Skip to main content

Tokoh Edisi 842 | Tokoh

Page 1

24

Edisi 842/ 30 Maret - 5 April 2015


2

Edisi 842/ 30 Maret - 5 April 2015

Ekspresso

GORO-GORO

DAri daPUr Redaksi

Kapan seperti Bollywood? Dari anak kecil hingga dewasa senang menonton film. Ada yang suka film action, komedi, drama, hingga kartun. Film dinilai bisa menjadi penghibur dan melepas kepenatan setelah melakoni rutinitas. Di Indonesia, film mendapat perhatian khusus, bahkan tiap tanggal 30 Maret diperingati sebagai Hari Film Nasional. Tanggal 30 Maret 1950 menjadi penanda lahirnya film Indonesia dengan hadirnya film “Darah dan Doa” yang disutradarai Usmar Ismail. Film ini dijadikan momentum lahirnya film nasional karena sutradara, produser serta badan perfilman adalah Indonesia asli. Sejak itu, film Indonesia terus menggeliat dan mencapai masa jayanya pada era 1980-an. Kala itu bioskop banyak berdiri. Di Kota Denpasar, ada Wisnu Theater, Denpasar Theater, Kumbasari Theater, Sahira, New Jaya, hingga Wisata 21. Beragam film Indonesia, mulai dari film silat, film drama, komedi, hingga film semierotis menjadikan bioskop selalu ramai. Namun, memasuki tahun 1990-an dunia perfilman nasional memasuki masa kelam. Jumlah film nasional sangat sedikit. Filmfilm produksi Hollywood dan Bollywood yang banyak menghiasi layar kaca dan layar lebar. Barulah pada era reformasi, perfilman nasional p e r l a h a n

mulai bangkit dan terus meningkat sampai sekarang. Film “Ada Apa dengan Cinta” bisa dikatakan sebagai penanda bangkitnya semangat film Indonesia. Setelah itu Jumlah produksi film terus meningkat, setidaknya tahun 2013 lalu mencapai 99 film setahun. Aktor Indonesia pun sudah ada yang terlibat dalam pembuatan film berskala internasional. Artinya kualitas aktor ini bisa mencapai standar internasional. Kini dengan makin canggihnya teknologi, dunia perfilman makin menggeliat. Teknologi yang dipakai makin canggih. Jumlah bioskop pun mulai tumbuh lagi. Di Denpasar dan Badung kini sudah hadir bioskop di Mall Bali Galleria, Beach Walk, Lippo Mall Kuta, dan Pertokoan Lokitasari Denpasar. Kehadiran bioskop-bioskop ini membuat animo masyarakat untuk menonton juga bangkit. Ada gengsi yang tersirat ketika kita menyaksikan film di bioskop dibandingkan dengan menonton film di rumah. Bioskop yang berlokasi di mall juga memiliki nilai lebih karena masyarakat bisa sekalian jalan-jalan sebelum atau s e -sudah menonton. Seperti yang diungkapkan Anwar Fuadi, Ketua

Putu Wijaya

Lembaga Sensor Film Indonesia, perkembangan film nasional sudah cukup baik, dibanding masa lalu. Sekarang sudah banyak film bermutu yang dilahirkan para sines Indonesia. Begitu juga para pemainnya. Ini suatu hal yang baik sekali. Namun begitu, dengan segala kemajuan yang kita capai saat ini, semuanya tidak boleh berpuas hati karena masih banyak yang perlu dibenahi, masih banyak kekurangan. Dari segi SDM, meski sudah lumayan, tapi tetap harus ditingkatkan. Kita ingin seperti di India, dimana film nasional telah menjadi tuan rumah di negeri sendiri,” kata Anwar Fuadi, yang juga aktor ini.

Lima Ribu

Hari itu aku merasa biasa– biasa saja. Aku bekerja dengan hati yang tenang. Hingga saat sore hari, ada banyak pelanggan yang datang ke toko, tempat aku bekerja dan semua karyawan kewalahan. Saat itu, seorang peranda datang untuk berbelanja dan aku mau tidak mau harus memberanikan diri untuk melayani beliau karena senior-seniorku sedang sibuk. Aku pun menyapanya. Ada rasa gugup yang menyelimutiku ketika orang berseragam putih itu menatapku dan membalas sapaanku dengan bahasa yang sangat santun. “Berapa niki harganya Gek?”

bacaan wanita dan keluarga

Penerbit PT Tarukan Media Dharma Terbit sejak 9 November 1998

tanya beliau kepadaku di selasela transaksi itu. Aku yang masih deg-degan melihat kode barang itu. “Niki lima biru eeh maksud titiange lima ribu nike Ratu” kataku. Ya ampun, aku malu pada

beliau. Padahal aku mau bilang harganya itu lima ribu, kok bisa keluarnya lima biru sih? Peranda pun tersenyum dengan tingkahku itu. Astaga, aku menertawai diriku sendiri. Hehehe… Kartini, Bangli

Bagi pembaca yang memiliki kisah unik, seru, menyebalkan, atau mengasyikkan dan ingin berbagi dengan pembaca ­lainnya, silakan kirim kisah Anda ke redaksi@tokoh.co.id. ­Panjang naskah maksimal 3.000 karakter. Sertakan juga nama dan nomor kontak Anda. Naskah yang muat di rubrik “OMG” akan mendapat bingkisan Tokoh. Info lebih lanjut, silakan hubungi Redaksi Mingguan Tokoh (0361) 425373

nyepi

“Nyepi kali ini, saya akan mati geni,” kata Amat, “tapi bukan dalam arti, yang biasa kita maknakan. Bukan lagi tidak menyulut api untuk masak, menyalakan rokok atau penerangan.” “Lalu apa dong?” “Mati geni yang tidak kasat mata. Bukan mematikan listrik atau sumber cahaya yang lain. Mati geni yang menyangkut nurani kita sebagai manusia. Mati geni dalam artian kiasan. Bukan berpuasa api, tapi memadamkan semua emosi dan ambisi di dalam jiwa.” “Jadi Pak Made, saya tidak akan mematikan api dan listrik, tapi tidak makan, tidak bicara, tidak melihat, tidak mendengar, tidak berpikir, tidak merasa. tidak tidur. Beku seperti minyak kelapa pagi-pagi kalau udara dingin. Saya akan mematikan semua keinginan apa pun!” “Juga tidak bernafas?” goda Pak Made, “berarti mati dong. Memang Pak Amat mau bunuh diri?” Amat senyum. “Ya, tidak begitu Pak Made. Bukan berhenti bernafas. Hanya menghentikan nafas yang disengajakan. Misalnya: tidak lagi menarik nafas panjang, kecewa; tidak menghela nafas, kesal; tidak menahan nafas dan sebagainya. Semua yang dilakukan dengan sengaja dlstop?” “Untuk apa?” “Untuk pemaknaan mati geni yang baru dan masuk akal, jadi bukan hanya sekadar mengikuti tradisi. Jelas maksudnya. Saya ingin melukat, membersihkan batin!” “Atau untuk minta perhatian?!” ejek Pak Made. Amat tidak menanggapi. Ia terus merealisasikan idenya. Mati geni dari sudut pandang baru. Agar berjalan mulus, Amat adakan latihan. Satu hari penuh Amat melaksanakan mati geni versi barunya. Hampirhampir gagal, karena Bu Amat, tidak diajak berunding., Karena penasaran, Pak Made terus memantau. Selesai latihan, Pak Made mengusut, apa yang dialami Amat selama eksperimen mati geni cap Amat itu. “Luar biasa, Pak Made. Tapi berat sekali. Tiga jam awal, saya tersiksa dan hampir putus asa. Tapi setelah itu, lancar sekali. Saya menemukan hal-hal baru dalam segala hal, yang tadinya saya sepelekan. Saya merasa dilahirkan sekali lagi. Kita semua, dengan segala keberadaan kita, bahkan dengan semua kekurangan kita, adalah karunia yang tak ternilai. Tapi kita sering lupa mensyukuri. Kita anggap itu semua sudah semestnya begitu. Kita alpa menikmati yang ada, karena kita selalu sibuk memburu yang tidak ada. Kita memuja yang belum kita miliki, lupa apa yang ada di tangan! Dengan mati geni seperti itu, mata, telinga, mulut perasan dan sebagainya jadi tambah peka. Begitu selesai mati geni dalam batin, saya merasa kaya, berlimpahan dan puas dengan apa adanya pada saya! Hebat, kan?!” Pak Made ketawa. “Kalau begitu, Pak Amat, akan mengulangi mati geni cap Pak Amat itu di hari-hari Nyepi mendatang?” Jawaban Amat tegas, mengejutkan: tidak!” Pak Made heran. Ia mulai merasa Amat lagi kacau. “Lho, kenapa?” Amat termenung. “Karena, tahu akan membuat kita tak bahagia. Berbahagialah mereka yang tidak tahu, kata Muchtar Lubis, pengarang yang menulis novel: Jalan Tak Ada Ujung - seperti yang diceritakan anak saya: Ami!” Pak Made ketawa. Ia anggap Amat sudah tambah ngawur. Mati geni versi Amat, sudah jadi bumerang. Ia cepat-cepat pergi. “Tunggu dulu, Pak Made!” Tapi Pak Made sudah kabur. Tinggal ketawa sinisnya mengejek Amat. Malam hari, Bu Amat cemberut setelah mendengar laporan dari istri Pak Made. Bu Made cemas, karena suaminya curiga. Amat, nampak agak terganggu. “Ada gosip setelah Bapak mati geni, Bapak sudah mejadi orang baru? Alias terganggu!” Amat terkejut. “Siapa bilang begitu?” “Bu Made. Dia dengar dari suaminya Bapak mengaku sudah lahir kembali. Apa maksudnya? Kata Pak Made, Bapak agak terganggu, Diusulkan cepat ke dokter saraf, sebelum terlambat.” Amat terkejut. “Kenapa bapak dituduh terganggu? Bapak cuma bilang, mati geni itu, tidak hanya tanpa api, tetapi utamanya tanpa emosi, tanpa ambisi, tanpa pretensi dan tanpa obsesi. Jadi Nyepi harus diteliti lagi pesan moralnya. Bspak sudah mencoba menafsirkan. Kesimpulnya; kalau segala emosi dimatikan itu akan membuat kita melempem. Yang benar emosi ditata. Karena itu karunia. Tanpa itu, sebagai manusia kita cacat. Jadi Bapak akan kembali pada tradisi Nyepi yang sudah kita lakukan!” “Makanya, kalau ngomong yang jelas. Orang lain bisa salah mengerti. Sekarang baru Bu Made. Besok semua ibu-ibu arisan akan bergunjing, tentang Bapak yang mulai terganggu!” “Biar saja. Bapak memang lagi terganggu!” “Apa?” “Pak Made salah tangkap! Ya begitulah, kalau orang belum selesai ngomong sudah disimpulkan dan ditinggal. Nyepi, bagai sebuah buku yang harus dibaca sampai kalimat terakhir.”

Pemimpin Umum/Penanggung Jawab: Gde Palgunadi. Redaktur Pelaksana: Ngurah Budi. Staf Redaksi/Pemasaran Denpasar: IG.A. Sri A r d h i n i , W i r a t i A s t i t i , S a g u n g I n t e n . J a k a r t a : D i a n a Ru n t u . N T B : N a n i e k D w i S u r a h m i . D e s a i n G r a f i s : I D N A l i t Budi­a rtha, I Made Ary Supratman. Sirkulasi: Kadek Sepi Purnama. Se­k retariat: Ayu ­A gustini, Putu Agus Mariantara, Hariyono. Alamat Redaksi/Iklan Denpasar: Gedung Pers Bali K. Nadha, Lantai III, Jalan Kebo Iwa 63 A ­Denpasar 80117–Telepon (0361) 425373, 7402414, 416676–Faksimile (0361) 425373. Alamat Redaksi/Iklan/Sirkulasi Jakarta: Jalan ­Pal­m erah ­B arat 21 G Jakarta Pusat 10270– Telepon (021) 5357603 - Faksimile (021) 5357605. NTB: Jalan Bangau No.15 Cakranegara, Mataram–­Telepon (0370) 639543– ­Faksimile (0370) 628257. Jawa Timur: Permata Darmo Bintoro, Jalan Taman Ketampon 22-23 Surabaya–Telepon (031) 5633456–­­ ­F aksi­m ile (031) 5675240. Surat Elektronik: redaksi@tokoh.co.id, iklan@tokoh.co.id. Website: www.tokoh.co.id. Bank: BRI Cabang ­G ajah Mada Denpasar. Nomor Rekening: PT Tarukan Media Dharma: 0017-01-001010-30-6. Percetakan: BP Jalan Kebo Iwa 63 A Denpasar.

Mozaik

Bahan Rempah Spanyol Perawatan Timur Tengah

Herb Spa, Surabaya adalah salah satu tempat perawatan bagi kaum wanita untuk mempercantik diri. Kecantikan adalah dambaan bagi setiap wanita, baik untuk usia muda maupun tua. Mereka ingin tampil beda, itu sangat menarik. Apalagi dengan aroma wewangian yang memesona, boleh melirik Herb Spa.

U

ntuk perawatan tubuh, ada pelanggan yang memilih massage spa ketimbang massage saja seperti pada perawatan cleopatra. Dengan wangi yang tahan lama ini, hingga tiga hari. Sementara untuk perawatan favorit adalah totok wajah. Salah satu pemilik Herbs House of Relax & Spa Syukria Alkatiri menuturkan bahan spa menggunakan bahan rempah khas dari Spanyol. Herb Spa ingin menonjolkan perawatan Timur Tengah yang aroma wanginya tahan lama serta tidak menyengat. Salah satu perawatan yang ditawarkan adalah spa Cleopatra yang diminati pelanggan Herb. Dengan memadukan perawatan model Timur Tengah dan tradisional Indonesia, Spa Cleopatra merupakan perawatan kecantikan dengan menggunakan rempahrempah yang membersihkan dan menyegarkan tubuh serta menjaga kesehatan daerah intim kewanitaan. Selama 2,5 jam perawatan dimulai body massage dengan menggunakan massage oil yang memberikan efek rileksasi di seluruh otot tubuh. Selanjutnya dilakukan body steam untuk detoksifikasi yang mengeluarkan kotoran dari dalam tubuh, yang kemudian diangkat dengan body scrub. Cleopatra adalah ratu Mesir kuno yang terkenal dengan kecantikannya yang mampu membuat Kaisar Romawi bertekuk lutut. Spa Cleopatra bisa dilakukan oleh perempuan segala usia mulai remaja hingga dewasa. Karena efeknya bagus untuk tubuh. Tahapan selanjutnya adalah berendam dengan air rempah han-

gat. Fungsinya untuk mengharumkan tubuh dan menambah rileksasi. Selesai berendam, seluruh tubuh dibalur parfum natural kemudian diuapi ratus pada daerah intim kewanitaan guna mengharumkan dan memberi kesegaran. Terakhir, minum jamu untuk merawat kesehatan tubuh sekaligus merawat organ intim dari dalam. Spa Cleopatra ini memiliki kelebihan, dibandingkan body spa lainnya, antara lain keharumannya bertahan lama. Tubuh akan tetap harum selama 2 hingga 3 hari. Meski saat mandi memakai sabun wangi dari spa Cleopatra tetap tidak hilang dan luntur. “Saran saya, lakukan sekali dalam dua minggu agar memberikan hasil yang maksimal,” ujarnya Totok Aura Wajah ini bisa dilakukan 2 kali dalam sebulan untuk para perempuan yang tidak terlalu sibuk. Namun, bagi perempuan yang sangat sibuk sebaiknya intensitasnya lebih ditingkatkan untuk melakukannya misalnya seminggu sekali. Langkahnya dimulai dengan pembersihan wajah, lalu dipijat seluruh wajah baru kemudian diberi krim. Langkah berikutnya yakni mulai dengan penotokan tepat di titik lymphatic dan dibersihkan dengan air hangat sampai bersih.

Treatment

“Langkah tadi itu tidak memakai masker. Jika pakai masker, usai ditotok kemudia dimasker sesuai kebutuhan kulit tentunya yang cocok untuk wajah, wajah normal, berminyak, kering atau berjerawat. Tunggu 10 sampai 15 menit baru dibersihkan. Untuk peel off setelah selesai kemudian diangkat mask-

Edisi 842/ 30 Maret - 5 April 2015

23

New Rush Makin Sporti Toyota Rush kini hadir dengan desain yang lebih tangguh dan dinamis melalui New Toyota Rush. Konsep New Rush sebagai mobil Sport Utility Vehicle (SUV) terbaru ini diwujudkan dengan tampilan modern dan sporti. “Sejak pertama launching pada 2006 lalu, Toyota Rush mendapat respon positif dari pelanggan di segmen SUV medium. Kini kami memperkenalkan New Toyota Rush dengan disain yang lebih sportif dan dinamis,” kata M. Jainuri, Kepala Cabang Auto2000 Sanur yang didampingi Triyana Anom (Kepala Cabang Auto2000 Tabanan), Wahyu Adhie (Kepala Cabang Auto2000 Gianyar) dan Haris Prasetya (Kepala Cabang Auto2000 Cokroaminoto, Denpasar) saat peluncuran New Rush, Kamis (26/3). Triyana Anom menambahkan New Rush menggunakan mesin 1.500 cc DOHC teknologi VVT-I, berkonsep adventure yang mampu menembus jalanan berair, licin, berbatu, dan tanjakan. Mobil ini dijual dengan harga mulai Rp 247 juta hingga Rp 278 juta. Berdasarkan data tahun 2014, Toyota Rush memimpin penjualan di kelas SUV Medium dengan market share 48%. Tahun 2015, dari Januari hingga Februari, Rush tetap memimpin dengan market share 54,9%. -Ngurah Budi ernya,” ujar Syukria. Saat selesai, wajah menjadi segar dengan proses singkat dan enak. Sementara wajah yang tadinya lelah, setelah ditotok sudah tidak lelah lagi pastinya. Tidak hanyak itu, totok wajah ini juga dapat mengurangi stres dan wajah tembok bisa kenyal kembali. “Totok aura wajah membuat aura wajah kita terlihat dan keluar. Tentunya ini berbeda dengan facial, meski facial teratur belum tentu bisa membuka auranya,” ujarnya. Eva Jawas, yang juga pemilik Herbs House of Relax & SPA menambahkan, arrusah hair treatment merupakan rangkaian perawatan yang terdiri dari shampoo, creambat cream, hair tonic, dan tonic. Dengan memadukan antara kandungan aloe vera, ekstrak daun seledri dan susu domba. Treatment ini berfungsi untuk menguatkan, menyuburkan, melembabkan rambut serta keharumannya memikat. Menciptakan sensasi perawatan rambut yang eksotik dari Timur Tengah. Untuk tahapan perawatannya diawali dengan men-

cuci rambut dengan shampoo yang mengandung ekstrak aloe vera atau lidah buaya, daun seledri, susu domba. Yang berfungsi untuk menutrisi kulit kepala sehingga dapat melembabkan dan melebatkan rambut. Selanjutnya mengaplikasikan cream creambath pada seluruh permukaan rambut dan kulit kepala disertai dengan pemijatan agar kandungannya meresap secara optimal. Kemudian dengan steam kepala selama 15 menit dengan menggunakan capsteam atau handuk hangat (untuk ibu hamil), yang berfungsi agar cream perawatan lebih meresap. “Bilas sampai bersih. Aplikasikan hair tonik, dan keringkan dengan handuk sampai setengah kering. Setelah setengah kering, diuap dengan asap ratus,” jelasnya. Dikeringkan kembali dengan hair dryer hingga kering sempurna. Kalau dikeringkan secara alami juga bisa. “Untuk perawatan rambut bisa memakai perawatan seperti alpukat, gingseng dan lainnya,” pungkasnya. -Diyah

Dari Hobi Jadi Bisnis Syukriya Alkatiri bersama saudaranya Eva Jawas dan saudara laki-lakinya menekuni bisnis bersama. Bisa dikatakan bisnis keluarga, namun pengelolahannya tetap tersistem. Mereka tetap menerapkan sistem gaji. Keuntungan yang mereka dapat tidak semata-mata langsung dibagi, namun semuanya ada perinciannya. Berapa saham yang mereka punya dan berapa orang yang bekerja itu semuanya sudah terinci dengan baik dan sudah ada dalam kesepakatan awal berapa prosentase yang mereka dapat. Herb Spa sudah ada 11 tahun lalu, perempuan keturunan Timur Tengah ini mendirikan tempat treatment yang hanya khusus untuk wanita. Berawal dari hobi yang suka spa, akhirnya tercetus ide tersebut. “Untuk menjalankan sebuah bisnis tidak hanya diperlukan kata suka saja, belajar dan mencari ilmu supaya bisa,” kata Syukriya. Ide membuat tempat perawatan yang beda dengan tempat spa lainnya ataupun berbeda dengan klinik, karena Herb Spa murni untuk wanita. Treatment khusus wanita ini mengambil konsep bangunan lama yang dipermak sedikit supaya pengunjung nyaman ada disana. Dengan bangunan kolonialnya, spa ini menjadi unik. Begitu melewati pintu masuk, kita akan menemukan lobi dengan kursi-kursi kayu yang diberi bantalan kasur. Untuk perawatan favorit totok aura wajah dan body spa karena itu memang produk ung-

gulan di Herb Spa. Tiap harinya ada 20 hingga 30 orang pengunjung yang datang. Ketika pertama kali buka, tidak ada pengunjung yang datang tetapi mereka tetap berusaha untuk bertahan. Kalau dihitung, pertumbuhannya tiap tahunnya bisa mencapai 30%. Ia juga menambahkan, jika pelanggan loyal sekitar 70%, sedangkan untuk pelanggan baru 30%. Dengan melibatkan 15 pegawai, kini Herb Spa buka lagi di kawasan Ngagel setelah sebelumnya hanya ada di Prapanca Surabaya. –Dyah

Syukriya Alkatiri


22

Sosialita Ida Ayu Gde Yadnyawati

Edisi 842/ 30 maret - 5 April 2015

Merajut Kebersamaan di Perantauan Nitmatnya kebersamaan sangat dirasakan benar oleh umat Hindu se-Jabodetabek. Sejak pagi mereka berkumpul di lapangan Monas Jakarta untuk mengikuti upacara Tawur Agung Kesanga yang kemudian dilanjutkan dengan sejumlah acara lainnya, termasuk parade ogoh-ogoh. Acara ini memang sudah rutin digelar sejak 1996 di wilayah Jakarta dan dikemas menjadi parade Ogoh-ogoh dan seni budaya nusantara sejak 2011 lalu.

T

ahun 2015 ini, acara dibuka oleh Wakil Gubernur DKI Jakarta Djarot Saiful Hidayat yang siang itu mengenakan pakaian khas Hindu berupa kemeja putih, sarung putih motif bunga serta ikat kepala batik Bali warna merah. Rencananya, perayaan Nyepi DKI Jakarta Tahun Baru Saka 1937 diadakan pada 31 Maret 2015. Tampil sebagai juara dalam parade ogoh-ogoh adalah PuraWidya Dharma, Cibubur sebagai juara I, Pura Wira Agung Dharma Samudera, Cilandak, sebagai juara II, dan Pura Kertajaya, Tangerang Banten, meraih juara III. Yang dinilai panitia bukan hanya sosok ogoh-ogohnya saja, tapi juga seni, daya kreasi juga atraksi peserta. Di luar persoalan hiburan, namun sesungguhnya ogoh-ogoh mempunya makna yang dalam bagi umat Hindu. Ogoh-ogoh adalah karya seni patung yang menggambarkan kepribadian Bhuta Kala, yaitu, dorongan dan keinginan negatif dalam diri manusia. Ada enam dorongan dan kekuatan negatif yang perlu dikendalikan. Yakni kroda (amarah), kama (nafsu), mada (kemabukan),

matsarya (serakah, dendam dan iri hati), lobha (rakus dan tamak) dan moha (kebingungan). Ogohogoh diarak sebagai simbol bahwa dalam keseharian kehidupan manusia selalu digoda oleh keenam dorongan dan kekuatan negatif di dalamnya. Kembali ke soal ogoh-ogoh yang dilombakan. Ogoh-ogoh raksasa yang dibuat para peserta lomba biayanya tidak sedikit. Jangan kaget kalau disebut satu ogoh-ogoh biayanya bisa mencapai puluhan juta rupiah. Sebut saja ogoh-ogoh ‘Narasinga’ yang dibuat oleh para pemuda Pura Tribuana Agung Depok, Jawa Barat. Ogoh-ogoh setinggi 5 meter dengan berat 350 kg ini, dibuat dengan biaya sekitar Rp20 juta-an. “Setiap peserta (Pura) mendapat bantuan dana untuk pembuatan ogoh-ogoh Rp 4 juta, sedang sisanya Rp15 juta merupakan dana swadaya umat di pura kami,” jelas Ketua Banjar Depok, Anak Agung Putu Surana. Menurutnya, penentuan tokoh apa yang akan diusung dalam Parade Ogoh-

ogoh itu sudah ditentukan jauhjauh hari. Narasinga atau disebut juga Narasingh adalah awatara (inkarnasi atau penjelmaan) Wisnu yang turun ke dunia, berwujud manusia dengan kepala singa, berkuku tajam seperti pedang, dan memiliki banyak tangan yang memegang senjata. Narasinga merupakan simbol dewa pelindung yang melindungi setiap pemuja Wisnu jika terancam bahaya. Di India, Narasinga sangat terkenal. Dalam festival tradisional India, kisah ini berhubungan dengan perayaan Holi, salah satu perayaan terpenting di India. Narasinga merupakan awatara yang paling terkenal setelah Rama dan Kresna. “Ogoh-ogoh ‘Narasinga’ ini dikerjakan selama 1,5 bulan oleh para remaja Pura Tribuana, dibawah bimbingan Wayan Arnana, dia adalah seorang seniman yang kebetulan bertempat tinggal di wilayah Banjar Depok. Untuk kepala ‘Narasinga’ kami telah memilikinya karena dulu pernah dipakai untuk sebuah acara. Jadi anak-anak tinggal membuat badannya saja,” ucap Surana. Mem-

Edisi 842/ 30 maret - 5 april 2015

3

Komitmen Jalankan Tujuan Pendidikan Salah satu peserta parade ogoh ogoh Monas 2015

buat ogoh-ogoh dengan sepenuh hati yang dilakukan para remaja pura diwaktu luangnya, sungguh menjadi suatu yang membanggakan. Hal ini katanya, sungguh momen yang tidak sering, karena masing-masing sibuk dengan kegiatan rutinnya. Meski tidak juara, namun nilai kebersamaan jauh lebih penting. “Bukan soal juaranya, tapi kebersamaan itu yang

jauh lebih penting. Kami tinggal ‘dirantau’ (di luar Bali), dimana kehidupan masyarakat umumnya berbeda, jadi adanya kegiatan ini sangat baik sekali. Anak-anak memiliki banyak kegiatan, namun mereka secara suka rela mau meluangkan waktu untuk bersamasama bergotong royong membuat ogoh-ogoh,” paparnya. –Diana Runtu

Pralina sebelum Dipajang Wilayah Banjar Depok meliputi, Depok I dan II Cimanggis, Vila Pertiwi, Citayam dan Depok Timur. Keseluruhannya ada 150 KK. “Kami datang ke sini dalam dua gelombang, sebagian masih mengikuti upacara di pura pagi tadi, sebagian lagi langsung ke sini. Tapi secara keseluruhan yang kumpul di Monas sekitar 90% warga banjar,” tutur Ketua Banjar Depok, Anak Agung Putu Surana. Wilayah Banjar Depok, meliputi Depok I, Depok II, Depok Timur , Cimanngis/Villa Pertiwi dan Citayam. Secara total di wilayah tersebut ada sekitar 150 KK beragama Hindu. Melihat besarnya biaya pembuatan ogoh-ogoh, bisa jadi orang yang tidak mengerti berpikir untuk apa membuang-buang uang yang begitu besar hanya untuk membuat ogoh-ogoh. Namun menurutnya, bukan soal berapa biaya yang dikeluarkan tapi makna sesungguhnya dari ogoh-ogoh itu yang harus dilihat. Di sisi lain, khususnya bagi umat sendiri, ada banyak manfaat yang bisa dipetik dari pengerjaan pembuatan ogohogoh secara bersama-sama. “Untuk para remaja sendiri, hal ini merupakan proses pembelajaran bagi mereka tentang kebersamaan, kegotongroyongan, disiplin dalam bekerja, bagaimana cara mengorganisir suatu pekerjaan, dll. Mereka yang tadinya tidak tahu tentang bagaimana cara membuat ini, juga menjadi tahu. Namun hikmah dari semua itu adalah semakin eratnya persaudaraan di antara umat. Ini boleh dibilang sebuah kesempatan yang jarang, berkumpul bareng, bekerja sama, karena masing-masing sibuk dengan pekerjaannya

Sosoknya memiliki karisma sebagai seorang pendidik. Ia dikenal tegas, disiplin, bertanggung jawab, berwawasan luas, visioner, kooperatif, ­profesional, dan pastinya idealis. Terutama dalam membimbing dan mengarahkan mahasiswanya demi bisa membangun generasi penerus yang makin baik. Demikian gambaran seorang Prof. Dr. Ida Ayu Gde ­Yadnyawati, M.Pd. dalam upayanya meningkatkan kualitas anak didiknya.

I

a mengatakan kualitas pendidikan sangat pen­ ting artinya karena hanya manusia berkualitas saja yang bisa bertahan hidup di masa depan, dimana dunia makin sengit tingkat kompetisinya.

Perempuan yang dikukuhkan sebagai Guru Besar di Universitas Hindu Indonesia (UNHI) bidang Ilmu Evaluasi Pendidikan pada 25 September 2014 ini menyatakan dirinya tulus mengabdi. Tugas se­ orang pendidik seperti dirinya ada­

Bersama ibu, kakak, dan adik

Bersama suami, anak, menantu, dan cucu

Anak Agung Putu Surana

masih-masing,” papar pria yang tinggal di kawasan Griya Lebak Depok ini. Tidak seperti ogoh-ogoh di Pura lain, menurut Sarana, ogohogoh ‘Narasinga’ ini tidak akan dibakar setelah acara ini. “Tidak semua ogoh-ogoh setelah prosesi dibakar. Tadi pagi di-pasupati atau ‘dihidupkan’ secara simbolis. Setelah acara tadi Pemangku melakukan upacara pralina atau dimatikan. Pemangku melakukan persembahyangan, itu adalah melakukan pralina artinya dimatikan atau dikembalikan seperti semula. Upacara ini untuk mengembalikan harmoni alam semesta setelah ‘hiruk-pikuk’ kehidupan terjadi. Jadi ogoh-ogoh ini, ya, sudah seperti patung biasa, tidak ada ‘isinya’. Setelah ini, boleh dibakar, kalaupun tidak, ya tidak apa-apa. Ibaratnya, boleh dipajang karena sudah seperti patung biasa,” jelasnya. –Diana Runtu

lah mencerdaskan manusia dengan komitmen mengaplikasikan tujuan pendidikan melalui empat pilar pendidikan yang baik untuk masa sekarang maupun masa depan. “Mulai dari learning to know, bagaimana siswa belajar tidak hanya berorientasi pada hasil tapi juga pada proses belajar yang tidak terbatas di kampus saja. Se­ bagaimana hakekat semboyan “belajar sepanjang hayat”. Learning to do, bahwa belajar bukan sekadar mendengar namun melakukan aktivitas untuk menguasai kompetensi dalam menghadapi tantangan hidup. Learning to be, berupa proses membentuk manusia yang memiliki jati diri. Dan, yang terakhir learning to live together, yaitu belajar beker­ jasama. Keempat pilar pendidik­ an ini sudah menggabungkan unsur IQ, EQ, dan SQ,” papar profesor perempuan pertama di UNHI ini. Mengenai ketegasan sebagai pendidik, Bu Dayu demikian ia biasa disapa mengatakan ada waktunya untuk tegas. “Misalnya urusan pemberian nilai. Saya tidak mau sembarangan. Siapapun dia, semua disesuaikan dengan kemampuan atau kompetensi yang dimiliki siswa. Evaluasi pemela­ jaran itu harus objektif. Namun, mereka tetap harus dididik dan dibimbing,” tandas istri dr. Ida

Kuatnya Dukungan Keluarga Bicara langkah kariernya, sesungguhnya sejak kecil anak kedua dari lima bersaudara ini sudah diarahkan orangtuanya menjadi guru. Sementara, ia justru ter­ tarik menjadi apoteker. Meski pilihan hatinya berbeda, namun sebagai anak dan tidak ingin mengecewakan orangtuanya maka ia mematuhinya. “Setamat SMP saya wajib masuk di SPG (Sekolah Pendidikan Guru),” kata putri pasutri Ida Bagus Ardana (alm) dengan Ida Ayu Gde Asmani ini. Meski agak berat, namun berkat motivasi yang kuat untuk terus maju dari sang kakak, Ida Bagus Gde Yudana, ia bisa menyelesaikan sekolah. Begitu selesai SPG, ayahnya yang juga seorang guru membujuknya bekerja menjadi guru. Rupanya Bu Dayu berani meno­ lak dan tetap ingin kuliah. Kembali atas bantuan sang kakak akhirnya ia memperoleh lampu hijau kuliah di FKIP Singaraja. ”Ternyata dunia pendidikan menarik dan seni,” kata Bu Dayu yang setelah berhasil diterima sebagai Dosen Kopertis Wilayah VIII dan ditempatkan di IHD ( sekarang UNHI ) Denpasar. Dari sini langkahnya makin mantap. Sebagai seorang dosen, ia dituntut terus mengembangkan wawasan. Akhirnya Bu Dayu mengikuti program Pascasarjana di IKIP Singaraja. Menyinggung kehidupan keluarga, Bu Dayu mengaku mengawali rumah tangga dari bawah. Kondisi ini pula menggiringnya bukan hanya untuk bersabar tapi juga bekerja keras. Berkat motivasi suami dan anak-anaknya, tahun 2003, ia berhasil meraih gelar Magister Pendidikan. Setahun berikutnya ia mendapat

kesempatan melanjutkan studi doktornya di Universitas Negeri Jakarta. Menyadari keluarga adalah pendidikan pertama dan utama, dan dengan pola asuh yang diterapkan­ nya, ia mampu menjaga komunikasi yang baik dan harmonis dengan anak-anaknya. Ketiga anaknya, dr. Ida Bagus Gde Suwibawa Putra tengah men­ empuh pendidikan dokter spesialis anak, Ida Ayu Gde Suwiprabayanti Putra P., S.Kom., juga sedang menempuh S2 di ITB dan si bungsa Ida Bagus Gde Suwitrisna Putra masih kuliah di STT Telkom Bandung. Atas perjuangannya pula tepat di usia yang ke 48 di tahun 2008, Bu Dayu yang berprinsip ilmu adalah harta yang paling abadi ini, berhasil lulus merah gelar doktor de­ngan hasil yang gemilang. Kemudian, sambil menjalankan tu­ gas mengajar, Bu Dayu juga melakukan penelitian atau karya ilmiah lainnya. Menulis artikel dan jurnal yang terakreditasi di nasional dan internasional. Menulis buku, menjadi pembicara di tingkal lokal maupun internasional, akhirnya mem­ buahkan hasil memenuhi persyaratan menjadi seorang guru besar. Di akhir percakapannya dengan Tokoh, Bu Dayu mengatakan ada hal yang tidak bisa ia lupakan ketika pe­ ng­ukuhan Guru Besar dilaksanakan yakni pada Weraspati Paing Dukut. “Hari pengukuhan bertepatan de­ ngan otonan saya. suami serta anak yang pertama,” tandasnya. – ard

Saat pengukuhan sebagai guru besar

Bagus Paramartha, MPH. ini. Jika mahasiswa terus saja dibantu, nantinya akan menyu­ litkan di lapangan apalagi untuk menyelesaikan masalah. Mem­ bantu tanpa mendidik justru akan mencelakakan masa depan anak didik. “Sebenarnya menjadi dosen itu lebih banyak sukanya, namun akan menjadi sedih ketika me­ lihat mahasiswa yang diberikan tugas tapi tidak dikerjakan atau tidak diselesaikan. Padahal

mereka ini juga tanggung jawab kami selaku pendidik,” urai dosen yang hobi menari, memasak dan membaca ini. Ketika disebut terlalu idealis, ia

justru menekankan kembali bahwa pendidik memang harus idealis, karena tugasnya membentuk ma­ nusia menjadi cerdas. “Jika ada mahasiswa yang mau menyusun tesis kemudian jarang ke kampus, dan bingung tidak tahu mau mulai dari mana. Sebulan sampai dua bulan juga belum mulai tapi malah mengatakan sulit. Yang seperti ini harus dimotivasi,” tu­ turnya. Ia mengatakan sebenarnya saat ini berbagai infor­ masi mudah diakses. Di sinilah mahasiswa diminta membaca dan membaca. Mengenai feno­ mena rekayasa nilai ujian yang sempat terjadi di beberapa sekolah demi mendongkrak nama sekolah, bagi Bu Dayu ini prilaku yang tidak te­ pat dan ia tidak setuju. “Apapun kecurangan yang dilakukan di dunia pendidikan, saya tidak setuju. Apa jadinya generasi muda kita, jika tidak mendidik mereka dengan benar. Tugas guru, pendidik juga orangtualah membuat orang cerdas, pintar dan berilmu,” tegasnya. Sebagai seorang dosen, demiki­ an juga dengan urusan pendidikan Bu Dayu sudah mencapai puncak. Sebuah perjuangan panjang sudah dilaluinya, saat menuntaskan gelar doktornya serta diraihnya gelar profesor. Sebagai dosen juga sudah melewati berbagai jenjang karier hingga kini tercatat sebagai Ketua Program Studi S3, Pendidikan Agama Hindu Pascasarjana UNHI. Ketika Tokoh menanyakan obsesi yang belum tercapai, den­ gan tegas ia mengatakan masih ingin memberikan sesuatu yang bermanfaat di dunia pendidik­ an dengan berkarya. “Melaku­ kan penelitian-penelitian dan bisa menemukan se­s uatu yang memang bermanfaat bagi pen­ didikan,” ujar Bu Dayu. -ard


4

Inspirasi

Edisi 842/ 30 Maret - 5 April 2015

di Akar Rumput

Satu dari empat kepala keluarga Indonesia adalah perempuan. Survei Pemberdayaan Perempuan Kepala Keluarga (Pekka) menunjukkan keluarga yang dikepalai oleh perempuan 60% di antaranya berada dalam kondisi sangat miskin. “Mereka ini adalah perempuan-perempuan hebat yang meski banyak diantaranya tidak berlatarbelakang pendidikan tinggi, namun memiliki semangat juang tinggi, baik dalam kehidupan maupun dalam memperkaya dirinya dengan pengetahuan,” kata Nani Zulminarni, Direktur Pekka, disela-sela acara pelatihan paralegal untuk anggota Pekka seluruh Indonesia.

elatihan yang berlangsung selama enam hari ini, kata Nani, merupakan salah satu program terkait pemberdayaan hukum guna penguatan organisasi serikat Pekka. Pelatihan menjadi paralegal ini sangat penting agar anggota Pekka menjadi ‘melek’ hukum dan dapat mengurus berbagai masalah terkait hukum secara mandiri. Misalnya, bagaimana mengurus akte kelahiran, perceraian ataupun jika terjadi kasus KDRT. Mungkin ini terlihat sepele, tapi untuk masyarakat di pelosokpelosok, hal tersebut menjadi

masalah karena mereka tidak mengerti juga tidak memiliki akses, ditambah lagi dengan latar belakang pendidikan yang rendah. Asal tahu saja, 50% dari komunitas Pekka adalah buta huruf dan pendidikan rendah. Dengan berbagai kendala yang dihadapi , tak heran kalau masalah administrasi kependudukan menjadi salah satu yang tertinggi kasusnya. “Banyak dari mereka tidak memiliki akte kelahiran, misalnya. Ini karena ketidakmengertian mereka mengurusnya. Sebanyak 70% anak-anak komunitas Pekka yang berada di pelosok-pelosok itu, tanpa akte. Jadi mereka

lahir saja, tidak ada pengurusan administrasi lainnya. Mereka merasa tidak penting karena tidak mengerti. Nah baru kalau terjadi suatu masalah, mereka terbentur dengan hal-hal yang terkait dengan identitas. Inilah yang perlu penyadaran bahwa betapa pentingnya identitas kependudukan,” tutur ibu tiga anak ini. Paralegal dari Pekka ini, antara lain tugasnya membantu anggota untuk ‘melek’ hokum juga membantu mereka dalam pengurusan hal-hal tersebut. “Pelatihan paralegal ini sudah sering kali diadakan, sehingga boleh dibilang sudah banyak anggota yang memiliki

Dulu Terpuruk Kini Berdiri Tegak Jika mengilas-balik kehidupan Nani Zulminarni, wanita ini mengaku dulunya tak pernah membayangkan kalau dirinya bakal menjadi aktivis perempuan. Tapi justru perjalanan hidup yang tak terduga menghantarnya menjadi aktivis pemberdayaan perempuan di akar rumput. Bukan kebetulan pula kalau di saat itu dirinya baru saja menyandang status janda, tiba-tiba muncul tawaran untuk m e -

motret kehidupan para janda di daerah konflik. Lewat aktivitasnya, Nani Zulminarni bukan saja berhasil menghantar para wanita yang terpuruk untuk ‘tegak berdiri’ tapi juga untuk dirinya, ia berhasil menyembuhkan luka bathin akibat perceraian. Dia bangkit dengan semangat luar biasa. Wanita kelahiran Ketapang, Kalimantan Barat 1962 ini, menghabiskan hampir sebagian besar waktunya untuk organisasi yang kemudian diberinya nama Pekka. Bersama ibuibu, ia berjuang menegakkan harkat para janda yang selama ini hanya dipandang sebelah mata oleh sebagian anggota masyarakat. Ia ingin wanita-wanita ini tidak hanya dipandang sebagai perempuan rumah tak berdaya, tapi dilihat sebagai sosok yang memiliki peranan penting karena fungsi dan tanggung jawabnya sebagai kepala keluarga. Ia ingin mengubah paradigma sebagian masyarakat tentang sosok janda, ia ingin menghapus stigma negative yang melekat pada predikat janda. Nani sadar itu tidak mudah, namun bukan tidak mungkin. One day later! Tidak ada lagi pandangan yang memojokkan dan meminggirkan kedudukan janda dalam masyarakat. –Diana Runtu

pengetahuan dasar tersebut. Anggota-anggota yang sudah terlatih ini kemudian akan menularkan pengetahuannya kepada anggota lainnnya.,” katanya. Saat ini, lanjut Nani, Pekka telah memiliki ‘Klik-Pekka’, ini merupakan klinik hokum bergerak untuk komunitas Pekka juga kalangan marjinal lainnya. Kehadiran ‘Klik Pekka’ ini, sekaligus menjawab tantangan tentang ketiadaan pengacara di tingkat kampung yang bisa mendampingi komunitas Pekka maupun kalangan marjinal lainnya apabila menghadapi persoalan hokum. Program ini, tambahnya, dapat berjalan dengan baik karena pemerintah memberi dukungan. “Kami melobi pemerintah, dalam hal ini lembagalembaga terkait untuk membantu agar ini bisa terlaksana. Ya tentu saja dalam melobi ini kita juga sodorkan data-data, fakta-fakta lapangan. Jadi sekarang ini kami membuka layanan terpadu atau layanan satu atap, untuk membantu masyarakat yang memiliki masalah. Misalnya, masalah hokum, ataupun dokumen kependudukan, termasuk akte nikah, akte cerai, dll,” terang Nani. Sebagai sebuah organisasi kemasyarakatan yang bergerak di bidang pemberdayaan perempuan kepala keluarga, perkembangan organisasi yang didirikan sejak 2001 ini boleh dibilang cukup pesat. Serikat Pekka kini telah ada di 19 provinsi dan anggotanya telah mencapai puluhan ribu orang. Ada banyak program yang dijalankan, di antaranya; pengorganisasian dan penguatan serikat Pekka dan organisasi perempuan di akar rumput, pengembangan system pengelolaan data dan informasi berbasis komunitas, advokasi berbasis data, pemberdayaan ekonomi, dll. Meskipun disebut organisasi perempuan kepala keluarga, kata Nani, bukan berarti semua anggotanya adalah para janda. Ada juga perempuan tidak menikah tetapi memiliki anak, atau perempuan bersuami tapi sang suami tidak bek-

erja karena sakit, dll. Intinya adalah, perempuan yang menjadi tumpuan perekonomian keluarga. “Saya sangat bersyukur organisasi ini berkembang semakin baik, hal ini berkat bantuan berbagai pihak, seperti pemerintah juga swasta. Yang terpenting lagi, para ibu kepala keluarga sangat bersemangat untuk memperbaiki kehidupannya juga membantu sesama,” ucap Nani yang barubaru ini meraih penghargaan Kick Andy Heroes 2015. Ini merupakan satu dari banyak penghargaan yang telah diterima Nani terkait kiprahnya sebagai aktivis pemberdayaan perempuan di akar rumput. “Alhamdulilah atas banyak penghargaan yang kami terima. Apresiasi ini merupakan support bagi kami di Pekka untuk terus berkembang. Penghargaanpenghargaan ini adalah untuk semua perempuan kepala keluarga yang menjadi pejuang dan pahlawan bagi keluarganya,” ungkap peraih penghargaan Best Practice Award’ dari Japan Social Development Fund (JSDF). Berbicara tentang pemberdayaan hokum, lanjutnya, ternyata didapat kenyataan bahwa kemiskinan dan keterpinggiran komunitas Pekka dan perempuan lainnya di wilayah kerja Pekka ternyata juga berkaitan langsung dengan persoalan hokum, khususnya hokum keluarga. Karena itu adanya paralegal Pekka menjadi sangat membantu, misalnya untuk mengakses identitas hokum, seperti akta kelahiran, dll. “Pendekatan pemberdayaan hukum yang dapat dilakukan Pekka ini tentunya masih masuk dalam ranah perdata. Adanya bantuan dari instansi terkait membuat kerja paralegal Pekka menjadi efektif dalam mengakses berbagai layanan, termasuk sidang keliling untuk itsbat nikah, dll ,” jelas penerima Global Fairness Award 2014 di Washington DC, ini. - Diana Runtu

21

Penghargaan Terbaik di Bidang Pengembangan Pariwisata Keseriusan Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat menjadikan pariwisata sebagai salah satu prioritas pembangunan daerah ini, ditunjukkan dengan kerja keras dan kesungguhan dalam menata seluruh hal berkaitan dengan hal tersebut. Potensi pariwisata daerah ini yang sangat besar membuat pilihan prioritas ini menjadi tepat.

K

Nani Zulminarni

Edisi 842/ 30 Maret - 5 April 2015

Kado bagi NTB

Nani Zulminarni

Aktivis Pemberdayaan Perempuan

P

Mandalika

ekayaan alam dan budaya NTB yang memesona menjadi kekayaan dan keunikan bagi provinsi yang didiami tiga suku (Sasak Lombok, Samawa Sumbawa dan Mbojo Bima Dompu) ini. Dua pulau yang ada di NTB yakni Pulau Lombok dan Pulau Sumbawa memiliki pesona dan keunikan masing-masing. Panorama pantai dengan pasir putih lengkap dengan bulir-bulir

nata dan mengelola kepariwisataan daerah ini kembali mengukir prestasi dengan terpilih sebagai provinsi terbaik bidang pariwisata dalam Government Award 2015 yang diselenggarakan oleh Sindo Weekly Magazine. Penghargaan diserahkan oleh Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional atau Kepala Badan Perencanaan dan Pembangunan Nasional Adrinof Chaniago didampingi CEO MNC Group Hary Tanoesoedibjo

pasirnya yang bundar bak merica, alam yang indah dan alami dipercantik dengan puluhan air terjun hingga keindahan bawah laut sampai ke dua gunung yang menjadi ikon Lombok Sumbawa, Gunung Rinjani dan Gunung Tambora, serta kebudayaan yang masih hidup dalam masyarakat membuat NTB menjadi salah satu tujuan pariwisata tanah air. Pengelolaan potensi ini terus dilakukan secara intensif, khususnya dalam tujuh tahun terakhir ini. Kerja keras dan keseriusan Pemerintah Provinsi NTB dalam me-

kepada Gubernur NTB, Dr. TGH. M. Zainul Majdi, pada malam Apresiasi Sindo Weekly Government Award 2015, yang dilaksanakan di Golden Ballroom Sultan Hotel, Jln. Gatot Subroto, Jakarta, beberapa waktu yang lalu. Menurut Adrinof Chaniago, penganugerahan Goverment Award 2015 ini merupakan bentuk kepedulian dan perhatian Sindo Weekly, yang berinisiatif memantau perkembangan kinerja pemerintah daerah di seluruh Indonesia. Pada saat memberikan sambutan, Adrinof juga mengapresiasi CEO MNC Group, Hary Tanoesodibjo sebagai salah satu sosok yang memotivasi setiap kepala daerah untuk terus berprestasi. “Usaha Pak Hary Tanoe

Taman Narmada Lombok Barat

Gubernur NTB, DR. TGH. M. Zainul Majdi, (dua dari kiri) menerima penghargaan atas prestasi NTB sebagai provinsi terbaik bidang pariwisata dalam Government Award 2015 yang diselenggarakan oleh Sindo Weekly Magazine

memberikan penghargaan bagi kepala daerah berprestasi patut kita apresiasi. Penghargaan ini akan memotivasi setiap kepala daerah untuk terus berprestasi,” ujarnya. Sementara itu, Sekjen Kemendagri Yusman Tumenggung menjelaskan, penghargaan Government Award 2015 diberikan kepada 38 daerah terbaik di Indonesia dengan rincian 16 kabupaten, 16 kota dan 6 provinsi. Enam provinsi yang menerima penghargaan itu di antaranya, Provinsi NTB yang menerima penghargaan terbaik di bidang pengembangan pariwisata, Jawa Tengah (terbaik bidang pelestarian budaya), Sumatera Selatan (terbaik bidang pelayanan publik), DKI Jakarta (terbaik bidang tata kelola pemerintahan), Jawa Barat (terbaik bidang kepedulian lingkungan) dan Papua (terbaik bidang pertumbuhan ekonomi). Government Award 2015 ini adalah yang kedua kalinya dilaksanakan dalam rangka memperingati HUT Majalah Sindo Weekly atau Sindo Weekly Magazine. Government Award 2015 yang bertujuan memberikan penghargaan bagi pemerintah daerah di Indonesia yang berprestasi baik di tingkat kabupaten, kota dan provinsi, berdasarkan tujuh belas kategori penilaian. Yakni prestasi di bidang pendidikan, kesehatan, infrastruktur, ekonomi kreatif, peduli lingkungan dan investasi. Selain itu, juga dalam bidang layanan publik, pariwisata, perempuan dan anak, tata kelola pemerintahan, keamanan dan toleransi, kreativi-

Pantai Kuta Lombok Tengah dengan pasirnya yang putih dan bundar

tas peningkatan PAD, pemuda dan olahraga, ketahanan pangan, pertumbuhan ekonomi, koperasi dan usaha mikro kecil dan menengah serta heritage. Gubernur NTB, Dr. TGH. M. Zainul Majdi mengatakan, penghargaan yang diperoleh tersebut semata-mata bukan penghargaan untuk gubernur. Tetapi, penghargaan untuk seluruh masyarakat NTB yang telah bersama-sama bekerja keras, melaksanakan pembangunan di daerah.

dimiliki sebuah daerah bisa lebih dikenal. Dengan begitu, industri pariwisata pun bisa berkembang pesat dan perekonomian di Indonesia akan mampu bersaing dengan negara-negara lain. “Saya yakin jika semua daerah berhasil mempromosikan keindahan daerahnya masing-masing, maka Indonesia akan sangat ramai dikunjungi wisatawan,” ungkap Majdi. Penghargaan ini menjadj kado bagi Nusa Tenggara Barat yang pada 11 April 2015 mendatang

Sejauh ini berbagai upaya pengembangan sektor pariwisata sedang dilakukan Pemerintah Provinsi NTB. Dalam hal ini, Pemerintah Provinsi NTB bersama pemerintah kabupaten/kota di NTB, akan terus melakukan promosi dan penataan destinasi agar dapat menarik minat wisatawan berkunjung ke daerah ini. Menurut gubernur, melalui promosi destinasi maka potensi pariwisata yang

akan menyelenggarakan puncak peringatan 200 tahun meletusnya Gunung Tambora yang pernah tercatat sebagai letusan terbesar sepanjang sejarah ini. Peringatan dua abad letusan Tambora dengan tema “Tambora Menyapa Dunia” menjadi salah satu upaya pemerintah NTB untuk menuju pencapaian kunjungan setidaknya 2 juta wisatawan ke daerah ini.

Wisata alam Sembalun yang asri

-Naniek I. Taufan


20

Nine

Edisi 842/ 30 Maret - 5 April 2015

Inspirasi

Edisi 842/ 30 Maret - 5 April 2015

5

G u s So n ny

Sekolahkan Anak dengan Groso Musim groso (srikaya) di Bima telah tiba. Tumpukan buah ini terlihat di mana-mana, khususnya di daerah-daerah penghasil groso seperti Panda, Punti, Tolo Tangga, Kalo, Kedo, Tambana, Sila,Kalaki dan lain-lain. Buah andalan dari daerah Bima ini menumpuk dalam baskom-baskom yang disusun rapi di pinggir jalan. Pemandangan ini biasa terlihat di sentra penjualan groso di Desa Panda yang kebetulan berada di pinggir jalan utama menuju Bima juga di tengah Kota Bima sekitar Pasar Bima.

S

elain sebagai salah satu sentra penjualan groso, Panda juga merupakan salah satu penghasil groso di Bima. Bisa dikatakan, daerah penghasil groso hampir merata di Kabupaten Bima. Dari sinilah, groso terbaik dihasilkan. Rasa istimewa groso Mbojo (masyarakat menyebutnya demikian), diakui oleh masyarakat NTB secara umum. Daging buahnya yang tebal, manis dan ranum, menjadi keunggulan untuk dirindukan setiap musimnya tiba. Tentu saja, ini berbeda dengan groso yang dihasilkan di tempat lain. Tampak jika dibelah, daging buahnya tipis sehingga bijinya yang berwarna hitam bisa langsung terlihat dan buahnya kecil-kecil, rasa buahnya tidak begitu manis. Groso merupakan tanaman yang cocok hidup dan berkembang baik di daerah Bima yang termasuk daerah panas. Begitu gampangnya hidup, tanaman ini tidak memerlukan perawatan khusus. Karenanya, lebih banyak groso tumbuh di perbukitan di

Groso Bima dikenal rasanya enak dan daging buahnya yang tebal

Bima, bahkan terkadang tumbuh dengan sendirinya bukan ditanam secara khusus. Di salah satu sudut pasar Bima di emperan ruko-ruko, terlihat puluhan perempuan duduk di depan tumpukan groso-groso dalam jumlah yang banyak. Inilah keseharian para perempuan penjual groso ini. Saat musim groso tiba dan Bima “banjir” groso seperti ini, mulai pagi hingga malam hari mereka akan duduk menunggu para pembeli. “Ini pekerjaan kami bertahun-tahun lamanya menjual groso jika musim groso tiba,” un-

Masitah berjualan groso di emperan toko di Kota Bima

gkap Masitah (56), penjual groso di pasar Bima. Ia bersama puluhan perempuan lainnya sesama penjual groso kebanyakan berasal dari Tolo Tangga Bima. Melakoni pekerjaan sebagai penjual groso, menjadi mata pencaharian para perempuan ini termasuk juga di wilayah Panda, Belo. Para perempuan penjual groso yang terkonsentrasi di pasar Bima, sehari-harinya ada yang menjadi pedagang ada pula ibu rumah tangga yang berjualan musiman. “Kalau musim groso saya berjualan groso namun keseharian saya kerja buruh tani,” kata Jumhar penjual lainnya. Lain halnya dengan Masitah yang menambah “jam kerja” jika musim groso tiba. “Kalau musim groso saya berjualan dari pagi sampai malam. Pagi sampai siang jualan kecambah, siang sampai malam jualan groso,” kata Masitah yang mengaku memperoleh tambahan penghasilan yang lumayan jika musim groso tiba. Masitah yang sudah bertahuntahun menjadi penjual groso ini juga mengaku dengan berjualan groso ia bahkan bisa menyekolahkan anak-anaknya. “Satu anak saya sudah jadi bidan,” ujarnya tersenyum. –Naniek I. Taufan

Banyak Teman Banyak Manfaat Bisnis “Tau Sama Tau”

Masitah dan puluhan perempuan penjual groso, rela berpanaspanas di terik matahari hanya dilindungi payung atau penutup kepala seadanya. Sejak pagi mereka sudah duduk di emperan toko ini menunggu para pengumpul groso membawakan groso dalam bakul-bakul untuk dijual. Masitah dan rekan-rekan lainnya beruntung karena mereka tinggal menunggu orang yang membawakan groso untuk dijual, sehingga tidak keluar biaya untuk angkutan. Karena sebagian lainnya, harus mendatangi satu kebun ke kebun groso lainnya untuk memetik sendiri groso dari pohonnya. Fatimah, salah seorang penjual groso di Panda, melakoni ini sejak dulu. Tiap kali musim groso tiba, ia harus bangun lebih pagi. “Sebelum berjualan groso, subuh saya harus ke kebun-kebun groso petik langsung di sana,” kata Fatimah yang sudah melakoni pekerjaan ini sejak 10 tahun lalu. Untuk ini Fatimah sudah bersepakat dengan petani-petani groso yang menjadi langganannya. Berjualan groso, terbilang gampang-gampang susah terutama mempertahankan kondisi groso yang lekas matang. Panen yang berlimpah membuat groso berlimpah jumlahnya. Selain harganya menjadi sangat murah karena, harus juga segera dipasarkan saat matang karena tidak bisa dibiarkan lama-lama. Begitu benar-benar mengkal dan dipetik, hanya hitungan jam, groso bisa langsung matang dan harus segera dikonsumsi. Jika kematangan dan lembek, rasanya menjadi kurang enak. Belum lagi, kalau harus dibawa keluar kota Bima, sulit dipaket dengan kardus jika sudah matang, karena bisa dipastikan akan hancur beberapa jam kemudian. Biasanya kalau untuk dipaket dalam kardus, groso yang sudah mengkal tapi masih keras, sehingga begitu tiba di tempat tujuan belum terlalu matang. Beberapa petani groso di Rada sudah bersepakat dengan para penjual groso yang langsung memetik sendiri groso di kebun seperti halnya Fatimah. Para petani tidak perlu bersusah payah memasarkannya karena pedagang groso datang sendiri ke kebuhkebun groso di Bukit Rada, untuk memetik dan membelinya. Bisnis penjualan groso ini terbilang sederhana, hanya butuh “tau sama tau” atau saling percaya, bisnis ini bisa jalan. Misalnya, kata Faisal, terkadang pemilik kebun groso belum tiba di kebun, para pembeli sudah memetik sendiri grosonya. “Begitu pemiliknya datang, groso tinggal dihitung, berapa jumlah dan harganya,” katanya. Tentu saja, para pedagang tersebut sudah menjadi langganan setiap tahunnya, salah satunya Fatimah. Dengan cara ini Fatimah bisa memilih langsung groso-groso dengan kualitas baik dan ukuran yang besar sehingga harganya juga bisa lebih mahal. Dalam sehari, Fatimah dan Masitah bisa menjual 4-5 ember groso yang dibeli dengan harga bervariasi antara Rp 120 ribu sampai dengan Rp 150 ribu tergantung kualitasnya. Dari berjualan groso, dengan sedikit kerja keras dan kesungguhan mereka bisa mendapatkan penghasilan yang cukup. Setidaknya untuk biaya hidup. –Naniek I. Taufan

Musim groso yang berlimpah menjadi lahan bagi puluhan perempuan penjual groso yang berasal dari Tolo Tangga Bima

Menjadi presenter merupakan aktivitas yang sangat menyenangkan bagi Gus Sonny. Wajahnya kerap tampil di televisi. Hingga kini ia masih membawakan acara “Tembang Bali” di Bali TV. Selain di televisi, ia juga menjadi penyiar radio dan bekerja di bank.

D

i tengah kesibukannya, pria bernama lengkap Ida Bagus Gede Sonny Surya Wijaya, S.S. ini juga menjadi Master of Ceremony (MC) di berbagai acara. Salah satunya di Festival Keluarga “Sejuk bersama Coolant” yang digelar Tabloid Tokoh tahun 2014. Penampilan yang riang dan banyak canda membuat Gus Sonny bisa membawakan acara Festival Keluarga bersama Yuppi dengan baik. Hal ini tak lepas dari persiapan yang ia lakukan sebelum menjadi seorang MC. “Sebelum menjalankan tugas, saya latihan dulu, biasanya bicara sendiri berdasarkan bahan-bahan yang ada. Pesan yang ingin disampaikan harus sesuai dengan konsep acara,” ujarnya tentang latihan visualisasi yang kerap ia lakukan. Kadang karena seringnya latihan untuk berbicara sendiri, ia kerap disangka “orang gila”. Bahkan kadang ada yang salah sangka karena merasa diajak bicara oleh Gus Sonny. Namun, teman-teman yang sudah terbiasa dengan kelakuan Gus Sonny pun menjadi maklum jika melihat Gus Sonny bicara sendiri. Pria yang lahir di Dencarik, Banjar, Buleleng 23 Mei 1987 ini pun mengaku akan terus menekuni dunia yang sudah membesarkan namanya. Gus Sonny adalah nama yang ia pakai saat menjadi presenter di Bali TV sedangkan Sonny Wijaya adalah namanya saat on air di radio Pingiun FM. Putra Ida Komang Jaya-Jro Putu Padmi ini termasuk sosok pemuda yang gigih dan tak kenal lelah dalam beraktivitas. Dari SMP Gus Sonny aktif di OSIS, bahkan sempat menja-

bat sebagai Sekretaris OSIS di SMAN 1 Kuta Utara. Kegemarannya dalam berorganisasi pun mengantarkannya menjadi Ketua BEM Fakultas Sastra, Universitas Warmadewa. Saking sibuknya, ia sering berangkat pagi, pulang pun tengah malam. Semua itu ia lakukan demi mewujudkan cita–cita menjadi pria dewasa yang mampu berdiri sendiri dan menjadi kebanggaan keluarga. BERAWAL DARI NOL Gus Sonny mengaku masuk dunia hiburan berawal dari nol. Ada temannya yang mengenalkan dia dengan radio Pinguin. Ia disuruh request lagu dan kirim salam. Lama-lama malah keasyikan. “Saya bahkan sampai berteman dengan penyiarnya. Karena orangtua melihat potensi saya berbicara di depan publik, mereka menyarankan dan mendukung saya untuk ikut dalam sebuah pelatihan penyiar dan MC di Santy Sastra Production. Kalau tidak salah, saya angkatan ketiga. Saya masuk 10 besar dan diberi kesempatan ikut training,” ungkapnya. Karier Gus Sonny di dunia hiburan pun mulai. Ia masuk dalam jajaran penyiar di Duta FM, dan belajar banyak di sana. Tahun 2006, kakak Ida Ayu Arick Citra Dewi ini memberanikan diri ikut dalam lomba presenter Bali TV. Walaupun hanya sampai di 20 besar, namun jalan untuk menjadi presenter Bali TV tetap ada. Beberapa acara pernah dibawakannya, seperti Pesona Wisata, BRTV Bali TV 2006–2008, dan sampai kini memegang acara Tembang Bali, tiap hari Minggu siang. Tahun 2007, Gus Sonny memilih untuk pindah ke radio Pinguin. Ia juga makin meman-

tapkan kariernya untuk memilih menjadi MC gathering dan wedding sebagai spesialisasinya dalam memandu acara off air. Gus Sonny juga bekerja sebagai personal banking officer di BNI KCU Denpasar. Sonny menambahkan dirinya menerapkan konsep ngayah dalam siaran sebagai pupuk yang senantiasa membuatnya semangat. Rasa jenuh pun seketika hilang saat kamera telah on atau mixer radio telah siap dimainkan.

Sonny saat memandu Festival Keluarga Tokoh

Dengan berkecimpung di dunia siaran, pria yang bernaung di zodiak Gemini ini memiliki banyak teman. “Punya banyak teman itu manfaatnya banyak banget, dari yang sederhana misalnya pas lagi di perjalanan bisa mampir ke rumah teman apalagi mengalami gangguan dalam perjalanan,” ujarnya. Punya banyak temen juga sangat membantu Gus Sonny dalam mewujudkan impiannya membuat resepsi pernikahan yang berkesan. “Temen-temen banyak membantu, dari temen di Radio Pinguin, BNI, Bali TV, profesional, klien, sampai ke pedagang tradisional yang kebetulan sering nonton Tembang Bali di Bali TV,

wah seru sekaligus lucu deh, ga jarang dikasi diskon tambahan pula, hahaha...” ujar Sonny sembari tertawa. Kepada generasi muda yang berniat untuk menekuni dunia siaran, Sonny pun memberi tips. “Rajin membaca dan selalu ikuti perkembangan berita. Ini kuncinya agar bisa eksis,” tegas Sonny. Ia sudah membuktikan dari yang hanya sekadar hobi, bisa saja menjadi ladang pemasukan. Daripada menghabiskan waktu untuk hal-hal negatif, lebih baik cari tahu apa potensi diri, kembangkan, minta saran orangtua dan senior. Jangan lupa berdoa, niscaya cita– cita akan terwujud. –Ngurah Budi

Ingin Punya Usaha Sendiri

Sonny dan Dayu Sri

Setelah sekian lama ditanya, kapan menikah, akhirnya Sonny melepas masa lajangnya. “Banyak yang tanya kapan nikah Son. Sekarang sudah terjawab,” ujar pria yang mempersunting Ida Ayu Sri Wahyuni, S.E. ini sambil tersenyum. Upacara pawiwahan dilaksanakan di gria Kawan Kemenuh, Desa Dencarik, Banjar, Buleleng

pada 30 Maret 2015 dilanjutkan dengan resepsi di Canang Sari Restaurant, Sanur, 2 April 2015. Sonny menuturkan dirinya pacaran dengan Dayu Sri selama enam tahun. “Ada teman yang mengenalkan kemudian saya pendekatan selama tiga bulan. Ternyata cocok. Kami pun pacaran. Setelah semua persiapan lahir dan batin kami

rasakan matang, kami menikah,” ujar pasangan yang sama-sama berkarier di dunia perbankan ini. Dayu Sri adalah putri pertama pasangan Drs. IB Putu Sudiarta Sudibya, M.M. dengan A,A. Arwiniati dari Gria Gede Sidemen, Desa Gulingan, Mengwi, Badung. Sonny menambahkan ia dan Dayu Sri sudah memiliki visi tentang masa depan mereka. Karena itu semua dipersiapkan dengan baik. Mereka ingin membangun mahligai rumah tangga yang mapan dan suatu saat nanti punya usaha sendiri. Setelah menikah, Sonny paham konsekuensi tentang manajemen waktu. Ia harus bisa membagi waktu antara karier sebagai personal banker officer di BNI Cabang Denpasar, penyiar radio Pinguin FM, presenter Bali TV, dan MC, serta membina rumah tangga. “Istri sudah paham semua kegiatan saya. Tinggal menyelaraskan saja,” tegasnya. –Ngurah Budi


6

I Gusti Agung Prana

Pejuang dan Perintis Pariwisata Alternatif Figur ini dikenal sebagai tokoh pariwisata yang men­dunia. Kiprahnya dibuktikan lewat puluhan peng­hargaan tingkat internasional yang diraihnya. Bahkan sosoknya yang lekat dengan dunia spiritual ini dikenal sebagai pejuang dan perintis pariwisata alternatif.

I Gusti Agung Prana dengan PATA Gold Award.

“Saya mengapresiasi sektor pariwisata yang secara faktual sudah memberikan kesejahteraan/pertumbuhan ekonomi yang baik. Namun ada kekhawatiran dari sisi negatif pariwisata yang sudah mengancam. Kondisi objektif inilah yang membuat saya terpanggil bagaimana menyelamatkan pariwisata agar tetap bisa memberi manfaat bagi lingkungan, adat dan budayanya. Kekhawatiran itulah yang memunculkan kegelisahan pada diri saya,” ungkap pemilik Puri Taman Sari ini. Tak ingin terus gelisah, Agung Prana mencari. Saat itulah dirinya menemukan dua (2) desa yakni desa pesisir Pemuteran, Singaraja dan desa pertanian Umabian, Marga, Tabanan. Desa tersebut mengalami kehancuran lingkungan yang sangat parah dan sistem subak yang memerlukan pemeliharaan lebih baik. Kehidupan masyarakat dalam kemiskinan, kekeringan dan putus asa membuat mereka berperilaku destruktif. Tanah perta-

nian/sawah mereka terancam oleh konversi yang masif untuk dijadikan perumahan. Mereka membutuhkan seorang ‘dewa penyelamat’. “Sebagai orang yang punya pengalaman pariwisata cukup panjang, saya mampu mengenali potensi besar di balik kehancuran itu. Di Pemuteran ada keindahan panorama bentang alam, perpaduan antara jajaran gunung yang berhadapan dengan tiga teluk. Dan potensi tersembunyi di Pemuteran ini menjadi modal awal yang besar bagi perkembangan pariwisata, demikian pula di Umabian, sawah/pertaniannya perlu ditangani secara lebih baik dan profesional,” tutur Agung Prana. PROSES TRANSFORMASI Kronologi/proses transformasi di Desa Pemuteran, Agung Prana harus membenahi kerusakan lingkungan yang parah menuju desa destinasi pilihan dunia. Dari perilaku masyarakat yang destruktif menuju masyarakat sadar, berpartisipatif dalam kebersamaan. Kondisi objektif yang demikian parah itu menjadi tantangan besar bagi Agung Prana. Langkah pendekatan yang dilakukannya dalam proses transformasi

19

Edisi 842/ 30 Maret - 5 april 2015

Edisi 842/ 30 Maret - 5 april 2015

tersebut melalui: (1) Pendekatan sosial, budaya dan spiritual. Membuka hati dan pikiran masyarakat melalui upacara/ritual seperti persembahyangan bersama untuk merajut komitmen dan kesepakatan membangun desanya oleh dan untuk masyarakat. (2) Pendekatan manfaat ekonomi dengan menciptakan lapangan kerja dan peluang usaha sebagai sumber pemasukan desa. (3) Pendekatan pelestarian lingkungan hidup untuk membangun desa yang sehat, nyaman dan sejahtera. Sementara di bidang kelautan dan perikanan yang dilakukan, (1) Rehabilitasi potensi unggulan yaitu

terumbu karang dengan cara semua perilaku destruktif dihentikan secara total sehingga terumbu karang hidup kembali dan menjadi habitat dari ikan yang dulunya menghilang. (2) Mengaplikasi teknologi biorock untuk menstimulir pulihnya terumbu karang sebagai habitat kehidupan biota laut. (3) Reboisasi wilayah desa, antara lain hutan dan gunung untuk menciptakan desa yang hijau. (4) Desa lahir dengan potensi sebagai point of interest pariwisata khusus ekowisata/ wisata tirta. (5) Fasilitas pariwisata mulai dikembangkan dengan konsep mengadopsi kearifan lokal. Tata kelolanya mengadopsi aturan desa

Panorama elok di Pemuteran.

(awig-awig). Desa-desa wisata tersebut menjadi pilihan beberapa universitas terkemuka dunia sebagai destinasi khusus untuk studi lapangan para mahasiswanya. Sukses di Pemuteran, Agung Prana merintis pariwisata alternatif di Desa Umabian. Desa ini telah menjadi desa wisata berbasis masyarakat. Rumah penduduk dikembangkan menjadi pondok wisata sehingga wisatawan menikmati pengalaman tinggal di desa sedangkan rumah keluarga leluhur dijadikan central point destinasi pariwisata desa dimana dari tempat itu wisatawan dapat menikmati panorama desa dengan sajian kuliner pedesaan yang organik. DESTINASI SPIRITUAL Desa wisata akhirnya menumbuhkan minat wisatawan untuk mengikuti kegiatan spiritual. Kegiatan ini makin melengkapi fasilitas kebutuhan wisatawan asing dimana spiritual telah menjadi kebutuhan primer. “Bali sejak awal sudah menjadi destinasi spiritual dan Desa Pemuteran yang Nyegara Gunung adalah salah satu central point wisata spiritual di Bali, sementara ashram spiritual (yoga/meditasi) juga melengkapi Desa Umabian sehingga menjadi wisata spiritual yang ecofriendly,” papar Agung Prana. Agung Prana adalah seorang social entrepreneur. Jiwa sosial bisnisnya yang tinggi mendapat apresiasi sebagai World Social Entrepreneur, penghargaan prestisius PATA Gold Award 2005, Kalpataru Award (2 kali), Equator Award 2002 (PBB), Millenium G20 2012 (PBB), Asianta Award, Kementerian Pariwisata Award dan Nomination of Sasakawa Award. -ari

Menonton film di bioskop merupakan salah satu hiburan yang digemari masyarakat. Bios­ kop pun bisa dise­ saki kalau film yang diputar merupakan film box office (film terlaris). Kini dengan kemajuan teknologi, bioskop juga makin canggih. Animo penggemar film un­ tuk menyaksikan film pun tetap tinggi.

M

emang banyak alasan mengapa bioskop terus ramai dikunjungi. Bahkan mereka berbondong-bondong mengantri untuk membeli tiket. Menurut Yoseva Listyati, Direktris CV Surya Tirta Buana yang biasa disapa Eva, menonton di bioskop selain mencari suasana yang berbeda dengan di rumah, juga menjadi ajang rekreasi dan refreshing bagi keluarganya. “Apalagi sekarang di satu lokasi bisa tersedia lebih dari 2 studio atau auditorium, sehingga kami penonton bisa bebas memilih film apa yang akan ditonton,” katanya. Sebagai penghobi nonton film, ia dan keluarga juga menikmati suasananya yang berbeda, begitu masuk ke studio, duduk di kursi yang empuk dan nyaman, lengkap dengan tempat minum. Film pun muncul dengan gambar yang sejernih kristal

Perhatikan Kearifan Lokal Bali

Eva dan ketiga anaknya

“Cuci Mata” sebelum Nonton dilengkapi dengan surround sound sistem yang tercanggih. “Jika filmnya tiga atau empat dimensi, ini bisa membuat kita seakan ikut berada di tengah-tengah adegan film itu,” lanjutnya tersenyum. Menurut istri Ir. Agus Putu Wisnu ini, sambil menunggu waktu film diputar, mereka bisa ngobrol dulu atau “cuci mata” di mal. Dulu mereka biasanya nonton di Mal Galeria dan Beach Walk. “Sekarang sesekali kami suka juga nonton di Denpasar,” kata Eva. Saat nonton mereka tidak pernah ketinggalan menikmati camilan berondong jagung alias popcorn dan minuman ringan. Mengenai film favorit, Eva

menyebut keluarganya adalah penggemar film action seperti James Bond 007. “Selain itu juga Sound of Music, film klasik dan abadi yang tidak pernah lekang, sangat baik sebagai sarana edukasi bagi anak-anak tentang menghargai musik dan orang lain serta kisah cinta yang menarik,” ujar penggemar Pierce Brosnan ini. Untuk film lokal, mereka lebih memilih film yang bicara tentang sejarah atau yang ada unsur motivasinya seperti filmnya Merry Riana. “Intinya saat ke bioskop , kami bisa mendapatkan tontonan seru sekaligus suasana akrab dengan keluarga,” ucapnya. – Sri Ardhini

Ingin seperti India Era perfilman nasional mulai pada 30 Maret 1950 dengan munculnya film ‘Darah dan Doa’ yang disutradarai Usmar Ismail. Film ini dijadikan momentum lahirnya film nasional karena baik sutradara, produser serta badan perfilman adalah Indonesia asli. Perfilman Indonesia mencapai masa jayanya pada era 1980-an dan saat itu film nasional merajai bioskop-bioskop lokal. Sayangnya kondisi itu tidak bertahan. Era 1990-an adalah masa dimana perfilman nasional memasuki masa kelam, setahun hanya ada 2-3 film. Barulah pada era reformasi, perfilman nasional perlahan mulai bangkit dan terus meningkat sampai sekarang. Jumlah produksi film terus meningkat, setidaknya tahun 2013 lalu mencapai 99 film setahun. Kualitas produksi insan perfilman pun mengalami peningkatan, ini ditandai dengan berbagai penghargaan yang didapat baik dari dalam maupun luar negeri. “Saya melihat perkembangan film nasional sudah cukup baik, dibanding masa lalu. Sekarang sudah banyak film bermutu yang dilahirkan para sines kita. Begitu juga para pemainnya. Ini suatu hal yang baik sekali. Namun begitu, dengan segala kemajuan yang kita capai saat ini, semuanya tidak boleh berpuas hati karena masih banyak yang perlu dibenahi, masih banyak kekurangan. Dari segi SDM, meski sudah lumayan, tapi tetap harus ditingkatkan. Kita ingin seperti di India, dimana film nasional telah menjadi tuan rumah di negeri sendiri,” kata Anwar Fuadi, Ketua Lembaga Sensor Film. Mengembalikan kejayaan film Indonesia menjadi tuan rumah di negeri sendiri, merupakan angan-angan lama seluruh insan perfilman yang sampai saat ini masih jauh dari terwujud. Karena itu, katanya, masih banyak pembenahan yang harus dilakukan, semuanya harus bekerja keras, baik itu insan perfilman sendiri, juga pemerintah dan masyarakat pun harus memberi dukungan yang sepenuhnya. Peran masyarakat untuk mendukung perkembangan film nasional sangat penting. Indonesia yang memiliki

jumlah penduduk terbesar ke-4 di dunia atau 253 juta jiwa, tentunya menjadi modal besar bagi pertumbuhan film nasional. Gairah perfilman nasional akan semakin meningkat jika masyarakat peduli pada produk negeri sendiri dengan menontonnya. Karena sebagaimana diketahui jumlah penonton film nasional masih sangat sedikit sekali, dalam pengertian masyarakat yang datang ke bioskop untuk menonton film nasional. Menurut Anwar Fuadi yang terjun ke dunia film sejak tahun 1969 lewat film ‘Manusia dan Peristiwa’, ada banyak faktor yang menyebabkan hal ini. “Kalau saya lihat, masyarakat senang menonton film Indonesia, namun mereka malas menontonnya di bioskop. Kebanyakan lebih suka nonton di rumah, bisa sambil santai. Mereka pikir, nanti juga filmnya akan diputar di televisi, jadi menunggu saja,” ujarnya. Adanya film-film bajakan juga menjadi salah satu faktor. Hal lainnya adalah terkait daya beli masyarakat yang lemah. Untuk nonton ke bisokop memerlukan biaya transportasi dan tiket bioskop. Ini juga menjadi masalah tersendiri. “Kita memimpikan film nasional bisa seperti di India, bisa menjadi tuan rumah di negeri sendiri. Ini bukannya tidak mungkin, namun tentu saja membutuhkan waktu untuk mencapai itu. Kita masih harus bekerja keras, harus lebih kreatif, agar apa yang diharapkan bisa terwujud,” tambahnya. BIOSKOP KELILING Apa yang disampaikan Anwar Fuadi juga dibenarnya oleh kebanyakan pelaku perfilman. Karena itu dalam rangka memperingati HUT ke-65 Film Nasional, Panitia Hari Film Nasional menggelar sejumlah program dan ini akan dilakukan secara berkesinambungan setidaknya sampai tahun depan. Kegiatan itu antara lain ‘Ayo Nonton Film Indonesia’, ‘Ayo Stop Pembajakan Film Indonesia’, ‘Ayo Maju Film Indonesia’ dan ‘Ayo Rawat Film Indonesia’.

Semua film yang syuting di Bali termasuk pembuatan iklan, harus mendapatkan rekomendasi dari Badan Film Daerah (Bafida) Bali. Demikian disampaikan Kepala Dinas Kebudayaan Bali Dewa Beratha, pekan lalu. Ia menyatakan, ada beberapa persyaratan yang harus dipenuhi sebelum melakukan syuting di Bali. Misalnya, harus memperhatikan kearifan lokal Bali baik seni, budaya, dan agama. Ketika persyaratan sudah dipenuhi, Bafida akan memberikan rekomendasi untuk mendapatkan izin syuting. Izin ini selanjutnya diurus di Dinas Perizinan Provinsi Bali. “Bafida sendiri, akan turut mendapingi saat syuting. Tujuannya, sebagai pengawasan, dimana tempat-tempat yang boleh untuk mengambil gambar. Tempat yang disucikan, tidak boleh dijamah umum. Termasuk juga, adegan dan cara berpakaian perlu diawasi agar tidak sampai terjadi ketersinggungan,” ungkapnya lebih jauh. Ia menambahkan, untuk film yang beredar di Bali, namun, tidak melakukan syuting di Bali, Bafida tidak masuk ke dalam ranah tersebut, karena sudah ada badan sensor film. “Namun, jika film tersebut menyinggung kearifan lokal Bali, Bafida jelas mengajukan keberatan,” ucapnya. Contohnya, film Pandan Sari yang tidak dizinkan beredar di Bali, karena sudah menyinggung kearifan lokal Bali. Begitu juga, iklan yang memperlihatkan bola golf di atas canang sari, juga dilarang. Film “Eat, Pray, Love” yang syuting di Bali, sangat mengangkat nama Bali di dunia internasional. Julia Robert memerankan Elizabeth Gilbert dalam film tersebut, dalam petualangannya di Ubud, menemukan cinta sejatinya. Lokasi syuting ini menjadi tujuan baru wisata di Ubud yakni

Gerakan ‘Ayo Nonton Film Indonesia’ atau ajakan masyarakat ke bioskop akan dilakukan tepat pada Hari Film Nasional, 30 Maret 2015. Pada hari itu, seluruh bioskop di Indonesia memutar film nasional. Seluruh Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di dunia pun memutar film nasional. Untuk menjangkau masyarakat yang tidak bisa mengakses sinema, akan ada 60 mobil untuk bioskop keliling di seluruh Indonesia. Selain itu, para duta film akan mendatangi sekolah-sekolah, di antaranya di Tangerang Selatan, Bandung, Pekalongan, Kupang, Manado, Makassar dan Pontianak. Soal pembajakan, kata Lance Mengong, sutradara yang didaulat untuk menjadi Ketua Panitia Hari Film Nasional, memang masih susah diberantas. “Namun kami ingin membangun kesadaran masyarakat. Kami ingin ingin supaya budaya menonton itu menjadi kebutuhan masyarakat,” katanya. Di sisi lain, juga diperlukan peningkatan terhadap SDM perfilman. Karena itu nantinya akan digelar program peningkatan SDM di antaranya dengan menerjemahkan buku-buku perfilman yang bisa menjadi tambahan ilmu bagi para sineas nasional. Sedang program Preservasi Film adalah berupa pengumpulan dana untuk preservasi film-film lawas. Sebab selama ini preservasi film lawas membutuhkan dana yang tidak sedikit, setidaknya Rp 2 miliar setiap preservasi. –Diana Runtu

Dewa Beratha

tapak tilas Elizabeth Gilbert. Bahkan, Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif meluncurkan program “Eat, Pray, Love Cycling Tour” yang merupakan jalur sepeda Elizabeth Gilbert. Beberapa lokasi yang digunakan syuting menjadi terkenal, seperti pemandangan indah persawahan, jalan-jalan desa di daerah Ubud, termasuk rumah dan pasar tradisional. Ia menegaskan, pada dasarnya Bali sangat terbuka dengan banyaknya syuting yang dilakukan di Bali. “Dengan banyaknya syuting di Bali, tentu merupakan promosi bagi Bali. Namun, ada batasan dan rambu yang harus ditaati terutama yang menyangkut kearifan lokal dan rasa orang Bali,” ucapnya. Dewa Beratha menambahkan masyarakat Bali sudah sangat menyatu dengan seni budaya dan agama. Akan menjadi sangat sensitif, begitu bersentuhan dengan adat budaya Bali. “Tugas Bafida dan Dinas Kebudayaan untuk menyeleksi dan menjaring yang mana bisa direkomendasikan untuk mendapat syuting di Bali,” katanya.-Wirati Astiti


18

Kreasi

Edisi 842/ 30 maret - 5 april 2015

Anak Agung Ayu Ketut Agung

Lestarikan Budaya Bali lewat Tata Rias dan Busana Adat Bali Tata rias dan busana adat Bali memang sudah mendarah daging bagi seorang Anak Agung Ayu Ketut Agung. Pasalnya bidang tersebut sudah dilakoninya sejak 33 tahun lalu. Tak heran jika ia begitu mahir “menggarap” muka, rambut, dan tata busana yang bernapaskan Bali. Itu juga yang kemudian membuat dirinya kerap diminta sebagai narasumber, instruktur, maupun juri untuk berbagai kegiatan yang ber­ hubungan dengan tata rias dan busana adat Bali.

S

eperti Kamis (26/3), bertempat di Ruang Rapat Bupati Tabanan, Bu Agung-demikian sapaan akrabnya menjadi narasumber dalam Workshop “Belajar Memasang Tengkuluk Lelunakan, Pusung Tagel, dan Tata Rias Wajah Sehari-hari” yang digelar Harian Bisnis Bali (Kelompok Media Bali Post) bekerjasama dengan Pemkab Tabanan, Salon Agung, IDX, dan Viva Cosmetics. Bu Agung mengatakan, perkembangan zaman dan mode pada era modernisasi telah memberi imbas modernisasi budaya tradisional. Salah satunya, makin pudarnya pemahaman masyarakat khususnya kaum wanita tentang penggunaan pusung tagel dan tengkuluk lelunakan sebagai warisan budaya. Perilaku wanita yang cenderung berpenampilan feminim dan praktis menyebabkan sekarang ini sangat jarang kaum wanita yang menggu-

nakan tengkuluk lelunakan. Kalaupun ada yang berniat menggunakan, mereka terkendala cara pemasangannya. Sebagian besar wanita belum bisa menggunakannya. Hal inilah salah satunya yang melatarbelakangi dilangsungkannya kegiatan workshop, untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan dalam membuat dan memasang tengkuluk lelunakan, pusung tagel, dan tata rias wajah sehari-hari. Selain untuk kebutuhan sendiri, keterampilan ini dikatakan Bu Agung juga bisa dikembangkan sebagai sumber penghasilan bagi keluarga. Singkatnya, era modernisasi mempengaruhi tatanan adat dan budaya Bali, khususnya di kalangan generasi muda. Generasi muda sangat cepat merespons segala sesuatu yang ditawarkan khususnya dalam berbusana. Kadang-kadang terkesan kurang sopan atau di luar pakem adat busana Bali. Bercermin dari

Bu Agung bersama Wabup Tabanan Komang Sanjaya (tengah) usai membuka Workshop Tata Rias

kondisi tersebut, upaya yang kuat untuk menangkal arus modernisasi sekaligus mempertahankan adat budaya Bali sangat diperlukan, salah satunya melalui workshop. Demikian disampaikan Bupati Tabanan dalam sambutan tertulisnya yang dibacakan Wakil Bupati Tabanan I Komang Gede Sanjaya, S.E.,M.M. saat membuka workshop yang juga diisi dengan materi “Cara Berinvestasi dan Ciri-ciri Investasi Bodong” oleh Kepala Kantor PT BEI Kantor Perwakilan Denpasar, I Gst. Agung Alit Nityaryana, S.E.,M.M. “Kami pemerintah daerah memberikan apresiasi setinggi-tingginya untuk kegiatan workshop ini. Sebagai umat Hindu Bali yang sarat dengan kegiatan adat dan kebudayaannya yang kental, tentunya workshop ini akan sangat bermanfaat serta ber-

Bu Agung bersama tim Salon Agung usai mendandani peserta paduan suara dalam acara Buleleng Festival berkesempatan berfoto bersama Bupati Buleleng Putu Agus Suradnyana beserta Ibu

Berkompromi dengan Pasar

D

enpasar Cineplex yang mulai beroperasi sejak 29 Desember 2013 silam, benarbenar sudah benar-benar mengubah image. Bukan hanya soal kenyamanan, tapi juga film-film yang diputar sama dengan bioskop yang di Mall Galeria dan Beach Walk. Istimewanya lagi, ini satu-satunya gedung bioskop di tengah kota Denpasar. Pernyataan tersebut disampikan Bambang Sugiharto, Manager Denpasar Cineplex saat ditemui di ruang tunggu Denpasar Cineplex yang berlokasi di eks Wisata 21, Komplek Pertokoan Lokitasari, Jalan Thamrin Denpasar, pekan lalu. “Kalau yang sudah pernah nonton di lokasi lain dan nonton di Denpasar Cineplex pasti tahulah mana yang lebih nyaman dan sejuk ruang tunggunya,” katanya. Ia menyebutkan bioskop di Denpasar ini pun dilengkapi dengan teknologi modern, seperti layar proyektor digital, ruang tunggu yang nyaman,

eskalator, serta pendingin ruangan. Untuk sementara ini, tersedia3 ruangan studio, yang berarti 3 judul film tiap harinya. Penonton bebas memilih apa yang ingin di tonton. Waktu show yang pertama mulai pukul 13.15 “Jam main lainnya biasanya menyesuaikan dengan durasi filmya. Untuk film-film Barat sekarang rata-rata lamanya 150 menit atau 2 jam lebih,” jelas Bambang. Kelas Executive atau Primer ada di Studio 1 yang berkapasitas 50 kursi. Hanya dengan tambahan harga tiket Rp 25 ribu sampai dengan Rp 40 ribu penonton bisa menikmati film pilihan di atas reclining seat yang lega (bisa nonton sambil tiduran). Studio 2 berkapasitas 99 seat dan Studio 3 kapasitasnya 94 seat. Film-film yang diputar di Cineplex Denpsar sama dengan yang diputar di jaringan bioskop XXI seperti di Beach Walk dan Mall Bali Galleria. “Kami memanjakan penonton film ya itu dengan menampilkan film-film box office dan sinema pilihan sesuai selera masyarakat. Film–film Indonesia yang ditayangkan pun biasanya terpilih yang berkualitas

tanpa melihat aktor atau dari production house (PH) mana,” katanya. Namun, secara umum di Bali pada, film-film action Barat yang lebih digemari. Untuk kali ini yang masih ramai di tonton adalah Cinderella dan Sponge Bob. “Kalau bicara penonton, animo masyarakat untuk menonton film layar lebar di bioskop ini terus meningkat. Jika dikelompokkan mereka adalah 20% kelompok anak-anak, 30% kelompok keluarga dan 50 % dari kalangan anak-anak muda,” ujarnya. PILIH JALUR INDIE Pengamat film Made Adnyana menambahkan film nasional sesungguhnya

Bambang Sugiharto

sentuhan langsung dengan para ibu PKK,” tandasnya. Yang menarik dalam workshop gratis tersebut adalah turut tampilnya perias muda Bali yang juga tercatat sebagai peserta uji kompetensi Tata Rias Pengantin termuda di Indonesia yang diadakan oleh LSK, Sagung Diva.Siswi kelas 1 SMPN 3 Denpasar ini dengan piawai mendemonstrasikan cara pembuatan sanggul modern dan memasang make up yang praktis. Sementara Bu Agung mendemokan pembuatan tengkuluk lelunakan dan pusung tagel. Komitmen tinggi Bu Agung dalam pelestarian budaya Bali khususnya di bidang tata rias dan busana adat Bali, tak perlu diragukan. Roadshow pelatihan tata rias sekaligus sosialisasi busana adat Bali dilakukan hingga ke daerah-daerah, termasuk ke kabupaten paling utara Pulau Bali, Buleleng. Tengkuluk lelunakan yang merupakan ikon Kota Denpasar pun juga turut disosialisasikan di sini karena pembuatannya yang cukup praktis. “Saya optimis tengkuluk lelunakan ini bisa terkenal dan masyarakat Bali bisa membuatnya sendiri, pelan tapi pasti,” ujar peraih Anugerah Peduli Pendidikan dari Kemendikbud ini. Roadshow saat itupun diikuti ratusan peserta yang tergabung dalam organisasi wanita di Buleleng. Kegiatan Bu Agung di sana berlanjut dengan mensponsori tata rias (make up) dan sanggul dalam acara

sangat potensial. Ada begitu banyak bakat-bakat kreatif yang kini didukung berbagai kemudahan teknologi, yang sangat memungkinkan Indonesia untuk lebih unjuk gigi dalam hal perfilman. “Jika kemudian film nasional terkesan jalan di tempat, bahkan secara kualitas masih kalah dibandingkan dengan film Indonesia era 80-an, ada begitu banyak faktor yang mempengaruhi. Misalnya, regulasi yang dirasa masih memberatkan produser dan pembuat film, kondisi pasar yang relatif belum begitu “bersahabat” dengan film nasional, hingga kurangnya kepedulian dari pemerintah untuk mendukung secara nyata kebangkitan film nasional,” ujar pria yang sering membuat resensi film ini. Kondisi ini menurut Adnyana otomatis membuat banyak yang merasa pesimis untuk berkecimpung dalam perfilman nasional. Kalaupun masih ada yang giat dan terus mencoba untuk berproduksi, bisa dirasakan karyanya sangat “kompromis” dengan situasi pasar, tanpa memperhitungkan soal kualitas apalagi misi membangun kejayaan film nasional. Tidaklah heran film-film nasional yang beredar di bioskop sekarang sebagian besar dibuat seringan mungkin, semurah mungkin, tidak jauh berbeda dengan tontonan FTV atau serial di televisi. Pertimbangan produser tentu, bagaimana dengan biaya yang ditekan masih bisa mendapatkan untung. Memang, di sisi lain masih ada satu dua karya yang mencoba untuk idealis, dibuat “serius”, meskipun dengan risiko

Buleleng Festival. Bu Agung yang juga Pengawas SD di Kota Denpasar tersebut, bersama tim Salon Agung “menyulap” peserta paduan suara dengan make up dan tata rias sanggul modern yang disesuaikan dengan busananya, sehingga tampil lebih menarik. Apa yang dilakukan Bu Agung ini mendapat respons positif Bupati Buleleng Putu Agus Suradnyana bersama Ibu yang turut hadir dalam kegiatan Bulfest itu.

DISKON 50% KURSUS TATA RIAS Untuk lebih menyosialisasikan dan membangkitkan minat masyarakat dalam tata rias dan busana adat Bali, LKP Agung memberikan diskon 50% kursus regular. Materi yang diajarkan mencakup 3 paket yakni Tata Kecantikan Kulit, Tata Kecantikan Rambut, dan Tata Rias Pengantin (payas nista, madya, utama, modifikasi, dan tengkuluk lelunakan). Disediakan juga beasiswa kursus gratis bagi mereka yang kurang mampu dan putus sekolah, yang benar-benar berminat di bidang tata kecantikan. Syarat dan ketentuan berlaku. Silakan menghubungi Sekretariat LKP Agung, Jalan Anggrek No. 12 Kreneng, Denpasar. Telepon 0361 233850, 081 1393602, faks. 0361 247153. Cabang Tohpati, Jalan WR. Supratman No. 303 A, Tohpati, Denpasar. Email:lkp_agung@yahoo.com. website:www.salonagung.com. –iin merugi secara ekonomis. Namun film seperti ini masih ada peluang untuk ditampilkan atau “dijual” di pasar film internasional atau pada ajang-ajang festival. Sineas dan pegiat film lain yang masih tetap ingin berkarya secara jujur dan idealis, tidak mainstream, pada akhirnya memilih untuk bergerak di jalur indie. Cukup banyak karya-karya independen yang layak diperhitungkan secara teknis dan aspek sinematografi lainnya, namun hanya bisa ditemukan pada acara-acara pemutaran film secara khusus atau terbatas. Bahkan tak jarang sineas dan artisnya sendiri rela keliling ke berbagai daerah untuk menunjukkan karyanya. “ Yang penting sekarang bagaimana pemerintah secara serius melakukan tindakan nyata untuk mendukung perfilman sebagai salah satu industri kreatif, bukan mengabaikan atau malah menekan. Banyak negara lain seperti India, industri filmnya berkembang karena pemerintah punya andil kuat untuk mendukung secara langsung melalui kebijakan-kebijakannya. Sehingga ke depan dapat mulai membangun kembali kecintaan masyarakat terhadap film nasional, karena selama ini sudah terlanjur western minded, bahwa film nasional pasti lebih jelek dari film barat. Padahal, belum tentu demikian adanya,” tegas dosen jurnalistik di IKIP PGRI Bali ini. –Sri Ardhini/Ngurah Budi

Life

Story

Edisi 842/ 30 maret - 5 april 2015

7

Rumah Baru Dipakai Uji Ilmu Meski kejadian ini sudah empat tahun lalu, tetapi Jenifer (33), masih belum habis pikir dan sama sekali tidak menemukan logika atas kejadian aneh yang dialaminya. Ia juga menimbang-nimbang, jika pun ada yang berniat jahat padanya, melalui kejadian ini, siapakah orang itu? Ini menjadi pertanyaan yang masih membuat Jenifer penasaran. Pertanyaan yang sama sekali tidak ada jawabannya.

H

ari itu, Jenifer dan suaminya mencoba tidur siang di kamar yang baru mereka bangun seminggu sebelumnya. Posisi kamar ini memang terpisah dari rumah induk mereka, lengkap dengan kamar mandi dan dapur kecil sederhana. Sengaja dibangun untuk menambah kamar yang akan disiapkan untuk tamu-tamu yang datang ke rumah mereka di Mataram. Cukup bagus dan sebelum mereka tidur siang di kamar itu pada hari tersebut, beberapa tamu yang notabene kawan mereka sudah pernah menginap di kamar ini. “Karena hari itu sedang sepi, kami mencoba tidur di kamar baru sekalian salat dan mengaji,” ungkap Jenifer. Sampai sekitar pukul empat sore, mereka pun bangun dan langsung melaksanakan salat Ashar. Sore itu mereka sudah membuat janji untuk mengantar dua anak mereka jalan-jalan ke Pantai Kerandangan, Senggigi, Lombok Barat. Karenanya, sebelum berangkat semua aktivitas persiapan jalanjalan itu mereka siapkan dari kamar tersebut. Setelah semua siap mereka pun mengunci semua pintu, termasuk pintu dan jendela di rumah induk. “Saya yang mengunci semua pintu dan jendela kamar baru yang posisinya ada di depan sedangkan suami saya mengunci semua pintu dan jendela di rumah induk di belakang,” ungkap Jenifer. Setelah semua beres, Jenifer melangkah keluar dan mereka pun pergi. Sepulang dari pantai, mereka kembali ke rumah bertepatan dengan adzan Magrib berkumandang. Mereka pun langsung menuju rumah induk tanpa membuka kamar baru mereka di depan, karena sesungguhnya, kamar itu hanya terpakai jika ada tamu yang datang. Posisi kamar baru tetap terkunci rapat. Malam itu mereka sama sekali tidak membuka pintu maupun jendela kamar baru, selain karena tidak ada tamu juga karena usai salat Magrib. Me­

reka berempat langsung keluar lagi untuk makan malam. Kamar baru tersebut, kosong hingga pagi sebab saat pulang di malam hari sudah agak larut, se­hingga mereka langsung menuju rumah induk dan bersiap untuk

tidur. Kamar baru masih tetap terkunci. Esok pagi sekali, mereka bersiap melakukan perjalanan liburan kembali anak-anaknya. Karena kamar mandi terbatas, maka suami Jenifer memilih mandi di kamar mandi kamar baru. “Tapi suami saya tidak masuk lewat pintu depan, kamar itu melainkan lewat pintu belakang dekat dapur kecil dan kamar mandi. Sama sekali tidak menengok ke kamar baru tersebut, karena ada sekat antara dapur dan kamar mandi,” ujarnya. Setelah selesai mandi dan semua bersiap, hanya sekitar 30 menit dari suami Jenifer mandi tadi, mereka pun hendak berangkat. Tetapi, sebelum berangkat, Jenifer mengunci pintu belakang kamar baru, namun sebelumnya ia ingin mematikan lampu teras kamar baru di mana saklarnya ada di dalam kamar baru tersebut di balik sekat. Saat mematikan lampu itu, Jenifer sempat melihat ke tempat tidur yang di pojoknya ada gumpalan hitam. “Saya pikir itu lilin parafin anak bungsu saya yang sedang senang-senangnya main lilin tersebut. Saya mendekat dan ingin mengambil lilin tersebut untuk diberikannya

pada anaknya,” katanya. Namun, alangkah terkejutnya Jenifer ketika mendekati dan tangannya hendak mengambil lilin tersebut, karena rupanya benda yang diduga lilin itu adalah kotoran seperti kotoran manusia. Panjang dan budar melingkar. Bersama suaminya, ia pun membuang kotoran tersebut sekaligus membuang seprei dan mencuci bersih kasurnya. Keterkejutan itu belum berakhir, ketika di bawah tempat tidur, mereka menemukan air seperti air kencing dalam takaran yang sangat banyak. Lantai kamar itu basah sekali. “Saya heran, jika itu kotoran manusia, alangkah tidak mungkinnya air ken­

banyak hal yang tidak masuk akal. Kotoran anjing dan kucing, tidak mungkin. Karena ukurannya terlalu besar. Manusia juga masih belum masuk logika, karena volume kotoran air kencing juga terlalu banyak. Lalu jika kedua dugaan itu benar, dari mana bisa masuk? Jenifer yang selama ini kurang percaya bisa diganggu ‘makhluk lain’ berpikir keras merunut kronologi dan kemungkinan-kemungkinan lain untuk menemukan jawaban. Tetap saja tak menemukan jawaban karena, karena semua lubang yang ada di kamar baru itu tertutup rapat termasuk ventilasi. Tidak mungkin ada orang atau binatang bisa masuk ke kamar itu, dengan lubang sekecil itu mengingat kotorannya cukup besar. Pintu kamar itu terkunci, benar-

cing tembus hingga sebanyak itu, mengingat kasur yang kami pakai adalah kasur dari kapuk yang dibuat sangat tebal,” ungkapnya. Perkiraannya, jika pun itu kencing manusia, air yang tumpah ke lantai tidak akan sebanyak itu atau bahkan tidak akan tembus sampai ke lantai. Lalu kotoran apakah itu? Karena jika kotoran binatang,

benar terkunci sejak terakhir mereka meninggalkan kamar itu siang kemarin. “Saya bertanyatanya dalam hati sampai tidak bisa menemukan jawabannya hingga hari ini,” katanya. BUAT RUMAH BARU Jenifer tidak pernah menceritakan kejadian aneh ini kepada siapa-siapa, kecuali kepada famil-

inya yang kemudian mendatangi paranormal. Menurut paranormal itu, ada orang yang mengenal baik Jenifer dan keluarganya yang pernah menginap di rumah itu. Orang itu tidak bermaksud jahat, melainkan sedang menguji ilmunya. Hanya itu jawaban yang bisa diterima Jenifer hingga hari ini. Ada rasa khawatir dalam diri Jenifer tentang kejadian aneh ini. Ia menjadi mencurigai setiap orang yang datang ke rumahnya, termasuk kawan-kawan ia dan suaminya yang kerap menginap di rumah tersebut. Jenifer juga bahkan nyaris bertengkar dengan kawan-kawannya karena menjadi terlalu curigaan. Ia juga sering ketakutan karena terlalu berhalusinasi. Logikanya yang selama ini selalu ia pakai untuk menemukan jawaban atas tiap peristiwa aneh yang dihadapinya, kini menjadi buntu. Jenifer bahkan sempat berkonsultasi pada psikiater karena ia terlalu berhalusinasi, seolah-olah ada orang yang akan masuk ke kamar baru tersebut. tiap kali ada tamu yang datang, ia selalu mengintip bahkan memperhatikan gerakgerik mereka dengan detil. Ini yang membuat kawan-kawannya sedikit risih datang ke rumahnya. Jenifer juga tidak pernah lagi mau masuk di kamar tersebut dan selalu berada dalam situasi khawatir. Sampai akhirnya, suaminya menyelamatkannya dengan membuatkan rumah baru bagi Jenifer dan mereka memilih pindah ke rumah baru yang lokasinya masih di Mataram. Beberapa bulan ini, di rumah baru tersebut, Jenifer tampak tenang dan ia bisa melanjutkan hidupnya dengan normal tanpa kekhawatiran. Namun, ia sama sekali tidak lagi mau kembali ke rumah itu, setelah empat tahun ia berada dalam situasi yang menegangkan. -Naniek I. Taufan


8

Bunda & Ananda

Edisi 842/ 30 Maret - 5 April 2015

Mengajak Anak ke Tempat Kerja?

OFFICE

P

Bunda Yatni

adalah mengajak anak ke tempat kerja. Perhatikan regulasi dan situasi kantor sebelum membawa anak ke tempat kerja. Bila perlu minta izin atasan,” ujar Humas Himpunan Psikologi Indonesia (Himpsi) Bali ini. Bunda Yatni mencontohkan dirinya ketika masih aktif bertugas sebagai perwira TNI dan anaknya tidak ada yang menjaga. Ia mohon izin atasan untuk mengajak anak ke kantor. Karena hari itu ada rapat penting yang harus diikuti, anaknya pun dijaga oleh staf. MENUMBUHKAN EMPATI ANAK Menurutnya, ada beberapa hal yang membuat orangtua membawa anaknya ke tempat kerja. Pertama, karena tidak ada yang menjaga. Situasi ini insidentil, artinya hanya sekali dua kali, bukan seterusnya. Kedua, terpaksa mengajak anak ke tempat kerja karena tidak percaya dengan pengasuh. Bunda Yatni menuturkan temannya pernah mengalami hal ini. “Si anak biasa diasuh pengasuhnya. Karena pengasuhnya mau pacaran, si anak dimasukkan kamar mandi. Suatu ketika, orangtua ini mengecek dan mengetahui anaknya ketakutan di kamar mandi. Sampai sekarang anak itu trauma dengan kamar mandi. Akhirnya si anak diajak ke tempat kerja sampai mendapatkan pengasuh yang baru,” ujar psikolog lulusan Universitas Padjajaran, Bandung ini. Alasan ketiga, alasan insidentil, misalnya anak akan diajak ke dok-

Natural

dengan

17

Sirap, menjadi salah satu alternatif atap untuk rumah tinggal, vila, hotel, gazebo, atau perkantoran. Sirap yang berbahan kayu besi atau sering disebut juga kayu ulin ini merupakan jenis kayu keras yang tahan terhadap cuaca panas (kering) dan dingin (basah). Kayu ulin juga tahan terhadap hama rayap kayu sehingga aman dari kelapukan yang menyebabkan kebocoran. Selain itu, atap sirap ini juga memberikan hawa sejuk bagi ruang di bawahnya.

Bagi orangtua yang sibuk bekerja, urusan anak kadang diserahkan ke pengasuh anak. Namun, jika pengasuh anak berhalangan, orangtua bisa pusing. Salah satu pilihannya adalah mengajak anak ke tempat kerja. Ada hal-hal yang harus diperhatikan jika mengajak anak ke tempat kerja. ter atau rumah sakit. Daripada bolak-balik, ada orangtua yang mampir dulu ke kantor sebelum mengajak anaknya ke dokter atau rumah sakit. “Idealnya, tempat kerja itu memang bukan untuk anak-anak. Kecuali ada hal-hal mendesak seperti tiga alasan tadi. Masih bisa dimaklumi. Perhatikan juga mood anak ketika diajak ke tempat kerja. Jangan sampai anak rewel sehingga membuat suasana menjadi tidak nyaman. Ada rekan kerja yang suka dengan anak kecil dan ada yang tidak suka. Pertimbangkan hal ini sebelum mengajak anak ke tempat kerja,” ujar psikolog yang juga konsultan security ini. Ada yang beranggapan mengajak anak ke tempat kerja itu mempengaruhi kredibilitas dan

Edisi 842/ 30 Maret - 5 April 2015

Atap Sirap

Ini Alasannya

erhatian instansi pemerintah maupun perusahaan swasta terhadap anak sudah mulai meningkat. Kepedulian ini diwujudkan dengan menyiapkan arena bermain dan tempat menyusui di areal perusahaan. Bahkan ada yang menyiapkan tempat penitipan anak (TPA) bagi karyawannya. Asosiasi Perusahaan Sahabat Anak Indonesia (APSAI) dalam salah satu programnya berkaitan dengan kebijakan yang ramah anak mensyaratkan perusahaan tidak boleh mempekerjakan anak (dari usia 0-18 tahun), memberikan fasilitas dan pelayanan bagi karyawati yang hamil karena didalamnya sudah ada janin yang harus dlindungi, menyiapkan fasilitas ruang laktasi bagi karyawati yang sedang menyusui serta menyiapkan tempat bermain atau tempat penitipan anak. Karena karyawan/karyawati adalah aset perusahaan, tentu ini menjadi pertimbangan perusahaan dalam menyiapkan sarana pendukung. Termasuk bagaimana membuat karyawan/karyawati nyaman dan tenang dalam bekerja. “Namun, semua kembali ke regulasi masing-masing perusahaan,” ujar Letkol (Purn) Dra. I Gusti Ayu Wiratni Adriyani, M.M., Psikolog. Perempuan yang akrab disapa Bunda Yatni ini mengatakan prinsip utama bagi pasangan suami istri yang sudah bekerja dan memiliki anak adalah mengurus anak itu kewajiban, berkarier itu pilihan. Didalam mengurus anak dan berkarier tersebut terkandung tanggung jawab yang harus diemban. Ketika akan melakoni keduanya, tentu harus siap dengan konsekuensinya. Atau, ada yang memilih salah satu berhenti bekerja dan fokus untuk mengurus anak sampai anak dipandang cukup mandiri untuk ditinggal bekerja. “Bagi pasangan yang ingin tetap bekerja sembari mengurus anak, dapat mempercayakan perawatan anak kepada pengasuh anak atau dititip di TPA. Semua memiliki konsekuensi juga. Misalnya, ketika pengasuh tidak bisa datang atau ada urusan mendadak, anak dibawa kemana. Salah satu pilihan

Griya

B

Ilustrasi anak ikut ke kantor

disangkutkan dengan profesionalisme. Bagaimana bisa fokus bekerja kalau ada anak yang harus diurus sembari bekerja. Bunda Yatni juga melihat adanya sisi baik bagi anak jika diajak ke tempat kerja orang tuanya. Si anak akan tahu apa pekerjaan orangtua, bagaimana situasi tempat kerja, dan siapa saja rekan kerja orangtuanya. Hal ini akan menambah wawasan si anak, membangun kecerdasan emosional anak, mengajarkan anak bersosialisasi, serta membuat si anak memiliki empati ketika suatu ketika orangtuanya harus mengerjakan tugas mendadak

dari kantor. “Jika harus membawa kanakkanak (usia 2-5 tahun) atau anak (usia 6-12 tahun), pastikan dulu apakah suasana kantor atau tempat kerja memungkinkan. Bekali anak dengan sesuatu yang membuat dia betah, misalnya mainan atau memberikan kertas gambar untuk dijadikan media ekspresi. Satu hal lagi, jangan terlalu membanggakan prestasi anak di hadapan orang lain. Siapa tahu ada anak lain yang lebih berprestasi. Ini menghindari anak menjadi down,” tegas istri Kombes (Pol) I Putu Mahasena, S.H., M.H. ini.

tkh/net

–Ngurah Budi

Mendongeng Lima Menit Tukang Tenun Kembara, se orang pemuda yang hidup sendirian dalam gubuk berdinding gedek. Pekerjaannya sehari-hari mencari kayu api untuk dijualnya ke pasar. Ketika dalam Made Taro perjalanan mendaki lereng, ia mendengar rintihan seekor burung. Ia mencari sumber rintihan itu. Ternyata seekor bangau kena jerat. Ia melepaskan bangau itu. Burung itu pun terbang bebas. Pada suatu hari, menjelang matahari tenggelam, seorang gadis cantik mendatangi gubuknya. Gadis yang mengaku bernama Paksini itu, merajuk untuk tinggal sehari di rumahnya. Kembara tak kuasa menolaknya. Namun, gadis itu bukan tinggal sehari, tetapi berhari-hari. Akhirnya pasangan muda-mudi itu saling jatuh cinta, lalu sepakat mengikat tali pernikahan. “Kanda Kembara,” sapa Paksini pada suatu hari. “Mulai besok aku akan memanfaatkan alat tenun yang tersimpan di gudang.” “Bagus sekali!” jawab Kembara. Ia teringat alat tenun warisan orangtuanya yang tak pernah digunakannya. “Tetapi ada syaratnya,” sambung sang istri. “Selama aku menenun, Kanda tak boleh meng-

ganggu.” “Baiklah!” jawab suaminya tersenyum. Hari demi hari berjalan seperti biasa. Kembara bekerja mencari kayu api dan Paksini menenun dengan asyik. Kayu api dan hasil tenun itu dijualnya ke pasar. Uangnya digunakan untuk membeli benang dan perabot pemotong kayu. Pada suatu hari Kembara melihat gelagat aneh. Satu hari penuh istrinya tidak makan dan tidak beristirahat. Kembara tidak berani mengganggunya. Lanjut kemudian, tiga hari sudah, sang istri tidak keluar gudang. Yang terdengar hanya irama alat tenun yang makin lama makin lemah. Ia curiga, jangan-jangan terjadi sesuatu yang tidak menyenangkan. Ia tidak berani menggedor pintu dan tidak berani memanggil istrinya. Timbul keinginannya untuk mengintip dari celah dinding gedek. Betapa terkejutnya dia! Dari celah dinding itu terlihat seekor burung bangau mencabut-cabut bulunya sendiri. Bulu-bulu halus itu dirajut lalu ditenunnya menjadi kain. Bangau itu juga terkejut. Ia merasakan ada yang mengganggu pekerjaannya. Burung itu segera keluar rumah, lalu berkata kepada Kembara. “Kanda, cukup sudah ucapan terima kasihku kepada Kanda. Aku adalah bangau yang kanda selamatkan tempo dulu.” Bangau itu terbang dengan bulu seadanya. Tinggal Kembara termenung sedih.

Atap Sirap Kotak

Aplikasi atap sirap

agi mereka yang menginginkan sebuah bangunan yang berkesan natural dan klasik, atap sirap ini cocok menjadi pilihan. “Memang harganya tergolong mahal, namun atap sirap ini kuat sampai berpuluh-puluh tahun. Makanya yang pesan itu jarang untuk rumah pribadi, kebanyakan untuk vila dan hotel,” ujar Wayan Suastika, seorang staf CV Berkah Jaya di Jalan Buluh Indah, Denpasar, yang khusus menjual atap sirap. Atap sirap yang dalam satu ikat berisi 80 bilah kayu papan ini didatangkan dari Kalimantan dan Sulawesi. Di perusahaan tempatnya bekerja, lembaran-lembaran kayu ini dirapikan dan dipotong sesuai dengan pesanan, model sirap runcing atau sirap kotak. Satu bilah papan sirap berukuran 58 x 7,4 x 0,5 cm. Harganya sekitar Rp 235 ribu per meter persegi.

Teknik pemasangan atap sirap berbeda dengan teknik pemasangan atap genteng dan sejenisnya, yakni dipasang zigzag 4 layer. Dimulai dengan pemasangan di bagian bawahnya, kemudian ditumpuk zigzag ke atasnya hingga 4 lapis. Agar tidak melorot, pasangan bilah-bilah kayu atap sirap tersebut dipaku. Kesalahan pemasangan secara teori dan teknik di lapangan, diingatkan Suastika bisa membuat atap sirap mudah bocor. Pemasangan atap sirap yang secara teori tepat dan secara teknis dikerjakan dengan benar oleh tenaga yang berpengalaman, maka akan menghasilkan atap yang kokoh luar biasa, rapi, dan aman dari terjangan derasnya air hujan sampai berpuluh-puluh tahun. Bahkan, jika pemasangannya tepat, akan sangat tahan terhadap goncangan gempa besar sekalipun. –Inten Indrawati

Atap Sirap yang siap dijual

Atap Sirap Runcing

tkh/net

Suastika di depan kantornya yang beratap sirap


16

Edukasi

Edisi 842/ 30 maret - 5 april 2015

Yoga untuk Keseimbangan dan Konsentrasi Siswa

G

2 % dan sisanya masih bercanda, maka dari itu saya hanya memberikan peregangan saja dulu,” ujar pria kelahiran Bangli, 10 Juni 1987 ini Untuk gerakan anak kelas 6 ada gerakan berdiri, duduk , berbaring dan tengkurap, dan khusus gerakan terbalik mesti ada pengawasan khusus ketika berlatih. Sebagaian besar gerakan yoga berkaitan dengan keseimbangan dan konsentrasi serta meningkatkan kemampuan otak kiri dan kanan. “Mereka juga dilatih meditasi untuk membentuk mental dan moral anak didik lebih disiplin,” penggemar kegiatan membaca, refreshing, dan yoga ini.

Produk Lokal Gaya Internasional

Gerai Sepatu Merek JK di Cibaduyut

Jika kebetulan jalan-jalan ke Bandung cobalah sempatkan mampir ke salah satu tempat wisata belanja yang bernama Cibaduyut. Meski begitu mendengar Cibaduyut, yang terbayang adalah sepatu. Namun, di tempat wisata ini kita bisa mendapatkan berbagai produk kerajinan kulit lainnya. Ciri khas berupa dua patung sepatu perempuan dan laki-laki yang kokoh dan

berukuran besar terpajang jelas di perempatan Jalan Leuwi Panjang-Cibaduyut. Patung sepatu ini dapat dikatakan sebagai pintu gerbang atau penanda kalau kita benar menuju kawasan Jalan Cibaduyut. Daerah wisata ini terletak di Bandung bagian Selatan, sekitar 15 menit jika dari arah Alun-alun Bandung. Banyak cara untuk menuju ke Cibaduyut, tapi kalau kita ingin hemat cukup dengan naik angkot.

M

enjadi pengusaha sukses khususnya di bidang gadget (handphone) mudah diwujudkan. Saat ini sudah ada figur yang bakal membawa mimpi Anda menjadi kenyataan. Ini bukan sebuah janji atau omong kosong. Anda hanya diminta untuk fokus dan yakin dengan niat Anda dan Komang Merta Jiwa, SE adalah figur yang akan ‘mengawal’ Anda. Pak Komang Loto sapaan akrab pemilik Bali Barong (outlet gadget terlengkap di Bali) ini, siap membuka diri untuk siapa pun yang ingin menjadi pengusaha sukses. Pengusaha lokal ini memiliki jiwa entrepreneur besar. Kemampuannya mengelola 6 outlet gadget yang tersebar di beberapa daerah di Bali, menjadi alasannya untuk berbagi ilmu, kiat dan strategi kepada masyarakat Bali. Jika banyak pengusaha lokal sukses tetapi tidak mau berbagi cara mencapai kesuksesannya itu, menurut sarjana Ekonomi ini bukanlah kriteria pengusaha sukses. “Bagi saya kriteria sukses adalah jika mereka mampu mencetak banyak orang lain menjadi sukses. Maksudnya, janganlah sukses itu menjadi milik sendiri. Berbagilah ilmu dan kiat serta strategi sukses kepada banyak orang karena faktanya, ketika kamu bagi 1 ilmu-mu, maka Tuhan akan memberi kita banyak ilmu baru lagi yang lebih baik,” kata suami dari Nova Anggraini ini. Mengapa lelaki kelahiran Bangli, 26 Mei 1969 ini begitu bersemangat mengajak masyarakat untuk menjadi pengusaha mapan yang sanggup berkompetisi di era pasar global saat ini?. “Karena saya melihat potensi pasar gadget di

Juniartha menambahkan manfaat yoga itu sendiri selain dalam perubahan kelenturan tubuh siswa, melalui yoga anak-anak bisa mendapatkan keseimbangan anatara fisik dan mental serta moral. Tubuh siswa pun sehat, pikiran lebih fokus dan anak lebih tenang sehingga dalam belajar si anak bisa lebih mudah fokus dan menangkap pelajaran dari guru serta meningkatkan kedisiplinan. Ia menilai minat siswa di SD Saraswati 3 sangat bagus. “Banyak anak-anak yang merasa kecewa dan komplin dengan saya jika satu kali saja mereka tidak latihan, bahkan mereka BBM saya menanyakan kenapa tidak latihan. Pernah sekali saya bisa melatih satu kelas dan kelas yang lainnya tidak bisa saya latih karena ada halangan. Ada kakak dan adik yang saling bercerita dengan saudaranya kalau adiknya dilatih yoga sedangkan kakaknya tidak bisa diajar yoga. Saat itulah kakaknya merasa kecewa, kenapa adik saya diajar yoga saya tidak pak?,” ungkap Presiden BEM IHDN Denpasar, periode 2011 – 2012 ini.-Sriadi

Cibaduyut

Pilih yang jurusan Leuwi Panjang. Kalau sudah sampai di terminal , jalan kaki saja ke Cibaduyut, karena jaraknya hanya sekitar 300 meter. Cibaduyut sebagai pusat penjualan sepatu, konon di sebut-sebut terpanjang di dunia, diresmikan pertama kalinya tahun 1989 dan saat ini Cibaduyut tercatat sebagai daerah tujuan wisata di Bandung. Di luas areal kawasan belanja Cibaduyut yang dikatakan orang-orang di sana mencapai 14 kilometer tersebut, tersebar ratusan bahkan mungkin ribuan pengrajin sepatu dan sandal. Sebagian besar hasil produksinya biasa mereka pasarkan langsung di sana. Di sepanjang jalan kita bisa menemukan jejeran toko yang memajang sepatu dan sandal untuk anak-anak hingga orang dewasa. Bahkan beberapa tahun terakhir Cibaduyut semakin menggeliat, karena Wakil Presiden Jusuf Kalla juga ikut mempromosikan sepatu buatan Cibaduyut. Saat ini sepatu yang bermerek JK Collection tersebut mempunyai gerai yang terbesar di Cibaduyut. Makin masuk ke dalam makin banyak lagi toko sepatu yang bisa kita temui. Jika kita mau menelusurinya maka kita pun akan mendapatkan lebih banyak lagi pilihan model sepatu, mulai dari yang

Komang Merta Jiwa, S.E.

Membuka Diri Berbagi Strategi jadi Pengusaha Sukses

Yoga tak hanya menjadi aktivitas orang dewasa. Kini banyak anak-anak yang senang yoga. Bahkan sekolah pun memberikan kegiatan yoga untuk siswa. “Yoga berasal dari bahasa sanskerta yaitu “yuj” yang berarti hubungan. Hubungan yang dimaksud adalah hubungan antara roh yang berpribadi dengan roh yang universal yang tidak berpribadi. Rsi Patanjali mengartikan yoga sebagai cittavrtti nirodha yaitu penghentian geraknya pikiran, dengan yoga sebagai penyelaras antara badan, pikiran, dan jiwa,” ungkap Made G. Juniartha, S.Sos,M.Fil.H uru Yoga di SD Saraswati 3 Denpasar ini menuturkan di tempat ia mengajar, pesertanya siswa kelas 1, 2, 4, 5, dan 6. Dari masing-masing kelas gerakannya tidak sama. Gerakan yoga yang dilatih berdasarkan tingkat kelas yang berbeda. Khusus untuk siswa yang sakit pasti akan ada perbedaan gerakan. “Pada dasarnya anak-anak kelas 1 dan 2 masih terlalu dini untuk diajarkan gerakan yang sulit karena tingkat keseriusan mereka masih minim bisa dikatakan dari 100% tingkat keseriusan mereka hanya

Edisi 842/ 30 maret - 5 april 2015

sederhana dan produk lokal sampai dengan model unik dan bahkan yang sedang menjadi trend di kalangan internasional. Kita pun akan lebih mudah memilih sesuai selera. Diantara toko sepatu tersebut juga terdapat toko-toko yang khusus menyediakan segala jenis bahan dan alat untuk membuat sepatu. Hal menarik lainnya adalah toko di Jalan Cibaduyut bukan hanya menjual sepatu tapi juga menerima pesanan pembuatan sepatu. Beberapa toko sepatu juga menyediakan katalog model sepatu yang bisa dipesan oleh pengunjung. Aden, salah seorang pengrajin sepatu asli Cibaduyut, mengaku memperoleh kebisaan membuat sepatu secara turun– temurun. Saat ini pula ia meneruskan usaha sepatu orangtuanya. Selama ini katanya ia menerima pesanan sepatu beragam model hampir dari seluruh Indonesia. Ia juga mengatakan bahwa sepatusepatu yang dijualnya adalah asli buatan tangan yang dikerjakan langsung oleh para pengrajin di rumahnya yang terletak di belakang tokonya. Mengenai harga, sangat bervariasi, mulai dari puluhan ribu saja sampai dengan ratusan ribu rupiah. Itupun masih tergantung bahannya, kulit asli atau sintetis begitu juga

Sebagian sepatu pria buatan Cibaduyut

dengan tingkat kerumitan atau kesulitan pembuatannya. Meski Cibaduyut disebut sebagai pusat sepatu, namun di sana juga dijual beraneka ragam kerajinan lainnya seperti sandal, tas kulit, jaket kulit, dompet hingga ikat pinggang, yang juga di produksi masyarakat setempat. Bagi yang akan berkunjung ke Cibaduyut, jangan sungkan untuk menawar harga, sebab harga di sana bukan harga mati, sekalipun sudah dibandrol. Jika ada waktu, akan lebih baik untuk membandingkan terlebih dahulu ke beberapa toko. Ini untuk memastikan kita memperoleh harga yang terbaik. Jika pintar dan jeli maka kita pun bisa mendapatkan sepatu yang modis dan berkualitas dengan harga terjangkau. Yang perlu menjadi catatan adalah bahwa kawasan Cibaduyut ini lalu lintasnya cukup padat. Kondisi jalan tidak terlalu padat namun jika menggunakan mobil cukup kesulitan parkir. Sedangkan untuk urusan isi perut, tidak perlu khawatir. Jika kelaparan, sebab di sepanjang Jalan Cibaduyut juga banyak terdapat rumah makan serta jajanan khas Bandung, salah satunya adalah Cireng yang biasa dibeli pengujung dan dinikmati sambil jalan-jalan. – Sri Ardhini

Sebagian sepatu wanita buatan Cibaduyut

Bali begitu besar sementara peluang itu dimanfaatkan hanya oleh sebagian kecil pengusaha lokal. Padahal, jika mereka mau, tidaklah sulit mewujudkannya,” ujar ayah empat putra ini. Menurut President Bala Rider (komunitas penyuka motor besar Harley Davidson) ini, yang dibutuhkan seseorang menuju pengusaha top, cukup dengan fokus dan yakin dengan apa yang diniatkan. “Fokus menjalani proses perkembangan usaha dari hulu hingga hilir. Dari proses itulah kita punya kesempatan belajar dan terus mengembangkan diri. Proses menjalani usaha dari kecil menjadi besar, itulah sukses,” jelas mantan pelaku pariwisata MICE ini. Selain fokus, seseorang harus yakin dengan usaha yang dijalaninya itu. Jika tidak yakin atau ragu-ragu, lebih baik ditunda dulu, karena sukses hanya akan dimiliki oleh orang yang fokus dan yakin dalam mengelola usahanya. Modal, ilmu, dan pengalaman hanya sebagian kecil dan bukan penentu dalam memulai usaha. Di sinilah letak kegagalan pada banyak orang. Fakta yang ada, dari 100 pengusaha lokal di Bali, paling banyak 10 orang yang berhasil dan sukses, sisanya gagal,” tambah lelaki yang berkiprah di banyak komunitas kemasyarakatan ini. ‘BALI BARONG BERBAGI’ Perjalanan sukses Komang Merta Jiwa ‘Bali Barong’ inilah yang melatarbelakanginya untuk turut berbagi ilmu, kiat dan strategi berbisnis sukses. Siapa pun yang ingin belajar memulai usaha gadget, dipersilakan menghubunginya. Dirinya akan selalu menyempatkan waktu untuk bertemu bahkan memasilitasinya. Lewat gerakan ‘Bali Barong Berbagi’,

Komang Merta Jiwa ingin merubah pola pikir (mindset) masyarakat untuk segera bangkit dan berusaha. Bagi para sarjana juga diimbau untuk menjadi sarjana yang mampu membuka peluang kerja dan bukan sebaliknya. Menggugah jiwa entrepreneur (wirausaha) di kalangan generasi muda juga dilakukan Komang Merta Jiwa saat menjadi narasumber di beberapa universitas di Bali. “Saya ingin menggugah minat dan mengajak siapapun untuk memulai usaha dan menjadi sukses. Saya siap kapan saja untuk bertemu. Mari bersama-sama mengisi peluang yang ada dan sukses bersama,” ajak lelaki low profile ini. UTAMAKAN SIKAP JUJUR Komang Merta Jiwa mengawali bisnis gadgetnya secara tidak disengaja. Bom Bali I tahun 2002 lalu telah melumpuhkan bisnis pariwisata MICE-nya. Tetapi karena dibesarkan oleh ibu pebisnis dan ayah seorang suci (spiritual tinggi), jiwa wirausahanya kembali bangkit. Tekadnya kuat untuk memulai usaha baru sebagai pengusaha gadget dan pilihannya itu ternyata tepat. Rahasia suksesnya adalah kejujuran. Dirinya sangat yakin kejujuran adalah fondasi yang kokoh untuk kelangsungan bisnisnya. Motonya, berikan apa yang diminta pelanggan sesuai harga yang dibayarkannya. “Jika ada pelanggan minta HP yang original dan dia sudah bayar dengan harga itu, maka berikan sesuai dengan apa yang seharusnya dia dapatkan. Jangan diberikan HP yang tidak original, itu namanya membohongi. Demikian pula saat dia servis HP maka berikan harga yang pantas. Penjual memang harus untung tetapi keuntungan dalam

P

di permukaan prasasti yang menyebutkan “ Pada Tanggal 4 April 1946 Setelah Kembali Dari Tugas Melapor Kepada Pimpinan Negara Republik Indonesia Di Yogya “. Hal ini membuktikan I Gusti Ngurah Rai bersama pasukannya membawa peran penting dalam membawa nama Indonesia setelah kemerdekaan Indonesia 1945. Pentingnya sejarah ini diwujudkan dalam sebuah monumen perahu yang menggambarkan tiga orang berseragam tentara, salah satunya adalah Ngurah Rai saat mereka mempersiapkan diri mendarat di pantai Pekutatan. Keberadaan monumen ini hingga kini masih melekat sebagai ikon pantai Pekutatan. Sebagian warga setempat memberikan nama pantai ini yang lebih lumrah sebagai pantai Pelabuhan. Pantai

tingkat yang wajar saja,” terangnya. Komang Merta Jiwa yakin bahwa dalam bisnis tetap berlaku hukum karma. Siapa yang berbisnis jujur akan menikmati hasilnya, demikian pula sebaliknya. Mental dan sikap yang baik saat menjalankan bisnis akan berdampak dan mengundang banyak manfaat. “Bisnis yang jujur akan mengundang banyak simpati. Banyak simpati otomatis banyak pelanggan. Maka bersikaplah baik dan bermental jujur,” ungkap motivator seniman dan artis lokal Bali ini. Selain kejujuran, Komang Merta Jiwa punya landasan berbisnis yang dipegang teguh yakni Catur Purusa Arta (Darma, Arta, Kama, Moksa). “Bahwa harta (arta) hanyalah alat memenuhi keinginan (kama) untuk berbuat kebaikan (darma) yang pada saat kita moksa (melepas ikatan dengan dunia) nanti, semuanya kita tinggalkan dan kita wariskan kepada anak cucu. Jadi berbisnislah dengan jujur agar kebaikan hidup bisa kita wariskan kepada keturunan kita,” pungkasnya. –ari

Bali Barong adalah outlet gadget pertama milik pengusaha lokal di Bali yang menjalin kemitraan dengan provider terkemuka Telkomsel. Bali Barong adalah One Stop Cellular Shop yang memiliki barang lebih komplit, harga lebih murah dan jaminan garansi terbaik termasuk jaminan purnajual (after sales). Saat ini Bali Barong – Telkomsel menggelar Festival Smartphone berhadiah motor yang berlaku dari 1 Maret – 31 Agustus 2015. Alamat Bali Barong di Jln. WR Supratman No.307 Denpasar, Jln. Tukad Yeh Aya Denpasar, Jln. Raya Sukawati Gianyar, Jln. Raya Seririt Lovina Singaraja dan Jln. Raya Kintamani, Bangli.

Pesona Keindahan Pantai Pekutatan dalam Balutan Sejarah

antai Pekutatan berjarak 25 kilometer ke arah timur dari pusat kota Negara. Kolonel TNI Anumerta I Gusti Ngurah Rai dalam sejarahnya pernah mendarat di sini bersama anak buahnya. Sebagai salah satu bukti yang keberadaannya masih bisa dilihat berupa monumen perahu yang terbuat dari beton. Perahu ini masih kokoh berdiri menghiasi bibir pantai. Monumen berupa patung ini secara rutin dilakukan perbaikan akibat hantaman ombak yang besar. Keberadaannya sebagai daya tarik oleh sejumlah warga setempat serta wisatawan asing yang kebetulan menginap di kawasan ini. Melihat lebih dekat lagi, monumen dalam bentuk perahu ini terdapat tulisan

9

saat air sedang surut. Hijaunya lelumutan yang menempel di permukaan karang ini seolah turut memberikan kesegaran, terasa nyaman saat kaki berpijak di atas bebatuan yang diselingi dengan pasir hitam. Genangan air yang tertampung dalam rongga karang menambah rasa penasaran untuk mengamati lebih dekat lagi. Ikan kecil turut memberikan hiburan saat mereka terperangkap dibalik rongga batu karang ini. Sejauh mata memandang, tanjung yang merupakan bagian dari pulau Jawa menerawang menghiasi bagian selatan dari Samudera Hindia. Pantai Pekuta-

mencari sebuah ketenangan yang berbaur dengan aktivitas warga setempat. Di sekeliling masih nampak pohon kelapa sebagai pohon yang khas di daerah tropis. Kesan alami masih terasa, tak ada petugas keselamatan pantai yang kelihatan berjaga, “ Kebanyakan tamu yang datang ke pantai ini hanya untuk rileks sambil duduk di tepi pantai, “ tambah Rondi. Menjelang tahun baru Caka, tak jauh dari monumen berdiri kerap digunakan sebagai sentral dari kegiatan melasti. Ritual ini dilaksanakan tiga hari sebelum jatuhnya hari raya Nyepi yang rutin dilakukan oleh beberapa desa. Bagian dari pros-

Kabupaten Jembrana merupakan bagian wilayah pulau Bali paling Barat. Sepanjang pantai di Jembrana memiliki teks­ tur pantai berpasir hitam. Kebanyakan bentangan pantai ini digunakan oleh masyarakat setempat sebagai pangkalan nelayan, objek wisata, serta kegiatan upacara keagamaan. Salah satu pantai yang sarat akan jejak nilai sejarah serta unsur nilai kebudayaan di tengah modernisasi pariwisata ada di Pantai Pekutatan. ini setiap sore ramai dikunjungi oleh warga sekitar untuk bersantai serta melepas suasana sore bersama keluarga. Keberadaan sejumlah akomodasi wisata berupa hotel kelas Boutique turut berperan serta mendatangkan wisatawan untuk mengunjungi keindahan pantai Pekutatan, “ Kebanyakan wisatawan yang berkunjung ke pantai ini berasal dari Eropa, “ ucap Rondi Ginawan selaku pengelola hotel setempat. Selain keberadaan sarana akomodasi yang tumbuh sejak tahun 2002, Pantai Pekutatan memiliki panorama andalan selain melihat secara dekat aktivitas para nelayan. Pantai dengan sebagian pasir yang berbatu menambah keindahan lain

tan lebih sering digunakan oleh warga setempat untuk mandi. Terlebih saat hari suci datang, hari Purnama dan Tilem akan ramai dimanfaatkan oleh warga setempat bermandi riang di tepian. Ombak yang tidak beraturan ini tidak ideal sebagai tempat berselancar seperti pantai tetangganya di bagian barat, yakni Pantai Medewi. Pantai Pekutatan justru lebih ideal sebagai tempat bersantai,

esi Nyepi ini pun menambah ketertarikan sejumlah wisatawan yang kebetulan menginap di kawasan pantai Pekutatan. Masyarakat desa yang tumpah ruah dengan berbagai iringan gambelan dan berbagai bentuk pratima ini di upacarai melengkapi kesan spiritual dibalik jejak perjuangan dari pahlawan I Gusti Ngurah Rai di Pantai Pekutatan dalam memperjuangkan kemerdekaan. –Eka


10

Bugar

Edisi 842/ 30 Maret - 5 April 2015

Gunakan Headset Maksimal Dua Jam Makin berkembangnya teknologi, tidak hanya memberikan dampak positif. Namun, terka­ dang teknologi juga memiliki dampak buruk bagi kesehatan. Salah satunya adalah penggu­ naan headset yang terlalu sering.

dr. Sari Wulan D., Sp. THT-KL

H

eadset memanglah menjadi pilihan yang sangat praktis bagi pemakainya. Bagi Anda yang sulit tidur mungkin ini akan membantu Anda karena penggunaan headset akan membuat mengantuk. Namun, tahukah Anda, penggunaan headset yang terlalu sering dapat memberikan dampak negatif untuk setiap pemakainya. Menurut dokter ahli THT RS Sanglah, dr. Sari Wulan D., Sp. THTKL., kalau melihat pada struktur telinga, daun telinga sudah memiliki fungsi untuk memilah dan menyar­ ing suara yang masuk, agar tidak menimbulkan kebisingan. “Headset langsung menyentuh liang telinga sehingga suara yang masuk fokus. Jika ini dilakukan setiap hari dan sembari tiduran, lama-kelamaan sensor saraf akan terganggu,” jelas Bendahara Persatuan Dokter THT Indonesia (Perhati) Cabang Bali Nusra ini. Dokter yang bertugas di Sub Divisi Rinologi/Alergi Imonologi THT-KL RS Sanglah ini menyatakan, paparan musik headset dapat mem­ pengaruhi ambang pendengaran manusia, terutama bila dilakukan dengan volume keras dan dalam jangka waktu lama. Secara perla­ han efek ini akan mengarah pada gangguan pendengaran secara permanen. Gangguan ini memang tidak tampak dalam keseharian, namun, ketika gangguan sudah mencapai level percakapan, mulai mengeluh, “ kok saya kurang mendengar atau agak bongol”. Memang ia mengakui, dampak ini tak langsung terjadi. “Proses ini akan terasa 5 sampai 10 tahun lagi. Kalau saat anak-anak sudah terbiasa memakai headset dalam

Seksi tetap Berkarakter

Edisi 842/ 30 Maret - 5 April 2015

Satu lagi Desainer Kota Denpasar yang tampil sukses pada ajang “Indonesia ­Fashion Week 2015” di Jakarta Covention Centre ­beberapa waktu lalu. Dia adalah Katrin Suthajaya yang dengan eloknya menggunakan tenun endek dalam kreasinya bertemakan “Fearless Beauty”.

jangka waktu yang lama mungkin usia 20 tahun sudah muncul gang­ guan,” ucapnya. Ketika gangguan sudah menca­ pai level percakapan, ia menyata­ kan, agak sulit diperbaiki dan ke­ mungkinan akan terjadi kerusakan permanen. RUMAH SIPUT Ia menyarankan, sebaiknya menggunakan headset ini sesuai kebutuhan saja, jangan berlebihan. Mengenai tingkat suara, sebaiknya berada pada kisaran di bawah 85 desibel. Batas waktu seorang men­ dengarkan musik seharusnya hanya 80 desibel atau setara dengan vol­ ume musik 60 persen. Durasi pe­ makaiannya pun maksimal dua jam. Selain itu, minimal tiap satu jam headset dilepas. Itu dimaksudkan untuk mencegah kerusakan pada rumah siput. ”Kalau rumah siput (koklea) lelah, pendengaran bisa rusak permanen,” kata dr. Wulan. Suara yang ada di luar headset seperti suara mesin mobil, disel atau pemotong rumput juga bisa berpengaruh pada pendengaran ma­ nusia. Selain itu, mem­ bawa bayi atau anakanak ke dalam mal yang bising sebaiknya juga dikurangi. Batas waktu setengah jam, sebai­ knya segera keluar dari kebisingan tersebut. Beberapa cara un­ tuk mengurangi kerusa­ kan pendengaran ada­ lah dengan mengurangi volume suara dan men­ gurangi waktu untuk mendengarkan dengan headset. Namun, ser­ ingkali juga orang-orang menggunakan headset pada tempat-tempat yang ramai seperti sta­ siun kereta, terminal bus ,dsb. Jadinya, tanpa sadar cenderung men­ ingkatkan volume headset lebih keras lagi. Ia menyarankan, untuk mengurangi efek samping sebaiknya menggunakan speaker phone yang besar sehingga suara lebih terdistribusi dan lebih menutup suara bising

Style

U

blog.serbabayar.com

dari luar dibandingkan headset yang kecil. Tipe headset yang kecil mem­ punyai speaker kecil dengan volume

besar yang diletakkan di lubang telinga sudah pasti memberikan efek lebih besar pada pendengaran

dibandingkan dengan speakerphone yang hanya ditempel pada telinga luar. –Wirati Astiti

ntuk koleksinya yang dinamis, et­ nik dan modern ini hadir dalam casual dress, cocktail dress, mau­ pun evening gown berhasil digarap dengan bahan endek bermotif khusus yang dikombinasikan jun­ taian kain chiffon dilengkapi palet keemasan, brokat, dan tile. Melalui tema yang diusung, Katrin ingin menunjukkan karak­ ter perempuan yang tangguh dan selalu menjunjung adat tradisional tetapi tetap mengikuti perkem­

bangan zaman yang semakin modern. Sebagai aksen kreasinya ia mengaplikasikan payet dan bordir di beberapa bagian serta aksen sheer yang terlihat trans­ paran. Kemudian dengan meng­ aplikasikan cut out pada bagian pinggang menjadikan model yang dominan bersiluet lurus ini pun berkesan sexy dan powerful. Semakin indah dengan de­ngan pilih­a n warna gold, bronze, ­e merald green, cokelat muda, dan hitam. –Sri Ardhini

Katrin Suthajaya

15


14

S

Edisi 842/ 30 maret - 5 april 2015

Rai Sariani

elama ini pula, untuk mengatasinya, sebagian besar dari kita lebih banyak mencari solusi dengan memilihan sampo yang akan digunakan. Padahal, masalah rambut juga dapat diakibatkan kesalahan saat mencuci rambut atau keramas. Demikian disampaikan Rai Sariani pemilik Spa Supplier Gaya Warna di kawasan Kerobokan. Dikatakannya keramas memang hal yang terlihat sepele. Namun, harus dilakukan dengan cara yang benar. Kalau tidak, rambut malah bertambah kusam dan rusak. “Cara keramas akan memengaruhi keindahan rambut. Dengan keramas yang benar tekstur rambut menjadi lebih lembut, rambut tidak mudah rontok dan pastinya kulit kepala pun sehat,” tuturnya. Lantas bagaimana sesungguhnya cara keramas yang benar dan baik? Untuk ini, Rai pun menyampaikan beberapa poin penting yang harus kita perhatikan ketika keramas. Pertama, seluruh rambut sebaiknya dibasahi secara merata. “Ini tujuannya agar fungsi sampo bisa maksimal. Ingat juga untuk merapikan rambut atau menyisir sebelum membasahinya. Kalau disisirnya saat rambut basah, rambut akan lebih rapuh, mudah patah, dan rontoh. Menjadi semakin parah seandainya rambut masih kusut langsung kita basahi,” urainya. Menggunakan sampo juga tidak perlu berlebihan, tapi secukupnya. Tuangkan sampo ditelapak tangan campur dengan air sedikit, dan usapkan secara merata pada rambut. Gosok dan pijat dengan ringan, agar sampo bisa merata diseluruh kepala. Teknik pijatan, kata Rai juga berfungsi menjadi stimulus untuk melancarkan peredaran darah pada kulit kepala. “Pijatan ringan ini pun merupakan bagian terpenting yang sering diabaikan. Sebab seringkali kita konsentrasi hanya pada helai rambut saja. Termasuk saat membersihkan, lakukan gosokan dengan ujung jari, bukan dengan kuku yang justru akan merusak kulit kepala,”ujarnya. Perhatikan pula sampo yang digunakan, semestinya sudah dipilih sesuai jenis rambut. Tidak perlu terlalu sering mengganti sampo. “Saat mencuci rambut busa sampo mesti cukup. Karena beberapa pakar rambut pernah mengatakan busa menciptakan semacam vakum yang dapat mengisap semua kotoran dari kepala,” lanjutnya. Rai juga menekankan kembali kalau yang perlu diolesi sampo hanyalah kulit kepala dan rambut bagian atas. Setelahnhya biarkan mengalir sampai ke ujung rambut.

Keramas bukan Hal Sepele Selama ini masih banyak orang beranggapan kalau rambut yang kusam, sulit diatur maupun berketombe diakibat­kan debu, paparan sinar matahari atau kondisi cuaca yang tidak menentu.

Setelahnya dibilas dengan bersih. Lanjutkan dengan kondisioner yang diusapkan tidak sampai kulit kepala, melainkan hanya pada helai rambutnya saja. “Jika kondisioner dioleskan sampia ke kulit kepala, akan menjadikan akar rambut lebih berminyak serta mudah memicu munculnya ketombe. Diamkan beberapa saat , kemudian dibilas menggunakan air dingin untuk menutup kembali folikel rambut,” ucapnya. Rai juga mengatakan kondisioner ini sangat berguna untuk melembutkan dan melembabkan setiap helai rambut. “ Setelah selesai keramas maka segera bilas dengan air bersih seluruh bagian rambut dan juga kulit kepala sampai benar-benar bersih,” tandasnya. Jika usai membilas pada bagian tertentu terasa sedikit licin kalau dipegang, ini menandakan masih ada sisa sampo yang belum bersih. Sampo yang masih tertinggal pada kulit kepala ini bisa menyebabkan dan berpotensi besar menjadi penyebab munculnya ketombe. Jadi proses pembilasan itu juga tidak kalah pentingnya dan sangat menentukan hasil keramas yang baik. Setelah bersih dipastikan rambut pun terasa, sehat,indah, lebih tebal dan lebih bersinar. Langkah terakhir adalah mengeringkan rambut. Jika menggunakan handuk, cukup dengan di bungkus dan bukan digosokgosokan ke rambut, agar kutikulanya tidak rusak . Pakailah sisir bergigi jarang untuk merapikan rambut yang masih basah. Jangan menarik rambut dengan sisir sebab dalam keadaan lembab rambut mudah patah. KERAMAS TIGA KALI SEMINGGU Ditanya mengenai perbedan keramas dengan air angat dan air dingin, Rai menyampaikan kalau dengan air hangat baik untuk pemilik rambut berminyak. Ini dapat membuka pori-pori di kulit kepala serta membersihkan sisa-sisa kotoran pada kulit kepala. Namun, tidak perlu sering-sering, agar rambut tidak menjadi kering dan mudah patah. Sebaliknya, air dingin kata Rai akan menutup pori-pori kulit kepala sehingga mencegah masuknya

kotoran. Termasuk, menutup kutikula rambut dan menyerap kelembaban dari kondisioner yang diusapkan, dan rambut pun semakin halus dan tidak mudah kusut. Diingatkan bagi yang memiliki rambut tipis, atau mereka yang banyak berkegiatan di daerah kering, air dingin dapat membuat rambut lepek dan tidak mengembang. Sementara bicara soal keramas setiap hari, katanya boleh. Namun, tidak semua rambut perlu keramas tiap hari. “Jika seseorang rutin berolahraga setiap hari, maka keramas setiap hari adalah kewajiban. Tapi, bagi yang rambutnya berjenis kering, atau keriting dan tebal mengembang, keramas cukup dua hari sekali.Keramas setiap hari akan membuat rambut kehilangan manfaat minyak rambut alamiah yang dikenal dengan nama “sebum”. Keramas terlalu sering juga akan merusak rambut. Kebiasaan orang mencuci rambut terlalu sering, lanjutnya mungkin disebabkan seringnya menyaksikan berbagai iklan sampo di televisi. “Memang sangat menggoda. Menggunalkan model cantik dengan rambutnya yang indah, hampir sebagian besar menayangkan jika keramas setiap hari itu tidak masalah. Padfahal; belum tentu tepat untuk semua orang. Kita mesti cerdas menyikapi,”ujarnya. Begitu juga dengan anggapan kalau saat keramas saat mengoleskan sampo diulang dua kali sekaligus, menjadikan

rambut lebih bersih hanyalah mitos belaka. Menurut Rai , pemakaian sampo secara berlebihan justru dapat mengurangi kelembaban alami rambut. “Lakukan keramas tidak lebih dari 2 atau 3 kali setiap minggunya. Orang dengan rambut ikal dan keriting bahkan boleh keramas lebih jarang dibanding orang berambut lurus. Pemakaian vitamin rambut dan tonik juga dianjurkan sesua dengan jenis rambut,”tandasnya. –Sri Ardhini

Mitos

Edisi 842/ 30 maret - 5 april 2015

Haruskah Minum Antibiotik? Saat ini, antibiotik telah dikenal luas oleh masyarakat sebagai salah satu obat terpenting dari setiap penyakit yang mereka alami. Namun, apa­kah setiap penyakit bisa diobati dengan antibiotik? Apakah boleh menyimpan antibiotik di rumah sebagai cadangan untuk pengobatan?

“P

emberiaan antibiotik sebagai sebuah pengobatan haruslah rasional sesuai dengan jenis penyakitnya,” ujar dr. A.A. Ngr. Gd. Dharmayuda. Kepala Puskesmas I Denpasar Selatan ini menjelaskan, sesuai Permenkes Nomor 2406 tentang Pedoman Umum Penggunaan Antibiotik, disebutkan bahwa sekitar 40-62% antibiotik digunakan secara tidak tepat seperti untuk penyakit yang tidak memerlukan antibiotik. Ditemukan pula bahwa penggunaan antibiotik di berbagai rumah sakit, 30-80% tidak didasarkan pada indikasi. Karena itu, sangat penting bagi masyarakat untuk memahami tentang penggunaan antibiotik yang tepat. Berikut penegasan dr. A.A. Ngr. Gd. Dharmayuda atas beberapa mitos terkait penggunaan antibiotik. Mitos: Antibiotik obat segala penyakit Fakta: Antibiotik merupakan obat yang diperuntukkan mengobati penyakit infeksi yang disebabkan oleh bakteri. Karena itu, apabila jenis penyakit tertentu yang disebabkan oleh bukan bakteri, baik oleh virus ataupun jamur, tentunya antibiotik sangatlah tidak bermanfaat. Justru pemberiaan antibiotik pada kasus seperti itu akan berdampak negatif pada pasien bersangkutan. Pemberian antibiotik pada perempuan secara tidak rasional justru bisa menimbulkan masalah lain seperti munculnya keputihan. Hal ini dikarenakan pemberian antibiotik yang tidak tepat indikasi akan menurunkan daya tahan tubuh pasien yang akhirnya membuat jamur akan berkembang dengan cepat, kemudian muncul rasa gatal-gatal dan keputihan pada perempuan. Sehingga

antibiotik tidak bisa untuk segala jenis penyakit, harus tepat indikasi agar pengobatannya menjadi rasional. Mitos: Antibiotik efektif sembuhkan flu Fakta: Flu merupakan penyakit yang disebabkan oleh virus sehingga pengobatan yang efektif justru bukan dengan antibiotik. Antibiotik hanya diperuntukkan pada penyakit yang disebabkan oleh bakteri. Pada flu, antibiotik sangat tidak diperlukan kecuali adanya infeksi sekunder lain yang serius. Pemberian antibiotik justru akan menimbulkan risiko lain seperti alergi. Selain itu pula, pemberian antibiotik yang tidak diperlukan akan justru memicu pertumbuhan dari jenis bakteri tertentu yang akhirnya bisa menyebabkan timbulnya kekebalan (resistensi) kuman terhadap antibiotik. Hal ini pastinya akan sangat merugikan bagi tubuh manusia. Hal utama yang harus dilakukan adalah dengan melakukan pencegahan terhadap virus influenza. Dengan menjaga daya tahan tubuh tetap optimal merupakan kunci pokok dalam pencegahan yaitu dengan menerapkan pola hidup sehat. Selain itu, dengan pemberian kekebalan dari luar tubuh berupa vaksinasi virus influenza dinilai cukup efektif di dalam upaya pencegahan. Mitos: Antibiotik menimbulkan efek samping Fakta: Hampir semua jenis obat termasuk antibiotik memiliki efek samping. Namun, apabila pemberian antibiotik tersebut dilakukan secara rasional, yaitu tepat indikasi, tepat dosis, serta tepat cara dan lama pemberiannya, sudah tentu efek samping tersebut tidak akan muncul. Karena itu, pemberian antibiotik tersebut harus sesuai dengan petunjuk dari dokter. Kesalahan

Kirim surat Anda ke Redaksi Tokoh dan cantumkan “Sex Edu” di ­amplop. Bisa juga dikirim ke redaksi@tokoh. co.id. Rubrik ini diasuh Asosiasi ­Seksologi Indonesia (ASI) Denpasar.

Kondom lebih Baik “Dok, saat ini aku dan suamiku sepakat menunda kehamilan. Kami sepakat untuk menggunakan kondom, tetapi kok jadinya malah tidak bisa menikmati hubungan seksual. Tidak menyenangkan rasanya. Apa ada tips buat menggunakan kondom agar bisa menyenangkan?” (Disa, 26 th) Jangan salah, justru saat ini kondom makin banyak yang menggunakannya demi mendapatkan kenikmatan seksual, dan bukan lagi sesuatu yang masih banyak bilang tidak menyenangkan. Kondom yang beredar seka-

rang sudah jauh berkembang bagus untuk kepentingan rekreasi dan pencapaian kepuasan seksual dibanding dua dekade lalu. Tinggal sekarang bagaimana mengubah mind set untuk “percaya” bahwa kondom bisa menyenangkan.

sering dilakukan oleh masyarakat dengan membeli antibiotik sembarangan sehingga menjadi tidak rasional yang berakibat terhadap munculnya efek samping dari antibiotik tersebut. Beberapa efek samping yang sering muncul adalah gangguan pencernaan seperti mual, perut kembung, kram, sampai diare. Efek samping yang sering juga muncul yaitu reaksi alergi, yaitu sebuah reaksi obat dengan melibatkan sistem imun pasien dengan tidak tergantung pada besarnya dosis obat. Gejala yang ditimbulkan seperti rasa gatal seluruh tubuh, pembengkakan pada kelopak mata, dan sampai pembengkakan saluran nafas (laring) yang harus memerlukan tindakan gawat darurat. Mitos: Dalam satu kali dosis obat/resep dokter, antibiotik harus dihabiskan walaupun sudah sembuh Fakta: Antibiotik harus diminum sesuai dengan anjuran dokter yaitu diminum sampai habis sesuai dengan jumlah yang telah tertulis di resep. Hal itu dilakukan oleh dokter sesuai dengan dosis efektif dari antibiotik untuk mencapai kadar maksimal dalam menghambat/ membunuh bakteri. Jadi, adalah sebuah kesala-

Coba simak tips ini. Otak Anda adalah Kunci Utama. Organ seks utama bukan kelamin, tetapi otak. Saat otak Anda bilang bahwa hubungan seks yang akan Anda lakukan bakal memuaskan, maka tubuh pun akan merespons perintah otak itu semaksimal mungkin. Saat otak menyimpan informasi bahwa kondom itu bau, membatasi dan tidak menyenangkan, maka tubuh juga merespons perintah itu. Ibarat mencoba kendaraan bertipe matik pertama kali, akan susah di awal, tetapi saat sudah hafal, tentu akan makin menikmati. Demikian juga penggunaan kondom, yakinlah bahwa menggunakan kondom dengan pelumas yang lembut dan rasa kondom yang memikat akan menjadi sebuah pengalaman erotisme yang lebih dari sekedar menyenangkan. Kondom lebih Baik. Ingat, satu-satunya kontrasepsi yang fungsinya bisa mencegah kehamilan dan mencegah infeksi menular seksual, hanya kondom. Sedangkan kontrasepsi lain hanya bisa mencegah dari kehamilan saja. Sebagian besar orang masih lebih memilih pil KB dan suntik KB

11

han apabila antibiotik tersebut tidak diminum sampai habis walaupun pasien sudah merasa sembuh. Hal ini berakibat bakteri akan menjadi kebal dan muncul kondisi yang dikenal dengan resistensi yang akan sangat merugikan diri kita. Mitos: Menyediakan cadangan antibiotik di rumah untuk pengobatan adalah tindakan tepat Fakta: Pemahaman masyarakat tentang pemakaian antibiotik harus terus ditingkatkan. Antibiotik yang diminum harus sesuai dengan petunjuk dokter. Tidak boleh sembarangan minum antibiotik apalagi sampai menyimpan antibiotik di rumah untuk jaga-jaga apabila menderita sakit tertentu bisa langsung diminum agar lekas sembuh. Kesalahan terkait situasi tersebut akan berakibat fatal. Resistensi dan reaksi efek samping akan mengancam masyarakat apabila masih memiliki paradigma demikian. Banyak kasus yang justru hanya cukup diatasi dengan istirahat, m i num a i r hangat, dan

bahkan hanya dibantu dengan kompres air hangat saja tanpa harus minum antibiotik. Karena itu, diharuskan untuk selalu berkonsultasi dengan dokter untuk mendapatkan pengobatan sesuai indikasi medis. Dokter yang berpraktik di Kesiman, Denpasar yang juga Sekretaris IDI Kota Denpasar ini menjelaskan, antibiotik merupakan segolongan senyawa/zat yang dihasilkan secara alami (dari bakteri, terutama jamur) maupun secara sintetis, yang dapat menghambat pertumbuhan bakteri (aktifitas bakteriostatik) atau dapat membasmi bakteri jenis lain (aktivitas bakterisid). Antibiotik memiliki sifat toksisitas selektif setinggi mungkin, artinya antibiotik tersebut haruslah sangat toksis terhadap bakteri, tetapi relatif tidak toksis terhadap orang yang mengonsumsinya (hospes). Sifat bakteriostatik dari bakteri sangat dipengaruhi pula oleh daya tahan tubuh kita. Selain itu, efektifitas dari suatu antibiotik dipengaruhi pula oleh lamanya kontak antara antibiotik dengan bakteri untuk mencapai sebuah kadar efektif sampai munculnya efek. Antibiotik dibedakan berdasarkan mekanisme kerjanya, yaitu ada antibiotik yang mengganggu metabolisme sel bakteri, yang menghambat sistesis dinding bakteri, yang mengganggu permeabilitas membran sel bakteri, yang menghambat sintesis protein sel bakteri, dan yang menghambat sistesis atau merusak asam nukleat sel bakteri. –Inten Indrawati

sebagai pilihan kontrasepsi. Padahal keduanya mengandung hormon, dan memiliki efek yang kurang menguntungkan pada libido atau dorongan seksual perempuan. Belum lagi jika ternyata ada efek individual yang mungkin muncul seperti rasa kembung, flek perdarahan di luar waktu menstruasi, nyeri payudara, berat badan meningkat dan terkadang mood menjadi buruk pada perempuan. Pada kondom, hal ini tidak bakal terjadi. Lebih Dinikmati. Banyak laki-laki dan pasangannya merasa bahwa dengan menggunakan kondom, durasi hubungan seksual akan menjadi lebih lama dan bisa dinikmati, sehingga orgasme akan bisa tercapai bersamaan. Banyak perempuan yang selama ini tidak bisa mendapatkan orgasme malah jadinya mendapatkan orgasme ketika pasangan laki-lakinya menggunakan kondom. Orgasme yang didapatkan pun lebih baik lagi dari sebelumnya. Jangan lupa, pelumas yang ada pada kondom justru akan banyak membantu penetrasi penis ke vagina sejak babak awal hubungan seksual. Jadi, tidak ada alasan untuk tidak dinikmati.

Jenisnya Banyak dan Semuanya Menarik. Bila Anda merasa kondom itu tidak enak, berarti Anda belum pernah bertualang dengan berbagai macam jenis kondom yang ada saat ini. Yang paling banyak disukai adalah yang “flavoured condom” dengan berbagai rasa seperti coklat, kopi, stroberi, mint, vanila dan banyak lagi. Berikutnya adalah “super thin condom” yang ketika memakainya Anda berasa tidak seperti sedang memakai kondom tetapi tetap efektif untuk mencegah kehamilan dan infeksi menular seksual. Lalu ada “dotted condom” yang mendatangkan kesenangan berlipat ganda dengan adanya tekstur benjolan-benjolan kecil yang menguntungkan baik untuk Anda atau pasangan. Tentu saja akhirnya berbagai macam jenis ini akan menambah pilihan dan variasi yang menarik untuk menikmati hubungan seksual dan mengatasi kejenuhan kehidupan seksual Anda. So, tunggu apalagi. Mulai sekarang jadikanlah kondom sebagai sebuah kelengkapan Anda buat menikmati hubungan seksual yang menyenangkan.


12

Kuliner

Serunya Edisi 842/ 30 Maret - 5 April 2015

Sensasi Pancuran Cokelat Cokelat memang menjadi kesukaaan ba­ nyak orang. Selain disebut sebagai makanan pengusir stres, cokelat juga sangat enak dan digemari tua dan muda. Aneka kreasi dapat dibuat dari cokelat. Mulai dari permen, es krim, puding, dan cake.

Menyantap

Sego Kucing

Ada banyak cara dilakukan untuk menarik konsumen datang berbelanja. Seperti, memasang ceret air di atas dinding sebagai kap (penutup) lampu. Itulah kreasi Kedai Ceret, salah satu warung makan di daerah Panjer, Denpasar. Puluhan ceret air yang bagian bawahnya sudah dilepas, digantung menghiasi lampu-lampu sehingga tampak indah pada malam hari.

B

Lastri sedang membakar ikan

agian dinding kedai juga dipenuhi dengan lukisan bernuansa Jawa, sesuai dengan makanan yang dijual, makanan khas Jawa. Di daerah asalnya, makanan ini disajikan dengan gaya angkringan yakni duduk lesehan, seperti di Solo dan Yogyakarta. Harga makanan juga murah meriah. Biasanya, warung angkringan dibuka pada malam hari dan selalu ramai dikunjungi pembeli. Begitu juga pengunjung di Kedai Ceret, siang dan malam hari.

Bedanya, pembeli dapat memilih duduk santai di bangku-bangku sambil menikmati makanan. Cara makannya juga sangat unik. Pengunjung bisa memilih aneka makanan yang tersaji di atas meja panjang. Ada aneka nasi bakar baik itu nasi bakar teri dan ayam. Ada juga nasi yang dibungkus kertas warna-warni yang disebut sego. Ada sego kucing, sego krecek, sego ayam, sego soun. Biasanya nama nasi bungkus disesuaikan dengan lauk-pauknya, apakah isi ayam, soun, ikan, atau krecek (sejenis lauk

dengan bahan lemak daging sapi). Harganya juga sangat terjangkau hanya Rp 2.500. Memang porsinya kecil, namun cukup mengenyangkan. Jika masih kurang, tentu bisa nambah lagi. Sedangkan nasi bakar dipatok dengan harga Rp 5.000. Jika ingin menambah lauk-pauk, bisa dipilih tersendiri. Ada tempe, tahu, ayam, telur, hati, udang, aneka sate, dan tak ketinggalan aneka sayuran khas Jawa, seperti tumisan, sayur opor, pecel dll. Tak hanya itu, ada juga nasi pecel dan nasi gudeg yang sudah siap dimakan. Camilan juga lengkap, ada pisang goreng, ketela, lumpia, risoles, kerupuk, dan kue khas tradisional. Jika dihitung, sekitar 50 jenis makanan tersedia di Kedai Ceret dengan segala macam variasi, termasuk cara penyajiannya. Lauk-pauk yang kita pilih bisa ditentukan apakah akan digoreng atau dibakar. Setelah membayar di kasir, makanan yang kita pilih akan langsung diproses, mau dibakar atau digoreng. Untuk yang dibakar, akan diolesi bumbu kecap, kemudian dibakar sampai tercium aroma wangi. Bukan hanya lauk-pauknya, nasi bakar yang kita pilih juga dibakar kembali untuk menghangatkan. Dengan sambal khas super pedas

Edisi 842/ 30 Maret - 5 April 2015

Nasi Gudeg

sebagai temannya, semua makanan khas Jawa ini terasa nikmat. Menurut Lastri, salah seorang karyawan di Kedai Ceret, awal mula berdirinya warung makan ini setahun lalu. Walaupun letaknya di pojok, ternyata sambutan konsumen cukup baik. Terbukti tiap hari selalu ramai, apalagi sore dan malam hari. Pembeli tumpah-ruah sampai mengantri. “Harganya terjangkau bagi siapa saja. Karena memang itu konsepnya. Kebanyakan memang mahasiswa, karena sesuai harga kantong,” kata Lastri yang bertugas membakar dan menggoreng laukpauk setelah dipilih pembeli. Untuk minuman, semua jenis wedang tersedia, seperti wedang ronde, wedang jahe, dan wedang lainnya. Justru menurut Lastri, minuman wedang ini paling diincar pembeli. Selain harganya murah meriah, juga sangat enak untuk menghangatkan badan di malam hari.

Salah seorang pembeli setia Kedai Ceret, Ogi, menuturkan, sering nongkrong bersama teman-reman kampusnya di sana. “Biasanya kami membeli nasi bungkus sego ayam dan wedang jahe. Karena porsinya kecil, bisa habis sampai tiga bungkus. Kalau di Bali, sego ayam ini mirip nasi jinggo. Cuma, bungkusnya saja beda,” kata mahasiswa PTS di Denpasar ini. Sementara, menurut konsumen lainnya, Tia, rasa makanannya enak karena ditemani sambal pedas. “Saya paling suka dengan sambal pedasnya. Kalau gak pakai sambal, kurang seru,” tuturnya. Dengan konsep yang beda, Kedai Ceret mampu menyedot pengunjung untuk datang kembali. Beberapa pembeli sebagian besar menjadi pelanggan setianya. “Kelebihannya, harga murah meriah dan enak,” kata Mira, yang mengaku pelanggan setia Kedai Ceret. –Wirati Astiti

D

alam berbagai hajatan, ulang tahun atau pernikahan, cokelat mulai digemari untuk digunakan sebagai suvenir. Seperti dituturkan Mia, salah seorang ibu rumah tangga di Denpasar. Dalam pesta perayaan ulang tahun anaknya ke-10, ia memberikan suguhan para tamu yang sebagian besar anak-anak ini, aneka kreasi permen cokelat. “Untuk pesta ulang tahun anak-anak, permen cokelat cocok dijadikan snack pembuka waktu tamu baru datang,” kata ibu satu anak ini.

Praline

Pancuran cokelat

“Awalnya sih hanya untuk acara di rumah,” kata perempuan yang sehari-hari bekerja sebagai desainer interior ini. Bahkan, pesanan cokelatnya hanya untuk mengisi waktu luang sepulang bekerja. Aneka kreasi cokelat yang ia buat, semuanya otodidak alias belajar sendiri. Memang ia mengakui, awalnya mencoba beberapa resep. Namun, setelah dipraktikkan sering tak berhasil. Akhirnya, ia berkreasi sendiri melalui berbagai percobaan sampai akhirnya berani menerima pesanan. Selain permen cokelat, Dayu Raka mulai memasarkan aneka cake cokelat termasuk puding. Bahkan, apapun permintaan konsumen ia coba layani. Ia hanya melakukan promosi dari mulut ke mulut dan media

Rica-rica Iga

Bahan: 750 gr : iga, potong menurut selera, bersihkan 1 buah : bawang bombay, cincang halus 7 buah : bawang merah, cincang halus 3 siung : bawang putih, cincang halus 3 buah : cabe merah besar, cincang halus 12 buah : cabe rawit, cincang halus 3 lembar : daun jeruk 2 batang : serai, memarkan 4 sdm : kecap manis 2 sdm : saus tiram atau teriyaki 1 sdt : lada bubuk 1000 ml : air Gula, garam, penyedap rasa secukupnya.

berubah warna, masukkan kecap manis, saus tiram serta semua bumbu lainnya, lalu masukkan air, aduk-aduk hingga tercampur, ungkep hingga iga matang dan lunak serta bumbu meresap dan air agak mengental - Siap untuk disajikan dan taburkan bawang putih goreng di atasnya.

–Wirati Astiti

Cake cokelat

Ayam Saus Inggris Bahan: 750 gr : ayam, potong menurut selera, rebus selama 10 menit, tiriskan 1 buah : bawang bombay, potong korek api 1 batang : daun bawang pre, iris korek api

Bahan: 50 gr : jamur kuping, bersihkan, iris menurut selera 100 gr : kembang kol, potong perkuntum 70 gr : sawi putih, potong menurut selera 1 buah : wortel, potong menurut selera 150 gr : ayam fille, potong dadu 2 buah : sosis rasa ayam, potong bulat 1 buah : bawang bombay, potong dadu 3 siung : bawang putih, cincang halus 2 ruas : jari jahe, memarkan 1 sdm : lada bubuk 300 ml : air 2 sdm : saus tiram 3 sdm : saus raja rasa 1 sdm : minyak wijen 1 buah : bawang prei, potong serong Gula, garam, kaldu bubuk secukupnya. Cara Membuat: - Panaskan teflon, masukkan irisan bawang bombay, bawang putih. irisan bawang pre, tumis hingga harum. Masukkan ayam, aduk-aduk hingga berubah warna, masukkan wortel dan jamur kuping, aduk-aduk hingga layu, lalu masukkan air, masak hingga mendidih, lalu masukkan sawi putih dan bahan-bahan lainnya, masak hingga matang, angkat. - Siap disajikan, taburi dengan bawang putih goreng.

Cara Membuat: - Tumis bawang bombay, bawang merah, cabe rawit, daun jeruk, serai, jahe hingga harum, lalu masukkan iga, aduk merata, tumis hingga

Aneka makanan di Kedai Ceret

sosial. Saat ini, ia belum membuka toko karena keterbatasan waktunya. Dengan menerima pesanan, ia mengatakan, bisa mengatur waktunya bekerja. Walaupun industri rumah tangga, ia tak mau setengahsetengah. Bahkan, bahan baku kue termasuk cokelat yang ia gunakan memakai yang berkualitas tinggi. Tentu saja sangat mempengaruhi harga kue. Semua itu ia lakukan untuk menjaga kualitas. “Saya tetap menekankan kualitas karena tak mau pembeli kecewa. Memang

ada yang bilang mahal, tapi kalau dibandingkan dengan rasanya, tentu sesuai,” katanya. Untuk harga satu biji permen cokelat Rp 3.500. Untuk cake cokelat ada di kisaran Rp 250 ribu. Selain melayani pesanan di Denpasar, ia pernah mengirim permen cokelatnya ke Papua dan Jakarta. Saking sukanya berkreasi, kini Dayu Raka sudah memiliki 100 cetakan cokelat. Memang ia mengakui, untuk permen cokelat, tokoh kartun memang sangat disukai. Ada juga lolypop, sponge bob, jantung hati, dan hello kitty. Yang paling terbaru dari kreasinya adalah pancuran cokelat. “Biasanya digunakan saat pesta pernikahan untuk makanan penutup. Saya sajikan sate buah dan dicucur dengan cokelat leleh. Sensasi pancuran cokelat, begitu saya sebut,” ucap Dayu.

Capcay Kuah Sarwan

Kedai Ceret

Ia menambahkan, dulu ia pernah menghadiri pesta pernikahan di hotel, suvenir untuk tamu saat pulang diberikan cokelat paralin. “Bentuknya juga lucu, pasangan pengantin. Unik juga,” kata Mia. Untuk membelinya, kata Mia, tak sulit. “Banyak yang menyediakan kreasi permen cokelat. Tapi untuk ulang tahun anak, saya sengaja membuat sendiri. Untuk bentuknya saya memang suka yang tokoh kartun, jadi lebih menarik,” ucapnya. Saat ini, memang banyak penjual kreasi cokelat. Salah satunya, Griya Coklat Bali. Menurut Ida Ayu Raka Witriani, pemilik Griya Coklat Bali, justru awalnya dia tertarik berkreasi cokelat karena kesukaannya makan cokelat sejak remaja. Perempuan usia 42 tahun ini mengatakan, sejak tahun 2007 ia mencoba memasarkan lewat teman-temannya.

13

3 sdm : saus raja rasa 3 sdm : saus sambal siap pakai 3 sdm : saus inggris 2 sdm : kecap manis Gula, lada, kaldu bubuk secukupnya

Cara Membuat: - Rendam rebusan ayam dengan daus raja rasa, diamkam selama 10 menit, dinginkan dalam kulkas. Lalu goreng sampai matang kecokelatan, tiriskan. - Tumis bawang bombay dan irisan daun bawang pre hingga harum, masukkan ayam dan saus sambal kecap, saus inggris, aduk-aduk hingga tercampur rata dan tambahkan garam, gula dan kaldu bubuk, aduk-aduk hingga bumbu meresap, angkat. - Siap disajikan dengan taburan bawang putih goreng.


12

Kuliner

Serunya Edisi 842/ 30 Maret - 5 April 2015

Sensasi Pancuran Cokelat Cokelat memang menjadi kesukaaan ba­ nyak orang. Selain disebut sebagai makanan pengusir stres, cokelat juga sangat enak dan digemari tua dan muda. Aneka kreasi dapat dibuat dari cokelat. Mulai dari permen, es krim, puding, dan cake.

Menyantap

Sego Kucing

Ada banyak cara dilakukan untuk menarik konsumen datang berbelanja. Seperti, memasang ceret air di atas dinding sebagai kap (penutup) lampu. Itulah kreasi Kedai Ceret, salah satu warung makan di daerah Panjer, Denpasar. Puluhan ceret air yang bagian bawahnya sudah dilepas, digantung menghiasi lampu-lampu sehingga tampak indah pada malam hari.

B

Lastri sedang membakar ikan

agian dinding kedai juga dipenuhi dengan lukisan bernuansa Jawa, sesuai dengan makanan yang dijual, makanan khas Jawa. Di daerah asalnya, makanan ini disajikan dengan gaya angkringan yakni duduk lesehan, seperti di Solo dan Yogyakarta. Harga makanan juga murah meriah. Biasanya, warung angkringan dibuka pada malam hari dan selalu ramai dikunjungi pembeli. Begitu juga pengunjung di Kedai Ceret, siang dan malam hari.

Bedanya, pembeli dapat memilih duduk santai di bangku-bangku sambil menikmati makanan. Cara makannya juga sangat unik. Pengunjung bisa memilih aneka makanan yang tersaji di atas meja panjang. Ada aneka nasi bakar baik itu nasi bakar teri dan ayam. Ada juga nasi yang dibungkus kertas warna-warni yang disebut sego. Ada sego kucing, sego krecek, sego ayam, sego soun. Biasanya nama nasi bungkus disesuaikan dengan lauk-pauknya, apakah isi ayam, soun, ikan, atau krecek (sejenis lauk

dengan bahan lemak daging sapi). Harganya juga sangat terjangkau hanya Rp 2.500. Memang porsinya kecil, namun cukup mengenyangkan. Jika masih kurang, tentu bisa nambah lagi. Sedangkan nasi bakar dipatok dengan harga Rp 5.000. Jika ingin menambah lauk-pauk, bisa dipilih tersendiri. Ada tempe, tahu, ayam, telur, hati, udang, aneka sate, dan tak ketinggalan aneka sayuran khas Jawa, seperti tumisan, sayur opor, pecel dll. Tak hanya itu, ada juga nasi pecel dan nasi gudeg yang sudah siap dimakan. Camilan juga lengkap, ada pisang goreng, ketela, lumpia, risoles, kerupuk, dan kue khas tradisional. Jika dihitung, sekitar 50 jenis makanan tersedia di Kedai Ceret dengan segala macam variasi, termasuk cara penyajiannya. Lauk-pauk yang kita pilih bisa ditentukan apakah akan digoreng atau dibakar. Setelah membayar di kasir, makanan yang kita pilih akan langsung diproses, mau dibakar atau digoreng. Untuk yang dibakar, akan diolesi bumbu kecap, kemudian dibakar sampai tercium aroma wangi. Bukan hanya lauk-pauknya, nasi bakar yang kita pilih juga dibakar kembali untuk menghangatkan. Dengan sambal khas super pedas

Edisi 842/ 30 Maret - 5 April 2015

Nasi Gudeg

sebagai temannya, semua makanan khas Jawa ini terasa nikmat. Menurut Lastri, salah seorang karyawan di Kedai Ceret, awal mula berdirinya warung makan ini setahun lalu. Walaupun letaknya di pojok, ternyata sambutan konsumen cukup baik. Terbukti tiap hari selalu ramai, apalagi sore dan malam hari. Pembeli tumpah-ruah sampai mengantri. “Harganya terjangkau bagi siapa saja. Karena memang itu konsepnya. Kebanyakan memang mahasiswa, karena sesuai harga kantong,” kata Lastri yang bertugas membakar dan menggoreng laukpauk setelah dipilih pembeli. Untuk minuman, semua jenis wedang tersedia, seperti wedang ronde, wedang jahe, dan wedang lainnya. Justru menurut Lastri, minuman wedang ini paling diincar pembeli. Selain harganya murah meriah, juga sangat enak untuk menghangatkan badan di malam hari.

Salah seorang pembeli setia Kedai Ceret, Ogi, menuturkan, sering nongkrong bersama teman-reman kampusnya di sana. “Biasanya kami membeli nasi bungkus sego ayam dan wedang jahe. Karena porsinya kecil, bisa habis sampai tiga bungkus. Kalau di Bali, sego ayam ini mirip nasi jinggo. Cuma, bungkusnya saja beda,” kata mahasiswa PTS di Denpasar ini. Sementara, menurut konsumen lainnya, Tia, rasa makanannya enak karena ditemani sambal pedas. “Saya paling suka dengan sambal pedasnya. Kalau gak pakai sambal, kurang seru,” tuturnya. Dengan konsep yang beda, Kedai Ceret mampu menyedot pengunjung untuk datang kembali. Beberapa pembeli sebagian besar menjadi pelanggan setianya. “Kelebihannya, harga murah meriah dan enak,” kata Mira, yang mengaku pelanggan setia Kedai Ceret. –Wirati Astiti

D

alam berbagai hajatan, ulang tahun atau pernikahan, cokelat mulai digemari untuk digunakan sebagai suvenir. Seperti dituturkan Mia, salah seorang ibu rumah tangga di Denpasar. Dalam pesta perayaan ulang tahun anaknya ke-10, ia memberikan suguhan para tamu yang sebagian besar anak-anak ini, aneka kreasi permen cokelat. “Untuk pesta ulang tahun anak-anak, permen cokelat cocok dijadikan snack pembuka waktu tamu baru datang,” kata ibu satu anak ini.

Praline

Pancuran cokelat

“Awalnya sih hanya untuk acara di rumah,” kata perempuan yang sehari-hari bekerja sebagai desainer interior ini. Bahkan, pesanan cokelatnya hanya untuk mengisi waktu luang sepulang bekerja. Aneka kreasi cokelat yang ia buat, semuanya otodidak alias belajar sendiri. Memang ia mengakui, awalnya mencoba beberapa resep. Namun, setelah dipraktikkan sering tak berhasil. Akhirnya, ia berkreasi sendiri melalui berbagai percobaan sampai akhirnya berani menerima pesanan. Selain permen cokelat, Dayu Raka mulai memasarkan aneka cake cokelat termasuk puding. Bahkan, apapun permintaan konsumen ia coba layani. Ia hanya melakukan promosi dari mulut ke mulut dan media

Rica-rica Iga

Bahan: 750 gr : iga, potong menurut selera, bersihkan 1 buah : bawang bombay, cincang halus 7 buah : bawang merah, cincang halus 3 siung : bawang putih, cincang halus 3 buah : cabe merah besar, cincang halus 12 buah : cabe rawit, cincang halus 3 lembar : daun jeruk 2 batang : serai, memarkan 4 sdm : kecap manis 2 sdm : saus tiram atau teriyaki 1 sdt : lada bubuk 1000 ml : air Gula, garam, penyedap rasa secukupnya.

berubah warna, masukkan kecap manis, saus tiram serta semua bumbu lainnya, lalu masukkan air, aduk-aduk hingga tercampur, ungkep hingga iga matang dan lunak serta bumbu meresap dan air agak mengental - Siap untuk disajikan dan taburkan bawang putih goreng di atasnya.

–Wirati Astiti

Cake cokelat

Ayam Saus Inggris Bahan: 750 gr : ayam, potong menurut selera, rebus selama 10 menit, tiriskan 1 buah : bawang bombay, potong korek api 1 batang : daun bawang pre, iris korek api

Bahan: 50 gr : jamur kuping, bersihkan, iris menurut selera 100 gr : kembang kol, potong perkuntum 70 gr : sawi putih, potong menurut selera 1 buah : wortel, potong menurut selera 150 gr : ayam fille, potong dadu 2 buah : sosis rasa ayam, potong bulat 1 buah : bawang bombay, potong dadu 3 siung : bawang putih, cincang halus 2 ruas : jari jahe, memarkan 1 sdm : lada bubuk 300 ml : air 2 sdm : saus tiram 3 sdm : saus raja rasa 1 sdm : minyak wijen 1 buah : bawang prei, potong serong Gula, garam, kaldu bubuk secukupnya. Cara Membuat: - Panaskan teflon, masukkan irisan bawang bombay, bawang putih. irisan bawang pre, tumis hingga harum. Masukkan ayam, aduk-aduk hingga berubah warna, masukkan wortel dan jamur kuping, aduk-aduk hingga layu, lalu masukkan air, masak hingga mendidih, lalu masukkan sawi putih dan bahan-bahan lainnya, masak hingga matang, angkat. - Siap disajikan, taburi dengan bawang putih goreng.

Cara Membuat: - Tumis bawang bombay, bawang merah, cabe rawit, daun jeruk, serai, jahe hingga harum, lalu masukkan iga, aduk merata, tumis hingga

Aneka makanan di Kedai Ceret

sosial. Saat ini, ia belum membuka toko karena keterbatasan waktunya. Dengan menerima pesanan, ia mengatakan, bisa mengatur waktunya bekerja. Walaupun industri rumah tangga, ia tak mau setengahsetengah. Bahkan, bahan baku kue termasuk cokelat yang ia gunakan memakai yang berkualitas tinggi. Tentu saja sangat mempengaruhi harga kue. Semua itu ia lakukan untuk menjaga kualitas. “Saya tetap menekankan kualitas karena tak mau pembeli kecewa. Memang

ada yang bilang mahal, tapi kalau dibandingkan dengan rasanya, tentu sesuai,” katanya. Untuk harga satu biji permen cokelat Rp 3.500. Untuk cake cokelat ada di kisaran Rp 250 ribu. Selain melayani pesanan di Denpasar, ia pernah mengirim permen cokelatnya ke Papua dan Jakarta. Saking sukanya berkreasi, kini Dayu Raka sudah memiliki 100 cetakan cokelat. Memang ia mengakui, untuk permen cokelat, tokoh kartun memang sangat disukai. Ada juga lolypop, sponge bob, jantung hati, dan hello kitty. Yang paling terbaru dari kreasinya adalah pancuran cokelat. “Biasanya digunakan saat pesta pernikahan untuk makanan penutup. Saya sajikan sate buah dan dicucur dengan cokelat leleh. Sensasi pancuran cokelat, begitu saya sebut,” ucap Dayu.

Capcay Kuah Sarwan

Kedai Ceret

Ia menambahkan, dulu ia pernah menghadiri pesta pernikahan di hotel, suvenir untuk tamu saat pulang diberikan cokelat paralin. “Bentuknya juga lucu, pasangan pengantin. Unik juga,” kata Mia. Untuk membelinya, kata Mia, tak sulit. “Banyak yang menyediakan kreasi permen cokelat. Tapi untuk ulang tahun anak, saya sengaja membuat sendiri. Untuk bentuknya saya memang suka yang tokoh kartun, jadi lebih menarik,” ucapnya. Saat ini, memang banyak penjual kreasi cokelat. Salah satunya, Griya Coklat Bali. Menurut Ida Ayu Raka Witriani, pemilik Griya Coklat Bali, justru awalnya dia tertarik berkreasi cokelat karena kesukaannya makan cokelat sejak remaja. Perempuan usia 42 tahun ini mengatakan, sejak tahun 2007 ia mencoba memasarkan lewat teman-temannya.

13

3 sdm : saus raja rasa 3 sdm : saus sambal siap pakai 3 sdm : saus inggris 2 sdm : kecap manis Gula, lada, kaldu bubuk secukupnya

Cara Membuat: - Rendam rebusan ayam dengan daus raja rasa, diamkam selama 10 menit, dinginkan dalam kulkas. Lalu goreng sampai matang kecokelatan, tiriskan. - Tumis bawang bombay dan irisan daun bawang pre hingga harum, masukkan ayam dan saus sambal kecap, saus inggris, aduk-aduk hingga tercampur rata dan tambahkan garam, gula dan kaldu bubuk, aduk-aduk hingga bumbu meresap, angkat. - Siap disajikan dengan taburan bawang putih goreng.


14

S

Edisi 842/ 30 maret - 5 april 2015

Rai Sariani

elama ini pula, untuk mengatasinya, sebagian besar dari kita lebih banyak mencari solusi dengan memilihan sampo yang akan digunakan. Padahal, masalah rambut juga dapat diakibatkan kesalahan saat mencuci rambut atau keramas. Demikian disampaikan Rai Sariani pemilik Spa Supplier Gaya Warna di kawasan Kerobokan. Dikatakannya keramas memang hal yang terlihat sepele. Namun, harus dilakukan dengan cara yang benar. Kalau tidak, rambut malah bertambah kusam dan rusak. “Cara keramas akan memengaruhi keindahan rambut. Dengan keramas yang benar tekstur rambut menjadi lebih lembut, rambut tidak mudah rontok dan pastinya kulit kepala pun sehat,” tuturnya. Lantas bagaimana sesungguhnya cara keramas yang benar dan baik? Untuk ini, Rai pun menyampaikan beberapa poin penting yang harus kita perhatikan ketika keramas. Pertama, seluruh rambut sebaiknya dibasahi secara merata. “Ini tujuannya agar fungsi sampo bisa maksimal. Ingat juga untuk merapikan rambut atau menyisir sebelum membasahinya. Kalau disisirnya saat rambut basah, rambut akan lebih rapuh, mudah patah, dan rontoh. Menjadi semakin parah seandainya rambut masih kusut langsung kita basahi,” urainya. Menggunakan sampo juga tidak perlu berlebihan, tapi secukupnya. Tuangkan sampo ditelapak tangan campur dengan air sedikit, dan usapkan secara merata pada rambut. Gosok dan pijat dengan ringan, agar sampo bisa merata diseluruh kepala. Teknik pijatan, kata Rai juga berfungsi menjadi stimulus untuk melancarkan peredaran darah pada kulit kepala. “Pijatan ringan ini pun merupakan bagian terpenting yang sering diabaikan. Sebab seringkali kita konsentrasi hanya pada helai rambut saja. Termasuk saat membersihkan, lakukan gosokan dengan ujung jari, bukan dengan kuku yang justru akan merusak kulit kepala,”ujarnya. Perhatikan pula sampo yang digunakan, semestinya sudah dipilih sesuai jenis rambut. Tidak perlu terlalu sering mengganti sampo. “Saat mencuci rambut busa sampo mesti cukup. Karena beberapa pakar rambut pernah mengatakan busa menciptakan semacam vakum yang dapat mengisap semua kotoran dari kepala,” lanjutnya. Rai juga menekankan kembali kalau yang perlu diolesi sampo hanyalah kulit kepala dan rambut bagian atas. Setelahnhya biarkan mengalir sampai ke ujung rambut.

Keramas bukan Hal Sepele Selama ini masih banyak orang beranggapan kalau rambut yang kusam, sulit diatur maupun berketombe diakibat­kan debu, paparan sinar matahari atau kondisi cuaca yang tidak menentu.

Setelahnya dibilas dengan bersih. Lanjutkan dengan kondisioner yang diusapkan tidak sampai kulit kepala, melainkan hanya pada helai rambutnya saja. “Jika kondisioner dioleskan sampia ke kulit kepala, akan menjadikan akar rambut lebih berminyak serta mudah memicu munculnya ketombe. Diamkan beberapa saat , kemudian dibilas menggunakan air dingin untuk menutup kembali folikel rambut,” ucapnya. Rai juga mengatakan kondisioner ini sangat berguna untuk melembutkan dan melembabkan setiap helai rambut. “ Setelah selesai keramas maka segera bilas dengan air bersih seluruh bagian rambut dan juga kulit kepala sampai benar-benar bersih,” tandasnya. Jika usai membilas pada bagian tertentu terasa sedikit licin kalau dipegang, ini menandakan masih ada sisa sampo yang belum bersih. Sampo yang masih tertinggal pada kulit kepala ini bisa menyebabkan dan berpotensi besar menjadi penyebab munculnya ketombe. Jadi proses pembilasan itu juga tidak kalah pentingnya dan sangat menentukan hasil keramas yang baik. Setelah bersih dipastikan rambut pun terasa, sehat,indah, lebih tebal dan lebih bersinar. Langkah terakhir adalah mengeringkan rambut. Jika menggunakan handuk, cukup dengan di bungkus dan bukan digosokgosokan ke rambut, agar kutikulanya tidak rusak . Pakailah sisir bergigi jarang untuk merapikan rambut yang masih basah. Jangan menarik rambut dengan sisir sebab dalam keadaan lembab rambut mudah patah. KERAMAS TIGA KALI SEMINGGU Ditanya mengenai perbedan keramas dengan air angat dan air dingin, Rai menyampaikan kalau dengan air hangat baik untuk pemilik rambut berminyak. Ini dapat membuka pori-pori di kulit kepala serta membersihkan sisa-sisa kotoran pada kulit kepala. Namun, tidak perlu sering-sering, agar rambut tidak menjadi kering dan mudah patah. Sebaliknya, air dingin kata Rai akan menutup pori-pori kulit kepala sehingga mencegah masuknya

kotoran. Termasuk, menutup kutikula rambut dan menyerap kelembaban dari kondisioner yang diusapkan, dan rambut pun semakin halus dan tidak mudah kusut. Diingatkan bagi yang memiliki rambut tipis, atau mereka yang banyak berkegiatan di daerah kering, air dingin dapat membuat rambut lepek dan tidak mengembang. Sementara bicara soal keramas setiap hari, katanya boleh. Namun, tidak semua rambut perlu keramas tiap hari. “Jika seseorang rutin berolahraga setiap hari, maka keramas setiap hari adalah kewajiban. Tapi, bagi yang rambutnya berjenis kering, atau keriting dan tebal mengembang, keramas cukup dua hari sekali.Keramas setiap hari akan membuat rambut kehilangan manfaat minyak rambut alamiah yang dikenal dengan nama “sebum”. Keramas terlalu sering juga akan merusak rambut. Kebiasaan orang mencuci rambut terlalu sering, lanjutnya mungkin disebabkan seringnya menyaksikan berbagai iklan sampo di televisi. “Memang sangat menggoda. Menggunalkan model cantik dengan rambutnya yang indah, hampir sebagian besar menayangkan jika keramas setiap hari itu tidak masalah. Padfahal; belum tentu tepat untuk semua orang. Kita mesti cerdas menyikapi,”ujarnya. Begitu juga dengan anggapan kalau saat keramas saat mengoleskan sampo diulang dua kali sekaligus, menjadikan

rambut lebih bersih hanyalah mitos belaka. Menurut Rai , pemakaian sampo secara berlebihan justru dapat mengurangi kelembaban alami rambut. “Lakukan keramas tidak lebih dari 2 atau 3 kali setiap minggunya. Orang dengan rambut ikal dan keriting bahkan boleh keramas lebih jarang dibanding orang berambut lurus. Pemakaian vitamin rambut dan tonik juga dianjurkan sesua dengan jenis rambut,”tandasnya. –Sri Ardhini

Mitos

Edisi 842/ 30 maret - 5 april 2015

Haruskah Minum Antibiotik? Saat ini, antibiotik telah dikenal luas oleh masyarakat sebagai salah satu obat terpenting dari setiap penyakit yang mereka alami. Namun, apa­kah setiap penyakit bisa diobati dengan antibiotik? Apakah boleh menyimpan antibiotik di rumah sebagai cadangan untuk pengobatan?

“P

emberiaan antibiotik sebagai sebuah pengobatan haruslah rasional sesuai dengan jenis penyakitnya,” ujar dr. A.A. Ngr. Gd. Dharmayuda. Kepala Puskesmas I Denpasar Selatan ini menjelaskan, sesuai Permenkes Nomor 2406 tentang Pedoman Umum Penggunaan Antibiotik, disebutkan bahwa sekitar 40-62% antibiotik digunakan secara tidak tepat seperti untuk penyakit yang tidak memerlukan antibiotik. Ditemukan pula bahwa penggunaan antibiotik di berbagai rumah sakit, 30-80% tidak didasarkan pada indikasi. Karena itu, sangat penting bagi masyarakat untuk memahami tentang penggunaan antibiotik yang tepat. Berikut penegasan dr. A.A. Ngr. Gd. Dharmayuda atas beberapa mitos terkait penggunaan antibiotik. Mitos: Antibiotik obat segala penyakit Fakta: Antibiotik merupakan obat yang diperuntukkan mengobati penyakit infeksi yang disebabkan oleh bakteri. Karena itu, apabila jenis penyakit tertentu yang disebabkan oleh bukan bakteri, baik oleh virus ataupun jamur, tentunya antibiotik sangatlah tidak bermanfaat. Justru pemberiaan antibiotik pada kasus seperti itu akan berdampak negatif pada pasien bersangkutan. Pemberian antibiotik pada perempuan secara tidak rasional justru bisa menimbulkan masalah lain seperti munculnya keputihan. Hal ini dikarenakan pemberian antibiotik yang tidak tepat indikasi akan menurunkan daya tahan tubuh pasien yang akhirnya membuat jamur akan berkembang dengan cepat, kemudian muncul rasa gatal-gatal dan keputihan pada perempuan. Sehingga

antibiotik tidak bisa untuk segala jenis penyakit, harus tepat indikasi agar pengobatannya menjadi rasional. Mitos: Antibiotik efektif sembuhkan flu Fakta: Flu merupakan penyakit yang disebabkan oleh virus sehingga pengobatan yang efektif justru bukan dengan antibiotik. Antibiotik hanya diperuntukkan pada penyakit yang disebabkan oleh bakteri. Pada flu, antibiotik sangat tidak diperlukan kecuali adanya infeksi sekunder lain yang serius. Pemberian antibiotik justru akan menimbulkan risiko lain seperti alergi. Selain itu pula, pemberian antibiotik yang tidak diperlukan akan justru memicu pertumbuhan dari jenis bakteri tertentu yang akhirnya bisa menyebabkan timbulnya kekebalan (resistensi) kuman terhadap antibiotik. Hal ini pastinya akan sangat merugikan bagi tubuh manusia. Hal utama yang harus dilakukan adalah dengan melakukan pencegahan terhadap virus influenza. Dengan menjaga daya tahan tubuh tetap optimal merupakan kunci pokok dalam pencegahan yaitu dengan menerapkan pola hidup sehat. Selain itu, dengan pemberian kekebalan dari luar tubuh berupa vaksinasi virus influenza dinilai cukup efektif di dalam upaya pencegahan. Mitos: Antibiotik menimbulkan efek samping Fakta: Hampir semua jenis obat termasuk antibiotik memiliki efek samping. Namun, apabila pemberian antibiotik tersebut dilakukan secara rasional, yaitu tepat indikasi, tepat dosis, serta tepat cara dan lama pemberiannya, sudah tentu efek samping tersebut tidak akan muncul. Karena itu, pemberian antibiotik tersebut harus sesuai dengan petunjuk dari dokter. Kesalahan

Kirim surat Anda ke Redaksi Tokoh dan cantumkan “Sex Edu” di ­amplop. Bisa juga dikirim ke redaksi@tokoh. co.id. Rubrik ini diasuh Asosiasi ­Seksologi Indonesia (ASI) Denpasar.

Kondom lebih Baik “Dok, saat ini aku dan suamiku sepakat menunda kehamilan. Kami sepakat untuk menggunakan kondom, tetapi kok jadinya malah tidak bisa menikmati hubungan seksual. Tidak menyenangkan rasanya. Apa ada tips buat menggunakan kondom agar bisa menyenangkan?” (Disa, 26 th) Jangan salah, justru saat ini kondom makin banyak yang menggunakannya demi mendapatkan kenikmatan seksual, dan bukan lagi sesuatu yang masih banyak bilang tidak menyenangkan. Kondom yang beredar seka-

rang sudah jauh berkembang bagus untuk kepentingan rekreasi dan pencapaian kepuasan seksual dibanding dua dekade lalu. Tinggal sekarang bagaimana mengubah mind set untuk “percaya” bahwa kondom bisa menyenangkan.

sering dilakukan oleh masyarakat dengan membeli antibiotik sembarangan sehingga menjadi tidak rasional yang berakibat terhadap munculnya efek samping dari antibiotik tersebut. Beberapa efek samping yang sering muncul adalah gangguan pencernaan seperti mual, perut kembung, kram, sampai diare. Efek samping yang sering juga muncul yaitu reaksi alergi, yaitu sebuah reaksi obat dengan melibatkan sistem imun pasien dengan tidak tergantung pada besarnya dosis obat. Gejala yang ditimbulkan seperti rasa gatal seluruh tubuh, pembengkakan pada kelopak mata, dan sampai pembengkakan saluran nafas (laring) yang harus memerlukan tindakan gawat darurat. Mitos: Dalam satu kali dosis obat/resep dokter, antibiotik harus dihabiskan walaupun sudah sembuh Fakta: Antibiotik harus diminum sesuai dengan anjuran dokter yaitu diminum sampai habis sesuai dengan jumlah yang telah tertulis di resep. Hal itu dilakukan oleh dokter sesuai dengan dosis efektif dari antibiotik untuk mencapai kadar maksimal dalam menghambat/ membunuh bakteri. Jadi, adalah sebuah kesala-

Coba simak tips ini. Otak Anda adalah Kunci Utama. Organ seks utama bukan kelamin, tetapi otak. Saat otak Anda bilang bahwa hubungan seks yang akan Anda lakukan bakal memuaskan, maka tubuh pun akan merespons perintah otak itu semaksimal mungkin. Saat otak menyimpan informasi bahwa kondom itu bau, membatasi dan tidak menyenangkan, maka tubuh juga merespons perintah itu. Ibarat mencoba kendaraan bertipe matik pertama kali, akan susah di awal, tetapi saat sudah hafal, tentu akan makin menikmati. Demikian juga penggunaan kondom, yakinlah bahwa menggunakan kondom dengan pelumas yang lembut dan rasa kondom yang memikat akan menjadi sebuah pengalaman erotisme yang lebih dari sekedar menyenangkan. Kondom lebih Baik. Ingat, satu-satunya kontrasepsi yang fungsinya bisa mencegah kehamilan dan mencegah infeksi menular seksual, hanya kondom. Sedangkan kontrasepsi lain hanya bisa mencegah dari kehamilan saja. Sebagian besar orang masih lebih memilih pil KB dan suntik KB

11

han apabila antibiotik tersebut tidak diminum sampai habis walaupun pasien sudah merasa sembuh. Hal ini berakibat bakteri akan menjadi kebal dan muncul kondisi yang dikenal dengan resistensi yang akan sangat merugikan diri kita. Mitos: Menyediakan cadangan antibiotik di rumah untuk pengobatan adalah tindakan tepat Fakta: Pemahaman masyarakat tentang pemakaian antibiotik harus terus ditingkatkan. Antibiotik yang diminum harus sesuai dengan petunjuk dokter. Tidak boleh sembarangan minum antibiotik apalagi sampai menyimpan antibiotik di rumah untuk jaga-jaga apabila menderita sakit tertentu bisa langsung diminum agar lekas sembuh. Kesalahan terkait situasi tersebut akan berakibat fatal. Resistensi dan reaksi efek samping akan mengancam masyarakat apabila masih memiliki paradigma demikian. Banyak kasus yang justru hanya cukup diatasi dengan istirahat, m i num a i r hangat, dan

bahkan hanya dibantu dengan kompres air hangat saja tanpa harus minum antibiotik. Karena itu, diharuskan untuk selalu berkonsultasi dengan dokter untuk mendapatkan pengobatan sesuai indikasi medis. Dokter yang berpraktik di Kesiman, Denpasar yang juga Sekretaris IDI Kota Denpasar ini menjelaskan, antibiotik merupakan segolongan senyawa/zat yang dihasilkan secara alami (dari bakteri, terutama jamur) maupun secara sintetis, yang dapat menghambat pertumbuhan bakteri (aktifitas bakteriostatik) atau dapat membasmi bakteri jenis lain (aktivitas bakterisid). Antibiotik memiliki sifat toksisitas selektif setinggi mungkin, artinya antibiotik tersebut haruslah sangat toksis terhadap bakteri, tetapi relatif tidak toksis terhadap orang yang mengonsumsinya (hospes). Sifat bakteriostatik dari bakteri sangat dipengaruhi pula oleh daya tahan tubuh kita. Selain itu, efektifitas dari suatu antibiotik dipengaruhi pula oleh lamanya kontak antara antibiotik dengan bakteri untuk mencapai sebuah kadar efektif sampai munculnya efek. Antibiotik dibedakan berdasarkan mekanisme kerjanya, yaitu ada antibiotik yang mengganggu metabolisme sel bakteri, yang menghambat sistesis dinding bakteri, yang mengganggu permeabilitas membran sel bakteri, yang menghambat sintesis protein sel bakteri, dan yang menghambat sistesis atau merusak asam nukleat sel bakteri. –Inten Indrawati

sebagai pilihan kontrasepsi. Padahal keduanya mengandung hormon, dan memiliki efek yang kurang menguntungkan pada libido atau dorongan seksual perempuan. Belum lagi jika ternyata ada efek individual yang mungkin muncul seperti rasa kembung, flek perdarahan di luar waktu menstruasi, nyeri payudara, berat badan meningkat dan terkadang mood menjadi buruk pada perempuan. Pada kondom, hal ini tidak bakal terjadi. Lebih Dinikmati. Banyak laki-laki dan pasangannya merasa bahwa dengan menggunakan kondom, durasi hubungan seksual akan menjadi lebih lama dan bisa dinikmati, sehingga orgasme akan bisa tercapai bersamaan. Banyak perempuan yang selama ini tidak bisa mendapatkan orgasme malah jadinya mendapatkan orgasme ketika pasangan laki-lakinya menggunakan kondom. Orgasme yang didapatkan pun lebih baik lagi dari sebelumnya. Jangan lupa, pelumas yang ada pada kondom justru akan banyak membantu penetrasi penis ke vagina sejak babak awal hubungan seksual. Jadi, tidak ada alasan untuk tidak dinikmati.

Jenisnya Banyak dan Semuanya Menarik. Bila Anda merasa kondom itu tidak enak, berarti Anda belum pernah bertualang dengan berbagai macam jenis kondom yang ada saat ini. Yang paling banyak disukai adalah yang “flavoured condom” dengan berbagai rasa seperti coklat, kopi, stroberi, mint, vanila dan banyak lagi. Berikutnya adalah “super thin condom” yang ketika memakainya Anda berasa tidak seperti sedang memakai kondom tetapi tetap efektif untuk mencegah kehamilan dan infeksi menular seksual. Lalu ada “dotted condom” yang mendatangkan kesenangan berlipat ganda dengan adanya tekstur benjolan-benjolan kecil yang menguntungkan baik untuk Anda atau pasangan. Tentu saja akhirnya berbagai macam jenis ini akan menambah pilihan dan variasi yang menarik untuk menikmati hubungan seksual dan mengatasi kejenuhan kehidupan seksual Anda. So, tunggu apalagi. Mulai sekarang jadikanlah kondom sebagai sebuah kelengkapan Anda buat menikmati hubungan seksual yang menyenangkan.


10

Bugar

Edisi 842/ 30 Maret - 5 April 2015

Gunakan Headset Maksimal Dua Jam Makin berkembangnya teknologi, tidak hanya memberikan dampak positif. Namun, terka­ dang teknologi juga memiliki dampak buruk bagi kesehatan. Salah satunya adalah penggu­ naan headset yang terlalu sering.

dr. Sari Wulan D., Sp. THT-KL

H

eadset memanglah menjadi pilihan yang sangat praktis bagi pemakainya. Bagi Anda yang sulit tidur mungkin ini akan membantu Anda karena penggunaan headset akan membuat mengantuk. Namun, tahukah Anda, penggunaan headset yang terlalu sering dapat memberikan dampak negatif untuk setiap pemakainya. Menurut dokter ahli THT RS Sanglah, dr. Sari Wulan D., Sp. THTKL., kalau melihat pada struktur telinga, daun telinga sudah memiliki fungsi untuk memilah dan menyar­ ing suara yang masuk, agar tidak menimbulkan kebisingan. “Headset langsung menyentuh liang telinga sehingga suara yang masuk fokus. Jika ini dilakukan setiap hari dan sembari tiduran, lama-kelamaan sensor saraf akan terganggu,” jelas Bendahara Persatuan Dokter THT Indonesia (Perhati) Cabang Bali Nusra ini. Dokter yang bertugas di Sub Divisi Rinologi/Alergi Imonologi THT-KL RS Sanglah ini menyatakan, paparan musik headset dapat mem­ pengaruhi ambang pendengaran manusia, terutama bila dilakukan dengan volume keras dan dalam jangka waktu lama. Secara perla­ han efek ini akan mengarah pada gangguan pendengaran secara permanen. Gangguan ini memang tidak tampak dalam keseharian, namun, ketika gangguan sudah mencapai level percakapan, mulai mengeluh, “ kok saya kurang mendengar atau agak bongol”. Memang ia mengakui, dampak ini tak langsung terjadi. “Proses ini akan terasa 5 sampai 10 tahun lagi. Kalau saat anak-anak sudah terbiasa memakai headset dalam

Seksi tetap Berkarakter

Edisi 842/ 30 Maret - 5 April 2015

Satu lagi Desainer Kota Denpasar yang tampil sukses pada ajang “Indonesia ­Fashion Week 2015” di Jakarta Covention Centre ­beberapa waktu lalu. Dia adalah Katrin Suthajaya yang dengan eloknya menggunakan tenun endek dalam kreasinya bertemakan “Fearless Beauty”.

jangka waktu yang lama mungkin usia 20 tahun sudah muncul gang­ guan,” ucapnya. Ketika gangguan sudah menca­ pai level percakapan, ia menyata­ kan, agak sulit diperbaiki dan ke­ mungkinan akan terjadi kerusakan permanen. RUMAH SIPUT Ia menyarankan, sebaiknya menggunakan headset ini sesuai kebutuhan saja, jangan berlebihan. Mengenai tingkat suara, sebaiknya berada pada kisaran di bawah 85 desibel. Batas waktu seorang men­ dengarkan musik seharusnya hanya 80 desibel atau setara dengan vol­ ume musik 60 persen. Durasi pe­ makaiannya pun maksimal dua jam. Selain itu, minimal tiap satu jam headset dilepas. Itu dimaksudkan untuk mencegah kerusakan pada rumah siput. ”Kalau rumah siput (koklea) lelah, pendengaran bisa rusak permanen,” kata dr. Wulan. Suara yang ada di luar headset seperti suara mesin mobil, disel atau pemotong rumput juga bisa berpengaruh pada pendengaran ma­ nusia. Selain itu, mem­ bawa bayi atau anakanak ke dalam mal yang bising sebaiknya juga dikurangi. Batas waktu setengah jam, sebai­ knya segera keluar dari kebisingan tersebut. Beberapa cara un­ tuk mengurangi kerusa­ kan pendengaran ada­ lah dengan mengurangi volume suara dan men­ gurangi waktu untuk mendengarkan dengan headset. Namun, ser­ ingkali juga orang-orang menggunakan headset pada tempat-tempat yang ramai seperti sta­ siun kereta, terminal bus ,dsb. Jadinya, tanpa sadar cenderung men­ ingkatkan volume headset lebih keras lagi. Ia menyarankan, untuk mengurangi efek samping sebaiknya menggunakan speaker phone yang besar sehingga suara lebih terdistribusi dan lebih menutup suara bising

Style

U

blog.serbabayar.com

dari luar dibandingkan headset yang kecil. Tipe headset yang kecil mem­ punyai speaker kecil dengan volume

besar yang diletakkan di lubang telinga sudah pasti memberikan efek lebih besar pada pendengaran

dibandingkan dengan speakerphone yang hanya ditempel pada telinga luar. –Wirati Astiti

ntuk koleksinya yang dinamis, et­ nik dan modern ini hadir dalam casual dress, cocktail dress, mau­ pun evening gown berhasil digarap dengan bahan endek bermotif khusus yang dikombinasikan jun­ taian kain chiffon dilengkapi palet keemasan, brokat, dan tile. Melalui tema yang diusung, Katrin ingin menunjukkan karak­ ter perempuan yang tangguh dan selalu menjunjung adat tradisional tetapi tetap mengikuti perkem­

bangan zaman yang semakin modern. Sebagai aksen kreasinya ia mengaplikasikan payet dan bordir di beberapa bagian serta aksen sheer yang terlihat trans­ paran. Kemudian dengan meng­ aplikasikan cut out pada bagian pinggang menjadikan model yang dominan bersiluet lurus ini pun berkesan sexy dan powerful. Semakin indah dengan de­ngan pilih­a n warna gold, bronze, ­e merald green, cokelat muda, dan hitam. –Sri Ardhini

Katrin Suthajaya

15


16

Edukasi

Edisi 842/ 30 maret - 5 april 2015

Yoga untuk Keseimbangan dan Konsentrasi Siswa

G

2 % dan sisanya masih bercanda, maka dari itu saya hanya memberikan peregangan saja dulu,” ujar pria kelahiran Bangli, 10 Juni 1987 ini Untuk gerakan anak kelas 6 ada gerakan berdiri, duduk , berbaring dan tengkurap, dan khusus gerakan terbalik mesti ada pengawasan khusus ketika berlatih. Sebagaian besar gerakan yoga berkaitan dengan keseimbangan dan konsentrasi serta meningkatkan kemampuan otak kiri dan kanan. “Mereka juga dilatih meditasi untuk membentuk mental dan moral anak didik lebih disiplin,” penggemar kegiatan membaca, refreshing, dan yoga ini.

Produk Lokal Gaya Internasional

Gerai Sepatu Merek JK di Cibaduyut

Jika kebetulan jalan-jalan ke Bandung cobalah sempatkan mampir ke salah satu tempat wisata belanja yang bernama Cibaduyut. Meski begitu mendengar Cibaduyut, yang terbayang adalah sepatu. Namun, di tempat wisata ini kita bisa mendapatkan berbagai produk kerajinan kulit lainnya. Ciri khas berupa dua patung sepatu perempuan dan laki-laki yang kokoh dan

berukuran besar terpajang jelas di perempatan Jalan Leuwi Panjang-Cibaduyut. Patung sepatu ini dapat dikatakan sebagai pintu gerbang atau penanda kalau kita benar menuju kawasan Jalan Cibaduyut. Daerah wisata ini terletak di Bandung bagian Selatan, sekitar 15 menit jika dari arah Alun-alun Bandung. Banyak cara untuk menuju ke Cibaduyut, tapi kalau kita ingin hemat cukup dengan naik angkot.

M

enjadi pengusaha sukses khususnya di bidang gadget (handphone) mudah diwujudkan. Saat ini sudah ada figur yang bakal membawa mimpi Anda menjadi kenyataan. Ini bukan sebuah janji atau omong kosong. Anda hanya diminta untuk fokus dan yakin dengan niat Anda dan Komang Merta Jiwa, SE adalah figur yang akan ‘mengawal’ Anda. Pak Komang Loto sapaan akrab pemilik Bali Barong (outlet gadget terlengkap di Bali) ini, siap membuka diri untuk siapa pun yang ingin menjadi pengusaha sukses. Pengusaha lokal ini memiliki jiwa entrepreneur besar. Kemampuannya mengelola 6 outlet gadget yang tersebar di beberapa daerah di Bali, menjadi alasannya untuk berbagi ilmu, kiat dan strategi kepada masyarakat Bali. Jika banyak pengusaha lokal sukses tetapi tidak mau berbagi cara mencapai kesuksesannya itu, menurut sarjana Ekonomi ini bukanlah kriteria pengusaha sukses. “Bagi saya kriteria sukses adalah jika mereka mampu mencetak banyak orang lain menjadi sukses. Maksudnya, janganlah sukses itu menjadi milik sendiri. Berbagilah ilmu dan kiat serta strategi sukses kepada banyak orang karena faktanya, ketika kamu bagi 1 ilmu-mu, maka Tuhan akan memberi kita banyak ilmu baru lagi yang lebih baik,” kata suami dari Nova Anggraini ini. Mengapa lelaki kelahiran Bangli, 26 Mei 1969 ini begitu bersemangat mengajak masyarakat untuk menjadi pengusaha mapan yang sanggup berkompetisi di era pasar global saat ini?. “Karena saya melihat potensi pasar gadget di

Juniartha menambahkan manfaat yoga itu sendiri selain dalam perubahan kelenturan tubuh siswa, melalui yoga anak-anak bisa mendapatkan keseimbangan anatara fisik dan mental serta moral. Tubuh siswa pun sehat, pikiran lebih fokus dan anak lebih tenang sehingga dalam belajar si anak bisa lebih mudah fokus dan menangkap pelajaran dari guru serta meningkatkan kedisiplinan. Ia menilai minat siswa di SD Saraswati 3 sangat bagus. “Banyak anak-anak yang merasa kecewa dan komplin dengan saya jika satu kali saja mereka tidak latihan, bahkan mereka BBM saya menanyakan kenapa tidak latihan. Pernah sekali saya bisa melatih satu kelas dan kelas yang lainnya tidak bisa saya latih karena ada halangan. Ada kakak dan adik yang saling bercerita dengan saudaranya kalau adiknya dilatih yoga sedangkan kakaknya tidak bisa diajar yoga. Saat itulah kakaknya merasa kecewa, kenapa adik saya diajar yoga saya tidak pak?,” ungkap Presiden BEM IHDN Denpasar, periode 2011 – 2012 ini.-Sriadi

Cibaduyut

Pilih yang jurusan Leuwi Panjang. Kalau sudah sampai di terminal , jalan kaki saja ke Cibaduyut, karena jaraknya hanya sekitar 300 meter. Cibaduyut sebagai pusat penjualan sepatu, konon di sebut-sebut terpanjang di dunia, diresmikan pertama kalinya tahun 1989 dan saat ini Cibaduyut tercatat sebagai daerah tujuan wisata di Bandung. Di luas areal kawasan belanja Cibaduyut yang dikatakan orang-orang di sana mencapai 14 kilometer tersebut, tersebar ratusan bahkan mungkin ribuan pengrajin sepatu dan sandal. Sebagian besar hasil produksinya biasa mereka pasarkan langsung di sana. Di sepanjang jalan kita bisa menemukan jejeran toko yang memajang sepatu dan sandal untuk anak-anak hingga orang dewasa. Bahkan beberapa tahun terakhir Cibaduyut semakin menggeliat, karena Wakil Presiden Jusuf Kalla juga ikut mempromosikan sepatu buatan Cibaduyut. Saat ini sepatu yang bermerek JK Collection tersebut mempunyai gerai yang terbesar di Cibaduyut. Makin masuk ke dalam makin banyak lagi toko sepatu yang bisa kita temui. Jika kita mau menelusurinya maka kita pun akan mendapatkan lebih banyak lagi pilihan model sepatu, mulai dari yang

Komang Merta Jiwa, S.E.

Membuka Diri Berbagi Strategi jadi Pengusaha Sukses

Yoga tak hanya menjadi aktivitas orang dewasa. Kini banyak anak-anak yang senang yoga. Bahkan sekolah pun memberikan kegiatan yoga untuk siswa. “Yoga berasal dari bahasa sanskerta yaitu “yuj” yang berarti hubungan. Hubungan yang dimaksud adalah hubungan antara roh yang berpribadi dengan roh yang universal yang tidak berpribadi. Rsi Patanjali mengartikan yoga sebagai cittavrtti nirodha yaitu penghentian geraknya pikiran, dengan yoga sebagai penyelaras antara badan, pikiran, dan jiwa,” ungkap Made G. Juniartha, S.Sos,M.Fil.H uru Yoga di SD Saraswati 3 Denpasar ini menuturkan di tempat ia mengajar, pesertanya siswa kelas 1, 2, 4, 5, dan 6. Dari masing-masing kelas gerakannya tidak sama. Gerakan yoga yang dilatih berdasarkan tingkat kelas yang berbeda. Khusus untuk siswa yang sakit pasti akan ada perbedaan gerakan. “Pada dasarnya anak-anak kelas 1 dan 2 masih terlalu dini untuk diajarkan gerakan yang sulit karena tingkat keseriusan mereka masih minim bisa dikatakan dari 100% tingkat keseriusan mereka hanya

Edisi 842/ 30 maret - 5 april 2015

sederhana dan produk lokal sampai dengan model unik dan bahkan yang sedang menjadi trend di kalangan internasional. Kita pun akan lebih mudah memilih sesuai selera. Diantara toko sepatu tersebut juga terdapat toko-toko yang khusus menyediakan segala jenis bahan dan alat untuk membuat sepatu. Hal menarik lainnya adalah toko di Jalan Cibaduyut bukan hanya menjual sepatu tapi juga menerima pesanan pembuatan sepatu. Beberapa toko sepatu juga menyediakan katalog model sepatu yang bisa dipesan oleh pengunjung. Aden, salah seorang pengrajin sepatu asli Cibaduyut, mengaku memperoleh kebisaan membuat sepatu secara turun– temurun. Saat ini pula ia meneruskan usaha sepatu orangtuanya. Selama ini katanya ia menerima pesanan sepatu beragam model hampir dari seluruh Indonesia. Ia juga mengatakan bahwa sepatusepatu yang dijualnya adalah asli buatan tangan yang dikerjakan langsung oleh para pengrajin di rumahnya yang terletak di belakang tokonya. Mengenai harga, sangat bervariasi, mulai dari puluhan ribu saja sampai dengan ratusan ribu rupiah. Itupun masih tergantung bahannya, kulit asli atau sintetis begitu juga

Sebagian sepatu pria buatan Cibaduyut

dengan tingkat kerumitan atau kesulitan pembuatannya. Meski Cibaduyut disebut sebagai pusat sepatu, namun di sana juga dijual beraneka ragam kerajinan lainnya seperti sandal, tas kulit, jaket kulit, dompet hingga ikat pinggang, yang juga di produksi masyarakat setempat. Bagi yang akan berkunjung ke Cibaduyut, jangan sungkan untuk menawar harga, sebab harga di sana bukan harga mati, sekalipun sudah dibandrol. Jika ada waktu, akan lebih baik untuk membandingkan terlebih dahulu ke beberapa toko. Ini untuk memastikan kita memperoleh harga yang terbaik. Jika pintar dan jeli maka kita pun bisa mendapatkan sepatu yang modis dan berkualitas dengan harga terjangkau. Yang perlu menjadi catatan adalah bahwa kawasan Cibaduyut ini lalu lintasnya cukup padat. Kondisi jalan tidak terlalu padat namun jika menggunakan mobil cukup kesulitan parkir. Sedangkan untuk urusan isi perut, tidak perlu khawatir. Jika kelaparan, sebab di sepanjang Jalan Cibaduyut juga banyak terdapat rumah makan serta jajanan khas Bandung, salah satunya adalah Cireng yang biasa dibeli pengujung dan dinikmati sambil jalan-jalan. – Sri Ardhini

Sebagian sepatu wanita buatan Cibaduyut

Bali begitu besar sementara peluang itu dimanfaatkan hanya oleh sebagian kecil pengusaha lokal. Padahal, jika mereka mau, tidaklah sulit mewujudkannya,” ujar ayah empat putra ini. Menurut President Bala Rider (komunitas penyuka motor besar Harley Davidson) ini, yang dibutuhkan seseorang menuju pengusaha top, cukup dengan fokus dan yakin dengan apa yang diniatkan. “Fokus menjalani proses perkembangan usaha dari hulu hingga hilir. Dari proses itulah kita punya kesempatan belajar dan terus mengembangkan diri. Proses menjalani usaha dari kecil menjadi besar, itulah sukses,” jelas mantan pelaku pariwisata MICE ini. Selain fokus, seseorang harus yakin dengan usaha yang dijalaninya itu. Jika tidak yakin atau ragu-ragu, lebih baik ditunda dulu, karena sukses hanya akan dimiliki oleh orang yang fokus dan yakin dalam mengelola usahanya. Modal, ilmu, dan pengalaman hanya sebagian kecil dan bukan penentu dalam memulai usaha. Di sinilah letak kegagalan pada banyak orang. Fakta yang ada, dari 100 pengusaha lokal di Bali, paling banyak 10 orang yang berhasil dan sukses, sisanya gagal,” tambah lelaki yang berkiprah di banyak komunitas kemasyarakatan ini. ‘BALI BARONG BERBAGI’ Perjalanan sukses Komang Merta Jiwa ‘Bali Barong’ inilah yang melatarbelakanginya untuk turut berbagi ilmu, kiat dan strategi berbisnis sukses. Siapa pun yang ingin belajar memulai usaha gadget, dipersilakan menghubunginya. Dirinya akan selalu menyempatkan waktu untuk bertemu bahkan memasilitasinya. Lewat gerakan ‘Bali Barong Berbagi’,

Komang Merta Jiwa ingin merubah pola pikir (mindset) masyarakat untuk segera bangkit dan berusaha. Bagi para sarjana juga diimbau untuk menjadi sarjana yang mampu membuka peluang kerja dan bukan sebaliknya. Menggugah jiwa entrepreneur (wirausaha) di kalangan generasi muda juga dilakukan Komang Merta Jiwa saat menjadi narasumber di beberapa universitas di Bali. “Saya ingin menggugah minat dan mengajak siapapun untuk memulai usaha dan menjadi sukses. Saya siap kapan saja untuk bertemu. Mari bersama-sama mengisi peluang yang ada dan sukses bersama,” ajak lelaki low profile ini. UTAMAKAN SIKAP JUJUR Komang Merta Jiwa mengawali bisnis gadgetnya secara tidak disengaja. Bom Bali I tahun 2002 lalu telah melumpuhkan bisnis pariwisata MICE-nya. Tetapi karena dibesarkan oleh ibu pebisnis dan ayah seorang suci (spiritual tinggi), jiwa wirausahanya kembali bangkit. Tekadnya kuat untuk memulai usaha baru sebagai pengusaha gadget dan pilihannya itu ternyata tepat. Rahasia suksesnya adalah kejujuran. Dirinya sangat yakin kejujuran adalah fondasi yang kokoh untuk kelangsungan bisnisnya. Motonya, berikan apa yang diminta pelanggan sesuai harga yang dibayarkannya. “Jika ada pelanggan minta HP yang original dan dia sudah bayar dengan harga itu, maka berikan sesuai dengan apa yang seharusnya dia dapatkan. Jangan diberikan HP yang tidak original, itu namanya membohongi. Demikian pula saat dia servis HP maka berikan harga yang pantas. Penjual memang harus untung tetapi keuntungan dalam

P

di permukaan prasasti yang menyebutkan “ Pada Tanggal 4 April 1946 Setelah Kembali Dari Tugas Melapor Kepada Pimpinan Negara Republik Indonesia Di Yogya “. Hal ini membuktikan I Gusti Ngurah Rai bersama pasukannya membawa peran penting dalam membawa nama Indonesia setelah kemerdekaan Indonesia 1945. Pentingnya sejarah ini diwujudkan dalam sebuah monumen perahu yang menggambarkan tiga orang berseragam tentara, salah satunya adalah Ngurah Rai saat mereka mempersiapkan diri mendarat di pantai Pekutatan. Keberadaan monumen ini hingga kini masih melekat sebagai ikon pantai Pekutatan. Sebagian warga setempat memberikan nama pantai ini yang lebih lumrah sebagai pantai Pelabuhan. Pantai

tingkat yang wajar saja,” terangnya. Komang Merta Jiwa yakin bahwa dalam bisnis tetap berlaku hukum karma. Siapa yang berbisnis jujur akan menikmati hasilnya, demikian pula sebaliknya. Mental dan sikap yang baik saat menjalankan bisnis akan berdampak dan mengundang banyak manfaat. “Bisnis yang jujur akan mengundang banyak simpati. Banyak simpati otomatis banyak pelanggan. Maka bersikaplah baik dan bermental jujur,” ungkap motivator seniman dan artis lokal Bali ini. Selain kejujuran, Komang Merta Jiwa punya landasan berbisnis yang dipegang teguh yakni Catur Purusa Arta (Darma, Arta, Kama, Moksa). “Bahwa harta (arta) hanyalah alat memenuhi keinginan (kama) untuk berbuat kebaikan (darma) yang pada saat kita moksa (melepas ikatan dengan dunia) nanti, semuanya kita tinggalkan dan kita wariskan kepada anak cucu. Jadi berbisnislah dengan jujur agar kebaikan hidup bisa kita wariskan kepada keturunan kita,” pungkasnya. –ari

Bali Barong adalah outlet gadget pertama milik pengusaha lokal di Bali yang menjalin kemitraan dengan provider terkemuka Telkomsel. Bali Barong adalah One Stop Cellular Shop yang memiliki barang lebih komplit, harga lebih murah dan jaminan garansi terbaik termasuk jaminan purnajual (after sales). Saat ini Bali Barong – Telkomsel menggelar Festival Smartphone berhadiah motor yang berlaku dari 1 Maret – 31 Agustus 2015. Alamat Bali Barong di Jln. WR Supratman No.307 Denpasar, Jln. Tukad Yeh Aya Denpasar, Jln. Raya Sukawati Gianyar, Jln. Raya Seririt Lovina Singaraja dan Jln. Raya Kintamani, Bangli.

Pesona Keindahan Pantai Pekutatan dalam Balutan Sejarah

antai Pekutatan berjarak 25 kilometer ke arah timur dari pusat kota Negara. Kolonel TNI Anumerta I Gusti Ngurah Rai dalam sejarahnya pernah mendarat di sini bersama anak buahnya. Sebagai salah satu bukti yang keberadaannya masih bisa dilihat berupa monumen perahu yang terbuat dari beton. Perahu ini masih kokoh berdiri menghiasi bibir pantai. Monumen berupa patung ini secara rutin dilakukan perbaikan akibat hantaman ombak yang besar. Keberadaannya sebagai daya tarik oleh sejumlah warga setempat serta wisatawan asing yang kebetulan menginap di kawasan ini. Melihat lebih dekat lagi, monumen dalam bentuk perahu ini terdapat tulisan

9

saat air sedang surut. Hijaunya lelumutan yang menempel di permukaan karang ini seolah turut memberikan kesegaran, terasa nyaman saat kaki berpijak di atas bebatuan yang diselingi dengan pasir hitam. Genangan air yang tertampung dalam rongga karang menambah rasa penasaran untuk mengamati lebih dekat lagi. Ikan kecil turut memberikan hiburan saat mereka terperangkap dibalik rongga batu karang ini. Sejauh mata memandang, tanjung yang merupakan bagian dari pulau Jawa menerawang menghiasi bagian selatan dari Samudera Hindia. Pantai Pekuta-

mencari sebuah ketenangan yang berbaur dengan aktivitas warga setempat. Di sekeliling masih nampak pohon kelapa sebagai pohon yang khas di daerah tropis. Kesan alami masih terasa, tak ada petugas keselamatan pantai yang kelihatan berjaga, “ Kebanyakan tamu yang datang ke pantai ini hanya untuk rileks sambil duduk di tepi pantai, “ tambah Rondi. Menjelang tahun baru Caka, tak jauh dari monumen berdiri kerap digunakan sebagai sentral dari kegiatan melasti. Ritual ini dilaksanakan tiga hari sebelum jatuhnya hari raya Nyepi yang rutin dilakukan oleh beberapa desa. Bagian dari pros-

Kabupaten Jembrana merupakan bagian wilayah pulau Bali paling Barat. Sepanjang pantai di Jembrana memiliki teks­ tur pantai berpasir hitam. Kebanyakan bentangan pantai ini digunakan oleh masyarakat setempat sebagai pangkalan nelayan, objek wisata, serta kegiatan upacara keagamaan. Salah satu pantai yang sarat akan jejak nilai sejarah serta unsur nilai kebudayaan di tengah modernisasi pariwisata ada di Pantai Pekutatan. ini setiap sore ramai dikunjungi oleh warga sekitar untuk bersantai serta melepas suasana sore bersama keluarga. Keberadaan sejumlah akomodasi wisata berupa hotel kelas Boutique turut berperan serta mendatangkan wisatawan untuk mengunjungi keindahan pantai Pekutatan, “ Kebanyakan wisatawan yang berkunjung ke pantai ini berasal dari Eropa, “ ucap Rondi Ginawan selaku pengelola hotel setempat. Selain keberadaan sarana akomodasi yang tumbuh sejak tahun 2002, Pantai Pekutatan memiliki panorama andalan selain melihat secara dekat aktivitas para nelayan. Pantai dengan sebagian pasir yang berbatu menambah keindahan lain

tan lebih sering digunakan oleh warga setempat untuk mandi. Terlebih saat hari suci datang, hari Purnama dan Tilem akan ramai dimanfaatkan oleh warga setempat bermandi riang di tepian. Ombak yang tidak beraturan ini tidak ideal sebagai tempat berselancar seperti pantai tetangganya di bagian barat, yakni Pantai Medewi. Pantai Pekutatan justru lebih ideal sebagai tempat bersantai,

esi Nyepi ini pun menambah ketertarikan sejumlah wisatawan yang kebetulan menginap di kawasan pantai Pekutatan. Masyarakat desa yang tumpah ruah dengan berbagai iringan gambelan dan berbagai bentuk pratima ini di upacarai melengkapi kesan spiritual dibalik jejak perjuangan dari pahlawan I Gusti Ngurah Rai di Pantai Pekutatan dalam memperjuangkan kemerdekaan. –Eka


8

Bunda & Ananda

Edisi 842/ 30 Maret - 5 April 2015

Mengajak Anak ke Tempat Kerja?

OFFICE

P

Bunda Yatni

adalah mengajak anak ke tempat kerja. Perhatikan regulasi dan situasi kantor sebelum membawa anak ke tempat kerja. Bila perlu minta izin atasan,” ujar Humas Himpunan Psikologi Indonesia (Himpsi) Bali ini. Bunda Yatni mencontohkan dirinya ketika masih aktif bertugas sebagai perwira TNI dan anaknya tidak ada yang menjaga. Ia mohon izin atasan untuk mengajak anak ke kantor. Karena hari itu ada rapat penting yang harus diikuti, anaknya pun dijaga oleh staf. MENUMBUHKAN EMPATI ANAK Menurutnya, ada beberapa hal yang membuat orangtua membawa anaknya ke tempat kerja. Pertama, karena tidak ada yang menjaga. Situasi ini insidentil, artinya hanya sekali dua kali, bukan seterusnya. Kedua, terpaksa mengajak anak ke tempat kerja karena tidak percaya dengan pengasuh. Bunda Yatni menuturkan temannya pernah mengalami hal ini. “Si anak biasa diasuh pengasuhnya. Karena pengasuhnya mau pacaran, si anak dimasukkan kamar mandi. Suatu ketika, orangtua ini mengecek dan mengetahui anaknya ketakutan di kamar mandi. Sampai sekarang anak itu trauma dengan kamar mandi. Akhirnya si anak diajak ke tempat kerja sampai mendapatkan pengasuh yang baru,” ujar psikolog lulusan Universitas Padjajaran, Bandung ini. Alasan ketiga, alasan insidentil, misalnya anak akan diajak ke dok-

Natural

dengan

17

Sirap, menjadi salah satu alternatif atap untuk rumah tinggal, vila, hotel, gazebo, atau perkantoran. Sirap yang berbahan kayu besi atau sering disebut juga kayu ulin ini merupakan jenis kayu keras yang tahan terhadap cuaca panas (kering) dan dingin (basah). Kayu ulin juga tahan terhadap hama rayap kayu sehingga aman dari kelapukan yang menyebabkan kebocoran. Selain itu, atap sirap ini juga memberikan hawa sejuk bagi ruang di bawahnya.

Bagi orangtua yang sibuk bekerja, urusan anak kadang diserahkan ke pengasuh anak. Namun, jika pengasuh anak berhalangan, orangtua bisa pusing. Salah satu pilihannya adalah mengajak anak ke tempat kerja. Ada hal-hal yang harus diperhatikan jika mengajak anak ke tempat kerja. ter atau rumah sakit. Daripada bolak-balik, ada orangtua yang mampir dulu ke kantor sebelum mengajak anaknya ke dokter atau rumah sakit. “Idealnya, tempat kerja itu memang bukan untuk anak-anak. Kecuali ada hal-hal mendesak seperti tiga alasan tadi. Masih bisa dimaklumi. Perhatikan juga mood anak ketika diajak ke tempat kerja. Jangan sampai anak rewel sehingga membuat suasana menjadi tidak nyaman. Ada rekan kerja yang suka dengan anak kecil dan ada yang tidak suka. Pertimbangkan hal ini sebelum mengajak anak ke tempat kerja,” ujar psikolog yang juga konsultan security ini. Ada yang beranggapan mengajak anak ke tempat kerja itu mempengaruhi kredibilitas dan

Edisi 842/ 30 Maret - 5 April 2015

Atap Sirap

Ini Alasannya

erhatian instansi pemerintah maupun perusahaan swasta terhadap anak sudah mulai meningkat. Kepedulian ini diwujudkan dengan menyiapkan arena bermain dan tempat menyusui di areal perusahaan. Bahkan ada yang menyiapkan tempat penitipan anak (TPA) bagi karyawannya. Asosiasi Perusahaan Sahabat Anak Indonesia (APSAI) dalam salah satu programnya berkaitan dengan kebijakan yang ramah anak mensyaratkan perusahaan tidak boleh mempekerjakan anak (dari usia 0-18 tahun), memberikan fasilitas dan pelayanan bagi karyawati yang hamil karena didalamnya sudah ada janin yang harus dlindungi, menyiapkan fasilitas ruang laktasi bagi karyawati yang sedang menyusui serta menyiapkan tempat bermain atau tempat penitipan anak. Karena karyawan/karyawati adalah aset perusahaan, tentu ini menjadi pertimbangan perusahaan dalam menyiapkan sarana pendukung. Termasuk bagaimana membuat karyawan/karyawati nyaman dan tenang dalam bekerja. “Namun, semua kembali ke regulasi masing-masing perusahaan,” ujar Letkol (Purn) Dra. I Gusti Ayu Wiratni Adriyani, M.M., Psikolog. Perempuan yang akrab disapa Bunda Yatni ini mengatakan prinsip utama bagi pasangan suami istri yang sudah bekerja dan memiliki anak adalah mengurus anak itu kewajiban, berkarier itu pilihan. Didalam mengurus anak dan berkarier tersebut terkandung tanggung jawab yang harus diemban. Ketika akan melakoni keduanya, tentu harus siap dengan konsekuensinya. Atau, ada yang memilih salah satu berhenti bekerja dan fokus untuk mengurus anak sampai anak dipandang cukup mandiri untuk ditinggal bekerja. “Bagi pasangan yang ingin tetap bekerja sembari mengurus anak, dapat mempercayakan perawatan anak kepada pengasuh anak atau dititip di TPA. Semua memiliki konsekuensi juga. Misalnya, ketika pengasuh tidak bisa datang atau ada urusan mendadak, anak dibawa kemana. Salah satu pilihan

Griya

B

Ilustrasi anak ikut ke kantor

disangkutkan dengan profesionalisme. Bagaimana bisa fokus bekerja kalau ada anak yang harus diurus sembari bekerja. Bunda Yatni juga melihat adanya sisi baik bagi anak jika diajak ke tempat kerja orang tuanya. Si anak akan tahu apa pekerjaan orangtua, bagaimana situasi tempat kerja, dan siapa saja rekan kerja orangtuanya. Hal ini akan menambah wawasan si anak, membangun kecerdasan emosional anak, mengajarkan anak bersosialisasi, serta membuat si anak memiliki empati ketika suatu ketika orangtuanya harus mengerjakan tugas mendadak

dari kantor. “Jika harus membawa kanakkanak (usia 2-5 tahun) atau anak (usia 6-12 tahun), pastikan dulu apakah suasana kantor atau tempat kerja memungkinkan. Bekali anak dengan sesuatu yang membuat dia betah, misalnya mainan atau memberikan kertas gambar untuk dijadikan media ekspresi. Satu hal lagi, jangan terlalu membanggakan prestasi anak di hadapan orang lain. Siapa tahu ada anak lain yang lebih berprestasi. Ini menghindari anak menjadi down,” tegas istri Kombes (Pol) I Putu Mahasena, S.H., M.H. ini.

tkh/net

–Ngurah Budi

Mendongeng Lima Menit Tukang Tenun Kembara, se orang pemuda yang hidup sendirian dalam gubuk berdinding gedek. Pekerjaannya sehari-hari mencari kayu api untuk dijualnya ke pasar. Ketika dalam Made Taro perjalanan mendaki lereng, ia mendengar rintihan seekor burung. Ia mencari sumber rintihan itu. Ternyata seekor bangau kena jerat. Ia melepaskan bangau itu. Burung itu pun terbang bebas. Pada suatu hari, menjelang matahari tenggelam, seorang gadis cantik mendatangi gubuknya. Gadis yang mengaku bernama Paksini itu, merajuk untuk tinggal sehari di rumahnya. Kembara tak kuasa menolaknya. Namun, gadis itu bukan tinggal sehari, tetapi berhari-hari. Akhirnya pasangan muda-mudi itu saling jatuh cinta, lalu sepakat mengikat tali pernikahan. “Kanda Kembara,” sapa Paksini pada suatu hari. “Mulai besok aku akan memanfaatkan alat tenun yang tersimpan di gudang.” “Bagus sekali!” jawab Kembara. Ia teringat alat tenun warisan orangtuanya yang tak pernah digunakannya. “Tetapi ada syaratnya,” sambung sang istri. “Selama aku menenun, Kanda tak boleh meng-

ganggu.” “Baiklah!” jawab suaminya tersenyum. Hari demi hari berjalan seperti biasa. Kembara bekerja mencari kayu api dan Paksini menenun dengan asyik. Kayu api dan hasil tenun itu dijualnya ke pasar. Uangnya digunakan untuk membeli benang dan perabot pemotong kayu. Pada suatu hari Kembara melihat gelagat aneh. Satu hari penuh istrinya tidak makan dan tidak beristirahat. Kembara tidak berani mengganggunya. Lanjut kemudian, tiga hari sudah, sang istri tidak keluar gudang. Yang terdengar hanya irama alat tenun yang makin lama makin lemah. Ia curiga, jangan-jangan terjadi sesuatu yang tidak menyenangkan. Ia tidak berani menggedor pintu dan tidak berani memanggil istrinya. Timbul keinginannya untuk mengintip dari celah dinding gedek. Betapa terkejutnya dia! Dari celah dinding itu terlihat seekor burung bangau mencabut-cabut bulunya sendiri. Bulu-bulu halus itu dirajut lalu ditenunnya menjadi kain. Bangau itu juga terkejut. Ia merasakan ada yang mengganggu pekerjaannya. Burung itu segera keluar rumah, lalu berkata kepada Kembara. “Kanda, cukup sudah ucapan terima kasihku kepada Kanda. Aku adalah bangau yang kanda selamatkan tempo dulu.” Bangau itu terbang dengan bulu seadanya. Tinggal Kembara termenung sedih.

Atap Sirap Kotak

Aplikasi atap sirap

agi mereka yang menginginkan sebuah bangunan yang berkesan natural dan klasik, atap sirap ini cocok menjadi pilihan. “Memang harganya tergolong mahal, namun atap sirap ini kuat sampai berpuluh-puluh tahun. Makanya yang pesan itu jarang untuk rumah pribadi, kebanyakan untuk vila dan hotel,” ujar Wayan Suastika, seorang staf CV Berkah Jaya di Jalan Buluh Indah, Denpasar, yang khusus menjual atap sirap. Atap sirap yang dalam satu ikat berisi 80 bilah kayu papan ini didatangkan dari Kalimantan dan Sulawesi. Di perusahaan tempatnya bekerja, lembaran-lembaran kayu ini dirapikan dan dipotong sesuai dengan pesanan, model sirap runcing atau sirap kotak. Satu bilah papan sirap berukuran 58 x 7,4 x 0,5 cm. Harganya sekitar Rp 235 ribu per meter persegi.

Teknik pemasangan atap sirap berbeda dengan teknik pemasangan atap genteng dan sejenisnya, yakni dipasang zigzag 4 layer. Dimulai dengan pemasangan di bagian bawahnya, kemudian ditumpuk zigzag ke atasnya hingga 4 lapis. Agar tidak melorot, pasangan bilah-bilah kayu atap sirap tersebut dipaku. Kesalahan pemasangan secara teori dan teknik di lapangan, diingatkan Suastika bisa membuat atap sirap mudah bocor. Pemasangan atap sirap yang secara teori tepat dan secara teknis dikerjakan dengan benar oleh tenaga yang berpengalaman, maka akan menghasilkan atap yang kokoh luar biasa, rapi, dan aman dari terjangan derasnya air hujan sampai berpuluh-puluh tahun. Bahkan, jika pemasangannya tepat, akan sangat tahan terhadap goncangan gempa besar sekalipun. –Inten Indrawati

Atap Sirap yang siap dijual

Atap Sirap Runcing

tkh/net

Suastika di depan kantornya yang beratap sirap


18

Kreasi

Edisi 842/ 30 maret - 5 april 2015

Anak Agung Ayu Ketut Agung

Lestarikan Budaya Bali lewat Tata Rias dan Busana Adat Bali Tata rias dan busana adat Bali memang sudah mendarah daging bagi seorang Anak Agung Ayu Ketut Agung. Pasalnya bidang tersebut sudah dilakoninya sejak 33 tahun lalu. Tak heran jika ia begitu mahir “menggarap” muka, rambut, dan tata busana yang bernapaskan Bali. Itu juga yang kemudian membuat dirinya kerap diminta sebagai narasumber, instruktur, maupun juri untuk berbagai kegiatan yang ber­ hubungan dengan tata rias dan busana adat Bali.

S

eperti Kamis (26/3), bertempat di Ruang Rapat Bupati Tabanan, Bu Agung-demikian sapaan akrabnya menjadi narasumber dalam Workshop “Belajar Memasang Tengkuluk Lelunakan, Pusung Tagel, dan Tata Rias Wajah Sehari-hari” yang digelar Harian Bisnis Bali (Kelompok Media Bali Post) bekerjasama dengan Pemkab Tabanan, Salon Agung, IDX, dan Viva Cosmetics. Bu Agung mengatakan, perkembangan zaman dan mode pada era modernisasi telah memberi imbas modernisasi budaya tradisional. Salah satunya, makin pudarnya pemahaman masyarakat khususnya kaum wanita tentang penggunaan pusung tagel dan tengkuluk lelunakan sebagai warisan budaya. Perilaku wanita yang cenderung berpenampilan feminim dan praktis menyebabkan sekarang ini sangat jarang kaum wanita yang menggu-

nakan tengkuluk lelunakan. Kalaupun ada yang berniat menggunakan, mereka terkendala cara pemasangannya. Sebagian besar wanita belum bisa menggunakannya. Hal inilah salah satunya yang melatarbelakangi dilangsungkannya kegiatan workshop, untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan dalam membuat dan memasang tengkuluk lelunakan, pusung tagel, dan tata rias wajah sehari-hari. Selain untuk kebutuhan sendiri, keterampilan ini dikatakan Bu Agung juga bisa dikembangkan sebagai sumber penghasilan bagi keluarga. Singkatnya, era modernisasi mempengaruhi tatanan adat dan budaya Bali, khususnya di kalangan generasi muda. Generasi muda sangat cepat merespons segala sesuatu yang ditawarkan khususnya dalam berbusana. Kadang-kadang terkesan kurang sopan atau di luar pakem adat busana Bali. Bercermin dari

Bu Agung bersama Wabup Tabanan Komang Sanjaya (tengah) usai membuka Workshop Tata Rias

kondisi tersebut, upaya yang kuat untuk menangkal arus modernisasi sekaligus mempertahankan adat budaya Bali sangat diperlukan, salah satunya melalui workshop. Demikian disampaikan Bupati Tabanan dalam sambutan tertulisnya yang dibacakan Wakil Bupati Tabanan I Komang Gede Sanjaya, S.E.,M.M. saat membuka workshop yang juga diisi dengan materi “Cara Berinvestasi dan Ciri-ciri Investasi Bodong” oleh Kepala Kantor PT BEI Kantor Perwakilan Denpasar, I Gst. Agung Alit Nityaryana, S.E.,M.M. “Kami pemerintah daerah memberikan apresiasi setinggi-tingginya untuk kegiatan workshop ini. Sebagai umat Hindu Bali yang sarat dengan kegiatan adat dan kebudayaannya yang kental, tentunya workshop ini akan sangat bermanfaat serta ber-

Bu Agung bersama tim Salon Agung usai mendandani peserta paduan suara dalam acara Buleleng Festival berkesempatan berfoto bersama Bupati Buleleng Putu Agus Suradnyana beserta Ibu

Berkompromi dengan Pasar

D

enpasar Cineplex yang mulai beroperasi sejak 29 Desember 2013 silam, benarbenar sudah benar-benar mengubah image. Bukan hanya soal kenyamanan, tapi juga film-film yang diputar sama dengan bioskop yang di Mall Galeria dan Beach Walk. Istimewanya lagi, ini satu-satunya gedung bioskop di tengah kota Denpasar. Pernyataan tersebut disampikan Bambang Sugiharto, Manager Denpasar Cineplex saat ditemui di ruang tunggu Denpasar Cineplex yang berlokasi di eks Wisata 21, Komplek Pertokoan Lokitasari, Jalan Thamrin Denpasar, pekan lalu. “Kalau yang sudah pernah nonton di lokasi lain dan nonton di Denpasar Cineplex pasti tahulah mana yang lebih nyaman dan sejuk ruang tunggunya,” katanya. Ia menyebutkan bioskop di Denpasar ini pun dilengkapi dengan teknologi modern, seperti layar proyektor digital, ruang tunggu yang nyaman,

eskalator, serta pendingin ruangan. Untuk sementara ini, tersedia3 ruangan studio, yang berarti 3 judul film tiap harinya. Penonton bebas memilih apa yang ingin di tonton. Waktu show yang pertama mulai pukul 13.15 “Jam main lainnya biasanya menyesuaikan dengan durasi filmya. Untuk film-film Barat sekarang rata-rata lamanya 150 menit atau 2 jam lebih,” jelas Bambang. Kelas Executive atau Primer ada di Studio 1 yang berkapasitas 50 kursi. Hanya dengan tambahan harga tiket Rp 25 ribu sampai dengan Rp 40 ribu penonton bisa menikmati film pilihan di atas reclining seat yang lega (bisa nonton sambil tiduran). Studio 2 berkapasitas 99 seat dan Studio 3 kapasitasnya 94 seat. Film-film yang diputar di Cineplex Denpsar sama dengan yang diputar di jaringan bioskop XXI seperti di Beach Walk dan Mall Bali Galleria. “Kami memanjakan penonton film ya itu dengan menampilkan film-film box office dan sinema pilihan sesuai selera masyarakat. Film–film Indonesia yang ditayangkan pun biasanya terpilih yang berkualitas

tanpa melihat aktor atau dari production house (PH) mana,” katanya. Namun, secara umum di Bali pada, film-film action Barat yang lebih digemari. Untuk kali ini yang masih ramai di tonton adalah Cinderella dan Sponge Bob. “Kalau bicara penonton, animo masyarakat untuk menonton film layar lebar di bioskop ini terus meningkat. Jika dikelompokkan mereka adalah 20% kelompok anak-anak, 30% kelompok keluarga dan 50 % dari kalangan anak-anak muda,” ujarnya. PILIH JALUR INDIE Pengamat film Made Adnyana menambahkan film nasional sesungguhnya

Bambang Sugiharto

sentuhan langsung dengan para ibu PKK,” tandasnya. Yang menarik dalam workshop gratis tersebut adalah turut tampilnya perias muda Bali yang juga tercatat sebagai peserta uji kompetensi Tata Rias Pengantin termuda di Indonesia yang diadakan oleh LSK, Sagung Diva.Siswi kelas 1 SMPN 3 Denpasar ini dengan piawai mendemonstrasikan cara pembuatan sanggul modern dan memasang make up yang praktis. Sementara Bu Agung mendemokan pembuatan tengkuluk lelunakan dan pusung tagel. Komitmen tinggi Bu Agung dalam pelestarian budaya Bali khususnya di bidang tata rias dan busana adat Bali, tak perlu diragukan. Roadshow pelatihan tata rias sekaligus sosialisasi busana adat Bali dilakukan hingga ke daerah-daerah, termasuk ke kabupaten paling utara Pulau Bali, Buleleng. Tengkuluk lelunakan yang merupakan ikon Kota Denpasar pun juga turut disosialisasikan di sini karena pembuatannya yang cukup praktis. “Saya optimis tengkuluk lelunakan ini bisa terkenal dan masyarakat Bali bisa membuatnya sendiri, pelan tapi pasti,” ujar peraih Anugerah Peduli Pendidikan dari Kemendikbud ini. Roadshow saat itupun diikuti ratusan peserta yang tergabung dalam organisasi wanita di Buleleng. Kegiatan Bu Agung di sana berlanjut dengan mensponsori tata rias (make up) dan sanggul dalam acara

sangat potensial. Ada begitu banyak bakat-bakat kreatif yang kini didukung berbagai kemudahan teknologi, yang sangat memungkinkan Indonesia untuk lebih unjuk gigi dalam hal perfilman. “Jika kemudian film nasional terkesan jalan di tempat, bahkan secara kualitas masih kalah dibandingkan dengan film Indonesia era 80-an, ada begitu banyak faktor yang mempengaruhi. Misalnya, regulasi yang dirasa masih memberatkan produser dan pembuat film, kondisi pasar yang relatif belum begitu “bersahabat” dengan film nasional, hingga kurangnya kepedulian dari pemerintah untuk mendukung secara nyata kebangkitan film nasional,” ujar pria yang sering membuat resensi film ini. Kondisi ini menurut Adnyana otomatis membuat banyak yang merasa pesimis untuk berkecimpung dalam perfilman nasional. Kalaupun masih ada yang giat dan terus mencoba untuk berproduksi, bisa dirasakan karyanya sangat “kompromis” dengan situasi pasar, tanpa memperhitungkan soal kualitas apalagi misi membangun kejayaan film nasional. Tidaklah heran film-film nasional yang beredar di bioskop sekarang sebagian besar dibuat seringan mungkin, semurah mungkin, tidak jauh berbeda dengan tontonan FTV atau serial di televisi. Pertimbangan produser tentu, bagaimana dengan biaya yang ditekan masih bisa mendapatkan untung. Memang, di sisi lain masih ada satu dua karya yang mencoba untuk idealis, dibuat “serius”, meskipun dengan risiko

Buleleng Festival. Bu Agung yang juga Pengawas SD di Kota Denpasar tersebut, bersama tim Salon Agung “menyulap” peserta paduan suara dengan make up dan tata rias sanggul modern yang disesuaikan dengan busananya, sehingga tampil lebih menarik. Apa yang dilakukan Bu Agung ini mendapat respons positif Bupati Buleleng Putu Agus Suradnyana bersama Ibu yang turut hadir dalam kegiatan Bulfest itu.

DISKON 50% KURSUS TATA RIAS Untuk lebih menyosialisasikan dan membangkitkan minat masyarakat dalam tata rias dan busana adat Bali, LKP Agung memberikan diskon 50% kursus regular. Materi yang diajarkan mencakup 3 paket yakni Tata Kecantikan Kulit, Tata Kecantikan Rambut, dan Tata Rias Pengantin (payas nista, madya, utama, modifikasi, dan tengkuluk lelunakan). Disediakan juga beasiswa kursus gratis bagi mereka yang kurang mampu dan putus sekolah, yang benar-benar berminat di bidang tata kecantikan. Syarat dan ketentuan berlaku. Silakan menghubungi Sekretariat LKP Agung, Jalan Anggrek No. 12 Kreneng, Denpasar. Telepon 0361 233850, 081 1393602, faks. 0361 247153. Cabang Tohpati, Jalan WR. Supratman No. 303 A, Tohpati, Denpasar. Email:lkp_agung@yahoo.com. website:www.salonagung.com. –iin merugi secara ekonomis. Namun film seperti ini masih ada peluang untuk ditampilkan atau “dijual” di pasar film internasional atau pada ajang-ajang festival. Sineas dan pegiat film lain yang masih tetap ingin berkarya secara jujur dan idealis, tidak mainstream, pada akhirnya memilih untuk bergerak di jalur indie. Cukup banyak karya-karya independen yang layak diperhitungkan secara teknis dan aspek sinematografi lainnya, namun hanya bisa ditemukan pada acara-acara pemutaran film secara khusus atau terbatas. Bahkan tak jarang sineas dan artisnya sendiri rela keliling ke berbagai daerah untuk menunjukkan karyanya. “ Yang penting sekarang bagaimana pemerintah secara serius melakukan tindakan nyata untuk mendukung perfilman sebagai salah satu industri kreatif, bukan mengabaikan atau malah menekan. Banyak negara lain seperti India, industri filmnya berkembang karena pemerintah punya andil kuat untuk mendukung secara langsung melalui kebijakan-kebijakannya. Sehingga ke depan dapat mulai membangun kembali kecintaan masyarakat terhadap film nasional, karena selama ini sudah terlanjur western minded, bahwa film nasional pasti lebih jelek dari film barat. Padahal, belum tentu demikian adanya,” tegas dosen jurnalistik di IKIP PGRI Bali ini. –Sri Ardhini/Ngurah Budi

Life

Story

Edisi 842/ 30 maret - 5 april 2015

7

Rumah Baru Dipakai Uji Ilmu Meski kejadian ini sudah empat tahun lalu, tetapi Jenifer (33), masih belum habis pikir dan sama sekali tidak menemukan logika atas kejadian aneh yang dialaminya. Ia juga menimbang-nimbang, jika pun ada yang berniat jahat padanya, melalui kejadian ini, siapakah orang itu? Ini menjadi pertanyaan yang masih membuat Jenifer penasaran. Pertanyaan yang sama sekali tidak ada jawabannya.

H

ari itu, Jenifer dan suaminya mencoba tidur siang di kamar yang baru mereka bangun seminggu sebelumnya. Posisi kamar ini memang terpisah dari rumah induk mereka, lengkap dengan kamar mandi dan dapur kecil sederhana. Sengaja dibangun untuk menambah kamar yang akan disiapkan untuk tamu-tamu yang datang ke rumah mereka di Mataram. Cukup bagus dan sebelum mereka tidur siang di kamar itu pada hari tersebut, beberapa tamu yang notabene kawan mereka sudah pernah menginap di kamar ini. “Karena hari itu sedang sepi, kami mencoba tidur di kamar baru sekalian salat dan mengaji,” ungkap Jenifer. Sampai sekitar pukul empat sore, mereka pun bangun dan langsung melaksanakan salat Ashar. Sore itu mereka sudah membuat janji untuk mengantar dua anak mereka jalan-jalan ke Pantai Kerandangan, Senggigi, Lombok Barat. Karenanya, sebelum berangkat semua aktivitas persiapan jalanjalan itu mereka siapkan dari kamar tersebut. Setelah semua siap mereka pun mengunci semua pintu, termasuk pintu dan jendela di rumah induk. “Saya yang mengunci semua pintu dan jendela kamar baru yang posisinya ada di depan sedangkan suami saya mengunci semua pintu dan jendela di rumah induk di belakang,” ungkap Jenifer. Setelah semua beres, Jenifer melangkah keluar dan mereka pun pergi. Sepulang dari pantai, mereka kembali ke rumah bertepatan dengan adzan Magrib berkumandang. Mereka pun langsung menuju rumah induk tanpa membuka kamar baru mereka di depan, karena sesungguhnya, kamar itu hanya terpakai jika ada tamu yang datang. Posisi kamar baru tetap terkunci rapat. Malam itu mereka sama sekali tidak membuka pintu maupun jendela kamar baru, selain karena tidak ada tamu juga karena usai salat Magrib. Me­

reka berempat langsung keluar lagi untuk makan malam. Kamar baru tersebut, kosong hingga pagi sebab saat pulang di malam hari sudah agak larut, se­hingga mereka langsung menuju rumah induk dan bersiap untuk

tidur. Kamar baru masih tetap terkunci. Esok pagi sekali, mereka bersiap melakukan perjalanan liburan kembali anak-anaknya. Karena kamar mandi terbatas, maka suami Jenifer memilih mandi di kamar mandi kamar baru. “Tapi suami saya tidak masuk lewat pintu depan, kamar itu melainkan lewat pintu belakang dekat dapur kecil dan kamar mandi. Sama sekali tidak menengok ke kamar baru tersebut, karena ada sekat antara dapur dan kamar mandi,” ujarnya. Setelah selesai mandi dan semua bersiap, hanya sekitar 30 menit dari suami Jenifer mandi tadi, mereka pun hendak berangkat. Tetapi, sebelum berangkat, Jenifer mengunci pintu belakang kamar baru, namun sebelumnya ia ingin mematikan lampu teras kamar baru di mana saklarnya ada di dalam kamar baru tersebut di balik sekat. Saat mematikan lampu itu, Jenifer sempat melihat ke tempat tidur yang di pojoknya ada gumpalan hitam. “Saya pikir itu lilin parafin anak bungsu saya yang sedang senang-senangnya main lilin tersebut. Saya mendekat dan ingin mengambil lilin tersebut untuk diberikannya

pada anaknya,” katanya. Namun, alangkah terkejutnya Jenifer ketika mendekati dan tangannya hendak mengambil lilin tersebut, karena rupanya benda yang diduga lilin itu adalah kotoran seperti kotoran manusia. Panjang dan budar melingkar. Bersama suaminya, ia pun membuang kotoran tersebut sekaligus membuang seprei dan mencuci bersih kasurnya. Keterkejutan itu belum berakhir, ketika di bawah tempat tidur, mereka menemukan air seperti air kencing dalam takaran yang sangat banyak. Lantai kamar itu basah sekali. “Saya heran, jika itu kotoran manusia, alangkah tidak mungkinnya air ken­

banyak hal yang tidak masuk akal. Kotoran anjing dan kucing, tidak mungkin. Karena ukurannya terlalu besar. Manusia juga masih belum masuk logika, karena volume kotoran air kencing juga terlalu banyak. Lalu jika kedua dugaan itu benar, dari mana bisa masuk? Jenifer yang selama ini kurang percaya bisa diganggu ‘makhluk lain’ berpikir keras merunut kronologi dan kemungkinan-kemungkinan lain untuk menemukan jawaban. Tetap saja tak menemukan jawaban karena, karena semua lubang yang ada di kamar baru itu tertutup rapat termasuk ventilasi. Tidak mungkin ada orang atau binatang bisa masuk ke kamar itu, dengan lubang sekecil itu mengingat kotorannya cukup besar. Pintu kamar itu terkunci, benar-

cing tembus hingga sebanyak itu, mengingat kasur yang kami pakai adalah kasur dari kapuk yang dibuat sangat tebal,” ungkapnya. Perkiraannya, jika pun itu kencing manusia, air yang tumpah ke lantai tidak akan sebanyak itu atau bahkan tidak akan tembus sampai ke lantai. Lalu kotoran apakah itu? Karena jika kotoran binatang,

benar terkunci sejak terakhir mereka meninggalkan kamar itu siang kemarin. “Saya bertanyatanya dalam hati sampai tidak bisa menemukan jawabannya hingga hari ini,” katanya. BUAT RUMAH BARU Jenifer tidak pernah menceritakan kejadian aneh ini kepada siapa-siapa, kecuali kepada famil-

inya yang kemudian mendatangi paranormal. Menurut paranormal itu, ada orang yang mengenal baik Jenifer dan keluarganya yang pernah menginap di rumah itu. Orang itu tidak bermaksud jahat, melainkan sedang menguji ilmunya. Hanya itu jawaban yang bisa diterima Jenifer hingga hari ini. Ada rasa khawatir dalam diri Jenifer tentang kejadian aneh ini. Ia menjadi mencurigai setiap orang yang datang ke rumahnya, termasuk kawan-kawan ia dan suaminya yang kerap menginap di rumah tersebut. Jenifer juga bahkan nyaris bertengkar dengan kawan-kawannya karena menjadi terlalu curigaan. Ia juga sering ketakutan karena terlalu berhalusinasi. Logikanya yang selama ini selalu ia pakai untuk menemukan jawaban atas tiap peristiwa aneh yang dihadapinya, kini menjadi buntu. Jenifer bahkan sempat berkonsultasi pada psikiater karena ia terlalu berhalusinasi, seolah-olah ada orang yang akan masuk ke kamar baru tersebut. tiap kali ada tamu yang datang, ia selalu mengintip bahkan memperhatikan gerakgerik mereka dengan detil. Ini yang membuat kawan-kawannya sedikit risih datang ke rumahnya. Jenifer juga tidak pernah lagi mau masuk di kamar tersebut dan selalu berada dalam situasi khawatir. Sampai akhirnya, suaminya menyelamatkannya dengan membuatkan rumah baru bagi Jenifer dan mereka memilih pindah ke rumah baru yang lokasinya masih di Mataram. Beberapa bulan ini, di rumah baru tersebut, Jenifer tampak tenang dan ia bisa melanjutkan hidupnya dengan normal tanpa kekhawatiran. Namun, ia sama sekali tidak lagi mau kembali ke rumah itu, setelah empat tahun ia berada dalam situasi yang menegangkan. -Naniek I. Taufan


6

I Gusti Agung Prana

Pejuang dan Perintis Pariwisata Alternatif Figur ini dikenal sebagai tokoh pariwisata yang men­dunia. Kiprahnya dibuktikan lewat puluhan peng­hargaan tingkat internasional yang diraihnya. Bahkan sosoknya yang lekat dengan dunia spiritual ini dikenal sebagai pejuang dan perintis pariwisata alternatif.

I Gusti Agung Prana dengan PATA Gold Award.

“Saya mengapresiasi sektor pariwisata yang secara faktual sudah memberikan kesejahteraan/pertumbuhan ekonomi yang baik. Namun ada kekhawatiran dari sisi negatif pariwisata yang sudah mengancam. Kondisi objektif inilah yang membuat saya terpanggil bagaimana menyelamatkan pariwisata agar tetap bisa memberi manfaat bagi lingkungan, adat dan budayanya. Kekhawatiran itulah yang memunculkan kegelisahan pada diri saya,” ungkap pemilik Puri Taman Sari ini. Tak ingin terus gelisah, Agung Prana mencari. Saat itulah dirinya menemukan dua (2) desa yakni desa pesisir Pemuteran, Singaraja dan desa pertanian Umabian, Marga, Tabanan. Desa tersebut mengalami kehancuran lingkungan yang sangat parah dan sistem subak yang memerlukan pemeliharaan lebih baik. Kehidupan masyarakat dalam kemiskinan, kekeringan dan putus asa membuat mereka berperilaku destruktif. Tanah perta-

nian/sawah mereka terancam oleh konversi yang masif untuk dijadikan perumahan. Mereka membutuhkan seorang ‘dewa penyelamat’. “Sebagai orang yang punya pengalaman pariwisata cukup panjang, saya mampu mengenali potensi besar di balik kehancuran itu. Di Pemuteran ada keindahan panorama bentang alam, perpaduan antara jajaran gunung yang berhadapan dengan tiga teluk. Dan potensi tersembunyi di Pemuteran ini menjadi modal awal yang besar bagi perkembangan pariwisata, demikian pula di Umabian, sawah/pertaniannya perlu ditangani secara lebih baik dan profesional,” tutur Agung Prana. PROSES TRANSFORMASI Kronologi/proses transformasi di Desa Pemuteran, Agung Prana harus membenahi kerusakan lingkungan yang parah menuju desa destinasi pilihan dunia. Dari perilaku masyarakat yang destruktif menuju masyarakat sadar, berpartisipatif dalam kebersamaan. Kondisi objektif yang demikian parah itu menjadi tantangan besar bagi Agung Prana. Langkah pendekatan yang dilakukannya dalam proses transformasi

19

Edisi 842/ 30 Maret - 5 april 2015

Edisi 842/ 30 Maret - 5 april 2015

tersebut melalui: (1) Pendekatan sosial, budaya dan spiritual. Membuka hati dan pikiran masyarakat melalui upacara/ritual seperti persembahyangan bersama untuk merajut komitmen dan kesepakatan membangun desanya oleh dan untuk masyarakat. (2) Pendekatan manfaat ekonomi dengan menciptakan lapangan kerja dan peluang usaha sebagai sumber pemasukan desa. (3) Pendekatan pelestarian lingkungan hidup untuk membangun desa yang sehat, nyaman dan sejahtera. Sementara di bidang kelautan dan perikanan yang dilakukan, (1) Rehabilitasi potensi unggulan yaitu

terumbu karang dengan cara semua perilaku destruktif dihentikan secara total sehingga terumbu karang hidup kembali dan menjadi habitat dari ikan yang dulunya menghilang. (2) Mengaplikasi teknologi biorock untuk menstimulir pulihnya terumbu karang sebagai habitat kehidupan biota laut. (3) Reboisasi wilayah desa, antara lain hutan dan gunung untuk menciptakan desa yang hijau. (4) Desa lahir dengan potensi sebagai point of interest pariwisata khusus ekowisata/ wisata tirta. (5) Fasilitas pariwisata mulai dikembangkan dengan konsep mengadopsi kearifan lokal. Tata kelolanya mengadopsi aturan desa

Panorama elok di Pemuteran.

(awig-awig). Desa-desa wisata tersebut menjadi pilihan beberapa universitas terkemuka dunia sebagai destinasi khusus untuk studi lapangan para mahasiswanya. Sukses di Pemuteran, Agung Prana merintis pariwisata alternatif di Desa Umabian. Desa ini telah menjadi desa wisata berbasis masyarakat. Rumah penduduk dikembangkan menjadi pondok wisata sehingga wisatawan menikmati pengalaman tinggal di desa sedangkan rumah keluarga leluhur dijadikan central point destinasi pariwisata desa dimana dari tempat itu wisatawan dapat menikmati panorama desa dengan sajian kuliner pedesaan yang organik. DESTINASI SPIRITUAL Desa wisata akhirnya menumbuhkan minat wisatawan untuk mengikuti kegiatan spiritual. Kegiatan ini makin melengkapi fasilitas kebutuhan wisatawan asing dimana spiritual telah menjadi kebutuhan primer. “Bali sejak awal sudah menjadi destinasi spiritual dan Desa Pemuteran yang Nyegara Gunung adalah salah satu central point wisata spiritual di Bali, sementara ashram spiritual (yoga/meditasi) juga melengkapi Desa Umabian sehingga menjadi wisata spiritual yang ecofriendly,” papar Agung Prana. Agung Prana adalah seorang social entrepreneur. Jiwa sosial bisnisnya yang tinggi mendapat apresiasi sebagai World Social Entrepreneur, penghargaan prestisius PATA Gold Award 2005, Kalpataru Award (2 kali), Equator Award 2002 (PBB), Millenium G20 2012 (PBB), Asianta Award, Kementerian Pariwisata Award dan Nomination of Sasakawa Award. -ari

Menonton film di bioskop merupakan salah satu hiburan yang digemari masyarakat. Bios­ kop pun bisa dise­ saki kalau film yang diputar merupakan film box office (film terlaris). Kini dengan kemajuan teknologi, bioskop juga makin canggih. Animo penggemar film un­ tuk menyaksikan film pun tetap tinggi.

M

emang banyak alasan mengapa bioskop terus ramai dikunjungi. Bahkan mereka berbondong-bondong mengantri untuk membeli tiket. Menurut Yoseva Listyati, Direktris CV Surya Tirta Buana yang biasa disapa Eva, menonton di bioskop selain mencari suasana yang berbeda dengan di rumah, juga menjadi ajang rekreasi dan refreshing bagi keluarganya. “Apalagi sekarang di satu lokasi bisa tersedia lebih dari 2 studio atau auditorium, sehingga kami penonton bisa bebas memilih film apa yang akan ditonton,” katanya. Sebagai penghobi nonton film, ia dan keluarga juga menikmati suasananya yang berbeda, begitu masuk ke studio, duduk di kursi yang empuk dan nyaman, lengkap dengan tempat minum. Film pun muncul dengan gambar yang sejernih kristal

Perhatikan Kearifan Lokal Bali

Eva dan ketiga anaknya

“Cuci Mata” sebelum Nonton dilengkapi dengan surround sound sistem yang tercanggih. “Jika filmnya tiga atau empat dimensi, ini bisa membuat kita seakan ikut berada di tengah-tengah adegan film itu,” lanjutnya tersenyum. Menurut istri Ir. Agus Putu Wisnu ini, sambil menunggu waktu film diputar, mereka bisa ngobrol dulu atau “cuci mata” di mal. Dulu mereka biasanya nonton di Mal Galeria dan Beach Walk. “Sekarang sesekali kami suka juga nonton di Denpasar,” kata Eva. Saat nonton mereka tidak pernah ketinggalan menikmati camilan berondong jagung alias popcorn dan minuman ringan. Mengenai film favorit, Eva

menyebut keluarganya adalah penggemar film action seperti James Bond 007. “Selain itu juga Sound of Music, film klasik dan abadi yang tidak pernah lekang, sangat baik sebagai sarana edukasi bagi anak-anak tentang menghargai musik dan orang lain serta kisah cinta yang menarik,” ujar penggemar Pierce Brosnan ini. Untuk film lokal, mereka lebih memilih film yang bicara tentang sejarah atau yang ada unsur motivasinya seperti filmnya Merry Riana. “Intinya saat ke bioskop , kami bisa mendapatkan tontonan seru sekaligus suasana akrab dengan keluarga,” ucapnya. – Sri Ardhini

Ingin seperti India Era perfilman nasional mulai pada 30 Maret 1950 dengan munculnya film ‘Darah dan Doa’ yang disutradarai Usmar Ismail. Film ini dijadikan momentum lahirnya film nasional karena baik sutradara, produser serta badan perfilman adalah Indonesia asli. Perfilman Indonesia mencapai masa jayanya pada era 1980-an dan saat itu film nasional merajai bioskop-bioskop lokal. Sayangnya kondisi itu tidak bertahan. Era 1990-an adalah masa dimana perfilman nasional memasuki masa kelam, setahun hanya ada 2-3 film. Barulah pada era reformasi, perfilman nasional perlahan mulai bangkit dan terus meningkat sampai sekarang. Jumlah produksi film terus meningkat, setidaknya tahun 2013 lalu mencapai 99 film setahun. Kualitas produksi insan perfilman pun mengalami peningkatan, ini ditandai dengan berbagai penghargaan yang didapat baik dari dalam maupun luar negeri. “Saya melihat perkembangan film nasional sudah cukup baik, dibanding masa lalu. Sekarang sudah banyak film bermutu yang dilahirkan para sines kita. Begitu juga para pemainnya. Ini suatu hal yang baik sekali. Namun begitu, dengan segala kemajuan yang kita capai saat ini, semuanya tidak boleh berpuas hati karena masih banyak yang perlu dibenahi, masih banyak kekurangan. Dari segi SDM, meski sudah lumayan, tapi tetap harus ditingkatkan. Kita ingin seperti di India, dimana film nasional telah menjadi tuan rumah di negeri sendiri,” kata Anwar Fuadi, Ketua Lembaga Sensor Film. Mengembalikan kejayaan film Indonesia menjadi tuan rumah di negeri sendiri, merupakan angan-angan lama seluruh insan perfilman yang sampai saat ini masih jauh dari terwujud. Karena itu, katanya, masih banyak pembenahan yang harus dilakukan, semuanya harus bekerja keras, baik itu insan perfilman sendiri, juga pemerintah dan masyarakat pun harus memberi dukungan yang sepenuhnya. Peran masyarakat untuk mendukung perkembangan film nasional sangat penting. Indonesia yang memiliki

jumlah penduduk terbesar ke-4 di dunia atau 253 juta jiwa, tentunya menjadi modal besar bagi pertumbuhan film nasional. Gairah perfilman nasional akan semakin meningkat jika masyarakat peduli pada produk negeri sendiri dengan menontonnya. Karena sebagaimana diketahui jumlah penonton film nasional masih sangat sedikit sekali, dalam pengertian masyarakat yang datang ke bioskop untuk menonton film nasional. Menurut Anwar Fuadi yang terjun ke dunia film sejak tahun 1969 lewat film ‘Manusia dan Peristiwa’, ada banyak faktor yang menyebabkan hal ini. “Kalau saya lihat, masyarakat senang menonton film Indonesia, namun mereka malas menontonnya di bioskop. Kebanyakan lebih suka nonton di rumah, bisa sambil santai. Mereka pikir, nanti juga filmnya akan diputar di televisi, jadi menunggu saja,” ujarnya. Adanya film-film bajakan juga menjadi salah satu faktor. Hal lainnya adalah terkait daya beli masyarakat yang lemah. Untuk nonton ke bisokop memerlukan biaya transportasi dan tiket bioskop. Ini juga menjadi masalah tersendiri. “Kita memimpikan film nasional bisa seperti di India, bisa menjadi tuan rumah di negeri sendiri. Ini bukannya tidak mungkin, namun tentu saja membutuhkan waktu untuk mencapai itu. Kita masih harus bekerja keras, harus lebih kreatif, agar apa yang diharapkan bisa terwujud,” tambahnya. BIOSKOP KELILING Apa yang disampaikan Anwar Fuadi juga dibenarnya oleh kebanyakan pelaku perfilman. Karena itu dalam rangka memperingati HUT ke-65 Film Nasional, Panitia Hari Film Nasional menggelar sejumlah program dan ini akan dilakukan secara berkesinambungan setidaknya sampai tahun depan. Kegiatan itu antara lain ‘Ayo Nonton Film Indonesia’, ‘Ayo Stop Pembajakan Film Indonesia’, ‘Ayo Maju Film Indonesia’ dan ‘Ayo Rawat Film Indonesia’.

Semua film yang syuting di Bali termasuk pembuatan iklan, harus mendapatkan rekomendasi dari Badan Film Daerah (Bafida) Bali. Demikian disampaikan Kepala Dinas Kebudayaan Bali Dewa Beratha, pekan lalu. Ia menyatakan, ada beberapa persyaratan yang harus dipenuhi sebelum melakukan syuting di Bali. Misalnya, harus memperhatikan kearifan lokal Bali baik seni, budaya, dan agama. Ketika persyaratan sudah dipenuhi, Bafida akan memberikan rekomendasi untuk mendapatkan izin syuting. Izin ini selanjutnya diurus di Dinas Perizinan Provinsi Bali. “Bafida sendiri, akan turut mendapingi saat syuting. Tujuannya, sebagai pengawasan, dimana tempat-tempat yang boleh untuk mengambil gambar. Tempat yang disucikan, tidak boleh dijamah umum. Termasuk juga, adegan dan cara berpakaian perlu diawasi agar tidak sampai terjadi ketersinggungan,” ungkapnya lebih jauh. Ia menambahkan, untuk film yang beredar di Bali, namun, tidak melakukan syuting di Bali, Bafida tidak masuk ke dalam ranah tersebut, karena sudah ada badan sensor film. “Namun, jika film tersebut menyinggung kearifan lokal Bali, Bafida jelas mengajukan keberatan,” ucapnya. Contohnya, film Pandan Sari yang tidak dizinkan beredar di Bali, karena sudah menyinggung kearifan lokal Bali. Begitu juga, iklan yang memperlihatkan bola golf di atas canang sari, juga dilarang. Film “Eat, Pray, Love” yang syuting di Bali, sangat mengangkat nama Bali di dunia internasional. Julia Robert memerankan Elizabeth Gilbert dalam film tersebut, dalam petualangannya di Ubud, menemukan cinta sejatinya. Lokasi syuting ini menjadi tujuan baru wisata di Ubud yakni

Gerakan ‘Ayo Nonton Film Indonesia’ atau ajakan masyarakat ke bioskop akan dilakukan tepat pada Hari Film Nasional, 30 Maret 2015. Pada hari itu, seluruh bioskop di Indonesia memutar film nasional. Seluruh Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di dunia pun memutar film nasional. Untuk menjangkau masyarakat yang tidak bisa mengakses sinema, akan ada 60 mobil untuk bioskop keliling di seluruh Indonesia. Selain itu, para duta film akan mendatangi sekolah-sekolah, di antaranya di Tangerang Selatan, Bandung, Pekalongan, Kupang, Manado, Makassar dan Pontianak. Soal pembajakan, kata Lance Mengong, sutradara yang didaulat untuk menjadi Ketua Panitia Hari Film Nasional, memang masih susah diberantas. “Namun kami ingin membangun kesadaran masyarakat. Kami ingin ingin supaya budaya menonton itu menjadi kebutuhan masyarakat,” katanya. Di sisi lain, juga diperlukan peningkatan terhadap SDM perfilman. Karena itu nantinya akan digelar program peningkatan SDM di antaranya dengan menerjemahkan buku-buku perfilman yang bisa menjadi tambahan ilmu bagi para sineas nasional. Sedang program Preservasi Film adalah berupa pengumpulan dana untuk preservasi film-film lawas. Sebab selama ini preservasi film lawas membutuhkan dana yang tidak sedikit, setidaknya Rp 2 miliar setiap preservasi. –Diana Runtu

Dewa Beratha

tapak tilas Elizabeth Gilbert. Bahkan, Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif meluncurkan program “Eat, Pray, Love Cycling Tour” yang merupakan jalur sepeda Elizabeth Gilbert. Beberapa lokasi yang digunakan syuting menjadi terkenal, seperti pemandangan indah persawahan, jalan-jalan desa di daerah Ubud, termasuk rumah dan pasar tradisional. Ia menegaskan, pada dasarnya Bali sangat terbuka dengan banyaknya syuting yang dilakukan di Bali. “Dengan banyaknya syuting di Bali, tentu merupakan promosi bagi Bali. Namun, ada batasan dan rambu yang harus ditaati terutama yang menyangkut kearifan lokal dan rasa orang Bali,” ucapnya. Dewa Beratha menambahkan masyarakat Bali sudah sangat menyatu dengan seni budaya dan agama. Akan menjadi sangat sensitif, begitu bersentuhan dengan adat budaya Bali. “Tugas Bafida dan Dinas Kebudayaan untuk menyeleksi dan menjaring yang mana bisa direkomendasikan untuk mendapat syuting di Bali,” katanya.-Wirati Astiti


20

Nine

Edisi 842/ 30 Maret - 5 April 2015

Inspirasi

Edisi 842/ 30 Maret - 5 April 2015

5

G u s So n ny

Sekolahkan Anak dengan Groso Musim groso (srikaya) di Bima telah tiba. Tumpukan buah ini terlihat di mana-mana, khususnya di daerah-daerah penghasil groso seperti Panda, Punti, Tolo Tangga, Kalo, Kedo, Tambana, Sila,Kalaki dan lain-lain. Buah andalan dari daerah Bima ini menumpuk dalam baskom-baskom yang disusun rapi di pinggir jalan. Pemandangan ini biasa terlihat di sentra penjualan groso di Desa Panda yang kebetulan berada di pinggir jalan utama menuju Bima juga di tengah Kota Bima sekitar Pasar Bima.

S

elain sebagai salah satu sentra penjualan groso, Panda juga merupakan salah satu penghasil groso di Bima. Bisa dikatakan, daerah penghasil groso hampir merata di Kabupaten Bima. Dari sinilah, groso terbaik dihasilkan. Rasa istimewa groso Mbojo (masyarakat menyebutnya demikian), diakui oleh masyarakat NTB secara umum. Daging buahnya yang tebal, manis dan ranum, menjadi keunggulan untuk dirindukan setiap musimnya tiba. Tentu saja, ini berbeda dengan groso yang dihasilkan di tempat lain. Tampak jika dibelah, daging buahnya tipis sehingga bijinya yang berwarna hitam bisa langsung terlihat dan buahnya kecil-kecil, rasa buahnya tidak begitu manis. Groso merupakan tanaman yang cocok hidup dan berkembang baik di daerah Bima yang termasuk daerah panas. Begitu gampangnya hidup, tanaman ini tidak memerlukan perawatan khusus. Karenanya, lebih banyak groso tumbuh di perbukitan di

Groso Bima dikenal rasanya enak dan daging buahnya yang tebal

Bima, bahkan terkadang tumbuh dengan sendirinya bukan ditanam secara khusus. Di salah satu sudut pasar Bima di emperan ruko-ruko, terlihat puluhan perempuan duduk di depan tumpukan groso-groso dalam jumlah yang banyak. Inilah keseharian para perempuan penjual groso ini. Saat musim groso tiba dan Bima “banjir” groso seperti ini, mulai pagi hingga malam hari mereka akan duduk menunggu para pembeli. “Ini pekerjaan kami bertahun-tahun lamanya menjual groso jika musim groso tiba,” un-

Masitah berjualan groso di emperan toko di Kota Bima

gkap Masitah (56), penjual groso di pasar Bima. Ia bersama puluhan perempuan lainnya sesama penjual groso kebanyakan berasal dari Tolo Tangga Bima. Melakoni pekerjaan sebagai penjual groso, menjadi mata pencaharian para perempuan ini termasuk juga di wilayah Panda, Belo. Para perempuan penjual groso yang terkonsentrasi di pasar Bima, sehari-harinya ada yang menjadi pedagang ada pula ibu rumah tangga yang berjualan musiman. “Kalau musim groso saya berjualan groso namun keseharian saya kerja buruh tani,” kata Jumhar penjual lainnya. Lain halnya dengan Masitah yang menambah “jam kerja” jika musim groso tiba. “Kalau musim groso saya berjualan dari pagi sampai malam. Pagi sampai siang jualan kecambah, siang sampai malam jualan groso,” kata Masitah yang mengaku memperoleh tambahan penghasilan yang lumayan jika musim groso tiba. Masitah yang sudah bertahuntahun menjadi penjual groso ini juga mengaku dengan berjualan groso ia bahkan bisa menyekolahkan anak-anaknya. “Satu anak saya sudah jadi bidan,” ujarnya tersenyum. –Naniek I. Taufan

Banyak Teman Banyak Manfaat Bisnis “Tau Sama Tau”

Masitah dan puluhan perempuan penjual groso, rela berpanaspanas di terik matahari hanya dilindungi payung atau penutup kepala seadanya. Sejak pagi mereka sudah duduk di emperan toko ini menunggu para pengumpul groso membawakan groso dalam bakul-bakul untuk dijual. Masitah dan rekan-rekan lainnya beruntung karena mereka tinggal menunggu orang yang membawakan groso untuk dijual, sehingga tidak keluar biaya untuk angkutan. Karena sebagian lainnya, harus mendatangi satu kebun ke kebun groso lainnya untuk memetik sendiri groso dari pohonnya. Fatimah, salah seorang penjual groso di Panda, melakoni ini sejak dulu. Tiap kali musim groso tiba, ia harus bangun lebih pagi. “Sebelum berjualan groso, subuh saya harus ke kebun-kebun groso petik langsung di sana,” kata Fatimah yang sudah melakoni pekerjaan ini sejak 10 tahun lalu. Untuk ini Fatimah sudah bersepakat dengan petani-petani groso yang menjadi langganannya. Berjualan groso, terbilang gampang-gampang susah terutama mempertahankan kondisi groso yang lekas matang. Panen yang berlimpah membuat groso berlimpah jumlahnya. Selain harganya menjadi sangat murah karena, harus juga segera dipasarkan saat matang karena tidak bisa dibiarkan lama-lama. Begitu benar-benar mengkal dan dipetik, hanya hitungan jam, groso bisa langsung matang dan harus segera dikonsumsi. Jika kematangan dan lembek, rasanya menjadi kurang enak. Belum lagi, kalau harus dibawa keluar kota Bima, sulit dipaket dengan kardus jika sudah matang, karena bisa dipastikan akan hancur beberapa jam kemudian. Biasanya kalau untuk dipaket dalam kardus, groso yang sudah mengkal tapi masih keras, sehingga begitu tiba di tempat tujuan belum terlalu matang. Beberapa petani groso di Rada sudah bersepakat dengan para penjual groso yang langsung memetik sendiri groso di kebun seperti halnya Fatimah. Para petani tidak perlu bersusah payah memasarkannya karena pedagang groso datang sendiri ke kebuhkebun groso di Bukit Rada, untuk memetik dan membelinya. Bisnis penjualan groso ini terbilang sederhana, hanya butuh “tau sama tau” atau saling percaya, bisnis ini bisa jalan. Misalnya, kata Faisal, terkadang pemilik kebun groso belum tiba di kebun, para pembeli sudah memetik sendiri grosonya. “Begitu pemiliknya datang, groso tinggal dihitung, berapa jumlah dan harganya,” katanya. Tentu saja, para pedagang tersebut sudah menjadi langganan setiap tahunnya, salah satunya Fatimah. Dengan cara ini Fatimah bisa memilih langsung groso-groso dengan kualitas baik dan ukuran yang besar sehingga harganya juga bisa lebih mahal. Dalam sehari, Fatimah dan Masitah bisa menjual 4-5 ember groso yang dibeli dengan harga bervariasi antara Rp 120 ribu sampai dengan Rp 150 ribu tergantung kualitasnya. Dari berjualan groso, dengan sedikit kerja keras dan kesungguhan mereka bisa mendapatkan penghasilan yang cukup. Setidaknya untuk biaya hidup. –Naniek I. Taufan

Musim groso yang berlimpah menjadi lahan bagi puluhan perempuan penjual groso yang berasal dari Tolo Tangga Bima

Menjadi presenter merupakan aktivitas yang sangat menyenangkan bagi Gus Sonny. Wajahnya kerap tampil di televisi. Hingga kini ia masih membawakan acara “Tembang Bali” di Bali TV. Selain di televisi, ia juga menjadi penyiar radio dan bekerja di bank.

D

i tengah kesibukannya, pria bernama lengkap Ida Bagus Gede Sonny Surya Wijaya, S.S. ini juga menjadi Master of Ceremony (MC) di berbagai acara. Salah satunya di Festival Keluarga “Sejuk bersama Coolant” yang digelar Tabloid Tokoh tahun 2014. Penampilan yang riang dan banyak canda membuat Gus Sonny bisa membawakan acara Festival Keluarga bersama Yuppi dengan baik. Hal ini tak lepas dari persiapan yang ia lakukan sebelum menjadi seorang MC. “Sebelum menjalankan tugas, saya latihan dulu, biasanya bicara sendiri berdasarkan bahan-bahan yang ada. Pesan yang ingin disampaikan harus sesuai dengan konsep acara,” ujarnya tentang latihan visualisasi yang kerap ia lakukan. Kadang karena seringnya latihan untuk berbicara sendiri, ia kerap disangka “orang gila”. Bahkan kadang ada yang salah sangka karena merasa diajak bicara oleh Gus Sonny. Namun, teman-teman yang sudah terbiasa dengan kelakuan Gus Sonny pun menjadi maklum jika melihat Gus Sonny bicara sendiri. Pria yang lahir di Dencarik, Banjar, Buleleng 23 Mei 1987 ini pun mengaku akan terus menekuni dunia yang sudah membesarkan namanya. Gus Sonny adalah nama yang ia pakai saat menjadi presenter di Bali TV sedangkan Sonny Wijaya adalah namanya saat on air di radio Pingiun FM. Putra Ida Komang Jaya-Jro Putu Padmi ini termasuk sosok pemuda yang gigih dan tak kenal lelah dalam beraktivitas. Dari SMP Gus Sonny aktif di OSIS, bahkan sempat menja-

bat sebagai Sekretaris OSIS di SMAN 1 Kuta Utara. Kegemarannya dalam berorganisasi pun mengantarkannya menjadi Ketua BEM Fakultas Sastra, Universitas Warmadewa. Saking sibuknya, ia sering berangkat pagi, pulang pun tengah malam. Semua itu ia lakukan demi mewujudkan cita–cita menjadi pria dewasa yang mampu berdiri sendiri dan menjadi kebanggaan keluarga. BERAWAL DARI NOL Gus Sonny mengaku masuk dunia hiburan berawal dari nol. Ada temannya yang mengenalkan dia dengan radio Pinguin. Ia disuruh request lagu dan kirim salam. Lama-lama malah keasyikan. “Saya bahkan sampai berteman dengan penyiarnya. Karena orangtua melihat potensi saya berbicara di depan publik, mereka menyarankan dan mendukung saya untuk ikut dalam sebuah pelatihan penyiar dan MC di Santy Sastra Production. Kalau tidak salah, saya angkatan ketiga. Saya masuk 10 besar dan diberi kesempatan ikut training,” ungkapnya. Karier Gus Sonny di dunia hiburan pun mulai. Ia masuk dalam jajaran penyiar di Duta FM, dan belajar banyak di sana. Tahun 2006, kakak Ida Ayu Arick Citra Dewi ini memberanikan diri ikut dalam lomba presenter Bali TV. Walaupun hanya sampai di 20 besar, namun jalan untuk menjadi presenter Bali TV tetap ada. Beberapa acara pernah dibawakannya, seperti Pesona Wisata, BRTV Bali TV 2006–2008, dan sampai kini memegang acara Tembang Bali, tiap hari Minggu siang. Tahun 2007, Gus Sonny memilih untuk pindah ke radio Pinguin. Ia juga makin meman-

tapkan kariernya untuk memilih menjadi MC gathering dan wedding sebagai spesialisasinya dalam memandu acara off air. Gus Sonny juga bekerja sebagai personal banking officer di BNI KCU Denpasar. Sonny menambahkan dirinya menerapkan konsep ngayah dalam siaran sebagai pupuk yang senantiasa membuatnya semangat. Rasa jenuh pun seketika hilang saat kamera telah on atau mixer radio telah siap dimainkan.

Sonny saat memandu Festival Keluarga Tokoh

Dengan berkecimpung di dunia siaran, pria yang bernaung di zodiak Gemini ini memiliki banyak teman. “Punya banyak teman itu manfaatnya banyak banget, dari yang sederhana misalnya pas lagi di perjalanan bisa mampir ke rumah teman apalagi mengalami gangguan dalam perjalanan,” ujarnya. Punya banyak temen juga sangat membantu Gus Sonny dalam mewujudkan impiannya membuat resepsi pernikahan yang berkesan. “Temen-temen banyak membantu, dari temen di Radio Pinguin, BNI, Bali TV, profesional, klien, sampai ke pedagang tradisional yang kebetulan sering nonton Tembang Bali di Bali TV,

wah seru sekaligus lucu deh, ga jarang dikasi diskon tambahan pula, hahaha...” ujar Sonny sembari tertawa. Kepada generasi muda yang berniat untuk menekuni dunia siaran, Sonny pun memberi tips. “Rajin membaca dan selalu ikuti perkembangan berita. Ini kuncinya agar bisa eksis,” tegas Sonny. Ia sudah membuktikan dari yang hanya sekadar hobi, bisa saja menjadi ladang pemasukan. Daripada menghabiskan waktu untuk hal-hal negatif, lebih baik cari tahu apa potensi diri, kembangkan, minta saran orangtua dan senior. Jangan lupa berdoa, niscaya cita– cita akan terwujud. –Ngurah Budi

Ingin Punya Usaha Sendiri

Sonny dan Dayu Sri

Setelah sekian lama ditanya, kapan menikah, akhirnya Sonny melepas masa lajangnya. “Banyak yang tanya kapan nikah Son. Sekarang sudah terjawab,” ujar pria yang mempersunting Ida Ayu Sri Wahyuni, S.E. ini sambil tersenyum. Upacara pawiwahan dilaksanakan di gria Kawan Kemenuh, Desa Dencarik, Banjar, Buleleng

pada 30 Maret 2015 dilanjutkan dengan resepsi di Canang Sari Restaurant, Sanur, 2 April 2015. Sonny menuturkan dirinya pacaran dengan Dayu Sri selama enam tahun. “Ada teman yang mengenalkan kemudian saya pendekatan selama tiga bulan. Ternyata cocok. Kami pun pacaran. Setelah semua persiapan lahir dan batin kami

rasakan matang, kami menikah,” ujar pasangan yang sama-sama berkarier di dunia perbankan ini. Dayu Sri adalah putri pertama pasangan Drs. IB Putu Sudiarta Sudibya, M.M. dengan A,A. Arwiniati dari Gria Gede Sidemen, Desa Gulingan, Mengwi, Badung. Sonny menambahkan ia dan Dayu Sri sudah memiliki visi tentang masa depan mereka. Karena itu semua dipersiapkan dengan baik. Mereka ingin membangun mahligai rumah tangga yang mapan dan suatu saat nanti punya usaha sendiri. Setelah menikah, Sonny paham konsekuensi tentang manajemen waktu. Ia harus bisa membagi waktu antara karier sebagai personal banker officer di BNI Cabang Denpasar, penyiar radio Pinguin FM, presenter Bali TV, dan MC, serta membina rumah tangga. “Istri sudah paham semua kegiatan saya. Tinggal menyelaraskan saja,” tegasnya. –Ngurah Budi


4

Inspirasi

Edisi 842/ 30 Maret - 5 April 2015

di Akar Rumput

Satu dari empat kepala keluarga Indonesia adalah perempuan. Survei Pemberdayaan Perempuan Kepala Keluarga (Pekka) menunjukkan keluarga yang dikepalai oleh perempuan 60% di antaranya berada dalam kondisi sangat miskin. “Mereka ini adalah perempuan-perempuan hebat yang meski banyak diantaranya tidak berlatarbelakang pendidikan tinggi, namun memiliki semangat juang tinggi, baik dalam kehidupan maupun dalam memperkaya dirinya dengan pengetahuan,” kata Nani Zulminarni, Direktur Pekka, disela-sela acara pelatihan paralegal untuk anggota Pekka seluruh Indonesia.

elatihan yang berlangsung selama enam hari ini, kata Nani, merupakan salah satu program terkait pemberdayaan hukum guna penguatan organisasi serikat Pekka. Pelatihan menjadi paralegal ini sangat penting agar anggota Pekka menjadi ‘melek’ hukum dan dapat mengurus berbagai masalah terkait hukum secara mandiri. Misalnya, bagaimana mengurus akte kelahiran, perceraian ataupun jika terjadi kasus KDRT. Mungkin ini terlihat sepele, tapi untuk masyarakat di pelosokpelosok, hal tersebut menjadi

masalah karena mereka tidak mengerti juga tidak memiliki akses, ditambah lagi dengan latar belakang pendidikan yang rendah. Asal tahu saja, 50% dari komunitas Pekka adalah buta huruf dan pendidikan rendah. Dengan berbagai kendala yang dihadapi , tak heran kalau masalah administrasi kependudukan menjadi salah satu yang tertinggi kasusnya. “Banyak dari mereka tidak memiliki akte kelahiran, misalnya. Ini karena ketidakmengertian mereka mengurusnya. Sebanyak 70% anak-anak komunitas Pekka yang berada di pelosok-pelosok itu, tanpa akte. Jadi mereka

lahir saja, tidak ada pengurusan administrasi lainnya. Mereka merasa tidak penting karena tidak mengerti. Nah baru kalau terjadi suatu masalah, mereka terbentur dengan hal-hal yang terkait dengan identitas. Inilah yang perlu penyadaran bahwa betapa pentingnya identitas kependudukan,” tutur ibu tiga anak ini. Paralegal dari Pekka ini, antara lain tugasnya membantu anggota untuk ‘melek’ hokum juga membantu mereka dalam pengurusan hal-hal tersebut. “Pelatihan paralegal ini sudah sering kali diadakan, sehingga boleh dibilang sudah banyak anggota yang memiliki

Dulu Terpuruk Kini Berdiri Tegak Jika mengilas-balik kehidupan Nani Zulminarni, wanita ini mengaku dulunya tak pernah membayangkan kalau dirinya bakal menjadi aktivis perempuan. Tapi justru perjalanan hidup yang tak terduga menghantarnya menjadi aktivis pemberdayaan perempuan di akar rumput. Bukan kebetulan pula kalau di saat itu dirinya baru saja menyandang status janda, tiba-tiba muncul tawaran untuk m e -

motret kehidupan para janda di daerah konflik. Lewat aktivitasnya, Nani Zulminarni bukan saja berhasil menghantar para wanita yang terpuruk untuk ‘tegak berdiri’ tapi juga untuk dirinya, ia berhasil menyembuhkan luka bathin akibat perceraian. Dia bangkit dengan semangat luar biasa. Wanita kelahiran Ketapang, Kalimantan Barat 1962 ini, menghabiskan hampir sebagian besar waktunya untuk organisasi yang kemudian diberinya nama Pekka. Bersama ibuibu, ia berjuang menegakkan harkat para janda yang selama ini hanya dipandang sebelah mata oleh sebagian anggota masyarakat. Ia ingin wanita-wanita ini tidak hanya dipandang sebagai perempuan rumah tak berdaya, tapi dilihat sebagai sosok yang memiliki peranan penting karena fungsi dan tanggung jawabnya sebagai kepala keluarga. Ia ingin mengubah paradigma sebagian masyarakat tentang sosok janda, ia ingin menghapus stigma negative yang melekat pada predikat janda. Nani sadar itu tidak mudah, namun bukan tidak mungkin. One day later! Tidak ada lagi pandangan yang memojokkan dan meminggirkan kedudukan janda dalam masyarakat. –Diana Runtu

pengetahuan dasar tersebut. Anggota-anggota yang sudah terlatih ini kemudian akan menularkan pengetahuannya kepada anggota lainnnya.,” katanya. Saat ini, lanjut Nani, Pekka telah memiliki ‘Klik-Pekka’, ini merupakan klinik hokum bergerak untuk komunitas Pekka juga kalangan marjinal lainnya. Kehadiran ‘Klik Pekka’ ini, sekaligus menjawab tantangan tentang ketiadaan pengacara di tingkat kampung yang bisa mendampingi komunitas Pekka maupun kalangan marjinal lainnya apabila menghadapi persoalan hokum. Program ini, tambahnya, dapat berjalan dengan baik karena pemerintah memberi dukungan. “Kami melobi pemerintah, dalam hal ini lembagalembaga terkait untuk membantu agar ini bisa terlaksana. Ya tentu saja dalam melobi ini kita juga sodorkan data-data, fakta-fakta lapangan. Jadi sekarang ini kami membuka layanan terpadu atau layanan satu atap, untuk membantu masyarakat yang memiliki masalah. Misalnya, masalah hokum, ataupun dokumen kependudukan, termasuk akte nikah, akte cerai, dll,” terang Nani. Sebagai sebuah organisasi kemasyarakatan yang bergerak di bidang pemberdayaan perempuan kepala keluarga, perkembangan organisasi yang didirikan sejak 2001 ini boleh dibilang cukup pesat. Serikat Pekka kini telah ada di 19 provinsi dan anggotanya telah mencapai puluhan ribu orang. Ada banyak program yang dijalankan, di antaranya; pengorganisasian dan penguatan serikat Pekka dan organisasi perempuan di akar rumput, pengembangan system pengelolaan data dan informasi berbasis komunitas, advokasi berbasis data, pemberdayaan ekonomi, dll. Meskipun disebut organisasi perempuan kepala keluarga, kata Nani, bukan berarti semua anggotanya adalah para janda. Ada juga perempuan tidak menikah tetapi memiliki anak, atau perempuan bersuami tapi sang suami tidak bek-

erja karena sakit, dll. Intinya adalah, perempuan yang menjadi tumpuan perekonomian keluarga. “Saya sangat bersyukur organisasi ini berkembang semakin baik, hal ini berkat bantuan berbagai pihak, seperti pemerintah juga swasta. Yang terpenting lagi, para ibu kepala keluarga sangat bersemangat untuk memperbaiki kehidupannya juga membantu sesama,” ucap Nani yang barubaru ini meraih penghargaan Kick Andy Heroes 2015. Ini merupakan satu dari banyak penghargaan yang telah diterima Nani terkait kiprahnya sebagai aktivis pemberdayaan perempuan di akar rumput. “Alhamdulilah atas banyak penghargaan yang kami terima. Apresiasi ini merupakan support bagi kami di Pekka untuk terus berkembang. Penghargaanpenghargaan ini adalah untuk semua perempuan kepala keluarga yang menjadi pejuang dan pahlawan bagi keluarganya,” ungkap peraih penghargaan Best Practice Award’ dari Japan Social Development Fund (JSDF). Berbicara tentang pemberdayaan hokum, lanjutnya, ternyata didapat kenyataan bahwa kemiskinan dan keterpinggiran komunitas Pekka dan perempuan lainnya di wilayah kerja Pekka ternyata juga berkaitan langsung dengan persoalan hokum, khususnya hokum keluarga. Karena itu adanya paralegal Pekka menjadi sangat membantu, misalnya untuk mengakses identitas hokum, seperti akta kelahiran, dll. “Pendekatan pemberdayaan hukum yang dapat dilakukan Pekka ini tentunya masih masuk dalam ranah perdata. Adanya bantuan dari instansi terkait membuat kerja paralegal Pekka menjadi efektif dalam mengakses berbagai layanan, termasuk sidang keliling untuk itsbat nikah, dll ,” jelas penerima Global Fairness Award 2014 di Washington DC, ini. - Diana Runtu

21

Penghargaan Terbaik di Bidang Pengembangan Pariwisata Keseriusan Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat menjadikan pariwisata sebagai salah satu prioritas pembangunan daerah ini, ditunjukkan dengan kerja keras dan kesungguhan dalam menata seluruh hal berkaitan dengan hal tersebut. Potensi pariwisata daerah ini yang sangat besar membuat pilihan prioritas ini menjadi tepat.

K

Nani Zulminarni

Edisi 842/ 30 Maret - 5 April 2015

Kado bagi NTB

Nani Zulminarni

Aktivis Pemberdayaan Perempuan

P

Mandalika

ekayaan alam dan budaya NTB yang memesona menjadi kekayaan dan keunikan bagi provinsi yang didiami tiga suku (Sasak Lombok, Samawa Sumbawa dan Mbojo Bima Dompu) ini. Dua pulau yang ada di NTB yakni Pulau Lombok dan Pulau Sumbawa memiliki pesona dan keunikan masing-masing. Panorama pantai dengan pasir putih lengkap dengan bulir-bulir

nata dan mengelola kepariwisataan daerah ini kembali mengukir prestasi dengan terpilih sebagai provinsi terbaik bidang pariwisata dalam Government Award 2015 yang diselenggarakan oleh Sindo Weekly Magazine. Penghargaan diserahkan oleh Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional atau Kepala Badan Perencanaan dan Pembangunan Nasional Adrinof Chaniago didampingi CEO MNC Group Hary Tanoesoedibjo

pasirnya yang bundar bak merica, alam yang indah dan alami dipercantik dengan puluhan air terjun hingga keindahan bawah laut sampai ke dua gunung yang menjadi ikon Lombok Sumbawa, Gunung Rinjani dan Gunung Tambora, serta kebudayaan yang masih hidup dalam masyarakat membuat NTB menjadi salah satu tujuan pariwisata tanah air. Pengelolaan potensi ini terus dilakukan secara intensif, khususnya dalam tujuh tahun terakhir ini. Kerja keras dan keseriusan Pemerintah Provinsi NTB dalam me-

kepada Gubernur NTB, Dr. TGH. M. Zainul Majdi, pada malam Apresiasi Sindo Weekly Government Award 2015, yang dilaksanakan di Golden Ballroom Sultan Hotel, Jln. Gatot Subroto, Jakarta, beberapa waktu yang lalu. Menurut Adrinof Chaniago, penganugerahan Goverment Award 2015 ini merupakan bentuk kepedulian dan perhatian Sindo Weekly, yang berinisiatif memantau perkembangan kinerja pemerintah daerah di seluruh Indonesia. Pada saat memberikan sambutan, Adrinof juga mengapresiasi CEO MNC Group, Hary Tanoesodibjo sebagai salah satu sosok yang memotivasi setiap kepala daerah untuk terus berprestasi. “Usaha Pak Hary Tanoe

Taman Narmada Lombok Barat

Gubernur NTB, DR. TGH. M. Zainul Majdi, (dua dari kiri) menerima penghargaan atas prestasi NTB sebagai provinsi terbaik bidang pariwisata dalam Government Award 2015 yang diselenggarakan oleh Sindo Weekly Magazine

memberikan penghargaan bagi kepala daerah berprestasi patut kita apresiasi. Penghargaan ini akan memotivasi setiap kepala daerah untuk terus berprestasi,” ujarnya. Sementara itu, Sekjen Kemendagri Yusman Tumenggung menjelaskan, penghargaan Government Award 2015 diberikan kepada 38 daerah terbaik di Indonesia dengan rincian 16 kabupaten, 16 kota dan 6 provinsi. Enam provinsi yang menerima penghargaan itu di antaranya, Provinsi NTB yang menerima penghargaan terbaik di bidang pengembangan pariwisata, Jawa Tengah (terbaik bidang pelestarian budaya), Sumatera Selatan (terbaik bidang pelayanan publik), DKI Jakarta (terbaik bidang tata kelola pemerintahan), Jawa Barat (terbaik bidang kepedulian lingkungan) dan Papua (terbaik bidang pertumbuhan ekonomi). Government Award 2015 ini adalah yang kedua kalinya dilaksanakan dalam rangka memperingati HUT Majalah Sindo Weekly atau Sindo Weekly Magazine. Government Award 2015 yang bertujuan memberikan penghargaan bagi pemerintah daerah di Indonesia yang berprestasi baik di tingkat kabupaten, kota dan provinsi, berdasarkan tujuh belas kategori penilaian. Yakni prestasi di bidang pendidikan, kesehatan, infrastruktur, ekonomi kreatif, peduli lingkungan dan investasi. Selain itu, juga dalam bidang layanan publik, pariwisata, perempuan dan anak, tata kelola pemerintahan, keamanan dan toleransi, kreativi-

Pantai Kuta Lombok Tengah dengan pasirnya yang putih dan bundar

tas peningkatan PAD, pemuda dan olahraga, ketahanan pangan, pertumbuhan ekonomi, koperasi dan usaha mikro kecil dan menengah serta heritage. Gubernur NTB, Dr. TGH. M. Zainul Majdi mengatakan, penghargaan yang diperoleh tersebut semata-mata bukan penghargaan untuk gubernur. Tetapi, penghargaan untuk seluruh masyarakat NTB yang telah bersama-sama bekerja keras, melaksanakan pembangunan di daerah.

dimiliki sebuah daerah bisa lebih dikenal. Dengan begitu, industri pariwisata pun bisa berkembang pesat dan perekonomian di Indonesia akan mampu bersaing dengan negara-negara lain. “Saya yakin jika semua daerah berhasil mempromosikan keindahan daerahnya masing-masing, maka Indonesia akan sangat ramai dikunjungi wisatawan,” ungkap Majdi. Penghargaan ini menjadj kado bagi Nusa Tenggara Barat yang pada 11 April 2015 mendatang

Sejauh ini berbagai upaya pengembangan sektor pariwisata sedang dilakukan Pemerintah Provinsi NTB. Dalam hal ini, Pemerintah Provinsi NTB bersama pemerintah kabupaten/kota di NTB, akan terus melakukan promosi dan penataan destinasi agar dapat menarik minat wisatawan berkunjung ke daerah ini. Menurut gubernur, melalui promosi destinasi maka potensi pariwisata yang

akan menyelenggarakan puncak peringatan 200 tahun meletusnya Gunung Tambora yang pernah tercatat sebagai letusan terbesar sepanjang sejarah ini. Peringatan dua abad letusan Tambora dengan tema “Tambora Menyapa Dunia” menjadi salah satu upaya pemerintah NTB untuk menuju pencapaian kunjungan setidaknya 2 juta wisatawan ke daerah ini.

Wisata alam Sembalun yang asri

-Naniek I. Taufan


22

Sosialita Ida Ayu Gde Yadnyawati

Edisi 842/ 30 maret - 5 April 2015

Merajut Kebersamaan di Perantauan Nitmatnya kebersamaan sangat dirasakan benar oleh umat Hindu se-Jabodetabek. Sejak pagi mereka berkumpul di lapangan Monas Jakarta untuk mengikuti upacara Tawur Agung Kesanga yang kemudian dilanjutkan dengan sejumlah acara lainnya, termasuk parade ogoh-ogoh. Acara ini memang sudah rutin digelar sejak 1996 di wilayah Jakarta dan dikemas menjadi parade Ogoh-ogoh dan seni budaya nusantara sejak 2011 lalu.

T

ahun 2015 ini, acara dibuka oleh Wakil Gubernur DKI Jakarta Djarot Saiful Hidayat yang siang itu mengenakan pakaian khas Hindu berupa kemeja putih, sarung putih motif bunga serta ikat kepala batik Bali warna merah. Rencananya, perayaan Nyepi DKI Jakarta Tahun Baru Saka 1937 diadakan pada 31 Maret 2015. Tampil sebagai juara dalam parade ogoh-ogoh adalah PuraWidya Dharma, Cibubur sebagai juara I, Pura Wira Agung Dharma Samudera, Cilandak, sebagai juara II, dan Pura Kertajaya, Tangerang Banten, meraih juara III. Yang dinilai panitia bukan hanya sosok ogoh-ogohnya saja, tapi juga seni, daya kreasi juga atraksi peserta. Di luar persoalan hiburan, namun sesungguhnya ogoh-ogoh mempunya makna yang dalam bagi umat Hindu. Ogoh-ogoh adalah karya seni patung yang menggambarkan kepribadian Bhuta Kala, yaitu, dorongan dan keinginan negatif dalam diri manusia. Ada enam dorongan dan kekuatan negatif yang perlu dikendalikan. Yakni kroda (amarah), kama (nafsu), mada (kemabukan),

matsarya (serakah, dendam dan iri hati), lobha (rakus dan tamak) dan moha (kebingungan). Ogohogoh diarak sebagai simbol bahwa dalam keseharian kehidupan manusia selalu digoda oleh keenam dorongan dan kekuatan negatif di dalamnya. Kembali ke soal ogoh-ogoh yang dilombakan. Ogoh-ogoh raksasa yang dibuat para peserta lomba biayanya tidak sedikit. Jangan kaget kalau disebut satu ogoh-ogoh biayanya bisa mencapai puluhan juta rupiah. Sebut saja ogoh-ogoh ‘Narasinga’ yang dibuat oleh para pemuda Pura Tribuana Agung Depok, Jawa Barat. Ogoh-ogoh setinggi 5 meter dengan berat 350 kg ini, dibuat dengan biaya sekitar Rp20 juta-an. “Setiap peserta (Pura) mendapat bantuan dana untuk pembuatan ogoh-ogoh Rp 4 juta, sedang sisanya Rp15 juta merupakan dana swadaya umat di pura kami,” jelas Ketua Banjar Depok, Anak Agung Putu Surana. Menurutnya, penentuan tokoh apa yang akan diusung dalam Parade Ogoh-

ogoh itu sudah ditentukan jauhjauh hari. Narasinga atau disebut juga Narasingh adalah awatara (inkarnasi atau penjelmaan) Wisnu yang turun ke dunia, berwujud manusia dengan kepala singa, berkuku tajam seperti pedang, dan memiliki banyak tangan yang memegang senjata. Narasinga merupakan simbol dewa pelindung yang melindungi setiap pemuja Wisnu jika terancam bahaya. Di India, Narasinga sangat terkenal. Dalam festival tradisional India, kisah ini berhubungan dengan perayaan Holi, salah satu perayaan terpenting di India. Narasinga merupakan awatara yang paling terkenal setelah Rama dan Kresna. “Ogoh-ogoh ‘Narasinga’ ini dikerjakan selama 1,5 bulan oleh para remaja Pura Tribuana, dibawah bimbingan Wayan Arnana, dia adalah seorang seniman yang kebetulan bertempat tinggal di wilayah Banjar Depok. Untuk kepala ‘Narasinga’ kami telah memilikinya karena dulu pernah dipakai untuk sebuah acara. Jadi anak-anak tinggal membuat badannya saja,” ucap Surana. Mem-

Edisi 842/ 30 maret - 5 april 2015

3

Komitmen Jalankan Tujuan Pendidikan Salah satu peserta parade ogoh ogoh Monas 2015

buat ogoh-ogoh dengan sepenuh hati yang dilakukan para remaja pura diwaktu luangnya, sungguh menjadi suatu yang membanggakan. Hal ini katanya, sungguh momen yang tidak sering, karena masing-masing sibuk dengan kegiatan rutinnya. Meski tidak juara, namun nilai kebersamaan jauh lebih penting. “Bukan soal juaranya, tapi kebersamaan itu yang

jauh lebih penting. Kami tinggal ‘dirantau’ (di luar Bali), dimana kehidupan masyarakat umumnya berbeda, jadi adanya kegiatan ini sangat baik sekali. Anak-anak memiliki banyak kegiatan, namun mereka secara suka rela mau meluangkan waktu untuk bersamasama bergotong royong membuat ogoh-ogoh,” paparnya. –Diana Runtu

Pralina sebelum Dipajang Wilayah Banjar Depok meliputi, Depok I dan II Cimanggis, Vila Pertiwi, Citayam dan Depok Timur. Keseluruhannya ada 150 KK. “Kami datang ke sini dalam dua gelombang, sebagian masih mengikuti upacara di pura pagi tadi, sebagian lagi langsung ke sini. Tapi secara keseluruhan yang kumpul di Monas sekitar 90% warga banjar,” tutur Ketua Banjar Depok, Anak Agung Putu Surana. Wilayah Banjar Depok, meliputi Depok I, Depok II, Depok Timur , Cimanngis/Villa Pertiwi dan Citayam. Secara total di wilayah tersebut ada sekitar 150 KK beragama Hindu. Melihat besarnya biaya pembuatan ogoh-ogoh, bisa jadi orang yang tidak mengerti berpikir untuk apa membuang-buang uang yang begitu besar hanya untuk membuat ogoh-ogoh. Namun menurutnya, bukan soal berapa biaya yang dikeluarkan tapi makna sesungguhnya dari ogoh-ogoh itu yang harus dilihat. Di sisi lain, khususnya bagi umat sendiri, ada banyak manfaat yang bisa dipetik dari pengerjaan pembuatan ogohogoh secara bersama-sama. “Untuk para remaja sendiri, hal ini merupakan proses pembelajaran bagi mereka tentang kebersamaan, kegotongroyongan, disiplin dalam bekerja, bagaimana cara mengorganisir suatu pekerjaan, dll. Mereka yang tadinya tidak tahu tentang bagaimana cara membuat ini, juga menjadi tahu. Namun hikmah dari semua itu adalah semakin eratnya persaudaraan di antara umat. Ini boleh dibilang sebuah kesempatan yang jarang, berkumpul bareng, bekerja sama, karena masing-masing sibuk dengan pekerjaannya

Sosoknya memiliki karisma sebagai seorang pendidik. Ia dikenal tegas, disiplin, bertanggung jawab, berwawasan luas, visioner, kooperatif, ­profesional, dan pastinya idealis. Terutama dalam membimbing dan mengarahkan mahasiswanya demi bisa membangun generasi penerus yang makin baik. Demikian gambaran seorang Prof. Dr. Ida Ayu Gde ­Yadnyawati, M.Pd. dalam upayanya meningkatkan kualitas anak didiknya.

I

a mengatakan kualitas pendidikan sangat pen­ ting artinya karena hanya manusia berkualitas saja yang bisa bertahan hidup di masa depan, dimana dunia makin sengit tingkat kompetisinya.

Perempuan yang dikukuhkan sebagai Guru Besar di Universitas Hindu Indonesia (UNHI) bidang Ilmu Evaluasi Pendidikan pada 25 September 2014 ini menyatakan dirinya tulus mengabdi. Tugas se­ orang pendidik seperti dirinya ada­

Bersama ibu, kakak, dan adik

Bersama suami, anak, menantu, dan cucu

Anak Agung Putu Surana

masih-masing,” papar pria yang tinggal di kawasan Griya Lebak Depok ini. Tidak seperti ogoh-ogoh di Pura lain, menurut Sarana, ogohogoh ‘Narasinga’ ini tidak akan dibakar setelah acara ini. “Tidak semua ogoh-ogoh setelah prosesi dibakar. Tadi pagi di-pasupati atau ‘dihidupkan’ secara simbolis. Setelah acara tadi Pemangku melakukan upacara pralina atau dimatikan. Pemangku melakukan persembahyangan, itu adalah melakukan pralina artinya dimatikan atau dikembalikan seperti semula. Upacara ini untuk mengembalikan harmoni alam semesta setelah ‘hiruk-pikuk’ kehidupan terjadi. Jadi ogoh-ogoh ini, ya, sudah seperti patung biasa, tidak ada ‘isinya’. Setelah ini, boleh dibakar, kalaupun tidak, ya tidak apa-apa. Ibaratnya, boleh dipajang karena sudah seperti patung biasa,” jelasnya. –Diana Runtu

lah mencerdaskan manusia dengan komitmen mengaplikasikan tujuan pendidikan melalui empat pilar pendidikan yang baik untuk masa sekarang maupun masa depan. “Mulai dari learning to know, bagaimana siswa belajar tidak hanya berorientasi pada hasil tapi juga pada proses belajar yang tidak terbatas di kampus saja. Se­ bagaimana hakekat semboyan “belajar sepanjang hayat”. Learning to do, bahwa belajar bukan sekadar mendengar namun melakukan aktivitas untuk menguasai kompetensi dalam menghadapi tantangan hidup. Learning to be, berupa proses membentuk manusia yang memiliki jati diri. Dan, yang terakhir learning to live together, yaitu belajar beker­ jasama. Keempat pilar pendidik­ an ini sudah menggabungkan unsur IQ, EQ, dan SQ,” papar profesor perempuan pertama di UNHI ini. Mengenai ketegasan sebagai pendidik, Bu Dayu demikian ia biasa disapa mengatakan ada waktunya untuk tegas. “Misalnya urusan pemberian nilai. Saya tidak mau sembarangan. Siapapun dia, semua disesuaikan dengan kemampuan atau kompetensi yang dimiliki siswa. Evaluasi pemela­ jaran itu harus objektif. Namun, mereka tetap harus dididik dan dibimbing,” tandas istri dr. Ida

Kuatnya Dukungan Keluarga Bicara langkah kariernya, sesungguhnya sejak kecil anak kedua dari lima bersaudara ini sudah diarahkan orangtuanya menjadi guru. Sementara, ia justru ter­ tarik menjadi apoteker. Meski pilihan hatinya berbeda, namun sebagai anak dan tidak ingin mengecewakan orangtuanya maka ia mematuhinya. “Setamat SMP saya wajib masuk di SPG (Sekolah Pendidikan Guru),” kata putri pasutri Ida Bagus Ardana (alm) dengan Ida Ayu Gde Asmani ini. Meski agak berat, namun berkat motivasi yang kuat untuk terus maju dari sang kakak, Ida Bagus Gde Yudana, ia bisa menyelesaikan sekolah. Begitu selesai SPG, ayahnya yang juga seorang guru membujuknya bekerja menjadi guru. Rupanya Bu Dayu berani meno­ lak dan tetap ingin kuliah. Kembali atas bantuan sang kakak akhirnya ia memperoleh lampu hijau kuliah di FKIP Singaraja. ”Ternyata dunia pendidikan menarik dan seni,” kata Bu Dayu yang setelah berhasil diterima sebagai Dosen Kopertis Wilayah VIII dan ditempatkan di IHD ( sekarang UNHI ) Denpasar. Dari sini langkahnya makin mantap. Sebagai seorang dosen, ia dituntut terus mengembangkan wawasan. Akhirnya Bu Dayu mengikuti program Pascasarjana di IKIP Singaraja. Menyinggung kehidupan keluarga, Bu Dayu mengaku mengawali rumah tangga dari bawah. Kondisi ini pula menggiringnya bukan hanya untuk bersabar tapi juga bekerja keras. Berkat motivasi suami dan anak-anaknya, tahun 2003, ia berhasil meraih gelar Magister Pendidikan. Setahun berikutnya ia mendapat

kesempatan melanjutkan studi doktornya di Universitas Negeri Jakarta. Menyadari keluarga adalah pendidikan pertama dan utama, dan dengan pola asuh yang diterapkan­ nya, ia mampu menjaga komunikasi yang baik dan harmonis dengan anak-anaknya. Ketiga anaknya, dr. Ida Bagus Gde Suwibawa Putra tengah men­ empuh pendidikan dokter spesialis anak, Ida Ayu Gde Suwiprabayanti Putra P., S.Kom., juga sedang menempuh S2 di ITB dan si bungsa Ida Bagus Gde Suwitrisna Putra masih kuliah di STT Telkom Bandung. Atas perjuangannya pula tepat di usia yang ke 48 di tahun 2008, Bu Dayu yang berprinsip ilmu adalah harta yang paling abadi ini, berhasil lulus merah gelar doktor de­ngan hasil yang gemilang. Kemudian, sambil menjalankan tu­ gas mengajar, Bu Dayu juga melakukan penelitian atau karya ilmiah lainnya. Menulis artikel dan jurnal yang terakreditasi di nasional dan internasional. Menulis buku, menjadi pembicara di tingkal lokal maupun internasional, akhirnya mem­ buahkan hasil memenuhi persyaratan menjadi seorang guru besar. Di akhir percakapannya dengan Tokoh, Bu Dayu mengatakan ada hal yang tidak bisa ia lupakan ketika pe­ ng­ukuhan Guru Besar dilaksanakan yakni pada Weraspati Paing Dukut. “Hari pengukuhan bertepatan de­ ngan otonan saya. suami serta anak yang pertama,” tandasnya. – ard

Saat pengukuhan sebagai guru besar

Bagus Paramartha, MPH. ini. Jika mahasiswa terus saja dibantu, nantinya akan menyu­ litkan di lapangan apalagi untuk menyelesaikan masalah. Mem­ bantu tanpa mendidik justru akan mencelakakan masa depan anak didik. “Sebenarnya menjadi dosen itu lebih banyak sukanya, namun akan menjadi sedih ketika me­ lihat mahasiswa yang diberikan tugas tapi tidak dikerjakan atau tidak diselesaikan. Padahal

mereka ini juga tanggung jawab kami selaku pendidik,” urai dosen yang hobi menari, memasak dan membaca ini. Ketika disebut terlalu idealis, ia

justru menekankan kembali bahwa pendidik memang harus idealis, karena tugasnya membentuk ma­ nusia menjadi cerdas. “Jika ada mahasiswa yang mau menyusun tesis kemudian jarang ke kampus, dan bingung tidak tahu mau mulai dari mana. Sebulan sampai dua bulan juga belum mulai tapi malah mengatakan sulit. Yang seperti ini harus dimotivasi,” tu­ turnya. Ia mengatakan sebenarnya saat ini berbagai infor­ masi mudah diakses. Di sinilah mahasiswa diminta membaca dan membaca. Mengenai feno­ mena rekayasa nilai ujian yang sempat terjadi di beberapa sekolah demi mendongkrak nama sekolah, bagi Bu Dayu ini prilaku yang tidak te­ pat dan ia tidak setuju. “Apapun kecurangan yang dilakukan di dunia pendidikan, saya tidak setuju. Apa jadinya generasi muda kita, jika tidak mendidik mereka dengan benar. Tugas guru, pendidik juga orangtualah membuat orang cerdas, pintar dan berilmu,” tegasnya. Sebagai seorang dosen, demiki­ an juga dengan urusan pendidikan Bu Dayu sudah mencapai puncak. Sebuah perjuangan panjang sudah dilaluinya, saat menuntaskan gelar doktornya serta diraihnya gelar profesor. Sebagai dosen juga sudah melewati berbagai jenjang karier hingga kini tercatat sebagai Ketua Program Studi S3, Pendidikan Agama Hindu Pascasarjana UNHI. Ketika Tokoh menanyakan obsesi yang belum tercapai, den­ gan tegas ia mengatakan masih ingin memberikan sesuatu yang bermanfaat di dunia pendidik­ an dengan berkarya. “Melaku­ kan penelitian-penelitian dan bisa menemukan se­s uatu yang memang bermanfaat bagi pen­ didikan,” ujar Bu Dayu. -ard


2

Edisi 842/ 30 Maret - 5 April 2015

Ekspresso

GORO-GORO

DAri daPUr Redaksi

Kapan seperti Bollywood? Dari anak kecil hingga dewasa senang menonton film. Ada yang suka film action, komedi, drama, hingga kartun. Film dinilai bisa menjadi penghibur dan melepas kepenatan setelah melakoni rutinitas. Di Indonesia, film mendapat perhatian khusus, bahkan tiap tanggal 30 Maret diperingati sebagai Hari Film Nasional. Tanggal 30 Maret 1950 menjadi penanda lahirnya film Indonesia dengan hadirnya film “Darah dan Doa” yang disutradarai Usmar Ismail. Film ini dijadikan momentum lahirnya film nasional karena sutradara, produser serta badan perfilman adalah Indonesia asli. Sejak itu, film Indonesia terus menggeliat dan mencapai masa jayanya pada era 1980-an. Kala itu bioskop banyak berdiri. Di Kota Denpasar, ada Wisnu Theater, Denpasar Theater, Kumbasari Theater, Sahira, New Jaya, hingga Wisata 21. Beragam film Indonesia, mulai dari film silat, film drama, komedi, hingga film semierotis menjadikan bioskop selalu ramai. Namun, memasuki tahun 1990-an dunia perfilman nasional memasuki masa kelam. Jumlah film nasional sangat sedikit. Filmfilm produksi Hollywood dan Bollywood yang banyak menghiasi layar kaca dan layar lebar. Barulah pada era reformasi, perfilman nasional p e r l a h a n

mulai bangkit dan terus meningkat sampai sekarang. Film “Ada Apa dengan Cinta” bisa dikatakan sebagai penanda bangkitnya semangat film Indonesia. Setelah itu Jumlah produksi film terus meningkat, setidaknya tahun 2013 lalu mencapai 99 film setahun. Aktor Indonesia pun sudah ada yang terlibat dalam pembuatan film berskala internasional. Artinya kualitas aktor ini bisa mencapai standar internasional. Kini dengan makin canggihnya teknologi, dunia perfilman makin menggeliat. Teknologi yang dipakai makin canggih. Jumlah bioskop pun mulai tumbuh lagi. Di Denpasar dan Badung kini sudah hadir bioskop di Mall Bali Galleria, Beach Walk, Lippo Mall Kuta, dan Pertokoan Lokitasari Denpasar. Kehadiran bioskop-bioskop ini membuat animo masyarakat untuk menonton juga bangkit. Ada gengsi yang tersirat ketika kita menyaksikan film di bioskop dibandingkan dengan menonton film di rumah. Bioskop yang berlokasi di mall juga memiliki nilai lebih karena masyarakat bisa sekalian jalan-jalan sebelum atau s e -sudah menonton. Seperti yang diungkapkan Anwar Fuadi, Ketua

Putu Wijaya

Lembaga Sensor Film Indonesia, perkembangan film nasional sudah cukup baik, dibanding masa lalu. Sekarang sudah banyak film bermutu yang dilahirkan para sines Indonesia. Begitu juga para pemainnya. Ini suatu hal yang baik sekali. Namun begitu, dengan segala kemajuan yang kita capai saat ini, semuanya tidak boleh berpuas hati karena masih banyak yang perlu dibenahi, masih banyak kekurangan. Dari segi SDM, meski sudah lumayan, tapi tetap harus ditingkatkan. Kita ingin seperti di India, dimana film nasional telah menjadi tuan rumah di negeri sendiri,” kata Anwar Fuadi, yang juga aktor ini.

Lima Ribu

Hari itu aku merasa biasa– biasa saja. Aku bekerja dengan hati yang tenang. Hingga saat sore hari, ada banyak pelanggan yang datang ke toko, tempat aku bekerja dan semua karyawan kewalahan. Saat itu, seorang peranda datang untuk berbelanja dan aku mau tidak mau harus memberanikan diri untuk melayani beliau karena senior-seniorku sedang sibuk. Aku pun menyapanya. Ada rasa gugup yang menyelimutiku ketika orang berseragam putih itu menatapku dan membalas sapaanku dengan bahasa yang sangat santun. “Berapa niki harganya Gek?”

bacaan wanita dan keluarga

Penerbit PT Tarukan Media Dharma Terbit sejak 9 November 1998

tanya beliau kepadaku di selasela transaksi itu. Aku yang masih deg-degan melihat kode barang itu. “Niki lima biru eeh maksud titiange lima ribu nike Ratu” kataku. Ya ampun, aku malu pada

beliau. Padahal aku mau bilang harganya itu lima ribu, kok bisa keluarnya lima biru sih? Peranda pun tersenyum dengan tingkahku itu. Astaga, aku menertawai diriku sendiri. Hehehe… Kartini, Bangli

Bagi pembaca yang memiliki kisah unik, seru, menyebalkan, atau mengasyikkan dan ingin berbagi dengan pembaca ­lainnya, silakan kirim kisah Anda ke redaksi@tokoh.co.id. ­Panjang naskah maksimal 3.000 karakter. Sertakan juga nama dan nomor kontak Anda. Naskah yang muat di rubrik “OMG” akan mendapat bingkisan Tokoh. Info lebih lanjut, silakan hubungi Redaksi Mingguan Tokoh (0361) 425373

nyepi

“Nyepi kali ini, saya akan mati geni,” kata Amat, “tapi bukan dalam arti, yang biasa kita maknakan. Bukan lagi tidak menyulut api untuk masak, menyalakan rokok atau penerangan.” “Lalu apa dong?” “Mati geni yang tidak kasat mata. Bukan mematikan listrik atau sumber cahaya yang lain. Mati geni yang menyangkut nurani kita sebagai manusia. Mati geni dalam artian kiasan. Bukan berpuasa api, tapi memadamkan semua emosi dan ambisi di dalam jiwa.” “Jadi Pak Made, saya tidak akan mematikan api dan listrik, tapi tidak makan, tidak bicara, tidak melihat, tidak mendengar, tidak berpikir, tidak merasa. tidak tidur. Beku seperti minyak kelapa pagi-pagi kalau udara dingin. Saya akan mematikan semua keinginan apa pun!” “Juga tidak bernafas?” goda Pak Made, “berarti mati dong. Memang Pak Amat mau bunuh diri?” Amat senyum. “Ya, tidak begitu Pak Made. Bukan berhenti bernafas. Hanya menghentikan nafas yang disengajakan. Misalnya: tidak lagi menarik nafas panjang, kecewa; tidak menghela nafas, kesal; tidak menahan nafas dan sebagainya. Semua yang dilakukan dengan sengaja dlstop?” “Untuk apa?” “Untuk pemaknaan mati geni yang baru dan masuk akal, jadi bukan hanya sekadar mengikuti tradisi. Jelas maksudnya. Saya ingin melukat, membersihkan batin!” “Atau untuk minta perhatian?!” ejek Pak Made. Amat tidak menanggapi. Ia terus merealisasikan idenya. Mati geni dari sudut pandang baru. Agar berjalan mulus, Amat adakan latihan. Satu hari penuh Amat melaksanakan mati geni versi barunya. Hampirhampir gagal, karena Bu Amat, tidak diajak berunding., Karena penasaran, Pak Made terus memantau. Selesai latihan, Pak Made mengusut, apa yang dialami Amat selama eksperimen mati geni cap Amat itu. “Luar biasa, Pak Made. Tapi berat sekali. Tiga jam awal, saya tersiksa dan hampir putus asa. Tapi setelah itu, lancar sekali. Saya menemukan hal-hal baru dalam segala hal, yang tadinya saya sepelekan. Saya merasa dilahirkan sekali lagi. Kita semua, dengan segala keberadaan kita, bahkan dengan semua kekurangan kita, adalah karunia yang tak ternilai. Tapi kita sering lupa mensyukuri. Kita anggap itu semua sudah semestnya begitu. Kita alpa menikmati yang ada, karena kita selalu sibuk memburu yang tidak ada. Kita memuja yang belum kita miliki, lupa apa yang ada di tangan! Dengan mati geni seperti itu, mata, telinga, mulut perasan dan sebagainya jadi tambah peka. Begitu selesai mati geni dalam batin, saya merasa kaya, berlimpahan dan puas dengan apa adanya pada saya! Hebat, kan?!” Pak Made ketawa. “Kalau begitu, Pak Amat, akan mengulangi mati geni cap Pak Amat itu di hari-hari Nyepi mendatang?” Jawaban Amat tegas, mengejutkan: tidak!” Pak Made heran. Ia mulai merasa Amat lagi kacau. “Lho, kenapa?” Amat termenung. “Karena, tahu akan membuat kita tak bahagia. Berbahagialah mereka yang tidak tahu, kata Muchtar Lubis, pengarang yang menulis novel: Jalan Tak Ada Ujung - seperti yang diceritakan anak saya: Ami!” Pak Made ketawa. Ia anggap Amat sudah tambah ngawur. Mati geni versi Amat, sudah jadi bumerang. Ia cepat-cepat pergi. “Tunggu dulu, Pak Made!” Tapi Pak Made sudah kabur. Tinggal ketawa sinisnya mengejek Amat. Malam hari, Bu Amat cemberut setelah mendengar laporan dari istri Pak Made. Bu Made cemas, karena suaminya curiga. Amat, nampak agak terganggu. “Ada gosip setelah Bapak mati geni, Bapak sudah mejadi orang baru? Alias terganggu!” Amat terkejut. “Siapa bilang begitu?” “Bu Made. Dia dengar dari suaminya Bapak mengaku sudah lahir kembali. Apa maksudnya? Kata Pak Made, Bapak agak terganggu, Diusulkan cepat ke dokter saraf, sebelum terlambat.” Amat terkejut. “Kenapa bapak dituduh terganggu? Bapak cuma bilang, mati geni itu, tidak hanya tanpa api, tetapi utamanya tanpa emosi, tanpa ambisi, tanpa pretensi dan tanpa obsesi. Jadi Nyepi harus diteliti lagi pesan moralnya. Bspak sudah mencoba menafsirkan. Kesimpulnya; kalau segala emosi dimatikan itu akan membuat kita melempem. Yang benar emosi ditata. Karena itu karunia. Tanpa itu, sebagai manusia kita cacat. Jadi Bapak akan kembali pada tradisi Nyepi yang sudah kita lakukan!” “Makanya, kalau ngomong yang jelas. Orang lain bisa salah mengerti. Sekarang baru Bu Made. Besok semua ibu-ibu arisan akan bergunjing, tentang Bapak yang mulai terganggu!” “Biar saja. Bapak memang lagi terganggu!” “Apa?” “Pak Made salah tangkap! Ya begitulah, kalau orang belum selesai ngomong sudah disimpulkan dan ditinggal. Nyepi, bagai sebuah buku yang harus dibaca sampai kalimat terakhir.”

Pemimpin Umum/Penanggung Jawab: Gde Palgunadi. Redaktur Pelaksana: Ngurah Budi. Staf Redaksi/Pemasaran Denpasar: IG.A. Sri A r d h i n i , W i r a t i A s t i t i , S a g u n g I n t e n . J a k a r t a : D i a n a Ru n t u . N T B : N a n i e k D w i S u r a h m i . D e s a i n G r a f i s : I D N A l i t Budi­a rtha, I Made Ary Supratman. Sirkulasi: Kadek Sepi Purnama. Se­k retariat: Ayu ­A gustini, Putu Agus Mariantara, Hariyono. Alamat Redaksi/Iklan Denpasar: Gedung Pers Bali K. Nadha, Lantai III, Jalan Kebo Iwa 63 A ­Denpasar 80117–Telepon (0361) 425373, 7402414, 416676–Faksimile (0361) 425373. Alamat Redaksi/Iklan/Sirkulasi Jakarta: Jalan ­Pal­m erah ­B arat 21 G Jakarta Pusat 10270– Telepon (021) 5357603 - Faksimile (021) 5357605. NTB: Jalan Bangau No.15 Cakranegara, Mataram–­Telepon (0370) 639543– ­Faksimile (0370) 628257. Jawa Timur: Permata Darmo Bintoro, Jalan Taman Ketampon 22-23 Surabaya–Telepon (031) 5633456–­­ ­F aksi­m ile (031) 5675240. Surat Elektronik: redaksi@tokoh.co.id, iklan@tokoh.co.id. Website: www.tokoh.co.id. Bank: BRI Cabang ­G ajah Mada Denpasar. Nomor Rekening: PT Tarukan Media Dharma: 0017-01-001010-30-6. Percetakan: BP Jalan Kebo Iwa 63 A Denpasar.

Mozaik

Bahan Rempah Spanyol Perawatan Timur Tengah

Herb Spa, Surabaya adalah salah satu tempat perawatan bagi kaum wanita untuk mempercantik diri. Kecantikan adalah dambaan bagi setiap wanita, baik untuk usia muda maupun tua. Mereka ingin tampil beda, itu sangat menarik. Apalagi dengan aroma wewangian yang memesona, boleh melirik Herb Spa.

U

ntuk perawatan tubuh, ada pelanggan yang memilih massage spa ketimbang massage saja seperti pada perawatan cleopatra. Dengan wangi yang tahan lama ini, hingga tiga hari. Sementara untuk perawatan favorit adalah totok wajah. Salah satu pemilik Herbs House of Relax & Spa Syukria Alkatiri menuturkan bahan spa menggunakan bahan rempah khas dari Spanyol. Herb Spa ingin menonjolkan perawatan Timur Tengah yang aroma wanginya tahan lama serta tidak menyengat. Salah satu perawatan yang ditawarkan adalah spa Cleopatra yang diminati pelanggan Herb. Dengan memadukan perawatan model Timur Tengah dan tradisional Indonesia, Spa Cleopatra merupakan perawatan kecantikan dengan menggunakan rempahrempah yang membersihkan dan menyegarkan tubuh serta menjaga kesehatan daerah intim kewanitaan. Selama 2,5 jam perawatan dimulai body massage dengan menggunakan massage oil yang memberikan efek rileksasi di seluruh otot tubuh. Selanjutnya dilakukan body steam untuk detoksifikasi yang mengeluarkan kotoran dari dalam tubuh, yang kemudian diangkat dengan body scrub. Cleopatra adalah ratu Mesir kuno yang terkenal dengan kecantikannya yang mampu membuat Kaisar Romawi bertekuk lutut. Spa Cleopatra bisa dilakukan oleh perempuan segala usia mulai remaja hingga dewasa. Karena efeknya bagus untuk tubuh. Tahapan selanjutnya adalah berendam dengan air rempah han-

gat. Fungsinya untuk mengharumkan tubuh dan menambah rileksasi. Selesai berendam, seluruh tubuh dibalur parfum natural kemudian diuapi ratus pada daerah intim kewanitaan guna mengharumkan dan memberi kesegaran. Terakhir, minum jamu untuk merawat kesehatan tubuh sekaligus merawat organ intim dari dalam. Spa Cleopatra ini memiliki kelebihan, dibandingkan body spa lainnya, antara lain keharumannya bertahan lama. Tubuh akan tetap harum selama 2 hingga 3 hari. Meski saat mandi memakai sabun wangi dari spa Cleopatra tetap tidak hilang dan luntur. “Saran saya, lakukan sekali dalam dua minggu agar memberikan hasil yang maksimal,” ujarnya Totok Aura Wajah ini bisa dilakukan 2 kali dalam sebulan untuk para perempuan yang tidak terlalu sibuk. Namun, bagi perempuan yang sangat sibuk sebaiknya intensitasnya lebih ditingkatkan untuk melakukannya misalnya seminggu sekali. Langkahnya dimulai dengan pembersihan wajah, lalu dipijat seluruh wajah baru kemudian diberi krim. Langkah berikutnya yakni mulai dengan penotokan tepat di titik lymphatic dan dibersihkan dengan air hangat sampai bersih.

Treatment

“Langkah tadi itu tidak memakai masker. Jika pakai masker, usai ditotok kemudia dimasker sesuai kebutuhan kulit tentunya yang cocok untuk wajah, wajah normal, berminyak, kering atau berjerawat. Tunggu 10 sampai 15 menit baru dibersihkan. Untuk peel off setelah selesai kemudian diangkat mask-

Edisi 842/ 30 Maret - 5 April 2015

23

New Rush Makin Sporti Toyota Rush kini hadir dengan desain yang lebih tangguh dan dinamis melalui New Toyota Rush. Konsep New Rush sebagai mobil Sport Utility Vehicle (SUV) terbaru ini diwujudkan dengan tampilan modern dan sporti. “Sejak pertama launching pada 2006 lalu, Toyota Rush mendapat respon positif dari pelanggan di segmen SUV medium. Kini kami memperkenalkan New Toyota Rush dengan disain yang lebih sportif dan dinamis,” kata M. Jainuri, Kepala Cabang Auto2000 Sanur yang didampingi Triyana Anom (Kepala Cabang Auto2000 Tabanan), Wahyu Adhie (Kepala Cabang Auto2000 Gianyar) dan Haris Prasetya (Kepala Cabang Auto2000 Cokroaminoto, Denpasar) saat peluncuran New Rush, Kamis (26/3). Triyana Anom menambahkan New Rush menggunakan mesin 1.500 cc DOHC teknologi VVT-I, berkonsep adventure yang mampu menembus jalanan berair, licin, berbatu, dan tanjakan. Mobil ini dijual dengan harga mulai Rp 247 juta hingga Rp 278 juta. Berdasarkan data tahun 2014, Toyota Rush memimpin penjualan di kelas SUV Medium dengan market share 48%. Tahun 2015, dari Januari hingga Februari, Rush tetap memimpin dengan market share 54,9%. -Ngurah Budi ernya,” ujar Syukria. Saat selesai, wajah menjadi segar dengan proses singkat dan enak. Sementara wajah yang tadinya lelah, setelah ditotok sudah tidak lelah lagi pastinya. Tidak hanyak itu, totok wajah ini juga dapat mengurangi stres dan wajah tembok bisa kenyal kembali. “Totok aura wajah membuat aura wajah kita terlihat dan keluar. Tentunya ini berbeda dengan facial, meski facial teratur belum tentu bisa membuka auranya,” ujarnya. Eva Jawas, yang juga pemilik Herbs House of Relax & SPA menambahkan, arrusah hair treatment merupakan rangkaian perawatan yang terdiri dari shampoo, creambat cream, hair tonic, dan tonic. Dengan memadukan antara kandungan aloe vera, ekstrak daun seledri dan susu domba. Treatment ini berfungsi untuk menguatkan, menyuburkan, melembabkan rambut serta keharumannya memikat. Menciptakan sensasi perawatan rambut yang eksotik dari Timur Tengah. Untuk tahapan perawatannya diawali dengan men-

cuci rambut dengan shampoo yang mengandung ekstrak aloe vera atau lidah buaya, daun seledri, susu domba. Yang berfungsi untuk menutrisi kulit kepala sehingga dapat melembabkan dan melebatkan rambut. Selanjutnya mengaplikasikan cream creambath pada seluruh permukaan rambut dan kulit kepala disertai dengan pemijatan agar kandungannya meresap secara optimal. Kemudian dengan steam kepala selama 15 menit dengan menggunakan capsteam atau handuk hangat (untuk ibu hamil), yang berfungsi agar cream perawatan lebih meresap. “Bilas sampai bersih. Aplikasikan hair tonik, dan keringkan dengan handuk sampai setengah kering. Setelah setengah kering, diuap dengan asap ratus,” jelasnya. Dikeringkan kembali dengan hair dryer hingga kering sempurna. Kalau dikeringkan secara alami juga bisa. “Untuk perawatan rambut bisa memakai perawatan seperti alpukat, gingseng dan lainnya,” pungkasnya. -Diyah

Dari Hobi Jadi Bisnis Syukriya Alkatiri bersama saudaranya Eva Jawas dan saudara laki-lakinya menekuni bisnis bersama. Bisa dikatakan bisnis keluarga, namun pengelolahannya tetap tersistem. Mereka tetap menerapkan sistem gaji. Keuntungan yang mereka dapat tidak semata-mata langsung dibagi, namun semuanya ada perinciannya. Berapa saham yang mereka punya dan berapa orang yang bekerja itu semuanya sudah terinci dengan baik dan sudah ada dalam kesepakatan awal berapa prosentase yang mereka dapat. Herb Spa sudah ada 11 tahun lalu, perempuan keturunan Timur Tengah ini mendirikan tempat treatment yang hanya khusus untuk wanita. Berawal dari hobi yang suka spa, akhirnya tercetus ide tersebut. “Untuk menjalankan sebuah bisnis tidak hanya diperlukan kata suka saja, belajar dan mencari ilmu supaya bisa,” kata Syukriya. Ide membuat tempat perawatan yang beda dengan tempat spa lainnya ataupun berbeda dengan klinik, karena Herb Spa murni untuk wanita. Treatment khusus wanita ini mengambil konsep bangunan lama yang dipermak sedikit supaya pengunjung nyaman ada disana. Dengan bangunan kolonialnya, spa ini menjadi unik. Begitu melewati pintu masuk, kita akan menemukan lobi dengan kursi-kursi kayu yang diberi bantalan kasur. Untuk perawatan favorit totok aura wajah dan body spa karena itu memang produk ung-

gulan di Herb Spa. Tiap harinya ada 20 hingga 30 orang pengunjung yang datang. Ketika pertama kali buka, tidak ada pengunjung yang datang tetapi mereka tetap berusaha untuk bertahan. Kalau dihitung, pertumbuhannya tiap tahunnya bisa mencapai 30%. Ia juga menambahkan, jika pelanggan loyal sekitar 70%, sedangkan untuk pelanggan baru 30%. Dengan melibatkan 15 pegawai, kini Herb Spa buka lagi di kawasan Ngagel setelah sebelumnya hanya ada di Prapanca Surabaya. –Dyah

Syukriya Alkatiri


24

Edisi 842/ 30 Maret - 5 April 2015


Turn static files into dynamic content formats.

Create a flipbook
Tokoh Edisi 842 | Tokoh by e-Paper KMB - Issuu