3 - 9 Maret 2014
24
Lukisan Misterius
Dihapus untuk Hindari Syirik Berhari-hari keluarga Ny. Heriyah (45) tak bisa istirahat gara-gara kemunculan lukisan misterius yang memenuhi hampir sebagian besar dinding dalam rumahnya, paskabanjir pekan lalu. Sejak Senin (24/2) rumahnya ‘diserbu’ masyarakat yang ingin melihat lukisan abstrak itu, bahkan hingga malam pukul 22.00. Itupun kalau kalau tidak ‘diusir’, warga masih akan terus berdatangan hingga tengah malam.
W
arga datang mengalir nyaris tak pernah putus, dari pagi hingga tengah malam, membuat Heriyah dan keluarganya tak tenang. Istirahat tak bisa, makan pun tak tenang. Belum lagi setiap malam Heriyah dan keluarganya terpaksa ngepel lantai karena rumah menjadi sangat kotor. Tidak heran kalau mereka stres dan akhirnya memutuskan menghapus lukisan itu. “Mereka masuk pakai sepatu atau sandal. Karena masih hujan, di luar becek, jadi masuk dengan sepatu atau sandal kotor. Mama setiap malam ngepel. Kasihan, capek banget, pengunjung datang tak ada habisnya,” ujar Aslan (16), putra Heriyah. Di hari pertama, Heriyah yang masih antusias karena terkejut dan heran dengan kehadiran lukisan menakjubkan itu di rumahnya, bersemangat melayani orang-orang yang datang ke rumahnya. Sebagai tuan rumah yang baik, tentu Heriyah dengan semangat bercerita tentang lukisan yang menurutnya tidak diketahui asal-usulnya karena saat ia tinggalkan rumahnya untuk mengungsi, lukisan itu belum ada di dinding. Tapi begitu banyak orang yang datang membuat Heriyah yang sudah 12 tahun menempati rumahnya di Jl Cililitan Kecil I Gang Rawa Sepat, Cawang, Jakarta Timur, merasa lelah. Apalagi ia harus menjelaskan keterangan yang sama kepada orang yang datang silih berganti. Ia pun kewalahan. Mereka sekeluarga tak bisa beristirahat.
ing dalam rumahnya yang berluas 45 M2 itu, Rabu (26/2). Ini adalah kedua kalinya ia mengecat dinding rumahnya, karena sebelumnya ia baru saja mengecat dinding dalam rumahnya dengan cat minyak untuk menghilangkan bekas-bekas banjir pada Januari dan Februari lalu. Ketika banjir mencapai puncaknya, rumahnya terendam setinggi 7 meter. Bahkan air melewati lantai dua bangunan rumah. Sempat diduga, cat minyak menjadi sebab munculnya bercak-bercak itu. Namun, Heriyah membantah, karena mengecat tembok dengan cat minyak sudah berkali-kali dilakukannya. Hal itu karena kawasan rumahnya di Cililitan Kecil (penghubung antara Jakarta Timur-Selatan), termasuk langganan banjir tahunan, Jika banjir datang, apalagi banjir lima tahunan yang tingginya bisa mencapai 7-8 meter, lumpur yang tersisa bisa mencapai tembok teratas. Karenanya Heriyah memilih cat minyak Antusiasme dan rasa penasaran warga yang datang, memang sulit dibendung. Ketika rumah ditutup rapat-rapat karena penghuni ingin istirahat, para warga yang datang memanggil-manggil namanya. Bahkan tega menggedorgedor pintu, hanya karena penasaran ingin melihat gambar-gambar itu. Sampai-sampai putra Heriyah memohon pengertian pengunjung karena ibunya yang tidak bisa istirahat. “Mama tidur di lantai atas, kepalanya pusing,” ucap Aslan. Masyarakat yang datang pun beragam, bukan hanya dari warga sekitar tapi juga ada yang datang dari jauh. Bahkan Camat dan Lurah Kramat Jati dan staf pun menyempatkan diri berkunjung. Begitu juga rombongan guru-guru sekolah sekitar. Tapi tekad Heriyah semakin bulat untuk menghapus lukisan misterius itu adalah tingkah sejumlah pengunjung yang menurutnya mengarah pada syirik. Sepertinya, mereka datang bukan sekadar memuaskan rasa penasaran, namun punya maksud lain. Dia memergoki beberapa pengunjung mengelupas cat tembok yang ada lukisannya, kemudian ditaruh di dompet. “Ada orang yang mengopek cat tembok rumah saya, lalu menyimpan di dompet. Itu maksudnya apa?? Apa untuk jimat? Saya tidak tahu. Tapi itu kan musyrik dan syirik. Saya tidak mau begitu. Maka saya putuskan untuk segera mengecat rumah kami. Saya tidak ingin kehadiran lukisan yang tak jelas asal usulnya ini malah menjadi musyrik,” tandas Hariyah yang akhirnya memutuskan menghapus semua lukisan yang ada dengan mengecat ulang dind-
Ny. Heriyah
itu bukan hanya pada tembok tapi juga pada dinding keramik, bahkan lemari makanan di dapur rumahnya. TANDA AKHIR ZAMAN Kejadian ini, tutur Heriyah, diketahui dia dan keluarganya pada Minggu sore (23/2), sepulang dari mengungsi. Sabtu (22/2), banjir di rumahnya mencapai 1,5 meter. “Jumat kami mendapat kabar bahwa banjir akan datang lagi, karena bendungan Katulampa di Bogor, Jawa Barat, sudah siaga dua. Jadi kami pun mengungsi. Tapi sebelum pergi, saya mengunci semua pintu dan jendela, “ucap janda tujuh anak ini. Ketika banjir surut pada Minggu sore, mereka pun kembali ke rumah. Hanya saja ketika itu PLN masih mematikan listrik sekitar. Walhasil mereka dengan penerangan seadanya membersihkan lumpur di rumah. Karena penerangan yang seadanya pula, saat itu Heriyah maupun anakanaknya tidak ngeh dengan adanya bercak-bercak di hampir seluruh dind-
lukisan. Begitu banyak gambar di sana. Lukisan abstrak tersebut jika diperhatikan benar, berbentuk macam-macam gambar, di antaranya, gambar gunung, wanita, sepasang manusia yang sedang bersetubuh, janin-janin bayi, macammacam binatang, hingga tulisan lafadz Allah. Seisi rumah Heriyah pun geger. Info ini pun menyebar ke para tetangga yang langsung menyerbu rumah Heriyah. “Daerah sini masuk kawasan langganan banjir. Selama ini belum pernah ada kejadian seperti ini,” ujar seorang ibu, tetangga Heriyah. “Awalnya saya nggak ngeh itu gambar apa, soalnya nggak jelas. Tapi lama-lama dipandangi, kok, jadi ada bentuknya, ya. Ada gambar binatang, janin, gambar perempuan. Saya nggak ngerti kok bisa jadi begitu. Rumah saya juga berkali-kali kena banjir, nggak pernah ada yang kayak gini,” ujar ibu itu terheran-heran. Fenomena ini memang luar biasa. Entah cat jenis apa yang digunakan, yang pasti gambar itu sangat sulit dihapus. Lukisan yang menempel di dinding kramik pun terpaksa harus dihapus dengan thinner, tapi itupun tak bisa benar-benar bersih. Sementara tinta yang menempel di lemari makan almunium, sulit dihilangkan. Seorang Habib datang ke lokasi. Kebetulan saat itu masih ada beberapa warga yang datang berkunjung. Dari Habib inilah, Heriyah dan keluarganya juga sejumlah warga yang ada, mendapat penjelasan. Keseluruhan gambar-gambar itu, menurut Habib sebagaimana diceritakan Wawan, salah seorang tetangga Heriyah, menggambarkan kehidupan yang ada sekarang, juga tentang akhir zaman. “Ini lukisan orang bersetubuh ini menggambarkan tentang kemaksiatan, pergaulan bebas. Janin-janin bayi
Rumah Heriyah di Cililitan Kecil Jakarta Timur
dengan pertimbangan, dengan dicat minyak, lumpur yang menempel akibat banjir bisa lebih mudah dibersihkan. Dari pengalamannya selama bolakbalik terkena banjir, cat minyak yang digunakannya tak pernah bereaksi demikian. Itu sebabnya ia tak yakin kalau penyebab munculnya gambar-gambar itu adalah cat minyak. Apalagi, lukisan
Lukisan misterius di dinding rumah Heriyah tiba-tiba muncul seusai banjir
ing rumah. “Waktu itu kami kira itu adalah lumpur sisa banjir. Karena sudah sore, dan tidak ada penerangan, jadi tidak dibersihkan,” tambah Aslan. Betapa terkejutnya mereka ketika bangun pagi, listrik sudah menyala, melihat bercak-bercak di dinding yang dikira lumpur itu, ternyata adalah lukisan. Rumah mereka berubah menjadi gallery
ini bercerita tentang bayi-bayi yang dibuang akibat pergaulan bebas. Habib banyak bercerita. Menurutnya, gambar ini merupakan peringatan Tuhan kepada manusia, apa yang akan mereka dapat jika menjalani hidup dengan penuh kesesatan,” tutur Wawan. Habib sempat meminta pada ibunya untuk tidak buru-buru menghapus lukisan itu, dan membiarkan masyarakat melihat dan merenungkannya. Setidaknya selama 3 hari. Begitu juga masyarakat ada yang meminta agar Heriyah tetap mempertahankan lukisan unik itu. Namun, Heriyah menolaknya. Salah satu yang paling terasa adalah kehadiran lukisan itu telah menganggu ketenangan keluarganya. Yah, hal ini memang bisa dimaklumi, karena rumahnya kerap digedor warga yang datang, padahal ia dan keluarganya tengah beristirahat. -Diana Runtu
EKSPRESSO
2
3 - 9 Maret 2014
GORO-GORO
klik: www.tokoh.co.id mingguantokoh
Sok Tahu @mingguantokoh
Putu Wijaya
Kini Saatnya Bertindak Jika nyawa anak itu penting, orang tua pastilah tak ingin mengorbankan nyawa anaknya. Bukan demikian? Tapi, ketika harus mengantarkan anaknya, ke sekolah misalnya, sebagian orang tua lebih rela memberikan anak yang di bawah umur untuk mengendarai sepeda motor atau mobil ke sekolah. Meski sadar bahwa itu melanggar dan membahayakan nyawa anaknya, mereka toh tetap tak mau repot. Jika kelak sistem hukum kita yang sedang dikaji itu bisa memidanakan orangtua dari anak di bawah umur yang menjadi pelaku kecelakaan lalu lintas, apakah orangtua masih tetap tak ambil pusing pada anaknya? Jika tidak, bagus meski ironis. Ya ironis karena orangtua lebih mementingkan dirinya ketimbang anaknya. Jika peduli pada nyawa anak, kini saatnya orangtua bertindak. Sekolah punya peran penting dalam hal ini. Penegakan aturan sekolah dalam hal pelarangan meng gunakan kendaraan bermotor bagi
O
M G
siswa di bawah umur harus dijalan kan secara tegas. Jika memungkinkan, pihak sekolah menyediakan angkutan antar-jemput bagi siswanya. TK, SD, dan SMP Raj Yamuna bisa menjadi contoh dalam hal ini. Domisili siswa dipetakan, jalur angkutan pun ditetap kan. Dengan demikian, siswa tak akan terlalu lama di perjalanan. Solusi lain adalah menggunakan sistem pool. Ada satu lokasi yang menjadi titik konsen trasi siswa berkumpul. Orangtua bisa mengantarkan anaknya hingga ke titik konsentrasi itu dan menjemputnya di tempat yang sama. Pemerintah juga turut andil dalam menyelesaikan masalah ini. Beberapa tahun silam, SMA 3 Denpasar menjadi satu-satunya sekolah yang menerap kan aturan bersepeda ke sekolah, naik angkutan umum, atau diantar. Namun, dalam perkembangannya, karena aturan itu, sekolah itu tak diminati lulusan SMP. Calon siswa mau ber gabung jika mereka boleh naik motor ke sekolah. Sekolah jadi tak berdaya. Pemerintah pun tak berupaya me nyelamatkan ke
Kekacauan Dalam Sehari Pagi itu saat kami bangun tidur, jam sudah menunjukkan pukul 06.00. Kami merasa kelabakan karena terlambat bangun. Segera kami ambil air wudu dan salat Subuh. Saya lihat, cucian satu bak plastik berdiameter satu meter penuh. Belum ada yang sempat dicuci. Sebenarnya kami biasa mencuci sore setelah Asar atau pulang kantor. Tetapi kemarin sesampai dari kantor saya kecapekan dan istri saya juga kerepotan mengurus bayi kami yang masih belum genap satu tahun. Seakan berlomba dengan waktu, saya cuci popok beberapa lembar dan sedikit pakaian. Sementara istri saya layaknya peserta lomba Master Chef dengan waktu yang sangat sempit berusaha secepat yang dia bisa, menyiapkan sarapan terutama untuk si bayi. Saya sedang mengucek pakaian. ”Yaaah, gasnya habis nih,” teriak isteri saya dari dapur. Saya bergegas ke dapur, lalu melepas selang di tabung gas. Saya buka karetnya, saya ambil uang di atas meja sekenanya. Saya lari ke warung yang tak jauh dari tempat tinggal kami. Sialan, lagi tak ada stok. Saya pindah ke warung pojok jalan, belum buka. Terpaksa saya lari balik ke rumah, menghidupkan motor untuk mencari gas LPG secepatnya. Dapat di warung sederhana. Celakanya, waktu bayar ternyata uang saya kurang Rp 1.000. Saya minta bawa dulu gasnya, segera akan saya antar kekurangannya. Selang gas saya pasang. Alhamdulillah lancar. Seringkali kalau pasang selang ini, tak bisa langsung menyala. Apalagi kalau memasangnya pagi waktu mau berangkat ke kantor. Ada saja masalah. Sudah pukul 06.45. Saya bilang sama istri saya, ”Nyucinya nanti aja ya sayang, kesiangan.” ”Ya, nggak apa-apa,” sahutnya. Saya segera mandi. Saya tidak sempat ambil sabun mandi di lemari. Gantinya,
mingguan berita wanita Penerbit PT Tarukan Media Dharma Terbit sejak 9 November 1998
saya mandi dengan sabun cuci. Kemudian saya siapkan air dingin dicampur air panas untuk memandikan bayi. Lalu saya siapkan popok, bedak, dan perlengkapan si bayi. Si bayi sudah bersih, tinggal merias seelok mungkin. Istri mengingatkan saya, “Jangan sarapan dulu. Jemput pengasuh nya saja.” Saya tergagap menjawab, “Iya sayang.” Padahal saya sangat lapar. Saya bergegas pergi menjemput si pengasuh bayi kami. Oalah, si ibu pengasuh belum balik dari pasar, kata suaminya. Saya bersungutsungut. Gaji tak bisa telat tiap awal bulan, cuma jaga bayi, susu dan bubur sudah siap sebelumnya, jaga hanya sampai pukul 14.00, begini abainya ibu ini. Ibu itu datang juga. Saya bonceng dia ke rumah. Alham dulillah, bayi kami bobok lagi. Pulas sekali. Lalu kesempatan itu saya manfaatkan sara pan pagi. Beres. Sekarang menunggu istri bersiap untuk saya antar ke tempat dia mengajar. Selesai urusan di rumah. Kami segera berangkat. Ngebut, ngebut, dan ngebut. Baru 500 m berja lan, motor kami terdengar sesenggukan. ”Kenapa nih motor ayah?” tanya istri saya. ”Tak tahu.” Mogok. Ah, sebal. Istri saya ngomel. Sudah kesiangan, motor mogok, sebal. Kemudian saya buka tangkinya. Bensin habis. Kami isi bensin di tempat terdekat. Aduh, sialan lagi, saya lupa bawa dom
bijakan itu dengan menerapkan aturan serupa bagi seluruh sekolah negeri di Denpasar. Jika saja aturan diberlaku kan di seluruh sekolah negeri, upaya peduli lingkungan karena terjadinya pemanasan global pun bukan lagi sekadar kampanye tetapi menjadi langkah nyata. Selain itu, ketersediaan angkutan umum yang merata menjadi sebuah tuntutan yang mutlak dipenuhi. Jika sesekali melintas di depan SMP 9 Denpasar pada jam sekolah, kita bisa menemui siswa yang menumpang bus Sarbagita. Itu artinya, mulai ada perubahan dari perilaku orangtua dan anak untuk menggunakan ang kutan umum ke sekolah. Jika tak ada kendaraan penghubung antara rumah dan halte sedangkan di depan sekolah dilintasi angkutan umum, tak ada salahnya orangtua mengantarkan anaknya hingga halte dan menjem putnya di halte yang sama. Karena itu, sosialisasi mengenai trayek dan lokasi halte menjadi penting dilakukan agar masyarakat memiliki informasi yang memadai. Barangkali mereka tak menggunakan angkutan umum juga karena kurangnya informasi ini?
pet. Uang tak bawa. Hanya ada SIM sama KTP di saku baju saya. Saya bisiki istri, “Bawa uang nggak sayang?” Ketinggalan di rumah. ”Pak, tolong pegang dulu SIM sama KTP saya ini. Saya lupa bawa uang. Sebentar lagi, saya baya,” kataku sama si pedagang bensin eceran. Tampaknya Bapak itu tidak begitu percaya dengan ucapan saya. Tapi masak iya? Saya sudah jaminkan KTP, SIM yang masih berlaku. Saya cuek saja. Bensin sudah terisi, KTP dan SIM sudah di tangan dia. Saya pergi. Persis pukul 07.30 kami sampai di sekolah istri saya. Kini saya harus balik ke rumah ambil uang, bayar bensin, tarik KTP dan SIM ke pedagang bensin. Ah, masalah lagi. Saya ditelepon atasan agar segera ke kantor. Ada yang harus diselesaikan segera. Saya menurut. Baru bebas dari kesibukan kantor pada saat jeda istirahat siang pukul 12.00. Dengan tubuh terasa remuk, lelah, letih, lesu, saya ke rumah ambil uang Rp 6.000 kemudian pergi ke tempat tadi untuk bayar bensin dan mencabut kembali KTP dan SIM saya. Saya makan dengan lahap dihibur celotehan kriuk bayi kami yang cantik. Saya mendesah di pembaringan, “Tiap pagi, tiap hari menghadapi kondisi ini. Sampai kapan ya Tuhan? Tinggal di rumah kontrakan dengan gaji sebagai PNS yang pas-pasan. Gaji istri juga hanya cukup untuk dua kotak susu dan bubur bayi. Syukurnya saya masih mampu menghibur diri. Bersabar adalah batas terdekat saya dengan Tuhan.” Syamsudin M.
Bagi pembaca yang memiliki kisah unik, seru, menyebalkan, atau mengasyikkan dan ingin berbagi dengan pembaca lain nya, silakan kirim kisah Anda ke redaksi@tokoh.co.id. Pan jang naskah maksimal 3.000 karakter. Sertakan juga nama dan no kontak Anda. Naskah yang muat di rubrik “OMG” akan mendapat bingkisan Tokoh. Info lebih lanjut, silakan hubungi Redaksi Mingguan Tokoh (0361) 425373
Banjir dan gunung meletus sambungmenyambung. Tiap tahun harus dihadapi sebagai bencana nasional, Amat jadi dapat
inspirasi. “Sebetulnya banjir dan gunung meletus itu bukan bencana,” kata Amat kepada tukang warung. “Lho, korbannya banyak dan kerugiannya ratusan miliar, Pak Amat!” “Betul! Bahkan triliunan, kalau kerugian moril juga dihitung. Belum dampak ke depannya. Bisa sampai pulu han tahun. Letusan Gunung Agung, tahun 1960-an, baru setelah 30 atau 40 tahun ada gunanya untuk kesuburan dan pasirnya untuk pembangunan.” “Memang begitu Pak Amat. Makanya diangkat jadi bencana nasional!” Amat menggeleng. “Mau diangkat jadi apa pun, itu, terserah! Tapi itu bukan bencana!” Tukang warung bingung. “Bingung kan?” Tukang warung menggeleng-gelengkan kepala. Ia menatap Amat seperti melihat setan. Amat melanjutkan dengan tenang. “Saya bilang bukan bencana, karena kita kan sebe narnya sudah tahu, tiap musim hujan pasti air sungai meluap. Ada memang faktor alam, karena ozon bolong, iklim berubah. Tapi banjir lebih banyak disebabkan peri laku manusia. Buang sampah seenaknya di sungai. Tanah hutan resapan air dijadikan real estate, membangun rumah-rumah liar di sepanjang tepi sungai dibiarkan saja. Ya akibatnya begitu sekarang. Malah saya dengar korban langganan banjir menolak dipindahkan, karena kalau kebanjiran kan dapat bantuan. Begitu! Makanya harus ditertibkan!” Tukang warung masih penasaran. “Letusan gunung juga bukan bencana alam?” Amat menggeleng yakin. “Nah itu dia, dari SD kita sudah diajarkan, negeri kita ini banyak gunung berapi yang masih aktif. Lha kenapa bikin rumah dilereng gunung yang setiap waktu bisa je blug? Jadi salah kita, bukan ulah alam. Ini bukan bencana tapi akibat ulah kita sendiri!” Tukang warung tampak tidak setuju dengan pendapat Amat. Ia menyibukkan dirinya, menghindar. Malam hari, Amat membentangkan lagi ketidaksetu juannya pada istilah bencana pada istrinya. Diskusi ter putus karena tetangga bertamu. “Pak Amat, saya punya berita penting.” Amat dan istrinya langsung memperhatikan. “Berita apa, Pak?” “Begini, saya dapat pikiran baru. Kenapa kita salah kaprah menanggapi banjir dan gunung meletus itu ben cana? Itu kan kesalahan dan keteledoran kita sendiri penyebabnya?” Dan seterusnya. Persis yang dikatakan Amat pada tukang warung. Tapi ia mengatakan begitu bersemangat seakan-akan itu hasil pemikirannya. Bu Amat tak tahan, langsung memotong. “Pak Made, itu disebut bencana, maksudnya untuk mengingatkan manusia, itulah akibatnya kalau lupa merawat alam!” Pak Made tertegun. Tak berapa lama ia pamit. Amat pandang-pandangan dengan istrinya. Pagi hari, waktu Amat berangkat ke rumah Ami, tu kang warung memanggil. “Pak Amat, maaf saya tidak setuju dengan Pak Amat. Banjir dan letusan gunung itu memang bencana. Disebut bencana karena kita manusia lupa merawat alam!”
Pemimpin Umum/Pemimpin Redaksi: Ratna Hidayati. Redaktur Pelaksana: Ngurah Budi. Pemimpin Perusahaan: IDK Suwantara. Staf Redaksi/Pemasaran Denpasar: IG.A. Sri Ardhini, Wirati Astiti, Sagung Inten, Tini Dwi Rahayu. Redaksi/Pemasaran Jakarta: Diana Runtu, Sri Iswati. NTB: Naniek Dwi Surahmi. Desain Grafis: IDN Alit Budiartha, I Made Ary Supratman. Sirkulasi: Kadek Sepi Purnama. Sekretariat: Ayu Agustini, Putu Agus Mariantara, Hariyono. Alamat Redaksi/Iklan Denpasar: Gedung Pers Bali K. Nadha, Lantai III, Jalan Kebo Iwa 63 A Denpasar 80117–Telepon (0361) 425373, 7402414, 416676–Faksimile (0361) 425373. Alamat Redaksi/Iklan/Sirkulasi Jakarta: Jalan Pal merah Barat 21 G Jakarta Pusat 10270–Telepon (021) 5357603 - Faksimile (021) 5357605. NTB: Jalan Bangau No.15 Cakranegara, Mataram– Telepon (0370) 639543–Faksimile (0370) 628257. Jawa Timur: Permata Darmo Bintoro, Jalan Taman Ketampon 22-23 Surabaya–Telepon (031) 5633456–Faksimile (031) 5675240. Surat Elektronik: redaksi@tokoh.co.id, iklan@tokoh.co.id. Website: www.tokoh.co.id. Bank: BCA Cabang Palmerah Barat Jakarta. Nomor Rekening: PT Tarukan Media Dharma: 229.3006644 Percetakan: BP Jalan Kebo Iwa 63 A Denpasar.
3 - 9 Maret 2014
I N F O TO R I A L
23
Peningkatan Inovasi Kain Tradisional Endek Wakil Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (Wamen PAN RB) Eko Prasojo didampingi Deputi Pelayanan Pu blik Kemen PAN RB Mirawati Soejono, meng apresiasi berbagai inovasi pelayanan publik yang dilakukan oleh Pemerintah Kota Den pasar. Menurut mereka, peningkatan kualitas pelayanan publik merupakan muara dari se luruh proses perubahan dan harus dirasakan langsung dampaknya oleh masyarakat.
Eko Prasojo
IB Rai Dharmawijaya Mantra
eberapa inovasi kreatif yang telah dilaksanakan Pemer intah Kota Denpasar, salah satunya adalah inovasi kain tenun tradisional Bali, yaitu endek. Endek dapat dikembangkan kuali tas produknya secara kreatif dan inovatif. Hal ini terungkap saat Wali Kota Denpasar IB Rai Dharmawi jaya Mantra saat menerima Wamen PANRB di Graha Sewaka Dharma, Lumintang, Denpasar. Untuk menyelamatkan, memeli hara, melindungi dan mengembang kan warisan budaya adalah melalui inovasi dan kreativitas. Tujuan lainnya yakni untuk membangun ekonomi bangsa serta menciptakan ajang pertukaran pengetahuan, pengala man, informasi, konsultasi, edukasi, promosi dan transaksi. Ini berarti pula menggalang persatuan dan kesatuan bangsa melalu pendekatan kebudayaan dan kreativitas. Perekonomian masyarakat yang akhir-akhir ini terdesak karena sistem globalisasi, reformasi ekonomi, serta persaingan yang semakin ketat. Un tuk ini, ekonomi kreatif dan kearifan lokal sebagai alternatif perlu dikem bangkan. Ekonomi kreatif menurut Wali Kota Denpasar berarti bahwa wari san budaya dapat dikembangkan menjadi salah satu modal pengem bangan perekonomian Kota Den pasar, yang mampu memberikan kontribusi besar kepada kehidupan masyarakat. Pengembangan kota kreatif nantinya, diharapkam mampu meng garap potensi budaya pertanian, pariwisata dan industri kerajinan yang berbasis pada budaya Bali. Salah satunya berupa inovasi produk lokal yaitu kain tenun ikat Bali atau yang lebih popular dengan sebutan endek. Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan I Wayan Gatra secara singkat menyampaikan tekstil tra disional yang indah disebut endek
ini, pada mulanya biasa dikenakan para orangtua dan para bangsawan Bali. Namun, dalam perkembangan nya endek banyak digunakan sebagai tekstil modern dan menjadi identitas budaya terpenting bagi seluruh masyarakat Bali. Nama endek mengacu pada ben tuk atau pola teknik yang digunakan dalam pembuatannya. Endek dalam kenyataannya sangat berbeda dari proses ikat yang sudah dilakukan secara luas di Indonesia. Desain dan kualitas endek masih menjadi prima dona industri tekstil dan produk tekstil di Bali. Sayangnya produksinya masih kalah saing dengan hasil produksi daerah lain di Indonesia. Kain endek sejatinya sudah dike nal sejak lama, salah satunya adalah Wastra Bali. Selanjutnya endek, bor dir dan songket sempat mengalami booming sekitar tahun 1980. Ketika itu antusiasme masyarakat tinggi untuk menggunakannya baik dalam kehidupan sehari- hari yang me nyangkut adat dan budaya serta keg iatan tertentu. Bahkan di era 1980-an tercatat merupakan kejayaan Pasar Kumbasari sebagai pusat penjualan endek di Kota Denpasar. Kadis Perindag I Wayan Gatra yang didampingi Kasi Bina Usaha Perdagangan Laxmy Saraswaty me maparkan perubahan pada bidang peraturan perundang-undangan,
B
yakni pemerintah Kota Denpasar menerbitkan surat keputusan ten tang pembentukan tim tekstil yang bertugas meningkatkan kemampuan menjawab tren pasar. Juga surat edaran Wali Kota, berisikan him bauan penggunaan endek sebagai seragam pada kantor swasta dan BUMD. Perubahan pada bidang pe layanan publik, dengan melibatkan sejumlah SKPD dalam program pengembangan endek. Sejauh ini telah menunjukkan peningkatan pelayanan kepada masyarakat. Ker jasama antar instansi dan lembaga yang memberikan hasil lebih baik, terlihat dari meningkatnya produksi endek dari tahun ke tahun untuk memenuhi permintaan pasar. Perubahan pada bidang organ isasi, dalam upaya pengembangan ekonomi lokal terutama budaya endek, Disperindag dan Dekranasda Kota Denpasar yang merupakan mo tor penggerak promosi produk lokal sejak tahun 2008. Disperindag bertugas dalam pen ingkatan produksi dan tingkat expenditure masyarakat untuk memenuhi permintaan pasar. Perubahan pada bidang SDM, yaitu program pem berdayaan pengrajin endek untuk meningkatkan ekonomi lokal Kota Denpasar, intas sektor yang me libatkan sejumlah SKPD. Perubahan pada pola pikir (mind set) dan budaya kerja (culture set) aparatur dengan upaya dan kerja keras seluruh pihak, baik pimpinan, staf maupun seluruh komponen masyarakat, bersama dalam program pemberdayaan pengrajin endek sekaligus juga meru pakan program untuk kesejahteraan masyarakat. - ard
Wamenpan saat mendapat informasi tentang endek
Rhea dan Suandewi anggota Asbes ketika membuka gerai endek
Program Pengembangan dan Pelestarian Endek yang telah Dijalankan Pemerintah Kota Denpasar yakni:
l l l l l l l l l l l l l
Terfasilitasinya sejumlah pengrajin industri endek melalui bantuan alat tenun sebanyak 24 buah dari tahun 2011 sampai dengan 2013. Pelatihan menenun yang diikuti oleh pengrajin endek Kota Denpasar Pelatihan desain, motif diikuti pengrajin endek di Kota Denpasar Kunjungan oleh Duta Endek Kota Denpasar ke pengrajin endek di Kota Denpasar. Penggunaan seragam endek bagi karyawan-karyawati di Kota Denpasar, sekolah, hotel, rumah sakit dan kantor –kantor BUMN Terbentuknya tim tekstil yang berperan memberikan masukan dan ide kreatif desain tenun , termasuk teknologi yang perlu dikembangkan untuk inovasi kedepannya. Terbentuknya Asosiasi Endek , Bordir dan Songket (Asbes) Kota Denpasar yang mewadahi para pengrajin melakukan penguatan kapasitas dan wawasan serta promosi yang terintegrasi. Meningkatnya peluang promosi dan akses pasar melalui pameran dagang di tingkat nasional, lokal dani nternasional sehingga produk endek dapat memiliki nilai brand new export. Tersedianya tempat bulding centre ”Imperium Kumbasari” sebagai media pemasaran dan kreativitas dukungan pemerintah Kota Denpasar, PD Pasar Kota Denpasar, Dekranasda, APPMI Bali, dan Asbes Kota Denpasar. Terjadinya peningkatan omzet yang signifikan pada pengrajin endek Kota Denpasar tahun 2009 hingga 2013. Tersedianya one building consultan yaitu media konsultan untuk desain tekstil /fashion khususnya untuk meningkatkan desain endek ready to wear Melakukan misi dagang ke berbagai daerah untuk memperkenalkan produk unggulan lokal endek ke daerah lain Pembuatan spot TV dan spot radio iklan layanan masyarakat pelestraian endek.
Salah satu kegiatan inovasi endek adalah pemilihan Duta Endek
3 - 9 maret 2014
3 - 9 maret 2014
22
Menteri Perdagangan Resmikan Pasar Nyanggelan
Revitalisasi Tingkatkan Omzet Pedagang Pasar Desa Nyanggelan telah direvitalisasi. Citra pasar tradisional yang semula terkesan kotor, sem rawut, bau, dan gersang, tidak ada lagi. Berganti menjadi pasar yang bersih, tertib, nyaman dan sejuk, juga lebih berdaya saing, seiring berkembangnya pasar modern. Masyarakat pun semakin senang me langkahkan kakinya ke pasar tradisional.
D
emikian juga diung kapkan Menteri Per dagangan RI, Mu hammad Lutfi, saat meresmikan Pasar Desa Nyanggelan Panjer, Denpasar Selatan, Senin (24/2), yang dihadiri Wali Kota Denpasar, IB Rai Dharmawijaya Mantra, Anggota DPR RI Nyoman Dhamantra, Sekda Kota Denpasar AA Rai Iswara, Wakil Ketua DPRD Kota Denpasar I Wayan Mariyana Wandhira serta kalangan tokoh masyarakat Desa Panjer. Hal tersebut, katanya sesuai de ngan komitmen Kementerian Perda gangan pada program kerjanya untuk
merevitalisasi pasar tradisional, guna mengubah citra lama yang buruk. Dampak positif revitalisasi, lanjutnya mampu menghasilkan pelaku dalam menciptakan nilai tambah dari sisi usaha masyarakat. Keberhasilan akan bertahan, tergantung pada kerjasama yang sinergis antara seluruh pemangku kepentingan. Baik itu pemerintah pusat dan pemerintah daerah, juga para pengelola pasar, pedagang, serta konsumen. ”Sebagaimana yang terlihat pada Pasar Agung Peninjoan, Pasar Renon dan Pasar Sindhu Sanur semua mengalami peningkatan. Kekhawati ran yang sempat ada, tentang pasar
Menteri Perdagangan RI Muhammad Lutfi meresmikan Pasar Desa Nyanggelan
Menteri Perdagangan berkomunikasi langsung dengan salah satu pedagang di tengah Pasar Nyanggelan
3
H ani Amal ia H e ndrajadin
Buktikan tak Salah Pilih Cantik, cerdas, dan lebih dari itu ia jago menari dan memasak. Dua keterampilan yang dimilikinya ini membuat Hani Amalia Hendrajin, dikenal publik sebagai chef yang doyan menari. Menurut Hani, sebagai seorang entertainer itu merupakan gaya khas yang dipilihnya agar mengesankan publik. “Maksudku supaya acara masak tidak membosankan, jadi diselingi menari. Ini jadi gayaku supaya penonton terkesan, de ngan begitu mereka lebih mudah mengingatku,” ujar finalis Masterchef 2012 ini.
B
Menteri Perdangan RI saat menyerahkan buku tentang Pasar Tradisional pada Wali Kota Denpasar
S E L E B R I TA S
Menteri Perdagangan, Wali Kota Denpasar dan Anggota DPR RI melakukan pemotongan bunga sebelum meninjau pasar Nyanggelan
modern akan mengalahkan pasar tra disional, terjawab sudah dengan omzet yang dicapai setelah revitalisasi,” papar mantan Ketua Hipmi Pusat ini. Pada kesempatan tersebut, Mu hammad Lutfi juga melakukan penin jauan langsung ke tengah pasar dan melakukan dialog dengan beberapa pedagang. Ia menyampaikan akan meneruskan program yang dikatakannya baik ini. Apalagi te lah terbukti mening katkan omzet para pedagang. Pemerintah Kota Denpasar dini lainya mampu men ciptakan nilai tambah demi kesejahteraan masyarakatnya dengan menyerahkan buku tentang pasar tradisio nal percontohan yang ada di Indonesia. AYO KE PASAR TRADISIONAL Demikian pula de ngan Pemerintah Kota Denpasar, telah mem buktikan komitmennya untuk memper baiki fisik pasar serta SDM pengelola pasar melalui program revitalisasi pasar desa bersama dengan Kementerian Perdagangan RI. Wali Kota Denpasar IB Rai D. Man tra mengatakan, selain dana bantuan APBN senilai Rp 5 miliar dari Kemente rian Perdagangan, Pemerintah Kota juga menyertakan anggaran pendampingan dari APBD sebesar Rp 1.411.547.500 (satu miliar empat ratus sebelas juta lima ratus empat puluh tujuh ribu lima ratus rupiah) untuk pembangunan pa gar, depo sampah, bio save serta untuk melakukan pelatihan dan sosialisasi peningkatan kualitas para pedagang, agar memiliki nilai-nilai tambah. Rai Mantra juga menyebutkan, perkembangan Pasar Nyanggelan yang telah direvitalisasi merupakan wujud kepedulian pemerintah pusat terhadap ekonomi masyarakat perdesaan. “Para.pedagang mengalami peningka tan pendapatan seiring terwujudnya pasar yang bersih, sehat, ramah, segar serta tertata dengan rapi ini,” kata Rai Mantra. Kini, Pasar Desa Nyanggelan di wilayah Denpasar Selatan yang
berdiri di atas tanah 4.595 M2 ini, ditempati oleh 188 pedagang. Terdiri dari pedagang los, kios dan beberepa yang bersifat temporer, “Mereka, para pedagang menempati bangunan baru ini sejak 15 Januari 2014. Yang me narik, selain peningkatan fasilitas juga terjadi peningkatan pendapatan yang signifikan. Omzet mereka rata-rata naik menjadi sebe sar 26 %, pada kesempatan uji coba pada Janu ari 2014, ber upa penjualaan senilai Rp 3,4 miliar, sedang kan sebelumnya rata-rata perbu lannya mencapai Rp 2,9 miliar. Dengan peningkatan se cara kompre hensif, baik dari fisik maupun kualitas pelayan an, menjadi kan kehadiran pasar desa se makin dilirik, dan pasti akan mampu bersaing dengan pasar-pasar modern lainnya. Selain turut menjaga jalur dis tribusi, pasar tradisional juga menekan terjadinya inflasi. Dengan kondisi yang baru ini juga terjadi interaksi yang ter baik yakni semakin mendekatnya antara penjual dengan pembeli. Wali Kota Denpasar yang juga
manta ketua Hipmi Bali ini menyam paikan harapannya agar pasar-pasar lainnya yang ada di Kota Denpasar terus mendapat perhatian dari Menteri Perdagangan,setelah Pasar Agung di Peninjoan sebagai pasar percontohan nasional. Kepala Dinas Perindustrian dan Perd agangan Kota Denpasar I Wayan Gatra menambahkan, kedepan nya akan diajukan lagi beberapa pasar tradisional untuk memperoleh bantuan dana revitalisasi dari pemerintah pusat. Saat ini Pasar Poh Gading di Ubung telah masuk dalam program revitalisasi pasar tradisional. Sementara Ririn, salah seorang pengunjung di pasar Nyanggelan, de ngan antusias mengatakan ia memang senang berbelanja di pasar tradisional. Terbukti saat peresmian tersebut, ia turut hadir dan tak lupa memasamg profil picture di ponselnya berupa ajakan “Ayo ke Pasar Tradisional”. Apalagi, kata Ririn dengan penataan los di tengah pasar yang lebih baik dan teratur, sangat memudahkannya mendapatkan barang yang diperlukan. Selain itu, ia juga mengaku sangat menikmati suasana tawar-menawar serta acara berbincang langsung dengan para pedagang. “Saya juga semakin nyaman dengan areal parkir yang juga telah ditata. Bahkan, di depan gedung pasar juga terpancang petunjuk arah dan lokasi. “Ada lagi yang asyik di Pasar Nyanggelan ini, adanya arena kuliner dengan banyak pilihan menu, menjadi tempat istirahat kami selesai berbelanja,” kata Ririn. –ard.
Areal tengah pasar
aik memasak maupun menari adalah ho binya, namun Hani lebih serius menekuni menari. Untuk memperdalam ia melanjutkan pendidikannya ke perguruan tinggi dengan mengambil jurusan seni tari. “Kalau memasak, itu hanya aku pelajari secara autodidak plus bertanya pada mereka yang ahli, tapi tidak belajar secara formal,” ungkap Hani yang menyelesaikan pendidikannya di Universitas Negeri Jakarta jurusan seni tari pada 2011 lalu. “Di jurusan tari, aku belajar banyak tari-tarian, termasuk tarian modern. Tapi aku lebih mengkhususkan diri pada tari tradisional,” tambahnya. Di zaman modern ini, boleh dibilang tidak banyak anak muda yang mengambil pilihan seperti Hani. Kalaupun tertarik, kebanyakan mereka hanya mengambil short course. Menurut anak pertama pasangan Abdul Aziz-Engkom Komalasari ini, memilih menekuni tari tradisional bukannya tanpa tentangan. Setidaknya tentangan paling keras datang dari sang ayah. “Bapak marah. Beliau tidak setuju aku kuliah seni tari. Ibaratnya mau jadi ronggeng saja, kenapa harus kuliah. Na manya orangtua, tentu menginginkan anaknya mengambil kuliah di jurusan yang sudah populer di masyarakat. Sedang seni tari, seperti kurang prestise. Bapak mengkhawatirkan masa depanku. Bapak mungkin nggak yakin ya masa depan seniman tari, ya, namanya juga orangtua,” ungkap Hani. Masalah lain juga datang dari lingkungan pergaulan atau teman-temannya, yang meledek pilihannya. “Maklum, anak zaman sekarang kan jarang memilih kuliah tari,” ucapnya sembari tertawa. Meski mendapat tentangan yang begitu besar, namun runner up Mojang Bogor, ini, tak mundur atau minder. Justru menjadikan hal itu sebagai pemacu semangat untuk membuktikan bah wa pilihannya tidak salah. Ia bisa berhasil bahkan bisa berkarier di bidang yang dipilihnya. Sejujurnya, kata gadis ini, dulu pun dia sempat merasa malu ketika ba nyak terlibat dalam kegiatan seni tra disional. “Aku belajar tari tradisional sejak ke cil. Aku juga ak tif ikut b e r bagai lomba, termasuk lomba nyinden bahkan menjadi juara. Ke tika remaja (SMP) aku mulai merasa malu. Ras anya norak banget bela jar karawitan. Namanya juga ABG, gengsi ya. Lalu aku tinggalkan tari tradisional, kara witan, dan pindah ke seni modern, ngeband, nyanyi pop,” tuturnya. Barulah se telah SMA dan bertemu dengan guru seni budaya yang mampu mem beri motivasi tentang betapa kerennya seni tradisional, Hani pun tergerak lagi untuk ter jun kembali ke seni tra disional. “Seni tradisional akan makin menarik jika
kita kreatif. Misalnya, menggabungkan tradisional dan modern,” kata Hani yang saat kuliah mendapat penghargaan Mahasiswa Berprestasi di UNJ. Berkat guru seni budaya-nya itulah, Hani kembali ke khi tah, ia pun menjadi lebih serius dari yang sudah-sudah dalam mempelajari seni tradisional. Berkat kepiawaiannya menari jugalah ia berhasil meraih dua gelar sekaligus dalam ajang Jajaka dan Mojang Bogor; Peserta Berprestasi Seni Budaya dan juara III Mojang Bogor. “Itu saat SMA. Ketika kuliah, aku ikut lagi ajang itu untuk kategori dewasa. Hasilnya, aku juara II Mojang Bogor,” tambah Hani yang sempat mengajar di Institut Pertanian Bogor untuk program D-3. “Aku mengajar Antropologi Sunda,” tambahnya. Kini boleh dibilang apa yang menjadi tujuan Hani mem buktikan kepada orangtuanya juga teman-temannya bahwa menekuni seni tradisional memiliki masa depan yang cerah, berhasil. Setidaknya, kini ayahnya sangat bangga akan prestasi anaknya. Begitu juga teman-temannya. Berkat seni tradisional, ia bukan saja mendapat kesempatan keliling dunia mempromosikan budaya Indonesia tapi juga bisa mengembangkan nya menjadi sebuah bisnis menguntungkan. “Aku belum lama pu lang dari Hungaria dan Viena, Austria, untuk menari. Kali ini aku ikut rombongan Dinas Pariwisata DKI Jakar ta,” ujar Hani yang menghabiskan waktu dua pekan untuk la watan kebudayaan tersebut. Sebelum nya, gadis kelahiran 30 Maret 1989 ini, berkesempatan ikut promosi kebudayaan di Moskow, Rusia dan Dubai. “Di Dubai aku bersama rombongan Indo nesia dalam acara Arabian Travel Market, sedang di Moskow, aku ikut rombongan BKPM (Badan Koor dinasi Penanaman Modal) mengisi acara Invest in Remarkable Indonesia,” jelas Hani yang ke mung kinan dalam waktu dekat a k a n kembali ikut misi kebudayaan ke luar negeri. Menurut Hani, dirinya merasakan ka lau di luar neg eri seni tradisional sangat dihargai. Mereka, tuturnya, suka melihat pertunjukan kesenian Indonesia yang menurut mereka unik dan beragam. “Ini bisa dimaklumi karena negara kita yang luas yang terdiri dari banyak suku-bangsa dengan beragam budaya,” kata Hani yang mengaku kerap mendapat pujian terkait keindahan seni budaya Indonesia, dan itu sangat membanggakannya.
TERPAKSA BELAJAR MASAK Ketika disinggung tentang keahlian lain yang dimiliki Hani yaitu masak-memasak, gadis cantik ini pun tersenyum. Belajar memasak, katanya sambil tertawa, awalnya adalah keterpaksaan karena di rumahnya sang ibu tidak suka masak. “Ya mau tidak mau, aku yang harus masak. Tidak sangka, ternyata aku menikmatinya. Malah belajar sendiri tentang kreasi-kreasi masakan dari buku resep atau tanya-tanya orang. Mungkin bakat nenekku di bidang masakan menurun ke aku, ya,” ujarnya. Ketika ajang Masterchef 2012 digelar, aku Hani, temantemannya mendorong ia tampil. “Teman-temanku bilang, masakanku enak, dan mendorongku ikut serta,” katanya tertawa. Meski merasa belum layak, akhirnya Hani pun nekat maju. “Aku nggak tahu malu, ya, berani ikut lomba? Bagaimana kalau makanan aku dibuang oleh Juna (Chef Juna)? Gara-gara itu, aku belajar keras, berusaha membuat berbagai kreasi makanan,” ungkapnya. Gayanya yang cuek, namun berhasil menyajikan hidangan menarik, membuat ia berhasil lolos sampai 20 besar. “Aku benar-benar nggak nyangka bisa sampai sejauh itu. Padahal aku masuk lewat audisi Jakarta yang pesertanya banyak banget. Di babak utama pun saingan berat-berat,” katanya. Salah satu kekhasan Hani yang juga membekas di benak para juri saat itu adalah gayanya yang cuek serta keberaniannya memberi nama-nama aneh pada masakan yang disajikannya. “Hahaha ..iya aku cuek aja, ada yang kuberi nama bebek granat, ayam dugem, dll. Juna sampai geleng-geleng lihat gayaku…hahahaha,” tutur Hani yang masuk dalam Top Eight Masterchef 2012. Penampilannya yang cemerlang itu, ternyata menjadi per hatian banyak organizer untuk mengikutsertakannya di ber bagai acara demo masak. Sejumlah televisi pun menampilkan Hani untuk menghiasi program acara demo masak mereka. Walhasil, baik nama dan wajahnya pun makin dikenal publik. Apalagi, gadis ini memiliki strategi jitu untuk memikat para pemirsa maupun pengunjung, yakni memeriahkan acara demo masaknya dengan tari-tarian. –Diana Runtu
INSPIRASI
4
3 - 9 Maret 2014
Syariat Libana
Berburu Pewarna Alami di Hutan dan Laut Seiring dengan makin maraknya isu-isu lingkungan dikumandangkan, dunia fashion pun mulai melirik bahan-bahan yang ramah lingkungan. Salah satunya adalah bahan pewarna alami. Di Indonesia sendiri, pewarna alami untuk produk fashion sebenarnya sudah dikenal sejak zaman dulu, khususnya pada kain-kain tradisional.
N
amun, kemajuan teknologi membuat pewarna alam mulai ditinggalkan dan berganti dengan pewarna sintesis atau pewarna buatan. Alasannya, zat pewarna sintesis lebih mudah diperoleh, ketersediaanya terjamin dan warnanya lebih kaya juga praktis penggunaannya. Sebaliknya dengan pewarna alam yang keragaman warnanya sangat terbatas juga proses pembuatannya pun lebih rumit. Syariat Libana, salah satu pengrajin tenun dari Desa Ternate, Kabupaten Alor, Nusa Tenggara Timur, kini tersenyum senang. Pewarnaan alam yang ditekuninya mulai naik daun khususnya di kalangan fashion. Tidak itu saja, pemerintah pun telah berencana mengembangkan potensi pewarna alami sebagai komoditas unggulan Indonesia. “Sekarang perhatian dan dukungan pemerintah terhadap pengrajin pewarna alami menjadi lebih baik,” ungkap wanita 42 tahun itu bersemangat. Menjadi pengrajin tenun telah dilakoni Syariat sejak usia 6 tahun. Menurutnya, itu ketrampilan turun-temurun yang dimiliki keluarganya. Ketika ayahnya meninggal saat ia masih kecil, ibunyalah yang membanting-tulang menjadi tulang punggung keluarga. Salah satu mata pencarian ibunya adalah dengan menenun. “Saya sudah mulai belajar menenun saat usia 6 tahun, mama yang ajar. Ketika saya mulai besar, mama juga mengajarkan cara membuat pewarna alami,” ucap ibu enam anak ini ketika ditemui di Jakarta Convention Center. Meski para pengrajin tenun ramai-ramai menggunakan pewarna sintesis, ia tidak tertarik untuk ikut-ikutan. Menurutnya, meski pewarna alami lebih rumit mendapatkannya, ia tetap bertahan karena itu adalah warisan keluarga. “Tekad saya adalah mengembangkannya, meski banyak yang beralih ke pewarna sintesis karena lebih mudah mendapatkannya,” jelas Syariat. Dari keluarganya, Syariat diwarisi tujuh warna alami, antara lain; warna biru dari tanaman, merah dan beberapa variasi merah dari mengkudu, warna hitam dari biji asam, kuning dari akar kayu kuning, kulit asam menjadi warna ungu dan kulit mangga hutan yang menjadi berwarna coklat.
Dari jumlah tersebut dan seiring perjalanan waktu, Syariat dan keluarganya pun memperkaya koleksi warnanya. Berdasarkan catatan Dinas Pariwisata Pemda Alor, Syariat memiliki koleksi 125 pewarna. Bahan pewarna itu umumnya didapat dari hasil blusukan keluar-masuk hutan. “Sebenarnya ada tambahan lagi, yakni 60 jenis pewarna, namun saya belum lapor ke Pemda… hahahahha….Nanti saja, saya ingin warna-warna milik saya dipatenkan dulu baru dipublikasikan,” ujarnya. Syariat menuturkan salah satu yang membuatnya bersemangat mengembangkan pewarna alam adalah seorang wisatawan Jepang, Seiichi Okawa yang ditemuinya
warna itu uang karena banyak orang suka pewarna alam,” ujar Syariat yang hadir dalam pameran di JCC didampingi Yustina Makunimau, Kabid Perindustrian Kabupaten Alor, NTT. Meski banyak yang mencemooh, namun Syariat maju terus. Baginya, 180 lebih warna yang dikoleksinya, belum cukup. Sebagai pengrajin, dia tidak boleh berhenti berkarya. Ia harus terus mencari warna-warna baru dari bahan-bahan alami. Apalagi, permintaan terhadap pewarna alami semakin meningkat akhir-akhir ini. “Karena itu saya terus berjuang untuk mencari warna-warna baru. Bukan hanya di hutan tapi juga di laut,” tandasnya.
Syariat dan desain karya Merdi Sihombing yang dibuat menggunakan pewarna Teripang
saat penyelenggaraan Expo Alor 2001. Ternyata wisatawan itu sangat menyukai pewarnaan alami dan meminta Syariat untuk terus mengembangkannya. Seiichi Okawa mengatakan suatu saat pewarna alami akan menjadi ‘primadona’. Motivasi yang diberikan Okawa begitu melekat pada Syariat dan ia pun semakin bersemangat mencari bahan-bahan yang pewarna alami. Sampai-sampai teman-temannya mencemoohnya karena melihat Syariat lebih banyak menghabiskan waktunya keluar-masuk hutan ketimbang menenun. “Mereka bilang, itu Syariat tidak ada kerjanya, seperti orang gila saja. Kerjanya hanya keluarmasuk hutan. Saya jawab, ehh kamu kerja saja, tidak usah urus saya. Saya ini jalan keluar-masuk hutan untuk cari pewarna. Pe-
BERBURU PEWARNA DI LAUT Upaya Syariat mendapat warna-warna baru tidak hanya terbatas pada tanaman-tanaman, tapi kini ia sudah mulai merambah ke laut. Menurutnya, biota laut pun ternyata dapat menghasilkan warna-warna menarik. Biota laut yang kini tengah dikembangkannya adalah teripang dan tinta cumi-cumi. Dari teripang, macam-macam warna didapat, di antaranya warna merah, kuning, ungu, dll. “Kain yang diberi pewarna teripang dan tinta cumi, harganya mahal. Satu lembar kain dengan ukuran 160x70 cm, harganya Rp 750.000. Sedang kalau dari pewarna alami tumbuh-tumbuhan, harganya berkisar antara Rp 450-550 ribu. Ini karena selain mendapatkannya lebih susah, juga pembuatannya lebih rumit,”
MANDALIKA
3 - 9 Maret 2014
Keunikan Rumah Adat Sasak di Lombok Salah satu kekayaan budaya masyarakat Sasak Lombok adalah arsitektur rumah adat yang unik. Rumah adat Sasak yang asli sangat sederhana. Tidak banyak ruang, namun berbagai fungsi ruangan hanya dipisahkan oleh sekat-sekat seadanya.
D
alam rumah adat Sasak yang asli, hanya ada satu ruangan tanpa ada sekat atau kamar. Antara dapur, tempat tidur dan tempat aktivitas lainnya tidak dipisahkan secara permanen. Beratapkan alang-alang dengan lantai tanah dan hanya memiliki satu pintu dengan tinggi 150-170 centimeter tanpa satu pun jendela. Jika masuk rumah adat Sasak, biasanya menunduk karena pintu yang terbilang rendah. Inilah yang
atas inan bale, menggunakan tangga atau undak-undak melewati amben beri dan amben beleq yang posisinya bertingkat. Inan bale berfungsi sebagai tempat menyimpan barang keluarga, benda keramat atau bersejarah yang tidak boleh dilihat orang lain (umum) selain keluarga. Juga sebagai tempat menyimpan beras atau logistik lainnya. Khusus beras, kata Rianom, selalu diletakkan pada bagian pojok dekat tiang paling selatan, tepatnya di tenggara atau dalam Bahasa Sasak
Tanaman Indigo untuk pewarna alami yang menghasilkan warna biru
jelasnya. Mendapatkan teripang, tidak mudah. Kadang, sudah mencari seharian pun belum tentu ketemu. Itu juga salah satu faktor kenapa pewarna dari teripang harganya lebih mahal. Untuk mendapatkan pewarna dari teripang, yang diambil hanyalah isi perut hewan invertebrata tersebut, sedang dagingnya dikonsumsi. Isi perut teripang-teripang ini kemudian dikumpulkan dan direbus. “Waktu direbus, baunya luar biasa. Air rebusan itu, kemudian dipakai untuk mencelupkan benang. Karena teripang itu jenisnya macam-macam, dan warna yang dihasilkan pun beragam, maka isi perutnya pun dikelompokkan, tidak dicampur. Tapi kami yang sudah biasa, sudah tahu caranya. Karena sebenarnya warna yang dihasilkan isi perut teripang sudah diketahui dari lendir yang dikeluarkan kulit teripang. Jadi tidak sulit memilah-milahnya,” jelasnya panjang-lebar. Untuk menghilangkan bau amis, benang yang sudah dicelupkan rebusan isi perut teripang, dicuci menggunakan kemiri. Hal yang sama dilakukan untuk rebusan tinta cumi-cumi. Untuk menghilangkan bau amisnya, benang dicuci lagi dengan kemiri. “Tinta cumi-cumi itu menarik, makin lama disimpan, kualitas warnanya semakin bagus. Kalau lama disimpan, bau tinta cumi-cumi ini seperti aroma terasi,” katanya. Secara umum ia menjelaskan, proses pewarnaan benang sebenarnya tidaklah terlalu sulit asalkan tahu caranya. Agar warna bisa menyerap cepat pada benang, sebelum dicelupkan ke pewarna, direndam air garam lebih dahulu. Air garam ini akan membuka pori-pori benang, sehingga ketika dicelupkan, hanya butuhh 2 atau 3 kali celup, warna akan terserap sempurna. Beda jika tidak menggunakan air garam. Waktu yang dibutuhkan agar warna merasap pada benang adalah dengan 6-7 kali celup.
Syariat mengaku sangat terbantu dengan keberadaan desainer kenamaan, Merdi Sihombing, yang banyak membantunya dalam mengembangkan pewarna alami. Merdi juga membantu dalam pemasaran produknya juga menggunakannya untuk mendesain pakaian. “Saya berterima kasih sekali dengan Pak Merdi, saya bisa seperti ini (usaha berkembang) berkat bantuan darinya. Kini pewarna alami dari Alor banyak dicari,” ucapnya. “Jadi selain usaha kerajinan tenun, saya juga membangun usaha pewarna alami. Sekarang ini permintaan sangat banyak, jadi kami sudah membuat stokstok. Termasuk stok benang. Memang, namanya pewarna alami, produksinya tidak bisa sebanyak dan secepat pewarna sintesis. Karena proses pembuatannya membutuhkan waktu lama,” tutur Syariat. Syariat juga menanam berbagai tanaman termasuk kapas dan aneka pohon untuk bahan pewarna. “Luas kebun saya sekitar 1 hektare, di sana ada 1500 tanaman, seperti kapas, mengkudu, kunyit, indigo, dll,” katanya. Namun, dengan semakin meningkatnya permintaan, Syariat mengaku sering kekurangan stok benang. “Kita kaya akan pewarna alam, tapi kesulitan benang. Karena itu sebagian kami datangkan dari Jawa. Benang-benang ini kemudian diberi pewarna alami,” katanya. Ia mengaku kini merasa bangga dan senang. Karena kalau sebelumnya pengrajin pewarna alami kurang mendapat perhatian, kini ‘angin berbalik arah’. Justru pengrajin pewarna alami mendapat perhatian penuh. “Dulu orang tidak kenal kita. Kita ini dianggap orang kampung yang kotor. Padahal pekerjaanlah yang membuat kami terlihat kotor. Kini siapa yang tidak kenal pengrajin Uma Pura? Semua kenal, dan cari (produknya),” ucap Syariat tertawa. –Diana Runtu
21
Di tengah dua rumah yang saling berhadapan, Timur dan Barat, terdapat berugaq (rumah terbuka tempat aktivitas lain khas Sasak) dengan ukuran besar bertiang enam (sekenam).
membuat rumah adat Sasak cen derung gelap di dalamnya. Dinding rumah Sasak terbuat dari rangkaian bambu seperti pagar agak longgar yang disebut badak. Dari celah-celah bambu itulah, udara masuk dengan leluasa dan sedikit cahaya. Semacam ventilasi sehingga keunikan rumah adat Sasak sangat terasa. Meski tidak memiliki ruangruang, kata Rianom, salah seorang tokoh adat Sasak Bayan di Bayan, rumah adat Sasak memiliki tempattempat yang berfungsi memperlancar aktivitas pemiliknya. Ada yang disebut amben beri yang dipakai sebagai tempat tidur dan juga tempat makan bagi para tetua adat. Jika ada kegiatan makan para tetua adat, fungsi amben beri yang tadinya sebagai tempat tidur bisa berubah sewaktu-waktu. Ada juga yang di sebut dengan amben beleq yang berfungsi sebagai tempat makan khusus bagi para tamu perempuan pada acara-acara ritual selamatan atau yang disebut menggawe rowah. Di dalam ruangan tersebut ada satu lagi bangunan yang posisinya berada di tengah-tengah rumah yaitu ruangan rumah adat Sasak yang tingginya menjulang menjelang atap yang disebut sebagai inan bale (induk rumah) seperti rumah panggung. Memiliki enam tiang yang disebut sekenam yang terbuat dari kayukayu pilihan. Sebelum membuat rumah adat Sasak, yang pertama kali dibuat adalah inan bale ini. Inan bale berdiri kokoh di tengah-tengah rumah adat ini. Untuk dapat naik ke
daye timu’ dari inan bale tersebut. Tiap kali mengambil beras dari tempatnya yang disebut tenebrasan selalu dilakukan ritual kecil, semacam niat memesan atau meminta ijin mengambil beras tersebut kepada Sang Maha Pemberi. Masyarakat Bayan hanya makan dua kali sehari, tidak seperti umumnya tiga kali sehari yakni sekitar pukul 10-12 yang disebut mengan lema’ dan menjelang malam ketika usai waktu Magrib. Waktu makan yang secara turun-temurun dan teratur telah dilakoni masyarakat tradisional Bayan memberikan rasa kenyang yang awet. Pada bagian timur dalam ruang inan bale, terdapat ranjak yang berfungsi sebagai tempat menyimpan logistik lainnya. Ada pula tempat untuk me nyimpan barang berharga atau bakul-bakul dan peralatan memasak saat acara-acara adat digelar yang disebut lamin. Dalam ruangan rumah adat Sasak, selain ada inan bale, amben beri dan amben beleq yang berada dekat pintu masuk bagian barat sebelah utara, ada pula tempat memasak atau dapur disebut jengkiran yang posisinya berada
Bentuk rumah adat Sasak
di pojok timur laut (lau’ timu’). Masyarakat adat Sasak secara umum masih memasak menggunakan tungku dengan kayu bakar. Sehingga, seluruh ruang rumah hingga atap, termasuk inan bale menghitam ka rena jelaga. Jelaga yang menghitam inilah yang membuat kayu, bambu dan bahan bangunan lain rumah adat ini menjadi kuat. Penerangan di malam hari yang dipakai juga berupa pelita atau lampu-lampu teplok yang turut menyumbang cukup banyak jelaga. Posisi-posisi yang mengikuti arah mata angin ini, baku dalam aturan adat Sasak, utamanya di Bayan dan tidak boleh sembarang menempatkannya. Demikian pula dengan arah hadap rumah. Rumah adat Sasak hanya boleh menghadap arah timur dan barat, begitu aturannya. Ketika pagi tiba, rumah-rumah adat Sasak yang menghadap ke timurlah yang mendapatkan matahari sepenuhnya masuk ke dalam ruangan. Dan, ketika sore tiba, sinar matahari akan dinikmati sepenuhnya oleh rumah yang menghadap Barat. Teras rumah adat penduduk secara umum meng ikuti panjang rumah tersebut. Letak rumah untuk keluarga juga telah diatur dengan pertimbangan untuk kebaikan dan menghindari saling singgung antara satu dengan lainnya. Rumah orangtua akan ber ada pada bagian paling ujung selatan
menghadap ke barat. Lalu, anak pertama keluarga itu akan mendapat jatah posisi rumah yang berhadapan dengan rumah orangtuanya sebelah barat menghadap ke timur. Kemudian jika lahir anak kedua mendapat posisi rumah pada sebelah timur bagian utara dari rumah orangtuanya atau sebelah utara rumah kakaknya menghadap ke timur. Anak ketiga dari keluarga tersebut akan tetap mengikuti orangtua hingga waktunya ia menikah. Dan ketika sudah berkeluarga posisinya saling mengisi. Anak pertama akan pindah ke rumah orangtuanya, anak kedua bergeser ke rumah kakaknya yang pertama, dan anak ketiga menempati rumah kakak keduanya. Begitu seterusnya. Uruturutan ini sudah terpikirkan kebaik annya oleh leluhur masyarakat adat Sasak, yakni menghindari saling curiga dan meningkatkan saling menyayangi dan melindungi satu sama lain. Bahwa, yang lebih tua akan selalu melindungi dan memberikan rasa aman bagi yang lebih muda. Maka diaturlah sedemikian rupa. Kesadaran masyarakat adat seperti ini dapat menciptakan kedamaian, ketertiban dan keamanan hidup berkelompok. Di tengah dua rumah yang sa ling berhadapan, Timur dan Barat, terdapat berugak (rumah terbuka tempat aktivitas lain khas Sasak) dengan ukuran besar bertiang enam
(sekenam). Masing-masing rumah memiliki satu berugak atau menjadi milik bersama dan dibangun secara gotong royong. Masyarakat Sasak yang tinggal dengan rumah adat Sasak yang asli seperti ini, lebih banyak menghabiskan waktu mereka di luar rumah, yakni di berugak. Aktivitas siang hari dari pagi, sore hari hingga menjelang tidur malam, dilakukan di berugak, termasuk makan. Rumah biasanya lebih banyak dipakai bagian dapurnya untuk memasak dan ruang lainnya untuk tidur di malam hari. Berugak juga berfungsi sebagai tempat menerima tamu. Masyarakat tradisional Sasak me nerima tamu di berugak, tidak di dalam rumah karena rumah hanya berfungsi sebagai tempat privasi. Kecuali ada musyawarah atau pembicaraan khusus yang menyangkut rahasia yang disebut pos sesepen. Selain sebagai tempat menerima tamu, berugak juga berfungsi sebagai tempat musyawarah keluarga (sangkep/gundem). Juga, sebagai tempat menggelar acara selamatan baik acara perkawinan, khitanan maupun acara kepaten (kematian). Acara tahlilan dalam kepaten di sebut dina nelung yang dilaksanakan pada hari ketiga, dina tekang ajian pada hari kelima dan dina nitu pada hari ketujuh. -Naniek I. Taufan.
Rianom
NINE
20
3 - 9 Maret 2014
T. W i s m a n i n g s i h
Fokus Tiga Isu Pokok Berkecimpung mengurus persoalan perempuan di Nusa Tenggara Barat sejak tahun 2001, membuat T. Wismaningsih, Kepala Badan Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak dan Keluarga Berencana (BP3AKB) Provinsi NTB, memahami benar kondisi perem puan di daerah ini. Ia pernah menjadi Kepala Bidang Pemberdayaan Perempuan, Dinas Sosial Nusa Tenggara Barat, Kepala Panti Budhi Rini Mataram, panti yang mengurus, mem bina dan merehabilitasi para pekerja seks komersial.
D
T. Wismaningsih
ari banyak pengalamannya dalam hal ini, Wisma, panggil an akrabnya, menyadari bahwa telah terjadi pergeseran nilai budaya di NTB dalam meman dang perempuan. “Dari desa hingga perkotaan, menganggap kodrat perempuan itu ada lah seputar sumur, kasur, dan dapur. Hal ini juga terjadi pada tataran birokrasi perempuan, yang masih berpikir seperti itu. “Padahal, seharusnya hal itu bu kanlah kodrat tapi merupakan tugas dan peran saja. Tapi itu dulu,” ungkapnya. Namun, lanjutnya, hal seperti itu telah mengalami pergeseran pada penilaian tentang ke beradaan perempuan yang kini menganggap hal tersebut sebagai peran dan fungsi, bukan lagi sebagai kodrat. Pergeseran penilaian ini memang terjadi
sangat signifikan pada tata ran birokrasi, meski belum sepenuhnya pada masyarakat bawah. “Masyarakat bawah be lum bisa memilah mana peran (bertukar tugas) dan mana yang disebut kodrat (sesuatu yang tidak bisa dirubah),” ujarnya. Hal yang sama juga ter jadi dalam bidang pendidikan. Jika dahulu, perempuan tidak bisa mendapatkan pendidik an yang baik karena secara umum perempuan dianggap tidak perlu bersekolah apalagi berpendidikan tinggi karena toh akhirnya akan kembali ke sumur, kasur dan dapur juga. Hanya laki-laki yang dianggap penting untuk bersekolah. “Kalau dulu perempuan tidak bersekolah karena faktor bu daya dalam masyarakat yang menomorduakan perempuan dalam hal pendidikan, tapi sekarang perempuan tidak
agar mereka mau meninggalkan dunia hitam itu dan mulai ber usaha untuk hidup yang lebih. Sampai kapan mereka akan menjadi PSK? Ada yang men jawab dengan cueknya, “kapankapan”, ada yang sedih karena mereka sesungguhnya tidak menginginkan, namun ada juga yang menikmatinya. Sebagai manusia biasa, Wisma mengaku ada kalanya kesal menghadapi bersekolah lebih karena faktor usia perkawinan, yang dirasa warga binaannya di Panti Budhi teknis dan kurang gigih saja. penting untuk dilakukan. Hing Rini dulu. Ia suka kesal de Misalnya tempat sekolah yang ga saat ini pernikahan dini masih ngan mereka yang menikmati jauh atau tidak memiliki biaya terjadi, bahkan pada anak usia menjadi PSK. Kalau dinasehati, seragam,” ujarnya. 16 tahun, dan menurut Wisma jawabannya menjengkelkan. Begitu pula dalam hal ke angkanya cukup tinggi. Kema “Paling-paling pulang dari Budhi sehatan. Jika dulu kematian ibu tian ibu dan anak juga banyak Rini dikasih sebuah panci saja. dan anak terjadi bisa karena disebabkan oleh orangtua yang Kalau di jalan bisa dapat lebih faktor kurangnya pengetahuan belum mengerti mengurus anak banyak,” ujar Wisma mengutip ibu dan keluarga serta lingkung dan tidak siap secara psikis perkataan PSK tersebut. “Per an akan pentingnya merawat untuk memiliki anak. “Mereka soalan ini menjadi tanggung jawab kita bersama. Bukan dan menjaga kehamilan, maka hanya Panti Budhi Rini yang kini kematian ibu dan anak akan membina PSKbisa disebabkan banyak “Kalau dulu PSK, tapi juga ke program pemerin perempuan tidak ber luarga dan ling tah yang tidak kungan harus dapat diakses sekolah karena faktor budaya dalam bersamaoleh perem masyarakat yang menomorduakan perempuan sama mem puan. “Mi bina dan dalam hal pendidikan, tapi sekarang perempuan salnya, kasus menyadar meninggalnya tidak bersekolah lebih karena faktor teknis dan kan mere ibu hamil ka kurang gigih saja. Misalnya tempat sekolah ka,” kata T. rena kelelahan Wismaningsih. berjalan ketika yang jauh atau tidak memiliki biaya Selain itu, harus mengambil air se ragam” menurutnya, baruminum yang cukup jauh baru ini terungkap fakta dari rumahnya,” kata Wisma. dari seorang ahli kandungan, Solusi dari permasalahan ini ke depan, menurutnya dilaku hanya siap jadi pengantin namun bahwa di NTB kasus seks bebas kan agar program-program tidak siap menjadi orangtua,” di kalangan anak usia sekolah pemerintah harus lebih bisa katanya. Belum lagi kasus-kasus sudah mulai terjadi. Ini harus dimanfaatkan oleh perempuan. kekerasan dalam rumah tangga mendapat perhatian khusus. Sebagai pimpinan instansi yang (antara suami istri), yang banyak Karena itulah bersama stake mengurusi masalah perempuan, terjadi karena pasangan terse holder lainnya di NTB, tengah Wisma berupaya berkontribusi but belum dewasa. Ketiga, isu menuju program kota layak dengan merancang pengang penurunan angka KDRT yakni anak yang telah mulai digagas garan yang responsif gender, kekerasan terhadap perempuan dalam rencana aksi daerah de karena perempuan ada di se dan anak, termasuk juga ke ngan memenuhi 37 kebutuhan mua lini. kerasan terhadap perempuan dasar anak. Atas pengalaman yang telah Ia berharap agar sarana menyangkut trafficking. Hal ini dan prasarana umum, bisa menjadi salah satu konsentrasi dilaluinya selama ini, sebagai lebih dapat diakses oleh perem nya karena kasusnya cukup seorang ibu yang memiliki tiga puan. Seperti halnya di pasar- tinggi. “Pada tahun 2012 kasus- anak, dua laki-laki dan satu pasar, seharusnya ada tempat kasus tersebut sebanyak 1.183, perempuan, ia tentu saja memi penitipan anak yang ramah sedangkan hingga februari 2013 liki kekhawatiran tersendiri. anak. Karena sudah jelas, yang kasusnya terakumulasi menjadi Namun, Wisma tidak ingin ketakutan menghadapi situasi mengakses aktivitas pasar ada 1.187,” katanya. lah perempuan (ibu-ibu). Bia Cukup banyak pengalaman itu melainkan ia melakukan sanya para ibu saat ke pasar kemanusiaan yang dialami pendekatan, sedekat-dekatnya akan meninggalkan anak-anak Wisma selama bergelut di dengan anak-anaknya. Wisma mereka yang masih kecil tidak bidang pembangunan perem mengimbau agar para ibu ja dalam pengawasan langsung puan di daerah ini. Salah satu ngan sampai menjaga jarak melainkan pada orang lain. pengalama n yang tidak bisa dengan anak. Ia sendiri selalu “Beberapa kasus ditemukan, dilupakannya ketika ia menjadi memberikan pendidikan repro anak-anak yang ditinggal itu Kepala Panti Rehabilitasi PSK duksi maupun pelajaran seks mengalami pelecehan seksual di Budhi Rini Mataram, tahun pada anak-anaknya agar mere justru pelakunya adalah orang 2005-2009. Ia kerap miris ka memahami kondisi dirinya dekat, tidak jarang ayah tiri atau menyaksikan perempuan- secara utuh. Tentu saja dengan lainnya,” ujarnya. Diakuinya hal perempuan yang terjerat dunia cara yang santun dan tidak ini memang tidak mudah dilaku hitam pelacuran dari rema terkesan vulgar. Kepada ketiga kan. Namun bisa dicoba untuk ja hingga usia tua. “Bahkan, anaknya, ia berusaha terbuka mulai melakukannya. dib ayar dengan semangkok saling bercerita dan memberi Karena itulah, ia kini memi bakso pun ada,” katanya. Itu nasihat-nasihat pada waktuliki tiga isu pokok yang harus karena ia butuh makan dan waktu yang dianggapnya tepat agar apa yang dinasehatinya mendapat perhatian. Pertama, melanjutkan hidup. soal program yang responsif Ia kerapkali mengajak me dapat diterima dengan baik. -Naniek I. Taufan gender. Kedua, pendewasaan reka bicara dari hati ke hati,
INSPIRASI
3 - 9 Maret 2014
Belajar Bahasa Bali Online Pelajaran bahasa Bali masih dianggap sulit oleh sebagian besar kalangan pelajar kita. Bahasa Bali dianggap lebih sulit daripada bahasa Inggris. Bahkan ada seorang siswa SD di Denpasar meng aku nilai pelajaran bahasa Inggrisnya sembilan, sementara nilai bahasa Bali enam. Di tengah minimnya minat kalangan pelajar terhadap bahasa ibunya, kalangan ekspatriat justru antu sias belajar bahasa Bali. Namun sayang, literatur secara online yang bisa mereka akses masih kurang. Realita inilah yang kemudian melatarbelakangi diluncurkannya situs basabali.org.
A
dalah Alissa Stern, seorang praktisi yang menerima gelar Dok tor Yurisprudensi dari Harvard Law School (1991) dan gelar BA dalam Antropologi dan Studi Asia Tenggara dari Cornell University (1986). Ia juga menerima sertifikat tingkat lanjut dalam ba hasa Indonesia dari IKIP Malang (di Jakarta) dan membantu merevisi ka mus Indonesia-Inggris oleh Echols/ Shadily/Wolff. Selain itu, Alissa juga mengajar di Universitas Indonesia Law School dan menulis dalam jurnal mengenai negosiasi lingkungan Indo nesia di Harvard Business Review dan Washington Post. Bukunya berjudul “Proses Bisnis/Kolaborasi Lingkun gan” (Quorum 2000). Berbekal kemampuan berba hasa Indonesia dan ketertarikannya mempelajari bahasa Bali secara benar, Alissa bergerak untuk meng organisir pembentukan organisasi dengan merangkul semua kalangan di Bali maupun internasional sebagai sponsor. Organisasinya berbasis di Washington, DC. Misinya, mem pertemukan para pakar bahasa dan budaya Bali untuk menciptakan ma teri bahasa Bali yang pertama dalam
Wali Kota dan Wakil Wali Kota Denpasar mendukung piranti lunak yang dirancang oleh Basabali yang dipamerkan dalam acara HUT ke-22 Kota Denpasar, Kamis 27 Februari 2014 di Lapangan Lumintang
video di stasiun Trans TV. Keterlibatannya dalam yayasan ini berawal dari menangani ke seluruhan isi software baik berupa naskah hingga proses produksi audio dan visual dan berujung pada lahirnya sebuah software yang bisa diakses dengan menggunakan bahasa Bali-bahasa Indonesia atau bahasa Bali-bahasa Inggris. Tak hanya berhenti di proses produksi, na mun berlanjut menangani promosi dan gencar melakukan pendekatan secara aplikatif dengan memasuk
Antusiasme siswa SMP 12 Denpasar belajar menulis aksara Bali dibantu dengan media piranti lunak
bentuk audio visual untuk mem pelajari kosakata dan aksara Bali yang mulai kurang diminati. “Tapi, kami lebih umum mempromosikan penggunaan dan pemahaman ten tang bahasa Bali,” ujar Alissa. Yayasan Basabali ini berdiri tahun 2011 dan setahun kemudian meluncurkan situs web pembelajar an bahasa Bali, www.basabali.org. Pengelolanya, Alissa Stern sebagai perwakilan Yayasan Basabali di Washington DC dan Ayu Mandala sebagai perwakilan Basabali di Bali, Indonesia. Meski lulusan Teknologi Pertanian, Unud, Ayu Mandala sudah aktif di bidang komunikasi dan siaran sejak tahun 2002, baik sebagai penyiar maupun produser program radio hingga berlanjut ke bidang siaran televisi sebagai jurnalis
kan software di dalam kurikulum sekolah tingkat SMP dan SMA di Bali. Ayu juga memiliki harapan sama, supaya bahasa Bali menjadi kekayaan budaya yang akan selalu mengakar di tiap pemikiran dan kehidupan masyarakat Bali sedari muda. “Karena, bahasa Bali adalah bahasa ibu yang menjadi dasar bagi generasi muda untuk mempelajari bahasa lainnya,” ucapnya. CARA MENGAKSES Basabali.org berisikan materi bahasa Bali yang dikembangkan fokus pada 24 video percakapan, diselingi dengan latihan bahasa, pen jelasan tata bahasa dan kartu bantu elektronik. Terdapat pula catatan budaya yang berfungsi sebagai sum ber daya untuk antropologi, sejarah,
dan tren saat ini. Juga, topik tentang Bali serta serangkaian modul yang mengajarkan penulisan aksara Bali, yang saat ini masih kurang dipahami oleh generasi muda. Piranti lunak yang dibuat oleh perusahaan bernama Transparent ini sebagai penyedia piranti untuk belajar bahasa. “Sebagai bentuk du kungannya, piranti lunak ini dibagi kan secara gratis bagi organisasi non-nirlaba (LSM) dan sekolah. Se dangkan untuk pengguna individu dan perusahaan/komersil dengan biaya Rp 250.000. Jika tidak mampu membeli dengan harga reguler, namun tetap ingin memiliki salinan nya, bisa menghubungi kami untuk diberikan bantuan finansial. Dengan mengakses situsweb basabali.org para pemerhati bahasa ibu utamanya bahasa Bali diharapkan bantuan donasinya untuk mendukung kelan jutan kegiatan kami,” papar Ayu. Hal ini dikatakan Ayu tak lain mengarah pada tujuan yayasan ini untuk membantu mahasiswa Bali menggunakan bahan-bahan dalam piranti lunak tersebut, untuk dite rapkan pada sekolah-sekolah tingkat menengah Bali. Sejak akhir 2013 hingga awal tahun 2014, piranti lunak ini telah diaplikasikan di 14 sekolah dan ditargetkan digunakan sebanyak 480 siswa. Donasi maupun dukungan masyarakat untuk membeli dan menggunakan piranti lunak ini dijelaskan Ayu untuk membiayai proses duplikasi DVD bagi sekolah menengah lainnya di Bali serta untuk memberikan dukungan teknis dan target berikutnya, yaitu menam bahkan modul skrip tambahan dan memperbarui perangkat lunak ini. Perangkat lunak pembelajaran bahasa Bali ini sekarang tersedia secara online dan bisa juga dibeli dalam bentuk kepingan DVD. “Versi online dapat digunakan dengan PC atau Mac, tetapi DVD hanya bekerja dengan PC (berbasis Windows),” jelas Ayu. Selain akses melaui DVD maupun online, cara belajar bahasa Bali yang dipandu dengan panduan berbahasa Inggris ini bisa juga diakses melalui ponsel pintar berbasis android. Ayu Mandala menyampaikan siapa pun bisa menggunakan dan
mengakses piranti lunak belajar ba hasa Bali ini, baik kalangan yang pasif berbahasa Bali maupun kalangan bukan orang Bali yang tertarik untuk belajar. Pengguna terbanyak saat ini adalah kalangan pelajar dari Bali dan Indonesia, juga 200 orang lebih dari berbagai negara, maupun orang Bali yang tertarik belajar tata bahasa atau pun cara penulisan Bahasa Bali. Diungkapkan Ayu, tidak hanya orang Bali maupun keturunan Balinon Bali di Bali yang menggunakan nya. Hal ini sangat terbuka bagi warga Indonesia seperti salah se orang pengguna asal Sumatera Utara yang tertarik mengenal budaya Bali tak hanya dengan mengunjungi tempat wisata namun juga bahasa masyarakat Bali. Respons masyarakat Bali pun sangat bagus dengan adanya pi ranti lunak ini. Hal ini terbukti pada saat menggelar pameran di Pesta Kesenian Bali tahun 2013, banyak orangtua yang tertarik menggunakan piranti lunak ini sebagai sarana untuk menarik minat anaknya mengenali bahasa ibu mereka. Dukungan lain juga datang dari kalangan ekspatriat yang telah lama tinggal di Bali, namun mengalami kesulitan berkomunikasi dengan masyarakat sekitar maupun orang lokal yang berada di lingkungan kerja mereka. Dengan adanya piranti lunak ini mereka mengaku mampu menjalin komunikasi tanpa takut untuk meny inggung perasaan maupun golongan individu lawan bicaranya. Piranti lunak ini dibuat dengan pengawasan dari pihak akademisi dan dibantu oleh mahasiswa Sas tra Daerah Bali dari Universitas Udayana. MASUK SEKOLAH Piranti lunak yang dibuat atas kerja sama Basabali dengan Transparent mampu memasuk kan media interaktif ini ke dalam kurikulum pelajaran bahasa Bali di sekolah menengah pertama serta diaplikasikan dalam kegiatan ekstrakurikuler. Pembelajaran Bahasa Bali dengan media digital serta pemanfaatan
5
kemajuan teknologi sampai saat ini masih sangat jarang dilakukan. Ber basis pada materi pokok dasar-dasar pelajaran bahasa dan aksara Bali yang dikemas dengan percakapanpercakapan audio visual, permainan (games), dan latihan-latihan dengan media perekam, boleh jadi mem berikan alternatif yang segar dalam proses pembelajaran. Proses pembelajaran Bahasa Bali dengan media digital ini sudah dilakukan ke beberapa sekolah menengah pertama di Denpasar, yakni SMPN 1, SMPN 2, SMPN 4, SMPN 5, SMPN 6, SMPN 7, SMPN 8, SMPN 10, SMPN 11, SMPN 12, SMP Dwijendra, SMP Harapan Nusantara, dan SMP Tunas Bangsa. Di masing-masing sekolah tersebut dipilih satu kelas yang terdiri dari 35 sampai 42 siswa yang rata-rata duduk di kelas tujuh (kelas satu SMP). Secara teknis, pemilihan peserta untuk mengikuti program ini diserahkan sepenuhnya kepada guru bahasa Bali yang mengajar di tiap sekolah. “Sebagian besar seko lah menunjuk satu kelas tertentu, kecuali SMPN 12 Denpasar yang memilih peserta berdasarkan minat dan ketertarikan untuk belajar ba hasa dan aksara Bali,” ujar Ayu. Tim pengajar program pem belajaran bahasa Bali ini melibatkan 26 mahasiswa yang berasal dari Jurusan Sastra Bali Fakultas Sastra Universitas Udayana. Mereka meng ajar ke sekolah-sekolah yang telah ditentukan. Pelaksanaan kegiatan program pembelajaran bahasa Bali ini dimulai dengan sosialisasi kepada guru-guru bahasa Bali yang dilak sanakan di Dinas Kebudayaan Kota Denpasar. Setelah aplikasi di kurikulum tingkat SMP telah terlaksana, ke depannya Yayasan Basabali ini akan mengembangkan dan lebih aktif mempromosikan media interak tif lainnya seperti mesin pencari Google dengan bahasa program menggunakan bahasa Bali yang telah diluncurkan Maret 2013. “Tentu nya DVD piranti lunak akan terus diaplikasikan dan didistribusikan ke selolah SMP dan SMA lainnya di seluruh Bali. Karena, saat ini sudah diterjemahkan dalam versi bahasa Bali-bahasa Indonesia dalam konten maupun instruksi penggunannya. Kini, bahasa Bali pun sudah menjadi bahasa resmi dan dipakai oleh Wiki pedia sebuah ensiklopedia berbasis online,” ucapnya. Silakan kunjungi stan Basabali (Depkominfo) di Pa meran HUT ke-226 Kota Denpasar yang hingga 3 Maret 2014 di areal Lapangan Lumintang, Denpasar. –Inten Indrawati
Suasana belajar aksara Bali melalui media interaktif
3 - 9 maret 2014
6
Diskon 50% Kursus Tata Rias Sampai Bisa di LKP Agung Kerjasama antara AA Ayu Ketut Agung dengan Pemerintah Kota Denpasar sudah terjalin cukup lama. Sebut saja dalam ajang Pemilihan Teruna Teruni Denpasar (TTD) yang tahun ini merupakan tahun ke-13, selama itu pula pemilik Salon Agung ini dipercaya merias para kandidat dalam malam grand final. Karena itu pula, Bu Agung sapaan karibnya, mendapatkan penghargaan dari Wali Kota Denpasar IB Rai Dharmawijaya Mantra yang diserahkan Ibu Wali Kota yang juga Ketua TP PKK Kota Denpasar Ny. Selly D. Mantra.
D
ukungan Bu Agung dalam TTD menun jukkan komitmennya untuk turut menjaga dan melestarikan budaya Bali khususnya di bidang tata rias dan busana adat Bali. Pada malam grand final semua finalis terlihat cantik dan anggun dalam balutan busana tengkuluk lelunakan yang sudah menjadi ikon Kota Denpasar. Busana tengkuluk lelunakan ini telah pula disosialisasikan dalam tiap kegiatan Bu Agung (penerimah APP Award dari Kemendikbud tahun 2013), seperti dalam roadshow tata rias yang terus digelar bekerjasama dengan Viva Cos metic. Dalam roadshow tersebut, selain diajarkan trik praktis membuat dan memasang tengkuluk lelunakan serta pusung tagel (sanggul Bali) dan modern, Bu Agung juga mengajarkan tata rias untuk diri sendiri, dan etika berbusana adat Bali yang baik dan benar. Kegiatan-kegiatan roadshow ini biasanya bekerjasama dengan orga nisasi perempuan di desa, kelurahan, kecamatan, kabupaten/kota, instansi pemerintah dan swasta di Bali. Minggu (2/3) ini pun Bu Agung memberikan pelatihan tata rias di Banjar Kuwum, Desa Kuwum, Mengwi, Badung atas un dangan Poltekes Jurusan Gizi. Pelatihan sehari tanpa dipungut biaya ini meru pakan bagian dari 30 roadshow yang ditargetkan sepanjang tahun 2014. DUKUNG DENPASAR Mendukung Denpasar sebagai kota kreatif berbasis budaya unggulan, Bu agung secara terus-menerus gencar menyosialisasikan busana tengkuluk lelunakan. Pada April 2010, bekerjasama dengan TP PKK Kota Denpasar dan Bisnis Bali, Bu Agung menyabet piagam Muri sebagai pemrakarsa kegiatan tengkuluk lelunakan dengan peserta terbanyak yang diikuti sekitar 1.500 peserta se-Kota Denpasar. “Mereka ini sebelumnya kami latih dulu. Selama tiga bulan, kegiatan pelatihan yang kami lakukan dengan masing-masing peserta 50-100 orang ini diikuti masyarakat
Kota Denpasar khususnya kaum wanita. Dari sekian masyarakat yang dilatih, ada lebih dari 1.500 orang yang mengikuti lomba tengkuluk lelunakan di Bali TV tersebut,” ujar pimpinan Lemba Kursus dan Pelatihan (LKP) Agung ini. Busana tengkuluk lelunakan juga digunakan oleh 45 penari yang meru pakan istri lurah, kepala desa, dan istri camat se-Kota Denpasar, yang memen taskan Tari Tenun dalam malam HUT Kota Denpasar ke-226, Kamis (27/2) di Ksirarnawa Art Centre, Denpasar. Dibantu 15 orang murid kursusnya yang sudah terlatih, Bu Agung dipercaya merias para penari tersebut yang salah seorang di antaranya adalah istri Wali Kota Denpasar, Ny. Selly D. Mantra. Melalui Tari Tenun yang dipentas kannya itu tersirat bahwa Ny. Selly Mantra ingin menyampaikan pesan bah
Bu Agung dan Ny. Selly Mantra saat mementaskan Tari Legong Keratonbeberapa waktu silam, dalam Seminar Internasional yang dihelat Kementerian Pendidikan dan Ke budayaan bekerjasama dengan UNESCO di Mercure Convention Hotel Ancol, Jakarta.
DISKON KURSUS 50%
Serangkaian HUT Kota Denpasar ke-226, LKP memberikan kesempatan luas kepada masyarakat umum untuk mengikuti kursus reguler di LKP Agung dengan memberikan diskon 50%. Materi yang diajarkan mencakup Tata Ke cantikan Kulit (perawatan muka, make up wajah, perawatan kaki dan tangan, perawatan tubuh), Tata Kecantikan Rambut (potong, kriting, blow, set, sanggu, creambath, pelurusan, dan cat rambut), Tata Rias Pengantin Bali (payas nista, madya, utama, modifikasi, tengkuluk lelunakan). Dengan hanya berkontribusi Rp 4,5 juta, peserta kursus bisa mengikuti semua materi tersebut. “Peserta hanya membayar sekali, kursus sampai bisa. Peserta kursus cukup datang membawa diri, karena semua peralatan dan perlengkapan kursus disiapkan LKP Agung,” jelasnya. Ia mengimbuhkan, Minggu (2/3), LKP Agung yang juga merupakan Tempat Uji Kompetensi (TUK) Tata Kecantikan satu-satunya di Bali, melaksanakan uji kompetensi yang diuji tim LSK pusat. Sertifikasi uji kompetensi ini dikatakan nya penting dimiliki bagi mereka yang bergelut di bidang tata rias sebagai pengakuan atas kompetensi/kemampuannya. “Bagi pemilik salon atau individu yang belum belum bersertifikasi, silakan hubungi kami, karena tiap tiga bulan kami mengadakan uji kompetensi,” imbau Bu Agung. LKP Agung memiliki tempat belajar yang memadai dan kondusif di dua tempat di Denpasar, dengan instruktur yang mempunyai latar belakang keahlian dan pengalaman legal yang tentunya telah mengantongi sertifikat kompetensi di bidang tata kecantikan. Sampai saat ini LKP Agung telah menamatkan 7.600 siswa didiknya yang sudah tersebar di Bali dan Nusantara. Disediakan pula beasiswa
wa Bali memiliki kain tenun ikat yang pantas dibanggakan dan dilestarikan, yakni endek. Secara berkesinambungan pula, Selly Mantra gencar menyosial isasikan endek yang bisa diaplikasikan ke berbagai produk. Karena itu pula, untuk kain/kamben para penari, Bu Agung memakai endek yang dikom binasikan dengan prada. “Tari Tenun dengan busana tengkuluk lelunakan itu menjadi aplikasi yang pas sebagai ikon Kota Denpasar dengan produksi endek lokalnya,” ujar Bu Agung. Kerjasama Bu Agung dengan TP PKK Kota Denpasar juga sudah terjalin cukup lama. Salah satunya dalam Lomba Menggunakan Pakaian Adat ke Pura yang diikuti SKPD se-Kota Denpasar, Mei 2011, yang juga tercatat dalam Rekor Muri. Tujuannya tak lain untuk melestarikan cara berbusana adat ke pura yang baik dan benar, yang dimulai dari lingkungan SKPD/instansi pemer intah. “Melalui kegiatan ini saya ingin mengingatkan para perempuan Bali boleh saja tampil modis dan meng ikuti tren mode, namun jangan sampai kebablasan. Harus tahu menempatkan kapan dan dimana pemakaiannya. Dengan adanya lomba semacam ini, saya berharap cara berbusana adat Bali yang baik dan benar ini semakin tersosialisasikan, sehingga budaya Bali lestari,” ujar Bu Agung.
3 - 9 maret 2014
S U D U T PA N D A N G
Ubah Perilaku perlu Konsistensi Pernah mendengarkan rekaman suara Polwan di lampu lalu lintas yang ada di persimpangan jalan utama? “Selamat pagi Bali, awali dengan senyum. Kecelakaan selalu diawali dengan pelanggaran lalu lintas. Jadilah pelopor keselamatan berlalu lintas.” Demikian se kelumit potongan pengumuman yang berbunyi saat lampu berwarna merah.
AKBP Heri
Ketut Suyastra
Putu Raj Yamuna
Hal ini relatif lebih aman jika membi arkan siswa berangkat sendiri-sendiri. Pengawasan juga menjadi lebih mudah. Solusi lain, penggunaan angkutan umum. “Pemerintah bisa menyiapkan transportasi publik yang merata,” kata Rai Ridharta. Namun, yang menjadi kendala adalah tidak semua sekolah berada di jalur yang terhubung dengan angkutan umum. “Saya sudah terlibat dalam angkutan transportasi Den pasar, Badung, Gianyar, dan Tabanan (Sarbagita) sejak awal. Banyak kendala yang dihadapi dalam memaksimalkan angkutan ini, terutama dana. Dana yang diajukan tidak sesuai dengan yang cair, jadi pengerjaannya pun tersendat,” ung kap Rai Ridartha. “Jika kebutuhannya Rp 125 miliar, tapi hanya cair Rp 5 miliar, misalnya, ya pengaruhnya kecil dalam mengatasi ini,” imbuhnya. Meski begitu, Rai bangga melihat ada siswa SMP 9 Denpasar yang turun dari bus Sarbagita. Di dekat sekolah itu memang ada halte bus Sarbagita. Artinya, sarana transportasi massal ini bermanfaat bagi mereka khususnya bagi sekolah yang berada di dekat jalan raya. Penggunaan angkutan massal ini mampu mengurangi siswa yang naik kendaraan pribadi serta mengurangi angka kecelakaan lalu lintas. Ia pun mengajak semua pihak untuk terus menyosialisasikan pentingnya keselamat an berlalu lintas dan meminimalkan pelanggaran lalu lintas. Ide program bersepeda sekolah juga penting direalisasikan. “Sekolah punya peran penting juga dalam men gatasi angka kecelakaan lalu lintas. Dulu SMAN 3 Denpasar hanya mem perbolehkan siswa naik sepeda motor atau diantar. Ini kalau diterapkan bagus karena bisa menunjang pola hidup se hat. Tetapi, sekarang sudah tidak ada lagi sekolah yang menerapkan seperti itu,” tandas AKBP Heri. Beberapa tahun silam SMAN 3 Denpasar dikenal sebagai sekolah yang melarang siswanya naik kendaraan ber motor ke sekolah. Siswa hanya boleh naik sepeda gayung ke sekolah. Namun, pro gram itu sudah tidak ada. “Kami realistis dengan kondisi zaman. Kami larang ke sekolah naik motor, tetapi motor ditaruh di luar sekolah. Bagi kami yang terpenting adalah kedisiplinan siswa. Ini bisa diben tuk melalui pendidikan karakter. Kalau dia sudah disiplin, baik di rumah, di sekolah, di jalan pasti disiplin,” ujar Kepala SMAN 3 Denpasar Drs. Ketut Suyastra, M.Pd.
“Jika hanya satu sekolah yang menerap kan program bersepeda ke sekolah, tentu pasti hilang. Di sini dituntut peran pemerintah untuk membuat peraturan misalnya, seluruh sekolah hanya mem bolehkan siswa diantar-jemput atau naik sepeda ke sekolah,” kata AKBP Heri. Program lain yang bisa menjadi bagian dari kesadaran berlalu lintas pun diterapkan di SMAN 3 Denpasar. Sekolah ini sering mengadakan sidak untuk me meriksa kelengkapan kendaraan bermtor yang dipakai siswa. “Jika ada yang tidak lengkap, kami dari pihak sekolah mem beri pengertian, kelengkapan kendaraan adalah salah satu cara untuk menjaga keselamatan. Kalau urusan SIM dan surat kendaraan, itu sudah ranahnya kepolisian,” ujarnya. Pola ini dinilai cukup efektif untuk menekan kasus kecelakaan. Tiap penerimaan siswa baru juga dilakukan kegiatan sosialisasi yang melibatkan pihak kepolisian. Saat itulah siswa diingatkan lagi tentang pentingnya tertib lalu-lintas. Ketua Samas Bali Endra Datta menuturkan, Samas Bali memiliki pro gram kampanye Bike to School yang memiliki target siswa yang peduli terh adap ancaman serius lingkungan terkait global warming serta mereka yang mengambil aksi nyata, salah satunya dengan bersepeda ke sekolah. “Respons yang kami dapat, mereka sadar dan mendapat informasi secara baik menge nai isu lingkungan. Bahaya dan ancaman dari dampak panas bumi mereka sudah tahu. Tapi, mereka belum tergugah untuk take action secara riil. Jika ingin bersepeda, ada kendala-kendala klasik seperti jarak, capek, cuaca, dll. Kami evaluasi terus untuk membangkitkan idealisme mereka. Selain itu, memang perlu kerja sama dengan sekolah. Aparat kepolisian juga harus tegas terhadap pelajar yang naik motor tetapi belum cukup umur untuk memiliki SIM. Pe merintah juga perlu menyiapkan lagi lajur sepeda,” paparnya. Ia menambahkan, terus melakukan kampanye di komunitas tetapi untuk masuk ke sekolah terkendala izin yang susah. Strategi lain pun sedang disiap kan dan Maret ini mulai dilaksanakan. “Mengubah perilaku dari nyaman ke “susah” perlu konsistensi,” ujar pemilik Warung Rani ini. Dari pantauan Samas, di SMPN 1 Abiansemal dan SMPN 2 Abiansemal sudah ada yang mau naik sepeda ke sekolah.–Ngurah Budi
erilaku berlalu lintas secara tertib menjadi sebuah cara mengatasi kecelakaan lalu lintas. Kalau sudah mengikuti aturan namun tetap juga kecelakaan, itu nasib namanya. Tapi, kasusnya kecil. Coba kita kembali pada diri sendiri, apakah kita memakai helm dengan benar? Apakah kita sudah me makai sabuk keselamatan selama ber kendara mobil?” kata Ketua Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) Wilayah Bali I Made Rai Ridartha, ATD, Dipl. UG, MEngSc. Rai Ridartha pun menuturkan pen galamannya ketika anaknya tidak mau mengenakan helm saat berpakaian adat ke sekolah. Dia menegaskan, anaknya wajib pakai helm. Jika tidak mau pakai helm, ia menyuruhnya naik angkutan umum. Jika tidak mau juga, jangan
dartha menyarankan, penggunaan arah mata angin. Misalnya, angkutan utara, timur, selatan, barat. Siswa bisa memilih mana yang sesuai jalur menuju rumah nya. Selain angkutan, perlu disiapkan juga lokasi menjadi titik konsentrasi. “Siswa datang dari rumah lalu menuju ke titik konsentrasi. Pulangnya, turun di titik konsentrasi,” ujarnya. Jika siswa diantar ke titik konsen trasi lalu ditinggal oleh pengantarnya, ini disebut kiss and ride. Tetapi, jika siswa yang sudah cukup umur untuk memiliki SIM memarkir kendaraannya di lokasi yang dekat dengan konsentrasi, lalu ia naik angkutan massal, disebut park and ride. Pola park and ride biasanya diterapk an jika lokasi konsentrasi berupa terminal yang memiliki tempat parkir luas sedangkan kiss and ride se ring diterapkan di halte. Penerapan pola antar-jemput de
membagi tiga kategori untuk antarjemput. Kategori khusus yang jaraknya jauh, seperti Mas dan Pemogan. Biaya per bulannya Rp 390 ribu. Kategori A untuk lokasi yang agak dekat, biayanya Rp 285 ribu. Kategori B yang lokasinya dekat sekolah biayanya Rp 200 ribu. Biaya itu sudah termasuk asuransi,” ujar Putu yang juga putra pendiri Yayasan Pendidikan Raj Yamuna, Made Okin Adiyana. Ia menambahkan, dengan adanya angkutan sekolah, pihaknya turut berkontribusi mengurangi kemacetan lalu lintas. Jika semua siswa diantarjemput oleh orangtuanya tentu kemac etan akan bertambah parah. Dari 600 siswa Raj Yamuna, 75% menggunakan angkutan sekolah. Sisanya, mereka yang tinggal dekat sekolah atau me mang mempunyai orang yang bertugas mengantar-jemput. “Selama ini saya mengamati, siswa yang ikut angkutan sekolah akan lebih mudah bersosialisasi, disiplin, mandiri,
Yohanes Kartika Herdiyanto
Endra Datta
Rai Ridartha
sekolah. “Tentu dia memilih pakai helm,” katanya. Masalah murid di bawah umur mengendarai kendaraan sendiri ke sekolah menjadi pembicaraan yang tiada habisnya. “Di sini, peran orang tua sangat diperlukan. Orangtua harus tegas. Jangan memberikan kesempatan dan izin kepada anak mengendarai kendaraan sendiri,” kata Wadir Lantas Polda Bali AKBP Heri Armanto Sutikno, S.H., M.Si. Peran orangtua sangat jelas dalam hal ini. “Masalahnya, ada aturan tapi seringkali kita tidak memberikan contoh dalam menegakkan disiplin. Kita perlu ingat, orangtua punya tanggung jawab untuk mengantar, entah itu menyuruh orang lain atau melakukannya sendiri,” ujar Yohanes Kartika Herdiyanto, Kepala Bagian Psikologi Industri/Organisasi dan Sosial Program Studi Psikologi Fakultas Kedokteran Unud. “Jika alasannya tidak ada yang mengantar atau tidak ada transportasi, sekolah bisa berperan dengan menyediakan angkutan sewa,” imbuh AKBP Heri. Drs. AA Gd. Agung Rimbya Temaja, M.Ag., Kepala SMP 1 Denpasar menu turkan, sekolahnya pernah menyiapkan angkutan untuk pengantaran. “Karena banyak yang ikut dan harus diantar, ada yang malam hari baru sampai di rumah. Kasihan juga kalau sampai di rumah malam,” tandas pria yang juga Kelian Banjar Kertalangu ini. Menurut Rai Ridharta, masalah itu biasanya muncul karena letak domisili siswa terlalu menyebar. Karena itu, jika sekolah menyediakan angkutan sekolah, perlu pemetaan domisili siswa. Rai Ri
ngan angkutan massal ini akan lebih baik lagi jika armada yang tersedia representatif dan jadwal kendaraan juga harus teratur. “Kalau pukul 06.30, ya harus pukul sekian sudah siap. Kalau terlambat, itu risiko sendiri. Peng gunaan angkutan massal ini minimal bisa mengurangi angka kecelakaan dan pelanggaran yang dilakukan pelajar di jalan,” tegas pria kelahiran Pekanbaru, 4 Agustus 1965 ini. Angkutan massal ini bisa dikelola sekolah atau bisa juga pemilik angkutan. “Di Mengwi, angkutan massal benarbenar dimanfaatkan oleh anak-anak sekolah. Ini lumayan untuk mengurangi angka kecelakaan di tingkat pelajar,” imbuh Drs. I Nyoman Subrata, M.M., Kabid Dikdas Dinas Pendidikan, Pe muda, dan Olahraga Provinsi Bali. Salah satu sekolah yang menerap kan angkutan massal untuk antarjemput siswa adalah TK, SD, dan SMP Raj Yamuna. Sejak berdiri tahun 1979 hingga kini, sekolah ini masih menerapkan program angkutan mas sal. “Pendiri kami mengadopsi sistem yang diterapkan di Jepang. Anak-anak di sana wajib naik bus sekolah. Karena dinilai baik, makanya dijadikan contoh dan diterapkan di sekolah ini,” ujar Koordinator Transportasi Yayasan Pen didikan Raj Yamuna, Putu Raj Yamuna Adiyana, S.Sos. Saat ini tersedia 12 armada, dua di antaranya cadangan untuk melayani antar-jemput siswa Raj Yamuna. Lokasi terjauh yang dijangkau adalah Desa Mas, Ubud untuk wilayah utara dan timur, sedangkan wilayah selatan hingga Pemogan, Denpasar Selatan. “Kami
tidak bergaya hidup mewah, serta terbiasa dalam kebersamaan. Seringkali anak yang lebih besar akan mengalah terhadap adik kelasnya. Orangtua juga mendukung apa yang sudah menjadi program yayasan sejak baru berdiri ini,” tegas ayah dua anak ini. Salah satu contoh kedisiplinan adalah ketika pulang sekolah, anak-anak yang naik angkutan sekolah diutamakan. Mereka berbaris di dekat kendaraan yang akan mengantar mereka pulang. Siswa yang dijemput orangtuanya di sekolah harus mengalah dan pulang setelah semua siswa naik angkutan sekolah. Selain untuk antar-jemput, ang kutan sekolah juga dipakai jika siswa melakukan kegiatan di luar sekolah.
“P
kursus gratis bagi mereka yang kurang mampu dan putus sekolah, yang benarbenar berminat di bidang tata kecantikan. Syarat dan ketentuan berlaku. Masyarakat yang berminat, silakan mendaftar di Sekretariat LKP Agung, Jalan Anggrek No. 12 Kreneng, Denpasar. Telepon 0361 233850, 081 1393602, faks. 0361 247153. Cabang Tohpati, Jalan WR. Supratman No. 303 A, Tohpati, Denpasar. Email: lkp_agung@yahoo.com. website: www.salonagung.com. –Inten Indrawati
Lima besar Teruni Kota Denpasar 2014 dalam balutan busana tengkuluk lelunakan
Ketua TP PKK Denpasar Ny. Selly Mantra (dua dari kanan-atas) dan Bu Agung bersama 45 Penari Tenun yang merupakan istri lurah, kepala desa, dan istri camat se-Kota Denpasar dalam balutan busana tengkuluk lelunakan
19
Suasana diskusi terbatas “Kecelakaan Lalu Lintas di Kalangan Pelajar” yang digelar Mingguan Tokoh
D AYA C I P TA
18
3 - 9 maret 2014
Kalau tidak Ogah-ogah bukan Ogoh-ogoh Ogoh-ogoh merupakan salah satu kreativitas budaya masyarakat Bali yang banyak ditemukan menjelang Hari Raya Nyepi. Karya seni yang berwujud tiga dimensi ini menginterpretasikan bentuk-bentuk dari bhuta kala (energi kegelapan). Bhuta kala dianggap sebagai penyimbang alam semesta beserta isi nya. Bagaimana proses penciptaan ogoh-ogoh dan apa beda ogoh-ogoh dengan patung? bhuta kala sehingga ogoh-ogoh dibuat dalam bentuk yang mer nyeramkan sebagai refleksi sifatsifat negatif agar tidak mengganggu alam semesta. Candra yang piawai membuat ogoh-ogoh ini menuturkan budaya ogoh-ogoh mulai dikenal sejak ke luarnya keputusan Presiden RI no 3 tahun 1983 yang menyatakan hari raya Nyepi sebagai hari libur nasional. Masyarakat menyambut
suka cita dan diwujudkan dengan membuat ogoh-ogoh yang ber langsung hingga sekarang. “Dalam sastra, tidak ada keharusan atau kewajiban membuat ogoh-ogoh saat Pengerupukan (sehari sebelum Nyepi). Namun, karena jiwa seni dan kreativitas masyarakat Bali yang tinggi, ogoh-ogoh pun menjadi tradisi. Dulu dirunut ke belakang, ogoh-ogoh sudah ada sejak zaman dulu dan dipakai masyarakat seba gai pelengkap upacara,” ujar ayah lima anak ini. Perkembangan zaman dan teknologi juga membuat pem buatan ogoh-ogoh makin kreatif. Dulu bahan yang dipakai berupa kayu dan bambu agar tidak terlalu berat saat diusung. Kini banyak yang menggunakan gabus atau styrofoam yang lebih ringan dan tahan lama. “Proses pembuatan ogoh-ogoh mulai dari mencari inspirasi atau ide yang datang kapan saja dan dimana saja. Setelah ada ide, tuangkan ke dalam sketsa global, lalu dibuat kan bentuk kasar atau kerangka, dilanjutkan dengan memberikan bentuk atau pendukung gerak, lalu dicat dasar. Ada yang menggunakan cat yang dilapisi fiber. Ini mem
Wayan Candra
“M
asyarakat Bali menginter pretasikan pros esi Hari Raya Nyepi dalam bentuk karya seni yang mengandung nilai budaya yang tinggi. Selain untuk kepuasan batin, juga sebagai wujud bakti kepada Sang Pencipta,” ujar Drs. I Wayan Candra, pimpinan Sanggar Gases Denpasar. Ekspresi dan bentuk ogoh-ogoh merupakan simbol dari bhuta kala. Inspirasi dari tawur kesanga yang merupakan kurban suci untuk menyomya (meningkatkan status)
Proses pembuatan ogoh-ogoh
Kabur ke Jawa Telantar di Lombok Beberapa tahun lalu, di salah satu sudut perumahan di Kota Mataram, seorang gadis duduk termenung di gardu ronda. Pakaiannya lusuh dan tubuh tidak terurus. Ia sudah berada di berugak tersebut sejak dua hari lalu. Awalnya tidak ada yang memperhatikan gadis bermata bening ini. Warga mengira ia tengah menanti seseorang. Namun, pada hari kedua, warga baru sadar bahwa gadis tersebut masih juga berada di berugak ini.
W
buat ogoh-ogoh tahan lama. Tahap terakhir pemberian aksesoris dan finishing,” papar Candra yang berlatar belakang undagi (seni man patung) ini. Ia menuturkan ide pembuatan bisa dida patkan dengan me mikirkan, membaca, atau melihat sesuatu. Ide itu lalu divisual isasikan sesuai dengan tahapan yang ia sebut kan. Kini pria kelahiran 15 Maret 1955 ini le bih banyak mengawasi saja karena ia sudah memiliki pekerja yang menggarap. Dalam
sepuluh hari bisa diselesaikan 20 ogoh-ogoh. Ogoh-ogoh sebagai sebuah karya seni memiliki banyak unsur seni, ada seni patung, seni ukir, seni lukis, dan seni karawitan. Jika dikaitkan dengan seni kontemporer, ogoh-ogoh bisa dikategorikan seni instalasi serta seni pertunjukkan. “Ada kriteria khas dari ogohogoh. Bentuknya tiga dimensi, perpaduan dari banyak unsur seni dan ditarikan bersama secara ogahogah (digoyang-goyang). Kalau dia tidak di-ogah-ogoh, namanya pa tung, bukan ogoh-ogoh. Karena itu pawai ogoh-ogoh melibatkan massa dan masing-masing akan menarikan ogoh-ogohnya agar nampak hidup,” jelas kakek tujuh cucu ini. Proses “penghidupan” ogohogoh bisa dilakukan dengan peng urip, pemelaspas sampai pasupati. Namun, setelah selesai pawai atau arak-arakan, ogoh-ogoh harus dipralina bisa dengan api atau air. Can dra mengingatkan jangan mempasu pati ogoh-ogoh jika tidak bisa mempralina. Cukup lakukan prayascita (pembersihan), lalu dibawa keliling kampung, setelah selesai lakukan pralina dengan labaran atau segehan. Tujuannya, jika ada roh gentayangan yang masuk badan ogoh-ogoh bisa kembali ke asalnya. Beberapa ogoh-ogoh yang “menyeramkan” biasanya bertema Sang Kala Durga Maya, Sang Kala Ludra, Sang Kala Bhuta Langkir, Sang Hyang Kala, Sang Kala Bhuta Siyu, Sang Kala Lembu Kanya, dan Sang Kala Wimurca. Bentuk dari masing-masing tema ini disesuaikan kreativitas dan imajinasi pembuat nya. –Ngurah Budi
l i f e s to ry
3 - 9 maret 2014
arga menduga ia tersesat. Saat ditemu kan, ia sudah tidak lagi bisa bicara. Entah per istiwa apa yang sudah dialaminya sehingga ia tampak shock dan gagu. Warga juga menduga ia korban kekerasan, karena ditu buhnya seperti punggung sampai pinggang ditemukan luka memar seperti terkena benda tumpul. Ketika ditanya tentang identi tasnya, ia hanya berdiam diri dengan pandangan kosong dan bola mata yang menyorot tajam kebingungan. Tak satu pun doku men melekat pada dirinya untuk mengetahui siapa ia sebenarnya. Karena merasa prihatin dengan kondisinya, warga memutuskan merawatnya beberapa hari di rumah salah seorang warga. Mungkin saja ia mau bicara agar bisa dikembalikan ke orang tua atau keluarganya. Salah seorang ibu rumah tang ga, Alsirah (50) yang tinggal di kompleks tersebut mendekati nya. Ia seperti orang ketakut an. Ia benamkan wajahnya di antara tubuhnya yang dekil dan kurus. Sorot matanya, kosong. Gerakannya lemah terkesan malas. Selain Alsirah, beberapa ibu rumah tangga lainnya juga berdatangan melihat kondisinya. Alsirah lalu bertanya, tentang identitasnya. Begitu juga dengan para ibu lainnya. Gadis itu tidak
bisa menjawabnya. Sikapnya datar dan seperti tidak ingin mengenal siapa-siapa. “Berkali-kali ditanya, berkali-kali pula ia hanya menatap kami,” ungkap Alsirah. Karena kasihan, Alsirah ke mudian membawanya pulang ke rumah. Di sana ia sempat dimandikan dan dirawat selama beberapa hari. Namun, karena gadis ini tidak bisa berbicara (di anggap bisu), Alsirah merasa harus menitipkannya di rumah negara. Selain karena itu, gadis tersebut susah sekali diatur. Ga dis itu pun lalu dititipkan pada salah satu rumah aman di Ma taram. Di sana ia dirawat dan petugas rumah aman terus men coba melakukan pendekatan agar terkuak identitasnya. Satu minggu berada di rumah aman, petugas belum juga tahu siapa namanya dan di mana alamatnya. Hari-harinya hanya makan dan tidur. Diajak bicara ia hanya mem balas dengan tatapan kosong. Prilakunya kasar. Jika keinginan nya tidak dituruti, ia biasanya marah dan tidak jarang meludahi dan menjambak kawan lainnya. Petugas merawat dan memeliha ranya dengan penuh kesabaran dan perhatian. Ia rupanya keras hati. Jika menginginkan sesuatu namun tak tersampaikan, ia bisa diam dan “ngambek” berhari-hari. Tidak jarang juga ia terlihat me nangis dan sedih. Ia selalu tidur di siang hari dan jarang sekali tidur
di malam hari. Waktu malam ia habiskan untuk menonton televisi hingga menjelang subuh. Seharihari ia apatis dan asosial. Ia sudah tidak lagi peduli dengan sekitarnya bahkan dirinya. Suatu hari setelah enam bulan berlalu, ia mau bicara tapi dengan informasi sangat minim. Ia bilang bernama Rowana (nama samaran). Ia ke Mataram dibawa seseorang bernama Rohidah yang berprofesi sebagai pengajar. Informasi lainnya, ia naik bus. Ia juga mengaku bahwa ibunya masih hidup. Informasi yang diberikan juga berubah-rubah. Ia mengaku ke Mataram naik truk lewat Pelabuhan Lembar bersama Agus, pacarnya. Namun ia tidak mengetahui Agus itu berasal dari mana. Ketika ditanya lebih detil ten tang siapa nama ibunya dan alamat pastinya, ia diam dan menggeleng. “Setelah itu saya sangat pelit bicara karena saya kesulitan berkomunikasi verbal,” ungkap Rowana. Tiap kali ditanya, ia selalu bilang ”Rowana lupa”. Minimnya informasi yang diberikan Rowana membuat petugas kesulitan menguak identitasnya sehingga sulit melacak keluarganya. Dalam waktu berbulan-bulan, petu gas belum berhasil menguak identitasnya karena semakin lama kosa kata Rowana semakin sedikit. “Saya ha nya bisa bilang mau pulang, setelah itu diam,” ujarnya menyadari kebingungan petugas rumah aman saat mengurusnya. Hal inilah yang membuat petugas kesulitan memenuhi permintaannya untuk pulang. Permintaan nya untuk pulang sangat se ring dilontarkannya. “Tidak mungkin petugas melepas saya jika saya sendiri tidak lagi tahu berasal dari mana. Saya berterima kasih pada petugas yang telah merawat saya dan tidak membiarkan saya terlunta-lunta di jalanan. Saya juga berterima kasih pada ibu-ibu di perumahan yang sudah menyelamatkan saya,” lanjutnya. Besarnya keinginannya
untuk pulang membuat Rowana beberapa kali hendak melarikan diri dari rumah aman. Karena itu, petugas keamanan agak ketat mengawasinya. Bagaimana tidak, pernah ia beberapa kali sudah keluar dari halaman berjalan tak punya tujuan. Beruntung ia segera ditemukan. Bahkan, saking be sarnya keinginan untuk pulang, ia pernah mengelabui petugas dan petugas keamanan yang berjaga di pintu masuk panti tersebut dengan cara menyamar. Ia memakai baju rangkap-rangkap dan memakai helm milik petugas yang diam bilnya dari tempat parkir sepeda motor. Sampai akhirnya ia sadar bahwa ia harus berprilaku baik. Beberapa waktu kemudian ia mulai menjadi normal dan sedikit demi sedikit ia lancar berbicara. Sampai akhirnya terkuaklah siapa sebenarnya Rowana. Ia berasal dari Pulau Sumbawa dan tinggal di pelosok desa. Rowana mengingat bahwa ia telah diperlakukan tidak baik oleh pacarnya yang melari kannya hingga ke Pulau Jawa lalu
7
memulangkannya hanya sampai Pulau Lombok saja. Di sanalah kisah awalnya ia terlunta-lunta. Trauma yang hebat membuatnya menjadi gagu dan apatis. Setelah ingatannya kembali dan ia bisa bicara normal, ia sadar bahwa tidak mungkin pulang ke rumah orangtuanya setelah apa yang terjadi padanya. Ia kekeh meninggalkan rumah, lari bersama pacarnya yang ru panya tidak bertanggung jawab. Ia melawan orangtuanya demi laki-laki tak bermoral itu. Rowana sangat rindu orang tuanya. Ia in gin meminta maaf pada mereka namun tidak punya keberanian untuk melakukannya. Ditambah lagi rasa malu yang amat dalam membuat ia memutuskan “lari” seterusnya dari orangtua dan kampung halaman. Kerinduan untuk pulang itu selalu ada. “Nanti jika saatnya tiba dan saya siap, saya ingin sekali pulang,” kata Rowana yang kini bekerja di bagian penjualan alat-alat rumah tangga. -Naniek I. Taufan
8
BUNDA & ANANDA
Diare tak Harus Diobati Antibiotika Suatu pagi, Nana mengeluh sakit perut. Bocah kelas 3 SD ini bolakbalik ke toilet. Biasanya, ia hanya buang air besar sekali di pagi hari. “Yang keluar cairan saja,” ujar Nana kepada ibunya. Ibunya pun membuatkan larutan gula dan garam untuk mengatasi diare Nana.
dr.I Putu Gede Karyana, Sp.A(K)
I
bunya menduga Nana jajan sembarang di sekolah sehingga berdampak pada pencernaannya. “Selain memberikan larutan gula dan garam, saya biasa memberikan salak,” ujarnya. Ia merasa kasihan jika putri sulungnya ini diare. Kondisinya melemah. Akhirnya, Nana tak jadi pergi ke sekolah. Ia beristirahat di rumah untuk memulihkan kondisinya. Diare adalah sebuah penyakit di mana tinja atau feses berubah menjadi lembek atau cair yang biasanya terjadi paling sedikit tiga kali dalam 24 jam. Kondisi ini dapat merupakan gejala dari luka, penyakit, alergi (fructose, lactose), kelebihan vitamin C, dan mengonsumsi buah-buahan tertentu. Biasanya disertai sakit perut dan seringkali mual dan muntah. Memakan
makanan yang asam, pedas, atau bersantan sekaligus secara berlebihan dapat menyebabkan diare juga karena membuat usus kaget. Diare dapat menjadi gejala penyakit yang lebih serius, seperti disentri dan kolera. Kondisi cuaca yang tidak stabil, sanitasi tempat pengungsian yang buruk serta kondisi rumah yang masih kotor terkena genangan air. Sulitnya mendapat air bersih menyebabkan mudahnya terjadi wabah diare setelah banjir. Penyakit diare yang terlihat ringan justru bisa membahayakan jiwa, karena saat tubuh kekurangan cairan, maka semua organ akan mengalami gangguan. Diare akan makin berbahaya jika terjadi pada anak-anak. Gejala yang biasanya ditemukan adalah buang air besar terus menerus disertai dengan rasa mulas yang berkepanjangan, dehidrasi, mual dan muntah. Ketua Perhimpunan Gastrohepatologi dan Nutrisi Anak Indonesia (PGHNAI) dr.I Putu Gede Karyana, Sp.A(K) me ngatakan kasus diare tidak bisa dianggap remeh. Sejak ber dirinya PGHNAI, diare pada anak menjadi fokus perhatian. Angka kematian akibat diare di Indonesia dan Asia Tenggara sangat tinggi. “Kami akan ber koodinasi dengan Kementerian Kesehatan untuk ikut terlibat menurunkan angka kematian akibat diare. Selama ini program dari pemerintah sudah ada, namun kurang maksimal dalam penerapannya. Para dokter yang tergabung dalam
PGHNAI siap untuk membantu penatalaksanaan penanganan diare,” ujarnya. Ia menjelaskan secara umum penyakit diare disebabkan oleh virus, bakteri, dan parasit. Dari ketiga penyebab ini, virus yang paling banyak (80-90%) sedangkan bakteri dan parasit (10-15%). “Jika dilihat dari virus, yang paling banyak adalah rotavirus. Kami
dokter biasanya akan menanyakan sejak kapan mulai diare, apakah ada demam dan muntah. Diare yang ditandai dengan muntah-muntah berat, demam ringan biasanya disebabkan oleh virus. Diare yang ditandai den gan muntah ringan, demam serta nyeri perut disebabkan oleh bakteri. Diara disertai darah, ini juga diebabkan oleh bakteri. Diare karena parasit sangat jarang terjadi apalagi pada anak ber usia di bawah satu tahun. “Kalau diare karena virus, anak tidak perlu antibiotika. Berikan saja oralit. Kalau masih minum ASI lanjutkan pemberia n ASI. Jika dalam waktu dua sampai tiga hari
3 - 9 Maret 2014
menjaga mata air. Mata air yang bersih yang bisa meminimalkan kasus diare. Pendekat an lain juga dilakukan dengan melakukan komunikasi, informasi, dan edukasi (KIE) kepada masyarakat. Menjaga kebersihan diri dan kebersih an lingkungan merupakan upaya awal untuk mencegah terjadinya diare. Faktor risiko terjadinya diare antara lain tidak memberikan ASI eksklusif pada enam bulan pertama. Bayi yang mendapatkan susu formula lima kali lebih sering sakit diband ing bayi yang mendapatkan ASI eksklusif. Pemberian ASI ini pun dilanjutkan hingga bayi berusia satu tahun. “Perhatikan juga penyiapan makanan, penggunaan air bersih, dan jangan sembarangan membuang feses anak yang menderita diare,” ujar ketua PGHNAI periode 2013-2016 ini Ia menambahkan PGHNAI memiliki tugas berat untuk terjun ke masyarakat memberikan penyuluhan mengenai penatalaksanaan penanganan diare.
dr.karyana bersama anak-anak Timor Timur saat bertugas di Puskesmas Tutuala
pernah melakukan penelitian gabungan di beberapa rumah sakit di Indonesia. Hasilnya, 55% diare disebabkan rotavirus. Kalau penelitian di RS Sanglah malah 63%. Rotavirus ini virus demokratis karena bisa menyerang siapa saja,” ujar dokter anak di RS Sanglah dan RS Puri Bunda ini. Jika anak mengalami diare,
www.medkes.com
masih diare, segera hubungi petugas kesehatan. Kalau diare berdarah, baru diberikan antibiotika,” ujar dokter yang gemar memancing ini. Dokter Karyana menuturkan pengalamannya ketika bertugas sebagai dokter PTT di Puskesmas Tutuala, Los Palos. Ia melakukan pendekat an kepada masyarakat untuk
Selain diare, masalah hepatitis B yang banyak terjadi pada anak-anak juga menjadi program organisasi yang terdiri dari dokter umum, dokter anak, dan dokter spesialis yang memiliki ketertarikan dengan saluran cerna, hati, dan nutrisi. Dari hasil Kongres Nasional VI yang dilaksanakan di Denpasar, terungkap infeksi saluran cerna dan hati yang paling sering menimbulkan kematian dan me nimbulkan masalah kesehatan masyarakt adalah diare dan hepatitis B. Selama ini penanganan diare dinilai belum maksimal. Anak usia di bawah 5 tahun pa ling rentan meng alami diare. Karena itu koordinasi antara pemerintah dengan tenaga kesehatan san gat diperlukan. Pe n y u l u h a n d a n seminar pun kerap dijadikan ajang sosialisasi. – Ngurah Budi
G R I YA
3 - 9 Maret 2014
17
Sudah Ergonomiskah Kursi Anda? Kursi adalah sebuah perabotan rumah yang biasa digunakan sebagai tempat duduk. Pada umumnya, kursi memiliki empat kaki yang digunakan untuk menopang berat tubuh di atasnya. Beberapa jenis kursi, ada yang hanya memiliki satu kaki di bagian tengah, ada juga dengan tiga kaki, bahkan lebih dari empat kaki. Kadang-kadang kursi juga dilengkapi dengan sandaran kaki.
N
amun, apa saja yang perlu dipertimbangkan dalam memilih kursi? “Kursi yang dipakai harus ergonomis, karena ini akan memberikan kenyamanan dalam beraktifitas, dan meminimalisir keluhan akibat kerja,” ujar Dr. I Gusti Ngurah Ardana, M. Erg., yang menekuni bidang ilmu Desain Interior dan Ergonomi ini. Pada prinsip ergonomi, tubuh dirancang bukan untuk didiamkan, harus digerakkan. Dalam beberapa saat harus ada pergantian posisi, salah satu otot istirahat, otot lainnya bekerja. Karena itu, posisi duduk dalam batas waktu tertentu harus diubah. Jika posisi sama berlangsung lama, maka hanya satu otot yang bekerja. Sementara otot lainnya diam. Kondisi ini tidak bagus bagi kedua otot. “Otot yang diam akan menimbulkan keluhan. Apalagi diam dalam waktu lama pada fasilitas (kursi) yang tidak ergonomis,”
Dr. I Gusti Ngurah Ardana, M. Erg.
ujar dosen Desain Interior di Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD) ISI Denpasar ini. Kursi yang ergonomis adalah kursi yang mengikuti atropometri pemakainya untuk menghindari risiko keluhan karena pemakaian berjam-jam. Kursi ergonomis
yang baik akan meningkatkan kenyamanan dan produktivitas kerja penggunanya. Jenis kursi apa pun, ditegaskannya, harus ada sandaran lengan. Jika tidak, otomatis lengan bergelantung atau ditaruh di atas paha atau meja. Jika lengan ditaruh di atas meja, akan berpengaruh pada pundak. Sementara, jika lengan ditaruh di atas paha, paha akan tertekan. “Prinsipnya, permukaan tubuh tak boleh ditekan, walaupun tidak berat. Sama seperti tidur. Permukaan tubuh/ saraf-saraf yang berstuhan dengan benda lain walaupun itu lembek, sama dengan tekanan. Tekanan ini dihindari dengan pergantian posisi tubuh,” jelas Ketua LP2M ISI Denpasar ini. Ada beberapa jenis kursi sesuai fungsinya, di antaranya kursi makan, sofa, kursi kerja, kursi malas. KURSI MAKAN Desain kursi makan hendaknya memiliki sandaran punggung tegak 90 derajat. Tubuh yang tegak saat makan akan memperlancar masuknya asupan makanan. “Sebaiknya juga memiliki sandaran lengan, apalagi jika aktivitas makan lebih dari satu jam,” ucap Ngurah Ardana. Demikian halnya sofa, yang biasa ditempatkan di ruang tamu atau ruang keluarga. Juga harus memiliki sandaran punggung dan sandaran lengan. Namun, untuk sofa perlu diperhatikan tinggi dudukannya, yakni sesuai dengan popliteal (dari telapak kaki sampai lekukan bagian bawah lutut) pemakai yang sedang duduk, atau sejajar dengan sudut paha dan perut. Karena umumnya, dudukan sofa empuk. Jika empuk, pantat akan lebih menekan masuk, dan otomatis sudut paha dan perut kurang dari 90 derajat. “Dudukan jangan juga terlalu padat, karena permukaan pantat akan tertekan,” tegasnya. Untuk dudukan, Ngurah Ardana merekomendasikan memakai busa alam yang terbuat dari karet, seperti yang umum dipakai jok mobil. “Dacron juga cukup bagus dan layak,” ujarnya. KURSI KERJA Desain kursi kerja hendaknya memiliki sandaran punggung dengan kemiringan 105 derajat-110 derajat, karena waktu bekerja lebih lama daripada
Contoh kursi ergonomis
makan. Pilih kursi kerja yang bisa diatur atau yang biasa disebut kursi eksekutif (adjustable), baik itu dudukan ataupun sandaran lengannya. Kursi yang pada saat-saat tertentu bisa difungsikan bersandar, dan juga sesekali membungkuk. “Prinsipnya, energi mampu bertahan kurang lebih satu menit. Rata-rata maksimal orang duduk adalah satu jam, setelah itu harus peregangan, seperti berdiri. Di tempat duduk tidak boleh statis. Maksimal dalam 15 menit harus ganti posisi, tegak, bungkuk, bersandar. Demikian halnya dengan posisi kaki, karena itu kursi kerja juga hendaknya punya sandaran kaki,” papar Dosen Pasca ISI Denpasar yang juga Dosen S-2 dan S-3 Ergonomi di Unud ini.
diinginkan/kebutuhan. Namun, pada kursi malas, biasanya sekali diatur dipakai untuk jangka waktu lama. Pengaturannya pun umumnya secara manual. Umumnya, kursi malas memakai tambahan alas sandaran baik itu untuk susukan atau punggung. Bisa memakai spon yang dilapisi kain. Hindari yang berbahan vinil/plastik karena tak menyerap panas. Sebenarnya, dilanjutkan Ngurah Ardana, jika dudukan dan sandaran punggungnya dari anyaman rotan, lebih baik lagi jika tanpa alas. Karena, anyaman rotan memiliki pori-pori banyak yang bisa membantu sirkulasi udara di antara tubuh dan alas kaki. “Jika kursi sudah memakai anyaman rotan, tidak perlu lagi memakai spon, karena anyaman lontar sudah bersifat lentur,” ujarnya. –Inten Indrawati
KURSI MALAS Hampir sama dengan kursi kerja, kursi malas juga hendaknya bisa diatur sesuai dengan posisi tinggi yang
Ilustrasi: net
3 - 9 maret 2014
16
HUT ke-39
Iwapi SiapTerapkan GCG Menghadapi tantangan pelaksanaan kesepakatan Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) dengan membangun optimisme, perlunya memiliki tata kelola usaha yang baik, menumbuhkan dan mencetak wanita pengusaha yang tangguh dan berkarakter. Demikian beberapa hal yang menjadi topik dalam Rakerda DPD Iwapi Bali yang dirangkaikan dengan perayaan HUT ke39 Iwapi, diselenggarakan di Gedung Kesenian Ir. Soekarno, Jalan Sudirman, Negara beberapa waktu lalu.
P
ada kesempatan tersebut Bupati Jembrana dalam sambutannya yang dibacakan oleh staf ahli Arimbawa mengungkapkan kegiatan Rakerda dan HUT ke-39 Iwapi kali ini san gat penting, dalam rangka meny iapkan dan mencetak para wanita
pengusaha di Bali, dalam upaya mendukung pengembangan per ekonomian dan pembangunan. Dengan adanya kegiatan menumbuhkan dan mencetak 1.000 wanita pengusaha yang tangguh dan berkarakter, di harapkan mampu menghasilkan produksi karya dan menciptakan
Pelantikan DPC IWAPI Kota Denpasar
Promosi Wisata Berbasis Budaya
“K
Foto bersama pengurus dan anggota Iwapi Bali dan kabupaten kota se-Bali usai rakerda
lapangan kerja. Ketua Umum DPP Iwapi Ir. Dyah Anita Prihapsari, MBA., dalam sambutannya yang diba cakan Ketua Iwapi Bali Dr. AAA Ngr. Tini Rusmini Gorda, S.H., M.H.,M.M., mengingatkan agar wanita pengusaha selalu kreatif dan inovatif menghadapi tan tangan. Apalagi, pemberlakuan Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) 2015 meletakkan pereko nomian Indonesia di tengah per simpangan. Namun, di satu sisi, MEA juga membuka kesempatan yang lebih besar dan lebih luas lagi bagi produk Indonesia untuk menyerbu pasar ASEAN. Wanita pengusaha ungkap Nita Yudhi mesti mampu memenuhi persyaratan Good Corporate Governance (GCG), seperti ad ministrasi usaha, perpajakan, lapo ran keuangan dan kepegawaian, di samping kualitas produk. Jika ang gota Iwapi telah memenuhi syarat tata kelola usaha yang baik, begitu
juga dengan produknya memiliki daya saing tinggi, Indonesia akan sejahtera. Menyebut program kerja Iwapi tahun 2014, disebutkan banyak terkait dengan penguatan usaha anggota. JADI PENGUSAHA ADALAH TUJUAN HIDUP Begitu juga yang dungkapkan Ketua Iwapi Bali, Tini Gorda bahwa wanita pengusaha yang tangguh dan berkarakter pasti bisa diwu judkan oleh Iwapi Bali. Ketika di intern semangat dan fokus untuk mewujudkannya, maka akan mu dah membuka jejaring ekstern untuk bersinergi mewujudkan tema yang diangkat pada acara tersebut yakni ”HUT ke-39 Iwapi Mendu kung Program Good Corporate Governance Menuju Indonesia Sejahtera dengan Mencetak 1.000 Wanita Pengusaha yang Tangguh dan Berkarakter”. Untuk mewujudkan hal terse
Sebagian Pengurus Iwapi bersama tim dari Hardys usai menghitung pengumpulan koin untuk kepentingan anak yang bersentuhan dengan hukum
Pengurus DPC IWAPI Badung usai pelantikan
but, lanjut Gung Tini dibutuhkan dukungan. Sebab, ini merupakan gerakan yang mulia, merubah pola pikir bahwa menjadi pengusaha adalah target dan tujuan hidup selain sebagai pegawai. Serangkaian HUT ke-39 Iwapi, gerakan mulia lainnya telah pula dilangsungkan yakni kunjungan ke Panti Asuhan Pryahati, Jembrana serta kegiatan pengumpulan koin Rp 1.000-an, untuk kepentingan anak yang bersentuhan dengan hukum. Selanjutnya, pada acara talk show yang juga terselenggara pada hari yang sama, Ida Ayu Indra Kondi Santosa W, S.H., M.Kn., mengatakan hal senada dengan Tini Gorda, yakni jadilah wanita pengusaha yang tangguh dan berkarakter untuk bisa meme nangkan persaingan. Ir. Gede Agus Hardyawan, juga bicara peran Iwapi dalam mendu kung program Good Corporate Governance (GCG). Betapa pen erapan GCG merupakan langkah awal, sehingga ketika memutus kan menjadi pengusaha wanita, mampu dan mengetahui serta mengaplikasikan prinsip dan azas GCG pada perusahaan. GCG mesti diaplikasikan secara visioner agar mampu menjadi pedoman dan inspirasi untuk terus bertumbuh dan berkembang. Sementara Ketua Panitia Rak erda, Ninayanti berujar kalau mo mentum ini sebagai bagian proses pematangan serta pengokohan eksistensi organisasi Iwapi beserta seluruh anggotanya. –ard
Ketua Iwapi Bali bersama Gede Hardy dan Dayu Kondi (dibelakang pakai endek) narasumber talk show
9
Gus Soma dan Ica
Masalah pariwisata tak bisa dilepaskan dari budaya. Bagaimana upaya mempromosikan pariwisata yang berbasis budaya diungkapkan Ida Bagus Ketut Soma Antara dan Ni Putu Angelica Indah Putri.
Kunjungan ke Panti Asuhan Priyahati
Pemotongan tumpeng HUT ke-39 Iwapi
DARA
3 - 9 maret 2014
ita mem promosikan pariwisata dari minat dan bakat yang kita miliki. Bisa dengan mengadakan pentas seni tari bagi yang gemar menari, pentas tabuh bagi yang suka seni tabuh. Selain itu, bisa juga mem promosikan hasil produk atau kerajinan dalam negeri untuk menarik minat wisatawan asing datang ke Bali,” ujar pria kelahiran Denpasar, 27 Juli 1992 yang akrab disapa Gus Soma ini. Selain memberikan jawaban yang lugas dan realistis itu, Gus Soma juga mempraktikkan ke mampuan dalam mengaplikasikan budaya Bali. Ia mampu membuat sanggah cucuk dalam waktu 1,5 jam. Prestasi lainnya, menjadi juara
1 kekawin desa putra Utsawa Dharma Gita Kota Denpasar 2011, juara 2 sloka remaja putra Utsawa Dharma Gita Provinsi Bali 2007, dan juara 1 geguritan remaja putra Kota Denpasar 2006. Keahlian lain yang ia kuasai adalah mengukir, khususnya ukir buah. Alumnus SMKN 3 Denpasar yang kini masih tercatat sebagai mahasiswa STP Bali Internasional ini pernah meraih juara 1 Fruit and Vegetable Contest. Kumpulan prestasi dan kepiawaiannya ini membuat Gus Soma berhasil menyandang gelar Teruna Denpasar 2014. Gelar Teruni Denpasar 2014 diraih Ni Putu Angelica Indah Putri sekaligus sebagai juara fotogenik. Keduanya akan mewakili Kota Denpasar di ajang Jegeg Bagus Bali 2014.
Ketika disodori pertanyaan tempat wisata mana yang akan dipromosikan dan apa alasannya, Angelica yang akrab disapa Ica mengatakan Lapangan Puputan. “Lapangan Puputan adalah pusat kegiatan di Kota Denpasar yang bisa dipakai olahraga dan refreshing bersama keluarga. Puputan juga dekat dengan Pura Jagatnatha dan Museum Bali. Sangat efektif kalau promosi di sana. Halte Sarbagita juga dekat sehingga memudahkan wisatawan yang ingin berwisata,” ujar perempuan kelahiran Den pasar 8 Februari 1995 ini. Ia mengaku ikut ajang Teruna Teruni Denpasar 2014 hanya bermodal kemampuan sering ikut lomba fashion dan fotogenik. Dere tan prestasinya di kedua bidang ini membuat percaya diri. Namun, ia tak sepenuhnya yakin bisa menang karena para peserta kali ini banyak yang pintar dan cantik. “Sebelum lomba, saya belajar membuat canang sari lengkap. Ternyata se telah melakukan semua tes, saya bisa menang. Benar-benar kaget setengah mati bisa jadi juara,” ujar
Gus Soma dan Ica
alumnus SMAN 7 Denpasar yang kini kuliah di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Udayana dan bercita-cita menjadi pengusaha di bidang fashion ini. Pemilihan Teruna Teruni Den pasar 2014 digelar Pemerintah Kota Denpasar melalui Dinas Pariwisata Kota Denpasar. Ajang ini bertujuan untuk memilih generasi muda Kota Denpasar yang memahami dan memiliki kreativitas di bidang budaya dan pariwisata sehingga dihasilkan para Duta Pariwisata dan Budaya yang mumpuni untuk ikut
serta meningkatkan pembangunan pariwisata di Kota Denpasar Persyaratan utama yang wajib dimiliki oleh peserta baik teruna maupun teruni adalah brain, beauty dan behaviour serta memahami bu daya Bali yang merupakan akar dari kearifan lokal yang ada di Denpasar. Penampilan dan kemampuan public speaking merupakan aspek yang sangat penting dalam ajang ini. Pe menang ajang ini mendapatkan ha diah piala bergilir, piala tetap, selem pang, piagam, dan uang tunai. –Sri Ardhini.
Wisuda Sarjana IKIP PGRI Bali XXXII
Empat Dosen Menangkan Dana Hibah
Senin (24/2) bertempat di Ball room Hotel Inna Grand Bali Beach, Sanur, IKIP PGRI mewisuda 318 sar jana baru. Momentum bersejarah ini dikatakan Rektor IKIP PGRI Bali Dr. I Made Suarta, S.H.,M.Hum. sebagai bentuk pertanggungjawaban lembaga kepada masyarakat. Output lulusan yang berkualitas dan memiliki daya sa ing tinggi, tentu menjadi tujuan penye lenggaraan pembelajaran di Lembaga Pendidik Tenaga Pendidikan tervaforit di Bali ini. Karena itu, secara berkes imbungan pula dilakukan peningkatan layanan baik dari segi fasilitas dan SDM, termasuk kualifikasi dosen. Tahun 2014, Made Suarta men gungkapkan ada empat dosen IKIP PGRI Bali yang mampu memenangkan Hibah Bersaing Penelitian Desentral isasi Dirjen Dikti, yakni Dr. I Made Suarta, S.H., M.Hum., Dr. AA Ngr Adhiputra, M.Pd., Drs. I Wayan Su santa, M.Pd., Drs.I Made Darmada,
Prof. Sucipta
M.Pd. “Pihak yayasan juga tetap konsis ten memberikan bantuan dana motivasi untuk penelitian dosen di lingkungan IKIP PGRI Bali,” imbuh Ketua YPLP IKIP PGRI Bali Drs. IGB Arthanegara, S.H.,M.Pd. Ia cukup berbangga hati karena sekarang ini di IKIP PGRI Bali tak ada lagi program studi yang terakreditasi C. Se mua PS sudah terakreditasi B. Itu berarti lulusan IKIP PGRI Bali bisa penuh per caya diri melenggang maju untuk mengi kuti testing pada pembukaan CPNS yang membutuhkan lulusannya. Arthanegara menambahkan para alumnus IKIP PGRI Bali sejak tahun 1988 tersebar kemanamana, dan kini tampil menjadi guru-guru professional dan bermartabat. Bahkan, ada juga yang menjadi kepala sekolah, kepala Dinas Pendidikan, dosen, dekan, Wakil Ketua DPRD, Bupati, dan rektor, seperti Rektor IKIP PGRI Bali sekarang yang merupakan mahasiswa angkatan pertama di IKIP PGRI Bali. Ketua Pengurus PGRI Bali Dr. I
Wenten Aryasuda
Gede Wenten Aryasuda, M.Pd. me nyampaikan sejak diundangkannya UU Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, pembahasan, kajian, serta program-program aksi terus dilakukan untuk memenuhi standar kualifikasi dan
Arthanegara
kompetensi guru, dalam rangka peningkatan kualitas dan integritas pelaksanaan tugas keguruan seba gai sebuah profesi yang merupakan konsekuensi dari sebuah keputu san politik. Koordinator Kopertis Wilayah VIII Bali-Nusra, Prof. I Nyoman Sucipta menyampaikan pada per guruan tinggi yang berkualitas akan terjadi saling pengaruh antara kekayaan karya akdemiknya dan apresisasi masyarakat. Hal ini terkait dengan sesuatu yang ber sifat inti yakni visi, motivasi, dan kualitas SDM perguruan tinggi. “Semua itu adalah aset penting yang dapat menjelma menjadi kekuatan amat besar dari bangsa ter cinta ini,” ujarnya. Kondisi perguruan tinggi di Indo nesia saat ini dikatakannya ada masalah yang sumbernya adalah visi, motivasi dan kualitas idealisme pelakunya yang berhadapan dengan masyarakat yang sering tidak mendu kung program perguru an tinggi. “Tampaknya masyarakat di dalam maupun di luar PT akan terbagi dalam tiga kel ompok, yakni sekitar 10% kelompok yang mendukung secara positif, 10% kolompok yang tidak mendukung, dan 80%nya kelom pok masyarakat yang tidak perduli. Dengan demikian, tampaknya PT bukan merupakan kepentingan bersama
dalam membangun bangsa,” pa parnya. Selanjutnya, dalam upaya mem bangun kinerja PT, selayaknya pemerintah menjamin otonomi per guruan tinggi. Namun, saat ini masih banyak oihak yang keliru memahami makna otonomi perguruan tinggi. Hakikatnya otonomi pada PT adalah suatu sistem yang menjamin keber dayaan perguruan tinggi guna men jalankan fungsi dan tugasnya. Sesuai dengan maknanya, otonomi bersifat melekat pada hakekat perguruan tinggi dan sekurang-kurangnya meli puti kebijakan menetapkan program, sistem organisasi, sistem manajemen, sumber daya dan kebijakan mengelola keuangan. LULUSAN BAHASA BALI Khusus untuk lulusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Bali, Made Suarta menyampaikan tak perlu galau lagi. Karena, berdasarkan Pergub No. 20 tahun 2013 tentang Bahasa, Aksara, dan Sastra Bali pada Pendidikan Dasar dan Menengah, bahwa Bahasa Bali menjadi pelajaran tersendiri dalam kurikulum 2013. “Guru Bahasa Bali juga sudah dapat mengikuti UKG dan sertifikasi tersendiri karena Kemen terian telah menyiapkan slot khusus untuk itu,” ujarnya. Pada wisuda kali itu lulusan ter baik diraih Kadek Dwi Farmani dari Program Studi Pendidikan Matemati ka dengan IPK 3,75. Pada kesempatan itu diserahkan pula kenag-kenangan kepada IGA Made Adi Suandana,M. Fis HIFO sebagai Ketua Alumni IKIP PGRI Bali. –ten
BUGAR
10
3 - 9 Maret 2014
Ganti Kaus Kaki Tiap Hari K
melalui kontak langsung dengan bagian kaki yang terkena kutu air atau bisa juga melalui kontak tidak langsung dari partikel kulit penderita yang tertinggal pada handuk, sepatu, atau lantai. Pada orang-orang yang mengalami penurunan daya tahan tubuh seperti pencerita kencing manis atau HIV cenderung lebih mudah tertular kutu air. Penderita kutu air umumnya mengeluh gatal terutama saat berkeringat serta kaki yang berbau. Kulit pada sela jari yang terkena biasanya berwarna putih, lembab, dan kadang bersisik. “Karena rasa gatal yang hebat seringkali penderita menggaruk dengan keras sehingga timbul lecet-lecet dan bernanah,” tuturnya. Penyebaran penyakit ini bisa
Sehat ala Ade Rai
Kirim surat Anda ke Redaksi Tokoh dan cantumkan “Sehat ala Ade Rai” di amplop. Bisa juga dikirim ke redaksi@tokoh.co.id Rubrik ini diasuh Ade Rai.
Trauma: Saat bergerak, otot mengerahkan jumlah serabut yang sesuai dengan tekanan dari beban. Makin tinggi tekanan yang diterima (beban), makin besar pula jumlah serabut yang dipakai untuk bisa ‘melawan’ tekanan tersebut. Makin besar jumlah serabut otot yang dipakai untuk ‘melawan’ atau ‘menggerakkan’ tekanan tersebut, makin besar trauma pula yang terjadi pada otot. Trauma tersebut adalah dalam bentuk terjadinya robekan halus pada otot (muscle tear). Bagi pemula, segala jenis latihan beban adalah jenis tekanan yang tidak biasa diterima oleh tubuhnya, di mana pada setiap jenis latihan otot selalu mengerahkan jumlah serabut otot yang banyak atau maksimal. Oleh karena itulah pemula seringkali mengalami peningkatan massa otot yang paling cepat. Overkompensasi: Adanya upaya tubuh untuk “menambal” kerusakan otot dengan otot yang lebih besar / serabut otot yang lebih tebal sehingga tidak mudah dirusak oleh rekrut serabut otot maksimal (latihan intensitas tertinggi) yang pada sesi sebelumnya. Dengan kata lain, pertumbuhan otot adalah cara bagi tubuh untuk menghindari trauma saat diberikan tekanan yang sama dengan sebelumnya.
STYLE
Pesona Batik Bali
“Batik Bali was Born”, begitu tema yang diangkat Bintang Mira ketika tampil pada perhelatan fashion terbesar di tanah air, Indonesia Fashion Week 2014 di Jakarta Convention Centre, Senayan, Jakarta belum lama ini.
Pernahkah Anda merasakan gatal-gatal di kaki? Gatal ini tak henti-henti, bahkan terus digaruk-garuk hingga luka. Mungkin saja Anda terkena kutu air. utu air merupakan salah satu penyakit infeksi jamur kulit yang menyerang kaki. Kutu air tidak disebabkan parasit sejenis kutu. “Kutu air merupakan istilah atau biasa disebut tinea pedis dikenal juga dengan nama “athlete’s foot” karena seringkali diderita para atlet yang memiliki kebiasa an memakai sepatu tertutup dan lembab karena berkeringat dan digunakan dalam jangka waktu lama,” ujar dr. I Gusti Nyoman Darmaputra, Sp.KK. Dosen Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin Fakultas Kedokteran Unud/RS Sanglah ini menyebutkan, kutu air merupakan infeksi jamur yang menyerang bagian kaki yang lembab yaitu pada sela-sela jari kaki. Sela jari yang paling sering terkena adalah antara jari keempat dan kelima yaitu antara jari manis dan ke lingking. “Secara anatomis dua sela jari tersebut cenderung lebih menempel daripada sela jari yang lain. Selain pada sela jari, kutu air dapat menyebar ke bagian lain di kaki apabila tidak diobati dengan baik. Umumnya kutu air disebabkan jamur yang termasuk dalam golongan dermatofita,” kata pemilik Klinik D&I Skin Centre Bali ini. Ia mengatakan, penyakit ini bisa menular, karena kutu air merupakan penyakit infeksi jamur yang berbeda dengan penyakit alergi kulit yang umumnya tidak menular. Penularannya bisa
3 - 9 Maret 2014
Mira
dr. I Gusti Nyoman Darmaputra, Sp.KK.
berlangsung cepat atau lambat, tak jarang bersifat kambuhkambuhan sesudah diterapi terutama bila faktor pencetusnya
Kutu air
tidak dihindari. Faktor pencetus yang ter sering adalah pemakaian sepatu yang tertutup dan ketat sepanjang hari, sehingga suasana pada kaki akan menjadi lembab. “Apabila kebiasaan ini tidak dihindari, kutu air akan dapat kambuh lagi. Sebab tubuh kita normalnya adalah inang dari berbagai macam mikroorganisme, termasuk bakteri dan jamur,” katanya. Ia menyatakan, beberapa dari mikroorganisme sebenarnya bermanfaat bagi manusia. Namun, pada kondisi tertentu, dapat berkembangbiak secara cepat dan menimbulkan infeksi pada tubuh manusia. Untuk memastikan diagnosis kutu air diperlukan pemeriksaan laboratorium yang diambil dari bahan pada sela-sela jari yang terkena kemudian dilihat dengan
alat mikroskop untuk menemukan elemen jamur. Pengobatan kutu air umumnya menggunakan krim antijamur yang umumnya mengandung miconazole atau clotrimazole. Untuk mencegah kekambuhan dapat digunakan bedak tabur atau bedak antijamur pada sela jari yang terkena agar menjaga kondisi tetap kering sehingga jamur susah tumbuh kembali. Penggunaan krim antijamur sebaiknya tetap terus digunakan 1 sampai 2 minggu walaupun kelainan pada kulitnya sudah sembuh. Tujuannya, agar dapat menghilangkan semua elemen jamur. Dokter Dharmaputra me nyarankan, gantilah kaus kaki yang sudah terasa lembab. Atau, ganti kaus kaki jika sudah digunakan sepanjang hari. -Wirati Astiti
Bagaimana Otot Tumbuh? Proses ini terjadi segera sesudah latihan dan merupakan suatu proses yang sangat penting yang dinamakan dengan istirahat / recovery. Otot tidak bertambah besar saat latih an. Istirahat adalah saat di mana pembesaran otot terjadi. Istirahat bisa diartikan sebagai kesempatan yang diperlukan oleh otot tubuh (localized recovery) serta sistem pusat saraf (nervous system recovery) untuk pulih, memperbaiki kerusakan yang terjadi, dan menggunakan nutrisi yang masuk untuk kelangsungan hidup. Istirahat yang Cukup: adalah waktu yang diperlukan bagi tubuh untuk menggunakan nutrisi dari makanan untuk memperbaiki sel-sel atau jaringan yang rusak akibat olahraga. Seringkali kita meremehkan arti istirahat, padahal sebenarnya istirahat adalah saat terjadinya pertumbuhan otot. Terjadi kesalahpahaman selama ini bahwa otot tumbuh saat olahraga. Sensasi pengumpulan darah pada otot yang dilatih yang mengakibatkan pembengkakan sementara pada area tersebut telah disalahartikan sebagai pertumbuhan otot. Untuk kalangan pria, hal ini dianggap menyenangkan. Sementara untuk wanita, fenomena ini dianggap sebagai suatu hal yang menakutkan. Nutrisi Cukup dan Tepat: Nutrisi adalah bahan baku yang digunakan oleh tubuh untuk pulih. Dalam hal ini, karbohidrat, protein, lemak, vitamin, mineral, dan bahkan air perlu ada dalam jumlah yang cukup dan tersedia pada
(2)
waktu yang tepat. Acuan singkatnya adalah: Protein: 1,5 hingga 2,2 gram per kilogram berat badan. Prioritaskan pada sumber-sumber dan cara penyajian rendah lemak. Karbohidrat: 4-6 gram per kilogram berat badan. Prioritaskan pada sumber tinggi serat dan cara penyajian rendah lemak. Lemak: 0,6-0,8 gram per kilogram berat badan. Pastikan tidak terjadi penambahan minyak karena seringkali sumber protein telah mengandung lemak. Kalaupun terjadi penambahan, tambahkan dari sumber lemak tak jenuh tunggal dan ganda yang kaya akan asam lemak esensial. Air: 3 liter per hari. Vitamin dan Mineral: Dapatkan semaksimal mungkin dari sumber-sumber makanan protein dan karbohidrat. Apabila dirasakan kurang, tambahkan dengan multivitamin dan mineral. Keterbatasan bisa datang dari mana saja, termasuk motivasi, waktu, dan bahkan dana. Tetapi dengan mengetahui semua elemen yang diperlukan, maka proses pertumbuhan otot yang disampaikan di atas bisa diusahakan semaksimal mungkin. Setelah itu, yang fitnessmania perlukan hanyalah sedikit kesabaran untuk melihat hasil yang telah diupayakan tersebut. Selamat mencoba.
L
antas apa alasan Mira pada pagelarannya kali ini ia mengusung batik Bali? Tentu yang utama karena sejak lama dirinya memang termasuk pecinta batik. Kecintaan-
nya pada salah satu ragam budaya inilah yang menjadi inspirasinya untuk berkreativitas kali ini. Apalagi anggota APPMI Bali ini, menyadari selama ini Bali belum punya batik dengan ciri khas tersendiri. Ia tidak ingin,
15 orang –orang hanya mengenal batik Bali berupa sarung pantai dengan motif bunga sepatu atau hawaiian saja. Mira pun dengan daya ciptanya terjun menggali motif-motif batik yang diambilnya dari motif patra, poleng, barong dan yang lainnya. Dari bahan yang digarapnya ini, Mira berhasil menghadirkan pesona keindahan dan keunikan Batik Bali. Desain yang khas, simpel dengan perpaduan garis feminin dan maskulin, menjadikan karya-karyanya segar sebagai busana ready to wear. Bagi para fashionista yang suka tampi kasual dan trendi semua model kali ini dapat dijadikan pilih an. Sedangkan untuk menghadiri acara cocktail party cukup dengan menambahkan aksesori, tas serta sepatu high heels. –Sri Ardhini
J E L I TA
14
3 - 9 maret 2014
3 - 9 maret 2014
MITOS ATAU FAKTA
11
Jangan Bersihkan Luka dengan Alkohol Ada beberapa tindakan sederhana yang biasa dilakukan seseorang ketika mengalami luka ringan. Namun, seringkali penanganannya itu tak bisa dipertanggungjawabkan secara medis. Meski demikian, hal-hal yang sudah diyakini kebenarannya itu masih terus dilakukan. Untuk itu, dr. AA Ngr Gede Dharmayuda meluruskan beberapa hal.
Sanggul Kreasi Modern Ingin tampil rapi dan elegan saat berkebaya? Tatalah rambut Anda. Tidak perlu khawatir akan menjadi ribet, sebab semua bisa dibuat simpel dengan menggunakan rambut sendiri. sori yang lebih bersinar seperti sirkam bebatu an yang disematkan di
D
ewi Kader dari Dadari Salon & Rias Pengantin juga mengatakan demikian. Menurutnya lebih sopan dan rapi terlihat jika ram but digelung atau disanggul saat berpakaian adat Bali. Untuk pembaca Tokoh pekan ini, Dewi pun menghadirkan
beberapa kreasi sanggul modern khusus untuk remaja yang di sesuaikan dengan bentuk wajah dan acara yang akan di hadiri. Jika untuk sembahyang bisa dipilih yang simpel dengan me nyisipkan sekuntum bunga segar. Sedangkan untuk ke pesta kreasi rambut bisa lebih bervariasi dan dapat ditambahkan akse
bagian samping. Dewi juga mengatakan untuk rambut yang agak pan jang, kini banyak yang memi lih untuk ditata membentuk sebuah sanggul berkepang samping atau bentuk jalinan lainnya. Sedangkan untuk poni, lebih banyak yang minta dibawa ke samping, atau yang panjang ikut dikepang untuk kesan lebih romantis. Menurut Dewi, hampir semua gaya rambut yang can tik dan anggun kali ini, selain nyaman dikenakan saat ber kebaya juga dapat dipadukan dengan celana panjang. – Sri Ardhini
Mitos: Ketika digigit serangga atau tergores duri, penanganan pertama adalah mengoleskan air liur ke bagian luka. Fakta: Air liur mengandung banyak komponen. Ada komponen elektrolit, senyawa antibakteri (tiosianat), beberapa enzim, se nyawa protein, jamur, bakteri , virus, sel-sel lapisan mulut juga mengandung sekresi hidung. Dari semua kandungan yang terdapat dalam air liur, tidak ada kandun gan khusus yang berfungsi sebagai penyembuhan luka. Jika air liur dioleskan pada luka, justru bisa menyebabkan infeksi, karena air liur bisa terkontaminasi dengan bakteri, jamur maupun virus. Be lum lagi jari tangan yang digunakan untuk mengoleskan luka dalam keadaan kotor, justru akan mem buat luka menjadi tambah parah. Dalam sebuah penelitian di Belanda merekomendasikan air liur untuk penyembuhan luka, namun hal ini masih perlu penelitian lebih jauh untuk pembuktian. Karena untuk menjadi sebuah metode pengoba tan, sesuatu tersebut harus melalui beberapa tahapan penelitian klinis sampai benar-benar terbukti ber manfaat bagi manusia. Mitos: Ketika mengalami luka, segera beri alkohol agar tidak infeksi
dr. Oka Negara, FIAS
Fakta: Saat ini masih sangat banyak masyarakat yang melakukan pencucian luka dengan alkohol. Hal ini kurang tepat karena alkohol merupakan cairan yang sangat tok sik yang dapat menyebabkan keru sakan jaringan. Jika hal ini terjadi, tentunya penyembuhan luka akan terhambat dan hasil penyembuhan luka akan kurang sempurna karena jaringan yang rusak akibat adanya luka, akan semakin rusak akibat sifat toksik dari cairan alkohol. Alhohol efektif apabila digunakan untuk mensucihamakan daerah permu kaan tubuh yang sehat sebelum dilakukan tindakan pada daerah tersebut. Mitos: Biarkan luka terbuka/ tidak diperban agar cepat kering Fakta: Penutupan luka merupa kan tindakan sangat penting dalam proses perawatan luka. Pada kasus luka yang bersih dari benda asing, tidak ada kontaminasi kuman atau perdarahan sudah berhenti, pe nutupan luka secara primer justru harus dilakukan agar penyembuhan luka semakin cepat. Apabila hal-hal tersebut tidak ada (sifat luka kotor, ada kontaminasi bakteri atau masih ada pendarahan), penutupan luka ditunda dulu sampai hal terse but teratasi. Karena, penutupan luka pada keadaan tersebut bisa menimbulkan perdarahan di bawah
Kirim surat Anda ke Redaksi Tokoh dan cantumkan “Sex Edu”di amplop. Bisa juga dikirim ke redaksi@tokoh.co.id. Rubrik ini diasuh Asosiasi Seksologi Indonesia (ASI) Denpasar.
Malam Pertama “Dok, aku akan mengambil cuti kerja buat menikah beberapa bulan lagi. Aku bisa jadi tidak seperti perempuan zaman se karang, karena aku masih teguh berprisip hubungan seksual harus dinikmati dan baru bisa dilakukan setelah menikah. Aku dan calon suami belum pernah sama sekali berhubungan seksual walau sudah pacaran empat tahun lamanya. Aku ingin malam pertama nanti akan jadi indah buat kami berdua. Apa yang perlu aku lakukan dan perhatikan buat malam pertama nanti, dok?” (Nur,24) Kali ini topiknya cukup ri ngan karena tidak banyak pem bahasan bersifat medis. Peng alaman hubungan seksual per tama kali tentu saja tiada akan terlupa. Yang memiliki prinsip mempertahankan virginitas hingga malam pertama tentu saja masih banyak, hanya saja yang terpapar media memang banyak kisah aktivitas seksual pranikah dan di luar pernikahan,
jadi kesannya zaman sekarang itu sudah jamak dilakukan. Tentu saja banyak orang yang berharap malam pertama adalah momen yang indah dan perlu dipersiap kan demi kebahagiaan bersama. Berikut adalah beberapa hal yang perlu dipersiapkan untuk mem buat malam pertama Anda akan semakin membahagiakan. Jangan stres. Walau ini ada lah sebuah peristiwa penting,
kulit (hematoma). Terkadang pada kasus seperti itu, luka dibiarkan menutup secara sekunder atau alamiah. Pada kasus luka dengan kontaminasi bakteri berat, maka akan dilakukan pembersihan luka (debridement) secara rutin sampai bersih dan kemudian baru akan dilakukan dengan penutupan luka. Mitos: Lebih baik luka diperban agar tidak kotor/infeksi Fakta: Pada luka yang sudah bersih, penutupan luka harus di lakukan, agar proses penyembuhan luka semakin cepat dan tentunya terhindar dari infeksi. Tetapi jika lukanya masih kotor, ada kontami nasi bakteri ataupun masih terjadi perdarahan, penutupan luka harus ditunda. Mitos: Jika luka, obati luka dengan kunir Fakta: Penyembuhan luka secara tradisional dengan meng gunakan kunir sudah merupakan
hal turun-temurun yang dilakukan masyarakat. Kandungan utama dari kunir adalah kurkumin, yang dalam banyak penelitian dikatakan memi liki banyak manfaat, salah satunya membantu dalam penyembuhan luka. Kurkumin dikatakan dapat mempercepat psoses proliferasi sel dan sistem kolagen pada luka. Na mun, hal tersebut masih memerlu kan penelitian lebih jauh khususnya pada manusia untuk membuktikan khasiatnya secara klinis . Jadi, se mentara hal tersebut masih meru pakan tradisi secara turun-temurun saja dengan memanfaatkan tana man herbal yang ada. Mitos: Obati luka dengan kabang-kabang, getah jepun, agar cepat tertutup Fakta: Dalam penanganan luka, hal terpenting yang harus diingat adalah bagaimana menjaga agar luka tetap bersih dan bebas dari kontaminasi bakteri. Banyak sekali hal-hal yang dilakukan secara tradisional yang ujung-ujungnya justru membuat luka menjadi se makin berisiko untuk mengalami infeksi. Oleh karena itu, tidak ada tindakan lain yang bisa dilakukan selain menjaga luka tersebut tetap bersih tanpa harus menambahkan luka dengan hal-hal yang belum terbukti secara klinis bermanfaat dalam proses penyembuhan luka. Mitos: Kalau terasa gatal pada luka, berarti luka akan segera sembuh Fakta: Proses penyembuhan luka terdiri dari fase awal, intermediate dan fase lanjut. Masing-masing fase memiliki proses biologis dan peranan sel yang berbeda. Pada fase awal, terjadi hemostasis. Pada fase ini pembuluh darah yang terputus
pada luka akan dihentikan dengan terjadinya reaksi vasokonstriksi un tuk memulihkan aliran darah serta inflamasi untuk membuang jaringan rusak dan mencegah infeksi bakteri. Pada fase intermediate, terjadi prolif erasi sel mesenkim, epitelialisasi dan angiogenesis. Selain itu, terjadi pula kontraksi luka dan sintesis kolagen pada fase ini. Sedangkan untuk fase akhir, terjadi pembentukan luka/ remodelling. Rasa gatal pada luka bisa karena adanya alergi, bisa juga karena infeksi. Rasa gatal bisa terjadi juga karena ter jadinya pelepasan jaringan sikatriks. Jadi, tidak sepenuhnya benar jika munculnya rasa gatal sebagai tanda penyembuhan luka. Lalu, bagaimana seharusnya penanganan ringan pada luka ? Kepala Puskesmas Denpasar Selatan I ini menjelaskan, pada kasus luka ringan, misalnya luka lecet akibat terjatuh, hal pertama yang harus dilakukan adalah membuat luka dalam kondisi bersih, yaitu dicuci dengan cairan normal salin (NaCl 0,9 %) sampai bersih dari benda-benda asing. “Ingat jangan membersihkan luka dengan alkohol, karena sangat toksik ter hadap jaringan,” ujar pengurus IDI Cabang Denpasar ini. Apabila sudah dibersihkan, luka kemudian ditutup dengan tetap menjaga luka dalam keadaan lembab. ”Moist Wound Healing” adalah metode untuk mem pertahankan kelembaban luka de ngan menggunakan balutan penahan kelembaban, sehingga penyembuhan luka dan pertumbuhan jaringan dapat terjadi secara alami. Munculnya kon sep “Moist Wound Healing” disertai dengan teknologi yang mendukung, menjadi dasar munculnya pembalut luka modern. –Inten Indrawati
cobalah lebih santai. Karena stres yang muncul akan mengurangi dorongan seksual Anda. Doro ngan seksual yang menurun akan mengakibatkan bangkitan seksual tidak maksimal sehingga saat behubungan seksual dinding vagina menjadi tidak mengalami perlumasan atau lebih kering, yang akhirnya bisa memunculkan rasa nyeri bahkan lecet. Ini bisa membuat trauma jadinya. Jadi, cobalah rileks. Bangun suasana romantis. Rasa deg-degan yang muncul saat malam pertama, bisa dile nyapkan dengan membangkitkan mood lewat susasana kamar yang diatur menjadi lebih romantis. Yang akhirnya malah muncul rasa nyaman dan keinginan kuat buat disentuh, dibelai dan dicumbu dengan hangat. Tidak ada salahnya mengatur cahaya lampu, memasang lagu romantis dan menambahkan bunga serta aroma terapi di dalam kamar. Buat pasangan terkesan. Ingat, ini adalah saat penting da lam hubungan Anda. Jadi, cobalah bergaya dan berpenampilan semenarik mungkin. Persiapkan diri untuk lebih siap, lebih wangi dan bersih. Wangi dan tampilan visual yang menarik tentunya juga akan membuat sebuah ket ertarikan seksual yang kuat, se hingga mengantarkan semuanya menjadi lebih sempurna menuju
babak hubungan seksual yang lebih hangat. Tatapan mesra. Laki-laki ingin menikmati waktu penting bersama pasangannya dengan mata saling menatap menunjuk kan rasa memang menginginkan keberadaannya. Tidak perlu ter lalu dipaksakan, kerena dengan suasana romantis yang dicipta kannya, tatapan mesra itu akan muncul secara alami. Tatapan mata ini juga menunjukkan adan ya komunikasi dari Anda. Bentuk komunikasi ini membuat pasang an Anda semakin nyaman. Busana seksi, kenapa tidak? Terutama bagi pihak perempuan, memakai busana yang membuat tampak semakin menarik dan mengundang gairah seksual bisa jadi akan membuat semakin percaya diri serta pasangan akan mendapatkan mood yang bagus buat bercinta. Sebuah survey pernah menyebutkan bahwa yang disukai laki-laki adalah menyaksikan perempuan me lepaskan lingerienya dari tubuh. Coba saja. Foreplay dan afterplay. Co balah lakukan foreplay atau pem anasan yang maksimal. Laki-laki ataupun perempuan sebenarnya suka digoda dan dipancing de ngan cara-cara agak “nakal” seba gai bentuk pemanasan sebelum bercinta, menyentuhnya lewat kecupan mesra dan berlama-la
ma melakukan ciuman dahsyat untuk menunggunya membalas dengan ciuman dan remasan lebih panas lagi di bibir dan payudara tentu saja akan meng antarkan kepada hubungan seksual yang sangat meng gairahkan. Dan jangan lupa buat kembali memberi sentuhan dan kecupan mesra setelah hubun gan seksual selesai, sekalian mengucapkan kata-kata manis dan menyenangkan bahwa Anda sangat menikmati hubungan seksual ini. Dari semuanya tentu saja akhirnya persiapan merupakan hal yang penting. Pastikan Anda sudah menyelesaikan seluruh pekerjaan kantor Anda atau sekalian ambil cuti untuk me nikmati malam pertama. Jangan tegang, jangan biarkan pikiran Anda saat berhubungan menjadi terganggu karena masih ada hal lain yang Anda pikirkan. Jangan lupa lihat diri Anda, apakah sedang bugar, sudah bersih dan terasa lebih wangi? Jadi pasangan juga akan terkesan. Semoga bagi pasangan yang akan menikah atau yang belum pernah melakukan hubungan seksual akan bisa menikmati dan mempersiapkan diri buat malam pertamanya karena ini bisa jadi akan penting dalam menjalani kehidupan dengan pasangan Anda. Semoga bermanfaat.
dr. AA Ngr Gede Dharmayuda
RESEP ALA CHEF
12
Aneka Kreasi Roti
A
nek roti ini rasanya sangat unik karena bahan dasar roti terbuat dari tepung singkong yang tidak mengandung gluten alias gluten free. Kali ini, Tokoh menyajikan resep aneka kreasi roti buatan tim Sanur Paradise
Roti Pisang Rasa Jahe
4 1
Plaza Hotel and Suites yang mendapatkan juara umum dalam ajang tersebut. Bread Creation ini dibawakan Chef I Wayan Dana yang dikomandani Chef Pastry Ketut Surna. Tim Sanur Paradise Plaza Hotel and Suites juga
Bahan isi: 300 gram : tape singkong 50 gram : gula pasir
1
50 gram : kacang mete bubuk 1 sdt : vanili cair Cara membuat: - Campur rata semua bahan isi. Sisihkan. - Bahan roti campur jadi satu, uleni hingga rata dan lembut. Diamkan sebentar bentuk bulat dan pipihkan. - Adonan diberi satu sdm bahan isi. Kemudian toreh-toreh di sisi kanan dan kirinya dan dilipat sehingga tertutup rapat menyerupai kepangan rambut. - Oven hingga matang.
Tuna Quice Kesuna Cekuh Bahan: 500 gram 2 butir 10 gram 25 ml 50 ml 200 gram
: : : : : :
tepung singkong (gluten free) telur ayam garam minyak goreng air tuna dipotong-potong kotak
Adonan cair: 250 ml : krim 250 ml : susu segar 1 sdt : garam 1 sdt : merica Bumbu kesuna cekuh: 100 : gram kencur 100 : gram bawang putih
1 lembar 2 biji 2 butir 50 gram 1 sdt 1 sdt
: : : : : :
: : : :
brown sugar telur ayam minyak goreng tepung singkong (gluten free) : baking powder : bubuk kayumanis : garam : susu cair : pisang yang dihaluskan
meraih juara I dalam masakan berbahan dasar daging sapi yang diwakili Chef de Cuisine Made Rusmawan. Berkat prestasi ini, Sanur Paradise Plaza Hotel and Suites berhak mendapat Piala Bergilir Wali Bahan selai: Kota Denpasar.
Roti Manis Isi Tape Bahan roti: 500 gram : tepung singkong (gluten free) 3 butir : kuning telur 75 gram : gula pasir 45 gram : yeast (pengembang roti) 50 gram : bubuk kacang mete 50 gram : mentega 20 gram : susu bubuk 10 gram : garam 200 gram : air
Bahan: 500 gram 10 gram 150 gram 500 gram 30 gram 5 gram 2 gram 100 ml 500 gram
daun lemo cabai rawit kemiri bawang merah garam gula pasir
2
300 gram 10 gram 25 gram 1 sdt 10 gram
: pisang matang : jahe parut : gula pasir : vanili : bubuk kacang mete
3
Cara membuat: - Selai: Campur semua bahan, kemudian dimasak dan diblender. Sisihkan. - Kocok gula, telur, dan minyak hingga mengembang. - Masukkan tepung, baking powder, bubuk kayumanis, dan garam, aduk hingga rata. - Masukkan susu cair dan pisang. - Masukkan ke dalam cetakan. Oven hingga matang. - Setelah matang keluarkan dari cetakan diiisi selai di atasnya.
Lavas Daun Jeruk Lemo
Bahan: 500 gram : 100 gram : 10 gram : 10 lembar : 50 gram : 10 gram : 2 butir : 200 ml :
tepung singkong (gluten free) keju garam daun lemo mentega gula pasir telur ayam air
3 - 9 Maret 2014
C U L I N A RY C O R N E R
13
Henry Alexie Bloem
Aneka isian dapat dimasukkan ke dalam roti. Mulai dari tape, pisang, jahe, bahkan bumbu kesuna cekuh. Inilah yang tergambar dalam acara lomba Bread Creation dalam ajang “Denpasar Fusion Food Festival”, Kamis ( 20/2) di Inna Grand Bali Beach Sanur.
2
3
3 - 9 Maret 2014
4
Cara membuat: - Aduk semua bahan, kecuali daun lemo dan keju. Cincang daun lemo hingga halus. - Masukkan daun lemo dan keju ke dalam adonan. Bentuk adonan menjadi tipis. Potong-potong segitiga. Oven hingga matang. –Wirati Astiti
Ciptakan Konsep Restoran Unik Membuka satu restoran bukanlah hal yang mudah. Banyak hal yang harus diperhitungkan dan disiapkan. President Indonesian Chef Association (ICA) Henry Alexie Bloem berbagi kiat dalam membuka restoran. Seperti apa?
“L
okasi sangat menentukan sukses dan kelangsungan restoran. Kita harus tahu siapa target market restoran kita, apakah orang lokal atau turis asing. Misalnya, di daerah Sanur yang merupakan daerah wisata, jelas yang disasar turis asing,” ujar lelaki yang akrab disapa chef Bloem ini. Ia menyarankan, sebaiknya kita melakukan survei, dengan melihat sekitar kiri dan kanan dari restoran kita, untuk menentukan konsep apa yang ingin ditonjolkan. “Usahakan jangan sama dengan restoran yang lain. Buatlah sesuatu yang unik dan mempunyai nilai lebih bagi pengunjung,” saran F&B Director Patra Jasa Bali Resort and Villas Kuta ini. Saat melakukan survei keliling ke beberapa restoran lain yang berdekatan dengan lokasi, sebaiknya, kita berbelanja dan mencoba makan di sana. Dengan masuk ke dalamnya, kita bisa melihat secara keseluruhan, mulai dari tata ruan-
gan, aneka menu dan rasa makanan yang bisa dijadikan perbandingan untuk menentukan konsep kita. “Ketika kita sudah melihat bisa dijadikan perbandingan, misalnya dari penataan ruangan, meja kursi, kebun, termasuk makanan yang dijual. Walaupun segmen pasar turis asing, tak salah jika kita menyajikan menu Barat dengan sentuhan autentik Indonesia atau Bali,” sarannya. Saat menikmati makanan, cobalah mengecek harga juga, karena ini dapat dijadikan acuan untuk menentukan harga dari makanan kita sendiri. “Misalnya, segmen pasar domestik harga yang pantas berapa, begitu juga untuk turis asing. Dari target market kita bisa menentukan harga,” kata lelaki keturunan Belanda asal Sesetan Denpasar ini. Ia mencontohkan, beberapa perbandingan harga makanan, misalnya appetizer atau makanan pembuka berkisar Rp 20 ribu sampai Rp 30 ribu. Main course atau makanan utama berkisar Rp 50 ribu sampai
Henry Alexie Bloem di depan Shankara Restaurant Sanur
Rp 70 ribu. Sedangkan makanan penutup atau dessert Rp 30 ribu. Namun, ia menegaskan, perang harga juga bisa dilakukan. Artinya, tak masalah kita menjual dengan harga lebih tinggi, jika menu sangat menarik, baik dari penampilan dan penyajian termasuk rasa yang menggoda. “Saat ini orang tak lagi hanya mencari makanan enak, tapi juga penyajian yang menarik, dan jangan lupa kenyamanan. Mereka berani membayar mahal untuk satu kenyamanan,” kata suami Dewi Mas Bloem ini. Ia mencontohkan, satu konsep misalnya “Modern Indonesia Cuisine.” Makanan gado-gado
Udang Saus Bangkok Lada bubuk secukupnya
Sarwan Bahan: 750 gr : udang, bersihkan, belah punggungnya, lumuri dengan perasan jeruk nipis, diamkan 5 sdm : saus bangkok 1 buah : jeruk lemon, ambil airnya 1 sdt : parutan jeruk lemon ½ buah : bawang bombai, cincang halus 1 sdm : saus tiram 1 sdt : minyak wijen 1 buah : tomat merah buat garnis Garam, gula, kaldu bubuk secukupnya
Cara membuat: - Rendam udang dengan sebagian saus bangkok, diamkan hingga meresap. - Panaskan minyak atau margarin, masukkan bawang bombai, tumis hingga harum. - Masukkan udang, bolak-balik hingga berubah warna. - Masukkan parutan kulit jeruk, parutan jahe, saus tiram, minyak wijen, aduk rata. - Masukkan sebagian saus bangkok, aduk hingga harum, tambahkan gula, garam lada dan kaldu bubuk secukupnya. - Tambahkan perasan air jeruk lemon, angkat.
- Masakan siap dihidangkan dengan taburan bawang putih goreng, hiasi dengan jeruk dan tomat merah.
Makaroni Saus Goreng
Cara membuat: - Kulit: aduk semua bahan hingga kalis, diamkan. Pipihkan adonan. - Isi: haluskan semua bumbu kesuna cekuh. Tumis sampai harum, tambahkan tuna, masak sampai matang. - Masukkan adonan kulit ke cetakan bentuk cup tambahkan adonan isi tuna, tuangkan adonan cair. Oven sampai matang Ketua ICA Bali Komang Adi Arsana (kiri) bersama tim Sanur Paradise Plaza Hotel and Suites
Bahan: 30 gr : margarin 50 gr : terigu protein sedang 200 ml : susu cair 100 gr : makaroni, rebus 60 gr : keju cheddar, parut 2 buah : sosis ayam, potong-potong kecil ½ buah : bawang bombai, cincang halus 2 sdm : bawang putih goreng, haluskan 1 tangkai : seledri, cincang halus ½ sdt : pala bubuk
atau plecing, tidak disajikan seperti gado-gado yang dijual di pasar dicampur semuanya. Misalnya, sayuran untuk gado-gado atau plecing digulung dengan kubis/kol. Kemudian ditata sedemikian di rupa di piring dengan bumbu ditempatkan terpisah. Lumpia isinya yang biasa kita kenal ada sayuran, tahu, dan tempe. Kita bisa berkreasi dengan lumpia isi bebek betutu atau rendang. Rujak mangga dikreasikan dengan udang sehingga menjadi rujak mangga udang dengan rasa pedas, manis, dan kecut. Rujak mangga udang ini bisa disajikan sebagai sambal peneman makan nasi. “Yang berubah hanya penyajian,
namun, keaslian rasa tetap tidak berubah,” ujarnya. Ia menyarankan, sebagai restoran yang mengusung konsep “Modern Indonesia Cuisine” dapat ditonjolkan elemen masakan Bali seperti bumbu basa genep. Contohnya, lumpia dengan isi bebek betutu. Ia menegaskan, komponen penting yang tak bisa berdiri sendiri adalah bagaimana pelayanan atau service juga sangat memegang peranan penting. “Waiter dan waitress juga sangat menentukan, misalnya bagaimana etika dan cara bicara mereka saat menerima tamu dan menyajikan makanan di depan tamu, terutama bagi turis asing,” katanya. Memang rekrutmen sumber daya manusia, perlu diperhatikan. Menurutnya, lebih baik merekrut tenaga muda yang lebih energik dan mudah untuk dibentuk. Walaupun ia tak menampik, ada senior yang harus juga direkrut untuk bertanggung jawab penuh alias orang kepercayaan. “Kalau pemiliknya, sudah memunyai keahlian dalam bidang kuliner, mungkin ia hanya perlu mencari karyawan. Beda dengan pemilik yang tak paham bisnis kuliner sehingga perlu mencari jasa konsultan. Ada konsultan khusus untuk menu atau biasa disebut konsultan lepas. Tugasnya memberikan pelatihan karyawan beberapa kali untuk berbagai menu pilihan. Ada juga konsultan tetap yang bekerja dua sampai tiga tahun, dimulai dari awal restoran dibentuk. Konsultan ini yang membuat konsep restoran tersebut,” ujar konsultan lepas Shankara Restaurant Sanur ini. –Wirati Astiti
Tahu Telur Pedas
Bahan: 300 gr : tahu putih, potong dadu 3 butir : telur, kocok lepas 2 batang : daun bawang, potong kecil-kecil 5 buah : cabai kecil, potong kecil-kecil ½ : bawang bombai, cincang halus 1 batang : daun seledri, cincang halus 1 buah : cabai merah besar, potong serong 1 buah : tomat hijau, potong dadu kecil 1 sdm : bawang putih goreng, haluskan Lada, Garam, gula dan penyedap secukupnya Daun pisang secukupnya
½ sdt : cabai bubuk 1 butir : telur Garam, gula, lada bubuk, kaldu bubuk secukupnya Minyak secukupnya, untuk menggoreng Bahan celupan: 2 butir : telur 100 gr : tepung panir kasar Cara membuat: - Panaskan margarin, masukkan bawang bombai, tumis sampai harum, tambahkan terigu, aduk hingga rata.
Cara membuat: - Campur tahu dan telur, aduk rata. - Tambahkan semua bahan menjadi satu, aduk hingga semua tercampur. - Bungkus dengan daun pisang, kukus selama 20 menit, angkat. - Masakan siap disajikan.
- Masukkan susu cair sedikit demi sedikit, sambil terus diaduk hingga licin, angkat. - Masukkan makaroni, sosis, keju parut, bawang putih halus, kaldu bubu, pala bubuk, merica, dan cabai bubuk, garam dan gula serta telur, aduk rata. - Tambahkan seledri, aduk hingga rata, bentuk bola-bola (oval). - Gulingkan di tepung panir, celupkan ke telur, gulingkan lagi di tepung panir. - Panaskan minyak, goreng dengan api sedang hingga matang kecokelatan. - Makaroni siap dihidangkan dengan saus bila suka.
RESEP ALA CHEF
12
Aneka Kreasi Roti
A
nek roti ini rasanya sangat unik karena bahan dasar roti terbuat dari tepung singkong yang tidak mengandung gluten alias gluten free. Kali ini, Tokoh menyajikan resep aneka kreasi roti buatan tim Sanur Paradise
Roti Pisang Rasa Jahe
4 1
Plaza Hotel and Suites yang mendapatkan juara umum dalam ajang tersebut. Bread Creation ini dibawakan Chef I Wayan Dana yang dikomandani Chef Pastry Ketut Surna. Tim Sanur Paradise Plaza Hotel and Suites juga
Bahan isi: 300 gram : tape singkong 50 gram : gula pasir
1
50 gram : kacang mete bubuk 1 sdt : vanili cair Cara membuat: - Campur rata semua bahan isi. Sisihkan. - Bahan roti campur jadi satu, uleni hingga rata dan lembut. Diamkan sebentar bentuk bulat dan pipihkan. - Adonan diberi satu sdm bahan isi. Kemudian toreh-toreh di sisi kanan dan kirinya dan dilipat sehingga tertutup rapat menyerupai kepangan rambut. - Oven hingga matang.
Tuna Quice Kesuna Cekuh Bahan: 500 gram 2 butir 10 gram 25 ml 50 ml 200 gram
: : : : : :
tepung singkong (gluten free) telur ayam garam minyak goreng air tuna dipotong-potong kotak
Adonan cair: 250 ml : krim 250 ml : susu segar 1 sdt : garam 1 sdt : merica Bumbu kesuna cekuh: 100 : gram kencur 100 : gram bawang putih
1 lembar 2 biji 2 butir 50 gram 1 sdt 1 sdt
: : : : : :
: : : :
brown sugar telur ayam minyak goreng tepung singkong (gluten free) : baking powder : bubuk kayumanis : garam : susu cair : pisang yang dihaluskan
meraih juara I dalam masakan berbahan dasar daging sapi yang diwakili Chef de Cuisine Made Rusmawan. Berkat prestasi ini, Sanur Paradise Plaza Hotel and Suites berhak mendapat Piala Bergilir Wali Bahan selai: Kota Denpasar.
Roti Manis Isi Tape Bahan roti: 500 gram : tepung singkong (gluten free) 3 butir : kuning telur 75 gram : gula pasir 45 gram : yeast (pengembang roti) 50 gram : bubuk kacang mete 50 gram : mentega 20 gram : susu bubuk 10 gram : garam 200 gram : air
Bahan: 500 gram 10 gram 150 gram 500 gram 30 gram 5 gram 2 gram 100 ml 500 gram
daun lemo cabai rawit kemiri bawang merah garam gula pasir
2
300 gram 10 gram 25 gram 1 sdt 10 gram
: pisang matang : jahe parut : gula pasir : vanili : bubuk kacang mete
3
Cara membuat: - Selai: Campur semua bahan, kemudian dimasak dan diblender. Sisihkan. - Kocok gula, telur, dan minyak hingga mengembang. - Masukkan tepung, baking powder, bubuk kayumanis, dan garam, aduk hingga rata. - Masukkan susu cair dan pisang. - Masukkan ke dalam cetakan. Oven hingga matang. - Setelah matang keluarkan dari cetakan diiisi selai di atasnya.
Lavas Daun Jeruk Lemo
Bahan: 500 gram : 100 gram : 10 gram : 10 lembar : 50 gram : 10 gram : 2 butir : 200 ml :
tepung singkong (gluten free) keju garam daun lemo mentega gula pasir telur ayam air
3 - 9 Maret 2014
C U L I N A RY C O R N E R
13
Henry Alexie Bloem
Aneka isian dapat dimasukkan ke dalam roti. Mulai dari tape, pisang, jahe, bahkan bumbu kesuna cekuh. Inilah yang tergambar dalam acara lomba Bread Creation dalam ajang “Denpasar Fusion Food Festival”, Kamis ( 20/2) di Inna Grand Bali Beach Sanur.
2
3
3 - 9 Maret 2014
4
Cara membuat: - Aduk semua bahan, kecuali daun lemo dan keju. Cincang daun lemo hingga halus. - Masukkan daun lemo dan keju ke dalam adonan. Bentuk adonan menjadi tipis. Potong-potong segitiga. Oven hingga matang. –Wirati Astiti
Ciptakan Konsep Restoran Unik Membuka satu restoran bukanlah hal yang mudah. Banyak hal yang harus diperhitungkan dan disiapkan. President Indonesian Chef Association (ICA) Henry Alexie Bloem berbagi kiat dalam membuka restoran. Seperti apa?
“L
okasi sangat menentukan sukses dan kelangsungan restoran. Kita harus tahu siapa target market restoran kita, apakah orang lokal atau turis asing. Misalnya, di daerah Sanur yang merupakan daerah wisata, jelas yang disasar turis asing,” ujar lelaki yang akrab disapa chef Bloem ini. Ia menyarankan, sebaiknya kita melakukan survei, dengan melihat sekitar kiri dan kanan dari restoran kita, untuk menentukan konsep apa yang ingin ditonjolkan. “Usahakan jangan sama dengan restoran yang lain. Buatlah sesuatu yang unik dan mempunyai nilai lebih bagi pengunjung,” saran F&B Director Patra Jasa Bali Resort and Villas Kuta ini. Saat melakukan survei keliling ke beberapa restoran lain yang berdekatan dengan lokasi, sebaiknya, kita berbelanja dan mencoba makan di sana. Dengan masuk ke dalamnya, kita bisa melihat secara keseluruhan, mulai dari tata ruan-
gan, aneka menu dan rasa makanan yang bisa dijadikan perbandingan untuk menentukan konsep kita. “Ketika kita sudah melihat bisa dijadikan perbandingan, misalnya dari penataan ruangan, meja kursi, kebun, termasuk makanan yang dijual. Walaupun segmen pasar turis asing, tak salah jika kita menyajikan menu Barat dengan sentuhan autentik Indonesia atau Bali,” sarannya. Saat menikmati makanan, cobalah mengecek harga juga, karena ini dapat dijadikan acuan untuk menentukan harga dari makanan kita sendiri. “Misalnya, segmen pasar domestik harga yang pantas berapa, begitu juga untuk turis asing. Dari target market kita bisa menentukan harga,” kata lelaki keturunan Belanda asal Sesetan Denpasar ini. Ia mencontohkan, beberapa perbandingan harga makanan, misalnya appetizer atau makanan pembuka berkisar Rp 20 ribu sampai Rp 30 ribu. Main course atau makanan utama berkisar Rp 50 ribu sampai
Henry Alexie Bloem di depan Shankara Restaurant Sanur
Rp 70 ribu. Sedangkan makanan penutup atau dessert Rp 30 ribu. Namun, ia menegaskan, perang harga juga bisa dilakukan. Artinya, tak masalah kita menjual dengan harga lebih tinggi, jika menu sangat menarik, baik dari penampilan dan penyajian termasuk rasa yang menggoda. “Saat ini orang tak lagi hanya mencari makanan enak, tapi juga penyajian yang menarik, dan jangan lupa kenyamanan. Mereka berani membayar mahal untuk satu kenyamanan,” kata suami Dewi Mas Bloem ini. Ia mencontohkan, satu konsep misalnya “Modern Indonesia Cuisine.” Makanan gado-gado
Udang Saus Bangkok Lada bubuk secukupnya
Sarwan Bahan: 750 gr : udang, bersihkan, belah punggungnya, lumuri dengan perasan jeruk nipis, diamkan 5 sdm : saus bangkok 1 buah : jeruk lemon, ambil airnya 1 sdt : parutan jeruk lemon ½ buah : bawang bombai, cincang halus 1 sdm : saus tiram 1 sdt : minyak wijen 1 buah : tomat merah buat garnis Garam, gula, kaldu bubuk secukupnya
Cara membuat: - Rendam udang dengan sebagian saus bangkok, diamkan hingga meresap. - Panaskan minyak atau margarin, masukkan bawang bombai, tumis hingga harum. - Masukkan udang, bolak-balik hingga berubah warna. - Masukkan parutan kulit jeruk, parutan jahe, saus tiram, minyak wijen, aduk rata. - Masukkan sebagian saus bangkok, aduk hingga harum, tambahkan gula, garam lada dan kaldu bubuk secukupnya. - Tambahkan perasan air jeruk lemon, angkat.
- Masakan siap dihidangkan dengan taburan bawang putih goreng, hiasi dengan jeruk dan tomat merah.
Makaroni Saus Goreng
Cara membuat: - Kulit: aduk semua bahan hingga kalis, diamkan. Pipihkan adonan. - Isi: haluskan semua bumbu kesuna cekuh. Tumis sampai harum, tambahkan tuna, masak sampai matang. - Masukkan adonan kulit ke cetakan bentuk cup tambahkan adonan isi tuna, tuangkan adonan cair. Oven sampai matang Ketua ICA Bali Komang Adi Arsana (kiri) bersama tim Sanur Paradise Plaza Hotel and Suites
Bahan: 30 gr : margarin 50 gr : terigu protein sedang 200 ml : susu cair 100 gr : makaroni, rebus 60 gr : keju cheddar, parut 2 buah : sosis ayam, potong-potong kecil ½ buah : bawang bombai, cincang halus 2 sdm : bawang putih goreng, haluskan 1 tangkai : seledri, cincang halus ½ sdt : pala bubuk
atau plecing, tidak disajikan seperti gado-gado yang dijual di pasar dicampur semuanya. Misalnya, sayuran untuk gado-gado atau plecing digulung dengan kubis/kol. Kemudian ditata sedemikian di rupa di piring dengan bumbu ditempatkan terpisah. Lumpia isinya yang biasa kita kenal ada sayuran, tahu, dan tempe. Kita bisa berkreasi dengan lumpia isi bebek betutu atau rendang. Rujak mangga dikreasikan dengan udang sehingga menjadi rujak mangga udang dengan rasa pedas, manis, dan kecut. Rujak mangga udang ini bisa disajikan sebagai sambal peneman makan nasi. “Yang berubah hanya penyajian,
namun, keaslian rasa tetap tidak berubah,” ujarnya. Ia menyarankan, sebagai restoran yang mengusung konsep “Modern Indonesia Cuisine” dapat ditonjolkan elemen masakan Bali seperti bumbu basa genep. Contohnya, lumpia dengan isi bebek betutu. Ia menegaskan, komponen penting yang tak bisa berdiri sendiri adalah bagaimana pelayanan atau service juga sangat memegang peranan penting. “Waiter dan waitress juga sangat menentukan, misalnya bagaimana etika dan cara bicara mereka saat menerima tamu dan menyajikan makanan di depan tamu, terutama bagi turis asing,” katanya. Memang rekrutmen sumber daya manusia, perlu diperhatikan. Menurutnya, lebih baik merekrut tenaga muda yang lebih energik dan mudah untuk dibentuk. Walaupun ia tak menampik, ada senior yang harus juga direkrut untuk bertanggung jawab penuh alias orang kepercayaan. “Kalau pemiliknya, sudah memunyai keahlian dalam bidang kuliner, mungkin ia hanya perlu mencari karyawan. Beda dengan pemilik yang tak paham bisnis kuliner sehingga perlu mencari jasa konsultan. Ada konsultan khusus untuk menu atau biasa disebut konsultan lepas. Tugasnya memberikan pelatihan karyawan beberapa kali untuk berbagai menu pilihan. Ada juga konsultan tetap yang bekerja dua sampai tiga tahun, dimulai dari awal restoran dibentuk. Konsultan ini yang membuat konsep restoran tersebut,” ujar konsultan lepas Shankara Restaurant Sanur ini. –Wirati Astiti
Tahu Telur Pedas
Bahan: 300 gr : tahu putih, potong dadu 3 butir : telur, kocok lepas 2 batang : daun bawang, potong kecil-kecil 5 buah : cabai kecil, potong kecil-kecil ½ : bawang bombai, cincang halus 1 batang : daun seledri, cincang halus 1 buah : cabai merah besar, potong serong 1 buah : tomat hijau, potong dadu kecil 1 sdm : bawang putih goreng, haluskan Lada, Garam, gula dan penyedap secukupnya Daun pisang secukupnya
½ sdt : cabai bubuk 1 butir : telur Garam, gula, lada bubuk, kaldu bubuk secukupnya Minyak secukupnya, untuk menggoreng Bahan celupan: 2 butir : telur 100 gr : tepung panir kasar Cara membuat: - Panaskan margarin, masukkan bawang bombai, tumis sampai harum, tambahkan terigu, aduk hingga rata.
Cara membuat: - Campur tahu dan telur, aduk rata. - Tambahkan semua bahan menjadi satu, aduk hingga semua tercampur. - Bungkus dengan daun pisang, kukus selama 20 menit, angkat. - Masakan siap disajikan.
- Masukkan susu cair sedikit demi sedikit, sambil terus diaduk hingga licin, angkat. - Masukkan makaroni, sosis, keju parut, bawang putih halus, kaldu bubu, pala bubuk, merica, dan cabai bubuk, garam dan gula serta telur, aduk rata. - Tambahkan seledri, aduk hingga rata, bentuk bola-bola (oval). - Gulingkan di tepung panir, celupkan ke telur, gulingkan lagi di tepung panir. - Panaskan minyak, goreng dengan api sedang hingga matang kecokelatan. - Makaroni siap dihidangkan dengan saus bila suka.
J E L I TA
14
3 - 9 maret 2014
3 - 9 maret 2014
MITOS ATAU FAKTA
11
Jangan Bersihkan Luka dengan Alkohol Ada beberapa tindakan sederhana yang biasa dilakukan seseorang ketika mengalami luka ringan. Namun, seringkali penanganannya itu tak bisa dipertanggungjawabkan secara medis. Meski demikian, hal-hal yang sudah diyakini kebenarannya itu masih terus dilakukan. Untuk itu, dr. AA Ngr Gede Dharmayuda meluruskan beberapa hal.
Sanggul Kreasi Modern Ingin tampil rapi dan elegan saat berkebaya? Tatalah rambut Anda. Tidak perlu khawatir akan menjadi ribet, sebab semua bisa dibuat simpel dengan menggunakan rambut sendiri. sori yang lebih bersinar seperti sirkam bebatu an yang disematkan di
D
ewi Kader dari Dadari Salon & Rias Pengantin juga mengatakan demikian. Menurutnya lebih sopan dan rapi terlihat jika ram but digelung atau disanggul saat berpakaian adat Bali. Untuk pembaca Tokoh pekan ini, Dewi pun menghadirkan
beberapa kreasi sanggul modern khusus untuk remaja yang di sesuaikan dengan bentuk wajah dan acara yang akan di hadiri. Jika untuk sembahyang bisa dipilih yang simpel dengan me nyisipkan sekuntum bunga segar. Sedangkan untuk ke pesta kreasi rambut bisa lebih bervariasi dan dapat ditambahkan akse
bagian samping. Dewi juga mengatakan untuk rambut yang agak pan jang, kini banyak yang memi lih untuk ditata membentuk sebuah sanggul berkepang samping atau bentuk jalinan lainnya. Sedangkan untuk poni, lebih banyak yang minta dibawa ke samping, atau yang panjang ikut dikepang untuk kesan lebih romantis. Menurut Dewi, hampir semua gaya rambut yang can tik dan anggun kali ini, selain nyaman dikenakan saat ber kebaya juga dapat dipadukan dengan celana panjang. – Sri Ardhini
Mitos: Ketika digigit serangga atau tergores duri, penanganan pertama adalah mengoleskan air liur ke bagian luka. Fakta: Air liur mengandung banyak komponen. Ada komponen elektrolit, senyawa antibakteri (tiosianat), beberapa enzim, se nyawa protein, jamur, bakteri , virus, sel-sel lapisan mulut juga mengandung sekresi hidung. Dari semua kandungan yang terdapat dalam air liur, tidak ada kandun gan khusus yang berfungsi sebagai penyembuhan luka. Jika air liur dioleskan pada luka, justru bisa menyebabkan infeksi, karena air liur bisa terkontaminasi dengan bakteri, jamur maupun virus. Be lum lagi jari tangan yang digunakan untuk mengoleskan luka dalam keadaan kotor, justru akan mem buat luka menjadi tambah parah. Dalam sebuah penelitian di Belanda merekomendasikan air liur untuk penyembuhan luka, namun hal ini masih perlu penelitian lebih jauh untuk pembuktian. Karena untuk menjadi sebuah metode pengoba tan, sesuatu tersebut harus melalui beberapa tahapan penelitian klinis sampai benar-benar terbukti ber manfaat bagi manusia. Mitos: Ketika mengalami luka, segera beri alkohol agar tidak infeksi
dr. Oka Negara, FIAS
Fakta: Saat ini masih sangat banyak masyarakat yang melakukan pencucian luka dengan alkohol. Hal ini kurang tepat karena alkohol merupakan cairan yang sangat tok sik yang dapat menyebabkan keru sakan jaringan. Jika hal ini terjadi, tentunya penyembuhan luka akan terhambat dan hasil penyembuhan luka akan kurang sempurna karena jaringan yang rusak akibat adanya luka, akan semakin rusak akibat sifat toksik dari cairan alkohol. Alhohol efektif apabila digunakan untuk mensucihamakan daerah permu kaan tubuh yang sehat sebelum dilakukan tindakan pada daerah tersebut. Mitos: Biarkan luka terbuka/ tidak diperban agar cepat kering Fakta: Penutupan luka merupa kan tindakan sangat penting dalam proses perawatan luka. Pada kasus luka yang bersih dari benda asing, tidak ada kontaminasi kuman atau perdarahan sudah berhenti, pe nutupan luka secara primer justru harus dilakukan agar penyembuhan luka semakin cepat. Apabila hal-hal tersebut tidak ada (sifat luka kotor, ada kontaminasi bakteri atau masih ada pendarahan), penutupan luka ditunda dulu sampai hal terse but teratasi. Karena, penutupan luka pada keadaan tersebut bisa menimbulkan perdarahan di bawah
Kirim surat Anda ke Redaksi Tokoh dan cantumkan “Sex Edu”di amplop. Bisa juga dikirim ke redaksi@tokoh.co.id. Rubrik ini diasuh Asosiasi Seksologi Indonesia (ASI) Denpasar.
Malam Pertama “Dok, aku akan mengambil cuti kerja buat menikah beberapa bulan lagi. Aku bisa jadi tidak seperti perempuan zaman se karang, karena aku masih teguh berprisip hubungan seksual harus dinikmati dan baru bisa dilakukan setelah menikah. Aku dan calon suami belum pernah sama sekali berhubungan seksual walau sudah pacaran empat tahun lamanya. Aku ingin malam pertama nanti akan jadi indah buat kami berdua. Apa yang perlu aku lakukan dan perhatikan buat malam pertama nanti, dok?” (Nur,24) Kali ini topiknya cukup ri ngan karena tidak banyak pem bahasan bersifat medis. Peng alaman hubungan seksual per tama kali tentu saja tiada akan terlupa. Yang memiliki prinsip mempertahankan virginitas hingga malam pertama tentu saja masih banyak, hanya saja yang terpapar media memang banyak kisah aktivitas seksual pranikah dan di luar pernikahan,
jadi kesannya zaman sekarang itu sudah jamak dilakukan. Tentu saja banyak orang yang berharap malam pertama adalah momen yang indah dan perlu dipersiap kan demi kebahagiaan bersama. Berikut adalah beberapa hal yang perlu dipersiapkan untuk mem buat malam pertama Anda akan semakin membahagiakan. Jangan stres. Walau ini ada lah sebuah peristiwa penting,
kulit (hematoma). Terkadang pada kasus seperti itu, luka dibiarkan menutup secara sekunder atau alamiah. Pada kasus luka dengan kontaminasi bakteri berat, maka akan dilakukan pembersihan luka (debridement) secara rutin sampai bersih dan kemudian baru akan dilakukan dengan penutupan luka. Mitos: Lebih baik luka diperban agar tidak kotor/infeksi Fakta: Pada luka yang sudah bersih, penutupan luka harus di lakukan, agar proses penyembuhan luka semakin cepat dan tentunya terhindar dari infeksi. Tetapi jika lukanya masih kotor, ada kontami nasi bakteri ataupun masih terjadi perdarahan, penutupan luka harus ditunda. Mitos: Jika luka, obati luka dengan kunir Fakta: Penyembuhan luka secara tradisional dengan meng gunakan kunir sudah merupakan
hal turun-temurun yang dilakukan masyarakat. Kandungan utama dari kunir adalah kurkumin, yang dalam banyak penelitian dikatakan memi liki banyak manfaat, salah satunya membantu dalam penyembuhan luka. Kurkumin dikatakan dapat mempercepat psoses proliferasi sel dan sistem kolagen pada luka. Na mun, hal tersebut masih memerlu kan penelitian lebih jauh khususnya pada manusia untuk membuktikan khasiatnya secara klinis . Jadi, se mentara hal tersebut masih meru pakan tradisi secara turun-temurun saja dengan memanfaatkan tana man herbal yang ada. Mitos: Obati luka dengan kabang-kabang, getah jepun, agar cepat tertutup Fakta: Dalam penanganan luka, hal terpenting yang harus diingat adalah bagaimana menjaga agar luka tetap bersih dan bebas dari kontaminasi bakteri. Banyak sekali hal-hal yang dilakukan secara tradisional yang ujung-ujungnya justru membuat luka menjadi se makin berisiko untuk mengalami infeksi. Oleh karena itu, tidak ada tindakan lain yang bisa dilakukan selain menjaga luka tersebut tetap bersih tanpa harus menambahkan luka dengan hal-hal yang belum terbukti secara klinis bermanfaat dalam proses penyembuhan luka. Mitos: Kalau terasa gatal pada luka, berarti luka akan segera sembuh Fakta: Proses penyembuhan luka terdiri dari fase awal, intermediate dan fase lanjut. Masing-masing fase memiliki proses biologis dan peranan sel yang berbeda. Pada fase awal, terjadi hemostasis. Pada fase ini pembuluh darah yang terputus
pada luka akan dihentikan dengan terjadinya reaksi vasokonstriksi un tuk memulihkan aliran darah serta inflamasi untuk membuang jaringan rusak dan mencegah infeksi bakteri. Pada fase intermediate, terjadi prolif erasi sel mesenkim, epitelialisasi dan angiogenesis. Selain itu, terjadi pula kontraksi luka dan sintesis kolagen pada fase ini. Sedangkan untuk fase akhir, terjadi pembentukan luka/ remodelling. Rasa gatal pada luka bisa karena adanya alergi, bisa juga karena infeksi. Rasa gatal bisa terjadi juga karena ter jadinya pelepasan jaringan sikatriks. Jadi, tidak sepenuhnya benar jika munculnya rasa gatal sebagai tanda penyembuhan luka. Lalu, bagaimana seharusnya penanganan ringan pada luka ? Kepala Puskesmas Denpasar Selatan I ini menjelaskan, pada kasus luka ringan, misalnya luka lecet akibat terjatuh, hal pertama yang harus dilakukan adalah membuat luka dalam kondisi bersih, yaitu dicuci dengan cairan normal salin (NaCl 0,9 %) sampai bersih dari benda-benda asing. “Ingat jangan membersihkan luka dengan alkohol, karena sangat toksik ter hadap jaringan,” ujar pengurus IDI Cabang Denpasar ini. Apabila sudah dibersihkan, luka kemudian ditutup dengan tetap menjaga luka dalam keadaan lembab. ”Moist Wound Healing” adalah metode untuk mem pertahankan kelembaban luka de ngan menggunakan balutan penahan kelembaban, sehingga penyembuhan luka dan pertumbuhan jaringan dapat terjadi secara alami. Munculnya kon sep “Moist Wound Healing” disertai dengan teknologi yang mendukung, menjadi dasar munculnya pembalut luka modern. –Inten Indrawati
cobalah lebih santai. Karena stres yang muncul akan mengurangi dorongan seksual Anda. Doro ngan seksual yang menurun akan mengakibatkan bangkitan seksual tidak maksimal sehingga saat behubungan seksual dinding vagina menjadi tidak mengalami perlumasan atau lebih kering, yang akhirnya bisa memunculkan rasa nyeri bahkan lecet. Ini bisa membuat trauma jadinya. Jadi, cobalah rileks. Bangun suasana romantis. Rasa deg-degan yang muncul saat malam pertama, bisa dile nyapkan dengan membangkitkan mood lewat susasana kamar yang diatur menjadi lebih romantis. Yang akhirnya malah muncul rasa nyaman dan keinginan kuat buat disentuh, dibelai dan dicumbu dengan hangat. Tidak ada salahnya mengatur cahaya lampu, memasang lagu romantis dan menambahkan bunga serta aroma terapi di dalam kamar. Buat pasangan terkesan. Ingat, ini adalah saat penting da lam hubungan Anda. Jadi, cobalah bergaya dan berpenampilan semenarik mungkin. Persiapkan diri untuk lebih siap, lebih wangi dan bersih. Wangi dan tampilan visual yang menarik tentunya juga akan membuat sebuah ket ertarikan seksual yang kuat, se hingga mengantarkan semuanya menjadi lebih sempurna menuju
babak hubungan seksual yang lebih hangat. Tatapan mesra. Laki-laki ingin menikmati waktu penting bersama pasangannya dengan mata saling menatap menunjuk kan rasa memang menginginkan keberadaannya. Tidak perlu ter lalu dipaksakan, kerena dengan suasana romantis yang dicipta kannya, tatapan mesra itu akan muncul secara alami. Tatapan mata ini juga menunjukkan adan ya komunikasi dari Anda. Bentuk komunikasi ini membuat pasang an Anda semakin nyaman. Busana seksi, kenapa tidak? Terutama bagi pihak perempuan, memakai busana yang membuat tampak semakin menarik dan mengundang gairah seksual bisa jadi akan membuat semakin percaya diri serta pasangan akan mendapatkan mood yang bagus buat bercinta. Sebuah survey pernah menyebutkan bahwa yang disukai laki-laki adalah menyaksikan perempuan me lepaskan lingerienya dari tubuh. Coba saja. Foreplay dan afterplay. Co balah lakukan foreplay atau pem anasan yang maksimal. Laki-laki ataupun perempuan sebenarnya suka digoda dan dipancing de ngan cara-cara agak “nakal” seba gai bentuk pemanasan sebelum bercinta, menyentuhnya lewat kecupan mesra dan berlama-la
ma melakukan ciuman dahsyat untuk menunggunya membalas dengan ciuman dan remasan lebih panas lagi di bibir dan payudara tentu saja akan meng antarkan kepada hubungan seksual yang sangat meng gairahkan. Dan jangan lupa buat kembali memberi sentuhan dan kecupan mesra setelah hubun gan seksual selesai, sekalian mengucapkan kata-kata manis dan menyenangkan bahwa Anda sangat menikmati hubungan seksual ini. Dari semuanya tentu saja akhirnya persiapan merupakan hal yang penting. Pastikan Anda sudah menyelesaikan seluruh pekerjaan kantor Anda atau sekalian ambil cuti untuk me nikmati malam pertama. Jangan tegang, jangan biarkan pikiran Anda saat berhubungan menjadi terganggu karena masih ada hal lain yang Anda pikirkan. Jangan lupa lihat diri Anda, apakah sedang bugar, sudah bersih dan terasa lebih wangi? Jadi pasangan juga akan terkesan. Semoga bagi pasangan yang akan menikah atau yang belum pernah melakukan hubungan seksual akan bisa menikmati dan mempersiapkan diri buat malam pertamanya karena ini bisa jadi akan penting dalam menjalani kehidupan dengan pasangan Anda. Semoga bermanfaat.
dr. AA Ngr Gede Dharmayuda
BUGAR
10
3 - 9 Maret 2014
Ganti Kaus Kaki Tiap Hari K
melalui kontak langsung dengan bagian kaki yang terkena kutu air atau bisa juga melalui kontak tidak langsung dari partikel kulit penderita yang tertinggal pada handuk, sepatu, atau lantai. Pada orang-orang yang mengalami penurunan daya tahan tubuh seperti pencerita kencing manis atau HIV cenderung lebih mudah tertular kutu air. Penderita kutu air umumnya mengeluh gatal terutama saat berkeringat serta kaki yang berbau. Kulit pada sela jari yang terkena biasanya berwarna putih, lembab, dan kadang bersisik. “Karena rasa gatal yang hebat seringkali penderita menggaruk dengan keras sehingga timbul lecet-lecet dan bernanah,” tuturnya. Penyebaran penyakit ini bisa
Sehat ala Ade Rai
Kirim surat Anda ke Redaksi Tokoh dan cantumkan “Sehat ala Ade Rai” di amplop. Bisa juga dikirim ke redaksi@tokoh.co.id Rubrik ini diasuh Ade Rai.
Trauma: Saat bergerak, otot mengerahkan jumlah serabut yang sesuai dengan tekanan dari beban. Makin tinggi tekanan yang diterima (beban), makin besar pula jumlah serabut yang dipakai untuk bisa ‘melawan’ tekanan tersebut. Makin besar jumlah serabut otot yang dipakai untuk ‘melawan’ atau ‘menggerakkan’ tekanan tersebut, makin besar trauma pula yang terjadi pada otot. Trauma tersebut adalah dalam bentuk terjadinya robekan halus pada otot (muscle tear). Bagi pemula, segala jenis latihan beban adalah jenis tekanan yang tidak biasa diterima oleh tubuhnya, di mana pada setiap jenis latihan otot selalu mengerahkan jumlah serabut otot yang banyak atau maksimal. Oleh karena itulah pemula seringkali mengalami peningkatan massa otot yang paling cepat. Overkompensasi: Adanya upaya tubuh untuk “menambal” kerusakan otot dengan otot yang lebih besar / serabut otot yang lebih tebal sehingga tidak mudah dirusak oleh rekrut serabut otot maksimal (latihan intensitas tertinggi) yang pada sesi sebelumnya. Dengan kata lain, pertumbuhan otot adalah cara bagi tubuh untuk menghindari trauma saat diberikan tekanan yang sama dengan sebelumnya.
STYLE
Pesona Batik Bali
“Batik Bali was Born”, begitu tema yang diangkat Bintang Mira ketika tampil pada perhelatan fashion terbesar di tanah air, Indonesia Fashion Week 2014 di Jakarta Convention Centre, Senayan, Jakarta belum lama ini.
Pernahkah Anda merasakan gatal-gatal di kaki? Gatal ini tak henti-henti, bahkan terus digaruk-garuk hingga luka. Mungkin saja Anda terkena kutu air. utu air merupakan salah satu penyakit infeksi jamur kulit yang menyerang kaki. Kutu air tidak disebabkan parasit sejenis kutu. “Kutu air merupakan istilah atau biasa disebut tinea pedis dikenal juga dengan nama “athlete’s foot” karena seringkali diderita para atlet yang memiliki kebiasa an memakai sepatu tertutup dan lembab karena berkeringat dan digunakan dalam jangka waktu lama,” ujar dr. I Gusti Nyoman Darmaputra, Sp.KK. Dosen Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin Fakultas Kedokteran Unud/RS Sanglah ini menyebutkan, kutu air merupakan infeksi jamur yang menyerang bagian kaki yang lembab yaitu pada sela-sela jari kaki. Sela jari yang paling sering terkena adalah antara jari keempat dan kelima yaitu antara jari manis dan ke lingking. “Secara anatomis dua sela jari tersebut cenderung lebih menempel daripada sela jari yang lain. Selain pada sela jari, kutu air dapat menyebar ke bagian lain di kaki apabila tidak diobati dengan baik. Umumnya kutu air disebabkan jamur yang termasuk dalam golongan dermatofita,” kata pemilik Klinik D&I Skin Centre Bali ini. Ia mengatakan, penyakit ini bisa menular, karena kutu air merupakan penyakit infeksi jamur yang berbeda dengan penyakit alergi kulit yang umumnya tidak menular. Penularannya bisa
3 - 9 Maret 2014
Mira
dr. I Gusti Nyoman Darmaputra, Sp.KK.
berlangsung cepat atau lambat, tak jarang bersifat kambuhkambuhan sesudah diterapi terutama bila faktor pencetusnya
Kutu air
tidak dihindari. Faktor pencetus yang ter sering adalah pemakaian sepatu yang tertutup dan ketat sepanjang hari, sehingga suasana pada kaki akan menjadi lembab. “Apabila kebiasaan ini tidak dihindari, kutu air akan dapat kambuh lagi. Sebab tubuh kita normalnya adalah inang dari berbagai macam mikroorganisme, termasuk bakteri dan jamur,” katanya. Ia menyatakan, beberapa dari mikroorganisme sebenarnya bermanfaat bagi manusia. Namun, pada kondisi tertentu, dapat berkembangbiak secara cepat dan menimbulkan infeksi pada tubuh manusia. Untuk memastikan diagnosis kutu air diperlukan pemeriksaan laboratorium yang diambil dari bahan pada sela-sela jari yang terkena kemudian dilihat dengan
alat mikroskop untuk menemukan elemen jamur. Pengobatan kutu air umumnya menggunakan krim antijamur yang umumnya mengandung miconazole atau clotrimazole. Untuk mencegah kekambuhan dapat digunakan bedak tabur atau bedak antijamur pada sela jari yang terkena agar menjaga kondisi tetap kering sehingga jamur susah tumbuh kembali. Penggunaan krim antijamur sebaiknya tetap terus digunakan 1 sampai 2 minggu walaupun kelainan pada kulitnya sudah sembuh. Tujuannya, agar dapat menghilangkan semua elemen jamur. Dokter Dharmaputra me nyarankan, gantilah kaus kaki yang sudah terasa lembab. Atau, ganti kaus kaki jika sudah digunakan sepanjang hari. -Wirati Astiti
Bagaimana Otot Tumbuh? Proses ini terjadi segera sesudah latihan dan merupakan suatu proses yang sangat penting yang dinamakan dengan istirahat / recovery. Otot tidak bertambah besar saat latih an. Istirahat adalah saat di mana pembesaran otot terjadi. Istirahat bisa diartikan sebagai kesempatan yang diperlukan oleh otot tubuh (localized recovery) serta sistem pusat saraf (nervous system recovery) untuk pulih, memperbaiki kerusakan yang terjadi, dan menggunakan nutrisi yang masuk untuk kelangsungan hidup. Istirahat yang Cukup: adalah waktu yang diperlukan bagi tubuh untuk menggunakan nutrisi dari makanan untuk memperbaiki sel-sel atau jaringan yang rusak akibat olahraga. Seringkali kita meremehkan arti istirahat, padahal sebenarnya istirahat adalah saat terjadinya pertumbuhan otot. Terjadi kesalahpahaman selama ini bahwa otot tumbuh saat olahraga. Sensasi pengumpulan darah pada otot yang dilatih yang mengakibatkan pembengkakan sementara pada area tersebut telah disalahartikan sebagai pertumbuhan otot. Untuk kalangan pria, hal ini dianggap menyenangkan. Sementara untuk wanita, fenomena ini dianggap sebagai suatu hal yang menakutkan. Nutrisi Cukup dan Tepat: Nutrisi adalah bahan baku yang digunakan oleh tubuh untuk pulih. Dalam hal ini, karbohidrat, protein, lemak, vitamin, mineral, dan bahkan air perlu ada dalam jumlah yang cukup dan tersedia pada
(2)
waktu yang tepat. Acuan singkatnya adalah: Protein: 1,5 hingga 2,2 gram per kilogram berat badan. Prioritaskan pada sumber-sumber dan cara penyajian rendah lemak. Karbohidrat: 4-6 gram per kilogram berat badan. Prioritaskan pada sumber tinggi serat dan cara penyajian rendah lemak. Lemak: 0,6-0,8 gram per kilogram berat badan. Pastikan tidak terjadi penambahan minyak karena seringkali sumber protein telah mengandung lemak. Kalaupun terjadi penambahan, tambahkan dari sumber lemak tak jenuh tunggal dan ganda yang kaya akan asam lemak esensial. Air: 3 liter per hari. Vitamin dan Mineral: Dapatkan semaksimal mungkin dari sumber-sumber makanan protein dan karbohidrat. Apabila dirasakan kurang, tambahkan dengan multivitamin dan mineral. Keterbatasan bisa datang dari mana saja, termasuk motivasi, waktu, dan bahkan dana. Tetapi dengan mengetahui semua elemen yang diperlukan, maka proses pertumbuhan otot yang disampaikan di atas bisa diusahakan semaksimal mungkin. Setelah itu, yang fitnessmania perlukan hanyalah sedikit kesabaran untuk melihat hasil yang telah diupayakan tersebut. Selamat mencoba.
L
antas apa alasan Mira pada pagelarannya kali ini ia mengusung batik Bali? Tentu yang utama karena sejak lama dirinya memang termasuk pecinta batik. Kecintaan-
nya pada salah satu ragam budaya inilah yang menjadi inspirasinya untuk berkreativitas kali ini. Apalagi anggota APPMI Bali ini, menyadari selama ini Bali belum punya batik dengan ciri khas tersendiri. Ia tidak ingin,
15 orang –orang hanya mengenal batik Bali berupa sarung pantai dengan motif bunga sepatu atau hawaiian saja. Mira pun dengan daya ciptanya terjun menggali motif-motif batik yang diambilnya dari motif patra, poleng, barong dan yang lainnya. Dari bahan yang digarapnya ini, Mira berhasil menghadirkan pesona keindahan dan keunikan Batik Bali. Desain yang khas, simpel dengan perpaduan garis feminin dan maskulin, menjadikan karya-karyanya segar sebagai busana ready to wear. Bagi para fashionista yang suka tampi kasual dan trendi semua model kali ini dapat dijadikan pilih an. Sedangkan untuk menghadiri acara cocktail party cukup dengan menambahkan aksesori, tas serta sepatu high heels. –Sri Ardhini
3 - 9 maret 2014
16
HUT ke-39
Iwapi SiapTerapkan GCG Menghadapi tantangan pelaksanaan kesepakatan Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) dengan membangun optimisme, perlunya memiliki tata kelola usaha yang baik, menumbuhkan dan mencetak wanita pengusaha yang tangguh dan berkarakter. Demikian beberapa hal yang menjadi topik dalam Rakerda DPD Iwapi Bali yang dirangkaikan dengan perayaan HUT ke39 Iwapi, diselenggarakan di Gedung Kesenian Ir. Soekarno, Jalan Sudirman, Negara beberapa waktu lalu.
P
ada kesempatan tersebut Bupati Jembrana dalam sambutannya yang dibacakan oleh staf ahli Arimbawa mengungkapkan kegiatan Rakerda dan HUT ke-39 Iwapi kali ini san gat penting, dalam rangka meny iapkan dan mencetak para wanita
pengusaha di Bali, dalam upaya mendukung pengembangan per ekonomian dan pembangunan. Dengan adanya kegiatan menumbuhkan dan mencetak 1.000 wanita pengusaha yang tangguh dan berkarakter, di harapkan mampu menghasilkan produksi karya dan menciptakan
Pelantikan DPC IWAPI Kota Denpasar
Promosi Wisata Berbasis Budaya
“K
Foto bersama pengurus dan anggota Iwapi Bali dan kabupaten kota se-Bali usai rakerda
lapangan kerja. Ketua Umum DPP Iwapi Ir. Dyah Anita Prihapsari, MBA., dalam sambutannya yang diba cakan Ketua Iwapi Bali Dr. AAA Ngr. Tini Rusmini Gorda, S.H., M.H.,M.M., mengingatkan agar wanita pengusaha selalu kreatif dan inovatif menghadapi tan tangan. Apalagi, pemberlakuan Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) 2015 meletakkan pereko nomian Indonesia di tengah per simpangan. Namun, di satu sisi, MEA juga membuka kesempatan yang lebih besar dan lebih luas lagi bagi produk Indonesia untuk menyerbu pasar ASEAN. Wanita pengusaha ungkap Nita Yudhi mesti mampu memenuhi persyaratan Good Corporate Governance (GCG), seperti ad ministrasi usaha, perpajakan, lapo ran keuangan dan kepegawaian, di samping kualitas produk. Jika ang gota Iwapi telah memenuhi syarat tata kelola usaha yang baik, begitu
juga dengan produknya memiliki daya saing tinggi, Indonesia akan sejahtera. Menyebut program kerja Iwapi tahun 2014, disebutkan banyak terkait dengan penguatan usaha anggota. JADI PENGUSAHA ADALAH TUJUAN HIDUP Begitu juga yang dungkapkan Ketua Iwapi Bali, Tini Gorda bahwa wanita pengusaha yang tangguh dan berkarakter pasti bisa diwu judkan oleh Iwapi Bali. Ketika di intern semangat dan fokus untuk mewujudkannya, maka akan mu dah membuka jejaring ekstern untuk bersinergi mewujudkan tema yang diangkat pada acara tersebut yakni ”HUT ke-39 Iwapi Mendu kung Program Good Corporate Governance Menuju Indonesia Sejahtera dengan Mencetak 1.000 Wanita Pengusaha yang Tangguh dan Berkarakter”. Untuk mewujudkan hal terse
Sebagian Pengurus Iwapi bersama tim dari Hardys usai menghitung pengumpulan koin untuk kepentingan anak yang bersentuhan dengan hukum
Pengurus DPC IWAPI Badung usai pelantikan
but, lanjut Gung Tini dibutuhkan dukungan. Sebab, ini merupakan gerakan yang mulia, merubah pola pikir bahwa menjadi pengusaha adalah target dan tujuan hidup selain sebagai pegawai. Serangkaian HUT ke-39 Iwapi, gerakan mulia lainnya telah pula dilangsungkan yakni kunjungan ke Panti Asuhan Pryahati, Jembrana serta kegiatan pengumpulan koin Rp 1.000-an, untuk kepentingan anak yang bersentuhan dengan hukum. Selanjutnya, pada acara talk show yang juga terselenggara pada hari yang sama, Ida Ayu Indra Kondi Santosa W, S.H., M.Kn., mengatakan hal senada dengan Tini Gorda, yakni jadilah wanita pengusaha yang tangguh dan berkarakter untuk bisa meme nangkan persaingan. Ir. Gede Agus Hardyawan, juga bicara peran Iwapi dalam mendu kung program Good Corporate Governance (GCG). Betapa pen erapan GCG merupakan langkah awal, sehingga ketika memutus kan menjadi pengusaha wanita, mampu dan mengetahui serta mengaplikasikan prinsip dan azas GCG pada perusahaan. GCG mesti diaplikasikan secara visioner agar mampu menjadi pedoman dan inspirasi untuk terus bertumbuh dan berkembang. Sementara Ketua Panitia Rak erda, Ninayanti berujar kalau mo mentum ini sebagai bagian proses pematangan serta pengokohan eksistensi organisasi Iwapi beserta seluruh anggotanya. –ard
Ketua Iwapi Bali bersama Gede Hardy dan Dayu Kondi (dibelakang pakai endek) narasumber talk show
9
Gus Soma dan Ica
Masalah pariwisata tak bisa dilepaskan dari budaya. Bagaimana upaya mempromosikan pariwisata yang berbasis budaya diungkapkan Ida Bagus Ketut Soma Antara dan Ni Putu Angelica Indah Putri.
Kunjungan ke Panti Asuhan Priyahati
Pemotongan tumpeng HUT ke-39 Iwapi
DARA
3 - 9 maret 2014
ita mem promosikan pariwisata dari minat dan bakat yang kita miliki. Bisa dengan mengadakan pentas seni tari bagi yang gemar menari, pentas tabuh bagi yang suka seni tabuh. Selain itu, bisa juga mem promosikan hasil produk atau kerajinan dalam negeri untuk menarik minat wisatawan asing datang ke Bali,” ujar pria kelahiran Denpasar, 27 Juli 1992 yang akrab disapa Gus Soma ini. Selain memberikan jawaban yang lugas dan realistis itu, Gus Soma juga mempraktikkan ke mampuan dalam mengaplikasikan budaya Bali. Ia mampu membuat sanggah cucuk dalam waktu 1,5 jam. Prestasi lainnya, menjadi juara
1 kekawin desa putra Utsawa Dharma Gita Kota Denpasar 2011, juara 2 sloka remaja putra Utsawa Dharma Gita Provinsi Bali 2007, dan juara 1 geguritan remaja putra Kota Denpasar 2006. Keahlian lain yang ia kuasai adalah mengukir, khususnya ukir buah. Alumnus SMKN 3 Denpasar yang kini masih tercatat sebagai mahasiswa STP Bali Internasional ini pernah meraih juara 1 Fruit and Vegetable Contest. Kumpulan prestasi dan kepiawaiannya ini membuat Gus Soma berhasil menyandang gelar Teruna Denpasar 2014. Gelar Teruni Denpasar 2014 diraih Ni Putu Angelica Indah Putri sekaligus sebagai juara fotogenik. Keduanya akan mewakili Kota Denpasar di ajang Jegeg Bagus Bali 2014.
Ketika disodori pertanyaan tempat wisata mana yang akan dipromosikan dan apa alasannya, Angelica yang akrab disapa Ica mengatakan Lapangan Puputan. “Lapangan Puputan adalah pusat kegiatan di Kota Denpasar yang bisa dipakai olahraga dan refreshing bersama keluarga. Puputan juga dekat dengan Pura Jagatnatha dan Museum Bali. Sangat efektif kalau promosi di sana. Halte Sarbagita juga dekat sehingga memudahkan wisatawan yang ingin berwisata,” ujar perempuan kelahiran Den pasar 8 Februari 1995 ini. Ia mengaku ikut ajang Teruna Teruni Denpasar 2014 hanya bermodal kemampuan sering ikut lomba fashion dan fotogenik. Dere tan prestasinya di kedua bidang ini membuat percaya diri. Namun, ia tak sepenuhnya yakin bisa menang karena para peserta kali ini banyak yang pintar dan cantik. “Sebelum lomba, saya belajar membuat canang sari lengkap. Ternyata se telah melakukan semua tes, saya bisa menang. Benar-benar kaget setengah mati bisa jadi juara,” ujar
Gus Soma dan Ica
alumnus SMAN 7 Denpasar yang kini kuliah di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Udayana dan bercita-cita menjadi pengusaha di bidang fashion ini. Pemilihan Teruna Teruni Den pasar 2014 digelar Pemerintah Kota Denpasar melalui Dinas Pariwisata Kota Denpasar. Ajang ini bertujuan untuk memilih generasi muda Kota Denpasar yang memahami dan memiliki kreativitas di bidang budaya dan pariwisata sehingga dihasilkan para Duta Pariwisata dan Budaya yang mumpuni untuk ikut
serta meningkatkan pembangunan pariwisata di Kota Denpasar Persyaratan utama yang wajib dimiliki oleh peserta baik teruna maupun teruni adalah brain, beauty dan behaviour serta memahami bu daya Bali yang merupakan akar dari kearifan lokal yang ada di Denpasar. Penampilan dan kemampuan public speaking merupakan aspek yang sangat penting dalam ajang ini. Pe menang ajang ini mendapatkan ha diah piala bergilir, piala tetap, selem pang, piagam, dan uang tunai. –Sri Ardhini.
Wisuda Sarjana IKIP PGRI Bali XXXII
Empat Dosen Menangkan Dana Hibah
Senin (24/2) bertempat di Ball room Hotel Inna Grand Bali Beach, Sanur, IKIP PGRI mewisuda 318 sar jana baru. Momentum bersejarah ini dikatakan Rektor IKIP PGRI Bali Dr. I Made Suarta, S.H.,M.Hum. sebagai bentuk pertanggungjawaban lembaga kepada masyarakat. Output lulusan yang berkualitas dan memiliki daya sa ing tinggi, tentu menjadi tujuan penye lenggaraan pembelajaran di Lembaga Pendidik Tenaga Pendidikan tervaforit di Bali ini. Karena itu, secara berkes imbungan pula dilakukan peningkatan layanan baik dari segi fasilitas dan SDM, termasuk kualifikasi dosen. Tahun 2014, Made Suarta men gungkapkan ada empat dosen IKIP PGRI Bali yang mampu memenangkan Hibah Bersaing Penelitian Desentral isasi Dirjen Dikti, yakni Dr. I Made Suarta, S.H., M.Hum., Dr. AA Ngr Adhiputra, M.Pd., Drs. I Wayan Su santa, M.Pd., Drs.I Made Darmada,
Prof. Sucipta
M.Pd. “Pihak yayasan juga tetap konsis ten memberikan bantuan dana motivasi untuk penelitian dosen di lingkungan IKIP PGRI Bali,” imbuh Ketua YPLP IKIP PGRI Bali Drs. IGB Arthanegara, S.H.,M.Pd. Ia cukup berbangga hati karena sekarang ini di IKIP PGRI Bali tak ada lagi program studi yang terakreditasi C. Se mua PS sudah terakreditasi B. Itu berarti lulusan IKIP PGRI Bali bisa penuh per caya diri melenggang maju untuk mengi kuti testing pada pembukaan CPNS yang membutuhkan lulusannya. Arthanegara menambahkan para alumnus IKIP PGRI Bali sejak tahun 1988 tersebar kemanamana, dan kini tampil menjadi guru-guru professional dan bermartabat. Bahkan, ada juga yang menjadi kepala sekolah, kepala Dinas Pendidikan, dosen, dekan, Wakil Ketua DPRD, Bupati, dan rektor, seperti Rektor IKIP PGRI Bali sekarang yang merupakan mahasiswa angkatan pertama di IKIP PGRI Bali. Ketua Pengurus PGRI Bali Dr. I
Wenten Aryasuda
Gede Wenten Aryasuda, M.Pd. me nyampaikan sejak diundangkannya UU Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, pembahasan, kajian, serta program-program aksi terus dilakukan untuk memenuhi standar kualifikasi dan
Arthanegara
kompetensi guru, dalam rangka peningkatan kualitas dan integritas pelaksanaan tugas keguruan seba gai sebuah profesi yang merupakan konsekuensi dari sebuah keputu san politik. Koordinator Kopertis Wilayah VIII Bali-Nusra, Prof. I Nyoman Sucipta menyampaikan pada per guruan tinggi yang berkualitas akan terjadi saling pengaruh antara kekayaan karya akdemiknya dan apresisasi masyarakat. Hal ini terkait dengan sesuatu yang ber sifat inti yakni visi, motivasi, dan kualitas SDM perguruan tinggi. “Semua itu adalah aset penting yang dapat menjelma menjadi kekuatan amat besar dari bangsa ter cinta ini,” ujarnya. Kondisi perguruan tinggi di Indo nesia saat ini dikatakannya ada masalah yang sumbernya adalah visi, motivasi dan kualitas idealisme pelakunya yang berhadapan dengan masyarakat yang sering tidak mendu kung program perguru an tinggi. “Tampaknya masyarakat di dalam maupun di luar PT akan terbagi dalam tiga kel ompok, yakni sekitar 10% kelompok yang mendukung secara positif, 10% kolompok yang tidak mendukung, dan 80%nya kelom pok masyarakat yang tidak perduli. Dengan demikian, tampaknya PT bukan merupakan kepentingan bersama
dalam membangun bangsa,” pa parnya. Selanjutnya, dalam upaya mem bangun kinerja PT, selayaknya pemerintah menjamin otonomi per guruan tinggi. Namun, saat ini masih banyak oihak yang keliru memahami makna otonomi perguruan tinggi. Hakikatnya otonomi pada PT adalah suatu sistem yang menjamin keber dayaan perguruan tinggi guna men jalankan fungsi dan tugasnya. Sesuai dengan maknanya, otonomi bersifat melekat pada hakekat perguruan tinggi dan sekurang-kurangnya meli puti kebijakan menetapkan program, sistem organisasi, sistem manajemen, sumber daya dan kebijakan mengelola keuangan. LULUSAN BAHASA BALI Khusus untuk lulusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Bali, Made Suarta menyampaikan tak perlu galau lagi. Karena, berdasarkan Pergub No. 20 tahun 2013 tentang Bahasa, Aksara, dan Sastra Bali pada Pendidikan Dasar dan Menengah, bahwa Bahasa Bali menjadi pelajaran tersendiri dalam kurikulum 2013. “Guru Bahasa Bali juga sudah dapat mengikuti UKG dan sertifikasi tersendiri karena Kemen terian telah menyiapkan slot khusus untuk itu,” ujarnya. Pada wisuda kali itu lulusan ter baik diraih Kadek Dwi Farmani dari Program Studi Pendidikan Matemati ka dengan IPK 3,75. Pada kesempatan itu diserahkan pula kenag-kenangan kepada IGA Made Adi Suandana,M. Fis HIFO sebagai Ketua Alumni IKIP PGRI Bali. –ten
8
BUNDA & ANANDA
Diare tak Harus Diobati Antibiotika Suatu pagi, Nana mengeluh sakit perut. Bocah kelas 3 SD ini bolakbalik ke toilet. Biasanya, ia hanya buang air besar sekali di pagi hari. “Yang keluar cairan saja,” ujar Nana kepada ibunya. Ibunya pun membuatkan larutan gula dan garam untuk mengatasi diare Nana.
dr.I Putu Gede Karyana, Sp.A(K)
I
bunya menduga Nana jajan sembarang di sekolah sehingga berdampak pada pencernaannya. “Selain memberikan larutan gula dan garam, saya biasa memberikan salak,” ujarnya. Ia merasa kasihan jika putri sulungnya ini diare. Kondisinya melemah. Akhirnya, Nana tak jadi pergi ke sekolah. Ia beristirahat di rumah untuk memulihkan kondisinya. Diare adalah sebuah penyakit di mana tinja atau feses berubah menjadi lembek atau cair yang biasanya terjadi paling sedikit tiga kali dalam 24 jam. Kondisi ini dapat merupakan gejala dari luka, penyakit, alergi (fructose, lactose), kelebihan vitamin C, dan mengonsumsi buah-buahan tertentu. Biasanya disertai sakit perut dan seringkali mual dan muntah. Memakan
makanan yang asam, pedas, atau bersantan sekaligus secara berlebihan dapat menyebabkan diare juga karena membuat usus kaget. Diare dapat menjadi gejala penyakit yang lebih serius, seperti disentri dan kolera. Kondisi cuaca yang tidak stabil, sanitasi tempat pengungsian yang buruk serta kondisi rumah yang masih kotor terkena genangan air. Sulitnya mendapat air bersih menyebabkan mudahnya terjadi wabah diare setelah banjir. Penyakit diare yang terlihat ringan justru bisa membahayakan jiwa, karena saat tubuh kekurangan cairan, maka semua organ akan mengalami gangguan. Diare akan makin berbahaya jika terjadi pada anak-anak. Gejala yang biasanya ditemukan adalah buang air besar terus menerus disertai dengan rasa mulas yang berkepanjangan, dehidrasi, mual dan muntah. Ketua Perhimpunan Gastrohepatologi dan Nutrisi Anak Indonesia (PGHNAI) dr.I Putu Gede Karyana, Sp.A(K) me ngatakan kasus diare tidak bisa dianggap remeh. Sejak ber dirinya PGHNAI, diare pada anak menjadi fokus perhatian. Angka kematian akibat diare di Indonesia dan Asia Tenggara sangat tinggi. “Kami akan ber koodinasi dengan Kementerian Kesehatan untuk ikut terlibat menurunkan angka kematian akibat diare. Selama ini program dari pemerintah sudah ada, namun kurang maksimal dalam penerapannya. Para dokter yang tergabung dalam
PGHNAI siap untuk membantu penatalaksanaan penanganan diare,” ujarnya. Ia menjelaskan secara umum penyakit diare disebabkan oleh virus, bakteri, dan parasit. Dari ketiga penyebab ini, virus yang paling banyak (80-90%) sedangkan bakteri dan parasit (10-15%). “Jika dilihat dari virus, yang paling banyak adalah rotavirus. Kami
dokter biasanya akan menanyakan sejak kapan mulai diare, apakah ada demam dan muntah. Diare yang ditandai dengan muntah-muntah berat, demam ringan biasanya disebabkan oleh virus. Diare yang ditandai den gan muntah ringan, demam serta nyeri perut disebabkan oleh bakteri. Diara disertai darah, ini juga diebabkan oleh bakteri. Diare karena parasit sangat jarang terjadi apalagi pada anak ber usia di bawah satu tahun. “Kalau diare karena virus, anak tidak perlu antibiotika. Berikan saja oralit. Kalau masih minum ASI lanjutkan pemberia n ASI. Jika dalam waktu dua sampai tiga hari
3 - 9 Maret 2014
menjaga mata air. Mata air yang bersih yang bisa meminimalkan kasus diare. Pendekat an lain juga dilakukan dengan melakukan komunikasi, informasi, dan edukasi (KIE) kepada masyarakat. Menjaga kebersihan diri dan kebersih an lingkungan merupakan upaya awal untuk mencegah terjadinya diare. Faktor risiko terjadinya diare antara lain tidak memberikan ASI eksklusif pada enam bulan pertama. Bayi yang mendapatkan susu formula lima kali lebih sering sakit diband ing bayi yang mendapatkan ASI eksklusif. Pemberian ASI ini pun dilanjutkan hingga bayi berusia satu tahun. “Perhatikan juga penyiapan makanan, penggunaan air bersih, dan jangan sembarangan membuang feses anak yang menderita diare,” ujar ketua PGHNAI periode 2013-2016 ini Ia menambahkan PGHNAI memiliki tugas berat untuk terjun ke masyarakat memberikan penyuluhan mengenai penatalaksanaan penanganan diare.
dr.karyana bersama anak-anak Timor Timur saat bertugas di Puskesmas Tutuala
pernah melakukan penelitian gabungan di beberapa rumah sakit di Indonesia. Hasilnya, 55% diare disebabkan rotavirus. Kalau penelitian di RS Sanglah malah 63%. Rotavirus ini virus demokratis karena bisa menyerang siapa saja,” ujar dokter anak di RS Sanglah dan RS Puri Bunda ini. Jika anak mengalami diare,
www.medkes.com
masih diare, segera hubungi petugas kesehatan. Kalau diare berdarah, baru diberikan antibiotika,” ujar dokter yang gemar memancing ini. Dokter Karyana menuturkan pengalamannya ketika bertugas sebagai dokter PTT di Puskesmas Tutuala, Los Palos. Ia melakukan pendekat an kepada masyarakat untuk
Selain diare, masalah hepatitis B yang banyak terjadi pada anak-anak juga menjadi program organisasi yang terdiri dari dokter umum, dokter anak, dan dokter spesialis yang memiliki ketertarikan dengan saluran cerna, hati, dan nutrisi. Dari hasil Kongres Nasional VI yang dilaksanakan di Denpasar, terungkap infeksi saluran cerna dan hati yang paling sering menimbulkan kematian dan me nimbulkan masalah kesehatan masyarakt adalah diare dan hepatitis B. Selama ini penanganan diare dinilai belum maksimal. Anak usia di bawah 5 tahun pa ling rentan meng alami diare. Karena itu koordinasi antara pemerintah dengan tenaga kesehatan san gat diperlukan. Pe n y u l u h a n d a n seminar pun kerap dijadikan ajang sosialisasi. – Ngurah Budi
G R I YA
3 - 9 Maret 2014
17
Sudah Ergonomiskah Kursi Anda? Kursi adalah sebuah perabotan rumah yang biasa digunakan sebagai tempat duduk. Pada umumnya, kursi memiliki empat kaki yang digunakan untuk menopang berat tubuh di atasnya. Beberapa jenis kursi, ada yang hanya memiliki satu kaki di bagian tengah, ada juga dengan tiga kaki, bahkan lebih dari empat kaki. Kadang-kadang kursi juga dilengkapi dengan sandaran kaki.
N
amun, apa saja yang perlu dipertimbangkan dalam memilih kursi? “Kursi yang dipakai harus ergonomis, karena ini akan memberikan kenyamanan dalam beraktifitas, dan meminimalisir keluhan akibat kerja,” ujar Dr. I Gusti Ngurah Ardana, M. Erg., yang menekuni bidang ilmu Desain Interior dan Ergonomi ini. Pada prinsip ergonomi, tubuh dirancang bukan untuk didiamkan, harus digerakkan. Dalam beberapa saat harus ada pergantian posisi, salah satu otot istirahat, otot lainnya bekerja. Karena itu, posisi duduk dalam batas waktu tertentu harus diubah. Jika posisi sama berlangsung lama, maka hanya satu otot yang bekerja. Sementara otot lainnya diam. Kondisi ini tidak bagus bagi kedua otot. “Otot yang diam akan menimbulkan keluhan. Apalagi diam dalam waktu lama pada fasilitas (kursi) yang tidak ergonomis,”
Dr. I Gusti Ngurah Ardana, M. Erg.
ujar dosen Desain Interior di Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD) ISI Denpasar ini. Kursi yang ergonomis adalah kursi yang mengikuti atropometri pemakainya untuk menghindari risiko keluhan karena pemakaian berjam-jam. Kursi ergonomis
yang baik akan meningkatkan kenyamanan dan produktivitas kerja penggunanya. Jenis kursi apa pun, ditegaskannya, harus ada sandaran lengan. Jika tidak, otomatis lengan bergelantung atau ditaruh di atas paha atau meja. Jika lengan ditaruh di atas meja, akan berpengaruh pada pundak. Sementara, jika lengan ditaruh di atas paha, paha akan tertekan. “Prinsipnya, permukaan tubuh tak boleh ditekan, walaupun tidak berat. Sama seperti tidur. Permukaan tubuh/ saraf-saraf yang berstuhan dengan benda lain walaupun itu lembek, sama dengan tekanan. Tekanan ini dihindari dengan pergantian posisi tubuh,” jelas Ketua LP2M ISI Denpasar ini. Ada beberapa jenis kursi sesuai fungsinya, di antaranya kursi makan, sofa, kursi kerja, kursi malas. KURSI MAKAN Desain kursi makan hendaknya memiliki sandaran punggung tegak 90 derajat. Tubuh yang tegak saat makan akan memperlancar masuknya asupan makanan. “Sebaiknya juga memiliki sandaran lengan, apalagi jika aktivitas makan lebih dari satu jam,” ucap Ngurah Ardana. Demikian halnya sofa, yang biasa ditempatkan di ruang tamu atau ruang keluarga. Juga harus memiliki sandaran punggung dan sandaran lengan. Namun, untuk sofa perlu diperhatikan tinggi dudukannya, yakni sesuai dengan popliteal (dari telapak kaki sampai lekukan bagian bawah lutut) pemakai yang sedang duduk, atau sejajar dengan sudut paha dan perut. Karena umumnya, dudukan sofa empuk. Jika empuk, pantat akan lebih menekan masuk, dan otomatis sudut paha dan perut kurang dari 90 derajat. “Dudukan jangan juga terlalu padat, karena permukaan pantat akan tertekan,” tegasnya. Untuk dudukan, Ngurah Ardana merekomendasikan memakai busa alam yang terbuat dari karet, seperti yang umum dipakai jok mobil. “Dacron juga cukup bagus dan layak,” ujarnya. KURSI KERJA Desain kursi kerja hendaknya memiliki sandaran punggung dengan kemiringan 105 derajat-110 derajat, karena waktu bekerja lebih lama daripada
Contoh kursi ergonomis
makan. Pilih kursi kerja yang bisa diatur atau yang biasa disebut kursi eksekutif (adjustable), baik itu dudukan ataupun sandaran lengannya. Kursi yang pada saat-saat tertentu bisa difungsikan bersandar, dan juga sesekali membungkuk. “Prinsipnya, energi mampu bertahan kurang lebih satu menit. Rata-rata maksimal orang duduk adalah satu jam, setelah itu harus peregangan, seperti berdiri. Di tempat duduk tidak boleh statis. Maksimal dalam 15 menit harus ganti posisi, tegak, bungkuk, bersandar. Demikian halnya dengan posisi kaki, karena itu kursi kerja juga hendaknya punya sandaran kaki,” papar Dosen Pasca ISI Denpasar yang juga Dosen S-2 dan S-3 Ergonomi di Unud ini.
diinginkan/kebutuhan. Namun, pada kursi malas, biasanya sekali diatur dipakai untuk jangka waktu lama. Pengaturannya pun umumnya secara manual. Umumnya, kursi malas memakai tambahan alas sandaran baik itu untuk susukan atau punggung. Bisa memakai spon yang dilapisi kain. Hindari yang berbahan vinil/plastik karena tak menyerap panas. Sebenarnya, dilanjutkan Ngurah Ardana, jika dudukan dan sandaran punggungnya dari anyaman rotan, lebih baik lagi jika tanpa alas. Karena, anyaman rotan memiliki pori-pori banyak yang bisa membantu sirkulasi udara di antara tubuh dan alas kaki. “Jika kursi sudah memakai anyaman rotan, tidak perlu lagi memakai spon, karena anyaman lontar sudah bersifat lentur,” ujarnya. –Inten Indrawati
KURSI MALAS Hampir sama dengan kursi kerja, kursi malas juga hendaknya bisa diatur sesuai dengan posisi tinggi yang
Ilustrasi: net
D AYA C I P TA
18
3 - 9 maret 2014
Kalau tidak Ogah-ogah bukan Ogoh-ogoh Ogoh-ogoh merupakan salah satu kreativitas budaya masyarakat Bali yang banyak ditemukan menjelang Hari Raya Nyepi. Karya seni yang berwujud tiga dimensi ini menginterpretasikan bentuk-bentuk dari bhuta kala (energi kegelapan). Bhuta kala dianggap sebagai penyimbang alam semesta beserta isi nya. Bagaimana proses penciptaan ogoh-ogoh dan apa beda ogoh-ogoh dengan patung? bhuta kala sehingga ogoh-ogoh dibuat dalam bentuk yang mer nyeramkan sebagai refleksi sifatsifat negatif agar tidak mengganggu alam semesta. Candra yang piawai membuat ogoh-ogoh ini menuturkan budaya ogoh-ogoh mulai dikenal sejak ke luarnya keputusan Presiden RI no 3 tahun 1983 yang menyatakan hari raya Nyepi sebagai hari libur nasional. Masyarakat menyambut
suka cita dan diwujudkan dengan membuat ogoh-ogoh yang ber langsung hingga sekarang. “Dalam sastra, tidak ada keharusan atau kewajiban membuat ogoh-ogoh saat Pengerupukan (sehari sebelum Nyepi). Namun, karena jiwa seni dan kreativitas masyarakat Bali yang tinggi, ogoh-ogoh pun menjadi tradisi. Dulu dirunut ke belakang, ogoh-ogoh sudah ada sejak zaman dulu dan dipakai masyarakat seba gai pelengkap upacara,” ujar ayah lima anak ini. Perkembangan zaman dan teknologi juga membuat pem buatan ogoh-ogoh makin kreatif. Dulu bahan yang dipakai berupa kayu dan bambu agar tidak terlalu berat saat diusung. Kini banyak yang menggunakan gabus atau styrofoam yang lebih ringan dan tahan lama. “Proses pembuatan ogoh-ogoh mulai dari mencari inspirasi atau ide yang datang kapan saja dan dimana saja. Setelah ada ide, tuangkan ke dalam sketsa global, lalu dibuat kan bentuk kasar atau kerangka, dilanjutkan dengan memberikan bentuk atau pendukung gerak, lalu dicat dasar. Ada yang menggunakan cat yang dilapisi fiber. Ini mem
Wayan Candra
“M
asyarakat Bali menginter pretasikan pros esi Hari Raya Nyepi dalam bentuk karya seni yang mengandung nilai budaya yang tinggi. Selain untuk kepuasan batin, juga sebagai wujud bakti kepada Sang Pencipta,” ujar Drs. I Wayan Candra, pimpinan Sanggar Gases Denpasar. Ekspresi dan bentuk ogoh-ogoh merupakan simbol dari bhuta kala. Inspirasi dari tawur kesanga yang merupakan kurban suci untuk menyomya (meningkatkan status)
Proses pembuatan ogoh-ogoh
Kabur ke Jawa Telantar di Lombok Beberapa tahun lalu, di salah satu sudut perumahan di Kota Mataram, seorang gadis duduk termenung di gardu ronda. Pakaiannya lusuh dan tubuh tidak terurus. Ia sudah berada di berugak tersebut sejak dua hari lalu. Awalnya tidak ada yang memperhatikan gadis bermata bening ini. Warga mengira ia tengah menanti seseorang. Namun, pada hari kedua, warga baru sadar bahwa gadis tersebut masih juga berada di berugak ini.
W
buat ogoh-ogoh tahan lama. Tahap terakhir pemberian aksesoris dan finishing,” papar Candra yang berlatar belakang undagi (seni man patung) ini. Ia menuturkan ide pembuatan bisa dida patkan dengan me mikirkan, membaca, atau melihat sesuatu. Ide itu lalu divisual isasikan sesuai dengan tahapan yang ia sebut kan. Kini pria kelahiran 15 Maret 1955 ini le bih banyak mengawasi saja karena ia sudah memiliki pekerja yang menggarap. Dalam
sepuluh hari bisa diselesaikan 20 ogoh-ogoh. Ogoh-ogoh sebagai sebuah karya seni memiliki banyak unsur seni, ada seni patung, seni ukir, seni lukis, dan seni karawitan. Jika dikaitkan dengan seni kontemporer, ogoh-ogoh bisa dikategorikan seni instalasi serta seni pertunjukkan. “Ada kriteria khas dari ogohogoh. Bentuknya tiga dimensi, perpaduan dari banyak unsur seni dan ditarikan bersama secara ogahogah (digoyang-goyang). Kalau dia tidak di-ogah-ogoh, namanya pa tung, bukan ogoh-ogoh. Karena itu pawai ogoh-ogoh melibatkan massa dan masing-masing akan menarikan ogoh-ogohnya agar nampak hidup,” jelas kakek tujuh cucu ini. Proses “penghidupan” ogohogoh bisa dilakukan dengan peng urip, pemelaspas sampai pasupati. Namun, setelah selesai pawai atau arak-arakan, ogoh-ogoh harus dipralina bisa dengan api atau air. Can dra mengingatkan jangan mempasu pati ogoh-ogoh jika tidak bisa mempralina. Cukup lakukan prayascita (pembersihan), lalu dibawa keliling kampung, setelah selesai lakukan pralina dengan labaran atau segehan. Tujuannya, jika ada roh gentayangan yang masuk badan ogoh-ogoh bisa kembali ke asalnya. Beberapa ogoh-ogoh yang “menyeramkan” biasanya bertema Sang Kala Durga Maya, Sang Kala Ludra, Sang Kala Bhuta Langkir, Sang Hyang Kala, Sang Kala Bhuta Siyu, Sang Kala Lembu Kanya, dan Sang Kala Wimurca. Bentuk dari masing-masing tema ini disesuaikan kreativitas dan imajinasi pembuat nya. –Ngurah Budi
l i f e s to ry
3 - 9 maret 2014
arga menduga ia tersesat. Saat ditemu kan, ia sudah tidak lagi bisa bicara. Entah per istiwa apa yang sudah dialaminya sehingga ia tampak shock dan gagu. Warga juga menduga ia korban kekerasan, karena ditu buhnya seperti punggung sampai pinggang ditemukan luka memar seperti terkena benda tumpul. Ketika ditanya tentang identi tasnya, ia hanya berdiam diri dengan pandangan kosong dan bola mata yang menyorot tajam kebingungan. Tak satu pun doku men melekat pada dirinya untuk mengetahui siapa ia sebenarnya. Karena merasa prihatin dengan kondisinya, warga memutuskan merawatnya beberapa hari di rumah salah seorang warga. Mungkin saja ia mau bicara agar bisa dikembalikan ke orang tua atau keluarganya. Salah seorang ibu rumah tang ga, Alsirah (50) yang tinggal di kompleks tersebut mendekati nya. Ia seperti orang ketakut an. Ia benamkan wajahnya di antara tubuhnya yang dekil dan kurus. Sorot matanya, kosong. Gerakannya lemah terkesan malas. Selain Alsirah, beberapa ibu rumah tangga lainnya juga berdatangan melihat kondisinya. Alsirah lalu bertanya, tentang identitasnya. Begitu juga dengan para ibu lainnya. Gadis itu tidak
bisa menjawabnya. Sikapnya datar dan seperti tidak ingin mengenal siapa-siapa. “Berkali-kali ditanya, berkali-kali pula ia hanya menatap kami,” ungkap Alsirah. Karena kasihan, Alsirah ke mudian membawanya pulang ke rumah. Di sana ia sempat dimandikan dan dirawat selama beberapa hari. Namun, karena gadis ini tidak bisa berbicara (di anggap bisu), Alsirah merasa harus menitipkannya di rumah negara. Selain karena itu, gadis tersebut susah sekali diatur. Ga dis itu pun lalu dititipkan pada salah satu rumah aman di Ma taram. Di sana ia dirawat dan petugas rumah aman terus men coba melakukan pendekatan agar terkuak identitasnya. Satu minggu berada di rumah aman, petugas belum juga tahu siapa namanya dan di mana alamatnya. Hari-harinya hanya makan dan tidur. Diajak bicara ia hanya mem balas dengan tatapan kosong. Prilakunya kasar. Jika keinginan nya tidak dituruti, ia biasanya marah dan tidak jarang meludahi dan menjambak kawan lainnya. Petugas merawat dan memeliha ranya dengan penuh kesabaran dan perhatian. Ia rupanya keras hati. Jika menginginkan sesuatu namun tak tersampaikan, ia bisa diam dan “ngambek” berhari-hari. Tidak jarang juga ia terlihat me nangis dan sedih. Ia selalu tidur di siang hari dan jarang sekali tidur
di malam hari. Waktu malam ia habiskan untuk menonton televisi hingga menjelang subuh. Seharihari ia apatis dan asosial. Ia sudah tidak lagi peduli dengan sekitarnya bahkan dirinya. Suatu hari setelah enam bulan berlalu, ia mau bicara tapi dengan informasi sangat minim. Ia bilang bernama Rowana (nama samaran). Ia ke Mataram dibawa seseorang bernama Rohidah yang berprofesi sebagai pengajar. Informasi lainnya, ia naik bus. Ia juga mengaku bahwa ibunya masih hidup. Informasi yang diberikan juga berubah-rubah. Ia mengaku ke Mataram naik truk lewat Pelabuhan Lembar bersama Agus, pacarnya. Namun ia tidak mengetahui Agus itu berasal dari mana. Ketika ditanya lebih detil ten tang siapa nama ibunya dan alamat pastinya, ia diam dan menggeleng. “Setelah itu saya sangat pelit bicara karena saya kesulitan berkomunikasi verbal,” ungkap Rowana. Tiap kali ditanya, ia selalu bilang ”Rowana lupa”. Minimnya informasi yang diberikan Rowana membuat petugas kesulitan menguak identitasnya sehingga sulit melacak keluarganya. Dalam waktu berbulan-bulan, petu gas belum berhasil menguak identitasnya karena semakin lama kosa kata Rowana semakin sedikit. “Saya ha nya bisa bilang mau pulang, setelah itu diam,” ujarnya menyadari kebingungan petugas rumah aman saat mengurusnya. Hal inilah yang membuat petugas kesulitan memenuhi permintaannya untuk pulang. Permintaan nya untuk pulang sangat se ring dilontarkannya. “Tidak mungkin petugas melepas saya jika saya sendiri tidak lagi tahu berasal dari mana. Saya berterima kasih pada petugas yang telah merawat saya dan tidak membiarkan saya terlunta-lunta di jalanan. Saya juga berterima kasih pada ibu-ibu di perumahan yang sudah menyelamatkan saya,” lanjutnya. Besarnya keinginannya
untuk pulang membuat Rowana beberapa kali hendak melarikan diri dari rumah aman. Karena itu, petugas keamanan agak ketat mengawasinya. Bagaimana tidak, pernah ia beberapa kali sudah keluar dari halaman berjalan tak punya tujuan. Beruntung ia segera ditemukan. Bahkan, saking be sarnya keinginan untuk pulang, ia pernah mengelabui petugas dan petugas keamanan yang berjaga di pintu masuk panti tersebut dengan cara menyamar. Ia memakai baju rangkap-rangkap dan memakai helm milik petugas yang diam bilnya dari tempat parkir sepeda motor. Sampai akhirnya ia sadar bahwa ia harus berprilaku baik. Beberapa waktu kemudian ia mulai menjadi normal dan sedikit demi sedikit ia lancar berbicara. Sampai akhirnya terkuaklah siapa sebenarnya Rowana. Ia berasal dari Pulau Sumbawa dan tinggal di pelosok desa. Rowana mengingat bahwa ia telah diperlakukan tidak baik oleh pacarnya yang melari kannya hingga ke Pulau Jawa lalu
7
memulangkannya hanya sampai Pulau Lombok saja. Di sanalah kisah awalnya ia terlunta-lunta. Trauma yang hebat membuatnya menjadi gagu dan apatis. Setelah ingatannya kembali dan ia bisa bicara normal, ia sadar bahwa tidak mungkin pulang ke rumah orangtuanya setelah apa yang terjadi padanya. Ia kekeh meninggalkan rumah, lari bersama pacarnya yang ru panya tidak bertanggung jawab. Ia melawan orangtuanya demi laki-laki tak bermoral itu. Rowana sangat rindu orang tuanya. Ia in gin meminta maaf pada mereka namun tidak punya keberanian untuk melakukannya. Ditambah lagi rasa malu yang amat dalam membuat ia memutuskan “lari” seterusnya dari orangtua dan kampung halaman. Kerinduan untuk pulang itu selalu ada. “Nanti jika saatnya tiba dan saya siap, saya ingin sekali pulang,” kata Rowana yang kini bekerja di bagian penjualan alat-alat rumah tangga. -Naniek I. Taufan
3 - 9 maret 2014
6
Diskon 50% Kursus Tata Rias Sampai Bisa di LKP Agung Kerjasama antara AA Ayu Ketut Agung dengan Pemerintah Kota Denpasar sudah terjalin cukup lama. Sebut saja dalam ajang Pemilihan Teruna Teruni Denpasar (TTD) yang tahun ini merupakan tahun ke-13, selama itu pula pemilik Salon Agung ini dipercaya merias para kandidat dalam malam grand final. Karena itu pula, Bu Agung sapaan karibnya, mendapatkan penghargaan dari Wali Kota Denpasar IB Rai Dharmawijaya Mantra yang diserahkan Ibu Wali Kota yang juga Ketua TP PKK Kota Denpasar Ny. Selly D. Mantra.
D
ukungan Bu Agung dalam TTD menun jukkan komitmennya untuk turut menjaga dan melestarikan budaya Bali khususnya di bidang tata rias dan busana adat Bali. Pada malam grand final semua finalis terlihat cantik dan anggun dalam balutan busana tengkuluk lelunakan yang sudah menjadi ikon Kota Denpasar. Busana tengkuluk lelunakan ini telah pula disosialisasikan dalam tiap kegiatan Bu Agung (penerimah APP Award dari Kemendikbud tahun 2013), seperti dalam roadshow tata rias yang terus digelar bekerjasama dengan Viva Cos metic. Dalam roadshow tersebut, selain diajarkan trik praktis membuat dan memasang tengkuluk lelunakan serta pusung tagel (sanggul Bali) dan modern, Bu Agung juga mengajarkan tata rias untuk diri sendiri, dan etika berbusana adat Bali yang baik dan benar. Kegiatan-kegiatan roadshow ini biasanya bekerjasama dengan orga nisasi perempuan di desa, kelurahan, kecamatan, kabupaten/kota, instansi pemerintah dan swasta di Bali. Minggu (2/3) ini pun Bu Agung memberikan pelatihan tata rias di Banjar Kuwum, Desa Kuwum, Mengwi, Badung atas un dangan Poltekes Jurusan Gizi. Pelatihan sehari tanpa dipungut biaya ini meru pakan bagian dari 30 roadshow yang ditargetkan sepanjang tahun 2014. DUKUNG DENPASAR Mendukung Denpasar sebagai kota kreatif berbasis budaya unggulan, Bu agung secara terus-menerus gencar menyosialisasikan busana tengkuluk lelunakan. Pada April 2010, bekerjasama dengan TP PKK Kota Denpasar dan Bisnis Bali, Bu Agung menyabet piagam Muri sebagai pemrakarsa kegiatan tengkuluk lelunakan dengan peserta terbanyak yang diikuti sekitar 1.500 peserta se-Kota Denpasar. “Mereka ini sebelumnya kami latih dulu. Selama tiga bulan, kegiatan pelatihan yang kami lakukan dengan masing-masing peserta 50-100 orang ini diikuti masyarakat
Kota Denpasar khususnya kaum wanita. Dari sekian masyarakat yang dilatih, ada lebih dari 1.500 orang yang mengikuti lomba tengkuluk lelunakan di Bali TV tersebut,” ujar pimpinan Lemba Kursus dan Pelatihan (LKP) Agung ini. Busana tengkuluk lelunakan juga digunakan oleh 45 penari yang meru pakan istri lurah, kepala desa, dan istri camat se-Kota Denpasar, yang memen taskan Tari Tenun dalam malam HUT Kota Denpasar ke-226, Kamis (27/2) di Ksirarnawa Art Centre, Denpasar. Dibantu 15 orang murid kursusnya yang sudah terlatih, Bu Agung dipercaya merias para penari tersebut yang salah seorang di antaranya adalah istri Wali Kota Denpasar, Ny. Selly D. Mantra. Melalui Tari Tenun yang dipentas kannya itu tersirat bahwa Ny. Selly Mantra ingin menyampaikan pesan bah
Bu Agung dan Ny. Selly Mantra saat mementaskan Tari Legong Keratonbeberapa waktu silam, dalam Seminar Internasional yang dihelat Kementerian Pendidikan dan Ke budayaan bekerjasama dengan UNESCO di Mercure Convention Hotel Ancol, Jakarta.
DISKON KURSUS 50%
Serangkaian HUT Kota Denpasar ke-226, LKP memberikan kesempatan luas kepada masyarakat umum untuk mengikuti kursus reguler di LKP Agung dengan memberikan diskon 50%. Materi yang diajarkan mencakup Tata Ke cantikan Kulit (perawatan muka, make up wajah, perawatan kaki dan tangan, perawatan tubuh), Tata Kecantikan Rambut (potong, kriting, blow, set, sanggu, creambath, pelurusan, dan cat rambut), Tata Rias Pengantin Bali (payas nista, madya, utama, modifikasi, tengkuluk lelunakan). Dengan hanya berkontribusi Rp 4,5 juta, peserta kursus bisa mengikuti semua materi tersebut. “Peserta hanya membayar sekali, kursus sampai bisa. Peserta kursus cukup datang membawa diri, karena semua peralatan dan perlengkapan kursus disiapkan LKP Agung,” jelasnya. Ia mengimbuhkan, Minggu (2/3), LKP Agung yang juga merupakan Tempat Uji Kompetensi (TUK) Tata Kecantikan satu-satunya di Bali, melaksanakan uji kompetensi yang diuji tim LSK pusat. Sertifikasi uji kompetensi ini dikatakan nya penting dimiliki bagi mereka yang bergelut di bidang tata rias sebagai pengakuan atas kompetensi/kemampuannya. “Bagi pemilik salon atau individu yang belum belum bersertifikasi, silakan hubungi kami, karena tiap tiga bulan kami mengadakan uji kompetensi,” imbau Bu Agung. LKP Agung memiliki tempat belajar yang memadai dan kondusif di dua tempat di Denpasar, dengan instruktur yang mempunyai latar belakang keahlian dan pengalaman legal yang tentunya telah mengantongi sertifikat kompetensi di bidang tata kecantikan. Sampai saat ini LKP Agung telah menamatkan 7.600 siswa didiknya yang sudah tersebar di Bali dan Nusantara. Disediakan pula beasiswa
wa Bali memiliki kain tenun ikat yang pantas dibanggakan dan dilestarikan, yakni endek. Secara berkesinambungan pula, Selly Mantra gencar menyosial isasikan endek yang bisa diaplikasikan ke berbagai produk. Karena itu pula, untuk kain/kamben para penari, Bu Agung memakai endek yang dikom binasikan dengan prada. “Tari Tenun dengan busana tengkuluk lelunakan itu menjadi aplikasi yang pas sebagai ikon Kota Denpasar dengan produksi endek lokalnya,” ujar Bu Agung. Kerjasama Bu Agung dengan TP PKK Kota Denpasar juga sudah terjalin cukup lama. Salah satunya dalam Lomba Menggunakan Pakaian Adat ke Pura yang diikuti SKPD se-Kota Denpasar, Mei 2011, yang juga tercatat dalam Rekor Muri. Tujuannya tak lain untuk melestarikan cara berbusana adat ke pura yang baik dan benar, yang dimulai dari lingkungan SKPD/instansi pemer intah. “Melalui kegiatan ini saya ingin mengingatkan para perempuan Bali boleh saja tampil modis dan meng ikuti tren mode, namun jangan sampai kebablasan. Harus tahu menempatkan kapan dan dimana pemakaiannya. Dengan adanya lomba semacam ini, saya berharap cara berbusana adat Bali yang baik dan benar ini semakin tersosialisasikan, sehingga budaya Bali lestari,” ujar Bu Agung.
3 - 9 maret 2014
S U D U T PA N D A N G
Ubah Perilaku perlu Konsistensi Pernah mendengarkan rekaman suara Polwan di lampu lalu lintas yang ada di persimpangan jalan utama? “Selamat pagi Bali, awali dengan senyum. Kecelakaan selalu diawali dengan pelanggaran lalu lintas. Jadilah pelopor keselamatan berlalu lintas.” Demikian se kelumit potongan pengumuman yang berbunyi saat lampu berwarna merah.
AKBP Heri
Ketut Suyastra
Putu Raj Yamuna
Hal ini relatif lebih aman jika membi arkan siswa berangkat sendiri-sendiri. Pengawasan juga menjadi lebih mudah. Solusi lain, penggunaan angkutan umum. “Pemerintah bisa menyiapkan transportasi publik yang merata,” kata Rai Ridharta. Namun, yang menjadi kendala adalah tidak semua sekolah berada di jalur yang terhubung dengan angkutan umum. “Saya sudah terlibat dalam angkutan transportasi Den pasar, Badung, Gianyar, dan Tabanan (Sarbagita) sejak awal. Banyak kendala yang dihadapi dalam memaksimalkan angkutan ini, terutama dana. Dana yang diajukan tidak sesuai dengan yang cair, jadi pengerjaannya pun tersendat,” ung kap Rai Ridartha. “Jika kebutuhannya Rp 125 miliar, tapi hanya cair Rp 5 miliar, misalnya, ya pengaruhnya kecil dalam mengatasi ini,” imbuhnya. Meski begitu, Rai bangga melihat ada siswa SMP 9 Denpasar yang turun dari bus Sarbagita. Di dekat sekolah itu memang ada halte bus Sarbagita. Artinya, sarana transportasi massal ini bermanfaat bagi mereka khususnya bagi sekolah yang berada di dekat jalan raya. Penggunaan angkutan massal ini mampu mengurangi siswa yang naik kendaraan pribadi serta mengurangi angka kecelakaan lalu lintas. Ia pun mengajak semua pihak untuk terus menyosialisasikan pentingnya keselamat an berlalu lintas dan meminimalkan pelanggaran lalu lintas. Ide program bersepeda sekolah juga penting direalisasikan. “Sekolah punya peran penting juga dalam men gatasi angka kecelakaan lalu lintas. Dulu SMAN 3 Denpasar hanya mem perbolehkan siswa naik sepeda motor atau diantar. Ini kalau diterapkan bagus karena bisa menunjang pola hidup se hat. Tetapi, sekarang sudah tidak ada lagi sekolah yang menerapkan seperti itu,” tandas AKBP Heri. Beberapa tahun silam SMAN 3 Denpasar dikenal sebagai sekolah yang melarang siswanya naik kendaraan ber motor ke sekolah. Siswa hanya boleh naik sepeda gayung ke sekolah. Namun, pro gram itu sudah tidak ada. “Kami realistis dengan kondisi zaman. Kami larang ke sekolah naik motor, tetapi motor ditaruh di luar sekolah. Bagi kami yang terpenting adalah kedisiplinan siswa. Ini bisa diben tuk melalui pendidikan karakter. Kalau dia sudah disiplin, baik di rumah, di sekolah, di jalan pasti disiplin,” ujar Kepala SMAN 3 Denpasar Drs. Ketut Suyastra, M.Pd.
“Jika hanya satu sekolah yang menerap kan program bersepeda ke sekolah, tentu pasti hilang. Di sini dituntut peran pemerintah untuk membuat peraturan misalnya, seluruh sekolah hanya mem bolehkan siswa diantar-jemput atau naik sepeda ke sekolah,” kata AKBP Heri. Program lain yang bisa menjadi bagian dari kesadaran berlalu lintas pun diterapkan di SMAN 3 Denpasar. Sekolah ini sering mengadakan sidak untuk me meriksa kelengkapan kendaraan bermtor yang dipakai siswa. “Jika ada yang tidak lengkap, kami dari pihak sekolah mem beri pengertian, kelengkapan kendaraan adalah salah satu cara untuk menjaga keselamatan. Kalau urusan SIM dan surat kendaraan, itu sudah ranahnya kepolisian,” ujarnya. Pola ini dinilai cukup efektif untuk menekan kasus kecelakaan. Tiap penerimaan siswa baru juga dilakukan kegiatan sosialisasi yang melibatkan pihak kepolisian. Saat itulah siswa diingatkan lagi tentang pentingnya tertib lalu-lintas. Ketua Samas Bali Endra Datta menuturkan, Samas Bali memiliki pro gram kampanye Bike to School yang memiliki target siswa yang peduli terh adap ancaman serius lingkungan terkait global warming serta mereka yang mengambil aksi nyata, salah satunya dengan bersepeda ke sekolah. “Respons yang kami dapat, mereka sadar dan mendapat informasi secara baik menge nai isu lingkungan. Bahaya dan ancaman dari dampak panas bumi mereka sudah tahu. Tapi, mereka belum tergugah untuk take action secara riil. Jika ingin bersepeda, ada kendala-kendala klasik seperti jarak, capek, cuaca, dll. Kami evaluasi terus untuk membangkitkan idealisme mereka. Selain itu, memang perlu kerja sama dengan sekolah. Aparat kepolisian juga harus tegas terhadap pelajar yang naik motor tetapi belum cukup umur untuk memiliki SIM. Pe merintah juga perlu menyiapkan lagi lajur sepeda,” paparnya. Ia menambahkan, terus melakukan kampanye di komunitas tetapi untuk masuk ke sekolah terkendala izin yang susah. Strategi lain pun sedang disiap kan dan Maret ini mulai dilaksanakan. “Mengubah perilaku dari nyaman ke “susah” perlu konsistensi,” ujar pemilik Warung Rani ini. Dari pantauan Samas, di SMPN 1 Abiansemal dan SMPN 2 Abiansemal sudah ada yang mau naik sepeda ke sekolah.–Ngurah Budi
erilaku berlalu lintas secara tertib menjadi sebuah cara mengatasi kecelakaan lalu lintas. Kalau sudah mengikuti aturan namun tetap juga kecelakaan, itu nasib namanya. Tapi, kasusnya kecil. Coba kita kembali pada diri sendiri, apakah kita memakai helm dengan benar? Apakah kita sudah me makai sabuk keselamatan selama ber kendara mobil?” kata Ketua Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) Wilayah Bali I Made Rai Ridartha, ATD, Dipl. UG, MEngSc. Rai Ridartha pun menuturkan pen galamannya ketika anaknya tidak mau mengenakan helm saat berpakaian adat ke sekolah. Dia menegaskan, anaknya wajib pakai helm. Jika tidak mau pakai helm, ia menyuruhnya naik angkutan umum. Jika tidak mau juga, jangan
dartha menyarankan, penggunaan arah mata angin. Misalnya, angkutan utara, timur, selatan, barat. Siswa bisa memilih mana yang sesuai jalur menuju rumah nya. Selain angkutan, perlu disiapkan juga lokasi menjadi titik konsentrasi. “Siswa datang dari rumah lalu menuju ke titik konsentrasi. Pulangnya, turun di titik konsentrasi,” ujarnya. Jika siswa diantar ke titik konsen trasi lalu ditinggal oleh pengantarnya, ini disebut kiss and ride. Tetapi, jika siswa yang sudah cukup umur untuk memiliki SIM memarkir kendaraannya di lokasi yang dekat dengan konsentrasi, lalu ia naik angkutan massal, disebut park and ride. Pola park and ride biasanya diterapk an jika lokasi konsentrasi berupa terminal yang memiliki tempat parkir luas sedangkan kiss and ride se ring diterapkan di halte. Penerapan pola antar-jemput de
membagi tiga kategori untuk antarjemput. Kategori khusus yang jaraknya jauh, seperti Mas dan Pemogan. Biaya per bulannya Rp 390 ribu. Kategori A untuk lokasi yang agak dekat, biayanya Rp 285 ribu. Kategori B yang lokasinya dekat sekolah biayanya Rp 200 ribu. Biaya itu sudah termasuk asuransi,” ujar Putu yang juga putra pendiri Yayasan Pendidikan Raj Yamuna, Made Okin Adiyana. Ia menambahkan, dengan adanya angkutan sekolah, pihaknya turut berkontribusi mengurangi kemacetan lalu lintas. Jika semua siswa diantarjemput oleh orangtuanya tentu kemac etan akan bertambah parah. Dari 600 siswa Raj Yamuna, 75% menggunakan angkutan sekolah. Sisanya, mereka yang tinggal dekat sekolah atau me mang mempunyai orang yang bertugas mengantar-jemput. “Selama ini saya mengamati, siswa yang ikut angkutan sekolah akan lebih mudah bersosialisasi, disiplin, mandiri,
Yohanes Kartika Herdiyanto
Endra Datta
Rai Ridartha
sekolah. “Tentu dia memilih pakai helm,” katanya. Masalah murid di bawah umur mengendarai kendaraan sendiri ke sekolah menjadi pembicaraan yang tiada habisnya. “Di sini, peran orang tua sangat diperlukan. Orangtua harus tegas. Jangan memberikan kesempatan dan izin kepada anak mengendarai kendaraan sendiri,” kata Wadir Lantas Polda Bali AKBP Heri Armanto Sutikno, S.H., M.Si. Peran orangtua sangat jelas dalam hal ini. “Masalahnya, ada aturan tapi seringkali kita tidak memberikan contoh dalam menegakkan disiplin. Kita perlu ingat, orangtua punya tanggung jawab untuk mengantar, entah itu menyuruh orang lain atau melakukannya sendiri,” ujar Yohanes Kartika Herdiyanto, Kepala Bagian Psikologi Industri/Organisasi dan Sosial Program Studi Psikologi Fakultas Kedokteran Unud. “Jika alasannya tidak ada yang mengantar atau tidak ada transportasi, sekolah bisa berperan dengan menyediakan angkutan sewa,” imbuh AKBP Heri. Drs. AA Gd. Agung Rimbya Temaja, M.Ag., Kepala SMP 1 Denpasar menu turkan, sekolahnya pernah menyiapkan angkutan untuk pengantaran. “Karena banyak yang ikut dan harus diantar, ada yang malam hari baru sampai di rumah. Kasihan juga kalau sampai di rumah malam,” tandas pria yang juga Kelian Banjar Kertalangu ini. Menurut Rai Ridharta, masalah itu biasanya muncul karena letak domisili siswa terlalu menyebar. Karena itu, jika sekolah menyediakan angkutan sekolah, perlu pemetaan domisili siswa. Rai Ri
ngan angkutan massal ini akan lebih baik lagi jika armada yang tersedia representatif dan jadwal kendaraan juga harus teratur. “Kalau pukul 06.30, ya harus pukul sekian sudah siap. Kalau terlambat, itu risiko sendiri. Peng gunaan angkutan massal ini minimal bisa mengurangi angka kecelakaan dan pelanggaran yang dilakukan pelajar di jalan,” tegas pria kelahiran Pekanbaru, 4 Agustus 1965 ini. Angkutan massal ini bisa dikelola sekolah atau bisa juga pemilik angkutan. “Di Mengwi, angkutan massal benarbenar dimanfaatkan oleh anak-anak sekolah. Ini lumayan untuk mengurangi angka kecelakaan di tingkat pelajar,” imbuh Drs. I Nyoman Subrata, M.M., Kabid Dikdas Dinas Pendidikan, Pe muda, dan Olahraga Provinsi Bali. Salah satu sekolah yang menerap kan angkutan massal untuk antarjemput siswa adalah TK, SD, dan SMP Raj Yamuna. Sejak berdiri tahun 1979 hingga kini, sekolah ini masih menerapkan program angkutan mas sal. “Pendiri kami mengadopsi sistem yang diterapkan di Jepang. Anak-anak di sana wajib naik bus sekolah. Karena dinilai baik, makanya dijadikan contoh dan diterapkan di sekolah ini,” ujar Koordinator Transportasi Yayasan Pen didikan Raj Yamuna, Putu Raj Yamuna Adiyana, S.Sos. Saat ini tersedia 12 armada, dua di antaranya cadangan untuk melayani antar-jemput siswa Raj Yamuna. Lokasi terjauh yang dijangkau adalah Desa Mas, Ubud untuk wilayah utara dan timur, sedangkan wilayah selatan hingga Pemogan, Denpasar Selatan. “Kami
tidak bergaya hidup mewah, serta terbiasa dalam kebersamaan. Seringkali anak yang lebih besar akan mengalah terhadap adik kelasnya. Orangtua juga mendukung apa yang sudah menjadi program yayasan sejak baru berdiri ini,” tegas ayah dua anak ini. Salah satu contoh kedisiplinan adalah ketika pulang sekolah, anak-anak yang naik angkutan sekolah diutamakan. Mereka berbaris di dekat kendaraan yang akan mengantar mereka pulang. Siswa yang dijemput orangtuanya di sekolah harus mengalah dan pulang setelah semua siswa naik angkutan sekolah. Selain untuk antar-jemput, ang kutan sekolah juga dipakai jika siswa melakukan kegiatan di luar sekolah.
“P
kursus gratis bagi mereka yang kurang mampu dan putus sekolah, yang benarbenar berminat di bidang tata kecantikan. Syarat dan ketentuan berlaku. Masyarakat yang berminat, silakan mendaftar di Sekretariat LKP Agung, Jalan Anggrek No. 12 Kreneng, Denpasar. Telepon 0361 233850, 081 1393602, faks. 0361 247153. Cabang Tohpati, Jalan WR. Supratman No. 303 A, Tohpati, Denpasar. Email: lkp_agung@yahoo.com. website: www.salonagung.com. –Inten Indrawati
Lima besar Teruni Kota Denpasar 2014 dalam balutan busana tengkuluk lelunakan
Ketua TP PKK Denpasar Ny. Selly Mantra (dua dari kanan-atas) dan Bu Agung bersama 45 Penari Tenun yang merupakan istri lurah, kepala desa, dan istri camat se-Kota Denpasar dalam balutan busana tengkuluk lelunakan
19
Suasana diskusi terbatas “Kecelakaan Lalu Lintas di Kalangan Pelajar” yang digelar Mingguan Tokoh
NINE
20
3 - 9 Maret 2014
T. W i s m a n i n g s i h
Fokus Tiga Isu Pokok Berkecimpung mengurus persoalan perempuan di Nusa Tenggara Barat sejak tahun 2001, membuat T. Wismaningsih, Kepala Badan Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak dan Keluarga Berencana (BP3AKB) Provinsi NTB, memahami benar kondisi perem puan di daerah ini. Ia pernah menjadi Kepala Bidang Pemberdayaan Perempuan, Dinas Sosial Nusa Tenggara Barat, Kepala Panti Budhi Rini Mataram, panti yang mengurus, mem bina dan merehabilitasi para pekerja seks komersial.
D
T. Wismaningsih
ari banyak pengalamannya dalam hal ini, Wisma, panggil an akrabnya, menyadari bahwa telah terjadi pergeseran nilai budaya di NTB dalam meman dang perempuan. “Dari desa hingga perkotaan, menganggap kodrat perempuan itu ada lah seputar sumur, kasur, dan dapur. Hal ini juga terjadi pada tataran birokrasi perempuan, yang masih berpikir seperti itu. “Padahal, seharusnya hal itu bu kanlah kodrat tapi merupakan tugas dan peran saja. Tapi itu dulu,” ungkapnya. Namun, lanjutnya, hal seperti itu telah mengalami pergeseran pada penilaian tentang ke beradaan perempuan yang kini menganggap hal tersebut sebagai peran dan fungsi, bukan lagi sebagai kodrat. Pergeseran penilaian ini memang terjadi
sangat signifikan pada tata ran birokrasi, meski belum sepenuhnya pada masyarakat bawah. “Masyarakat bawah be lum bisa memilah mana peran (bertukar tugas) dan mana yang disebut kodrat (sesuatu yang tidak bisa dirubah),” ujarnya. Hal yang sama juga ter jadi dalam bidang pendidikan. Jika dahulu, perempuan tidak bisa mendapatkan pendidik an yang baik karena secara umum perempuan dianggap tidak perlu bersekolah apalagi berpendidikan tinggi karena toh akhirnya akan kembali ke sumur, kasur dan dapur juga. Hanya laki-laki yang dianggap penting untuk bersekolah. “Kalau dulu perempuan tidak bersekolah karena faktor bu daya dalam masyarakat yang menomorduakan perempuan dalam hal pendidikan, tapi sekarang perempuan tidak
agar mereka mau meninggalkan dunia hitam itu dan mulai ber usaha untuk hidup yang lebih. Sampai kapan mereka akan menjadi PSK? Ada yang men jawab dengan cueknya, “kapankapan”, ada yang sedih karena mereka sesungguhnya tidak menginginkan, namun ada juga yang menikmatinya. Sebagai manusia biasa, Wisma mengaku ada kalanya kesal menghadapi bersekolah lebih karena faktor usia perkawinan, yang dirasa warga binaannya di Panti Budhi teknis dan kurang gigih saja. penting untuk dilakukan. Hing Rini dulu. Ia suka kesal de Misalnya tempat sekolah yang ga saat ini pernikahan dini masih ngan mereka yang menikmati jauh atau tidak memiliki biaya terjadi, bahkan pada anak usia menjadi PSK. Kalau dinasehati, seragam,” ujarnya. 16 tahun, dan menurut Wisma jawabannya menjengkelkan. Begitu pula dalam hal ke angkanya cukup tinggi. Kema “Paling-paling pulang dari Budhi sehatan. Jika dulu kematian ibu tian ibu dan anak juga banyak Rini dikasih sebuah panci saja. dan anak terjadi bisa karena disebabkan oleh orangtua yang Kalau di jalan bisa dapat lebih faktor kurangnya pengetahuan belum mengerti mengurus anak banyak,” ujar Wisma mengutip ibu dan keluarga serta lingkung dan tidak siap secara psikis perkataan PSK tersebut. “Per an akan pentingnya merawat untuk memiliki anak. “Mereka soalan ini menjadi tanggung jawab kita bersama. Bukan dan menjaga kehamilan, maka hanya Panti Budhi Rini yang kini kematian ibu dan anak akan membina PSKbisa disebabkan banyak “Kalau dulu PSK, tapi juga ke program pemerin perempuan tidak ber luarga dan ling tah yang tidak kungan harus dapat diakses sekolah karena faktor budaya dalam bersamaoleh perem masyarakat yang menomorduakan perempuan sama mem puan. “Mi bina dan dalam hal pendidikan, tapi sekarang perempuan salnya, kasus menyadar meninggalnya tidak bersekolah lebih karena faktor teknis dan kan mere ibu hamil ka kurang gigih saja. Misalnya tempat sekolah ka,” kata T. rena kelelahan Wismaningsih. berjalan ketika yang jauh atau tidak memiliki biaya Selain itu, harus mengambil air se ragam” menurutnya, baruminum yang cukup jauh baru ini terungkap fakta dari rumahnya,” kata Wisma. dari seorang ahli kandungan, Solusi dari permasalahan ini ke depan, menurutnya dilaku hanya siap jadi pengantin namun bahwa di NTB kasus seks bebas kan agar program-program tidak siap menjadi orangtua,” di kalangan anak usia sekolah pemerintah harus lebih bisa katanya. Belum lagi kasus-kasus sudah mulai terjadi. Ini harus dimanfaatkan oleh perempuan. kekerasan dalam rumah tangga mendapat perhatian khusus. Sebagai pimpinan instansi yang (antara suami istri), yang banyak Karena itulah bersama stake mengurusi masalah perempuan, terjadi karena pasangan terse holder lainnya di NTB, tengah Wisma berupaya berkontribusi but belum dewasa. Ketiga, isu menuju program kota layak dengan merancang pengang penurunan angka KDRT yakni anak yang telah mulai digagas garan yang responsif gender, kekerasan terhadap perempuan dalam rencana aksi daerah de karena perempuan ada di se dan anak, termasuk juga ke ngan memenuhi 37 kebutuhan mua lini. kerasan terhadap perempuan dasar anak. Atas pengalaman yang telah Ia berharap agar sarana menyangkut trafficking. Hal ini dan prasarana umum, bisa menjadi salah satu konsentrasi dilaluinya selama ini, sebagai lebih dapat diakses oleh perem nya karena kasusnya cukup seorang ibu yang memiliki tiga puan. Seperti halnya di pasar- tinggi. “Pada tahun 2012 kasus- anak, dua laki-laki dan satu pasar, seharusnya ada tempat kasus tersebut sebanyak 1.183, perempuan, ia tentu saja memi penitipan anak yang ramah sedangkan hingga februari 2013 liki kekhawatiran tersendiri. anak. Karena sudah jelas, yang kasusnya terakumulasi menjadi Namun, Wisma tidak ingin ketakutan menghadapi situasi mengakses aktivitas pasar ada 1.187,” katanya. lah perempuan (ibu-ibu). Bia Cukup banyak pengalaman itu melainkan ia melakukan sanya para ibu saat ke pasar kemanusiaan yang dialami pendekatan, sedekat-dekatnya akan meninggalkan anak-anak Wisma selama bergelut di dengan anak-anaknya. Wisma mereka yang masih kecil tidak bidang pembangunan perem mengimbau agar para ibu ja dalam pengawasan langsung puan di daerah ini. Salah satu ngan sampai menjaga jarak melainkan pada orang lain. pengalama n yang tidak bisa dengan anak. Ia sendiri selalu “Beberapa kasus ditemukan, dilupakannya ketika ia menjadi memberikan pendidikan repro anak-anak yang ditinggal itu Kepala Panti Rehabilitasi PSK duksi maupun pelajaran seks mengalami pelecehan seksual di Budhi Rini Mataram, tahun pada anak-anaknya agar mere justru pelakunya adalah orang 2005-2009. Ia kerap miris ka memahami kondisi dirinya dekat, tidak jarang ayah tiri atau menyaksikan perempuan- secara utuh. Tentu saja dengan lainnya,” ujarnya. Diakuinya hal perempuan yang terjerat dunia cara yang santun dan tidak ini memang tidak mudah dilaku hitam pelacuran dari rema terkesan vulgar. Kepada ketiga kan. Namun bisa dicoba untuk ja hingga usia tua. “Bahkan, anaknya, ia berusaha terbuka mulai melakukannya. dib ayar dengan semangkok saling bercerita dan memberi Karena itulah, ia kini memi bakso pun ada,” katanya. Itu nasihat-nasihat pada waktuliki tiga isu pokok yang harus karena ia butuh makan dan waktu yang dianggapnya tepat agar apa yang dinasehatinya mendapat perhatian. Pertama, melanjutkan hidup. soal program yang responsif Ia kerapkali mengajak me dapat diterima dengan baik. -Naniek I. Taufan gender. Kedua, pendewasaan reka bicara dari hati ke hati,
INSPIRASI
3 - 9 Maret 2014
Belajar Bahasa Bali Online Pelajaran bahasa Bali masih dianggap sulit oleh sebagian besar kalangan pelajar kita. Bahasa Bali dianggap lebih sulit daripada bahasa Inggris. Bahkan ada seorang siswa SD di Denpasar meng aku nilai pelajaran bahasa Inggrisnya sembilan, sementara nilai bahasa Bali enam. Di tengah minimnya minat kalangan pelajar terhadap bahasa ibunya, kalangan ekspatriat justru antu sias belajar bahasa Bali. Namun sayang, literatur secara online yang bisa mereka akses masih kurang. Realita inilah yang kemudian melatarbelakangi diluncurkannya situs basabali.org.
A
dalah Alissa Stern, seorang praktisi yang menerima gelar Dok tor Yurisprudensi dari Harvard Law School (1991) dan gelar BA dalam Antropologi dan Studi Asia Tenggara dari Cornell University (1986). Ia juga menerima sertifikat tingkat lanjut dalam ba hasa Indonesia dari IKIP Malang (di Jakarta) dan membantu merevisi ka mus Indonesia-Inggris oleh Echols/ Shadily/Wolff. Selain itu, Alissa juga mengajar di Universitas Indonesia Law School dan menulis dalam jurnal mengenai negosiasi lingkungan Indo nesia di Harvard Business Review dan Washington Post. Bukunya berjudul “Proses Bisnis/Kolaborasi Lingkun gan” (Quorum 2000). Berbekal kemampuan berba hasa Indonesia dan ketertarikannya mempelajari bahasa Bali secara benar, Alissa bergerak untuk meng organisir pembentukan organisasi dengan merangkul semua kalangan di Bali maupun internasional sebagai sponsor. Organisasinya berbasis di Washington, DC. Misinya, mem pertemukan para pakar bahasa dan budaya Bali untuk menciptakan ma teri bahasa Bali yang pertama dalam
Wali Kota dan Wakil Wali Kota Denpasar mendukung piranti lunak yang dirancang oleh Basabali yang dipamerkan dalam acara HUT ke-22 Kota Denpasar, Kamis 27 Februari 2014 di Lapangan Lumintang
video di stasiun Trans TV. Keterlibatannya dalam yayasan ini berawal dari menangani ke seluruhan isi software baik berupa naskah hingga proses produksi audio dan visual dan berujung pada lahirnya sebuah software yang bisa diakses dengan menggunakan bahasa Bali-bahasa Indonesia atau bahasa Bali-bahasa Inggris. Tak hanya berhenti di proses produksi, na mun berlanjut menangani promosi dan gencar melakukan pendekatan secara aplikatif dengan memasuk
Antusiasme siswa SMP 12 Denpasar belajar menulis aksara Bali dibantu dengan media piranti lunak
bentuk audio visual untuk mem pelajari kosakata dan aksara Bali yang mulai kurang diminati. “Tapi, kami lebih umum mempromosikan penggunaan dan pemahaman ten tang bahasa Bali,” ujar Alissa. Yayasan Basabali ini berdiri tahun 2011 dan setahun kemudian meluncurkan situs web pembelajar an bahasa Bali, www.basabali.org. Pengelolanya, Alissa Stern sebagai perwakilan Yayasan Basabali di Washington DC dan Ayu Mandala sebagai perwakilan Basabali di Bali, Indonesia. Meski lulusan Teknologi Pertanian, Unud, Ayu Mandala sudah aktif di bidang komunikasi dan siaran sejak tahun 2002, baik sebagai penyiar maupun produser program radio hingga berlanjut ke bidang siaran televisi sebagai jurnalis
kan software di dalam kurikulum sekolah tingkat SMP dan SMA di Bali. Ayu juga memiliki harapan sama, supaya bahasa Bali menjadi kekayaan budaya yang akan selalu mengakar di tiap pemikiran dan kehidupan masyarakat Bali sedari muda. “Karena, bahasa Bali adalah bahasa ibu yang menjadi dasar bagi generasi muda untuk mempelajari bahasa lainnya,” ucapnya. CARA MENGAKSES Basabali.org berisikan materi bahasa Bali yang dikembangkan fokus pada 24 video percakapan, diselingi dengan latihan bahasa, pen jelasan tata bahasa dan kartu bantu elektronik. Terdapat pula catatan budaya yang berfungsi sebagai sum ber daya untuk antropologi, sejarah,
dan tren saat ini. Juga, topik tentang Bali serta serangkaian modul yang mengajarkan penulisan aksara Bali, yang saat ini masih kurang dipahami oleh generasi muda. Piranti lunak yang dibuat oleh perusahaan bernama Transparent ini sebagai penyedia piranti untuk belajar bahasa. “Sebagai bentuk du kungannya, piranti lunak ini dibagi kan secara gratis bagi organisasi non-nirlaba (LSM) dan sekolah. Se dangkan untuk pengguna individu dan perusahaan/komersil dengan biaya Rp 250.000. Jika tidak mampu membeli dengan harga reguler, namun tetap ingin memiliki salinan nya, bisa menghubungi kami untuk diberikan bantuan finansial. Dengan mengakses situsweb basabali.org para pemerhati bahasa ibu utamanya bahasa Bali diharapkan bantuan donasinya untuk mendukung kelan jutan kegiatan kami,” papar Ayu. Hal ini dikatakan Ayu tak lain mengarah pada tujuan yayasan ini untuk membantu mahasiswa Bali menggunakan bahan-bahan dalam piranti lunak tersebut, untuk dite rapkan pada sekolah-sekolah tingkat menengah Bali. Sejak akhir 2013 hingga awal tahun 2014, piranti lunak ini telah diaplikasikan di 14 sekolah dan ditargetkan digunakan sebanyak 480 siswa. Donasi maupun dukungan masyarakat untuk membeli dan menggunakan piranti lunak ini dijelaskan Ayu untuk membiayai proses duplikasi DVD bagi sekolah menengah lainnya di Bali serta untuk memberikan dukungan teknis dan target berikutnya, yaitu menam bahkan modul skrip tambahan dan memperbarui perangkat lunak ini. Perangkat lunak pembelajaran bahasa Bali ini sekarang tersedia secara online dan bisa juga dibeli dalam bentuk kepingan DVD. “Versi online dapat digunakan dengan PC atau Mac, tetapi DVD hanya bekerja dengan PC (berbasis Windows),” jelas Ayu. Selain akses melaui DVD maupun online, cara belajar bahasa Bali yang dipandu dengan panduan berbahasa Inggris ini bisa juga diakses melalui ponsel pintar berbasis android. Ayu Mandala menyampaikan siapa pun bisa menggunakan dan
mengakses piranti lunak belajar ba hasa Bali ini, baik kalangan yang pasif berbahasa Bali maupun kalangan bukan orang Bali yang tertarik untuk belajar. Pengguna terbanyak saat ini adalah kalangan pelajar dari Bali dan Indonesia, juga 200 orang lebih dari berbagai negara, maupun orang Bali yang tertarik belajar tata bahasa atau pun cara penulisan Bahasa Bali. Diungkapkan Ayu, tidak hanya orang Bali maupun keturunan Balinon Bali di Bali yang menggunakan nya. Hal ini sangat terbuka bagi warga Indonesia seperti salah se orang pengguna asal Sumatera Utara yang tertarik mengenal budaya Bali tak hanya dengan mengunjungi tempat wisata namun juga bahasa masyarakat Bali. Respons masyarakat Bali pun sangat bagus dengan adanya pi ranti lunak ini. Hal ini terbukti pada saat menggelar pameran di Pesta Kesenian Bali tahun 2013, banyak orangtua yang tertarik menggunakan piranti lunak ini sebagai sarana untuk menarik minat anaknya mengenali bahasa ibu mereka. Dukungan lain juga datang dari kalangan ekspatriat yang telah lama tinggal di Bali, namun mengalami kesulitan berkomunikasi dengan masyarakat sekitar maupun orang lokal yang berada di lingkungan kerja mereka. Dengan adanya piranti lunak ini mereka mengaku mampu menjalin komunikasi tanpa takut untuk meny inggung perasaan maupun golongan individu lawan bicaranya. Piranti lunak ini dibuat dengan pengawasan dari pihak akademisi dan dibantu oleh mahasiswa Sas tra Daerah Bali dari Universitas Udayana. MASUK SEKOLAH Piranti lunak yang dibuat atas kerja sama Basabali dengan Transparent mampu memasuk kan media interaktif ini ke dalam kurikulum pelajaran bahasa Bali di sekolah menengah pertama serta diaplikasikan dalam kegiatan ekstrakurikuler. Pembelajaran Bahasa Bali dengan media digital serta pemanfaatan
5
kemajuan teknologi sampai saat ini masih sangat jarang dilakukan. Ber basis pada materi pokok dasar-dasar pelajaran bahasa dan aksara Bali yang dikemas dengan percakapanpercakapan audio visual, permainan (games), dan latihan-latihan dengan media perekam, boleh jadi mem berikan alternatif yang segar dalam proses pembelajaran. Proses pembelajaran Bahasa Bali dengan media digital ini sudah dilakukan ke beberapa sekolah menengah pertama di Denpasar, yakni SMPN 1, SMPN 2, SMPN 4, SMPN 5, SMPN 6, SMPN 7, SMPN 8, SMPN 10, SMPN 11, SMPN 12, SMP Dwijendra, SMP Harapan Nusantara, dan SMP Tunas Bangsa. Di masing-masing sekolah tersebut dipilih satu kelas yang terdiri dari 35 sampai 42 siswa yang rata-rata duduk di kelas tujuh (kelas satu SMP). Secara teknis, pemilihan peserta untuk mengikuti program ini diserahkan sepenuhnya kepada guru bahasa Bali yang mengajar di tiap sekolah. “Sebagian besar seko lah menunjuk satu kelas tertentu, kecuali SMPN 12 Denpasar yang memilih peserta berdasarkan minat dan ketertarikan untuk belajar ba hasa dan aksara Bali,” ujar Ayu. Tim pengajar program pem belajaran bahasa Bali ini melibatkan 26 mahasiswa yang berasal dari Jurusan Sastra Bali Fakultas Sastra Universitas Udayana. Mereka meng ajar ke sekolah-sekolah yang telah ditentukan. Pelaksanaan kegiatan program pembelajaran bahasa Bali ini dimulai dengan sosialisasi kepada guru-guru bahasa Bali yang dilak sanakan di Dinas Kebudayaan Kota Denpasar. Setelah aplikasi di kurikulum tingkat SMP telah terlaksana, ke depannya Yayasan Basabali ini akan mengembangkan dan lebih aktif mempromosikan media interak tif lainnya seperti mesin pencari Google dengan bahasa program menggunakan bahasa Bali yang telah diluncurkan Maret 2013. “Tentu nya DVD piranti lunak akan terus diaplikasikan dan didistribusikan ke selolah SMP dan SMA lainnya di seluruh Bali. Karena, saat ini sudah diterjemahkan dalam versi bahasa Bali-bahasa Indonesia dalam konten maupun instruksi penggunannya. Kini, bahasa Bali pun sudah menjadi bahasa resmi dan dipakai oleh Wiki pedia sebuah ensiklopedia berbasis online,” ucapnya. Silakan kunjungi stan Basabali (Depkominfo) di Pa meran HUT ke-226 Kota Denpasar yang hingga 3 Maret 2014 di areal Lapangan Lumintang, Denpasar. –Inten Indrawati
Suasana belajar aksara Bali melalui media interaktif
INSPIRASI
4
3 - 9 Maret 2014
Syariat Libana
Berburu Pewarna Alami di Hutan dan Laut Seiring dengan makin maraknya isu-isu lingkungan dikumandangkan, dunia fashion pun mulai melirik bahan-bahan yang ramah lingkungan. Salah satunya adalah bahan pewarna alami. Di Indonesia sendiri, pewarna alami untuk produk fashion sebenarnya sudah dikenal sejak zaman dulu, khususnya pada kain-kain tradisional.
N
amun, kemajuan teknologi membuat pewarna alam mulai ditinggalkan dan berganti dengan pewarna sintesis atau pewarna buatan. Alasannya, zat pewarna sintesis lebih mudah diperoleh, ketersediaanya terjamin dan warnanya lebih kaya juga praktis penggunaannya. Sebaliknya dengan pewarna alam yang keragaman warnanya sangat terbatas juga proses pembuatannya pun lebih rumit. Syariat Libana, salah satu pengrajin tenun dari Desa Ternate, Kabupaten Alor, Nusa Tenggara Timur, kini tersenyum senang. Pewarnaan alam yang ditekuninya mulai naik daun khususnya di kalangan fashion. Tidak itu saja, pemerintah pun telah berencana mengembangkan potensi pewarna alami sebagai komoditas unggulan Indonesia. “Sekarang perhatian dan dukungan pemerintah terhadap pengrajin pewarna alami menjadi lebih baik,” ungkap wanita 42 tahun itu bersemangat. Menjadi pengrajin tenun telah dilakoni Syariat sejak usia 6 tahun. Menurutnya, itu ketrampilan turun-temurun yang dimiliki keluarganya. Ketika ayahnya meninggal saat ia masih kecil, ibunyalah yang membanting-tulang menjadi tulang punggung keluarga. Salah satu mata pencarian ibunya adalah dengan menenun. “Saya sudah mulai belajar menenun saat usia 6 tahun, mama yang ajar. Ketika saya mulai besar, mama juga mengajarkan cara membuat pewarna alami,” ucap ibu enam anak ini ketika ditemui di Jakarta Convention Center. Meski para pengrajin tenun ramai-ramai menggunakan pewarna sintesis, ia tidak tertarik untuk ikut-ikutan. Menurutnya, meski pewarna alami lebih rumit mendapatkannya, ia tetap bertahan karena itu adalah warisan keluarga. “Tekad saya adalah mengembangkannya, meski banyak yang beralih ke pewarna sintesis karena lebih mudah mendapatkannya,” jelas Syariat. Dari keluarganya, Syariat diwarisi tujuh warna alami, antara lain; warna biru dari tanaman, merah dan beberapa variasi merah dari mengkudu, warna hitam dari biji asam, kuning dari akar kayu kuning, kulit asam menjadi warna ungu dan kulit mangga hutan yang menjadi berwarna coklat.
Dari jumlah tersebut dan seiring perjalanan waktu, Syariat dan keluarganya pun memperkaya koleksi warnanya. Berdasarkan catatan Dinas Pariwisata Pemda Alor, Syariat memiliki koleksi 125 pewarna. Bahan pewarna itu umumnya didapat dari hasil blusukan keluar-masuk hutan. “Sebenarnya ada tambahan lagi, yakni 60 jenis pewarna, namun saya belum lapor ke Pemda… hahahahha….Nanti saja, saya ingin warna-warna milik saya dipatenkan dulu baru dipublikasikan,” ujarnya. Syariat menuturkan salah satu yang membuatnya bersemangat mengembangkan pewarna alam adalah seorang wisatawan Jepang, Seiichi Okawa yang ditemuinya
warna itu uang karena banyak orang suka pewarna alam,” ujar Syariat yang hadir dalam pameran di JCC didampingi Yustina Makunimau, Kabid Perindustrian Kabupaten Alor, NTT. Meski banyak yang mencemooh, namun Syariat maju terus. Baginya, 180 lebih warna yang dikoleksinya, belum cukup. Sebagai pengrajin, dia tidak boleh berhenti berkarya. Ia harus terus mencari warna-warna baru dari bahan-bahan alami. Apalagi, permintaan terhadap pewarna alami semakin meningkat akhir-akhir ini. “Karena itu saya terus berjuang untuk mencari warna-warna baru. Bukan hanya di hutan tapi juga di laut,” tandasnya.
Syariat dan desain karya Merdi Sihombing yang dibuat menggunakan pewarna Teripang
saat penyelenggaraan Expo Alor 2001. Ternyata wisatawan itu sangat menyukai pewarnaan alami dan meminta Syariat untuk terus mengembangkannya. Seiichi Okawa mengatakan suatu saat pewarna alami akan menjadi ‘primadona’. Motivasi yang diberikan Okawa begitu melekat pada Syariat dan ia pun semakin bersemangat mencari bahan-bahan yang pewarna alami. Sampai-sampai teman-temannya mencemoohnya karena melihat Syariat lebih banyak menghabiskan waktunya keluar-masuk hutan ketimbang menenun. “Mereka bilang, itu Syariat tidak ada kerjanya, seperti orang gila saja. Kerjanya hanya keluarmasuk hutan. Saya jawab, ehh kamu kerja saja, tidak usah urus saya. Saya ini jalan keluar-masuk hutan untuk cari pewarna. Pe-
BERBURU PEWARNA DI LAUT Upaya Syariat mendapat warna-warna baru tidak hanya terbatas pada tanaman-tanaman, tapi kini ia sudah mulai merambah ke laut. Menurutnya, biota laut pun ternyata dapat menghasilkan warna-warna menarik. Biota laut yang kini tengah dikembangkannya adalah teripang dan tinta cumi-cumi. Dari teripang, macam-macam warna didapat, di antaranya warna merah, kuning, ungu, dll. “Kain yang diberi pewarna teripang dan tinta cumi, harganya mahal. Satu lembar kain dengan ukuran 160x70 cm, harganya Rp 750.000. Sedang kalau dari pewarna alami tumbuh-tumbuhan, harganya berkisar antara Rp 450-550 ribu. Ini karena selain mendapatkannya lebih susah, juga pembuatannya lebih rumit,”
MANDALIKA
3 - 9 Maret 2014
Keunikan Rumah Adat Sasak di Lombok Salah satu kekayaan budaya masyarakat Sasak Lombok adalah arsitektur rumah adat yang unik. Rumah adat Sasak yang asli sangat sederhana. Tidak banyak ruang, namun berbagai fungsi ruangan hanya dipisahkan oleh sekat-sekat seadanya.
D
alam rumah adat Sasak yang asli, hanya ada satu ruangan tanpa ada sekat atau kamar. Antara dapur, tempat tidur dan tempat aktivitas lainnya tidak dipisahkan secara permanen. Beratapkan alang-alang dengan lantai tanah dan hanya memiliki satu pintu dengan tinggi 150-170 centimeter tanpa satu pun jendela. Jika masuk rumah adat Sasak, biasanya menunduk karena pintu yang terbilang rendah. Inilah yang
atas inan bale, menggunakan tangga atau undak-undak melewati amben beri dan amben beleq yang posisinya bertingkat. Inan bale berfungsi sebagai tempat menyimpan barang keluarga, benda keramat atau bersejarah yang tidak boleh dilihat orang lain (umum) selain keluarga. Juga sebagai tempat menyimpan beras atau logistik lainnya. Khusus beras, kata Rianom, selalu diletakkan pada bagian pojok dekat tiang paling selatan, tepatnya di tenggara atau dalam Bahasa Sasak
Tanaman Indigo untuk pewarna alami yang menghasilkan warna biru
jelasnya. Mendapatkan teripang, tidak mudah. Kadang, sudah mencari seharian pun belum tentu ketemu. Itu juga salah satu faktor kenapa pewarna dari teripang harganya lebih mahal. Untuk mendapatkan pewarna dari teripang, yang diambil hanyalah isi perut hewan invertebrata tersebut, sedang dagingnya dikonsumsi. Isi perut teripang-teripang ini kemudian dikumpulkan dan direbus. “Waktu direbus, baunya luar biasa. Air rebusan itu, kemudian dipakai untuk mencelupkan benang. Karena teripang itu jenisnya macam-macam, dan warna yang dihasilkan pun beragam, maka isi perutnya pun dikelompokkan, tidak dicampur. Tapi kami yang sudah biasa, sudah tahu caranya. Karena sebenarnya warna yang dihasilkan isi perut teripang sudah diketahui dari lendir yang dikeluarkan kulit teripang. Jadi tidak sulit memilah-milahnya,” jelasnya panjang-lebar. Untuk menghilangkan bau amis, benang yang sudah dicelupkan rebusan isi perut teripang, dicuci menggunakan kemiri. Hal yang sama dilakukan untuk rebusan tinta cumi-cumi. Untuk menghilangkan bau amisnya, benang dicuci lagi dengan kemiri. “Tinta cumi-cumi itu menarik, makin lama disimpan, kualitas warnanya semakin bagus. Kalau lama disimpan, bau tinta cumi-cumi ini seperti aroma terasi,” katanya. Secara umum ia menjelaskan, proses pewarnaan benang sebenarnya tidaklah terlalu sulit asalkan tahu caranya. Agar warna bisa menyerap cepat pada benang, sebelum dicelupkan ke pewarna, direndam air garam lebih dahulu. Air garam ini akan membuka pori-pori benang, sehingga ketika dicelupkan, hanya butuhh 2 atau 3 kali celup, warna akan terserap sempurna. Beda jika tidak menggunakan air garam. Waktu yang dibutuhkan agar warna merasap pada benang adalah dengan 6-7 kali celup.
Syariat mengaku sangat terbantu dengan keberadaan desainer kenamaan, Merdi Sihombing, yang banyak membantunya dalam mengembangkan pewarna alami. Merdi juga membantu dalam pemasaran produknya juga menggunakannya untuk mendesain pakaian. “Saya berterima kasih sekali dengan Pak Merdi, saya bisa seperti ini (usaha berkembang) berkat bantuan darinya. Kini pewarna alami dari Alor banyak dicari,” ucapnya. “Jadi selain usaha kerajinan tenun, saya juga membangun usaha pewarna alami. Sekarang ini permintaan sangat banyak, jadi kami sudah membuat stokstok. Termasuk stok benang. Memang, namanya pewarna alami, produksinya tidak bisa sebanyak dan secepat pewarna sintesis. Karena proses pembuatannya membutuhkan waktu lama,” tutur Syariat. Syariat juga menanam berbagai tanaman termasuk kapas dan aneka pohon untuk bahan pewarna. “Luas kebun saya sekitar 1 hektare, di sana ada 1500 tanaman, seperti kapas, mengkudu, kunyit, indigo, dll,” katanya. Namun, dengan semakin meningkatnya permintaan, Syariat mengaku sering kekurangan stok benang. “Kita kaya akan pewarna alam, tapi kesulitan benang. Karena itu sebagian kami datangkan dari Jawa. Benang-benang ini kemudian diberi pewarna alami,” katanya. Ia mengaku kini merasa bangga dan senang. Karena kalau sebelumnya pengrajin pewarna alami kurang mendapat perhatian, kini ‘angin berbalik arah’. Justru pengrajin pewarna alami mendapat perhatian penuh. “Dulu orang tidak kenal kita. Kita ini dianggap orang kampung yang kotor. Padahal pekerjaanlah yang membuat kami terlihat kotor. Kini siapa yang tidak kenal pengrajin Uma Pura? Semua kenal, dan cari (produknya),” ucap Syariat tertawa. –Diana Runtu
21
Di tengah dua rumah yang saling berhadapan, Timur dan Barat, terdapat berugaq (rumah terbuka tempat aktivitas lain khas Sasak) dengan ukuran besar bertiang enam (sekenam).
membuat rumah adat Sasak cen derung gelap di dalamnya. Dinding rumah Sasak terbuat dari rangkaian bambu seperti pagar agak longgar yang disebut badak. Dari celah-celah bambu itulah, udara masuk dengan leluasa dan sedikit cahaya. Semacam ventilasi sehingga keunikan rumah adat Sasak sangat terasa. Meski tidak memiliki ruangruang, kata Rianom, salah seorang tokoh adat Sasak Bayan di Bayan, rumah adat Sasak memiliki tempattempat yang berfungsi memperlancar aktivitas pemiliknya. Ada yang disebut amben beri yang dipakai sebagai tempat tidur dan juga tempat makan bagi para tetua adat. Jika ada kegiatan makan para tetua adat, fungsi amben beri yang tadinya sebagai tempat tidur bisa berubah sewaktu-waktu. Ada juga yang di sebut dengan amben beleq yang berfungsi sebagai tempat makan khusus bagi para tamu perempuan pada acara-acara ritual selamatan atau yang disebut menggawe rowah. Di dalam ruangan tersebut ada satu lagi bangunan yang posisinya berada di tengah-tengah rumah yaitu ruangan rumah adat Sasak yang tingginya menjulang menjelang atap yang disebut sebagai inan bale (induk rumah) seperti rumah panggung. Memiliki enam tiang yang disebut sekenam yang terbuat dari kayukayu pilihan. Sebelum membuat rumah adat Sasak, yang pertama kali dibuat adalah inan bale ini. Inan bale berdiri kokoh di tengah-tengah rumah adat ini. Untuk dapat naik ke
daye timu’ dari inan bale tersebut. Tiap kali mengambil beras dari tempatnya yang disebut tenebrasan selalu dilakukan ritual kecil, semacam niat memesan atau meminta ijin mengambil beras tersebut kepada Sang Maha Pemberi. Masyarakat Bayan hanya makan dua kali sehari, tidak seperti umumnya tiga kali sehari yakni sekitar pukul 10-12 yang disebut mengan lema’ dan menjelang malam ketika usai waktu Magrib. Waktu makan yang secara turun-temurun dan teratur telah dilakoni masyarakat tradisional Bayan memberikan rasa kenyang yang awet. Pada bagian timur dalam ruang inan bale, terdapat ranjak yang berfungsi sebagai tempat menyimpan logistik lainnya. Ada pula tempat untuk me nyimpan barang berharga atau bakul-bakul dan peralatan memasak saat acara-acara adat digelar yang disebut lamin. Dalam ruangan rumah adat Sasak, selain ada inan bale, amben beri dan amben beleq yang berada dekat pintu masuk bagian barat sebelah utara, ada pula tempat memasak atau dapur disebut jengkiran yang posisinya berada
Bentuk rumah adat Sasak
di pojok timur laut (lau’ timu’). Masyarakat adat Sasak secara umum masih memasak menggunakan tungku dengan kayu bakar. Sehingga, seluruh ruang rumah hingga atap, termasuk inan bale menghitam ka rena jelaga. Jelaga yang menghitam inilah yang membuat kayu, bambu dan bahan bangunan lain rumah adat ini menjadi kuat. Penerangan di malam hari yang dipakai juga berupa pelita atau lampu-lampu teplok yang turut menyumbang cukup banyak jelaga. Posisi-posisi yang mengikuti arah mata angin ini, baku dalam aturan adat Sasak, utamanya di Bayan dan tidak boleh sembarang menempatkannya. Demikian pula dengan arah hadap rumah. Rumah adat Sasak hanya boleh menghadap arah timur dan barat, begitu aturannya. Ketika pagi tiba, rumah-rumah adat Sasak yang menghadap ke timurlah yang mendapatkan matahari sepenuhnya masuk ke dalam ruangan. Dan, ketika sore tiba, sinar matahari akan dinikmati sepenuhnya oleh rumah yang menghadap Barat. Teras rumah adat penduduk secara umum meng ikuti panjang rumah tersebut. Letak rumah untuk keluarga juga telah diatur dengan pertimbangan untuk kebaikan dan menghindari saling singgung antara satu dengan lainnya. Rumah orangtua akan ber ada pada bagian paling ujung selatan
menghadap ke barat. Lalu, anak pertama keluarga itu akan mendapat jatah posisi rumah yang berhadapan dengan rumah orangtuanya sebelah barat menghadap ke timur. Kemudian jika lahir anak kedua mendapat posisi rumah pada sebelah timur bagian utara dari rumah orangtuanya atau sebelah utara rumah kakaknya menghadap ke timur. Anak ketiga dari keluarga tersebut akan tetap mengikuti orangtua hingga waktunya ia menikah. Dan ketika sudah berkeluarga posisinya saling mengisi. Anak pertama akan pindah ke rumah orangtuanya, anak kedua bergeser ke rumah kakaknya yang pertama, dan anak ketiga menempati rumah kakak keduanya. Begitu seterusnya. Uruturutan ini sudah terpikirkan kebaik annya oleh leluhur masyarakat adat Sasak, yakni menghindari saling curiga dan meningkatkan saling menyayangi dan melindungi satu sama lain. Bahwa, yang lebih tua akan selalu melindungi dan memberikan rasa aman bagi yang lebih muda. Maka diaturlah sedemikian rupa. Kesadaran masyarakat adat seperti ini dapat menciptakan kedamaian, ketertiban dan keamanan hidup berkelompok. Di tengah dua rumah yang sa ling berhadapan, Timur dan Barat, terdapat berugak (rumah terbuka tempat aktivitas lain khas Sasak) dengan ukuran besar bertiang enam
(sekenam). Masing-masing rumah memiliki satu berugak atau menjadi milik bersama dan dibangun secara gotong royong. Masyarakat Sasak yang tinggal dengan rumah adat Sasak yang asli seperti ini, lebih banyak menghabiskan waktu mereka di luar rumah, yakni di berugak. Aktivitas siang hari dari pagi, sore hari hingga menjelang tidur malam, dilakukan di berugak, termasuk makan. Rumah biasanya lebih banyak dipakai bagian dapurnya untuk memasak dan ruang lainnya untuk tidur di malam hari. Berugak juga berfungsi sebagai tempat menerima tamu. Masyarakat tradisional Sasak me nerima tamu di berugak, tidak di dalam rumah karena rumah hanya berfungsi sebagai tempat privasi. Kecuali ada musyawarah atau pembicaraan khusus yang menyangkut rahasia yang disebut pos sesepen. Selain sebagai tempat menerima tamu, berugak juga berfungsi sebagai tempat musyawarah keluarga (sangkep/gundem). Juga, sebagai tempat menggelar acara selamatan baik acara perkawinan, khitanan maupun acara kepaten (kematian). Acara tahlilan dalam kepaten di sebut dina nelung yang dilaksanakan pada hari ketiga, dina tekang ajian pada hari kelima dan dina nitu pada hari ketujuh. -Naniek I. Taufan.
Rianom
3 - 9 maret 2014
3 - 9 maret 2014
22
Menteri Perdagangan Resmikan Pasar Nyanggelan
Revitalisasi Tingkatkan Omzet Pedagang Pasar Desa Nyanggelan telah direvitalisasi. Citra pasar tradisional yang semula terkesan kotor, sem rawut, bau, dan gersang, tidak ada lagi. Berganti menjadi pasar yang bersih, tertib, nyaman dan sejuk, juga lebih berdaya saing, seiring berkembangnya pasar modern. Masyarakat pun semakin senang me langkahkan kakinya ke pasar tradisional.
D
emikian juga diung kapkan Menteri Per dagangan RI, Mu hammad Lutfi, saat meresmikan Pasar Desa Nyanggelan Panjer, Denpasar Selatan, Senin (24/2), yang dihadiri Wali Kota Denpasar, IB Rai Dharmawijaya Mantra, Anggota DPR RI Nyoman Dhamantra, Sekda Kota Denpasar AA Rai Iswara, Wakil Ketua DPRD Kota Denpasar I Wayan Mariyana Wandhira serta kalangan tokoh masyarakat Desa Panjer. Hal tersebut, katanya sesuai de ngan komitmen Kementerian Perda gangan pada program kerjanya untuk
merevitalisasi pasar tradisional, guna mengubah citra lama yang buruk. Dampak positif revitalisasi, lanjutnya mampu menghasilkan pelaku dalam menciptakan nilai tambah dari sisi usaha masyarakat. Keberhasilan akan bertahan, tergantung pada kerjasama yang sinergis antara seluruh pemangku kepentingan. Baik itu pemerintah pusat dan pemerintah daerah, juga para pengelola pasar, pedagang, serta konsumen. ”Sebagaimana yang terlihat pada Pasar Agung Peninjoan, Pasar Renon dan Pasar Sindhu Sanur semua mengalami peningkatan. Kekhawati ran yang sempat ada, tentang pasar
Menteri Perdagangan RI Muhammad Lutfi meresmikan Pasar Desa Nyanggelan
Menteri Perdagangan berkomunikasi langsung dengan salah satu pedagang di tengah Pasar Nyanggelan
3
H ani Amal ia H e ndrajadin
Buktikan tak Salah Pilih Cantik, cerdas, dan lebih dari itu ia jago menari dan memasak. Dua keterampilan yang dimilikinya ini membuat Hani Amalia Hendrajin, dikenal publik sebagai chef yang doyan menari. Menurut Hani, sebagai seorang entertainer itu merupakan gaya khas yang dipilihnya agar mengesankan publik. “Maksudku supaya acara masak tidak membosankan, jadi diselingi menari. Ini jadi gayaku supaya penonton terkesan, de ngan begitu mereka lebih mudah mengingatku,” ujar finalis Masterchef 2012 ini.
B
Menteri Perdangan RI saat menyerahkan buku tentang Pasar Tradisional pada Wali Kota Denpasar
S E L E B R I TA S
Menteri Perdagangan, Wali Kota Denpasar dan Anggota DPR RI melakukan pemotongan bunga sebelum meninjau pasar Nyanggelan
modern akan mengalahkan pasar tra disional, terjawab sudah dengan omzet yang dicapai setelah revitalisasi,” papar mantan Ketua Hipmi Pusat ini. Pada kesempatan tersebut, Mu hammad Lutfi juga melakukan penin jauan langsung ke tengah pasar dan melakukan dialog dengan beberapa pedagang. Ia menyampaikan akan meneruskan program yang dikatakannya baik ini. Apalagi te lah terbukti mening katkan omzet para pedagang. Pemerintah Kota Denpasar dini lainya mampu men ciptakan nilai tambah demi kesejahteraan masyarakatnya dengan menyerahkan buku tentang pasar tradisio nal percontohan yang ada di Indonesia. AYO KE PASAR TRADISIONAL Demikian pula de ngan Pemerintah Kota Denpasar, telah mem buktikan komitmennya untuk memper baiki fisik pasar serta SDM pengelola pasar melalui program revitalisasi pasar desa bersama dengan Kementerian Perdagangan RI. Wali Kota Denpasar IB Rai D. Man tra mengatakan, selain dana bantuan APBN senilai Rp 5 miliar dari Kemente rian Perdagangan, Pemerintah Kota juga menyertakan anggaran pendampingan dari APBD sebesar Rp 1.411.547.500 (satu miliar empat ratus sebelas juta lima ratus empat puluh tujuh ribu lima ratus rupiah) untuk pembangunan pa gar, depo sampah, bio save serta untuk melakukan pelatihan dan sosialisasi peningkatan kualitas para pedagang, agar memiliki nilai-nilai tambah. Rai Mantra juga menyebutkan, perkembangan Pasar Nyanggelan yang telah direvitalisasi merupakan wujud kepedulian pemerintah pusat terhadap ekonomi masyarakat perdesaan. “Para.pedagang mengalami peningka tan pendapatan seiring terwujudnya pasar yang bersih, sehat, ramah, segar serta tertata dengan rapi ini,” kata Rai Mantra. Kini, Pasar Desa Nyanggelan di wilayah Denpasar Selatan yang
berdiri di atas tanah 4.595 M2 ini, ditempati oleh 188 pedagang. Terdiri dari pedagang los, kios dan beberepa yang bersifat temporer, “Mereka, para pedagang menempati bangunan baru ini sejak 15 Januari 2014. Yang me narik, selain peningkatan fasilitas juga terjadi peningkatan pendapatan yang signifikan. Omzet mereka rata-rata naik menjadi sebe sar 26 %, pada kesempatan uji coba pada Janu ari 2014, ber upa penjualaan senilai Rp 3,4 miliar, sedang kan sebelumnya rata-rata perbu lannya mencapai Rp 2,9 miliar. Dengan peningkatan se cara kompre hensif, baik dari fisik maupun kualitas pelayan an, menjadi kan kehadiran pasar desa se makin dilirik, dan pasti akan mampu bersaing dengan pasar-pasar modern lainnya. Selain turut menjaga jalur dis tribusi, pasar tradisional juga menekan terjadinya inflasi. Dengan kondisi yang baru ini juga terjadi interaksi yang ter baik yakni semakin mendekatnya antara penjual dengan pembeli. Wali Kota Denpasar yang juga
manta ketua Hipmi Bali ini menyam paikan harapannya agar pasar-pasar lainnya yang ada di Kota Denpasar terus mendapat perhatian dari Menteri Perdagangan,setelah Pasar Agung di Peninjoan sebagai pasar percontohan nasional. Kepala Dinas Perindustrian dan Perd agangan Kota Denpasar I Wayan Gatra menambahkan, kedepan nya akan diajukan lagi beberapa pasar tradisional untuk memperoleh bantuan dana revitalisasi dari pemerintah pusat. Saat ini Pasar Poh Gading di Ubung telah masuk dalam program revitalisasi pasar tradisional. Sementara Ririn, salah seorang pengunjung di pasar Nyanggelan, de ngan antusias mengatakan ia memang senang berbelanja di pasar tradisional. Terbukti saat peresmian tersebut, ia turut hadir dan tak lupa memasamg profil picture di ponselnya berupa ajakan “Ayo ke Pasar Tradisional”. Apalagi, kata Ririn dengan penataan los di tengah pasar yang lebih baik dan teratur, sangat memudahkannya mendapatkan barang yang diperlukan. Selain itu, ia juga mengaku sangat menikmati suasana tawar-menawar serta acara berbincang langsung dengan para pedagang. “Saya juga semakin nyaman dengan areal parkir yang juga telah ditata. Bahkan, di depan gedung pasar juga terpancang petunjuk arah dan lokasi. “Ada lagi yang asyik di Pasar Nyanggelan ini, adanya arena kuliner dengan banyak pilihan menu, menjadi tempat istirahat kami selesai berbelanja,” kata Ririn. –ard.
Areal tengah pasar
aik memasak maupun menari adalah ho binya, namun Hani lebih serius menekuni menari. Untuk memperdalam ia melanjutkan pendidikannya ke perguruan tinggi dengan mengambil jurusan seni tari. “Kalau memasak, itu hanya aku pelajari secara autodidak plus bertanya pada mereka yang ahli, tapi tidak belajar secara formal,” ungkap Hani yang menyelesaikan pendidikannya di Universitas Negeri Jakarta jurusan seni tari pada 2011 lalu. “Di jurusan tari, aku belajar banyak tari-tarian, termasuk tarian modern. Tapi aku lebih mengkhususkan diri pada tari tradisional,” tambahnya. Di zaman modern ini, boleh dibilang tidak banyak anak muda yang mengambil pilihan seperti Hani. Kalaupun tertarik, kebanyakan mereka hanya mengambil short course. Menurut anak pertama pasangan Abdul Aziz-Engkom Komalasari ini, memilih menekuni tari tradisional bukannya tanpa tentangan. Setidaknya tentangan paling keras datang dari sang ayah. “Bapak marah. Beliau tidak setuju aku kuliah seni tari. Ibaratnya mau jadi ronggeng saja, kenapa harus kuliah. Na manya orangtua, tentu menginginkan anaknya mengambil kuliah di jurusan yang sudah populer di masyarakat. Sedang seni tari, seperti kurang prestise. Bapak mengkhawatirkan masa depanku. Bapak mungkin nggak yakin ya masa depan seniman tari, ya, namanya juga orangtua,” ungkap Hani. Masalah lain juga datang dari lingkungan pergaulan atau teman-temannya, yang meledek pilihannya. “Maklum, anak zaman sekarang kan jarang memilih kuliah tari,” ucapnya sembari tertawa. Meski mendapat tentangan yang begitu besar, namun runner up Mojang Bogor, ini, tak mundur atau minder. Justru menjadikan hal itu sebagai pemacu semangat untuk membuktikan bah wa pilihannya tidak salah. Ia bisa berhasil bahkan bisa berkarier di bidang yang dipilihnya. Sejujurnya, kata gadis ini, dulu pun dia sempat merasa malu ketika ba nyak terlibat dalam kegiatan seni tra disional. “Aku belajar tari tradisional sejak ke cil. Aku juga ak tif ikut b e r bagai lomba, termasuk lomba nyinden bahkan menjadi juara. Ke tika remaja (SMP) aku mulai merasa malu. Ras anya norak banget bela jar karawitan. Namanya juga ABG, gengsi ya. Lalu aku tinggalkan tari tradisional, kara witan, dan pindah ke seni modern, ngeband, nyanyi pop,” tuturnya. Barulah se telah SMA dan bertemu dengan guru seni budaya yang mampu mem beri motivasi tentang betapa kerennya seni tradisional, Hani pun tergerak lagi untuk ter jun kembali ke seni tra disional. “Seni tradisional akan makin menarik jika
kita kreatif. Misalnya, menggabungkan tradisional dan modern,” kata Hani yang saat kuliah mendapat penghargaan Mahasiswa Berprestasi di UNJ. Berkat guru seni budaya-nya itulah, Hani kembali ke khi tah, ia pun menjadi lebih serius dari yang sudah-sudah dalam mempelajari seni tradisional. Berkat kepiawaiannya menari jugalah ia berhasil meraih dua gelar sekaligus dalam ajang Jajaka dan Mojang Bogor; Peserta Berprestasi Seni Budaya dan juara III Mojang Bogor. “Itu saat SMA. Ketika kuliah, aku ikut lagi ajang itu untuk kategori dewasa. Hasilnya, aku juara II Mojang Bogor,” tambah Hani yang sempat mengajar di Institut Pertanian Bogor untuk program D-3. “Aku mengajar Antropologi Sunda,” tambahnya. Kini boleh dibilang apa yang menjadi tujuan Hani mem buktikan kepada orangtuanya juga teman-temannya bahwa menekuni seni tradisional memiliki masa depan yang cerah, berhasil. Setidaknya, kini ayahnya sangat bangga akan prestasi anaknya. Begitu juga teman-temannya. Berkat seni tradisional, ia bukan saja mendapat kesempatan keliling dunia mempromosikan budaya Indonesia tapi juga bisa mengembangkan nya menjadi sebuah bisnis menguntungkan. “Aku belum lama pu lang dari Hungaria dan Viena, Austria, untuk menari. Kali ini aku ikut rombongan Dinas Pariwisata DKI Jakar ta,” ujar Hani yang menghabiskan waktu dua pekan untuk la watan kebudayaan tersebut. Sebelum nya, gadis kelahiran 30 Maret 1989 ini, berkesempatan ikut promosi kebudayaan di Moskow, Rusia dan Dubai. “Di Dubai aku bersama rombongan Indo nesia dalam acara Arabian Travel Market, sedang di Moskow, aku ikut rombongan BKPM (Badan Koor dinasi Penanaman Modal) mengisi acara Invest in Remarkable Indonesia,” jelas Hani yang ke mung kinan dalam waktu dekat a k a n kembali ikut misi kebudayaan ke luar negeri. Menurut Hani, dirinya merasakan ka lau di luar neg eri seni tradisional sangat dihargai. Mereka, tuturnya, suka melihat pertunjukan kesenian Indonesia yang menurut mereka unik dan beragam. “Ini bisa dimaklumi karena negara kita yang luas yang terdiri dari banyak suku-bangsa dengan beragam budaya,” kata Hani yang mengaku kerap mendapat pujian terkait keindahan seni budaya Indonesia, dan itu sangat membanggakannya.
TERPAKSA BELAJAR MASAK Ketika disinggung tentang keahlian lain yang dimiliki Hani yaitu masak-memasak, gadis cantik ini pun tersenyum. Belajar memasak, katanya sambil tertawa, awalnya adalah keterpaksaan karena di rumahnya sang ibu tidak suka masak. “Ya mau tidak mau, aku yang harus masak. Tidak sangka, ternyata aku menikmatinya. Malah belajar sendiri tentang kreasi-kreasi masakan dari buku resep atau tanya-tanya orang. Mungkin bakat nenekku di bidang masakan menurun ke aku, ya,” ujarnya. Ketika ajang Masterchef 2012 digelar, aku Hani, temantemannya mendorong ia tampil. “Teman-temanku bilang, masakanku enak, dan mendorongku ikut serta,” katanya tertawa. Meski merasa belum layak, akhirnya Hani pun nekat maju. “Aku nggak tahu malu, ya, berani ikut lomba? Bagaimana kalau makanan aku dibuang oleh Juna (Chef Juna)? Gara-gara itu, aku belajar keras, berusaha membuat berbagai kreasi makanan,” ungkapnya. Gayanya yang cuek, namun berhasil menyajikan hidangan menarik, membuat ia berhasil lolos sampai 20 besar. “Aku benar-benar nggak nyangka bisa sampai sejauh itu. Padahal aku masuk lewat audisi Jakarta yang pesertanya banyak banget. Di babak utama pun saingan berat-berat,” katanya. Salah satu kekhasan Hani yang juga membekas di benak para juri saat itu adalah gayanya yang cuek serta keberaniannya memberi nama-nama aneh pada masakan yang disajikannya. “Hahaha ..iya aku cuek aja, ada yang kuberi nama bebek granat, ayam dugem, dll. Juna sampai geleng-geleng lihat gayaku…hahahaha,” tutur Hani yang masuk dalam Top Eight Masterchef 2012. Penampilannya yang cemerlang itu, ternyata menjadi per hatian banyak organizer untuk mengikutsertakannya di ber bagai acara demo masak. Sejumlah televisi pun menampilkan Hani untuk menghiasi program acara demo masak mereka. Walhasil, baik nama dan wajahnya pun makin dikenal publik. Apalagi, gadis ini memiliki strategi jitu untuk memikat para pemirsa maupun pengunjung, yakni memeriahkan acara demo masaknya dengan tari-tarian. –Diana Runtu
EKSPRESSO
2
3 - 9 Maret 2014
GORO-GORO
klik: www.tokoh.co.id mingguantokoh
Sok Tahu @mingguantokoh
Putu Wijaya
Kini Saatnya Bertindak Jika nyawa anak itu penting, orang tua pastilah tak ingin mengorbankan nyawa anaknya. Bukan demikian? Tapi, ketika harus mengantarkan anaknya, ke sekolah misalnya, sebagian orang tua lebih rela memberikan anak yang di bawah umur untuk mengendarai sepeda motor atau mobil ke sekolah. Meski sadar bahwa itu melanggar dan membahayakan nyawa anaknya, mereka toh tetap tak mau repot. Jika kelak sistem hukum kita yang sedang dikaji itu bisa memidanakan orangtua dari anak di bawah umur yang menjadi pelaku kecelakaan lalu lintas, apakah orangtua masih tetap tak ambil pusing pada anaknya? Jika tidak, bagus meski ironis. Ya ironis karena orangtua lebih mementingkan dirinya ketimbang anaknya. Jika peduli pada nyawa anak, kini saatnya orangtua bertindak. Sekolah punya peran penting dalam hal ini. Penegakan aturan sekolah dalam hal pelarangan meng gunakan kendaraan bermotor bagi
O
M G
siswa di bawah umur harus dijalan kan secara tegas. Jika memungkinkan, pihak sekolah menyediakan angkutan antar-jemput bagi siswanya. TK, SD, dan SMP Raj Yamuna bisa menjadi contoh dalam hal ini. Domisili siswa dipetakan, jalur angkutan pun ditetap kan. Dengan demikian, siswa tak akan terlalu lama di perjalanan. Solusi lain adalah menggunakan sistem pool. Ada satu lokasi yang menjadi titik konsen trasi siswa berkumpul. Orangtua bisa mengantarkan anaknya hingga ke titik konsentrasi itu dan menjemputnya di tempat yang sama. Pemerintah juga turut andil dalam menyelesaikan masalah ini. Beberapa tahun silam, SMA 3 Denpasar menjadi satu-satunya sekolah yang menerap kan aturan bersepeda ke sekolah, naik angkutan umum, atau diantar. Namun, dalam perkembangannya, karena aturan itu, sekolah itu tak diminati lulusan SMP. Calon siswa mau ber gabung jika mereka boleh naik motor ke sekolah. Sekolah jadi tak berdaya. Pemerintah pun tak berupaya me nyelamatkan ke
Kekacauan Dalam Sehari Pagi itu saat kami bangun tidur, jam sudah menunjukkan pukul 06.00. Kami merasa kelabakan karena terlambat bangun. Segera kami ambil air wudu dan salat Subuh. Saya lihat, cucian satu bak plastik berdiameter satu meter penuh. Belum ada yang sempat dicuci. Sebenarnya kami biasa mencuci sore setelah Asar atau pulang kantor. Tetapi kemarin sesampai dari kantor saya kecapekan dan istri saya juga kerepotan mengurus bayi kami yang masih belum genap satu tahun. Seakan berlomba dengan waktu, saya cuci popok beberapa lembar dan sedikit pakaian. Sementara istri saya layaknya peserta lomba Master Chef dengan waktu yang sangat sempit berusaha secepat yang dia bisa, menyiapkan sarapan terutama untuk si bayi. Saya sedang mengucek pakaian. ”Yaaah, gasnya habis nih,” teriak isteri saya dari dapur. Saya bergegas ke dapur, lalu melepas selang di tabung gas. Saya buka karetnya, saya ambil uang di atas meja sekenanya. Saya lari ke warung yang tak jauh dari tempat tinggal kami. Sialan, lagi tak ada stok. Saya pindah ke warung pojok jalan, belum buka. Terpaksa saya lari balik ke rumah, menghidupkan motor untuk mencari gas LPG secepatnya. Dapat di warung sederhana. Celakanya, waktu bayar ternyata uang saya kurang Rp 1.000. Saya minta bawa dulu gasnya, segera akan saya antar kekurangannya. Selang gas saya pasang. Alhamdulillah lancar. Seringkali kalau pasang selang ini, tak bisa langsung menyala. Apalagi kalau memasangnya pagi waktu mau berangkat ke kantor. Ada saja masalah. Sudah pukul 06.45. Saya bilang sama istri saya, ”Nyucinya nanti aja ya sayang, kesiangan.” ”Ya, nggak apa-apa,” sahutnya. Saya segera mandi. Saya tidak sempat ambil sabun mandi di lemari. Gantinya,
mingguan berita wanita Penerbit PT Tarukan Media Dharma Terbit sejak 9 November 1998
saya mandi dengan sabun cuci. Kemudian saya siapkan air dingin dicampur air panas untuk memandikan bayi. Lalu saya siapkan popok, bedak, dan perlengkapan si bayi. Si bayi sudah bersih, tinggal merias seelok mungkin. Istri mengingatkan saya, “Jangan sarapan dulu. Jemput pengasuh nya saja.” Saya tergagap menjawab, “Iya sayang.” Padahal saya sangat lapar. Saya bergegas pergi menjemput si pengasuh bayi kami. Oalah, si ibu pengasuh belum balik dari pasar, kata suaminya. Saya bersungutsungut. Gaji tak bisa telat tiap awal bulan, cuma jaga bayi, susu dan bubur sudah siap sebelumnya, jaga hanya sampai pukul 14.00, begini abainya ibu ini. Ibu itu datang juga. Saya bonceng dia ke rumah. Alham dulillah, bayi kami bobok lagi. Pulas sekali. Lalu kesempatan itu saya manfaatkan sara pan pagi. Beres. Sekarang menunggu istri bersiap untuk saya antar ke tempat dia mengajar. Selesai urusan di rumah. Kami segera berangkat. Ngebut, ngebut, dan ngebut. Baru 500 m berja lan, motor kami terdengar sesenggukan. ”Kenapa nih motor ayah?” tanya istri saya. ”Tak tahu.” Mogok. Ah, sebal. Istri saya ngomel. Sudah kesiangan, motor mogok, sebal. Kemudian saya buka tangkinya. Bensin habis. Kami isi bensin di tempat terdekat. Aduh, sialan lagi, saya lupa bawa dom
bijakan itu dengan menerapkan aturan serupa bagi seluruh sekolah negeri di Denpasar. Jika saja aturan diberlaku kan di seluruh sekolah negeri, upaya peduli lingkungan karena terjadinya pemanasan global pun bukan lagi sekadar kampanye tetapi menjadi langkah nyata. Selain itu, ketersediaan angkutan umum yang merata menjadi sebuah tuntutan yang mutlak dipenuhi. Jika sesekali melintas di depan SMP 9 Denpasar pada jam sekolah, kita bisa menemui siswa yang menumpang bus Sarbagita. Itu artinya, mulai ada perubahan dari perilaku orangtua dan anak untuk menggunakan ang kutan umum ke sekolah. Jika tak ada kendaraan penghubung antara rumah dan halte sedangkan di depan sekolah dilintasi angkutan umum, tak ada salahnya orangtua mengantarkan anaknya hingga halte dan menjem putnya di halte yang sama. Karena itu, sosialisasi mengenai trayek dan lokasi halte menjadi penting dilakukan agar masyarakat memiliki informasi yang memadai. Barangkali mereka tak menggunakan angkutan umum juga karena kurangnya informasi ini?
pet. Uang tak bawa. Hanya ada SIM sama KTP di saku baju saya. Saya bisiki istri, “Bawa uang nggak sayang?” Ketinggalan di rumah. ”Pak, tolong pegang dulu SIM sama KTP saya ini. Saya lupa bawa uang. Sebentar lagi, saya baya,” kataku sama si pedagang bensin eceran. Tampaknya Bapak itu tidak begitu percaya dengan ucapan saya. Tapi masak iya? Saya sudah jaminkan KTP, SIM yang masih berlaku. Saya cuek saja. Bensin sudah terisi, KTP dan SIM sudah di tangan dia. Saya pergi. Persis pukul 07.30 kami sampai di sekolah istri saya. Kini saya harus balik ke rumah ambil uang, bayar bensin, tarik KTP dan SIM ke pedagang bensin. Ah, masalah lagi. Saya ditelepon atasan agar segera ke kantor. Ada yang harus diselesaikan segera. Saya menurut. Baru bebas dari kesibukan kantor pada saat jeda istirahat siang pukul 12.00. Dengan tubuh terasa remuk, lelah, letih, lesu, saya ke rumah ambil uang Rp 6.000 kemudian pergi ke tempat tadi untuk bayar bensin dan mencabut kembali KTP dan SIM saya. Saya makan dengan lahap dihibur celotehan kriuk bayi kami yang cantik. Saya mendesah di pembaringan, “Tiap pagi, tiap hari menghadapi kondisi ini. Sampai kapan ya Tuhan? Tinggal di rumah kontrakan dengan gaji sebagai PNS yang pas-pasan. Gaji istri juga hanya cukup untuk dua kotak susu dan bubur bayi. Syukurnya saya masih mampu menghibur diri. Bersabar adalah batas terdekat saya dengan Tuhan.” Syamsudin M.
Bagi pembaca yang memiliki kisah unik, seru, menyebalkan, atau mengasyikkan dan ingin berbagi dengan pembaca lain nya, silakan kirim kisah Anda ke redaksi@tokoh.co.id. Pan jang naskah maksimal 3.000 karakter. Sertakan juga nama dan no kontak Anda. Naskah yang muat di rubrik “OMG” akan mendapat bingkisan Tokoh. Info lebih lanjut, silakan hubungi Redaksi Mingguan Tokoh (0361) 425373
Banjir dan gunung meletus sambungmenyambung. Tiap tahun harus dihadapi sebagai bencana nasional, Amat jadi dapat
inspirasi. “Sebetulnya banjir dan gunung meletus itu bukan bencana,” kata Amat kepada tukang warung. “Lho, korbannya banyak dan kerugiannya ratusan miliar, Pak Amat!” “Betul! Bahkan triliunan, kalau kerugian moril juga dihitung. Belum dampak ke depannya. Bisa sampai pulu han tahun. Letusan Gunung Agung, tahun 1960-an, baru setelah 30 atau 40 tahun ada gunanya untuk kesuburan dan pasirnya untuk pembangunan.” “Memang begitu Pak Amat. Makanya diangkat jadi bencana nasional!” Amat menggeleng. “Mau diangkat jadi apa pun, itu, terserah! Tapi itu bukan bencana!” Tukang warung bingung. “Bingung kan?” Tukang warung menggeleng-gelengkan kepala. Ia menatap Amat seperti melihat setan. Amat melanjutkan dengan tenang. “Saya bilang bukan bencana, karena kita kan sebe narnya sudah tahu, tiap musim hujan pasti air sungai meluap. Ada memang faktor alam, karena ozon bolong, iklim berubah. Tapi banjir lebih banyak disebabkan peri laku manusia. Buang sampah seenaknya di sungai. Tanah hutan resapan air dijadikan real estate, membangun rumah-rumah liar di sepanjang tepi sungai dibiarkan saja. Ya akibatnya begitu sekarang. Malah saya dengar korban langganan banjir menolak dipindahkan, karena kalau kebanjiran kan dapat bantuan. Begitu! Makanya harus ditertibkan!” Tukang warung masih penasaran. “Letusan gunung juga bukan bencana alam?” Amat menggeleng yakin. “Nah itu dia, dari SD kita sudah diajarkan, negeri kita ini banyak gunung berapi yang masih aktif. Lha kenapa bikin rumah dilereng gunung yang setiap waktu bisa je blug? Jadi salah kita, bukan ulah alam. Ini bukan bencana tapi akibat ulah kita sendiri!” Tukang warung tampak tidak setuju dengan pendapat Amat. Ia menyibukkan dirinya, menghindar. Malam hari, Amat membentangkan lagi ketidaksetu juannya pada istilah bencana pada istrinya. Diskusi ter putus karena tetangga bertamu. “Pak Amat, saya punya berita penting.” Amat dan istrinya langsung memperhatikan. “Berita apa, Pak?” “Begini, saya dapat pikiran baru. Kenapa kita salah kaprah menanggapi banjir dan gunung meletus itu ben cana? Itu kan kesalahan dan keteledoran kita sendiri penyebabnya?” Dan seterusnya. Persis yang dikatakan Amat pada tukang warung. Tapi ia mengatakan begitu bersemangat seakan-akan itu hasil pemikirannya. Bu Amat tak tahan, langsung memotong. “Pak Made, itu disebut bencana, maksudnya untuk mengingatkan manusia, itulah akibatnya kalau lupa merawat alam!” Pak Made tertegun. Tak berapa lama ia pamit. Amat pandang-pandangan dengan istrinya. Pagi hari, waktu Amat berangkat ke rumah Ami, tu kang warung memanggil. “Pak Amat, maaf saya tidak setuju dengan Pak Amat. Banjir dan letusan gunung itu memang bencana. Disebut bencana karena kita manusia lupa merawat alam!”
Pemimpin Umum/Pemimpin Redaksi: Ratna Hidayati. Redaktur Pelaksana: Ngurah Budi. Pemimpin Perusahaan: IDK Suwantara. Staf Redaksi/Pemasaran Denpasar: IG.A. Sri Ardhini, Wirati Astiti, Sagung Inten, Tini Dwi Rahayu. Redaksi/Pemasaran Jakarta: Diana Runtu, Sri Iswati. NTB: Naniek Dwi Surahmi. Desain Grafis: IDN Alit Budiartha, I Made Ary Supratman. Sirkulasi: Kadek Sepi Purnama. Sekretariat: Ayu Agustini, Putu Agus Mariantara, Hariyono. Alamat Redaksi/Iklan Denpasar: Gedung Pers Bali K. Nadha, Lantai III, Jalan Kebo Iwa 63 A Denpasar 80117–Telepon (0361) 425373, 7402414, 416676–Faksimile (0361) 425373. Alamat Redaksi/Iklan/Sirkulasi Jakarta: Jalan Pal merah Barat 21 G Jakarta Pusat 10270–Telepon (021) 5357603 - Faksimile (021) 5357605. NTB: Jalan Bangau No.15 Cakranegara, Mataram– Telepon (0370) 639543–Faksimile (0370) 628257. Jawa Timur: Permata Darmo Bintoro, Jalan Taman Ketampon 22-23 Surabaya–Telepon (031) 5633456–Faksimile (031) 5675240. Surat Elektronik: redaksi@tokoh.co.id, iklan@tokoh.co.id. Website: www.tokoh.co.id. Bank: BCA Cabang Palmerah Barat Jakarta. Nomor Rekening: PT Tarukan Media Dharma: 229.3006644 Percetakan: BP Jalan Kebo Iwa 63 A Denpasar.
3 - 9 Maret 2014
I N F O TO R I A L
23
Peningkatan Inovasi Kain Tradisional Endek Wakil Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (Wamen PAN RB) Eko Prasojo didampingi Deputi Pelayanan Pu blik Kemen PAN RB Mirawati Soejono, meng apresiasi berbagai inovasi pelayanan publik yang dilakukan oleh Pemerintah Kota Den pasar. Menurut mereka, peningkatan kualitas pelayanan publik merupakan muara dari se luruh proses perubahan dan harus dirasakan langsung dampaknya oleh masyarakat.
Eko Prasojo
IB Rai Dharmawijaya Mantra
eberapa inovasi kreatif yang telah dilaksanakan Pemer intah Kota Denpasar, salah satunya adalah inovasi kain tenun tradisional Bali, yaitu endek. Endek dapat dikembangkan kuali tas produknya secara kreatif dan inovatif. Hal ini terungkap saat Wali Kota Denpasar IB Rai Dharmawi jaya Mantra saat menerima Wamen PANRB di Graha Sewaka Dharma, Lumintang, Denpasar. Untuk menyelamatkan, memeli hara, melindungi dan mengembang kan warisan budaya adalah melalui inovasi dan kreativitas. Tujuan lainnya yakni untuk membangun ekonomi bangsa serta menciptakan ajang pertukaran pengetahuan, pengala man, informasi, konsultasi, edukasi, promosi dan transaksi. Ini berarti pula menggalang persatuan dan kesatuan bangsa melalu pendekatan kebudayaan dan kreativitas. Perekonomian masyarakat yang akhir-akhir ini terdesak karena sistem globalisasi, reformasi ekonomi, serta persaingan yang semakin ketat. Un tuk ini, ekonomi kreatif dan kearifan lokal sebagai alternatif perlu dikem bangkan. Ekonomi kreatif menurut Wali Kota Denpasar berarti bahwa wari san budaya dapat dikembangkan menjadi salah satu modal pengem bangan perekonomian Kota Den pasar, yang mampu memberikan kontribusi besar kepada kehidupan masyarakat. Pengembangan kota kreatif nantinya, diharapkam mampu meng garap potensi budaya pertanian, pariwisata dan industri kerajinan yang berbasis pada budaya Bali. Salah satunya berupa inovasi produk lokal yaitu kain tenun ikat Bali atau yang lebih popular dengan sebutan endek. Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan I Wayan Gatra secara singkat menyampaikan tekstil tra disional yang indah disebut endek
ini, pada mulanya biasa dikenakan para orangtua dan para bangsawan Bali. Namun, dalam perkembangan nya endek banyak digunakan sebagai tekstil modern dan menjadi identitas budaya terpenting bagi seluruh masyarakat Bali. Nama endek mengacu pada ben tuk atau pola teknik yang digunakan dalam pembuatannya. Endek dalam kenyataannya sangat berbeda dari proses ikat yang sudah dilakukan secara luas di Indonesia. Desain dan kualitas endek masih menjadi prima dona industri tekstil dan produk tekstil di Bali. Sayangnya produksinya masih kalah saing dengan hasil produksi daerah lain di Indonesia. Kain endek sejatinya sudah dike nal sejak lama, salah satunya adalah Wastra Bali. Selanjutnya endek, bor dir dan songket sempat mengalami booming sekitar tahun 1980. Ketika itu antusiasme masyarakat tinggi untuk menggunakannya baik dalam kehidupan sehari- hari yang me nyangkut adat dan budaya serta keg iatan tertentu. Bahkan di era 1980-an tercatat merupakan kejayaan Pasar Kumbasari sebagai pusat penjualan endek di Kota Denpasar. Kadis Perindag I Wayan Gatra yang didampingi Kasi Bina Usaha Perdagangan Laxmy Saraswaty me maparkan perubahan pada bidang peraturan perundang-undangan,
B
yakni pemerintah Kota Denpasar menerbitkan surat keputusan ten tang pembentukan tim tekstil yang bertugas meningkatkan kemampuan menjawab tren pasar. Juga surat edaran Wali Kota, berisikan him bauan penggunaan endek sebagai seragam pada kantor swasta dan BUMD. Perubahan pada bidang pe layanan publik, dengan melibatkan sejumlah SKPD dalam program pengembangan endek. Sejauh ini telah menunjukkan peningkatan pelayanan kepada masyarakat. Ker jasama antar instansi dan lembaga yang memberikan hasil lebih baik, terlihat dari meningkatnya produksi endek dari tahun ke tahun untuk memenuhi permintaan pasar. Perubahan pada bidang organ isasi, dalam upaya pengembangan ekonomi lokal terutama budaya endek, Disperindag dan Dekranasda Kota Denpasar yang merupakan mo tor penggerak promosi produk lokal sejak tahun 2008. Disperindag bertugas dalam pen ingkatan produksi dan tingkat expenditure masyarakat untuk memenuhi permintaan pasar. Perubahan pada bidang SDM, yaitu program pem berdayaan pengrajin endek untuk meningkatkan ekonomi lokal Kota Denpasar, intas sektor yang me libatkan sejumlah SKPD. Perubahan pada pola pikir (mind set) dan budaya kerja (culture set) aparatur dengan upaya dan kerja keras seluruh pihak, baik pimpinan, staf maupun seluruh komponen masyarakat, bersama dalam program pemberdayaan pengrajin endek sekaligus juga meru pakan program untuk kesejahteraan masyarakat. - ard
Wamenpan saat mendapat informasi tentang endek
Rhea dan Suandewi anggota Asbes ketika membuka gerai endek
Program Pengembangan dan Pelestarian Endek yang telah Dijalankan Pemerintah Kota Denpasar yakni:
l l l l l l l l l l l l l
Terfasilitasinya sejumlah pengrajin industri endek melalui bantuan alat tenun sebanyak 24 buah dari tahun 2011 sampai dengan 2013. Pelatihan menenun yang diikuti oleh pengrajin endek Kota Denpasar Pelatihan desain, motif diikuti pengrajin endek di Kota Denpasar Kunjungan oleh Duta Endek Kota Denpasar ke pengrajin endek di Kota Denpasar. Penggunaan seragam endek bagi karyawan-karyawati di Kota Denpasar, sekolah, hotel, rumah sakit dan kantor –kantor BUMN Terbentuknya tim tekstil yang berperan memberikan masukan dan ide kreatif desain tenun , termasuk teknologi yang perlu dikembangkan untuk inovasi kedepannya. Terbentuknya Asosiasi Endek , Bordir dan Songket (Asbes) Kota Denpasar yang mewadahi para pengrajin melakukan penguatan kapasitas dan wawasan serta promosi yang terintegrasi. Meningkatnya peluang promosi dan akses pasar melalui pameran dagang di tingkat nasional, lokal dani nternasional sehingga produk endek dapat memiliki nilai brand new export. Tersedianya tempat bulding centre ”Imperium Kumbasari” sebagai media pemasaran dan kreativitas dukungan pemerintah Kota Denpasar, PD Pasar Kota Denpasar, Dekranasda, APPMI Bali, dan Asbes Kota Denpasar. Terjadinya peningkatan omzet yang signifikan pada pengrajin endek Kota Denpasar tahun 2009 hingga 2013. Tersedianya one building consultan yaitu media konsultan untuk desain tekstil /fashion khususnya untuk meningkatkan desain endek ready to wear Melakukan misi dagang ke berbagai daerah untuk memperkenalkan produk unggulan lokal endek ke daerah lain Pembuatan spot TV dan spot radio iklan layanan masyarakat pelestraian endek.
Salah satu kegiatan inovasi endek adalah pemilihan Duta Endek
3 - 9 Maret 2014
24
Lukisan Misterius
Dihapus untuk Hindari Syirik Berhari-hari keluarga Ny. Heriyah (45) tak bisa istirahat gara-gara kemunculan lukisan misterius yang memenuhi hampir sebagian besar dinding dalam rumahnya, paskabanjir pekan lalu. Sejak Senin (24/2) rumahnya ‘diserbu’ masyarakat yang ingin melihat lukisan abstrak itu, bahkan hingga malam pukul 22.00. Itupun kalau kalau tidak ‘diusir’, warga masih akan terus berdatangan hingga tengah malam.
W
arga datang mengalir nyaris tak pernah putus, dari pagi hingga tengah malam, membuat Heriyah dan keluarganya tak tenang. Istirahat tak bisa, makan pun tak tenang. Belum lagi setiap malam Heriyah dan keluarganya terpaksa ngepel lantai karena rumah menjadi sangat kotor. Tidak heran kalau mereka stres dan akhirnya memutuskan menghapus lukisan itu. “Mereka masuk pakai sepatu atau sandal. Karena masih hujan, di luar becek, jadi masuk dengan sepatu atau sandal kotor. Mama setiap malam ngepel. Kasihan, capek banget, pengunjung datang tak ada habisnya,” ujar Aslan (16), putra Heriyah. Di hari pertama, Heriyah yang masih antusias karena terkejut dan heran dengan kehadiran lukisan menakjubkan itu di rumahnya, bersemangat melayani orang-orang yang datang ke rumahnya. Sebagai tuan rumah yang baik, tentu Heriyah dengan semangat bercerita tentang lukisan yang menurutnya tidak diketahui asal-usulnya karena saat ia tinggalkan rumahnya untuk mengungsi, lukisan itu belum ada di dinding. Tapi begitu banyak orang yang datang membuat Heriyah yang sudah 12 tahun menempati rumahnya di Jl Cililitan Kecil I Gang Rawa Sepat, Cawang, Jakarta Timur, merasa lelah. Apalagi ia harus menjelaskan keterangan yang sama kepada orang yang datang silih berganti. Ia pun kewalahan. Mereka sekeluarga tak bisa beristirahat.
ing dalam rumahnya yang berluas 45 M2 itu, Rabu (26/2). Ini adalah kedua kalinya ia mengecat dinding rumahnya, karena sebelumnya ia baru saja mengecat dinding dalam rumahnya dengan cat minyak untuk menghilangkan bekas-bekas banjir pada Januari dan Februari lalu. Ketika banjir mencapai puncaknya, rumahnya terendam setinggi 7 meter. Bahkan air melewati lantai dua bangunan rumah. Sempat diduga, cat minyak menjadi sebab munculnya bercak-bercak itu. Namun, Heriyah membantah, karena mengecat tembok dengan cat minyak sudah berkali-kali dilakukannya. Hal itu karena kawasan rumahnya di Cililitan Kecil (penghubung antara Jakarta Timur-Selatan), termasuk langganan banjir tahunan, Jika banjir datang, apalagi banjir lima tahunan yang tingginya bisa mencapai 7-8 meter, lumpur yang tersisa bisa mencapai tembok teratas. Karenanya Heriyah memilih cat minyak Antusiasme dan rasa penasaran warga yang datang, memang sulit dibendung. Ketika rumah ditutup rapat-rapat karena penghuni ingin istirahat, para warga yang datang memanggil-manggil namanya. Bahkan tega menggedorgedor pintu, hanya karena penasaran ingin melihat gambar-gambar itu. Sampai-sampai putra Heriyah memohon pengertian pengunjung karena ibunya yang tidak bisa istirahat. “Mama tidur di lantai atas, kepalanya pusing,” ucap Aslan. Masyarakat yang datang pun beragam, bukan hanya dari warga sekitar tapi juga ada yang datang dari jauh. Bahkan Camat dan Lurah Kramat Jati dan staf pun menyempatkan diri berkunjung. Begitu juga rombongan guru-guru sekolah sekitar. Tapi tekad Heriyah semakin bulat untuk menghapus lukisan misterius itu adalah tingkah sejumlah pengunjung yang menurutnya mengarah pada syirik. Sepertinya, mereka datang bukan sekadar memuaskan rasa penasaran, namun punya maksud lain. Dia memergoki beberapa pengunjung mengelupas cat tembok yang ada lukisannya, kemudian ditaruh di dompet. “Ada orang yang mengopek cat tembok rumah saya, lalu menyimpan di dompet. Itu maksudnya apa?? Apa untuk jimat? Saya tidak tahu. Tapi itu kan musyrik dan syirik. Saya tidak mau begitu. Maka saya putuskan untuk segera mengecat rumah kami. Saya tidak ingin kehadiran lukisan yang tak jelas asal usulnya ini malah menjadi musyrik,” tandas Hariyah yang akhirnya memutuskan menghapus semua lukisan yang ada dengan mengecat ulang dind-
Ny. Heriyah
itu bukan hanya pada tembok tapi juga pada dinding keramik, bahkan lemari makanan di dapur rumahnya. TANDA AKHIR ZAMAN Kejadian ini, tutur Heriyah, diketahui dia dan keluarganya pada Minggu sore (23/2), sepulang dari mengungsi. Sabtu (22/2), banjir di rumahnya mencapai 1,5 meter. “Jumat kami mendapat kabar bahwa banjir akan datang lagi, karena bendungan Katulampa di Bogor, Jawa Barat, sudah siaga dua. Jadi kami pun mengungsi. Tapi sebelum pergi, saya mengunci semua pintu dan jendela, “ucap janda tujuh anak ini. Ketika banjir surut pada Minggu sore, mereka pun kembali ke rumah. Hanya saja ketika itu PLN masih mematikan listrik sekitar. Walhasil mereka dengan penerangan seadanya membersihkan lumpur di rumah. Karena penerangan yang seadanya pula, saat itu Heriyah maupun anakanaknya tidak ngeh dengan adanya bercak-bercak di hampir seluruh dind-
lukisan. Begitu banyak gambar di sana. Lukisan abstrak tersebut jika diperhatikan benar, berbentuk macam-macam gambar, di antaranya, gambar gunung, wanita, sepasang manusia yang sedang bersetubuh, janin-janin bayi, macammacam binatang, hingga tulisan lafadz Allah. Seisi rumah Heriyah pun geger. Info ini pun menyebar ke para tetangga yang langsung menyerbu rumah Heriyah. “Daerah sini masuk kawasan langganan banjir. Selama ini belum pernah ada kejadian seperti ini,” ujar seorang ibu, tetangga Heriyah. “Awalnya saya nggak ngeh itu gambar apa, soalnya nggak jelas. Tapi lama-lama dipandangi, kok, jadi ada bentuknya, ya. Ada gambar binatang, janin, gambar perempuan. Saya nggak ngerti kok bisa jadi begitu. Rumah saya juga berkali-kali kena banjir, nggak pernah ada yang kayak gini,” ujar ibu itu terheran-heran. Fenomena ini memang luar biasa. Entah cat jenis apa yang digunakan, yang pasti gambar itu sangat sulit dihapus. Lukisan yang menempel di dinding kramik pun terpaksa harus dihapus dengan thinner, tapi itupun tak bisa benar-benar bersih. Sementara tinta yang menempel di lemari makan almunium, sulit dihilangkan. Seorang Habib datang ke lokasi. Kebetulan saat itu masih ada beberapa warga yang datang berkunjung. Dari Habib inilah, Heriyah dan keluarganya juga sejumlah warga yang ada, mendapat penjelasan. Keseluruhan gambar-gambar itu, menurut Habib sebagaimana diceritakan Wawan, salah seorang tetangga Heriyah, menggambarkan kehidupan yang ada sekarang, juga tentang akhir zaman. “Ini lukisan orang bersetubuh ini menggambarkan tentang kemaksiatan, pergaulan bebas. Janin-janin bayi
Rumah Heriyah di Cililitan Kecil Jakarta Timur
dengan pertimbangan, dengan dicat minyak, lumpur yang menempel akibat banjir bisa lebih mudah dibersihkan. Dari pengalamannya selama bolakbalik terkena banjir, cat minyak yang digunakannya tak pernah bereaksi demikian. Itu sebabnya ia tak yakin kalau penyebab munculnya gambar-gambar itu adalah cat minyak. Apalagi, lukisan
Lukisan misterius di dinding rumah Heriyah tiba-tiba muncul seusai banjir
ing rumah. “Waktu itu kami kira itu adalah lumpur sisa banjir. Karena sudah sore, dan tidak ada penerangan, jadi tidak dibersihkan,” tambah Aslan. Betapa terkejutnya mereka ketika bangun pagi, listrik sudah menyala, melihat bercak-bercak di dinding yang dikira lumpur itu, ternyata adalah lukisan. Rumah mereka berubah menjadi gallery
ini bercerita tentang bayi-bayi yang dibuang akibat pergaulan bebas. Habib banyak bercerita. Menurutnya, gambar ini merupakan peringatan Tuhan kepada manusia, apa yang akan mereka dapat jika menjalani hidup dengan penuh kesesatan,” tutur Wawan. Habib sempat meminta pada ibunya untuk tidak buru-buru menghapus lukisan itu, dan membiarkan masyarakat melihat dan merenungkannya. Setidaknya selama 3 hari. Begitu juga masyarakat ada yang meminta agar Heriyah tetap mempertahankan lukisan unik itu. Namun, Heriyah menolaknya. Salah satu yang paling terasa adalah kehadiran lukisan itu telah menganggu ketenangan keluarganya. Yah, hal ini memang bisa dimaklumi, karena rumahnya kerap digedor warga yang datang, padahal ia dan keluarganya tengah beristirahat. -Diana Runtu