MOZAIK
16 Komunitas Cinta Kain Bali (KCKB) adalah seka demen sebagai sarana menyatukan diri, para perempuan dari berbagai kalangan dan profesi yang memiliki minat atau ketertarikan yang sama. Komitmen mereka menjaga dan melestarikan kain lokal Bali sebagai warisan budaya yang adiluhung. Demikian disampaikan sang penggagas sekaligus penanggung jawab KCKB, Bara Adnyani dan Eva Listya.
S
elama ini mereka medan beretika. mang lebih meBahkan, belum lama ini, milih menyedemi lebih lagi mengebut kebernalkan warisan budaya samaannya sebagai bernama kain Bali komunitas atau ini KCKB melakuseka demen, sekan kunjungan ke bab berkumpul KBRI Bangkok. dan bersatunya Rombongan mereka untuk yang sudah mencintai kain pasti tampil Bali, datangnya dengan beradari hati dan gam keindamenjadi ishan kain Bali timewa ketika ini, diterima didalamnnya langsung oleh terjalin ikatan Ibu Anita Rusdi, kekeluargaan dan istri Duta Besar persaudaraan yang RI untuk Bangkok Penyerahan kuat. Kemudian, beserta jajaran Dharcinderamata semua dengan suka ma Wanita Persatuan kepada istri Dubes cita melangkah bersama (DWP) KBRI Bangkok KBRI Bangkok untuk menggunakan kain yang diketuai Ibu Irma. Bali sebagai bagian dari busana yang Menurut Sandra Kartika, Ketua dikenakan diberbagai kesempatan. KCKB Pusat, ada beberapa poin kerSelama ini, 5 tahun sudah keberadaan jasama yang ditawarkan di sana. Pertama, KCKB turut menjaga eksistensi kain Bali pada 9 Oktober 2019 nanti bakal ada telah terbukti. Apalagi dengan diberikan- kegiatan rutin KBRI berupa “Jendela nya pemahanman dan wawasan men- Indonesia “ yang menyuguhkan panggenai kain Bali oleh sang Pembina, Tude gung atraksi,seperti fashion show dan Togog, sehingga mereka bisa lebih kreatif kegiatan lainnya oleh masyarakat Indomengenakan kain Bali namun tetap serasi nesia. Selanjutnya, pada 20 November
Di gedung kesenian BACC Bangkok
EDISI 1050/ 30 SEPTEMBER - 6 OKTOBER 2019
“KCKB Goes To Bangkok”
Jaga Komitmen Melestarikan Kain Bali
Mengenakan selendang tenun Bali di acara Dinner Cruise
2019 juga ada pertemuan dari berbagai belahan dunia yang akan mengadakan penjualan produk mereka, yang hasilnya untuk charity. Untuk semua itu, KCKB siap bekerjasama untuk mengisi event yang digelar di Bangkok. Masih dalam kunjungan ke KBRI Bangkok , istri wakil Bupati Buleleng,
Kegiatan donor darah
Bu Ayu Wardhani yang dikenal dengan panggilan Bu Cece, memaparkan visi dan misi KCKB. Diteruskan oleh Bu Sonia Piscayanti yang menyampaikan wawasan tentang kain Bali. Menariknya di sana KCKB berkesempatan menyanyikan lagu Indonesia Raya dipimpin Bu Eva. Selain itu KCKB berkunjung ke gedung
Berbagi kasih di Yayasan Sayang Bali
Dapat Julukan “KCKB Sosial-Jelita” dari Ny. Putri Koster
Selanjutnya Bu Bara didampingi gunakan Wantilan Kerthasaba yang Eva Lisatya, Ketua KCKB Sandra ada area di Gedung Jaya Sabha. Saat Kartika dan pengurus KCKB lainnya ini pengurus tengah mempersiapdiantaranya Bu Wardani Erawati, kan berbagai hal untuk persembaBu Putu Penny Somawati, juga han acara terbaik menyambut hari menyampaikan telah terbentuk kelahiran KCKB. Komunitas Cinta Kain Bali (KCKB) Direncanakan pada bulan JanuBuleleng, yang diketuai Agata Sakul ari 2020 yang akan datang, merdan istri Bupati Buleleng sebagai eka akan menggelar sebuah acara Pembina. spektakuler disertai pameran kain Disampaikan pula bahwa KCKB Bali dari para perajin di seluruh juga sudah bertemu istri Gubernur Bali. ”Seperti dan bagaimana acara, Kunjungan ke Ibu Gubernur Bali Bali, Ny. Putri Koster, yang meneritunggu saja,” kata Bu Eva tersema mereka dengan sambutan menyenangkan di Jaya Sabha. nyum. Selain menyampaikan kegiatan mereka di Bangkok juga Bersamaan dengan itu, KCKB Bali membuka kesempatan perihal rencana HUT ke -6 KCKB Januari 2020 mendatang. . seluas-luasnya kepada para perempuan Bali yang memiliki Dalam pertemuan tersebut, Ny. Putri Koster terlihat kecintaan terhadap kain Bali, untuk bergabung di KCKB dan sangat antusias dan turut mendukung keberadaan KCKB. Ia bersama turut melestarikan kain Bali disamping berbagai berharap KCKB bisa berperan lebih banyak dalam melestari- kegiatan positif lainnya. kan kain Bali sebagai warisan leluhur. Bahkan dalam obrolan Ketika KCKB sudah melewati tahun kelima dan meyang hangat, melihat sepak terjang yang telah dilaksankan langkah ke tahun keenam di awal tahun 2020 mendatang. KCKB selama ini, Ny. Putri Koster pun memberikan julukan Dalam agendanya mereka tak pernah melupakan melakukan dengan ‘KCKB Sosial-Jelita’. kegiatan kemanusiaan. Salah satu, yang selama ini secara Dikatakan oleh para pengurus, saat mereka menyam- rutin setiap 3 bulan, adalah donor darah di PMI RS Sanglah. paikan rencana pelaksanakan HUT ke-6 KCKB, Ny. Putri Begitu juga dengan bakti sosial lainnya seperti berbagi kasih Koster sangat mendukung, dengan mengizinkan KCKB meng- di Yayasan Sayang Bali. -- ard
BACC (Bangkok Art Cultural Centre), serta turut mengisi acara fashion show dengan diiringi lagu Indonesia Pusaka. Dan, tak ketinggalan tutorial berkain oleh Bu Eva. Kegiatan diakhiri jamuan yang dilaksanakan di rumah dinas Kedubes KBRI dilanjutklan dengan foto bersama. -- ard
Audensi ke KBRI Bangkok
Foto bersama di Wat Arun
redaksi@cybertokoh.com, iklan@cybertokoh.com
cybertokoh
@cybertokoh
@cybertokoh
www.cybertokoh.com
2
ESPRESSO GORO-GORO BK (12)
Bu Amat menunggu harap-harap cemas. Ia sudah trenyuh melihat sobat suaminya Putu Wijaya itu terbanting ke sumur kering. Ingin kembali pulang, tak punya uang. Datang sahabat menyumbang, harga diri melarang. Tadi waktu Karsono datang lagi ketika Amat pergi, Bu Amat dengan spontan mengulurkan amplop berisi uang 2 juta yang (atas anjuran Bu Made sendiri) diambilnya dari amplop yang kemudian ditagih Pak Made. Tapi Karsono tak mau melihat dengan sebelah mata pun amplop yang diletakkan dengan tulus oleh Bu Amat di atas meja. Karsono ngotot mau ketemu Amat, ngakunya mau pamit mati. Karena tak sabar, Bu Amat menyusul ke teras. Ternyata Amat hanya sendiri, bengong. “Sudah, Pak?”
“Sudah apa?” “Amplopnya sudah diberikan?” “Diberikan pada siapa? Orangnya sudah kabur! Ini malah ninggalin kita amplop!” Amat mengacungkan amplop yang tergeletak di meja. Bu Amat cepat menyambar. “Ini uang kita yang saya ambil dari amplop Pak Made! Ayo cepat susul! Dia sudah tak sabar pamit mati!” “Ya, biarin saja! Itu kan baik!” “Aduh, Bapak ini bagaimana! Terlalu! Orang mau bunuh diri kok malah dipuji!” “Itu bukan....!” “Cepet, cepet! Tadi dia sudah bawa tali!” Amat terkejut. Ia mendadak cemas lalu bangkit mau nyusul. Bu Amat mengulurkan amplop. “Ini kasih kan!” Amat heran. “Dua-duanya mau dikasihkan dia!” “Habis satu pasti kurang cukup. Makanya dia bingung! Ayo, kejar! Kasihkan” “Nanti kita makan apa?”
“Tidak makan sekali juga tidak akan... .., hitung-hitung diet. Daripada bunuh orang!” “Bunuh orang bagaimana?!” “Cepet, Pak! Saya tadi kan tak sengaja mungkin sudah nyinggung perasaanya!” Amat terkejut. “Ah? Ibu bilang apa?” “Lelaki kalau sakit hati kan paling sesudah tiduran juga pulih, tapi perempuan bisa bunuh diri!” “Aduh! Kok Ibu ngomong begitu!” “Ayo. Cepat susul! Tadi maunya humor!” Amat meraih amplop. Bu Amat, dengan gesit mencomot 3 lembar ratusan ribu, baru menyerahkan amplop ke tangan suamiya. Amat cepat melompat menyusul Karsono. Tapi belum terlalu jauh, Bu Nyoman pemilik warung, muncul. “Pak Amat! Teman Bapak sudah di warung lagi bawa tali rafia, Pak!” Amat memperlebar langkahnya. Ternyata di warung sudah banyak orang berkerumun. Mereka keberatan kalau Karsono mau bunuh
EDISI 1050/ 30 SEPTEMBER - 6 OKTOBER 2019
diri di wilayah mereka. “Tidak boleh bunuh diri di sini! itu dosa, mendahului kehendak Tuhan! Bisa bawa sial kepada wilayah termasuk kepada kita sendiri juga. Jadi kita mau tangkap, serahkan ke tangan yang berwajib, Pak Amat! Ayo!” “Tunggu! Ini Karsono teman saya. Dia sudah lari dari tanggungjawabnya sebagai kepala rumah tangga. Sekarang dia tobat. Mau pulang dan pamit mati. Bukan bunuh diri, tapi mematikan semua kepentingan pribadiinya agar bisa sepenuhnya mengabdi tugas mengurus keluarga! Tali rafia itu bukan untuk gantung diri tapi mengikat kopornya yang berantakan. Betul tidak begitu, Karsono?” Karsono yang sudah ketakutan, tambah bingung. Amat terpaksa memberi kedipan mata. Lalu membentak. “Betul tidak Karsono!” “Betul!” “Nah itu dengar sudara-saudara!” Giliran masyarakat yang mau memberangus itu, bimbang. Lalu Amat mengeluarkan kedua amplop uang dari sakunya. Lalu bicara lantang hingga semua mendengar. “Karsono! Aku sangat menghargai hajatmu. untuk pamit mati
demi kepentingan keluarga. Setelah beberapa tahun tinggal di Bali memang kamu tidak pulang bawa uang, tapi membawa tekad pamit mati yang nilainya lebih dari satu M itu, itu dua jempol aku acungkan untuk kepahlawananmu,Bung! Aku sumbangkan uang makan keluarga kami sebulan, tapi kamu tolak karena harga dirimu mulai lagi bangkit dan juga jumlahnya kurang. Aku jadi kecewa, Bung! Persetan dengan harga dirimu! Uang ini bukan untuk kamu! Tapi istrimu dan kelima anakmu supaya tidak putus sekolah! Ini gotong-royong! Eka Sila kita, tahu! Apa kamu mau menentang Panca Sila yang sudah susah payah digali BK? Ah?!” Karsono terperanjat. Amat sendiri juga kaget, merasa sudah kelepasan ucapan. Tapi masak air ludah mau ditelan lagi. Beberapa saat hening. Tapi diamdiam ada yang penting terjadi. Secara spontan semua orang merogoh kantung dan kemudian meletakkan sumbangan di depan Karsono. Lelaki itu bergidik diserang rasa haru, lalu air matanya bercucuran. Diam-diam, Amat memasukkan kembali salah satu amplop di tangannya ke saku.
MOZAIK
EDISI 1050/ 30 SEPTEMBER - 6 OKTOBER 2019
Cut Beby Tsabina
Ambil Sisi Positifnya Bekerja sambil menjalani pendidikan formal bukan perkara mudah. Apalagi bekerja di dunia akting seperti sinetron yang tak jarang berlangsung hingga dini hari khususnya sinetron stripping atau kejar tayang. Tak heran kalau Cut Beby Tsabina, bintang remaja yang tengah naik daun merasa keteteran membagi waktu dengan sekolahnya.
W
Surga Ada di Telapak Kaki Ibu
Dharma Gusti Putra Agung Kresna
Ketika seorang anak lahir ke dunia, maka lingkungan keluarga menjadi wilayah pertama yang menjadi panutan yang akan selalu ditirunya. Saat anak mulai bermain ke wilayah tetangga, maka lingkungan rumah tinggal akan menjadi area belajar anak selanjutnya. Ketika anak mulai bersekolah, maka lingkungan sekolah akan menjadi wilayah pembelajaran berikutnya. Tiga lingkungan itulah yang akan membentuk karakter seorang anak nantinya sesuai perjalanan hidupnya. Saat anak tumbuh dan berkembang, maka segala hal akan ditirunya dari lingkungan perkembangan dirinya tersebut.
bacaan wanita dan keluarga
Penerbit PT Tarukan Media Dharma Terbit sejak 9 November 1998
Hal yang bersifat baik maupun buruk akan diserapnya dari lingkungan Saat seorang anak beranjak remaja dan dewasa, berbagai informasi dari sekolah dan lingkungan pergaulannya mulai mempengaruhi jiwanya yang sedang tumbuh dan berkembang. Interaksi dengan teman di sekolah dan lingkungan kesehariannya mulai mempengaruhi pembentukan karakter jiwa pribadinya. Namun, bagaimanapun keluarga tetap menjadi lingkungan utama yang memberi pengaruh sangat besar bagi perkembangan jiwa seorang anak. Dari lingkungan keluargalah seorang anak akan lebih banyak belajar tentang segala sesuatu sesuai kehidupan kesehariannya. Dominasi waktu dari keluarga terhadap seorang anak, akan menorehkan guratan karakter keluarga dalam karakter jiwa sanubari anak. Surga di Kaki Ibu Seringkali dikatakan bahwa surga ada di telapak kaki ibu. Sehingga seorang anak wajib hormat dengan ibunya, tidak cukup hanya semata hormat kepada ayahnya. Benar bahwa seorang ayah adalah nahkoda dalam satu keluarga, namun realitasnya seorang anak biasanya lebih dominan berinteraksi dengan sang ibu –utamanya jika ibu adalah seorang ibu rumah tangga sepenuhnya-. Sebenarnya lebih tepat dikatakan
bahwa pada seorang ibulah arah masa depan seorang anak itu akan lebih banyak ditentukan. Kualitas jiwa pribadi seorang ibu akan sangat mempengaruhi perkembangan jiwa seorang anak. Melalui seorang ibu, anak akan belajar banyak hal sejak mengenal kata hingga berbagai pengetahuan dalam kehidupan. Hal ini mengingat bahwa secara umum seorang anak secara kejiwaan akan lebih dekat dengan sang ibu. Kondisi ini sangat bisa dimengerti jika mengingat bahwa interaksi seorang anak dengan ibunya sudah terbangun sejak anak baru saja dilahirkan. Berawal dari sentuhan tangan ibu saat anak dilahirkan, kemudian menyusui hingga anak dikenalkan dengan berbagai hal di dunia ini. Melalui sang ibu seorang anak mengenal pendidikan yang pertama. Seorang ibu adalah guru pertama yang akan mengajarkan banyak hal kepada anak. Seberapa pengetahuan ibu, itulah yang nantinya akan ditularkan kepada anaknya. Baru kemudian anak akan mendapat tambahan pengetahuan dari pihak lain pada saat anak mulai berinteraksi dengan lingkungannya. Sehingga menjadi tidak benar jika dikatakan bahwa seorang perempuan tidak perlu memiliki pendidikan yang tinggi, jika nantinya hanya akan menjadi seorang ibu rumah tangga. Bukan
seorang wanita yang berkarir profesional sesuai bidang pendidikan yang dimilikinya. Ada stigma yang sering membelenggu kaum perempuan, yaitu bahwa pendidikan tinggi hanya diperuntukkan bagi laki-laki. Padahal seorang perempuan justru harus memiliki pendidikan yang cukup tinggi. Karena di tangan para ibu seorang anak itu akan diasuh dari sejak dilahirkan. Kecerdasan seorang ibu secara intelektual, emosional, dan spiritual menjadi kunci keberhasilan seorang anak di masa depan. Ada beberapa catatan yang perlu kita perhatikan demi tumbuh kembang anak yang baik. Pertama, pendidikan seorang ibu. Kualitas pendidikan seorang ibu akan sangat mempengaruhi masa depan anaknya. Dalam hal ini pendidikan seorang ibu tidak harus berupa pendidikan formal. Pada prinsipnya seorang ibu harus memiliki kualitas pendidikan yang cukup, karena dari tangannya akan dihasilkan pendidikan bagi sang anak. Ibu merupakan guru kehidupan bagi seorang anak.
Kedua, komunikasi dalam keluarga. Komunikasi antar anggota keluarga maupun dengan orang di lingkungan sekitarnya, akan mempengaruhi baik buruknya perkembangan jiwa seorang anak. Semakin baik jalinan komunikasi yang terjadi, maka seorang anak akan tumbuh sehat secara jasmani dan rohani. Pada gilirannya, seorang anak yang merasa nyaman berada dalam lingkungan keluarga tentu jiwanya akan tumbuh dan berkembang secara sehat. Pada akhirnya, pola asuh dalam keluarga akan menentukan masa depan seorang anak. Pola asuh yang benar akan membawa anak menjadi seorang yang berguna bagi keluarga, nusa, dan bangsa. Demikian pula sebaliknya. Kemana kaki ibu melangkah, di sanalah seorang anak akan terbawa. Inilah sebenarnya makna hakiki bahwa surga itu ada di telapak kaki ibu. Ir. Dharma Gusti Putra Agung Kresna Arsitek, Senior Researcher pada Centre of Culture & Urban Studies (CoCUS) Bali
KATA HATI: Rubrik ini khusus untuk menuangkan ide/pemikiran/gagasan dalam bentuk tulisan. Tema terkait wanita dan keluarga serta tidak mengandung unsur SARA. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter. Lampirkan juga foto close up (bukan pasfoto). Cantumkan nama lengkap, profesi, nomor hp, dan alamat email. Naskah dikirim ke redaksi@cybertokoh.com, redaksitokoh@yahoo.com.
Penanggung Jawab/Pemimpin Redaksi: Gde Palgunadi. Redaktur Pelaksana: Ngurah Budi. Staf Redaksi/Iklan Denpasar: IG.A. Sri Ardhini, Wirati Astiti. Buleleng: Wiwin Meliana. Jakarta: Diana Runtu. NTB: Naniek Dwi Surahmi. Desain Grafis: I Made Ary S upratman. Manajer Sirkulasi dan Iklan: I Ketut Budiarta, Sirkulasi: Kadek Sepi Purnama, Hariyono, Ayu Wika Yuliani. Sekretariat: Ayu Agustini, Putu Agus Mariantara. Ombudsman: Jimmy Silalahi. Alamat Redaksi/Iklan Denpasar: Gedung Pers Bali K. Nadha, Lantai III, Jalan Kebo Iwa 63 A Denpasar 80117–Telepon (0361) 425373, 7402414, 416676–Faksimile (0361) 425373. Alamat Redaksi/Iklan/Sirkulasi Jakarta: Jalan Palmerah Barat 21 G Jakarta Pusat 10270–Telepon (021) 5357603 - Faksimile (021) 5357605. NTB: Jalan Bangau No.15 Cakranegara, Mataram–Telepon (0370) 639543– Faksimile (0370) 628257. Surat Elektronik: info@cybertokoh.com, redaksi@cybertokoh.com, iklan@cybertokoh.com. Bank: BRI Cabang Gajah Mada Denpasar. Nomor Rekening: PT Tarukan Media Dharma: 0017-01-001010-30-6. Percetakan: BP Jalan Kebo Iwa 63 A Denpasar.
15
foto instagram beby
Beby dan gaya korea nya di seoul
alhasil dia pun harus memilih. Apakah ingin ‘membuang’ kariernya di dunia hiburan dengan fokus pada pendidikan atau ingin duaduanya berjalan seiring meski dengan risiko yang cukup berat. “Sebenarnya, bagi aku dua-duanya penting. Pendidikan penting, begitu juga karier aku di dunia hiburan. Maka aku pikir lebih baik mengambil homeschooling. Meski tidak mudah menjalani keduanya sekaligus namun lebih baik daripada kehilangan pendidikan. Aku juga jadi lebih longgar untuk bisa menyesuaikan waktu bekerja dan belajar. Yang terpenting adalah keduanya dijalankan dengan baik dan bersungguh-sungguh,” ungkap dara usia 16 tahun ini. Sebelum pekerjaannya di dunia hiburan sesibuk sekarang, kata Beby, seperti kebanyakan remaja seusianya, ia pun bersekolah formal. Mulai SD hingga pertengahan SMP. Tapi saat job-nya semakin ‘membanjir’ dia pun kewalahan mengatur waktu akhirnya memilih homeschooling. “Sebenarnya saat mau masuk SMA, aku inginnya bisa sekolah SMA biasa.
Orangtua Selalu Mendampingi
Di luar akting, Beby juga memiliki seabreg kegiatan lain- kosmetik remaja. Saking sibuknya, Beby mengaku untuk nya. Di antaranya sebagai model iklan dan brand ambassador sementara hanya ingin fokus main film saja. “Sebenarnya ada juga tawaran sinetron, namun untuk sementara aku mau fokus main film saja,” tambah gadis kelahiran Oktober 2002 yang rajin meng-endorse aneka produk di medsos-nya.Terkait kesibukannya di dunia hiburan, Beby mengaku mendapat dukungan dari orangtuanya. Semua pekerjaan, kata Beby, selalu didiskusikan dengan mama-papanya. “Jadi kalau menerima sesuatu (job) selalu didiskusikan dengan mama-papa. Mama selalu tanya ke aku, ‘Beb mau diambil tidak, bisa nggak, cape nggak.’ Mama juga memberi saran. Tapi keputusan tetap di aku karena mama tahu aku yang menjalaninya,” jelasnya. Bicara pergaulan di dunia hiburan, meski terlihat dirinya bisa pergi ke mana saja, syuting ke mana saja bahkan sampai ke luar negeri, namun sesungguhnya orangtua mengawasi secara ketat. Khususnya dalam hal pergaulan, Beby diminta untuk tahu batas-batasnya. “Orangtua aku ketat banget. Iya nggak apa-apa, aku paham maksudnya. Mungkin karena orangtua khawatir ya sama pergaulan di Jakarta,” tutur Beby yang mengaku ‘finefine’ saja dengan aturan ketat orangtuanya. Dia juga tidak keberatan kalau mamanya, Linda, selalu mendampinginya dalam berbagai aktivitas kerja termasuk saat dia syuting di foto instagram beby luar negeri. (Diana Runtu) Beby dan mamanya di jerman syuting sambil jalan-jalan
foto instagram beby bersama teman-teman santai saat break syuting di berlin
Karena lebih enak, bisa ketemu temanteman, ada guru. Kalau homeschooling kan belajar sendiri. Aku sudah diterima di SMA yang kualitas pendidikannya bagus. Tapi di sana tidak boleh izin untuk syuting. Ya sudah, akhirnya nggak jadi,” papar Beby yang hijrah dari Aceh ke Jakarta demi mengejar kariernya di dunia hiburan. Menurut Beby, hanya itu (homeschooling) pilihan kalau dia ingin tetap berkarier di dunia hiburan namun juga meraih pendidikan. “Aku nggak menyesal sih. Pilihannya kan hanya itu, dan aku sudah memilih, jadi jalani saja. Diambil sisi positifnya,” ucap mantan model cilik ini. Meski homeschooling, namun kata Beby, bukan berarti tidak berat menjalaninya. Lagi-lagi karena padatnya jadwal syuting. Tak heran kalau dia pun terpaksa belajar di lokasi syuting. Saat teman-temannya bersantai-santai sambil melepas lelah saat break syuting , Beby justru belajar atau mengerjakan tugas-tugasnya. Yang juga menjadi tantangan tersendiri adalah saat syuting lama di daerah atau di luar negeri. Seperti saat syuting di Belanda tahun lalu dan Jerman tahun ini, dimana masa syuting terbilang cukup lama. Yang terbaru adalah di Jerman untuk sebuah film yang masih dirahasiakan, Beby menjalaninya selama 1 bulan. Itu benar-benar bikin Beby ‘setengahmati’. Untungnya, kata Beby, waktu syutingnya tepat setelah dia selesai menjalani ujian, sehingga tugas-tugas yang harus dikerjakannya di sela-sela syuting di Jerman tidak terlalu banyak. “Aku sekarang kan sudah kelas 3 SMA jadi lumayan sibuk. Kalau kemarin kan kelas 2, aku homeschooling juga, masih bisa ngatur waktunya. Nah sekarang karena sudah kelas tiga, tugas-tugasnya makin banyak. Tapi waktu berangkat kemarin sebagai besar tugas sudah aku selesaikan jadi di Jerman cuma mengerjakan sedikit tugas yang bisa aku bikin lewat HP,” jelas Beby yang filmnya akan tayang diakhir tahun. MENGEJAR KARIER KE JAKARTA Tak heran kalau Beby berat melepas kariernya yang sedang naik daun. Untuk mencapai hasil seperti sekarang tidak lah mudah. Dia benar-benar merintisnya
dari ‘nol’ lewat casting ke casting. Yang namanya gagal dan dimarah-marahi sutradara saat casting, bukan hal yang asing lagi bagi Baby diawal kariernya. Anak kedua dari tiga bersaudara pasangan Darmawan dan Linda ini bertutur, mulai terjun ke dunia akting di tanah kelahirannya Aceh saat usianya 12 tahun. Kala itu kebetulan ada casting pemain film yang digelar sebuah rumah produksi. “Aku didaftarin mama. Sudah lolos casting. Namun gagal karena tiba-tiba PH-nya diganti termasuk sutradara dan casting director –nya. Jadi hasil casting sebelumnya ditiadakan, PH baru itu bikin casting ulang,” tutur Beby yang juga youtuber dan selebgram ini. Untungnya, kata Beby, mamanya tidak kehilangan kontak dengan sutradara dan direktur casting sebelumnya. Lewat merekalah dirinya ditawari ke Jakarta untuk ikut casting. “Aku diajak ke Jakarta untuk ikut casting. Kebetulan kami sekeluarga akan liburan Lebaran di rumah kakek di Jakarta, jadi bisa sekalian casting,” tambahnya. Tapi itu bukan berarti lolos. Karena nyatanya meski sudah jauh-jauh dari Aceh ke Jakarta, Beby tetap saja tidak lolos casting. “Aku kan waktu itu masih kecil, masih baru, grogi dan takut juga. Jadi ya gitu, jadi ‘mati gaya’ . Apalagi kalau ketemu sutradara yang ‘strict’, marah-marah kalau kita salah,” ceritanya. Tapi proses yang tidak mudah itu tidak mengecilkan nyalinya. Ia ditemani sang mama, terus berjuang sampai akhirnya berhasil lolos casting meski hanya untuk sebuah peran kecil. Jadi kata Beby, jangan melihat eksistensi sekarang, prosesnya itu tidak lah mudah. “Bukan hanya itu. Aku juga pernah nunggu giliran syuting dari pagi ketemu pagi hanya untuk satu scene,” tutur Beby yang juga seorang K-Lovers. Awal debutnya adalah menjadi figuran dalam sinetron ‘Alphabet’ dan sinetron ‘Anak Menteng’ tahun 2015. Peluang karier lebih baik mulai terbuka pada 2016, ia tampil di dua sinetron dan satu film televisi. ‘Anak Jalanan’, ‘Mermaid In Love’ dan film televisi ‘Ayahku Menghalalkan Segala Cara Demi Uang’. Ketiga tayangan itu membuat namanya mulai dikenal publik. Beby pun mulai kebanjiran tawaran akting, mulai dari sinetron hingga film. Tahun 2017 saja, dia tampil di dua film ‘Dear Nathan’ dan ‘Susah Sinyal’ yang termasuk film laris saat itu, serta main di dua sinetron. Kariernya makin berkibar. Tahun 2018, dia main di film ‘Rompis The Movie’ dan sinetron ‘Catatan Harian Aisha’. Dan 2019, ada dua filmnya yang bakal tayang dan satu FTV yang syutingnya digelar di Korea. (Diana Runtu)
SUDUT PANDANG
14 Pancasila sebagai ideologi negara dan pedoman bagi kehidupan rakyat Indonesia adalah harga mati, tidak bisa diganggu gugat. Jangan ada yang mempertanyakan lagi soal relevansinya dengan kehidupan masyarakat yang semakin modern. Karena justru adanya Pancasila menyatukan masyarakat Indonesia yang majemuk.
EDISI 1050/ 30 SEPTEMBER - 6 OKTOBER 2019
Pancasila harus Diaplikasikan
dan agama masing-masing. Sedang sila kedua yakni Kemanusiaan yang Adil dan Beradab. Itu dimaksudkan sebagai saling menghormati sesama manusia, serta berani membela kebenaran dan keadilan. Sila ketiga, Persatuan Indonesia. Mencegah terjadinya perpecahan di antara anak bangsa, sebaliknya saling ancasila jangan hanya memahami satu sama lain, menghordihafal tapi harus mati perbedaan dan selalu mengupaydimengerti dan di- akan persatuan. Terkait sila keempat Keraplikasikan akyatan yang Dipimpin dalam kehidupan kita seharioleh Hikmat Kebijaksahari. Tanpa Pancasila kita naan dalam Permusytidak akan bersatu dan awaratan dan Pertidak menjadi bangsa wakilan, menurut yang besar,” tegas Tina, setiap warga Tina Toon, mannegara harus tan penyanyi cilik mendahulukan yang baru sebulan kepentingan dilantik sebagai bersama, dan anggota DPRD tidak memakDKI Jakarta. sakan kehendak Mengaplikasendiri. Jika tersikan Pancasila jadi permasaladalam kehidupan han hendaknya sehari-hari, lanjut diutamakan atau gadis 26 tahun yang diselesaikan mebernama lengkap lalui musyawarah dan Agustina Hermanto ini, mufakat demi kebaikan dimulai dari diri sendiri, Tina Toon bersama. kemudian ke lingkungan keSedang sila kelima, Keadilan luarga, kemudian ke lingkungan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia. sekitar dan pergaulan di masyarakat. “Tidak harus jauh-jauh, mulailah dari Setiap orang memiliki hak dan kediri sendiri, kemudian kepada keluarga, wajiban, bukan hanya bersemangat lingkungan sekitar, dan seterusnya. Mis- memperjuangan hak pribadi tapi juga alnya, tidak melakukan ujaran keben- hak lainnya. Di sisi lain, ada kewajiban cian ataupun menyebarkannya, berbuat yang harus ditunaikannya. Tina yang telah sebulan ini berkanbaik serta peduli kepada sesama, dll,” tutur Tina yang dikenal masyarakat tor di ‘Kebon Sirih’ (Kantor DPRD DKI lewat lagu ‘Bolo Bolo’ saat berkiprah Jakarta), sebagai legislator berharap bisa masuk Komisi E DPRD yang sebagai penyanyi cilik. Lalu dia pun menguraikan satu per- membidangi pendidikan, kesehatan dan satu dari butir-butir Pancasila itu. Sila kemasyarakatan, mengaku, kepedulian pertama Ketuhanan Yang Maha Esa, sosial dan norma-norma dalam kehiduujarnya didasari dengan iman yang kuat pan bermasyarakat telah sejak dikecil dan kesadaran bahwa ada Tuhan Yang ditanamkan orangtuanya. Didikan itu Maha Esa berdasarkan kepercayaan juga yang membentuk kepribadiannya
“P
Tina Toon
foto instagram tina toon
serta kepeduliannya pada aktivitas sosial. “Mungkin kurang terekspos tapi aku sejak dulu tergolong aktif ikut kegiatan sosial. Aku peduli pada berbagai permasalahan masyarakat, khususnya mereka yang tak mampu dan berusaha membantu,” tambah pemeran Ana dalam film ‘Anak Hoki’ ini. Kepeduliannya kepada masyarakat jugalah, yang membuatnya pada Pemilu Legislatif lalu bertekad maju sebagai wakil rakyat. “Sebelumnya kan aku berkegiatan sosial namun tidak bisa membantu banyak. Tapi dengan sebagai legislator aku bisa lebih banyak berbuat. Aku menjadi legislator bukan untuk jabatan atau hal lainnya tapi ingin berguna bagi banyak orang,” tambah lulusan S2 Hukum Perpajakan Universitas Tarumanegara ini. Ia bersyukur kepada Tuhan karena diberi kesempatan untuk mengabdi menjadi anggota DPRD DKI Jakarta. Banyak hal yang telah dipikirkannya termasuk soal temuan-temuannya di lapangan saat kampanye Pileg. “Bersyukur banget ya Tuhan kasih kesempatan aku untuk bisa membantu banyak orang. Suatu yang telah menjadi impian aku sejak lama. Semoga aku bisa menjalankannya dengan baik,” tambahnya. Nantinya, hal pertama yang ingin diperjuangkannya adalah hak-hak masyarakat dalam menerima pendidikan dan kesehatan. Sebab, dari
EDISI 1050/ 30 SEPTEMBER - 6 OKTOBER 2019
SOSIALITA
3
Sinergitas dalam Memotivasi Perempuan Bali Ketua PKK Provinsi Bali, Ny. Putri Suastini Koster menilai, sinergitas para istri pimpinan pemerintah di Provinsi Bali, sudah dibentuk saat mereka masuk dalam organisasi. Misal nya, istri Gubernur Bali yang menjadi ketua PKK Provinsi Bali, sudah langsung bergerak dengan 10 program pokok PKK. “10 program pokok PKK ini sudah mencakup visi misi Pak Gubernur. Dengan kami berperan aktif artinya kami sudah mendukung tugas suami,” kata istri Gubernur Bali Wayan Koster ini.
Tina di Kompleks Pemda DKI Jakarta
pengalamannya terjun ke masyarakat, khususnya di dapilnya, masih banyak warga tidak mampu yang belum
menerima Kartu Jakarta Pintar maupun Kartu Jakarta Sehat serta Kartu Lanjut Usia, dll. (Diana Runtu)
S
eniman yang berkiprah di tingkat nasional ini mencontohkan, ketika PKK turun ke desa-desa, Dharma Wanita Persatuan (DWP) juga punya program, mari disatukan. Itu sudah bentuk sinergisitas. Ada target yang harus dicapai dalam berkegiatan yakni, jadikan perempuan itu posisi sentral untuk urusan keluarga. Ny. Putri Koster menilai, semua perempuan di Bali secara tidak langsung adalah anggota PKK. Jika kita bicara kesehatan anak-anak, mulai dari keluarga. Peran seorang ibu yang luar biasa memberikan energi kasih sayang. Seperti pela
Ny. Putri Koster
yanan penuh kasih kasih kepada anggota keluarga, yang diajarkan Mbok Sarinah, pengasuh Bung Karno. Walaupun, bukan anak kandungnya, ia menyayangi dan mengasuh Bung Karno sehingga menjadi anak yang berguna. Menjadi pribadi melayani penuh kasih ibarat bumi mengasuh dan membuat hidup makhluk di atasnya itulah pelayanan Sarinah. Seperti halnya Gerakan Rakyat Marhaen. Yang artinya gerakan
Ny. Tjok Hariyani
masyarakat sederhana. Tidak sederhana dalam pemikiran, tapi menjadi pribadi yang sederhana dengan pemikiran yang maju. Menurut Ny. Putri Koster, mendukung peran suami, tidak harus selalu hadir setiap saat di sampingnya, saat meresmikan suatu acara. Namun, dengan kegiatan PKK dan Dekranasda, para istri berkontribusi dalam kegiatan sosial bersama-sama mewujudkan program Gubernur Bali, Nangun Sat Kethi Loka Bali. Ia berharap perempuan Bali da pat terinspirasi de ngan gerakan Marhaen dan Sarinah. Ny. Tjok Putri Hariyani Ardhana Sukawati berpandangan, seo rang ibu harus mamp u menjadikan anaknya berkualitas. Di situlah letak keberhasil an sebuah keluarga. Sebagai istri dari Wakil Gubernur Bali Tjokorda Oka Artha Ardana Sukawati, Ny. Tjok Hariyani mengatakan, harus bisa membagi waktu mendukung tugas suami, baik dalam suka dan duka. “Pe ran ini bisa memo-
tivasi suami dalam menjalankan tugasnya,” ujarnya. Ia mengatakan, sesuai aturan, istri Wakil Gubernur otomatis menjadi Wakil I Ketua PKK Provinsi Bali dan Wakil Ketua Dekranasda Provinsi Bali. Jadi, ia harus siap membantu tugas ketua semampunya. “Misalnya, saat ada pembinaan ke daerah, saya ditunjuk harus siap melaksanakan, kecuali saya berhalangan sakit. Itulah bentuk sinergitas kami dalam menjalankan peran sebagai pendukung suami,” kata Ny. Tjok Hariyani. Ia menilai, sudah banyak perempuan Bali yang berprestasi dan menjabat. Artinya, perempuan sudah berdaya. Urusan kemajuan perempuan tidak hanya soal jago masak dan berdandan. Banyak prestasi yang sudah dicapai perempuan. Hanya, ia mengingatkan, perempuan tidak boleh melupakan kodrat sebagai istri. Sementara, Ketua Dharma Wanita Persatuan (DWP) Provinsi Bali, Ny. Widiasmini Indra me ngatakan, sebagai organisasi para istri Aparat Sipil Negara (ASN) selama ini telah banyak mengambil peran penting dan strategis dalam upaya mendukung tugas-tugas suami sebagai aparatur sipil negara. “DWP dalam posisi sebagai mitra kerja pemerintah, maka akan mendukung program kerja pemerintah Provinsi Bali dalam mewujudkan Nangun Sat Kerthi Loka Bali. DWP mendorong anggota dalam mem-
Ny. Widiasmini Indra
berdayakan dirinya. DWP juga memperkuat kerjasama dalam mendukung pembangunan berkelanjut an,” ujar istri Sekda Dewa Indra ini. Ia menyebutkan, kegiatan DWP Bali yang telah dilakukan, bidang pendidikan telah melaksanakan pelatihan table manner, bidang ekonomi telah melaksanakan workshop pengelolaan koperasi dan ekonomi kreatif, dan bidang sosial budaya telah melaksanakan kegiatan papsmear. Ia mengatakan, DWP telah mendukung dan menyukseskan visi dan misi Pemerintah Provinsi Bali, dengan turut serta melaksanakan Bali Resik Sampah Plastik di pantai maupun di Pura, termasuk dalam kehidupan sehari-hari mengurangi penggunaan sampah palstik sekali pakai. “Di bidang busana kami menggunakan busana adat Bali yang baik dan sopan se suai pakem,” imbuhnya. Menurutnya, DWP selalu bersinergi dengan kegiatan PKK dan Dekranasda. “Apabila diberikan tugas kami siap melaksanakan, misalnya, apel bendera, HUT Provinsi Bali, sembahyang dll. Semua ke giatan DWP selalu kami laporkan, karena istri Gubernur sebagai penasihat kami,” kata Widiasmini Indra. Ia sangat yakin, sinergitas para istri pucuk pimpinan di Bali ini bisa menjadi semangat dan motivasi para perempuan untuk terus maju dan berkontribusi pada pemba ngunan Bali. (ast)
SUDUT PANDANG
4
EDISI 1050/ 30 SEPTEMBER - 6 OKTOBER 2019
EDISI 1050/ 30 SEPTEMBER - 6 OKTOBER 2019
D
ewi mengungkapkan sebagai tenaga pendidik merupakan sebuah tantangan besar untuk menerapkan nilai-nilai pancasila di perguruan tinggi. Sebagai dosen PPKN di jurusan Hukum dan Kewarganegaraan, mahasiswa tidak cukup diberikan teori tetapi juga diarahkan untuk dapat mengaplikasikan nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila.
“Secara konseptual bagaimana Pancasila itu terbentuk, bagaimana hari Kesaktian Pancasila bisa diperingati tentu mahasiswa akan cepat paham karena sifatnya hafalan. Tetapi yang perlu kami tekankan bagaimana mahasiswa bisa mengaplikasikan nilai-nilai tersebut dalam kehidupan sehari-hari,” ungkapnya. Istri dari Asisten Bidang Administrasi Umum Setda Buleleng ini mengatakan cara sederhana untuk menerapkan nilainilai Pancasila dalam kehidupan kampus dengan mengarahkan mahasiswa untuk
mengikuti berbagai organisasi utamanya di kampus. Dengan keikutsertaan dalam organisasi diharapkan mahasiswa dapat menempa ilmunya dan menerapkan kematangan intelektualnya, serta dapat berinovasi dan berkreativitas. “Dalam berorganisasi tentu mereka dapat membelajarkan diri seperti apa nanti jika mereka menjadi seorang pemimpin,” ungkap perempuan kelahiran 14 Mei 1987 tersebut. Lebih lanjut Dewi mengatakan meskipun saat ini sedang menguat isu disintegrasi bangsa, namun dirinya menjamin bahwa mahasiswa Undiksha khususnya di jurusan Hukum dan Kewarganegaraan masih dapat menjunjung tinggi nilai toleransi. Hal ini tercermin dari mahasiswa yang berada dalam satu jurusan yang bersifat heterogen. Dalam satu kelas,
13
Kisah Mal-Mal Legendaris yang “Mengenaskan”
Hargai Perbedaan Kultur
Tidak dapat dimungkiri saat ini bangsa Indonesia sedang mengalami degradasi moral terhadap generasi mudanya. Tantangan yang sangat berat ini tentu tidak terlepas dari memudarnya nilai-nilai nasionalisme dan melemahnya pengamalan-pengamalan nilai-nilai Pancasila. Hal tersebut diungkapkan oleh akademisi Undiksha Anak Agung Istri Dewi Adi Utami, M.Pd.
METROPOLITAN
Dewi mengatakan mahasiswa berasal dari beberapa wilayah di Indonesia. “Ada yang dari Papua, Sumatera, Kalimantan dan beberapa dari Bali. Ini membuktikan mereka tetap bisa menghargai perbedaan kultur,” imbuhnya. Adanya upaya dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan untuk memasukkan kembali Pendidikan Moral Pancasila mejadi mata pelajaran merupakan upaya strategis untuk menanggulangi degradasi moral anak bangsa. Akan tetapi dirinya menilai Pendidikan Kewarganegaraan saat ini sudah memiliki substansi umum dan terintegrasi dengan Pendidikan Moral Pancasila. “Sekarang tinggal bagaimana pendidik mengemas agar konsep-konsepnya dapat dipahami oleh mahasiswa,” tandasnya. (Wiwin Meliana)
Banyak pusat perbelanjaan di Jakarta makin sepi pengunjung. Padahal dulunya mal-mal itu hits di kalangan masyarakat Jakarta dan menjadi tongkrongan favorit kalangan muda. Kondisi yang memprihatinkan itu sebenarnya sudah berusaha diatasi dengan mencoba berbagai konsep termasuk perubahan layout untuk ‘penyegaran’ namun tetap saja belum mampu mengembalikan kondisi seperti semula.
Saling Memahami dan Saling Menghormati
AA. Istri Dewi Adi Utami
Bagi MA Dezire Mulyani, merefleksikan nilai-nilai Pancasila sudah ia lakukan dalam kehidupan sehari-hari. “Kebetulan keluarga saya juga ada juga yang menganut agama lain, jadi kami saling menghormati satu sama lain. Begitu juga, saat hari raya, saling mendukung ya saling bersilaturahmi,” ujar Kepala Dinas Pariwisata Kota Denpasar ini. Sementara di tempat kerjanya, ia juga memiliki staf dengan bermacam suku dan agama, sehingga toleransi dalam beragama terlihat harmonis. Ia mengatakan, tiap bulan selalu ada rapat dengan staf. Ia selalu memberikan kesempatan kepada para staf untuk menyampaikan pendapat. “Kami mencoba seperti keluarga saling mendukung satu sama lain. Pimpinan dan bawahan saling bekerja sama untuk mendukung lancarnya program-program kebijakan khususnya di bidang
pariwisata. Kalau ada masalah, pasti kami diskusikan,” imbuhnya. Mulyani mengaku miris juga melihat para generasi muda saat ini yang begitu getol dengan media sosial. Padahal, kata dia media sosial juga memberikan efek negatif jika disalahgunakan. Misalnya, begitu mudahnya orang terhasut dan menimbulkan keributan. Ia juga melihat saat ini banyak generasi muda suka demo. Dia sendiri mengaku bingung, apakah mereka demo sedang memperjuangkan sesuatu atau hanya ikut-ikutan demo. Apalagi sampai demo anarkis. “Ayo salurkan pendapat dengan benar. Jangan sampai demo berbuntut anarkis. Ada wakil rakyat yang bisa menampung aspirasi masyarakat,” kata Mulyani. Dengan pesatnya teknologi dan medsos, ia mengajak semua lapisan
masyarakat memanfaatkan dengan baik terutama generasi muda. “Dari medsos kita bisa belajar seperti kursus bahasa, komputer, mengembangkan hobi bahkan bisa untuk menambah penghasilan. Jadi harus bisa pintar memanfaatkan teknologi,” sarannya. Menurutnya, para generasi muda perlu wadah untuk berkreasi dan berekspresi. Sebenarnya media sosial adalah satu sarana dan ruang yang tak terbatas untuk menyalurkan itu. Ia berharap, dalam kehidupan sehari-hari, terutama dalam bermasyarakat, mari kita saling menghargai. Entah itu agama atau sukunya berbeda. Kita harus belajar memahami arti persatuan dan kesatuan yakni NKRI. Jangan jadikan perbedaan itu perpecahan, mari saling bekerja sama untuk mewujudkan Indonesia maju,” kata Mulyani. (Wirati Astiti).
Plaza semanggi
Y
Dezire Mulyani
Toleransi Satu Sama Lain Menjaga hubungan baik dan kerukunan hidup dengan kawan atau tetangga, memang menjadi salah satu cara menjaga lestarinya nilainilai Pancasila. Sebab dengan begitu, kehidupan yang damai menyejukkan dapat tercapai. Kedamaian ini terlihat di komplek-komplek permukiman warga yang berbeda etnis dan agama namun saling bertoleransi satu sama lain. Salah satunya di kompleks Kamasan perluasan Kota Mataram, warga Hindu dan Islam hidup berdampingan tanpa pernah sekalipun ada riak-riak keributan. Baiq Sabariah, warga Muslim yang sudah tinggal di sini sejak tahun 1980an mengaku nyaman tinggal di komplek ini puluhan tahun tanpa pernah ada masalah dengan tetangga. Begitu juga lainnya. Yang unik di kampung ini, ketika waktu Nyepi tiba, dimana warga Hindu melaksanakan kegiatan Nyepi, maka warga Muslim lainnya menghormati aktivitas ini dengan juga turu mematikan lampu setidaknya lampu teras agar tidak mengganggu
kegiatan Nyepi. Begitu juga dengan kendaraan yang terkadang lebih sering dimatikan saat memasuki gang-gang di mana ada warga Hindu sedang beribadah Nyepi. “Rasanya tidak pernah ada masalah kami yang tinggal di sini meski lain keyakinan,” ujar Sabar. Rasa saling menghargai ini juga dilakukan sebaliknya oleh warga Hindu kepada warga Muslim saat merayakan hari-hari besar keagamaannya. Begitulah, ketika nilai-nilai Pancasila diaplikasikan dengan rasa cinta damai, maka kehidupan akan berjalan dengan nyaman dan tentram. Kerukunan seperti ini juga terjalin antara Triana Wulandari yang seorang Muslim dengan rekan kerjanya di Balai Penyuluhan KB di Kecamatan Bolo Kabupaten Bima yang beragama Kristen. Ia berteman baik dengan Teresia, rekan kerja yang berasal dari Kupang, NTT ini. Meski menggunakan jilbab besar, Ana panggilannya, bergaul biasa saja dengan rekan kerjanya ini. Kebetulan sesama perempuan mer-
eka bahkan sering menghadiri acara bersama, jalan bersama dan bahkan saling pinjam meminjam satu sama lain. “Biasa saja, kami sering jalan bersama dan tidak jarang saling pinjam meminjam,” ujar Ana. Bagi Ana ini bukan semata-mata soal melestarikan nilai-nilai Pancasila melainkan saling menjaga kerukunan itu adalah bagian dari ajaran agamanya. Selain itu juga di lingkungan tempatnya tinggal, Ana juga rajin berbagi dengan tetangganya. SALURKAN HAK SUARA Selain Ana, Maya yang seorang guru juga senantiasa menjaga kerukunan dengan tetangga, sebagai wujud menghargai hak orang lain sebagaimana yang terkandung dalam nilai-nilai luhur Pancasila. Apalagi hidup bersama di sebuah kampung yang damai seperti Desa Rato di Bima, di tengah kesibukannya, Maya selalu berusaha mengikuti kegiatan-kegiatan sosial kemasyarakatan khususnya jika ada yang hajatan. Bersama ibu-ibu di
kampungnya, guru Bahasa Inggris ini menggunakan kesempatan gotong royong tersebut untuk bersilaturahmi mengeratkan persaudaraan. Di Desa Rato memang masih kental nuansa gotong royong khususnya para ibu saat akan ada tegangga yang hajatan. Mereka biasanya beramai-ramai hadir membuat kue, bumbu, memasak dan lainnya. Tidak itu saja, Maya selalu aktif mengikuti kegiatan “politik” di desa dengan tegap ikut menyalurkan hak suaranya ketika musim memilih
pemimpin sampai dengan kegiatan pemilihan Kepala Desa, BPD dan lainnya. Nilai-nilai Pancasila juga diajarkan oleh Maya kepada siswanya di sekolah dengan mengingatkan ibadah dan kedisiplinan dalam belajar, termasuk pula kerjasama dalam berbagai kegiatan. “Sebab hanya dengan kerjasama yang baik, siswa bisa saling mengetahui kawan masing-masing untuk kemudian bisa saling menghargai dan menghormati kepentingan satu sama lain,” kata Maya. (Naniek I. Taufan)
Glodok city
ang paling nyata adalah pusat perbelanjaan Sarinah yang berlokasi bilangan Jl Thamrin yang kerap terlihat sepi pengunjung. Ini bukan lantaran Jalan Thamrin kerap dilalui para pendemo yang ingin menyampaikan aspirasinya ke Istana di Jl Merdeka Barat, ataupun ke gedung-gedung pemerintahan di sekitar ‘Ring 1‘, namun gejala itu memang sudah terasa sejak beberapa waktu lalu. Jangan terkecoh melihat parkirannya yang selalu penuh mobil. Karena kebanyakan mobil-mobil yang terparkir di sana hanya menumpang parkir karena akan mengunjungi tempat-tempat di sekitar Sarinah. Bukan hanya Sarinah yang mengalami nasib ‘mengenaskan’ seperti itu. Banyak mal legendaris yang juga bernasib sama. Sebut saja Blok M Mal dan tempattempat belanja sekitarnya, pun bernasib sama. Padahal dulu, kawasan itu luar biasa ngetop. Plaza Semanggi pun setali tiga uang. Mal yang dulu sangat ramai karena letaknya yang strategis seberang Polda
foto-koran jakarta
Metro Jaya –persisnya di perempatan Jl Gatot Subroto-Jl Sudirman ini dulu menjadi tempat tongkrongan milenial, apalagi posisinya yang bersebelahan dengan Kampus Unika Atmajaya. Mal berkonsep lengkap mulai dari fashion, kuliner hingga hiburan seperti bioskop dll serta sarana olahraga. Pun kini sepi pengunjung. Hal senada juga terjadi di pusat-pusat perbelajaan legendaris lainnya. Seperti Harco Glodok, ITC Mangga Dua, Mal Pasar Pagi juga pusat perdagangan grosir Asemka yang semuanya berada di bilangan Jakarta Barat. Zaman sedang ‘hit-hit’ nya, setiap akhir pekan pusatpusat perbelanjaan itu sangat ramai di akhir pekan khususnya. Bus-bus dari luar kota yang membawa rombongan pelancong berbagai daerah selalu menjadikan tempat belanja berbagai barang ‘murah-meriah’ itu sebagai salah satu destinasi tujuan di Jakarta. Semua itu agaknya kini tinggal kenangan. Di Mal Mangga Dua, misalnya, yang dulunya laris manis, berubah sepi walaupun saat weekend.
Blok m sepi
foto istimewa
foto istimewa
Ilustrasi mal
JERITAN PEDAGANG HARCO GLODOK Apalagi Harco Glodok, kondisinya lebih parah. Sudah banyak toko yang tutup. Hanya di lantai satu saja masih terasa ada ‘kehidupan’ meski kebanyakan penjaga tokonya duduk melamun menunggu pembeli atau berbicang bersama sesama penjaga toko. “Harco Glodok tinggal tunggu matinya aja,” ucap Pak Ompong, pedagang warteg seputar Haco Glodok, Pinangsia, yang belasan tahun berjualan di sana. Warung wartegnya termasuk salah satu yang terkena imbas dari sepinya pengunjung Harco. Kalau dulu wartegnya laris manis dan harus berkali-kali masak untuk memenuhi permintaan pembeli, kini kondisi berbalik. Pengunjung wartegnya makin jarang, akibatnya dia rugi besar. “Saya sempat rugi banyak. Bayangin, sudah sediakan banyak masakan, tapi pembeli yang datang sedikit sekali. Akhirnya masakan-masakan itu dibuang. Lalu saya turunkan porsi masakan, juga ragamnya, tetap saja merugi. Hari ini saja, hanya beberapa orang yang datang. Lihat saja masakan –masakan itu Cuma lima jenis, tapi masih terlihat banyak,” keluhnya. “Saya sudah malas ke sana. Kan sekarang tempat-tempat belanja barang elektronik sudah banyak. Nggak perlu tawar menawar, harganya sudah pasti.
foto tripadvisor
Kalau di sana kan masih tawar-menawar, kalau kita nggak tahu harga barang, malah ujung-ujungnya jadi kemahalan,” ungkap Sari, yang kebetulan sedang memiliki urusan di kawasan itu. Harco Glodok dianggapnya sudah ketinggal zaman. Pandangan Sari ini seolah mewakili pelanggan lain yang juga lari meninggalkan Harco Glodok. “Sepi, sepiii banget,” kata seorang pelayan yang mengaku sejak pagi hingga jelang sore ini belum satu pun berhasil menjual barang. Ada yang datang, hanya beberapa orang, tapi hanya lihat-lihat, tanya-tanya, tapi tidak membeli. Situasi sepi ini sudah sejak beberapa tahun lalu, makin ke sini semakin memburuk. Namun, katanya, pemiliknya belum berniat menutup kiosnya. “Bos saya masih bertahan. Katanya tunggu,” begitu ujar si pedagang tentang sikap bosnya. Untungnya, katanya, dirinya dibayar bukan berdasarkan berapa unit yang berhasil dijual tapi dibayar tetap setiap bulan. Meski jumlahnya tidak besar, katanya, namun lumayan dibandingnya dirinya menganggur. Pak Ompong, 62 tahun, yang telah belasan tahun berdagang di sekitar Harco, mengaku, nyaris menyerah dengan kondisi yang ada. Bosnya, begitu ia bertutur, menyewa bangunan itu Rp 9 juta per bulan. Biaya sewa itu katanya sudah
diturunkan dari sebelumnya Rp15 juta per bulan. “Karena kondisi makin sepi, pemilik bangunan menurunkan sewanya jadi Rp 9 juta, Itu artinya, warung saya setiap hari minimal harus menghasilkan Rp 500 ribu per hari (hitungan 25 kali buka warteg),” jelasnya. Tapi masalahnya lanjut Pak Ompong, untuk mencapai angka minimal itu sangat sulit. “Kebanyang nggak warung saya ini sering tidak dapat pembeli satupun juga. Orang datang cuma ngopi, itupun hanya beberapa,” keluhnya. Lalu dia pun menujuk pedagang mie ayam yang gerobaknya tepat disamping pintu samping Harco Glodok. “Jangankan saya. Itu tukang mie ayam yang sudah belasan tahun jualan di situ sekarang menjerit banget. Dulu waktu Harco masih jaya, sehari dia menghabiskan 15 kg mie lebih. Sekarang, tidak sampai 7 kg mie sehari, itupun sering nggak abis. Harga semangkok Rp 15 ribu,” tutur Pak Ompong yang mengaku sudah menjalani macam-macam pekerjaan selama hidup di Jakarta. Pak Ompong menganalisa, selain semakin banyaknya sentra-sentra perdagangan, juga karena masyarakat lebih menahan diri untuk berbelanja. “Kayaknya sekarang ini kalau nggak barang itu dibutuhkan banget, masyarakat tuh nggak beli. Jadi masyarakat tuh belanja barang-barang yang perlu aja. Sekarang kan susah cari uang,” tuturnya. Mereka tinggal menunggu mati-nya saja. Jika kondisi tidak berubah, jika tidak ada terobosan, maka dalam waktu mendatang kawasan pusat perbelanjaan yang legendaris itu hanya tinggal kenangan. “Coba lihat deh di Gedung Glodok Plaza itu. Kios banyak yang tutup, nggak ada pengunjung. Sudah bertahun-tahun kayak gitu. Kasihan banget. Banyak teman saya juga sudah bangkrut. Beberapa masih bertahan sambil berharap ada perubahan,” ujarnya. Hal senada juga diungkap pedagang DVD yang berada di belakang Harco Glodok. Beberapa tahun lalu, katanya, lapak-lapak DVD masih ramai. Aneka film mulai dari film Barat, film India, Korea hingga Cina, dijual di sana. Genrenya pun macam-macam. Sekarang, semakin sepi. “Dulu orang yang berbelanja di Harco, sebagian menyempatkan diri berbelanja DVD. Apalagi harga per kepingnya di sini lebih murah dibanding beli di mal,” ujarnya. Namun Harco sepi, membuat pembeli DVD menyusut pula. Ditambah lagi, ujar si Engkoh, sekarang orang semakin mudah mendownload film-film yang diinginkannya lewat layanan online di dunia maya. “Di era internet, semua film dan serial dari berbagai jenis ada dan mudah di-download. Kalau dulu kan masih susah, tapi sekarang aksesnya sudah terbuka. Teksnya pun bahasa Indonesia. Masyarakat makin mudah mengakses apapun yang diinginkan lewat internet. Sementara penjual seperti kami makin lama makin lesu dan akhirnya mati,” keluhnya. (Diana Runtu)
12 Mindie Melanie Schreurs, perempuan kelahiran Belanda tahun 1987, jatuh cinta pada Indonesia sejak masa kanakkanak. Memiliki darah Jawa, membuat Mindie yang fasih berbahasa Indonesia memang kerap mengunjungi tanah air neneknya ini.
BUMI GORA
EDISI 1050/ 30 SEPTEMBER - 6 OKTOBER 2019
Merangkul yang Terpukul
Lewat Dongeng, KPK Ajari Anak Antikorupsi
D
difabel fisik di Lombok. Dengan pengalaman bekerja di Belanda ia merasa bisa mengembangkannya di Lombok. Sebab ia melihat banyak anak difabel yang berada di desa-desa yang diam di rumah tanpa bisa berbuat apa-apa dikarenakan keterbatasan pengetahuan dan akses pada orangtua. Selain itu juga ditemukan bahwa para kaum disabilitas khususnya fisik belum belum mendapatkan pelayanan yang maksimal. Itulah awal idenya mendirikan Lombok Care. Sejak itulah ia memutuskan untuk mendedikasikan dirinya bagi kaum difabel di Lombok.
Dan, di Lombok pulalah rasa cinta pada negeri ini pun semakin dalam ketika ia bertemu dengan pujaan hatinya yang seorang musisi bernama Apip Sutardi yang kemudian menikahinya di tahun 2011. Hidup di Lombok bagi Mindie bukanlah kebetulan semata, melainkan di sinilah ia melabuhkan dedikasinya untuk bekerja sosial bagi anak-anak disabilitas. Perhatiannya pada mereka yang hidupnya kurang beruntung dan masalah yang dialami kaum difabel membuat ia memutuskan untuk membantu mereka melalui yayasan Lombok Care yang didiri-
NTB Siap Sambut Moto GP 2021
“Reuni VIII Eks Pelajar Mataram-Lombok” yang berlangsung 23-25 Agustus 2019 berlangsung semarak dan penuh kekeluargaan. Reuni ini dihadiri 120 peserta yang datang dari berbagai wilayah seperti Mataram, Bandung, Medan, Balikpapan, Bogor, Malang, Surabaya, Denpasar hingga Kuala Lumpur. Kegiatan reuni kali ini dimeriahkan dengan berbagai acara, seperti fun walk, dan senam bersama di area Peninsula Island
BUNDA ANANDA
5
Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) selama ini dikenal hanya pada penindakan, padahal KPK telah melakukan upaya pencegahan dan edukasi menanamkan nilai antikorupsi di masyarakat. Hal itu tergambar saat bus KPK menyambangi Art Centre Denpasar, beberapa waktu lalu.
K
ecintaannya terhadap Indonesia pun akhirnya membawa ia belajar lebih serius lagi memperdalam bahasa dan kebudayaan Indonesia ketika di tahun 2010 ia mendapatkan beasiswa dari Kementerian Pendidikan RI. Beasiswa khusus orang asing untuk datang ke Indonesia guna belajar tentang seni budaya dan bahasa Indonesia. Mindie belajar di Pusat Bahasa Universitas Mataram selama dua tahun. Kedatangannya ke Lombok untuk belajar kala itu, bukanlah yang pertama bagi Mindie, melainkan telah lebih dari 10 kali ia mengunjungi Lombok baik untuk berwisata maupun untuk belajar. Ia jatuh hati pada Lombok ketika di tahun 2007 saat mendapat tugas dari kampusnya, untuk praktek lapangan di SLB Netra Selagalas Mataram. Tahun 2008 Mindie datang ke Bali dalam rangka menyelesaikan skripsinya yang bekerjasama dengan 4 SLB sehingga ia sering mengunjungi SLB yang ada di Bali dan Lombok. Di sanalah ia melihat bahwa belum ada pelayanan bagi
EDISI 1050/ 30 SEPTEMBER - 6 OKTOBER 2019
Nusa Dua. Selain itu juga dilakukan kunjungan wisata ke GWK & Puja Mandala, kemudian diakhiri dengan malam “Gala Dinner” di Mini Garden ITDC. “Gala Dinner” diselingi talk show bertemakan “Mendukung Kesiapan SDM Menyambut Moto GP 2021”. Hadir sebagai pembicara Lalu Gita Ariadi (Komisaris ITDC), Drs H.M. Nursiah (Sekda Lombok Tengah), Wayan Karioke (Direktur ITDC - Mandalika) serta Gede Wirata (pengusaha).
Melalui talk show itu pula, diharapkan dapat memberikan masukan terhadap kualitas penyelenggaraan kegiatan Moto GP 2021 sekaligus untuk menyampaikan informasi lebih luas kepada masyarakat mengenai acara tersebut. Selanjutnya dilaksankan serah terima dokumen dari Steering Comitee Bali, Dr Badjra Nadha kepada Dei Bawadiman sebagai koordinator penyelenggara “Reuni IX” yang bakal dilangsungkan di Jakarta. Karioke selaku ketua panitia menyampaikan terima kasih kepada seluruh peserta, pendukung serta para donatur sehingga ‘Reuni VIII Eks Pelajar MataramLombok” tersebut dapat terlaksana dengan sukses. Terlebih dengan banyaknya peserta dari luar daerah yang turut hadir. “Semoga setelah reuni ini semakin mempererat ikatan tali persaudaraan eks Pelajar Mataram Lombok dimanapun berada,” ujar Karioke. (Sri Ardhini)
kan oleh keluarga besarnya yang ada di Belanda. Tahun 2008 ia bersama keluarga besarnya mendirikan Lombok Care di Belanda yang kemudian menjadi support project utama bagi Lombok Care yang didirikannya tahun 2010 di Lombok. Lombok Care yang kini berdiri di atas tanah seluas hampir 23 are di Jalan Biduri No.25, Sandik, Batu Layar, Kabupaten Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat, kemudian resmi menjadi yayasan pada tahun 2012. Pada tahun 2013, Mindie lalu mendirikan Sekolah Luar Biasa Pelangi di bawah naungan Yayasan Lombok Care. Selain SLB Pelangi, Lombok Care juga memberikan layanan rehabilitasi khusus bagi mereka yang miskin atau tidak mampu. Mindie terbilang sangat bersemangat menjalani aktivitas sosialnya ini. Sebab baginya, inilah bagian penting dalam perjalanan hidupnya mendedikasikan dirinya bagi kaum difabel. Meski banyak
tantangan dalam bekerja sosial ini, Mindie merasa di sinilah ia menjadi bermanfaat dibandingkan ia harus berada di Belanda. Tidak kurang dari 120-an anak, dengan 35 yang belajar di SLB dan selebihnya menjalani rehabilitasi, Lombok Care menjadi tempat belajar dan juga sebagai tempat rehabilitasi bagi disabilitas fisik yang memperoleh terapi terjadwal. Mindie dengan Lombok Care nya ingin menghapus stigma rasa kasihan pada kaum disabilitas. Sebab keterbatasan mereka bukan untuk dikasihani dan selalu tergantung pada orang lain melainkan mereka harus diajarkan mandiri semaksimal yang mampu mereka lakukan. Mereka harus mampu berkarya, setidaknya untuk diri mereka sendiri. Mindie mengulurkan tangannya merangkul mereka yang terpukul akibat ketidakberuntungan. Dan ibu dari tiga anak ini telah memutuskan untuk mendedikasikan hidupnya bagi kaum disabilitas. (Naniek I. Taufan)
ony Mariantono, Kasatgas Kampanye KPK RI mengatakan, dalam roadshow bus KPK, berbagai kegiatan dilakukan untuk edukasi kepada milenial mulai dari siswa TK sampai kuliah. Uniknya, edukasi antikorupsi kepada anak TK dilakukan lewat mendongeng. Dengan memilih dua orang yang sudah dikenal piawai mendongeng, Kak Ade dan Bu Wayan, dua orang guru ini mendongeng di hadapan ratusan siswa TK di Denpasar. Menurut Dony, mengajarkan anak belajar antikorupsi haruslah dimulai dari hal sederhana. “Dalam permainan dan cerita mereka diajarkan mana yang merupakan hak mereka dan tidak. Jadi ketika mereka mengambil yang bukan hak mereka, itu sudah termasuk tindakan yang tidak terpuji,” tuturnya. Dony menambahkan, kegiatan bermain dan mendongeng juga harus menyenangkan agar anak-anak senang dan tertarik. Ia menilai, ketika mengundang anak-anak TK, otomatis mereka datang bersama orangtua dan gurunya. Ini bagus karena para guru juga tahu, kalau KPK juga memiliki banyak modul, film, dan buku dongeng yang bisa dipakai mengajar di kelas. “Ini juga PR kami ke depan, agar KPK tidak hanya dikenal dalam hal tindakan, tapi juga KPK memberikan edukasi kepada masyarakat tentang pencegahan korupsi,” kata Dony. Menurut Kak Ade, anak-anak diajak untuk mendengar cerita tentang hutan yang memiliki sumber daya alam yang melimpah, di sana terdapat seekor belalang malas dan semut yang rajin. Dari perumpamaan tersebut, anakanak diajarkan untuk bekerja keras dan belajar untuk tidak korupsi waktu. Kegiatan mendongeng bagi anakanak ini diharapkan dapat menimbulkan rasa keberanian di antara mereka, serta anak-anak diharapkan dapat lebih berani berekspresi. “Harapannya agar anak-anak bisa lebih berani, berani berekspresi, lebih interaktif, melalui cerita,” ujar Kak Ade. Salah seorang guru yang ikut mendampingi, Sarita mengatakan, mendidik anak dimulai dari melatih kejujuran terhadap anak-anaknya sedari dini. Kejujuran, menurut dia, bisa dicontohkan melalui sikap dan perilaku orangtua. “Prinsip yang paling mendasar itu, mengajarkan kejujuran. Tapi mengajarkan itu contohnya harus dari kita (orangtua) karena biasanya kita ngajarin anak-anak itu bohong, dengan bilang, ‘Bapak pergi sebentar ya, mau ke toilet dulu’. Padahal entah ke mana
gitu,” katanya. Hal tersebut, dampaknya akan membuat anak-anak belajar bahwa melakukan kebohongan adalah suatu yang benar dan sah saja jika dilakukan. “Lama-lama mereka belajar bahwa bohong itu tidak apa-apa. Jadi akan lebih baik jujur saja, meskipun kadang anak-anak nangis,” ucapnya. Menurut Dony, orangtua harus menghargai ketika anak-anak berani jujur, bukan justru memarahinya. Ia menilai, kejujuran adalah prinsip dasar seluruh nilai antikorupsi, maka orangtua patut mengajarkan kejujuran, sekalipun anak-anaknya melakukan kesalahan. Di KPK ada sembilan nilai integritas yakni jujur, peduli, mandiri, disiplin, tanggung jawab, kerja keras, berani, adil dan sederhana. Sembilan nilai itu harus dianut oleh anak-anak. BELAJAR DENGAN BOARD GAME KPK sudah mengubah konsep pembelajaran tentang pendidikan anti korupsi, yakni melalui board game (permainan berbasis papan atau kartu). Dengan board game, pendidikan anti korupsi jadi jauh lebih menyenangkan dan penetrasi penyerapannya juga jauh lebih tinggi. Sebanyak 12 judul board game yang dikembangkan KPK ini ditargetkan untuk berbagai kelompok sasaran, mulai dari PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini), SD, SMP, SMA, Perguruan Tinggi, hingga pendidikan pejabat Pegawai Negeri Sipil (PNS). Salah satu contoh board game keluaran KPK adalah Terajana, yang ditujukan kepada anak TK dan SD untuk belajar tentang intergritas dan kejujuran. Jika pemain berhasil menerapkan dua hal itu, dia akan menang dan mendapatkan harta karun. Kemudian, ada board game Keranjang Bolong yang juga mengajarkan kejujuran untuk anak PAUD. Di board game ini pemain diminta untuk tidak mengambil barang yang bukan haknya. Jika berhasil melakukannya maka dia yang akan menjadi pemenangnya. Ia berharap board game sebagai media pembelajaran anti korupsi bisa terserap 100 persen dan menanamkan pesan moral bagi anak-anak untuk menjauhi pungli, suap, dan hal lain yang bersifat korupsi. Board game sendiri bisa dimanfaatkan oleh keluarga yang hendak mengajarkan kebersamaan kepada anak-anak mereka, di tengah banjir game di perangkat mobile dan konsol. Dengan board game, anak bisa bermain bersana, bertatap muka, dan menjalin ikatan emosional. (Wirati Astiti)
Mendongeng Lima Menit Man Meri (2)
Dalam gubuk sederhana itu, Man Meri tidur gelisah. Ia ingat akan peristiwa sore tadi. Ia menyesal, mengapa ia memarahi anak bebek kecil itu. Bukankah anak kecil suka bermain-main? Ia juga ingat pesan ibunya, agar memelihara anak hewan itu sebaik-baiknya. Keesokan harinya, pagi-pagi benar, ia berangkat ke Timur Laut. Tak lupa ia juga membawa bekal makanan untuk si Meri. Setelah tiba di semak-semak yang lebat dan pohon-pohon yang besar, ia teringat pesan tetangganya. “Hati-hati di tempat yang angker itu, Nak!” Ia berusaha melawan kepercayaan tersebut. Ia harus berani menghadapi segala risiko. Ia harus bertanggungjawab atas kehilangan yang menjadi miliknya dan kesayangannya. Sambil sekali-sekali memanggil si Meri, ia menerobos semak-semak yang lebat. Tiba-tiba ia menemukan serokan kecil tergenang air. Ia yakin, si Memeri pasti lewat di tempat itu untuk minum. “Ri, ri, ri…!” panggilnya. Sia-sia. Ia menyusup ke semak yang tambah lebat. Akhirnya, setelah tiba di pohon yang besar, ia duduk beristirahat, sambil memikirkan arah mana yang akan dituju. Tiba-tiba sayup-sayup ia mendengar suara kwik, kwik, kwik…! Ia yakin, suara itu adalah suara si anak bebek kesayangannya. Ia menoleh mencari asal suara itu. Suara itu berasal dari sebuah gua yang berada di sebelah pangkal pohon besar itu. Perlahan-lahan ia melangkah ke sana. Sebelum menginjakkan kaki ke dalam gua, tibatiba ia dikejutkan oleh sesosok orang tua berpakaian putih-putih. “Mau ke mana kau, Cening? Apa yang kau cari?” tanya orang tua itu. Semula Man Meri takut dan gemetar. Namun sesaat kemudian ia berhasil menenangkan dirinya. “Maaf, Kakek!” jawabnya dengan sopan. “Hamba kehilangan memeri. Hamba dengar memeri itu memanggil-manggil hamba dari dalam gua.” “Kakek punya banyak bebek, ada yang besar dan ada memeri kecil-kecil. Kalau benar kau kehilangan, kau boleh ambil bebek itu.” Man Meri lalu memanggil anak bebeknya. “Ri, ri, ri….! Ri, ri, ri….!” “Kwik, kwik, kwik….! Kwik, kwik, kwik, ….!” Terdengar jawaban dari dalam gua. Kakek yang berkumis dan berjanggut putih itu masuk ke dalam gua. Sesaat kemudian ia keluar membawa seekor bebek. Kwek,
kwek, kwek…! “Inikah bebekmu?” kata kakek itu. “Bukan. Kek! Bebek hamba kecil, masih memeri.” Kakek itu masuk ke dalam gua lagi, kemudian keluar memperlihatkan bebek yang lain. “Inikah bebekmu?” “Bukan! Itu bukan bebek hamba. Bebek hamba masih kecil. Ia lusuh, lugu dan suka bermain-main.” “Inikah memerimu?” Kakek itu memperlihatkan anak bebek lainnya. “Kwik, kwik, kwik…!” Man Meri memeriksa anak bebek itu. Suara kwik, kwiknya agak berbeda dan kecil. Lalu jawabnya, “Bukan, itu bukan memeri hamba.” Kakek berjanggut putih itu berdiri termenung. “Aku tahu kau jujur,” katanya. Sebagai hadiah, ambillah semua bebek yang kuperlihatkan!” “Maaf, Kakek! Hamba hanya memiliki apa yang menjadi hak milik hamba. Dosa bagi hamba, kalau hamba menghaki yang bukan menjadi milik sendiri, walaupun nilainya jauh lebih besar.” Kakek itu masuk lagi ke dalam gua. Man Meri merasa putus harapan, sebab ia tidak menemukan anak bebek kesayangannya. Tapi, sesaat kemudian kakek yang berjanggut lebat dan putih itu muncul lagi dengan membawa dua ekor memeri. Memeri yang satu berteriak terus, memanggil-manggil Man Meri. “kwik, kwik, kwik … kwik, kwik, kwik …..!” Man Meri tahu, itulah anak bebek kesayangannya. Ia memeluk anak bebek itu dan menciumnya berkali-kali. Si Meri pun berteriak terus tanda bahagia. “Cening sungguh jujur dan sayang kepada hewan peliharaanmu. Sebagai hadiah, terimalah memeri yang satu lagi. Aku tahu memerimu betina, dan memeri yang satu lagi jantan. Peliharalah baik-baik!” Bagi Man Meri peristiwa kehilangan meri kesyangannya dan pertemuan dengan kakek yang baik hati itu sangat berarti dan mengharukan. Sebelum berpisah ia berkali-kali hormat dan mencium tangan sang Kakek, sebagai tanda terimakasih. Kali itu ia memiliki dua memeri, satu memeri warisan ibunya, dan satu lagi pemberian sang Kakek. Memeri pemberian kakek adalah hadiah kejujuran. Ia sangat menyayangi kedua memeri itu dan memperlakukannya secara adil. Kelak kemudian hari, Man Meri terkenal sebagai peternak bebek yang kaya raya. Walaupun kaya, ia tetap hidup sederhana dan tidak sombong. (Bali).
DARA
6
EDISI 1050/ 30 SEPTEMBER - 6 OKTOBER 2019
Claudia Emmanuela Santoso
Ciptakan Momen Spesial Bagi penggemar tayangan Mamamia di sebuah stasiun televisi mungkin masih ingat sosok salah satu finalisnya yang memukau, Claudia Emmanuela Santoso. Kala itu Audi—begitu namanya akrab disapa, masih 14 tahun memperdengarkan suaranya yang merdu di depan para juri. Sontak, para juri juga penonton memberi aplaus yang meriah. Sayang, kiprahnya di Mamamia ‘rontok’ gara-gara pooling SMS.
sumber instagram audi
Audi dan mentornya alice di panggung Voice of Germany
Rajin Ikut Kompetisi Minat Audi yang luar biasa Kegiatan paduan suara itu kemupada musik membuat pasangan dian dilanjutkannya di Munchen, Christine dan suaminya, Indra Jerman. Saat ini dia menjadi salah Gunawan Santoso, memasukkan satu anggota paduan suara gereja anaknya ke sekolah musik. Awal- Indonesia Munchen. Kalau memnya, tutur Christine yang tinggal di buka instagramnya maka bisa diliKecamatan Kedawung, Cirebon, hat banyak sekali tayangan terkait Jawa Barat, pihak sekolah musik kegiatan Audi menyanyi,termasuk itu kaget dan sepertinya agak menyanyi sambil memainkan alat keberatan lantaran Audi masih musik. terlalu kecil. Tidak hanya asyik seko“Mereka (pihak sekolah musik, namun dara l a h m u s i k ) s e p e rcantik berambut setinya sempat ragu bahu ini, juga rajin karena Audi masih ikut kompetisi kekecilan, masih menyanyi baik di balita. Saya bidaerahnya maulang, ya sudah, pun tingkat nacoba dulu saja. sional. Banyak Begitu Audi penghargaan diminta mediterimanya, nyanyi, baru di antaranya mereka tahu juara Singing kalau Audi Contest Subenar-benar perkidz You berbakat. To B e d a n Mereka juara Festibilang,’Wah val Lomba ini ada Seni Siswa bakat’,” tutur Nasional (FLChristine. S2N) tingkat Sebagai provinsi Jawa orangtua, paBarat. Dia juga parnya, dirinya pernah menjadi dan suami menkomposer musik Sumber instagram audi dukung penuh apa film layar lebar anak yang diinginkan anak yang berjudul ‘1000 Audi pertamanya itu. Sejak Balon’. Film termasuk kecil, mulai dari Audi mamasuk rekor Muri. suk sekolah musik hingga aktif Memang tidak semua keikutmengikuti berbagai macam lomba, sertaannya dalam ajang lomba selalu didampingi. Sebenarnya, berhasil. Sebut saja Idola Cilik, tambah Christine lagi, pihak The Mamamia, Audi gagal. Bahkan di Voice of Indonesia pun sempat Mamamia, meski setiap penampimenghubungi Audi untuk mengajak lannya selalu memukau juri, langikut serta dalam ajang itu. Namun kah Audi dihentikan oleh pooling sayangnya, Audi sudah terbang ke SMS. Menurut Christine, sejumlah Jerman untuk kuliah. kegagalan Audi di beberapa komApa yang dicapai anaknya saat petisi tidak membuatnya berkecil ini, tidak serta-merta, namun me- hati. lalui proses yang panjang. Belasan Dia justru semakin termotivasi tahun dia sekolah musik, terhitung untuk belajar memperbaiki diri mulai dari balita, TK, SD, SMP sehingga pada kesempatan menhingga SMA. Selain belajar olah datang bisa menjadi lebih baik vokal, dia pun menguasai sejumlah lagi. “Saya selalu mendorongnya, alat musik. Di Indonesia, Audi juga memberinya motivasi, sehingga terlibat aktif dalam paduan suara dia selalu semangat,” tambahnya. baik di sekolah maupun gereja. (Diana Runtu)
L
Momen wisuda sma
ima tahun telah berlalu, kini Audi telah menjadi mahasiswa. Dara yang Oktober mendatang berusia 19 tahun, memperdengarkan suara emasnya di ajang Blind Audition Voice of Germany. Lewat lagu ‘Never Enough’ yang merupakan soundtrack film ‘The Greatest Showman’, Audi menghipnotis para juri yang duduk membelakangi panggung. Ada empat juri, keempatnya seperti tak sabar ingin melihat tampang si penyanyi bersuara indah itu, lalu mereka pun ‘terbirit-birit’ memencet tombol merah ‘I Want You’ yang juga otomatis memutar bangku mereka menghadap panggung. Itulah cuplikan video Audi yang pekan lalu menjadi viral di medsos dan kisahnya mempesona juri di Jerman pun menghiasi media sosial hingga media-media mainstream di Tanah Air. Semua penasaran dan langsung mencari di kanal resmi Voice of Germany di youtube. Di kanal tersebut ditampilkan tiga peserta, salah satunya Claudia Emmanuela Santoso. Namun di antara peserta itu, video Claudia ditempatkan paling atas (utama) dengan judul ‘The Greatest Showman Cast?’ Sampai saat ini penampilan Claudia ini telah dilihat 9.494.694 viewer. Jauh meninggalkan peserta lainnya yang hanya ditonton 300 ribuan orang. Di kanal Voice of Germany itu dijelaskan sedikit (dalam bahasa Jerman) tentang Claudia yang datang dari Indonesia ke Jerman untuk belajar. Dia menciptakan momen spesial dengan
foto instagram audi
versinya ‘Never Enough’ . Penonton dan pelatih benar-benar dibuat terpana. Di Indonesia, entah siapa yang pertama kali mencuplik dan menyebarkannya di medsos, namun yang pasti pekan lalu ‘geger-lah’ masyarakat Indonesia. Yang bikin masyarakat bersukacita bukan hanya karena mendengar suara indah Audi tapi karena reaksi luar biasa yang ditunjukkan keempat juri itu, Mark, Alice, Sido dan Rea. Bahkan Alice sampai menangis haru dan langsung menuju panggung untuk memeluk Audi. Saat itu Audi yang begitu bahagia dengan respons para juri sempat merasa bingung lantaran keempat juri itu berkeinginan menjadi mentornya. Namun akhirnya Audi memutuskan memilih Alice Merton. “Kamu benarbenar menyentuh hati saya hari ini. Saya sangat berterima kasih. Saya
mengucapkan terima kasih banyak dari hati yang paling dalam. Saya benarbenar ingin melakukan ini denganmu,” ungkap Alice. INDONESIA MENDUKUNG Kebahagiaan Audi menjadi makin berlipat-lipat karena publik Indonesia dari berbagai kalangan pun mendukungnya. Para nitizen pun terus memelototi Voice of Germany menunggu kabar kiprah Audi selanjutnya. Termasuk para selebriti tanah air, seperti Rossa, Citra Kirana, Cathy Sharon, dll, termasuk Baim Wong yang begitu antusias mengunggah dukungan bagi Audi lewat instagramnya. “bosquee..Ini Orang Indonesia..Claudia Emmanuela Santoso..The Voice Germany. Claudia ..salam kenal.. bangga jadi thank uu..love alwayss,” tulis Baim. Dalam unggahan kedua kalinya Baim menulis,” Semua udah nonton video kamu.. 1 Indonesia sudah bangga sama km...Menangin yahhh..!!! Berbagai dukungan yang mengalir padanya lewat instagram memang tidak sempat dibalasnya satu-persatu. “Saya ingin mengucapkan terima kasih atas berita dan kata-kata indah yang telah Anda kirimkan kepada saya. Walaupun saya tidak bisa menjawab, suka atau memposting ulang semua tapi saya sudah baca semuanya! Saya sangat berterima kasih”. Tulis Audi dalam bahasa Jerman. Sebenarnya mengikuti audisi Voice of Germany hanyalah kegiatan sampingan Audi yang tengah mempersiapkan diri masuk University of Munich (Munchen). Lulus dari SMA BPK Penabur Cirebon, Audi langsung bertolak menuju Jerman untuk melanjutkan pendidikan. Namun di sana, dia tidak bisa langsung kuliah dia harus masuk pendidikan penyetaraan selama setahun. Menurut sang ibu, Christine Gunawan, anak pertamanya itu, memiliki hobi menyanyi sejak kecil. Bisa jadi, ucap Christine yang menemani Audi dalam ajang Mamamia, hobinya menyanyi itu menurun dari kakeknya. Gara-gara hobinya itu juga Christine menjadi lebih mudah membujuk Audi. “Kalau dia nangis atau rewel, tinggal disetelkan lagu saja, Audi langsung diam. Tidak nangis atau rewel lagi. Dia malah ikut menyanyi,” ungkap wanita 47 tahun itu. (Diana Runtu)
EDISI 1050/ 30 SEPTEMBER - 6 OKTOBER 2019
Bali merupakan salah satu daerah di Indonesia yang terkenal dengan tenunnya. Tenun meruapakan salah satu sarana seni yang patut dilestarikan. Kain ini kerap kali digunakan sebagai sarana upacara adat Bali. Dilihat dari cara pembuatannya, karya seni ini dibuat dengan menenun kain dari helaian benang pakan dan benang lungsin yang sebelumnya diikat dan dicelupkan ke dalam zat pewarna alami.
S
eiring
perkembangan dunia fashion, kain tenun kian mendapat tempat di hati masyarakat. tidak hanya digunakan sebagai busana adat ke Pura, saat ini kain tenun mulai digunakan sebagai seragam dan pakaian mengikuti mode yang sedang berkembang. Semakin tingginya minat peminat kain tenun terutama jenis endek, membuat penggagas sekaligus pemilik dari Pertenunan Artha Dharma, Ketut Rajin kian berinovasi. Selain tetap mempertahankan kualitas, rupanya mengikuti selera pasar dan membuat inovasi-inovasi dalam berkarya adalah kunci kesuksesan pertenunan terbesar di Buleleng ini. Menurut Rajin, tingginya minat masyarakat dengan kain endek semakin membuat dirinya menelurkan ide-ide ke dalam bentuk desain-desain. Desain yang berhasil ia buat merupakan inspirasi yang ia dapatkan dengan
ikon-ikon yang ada di Buleleng. Desain terbaru miliknya, seperti desain anggur dan bunga tunjung. Anggur merupakan ikon buah lokal yang dimiliki oleh Buleleng tepatnya berada di Kecamatan Banjar sedangkan tunjung merupakan bunga ikon Buleleng. “Kami selalu melakukan inovasi agar selalu diterima oleh konsumen, konsumen juga akan tahu kualitas kami yang tidak sama dengan barang yang beredar di pasaran. Sebab barang yang kami produksi tidak sampai ke pasaran kami produksi dengan jumlah terbatas dan langsung habis di sini,” ungkapnya. Selain berinovasi dari segi motif, pihaknya juga berinovasi dengan memadukan dua kain yang berbeda yaitu endek dan songket. Perpaduan produk ini menghasilkan kombinasi kain songket yang mewah dan endek yang merupakan kain tradisional menghasilkan inovasi yang sangat
11
Endek Buleleng
Inspirasi dari Ikon Lokal indah. Rajin mengklaim perpaduan songket dan endek merupakan yang pertama dilakukan di Buleleng. Bahkan setelah di cetak kain dengan perpaduan songket dan endek ini sangat menarik perhatian pembeli. “Ketika dicetak memang sangat diminati hanya saja karena songket dibuat dengan waktu yang lama maka harganya pun lumayan mahal,” ungkapnya. Sebagai pelaku usaha, Rajin tidak memungkiri jika perkembangan tekhnologi juga sangat berdampak terhadap perkembangan usahanya. Ketika dirinya sibuk membuat desain baru untuk mengikuti perkembangan mode, akan tetapi setelah banyak diminati banyak beredar motif-motif sama dengan sistem digital printing atau dicetak dalam jumlah besar. “Kita belum sempat produksi dengan jumlah banyak tapi sudah beredar barang tembakan. Keadaan ini memang tidak bisa kami tekan dan kendalikan tetapi untuk mengantisipasi ini seharusnya dapat dibuatkan hak paten,” ujar Rajin. Dalam pembuatan hak paten dibutuhkan waktu yang lama dan tidak mudah sehingga ketika dibuatkan hak paten maka minat masyarakat terhadap sebuah desain sudah ketinggalan. “Ya kalau bisa hari ini buat desain terus besok hak paten sudah jadi, tidak akan ada barang tiruan, tetapi kalau harus menunggu hak paten yang cukup lama maka
minat masyarakat terhadap desain itu sudah hilang,” tandasnya.
Desa Kalianget. Untuk itu, dirinya sangat mengapresiasi usaha para perajin yang sampai saat ini masih BAHAN BAKU MAHAL konsisten dalam melestarikan kain Sementara itu Ketua Dekranasda warisan leluhur Buleleng tersebut. Buleleng, Ny. Gusti Ayu Aries Sujati, “Beberapa kendala yang menjadi mengatakan masing-masing desa penghambat dalam membangkitkan yang menjadi sentra perkembangan kerajinan endek dan songket ini anendek dan songket memiliki motif tara lain kurangnya minat generasi dan corak yang berbeda-beda. Desa- muda untuk menggeluti kerajinan desa yang dinilainya masih melestari- ini, dan bahan baku yang mahal serta kan pertenunan endek atau songket sulit diperoleh,” terang istri Bupati saat ini antara lain di Kelurahan Be- Buleleng ini. ratan, Desa Tejakula, Desa Sinabun, Ia mengungkapkan banyak keraDesa Sawan, Desa Jinengdalem, dan jinan tenun dan juga songket yang ada di Kabupaten Buleleng miliki ciri tersendiri. Kain yang ada di Kabupaten Buleleng menggunakan bahan-bahan alami, serta mengunakan jenis pewarna natural dari alam sebagai bahan dasar pembuaatan kain. Sehingga corak warna dari kain tersebut tetap terlihat bagus.Hal ini diharapkan usaha kerajinan yang ada di Buleleng mampu berkembang dengan pesat serta memberikan dampak kesejahteraan kepada masyarakat khususnya para perajin. ”Saya pernah pergi keluar daerah melihat sentra-sentra kerajinan tapi di sana hanya ada satu jenis kerajinan saja beda dengan kita. Ke depan jika dikelola dengan baik dan kualitas desain yang bagus, saya yakin kain songket Buleleng akan banyak diminati,” Ketut Rajin menunjukkan desain terbaru pungkasnya. (Wiwin Meliana) perpaduan songket dengan endek
Merajut Kedamaian dalam “Lovina Festival 2019”
Nyoman Sutrisna
Claudia
BULELENG
Sport tourism dan Meeting, Incentive, Convention, and Exhibition (MICE) adalah dua strategi yang disiapkan Dispar Buleleng pada penyelenggaraan pariwisata di Kabupaten Buleleng. Kedua strategi tersebut dipastikan mampu tingkatkan kunjungan wisatawan ke Buleleng melalui Lovina Festival 2019 yang berlangsung 27-30 September 2019
di kawasan Pantai Lovina. “Di dalam sport tourism dan MICE ini tentu kita tidak meninggalkan visi misi Gubernur Bali dan Kementrian Pariwisata, yaitu seni budaya berdasarkan konsep Tri Hita Karana,” ujar Kadis Pariwisata Nyoman Sutrisna, Rabu (25/9). Hal ini merupakan strategi yang sangat kreatif dalam meningkatkan kunjungan wisata ke kabupaten Buleleng. Dua hal yang ingin dicapai dalam event tahunan ini pertama kunjungan pariwisata di kabupaten Buleleng meningkat dan wisatawan yang menginap bisa lebih lama lagi. “Kita mencoba bekerjasama dengan masyarakat dengan melakukan home stay dan juga bekerjasama dengan PHRI,” tambah Sutrisna. Ia menambahkan, terkait dengan agenda Lovfest 2019 yang mengambil tema “Cultivating Enternal Peace“ dalam artian merajut kedamaian ini akan dimeriahkan dengan berbagai kegiatan, mulai dari Wonderful Sail 2 Indonesia 2019, konsep kuliner nongkrong di pantai, pertunjukan seni budaya, hiburan rakyat, Lovina Glow Run, Color Run, open water swimming
tournament dan masih banyak lagi kegiatan lainnya seperti, pelatihan pemandu wisata alam khususnya wisata alam selam, gemar makan ikan, gemar makan buah, photo hunt & contest serta pameran UMKM & usaha kuliner. “Atraksi yang dilakukan tetap, sapi gerumbungan, megangsing dan
mekorot,” katanya. Sementara itu Asisten Bidang Ekonomi, Pembangunan dan Kesejahteraan Rakyat Setda Kabupaten Buleleng, Ni Made Rousmini, S.Sos mengatakan, target dari kunjungan pariwisata khususnya pada Lovfest 2019 diharapkan ada peningkatan dari
Pantai Lovina
tahun sebelumnya. Dengan berbagai upaya melalui promosi dan sosialisasi serta penyebaran informasi melalui media, baik media online, cetak, radio dan televisi kepada publik dipastikan Lovfest akan mampu mendatangkan kunjungan wisatawan baik lokal maupun mancanegara. (Wiwin Meliana)
STYLE
10
EDISI 1050/ 30 SEPTEMBER - 6 OKTOBER 2019
EDUKASI
EDISI 1050/ 30 SEPTEMBER - 6 OKTOBER 2019
7
Lima Siswa SD Dynata School Raih Prestasi Nasional dan Internasional Belum genap berusia tiga tahun, Dynata School sudah memiliki banyak prestasi. Lima Siswa SD Dynata School sudah unjuk prestasi meraih penghargaan tingkat nasional dan internasional.
M
Julianto, perancang muda Indonesia ini, sukses memper sembahkan 12 koleksi Spring-Summer 2020 di ajang pres tisius “New York Fashion Week 2020.” Karyanya menjadi penutup peragaan Indonesia Diversity di runway ‘Spring Studio,’ Senin. 9/9 di New York, Amerika Serikat. “Il Fiore” adalah tajuk yang dipilih Julianto un tuk mempresentasikan karyanya yang terinspi rasi dari bunga mawar. Bunga ini juga menjadi logo ‘Mojuya’, label yang dikeluarkannya saat pertama terjun sebagai perancang
busana. Julianto memunculkan mawar sebagai unsur mode dalam bentuk gelombang besar di dada, di pangkal lengan, atau di bagian bawah gaun. Koleksinya kali ini berselera muda dan memahami arah mode masa depan. Julianto menghadirkannya dalam ber bagai model, mulai dari gaun
panjang fit and flare, jaket, hingga atasan ketat dengan rok pensil. Ia juga memun culkan tren warna 2020, yakni hijau dan pink di an tara warna khasnya hitam dan putih. “Il Fiore” milik Julianto ini mempresentasikan adi busana dan ready to wear yang dikerjakannya secara apik. Sedangkan embellishment menambah kesan mewah yang juga menjadi gaya khas rancangannya.
ade Narendra Devdan Putra Mardiana peraih Gold dalam lomba sains yang digelar Science Global Finals tingkat provinsi Bali. Kemudian ia meraih silver dan perunggu di tingkat internasional di Kuala Lumpur. Karin Alegre Lazaro, meraih juara II tingkat Provinsi Bali dan juara I nasional dalam lomba Bahasa Inggris yang digelar English First. I Gusti Agung Elyn Nareswari dan I Gusti Agung Elysia Chandiswari, meraih juara I tingkat nasional dalam kejuaraan cheer leader. Ida Bagus Axel Setiawan meraih juara I tingkat Provinsi Bali dalam lomba robotic kategori mosaic. Pendiri sekaligus Pembina Dyanata School, Drs. Nyoman Winata, M.Hum., mengatakan, sangat bangga dengan prestasi siswanya tersebut. Walaupun, Dynata School baru berdiri tiga tahun, sudah banyak prestasi yang diraih. Ia mengatakan, Dynata School memiliki kelebihan dibandingkan sekolah lain. “Keunggulan kami, sejak dini siswa su dah diajarkan bahasa Inggris, terutama mereka dibiasakan berkomunikasi
dalam bahasa Inggris. Kemudian, kuri kulum kami mengacu pada kurikulum di Singapura, “ ujar lelaki yang pernah menyabet gelar Kepala Sekolah ber prestasi tingkat nasional saat menjabat Kepala SMAN 5 Denpasar ini. Ketua Yayasan Ni Wayan Nitaleari, S.S., menambahkan, Dyanata School juga memberikan kesempatan siswa untuk menggali potensi mereka dan tidak melupakan budaya lokal Bali. Ms. Indri, Kepala SD Dyanata School menyakini, kesuksesan yang telah diraih tentu tidak lepas dari, peran guru, sekolah, siswa, dan juga peran orangtua. “Sebagai sekolah swasta tentu kami harus bekerjasama dengan para orangtua agar hasil prestasi siswa lebih maksimal,” imbuhnya. Corry, pelatih cheerleader me ngatakan, memang tak mudah meng ajar anak usia dini untuk cheerleader. Yang dibutuhkan adalah kesabaran dan telaten. Untuk membuat mereka bisa fokus saja butuh kesabaran, apalagi mau mengajarkan beberapa gerakan. Dengan berbagai bakat ini, ia menilai, anak-anak menjadi lebih percaya diri karena me reka terbiasa tampil di depan umum.
Dari kiri: Nyoman Winata, lima siswa berprestasi dan Kepala SD Dynata School Ms. Indri. Dynata School, yang beralamat di Jalan Cokroaminoto Nomer 61 Den pasar ini, menerima siswa PAUD,TK, dan SD. Saat ini, jumlah siswa PAUD TK 50 orang dan SD 75 orang. Winata mengatakan, untuk menun jang prestasi siswa, ada beberapa ekstra wajib yang harus diikuti seperti
sains, matematika, bahasa Inggris, renang, cooking class, robotic, entre preneur, dan pramuka. Sementara, ekstra pilihan ada kabadi, musik, me lukis, yoga, dan tari Bali. Fasilitas yang ditawarkan seperti, kelas ber-AC, perpustakaan, bioskop mini, kom puter, tempat bermain indoor dan
Yoga untuk Fertility
(Sri Ardhini)
3
2
1
7
8
4
9
10
11
12
13
5
6
Gambar 1 s.d. Gambar 9 Ikuti pose-pose gambar dari pertama sampai terakhir, yakni pose berdiri dengan sikap tangan namaste mudra. Setiap pose dalam konsentrasi napas lakukan 3 kali putaran dan rileks. Semua pose untuk merilekskan badan, rasa, dan jiwa. Lakukan seluruh pose dengan sungguh-sungguh. Di setiap tarikan napas, dengan sadar niatkan dalam pikiran dan bawa napas ke kepala. Kemu dian niatkan juga napas keluar di kepala. Asana ini adalah dengan mengakses energi cahaya Tuhan. Jika melakukan dengan niat dan rutin dalam 3 hari, Anda akan mendapatkan hasil yang diinginkan.
Gambar 10 s.d. Gambar 13 Gambar berikutnya adalah sikap akhir untuk pendinginan. Selalu perhatikan gambar dan lakukan dengan rileks.
Foto-foto: Muara Bagdja
outdoor, dan guru yang berkualitas. “Dengan kelebihan yang ditawarkan Dynata School tentu merupakan tantangan ke depan untuk mencetak generasi muda dengan SDM unggul. Ke depan, kami juga sedang membangun untuk penambahan ruang kelas,” kata Winata. (ast)
Selamat berlatih dengan senyum Selalu sehat dalam yoga Model : Komang Sari dan Desy Guru Markandeya Yoga Indonesia Jakarta dan Bali
JELITA
8
Kiat Cantik Jaga Vitalitas Cantik itu relatif. Namun, sebaiknya, cantik dibarengi enarik. Demikian disampaikan Ni Luh Putu Mei Ardiani, m seorang wirausaha yang juga pemerhati busana adat Bali.
Ni Luh Putu Mei Ardiani a melihat, banyak orang cantik tapi tidak menarik. “Biasanya, ketika ada orang cantik lewat, seketika orang yang melihatnya berkata, “wah cantiknya”. Namun, kemudian setelah itu, biasa saja. Nah, bagaimana yang cantik ini bisa membuat orang terpesona kemudian, sehingga saat orang yang melihatnya mampu bertahan untuk tetap melihatnya beberapa detik kemudian,” kata perempuan yang akrab disapa Mei ini. Menurutnya, cantik dan menarik adalah satu paket. Bukan hanya cantik secara fisik, namun, juga punya wawasan yang luas. Artinya, saat diajak ngobrol dia mengerti dan nyambung. Jadi, tidak hanya wajahnya cantik, tapi
I
EDISI 1050/ 30 SEPTEMBER - 6 OKTOBER 2019
otaknya juga cerdas. “Banyak orang terlahir cantik. Begitu juga, kalau ingin wajah cantik, dipoles ke salon juga pasti cantik,” tuturnya. Mei mengatakan, kecantikan yang memancarkan inner beauty, akan terlihat jelas, ketika orang tersebut menyampaikan kecerdasannya. Saat diajak ngobrol, nyambung, dan ketika ditanya pendapat, dia juga bisa. Ada juga orang bilang cantik dan anggun. Menurutnya, anggun, itu bisa dikatakan dia tampil sederhana, tapi terlihat “berkelas”. Dalam berbusana dia tidak berlebihan, mungkin lebih cocok disebut sederhana, misalnya, dari model atau testur bahan, tidak terlalu berlebihan, namun, busana yang dipakai membuat orang lain berdecak kagum. “Kalau saya melihat, cantik dan anggun, itu dia tampil sederhana, tapi terlihat berkelas,” kata Mei. Orang yang terlihat anggun tidak tertarik untuk berbicara gosip. Dia lebih suka berbicara apa yang dianggap perlu untuk disampaikan. “Kelihatan dia seksi, dalam artian bukan berarti pakaian yang dikenakan ketat dan terbuka, tapi tampil sopan, anggun, cerdas dalam pembicaraan sehingga terlihat seksi,” imbuhnya. Menurut Mei, obrolan yang nyambung juga memberikan jawaban
yang bisa menginspirasi orang lain. Yang paling penting dia mau mendengarkan orang lain. Ketika ditanya dia menjawab seperlunya, bukannya suka memotong pembicaraan orang atau suka nyeplos asal. Lebih tepatnya disebut smart. “Jadi satu paket, cantik dan menarik, sehingga terlihat anggun dan seksi. Cantik dalam dan luar saling mendukung sehingga bisa tampil sempurna,” katanya. Fungsi busana adalah untuk menutupi tubuh sehingga kita bisa tampil wajar dan diterima dalam pergaulan. Saat ini tren busana sangat luar biasa, namun, hendaknya kita mengikuti tren disesuaikan dengan kondisi atau bentuk tubuh. Begitu juga busana adat. Dalam berbusana adat Bali, ada dua prinsip yang harus dipegang yakni etika dan estetika budaya. Seperti contoh kain brokat, disebut tidak boleh digunakan.
Sah-sah saja memakai kain brokat, namun, dalam pemilihan warna, bahan, motif, pilihlah yang tidak transparan dan warna lembut dan disesuaikan dengan acara yang kita hadiri. Kain brokat tentu akan lebih cocok dan mewah digunakan untuk acara pesta. “Misalnya, kita datang melayat, sebaiknya menggunakan pakaian yang warnanya tidak kontras, tanpa perhiasan dan make up yang tebal. Sesuai namanya, melayat dan turut berduka cita, busana yang kita gunakan pun harus disesuaikan dengan situasi, busana juga bisa menyampaikan pesan rasa toleransi dan turut berbela sungkawa,” kata Mei. Begitu juga, saat ngayah di banjar, gunakan pakaian adat madya, jangan terlalu berlebihan, apalagi sampai pakai bros yang besar. “Ketika kita memakai busana yang berbeda atau salah kostum, tentu hal itu akan membuat kita tidak nyaman sendiri, otomatis akan membuat kita tidak percaya diri,” kata Mei. Saat ke Pura, tidak ada aturan
KIAT CANTIK Kiat untuk menjaga agar cantik, kuncinya adalah vitalitas. Badan tidak lesu, loyo, atau lemah. “Dengan menjaga kesehatan tubuh, otomatis wajah juga terlihat segar dan ceria. Cantik di luar juga harus dibarengi dengan cantik di dalam. Saat badan kita sakit atau tidak fit, penampilan juga akan berpengaruh,” sarannya. Intinya, kalau ingin cantik, sebaiknya juga menjaga kesehatan badan dan pikiran. Kecantikan yang sempurna akan terlihat dari tampilan wajah yang memancarkan aura kebahagiaan, pikiran yang selalu positif thinking, tampil dengan busana sederhana, tidak berlebihan, dan disesuaikan dengan situasi dan kondisi. (Wirati Astiti)
Ny. Putri Koster Dorong Perkuat Budaya Kerja dan Leadership PKK
Gaya dengan Tas Kreasi
Berkreasi sendiri itulah yang dilakoni AA Sagung Anie Asmoro. Ditengah kesibukannya sebagai ketua KPAID Provinsi Bali, ia masih sempat menyalurkan hobinya menyulam. Bergabung bersama para ibu rumahtangga yang menyukai kerajinan tangan Bali Love Handmade, ia belajar membuat tas kreasi yang berbeda. “Bahan tas ini dari karung goni yang dilapisi pita yang disulam. Biasanya nyulam dengan benang tapi ini benang diganti pita. Jadi kelihatan lebih cantik,” ujar Anie Asmoro. Dengan memakai busana adat madya, hari Kamis adalah waktu berpakaian adat ke kantor. Untuk melengkapi penampilannya, ia membawa tas hasil kreasinya. Lengkap sudah penampilannya lebih terlihat beda dan tetap gaya. (Wirati Astiti).
yang mengharuskan memakai kebaya warna tertentu. Sebaiknya pilih warna yang tenang, seperti putih, pastel, atau kuning. “Untuk kamen, gunakan sampai mata kaki, jangan selutut seperti yang sering saya lihat. Rambut sebaiknya ditata rapi, pusung gonjer untuk remaja atau yang belum menikah. Pusung tagel untuk yang sudah menikah. Intinya, rambut jangan diurai, minimal diikat agar rapi,” kata Mei.
Ny. Putri Koster dan kader PKK asal Bali menerima penghargaan dalam Jambore Nasional PKK di Jakarta. Ketua Tim Penggerak Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (TP PKK) Provinsi Bali, Ny. Putri Koster mendorong anggotanya menggenjot gerakan Hatinya PKK (Halaman Asri, Teratur, Indah dan Nyaman). Gerakan ini ditujukan guna mendukung pemenuhan gizi keluarga hingga mendukung program kebersihan lingkungan. Hal ini diungkapkan Ny. Putri Suastini Koster saat menghadiri Pagelaran Parade Nusantara serangkaian Jambore Nasional Kader PKK Tahun 2019 di halaman terbuka Hotel Mercure Ancol, Jakarta Utara, Kami (26/9). Supaya program tersebut mencapai target maksimal, maka istri Gubernur Bali Wayan Koster ini meminta TP PKK kabupaten/kota memperkuat budaya kerja dengan disokong oleh leadership yang tangguh. Tujuannya lanjut Ny. Putri Koster, guna membantu pemerintah dalam
rangka menggerakan dan mengorganisir keluarga khususnya yang berada di wilayah perdesaan. Sehingga berbagai permasalahan yang terjadi di masyarakat mampu terselesaikan secara cepat. Salah satunya menuntaskan permasalah kasus stunting Hal ini pula kata dia, selaras dengan tema Jambore Nasional Kader PKK Tahun 2019, yakni “Tingkatkan Kinerja Kader PKK Melalui Pengelolaan Administrasi PKK”. Tema ini sengaja dipilih dengan salah satu alasannya agar PKK turut andil membantu pemerintah mengentaskan permasalahan stunting atau kurang gizi di tengah masyarakat. Khususnya yang berasal dari keluarga kurang mampu. Selain itu program lainnya adalah membantu pemerintah memperluas sosialisasi menjaga kebersihan lingkungan, khususnya mengurangi hal-hal berbau plastik.
“Contoh kecilnya adalah mencoba mensosialisasikan pentingnya penyiapan tong sampah bagi setiap rumah tangga. Bahkan di lingkungan terbuka agar masyarakat yang sedang di seputaran jalan raya tidak membuang sampah sembarangan sekaligus mampu mengurangi hal-hal yang berbau plastik,” ujarnya. Dengan begitu, PKK turut serta mendukung program strategis nasional. Yakni menggerakkan kepedulian individu akan masalah sampah dalam rangka membangun Indonesia yang bersih dan sehat. Sementara untuk kepentingan daerah, PKK Provinsi serta Kabupaten/ Kota diharapkan mampu berkreasi dan mengembangkan potensi yang ada untuk semakin memajukan daerahnya yang nantinya berimbas pada kesejahteraan ekonomi keluarga. Minimal setiap daerah memiliki tiga keunggulan dan identitas daerah yang bisa meningkatkan kualitas dan jumlah kunjungan wisatawan ke daerahnya. Yakni, pengembangan pariwisata, kuliner yang khas dan kerajinan daerah yang khas juga. PKK diminta mampu menggerakkan daerahnya untuk memiliki tiga keunggulan atau identitas daerahnya sehingga secara sinergitas mampu bekerjasama dengan baik antar instansi terkait Dengan adanya kelompok kerja yang membidangi pembinaan karakter keluarga, pendidikan dan peningkatan ekonomi keluarga, penguatan ketahanan keluarga dan kesehatan keluarga serta lingkungan maka PKK memiliki peran strategis dalam membangun keluarga yang sehat dan sejahtera. Pada Jambore Nasional kali ini, kader PKK asal Bali meraih prestasi juara ketiga untuk kategori kekompakan regu, dan juara 2 untuk lomba buah berantai yang melibatkan masing-masing sepuluh anggota TP PKK. (Wirati Astiti)
9
EDISI 1050/ 30 SEPTEMBER - 6 OKTOBER 2019
Mengguh Diusulkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda
Selain budaya, Buleleng juga kaya dengan kuliner. Beberapa daerah di Buleleng memiliki makanan khas yang terkenal hingga ke luar kabupaten. Blayag dan siobak misalnya. Namun ada juga makanan khas Buleleng yang tidak banyak orang tahu, padahal soal rasanya tidak perlu disangsikan lagi. Berkunjung ke Buleleng Timur, belum lengkap rasanya jika belum mencoba kuliner khas Kecamatan Tejakula. Kuliner berbahan dasar beras ini sangat mudah ditemui di wilayah Tejakula bagian timur. Mulai dari Desa Tejakula, Desa Les, Desa Penuktukan, Desa Sambirenteng, dan Desa Tembok. Bubuh mengguh makanan khas yang
wajib ada setiap upacara adat. Selain upacara adat, menu ini juga banyak dijual di warung-warung makan kaki lima di tepi jalan. Kebanyakan masyarakat mengonsumsinya sebagai menu sarapan. Biasanya bubur mengguh memiliki rasa gurih. Bagi Anda pencinta pedas, menu ini juga bisa dinikmati dengan rasa pedas yang benar-benar menggigit. Biasanya bubuh mengguh menggunakan beras yang dimasak agak lembek sehingga tekstur nasinya lebih lembut. Masyarakat Desa Les menyebut memasak menu ini relatif mudah. Cukup memasak ikan laut dengan base genep, sehingga muncul kaldu. Biasanya, bubur ini juga disajikan dengan makanan
pelengkap. Seperti kacang goreng, sayur bayam atau kangkung, juga toge. Sebagai salah satu makanan khas masyarakat Buleleng khususnya Desa Tejakula, tentu bubuh mengguh harus tetap dilestarikan dan diperkenalkan kepada masyarakat luas. Salah bentuk pelestarian makanan khas ini dengan selalu dihidangkan dalam berbagai festival yang digelar di Buleleng. Kepala Dinas Kebudayaan Kabupaten Buleleng, Drs. Gede Komang mengungkapkan makanan-makanan khas yang ada di Buleleng harus dijaga kelestariannya bahkan dikenalkan kepada masyarakat luas melalui berbagai event. Pada pagelaran Buleleng Festival
Agustus 2019 lalu, bubuh mengguh menjadi salah satu menu yang mengisi stand kuliner. Bahkan di hari pertama pembukaan Bulfest Dinas Kebudayaan dengan cuma-cuma membagikan ratusan porsi bubuh mengguh kepada pengunjung. “Dalam pagelaran Lovina Festival kali ini juga kami menyediakan 200 porsi bubuh mengguh kepada pengunjung. Ini sebagai salah satu cara kami untuk memperkenalkan kuliner khas Tejakula,” ungkap Gede Komang. Ia menuturkan secara intern pihaknya juga menggelar festival kuliner setiap minggu di kantor Dinas Kebudayaan. Salah satu menu yang dihadirkan yakni bubuh mengguh. Birokrat asal Desa Tejakula ini mengatakan tujuan dari festival kuliner intern ini untuk memperkenalkan resep bubuh mengguh dan membiasakan para staf untuk menyantap kuliner tersebut. “Sebelum kami memperkenal kepada masyara-
kat luas, maka kami harus tahu dan suka dulu makan mengguh sehingga untuk promosinya akan lebih mudah,” jelasnya. Gede Komang yang juga ahli dalam meracik bumbu mengguh ini mengatakan bahwa resep mengguh yang dibuat telah direkontruksi. Bahan-bahan yang dipakai tetap sama hanya saja cara pengolahannya yang berbeda. Jika dulu membuat mengguh dengan bumbu mentah, maka sebelum dicampur dengan bahan, maka bumbu mengguh akan ditongseng terlebih dahulu. “Kalau ditongseng bumbunya akan lebih harus dan rasanya lebih enak,” ujarnya. Sebagai makanan khas, tidak menutup kemungkinan jika bubuh mengguh nantinya akan diusulkan menjadi warisan budaya tak benda. Tidak hanya mengguh, dirinya juga berencana mengusulkan beberapa kuliner khas Buleleng lainnya. (Wiwin Meliana)
dipadukan dengan ikan bakar dan juga pilihan terong bakar dan sambal mentah yang segar. “Boleh minta langsung dimasakan sayur bening dan terong bakar, ini yang membuat sungguh sedap,” ungkap Rara, salah seorang pengunjung asal Ampenan yang sengaja datang untuk makan siang ke tempat ini. Harga yang ditawarkan pun relatif murah antara Rp 25.000-Rp 50.000 tergantung ukuran ikannya. Kawasan wisata kuliner ini
buka mulai pukul 11 siang sampai dengan pukul 10 malam. Usaha ini memberikan pemasukan yang berarti bagi penjual ikan bakar yang nota bene akhirnya menjadi salah satu mata pencaharian masyarakat setempat. Mereka memanfaatkan ramainya pengunjung di objek wisata sekitar sehingga banyak yang meninggalkan profesi lamanya sebagai pedagang ikan dan sayur di pasar. (Naniek I. Taufan)
Wisata Kuliner Ikan Bakar
Satu lagi tempat makan di Mataram yang menawarkan harga murah meriah. Lokasinya yang berada dekat objek wisata Loang Balok dan berjejer di pinggir jalan raya. Tempat makan ini menawarkan kekhasan ikan bakar dan pelecing serta sayur bening yang segar. Masyarakat Mataram mengenal lokasi kuliner ini dengan nama ikan bakar Loang Baloq. Meski belum terlalu lama menjadi tempat wisata kuliner, jejeran ikan bakar yang tampak di sepanjang kawasan Loang Baloq yang terletak di Kecamatan Sekarbela ini terbilang ramai pengunjung. Suasana yang santai dan tempat makan
serta menu yang sederhana menjadikan lokasi wisata kuliner ini asyik untuk makan siang dan juga makan malam. Para penjual ikan bakar ini berasal dari desa sekitar yang memanfaatkan banyaknya pengunjung yang datang ke Makam Loanq Balok dan juga pantai sekitarnya. Belum lagi, dekat kuliner yang berada di jalan Lingkar Selatan Mataram ini ada Pantai Gading dan juga Pantai Tanjung Karang. Wisata kuliner ini sudah ada sejak beberapa tahun terakhir. Para penjual ikan bakar memanfaatkan lahan di sepanjang kawasan ini sejak melihat prospek yang baik
untuk usaha kuliner. Apalagi lokasi kawasan ini sangat dekat dengan pantai sehingga ikan-ikan mudah diperoleh dari para nelayan setempat. Selain itu ikan berasal dari pasarpasar tradisional terdekat. “Ikanikan kami peroleh dari nelayan sekitar Pantai Tanjung Karang sehingga masih segar. Dan kami juga membeli di pasar-pasar tradisional di Mataram,” ungkap Takziah, salah seorang penjual ikan bakar di kawasan ini. Menariknya berwisata kuliner di sini adalah makanan yang disajikan, khususnya sayur bening yang fresh. Nikmat panas sayur bening
JELITA
8
Kiat Cantik Jaga Vitalitas Cantik itu relatif. Namun, sebaiknya, cantik dibarengi enarik. Demikian disampaikan Ni Luh Putu Mei Ardiani, m seorang wirausaha yang juga pemerhati busana adat Bali.
Ni Luh Putu Mei Ardiani a melihat, banyak orang cantik tapi tidak menarik. “Biasanya, ketika ada orang cantik lewat, seketika orang yang melihatnya berkata, “wah cantiknya”. Namun, kemudian setelah itu, biasa saja. Nah, bagaimana yang cantik ini bisa membuat orang terpesona kemudian, sehingga saat orang yang melihatnya mampu bertahan untuk tetap melihatnya beberapa detik kemudian,” kata perempuan yang akrab disapa Mei ini. Menurutnya, cantik dan menarik adalah satu paket. Bukan hanya cantik secara fisik, namun, juga punya wawasan yang luas. Artinya, saat diajak ngobrol dia mengerti dan nyambung. Jadi, tidak hanya wajahnya cantik, tapi
I
EDISI 1050/ 30 SEPTEMBER - 6 OKTOBER 2019
otaknya juga cerdas. “Banyak orang terlahir cantik. Begitu juga, kalau ingin wajah cantik, dipoles ke salon juga pasti cantik,” tuturnya. Mei mengatakan, kecantikan yang memancarkan inner beauty, akan terlihat jelas, ketika orang tersebut menyampaikan kecerdasannya. Saat diajak ngobrol, nyambung, dan ketika ditanya pendapat, dia juga bisa. Ada juga orang bilang cantik dan anggun. Menurutnya, anggun, itu bisa dikatakan dia tampil sederhana, tapi terlihat “berkelas”. Dalam berbusana dia tidak berlebihan, mungkin lebih cocok disebut sederhana, misalnya, dari model atau testur bahan, tidak terlalu berlebihan, namun, busana yang dipakai membuat orang lain berdecak kagum. “Kalau saya melihat, cantik dan anggun, itu dia tampil sederhana, tapi terlihat berkelas,” kata Mei. Orang yang terlihat anggun tidak tertarik untuk berbicara gosip. Dia lebih suka berbicara apa yang dianggap perlu untuk disampaikan. “Kelihatan dia seksi, dalam artian bukan berarti pakaian yang dikenakan ketat dan terbuka, tapi tampil sopan, anggun, cerdas dalam pembicaraan sehingga terlihat seksi,” imbuhnya. Menurut Mei, obrolan yang nyambung juga memberikan jawaban
yang bisa menginspirasi orang lain. Yang paling penting dia mau mendengarkan orang lain. Ketika ditanya dia menjawab seperlunya, bukannya suka memotong pembicaraan orang atau suka nyeplos asal. Lebih tepatnya disebut smart. “Jadi satu paket, cantik dan menarik, sehingga terlihat anggun dan seksi. Cantik dalam dan luar saling mendukung sehingga bisa tampil sempurna,” katanya. Fungsi busana adalah untuk menutupi tubuh sehingga kita bisa tampil wajar dan diterima dalam pergaulan. Saat ini tren busana sangat luar biasa, namun, hendaknya kita mengikuti tren disesuaikan dengan kondisi atau bentuk tubuh. Begitu juga busana adat. Dalam berbusana adat Bali, ada dua prinsip yang harus dipegang yakni etika dan estetika budaya. Seperti contoh kain brokat, disebut tidak boleh digunakan.
Sah-sah saja memakai kain brokat, namun, dalam pemilihan warna, bahan, motif, pilihlah yang tidak transparan dan warna lembut dan disesuaikan dengan acara yang kita hadiri. Kain brokat tentu akan lebih cocok dan mewah digunakan untuk acara pesta. “Misalnya, kita datang melayat, sebaiknya menggunakan pakaian yang warnanya tidak kontras, tanpa perhiasan dan make up yang tebal. Sesuai namanya, melayat dan turut berduka cita, busana yang kita gunakan pun harus disesuaikan dengan situasi, busana juga bisa menyampaikan pesan rasa toleransi dan turut berbela sungkawa,” kata Mei. Begitu juga, saat ngayah di banjar, gunakan pakaian adat madya, jangan terlalu berlebihan, apalagi sampai pakai bros yang besar. “Ketika kita memakai busana yang berbeda atau salah kostum, tentu hal itu akan membuat kita tidak nyaman sendiri, otomatis akan membuat kita tidak percaya diri,” kata Mei. Saat ke Pura, tidak ada aturan
KIAT CANTIK Kiat untuk menjaga agar cantik, kuncinya adalah vitalitas. Badan tidak lesu, loyo, atau lemah. “Dengan menjaga kesehatan tubuh, otomatis wajah juga terlihat segar dan ceria. Cantik di luar juga harus dibarengi dengan cantik di dalam. Saat badan kita sakit atau tidak fit, penampilan juga akan berpengaruh,” sarannya. Intinya, kalau ingin cantik, sebaiknya juga menjaga kesehatan badan dan pikiran. Kecantikan yang sempurna akan terlihat dari tampilan wajah yang memancarkan aura kebahagiaan, pikiran yang selalu positif thinking, tampil dengan busana sederhana, tidak berlebihan, dan disesuaikan dengan situasi dan kondisi. (Wirati Astiti)
Ny. Putri Koster Dorong Perkuat Budaya Kerja dan Leadership PKK
Gaya dengan Tas Kreasi
Berkreasi sendiri itulah yang dilakoni AA Sagung Anie Asmoro. Ditengah kesibukannya sebagai ketua KPAID Provinsi Bali, ia masih sempat menyalurkan hobinya menyulam. Bergabung bersama para ibu rumahtangga yang menyukai kerajinan tangan Bali Love Handmade, ia belajar membuat tas kreasi yang berbeda. “Bahan tas ini dari karung goni yang dilapisi pita yang disulam. Biasanya nyulam dengan benang tapi ini benang diganti pita. Jadi kelihatan lebih cantik,” ujar Anie Asmoro. Dengan memakai busana adat madya, hari Kamis adalah waktu berpakaian adat ke kantor. Untuk melengkapi penampilannya, ia membawa tas hasil kreasinya. Lengkap sudah penampilannya lebih terlihat beda dan tetap gaya. (Wirati Astiti).
yang mengharuskan memakai kebaya warna tertentu. Sebaiknya pilih warna yang tenang, seperti putih, pastel, atau kuning. “Untuk kamen, gunakan sampai mata kaki, jangan selutut seperti yang sering saya lihat. Rambut sebaiknya ditata rapi, pusung gonjer untuk remaja atau yang belum menikah. Pusung tagel untuk yang sudah menikah. Intinya, rambut jangan diurai, minimal diikat agar rapi,” kata Mei.
Ny. Putri Koster dan kader PKK asal Bali menerima penghargaan dalam Jambore Nasional PKK di Jakarta. Ketua Tim Penggerak Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (TP PKK) Provinsi Bali, Ny. Putri Koster mendorong anggotanya menggenjot gerakan Hatinya PKK (Halaman Asri, Teratur, Indah dan Nyaman). Gerakan ini ditujukan guna mendukung pemenuhan gizi keluarga hingga mendukung program kebersihan lingkungan. Hal ini diungkapkan Ny. Putri Suastini Koster saat menghadiri Pagelaran Parade Nusantara serangkaian Jambore Nasional Kader PKK Tahun 2019 di halaman terbuka Hotel Mercure Ancol, Jakarta Utara, Kami (26/9). Supaya program tersebut mencapai target maksimal, maka istri Gubernur Bali Wayan Koster ini meminta TP PKK kabupaten/kota memperkuat budaya kerja dengan disokong oleh leadership yang tangguh. Tujuannya lanjut Ny. Putri Koster, guna membantu pemerintah dalam
rangka menggerakan dan mengorganisir keluarga khususnya yang berada di wilayah perdesaan. Sehingga berbagai permasalahan yang terjadi di masyarakat mampu terselesaikan secara cepat. Salah satunya menuntaskan permasalah kasus stunting Hal ini pula kata dia, selaras dengan tema Jambore Nasional Kader PKK Tahun 2019, yakni “Tingkatkan Kinerja Kader PKK Melalui Pengelolaan Administrasi PKK”. Tema ini sengaja dipilih dengan salah satu alasannya agar PKK turut andil membantu pemerintah mengentaskan permasalahan stunting atau kurang gizi di tengah masyarakat. Khususnya yang berasal dari keluarga kurang mampu. Selain itu program lainnya adalah membantu pemerintah memperluas sosialisasi menjaga kebersihan lingkungan, khususnya mengurangi hal-hal berbau plastik.
“Contoh kecilnya adalah mencoba mensosialisasikan pentingnya penyiapan tong sampah bagi setiap rumah tangga. Bahkan di lingkungan terbuka agar masyarakat yang sedang di seputaran jalan raya tidak membuang sampah sembarangan sekaligus mampu mengurangi hal-hal yang berbau plastik,” ujarnya. Dengan begitu, PKK turut serta mendukung program strategis nasional. Yakni menggerakkan kepedulian individu akan masalah sampah dalam rangka membangun Indonesia yang bersih dan sehat. Sementara untuk kepentingan daerah, PKK Provinsi serta Kabupaten/ Kota diharapkan mampu berkreasi dan mengembangkan potensi yang ada untuk semakin memajukan daerahnya yang nantinya berimbas pada kesejahteraan ekonomi keluarga. Minimal setiap daerah memiliki tiga keunggulan dan identitas daerah yang bisa meningkatkan kualitas dan jumlah kunjungan wisatawan ke daerahnya. Yakni, pengembangan pariwisata, kuliner yang khas dan kerajinan daerah yang khas juga. PKK diminta mampu menggerakkan daerahnya untuk memiliki tiga keunggulan atau identitas daerahnya sehingga secara sinergitas mampu bekerjasama dengan baik antar instansi terkait Dengan adanya kelompok kerja yang membidangi pembinaan karakter keluarga, pendidikan dan peningkatan ekonomi keluarga, penguatan ketahanan keluarga dan kesehatan keluarga serta lingkungan maka PKK memiliki peran strategis dalam membangun keluarga yang sehat dan sejahtera. Pada Jambore Nasional kali ini, kader PKK asal Bali meraih prestasi juara ketiga untuk kategori kekompakan regu, dan juara 2 untuk lomba buah berantai yang melibatkan masing-masing sepuluh anggota TP PKK. (Wirati Astiti)
9
EDISI 1050/ 30 SEPTEMBER - 6 OKTOBER 2019
Mengguh Diusulkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda
Selain budaya, Buleleng juga kaya dengan kuliner. Beberapa daerah di Buleleng memiliki makanan khas yang terkenal hingga ke luar kabupaten. Blayag dan siobak misalnya. Namun ada juga makanan khas Buleleng yang tidak banyak orang tahu, padahal soal rasanya tidak perlu disangsikan lagi. Berkunjung ke Buleleng Timur, belum lengkap rasanya jika belum mencoba kuliner khas Kecamatan Tejakula. Kuliner berbahan dasar beras ini sangat mudah ditemui di wilayah Tejakula bagian timur. Mulai dari Desa Tejakula, Desa Les, Desa Penuktukan, Desa Sambirenteng, dan Desa Tembok. Bubuh mengguh makanan khas yang
wajib ada setiap upacara adat. Selain upacara adat, menu ini juga banyak dijual di warung-warung makan kaki lima di tepi jalan. Kebanyakan masyarakat mengonsumsinya sebagai menu sarapan. Biasanya bubur mengguh memiliki rasa gurih. Bagi Anda pencinta pedas, menu ini juga bisa dinikmati dengan rasa pedas yang benar-benar menggigit. Biasanya bubuh mengguh menggunakan beras yang dimasak agak lembek sehingga tekstur nasinya lebih lembut. Masyarakat Desa Les menyebut memasak menu ini relatif mudah. Cukup memasak ikan laut dengan base genep, sehingga muncul kaldu. Biasanya, bubur ini juga disajikan dengan makanan
pelengkap. Seperti kacang goreng, sayur bayam atau kangkung, juga toge. Sebagai salah satu makanan khas masyarakat Buleleng khususnya Desa Tejakula, tentu bubuh mengguh harus tetap dilestarikan dan diperkenalkan kepada masyarakat luas. Salah bentuk pelestarian makanan khas ini dengan selalu dihidangkan dalam berbagai festival yang digelar di Buleleng. Kepala Dinas Kebudayaan Kabupaten Buleleng, Drs. Gede Komang mengungkapkan makanan-makanan khas yang ada di Buleleng harus dijaga kelestariannya bahkan dikenalkan kepada masyarakat luas melalui berbagai event. Pada pagelaran Buleleng Festival
Agustus 2019 lalu, bubuh mengguh menjadi salah satu menu yang mengisi stand kuliner. Bahkan di hari pertama pembukaan Bulfest Dinas Kebudayaan dengan cuma-cuma membagikan ratusan porsi bubuh mengguh kepada pengunjung. “Dalam pagelaran Lovina Festival kali ini juga kami menyediakan 200 porsi bubuh mengguh kepada pengunjung. Ini sebagai salah satu cara kami untuk memperkenalkan kuliner khas Tejakula,” ungkap Gede Komang. Ia menuturkan secara intern pihaknya juga menggelar festival kuliner setiap minggu di kantor Dinas Kebudayaan. Salah satu menu yang dihadirkan yakni bubuh mengguh. Birokrat asal Desa Tejakula ini mengatakan tujuan dari festival kuliner intern ini untuk memperkenalkan resep bubuh mengguh dan membiasakan para staf untuk menyantap kuliner tersebut. “Sebelum kami memperkenal kepada masyara-
kat luas, maka kami harus tahu dan suka dulu makan mengguh sehingga untuk promosinya akan lebih mudah,” jelasnya. Gede Komang yang juga ahli dalam meracik bumbu mengguh ini mengatakan bahwa resep mengguh yang dibuat telah direkontruksi. Bahan-bahan yang dipakai tetap sama hanya saja cara pengolahannya yang berbeda. Jika dulu membuat mengguh dengan bumbu mentah, maka sebelum dicampur dengan bahan, maka bumbu mengguh akan ditongseng terlebih dahulu. “Kalau ditongseng bumbunya akan lebih harus dan rasanya lebih enak,” ujarnya. Sebagai makanan khas, tidak menutup kemungkinan jika bubuh mengguh nantinya akan diusulkan menjadi warisan budaya tak benda. Tidak hanya mengguh, dirinya juga berencana mengusulkan beberapa kuliner khas Buleleng lainnya. (Wiwin Meliana)
dipadukan dengan ikan bakar dan juga pilihan terong bakar dan sambal mentah yang segar. “Boleh minta langsung dimasakan sayur bening dan terong bakar, ini yang membuat sungguh sedap,” ungkap Rara, salah seorang pengunjung asal Ampenan yang sengaja datang untuk makan siang ke tempat ini. Harga yang ditawarkan pun relatif murah antara Rp 25.000-Rp 50.000 tergantung ukuran ikannya. Kawasan wisata kuliner ini
buka mulai pukul 11 siang sampai dengan pukul 10 malam. Usaha ini memberikan pemasukan yang berarti bagi penjual ikan bakar yang nota bene akhirnya menjadi salah satu mata pencaharian masyarakat setempat. Mereka memanfaatkan ramainya pengunjung di objek wisata sekitar sehingga banyak yang meninggalkan profesi lamanya sebagai pedagang ikan dan sayur di pasar. (Naniek I. Taufan)
Wisata Kuliner Ikan Bakar
Satu lagi tempat makan di Mataram yang menawarkan harga murah meriah. Lokasinya yang berada dekat objek wisata Loang Balok dan berjejer di pinggir jalan raya. Tempat makan ini menawarkan kekhasan ikan bakar dan pelecing serta sayur bening yang segar. Masyarakat Mataram mengenal lokasi kuliner ini dengan nama ikan bakar Loang Baloq. Meski belum terlalu lama menjadi tempat wisata kuliner, jejeran ikan bakar yang tampak di sepanjang kawasan Loang Baloq yang terletak di Kecamatan Sekarbela ini terbilang ramai pengunjung. Suasana yang santai dan tempat makan
serta menu yang sederhana menjadikan lokasi wisata kuliner ini asyik untuk makan siang dan juga makan malam. Para penjual ikan bakar ini berasal dari desa sekitar yang memanfaatkan banyaknya pengunjung yang datang ke Makam Loanq Balok dan juga pantai sekitarnya. Belum lagi, dekat kuliner yang berada di jalan Lingkar Selatan Mataram ini ada Pantai Gading dan juga Pantai Tanjung Karang. Wisata kuliner ini sudah ada sejak beberapa tahun terakhir. Para penjual ikan bakar memanfaatkan lahan di sepanjang kawasan ini sejak melihat prospek yang baik
untuk usaha kuliner. Apalagi lokasi kawasan ini sangat dekat dengan pantai sehingga ikan-ikan mudah diperoleh dari para nelayan setempat. Selain itu ikan berasal dari pasarpasar tradisional terdekat. “Ikanikan kami peroleh dari nelayan sekitar Pantai Tanjung Karang sehingga masih segar. Dan kami juga membeli di pasar-pasar tradisional di Mataram,” ungkap Takziah, salah seorang penjual ikan bakar di kawasan ini. Menariknya berwisata kuliner di sini adalah makanan yang disajikan, khususnya sayur bening yang fresh. Nikmat panas sayur bening
STYLE
10
EDISI 1050/ 30 SEPTEMBER - 6 OKTOBER 2019
EDUKASI
EDISI 1050/ 30 SEPTEMBER - 6 OKTOBER 2019
7
Lima Siswa SD Dynata School Raih Prestasi Nasional dan Internasional Belum genap berusia tiga tahun, Dynata School sudah memiliki banyak prestasi. Lima Siswa SD Dynata School sudah unjuk prestasi meraih penghargaan tingkat nasional dan internasional.
M
Julianto, perancang muda Indonesia ini, sukses memper sembahkan 12 koleksi Spring-Summer 2020 di ajang pres tisius “New York Fashion Week 2020.” Karyanya menjadi penutup peragaan Indonesia Diversity di runway ‘Spring Studio,’ Senin. 9/9 di New York, Amerika Serikat. “Il Fiore” adalah tajuk yang dipilih Julianto un tuk mempresentasikan karyanya yang terinspi rasi dari bunga mawar. Bunga ini juga menjadi logo ‘Mojuya’, label yang dikeluarkannya saat pertama terjun sebagai perancang
busana. Julianto memunculkan mawar sebagai unsur mode dalam bentuk gelombang besar di dada, di pangkal lengan, atau di bagian bawah gaun. Koleksinya kali ini berselera muda dan memahami arah mode masa depan. Julianto menghadirkannya dalam ber bagai model, mulai dari gaun
panjang fit and flare, jaket, hingga atasan ketat dengan rok pensil. Ia juga memun culkan tren warna 2020, yakni hijau dan pink di an tara warna khasnya hitam dan putih. “Il Fiore” milik Julianto ini mempresentasikan adi busana dan ready to wear yang dikerjakannya secara apik. Sedangkan embellishment menambah kesan mewah yang juga menjadi gaya khas rancangannya.
ade Narendra Devdan Putra Mardiana peraih Gold dalam lomba sains yang digelar Science Global Finals tingkat provinsi Bali. Kemudian ia meraih silver dan perunggu di tingkat internasional di Kuala Lumpur. Karin Alegre Lazaro, meraih juara II tingkat Provinsi Bali dan juara I nasional dalam lomba Bahasa Inggris yang digelar English First. I Gusti Agung Elyn Nareswari dan I Gusti Agung Elysia Chandiswari, meraih juara I tingkat nasional dalam kejuaraan cheer leader. Ida Bagus Axel Setiawan meraih juara I tingkat Provinsi Bali dalam lomba robotic kategori mosaic. Pendiri sekaligus Pembina Dyanata School, Drs. Nyoman Winata, M.Hum., mengatakan, sangat bangga dengan prestasi siswanya tersebut. Walaupun, Dynata School baru berdiri tiga tahun, sudah banyak prestasi yang diraih. Ia mengatakan, Dynata School memiliki kelebihan dibandingkan sekolah lain. “Keunggulan kami, sejak dini siswa su dah diajarkan bahasa Inggris, terutama mereka dibiasakan berkomunikasi
dalam bahasa Inggris. Kemudian, kuri kulum kami mengacu pada kurikulum di Singapura, “ ujar lelaki yang pernah menyabet gelar Kepala Sekolah ber prestasi tingkat nasional saat menjabat Kepala SMAN 5 Denpasar ini. Ketua Yayasan Ni Wayan Nitaleari, S.S., menambahkan, Dyanata School juga memberikan kesempatan siswa untuk menggali potensi mereka dan tidak melupakan budaya lokal Bali. Ms. Indri, Kepala SD Dyanata School menyakini, kesuksesan yang telah diraih tentu tidak lepas dari, peran guru, sekolah, siswa, dan juga peran orangtua. “Sebagai sekolah swasta tentu kami harus bekerjasama dengan para orangtua agar hasil prestasi siswa lebih maksimal,” imbuhnya. Corry, pelatih cheerleader me ngatakan, memang tak mudah meng ajar anak usia dini untuk cheerleader. Yang dibutuhkan adalah kesabaran dan telaten. Untuk membuat mereka bisa fokus saja butuh kesabaran, apalagi mau mengajarkan beberapa gerakan. Dengan berbagai bakat ini, ia menilai, anak-anak menjadi lebih percaya diri karena me reka terbiasa tampil di depan umum.
Dari kiri: Nyoman Winata, lima siswa berprestasi dan Kepala SD Dynata School Ms. Indri. Dynata School, yang beralamat di Jalan Cokroaminoto Nomer 61 Den pasar ini, menerima siswa PAUD,TK, dan SD. Saat ini, jumlah siswa PAUD TK 50 orang dan SD 75 orang. Winata mengatakan, untuk menun jang prestasi siswa, ada beberapa ekstra wajib yang harus diikuti seperti
sains, matematika, bahasa Inggris, renang, cooking class, robotic, entre preneur, dan pramuka. Sementara, ekstra pilihan ada kabadi, musik, me lukis, yoga, dan tari Bali. Fasilitas yang ditawarkan seperti, kelas ber-AC, perpustakaan, bioskop mini, kom puter, tempat bermain indoor dan
Yoga untuk Fertility
(Sri Ardhini)
3
2
1
7
8
4
9
10
11
12
13
5
6
Gambar 1 s.d. Gambar 9 Ikuti pose-pose gambar dari pertama sampai terakhir, yakni pose berdiri dengan sikap tangan namaste mudra. Setiap pose dalam konsentrasi napas lakukan 3 kali putaran dan rileks. Semua pose untuk merilekskan badan, rasa, dan jiwa. Lakukan seluruh pose dengan sungguh-sungguh. Di setiap tarikan napas, dengan sadar niatkan dalam pikiran dan bawa napas ke kepala. Kemu dian niatkan juga napas keluar di kepala. Asana ini adalah dengan mengakses energi cahaya Tuhan. Jika melakukan dengan niat dan rutin dalam 3 hari, Anda akan mendapatkan hasil yang diinginkan.
Gambar 10 s.d. Gambar 13 Gambar berikutnya adalah sikap akhir untuk pendinginan. Selalu perhatikan gambar dan lakukan dengan rileks.
Foto-foto: Muara Bagdja
outdoor, dan guru yang berkualitas. “Dengan kelebihan yang ditawarkan Dynata School tentu merupakan tantangan ke depan untuk mencetak generasi muda dengan SDM unggul. Ke depan, kami juga sedang membangun untuk penambahan ruang kelas,” kata Winata. (ast)
Selamat berlatih dengan senyum Selalu sehat dalam yoga Model : Komang Sari dan Desy Guru Markandeya Yoga Indonesia Jakarta dan Bali
DARA
6
EDISI 1050/ 30 SEPTEMBER - 6 OKTOBER 2019
Claudia Emmanuela Santoso
Ciptakan Momen Spesial Bagi penggemar tayangan Mamamia di sebuah stasiun televisi mungkin masih ingat sosok salah satu finalisnya yang memukau, Claudia Emmanuela Santoso. Kala itu Audi—begitu namanya akrab disapa, masih 14 tahun memperdengarkan suaranya yang merdu di depan para juri. Sontak, para juri juga penonton memberi aplaus yang meriah. Sayang, kiprahnya di Mamamia ‘rontok’ gara-gara pooling SMS.
sumber instagram audi
Audi dan mentornya alice di panggung Voice of Germany
Rajin Ikut Kompetisi Minat Audi yang luar biasa Kegiatan paduan suara itu kemupada musik membuat pasangan dian dilanjutkannya di Munchen, Christine dan suaminya, Indra Jerman. Saat ini dia menjadi salah Gunawan Santoso, memasukkan satu anggota paduan suara gereja anaknya ke sekolah musik. Awal- Indonesia Munchen. Kalau memnya, tutur Christine yang tinggal di buka instagramnya maka bisa diliKecamatan Kedawung, Cirebon, hat banyak sekali tayangan terkait Jawa Barat, pihak sekolah musik kegiatan Audi menyanyi,termasuk itu kaget dan sepertinya agak menyanyi sambil memainkan alat keberatan lantaran Audi masih musik. terlalu kecil. Tidak hanya asyik seko“Mereka (pihak sekolah musik, namun dara l a h m u s i k ) s e p e rcantik berambut setinya sempat ragu bahu ini, juga rajin karena Audi masih ikut kompetisi kekecilan, masih menyanyi baik di balita. Saya bidaerahnya maulang, ya sudah, pun tingkat nacoba dulu saja. sional. Banyak Begitu Audi penghargaan diminta mediterimanya, nyanyi, baru di antaranya mereka tahu juara Singing kalau Audi Contest Subenar-benar perkidz You berbakat. To B e d a n Mereka juara Festibilang,’Wah val Lomba ini ada Seni Siswa bakat’,” tutur Nasional (FLChristine. S2N) tingkat Sebagai provinsi Jawa orangtua, paBarat. Dia juga parnya, dirinya pernah menjadi dan suami menkomposer musik Sumber instagram audi dukung penuh apa film layar lebar anak yang diinginkan anak yang berjudul ‘1000 Audi pertamanya itu. Sejak Balon’. Film termasuk kecil, mulai dari Audi mamasuk rekor Muri. suk sekolah musik hingga aktif Memang tidak semua keikutmengikuti berbagai macam lomba, sertaannya dalam ajang lomba selalu didampingi. Sebenarnya, berhasil. Sebut saja Idola Cilik, tambah Christine lagi, pihak The Mamamia, Audi gagal. Bahkan di Voice of Indonesia pun sempat Mamamia, meski setiap penampimenghubungi Audi untuk mengajak lannya selalu memukau juri, langikut serta dalam ajang itu. Namun kah Audi dihentikan oleh pooling sayangnya, Audi sudah terbang ke SMS. Menurut Christine, sejumlah Jerman untuk kuliah. kegagalan Audi di beberapa komApa yang dicapai anaknya saat petisi tidak membuatnya berkecil ini, tidak serta-merta, namun me- hati. lalui proses yang panjang. Belasan Dia justru semakin termotivasi tahun dia sekolah musik, terhitung untuk belajar memperbaiki diri mulai dari balita, TK, SD, SMP sehingga pada kesempatan menhingga SMA. Selain belajar olah datang bisa menjadi lebih baik vokal, dia pun menguasai sejumlah lagi. “Saya selalu mendorongnya, alat musik. Di Indonesia, Audi juga memberinya motivasi, sehingga terlibat aktif dalam paduan suara dia selalu semangat,” tambahnya. baik di sekolah maupun gereja. (Diana Runtu)
L
Momen wisuda sma
ima tahun telah berlalu, kini Audi telah menjadi mahasiswa. Dara yang Oktober mendatang berusia 19 tahun, memperdengarkan suara emasnya di ajang Blind Audition Voice of Germany. Lewat lagu ‘Never Enough’ yang merupakan soundtrack film ‘The Greatest Showman’, Audi menghipnotis para juri yang duduk membelakangi panggung. Ada empat juri, keempatnya seperti tak sabar ingin melihat tampang si penyanyi bersuara indah itu, lalu mereka pun ‘terbirit-birit’ memencet tombol merah ‘I Want You’ yang juga otomatis memutar bangku mereka menghadap panggung. Itulah cuplikan video Audi yang pekan lalu menjadi viral di medsos dan kisahnya mempesona juri di Jerman pun menghiasi media sosial hingga media-media mainstream di Tanah Air. Semua penasaran dan langsung mencari di kanal resmi Voice of Germany di youtube. Di kanal tersebut ditampilkan tiga peserta, salah satunya Claudia Emmanuela Santoso. Namun di antara peserta itu, video Claudia ditempatkan paling atas (utama) dengan judul ‘The Greatest Showman Cast?’ Sampai saat ini penampilan Claudia ini telah dilihat 9.494.694 viewer. Jauh meninggalkan peserta lainnya yang hanya ditonton 300 ribuan orang. Di kanal Voice of Germany itu dijelaskan sedikit (dalam bahasa Jerman) tentang Claudia yang datang dari Indonesia ke Jerman untuk belajar. Dia menciptakan momen spesial dengan
foto instagram audi
versinya ‘Never Enough’ . Penonton dan pelatih benar-benar dibuat terpana. Di Indonesia, entah siapa yang pertama kali mencuplik dan menyebarkannya di medsos, namun yang pasti pekan lalu ‘geger-lah’ masyarakat Indonesia. Yang bikin masyarakat bersukacita bukan hanya karena mendengar suara indah Audi tapi karena reaksi luar biasa yang ditunjukkan keempat juri itu, Mark, Alice, Sido dan Rea. Bahkan Alice sampai menangis haru dan langsung menuju panggung untuk memeluk Audi. Saat itu Audi yang begitu bahagia dengan respons para juri sempat merasa bingung lantaran keempat juri itu berkeinginan menjadi mentornya. Namun akhirnya Audi memutuskan memilih Alice Merton. “Kamu benarbenar menyentuh hati saya hari ini. Saya sangat berterima kasih. Saya
mengucapkan terima kasih banyak dari hati yang paling dalam. Saya benarbenar ingin melakukan ini denganmu,” ungkap Alice. INDONESIA MENDUKUNG Kebahagiaan Audi menjadi makin berlipat-lipat karena publik Indonesia dari berbagai kalangan pun mendukungnya. Para nitizen pun terus memelototi Voice of Germany menunggu kabar kiprah Audi selanjutnya. Termasuk para selebriti tanah air, seperti Rossa, Citra Kirana, Cathy Sharon, dll, termasuk Baim Wong yang begitu antusias mengunggah dukungan bagi Audi lewat instagramnya. “bosquee..Ini Orang Indonesia..Claudia Emmanuela Santoso..The Voice Germany. Claudia ..salam kenal.. bangga jadi thank uu..love alwayss,” tulis Baim. Dalam unggahan kedua kalinya Baim menulis,” Semua udah nonton video kamu.. 1 Indonesia sudah bangga sama km...Menangin yahhh..!!! Berbagai dukungan yang mengalir padanya lewat instagram memang tidak sempat dibalasnya satu-persatu. “Saya ingin mengucapkan terima kasih atas berita dan kata-kata indah yang telah Anda kirimkan kepada saya. Walaupun saya tidak bisa menjawab, suka atau memposting ulang semua tapi saya sudah baca semuanya! Saya sangat berterima kasih”. Tulis Audi dalam bahasa Jerman. Sebenarnya mengikuti audisi Voice of Germany hanyalah kegiatan sampingan Audi yang tengah mempersiapkan diri masuk University of Munich (Munchen). Lulus dari SMA BPK Penabur Cirebon, Audi langsung bertolak menuju Jerman untuk melanjutkan pendidikan. Namun di sana, dia tidak bisa langsung kuliah dia harus masuk pendidikan penyetaraan selama setahun. Menurut sang ibu, Christine Gunawan, anak pertamanya itu, memiliki hobi menyanyi sejak kecil. Bisa jadi, ucap Christine yang menemani Audi dalam ajang Mamamia, hobinya menyanyi itu menurun dari kakeknya. Gara-gara hobinya itu juga Christine menjadi lebih mudah membujuk Audi. “Kalau dia nangis atau rewel, tinggal disetelkan lagu saja, Audi langsung diam. Tidak nangis atau rewel lagi. Dia malah ikut menyanyi,” ungkap wanita 47 tahun itu. (Diana Runtu)
EDISI 1050/ 30 SEPTEMBER - 6 OKTOBER 2019
Bali merupakan salah satu daerah di Indonesia yang terkenal dengan tenunnya. Tenun meruapakan salah satu sarana seni yang patut dilestarikan. Kain ini kerap kali digunakan sebagai sarana upacara adat Bali. Dilihat dari cara pembuatannya, karya seni ini dibuat dengan menenun kain dari helaian benang pakan dan benang lungsin yang sebelumnya diikat dan dicelupkan ke dalam zat pewarna alami.
S
eiring
perkembangan dunia fashion, kain tenun kian mendapat tempat di hati masyarakat. tidak hanya digunakan sebagai busana adat ke Pura, saat ini kain tenun mulai digunakan sebagai seragam dan pakaian mengikuti mode yang sedang berkembang. Semakin tingginya minat peminat kain tenun terutama jenis endek, membuat penggagas sekaligus pemilik dari Pertenunan Artha Dharma, Ketut Rajin kian berinovasi. Selain tetap mempertahankan kualitas, rupanya mengikuti selera pasar dan membuat inovasi-inovasi dalam berkarya adalah kunci kesuksesan pertenunan terbesar di Buleleng ini. Menurut Rajin, tingginya minat masyarakat dengan kain endek semakin membuat dirinya menelurkan ide-ide ke dalam bentuk desain-desain. Desain yang berhasil ia buat merupakan inspirasi yang ia dapatkan dengan
ikon-ikon yang ada di Buleleng. Desain terbaru miliknya, seperti desain anggur dan bunga tunjung. Anggur merupakan ikon buah lokal yang dimiliki oleh Buleleng tepatnya berada di Kecamatan Banjar sedangkan tunjung merupakan bunga ikon Buleleng. “Kami selalu melakukan inovasi agar selalu diterima oleh konsumen, konsumen juga akan tahu kualitas kami yang tidak sama dengan barang yang beredar di pasaran. Sebab barang yang kami produksi tidak sampai ke pasaran kami produksi dengan jumlah terbatas dan langsung habis di sini,” ungkapnya. Selain berinovasi dari segi motif, pihaknya juga berinovasi dengan memadukan dua kain yang berbeda yaitu endek dan songket. Perpaduan produk ini menghasilkan kombinasi kain songket yang mewah dan endek yang merupakan kain tradisional menghasilkan inovasi yang sangat
11
Endek Buleleng
Inspirasi dari Ikon Lokal indah. Rajin mengklaim perpaduan songket dan endek merupakan yang pertama dilakukan di Buleleng. Bahkan setelah di cetak kain dengan perpaduan songket dan endek ini sangat menarik perhatian pembeli. “Ketika dicetak memang sangat diminati hanya saja karena songket dibuat dengan waktu yang lama maka harganya pun lumayan mahal,” ungkapnya. Sebagai pelaku usaha, Rajin tidak memungkiri jika perkembangan tekhnologi juga sangat berdampak terhadap perkembangan usahanya. Ketika dirinya sibuk membuat desain baru untuk mengikuti perkembangan mode, akan tetapi setelah banyak diminati banyak beredar motif-motif sama dengan sistem digital printing atau dicetak dalam jumlah besar. “Kita belum sempat produksi dengan jumlah banyak tapi sudah beredar barang tembakan. Keadaan ini memang tidak bisa kami tekan dan kendalikan tetapi untuk mengantisipasi ini seharusnya dapat dibuatkan hak paten,” ujar Rajin. Dalam pembuatan hak paten dibutuhkan waktu yang lama dan tidak mudah sehingga ketika dibuatkan hak paten maka minat masyarakat terhadap sebuah desain sudah ketinggalan. “Ya kalau bisa hari ini buat desain terus besok hak paten sudah jadi, tidak akan ada barang tiruan, tetapi kalau harus menunggu hak paten yang cukup lama maka
minat masyarakat terhadap desain itu sudah hilang,” tandasnya.
Desa Kalianget. Untuk itu, dirinya sangat mengapresiasi usaha para perajin yang sampai saat ini masih BAHAN BAKU MAHAL konsisten dalam melestarikan kain Sementara itu Ketua Dekranasda warisan leluhur Buleleng tersebut. Buleleng, Ny. Gusti Ayu Aries Sujati, “Beberapa kendala yang menjadi mengatakan masing-masing desa penghambat dalam membangkitkan yang menjadi sentra perkembangan kerajinan endek dan songket ini anendek dan songket memiliki motif tara lain kurangnya minat generasi dan corak yang berbeda-beda. Desa- muda untuk menggeluti kerajinan desa yang dinilainya masih melestari- ini, dan bahan baku yang mahal serta kan pertenunan endek atau songket sulit diperoleh,” terang istri Bupati saat ini antara lain di Kelurahan Be- Buleleng ini. ratan, Desa Tejakula, Desa Sinabun, Ia mengungkapkan banyak keraDesa Sawan, Desa Jinengdalem, dan jinan tenun dan juga songket yang ada di Kabupaten Buleleng miliki ciri tersendiri. Kain yang ada di Kabupaten Buleleng menggunakan bahan-bahan alami, serta mengunakan jenis pewarna natural dari alam sebagai bahan dasar pembuaatan kain. Sehingga corak warna dari kain tersebut tetap terlihat bagus.Hal ini diharapkan usaha kerajinan yang ada di Buleleng mampu berkembang dengan pesat serta memberikan dampak kesejahteraan kepada masyarakat khususnya para perajin. ”Saya pernah pergi keluar daerah melihat sentra-sentra kerajinan tapi di sana hanya ada satu jenis kerajinan saja beda dengan kita. Ke depan jika dikelola dengan baik dan kualitas desain yang bagus, saya yakin kain songket Buleleng akan banyak diminati,” Ketut Rajin menunjukkan desain terbaru pungkasnya. (Wiwin Meliana) perpaduan songket dengan endek
Merajut Kedamaian dalam “Lovina Festival 2019”
Nyoman Sutrisna
Claudia
BULELENG
Sport tourism dan Meeting, Incentive, Convention, and Exhibition (MICE) adalah dua strategi yang disiapkan Dispar Buleleng pada penyelenggaraan pariwisata di Kabupaten Buleleng. Kedua strategi tersebut dipastikan mampu tingkatkan kunjungan wisatawan ke Buleleng melalui Lovina Festival 2019 yang berlangsung 27-30 September 2019
di kawasan Pantai Lovina. “Di dalam sport tourism dan MICE ini tentu kita tidak meninggalkan visi misi Gubernur Bali dan Kementrian Pariwisata, yaitu seni budaya berdasarkan konsep Tri Hita Karana,” ujar Kadis Pariwisata Nyoman Sutrisna, Rabu (25/9). Hal ini merupakan strategi yang sangat kreatif dalam meningkatkan kunjungan wisata ke kabupaten Buleleng. Dua hal yang ingin dicapai dalam event tahunan ini pertama kunjungan pariwisata di kabupaten Buleleng meningkat dan wisatawan yang menginap bisa lebih lama lagi. “Kita mencoba bekerjasama dengan masyarakat dengan melakukan home stay dan juga bekerjasama dengan PHRI,” tambah Sutrisna. Ia menambahkan, terkait dengan agenda Lovfest 2019 yang mengambil tema “Cultivating Enternal Peace“ dalam artian merajut kedamaian ini akan dimeriahkan dengan berbagai kegiatan, mulai dari Wonderful Sail 2 Indonesia 2019, konsep kuliner nongkrong di pantai, pertunjukan seni budaya, hiburan rakyat, Lovina Glow Run, Color Run, open water swimming
tournament dan masih banyak lagi kegiatan lainnya seperti, pelatihan pemandu wisata alam khususnya wisata alam selam, gemar makan ikan, gemar makan buah, photo hunt & contest serta pameran UMKM & usaha kuliner. “Atraksi yang dilakukan tetap, sapi gerumbungan, megangsing dan
mekorot,” katanya. Sementara itu Asisten Bidang Ekonomi, Pembangunan dan Kesejahteraan Rakyat Setda Kabupaten Buleleng, Ni Made Rousmini, S.Sos mengatakan, target dari kunjungan pariwisata khususnya pada Lovfest 2019 diharapkan ada peningkatan dari
Pantai Lovina
tahun sebelumnya. Dengan berbagai upaya melalui promosi dan sosialisasi serta penyebaran informasi melalui media, baik media online, cetak, radio dan televisi kepada publik dipastikan Lovfest akan mampu mendatangkan kunjungan wisatawan baik lokal maupun mancanegara. (Wiwin Meliana)
12 Mindie Melanie Schreurs, perempuan kelahiran Belanda tahun 1987, jatuh cinta pada Indonesia sejak masa kanakkanak. Memiliki darah Jawa, membuat Mindie yang fasih berbahasa Indonesia memang kerap mengunjungi tanah air neneknya ini.
BUMI GORA
EDISI 1050/ 30 SEPTEMBER - 6 OKTOBER 2019
Merangkul yang Terpukul
Lewat Dongeng, KPK Ajari Anak Antikorupsi
D
difabel fisik di Lombok. Dengan pengalaman bekerja di Belanda ia merasa bisa mengembangkannya di Lombok. Sebab ia melihat banyak anak difabel yang berada di desa-desa yang diam di rumah tanpa bisa berbuat apa-apa dikarenakan keterbatasan pengetahuan dan akses pada orangtua. Selain itu juga ditemukan bahwa para kaum disabilitas khususnya fisik belum belum mendapatkan pelayanan yang maksimal. Itulah awal idenya mendirikan Lombok Care. Sejak itulah ia memutuskan untuk mendedikasikan dirinya bagi kaum difabel di Lombok.
Dan, di Lombok pulalah rasa cinta pada negeri ini pun semakin dalam ketika ia bertemu dengan pujaan hatinya yang seorang musisi bernama Apip Sutardi yang kemudian menikahinya di tahun 2011. Hidup di Lombok bagi Mindie bukanlah kebetulan semata, melainkan di sinilah ia melabuhkan dedikasinya untuk bekerja sosial bagi anak-anak disabilitas. Perhatiannya pada mereka yang hidupnya kurang beruntung dan masalah yang dialami kaum difabel membuat ia memutuskan untuk membantu mereka melalui yayasan Lombok Care yang didiri-
NTB Siap Sambut Moto GP 2021
“Reuni VIII Eks Pelajar Mataram-Lombok” yang berlangsung 23-25 Agustus 2019 berlangsung semarak dan penuh kekeluargaan. Reuni ini dihadiri 120 peserta yang datang dari berbagai wilayah seperti Mataram, Bandung, Medan, Balikpapan, Bogor, Malang, Surabaya, Denpasar hingga Kuala Lumpur. Kegiatan reuni kali ini dimeriahkan dengan berbagai acara, seperti fun walk, dan senam bersama di area Peninsula Island
BUNDA ANANDA
5
Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) selama ini dikenal hanya pada penindakan, padahal KPK telah melakukan upaya pencegahan dan edukasi menanamkan nilai antikorupsi di masyarakat. Hal itu tergambar saat bus KPK menyambangi Art Centre Denpasar, beberapa waktu lalu.
K
ecintaannya terhadap Indonesia pun akhirnya membawa ia belajar lebih serius lagi memperdalam bahasa dan kebudayaan Indonesia ketika di tahun 2010 ia mendapatkan beasiswa dari Kementerian Pendidikan RI. Beasiswa khusus orang asing untuk datang ke Indonesia guna belajar tentang seni budaya dan bahasa Indonesia. Mindie belajar di Pusat Bahasa Universitas Mataram selama dua tahun. Kedatangannya ke Lombok untuk belajar kala itu, bukanlah yang pertama bagi Mindie, melainkan telah lebih dari 10 kali ia mengunjungi Lombok baik untuk berwisata maupun untuk belajar. Ia jatuh hati pada Lombok ketika di tahun 2007 saat mendapat tugas dari kampusnya, untuk praktek lapangan di SLB Netra Selagalas Mataram. Tahun 2008 Mindie datang ke Bali dalam rangka menyelesaikan skripsinya yang bekerjasama dengan 4 SLB sehingga ia sering mengunjungi SLB yang ada di Bali dan Lombok. Di sanalah ia melihat bahwa belum ada pelayanan bagi
EDISI 1050/ 30 SEPTEMBER - 6 OKTOBER 2019
Nusa Dua. Selain itu juga dilakukan kunjungan wisata ke GWK & Puja Mandala, kemudian diakhiri dengan malam “Gala Dinner” di Mini Garden ITDC. “Gala Dinner” diselingi talk show bertemakan “Mendukung Kesiapan SDM Menyambut Moto GP 2021”. Hadir sebagai pembicara Lalu Gita Ariadi (Komisaris ITDC), Drs H.M. Nursiah (Sekda Lombok Tengah), Wayan Karioke (Direktur ITDC - Mandalika) serta Gede Wirata (pengusaha).
Melalui talk show itu pula, diharapkan dapat memberikan masukan terhadap kualitas penyelenggaraan kegiatan Moto GP 2021 sekaligus untuk menyampaikan informasi lebih luas kepada masyarakat mengenai acara tersebut. Selanjutnya dilaksankan serah terima dokumen dari Steering Comitee Bali, Dr Badjra Nadha kepada Dei Bawadiman sebagai koordinator penyelenggara “Reuni IX” yang bakal dilangsungkan di Jakarta. Karioke selaku ketua panitia menyampaikan terima kasih kepada seluruh peserta, pendukung serta para donatur sehingga ‘Reuni VIII Eks Pelajar MataramLombok” tersebut dapat terlaksana dengan sukses. Terlebih dengan banyaknya peserta dari luar daerah yang turut hadir. “Semoga setelah reuni ini semakin mempererat ikatan tali persaudaraan eks Pelajar Mataram Lombok dimanapun berada,” ujar Karioke. (Sri Ardhini)
kan oleh keluarga besarnya yang ada di Belanda. Tahun 2008 ia bersama keluarga besarnya mendirikan Lombok Care di Belanda yang kemudian menjadi support project utama bagi Lombok Care yang didirikannya tahun 2010 di Lombok. Lombok Care yang kini berdiri di atas tanah seluas hampir 23 are di Jalan Biduri No.25, Sandik, Batu Layar, Kabupaten Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat, kemudian resmi menjadi yayasan pada tahun 2012. Pada tahun 2013, Mindie lalu mendirikan Sekolah Luar Biasa Pelangi di bawah naungan Yayasan Lombok Care. Selain SLB Pelangi, Lombok Care juga memberikan layanan rehabilitasi khusus bagi mereka yang miskin atau tidak mampu. Mindie terbilang sangat bersemangat menjalani aktivitas sosialnya ini. Sebab baginya, inilah bagian penting dalam perjalanan hidupnya mendedikasikan dirinya bagi kaum difabel. Meski banyak
tantangan dalam bekerja sosial ini, Mindie merasa di sinilah ia menjadi bermanfaat dibandingkan ia harus berada di Belanda. Tidak kurang dari 120-an anak, dengan 35 yang belajar di SLB dan selebihnya menjalani rehabilitasi, Lombok Care menjadi tempat belajar dan juga sebagai tempat rehabilitasi bagi disabilitas fisik yang memperoleh terapi terjadwal. Mindie dengan Lombok Care nya ingin menghapus stigma rasa kasihan pada kaum disabilitas. Sebab keterbatasan mereka bukan untuk dikasihani dan selalu tergantung pada orang lain melainkan mereka harus diajarkan mandiri semaksimal yang mampu mereka lakukan. Mereka harus mampu berkarya, setidaknya untuk diri mereka sendiri. Mindie mengulurkan tangannya merangkul mereka yang terpukul akibat ketidakberuntungan. Dan ibu dari tiga anak ini telah memutuskan untuk mendedikasikan hidupnya bagi kaum disabilitas. (Naniek I. Taufan)
ony Mariantono, Kasatgas Kampanye KPK RI mengatakan, dalam roadshow bus KPK, berbagai kegiatan dilakukan untuk edukasi kepada milenial mulai dari siswa TK sampai kuliah. Uniknya, edukasi antikorupsi kepada anak TK dilakukan lewat mendongeng. Dengan memilih dua orang yang sudah dikenal piawai mendongeng, Kak Ade dan Bu Wayan, dua orang guru ini mendongeng di hadapan ratusan siswa TK di Denpasar. Menurut Dony, mengajarkan anak belajar antikorupsi haruslah dimulai dari hal sederhana. “Dalam permainan dan cerita mereka diajarkan mana yang merupakan hak mereka dan tidak. Jadi ketika mereka mengambil yang bukan hak mereka, itu sudah termasuk tindakan yang tidak terpuji,” tuturnya. Dony menambahkan, kegiatan bermain dan mendongeng juga harus menyenangkan agar anak-anak senang dan tertarik. Ia menilai, ketika mengundang anak-anak TK, otomatis mereka datang bersama orangtua dan gurunya. Ini bagus karena para guru juga tahu, kalau KPK juga memiliki banyak modul, film, dan buku dongeng yang bisa dipakai mengajar di kelas. “Ini juga PR kami ke depan, agar KPK tidak hanya dikenal dalam hal tindakan, tapi juga KPK memberikan edukasi kepada masyarakat tentang pencegahan korupsi,” kata Dony. Menurut Kak Ade, anak-anak diajak untuk mendengar cerita tentang hutan yang memiliki sumber daya alam yang melimpah, di sana terdapat seekor belalang malas dan semut yang rajin. Dari perumpamaan tersebut, anakanak diajarkan untuk bekerja keras dan belajar untuk tidak korupsi waktu. Kegiatan mendongeng bagi anakanak ini diharapkan dapat menimbulkan rasa keberanian di antara mereka, serta anak-anak diharapkan dapat lebih berani berekspresi. “Harapannya agar anak-anak bisa lebih berani, berani berekspresi, lebih interaktif, melalui cerita,” ujar Kak Ade. Salah seorang guru yang ikut mendampingi, Sarita mengatakan, mendidik anak dimulai dari melatih kejujuran terhadap anak-anaknya sedari dini. Kejujuran, menurut dia, bisa dicontohkan melalui sikap dan perilaku orangtua. “Prinsip yang paling mendasar itu, mengajarkan kejujuran. Tapi mengajarkan itu contohnya harus dari kita (orangtua) karena biasanya kita ngajarin anak-anak itu bohong, dengan bilang, ‘Bapak pergi sebentar ya, mau ke toilet dulu’. Padahal entah ke mana
gitu,” katanya. Hal tersebut, dampaknya akan membuat anak-anak belajar bahwa melakukan kebohongan adalah suatu yang benar dan sah saja jika dilakukan. “Lama-lama mereka belajar bahwa bohong itu tidak apa-apa. Jadi akan lebih baik jujur saja, meskipun kadang anak-anak nangis,” ucapnya. Menurut Dony, orangtua harus menghargai ketika anak-anak berani jujur, bukan justru memarahinya. Ia menilai, kejujuran adalah prinsip dasar seluruh nilai antikorupsi, maka orangtua patut mengajarkan kejujuran, sekalipun anak-anaknya melakukan kesalahan. Di KPK ada sembilan nilai integritas yakni jujur, peduli, mandiri, disiplin, tanggung jawab, kerja keras, berani, adil dan sederhana. Sembilan nilai itu harus dianut oleh anak-anak. BELAJAR DENGAN BOARD GAME KPK sudah mengubah konsep pembelajaran tentang pendidikan anti korupsi, yakni melalui board game (permainan berbasis papan atau kartu). Dengan board game, pendidikan anti korupsi jadi jauh lebih menyenangkan dan penetrasi penyerapannya juga jauh lebih tinggi. Sebanyak 12 judul board game yang dikembangkan KPK ini ditargetkan untuk berbagai kelompok sasaran, mulai dari PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini), SD, SMP, SMA, Perguruan Tinggi, hingga pendidikan pejabat Pegawai Negeri Sipil (PNS). Salah satu contoh board game keluaran KPK adalah Terajana, yang ditujukan kepada anak TK dan SD untuk belajar tentang intergritas dan kejujuran. Jika pemain berhasil menerapkan dua hal itu, dia akan menang dan mendapatkan harta karun. Kemudian, ada board game Keranjang Bolong yang juga mengajarkan kejujuran untuk anak PAUD. Di board game ini pemain diminta untuk tidak mengambil barang yang bukan haknya. Jika berhasil melakukannya maka dia yang akan menjadi pemenangnya. Ia berharap board game sebagai media pembelajaran anti korupsi bisa terserap 100 persen dan menanamkan pesan moral bagi anak-anak untuk menjauhi pungli, suap, dan hal lain yang bersifat korupsi. Board game sendiri bisa dimanfaatkan oleh keluarga yang hendak mengajarkan kebersamaan kepada anak-anak mereka, di tengah banjir game di perangkat mobile dan konsol. Dengan board game, anak bisa bermain bersana, bertatap muka, dan menjalin ikatan emosional. (Wirati Astiti)
Mendongeng Lima Menit Man Meri (2)
Dalam gubuk sederhana itu, Man Meri tidur gelisah. Ia ingat akan peristiwa sore tadi. Ia menyesal, mengapa ia memarahi anak bebek kecil itu. Bukankah anak kecil suka bermain-main? Ia juga ingat pesan ibunya, agar memelihara anak hewan itu sebaik-baiknya. Keesokan harinya, pagi-pagi benar, ia berangkat ke Timur Laut. Tak lupa ia juga membawa bekal makanan untuk si Meri. Setelah tiba di semak-semak yang lebat dan pohon-pohon yang besar, ia teringat pesan tetangganya. “Hati-hati di tempat yang angker itu, Nak!” Ia berusaha melawan kepercayaan tersebut. Ia harus berani menghadapi segala risiko. Ia harus bertanggungjawab atas kehilangan yang menjadi miliknya dan kesayangannya. Sambil sekali-sekali memanggil si Meri, ia menerobos semak-semak yang lebat. Tiba-tiba ia menemukan serokan kecil tergenang air. Ia yakin, si Memeri pasti lewat di tempat itu untuk minum. “Ri, ri, ri…!” panggilnya. Sia-sia. Ia menyusup ke semak yang tambah lebat. Akhirnya, setelah tiba di pohon yang besar, ia duduk beristirahat, sambil memikirkan arah mana yang akan dituju. Tiba-tiba sayup-sayup ia mendengar suara kwik, kwik, kwik…! Ia yakin, suara itu adalah suara si anak bebek kesayangannya. Ia menoleh mencari asal suara itu. Suara itu berasal dari sebuah gua yang berada di sebelah pangkal pohon besar itu. Perlahan-lahan ia melangkah ke sana. Sebelum menginjakkan kaki ke dalam gua, tibatiba ia dikejutkan oleh sesosok orang tua berpakaian putih-putih. “Mau ke mana kau, Cening? Apa yang kau cari?” tanya orang tua itu. Semula Man Meri takut dan gemetar. Namun sesaat kemudian ia berhasil menenangkan dirinya. “Maaf, Kakek!” jawabnya dengan sopan. “Hamba kehilangan memeri. Hamba dengar memeri itu memanggil-manggil hamba dari dalam gua.” “Kakek punya banyak bebek, ada yang besar dan ada memeri kecil-kecil. Kalau benar kau kehilangan, kau boleh ambil bebek itu.” Man Meri lalu memanggil anak bebeknya. “Ri, ri, ri….! Ri, ri, ri….!” “Kwik, kwik, kwik….! Kwik, kwik, kwik, ….!” Terdengar jawaban dari dalam gua. Kakek yang berkumis dan berjanggut putih itu masuk ke dalam gua. Sesaat kemudian ia keluar membawa seekor bebek. Kwek,
kwek, kwek…! “Inikah bebekmu?” kata kakek itu. “Bukan. Kek! Bebek hamba kecil, masih memeri.” Kakek itu masuk ke dalam gua lagi, kemudian keluar memperlihatkan bebek yang lain. “Inikah bebekmu?” “Bukan! Itu bukan bebek hamba. Bebek hamba masih kecil. Ia lusuh, lugu dan suka bermain-main.” “Inikah memerimu?” Kakek itu memperlihatkan anak bebek lainnya. “Kwik, kwik, kwik…!” Man Meri memeriksa anak bebek itu. Suara kwik, kwiknya agak berbeda dan kecil. Lalu jawabnya, “Bukan, itu bukan memeri hamba.” Kakek berjanggut putih itu berdiri termenung. “Aku tahu kau jujur,” katanya. Sebagai hadiah, ambillah semua bebek yang kuperlihatkan!” “Maaf, Kakek! Hamba hanya memiliki apa yang menjadi hak milik hamba. Dosa bagi hamba, kalau hamba menghaki yang bukan menjadi milik sendiri, walaupun nilainya jauh lebih besar.” Kakek itu masuk lagi ke dalam gua. Man Meri merasa putus harapan, sebab ia tidak menemukan anak bebek kesayangannya. Tapi, sesaat kemudian kakek yang berjanggut lebat dan putih itu muncul lagi dengan membawa dua ekor memeri. Memeri yang satu berteriak terus, memanggil-manggil Man Meri. “kwik, kwik, kwik … kwik, kwik, kwik …..!” Man Meri tahu, itulah anak bebek kesayangannya. Ia memeluk anak bebek itu dan menciumnya berkali-kali. Si Meri pun berteriak terus tanda bahagia. “Cening sungguh jujur dan sayang kepada hewan peliharaanmu. Sebagai hadiah, terimalah memeri yang satu lagi. Aku tahu memerimu betina, dan memeri yang satu lagi jantan. Peliharalah baik-baik!” Bagi Man Meri peristiwa kehilangan meri kesyangannya dan pertemuan dengan kakek yang baik hati itu sangat berarti dan mengharukan. Sebelum berpisah ia berkali-kali hormat dan mencium tangan sang Kakek, sebagai tanda terimakasih. Kali itu ia memiliki dua memeri, satu memeri warisan ibunya, dan satu lagi pemberian sang Kakek. Memeri pemberian kakek adalah hadiah kejujuran. Ia sangat menyayangi kedua memeri itu dan memperlakukannya secara adil. Kelak kemudian hari, Man Meri terkenal sebagai peternak bebek yang kaya raya. Walaupun kaya, ia tetap hidup sederhana dan tidak sombong. (Bali).
SUDUT PANDANG
4
EDISI 1050/ 30 SEPTEMBER - 6 OKTOBER 2019
EDISI 1050/ 30 SEPTEMBER - 6 OKTOBER 2019
D
ewi mengungkapkan sebagai tenaga pendidik merupakan sebuah tantangan besar untuk menerapkan nilai-nilai pancasila di perguruan tinggi. Sebagai dosen PPKN di jurusan Hukum dan Kewarganegaraan, mahasiswa tidak cukup diberikan teori tetapi juga diarahkan untuk dapat mengaplikasikan nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila.
“Secara konseptual bagaimana Pancasila itu terbentuk, bagaimana hari Kesaktian Pancasila bisa diperingati tentu mahasiswa akan cepat paham karena sifatnya hafalan. Tetapi yang perlu kami tekankan bagaimana mahasiswa bisa mengaplikasikan nilai-nilai tersebut dalam kehidupan sehari-hari,” ungkapnya. Istri dari Asisten Bidang Administrasi Umum Setda Buleleng ini mengatakan cara sederhana untuk menerapkan nilainilai Pancasila dalam kehidupan kampus dengan mengarahkan mahasiswa untuk
mengikuti berbagai organisasi utamanya di kampus. Dengan keikutsertaan dalam organisasi diharapkan mahasiswa dapat menempa ilmunya dan menerapkan kematangan intelektualnya, serta dapat berinovasi dan berkreativitas. “Dalam berorganisasi tentu mereka dapat membelajarkan diri seperti apa nanti jika mereka menjadi seorang pemimpin,” ungkap perempuan kelahiran 14 Mei 1987 tersebut. Lebih lanjut Dewi mengatakan meskipun saat ini sedang menguat isu disintegrasi bangsa, namun dirinya menjamin bahwa mahasiswa Undiksha khususnya di jurusan Hukum dan Kewarganegaraan masih dapat menjunjung tinggi nilai toleransi. Hal ini tercermin dari mahasiswa yang berada dalam satu jurusan yang bersifat heterogen. Dalam satu kelas,
13
Kisah Mal-Mal Legendaris yang “Mengenaskan”
Hargai Perbedaan Kultur
Tidak dapat dimungkiri saat ini bangsa Indonesia sedang mengalami degradasi moral terhadap generasi mudanya. Tantangan yang sangat berat ini tentu tidak terlepas dari memudarnya nilai-nilai nasionalisme dan melemahnya pengamalan-pengamalan nilai-nilai Pancasila. Hal tersebut diungkapkan oleh akademisi Undiksha Anak Agung Istri Dewi Adi Utami, M.Pd.
METROPOLITAN
Dewi mengatakan mahasiswa berasal dari beberapa wilayah di Indonesia. “Ada yang dari Papua, Sumatera, Kalimantan dan beberapa dari Bali. Ini membuktikan mereka tetap bisa menghargai perbedaan kultur,” imbuhnya. Adanya upaya dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan untuk memasukkan kembali Pendidikan Moral Pancasila mejadi mata pelajaran merupakan upaya strategis untuk menanggulangi degradasi moral anak bangsa. Akan tetapi dirinya menilai Pendidikan Kewarganegaraan saat ini sudah memiliki substansi umum dan terintegrasi dengan Pendidikan Moral Pancasila. “Sekarang tinggal bagaimana pendidik mengemas agar konsep-konsepnya dapat dipahami oleh mahasiswa,” tandasnya. (Wiwin Meliana)
Banyak pusat perbelanjaan di Jakarta makin sepi pengunjung. Padahal dulunya mal-mal itu hits di kalangan masyarakat Jakarta dan menjadi tongkrongan favorit kalangan muda. Kondisi yang memprihatinkan itu sebenarnya sudah berusaha diatasi dengan mencoba berbagai konsep termasuk perubahan layout untuk ‘penyegaran’ namun tetap saja belum mampu mengembalikan kondisi seperti semula.
Saling Memahami dan Saling Menghormati
AA. Istri Dewi Adi Utami
Bagi MA Dezire Mulyani, merefleksikan nilai-nilai Pancasila sudah ia lakukan dalam kehidupan sehari-hari. “Kebetulan keluarga saya juga ada juga yang menganut agama lain, jadi kami saling menghormati satu sama lain. Begitu juga, saat hari raya, saling mendukung ya saling bersilaturahmi,” ujar Kepala Dinas Pariwisata Kota Denpasar ini. Sementara di tempat kerjanya, ia juga memiliki staf dengan bermacam suku dan agama, sehingga toleransi dalam beragama terlihat harmonis. Ia mengatakan, tiap bulan selalu ada rapat dengan staf. Ia selalu memberikan kesempatan kepada para staf untuk menyampaikan pendapat. “Kami mencoba seperti keluarga saling mendukung satu sama lain. Pimpinan dan bawahan saling bekerja sama untuk mendukung lancarnya program-program kebijakan khususnya di bidang
pariwisata. Kalau ada masalah, pasti kami diskusikan,” imbuhnya. Mulyani mengaku miris juga melihat para generasi muda saat ini yang begitu getol dengan media sosial. Padahal, kata dia media sosial juga memberikan efek negatif jika disalahgunakan. Misalnya, begitu mudahnya orang terhasut dan menimbulkan keributan. Ia juga melihat saat ini banyak generasi muda suka demo. Dia sendiri mengaku bingung, apakah mereka demo sedang memperjuangkan sesuatu atau hanya ikut-ikutan demo. Apalagi sampai demo anarkis. “Ayo salurkan pendapat dengan benar. Jangan sampai demo berbuntut anarkis. Ada wakil rakyat yang bisa menampung aspirasi masyarakat,” kata Mulyani. Dengan pesatnya teknologi dan medsos, ia mengajak semua lapisan
masyarakat memanfaatkan dengan baik terutama generasi muda. “Dari medsos kita bisa belajar seperti kursus bahasa, komputer, mengembangkan hobi bahkan bisa untuk menambah penghasilan. Jadi harus bisa pintar memanfaatkan teknologi,” sarannya. Menurutnya, para generasi muda perlu wadah untuk berkreasi dan berekspresi. Sebenarnya media sosial adalah satu sarana dan ruang yang tak terbatas untuk menyalurkan itu. Ia berharap, dalam kehidupan sehari-hari, terutama dalam bermasyarakat, mari kita saling menghargai. Entah itu agama atau sukunya berbeda. Kita harus belajar memahami arti persatuan dan kesatuan yakni NKRI. Jangan jadikan perbedaan itu perpecahan, mari saling bekerja sama untuk mewujudkan Indonesia maju,” kata Mulyani. (Wirati Astiti).
Plaza semanggi
Y
Dezire Mulyani
Toleransi Satu Sama Lain Menjaga hubungan baik dan kerukunan hidup dengan kawan atau tetangga, memang menjadi salah satu cara menjaga lestarinya nilainilai Pancasila. Sebab dengan begitu, kehidupan yang damai menyejukkan dapat tercapai. Kedamaian ini terlihat di komplek-komplek permukiman warga yang berbeda etnis dan agama namun saling bertoleransi satu sama lain. Salah satunya di kompleks Kamasan perluasan Kota Mataram, warga Hindu dan Islam hidup berdampingan tanpa pernah sekalipun ada riak-riak keributan. Baiq Sabariah, warga Muslim yang sudah tinggal di sini sejak tahun 1980an mengaku nyaman tinggal di komplek ini puluhan tahun tanpa pernah ada masalah dengan tetangga. Begitu juga lainnya. Yang unik di kampung ini, ketika waktu Nyepi tiba, dimana warga Hindu melaksanakan kegiatan Nyepi, maka warga Muslim lainnya menghormati aktivitas ini dengan juga turu mematikan lampu setidaknya lampu teras agar tidak mengganggu
kegiatan Nyepi. Begitu juga dengan kendaraan yang terkadang lebih sering dimatikan saat memasuki gang-gang di mana ada warga Hindu sedang beribadah Nyepi. “Rasanya tidak pernah ada masalah kami yang tinggal di sini meski lain keyakinan,” ujar Sabar. Rasa saling menghargai ini juga dilakukan sebaliknya oleh warga Hindu kepada warga Muslim saat merayakan hari-hari besar keagamaannya. Begitulah, ketika nilai-nilai Pancasila diaplikasikan dengan rasa cinta damai, maka kehidupan akan berjalan dengan nyaman dan tentram. Kerukunan seperti ini juga terjalin antara Triana Wulandari yang seorang Muslim dengan rekan kerjanya di Balai Penyuluhan KB di Kecamatan Bolo Kabupaten Bima yang beragama Kristen. Ia berteman baik dengan Teresia, rekan kerja yang berasal dari Kupang, NTT ini. Meski menggunakan jilbab besar, Ana panggilannya, bergaul biasa saja dengan rekan kerjanya ini. Kebetulan sesama perempuan mer-
eka bahkan sering menghadiri acara bersama, jalan bersama dan bahkan saling pinjam meminjam satu sama lain. “Biasa saja, kami sering jalan bersama dan tidak jarang saling pinjam meminjam,” ujar Ana. Bagi Ana ini bukan semata-mata soal melestarikan nilai-nilai Pancasila melainkan saling menjaga kerukunan itu adalah bagian dari ajaran agamanya. Selain itu juga di lingkungan tempatnya tinggal, Ana juga rajin berbagi dengan tetangganya. SALURKAN HAK SUARA Selain Ana, Maya yang seorang guru juga senantiasa menjaga kerukunan dengan tetangga, sebagai wujud menghargai hak orang lain sebagaimana yang terkandung dalam nilai-nilai luhur Pancasila. Apalagi hidup bersama di sebuah kampung yang damai seperti Desa Rato di Bima, di tengah kesibukannya, Maya selalu berusaha mengikuti kegiatan-kegiatan sosial kemasyarakatan khususnya jika ada yang hajatan. Bersama ibu-ibu di
kampungnya, guru Bahasa Inggris ini menggunakan kesempatan gotong royong tersebut untuk bersilaturahmi mengeratkan persaudaraan. Di Desa Rato memang masih kental nuansa gotong royong khususnya para ibu saat akan ada tegangga yang hajatan. Mereka biasanya beramai-ramai hadir membuat kue, bumbu, memasak dan lainnya. Tidak itu saja, Maya selalu aktif mengikuti kegiatan “politik” di desa dengan tegap ikut menyalurkan hak suaranya ketika musim memilih
pemimpin sampai dengan kegiatan pemilihan Kepala Desa, BPD dan lainnya. Nilai-nilai Pancasila juga diajarkan oleh Maya kepada siswanya di sekolah dengan mengingatkan ibadah dan kedisiplinan dalam belajar, termasuk pula kerjasama dalam berbagai kegiatan. “Sebab hanya dengan kerjasama yang baik, siswa bisa saling mengetahui kawan masing-masing untuk kemudian bisa saling menghargai dan menghormati kepentingan satu sama lain,” kata Maya. (Naniek I. Taufan)
Glodok city
ang paling nyata adalah pusat perbelanjaan Sarinah yang berlokasi bilangan Jl Thamrin yang kerap terlihat sepi pengunjung. Ini bukan lantaran Jalan Thamrin kerap dilalui para pendemo yang ingin menyampaikan aspirasinya ke Istana di Jl Merdeka Barat, ataupun ke gedung-gedung pemerintahan di sekitar ‘Ring 1‘, namun gejala itu memang sudah terasa sejak beberapa waktu lalu. Jangan terkecoh melihat parkirannya yang selalu penuh mobil. Karena kebanyakan mobil-mobil yang terparkir di sana hanya menumpang parkir karena akan mengunjungi tempat-tempat di sekitar Sarinah. Bukan hanya Sarinah yang mengalami nasib ‘mengenaskan’ seperti itu. Banyak mal legendaris yang juga bernasib sama. Sebut saja Blok M Mal dan tempattempat belanja sekitarnya, pun bernasib sama. Padahal dulu, kawasan itu luar biasa ngetop. Plaza Semanggi pun setali tiga uang. Mal yang dulu sangat ramai karena letaknya yang strategis seberang Polda
foto-koran jakarta
Metro Jaya –persisnya di perempatan Jl Gatot Subroto-Jl Sudirman ini dulu menjadi tempat tongkrongan milenial, apalagi posisinya yang bersebelahan dengan Kampus Unika Atmajaya. Mal berkonsep lengkap mulai dari fashion, kuliner hingga hiburan seperti bioskop dll serta sarana olahraga. Pun kini sepi pengunjung. Hal senada juga terjadi di pusat-pusat perbelajaan legendaris lainnya. Seperti Harco Glodok, ITC Mangga Dua, Mal Pasar Pagi juga pusat perdagangan grosir Asemka yang semuanya berada di bilangan Jakarta Barat. Zaman sedang ‘hit-hit’ nya, setiap akhir pekan pusatpusat perbelanjaan itu sangat ramai di akhir pekan khususnya. Bus-bus dari luar kota yang membawa rombongan pelancong berbagai daerah selalu menjadikan tempat belanja berbagai barang ‘murah-meriah’ itu sebagai salah satu destinasi tujuan di Jakarta. Semua itu agaknya kini tinggal kenangan. Di Mal Mangga Dua, misalnya, yang dulunya laris manis, berubah sepi walaupun saat weekend.
Blok m sepi
foto istimewa
foto istimewa
Ilustrasi mal
JERITAN PEDAGANG HARCO GLODOK Apalagi Harco Glodok, kondisinya lebih parah. Sudah banyak toko yang tutup. Hanya di lantai satu saja masih terasa ada ‘kehidupan’ meski kebanyakan penjaga tokonya duduk melamun menunggu pembeli atau berbicang bersama sesama penjaga toko. “Harco Glodok tinggal tunggu matinya aja,” ucap Pak Ompong, pedagang warteg seputar Haco Glodok, Pinangsia, yang belasan tahun berjualan di sana. Warung wartegnya termasuk salah satu yang terkena imbas dari sepinya pengunjung Harco. Kalau dulu wartegnya laris manis dan harus berkali-kali masak untuk memenuhi permintaan pembeli, kini kondisi berbalik. Pengunjung wartegnya makin jarang, akibatnya dia rugi besar. “Saya sempat rugi banyak. Bayangin, sudah sediakan banyak masakan, tapi pembeli yang datang sedikit sekali. Akhirnya masakan-masakan itu dibuang. Lalu saya turunkan porsi masakan, juga ragamnya, tetap saja merugi. Hari ini saja, hanya beberapa orang yang datang. Lihat saja masakan –masakan itu Cuma lima jenis, tapi masih terlihat banyak,” keluhnya. “Saya sudah malas ke sana. Kan sekarang tempat-tempat belanja barang elektronik sudah banyak. Nggak perlu tawar menawar, harganya sudah pasti.
foto tripadvisor
Kalau di sana kan masih tawar-menawar, kalau kita nggak tahu harga barang, malah ujung-ujungnya jadi kemahalan,” ungkap Sari, yang kebetulan sedang memiliki urusan di kawasan itu. Harco Glodok dianggapnya sudah ketinggal zaman. Pandangan Sari ini seolah mewakili pelanggan lain yang juga lari meninggalkan Harco Glodok. “Sepi, sepiii banget,” kata seorang pelayan yang mengaku sejak pagi hingga jelang sore ini belum satu pun berhasil menjual barang. Ada yang datang, hanya beberapa orang, tapi hanya lihat-lihat, tanya-tanya, tapi tidak membeli. Situasi sepi ini sudah sejak beberapa tahun lalu, makin ke sini semakin memburuk. Namun, katanya, pemiliknya belum berniat menutup kiosnya. “Bos saya masih bertahan. Katanya tunggu,” begitu ujar si pedagang tentang sikap bosnya. Untungnya, katanya, dirinya dibayar bukan berdasarkan berapa unit yang berhasil dijual tapi dibayar tetap setiap bulan. Meski jumlahnya tidak besar, katanya, namun lumayan dibandingnya dirinya menganggur. Pak Ompong, 62 tahun, yang telah belasan tahun berdagang di sekitar Harco, mengaku, nyaris menyerah dengan kondisi yang ada. Bosnya, begitu ia bertutur, menyewa bangunan itu Rp 9 juta per bulan. Biaya sewa itu katanya sudah
diturunkan dari sebelumnya Rp15 juta per bulan. “Karena kondisi makin sepi, pemilik bangunan menurunkan sewanya jadi Rp 9 juta, Itu artinya, warung saya setiap hari minimal harus menghasilkan Rp 500 ribu per hari (hitungan 25 kali buka warteg),” jelasnya. Tapi masalahnya lanjut Pak Ompong, untuk mencapai angka minimal itu sangat sulit. “Kebanyang nggak warung saya ini sering tidak dapat pembeli satupun juga. Orang datang cuma ngopi, itupun hanya beberapa,” keluhnya. Lalu dia pun menujuk pedagang mie ayam yang gerobaknya tepat disamping pintu samping Harco Glodok. “Jangankan saya. Itu tukang mie ayam yang sudah belasan tahun jualan di situ sekarang menjerit banget. Dulu waktu Harco masih jaya, sehari dia menghabiskan 15 kg mie lebih. Sekarang, tidak sampai 7 kg mie sehari, itupun sering nggak abis. Harga semangkok Rp 15 ribu,” tutur Pak Ompong yang mengaku sudah menjalani macam-macam pekerjaan selama hidup di Jakarta. Pak Ompong menganalisa, selain semakin banyaknya sentra-sentra perdagangan, juga karena masyarakat lebih menahan diri untuk berbelanja. “Kayaknya sekarang ini kalau nggak barang itu dibutuhkan banget, masyarakat tuh nggak beli. Jadi masyarakat tuh belanja barang-barang yang perlu aja. Sekarang kan susah cari uang,” tuturnya. Mereka tinggal menunggu mati-nya saja. Jika kondisi tidak berubah, jika tidak ada terobosan, maka dalam waktu mendatang kawasan pusat perbelanjaan yang legendaris itu hanya tinggal kenangan. “Coba lihat deh di Gedung Glodok Plaza itu. Kios banyak yang tutup, nggak ada pengunjung. Sudah bertahun-tahun kayak gitu. Kasihan banget. Banyak teman saya juga sudah bangkrut. Beberapa masih bertahan sambil berharap ada perubahan,” ujarnya. Hal senada juga diungkap pedagang DVD yang berada di belakang Harco Glodok. Beberapa tahun lalu, katanya, lapak-lapak DVD masih ramai. Aneka film mulai dari film Barat, film India, Korea hingga Cina, dijual di sana. Genrenya pun macam-macam. Sekarang, semakin sepi. “Dulu orang yang berbelanja di Harco, sebagian menyempatkan diri berbelanja DVD. Apalagi harga per kepingnya di sini lebih murah dibanding beli di mal,” ujarnya. Namun Harco sepi, membuat pembeli DVD menyusut pula. Ditambah lagi, ujar si Engkoh, sekarang orang semakin mudah mendownload film-film yang diinginkannya lewat layanan online di dunia maya. “Di era internet, semua film dan serial dari berbagai jenis ada dan mudah di-download. Kalau dulu kan masih susah, tapi sekarang aksesnya sudah terbuka. Teksnya pun bahasa Indonesia. Masyarakat makin mudah mengakses apapun yang diinginkan lewat internet. Sementara penjual seperti kami makin lama makin lesu dan akhirnya mati,” keluhnya. (Diana Runtu)
SUDUT PANDANG
14 Pancasila sebagai ideologi negara dan pedoman bagi kehidupan rakyat Indonesia adalah harga mati, tidak bisa diganggu gugat. Jangan ada yang mempertanyakan lagi soal relevansinya dengan kehidupan masyarakat yang semakin modern. Karena justru adanya Pancasila menyatukan masyarakat Indonesia yang majemuk.
EDISI 1050/ 30 SEPTEMBER - 6 OKTOBER 2019
Pancasila harus Diaplikasikan
dan agama masing-masing. Sedang sila kedua yakni Kemanusiaan yang Adil dan Beradab. Itu dimaksudkan sebagai saling menghormati sesama manusia, serta berani membela kebenaran dan keadilan. Sila ketiga, Persatuan Indonesia. Mencegah terjadinya perpecahan di antara anak bangsa, sebaliknya saling ancasila jangan hanya memahami satu sama lain, menghordihafal tapi harus mati perbedaan dan selalu mengupaydimengerti dan di- akan persatuan. Terkait sila keempat Keraplikasikan akyatan yang Dipimpin dalam kehidupan kita seharioleh Hikmat Kebijaksahari. Tanpa Pancasila kita naan dalam Permusytidak akan bersatu dan awaratan dan Pertidak menjadi bangsa wakilan, menurut yang besar,” tegas Tina, setiap warga Tina Toon, mannegara harus tan penyanyi cilik mendahulukan yang baru sebulan kepentingan dilantik sebagai bersama, dan anggota DPRD tidak memakDKI Jakarta. sakan kehendak Mengaplikasendiri. Jika tersikan Pancasila jadi permasaladalam kehidupan han hendaknya sehari-hari, lanjut diutamakan atau gadis 26 tahun yang diselesaikan mebernama lengkap lalui musyawarah dan Agustina Hermanto ini, mufakat demi kebaikan dimulai dari diri sendiri, Tina Toon bersama. kemudian ke lingkungan keSedang sila kelima, Keadilan luarga, kemudian ke lingkungan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia. sekitar dan pergaulan di masyarakat. “Tidak harus jauh-jauh, mulailah dari Setiap orang memiliki hak dan kediri sendiri, kemudian kepada keluarga, wajiban, bukan hanya bersemangat lingkungan sekitar, dan seterusnya. Mis- memperjuangan hak pribadi tapi juga alnya, tidak melakukan ujaran keben- hak lainnya. Di sisi lain, ada kewajiban cian ataupun menyebarkannya, berbuat yang harus ditunaikannya. Tina yang telah sebulan ini berkanbaik serta peduli kepada sesama, dll,” tutur Tina yang dikenal masyarakat tor di ‘Kebon Sirih’ (Kantor DPRD DKI lewat lagu ‘Bolo Bolo’ saat berkiprah Jakarta), sebagai legislator berharap bisa masuk Komisi E DPRD yang sebagai penyanyi cilik. Lalu dia pun menguraikan satu per- membidangi pendidikan, kesehatan dan satu dari butir-butir Pancasila itu. Sila kemasyarakatan, mengaku, kepedulian pertama Ketuhanan Yang Maha Esa, sosial dan norma-norma dalam kehiduujarnya didasari dengan iman yang kuat pan bermasyarakat telah sejak dikecil dan kesadaran bahwa ada Tuhan Yang ditanamkan orangtuanya. Didikan itu Maha Esa berdasarkan kepercayaan juga yang membentuk kepribadiannya
“P
Tina Toon
foto instagram tina toon
serta kepeduliannya pada aktivitas sosial. “Mungkin kurang terekspos tapi aku sejak dulu tergolong aktif ikut kegiatan sosial. Aku peduli pada berbagai permasalahan masyarakat, khususnya mereka yang tak mampu dan berusaha membantu,” tambah pemeran Ana dalam film ‘Anak Hoki’ ini. Kepeduliannya kepada masyarakat jugalah, yang membuatnya pada Pemilu Legislatif lalu bertekad maju sebagai wakil rakyat. “Sebelumnya kan aku berkegiatan sosial namun tidak bisa membantu banyak. Tapi dengan sebagai legislator aku bisa lebih banyak berbuat. Aku menjadi legislator bukan untuk jabatan atau hal lainnya tapi ingin berguna bagi banyak orang,” tambah lulusan S2 Hukum Perpajakan Universitas Tarumanegara ini. Ia bersyukur kepada Tuhan karena diberi kesempatan untuk mengabdi menjadi anggota DPRD DKI Jakarta. Banyak hal yang telah dipikirkannya termasuk soal temuan-temuannya di lapangan saat kampanye Pileg. “Bersyukur banget ya Tuhan kasih kesempatan aku untuk bisa membantu banyak orang. Suatu yang telah menjadi impian aku sejak lama. Semoga aku bisa menjalankannya dengan baik,” tambahnya. Nantinya, hal pertama yang ingin diperjuangkannya adalah hak-hak masyarakat dalam menerima pendidikan dan kesehatan. Sebab, dari
EDISI 1050/ 30 SEPTEMBER - 6 OKTOBER 2019
SOSIALITA
3
Sinergitas dalam Memotivasi Perempuan Bali Ketua PKK Provinsi Bali, Ny. Putri Suastini Koster menilai, sinergitas para istri pimpinan pemerintah di Provinsi Bali, sudah dibentuk saat mereka masuk dalam organisasi. Misal nya, istri Gubernur Bali yang menjadi ketua PKK Provinsi Bali, sudah langsung bergerak dengan 10 program pokok PKK. “10 program pokok PKK ini sudah mencakup visi misi Pak Gubernur. Dengan kami berperan aktif artinya kami sudah mendukung tugas suami,” kata istri Gubernur Bali Wayan Koster ini.
Tina di Kompleks Pemda DKI Jakarta
pengalamannya terjun ke masyarakat, khususnya di dapilnya, masih banyak warga tidak mampu yang belum
menerima Kartu Jakarta Pintar maupun Kartu Jakarta Sehat serta Kartu Lanjut Usia, dll. (Diana Runtu)
S
eniman yang berkiprah di tingkat nasional ini mencontohkan, ketika PKK turun ke desa-desa, Dharma Wanita Persatuan (DWP) juga punya program, mari disatukan. Itu sudah bentuk sinergisitas. Ada target yang harus dicapai dalam berkegiatan yakni, jadikan perempuan itu posisi sentral untuk urusan keluarga. Ny. Putri Koster menilai, semua perempuan di Bali secara tidak langsung adalah anggota PKK. Jika kita bicara kesehatan anak-anak, mulai dari keluarga. Peran seorang ibu yang luar biasa memberikan energi kasih sayang. Seperti pela
Ny. Putri Koster
yanan penuh kasih kasih kepada anggota keluarga, yang diajarkan Mbok Sarinah, pengasuh Bung Karno. Walaupun, bukan anak kandungnya, ia menyayangi dan mengasuh Bung Karno sehingga menjadi anak yang berguna. Menjadi pribadi melayani penuh kasih ibarat bumi mengasuh dan membuat hidup makhluk di atasnya itulah pelayanan Sarinah. Seperti halnya Gerakan Rakyat Marhaen. Yang artinya gerakan
Ny. Tjok Hariyani
masyarakat sederhana. Tidak sederhana dalam pemikiran, tapi menjadi pribadi yang sederhana dengan pemikiran yang maju. Menurut Ny. Putri Koster, mendukung peran suami, tidak harus selalu hadir setiap saat di sampingnya, saat meresmikan suatu acara. Namun, dengan kegiatan PKK dan Dekranasda, para istri berkontribusi dalam kegiatan sosial bersama-sama mewujudkan program Gubernur Bali, Nangun Sat Kethi Loka Bali. Ia berharap perempuan Bali da pat terinspirasi de ngan gerakan Marhaen dan Sarinah. Ny. Tjok Putri Hariyani Ardhana Sukawati berpandangan, seo rang ibu harus mamp u menjadikan anaknya berkualitas. Di situlah letak keberhasil an sebuah keluarga. Sebagai istri dari Wakil Gubernur Bali Tjokorda Oka Artha Ardana Sukawati, Ny. Tjok Hariyani mengatakan, harus bisa membagi waktu mendukung tugas suami, baik dalam suka dan duka. “Pe ran ini bisa memo-
tivasi suami dalam menjalankan tugasnya,” ujarnya. Ia mengatakan, sesuai aturan, istri Wakil Gubernur otomatis menjadi Wakil I Ketua PKK Provinsi Bali dan Wakil Ketua Dekranasda Provinsi Bali. Jadi, ia harus siap membantu tugas ketua semampunya. “Misalnya, saat ada pembinaan ke daerah, saya ditunjuk harus siap melaksanakan, kecuali saya berhalangan sakit. Itulah bentuk sinergitas kami dalam menjalankan peran sebagai pendukung suami,” kata Ny. Tjok Hariyani. Ia menilai, sudah banyak perempuan Bali yang berprestasi dan menjabat. Artinya, perempuan sudah berdaya. Urusan kemajuan perempuan tidak hanya soal jago masak dan berdandan. Banyak prestasi yang sudah dicapai perempuan. Hanya, ia mengingatkan, perempuan tidak boleh melupakan kodrat sebagai istri. Sementara, Ketua Dharma Wanita Persatuan (DWP) Provinsi Bali, Ny. Widiasmini Indra me ngatakan, sebagai organisasi para istri Aparat Sipil Negara (ASN) selama ini telah banyak mengambil peran penting dan strategis dalam upaya mendukung tugas-tugas suami sebagai aparatur sipil negara. “DWP dalam posisi sebagai mitra kerja pemerintah, maka akan mendukung program kerja pemerintah Provinsi Bali dalam mewujudkan Nangun Sat Kerthi Loka Bali. DWP mendorong anggota dalam mem-
Ny. Widiasmini Indra
berdayakan dirinya. DWP juga memperkuat kerjasama dalam mendukung pembangunan berkelanjut an,” ujar istri Sekda Dewa Indra ini. Ia menyebutkan, kegiatan DWP Bali yang telah dilakukan, bidang pendidikan telah melaksanakan pelatihan table manner, bidang ekonomi telah melaksanakan workshop pengelolaan koperasi dan ekonomi kreatif, dan bidang sosial budaya telah melaksanakan kegiatan papsmear. Ia mengatakan, DWP telah mendukung dan menyukseskan visi dan misi Pemerintah Provinsi Bali, dengan turut serta melaksanakan Bali Resik Sampah Plastik di pantai maupun di Pura, termasuk dalam kehidupan sehari-hari mengurangi penggunaan sampah palstik sekali pakai. “Di bidang busana kami menggunakan busana adat Bali yang baik dan sopan se suai pakem,” imbuhnya. Menurutnya, DWP selalu bersinergi dengan kegiatan PKK dan Dekranasda. “Apabila diberikan tugas kami siap melaksanakan, misalnya, apel bendera, HUT Provinsi Bali, sembahyang dll. Semua ke giatan DWP selalu kami laporkan, karena istri Gubernur sebagai penasihat kami,” kata Widiasmini Indra. Ia sangat yakin, sinergitas para istri pucuk pimpinan di Bali ini bisa menjadi semangat dan motivasi para perempuan untuk terus maju dan berkontribusi pada pemba ngunan Bali. (ast)
2
ESPRESSO GORO-GORO BK (12)
Bu Amat menunggu harap-harap cemas. Ia sudah trenyuh melihat sobat suaminya Putu Wijaya itu terbanting ke sumur kering. Ingin kembali pulang, tak punya uang. Datang sahabat menyumbang, harga diri melarang. Tadi waktu Karsono datang lagi ketika Amat pergi, Bu Amat dengan spontan mengulurkan amplop berisi uang 2 juta yang (atas anjuran Bu Made sendiri) diambilnya dari amplop yang kemudian ditagih Pak Made. Tapi Karsono tak mau melihat dengan sebelah mata pun amplop yang diletakkan dengan tulus oleh Bu Amat di atas meja. Karsono ngotot mau ketemu Amat, ngakunya mau pamit mati. Karena tak sabar, Bu Amat menyusul ke teras. Ternyata Amat hanya sendiri, bengong. “Sudah, Pak?”
“Sudah apa?” “Amplopnya sudah diberikan?” “Diberikan pada siapa? Orangnya sudah kabur! Ini malah ninggalin kita amplop!” Amat mengacungkan amplop yang tergeletak di meja. Bu Amat cepat menyambar. “Ini uang kita yang saya ambil dari amplop Pak Made! Ayo cepat susul! Dia sudah tak sabar pamit mati!” “Ya, biarin saja! Itu kan baik!” “Aduh, Bapak ini bagaimana! Terlalu! Orang mau bunuh diri kok malah dipuji!” “Itu bukan....!” “Cepet, cepet! Tadi dia sudah bawa tali!” Amat terkejut. Ia mendadak cemas lalu bangkit mau nyusul. Bu Amat mengulurkan amplop. “Ini kasih kan!” Amat heran. “Dua-duanya mau dikasihkan dia!” “Habis satu pasti kurang cukup. Makanya dia bingung! Ayo, kejar! Kasihkan” “Nanti kita makan apa?”
“Tidak makan sekali juga tidak akan... .., hitung-hitung diet. Daripada bunuh orang!” “Bunuh orang bagaimana?!” “Cepet, Pak! Saya tadi kan tak sengaja mungkin sudah nyinggung perasaanya!” Amat terkejut. “Ah? Ibu bilang apa?” “Lelaki kalau sakit hati kan paling sesudah tiduran juga pulih, tapi perempuan bisa bunuh diri!” “Aduh! Kok Ibu ngomong begitu!” “Ayo. Cepat susul! Tadi maunya humor!” Amat meraih amplop. Bu Amat, dengan gesit mencomot 3 lembar ratusan ribu, baru menyerahkan amplop ke tangan suamiya. Amat cepat melompat menyusul Karsono. Tapi belum terlalu jauh, Bu Nyoman pemilik warung, muncul. “Pak Amat! Teman Bapak sudah di warung lagi bawa tali rafia, Pak!” Amat memperlebar langkahnya. Ternyata di warung sudah banyak orang berkerumun. Mereka keberatan kalau Karsono mau bunuh
EDISI 1050/ 30 SEPTEMBER - 6 OKTOBER 2019
diri di wilayah mereka. “Tidak boleh bunuh diri di sini! itu dosa, mendahului kehendak Tuhan! Bisa bawa sial kepada wilayah termasuk kepada kita sendiri juga. Jadi kita mau tangkap, serahkan ke tangan yang berwajib, Pak Amat! Ayo!” “Tunggu! Ini Karsono teman saya. Dia sudah lari dari tanggungjawabnya sebagai kepala rumah tangga. Sekarang dia tobat. Mau pulang dan pamit mati. Bukan bunuh diri, tapi mematikan semua kepentingan pribadiinya agar bisa sepenuhnya mengabdi tugas mengurus keluarga! Tali rafia itu bukan untuk gantung diri tapi mengikat kopornya yang berantakan. Betul tidak begitu, Karsono?” Karsono yang sudah ketakutan, tambah bingung. Amat terpaksa memberi kedipan mata. Lalu membentak. “Betul tidak Karsono!” “Betul!” “Nah itu dengar sudara-saudara!” Giliran masyarakat yang mau memberangus itu, bimbang. Lalu Amat mengeluarkan kedua amplop uang dari sakunya. Lalu bicara lantang hingga semua mendengar. “Karsono! Aku sangat menghargai hajatmu. untuk pamit mati
demi kepentingan keluarga. Setelah beberapa tahun tinggal di Bali memang kamu tidak pulang bawa uang, tapi membawa tekad pamit mati yang nilainya lebih dari satu M itu, itu dua jempol aku acungkan untuk kepahlawananmu,Bung! Aku sumbangkan uang makan keluarga kami sebulan, tapi kamu tolak karena harga dirimu mulai lagi bangkit dan juga jumlahnya kurang. Aku jadi kecewa, Bung! Persetan dengan harga dirimu! Uang ini bukan untuk kamu! Tapi istrimu dan kelima anakmu supaya tidak putus sekolah! Ini gotong-royong! Eka Sila kita, tahu! Apa kamu mau menentang Panca Sila yang sudah susah payah digali BK? Ah?!” Karsono terperanjat. Amat sendiri juga kaget, merasa sudah kelepasan ucapan. Tapi masak air ludah mau ditelan lagi. Beberapa saat hening. Tapi diamdiam ada yang penting terjadi. Secara spontan semua orang merogoh kantung dan kemudian meletakkan sumbangan di depan Karsono. Lelaki itu bergidik diserang rasa haru, lalu air matanya bercucuran. Diam-diam, Amat memasukkan kembali salah satu amplop di tangannya ke saku.
MOZAIK
EDISI 1050/ 30 SEPTEMBER - 6 OKTOBER 2019
Cut Beby Tsabina
Ambil Sisi Positifnya Bekerja sambil menjalani pendidikan formal bukan perkara mudah. Apalagi bekerja di dunia akting seperti sinetron yang tak jarang berlangsung hingga dini hari khususnya sinetron stripping atau kejar tayang. Tak heran kalau Cut Beby Tsabina, bintang remaja yang tengah naik daun merasa keteteran membagi waktu dengan sekolahnya.
W
Surga Ada di Telapak Kaki Ibu
Dharma Gusti Putra Agung Kresna
Ketika seorang anak lahir ke dunia, maka lingkungan keluarga menjadi wilayah pertama yang menjadi panutan yang akan selalu ditirunya. Saat anak mulai bermain ke wilayah tetangga, maka lingkungan rumah tinggal akan menjadi area belajar anak selanjutnya. Ketika anak mulai bersekolah, maka lingkungan sekolah akan menjadi wilayah pembelajaran berikutnya. Tiga lingkungan itulah yang akan membentuk karakter seorang anak nantinya sesuai perjalanan hidupnya. Saat anak tumbuh dan berkembang, maka segala hal akan ditirunya dari lingkungan perkembangan dirinya tersebut.
bacaan wanita dan keluarga
Penerbit PT Tarukan Media Dharma Terbit sejak 9 November 1998
Hal yang bersifat baik maupun buruk akan diserapnya dari lingkungan Saat seorang anak beranjak remaja dan dewasa, berbagai informasi dari sekolah dan lingkungan pergaulannya mulai mempengaruhi jiwanya yang sedang tumbuh dan berkembang. Interaksi dengan teman di sekolah dan lingkungan kesehariannya mulai mempengaruhi pembentukan karakter jiwa pribadinya. Namun, bagaimanapun keluarga tetap menjadi lingkungan utama yang memberi pengaruh sangat besar bagi perkembangan jiwa seorang anak. Dari lingkungan keluargalah seorang anak akan lebih banyak belajar tentang segala sesuatu sesuai kehidupan kesehariannya. Dominasi waktu dari keluarga terhadap seorang anak, akan menorehkan guratan karakter keluarga dalam karakter jiwa sanubari anak. Surga di Kaki Ibu Seringkali dikatakan bahwa surga ada di telapak kaki ibu. Sehingga seorang anak wajib hormat dengan ibunya, tidak cukup hanya semata hormat kepada ayahnya. Benar bahwa seorang ayah adalah nahkoda dalam satu keluarga, namun realitasnya seorang anak biasanya lebih dominan berinteraksi dengan sang ibu –utamanya jika ibu adalah seorang ibu rumah tangga sepenuhnya-. Sebenarnya lebih tepat dikatakan
bahwa pada seorang ibulah arah masa depan seorang anak itu akan lebih banyak ditentukan. Kualitas jiwa pribadi seorang ibu akan sangat mempengaruhi perkembangan jiwa seorang anak. Melalui seorang ibu, anak akan belajar banyak hal sejak mengenal kata hingga berbagai pengetahuan dalam kehidupan. Hal ini mengingat bahwa secara umum seorang anak secara kejiwaan akan lebih dekat dengan sang ibu. Kondisi ini sangat bisa dimengerti jika mengingat bahwa interaksi seorang anak dengan ibunya sudah terbangun sejak anak baru saja dilahirkan. Berawal dari sentuhan tangan ibu saat anak dilahirkan, kemudian menyusui hingga anak dikenalkan dengan berbagai hal di dunia ini. Melalui sang ibu seorang anak mengenal pendidikan yang pertama. Seorang ibu adalah guru pertama yang akan mengajarkan banyak hal kepada anak. Seberapa pengetahuan ibu, itulah yang nantinya akan ditularkan kepada anaknya. Baru kemudian anak akan mendapat tambahan pengetahuan dari pihak lain pada saat anak mulai berinteraksi dengan lingkungannya. Sehingga menjadi tidak benar jika dikatakan bahwa seorang perempuan tidak perlu memiliki pendidikan yang tinggi, jika nantinya hanya akan menjadi seorang ibu rumah tangga. Bukan
seorang wanita yang berkarir profesional sesuai bidang pendidikan yang dimilikinya. Ada stigma yang sering membelenggu kaum perempuan, yaitu bahwa pendidikan tinggi hanya diperuntukkan bagi laki-laki. Padahal seorang perempuan justru harus memiliki pendidikan yang cukup tinggi. Karena di tangan para ibu seorang anak itu akan diasuh dari sejak dilahirkan. Kecerdasan seorang ibu secara intelektual, emosional, dan spiritual menjadi kunci keberhasilan seorang anak di masa depan. Ada beberapa catatan yang perlu kita perhatikan demi tumbuh kembang anak yang baik. Pertama, pendidikan seorang ibu. Kualitas pendidikan seorang ibu akan sangat mempengaruhi masa depan anaknya. Dalam hal ini pendidikan seorang ibu tidak harus berupa pendidikan formal. Pada prinsipnya seorang ibu harus memiliki kualitas pendidikan yang cukup, karena dari tangannya akan dihasilkan pendidikan bagi sang anak. Ibu merupakan guru kehidupan bagi seorang anak.
Kedua, komunikasi dalam keluarga. Komunikasi antar anggota keluarga maupun dengan orang di lingkungan sekitarnya, akan mempengaruhi baik buruknya perkembangan jiwa seorang anak. Semakin baik jalinan komunikasi yang terjadi, maka seorang anak akan tumbuh sehat secara jasmani dan rohani. Pada gilirannya, seorang anak yang merasa nyaman berada dalam lingkungan keluarga tentu jiwanya akan tumbuh dan berkembang secara sehat. Pada akhirnya, pola asuh dalam keluarga akan menentukan masa depan seorang anak. Pola asuh yang benar akan membawa anak menjadi seorang yang berguna bagi keluarga, nusa, dan bangsa. Demikian pula sebaliknya. Kemana kaki ibu melangkah, di sanalah seorang anak akan terbawa. Inilah sebenarnya makna hakiki bahwa surga itu ada di telapak kaki ibu. Ir. Dharma Gusti Putra Agung Kresna Arsitek, Senior Researcher pada Centre of Culture & Urban Studies (CoCUS) Bali
KATA HATI: Rubrik ini khusus untuk menuangkan ide/pemikiran/gagasan dalam bentuk tulisan. Tema terkait wanita dan keluarga serta tidak mengandung unsur SARA. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter. Lampirkan juga foto close up (bukan pasfoto). Cantumkan nama lengkap, profesi, nomor hp, dan alamat email. Naskah dikirim ke redaksi@cybertokoh.com, redaksitokoh@yahoo.com.
Penanggung Jawab/Pemimpin Redaksi: Gde Palgunadi. Redaktur Pelaksana: Ngurah Budi. Staf Redaksi/Iklan Denpasar: IG.A. Sri Ardhini, Wirati Astiti. Buleleng: Wiwin Meliana. Jakarta: Diana Runtu. NTB: Naniek Dwi Surahmi. Desain Grafis: I Made Ary S upratman. Manajer Sirkulasi dan Iklan: I Ketut Budiarta, Sirkulasi: Kadek Sepi Purnama, Hariyono, Ayu Wika Yuliani. Sekretariat: Ayu Agustini, Putu Agus Mariantara. Ombudsman: Jimmy Silalahi. Alamat Redaksi/Iklan Denpasar: Gedung Pers Bali K. Nadha, Lantai III, Jalan Kebo Iwa 63 A Denpasar 80117–Telepon (0361) 425373, 7402414, 416676–Faksimile (0361) 425373. Alamat Redaksi/Iklan/Sirkulasi Jakarta: Jalan Palmerah Barat 21 G Jakarta Pusat 10270–Telepon (021) 5357603 - Faksimile (021) 5357605. NTB: Jalan Bangau No.15 Cakranegara, Mataram–Telepon (0370) 639543– Faksimile (0370) 628257. Surat Elektronik: info@cybertokoh.com, redaksi@cybertokoh.com, iklan@cybertokoh.com. Bank: BRI Cabang Gajah Mada Denpasar. Nomor Rekening: PT Tarukan Media Dharma: 0017-01-001010-30-6. Percetakan: BP Jalan Kebo Iwa 63 A Denpasar.
15
foto instagram beby
Beby dan gaya korea nya di seoul
alhasil dia pun harus memilih. Apakah ingin ‘membuang’ kariernya di dunia hiburan dengan fokus pada pendidikan atau ingin duaduanya berjalan seiring meski dengan risiko yang cukup berat. “Sebenarnya, bagi aku dua-duanya penting. Pendidikan penting, begitu juga karier aku di dunia hiburan. Maka aku pikir lebih baik mengambil homeschooling. Meski tidak mudah menjalani keduanya sekaligus namun lebih baik daripada kehilangan pendidikan. Aku juga jadi lebih longgar untuk bisa menyesuaikan waktu bekerja dan belajar. Yang terpenting adalah keduanya dijalankan dengan baik dan bersungguh-sungguh,” ungkap dara usia 16 tahun ini. Sebelum pekerjaannya di dunia hiburan sesibuk sekarang, kata Beby, seperti kebanyakan remaja seusianya, ia pun bersekolah formal. Mulai SD hingga pertengahan SMP. Tapi saat job-nya semakin ‘membanjir’ dia pun kewalahan mengatur waktu akhirnya memilih homeschooling. “Sebenarnya saat mau masuk SMA, aku inginnya bisa sekolah SMA biasa.
Orangtua Selalu Mendampingi
Di luar akting, Beby juga memiliki seabreg kegiatan lain- kosmetik remaja. Saking sibuknya, Beby mengaku untuk nya. Di antaranya sebagai model iklan dan brand ambassador sementara hanya ingin fokus main film saja. “Sebenarnya ada juga tawaran sinetron, namun untuk sementara aku mau fokus main film saja,” tambah gadis kelahiran Oktober 2002 yang rajin meng-endorse aneka produk di medsos-nya.Terkait kesibukannya di dunia hiburan, Beby mengaku mendapat dukungan dari orangtuanya. Semua pekerjaan, kata Beby, selalu didiskusikan dengan mama-papanya. “Jadi kalau menerima sesuatu (job) selalu didiskusikan dengan mama-papa. Mama selalu tanya ke aku, ‘Beb mau diambil tidak, bisa nggak, cape nggak.’ Mama juga memberi saran. Tapi keputusan tetap di aku karena mama tahu aku yang menjalaninya,” jelasnya. Bicara pergaulan di dunia hiburan, meski terlihat dirinya bisa pergi ke mana saja, syuting ke mana saja bahkan sampai ke luar negeri, namun sesungguhnya orangtua mengawasi secara ketat. Khususnya dalam hal pergaulan, Beby diminta untuk tahu batas-batasnya. “Orangtua aku ketat banget. Iya nggak apa-apa, aku paham maksudnya. Mungkin karena orangtua khawatir ya sama pergaulan di Jakarta,” tutur Beby yang mengaku ‘finefine’ saja dengan aturan ketat orangtuanya. Dia juga tidak keberatan kalau mamanya, Linda, selalu mendampinginya dalam berbagai aktivitas kerja termasuk saat dia syuting di foto instagram beby luar negeri. (Diana Runtu) Beby dan mamanya di jerman syuting sambil jalan-jalan
foto instagram beby bersama teman-teman santai saat break syuting di berlin
Karena lebih enak, bisa ketemu temanteman, ada guru. Kalau homeschooling kan belajar sendiri. Aku sudah diterima di SMA yang kualitas pendidikannya bagus. Tapi di sana tidak boleh izin untuk syuting. Ya sudah, akhirnya nggak jadi,” papar Beby yang hijrah dari Aceh ke Jakarta demi mengejar kariernya di dunia hiburan. Menurut Beby, hanya itu (homeschooling) pilihan kalau dia ingin tetap berkarier di dunia hiburan namun juga meraih pendidikan. “Aku nggak menyesal sih. Pilihannya kan hanya itu, dan aku sudah memilih, jadi jalani saja. Diambil sisi positifnya,” ucap mantan model cilik ini. Meski homeschooling, namun kata Beby, bukan berarti tidak berat menjalaninya. Lagi-lagi karena padatnya jadwal syuting. Tak heran kalau dia pun terpaksa belajar di lokasi syuting. Saat teman-temannya bersantai-santai sambil melepas lelah saat break syuting , Beby justru belajar atau mengerjakan tugas-tugasnya. Yang juga menjadi tantangan tersendiri adalah saat syuting lama di daerah atau di luar negeri. Seperti saat syuting di Belanda tahun lalu dan Jerman tahun ini, dimana masa syuting terbilang cukup lama. Yang terbaru adalah di Jerman untuk sebuah film yang masih dirahasiakan, Beby menjalaninya selama 1 bulan. Itu benar-benar bikin Beby ‘setengahmati’. Untungnya, kata Beby, waktu syutingnya tepat setelah dia selesai menjalani ujian, sehingga tugas-tugas yang harus dikerjakannya di sela-sela syuting di Jerman tidak terlalu banyak. “Aku sekarang kan sudah kelas 3 SMA jadi lumayan sibuk. Kalau kemarin kan kelas 2, aku homeschooling juga, masih bisa ngatur waktunya. Nah sekarang karena sudah kelas tiga, tugas-tugasnya makin banyak. Tapi waktu berangkat kemarin sebagai besar tugas sudah aku selesaikan jadi di Jerman cuma mengerjakan sedikit tugas yang bisa aku bikin lewat HP,” jelas Beby yang filmnya akan tayang diakhir tahun. MENGEJAR KARIER KE JAKARTA Tak heran kalau Beby berat melepas kariernya yang sedang naik daun. Untuk mencapai hasil seperti sekarang tidak lah mudah. Dia benar-benar merintisnya
dari ‘nol’ lewat casting ke casting. Yang namanya gagal dan dimarah-marahi sutradara saat casting, bukan hal yang asing lagi bagi Baby diawal kariernya. Anak kedua dari tiga bersaudara pasangan Darmawan dan Linda ini bertutur, mulai terjun ke dunia akting di tanah kelahirannya Aceh saat usianya 12 tahun. Kala itu kebetulan ada casting pemain film yang digelar sebuah rumah produksi. “Aku didaftarin mama. Sudah lolos casting. Namun gagal karena tiba-tiba PH-nya diganti termasuk sutradara dan casting director –nya. Jadi hasil casting sebelumnya ditiadakan, PH baru itu bikin casting ulang,” tutur Beby yang juga youtuber dan selebgram ini. Untungnya, kata Beby, mamanya tidak kehilangan kontak dengan sutradara dan direktur casting sebelumnya. Lewat merekalah dirinya ditawari ke Jakarta untuk ikut casting. “Aku diajak ke Jakarta untuk ikut casting. Kebetulan kami sekeluarga akan liburan Lebaran di rumah kakek di Jakarta, jadi bisa sekalian casting,” tambahnya. Tapi itu bukan berarti lolos. Karena nyatanya meski sudah jauh-jauh dari Aceh ke Jakarta, Beby tetap saja tidak lolos casting. “Aku kan waktu itu masih kecil, masih baru, grogi dan takut juga. Jadi ya gitu, jadi ‘mati gaya’ . Apalagi kalau ketemu sutradara yang ‘strict’, marah-marah kalau kita salah,” ceritanya. Tapi proses yang tidak mudah itu tidak mengecilkan nyalinya. Ia ditemani sang mama, terus berjuang sampai akhirnya berhasil lolos casting meski hanya untuk sebuah peran kecil. Jadi kata Beby, jangan melihat eksistensi sekarang, prosesnya itu tidak lah mudah. “Bukan hanya itu. Aku juga pernah nunggu giliran syuting dari pagi ketemu pagi hanya untuk satu scene,” tutur Beby yang juga seorang K-Lovers. Awal debutnya adalah menjadi figuran dalam sinetron ‘Alphabet’ dan sinetron ‘Anak Menteng’ tahun 2015. Peluang karier lebih baik mulai terbuka pada 2016, ia tampil di dua sinetron dan satu film televisi. ‘Anak Jalanan’, ‘Mermaid In Love’ dan film televisi ‘Ayahku Menghalalkan Segala Cara Demi Uang’. Ketiga tayangan itu membuat namanya mulai dikenal publik. Beby pun mulai kebanjiran tawaran akting, mulai dari sinetron hingga film. Tahun 2017 saja, dia tampil di dua film ‘Dear Nathan’ dan ‘Susah Sinyal’ yang termasuk film laris saat itu, serta main di dua sinetron. Kariernya makin berkibar. Tahun 2018, dia main di film ‘Rompis The Movie’ dan sinetron ‘Catatan Harian Aisha’. Dan 2019, ada dua filmnya yang bakal tayang dan satu FTV yang syutingnya digelar di Korea. (Diana Runtu)
MOZAIK
16 Komunitas Cinta Kain Bali (KCKB) adalah seka demen sebagai sarana menyatukan diri, para perempuan dari berbagai kalangan dan profesi yang memiliki minat atau ketertarikan yang sama. Komitmen mereka menjaga dan melestarikan kain lokal Bali sebagai warisan budaya yang adiluhung. Demikian disampaikan sang penggagas sekaligus penanggung jawab KCKB, Bara Adnyani dan Eva Listya.
S
elama ini mereka medan beretika. mang lebih meBahkan, belum lama ini, milih menyedemi lebih lagi mengebut kebernalkan warisan budaya samaannya sebagai bernama kain Bali komunitas atau ini KCKB melakuseka demen, sekan kunjungan ke bab berkumpul KBRI Bangkok. dan bersatunya Rombongan mereka untuk yang sudah mencintai kain pasti tampil Bali, datangnya dengan beradari hati dan gam keindamenjadi ishan kain Bali timewa ketika ini, diterima didalamnnya langsung oleh terjalin ikatan Ibu Anita Rusdi, kekeluargaan dan istri Duta Besar persaudaraan yang RI untuk Bangkok Penyerahan kuat. Kemudian, beserta jajaran Dharcinderamata semua dengan suka ma Wanita Persatuan kepada istri Dubes cita melangkah bersama (DWP) KBRI Bangkok KBRI Bangkok untuk menggunakan kain yang diketuai Ibu Irma. Bali sebagai bagian dari busana yang Menurut Sandra Kartika, Ketua dikenakan diberbagai kesempatan. KCKB Pusat, ada beberapa poin kerSelama ini, 5 tahun sudah keberadaan jasama yang ditawarkan di sana. Pertama, KCKB turut menjaga eksistensi kain Bali pada 9 Oktober 2019 nanti bakal ada telah terbukti. Apalagi dengan diberikan- kegiatan rutin KBRI berupa “Jendela nya pemahanman dan wawasan men- Indonesia “ yang menyuguhkan panggenai kain Bali oleh sang Pembina, Tude gung atraksi,seperti fashion show dan Togog, sehingga mereka bisa lebih kreatif kegiatan lainnya oleh masyarakat Indomengenakan kain Bali namun tetap serasi nesia. Selanjutnya, pada 20 November
Di gedung kesenian BACC Bangkok
EDISI 1050/ 30 SEPTEMBER - 6 OKTOBER 2019
“KCKB Goes To Bangkok”
Jaga Komitmen Melestarikan Kain Bali
Mengenakan selendang tenun Bali di acara Dinner Cruise
2019 juga ada pertemuan dari berbagai belahan dunia yang akan mengadakan penjualan produk mereka, yang hasilnya untuk charity. Untuk semua itu, KCKB siap bekerjasama untuk mengisi event yang digelar di Bangkok. Masih dalam kunjungan ke KBRI Bangkok , istri wakil Bupati Buleleng,
Kegiatan donor darah
Bu Ayu Wardhani yang dikenal dengan panggilan Bu Cece, memaparkan visi dan misi KCKB. Diteruskan oleh Bu Sonia Piscayanti yang menyampaikan wawasan tentang kain Bali. Menariknya di sana KCKB berkesempatan menyanyikan lagu Indonesia Raya dipimpin Bu Eva. Selain itu KCKB berkunjung ke gedung
Berbagi kasih di Yayasan Sayang Bali
Dapat Julukan “KCKB Sosial-Jelita” dari Ny. Putri Koster
Selanjutnya Bu Bara didampingi gunakan Wantilan Kerthasaba yang Eva Lisatya, Ketua KCKB Sandra ada area di Gedung Jaya Sabha. Saat Kartika dan pengurus KCKB lainnya ini pengurus tengah mempersiapdiantaranya Bu Wardani Erawati, kan berbagai hal untuk persembaBu Putu Penny Somawati, juga han acara terbaik menyambut hari menyampaikan telah terbentuk kelahiran KCKB. Komunitas Cinta Kain Bali (KCKB) Direncanakan pada bulan JanuBuleleng, yang diketuai Agata Sakul ari 2020 yang akan datang, merdan istri Bupati Buleleng sebagai eka akan menggelar sebuah acara Pembina. spektakuler disertai pameran kain Disampaikan pula bahwa KCKB Bali dari para perajin di seluruh juga sudah bertemu istri Gubernur Bali. ”Seperti dan bagaimana acara, Kunjungan ke Ibu Gubernur Bali Bali, Ny. Putri Koster, yang meneritunggu saja,” kata Bu Eva tersema mereka dengan sambutan menyenangkan di Jaya Sabha. nyum. Selain menyampaikan kegiatan mereka di Bangkok juga Bersamaan dengan itu, KCKB Bali membuka kesempatan perihal rencana HUT ke -6 KCKB Januari 2020 mendatang. . seluas-luasnya kepada para perempuan Bali yang memiliki Dalam pertemuan tersebut, Ny. Putri Koster terlihat kecintaan terhadap kain Bali, untuk bergabung di KCKB dan sangat antusias dan turut mendukung keberadaan KCKB. Ia bersama turut melestarikan kain Bali disamping berbagai berharap KCKB bisa berperan lebih banyak dalam melestari- kegiatan positif lainnya. kan kain Bali sebagai warisan leluhur. Bahkan dalam obrolan Ketika KCKB sudah melewati tahun kelima dan meyang hangat, melihat sepak terjang yang telah dilaksankan langkah ke tahun keenam di awal tahun 2020 mendatang. KCKB selama ini, Ny. Putri Koster pun memberikan julukan Dalam agendanya mereka tak pernah melupakan melakukan dengan ‘KCKB Sosial-Jelita’. kegiatan kemanusiaan. Salah satu, yang selama ini secara Dikatakan oleh para pengurus, saat mereka menyam- rutin setiap 3 bulan, adalah donor darah di PMI RS Sanglah. paikan rencana pelaksanakan HUT ke-6 KCKB, Ny. Putri Begitu juga dengan bakti sosial lainnya seperti berbagi kasih Koster sangat mendukung, dengan mengizinkan KCKB meng- di Yayasan Sayang Bali. -- ard
BACC (Bangkok Art Cultural Centre), serta turut mengisi acara fashion show dengan diiringi lagu Indonesia Pusaka. Dan, tak ketinggalan tutorial berkain oleh Bu Eva. Kegiatan diakhiri jamuan yang dilaksanakan di rumah dinas Kedubes KBRI dilanjutklan dengan foto bersama. -- ard
Audensi ke KBRI Bangkok
Foto bersama di Wat Arun
redaksi@cybertokoh.com, iklan@cybertokoh.com
cybertokoh
@cybertokoh
@cybertokoh
www.cybertokoh.com