sambil menyelam, operasi katarak’,” ucapnya semringah. Sejak itu, kata Ben lagi, hidupnya menjadi semakin sibuk, bukan hanya dengan bekerja mengobati masyarakat tapi juga dengan kegiatan kon-

Pisah Sambut Kapolda NTB

H

servasi. Apalagi, banyak hal yang belum diketahuinya tentang laut dan konservasi. “Kegiatan saya menjadi seolah tak terbendung. Semuanya mengalir bersamaan. Saya belajar konservasi, mengenal biota laut, menjalin pertemanan dengan sesama penyelam yang ternyata banyak jumlahnya,” kata Ben yang kemudian membentuk komunitas Sileya Scuba Divers yang kemudian menjadi cikal bakal kegairahan wisata bahari di Selayar. Bersama komunitasnya, Ben melakukan trip-trip kecil dan mempublikasikan kegiatan-kegiatan mereka. “Kami melakukan berbagai kegiatan, kemudian memublikasikannya. Sebagian teman pun mulai mengembangkan keahlian mereka dalam fotografi, pemberdayaan masyarakat untuk membuat cinderamata, membuat event-event bahari, dll,” tuturnya. Untuk membangun pariwisata, mereka juga bekerja sama dengan pemerintah dan masyarakat setempat. Pelan tapi pasti, keindahan Selayar yang tersembunyi mulai diketahui luas. Banyak orang peminat wisata bahari berdatangan ke Selayar. “Doa saya terkabul, makin banyak orang mencintai Selayar yang memang sangat indah,” katanya. Dunia bawah laut kita, paparnya lebih jauh, adalah kekayaan yang sangat besar yang dianugerahkan Tuhan. Indonesia adalah negara kepulauan terbesar di dunia, memiliki garis pantai terpanjang dan menjadi salah satu jantung terumbu karang dunia. “Kita ini sungguh kaya raya! Nah, siapa lagi yang bisa memelihara kekayaan ini kalau bukan kita? Saya merasa sangat bersyukur, masyarakat pulau banyak yang tersentuh justru karena saya seorang dokter, perempuan pula, bukan penduduk asli, bukan petugas kelautan atau aparat, tapi peduli dan mengajak penduduk untuk menjaga kekayaan laut mereka. Saya sangat bersyukur bisa makin membuat mereka percaya,” tambahnya. MENYELAM DI KEDALAMAN 40 METER Meski telah terlibat cukup dalam dalam kegiatan penyelaman dan terumbu karang, namun kegiatannya sebagai tenaga kesehatan tetaplah yang utama. Begitu pun soal menyelam. Baginya menyelam hanya sekadar hobi dan ia tak tertarik untuk menekuni lebih jauh. Betapapun, tambahnya, menyelam adalah sebuah aktivitas berisiko. “Saya pernah menyelam pada kedalaman 40 meter saat mengambil lisensi Deep Dive di drop off Pantai Timur Selayar, juga saat melakukan trip di Bunaken hanya untuk menyadari betapa cepatnya udara di tabung saya habis dan bertambahnya risiko saya bisa keracunan nitrogen,” ujarnya. Karena itu ia sangat salut pada penyelam-penyelam teknis (technical divers) yang mampu menyelam ratusan meter untuk bekerja. Mereka itu memiliki keahlian dan sertifikat khusus. “Ach...saya tidak tertarik untuk itu, tidak terima kasih. Saya bahagia hanya di kedalaman 8-20 meter saja, karena di

Edisi 854/ 22 - 28 JUNI 2015

21

Mengakhiri tugasnya di Nusa Tenggara Barat sebagai Kapolda, Brigadir Jenderal Polisi Drs. Sriyono, M.Si., menyerahkan tongkat komando kepada Brigadir Jenderal Polisi Umar Septanto, SH,. MH., untuk mengawal kamtibmas di Bumi Gora. Sebagai rangkaian serah terima jabatan itu, acara pisah sambut dilaksanakan beberapa waktu lalu dihadiri oleh seluruh jajaran Pejabat Utama Polda NTB dan PolresPolres se-NTB serta personil lainnya. Dihadiri pula oleh Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (FKPD) Provinsi NTB, termasuk Gubernur NTB, Dr. TGH. M. Zainul Majdi.

Bukan dokter biasa. Begitu penilaian orang yang mengenal Dr Benedicta Wayan Suryani Wulandari. Pasalnya, Dokter Ben, begitu wanita ini akrab disapa, bukan hanya sekadar dokter yang bekerja di lingkungan medis yang menyambangi pasiennya dari pulau ke pulau, tapi dia juga jagoan menyelam serta aktivis lingkungan, khususnya konservasi terumbu karang.

tu ketika saya bertugas di Pulau Selayar. Saya sempat melamar sebagai sukarelawan ke pihak Taman Nasional Taka Bonerate untuk monitoring terumbu karang. Maksudnya sekalian menambah pengalaman menyelam. Mengejutkan! Pihak Taman Nasional bukan saja menerima tawaran saya tapi juga meminta saya melakukan pelayanan kesehatan kepada masyarakat dari pulau ke pulau. He..hehe...ini luar biasa sekali. Saya pun menyambut gembira..Luar biasa, sambil menyelam, operasi katarak, hehehheh,” ungkap Dr Ben mengenang pengalamannya beberapa tahun lalu. Berawal dari penempatannya sebagai dokter spesialis mata yang baru saja lulus dari Fakultas Kedokteran Hasanuddin, Makassar. Sebagai dokter baru lulus, tentu saja ia ingin segera bekerja mengabdikan ilmunya. Tawaran datang, yakni penempatan di Selayar, sebuah pulau yang berada di Sulawesi Selatan. “Kebetulan salah seorang supervisor kami di Bagian Mata FK UNHAS menyarankan saya ke Selayar karena di sana belum ada dokter mata definitif. Perdami Sulawesi Selatan sering melakukan kegiatan rutin ke sana untuk program pemberantasan buta katarak,” tuturnya. Berbeda dengan banyak dokter yang menolak ditempatkan di daerah terpencil, Ben justru menerima tantangan itu. Padahal kalau menolak pun ia memiliki alasan yang kuat. Betapa tidak, anak-anaknya masih kecil-kecil, suaminya pun bekerja di Makassar. Artinya, jika menerima berarti ia rela hidup terpisah dari keluarganya, suami dan anak-anaknya. “Saya bersyukur keluarga saya, baik itu suami maupun orangtua saya, mendukung. Maka jadilah ketiga anak saya yang masih kecil-kecil, tinggal di Makassar bersama suami saya yang bekerja sebagai dokter spesialis penyakit dalam di sebuah RS swasta. Selain ayahnya, anak-anak juga diasuh oleh nenek dan tantenya,” ungkap Ben yang ketika itu hanya bisa sebulan sekali pulang menengok keluarganya di Makassar. Tinggal sendiri di lingkungan baru di pulau terpencil tentu menjadi tantangan tersendiri bagi Ben. Ia harus menyesuaikan diri dengan kondisi yang ada, termasuk minimnya fasilitas, sarana dan prasarana. Di tempat kerjanya pun tak terkecuali. Peralatan-peralatan yang dibutuhkan untuk pelayanan medis pun sangat minim. “Permasalahan dunia kesehatan di tempat-tempat terpencil di negeri kita itu rata-rata sama, yaitu ketidakseimbangan SDM dengan prasarana. RS menyediakan alat spesialistik, dokternya yang tidak ada. Atau sebaliknya, dokternya ada, alat-alat yang diperlukannya tidak ada. Nah, permasalahan saya itu yang kedua, yakni, dokternya ada tapi peralatan yang diperlukan tidak ada,” ucap penerima penghargaan ‘Kartini Awards’ 2011, ini. Walhasil, ia terpaksa menggunakan peralatan milik sendiri karena menunggu pengadaan dari pemerintah memerlukan proses dan waktu yang lama. “Saya ini orangnya tidak suka terlalu tergantung pada orang lain. Saya bersyukur menjadi seorang spesialis mata yang bisa bekerja dimana saja. Di kamar operasi berstandar internasional maupun di puskesmas pembantu di pelosok pulau, karena dapat melakukan operasi dengan anestesi lokal saja,” papar Ben yang kini menjadi Direktur RS Arsani Sungailiat, Bangka.

Mandalika

kedalaman itupun ada banyak kehidupan yang bisa saya lihat dan sapa,” ungkap Ben yang kini menjadi piawai mengambil foto kehidupan di dasar laut. Koleksi foto-fotonya yang luar biasa indah kerap dipublikasikannya di dunia maya. “Ya saya suka sekali mengambil foto. Sampai hari ini saya sudah merusakkan empat camera bawah laut...heheheheh. Semua foto-foto saya menjadi koleksi pribadi yang kadang saya posting di media sosial,” ungkap Ben yang sempat mengikuti eventbahari internasional ‘Sail Wakatobi-Belitong’ tahun 2011. Baginya event itu sungguh berkesan, salah satunya karena fotonya meraih juara pertama. “Saya sungguh bersyukur. Padahal saya memotretnya pakai kamera saku tanpa eksternal flash. Syukur kepada Tuhan, itu sungguh hadiah yang sangat berkesan,” katanya. Kini, kata Ben lagi, kegiatan penyelaman maupun aktivitas konservasi laut sudah jarang dilakukannya karena kesibukannya yang luar biasa di rumah sakit. Sejak meninggalkan Selayar tahun 2011, Ben pun pindah ke Sungailiat, Bangka. Hal ini karena suaminya mendapat pekerjaan baru di rumah sakit swasta di Sungailiat. Demi tidak lagi berpisah dari keluarga, apalagi Bangka cukup jauh dari Sulawesi, maka Ben pun ikut pindah mengikuti tempat kerja suaminya. “Kami sekeluarga pindah dan menetap sampai sekarang, dan tidak terpisah-pisah lagi. Saya dan suami bekerja di RS yang sama, tinggal bersama ibu dan anak-anak,” jelas Ben yang sejak 2013 lalu dipercaya menjadi Direktur Rumah Sakit Arsani, Sungailiat, Bangka. Tidak seperti sebelumnya, maka pekerjaannya di rumah sakit sekarang luar biasa banyak. Dia pun menjadi amat sangat sibuk. “Pekerjaan saya sekarang luar biasa. Saya kembali menjadi seorang dokter spesialis full timer karena alat-alat yang saya perlukan dan tunggu selama enam tahun di Selayar, di sini hanya perlu enam bulan menunggunya,” ungkap Ben yang ketika dihubungi baru saja menyelesaikan sebuah operasi. “Sebelumnya operasi saya mengurus pasien di poli sekitar 25-30 orang,” tambahnya. Rumah sakitnya, kata Ben lagi, memiliki alat diagnostik mata terlengkap se-Bangka Belitung, dan untuk pasien peserta BPJS sama sekali tidak dipungut biaya. “Di sini saya sibuk sekali. Aktivitas operasi saya juga berlipat ganda dibanding di Selayar. Makanya untuk kegiatan-kegiatan pencinta alam saya sudah kekurangan waktu, meski sempat membawa anak-anak dan karyawan ke penangkaran penyu dan hutan mangrove,” katanya. Sesekali, katanya, ia masih sempat ikut pelayanan kesehatan dan operasi katarak di pedalaman, seperti di Sepauk, Kalimantan Barat pada 2014 lalu, Bangka Tengah, dan rencananya akan ke pedalaman Tana Toraja pada September 2015. “Semoga Tuhan memperkenankan saya melancong ke masyarakat yang tinggalnya jauh dan menimba banyak pelajaran hidup,” katanya menutup pembicaraan. –Diana Runtu

arapan stabilnya kamtibmas di Nusa Tenggara Barat kini, ada di pundak Kapolda NTB yang baru yang sebelumnya menjabat sebagai Karobinops Sops Polri ini, khususnya dalam menghadapi Pilkada serentak secara nasional

dan terdapat tujuh kabupaten kota/kabupaten di NTB pada bulan Desember 2015 mendatang. Kegiatan pisah sambut ini, merupakan tradisi Bhayangkara, selain menerima Kapolda baru NTB juga sekaligus mengantar mantan Kapolda NTB Brigjen Pol. Drs. Srijono, M.Si. Pada kesempa-

tan inilah Kapolda yang dikenal sangat serius dalam melakukan gerakan perubahan karakter dan mainset baik internal maupun masyarakat ini, menyampaikan ucapan terimakasih kepada warga Bumi Gora yang dinilainya sangat kooperatif. Selain itu, ia juga meminta maaf kepada masyarakat NTB

atas beberapa kejadian gangguan kamtibmas seperti konflik sosial yang banyak dipicu kesalahpahaman yang terjadi selama ia bertugas. “Masyarakat NTB telah menerima saya dengan sangat baik sehingga saya dapat melaksanakan tugas dengan lancar,” ujarnya. Saat melepas Brigjen. Sriyono,

Gubernur NTB menyerahkan kenang-kenangan kepada Pati yang melanjutkan tugasnya ke Lembaga Pendidikan Polri (Lemdikpol) ini sebagai ucapan terima kasih atas pengabdian jenderal bintang satu ini selama sebelas bulan bertugas di NTB. -Naniek I. Taufan

NTB Kampanyekan

Anti Pasung

Gubernur NTB, DR. TGH. M. Zainul Majdi (tengah) diapit Brigjen. Drs. Sriyono, M.Si., (kanan) dan Brigjen. Umar Septanto, SH,. MH., (kiri)

Kampanye anti pemasungan terus gencar disuarakan, khususnya oleh pemerintah. Perlakuan pasung terhadap orang sakit jiwa memang telah lama terjadi di tanah air, termasuk pula di Nusa Tenggara Barat. Untuk menghentikan tindakan pemasungan, bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah melainkan diperlukan juga dukungan dan perhatian dari seluruh lapisan masyarakat. Penderita gangguan jiwa semestinya diobati intensif di rumah sakit khusus (RS jiwa), bukan malah diasingkan dan dipasung sehingga memperburuk kondisinya. Ketua Tim Penggerak PKK NTB yang hadir dalam kegiatan ini, Hj. Erica Zainul Majdi mengatakan, bahwa pemasungan bukan hanya melanggar hak asasi manusia namun dapat dikatakan sudah merupakan tindak pidana. Karena itu, Erica menyarankan supaya pihak Rumah Sakit Jiwa juga

mengajak pihak berwajib untuk ikut membantu kampanye ini. Berdasarkan data yang disampaikan Direktur Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Provinsi Nusa Tenggara Barat dr. Elly Rosila Wijaya, Sp.Kj., penderita gangguan jiwa di NTB saat ini mencapai 9.876

orang atau sekitar 0,21% dari jumlah penderita gangguan jiwa di Indonesia. Angka ini tentu saja mengkhawatirkan melihat banyaknya penderita gangguan jiwa dari berbagai usia, mulai dari anak-anak, remaja, maupun orang dewasa. Dari jumlah tersebut, sekitar 1.400 orang yang dipasung oleh keluarga dan kerabatnya. “Kampanye anti pasung bertujuan tidak hanya membebaskan orang dengan gangguan jiwa dari pasung yang menyiksa tubuh. Lebih dari itu, membebaskan jiwa yang terpasung, memberdayakan, menjadikan mereka sebagai bagian serta mampu berkontribusi kepada masyarakat,” kata dr. Elly. Menurut Wakil Gubernur Nusa Tenggara Barat H. Muhammad Amin, S.H, M.Si ., saat membuka Pelatihan Service Exellent Rumah Sakit Jiwa Mutiara Sukma Menuju Akreditasi Paripurna 2016, selama ini tidak sedikit orang yang men-

Hj. Erica Zainul Majdi dan Putri Indonesia 2015 serta tamu undangan lainnya bersama penderita gangguan jiwa di Bangsal Melati RSJ NTB.

Gubernur NTB, TGH. M. Zainul Majdi (paling kiri) bersama istri dan Brigjen. Pol. Drs. Sriyono, M. Si., )paling kanan) bersama istri.

derita gangguan jiwa dipasung oleh keluarganya sendiri. Hal ini merupakan tindakan yang melanggar hak asasi manusia. Orang dengan gangguan jiwa memiliki hak yang sama dengan orang lain. Alasan pemasungan adalah khawatir para penderita gangguan jiwa tersebut mengamuk dan mengganggu warga.

Kegiatan pelatihan ini dibarengi dengan Kampanye Anti Pasung Putri Indonesia 2015, Anindya Putri. Dan untuk menggencarkan kampanye anti pasung di Nusa Tenggara Barat, Putri Mutiara NTB 2014, Baiq Windi Amelia dinobatkan sebagai Duta anti Pasung NTB. -Naniek I. Taufan

Hj. Erica Zainul Majdi (tiga dari kiri) bersana Putri Indonesia 2015, Anindya Putri (tiga dari kanan) beserta Duta anti Pasung NTB Baiq Windi Amelia (dua dari kiri),Direktur Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Provinsi Nusa Tenggara Barat dr. Elly Rosila Wijaya, Sp.Kj (paling kiri), Wakil Gubernur Nusa Tenggara Barat H. Muhammad Amin, S.H, M.Si., (paling kanan) serta Ketua BKOW Hj. Syamsiah Muh. Amin (dua dari kanan)


20

Nine

Edisi 854/ 22 - 28 JUNI 2015

Hj. Nuraini

Harapkan Keajaiban Datang Di atas sebuah pesawat menuju Makassar, Hj. Nuraini (56), meminta dengan sangat mainan anak-anak pada ­seorang pramugari yang sedang membagikan mainan bagi penum­pang anak-anak yang duduk di sebelahnya. “Mbak, ­tolong berikan mainan itu, untuk anak saya. Dia cacat dan saya sangat ingin membawakannya oleh-oleh mainan ini,” ­ungkapnya setengah memohon pada pramugari yang tentu saja menolak permintaan itu, karena mainan hanya diberikan bagi penumpang anak-anak yang sedang terbang. Melihat apa yang dilakukan Hj. Nuraini pada anak angkatnya ini, patutlah ia disebut sebagai perempuan dan ibu berhati mulia. Ini sangat bertolak belakang dengan kasus-kasus penelantaran dan kekerasaan terhadap anak angkat yang akhir-akhir ini wara-wiri di media massa. Salah satunya kasus kematian Angeline yang berHj. Nuraini dan H. Abdul Thalib bersama Rizki, Sukmawati (kanan belakang), status sebagai anak pengasuh Rizki (tengah belakang) dan Dedi Mardiansyah (kiri belakang). angkat, yang kini ramugari berlalu dan tidak berhak mendapatkan mainan tengah ramai diperbincangkan. Membesarkan seorang anak meninggalkan Hj. tersebut. Entah apa yang ada Nuraini yang kece- dalam benak pramugari itu, tiba- angkat yang sehat, menggemaswa. Ia membayang- tiba ia kembali dan membawakan kan dan lucu bagi sebuah kekan, wajah Muhammad Rizki, anak Hj. Nuraini mobil-mobilan dan luarga yang tidak memiliki anak, angkat yang sangat disayanginya itu catur kecil itu. Betapa bahagianya maka wajarlah rasanya jika anak akan tersenyum bahagia tatkala ia Hj. Nuraini menerima hadiah tersebut akan menjadi primadona tiba dan memberikan oleh-oleh dari pramugari tersebut sambil dalam keluarga kecil itu. Namun, mobil-mobilan dan catur kecil membayangkan senyum dan binar bagaimana jika anak yang diangkat tersebut. Semua sirna ketika cahaya mata anak angkat yang itu adalah anak yang memiliki kekurangan alias cacat dan kelupramugari menyatakan bahwa ia disayanginya tersebut.

P

Ibu RT Kreatif Hj. Nuraini bukanlah seorang wanita karir yang berjibaku dengan kegiatan kantoran, melainkan murni sebagai ibu rumah tangga yang fokus mengurus suami dan anak-anaknya, termasuk Rizki. Namun Hj. Nuraini terbilang kreatif dalam “karirnya” sebagai ibu rumah tangga. Waktu kesehariannya tidak pernah sia-sia. Selain memperhatikan gizi dan kesehatan keluarga, ia mengisi hari-hari dengan aktivitas berdagang pakaian di rumahnya. Dagangan tersebut ada di dalam rumah sehingga dengan mudah ia mengawasinya. Para pelanggan dan kenalannyalah yang datang membeli ke rumah. Ia tidak ngotot dalam hal ini, melainkan menyerahkan semuanya pada rezeki, yang penting ada aktivitas namun tidak meninggalkan rumah. Aktivitas ini juga dilakukannya hanya setahun sekali pada saat bulan Ramadhan hingga menjelang lebaran Idul Fitri. Dengan begitu ia memiliki waktu yang banyak untuk mengurus Rizki yang kini sendiri, sejak ketiga kakaknya, tinggal terpisah. Sukmawati tinggal di Bima mengikuti suaminya, Prima Adikusnan. Wahyu Hidayat tinggal di Taliwang, Sumbawa Barat dan Dedi Mardiansyah tinggal di Mataram. “Sekarang kami tinggal bertiga saja, saya, Muma

(panggilan kepada suaminya) dan Rizki,” katanya sambil menggoda Rizki yang tersenyum ketika namanya disebut. Kebahagiaan paling besar dirasakan Hj. Nuraini adalah ketika keempat anaknya berkumpul di rumah mereka di Jalan Cenderawasih, Brang Biji Sumbawa Besar. Semua kasih sayang tercurah pada Rizki. “Kakak-kakaknya berebut mengurusnya,” ungkap Hj. Nuraini. Jika melihat perjuangan Hj. Nuraini merawat dan membesarkan Rizki, mungkin bisa saja terasa mustahil mengingat anak yang diangkatnya bukanlah anak yang normal. Karena untuk itu, butuh tenaga ekstra dalam mengurusnya. Namun semua rasa capek itu sirna bagi Hj. Nuraini, tiap kali menatap kondisi Rizki. Rasa kasihan yang berubah menjadi kasih sayang dan cinta membuncahkan keihklasan dari perempuan setengah baya yang masih terlihat cantik ini. “Tiap kali melihat Rizki, hati saya luluh dan tidak lagi bisa jauh darinya,” ungkapnya menatap Rizki dengan tatapan penuh kasih seorang ibu. Apa yang dilakukan Hj. Nuraini pada Rizki patutlah menjadikan anak-anak angkat di negeri ini memiliki harapan untuk mendapatkan kasih sayang yang tidak mereka dapatkan dari orang tua kandungnya. -Naniek I. Taufan

arga tersebut memiliki tiga orang anak, rasanya jarang anak angkat tersebut akan terpelihara dengan baik. Tetapi tidak begitu dengan keluarga H. Abdul Thalib (63) dan Hj. Nuraini. Bersama ketiga anak kandungnya, Sukmawati, ST., (33), Wahyu Hidayat, SP., (28) dan Dedi Mardiansyah, SH., (23), mereka bahu membahu merawat dan membesarkan Rizki yang hingga usianya kini 9 tahun belum dapat berjalan dan tidak pula dapat berbicara dengan normal. Tubuh Rizki yang ototototnya kaku hanya bisa berada di kursi roda sepanjang hari. Dalam kondisinya yang demikian, Rizki mendapatkan limpahan kasih sayang yang luar biasa hangat dari seluruh anggota keluarga ini, di rumah mereka di Kota Sumbawa Besar. Dengan penuh kasih sayang, Hj. Nuraini merawat Rizki, memandikan dan membersihkan kotorannya, menggantikannya pampers, menyuapinya makanan hingga memberinya susunya. Dan ini diikuti oleh anak-anaknya. Tidak kalah sayangnya, suaminya pada Rizki di mana tiap malam, Rizki selalu tidur dengan ayah angkatnya ini. “Ke mana pun Bapak (suaminya) pergi, sekali pun hanya ke toko, Rizki sering diajak,” ungkapnya bangga menceritakan tentang anak angkatnya itu. Dalam doa dan harapannya, Hj. Nuraini selalu berharap datangnya keajaiban yang bisa menyembuh-

kan dan menormalkan kondisi Rizki. Sejak ia mengetahui bahwa Rizki cacat dari bayi, ia telah puluhan kali mendatangi dokter demi kesembuhan anak angkatnya itu. Demi kesembuhan Rizki, ia tidak pernah merasa capek membawa Rizki untuk berobat bukan hanya secara medis melainkan juga pengobatan-pengobatan alternatif lainnya. Ia juga kerap mendatangi poli tumbuh kembang anak bahkan hingga ke Mataram. Tiap kali Rizki sakit, ia selalu membawanya berobat ke dokter spesialis. Demikian pula saat Rizki masih balita, imunisasi juga dilakukannya di dokter spesialis. Hj. Nuraini beserta keluarganya, memberikan hal terbaik bagi Rizki. Tidak peduli berapa biaya yang dikeluarkan untuk anak angkat yang diambilnya di Rumah Sakit Umum Sumbawa Besar itu. Ia memperlakukan Rizi seperti anak kandungnya. “Sayang saya pada Rizki bahkan lebih dari anakanak kandung saya,” katanya. Hj. Nuraini tiada habis bersyukur karena suami dan ketiga anaknya juga tidak kalah sayangnya pada Rizki. Rizki bahkan menjadi penghibur hati bagi keluarga ini. Limpahan kasih sayang yang diperoleh Rizki dari seluruh anggota keluarga ini, jelas tidak terjadi begitu saja. Melainkan hasil karya tangan dingin dan sentuhan “management kemanusiaan” dari Hj. Nuraini sebagai seorang perempuan dan ibu dalam rumah tangganya. -Naniek I. Taufan

Momen kebersamaan keluarga Hj. Nuraini bersama ketiga anak kandungnya, serta Rizki dan pengasuhnya.

Inspirasi I Nyoman Putra Saptana-Nyoman Rastini

Edisi 854/ 22 - 28 JUNI 2015

5

Kuncinya Komunikasi

Salah satu agenda tahunan dalam menyambut Hari ­Keluarga ­N asional adalah diadakannya Lomba Keluarga Harmonis ­S ejahtera. Tahun 2015 ini, Duta Badung keluarga I Nyoman ­P utra ­S aptana-Nyoman Rastini berhasil meraih juara I dan ­berhak ­m ewakili Bali ke tingkat nasional. Apa kiat keluarga ini untuk mewujudkan keluarga harmonis dan ­s ejahtera.

S

uasana meriah tampak di rumah Putra Saptana di Banjar Sekar Mukti Pundung, Desa Pangsan, Kecamatan Petang, Badung ketika tim penilai Keluarga Harmonis Sejahtera Provinsi Bali melakukan penilaian. Selain keluarga besar Putra Saptana, tampak hadir juga Ketua TP PKK Kabupaten Badung Ny. Ratna Gde Agung bersama Ny. Sudiana. Acara penilaian diawali dengan penampilan Saptana bersama anak sulungnya I Gede Guntur Pradnyan Jaya yang menjadi penabuh, Rastini yang menjadi sinden, serta anak bungsu mereka Kadek Bintang Pradnya Suari yang menarikan tari Sekar Jepun. Kombinasi bakat seni keluarga ini juda didukung anggota sanggar Guntur Madu milik Putra Saptana. Tak hanya menampilkan kesenian tradisional, Bintang juga berduet dengan ibunya membawakan lagu Bali berjudul “Rahajeng Semeng”. Guntur pun tak kalah atraktif. Dengan iringan gitar akustik, ia menyanyikan dua buah lagu. Kekompakan keluarga ini dalam bidang kesenian sudah diakui masyarakat. Apalagi mereka memiliki sanggar yang menampung bakat-bakat seni dari wilayah Badung Utara. “Saya menyukai seni dan belajar mandiri alias otodidak.

Kalau istri memang lulusan SMKI. Darah seni kami mengalir ke anak-anak. Kami tidak memaksa mereka untuk menekuni seni tetapi karena mereka sendiri yang mau, sebagai orangtua kami hanya mendukung,” ujar pria yang sudah 15 tahun menjadi kelian gong ini. Selain hobi seni, Putra Saptana juga gemar berpetualang dengan mobil off road. Ia juga aktif di Petualang Team Offroad (PTO) dan Perhimpunan Penggemar Mobil Kuno Indonesia (PPMKI). Hobinya di dunia otomotif ini pun mendapat dukungan keluarga. Jika ada event,

Keluarga Putra Saptana menekuni bidang seni

SEIMBANGAN BISNIS DAN KESENIAN Perjalanan hidup Putra Saptana penuh dengan dinamika. Di masa mudanya, ia pernah men-

Keluarga Putra Saptana diperkenalkan oleh penari bondres

ia mengajak Guntur sebagai navigator. Event yang bertepatan dengan hari libur sering mereka manfaatkan untuk liburan. Dari semua keaktifannya itu, Putra mengaku mendapat banyak teman.

jadi sopir bemo di Denpasar. Ketika bemo mulai dibatasi, ia beralih menjadi sales. Pekerjaan ini tak lama dilakoninya. Ia memilih pulang kampung dan menjadi fotografer. “Ta-

Ketua TP PKK Badung Ny. Ratna Gde Agung mendampingi tim penilai Keluarga Harmonis

hun 1999, usaha rafting mulai berkembang di Petang. Saya memilih menjadi fotografer untuk memotret para wisatawan yang rafting. Setelah itu mulai berkembang dengan dengan membuka studio foto hingga membuka m i n i m a r k e t G u n t u r, ” kenangnya. Dengan usaha minimarket ini, ia belum puas. Ada hasrat di bidang kesenian yang belum tersalurkan. Ia ingin menyeimbangan bisnis dan kesenian. Akhirnya ia mendirikan sanggar Guntur Madu yang dipakai untuk mengabdikan ilmu di bidang kesenian. Perjalanan membentuk sanggar sempat mengalami pasang surut karena dibilang hanya mencari keuntungan semata. “Niat kami di Sanggar Guntur Madu untuk melestarikan kesenian. Banyak lulusan kami yang menjadi pelatih di banjar-banjar. Ini merupakan sumbangsih kami. Bahkan tiap tahun kami selalu

tampil di PKB dan sejak adanya Festival Pertanian Badung, kami juga ikut mengisi acara,” ujarnya. Kehidupan keluarga yang rukun pun mereka jalani. Sebagai orangtua, Putra Saptana dan Rastini selalu meluangkan waktu untuk berkomunikasi dengan anak-anak. Apa yang menjadi keluhan anak disimak untuk dicarikan jalan keluar. Kekompakan keluarga juga terlihat jika mereka mengikuti event kesenian maupun event otomotif. “Kami bangga dengan orangtua yang bisa sukses. Orangtua pun mendukung hobi kami,” ujar Guntur dan Bintang. Saptana mengaku semua pencapaian keluarganya saat ini tak lepas dari komunikasi yang intens mereka lakukan. “Bagi kami, kunci keharmonisan dan kesejahteraan adalah komunikasi. Kalau ada masalah langsung dikomunikasikan. Kami sudah saling memahami satu sama lain. Ada saatnya kami saling mengalah untuk mencari solusi,” tegasnya.

Saptana dan istri saat penilaian lomba Keluarga Harmonis

–Ngurah Budi


6

Women on Top

Edisi 854/ 22 - 28 juni 2015

Anak Agung Ayu Ketut Agung

Urun Rembug di Shankara Resto Dalam rangka ajeg bali dan mendukung Denpasar sebagai Kota ­Kreatif Berwawasan Budaya, Anak Agung Ayu Ketut Agung menggagas sebuah ­pertemuan, Rabu (17/6) di Bale Banjar Bali Global Shankara Resto, ­menggandeng harian BisnisBali (Kelompok Media Bali Post).

Urun rembug tentang Busana Adat Bali yang dilaksanakan di Bale Banjar Bali Shankara Resto, Rabu (17/6) dan dihadiri para akademisi, praktisi, pemerhati sosial budaya, agamawan, dan spiritualis, diakhiri dengan foto bersama

M

engingat sekarang ini banyak terjadi modifikasi busana adat Bali yang dinilainya kadang kebablasan, maka dipandang perlu dilakukan urun rembug yang menghadirkan para akademisi dari Unud dan ISI Denpasar, praktisi, pemerhati sosial

budaya, agamawan, spiritualis, serta para pengusaha salon dan ahli-ahli kecantikan kulit dan rambut yang terhimpun dalam Tiara Kusuma. Dari komentar-komentar yang dilontarkan mereka dalam suasana keakraban tersebut, dapat disimpulkan beberapa rumusan,

di antaranya, mendukung adanya modifikasi busana adat Bali karena di dalamnya ada proses kreatif inovatif yang banyak memunculkan modifikasi-modifikasi baru yang semakin memperkaya khasanah busana adat Bali. Namun, ditegaskan jangan sampai keluar dari pakemnya, dan tidak sampai

mengurangi arti dan makna dari simbol-simbol yang dipakai. “Boleh dimodifikasi, tapi jangan kebablasan. Saat dilangsungkan upacara adat, diharapkan tetap memakai pakemnya. Ketika resepsi, silahkan memakai modifikasi, namun yang dimodifikasi maksimal 30% saja seperti yang telah ditetapkan oleh Katalia, Asosiasi Ahli Rias Pengantin Modifikasi dan Modern, sehingga ciri khas busana adat Bali masih tetap utuh,” ingat Bu Agung. Selanjutnya, meski ada modifikasi tehadap busana adat Bali, namun tetap diharapkan ada sosialisasi bahwa Bali memiliki tingkatan dalam pepayasan, yakni payas nista, payas madya, dan payas utama (payas agung), serta untuk siapa, kapan dan dimana pepayasan tersebut dipakai. Karena, jika hal ini tak dilakukan, keberadaan busana ini ke depannya akan semakin kabur dan generasi muda Bali tak akan lagi mengenal busana daerahnya. “Di sinilah peran para pengusaha salon, perias pengantin, dan tempat kursus kecantikan, untuk memberikan pemahaman dasar tentang makna nilai filosofi dari simbol-simbol yang dipergunakan dalam tata rias tersebut kepada para murid dan pengguna jasa tata rias pengantin,” ujar Bu Agung. Pakar tata rias dan busana adat Bali ini mengatakan, sejak tahun 2000an banyak muncul tata rias pengantin modifikasi. Sudah tentu hal ini ada dampak positif –negatifnya. Positifnya, muncul kreativitas-kreativitas baru yang makin simpel dan praktis. Negatifnya, dikhawatirkan busana adat Bali yang sesuai pakem akan mulai tergerus. Karena itu pula, urun rembug ini digagas untuk menyamakan persepsi tentang transformasi

pada busana adat Bali. Bu Agung mengimbuhkan, dilakukannya urun rembug ini karena juga terinspirasi dan termotivasi dengan acara bedah buku Perlindungan Hukum Karya Cipta Dongeng dan Payas Bali yang ditulis Dr. Ni Ketut Supasti Dharmawan, S.H., M.Hum., LLM., dan kawan-kawan, di Fakultas Hukum Unud, beberapa waktu lalu. Yang mana, saat itu Bu Agung diundang sebagai salah satu narasumbernya. “Urun rembug ini akan rutin kami laksanakan tiap bulan, untuk turut membangun pariwisata Denpasar lewat tata rias dengan mengajak teman-teman seprofesi,” ujar Bu Agung, penerima Penghargaan Budaya 2015 dari Wali Kota Denpasar, ini.

DISKON 50% KURSUS TATA RIAS Untuk mengisi liburan sekolah serta untuk lebih menyosialisasikan dan membangkitkan minat masyarakat dalam tata rias dan busana adat Bali, LKP Agung memberikan diskon 50% kursus regular. Materi yang diajarkan mencakup 3 paket yakni Tata Kecantikan Kulit, Tata Kecantikan Rambut, dan Tata Rias Pengantin (payas nista, payas madya, payas agung, modifikasi, dan tengkuluk lelunakan). Disediakan juga beasiswa kursus gratis bagi mereka yang kurang mampu dan putus sekolah, yang benar-benar berminat di bidang tata kecantikan. Syarat dan ketentuan berlaku. Silakan menghubungi Sekretariat LKP Agung, Jalan Anggrek No. 12 Kreneng, Denpasar. Telepon 0361 233850, 081 1393602, faks. 0361 247153. Cabang Tohpati, Jalan WR. Supratman No. 303 A, Tohpati, Denpasar. Email: lkp_agung@yahoo.com. website: www.salonagung.com.–inten

Pengalaman Buruk Jadi Cambuk

Di era tahun 1990 sampai 2000-an, LBH APIK NTB mengalami masa-masa sulit penuh perjuangan ketika harus menangani kasus-kasus yang melibatkan keluarga yang terjadi di Nusa Tenggara Barat. Perjuangan demi perjuangan itu menjadikan LBH APIK NTB bisa dibilang sebagai yang kaya pengalaman. Tingginya kasus kekerasan dalam rumah tangga maupun kekerasan terhadap perempuan di daerah ini khususnya di masa awal berdirinya LBH APIK yakni di tahun 1998, memberikan lebih banyak pengalaman “perjuangan”.

T

idak mudah memang. LBH APIK NTB di bawah kepemimpinan Beauty Erawati, S.H., M.H., sebagai Direktur Eksekutif, bersama rekannya di lembaga yang memperjuangkan hak-hak perempuan dan anak ini, harus rela dan kuat menerima segala bentuk tekanan untuk mencapai cita-cita kesetaraan dalam hak.tidak hanya melulu berhadapan dengan masalah keluarga dari klien mereka, LBH APIK NTB juga berjuang untuk merubah paradigma (pandangan) masyarakat tentang keberadaan perempuan. Bahwa perempuan memiliki hak-hak untuk dilindungi khususnya hak untuk tidak mengalami kekerasan. Berbagai pengalaman “buruk” yang menjadi cambuk semangat bagi lembaga yang berdiri pada saat dimana kekerasan terhadap perempuan khususnya yang terjadi dalam rumah tangga berupa KDRT, kasusunya di NTB begitu

besar tetapi tidak nampak secara jelas dan kala itu sangat tabu untuk dibicarakan. Dibicarakan saja sudah tabu apalagi untuk mencari keadilan rasanya sulit dan sepertinya tidak mungkin. “Sejak LBH APIK NTB berdiri tahun 1998, tidak kurang dari 7.000 kasus KDRT dan kekerasan terhadap perempuan serta 1.470 kasus anak. Semuanya adalah kasus yang melibatkan keluarga,” ungkap Beauty Erawati. Beauty dan rekan-rekannya masa itu, merasakan benar masa di mana perempuan pembela HAM kurang mendapatkan perhatian dalam perjuangannya menegakkan HAM, khususnya bagi perempuan dan anak yang kasusnya banyak mereka tangani. “Kami harus menghadapi berbagai kerentanan dan risiko sebagai akibat dari perjuangan tersebut,” kata Beauty. Kondisi nyata yang terjadi di NTB waktu itu, tambah Beauty, bahwa perempuan pembela HAM masih dipandang sebelah mata oleh

Training staf dan jajaran LBH APIK NTB tahun 2008

masyarakat. Budaya patriarki yang masih kental memposisikan perempuan pada wilayah domestik saja yang menyebabkan tidak diakuinya peran-peran perempuan pada wilayah publik termasuk perjuangan membela HAM. Kondisi inilah yang kemudian menimbulkan ketidakpedulian semua pihak terhadap kerentanan dan risiko yang dihadapi perempuan pembela HAM. “Ancaman demi ancaman harus kami hadapi. Saya bahkan pernah ditodong senjata tajam dan rumah saya pernah dilempari orang tidak dikenal.

Pokoknya nyawa terancam, pernah saya alami,” kisah Beauty. Kekerasan terhadap perempuan yang kemudian menjadi kasus yang mereka tangani, tidak jarang melibatkan “orang-orang kuat” itu, kenangnya, tentu saja menjadi tantangan berat baginya dan LBH APIK NTB saat itu dalam membela perempuan-perempuan (klien) yang mulai berani bersuara atas penderitaannya. “Banyak kasus keluarga ini yang dilakukan dan atau melibatkan pejabat, pengusaha kaya dan berbagai kekuatan lainnya,” ujar Beauty.

Perjuangan yang dilakukan LBH APIK NTB tidak hanya melulu dalam penanganan kasus, melainkan kala melakukan pendekatan dengan semua pihak termasuk pemerintah, tokoh-tokoh masyarakat, tokoh agama hingga ke komunitaskomunitas masyarakat lainnya, demi mendapat dukungan dalam melindungi perempuan dan anak dari tindak kekerasan yang paradigmanya waktu itu masih dianggap urusan domestik (keluarga). Dengan berbagai pengalaman ini, LBH APIK NTB belajar untuk lebih strategis dalam perjuangannya. Secara perlahan, perjuangan yang kadang mengharuskannya turun ke jalan tersebut membuat paradigma mengenai kasus dalam keluarga khususnya menyangkut KDRT dan anak mulai berubah. “Masyarakat khususnya di NTB sudah tidak bungkam lagi dan telah menyadari bahwa bicara soal kesetaraan bukan sebagai lagi merupakan “dosa” dan kasus kekerasan yang terjadi dalam keluarga bukan lagi tabu untuk dibicarakan di muka publik karena itu merupakan tindak pidana,” ujarnya. Namun, sekali pun kondisi ini telah membaik, LBH APIK NTB terus mengawal agar kekerasan terhadap perempuan dan anak tidak tumbuh lagi dengan berbagai dalih, khususnya dalih bahwa hal ini merupakan urusan keluarga semata. -Naniek I. Taufan

Edisi 854/ 22 - 28 juni 2015

Keluarga adalah unit terkecil dari masyarakat. Agar masyarakat menjadi lebih baik dan ber­kualitas, tentu harus mulai dari keluarga. Karena itu, peran keluarga sa­ngat penting. “Keluarga merupakan awal lahirnya generasi men­datang. Keluarga sebagai unit terkecil yang me­rupakan tempat untuk mendidik dan membentuk watak moral serta melatih kebersamaan sebagai bekal kehidupan bermasyarakat,” ujar Kepala Perwakilan BKKBN Provinsi Bali Ida Bagus Wirama, S.H., M.Kes.

I

a menambahkan membentuk keluarga yang berkualitas (keluarga yang dibentuk berdasarkan perkawinan yang sah bercirikan takwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, sejahtera, sehat, maju, mandiri, memiliki jumlah anak yang ideal, berwawasan ke depan, bertanggung jawab, dan harmonis) merupakan hal yang tidak mudah. “Untuk membangun sebuah keluarga diperlukan perencanaan yang matang, antara lain merencanakan usia perkawinan (20-30 tahun), membina hubungan antar pasangan (dengan keluarga lain, kelompok sosial), merencanakan kelahiran anak pertama

19

Bentengi dengan Delapan Fungsi Keluarga (persiapan menjadi orangtua), mengatur jarak kelahiran (menggunakan alat kontrasepsi), berhenti melahirkan di usia 35 tahun (agar dapat merawat balita secara optimal), serta merawat serta mengasuh anak (memenuhi kebutuhan dasar anak berupa fisik, kasih sayang, dan stimulasi),” jelas Wirama yang didampingi Kabid KS dan PK Ida Bagus Adnyana. Karena pentingnya peran keluarga, sejak tahun 1994 pemerintah mengadakan peringatan Hari Keluarga Nasional yang dirayakan tiap tanggal 29 Juni. Peringatan ini menurut Wirama untuk mengingatkan masyarakat mengenai pentingnya arti keluarga. Selain itu, untuk mengajak seluruh keluarga Indonesia untuk melakukan instrospeksi diri serta berbenah untuk melakukan yang terbaik bagi keluarga. Tahun 2015 ini, puncak Hari Keluarga Nasional dilaksanakan di Provinsi Banten pada 1 Agustus sedangkan di tingkat provinsi Bali akan dilaksanakan di Kabupaten Klungkung.

Ida Bagus Wirama

“Akhir-akhir ini banyak permasalahan yang terjadi di masyarakat. Ada kasus kekerasan dalam rumah tangga, ting-

ginya angka perceraian, serta Triad KRR di kalangan remaja. Untuk mengatasinya, BKKBN mengajak seluruh keluarga untuk memperkuat kembali pelaksanaan delapan fungsi keluarga serta melakukan perencanaan keluarga dengan sebaikbaiknya,” ujar suami Ketut Suriyanti, S.ST dan ayah dari dr. Ida Ayu Pt. Lely Wiryanti, S.Ked. dan dr. Ida Bagus Md. Andy Wiraputra, S.Ked. ini. Delapan fungsi keluarga yang dimaksud adalah fungsi agama, fungsi sosial budaya, fungsi cinta kasih, fungsi perlindungan, fungsi reproduksi, fungsi sosialisasi dan pendidikan, fungsi ekonomi, serta fungsi pembinaan lingkungan. Penerapan delapan fungsi keluarga merupakan benteng untuk melindungi keluarga dari berbagai permasalahan sosial. Mengenai tantangan dalam implementasi program-program BKKBN di Bali, Wirama mengatakan masalah budaya dan migrasi penduduk. Budaya Bali yang mengenal penamaan anak hingga anak keempat dianggap bertentangan

dengan program KB yang identik dengan dua anak cukup. Menurut Wirama, program KB itu intinya membatasi kelahiran dengan tujuan meningkatkan kualitas hidup manusia. Selain itu, pola patrilineal yang menjadi anak-anak laki sebagai penerus juga menjadi alasan bagi yang belum punya anak laki-laki untuk membuat anak lagi. Sementara itu migrasi tidak bias dihalangi, Yang bias dilakukan adalah mengatur agar tidak terjadi penumpukan penduduk hanya di satu atau dua wilayah. Dari data yang ada, Wirama menyebut keikutsertaan pasangan usia subur (PUS) di Bali untuk ikut KB mencapai 61,9% sedangkan rata-rata jumlah anak dari PUS sekitar 2,2. Angka kematian ibu saat melahiran di Bali 70 per 100 ribu kelahiran. Angka ini jauh dari angka nasional yang mencapai 359 kematian per 100 ribu kelahiran. Indeks kepuasan orangtua terhadap program penegmbangan anak usia dini di Bali skornya 85. Ini merupakan skor tertinggi di Indonesia. –Ngurah Budi

Tetangga adalah Keluarga Kita Bali memang termasuk daerah yang agak berbeda dibandingkan wilayah lain di Indonesia. Ketidakpahaman masyarakat yang masih menganggap urusan pribadi rumah tangga merupakan kasus domestik yang membuat mereka berpikir, orang lain tidak boleh ikut campur. Beberapa kasus seperti kekerasan seksual dan poligami sering tidak tertangani cepat karena kurangnya pemahaman masyarakat akan hal tersebut. Demikian diungkapkan Direktur LBH APIK Bali, ­Ni Nengah Budawati, SH. Ia menyebutkan, makna UU Nomor 23 Tahun 2004 tentang Penghapusan KDRT, tidak ada toleransi terhadap kekerasan dalam rumah tangga. Kekerasan dalam rumah tangga bukan urusan pribadi tetapi urusan masyarakat dan pemerintah dan kewajiban kita semua untuk meng­ hapusnya. Budawati mengatakan, dalam pertemuan dengan LBH APIK seluruh Indonesia, justru ia melihat, Bali menjadi sangat spesifik karena kasus yang muncul ke permukaan terlihat sangat sedikit. Padahal, mungkin saja, kasus KDRT banyak terjadi. Namun, tak ada pihak yang melapor. Selama ini, kata Budawati, ia lebih banyak menjemput bola. Artinya, bukan korban yang melapor, tapi mereka mendapatkan laporan dari pihak lain. “Kecenderungan orang melapor sangat minim. Kalau hanya menunggu orang melaporkan, hampir tidak pernah ada kasus,” kata Budawati. HOME VISIT Saat ini, LBH APIK Bali telah melakukan kampanye pendekatan home visit. “Setiap kasus yang kami tangani, harus home visit. Ini sangat efektif untuk kampanye penghapusan KDRT,” ucapnya. Ada beberapa manfaat positif dari home visit. Pertama, korban dapat diberdayakan. Kedua, pertemuan keluarga lebih intens sehingga membuka ruang rembug keluarga, termasuk juga bertemu lingkungan sekitar yang membuka pintu rembug bersama. Termasuk bagaimana pandangan masyarakat terhadap kasus tersebut. Ia menilai, dengan pendekatan home visit, sangat efektif dibandingkan mereka hanya melihat di pemeriksaan polisi dan persidangan, tidak akan dapat mempengaruhi orang-orang terdekat. Salah satu kasus yang baru saja ditangani, kasus poligami yang menimpa JP. Saat home visit banyak orang yang terlibat. Ada kelian dusun, PKK, kepala desa, dan STT. Sebelumnya mereka menganggap, hanya soal poligami saja dilaporkan, itu soal biasa. Mereka tidak melihat, JP adalah orang yang harus dibela. Malah, mereka melihat, JP sebagai orang yang tegaan, karena tidak memberikan izin suaminya menikahi pacarnya yang sudah hamil. “Malah masyarakat mengondisikan korban menjadi korban lagi dengan rasa bersalah. Ketika kasus itu saya bedah di masyarakat, mereka menjawab, kalau sudah hamil dinikahkan saja, agar desa tidak leteh. Kasihan perempuannya sudah hamil. Namun, masyarakat tidak melihat bagaimana perasaan JP,” kata Budawati. Ia menilai, dalam mengindetifikasi kasus, masyarakat belum paham, mana yang harus dibela dan mana yang harus diberdayakan. “Karena itu, pendekatan home visit bagi kami memberikan banyak manfaat positif dan membuka ruang diskusi kedua belah pihak,” kata Budawati. Belajar dari kasus bocah 8 tahun yang tewas di rumahnya sendiri, Budawati menilai, masih ada anggapan, apa yang mereka ketahui sebelumnya, itu urusan keluarga. Padahal, masyarakat sekitar, termasuk sekolah sudah mengetahui kondisi bocah tersebut sebelumnya. Mereka masih berpikir, itu urusan keluarga, saya tidak

boleh melaporkan kepada pihak berwajib. Padahal, setiap persoalan yang terjadi di tetangga kita adalah persoalan kita juga. “Kewajiban masyarakat untuk ikut turun tangan jika mengetahuinya,” ujar mahasiswi Pascasarjana Unud ini. Ia menegaskan, kejadian KDRT bukan lagi urusan domestik, karena itu merupakan tindakan kriminal. Saat ini, pola pikir masyarakat masih sebatas pada hanya tahu untuk sendiri. Itu urusan tetangga kita tak boleh ikut campur. Padahal, jika kita peka, setiap kejahatan akan bisa segera ditangani dengan cepat dan membuat orang yang ingin melakukan KDRT akan berpikir melakukannya. Begitu juga dengan kasus bocah usia 8 tahun yang ditemukan tewas di rumahnya. Para LSM peduli perempuan menyatakan turut berduka cita sedalamnya pada korban dan kerabatnya atas tragedi yang menyedihkan ini. Ia menyatakan, tidak ada satu pun anak di dunia ini harus menjadi korban atas kekerasan fisik dan mental. Peristiwa dan pemberitaan kasus ini sudah berdampak pada psikologis anak-anak lain di seluruh Indonesia. “Karena itu kami memandang sangat penting seluruh masyarakat dan pihak terkait mendorong sistem perlindungan anak yang bisa diandalkan. Terlebih jika ada kasus kekerasan,” kata Budawati. RAHASIAKAN IDENTITAS Para LSM peduli perempuan dan anak mengajak semua pihak untuk tidak menyebarkan detail kekerasan melalui media atau sosial media yang bisa memberi dampak ketakutan dan trauma pada anak-anak tanpa disadari. Mengutamakan kepentingan yang terbaik bagi anak dalam penanganan kasus-kasus kekerasan dengan memberikan perlindungan seperti kerahasiaan identitas dan tidak mempublikasikan foto teman-teman korban. Memperbaiki sistem penanganan korban kekerasan dengan menyediakan respons cepat bagi pendampingan, pusat rujukan, dan informasi. Menyerukan kepada pihak-pihak terkait terutama pihak kepolisian untuk tidak mempublikasikan secara detail hasil otopsi dan hasil penyidikan terutama yang berkaitan dengan kekerasan yang dilakukan mengingat korban adalah anak yang seharusnya mendapatkan perlindungan khusus demi martabatnya. Hal-hal tersebut seharusnya hanya dibuka dalam persidangan. “Semoga semua pihak bisa terlibat dalam pencegahan kekerasan baru, tanpa disadari,” kata Budawati. Ia sangat mendukung pihak kepolisian dan mendorong aparat bekerja semaksimal mungkin dalam kondisi yang damai dan kondusif, agar secara jelas berdasarkan fakta bukti menyelesaikan kasus pembunuhan ini dengan baik. Ia berharap, pelaku pembunuhan mendapatkan hukuman yang setimpal dengan perbuatannya. Kedepan, ia berharap, slogan tetangga adalah keluarga kita merupakan kampanye yang harus terus digaungkan. Ia berpesan, kalau kita mengetahui kejahatan tapi tidak melapor, sebenarnya kita ikut melakukan kejahatan karena melakukan pembiaran terhadap kasus itu. “Sudah menjadi kewajiban bagi kita semua untuk ikut memerangi kejahatan. Dengan ikut peduli, tanpa disadari kita sudah ikut menghentikan kejahatan baru,” tegas Budawati. Budawati berharap, perempuan yang mengalami kekerasan atau ingin melaporkan terjadinya KDRT bisa menghubungi beberapa tempat layanan di bawah ini. –Wirati Astiti lLembaga

Bantuan Hukum (LBH) Bali, Jalan Plawa Denpasar (Luh Gede Yastini HP 085 935374495) lLBH APIK Bali, Jl Suli Denpasar (Ni Nengah Budawati HP 082 247547611) lForum Paralegal LBH APIK BALI (Mangku Debel HP 085237182776). lPusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (P2TP2A) Denpasar, (Luh Putu Anggreni HP 081337866599) lForum Mitra Kasih (Luh Putu Anggreni HP 081337866599) lLBH BALI WCC, Jalan Swamandala XX Nomor 4 Denpasar (Ni Ketut Madani Tirtasari HP 08123682115). lKPPA Karangasem (Ni Nyoman Suparni HP 08174722289) lFPPAB (I Wayan Carma HP 081338778393).


18

Kreasi

Edisi 854/ 22 - 28 juni 2015

Fantasi Cinta di Balik Boneka Sebuah sajian tari kontemporer menambat perhatian penonton pada akhir Mei lalu. Kamis (28/5) malam lalu, para penonton yang memadati pagelaran ujian akhir di ­Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar, menyimak penuh antusias karya seni tari ber­tajuk “Di Balik Boneka”. Dibawakan oleh sepasang penari putra dan putri, tari yang bergulir sekitar 13 menit tersebut menggiring penonton pada fantasi cinta seorang gadis dalam bingkai estetika seni tari yang menggugah, apik, dan unik. Ya, sebuah garapan tari kontemporer yang mengena, terkesan sederhana namun membuat hati terpana.

T

ema cinta yang diusung garapan tari ciptaan Anak Agung Istri Inten Pradnyandari ini kisahnya sederhana, yaitu tentang fantasi seorang gadis kepada seorang laki-laki penjaga toko boneka. Namun kesederhanaan kisah ini mampu dituturkan secara naratif dalam ancangan kompleksitas koreografi yang menawan. Kedua orang penari, Inten Pradnyandari sendiri dan Anak Agung Gede Dalem Segara Putra, menunjukkan totalitasnya merangkai laku gerak tubuh, menjelajah ruang dan meniti waktu dalam sinergi dan interaksi yang padu. Imajinasi keindahan cinta sang gadis berpadu mesra dengan rona estetis kontemporer tata garap tarinya. Ruang untuk merambah tari kontemporer dibuka lebar dalam ujian seniman akademis di ISI Denpasar. Gung Is, demikian sapaan akrab koreografer muda itu, memilih bentuk tari kontemporer, bersama sejumlah temannya. Sebuah pilihan yang kurang populer, jika dibandingkan menggarap cipta tari dengan sumber pijak kreasi dari seni tradisi. Sebab di tengah jagat berkesenian di Bali, garapan seni kontemporer, termasuk dalam

dunia seni tari, hingga kini masih megap-megap keberadaannya. Penonton, masyarakat Bali pada umumnya, belum begitu banyak melirik aksi-aksi tari kontemporer. Simaklah di arena PKB, pementasan garapan seni pertunjukan kontemporer, kalau ada, tidak begitu diperhitungkan. Diperhitungkan atau tidak, di ISI Denpasar, tari kontemporer tak pernah henti menggeliat. Da-

lam setiap pagelaran ujian akhirnya, baik untuk strata S1 maupun S2, tidak sedikit mahasiswanya bergairah menampilkan tari kontemporer. Pradnyandari, salah satunya, dengan ciptaannya “Di Balik Boneka” seperti ingin

Life

Story

Edisi 854/ 22 - 28 juni 2015

Rizki Rezeki Keluarga Nuraini

7

Sekitar lima tahun lalu, Hj. Nuraini dan H. Abdul Thalib harus rela naik turun bukit di Desa Mantar, Seteluk Sumbawa Barat, untuk menjemput anak angkatnya. Karena medan jalan yang begitu berat, mereka harus menggunakan hardtop untuk sampai ke desa tersebut. Letih oleh guncangan akibat perjalanan ini, rela mereka lakukan demi untuk menjemput Muhammad Rizki, anak angkat mereka. Di kegelapan malam sekitar pukul sepuluh malam, hardtop yang mereka tumpangi merangkak turun dari perbukitan itu membawa serta Rizki di pangkuan Hj. Nuraini. “Menangis hati saya melihat Rizki karena rindu,” ungkap Hj. Nuraini. menyapa penonton agar bersema­ ngat mengapresiasi tari kontemporer. Tampaknya, sapaan Gung Is tak bertepuk sebelah tangan. Garapan

tarinya banyak menuai pujian penonton. Artinya, tari kontemporer besutannya layak simak, menarik plus komunikatif. Mempergunakan iringan sejumlah alat musik modern seperti keyboard, havy, biola, frogy dan chime yang ditata oleh I Wayan Diana Putra, S.Sn, M.Sn, “Di Balik Boneka” bergulir dengan kisah kehadiran seorang gadis di sebuah toko boneka, berharap bersua de­ ngan pemuda penjaga toko yang telah menambat hatinya. Ketika sang pria muncul, si gadis ber­

purapura menjadi boneka menggenggam boneka kecil. Kepintaran si gadis menjadi boneka mengundang rasa penasaran penjaga toko yang seakan dipermaiankan oleh salah satu boneka jualannya. Kesal dengan ulah boneka yang tak diketahuinya adalah seorang gadis yang jatuh cinta padanya, pria penjaga toko marah, merebut boneka kecil dari sang gadis hingga robek berkepingkeping.

Memakai asesories kepala, baju, dan sepatu berwarna pink, sang gadis hadir di tengah panggung di atas kursi panjang. Untaian gerak­ nya berkelebat di sekitar kursi mengekspresikan kegelisahan dan harapan untuk segera bertemu dengan pria penjaga toko. Sang pria, menggunakan bareta, celana panjang, dan sepatu, berinsut hadir melangkah dalam beberapa sepakan gerak menghampiri lemari pajangan bonekanya. Selanjutnya kedua penari dalam penokohannya masing-masing, dengan bahasa ragawi, berungkap simbolik, maknawi, stailistik merangkai adegan per adegan, menyembur lembut, elastis, gesit, lugas, akrobatis, kocak, dan menggemaskan. Tari kontemporer “Di Balik Boneka” menunjukkan kebebasannya merangkum beragam estetika gerak. Namun tampaknya Gung Is terlihat dominan mengeksplorasi tari ballet dan dansa latin walls. Gerakan serempak dan gerakan seimbang yang diperagakan kedua penari tampak rapi dengan selingan desain gerak herisontal, vertikal, dan kontras yang begitu terukur proporsinya, menjadikan garapan tari ini tampil memukau. Bagian adegan tari humoristik, ketika pria penjaga toko menggotong dan memindahkan berkali-kali si gadis boneka, mengundang gelak dan senyum simpul penonton. Keserius­ an tari kontemporer yang dipersepsikan selama ini menjadi ringan menyegarkan. Malam itu, tari “Di Balik Boneka” mampu membalik pandangan para penonton. Penonton kita memang perlu lebih diperbanyak menyimak letupan-letupan seni dari jagat tari kontemporer. Gung Is dengan tari “Di Balik Boneka”-nya telah berhasil mencuri perhatian masyarakat penonton untuk mengapresiasi ekspresi seni dengan gaya ungkap kontemporer. Memang, bentukbentuk ekspresi seni kontemporer, cenderung hanya hadir dan diterima dengan kementaraannya, namun sejatinya ia (seni kontemporer) memancarkan makna kultural dan bahkan bisa menorehkan sejarah seni budaya yang fenomenal. Tari kontemporer “Di Balik Boneka” telah terpajang manis di ruangan segar rumah seni kita. lKadek Suartaya

B

egitulah. Rizki si anak angkat dengan segala kekurangan dan keterbatasan dimana ototnya kaku dengan syaraf-syaraf yang lemah ini, demikian istimewa bagi keluarga ini. Kisah hidup Rizki sungguh beruntung karena dapat bertemu keluarga ini, sejak pertama kali ia diambil sebagai anak angkat dari Rumah Sakit Umum Sumbawa Besar Sembilan tahun lalu. Kala itu usia Rizki baru tiga hari. Hj. Nuraini tergerak hatinya mengunjungi Rizki setelah mendapat informasi dari keluarganya tentang kondisi Rizki dan ibunya. Sebenarnya, kala itu Rizki hanya dititipkan sementara pada keluarga Hj. Nuraini sampai ada yang mau mengangkatnya sebagai anak. Waktu itu, keadaan Rizki memang tidak terlalu baik. Karena lahir prematur ia dirawat di inkubator. Sejak itulah, diakui Hj. Nuraini, bermula dari rasa kasihan ia pun mulai merawat Rizki yang kemudian ditinggal oleh ibunya. Satu bulan lamanya, sebagian waktu dan tenaga Hj. Nuraini dipakai untuk bolak-balik rumah sakit demi menjaga dan merawat Rizki. “Karena terasa

agak repot harus bolak-balik rumah sakit saya minta Rizki dibawa pulang ke rumah dan diizinkan dengan beberapa catatan dari dokter,” ujar ibu angkat Rizki ini. Di rumah mereka di Jalan Cendrawasih Brang Biji, Sumbawa Besar, Rizki mulai dirawat dalam kamar yang dipasang bola-bola lampu secara khusus agar suhu tetap hangat seperti dalam inkubator. Selama tiga bulan Rizki tidak boleh kena air terlalu banyak alias tidak boleh mandi melainkan hanya dilap secukupnya saja. Setelah tiga bulan berlalu, Rizki dimandikan untuk pertama kalinya. “Begitu kena air mandi, Rizki menangis terus menerus, siang dan malam. Pokoknya hari-hari awal itu Rizki rewel sekali,” ungkapnya. Naluri keibuan Hj. Nuraini pun diuji kala mengurus Rizki yang bukan anak kandungnya ini namun banyak menyita waktu dan masuk dalam kategori repot. Dari awalnya rasa prihatin dan kasihan, justru semakin lama, perasaan Hj. Nurani kepada Rizki berubah menjadi kasih sayang. Namun karena status Rizki sebagai titipan, maka Hj. Nuraini sempat tiga kali mengembalikan Rizki pada

keluarganya. Yang pertama saat Rizki berusia 11 bulan dan masih dalam keadaan sehat lagi gemuk. Hanya saja ia tidak pernah berhenti rewel. “Waktu pertama kali Rizki saya kembalikan pada keluarganya, saya jadinya seperti ‘orang gila’, selalu ingat Rizki dan khawatir tidak terurus dengan baik,” ungkap ibu tiga anak ini. Akhirnya Hj. Nuraini pergi menjemput Rizki dan kembali merawatnya. Tampaknya ada yang tidak beres yang dialami Rizki sehingga ia banyak menangis dan terbilang rewel sekali. Pada usia satu setengah tahun, barulah diketahui pertumbuhan fisik dan mental Rizki tidak normal. Otot-ototnya kaku dan syarafnya terganggu. DIJILATI ULAR PUTIH Meski begitu ia tetap merawat Rizki dan memeriksakan Rizki pada dokter ahli. Selain membawanya ke dokter spesialis, demi kesembuhan Rizki, Hj. Nuraini juga mendatangi ‘orang pintar’ hingga melakukan pengobatan-pengobatan alternatif. “Di mana ada informasi tentang orang pintar maupun pengobatan alternatif, baik di Bima, Sumbawa

H. Abdul Thalib dan Hj. Nuraini bersama Rizki

Hj. Nuraini dan Rizki

hingga ke desa-desa juga di Lombok, saya datangi untuk mengobati Rizki,” ungkapnya. Demi anaknya ini, ia bahkan pernah mendatangi pengobatan alternatif di Utan Sumbawa, di mana dalam pengobatan itu, kaki Rizki yang kakau dan tidak bisa berjalan, harus dijilati oleh seekor ular putih. “Pokoknya sembari berdoa pada Allah dan juga ke dokter, apa pun usaha lain saya lakukan demi kesembuhan Rizki,” katanya. Pada usia Rizki 3,5 tahun, Rizki pernah dikembalikan lagi pada keluarganya karena statusnya masih sebagai titipan. “Tapi tidak sampai seminggu, saya gelisah terus dan kangen pada Rizki yang sebelumnya bernama M. Zulkhaidir ini. Pikiran saya terganggu khawatir pula apakah di sana Rizki dirawat dengan baik,” katanya. Karena itulah ia kembali menjemput Rizki yang tampak lebih kurus dan. Keluarga ini pun kembali merawatnya seperti biasa dibantu seorang pengasuh anak. Namun, karena keadaan, sekali lagi setahun kemudian, saat berusia 4,5 tahun, Rizki dikembalikan pada keluarganya. Kala itu, anak perempuan Hj. Nuraini yang bernama Sukmawati, menikah dan mengikuti suaminya ke Bima. Hj. Nuraini merasa khawatir tidak bisa mengurus Rizki dengan baik tanpa Sukmawati yang juga sangat menyayangi Rizki. Seminggu kemudian, anak laki-laki Hj. Nuraini yang bernama Wahyu

Hidayat pergi menjenguk Rizki di kampung. “Wahyu menangis memohon agar adiknya dijemput kembali. Rizki juga tidak mau melepaskan pelukannya di leher Wahyu dan minta pulang,” katanya. Kebetulan juga, Hj. Nuraini sendiri sangat rindu pada Rizki sehingga mereka kembali menjemput Rizki. “Itulah kali terakhir Rizki kami kembalikan dan selanjutnya saya berpikir mungkin Rizki adalah rezeki bagi keluarga kami. Tampaknya Allah sudah menakdirkan Rizki menjadi anak saya,” ungkapnya. Meski sepanjang hari Rizki hanya bisa duduk di kursi roda, mereka sekeluarga silih berganti mengemong Rizki. Pada usia 7 tahun, Rizki pernah disekolahkan di SDLB Sumbawa. Dengan segala keterbatasan Rizki, orang lain mungkin sulit mengerti dan berkomunikasi dengan Rizki. Namun tidak begitu dengan Hj. Nuraini dan suaminya serta anak-anak kandungnya, keluarga angkat berhati mulia ini. Meski ucapan Rizki sulit dipahami, mereka semua mengerti apa yang diucapkan dan diinginkan Rizki. Rizki lalu berkata sesuatu pada Sukmawati, saudara angkatnya Rizki. Dengan penuh kasih, Sukmawati mengerti bahwa Rizki minta duduk dipangkuannya. Sukmawati lalu mengangkat tubuh Rizki dari kursi roda dan memangku sembari mencium adiknya ini. Rizki tersenyum bahagia di pangkuan Sukmawati. -Naniek I. Taufan.


8

Bunda & Ananda

Edisi 854/ 22 - 28 JUNI 2015

Sayang Boleh tetapi Jangan Berlebihan Bel sekolah berbunyi, anak-anak berhamburan keluar kelas. Seorang pria yang usianya sekitar 60 tahun tergopoh-gopoh menyambut ­cucunya. Ia langsung mengambil tas cucunya lalu mereka berjalan meninggalkan sekolah. Di sudut lain, seorang wanita tua duduk ­sambil membaca buku. Ia juga sedang menunggu cucunya.

F

enomena anak sekolah dasar dijemput kakekneneknya banyak ditemui di Denpasar. “Anak dan menantu saya bekerja. Urusan jemput murid, saya yang ambil alih,” ungkap pria yang menyebut dirinya Pak Nyoman ini. Ia menuturkan sejak pensiun dari sebuah hotel di Sanur, dirinya tak banyak kegiatan. Karena waktu luang inilah ia memiliki kesempatan untuk menjemput cucunya. Selain menjemput cucunya ini, Pak Nyoman juga menyiapkan makan siang bahkan menyuapi cucunya. “Kalau ada PR, saya tungguin dia membuat PR. Setelah PR beres, baru boleh bermain. Sore, saya harus memastikan dia mandi, sebelum orangtuanya datang,” ungkap Pak Nyoman. Ia juga mengaku tidak tega kalau melihat cucunya dimarahi. Rasa sayang yang ditunjukkan Pak Nyoman kepada cucunya ini menurut Sad Yuli Prihartati, S.Psi., Psikolog merupakan hal yang wajar. “Di Bali khususnya, kekerabatan sangat erat. Anak yang sudah dewasa dan sudah menikah masih tinggal bersama orangtua. Ini sangat membantu ketika anak sibuk bekerja, urusan antar jemput anak bisa ditangani kakek-neneknya. Daripada membayar orang lain, tentu lebih aman dan nyaman kalau anak-anak diantar-jemput kakek-neneknya. Satu hal yang perlu diingat, perhatikan kondisi fisik kakek dan nenek, apakah masih memungkinkan atau tidak,” ujar Yuli. Psikolog yang juga Ketua APSI (Asosiasi Psikolog Sekolah Indonesia) Wilayah Bali ini menjelaskan ada plus-minus jika anak ditangani kakek-nenek. Plusnya, orangtua merasa

Sad Yuli

aman karena anaknya berada di bawah pengawasan keluarga. Kasih sayang yang diberikan kepada cucu biasanya melebihi kasih sayaang yang diberikan kepada anaknya. Karena kakek dan nenek banyak waktu luang tentu waktu ini bisa dimanfaatkan untuk menjaga cucu. Satu hal lagi, dengan meminta kakek dan nenek yang menjaga, tentu ada penghematan biaya dibanding harus membayar pengasuh. Sisi negatifnya, karena saking sayangnya kakek dan nenek pada cucunya, akan membuat si cucu menjadi manja sehingga bisa membuat si cucu tidak mandiri. Apa yang diiinginkan cucu, pasti dipenuhi kakekneneknya. Selain itu, kakek dan nenek dalam mengasuh cucu lebih kepada rasa senang dan bangga karena bisa merawat cucunya. Terkadang mereka lupa, pendidikan karakter anak yang menjadi porsi orangtua harus diperhatikan. “Pada usia emas dari 0 sampai 5 tahun, porsi orangtua dalam memberikan pendidikan karakter harus dominan. Boleh saja minta kakek dan neneknya

“Pada usia emas dari 0 sampai 5 tahun, ­porsi orangtua dalam memberikan pendidikan ­karakter harus dominan. Boleh saja minta kakek dan neneknya yang menjaga selama ­orangtua bekerja. Tetapi, begitu sudah berkumpul lagi, segera ambil alih. Hal ini untuk menjaga ­kelekatan anak dan orangtua”

yang menjaga selama orangtua bekerja. Tetapi, begitu sudah berkumpul lagi, segera ambil alih. Hal ini untuk menjaga kelekatan anak dan orangtua,” ujar Yuli yang juga Koordinator Pengabdian Masyarakat Himpunan Psikologi Indonesia (Himpsi) Bali ini. Sebagai orangtua juga harus bijak, jangan menyerahkan semuanya urusan anak kepada kakek-nenek. Pelimpahan tugas hanya dilakukan jika orangtua sibuk atau ada kegiatan. Selebihnya, urusan anak menjadi tanggung jawab orangtua. Bila perlu, antara orangtua dan kakek-nenek harus memiliki aturan yang disepakati bersama. Aturan ini sebagai pedoman apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan si anak selama berada dalam penga-

Edisi 854/ 22 - 28 JUNI 2015

Duta Endek Denpasar di Parade PKB

17

Konsisten Usung Keindahan Endek

wasan kakek-nenek. Jangan sampai aturan yang dibuat berbeda sehingga anak akan mencari situasi yang lebih nyaman dan aman. “Saya sering mengingatkan para kakek dan nenek untuk tidak terlalu intervensi dalam mengasuh cucu. Pesan ini biasanya saya sampaikan ketika memberikan materi kepada pegawai yang memasuki usia pensiun. Rasa sayang yang diberikan kepada cucu itu berbeda dengan sayang kepada anaknya dulu. Kadang yang menonjol adalah kebanggaan kakek nenek karena punya cucu. Karena itu, lebih baik lakukan komunikasi dan buat aturan bersama dalam pengasuhan anak,” ujar alumnus Ilmu Psikologi Unika Soegijapranata Semarang yang kini sedang menempuh pendidikan S2 Ilmu Kesehatan Masyarakat di Universitas Udayana ini. Yuli menambahkan karakter anak itu berbeda-beda dan

unik. Pola asuh yang diterapkan pun harus berbeda-beda dan disesuaikan dengan kondisi kini. Orangtua yang harus tahu kondisi anaknya. Faktor kedekatan dengan anak akan mempermudah orangtua untuk memahami anak lebih dalam. Kualitas kedekatan harus lebih diperhatikan daripada kuantitas. Misalnya, dalam sehari berapa kali orangtua memeluk anaknya. Atau, berapa kali berbincang tentang berbagai hal. Ajarkan juga anak tentang magic word seperti “terima kasih”, “maaf ”, dan “tolong” sehingga mereka bisa mandiri dan bertanggung jawab. Yu l i m e n e g a s k a n t i d a k masalah jika anak harus diasuh kakek neneknya asalkan pendidikan karakter yang utama harus diberikan oleh orangtuanya. Tugas dan tanggungjawab sebagai orangtua memang berat namun itu adalah konsekuensi yang harus dijalani. –Ngurah Budi

Mendongeng Lima Menit Jero ketut

Prabu Suliawana pusing tujuh keliling memikirkan bagaimana cara menangkap elang raksasa itu. Hampir tiap hari rakyatnya mengadu, bahwa burung serakah itu telah memangsa ayam dan kambing peliharaanMade Taro nya. Berbagai cara telah ditempuh, antara lain memburunya dengan tombak dan panah. Semua usaha itu sia-sia. Burung sakti itu tambah beringas. Ia juga merusak padi yang sedang tumbuh subur. “Lakukan sayembara!” kata Prabu di depan para menterinya. “Barang siapa yang berhasil menangkap elang kurang ajar itu, hidup atau mati, akan kuberi penghargaan.” Para menteri kemudian meneruskan titah raja itu ke seluruh pelosok kerajaan. Ditunggu-tunggu, keesokan harinya, bahkan sebulan kemudian, tak seorang pun yang berani bertaruh melawan elang raksasa itu. Secara tak sengaja, akhirnya berita sayembara itu terdengar oleh seekor tikus. Tikus itu kecewa, bahwa tak seorang warga pun yang berani mempertaruhkan nyawanya. “Pantas takut, karena warga dan elang saling bermusuhan,” kata Tikus. “Bangsa tikus tidak merasa bermusuhan, bahkan burung itu sering minta bantuan untuk mencabut kutu-kutunya.” Ketika Tikus berjalan-jalan di tengah sawah,

tiba-tiba di depannya mendarat elang yang diburuburu itu. “Hai, Tikus!” panggil Elang. “Lama benar kau tak pernah mencabut bulu-buluku yang digerogoti kutu. Ayo, kerjakanlah sekarang!” Tikus yang tidak dianggap musuh itu segera meloncat ke punggung elang. Sambil membersihkan kutu, ia memikirkan sebuah siasat. “Waduh, Tuan Elang! Luar biasa banyaknya!” keluh Tikus. “Kutu-kutu itu harus dicabut oleh semua tikus, sehingga dalam waktu singkat tubuh Tuan bersih.” Elang yang jinak itu mengiakan. Tikus itu pun memanggil kadang-keluarga dan teman-temannya. Lihat sekarang, ratusan tikus bergotong-royong mencabut kutu-kutu! Ada yang di punggung, di sayap, di kepala, di ekor dan di ketiak. Elang itu merasa nyaman apalagi diterpa angin yang mendesir. Tak lama kemudian burung raksasa itu pun tertidur. Nah, itulah kesempatan yang terbaik! Tanpa berisik tikus-tikus itu mencabut bulu sayap helai demi helai. Pemimpin tikus segera menyampaikan keadaan itu kepada Prabu Suliawana. Tak lama kemudian sekelompok prajurit mengurung elang yang ketiduran. Mereka melepaskan panah dan tombaknya. Elang itu terbangun dan berusaha terbang, namun jatuh terjerembab. Burung serakah itu lalu dibunuh ramai-ramai. “Sesuai dengan janjiku,” kata Raja di tengah-tengah keramaian. “Tikus yang berjasa itu kuberi sebuah gelar kehormatan. Gelarnya adalah Jero Ketut.” Konon sejak peristiwa itu, orang-orang tidak lagi menggebrak tikus dengan kata-kata kasar. “Jero Ketut, kuharap Jro tidak mengusik rumahku!” katanya halus.

Duta Endek Kota Denpasar kembali hadir memeriahkan Parade Pembukaan Pesta Kesenian Bali ke -37 Tahun 2015. Keikut­ sertaannya kali ini adalah yang ketiga kalinya sejak tahun 2013. Pada penampilan pertama Duta Endek Denpasar menyuguhkan parade berpasangan pakaian mepeed ke pura, pakaian mamukur, munggah ngekeb, hingga busana neteg pulu. Kemudian tahun 2014 menghadirkan parade melelunakan.

T

ahun ini, bersama perwakilan dari Kota Denpasar, mengangkat tema “Inspire and Harmony of Was­ tra”, yakni terciptanya sebuah inspirasi dari karya wastra berupa endek yang dibalut­

kan untuk sebuah penampilan busana­ menghadiri undangan. Kepala Dinas Perindus­ trian dan Perdagangan Kota Denpasar, I Wayan Gatra, M.Si., mengatakan endek ada­ lah salah satu produk bu­ daya lokal, yang telah men­

jadi produk unggulan Kota Denpasar. Produk ini memi­ liki potensi luar biasa yang mampu mengangkat tradisi lokal menjadi sebuah tren mode tanpa menghilangkan ciri khas kain tenun Bali yang penuh dengan nilai seni bu­ daya tinggi di dalamnya. Warisan budaya leluhur ini, kata Wayan Gatra wajib diles­ tarikan dan diharmonisasikan untuk para pecinta kain endek. Karenanya, melalui program pemerintah Kota Denpasar “ Save Our Heritage” diharapkan endek menjadi fashion icon bagi generasi mendatang. Selanjut­ nya jasa para perajin, para desainer, penenun serta selu­ ruh lapisan masyarakat di da­ lamnnya bisa secara harmonis turut berperan. Bersama-sama menjaga, mengembangkan dan mempromosikan penggunaan kain endek dalam kehidupan

Endek untuk Menghadiri Undangan dukung Pemerintah Kota Denpasar dalam menyo­ sialisasikan produksi dalam negeri yang kaya filosofi ini melalui ber­ bagai kegiatan Peningkat­ an Inovasi Produk Lokal pada Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kota Denpasar. Seperti yang nampak di sepanjang langkah pada pembukaan PKB tahun ini , Duta Endek Kota Den­ pasar secara berpasangan tampil memukau me­ ngenakan busana meng­ hadiri undangan. Menurut Ny. Antari Jaya Negara, Ny. IA Selly D. Mantra, Ketua Dewan Kerajinan dan Ny. Rai Iswara Nasional Daerah (Dekra­ Kehadiran Duta Endek Kota nasda) Kota Denpasar, Ny. IA Denpasar, sebagai generasi Selly D. Mantra didampingi Ny. penerus bangsa, diharapkan Antari Jaya Negara, dan Ny. Rai dapat menumbuhkan rasa cinta Iswara, setiap tahunnya dipasti­ dan kebanggaan di kalangan kan tema yang disuguhkan Kota anak muda, remaja terhadap Denpasar untuk ajang PKB kain endek. Juga, turut men­ bersama para Duta Endek-nya

selalu berbeda. Untuk kali ini , dikatakannya ia ingin menampilkan bahwa endek pun bisa tampil wah pada saat menghadiri undang­ an, selama kita bisa dengan tepat memadumadankan antara warna kebaya dengan kain endek serta aksesorinya. Jadi mengenakan endek dengan motif, corak, ragam warnanya yang semakin indah, menjadi tidak kalah mewah ketika dibandingkan tampil memakai songket. Disinggung mengenai Pemilihan Duta Endek yang keempat untuk tahun ini, Selly D. Mantra menyatakan bahwa program inovasi kreatif untuk mempromosikan kain endek sebagai produk lokal unggulan ini bakal dilaksana­ kan pada bulan Desember. “Ini demi tujuan Pemerin­ tah Kota Denpasar terus berupaya melestarikan dan mengembangkan produk tekstil endek melalui ber­ bagai program. Salah sa­ tunya dengan melahirkan duta endek, yang nantinya dapat mempromosikan kain tersebut di kalangan remaja dan masyarakat,” kata Selly D. Mantra. Apalagi menurutnya se­ jak pelaksanaan pertama hingga yang ketiga, peser­ ta bukan hanya semakin membludak tapi kemam­

sehari-hari sebagai busana dan life style. Dikatakannya pula untuk acara Pembukaan PKB tahun 2015 ini, Duta Endek Kota Denpasar menampilkan 24 orang perwakilannya terdiri dari 12 Duta Endek Putri dan 12 Duta Endek Putra. Mereka memberikan inspirasi yang nyata dalam sajian sebuah harmonisasi pada padanan busana untuk menghadiri un­ dangan yang digunakan saat pawai PKB. Penonton dan undangan yang hadir menyaksikan pun terlihat memberikan spesial applause terhadap busana yang dikenakan. Sederetan kebaya puannya juga meningkat. “Me­ reka rata-rata sudah mampu dan memahami tentang endek, yang berarti tinggal ditingkat­ kan dan kemudian bersamasama mengembangkannya,” tandasnya. Istri Wali Kota Denpasar ini juga menekankan di­ rinya tidak akan pernah berhenti menggaungkan ke­ beradaan endek yang sudah

warna-warni yang simpel na­ mun sangat elegan, rancan­ gan Ketua Dekranasda Kota Denpasar, IA Selly D.Mantra. Sedang­kan untuk kain endek, saput dan destarnya persem­ bahan dari Pertenunan Artha Dharma, anggota Asosiasi Endek, Bordir dan Songket (ASBES) Kota Denpasar. Untuk tata rias wajah dan kelengkapan aksesori busana termasuk hair style ditangani oleh penata rias senior pemilik AAA (Art and Desain), Turah Mayun. Begitu juga dengan Duta Endek Putra yang mengenakan atasan kemeja putih panjang, desainnya garapan Turah Mayun dan Tude Togog. - ard menjadi produk unggulan Kota Denpasar ini dengan aneka bentuk promosi. “Begitu pun para peng­ rajin dan pelaku kegiatan indus­ tri fashion yang berbasis budaya juga bersedia terus berinovasi dan berkreasi,” pungkasnya. - ard


16

Edukasi

Edisi 854/ 22 - 28 juni 2015

Dara

SMK Farmasi dan SMK Kesehatan Bintang Persada

Bertabur Prestasi di Akhir Tahun Pelajaran Menutup tahun pelajaran 2014/2015 ini, SMK Farmasi dan SMK Kesehatan Bintang Persada kembali mengukir prestasi gemilang. SMK yang menyandang Akreditasi “A” ini berhasil mengantongi segudang prestasi yang membanggakan di bidang akademik.

Persada Tabanan, atas nama Yosinta Sasmita, juga berhasil meraih juara OSTN di Provinsi Bali, kemudian menjadi duta Bali dalam OSTN 2015 di Yogyakarta. Tahun ini siswa-siswi SMK Farmasi Bintang Persada kembali meraih kesuksesan. Dalam penyisihan OSTN Tingkat Kota Denpasar. Sekolah yang berlokasi di Jalan Gatot Subroto Barat No. 466 A, Denpasar ini berhasil menempatkan 2 (dua) orang siswanya yaitu Wiwik Pratiwi dalam bidang Kimia Terapan serta Janerama Eka

P

restasi prestisius yang diraih adalah keberhasilan siswa-siswi SMK Farmasi dan Kesehatan Bintang Persada dalam mempertahankan tradisi juara dalam Olimpiade Sains Terapan Nasional. Siswa SMK Farmasi Bintang Persada atas nama Priyasana yang meraih juara I dalam Olimpiade Sains Terapan Nasional Tingkat Provinsi, berhasil meraih juara harapan 2 dalam bidang Matematika Terapan sebagai wakil Bali dalam Olimpiade Sains Terapan Nasional di Yogyakarta yang diadakan pada 18-25 Mei 2015. Menurut Ketua Yayasan I Gusti Made Aryasa, S.P.,didampingi Kepala Sekolah Ida Ayu Ary Pradnyawati, S.Pd., semua itu dicapai karena para siswa menempa diri dengan belajar keras di bawah bimbingan guru pembinanya. Demikian juga dengan salah satu siswa SMK Bintang

Curik Bali atau burung Jalak Bali (Leucopsar Rohtscildi) merupakan burung langka yang habitat terakhirnya berada di Taman Nasional Bali Barat (TNBB). Burung yang menjadi maskot Bali ini statusnya dilindungi Undang-Undang dan mendiami sebagian kecil dari wilayah TNBB yakni di Semenanjung Prapat Agung tepatnya di Teluk Brumbun dan Teluk Kelor.

D

ari 160 jenis burung yang ada di TNBB, Curik Bali menjadi satu-satunya jenis burung yang menjadi perhatian. Populasi Curik Bali diluar penangkaran dari tahun ke tahun terus menurun. Sejak dilepasliarkan dari tahun 1998 tercatat sudah 214 ekor. Tetapi sejak tahun 2013 hanya tersisa sekitar 32 ekor, sedangkan yang masih ada di penangkaran sebanyak 78 ekor. Lokasi pelepasliaran pada tahun ini sudah mulai menyebar tidak seperti dahulu hanya dipusatkan di sekitar Teluk Brumbun. Keberadaan Curik Bali inilah yang secara tidak langsung menjadikan kawasan yang sejak jaman kerajaan Bali dianggap hutan keramat, ini menjadi Kawasan Taman Nasional . Pengelolaan TNBB ditujukan

I Putu Priyasana (kiri) peraih Juara Harapan 2 OSTN Tingkat Nasional Bidang Matematika dan Yosinta ­Sasmita (kanan) Wakil Bali dalam OSTN Nasional 2015 Bidang Biologi

Putra dalam bidang Matematika Teknologi. Keduanya berhak untuk mewakili Kota Denpasar dalam Olimpiade Sains Terapan Nasional ke Tingkat Provinsi nantinya.

Prestasi Gemilang Seakan tidak mau kalah dengan saudaranya, siswa-siswi SMK Bintang Persada Tabanan pun menempatkan 3 (tiga) wakilnya sekaligus yakni Ida Ayu Wiwin Apsari dalam bidang Matematika Non Teknologi, Ni Kadek Dwi Satya Ariyani dalam bidang Fisika, serta Siti Sholikatun dalam Bidang Biologi Terapan. Ketiga siswa tersebut akan mewakili Tabanan dalam Olimpiade Sains Terapan Nasional di Tingkat Provinsi. Dalam sejarah keikutsertaannya dalam OSTN, siswa-siswi SMK Farmasi dan SMK Kesehatan Bintang Persada telah terbukti berhasil mencatatkan eksistensinya dalam kancah kompetisi akademik paling prestisius antar SMK, yang diikuti 33 SMK dari seluruh Indonesia. Tercatat pula siswi atas nama Beatrice juga pernah unggul sebagai juara Harapan 1 dalam Bidang Matematika pada OSTN Nasional 2013. Demikian pula siswa SMK Kesehatan Bintang Persada Tabanan atas nama Mas Adi Wiratni sebelumnya mewakili Bali dalam OSTN bidang Biologi Terapan di Tingkat Nasional Tahun 2013. Dalam even yang tak kalah prestisius, Tim Kewirausahaan SMK Famasi Bintang Persada yang tergabung dalam Pharbiska Student Company (Pharbiska SC) berhasil meraih dua penghargaan dalam ajang Lomba Kewirausahaan yang dilaksanakan oleh Prestasi Junior Indonesia (PJI).

Farmasi Bintang Persada berada dalam posisi 4 besar nilai rata-rata tertinggi se-Bali. Yayasan Bintang Persada telah berhasil membuat sekolah-sekolah yang berdiri di bawah naungannya menjadi sekolah-sekolah dengan prestasi terbaik. Bahkan, SMK Farmasi Bintang Persada dapat dikatakan sebagai SMK dengan Prestasi terbaik saat ini, mampu bersaing dengan SMK dan SMA favorit di Bali hingga SMK/SMA favorit di Tingkat Nasional. -ard

SMK Farmasi Bintang Persada

Jalan Gatot Subroto Barat No. 466 A Denpasar. Telepon (0361) 8443866;

SMK Kesehatan Bintang Persada

Jalan By Pass Ir.Soekarno No.11X Tabanan. Telepon (0361) 819070.

Burung yang dilindungi di TNBB Curik Bali

hingga Gilimanuk. Selain penangkaran di dalam kawasan TNBB, masyarakat penyanding kawasan juga melakukan penangkaran, seperti kelompok Manuk Jegeg di Desa Sumberkelampok, Buleleng dan Gilimanuk, Jembrana. Sejak dinyatakan menjadi hewan yang terancam punah, spesies endemik yang habitatnya hanya dapat ditemui di Bali Barat ini sejatinya pada tahun 2012 pernah ditemui hingga di Karangsewu, Gilimanuk. Burung itu ditemui di sekitar hutan mangrove dan tidak menggunakan gelang sebagai penanda hasil pelepasliaran. Artinya burung itu merupakan hasil pengembangbiakan di habitat liarnya. Tetapi kondisi itu hanya bertahan tidak lebih dari sebulan, dan burung itu sudah menghilang lagi. Disinyalir habitatnya yang su-

Karena Jengah Tampilkan “Manik Pancasona” di PKB

Siswa-siswi SMK Farmasi Bintang Persada yang meraih 2 penghargaan dalam kompetisi Youth Enterpreneurship Literacy Regional Bali 2015

Dengan mengusung produk Etno Craft, Tim Pharbiska SC meraih dua penghargaan sekaligus yaitu “The Most Creative CSR Initiative” serta The Best School For Supporting Youth Enterpreneurship Literacy Program in Denpasar”. Hal ini, tentu menjadi suatu kebanggan mengingat perjuangan tim Pharbiska SC telah menjalani proses lomba yang cukup panjang, kurang lebih selama 6 bulan. Yang tak kalah membanggakan pula, dalam keikutsertaannya pada ujian nasional tahun 2015, SMK

dah tidak alami membuat burung yang memiliki warna bulu biru mengelilingi mata ini menghilang. Kawasan Karangsewu kendati masuk wilayah Taman Nasional, namun juga sering dijamah manusia untuk rekreasi. Terus berkurangnya populasi Curik Bali yang dilepasliarkan sejak tahun 1998 karena dimakan predator. Dari fakta yang ditemui di kawasan Teluk Brumbun dan sekitarnya, banyak ditemukan mati karena dimakan. Kendati belum ada indikasi pencurian di penangkaran ataupun di kawasan konservasi. Namun, pengamanan selalu siaga. Tetapi sebagian besar banyaknya burung yang berada di alam mati karena dimakan predator. Selama ini pelepasliaran dipusatkan di Teluk Brumbun dan dievaluasi pelepasliaran juga di-

lakukan di titik-titik lain seperti di Cekik, Gilimanuk, Teluk Trima dan titik lainnya di TNBB. Selain penangkaran dari TNBB, para warga penyanding di TNBB juga diikutkan untuk menangkar Curik Bali seperti di Sumberklampok. Sejak tahun 2011, kelompok ini mampu menangkar puluhan ekor Curik Bali. Sejak dinyatakan nyaris punah, Curik Bali yang dulu sering ditemui hingga di pohon-pohon kelapa di sekitar rumah penduduk kini sulit ditemui lagi. Termasuk di kawasan luar TNBB juga tidak pernah lagi ditemukan lantaran hutan telah terjamah manusia. Aksi illegal logging di kawasan hutan penyanding TNBB juga merupakan salah satu faktor pemicu burung Curik Bali sulit berkembang di habitat aslinya. –Surya Dharma

9

Ida Bagus Putu Tilem Singarsa

Inilah salah satu kesaktian dari Pesta Kesenian Bali (PKB) yang digagas oleh Alm. Ida Bagus Mantra 37 tahun silam. Ajang seni tahunan yang dipusatkan di Art Center, Taman Budaya Denpasar itu tak hanya untuk melestarikan seni budaya, tetapi juga menggali serta mengembangkan seni yang ada. Dalam menggali, tentu tak sebatas kesenian saja, tetapi juga berlaku dalam hal penggenerasian.

Pesona Curik Bali untuk perlindungan populasi spesies endemik Curik Bali beserta ekosistem hutan pantai sebagai sistem penyangga kehidupan. Sejak burung ini dinyatakan kategori critically endangeredi dan pada tahun 1970an hingga 1980an nilai burung ini sangat tinggi dan justru sering ditemui di pasar gelap. Kendati kawasan Bali Barat merupakan habitat satu-satunya di dunia burung ini, namun saat itu burung ini dapat ditemui di luar Bali bahkan hingga ke luar negeri. Bahkan di penangkaran saat ini juga masih ada indukan spesies ini dari Jepang dan beberapa kebun binatang di Jawa. Sejumlah kelompok pecinta Curik Bali yang tergabung dalam Asosiasi Pelestari Curik Bali yang di Indonesia membantu menangkarkan burung yang memiliki warna bulu khas dan jambul yang menawan ini. Curik Bali ditemukan pertama kali oleh Baron Stresseman, pada Maret 1911. Ahli burung berkebangsaan Inggris ini secara tidak sengaja menemukan burung ini di sekitar Singaraja, tepatnya desa Bubunan. Sejak saat itu, burung ini dikategorikan spesies burung endemik yang langka dan berbeda dengan jenis lain. Kemudian pada tahun 1925 dilakukan observasi intensif oleh Dr Baron Victor von Plesen. Dan diketahui bahwa penyebaran burung ini hanya mulai Desa Bumbunan

Edisi 854/ 22 - 28 juni 2015

Ida Bagus Putu Tilem Singarsa

I

da Bagus Putu Tilem Singarsa adalah salah satu generasi seniman wayang yang lahir dari ajang PKB itu. Gara-gara mengikuti lomba Wayang Kulit Kategori Remaja sebagai duta Kabupaten Badung dalam PKB, anak muda kelahiran Desa Sibang, 28 Juni 1995 ini kini menjadi dalang. Bahkan, kepiawaiannya dalam memainkan boneka dua dimensi itu sudah disajikan kepada pengunjung PKB, Minggu (14/6). Usianya masih muda, namun mahasiswa Sastra Jawa Kuno Unud ini memiliki talenta khusus dalam memainkan wayang. Rasa jengah terus mendorongnya untuk menjadi seorang dalang yang instan, alias cepat saji. Bayangkan saja, dalam waktu enam bulan ia mampu menyajikan kesenian total teater itu. “Mengandalkan darah seni saja tak cukup, harus giat berlatih juga,” kata putra Ida Bagus Gede Mambal, dalang wayang kulit yang terkenal itu. Gus Tilem – demikian sapaan akrabnya, mampu menyajikan seni pakeliran atraktif yang tetap mengedepankan pakem-pekam pewayangan. Dalam penyajiannya yang perdana mengangkat epos Ramayana dengan judul “Manik Pancasona”. Sebagai pengiringnya adalah Sekaa Batel Ramayana Dewaruci Sibangkaja dengan pembina tabuh I Made Martha dan I Wayan Gitanjaya. Wayang berdurasi dua jam itu, diawali dari kisah di Kerajaan Tasiktala dipimpin seorang raja sakti berwajah detya (raksasa) bernama Sri Maharaja Ludra Predana. Ketika itu istrinya hamil yang sudah berumur 9 bulan be-

lum juga melahirkan. Kemudian, ada pewisik anak itu mau lahir jika ada Manik Pancasona. Seluruh prajurit kerajaan dikerahkan untuk mencarinya, namun tidak ada hasil. Kemudian terdengar, kalau Manik Pancasona itu ada di Kerajaan Ayodya Pura yang dipimpin oleh Ramadewa. Sang raja kemudian mencari ke sana dan meminta pada Rama, namun Rama mengatakan tidak ada pada dirinya. Detya lalu marah dan menantang Rama untuk bertarung. Datanglah Anggada yang mengatakan Manik Pancasona itu ada pada dirinya. Anggada kemudian menantang, jika dirinya kalah ia boleh mengambil manik itu. Dengan kesaktian yang dimiliki Dektya Sri Maharaja Ludra Predana, raja Rama dan pasukan kera dapat dikalahkan dan dijadikan tawanan perang. Manik pancasona kemudian diambil paksa oleh Detya dari Anggada. Mendengar hal itu, Hanoman kemudian menyelamatkan, dan Detya Sri Maharaja Ludra Predana dapat dibunuh oleh Rama yang berwujud Wisnu Murti. Sarat Pesan Moral Setelah wayang kayon dimainkan, penonton tercengang dan tak menyangka dalang yang masih muda mampu menyajikan seni pewayangan yang manis. Empat suara dari empat punakawan yaitu Malen, Merdah, Melem dan Sangut yang menjadi salah satu kunci sukses memainkan wayang tampak jelas. Demikian juga karakter dari masing-masing tokoh itu, seperti Melem yang sombong dan keras, Sangut yang pintar, Tualen yang bijaksana dan Merdah yang cerdik. Wayang sebagai seni total, mampu ia lakukan dengan baik. Teknik dalam memainkan wayang tergolong cekatan. Gerak tari Bali yang biasa diperagakan penari Bali, bisa ia peragakan dalam tarian wayang, seperti tanjek, nabdab gelung dan gerak lainnya. Tari panglembar yang dilakukan raja kera Sugriya tampak gagah. Wewangsalan (pantun) yang sarat pesan menjadi bumbu pementasan. Terlebih diiringi gamelan batel yang tertata apik, menjadi sajian seni menarik. Batu dan pohon-pohon yang ada tak hanya menjadi dekorasi, tetapi juga sebagai properti dalam setiap tarian yang tampak

pada tari pasukan kera. Memang, munyin ore (suara kera) masih terkesan lemah, namun ia mampu menutupinya dengan gerak tari. Dalang juga mampu menciptakan suasana serius, lucu, dan tegang yang digambarkan dalam setiap adegan yang sudah disesuaikan dengan konteks cerita. Sang dalang tak hanya piawai membeberkan kisah, tetapi mampu mengemas dalam seni yang sarat pesan moral. Kritik sosial terhadap pemimpin yang baik akan tercermin pada rakyatnya yang sejahtera. Sindiran tentang bahasa Bali halus yang hampir punah, dilakukan oleh para pasu-

kan kera. Dan yang pasti, etika, moral serta karakter menjadi penekanan dari sajian ceritera. “Saya masih merasa kurang dalam nyiatang wayang (adegan berperang),” akunya polos. Gus Tilem mengaku, untuk bisa menjadi dalang harus melewati proses. Mula-mula belajar duduk bersila, lalu belajar ngeletakan gedogan (membunyikan tempat wayang), memegang wayang, selanjutnya belajar vokal. Dan yang menjadi

kendala, saat pendramaan dan penyutradaraan. Yang pasti kuncinya adalah konsentrasi. “Saya masih belum biasa berimprovisasi,” ungkapnya. Sebagai anak yang tinggal dikalangan seni, Gus Tilem memang sejak kecil sudah biasa megambel. Mula-mula memainkan gender wayang, selanjutnya didapuk menjadi penabuh pengiring wayang yang dimainkan Ajiknya, Ida Bagus Mambal. Saat menjadi siswa SD dan SMP, Gus Tilem juga biasa sebagai juara dalam lomba Utsawa Darmagita, Palawakia dan Matembang. Ia juga pernah memerankan Raja Muda pada kesenian Drama Gong duta Badung. Dalam sebuah acara ngayah, lelaki ganteng yang memiliki kriteria khusus terhadap calon pacar itu sering tampil menari. Mulai dari tari baris upacara, tari popular hingga tari kreasi. Sekarang ia tengah menyiapkan diri untuk lomba Utsawa Dharmagita tingkat Kabupaten Badung.-Budarsana


10

Bugar

Edisi 854/ 22 - 28 JUNI 2015

Mencegah Jauh lebih Baik daripada Mengobati

Sebagai negara berkembang selain dihadapkan dengan berbagai penyakit infeksi, akhir-akhir ini negara kita juga tengah berjuang dengan berbagai penyakit bukan infeksi yang banyak disebabkan oleh pola hidup kita, antara lain penyakit kencing manis, penyakit tekanan darah tinggi, penyakit jantung koroner, stroke, kanker, dsb. Layanan kesehatan yang berkualitas tinggi paling sedikit harus mencakup dua elemen yang fundamental yaitu pengobat­ an yang tepat untuk penyakit yang sedang dihadapi dan yang jauh lebih penting adalah pencegahan penyakit untuk memperlambat penurunan kesehatan kita di masa mendatang. Berbagai cara untuk mencegah terjadinya penyakit antara lain dengan pola hidup sehat, imunisasi yang telah ada untuk beberapa jenis penyakit, screening (penapisan) untuk beberapa penyakit tertentu, dan pemeriksaan kesehatan berkala (medical check up). Pada umumnya pemeriksaan ke­sehatan berkala meliputi riwayat penyakit sebelumnya, pemeriksaan fisik secara keseluruhan oleh dokter, tes fungsi jantung (antara lain EKG/rekam jantung, treadmill) , tes fungsi dan kondisi paru (spirometri, rontgen dada), tes fungsi hati, tes fungsi ginjal, tes penglihatan dan pendengaran, tes fungsi thyroid, pemeriksaan gula darah, peme­ riksaan profil lemak darah, asam urat, pemeriksaan darah lengkap, urine dan feces, screening untuk infeksi hepatitis dan berbagai pemeriksaan penunjang lainnya. Berikut ini akan dibahas bererapa penyakit/kondisi khusus yang perlu dicegah karena merupakan masalah kesehatan yang serius di banyak negara : Penyakit Jantung Dengan meningkatnya kondisi perekonomian di negara tercinta, jumlah penderita penyakit jantung juga terus meningkat jumlahnya karena pola hidup yang tidak sehat. Diharapkan dokter selalu memberikan nasihat kepada setiap pasien di atas usia 35 tahun untuk mencegah terjadinya serangan jantung dan stroke. Hal ini terutama ditujukan kepada pasien dengan obesitas, kurang aktivitas fisik, dan pasien yang memiliki faktor risiko terkena penyakit jantung. Untuk pasien dengan risiko penyakit jantung sedang sampai tinggi, 3 pengobat­ an berikut ini telah terbukti dapat menu-

Penulis: Tim Edukasi Kesehatan Siloam Hospitals Bali runkan resiko terjadinya penyakit jantung : antihipertensi untuk pasien dengan tekanan darah tinggi, obat golongan statin dan aspirin dosis rendah. Edukasi pola hidup sehat sangat pen­ ting diberikan kepada semua pasien untuk menjaga berat badan ideal dan olah raga. Konseling oleh dokter untuk berhenti merokok dapat menurunkan risiko penyakit jantung. Pemeriksaan rekam jantung (EKG) secara rutin tidak direkomendasikan untuk pasien tanpa gejala dan resiko penyakit jantung yang rendah. Hipertensi / Tekanan darah tinggi Hipertensi menyebabkan 35% serangan jantung dan stroke, 49% penyakit gagal jantung, dan 24% kematian dini. Tekanan darah tinggi didiagnosis bila tekanan darah sistolik ≥140 mmHg atau tekanan darah diastolik ≥90 mmHg pada 2 atau lebih pemeriksaan selama beberapa minggu. Telah terbukti bahwa penanganan tekanan darah tinggi dapat menurunkan angka kejadian penyakit jantung dan pembuluh darah. Disarankan untuk pasien dengan tekanan darah yang normal untuk melakukan pemeriksaan tekanan darah setidaknya setiap 2 tahun sekali, sedangkan untuk pasien dengan hipertensi derajat 1 (ringan) melakukan pemeriksaan tekanan darah setahun sekali. Diabetes Mellitus (Kencing Manis) Kencing manis dalam jangka panjang dapat menyebabkan berbagai macam komplikasi antara lain stroke, serangan jantung, masalah ginjal, penurunan peng­ lihatan, impotensi, dsb. Hal ini terutama bila disertai dengan penyakit tekanan darah tinggi. Rekomendasi dari A.D.A menyebutkan perlunya dilakukan screening untuk kencing manis ini sejak usia 45 tahun, untuk pasien dengan kelebihan berat badanobesitas, serta untuk pasien-pasien yang memiliki faktor risiko kencing manis.

Aneurisma Aorta Abdomen Walaupun kejadian pecahnya pembuluh darah besar di perut ini jarang terjadi, tetapi mengingat dampaknya yang hampir pasti fatal, maka direkomendasikan untuk dilakukan pemeriksaan ultrasonografi di daerah perut sekali saja - antara usia 65-75 tahun untuk pasien dengan riwayat merokok.

Depresi Depresi dalam jangka panjang sangat mempengaruhi performa kerja, keharmo­ nisan rumah tangga dan hubungan sosial dengan rangkaian akibat yang sangat panjang. Pertanyaan berikut ini dapat menjadi screening awal untuk depresi : 1. Dalam 2 minggu terakhir, apakah Anda merasa lemah, lesu, depresi, tanpa ha­ rapan? 2. Dalam 2 minggu terakhir, apakah semangat Anda menurun/menghilang untuk melakukan aktivitas sehari-hari? Bila jawaban dari pertanyaan di atas adalah “ya” maka Anda perlu berkonsultasi lebih lanjut untuk masalah depresi. Imunisasi Imunisasi merupakan salah satu ujung tombak dalam pencegahan terjadinya beberapa jenis penyakit. Perlu diketahui bahwa imunisasi tidak hanya perlu diberikan pada bayi dan anak-anak, melainkan juga penting diberikan kepada remaja dan orang dewasa. Beberapa penyakit yang dapat dicegah dengan pemberian vaksin untuk orang dewasa antara lain : influenza, tetanus, diphteri, pertusis (batuk rejan), cacar air, herpes zoster, HPV (virus ini dihubungkan dengan terjadinya kanker mulut rahim), campak, campak Jerman, gondong, pneumococcal, hepatitis A dan B.

Screening Kanker Beberapa jenis kanker yang merupakan penyebab terbanyak angka kematian antara lain : kanker paru, usus besar, payudara, mulut rahim (cervix) dan prostat. Berbagai macam screening (penapisan) perlu dilakukan untuk mendiagnosis berbagai jenis kanker tersebut secara dini dan kemudian diberikan penanganan sedini mungkin sehingga dapat menurunkan angka kematian karena kanker. Kanker Payudara Disarankan oleh USPSTF untuk melakukan screening kanker payudara setiap 2 tahun dengan pemeriksaan mammografi di atas usia 40 tahun, di mana terbukti menurunkan secara bermakna angka kematian karena kanker tersebut. Penting pula dilakukan pemeriksaan payudara oleh dokter secara berkala. Pemeriksaan payudara mandiri (breast

self examination) dapat dipelajari secara mandiri dari internet, walaupun berdasarkan penelitian tidak terbukti bermakna untuk menurunkan angka kematian karena kanker payudara.

Kanker Cervix (Mulut Rahim) Screening kanker mulut rahim disaran­ kan sejak usia 21 tahun kepada wanita yang pernah berhubungan intim sebelumnya. Screening ini dilakukan dengan peme­ riksaan sitologi (Pap smear), dan untuk wanita di atas usia 30 tahun dapat pula dikombinasikan dengan tes untuk virus HPV. Screening ini direkomendasikan oleh USPSTF untuk dilakukan setiap 3 tahun sekali untuk pasien dengan hasil normal pada screening sebelumnya. Wanita yang telah diangkat rahimnya secara keseluruhan dan wanita di atas usia 65 tahun dengan beberapa kali hasil pap smear yang normal, tidak disarankan lagi untuk melakukan pap smear mengingat jenis kanker ini memerlukan waktu yang sangat lama untuk berkembang. Kanker Colorectal (Usus Besar) Penting digali adanya riwayat keluarga yang menderita kanker usus besar. Screening secara berkala dimulai sejak usia 50 tahun untuk pasien dengan risiko sedang dan dimulai lebih dini untuk pasien dengan risiko tinggi. Untuk pasien selain dengan risiko tinggi dapat dilakukan pemeriksaan feces darah samar (fecal occult blood test), flexible sigmoidoscopy ataupun keduanya. Kanker Paru Penurunan risiko terjadinya kanker paru perlu difokuskan terhadap para pe­ rokok sedang-berat. Menghindari maupun berhenti merokok dapat menurunkan risiko kejadian dan kematian akibat kanker paru sampai 90%. CT scan paru dosis rendah setiap tahun dapat mendeteksi dan menurunkan angka kematian akibat kanker paru sebanyak 20%.

Kanker Prostat Setelah berdiskusi dengan dokter, disarankan untuk melakukan screening kanker prostat minimal sekali saja (dan selanjutnya dapat dilakukan 4 tahun sekali) pada laki-laki berusia antara 50-69 tahun. Screening yang dilakukan adalah dengan pemeriksaan laboratorium darah : PSA (Prostate Specific Antigen).

Style

Pesona Gaya Modern M Angeliqa Wu Fashion ­Design Course menggelar “Graduation Show 2015”. Acara yang bertema ­“Revival” ini, mempersembahkan outfit hasil karya dari siswasiswanya.

ereka mengangkat ideide menarik dari tema Revival, yang berarti kebangkitan kembali. Entah itu kebangkitan budaya atau mode di masa lampau yang dikembangkan dan dibuat menjadi baru dan modern. Menjadi desainer ternama yang karyanya selalu dibincangkan banyak orang memang tidak mudah. Ada beberapa tahapan yang harus dilalui. Salah satunya bisa menghasilkan rancangan penuh karakter. Seperti fashion show dengan total look yang diperagakan oleh para model beberapa waktu lalu. Hal ini menurut Angelica Wu agar siswa selanjutnya siap terjun menjadi desainer andal

Edisi 854/ 22 - 28 JUNI 2015

dan dapat mempersiapkan fashion shownya sendiri. Berikut desain indah dari 3 murid terbaik dan murid favorit setelah mengenyam pendidikan. Mereka adalah Natasya K. Dharani mengusung tema “ Amor”, Toly Sukma dengan tema “Calonarang” , Lenny menampilkan tema “Glory of Secret Garden” serta Niti Swari menghadirkan tema “The Hanging Garden”. - Sri Ardhini

15


14

Jelita

Edisi 854/ 22 - 28 juni 2015

Gunakan Krim Malam dengan Tepat Wajah harus di rawat dengan baik agar tetap bersih, terlihat lembab, cerah dan segar. Namun, banyak diantara kita yang mengira menggunakan daycream atau pelembab setiap harinya sudah cukup untuk melembabkan serta merawat wajah. Selain itu, banyak pula yang belum mengetahui atau karena alasan kesibukan cenderung mengabaikan kegunaan night cream atau krim malam untuk wajah.

P

adahal, menurut Kompyang Pariadnyani pemilik Adibi Salon & Spa di Denpasar, dengan rajin memakai krim malam, wajah bukan hanya memperoleh nutrisi yang diserap maksimal saat tubuh beristirahat, juga berguna mengelupaskan sel - sel kulit mati dan menjadikan tekstur kulit halus. Bahan - bahan yang sering terkandung dalam krim malam umumnya terdiri dari asam vitamin A, Alpha Hydroxyl Acid (AHA) juga vitamin A, B, C, D, serta E dengan kegunaannya masing-masing. Vitamin A yang berguna mengatasi flek serta anti jerawat. Vitamin B mengandung antioksidan yang menjaga kekebalan tubuh, merangsang tumbuhnya sel, melindungi sel, dan sebagai anti radang. Vitamin C untuk mencerahkan kulit juga mengatasi masalah kulit kusam. Sedangkan, vitamin E dengan fungsi antioksidan yang mengurangi tandatanda penuaan. Proses pengelupasan kulit yang aktif umumnya terjadi sekitar pukul 23.00 hingga - 04.00. Meskipun proses pengelupasan tersebut berlangsung alami, tapi untuk membantu memaksimalkan proses tersebut diperlukan krim malam yang mengandung nutrisi dan bahan lain yang berguna untuk kulit. “Perawatan kecantikan kulit ini akan lebih baik jika dilakukan dalam kondisi rileks dan bebas stres, seperti di malam hari. Sehingga, nutrisi pun akan lebih baik terserap ke dalam kulit,” ujar Kompyang . Sebaiknya katanya kita selalau ingat memakai krim malam. “Sebab pada malam hari kulit cenderung mudah menyerap berbagai nutrisi, dibandingkan pada siang hari. Selain dapat menyehatkan juga memperbaharui sel-sel dan melindungi kerusakan kulit lebih lanjut,” katanya kembali menekankan untuk tidak mengabaikan krim malam ini. Tidak lupa juga diingatkan untuk memilih krim malam tanpa aroma dan yang sesuai jenis kulit. Sebab, tidak semua krim malam melakukan pekerjaan dengan baik jika salah memilih. Bagaimana cara memilih krim malam yang cocok ? Kompyang menerangkan bahwa ada beberapa faktor yang perlu diperhatikan sebelum memakai krim malam, seperti jenis kulit, umur serta perawatan yang dibutuhkan entah itu untuk mengurangi keriput, noda bekas jerawat, ataukah kerutan. “Jangan lupa saat membeli perhatikan pula dengan baik kandungan yang ada di dalamnya,” tandasnya. Dikatakannya setiap usia atau pada usia tertentu memerlukan krim malam dengan kandungan yang berbeda. Seperti untuk mereka yang berusia 20-an, sebaiknya memilih produk krim malam dengan kandungan bahan yang alami dan bukan yang berat. Mulai usia 30-an, bahan-bahannya dapat dipilih yang aktif disertai antioksidan lainnya. Sedangkan mereka yang usianya 40-an, pilih yang ada kandunganektrak kedelai juga vitaminnya. Begitu pula untuk kalangan yang berusia 50-an hingga 60-an, hendaknya dapat dipilih krim malam yang dapat memberikan ekstra nutrisi sehingga menjadikan wajah sehat sepanjang hari. Selanjutnya pemilihan krim malam hendaknya dise-

suaikan pula dengan wajah. Apakah waawat, warna kulit atau cenderung penuaan dini. kulit wajah yang cenderung berjerawat,

permasalah kulit jahnya berjertidak merata terlihat ada Bagi pemilik

Tips Memakai Krim Malam lSebelum diolesi krim malam, Kompyang mengingatkan untuk memastikan wajah sudah dibersihkan dengan susu pembersih sesuai jenis kulit. Hal ini untuk membantu krim malam dapat meresap secara maksimal lMengoleskan krim malam, dilakukan perlahan tipis-tipis saja dengan gerakan melingkar menggunakan ujung jari. Hindari wilayah sekitar mata dan bibir. l Oleskan krim malam dengan rutin dan lakukan setengah jam sebelum tidur lAkan lebih baik jika dilengkapi dengan krim khusus untuk leher dan di bawah mata. lKeesokan harinya, jangan lupa sisa-sisa krim malam dibersihkan agar wajah bersih, dan tidak bercampur dengan produk perawatan lain yang akan digunakan pada pagi hari seperti sunscreen atau make up.

maka acne lotion atau lotion antijerawat, yang merupakan gabungan kortikosteroid dan antibiotik dapat digunakan. Untuk mengatasi penuaan dini, Kompyang mengtakan dapat memakai krim malam yang menganung lightening cream atau krim pencerah kulit yang aturannya sudah ditentukan. Begitu pula dengan jenis kulit setiap orang. Dipilih krim malam yang kandungan di dalamnya disesuaikan, baik itu untuk jenis kulit kombinasi, kering, berminyak ataukah sensitif . Untuk kulit berminyak misalnya, hendaknya dipilih krim berbentuk lotion karena lotion mengandung lebih sedikit minyak. Sementara bagi kulit wajah yang tercatat sangat berminyak, dapat menggunakan krim malam berbentuk gel, yang kandungan minyaknya jauh lebih sedikit daripada lotion dan krim. Sebaliknya untuk yang memiliki kulit kering, gunakan krim karena kandungan minyaknya yang banyak sehingga dapat melembabkan kulit. Sedangkan yang kulitnyan sensitif formula yang terkadung di dalamnya diupayakan yang ringan. – Sri Ardhini

Edisi 854/ 22 - 28 juni 2015

11

Cegah Gondongan dengan Imunisasi MMR Seorang anak perempuan kelas 4 SD bersama orangtuanya datang ke tempat praktik dr. AA Ngr. Gd. Dhar­ mayuda, M.Kes., di Jalan Turi No. 5 Kesiman, Denpasar. Bocah tersebut mengeluhkan sakit saat membuka mu­ lut. Keluhan tersebut dirasakan se­ menjak pagi baru bangun tidur dengan diawali demam sehari sebelumnya. Bagian rahang tepat di depan telinga kirinya membengkak. nya mereka masih memiliki atau dilindungi oleh antibodi yang baik. Seseorang yang pernah menderita penyakit gondongan, maka dia akan memiliki kekebalan seumur hidupnya.

AA Ngr. Gd. Dharmayuda, M.Kes.

“K

atanya, teman sekelasnya pernah mengalami keluhan yang sama sekitar dua minggu sebelumnya. Kejadian seperti ini sangat sering dialami anak-anak yang dikenal dengan penyakit gondongan. Tapi masih banyak masyarakat yang belum cermat mengenali penyakit ini,” ucap AA Ngr. Gd. Dharmayuda, M.Kes. Kepala Puskesmas I Denpasar Selatan ini menjelaskan, penyakit gondongan (Mumps atau Parotitis) adalah suatu penyakit menular dimana terjadi peradangan dan pembengkakan kelenjar ludah akibat infeksi virus (Paramyxovirus). Kelenjar ludah manusia ada dua, terletak di rongga mulut bagian belakang dekat rahang, sebelah kiri dan kanan. Peradangan dapat terjadi pada salah satu atau kedua kelenjar ludah. Penyakit gondongan tersebar di seluruh dunia dan dapat timbul secara endemik atau epidemik. Beberapa anggapan masyarakat menyeruak terkait penyakit gondongan. Karena itu, dr. Dharmayuda yang juga Wakil Sekretaris IDI Cabang Denpasar ini mencoba memberikan penjelasan dan informasi tambahan terkait tentang gondongan. Mitos: Gondongan hanya menyerang satu kali saja, dan itu akan membuat kekebalan seumur hidup Fakta: Penyakit gondongan sangat jarang ditemukan pada anak yang berumur kurang dari 2 tahun, hal tersebut karena umum-

Mitos: Gondongan cepat menular dan tidak boleh kena angin Fakta: Penyakit gondongan disebabkan oleh virus yang menular lewat percikan ludah penderita yang bersin atau batuk. Karena sangat mudah menular, maka penyakit gondongan/parotitis dapat menyebar dengan cepat, terutama di lingkungan padat atau di tempat-tempat seperti sekolah, taman bermain, dan lain-lain. Paparan angin bukan faktor utama dalam penularan penyakit gondongan, melainkan penderita yang sedang mengalami demam akan semakin mengalami penurunan daya tahan tubuh bila terpapar angin. Oleh karena itu, penderita gondongan disarankan untuk beristirahat di rumah dengan tujuan untuk meningkatkan daya tahan tubuh serta mengurangi risiko penularan. Mitos: Gondongan lebih sering menyerang usia anak-anak Fakta: Penyakit ini banyak menyerang anakanak yang berumur 5-10 tahun. Anak-anak dibawah 2 tahun jarang terserang penyakit ini, karena kekebalan akan penyakit ini bisa menurun dari ibu kepada anak sampai usia antara 12-15 bulan. Itupun apabila ibu yang bersangkutan pernah mengalami sakit gondongan atau pernah mendapatkan imunisasinya. Mitos: Keluhan yang dirasakan bisa berbeda-beda pada tiap anak yang kena gondongan Fakta: Tidak semua orang yang terinfeksi mengalami keluhan, bahkan sekitar 30-40% penderita tidak menunjukkan tanda-tanda sakit, tetapi tetap menjadi sumber penularan. Keluhan yang dirasakan anak-anak memang bervariasi tergantung daya tahan tubuh anak tersebut. Terkadang ada yang tidak mengalami demam, tetapi muncul pem-

bengkakan pada kelenjar ludahnya serta nyeri saat membuka rahang. Penderita lain mengalami keluhan yang klasik mulai demam, lesu, penurunan nafsu makan dan pembengkakan kelenjar parotisnya baik satu maupun keduanya. Bagaimana gejala gondongan? Gejala awal penyakit gondongan berupa demam, rasa lesu, nyeri otot terutama daerah leher, nyeri kepala, nafsu makan menurun diikuti pembesaran cepat dari satu atau dua kelenjar leher (parotis), namun tidak semua

orang yang terinfeksi mengalami keluhan, bahkan sekitar 30-40% penderita tidak menunjukkan tanda-tanda sakit, tetapi tetap menjadi sumber penularan. Bagaimana perjalanan sakitnya? Virus penyebab gondongan dapat menyebar melalui kontak langsung dengan percikan ludah, bahan muntah dan urine. Virus masuk ke dalam tubuh melalui hidung atau mulut. Virus memperbanyak diri di saluran napas atas dan menyebar ke kelenjar getah bening lokal. Masa ini dikenal dengan masa inkubasi dan berlangsung selama 12-25 hari.

Kemudian virus akan menyebar ke seluruh tubuh dengan lokasi yang dituju adalah kelenjar parotis, ovarium (indung telur) pada wanita atau testis (buah zakar) pada laki-laki, pankreas, tiroid, ginjal, jantung atau otak. Pada tahap awal (1-2 hari) penderita gondongan mengalami gejala demam (suhu badan 38.540 derajat celcius), sakit kepala, nyeri otot, kehilangan nafsu makan, nyeri rahang bagian belakang saat mengunyah dan adakalanya disertai kaku rahang (sulit membuka mulut). Selanjutnya terjadi pembengkakan kelenjar di bawah telinga (parotis) yang diawali dengan pembengkakan salah satu sisi kelenjar kemudian kedua kelenjar mengalami pembengkakan. Pembengkakan biasanya berlangsung sekitar 3 hari kemudian berangsur mengempis. Kadang terjadi pembengkakan pada kelenjar di bawah rahang (submandibula) dan kelenjar di bawah lidah (sublingual). Pada anak laki-laki yang belum pubertas dapat juga muncul pembengkakan testis pada minggu pertama atau kedua. Testis yang terserang terasa nyeri, bengkak dan kulit sekitarnya berwarna merah. Jika menyerang indung telur pada wanita dapat ditemukan keluhan nyeri perut bagian bawah. Komplikasi dapat berupa infeksi otak (ensefalitis) dan ketulian namun jarang. Diagnosis penyakit gondongan/ parotitis ditegakkan berdasarkan gejala klinis dan tidak memerlukan pemeriksaan laboratorium, kecuali gejala klinis yang muncul tidak klasik untuk parotitis. Bagaimana pencegahannya, jika seorang ibu harus mendampingi sang anak yang kena gondongan? Penderita penyakit gondongan masih dapat menjadi sumber penularan sampai 10-14 hari setelah keluhan bengkak ditemu-

kan. Sebaiknya selama periode tersebut, penderita dianjurkan untuk tidak masuk sekolah atau melakukan aktivitas di keramaian. Untuk mencegah penularan gondongan dapat dilakukan dengan menjaga kebersihan, mulai dari cuci tangan, mencuci bersih peralatan makan atau mainan atau benda lain yang sering disentuh. Penderita gondongan sebaiknya juga diberikan masker untuk mengurangi dampak penularan akibat percikan air liurnya kepada orang lain di sekitar penderita. Penderita penyakit gondongan sebaiknya menghindarkan makanan atau minuman yang sifatnya asam supaya nyeri tidak bertambah parah, diberikan diet makanan cair dan lunak. Selain itu mengunyah permen karet cukup membantu dalam melemaskan pembengkakan yang telah terjadi, karena akan terjadi perangsangan terhadap pengeluaran air liur secara terus menerus. Hal ini akan sangat membantu mempercepat pengecilan kelenjar ludah (parotis) penderita. Bagaimana penanganannya? Parotitis merupakan penyakit yang dapat sembuh sendiri (self limiting disease). Pengobatan yang diberikan hanya untuk mengurangi gejalanya saja yaitu parasetamol untuk mengurangi rasa nyeri dan menurunkan demam. Pengobatan dengan anti virus sampai saat ini masih belum terbukti dapat bermanfaat, begitu pula dengan obat imunomodulator yang bertujuan untuk meningkatkan daya tahan tubuh. Pemberian nutrisi dan cairan yang adekuat dapat membantu mempercepat penyembuhan. Pencegahan adalah solusi terbaik supaya terhindar dari penyakit ini. Cara pencegahan terbaik untuk parotitis adalah dengan imunisasi MMR (mumps, measles, rubella) yang diberikan sebanyak 2 kali, yaitu pada usia 15 bulan dan kemudian usia 5-6 tahun. –Inten Indrawati


Kuliner

Edisi 854/ 22 - 28 JUNI 2015

12

Sehat dan Simpel Makanan yang ditampilkan kali ini, ­sangat simpel dalam pembuatannya. Namun, kelezatannya jangan diragukan lagi. Menu spesial ini kreasi Executive Chef Bali ­National Golf Resort, Hendra Mahena.

B

ali National Golf Resort adalah pusat olah raga golf bintang 5 di areal kawasan BTDC Nusa Dua. Bali National Golf juga menyediakan beberapa villa untuk ditempati para tamu di sekitar areal golf. Konsep makanan yang disa-

jikan di restoran Bali National Golf Resort adalah healthy food/ makanan yang sehat, makanan nasional, makanan internasional, dan makanan yang cepat saji dengan nama yang berbau golf. Salah satu makanan favorit di sini adalah The Pinky. Chef Hendra berbagi resep untuk pembaca Tokoh. Selamat mencoba.

Boogie-boogie Bahan: 3 iris 30 gr 30 gr 1 butir 30 gr 20 gr

: roti : bacon : daging ayam : telur ayam rebus diiris : tomat : selada

20 gr 30 gr 80 gr

: mayonnaise : salad campur : kentang goreng krispi

Cara membuat: - Panggang roti dan olesi dengan mayonnaise.

The Pingky Bahan: 120 gr 80 gr 5 gr 5 gr 5 gr 2 gr 2 gr 5 gr 5 gr 5 gr 50 gr 10 gr

: : : : : : : : : :

daging salmon fillet/iris kentang kecil daun rosemary daun thyme bawang bombay daun basil/daun salam jahe daun ketumbar garam merica hitam yang digerus : bok choi/sayur hijau : jamur segar

Cara membuat: - Panaskan air untuk mengukus salmon - Lumuri salmon dengan garam, me­ rica, daun thyme, daun basil, daun rosemary, bawang bombay, jahe, daun ketumbar, sampai rata. Kemudian kukus salmon sekitar 6 menit, lalu diangkat. - Tumis sayur hijau, jamur segar sampai matang - Goreng kentang untuk memberi warna yang menarik, kemudian tumis dengan campuran rempah daun rosemary, daun thyme, daun ketumbar, daun basil yang dicincang. - The Pinky siap dihidangkan.

Edisi 854/ 22 - 28 JUNI 2015

Blayag Mek Luh

Spesial Ayam Metoktok Blayag adalah makanan khas Karangasem. Bahan utamanya beras. Memasaknya sama dengan ketupat memerlukan waktu yang cukup lama sekitar 4 jam. Bedanya dengan ketupat, dari bentuk kulitnya. Kulit blayag dibuat memanjang dari janur. Blayag disajikan bersama sayur urab, kacang saur, ayam toktok, telur, tempe manis, serapah manis, dan gerang asem. Makanan khas Karangasem ini kini dapat Anda nikmati di areal stan kuliner Mek Luh di Pesta Kesenian Bali (PKB) Art Centre, Denpasar.

Hendra Mahena

- Kemudian panggang bacon, dan daging ayam. - Buat salad campuran untuk peneman sandwich ini. - Ambil roti yang sudah diolesi ma­ yon­naise, beri bacon, daging ayam, telur rebus, tomat, daun selada. Tutup kembali dengan roti. - Sajikan bersama salad campur dan kentang goreng krispi. - Siap dihidangkan.

Golfer’s Burger Bahan: 1 lembar : roti burger 150 gr : daging sapi cincang 10 gr : ketela rambat warna kuning atau merah 10 gr : alpokat 10 gr : bacon 10 gr : ham 1 butir : telur mata sapi 10 gr : tomat diiris 5 gr : bawang bombay diiris 5 gr : daun selada 30 gr : salad campur 80 gr : kentang goreng krispi

Cara membuat: - Panaskan pemanggangan, kemudian panggang roti burger yang sudah dibelah dua sampai berwarna kecokelatan. - Panggang daging sapi, bacon, dan ham, sampai matang. - Tomat, ketela rambat, dan bawang bombay juga dipanggang. - Tata daging sapi, bacon, ham, telur mata sapi, ketela rambat, daun selada, alpokat, irisan to­ mat, bawang bombay di dalam roti burger tadi. - Sajikan bersama salad campur dan kentang goreng krispi.

Mek Luh

P

emilik warung Mek Luh adalah Ni Wayan Sukerti. Ia sudah berpartisipasi puluhan tahun dalam ajang Pesta

Ayam Betutu Bahan: Cara membuat: 1 ekor : ayam, ambil bagian - Lumuri ayam dengan air jeruk dalam isi ayam nipis dan garam, diamkan se1 buah : jeruk nipis lama 10 menit, sisihkan. 1 sdt : garam - Panaskan minyak, tumis bumbu 100 gr : daun singkong rebus, halus hingga harum, tambah iris halus kan dengan serai yang sudah 2 batang : serai, iris bagian diiris. Aduk rata, angkat. Bagi yang putih bumbu tumis menjadi dua, satu 4 lembar : daun jeruk 3 sdm : minyak untuk menumis Daun pisang secukupnya Bumbu halus: 7 butir : bawang merah 5 siung : bawang putih 6 buah : cabai merah 4 buah : cabai rawit merah 1 sdt : terasi 2 cm : kunyit ½ sdm : ketumbar 2 cm : jahe, parut 2 cm : lengkuas, parut Garam dan gula merah secukupnya

-

- - -

Kesenian Bali. Perempuan usia 70 tahun ini awalnya membuka warung makan, karena memang hobi memasak. Ia membuka warung makan di depan RS Karangasem di Jalan Ngurah Rai. Dengan dibantu 38 karyawan, selain membuka warung, Sekerti juga melayani katering. Makanan yang dijual, bukan hanya makanan khas Karangasem, tapi juga makanan Indonesia. Uniknya, dia tak hanya melayani katering di areal Karangasem, malah sudah merambah ke Buleleng dan Denpasar. Khusus dalam ajang Pesta Kesenian Bali, ia menyajikan makanan khas Karangasem, yakni blayag, nasi jagung, nasi sela, plecing sanduran. Sebagai penemannya, ada es cendol dan es daluman. Blayag Mek Luh sangat spesial karena dagingnya ayam metoktok. Ayam panggang yang

Bahan: 1 kg : iga sapi, potong menurut selera 1 buah : bawang bombai, cincang kasar 3 ruas : jari jahe, dikeprok 4 sdm : saus tomat 6 sdm : saus sambal 3 sdm : saus tiram 1 sdt : lada bubuk 3 sdm : saus raja rasa 2 sdm : minyak wijen 650 ml : air 2 buah : cabe besar merah, iris serong 1 sdt : lada bubuk 2 sdm : air jeruk manis Cabe rawit secukupnya, cincang halus Margarin, gula, garam dan kaldu bubuk secukupnya

Cara Membuat: - Campur irisan buntut sapi dengan air jeruk nipis, lalu diamkan selama 5 menit, angkat dan cuci bersih. - Rebus iga sampai air mendidih, biarkan selama 5 menit lalu buang air sisa rebusan buntut sapi, tiriskan. - Siapkan panci presto, lalu panaskan panci presto, masukkan margarin, tumis irisan bawang bombai dan keprokkan jahe bolak-balik hingga harum. Masukkan iga yang sudah direbus bersama bahan-bahan lainnya, tutup panci presto, masak dengan api sedang hinga panci presto berbunyi, biarkan selama 5 menit lalu matikan kompor, diamkan hinga uap sampai habis lalu buka dan

Blayag campur

dan Minggu menurutnya paling ramai pembeli. “Kalau hari biasa, saya hanya menghabiskan 5 kilogram beras dan 350 blayag. Kalau Sabtu dan Minggu bisa sampai 700 dipukul-pukul dengan sambal blayag habis,” kata Sukerti. Karena super pedas. Rasanya sangat pas jam bukanya cukup lama, ia melakujika dipadukan dengan sayur urab kan dua kali pengiriman makanan. campuran paku, kacang panjang, Pagi hari pukul 6 sopir sudah siap dan toge. Apalagi, ada sate den- mengantar makanan dari rumahnya di Karangasem menuju Denpasar. Sore hari pukul 5 antaran makanan kedua sudah datang. Perempuan yang pernah dipercaya menjadi anggota DPRD Kabupaten Karangasem periode 1982 s.d. 1997 ini mengatakan, untuk memasak pepes, tum, sate, blayag, nasi, ia lakukan di Karangasem. Sementara, di Denpasar hanya merebus sayuran. Tujuannya, agar sayuran Blayag tidak basi. Begitu juga untuk bumbu, siang hari, ia hangatkan kembali gan bumbu serapahnya. Blayag agar tidak basi. Walaupun anak-anak Sukerti ini sangat klop, dan paling enak sebagai santapan makan siang. Stan tak ada satupun yang tertarik Mek Luh buka mulai pukul 9 pagi meneruskan usaha kateringnya itu, sampai 10 malam. Ia mengatakan, ia berharap ada satu karyawannya selama pameran PKB, hari Sabtu yang serius mau meneruskan usaha

Sop Buntut Sapi Pedas Sarwan

bagian campur dengan daun singkong dan daun jeruk, aduk rata. Sisanya lumurkan pada seluruh bagian luar ayam. Masukkan daun singkong yang telah dibumbui ke dalam rongga ayam. Bungkus ayam dengan daun pisang. Panaskan panci pengukus, kukus ayam selama 20 menit, angkat. Panggang ayam yang telah dikukus hingga matang, angkat. Siap dihidangkan dengan nasi putih. -Wirati Astiti

13

tiriskan. - Siapkan panci anti lengket, bakar iga dan olesi dengan sisa bumbu rebusan, bolak-balik hingga matang dan bumbu meresap, angkat dan siap disajikan dengan sisa bumbu prestoan dan ditemani dengan kentang goreng atau nasi.

yang dirintisnya sejak pensiun sebagai anggota DPRD ini. Ia sudah menganggap karyawannya seperti anak asuhnya. Dari 38 karyawan, 10 orang yang tinggal bersamanya di rumah. Khusus tukang masak dan meracik bumbu, ia sudah punya tenaga kepercayaan yang membantunya setiap hari. Ia selalu menekankan kepada karyawannya, “anggap katering dan warung ini milik kalian. Jadi kalian harus bersikap jujur dan bertanggungjawab dalam mengelolanya”. Sukerti sangat memberi kepercayaan kepada karyawannya. Ia yakin, dengan kepercayaan dan rasa kekeluargaan, mereka bisa bekerja dengan baik. Di sela waktu senggangnya, Sukerti masih aktif di beberapa organisasi sosial seperti WHDI, K3S, YKI . “Kalau tidak ada` kegiatan itu, saya pasti ada di PKB,” kata Sukerti. Walaupun usianya sudah lansia, Sukerti tetap terlihat enerjik. Ia hanya berprinsip, positif thinking agar tetap sehat. Menurutnya, dengan kesibukannya mengurus katering, juga membuatnya tetap bersemangat menjalani hidup. –Wirati Astiti

Oreg Tempe Pedas

Bahan 500 gr : tempe 1 sdm : air asam 2 lembar : daun salam 1 batang : serai memarkan 2 ruas : jari lengkuas memarkan 3sdm : gula merah jawa iris 150 ml : air 1 sdt : lada bubuk Garam dan kaldu bubuk secukupnya Minyak goreng secukupnya

lalu tiriskan. - Tumis bumbu halus sampai harum, masukkan daun salam, serai, lengkuas. Aduk hingga harum, lalu masukkan air, gula jawa dan bumbu lainnya hingga mendidih. Masukkan tempe goreng, aduk sampai bumbu meresap dan matang, lalu tiriskan. - Taburi dengan bawang, dan siap disajikan

Bumbu yang dihaluskan : 5 siung : bawang putih 3 buah : cabe merah besar 13 cabe : rawit Cara membuat : - Potong tempe menurut selera, goreng agak kering

Semur Daging Cabe Hijau Berlaku 15 s.d. 29 Juni 2015

Bahan: 750 gr : daging sapi, potong menurut selera 200 gr : cabe hijau besar 50 gr : cabe hijau rawit 600 ml : air 2 ruas : jari lengkuas, memarkan 3 lembar : daun salam 4 biji : cengkih 6 sdm : kecap manis Gula, garam, kaldu bubuk dan minyak secukupnya

Bumbu 9 buah 4 siung 1 sdt 1 buah 2 sdt 1 sdt 2 ruas

yang dihaluskan: : bawang merah : bawang putih : pala : tomat : lada kasar : ketumbar : jari jahe

Cara membuat: - Potong jadi 3 cabe hijau besar, sisihkan.

- Tumis bumbu halus bersama lengkuas dan daun salam hingga matang. Masukkan irisan daging sapi, aduk-aduk hingga berubah warna, tambahkan air dan sisa bumbu lainnya, lalu masukkan irisan cabe hijau besar dan kecap, aduk rata, masak dengan api kecil hingga semua bahan matang dan bumbu meresap dalam daging. - Siap disajikan dengan taburan bawang putih goreng di atasnya.


Kuliner

Edisi 854/ 22 - 28 JUNI 2015

12

Sehat dan Simpel Makanan yang ditampilkan kali ini, ­sangat simpel dalam pembuatannya. Namun, kelezatannya jangan diragukan lagi. Menu spesial ini kreasi Executive Chef Bali ­National Golf Resort, Hendra Mahena.

B

ali National Golf Resort adalah pusat olah raga golf bintang 5 di areal kawasan BTDC Nusa Dua. Bali National Golf juga menyediakan beberapa villa untuk ditempati para tamu di sekitar areal golf. Konsep makanan yang disa-

jikan di restoran Bali National Golf Resort adalah healthy food/ makanan yang sehat, makanan nasional, makanan internasional, dan makanan yang cepat saji dengan nama yang berbau golf. Salah satu makanan favorit di sini adalah The Pinky. Chef Hendra berbagi resep untuk pembaca Tokoh. Selamat mencoba.

Boogie-boogie Bahan: 3 iris 30 gr 30 gr 1 butir 30 gr 20 gr

: roti : bacon : daging ayam : telur ayam rebus diiris : tomat : selada

20 gr 30 gr 80 gr

: mayonnaise : salad campur : kentang goreng krispi

Cara membuat: - Panggang roti dan olesi dengan mayonnaise.

The Pingky Bahan: 120 gr 80 gr 5 gr 5 gr 5 gr 2 gr 2 gr 5 gr 5 gr 5 gr 50 gr 10 gr

: : : : : : : : : :

daging salmon fillet/iris kentang kecil daun rosemary daun thyme bawang bombay daun basil/daun salam jahe daun ketumbar garam merica hitam yang digerus : bok choi/sayur hijau : jamur segar

Cara membuat: - Panaskan air untuk mengukus salmon - Lumuri salmon dengan garam, me­ rica, daun thyme, daun basil, daun rosemary, bawang bombay, jahe, daun ketumbar, sampai rata. Kemudian kukus salmon sekitar 6 menit, lalu diangkat. - Tumis sayur hijau, jamur segar sampai matang - Goreng kentang untuk memberi warna yang menarik, kemudian tumis dengan campuran rempah daun rosemary, daun thyme, daun ketumbar, daun basil yang dicincang. - The Pinky siap dihidangkan.

Edisi 854/ 22 - 28 JUNI 2015

Blayag Mek Luh

Spesial Ayam Metoktok Blayag adalah makanan khas Karangasem. Bahan utamanya beras. Memasaknya sama dengan ketupat memerlukan waktu yang cukup lama sekitar 4 jam. Bedanya dengan ketupat, dari bentuk kulitnya. Kulit blayag dibuat memanjang dari janur. Blayag disajikan bersama sayur urab, kacang saur, ayam toktok, telur, tempe manis, serapah manis, dan gerang asem. Makanan khas Karangasem ini kini dapat Anda nikmati di areal stan kuliner Mek Luh di Pesta Kesenian Bali (PKB) Art Centre, Denpasar.

Hendra Mahena

- Kemudian panggang bacon, dan daging ayam. - Buat salad campuran untuk peneman sandwich ini. - Ambil roti yang sudah diolesi ma­ yon­naise, beri bacon, daging ayam, telur rebus, tomat, daun selada. Tutup kembali dengan roti. - Sajikan bersama salad campur dan kentang goreng krispi. - Siap dihidangkan.

Golfer’s Burger Bahan: 1 lembar : roti burger 150 gr : daging sapi cincang 10 gr : ketela rambat warna kuning atau merah 10 gr : alpokat 10 gr : bacon 10 gr : ham 1 butir : telur mata sapi 10 gr : tomat diiris 5 gr : bawang bombay diiris 5 gr : daun selada 30 gr : salad campur 80 gr : kentang goreng krispi

Cara membuat: - Panaskan pemanggangan, kemudian panggang roti burger yang sudah dibelah dua sampai berwarna kecokelatan. - Panggang daging sapi, bacon, dan ham, sampai matang. - Tomat, ketela rambat, dan bawang bombay juga dipanggang. - Tata daging sapi, bacon, ham, telur mata sapi, ketela rambat, daun selada, alpokat, irisan to­ mat, bawang bombay di dalam roti burger tadi. - Sajikan bersama salad campur dan kentang goreng krispi.

Mek Luh

P

emilik warung Mek Luh adalah Ni Wayan Sukerti. Ia sudah berpartisipasi puluhan tahun dalam ajang Pesta

Ayam Betutu Bahan: Cara membuat: 1 ekor : ayam, ambil bagian - Lumuri ayam dengan air jeruk dalam isi ayam nipis dan garam, diamkan se1 buah : jeruk nipis lama 10 menit, sisihkan. 1 sdt : garam - Panaskan minyak, tumis bumbu 100 gr : daun singkong rebus, halus hingga harum, tambah iris halus kan dengan serai yang sudah 2 batang : serai, iris bagian diiris. Aduk rata, angkat. Bagi yang putih bumbu tumis menjadi dua, satu 4 lembar : daun jeruk 3 sdm : minyak untuk menumis Daun pisang secukupnya Bumbu halus: 7 butir : bawang merah 5 siung : bawang putih 6 buah : cabai merah 4 buah : cabai rawit merah 1 sdt : terasi 2 cm : kunyit ½ sdm : ketumbar 2 cm : jahe, parut 2 cm : lengkuas, parut Garam dan gula merah secukupnya

-

- - -

Kesenian Bali. Perempuan usia 70 tahun ini awalnya membuka warung makan, karena memang hobi memasak. Ia membuka warung makan di depan RS Karangasem di Jalan Ngurah Rai. Dengan dibantu 38 karyawan, selain membuka warung, Sekerti juga melayani katering. Makanan yang dijual, bukan hanya makanan khas Karangasem, tapi juga makanan Indonesia. Uniknya, dia tak hanya melayani katering di areal Karangasem, malah sudah merambah ke Buleleng dan Denpasar. Khusus dalam ajang Pesta Kesenian Bali, ia menyajikan makanan khas Karangasem, yakni blayag, nasi jagung, nasi sela, plecing sanduran. Sebagai penemannya, ada es cendol dan es daluman. Blayag Mek Luh sangat spesial karena dagingnya ayam metoktok. Ayam panggang yang

Bahan: 1 kg : iga sapi, potong menurut selera 1 buah : bawang bombai, cincang kasar 3 ruas : jari jahe, dikeprok 4 sdm : saus tomat 6 sdm : saus sambal 3 sdm : saus tiram 1 sdt : lada bubuk 3 sdm : saus raja rasa 2 sdm : minyak wijen 650 ml : air 2 buah : cabe besar merah, iris serong 1 sdt : lada bubuk 2 sdm : air jeruk manis Cabe rawit secukupnya, cincang halus Margarin, gula, garam dan kaldu bubuk secukupnya

Cara Membuat: - Campur irisan buntut sapi dengan air jeruk nipis, lalu diamkan selama 5 menit, angkat dan cuci bersih. - Rebus iga sampai air mendidih, biarkan selama 5 menit lalu buang air sisa rebusan buntut sapi, tiriskan. - Siapkan panci presto, lalu panaskan panci presto, masukkan margarin, tumis irisan bawang bombai dan keprokkan jahe bolak-balik hingga harum. Masukkan iga yang sudah direbus bersama bahan-bahan lainnya, tutup panci presto, masak dengan api sedang hinga panci presto berbunyi, biarkan selama 5 menit lalu matikan kompor, diamkan hinga uap sampai habis lalu buka dan

Blayag campur

dan Minggu menurutnya paling ramai pembeli. “Kalau hari biasa, saya hanya menghabiskan 5 kilogram beras dan 350 blayag. Kalau Sabtu dan Minggu bisa sampai 700 dipukul-pukul dengan sambal blayag habis,” kata Sukerti. Karena super pedas. Rasanya sangat pas jam bukanya cukup lama, ia melakujika dipadukan dengan sayur urab kan dua kali pengiriman makanan. campuran paku, kacang panjang, Pagi hari pukul 6 sopir sudah siap dan toge. Apalagi, ada sate den- mengantar makanan dari rumahnya di Karangasem menuju Denpasar. Sore hari pukul 5 antaran makanan kedua sudah datang. Perempuan yang pernah dipercaya menjadi anggota DPRD Kabupaten Karangasem periode 1982 s.d. 1997 ini mengatakan, untuk memasak pepes, tum, sate, blayag, nasi, ia lakukan di Karangasem. Sementara, di Denpasar hanya merebus sayuran. Tujuannya, agar sayuran Blayag tidak basi. Begitu juga untuk bumbu, siang hari, ia hangatkan kembali gan bumbu serapahnya. Blayag agar tidak basi. Walaupun anak-anak Sukerti ini sangat klop, dan paling enak sebagai santapan makan siang. Stan tak ada satupun yang tertarik Mek Luh buka mulai pukul 9 pagi meneruskan usaha kateringnya itu, sampai 10 malam. Ia mengatakan, ia berharap ada satu karyawannya selama pameran PKB, hari Sabtu yang serius mau meneruskan usaha

Sop Buntut Sapi Pedas Sarwan

bagian campur dengan daun singkong dan daun jeruk, aduk rata. Sisanya lumurkan pada seluruh bagian luar ayam. Masukkan daun singkong yang telah dibumbui ke dalam rongga ayam. Bungkus ayam dengan daun pisang. Panaskan panci pengukus, kukus ayam selama 20 menit, angkat. Panggang ayam yang telah dikukus hingga matang, angkat. Siap dihidangkan dengan nasi putih. -Wirati Astiti

13

tiriskan. - Siapkan panci anti lengket, bakar iga dan olesi dengan sisa bumbu rebusan, bolak-balik hingga matang dan bumbu meresap, angkat dan siap disajikan dengan sisa bumbu prestoan dan ditemani dengan kentang goreng atau nasi.

yang dirintisnya sejak pensiun sebagai anggota DPRD ini. Ia sudah menganggap karyawannya seperti anak asuhnya. Dari 38 karyawan, 10 orang yang tinggal bersamanya di rumah. Khusus tukang masak dan meracik bumbu, ia sudah punya tenaga kepercayaan yang membantunya setiap hari. Ia selalu menekankan kepada karyawannya, “anggap katering dan warung ini milik kalian. Jadi kalian harus bersikap jujur dan bertanggungjawab dalam mengelolanya”. Sukerti sangat memberi kepercayaan kepada karyawannya. Ia yakin, dengan kepercayaan dan rasa kekeluargaan, mereka bisa bekerja dengan baik. Di sela waktu senggangnya, Sukerti masih aktif di beberapa organisasi sosial seperti WHDI, K3S, YKI . “Kalau tidak ada` kegiatan itu, saya pasti ada di PKB,” kata Sukerti. Walaupun usianya sudah lansia, Sukerti tetap terlihat enerjik. Ia hanya berprinsip, positif thinking agar tetap sehat. Menurutnya, dengan kesibukannya mengurus katering, juga membuatnya tetap bersemangat menjalani hidup. –Wirati Astiti

Oreg Tempe Pedas

Bahan 500 gr : tempe 1 sdm : air asam 2 lembar : daun salam 1 batang : serai memarkan 2 ruas : jari lengkuas memarkan 3sdm : gula merah jawa iris 150 ml : air 1 sdt : lada bubuk Garam dan kaldu bubuk secukupnya Minyak goreng secukupnya

lalu tiriskan. - Tumis bumbu halus sampai harum, masukkan daun salam, serai, lengkuas. Aduk hingga harum, lalu masukkan air, gula jawa dan bumbu lainnya hingga mendidih. Masukkan tempe goreng, aduk sampai bumbu meresap dan matang, lalu tiriskan. - Taburi dengan bawang, dan siap disajikan

Bumbu yang dihaluskan : 5 siung : bawang putih 3 buah : cabe merah besar 13 cabe : rawit Cara membuat : - Potong tempe menurut selera, goreng agak kering

Semur Daging Cabe Hijau Berlaku 15 s.d. 29 Juni 2015

Bahan: 750 gr : daging sapi, potong menurut selera 200 gr : cabe hijau besar 50 gr : cabe hijau rawit 600 ml : air 2 ruas : jari lengkuas, memarkan 3 lembar : daun salam 4 biji : cengkih 6 sdm : kecap manis Gula, garam, kaldu bubuk dan minyak secukupnya

Bumbu 9 buah 4 siung 1 sdt 1 buah 2 sdt 1 sdt 2 ruas

yang dihaluskan: : bawang merah : bawang putih : pala : tomat : lada kasar : ketumbar : jari jahe

Cara membuat: - Potong jadi 3 cabe hijau besar, sisihkan.

- Tumis bumbu halus bersama lengkuas dan daun salam hingga matang. Masukkan irisan daging sapi, aduk-aduk hingga berubah warna, tambahkan air dan sisa bumbu lainnya, lalu masukkan irisan cabe hijau besar dan kecap, aduk rata, masak dengan api kecil hingga semua bahan matang dan bumbu meresap dalam daging. - Siap disajikan dengan taburan bawang putih goreng di atasnya.


14

Jelita

Edisi 854/ 22 - 28 juni 2015

Gunakan Krim Malam dengan Tepat Wajah harus di rawat dengan baik agar tetap bersih, terlihat lembab, cerah dan segar. Namun, banyak diantara kita yang mengira menggunakan daycream atau pelembab setiap harinya sudah cukup untuk melembabkan serta merawat wajah. Selain itu, banyak pula yang belum mengetahui atau karena alasan kesibukan cenderung mengabaikan kegunaan night cream atau krim malam untuk wajah.

P

adahal, menurut Kompyang Pariadnyani pemilik Adibi Salon & Spa di Denpasar, dengan rajin memakai krim malam, wajah bukan hanya memperoleh nutrisi yang diserap maksimal saat tubuh beristirahat, juga berguna mengelupaskan sel - sel kulit mati dan menjadikan tekstur kulit halus. Bahan - bahan yang sering terkandung dalam krim malam umumnya terdiri dari asam vitamin A, Alpha Hydroxyl Acid (AHA) juga vitamin A, B, C, D, serta E dengan kegunaannya masing-masing. Vitamin A yang berguna mengatasi flek serta anti jerawat. Vitamin B mengandung antioksidan yang menjaga kekebalan tubuh, merangsang tumbuhnya sel, melindungi sel, dan sebagai anti radang. Vitamin C untuk mencerahkan kulit juga mengatasi masalah kulit kusam. Sedangkan, vitamin E dengan fungsi antioksidan yang mengurangi tandatanda penuaan. Proses pengelupasan kulit yang aktif umumnya terjadi sekitar pukul 23.00 hingga - 04.00. Meskipun proses pengelupasan tersebut berlangsung alami, tapi untuk membantu memaksimalkan proses tersebut diperlukan krim malam yang mengandung nutrisi dan bahan lain yang berguna untuk kulit. “Perawatan kecantikan kulit ini akan lebih baik jika dilakukan dalam kondisi rileks dan bebas stres, seperti di malam hari. Sehingga, nutrisi pun akan lebih baik terserap ke dalam kulit,” ujar Kompyang . Sebaiknya katanya kita selalau ingat memakai krim malam. “Sebab pada malam hari kulit cenderung mudah menyerap berbagai nutrisi, dibandingkan pada siang hari. Selain dapat menyehatkan juga memperbaharui sel-sel dan melindungi kerusakan kulit lebih lanjut,” katanya kembali menekankan untuk tidak mengabaikan krim malam ini. Tidak lupa juga diingatkan untuk memilih krim malam tanpa aroma dan yang sesuai jenis kulit. Sebab, tidak semua krim malam melakukan pekerjaan dengan baik jika salah memilih. Bagaimana cara memilih krim malam yang cocok ? Kompyang menerangkan bahwa ada beberapa faktor yang perlu diperhatikan sebelum memakai krim malam, seperti jenis kulit, umur serta perawatan yang dibutuhkan entah itu untuk mengurangi keriput, noda bekas jerawat, ataukah kerutan. “Jangan lupa saat membeli perhatikan pula dengan baik kandungan yang ada di dalamnya,” tandasnya. Dikatakannya setiap usia atau pada usia tertentu memerlukan krim malam dengan kandungan yang berbeda. Seperti untuk mereka yang berusia 20-an, sebaiknya memilih produk krim malam dengan kandungan bahan yang alami dan bukan yang berat. Mulai usia 30-an, bahan-bahannya dapat dipilih yang aktif disertai antioksidan lainnya. Sedangkan mereka yang usianya 40-an, pilih yang ada kandunganektrak kedelai juga vitaminnya. Begitu pula untuk kalangan yang berusia 50-an hingga 60-an, hendaknya dapat dipilih krim malam yang dapat memberikan ekstra nutrisi sehingga menjadikan wajah sehat sepanjang hari. Selanjutnya pemilihan krim malam hendaknya dise-

suaikan pula dengan wajah. Apakah waawat, warna kulit atau cenderung penuaan dini. kulit wajah yang cenderung berjerawat,

permasalah kulit jahnya berjertidak merata terlihat ada Bagi pemilik

Tips Memakai Krim Malam lSebelum diolesi krim malam, Kompyang mengingatkan untuk memastikan wajah sudah dibersihkan dengan susu pembersih sesuai jenis kulit. Hal ini untuk membantu krim malam dapat meresap secara maksimal lMengoleskan krim malam, dilakukan perlahan tipis-tipis saja dengan gerakan melingkar menggunakan ujung jari. Hindari wilayah sekitar mata dan bibir. l Oleskan krim malam dengan rutin dan lakukan setengah jam sebelum tidur lAkan lebih baik jika dilengkapi dengan krim khusus untuk leher dan di bawah mata. lKeesokan harinya, jangan lupa sisa-sisa krim malam dibersihkan agar wajah bersih, dan tidak bercampur dengan produk perawatan lain yang akan digunakan pada pagi hari seperti sunscreen atau make up.

maka acne lotion atau lotion antijerawat, yang merupakan gabungan kortikosteroid dan antibiotik dapat digunakan. Untuk mengatasi penuaan dini, Kompyang mengtakan dapat memakai krim malam yang menganung lightening cream atau krim pencerah kulit yang aturannya sudah ditentukan. Begitu pula dengan jenis kulit setiap orang. Dipilih krim malam yang kandungan di dalamnya disesuaikan, baik itu untuk jenis kulit kombinasi, kering, berminyak ataukah sensitif . Untuk kulit berminyak misalnya, hendaknya dipilih krim berbentuk lotion karena lotion mengandung lebih sedikit minyak. Sementara bagi kulit wajah yang tercatat sangat berminyak, dapat menggunakan krim malam berbentuk gel, yang kandungan minyaknya jauh lebih sedikit daripada lotion dan krim. Sebaliknya untuk yang memiliki kulit kering, gunakan krim karena kandungan minyaknya yang banyak sehingga dapat melembabkan kulit. Sedangkan yang kulitnyan sensitif formula yang terkadung di dalamnya diupayakan yang ringan. – Sri Ardhini

Edisi 854/ 22 - 28 juni 2015

11

Cegah Gondongan dengan Imunisasi MMR Seorang anak perempuan kelas 4 SD bersama orangtuanya datang ke tempat praktik dr. AA Ngr. Gd. Dhar­ mayuda, M.Kes., di Jalan Turi No. 5 Kesiman, Denpasar. Bocah tersebut mengeluhkan sakit saat membuka mu­ lut. Keluhan tersebut dirasakan se­ menjak pagi baru bangun tidur dengan diawali demam sehari sebelumnya. Bagian rahang tepat di depan telinga kirinya membengkak. nya mereka masih memiliki atau dilindungi oleh antibodi yang baik. Seseorang yang pernah menderita penyakit gondongan, maka dia akan memiliki kekebalan seumur hidupnya.

AA Ngr. Gd. Dharmayuda, M.Kes.

“K

atanya, teman sekelasnya pernah mengalami keluhan yang sama sekitar dua minggu sebelumnya. Kejadian seperti ini sangat sering dialami anak-anak yang dikenal dengan penyakit gondongan. Tapi masih banyak masyarakat yang belum cermat mengenali penyakit ini,” ucap AA Ngr. Gd. Dharmayuda, M.Kes. Kepala Puskesmas I Denpasar Selatan ini menjelaskan, penyakit gondongan (Mumps atau Parotitis) adalah suatu penyakit menular dimana terjadi peradangan dan pembengkakan kelenjar ludah akibat infeksi virus (Paramyxovirus). Kelenjar ludah manusia ada dua, terletak di rongga mulut bagian belakang dekat rahang, sebelah kiri dan kanan. Peradangan dapat terjadi pada salah satu atau kedua kelenjar ludah. Penyakit gondongan tersebar di seluruh dunia dan dapat timbul secara endemik atau epidemik. Beberapa anggapan masyarakat menyeruak terkait penyakit gondongan. Karena itu, dr. Dharmayuda yang juga Wakil Sekretaris IDI Cabang Denpasar ini mencoba memberikan penjelasan dan informasi tambahan terkait tentang gondongan. Mitos: Gondongan hanya menyerang satu kali saja, dan itu akan membuat kekebalan seumur hidup Fakta: Penyakit gondongan sangat jarang ditemukan pada anak yang berumur kurang dari 2 tahun, hal tersebut karena umum-

Mitos: Gondongan cepat menular dan tidak boleh kena angin Fakta: Penyakit gondongan disebabkan oleh virus yang menular lewat percikan ludah penderita yang bersin atau batuk. Karena sangat mudah menular, maka penyakit gondongan/parotitis dapat menyebar dengan cepat, terutama di lingkungan padat atau di tempat-tempat seperti sekolah, taman bermain, dan lain-lain. Paparan angin bukan faktor utama dalam penularan penyakit gondongan, melainkan penderita yang sedang mengalami demam akan semakin mengalami penurunan daya tahan tubuh bila terpapar angin. Oleh karena itu, penderita gondongan disarankan untuk beristirahat di rumah dengan tujuan untuk meningkatkan daya tahan tubuh serta mengurangi risiko penularan. Mitos: Gondongan lebih sering menyerang usia anak-anak Fakta: Penyakit ini banyak menyerang anakanak yang berumur 5-10 tahun. Anak-anak dibawah 2 tahun jarang terserang penyakit ini, karena kekebalan akan penyakit ini bisa menurun dari ibu kepada anak sampai usia antara 12-15 bulan. Itupun apabila ibu yang bersangkutan pernah mengalami sakit gondongan atau pernah mendapatkan imunisasinya. Mitos: Keluhan yang dirasakan bisa berbeda-beda pada tiap anak yang kena gondongan Fakta: Tidak semua orang yang terinfeksi mengalami keluhan, bahkan sekitar 30-40% penderita tidak menunjukkan tanda-tanda sakit, tetapi tetap menjadi sumber penularan. Keluhan yang dirasakan anak-anak memang bervariasi tergantung daya tahan tubuh anak tersebut. Terkadang ada yang tidak mengalami demam, tetapi muncul pem-

bengkakan pada kelenjar ludahnya serta nyeri saat membuka rahang. Penderita lain mengalami keluhan yang klasik mulai demam, lesu, penurunan nafsu makan dan pembengkakan kelenjar parotisnya baik satu maupun keduanya. Bagaimana gejala gondongan? Gejala awal penyakit gondongan berupa demam, rasa lesu, nyeri otot terutama daerah leher, nyeri kepala, nafsu makan menurun diikuti pembesaran cepat dari satu atau dua kelenjar leher (parotis), namun tidak semua

orang yang terinfeksi mengalami keluhan, bahkan sekitar 30-40% penderita tidak menunjukkan tanda-tanda sakit, tetapi tetap menjadi sumber penularan. Bagaimana perjalanan sakitnya? Virus penyebab gondongan dapat menyebar melalui kontak langsung dengan percikan ludah, bahan muntah dan urine. Virus masuk ke dalam tubuh melalui hidung atau mulut. Virus memperbanyak diri di saluran napas atas dan menyebar ke kelenjar getah bening lokal. Masa ini dikenal dengan masa inkubasi dan berlangsung selama 12-25 hari.

Kemudian virus akan menyebar ke seluruh tubuh dengan lokasi yang dituju adalah kelenjar parotis, ovarium (indung telur) pada wanita atau testis (buah zakar) pada laki-laki, pankreas, tiroid, ginjal, jantung atau otak. Pada tahap awal (1-2 hari) penderita gondongan mengalami gejala demam (suhu badan 38.540 derajat celcius), sakit kepala, nyeri otot, kehilangan nafsu makan, nyeri rahang bagian belakang saat mengunyah dan adakalanya disertai kaku rahang (sulit membuka mulut). Selanjutnya terjadi pembengkakan kelenjar di bawah telinga (parotis) yang diawali dengan pembengkakan salah satu sisi kelenjar kemudian kedua kelenjar mengalami pembengkakan. Pembengkakan biasanya berlangsung sekitar 3 hari kemudian berangsur mengempis. Kadang terjadi pembengkakan pada kelenjar di bawah rahang (submandibula) dan kelenjar di bawah lidah (sublingual). Pada anak laki-laki yang belum pubertas dapat juga muncul pembengkakan testis pada minggu pertama atau kedua. Testis yang terserang terasa nyeri, bengkak dan kulit sekitarnya berwarna merah. Jika menyerang indung telur pada wanita dapat ditemukan keluhan nyeri perut bagian bawah. Komplikasi dapat berupa infeksi otak (ensefalitis) dan ketulian namun jarang. Diagnosis penyakit gondongan/ parotitis ditegakkan berdasarkan gejala klinis dan tidak memerlukan pemeriksaan laboratorium, kecuali gejala klinis yang muncul tidak klasik untuk parotitis. Bagaimana pencegahannya, jika seorang ibu harus mendampingi sang anak yang kena gondongan? Penderita penyakit gondongan masih dapat menjadi sumber penularan sampai 10-14 hari setelah keluhan bengkak ditemu-

kan. Sebaiknya selama periode tersebut, penderita dianjurkan untuk tidak masuk sekolah atau melakukan aktivitas di keramaian. Untuk mencegah penularan gondongan dapat dilakukan dengan menjaga kebersihan, mulai dari cuci tangan, mencuci bersih peralatan makan atau mainan atau benda lain yang sering disentuh. Penderita gondongan sebaiknya juga diberikan masker untuk mengurangi dampak penularan akibat percikan air liurnya kepada orang lain di sekitar penderita. Penderita penyakit gondongan sebaiknya menghindarkan makanan atau minuman yang sifatnya asam supaya nyeri tidak bertambah parah, diberikan diet makanan cair dan lunak. Selain itu mengunyah permen karet cukup membantu dalam melemaskan pembengkakan yang telah terjadi, karena akan terjadi perangsangan terhadap pengeluaran air liur secara terus menerus. Hal ini akan sangat membantu mempercepat pengecilan kelenjar ludah (parotis) penderita. Bagaimana penanganannya? Parotitis merupakan penyakit yang dapat sembuh sendiri (self limiting disease). Pengobatan yang diberikan hanya untuk mengurangi gejalanya saja yaitu parasetamol untuk mengurangi rasa nyeri dan menurunkan demam. Pengobatan dengan anti virus sampai saat ini masih belum terbukti dapat bermanfaat, begitu pula dengan obat imunomodulator yang bertujuan untuk meningkatkan daya tahan tubuh. Pemberian nutrisi dan cairan yang adekuat dapat membantu mempercepat penyembuhan. Pencegahan adalah solusi terbaik supaya terhindar dari penyakit ini. Cara pencegahan terbaik untuk parotitis adalah dengan imunisasi MMR (mumps, measles, rubella) yang diberikan sebanyak 2 kali, yaitu pada usia 15 bulan dan kemudian usia 5-6 tahun. –Inten Indrawati


10

Bugar

Edisi 854/ 22 - 28 JUNI 2015

Mencegah Jauh lebih Baik daripada Mengobati

Sebagai negara berkembang selain dihadapkan dengan berbagai penyakit infeksi, akhir-akhir ini negara kita juga tengah berjuang dengan berbagai penyakit bukan infeksi yang banyak disebabkan oleh pola hidup kita, antara lain penyakit kencing manis, penyakit tekanan darah tinggi, penyakit jantung koroner, stroke, kanker, dsb. Layanan kesehatan yang berkualitas tinggi paling sedikit harus mencakup dua elemen yang fundamental yaitu pengobat­ an yang tepat untuk penyakit yang sedang dihadapi dan yang jauh lebih penting adalah pencegahan penyakit untuk memperlambat penurunan kesehatan kita di masa mendatang. Berbagai cara untuk mencegah terjadinya penyakit antara lain dengan pola hidup sehat, imunisasi yang telah ada untuk beberapa jenis penyakit, screening (penapisan) untuk beberapa penyakit tertentu, dan pemeriksaan kesehatan berkala (medical check up). Pada umumnya pemeriksaan ke­sehatan berkala meliputi riwayat penyakit sebelumnya, pemeriksaan fisik secara keseluruhan oleh dokter, tes fungsi jantung (antara lain EKG/rekam jantung, treadmill) , tes fungsi dan kondisi paru (spirometri, rontgen dada), tes fungsi hati, tes fungsi ginjal, tes penglihatan dan pendengaran, tes fungsi thyroid, pemeriksaan gula darah, peme­ riksaan profil lemak darah, asam urat, pemeriksaan darah lengkap, urine dan feces, screening untuk infeksi hepatitis dan berbagai pemeriksaan penunjang lainnya. Berikut ini akan dibahas bererapa penyakit/kondisi khusus yang perlu dicegah karena merupakan masalah kesehatan yang serius di banyak negara : Penyakit Jantung Dengan meningkatnya kondisi perekonomian di negara tercinta, jumlah penderita penyakit jantung juga terus meningkat jumlahnya karena pola hidup yang tidak sehat. Diharapkan dokter selalu memberikan nasihat kepada setiap pasien di atas usia 35 tahun untuk mencegah terjadinya serangan jantung dan stroke. Hal ini terutama ditujukan kepada pasien dengan obesitas, kurang aktivitas fisik, dan pasien yang memiliki faktor risiko terkena penyakit jantung. Untuk pasien dengan risiko penyakit jantung sedang sampai tinggi, 3 pengobat­ an berikut ini telah terbukti dapat menu-

Penulis: Tim Edukasi Kesehatan Siloam Hospitals Bali runkan resiko terjadinya penyakit jantung : antihipertensi untuk pasien dengan tekanan darah tinggi, obat golongan statin dan aspirin dosis rendah. Edukasi pola hidup sehat sangat pen­ ting diberikan kepada semua pasien untuk menjaga berat badan ideal dan olah raga. Konseling oleh dokter untuk berhenti merokok dapat menurunkan risiko penyakit jantung. Pemeriksaan rekam jantung (EKG) secara rutin tidak direkomendasikan untuk pasien tanpa gejala dan resiko penyakit jantung yang rendah. Hipertensi / Tekanan darah tinggi Hipertensi menyebabkan 35% serangan jantung dan stroke, 49% penyakit gagal jantung, dan 24% kematian dini. Tekanan darah tinggi didiagnosis bila tekanan darah sistolik ≥140 mmHg atau tekanan darah diastolik ≥90 mmHg pada 2 atau lebih pemeriksaan selama beberapa minggu. Telah terbukti bahwa penanganan tekanan darah tinggi dapat menurunkan angka kejadian penyakit jantung dan pembuluh darah. Disarankan untuk pasien dengan tekanan darah yang normal untuk melakukan pemeriksaan tekanan darah setidaknya setiap 2 tahun sekali, sedangkan untuk pasien dengan hipertensi derajat 1 (ringan) melakukan pemeriksaan tekanan darah setahun sekali. Diabetes Mellitus (Kencing Manis) Kencing manis dalam jangka panjang dapat menyebabkan berbagai macam komplikasi antara lain stroke, serangan jantung, masalah ginjal, penurunan peng­ lihatan, impotensi, dsb. Hal ini terutama bila disertai dengan penyakit tekanan darah tinggi. Rekomendasi dari A.D.A menyebutkan perlunya dilakukan screening untuk kencing manis ini sejak usia 45 tahun, untuk pasien dengan kelebihan berat badanobesitas, serta untuk pasien-pasien yang memiliki faktor risiko kencing manis.

Aneurisma Aorta Abdomen Walaupun kejadian pecahnya pembuluh darah besar di perut ini jarang terjadi, tetapi mengingat dampaknya yang hampir pasti fatal, maka direkomendasikan untuk dilakukan pemeriksaan ultrasonografi di daerah perut sekali saja - antara usia 65-75 tahun untuk pasien dengan riwayat merokok.

Depresi Depresi dalam jangka panjang sangat mempengaruhi performa kerja, keharmo­ nisan rumah tangga dan hubungan sosial dengan rangkaian akibat yang sangat panjang. Pertanyaan berikut ini dapat menjadi screening awal untuk depresi : 1. Dalam 2 minggu terakhir, apakah Anda merasa lemah, lesu, depresi, tanpa ha­ rapan? 2. Dalam 2 minggu terakhir, apakah semangat Anda menurun/menghilang untuk melakukan aktivitas sehari-hari? Bila jawaban dari pertanyaan di atas adalah “ya” maka Anda perlu berkonsultasi lebih lanjut untuk masalah depresi. Imunisasi Imunisasi merupakan salah satu ujung tombak dalam pencegahan terjadinya beberapa jenis penyakit. Perlu diketahui bahwa imunisasi tidak hanya perlu diberikan pada bayi dan anak-anak, melainkan juga penting diberikan kepada remaja dan orang dewasa. Beberapa penyakit yang dapat dicegah dengan pemberian vaksin untuk orang dewasa antara lain : influenza, tetanus, diphteri, pertusis (batuk rejan), cacar air, herpes zoster, HPV (virus ini dihubungkan dengan terjadinya kanker mulut rahim), campak, campak Jerman, gondong, pneumococcal, hepatitis A dan B.

Screening Kanker Beberapa jenis kanker yang merupakan penyebab terbanyak angka kematian antara lain : kanker paru, usus besar, payudara, mulut rahim (cervix) dan prostat. Berbagai macam screening (penapisan) perlu dilakukan untuk mendiagnosis berbagai jenis kanker tersebut secara dini dan kemudian diberikan penanganan sedini mungkin sehingga dapat menurunkan angka kematian karena kanker. Kanker Payudara Disarankan oleh USPSTF untuk melakukan screening kanker payudara setiap 2 tahun dengan pemeriksaan mammografi di atas usia 40 tahun, di mana terbukti menurunkan secara bermakna angka kematian karena kanker tersebut. Penting pula dilakukan pemeriksaan payudara oleh dokter secara berkala. Pemeriksaan payudara mandiri (breast

self examination) dapat dipelajari secara mandiri dari internet, walaupun berdasarkan penelitian tidak terbukti bermakna untuk menurunkan angka kematian karena kanker payudara.

Kanker Cervix (Mulut Rahim) Screening kanker mulut rahim disaran­ kan sejak usia 21 tahun kepada wanita yang pernah berhubungan intim sebelumnya. Screening ini dilakukan dengan peme­ riksaan sitologi (Pap smear), dan untuk wanita di atas usia 30 tahun dapat pula dikombinasikan dengan tes untuk virus HPV. Screening ini direkomendasikan oleh USPSTF untuk dilakukan setiap 3 tahun sekali untuk pasien dengan hasil normal pada screening sebelumnya. Wanita yang telah diangkat rahimnya secara keseluruhan dan wanita di atas usia 65 tahun dengan beberapa kali hasil pap smear yang normal, tidak disarankan lagi untuk melakukan pap smear mengingat jenis kanker ini memerlukan waktu yang sangat lama untuk berkembang. Kanker Colorectal (Usus Besar) Penting digali adanya riwayat keluarga yang menderita kanker usus besar. Screening secara berkala dimulai sejak usia 50 tahun untuk pasien dengan risiko sedang dan dimulai lebih dini untuk pasien dengan risiko tinggi. Untuk pasien selain dengan risiko tinggi dapat dilakukan pemeriksaan feces darah samar (fecal occult blood test), flexible sigmoidoscopy ataupun keduanya. Kanker Paru Penurunan risiko terjadinya kanker paru perlu difokuskan terhadap para pe­ rokok sedang-berat. Menghindari maupun berhenti merokok dapat menurunkan risiko kejadian dan kematian akibat kanker paru sampai 90%. CT scan paru dosis rendah setiap tahun dapat mendeteksi dan menurunkan angka kematian akibat kanker paru sebanyak 20%.

Kanker Prostat Setelah berdiskusi dengan dokter, disarankan untuk melakukan screening kanker prostat minimal sekali saja (dan selanjutnya dapat dilakukan 4 tahun sekali) pada laki-laki berusia antara 50-69 tahun. Screening yang dilakukan adalah dengan pemeriksaan laboratorium darah : PSA (Prostate Specific Antigen).

Style

Pesona Gaya Modern M Angeliqa Wu Fashion ­Design Course menggelar “Graduation Show 2015”. Acara yang bertema ­“Revival” ini, mempersembahkan outfit hasil karya dari siswasiswanya.

ereka mengangkat ideide menarik dari tema Revival, yang berarti kebangkitan kembali. Entah itu kebangkitan budaya atau mode di masa lampau yang dikembangkan dan dibuat menjadi baru dan modern. Menjadi desainer ternama yang karyanya selalu dibincangkan banyak orang memang tidak mudah. Ada beberapa tahapan yang harus dilalui. Salah satunya bisa menghasilkan rancangan penuh karakter. Seperti fashion show dengan total look yang diperagakan oleh para model beberapa waktu lalu. Hal ini menurut Angelica Wu agar siswa selanjutnya siap terjun menjadi desainer andal

Edisi 854/ 22 - 28 JUNI 2015

dan dapat mempersiapkan fashion shownya sendiri. Berikut desain indah dari 3 murid terbaik dan murid favorit setelah mengenyam pendidikan. Mereka adalah Natasya K. Dharani mengusung tema “ Amor”, Toly Sukma dengan tema “Calonarang” , Lenny menampilkan tema “Glory of Secret Garden” serta Niti Swari menghadirkan tema “The Hanging Garden”. - Sri Ardhini

15


16

Edukasi

Edisi 854/ 22 - 28 juni 2015

Dara

SMK Farmasi dan SMK Kesehatan Bintang Persada

Bertabur Prestasi di Akhir Tahun Pelajaran Menutup tahun pelajaran 2014/2015 ini, SMK Farmasi dan SMK Kesehatan Bintang Persada kembali mengukir prestasi gemilang. SMK yang menyandang Akreditasi “A” ini berhasil mengantongi segudang prestasi yang membanggakan di bidang akademik.

Persada Tabanan, atas nama Yosinta Sasmita, juga berhasil meraih juara OSTN di Provinsi Bali, kemudian menjadi duta Bali dalam OSTN 2015 di Yogyakarta. Tahun ini siswa-siswi SMK Farmasi Bintang Persada kembali meraih kesuksesan. Dalam penyisihan OSTN Tingkat Kota Denpasar. Sekolah yang berlokasi di Jalan Gatot Subroto Barat No. 466 A, Denpasar ini berhasil menempatkan 2 (dua) orang siswanya yaitu Wiwik Pratiwi dalam bidang Kimia Terapan serta Janerama Eka

P

restasi prestisius yang diraih adalah keberhasilan siswa-siswi SMK Farmasi dan Kesehatan Bintang Persada dalam mempertahankan tradisi juara dalam Olimpiade Sains Terapan Nasional. Siswa SMK Farmasi Bintang Persada atas nama Priyasana yang meraih juara I dalam Olimpiade Sains Terapan Nasional Tingkat Provinsi, berhasil meraih juara harapan 2 dalam bidang Matematika Terapan sebagai wakil Bali dalam Olimpiade Sains Terapan Nasional di Yogyakarta yang diadakan pada 18-25 Mei 2015. Menurut Ketua Yayasan I Gusti Made Aryasa, S.P.,didampingi Kepala Sekolah Ida Ayu Ary Pradnyawati, S.Pd., semua itu dicapai karena para siswa menempa diri dengan belajar keras di bawah bimbingan guru pembinanya. Demikian juga dengan salah satu siswa SMK Bintang

Curik Bali atau burung Jalak Bali (Leucopsar Rohtscildi) merupakan burung langka yang habitat terakhirnya berada di Taman Nasional Bali Barat (TNBB). Burung yang menjadi maskot Bali ini statusnya dilindungi Undang-Undang dan mendiami sebagian kecil dari wilayah TNBB yakni di Semenanjung Prapat Agung tepatnya di Teluk Brumbun dan Teluk Kelor.

D

ari 160 jenis burung yang ada di TNBB, Curik Bali menjadi satu-satunya jenis burung yang menjadi perhatian. Populasi Curik Bali diluar penangkaran dari tahun ke tahun terus menurun. Sejak dilepasliarkan dari tahun 1998 tercatat sudah 214 ekor. Tetapi sejak tahun 2013 hanya tersisa sekitar 32 ekor, sedangkan yang masih ada di penangkaran sebanyak 78 ekor. Lokasi pelepasliaran pada tahun ini sudah mulai menyebar tidak seperti dahulu hanya dipusatkan di sekitar Teluk Brumbun. Keberadaan Curik Bali inilah yang secara tidak langsung menjadikan kawasan yang sejak jaman kerajaan Bali dianggap hutan keramat, ini menjadi Kawasan Taman Nasional . Pengelolaan TNBB ditujukan

I Putu Priyasana (kiri) peraih Juara Harapan 2 OSTN Tingkat Nasional Bidang Matematika dan Yosinta ­Sasmita (kanan) Wakil Bali dalam OSTN Nasional 2015 Bidang Biologi

Putra dalam bidang Matematika Teknologi. Keduanya berhak untuk mewakili Kota Denpasar dalam Olimpiade Sains Terapan Nasional ke Tingkat Provinsi nantinya.

Prestasi Gemilang Seakan tidak mau kalah dengan saudaranya, siswa-siswi SMK Bintang Persada Tabanan pun menempatkan 3 (tiga) wakilnya sekaligus yakni Ida Ayu Wiwin Apsari dalam bidang Matematika Non Teknologi, Ni Kadek Dwi Satya Ariyani dalam bidang Fisika, serta Siti Sholikatun dalam Bidang Biologi Terapan. Ketiga siswa tersebut akan mewakili Tabanan dalam Olimpiade Sains Terapan Nasional di Tingkat Provinsi. Dalam sejarah keikutsertaannya dalam OSTN, siswa-siswi SMK Farmasi dan SMK Kesehatan Bintang Persada telah terbukti berhasil mencatatkan eksistensinya dalam kancah kompetisi akademik paling prestisius antar SMK, yang diikuti 33 SMK dari seluruh Indonesia. Tercatat pula siswi atas nama Beatrice juga pernah unggul sebagai juara Harapan 1 dalam Bidang Matematika pada OSTN Nasional 2013. Demikian pula siswa SMK Kesehatan Bintang Persada Tabanan atas nama Mas Adi Wiratni sebelumnya mewakili Bali dalam OSTN bidang Biologi Terapan di Tingkat Nasional Tahun 2013. Dalam even yang tak kalah prestisius, Tim Kewirausahaan SMK Famasi Bintang Persada yang tergabung dalam Pharbiska Student Company (Pharbiska SC) berhasil meraih dua penghargaan dalam ajang Lomba Kewirausahaan yang dilaksanakan oleh Prestasi Junior Indonesia (PJI).

Farmasi Bintang Persada berada dalam posisi 4 besar nilai rata-rata tertinggi se-Bali. Yayasan Bintang Persada telah berhasil membuat sekolah-sekolah yang berdiri di bawah naungannya menjadi sekolah-sekolah dengan prestasi terbaik. Bahkan, SMK Farmasi Bintang Persada dapat dikatakan sebagai SMK dengan Prestasi terbaik saat ini, mampu bersaing dengan SMK dan SMA favorit di Bali hingga SMK/SMA favorit di Tingkat Nasional. -ard

SMK Farmasi Bintang Persada

Jalan Gatot Subroto Barat No. 466 A Denpasar. Telepon (0361) 8443866;

SMK Kesehatan Bintang Persada

Jalan By Pass Ir.Soekarno No.11X Tabanan. Telepon (0361) 819070.

Burung yang dilindungi di TNBB Curik Bali

hingga Gilimanuk. Selain penangkaran di dalam kawasan TNBB, masyarakat penyanding kawasan juga melakukan penangkaran, seperti kelompok Manuk Jegeg di Desa Sumberkelampok, Buleleng dan Gilimanuk, Jembrana. Sejak dinyatakan menjadi hewan yang terancam punah, spesies endemik yang habitatnya hanya dapat ditemui di Bali Barat ini sejatinya pada tahun 2012 pernah ditemui hingga di Karangsewu, Gilimanuk. Burung itu ditemui di sekitar hutan mangrove dan tidak menggunakan gelang sebagai penanda hasil pelepasliaran. Artinya burung itu merupakan hasil pengembangbiakan di habitat liarnya. Tetapi kondisi itu hanya bertahan tidak lebih dari sebulan, dan burung itu sudah menghilang lagi. Disinyalir habitatnya yang su-

Karena Jengah Tampilkan “Manik Pancasona” di PKB

Siswa-siswi SMK Farmasi Bintang Persada yang meraih 2 penghargaan dalam kompetisi Youth Enterpreneurship Literacy Regional Bali 2015

Dengan mengusung produk Etno Craft, Tim Pharbiska SC meraih dua penghargaan sekaligus yaitu “The Most Creative CSR Initiative” serta The Best School For Supporting Youth Enterpreneurship Literacy Program in Denpasar”. Hal ini, tentu menjadi suatu kebanggan mengingat perjuangan tim Pharbiska SC telah menjalani proses lomba yang cukup panjang, kurang lebih selama 6 bulan. Yang tak kalah membanggakan pula, dalam keikutsertaannya pada ujian nasional tahun 2015, SMK

dah tidak alami membuat burung yang memiliki warna bulu biru mengelilingi mata ini menghilang. Kawasan Karangsewu kendati masuk wilayah Taman Nasional, namun juga sering dijamah manusia untuk rekreasi. Terus berkurangnya populasi Curik Bali yang dilepasliarkan sejak tahun 1998 karena dimakan predator. Dari fakta yang ditemui di kawasan Teluk Brumbun dan sekitarnya, banyak ditemukan mati karena dimakan. Kendati belum ada indikasi pencurian di penangkaran ataupun di kawasan konservasi. Namun, pengamanan selalu siaga. Tetapi sebagian besar banyaknya burung yang berada di alam mati karena dimakan predator. Selama ini pelepasliaran dipusatkan di Teluk Brumbun dan dievaluasi pelepasliaran juga di-

lakukan di titik-titik lain seperti di Cekik, Gilimanuk, Teluk Trima dan titik lainnya di TNBB. Selain penangkaran dari TNBB, para warga penyanding di TNBB juga diikutkan untuk menangkar Curik Bali seperti di Sumberklampok. Sejak tahun 2011, kelompok ini mampu menangkar puluhan ekor Curik Bali. Sejak dinyatakan nyaris punah, Curik Bali yang dulu sering ditemui hingga di pohon-pohon kelapa di sekitar rumah penduduk kini sulit ditemui lagi. Termasuk di kawasan luar TNBB juga tidak pernah lagi ditemukan lantaran hutan telah terjamah manusia. Aksi illegal logging di kawasan hutan penyanding TNBB juga merupakan salah satu faktor pemicu burung Curik Bali sulit berkembang di habitat aslinya. –Surya Dharma

9

Ida Bagus Putu Tilem Singarsa

Inilah salah satu kesaktian dari Pesta Kesenian Bali (PKB) yang digagas oleh Alm. Ida Bagus Mantra 37 tahun silam. Ajang seni tahunan yang dipusatkan di Art Center, Taman Budaya Denpasar itu tak hanya untuk melestarikan seni budaya, tetapi juga menggali serta mengembangkan seni yang ada. Dalam menggali, tentu tak sebatas kesenian saja, tetapi juga berlaku dalam hal penggenerasian.

Pesona Curik Bali untuk perlindungan populasi spesies endemik Curik Bali beserta ekosistem hutan pantai sebagai sistem penyangga kehidupan. Sejak burung ini dinyatakan kategori critically endangeredi dan pada tahun 1970an hingga 1980an nilai burung ini sangat tinggi dan justru sering ditemui di pasar gelap. Kendati kawasan Bali Barat merupakan habitat satu-satunya di dunia burung ini, namun saat itu burung ini dapat ditemui di luar Bali bahkan hingga ke luar negeri. Bahkan di penangkaran saat ini juga masih ada indukan spesies ini dari Jepang dan beberapa kebun binatang di Jawa. Sejumlah kelompok pecinta Curik Bali yang tergabung dalam Asosiasi Pelestari Curik Bali yang di Indonesia membantu menangkarkan burung yang memiliki warna bulu khas dan jambul yang menawan ini. Curik Bali ditemukan pertama kali oleh Baron Stresseman, pada Maret 1911. Ahli burung berkebangsaan Inggris ini secara tidak sengaja menemukan burung ini di sekitar Singaraja, tepatnya desa Bubunan. Sejak saat itu, burung ini dikategorikan spesies burung endemik yang langka dan berbeda dengan jenis lain. Kemudian pada tahun 1925 dilakukan observasi intensif oleh Dr Baron Victor von Plesen. Dan diketahui bahwa penyebaran burung ini hanya mulai Desa Bumbunan

Edisi 854/ 22 - 28 juni 2015

Ida Bagus Putu Tilem Singarsa

I

da Bagus Putu Tilem Singarsa adalah salah satu generasi seniman wayang yang lahir dari ajang PKB itu. Gara-gara mengikuti lomba Wayang Kulit Kategori Remaja sebagai duta Kabupaten Badung dalam PKB, anak muda kelahiran Desa Sibang, 28 Juni 1995 ini kini menjadi dalang. Bahkan, kepiawaiannya dalam memainkan boneka dua dimensi itu sudah disajikan kepada pengunjung PKB, Minggu (14/6). Usianya masih muda, namun mahasiswa Sastra Jawa Kuno Unud ini memiliki talenta khusus dalam memainkan wayang. Rasa jengah terus mendorongnya untuk menjadi seorang dalang yang instan, alias cepat saji. Bayangkan saja, dalam waktu enam bulan ia mampu menyajikan kesenian total teater itu. “Mengandalkan darah seni saja tak cukup, harus giat berlatih juga,” kata putra Ida Bagus Gede Mambal, dalang wayang kulit yang terkenal itu. Gus Tilem – demikian sapaan akrabnya, mampu menyajikan seni pakeliran atraktif yang tetap mengedepankan pakem-pekam pewayangan. Dalam penyajiannya yang perdana mengangkat epos Ramayana dengan judul “Manik Pancasona”. Sebagai pengiringnya adalah Sekaa Batel Ramayana Dewaruci Sibangkaja dengan pembina tabuh I Made Martha dan I Wayan Gitanjaya. Wayang berdurasi dua jam itu, diawali dari kisah di Kerajaan Tasiktala dipimpin seorang raja sakti berwajah detya (raksasa) bernama Sri Maharaja Ludra Predana. Ketika itu istrinya hamil yang sudah berumur 9 bulan be-

lum juga melahirkan. Kemudian, ada pewisik anak itu mau lahir jika ada Manik Pancasona. Seluruh prajurit kerajaan dikerahkan untuk mencarinya, namun tidak ada hasil. Kemudian terdengar, kalau Manik Pancasona itu ada di Kerajaan Ayodya Pura yang dipimpin oleh Ramadewa. Sang raja kemudian mencari ke sana dan meminta pada Rama, namun Rama mengatakan tidak ada pada dirinya. Detya lalu marah dan menantang Rama untuk bertarung. Datanglah Anggada yang mengatakan Manik Pancasona itu ada pada dirinya. Anggada kemudian menantang, jika dirinya kalah ia boleh mengambil manik itu. Dengan kesaktian yang dimiliki Dektya Sri Maharaja Ludra Predana, raja Rama dan pasukan kera dapat dikalahkan dan dijadikan tawanan perang. Manik pancasona kemudian diambil paksa oleh Detya dari Anggada. Mendengar hal itu, Hanoman kemudian menyelamatkan, dan Detya Sri Maharaja Ludra Predana dapat dibunuh oleh Rama yang berwujud Wisnu Murti. Sarat Pesan Moral Setelah wayang kayon dimainkan, penonton tercengang dan tak menyangka dalang yang masih muda mampu menyajikan seni pewayangan yang manis. Empat suara dari empat punakawan yaitu Malen, Merdah, Melem dan Sangut yang menjadi salah satu kunci sukses memainkan wayang tampak jelas. Demikian juga karakter dari masing-masing tokoh itu, seperti Melem yang sombong dan keras, Sangut yang pintar, Tualen yang bijaksana dan Merdah yang cerdik. Wayang sebagai seni total, mampu ia lakukan dengan baik. Teknik dalam memainkan wayang tergolong cekatan. Gerak tari Bali yang biasa diperagakan penari Bali, bisa ia peragakan dalam tarian wayang, seperti tanjek, nabdab gelung dan gerak lainnya. Tari panglembar yang dilakukan raja kera Sugriya tampak gagah. Wewangsalan (pantun) yang sarat pesan menjadi bumbu pementasan. Terlebih diiringi gamelan batel yang tertata apik, menjadi sajian seni menarik. Batu dan pohon-pohon yang ada tak hanya menjadi dekorasi, tetapi juga sebagai properti dalam setiap tarian yang tampak

pada tari pasukan kera. Memang, munyin ore (suara kera) masih terkesan lemah, namun ia mampu menutupinya dengan gerak tari. Dalang juga mampu menciptakan suasana serius, lucu, dan tegang yang digambarkan dalam setiap adegan yang sudah disesuaikan dengan konteks cerita. Sang dalang tak hanya piawai membeberkan kisah, tetapi mampu mengemas dalam seni yang sarat pesan moral. Kritik sosial terhadap pemimpin yang baik akan tercermin pada rakyatnya yang sejahtera. Sindiran tentang bahasa Bali halus yang hampir punah, dilakukan oleh para pasu-

kan kera. Dan yang pasti, etika, moral serta karakter menjadi penekanan dari sajian ceritera. “Saya masih merasa kurang dalam nyiatang wayang (adegan berperang),” akunya polos. Gus Tilem mengaku, untuk bisa menjadi dalang harus melewati proses. Mula-mula belajar duduk bersila, lalu belajar ngeletakan gedogan (membunyikan tempat wayang), memegang wayang, selanjutnya belajar vokal. Dan yang menjadi

kendala, saat pendramaan dan penyutradaraan. Yang pasti kuncinya adalah konsentrasi. “Saya masih belum biasa berimprovisasi,” ungkapnya. Sebagai anak yang tinggal dikalangan seni, Gus Tilem memang sejak kecil sudah biasa megambel. Mula-mula memainkan gender wayang, selanjutnya didapuk menjadi penabuh pengiring wayang yang dimainkan Ajiknya, Ida Bagus Mambal. Saat menjadi siswa SD dan SMP, Gus Tilem juga biasa sebagai juara dalam lomba Utsawa Darmagita, Palawakia dan Matembang. Ia juga pernah memerankan Raja Muda pada kesenian Drama Gong duta Badung. Dalam sebuah acara ngayah, lelaki ganteng yang memiliki kriteria khusus terhadap calon pacar itu sering tampil menari. Mulai dari tari baris upacara, tari popular hingga tari kreasi. Sekarang ia tengah menyiapkan diri untuk lomba Utsawa Dharmagita tingkat Kabupaten Badung.-Budarsana


8

Bunda & Ananda

Edisi 854/ 22 - 28 JUNI 2015

Sayang Boleh tetapi Jangan Berlebihan Bel sekolah berbunyi, anak-anak berhamburan keluar kelas. Seorang pria yang usianya sekitar 60 tahun tergopoh-gopoh menyambut ­cucunya. Ia langsung mengambil tas cucunya lalu mereka berjalan meninggalkan sekolah. Di sudut lain, seorang wanita tua duduk ­sambil membaca buku. Ia juga sedang menunggu cucunya.

F

enomena anak sekolah dasar dijemput kakekneneknya banyak ditemui di Denpasar. “Anak dan menantu saya bekerja. Urusan jemput murid, saya yang ambil alih,” ungkap pria yang menyebut dirinya Pak Nyoman ini. Ia menuturkan sejak pensiun dari sebuah hotel di Sanur, dirinya tak banyak kegiatan. Karena waktu luang inilah ia memiliki kesempatan untuk menjemput cucunya. Selain menjemput cucunya ini, Pak Nyoman juga menyiapkan makan siang bahkan menyuapi cucunya. “Kalau ada PR, saya tungguin dia membuat PR. Setelah PR beres, baru boleh bermain. Sore, saya harus memastikan dia mandi, sebelum orangtuanya datang,” ungkap Pak Nyoman. Ia juga mengaku tidak tega kalau melihat cucunya dimarahi. Rasa sayang yang ditunjukkan Pak Nyoman kepada cucunya ini menurut Sad Yuli Prihartati, S.Psi., Psikolog merupakan hal yang wajar. “Di Bali khususnya, kekerabatan sangat erat. Anak yang sudah dewasa dan sudah menikah masih tinggal bersama orangtua. Ini sangat membantu ketika anak sibuk bekerja, urusan antar jemput anak bisa ditangani kakek-neneknya. Daripada membayar orang lain, tentu lebih aman dan nyaman kalau anak-anak diantar-jemput kakek-neneknya. Satu hal yang perlu diingat, perhatikan kondisi fisik kakek dan nenek, apakah masih memungkinkan atau tidak,” ujar Yuli. Psikolog yang juga Ketua APSI (Asosiasi Psikolog Sekolah Indonesia) Wilayah Bali ini menjelaskan ada plus-minus jika anak ditangani kakek-nenek. Plusnya, orangtua merasa

Sad Yuli

aman karena anaknya berada di bawah pengawasan keluarga. Kasih sayang yang diberikan kepada cucu biasanya melebihi kasih sayaang yang diberikan kepada anaknya. Karena kakek dan nenek banyak waktu luang tentu waktu ini bisa dimanfaatkan untuk menjaga cucu. Satu hal lagi, dengan meminta kakek dan nenek yang menjaga, tentu ada penghematan biaya dibanding harus membayar pengasuh. Sisi negatifnya, karena saking sayangnya kakek dan nenek pada cucunya, akan membuat si cucu menjadi manja sehingga bisa membuat si cucu tidak mandiri. Apa yang diiinginkan cucu, pasti dipenuhi kakekneneknya. Selain itu, kakek dan nenek dalam mengasuh cucu lebih kepada rasa senang dan bangga karena bisa merawat cucunya. Terkadang mereka lupa, pendidikan karakter anak yang menjadi porsi orangtua harus diperhatikan. “Pada usia emas dari 0 sampai 5 tahun, porsi orangtua dalam memberikan pendidikan karakter harus dominan. Boleh saja minta kakek dan neneknya

“Pada usia emas dari 0 sampai 5 tahun, ­porsi orangtua dalam memberikan pendidikan ­karakter harus dominan. Boleh saja minta kakek dan neneknya yang menjaga selama ­orangtua bekerja. Tetapi, begitu sudah berkumpul lagi, segera ambil alih. Hal ini untuk menjaga ­kelekatan anak dan orangtua”

yang menjaga selama orangtua bekerja. Tetapi, begitu sudah berkumpul lagi, segera ambil alih. Hal ini untuk menjaga kelekatan anak dan orangtua,” ujar Yuli yang juga Koordinator Pengabdian Masyarakat Himpunan Psikologi Indonesia (Himpsi) Bali ini. Sebagai orangtua juga harus bijak, jangan menyerahkan semuanya urusan anak kepada kakek-nenek. Pelimpahan tugas hanya dilakukan jika orangtua sibuk atau ada kegiatan. Selebihnya, urusan anak menjadi tanggung jawab orangtua. Bila perlu, antara orangtua dan kakek-nenek harus memiliki aturan yang disepakati bersama. Aturan ini sebagai pedoman apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan si anak selama berada dalam penga-

Edisi 854/ 22 - 28 JUNI 2015

Duta Endek Denpasar di Parade PKB

17

Konsisten Usung Keindahan Endek

wasan kakek-nenek. Jangan sampai aturan yang dibuat berbeda sehingga anak akan mencari situasi yang lebih nyaman dan aman. “Saya sering mengingatkan para kakek dan nenek untuk tidak terlalu intervensi dalam mengasuh cucu. Pesan ini biasanya saya sampaikan ketika memberikan materi kepada pegawai yang memasuki usia pensiun. Rasa sayang yang diberikan kepada cucu itu berbeda dengan sayang kepada anaknya dulu. Kadang yang menonjol adalah kebanggaan kakek nenek karena punya cucu. Karena itu, lebih baik lakukan komunikasi dan buat aturan bersama dalam pengasuhan anak,” ujar alumnus Ilmu Psikologi Unika Soegijapranata Semarang yang kini sedang menempuh pendidikan S2 Ilmu Kesehatan Masyarakat di Universitas Udayana ini. Yuli menambahkan karakter anak itu berbeda-beda dan

unik. Pola asuh yang diterapkan pun harus berbeda-beda dan disesuaikan dengan kondisi kini. Orangtua yang harus tahu kondisi anaknya. Faktor kedekatan dengan anak akan mempermudah orangtua untuk memahami anak lebih dalam. Kualitas kedekatan harus lebih diperhatikan daripada kuantitas. Misalnya, dalam sehari berapa kali orangtua memeluk anaknya. Atau, berapa kali berbincang tentang berbagai hal. Ajarkan juga anak tentang magic word seperti “terima kasih”, “maaf ”, dan “tolong” sehingga mereka bisa mandiri dan bertanggung jawab. Yu l i m e n e g a s k a n t i d a k masalah jika anak harus diasuh kakek neneknya asalkan pendidikan karakter yang utama harus diberikan oleh orangtuanya. Tugas dan tanggungjawab sebagai orangtua memang berat namun itu adalah konsekuensi yang harus dijalani. –Ngurah Budi

Mendongeng Lima Menit Jero ketut

Prabu Suliawana pusing tujuh keliling memikirkan bagaimana cara menangkap elang raksasa itu. Hampir tiap hari rakyatnya mengadu, bahwa burung serakah itu telah memangsa ayam dan kambing peliharaanMade Taro nya. Berbagai cara telah ditempuh, antara lain memburunya dengan tombak dan panah. Semua usaha itu sia-sia. Burung sakti itu tambah beringas. Ia juga merusak padi yang sedang tumbuh subur. “Lakukan sayembara!” kata Prabu di depan para menterinya. “Barang siapa yang berhasil menangkap elang kurang ajar itu, hidup atau mati, akan kuberi penghargaan.” Para menteri kemudian meneruskan titah raja itu ke seluruh pelosok kerajaan. Ditunggu-tunggu, keesokan harinya, bahkan sebulan kemudian, tak seorang pun yang berani bertaruh melawan elang raksasa itu. Secara tak sengaja, akhirnya berita sayembara itu terdengar oleh seekor tikus. Tikus itu kecewa, bahwa tak seorang warga pun yang berani mempertaruhkan nyawanya. “Pantas takut, karena warga dan elang saling bermusuhan,” kata Tikus. “Bangsa tikus tidak merasa bermusuhan, bahkan burung itu sering minta bantuan untuk mencabut kutu-kutunya.” Ketika Tikus berjalan-jalan di tengah sawah,

tiba-tiba di depannya mendarat elang yang diburuburu itu. “Hai, Tikus!” panggil Elang. “Lama benar kau tak pernah mencabut bulu-buluku yang digerogoti kutu. Ayo, kerjakanlah sekarang!” Tikus yang tidak dianggap musuh itu segera meloncat ke punggung elang. Sambil membersihkan kutu, ia memikirkan sebuah siasat. “Waduh, Tuan Elang! Luar biasa banyaknya!” keluh Tikus. “Kutu-kutu itu harus dicabut oleh semua tikus, sehingga dalam waktu singkat tubuh Tuan bersih.” Elang yang jinak itu mengiakan. Tikus itu pun memanggil kadang-keluarga dan teman-temannya. Lihat sekarang, ratusan tikus bergotong-royong mencabut kutu-kutu! Ada yang di punggung, di sayap, di kepala, di ekor dan di ketiak. Elang itu merasa nyaman apalagi diterpa angin yang mendesir. Tak lama kemudian burung raksasa itu pun tertidur. Nah, itulah kesempatan yang terbaik! Tanpa berisik tikus-tikus itu mencabut bulu sayap helai demi helai. Pemimpin tikus segera menyampaikan keadaan itu kepada Prabu Suliawana. Tak lama kemudian sekelompok prajurit mengurung elang yang ketiduran. Mereka melepaskan panah dan tombaknya. Elang itu terbangun dan berusaha terbang, namun jatuh terjerembab. Burung serakah itu lalu dibunuh ramai-ramai. “Sesuai dengan janjiku,” kata Raja di tengah-tengah keramaian. “Tikus yang berjasa itu kuberi sebuah gelar kehormatan. Gelarnya adalah Jero Ketut.” Konon sejak peristiwa itu, orang-orang tidak lagi menggebrak tikus dengan kata-kata kasar. “Jero Ketut, kuharap Jro tidak mengusik rumahku!” katanya halus.

Duta Endek Kota Denpasar kembali hadir memeriahkan Parade Pembukaan Pesta Kesenian Bali ke -37 Tahun 2015. Keikut­ sertaannya kali ini adalah yang ketiga kalinya sejak tahun 2013. Pada penampilan pertama Duta Endek Denpasar menyuguhkan parade berpasangan pakaian mepeed ke pura, pakaian mamukur, munggah ngekeb, hingga busana neteg pulu. Kemudian tahun 2014 menghadirkan parade melelunakan.

T

ahun ini, bersama perwakilan dari Kota Denpasar, mengangkat tema “Inspire and Harmony of Was­ tra”, yakni terciptanya sebuah inspirasi dari karya wastra berupa endek yang dibalut­

kan untuk sebuah penampilan busana­ menghadiri undangan. Kepala Dinas Perindus­ trian dan Perdagangan Kota Denpasar, I Wayan Gatra, M.Si., mengatakan endek ada­ lah salah satu produk bu­ daya lokal, yang telah men­

jadi produk unggulan Kota Denpasar. Produk ini memi­ liki potensi luar biasa yang mampu mengangkat tradisi lokal menjadi sebuah tren mode tanpa menghilangkan ciri khas kain tenun Bali yang penuh dengan nilai seni bu­ daya tinggi di dalamnya. Warisan budaya leluhur ini, kata Wayan Gatra wajib diles­ tarikan dan diharmonisasikan untuk para pecinta kain endek. Karenanya, melalui program pemerintah Kota Denpasar “ Save Our Heritage” diharapkan endek menjadi fashion icon bagi generasi mendatang. Selanjut­ nya jasa para perajin, para desainer, penenun serta selu­ ruh lapisan masyarakat di da­ lamnnya bisa secara harmonis turut berperan. Bersama-sama menjaga, mengembangkan dan mempromosikan penggunaan kain endek dalam kehidupan

Endek untuk Menghadiri Undangan dukung Pemerintah Kota Denpasar dalam menyo­ sialisasikan produksi dalam negeri yang kaya filosofi ini melalui ber­ bagai kegiatan Peningkat­ an Inovasi Produk Lokal pada Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kota Denpasar. Seperti yang nampak di sepanjang langkah pada pembukaan PKB tahun ini , Duta Endek Kota Den­ pasar secara berpasangan tampil memukau me­ ngenakan busana meng­ hadiri undangan. Menurut Ny. Antari Jaya Negara, Ny. IA Selly D. Mantra, Ketua Dewan Kerajinan dan Ny. Rai Iswara Nasional Daerah (Dekra­ Kehadiran Duta Endek Kota nasda) Kota Denpasar, Ny. IA Denpasar, sebagai generasi Selly D. Mantra didampingi Ny. penerus bangsa, diharapkan Antari Jaya Negara, dan Ny. Rai dapat menumbuhkan rasa cinta Iswara, setiap tahunnya dipasti­ dan kebanggaan di kalangan kan tema yang disuguhkan Kota anak muda, remaja terhadap Denpasar untuk ajang PKB kain endek. Juga, turut men­ bersama para Duta Endek-nya

selalu berbeda. Untuk kali ini , dikatakannya ia ingin menampilkan bahwa endek pun bisa tampil wah pada saat menghadiri undang­ an, selama kita bisa dengan tepat memadumadankan antara warna kebaya dengan kain endek serta aksesorinya. Jadi mengenakan endek dengan motif, corak, ragam warnanya yang semakin indah, menjadi tidak kalah mewah ketika dibandingkan tampil memakai songket. Disinggung mengenai Pemilihan Duta Endek yang keempat untuk tahun ini, Selly D. Mantra menyatakan bahwa program inovasi kreatif untuk mempromosikan kain endek sebagai produk lokal unggulan ini bakal dilaksana­ kan pada bulan Desember. “Ini demi tujuan Pemerin­ tah Kota Denpasar terus berupaya melestarikan dan mengembangkan produk tekstil endek melalui ber­ bagai program. Salah sa­ tunya dengan melahirkan duta endek, yang nantinya dapat mempromosikan kain tersebut di kalangan remaja dan masyarakat,” kata Selly D. Mantra. Apalagi menurutnya se­ jak pelaksanaan pertama hingga yang ketiga, peser­ ta bukan hanya semakin membludak tapi kemam­

sehari-hari sebagai busana dan life style. Dikatakannya pula untuk acara Pembukaan PKB tahun 2015 ini, Duta Endek Kota Denpasar menampilkan 24 orang perwakilannya terdiri dari 12 Duta Endek Putri dan 12 Duta Endek Putra. Mereka memberikan inspirasi yang nyata dalam sajian sebuah harmonisasi pada padanan busana untuk menghadiri un­ dangan yang digunakan saat pawai PKB. Penonton dan undangan yang hadir menyaksikan pun terlihat memberikan spesial applause terhadap busana yang dikenakan. Sederetan kebaya puannya juga meningkat. “Me­ reka rata-rata sudah mampu dan memahami tentang endek, yang berarti tinggal ditingkat­ kan dan kemudian bersamasama mengembangkannya,” tandasnya. Istri Wali Kota Denpasar ini juga menekankan di­ rinya tidak akan pernah berhenti menggaungkan ke­ beradaan endek yang sudah

warna-warni yang simpel na­ mun sangat elegan, rancan­ gan Ketua Dekranasda Kota Denpasar, IA Selly D.Mantra. Sedang­kan untuk kain endek, saput dan destarnya persem­ bahan dari Pertenunan Artha Dharma, anggota Asosiasi Endek, Bordir dan Songket (ASBES) Kota Denpasar. Untuk tata rias wajah dan kelengkapan aksesori busana termasuk hair style ditangani oleh penata rias senior pemilik AAA (Art and Desain), Turah Mayun. Begitu juga dengan Duta Endek Putra yang mengenakan atasan kemeja putih panjang, desainnya garapan Turah Mayun dan Tude Togog. - ard menjadi produk unggulan Kota Denpasar ini dengan aneka bentuk promosi. “Begitu pun para peng­ rajin dan pelaku kegiatan indus­ tri fashion yang berbasis budaya juga bersedia terus berinovasi dan berkreasi,” pungkasnya. - ard


18

Kreasi

Edisi 854/ 22 - 28 juni 2015

Fantasi Cinta di Balik Boneka Sebuah sajian tari kontemporer menambat perhatian penonton pada akhir Mei lalu. Kamis (28/5) malam lalu, para penonton yang memadati pagelaran ujian akhir di ­Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar, menyimak penuh antusias karya seni tari ber­tajuk “Di Balik Boneka”. Dibawakan oleh sepasang penari putra dan putri, tari yang bergulir sekitar 13 menit tersebut menggiring penonton pada fantasi cinta seorang gadis dalam bingkai estetika seni tari yang menggugah, apik, dan unik. Ya, sebuah garapan tari kontemporer yang mengena, terkesan sederhana namun membuat hati terpana.

T

ema cinta yang diusung garapan tari ciptaan Anak Agung Istri Inten Pradnyandari ini kisahnya sederhana, yaitu tentang fantasi seorang gadis kepada seorang laki-laki penjaga toko boneka. Namun kesederhanaan kisah ini mampu dituturkan secara naratif dalam ancangan kompleksitas koreografi yang menawan. Kedua orang penari, Inten Pradnyandari sendiri dan Anak Agung Gede Dalem Segara Putra, menunjukkan totalitasnya merangkai laku gerak tubuh, menjelajah ruang dan meniti waktu dalam sinergi dan interaksi yang padu. Imajinasi keindahan cinta sang gadis berpadu mesra dengan rona estetis kontemporer tata garap tarinya. Ruang untuk merambah tari kontemporer dibuka lebar dalam ujian seniman akademis di ISI Denpasar. Gung Is, demikian sapaan akrab koreografer muda itu, memilih bentuk tari kontemporer, bersama sejumlah temannya. Sebuah pilihan yang kurang populer, jika dibandingkan menggarap cipta tari dengan sumber pijak kreasi dari seni tradisi. Sebab di tengah jagat berkesenian di Bali, garapan seni kontemporer, termasuk dalam

dunia seni tari, hingga kini masih megap-megap keberadaannya. Penonton, masyarakat Bali pada umumnya, belum begitu banyak melirik aksi-aksi tari kontemporer. Simaklah di arena PKB, pementasan garapan seni pertunjukan kontemporer, kalau ada, tidak begitu diperhitungkan. Diperhitungkan atau tidak, di ISI Denpasar, tari kontemporer tak pernah henti menggeliat. Da-

lam setiap pagelaran ujian akhirnya, baik untuk strata S1 maupun S2, tidak sedikit mahasiswanya bergairah menampilkan tari kontemporer. Pradnyandari, salah satunya, dengan ciptaannya “Di Balik Boneka” seperti ingin

Life

Story

Edisi 854/ 22 - 28 juni 2015

Rizki Rezeki Keluarga Nuraini

7

Sekitar lima tahun lalu, Hj. Nuraini dan H. Abdul Thalib harus rela naik turun bukit di Desa Mantar, Seteluk Sumbawa Barat, untuk menjemput anak angkatnya. Karena medan jalan yang begitu berat, mereka harus menggunakan hardtop untuk sampai ke desa tersebut. Letih oleh guncangan akibat perjalanan ini, rela mereka lakukan demi untuk menjemput Muhammad Rizki, anak angkat mereka. Di kegelapan malam sekitar pukul sepuluh malam, hardtop yang mereka tumpangi merangkak turun dari perbukitan itu membawa serta Rizki di pangkuan Hj. Nuraini. “Menangis hati saya melihat Rizki karena rindu,” ungkap Hj. Nuraini. menyapa penonton agar bersema­ ngat mengapresiasi tari kontemporer. Tampaknya, sapaan Gung Is tak bertepuk sebelah tangan. Garapan

tarinya banyak menuai pujian penonton. Artinya, tari kontemporer besutannya layak simak, menarik plus komunikatif. Mempergunakan iringan sejumlah alat musik modern seperti keyboard, havy, biola, frogy dan chime yang ditata oleh I Wayan Diana Putra, S.Sn, M.Sn, “Di Balik Boneka” bergulir dengan kisah kehadiran seorang gadis di sebuah toko boneka, berharap bersua de­ ngan pemuda penjaga toko yang telah menambat hatinya. Ketika sang pria muncul, si gadis ber­

purapura menjadi boneka menggenggam boneka kecil. Kepintaran si gadis menjadi boneka mengundang rasa penasaran penjaga toko yang seakan dipermaiankan oleh salah satu boneka jualannya. Kesal dengan ulah boneka yang tak diketahuinya adalah seorang gadis yang jatuh cinta padanya, pria penjaga toko marah, merebut boneka kecil dari sang gadis hingga robek berkepingkeping.

Memakai asesories kepala, baju, dan sepatu berwarna pink, sang gadis hadir di tengah panggung di atas kursi panjang. Untaian gerak­ nya berkelebat di sekitar kursi mengekspresikan kegelisahan dan harapan untuk segera bertemu dengan pria penjaga toko. Sang pria, menggunakan bareta, celana panjang, dan sepatu, berinsut hadir melangkah dalam beberapa sepakan gerak menghampiri lemari pajangan bonekanya. Selanjutnya kedua penari dalam penokohannya masing-masing, dengan bahasa ragawi, berungkap simbolik, maknawi, stailistik merangkai adegan per adegan, menyembur lembut, elastis, gesit, lugas, akrobatis, kocak, dan menggemaskan. Tari kontemporer “Di Balik Boneka” menunjukkan kebebasannya merangkum beragam estetika gerak. Namun tampaknya Gung Is terlihat dominan mengeksplorasi tari ballet dan dansa latin walls. Gerakan serempak dan gerakan seimbang yang diperagakan kedua penari tampak rapi dengan selingan desain gerak herisontal, vertikal, dan kontras yang begitu terukur proporsinya, menjadikan garapan tari ini tampil memukau. Bagian adegan tari humoristik, ketika pria penjaga toko menggotong dan memindahkan berkali-kali si gadis boneka, mengundang gelak dan senyum simpul penonton. Keserius­ an tari kontemporer yang dipersepsikan selama ini menjadi ringan menyegarkan. Malam itu, tari “Di Balik Boneka” mampu membalik pandangan para penonton. Penonton kita memang perlu lebih diperbanyak menyimak letupan-letupan seni dari jagat tari kontemporer. Gung Is dengan tari “Di Balik Boneka”-nya telah berhasil mencuri perhatian masyarakat penonton untuk mengapresiasi ekspresi seni dengan gaya ungkap kontemporer. Memang, bentukbentuk ekspresi seni kontemporer, cenderung hanya hadir dan diterima dengan kementaraannya, namun sejatinya ia (seni kontemporer) memancarkan makna kultural dan bahkan bisa menorehkan sejarah seni budaya yang fenomenal. Tari kontemporer “Di Balik Boneka” telah terpajang manis di ruangan segar rumah seni kita. lKadek Suartaya

B

egitulah. Rizki si anak angkat dengan segala kekurangan dan keterbatasan dimana ototnya kaku dengan syaraf-syaraf yang lemah ini, demikian istimewa bagi keluarga ini. Kisah hidup Rizki sungguh beruntung karena dapat bertemu keluarga ini, sejak pertama kali ia diambil sebagai anak angkat dari Rumah Sakit Umum Sumbawa Besar Sembilan tahun lalu. Kala itu usia Rizki baru tiga hari. Hj. Nuraini tergerak hatinya mengunjungi Rizki setelah mendapat informasi dari keluarganya tentang kondisi Rizki dan ibunya. Sebenarnya, kala itu Rizki hanya dititipkan sementara pada keluarga Hj. Nuraini sampai ada yang mau mengangkatnya sebagai anak. Waktu itu, keadaan Rizki memang tidak terlalu baik. Karena lahir prematur ia dirawat di inkubator. Sejak itulah, diakui Hj. Nuraini, bermula dari rasa kasihan ia pun mulai merawat Rizki yang kemudian ditinggal oleh ibunya. Satu bulan lamanya, sebagian waktu dan tenaga Hj. Nuraini dipakai untuk bolak-balik rumah sakit demi menjaga dan merawat Rizki. “Karena terasa

agak repot harus bolak-balik rumah sakit saya minta Rizki dibawa pulang ke rumah dan diizinkan dengan beberapa catatan dari dokter,” ujar ibu angkat Rizki ini. Di rumah mereka di Jalan Cendrawasih Brang Biji, Sumbawa Besar, Rizki mulai dirawat dalam kamar yang dipasang bola-bola lampu secara khusus agar suhu tetap hangat seperti dalam inkubator. Selama tiga bulan Rizki tidak boleh kena air terlalu banyak alias tidak boleh mandi melainkan hanya dilap secukupnya saja. Setelah tiga bulan berlalu, Rizki dimandikan untuk pertama kalinya. “Begitu kena air mandi, Rizki menangis terus menerus, siang dan malam. Pokoknya hari-hari awal itu Rizki rewel sekali,” ungkapnya. Naluri keibuan Hj. Nuraini pun diuji kala mengurus Rizki yang bukan anak kandungnya ini namun banyak menyita waktu dan masuk dalam kategori repot. Dari awalnya rasa prihatin dan kasihan, justru semakin lama, perasaan Hj. Nurani kepada Rizki berubah menjadi kasih sayang. Namun karena status Rizki sebagai titipan, maka Hj. Nuraini sempat tiga kali mengembalikan Rizki pada

keluarganya. Yang pertama saat Rizki berusia 11 bulan dan masih dalam keadaan sehat lagi gemuk. Hanya saja ia tidak pernah berhenti rewel. “Waktu pertama kali Rizki saya kembalikan pada keluarganya, saya jadinya seperti ‘orang gila’, selalu ingat Rizki dan khawatir tidak terurus dengan baik,” ungkap ibu tiga anak ini. Akhirnya Hj. Nuraini pergi menjemput Rizki dan kembali merawatnya. Tampaknya ada yang tidak beres yang dialami Rizki sehingga ia banyak menangis dan terbilang rewel sekali. Pada usia satu setengah tahun, barulah diketahui pertumbuhan fisik dan mental Rizki tidak normal. Otot-ototnya kaku dan syarafnya terganggu. DIJILATI ULAR PUTIH Meski begitu ia tetap merawat Rizki dan memeriksakan Rizki pada dokter ahli. Selain membawanya ke dokter spesialis, demi kesembuhan Rizki, Hj. Nuraini juga mendatangi ‘orang pintar’ hingga melakukan pengobatan-pengobatan alternatif. “Di mana ada informasi tentang orang pintar maupun pengobatan alternatif, baik di Bima, Sumbawa

H. Abdul Thalib dan Hj. Nuraini bersama Rizki

Hj. Nuraini dan Rizki

hingga ke desa-desa juga di Lombok, saya datangi untuk mengobati Rizki,” ungkapnya. Demi anaknya ini, ia bahkan pernah mendatangi pengobatan alternatif di Utan Sumbawa, di mana dalam pengobatan itu, kaki Rizki yang kakau dan tidak bisa berjalan, harus dijilati oleh seekor ular putih. “Pokoknya sembari berdoa pada Allah dan juga ke dokter, apa pun usaha lain saya lakukan demi kesembuhan Rizki,” katanya. Pada usia Rizki 3,5 tahun, Rizki pernah dikembalikan lagi pada keluarganya karena statusnya masih sebagai titipan. “Tapi tidak sampai seminggu, saya gelisah terus dan kangen pada Rizki yang sebelumnya bernama M. Zulkhaidir ini. Pikiran saya terganggu khawatir pula apakah di sana Rizki dirawat dengan baik,” katanya. Karena itulah ia kembali menjemput Rizki yang tampak lebih kurus dan. Keluarga ini pun kembali merawatnya seperti biasa dibantu seorang pengasuh anak. Namun, karena keadaan, sekali lagi setahun kemudian, saat berusia 4,5 tahun, Rizki dikembalikan pada keluarganya. Kala itu, anak perempuan Hj. Nuraini yang bernama Sukmawati, menikah dan mengikuti suaminya ke Bima. Hj. Nuraini merasa khawatir tidak bisa mengurus Rizki dengan baik tanpa Sukmawati yang juga sangat menyayangi Rizki. Seminggu kemudian, anak laki-laki Hj. Nuraini yang bernama Wahyu

Hidayat pergi menjenguk Rizki di kampung. “Wahyu menangis memohon agar adiknya dijemput kembali. Rizki juga tidak mau melepaskan pelukannya di leher Wahyu dan minta pulang,” katanya. Kebetulan juga, Hj. Nuraini sendiri sangat rindu pada Rizki sehingga mereka kembali menjemput Rizki. “Itulah kali terakhir Rizki kami kembalikan dan selanjutnya saya berpikir mungkin Rizki adalah rezeki bagi keluarga kami. Tampaknya Allah sudah menakdirkan Rizki menjadi anak saya,” ungkapnya. Meski sepanjang hari Rizki hanya bisa duduk di kursi roda, mereka sekeluarga silih berganti mengemong Rizki. Pada usia 7 tahun, Rizki pernah disekolahkan di SDLB Sumbawa. Dengan segala keterbatasan Rizki, orang lain mungkin sulit mengerti dan berkomunikasi dengan Rizki. Namun tidak begitu dengan Hj. Nuraini dan suaminya serta anak-anak kandungnya, keluarga angkat berhati mulia ini. Meski ucapan Rizki sulit dipahami, mereka semua mengerti apa yang diucapkan dan diinginkan Rizki. Rizki lalu berkata sesuatu pada Sukmawati, saudara angkatnya Rizki. Dengan penuh kasih, Sukmawati mengerti bahwa Rizki minta duduk dipangkuannya. Sukmawati lalu mengangkat tubuh Rizki dari kursi roda dan memangku sembari mencium adiknya ini. Rizki tersenyum bahagia di pangkuan Sukmawati. -Naniek I. Taufan.


6

Women on Top

Edisi 854/ 22 - 28 juni 2015

Anak Agung Ayu Ketut Agung

Urun Rembug di Shankara Resto Dalam rangka ajeg bali dan mendukung Denpasar sebagai Kota ­Kreatif Berwawasan Budaya, Anak Agung Ayu Ketut Agung menggagas sebuah ­pertemuan, Rabu (17/6) di Bale Banjar Bali Global Shankara Resto, ­menggandeng harian BisnisBali (Kelompok Media Bali Post).

Urun rembug tentang Busana Adat Bali yang dilaksanakan di Bale Banjar Bali Shankara Resto, Rabu (17/6) dan dihadiri para akademisi, praktisi, pemerhati sosial budaya, agamawan, dan spiritualis, diakhiri dengan foto bersama

M

engingat sekarang ini banyak terjadi modifikasi busana adat Bali yang dinilainya kadang kebablasan, maka dipandang perlu dilakukan urun rembug yang menghadirkan para akademisi dari Unud dan ISI Denpasar, praktisi, pemerhati sosial

budaya, agamawan, spiritualis, serta para pengusaha salon dan ahli-ahli kecantikan kulit dan rambut yang terhimpun dalam Tiara Kusuma. Dari komentar-komentar yang dilontarkan mereka dalam suasana keakraban tersebut, dapat disimpulkan beberapa rumusan,

di antaranya, mendukung adanya modifikasi busana adat Bali karena di dalamnya ada proses kreatif inovatif yang banyak memunculkan modifikasi-modifikasi baru yang semakin memperkaya khasanah busana adat Bali. Namun, ditegaskan jangan sampai keluar dari pakemnya, dan tidak sampai

mengurangi arti dan makna dari simbol-simbol yang dipakai. “Boleh dimodifikasi, tapi jangan kebablasan. Saat dilangsungkan upacara adat, diharapkan tetap memakai pakemnya. Ketika resepsi, silahkan memakai modifikasi, namun yang dimodifikasi maksimal 30% saja seperti yang telah ditetapkan oleh Katalia, Asosiasi Ahli Rias Pengantin Modifikasi dan Modern, sehingga ciri khas busana adat Bali masih tetap utuh,” ingat Bu Agung. Selanjutnya, meski ada modifikasi tehadap busana adat Bali, namun tetap diharapkan ada sosialisasi bahwa Bali memiliki tingkatan dalam pepayasan, yakni payas nista, payas madya, dan payas utama (payas agung), serta untuk siapa, kapan dan dimana pepayasan tersebut dipakai. Karena, jika hal ini tak dilakukan, keberadaan busana ini ke depannya akan semakin kabur dan generasi muda Bali tak akan lagi mengenal busana daerahnya. “Di sinilah peran para pengusaha salon, perias pengantin, dan tempat kursus kecantikan, untuk memberikan pemahaman dasar tentang makna nilai filosofi dari simbol-simbol yang dipergunakan dalam tata rias tersebut kepada para murid dan pengguna jasa tata rias pengantin,” ujar Bu Agung. Pakar tata rias dan busana adat Bali ini mengatakan, sejak tahun 2000an banyak muncul tata rias pengantin modifikasi. Sudah tentu hal ini ada dampak positif –negatifnya. Positifnya, muncul kreativitas-kreativitas baru yang makin simpel dan praktis. Negatifnya, dikhawatirkan busana adat Bali yang sesuai pakem akan mulai tergerus. Karena itu pula, urun rembug ini digagas untuk menyamakan persepsi tentang transformasi

pada busana adat Bali. Bu Agung mengimbuhkan, dilakukannya urun rembug ini karena juga terinspirasi dan termotivasi dengan acara bedah buku Perlindungan Hukum Karya Cipta Dongeng dan Payas Bali yang ditulis Dr. Ni Ketut Supasti Dharmawan, S.H., M.Hum., LLM., dan kawan-kawan, di Fakultas Hukum Unud, beberapa waktu lalu. Yang mana, saat itu Bu Agung diundang sebagai salah satu narasumbernya. “Urun rembug ini akan rutin kami laksanakan tiap bulan, untuk turut membangun pariwisata Denpasar lewat tata rias dengan mengajak teman-teman seprofesi,” ujar Bu Agung, penerima Penghargaan Budaya 2015 dari Wali Kota Denpasar, ini.

DISKON 50% KURSUS TATA RIAS Untuk mengisi liburan sekolah serta untuk lebih menyosialisasikan dan membangkitkan minat masyarakat dalam tata rias dan busana adat Bali, LKP Agung memberikan diskon 50% kursus regular. Materi yang diajarkan mencakup 3 paket yakni Tata Kecantikan Kulit, Tata Kecantikan Rambut, dan Tata Rias Pengantin (payas nista, payas madya, payas agung, modifikasi, dan tengkuluk lelunakan). Disediakan juga beasiswa kursus gratis bagi mereka yang kurang mampu dan putus sekolah, yang benar-benar berminat di bidang tata kecantikan. Syarat dan ketentuan berlaku. Silakan menghubungi Sekretariat LKP Agung, Jalan Anggrek No. 12 Kreneng, Denpasar. Telepon 0361 233850, 081 1393602, faks. 0361 247153. Cabang Tohpati, Jalan WR. Supratman No. 303 A, Tohpati, Denpasar. Email: lkp_agung@yahoo.com. website: www.salonagung.com.–inten

Pengalaman Buruk Jadi Cambuk

Di era tahun 1990 sampai 2000-an, LBH APIK NTB mengalami masa-masa sulit penuh perjuangan ketika harus menangani kasus-kasus yang melibatkan keluarga yang terjadi di Nusa Tenggara Barat. Perjuangan demi perjuangan itu menjadikan LBH APIK NTB bisa dibilang sebagai yang kaya pengalaman. Tingginya kasus kekerasan dalam rumah tangga maupun kekerasan terhadap perempuan di daerah ini khususnya di masa awal berdirinya LBH APIK yakni di tahun 1998, memberikan lebih banyak pengalaman “perjuangan”.

T

idak mudah memang. LBH APIK NTB di bawah kepemimpinan Beauty Erawati, S.H., M.H., sebagai Direktur Eksekutif, bersama rekannya di lembaga yang memperjuangkan hak-hak perempuan dan anak ini, harus rela dan kuat menerima segala bentuk tekanan untuk mencapai cita-cita kesetaraan dalam hak.tidak hanya melulu berhadapan dengan masalah keluarga dari klien mereka, LBH APIK NTB juga berjuang untuk merubah paradigma (pandangan) masyarakat tentang keberadaan perempuan. Bahwa perempuan memiliki hak-hak untuk dilindungi khususnya hak untuk tidak mengalami kekerasan. Berbagai pengalaman “buruk” yang menjadi cambuk semangat bagi lembaga yang berdiri pada saat dimana kekerasan terhadap perempuan khususnya yang terjadi dalam rumah tangga berupa KDRT, kasusunya di NTB begitu

besar tetapi tidak nampak secara jelas dan kala itu sangat tabu untuk dibicarakan. Dibicarakan saja sudah tabu apalagi untuk mencari keadilan rasanya sulit dan sepertinya tidak mungkin. “Sejak LBH APIK NTB berdiri tahun 1998, tidak kurang dari 7.000 kasus KDRT dan kekerasan terhadap perempuan serta 1.470 kasus anak. Semuanya adalah kasus yang melibatkan keluarga,” ungkap Beauty Erawati. Beauty dan rekan-rekannya masa itu, merasakan benar masa di mana perempuan pembela HAM kurang mendapatkan perhatian dalam perjuangannya menegakkan HAM, khususnya bagi perempuan dan anak yang kasusnya banyak mereka tangani. “Kami harus menghadapi berbagai kerentanan dan risiko sebagai akibat dari perjuangan tersebut,” kata Beauty. Kondisi nyata yang terjadi di NTB waktu itu, tambah Beauty, bahwa perempuan pembela HAM masih dipandang sebelah mata oleh

Training staf dan jajaran LBH APIK NTB tahun 2008

masyarakat. Budaya patriarki yang masih kental memposisikan perempuan pada wilayah domestik saja yang menyebabkan tidak diakuinya peran-peran perempuan pada wilayah publik termasuk perjuangan membela HAM. Kondisi inilah yang kemudian menimbulkan ketidakpedulian semua pihak terhadap kerentanan dan risiko yang dihadapi perempuan pembela HAM. “Ancaman demi ancaman harus kami hadapi. Saya bahkan pernah ditodong senjata tajam dan rumah saya pernah dilempari orang tidak dikenal.

Pokoknya nyawa terancam, pernah saya alami,” kisah Beauty. Kekerasan terhadap perempuan yang kemudian menjadi kasus yang mereka tangani, tidak jarang melibatkan “orang-orang kuat” itu, kenangnya, tentu saja menjadi tantangan berat baginya dan LBH APIK NTB saat itu dalam membela perempuan-perempuan (klien) yang mulai berani bersuara atas penderitaannya. “Banyak kasus keluarga ini yang dilakukan dan atau melibatkan pejabat, pengusaha kaya dan berbagai kekuatan lainnya,” ujar Beauty.

Perjuangan yang dilakukan LBH APIK NTB tidak hanya melulu dalam penanganan kasus, melainkan kala melakukan pendekatan dengan semua pihak termasuk pemerintah, tokoh-tokoh masyarakat, tokoh agama hingga ke komunitaskomunitas masyarakat lainnya, demi mendapat dukungan dalam melindungi perempuan dan anak dari tindak kekerasan yang paradigmanya waktu itu masih dianggap urusan domestik (keluarga). Dengan berbagai pengalaman ini, LBH APIK NTB belajar untuk lebih strategis dalam perjuangannya. Secara perlahan, perjuangan yang kadang mengharuskannya turun ke jalan tersebut membuat paradigma mengenai kasus dalam keluarga khususnya menyangkut KDRT dan anak mulai berubah. “Masyarakat khususnya di NTB sudah tidak bungkam lagi dan telah menyadari bahwa bicara soal kesetaraan bukan sebagai lagi merupakan “dosa” dan kasus kekerasan yang terjadi dalam keluarga bukan lagi tabu untuk dibicarakan di muka publik karena itu merupakan tindak pidana,” ujarnya. Namun, sekali pun kondisi ini telah membaik, LBH APIK NTB terus mengawal agar kekerasan terhadap perempuan dan anak tidak tumbuh lagi dengan berbagai dalih, khususnya dalih bahwa hal ini merupakan urusan keluarga semata. -Naniek I. Taufan

Edisi 854/ 22 - 28 juni 2015

Keluarga adalah unit terkecil dari masyarakat. Agar masyarakat menjadi lebih baik dan ber­kualitas, tentu harus mulai dari keluarga. Karena itu, peran keluarga sa­ngat penting. “Keluarga merupakan awal lahirnya generasi men­datang. Keluarga sebagai unit terkecil yang me­rupakan tempat untuk mendidik dan membentuk watak moral serta melatih kebersamaan sebagai bekal kehidupan bermasyarakat,” ujar Kepala Perwakilan BKKBN Provinsi Bali Ida Bagus Wirama, S.H., M.Kes.

I

a menambahkan membentuk keluarga yang berkualitas (keluarga yang dibentuk berdasarkan perkawinan yang sah bercirikan takwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, sejahtera, sehat, maju, mandiri, memiliki jumlah anak yang ideal, berwawasan ke depan, bertanggung jawab, dan harmonis) merupakan hal yang tidak mudah. “Untuk membangun sebuah keluarga diperlukan perencanaan yang matang, antara lain merencanakan usia perkawinan (20-30 tahun), membina hubungan antar pasangan (dengan keluarga lain, kelompok sosial), merencanakan kelahiran anak pertama

19

Bentengi dengan Delapan Fungsi Keluarga (persiapan menjadi orangtua), mengatur jarak kelahiran (menggunakan alat kontrasepsi), berhenti melahirkan di usia 35 tahun (agar dapat merawat balita secara optimal), serta merawat serta mengasuh anak (memenuhi kebutuhan dasar anak berupa fisik, kasih sayang, dan stimulasi),” jelas Wirama yang didampingi Kabid KS dan PK Ida Bagus Adnyana. Karena pentingnya peran keluarga, sejak tahun 1994 pemerintah mengadakan peringatan Hari Keluarga Nasional yang dirayakan tiap tanggal 29 Juni. Peringatan ini menurut Wirama untuk mengingatkan masyarakat mengenai pentingnya arti keluarga. Selain itu, untuk mengajak seluruh keluarga Indonesia untuk melakukan instrospeksi diri serta berbenah untuk melakukan yang terbaik bagi keluarga. Tahun 2015 ini, puncak Hari Keluarga Nasional dilaksanakan di Provinsi Banten pada 1 Agustus sedangkan di tingkat provinsi Bali akan dilaksanakan di Kabupaten Klungkung.

Ida Bagus Wirama

“Akhir-akhir ini banyak permasalahan yang terjadi di masyarakat. Ada kasus kekerasan dalam rumah tangga, ting-

ginya angka perceraian, serta Triad KRR di kalangan remaja. Untuk mengatasinya, BKKBN mengajak seluruh keluarga untuk memperkuat kembali pelaksanaan delapan fungsi keluarga serta melakukan perencanaan keluarga dengan sebaikbaiknya,” ujar suami Ketut Suriyanti, S.ST dan ayah dari dr. Ida Ayu Pt. Lely Wiryanti, S.Ked. dan dr. Ida Bagus Md. Andy Wiraputra, S.Ked. ini. Delapan fungsi keluarga yang dimaksud adalah fungsi agama, fungsi sosial budaya, fungsi cinta kasih, fungsi perlindungan, fungsi reproduksi, fungsi sosialisasi dan pendidikan, fungsi ekonomi, serta fungsi pembinaan lingkungan. Penerapan delapan fungsi keluarga merupakan benteng untuk melindungi keluarga dari berbagai permasalahan sosial. Mengenai tantangan dalam implementasi program-program BKKBN di Bali, Wirama mengatakan masalah budaya dan migrasi penduduk. Budaya Bali yang mengenal penamaan anak hingga anak keempat dianggap bertentangan

dengan program KB yang identik dengan dua anak cukup. Menurut Wirama, program KB itu intinya membatasi kelahiran dengan tujuan meningkatkan kualitas hidup manusia. Selain itu, pola patrilineal yang menjadi anak-anak laki sebagai penerus juga menjadi alasan bagi yang belum punya anak laki-laki untuk membuat anak lagi. Sementara itu migrasi tidak bias dihalangi, Yang bias dilakukan adalah mengatur agar tidak terjadi penumpukan penduduk hanya di satu atau dua wilayah. Dari data yang ada, Wirama menyebut keikutsertaan pasangan usia subur (PUS) di Bali untuk ikut KB mencapai 61,9% sedangkan rata-rata jumlah anak dari PUS sekitar 2,2. Angka kematian ibu saat melahiran di Bali 70 per 100 ribu kelahiran. Angka ini jauh dari angka nasional yang mencapai 359 kematian per 100 ribu kelahiran. Indeks kepuasan orangtua terhadap program penegmbangan anak usia dini di Bali skornya 85. Ini merupakan skor tertinggi di Indonesia. –Ngurah Budi

Tetangga adalah Keluarga Kita Bali memang termasuk daerah yang agak berbeda dibandingkan wilayah lain di Indonesia. Ketidakpahaman masyarakat yang masih menganggap urusan pribadi rumah tangga merupakan kasus domestik yang membuat mereka berpikir, orang lain tidak boleh ikut campur. Beberapa kasus seperti kekerasan seksual dan poligami sering tidak tertangani cepat karena kurangnya pemahaman masyarakat akan hal tersebut. Demikian diungkapkan Direktur LBH APIK Bali, ­Ni Nengah Budawati, SH. Ia menyebutkan, makna UU Nomor 23 Tahun 2004 tentang Penghapusan KDRT, tidak ada toleransi terhadap kekerasan dalam rumah tangga. Kekerasan dalam rumah tangga bukan urusan pribadi tetapi urusan masyarakat dan pemerintah dan kewajiban kita semua untuk meng­ hapusnya. Budawati mengatakan, dalam pertemuan dengan LBH APIK seluruh Indonesia, justru ia melihat, Bali menjadi sangat spesifik karena kasus yang muncul ke permukaan terlihat sangat sedikit. Padahal, mungkin saja, kasus KDRT banyak terjadi. Namun, tak ada pihak yang melapor. Selama ini, kata Budawati, ia lebih banyak menjemput bola. Artinya, bukan korban yang melapor, tapi mereka mendapatkan laporan dari pihak lain. “Kecenderungan orang melapor sangat minim. Kalau hanya menunggu orang melaporkan, hampir tidak pernah ada kasus,” kata Budawati. HOME VISIT Saat ini, LBH APIK Bali telah melakukan kampanye pendekatan home visit. “Setiap kasus yang kami tangani, harus home visit. Ini sangat efektif untuk kampanye penghapusan KDRT,” ucapnya. Ada beberapa manfaat positif dari home visit. Pertama, korban dapat diberdayakan. Kedua, pertemuan keluarga lebih intens sehingga membuka ruang rembug keluarga, termasuk juga bertemu lingkungan sekitar yang membuka pintu rembug bersama. Termasuk bagaimana pandangan masyarakat terhadap kasus tersebut. Ia menilai, dengan pendekatan home visit, sangat efektif dibandingkan mereka hanya melihat di pemeriksaan polisi dan persidangan, tidak akan dapat mempengaruhi orang-orang terdekat. Salah satu kasus yang baru saja ditangani, kasus poligami yang menimpa JP. Saat home visit banyak orang yang terlibat. Ada kelian dusun, PKK, kepala desa, dan STT. Sebelumnya mereka menganggap, hanya soal poligami saja dilaporkan, itu soal biasa. Mereka tidak melihat, JP adalah orang yang harus dibela. Malah, mereka melihat, JP sebagai orang yang tegaan, karena tidak memberikan izin suaminya menikahi pacarnya yang sudah hamil. “Malah masyarakat mengondisikan korban menjadi korban lagi dengan rasa bersalah. Ketika kasus itu saya bedah di masyarakat, mereka menjawab, kalau sudah hamil dinikahkan saja, agar desa tidak leteh. Kasihan perempuannya sudah hamil. Namun, masyarakat tidak melihat bagaimana perasaan JP,” kata Budawati. Ia menilai, dalam mengindetifikasi kasus, masyarakat belum paham, mana yang harus dibela dan mana yang harus diberdayakan. “Karena itu, pendekatan home visit bagi kami memberikan banyak manfaat positif dan membuka ruang diskusi kedua belah pihak,” kata Budawati. Belajar dari kasus bocah 8 tahun yang tewas di rumahnya sendiri, Budawati menilai, masih ada anggapan, apa yang mereka ketahui sebelumnya, itu urusan keluarga. Padahal, masyarakat sekitar, termasuk sekolah sudah mengetahui kondisi bocah tersebut sebelumnya. Mereka masih berpikir, itu urusan keluarga, saya tidak

boleh melaporkan kepada pihak berwajib. Padahal, setiap persoalan yang terjadi di tetangga kita adalah persoalan kita juga. “Kewajiban masyarakat untuk ikut turun tangan jika mengetahuinya,” ujar mahasiswi Pascasarjana Unud ini. Ia menegaskan, kejadian KDRT bukan lagi urusan domestik, karena itu merupakan tindakan kriminal. Saat ini, pola pikir masyarakat masih sebatas pada hanya tahu untuk sendiri. Itu urusan tetangga kita tak boleh ikut campur. Padahal, jika kita peka, setiap kejahatan akan bisa segera ditangani dengan cepat dan membuat orang yang ingin melakukan KDRT akan berpikir melakukannya. Begitu juga dengan kasus bocah usia 8 tahun yang ditemukan tewas di rumahnya. Para LSM peduli perempuan menyatakan turut berduka cita sedalamnya pada korban dan kerabatnya atas tragedi yang menyedihkan ini. Ia menyatakan, tidak ada satu pun anak di dunia ini harus menjadi korban atas kekerasan fisik dan mental. Peristiwa dan pemberitaan kasus ini sudah berdampak pada psikologis anak-anak lain di seluruh Indonesia. “Karena itu kami memandang sangat penting seluruh masyarakat dan pihak terkait mendorong sistem perlindungan anak yang bisa diandalkan. Terlebih jika ada kasus kekerasan,” kata Budawati. RAHASIAKAN IDENTITAS Para LSM peduli perempuan dan anak mengajak semua pihak untuk tidak menyebarkan detail kekerasan melalui media atau sosial media yang bisa memberi dampak ketakutan dan trauma pada anak-anak tanpa disadari. Mengutamakan kepentingan yang terbaik bagi anak dalam penanganan kasus-kasus kekerasan dengan memberikan perlindungan seperti kerahasiaan identitas dan tidak mempublikasikan foto teman-teman korban. Memperbaiki sistem penanganan korban kekerasan dengan menyediakan respons cepat bagi pendampingan, pusat rujukan, dan informasi. Menyerukan kepada pihak-pihak terkait terutama pihak kepolisian untuk tidak mempublikasikan secara detail hasil otopsi dan hasil penyidikan terutama yang berkaitan dengan kekerasan yang dilakukan mengingat korban adalah anak yang seharusnya mendapatkan perlindungan khusus demi martabatnya. Hal-hal tersebut seharusnya hanya dibuka dalam persidangan. “Semoga semua pihak bisa terlibat dalam pencegahan kekerasan baru, tanpa disadari,” kata Budawati. Ia sangat mendukung pihak kepolisian dan mendorong aparat bekerja semaksimal mungkin dalam kondisi yang damai dan kondusif, agar secara jelas berdasarkan fakta bukti menyelesaikan kasus pembunuhan ini dengan baik. Ia berharap, pelaku pembunuhan mendapatkan hukuman yang setimpal dengan perbuatannya. Kedepan, ia berharap, slogan tetangga adalah keluarga kita merupakan kampanye yang harus terus digaungkan. Ia berpesan, kalau kita mengetahui kejahatan tapi tidak melapor, sebenarnya kita ikut melakukan kejahatan karena melakukan pembiaran terhadap kasus itu. “Sudah menjadi kewajiban bagi kita semua untuk ikut memerangi kejahatan. Dengan ikut peduli, tanpa disadari kita sudah ikut menghentikan kejahatan baru,” tegas Budawati. Budawati berharap, perempuan yang mengalami kekerasan atau ingin melaporkan terjadinya KDRT bisa menghubungi beberapa tempat layanan di bawah ini. –Wirati Astiti lLembaga

Bantuan Hukum (LBH) Bali, Jalan Plawa Denpasar (Luh Gede Yastini HP 085 935374495) lLBH APIK Bali, Jl Suli Denpasar (Ni Nengah Budawati HP 082 247547611) lForum Paralegal LBH APIK BALI (Mangku Debel HP 085237182776). lPusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (P2TP2A) Denpasar, (Luh Putu Anggreni HP 081337866599) lForum Mitra Kasih (Luh Putu Anggreni HP 081337866599) lLBH BALI WCC, Jalan Swamandala XX Nomor 4 Denpasar (Ni Ketut Madani Tirtasari HP 08123682115). lKPPA Karangasem (Ni Nyoman Suparni HP 08174722289) lFPPAB (I Wayan Carma HP 081338778393).


20

Nine

Edisi 854/ 22 - 28 JUNI 2015

Hj. Nuraini

Harapkan Keajaiban Datang Di atas sebuah pesawat menuju Makassar, Hj. Nuraini (56), meminta dengan sangat mainan anak-anak pada ­seorang pramugari yang sedang membagikan mainan bagi penum­pang anak-anak yang duduk di sebelahnya. “Mbak, ­tolong berikan mainan itu, untuk anak saya. Dia cacat dan saya sangat ingin membawakannya oleh-oleh mainan ini,” ­ungkapnya setengah memohon pada pramugari yang tentu saja menolak permintaan itu, karena mainan hanya diberikan bagi penumpang anak-anak yang sedang terbang. Melihat apa yang dilakukan Hj. Nuraini pada anak angkatnya ini, patutlah ia disebut sebagai perempuan dan ibu berhati mulia. Ini sangat bertolak belakang dengan kasus-kasus penelantaran dan kekerasaan terhadap anak angkat yang akhir-akhir ini wara-wiri di media massa. Salah satunya kasus kematian Angeline yang berHj. Nuraini dan H. Abdul Thalib bersama Rizki, Sukmawati (kanan belakang), status sebagai anak pengasuh Rizki (tengah belakang) dan Dedi Mardiansyah (kiri belakang). angkat, yang kini ramugari berlalu dan tidak berhak mendapatkan mainan tengah ramai diperbincangkan. Membesarkan seorang anak meninggalkan Hj. tersebut. Entah apa yang ada Nuraini yang kece- dalam benak pramugari itu, tiba- angkat yang sehat, menggemaswa. Ia membayang- tiba ia kembali dan membawakan kan dan lucu bagi sebuah kekan, wajah Muhammad Rizki, anak Hj. Nuraini mobil-mobilan dan luarga yang tidak memiliki anak, angkat yang sangat disayanginya itu catur kecil itu. Betapa bahagianya maka wajarlah rasanya jika anak akan tersenyum bahagia tatkala ia Hj. Nuraini menerima hadiah tersebut akan menjadi primadona tiba dan memberikan oleh-oleh dari pramugari tersebut sambil dalam keluarga kecil itu. Namun, mobil-mobilan dan catur kecil membayangkan senyum dan binar bagaimana jika anak yang diangkat tersebut. Semua sirna ketika cahaya mata anak angkat yang itu adalah anak yang memiliki kekurangan alias cacat dan kelupramugari menyatakan bahwa ia disayanginya tersebut.

P

Ibu RT Kreatif Hj. Nuraini bukanlah seorang wanita karir yang berjibaku dengan kegiatan kantoran, melainkan murni sebagai ibu rumah tangga yang fokus mengurus suami dan anak-anaknya, termasuk Rizki. Namun Hj. Nuraini terbilang kreatif dalam “karirnya” sebagai ibu rumah tangga. Waktu kesehariannya tidak pernah sia-sia. Selain memperhatikan gizi dan kesehatan keluarga, ia mengisi hari-hari dengan aktivitas berdagang pakaian di rumahnya. Dagangan tersebut ada di dalam rumah sehingga dengan mudah ia mengawasinya. Para pelanggan dan kenalannyalah yang datang membeli ke rumah. Ia tidak ngotot dalam hal ini, melainkan menyerahkan semuanya pada rezeki, yang penting ada aktivitas namun tidak meninggalkan rumah. Aktivitas ini juga dilakukannya hanya setahun sekali pada saat bulan Ramadhan hingga menjelang lebaran Idul Fitri. Dengan begitu ia memiliki waktu yang banyak untuk mengurus Rizki yang kini sendiri, sejak ketiga kakaknya, tinggal terpisah. Sukmawati tinggal di Bima mengikuti suaminya, Prima Adikusnan. Wahyu Hidayat tinggal di Taliwang, Sumbawa Barat dan Dedi Mardiansyah tinggal di Mataram. “Sekarang kami tinggal bertiga saja, saya, Muma

(panggilan kepada suaminya) dan Rizki,” katanya sambil menggoda Rizki yang tersenyum ketika namanya disebut. Kebahagiaan paling besar dirasakan Hj. Nuraini adalah ketika keempat anaknya berkumpul di rumah mereka di Jalan Cenderawasih, Brang Biji Sumbawa Besar. Semua kasih sayang tercurah pada Rizki. “Kakak-kakaknya berebut mengurusnya,” ungkap Hj. Nuraini. Jika melihat perjuangan Hj. Nuraini merawat dan membesarkan Rizki, mungkin bisa saja terasa mustahil mengingat anak yang diangkatnya bukanlah anak yang normal. Karena untuk itu, butuh tenaga ekstra dalam mengurusnya. Namun semua rasa capek itu sirna bagi Hj. Nuraini, tiap kali menatap kondisi Rizki. Rasa kasihan yang berubah menjadi kasih sayang dan cinta membuncahkan keihklasan dari perempuan setengah baya yang masih terlihat cantik ini. “Tiap kali melihat Rizki, hati saya luluh dan tidak lagi bisa jauh darinya,” ungkapnya menatap Rizki dengan tatapan penuh kasih seorang ibu. Apa yang dilakukan Hj. Nuraini pada Rizki patutlah menjadikan anak-anak angkat di negeri ini memiliki harapan untuk mendapatkan kasih sayang yang tidak mereka dapatkan dari orang tua kandungnya. -Naniek I. Taufan

arga tersebut memiliki tiga orang anak, rasanya jarang anak angkat tersebut akan terpelihara dengan baik. Tetapi tidak begitu dengan keluarga H. Abdul Thalib (63) dan Hj. Nuraini. Bersama ketiga anak kandungnya, Sukmawati, ST., (33), Wahyu Hidayat, SP., (28) dan Dedi Mardiansyah, SH., (23), mereka bahu membahu merawat dan membesarkan Rizki yang hingga usianya kini 9 tahun belum dapat berjalan dan tidak pula dapat berbicara dengan normal. Tubuh Rizki yang ototototnya kaku hanya bisa berada di kursi roda sepanjang hari. Dalam kondisinya yang demikian, Rizki mendapatkan limpahan kasih sayang yang luar biasa hangat dari seluruh anggota keluarga ini, di rumah mereka di Kota Sumbawa Besar. Dengan penuh kasih sayang, Hj. Nuraini merawat Rizki, memandikan dan membersihkan kotorannya, menggantikannya pampers, menyuapinya makanan hingga memberinya susunya. Dan ini diikuti oleh anak-anaknya. Tidak kalah sayangnya, suaminya pada Rizki di mana tiap malam, Rizki selalu tidur dengan ayah angkatnya ini. “Ke mana pun Bapak (suaminya) pergi, sekali pun hanya ke toko, Rizki sering diajak,” ungkapnya bangga menceritakan tentang anak angkatnya itu. Dalam doa dan harapannya, Hj. Nuraini selalu berharap datangnya keajaiban yang bisa menyembuh-

kan dan menormalkan kondisi Rizki. Sejak ia mengetahui bahwa Rizki cacat dari bayi, ia telah puluhan kali mendatangi dokter demi kesembuhan anak angkatnya itu. Demi kesembuhan Rizki, ia tidak pernah merasa capek membawa Rizki untuk berobat bukan hanya secara medis melainkan juga pengobatan-pengobatan alternatif lainnya. Ia juga kerap mendatangi poli tumbuh kembang anak bahkan hingga ke Mataram. Tiap kali Rizki sakit, ia selalu membawanya berobat ke dokter spesialis. Demikian pula saat Rizki masih balita, imunisasi juga dilakukannya di dokter spesialis. Hj. Nuraini beserta keluarganya, memberikan hal terbaik bagi Rizki. Tidak peduli berapa biaya yang dikeluarkan untuk anak angkat yang diambilnya di Rumah Sakit Umum Sumbawa Besar itu. Ia memperlakukan Rizi seperti anak kandungnya. “Sayang saya pada Rizki bahkan lebih dari anakanak kandung saya,” katanya. Hj. Nuraini tiada habis bersyukur karena suami dan ketiga anaknya juga tidak kalah sayangnya pada Rizki. Rizki bahkan menjadi penghibur hati bagi keluarga ini. Limpahan kasih sayang yang diperoleh Rizki dari seluruh anggota keluarga ini, jelas tidak terjadi begitu saja. Melainkan hasil karya tangan dingin dan sentuhan “management kemanusiaan” dari Hj. Nuraini sebagai seorang perempuan dan ibu dalam rumah tangganya. -Naniek I. Taufan

Momen kebersamaan keluarga Hj. Nuraini bersama ketiga anak kandungnya, serta Rizki dan pengasuhnya.

Inspirasi I Nyoman Putra Saptana-Nyoman Rastini

Edisi 854/ 22 - 28 JUNI 2015

5

Kuncinya Komunikasi

Salah satu agenda tahunan dalam menyambut Hari ­Keluarga ­N asional adalah diadakannya Lomba Keluarga Harmonis ­S ejahtera. Tahun 2015 ini, Duta Badung keluarga I Nyoman ­P utra ­S aptana-Nyoman Rastini berhasil meraih juara I dan ­berhak ­m ewakili Bali ke tingkat nasional. Apa kiat keluarga ini untuk mewujudkan keluarga harmonis dan ­s ejahtera.

S

uasana meriah tampak di rumah Putra Saptana di Banjar Sekar Mukti Pundung, Desa Pangsan, Kecamatan Petang, Badung ketika tim penilai Keluarga Harmonis Sejahtera Provinsi Bali melakukan penilaian. Selain keluarga besar Putra Saptana, tampak hadir juga Ketua TP PKK Kabupaten Badung Ny. Ratna Gde Agung bersama Ny. Sudiana. Acara penilaian diawali dengan penampilan Saptana bersama anak sulungnya I Gede Guntur Pradnyan Jaya yang menjadi penabuh, Rastini yang menjadi sinden, serta anak bungsu mereka Kadek Bintang Pradnya Suari yang menarikan tari Sekar Jepun. Kombinasi bakat seni keluarga ini juda didukung anggota sanggar Guntur Madu milik Putra Saptana. Tak hanya menampilkan kesenian tradisional, Bintang juga berduet dengan ibunya membawakan lagu Bali berjudul “Rahajeng Semeng”. Guntur pun tak kalah atraktif. Dengan iringan gitar akustik, ia menyanyikan dua buah lagu. Kekompakan keluarga ini dalam bidang kesenian sudah diakui masyarakat. Apalagi mereka memiliki sanggar yang menampung bakat-bakat seni dari wilayah Badung Utara. “Saya menyukai seni dan belajar mandiri alias otodidak.

Kalau istri memang lulusan SMKI. Darah seni kami mengalir ke anak-anak. Kami tidak memaksa mereka untuk menekuni seni tetapi karena mereka sendiri yang mau, sebagai orangtua kami hanya mendukung,” ujar pria yang sudah 15 tahun menjadi kelian gong ini. Selain hobi seni, Putra Saptana juga gemar berpetualang dengan mobil off road. Ia juga aktif di Petualang Team Offroad (PTO) dan Perhimpunan Penggemar Mobil Kuno Indonesia (PPMKI). Hobinya di dunia otomotif ini pun mendapat dukungan keluarga. Jika ada event,

Keluarga Putra Saptana menekuni bidang seni

SEIMBANGAN BISNIS DAN KESENIAN Perjalanan hidup Putra Saptana penuh dengan dinamika. Di masa mudanya, ia pernah men-

Keluarga Putra Saptana diperkenalkan oleh penari bondres

ia mengajak Guntur sebagai navigator. Event yang bertepatan dengan hari libur sering mereka manfaatkan untuk liburan. Dari semua keaktifannya itu, Putra mengaku mendapat banyak teman.

jadi sopir bemo di Denpasar. Ketika bemo mulai dibatasi, ia beralih menjadi sales. Pekerjaan ini tak lama dilakoninya. Ia memilih pulang kampung dan menjadi fotografer. “Ta-

Ketua TP PKK Badung Ny. Ratna Gde Agung mendampingi tim penilai Keluarga Harmonis

hun 1999, usaha rafting mulai berkembang di Petang. Saya memilih menjadi fotografer untuk memotret para wisatawan yang rafting. Setelah itu mulai berkembang dengan dengan membuka studio foto hingga membuka m i n i m a r k e t G u n t u r, ” kenangnya. Dengan usaha minimarket ini, ia belum puas. Ada hasrat di bidang kesenian yang belum tersalurkan. Ia ingin menyeimbangan bisnis dan kesenian. Akhirnya ia mendirikan sanggar Guntur Madu yang dipakai untuk mengabdikan ilmu di bidang kesenian. Perjalanan membentuk sanggar sempat mengalami pasang surut karena dibilang hanya mencari keuntungan semata. “Niat kami di Sanggar Guntur Madu untuk melestarikan kesenian. Banyak lulusan kami yang menjadi pelatih di banjar-banjar. Ini merupakan sumbangsih kami. Bahkan tiap tahun kami selalu

tampil di PKB dan sejak adanya Festival Pertanian Badung, kami juga ikut mengisi acara,” ujarnya. Kehidupan keluarga yang rukun pun mereka jalani. Sebagai orangtua, Putra Saptana dan Rastini selalu meluangkan waktu untuk berkomunikasi dengan anak-anak. Apa yang menjadi keluhan anak disimak untuk dicarikan jalan keluar. Kekompakan keluarga juga terlihat jika mereka mengikuti event kesenian maupun event otomotif. “Kami bangga dengan orangtua yang bisa sukses. Orangtua pun mendukung hobi kami,” ujar Guntur dan Bintang. Saptana mengaku semua pencapaian keluarganya saat ini tak lepas dari komunikasi yang intens mereka lakukan. “Bagi kami, kunci keharmonisan dan kesejahteraan adalah komunikasi. Kalau ada masalah langsung dikomunikasikan. Kami sudah saling memahami satu sama lain. Ada saatnya kami saling mengalah untuk mencari solusi,” tegasnya.

Saptana dan istri saat penilaian lomba Keluarga Harmonis

–Ngurah Budi


4

Inspirasi

Edisi 854/ 22 - 28 JUNI 2015

d r. B e n e d i c t a Wa y a n S u r y a n i Wu l a n d a r i

Menyelam dan Operasi “I

MENGENAL KULINER UNIK Beruntung, penerimaan masyarakat di sana sangat positif. Keberadaan dok-

dr. Benedicta Wayan Suryani Wulandari ter yang menetap, apalagi serarang spesialis, memang sejak lama dirindukan masyarakat Selayar. Karenanya kehadiran Ben membuat masyarakat sukacita. Apalagi di sana ada banyak kasus mata sehingga dengan kehadiran dokter muda ini, bisa memudahkan masyarakat mendapat pelayanan. “Saya sangat terkesan dengan penerimaan mereka. Mereka sangat menyenangkan, ramah dan cepat akrab. Apalagi kalau pekerjaan kita atau apapun yang kita lakukan membawa manfaat. Saya serta merta mendapatkan keluarga baru, saudara-saudari yang baru,” jelasnya. Masyarakat Selayar, jelas Ben lagi, umumnya bersuku Bugis-Makassar, dengan beberapa adat yang hampir sama dengan yang di Makassar, tapi beberapa kata dalam bahasa mereka berbeda. Seperti kata ‘Ghele’ yang artinya ‘tidak’, menjadi ciri khas orang Selayar. Dari pergaulannya dengan masyarakat pula lah, Ben mendapatkan banyak pengalaman baru di dunia kuliner. Ia berkesempatan berkenalan dengan berbagai makanan laut yang baru, seperti macam-macam kerang/siput, ikan pari, bulu babi, gurita dan rumput laut. “Semuanya enak dan unik. Saya baru pertama kali menjumpai makanan seperti itu. Khasanah kuliner saya makin bertambah,” ucapnya sambil tertawa. “Di sana juga saya belajar ikut menjalankan siklus makan saat Bulan Suci Ramadhan karena kebetulan saya tinggal dengan orang tua angkat yang haji,” ungkap Ben yang beragama Katolik. Meskipun segala sesuatunya berjalan relatif lancar, namun perlahan Ben mulai merasakan kejenuhan. Ya, maklum saja tinggal di tempat terpencil yang sangat minim hiburan. Hidup terasa monoton. Secara intelektual pun ia tak dapat berbuat banyak karena fasilitas medis yang dimiliki sangat minim. “Saya merasa kemampuan saya stagnan, tidak berkembang,” ucapnya. JATUH CINTA DUNIA BAWAH LAUT Beruntunglah, dia segera menemukan ‘obat’ dari kejenuhannya yakni dunia bawah laut. Penemuan ini bisa jadi secara tak sengaja ketika ia tengah browsing di internet tentang Selayar. “Saat saya browshing, yang pertama kali muncul adalah tentang dunia bawah laut Selayar yang indah. Saya tertarik dan ingin tahu lebih jauh tentang ini,” kata Ben. Berbekal info dari internet itu, ia pun berusaha mencari tahu. Tak dinyana, tidak mudah mendapat info itu karena ternyata orang Selayar banyak yang takut laut. “Ini aneh! Tidak tampak aktivitas bahari seperti di dunia maya, bahkan

sebaliknya ternyata orang Selayar banyak yang takut laut,” ucapnya. Tapi Ben sudah terlanjur penasaran, maka ia pun terus mencari tahu. Akhirnya, beruntung, ia bertemu seorang instruktur diving berkebangsaan Jerman yang kebetilan mengelola salah satu resort baru di sana. Bisa jadi inilah jalan yang diberikan ‘Tuhan’ agar Ben betah mengabdi di Selayar. Sejak itu, ia pun belajar diving dari instruktur asal Jerman itu. “Saya menemukan kegairahan baru, belajar sesuatu yang baru yang luar biasa indah,” kata Ben senang. Kegairahan baru membuat Ben yang pernah mewakili Bali untuk cabang bela diri Kempo pada PON XII, bangkit semangatnya untuk menjelajah dari pulau ke pulau untuk memberi pelayanan kesehatan mata. “Saya memberanikan diri melakukan turne ke pulau Jampea untuk pemeriksaan gratis dan operasi katarak. Kabar yang saya dapat, di sana banyak penderita buta katarak tapi tidak bisa menyeberang ke Selayar. Jadi saya putuskan untuk mendatangi mereka,” tuturnya. Untuk mencapai pulau itu, katanya, dia dan timnya menggunakan kapal kayu dengan jarak tempuh sekitar 8 jam. Selama sepekan ia menghabiskan waktu disana untuk pengobatan masyarakat. “Banyak pengalaman berharga yang saya dapat. Saya merasa puas bisa mengabdikan diri saya untuk masyarakat,” tambahnya. Dari Jampea, Ben pun merambah ke pulau lainnya. Hidup Ben di Pulau Selayar pun menjadi lebih berwarna. Dia bukan saja mengabdi pada masyarakat sebagai tenaga kesehatan tapi juga menemukan hobi baru yakni menyelam. Ketertarikan Ben semakin menjadi-jadi karena ternyata dunia bawah laut itu luar biasa indah. “Banyak yang menarik dari laut. Laut itu seperti dunia baru. Surga yang sama sekali berbeda dengan keseharian kita. Saya dulu takut sekali dengan laut, apalagi kalo melintas di perairan dalam dengan kapal dan melihat laut gelap dan dasarnya hitam. Apalagi kalau ombak tinggi. Ya, sepertinya kita semua begitu ya? “ kata Ben sembari tertawa. Saat belajar diving lah, tuturnya, ia mengetahui banyak hal. Mulai dari musim, siklus pasang-surut, belum lagi berjumpa langsung dengan makhluk-makhluk ciptaan Tuhan yang berwarna-warni, mempelajari cara hidup mereka, dan mengetahui bagaimana beberapa dari spesies itu sudah hampir punah dari muka bumi. “Saya jatuh cinta!” tandasnya. Baginya, gelombang laut bukan lagi ancaman yang menakutkan, tapi irama kehidupan yang didalamnya terdapat bermacam-macam keindahan yang sangat menakjubkan. Ya, Ben seolah telah menemukan dunianya. Suatu yang tak pernah dibayangkan sebelumnya. Tak hanya sampai di situ, Ben yang telah mengantongi lisensi penyelam advance pun melamar ke Taman Nasional Taka Bonerate sebagai relawan untuk memonitor terumbu karang. Awalnya, kata Ben, niatnya selain melakukan konservasi terumbu karang juga untuk menambah pengalam menyelam. Tapi siapa nyana, ternyata pihak Taman Nasional yang tahu bahwa Ben adalah seorang dokter spesialis, menawarkan dirinya untuk juga melakukan pelayanan kepada masyarakat di pulaupulau yang ada di sana. “Tentu saja saya menyambut gembira tawaran itu. Ini luar biasa sekali....hehheh ‘sambil menyelam, operasi katarak’,” ucapnya semringah. Sejak itu, kata Ben lagi, hidupnya menjadi semakin sibuk, bukan hanya dengan bekerja mengobati masyarakat tapi juga dengan kegiatan kon-

Pisah Sambut Kapolda NTB

H

servasi. Apalagi, banyak hal yang belum diketahuinya tentang laut dan konservasi. “Kegiatan saya menjadi seolah tak terbendung. Semuanya mengalir bersamaan. Saya belajar konservasi, mengenal biota laut, menjalin pertemanan dengan sesama penyelam yang ternyata banyak jumlahnya,” kata Ben yang kemudian membentuk komunitas Sileya Scuba Divers yang kemudian menjadi cikal bakal kegairahan wisata bahari di Selayar. Bersama komunitasnya, Ben melakukan trip-trip kecil dan mempublikasikan kegiatan-kegiatan mereka. “Kami melakukan berbagai kegiatan, kemudian memublikasikannya. Sebagian teman pun mulai mengembangkan keahlian mereka dalam fotografi, pemberdayaan masyarakat untuk membuat cinderamata, membuat event-event bahari, dll,” tuturnya. Untuk membangun pariwisata, mereka juga bekerja sama dengan pemerintah dan masyarakat setempat. Pelan tapi pasti, keindahan Selayar yang tersembunyi mulai diketahui luas. Banyak orang peminat wisata bahari berdatangan ke Selayar. “Doa saya terkabul, makin banyak orang mencintai Selayar yang memang sangat indah,” katanya. Dunia bawah laut kita, paparnya lebih jauh, adalah kekayaan yang sangat besar yang dianugerahkan Tuhan. Indonesia adalah negara kepulauan terbesar di dunia, memiliki garis pantai terpanjang dan menjadi salah satu jantung terumbu karang dunia. “Kita ini sungguh kaya raya! Nah, siapa lagi yang bisa memelihara kekayaan ini kalau bukan kita? Saya merasa sangat bersyukur, masyarakat pulau banyak yang tersentuh justru karena saya seorang dokter, perempuan pula, bukan penduduk asli, bukan petugas kelautan atau aparat, tapi peduli dan mengajak penduduk untuk menjaga kekayaan laut mereka. Saya sangat bersyukur bisa makin membuat mereka percaya,” tambahnya. MENYELAM DI KEDALAMAN 40 METER Meski telah terlibat cukup dalam dalam kegiatan penyelaman dan terumbu karang, namun kegiatannya sebagai tenaga kesehatan tetaplah yang utama. Begitu pun soal menyelam. Baginya menyelam hanya sekadar hobi dan ia tak tertarik untuk menekuni lebih jauh. Betapapun, tambahnya, menyelam adalah sebuah aktivitas berisiko. “Saya pernah menyelam pada kedalaman 40 meter saat mengambil lisensi Deep Dive di drop off Pantai Timur Selayar, juga saat melakukan trip di Bunaken hanya untuk menyadari betapa cepatnya udara di tabung saya habis dan bertambahnya risiko saya bisa keracunan nitrogen,” ujarnya. Karena itu ia sangat salut pada penyelam-penyelam teknis (technical divers) yang mampu menyelam ratusan meter untuk bekerja. Mereka itu memiliki keahlian dan sertifikat khusus. “Ach...saya tidak tertarik untuk itu, tidak terima kasih. Saya bahagia hanya di kedalaman 8-20 meter saja, karena di

Edisi 854/ 22 - 28 JUNI 2015

21

Mengakhiri tugasnya di Nusa Tenggara Barat sebagai Kapolda, Brigadir Jenderal Polisi Drs. Sriyono, M.Si., menyerahkan tongkat komando kepada Brigadir Jenderal Polisi Umar Septanto, SH,. MH., untuk mengawal kamtibmas di Bumi Gora. Sebagai rangkaian serah terima jabatan itu, acara pisah sambut dilaksanakan beberapa waktu lalu dihadiri oleh seluruh jajaran Pejabat Utama Polda NTB dan PolresPolres se-NTB serta personil lainnya. Dihadiri pula oleh Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (FKPD) Provinsi NTB, termasuk Gubernur NTB, Dr. TGH. M. Zainul Majdi.

Bukan dokter biasa. Begitu penilaian orang yang mengenal Dr Benedicta Wayan Suryani Wulandari. Pasalnya, Dokter Ben, begitu wanita ini akrab disapa, bukan hanya sekadar dokter yang bekerja di lingkungan medis yang menyambangi pasiennya dari pulau ke pulau, tapi dia juga jagoan menyelam serta aktivis lingkungan, khususnya konservasi terumbu karang.

tu ketika saya bertugas di Pulau Selayar. Saya sempat melamar sebagai sukarelawan ke pihak Taman Nasional Taka Bonerate untuk monitoring terumbu karang. Maksudnya sekalian menambah pengalaman menyelam. Mengejutkan! Pihak Taman Nasional bukan saja menerima tawaran saya tapi juga meminta saya melakukan pelayanan kesehatan kepada masyarakat dari pulau ke pulau. He..hehe...ini luar biasa sekali. Saya pun menyambut gembira..Luar biasa, sambil menyelam, operasi katarak, hehehheh,” ungkap Dr Ben mengenang pengalamannya beberapa tahun lalu. Berawal dari penempatannya sebagai dokter spesialis mata yang baru saja lulus dari Fakultas Kedokteran Hasanuddin, Makassar. Sebagai dokter baru lulus, tentu saja ia ingin segera bekerja mengabdikan ilmunya. Tawaran datang, yakni penempatan di Selayar, sebuah pulau yang berada di Sulawesi Selatan. “Kebetulan salah seorang supervisor kami di Bagian Mata FK UNHAS menyarankan saya ke Selayar karena di sana belum ada dokter mata definitif. Perdami Sulawesi Selatan sering melakukan kegiatan rutin ke sana untuk program pemberantasan buta katarak,” tuturnya. Berbeda dengan banyak dokter yang menolak ditempatkan di daerah terpencil, Ben justru menerima tantangan itu. Padahal kalau menolak pun ia memiliki alasan yang kuat. Betapa tidak, anak-anaknya masih kecil-kecil, suaminya pun bekerja di Makassar. Artinya, jika menerima berarti ia rela hidup terpisah dari keluarganya, suami dan anak-anaknya. “Saya bersyukur keluarga saya, baik itu suami maupun orangtua saya, mendukung. Maka jadilah ketiga anak saya yang masih kecil-kecil, tinggal di Makassar bersama suami saya yang bekerja sebagai dokter spesialis penyakit dalam di sebuah RS swasta. Selain ayahnya, anak-anak juga diasuh oleh nenek dan tantenya,” ungkap Ben yang ketika itu hanya bisa sebulan sekali pulang menengok keluarganya di Makassar. Tinggal sendiri di lingkungan baru di pulau terpencil tentu menjadi tantangan tersendiri bagi Ben. Ia harus menyesuaikan diri dengan kondisi yang ada, termasuk minimnya fasilitas, sarana dan prasarana. Di tempat kerjanya pun tak terkecuali. Peralatan-peralatan yang dibutuhkan untuk pelayanan medis pun sangat minim. “Permasalahan dunia kesehatan di tempat-tempat terpencil di negeri kita itu rata-rata sama, yaitu ketidakseimbangan SDM dengan prasarana. RS menyediakan alat spesialistik, dokternya yang tidak ada. Atau sebaliknya, dokternya ada, alat-alat yang diperlukannya tidak ada. Nah, permasalahan saya itu yang kedua, yakni, dokternya ada tapi peralatan yang diperlukan tidak ada,” ucap penerima penghargaan ‘Kartini Awards’ 2011, ini. Walhasil, ia terpaksa menggunakan peralatan milik sendiri karena menunggu pengadaan dari pemerintah memerlukan proses dan waktu yang lama. “Saya ini orangnya tidak suka terlalu tergantung pada orang lain. Saya bersyukur menjadi seorang spesialis mata yang bisa bekerja dimana saja. Di kamar operasi berstandar internasional maupun di puskesmas pembantu di pelosok pulau, karena dapat melakukan operasi dengan anestesi lokal saja,” papar Ben yang kini menjadi Direktur RS Arsani Sungailiat, Bangka.

Mandalika

kedalaman itupun ada banyak kehidupan yang bisa saya lihat dan sapa,” ungkap Ben yang kini menjadi piawai mengambil foto kehidupan di dasar laut. Koleksi foto-fotonya yang luar biasa indah kerap dipublikasikannya di dunia maya. “Ya saya suka sekali mengambil foto. Sampai hari ini saya sudah merusakkan empat camera bawah laut...heheheheh. Semua foto-foto saya menjadi koleksi pribadi yang kadang saya posting di media sosial,” ungkap Ben yang sempat mengikuti eventbahari internasional ‘Sail Wakatobi-Belitong’ tahun 2011. Baginya event itu sungguh berkesan, salah satunya karena fotonya meraih juara pertama. “Saya sungguh bersyukur. Padahal saya memotretnya pakai kamera saku tanpa eksternal flash. Syukur kepada Tuhan, itu sungguh hadiah yang sangat berkesan,” katanya. Kini, kata Ben lagi, kegiatan penyelaman maupun aktivitas konservasi laut sudah jarang dilakukannya karena kesibukannya yang luar biasa di rumah sakit. Sejak meninggalkan Selayar tahun 2011, Ben pun pindah ke Sungailiat, Bangka. Hal ini karena suaminya mendapat pekerjaan baru di rumah sakit swasta di Sungailiat. Demi tidak lagi berpisah dari keluarga, apalagi Bangka cukup jauh dari Sulawesi, maka Ben pun ikut pindah mengikuti tempat kerja suaminya. “Kami sekeluarga pindah dan menetap sampai sekarang, dan tidak terpisah-pisah lagi. Saya dan suami bekerja di RS yang sama, tinggal bersama ibu dan anak-anak,” jelas Ben yang sejak 2013 lalu dipercaya menjadi Direktur Rumah Sakit Arsani, Sungailiat, Bangka. Tidak seperti sebelumnya, maka pekerjaannya di rumah sakit sekarang luar biasa banyak. Dia pun menjadi amat sangat sibuk. “Pekerjaan saya sekarang luar biasa. Saya kembali menjadi seorang dokter spesialis full timer karena alat-alat yang saya perlukan dan tunggu selama enam tahun di Selayar, di sini hanya perlu enam bulan menunggunya,” ungkap Ben yang ketika dihubungi baru saja menyelesaikan sebuah operasi. “Sebelumnya operasi saya mengurus pasien di poli sekitar 25-30 orang,” tambahnya. Rumah sakitnya, kata Ben lagi, memiliki alat diagnostik mata terlengkap se-Bangka Belitung, dan untuk pasien peserta BPJS sama sekali tidak dipungut biaya. “Di sini saya sibuk sekali. Aktivitas operasi saya juga berlipat ganda dibanding di Selayar. Makanya untuk kegiatan-kegiatan pencinta alam saya sudah kekurangan waktu, meski sempat membawa anak-anak dan karyawan ke penangkaran penyu dan hutan mangrove,” katanya. Sesekali, katanya, ia masih sempat ikut pelayanan kesehatan dan operasi katarak di pedalaman, seperti di Sepauk, Kalimantan Barat pada 2014 lalu, Bangka Tengah, dan rencananya akan ke pedalaman Tana Toraja pada September 2015. “Semoga Tuhan memperkenankan saya melancong ke masyarakat yang tinggalnya jauh dan menimba banyak pelajaran hidup,” katanya menutup pembicaraan. –Diana Runtu

arapan stabilnya kamtibmas di Nusa Tenggara Barat kini, ada di pundak Kapolda NTB yang baru yang sebelumnya menjabat sebagai Karobinops Sops Polri ini, khususnya dalam menghadapi Pilkada serentak secara nasional

dan terdapat tujuh kabupaten kota/kabupaten di NTB pada bulan Desember 2015 mendatang. Kegiatan pisah sambut ini, merupakan tradisi Bhayangkara, selain menerima Kapolda baru NTB juga sekaligus mengantar mantan Kapolda NTB Brigjen Pol. Drs. Srijono, M.Si. Pada kesempa-

tan inilah Kapolda yang dikenal sangat serius dalam melakukan gerakan perubahan karakter dan mainset baik internal maupun masyarakat ini, menyampaikan ucapan terimakasih kepada warga Bumi Gora yang dinilainya sangat kooperatif. Selain itu, ia juga meminta maaf kepada masyarakat NTB

atas beberapa kejadian gangguan kamtibmas seperti konflik sosial yang banyak dipicu kesalahpahaman yang terjadi selama ia bertugas. “Masyarakat NTB telah menerima saya dengan sangat baik sehingga saya dapat melaksanakan tugas dengan lancar,” ujarnya. Saat melepas Brigjen. Sriyono,

Gubernur NTB menyerahkan kenang-kenangan kepada Pati yang melanjutkan tugasnya ke Lembaga Pendidikan Polri (Lemdikpol) ini sebagai ucapan terima kasih atas pengabdian jenderal bintang satu ini selama sebelas bulan bertugas di NTB. -Naniek I. Taufan

NTB Kampanyekan

Anti Pasung

Gubernur NTB, DR. TGH. M. Zainul Majdi (tengah) diapit Brigjen. Drs. Sriyono, M.Si., (kanan) dan Brigjen. Umar Septanto, SH,. MH., (kiri)

Kampanye anti pemasungan terus gencar disuarakan, khususnya oleh pemerintah. Perlakuan pasung terhadap orang sakit jiwa memang telah lama terjadi di tanah air, termasuk pula di Nusa Tenggara Barat. Untuk menghentikan tindakan pemasungan, bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah melainkan diperlukan juga dukungan dan perhatian dari seluruh lapisan masyarakat. Penderita gangguan jiwa semestinya diobati intensif di rumah sakit khusus (RS jiwa), bukan malah diasingkan dan dipasung sehingga memperburuk kondisinya. Ketua Tim Penggerak PKK NTB yang hadir dalam kegiatan ini, Hj. Erica Zainul Majdi mengatakan, bahwa pemasungan bukan hanya melanggar hak asasi manusia namun dapat dikatakan sudah merupakan tindak pidana. Karena itu, Erica menyarankan supaya pihak Rumah Sakit Jiwa juga

mengajak pihak berwajib untuk ikut membantu kampanye ini. Berdasarkan data yang disampaikan Direktur Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Provinsi Nusa Tenggara Barat dr. Elly Rosila Wijaya, Sp.Kj., penderita gangguan jiwa di NTB saat ini mencapai 9.876

orang atau sekitar 0,21% dari jumlah penderita gangguan jiwa di Indonesia. Angka ini tentu saja mengkhawatirkan melihat banyaknya penderita gangguan jiwa dari berbagai usia, mulai dari anak-anak, remaja, maupun orang dewasa. Dari jumlah tersebut, sekitar 1.400 orang yang dipasung oleh keluarga dan kerabatnya. “Kampanye anti pasung bertujuan tidak hanya membebaskan orang dengan gangguan jiwa dari pasung yang menyiksa tubuh. Lebih dari itu, membebaskan jiwa yang terpasung, memberdayakan, menjadikan mereka sebagai bagian serta mampu berkontribusi kepada masyarakat,” kata dr. Elly. Menurut Wakil Gubernur Nusa Tenggara Barat H. Muhammad Amin, S.H, M.Si ., saat membuka Pelatihan Service Exellent Rumah Sakit Jiwa Mutiara Sukma Menuju Akreditasi Paripurna 2016, selama ini tidak sedikit orang yang men-

Hj. Erica Zainul Majdi dan Putri Indonesia 2015 serta tamu undangan lainnya bersama penderita gangguan jiwa di Bangsal Melati RSJ NTB.

Gubernur NTB, TGH. M. Zainul Majdi (paling kiri) bersama istri dan Brigjen. Pol. Drs. Sriyono, M. Si., )paling kanan) bersama istri.

derita gangguan jiwa dipasung oleh keluarganya sendiri. Hal ini merupakan tindakan yang melanggar hak asasi manusia. Orang dengan gangguan jiwa memiliki hak yang sama dengan orang lain. Alasan pemasungan adalah khawatir para penderita gangguan jiwa tersebut mengamuk dan mengganggu warga.

Kegiatan pelatihan ini dibarengi dengan Kampanye Anti Pasung Putri Indonesia 2015, Anindya Putri. Dan untuk menggencarkan kampanye anti pasung di Nusa Tenggara Barat, Putri Mutiara NTB 2014, Baiq Windi Amelia dinobatkan sebagai Duta anti Pasung NTB. -Naniek I. Taufan

Hj. Erica Zainul Majdi (tiga dari kiri) bersana Putri Indonesia 2015, Anindya Putri (tiga dari kanan) beserta Duta anti Pasung NTB Baiq Windi Amelia (dua dari kiri),Direktur Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Provinsi Nusa Tenggara Barat dr. Elly Rosila Wijaya, Sp.Kj (paling kiri), Wakil Gubernur Nusa Tenggara Barat H. Muhammad Amin, S.H, M.Si., (paling kanan) serta Ketua BKOW Hj. Syamsiah Muh. Amin (dua dari kanan)


22

Sosialita

Edisi 854/22 - 28 Juni 2015

Kibarkan Juni Kebaya Perkembangan kebaya yang kian menggeliat be­ berapa tahun ter­akhir ini, rupanya juga menggelitik hati Ni ­Nengah Juni Astryani, S.Pd., untuk memantapkan diri terjun di dunia jahit-menjahit kebaya. Peluang pasar ini khususnya di Bali dilihatnya cukup potensial. Masyarakat bali khususnya kaum perempuan, mulai anak-anak, remaja, hingga dewasa, tak bisa lepas dari kebaya.

K

Wajah Bu Sumarni tampak sumringah sore itu. Aneka makanan buka puasa yang digelarnya laris manis sejak hari pertama puasa. Mulai dari aneka kolak, kue-kue, es buah, es podeng ­hingga beberapa makanan buka puasa, dijual Sumarni dalam Bazar Ramadan yang digelar pe­ngurus RWnya. “Alhamdulilah hampir habis semua. Sudah dua hari ini, sejak pertama puasa, dagangan saya laku banyak. Ini rezeki Ramadan,” ungkap wanita 52 tahun ini tersenyum lebar.

I

Beragam makanan berbuka puasa di bazar ramadhan

pulang belanjannya. Karena kami tidak menyediakan tempat untuk makan. Lagi pula, bazar ini tutup setelah buka puasa,” tambah Leila yang berjualan disamping Sumarni. Seperti Sumarni, Leila yang menjual makanan rumahan pun, mengaku menangguk keuntungan dari hasil dagangannya. “Saya ikut bazar ini

setiap tahun dan selalu untung,” ucap Leila yang mengaku mendapat untung bersih per-hari rata-rata Rp 500 ribu. Pasar kaget makanan dan jajanan buka puasa seperti di Kebon Bawang itu, memang saat ini sedang marak di Jakarta dan itu terjadi setiap tahun sepanjang Bulan Ramadan. Salah satu

3

Juni Astryani

Berburu Hidangan Buka Puasa di Pasar Kaget ni adalah keempat kali­ nya Sumarni berparti­ sipasi dalam Bazar Ra­ madan dan ia mengaku selalu untung. “Tahun ini saya be­ lum tahu, karena bulan puasa baru saja mulai. Tapi dalam dua hari ini keuntungan saya antara Rp 500 ribu -700 ribu per hari. Tahun lalu juga hampir sama, keuntungan­nya seperti itu juga. Saya harap hasil tahun ini lebih bagus,” ucap janda beranak empat itu. Sumarni adalah salah satu dari sekitar 50 warga RW 06 Kelu­ rahan Kebon Bawang, Tanjung Priok, yang ikut berpartisipasi dalam Bazar Ramadan yang di­ adakan pengurus RW-nya setiap tahun. Untuk acara tersebut, ruas jalan penghubung Jl Bugis, ditutup selama bulan Puasa. Kar­ ena letaknya yang strategis maka Bazar Ramadhan itu menjadi terkenal, khususnya di kawasan Tanjung Priok. “Umumnya orang datang membeli, tidak makan di tem­ pat. Mereka datang membawa

Edisi 854/ 22 - 28 juni 2015

yang cukup terkenal adalah di ka­ wasan Benhil atau Bendungan Hilir, Jakarta Pusat. Tempat ini, memang, meski bukan bulan puasa telah menjadi salah satu destinasi belanja kuliner paling favorit di Jakarta. Mulai dari restoran, rumah ma­ kan, cafe, hingga pedagang kaki lima yang berjualan makanan, ramai di sini. Jenis makanannya pun sangat beragam, dari makanan nusantara hingga mancanegara, ada. Tak heran kawasan ini kerap kali macet karena banyak mobil parkir di ping­ gir jalan. Juga, letak yang strategis yakni dekat dengan Jl Jenderal Sudirman yang merupakan pusat perkantoran, membuat Benhil menjadi salah satu pilihan tempat makan para karyawan di sana. Ketika Bulan Puasa seperti sekarang, keramaian pusat kuliner Benhil semakin menjadi-jadi. Selain pedagang tetap, di sana juga diban­ gun ‘pasar kaget’ Bazar Ramadan. Persisnya di depan Pasar Benhil. Namanya ‘pasar kaget’ maka ini hanya muncul pada saat Ramadan saja. Menurut Ace, salah satu yang mengkoordinir Bazar Ramadan, kegiatan ini telah ada sejak tahun 1990-an dan pesertanya adalah warga sekitar. Dulu, hanya sedikit warga yang tertarik berpartisipasi berjualan di bazar itu. Namun seir­ ing perkembangan kawasan Benhil menjadi pusat kuliner, jumlah warga yang berpartisipasi pun terus ber­ tambah. Dari yang hanya puluhan kini menjadi ratusan.

“Rata-rata berdagang di sini pasti untung karena pembelinya banyak sekali. Sekalipun di daerah sini sudah banyak pedagang makanan tetap, banyak rumah makan, warung juga restoran, namun tetap saja ban­ yak pembeli datang ke sini untuk mencari makanan buka puasa,” ungkapnya panjang lebar. Ragam makanan yang dijual di sini lebih banyak dan harganya pun lebih murah ketimbang di restoran. “Pembeli yang datang bukan hanya dari warga sekitar tapi banyak juga dari luar Benhil. Liputan media massa juga ikut mendongkrak popu­ laritas Benhil menjadi pusat jajanan,” tambahnya. Untuk bisa berjualan di Bazar Ramadan warga dikenakan biaya tertentu, besarannya bervariasi antara Rp 1,5-2 jutaan, tergantung seberapa besar lapak yang digu­ nakan. Harga ini, menurut warga relatif murah, apalagi berlaku se­ lama sebulan penuh selama puasa. “Biayanya nggak mahal, kok, bisa ‘ketutup’ dengan pendapatan selama berjualan,” ucap seorang pedagang yang mengaku sudah lima kali ber­ jualan di bazar ini. Bulan Puasa tahun lalu, Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Mari Elka Pangestu sempat melihat dari dekat aktivitas di Bazar Rama­ dhan Benhil. “Bukan hanya menteri yang datang ke sini tapi artis-artis pun banyak yang datang. Waktu kampanye Pilpres lalu banyak tokoh dan artis datang,” ujarnya bangga. –Diana Runtu

ebaya tak hanya dipakai saat upacara adat, namun seka­ rang ini kebaya juga digunakan saat acara perpisahan sekolah atau kampus, dan acara lainnya. Alasan inilah yang kemudian memantapkan Juni-demikian sapaan akrabnya, untuk berkiprah di dunia fashion. Apalagi ia sudah sejak kecil akrab dengan dunia ini. Juni kecil tumbuh dalam sebuah keluarga sederhana di Seraya Ba­ rat, Karangasem, yang mencoba peruntungan dengan merantau ke Denpasar. Di Denpasar, keluarga pasutri I Made Reta dan Ni Wayan Sukaryani yang masih hidup paspasan ini menempati sebuah rumah kos di daerah Padangsambian, bersama kedua anaknya, Juni dan sang kakak I Wayan Rekayana Yasaputra,S.E. “Ibu saya adalah seorang tukang bordir kerawang kebaya. Entah saya mengambil keturunan itu atau tidak, tetapi kesenangan saya dalam dunia jahit-menjahit adalah sebuah hobi yang hingga kini saya tekuni. Dengan menjahit saya merasa pede karena di sini saya dapat menu­ angkan ide-ide yang ada di otak saya.” Demikian ungkap Juni yang baru saja menamatkan gelar sarjana S1nya di Jurusan Sastra daerah IKIP PGRI Bali. Perempuan kelahiran 11 Juni 1992 ini menuturkan ikhwal ia men­ genal dunia ini. Bermula dari suatu ketika, Bapak dan ibunya mengam­ bil pasuh (orderan) di garmen atau temannya yang sebagai pengepul untuk memasang mote pada kanc­

ing bungkus, yang ongkosnya saat itu tak seberapa hanya Rp 200. Waktu itu usia Juni baru 9 tahun. Karena penasaran dengan bentuk mote-mote itu, ia lalu meminta dia­ jarkan untuk menjahitnya. “Awalnya saya tidak dibolehkan sama Bapak karena takut hasilnya rusak dan tidak diterima pengepul. Tapi saya tetap bersikeras mencoba, sampai Bapak dan Meme (ungkapan Ibu dalan bahasa Bali) melihat hasilnya tidak buruk dan setelah diserah­ kan ke pengepul, ternyata lolos,” tuturnya. Begitu seterusnya, sehingga setiap pulang sekolah, pekerjaan sambilan itu dilakukan Juni dengan senang hati. Selain karena senang menjahit, terbersit juga keinginan Juni waktu itu untuk bisa cepat pu­ nya uang, agar bisa belanja sesuka hati. “Jangankan untuk berbelanja, untuk makan saja, dulu itu kami harus irit,” kisahnya. Saat itu, saat anak seusia Juni masih bebas bermain sepuasnya, tak dilakoninya. Juni justru lebih memilih mengerjakan hobinya, sekaligus membantu meringankan tugas ibunya, yang sekaligus juga bisa cepat dapat uang. Pekerjaan sambilan itu dilakoni Juni sejak masih duduk di bangku SD sampai SMP. Setamat SMP, Juni bingung untuk meneruskan pendidikan­ nya ke SMA atau SMK. Sang ayah mengarahkan untuk melanjutkan ke SMK dengan pertimbangan setamat sekolah bisa langsung kerja dan menghasilkan uang. Juni menuruti nasihat itu. Ia mendaftar di SMKN 4 Den­

pasar Jurusan Tata Busana. Setelah 3 tahun mengenyam pendidikan di sana dan menamatkan sekolahnya, Juni mencoba bekerja di beberapa butik milih desainer papan atas di Bali. Selain di sekolah, dari sana pula ia mengaku banyak mendapatkan ilmu tambahan tentang pecah pola, cutting, masang payet, ngesum, dan menjahit. Itu yang kemudian membuatnya memberanikan diri mengambil orderan menjahit baju anak-anak yang harganya Rp 1200 per potong. Hitung-hitung cari pengalaman, demikian pikirnya saat itu. Sampai akhirnya di tahun 2012, Juni mantap membuka jasa menjahit dengan plang nama Junie Fashion.

Namun sete­lah berjalan 2 tahun, bertepatan dengan hari ulang ta­ hunnya 11 juni 2014, ia merubah benderanya menjadi Juni Kebaya, dengan nama pada akun instagram: juni kebaya. Media sosial seperti instagram, facebook dan path inilah yang selama ini menjadi tempat promosinya di dunia maya. –ten Dukungan keluarga beserta teman-teman dan orang-orang terdekat yang senantiasa terus mendukung kiprah Juni di dunia fashion

Tak Perlu Kain Mahal untuk Dapatkan Kebaya Indah Dalam berkarya, Juni yang mengaku sudah suka menggam­ bar sejak SMP ini terinspirasi dari seringnya melihat orang-orang di sekitar yang setiap hari raya selalu berganti model kebaya, tak seperti dirinya. Dari sanalah kemudian terbersit keinginannya untuk belajar membuat baju, teru­ tama kebaya. Minimal untuk diri sendiri dulu karena tanpa harus membayar ongkos jahitnya. Selain itu, Juni juga suka melihat-lihat model-model kebaya di koran, majalah, televisi dan berselancar di dunia maya. Kebaya hasil jahitannya, me­ madukan bentuk atau aksen-aksen dari kain tersebut agar dapat terlihat lebih indah, meskipun tidak simetris namun kesan in­ dahnya tetap ada. Ditambah dengan manik-manik atau payet yang membuat kebaya semakin indah. “Tidak perlu kain yang mahal untuk mendapatkan kebaya yang indah,” ucap Juni yang selalu berpegang pada moto “pelayanan dengan penuh senyum tanpa me­ mandang segi ekonomi pelanggan dan kepuasan pelanggan adalah hal yang nomor 1”, dalam men­ jalankan bisnis jasanya ini. Juni sangat bersyukur bahwa apa yang dijalaninya kini didukung penuh keluarga dan orang-orang terdekatnya yang selalu ada di kala ia menghadapi titik jenuh. Terkadang Juni merasa lelah kar­ ena semua dikerjakannya sendiri, mulai dari mencari kain atau ba­ han-bahan untuk keperluan jahit, mengukur, mendesain, membuat pola, menjahit, hingga memasang aksen lainnya. Semua benar-benar dikerjakannya sendiri. Namun, itu yang justru memberikannya kepuasan lebih. Menjalani sebuah bisnis, apal­ agi yang bergerak di bidang jasa seperti apa yang dilakoni Juni saat

Keikutsertaan Juni dalam pagelaran 100 kebaya di ISI Denpasar belum lama ini . Juni menampilkan karyanya, Black & White yang terinspirasi dari konsep Rwabinedha

ini, tentunya juga tak lepas dari kendala. Yang paling sering ada­ lah ketika harus berkejar-kejaran dengan waktu, sementara banyak pekerjaan yang belum tersele­ saikan. Mau tak mau ia mencoba memberikan pengertian kepada konsumen agar membawa kain yang akan dijadikan kebaya sem­ inggu bahkan sebulan sebelumnya. Dan tentunya, kendala pada modal untuk membuat tempat kerjanya

semakin indah dan nyaman. Juni berharap bisnis jasanya ini terus berkembang dan bisa mem­ banggakan orangtuanya. Bahkan ia memiliki impian suatu saat nanti Juni Kebaya bisa dikenal di nasional hingga internasional. Dengan moto “Hidup itu tak mudah, namun ke­ sabaran dan kemauan adalah kunci dari kesuksesan”, ini pulalah Juni terus berkarya untuk menggapai mimpinya itu. –ten


2

Ekspresso

Edisi 854/ 22 - 28 JUNI 2015

GORO-GORO

DAri daPUr Redaksi

Engeline

Keluarga Berkualitas Bulan Juni merupakan bulan liburan karena bertepatan dengan liburan sekolah. Kesempatan bagi anak-anak untuk menikmati liburan bersama keluarga. Ada yang ke luar kota bahkan ke luar negeri. Tetapi, liburan dalam kota juga bias mengasyikan, apalagi banyak event yang bias dikunjungi. Di Denpasar, ada Pesta Kesenian Bali yang bias dijadikan lokasi hiburan. Bagi anak-anak, momen liburan ini saatnya untuk menyegarkan pikiran setelah berkutat dengan pelajaran di sekolah. Kini saatnya berlibur dan mencari pengalaman baru. Bagi orangtua, liburan juga kesempatan untuk mendekatkan diri dengan anak. Jika di hari biasa, jarang bias berkumpul dengan anak karena sama-sama sibuk, kini saatnya merajut kebersamaan. Luangkan waktu untuk keluarga karena keluarga adalah tempat memberikan pendidikan yang pertama dan utama. Pendidikan karakter yang didapat di keluarga merupakan modal bagi anak untuk menjalani kehidupan di masyarakat. Kualitas masyarakat pun dapat dilihat dari kualitas keluarga-keluarga yang ada di masyarakat tersebut. Begitu pentingnya peran keluarga, pemerintah sejak tahun 1994 mengadakan

peringatan Hari Keluarga Nasional yang dirayakan tiap tanggal 29 J u n i . Pe r i n g a t a n i n i u n t u k mengingatkan masyarakat mengenai pentingnya arti keluarga. Selain itu, untuk mengajak seluruh keluarga Indonesia untuk melakukan instrospeksi diri serta berbenah untuk melakukan yang terbaik bagi keluarga Pesan yang ingin disampaikan adalah untuk membangun sebuah keluarga diperlukan perencanaan yang matang, antara lain merencanakan usia perkawinan (20-30 tahun), membina hubungan antar pasangan (dengan keluarga lain, kelompok sosial), merencanakan kelahiran anak pertama (persiapan menjadi orangtua), mengatur jarak kelahiran (menggunakan alat kontrasepsi), berhenti melahirkan di usia 35 tahun (agar dapat merawat balita secara optimal), serta merawat serta mengasuh anak (memenuhi kebutuhan dasar anak berupa fisik, kasih sayang, dan stimulasi). Masyarakat juga diingatkan tentang delapan fungsi keluarga yakni fungsi agama, fungsi sosial budaya, fungsi cinta kasih, fungsi perlindungan, fungsi reproduksi, fungsi sosialisasi dan pendidikan, fungsi ekonomi, serta fungsi pembinaan lingkungan. Penerapan delapan fungsi keluarga merupakan benteng untuk melindungi keluarga dari berbagai permasalahan sosial. Semoga semua keluarga bisa menjadi keluarga berkualitas. Salam.

Dompet Kembali Pengalaman ini dialami anak saya di Denpasr. Tiap pagi ia ke pasar untuk belanja. Dompetnya biasa ditaruh di bagasi depan motornya. Suatu hari, anak saya ke pasar. Setelah memarkir motor, ia bergegas ke pasar. Karena barang-barang yang dicari sudah terkumpul semua, ia bergegas menuju motor. Tas belanjaan digantung di depan, dompet dimasukkan di baghasi depan. Saat mau menghidupkan motor, kunci tak bisa masuk. Ternyata salah motor. Agar tidak memalukan, anak saya segera memindahkan tas belanjaan ke motornya yang ternyata ada di sebelah. Sampai di rumah, ia kaget karena dompet tertinggal di motor yang tadi. Balik ke pasar untuk mencari, ternyata motor sudah tak ada. Dengan perasaan sedih dan tatapan kosong, pulang

bacaan wanita dan keluarga

Penerbit PT Tarukan Media Dharma Terbit sejak 9 November 1998

ke rumah. Semua uang dapur ada di dompet itu. Siangnya, sambil minum teh, anak saya dihibur suaminya. Suaminya menasehati agar jangan terlalu dipikirkan, nanti bias stress. Mari berdoa semoga yang menemukan dompet itu berhati mulia dan mau mengembalikan. Mungkin ini sudah jalan hidup dan nasib. Tiba-tiba di depan rumah berhenti sepeda motor dan seorang ibu dengan anaknya bertanya, apakah ibu punya KTP yang di dompet ini? Anak saya terkesima. Tangannya gemetar menerima KTP dan dompet itu. Oh my God….dompet kembali dalam

keadaan utuh. Uang pun dikeluarkan sebagai tanda terima kasih. Tetapi, ditolak ibu itu. Ibu itu mengatakan dari pagi ia mencari alamat anak saya. Ia ternyata senasib karena minggu lalu dompetnya hilang tetapi ditemukan dan dikembalikan oleh pedagang langganannya di pasar. Anak saya pun mengucapkan terima kasih. Cucu saya berceloteh, Bu pintar yang dompet itu kembali setelah hilang. Berkat doa keluarga, permintaan dikabulkan Tuhan. Karena itu rajinlah berdoa dan selalu ingat Tuhan. I Nengah Mangku, Amlapura

Bagi pembaca yang memiliki kisah unik, seru, menyebalkan, atau mengasyikkan dan ingin berbagi dengan pembaca ­lainnya, silakan kirim kisah Anda ke redaksi@tokoh.co.id. ­Panjang naskah maksimal 3.000 karakter. Sertakan juga nama dan nomor kontak Anda. Naskah yang muat di rubrik “OMG” akan mendapat bingkisan Tokoh. Info lebih lanjut, silakan hubungi Redaksi Mingguan Tokoh (0361) 425373

Mozaik

Tragedi yang menimpa Engeline mengguncang layar kaca. Tak hanya di Bali, pemirsa televisi di seluruh Indonesia semua terguncang. Ingin tahu bagaimana sebenarnya kisah pembunuhan Engeline “Yang saya pikirkan bukan hanya siapa pembunuhnya,” kata Bu Amat, “tetapi bagaimana nasib anak-anak yang tak berdaya menghadapi kekerasan dari baik orangtuanya sediri atau orang lain!” “Ya, itu serahkan saja pada negara. Pasti ada aturannya. Meskipun anak sendiri, tidak berarti seseorang boleh sewenang-wenang pada anak. Anak itu bukan barang yang bisa dimiliki. Anak adalah tanggungjawab orangtuanya supaya jadi dewasa, cukup pendidikan dan mampu hidup bermasyarakat.” “Ada tetangga kita memukul anaknya karena mencuri uang 20 ribu milik ibunya. Ada ibu yang nyetrap anaknya dalam kamar satu hari, karena anak itu memecahkan barang keramik yang katanya berharga jutaan.” “Bapak juga pernah dikunci dalam gudang sampai terkencing-­kencing tidak mau sekolah!” “Nah itu! Itu kan berarti orangtua sendiri pun bisa berbuat kejam ke anak, dengan dalih sayang anak!” Amat terdiam. Ia juga pernah dihukum pukul dengan sabuk kulit, waktu itu ia memang bandel. Ia memukuli anak tetangga sampai gegar otak. Sejak hukuman badan itu, ia tak pernah berkelahi lagi. “Kadang-kadang hukuman keras diperlukan untuk mendidik anak,” kata Amat dalam hati. Karena Amat diam saja, esoknya Bu Amat ke rumah Ami. “Mi, apakah Ibu atau Bapak, pernah melakukan kekerasan kepada kamu?” Ami tercengang oleh pertanyaan itu. “Apa maksud Ibu?” “Kamu tahu pembunuhan Engeline, kan?” “Ya,tahu. Kenapa?” “Ibu dan Bapakmu minta maaf kalau kami pernah melakukan tindakan kekersan kepadamu, dengan alasan pendidikan atau kasih sayang. Pasti itu kami lakukan tanpa sadar. Karena kami masih berpikir, anak itu hak milik orangtuanya.” “O, begitu!” “Ya, pernah tidak?” Ami berpikir dan mencoba mengingat-ingat. “Pernah? Tidak kan!” “Pernah.” Bu Amat terkejut. “Pernah?” “Pernah satu kali.” “Masak? Tidak mungkin! Kapan?” “Waktu Ibu melarang saya berhubungan denga Bli Ktut!” “Lho itu kan, karena Ibu tahu siapa Ktut itu! Mukanya saja ganteng, tapi kelakuannya semua orang sudah tahu siapa dia. Coba kamu jadi dengan dia hidup kamu akan berantakan, karena dia penipu, untung Ibu larang! Itu bukan kekerasan Ami itu karena Ibu sayang kepada kamu. Coba kalau Ibu tidak sayang sama kamu?! Apa kamu menuduh ibu dan Bapakmu tidak sayang kamu?” “Sayang sih sayang, sampai ibu tidak ngomong seminggu dengan saya, itu tindakan kekerasan” “Tapi itu demi masa depanmu, Ami!” “Ibu mungkin tidak menganggap itu kekerasan tapi buat Ami sudah kekerasan.” “Tidak bisa! Kamu salah mengerti!!” Bu Amat pulang membawa marah, Tanpa ditanya, ia ceritakan percakapannya dengan Ami. Amat mendengarkan dengan sabar, tapi karena terlalu panjang, ia menyela. “Kenapa ibu begitu marah?” “Habis kalau bukan kita, ia sudah jadi korban si Ktut itu. Mestinya dia berterima kasih kepada kita! Kok malah mengritik! Itu tindakan kekerasan!!”

Putu Wijaya

Pemimpin Umum/Penanggung Jawab: Gde Palgunadi. Redaktur Pelaksana: Ngurah Budi. Staf Redaksi/Pemasaran Denpasar: IG.A. Sri A r d h i n i , W i r a t i A s t i t i , S a g u n g I n t e n . J a k a r t a : D i a n a Ru n t u . N T B : N a n i e k D w i S u r a h m i . D e s a i n G r a f i s : I D N A l i t Budi­a rtha, I Made Ary Supratman. Sirkulasi: Kadek Sepi Purnama. Se­k retariat: Ayu ­A gustini, Putu Agus Mariantara, Hariyono. Alamat Redaksi/Iklan Denpasar: Gedung Pers Bali K. Nadha, Lantai III, Jalan Kebo Iwa 63 A ­Denpasar 80117–Telepon (0361) 425373, 7402414, 416676–Faksimile (0361) 425373. Alamat Redaksi/Iklan/Sirkulasi Jakarta: Jalan ­Pal­m erah ­B arat 21 G Jakarta Pusat 10270– Telepon (021) 5357603 - Faksimile (021) 5357605. NTB: Jalan Bangau No.15 Cakranegara, Mataram–­Telepon (0370) 639543– ­Faksimile (0370) 628257. Jawa Timur: Permata Darmo Bintoro, Jalan Taman Ketampon 22-23 Surabaya–Telepon (031) 5633456–­­ ­F aksi­m ile (031) 5675240. Surat Elektronik: redaksi@tokoh.co.id, iklan@tokoh.co.id. Website: www.tokoh.co.id. Bank: BRI Cabang ­G ajah Mada Denpasar. Nomor Rekening: PT Tarukan Media Dharma: 0017-01-001010-30-6. Percetakan: BP Jalan Kebo Iwa 63 A Denpasar.

23

Edisi 854/ 22 - 28 JUNI 2015

Ubi Manis Pengganti Beras

bagus, Kartini menambahkan zat pewarna makanan. “Bahannya sama, ubi manis. Tapi rasa sengaja saya buat beda,” paparnya. Bupati Blitar Hery Noegroho mengatakan, tujuan dari pemeran agro festival ini untuk meningkatkan produktivitas petani dalam mengolah lahan. Sedikit apapun lahan yang dimiliki petani, harus dimanfaatkan untuk tanaman. Jangan sampai kosong. “Eman, kalau sampai ada lahan kosong, tapi tidak dimanfaatkan.” ujar Hery Noegroho disela-sela menghadiri pameran agro festival tersebut.

Untuk meningkatkan produktivitas para petani dalam mengolah hasil bumi, pemerintah ­Kabupaten Blitar, menggelar pameran agro festival. Acara ini diselenggarakan di lapangan Kesatreyan, Kecamatan Kanigoro.

P

ameran ini diikuti oleh puluhan peserta yang sebagian besar kelompok tani. Produk hasil bumi yang dipamerkan pun beranega ragam, mulai dari jagung, ketela rambat, ketela pohon, ubi manis, talas, mobte, suwek, dan lainnya. Ada juga daun papaya, daun singkong, kol, sawi, kenikir, dan bungkul. Semuanya masih terlihat segar karena baru dipetik dari pohonnya. Pameran ini mendapat respons positif dari masyarakat Kabupaten maupun Kota Blitar. Masing-masing pengunjung

-Khoirul Abadi

Agro Festival

ini, memiliki banyak tujuan. Ada yang membeli sayur, makanan tradisional, dan lain sebagainya. Namun, yang paling banyak diburu adalah ubi manis. Salah satunya adalah Kartini Susilowati, seorang pengunjung asal Kademangan. Ia langsung memborong ubi manis. Berapapun jumlahnya langsung ia dibeli. “Hanya dapat 15 kilogram. Padahal saya ingin beli banyak,” ujarnya sedikit kecewa. Wanita murah senyum ini

mengatakan, ubi manis merupakan makanan tradisional yang rasanya enak. Manisnya alami dan berserat. Enaknya lagi tidak mengandung kolestrol, sehingga aman untuk kesehatan. “Pagi sama malam, keluarga saya pasti sarapan ubi manis ini. Makan nasinya hanya siang saja,” ujar wanita berhijab ini. Ubi manis ini, lanjut Kartini, sangat cocok dijadikan makanan alternatif pengganti beras. Selain harganya murah

juga baik untuk kesehatan. Untuk memastikan agar tidak kekurangan stok, Kartini juga menanam sendiri tanaman jenis polo pendem ini. Hampir seluruh pekarangan yang ada di samping rumahnya terdapat tanaman merambat ini. Untuk menghindari kebosanan, Kartini selalu mengubah menu ubi manis tersebut. Mulai dari dikukus, dijenang, dibungkus daun pisang, dan dibuat dodol. Yang penting setiap hari dibuat beda. Kalau ingin sedikit

Masjid Jami Kyai Muhammad Besari Tegalsari

masyarakat dari sisi ekonomi, sosial dan budaya sehingga di harapkan mampu memberikan dampak ekonomis bagi lingkungan masyarakat sekitar. Keunikan masjid ini bisa ditemui pada pilar-pilar kayu jati yang keseluruhannya berdan doa bersama serta sholat jumlah 36 buah, atau tembok setebal 0,5 meter. Sirap, usuk, hajad. Beberapa keunikan Masjid selukat dan lain-lain, sebelum Jami Kyai Muhammad Besari direhab pada 1978 masih asli. menurut Mbah Sujak, antara Ketika rehab pada 1998 pun, lain adalah kubah masjid yang tidak mampu mengembalikan terbuat dari tanah liat (sejenis keaslian bangunan. Lebih parah gerabah) yang masih asli mulai lagi, pada masjid putri, di sebepembuatan awal masjid sampai lah kanan masjid utama, semua bagian telah berubah dan nyaris sekarang. “Soko guru berjumlah em- tak ada bedanya dengan banpat buah yang masing-masing gunan pada umumnya. Tempat mempunyai kekuatan tersendiri tinggal Ronggowarsito semasa apabila ada orang yang berdoa jadi santri juga sudah tak jelas di dekat tiang tersebut dan keasliannya. Di sisi barat masjid terdapat didukung oleh tiang-tiang penyangga masjid lainnya,” tutur makam keluarga besar Kyai Ageng Besari. Pada saat bulan Mbah Sujak. Kepala Dinas Kebudayaan, puasa, terutama sepuluh hari Pariwisata, Pemuda dan Olah- terakhir, kawasan ini kebanjiran raga Pemkab Ponorogo, Sapto pengunjung. Tak cukup hanya Djatmiko menjelaskan bahwa di lingkungan masjid, bahMasjid Kyai Muhammad Besari kan meluber sampai kawasan selesai dipugar dan diresmikan desa. Pada 1990-an, pemeroleh Presiden RI ke-2 HM. intah bersama tokoh-tokoh Soeharto pada 2 Maret 1978 agama setempat berkeinginan membesarkan pesantren itu silam. “Memperbaiki prasarana dengan nama pesantren Uluseperti akses jalan, transpor- mul Quran. Namun, kata Afif tasi, instalasi listrik atau air, Azhari, keinginan itu hingga pengelolaan lingkungan se- kini belum berhasil diwujudkan. hingga memberikan tingkat Yang masih berjalan hingga kini keamanan dan kenyamanan bagi adalah pesantren dengan sistem wisatawan yang berkunjung modern, yaitu Madrasah Tsanke objek tersebut,” tambah- awiyah dan madrasah Aliyah nya. Selain itu pihaknya juga Ronggowarsito. -Dinar Perdana memberikan kesempatan pada

Tempat Belajar Ronggowarsito Salah satu objek wisata r e l i g i d i Ka b u p a t e n Po n o rogo adalah Masjid Tegalsari. Konon, masjid ini dipercaya sebagai masjid cikal bakal penyebaran Islam di Bumi Reyog. Masjid yang pernah dikunjungi mantan Presiden RI HM. Soeharto dan KH. Abdurahman Wahid ini ter-

letak di RT. 01, RW. 01, Dukuh Gendol, Desa Tegalsari Kecamatan Jetis, Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur. Masjid Tegalsari merupakan bagian dari cagar budaya yang merupakan satu dari sekian banyak objek wisata andalan di Kabupaten Ponorogo, konon merupakan peninggalan Kyai

Ageng Muhammad Besari, seorang ulama sakti dan berbudi luhur yang konon merupakan keturunan ke sebelas Nabi Muhammad SAW. Banyak kyai yang tumbuh dan berkembang dari keturunan ini diantaranya Kyai Zainal putra kesembilan dari Kyai Muhammad Besari yang menjadi Raja Selangor Malaysia, Kyai Moh. Muhji menjadi raja penerus dari ayahandanya dan Nyai Ngaisah dinobatkan sebagai Sultan Johor Malaysia. Menurut sejarah karena Tegalsari melahirkan orang-orang yang sakti maka sampai sekarang pun dipercaya sebagai salah satu tempat yang mempunyai daya tarik sendiri sehingga muncul keunikan dan kekhasan yang dipercayai oleh banyak orang. Menurut Mbah Sujak, salah satu sesepuh Desa Tegalsari yang juga juru kunci Kompleks Makam Kyai Ageng Muhammad Besari yang berada di Kompleks Masjid Jami Muhammad Besari Desa Tegalsari, hampir tiap hari masjid dikunjungi ratusan orang. Mereka ngalap berkah atau mencari hidayah, apalagi dalam bulan suci Ramadan maupun menjelang pelaksanaan Ujian Nasional, puluhan ribuan pelajar melakukan dzikir

Kartini Susilowati


24

What’s Up

Edisi 854/ 22 - 28 Juni 2015

Konsumen adalah Teman

10 hal yang harus dikonfrontasi dengan 10 kredo baru:

M

enurutnya, UKM itu harus mandiri. Jadi, kalau tidak mandiri bukan UKM. Jangan sampai, orang yang tidak punya pekerjaan, akhirnya membuat UKM. Parahnya lagi, kadang berproduksi, kadang tidak. Karena itu, sangat diperlukan revolusi mental untuk menjadi mandiri, kreatif, dan jujur. Ia mengatakan, orang kreatif itu harus “gila”. Gila inilah yang harus dikelola sehingga memunculkan ide-ide cemerlang dan tindakan yang WOW. Ia memberikan contoh pada kesuksesan orang Tionghoa Singapura. Mereka saja yang sudah kaya, kerjanya tetap kreatif dan produktif. Mengapa kita yang belum kaya sudah bermalas-malasan. MEA tidak hanya persaingan barang saja, tapi juga persaingan SDM. Keterampilan berbahasa asing sangat diperlukan. Kalau tidak bisa berbahasa asing, jangan salahkan banyak orang asing yang bekerja di Bali. Ia menegaskan, WOW itu produktif dan kreatif. “Harus selalu ada produksi yang berkesinambungan. Produksi juga harus terus diperbaiki. Jadilah pribadi yang mandiri dan kreatif. Pelaku UKM jangan jadi motivator. Kadang dia sendiri belum sukses kok bisa memberikan ceramah kepada

tkh/eka

Sebuah perusahaan yang tidak bertumpu pada strategi, taktik, dan ­value marketing yang terbaik akan kandas. Konsumen itu bukan lagi seorang raja. Costumer is human. Kalau dia merasa WOW, dia akan me­respons. Kita tidak bisa menipu konsumen. Jadikan konsumen itu sebagai teman. Demikian di­sampaikan pakar marketing Hermawan Kartajaya, dalam seminar “Indonesia WOW” di Aston Denpasar, Selasa (16/6).

Hermawan Kartajaya memberikan motivator pada para peserta seminar Indonesia Wow di Denpasar

orang lain,” kata Hermawan. Sama seperti dengan prinsip leadership. Seorang pemimpin tidak harus selalu mengumpulkan gelar tapi selalu meng-update ilmu dan wawasannya. “Saya contohnya, tidak tamat di ITS tapi bisa jadi seperti sekarang,” katanya yang disambut tepuk tangan peserta seminar. Ia juga menambahkan, seorang pemimpin harus pintar dalam bergaul dan selalu menjaga moral, berbuat baik kepada konsumen. Selalu berusaha perbaiki diri untuk terus bisa memberi pelayanan yang terbaik. Hal lain yang juga ditegaskan Hermawan, produktif itu artinya efektif dan efisien untuk mencapai tujuan yang jelas. Kreatif itu penuh ide cemerlang dan eksekusi. Menurutnya, untuk menjadi sukses berbisnis, tak perlu lagi ada anggapan harus masuk sekolah bisnis. “Contohnya, orang Tiongkok dan India ketika mereka merantau ke luar negaranya, mereka sangat kreatif sehingga mereka bisa sukses,” kata Hermawan.

Dulu, di Fakultas Ekonomi, mahasiswa paling pintar selalu masuk jurusan akuntansi. Jurusan marketing dianggap tidak bergengsi karena dianggap sekolah menjadi salesman. Marketing juga sering disamakan dengan iklan yang sering membual. “Saya sendiri adalah salah satu orang yang giat mempopulerkan marketing di Indonesia. Sejak MarkPlus berdiri 1 Mei 1990, saya menyiarkan marketing kemana-mana. Saya kampanye kemana–mana marketing sesungguhnya dimulai dari menganalisa costumer, competitor, dan change yang akan dihadapi company,” kata Hermawan. Dalam buku best seller terbitan John Wiley tahun 2010, ada ten credos of compassionate marketing. Ini bertentangan sekali dengan pakem marketing di era dulu. Menurutnya, marketing merupakan ujung tombak sebuah perusahaan. “Sebuah perusahaan yang tidak bertumpu pada strategi, taktik, dan value marketing yang terbaik akan kandas,” tegasnya. –Wirati Astiti

1.Love your costumers, respect your competitors. Costumer memang bukan sekadar target market, dan kompetitor bukanlah musuh. Jadikanlah costumer Anda sebagai teman. 2.Be sensitive to change, be ready to transform. Dunia bisnis akan selalu bersifat dinamis. Oleh karena itu, setiap perusahaan harus selalu berupaya melakukan antisipasi dan cepat melakukan perubahan. 3.Guard your name, be clear about who you are. Di dalam dunia pemasaran, reputasi merek menjadi hal yang sangat penting. Lebih jauh lagi, karakter dari suatu produk atau perusahaan seringkali menjadi daya tarik di tengah persaingan sengit. 4.Costumers are diverse, go first to those who can benefit most from you. Dalam operasionalnya tentu perusahaan memiliki keterbatasan sumber daya. Oleh karena itu, perusahaaan sebaiknya fokus menjalin hubungan dengan segmen pasar yang hendak didekati. 5.Always offer a good packaged at fair price. Pemasar yang baik tidak berupaya menipu konsumen demi meraih keuntungan sebesarbesarnya. Tetapi selalu menawarkan solusi dengan harga dan produk yang pantas. 6.Always make yourself available. Spread the good news. Agar dapat makin dikenal konsumen, perusahaaan sebaiknya berupaya memposisikan diri agar mudah ditemukan. Baik secara proaktif memberikan informasi kepada konsumen dan juga menyediakan channels yang mempermudah konsumen berinteraksi dengan perusahaan. 7.Get your costumers, keep, and grow them. Karena pemasar yang baik akan berupaya untuk selalu mengenal lebih dekat dengan kosumen. Secara berkelanjutan akan berupaya menjalin hubungan baik dan mendalam dengan konsumen. Kita bisa berteman dengan konsumen di media social, FB, Twitter, instagram, dari sana kita melihat apa yang disukai konsumen, apa yang dibagikan konsumen kepada temannya di media social. 8.Whatever your services, it is a services business. Sadar atau tidak sadar, apapun produk Anda pasti akan terdapat unsur pelayanan. Oleh karena itu, apapun bisnis Anda, perlu memiliki semangat melayani konsumen. 9.Always refine your business process in terms of quality, cost, and delivery. Tujuannya agar dapat memuaskan sejumlah pemangku kepentingan perusahaan mulai dari konsumen, supplier, channels, sampai dengan shareholder. Karena dengan kegiatan operasional yang terjaga, kegiatan operasional dapat berjalan secara produktif dalam arti efektif dan sekaligus efisien. 10.Gather relevant information but use wisdom in making your final decision. Karena sejumlah keputusan yang diambil perusahaan bisa jadi tidak hanya berpengaruh pada konsumen ataupun internal perusahaan. Tetapi juga dapat berpengaruh lebih luas pada sejumlah pemangku kepentingan di lingkungan sekitar.


Turn static files into dynamic content formats.

Create a flipbook
Tokoh Edisi 854 | Tokoh by e-Paper KMB - Issuu