Skip to main content

Tokoh Edisi 810 | Tokoh

Page 1

What’s Up

24

18 - 24 Agustus 2014

LP2B Bali Diakui Indonesian Seafarers Unions

Sebagai Lembaga Penyuplai Kandidat Kapal Pesiar Terkemuka Nama LP2B Bali memang sudah akrab bagi masyarakat Gianyar dan Negara khususnya, Bali umumnya. Kiprahnya sudah diakui tak sebatas di tingkat lokal tetapi juga secara nasional. Ini terlihat dari pengakuan ISU (Indonesian Seafarers Unions) bahwa LP2B adalah salah satu lembaga terkemuka dalam penyuplai kandidat (tenaga kerja) untuk bekerja di kapal pesiar.

Gedung LP2B Bali Kebo Iwa

Dedek Arimbawa, S.H.

S

eperti yang diakui Dirut LP2B Bali Dedek Arimbawa, S.H., pengakuan ISU tak lepas dari kiprah kampus yang didirikan sejak tahun 1999 ini. Sebagai sekolah perhotelan dan kapal pesiar pertama di Bali Timur, LP2B mampu menunjukkan kredibilitasnya sebagai kampus yang mampu mencetak tenaga kerja kompetitif dan siap bersaing. “Kami memberikan bukti bukan janji. Masyarakat percaya kepada LP2B karena keberhasilan kampus yang telah memberangkatkan lebih dari 1.000 kandidat ke perusahaan kapal pesiar di seluruh dunia. Kualitas kami yang menumbuhkan kepercayaan masyarakat, di samping berbagai prestasi yang kami raih selama 15 tahun berkiprah,” jelas Dedek Arimbawa. Kampus terfavorit bagi generasi muda cerdas dan kreatif ini dari tahun ke tahun mengukir prestasi cukup membanggakan. LP2B ditetapkan sebagai lembaga terakreditasi A yang meraih penghargaan dari Kementerian Tenaga Kerja RI sebagai Kampus Berprestasi, satu-satunya kampus di Kabupaten Gianyar yang memiliki izin penempatan kerja (PPTKIS) dan prestasi-prestasi lainnya. Melalui kurikulum yang tepat dan selalu disempurnakan mengacu pada SKKNI, pengajar yang kompeten dan profesional, dan sarana belajar-mengajar yang lengkap dan terkini, ditunjang dengan adanya LSP (Lembaga Sertifikasi Profesi) LP2B, maka LP2B siap mengantarkan SDM yang kompeten (dibuktikan dengan Sertifikat Kompetensi lewat Uji Kompetensi) sehingga mampu berkompetisi dalam merebut peluang kerja dan berwirausaha, baik di dalam dan di luar negeri. Mahasiswa LP2B disediakan fasilitas pelatihan/training di beberapa hotel berbintang milik keluarga besar Pande Beng Gianyar yang berlokasi di Ubud, Kuta dan Jimbaran. “Selain training di hotel-hotel milik kampus, kami juga bekerjasama dengan puluhan hotel berbintang di dalam dan luar negeri,” kata Dedek Arimbawa. Partner dengan Agen Cruise Partner LP2B dalam pengiriman kandidat untuk bekerja di per­hotelan

Pejabat setempat saat wisuda mahasiswa LP2B Bali

dan kapal pesiar di antaranya dengan PT. D’Marine, PT. Arimbawa Wiyanthi dan PT. Meranti Magsaysay sebagai agen kapal pesiar seperti TUIMein Schiff Cruise Line, Ibero Cruise Line, Princess Cruise Line, Aida Cruise Line, Costa Cruise Line, dll. Selama berkiprah, LP2B telah meluluskan ribuan naker profesional dan 95% sudah bekerja tersebar di berbagai hotel berbintang di dalam dan luar negeri serta kapal pesiar. “Saat ini dibutuhkan banyak kandidat yang akan walk interview oleh user. Saya berharap kesempatan ini bisa dimanfaatkan sebaik-baiknya dan kami memfasilitasi dengan berbagai kemudahan termasuk biaya yang sangat terjangkau. Apalagi sarana dan prasarana belajar sudah dilengkapi sesuai standar internasional,” tambah Dedek Arimbawa. Meningkat Tajam LP2B saat ini membuka pendaftaran bagi mahasiswa baru untuk gelombang III. Jumlah mahasiswa yang sudah belajar saat ini (gelombang I dan II) mencapai 300an orang. Ditargetkan sampai gelombang IV, jumlah mahasiswa mencapai 400 orang. Mahasiswa baru ada yang berasal dari Denpasar, Sumbawa dan Lombok. “Jumlah mahasiswa baru meningkat tajam dibanding tahun-tahun sebelumnya. Ini memacu kita untuk terus meningkatkan kualitas performance,” lanjut Dedek Arimbawa. Dedek mengingatkan, saat ini peluang bekerja di kapal pesiar sangat terbuka lebar karena banyak perusahaan kapal pesiar menambah jumlah armada mereka sehingga makin banyak tenaga kerja yang dibutuhkan. LP2B sendiri cukup kewalahan memenuhi permintaan user khususnya untuk posisi cook dan spa therapist. Minimnya minat generasi muda bekerja sebagai cook dan spa therapist di kapal pesiar lebih banyak karena kurang mampu dalam berkomunikasi (Bahasa Inggris) dan skill yang kurang. “Padahal gaji

sebagai cook dan spa therapist cukup besar. Kurangnya minat disebabkan kurangnya kepercayaan diri dan attitude (kedisiplinan) serta etos kerja mereka yang rendah,” tegas Dedek Arimbawa. LP2B yang memiliki 4 kampus (3 di Gianyar dan 1 di Negara) menawarkan banyak kelebihan yakni menyediakan gratis table manner di hotel bintang 5, gratis kursus Bahasa Inggris sampai bisa diterima di kapal pesiar, gratis fitness, bursa kerja di hotel dalam dan luar negeri (termasuk kapal pesiar) serta gratis jalan-jalan ke Singapura dan Thailand bagi siswa berprestasi. Baru-baru ini LP2B melangsungkan wisuda 194 orang. LP2B Informatika Selain LP2B Bali, Dedek Arimbawa juga mendirikan LP2B Informatika. Sekolah ini berdiri tahun 2.000. Melalui kurikulum yang tepat dan selalu disempurnakan, pengajar yang profesional, sarana belajar-mengajar yang lengkap dan terkini, LP2B Informatika siap mengantarkan SDM untuk berkompetisi dalam merebut peluang kerja dan berwirausaha.

Gedung LP2B Negara

Gedung LP2B Informatika “Ke depan kami akan menjadikan LP2B Informatika sebagai sekolah tinggi yang siap melahirkan sarjanasarjana informatika yang andal dan siap pakai. Apalagi prospek lulusan bidang informatika sangat cepat diserap dunia kerja,” tutur Dedek Arimbawa yang juga Dirut LP2B Informatika ini. LP2B Informatika satu-satunya kampus komputer dengan gedung termegah di lokasi premium dan

strategis di Gianyar, dilengkapi dengan laboratorium terlengkap dan modern, peralatan terbaru yang digunakan di dunia internasional. Menggunakan software terbaru dalam perkuliahannya dan di-support oleh owner, baik dari bidang perhotelan dan pariwisata maupun komputer informatika seperti carrer center, advertizing, dsb. Perkuliahan di ruangan ber-AC, jaringan free WiFi access, dll. –ari

Program LP2B Bali Meliputi program 1 Tahun (Basic), 2 Tahun (Middle) dan 3 Tahun (Upper) serta program Cruise ­Line­ (1 Tahun). Materi perkuliahan: Tata Boga (Cook), Tata Hidangan (FB), House Keeping, Front Office, Bakery & Pastry, Spa Therapist, Bartending, Galley Steward, Hotel Management, Culinary Butler, dsb. Alamat : -Jln. Kebo Iwa No. 21 Gianyar, tlp. (0361) 943671 -Jln. Dharma Giri No. 23 Gianyar, tlp. (0361) 2088153 -Jln. Raya Negara Gilimanuk (Banyu Biru) Km-4, tlp. (0365) 4731558 Website: www.lp2bbali.com Email: lp2b.kapalpesiar@gmail.com, recruitment@lp2bbali.com

Program LP2B Informatika Materi perkuliahan: Desain Grafis dan Multimedia, Teknik Komputer, Komputer Informatika, Manajemen Bisnis & Akuntansi serta Administrasi Rumah Sakit. Alamat: -Kampus A, Jln. Kebo Iwa No. 21 Gianyar Bali, tlp. (0361) 943671. -Kampus B, Jln Dharma Giri No. 99 Gianyar Bali, tlp. (0361) 8958258. Email: info@lp2b-informatika.com, www.lp2b-informatika.com.


2

Ekspresso DAri daPUr Redaksi

18 - 24 AGUSTUS 2014

Ziarah

Pembaca yang terhormat, Tokoh edisi 810 yang Anda baca ini hadir lebih awal. Biasanya Tokoh hadir tiap hari Minggu. Namun, karena hari Minggu (17/8) bertepatan dengan Hari Proklamasi Kemerdekaan RI ke-69 dan hari libur, maka kami memajukan jadwal edar. Kami mohon permakluman dengan kondisi ini. Terbitan 811 dan seterusnya, Tokoh kembali beredar hari Minggu. Peringatan Hari Proklamasi Kemerdekaan RI ke-69 ini mungkin menjadi istimewa bagi bangsa Indonesia. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono akan menjadi Inspektur Upacara untuk yang ke sepuluh kalinya sekaligus yang terakhir. SBY sudah dua periode atau sepuluh tahun menjadi Presiden RI. Momen ini tentu dimanfaatkan SBY untuk menyampaikan terima kasih atas dukungan seluruh masyarakat disertai permohonan maaf jika ada hal yang kurang berkenan. SBY juga sudah menitipkan pesan kepada Jokowi sebagai presiden terpilih untuk menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Kepada para pemimpin politik, SBY berharap mereka mau melakukan ziarah ke taman makam pahlawan untuk mengenang sejarah perjuangan mereka. Ziarah ke taman makam bisa dilakukan kapan saja, menjelang peringatan Hari Proklamasi Kemerdekaan, menjelang Hari Pahlawan, bahkan menjelang hari ulang tahun instansi. Ini merupakan bentuk hormat kita kepada para pahlawan yang sudah berjuang untuk merebut kemerdekaan. Di Bali, salah satu lokasi yang bisa menjadi tempat ziarah adalah Monumen Nasional Taman

Pujaan Bangsa Margarana. Di Taman Pujaan Bangsa ini ada monumen untuk mengenang perjuangan I Gusti Ngurah Rai dan pasukan Ciung Wanara. Acara doa dan tabur bunga menjadi ritual yang bisa dilakukan. Semoga para pejuang yang gugur membela kehormatan bangsa ini bisa menjadi penyemangat kita untuk berjuang mengisi kemerdekaan. Salam

Monumen Nasional Taman Pujaan Bangsa Margarana

Ternyata Kembar

Pengalaman yang saya alami ini membuat saya selalu tertawa. Antara lucu, malu, dan kaget campur jadi satu. Tetapi, saya selalu mengambil hikmah dari peristiwa yang saya alami ini. Saya bekerja di sebuah departement store di bagian pakaian laki-laki. Suatu ketika ada seorang remaja yang melihat-lihat kaus. Saya pun membantu melayani dengan mencarikan ukuran yang dia inginkan. Remaja berpakai­ an merah itu lalu menentukan pilihan­nya. Tetapi, ia tidak langsung membayar. “Saya bilang ayah dulu ya,” ujarnya sambil berlalu. Tak lama kemudian, remaja itu datang lagi. Ia pun memilih kaus seperti yang dilakukan tadi. Anehnya, remaja tadi sudah berganti baju. Tadi dia berbaju merah, sekarang baju hitam. Pilihannya pun sama dengan yang tadi. Dia juga pergi untuk mencari ayahnya. Saya merasa ada sesuatu yang

mingguan berita wanita Penerbit PT Tarukan Media Dharma Terbit sejak 9 November 1998

tidak beres. Saya curiga, remaja ini mau mempermainkan saya. Bahkan saya berpikir, dia mau mencuri ka­ rena sudah berganti baju. Tak lama kemudian, remaja berbaju merah datang lagi dan minta kaus yang dia pilih tadi. Saya bingung karena dia dua kali datang dengan baju yang beda tetapi milih kaus yang sama. “Anda jangan main-main ya, dari tadi bolak-balik milih malah gontaganti baju,” ujar saya. Remaja ini bingung karena saya “semprot”. Dia lalu pergi dan kembali bersama seorang lelaki yang umurnya sekitar 50 tahun dan seorang remaja yang wajahnya sama tetapi berbaju hitam. Oh my God... ternyata remaja ini kembar, hanya baju yang

mereka pakai beda warna, satu merah, satu hitam. “Ternyata Anda kembar ya,” kata saya dengan sedikit tersipu. Ayah si remaja itu tersenyum. “Anak saya memang kembar. Ternyata mbak memperhatikan dengan baik. Saya salut dengan perhatian mbak,” jawab si ayah. Saya pun mengatakan saya harus bertanggung jawab terhadap barang yang ada. Karena itulah saya mengawasi pembeli dengan teliti. Akhirnya remaja kembar itu jadi membeli kaus bermotif sama tetapi beda warna. Saya menyampaikan terima kasih sekaligus minta maaf kepada si kembar. Ketika sampai di rumah, saya ceritakan pengalaman ini kepada suami. Dia pun tertawa terbahak-bahak sekaligus memuji ketelitian saya. Fatia, Kuta

Bagi pembaca yang memiliki kisah unik, seru, menyebalkan, atau mengasyikkan dan ingin berbagi dengan pembaca ­lainnya, silakan kirim kisah Anda ke redaksi@tokoh.co.id. ­Panjang naskah maksimal 3.000 karakter. Sertakan juga nama dan no kontak Anda. Naskah yang muat di rubrik “OMG” akan mendapat bingkisan Tokoh. Info lebih lanjut, silakan hubungi Redaksi Mingguan Tokoh (0361) 425373

GORO-GORO

merdeka

Setelah 69 tahun merdeka, ada tetangga bertanya. “Apa betul kita sudah merdeka, Pak Amat?” Putu Wijaya Amat jadi beringas. Ia menganggap pertanyaan itu kurang ajar. Lantas Amat menjawab gemas. “Kalau kita belum merdeka, Pak Tohir tidak akan mungkin bisa mempertanyakan kemerdekaan kita dengan nyeleneh begitu! Maaf itu keliru Pak Tohir! Tidak boleh berpikir begitu!” Pak Tohir tertawa. “Sabar Pak Amat, sabar. Kalau betul kita sudah merdeka, kenapa saya dan banyak orang sampai bertanya seperti itu?” “Ya, karena kita sudah merdeka! Karena Pak Tohir dan mereka yang lain-lain itu sudah merdeka, jadi segala unek-unek tidak-tidak diumbar. Padahal sudah jelas, sejak proklamasi 17 Agustus 1945 kita sudah merdeka, sehingga bebas mempertanyakan apa saja!!” “Betul! Secara formil kita memang sudah merdeka. Tapi Pak Amat, mengapa saya tidak merasa merdeka?” Amat tambah kesal. “Ya itu karena Pak Tohir sudah merdeka! Orang yang sudah merdeka bebas berpikir dan merasakan apa saja! Termasuk mengaku dirinya tidak merasakan kemerdekaan!” “Jadi menurut Pak Amat! Kita sudah merdeka?” “ Ya, iyalah! Jelas!” “Tapi kalau betul kita sudah merdeka, kenapa Pak Amat melarang saya menanyakan: apa kita sudah merdeka?” “Saya tidak melarang, tapi . . .” “Tapi hanya melarang!” Amat tertegun. Pak Tohir tertawa lagi. “Setelah merenung Bapak tiba-tiba merasa salah,” kata Amat menceritakan kejadian itu pada Ami.” “Salah? Kenapa salah, Pak?” “Salah, karena Bapak sudah mengganggu kemerdekaan Pak Tohir yang merasa kita belum merdeka.” “Terus?” “Lalu Bapak diam saja.” “Kenapa diam?” “Karena kita sudah merdeka. Sebagai orang merdeka Bapak kan bebas untuk bicara atau diam.” Ami tertawa. “Pasti Pak Tohir merasa menang!” “Memang, dia terus tertawa mengejek. Tapi Bapak tidak peduli. Bapak jadi tahu bahwa meskipun kita sudah merdeka sejak 69 yang lalu, tapi ada orang, antara lain Pak Tohir, memang belum ikut merdeka! Karena itu Bung Karno selalu berkata: revolusi belum selesai!” Ami menatap Amat. “Saya tidak mengerti Pak!” “Bapak juga tidak mengerti. Kok ada orang tidak ikut merdeka padahal kita sudah merdeka. Sejak Bung Hatta dan Bung Karno memproklamasikan kemerdekaan kita, kita sudah merdeka! Merasa merdeka atau belum, tidak peduli, itu urusan pribadi. Yang jelas, secara formil sejak proklamasi kita sudah merdeka! Titik!” Ami tersenyum. “Mestinya Bapak katakan itu pada Pak Tohir.” “Untuk apa?! Tidak ada gunanya bicara pada orang yang belum merdeka. Karena kepalanya masih dikuasai virus kolonial!” “Kalau begitu tidak ada masalah dong!” “Ada, kenapa tidak! Ada! Itu masalah besar. Kalau ada warga di negara merdeka merasa negaranya belum merdeka, itu namanya pemberontakan! Subversif!” “Atau, sebaliknya Pak?” Amat terkejut. Ia menatap Ami dengan takjub. Ami jadi heran. “Kenapa, Pak?” Amat menjawab lirih. “Betul. Jangan-jangan-jangan Bapak sendiri sebetulnya yang subversif, karena melarang Pak Tohir berpendapat, padahal sudah merdeka 69 tahun!” Pulang dari rumah Ami, Amat langsung menemui Pak Tohir. “Pak Tohir maaf, saya sudah melarang kebebasan berpendapat Pak. Ternyata setelah 69 diproklamasikan kita masih saja belum merdeka. Saya contohnya. Saya sudah melarang kebebasan berpendapat Pak Tohir. Pasti banyak orang seperti saya. Jadi Pak Tohir benar, kita memang belum merdeka!” Pak Tohir terkejut. “Lho Pak Amat, maaf. Itu sebenarnya bukan pertanyaan saya. Saya hanya membantu seorang tamu bule yang sedang membuat angket tentang kemerdekaan. Saya harus bertanya kepada 100 orang apakah mereka merasa sudah merdeka setelah 69 tahun kemerdekaan diproklamasikan.”

Pemimpin Perusahaan: IDK Suwantara. Redaktur Pelaksana: Ngurah Budi. Staf Redaksi/Pemasaran Denpasar: IG.A. Sri A r d h i n i , W i r a t i A s t i t i , S a g u n g I n t e n . J a k a r t a : D i a n a Ru n t u . N T B : N a n i e k D w i S u r a h m i . D e s a i n G r a f i s : I D N A l i t Budi­a rtha, I Made Ary Supratman. Sirkulasi: Kadek Sepi Purnama. Se­k retariat: Ayu ­A gustini, Putu Agus Mariantara, Hariyono. Alamat Redaksi/Iklan Denpasar: Gedung Pers Bali K. Nadha, Lantai III, Jalan Kebo Iwa 63 A ­D enpasar 80117–Telepon (0361) 425373, 7402414, 416676–Faksimile (0361) 425373. Alamat Redaksi/Iklan/Sirkulasi Jakarta: Jalan ­Pal­merah ­Barat 21 G Jakarta Pusat 10270–Telepon (021) 5357603 - Faksimile (021) 5357605. NTB: Jalan Bangau No.15 Cakranegara, Mataram–­Telepon (0370) 639543– ­F aksimile (0370) 628257. Jawa Timur: Permata Darmo Bintoro, Jalan Taman Ketampon 22-23 Surabaya–Telepon (031) 5633456–­­ ­F aksi­m ile (031) 5675240. Surat Elektronik: redaksi@tokoh.co.id, iklan@tokoh.co.id. Website: www.tokoh.co.id. Bank: BCA Cabang ­Pal­m erah Barat Jakarta. Nomor Rekening: PT Tarukan Media Dharma: 229.3006644 Percetakan: BP Jalan Kebo Iwa 63 A Denpasar.

18 - 24 AGUSTUS 2014

Mozaik

23

Penjual Pohon Pinang Panen Berbicara tentang Hari Proklamasi Kemerdekaan, tentu tidak lepas dari upacara bendera dan berbagai lomba yang digelar masyarakat, seperti lomba balap karung, makan kerupuk, tarik tambang, gebuk bantal, dan panjat pinang. Di Kalimalang, Jakarta Timur, ada lomba gebuk bantal di atas sungai. Gebuk bantal adalah ‘perang’ peserta sambil duduk di atas sebilah bambu yang diletakkan melintasi sungai. Lomba ini lumayan sulit karena warga harus menjaga keseimbangannya agar tidak terjatuh ke kali ketika digebuk lawannya. Mereka yang jatuh, menjadi pihak yang kalah. Lomba lain yang dipadati penonton adalah panjat pinang. Taman Mini Indonesia Indah dan Taman Impian Jaya Ancol tak pernah absen menggelar lomba panjat pinang yang diikuti pengunjung. Tahun lalu, 168 pohon pinang dengan hadiah totalnya ratusan juta rupiah, menjadi rebutan ratusan warga. Festival Panjat Pinang, memang merupakan agenda rutin Taman Impian Jaya Ancol tiap peringatan HUT Proklamasi Kemerdekaan. Tahun ini pun lomba ini digelar lagi bertajuk “Panjat Pinang Kolosal”. Bagi masyarakat umum lomba panjat pinang memang tidak selalu diadakan. Untuk menggelar lomba ini perlu modal yang tidak sedikit. Harga sebatang pohon pinang Rp700 ribu, belum lagi biaya membeli berbagai hadiah menarik. Soal hadiah, memang harus menjadi daya tarik utama sehingga warga mau ikut lomba ini. Jika hadiah biasa-biasa saja, warga tak akan mau karena me-

Super Internet Festive

Program Super Internet Festive yang dilaksanakan Cellular World bekerja sama dengan Indosat sudah dilaksanakan. Hadiah utama berupa dua Suzuki Karimun Wagon R diraih Koming Diah Untari dan Agus Wahyudi Putra. Pengundian program ini dilaksanakan Sabtu (9/8), sedangkan penyerahan hadiah utama dilakukan Senin (11/8). Marketing Cellular World, Gede Wirakusuma mengatakan program ini mendapat tanggapan yang positif dari konsumen. Selama enam bulan pelaksanaan program, 9.000 kartu perdana Indosat terjual. Hadiah utama berupa 2 unit mobil menjadi salah satu daya tarik bagi konsumen melakukan pembelian ponsel maupun tablet komputer yang dipaketkan dengan kartu perdana Indosat. Head of Indosat Area Bali Nusra, Heny Tri Purnaningsih menambahkan Indosat saat ini sedang menggenjot penggunaan layanan data. Modernisasi jaringan yang sudah selesai dilaksanakan di Bali akan menambah kenyamanan pelanggan dalam memanfaatkan layanan data. –Ngurah Budi Suasana lomba panjat pinang

manjat pohon pinang tidak mudah. Menurut catatan sejarah, lomba panjat pinang ini telah ada sejak zaman penjajahan Belanda. Ketika itu, orang-orang Belanda yang sedang mengadakan acara besar seperti pernikahan, dan lain-lain, menggelar lomba panjat pinang untuk masyarakat pribumi. Hadiah yang diperebutkan biasanya bahan makanan seperti keju, gula, serta pakaian seperti kemeja. Di kalangan pribumi barang-barang seperti ini termasuk mewah. Sementara orang pribumi bersusah payah untuk memperebutkan hadiah, para orang-orang Belanda menonton sambil tertawa. Tata cara permainan ini belum berubah sejak dulu. Pihak yang juga tetap menginginkan lomba panjat pinang lestari adalah para penjual pohon pinang yang marak di Jakarta sejak awal Agustus ini. Menjual pohon pinang

dan segala atribut hari Kemerdekaan adalah ladang bisnis musiman yang hanya ada pada bulan Agustus. Di Jakarta, ada beberapa tempat penjualan pohon pinang untuk keperluan lomba, salah satunya di Jl Manggarai Utara, Jakarta Selatan. Menurut Ridwan, salah seorang penjual pohon pinang, ‘Agustusan’ tahun ini penjualannya meningkat tajam dibanding tahun lalu. Untuk pohon pinang sepanjang 9 meter, dijual dengan harga Rp 750 ribu. Harga ini lebih mahal dibanding tahun lalu, karena ongkos angkut pohon yang berasal dari Serang, Banten, Jawa Barat, ini juga mengalami kenaikan. “Harga masih bisa nego, tapi tidak bisa kurang dari Rp 700 ribu. Ini harga termurah,” ujarnya. Harga yang ditawarkan Ridwan memang tergolong murah karena di tempat lain ada yang membandrol pohon pinang hingga Rp 1 juta per pohon. –Diana Runtu

Pelatihan Indonesia Digital Learning

Dalam mewujudkan Kota Denpasar sebagai Kota Digital Society, Telkom melakukan pengembangan masyarakat digital melalui pelatihan kepada guru-guru dengan sertifikasi internasional. Kegiatan ini bekerja sama dengan Intel Indonesia Corporation (Intel) dan Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga Kota Denpasar. Acara yang diselenggarakan berupa seminar dan pelatihan Indonesia Digital Learning (IDL) bagi guru di Kota Denpasar dan dibuka Kadisdikpora Kota Denpasar Ir. Gusti Ngurah Eddy Mulya, S.E., M.Si, Selasa (12/8). GM Witel Bali Selatan, I Gusti Bagus Ranuh mengatakan seminar diikuti 300 guru, sedangkan pelatihan diikuti 100 guru. Menurut Ranuh, pengenalan dan penguasaan guru terhadap IT sangat penting. Jika guru dapat terus meningkatkan pengembangan IT termasuk metode pengajarannya, otomatis akan mendorong siswanya juga untuk menguasai IT. Di sisi lain, penguasaan IT penting bagi siswa agar nanti setelah memasuki usia kerja bisa sukses dalam menghadapi persaingan yang semakin ketat. Eddy Mulya menambahkan program ini nanti akan menjadikan guru lebih kreatif. Tiap guru yang ikut pelatihan diharuskan menularkan ilmunya kepada guru-guru lain yang belum ikut pelatihan. Business Development Manager Intel Indonesia Corporation, Ganis Samoedra Muharyono menjelaskan dalam implementasi Pembelajaran Abad 21, Intel bersama mitranya berkolaborasi memberikan solusi edukasi digital. --Ngurah Budi

11th Anniversary House of dura Bali

Banjir Diskon dan Hadiah Tak kurang dari 150 pelanggan setia memadati Klinik Kecantikan House of dura Bali yang berlokasi di Jalan Tukad Yeh Ho No. 8 Renon, Denpasar, Minggu (10/8). Di hari jadinya yang ke-11 tersebut, House of dura Bali mengadakan gathering yang dikemas sederhana, namun tetap banjir diskon dan hadiah. Khusus hari itu, ditawarkan pembelian perawatan dengan harga promo, yakni diskon 50% untuk program Executive Facial (Dura Micropeel, Oxypure, Peeling, Dura 3 Magic Step, Dura Acne Program) yang merupakan perawatan best seller di House of Dura Bali; diskon 40% untuk bleaching gigi dengan teknologi terbaru, free scaling gigi (pem-

Tim House of dura Bali

bersihan karang gigi); diskon 50% untuk semua perawatan di Dura Salon. Para pelanggan yang melakukan transaksi pembelian perawatan dengan jumlah tertentu saat itu, juga mendapatkan undian berhadiah langsung. “Saat ini, promo yang masih berlaku hingga

akhir Agustus 2014 adalah diskon 40% bleaching gigi,” ujar Manajer Operasional House of dura Bali, Luh Widnyani. Dengan moto The Beginning to Endless Beauty, House of Dura tak henti-hentinya membuat terobosan baru di bidang kecantikan dengan fasilitas teknologi mukhtahir, serta memberikan kenyamanan pelayanan dan transaksi kepada pelanggannya. Pelanggan yang sudah mengantongi D’card sebagai sistem member (keanggotaan) yang diberlakukan di seluruh House of dura di

Indonesia, memiliki lebih banyak keuntungan. “Jika customer membeli atau mengisi voucer D’card, maka akan mendapatkan free perawatan, dan penambahan saldo perawatan. Dengan D’card ini customer juga mendapatkan reward point yang dapat ditukarkan dengan berbagai hadiah,” jelasnya. Klinik Kecantikan ini juga dilengkapi dengan salon, serta fasilitas pelayanan bedah mulut dan gigi oleh dokter spesialis. Hadir dalam acara tersebut, Manager Networking Duraskin Indonesia, Tan Eva Syarif, perwakilan House of dura seluruh Indonesia, dan owner House of

dura Bali, pasutri Rustam dan Farida yang turut membaur dalam suasana kekeluargaan. “Kami berterima kasih kepada pelanggan setia yang sudah hadir dalam acara ini, dan terimakasih pula telah mempercayakan pelayanan perawatan kecantikannya kepada kami,” ucap Luh Widnyani. Hal senada dilontarkan Tan Eva Syarif. Ia juga berharap di usia yang ke-11 ini House of Dura Bali terus meningkatkan pelayanan untuk bisa menjadi lebih baik lagi, makin maju dan berkembang hingga menjadi klinik kecantikan yang terlengkap dan ternyaman di Bali. –bns/ten

Gathering yang dihadiri pelanggan setia House of dura Bali


Metropolitan

22

18 - 24 Agustus 2014

JGC Rawa Bening

Surganya Belanja Permata Anda penyuka perhiasan bertahtakan batu permata atau sekadar kolektor batu mu­ lia? Mungkin, Jakarta Gems Center Rawa ­Bening, bukan tempat yang asing lagi. Namun, bagi yang belum tahu, cobalah berkunjung ke pusat penjualan batu mulia dan akik yang konon salah satu yang ter­ besar di Asia. Tempat yang menjadi surga belanja aneka permata ini, menggelar aneka permata dari yang tersohor seantero dunia (impor) hingga yang biasa-biasa saja.

T

ak sulit menjangkau tempat ini karena letaknya sangat strategis dan dilalui banyak angkutan umum dari Terminal Kampung Melayu. Lokasi persisnya, di depan Stasiun Kereta Api Jatinegara, Jl Raya Bekasi Barat. Kalau Anda berkunjung di hari biasa, mungkin kondisi lalu lintas di kawasan sekitar agak padat. JGC Rawa Bening berada di kawasan sibuk Jatinegara-Mester yang dikenal sebagai salah satu pusat perdagangan di wilayah Jakarta Timur. Tak jauh dari JGC terdapat Pusat Grosir Jatinegara Mester. Di gedung tiga lantai itu, dijual aneka batu mulia impor yang sudah terkenal se-dunia seperti ruby (mirah delima) dari Myanmar dan Thailand, safir dari Sri Lanka, emerald atau zamrud dari Kolombia, dll. Tak ketinggalan, semua batu mulia dan akik dari dalam negeri juga dijual di sini. Sebut saja, batu bacan dari Halmahera Selatan, sungai dareh, indocreas dari Aceh, anggur spritus raja dari Sumatera, dll. Tak salah kalau disebut Rawa Bening pusat belanja permata kare­ na bisa dibilang serba lengkap. Di sini bukan hanya ada para pedagang batu mulia dan akik tapi juga para pengrajinnya yang membuka lapak di lantai dasar. Mereka ini para pengrajin yang menerima order mengasah, memotong, pemolesan batu mulia, Jadi kalau Anda membeli batu mentah dan ingin menggosoknya maka para pengrajin siap menggarapnya. Harga menggosoknya tergantung tingkat kesulitannya, biasanya Rp 50 ribu atau lebih jika batu mulia itu termasuk memiliki kesulitan tinggi. Jasa pemotongan dan pemolesan lebih murah. Tidak itu saja, di sana juga ter­

di sana batu mulia atau batu akik asli. Karena itu diperlukan kejelian dalam berbelanja. Namun jangan khawatir, di Jakarta Gems Center juga disediakan laboratorium untuk menguji keaslian batu, namanya, ‘Tasbih Gemological Laboratory of Gems Stone ‘ . Di sini selain menguji

sedia aneka pengikat batu mulia/ akik, baik yang terbuat dari emas, perak, tembaga, baja putih, kuningan, dll. Soal harga, tergantung bahan juga desain, dari puluhan ribu hingga ratusan ribu. Jika Anda memiliki desain khusus, dapat di­ pesan di sini namun tentu harganya lebih mahal. Bagaimana dengan keaslian batu? Ya, memang ini menjadi masalah tersendiri bagi mereka yang awam. Karena asal tahu saja, tidak semua barang yang dijual

keaslian batu, juga memberi layanan sertifikasi batu mulia. Fasilitas ini disiapkan mengingat harga batu-batu mulia, apalagi yang kelas super, bisa mencapai puluhan hingga ratusan juta rupiah. Meski begitu, bagi yang koceknya terbatas, di sana ada juga

Suasana di JGC Rawa Bening

batu yang harganya murah meriah, puluhan ribu rupiah. Hanya saja, dengan harga begitu jangan berharap pada kualitas. Di luar itu, juga dijual batu sintetis dengan harga bersahabat. Tetapi, para pembeli harus teliti agar tidak tertipu. -Diana Runtu

tkh/deddy kristiady

“Demam” Batu Permata Seiring dengan “demam” batu permata yang tengah melanda berbagai kalangan dalam beberapa tahun terakhir ini, JGC pun kebanjiran pengunjung, khususnya saat weekend dan hari libur. Mereka datang bukan hanya dari sekitar Jabodetabek (Jakarta,Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi), tapi juga dari berbagai daerah di Indonesia, bahkan turis mancanegara seperti Jepang, Malaysia, Tiongkok dan Korea Selatan. Banyaknya wisatawan asing berburu batu permata di JGC Rawa Bening masuk dalam salah satu agenda kunjungan wisata belanja di Jakarta untuk wisatawan asing. Menurut Dwi, kolektor batu mulia, ia kerap datang ke pusat belanja batu mulia sejak tahun 1990-an. Kala itu, pusat belanja batu mulia tersebut masih dikenal dengan sebutan Pasar Batu Akik Rawa Bening. Gedungnya pun belum semegah sekarang. Malah dulu boleh dibilang agak kumuh dan semrawut. Tapi herannya, banyak turis asing datang. Karena Indonesia dikenal sebagai salah satu negara yang memiliki banyak batu mulia bermutu tinggi. “Pasar ini ada sejak tahun 1980-an, dikenal sebagai pasar batu akik. Dulu pedagangnya hanya puluhan. Pasar ini makin berkembang dan terkenal hingga ke manca Negara. Banyak turis asing datang ke sini,. Itu juga yang mendorong pasar batu permata ini berkembang semakin besar hingga akhirnya seperti sekarang,” tutur Dwi yang juga melakoni bisnis sampingan jual-beli batu mulia. Menurutnya, orang awam kadang bingung tentang perbedaan batu akik dan batu mulia. Perbedaan dua benda tersebut adalah dari kekerasan batu yang dihitung berdasarkan skala Mohs (skala kekerasan minel Mohs). Batu akik adalah batu permata dengan kekerasan yang rendah atau di bawah 7,5 dalam skala Mohs, sedangkan batu permata dengan level kekerasan di atas 7,5 disebut batu mulia. “Karenanya,

Aneka batu perhiasan

harga batu akik pun lebih murah dibanding batu mulia. Namun, batu akik memiliki banyak penggemar karena keindahannya,” jelasnya. Berbicara tentang harga permata, menurut Dwi, tidak ada yang pasti atau tidak ada standarnya. Karena kadang jika orang sudah suka dengan suatu batu yang indah, mereka akan berani beli dengan harga tinggi. Saat ini batu mulia yang sedang ‘naik daun’ adalah batu bacan. Ada beberapa jenis batu bacan, yang paling diburu adalah bacan Doko dan bacan Palmea. “Nama batu-batu ini mengikuti tempat di mana batu itu berasal. Kalau bacan Doko warnanya hijau, sedang bacan Palmea warnanya hijau muda kekebiruan. Makin bening batunya, makin mahal harganya karena kualitasnya masuk ke golong super,” tutur Dwi yang memiliki beberapa bacan Doko dan Palmea. Tren berburu batu bacan ini, katanya, terjadi beberapa tahun belakangan ini. Padahal dulunya, batu ini kurang dilirik dibanding lainnya. Namun setelah diketahui keistimewaan bacan serta pesona yang terkandung di dalamnya, ditambah lagi, batu ini bisa berubah warna menjadi lebih terang, orang pun makin memburunya. Apalagi batu ini dipercaya memberi kemakmuran pada pemakainya. “Keunikan lain dari batu ini adalah makin lama warnanya makin terang. Ini karena proses kristalisasi yang terjadi secara alami,” jelasnya. Harga batu bacan menjadi makin mahal karena batu yang berasal dari Pulau Bacan, Kab Halmahera Selatan, ini, diburu oleh pedagang permata dari mancanegara seperti Tiongkok, Taiwan, dan Korea Selatan. Harga batu bacan tergantung kualitasnya, dari Rp 200 ribu sampai Rp 8 juta. Sedangkan jika membeli bongkahan harganya dari puluhan hingga ratusan juta dengan kualitas super. “Namun belakangan kualitas super langka,” tambahnya. Selain batu bacan, sejumlah batu mulia lainnya yang juga laris di pasaran di antaranya, batu sungai dareh yang konon dipakai oleh Presiden AS Barack Obama, kalimaya , green garut, dll. “Ada banyak batu mulia di sini, hanya saja bagi mereka yang awam hendaknya hati-hati dalam membeli. Apalagi membeli dari orang yang tak jelas, karena di sini selain pedagang ada juga yang secara individu menawari batu mulia. Kalau mau yakin, ya, periksa dulu keasliannya, di sini ada kok tempat cek batu asli atau tidak,” ungkapnya. Hal senada juga diingatkan Effendi, salah seorang pedagang batu mulia. Menurutnya, kadang orang awam tidak bisa membedakan antara batu mulia asli dan batu sintetis. “Kalau mau beli batu, harus perhatikan baik-baik. Batu sintetis, misalnya, biasanya ada gelembungnya, kalau alami ada serat-serat alami batu,” tuturnya. “Dulu, untuk mengetes asli atau palsu, dengan meneteskan air di batu itu. Katanya kalau air itu nggak pecah, berarti itu batu asli. Kalau pecah, berarti palsu. Tapi itu bukan jaminan,” ucapnya. -Diana Runtu

18 - 24 Agustus 2014

Sosialita

3

Putu Suandewi

Bergaya dan Berdaya Berangkat dari hobi, ia pun menggarap usaha bidang fashion. Seiring berjalannya waktu, usaha dan kreativitasnya juga berkembang. Kini, karya-karyanya dengan brand “Anyar” yang identik dengan etnik, simpel namun tetap berkelas dan anggun di segala suasana, dengan mudah di temui. Penasaran? Datang saja ke Butik Anyar di area kawasan Pertokoan Denpasar Junction, di Jalan Teuku Umar No 1, Denpasar.

Dewi Anyar menerima karangan bunga dari Ketua Dekranasda Kota Denpasar Ny. Selly D. Mantara usai pagelaran busana di JFFF di Jakarta.

M

enurut Putu Suandewi, S.E., yang lebih dikenal dengan panggilan Dewi Anyar ini, sejak awal usaha ia memang fokus pada material yang berbau tradisi, seperti endek, songket dan bordir. Ia menilai pamor kebaya di Bali, tidak akan pernah turun. “Kebaya sudah menjadi busana tradisional yang sangat memasyarakat. Hampir sebagian besar kegiatan yang berhubungan dengan adat dan budaya mengenakan kebaya,”katanya. Peluang ini yang ditangkap dan digarap dengan jeli oleh ibu muda ini. Langkahnya cepat, apalagi ia juga lahir di daerah pusat kesenian dan budaya ini. “Karena itu pula, untuk padanan kebayakebaya koleksi Butik Anyar, saya yakin memilih hasil kerajinan lokal berupa endek dan songket. Sekarang motifnya sudah sangat bervariasi begitu juga warna

makin banyak pilihan,” ujar Dewi dengan senyum. Sebagai salah seorang pengusaha yang tumbuh dan berkembang di kota Denpasar, serta mendapatkan banyak kesempatan untuk meningkatkan usaha maupun skill dalam berbisnis, ia merasa wajib berbuat untuk Denpasar. Karena­ nya, anggota Asosiasi Bordir, Endek, dan Songket (Asbest)Kota Denpasar ini, memiliki komitmen turut mendukung pengembangan ekonomi kreatif yang tak henti dipacu oleh pemerin­t ah Kota Denpasar. Begitu pula bersamasama rekan-rekannya di Asbest, mereka ingin menguatkan citra bahwa warisan tradisi bisa mengakomodasi selera berbagai kalangan dan mengikuti trend fashion. “Kalau bukan kita siapa lagi yang berbuat?,”cetusnya. Istri I Ketut Adi Suyasa, S.H. ini menuturkan awal bisnisnya mulai ketika masih remaja ia melihat sang mama sangat asyik dengan

Dewi Anyar dan suami tercinta

usahanya di bidang kecantikan dan kain-kain tradisional. “Meski dijalankannya di rumah, usaha mama ketika itu sangat prospektif dan pembelinya mengalir,” ucapnya. Melihat kerja yang menyenangkan sekaligus menghasilkan tersebut, membuat Dewi yang memang doyan fashion ini, tertarik memiliki usaha seperti mamanya. Begitu mencoba dan mendapatkan antusiasme pasar baik, menjadikan semangat wirausahanya makin tergali. Begitu pula setelah berkeluarga, atas dukungan penuh sang suami, Dewi tetap memilih melanjutkan usahanya. Di sini, ia merasa tepat memilih langkah ini, sebab dengan berwirausaha, ia memiliki kebebasan waktu dalam bekerja. Hal ini juga memudahkannya mengatur atau menyeimbangkan urusan bisnis dan keluarganya. JADI DESAINER Tahun 2005, Dewi masih menjadikan rumahnya sebagai tempat usaha. Semua dijalaninya dengan suka cita, dengan tidak pernah berhenti menawarkan setiap ada koleksinya yang baru kepada teman dan kerabatnya. “Ketika itu saya hanya mengandalkan strategi pemasaran dari mulut ke mulut. Tiap ada produk baru langsung diinformasikan. Astungkara peminatnya terus bertambah,” ujar Dewi Anyar. Ibu dari Genta Taruna Suyasa (15) dan Bunga Mahadewi Suyasa (10) ini, mengaku menyadari kesuksesan tidak datang dari langit. Kini ia bekerja dibantu dengan empat orang tenaga yang tetap dan kreasi produknya terpajang dengan indah di butiknya. Ini adalah hasil dari kerja keras dan

Genta

banyak langkah yang sudah dilakoninya dalam pengembangan usahanya. “Action, action, dan action, itu kunci yang saya jalankan,” tegasnya. Perempuan kelahiran 6 November 1974 ini, memang sangat energik, ia tidak pernah berhenti bergerak untuk menggapai kemajuan dengan terus belajar dan berupaya. Tahun 2011 ia pun menjajal kemampuannya dalam hal mendesain busana. Baginya profesi ini memiliki tantangan tersendiri, selain menuntut kreativitas yang tinggi juga wajib memiliki referensi soal mode yang luas. “Saya bisa menjadikan seseorang yang semula biasa saja, bisa tampil beda dan pastinya lebih menarik. Ini juga merupakan bagian dari amal kan,” cetus sulung dari tiga bersaudara buah hati pasangan I Made Sutedja dan Ni Ketut Suari Aryantini ini. AKTUALISASI DAN SOSIALISASI Mengenai karya-karyanya yang

Bunga

dipajang di butik, Dewi mengatakan konsep busananya yang cenderung chic, elegant dengan nuansa etnik. Ini adalah desain yang mempresentasikan kalangan ibu–ibu muda dengan penampilan yang cantik, bersahabat dan energik. Saat ini, kreasi-kreasi Dewi makin dihargai dan digemari. Karyanya banyak yang dikenakan di berbagai acara termasuk di beberapa pagelaran fashion show lokal maupun nasional. Hal ini, merupakan impian pribadinya sebagai wanita yang ingin membuktikan ia bukan hanya suka bergaya tapi juga berdaya dan membuat keluarganya bangga. Ada juga langkah kecil lainnya yang dicoba ibu satu ini, yakni ikut berpartisipasi pada Sanur Village Festival (Sanfes) yang ke-9 pada 20–24 Agustus ini di area Segara Beach Sanur. Pada pagelaran acara yang tetap mengutamakan nilai-nilai sosial budaya, bersama rekannya Rhea Cempaka dan Winda, Dewi akan mengisi arena kuliner dengan masakan khas Bali. “Datang ya ke stan kami, namanya Tabia Bali. Kami menyediakan lawar, balung, urap-urapan.., ” ujarnya berpromosi. Dewi merasa belum puas dengan hasil yang diperolehnya saat ini. Ia masih menyimpan keinginan untuk memperbesar usahanya. Sebab, bisnis bagi penggemar traveling ini, selain tempat untuk beraktualisasi, menjadi sarana untuk sosialisasi juga dapat memberikan manfaat bagi orang lain disamping tak dimungkiri turut membantu perekonomian ­keluarga. -ard


4

Inspirasi

18 - 24 AGUSTUS 2014

Verdy Bhawanta dan Yussa Patusama

Penggagas Indobarian Street Workout “Jika latihan nge-gym perlu waktu satu tahun untuk membentuk badan terlihat ideal. Namun, dengan mengikuti metode indobarian cukup tiga bulan, untuk mendapatkan hasil yang sama,” demikian pernyataan yang cukup berani disampaikan Verdy (43), praktisi mixed martial arts (olahraga full contact modern yang memperboleh­ kan petarung menggunakan teknik pukulan, tendangan, bantingan, dan kuncian saat bertarung) ini. Apa sebenarnya metode indobarian dan bagaimana ia menemukannya?

M

Yussa dan Verdy

enurut I Made Verdy Bhawanta, yang juga instruktur capoeira ini, indobarian atau kini lebih dikenal dengan indobarian street workout ini, adalah program olahraga alternatif yang menggunakan gabung­ an metode calisthenics (bentuk latihan yang hanya menggunakan berat badan kita untuk membentuk otot), yoga, capoeira, martial art,dan meditasi. “Aktivitasnya menitik beratkan pada latihan jiwa, jasmani, dan pemikiran, “ujar Vedy, ditemui Tokoh saat pulang kampung ke Bali beberapa waktu lalu. Didampingi sang adik I Nyoman Yussa Patusama, yang juga bersama –sama mendirikan” Indobarian Street Workout Indonesia” ini, Verdy menambahkan, berlatih indobarian, salah satu alternatif membangun fisik, mental, dan spiritual dalam waktu yang bersamaan. Selain itu, ia juga tidak menyarankan mereka yang mengikuti latihan ini mengonsumsi suplemen untuk otot maupun susu yang harganya cukup mahal. Dikatakan Verdy, pada awalnya, ia memang seorang penggila semua jenis olahraga bela diri. Dalam suatu kesempatan berlatih ia sempat mengalami cedera pada sendi lutut (ligamen). Ia sempat putus asa, namun, ia berupaya bangkit dan mulai mempelajari calisthenics yoga, dan meditasi. “Karena pernah cedera inilah, akhirnya saya bisa menemukam metode indobarian ini,” cetus salah seorang pemain utama film laga

“Pirate Brothers” atau “Mortal Enemies” ini. Menariknya lagi kegiatan olahraga alternatif yang mulai ditemukannya dan mulai disebarkannya di tahun 2012 ini, bisa dilakukan dimana saja dengan tanpa menggunakan equipment (alat-alat berat), melainkan cukup dengan alat-alat yang ada di sekitar kita atau melakukan sit up dan yang lainnya dengan hitungan tertentu. “Ini menjadikan biayanya menjadi relatif murah dan bisa dilakukan oleh siapa saja,” lanjut putra kedua dari tiga bersaudara dari pasutri I Wayan Sukhana dan Ni

Made Yuliani ini. Mengenai perkembangan indobarian street workout, dikatakannya sangat menggembirakan, karena menyebar dengan sa­ ngat pesat. Bahkan, kini menjadi olahraga alternatif yang populer di Jakarta. “Sekarang ini sudah ada sekitar 7000 lebih anggota di seluruh Indonesia,”ujarnya sambil mengimbau agar masyarakat lebih sadar menjaga kesehatannya. Untuk di Bali, imbuh Yussa, penyuka indobarian street workout juga mulai ramai. Salah satu lokasi latihan ada di lapangan Puputan Badung. Kegiatan ini sudah dimulai Januari 2013. “Sempat juga beberapa bulan saya masih sendiri latihan, sampai akhirnya banyak orang yang menyukai olahraga alternatif murah ini,” ucap Yussa. Ia juga mengatakan, dalam perjalanannya akhirnya terbentuklah komunitas “Indobarian Street Workout Bali” . Anggotanya cukup banyak, namun yang aktif berlatih sekitar 30-an orang ” ujar Yussa . Sementara Verdy di Jakarta mengaku tetap melakukan rutinitas latihan dan terus menyebarkan metode latihan ini ke masyarakat. “Latihan rutin kami laksanakan setiap Selasa, Kamis, dan Jumat di Stadiun Gelora Bung Karno (SGBK) Pintu 6, mulai pukul 19.00 hingga selesai,” ucapnya. Ia juga mengatakan kalau indobarian street

Yussa dan Verdy menunjukkan ototnya yang kekar

workout memilki agenda tahunan, tour boothcamp bersama. Setiap kali berkumpul kataVerdy, mereka biasa mengawali de­ ngan meditasi sekitar 5-10 menit. Kemudian memulai latihan dengan menu yang dibuatnya sendiri. “Indobarian memiliki 7 level requirements dan tiap requirements mempunyai ciri khas masingmasing. Misalnya “red requirements atau muladhara requirements”, yang salah satu ciri menunya adalah gerakan “gorilla walk” dengan tujuan membangun kekuatan fisik, mental, juga rasa percaya diri,” jelasnya. Melihat perkembangan dan respon positif masyrakat terhadap keberadasan indobarian street workout, Verdy mengaku sangat bahagia. “Beberapa testimoni, diantaranya bisa dilihat pada beberapa anggota di fb, dimana

mereka selalu meng-upload hasil latihannya. Sekarang dari 7000 member, akan terus berkembang dan menyebar di seluruh Indonesia,” katanya. Ia juga menyebutkan beberapa artis yang mencoba metode indobarian, seperti Roy Dewanto,Pricilia Nasution, dan Restu Sinaga. Selain aktif dengan pengembangan dan latihan indobarian street workout, saat ini Verdy ia juga tengah getol melakukan pengaturan pola makan dengan lebih banyak mengonsumsi raw food. Selama 6 bulan, ia sudah bisa melihat hasil yang luar biasa, tubuhnya selalu sehat dan segar. Akhirnya ia mencoba menyosialisasikan kepada beberapa muridnya. “Tidak diduga pula, setelah melihat hasilnya, semakin ramai orang-orang yang mengikuti,”ujarnya tersenyum. – Sri Ardhini

18 - 24 AGUSTUS 2014

Mandalika

Mengenang Perjuangan TGKH Muhammad Zainuddin Abdul Madjid

21

Pelihara Semangat Civil Society Ayo lantunkan lagu perjuangan kita wahai pemuda-pemuda Sasak Indonesia. Indonesia engkaulah simbul persatuan. Dengan harta dan nyawa kami bela. Dua kalimat itu adalah bagian dari salah satu syair lagu yang ditulis TGKH Muhammad ­Zainuddin Abdul Madjid, seorang tokoh kharismatik, pemimpin dan pendiri Nahdlatul Wathan di Lombok. Lagu ini ditulis dalam Bahasa Arab yang lebih kurang demikian artinya. Syair ini disampaikan oleh salah seorang cucunya, dalam sebuah Sarasehan Hamzanwadi bertajuk Perjuangan Kebangsaan dari Nusa Tenggara Barat, beberapa waktu di Museum Negeri NTB, yang bicara tentang perjuangan ­kebangsaan yang telah dibangunnya. Salah seorang cucunya yang kini menjadi Gubernur NTB, Dr. TGH. M. Zainul Majdi, mengapresiasi kegiatan terobosan Museum Negeri NTB yang dengan berbagai kegiatan­ nya kini tidak lagi dilihat sebagai tempat menyimpan koleksi benda-benda “mati” namun mampu hidup dan bangkit “menyapa” masyarakat. “Jika dulu kita berjarak dengannya (museum-red), kini museum terbuka untuk semua hal termasuk kegiatan-kegiatan seperti ini,” ungkapnya. Karya tulis yang secara nyata menyebut pemuda Sasak ini memiliki muatan kebangsaan yang luar biasa. Ia adalah ulama dan tokoh yang tidak terikat pikirannya hanya kedaerahan saja melainkan juga memiliki semangat nasionalisme. Perjuangannya bukan hanya bagi NTB tetapi didedikasikan pula untuk bangsa dan negara ini. Perjuangan meraih kemerdekaan bangsa ini, tidak semata mesti dilihat dari bagaimana seorang pahlawan mengangkat senjata di medan perang, melainkan juga bagaimana tiap pribadi mampu berjuang untuk berkontribusi bagi tanah air ini dalam segala aspek serta mampu menempatkan diri untuk menjadi bagian dari pembangunan bangsa ini dengan keteladanan. Kisah-kisah keteladanan ulama yang lahir di Kampung Bermi, Pancor, Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat pada 17 Rabiul Awwal 1316 Hijriyah bertepatan dengan tanggal 5 Agustus 1898 Masehi, sebagai pemimpin yang turut berjuang dalam pembangunan ini sudah banyak ditulis dan didiskusikan. Dalam sarasehan ini, Majdi mengisahkan secara langsung pengalamannya bersama sang kakek, Majdi yang juga akhirnya meng­ ikuti jejak sang kakek sebagai ulama itu telah “membaca”, meresapi dan meneladani sikap dan sifat kepemimpinannya. TGKH Muhammad Zainuddin Abdul Madjid adalah seorang ulama yang visioner. Pandangannya sangat luas, tidak hanya pada soal keislaman saja melainkan ia memiliki pandangan kebangsaan yang luar biasa. Salah

satu hal bisa dilihat tentang hal ini, bahwa ketika pada masa-masa awal program imunisasi dihelat pemerintah, NTB menjadi salah satu daerah yang sangat sulit berhasil capaiannya berdasarkan target. “Program imunisasi di NTB kala itu tidak menujukkan keberhasilan yang signifikan dan tidak ada peningkatan partisipasi yang baik meski segala upaya telah dilakukan,” kata Majdi. Suatu ketika, seorang pejabat peme­ rintah datang dan bercerita tentang betapa sulitnya menyukseskan program ini. Berbagai resistensi dalam menyuarakan program ini, khususnya dalam mengubah pola pikir masyarakat, menjadi kendala yang sangat berat. Untuk itulah pejabat tersebut meminta bantuan kepadanya. Dengan tangan terbuka TGKH Muhammad Zainuddin Abdul Madjid pun menyambut baik program ini. “Beliau hanya berkata ‘ikuti saya’. Beliau pun mengimunisasi seorang balita dan momen itu disaksikan oleh masyarakat yang hadir,” katanya. Masyarakat yang menyaksikan tetesan imunisasi itu dimasukan ke dalam mulut si balita oleh ulama yang diteladani sikap dan sifatnya ini, akhirnya menghilangkan segala hambatan yang selama ini terjadi. Selain itu, TGKH. Muhammad Zainuddin Abdul Madjid, adalah pemimpin yang tidak bergantung pada bantuan pihak lain. Meski dengan segala kemudahannya sebagai seorang ulama dan pemimpin yang banyak mengenal pejabat negara, ia tetap menjadi sosok yang mampu memelihara semangat kebersamaan. Majdi masih mengingat de­ ngan jelas tentang hal ini, tahun 1987 di hari Jumat, ketika ia duduk di bangku kelas 3 Aliyah di Pancor. Sekolah yang didirikan oleh kakeknya ini tengah membangun sebuah perpustakaan. Kala itu, untuk bisa memiliki gedung perpustakaan sangatlah berat, terutama dari segi pendanaan. Atas permintaan kakeknya, ia bersama rekan-rekan santrinya, selalu bergotong royong dalam pembangun­ annya. Bertahun-tahun hal itu dilakukan, perpustakaan ini tidak selesai-selesai. “Saya ingat betul waktu pertanyaan itu dilontarkan, baru se­ minggu yang lalu Pak Try Sutrisno kala itu sebagai Pangab datang ke Pancor dan bertemu serta foto bersama de­ ngan beliau. Artinya ada keakraban dan kedekat­ an beliau dengannya dan ini yang kerap dilihat oleh masyarakat,” kata Majdi. Mendapat perta­ nyaan itu, pendiri ponDr. TGH. M. Zainul Majdi dok pesantren NW cucu TGKH. Muhammad Zainuddin Abdul Madjid yang terletak di Pancor,

TGKH. Muhammad Zainuddin Abdul Madjid Kabupaten Lombok Timur ini, hanya diam dan menjawab sambil tersenyum. Ia menjawab dalam bahasa Sasak yang berarti, jika saya meminta pada pemerintah, lalu di mana jalan ruang bagi masyarakat untuk beramal? Jawaban ini memperlihatkan bahwa secara tidak langsung, ada ketegasan darinya bahwa dalam membangun Nahdlatul Wathan ia tidak ingin terkooptasi oleh pemerintah. Ia ingin tetap memelihara semangat civil society dan tidak ingin segala sesuatu bergantung pada pemerintah. Ia ingin masyarakat punya andil dan tetap membuka ruang bagi masyarakat untuk berkontribusi.

SEKOLAH PEMERINTAH SAINGI SEKOLAH SWASTA Bagi Majdi yang kini memimpin NTB, melihat hal ini sebagai bagian dari upaya menjadikan masyarakat yang independen. Bahwa dalam sistem pemerintahan apa pun harus tetap didukung oleh kekuatan yang datang dari masyarakat. Tentunya, masyarakat yang memiliki kemerdekaan, keleluasaan dan kemampuan untuk mengkritisi pemerintah. Menurutnya, kalau dulu di mana ada madrasah/sekolah swasta yang diminati masyarakat dan memiliki murid yang banyak pasti di sana dibangun sekolah oleh pemerintah. Yang ditangkap masyarakat kala itu bahwa pembangunan sekolah oleh pemerintah tersebut untuk menyaingi sekolah swasta ini. “Alhamdulillah pemerintah sekarang tidak lagi seperti itu, memandang lembaga pendidikan swasta dengan negeri itu sama dengan diberikan perhatian yang sama pula,” ungkapnya. Dari pengalamannya inilah, Majdi akhirnya memiliki pandangan bahwa pemerintah harus memaknai perjuangan masyarakat seperti ini bukan sebagai saingan melainkan sebagai mitra dalam pembangunan. Satu hal lagi yang menjadi catatannya adalah sebuah konsep yang hampir tidak terpikirkan oleh orang lain, sederhana namun brilian dari sang kakek, yakni tradisi melontar di Pancor. Dengan melontar membuka kesempatan seluas-luasnya bagi masyarakat untuk beramal dan berbuat baik. Tradisi ini menciptakan kesetaraan yang memberikan kebanggaan bagi seluruh masyarakat bahwa sekali pun ia miskin ia juga bisa beramal dan berkontribusi dalam pembangunan. -Naniek I. Taufan


Nine

20

18 - 24 AGUSTUS 2014

Sri Astuti

Memilih Mengabdi di Desa Keterbatasan fisik tidak membuat Sri Astuti menyerah pada nasib, apalagi meminta untuk dikasihani. Kekurangannya pada tubuh yang harus disanggah dengan tongkat penopang, tak membuat semangatnya kendor. Sesekali dalam waktu yang tidak lama, ia memang dapat berdiri normal, namun ketika berdiri lama dan berjalan agak jauh, ia selalu butuh tongkat sebagai penopangnya. Ia terbilang perempuan dengan bakat dan kemauan yang melebihi perempuan normal lainnya. Berbagai prestasi diraih warga Taliwang Sumbawa Barat ini, justru dalam kondisi keterbatasannya itu.

“S

Sri Astuti dalam berbagai kegiatan

aya ingin dilihat dan diperlakukan seperti biasa saja, wajar saja dan jangan dikasihani,” ungkapnya suatu waktu. Ia juga sangat ingin agar mereka yang memiliki keterbatasan tidak dipandang sebagai orang yang lemah sehingga ada perlakukan-perlakuan khusus, melainkan diberi kepercayaan dan kesempatan yang sama dengan mereka yang normal. Dan, semangat inilah yang mengantarkannya untuk mengabdi di kampung halamannya melalui program SP3 (Sarjana Penggerak Pembangunan Pedesaan) Nasional. Ia memilih desa sebagai tempatnya mengabdi. Bagaimana tidak, dalam ke­ terbatasannya ini, Sri telah meraih berbagai penghargaan nasional hingga ia pernah dua kali dikirim ke Cina oleh Kementerian Pemuda dan Olah Raga RI. Tahun 2009, dengan beberapa rekan pemuda Indonesia berprestasi lainnya ia mengikuti Program The Cina Asean Youth Camp 2009 dan berkesempatan berbaur dan mengikuti kegiatan pemuda di Gungxi Cina. Sedangkan tahun 2010, ia kembali ke negeri tirai bambu itu guna meng­ ikuti program pelatihan kepemimpinan internasional di sana. Beberapa penghar­ gaan diraihnya atas

prestasi dan kerja keras yang telah dilakukan untuk memba­ ngun desanya. Dua penghargaan diraihnya yakni di tahun 2008, ia berhasil menjadi juara I SP3 (Sarjana Penggerak Pembangunan di Pedesaan) Nasional. Sementara itu tahun 2010, Sri Astuti kembali berdiri di podium utama untuk menerima penghargaan Pemuda Andalan Nusantara, sebagai yang terbaik I nasional, bidang pemberdayaan masyarakat. Penghargaan ini diserahkan langsung oleh Menteri Pemuda dan Olahraga, Andi Malarangeng (kala itu) di Jakarta saat peringatan Hari Sumpah Pemuda. Sarjana Peternakan lulusan Universitas Mataram tahun 2006 ini demikian gigih mengembangkan potensi yang ada di

tempatnya kini tinggal, di Sumbawa Barat. Ia tidak memilih kota untuk mencari lapangan pekerjaan, namun turun ke desa, tempat ilmunya dibutuhkan. Keterbatasan fisik, tidak menghalanginya untuk mendedikasikan diri bagi pembangunan sumber daya manusia di pedesaan. Cacat akibat polio yang menyerangnya sejak kecil, yang membuat kaki sebelah kanannya mengecil, tidak membuatnya minder dan putus harapan. Ia sadar benar keterbatasan kondisinya. Namun, ia tidak meratapi keterbatasannya itu, melainkan bangkit penuh semangat dengan dukungan hebat dari kedua orangtuanya, almarhum Muchtar H. Ibrahim dan Salamah. “Saya ingin berarti bagi orang lain,” katanya. Ia mengaku tau diri dengan keterbatasan yang dimilikinya sehingga ia tidak menyimpan cita-cita yang muluk secara ekonomi, melainkan terus memupuk cita-cita agar kelak bisa bermanfaat bagi orang lain. Dari sana ia berangkat, memulai segala aktivitasnya dari halhal kecil yang bisa dan nyaman dilakukannya dengan keterbatasan yang dimilikinya tersebut. Dan atas dukungan yang penuh dari orangtuanya itu, ia ingin membuat orang tuanya bangga pada dirinya dengan segala keterbatasannya. “Desa memiliki potensi yang besar untuk dikembangkan. Dengan sedikit sentuhan dan keseriusan,

maka potensi itu akan memberikan manfaat yang besar bagi masyarakatnya,” katanya. Tinggal ada atau tidaknya kemauan untuk menggerakkannya, lanjutnya. Prestasi ini diraih Sri bukannya tanpa perjuangan. Dengan tekun dan sabar, perempuan kelahiran Lombok Barat, 27 tahun lalu ini menjalankan tugas pengabdian pada masyarakat dalam bidang pendidikan, peternakan dan pemberdayaan masyarakat.

di sekitarnya. Ia menjadi sa­ rjana yang diharapkan mampu menjadi penggerak dan pemikir serta dapat menjadi motivasi bagi masyarakat di sekitarnya. Aktifnya Sri Astuti dalam menggerakkan masyarakat ini membuatnya mengikuti seleksi hasil kegiatan Program SP-3 secara nasional yang diikuti oleh pemuda dari seluruh Indonesia yang mewakili provinsi masing-masing. Dengan penuh percaya diri, di tahun 2008, ia pun mewakili NTB untuk memaparkan kegiat­ an yang telah dan sedang dilakukannya bersama masyarakat, pemerintah desa, dan pemerintah daerah yang terus mendukung setiap langkah pemberdayaan yang dilakukannya. Kerja keras dan ketekunannya dalam memberdayakan masyarakat itu akhirnya meng­ antarnya meraih Juara Nasional SP-3 Berprestasi Tahun 2008. Tidak perlu hidup di Kota untuk menjadi perempuan dengan prestasi cemerlang melainkan di mana saja termasuk di desa se­ perti halnya Sri. Ia banyak membaur dengan para pemuda dari seluruh Indonesia juga banyak melakukan pelatihan-pelatihan

Sebuah Program Kementerian Negara Pemuda dan Olahraga di tahun 2007, bertajuk Sarjana Penggerak Pembangunan di Pedesaan, ia mendapatkan ke­ sempatan untuk bekerja dan mengabdi pada masyarakat. Kala itu, ia ditempatkan di Desa Persiapan Dasan Anyar Kecamatan Jereweh Kabupaten Sumbawa Barat Provinsi Nusa Tenggara Barat, sebagai salah satu tenaga pendamping program SP-3 Provinsi NTB dengan tugas menggali dan mengembangkan potensi desa. Dari sanalah ia mulai memanfaatkan ilmu yang telah diperolehnya di bangku kuliah demi kepentingan masyarakat

di luar NTB demi meningkatkan kemampuannya dalam berbagai bidang. Kini setelah program itu berakhir di Desa Persiapan Dasan Anyar Kecamatan Jereweh, ia tidak lantas meninggalkannya begitu saja. “Sampai sekarang saya masih berkomunikasi de­ ngan para petani dan peternak di sana untuk memantau perkembangan mereka,” kata Sri yang kini bekerja sebagai penyuluh di Balai Pelaksana Penyuluh Pertanian dan Kehutanan Sumbawa Barat ini. Selain itu, kini hari-hari perempuan berusia 31 tahun ini sibuk mengurus PAUD (Pendidik­a n Anak Usia Dini) di kampungnya, yang sudah tujuh tahun belakang­ an ini dikelolanya. Sri Astuti perempuan sederhana yang dalam keterbatasannya mampu meraih prestasi yang membanggakan. -Naniek I. Taufan

Sri Astuti

18 - 24 AGUSTUS 2014

Inspirasi

Agung Bawantara

5

Berawal dari “Si Jempol” Mendongeng merupakan pekerjaan yang gampang-gampang susah. Gampang karena sudah banyak ada materi dongeng tetapi susah dalam penyampaian. Dongeng bisa dibaca dari buku, dari internet, bahkan dikarang sendiri. Tetapi, saat menyampaikannya, jangan terlalu berlebihan apalagi membuat pendengar bosan. Bagaimana triktrik membuat dongeng dan menuturkan dongeng kepada anak-anak berdasarkan pengalaman Agung Bawantara?

P

ria bernama lengkap AAG Rai Putra Bawantara ini awalnya aktif sebagai pekerja sosial di Lombok, NTB. Tahun 1963 ia hijrah ke Jakarta dan bekerja sebagai wartawan tabloid “DeTIK”. Kiprahnya di dunia jurnalistik tak berlangsung lama. Tahun 1995 ia terjun ke dunia audiovisual dengan menjadi periset dalam pembuatan film “Soero Boelgog” yang disutradarai

Slamet Rahardjo Djarot. Sejak 2006, nominee penulis skenario terbaik di Festival Film Indonesia (FFI) 2004 ini kembali ke Bali untuk berkiprah di dunia sinema dan bergelut dengan dongeng, khususnya dongeng anak-anak. Ia pun menuturkan dirinya masuk dunia dongeng karena keadaan. “Saya termasuk terlambat punya momong­an. Keterlambatan ini membuat saya banyak belajar. Saya be-

Agung Bawantara saat acara Workshop Keeping Children Safe di Wantilan Gedung Bali TV

lajar bagaimana membentuk karakter anak. Saya belajar dari pengalaman teman-teman yang sudah lebih dulu punya anak. Kehidup­a n Jakarta kadang membuat orangtua susah. Sebelum anak bangun, orangtua sudah berangkat kerja. Ketika pulang, anak sudah tidur. Dari pengalaman itu, saya menemukan dongeng bisa menjadi jembatan untuk mengatasi situasi,” ujar pria kelahiran 30 Januari 1968 ini. Agung Bawantara pun menerapkan pengalamannya ini ketika anaknya lahir. Walaupun anaknya belum bisa bicara, ia sudah mendongeng untuk anaknya. Aktivitas ini terus dilakukan hingga anaknya bisa bicara. “Awalnya saya hanya pakai gerakan tangan, nama karakternya “Si Jempol”. Lama-lama anak saya minta ada dialog. Karena mendongeng itu setelah bekerja seharian dan mata mulai mengantuk, akhirnya dongeng yang saya sampaikan mengalir saja. Kadang saya ingat kadang tidak,” kenangnya. Ternyata keesokan harinya, si anak minta dongeng yang kemarin diulangi lagi. Karena tak ada naskah, terpaksa Agung mengarang lagi. Agar kejadian itu tak terulang, ia selalu menulis apa dongeng yang pernah disampaikan. Tulisan ini akhirnya terkumpul hingga menjadi buku dongeng. Agung juga rajin berburu buku-buku dongeng. Ia membaca dongeng-dongeng itu lalu memilih mana yang sesuai dengan dunia anak-anak. “Tidak semua dongeng yang ada itu bagus dan mendidik anak. Kalau ada dongeng yang

juga bertemu ibunya. Untungnya, anaknya ini pernah di­c eritakan dongeng bagaimana menghadapi situasi seperti itu. Si anak pun menuju pos satpam dan menunggu di pos itu. Agung dan istrinya yang bingung karena kehilangan anak sempat panik. Setelah mencaricari, mereka pun memutuskan ke pos satpam dan ternyata adanya ada di situ. “Ternyata berkat dongeng yang pernah diceritakan, anak-anak bisa mengambil keputusan di saat ada masalah,” kenangnya.

Agung Bawantara

mengandung unsur kekerasan, dendam, keculasan, lebih baik jangan dibacakan untuk anakanak. Dongeng-dongeng Tantri pun sebenarnya bukan untuk konsumsi anak-anak tetapi lebih cocok untuk dewasa karena mengandung unsur politik,” jelasnya. Agung pun menyebut dongeng dari Arab, India, dan Yunani bagus untuk anakanak. Seringnya Agung mendongeng untuk anak-anak ternyata tak lepas dari penglaman masa kecilnya karena sering mendengar dongeng dari kakeknya. Aktivitas mendongeng ini pun menjadi rutinitas. Bahkan dengan dongeng, ia berhasil mengatasi pengalaman buruk yang pernah dialami bersama keluarga­nya. Suatu ketika, ia bersama istri dan anak-anaknya jalanjalan di sebuah pusat perbelanjaan. Agung di bagian bukubuku, istri di bagian pakaian. Anaknya yang awalnya ikut Agung minta izin mau bertemu ibunya. Agung pun mempersilakan. Setelah sekian lama, anaknya bosan dan mau balik mencari Agung. Posisi Agung sebenarnya masih di tempat semula tetapi karena terhalang orang lain, anaknya tak bisa melihat dan mengira ayahnya sudah pergi. Anaknya kembali ke tempat ibunya, tetapi tak

JANGAN MENYIMPULKAN ISI DONGENG Karena pengalaman inilah, Agung yakin dongeng merupakan solusi bagi orangtua untuk menanamkan nilai-nilai yang baik sebagai dasar pembentukan karakter anak. Ia pun menjelaskan saat yang tepat mendongeng menjelang tidur malam karena saat itu anak mendekati suasana trance. Pikiran alam bawah sadar mengambil peran dominan dibanding pikiran sadar. Pada kondisi ini, pikiran sadar yang seharusnya menjadi penyaring logika sudah tidak lagi mengambil peran. “Ada beberapa hal yang harus diperhatikan saat mendongeng. Kuasai materi cerita dan karakter tokohnya untuk memperlancar penyampaian dan pengembangan cerita. Gunakan intonasi yang tepat untuk menyampaikan narasi ataupun dialog. Tak perlu membuat suara aneh-aneh, cukup tekanan khusus pada kalimat sugestif. Satu lagi, jangan menyimpulkan isi dongeng. Biarkan anak membuat kesimpulan sendiri. Jangan sampai anak merasa dirinya sedang disindir sebab akan menimbulkan penolakan pada si anak sehingga sugesti positif akan sia-sia,” ujar penulis do­n geng “Tongkat Bicara Putri Saga”, “101 Dongeng Menakjubkan: Dari Berbagai Negara dan Pendongeng Terkenal Du­n ia” dan “101 Cerita Moral (Kumpulan Dongeng)” ini. –Ngurah Budi


Woman on Top

6

18 - 24 Agustus 2014

Mengalir seperti Air P

erempuan kelahiran Denpasar 27 Agustus 1970 ini memulai karier sebagai tenaga harian lepas (THL) di kantor pemerintahan Provinsi Bali. Tahun 1998 ia diangkat menjadi staf di Dinas Pendapatan Daerah (Dispenda) Kota Denpasar. Sepuluh tahun kemudian, istri I G.N. A. Mahardika T., S.E. ini pindah ke kantor Kecamatan Denpasar Barat. Tahun 2009 ia dipindahkan lagi ke kantor Kelurahan Tonja. “Saya awalnya sebagai Kaur Kesra di Kelurahan Tonja. Tahun 2013 Lurah Tonja pensiun, saya diangkat sebagai pelaksana tugas (Plt) Lurah Tonja. Januari 2014, saya menjadi Lurah definitif,” ungkap ibu dua putra, I Gst. Ngr. Bagus Indra Per-

mana dan I Gst. Ngr. Bagus Krisna Mahaputra ini. Ketika diberi kepercayaan oleh Wali Kota Denpasar untuk menjadi lurah, Ade merasa bahagia sekaligus mendapat beban. Ia bahagia ­karena

dipercaya untuk melaksanakan tugas sebagai pimpinan wilayah namun merasa ada beban karena ia bertanggung jawab mengenai masalah-masalah yang terjadi di Kelurahan Tonja. Namun, diantara rasa yang berkecamuk itu, ia mendapat keyakinan, dirinya mampu melaksanakan amanat ini. “Hal pertama yang saya lakukan adalah melakukan koordinasi dengan staf kelurahan, para kepala lingkungan (kaling), dan kelian banjar adat, bendesa adat, dan tokoh masyarakat Tonja. Untungnya sebelum menjadi lurah, saya sudah mengenal wilayah Tonja. Saya mengusung prinsip di mana bumi dipijak, di sana langit dijunjung,” ujar Ade.

Bu Lurah Ade saat kegiatan sidak penduduk

Perempuan asal Mengwi, Badung ini pun menikmati pekerjaan­ nya. Pola koordinasi yang ia terapkan ternyata membuahkan hasil. Kelurahan Tonja yang dulu termasuk kawasan kotor berbenah. Kerja keras masyarakat berhasil menjadikan Tonja bersinar. Kelurah­ an yang mewilayahi 8 lingkungan, 10 banjar, dan 2 desa adat ini akhirnya meraih juara I kawasan bersih tahun 2013 dan juara harap­ an I Prokasih 2014. “Selain berterima kasih atas dukungan masyarakat Tonja. Tanpa mereka saya bukan siapa-siapa. Staf kelurahan Tonja yang jumlahnya 10 orang juga sangat membantu saya,” tegas Ade. Kepada staf selalu diingat­kan untuk bekerja sesuai dengan tugas pokok dan fungsi (tupoksi) dan tanggung jawabnya. Sebagai apresiasi untuk staf, biasanya akhir tahun mereka mengadakan acara tirtayatra. SIAP MENERIMA KRITIKAN Ia pun menuturkan dukungan suami dan keluarga ikut menunjang kinerjanya sebagai lurah. Suaminya kerap mengantar jika ada kegiatan malam di kelurahan. Dari situ suaminya bisa membaur dengan masyarakat, para kaling dan tokoh

19

Merdeka Itu Bebas tetapi Terbatas

Ade Indahsari Putri, S.H.

Menjadi pegawai negeri sipil (PNS) harus siap ditempatkan di mana saja. Sebagai abdi negara juga harus siap untuk melaksanakan tugas dari pimpinan. Jika tugas ini dilakukan dengan baik dan dilakukan dengan senang hati, rasa lelah pun tak akan terasa. Hal inilah yang dialami Ade Indahsari Putri, S.H. Lurah Tonja, Denpasar Utara.

Sudut Pandang

18 - 24 Agustus 2014

Ade Indahsari Putri, S.H.

masyarakat Tonja. Sebagai wanita, Ade memahami dirinya juga memiliki tanggung jawab di rumah. Tetapi karena sudah ada komunikasi dan saling pengertian antara dirinya dan keluarga inti, termasuk keluarga besar, ini membuatnya lebih mudah untuk membagi waktu. “Sebagai pribadi, saya ingin hidup saya mengalir apa adanya seperti air yang mengalir. Saya yakin semua akan dapat saya jalani karena adanya dukungan dari semua pihak. Sebagai Lurah Tonja, saya ingin memajukan wilayah ini. Tonja sudah menjadi rumah kedua saya. Saya selalu mengedepankan sinergi dan komunikasi dengan seluruh aparat yang ada di wilayah ini,” tegas Ade tentang harapannya ke depan. Ia pun siap untuk menerima kritikan sepanjang kritikan itu bisa memberi perubahan ke arah yang lebih baik. Kerja sama dan koordinasi dengan seluruh komponen yang ada di Tonja juga diterjemahkan Ade sebagai prinsip dari kita, oleh kita, dan untuk kita. –Ngurah Budi

Tujuh belas Agustus adalah Hari Prokla­ masi Kemerdekaan RI. Namun, sebagaian masyarakat masih belum merasakan kemer­ dekaan. Seperti yang dituturkan Komang Wardati (33). Perempuan yang hanya tama­ tan SMP itu tak bisa mengandalkan ijazahnya ­untuk mencari pekerjaan yang layak. “Dulu saat masih di Sulawesi, saya kerja di per­ cetakan setahun. Setelah itu saya pindah dan menetap di Bali,” tutur ­Wardati yang ke­luarganya merupakan trans­migran Bali di Sulawesi.

D

i Bali, ia membantu kakak sepupu yang berjualan nasi. Setelah menikah, Wardati memutuskan untuk bekerja mandiri dengan berjualan

Komang Wardati

canang. “Kalau cuma tamatan SMP, paling cuma bisa jadi penjaga toko. Tapi kalau berjualan canang, saya bisa sambil ngemong anak,” ujar Wardati mengatakan alasanya berjualan canang.

Revolusi Mental di Segala Lini Kita belum merdeka seutuhnya. Kalau merdeka terbebas dari penjajahan, memang ya. Tapi merdeka secara utuh, dalam artian keadilan dan kesejahteraan masyarakat belum tercapai. Demikian ditegaskan Tjok Adnyani, salah seorang ibu rumahtangga asal Sanur ini. Menurut Runner Up Ibu Teladan Bali 2008 ini, saat ini diperlukan revolusi mental dari semua lini, baik itu dari segi ekonomi, hukum, sosial, dan politik. “Tak ada lagi pejabat yang korupsi. Tak ada lagi mafia hukum atau peradilan yang bisa dibayar. Pejabat tebang pilih, justru memberi contoh yang tidak baik kepada masyarakat,” ujar penggiat usaha kuliner Bali ini. Menurut suami Tjok Adnyana ini, kesejahteraan dan keadilan masyarakat akan bisa diwujudkan, jika dimulai dari program-program yang lebih memperhatikan masyarakat. Misalnya, program kewirausahaan yang menyasar pada golongan ekonomi menengah ke bawah. Selain itu, pemberian bantuan modal dengan bunga ringan, dan pemasaran usaha produk perlu juga digiatkan. Hal ini bertujuan agar masyarakat dapat membangun perekonomian keluarga mereka. “Bagi masyarakat, revolusi mental perlu dilakukan agar tidak ada arogansi. Misalnya urusan sepele, jangan parkir sembarangan,” kata wanita yang lahir bertepatan dengan peringatan Hari Kartini ini. Bagi generasi muda, ia berharap, jangan hanya menuntut hak, tapi melakukan kewajiban dengan baik. Misalnya sikap kemandirian sudah dilakukan sejak kecil. “Ini berhubungan dengan sikap orangtua yang sudah mendidik anaknya sejak kecil untuk mandiri,” tegasnya. Ia berharap, setelah besar generasi muda mampu mandiri, seperti berwirausaha menciptakan lapangan pekerjaan. “Dengan banyaknya lapangan pekerjaan, akan mengurangi penggangguran, otomatis membantu usaha pemerintah menciptakan kesejahteraan masyarakat,” ucapnya. Tjok Adnyani menilai, sikap dan tindakan tersebut sudah merupakan cerminan dalam mengisi kemerdekaan. “Kita tak perlu lagi berjuang seperti para pahlawan yang sudah gugur memperjuangkan kemerdekaan dari penjajahan, tapi saat ini yang diperlukan revolusi mental untuk mengisi kemerdekaan,” tegas Bu Tjok. Adnyani. –Wirati Astiti

Menurutnya, jika dikaitkan dengan kita sudah tidak dijajah lagi, itu bisa dibilang merdeka. Namun, dalam kehidupan, ia dengan tegas menyebutkan bahwa kita belum merdeka. “Kalau merdeka itu, nyari pekerjaan gampang, apa-apa gampang,” ucapnya. Namun nyatanya sekarang ini susah mencari pekerjaan. Makanya, ia memutuskan berjualan canang yang hasilnya hanya cukup untuk makan sehari-hari. Tahun 2002 dikisahkannya lebih gampang mencari rezeki. Waktu itu, Wardati yang sudah berjualan canang masih bisa menabung Rp 30 ribu setiap harinya. “Dulu berjualan canang bisa ngabisin 400 ceper sehari. Sekarang 200 saja belum tentu habis. Masyarakat sekarang lebih banyak pakai canang tangkih, kecuali rainan baru pakai canang ceper. Jualan susah, bahanbahannya juga mahal,” keluhnya. Meski demikian, ia tak lantas banting stir, karena hanya pekerjaan ini yang bisa dilakukannya. Untuk menambah-nambah penghasilan, ia juga berjualan bensin eceran. PENDIDIKAN MASIH DIJAJAH Hal berbeda dilontarkan I Gusti Ayu Made Sri Rahayu, S.Pd. Se­b agai pendidik, tentunya ia meneropong lewat kaca mata pendidikan. Menurutnya, Bangsa Indonesia sekarang ini belum sepenuh­nya merdeka. Merdeka diterjemahkannya bebas tapi terbatas, bebas namun mengikuti aturan. Kepala Sekolah SD Pelangi Dharma Nusantara (PDN) School ini mengatakan kemerdekaan seharusnya lebih banyak diisi di bidang pendidikan. Karena dengan memiliki pendidikan, semuanya bisa lebih terjaga. “Misalkan, ada pengaruh-pengaruh negatif yang mencoba masuk. Jika sudah memiliki bekal pendidikan yang mumpuni, otomatis kita bisa menyaring hal-hal positifnya saja. Dengan berpendidikan yang cukup juga akan memudahkan mendapatkan pekerjaan yang layak,” paparnya. Karena itu pula, di sekolah yang dipimpinnya, dalam materi pengayaan lebih banyak diisi dengan konseling. Seperti, bagaimana cara mengekspresikan perbedaan,

penolakan dengan cara halus, tanpa menyinggung perasaan orang lain, dll. “Kita belum sepenuhnya merdeka, karena kita masih banyak memakai produk asing, ini penjajahan terselubung,” ulangnya lagi. Demikian halnya dengan bidang pendidikan. Bangsa Indonesia dikatakannya masih dibayang-dibayangi pendidikan luar, belum tahu konsep pendidikan Indonesia yang sesungguhnya. Walaupun dalam kurikulum 2013, bahasa asingnya sedikit dan bahasa Indonesia diperbanyak, tetap saja sekolah-sekolah yang mengusung titel “sekolah plus” lebih banyak diminati masyarakat, bahkan bangga anaknya bersekolah di sana. “Seharusnya kita bangga akan potensi dan punya kita, produk kita. Ini berarti kita masih terjajah,” tegasnya.

IGA Made Sri Rahayu

CINTAI PRODUK INDONESIA Jika ada yang bertanya apa yang kamu lakukan untuk mengisi kemerdekaan, maka setiap orang memiliki jawabannya masingmasing. Begitu juga dengan Made Herry Erika Sedana. ‘‘Saya tidak henti mengucap syukur dari tahun ke tahun dalam peringatan kemerdekaan Indonesia. Tahun ini saya dan anak-anak di rumah membuat nasi tumpeng mini dengan hiasan bendera Indonesia. Hal ini tidak lain bertujuan untuk menumbuhkan dan memperkuat kecintaan terhadap Indonesia pada anak-anak. Hal lain tentunya memasang bendera lebih awal di rumah,” tutur ibu tiga anak laki-laki ini. Selain itu Erika bersama anak-anaknya tak ketinggalan bermain fun games di rumahnya dan ia sendiri yang menjadi instruktur bagi anak-anaknya. Sebagai bentuk kecintaan terhadap Indonesia, Erika mengaku senang mengenakan mini dress buatan Indonesia. Putri dari I GedeTegeh Mandiasa dan Ketut Pasek Arumika ini mengatakan ia sebenarnya suka branded fashion, tetapi sekarang justru lebih jatuh cinta dengan produk fashion lokal, Indonesia. Desainer-desainer Indonesia saat ini bagus kreasinya bagus, keren bahkan luar biasa. Erika pun memperoleh banyak pujian teman-teman terhadap produk

Indonesia yang ia kenakan. Apalagi kalau dirinya didaulat menjadi MC dan mengenakan busana dengan bahan tenun ikat atau songket, ia merasa penampilannya menjadi berbeda. Bicara produk lokal, ternyata Erika yang mengoleksi batik, endek, dan songket. Hobi ini katanya lahir dari kegiatannya yang sejak usia muda. Dengan senyum khasnya, Erika mengucapkan “connect first, then inspire”. Begitu pula kecintaannya pada kuliner Nusantara. Menurutnya, kuliner yang ada di negeri kita ini sangat kaya. Untuknya, selalu ada menu yang patut dicoba ter­ utama saat traveling bersama suami tercintanya, Putu Ari Sedana, S.T., M.M. Erika yang memang lebih suka makanan tradisional yang segar dan rebusan. Sayur urap, karedok, lalapan dan sayur asem menjadi makanan favoritnya. Ternyata tidak hanya makanan Indonesia yang ia suka, Erika juga seorang pecinta kopi Indonesia. Ternyata Erika pun tidak keberatan mengambil barisan antri saat mencoba kopi khas Bandung beberapa minggu lalu. Kopi daerah ternyata juga menjadi salah satu minuman yang tidak akan dilewatkannya saat bepergian bersama suami tercinta. Masih soal kegemarannya pada kopi Indonesia, Director Sales & Marketing Bali Bird Park ini menjawab dengan tawa. “Saya sudah mencoba kopi Papua di Bali, nanti saya ingin minum kopi Papua, makan makanan khas Papua

Herry Erika

di Papua,” ujarnya. Baginya, ibu yang mendidik anak-anaknya untuk rajin belajar dan selalu menghargai sejarah, wanita yang bekerja dengan penuh tanggung jawab dan mampu memberi semangat wanita lainnya. Mereka yang dengan semangatnya juga berkarya dengan talentanya untuk meningkatkan nilai dan kualitas produk lokal dan mereka yang mencintai karya dan segala macam produk lokal tersebut untuk diguna­kan atau dikonsumsi, semuanya sudah berperan dalam upaya mengisi kemerdekaan negara ini dengan caranya masingmasing. –Inten Indrawati/Sri Ardhini


Kreasi

18

18 - 24 Agustus 2014

Benang dan Kain Flanel Jadi Lampu Ijo Lumut adalah produk rumah tangga yang sudah merambah pasar internasional. Berbagai jenis produk sudah dihasilkan antara lain, gantungan kunci, bantal flanel, bantal foto, bantal OWL (produk unggulan), gelas, lukisan jam, lukisan foto, pin, lampion (lampu) dan banyak lagi lainnya. Dalam jenis barang itu, gantungan kunci memiliki motif yang paling banyak. Di samping itu, Ijo Lumut juga menyediakan jasa bungkus kado yang lain dari pada lainnya.

N

i Nyoman Damarati, pemilik dan produser Ijo Lumut menuturkan, memulai usaha dengan membuka restoran di Ubud sejak 2008. Tempat makan ini juga untuk bran­ ding, memperkenalkan nama Ijo Lumut kepada masyarakat luas. Setelah berjalan setahun, ia mulai memperkenalkan produk-produk kerajinan tangan berlabel Ijo Lumut. “Jujur kalau kita menjual kerajinan saja agak susah masuknya. Ber­ samaan dengan ramainya pengunjung restoran, kami juga memperkenalkan kerajinan tangan dari bahan flanel ini,” kata alumnus STP Nusa Dua ini kalem. Mulai 2013 lalu, usaha restoran dihentikan dan ia serius memproduksi berbagai kerajinan dengan bahan flanel. Karya tangan ber­ label Ijo Lumut ini memang beda. Bahannya terbuat dari kain flanel yang belum banyak dikenal di Bali. Bahan jenis ini banyak dipergunakan oleh pengrajin-pengrajin dari Jawa. Karena itu, semua bahan produk Ijo Lumut khusus didatangkan Jawa. Dalam membuatnya, ibu dua putra ini berkolaborasi dengan suaminya. Ia sebagai tenaga kreatif yang bertugas memproduksi, hingga memasarkannya. Suaminya, I Gede Suryagiri bertugas mendesain dan mengurusi web. “Kebetulan suami memiliki keahlian di bidang desain, sehingga kami selalu memiliki model-model baru,” ungkapnya. Damarati mengaku, dalam memasarkan dirinya bekerjasama dengan para reseller, yang nantinya menjual kembali kepada orang lain. Saat ini, sudah ada puluhan reseller yang tersebar di seluruh Bali. Khusus untuk di luar Bali, mereka lebih banyak membeli secara on line yang kemudian dijual kembali. Diantaranya dari kota-kota di Jawa, Papua, Sumatera dan Kalimantan. Sedangkan dari luar negeri, Damarati mengaku belum ada. Sebab masih kendala pada sistem

pembayaran. Walau demikian, wisatawan yang ada di Ubud ataupun yang tinggal di Bali banyak yang membelinya dijadikan suvenir untuk keluarga, teman ataupun rekan kerjanya. “Produk bantal yang ada foto pribadinya atau foto temannya yang banyak dipesan,” papar ibu dari Gede Galang Apadang dan Ni Made Bening Hati ini. Menurutnya, jenis suvenir ini prosesnya sedikit lama yakni memesan sekitar lima hari. Wisatawan yang tinggal di kawasan wisata Ubud banyak yang memesannya untuk dikirim ke negaranya. Di samping itu, gelas yang juga berisi foto pribadi laris dipesan wisatawan. “Gelas dengan foto sudah banyak ada di Bali, Tetapi desainnya yang membedakan adalah desain yang lebih unggul,” ucapnya. Produk terbaru dari Ijo Lumut adalah lampu pakai kain flanel yang bentuknya seperti bola. Bentuknya didesain sedemikian rupa dengan menggunakan benang dan flanel, sehingga menjadi lampu yang lebih menarik. Ukurannya juga bervariasi sehingga ada banyak pilihan. Dalam mengerjakan ini, Damarati mengaku mengajak lima orang tenaga yang merupakan ibu-ibu. Para pekerja ini tidak mesti datang ke tempat memproduksi, malainkan bisa mengerjakan di rumahnya sendiri. Ibu-ibu yang mengerjakan flanel itu menyebar, dan setelah selesai mereka mengembalikannya. Mereka berasal dari Batubulan, Celuk, dan Ubud Ijo Lumut tak hanya menjual produk barang yang sudah jadi, tetapi juga menyediakan berbagai jenis alat dan bahan kerajinan tangan. Hal ini dilakukannya untuk memberikan kesempatan pada orang lain untuk lebih kreatif. “Anak-anak kini lebih kreatif untuk memproduksi

oleh ibu-ibu rumah tangga, tetapi juga banyak dibeli oleh siswa SMP, SMA bahkan mahasiswa utamanya yang perempuan. “Anak-anak IV, V dan V sampai SMA banyak yang beli alat dan bahan. Itu karena

Beberapa produk berbahan flanel

mereka bisa membuat sendiri di rumahnya,” tegasnya. Walau Ijo Lumut memiliki kualitas produksi yang unggul, namun Damarati tetap memberi kesempatan kepada orang lain untuk mempelajarinya. Artinya, Ijo Lumut siap membantu orang untuk menumbuhkan kreativitasnya dengan memberikan pelatihan. Ia mengemas pelatihan itu menjadi beberapa paket. Misalnya paket satu, mendapatkan bahan dan peralatan serta polanya, sehingga tinggal membuatnya saja. Cara membuatnya sudah ada dalam bentuk pola itu, sehingga lebih gampang mengikuti di rumah. Menurutnya, orang-orang dari Denpasar, Tabanan, Gianyar dan Buleleng yang lebih banyak mengikuti pelatihan itu. Mereka hanya membayar Rp 200 ribu sampai Rp 300 ribu per paket, mereka sudah bisa membuat dan menghasilkan kerajinan tangan. Meski demikian, masingmasing paket itu disesuaikan kelengkapannya dengan usia. Karena ada yang membeli polanya saja atau kainnya saja. Satu paket berisi 6 pieces yang dikerjakan selam 1 sampai 2 jam. Dalam satu paket ada yang menempel dan menggunting.

Beda dengan 8 paket. Jenis paket lainnya yakni paket anak usia SD, paket pola karya SD, paket belajar, pola fan paket tutorial paling tidak umurnya 10 tahun keatas. “Intinya kami dukung di bidang pendidikan, sehingga kita menerima training yang siap bekerja. Kami juga melatih agar bisa membuat desain, web, selain produk juga,” tuturnya. Para peserta pelatihan biasanya datang ke tempat produksi Ijo Lumut. Dengan begitu para peserta bisa melihat barangnya, produk, mesin dan alat lainnya. Karena, barang yang dipakai tanpa melihatnya tidak akan bisa membayangkan, sehingga lebih susah memproduksinya. “Disini diperlukan proses. Kami mengajarkan dari awal sampai barang itu jadi,” tandasnya. HANYA BUKA DI UBUD Damarati mengaku, dirinya memiliki background pariwisata. Ia mempunyai passion dan hobi melakukan sesutu yang berkaitan dengan pekerjaan tangan. Pada saat ia hamil, ia tidak bisa bekerja makanya menekuni kerajinan tangan. “Kebetulan suami mendukung dan ikut membuatkan desainnya,” ujar wanita kelahiran Ubud, 13 Desember 1980 ini. Di samping itu, Damarati juga ingin ada brand Ubud yang bukan berwujud seperti patung dan lainnya. Ia juga tidak ingin membuk di kawasan Kuta, Sanur ataupun kawasan wisata lainnya. Ia ingin Ijo Lumut satu-satunya ada di Ubud, sehingga ada sesuatu yang dicari oleh anak muda di Ubud. “Saya ingin orang mencari Ijo Lumut di Ubud saja,” tambahnya. Kalau Dagadu ada di Yogyakarta dan Ijo Lumut ada di Ubud. Karena untuk bahan kayu dan kain sudah biasa ada di Ubud, tetapi bahan flanel ini yang baru. “Kami tidak takut ada yang menirunya, karena kami selalu kreatif untuk membuat desain-desain baru. Itulah alasan kami kenapa membuka workshop juga,” paparnya.-Darsana

Life

Story

7

Masuk Liang Lahat dengan Lengan Tertekuk Di depan jenazah suaminya, Lidya duduk seperti orang termenung. Anakanak dan cucu-cucunya juga duduk mengelilingi jenazah itu. Tidak ada raut sedih apalagi terpukul di wajahnya. Ia terlihat biasa saja. Menangis pun tidak. Sikap Lidya hampa. Ia lebih banyak duduk menanti para pelayat yang datang silih berganti.

Ni Nyoman Damarati

kerajinan tangan. Namun, semua alat kerajinan tangan itu agak susah mereka dapatkan,” ucapnya. Menurutnya, anak-anak kini sangat kreatif. Buktinya, bahan-bahan kerajinan tangan tak hanya dibeli

18 - 24 Agustus 2014

“T

erima kasih,” ujarnya singkat tiap kali tetangga menyalaminya sebagai ungkapan bela sungkawa. Meski tidak juga ter­lihat “gembira” de­ngan berpulang­nya suaminya ini, setidaknya hari-hari selanjutnya Lidya tidak lagi nong­ krong di teras rumahnya yang selalu dikunci tiap kali suaminya pergi bekerja. Menanti suaminya pulang kerja barulah ia bisa masuk ke rumah. Ia tidak habis pikir, me­ngapa lengan suaminya tertekuk kaku. Ketika para tetangganya datang, khususnya orang tua, ia mempersilahkan untuk melihat jenazah suaminya yang meninggal di rumahnya di salah satu desa di Pulau Sumbawa. Ia meninggal karena penyakit komplikasi yang sudah bertahun-tahun dideritanya. Orang tua-orang tua di kampung ini, bergantian ber­usaha mencoba meluruskan lengan suaminya yang tertekuk ketika ajal menjemputnya. Semua usaha ini gagal. Hingga masuk ke liang lahat, lengan suaminya itu tetap tertekuk kaku.

Lebih dari 40 tahun menikah, Lidya (59), nama samaran, tidak pernah merasakan indahnya berumah tangga. Bersuamikan lelaki yang ringan tangan juga pelit, terasa sangat menyiksanya. Hari-harinya menjalani rumah tangga penuh ta­ngis dan teriakan kesakitan akibat pukulan, tendangan maupun lemparan benda-benda ke tubuhnya yang dilakukan Marwoto (bukan nama sebenarnya), suaminya. “Hampir tiap hari kami mendengar dia (Lidya) berteriak kesakitan,” ungkap salah seorang tetangga dekat yang kerap mendengar pertengkaranpertengakaran mereka. Lelaki ini memang kasar dan kekasarannya itu tidak pernah berubah hingga ajal menjemputnya beberapa waktu yang lalu. Sungguh malang nasib yang dialami Lidya. Selama menikah,

ia tidak pernah lepas dari kekasaran suaminya itu. Para tetangga sesungguhnya muak dengan prilaku kasar Marwoto dan sempat protes akan hal itu. Selain mengganggu ketenangan lingkungan, mereka tergganggu melihat saban hari Marwoto kasar pada istri dan anak-anaknya. “Saya pernah melihat Lidya dilempar menggunakan tang sampai keningnya berdarah,” ujar Ina, salah seorang tetangganya. Tidak itu saja, enam anaknya, sejak usia kecil sudah merasakan pukul­ an, tendangan

bela suaminya itu. Inilah yang membuat tetangganya tidak mau ikut campur jika mereka bertengkar. Para tetangga akhirnya cen­ derung membiarkan ketika ia dan anak-anaknya disiksa oleh suaminya. Selain kasar dan ringan tangan, Marwoto juga pelit bukan ke­ palang. Marwoto yang sehari-hari bekerja sebagai tukang parkir di pasar itu selalu meninggalkan rumah di pagi hari. Selain itu, Marwoto juga bekerja di bengkel kecil yang ada di rumahnya. Tiap pagi ketika Marwoto

dan lemparan yang bahkan melukai tubuh-tubuh kecil mereka. Maka tidak heran, anak-anaknya tumbuh menjadi anak-anak yang kasar juga. Namun, entah apa yang ada dalam pikiran Lidya, tiap kali tetangga membelanya ketika bertengkar, dan para tetangga melawan suaminya ia malah mem-

hendak pergi bekerja, Lidya sudah harus selesai memasak untuk sarapan. Setelah itu, pintu-pintu rumah akan dikunci oleh Marwoto dan Lidya menanti di teras rumahnya. Awalnya tetangga berpikir ketika melihat Lidya duduk-duduk di depan teras itu seperti ia memang sedang bersantai. Sebelumnya tidak ada yang tahu jika Lidya memang tidak bisa masuk ke rumah karena terkunci dari luar. Keluarga ini memang tertutup dan tetangga sudah tidak mau tahu. Mereka cenderung tidak peduli lagi dengan keluarga kasar ini, membuat hal tersebut setelah bertahuntahun baru diketahui bahwa Lidya duduk di depan teras tiap pagi itu bukan tengah bersantai melainkan tidak bisa ke dalam rumah hingga suaminya pulang kerja. Lidya dengan ramah menyapa para tetangga yang lewat. Hebatnya, Lidya selalu menyembunyikan hal itu dengan sangat rapi. Tidak sekali pun ia bercerita pada tetangga tentang hal ini. Ini dikarenakan juga ia jarang berkumpul dengan tetangga.

www.article.wn.com

SIMPAN BERAS DI KAMAR TIDUR Marwoto biasanya pulang kerja pukul 11 siang. Saat itulah

ia membawa ikan dan sayuran untuk dimasak oleh Lidya. Pukul 11 inilah Lidya baru akan masuk ke dalam rumahnya. “Tiap kali ingin masak, saya harus minta beras pada dia (Marwoto-red),” kata Lidya setelah beberapa hari kepergian suaminya. Beras itu disimpan di kamar Marwoto. Sepertinya Lidya tidak tidur satu kamar dengan Marwoto. Namun, ia tersenyum saja ketika ditanya tentang hal ini. Kamar Marwoto selalu terkunci dan semua barangbarang yang lumayan baik di rumah sederhana itu, termasuk bahan-bahan makanan tampak ada di kamar Marwoto. Lidya sama sekali tidak boleh meng­ akses apa yang ada di rumah itu tanpa izin Marwoto. Bahkan ketika mereka memasang mesin air, Marwoto tidak membolehkan Lidya dan anak-anaknya bahkan untuk mandi dengan air tersebut. “Hanya dia saja yang boleh memakai air itu dengan leluasa,” kata Lidya. Air itu hanya bisa dipakai untuk memasak dan untuk Marwoto mandi. Sedangkan untuk kebutuhan mandi ia dan anak-anaknya serta mencuci, ia harus menimba air dari sumur tiap waktu. Hal ini berlangsung hingga ajal menjemputnya. Pada malam ketika ia akan menghembuskan napas ter­ akhirnya, ketika sudah tidak lagi bisa bicara, ia beruntung dikelilingi empat dari enam anaknya. Saat menjelang ajal itu, anak-anaknya membersihkan pakaiannya dan menemukan uang di saku bajunya. Salah seorang anaknya pun mengambil uang tersebut dan menyerahkannya pada Lidya. Saking kikirnya Marwoto, ketika hendak menghembuskan napas terakhirnya ia masih sempat meminta kembali uang tersebut. Lidya lalu menyerahkan uang itu dan Marwoto menarik napas terakhirnya dengan uang digenggamannya. Ia meninggal di pangkuan Lidya. Kini setelah Marwoto tiada, Lidya yang tidak sekali pun pernah meminta cerai dari suaminya itu, terlihat menjalani hidup lebih bersemangat. Kunci-kunci rumah telah berada di tangannya dan stop kontak air bisa ia akses kapan pun ia mau. Apakah ia bersedih atau malah senang dengan “kepergian” suaminya itu? Tidak seorang pun tahu isi hati Lidya yang dikenal sangat tertutup ini. -Naniek I. Taufan


Bunda & Ananda

8

Jangan Biarkan Anak Menggigit Kuku Danis duduk dengan santai sementara ibu memotong kuku tangan siswa TK ini dengan hati-hati. Setelah semua kuku di tangan dirapikan, giliran kuku kaki yang dipotong. “Saya jadwalkan seminggu sekali untuk pemotongan kuku,” ujar Bu Suci, ibu Danis.

P

emotongan kuku yang dilakukan dengan gunting kuku biasa ini diawali dengan mencuci tangan dan kaki Danis dengan air dan sabun. Kuku yang lembab setelah dicuci membuat pemotongan kuku menjadi lebih mudah. Kalau kuku kering, ibunya kesulitan untuk memotong karena kuku menjadi keras. “Memotong kuku Danis lebih mudah karena dia takut kalau kukunya kotor lalu dilihat Bu Guru, bisa diperingatkan. Daripada malu dan disuruh potong kuku di depan kelas, lebih baik potong kuku di rumah,” ujar ibu tiga putra ini. Ia juga menuturkan memotong kuku Danis relatif lebih mudah daripada memotong kuku David yang baru berusia 10 bulan. David kadang tidak bisa diam. Perlu bantuan satu orang lagi untuk memegang David sehingga kuku kaki dan tangannya bisa dipotong. Atau, pemotongan kuku dilakukan saat David tidur. Memotong kuku anak kadang dianggap sepele oleh anakanak dan orangtua. Seringkali ancam­an guru bermanfaat untuk mengingatkan anak-anak potong kuku. “Saking takutnya ada razia kuku, Vera pernah menggigit kukunya biar jadi pendek. Bentuk kuku jadi tidak rapi. Sejak itu, ia selalu minta kukunya dipotong tiap minggu,” kenang Bu Yuli, ibu Fera. Ia mengakui memotong kuku anak memerlukan kehati-hatian agar kuku yang terpotong tidak terlalu pendek. Beda halnya kalau orang dewasa memotong kuku. Orang dewasa bisa tahu sebatas mana yang mereka anggap nyaman untuk dirinya.

Memotong kuku anak

Bagi anak-anak yang belum bisa memotong kuku sendiri, ia akan pasrah kalau kukunya di potong. Tetapi, kalau terlalu pendek, anak bisa menjerit karena kesakitan. Bahkan pertumbuhan kuku bisa terganggu. Menurut dr. Dina Wahyuni, Sp.KK, kebersihan kuku dewasa maupun anak-anak perlu diperhatikan. “Kuku paling rawan dan rentan terkena kotoran, apalagi anakanak sering bermain dengan mainan yang kita tidak tahu itu bersih atau kotor,” ujarnya. Dokter spesialis kulit yang praktik di RS Indra, RS Prima Medika, dan Apotek Pandu Medika ini menjelaskan, kebrsihkan kuku tangan dan kaki anak perlu dijaga. Caranya dengan mencuci ta­ ngan dan kaki setelah pulang dari bermain,

Ilustrasi

sebelum tidur, sebelum makan, dan setelah buang air kecil atau buang air besar. “Pemeriksaan kuku juga termasuk hal penting, tetapi umumnya masyarakat menye-

pelekan hal ini. Kuku yang kotor akan mengganggu pemandangan teman-teman yang melihatnya. Kuku yang tidak dibersihkan dan tidak dirawat ini juga bisa mengganggu kesehatan karena menyebabkan diare dan cacing­ an,” ujar dr. Dina. Alumnus FK Unud ini menjelaskan kuku yang sehat adalah kuku yang bersih, tidak dihiasi, dan tidak dimanipulasi. Ada empat faktor penting yang berperan terhadap kuku. Pertama, panjang dan bentuk kuku. Rasio ukuran panjangnya kuku harus lebih besar dari pada ukuran lebarnya kuku. Kedua, teks­ tur permukaan kuku rata dan berkilap tanpa adanya kelainan. Ketiga, warna kuku translusen dan tampak struktur yang ada di bawahnya. Keempat, keutuhan jaringan sekitar kuku. Ia juga mengingatkan anakanak jangan suka menggigit kuku karena kotoran yang masuk ke pencernaan dapat menyebabkan penyakit. Orangtua juga disarankan jangan memotong kuku anak jika sudah pendek atau terlalu pendek karena dapat menimbulkan pertumbuh­ an kuk yang tidak normal atau

18 - 24 AGUSTUS 2014

Griya

18 - 24 AGUSTUS 2014

17

Dekorasi Berkesan Mewah

Peluang bisnis bisa digali darimana saja. Dari apa yang kita lihat sehari-hari, dan kecenderungan kebutuhan masyarakat sekitar. Jika mau sedikit berkreasi dan berinovasi, peluang tersebut pasti kita dapat.

S

dr. Dina Wahyuni

kuku tumbuh ke dalam. “Jangan memotong kutikula (jaringan sekitar kuku) dengan gunting karena menyebabkan infeksi bakteri di sekitar kuku. Pastikan gunting kuku steril agar anak tidak tertular penyakit seperti jamur, bakter, dan virus,” jelas dr. Dina. Penggunaan pewarna kuku pada anak-anak juga tidak disarankan dr, Dina. Selain menyebabkan perubahan warna kuku, bahan-bahan yang terkandung dalam pewarna kuku dapat menyebabkan reaksi aler­ gi yang bersifat ringan sampai parah. –Ngurah Budi

ebut saja tiga bersaudara ini, I Made Adi Saputra (akrab disapa Kadek Loggo), I Komang Ari Darmayasa, dan I Ketut Rai Sukadana, yang kompak bergerak di bidang penyediaan jasa dekorasi dengan bendera “Three Brother Dekorasi”. Mereka menjual alat-alat penjor, penjor hias, penjor yadnya, dan menyewakan hiasan/ dekorasi kori pernikahan. Kadek Loggo mengatakan, baru dua tahun terakhir melakoni bisnis sampingan ini, karena ia dan dua adiknya sudah memiliki pekerjaan di hotel yang berbedabeda. Karena itu, pekerjaan ini umumnya mereka kerjakan usai jam kerja atau pada hari-hari libur. Ia mengaku tertarik terjun ke bisnis ini karena melihat kebutuhan masyakat Hindu Bali khususnya, yang sarat dengan

upa­cara adat selalu membutuhkan penjor, dan hiasan/dekorasi kori untuk upacara pernikahan atau upacara lainnya. “Saya sering di jalan, dan melihat dekorasi kori (gayor) untuk upacara pernikahan yang memberikan kesan mewah, padahal bahannya hanya sterofoam. Masyarakat Hindu Bali sekarang banyak yang mencari itu dan umumnya dikerjakan pemuda. Di sini saya ingin memberikan kepraktisan, kami yang memasang dan membongkar, si pemilik hajatan tinggal terima beres,” ujarnya. Dari sering melihat dan mengamati itu, Desember 2012, muncul keinginan Kadek Loggo mengambil peluang tersebut bekerjasama dengan adikadiknya. Dekorasi pertama yang ia tawarkan adalah gayor bermotif karang boma lengkap. Namun, beberapa masyarakat

Dekorasi gayor model cupu manik terbaru dalam ukuran besar (bisa dilewati mobil)

menolaknya karena dianggap membawa aura panas, negatif, dsb. Kadek Loggo kemudian mencaritahu dengan berkonsultasi dengan Jro Mangku. “Menurut Jro Mangku, karang boma bisa saja dipakai untuk dekorasi, tetapi ada elemen yang harus dihilangkan (tidak lengkap), seperti kuku tangannya dihilangkan. Demikian juga jika membuat dekorasi model naga, gigi taring naga dihilangkan, dan naganya dihadapkan ke samping, sehingga orang berani masuk,” paparnya. Namun, dekorasi naga ini dikatakannya sangat jarang diminta, karena katanya banten pengikutnya cukup besar. “Saya buatnya se­ suai permintaan saja. Yang paling umum diminta adalah model cupu manik, dan model boma yang biasanya tidak ditempatkan di kori depan rumah, namun di depan gang atau depan jalan besar,” imbuhnya. Gayor yang ia tawarkan ada dua ukuran standar yang memakai patokan lubang, yakni lubang yang bisa dilalui motor, dan lubang yang bisa dilalui mobil. Dari beberapa model gayor yang ia miliki, ia mengaku model cupu manik dengan dasar hitam dan dicat prada (emas) ini yang

terbaru, dengan ukuran cukup besar sekitar 2 meter. Ini pun diakuinya atas permintaan konsumen tiga bulan sebelumnya, yang akan melaksanakan upacara pernikahan putranya. “Terpaksa saya buat yang baru, karena selama ini dekorasi yang saya punya ukurannya kecil-kecil. Ya, untuk investasi juga,” ucapnya. Sebelum membuat dekorasi gayor tersebut, biasanya ia mengecek lokasi yang akan dipasangi dekorasi. Dari sana, ia membuat sketsa dan kemudian membawanya ke tukang buat dekorasi langganannya, yang juga seorang Jro Mangku. Desaindesain yang ia buat tersebut merupakan hasil kreasi dari beberapa desain yang kerap ia lihat dijalan dan didokumentasikannya. Tentunya sebelum direalisasikan ke bentuk nyata, ia mengonsultasikannya dulu ke Jro Mangku temannya itu. “Saya juga tidak berani asal membuat desaindesain tersebut, seperti karang boma dan naga,” ujarnya. Untuk memasang dekorasi tersebut yang sudah dilengkapi tripleks dan kayu usuk sebagai penyangganya, ia biasanya mengajak kru yang terdiri dari beberapa orang. Maklum, meski terbuat dari sterofoam, kare­

Kadek Loggo

na ditambah dengan peralatan pelengkap lainnya, dekorasi itu menjadi berat dan membutuhkan banyak orang untuk mendirikannya. Setelah dekorasi gayor berdiri, pada sisi kiri-kanan dilengkapi geling-gelungan, dan pada bagian bawah diberikan kain penutup, dirempel seperti kain gorden. Hasilnya memang cukup bagus, dan memberikan kesan mewah, atau istilah Balinya “metaeeb” pada lokasi upacara. –Inten Indrawati

Cara Merawat Kuku Anak Berikut tips dr. Dina Wahyuni, Sp.KK bagi orangtua yang akan memotong kuku anaknya. - Siapkan gunting kuku yang bersih - Pada anak-anak atau bayi, agar lebih aman dan tidak mencederai kuku bayi, sebaiknya gunakan gunting kuku khusus bayi - Cuci tangan dan kaki anak dengan sabun dan bilas hingga bersih - Jika perlu, sikat kuku kaki dan tangan - Potong kuku satu per satu, cukup memotong datar dan jangan sampai terlalu pendek - Jaringan kutikula (sekitar kuku) dirapikan dengan mengolesi pelembab atau baby oil. –Ngurah Budi

Dekorasi gayor model cupu manik ukuran kecil (bisa dilewati motor)

Dekorasi gayor model karang boma yang sudah mengalami pengurangan-pengurangan elemen untuk bisa dijadikan sebagai dekorasi


16

Edukasi

18 - 24 Agustus 2014

18 - 24 Agustus 2014

Beri Bantuan Bedah Rumah Bakti sosial (baksos) IKIP PGRI Bali 2014 yang dibuka Senin (11/8) di Wantilan Pura Goa Lawah, Klungkung, ditutup Rabu (13/8) di masing-masing desa tempat ­mahasiswa melakukan baksos.

B

aksos yang melibatkan 849 mahasiswa di­ dampingi beberapa dosen, yang diperkirakan total peserta 1.000 orang tersebut menyasar lima desa di Kecamatan Dawan dengan berbagai program kegiatan. Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP) diikuti 76 mahasiswa mengambil lokasi baksos di Desa Gunaksa, dengan kegiatan kebersihan dan penghijauan, ceramah konseling HIV/AIDS untuk SMA, dan praktik konseling. Fakultas Ilmu Pendidikan Sosial dengan 94 mahasiswa menyasar Desa Sulang, dengan program ceramah tentang perkoperasian, ceramah PTK, kebersihan dan penghijauan. Fakultas Pendidikan Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FPMIPA) dengan 212 mahasiswanya memasuki Desa Besan dengan program kerjabakti pembuatan got, kebersihan lingkungan, penghijauan, ceramah kurikulum 2013, identifikasi gula semut, observasi tingkat pendidikan dan kesehatan. Fakultas Pendidikan Bahasa dan Seni (FPBS) berkekuatan 262 mahasiswa menyasar Desa Kusamba. Program yang dilakukan, pembinaan ST berupa pesantian, tari sakral (rejang dan baris gede), tabuh/bleganjur, penataan taman, kebersihan lingkungan dan pemberantasan sarang nyamuk (PSN),

konservasi lontar, pelatihan pembuatan sanggul bali untuk ibu PKK (maksimal 25orang), nyengker setra, menimbun got, olahraga senam, taman girang, ceramah PTK. Sementara, Fakultas Pendidikan Olahraga Kesehatan dan Rekreasi (FPOK) yang berkekuatan 205 mahasiswa baksos di Dawan Kaler, dengan program kerjabakti dan kebersihan lingkungan di empat banjar, penataran wasit untuk guru olahraga SD, SMP, SMA di Kecamatan Dawan), pertandingan persahabatan sepak bola, dan menyumbang 1 buah meja tenis. Ke t u a p a n i t i a b a k s o s y a n g juga Ketua LP2M IKIP PGRI Bali, Dr. I wayan citrawan, M.Pd. me­ ngatakan penelitian di perguruan tinggi diarahkan untuk mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi, serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan daya saing bangsa. Pengabdian kepada

Baksos IKIP PGRI Bali 2014 di Kecamatan Dawan melibatkan 1.000 peserta

Arthanegara, Citrawan, Bupati Suwirta, dan Rektor Made Suarta usai serah terima SK Bantuan Bedah Rumah dari IKIP PGRI Bali

dua warga asal Banjar Karangsari Desa Suana Kecamatan Nusa Penida, atas nama Ketut Warsa dan Ketut Darsana. Masing-masing bantuan bedah rumah tersebut senilai Rp 25 juta tanpa potongan apapun. Ini diperkuat dengan SK bantuan bedah rumah yang diserahkan langsung Rektor IKIP PGRI Bali, Dr. I Made Suarta, S.H., M.Hum. kepada Bupati Klungkung Nyoman Suwirta. Bupati mengatakan program bedah rumah dan program-program lain Baksos IKIP PGRI Bali ini sinergi dengan program Pemkab Klungkung dan memang benar-benar dibutuhkan masyarakat. Nyoman Suwirta yang bangga menjadi alumni IKIP PGRI Bali ini mengisahkan perjalanan karirnya dari nol hingga menjadi orang nomor satu di bumi serombotan ini. “Strategi belajarmengajar yang saya dapatkan waktu kuliah dulu sangat bermanfaat. Itu saya terapkan dalam membina koperasi dari kecil hingga menjadi koperasi terbesar di Bali, juga dalam kepemimpinan saya sekarang,” ungkapnya. Mantan Top Manajer Kopas Srinadi asal Nusa Ceningan Klungkung ini mengatakan banyak orang yang bekerja tak sesuai dengan disiplin ilmu. Jika belum bekerja, ia mengingatkan untuk tetap belajar. Tidak

hanya terpatok menjadi guru, karena ilmu sesungguhnya untuk mengasah kemampuan sehingga otak menjadi tajam dan peka dengan situasi sekeliling kita. “Menjadi apapun kita, pasti akhirnya berinteraksi dengan masyarakat. Karena itu, pintar-pintarlah menyentuh hati masyarakat,” ucapnya. Rektor Made Suarta didampingi Ketua YPLP IKIP PGRI Bali Drs. IGB Arthanegara, S.H., M.H., M. Pd. menegaskan baksos ini merupakan pengabdian kepada masyarakat melalui metode ilmiah yang diaplikasikan langsung kepada masyarakat. Pendekatannya dengan asas kelembagaan, kebersamaan, edukatif dan ber­k esinambungan. Karena itu, ia mengimbau kepada mahasiswa peserta baksos bahwa kedatangan mereka ke lokasi baksos untuk membantu menyelesaikan masalah-masalah yang ada di desa, bukan sebaliknya. Melakukan interaksi dengan masyarakat dengan menunjukkan karakter calon guru yang patut digugu dan ditiru. “Yang paling penting, lakukan apa yang bisa Anda lakukan. Tuhan akan melakukan apa yang tak bisa Anda lakukan. Bertindak akan ada resiko, tetapi lebih berisiko jika tak bertindak,” ujarnya. –ten

Masuk Stadion Pakai Jas dan Dasi Hingar bingar Piala Dunia 2014 di Brazil sudah usai. Jerman untuk keempat kalinya keluar se­ bagai juara setelah di partai final menundukkan Argentina 1-0. Namun, menonton perhelatan Piala Dunia tentunya menjadi sebuah pe­ngalaman yang tak terlupakan bagi saya. Walaupun itu hanya menonton partai semifinal antara Belanda ­me­l­awan Argentina.

S

aya berangkat ke Brasil tanggal 8 Juli pukul 01.45 melalui bandara Soekarno-Hatta. Perjalanan kami menuju kota Sao Paulo, Brazil menempuh waktu 23 jam. Penerbangan pertama menuju

Abu Dhabi selama 8 jam dilanjutkan menuju Sao Paulo selama 15 jam. Sungguh perjalanan yang sangat melelahkan. Kami tiba di Sao Paulo dengan suhu berkisar 16-19 derajat Celsius. Cuaca yang cukup dingin bagi kami

Halaman Parkir Stadion Municipal

orang Indonesia. Keesokan harinya seluruh rombongan yang berjumlah 80 orang melakukan city tour di kota Sao Paulo yang merupakan kota terbesar di Amerika Selatan dengan jumlah penduduk 11 juta jiwa. Bangunan di Sao Paulo kebanyak­ an bergaya Portugis karena Brazil pernah dijajah oleh Portugis. Hari pertama di Sao Paulo kami meng­ unjungi stadion Municipal Sao Paulo tempat diadakannya Piala Dunia pertama di Brazil tahun 1950. Stadion ini dibuka 27 April 1940 dengan kapasitas 30 ribu penonton. Waktu itu, penonton yang datang ke stadion harus menggunakan pakaian resmi dengan meng­gunakan jas dan dasi. Kini stadion Municipal Sao Paulo sudah tidak lagi dipergunakan sebagi tempat untuk menggelar pertandingan resmi. Hanya

Suasana dalam Stadion Municipal

9

Diva

Baksos IKIP PGRI Bali

masyarakat ini merupakan kegiatan sivitas akademika dalam mengamalkan dan membudayakan ilmu dan teknologi untuk memajukan kesejahteraan umum dan mencerdaskan kehidupan bangsa. Karena itu, dosen dan mahasiswa IKIP PGRI Bali rutin setiap tahunnya mengadakan kegiatan pengabdian masyarakat dalam bentuk bakti sosial. “Melalui kegiatan baksos, IKIP PGRI Bali ingin memberikan kesempatan kepada para dosen dan mahasiswa untuk mengenal dan melaksanakan Tri Dharma PT khususnya pengabdian masyarakat,” ujarnya. Baksos yang berlangsung tiga hari yang diawali dengan persembahyangan bersama di Pura Goa Lawah tersebut, dirangkaikan dengan penghijauan 2.500 pohon (albesia, jati Belanda, cempaka, sandat), pengobatan mata dan kaca mata gratis untuk 150 warga oleh 6 tim dokter dari RS sanglah bertempat di aula Kantor Camat Dawan, dan bantuan bedah rumah kepada tiga masyarakat kurang mampu atas nama Ketut Darna dari Banjar Kanginan Desa Besan Kecamatan Dawan, serta

Dara

Stadion Municipal Sao Paulo

dipergunakan untuk menggelar pertandingan klub lokal saja. Di stadion ini juga dibangun museum sepak bola yang memasang momen-momen menarik Piala Dunia, mulai dari Piala Dunia pertama tahun 1930 hingga Piala Dunia tahun 2010. Selain pameran foto pemain legendaris dunia seper­ ti Pele, ada juga cuplikan gol-gol fenomenal termasuk gol Tangan Tuhan dari Diego Maradona. Harga tiket masuk ke stadion ini dipatok sebesar 6 Reias Brasil. Satu reias kira-kira setara dengan Rp 6 ribu. Pengunjung juga bisa membeli beragam cenderamata mulai dari kaos bola, jaket, serta

souvenir bola lainnya. Perjalanan kami lanjutkan ke stadion Corinthians tempat berlangsungnya partai semifinal antara Belanda melawan Argetina yang berjarak sekitar 19 kilometer dari pusat kota Sao Paulo. Stadion Corinthians awalnya memiliki kapasitas penonton 45 ribu orang penonton. Namun, karena alasan Piala Dunia kapasitas stadion pun ditambah menjadi 66 ribu pe­n onton. Saat partai semifinal antara Belanda melawan Argentina yang akhirnya dimenangkan Argentina melalui adu pinalti, stadion ini dipenuhi 63.267 orang penonton. -Sugiarta

Tantangan Melawan Diri Sendiri Diva adalah anak yang multitalenta, selain tercatat sebagai crosser muda berbakat ia juga mampu bermain alat musik seperti piano, gitar, serta me­ nabuh dan makidung.

R

emaja bernama lengkap I Gst. Ngr. Diva Ismayana ini mulai menekuni motocross ini sejak berusia 5 tahun. Ketika itu Diva sering mengikuti dan mengantar kakaknya I Gst. Ngr. Ksatria P, yang sudah lebih dahulu menekuni olahraga ekstrim ini untuk latihan dan mengikuti lomba di Bali maupun di luar Bali. Akhirnya Diva pun tertarik ikut latihan. Kecintaannya atau ketertarikan Diva ke dalam dunia otomotif ini, tidak lepas peran mantan pembalap nasional Tjok Vicky Sudharsana, paman Diva. Ia sekaligus pelatih atau mentor para pembalap muda Bali pada umumnya dan buat Diva khususnya yang bernaung di bawah Bali MX. Bakat dan keseriusan Diva untuk menjadi seorang crosser makin terlihat

ketika menggantikan posisi kakak, yang tidak lagi aktif sebagai crosser Bali MX team. Akhirnya Diva

ikut dalam kejuaraan untuk di lokal Bali maupun kejuaraan nasional yang sering diadakan di wilayah Jawa. Ketika ditanya tantangan menekuni motocross, Diva mengakui tantangan terberat dalam balapan ini

melawan diri sendiri. “Seperti dalam mengatur agar benarbenar fokus diri dari mulai persiapan lomba hingga tiba saatnya berlomba. Tetapi, kalau sudah lomba dan menang, plong,” ujar siswa kelas 3 SMP Perguruan Raj Yamuna ini. Puncak kebanggaan Diva ketika ia berhasil menjuarai Kejuaraan Nasional MX Gudang Garam yang bertajuk Best Of The Best tahun 2007 yang diadakan di Kota Malang. Saat itu Diva baru berusia 7 tahun dan berada di kelas 50 cc. Kebanggaan remaja kelahiran Denpasar, 16 Oktober 2000 ini makin lengkap setelah dinobatkan sebagai penerima IMI Award tahun 2009 untuk Pebalap Muda Bali Berprestasi. Setelah sempat vakum karena alasan pendidikan, mulai tahun 2009 Diva kembali aktif menekuni dunia motocross dan masuk kelas 65 cc. “Saya ikut dalam Ke- jurnas Super Cross yang diadakan di Kota Banyuwangi. Saya mengalami musibah sehingga gagal meneruskan lomba. Padahal saat itu, saya yakin bisa menjadi yang terbaik , seperti sudah terbayang di depan mata, tapi Tuhan berkehendak lain. Saat itulah juga menjadi pengalaman yang paling menyedihkan yang alami,” ujar putra pasangan Ir. I Gst. Ngr.

Indra Tjahjadi- Tjok Istri Ratna Cora S.Sn., M.Si, yang sudah mengoleksi sekitar 81 piala dan penghargaan ini. Diva biasa berlatih bersama di Bali MX , yang merupakan wadah para pebalap muda Bali dan memiliki tempat latihan atau sirkuit sendiri yang berlokasi di Desa Pangkung Tibah, Tabanan. “Jadwal latihannya 4 kali dalam seminggu setelah jam sekolah tiap Selasa, Kamis, Sabtu, dan Minggu,” ujar crosser yang mengidolakan Cok Vicky dan James Stuward ini.

Indra Tjahjadi, ayah Diva menuturkan dalam keluarganya ada kebebasan menekuni hobi masing-masing. “Kami memberikan beberapa pilihan olahraga untuk ditekuni, akhirnya ia memilih motorcross. Mungkin juga karena pengaruh Omnya, disamping ia juga seorang anak yang pemberani dan cepat bisa,” ujar tandasnya. Melihat motivasi dan prestasi juga kenikmatan dari Diva dalam melakoni dunia motocross ini membuat orangtuanya mendukung dan memotivasi. “Diva harus lebih fokus dalam olahraga ini karena olahraga ini memerlukan kecerdasan, kedisiplinan yang tinggi. Motocross termasuk olahraga otomotif yang mempunyai tingkat kesulitan tinggi,” imbuh Indra yang salut anaknya bisa mandiri. Diva pernah ikut lomba di luar daerah hanya ditemani tim mekanik, tanpa ditemani orangtuanya. Diva sangat bersyukur dan berterima kasih kepada pihak sekolah yang mendukung kiprah­ nya hingga berprestasi. Diva selalu diberikan dispensasi atau izin oleh pihak sekolah jika diperlukan untuk mengikuti kejuaraan. -Nina

Diva dan ayahnya


Bugar

10

18 - 24 AGUSTUS 2014

Hati-hati Gunakan Perhiasan Nikel

Perhiasan sering digunakan untuk menyempurnakan penampilan. Namun, bagi beberapa orang perhiasan yang terbuat dari logam kadang dapat menimbulkan reaksi alergi. Bukannya mempercantik penampilan malahan muncul berbagai keluhan.

M

enurut dosen Ilmu Kesehatan Kulit dan Ke l a m i n F K Unud/RS Sanglah dr. IGN Darmaputra, Sp.KK., selama beberapa dekade terakhir ini, nikel merupakan penyebab alergi yang paling sering terdeteksi melalui pemeriksaan uji tempel di seluruh dunia. Nikel adalah suatu unsur kimia dengan simbol kimia Ni dan nomor atom 28. Nikel berwarna putih keperakan dan berkilau. Karena sifatnya yang tahan korosi dan mudah bercampur dengan logamlogamnya, maka nikel banyak sekali digunakan pada berbagai macam peralatan. Nikel umumnya terdapat di anting, kalung, cincin atau kepala ikat pinggang. Nikel juga sering kali ditemukan pada aksesori lain seperti kacamata, jam tangan, dan telepon genggam. Selain itu, menurut dokter Darma, nikel dapat juga digunakan pada resleting dan bra. “Mereka yang memiliki alergi nikel kesulitan untuk menghindari pencetus alergi, karena banyak barang yang digunakan sehari-hari justru terbuat dari nikel,� imbuhnya. Menurut pemilik Klinik D&I Skin Centre ini, dermatitis kontak nikel secara signifikan dapat mempengaruhi kualitas hidup penderitanya, terutama berpengaruh pada gaya hidup dan pekerjaan penderita seperti penampilan maupun menghambat pekerjaannya. Ia menyatakan, nikel merupakan penyebab dermatitis kontak alergi yang paling sering dijumpai bila dibandingkan dengan logam-logam lainnya. Walaupun, prevalensi dermatitis kontak nikel bervariasi di berbagai negara. “Dermatitis kontak nikel lebih sering dialami perempuan, dibandingkan laki-laki. Alergi ini dapat dijumpai pada berbagai usia. Prevalensi pada perempuan lebih tinggi disebabkan karena mereka lebih sering kontak dengan alat-alat yang mengandung nikel, seperti perhiasan, kancing, retsleting

dan pengait pada baju, serta peralatan rumah tangga,� katanya. Alergi logam ini termasuk dalam kelompok dermatitis kontak alergi. Dermatitis kontak terdiri dari dua macam yaitu iritan dan alergik. Dermatitis kontak iritan disebabkan bahan kimia kuat seperti air aki, dll. Gejalanya berupa lepuh yang terasa perih dan langsung muncul setelah terpapar bahan tertentu. Sedangkan dermatitis kontak alergi disebab-

pada kulitnya. Fase saat kontak pertama sampai kulit menjadi sensitif disebut fase induksi atau fase sensitisasi. Fase ini rata-rata berlangsung selama 2-3 minggu. Pada umumnya reaksi sensitisasi ini dipengar-

kan sensivitas kulit terhadap benda-benda tertentu seperti logam, karet, atau bahan lainnya. Bahan-bahan ini pada sebagian besar orang tidak menimbulkan reaksi apapun, namun hanya menimbulkan gejala bagi yang memiliki kulit sensitif. Mekanisme terjadinya kelainan kulit pada dermatitis kontak alergi adalah mengikuti respons imun yang diperantarai oleh sel (cell-mediated immune respons) atau reaksi tipe IV. Reaksi hipersensititas di kulit timbulnya lambat (delayed hipersensivitas), umumnya dalam waktu 24 jam setelah terpapar dengan alergen. “Sebelum seseorang pertama kali menderita dermatitis kontak alergik, terlebih dahulu mendapatkan perubahan spesifik reaktivitas

uhi derajat kepekaan individu, sifat sensitisasi alergen (sensitizer), jumlah alergen, dan konsentrasi,� katanya. Sensitizer kuat mempunyai fase yang lebih pendek, sebaliknya sensitizer lemah umumnya kelainan kulit pertama muncul setelah lama kontak dengan bahan tersebut, bisa bulanan atau tahunan. Sedangkan periode saat terjadinya paparan ulang dengan alergen yang sama atau serupa sampai timbulnya gejala klinis disebut fase elisitasi umumnya berlangsung antara 24-48 jam. Kelainan kulit bergantung pada keparahan dermatitis. Pada fase awal dapat berupa kemerahan yang kemudian muncul lepuh kecil berair yang dapat pecah sehingga tampak

dr. IGN Darmaputra, Sp.KK.

basah dan disertai lecet (erosi). Sedangkan pada fase kronis terlihat kulit kering, bersisik, bintil-bintil kecil (papul) dan dapat disertai penebalan kulit (likenifikasi). Ia menyebutkan, gejala yang umum dirasakan penderita adalah rasa gatal yang kadang berkembang menjadi rasa gatal yang hebat dan mengganggu aktivitas penderita. “Awalnya kelainan kulit hanya terbatas pada tempat kontak dengan alergen, sehingga corak dan distribusinya sering dapat menunjukkan bahan yang diduga penyebabnya misalnya kemerahan melingkar pada pergelangan tangan kemungkinan penyebabnya adalah terhadap jam tangan, kemerahan pada cuping telinga kemungkinan penyebabnya alergi antinganting,� jelasnya. Namun, apabila bahan pencetusnya tetap digunakan dan tidak dilakukan pengobatan yang tepat, reaksi alergi ini akan menyebar luas ke seluruh tubuh. “Diagnosis ditegakkan didasarkan pada riwayat paparan terhadap suatu alergen atau senyawa yang berhubungan, lesi yang gatal serta pola distribusi yang sesuai bahan yang dicurigai,� katanya. Menurut dr. Darma, hal yang perlu diperhatikan dalam penanganan dermatitis kontak adalah upaya pencegahan agar tidak terulangnya kontak kembali dengan alergen penyebab dan menekan kelainan kulit yang timbul. Untuk mengatasi kelainan kulit yang timbul, tergantung bentuk kelainan kulitnya. “Kalau kelainannya tampak kemerahan dan basah, sebaiknya dilakukan kompres menggunakan cairan normal salin, sedangkan apabila kelainan kulitnya

tampak merah, kering, bersisik, dan tebal dapat diberikan krim yang mengandung kortikosteroid. Sedangkan, apabila kelainan kulitnya meluas dapat diberikan tablet yang mengandung kortikosteroid. Untuk mengatasi rasa gatal yang dapat mengganggu aktivitas, dapat diberikan tablet antihistamin sampai rasa gatalnya hilang,� sarannya. Ia menyatakan, untuk memastikan alergen penyebab, adalah hal yang sangat penting. Tujuannya, menghindari paparan berulang dengan bahan yang sama. “Reaksi alergi yang sama atau bahkan lebih berat bisa muncul apabila terpapar lagi dengan alergen yang sama. Paparan ini tidak tergantung seringnya atau lamanya paparan, tapi cukup sekali paparan sudah dapat menimbulkan reaksi,� ujarnya mengingatkan. Untuk memastikan bahan penyebab dapat dilakukan tes tempel. Pelaksanaan tes tempel dilakukan setelah dermatitis-nya sembuh (tenang). Bila memungkinkan, setelah tiga minggu dan sedang tidak meminum obat antialergi. “Tempat melakukan uji tempel biasanya di punggung, dapat pula di bagian luar lengan atas. Bahan uji diletakkan pada sepotong kain atau kertas, ditempelkan pada kulit yang utuh, ditutup dengan bahan impermeabel, kemudian direkatkan dengan plester. Pembacaan hasil dilakukan setelah 48 jam, 72 jam, atau 96 jam,� ucapnya. Setelah mengetahui dengan pasti bahan penyebabnya, ia menyarankan, perlu diperhatikan benda-benda apa saja yang mungkin mengandung alergen dan berusaha menghindarinya semaksimal mungkin. -Wirati Astiti

Tips: - Jika memiliki alergi terhadap logam sebaiknya selalu memperhatikan aksesoris yang akan dibeli. - Fokus utama perhatian adalah jenis bahannya, bukan hanya bentuk atau harganya. - Pastikan apakah aksesoris tersebut mengandung nikel atau tidak. - Apabila sudah terdeteksi positif alergi nikel, sebaiknya harus menerima keadaan dimana alergi umumnya tidak dapat sembuh total dan dapat kambuh kembali apabila terpapar dengan bahan yang sama. Jangan pernah mencoba-coba cara pengobatan alternatif yang menjanjikan kesembuhan alergi, sebab terkadang malahan dapat memperparah reaksi alerginya. - Apabila sudah muncul gejala awal, segeralah periksakan diri ke dokter, karena reaksi alergi kadang masih tetap berlanjut dan menyebar walaupun bahan pencetusnya sudah dihilangkan. –Wirati Astiti

18 - 24 AGUSTUS 2014

Style

Warna-warni Clutch Bag Kerajinan tangan yang satu ini kini tengah digemari, Apalagi warna, model, dan ukurannya semakin beragam. Pekan ini Tokoh memilih clutch bag atau tas tangan dengan warna-warna yan segar dan indah di pandang.

K

oleksi clutch bag ini memang istimewa. Sebab, bahan dasarnya terbuat dari kulit binatang diantaranya kulit ular, sapi, dan domba kualitas prima. Tas dari bahan kulit ini juga mempunyai banyak kelebihan yang tidak dimiliki tas lainnya. Didukung dengan aksesoris tambahan berupa batu-batu permata yang indah, handle tas dari besi berwarna emas, serta pinggiran tas yang dilapisi

pita dan pengait emas, menjadikannya clutch bag dengan label Kamandhani Bag ini, tampil cenderung mewah dan gaya. Pemilik produk drg. Wulandari mengatakan ia memang sengaja memilih bahan baku kulit bintang, di samping unik, secara umum kulit tahan lama, kuat dan kokoh tapi mudah dibentuk serta luwes digunakan. Tas kulit juga tahan gores dan tahan air, tahan lama serta tentunya tak lekang

oleh zaman. Clutch bag dengan bahan dalam suede dan warna-warna yang segar ini, tampil dengan dua penggunaan, yakni dikepit atau digenggam serta meletakkan rantai mewah pegangan tas pada bahu.Sangat cocok dikenakan untuk meng­hadiri acara resep­si pernikah­an, gala dinner dan pesta-pesta lainnya. Semuanya menjadikan penampilan perempuan elegan dan fashionable. – Sri Ardhini

15


Jelita

14

Buah-buahan untuk Perawatan Kulit

Tampil cantik, bersih, dan sehat adalah impian setiap perempuan. Khusus, untuk kulit wajah yang menjadi soroton pertama, bersih bukan hanya merupakan pemandangan yang indah, juga dapat menghadirkan kesan positif.

U

ntuk menjaga elemen penting bernama kulit sebagai penun­ jang penampilan ini diperlukan perawat­an yang kontinyu. Saat ini, ditengah serbuan penawaran aneka teknologi perawatan, ada tren yang menarik, yakni adanya kecenderungan orang-orang kem­ bali memilih perawatan secara tradisional dengan menggunakan bahan-bahan yang alami. “Melakukan perawatan meng­ gunakan bahan-bahan organik yang alami, dan bebas kandung­ an kimia ini, menjadikan kulit terbebas dari efek samping yang dapat merusak kulit,” begitu disampaikan Suci Setiawati, Manajer Spa Bali Tangi yang biasa disapa Tia ini, saat ditemui di Rumah Loloh dan Spa Bali Tangi di kawasan Jalan Tukad Unda, Renon, Den­ pasar ini. Dikatakannya un­ tuk memperoleh ha­ sil maksimal dalam menjaga kulit wajah dan tubuh tetap sehat dan cerah berseri, memang sebaiknya melaku­ kan perawatan kulit wajah secara teratur. Mulai dari mandi, yang tidak hanya bermanfaat bagi kebersihan, tetapi juga untuk memelihara kes­ ehatan tubuh. Terlebih saat ini aktivitas mandi dapat dilakukan dengan berbagai bahan alami lengkap dengan

wewangiannya. Selain itu, sangat banyak pilih­ an sabun dari ramuan tradisional yang bermanfaat kulit tubuh. S e p e r ­t i s a b u n mandi yang memiliki kand­ ungan min­ yak zai­

tun, tabir surya, ekstrak bunga kenanga, menthol, biji kasturi, ekstrak

bunga sekar sari. “Sabun mandi yang berasal dari ramuan tradisional ini juga berfungsi untuk melembutkan, melembabkan, mencegah ke­ keringan, melindungi dari si­ nar ultra violet. Selain itu, dapat meredakan gatal-gatal, men­c egah timbulnya biang ke­r ingat, serta mencegah masalah bau badan,” papar Tia. Saat menggosok tubuh dengan sabun, akan lebih baik jika bisa melakukan sedikit pijatan halus untuk pengelupasan dan membuang kulit tua dan mati hingga kulit halus dan segar. Perawatan akan leb­ ih baik jika di­teruskan dengan body treatment. Perawatan tubuh ini dapat dilakukan setiap minggu. Menyem­ purnakan kebersi­ han kulit , ke­ cantikan dan menjaga kesehat­ annya ini dilakukan dengan massage atau pijatan, perawatan lulur dan mandi be­ rendam maupun mandi rempah. “ Untuk perawatan tubuh ini, tersedia lebih dari 25 jenis lulur pilihan yang memiliki bermacam-macam

manfaat. Biasanya penggunaan­ nya disesuai­ kan dengan kondisi dan jenis kulit,” ka­ tanya. Beri­ kutnya perawatan wajah tra­ disional, kata Tia, pada dasarnya sama dengan perawatan wajah pada umumnya. Namun, di sini lebih menekankan pada bahan yang non-kimia, seperti buah-buahan, madu, susu, kunyit, dan lain-lain yang pemakaian­ nya dise­

suaikan dengan jenis kulit. “Perawatan wajah dilakukan untuk mengangkat sel kulit mati, membersihkan poripori demi menjaga keremajaan ku­ lit, mengembalikan elastisitas ku­ lit, relaksasi otot-otot wajah dan melan­

carkan sirkulasi darah ,”ujar Tia. Tia juga menyampaikan, se­

mua perawatan ini bisa dilakukan sendiri di rumah, Maka ia pun me­ nyebutkan beberapa jenis buahbuahan yang selain berguna untuk menutrisi tubuh juga dapat men­ jadi bahan perawatan kecantikan yang baik, diantaranya: Beng­ kuang yang berfungsi memutihkan dan mencerahkan wajah serta menghilangkan atau menyamar­ kan noda hitam yang diakibatkan jerawat. Hal ini karena bengkuang memiliki kandungan antara lain vitamin C dan B1. Lemon atau jeruk nipis ber­ fungsi sebagai pembersih, toning, menghaluskan dan mengangkat sel kulit mati, pengecil pori-pori, membebas kulit wajah kusam dan memudarkan flek hitam. Lemon adalah sumber alami asam alpha hidroksi (AHA) dan antioksidan juga banyak mengandung vitamin C yang sangat baik untuk kulit. Mentimun dengan fungsinya sebagai pengangkat noda atau flek hitam pada kulit wajah dan dapat menjadikan wajah indah bercahaya. Mentimun mengand­ ung vitamin A, B kompleks, C, dan E yang berfungsi sebagai antioksidan. Tomat mempunyai kemam­ puan untuk mengurangi minyak berlebihan pada wajah, member­ sihkan sekaligus memberi asupan nutrisi, karena tomat mengandung vitamin C. Selain itu juga tomat men­ gandung anti oksidan yang mam­ pu untuk mengatasi iritasi kulit wajah yang terkena sen­ gatan ultravio­ let, mencerah­ kan kulit wajah dan mengurangi komedo. Ada juga alpukat yang berfung­ si baik untuk menjaga kelembaban dan memberi asupan nutrisi serta menghluskan kulit muka anda. Hal ini karena alpukat men­ gandung vitamin C dan vitamin E. Buah apel memiliki kemam­ puan untuk mengurangi minyak pada kulit wajah karena memiliki kandungan zat lastin dan kola­ gen. Juga, buah pisang dapat bermanfaat meremaja­ kan kulit dan membuat kulit wa­ jah menjadi lembab dan kenyal. “Kalau di tempat kami, untuk semua perawatan lebih banyak menggunakan teknik massage Bali kuno. Metode ini di ambil sebagai akar pengembangan teknik tradis­ ional jepun tantra massage, yang mengkombinasikan pijat titik cakra dan pelemasan yoga,” jelasnya. Tia juga mengatakan dalam menjaga kesehatan kulit, se­ lain melakukan perawatan kulit wajah tradisional ini juga harus menerapkan pola hidup sehat. Rutin berolah raga, minum air putih, banyak mengonsumsi buahbuahan serta menghentikan ke­ biasaan mengonsumsi makanan dan minuman yang mengandung alkohol .– Sri Ardhini

Mitos

18 - 24 Agustus 2014

18 - 24 Agustus 2014

11

Peranan Pelembab bagi Penderita Dermatitis Atopik Seiring dengan kemajuan ekonomi suatu daerah yang di­tandai dengan meningkatnya pembangunan industri, penderita dermatitis atopik ikut bertambah pula. Kunjungan pasien ke dokter spesialis kulit dan kelamin karena penyakit dermatitis atopik semakin banyak. Apa hubung­an pen­derita dermatitis atopik dengan kemajuan industri? Oleh: dr. Juliyanti

A

danya industri ikut berperan mencetus­ kan timbulnya penyakit dermatitis atopik karena industri banyak menghasilkan produk yang mengandung bahan kimia, yang ternyata bahan kimia tersebut merupakan salah satu penyebab bagi penderita dermatitis atopik. Dermatitis atopik atau yang lebih dikenal dengan sebutan ekzema atopik adalah penyakit peradangan pada kulit yang dipengaruhi oleh faktor endogen dan eksogen, bersifat kronis dan kambuhan (residif) yang disertai rasa gatal. Dermatitis atopik (DA) dimulai sejak usia bayi ter­ utama pada masa kehidupan 3 bulan pertama, cenderung menurun dan membaik (sembuh) setelah usia 30 tahun, tetapi hanya sebagian kecil yang terus berlangsung sampai usia tua. Prevalensi DA lebih banyak terjadi pada jenis kelamin perempuan daripada laki-laki. Gejala dan tanda seseorang menderita DA antara lain, gatal yang sangat mengganggu, kulit kering, kelaian kulit yang sedang akut berupa bintik-bintik merah, bintil-bintil hingga terdapat nanah. Apabila terjadi kelainan kulit yang kronis, akan tampak sebagai penebalan kulit yang berwarna hitam, bergaris-garis seperti kulit kayu dan cenderung terkelupas akibat garukan. Selain kelainan kulit, dapat disertai gejala atopik lainnya, seperti asma kronis, rhinitis alergika (peradangan selaput lendir hidung akibat alergi) dan konjungtivitis alergika (peradangan se­

laput lendir mata akibat alergi). Letak kelainan kulit penyakit DA mem­ punyai pola yang khas, pada bayi sampai usia 2 tahun banyak terdapat di wajah (pipi dan dahi), kulit kepala, leher, pergelangan tangan, lengan dan tungkai. Sedangkan pada usia anak, remaja dan dewasa, cenderung di lipatan-lipatan tubuh seperti lipat siku, lipat lutut, leher dan pergelangan tangan. Berbagai faktor endogen dan eksogen dari tubuh ikut berinteraksi dalam mencetuskan terjadinya penyakit dermatitis atopik. Faktor endogen berasal dari dalam diri penderita, yang berupa faktor genetik (keturu­ nan) dan stres. Sedangkan faktor eksogen berasal dari luar diri penderita seperti paparan debu, tungau, bahan kimia, sabun, detergen, bakteri staphylococcus aureus, makanan dan minuman. Interaksi faktor-faktor tersebut menyebabkan mutasi gen pada filagrin atau protein kulit dan penurunan kadar seramid kulit yang merupakan komponen lapisan epidermis kulit, serta peningkatan

kadar enzim penghancur protein (proteolitik). Akibatnya kulit mu­ dah kehilangan air dan alergen maupun bahan-bahan yang me­ nempel di kulit mudah masuk, yang pada akhirnya menimbulkan reaksi alergi di kulit. Dengan demikian kulit penderita dermatitis atopik cenderung mudah kering. Kulit yang kering pada pen­ derita dermatitis atopik akan mudah gatal dan memicu garukan sehingga akan lebih mudah terjadi reaksi alergi dan infeksi di kulit. Untuk mencegah kekeringan kulit, diperlukan pelembab. Pelembab merupakan campuran yang kom­ pleks dari berbagai bahan yang berfungsi membentuk lapisan yang lembut di luar kulit. Dengan adanya lapisan di luar kulit, maka dapat mencegah kehilangan air dan membantu menyediakan bahan protein dan lipid yang dibutuhkan oleh lapisan epi­ dermis kulit. Pelembab yang beredar di masyarakat dalam beberapa macam bentuk seperti krim, gel dan losion. Pelembab tersebut terdiri dari campuran air dan minyak yang mudah diserap oleh kulit. Krim dan gel merupakan jenis pelembab yang berupa air dalam media minyak dan sedikit memberikan efek lengket. Sedangkan losion merupakan jenis pelembab yang berupa minyak dalam air dan terlihat seperti suspensi atau emulsi. Penggunaan pelembab dapat dioleskan pada kulit paling sedikit dua kali dalam sehari. Berdasar­ kan studi klinis, dengan mengoleskan pelembab tiap hari pada kulit penderita dermatitis atopik sangat membantu mengurangi terjadinya kekambuhan penyakit dermatitis atopik. Dengan demikian, alangkah baiknya penderita dermatitis atopik rajin mengoleskan pelembab di kulitnya tiap hari untuk mencegah timbulnya kekambuhan penyakit tersebut.

Rapikan Rambut Pubis dapat memicu risiko kesehatan yang cukup serius. Termasuk salah satunya adalah tidak memperhatikan bagaimana merawat rambut kelamin. Ketika sudah mulai puber “Dok, saya mau tanya tentang rambut-rambut di kelamin saya atau katanya disebut rambut pubis, ya? Suami saya sebenarnya lebih senang dan lebih bergairah kalau rambut pubis saya banyak, masalahnya kalau dibiarkan banyak terkadang saat berhubungan seksual bisa jadi nyeri ­karena ada saja rambut yang tertarik masuk oleh gesekan kelamin. Jadi saya lebih senang memotong sebagian rambut yang sudah panjang berlebihan, ­karena sepanjang yang saya tahu juga, rambut pubis perlu dipelihara dengan baik kan, Dok. Soalnya kalau dibiarkan terlalu banyak, saya menjadi risih. Cuma saja, banyak teman yang menyarankan saya mencabut rambut pubis atau menghabiskannya dengan cara di ”waxing”. Menurut dokter, itu bagaimana? Terima kasih” (Diah, 23, Yogyakarta) Vagina adalah salah satu organ vital yang harus dijaga kebersihan­ nya. Selalu menjaga kebersihan vagina tidak hanya akan mengun­ tungkan perempuan, tetapi juga pasangannya. Pada kenyataan­ nya, banyak perempuan yang kurang memperhatikan kebersi­ han vagina dan sekitarnya dan ini

atau menuju dewasa, setiap orang akan mengalami perubahan pada fisiknya, salah satunya adalah tum­ buhnya rambut-rambut, termasuk rambut di kelamin, yang disebut dengan rambut pubis. Apa yang dilakukan sebenarnya sudah cukup tepat, karena walau­ pun ternyata rambut pubis bisa

menjadi daya tarik seksual juga bagi sebagian laki-laki, tetapi sudah seharusnya memang rambut pubis jangan dibiarkan tidak teratur dan terlalu lebat, karena jika terlalu lebat akan juga membuat area va­ gina dan sekitarnya menjadi lebih lembab sehingga mempermudah tumbuhnya jamur. Keringat dan rambut pubis dapat menyatu se­ hingga menimbulkan bau tak sedap, seperti halnya bau menyengat pada ketiak. Jadi memang harus dibersihkan sesering mungkin un­ tuk mencegah akumulasi keringat, terutama karena bagian tersebut hampir selalu tertutup oleh pakai­an. Area antara vagina dan anus pun harus selalu bersih dan bebas dari bau berlebih. Tentang mencabut rambut pubis, sebenarnya tidak akan menimbul­kan akibat buruk apapun, selama dilakukan dengan hati-hati dan tidak menggunakan alat bantu yang kotor, misalnya menggunakan pinset yang kotor tentu saja bisa mengakibatkan iritasi atau bahkan

infeksi. Demikian juga bila ingin mencabut keseluruhan rambut dengan menggunakan pencabutan menggunakan perekat khusus dengan cara “waxing”, selama alat dan bahan yang digunakan tidaklah kotor, akan sedikit akibat buruknya. Tetapi tentu saja proses pencabutan seperti ini akan menimbulkan rasa sakit. Yang kemudian perlu diingat adalah, jika seluruh atau sebagian besar rambut pubis dihilangkan sampai bersih, atau terlihat gundul, walau memang akan lebih mudah dibersihkan tetapi ada ke­mungkinan risiko lebih mudah mengalami per­ lecetan saat mengalami gesekan, baik itu saat berhubungan seksual atau gesekan dengan pakaian da­ lam. Dalam keadaan ini, rambut kelamin sesungguhnya bermanfaat untuk mencegah gesekan tersebut sekaligus menjaga kelembaban area sekitar vagina. Akan lebih baik pilihan bisa di­ lakukan dengan menggunting atau mencukur rapi saja rambut pubis, dengan menyisakan sebagian ram­

but, jadi tidak dihabiskan semua. Dengan dicukur atau digunting rapi, tentu saja tidak akan terasa sakit, lebih praktis dan rambut pubis bisa menjalankan fungsinya untuk me­ lindungi gesekan termasuk menjaga kelembaban seputar vagina. Dengan dipotong pendek dan rapi sekaligus juga bisa mencegah kejadian ram­ but pubis yang panjang yang bisa tertarik masuk saat berhubungan seksual, yang bisa memunculkan rasa nyeri juga saat itu. Satu lagi, jangan lupa buat se­ lalu menjaga kebersihan pakaian dalam. Seringlah mengganti pakai­ an dalam, minimal sehari dua kali setelah mandi, untuk menghindari jamur dan bakteri yang berasal dari pakaian dalam melekat juga pada rambut pubis atau langsung pada vagina jika rambut pubis dihabis­ kan. Sesungguhnya, upaya-upaya ini semua masuk ke dalam konsep merawat dan membersihkan ke­ lamin yang perlu dilakukan dalam kaitan dengan hubungan seksual dan kebersihan organ seksual.


12

18 - 24 AGUSTUS 2014

Spesial Sup Buntut P

ekan ini, Tokoh menyajikan resep spesial andalan salah satu hotel yakni Bali Kuta Resort. Ada sup buntut, nasi goreng ayam BKR, dan ayam bakar BKR. Masing-masing masakan memiliki keunikan rasa tersendiri. Sup buntut kental dengan aroma rempah yang dominan, sengaja diciptakan agar memberi rasa hangat dan wangi pada sup. Nasi goreng ayam BKR juga berbeda karena dibuat dengan tambahan bumbu khas bali yang diadukan dengan bumbu Indonesia. Rasa nasi goreng men-

jadi lebih terasa, ada rasa manis, pedas, dan aroma terasi sangat kental. Jika ingin pedas, ada tambahan cabai hijau potongan. Selain itu, ada ayam bakar BKR. Ayam yang diungkep terlebih dahulu dengan bumbu khas Bali membuat dagingnya menjadi sangat lunak dan rasanya juga terasa hingga ke dalam dagingnya. Warna kuning terlihat karena ada sentuhan bumbu kunir di dalamnya. Setelah dipanggang pun, warna ayam bakar terlihat sangat cerah. Berikut resep dari Chef de Partie I Made Artanaya Yuda. Selamat mencoba.

Sup Buntut

I Made Artanaya Yuda

Bahan: 1 kg : buntut daging sapi Bumbu 200 gr : bawang merah 200 gr : bawang putih 300 gr : pala 100 gr : wortel 100 gr : daung bawang 10 gr : cengkih 100 gr : bawang Bombay 200 gr : kapulaga 400 gr : jahe Garam secukupnya Kaldu ayam bubuk secukupnya Cara membuat: - Rebus daging buntut sampai darahnya hilang. - Semua bumbu dihaluskan dan ditumis sampai harum. Masukkan buntut tadi. Tambahkan air secukupnya. - Rebus lebih kurang 4 jam. - Angkat, sajikan dengan nasi putih

Nasi Goreng Ayam BKR Bahan: 300 gr 200 gr 1 butir 100 gr

: : : :

nasi putih paha ayam telur ayam ayam sisit

Bumbu: 50 gr : bawang merah 50 gr : bawang putih 100 gr : cabai merah besar 25 gr : cabai rawit 25 gr : tomat 15 gr : daun bawang Terasi secukupnya Bumbu khas Bali secukupnya

Sisihkan. - Bumbu dihaluskan. - Panaskan wajan, tuang minyak secukupnya. Tumis bawang putih sampai harum. Masukkan telur. - Kemudian masukkan nasi dan

bumbu yang sudah dihaluskan tadi. Tambahkan ayam sisit, garam, merica, dan daun bawang. - Masak sampai nasi matang. - Sajikan nasi goreng bersama ayam goreng, telur mata sapi, acar, dan kerupuk. - Pelengkap cabai rawit hijau potong dan kecap.

Pelengkap: 100 gram acar, kerupuk, telur mata sapi. Cara membuat: - Paha ayam direbus dengan bumbu khas Bali selama 25 menit. Kemudian digoreng.

Sayur Pakis Disukai Tamu Luar Bali

Selain menikmati menu andalan sup buntut, ayam bakar BKR, dan nasi goreng ayam BKR, Anda juga dapat menikmati sajian lain racikan chef I Made Artanaya Yuda. Ada menu-menu pilihan yang bisa Anda nikmati jika menginap di Bali Kuta Resort (BKR). Saat makan pagi, akan disajikan lima jenis ma-

kanan. Selain makanan Barat, makanan Indonesia selalu disuguhkan dengan tujuan agar tamu mengenal makanan tersebut. Salah satunya, perkedel jagung dan tempe balado. “Jika ada permintaan makanan khas Bali juga siap disajikan. Seperti sayur pakis yang ditumis atau diurap sangat disukai para tamu luar Bali. Lawar juga kerap diselipkan

dalam sajian salad,” ujar lelaki asal Tabanan ini. Biasanya, kata chef Yuda, saat pertemuan yang digelar perusahaan BUMN atau swasta di Bali, mereka meminta untuk disuguhkan juga makanan khas Bali. Biasanya, yang disukai sayur bejek kacang panjang dan sayur urap. –Wirati Astiti

Kuliner

Ayam Bakar BKR

Bahan: 600 gr 100 gr 100 gr 100 gr 100 gr

: : : : :

daging ayam tomat mentimun kacang panjang kubis

Bumbu kuning: 100 gr : jahe 300 gr : laos 100 gr : bawang merah 100 gr : bawang putih 100 gr : kunir 50 gr kencur 50 gr : kemiri 50 gr : ketumbar 1 batang : sereh 2 lembar : daun salam 2 lembar : daun jeruk

- Semua bumbu dihaluskan dan tumis sampai harum. - Masukkan air dan ayam. - Tambahkan duan salam, daun je­­­ruk, sereh, rebus sekitar 30 menit. - Setelah air menguap, bakar ayam sampai berwana kecokelatan. - Sajikan ayam bakar dengan nasi putih, ditemani tomat, kubis, kacang panjang, dan sambal ulek.

Cara membuat: - Ayam dibelah dua.

Tips Ayam Panggang Sedap Ayam kampung dan ayam potong, sama-sama bisa dipakai untuk membuat hidangan ayam bakar. Pilihlah ayam yang muda, cirinya yaitu tulang sayapnya masih lentur bila dilipat ke arah yang berlawanan. Ayam seperti ini dagingnya empuk dan tidak membutuhkan waktu yang lama untuk dimasak. Ayam yang sering dipakai untuk ayam bakar biasanya berukuran kecil, karena usianya yang masih muda. Ayam seperti ini sangat ideal bila dipotong dalam empat bagian, yaitu dua potong dada dan dua potong paha. Namun, bila ayam yang dipakai ternyata gemuk dan berkukuran besar, ayam bisa dipotong dalam beberapa bagian seperti 8 atau 12 potong. Umumnya resep ayam bakar mengharuskan kita mengungkep ayamnya bersama bumbu yang dihaluskan terlebih dahulu. Ini adalah cara supaya bumbu bisa meresap ke dalam daging ayam dengan sempurna. Melu-

muri ayam dengan bumbu kemudian dimasak dalam keadaan tertutup dengan api kecil. Saat dimasak, ayam akan berair kemudian matang bersama dengan bumbu. Kita bisa memanggang ayam dengan beberapa cara, misalnya di atas bara, menggunakan oven, atau memakai pemanggang praktis yang diletakkan di atas api kompor. Bila memakai bara, kipas bara agar tidak menjadi kobaran api. Memanggang ayam dengan menggunakan oven akan menghasilkan kematangan yang merata. Supaya lebih maksimal, ayam bisa dibungkus dengan aluminium foil terlebih dahulu. Memanggang dengan menggunakan alat bantu yang diletakkan di atas kompor, juga sangat memudahkan pekerjaan. Api yang terlalu besar bisa membuat ayam menjadi cepat hangus. Sebaliknya, api yang terlalu kecil akan mengakibatkan daging ayam menjadi mudah hancur. -Wirati Astiti

18 - 24 AGUSTUS 2014

Pilih Ayam Goreng atau Ayam Bakar?

13

Kini marak bermunculan warung tenda di seputaran Kota Denpasar. Salah satunya, di areal Jalan Ahmad Yani Denpasar. Satu warung tenda milik Pak Kusuma, dengan nama Warung Kusuma. Luasnya 5 meter x 5 meter. Meja-meja panjang tertata rapi dilengkapi dengan kursi plastik. Letaknya memang di emper toko. Warung ini buka setelah toko tutup. Jam bukanya mulai pukul 18.00 sampai 23.00. Warung ini sudah dibuka sejak empat tahun lalu. Menu spesial yang dijual di antaranya ayam goreng, ayam bakar, lele goreng, tempe dan tahu penyet, terong, dan lalapan. Makanan yang paling digemari konsumen, ayam bakar dan ayam goreng. “Dua menu ini paling banyak laku,” ujar Pak Kusuma. Lelaki usia 50 tahun itu mengatakan, satu hari ia bisa menghabiskan 7 kilogram daging ayam. Ia dibantu dua orang karyawan yang bertugas meng­

Ayam bakar

goreng dan membakar ayam. Harga yang dipatok untuk menu favorit ayam goreng atau ayam bakar Rp 17.000 sudah termasuk nasi putih. Salah seorang konsumen, Pak Yasa menuturkan, walau terbilang agak mahal seporsi ayam bakar warung tenda Pak Kusuma, ia tak masalah. Menurutnya, tempat yang nyaman, menjadi pilihannya. “Tempatnya lumayan luas dan bersih. Jadi mahalan sedikit tidak apa-apa,” tutur lelaki yang tinggal di Peguyangan ini. Kadang, Pak Yasa memilih menu lele goreng. Harganya Rp 12.000 sudah termasuk nasi putih dan minum air putih. Setiap satu porsi ayam bakar, ayam goreng, lele atau tahu dan tempe, selalu disertai lalapan mentimun, daun kemangi, dan kubis. Jika Anda suka terong, cobalah terong penyet. Namun, Anda harus berhati-hati, karena sambalnya agak pedas. Biasanya, saat makan malam pukul 19.00, konsumen paling banyak makan. Kadang tempat makan di warung tenda Kusuma penuh. Terpaksa pembeli membungkus dibawa pulang. Kebanyakan pembeli, para karyawan yang baru pulang kerja. Jadi, kalau Anda kebingungan mencari tempat makan di seputaran A.Yani Pegu­ yangan, cobalah Warung Kusuma. -Wirati Astiti

Ayam goreng

Tips Menggoreng Ikan Lele Bagaimana menggoreng ikan lele agar teksturnya garing seperti di tukang pecel lele yang ada di warung kaki lima. Apakah menggoreng sendiri di rumah hasilnya tidak bisa renyah? Berikut tipsnya. • Sebelum digoreng, bumbui ikan lele dengan garam, bawang putih, ketumbar, dan kunyit yang dihaluskan. • Bubuhi sedikit air jeruk nipis dan diamkan selama beberapa saat. • Tiriskan ikan lele. • Panaskan minyak banyak di atas api sedang. • Goreng ikan lele dan pastikan seluruh badan ikan terendam minyak. Jangan dibalik-balik agar tidak hancur. Biarkan hingga lele benar-benar kering dan matang. • Tiriskan dan sajikan hangat. Ikan lele goreng yang lembek tidak renyah biasanya karena minyak kurang panas dan lele tidak terendam minyak sehingga matang tidak merata dan tidak bisa kering. -Wirati Astiti

Es Kopi Mocca Acar Bumbu Kuning Sarwan Bahan: 1 buah : 2 buah : 10 buah : 20 ml :

mentimun, iris korek api wortel, iris korek api cabe kecil hijau air

bumbu halus, aduk hingga 2 sdm : cuka harum. Garam, gula, kaldu bubuk secu- Masukkan irisan mentimun, kupnya. wortel, air dan cabe hijau, diamkan hingga mendidih. Bumbu yang dihaluskan: - Masukkan garam, gula, kaldu 7 buah : bawang merah bubuk dan aduk merata hinga 3 siung : bawang putih matang. 4 butir : kemiri sangrai - Siap untuk dihidangkan den2 ruas : jari kunyit bakar gan gorengan ikan. 1 ruas : jari jahe Cara membuat: - Panaskan minyak, masukkan

Bahan: 600 ml : susu segar, didihkan 100 ml : kopi kental 2 sdt : cokelat bubuk Es batu secukupnya Cokelat serut/mesis secukupnya Cara membuat: - Masukkan rebusan susu segar de­ngan kopi kental, cokelat bu­buk, es batu ke dalam gelas, lalu blen­­der hingga halus dan berbuih. - Taburi dengan cokelat serut/ - Tuang ke dalam gelas saji. mesis. Sajikan.

Es Buah Segar Ceria

Bahan: 150 gr : nanas kupas 150 gr : belimbing, buang bagian tepinya 100 gr : leci kalengan 150 gr : mangga matang 250 gr : gula pasir 250 ml : air 1 sdm : air jeruk lemon 3 cm : kulit jeruk lemon 250 ml : air soda 4 sdm : mint segar, cincang kasar Es batu/es serut

Cara membuat: - Cincang kasar nanas, iris belimbing tipis melintang, potong

-

-

-

leci menjadi dua bagian, iris mangga bentuk dadu, sisihkan. Rebus gula dan air dalam panci dengan api sedang, aduk hingga gula larut, lalu masukkan air jeruk dan kulit jeruk. Didihkan sirp hingga sirop gula agak kental, angkat, ambil kulit jeruk lemon, biarkan dingin Campur sirup dengan semua buah, aduk rata, tambahkan air soda dan daun mint. Siapkan segelas/mangkuk, isi dengan buah bersoda tambahkan es serut, hiasi dengan daun mint segar.


12

18 - 24 AGUSTUS 2014

Spesial Sup Buntut P

ekan ini, Tokoh menyajikan resep spesial andalan salah satu hotel yakni Bali Kuta Resort. Ada sup buntut, nasi goreng ayam BKR, dan ayam bakar BKR. Masing-masing masakan memiliki keunikan rasa tersendiri. Sup buntut kental dengan aroma rempah yang dominan, sengaja diciptakan agar memberi rasa hangat dan wangi pada sup. Nasi goreng ayam BKR juga berbeda karena dibuat dengan tambahan bumbu khas bali yang diadukan dengan bumbu Indonesia. Rasa nasi goreng men-

jadi lebih terasa, ada rasa manis, pedas, dan aroma terasi sangat kental. Jika ingin pedas, ada tambahan cabai hijau potongan. Selain itu, ada ayam bakar BKR. Ayam yang diungkep terlebih dahulu dengan bumbu khas Bali membuat dagingnya menjadi sangat lunak dan rasanya juga terasa hingga ke dalam dagingnya. Warna kuning terlihat karena ada sentuhan bumbu kunir di dalamnya. Setelah dipanggang pun, warna ayam bakar terlihat sangat cerah. Berikut resep dari Chef de Partie I Made Artanaya Yuda. Selamat mencoba.

Sup Buntut

I Made Artanaya Yuda

Bahan: 1 kg : buntut daging sapi Bumbu 200 gr : bawang merah 200 gr : bawang putih 300 gr : pala 100 gr : wortel 100 gr : daung bawang 10 gr : cengkih 100 gr : bawang Bombay 200 gr : kapulaga 400 gr : jahe Garam secukupnya Kaldu ayam bubuk secukupnya Cara membuat: - Rebus daging buntut sampai darahnya hilang. - Semua bumbu dihaluskan dan ditumis sampai harum. Masukkan buntut tadi. Tambahkan air secukupnya. - Rebus lebih kurang 4 jam. - Angkat, sajikan dengan nasi putih

Nasi Goreng Ayam BKR Bahan: 300 gr 200 gr 1 butir 100 gr

: : : :

nasi putih paha ayam telur ayam ayam sisit

Bumbu: 50 gr : bawang merah 50 gr : bawang putih 100 gr : cabai merah besar 25 gr : cabai rawit 25 gr : tomat 15 gr : daun bawang Terasi secukupnya Bumbu khas Bali secukupnya

Sisihkan. - Bumbu dihaluskan. - Panaskan wajan, tuang minyak secukupnya. Tumis bawang putih sampai harum. Masukkan telur. - Kemudian masukkan nasi dan

bumbu yang sudah dihaluskan tadi. Tambahkan ayam sisit, garam, merica, dan daun bawang. - Masak sampai nasi matang. - Sajikan nasi goreng bersama ayam goreng, telur mata sapi, acar, dan kerupuk. - Pelengkap cabai rawit hijau potong dan kecap.

Pelengkap: 100 gram acar, kerupuk, telur mata sapi. Cara membuat: - Paha ayam direbus dengan bumbu khas Bali selama 25 menit. Kemudian digoreng.

Sayur Pakis Disukai Tamu Luar Bali

Selain menikmati menu andalan sup buntut, ayam bakar BKR, dan nasi goreng ayam BKR, Anda juga dapat menikmati sajian lain racikan chef I Made Artanaya Yuda. Ada menu-menu pilihan yang bisa Anda nikmati jika menginap di Bali Kuta Resort (BKR). Saat makan pagi, akan disajikan lima jenis ma-

kanan. Selain makanan Barat, makanan Indonesia selalu disuguhkan dengan tujuan agar tamu mengenal makanan tersebut. Salah satunya, perkedel jagung dan tempe balado. “Jika ada permintaan makanan khas Bali juga siap disajikan. Seperti sayur pakis yang ditumis atau diurap sangat disukai para tamu luar Bali. Lawar juga kerap diselipkan

dalam sajian salad,” ujar lelaki asal Tabanan ini. Biasanya, kata chef Yuda, saat pertemuan yang digelar perusahaan BUMN atau swasta di Bali, mereka meminta untuk disuguhkan juga makanan khas Bali. Biasanya, yang disukai sayur bejek kacang panjang dan sayur urap. –Wirati Astiti

Kuliner

Ayam Bakar BKR

Bahan: 600 gr 100 gr 100 gr 100 gr 100 gr

: : : : :

daging ayam tomat mentimun kacang panjang kubis

Bumbu kuning: 100 gr : jahe 300 gr : laos 100 gr : bawang merah 100 gr : bawang putih 100 gr : kunir 50 gr kencur 50 gr : kemiri 50 gr : ketumbar 1 batang : sereh 2 lembar : daun salam 2 lembar : daun jeruk

- Semua bumbu dihaluskan dan tumis sampai harum. - Masukkan air dan ayam. - Tambahkan duan salam, daun je­­­ruk, sereh, rebus sekitar 30 menit. - Setelah air menguap, bakar ayam sampai berwana kecokelatan. - Sajikan ayam bakar dengan nasi putih, ditemani tomat, kubis, kacang panjang, dan sambal ulek.

Cara membuat: - Ayam dibelah dua.

Tips Ayam Panggang Sedap Ayam kampung dan ayam potong, sama-sama bisa dipakai untuk membuat hidangan ayam bakar. Pilihlah ayam yang muda, cirinya yaitu tulang sayapnya masih lentur bila dilipat ke arah yang berlawanan. Ayam seperti ini dagingnya empuk dan tidak membutuhkan waktu yang lama untuk dimasak. Ayam yang sering dipakai untuk ayam bakar biasanya berukuran kecil, karena usianya yang masih muda. Ayam seperti ini sangat ideal bila dipotong dalam empat bagian, yaitu dua potong dada dan dua potong paha. Namun, bila ayam yang dipakai ternyata gemuk dan berkukuran besar, ayam bisa dipotong dalam beberapa bagian seperti 8 atau 12 potong. Umumnya resep ayam bakar mengharuskan kita mengungkep ayamnya bersama bumbu yang dihaluskan terlebih dahulu. Ini adalah cara supaya bumbu bisa meresap ke dalam daging ayam dengan sempurna. Melu-

muri ayam dengan bumbu kemudian dimasak dalam keadaan tertutup dengan api kecil. Saat dimasak, ayam akan berair kemudian matang bersama dengan bumbu. Kita bisa memanggang ayam dengan beberapa cara, misalnya di atas bara, menggunakan oven, atau memakai pemanggang praktis yang diletakkan di atas api kompor. Bila memakai bara, kipas bara agar tidak menjadi kobaran api. Memanggang ayam dengan menggunakan oven akan menghasilkan kematangan yang merata. Supaya lebih maksimal, ayam bisa dibungkus dengan aluminium foil terlebih dahulu. Memanggang dengan menggunakan alat bantu yang diletakkan di atas kompor, juga sangat memudahkan pekerjaan. Api yang terlalu besar bisa membuat ayam menjadi cepat hangus. Sebaliknya, api yang terlalu kecil akan mengakibatkan daging ayam menjadi mudah hancur. -Wirati Astiti

18 - 24 AGUSTUS 2014

Pilih Ayam Goreng atau Ayam Bakar?

13

Kini marak bermunculan warung tenda di seputaran Kota Denpasar. Salah satunya, di areal Jalan Ahmad Yani Denpasar. Satu warung tenda milik Pak Kusuma, dengan nama Warung Kusuma. Luasnya 5 meter x 5 meter. Meja-meja panjang tertata rapi dilengkapi dengan kursi plastik. Letaknya memang di emper toko. Warung ini buka setelah toko tutup. Jam bukanya mulai pukul 18.00 sampai 23.00. Warung ini sudah dibuka sejak empat tahun lalu. Menu spesial yang dijual di antaranya ayam goreng, ayam bakar, lele goreng, tempe dan tahu penyet, terong, dan lalapan. Makanan yang paling digemari konsumen, ayam bakar dan ayam goreng. “Dua menu ini paling banyak laku,” ujar Pak Kusuma. Lelaki usia 50 tahun itu mengatakan, satu hari ia bisa menghabiskan 7 kilogram daging ayam. Ia dibantu dua orang karyawan yang bertugas meng­

Ayam bakar

goreng dan membakar ayam. Harga yang dipatok untuk menu favorit ayam goreng atau ayam bakar Rp 17.000 sudah termasuk nasi putih. Salah seorang konsumen, Pak Yasa menuturkan, walau terbilang agak mahal seporsi ayam bakar warung tenda Pak Kusuma, ia tak masalah. Menurutnya, tempat yang nyaman, menjadi pilihannya. “Tempatnya lumayan luas dan bersih. Jadi mahalan sedikit tidak apa-apa,” tutur lelaki yang tinggal di Peguyangan ini. Kadang, Pak Yasa memilih menu lele goreng. Harganya Rp 12.000 sudah termasuk nasi putih dan minum air putih. Setiap satu porsi ayam bakar, ayam goreng, lele atau tahu dan tempe, selalu disertai lalapan mentimun, daun kemangi, dan kubis. Jika Anda suka terong, cobalah terong penyet. Namun, Anda harus berhati-hati, karena sambalnya agak pedas. Biasanya, saat makan malam pukul 19.00, konsumen paling banyak makan. Kadang tempat makan di warung tenda Kusuma penuh. Terpaksa pembeli membungkus dibawa pulang. Kebanyakan pembeli, para karyawan yang baru pulang kerja. Jadi, kalau Anda kebingungan mencari tempat makan di seputaran A.Yani Pegu­ yangan, cobalah Warung Kusuma. -Wirati Astiti

Ayam goreng

Tips Menggoreng Ikan Lele Bagaimana menggoreng ikan lele agar teksturnya garing seperti di tukang pecel lele yang ada di warung kaki lima. Apakah menggoreng sendiri di rumah hasilnya tidak bisa renyah? Berikut tipsnya. • Sebelum digoreng, bumbui ikan lele dengan garam, bawang putih, ketumbar, dan kunyit yang dihaluskan. • Bubuhi sedikit air jeruk nipis dan diamkan selama beberapa saat. • Tiriskan ikan lele. • Panaskan minyak banyak di atas api sedang. • Goreng ikan lele dan pastikan seluruh badan ikan terendam minyak. Jangan dibalik-balik agar tidak hancur. Biarkan hingga lele benar-benar kering dan matang. • Tiriskan dan sajikan hangat. Ikan lele goreng yang lembek tidak renyah biasanya karena minyak kurang panas dan lele tidak terendam minyak sehingga matang tidak merata dan tidak bisa kering. -Wirati Astiti

Es Kopi Mocca Acar Bumbu Kuning Sarwan Bahan: 1 buah : 2 buah : 10 buah : 20 ml :

mentimun, iris korek api wortel, iris korek api cabe kecil hijau air

bumbu halus, aduk hingga 2 sdm : cuka harum. Garam, gula, kaldu bubuk secu- Masukkan irisan mentimun, kupnya. wortel, air dan cabe hijau, diamkan hingga mendidih. Bumbu yang dihaluskan: - Masukkan garam, gula, kaldu 7 buah : bawang merah bubuk dan aduk merata hinga 3 siung : bawang putih matang. 4 butir : kemiri sangrai - Siap untuk dihidangkan den2 ruas : jari kunyit bakar gan gorengan ikan. 1 ruas : jari jahe Cara membuat: - Panaskan minyak, masukkan

Bahan: 600 ml : susu segar, didihkan 100 ml : kopi kental 2 sdt : cokelat bubuk Es batu secukupnya Cokelat serut/mesis secukupnya Cara membuat: - Masukkan rebusan susu segar de­ngan kopi kental, cokelat bu­buk, es batu ke dalam gelas, lalu blen­­der hingga halus dan berbuih. - Taburi dengan cokelat serut/ - Tuang ke dalam gelas saji. mesis. Sajikan.

Es Buah Segar Ceria

Bahan: 150 gr : nanas kupas 150 gr : belimbing, buang bagian tepinya 100 gr : leci kalengan 150 gr : mangga matang 250 gr : gula pasir 250 ml : air 1 sdm : air jeruk lemon 3 cm : kulit jeruk lemon 250 ml : air soda 4 sdm : mint segar, cincang kasar Es batu/es serut

Cara membuat: - Cincang kasar nanas, iris belimbing tipis melintang, potong

-

-

-

leci menjadi dua bagian, iris mangga bentuk dadu, sisihkan. Rebus gula dan air dalam panci dengan api sedang, aduk hingga gula larut, lalu masukkan air jeruk dan kulit jeruk. Didihkan sirp hingga sirop gula agak kental, angkat, ambil kulit jeruk lemon, biarkan dingin Campur sirup dengan semua buah, aduk rata, tambahkan air soda dan daun mint. Siapkan segelas/mangkuk, isi dengan buah bersoda tambahkan es serut, hiasi dengan daun mint segar.


Jelita

14

Buah-buahan untuk Perawatan Kulit

Tampil cantik, bersih, dan sehat adalah impian setiap perempuan. Khusus, untuk kulit wajah yang menjadi soroton pertama, bersih bukan hanya merupakan pemandangan yang indah, juga dapat menghadirkan kesan positif.

U

ntuk menjaga elemen penting bernama kulit sebagai penun­ jang penampilan ini diperlukan perawat­an yang kontinyu. Saat ini, ditengah serbuan penawaran aneka teknologi perawatan, ada tren yang menarik, yakni adanya kecenderungan orang-orang kem­ bali memilih perawatan secara tradisional dengan menggunakan bahan-bahan yang alami. “Melakukan perawatan meng­ gunakan bahan-bahan organik yang alami, dan bebas kandung­ an kimia ini, menjadikan kulit terbebas dari efek samping yang dapat merusak kulit,” begitu disampaikan Suci Setiawati, Manajer Spa Bali Tangi yang biasa disapa Tia ini, saat ditemui di Rumah Loloh dan Spa Bali Tangi di kawasan Jalan Tukad Unda, Renon, Den­ pasar ini. Dikatakannya un­ tuk memperoleh ha­ sil maksimal dalam menjaga kulit wajah dan tubuh tetap sehat dan cerah berseri, memang sebaiknya melaku­ kan perawatan kulit wajah secara teratur. Mulai dari mandi, yang tidak hanya bermanfaat bagi kebersihan, tetapi juga untuk memelihara kes­ ehatan tubuh. Terlebih saat ini aktivitas mandi dapat dilakukan dengan berbagai bahan alami lengkap dengan

wewangiannya. Selain itu, sangat banyak pilih­ an sabun dari ramuan tradisional yang bermanfaat kulit tubuh. S e p e r ­t i s a b u n mandi yang memiliki kand­ ungan min­ yak zai­

tun, tabir surya, ekstrak bunga kenanga, menthol, biji kasturi, ekstrak

bunga sekar sari. “Sabun mandi yang berasal dari ramuan tradisional ini juga berfungsi untuk melembutkan, melembabkan, mencegah ke­ keringan, melindungi dari si­ nar ultra violet. Selain itu, dapat meredakan gatal-gatal, men­c egah timbulnya biang ke­r ingat, serta mencegah masalah bau badan,” papar Tia. Saat menggosok tubuh dengan sabun, akan lebih baik jika bisa melakukan sedikit pijatan halus untuk pengelupasan dan membuang kulit tua dan mati hingga kulit halus dan segar. Perawatan akan leb­ ih baik jika di­teruskan dengan body treatment. Perawatan tubuh ini dapat dilakukan setiap minggu. Menyem­ purnakan kebersi­ han kulit , ke­ cantikan dan menjaga kesehat­ annya ini dilakukan dengan massage atau pijatan, perawatan lulur dan mandi be­ rendam maupun mandi rempah. “ Untuk perawatan tubuh ini, tersedia lebih dari 25 jenis lulur pilihan yang memiliki bermacam-macam

manfaat. Biasanya penggunaan­ nya disesuai­ kan dengan kondisi dan jenis kulit,” ka­ tanya. Beri­ kutnya perawatan wajah tra­ disional, kata Tia, pada dasarnya sama dengan perawatan wajah pada umumnya. Namun, di sini lebih menekankan pada bahan yang non-kimia, seperti buah-buahan, madu, susu, kunyit, dan lain-lain yang pemakaian­ nya dise­

suaikan dengan jenis kulit. “Perawatan wajah dilakukan untuk mengangkat sel kulit mati, membersihkan poripori demi menjaga keremajaan ku­ lit, mengembalikan elastisitas ku­ lit, relaksasi otot-otot wajah dan melan­

carkan sirkulasi darah ,”ujar Tia. Tia juga menyampaikan, se­

mua perawatan ini bisa dilakukan sendiri di rumah, Maka ia pun me­ nyebutkan beberapa jenis buahbuahan yang selain berguna untuk menutrisi tubuh juga dapat men­ jadi bahan perawatan kecantikan yang baik, diantaranya: Beng­ kuang yang berfungsi memutihkan dan mencerahkan wajah serta menghilangkan atau menyamar­ kan noda hitam yang diakibatkan jerawat. Hal ini karena bengkuang memiliki kandungan antara lain vitamin C dan B1. Lemon atau jeruk nipis ber­ fungsi sebagai pembersih, toning, menghaluskan dan mengangkat sel kulit mati, pengecil pori-pori, membebas kulit wajah kusam dan memudarkan flek hitam. Lemon adalah sumber alami asam alpha hidroksi (AHA) dan antioksidan juga banyak mengandung vitamin C yang sangat baik untuk kulit. Mentimun dengan fungsinya sebagai pengangkat noda atau flek hitam pada kulit wajah dan dapat menjadikan wajah indah bercahaya. Mentimun mengand­ ung vitamin A, B kompleks, C, dan E yang berfungsi sebagai antioksidan. Tomat mempunyai kemam­ puan untuk mengurangi minyak berlebihan pada wajah, member­ sihkan sekaligus memberi asupan nutrisi, karena tomat mengandung vitamin C. Selain itu juga tomat men­ gandung anti oksidan yang mam­ pu untuk mengatasi iritasi kulit wajah yang terkena sen­ gatan ultravio­ let, mencerah­ kan kulit wajah dan mengurangi komedo. Ada juga alpukat yang berfung­ si baik untuk menjaga kelembaban dan memberi asupan nutrisi serta menghluskan kulit muka anda. Hal ini karena alpukat men­ gandung vitamin C dan vitamin E. Buah apel memiliki kemam­ puan untuk mengurangi minyak pada kulit wajah karena memiliki kandungan zat lastin dan kola­ gen. Juga, buah pisang dapat bermanfaat meremaja­ kan kulit dan membuat kulit wa­ jah menjadi lembab dan kenyal. “Kalau di tempat kami, untuk semua perawatan lebih banyak menggunakan teknik massage Bali kuno. Metode ini di ambil sebagai akar pengembangan teknik tradis­ ional jepun tantra massage, yang mengkombinasikan pijat titik cakra dan pelemasan yoga,” jelasnya. Tia juga mengatakan dalam menjaga kesehatan kulit, se­ lain melakukan perawatan kulit wajah tradisional ini juga harus menerapkan pola hidup sehat. Rutin berolah raga, minum air putih, banyak mengonsumsi buahbuahan serta menghentikan ke­ biasaan mengonsumsi makanan dan minuman yang mengandung alkohol .– Sri Ardhini

Mitos

18 - 24 Agustus 2014

18 - 24 Agustus 2014

11

Peranan Pelembab bagi Penderita Dermatitis Atopik Seiring dengan kemajuan ekonomi suatu daerah yang di­tandai dengan meningkatnya pembangunan industri, penderita dermatitis atopik ikut bertambah pula. Kunjungan pasien ke dokter spesialis kulit dan kelamin karena penyakit dermatitis atopik semakin banyak. Apa hubung­an pen­derita dermatitis atopik dengan kemajuan industri? Oleh: dr. Juliyanti

A

danya industri ikut berperan mencetus­ kan timbulnya penyakit dermatitis atopik karena industri banyak menghasilkan produk yang mengandung bahan kimia, yang ternyata bahan kimia tersebut merupakan salah satu penyebab bagi penderita dermatitis atopik. Dermatitis atopik atau yang lebih dikenal dengan sebutan ekzema atopik adalah penyakit peradangan pada kulit yang dipengaruhi oleh faktor endogen dan eksogen, bersifat kronis dan kambuhan (residif) yang disertai rasa gatal. Dermatitis atopik (DA) dimulai sejak usia bayi ter­ utama pada masa kehidupan 3 bulan pertama, cenderung menurun dan membaik (sembuh) setelah usia 30 tahun, tetapi hanya sebagian kecil yang terus berlangsung sampai usia tua. Prevalensi DA lebih banyak terjadi pada jenis kelamin perempuan daripada laki-laki. Gejala dan tanda seseorang menderita DA antara lain, gatal yang sangat mengganggu, kulit kering, kelaian kulit yang sedang akut berupa bintik-bintik merah, bintil-bintil hingga terdapat nanah. Apabila terjadi kelainan kulit yang kronis, akan tampak sebagai penebalan kulit yang berwarna hitam, bergaris-garis seperti kulit kayu dan cenderung terkelupas akibat garukan. Selain kelainan kulit, dapat disertai gejala atopik lainnya, seperti asma kronis, rhinitis alergika (peradangan selaput lendir hidung akibat alergi) dan konjungtivitis alergika (peradangan se­

laput lendir mata akibat alergi). Letak kelainan kulit penyakit DA mem­ punyai pola yang khas, pada bayi sampai usia 2 tahun banyak terdapat di wajah (pipi dan dahi), kulit kepala, leher, pergelangan tangan, lengan dan tungkai. Sedangkan pada usia anak, remaja dan dewasa, cenderung di lipatan-lipatan tubuh seperti lipat siku, lipat lutut, leher dan pergelangan tangan. Berbagai faktor endogen dan eksogen dari tubuh ikut berinteraksi dalam mencetuskan terjadinya penyakit dermatitis atopik. Faktor endogen berasal dari dalam diri penderita, yang berupa faktor genetik (keturu­ nan) dan stres. Sedangkan faktor eksogen berasal dari luar diri penderita seperti paparan debu, tungau, bahan kimia, sabun, detergen, bakteri staphylococcus aureus, makanan dan minuman. Interaksi faktor-faktor tersebut menyebabkan mutasi gen pada filagrin atau protein kulit dan penurunan kadar seramid kulit yang merupakan komponen lapisan epidermis kulit, serta peningkatan

kadar enzim penghancur protein (proteolitik). Akibatnya kulit mu­ dah kehilangan air dan alergen maupun bahan-bahan yang me­ nempel di kulit mudah masuk, yang pada akhirnya menimbulkan reaksi alergi di kulit. Dengan demikian kulit penderita dermatitis atopik cenderung mudah kering. Kulit yang kering pada pen­ derita dermatitis atopik akan mudah gatal dan memicu garukan sehingga akan lebih mudah terjadi reaksi alergi dan infeksi di kulit. Untuk mencegah kekeringan kulit, diperlukan pelembab. Pelembab merupakan campuran yang kom­ pleks dari berbagai bahan yang berfungsi membentuk lapisan yang lembut di luar kulit. Dengan adanya lapisan di luar kulit, maka dapat mencegah kehilangan air dan membantu menyediakan bahan protein dan lipid yang dibutuhkan oleh lapisan epi­ dermis kulit. Pelembab yang beredar di masyarakat dalam beberapa macam bentuk seperti krim, gel dan losion. Pelembab tersebut terdiri dari campuran air dan minyak yang mudah diserap oleh kulit. Krim dan gel merupakan jenis pelembab yang berupa air dalam media minyak dan sedikit memberikan efek lengket. Sedangkan losion merupakan jenis pelembab yang berupa minyak dalam air dan terlihat seperti suspensi atau emulsi. Penggunaan pelembab dapat dioleskan pada kulit paling sedikit dua kali dalam sehari. Berdasar­ kan studi klinis, dengan mengoleskan pelembab tiap hari pada kulit penderita dermatitis atopik sangat membantu mengurangi terjadinya kekambuhan penyakit dermatitis atopik. Dengan demikian, alangkah baiknya penderita dermatitis atopik rajin mengoleskan pelembab di kulitnya tiap hari untuk mencegah timbulnya kekambuhan penyakit tersebut.

Rapikan Rambut Pubis dapat memicu risiko kesehatan yang cukup serius. Termasuk salah satunya adalah tidak memperhatikan bagaimana merawat rambut kelamin. Ketika sudah mulai puber “Dok, saya mau tanya tentang rambut-rambut di kelamin saya atau katanya disebut rambut pubis, ya? Suami saya sebenarnya lebih senang dan lebih bergairah kalau rambut pubis saya banyak, masalahnya kalau dibiarkan banyak terkadang saat berhubungan seksual bisa jadi nyeri ­karena ada saja rambut yang tertarik masuk oleh gesekan kelamin. Jadi saya lebih senang memotong sebagian rambut yang sudah panjang berlebihan, ­karena sepanjang yang saya tahu juga, rambut pubis perlu dipelihara dengan baik kan, Dok. Soalnya kalau dibiarkan terlalu banyak, saya menjadi risih. Cuma saja, banyak teman yang menyarankan saya mencabut rambut pubis atau menghabiskannya dengan cara di ”waxing”. Menurut dokter, itu bagaimana? Terima kasih” (Diah, 23, Yogyakarta) Vagina adalah salah satu organ vital yang harus dijaga kebersihan­ nya. Selalu menjaga kebersihan vagina tidak hanya akan mengun­ tungkan perempuan, tetapi juga pasangannya. Pada kenyataan­ nya, banyak perempuan yang kurang memperhatikan kebersi­ han vagina dan sekitarnya dan ini

atau menuju dewasa, setiap orang akan mengalami perubahan pada fisiknya, salah satunya adalah tum­ buhnya rambut-rambut, termasuk rambut di kelamin, yang disebut dengan rambut pubis. Apa yang dilakukan sebenarnya sudah cukup tepat, karena walau­ pun ternyata rambut pubis bisa

menjadi daya tarik seksual juga bagi sebagian laki-laki, tetapi sudah seharusnya memang rambut pubis jangan dibiarkan tidak teratur dan terlalu lebat, karena jika terlalu lebat akan juga membuat area va­ gina dan sekitarnya menjadi lebih lembab sehingga mempermudah tumbuhnya jamur. Keringat dan rambut pubis dapat menyatu se­ hingga menimbulkan bau tak sedap, seperti halnya bau menyengat pada ketiak. Jadi memang harus dibersihkan sesering mungkin un­ tuk mencegah akumulasi keringat, terutama karena bagian tersebut hampir selalu tertutup oleh pakai­an. Area antara vagina dan anus pun harus selalu bersih dan bebas dari bau berlebih. Tentang mencabut rambut pubis, sebenarnya tidak akan menimbul­kan akibat buruk apapun, selama dilakukan dengan hati-hati dan tidak menggunakan alat bantu yang kotor, misalnya menggunakan pinset yang kotor tentu saja bisa mengakibatkan iritasi atau bahkan

infeksi. Demikian juga bila ingin mencabut keseluruhan rambut dengan menggunakan pencabutan menggunakan perekat khusus dengan cara “waxing”, selama alat dan bahan yang digunakan tidaklah kotor, akan sedikit akibat buruknya. Tetapi tentu saja proses pencabutan seperti ini akan menimbulkan rasa sakit. Yang kemudian perlu diingat adalah, jika seluruh atau sebagian besar rambut pubis dihilangkan sampai bersih, atau terlihat gundul, walau memang akan lebih mudah dibersihkan tetapi ada ke­mungkinan risiko lebih mudah mengalami per­ lecetan saat mengalami gesekan, baik itu saat berhubungan seksual atau gesekan dengan pakaian da­ lam. Dalam keadaan ini, rambut kelamin sesungguhnya bermanfaat untuk mencegah gesekan tersebut sekaligus menjaga kelembaban area sekitar vagina. Akan lebih baik pilihan bisa di­ lakukan dengan menggunting atau mencukur rapi saja rambut pubis, dengan menyisakan sebagian ram­

but, jadi tidak dihabiskan semua. Dengan dicukur atau digunting rapi, tentu saja tidak akan terasa sakit, lebih praktis dan rambut pubis bisa menjalankan fungsinya untuk me­ lindungi gesekan termasuk menjaga kelembaban seputar vagina. Dengan dipotong pendek dan rapi sekaligus juga bisa mencegah kejadian ram­ but pubis yang panjang yang bisa tertarik masuk saat berhubungan seksual, yang bisa memunculkan rasa nyeri juga saat itu. Satu lagi, jangan lupa buat se­ lalu menjaga kebersihan pakaian dalam. Seringlah mengganti pakai­ an dalam, minimal sehari dua kali setelah mandi, untuk menghindari jamur dan bakteri yang berasal dari pakaian dalam melekat juga pada rambut pubis atau langsung pada vagina jika rambut pubis dihabis­ kan. Sesungguhnya, upaya-upaya ini semua masuk ke dalam konsep merawat dan membersihkan ke­ lamin yang perlu dilakukan dalam kaitan dengan hubungan seksual dan kebersihan organ seksual.


Bugar

10

18 - 24 AGUSTUS 2014

Hati-hati Gunakan Perhiasan Nikel

Perhiasan sering digunakan untuk menyempurnakan penampilan. Namun, bagi beberapa orang perhiasan yang terbuat dari logam kadang dapat menimbulkan reaksi alergi. Bukannya mempercantik penampilan malahan muncul berbagai keluhan.

M

enurut dosen Ilmu Kesehatan Kulit dan Ke l a m i n F K Unud/RS Sanglah dr. IGN Darmaputra, Sp.KK., selama beberapa dekade terakhir ini, nikel merupakan penyebab alergi yang paling sering terdeteksi melalui pemeriksaan uji tempel di seluruh dunia. Nikel adalah suatu unsur kimia dengan simbol kimia Ni dan nomor atom 28. Nikel berwarna putih keperakan dan berkilau. Karena sifatnya yang tahan korosi dan mudah bercampur dengan logamlogamnya, maka nikel banyak sekali digunakan pada berbagai macam peralatan. Nikel umumnya terdapat di anting, kalung, cincin atau kepala ikat pinggang. Nikel juga sering kali ditemukan pada aksesori lain seperti kacamata, jam tangan, dan telepon genggam. Selain itu, menurut dokter Darma, nikel dapat juga digunakan pada resleting dan bra. “Mereka yang memiliki alergi nikel kesulitan untuk menghindari pencetus alergi, karena banyak barang yang digunakan sehari-hari justru terbuat dari nikel,� imbuhnya. Menurut pemilik Klinik D&I Skin Centre ini, dermatitis kontak nikel secara signifikan dapat mempengaruhi kualitas hidup penderitanya, terutama berpengaruh pada gaya hidup dan pekerjaan penderita seperti penampilan maupun menghambat pekerjaannya. Ia menyatakan, nikel merupakan penyebab dermatitis kontak alergi yang paling sering dijumpai bila dibandingkan dengan logam-logam lainnya. Walaupun, prevalensi dermatitis kontak nikel bervariasi di berbagai negara. “Dermatitis kontak nikel lebih sering dialami perempuan, dibandingkan laki-laki. Alergi ini dapat dijumpai pada berbagai usia. Prevalensi pada perempuan lebih tinggi disebabkan karena mereka lebih sering kontak dengan alat-alat yang mengandung nikel, seperti perhiasan, kancing, retsleting

dan pengait pada baju, serta peralatan rumah tangga,� katanya. Alergi logam ini termasuk dalam kelompok dermatitis kontak alergi. Dermatitis kontak terdiri dari dua macam yaitu iritan dan alergik. Dermatitis kontak iritan disebabkan bahan kimia kuat seperti air aki, dll. Gejalanya berupa lepuh yang terasa perih dan langsung muncul setelah terpapar bahan tertentu. Sedangkan dermatitis kontak alergi disebab-

pada kulitnya. Fase saat kontak pertama sampai kulit menjadi sensitif disebut fase induksi atau fase sensitisasi. Fase ini rata-rata berlangsung selama 2-3 minggu. Pada umumnya reaksi sensitisasi ini dipengar-

kan sensivitas kulit terhadap benda-benda tertentu seperti logam, karet, atau bahan lainnya. Bahan-bahan ini pada sebagian besar orang tidak menimbulkan reaksi apapun, namun hanya menimbulkan gejala bagi yang memiliki kulit sensitif. Mekanisme terjadinya kelainan kulit pada dermatitis kontak alergi adalah mengikuti respons imun yang diperantarai oleh sel (cell-mediated immune respons) atau reaksi tipe IV. Reaksi hipersensititas di kulit timbulnya lambat (delayed hipersensivitas), umumnya dalam waktu 24 jam setelah terpapar dengan alergen. “Sebelum seseorang pertama kali menderita dermatitis kontak alergik, terlebih dahulu mendapatkan perubahan spesifik reaktivitas

uhi derajat kepekaan individu, sifat sensitisasi alergen (sensitizer), jumlah alergen, dan konsentrasi,� katanya. Sensitizer kuat mempunyai fase yang lebih pendek, sebaliknya sensitizer lemah umumnya kelainan kulit pertama muncul setelah lama kontak dengan bahan tersebut, bisa bulanan atau tahunan. Sedangkan periode saat terjadinya paparan ulang dengan alergen yang sama atau serupa sampai timbulnya gejala klinis disebut fase elisitasi umumnya berlangsung antara 24-48 jam. Kelainan kulit bergantung pada keparahan dermatitis. Pada fase awal dapat berupa kemerahan yang kemudian muncul lepuh kecil berair yang dapat pecah sehingga tampak

dr. IGN Darmaputra, Sp.KK.

basah dan disertai lecet (erosi). Sedangkan pada fase kronis terlihat kulit kering, bersisik, bintil-bintil kecil (papul) dan dapat disertai penebalan kulit (likenifikasi). Ia menyebutkan, gejala yang umum dirasakan penderita adalah rasa gatal yang kadang berkembang menjadi rasa gatal yang hebat dan mengganggu aktivitas penderita. “Awalnya kelainan kulit hanya terbatas pada tempat kontak dengan alergen, sehingga corak dan distribusinya sering dapat menunjukkan bahan yang diduga penyebabnya misalnya kemerahan melingkar pada pergelangan tangan kemungkinan penyebabnya adalah terhadap jam tangan, kemerahan pada cuping telinga kemungkinan penyebabnya alergi antinganting,� jelasnya. Namun, apabila bahan pencetusnya tetap digunakan dan tidak dilakukan pengobatan yang tepat, reaksi alergi ini akan menyebar luas ke seluruh tubuh. “Diagnosis ditegakkan didasarkan pada riwayat paparan terhadap suatu alergen atau senyawa yang berhubungan, lesi yang gatal serta pola distribusi yang sesuai bahan yang dicurigai,� katanya. Menurut dr. Darma, hal yang perlu diperhatikan dalam penanganan dermatitis kontak adalah upaya pencegahan agar tidak terulangnya kontak kembali dengan alergen penyebab dan menekan kelainan kulit yang timbul. Untuk mengatasi kelainan kulit yang timbul, tergantung bentuk kelainan kulitnya. “Kalau kelainannya tampak kemerahan dan basah, sebaiknya dilakukan kompres menggunakan cairan normal salin, sedangkan apabila kelainan kulitnya

tampak merah, kering, bersisik, dan tebal dapat diberikan krim yang mengandung kortikosteroid. Sedangkan, apabila kelainan kulitnya meluas dapat diberikan tablet yang mengandung kortikosteroid. Untuk mengatasi rasa gatal yang dapat mengganggu aktivitas, dapat diberikan tablet antihistamin sampai rasa gatalnya hilang,� sarannya. Ia menyatakan, untuk memastikan alergen penyebab, adalah hal yang sangat penting. Tujuannya, menghindari paparan berulang dengan bahan yang sama. “Reaksi alergi yang sama atau bahkan lebih berat bisa muncul apabila terpapar lagi dengan alergen yang sama. Paparan ini tidak tergantung seringnya atau lamanya paparan, tapi cukup sekali paparan sudah dapat menimbulkan reaksi,� ujarnya mengingatkan. Untuk memastikan bahan penyebab dapat dilakukan tes tempel. Pelaksanaan tes tempel dilakukan setelah dermatitis-nya sembuh (tenang). Bila memungkinkan, setelah tiga minggu dan sedang tidak meminum obat antialergi. “Tempat melakukan uji tempel biasanya di punggung, dapat pula di bagian luar lengan atas. Bahan uji diletakkan pada sepotong kain atau kertas, ditempelkan pada kulit yang utuh, ditutup dengan bahan impermeabel, kemudian direkatkan dengan plester. Pembacaan hasil dilakukan setelah 48 jam, 72 jam, atau 96 jam,� ucapnya. Setelah mengetahui dengan pasti bahan penyebabnya, ia menyarankan, perlu diperhatikan benda-benda apa saja yang mungkin mengandung alergen dan berusaha menghindarinya semaksimal mungkin. -Wirati Astiti

Tips: - Jika memiliki alergi terhadap logam sebaiknya selalu memperhatikan aksesoris yang akan dibeli. - Fokus utama perhatian adalah jenis bahannya, bukan hanya bentuk atau harganya. - Pastikan apakah aksesoris tersebut mengandung nikel atau tidak. - Apabila sudah terdeteksi positif alergi nikel, sebaiknya harus menerima keadaan dimana alergi umumnya tidak dapat sembuh total dan dapat kambuh kembali apabila terpapar dengan bahan yang sama. Jangan pernah mencoba-coba cara pengobatan alternatif yang menjanjikan kesembuhan alergi, sebab terkadang malahan dapat memperparah reaksi alerginya. - Apabila sudah muncul gejala awal, segeralah periksakan diri ke dokter, karena reaksi alergi kadang masih tetap berlanjut dan menyebar walaupun bahan pencetusnya sudah dihilangkan. –Wirati Astiti

18 - 24 AGUSTUS 2014

Style

Warna-warni Clutch Bag Kerajinan tangan yang satu ini kini tengah digemari, Apalagi warna, model, dan ukurannya semakin beragam. Pekan ini Tokoh memilih clutch bag atau tas tangan dengan warna-warna yan segar dan indah di pandang.

K

oleksi clutch bag ini memang istimewa. Sebab, bahan dasarnya terbuat dari kulit binatang diantaranya kulit ular, sapi, dan domba kualitas prima. Tas dari bahan kulit ini juga mempunyai banyak kelebihan yang tidak dimiliki tas lainnya. Didukung dengan aksesoris tambahan berupa batu-batu permata yang indah, handle tas dari besi berwarna emas, serta pinggiran tas yang dilapisi

pita dan pengait emas, menjadikannya clutch bag dengan label Kamandhani Bag ini, tampil cenderung mewah dan gaya. Pemilik produk drg. Wulandari mengatakan ia memang sengaja memilih bahan baku kulit bintang, di samping unik, secara umum kulit tahan lama, kuat dan kokoh tapi mudah dibentuk serta luwes digunakan. Tas kulit juga tahan gores dan tahan air, tahan lama serta tentunya tak lekang

oleh zaman. Clutch bag dengan bahan dalam suede dan warna-warna yang segar ini, tampil dengan dua penggunaan, yakni dikepit atau digenggam serta meletakkan rantai mewah pegangan tas pada bahu.Sangat cocok dikenakan untuk meng­hadiri acara resep­si pernikah­an, gala dinner dan pesta-pesta lainnya. Semuanya menjadikan penampilan perempuan elegan dan fashionable. – Sri Ardhini

15


16

Edukasi

18 - 24 Agustus 2014

18 - 24 Agustus 2014

Beri Bantuan Bedah Rumah Bakti sosial (baksos) IKIP PGRI Bali 2014 yang dibuka Senin (11/8) di Wantilan Pura Goa Lawah, Klungkung, ditutup Rabu (13/8) di masing-masing desa tempat ­mahasiswa melakukan baksos.

B

aksos yang melibatkan 849 mahasiswa di­ dampingi beberapa dosen, yang diperkirakan total peserta 1.000 orang tersebut menyasar lima desa di Kecamatan Dawan dengan berbagai program kegiatan. Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP) diikuti 76 mahasiswa mengambil lokasi baksos di Desa Gunaksa, dengan kegiatan kebersihan dan penghijauan, ceramah konseling HIV/AIDS untuk SMA, dan praktik konseling. Fakultas Ilmu Pendidikan Sosial dengan 94 mahasiswa menyasar Desa Sulang, dengan program ceramah tentang perkoperasian, ceramah PTK, kebersihan dan penghijauan. Fakultas Pendidikan Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FPMIPA) dengan 212 mahasiswanya memasuki Desa Besan dengan program kerjabakti pembuatan got, kebersihan lingkungan, penghijauan, ceramah kurikulum 2013, identifikasi gula semut, observasi tingkat pendidikan dan kesehatan. Fakultas Pendidikan Bahasa dan Seni (FPBS) berkekuatan 262 mahasiswa menyasar Desa Kusamba. Program yang dilakukan, pembinaan ST berupa pesantian, tari sakral (rejang dan baris gede), tabuh/bleganjur, penataan taman, kebersihan lingkungan dan pemberantasan sarang nyamuk (PSN),

konservasi lontar, pelatihan pembuatan sanggul bali untuk ibu PKK (maksimal 25orang), nyengker setra, menimbun got, olahraga senam, taman girang, ceramah PTK. Sementara, Fakultas Pendidikan Olahraga Kesehatan dan Rekreasi (FPOK) yang berkekuatan 205 mahasiswa baksos di Dawan Kaler, dengan program kerjabakti dan kebersihan lingkungan di empat banjar, penataran wasit untuk guru olahraga SD, SMP, SMA di Kecamatan Dawan), pertandingan persahabatan sepak bola, dan menyumbang 1 buah meja tenis. Ke t u a p a n i t i a b a k s o s y a n g juga Ketua LP2M IKIP PGRI Bali, Dr. I wayan citrawan, M.Pd. me­ ngatakan penelitian di perguruan tinggi diarahkan untuk mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi, serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan daya saing bangsa. Pengabdian kepada

Baksos IKIP PGRI Bali 2014 di Kecamatan Dawan melibatkan 1.000 peserta

Arthanegara, Citrawan, Bupati Suwirta, dan Rektor Made Suarta usai serah terima SK Bantuan Bedah Rumah dari IKIP PGRI Bali

dua warga asal Banjar Karangsari Desa Suana Kecamatan Nusa Penida, atas nama Ketut Warsa dan Ketut Darsana. Masing-masing bantuan bedah rumah tersebut senilai Rp 25 juta tanpa potongan apapun. Ini diperkuat dengan SK bantuan bedah rumah yang diserahkan langsung Rektor IKIP PGRI Bali, Dr. I Made Suarta, S.H., M.Hum. kepada Bupati Klungkung Nyoman Suwirta. Bupati mengatakan program bedah rumah dan program-program lain Baksos IKIP PGRI Bali ini sinergi dengan program Pemkab Klungkung dan memang benar-benar dibutuhkan masyarakat. Nyoman Suwirta yang bangga menjadi alumni IKIP PGRI Bali ini mengisahkan perjalanan karirnya dari nol hingga menjadi orang nomor satu di bumi serombotan ini. “Strategi belajarmengajar yang saya dapatkan waktu kuliah dulu sangat bermanfaat. Itu saya terapkan dalam membina koperasi dari kecil hingga menjadi koperasi terbesar di Bali, juga dalam kepemimpinan saya sekarang,” ungkapnya. Mantan Top Manajer Kopas Srinadi asal Nusa Ceningan Klungkung ini mengatakan banyak orang yang bekerja tak sesuai dengan disiplin ilmu. Jika belum bekerja, ia mengingatkan untuk tetap belajar. Tidak

hanya terpatok menjadi guru, karena ilmu sesungguhnya untuk mengasah kemampuan sehingga otak menjadi tajam dan peka dengan situasi sekeliling kita. “Menjadi apapun kita, pasti akhirnya berinteraksi dengan masyarakat. Karena itu, pintar-pintarlah menyentuh hati masyarakat,” ucapnya. Rektor Made Suarta didampingi Ketua YPLP IKIP PGRI Bali Drs. IGB Arthanegara, S.H., M.H., M. Pd. menegaskan baksos ini merupakan pengabdian kepada masyarakat melalui metode ilmiah yang diaplikasikan langsung kepada masyarakat. Pendekatannya dengan asas kelembagaan, kebersamaan, edukatif dan ber­k esinambungan. Karena itu, ia mengimbau kepada mahasiswa peserta baksos bahwa kedatangan mereka ke lokasi baksos untuk membantu menyelesaikan masalah-masalah yang ada di desa, bukan sebaliknya. Melakukan interaksi dengan masyarakat dengan menunjukkan karakter calon guru yang patut digugu dan ditiru. “Yang paling penting, lakukan apa yang bisa Anda lakukan. Tuhan akan melakukan apa yang tak bisa Anda lakukan. Bertindak akan ada resiko, tetapi lebih berisiko jika tak bertindak,” ujarnya. –ten

Masuk Stadion Pakai Jas dan Dasi Hingar bingar Piala Dunia 2014 di Brazil sudah usai. Jerman untuk keempat kalinya keluar se­ bagai juara setelah di partai final menundukkan Argentina 1-0. Namun, menonton perhelatan Piala Dunia tentunya menjadi sebuah pe­ngalaman yang tak terlupakan bagi saya. Walaupun itu hanya menonton partai semifinal antara Belanda ­me­l­awan Argentina.

S

aya berangkat ke Brasil tanggal 8 Juli pukul 01.45 melalui bandara Soekarno-Hatta. Perjalanan kami menuju kota Sao Paulo, Brazil menempuh waktu 23 jam. Penerbangan pertama menuju

Abu Dhabi selama 8 jam dilanjutkan menuju Sao Paulo selama 15 jam. Sungguh perjalanan yang sangat melelahkan. Kami tiba di Sao Paulo dengan suhu berkisar 16-19 derajat Celsius. Cuaca yang cukup dingin bagi kami

Halaman Parkir Stadion Municipal

orang Indonesia. Keesokan harinya seluruh rombongan yang berjumlah 80 orang melakukan city tour di kota Sao Paulo yang merupakan kota terbesar di Amerika Selatan dengan jumlah penduduk 11 juta jiwa. Bangunan di Sao Paulo kebanyak­ an bergaya Portugis karena Brazil pernah dijajah oleh Portugis. Hari pertama di Sao Paulo kami meng­ unjungi stadion Municipal Sao Paulo tempat diadakannya Piala Dunia pertama di Brazil tahun 1950. Stadion ini dibuka 27 April 1940 dengan kapasitas 30 ribu penonton. Waktu itu, penonton yang datang ke stadion harus menggunakan pakaian resmi dengan meng­gunakan jas dan dasi. Kini stadion Municipal Sao Paulo sudah tidak lagi dipergunakan sebagi tempat untuk menggelar pertandingan resmi. Hanya

Suasana dalam Stadion Municipal

9

Diva

Baksos IKIP PGRI Bali

masyarakat ini merupakan kegiatan sivitas akademika dalam mengamalkan dan membudayakan ilmu dan teknologi untuk memajukan kesejahteraan umum dan mencerdaskan kehidupan bangsa. Karena itu, dosen dan mahasiswa IKIP PGRI Bali rutin setiap tahunnya mengadakan kegiatan pengabdian masyarakat dalam bentuk bakti sosial. “Melalui kegiatan baksos, IKIP PGRI Bali ingin memberikan kesempatan kepada para dosen dan mahasiswa untuk mengenal dan melaksanakan Tri Dharma PT khususnya pengabdian masyarakat,” ujarnya. Baksos yang berlangsung tiga hari yang diawali dengan persembahyangan bersama di Pura Goa Lawah tersebut, dirangkaikan dengan penghijauan 2.500 pohon (albesia, jati Belanda, cempaka, sandat), pengobatan mata dan kaca mata gratis untuk 150 warga oleh 6 tim dokter dari RS sanglah bertempat di aula Kantor Camat Dawan, dan bantuan bedah rumah kepada tiga masyarakat kurang mampu atas nama Ketut Darna dari Banjar Kanginan Desa Besan Kecamatan Dawan, serta

Dara

Stadion Municipal Sao Paulo

dipergunakan untuk menggelar pertandingan klub lokal saja. Di stadion ini juga dibangun museum sepak bola yang memasang momen-momen menarik Piala Dunia, mulai dari Piala Dunia pertama tahun 1930 hingga Piala Dunia tahun 2010. Selain pameran foto pemain legendaris dunia seper­ ti Pele, ada juga cuplikan gol-gol fenomenal termasuk gol Tangan Tuhan dari Diego Maradona. Harga tiket masuk ke stadion ini dipatok sebesar 6 Reias Brasil. Satu reias kira-kira setara dengan Rp 6 ribu. Pengunjung juga bisa membeli beragam cenderamata mulai dari kaos bola, jaket, serta

souvenir bola lainnya. Perjalanan kami lanjutkan ke stadion Corinthians tempat berlangsungnya partai semifinal antara Belanda melawan Argetina yang berjarak sekitar 19 kilometer dari pusat kota Sao Paulo. Stadion Corinthians awalnya memiliki kapasitas penonton 45 ribu orang penonton. Namun, karena alasan Piala Dunia kapasitas stadion pun ditambah menjadi 66 ribu pe­n onton. Saat partai semifinal antara Belanda melawan Argentina yang akhirnya dimenangkan Argentina melalui adu pinalti, stadion ini dipenuhi 63.267 orang penonton. -Sugiarta

Tantangan Melawan Diri Sendiri Diva adalah anak yang multitalenta, selain tercatat sebagai crosser muda berbakat ia juga mampu bermain alat musik seperti piano, gitar, serta me­ nabuh dan makidung.

R

emaja bernama lengkap I Gst. Ngr. Diva Ismayana ini mulai menekuni motocross ini sejak berusia 5 tahun. Ketika itu Diva sering mengikuti dan mengantar kakaknya I Gst. Ngr. Ksatria P, yang sudah lebih dahulu menekuni olahraga ekstrim ini untuk latihan dan mengikuti lomba di Bali maupun di luar Bali. Akhirnya Diva pun tertarik ikut latihan. Kecintaannya atau ketertarikan Diva ke dalam dunia otomotif ini, tidak lepas peran mantan pembalap nasional Tjok Vicky Sudharsana, paman Diva. Ia sekaligus pelatih atau mentor para pembalap muda Bali pada umumnya dan buat Diva khususnya yang bernaung di bawah Bali MX. Bakat dan keseriusan Diva untuk menjadi seorang crosser makin terlihat

ketika menggantikan posisi kakak, yang tidak lagi aktif sebagai crosser Bali MX team. Akhirnya Diva

ikut dalam kejuaraan untuk di lokal Bali maupun kejuaraan nasional yang sering diadakan di wilayah Jawa. Ketika ditanya tantangan menekuni motocross, Diva mengakui tantangan terberat dalam balapan ini

melawan diri sendiri. “Seperti dalam mengatur agar benarbenar fokus diri dari mulai persiapan lomba hingga tiba saatnya berlomba. Tetapi, kalau sudah lomba dan menang, plong,” ujar siswa kelas 3 SMP Perguruan Raj Yamuna ini. Puncak kebanggaan Diva ketika ia berhasil menjuarai Kejuaraan Nasional MX Gudang Garam yang bertajuk Best Of The Best tahun 2007 yang diadakan di Kota Malang. Saat itu Diva baru berusia 7 tahun dan berada di kelas 50 cc. Kebanggaan remaja kelahiran Denpasar, 16 Oktober 2000 ini makin lengkap setelah dinobatkan sebagai penerima IMI Award tahun 2009 untuk Pebalap Muda Bali Berprestasi. Setelah sempat vakum karena alasan pendidikan, mulai tahun 2009 Diva kembali aktif menekuni dunia motocross dan masuk kelas 65 cc. “Saya ikut dalam Ke- jurnas Super Cross yang diadakan di Kota Banyuwangi. Saya mengalami musibah sehingga gagal meneruskan lomba. Padahal saat itu, saya yakin bisa menjadi yang terbaik , seperti sudah terbayang di depan mata, tapi Tuhan berkehendak lain. Saat itulah juga menjadi pengalaman yang paling menyedihkan yang alami,” ujar putra pasangan Ir. I Gst. Ngr.

Indra Tjahjadi- Tjok Istri Ratna Cora S.Sn., M.Si, yang sudah mengoleksi sekitar 81 piala dan penghargaan ini. Diva biasa berlatih bersama di Bali MX , yang merupakan wadah para pebalap muda Bali dan memiliki tempat latihan atau sirkuit sendiri yang berlokasi di Desa Pangkung Tibah, Tabanan. “Jadwal latihannya 4 kali dalam seminggu setelah jam sekolah tiap Selasa, Kamis, Sabtu, dan Minggu,” ujar crosser yang mengidolakan Cok Vicky dan James Stuward ini.

Indra Tjahjadi, ayah Diva menuturkan dalam keluarganya ada kebebasan menekuni hobi masing-masing. “Kami memberikan beberapa pilihan olahraga untuk ditekuni, akhirnya ia memilih motorcross. Mungkin juga karena pengaruh Omnya, disamping ia juga seorang anak yang pemberani dan cepat bisa,” ujar tandasnya. Melihat motivasi dan prestasi juga kenikmatan dari Diva dalam melakoni dunia motocross ini membuat orangtuanya mendukung dan memotivasi. “Diva harus lebih fokus dalam olahraga ini karena olahraga ini memerlukan kecerdasan, kedisiplinan yang tinggi. Motocross termasuk olahraga otomotif yang mempunyai tingkat kesulitan tinggi,” imbuh Indra yang salut anaknya bisa mandiri. Diva pernah ikut lomba di luar daerah hanya ditemani tim mekanik, tanpa ditemani orangtuanya. Diva sangat bersyukur dan berterima kasih kepada pihak sekolah yang mendukung kiprah­ nya hingga berprestasi. Diva selalu diberikan dispensasi atau izin oleh pihak sekolah jika diperlukan untuk mengikuti kejuaraan. -Nina

Diva dan ayahnya


Bunda & Ananda

8

Jangan Biarkan Anak Menggigit Kuku Danis duduk dengan santai sementara ibu memotong kuku tangan siswa TK ini dengan hati-hati. Setelah semua kuku di tangan dirapikan, giliran kuku kaki yang dipotong. “Saya jadwalkan seminggu sekali untuk pemotongan kuku,” ujar Bu Suci, ibu Danis.

P

emotongan kuku yang dilakukan dengan gunting kuku biasa ini diawali dengan mencuci tangan dan kaki Danis dengan air dan sabun. Kuku yang lembab setelah dicuci membuat pemotongan kuku menjadi lebih mudah. Kalau kuku kering, ibunya kesulitan untuk memotong karena kuku menjadi keras. “Memotong kuku Danis lebih mudah karena dia takut kalau kukunya kotor lalu dilihat Bu Guru, bisa diperingatkan. Daripada malu dan disuruh potong kuku di depan kelas, lebih baik potong kuku di rumah,” ujar ibu tiga putra ini. Ia juga menuturkan memotong kuku Danis relatif lebih mudah daripada memotong kuku David yang baru berusia 10 bulan. David kadang tidak bisa diam. Perlu bantuan satu orang lagi untuk memegang David sehingga kuku kaki dan tangannya bisa dipotong. Atau, pemotongan kuku dilakukan saat David tidur. Memotong kuku anak kadang dianggap sepele oleh anakanak dan orangtua. Seringkali ancam­an guru bermanfaat untuk mengingatkan anak-anak potong kuku. “Saking takutnya ada razia kuku, Vera pernah menggigit kukunya biar jadi pendek. Bentuk kuku jadi tidak rapi. Sejak itu, ia selalu minta kukunya dipotong tiap minggu,” kenang Bu Yuli, ibu Fera. Ia mengakui memotong kuku anak memerlukan kehati-hatian agar kuku yang terpotong tidak terlalu pendek. Beda halnya kalau orang dewasa memotong kuku. Orang dewasa bisa tahu sebatas mana yang mereka anggap nyaman untuk dirinya.

Memotong kuku anak

Bagi anak-anak yang belum bisa memotong kuku sendiri, ia akan pasrah kalau kukunya di potong. Tetapi, kalau terlalu pendek, anak bisa menjerit karena kesakitan. Bahkan pertumbuhan kuku bisa terganggu. Menurut dr. Dina Wahyuni, Sp.KK, kebersihan kuku dewasa maupun anak-anak perlu diperhatikan. “Kuku paling rawan dan rentan terkena kotoran, apalagi anakanak sering bermain dengan mainan yang kita tidak tahu itu bersih atau kotor,” ujarnya. Dokter spesialis kulit yang praktik di RS Indra, RS Prima Medika, dan Apotek Pandu Medika ini menjelaskan, kebrsihkan kuku tangan dan kaki anak perlu dijaga. Caranya dengan mencuci ta­ ngan dan kaki setelah pulang dari bermain,

Ilustrasi

sebelum tidur, sebelum makan, dan setelah buang air kecil atau buang air besar. “Pemeriksaan kuku juga termasuk hal penting, tetapi umumnya masyarakat menye-

pelekan hal ini. Kuku yang kotor akan mengganggu pemandangan teman-teman yang melihatnya. Kuku yang tidak dibersihkan dan tidak dirawat ini juga bisa mengganggu kesehatan karena menyebabkan diare dan cacing­ an,” ujar dr. Dina. Alumnus FK Unud ini menjelaskan kuku yang sehat adalah kuku yang bersih, tidak dihiasi, dan tidak dimanipulasi. Ada empat faktor penting yang berperan terhadap kuku. Pertama, panjang dan bentuk kuku. Rasio ukuran panjangnya kuku harus lebih besar dari pada ukuran lebarnya kuku. Kedua, teks­ tur permukaan kuku rata dan berkilap tanpa adanya kelainan. Ketiga, warna kuku translusen dan tampak struktur yang ada di bawahnya. Keempat, keutuhan jaringan sekitar kuku. Ia juga mengingatkan anakanak jangan suka menggigit kuku karena kotoran yang masuk ke pencernaan dapat menyebabkan penyakit. Orangtua juga disarankan jangan memotong kuku anak jika sudah pendek atau terlalu pendek karena dapat menimbulkan pertumbuh­ an kuk yang tidak normal atau

18 - 24 AGUSTUS 2014

Griya

18 - 24 AGUSTUS 2014

17

Dekorasi Berkesan Mewah

Peluang bisnis bisa digali darimana saja. Dari apa yang kita lihat sehari-hari, dan kecenderungan kebutuhan masyarakat sekitar. Jika mau sedikit berkreasi dan berinovasi, peluang tersebut pasti kita dapat.

S

dr. Dina Wahyuni

kuku tumbuh ke dalam. “Jangan memotong kutikula (jaringan sekitar kuku) dengan gunting karena menyebabkan infeksi bakteri di sekitar kuku. Pastikan gunting kuku steril agar anak tidak tertular penyakit seperti jamur, bakter, dan virus,” jelas dr. Dina. Penggunaan pewarna kuku pada anak-anak juga tidak disarankan dr, Dina. Selain menyebabkan perubahan warna kuku, bahan-bahan yang terkandung dalam pewarna kuku dapat menyebabkan reaksi aler­ gi yang bersifat ringan sampai parah. –Ngurah Budi

ebut saja tiga bersaudara ini, I Made Adi Saputra (akrab disapa Kadek Loggo), I Komang Ari Darmayasa, dan I Ketut Rai Sukadana, yang kompak bergerak di bidang penyediaan jasa dekorasi dengan bendera “Three Brother Dekorasi”. Mereka menjual alat-alat penjor, penjor hias, penjor yadnya, dan menyewakan hiasan/ dekorasi kori pernikahan. Kadek Loggo mengatakan, baru dua tahun terakhir melakoni bisnis sampingan ini, karena ia dan dua adiknya sudah memiliki pekerjaan di hotel yang berbedabeda. Karena itu, pekerjaan ini umumnya mereka kerjakan usai jam kerja atau pada hari-hari libur. Ia mengaku tertarik terjun ke bisnis ini karena melihat kebutuhan masyakat Hindu Bali khususnya, yang sarat dengan

upa­cara adat selalu membutuhkan penjor, dan hiasan/dekorasi kori untuk upacara pernikahan atau upacara lainnya. “Saya sering di jalan, dan melihat dekorasi kori (gayor) untuk upacara pernikahan yang memberikan kesan mewah, padahal bahannya hanya sterofoam. Masyarakat Hindu Bali sekarang banyak yang mencari itu dan umumnya dikerjakan pemuda. Di sini saya ingin memberikan kepraktisan, kami yang memasang dan membongkar, si pemilik hajatan tinggal terima beres,” ujarnya. Dari sering melihat dan mengamati itu, Desember 2012, muncul keinginan Kadek Loggo mengambil peluang tersebut bekerjasama dengan adikadiknya. Dekorasi pertama yang ia tawarkan adalah gayor bermotif karang boma lengkap. Namun, beberapa masyarakat

Dekorasi gayor model cupu manik terbaru dalam ukuran besar (bisa dilewati mobil)

menolaknya karena dianggap membawa aura panas, negatif, dsb. Kadek Loggo kemudian mencaritahu dengan berkonsultasi dengan Jro Mangku. “Menurut Jro Mangku, karang boma bisa saja dipakai untuk dekorasi, tetapi ada elemen yang harus dihilangkan (tidak lengkap), seperti kuku tangannya dihilangkan. Demikian juga jika membuat dekorasi model naga, gigi taring naga dihilangkan, dan naganya dihadapkan ke samping, sehingga orang berani masuk,” paparnya. Namun, dekorasi naga ini dikatakannya sangat jarang diminta, karena katanya banten pengikutnya cukup besar. “Saya buatnya se­ suai permintaan saja. Yang paling umum diminta adalah model cupu manik, dan model boma yang biasanya tidak ditempatkan di kori depan rumah, namun di depan gang atau depan jalan besar,” imbuhnya. Gayor yang ia tawarkan ada dua ukuran standar yang memakai patokan lubang, yakni lubang yang bisa dilalui motor, dan lubang yang bisa dilalui mobil. Dari beberapa model gayor yang ia miliki, ia mengaku model cupu manik dengan dasar hitam dan dicat prada (emas) ini yang

terbaru, dengan ukuran cukup besar sekitar 2 meter. Ini pun diakuinya atas permintaan konsumen tiga bulan sebelumnya, yang akan melaksanakan upacara pernikahan putranya. “Terpaksa saya buat yang baru, karena selama ini dekorasi yang saya punya ukurannya kecil-kecil. Ya, untuk investasi juga,” ucapnya. Sebelum membuat dekorasi gayor tersebut, biasanya ia mengecek lokasi yang akan dipasangi dekorasi. Dari sana, ia membuat sketsa dan kemudian membawanya ke tukang buat dekorasi langganannya, yang juga seorang Jro Mangku. Desaindesain yang ia buat tersebut merupakan hasil kreasi dari beberapa desain yang kerap ia lihat dijalan dan didokumentasikannya. Tentunya sebelum direalisasikan ke bentuk nyata, ia mengonsultasikannya dulu ke Jro Mangku temannya itu. “Saya juga tidak berani asal membuat desaindesain tersebut, seperti karang boma dan naga,” ujarnya. Untuk memasang dekorasi tersebut yang sudah dilengkapi tripleks dan kayu usuk sebagai penyangganya, ia biasanya mengajak kru yang terdiri dari beberapa orang. Maklum, meski terbuat dari sterofoam, kare­

Kadek Loggo

na ditambah dengan peralatan pelengkap lainnya, dekorasi itu menjadi berat dan membutuhkan banyak orang untuk mendirikannya. Setelah dekorasi gayor berdiri, pada sisi kiri-kanan dilengkapi geling-gelungan, dan pada bagian bawah diberikan kain penutup, dirempel seperti kain gorden. Hasilnya memang cukup bagus, dan memberikan kesan mewah, atau istilah Balinya “metaeeb” pada lokasi upacara. –Inten Indrawati

Cara Merawat Kuku Anak Berikut tips dr. Dina Wahyuni, Sp.KK bagi orangtua yang akan memotong kuku anaknya. - Siapkan gunting kuku yang bersih - Pada anak-anak atau bayi, agar lebih aman dan tidak mencederai kuku bayi, sebaiknya gunakan gunting kuku khusus bayi - Cuci tangan dan kaki anak dengan sabun dan bilas hingga bersih - Jika perlu, sikat kuku kaki dan tangan - Potong kuku satu per satu, cukup memotong datar dan jangan sampai terlalu pendek - Jaringan kutikula (sekitar kuku) dirapikan dengan mengolesi pelembab atau baby oil. –Ngurah Budi

Dekorasi gayor model cupu manik ukuran kecil (bisa dilewati motor)

Dekorasi gayor model karang boma yang sudah mengalami pengurangan-pengurangan elemen untuk bisa dijadikan sebagai dekorasi


Kreasi

18

18 - 24 Agustus 2014

Benang dan Kain Flanel Jadi Lampu Ijo Lumut adalah produk rumah tangga yang sudah merambah pasar internasional. Berbagai jenis produk sudah dihasilkan antara lain, gantungan kunci, bantal flanel, bantal foto, bantal OWL (produk unggulan), gelas, lukisan jam, lukisan foto, pin, lampion (lampu) dan banyak lagi lainnya. Dalam jenis barang itu, gantungan kunci memiliki motif yang paling banyak. Di samping itu, Ijo Lumut juga menyediakan jasa bungkus kado yang lain dari pada lainnya.

N

i Nyoman Damarati, pemilik dan produser Ijo Lumut menuturkan, memulai usaha dengan membuka restoran di Ubud sejak 2008. Tempat makan ini juga untuk bran­ ding, memperkenalkan nama Ijo Lumut kepada masyarakat luas. Setelah berjalan setahun, ia mulai memperkenalkan produk-produk kerajinan tangan berlabel Ijo Lumut. “Jujur kalau kita menjual kerajinan saja agak susah masuknya. Ber­ samaan dengan ramainya pengunjung restoran, kami juga memperkenalkan kerajinan tangan dari bahan flanel ini,” kata alumnus STP Nusa Dua ini kalem. Mulai 2013 lalu, usaha restoran dihentikan dan ia serius memproduksi berbagai kerajinan dengan bahan flanel. Karya tangan ber­ label Ijo Lumut ini memang beda. Bahannya terbuat dari kain flanel yang belum banyak dikenal di Bali. Bahan jenis ini banyak dipergunakan oleh pengrajin-pengrajin dari Jawa. Karena itu, semua bahan produk Ijo Lumut khusus didatangkan Jawa. Dalam membuatnya, ibu dua putra ini berkolaborasi dengan suaminya. Ia sebagai tenaga kreatif yang bertugas memproduksi, hingga memasarkannya. Suaminya, I Gede Suryagiri bertugas mendesain dan mengurusi web. “Kebetulan suami memiliki keahlian di bidang desain, sehingga kami selalu memiliki model-model baru,” ungkapnya. Damarati mengaku, dalam memasarkan dirinya bekerjasama dengan para reseller, yang nantinya menjual kembali kepada orang lain. Saat ini, sudah ada puluhan reseller yang tersebar di seluruh Bali. Khusus untuk di luar Bali, mereka lebih banyak membeli secara on line yang kemudian dijual kembali. Diantaranya dari kota-kota di Jawa, Papua, Sumatera dan Kalimantan. Sedangkan dari luar negeri, Damarati mengaku belum ada. Sebab masih kendala pada sistem

pembayaran. Walau demikian, wisatawan yang ada di Ubud ataupun yang tinggal di Bali banyak yang membelinya dijadikan suvenir untuk keluarga, teman ataupun rekan kerjanya. “Produk bantal yang ada foto pribadinya atau foto temannya yang banyak dipesan,” papar ibu dari Gede Galang Apadang dan Ni Made Bening Hati ini. Menurutnya, jenis suvenir ini prosesnya sedikit lama yakni memesan sekitar lima hari. Wisatawan yang tinggal di kawasan wisata Ubud banyak yang memesannya untuk dikirim ke negaranya. Di samping itu, gelas yang juga berisi foto pribadi laris dipesan wisatawan. “Gelas dengan foto sudah banyak ada di Bali, Tetapi desainnya yang membedakan adalah desain yang lebih unggul,” ucapnya. Produk terbaru dari Ijo Lumut adalah lampu pakai kain flanel yang bentuknya seperti bola. Bentuknya didesain sedemikian rupa dengan menggunakan benang dan flanel, sehingga menjadi lampu yang lebih menarik. Ukurannya juga bervariasi sehingga ada banyak pilihan. Dalam mengerjakan ini, Damarati mengaku mengajak lima orang tenaga yang merupakan ibu-ibu. Para pekerja ini tidak mesti datang ke tempat memproduksi, malainkan bisa mengerjakan di rumahnya sendiri. Ibu-ibu yang mengerjakan flanel itu menyebar, dan setelah selesai mereka mengembalikannya. Mereka berasal dari Batubulan, Celuk, dan Ubud Ijo Lumut tak hanya menjual produk barang yang sudah jadi, tetapi juga menyediakan berbagai jenis alat dan bahan kerajinan tangan. Hal ini dilakukannya untuk memberikan kesempatan pada orang lain untuk lebih kreatif. “Anak-anak kini lebih kreatif untuk memproduksi

oleh ibu-ibu rumah tangga, tetapi juga banyak dibeli oleh siswa SMP, SMA bahkan mahasiswa utamanya yang perempuan. “Anak-anak IV, V dan V sampai SMA banyak yang beli alat dan bahan. Itu karena

Beberapa produk berbahan flanel

mereka bisa membuat sendiri di rumahnya,” tegasnya. Walau Ijo Lumut memiliki kualitas produksi yang unggul, namun Damarati tetap memberi kesempatan kepada orang lain untuk mempelajarinya. Artinya, Ijo Lumut siap membantu orang untuk menumbuhkan kreativitasnya dengan memberikan pelatihan. Ia mengemas pelatihan itu menjadi beberapa paket. Misalnya paket satu, mendapatkan bahan dan peralatan serta polanya, sehingga tinggal membuatnya saja. Cara membuatnya sudah ada dalam bentuk pola itu, sehingga lebih gampang mengikuti di rumah. Menurutnya, orang-orang dari Denpasar, Tabanan, Gianyar dan Buleleng yang lebih banyak mengikuti pelatihan itu. Mereka hanya membayar Rp 200 ribu sampai Rp 300 ribu per paket, mereka sudah bisa membuat dan menghasilkan kerajinan tangan. Meski demikian, masingmasing paket itu disesuaikan kelengkapannya dengan usia. Karena ada yang membeli polanya saja atau kainnya saja. Satu paket berisi 6 pieces yang dikerjakan selam 1 sampai 2 jam. Dalam satu paket ada yang menempel dan menggunting.

Beda dengan 8 paket. Jenis paket lainnya yakni paket anak usia SD, paket pola karya SD, paket belajar, pola fan paket tutorial paling tidak umurnya 10 tahun keatas. “Intinya kami dukung di bidang pendidikan, sehingga kita menerima training yang siap bekerja. Kami juga melatih agar bisa membuat desain, web, selain produk juga,” tuturnya. Para peserta pelatihan biasanya datang ke tempat produksi Ijo Lumut. Dengan begitu para peserta bisa melihat barangnya, produk, mesin dan alat lainnya. Karena, barang yang dipakai tanpa melihatnya tidak akan bisa membayangkan, sehingga lebih susah memproduksinya. “Disini diperlukan proses. Kami mengajarkan dari awal sampai barang itu jadi,” tandasnya. HANYA BUKA DI UBUD Damarati mengaku, dirinya memiliki background pariwisata. Ia mempunyai passion dan hobi melakukan sesutu yang berkaitan dengan pekerjaan tangan. Pada saat ia hamil, ia tidak bisa bekerja makanya menekuni kerajinan tangan. “Kebetulan suami mendukung dan ikut membuatkan desainnya,” ujar wanita kelahiran Ubud, 13 Desember 1980 ini. Di samping itu, Damarati juga ingin ada brand Ubud yang bukan berwujud seperti patung dan lainnya. Ia juga tidak ingin membuk di kawasan Kuta, Sanur ataupun kawasan wisata lainnya. Ia ingin Ijo Lumut satu-satunya ada di Ubud, sehingga ada sesuatu yang dicari oleh anak muda di Ubud. “Saya ingin orang mencari Ijo Lumut di Ubud saja,” tambahnya. Kalau Dagadu ada di Yogyakarta dan Ijo Lumut ada di Ubud. Karena untuk bahan kayu dan kain sudah biasa ada di Ubud, tetapi bahan flanel ini yang baru. “Kami tidak takut ada yang menirunya, karena kami selalu kreatif untuk membuat desain-desain baru. Itulah alasan kami kenapa membuka workshop juga,” paparnya.-Darsana

Life

Story

7

Masuk Liang Lahat dengan Lengan Tertekuk Di depan jenazah suaminya, Lidya duduk seperti orang termenung. Anakanak dan cucu-cucunya juga duduk mengelilingi jenazah itu. Tidak ada raut sedih apalagi terpukul di wajahnya. Ia terlihat biasa saja. Menangis pun tidak. Sikap Lidya hampa. Ia lebih banyak duduk menanti para pelayat yang datang silih berganti.

Ni Nyoman Damarati

kerajinan tangan. Namun, semua alat kerajinan tangan itu agak susah mereka dapatkan,” ucapnya. Menurutnya, anak-anak kini sangat kreatif. Buktinya, bahan-bahan kerajinan tangan tak hanya dibeli

18 - 24 Agustus 2014

“T

erima kasih,” ujarnya singkat tiap kali tetangga menyalaminya sebagai ungkapan bela sungkawa. Meski tidak juga ter­lihat “gembira” de­ngan berpulang­nya suaminya ini, setidaknya hari-hari selanjutnya Lidya tidak lagi nong­ krong di teras rumahnya yang selalu dikunci tiap kali suaminya pergi bekerja. Menanti suaminya pulang kerja barulah ia bisa masuk ke rumah. Ia tidak habis pikir, me­ngapa lengan suaminya tertekuk kaku. Ketika para tetangganya datang, khususnya orang tua, ia mempersilahkan untuk melihat jenazah suaminya yang meninggal di rumahnya di salah satu desa di Pulau Sumbawa. Ia meninggal karena penyakit komplikasi yang sudah bertahun-tahun dideritanya. Orang tua-orang tua di kampung ini, bergantian ber­usaha mencoba meluruskan lengan suaminya yang tertekuk ketika ajal menjemputnya. Semua usaha ini gagal. Hingga masuk ke liang lahat, lengan suaminya itu tetap tertekuk kaku.

Lebih dari 40 tahun menikah, Lidya (59), nama samaran, tidak pernah merasakan indahnya berumah tangga. Bersuamikan lelaki yang ringan tangan juga pelit, terasa sangat menyiksanya. Hari-harinya menjalani rumah tangga penuh ta­ngis dan teriakan kesakitan akibat pukulan, tendangan maupun lemparan benda-benda ke tubuhnya yang dilakukan Marwoto (bukan nama sebenarnya), suaminya. “Hampir tiap hari kami mendengar dia (Lidya) berteriak kesakitan,” ungkap salah seorang tetangga dekat yang kerap mendengar pertengkaranpertengakaran mereka. Lelaki ini memang kasar dan kekasarannya itu tidak pernah berubah hingga ajal menjemputnya beberapa waktu yang lalu. Sungguh malang nasib yang dialami Lidya. Selama menikah,

ia tidak pernah lepas dari kekasaran suaminya itu. Para tetangga sesungguhnya muak dengan prilaku kasar Marwoto dan sempat protes akan hal itu. Selain mengganggu ketenangan lingkungan, mereka tergganggu melihat saban hari Marwoto kasar pada istri dan anak-anaknya. “Saya pernah melihat Lidya dilempar menggunakan tang sampai keningnya berdarah,” ujar Ina, salah seorang tetangganya. Tidak itu saja, enam anaknya, sejak usia kecil sudah merasakan pukul­ an, tendangan

bela suaminya itu. Inilah yang membuat tetangganya tidak mau ikut campur jika mereka bertengkar. Para tetangga akhirnya cen­ derung membiarkan ketika ia dan anak-anaknya disiksa oleh suaminya. Selain kasar dan ringan tangan, Marwoto juga pelit bukan ke­ palang. Marwoto yang sehari-hari bekerja sebagai tukang parkir di pasar itu selalu meninggalkan rumah di pagi hari. Selain itu, Marwoto juga bekerja di bengkel kecil yang ada di rumahnya. Tiap pagi ketika Marwoto

dan lemparan yang bahkan melukai tubuh-tubuh kecil mereka. Maka tidak heran, anak-anaknya tumbuh menjadi anak-anak yang kasar juga. Namun, entah apa yang ada dalam pikiran Lidya, tiap kali tetangga membelanya ketika bertengkar, dan para tetangga melawan suaminya ia malah mem-

hendak pergi bekerja, Lidya sudah harus selesai memasak untuk sarapan. Setelah itu, pintu-pintu rumah akan dikunci oleh Marwoto dan Lidya menanti di teras rumahnya. Awalnya tetangga berpikir ketika melihat Lidya duduk-duduk di depan teras itu seperti ia memang sedang bersantai. Sebelumnya tidak ada yang tahu jika Lidya memang tidak bisa masuk ke rumah karena terkunci dari luar. Keluarga ini memang tertutup dan tetangga sudah tidak mau tahu. Mereka cenderung tidak peduli lagi dengan keluarga kasar ini, membuat hal tersebut setelah bertahuntahun baru diketahui bahwa Lidya duduk di depan teras tiap pagi itu bukan tengah bersantai melainkan tidak bisa ke dalam rumah hingga suaminya pulang kerja. Lidya dengan ramah menyapa para tetangga yang lewat. Hebatnya, Lidya selalu menyembunyikan hal itu dengan sangat rapi. Tidak sekali pun ia bercerita pada tetangga tentang hal ini. Ini dikarenakan juga ia jarang berkumpul dengan tetangga.

www.article.wn.com

SIMPAN BERAS DI KAMAR TIDUR Marwoto biasanya pulang kerja pukul 11 siang. Saat itulah

ia membawa ikan dan sayuran untuk dimasak oleh Lidya. Pukul 11 inilah Lidya baru akan masuk ke dalam rumahnya. “Tiap kali ingin masak, saya harus minta beras pada dia (Marwoto-red),” kata Lidya setelah beberapa hari kepergian suaminya. Beras itu disimpan di kamar Marwoto. Sepertinya Lidya tidak tidur satu kamar dengan Marwoto. Namun, ia tersenyum saja ketika ditanya tentang hal ini. Kamar Marwoto selalu terkunci dan semua barangbarang yang lumayan baik di rumah sederhana itu, termasuk bahan-bahan makanan tampak ada di kamar Marwoto. Lidya sama sekali tidak boleh meng­ akses apa yang ada di rumah itu tanpa izin Marwoto. Bahkan ketika mereka memasang mesin air, Marwoto tidak membolehkan Lidya dan anak-anaknya bahkan untuk mandi dengan air tersebut. “Hanya dia saja yang boleh memakai air itu dengan leluasa,” kata Lidya. Air itu hanya bisa dipakai untuk memasak dan untuk Marwoto mandi. Sedangkan untuk kebutuhan mandi ia dan anak-anaknya serta mencuci, ia harus menimba air dari sumur tiap waktu. Hal ini berlangsung hingga ajal menjemputnya. Pada malam ketika ia akan menghembuskan napas ter­ akhirnya, ketika sudah tidak lagi bisa bicara, ia beruntung dikelilingi empat dari enam anaknya. Saat menjelang ajal itu, anak-anaknya membersihkan pakaiannya dan menemukan uang di saku bajunya. Salah seorang anaknya pun mengambil uang tersebut dan menyerahkannya pada Lidya. Saking kikirnya Marwoto, ketika hendak menghembuskan napas terakhirnya ia masih sempat meminta kembali uang tersebut. Lidya lalu menyerahkan uang itu dan Marwoto menarik napas terakhirnya dengan uang digenggamannya. Ia meninggal di pangkuan Lidya. Kini setelah Marwoto tiada, Lidya yang tidak sekali pun pernah meminta cerai dari suaminya itu, terlihat menjalani hidup lebih bersemangat. Kunci-kunci rumah telah berada di tangannya dan stop kontak air bisa ia akses kapan pun ia mau. Apakah ia bersedih atau malah senang dengan “kepergian” suaminya itu? Tidak seorang pun tahu isi hati Lidya yang dikenal sangat tertutup ini. -Naniek I. Taufan


Woman on Top

6

18 - 24 Agustus 2014

Mengalir seperti Air P

erempuan kelahiran Denpasar 27 Agustus 1970 ini memulai karier sebagai tenaga harian lepas (THL) di kantor pemerintahan Provinsi Bali. Tahun 1998 ia diangkat menjadi staf di Dinas Pendapatan Daerah (Dispenda) Kota Denpasar. Sepuluh tahun kemudian, istri I G.N. A. Mahardika T., S.E. ini pindah ke kantor Kecamatan Denpasar Barat. Tahun 2009 ia dipindahkan lagi ke kantor Kelurahan Tonja. “Saya awalnya sebagai Kaur Kesra di Kelurahan Tonja. Tahun 2013 Lurah Tonja pensiun, saya diangkat sebagai pelaksana tugas (Plt) Lurah Tonja. Januari 2014, saya menjadi Lurah definitif,” ungkap ibu dua putra, I Gst. Ngr. Bagus Indra Per-

mana dan I Gst. Ngr. Bagus Krisna Mahaputra ini. Ketika diberi kepercayaan oleh Wali Kota Denpasar untuk menjadi lurah, Ade merasa bahagia sekaligus mendapat beban. Ia bahagia ­karena

dipercaya untuk melaksanakan tugas sebagai pimpinan wilayah namun merasa ada beban karena ia bertanggung jawab mengenai masalah-masalah yang terjadi di Kelurahan Tonja. Namun, diantara rasa yang berkecamuk itu, ia mendapat keyakinan, dirinya mampu melaksanakan amanat ini. “Hal pertama yang saya lakukan adalah melakukan koordinasi dengan staf kelurahan, para kepala lingkungan (kaling), dan kelian banjar adat, bendesa adat, dan tokoh masyarakat Tonja. Untungnya sebelum menjadi lurah, saya sudah mengenal wilayah Tonja. Saya mengusung prinsip di mana bumi dipijak, di sana langit dijunjung,” ujar Ade.

Bu Lurah Ade saat kegiatan sidak penduduk

Perempuan asal Mengwi, Badung ini pun menikmati pekerjaan­ nya. Pola koordinasi yang ia terapkan ternyata membuahkan hasil. Kelurahan Tonja yang dulu termasuk kawasan kotor berbenah. Kerja keras masyarakat berhasil menjadikan Tonja bersinar. Kelurah­ an yang mewilayahi 8 lingkungan, 10 banjar, dan 2 desa adat ini akhirnya meraih juara I kawasan bersih tahun 2013 dan juara harap­ an I Prokasih 2014. “Selain berterima kasih atas dukungan masyarakat Tonja. Tanpa mereka saya bukan siapa-siapa. Staf kelurahan Tonja yang jumlahnya 10 orang juga sangat membantu saya,” tegas Ade. Kepada staf selalu diingat­kan untuk bekerja sesuai dengan tugas pokok dan fungsi (tupoksi) dan tanggung jawabnya. Sebagai apresiasi untuk staf, biasanya akhir tahun mereka mengadakan acara tirtayatra. SIAP MENERIMA KRITIKAN Ia pun menuturkan dukungan suami dan keluarga ikut menunjang kinerjanya sebagai lurah. Suaminya kerap mengantar jika ada kegiatan malam di kelurahan. Dari situ suaminya bisa membaur dengan masyarakat, para kaling dan tokoh

19

Merdeka Itu Bebas tetapi Terbatas

Ade Indahsari Putri, S.H.

Menjadi pegawai negeri sipil (PNS) harus siap ditempatkan di mana saja. Sebagai abdi negara juga harus siap untuk melaksanakan tugas dari pimpinan. Jika tugas ini dilakukan dengan baik dan dilakukan dengan senang hati, rasa lelah pun tak akan terasa. Hal inilah yang dialami Ade Indahsari Putri, S.H. Lurah Tonja, Denpasar Utara.

Sudut Pandang

18 - 24 Agustus 2014

Ade Indahsari Putri, S.H.

masyarakat Tonja. Sebagai wanita, Ade memahami dirinya juga memiliki tanggung jawab di rumah. Tetapi karena sudah ada komunikasi dan saling pengertian antara dirinya dan keluarga inti, termasuk keluarga besar, ini membuatnya lebih mudah untuk membagi waktu. “Sebagai pribadi, saya ingin hidup saya mengalir apa adanya seperti air yang mengalir. Saya yakin semua akan dapat saya jalani karena adanya dukungan dari semua pihak. Sebagai Lurah Tonja, saya ingin memajukan wilayah ini. Tonja sudah menjadi rumah kedua saya. Saya selalu mengedepankan sinergi dan komunikasi dengan seluruh aparat yang ada di wilayah ini,” tegas Ade tentang harapannya ke depan. Ia pun siap untuk menerima kritikan sepanjang kritikan itu bisa memberi perubahan ke arah yang lebih baik. Kerja sama dan koordinasi dengan seluruh komponen yang ada di Tonja juga diterjemahkan Ade sebagai prinsip dari kita, oleh kita, dan untuk kita. –Ngurah Budi

Tujuh belas Agustus adalah Hari Prokla­ masi Kemerdekaan RI. Namun, sebagaian masyarakat masih belum merasakan kemer­ dekaan. Seperti yang dituturkan Komang Wardati (33). Perempuan yang hanya tama­ tan SMP itu tak bisa mengandalkan ijazahnya ­untuk mencari pekerjaan yang layak. “Dulu saat masih di Sulawesi, saya kerja di per­ cetakan setahun. Setelah itu saya pindah dan menetap di Bali,” tutur ­Wardati yang ke­luarganya merupakan trans­migran Bali di Sulawesi.

D

i Bali, ia membantu kakak sepupu yang berjualan nasi. Setelah menikah, Wardati memutuskan untuk bekerja mandiri dengan berjualan

Komang Wardati

canang. “Kalau cuma tamatan SMP, paling cuma bisa jadi penjaga toko. Tapi kalau berjualan canang, saya bisa sambil ngemong anak,” ujar Wardati mengatakan alasanya berjualan canang.

Revolusi Mental di Segala Lini Kita belum merdeka seutuhnya. Kalau merdeka terbebas dari penjajahan, memang ya. Tapi merdeka secara utuh, dalam artian keadilan dan kesejahteraan masyarakat belum tercapai. Demikian ditegaskan Tjok Adnyani, salah seorang ibu rumahtangga asal Sanur ini. Menurut Runner Up Ibu Teladan Bali 2008 ini, saat ini diperlukan revolusi mental dari semua lini, baik itu dari segi ekonomi, hukum, sosial, dan politik. “Tak ada lagi pejabat yang korupsi. Tak ada lagi mafia hukum atau peradilan yang bisa dibayar. Pejabat tebang pilih, justru memberi contoh yang tidak baik kepada masyarakat,” ujar penggiat usaha kuliner Bali ini. Menurut suami Tjok Adnyana ini, kesejahteraan dan keadilan masyarakat akan bisa diwujudkan, jika dimulai dari program-program yang lebih memperhatikan masyarakat. Misalnya, program kewirausahaan yang menyasar pada golongan ekonomi menengah ke bawah. Selain itu, pemberian bantuan modal dengan bunga ringan, dan pemasaran usaha produk perlu juga digiatkan. Hal ini bertujuan agar masyarakat dapat membangun perekonomian keluarga mereka. “Bagi masyarakat, revolusi mental perlu dilakukan agar tidak ada arogansi. Misalnya urusan sepele, jangan parkir sembarangan,” kata wanita yang lahir bertepatan dengan peringatan Hari Kartini ini. Bagi generasi muda, ia berharap, jangan hanya menuntut hak, tapi melakukan kewajiban dengan baik. Misalnya sikap kemandirian sudah dilakukan sejak kecil. “Ini berhubungan dengan sikap orangtua yang sudah mendidik anaknya sejak kecil untuk mandiri,” tegasnya. Ia berharap, setelah besar generasi muda mampu mandiri, seperti berwirausaha menciptakan lapangan pekerjaan. “Dengan banyaknya lapangan pekerjaan, akan mengurangi penggangguran, otomatis membantu usaha pemerintah menciptakan kesejahteraan masyarakat,” ucapnya. Tjok Adnyani menilai, sikap dan tindakan tersebut sudah merupakan cerminan dalam mengisi kemerdekaan. “Kita tak perlu lagi berjuang seperti para pahlawan yang sudah gugur memperjuangkan kemerdekaan dari penjajahan, tapi saat ini yang diperlukan revolusi mental untuk mengisi kemerdekaan,” tegas Bu Tjok. Adnyani. –Wirati Astiti

Menurutnya, jika dikaitkan dengan kita sudah tidak dijajah lagi, itu bisa dibilang merdeka. Namun, dalam kehidupan, ia dengan tegas menyebutkan bahwa kita belum merdeka. “Kalau merdeka itu, nyari pekerjaan gampang, apa-apa gampang,” ucapnya. Namun nyatanya sekarang ini susah mencari pekerjaan. Makanya, ia memutuskan berjualan canang yang hasilnya hanya cukup untuk makan sehari-hari. Tahun 2002 dikisahkannya lebih gampang mencari rezeki. Waktu itu, Wardati yang sudah berjualan canang masih bisa menabung Rp 30 ribu setiap harinya. “Dulu berjualan canang bisa ngabisin 400 ceper sehari. Sekarang 200 saja belum tentu habis. Masyarakat sekarang lebih banyak pakai canang tangkih, kecuali rainan baru pakai canang ceper. Jualan susah, bahanbahannya juga mahal,” keluhnya. Meski demikian, ia tak lantas banting stir, karena hanya pekerjaan ini yang bisa dilakukannya. Untuk menambah-nambah penghasilan, ia juga berjualan bensin eceran. PENDIDIKAN MASIH DIJAJAH Hal berbeda dilontarkan I Gusti Ayu Made Sri Rahayu, S.Pd. Se­b agai pendidik, tentunya ia meneropong lewat kaca mata pendidikan. Menurutnya, Bangsa Indonesia sekarang ini belum sepenuh­nya merdeka. Merdeka diterjemahkannya bebas tapi terbatas, bebas namun mengikuti aturan. Kepala Sekolah SD Pelangi Dharma Nusantara (PDN) School ini mengatakan kemerdekaan seharusnya lebih banyak diisi di bidang pendidikan. Karena dengan memiliki pendidikan, semuanya bisa lebih terjaga. “Misalkan, ada pengaruh-pengaruh negatif yang mencoba masuk. Jika sudah memiliki bekal pendidikan yang mumpuni, otomatis kita bisa menyaring hal-hal positifnya saja. Dengan berpendidikan yang cukup juga akan memudahkan mendapatkan pekerjaan yang layak,” paparnya. Karena itu pula, di sekolah yang dipimpinnya, dalam materi pengayaan lebih banyak diisi dengan konseling. Seperti, bagaimana cara mengekspresikan perbedaan,

penolakan dengan cara halus, tanpa menyinggung perasaan orang lain, dll. “Kita belum sepenuhnya merdeka, karena kita masih banyak memakai produk asing, ini penjajahan terselubung,” ulangnya lagi. Demikian halnya dengan bidang pendidikan. Bangsa Indonesia dikatakannya masih dibayang-dibayangi pendidikan luar, belum tahu konsep pendidikan Indonesia yang sesungguhnya. Walaupun dalam kurikulum 2013, bahasa asingnya sedikit dan bahasa Indonesia diperbanyak, tetap saja sekolah-sekolah yang mengusung titel “sekolah plus” lebih banyak diminati masyarakat, bahkan bangga anaknya bersekolah di sana. “Seharusnya kita bangga akan potensi dan punya kita, produk kita. Ini berarti kita masih terjajah,” tegasnya.

IGA Made Sri Rahayu

CINTAI PRODUK INDONESIA Jika ada yang bertanya apa yang kamu lakukan untuk mengisi kemerdekaan, maka setiap orang memiliki jawabannya masingmasing. Begitu juga dengan Made Herry Erika Sedana. ‘‘Saya tidak henti mengucap syukur dari tahun ke tahun dalam peringatan kemerdekaan Indonesia. Tahun ini saya dan anak-anak di rumah membuat nasi tumpeng mini dengan hiasan bendera Indonesia. Hal ini tidak lain bertujuan untuk menumbuhkan dan memperkuat kecintaan terhadap Indonesia pada anak-anak. Hal lain tentunya memasang bendera lebih awal di rumah,” tutur ibu tiga anak laki-laki ini. Selain itu Erika bersama anak-anaknya tak ketinggalan bermain fun games di rumahnya dan ia sendiri yang menjadi instruktur bagi anak-anaknya. Sebagai bentuk kecintaan terhadap Indonesia, Erika mengaku senang mengenakan mini dress buatan Indonesia. Putri dari I GedeTegeh Mandiasa dan Ketut Pasek Arumika ini mengatakan ia sebenarnya suka branded fashion, tetapi sekarang justru lebih jatuh cinta dengan produk fashion lokal, Indonesia. Desainer-desainer Indonesia saat ini bagus kreasinya bagus, keren bahkan luar biasa. Erika pun memperoleh banyak pujian teman-teman terhadap produk

Indonesia yang ia kenakan. Apalagi kalau dirinya didaulat menjadi MC dan mengenakan busana dengan bahan tenun ikat atau songket, ia merasa penampilannya menjadi berbeda. Bicara produk lokal, ternyata Erika yang mengoleksi batik, endek, dan songket. Hobi ini katanya lahir dari kegiatannya yang sejak usia muda. Dengan senyum khasnya, Erika mengucapkan “connect first, then inspire”. Begitu pula kecintaannya pada kuliner Nusantara. Menurutnya, kuliner yang ada di negeri kita ini sangat kaya. Untuknya, selalu ada menu yang patut dicoba ter­ utama saat traveling bersama suami tercintanya, Putu Ari Sedana, S.T., M.M. Erika yang memang lebih suka makanan tradisional yang segar dan rebusan. Sayur urap, karedok, lalapan dan sayur asem menjadi makanan favoritnya. Ternyata tidak hanya makanan Indonesia yang ia suka, Erika juga seorang pecinta kopi Indonesia. Ternyata Erika pun tidak keberatan mengambil barisan antri saat mencoba kopi khas Bandung beberapa minggu lalu. Kopi daerah ternyata juga menjadi salah satu minuman yang tidak akan dilewatkannya saat bepergian bersama suami tercinta. Masih soal kegemarannya pada kopi Indonesia, Director Sales & Marketing Bali Bird Park ini menjawab dengan tawa. “Saya sudah mencoba kopi Papua di Bali, nanti saya ingin minum kopi Papua, makan makanan khas Papua

Herry Erika

di Papua,” ujarnya. Baginya, ibu yang mendidik anak-anaknya untuk rajin belajar dan selalu menghargai sejarah, wanita yang bekerja dengan penuh tanggung jawab dan mampu memberi semangat wanita lainnya. Mereka yang dengan semangatnya juga berkarya dengan talentanya untuk meningkatkan nilai dan kualitas produk lokal dan mereka yang mencintai karya dan segala macam produk lokal tersebut untuk diguna­kan atau dikonsumsi, semuanya sudah berperan dalam upaya mengisi kemerdekaan negara ini dengan caranya masingmasing. –Inten Indrawati/Sri Ardhini


Nine

20

18 - 24 AGUSTUS 2014

Sri Astuti

Memilih Mengabdi di Desa Keterbatasan fisik tidak membuat Sri Astuti menyerah pada nasib, apalagi meminta untuk dikasihani. Kekurangannya pada tubuh yang harus disanggah dengan tongkat penopang, tak membuat semangatnya kendor. Sesekali dalam waktu yang tidak lama, ia memang dapat berdiri normal, namun ketika berdiri lama dan berjalan agak jauh, ia selalu butuh tongkat sebagai penopangnya. Ia terbilang perempuan dengan bakat dan kemauan yang melebihi perempuan normal lainnya. Berbagai prestasi diraih warga Taliwang Sumbawa Barat ini, justru dalam kondisi keterbatasannya itu.

“S

Sri Astuti dalam berbagai kegiatan

aya ingin dilihat dan diperlakukan seperti biasa saja, wajar saja dan jangan dikasihani,” ungkapnya suatu waktu. Ia juga sangat ingin agar mereka yang memiliki keterbatasan tidak dipandang sebagai orang yang lemah sehingga ada perlakukan-perlakuan khusus, melainkan diberi kepercayaan dan kesempatan yang sama dengan mereka yang normal. Dan, semangat inilah yang mengantarkannya untuk mengabdi di kampung halamannya melalui program SP3 (Sarjana Penggerak Pembangunan Pedesaan) Nasional. Ia memilih desa sebagai tempatnya mengabdi. Bagaimana tidak, dalam ke­ terbatasannya ini, Sri telah meraih berbagai penghargaan nasional hingga ia pernah dua kali dikirim ke Cina oleh Kementerian Pemuda dan Olah Raga RI. Tahun 2009, dengan beberapa rekan pemuda Indonesia berprestasi lainnya ia mengikuti Program The Cina Asean Youth Camp 2009 dan berkesempatan berbaur dan mengikuti kegiatan pemuda di Gungxi Cina. Sedangkan tahun 2010, ia kembali ke negeri tirai bambu itu guna meng­ ikuti program pelatihan kepemimpinan internasional di sana. Beberapa penghar­ gaan diraihnya atas

prestasi dan kerja keras yang telah dilakukan untuk memba­ ngun desanya. Dua penghargaan diraihnya yakni di tahun 2008, ia berhasil menjadi juara I SP3 (Sarjana Penggerak Pembangunan di Pedesaan) Nasional. Sementara itu tahun 2010, Sri Astuti kembali berdiri di podium utama untuk menerima penghargaan Pemuda Andalan Nusantara, sebagai yang terbaik I nasional, bidang pemberdayaan masyarakat. Penghargaan ini diserahkan langsung oleh Menteri Pemuda dan Olahraga, Andi Malarangeng (kala itu) di Jakarta saat peringatan Hari Sumpah Pemuda. Sarjana Peternakan lulusan Universitas Mataram tahun 2006 ini demikian gigih mengembangkan potensi yang ada di

tempatnya kini tinggal, di Sumbawa Barat. Ia tidak memilih kota untuk mencari lapangan pekerjaan, namun turun ke desa, tempat ilmunya dibutuhkan. Keterbatasan fisik, tidak menghalanginya untuk mendedikasikan diri bagi pembangunan sumber daya manusia di pedesaan. Cacat akibat polio yang menyerangnya sejak kecil, yang membuat kaki sebelah kanannya mengecil, tidak membuatnya minder dan putus harapan. Ia sadar benar keterbatasan kondisinya. Namun, ia tidak meratapi keterbatasannya itu, melainkan bangkit penuh semangat dengan dukungan hebat dari kedua orangtuanya, almarhum Muchtar H. Ibrahim dan Salamah. “Saya ingin berarti bagi orang lain,” katanya. Ia mengaku tau diri dengan keterbatasan yang dimilikinya sehingga ia tidak menyimpan cita-cita yang muluk secara ekonomi, melainkan terus memupuk cita-cita agar kelak bisa bermanfaat bagi orang lain. Dari sana ia berangkat, memulai segala aktivitasnya dari halhal kecil yang bisa dan nyaman dilakukannya dengan keterbatasan yang dimilikinya tersebut. Dan atas dukungan yang penuh dari orangtuanya itu, ia ingin membuat orang tuanya bangga pada dirinya dengan segala keterbatasannya. “Desa memiliki potensi yang besar untuk dikembangkan. Dengan sedikit sentuhan dan keseriusan,

maka potensi itu akan memberikan manfaat yang besar bagi masyarakatnya,” katanya. Tinggal ada atau tidaknya kemauan untuk menggerakkannya, lanjutnya. Prestasi ini diraih Sri bukannya tanpa perjuangan. Dengan tekun dan sabar, perempuan kelahiran Lombok Barat, 27 tahun lalu ini menjalankan tugas pengabdian pada masyarakat dalam bidang pendidikan, peternakan dan pemberdayaan masyarakat.

di sekitarnya. Ia menjadi sa­ rjana yang diharapkan mampu menjadi penggerak dan pemikir serta dapat menjadi motivasi bagi masyarakat di sekitarnya. Aktifnya Sri Astuti dalam menggerakkan masyarakat ini membuatnya mengikuti seleksi hasil kegiatan Program SP-3 secara nasional yang diikuti oleh pemuda dari seluruh Indonesia yang mewakili provinsi masing-masing. Dengan penuh percaya diri, di tahun 2008, ia pun mewakili NTB untuk memaparkan kegiat­ an yang telah dan sedang dilakukannya bersama masyarakat, pemerintah desa, dan pemerintah daerah yang terus mendukung setiap langkah pemberdayaan yang dilakukannya. Kerja keras dan ketekunannya dalam memberdayakan masyarakat itu akhirnya meng­ antarnya meraih Juara Nasional SP-3 Berprestasi Tahun 2008. Tidak perlu hidup di Kota untuk menjadi perempuan dengan prestasi cemerlang melainkan di mana saja termasuk di desa se­ perti halnya Sri. Ia banyak membaur dengan para pemuda dari seluruh Indonesia juga banyak melakukan pelatihan-pelatihan

Sebuah Program Kementerian Negara Pemuda dan Olahraga di tahun 2007, bertajuk Sarjana Penggerak Pembangunan di Pedesaan, ia mendapatkan ke­ sempatan untuk bekerja dan mengabdi pada masyarakat. Kala itu, ia ditempatkan di Desa Persiapan Dasan Anyar Kecamatan Jereweh Kabupaten Sumbawa Barat Provinsi Nusa Tenggara Barat, sebagai salah satu tenaga pendamping program SP-3 Provinsi NTB dengan tugas menggali dan mengembangkan potensi desa. Dari sanalah ia mulai memanfaatkan ilmu yang telah diperolehnya di bangku kuliah demi kepentingan masyarakat

di luar NTB demi meningkatkan kemampuannya dalam berbagai bidang. Kini setelah program itu berakhir di Desa Persiapan Dasan Anyar Kecamatan Jereweh, ia tidak lantas meninggalkannya begitu saja. “Sampai sekarang saya masih berkomunikasi de­ ngan para petani dan peternak di sana untuk memantau perkembangan mereka,” kata Sri yang kini bekerja sebagai penyuluh di Balai Pelaksana Penyuluh Pertanian dan Kehutanan Sumbawa Barat ini. Selain itu, kini hari-hari perempuan berusia 31 tahun ini sibuk mengurus PAUD (Pendidik­a n Anak Usia Dini) di kampungnya, yang sudah tujuh tahun belakang­ an ini dikelolanya. Sri Astuti perempuan sederhana yang dalam keterbatasannya mampu meraih prestasi yang membanggakan. -Naniek I. Taufan

Sri Astuti

18 - 24 AGUSTUS 2014

Inspirasi

Agung Bawantara

5

Berawal dari “Si Jempol” Mendongeng merupakan pekerjaan yang gampang-gampang susah. Gampang karena sudah banyak ada materi dongeng tetapi susah dalam penyampaian. Dongeng bisa dibaca dari buku, dari internet, bahkan dikarang sendiri. Tetapi, saat menyampaikannya, jangan terlalu berlebihan apalagi membuat pendengar bosan. Bagaimana triktrik membuat dongeng dan menuturkan dongeng kepada anak-anak berdasarkan pengalaman Agung Bawantara?

P

ria bernama lengkap AAG Rai Putra Bawantara ini awalnya aktif sebagai pekerja sosial di Lombok, NTB. Tahun 1963 ia hijrah ke Jakarta dan bekerja sebagai wartawan tabloid “DeTIK”. Kiprahnya di dunia jurnalistik tak berlangsung lama. Tahun 1995 ia terjun ke dunia audiovisual dengan menjadi periset dalam pembuatan film “Soero Boelgog” yang disutradarai

Slamet Rahardjo Djarot. Sejak 2006, nominee penulis skenario terbaik di Festival Film Indonesia (FFI) 2004 ini kembali ke Bali untuk berkiprah di dunia sinema dan bergelut dengan dongeng, khususnya dongeng anak-anak. Ia pun menuturkan dirinya masuk dunia dongeng karena keadaan. “Saya termasuk terlambat punya momong­an. Keterlambatan ini membuat saya banyak belajar. Saya be-

Agung Bawantara saat acara Workshop Keeping Children Safe di Wantilan Gedung Bali TV

lajar bagaimana membentuk karakter anak. Saya belajar dari pengalaman teman-teman yang sudah lebih dulu punya anak. Kehidup­a n Jakarta kadang membuat orangtua susah. Sebelum anak bangun, orangtua sudah berangkat kerja. Ketika pulang, anak sudah tidur. Dari pengalaman itu, saya menemukan dongeng bisa menjadi jembatan untuk mengatasi situasi,” ujar pria kelahiran 30 Januari 1968 ini. Agung Bawantara pun menerapkan pengalamannya ini ketika anaknya lahir. Walaupun anaknya belum bisa bicara, ia sudah mendongeng untuk anaknya. Aktivitas ini terus dilakukan hingga anaknya bisa bicara. “Awalnya saya hanya pakai gerakan tangan, nama karakternya “Si Jempol”. Lama-lama anak saya minta ada dialog. Karena mendongeng itu setelah bekerja seharian dan mata mulai mengantuk, akhirnya dongeng yang saya sampaikan mengalir saja. Kadang saya ingat kadang tidak,” kenangnya. Ternyata keesokan harinya, si anak minta dongeng yang kemarin diulangi lagi. Karena tak ada naskah, terpaksa Agung mengarang lagi. Agar kejadian itu tak terulang, ia selalu menulis apa dongeng yang pernah disampaikan. Tulisan ini akhirnya terkumpul hingga menjadi buku dongeng. Agung juga rajin berburu buku-buku dongeng. Ia membaca dongeng-dongeng itu lalu memilih mana yang sesuai dengan dunia anak-anak. “Tidak semua dongeng yang ada itu bagus dan mendidik anak. Kalau ada dongeng yang

juga bertemu ibunya. Untungnya, anaknya ini pernah di­c eritakan dongeng bagaimana menghadapi situasi seperti itu. Si anak pun menuju pos satpam dan menunggu di pos itu. Agung dan istrinya yang bingung karena kehilangan anak sempat panik. Setelah mencaricari, mereka pun memutuskan ke pos satpam dan ternyata adanya ada di situ. “Ternyata berkat dongeng yang pernah diceritakan, anak-anak bisa mengambil keputusan di saat ada masalah,” kenangnya.

Agung Bawantara

mengandung unsur kekerasan, dendam, keculasan, lebih baik jangan dibacakan untuk anakanak. Dongeng-dongeng Tantri pun sebenarnya bukan untuk konsumsi anak-anak tetapi lebih cocok untuk dewasa karena mengandung unsur politik,” jelasnya. Agung pun menyebut dongeng dari Arab, India, dan Yunani bagus untuk anakanak. Seringnya Agung mendongeng untuk anak-anak ternyata tak lepas dari penglaman masa kecilnya karena sering mendengar dongeng dari kakeknya. Aktivitas mendongeng ini pun menjadi rutinitas. Bahkan dengan dongeng, ia berhasil mengatasi pengalaman buruk yang pernah dialami bersama keluarga­nya. Suatu ketika, ia bersama istri dan anak-anaknya jalanjalan di sebuah pusat perbelanjaan. Agung di bagian bukubuku, istri di bagian pakaian. Anaknya yang awalnya ikut Agung minta izin mau bertemu ibunya. Agung pun mempersilakan. Setelah sekian lama, anaknya bosan dan mau balik mencari Agung. Posisi Agung sebenarnya masih di tempat semula tetapi karena terhalang orang lain, anaknya tak bisa melihat dan mengira ayahnya sudah pergi. Anaknya kembali ke tempat ibunya, tetapi tak

JANGAN MENYIMPULKAN ISI DONGENG Karena pengalaman inilah, Agung yakin dongeng merupakan solusi bagi orangtua untuk menanamkan nilai-nilai yang baik sebagai dasar pembentukan karakter anak. Ia pun menjelaskan saat yang tepat mendongeng menjelang tidur malam karena saat itu anak mendekati suasana trance. Pikiran alam bawah sadar mengambil peran dominan dibanding pikiran sadar. Pada kondisi ini, pikiran sadar yang seharusnya menjadi penyaring logika sudah tidak lagi mengambil peran. “Ada beberapa hal yang harus diperhatikan saat mendongeng. Kuasai materi cerita dan karakter tokohnya untuk memperlancar penyampaian dan pengembangan cerita. Gunakan intonasi yang tepat untuk menyampaikan narasi ataupun dialog. Tak perlu membuat suara aneh-aneh, cukup tekanan khusus pada kalimat sugestif. Satu lagi, jangan menyimpulkan isi dongeng. Biarkan anak membuat kesimpulan sendiri. Jangan sampai anak merasa dirinya sedang disindir sebab akan menimbulkan penolakan pada si anak sehingga sugesti positif akan sia-sia,” ujar penulis do­n geng “Tongkat Bicara Putri Saga”, “101 Dongeng Menakjubkan: Dari Berbagai Negara dan Pendongeng Terkenal Du­n ia” dan “101 Cerita Moral (Kumpulan Dongeng)” ini. –Ngurah Budi


4

Inspirasi

18 - 24 AGUSTUS 2014

Verdy Bhawanta dan Yussa Patusama

Penggagas Indobarian Street Workout “Jika latihan nge-gym perlu waktu satu tahun untuk membentuk badan terlihat ideal. Namun, dengan mengikuti metode indobarian cukup tiga bulan, untuk mendapatkan hasil yang sama,” demikian pernyataan yang cukup berani disampaikan Verdy (43), praktisi mixed martial arts (olahraga full contact modern yang memperboleh­ kan petarung menggunakan teknik pukulan, tendangan, bantingan, dan kuncian saat bertarung) ini. Apa sebenarnya metode indobarian dan bagaimana ia menemukannya?

M

Yussa dan Verdy

enurut I Made Verdy Bhawanta, yang juga instruktur capoeira ini, indobarian atau kini lebih dikenal dengan indobarian street workout ini, adalah program olahraga alternatif yang menggunakan gabung­ an metode calisthenics (bentuk latihan yang hanya menggunakan berat badan kita untuk membentuk otot), yoga, capoeira, martial art,dan meditasi. “Aktivitasnya menitik beratkan pada latihan jiwa, jasmani, dan pemikiran, “ujar Vedy, ditemui Tokoh saat pulang kampung ke Bali beberapa waktu lalu. Didampingi sang adik I Nyoman Yussa Patusama, yang juga bersama –sama mendirikan” Indobarian Street Workout Indonesia” ini, Verdy menambahkan, berlatih indobarian, salah satu alternatif membangun fisik, mental, dan spiritual dalam waktu yang bersamaan. Selain itu, ia juga tidak menyarankan mereka yang mengikuti latihan ini mengonsumsi suplemen untuk otot maupun susu yang harganya cukup mahal. Dikatakan Verdy, pada awalnya, ia memang seorang penggila semua jenis olahraga bela diri. Dalam suatu kesempatan berlatih ia sempat mengalami cedera pada sendi lutut (ligamen). Ia sempat putus asa, namun, ia berupaya bangkit dan mulai mempelajari calisthenics yoga, dan meditasi. “Karena pernah cedera inilah, akhirnya saya bisa menemukam metode indobarian ini,” cetus salah seorang pemain utama film laga

“Pirate Brothers” atau “Mortal Enemies” ini. Menariknya lagi kegiatan olahraga alternatif yang mulai ditemukannya dan mulai disebarkannya di tahun 2012 ini, bisa dilakukan dimana saja dengan tanpa menggunakan equipment (alat-alat berat), melainkan cukup dengan alat-alat yang ada di sekitar kita atau melakukan sit up dan yang lainnya dengan hitungan tertentu. “Ini menjadikan biayanya menjadi relatif murah dan bisa dilakukan oleh siapa saja,” lanjut putra kedua dari tiga bersaudara dari pasutri I Wayan Sukhana dan Ni

Made Yuliani ini. Mengenai perkembangan indobarian street workout, dikatakannya sangat menggembirakan, karena menyebar dengan sa­ ngat pesat. Bahkan, kini menjadi olahraga alternatif yang populer di Jakarta. “Sekarang ini sudah ada sekitar 7000 lebih anggota di seluruh Indonesia,”ujarnya sambil mengimbau agar masyarakat lebih sadar menjaga kesehatannya. Untuk di Bali, imbuh Yussa, penyuka indobarian street workout juga mulai ramai. Salah satu lokasi latihan ada di lapangan Puputan Badung. Kegiatan ini sudah dimulai Januari 2013. “Sempat juga beberapa bulan saya masih sendiri latihan, sampai akhirnya banyak orang yang menyukai olahraga alternatif murah ini,” ucap Yussa. Ia juga mengatakan, dalam perjalanannya akhirnya terbentuklah komunitas “Indobarian Street Workout Bali” . Anggotanya cukup banyak, namun yang aktif berlatih sekitar 30-an orang ” ujar Yussa . Sementara Verdy di Jakarta mengaku tetap melakukan rutinitas latihan dan terus menyebarkan metode latihan ini ke masyarakat. “Latihan rutin kami laksanakan setiap Selasa, Kamis, dan Jumat di Stadiun Gelora Bung Karno (SGBK) Pintu 6, mulai pukul 19.00 hingga selesai,” ucapnya. Ia juga mengatakan kalau indobarian street

Yussa dan Verdy menunjukkan ototnya yang kekar

workout memilki agenda tahunan, tour boothcamp bersama. Setiap kali berkumpul kataVerdy, mereka biasa mengawali de­ ngan meditasi sekitar 5-10 menit. Kemudian memulai latihan dengan menu yang dibuatnya sendiri. “Indobarian memiliki 7 level requirements dan tiap requirements mempunyai ciri khas masingmasing. Misalnya “red requirements atau muladhara requirements”, yang salah satu ciri menunya adalah gerakan “gorilla walk” dengan tujuan membangun kekuatan fisik, mental, juga rasa percaya diri,” jelasnya. Melihat perkembangan dan respon positif masyrakat terhadap keberadasan indobarian street workout, Verdy mengaku sangat bahagia. “Beberapa testimoni, diantaranya bisa dilihat pada beberapa anggota di fb, dimana

mereka selalu meng-upload hasil latihannya. Sekarang dari 7000 member, akan terus berkembang dan menyebar di seluruh Indonesia,” katanya. Ia juga menyebutkan beberapa artis yang mencoba metode indobarian, seperti Roy Dewanto,Pricilia Nasution, dan Restu Sinaga. Selain aktif dengan pengembangan dan latihan indobarian street workout, saat ini Verdy ia juga tengah getol melakukan pengaturan pola makan dengan lebih banyak mengonsumsi raw food. Selama 6 bulan, ia sudah bisa melihat hasil yang luar biasa, tubuhnya selalu sehat dan segar. Akhirnya ia mencoba menyosialisasikan kepada beberapa muridnya. “Tidak diduga pula, setelah melihat hasilnya, semakin ramai orang-orang yang mengikuti,”ujarnya tersenyum. – Sri Ardhini

18 - 24 AGUSTUS 2014

Mandalika

Mengenang Perjuangan TGKH Muhammad Zainuddin Abdul Madjid

21

Pelihara Semangat Civil Society Ayo lantunkan lagu perjuangan kita wahai pemuda-pemuda Sasak Indonesia. Indonesia engkaulah simbul persatuan. Dengan harta dan nyawa kami bela. Dua kalimat itu adalah bagian dari salah satu syair lagu yang ditulis TGKH Muhammad ­Zainuddin Abdul Madjid, seorang tokoh kharismatik, pemimpin dan pendiri Nahdlatul Wathan di Lombok. Lagu ini ditulis dalam Bahasa Arab yang lebih kurang demikian artinya. Syair ini disampaikan oleh salah seorang cucunya, dalam sebuah Sarasehan Hamzanwadi bertajuk Perjuangan Kebangsaan dari Nusa Tenggara Barat, beberapa waktu di Museum Negeri NTB, yang bicara tentang perjuangan ­kebangsaan yang telah dibangunnya. Salah seorang cucunya yang kini menjadi Gubernur NTB, Dr. TGH. M. Zainul Majdi, mengapresiasi kegiatan terobosan Museum Negeri NTB yang dengan berbagai kegiatan­ nya kini tidak lagi dilihat sebagai tempat menyimpan koleksi benda-benda “mati” namun mampu hidup dan bangkit “menyapa” masyarakat. “Jika dulu kita berjarak dengannya (museum-red), kini museum terbuka untuk semua hal termasuk kegiatan-kegiatan seperti ini,” ungkapnya. Karya tulis yang secara nyata menyebut pemuda Sasak ini memiliki muatan kebangsaan yang luar biasa. Ia adalah ulama dan tokoh yang tidak terikat pikirannya hanya kedaerahan saja melainkan juga memiliki semangat nasionalisme. Perjuangannya bukan hanya bagi NTB tetapi didedikasikan pula untuk bangsa dan negara ini. Perjuangan meraih kemerdekaan bangsa ini, tidak semata mesti dilihat dari bagaimana seorang pahlawan mengangkat senjata di medan perang, melainkan juga bagaimana tiap pribadi mampu berjuang untuk berkontribusi bagi tanah air ini dalam segala aspek serta mampu menempatkan diri untuk menjadi bagian dari pembangunan bangsa ini dengan keteladanan. Kisah-kisah keteladanan ulama yang lahir di Kampung Bermi, Pancor, Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat pada 17 Rabiul Awwal 1316 Hijriyah bertepatan dengan tanggal 5 Agustus 1898 Masehi, sebagai pemimpin yang turut berjuang dalam pembangunan ini sudah banyak ditulis dan didiskusikan. Dalam sarasehan ini, Majdi mengisahkan secara langsung pengalamannya bersama sang kakek, Majdi yang juga akhirnya meng­ ikuti jejak sang kakek sebagai ulama itu telah “membaca”, meresapi dan meneladani sikap dan sifat kepemimpinannya. TGKH Muhammad Zainuddin Abdul Madjid adalah seorang ulama yang visioner. Pandangannya sangat luas, tidak hanya pada soal keislaman saja melainkan ia memiliki pandangan kebangsaan yang luar biasa. Salah

satu hal bisa dilihat tentang hal ini, bahwa ketika pada masa-masa awal program imunisasi dihelat pemerintah, NTB menjadi salah satu daerah yang sangat sulit berhasil capaiannya berdasarkan target. “Program imunisasi di NTB kala itu tidak menujukkan keberhasilan yang signifikan dan tidak ada peningkatan partisipasi yang baik meski segala upaya telah dilakukan,” kata Majdi. Suatu ketika, seorang pejabat peme­ rintah datang dan bercerita tentang betapa sulitnya menyukseskan program ini. Berbagai resistensi dalam menyuarakan program ini, khususnya dalam mengubah pola pikir masyarakat, menjadi kendala yang sangat berat. Untuk itulah pejabat tersebut meminta bantuan kepadanya. Dengan tangan terbuka TGKH Muhammad Zainuddin Abdul Madjid pun menyambut baik program ini. “Beliau hanya berkata ‘ikuti saya’. Beliau pun mengimunisasi seorang balita dan momen itu disaksikan oleh masyarakat yang hadir,” katanya. Masyarakat yang menyaksikan tetesan imunisasi itu dimasukan ke dalam mulut si balita oleh ulama yang diteladani sikap dan sifatnya ini, akhirnya menghilangkan segala hambatan yang selama ini terjadi. Selain itu, TGKH. Muhammad Zainuddin Abdul Madjid, adalah pemimpin yang tidak bergantung pada bantuan pihak lain. Meski dengan segala kemudahannya sebagai seorang ulama dan pemimpin yang banyak mengenal pejabat negara, ia tetap menjadi sosok yang mampu memelihara semangat kebersamaan. Majdi masih mengingat de­ ngan jelas tentang hal ini, tahun 1987 di hari Jumat, ketika ia duduk di bangku kelas 3 Aliyah di Pancor. Sekolah yang didirikan oleh kakeknya ini tengah membangun sebuah perpustakaan. Kala itu, untuk bisa memiliki gedung perpustakaan sangatlah berat, terutama dari segi pendanaan. Atas permintaan kakeknya, ia bersama rekan-rekan santrinya, selalu bergotong royong dalam pembangun­ annya. Bertahun-tahun hal itu dilakukan, perpustakaan ini tidak selesai-selesai. “Saya ingat betul waktu pertanyaan itu dilontarkan, baru se­ minggu yang lalu Pak Try Sutrisno kala itu sebagai Pangab datang ke Pancor dan bertemu serta foto bersama de­ ngan beliau. Artinya ada keakraban dan kedekat­ an beliau dengannya dan ini yang kerap dilihat oleh masyarakat,” kata Majdi. Mendapat perta­ nyaan itu, pendiri ponDr. TGH. M. Zainul Majdi dok pesantren NW cucu TGKH. Muhammad Zainuddin Abdul Madjid yang terletak di Pancor,

TGKH. Muhammad Zainuddin Abdul Madjid Kabupaten Lombok Timur ini, hanya diam dan menjawab sambil tersenyum. Ia menjawab dalam bahasa Sasak yang berarti, jika saya meminta pada pemerintah, lalu di mana jalan ruang bagi masyarakat untuk beramal? Jawaban ini memperlihatkan bahwa secara tidak langsung, ada ketegasan darinya bahwa dalam membangun Nahdlatul Wathan ia tidak ingin terkooptasi oleh pemerintah. Ia ingin tetap memelihara semangat civil society dan tidak ingin segala sesuatu bergantung pada pemerintah. Ia ingin masyarakat punya andil dan tetap membuka ruang bagi masyarakat untuk berkontribusi.

SEKOLAH PEMERINTAH SAINGI SEKOLAH SWASTA Bagi Majdi yang kini memimpin NTB, melihat hal ini sebagai bagian dari upaya menjadikan masyarakat yang independen. Bahwa dalam sistem pemerintahan apa pun harus tetap didukung oleh kekuatan yang datang dari masyarakat. Tentunya, masyarakat yang memiliki kemerdekaan, keleluasaan dan kemampuan untuk mengkritisi pemerintah. Menurutnya, kalau dulu di mana ada madrasah/sekolah swasta yang diminati masyarakat dan memiliki murid yang banyak pasti di sana dibangun sekolah oleh pemerintah. Yang ditangkap masyarakat kala itu bahwa pembangunan sekolah oleh pemerintah tersebut untuk menyaingi sekolah swasta ini. “Alhamdulillah pemerintah sekarang tidak lagi seperti itu, memandang lembaga pendidikan swasta dengan negeri itu sama dengan diberikan perhatian yang sama pula,” ungkapnya. Dari pengalamannya inilah, Majdi akhirnya memiliki pandangan bahwa pemerintah harus memaknai perjuangan masyarakat seperti ini bukan sebagai saingan melainkan sebagai mitra dalam pembangunan. Satu hal lagi yang menjadi catatannya adalah sebuah konsep yang hampir tidak terpikirkan oleh orang lain, sederhana namun brilian dari sang kakek, yakni tradisi melontar di Pancor. Dengan melontar membuka kesempatan seluas-luasnya bagi masyarakat untuk beramal dan berbuat baik. Tradisi ini menciptakan kesetaraan yang memberikan kebanggaan bagi seluruh masyarakat bahwa sekali pun ia miskin ia juga bisa beramal dan berkontribusi dalam pembangunan. -Naniek I. Taufan


Metropolitan

22

18 - 24 Agustus 2014

JGC Rawa Bening

Surganya Belanja Permata Anda penyuka perhiasan bertahtakan batu permata atau sekadar kolektor batu mu­ lia? Mungkin, Jakarta Gems Center Rawa ­Bening, bukan tempat yang asing lagi. Namun, bagi yang belum tahu, cobalah berkunjung ke pusat penjualan batu mulia dan akik yang konon salah satu yang ter­ besar di Asia. Tempat yang menjadi surga belanja aneka permata ini, menggelar aneka permata dari yang tersohor seantero dunia (impor) hingga yang biasa-biasa saja.

T

ak sulit menjangkau tempat ini karena letaknya sangat strategis dan dilalui banyak angkutan umum dari Terminal Kampung Melayu. Lokasi persisnya, di depan Stasiun Kereta Api Jatinegara, Jl Raya Bekasi Barat. Kalau Anda berkunjung di hari biasa, mungkin kondisi lalu lintas di kawasan sekitar agak padat. JGC Rawa Bening berada di kawasan sibuk Jatinegara-Mester yang dikenal sebagai salah satu pusat perdagangan di wilayah Jakarta Timur. Tak jauh dari JGC terdapat Pusat Grosir Jatinegara Mester. Di gedung tiga lantai itu, dijual aneka batu mulia impor yang sudah terkenal se-dunia seperti ruby (mirah delima) dari Myanmar dan Thailand, safir dari Sri Lanka, emerald atau zamrud dari Kolombia, dll. Tak ketinggalan, semua batu mulia dan akik dari dalam negeri juga dijual di sini. Sebut saja, batu bacan dari Halmahera Selatan, sungai dareh, indocreas dari Aceh, anggur spritus raja dari Sumatera, dll. Tak salah kalau disebut Rawa Bening pusat belanja permata kare­ na bisa dibilang serba lengkap. Di sini bukan hanya ada para pedagang batu mulia dan akik tapi juga para pengrajinnya yang membuka lapak di lantai dasar. Mereka ini para pengrajin yang menerima order mengasah, memotong, pemolesan batu mulia, Jadi kalau Anda membeli batu mentah dan ingin menggosoknya maka para pengrajin siap menggarapnya. Harga menggosoknya tergantung tingkat kesulitannya, biasanya Rp 50 ribu atau lebih jika batu mulia itu termasuk memiliki kesulitan tinggi. Jasa pemotongan dan pemolesan lebih murah. Tidak itu saja, di sana juga ter­

di sana batu mulia atau batu akik asli. Karena itu diperlukan kejelian dalam berbelanja. Namun jangan khawatir, di Jakarta Gems Center juga disediakan laboratorium untuk menguji keaslian batu, namanya, ‘Tasbih Gemological Laboratory of Gems Stone ‘ . Di sini selain menguji

sedia aneka pengikat batu mulia/ akik, baik yang terbuat dari emas, perak, tembaga, baja putih, kuningan, dll. Soal harga, tergantung bahan juga desain, dari puluhan ribu hingga ratusan ribu. Jika Anda memiliki desain khusus, dapat di­ pesan di sini namun tentu harganya lebih mahal. Bagaimana dengan keaslian batu? Ya, memang ini menjadi masalah tersendiri bagi mereka yang awam. Karena asal tahu saja, tidak semua barang yang dijual

keaslian batu, juga memberi layanan sertifikasi batu mulia. Fasilitas ini disiapkan mengingat harga batu-batu mulia, apalagi yang kelas super, bisa mencapai puluhan hingga ratusan juta rupiah. Meski begitu, bagi yang koceknya terbatas, di sana ada juga

Suasana di JGC Rawa Bening

batu yang harganya murah meriah, puluhan ribu rupiah. Hanya saja, dengan harga begitu jangan berharap pada kualitas. Di luar itu, juga dijual batu sintetis dengan harga bersahabat. Tetapi, para pembeli harus teliti agar tidak tertipu. -Diana Runtu

tkh/deddy kristiady

“Demam” Batu Permata Seiring dengan “demam” batu permata yang tengah melanda berbagai kalangan dalam beberapa tahun terakhir ini, JGC pun kebanjiran pengunjung, khususnya saat weekend dan hari libur. Mereka datang bukan hanya dari sekitar Jabodetabek (Jakarta,Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi), tapi juga dari berbagai daerah di Indonesia, bahkan turis mancanegara seperti Jepang, Malaysia, Tiongkok dan Korea Selatan. Banyaknya wisatawan asing berburu batu permata di JGC Rawa Bening masuk dalam salah satu agenda kunjungan wisata belanja di Jakarta untuk wisatawan asing. Menurut Dwi, kolektor batu mulia, ia kerap datang ke pusat belanja batu mulia sejak tahun 1990-an. Kala itu, pusat belanja batu mulia tersebut masih dikenal dengan sebutan Pasar Batu Akik Rawa Bening. Gedungnya pun belum semegah sekarang. Malah dulu boleh dibilang agak kumuh dan semrawut. Tapi herannya, banyak turis asing datang. Karena Indonesia dikenal sebagai salah satu negara yang memiliki banyak batu mulia bermutu tinggi. “Pasar ini ada sejak tahun 1980-an, dikenal sebagai pasar batu akik. Dulu pedagangnya hanya puluhan. Pasar ini makin berkembang dan terkenal hingga ke manca Negara. Banyak turis asing datang ke sini,. Itu juga yang mendorong pasar batu permata ini berkembang semakin besar hingga akhirnya seperti sekarang,” tutur Dwi yang juga melakoni bisnis sampingan jual-beli batu mulia. Menurutnya, orang awam kadang bingung tentang perbedaan batu akik dan batu mulia. Perbedaan dua benda tersebut adalah dari kekerasan batu yang dihitung berdasarkan skala Mohs (skala kekerasan minel Mohs). Batu akik adalah batu permata dengan kekerasan yang rendah atau di bawah 7,5 dalam skala Mohs, sedangkan batu permata dengan level kekerasan di atas 7,5 disebut batu mulia. “Karenanya,

Aneka batu perhiasan

harga batu akik pun lebih murah dibanding batu mulia. Namun, batu akik memiliki banyak penggemar karena keindahannya,” jelasnya. Berbicara tentang harga permata, menurut Dwi, tidak ada yang pasti atau tidak ada standarnya. Karena kadang jika orang sudah suka dengan suatu batu yang indah, mereka akan berani beli dengan harga tinggi. Saat ini batu mulia yang sedang ‘naik daun’ adalah batu bacan. Ada beberapa jenis batu bacan, yang paling diburu adalah bacan Doko dan bacan Palmea. “Nama batu-batu ini mengikuti tempat di mana batu itu berasal. Kalau bacan Doko warnanya hijau, sedang bacan Palmea warnanya hijau muda kekebiruan. Makin bening batunya, makin mahal harganya karena kualitasnya masuk ke golong super,” tutur Dwi yang memiliki beberapa bacan Doko dan Palmea. Tren berburu batu bacan ini, katanya, terjadi beberapa tahun belakangan ini. Padahal dulunya, batu ini kurang dilirik dibanding lainnya. Namun setelah diketahui keistimewaan bacan serta pesona yang terkandung di dalamnya, ditambah lagi, batu ini bisa berubah warna menjadi lebih terang, orang pun makin memburunya. Apalagi batu ini dipercaya memberi kemakmuran pada pemakainya. “Keunikan lain dari batu ini adalah makin lama warnanya makin terang. Ini karena proses kristalisasi yang terjadi secara alami,” jelasnya. Harga batu bacan menjadi makin mahal karena batu yang berasal dari Pulau Bacan, Kab Halmahera Selatan, ini, diburu oleh pedagang permata dari mancanegara seperti Tiongkok, Taiwan, dan Korea Selatan. Harga batu bacan tergantung kualitasnya, dari Rp 200 ribu sampai Rp 8 juta. Sedangkan jika membeli bongkahan harganya dari puluhan hingga ratusan juta dengan kualitas super. “Namun belakangan kualitas super langka,” tambahnya. Selain batu bacan, sejumlah batu mulia lainnya yang juga laris di pasaran di antaranya, batu sungai dareh yang konon dipakai oleh Presiden AS Barack Obama, kalimaya , green garut, dll. “Ada banyak batu mulia di sini, hanya saja bagi mereka yang awam hendaknya hati-hati dalam membeli. Apalagi membeli dari orang yang tak jelas, karena di sini selain pedagang ada juga yang secara individu menawari batu mulia. Kalau mau yakin, ya, periksa dulu keasliannya, di sini ada kok tempat cek batu asli atau tidak,” ungkapnya. Hal senada juga diingatkan Effendi, salah seorang pedagang batu mulia. Menurutnya, kadang orang awam tidak bisa membedakan antara batu mulia asli dan batu sintetis. “Kalau mau beli batu, harus perhatikan baik-baik. Batu sintetis, misalnya, biasanya ada gelembungnya, kalau alami ada serat-serat alami batu,” tuturnya. “Dulu, untuk mengetes asli atau palsu, dengan meneteskan air di batu itu. Katanya kalau air itu nggak pecah, berarti itu batu asli. Kalau pecah, berarti palsu. Tapi itu bukan jaminan,” ucapnya. -Diana Runtu

18 - 24 Agustus 2014

Sosialita

3

Putu Suandewi

Bergaya dan Berdaya Berangkat dari hobi, ia pun menggarap usaha bidang fashion. Seiring berjalannya waktu, usaha dan kreativitasnya juga berkembang. Kini, karya-karyanya dengan brand “Anyar” yang identik dengan etnik, simpel namun tetap berkelas dan anggun di segala suasana, dengan mudah di temui. Penasaran? Datang saja ke Butik Anyar di area kawasan Pertokoan Denpasar Junction, di Jalan Teuku Umar No 1, Denpasar.

Dewi Anyar menerima karangan bunga dari Ketua Dekranasda Kota Denpasar Ny. Selly D. Mantara usai pagelaran busana di JFFF di Jakarta.

M

enurut Putu Suandewi, S.E., yang lebih dikenal dengan panggilan Dewi Anyar ini, sejak awal usaha ia memang fokus pada material yang berbau tradisi, seperti endek, songket dan bordir. Ia menilai pamor kebaya di Bali, tidak akan pernah turun. “Kebaya sudah menjadi busana tradisional yang sangat memasyarakat. Hampir sebagian besar kegiatan yang berhubungan dengan adat dan budaya mengenakan kebaya,”katanya. Peluang ini yang ditangkap dan digarap dengan jeli oleh ibu muda ini. Langkahnya cepat, apalagi ia juga lahir di daerah pusat kesenian dan budaya ini. “Karena itu pula, untuk padanan kebayakebaya koleksi Butik Anyar, saya yakin memilih hasil kerajinan lokal berupa endek dan songket. Sekarang motifnya sudah sangat bervariasi begitu juga warna

makin banyak pilihan,” ujar Dewi dengan senyum. Sebagai salah seorang pengusaha yang tumbuh dan berkembang di kota Denpasar, serta mendapatkan banyak kesempatan untuk meningkatkan usaha maupun skill dalam berbisnis, ia merasa wajib berbuat untuk Denpasar. Karena­ nya, anggota Asosiasi Bordir, Endek, dan Songket (Asbest)Kota Denpasar ini, memiliki komitmen turut mendukung pengembangan ekonomi kreatif yang tak henti dipacu oleh pemerin­t ah Kota Denpasar. Begitu pula bersamasama rekan-rekannya di Asbest, mereka ingin menguatkan citra bahwa warisan tradisi bisa mengakomodasi selera berbagai kalangan dan mengikuti trend fashion. “Kalau bukan kita siapa lagi yang berbuat?,”cetusnya. Istri I Ketut Adi Suyasa, S.H. ini menuturkan awal bisnisnya mulai ketika masih remaja ia melihat sang mama sangat asyik dengan

Dewi Anyar dan suami tercinta

usahanya di bidang kecantikan dan kain-kain tradisional. “Meski dijalankannya di rumah, usaha mama ketika itu sangat prospektif dan pembelinya mengalir,” ucapnya. Melihat kerja yang menyenangkan sekaligus menghasilkan tersebut, membuat Dewi yang memang doyan fashion ini, tertarik memiliki usaha seperti mamanya. Begitu mencoba dan mendapatkan antusiasme pasar baik, menjadikan semangat wirausahanya makin tergali. Begitu pula setelah berkeluarga, atas dukungan penuh sang suami, Dewi tetap memilih melanjutkan usahanya. Di sini, ia merasa tepat memilih langkah ini, sebab dengan berwirausaha, ia memiliki kebebasan waktu dalam bekerja. Hal ini juga memudahkannya mengatur atau menyeimbangkan urusan bisnis dan keluarganya. JADI DESAINER Tahun 2005, Dewi masih menjadikan rumahnya sebagai tempat usaha. Semua dijalaninya dengan suka cita, dengan tidak pernah berhenti menawarkan setiap ada koleksinya yang baru kepada teman dan kerabatnya. “Ketika itu saya hanya mengandalkan strategi pemasaran dari mulut ke mulut. Tiap ada produk baru langsung diinformasikan. Astungkara peminatnya terus bertambah,” ujar Dewi Anyar. Ibu dari Genta Taruna Suyasa (15) dan Bunga Mahadewi Suyasa (10) ini, mengaku menyadari kesuksesan tidak datang dari langit. Kini ia bekerja dibantu dengan empat orang tenaga yang tetap dan kreasi produknya terpajang dengan indah di butiknya. Ini adalah hasil dari kerja keras dan

Genta

banyak langkah yang sudah dilakoninya dalam pengembangan usahanya. “Action, action, dan action, itu kunci yang saya jalankan,” tegasnya. Perempuan kelahiran 6 November 1974 ini, memang sangat energik, ia tidak pernah berhenti bergerak untuk menggapai kemajuan dengan terus belajar dan berupaya. Tahun 2011 ia pun menjajal kemampuannya dalam hal mendesain busana. Baginya profesi ini memiliki tantangan tersendiri, selain menuntut kreativitas yang tinggi juga wajib memiliki referensi soal mode yang luas. “Saya bisa menjadikan seseorang yang semula biasa saja, bisa tampil beda dan pastinya lebih menarik. Ini juga merupakan bagian dari amal kan,” cetus sulung dari tiga bersaudara buah hati pasangan I Made Sutedja dan Ni Ketut Suari Aryantini ini. AKTUALISASI DAN SOSIALISASI Mengenai karya-karyanya yang

Bunga

dipajang di butik, Dewi mengatakan konsep busananya yang cenderung chic, elegant dengan nuansa etnik. Ini adalah desain yang mempresentasikan kalangan ibu–ibu muda dengan penampilan yang cantik, bersahabat dan energik. Saat ini, kreasi-kreasi Dewi makin dihargai dan digemari. Karyanya banyak yang dikenakan di berbagai acara termasuk di beberapa pagelaran fashion show lokal maupun nasional. Hal ini, merupakan impian pribadinya sebagai wanita yang ingin membuktikan ia bukan hanya suka bergaya tapi juga berdaya dan membuat keluarganya bangga. Ada juga langkah kecil lainnya yang dicoba ibu satu ini, yakni ikut berpartisipasi pada Sanur Village Festival (Sanfes) yang ke-9 pada 20–24 Agustus ini di area Segara Beach Sanur. Pada pagelaran acara yang tetap mengutamakan nilai-nilai sosial budaya, bersama rekannya Rhea Cempaka dan Winda, Dewi akan mengisi arena kuliner dengan masakan khas Bali. “Datang ya ke stan kami, namanya Tabia Bali. Kami menyediakan lawar, balung, urap-urapan.., ” ujarnya berpromosi. Dewi merasa belum puas dengan hasil yang diperolehnya saat ini. Ia masih menyimpan keinginan untuk memperbesar usahanya. Sebab, bisnis bagi penggemar traveling ini, selain tempat untuk beraktualisasi, menjadi sarana untuk sosialisasi juga dapat memberikan manfaat bagi orang lain disamping tak dimungkiri turut membantu perekonomian ­keluarga. -ard


2

Ekspresso DAri daPUr Redaksi

18 - 24 AGUSTUS 2014

Ziarah

Pembaca yang terhormat, Tokoh edisi 810 yang Anda baca ini hadir lebih awal. Biasanya Tokoh hadir tiap hari Minggu. Namun, karena hari Minggu (17/8) bertepatan dengan Hari Proklamasi Kemerdekaan RI ke-69 dan hari libur, maka kami memajukan jadwal edar. Kami mohon permakluman dengan kondisi ini. Terbitan 811 dan seterusnya, Tokoh kembali beredar hari Minggu. Peringatan Hari Proklamasi Kemerdekaan RI ke-69 ini mungkin menjadi istimewa bagi bangsa Indonesia. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono akan menjadi Inspektur Upacara untuk yang ke sepuluh kalinya sekaligus yang terakhir. SBY sudah dua periode atau sepuluh tahun menjadi Presiden RI. Momen ini tentu dimanfaatkan SBY untuk menyampaikan terima kasih atas dukungan seluruh masyarakat disertai permohonan maaf jika ada hal yang kurang berkenan. SBY juga sudah menitipkan pesan kepada Jokowi sebagai presiden terpilih untuk menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Kepada para pemimpin politik, SBY berharap mereka mau melakukan ziarah ke taman makam pahlawan untuk mengenang sejarah perjuangan mereka. Ziarah ke taman makam bisa dilakukan kapan saja, menjelang peringatan Hari Proklamasi Kemerdekaan, menjelang Hari Pahlawan, bahkan menjelang hari ulang tahun instansi. Ini merupakan bentuk hormat kita kepada para pahlawan yang sudah berjuang untuk merebut kemerdekaan. Di Bali, salah satu lokasi yang bisa menjadi tempat ziarah adalah Monumen Nasional Taman

Pujaan Bangsa Margarana. Di Taman Pujaan Bangsa ini ada monumen untuk mengenang perjuangan I Gusti Ngurah Rai dan pasukan Ciung Wanara. Acara doa dan tabur bunga menjadi ritual yang bisa dilakukan. Semoga para pejuang yang gugur membela kehormatan bangsa ini bisa menjadi penyemangat kita untuk berjuang mengisi kemerdekaan. Salam

Monumen Nasional Taman Pujaan Bangsa Margarana

Ternyata Kembar

Pengalaman yang saya alami ini membuat saya selalu tertawa. Antara lucu, malu, dan kaget campur jadi satu. Tetapi, saya selalu mengambil hikmah dari peristiwa yang saya alami ini. Saya bekerja di sebuah departement store di bagian pakaian laki-laki. Suatu ketika ada seorang remaja yang melihat-lihat kaus. Saya pun membantu melayani dengan mencarikan ukuran yang dia inginkan. Remaja berpakai­ an merah itu lalu menentukan pilihan­nya. Tetapi, ia tidak langsung membayar. “Saya bilang ayah dulu ya,” ujarnya sambil berlalu. Tak lama kemudian, remaja itu datang lagi. Ia pun memilih kaus seperti yang dilakukan tadi. Anehnya, remaja tadi sudah berganti baju. Tadi dia berbaju merah, sekarang baju hitam. Pilihannya pun sama dengan yang tadi. Dia juga pergi untuk mencari ayahnya. Saya merasa ada sesuatu yang

mingguan berita wanita Penerbit PT Tarukan Media Dharma Terbit sejak 9 November 1998

tidak beres. Saya curiga, remaja ini mau mempermainkan saya. Bahkan saya berpikir, dia mau mencuri ka­ rena sudah berganti baju. Tak lama kemudian, remaja berbaju merah datang lagi dan minta kaus yang dia pilih tadi. Saya bingung karena dia dua kali datang dengan baju yang beda tetapi milih kaus yang sama. “Anda jangan main-main ya, dari tadi bolak-balik milih malah gontaganti baju,” ujar saya. Remaja ini bingung karena saya “semprot”. Dia lalu pergi dan kembali bersama seorang lelaki yang umurnya sekitar 50 tahun dan seorang remaja yang wajahnya sama tetapi berbaju hitam. Oh my God... ternyata remaja ini kembar, hanya baju yang

mereka pakai beda warna, satu merah, satu hitam. “Ternyata Anda kembar ya,” kata saya dengan sedikit tersipu. Ayah si remaja itu tersenyum. “Anak saya memang kembar. Ternyata mbak memperhatikan dengan baik. Saya salut dengan perhatian mbak,” jawab si ayah. Saya pun mengatakan saya harus bertanggung jawab terhadap barang yang ada. Karena itulah saya mengawasi pembeli dengan teliti. Akhirnya remaja kembar itu jadi membeli kaus bermotif sama tetapi beda warna. Saya menyampaikan terima kasih sekaligus minta maaf kepada si kembar. Ketika sampai di rumah, saya ceritakan pengalaman ini kepada suami. Dia pun tertawa terbahak-bahak sekaligus memuji ketelitian saya. Fatia, Kuta

Bagi pembaca yang memiliki kisah unik, seru, menyebalkan, atau mengasyikkan dan ingin berbagi dengan pembaca ­lainnya, silakan kirim kisah Anda ke redaksi@tokoh.co.id. ­Panjang naskah maksimal 3.000 karakter. Sertakan juga nama dan no kontak Anda. Naskah yang muat di rubrik “OMG” akan mendapat bingkisan Tokoh. Info lebih lanjut, silakan hubungi Redaksi Mingguan Tokoh (0361) 425373

GORO-GORO

merdeka

Setelah 69 tahun merdeka, ada tetangga bertanya. “Apa betul kita sudah merdeka, Pak Amat?” Putu Wijaya Amat jadi beringas. Ia menganggap pertanyaan itu kurang ajar. Lantas Amat menjawab gemas. “Kalau kita belum merdeka, Pak Tohir tidak akan mungkin bisa mempertanyakan kemerdekaan kita dengan nyeleneh begitu! Maaf itu keliru Pak Tohir! Tidak boleh berpikir begitu!” Pak Tohir tertawa. “Sabar Pak Amat, sabar. Kalau betul kita sudah merdeka, kenapa saya dan banyak orang sampai bertanya seperti itu?” “Ya, karena kita sudah merdeka! Karena Pak Tohir dan mereka yang lain-lain itu sudah merdeka, jadi segala unek-unek tidak-tidak diumbar. Padahal sudah jelas, sejak proklamasi 17 Agustus 1945 kita sudah merdeka, sehingga bebas mempertanyakan apa saja!!” “Betul! Secara formil kita memang sudah merdeka. Tapi Pak Amat, mengapa saya tidak merasa merdeka?” Amat tambah kesal. “Ya itu karena Pak Tohir sudah merdeka! Orang yang sudah merdeka bebas berpikir dan merasakan apa saja! Termasuk mengaku dirinya tidak merasakan kemerdekaan!” “Jadi menurut Pak Amat! Kita sudah merdeka?” “ Ya, iyalah! Jelas!” “Tapi kalau betul kita sudah merdeka, kenapa Pak Amat melarang saya menanyakan: apa kita sudah merdeka?” “Saya tidak melarang, tapi . . .” “Tapi hanya melarang!” Amat tertegun. Pak Tohir tertawa lagi. “Setelah merenung Bapak tiba-tiba merasa salah,” kata Amat menceritakan kejadian itu pada Ami.” “Salah? Kenapa salah, Pak?” “Salah, karena Bapak sudah mengganggu kemerdekaan Pak Tohir yang merasa kita belum merdeka.” “Terus?” “Lalu Bapak diam saja.” “Kenapa diam?” “Karena kita sudah merdeka. Sebagai orang merdeka Bapak kan bebas untuk bicara atau diam.” Ami tertawa. “Pasti Pak Tohir merasa menang!” “Memang, dia terus tertawa mengejek. Tapi Bapak tidak peduli. Bapak jadi tahu bahwa meskipun kita sudah merdeka sejak 69 yang lalu, tapi ada orang, antara lain Pak Tohir, memang belum ikut merdeka! Karena itu Bung Karno selalu berkata: revolusi belum selesai!” Ami menatap Amat. “Saya tidak mengerti Pak!” “Bapak juga tidak mengerti. Kok ada orang tidak ikut merdeka padahal kita sudah merdeka. Sejak Bung Hatta dan Bung Karno memproklamasikan kemerdekaan kita, kita sudah merdeka! Merasa merdeka atau belum, tidak peduli, itu urusan pribadi. Yang jelas, secara formil sejak proklamasi kita sudah merdeka! Titik!” Ami tersenyum. “Mestinya Bapak katakan itu pada Pak Tohir.” “Untuk apa?! Tidak ada gunanya bicara pada orang yang belum merdeka. Karena kepalanya masih dikuasai virus kolonial!” “Kalau begitu tidak ada masalah dong!” “Ada, kenapa tidak! Ada! Itu masalah besar. Kalau ada warga di negara merdeka merasa negaranya belum merdeka, itu namanya pemberontakan! Subversif!” “Atau, sebaliknya Pak?” Amat terkejut. Ia menatap Ami dengan takjub. Ami jadi heran. “Kenapa, Pak?” Amat menjawab lirih. “Betul. Jangan-jangan-jangan Bapak sendiri sebetulnya yang subversif, karena melarang Pak Tohir berpendapat, padahal sudah merdeka 69 tahun!” Pulang dari rumah Ami, Amat langsung menemui Pak Tohir. “Pak Tohir maaf, saya sudah melarang kebebasan berpendapat Pak. Ternyata setelah 69 diproklamasikan kita masih saja belum merdeka. Saya contohnya. Saya sudah melarang kebebasan berpendapat Pak Tohir. Pasti banyak orang seperti saya. Jadi Pak Tohir benar, kita memang belum merdeka!” Pak Tohir terkejut. “Lho Pak Amat, maaf. Itu sebenarnya bukan pertanyaan saya. Saya hanya membantu seorang tamu bule yang sedang membuat angket tentang kemerdekaan. Saya harus bertanya kepada 100 orang apakah mereka merasa sudah merdeka setelah 69 tahun kemerdekaan diproklamasikan.”

Pemimpin Perusahaan: IDK Suwantara. Redaktur Pelaksana: Ngurah Budi. Staf Redaksi/Pemasaran Denpasar: IG.A. Sri A r d h i n i , W i r a t i A s t i t i , S a g u n g I n t e n . J a k a r t a : D i a n a Ru n t u . N T B : N a n i e k D w i S u r a h m i . D e s a i n G r a f i s : I D N A l i t Budi­a rtha, I Made Ary Supratman. Sirkulasi: Kadek Sepi Purnama. Se­k retariat: Ayu ­A gustini, Putu Agus Mariantara, Hariyono. Alamat Redaksi/Iklan Denpasar: Gedung Pers Bali K. Nadha, Lantai III, Jalan Kebo Iwa 63 A ­D enpasar 80117–Telepon (0361) 425373, 7402414, 416676–Faksimile (0361) 425373. Alamat Redaksi/Iklan/Sirkulasi Jakarta: Jalan ­Pal­merah ­Barat 21 G Jakarta Pusat 10270–Telepon (021) 5357603 - Faksimile (021) 5357605. NTB: Jalan Bangau No.15 Cakranegara, Mataram–­Telepon (0370) 639543– ­F aksimile (0370) 628257. Jawa Timur: Permata Darmo Bintoro, Jalan Taman Ketampon 22-23 Surabaya–Telepon (031) 5633456–­­ ­F aksi­m ile (031) 5675240. Surat Elektronik: redaksi@tokoh.co.id, iklan@tokoh.co.id. Website: www.tokoh.co.id. Bank: BCA Cabang ­Pal­m erah Barat Jakarta. Nomor Rekening: PT Tarukan Media Dharma: 229.3006644 Percetakan: BP Jalan Kebo Iwa 63 A Denpasar.

18 - 24 AGUSTUS 2014

Mozaik

23

Penjual Pohon Pinang Panen Berbicara tentang Hari Proklamasi Kemerdekaan, tentu tidak lepas dari upacara bendera dan berbagai lomba yang digelar masyarakat, seperti lomba balap karung, makan kerupuk, tarik tambang, gebuk bantal, dan panjat pinang. Di Kalimalang, Jakarta Timur, ada lomba gebuk bantal di atas sungai. Gebuk bantal adalah ‘perang’ peserta sambil duduk di atas sebilah bambu yang diletakkan melintasi sungai. Lomba ini lumayan sulit karena warga harus menjaga keseimbangannya agar tidak terjatuh ke kali ketika digebuk lawannya. Mereka yang jatuh, menjadi pihak yang kalah. Lomba lain yang dipadati penonton adalah panjat pinang. Taman Mini Indonesia Indah dan Taman Impian Jaya Ancol tak pernah absen menggelar lomba panjat pinang yang diikuti pengunjung. Tahun lalu, 168 pohon pinang dengan hadiah totalnya ratusan juta rupiah, menjadi rebutan ratusan warga. Festival Panjat Pinang, memang merupakan agenda rutin Taman Impian Jaya Ancol tiap peringatan HUT Proklamasi Kemerdekaan. Tahun ini pun lomba ini digelar lagi bertajuk “Panjat Pinang Kolosal”. Bagi masyarakat umum lomba panjat pinang memang tidak selalu diadakan. Untuk menggelar lomba ini perlu modal yang tidak sedikit. Harga sebatang pohon pinang Rp700 ribu, belum lagi biaya membeli berbagai hadiah menarik. Soal hadiah, memang harus menjadi daya tarik utama sehingga warga mau ikut lomba ini. Jika hadiah biasa-biasa saja, warga tak akan mau karena me-

Super Internet Festive

Program Super Internet Festive yang dilaksanakan Cellular World bekerja sama dengan Indosat sudah dilaksanakan. Hadiah utama berupa dua Suzuki Karimun Wagon R diraih Koming Diah Untari dan Agus Wahyudi Putra. Pengundian program ini dilaksanakan Sabtu (9/8), sedangkan penyerahan hadiah utama dilakukan Senin (11/8). Marketing Cellular World, Gede Wirakusuma mengatakan program ini mendapat tanggapan yang positif dari konsumen. Selama enam bulan pelaksanaan program, 9.000 kartu perdana Indosat terjual. Hadiah utama berupa 2 unit mobil menjadi salah satu daya tarik bagi konsumen melakukan pembelian ponsel maupun tablet komputer yang dipaketkan dengan kartu perdana Indosat. Head of Indosat Area Bali Nusra, Heny Tri Purnaningsih menambahkan Indosat saat ini sedang menggenjot penggunaan layanan data. Modernisasi jaringan yang sudah selesai dilaksanakan di Bali akan menambah kenyamanan pelanggan dalam memanfaatkan layanan data. –Ngurah Budi Suasana lomba panjat pinang

manjat pohon pinang tidak mudah. Menurut catatan sejarah, lomba panjat pinang ini telah ada sejak zaman penjajahan Belanda. Ketika itu, orang-orang Belanda yang sedang mengadakan acara besar seperti pernikahan, dan lain-lain, menggelar lomba panjat pinang untuk masyarakat pribumi. Hadiah yang diperebutkan biasanya bahan makanan seperti keju, gula, serta pakaian seperti kemeja. Di kalangan pribumi barang-barang seperti ini termasuk mewah. Sementara orang pribumi bersusah payah untuk memperebutkan hadiah, para orang-orang Belanda menonton sambil tertawa. Tata cara permainan ini belum berubah sejak dulu. Pihak yang juga tetap menginginkan lomba panjat pinang lestari adalah para penjual pohon pinang yang marak di Jakarta sejak awal Agustus ini. Menjual pohon pinang

dan segala atribut hari Kemerdekaan adalah ladang bisnis musiman yang hanya ada pada bulan Agustus. Di Jakarta, ada beberapa tempat penjualan pohon pinang untuk keperluan lomba, salah satunya di Jl Manggarai Utara, Jakarta Selatan. Menurut Ridwan, salah seorang penjual pohon pinang, ‘Agustusan’ tahun ini penjualannya meningkat tajam dibanding tahun lalu. Untuk pohon pinang sepanjang 9 meter, dijual dengan harga Rp 750 ribu. Harga ini lebih mahal dibanding tahun lalu, karena ongkos angkut pohon yang berasal dari Serang, Banten, Jawa Barat, ini juga mengalami kenaikan. “Harga masih bisa nego, tapi tidak bisa kurang dari Rp 700 ribu. Ini harga termurah,” ujarnya. Harga yang ditawarkan Ridwan memang tergolong murah karena di tempat lain ada yang membandrol pohon pinang hingga Rp 1 juta per pohon. –Diana Runtu

Pelatihan Indonesia Digital Learning

Dalam mewujudkan Kota Denpasar sebagai Kota Digital Society, Telkom melakukan pengembangan masyarakat digital melalui pelatihan kepada guru-guru dengan sertifikasi internasional. Kegiatan ini bekerja sama dengan Intel Indonesia Corporation (Intel) dan Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga Kota Denpasar. Acara yang diselenggarakan berupa seminar dan pelatihan Indonesia Digital Learning (IDL) bagi guru di Kota Denpasar dan dibuka Kadisdikpora Kota Denpasar Ir. Gusti Ngurah Eddy Mulya, S.E., M.Si, Selasa (12/8). GM Witel Bali Selatan, I Gusti Bagus Ranuh mengatakan seminar diikuti 300 guru, sedangkan pelatihan diikuti 100 guru. Menurut Ranuh, pengenalan dan penguasaan guru terhadap IT sangat penting. Jika guru dapat terus meningkatkan pengembangan IT termasuk metode pengajarannya, otomatis akan mendorong siswanya juga untuk menguasai IT. Di sisi lain, penguasaan IT penting bagi siswa agar nanti setelah memasuki usia kerja bisa sukses dalam menghadapi persaingan yang semakin ketat. Eddy Mulya menambahkan program ini nanti akan menjadikan guru lebih kreatif. Tiap guru yang ikut pelatihan diharuskan menularkan ilmunya kepada guru-guru lain yang belum ikut pelatihan. Business Development Manager Intel Indonesia Corporation, Ganis Samoedra Muharyono menjelaskan dalam implementasi Pembelajaran Abad 21, Intel bersama mitranya berkolaborasi memberikan solusi edukasi digital. --Ngurah Budi

11th Anniversary House of dura Bali

Banjir Diskon dan Hadiah Tak kurang dari 150 pelanggan setia memadati Klinik Kecantikan House of dura Bali yang berlokasi di Jalan Tukad Yeh Ho No. 8 Renon, Denpasar, Minggu (10/8). Di hari jadinya yang ke-11 tersebut, House of dura Bali mengadakan gathering yang dikemas sederhana, namun tetap banjir diskon dan hadiah. Khusus hari itu, ditawarkan pembelian perawatan dengan harga promo, yakni diskon 50% untuk program Executive Facial (Dura Micropeel, Oxypure, Peeling, Dura 3 Magic Step, Dura Acne Program) yang merupakan perawatan best seller di House of Dura Bali; diskon 40% untuk bleaching gigi dengan teknologi terbaru, free scaling gigi (pem-

Tim House of dura Bali

bersihan karang gigi); diskon 50% untuk semua perawatan di Dura Salon. Para pelanggan yang melakukan transaksi pembelian perawatan dengan jumlah tertentu saat itu, juga mendapatkan undian berhadiah langsung. “Saat ini, promo yang masih berlaku hingga

akhir Agustus 2014 adalah diskon 40% bleaching gigi,” ujar Manajer Operasional House of dura Bali, Luh Widnyani. Dengan moto The Beginning to Endless Beauty, House of Dura tak henti-hentinya membuat terobosan baru di bidang kecantikan dengan fasilitas teknologi mukhtahir, serta memberikan kenyamanan pelayanan dan transaksi kepada pelanggannya. Pelanggan yang sudah mengantongi D’card sebagai sistem member (keanggotaan) yang diberlakukan di seluruh House of dura di

Indonesia, memiliki lebih banyak keuntungan. “Jika customer membeli atau mengisi voucer D’card, maka akan mendapatkan free perawatan, dan penambahan saldo perawatan. Dengan D’card ini customer juga mendapatkan reward point yang dapat ditukarkan dengan berbagai hadiah,” jelasnya. Klinik Kecantikan ini juga dilengkapi dengan salon, serta fasilitas pelayanan bedah mulut dan gigi oleh dokter spesialis. Hadir dalam acara tersebut, Manager Networking Duraskin Indonesia, Tan Eva Syarif, perwakilan House of dura seluruh Indonesia, dan owner House of

dura Bali, pasutri Rustam dan Farida yang turut membaur dalam suasana kekeluargaan. “Kami berterima kasih kepada pelanggan setia yang sudah hadir dalam acara ini, dan terimakasih pula telah mempercayakan pelayanan perawatan kecantikannya kepada kami,” ucap Luh Widnyani. Hal senada dilontarkan Tan Eva Syarif. Ia juga berharap di usia yang ke-11 ini House of Dura Bali terus meningkatkan pelayanan untuk bisa menjadi lebih baik lagi, makin maju dan berkembang hingga menjadi klinik kecantikan yang terlengkap dan ternyaman di Bali. –bns/ten

Gathering yang dihadiri pelanggan setia House of dura Bali


What’s Up

24

18 - 24 Agustus 2014

LP2B Bali Diakui Indonesian Seafarers Unions

Sebagai Lembaga Penyuplai Kandidat Kapal Pesiar Terkemuka Nama LP2B Bali memang sudah akrab bagi masyarakat Gianyar dan Negara khususnya, Bali umumnya. Kiprahnya sudah diakui tak sebatas di tingkat lokal tetapi juga secara nasional. Ini terlihat dari pengakuan ISU (Indonesian Seafarers Unions) bahwa LP2B adalah salah satu lembaga terkemuka dalam penyuplai kandidat (tenaga kerja) untuk bekerja di kapal pesiar.

Gedung LP2B Bali Kebo Iwa

Dedek Arimbawa, S.H.

S

eperti yang diakui Dirut LP2B Bali Dedek Arimbawa, S.H., pengakuan ISU tak lepas dari kiprah kampus yang didirikan sejak tahun 1999 ini. Sebagai sekolah perhotelan dan kapal pesiar pertama di Bali Timur, LP2B mampu menunjukkan kredibilitasnya sebagai kampus yang mampu mencetak tenaga kerja kompetitif dan siap bersaing. “Kami memberikan bukti bukan janji. Masyarakat percaya kepada LP2B karena keberhasilan kampus yang telah memberangkatkan lebih dari 1.000 kandidat ke perusahaan kapal pesiar di seluruh dunia. Kualitas kami yang menumbuhkan kepercayaan masyarakat, di samping berbagai prestasi yang kami raih selama 15 tahun berkiprah,” jelas Dedek Arimbawa. Kampus terfavorit bagi generasi muda cerdas dan kreatif ini dari tahun ke tahun mengukir prestasi cukup membanggakan. LP2B ditetapkan sebagai lembaga terakreditasi A yang meraih penghargaan dari Kementerian Tenaga Kerja RI sebagai Kampus Berprestasi, satu-satunya kampus di Kabupaten Gianyar yang memiliki izin penempatan kerja (PPTKIS) dan prestasi-prestasi lainnya. Melalui kurikulum yang tepat dan selalu disempurnakan mengacu pada SKKNI, pengajar yang kompeten dan profesional, dan sarana belajar-mengajar yang lengkap dan terkini, ditunjang dengan adanya LSP (Lembaga Sertifikasi Profesi) LP2B, maka LP2B siap mengantarkan SDM yang kompeten (dibuktikan dengan Sertifikat Kompetensi lewat Uji Kompetensi) sehingga mampu berkompetisi dalam merebut peluang kerja dan berwirausaha, baik di dalam dan di luar negeri. Mahasiswa LP2B disediakan fasilitas pelatihan/training di beberapa hotel berbintang milik keluarga besar Pande Beng Gianyar yang berlokasi di Ubud, Kuta dan Jimbaran. “Selain training di hotel-hotel milik kampus, kami juga bekerjasama dengan puluhan hotel berbintang di dalam dan luar negeri,” kata Dedek Arimbawa. Partner dengan Agen Cruise Partner LP2B dalam pengiriman kandidat untuk bekerja di per­hotelan

Pejabat setempat saat wisuda mahasiswa LP2B Bali

dan kapal pesiar di antaranya dengan PT. D’Marine, PT. Arimbawa Wiyanthi dan PT. Meranti Magsaysay sebagai agen kapal pesiar seperti TUIMein Schiff Cruise Line, Ibero Cruise Line, Princess Cruise Line, Aida Cruise Line, Costa Cruise Line, dll. Selama berkiprah, LP2B telah meluluskan ribuan naker profesional dan 95% sudah bekerja tersebar di berbagai hotel berbintang di dalam dan luar negeri serta kapal pesiar. “Saat ini dibutuhkan banyak kandidat yang akan walk interview oleh user. Saya berharap kesempatan ini bisa dimanfaatkan sebaik-baiknya dan kami memfasilitasi dengan berbagai kemudahan termasuk biaya yang sangat terjangkau. Apalagi sarana dan prasarana belajar sudah dilengkapi sesuai standar internasional,” tambah Dedek Arimbawa. Meningkat Tajam LP2B saat ini membuka pendaftaran bagi mahasiswa baru untuk gelombang III. Jumlah mahasiswa yang sudah belajar saat ini (gelombang I dan II) mencapai 300an orang. Ditargetkan sampai gelombang IV, jumlah mahasiswa mencapai 400 orang. Mahasiswa baru ada yang berasal dari Denpasar, Sumbawa dan Lombok. “Jumlah mahasiswa baru meningkat tajam dibanding tahun-tahun sebelumnya. Ini memacu kita untuk terus meningkatkan kualitas performance,” lanjut Dedek Arimbawa. Dedek mengingatkan, saat ini peluang bekerja di kapal pesiar sangat terbuka lebar karena banyak perusahaan kapal pesiar menambah jumlah armada mereka sehingga makin banyak tenaga kerja yang dibutuhkan. LP2B sendiri cukup kewalahan memenuhi permintaan user khususnya untuk posisi cook dan spa therapist. Minimnya minat generasi muda bekerja sebagai cook dan spa therapist di kapal pesiar lebih banyak karena kurang mampu dalam berkomunikasi (Bahasa Inggris) dan skill yang kurang. “Padahal gaji

sebagai cook dan spa therapist cukup besar. Kurangnya minat disebabkan kurangnya kepercayaan diri dan attitude (kedisiplinan) serta etos kerja mereka yang rendah,” tegas Dedek Arimbawa. LP2B yang memiliki 4 kampus (3 di Gianyar dan 1 di Negara) menawarkan banyak kelebihan yakni menyediakan gratis table manner di hotel bintang 5, gratis kursus Bahasa Inggris sampai bisa diterima di kapal pesiar, gratis fitness, bursa kerja di hotel dalam dan luar negeri (termasuk kapal pesiar) serta gratis jalan-jalan ke Singapura dan Thailand bagi siswa berprestasi. Baru-baru ini LP2B melangsungkan wisuda 194 orang. LP2B Informatika Selain LP2B Bali, Dedek Arimbawa juga mendirikan LP2B Informatika. Sekolah ini berdiri tahun 2.000. Melalui kurikulum yang tepat dan selalu disempurnakan, pengajar yang profesional, sarana belajar-mengajar yang lengkap dan terkini, LP2B Informatika siap mengantarkan SDM untuk berkompetisi dalam merebut peluang kerja dan berwirausaha.

Gedung LP2B Negara

Gedung LP2B Informatika “Ke depan kami akan menjadikan LP2B Informatika sebagai sekolah tinggi yang siap melahirkan sarjanasarjana informatika yang andal dan siap pakai. Apalagi prospek lulusan bidang informatika sangat cepat diserap dunia kerja,” tutur Dedek Arimbawa yang juga Dirut LP2B Informatika ini. LP2B Informatika satu-satunya kampus komputer dengan gedung termegah di lokasi premium dan

strategis di Gianyar, dilengkapi dengan laboratorium terlengkap dan modern, peralatan terbaru yang digunakan di dunia internasional. Menggunakan software terbaru dalam perkuliahannya dan di-support oleh owner, baik dari bidang perhotelan dan pariwisata maupun komputer informatika seperti carrer center, advertizing, dsb. Perkuliahan di ruangan ber-AC, jaringan free WiFi access, dll. –ari

Program LP2B Bali Meliputi program 1 Tahun (Basic), 2 Tahun (Middle) dan 3 Tahun (Upper) serta program Cruise ­Line­ (1 Tahun). Materi perkuliahan: Tata Boga (Cook), Tata Hidangan (FB), House Keeping, Front Office, Bakery & Pastry, Spa Therapist, Bartending, Galley Steward, Hotel Management, Culinary Butler, dsb. Alamat : -Jln. Kebo Iwa No. 21 Gianyar, tlp. (0361) 943671 -Jln. Dharma Giri No. 23 Gianyar, tlp. (0361) 2088153 -Jln. Raya Negara Gilimanuk (Banyu Biru) Km-4, tlp. (0365) 4731558 Website: www.lp2bbali.com Email: lp2b.kapalpesiar@gmail.com, recruitment@lp2bbali.com

Program LP2B Informatika Materi perkuliahan: Desain Grafis dan Multimedia, Teknik Komputer, Komputer Informatika, Manajemen Bisnis & Akuntansi serta Administrasi Rumah Sakit. Alamat: -Kampus A, Jln. Kebo Iwa No. 21 Gianyar Bali, tlp. (0361) 943671. -Kampus B, Jln Dharma Giri No. 99 Gianyar Bali, tlp. (0361) 8958258. Email: info@lp2b-informatika.com, www.lp2b-informatika.com.


Turn static files into dynamic content formats.

Create a flipbook
Tokoh Edisi 810 | Tokoh by e-Paper KMB - Issuu