Skip to main content

tokoh-edisi-1037

Page 1

16 Orangtua selalu berupaya memberikan yang terbaik untuk anaknya. Tetapi kadang anak punya kemauan yang berbeda. Hal ini bisa membuat orangtua pusing. Bagaimana menyikapi kondisi tersebut?

M

enurut dr. Nyoman Hanati, Sp.KJ., orangtua dan anak harus sama-sama saling memahami. “Komunikasi menjadi hal utama dalam menyatukan perbedaan pendapat orangtua dan anak. Komunikasi yang dimaksud adalah komunikasi dua arah. Pola asuh orangtua juga harus secara holistik,” ujarnya. Ia mengatakan, orangtua harus memahami, kondisi si anak, perkembangan fisik dan psikisnya, termasuk tantangan yang dihadapi. Semua faktor bisa mempengaruhi anak, dan orangtua harus memahami itu. Ia memberi contoh, misalnya di usia anak-anak, komunikasi orangtua dan anak dapat dilakukan dengan bercerita. “Kedekatan orangtua dan anak dapat dibangun dan diwujudkan dengan komunikasi yang baik lewat cerita. Misalnya, ketika apa yang diinginkan anak tidak sesuai dengan harapan orangtua, mereka bisa menjelaskan dalam bentuk contoh-contoh

SUDUT PANDANG

Edisi 1037/ 24 - 30 juni 2019

Hindari Kata Jangan pada Anak

cerita, apa positif dan apa negatifnya keinginan tersebut,” jelasnya. Banyak cerita-cerita pewayangan dan dongeng yang bisa dijadikan contoh pelajaran bagi anak. Ia mengingatkan, saat berkomunikasi dengan anak, usahakan tidak ada nada marah, apalagi membentak dan hindari mengucapkan kata jangan, “jangan ini, jangan itu” Sementara, pada anak remaja, orangtua dapat mengajaknya berdiskusi seperti teman. Orangtua juga harus memahami, remaja sedang memasuki tahap perubahan dalam berbagai segi, tidak hanya fisik, tapi juga psikisnya. Masa remaja, ketika mereka sedang mencari identitas diri dan melihat teman sebayanya. Ia menilai, saat ini dengan berkembangnya media sosial, juga memberi pengaruh kepada`interaksi orangtua dan anak. Menurutnya, dengan perkembangan teknologi informasi, orangtua juga harus belajar, dalam artian mereka meningkatkan pengetahuan tentang pola asuh anak. “Ketika mengawasi anak menonton televisi dan

bermain medsos sebenarnya orangtua juga sedang belajar. Yakni meningkatkan pengetahuannya agar bisa memberi contoh yang benar kepada anaknya terutama soal pola asuh,” ucapnya. Ia mengingatkan, usahakan waktu bersama anak digunakan sebaik mungkin untuk berkomunikasi dari hati ke hati, jangan sambil bermain medsos. “Saat anak menonton televsi, sebaiknya damping mereka. Anak-anak belum mengerti jika melihat ada tayangan kekerasan di dalam film. Di sanalah para orangtua harus mendampingi dan bisa menjelaskan, apa hal baik yang bisa ditiru dan hal buruk yang tidak dicontoh. Jadi tayangan tidak dicerna langsung begitu saja oleh anak,” kata dr. Hanati. Bicara pola asuh orangtua ke anak, sebenarnya sudah dimulai dari dalam kandungan. Saat ibu hamil sudah terbiasa berkomunikasi dengan janinnya. Begitu juga, kalau ibunya stres saat hamil, bisa akan membuat anak yang dilahirkan ikut stres. Inilah mengapa ibu hamil disarankan untuk relaksasi

dan meditasi agar tidak stres, karena membawa dampak ke depan bagi anaknya. Ibu hamil yang rajin bersembahyang, juga memberi efek positif ke anak. Sesibuk apapun orangtua, biasakan ada waktu berkomunikasi dengan anak. Apalagi, dilakukan sembari berolahraga ringan, misalnya jalan santai atau bersepeda di kompleks perumahan. Selain membuat anak menjadi terlepas dari gadgetnya, orangtua dapat berkomunikasi dr. Nyoman Hanati, Sp.KJ. dengan anak, dan kegiatan olahraga juga membuat anak menjadi sehat. kemauan anak,” kata dr. Hanati. “Membangun komunikasi yang baik Ia menegaskan, lingkungan juga dengan anak, akan memudahkan para memberi dampak kepada pola asuh orangtua dalam memberi penjelasan anak. Dengan pola asuh yang baik ketika terjadi perbedaan pendapat. di rumah, akan mampu menangkal Anak juga akan mudah mengerti, be- paparan lingkungan yang kurang baik gitu juga orangtua dapat mengerti apa di luar rumah. (Wirati Astiti)

“Perdebatan” yang Menghangatkan Keluarga Dalam membangun kehangatan keluarga, komunikasi menjadi hal yang penting untuk mencapai tujuan bersama. Tak kalah pentingnya juga komunikasi antara orangtua dan anak-anak. Semakin bertumbuhnya usia anak, semakin besar pula kebutuhan dan kepentingannya. Di sanalah letak anakanak mulai memilih yang sesuai dengan keinginannya. Usia yang belum matang, cenderung membuat pilihan anak terfokus pada keinginan bukan kebutuhannya. Dua hal inilah yang kerap menjadi “perselisihan” antara orang tua dan anak. Keinginan orangtua dengan pertimbangan yang terbaik untuk anak, akan berbenturan dengan keinginan anak yang sesuai dengan kemauannya sendiri. Hampir setiap orangtua mengalami hal seperti ini, namun bijaksana dalam menengahi, itulah yang dibutuhkan untuk menyeimbangkan kemauan anak dan keinginan orang tua untuk memgarahkan anak berdasarkan potensinya. Wawasan orangtua menjadi penentu dalam harmonisnya pilihan bersama ini. Pengalaman ini dirasakan oleh Armita Budiyanti, ibu dua anak yang sewaktu anakanaknya masih kecil, telah terbiasa memberi mereka pilihan-pilihan sederhana. Bahkan untuk hal-hal kecil pun mereka diskusikan, misalnya seperti pilihan warna baju yang akan dikenakan, menu apa yang akan dimakan, buku apa yang akan dibaca dan sebagainya. Semua itu dilakukan untuk mengajarkan kedua anaknya dalam mengambil keputusan. “Saya lakukan untuk mengajarkan mereka mengambil keputusan,” kata Armita. Sebab itu jika pilihan yang mudah, tentu bisa mereka putuskan dengan cepat. Pola pendekatan Armita kepada kedua buah hatinya, Ignatius Dandy A.H. (20) dan Alexander Kevin Leonidas (14), saat beranjak remaja, di mana anak-anak mulai menghadapi hal-hal yg lebih kompleks, juga berbeda. Seperti ke mana mereka harus

Armita Budiyanti bersama kedua anak dan suaminya

melanjutkan sekolah. Menghadapi kedua anaknya ini, Armita membaca dengan baik karakter keduanya. Sebagai ibu, ia tentu sangat mengenal karakter masing-masing anaknya. “Anak sulung saya, cenderung membutuhkan arahan sedangkan si bungsu cenderung lebih tahu apa yang dia mau atau apa yang dia butuhkan,” ujarnya. Sebab itu, ia menghadapi kedua anaknya dengan cara berbeda. Menyikapi si sulung, Armita lebih banyak memberi arahan dengan memberikan beberapa pilihan berikut sudut pandang baik dan buruknya. Kemudian

setelah itu ia membiarkan anaknya ini mepilihan orang tua. Hal itulah yang terbawa ketika nentukan keputusan atau menetapkan apa ia memiliki anak di mana ia lebih banyak memuyang menjadi pilihannya.”Kalau dia sudah tuskan dengan sebab anaknya juga memiliki sifat memutuskan dan tahu apa konsekuensi seperti dirinya, manut saja. “Saya memutuskan dari keputusannya, maka yang bisa saya di mana anak bersekolah mulai dari TK hingga lakukan adalah mendukungnya,” katanya. SMA. Namun begitu, pada tahap berikutnya, Ini sangat berbeda ketika ia menghadapi si seiring waktu berlalu anaknya yang diberi nama bungsu yang justru si bungsu sendiri yang Krisna itu juga sudah mulai punya pilihan sendiri. menyodorkan pilihan untuk saya berikan Dan diskusi pun menjadi bagian dari pengambilan pertimbangan-pertimbangan. “Berbekal keputusan mereka. Ayu sadar bahwa ketika masukan-masukan dari saya, dia sendiri anaknya dewasa ia telah punya dunia sendiri dan yang akan memutuskan apa yang menjadi bersiap dengan kehidupannya sendiri. Sebagai kebutuhannya,” ujar Armita. orangtua ia hanya mendoakan dan mengarahkan Ia mengerti betul menghadapi anakserta membimbing agar anaknya bisa mengambil anaknya yang hidup di masa milenial ini keputusan terbaik. dengan menghindari benar memaksakan Ayu bersyukur, sejauh ini pilihan-pilihannya kehendak kepada anak-anaknya. “Sayang untuk anaknya ini berjalan dengan baik. Tidak sangat menghindari memaksakan kehendak jarang pula “perdebatan” terjadi dalam keluarga agar anak-anak leluasa mengambil kepumereka demi mendapatkan keputusan terbaik tusan,” katanya. Armita menyadari benar bagi Krisna. Tetapi, meski ada “perdebatan” dan bahwa hidup mereka kelak, mereka sendiri “perselisihan” antar orangtua dan anak dalam yang akan menjalani selanjutnya. “Tugas mengambil keputusan ini, justru menghangatkan saya hanya mengantarkan mereka pada hubungan dalam keluarga. (Naniek I. Taufan) kesiapan, lagi pula, saya yakin bila mereka telah mendapatkan pengarahan yang baik, apa yang mereka jalani nanti akan baik pula,” katanya. Ia akhirnya mengambil kesimpulan bahwa anak-anaknya tau apa yang terbaik untuk diri mereka sendiri. Lain lagi dengan Ayu Setiawaty yang berkaca dari kehidupannya dahulu. Perempuan yang usianya telah lewat setengah abad ini, dulunya Ayu Setiawaty bersama puteranya Krisna. tipe yang manut pada

redaksi@cybertokoh.com, iklan@cybertokoh.com

cybertokoh

@cybertokoh

@cybertokoh

www.cybertokoh.com


2

ESPRESSO GORO-GORO MK

“Kita semua sangat memuja perdamaian. Karena kita percaya, hanya dengan didasari Putu Wijaya keadaan yang damai, pembangunan akan berkesinambungan yang pasti menelorkan kemajuan, kecukupan kesejahteraan kemakmuran serta akhirnya kebahagiaan. Betul, tidak, Bu?” tanya Amat. Bu Amat berpikir. “Lho kok malah mikir?” “Bukan memikirkan pernyataan Bapak, saya memikirkan, nanti apa keputusan MK!” Amat terkejut lalu menoleh istrinya. “Lha, Bapak kenapa terkejut?” Amat berdecak dan menggeleng-gelengkan kepalanya. “Bapak tidak boleh melarang saya mengharapkan MK agar memutuskan supaya ...” “Tidak ada yang melarang siapa pun mengharapkan apa pun, asal... “

Sentra kerajinan tenun ikat endek dan songket menjadi salah satu maskot dari Kabupaten Klungkung. Hal ini menempatkan posisi perajin tenun memiliki akses pasar yang memadai tidak hanya berskala lokal daerah yang peminatnya berasal dari kalangan instansi, dan masyarakat umum juga segmen pasar global. Akan tetapi produk tidak akan mampu bersaing kompetitif di pasaran tanpa disertai oleh sentuhan inovasi kreatif dari pengerajin tenun. Mitra UKM Pertenunan Astiti dan UKM Pertenunan Mujur Sari melihat celah ini dengan menghadirkan sentuhan kreativitas yang semula kain yang dijual lembaran dirancang untuk diolah menjadi produk jadi dengan sentuhan fashion busana formal sampai dengan busana santai. Keterampilan ini diperoleh berdasarkan pelatihan dan pendampingan dari pihak

bacaan wanita dan keluarga Penerbit PT Tarukan Media Dharma Terbit sejak 9 November 1998

“Asal apa?” “Asal sebatas mengharapkan tok.” “Artinya apa itu?” “Artinya jangan berharap!” “Kenapa?” “Biarkan MK membuat keputusannya!” “Jadi Bapak melarang orang berharap? Itu pembunuhan karakter!” Amat meloncat dari kursinya karena kaget. Langsung bergerak mau keluar. “Lho, Bapak mau ke mana?” Sambil menutupkan pintu ke teras Amat menjawab lirih. “Daripada jadi pembunuh, Bapak lebih baik jalan-jalan sebentar cari angin supaya hati damai.” Begitu pintu tertutup dan kedengaran tapak kaki suaminya turun ke halaman, Bu Amat tersenyum. Tapi ia masih merasa perlu mengintip dari jendela. Ketika sudah benar-benar yakin suaminya tak kelihatan, ia langsung mendekati TV. Mengusir diskusi politik yang menyebalkannya karena memancing tensinya naik, pindah ke siaran ulangan “Siraman

Kalbu” (Sejukkan Hati). Mata Bu Amat langsung tak berkedip. Dan ketika di layar kaca nampak pasien yang sedang didoakan oleh ustadz Danu, gemetar, karena jin keluar dari tubuhnya, empati merasuki pikiran Bu Amat, sehingga ia merasa dirinyalah yang sedang diterapi. “Dewa Ratu! Kenapa,, Bu!” Bu Amat memekik. Amat yang rupanya diam-diam kembali ke rumah lewat pintu belakang, untuk mengambil jaket ikut kaget. Menyadari itu suaminya, Bu Amat langsung mematikan TV. Lalu bergegas masuk kamar. Amat jadi termenung. “Bapak tambah yakin bahwa ibu kamu itu sedang kena imbas virus marah, Ami,” kata Amat esoknya melaporkan kejadian itu pada Ami.”Marah itu penyakit menular yang ganas. Bisa melalap kewarasan kita semua sehingga kehilangan akal sehat. Itulah yang sesungguhnya menjadi hantu pembunuhan karakter. Yang sedang mewabah sekarang. Masak lembaga MK yang kita bikin

EDISI 1037/ 24-30 JUNI 2019

sendiri untuk menegakkan hukum berjalan benar, masak masih kita recoki dengan harapan-harapan pribadi. ituah sejatinya pembunuh karakter sejatl, Ami. Bukan Bapak yang pencinta damai ini!” Ami diam saja tak menjawab, sampai Amat membentak. “Kamu kok diam saja, Ami. Tolong sindir ibu kamu. Pembunuh karakter itu mereka para penyebar virus marah, bukan penyebar pembela damai seperi bapakmu ini!” Karena Ami tetap nampak tak mau memihak, Amat pulang dengan kesal. Tapi begitu sampai di rumah, istrinya langsung bertanya. “Bapak habis dilabrak, Ami?” Amat tercengang. “Siapa bilang begitu?”

SUDUT PANDANG

Di dalam keluarga yang kuat terjalin komunikasi antaranggota keluarga dan interaksi sosial yang hangat. Interaksi sosial sangat diperlukan untuk mempererat hubungan antaranggota keluarga utamanya antara orangtua dan anak. Salah satu bentuk interaksi sosial dalam penerapan pola asuh anak untuk membentuk karakter buah hati sejak dini.

B

Putu Ayu Prabawati Sudana, S.Pd.,M.Hum.

mitra UKM. Yang tengah diproduktifkan keberadaannya adalah mengintensifkan tampilan di media online mengenai jenis produk yang di pasarkan sehingga jumlah pesanan baik domestik maupun mancanegara dapat mengakses jumlah pesanan, volume kebutuhan dan model desain yang diinginkan. Pr o g r a m p e m b e r d a y a a n perajin melalui program inovatif perduli dengan sinergi mutual antar perguruan tinggi dengan mitra UKM menjadi salah satu bentuk Tri Dharma Perguruan Tinggi yang direal-

isasikan melalui program pengabdian kepada masyarakat. Esensi program adalah membantu pemenuhan kebutuhan mitra sebagai penyedia produk di pasaran dalam meningkatkan kualitas pelayanan publik kepada pelanggan baik dalam tataran pembeli produk yang berskala di seputar lingkungan sekitar maupun konsumen luar negeri. Upaya ini sebagai bentuk terobosan dalam hal konsen dengan produk tenun Indonesia sebagai khasanah aset bangsa yang perlu dijaga kelestariannya. Ni Ketut Sari Adnyani, S.Pd.,M.Hum. Jurusan Hukum dan Kewarganegaraan Fakultas Hukum dan Ilmu Sosial Universitas Pendidikan Ganesha

KATA HATI: Rubrik ini khusus untuk menuangkan ide/pemikiran/gagasan dalam bentuk tulisan. Tema terkait wanita dan keluarga serta tidak mengandung unsur SARA. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter. Lampirkan juga foto close up (bukan pasfoto). Cantumkan nama lengkap, profesi, nomor hp, dan alamat email. Naskah dikirim ke redaksi@cybertokoh.com, redaksitokoh@yahoo.com.

Penanggung Jawab/Pemimpin Redaksi: Gde Palgunadi. Redaktur Pelaksana: Ngurah Budi. Staf Redaksi/Iklan Denpasar: IG.A. Sri Ardhini, Wirati Astiti. Buleleng: Wiwin Meliana. Jakarta: Diana Runtu. NTB: Naniek Dwi Surahmi. Desain Grafis: IDN Alit ­B udi­a rtha, ­I Made Ary ­Supratman. Manajer Sirkulasi dan Iklan: I Ketut Budiarta, Sirkulasi: Kadek Sepi Purnama, Hariyono, Ayu Wika Yuliani. Se­kretariat: Ayu ­Agustini, Putu Agus Mariantara. Ombudsman: Jimmy Silalahi. Alamat Redaksi/Iklan Denpasar: Gedung Pers Bali K. Nadha, Lantai III, Jalan Kebo Iwa 63 A ­Denpasar 80117–Telepon (0361) 425373, 7402414, 416676–Faksimile (0361) 425373. Alamat Redaksi/Iklan/Sirkulasi Jakarta: Jalan ­Pal­merah ­Barat 21 G Jakarta Pusat 10270–Telepon (021) 5357603 - Faksimile (021) 5357605. NTB: Jalan Bangau No.15 Cakranegara, Mataram–­Telepon (0370) 639543– ­Faksimile (0370) 628257. Surat Elektronik: info@cybertokoh.com, redaksi@cybertokoh.com, iklan@cybertokoh.com. Bank: BRI ­Cabang ­Gajah Mada Denpasar. Nomor Rekening: PT Tarukan Media Dharma: 0017-01-001010-30-6. Percetakan: BP Jalan Kebo Iwa 63 A Denpasar.

15

Jangan Paksakan Kehendak

: Cyber Tokoh

Inovasi Produk Unggulan Tenun di Klungkung institusi formal yaitu Lembaga Penelitian dan Pengabdian Universitas Pendidikan Ganesha yang di tahun 2019 mengagendakan program grebek fashion untuk menambah wawasan perajin di bidang skill menjarit dan inovasi produk menjadi busana yang siap dipasarkan. Adapun relevansi antara kebutuhan pasar dengan akses penyediaan oleh perajin bak gayung bersambut bahwa pelaku usaha yang dalam hal ini perajin sebagai penyedia produk menjembatani tingkat kebutuhan konsumen yang menginginkan varian produk yang beragam dari desain yang diminati pasar. Ni Ketut Sari Adnyani, S.Pd.,M.Hum. Pemetaan peluang oleh perajin dan tim pelaksana program penDemikian juga halnya seggabdian disepakati untuk men- men pemasaran offline dengan jawab tantangan pasar dalam hal jasa pengepul, membuka toko kebutuhan sandang. dan butik telah ditempuh oleh

“Karena kalau Bapak hanya sibuk gembor-gembor tok soal damai, dia pasti akan mengingatkan Bapak apa kata George Washington, presiden pertama Amerika Serika!” “Apa katanya?” “Untuk menjaga perdamaian dibutuhkan senjata. Dan kita tahu sendiri, kata Ami, kalau manusia sudah punya senjata, mereka pasti maunya perang! Nah itu pembunuhan karakter! Kan lebih baik...”. “Lebih baik apa?” “Lebih baik, berharap seperti saya, supaya MK nanti membuat keputusan sendiri tanpa ada rasa takut, terpengaruh oleh tekanan, kecaman atau ancaman apa dan dari siapa pun!”

EDISI 1037/ 24-30 JUNI 2019

entuk pola asuh anak setiap orangtua berbeda sesuai dengan latar belakang pendidikan maupun sosial orangtua itu sendiri. Penerapan pola asuh yang salah tentu akan berdampak buruk terhadap perkembangan anak. Hal ini diungkapkan oleh akademisi Undiksha Singaraja Putu Ayu Prabawati Sudana, S.Pd.,M.Hum. Perempuan yang akrab disapa Miss Praba tersebut mengatakan setiap orang menginginkan anaknya dapat tumbuh menjadi generasi cerdas dan berguna, sehingga bimbingan orangtua sangat diperlukan untuk membentuk karakter dan kedisiplinan anak sejak dini. “Untuk hal-hal yang dasar seperti pembentukan disiplin dan karakter saya tipe orangtua yang keras,” ungkapnya. Meski memiliki kewajiban mengarahkan anak dalam menggapai

masa depan, perempuan yang saat ini menjabat sebagai Kepala UPT Bahasa Undiksha ini mengaku tidak dapat secara semena-mena memaksakan kehendak diri sebagai orangtua. Dirinya tetap memberikan anak untuk menyampaikan pendapat dan keinginannya. Hanya saja untuk setiap keinginan harus disertai oleh argumen-argumen yang mendukung pendapat tersebut. “Saya biasakan menanyakan alasan dibalik pilihan dan jawaban mereka,” ujarnya. Meskipun tidak memiliki waktu secara penuh bersama buah hati karena kesibukan, akan tetapi Praba selalu berusaha untuk mengerti kondisi dan keadaan anak. Emosi yang masih labih, kadangkala membuat anak susah untuk diatur. Biasanya, kata Praba hal yang membuat sang anak tidak mengikuti perintahnya ketika anak merasa bosan dan bad mood. Jika

keadaan itu datang, dirinya akan cepat menyadari dan tidak akan memaksakan kehendaknya. Justru dirinya akan membujuk sang anak untuk bercerita masalah yang dihadapi. “Saya akan tanyakan masalahnya, bahkan berusaha menyenangkan mereka agar mereka mau bercerita. Menraktirnya salah satunya,” imbuhnya. Perempuan yang lahir 25 Januari 1984 ini mengatakan sangat penting untuk dapat mengendalikan dan mengontrol emosi anak. Hanya saja tidak disarankan memaksakan kehendak yang membuat anak merasa tidak nyaman. “Sebaiknya anak nurut itu dari hati bukan dari paksaan, dan sejauh ini anak saya tipe penurut. Bahkan kalau pun saya tidak ada di rumah mereka tetap mengikuti peraturan yang telah disepakati,” pungkasnya. (Wiwin Meliana)

Orientasi Kehumasan Pemkab Buleleng Coba Adopsi “Jabar Quick Respons”

Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Buleleng melalui Bagian Humas dan Protokol menyelenggarakan Orientasi Kehumasan di Biro Humas dan Protokol Pemerintah Provinsi Jawa Barat (Pemprov Jabar). Dari orientasi tersebut, Pemkab Buleleng akan mencoba menerapkan salah satu inovasi Humas Jabar yaitu “Jabar Quick Respons” di Kabupaten Buleleng. Kunjungan Kerja Pemkab Buleleng Hal tersebut terke Provinsi Jawa Barat ungkap dalam orientasi kehumasan yang dipimpin langsung oleh Wakil Bupati Buleleng dr. I Nyoman Sutjidra, Sp.OG dan diterima oleh Kepala Biro (Karo) Humas dan Protokol Pemprov Jabar Ir. Hermansyah, M.Si di Ruang Rapat Papandayan, Kantor Gubernur Jabar, Kamis (20/6). Ditemui usai kegiatan, Wabup Sutjidra menjelaskan dari orientasi ini Pemkab Buleleng bisa mempelajari berbagai program inovasi dari Pemprov Jabar khususnya di Humas Jabar. Dari pemaparan disebutkan ada “Jabar Quick Respons”. Untuk di Buleleng sendiri juga mempunyai hal semacam itu namun masih di bidang kesehatan yaitu Buleleng Emergency Service (BES). Untuk bisa seperti “Jabar Quick Respons”, nantinya BES akan diintegrasi dengan berbagai Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) sehingga bisa melibatkan lebih banyak pihak. “Saya lihat, di Jabar ini sudah terintegrasi sekali bahkan mereka telah melibatkan pihak swasta,” jelasnya. Menurutnya, pengadopsian “Jabar Quick Respons” ini nantinya akan menghasilkan BES Plus. Jika BES hanya bergerak di bidang kesehatan, BES Plus akan bergerak di seluruh bidang dengan melibatkan seluruh pihak ataupun SKPD terkait. Dengan begitu, segala permasalahan di masyarakat bisa diatasi dengan cepat. “Kita akan coba adopsi “Jabar Quick Respons” tersebut dengan BES Plus. Kita akan rintis,” ujar Wabup Sutjidra. Sementara itu, Karo Humas dan Protokol Pemprov Jabar, Hermansyah mengungkapkan humas tidak boleh ketinggalan zaman. Humas harus mengikuti kemajuan zaman tersebut. Kalau saat ini media sosial lebih banyak digunakan sebagai penyampaian pesan maka humas pun harus memanfaatkan medsos tersebut. Humas tidak boleh terpaku dengan media konvensional meskipun humas juga tidak boleh melupakan media-media konvensional tersebut seperti media cetak, televisi, maupun elektronik. “Media tersebut tetap menjadi bagian dari humas tetapi media online maupun media sosial harus diikuti juga,” ungkapnya. Dirinya menambahkan sebenarnya media sosial itu murah tetapi sasarannya mengena. Utamanya kepada kaum milenial yang sangat adaptif terhadap perubahan. Itu sangat diperlukan untuk menyasar kaum muda. Keaktifan di media sosial ini menjadi suatu kebaruan ataupun inovasi di Humas Jabar. “Intinya jangan sampai ketinggalan dengan teknologi,” tutup Hermansyah. -win


SUDUT PANDANG

14

Dukung Passion Positif

Memiliki dua anak yang beranjak dewasa membuat Iis Dahlia bahagia sekaligus cemas. Bahagia, karena kedua anaknya tumbuh dengan baik. Salshadilla Juwita atau akrab disapa dengan Salsa kini berusia 21 tahun dan tengah kuliah di Inggris, sedang Devano Danedra masih SMA dan tengah mengembangkan karier di dunia entertainment.

N

amun di sisi lain Iis merasakan kecemasan, khawatir anaknya terjerumus pada pergaulan tidak sehat. Maklum, setelah anak-anak sudah beranjak besar mereka memiliki banyak waktu untuk beraktivitas di luar rumah, pergaulan pun semakin luas. Sementara Iis merasa pergaulan anakanak sekarang lebih berbahaya. Itu sebabnya ia menjadi protektif kepada kedua anaknya. “Ya iyalah. Kita harus tahu anak-anak lagi dekat sama siapa, lingkungannya sepertia apa. Karena sekarang kan pergaulan lebih berbahaya. Karena bisa terpengaruh. Layaknya orangtua harus tahu pergaulanan anaknya dimana,” ungkap Iis tentang anak-anaknya. Devano menjadi sumber ketakutan Iis. Selain anaknya masih remaja juga memiliki banyak aktivitas di luar rumah. Sementara sang kakak, Salsa, kata Iis, tergolong anak rumahan yang lebih suka beraktivitas di rumah ketimbang keluyuran bersama teman-temannya. “Dia (Salsa) anak rumahan banget. Kalaupun ada teman, dia lebih suka ngajak teman-temannya main di rumah,” jelas

Edisi 1037/ 24 - 30 juni 2019

Iis Dahlia

wanita kelahiran Indramayu 47 tahun lalu itu. Bicara tentang karier Devano, Iis mengaku dia tidak mengarahkan ataupun mempersiapkan anaknya itu masuk ke dunia hiburan. Bahkan kalau boleh dibilang, dia tidak ingin Devano berkiprah di dunia tersebut. Dia ingin anaknya hanya berkonsentrasi di pendidikan dan kelak mengikuti jejak ayahnya menjadi pilot. Namun yang namanya minat anak, sungguh tidak diduga. Suatu ketika Devano datang padanya dan menyatakan ingin berkiprah di dunia hiburan. Akhirnya, mau-tidak mau Iis pun

mengiyakan dan mendukung kariernya dengan syarat tetap memprioritaskan pendidikan. “Orangtua zaman sekarang tidak bisa mengarahkan atau paksa-paksa anak harus begini-begitu. Apa passion anak, asalkan positif, kita orangtua mendukung. Begitu juga Devano yang passionnya di seni. Jadi yang penting dia bertanggung jawab dan peduli pendidikannya,” tutur pelantun tembang ‘Tamu Tak Diundang’, ini. Pendidikan, kata Iis lagi, memang menjadi penekanan tersendiri. Anakanak, boleh saja berkegiatan macammacam namun pendidikan tidak boleh ditinggalkan. Berkarier sebagai artis tidak bisa dijadikan gantungan masa depan. Apalagi tidak ada jaminan penghasilan tetap. “Tapi apa mau dikata, Devano minatnya di dunia seni. Ya sudah. Berarti dia nantinya harus belajar berbisnis,” ujar artis yang piawai bahasa gaul ini. Sekarang ini, karier Devano tengah berkembang baik di dunia menyanyi maupun akting. Berawal dari single berjudul ‘Always In Love With You’ tahun 2017, duet dengan sang kakak Salsha. Kemudian ia meluncurkan single solo perdananya ‘Menyimpan Rasa’ serta beberapa lagu lainnya. Di luar itu, ia juga merambah ke dunia perfilman. Setidaknya sampai sekarang dia sudah membintangi tiga film ‘Dear Nathan: Hello Salma’, Melodylan, DoReMi&You’.

ATUR KEUANGAN ANAK Dari proyek-proyek itu ia mendapat penghasilan yang cukup besar, belum lagi bayaran endorsement yang lumayan besar. Nah yang sempat bikin pusing Iis beberapa waktu lalu adalah sifat boros anaknya. Hal ini, kata Iis, karena anak-anaknya belum mengerti artinya uang, belum menyadari betapa sulitnya mencari uang. “Anak gua dua-duanya nggak ngerti duit. Main belanja-belanja aja, main gesek-gesek aja. Nggak tau harganya berapa. Salsa, Devano, dulu begitu,” ungkap Iis. Ada satu kejadian, kata Iis, dimana Devano menghabiskan uang hingga Rp 20 jutaan. Mengetahui hal itu, kata Iis, dirinya dan suami, kaget. “Trus kita tanya dong, adek (Devano) buat apaan sih. Suatu ketika dia bilang, dia mau nelepon cewek namun susah dihubungi, akhirnya dia belikan itu cewek HP, harganya mahal,” tuturnya. Sejak itu, ucap pemeran film ‘Terlalu Tampan’, ini, dirinya langsung bertindak dengan membatasi ATM Devano. Tapi kata Iis, bukan berarti Devano tidak bisa mempergunakan uangnya. Dia memahami Devano yang bekerja untuk mendapatkan uang, pun membutuhkan dana untuk kesehariannya. Karena itu, kata Iis, ia tetap mengalokasikan dana per bulan Devano Rp 10 juta. “Adek bisa pakai uang itu. Selebihnya penghasilan ditabung,” tuturnya. Ada dua rekening yang dibuat untuk menampung

penghasilan Devano dari kiprahnya di entertainment. “Jadi untuk endorsement yang kecilkecil, dia bisa pegang uang itu. Sedang proyek-proyek besar ataupun endorsement besar, aku yang pegang. Vano bisa memahami hal itu. Aku bilang mencari uang itu tidak mudah. Apakah uang mau dihambur-hamburkan begitu saja, tanpa memikirkan masa depan. Jadi aku kasih wejangan panjang-lebar, dan dia bisa mengerti,” tuturnya. Bagaimana dengan Salsha? Terkait Salsa, Iis mengaku, awalnya anak sulungnya pun demikian, sempat boros dan membelanjakan penghasilannya yang didapat dari dunia entertainment tanpa berpikir panjang. Namun seiring waktu serta bertambahnya usia, Salsha menjadi semakin dewasa dan sadar tidak mudah mencari uang. Dia juga menjadi lebih mandiri. Kariernya di dunia hiburan berjalan cukup baik, namun Salsa lebih memilih pendidikan. Bahkan dia memutuskan kuliah di luar negeri agar bisa mandiri. Terus terang, kata Iis, waktu Salsha meminta untuk kuliah di luar negeri dirinya sempat galau karena tidak pernah berpisah dari kedua anaknya. Selain itu tempat yang dipilih Salsa untuk menimba ilmu cukup jauh yakni Inggris. Namun berpikir bahwa semua itu adalah untuk masa depan sang anak, akhirnya ia pun mendukung langkah Salsa yang mengambil jurusan bisnis marketing. (Diana Runtu)

Tiga Pilar Kota Denpasar Ikuti Seleksi Tingkat Provinsi

IB Rai D. Mantra

Seleksi dan Orientasi Pilar-Pilar Sosial Nasional adalah salah satu bentuk penghargaan dan motivasi pemerintah terhadap kontribusi dan keberadaan Pilar-Pilar Sosial di masyarakat. Pada seleksi Tingkat Provinsi kali ini, Pilar-Pilar Sosial Kota Denpasar diwakili tiga Pilar, yakni Karang Taruna Eka Taruna Bhakti Desa Sumerta Kelod, Pekerja Sosial Masyarakat (PSM) Ni Made Kasmiati,S.Pd, dari Desa Dangin Puri Kelod dan Lembaga Kesejahteraan Sosial (LKS) dari Yayasan Peduli Kemanusiaan Bali, di Kesiman Kertalangu, ketiganya dari Denpasar Timur. Acara penerimaan Tim Seleksi Tingkat Provinsi yang dilaksanakan di Kantor Desa Sumerta Kelod, Jalan Drupadi, Renon, Jumat (21/6), dihadiri juga oleh

Wali Kota Denpasar, Wakil Ketua K3S Kota Denpasar. Dalam kesempatan itu, Kadis Sosial Kota Denpasar I Made Mertajaya, S.Sos., M.M., didampingi Kabid Pemberdayaan Sosial dan Penanganan Fakir Miskin Made Yudyani Putri, S.E., M.Si., mengatakan untuk tahun ini, Kota Denpasar memang menyertakan tiga Pilar-Pilar Sosial, sebab yang keempat TKSK (Tenaga Kesejahteraan Sosial Kecamatan) Kota Denpasar, semuanya sudah tembus ke tingkat nasional. Dikatakan oleh Merta Jaya, PilarPilar Sosial dalam perannya sebagai mitra pemerintah, dapat menangani masalah kesejahteraan sosial

masyarakat, juga memiliki pemahaman nilai kesetiakawanan sosial serta restorasi sosial. Wali Kota Denpasar IB Rai D. Mantra pada kesempatan yang sama menyampaikan apresiasinya kepada aktivitas para pemangku kepentingan yang ada di segala tingkat wilayah juga generasi muda termasuk ketiga pilar yang telah banyak membantu masyarakat, khususnya dalam

penanganan penyandang masalah kesejahteraan sosial di lingkungan Kota Denpasar. Selain itu juga penghargaan kepada tenaga kerja sosial, masyarakat, lembaga dan yayasan non profit di luar pemerintahan Kota Denpasar yang turut juga mendorong tingkat indeks pembangunan manusia di Kota Denpasar. Wali Kota juga mengingatkan untuk menjaga pilar-pilar sosial

tersebut dengan baik. Jangan sampai dana sosial di Kota Denpasar tidak tepat sasaran dalam penggunaannya Sementara itu Ketua Tim Seleksi dari Provinsi Bali Dra. Ni Pt. Budiari , M.MA, yang juga Ketua Bidang Pemberdayaan Dinsos Provinsi Bali , mengatakan bahwa benar kali ini tim menilai tiga Pilar-Pilar Sosial, mengingat Pilar TKSK sudah menjadi juara semua, sehingga tidak lagi mengikuti seleksi. Harapannya dengan hadirnya Wali Kota mendukung Pilar-Pilar di Kota Denpasar juga berafiliasi dengan kegiatannya dan dapat dibanggakan hingga ke tingkat nasional. Diharapkan pula semua kegiatan bisa mengacu pada visi Pemerintah Provinsi Bali ‘Nangun Sat Kerthi Loka Bali’. -ard.

Sosialita

Edisi 1037/ 24 - 30 juni 2019 Kesehatan adalah karunia paling indah yang kita miliki dan harus dijaga. Begitu juga dengan kesehatan mulut dan gigi juga penting dijaga. Sebab, mempunyai gigi sehat, dan cemerlang, bisa menjadikan lebih mudah tersenyum, serta menjadikan rasa percaya diri lebih lagi.

M

enurut drg. Dewa Ayu Wulandari, pemilik Kamandhani Dental & Beauty, gigi yang sehat berkontribusi untuk meningkatkan kepercayaan diri seseorang, sehingga mengoptimalkan performanya Apalagi

3

Dewa Ayu Wulandari

Jaga Gigi yang Sehat tetap Sehat kesehatan gigi menjadi salah satu kunci bagi kita untuk menikmati berbagai makanan yang ada di dunia ini. Mengingat saat ini semakin banyak tempat kuliner dengan aneka menu yang menggoda, maka kita wajib lebih peduli dengan kesehatan gigi. Sebab saat kita tak tahan untuk tidak menjajal berbagai hidangan yang tersedia, diperlukan gigi yang kuat demi menghindari

drg. Wulan dan tim saat di Korea

Indra Lesmana dan Istri juga mempercayakan perawatan giginya di Kamandhani.

Dewa Ayu Wulandari

Kamandhani Dental & Beauty Nyaman dan Fasilitasnya Modern Dokter gigi Wulan mengatakan upaya pencegahan penyakit gigi juga sangat baik dilakukan sejak dini. Salah satu, yang dilakukannya adalah beker­ jasama dengan sekolah Raj Yamuna dengan mengadakan kegiatan edukasi, penyuluhan juga mengecek kesehatan gigi murid setiap enam bulan sekali serta mengingatkan selalu menyikat gigi secara baik dan benar minimal dua kali sehari. Jika bicara mengenai gigi, anak-anak dengan gigi susu mereka, sepatutnya jangan sampai luput dari perhatian orangtua. “Jangan datang ke dokter gigi saat buah hatinya sedang sakit gigi, tapi datanglah memeriksakan sebagai upaya pencegahan,” cetus drg. Wulan yang kliniknya dipercaya dan ramai dikunjungi wisatawan asing dan para selebritis ibu kota yang menetap di Bali ini. Ibu dari AA Nandiswari Swayoga ini juga menyampaikan, sejak anak berumur satu tahun, orangtua sebaik­ nya sudah membawa anak ke dokter gigi. Agar orangtua memperoleh

edukasi, mulai dari pemilihan sikat gigi hingga soal pencegahan karies pada gigi anak, sekaligus mengajarkan anak tidak asing dengan ruangan dokter gigi.

Usai memberikan edukasi untuk Finalis Putra Putri Tuli

Menyoal edukasi, drg. Wulan juga sempat berbagi pengetahuan di beberapa kegiatan seperti pemilihan Duta Endek Kota Denpasar dan pemilihan Putra Putri Tuli. Kepada mereka disampaikan cara menggosok gigi yang benar. Sebab, bukan hanya anak-anak, bahkan masyarakat masih banyak belum mengetahui secara tepat bahwa menggosok gigi yang benar itu penting, demi meningkatkan resistensi tubuh terhadap penyakit gigi. Sementara itu untuk di intern kliniknya, selain terus meningkatkan pelayanan yang baik, mereka juga selalu meng-update pengetahuan bersama. Salah satunya drg. Wulan mengajak tim kerjanya melakukan studi banding ke Korea Selatan. Di sana mereka mempelajari mengenai manajemen dan dental implant. Selanjutnya drg. Wulan juga menyampaikan jenis layanan dari Kamandhani Dental & Beauty berupa: konsultasi kesehatan gigi, Whitening Bleaching, Scalling Root Planing yakni tindakan konversional non-bedah peridontal dengan mengangkat agen (plak, stain, karang gigi) di permukaan gigi, Veneers gigi (disebut juga veneer porselin atau laminasi porselin gigi), Crown Bridge, Implant, Braces atau lebih dikenal dengan sebutan kawat gigi, dan perawatan estetik lainnya dengan penanganan yang tepat dan profesional, serta di dukung suasana klinik nyaman dengan fasilitas yang modern. - ard

ngilu. Kondisi gigi ngilu, kata drg. Wulan merupakan gangguan klinis yang umum terjadi. Rasa nyeri yang menusuk dentin gigi yang terbuka akibat rangsangan suhu dingin dan panas, atau kandungan kimiawi asam dan manis pada makanan dan minuman. “Nah, begitulah ketika kita lalai memperhatikan kesehatan gigi, bisa terjadi gangguan dan akibatnya sakit gigi. Begitu gigi bermasalah , maka sangat mungkin membuat kita bukan hanya kehilangan waktu untuk kerja atau belajar tapi juga kesempatan melakukan aktivitas lainnya,” cetus putri dari pasutri drh. D. MN Dharma., M.Sc., Ph.D dan Desak Putu Parmini (alm) ini. Namun masalahnya, masih banyak orang belum menyadari betapa pentingnya melakukan konsultasi gigi dan mulut secara berkala. Selama ini, orang pergi ke dokter gigi hanya jika giginya sudah sakit atau berlubang. Padahal pemeriksaan gigi dan mulut oleh dokter gigi dapat men- deteksi dan mengobati berba-

gai gangguan yang umum menyerang area mulut. Drg. Wulan pun menganjurkan untuk memeriksakan gigi ke dokter sekurangnya enam bulan sekali. Semakin dini penyakit terdeteksi, perawatan akan semakin sederhana. Biaya

menjadi semakin murah, risiko sakit pun akan semakin kecil. “Dilakukan ya, jangan hanya rencana. Gigi yang sehat harus dijaga agar tetap sehat . Ini jauh lebih efektif dan efisien dalam menurunkan kemungkinan akan timbulnya penyakit akibat gigi dan mulut yang tidak dirawat. Belum banyak yang melakukan pencegah daripada mengobati, “ tandas dokter gigi yang juga pemilik usaha tas kulit handmade “Bali Hobi berkuda Swari” ini. -ard

Kamandhani Dental & Beauty

Jalan Sidakarya No. 121, Sesetan Denpasar Phone 0818 0530 0037/ 0813 3876 9191 Buka Senin – Sabtu Pukul 11.00 AM – 09.00 PM


Woman on Top

4

Edisi 1037/ 24 - 30 juni 2019

METROPOLITAN

Edisi 1037/ 24 - 30 juni 2019

Perbaikan Sistem PPDB Perlu Dilakukan

Inda Trimafo Yudha

Siap Mengemban Aspirasi Masyarakat Ia lahir dari organi­ sasi kepemudaaan dan kewirausahaan. Ketika berorganisasi ia bisa menampung aspirasi, meng-update informasi hingga menguatkan jiwa kepemimpinannya. Namanya makin melejit lantaran ia tampil sebagai wanita pertama yang memimpin HIPMI (Himpunan Pengusaha Muda Indonesia), selama dua periode. Selain itu Gek Inda pun sempat memegang beberapa jabatan tinggi organisasi kepemudaaan dan kewirausahaan, yang menjadikannya terbiasa berada di tengah-tengah masyarakat.

P

emilik nama lengkap I Gusti Ayu Agung Inda Trimafo Yudha ini, bukan hanya dikenal sebagai pengusaha wanita, tapi juga seorang politisi wanita. Pantas saja jika di ajang pemilihan legislatif April 2019 lalu, ia berhasil menjadi srikandi pertama dapil Petang, Badung, yang lolos ke DPRD Badung. Meski baru bergabung di PDI Perjuangan (sebelumnya ia mengikuti jejak sang ayah ada di Partai Golkar) dan berjuang efektif hanya 6 bulan, ternyata berhasil merebut 5.900 suara. Ketika bicara perjuangan, cucu dari pahlawan, I Gusti Ngurah Rai ini, bakal melanjutkannya melalui kursi parlemen. Ia ingin lebih lagi mengemban aspirasi masyarakat, termasuk memperjuangkan ber-

Zonasi penerimaan peserta didik baru (PPDB) memasuki tahun ketiga, namun pelaksanaannya belumlah mulus sebagaimana yang diharapkan. Masih banyak permasalahan yang dijumpai. Sebagian masyarakat berpendapat bahwa PPDB berdasarkan zonasi justru menimbulkan masalah bahkan jadi merugikan siswa. Namun sebagian lagi berpendapat penerapan zonasi justru baik bagi pendidikan khususnya dalam pemerataan kualitas dan akses pendidikan. KPAI Bidang Pendidikan), Ijte Chodijah (Pakar Pendidikan dan Anggota Badan Akredatasi Nasional) ; Heru Purnomo (Sekretaris Jenderal Federasi Serikat Guru Indonesia) karena FSGI juga men-

Sentuh Berbagai Bidang

bagai sektor peranan perempuan demi pembangunan partisipatif. Gek Inda juga mengatakan komitmennya dari awal terjun ke politik, ia tidak akan meninggalkan dunia usaha. Mengingat usaha yang dikawalnya selama ini sudah memiliki fondasi yang kuat. Dari aktivitasnya di dunia usaha pula dirinya bisa melihat kebutuhan masyarakat di lapangan.”Apa yang saya perjuangkan kalau tidak tahu masalah dan update informasi,” cetus Gek Inda yang mengelola usaha Pod Chocolate Factory sejak 2013 bersama sang suami Tobias Garitt ini Begitu pula bicara perempuan, di sana ada anak-anak, yang masih memerlukan perhatian.Utamanya menyangkut soal pendidikan, seperti urusan kurikulum yang memegang posisi sentral dalam keberhasilan

pendidikan. Walaupun sistem edukasi di Indonesia terbilang berjalan baik, namun masih diperlukan penguatan pendidikan karakter. Hal ini, penting bagi kita semua, bagi Indonesia, sebagai dasar pembentukan karakter berkualitas, tanpa mengabaikan nilai sosialnya seperti toleransi, gotong royong, hingga saling menghormati. Mengingat pula, kesuksesan seseorang tidak sematamata ditentukan oleh pengetahuan dan kemampuan teknis serta kognisinya (hard skill) saja, juga dari kemampuan mengelola diri dan orang lain (soft skill). “Apalagi untuk mencetak pemimpin yang berkualitas, karakter yang kuat sangatlah diperlukan,” ujar Gek Inda yang sempat menimba ilmu pendidikan Manajemen Perhotelan di International College of Hotel Management (ICHM), Adelaide, Australia ini. (Sri Ardhini)

Board Director IABC (Indonesian Australian Business Consul) ini, juga berharap dalam menjalankan tugas sebagai wakil rakyat nantinya, dapat mengusulkan kebijakan yang pro terhadap lahirnya pengusahapengusaha baru. Sebab, negara maju adalah ketika mampu mencetak wirausaha yang banyak. ”Kami akan mendukung Indonesia sebagai negara maju pada tahun 2025, dimana sejak tahun 2015 telah menargetkan jumlah wirausaha mencapai 2,5 persen dari total jumlah penduduk,. Selain itu semoga saya juga bisa berkontribusi menampung tenaga kerja dan menguatkan ekonomi negara. Jadi tidak semua orang ngantre untuk menjadi ASN,” ucap pengusaha wisata True Bali Experience dan

13

Bali Horse Riding ini. Selanjutnya melalui kedudukannya sebagai Ketua BPD Putri (Perhimpunan Usaha Taman Rekreasi Indonesia) Bali, Gek Inda juga memiliki peluang yang semakin luas dalam memperjuangkan aspirasi pelaku usaha pariwisata, sebagai tulang punggung ekonomi Bali. Selain itu, ia juga bakal menyentuh bidang kebudayaan. Mengingat di dapilnya, Petang banyak pelaku seni terutama di bidang tari dan tradisi gamelan, seperti baleganjur dan Semar Pegulingan, yang semua perlu dibina. “Berikutnya saya bakal ke banjar-banjar, menjalin kerjasama dengan kepala desa untuk menciptakan taman bermain untuk anak-anak. Sebab dari seni juga dapat membentuk karakter anak didik, sehingga sekali merengkuh dayung dua tiga pulau terlampaui,” ujarnya optimis. Sementara untuk memperjuangkan aspirasi masyarakat ke eksekutif, menurut Gek Inda harus dengan komunikasi dan presentasi yang baik. Saat ini, dengan bernaung di bawah partai yang memimpin di Badung, baginya menjadikan jalur yang lebih lancar untuk melakukan lobi dan komunikasi. Intinya dirinya bakal berusaha memperjuangkan dan mempresentasikan dengan jelas pada pihak eksekutif agar bisa mendengarkan. (Sri Ardhini)

D

berikutnya adalah mendorong pemerintah daerah untuk meratakan sarana dan prasarana, pemerataan pendidikan berkualitas, dll. Mengacu pada data Indeks Integritas

Komisioner KPAI Retno Listyarti

engan adanya zonasi, seharusnya tidak ada lagi siswa yang berbondong-bondong mendaftar di salah satu favorit karena dia harus mendaftar di sekolah terdekat tempat tinggalnya. Sementara mereka yang tadinya tidak memiliki harapan untuk masuk ke sekolah favorit lantaran kalah bersaing dalam hal nilai, justru punya kesempatan untuk bersekolah di sekolah favorit asalkan sekolah tersebut berada di dekat rumahnya. Namun yang terjadi tidaklah demikian. Masyarakat belum paham apa itu zonasi. Itu sebabnya masih saja terjadi antrean panjang bahkan ada orangtua yang sampai menginap di sekolah agar anaknya bisa mendapat nomor urut pertama saat pendaftaran. Kondisi ini terjadi karena kurangnya sosialisasi pihak terkait. Tak heran

masyarakat masih saja bingung. Para orangtua yang menginginkan anaknya masuk sekolah favorit lantaran nilai anaknya tergolong sangat baik, terpaksa kecewa lantaran terbentur aturan. Tak heran muncul keluhan dari sebagian orangtua murid bahwa sistem zonasi yang diterapkan merugikan siswa. Hal ini juga yang menjadi sorotan Komisi Perlindungan Anak Indonesia dalam diskusi ‘Kebijakan PPDB dan Rotasi Guru dengan Sistem Zonasi sebagai Upaya Pemerataan Kualitas Pendidikan Dalam Perspektif Kepentingan Terbaik Bagi Anak’ di kantor KPAI, Jakarta Pusat, Rabu (19/6). Sebagai pembicara dalam diskusi tersebut; Retno Listyarti (Komisioner

Transparansi Kuota Selama dua tahun ini, lanjutnya, ada beberapa permasalahan yang dicatat KPAI, di antaranya adalah soal penyebaran sekolah negeri yang tidak merata di setiap kecamatan dan kelurahan, sementara banyak daerah yang pembagian zonasi pada awalnya didasarkan pada wilayah administrasi kecamatan. “Ada juga calon siswa yang tidak terakomodasi, tidak bisa mendaftar ke sekolah manapun. Sementara ada sekolah yang kekurangan siswa karena letaknya jauh dari permukiman penduduk,” jelasnya. Temuan lainnya, terjadi antrean para pendaftar bahkan orangtua sampai menginap di sekolah. Padahal, pendaftaran bisa dilakukan secara online sehingga tak perlu mengantri ataupun menginap di sekolah. Siswa di zona terdekat dengan sekolah pasti diterima. “Jadi, meski mendapatkan nomor antrian 1, tapi jika domisilinya jauh dari sekolah, maka peluangnya untuk diterima sangat kecil. Sebaliknya, sekalipun nomor antrian di atas 500 tetapi jika domisili sangat dekat dengan sekolah, malah punya peluang besar untuk diterima,” katanya. Minimnya sosialisasi tentang sistem PPDB ke para calon peserta didik dan orangtuanya, kata Retno, menimbulkan kebingungan di tengah masyarakat. Padahal harusnya sosialisasi dilakukan secara terstruktur, sistematis dan massif. Yang juga menjadi pertanyaan masyarakat adalah soal transparansi kuota per zonasi, termasuk kuota rombongan belajar (rombel) dan daya tampung. Dalam Permendikbud No 51 Tahun 2018 sudah jelas dikatakan bahwa maksimal jumlah rombel per kelas untuk SD adalah 28 siswa, SMP 32 siswa dan SMA/SMK 36 siswa. (Diana Runtu)

orangtua menginap di depan gerbang sekolah

erima pengaduan di berbagai daerah yang ada pengurus FSGI; dan Guntur Ismasil (Dewan Kehormatan FSGI). KPAI, ujar Retno, mengapresiasi pemerintah terkait kebijakan PPDB sistem zonasi karena tujuan dari sistem tersebut adalah untuk memberi layanan akses yang berkeadilan bagi masyarakat, upaya pemerataan mutu pada semua satuan pendidikan serta mendorong partisipasi masyarakat dalam penyelenggaraan pendidikan. “Selama ini ada kecenderungan terpusatnya peserta didik pada sekolah tertentu yang dianggap unggulan dan favorit. Namun dengan sistem ini lambat laun akan berubah. Semua sekolah harus unggul dan berkualitas,” ujar Retno. Ia menambahkan, langkah

Ujian Nasional (IIUN) yang dikeluarkan Kemendikbud tahun 2008, jelasnya, terdapat cukup banyak pergeseran pada daftar sekolah terbaik di tiap-tiap provinsi. “Ini membuktikan bahwa kualitas sekolah sudah lebih merata mengingat sistem ini baru memasuki tahun ketiga,” tuturnya. Dengan hasil yang baik ini, maka di tahun –tahun mendatang diharapkan hasilnya bisa lebih baik lagi, kualitas sekolah akan semakin merata sejalan dengan semakin baiknya penerapan zonasi dalam PPDB. “Mengukir prestasi tidak mengenal sekolah negeri atau swasta, tidak juga sekolah favorit atau bukan. Prestasi lebih banyak di tentukan oleh semangat belajar dan ketekunan,” tegas mantan Guru Teladan ini.

PENOLAKAN MASYARAKAT MASIH TINGGI Retno juga mengakui kalau sekarang ini penolakan masyarakat pada kebijakan zonasi masih tergolong tinggi. Untuk itu, menjadi tugas pemerintah pusat maupun daerah untuk mengedukasi masyarakat terkait perlunya sistem zonasi untuk memeratakan kualitas pendidikan. Perbaikan sistem, perlu terus dilakukan. Sosialisasi PPDB harus dilakukan secara terstruktur, sistematis dan massif agar masyarakat teredukasi dan paham juknis PPDB di daerahnya masingmasing. Sistem zonasi, jelas Retno lebih jauh, sesungguhnya justru sejalan dengan kepentingan terbaik bagi anak. “Dengan sistem ini sekolah bisa dekat dengan rumah. Bisa ditempuh dengan naik sepeda atau jalan kaki. Sehingga tidak melelahkan anak. Keluarga pun bisa mengantarkan makan siang. Juga yang juga penting, dengan adanya sistem ini bisa menghindari kekerasan karena teman main anak di sekolah adalah juga teman mainnya di rumah, antara orangtua pun kebanyakan saling kenal,” ujarnya. KPAI telah melakukan pemantauan pelaksanaan sistem ini sejak dua tahun lalu. Tahun ini pun pemantauan tetap dilakukan. Retno berharap masyarakat yang menemukan permasalahan di lapangan, termasuk jika ada dugaan pelanggaran Permendikbud tentang PPDB agar melaporkannya ke pengaduan KPAI sehingga bisa ditindaklanjuti oleh pihak berwenang dan juga diadvokasi jika kebijakannya melenceng. “KPAI membentuk tim pengawasan PPDB yang menyebar ke beberapa sekolah di berbagai daerah di antaranya, DKI Jakarta, Kabupaten/Kota Bogor, Kabupaten/Kota Bekasi, Depok dan Tangerang Selatan. Tim ini akan melaksanakan tugasnya hingga 24 Juni 2019,” jelasnya. (Diana Runtu)

Ilustrasi pendaftaran murid baru di Depok membludak


BUMI GORA

12

EDISI 1037/ 24-30 JUNI 2019

Samota Resmi Jadi Cagar Biosfer Dunia Samota (Teluk Saleh, Moyo, Tambora) resmi dideklarasikan sebagai cagar biosfer dunia pada hari ketiga The 31st session of the Man and the Biosphere (MAB) Programme International Coordinating Council di Perancis, Rabu (19/6). Wakil Gubernur NTB, Dr. Hj. Sitti Rohmi Djalilah tampil mewakili Indonesia dalam kegiatan ini.

S

Dr. Hj. Sitti Rohmi Djalilah

elain Samota, satu cagar b io sf er la in nya di Indonesia juga dideklarasikan, yaitu Togean, yang berada di Kabupaten Tojo Una-Una, Sulawesi Tengah. Bersamaan dengan itu, dideklarasikan pula cagar biosfer baru yakni Po Grande di Austria, Julian Alps di Italia, Gangwon Eco-Peace dan Yeoncheon di Korea Selatan, Lake Elton di Russia, Alto Turia dan La Siberia and Valle del Cabriel di Spanyol, Lubombo di Eswatini, Nordhordaland di Norwegia dan Roztocze di Polandia. Dari Perancis, Wakil Gubernur NTB mengungkapkan, pengakuan cagar biosfer memiliki makna penting sebagai cara pengelolaan kawasan untuk kepentingan pembangunan ekonomi berkelanjutan dan konservasi. Sekaligus, didukung oleh kajian ilmiah. Sebab itu dalam sambutannya, atas deklarasi tersebut, Wagub NTB mengatakan bahwa Pemerintah Provinsi dan masyarakat NTB telah siap dan bersedia untuk

mengambil langkah nyata demi mengimplementasikan konsep cagar biosfer ini. “Untuk mengalokasikan 30 persen dari kawasan NTB untuk menjadi area konservasi (kawasan hijau), termasuk Taman Nasional Gunung Tambora, Taman Wisata Alam Laut Pulau

Moyo, Kawasan Perburuan Pulau Moyo, Taman Wisata Laut Pulau Satonda, Kawasan Perairan Liang dan Pulau Ngali dan area konservasi lainnya di bawah program pengelolaan terpadu,” ujar Wagub. Pengesahan Teluk Saleh, Moyo, Tambora “Samota” sebagai cagar budaya dunia merupakan pengakuan dari komunitas internasional atas kerja keras dari masyarakat NTB dan pemerintah Indonesia. Wagub juga menggunakan kesempatan itu untuk memperkenalkan Samota yang terletak di Sumbawa, Provinsi NTB. Samota, ujarnya, adalah bagian dari Sunda Kecil. Kawasan ini mencakup dataran rendah hingga ke perbukitan dan gunung-gunung yang ketinggiannya bervariasi dari 0 hingga lebih dari 2000 meter di atas permukaan laut. “Gunung Tambora memiliki ekosistem vulkanik dan erupsinya telah mengguncang dunia di tahun 1815. Kawasan ini adalah rumah bagi berbagai macam flora dan fauna. Kawasan ini juga memiliki komunitas lokal dengan budaya yang cukup mengesankan,” ujarnya. Wagub mengakhiri sambutannya dengan menyampaikan informasi bahwa cagar biosfer Rinjani di Lombok dan Samota di Sumbawa akan menjadi tuan rumah pertemuan 13rd South East Biosphere Reserve Network (SeaBRnet) tahun depan.

LABORATORIUM ALAM Untuk diketahui, cagar biosfer bisa menjadi muara kegiatan konservasi, pembangunan ekonomi berkelanjutan dan pasokan kebutuhan logistik (riset, monev, pendidikan dan SDM). Cagar biosfer juga merupakan laboratorium alam bagi pembangunan berkelanjutan. Memiliki cagar biosfer juga memberikan akses bagi tampilnya NTB di forum Internasional. Misalnya, di Forum ICC MAB yang terdiri dari 122 negara. Juga Forum WNBR (World Network of Biosphere Reserve). Ada lagi Forum SeaBRnet (Southeast Asia Biosphere Reserve Network), dimana Lombok akan menjadi tuan rumah pertemuannya pada tahun 2020 mendatang. Juga, SSC (South-South Cooperation). Menurutnya, cagar biosfer juga bermanfaat untuk sejumlah kebutuhan. Misalnya, bagi masyarakat di sekitarnya, bisa menggerakkan aktivitas jasa ekosistem, kegiatan produksi dan kelestarian budaya. Selain itu, juga memiliki manfaat sebagai kawasan konservasi yang akan mendukung kelestarian sumber daya alam hayati dan ekosistem. Cagar biosfer juga

akan bermanfaat sebagai pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, khususnya sebagai laboratorium alam. Bagi pemerintah, (daerah maupun pusat), cagar biosfer akan bermanfaat untuk pengembangan ekonomi berkelanjutan, mempertahankan nilai sosial budaya dan citra pemerintah. Bagi sektor swasta, cagar biosfer akan memberikan nilai berupa penyediaan komoditas. “Kami selaku Pemerintah Provinsi NTB, memberikan apresiasi yang tinggi atas pendeklarasian ini. Kami berharap, predikat sebagai cagar biosfer yang telah kita raih ini bisa memberikan manfaat, utamanya bagi masyarakat yang berada di kawasan cagar biosfer,” ujarnya. Wagub juga menegaskan pentingnya dukungan dan masukan dari berbagai pihak untuk memaksimalkan tata kelola cagar biosfer ini nantinya. “Dukungan dari para pemangku kepentingan yang beragam, tentunya akan menjadi modal berharga dalam mengembangkan dan mencapai makna penting dari keberadaan cagar biosfer ini,” pungkasnya. (Naniek I. Taufan)

“Gunung Tambora memiliki ekosistem vulkanik dan ­erupsinya telah mengguncang dunia di tahun 1815. ­Kawasan ini adalah rumah bagi berbagai macam flora dan fauna. Kawasan ini juga memiliki komunitas lokal dengan budaya yang cukup mengesankan”

Wakil Gubernur NTB, Dr. Hj. Sitti Rohmi Djalilah salh seorang yang mewakili Indonesia dalam The 31st session of the Man and the Biosphere (MAB) Programme International Coordinating Council di Perancis, minggu lalu

EDISI 1037/ 24-30 JUNI 2019

BUNDA ANANDA

5

Kenalkan Kearifan Lokal sejak Dini Federasi Olahraga Rekreasi Masyarakat Indonesia (FORMI) Kota Denpasar menggandeng Sanggar Hung Bali dan Sekehe Rare Anggon Andel–Andel menggelar Workshop Layang–Layang Tradisional Bali yang bertajuk “Mai Melayangan” di areal Pura Dalem Pengembak Sanur, Minggu (16/6).

K

etua FORMI Kota Denpasar, I.GN Bagus Mataram mengatakan penyelenggaraan Workshop Layang–Layang Tradisional Bali ini diharapkan dapat menjadi ajang memperkenalkan warisan budaya leluhur sejak dini kepada anak- anak. “Selain itu pelaksanaan kegiatan ini juga sebagai upaya penguatan kebudayaan sesuai dengan visi misi Kota Denpasar sebagai kota berwawasan budaya” ujar Mataram. Ketua Panitia Acara, I Gede Arya Swastika mengatakan workshop ini mengambil tema “Mengolahragakan Masyarakat, dalam Melestarikan Permainan Rakyat melalui Budaya dan Tradisi”. “Workshop ini melibatkan perwakilan siswa Sekolah Dasar se-Kota Denpasar yang

dibagi menjadi 25 kelompok terdiri dari 5 orang siswa yang ditugaskan mengerjakan layanglayang tradisional Bali jenis Bebean berukuran 120 cm dengan dibimbing langsung sejumlah narasumber diantaranya I Kadek Suprapta Meranggi, I Nyoman Danu Budiarta, dan I Gede Agus Suprapta,” jelasnya. Selain itu, ada juga, perakitan layang-layang berukuran 350 cm yang diperagakan narasumber. Uniknya, bahan dasar pembuatan seluruh layangan pada workshop ini berasal dari bahan ramah lingkungan. Arya Swastika berharap,

workshop ini dapat dimanfaatkan anak-anak untuk menambah wawasan dan menggali banyak informasi seputar layang-layang tradisional Bali.

“Melalui kegiatan ini semoga dapat memperkenalkan warisan kearifan lokal kepada anak-anak sejak dini agar keberlangsungannya tetap lestari di tengah

era modernisasi dan juga penting sebagai sarana melatih kerjasama dan mental anak yang berguna bagi masa depan mereka” ungkapnya. Salah satu peserta workshop, Ketut Ariawan asal SDN 5 Kesiman merasa sangat senang dapat mengikuti workshop layanglayang tradisional Bali ini. Ketut pun mampu dengan mahir menjelaskan proses pembuatan layangan mulai dari meraut batang tengah bambu, kemudian memasang tapak bawah (bagian pinggang), memasang tapak atas (bagian kepala), hingga kepada proses memasang kertas (nukub) layangan. “Workshop ini sangat bagus dan menambah wawasan saya dan teman- teman mengenai layang-layang tradisional Bali,” ucapnya sembari diiyakan teman-temannya. (Wirati Astiti)

Mendongeng Lima Menit KODOK TAK BEREKOR

Kasihan kodok yang tak berekor itu! Setiap hari ia bersedih di pinggir selokan. Semua hewan yang minum di selokan itu, meledek hewan bulat kecil tak berekor itu. “Hewan apa kau? Tubuhmu kecil seperti kentang, tetapi matamu besar melotot?” ledek Sapi. “Hewan apa kau? Kerjamu mendongak dan melompat, padahal tidak memiliki ekor?” ledek Kijang. Berhari-hari kodok yang malang itu bersembunyi di balik semak-semak. Ia hanya memperlihatkan diri, apabila tak seekor hewan pun yang datang minum di selokan itu. Kemudian menengadah ke angkasa, memohon agar Dewa Langit bermurah hati memberinya sebatang ekor. “Hai, Kodok!” Tiba-tiba Dewa Langit berseru. “Kasihan aku melihatmu bersedih setiap malam. Keinginanmu memiliki ekor akan kupenuhi, asalkan kau mau menjalankan tugas.” “Hormat Junjungan hamba! Hamba berjanji akan menjalankan tugas yang dibebankan kepada hamba,” jawab Kodok sambil menghormat berkali-kali. “Jaga dan manfaatkan sumurku baik-baik! Jangan sampai rusak dan kotor!” Setelah bersabda demikian, Dewa Langit lenyap dari hadapan sang Kodok. Pada saat itu, kodok yang mungil itu merasakan ada perubahan di pantatnya. “Ekor!” teriaknya. Ia berlari menuju sumur yang dimaksud, lalu melompat-lompat di sekelingnya. Di depan semua hewan ia memamerkan diri bahwa ia telah berekor dan mendapat kehormatan menjaga sumur. Keesokan harinya, seekor domba menghampiri sumur yang berair jernih itu. “Hai, Hewan berjanggut!” seru Kodok. “Jangan mendekat! Itu

sumur Dewa. Aku dipercaya oleh Dewa Langit untuk menjaga kebersihan dan keamanan sumur itu!” serunya lagi sambil mendongak ke langit dan menggoyang-goyang ekornya. Hewan yang kehausan itu pergi lalu memberitahukan kepada teman-temannya perihal sumur jernih yang dijaga oleh Kodok Berekor. “Hai Kambing, jangan mendekat!” demikian seru Kodok setelah melihat si Kambing hendak minum air sumur. “Sumur itu milik Dewa! Aku dipercaya menjaga keselamatannya!” Hari berikutnya berduyun-duyun hewan-hewan yang berdatangan, hendak minum di sumur yang jernih itu. Semua mendapat bentakan dari si Kodok Berekor, penjaga sumur yang dipercaya oleh Dewa Langit. Akhirnya para hewan yang kehausan itu mengadukan tingkah laku si Kodok yang sok berkuasa itu kepada Dewa Langit. Maka tibalah pada suatu siang yang terik, seekor sapi datang mendekat ke sumur itu. Ketika hendak meminum airnya, tiba-tiba kodok penjaga sumur itu membentak. “Hai, hewan gendut! Tak tahukah kau, sumur itu adalah sumur Dewa? Hanya aku yang boleh mengizinkan hewan-hewan yang ingin mendekat ke sumur itu. Airnya sangat suci. Hanya aku dan Paduka Dewa yang boleh meminumnya!” Bersamaan dengan bentakan si Kodok, sapi yang hendak minum itu berubah menjadi Dewa Langit, dan pada saat itu pula, si Kodok merasakan pantatnya perih. Setelah menoleh, ia dapati ekornya lenyap. “Hai Kodok, sungguh congkak kau!” demikian Dewa Langit berseru. “Air sumur itu bukan sematamata untukmu, tetapi untuk semua hewan yang kehausan. Sekarang rasakan dirimu! Kau hanya boleh berekor sebentar saja, yakni selama menjadi becing-becing (masa kecil). Setelah besar kau tidak berekor lagi!


DARA

6

EDISI 1037/ 24-30 JUNI 2019

Stephanie Poetri Dougherty

Rekaman di Kamar

Satu lagi anak artis yang kini tengah jadi sorotan, Stephanie Poetri Dougherty. Putri bungsu Titi Dwi Jayati, salah satu diva musik pop Indonesia. Meni, begitu namanya akrab disapa, sebenarnya bukan pendatang baru dalam dunia musik Indonesia. Ia telah mulai berkiprah sejak 2015 dengan tampil menyanyikan soundtrack film AADC (Ada Apa Dengan Cinta) 2 berjudl ‘Bimbang’ bersama Goodbye Felicia.

N

amun saat itu kiprahnya di musik masih hanya sebatas hobi. Tidak diseriusinya. Alasannya dia masih sekolah dan ingin konsentrasi di pendidikannya. Di luar itu dia memiliki banyak minat yang hendak dikerjakannya. Itu sebabnya kala itu dia belum berpikir untuk terjun ke dunia musik secara serius. “Aku memang tertarik pada musik sejak kecil. Tapi dulu itu tidak berpikir untuk diseriusi, masih hanya sebatas hobi. Lagi pula aku masih sekolah dan ingin konsentrasi belajar. Aku sekolah di sekolah internasional yang pelajarannya banyak banget, tugasnya banyak dan harus segera diselesaikan. Makanya dulu itu sibuk banget. Kata orang, sekolah aku tuh kurikulumnya sudah kayak orang kuliah, banyak dan berat,” tutur gadis cantik berambut panjang ini dengan bahasa campurcampur Inggris Indonesia. Soal bahasa, gadis kelahiran Mei 2000 ini, mengaku masih tidak begitu lancar berbahasa

Indonesia sehingga kadang agak kagok dan canggung. Bisa jadi ini karena sejak kecil dirinya sudah disekolahkan di sekolah internasional dimana bahasa Inggris menjadi kesehariannya. “Mungkin aku masih terlihat canggung berbahasa Indonesia. Tapi setidaknya sekarang sudah lebih mendingan, sudah bisa dimengerti,” katanya sambil tertawa. Stephanie adalah anak tunggal dari pernikahan Titi DJ dengan suami keduanya, Andrew Hollis Dougherty, seorang berkebangsaan Amerika. Sebelumnya, Titi menikah dengan aktor Bucek Depp. Dari pernikahan itu lahir tiga anak, si kembar Salmaa dan Salwaa serta Daffa. Sedang pada pernikahan Titi yang ketiga, yakni dengan Ovy, musisi rock, tidak memiliki anak. Menurut Titi, semua anaknya sebenarnya memiliki bakat menyanyi namun tidak mau memperdalamnya. Hanya Stephanie yang terlihat lebih serius mengembangkan. Sedang ketiga kakaknya, menolak mengikuti

Titi dan anak-anaknya

jejak ibunya. Sementara Daffa, satu-satunya putra dalam keluarga Titi, lebih suka terjun sebagai produser ketimbang menyanyi. “Meni pun baru mau serius menekuni musik setelah dia lulus SMA,” ungkap Titi sembari menyebut semua anaknya lebih suka menekuni pendidikan. Hasilnya membanggakan. Meni misalnya, memiliki prestasi bagus di sekolahnya SMA Global Jaya International School. Tahun lalu ia lulus SMA dengan nilai memuaskan, setidaknya untuk tiga mata pelajaran Sastra Inggris, Matematika dan Psikologi, ia meraih nilai tertinggi. Setelah lulus SMA, tutur Meni, ia merasa lebih bebas dan baru mulai serius menekuni hobinya. “Sekarang aku bisa bebas melakukan apa yang aku mau. Aku tertarik dengan musik, jadi aku tekuni ini dulu. Sambil berpikir akan meneruskan pendidikan kemana, bidang apa yang akan aku ambil nanti. Aku suka graphic design, juga suka psikologi,” ungkap Meni yang baru saja meluncurkan single solonya, ‘Appreciate’. Lagu ciptaannya ini ditulis dalam dua versi yakni Inggris dan Indonesia. “Originalnya, aku bikin dalam bahasa Inggris. Kemudian aku juga minta bantuan mama untuk menerjemahkan dalam bahasa Indonesia. Jadi ada dua,” ujar gadis yang piawai melukis wajah ini. BUKAN KARENA ANAK TITI DJ Menurut Meni ia ingin menjadi musisi dan dikenal orang bukan hanya karena menjadi penyanyi tapi juga karena karya-karyanya. “Aku bukan hanya suka menyanyi tapi juga bikin lagu dan producing. Di masa depan, aku ingin orang mengenal aku bukan hanya bisa menyanyi tapi juga mampu bikin lagu untuk orang lain. Sebagai musisi. Aku ingin nantinya banyak musisi tahu aku dan mau bekerja sama dengan aku karena karya-karya aku. Bukan karena aku siapa. I Do everything myself. Itu goal aku,” ucapnya. Sejak masih sekolah, membuat lagu sudah menjadi salah satu kesukaannya. Inspirasi datang dari mana saja. “Kalau dapat inspirasi

aku langsung bikin, trus aku rekam sendiri di kamar. Jadi

Stephanie Poetri Dougherty udah banyak banget lagu yang aku hahaha. Mama tahu itu. Makanya rekam sendiri di kamar hahahha,” nggak pernah minta aku dengerin kata Meni yang sudah memiliki musik ini-itu,” tambah Meni yang koleksi lagu sendiri sekitar 50-an. mengaku suka lagu ‘Matamu’ Dalam bermusik, boleh dibilang yang dinyanyikan mamanya. Bagi ia belajar secara otodidak. Dia juga Meni, lagu itu selain memiliki tidak les vokal. Bakat seni memang melody yang indah juga memiliki mengalir deras padanya. Tak heran, arti tersendiri. “Lagu itu mama ibunya adalah penyanyi senior bikin tentang papa aku..hahha,” dengan julukan Diva Musik Pop, kata Meni membuka rahasia. sementara ayahnya, Andrew HolMeski kini serius bermusik, lins Dougherty adalah guru musik namun Meni mengaku tidak ingin yang kini menjadi Kepala Sekolah menjadi diva seperti mamanya. SMP Global Jaya International Karena menurutnya menyandang School, tempat dimana Meni seko- gelar ‘Diva’ dirasakan terlalu lah. Sesekali sang mama memberi berat, tuntutan dan tekanannya saran. Mamanya memang tidak banyak dan selalu menjadi soterlibat jauh dalam mengasah Meni, rotan. Dia tidak suka itu. “Aku karena menurutnya, aliran musik nggak mau seperti mama. Aku mamanya berbeda dengannya. mau biasa-biasa saja,” kata Meni. “Dari kecil aku hidup dalam (Diana Runtu) keluarga yang darah seninya ‘keras’ banget. Jadi kreativitas itu penting banget di keluarga kita. Kita tuh selalu mencari cara untuk bisa mengeluarkan apa isi hati dan pikiran kita. Jadi bukan hanya dengan berbicara tapi juga lewat lukisan, menyanyi, bikin lagu, dll. Kalau soal bermusik, aku beda dengan mama. Aliran aku adalah musik kekinian. Aku lebih modern Stephanie dan gank anak artis

EDISI 1037/ 24-30 JUNI 2019

BULELENG

11

Olahan Dodol Terong dan Dodol Tomat Mengomsumsi sayur memang sangat dianjurkan untuk memenuhi kebutuhan gizi manusia. Tetapi, tidak semua orang menyukai sayur sebagai salah satu menu wajib dalam kebutuhan makan setiap hari. Guna meningkatkan kegemaran memakan sayur di kalangan masyarakat, berbagai inovasi olahan makanan pun dilakukan. Salah satunya dilakukan oleh Kelompok Wanita Tani (KWT) di Kabupaten Buleleng.

P

roduk olahan sayur yang dihasilkan adalah dodol terong dan dodol tomat yang diproduksi oleh KWT Praja Putri, Desa Tinga-Tinga, Kecamatan Gerokgak. Produk olahan pangan tersebut dipasarkan pada Pasar Pangan Lokal yang diselenggarakan oleh Asosiasi Pasar Pangan Lokal (Asparlok) bentukan Dinas Ketahanan Pangan (DKP) Kabupaten Buleleng di Taman Kota Singaraja, pekan lalu. Ketua KWT Praja Putri, Desa Tinga-Tinga, Gusti Ayu Putu

Armini menjelaskan dodol ini diproduksi untuk meningkatkan kegemaran masyarakat untuk mengonsumsi sayur-sayuran. Sama seperti dodol yang lain, bahan utama dari dodol terong dan dodol tomat ini adalah ketan. Namun, pada olahan dodol ini ditambahkan dengan sayur dengan perbandingan ketan satu kilogram dan sayur 1,5 kilogram. “Kami campur dengan sayur yaitu terong dan tomat dengan perbandingan 1:1,5 kilogram. Kami buat ini biar kegemaran makan sayur itu meningkat,” jelasnya.

Produk olahan dodol terong dan tomat oleh KWT Praja Putri Ia menambahkan terong dan tomat yang digunakan adalah yang memang sudah siap dipanen. Mengenai ketahanan dari dodol terong dan dodol tomat ini, Gusti Armini menyebut sudah mencoba sebelumnya bersama anggota KWT Praja Putri. Dengan tingkat kematangan terong dan tomat yang bagus serta penjemurannya yang baik, dodol ini bertahan hingga 20 hari. Pembungkusnya pun memakai kulit jagung. “Sebelum packing kita jemur dulu lalu dibungkus dengan kulit jagung,” imbuh Gusti Armini.

Disinggung me­ ngenai berbagai inovasi yang telah dilakukan KWT di bawah binaan DKP Kabupaten Buleleng yang tergabung dalam Asparlok, Kepala DKP, drh. Nyoman Surya Temaja, MP menyebut untuk pemberdayaan KWT maupun pengembangan usahanya termasuk olahan yang inovatif terus

melakukan pembinaan dengan melibatkan tim dari provinsi yang ahli dalam pengolahan pangan setiap bulannya. Pembinaan ini dilakukan agar produknya tidak monoton dan selalu berinovasi. Para KWT juga dianjurkan agar olahannya berkarakteristik non beras. Termasuk pula bahan pangan lokal sebagai bahan baku. “Ini merupakan hasil dari pembinaan kami bersama BPTP yang mempunyai keahlian di bidang pengolahan pangan sehingga olahannya lebih bervariasi disertai kesungguhan dari KWT untuk mengolahnya sebagai usaha peningkatan perekonomian,” tutupnya. (Wiwin Meliana)

“Ini merupakan hasil dari pembinaan kami bersama BPTP yang mempunyai keahlian di bidang peng­ olahan pangan sehingga olahannya lebih bervariasi disertai kesungguhan dari KWT untuk mengolahnya sebagai usaha peningkatan perekonomian,”

Populasi Jalak Bali Meningkat

Agus Ngurah Krisna Kepakisan

Perlindungan terhadap satwa langka telah dilakukan oleh pemerintah. Hal ini dilakukan untuk mencegah kepunahan terhadap satwa yang populasinya disinyalir semakin menurun. Di Bali, satwa langka yang dikhawatirkan akan mengalami kepunahan adalah Curik Bali. Burung berwarna putih ini biasanya hanya ditemui di kawasan Bali Barat. Upaya perlindungan pun dilakukan dengan melarang perburuan liar Curik Bali tersebut. Selain meilegalkan, pemerintah juga melakukan penangkaran di Taman Nasional Bali Barat (TNBB). Alhasil, burung yang lebih dikenal dengan nama Jalak Bali ini pun populasinya mulai mengalami peningkatan. Tahun ini, ada sekitar 236 ekor burung

Curik Bali yang terbang bebas di alam. Sementara di penangkaran Taman Nasional Bali Barat (TNBB) jumlahnya sudah mencapai 390 ekor. Kepala Bali TNBB, Agus Ngurah Krisna Kepakisan ditemui Senin (17/6) mengatakan, tahun 2015 lalu populasi Curik Bali sempat menurun, yakni hanya 35 ekor di alam. Selain karena faktor pencurian di alam yang cukup tinggi, menurunnya jumlah populasi burung dengan nama latin leucopsar rothschildi ini juga terjadi lantaran cuaca yang cukup ektrim, sehingga Curik Bali hanya dapat tinggal di wilayah TNBB. Untuk mengantisipasi terjadinya kepunahan, Balai TNBB melakukan upaya pengembangbiakan Curik Bali. Setiap tahun sebut Krisna,

penangkaran TNBB mampu menetaskan sebanyak 60 ekor Curik Bali. Burung-burung itu kemudian dilepasliarkan bila sudah berumur 11 bulan. “Setiap tahun kami rutin melepas Curik Bali sebanyak 45 ekor. Selama mengembangbiakan, hampir tidak ada kendala. Karena sudah dilakukan pemeriksaan kesehatan secara rutin, pemberian pakan, vitamin dam suplemen sesuai standar,” jelasnya. Selain dikembangbiakan, Balai TNBB imbuh Krisna, punya strategi khusus untuk melepas Curik Bali di alam. Jika dulu hanya dilepas di wilayah Teluk Berumbun, kini burung berwarna putih itu mulai dilepas di wilayah Labuan Lalang, dan Hutan Cekik. “Penangkaran Curik Bali yang dulunya ilegal, sekarang sudah dilegalkan. Pemerintah

membantu untuk mencarikan izinnya, sehingga harga Curik Bali turun. Masyarakat tidak perlu lagi membeli Curik Bali dari hasil curian di alam. Masyarakat sekarang bisa membelinya dipenangkaran yang legal,” ucapnya. Krisna pun menargetkan, populasi Curik Bali di alam minimal berjumlah 500 ekor. Untuk itu, pengawasan perlindungan Curik Bali di kawasan TNBB pun kian diperketat, dengan dijaga oleh polisi kehutanan hutan, yang dibagi dalam enam kantor resort. “Semua tugasnya mengamankan kawasannya. Dari luasan TNBb 19 ribu hektar, dibagi menjadi tiga seksi. Mereka rutin patroli bersama masyarakat,” tutupnya. (Wiwin Meliana)


10

Misterius tapi Stylish

‘Singularity’ adalah tema utamanya dan Exuberant, Neo Medieval. Swarga serta Cortex, 4 tren ada di dalamnya. Dan, Emmy, salah seorang desainer memilih Swarga, untuk ditampilkan melalui karyanya berjudul ‘Tri Hita Karana’, pada Graduation Show Angeliqa Wu Fashion Design Course, di The Vasini Boutique Hotel, Denpasar, Sabtu (1/6).

K

Style

oleksi yang terinspirasi dari Barong Ket ini, menggambarkan kedamaian dan ketentraman, dalam hubungan manusia dengan manusia, manusia dengan Tuhan dan manusia dengan alam sekitarnya. Konsep melestarikan keragaman budaya pada busana ready to wear milik Emmy ini, semakin kuat dengan dipilihnya bahan tenun ikat yang dipadukan teknik bordir. Warna hitam dan kuning gold serta siluet A, H dan Y pun melengkapi gaya etnik dan elegan, hingga ia terpilih sebagai Best Student 1. Begitu pula dengan Nina Ulandari, yang sama memilih tren Swarga, dan merepresentasikan desainnya dengan judul ‘Mesabat Api’,

yang inspirasinya diangkat dari sejarah ‘Perang Api’ di banjar Nagi, Ubud. Dengan siluet A & H, Nina memunculkan style etnik kasual. Ia sukses memadukan warna hitam dan coklat, yang inspirasinya dari batok kelapa. Sedangkan motif pada kain berupa teknik lukis dari siluetnya api. Maka, jadilah kesan misterius tetapi tetap stylish. Koleksi ready to wear, milik Nina yang berbahan rayon dan katun lano ini berhasil menjadikannya sebagai Best Student 2. Dan, pekan ini karya dua siswa Angeliqa Wu FDC ini kami tampilkan untuk Anda para fashionista. (Sri Ardhini)

Edisi 1037/ 24 - 30 juni 2019

EDUKASI

Edisi 1037/ 24 - 30 juni 2019 Menangani sampah khususnya nonorganik memang menjadi masalah bagi masayarakat maupun orang-orang yang peduli lingkungan. Mengurangi sampah plastik adalah salah satu cara untuk menjaga lingkungan agar terhindar dari pencemaran dan tetap bersih. Hal tersebut dilakukan oleh kelompok masyarakat desa Panji dusun Kelod Kauh yang sadar akan lingkungan.

B

ermula dengan mengikuti sosialisasi dari PPLB (Pemuda Peduli Lingkungan Bali) ke desa-desa maka terbentuklah kelompok masyarakat peduli lingkungan. Tergabung dalam kelompok Bank Sampah Galang Panji, mereka menyamakan persepsi warga untuk menjaga lingkungan sekitar dengan memilah sampah rumah tangga yang dihasilkan. Warga dusun Kelod Kauh diajak untuk memanfaatkan sampah di rumah kemudian dijual kepada Bank Sampah Galang Panji. Sampah yang dijual berupa sampah kresek, botol-botol, besi dan kertas sehingga tidak terbuang percuma. Keempat jenis sampah tersebut sudah dipilah dari rumah masing-masing. Hanya saja untuk sampah organik,

7

Manfaatkan Aplikasi Online bank sampah belum mampu untuk mengelola. Kelian Banjar Dusun Kelod Kauh Desa Panji, Nyoman Marsajaya mengungkapkan modal awal dari terbentuknya bank sampah ini adalah nekat. “Kami tidak punya modal, jadi kami berikan buku tabungan dulu,” ujarnya. Hasil penjualan sampah tersebut akan diberikan dalam bentuk tabungan di antaranya tabungan yang bersifat reguler, tabungan yang bisa diambil kapan saja, dan tabungan hari raya. Sejak terbentuknya lima tahun silam, anggota Bank Sampah Galang Panji telah berproses dan bekerja keras untuk mengubah mindset masyarakat agar menjaga lingkungan dari sampah. Meskipun tidak mudah, Marsa mengaku saat ini kesadaran masyarakat sudah mulai meningkat. Bahkan bank sampah telah melakukan inovasi untuk pembayaran sampah yang dibawa tidak lagi dalam bentuk buku tabungan, melainkan melalui sebuah aplikasi Plastic Bank. Transaksi pembayaran untuk nasabah akan dilakukan melalui online sehingga cukup dengan menunjukkan aplikasi tersebut nasabah bisa mengecek maupun mengambil saldonya. “Untuk

masyarakat yang awam, kami lakukan sosialisasi dan rata-rata mereka semua punya smartphone,” jelasnya. Seiring usaha para anggota bank sampah untuk terus menggalakkan bebas sampah plastik, rupanya persoalan baru pun muncul. Anggota bank sampah dibuat kelimpungan karena saat ini pemerintah tidak lagi memberikan mencabut subsidi atau tidak lagi memberikan jasa upah pungut untuk sampah plastik. Sebelumnya pemerintah memberikan jasa upah pungut untuk sampah plastik sebesar Rp 1350 per kilonya. “Sekarang pemerintah sudah angkat tangan, lalu mau kami apakan sampah-sampah dari masyarakat ini, sedangkan di gudang kami masih ada satu setengah ton sampah plastik yang belum diangkut,” ungkapnya. Terkait dengan permasalahan tersebut, pihaknya tidak dapat berbuat banyak. Setiap Minggu sudah menjadi kebiasaan bagi masyarakat untuk membawa sampah yang telah dipilah baik sampah plastik maupun jenis lainnya. Pihaknya tetap membayarkan sampah plastik yang tidak disubsidi lagi dengan menggunakan kas yang dimiliki oleh bank sampah. “Ini kan

sudah menjadi kebiasaan masyarakat datang dengan membawa sampah yang telah dipilah, untuk sementara kami gunakan uang kas untuk membayar sampah plastik tersebut,” imbuhnya. Pihaknya khawatir jika tidak ada jalan keluar untuk permasalahan tersebut, masyarakat akan berhenti menjadi nasabah dari bank sampah. Pihaknya juga takut apa yang telah mereka tanamankan sejak lama akan sia-sia karena masyarakat akan kembali membuang sampah plastik secara sembarangan karena tidak lagi bernilai ekonomi. “Kalau kas kami habis otomatis kami tidak bisa membayar lagi sampah plastik dari msyarakat, takutnya mindset yang selama ini kami tanamkan

akan sia-sia. Maka dari itu dalam waktu dekat kami akan segera melakukan audiensi ke DPRD untuk meminta solusi,” pungkasnya. (Wiwin Meliana)

Nyoman Marsajaya

Yoga untuk Fertility Gambar 3 Lihat gambar Kedua telapak tangan diletakkan di di depan dada. Dengan kepala sedikit mendongak serta tulang punggung tegak lurus, mulai ambil napas arahkan ke dada serta buang napas arahkan ke organ reproduksi. Lakukan 3 kali napas.

Gambar 1

Lihat gambar Pastikan tulang duduk menyentuh tumit dan memanjangkan tangan serta tulang punggung. Mulai atur napas panjang lembut dan dalam. Lakukan 7 kali pernapasan.

1

Gambar 2 Dengan posisi kepala mendongak, kedua tangan usahakan diluruskan. Kemudian mulai ambil napas arahkan ke tenggorokan dan buang napas keluarkan di organ reproduksi. Lakukan 3 kali napas.

2

3

5 Gambar 5

Terakhir ambil sikap tidur. Kedua telapak tangan menghadap ke langit. Pastikan tulang punggung kuat menempel ke pertiwi dan bahu dalam kondisi rileks tidak ada ketegangan. Selanjutnya tutup mata serta jangan lupa tersenyum. Rasakan cahaya candra menyinari organ rahim dan bayangkan akan cabang bayi di dalam Gambar 4 rahim. Buatlah afirmasi positif. Lakukan sikap ini selama 15 menit. Terakhir doa Masih dengan sikap duduk vajrasana atau bersimpuh. Selalu penutup sampaikan terima kasih kepada menjaga tulang punggung tegak lurus. Serta ke dua jari-jari tangan Tuhan atas berkat yang diberikan kepada dengan mudra, yaitu telunjuk ditekuk dan ditutup dengan ibu jari kita. lalu jari tengah bertemu dengan ibu jari. Lihat gambar Selamat berlatih dengan seKemudian mulai melakukan meditasi. Tutup mata dan atur napas. nyum. Perlahan mulai rasakan cahaya candra mulai masuk ke ubun-ubun Selalu sehat dalam yoga. menyinarinya serta rasakan atau bayangkan cahaya tersebut menyebar ke seluruh tubuh. Kemudian fokuskan cahaya membesar di rahim Model : Gung Ayu Wida atau organ reproduksi. Guru MYI Denpasar LKP/LPK Markandeya Lakukan semuanya dengan selalu tersenyum. Dalam hati moYoga Indonesia hon kepada cahaya Tuhan agar memberikan sinar terang untuk kesehatan tubuh pikiran dan spirit kita. Tetap rasakan cahaya semakin membesar dan jangan pindahkan kesadaran dalam cahaya. Masukkan jiwa Anda dalam cahaya Tuhan. Lakukan meditasi ini lebih kurang 10 menit setiap hari. Pagi baru bangun tidur dan malam sebelum beranjak tidur.

4


JELITA

8

EDISI 1037/ 24-30 JUNI 2019

Inspirasi Buku Puisi “Merah Putih”

Ayam Goreng Sambal Lombok Ijo

Ayam Bumbu Kemiri

“Bunga Merah” dan “Rumah Merah” adalah dua buku puisi karya Putri Suastini Koster. Buku puisi yang diterbitkan Pustaka Bali Seni ini menawarkan ragam kegelisahan dan harapannya. De­ ngan gaya bersahaja, namun, mempunyai emosi, menangkap berbagai lintas persitiwa dimana ia menjadi bagian yang ada di dalamnya.

Bahan: 1ekor 3 buah 2 buah 2 buah 300 ml 3 lbr 2 lbr

“B

unga Merah” dan “Rumah Merah”, menghadirkan tema besar kemanusiaan yang bagi ­Putri Suastini sangat berarti dalam hidupnya. Selain sebagai penggiat sastra, ia sangat peduli pada kegiatan kemanusiaan terutama perhatianya kepada anak-anak dan pendidikan. Pijakan kemanusiaan inilah yang sesungguhnya melumuri keseluruhan puisinya. Satu lagi buku puisi sedang menjadi obsesinya, yang ia beri nama “Merah Putih” sebagai buku ketiga dan pelengkap. Ia

memberi makna, “Merah Putih” lebih kepada jiwa nasionalisme dan kesujatian diri kita. Namun, karena kesibukannya, ia masih belum mampu merampungkan. Namun, ia yakin, dengan niat dan kesungguhan hati, Merah Putih akan segera hadir melengkapi dua buku puisi yang sudah habis stoknya.

(Wirati Astiti)

2 ruas jari : jahe Cara Membuat: - Tumis bumbu halus sampai harum lalu masukkan daun salam dan daun jeruk. - Aduk ayam hingga berubah warna lalu masukkan santan, gula, garam, dan kaldu bubuk. - Masukkan juga potongan tomat hijau dan tomat merah dan potongan lombok merah. - Aduk lalu ungkep sampai ayam matang dan bumbu meresap matang. - Sajikan dengan taburi daun kemangi dan bawang putih goreng.

Gurami Goreng Sambal Dabu Dabu Bahan: 2 ekor : gurami bersihkan sayat-sayat punggung nya 2 sdm : air jeruk nipis 1 sdm : bawang putih halus 1 sdt : garam Minyak secukupnya

Tugas Istri Multifungsi

Putri Koster bersama Wayan Koster

: ayam potong menurut selera : tomat hijau belah jadi 4 bagian : tomat merah belah 4 bagian : cabe merah besar potong serong : santan : daun salam : daun jeruk

Bumbu Halus: 3 siung : bawang putih 9 buah : bawang merah 11 buah : cabe rawit 3 ruas : kunyit bakar 5 buah : kemiri sangria

Istri Gubernur Bali Wayan Koster ini mengatakan, tidak punya dasar menulis. Namun, dengan awal sebagai pembaca puisi, ia mulai terinspirasi untuk menulis. “Seperti orang bilang, kalau ingin menulis harus banyak membaca. Seperti itulah yang saya lakoni,” kata perempuan yang selalu melantunkan doa sebelum tampil ini.

Ada kalimat bijak mengatakan, di balik kesuksesan suami ada istri yang hebat. Menurut Putri Koster, sebagai istri Gubernur Bali Wayan Koster, ia memiliki tugas yang luar biasa, alias multifungsi, kadang ia harus di depan, di belakang, di samping, di atas, dan di bawah. Ia mencontohkan, di bawah itu harus dilandasi keikhasan. “Saya pernah menikmati kepopuleran sebagai seorang seniman, tiba-tiba sekarang bapak lebih popular, kalau istri tidak ikhlas, bisa jadi bahan berantem,’ ujarnya sembari tertawa. Tugas di samping, bisa sebagai teman diskusi. Kalau yang di atas, berdoa dengan tulus mengantarkan suami akan menyelesaikan pe­ kerjaanya tanpa banyak rintangan. Sementara, dari belakang adalah mendorong, kadangkala, suami kurang percaya diri untuk satu keputusan, di situ kita beri do­rongan semangat. Sebagai sahabat kita bisa mengritisi dan memuji. Di depan, kita tunjukkan arah yang benar. Kadang sebagai penguasa, mereka lupa, dan sering ada godaan harta, tahta, dan wanita. “Jika pemimpin fokus dan lurus, pastilah ia dapat bekerja dengan baik untuk masyarakat,” kata ibunda Ni Putu Dhita Pertiwi dan Ni Made Wibhuti Bhawani ini.

9

EDISI 1037/ 24-30 JUNI 2019

Putri Koster sedang membaca puisi

Ia menambahkan, di Jakarta, kesenian membaca puisi sudah dibayar seperti menari. Semoga ke depan di Bali juga bisa sperti itu. Ia berharap, kepada para seniman puisi, serius membaca puisi, buka ruang untuk penonton, tanamkan dalam diri membaca puisi adalah seni dan seni itu adalah sesuatu yang indah yang bisa dinikmati. Putri Suastini sendiri mengatakan, tantangan dalam berke-

senian hampir tidak ada. Dalam berke­senian, ia mengalir saja sesuai tuntunan hati. “Kepuasannya sangat luar biasa saat penampilan saya mampu memukau penonton, membuat mereka bahagia. Kebahagiaan penonton adalah kebahagiaan kami sebagai seniman saat pentas,” kata putri pasangan I Wayan Djiwa yang jago megambel dan penari Ni Made Karni ini. (Wirati Astiti)

Halaman ini ditayangkan kembali karena edisi sebelumnya mengalami kendala teknis.

Bumbu Dabu Dabu: 11 buah : cabe rawit potong dadu kecil 3 buah : cabe merah besar cincang kasar 2 buah : tomat hijau potong dadu 2 buah : tomat merah potong dadu 2 sdm : minyak goreng 7 buah : bawang merah cincang dadu ½ sdm : gula pasir Garam secukupnya Cara Membuat: - Lumuri ikan gurami dengan air jeruk nipis. Oleskan sampai rata lalu diam-

kan 15 menit lalu cuci bersih dan tiriskan. - Lumuri ikan dengan bawang putih halus bersama garam, aduk sampai rata. - Panaskan minyak, lalu goreng ikan gurami sampai matang kecoklatan sambil dibolak-balik hingga matang lalu taruh di pi­ ring saji. - Campur semua bahan dabudabu, aduk rata lalu siram diatas ikan gurami goreng, dan siap disajikan.

Bahan: 500 grm : ayam potong menurut selera 1 btg : serai, memarkan 3 lbr : daun jeruk purut 2 lbr : daun salam 250 ml : air Gula dan garam secukupnya Minyak secukupnya Bumbu Halus Ungkep Ayam Goreng: 3 siung : bawang putih 1 sdt : ketumbar 3 butir : kemiri 2 ruas jari : jahe 2 ruas jari : kunyit Gula, garam, kaldu bubuk

tiriskan. - Kukus bahan sambal lombok ijo sampai matang lalu ulek bersama terasi garam dan gula. Jangan terlalu halus nguleknya (agak kasar) lalu siram dengan minyak panas sisa menggoreng. - Ayam siap disajikan bersama ayam goreng dan lalapan menurut selera. - Tambahkan kemangi, timun, kubis, tomat dan selada.

Chef Sarwan

Bahan Sambal Lombok Ijo: 20 buah : cabe rawit hijau 7 buah : cabe besar hijau 2 siung : bawang putih 3 buah : tomat hijau 7 buah : bawang merah ½ sdm : terasi Gula, garam, micin Cara Membuat: - Rebus ayam bersama bumbu baceman serta serai, daun salam, dan daun jeruk. - Masak sampai empuk dan bumbu meresap lalu tiriskan. - Panaskan minyak, goreng ayam sampai matang kecoklatan,

Ikan Lele Bumbu Kuning Bahan: ½ kg : ikan lele serat-serat punggungnya 2 sdm : air jeruk nipis 2 siung : bawang putih haluskan 2 batang : serai, memarkan 2 lbr : daun jeruk 3 buah : cabe merah besar iris serong 200 ml : santan encer 2 sdm : air asam jawa 150 ml : santan kental 1 genggam : daun kemangi Minyak buat mengoreng secukupnya Gula, garam, kaldu bubuk secukupnya Bumbu Halus: 3 siung : bawang putih 9 buah : bawang merah 3 butir : kemiri sangria 1 sdt : ketumbar 9 buah : cabe rawit 2 ruas : lengkuas 4 ruas jari : kunyit bakar 1 ruas jari : jahe Cara Membuat: - Lumuri ikan dengan air jeruk nipis diamkan sampai 15 menit lalu cuci bersih sampai tidak berlendir, tiriskan. Campur dengan bawang putih

halus aduk rata. - Panaskan minyak, goreng ikan lele sampai matang juga bisa diasap. - Tumis bumbu halus bersama serai daun salam dan jeruk hingga harum lalu irisan cabe merah besar. - Masukkan ikan lele juga santan encer gula garam dan kaldu bubuk masak hingga mendidih dan bumbu meresap. - Masukkan santan kental juga air asam jawa dan daun kemangi sambil diaduk agar santan tidak pecah. - Setelah mendidih, matikan dan sajikan.


JELITA

8

EDISI 1037/ 24-30 JUNI 2019

Inspirasi Buku Puisi “Merah Putih”

Ayam Goreng Sambal Lombok Ijo

Ayam Bumbu Kemiri

“Bunga Merah” dan “Rumah Merah” adalah dua buku puisi karya Putri Suastini Koster. Buku puisi yang diterbitkan Pustaka Bali Seni ini menawarkan ragam kegelisahan dan harapannya. De­ ngan gaya bersahaja, namun, mempunyai emosi, menangkap berbagai lintas persitiwa dimana ia menjadi bagian yang ada di dalamnya.

Bahan: 1ekor 3 buah 2 buah 2 buah 300 ml 3 lbr 2 lbr

“B

unga Merah” dan “Rumah Merah”, menghadirkan tema besar kemanusiaan yang bagi ­Putri Suastini sangat berarti dalam hidupnya. Selain sebagai penggiat sastra, ia sangat peduli pada kegiatan kemanusiaan terutama perhatianya kepada anak-anak dan pendidikan. Pijakan kemanusiaan inilah yang sesungguhnya melumuri keseluruhan puisinya. Satu lagi buku puisi sedang menjadi obsesinya, yang ia beri nama “Merah Putih” sebagai buku ketiga dan pelengkap. Ia

memberi makna, “Merah Putih” lebih kepada jiwa nasionalisme dan kesujatian diri kita. Namun, karena kesibukannya, ia masih belum mampu merampungkan. Namun, ia yakin, dengan niat dan kesungguhan hati, Merah Putih akan segera hadir melengkapi dua buku puisi yang sudah habis stoknya.

(Wirati Astiti)

2 ruas jari : jahe Cara Membuat: - Tumis bumbu halus sampai harum lalu masukkan daun salam dan daun jeruk. - Aduk ayam hingga berubah warna lalu masukkan santan, gula, garam, dan kaldu bubuk. - Masukkan juga potongan tomat hijau dan tomat merah dan potongan lombok merah. - Aduk lalu ungkep sampai ayam matang dan bumbu meresap matang. - Sajikan dengan taburi daun kemangi dan bawang putih goreng.

Gurami Goreng Sambal Dabu Dabu Bahan: 2 ekor : gurami bersihkan sayat-sayat punggung nya 2 sdm : air jeruk nipis 1 sdm : bawang putih halus 1 sdt : garam Minyak secukupnya

Tugas Istri Multifungsi

Putri Koster bersama Wayan Koster

: ayam potong menurut selera : tomat hijau belah jadi 4 bagian : tomat merah belah 4 bagian : cabe merah besar potong serong : santan : daun salam : daun jeruk

Bumbu Halus: 3 siung : bawang putih 9 buah : bawang merah 11 buah : cabe rawit 3 ruas : kunyit bakar 5 buah : kemiri sangria

Istri Gubernur Bali Wayan Koster ini mengatakan, tidak punya dasar menulis. Namun, dengan awal sebagai pembaca puisi, ia mulai terinspirasi untuk menulis. “Seperti orang bilang, kalau ingin menulis harus banyak membaca. Seperti itulah yang saya lakoni,” kata perempuan yang selalu melantunkan doa sebelum tampil ini.

Ada kalimat bijak mengatakan, di balik kesuksesan suami ada istri yang hebat. Menurut Putri Koster, sebagai istri Gubernur Bali Wayan Koster, ia memiliki tugas yang luar biasa, alias multifungsi, kadang ia harus di depan, di belakang, di samping, di atas, dan di bawah. Ia mencontohkan, di bawah itu harus dilandasi keikhasan. “Saya pernah menikmati kepopuleran sebagai seorang seniman, tiba-tiba sekarang bapak lebih popular, kalau istri tidak ikhlas, bisa jadi bahan berantem,’ ujarnya sembari tertawa. Tugas di samping, bisa sebagai teman diskusi. Kalau yang di atas, berdoa dengan tulus mengantarkan suami akan menyelesaikan pe­ kerjaanya tanpa banyak rintangan. Sementara, dari belakang adalah mendorong, kadangkala, suami kurang percaya diri untuk satu keputusan, di situ kita beri do­rongan semangat. Sebagai sahabat kita bisa mengritisi dan memuji. Di depan, kita tunjukkan arah yang benar. Kadang sebagai penguasa, mereka lupa, dan sering ada godaan harta, tahta, dan wanita. “Jika pemimpin fokus dan lurus, pastilah ia dapat bekerja dengan baik untuk masyarakat,” kata ibunda Ni Putu Dhita Pertiwi dan Ni Made Wibhuti Bhawani ini.

9

EDISI 1037/ 24-30 JUNI 2019

Putri Koster sedang membaca puisi

Ia menambahkan, di Jakarta, kesenian membaca puisi sudah dibayar seperti menari. Semoga ke depan di Bali juga bisa sperti itu. Ia berharap, kepada para seniman puisi, serius membaca puisi, buka ruang untuk penonton, tanamkan dalam diri membaca puisi adalah seni dan seni itu adalah sesuatu yang indah yang bisa dinikmati. Putri Suastini sendiri mengatakan, tantangan dalam berke-

senian hampir tidak ada. Dalam berke­senian, ia mengalir saja sesuai tuntunan hati. “Kepuasannya sangat luar biasa saat penampilan saya mampu memukau penonton, membuat mereka bahagia. Kebahagiaan penonton adalah kebahagiaan kami sebagai seniman saat pentas,” kata putri pasangan I Wayan Djiwa yang jago megambel dan penari Ni Made Karni ini. (Wirati Astiti)

Halaman ini ditayangkan kembali karena edisi sebelumnya mengalami kendala teknis.

Bumbu Dabu Dabu: 11 buah : cabe rawit potong dadu kecil 3 buah : cabe merah besar cincang kasar 2 buah : tomat hijau potong dadu 2 buah : tomat merah potong dadu 2 sdm : minyak goreng 7 buah : bawang merah cincang dadu ½ sdm : gula pasir Garam secukupnya Cara Membuat: - Lumuri ikan gurami dengan air jeruk nipis. Oleskan sampai rata lalu diam-

kan 15 menit lalu cuci bersih dan tiriskan. - Lumuri ikan dengan bawang putih halus bersama garam, aduk sampai rata. - Panaskan minyak, lalu goreng ikan gurami sampai matang kecoklatan sambil dibolak-balik hingga matang lalu taruh di pi­ ring saji. - Campur semua bahan dabudabu, aduk rata lalu siram diatas ikan gurami goreng, dan siap disajikan.

Bahan: 500 grm : ayam potong menurut selera 1 btg : serai, memarkan 3 lbr : daun jeruk purut 2 lbr : daun salam 250 ml : air Gula dan garam secukupnya Minyak secukupnya Bumbu Halus Ungkep Ayam Goreng: 3 siung : bawang putih 1 sdt : ketumbar 3 butir : kemiri 2 ruas jari : jahe 2 ruas jari : kunyit Gula, garam, kaldu bubuk

tiriskan. - Kukus bahan sambal lombok ijo sampai matang lalu ulek bersama terasi garam dan gula. Jangan terlalu halus nguleknya (agak kasar) lalu siram dengan minyak panas sisa menggoreng. - Ayam siap disajikan bersama ayam goreng dan lalapan menurut selera. - Tambahkan kemangi, timun, kubis, tomat dan selada.

Chef Sarwan

Bahan Sambal Lombok Ijo: 20 buah : cabe rawit hijau 7 buah : cabe besar hijau 2 siung : bawang putih 3 buah : tomat hijau 7 buah : bawang merah ½ sdm : terasi Gula, garam, micin Cara Membuat: - Rebus ayam bersama bumbu baceman serta serai, daun salam, dan daun jeruk. - Masak sampai empuk dan bumbu meresap lalu tiriskan. - Panaskan minyak, goreng ayam sampai matang kecoklatan,

Ikan Lele Bumbu Kuning Bahan: ½ kg : ikan lele serat-serat punggungnya 2 sdm : air jeruk nipis 2 siung : bawang putih haluskan 2 batang : serai, memarkan 2 lbr : daun jeruk 3 buah : cabe merah besar iris serong 200 ml : santan encer 2 sdm : air asam jawa 150 ml : santan kental 1 genggam : daun kemangi Minyak buat mengoreng secukupnya Gula, garam, kaldu bubuk secukupnya Bumbu Halus: 3 siung : bawang putih 9 buah : bawang merah 3 butir : kemiri sangria 1 sdt : ketumbar 9 buah : cabe rawit 2 ruas : lengkuas 4 ruas jari : kunyit bakar 1 ruas jari : jahe Cara Membuat: - Lumuri ikan dengan air jeruk nipis diamkan sampai 15 menit lalu cuci bersih sampai tidak berlendir, tiriskan. Campur dengan bawang putih

halus aduk rata. - Panaskan minyak, goreng ikan lele sampai matang juga bisa diasap. - Tumis bumbu halus bersama serai daun salam dan jeruk hingga harum lalu irisan cabe merah besar. - Masukkan ikan lele juga santan encer gula garam dan kaldu bubuk masak hingga mendidih dan bumbu meresap. - Masukkan santan kental juga air asam jawa dan daun kemangi sambil diaduk agar santan tidak pecah. - Setelah mendidih, matikan dan sajikan.


10

Misterius tapi Stylish

‘Singularity’ adalah tema utamanya dan Exuberant, Neo Medieval. Swarga serta Cortex, 4 tren ada di dalamnya. Dan, Emmy, salah seorang desainer memilih Swarga, untuk ditampilkan melalui karyanya berjudul ‘Tri Hita Karana’, pada Graduation Show Angeliqa Wu Fashion Design Course, di The Vasini Boutique Hotel, Denpasar, Sabtu (1/6).

K

Style

oleksi yang terinspirasi dari Barong Ket ini, menggambarkan kedamaian dan ketentraman, dalam hubungan manusia dengan manusia, manusia dengan Tuhan dan manusia dengan alam sekitarnya. Konsep melestarikan keragaman budaya pada busana ready to wear milik Emmy ini, semakin kuat dengan dipilihnya bahan tenun ikat yang dipadukan teknik bordir. Warna hitam dan kuning gold serta siluet A, H dan Y pun melengkapi gaya etnik dan elegan, hingga ia terpilih sebagai Best Student 1. Begitu pula dengan Nina Ulandari, yang sama memilih tren Swarga, dan merepresentasikan desainnya dengan judul ‘Mesabat Api’,

yang inspirasinya diangkat dari sejarah ‘Perang Api’ di banjar Nagi, Ubud. Dengan siluet A & H, Nina memunculkan style etnik kasual. Ia sukses memadukan warna hitam dan coklat, yang inspirasinya dari batok kelapa. Sedangkan motif pada kain berupa teknik lukis dari siluetnya api. Maka, jadilah kesan misterius tetapi tetap stylish. Koleksi ready to wear, milik Nina yang berbahan rayon dan katun lano ini berhasil menjadikannya sebagai Best Student 2. Dan, pekan ini karya dua siswa Angeliqa Wu FDC ini kami tampilkan untuk Anda para fashionista. (Sri Ardhini)

Edisi 1037/ 24 - 30 juni 2019

EDUKASI

Edisi 1037/ 24 - 30 juni 2019 Menangani sampah khususnya nonorganik memang menjadi masalah bagi masayarakat maupun orang-orang yang peduli lingkungan. Mengurangi sampah plastik adalah salah satu cara untuk menjaga lingkungan agar terhindar dari pencemaran dan tetap bersih. Hal tersebut dilakukan oleh kelompok masyarakat desa Panji dusun Kelod Kauh yang sadar akan lingkungan.

B

ermula dengan mengikuti sosialisasi dari PPLB (Pemuda Peduli Lingkungan Bali) ke desa-desa maka terbentuklah kelompok masyarakat peduli lingkungan. Tergabung dalam kelompok Bank Sampah Galang Panji, mereka menyamakan persepsi warga untuk menjaga lingkungan sekitar dengan memilah sampah rumah tangga yang dihasilkan. Warga dusun Kelod Kauh diajak untuk memanfaatkan sampah di rumah kemudian dijual kepada Bank Sampah Galang Panji. Sampah yang dijual berupa sampah kresek, botol-botol, besi dan kertas sehingga tidak terbuang percuma. Keempat jenis sampah tersebut sudah dipilah dari rumah masing-masing. Hanya saja untuk sampah organik,

7

Manfaatkan Aplikasi Online bank sampah belum mampu untuk mengelola. Kelian Banjar Dusun Kelod Kauh Desa Panji, Nyoman Marsajaya mengungkapkan modal awal dari terbentuknya bank sampah ini adalah nekat. “Kami tidak punya modal, jadi kami berikan buku tabungan dulu,” ujarnya. Hasil penjualan sampah tersebut akan diberikan dalam bentuk tabungan di antaranya tabungan yang bersifat reguler, tabungan yang bisa diambil kapan saja, dan tabungan hari raya. Sejak terbentuknya lima tahun silam, anggota Bank Sampah Galang Panji telah berproses dan bekerja keras untuk mengubah mindset masyarakat agar menjaga lingkungan dari sampah. Meskipun tidak mudah, Marsa mengaku saat ini kesadaran masyarakat sudah mulai meningkat. Bahkan bank sampah telah melakukan inovasi untuk pembayaran sampah yang dibawa tidak lagi dalam bentuk buku tabungan, melainkan melalui sebuah aplikasi Plastic Bank. Transaksi pembayaran untuk nasabah akan dilakukan melalui online sehingga cukup dengan menunjukkan aplikasi tersebut nasabah bisa mengecek maupun mengambil saldonya. “Untuk

masyarakat yang awam, kami lakukan sosialisasi dan rata-rata mereka semua punya smartphone,” jelasnya. Seiring usaha para anggota bank sampah untuk terus menggalakkan bebas sampah plastik, rupanya persoalan baru pun muncul. Anggota bank sampah dibuat kelimpungan karena saat ini pemerintah tidak lagi memberikan mencabut subsidi atau tidak lagi memberikan jasa upah pungut untuk sampah plastik. Sebelumnya pemerintah memberikan jasa upah pungut untuk sampah plastik sebesar Rp 1350 per kilonya. “Sekarang pemerintah sudah angkat tangan, lalu mau kami apakan sampah-sampah dari masyarakat ini, sedangkan di gudang kami masih ada satu setengah ton sampah plastik yang belum diangkut,” ungkapnya. Terkait dengan permasalahan tersebut, pihaknya tidak dapat berbuat banyak. Setiap Minggu sudah menjadi kebiasaan bagi masyarakat untuk membawa sampah yang telah dipilah baik sampah plastik maupun jenis lainnya. Pihaknya tetap membayarkan sampah plastik yang tidak disubsidi lagi dengan menggunakan kas yang dimiliki oleh bank sampah. “Ini kan

sudah menjadi kebiasaan masyarakat datang dengan membawa sampah yang telah dipilah, untuk sementara kami gunakan uang kas untuk membayar sampah plastik tersebut,” imbuhnya. Pihaknya khawatir jika tidak ada jalan keluar untuk permasalahan tersebut, masyarakat akan berhenti menjadi nasabah dari bank sampah. Pihaknya juga takut apa yang telah mereka tanamankan sejak lama akan sia-sia karena masyarakat akan kembali membuang sampah plastik secara sembarangan karena tidak lagi bernilai ekonomi. “Kalau kas kami habis otomatis kami tidak bisa membayar lagi sampah plastik dari msyarakat, takutnya mindset yang selama ini kami tanamkan

akan sia-sia. Maka dari itu dalam waktu dekat kami akan segera melakukan audiensi ke DPRD untuk meminta solusi,” pungkasnya. (Wiwin Meliana)

Nyoman Marsajaya

Yoga untuk Fertility Gambar 3 Lihat gambar Kedua telapak tangan diletakkan di di depan dada. Dengan kepala sedikit mendongak serta tulang punggung tegak lurus, mulai ambil napas arahkan ke dada serta buang napas arahkan ke organ reproduksi. Lakukan 3 kali napas.

Gambar 1

Lihat gambar Pastikan tulang duduk menyentuh tumit dan memanjangkan tangan serta tulang punggung. Mulai atur napas panjang lembut dan dalam. Lakukan 7 kali pernapasan.

1

Gambar 2 Dengan posisi kepala mendongak, kedua tangan usahakan diluruskan. Kemudian mulai ambil napas arahkan ke tenggorokan dan buang napas keluarkan di organ reproduksi. Lakukan 3 kali napas.

2

3

5 Gambar 5

Terakhir ambil sikap tidur. Kedua telapak tangan menghadap ke langit. Pastikan tulang punggung kuat menempel ke pertiwi dan bahu dalam kondisi rileks tidak ada ketegangan. Selanjutnya tutup mata serta jangan lupa tersenyum. Rasakan cahaya candra menyinari organ rahim dan bayangkan akan cabang bayi di dalam Gambar 4 rahim. Buatlah afirmasi positif. Lakukan sikap ini selama 15 menit. Terakhir doa Masih dengan sikap duduk vajrasana atau bersimpuh. Selalu penutup sampaikan terima kasih kepada menjaga tulang punggung tegak lurus. Serta ke dua jari-jari tangan Tuhan atas berkat yang diberikan kepada dengan mudra, yaitu telunjuk ditekuk dan ditutup dengan ibu jari kita. lalu jari tengah bertemu dengan ibu jari. Lihat gambar Selamat berlatih dengan seKemudian mulai melakukan meditasi. Tutup mata dan atur napas. nyum. Perlahan mulai rasakan cahaya candra mulai masuk ke ubun-ubun Selalu sehat dalam yoga. menyinarinya serta rasakan atau bayangkan cahaya tersebut menyebar ke seluruh tubuh. Kemudian fokuskan cahaya membesar di rahim Model : Gung Ayu Wida atau organ reproduksi. Guru MYI Denpasar LKP/LPK Markandeya Lakukan semuanya dengan selalu tersenyum. Dalam hati moYoga Indonesia hon kepada cahaya Tuhan agar memberikan sinar terang untuk kesehatan tubuh pikiran dan spirit kita. Tetap rasakan cahaya semakin membesar dan jangan pindahkan kesadaran dalam cahaya. Masukkan jiwa Anda dalam cahaya Tuhan. Lakukan meditasi ini lebih kurang 10 menit setiap hari. Pagi baru bangun tidur dan malam sebelum beranjak tidur.

4


DARA

6

EDISI 1037/ 24-30 JUNI 2019

Stephanie Poetri Dougherty

Rekaman di Kamar

Satu lagi anak artis yang kini tengah jadi sorotan, Stephanie Poetri Dougherty. Putri bungsu Titi Dwi Jayati, salah satu diva musik pop Indonesia. Meni, begitu namanya akrab disapa, sebenarnya bukan pendatang baru dalam dunia musik Indonesia. Ia telah mulai berkiprah sejak 2015 dengan tampil menyanyikan soundtrack film AADC (Ada Apa Dengan Cinta) 2 berjudl ‘Bimbang’ bersama Goodbye Felicia.

N

amun saat itu kiprahnya di musik masih hanya sebatas hobi. Tidak diseriusinya. Alasannya dia masih sekolah dan ingin konsentrasi di pendidikannya. Di luar itu dia memiliki banyak minat yang hendak dikerjakannya. Itu sebabnya kala itu dia belum berpikir untuk terjun ke dunia musik secara serius. “Aku memang tertarik pada musik sejak kecil. Tapi dulu itu tidak berpikir untuk diseriusi, masih hanya sebatas hobi. Lagi pula aku masih sekolah dan ingin konsentrasi belajar. Aku sekolah di sekolah internasional yang pelajarannya banyak banget, tugasnya banyak dan harus segera diselesaikan. Makanya dulu itu sibuk banget. Kata orang, sekolah aku tuh kurikulumnya sudah kayak orang kuliah, banyak dan berat,” tutur gadis cantik berambut panjang ini dengan bahasa campurcampur Inggris Indonesia. Soal bahasa, gadis kelahiran Mei 2000 ini, mengaku masih tidak begitu lancar berbahasa

Indonesia sehingga kadang agak kagok dan canggung. Bisa jadi ini karena sejak kecil dirinya sudah disekolahkan di sekolah internasional dimana bahasa Inggris menjadi kesehariannya. “Mungkin aku masih terlihat canggung berbahasa Indonesia. Tapi setidaknya sekarang sudah lebih mendingan, sudah bisa dimengerti,” katanya sambil tertawa. Stephanie adalah anak tunggal dari pernikahan Titi DJ dengan suami keduanya, Andrew Hollis Dougherty, seorang berkebangsaan Amerika. Sebelumnya, Titi menikah dengan aktor Bucek Depp. Dari pernikahan itu lahir tiga anak, si kembar Salmaa dan Salwaa serta Daffa. Sedang pada pernikahan Titi yang ketiga, yakni dengan Ovy, musisi rock, tidak memiliki anak. Menurut Titi, semua anaknya sebenarnya memiliki bakat menyanyi namun tidak mau memperdalamnya. Hanya Stephanie yang terlihat lebih serius mengembangkan. Sedang ketiga kakaknya, menolak mengikuti

Titi dan anak-anaknya

jejak ibunya. Sementara Daffa, satu-satunya putra dalam keluarga Titi, lebih suka terjun sebagai produser ketimbang menyanyi. “Meni pun baru mau serius menekuni musik setelah dia lulus SMA,” ungkap Titi sembari menyebut semua anaknya lebih suka menekuni pendidikan. Hasilnya membanggakan. Meni misalnya, memiliki prestasi bagus di sekolahnya SMA Global Jaya International School. Tahun lalu ia lulus SMA dengan nilai memuaskan, setidaknya untuk tiga mata pelajaran Sastra Inggris, Matematika dan Psikologi, ia meraih nilai tertinggi. Setelah lulus SMA, tutur Meni, ia merasa lebih bebas dan baru mulai serius menekuni hobinya. “Sekarang aku bisa bebas melakukan apa yang aku mau. Aku tertarik dengan musik, jadi aku tekuni ini dulu. Sambil berpikir akan meneruskan pendidikan kemana, bidang apa yang akan aku ambil nanti. Aku suka graphic design, juga suka psikologi,” ungkap Meni yang baru saja meluncurkan single solonya, ‘Appreciate’. Lagu ciptaannya ini ditulis dalam dua versi yakni Inggris dan Indonesia. “Originalnya, aku bikin dalam bahasa Inggris. Kemudian aku juga minta bantuan mama untuk menerjemahkan dalam bahasa Indonesia. Jadi ada dua,” ujar gadis yang piawai melukis wajah ini. BUKAN KARENA ANAK TITI DJ Menurut Meni ia ingin menjadi musisi dan dikenal orang bukan hanya karena menjadi penyanyi tapi juga karena karya-karyanya. “Aku bukan hanya suka menyanyi tapi juga bikin lagu dan producing. Di masa depan, aku ingin orang mengenal aku bukan hanya bisa menyanyi tapi juga mampu bikin lagu untuk orang lain. Sebagai musisi. Aku ingin nantinya banyak musisi tahu aku dan mau bekerja sama dengan aku karena karya-karya aku. Bukan karena aku siapa. I Do everything myself. Itu goal aku,” ucapnya. Sejak masih sekolah, membuat lagu sudah menjadi salah satu kesukaannya. Inspirasi datang dari mana saja. “Kalau dapat inspirasi

aku langsung bikin, trus aku rekam sendiri di kamar. Jadi

Stephanie Poetri Dougherty udah banyak banget lagu yang aku hahaha. Mama tahu itu. Makanya rekam sendiri di kamar hahahha,” nggak pernah minta aku dengerin kata Meni yang sudah memiliki musik ini-itu,” tambah Meni yang koleksi lagu sendiri sekitar 50-an. mengaku suka lagu ‘Matamu’ Dalam bermusik, boleh dibilang yang dinyanyikan mamanya. Bagi ia belajar secara otodidak. Dia juga Meni, lagu itu selain memiliki tidak les vokal. Bakat seni memang melody yang indah juga memiliki mengalir deras padanya. Tak heran, arti tersendiri. “Lagu itu mama ibunya adalah penyanyi senior bikin tentang papa aku..hahha,” dengan julukan Diva Musik Pop, kata Meni membuka rahasia. sementara ayahnya, Andrew HolMeski kini serius bermusik, lins Dougherty adalah guru musik namun Meni mengaku tidak ingin yang kini menjadi Kepala Sekolah menjadi diva seperti mamanya. SMP Global Jaya International Karena menurutnya menyandang School, tempat dimana Meni seko- gelar ‘Diva’ dirasakan terlalu lah. Sesekali sang mama memberi berat, tuntutan dan tekanannya saran. Mamanya memang tidak banyak dan selalu menjadi soterlibat jauh dalam mengasah Meni, rotan. Dia tidak suka itu. “Aku karena menurutnya, aliran musik nggak mau seperti mama. Aku mamanya berbeda dengannya. mau biasa-biasa saja,” kata Meni. “Dari kecil aku hidup dalam (Diana Runtu) keluarga yang darah seninya ‘keras’ banget. Jadi kreativitas itu penting banget di keluarga kita. Kita tuh selalu mencari cara untuk bisa mengeluarkan apa isi hati dan pikiran kita. Jadi bukan hanya dengan berbicara tapi juga lewat lukisan, menyanyi, bikin lagu, dll. Kalau soal bermusik, aku beda dengan mama. Aliran aku adalah musik kekinian. Aku lebih modern Stephanie dan gank anak artis

EDISI 1037/ 24-30 JUNI 2019

BULELENG

11

Olahan Dodol Terong dan Dodol Tomat Mengomsumsi sayur memang sangat dianjurkan untuk memenuhi kebutuhan gizi manusia. Tetapi, tidak semua orang menyukai sayur sebagai salah satu menu wajib dalam kebutuhan makan setiap hari. Guna meningkatkan kegemaran memakan sayur di kalangan masyarakat, berbagai inovasi olahan makanan pun dilakukan. Salah satunya dilakukan oleh Kelompok Wanita Tani (KWT) di Kabupaten Buleleng.

P

roduk olahan sayur yang dihasilkan adalah dodol terong dan dodol tomat yang diproduksi oleh KWT Praja Putri, Desa Tinga-Tinga, Kecamatan Gerokgak. Produk olahan pangan tersebut dipasarkan pada Pasar Pangan Lokal yang diselenggarakan oleh Asosiasi Pasar Pangan Lokal (Asparlok) bentukan Dinas Ketahanan Pangan (DKP) Kabupaten Buleleng di Taman Kota Singaraja, pekan lalu. Ketua KWT Praja Putri, Desa Tinga-Tinga, Gusti Ayu Putu

Armini menjelaskan dodol ini diproduksi untuk meningkatkan kegemaran masyarakat untuk mengonsumsi sayur-sayuran. Sama seperti dodol yang lain, bahan utama dari dodol terong dan dodol tomat ini adalah ketan. Namun, pada olahan dodol ini ditambahkan dengan sayur dengan perbandingan ketan satu kilogram dan sayur 1,5 kilogram. “Kami campur dengan sayur yaitu terong dan tomat dengan perbandingan 1:1,5 kilogram. Kami buat ini biar kegemaran makan sayur itu meningkat,” jelasnya.

Produk olahan dodol terong dan tomat oleh KWT Praja Putri Ia menambahkan terong dan tomat yang digunakan adalah yang memang sudah siap dipanen. Mengenai ketahanan dari dodol terong dan dodol tomat ini, Gusti Armini menyebut sudah mencoba sebelumnya bersama anggota KWT Praja Putri. Dengan tingkat kematangan terong dan tomat yang bagus serta penjemurannya yang baik, dodol ini bertahan hingga 20 hari. Pembungkusnya pun memakai kulit jagung. “Sebelum packing kita jemur dulu lalu dibungkus dengan kulit jagung,” imbuh Gusti Armini.

Disinggung me­ ngenai berbagai inovasi yang telah dilakukan KWT di bawah binaan DKP Kabupaten Buleleng yang tergabung dalam Asparlok, Kepala DKP, drh. Nyoman Surya Temaja, MP menyebut untuk pemberdayaan KWT maupun pengembangan usahanya termasuk olahan yang inovatif terus

melakukan pembinaan dengan melibatkan tim dari provinsi yang ahli dalam pengolahan pangan setiap bulannya. Pembinaan ini dilakukan agar produknya tidak monoton dan selalu berinovasi. Para KWT juga dianjurkan agar olahannya berkarakteristik non beras. Termasuk pula bahan pangan lokal sebagai bahan baku. “Ini merupakan hasil dari pembinaan kami bersama BPTP yang mempunyai keahlian di bidang pengolahan pangan sehingga olahannya lebih bervariasi disertai kesungguhan dari KWT untuk mengolahnya sebagai usaha peningkatan perekonomian,” tutupnya. (Wiwin Meliana)

“Ini merupakan hasil dari pembinaan kami bersama BPTP yang mempunyai keahlian di bidang peng­ olahan pangan sehingga olahannya lebih bervariasi disertai kesungguhan dari KWT untuk mengolahnya sebagai usaha peningkatan perekonomian,”

Populasi Jalak Bali Meningkat

Agus Ngurah Krisna Kepakisan

Perlindungan terhadap satwa langka telah dilakukan oleh pemerintah. Hal ini dilakukan untuk mencegah kepunahan terhadap satwa yang populasinya disinyalir semakin menurun. Di Bali, satwa langka yang dikhawatirkan akan mengalami kepunahan adalah Curik Bali. Burung berwarna putih ini biasanya hanya ditemui di kawasan Bali Barat. Upaya perlindungan pun dilakukan dengan melarang perburuan liar Curik Bali tersebut. Selain meilegalkan, pemerintah juga melakukan penangkaran di Taman Nasional Bali Barat (TNBB). Alhasil, burung yang lebih dikenal dengan nama Jalak Bali ini pun populasinya mulai mengalami peningkatan. Tahun ini, ada sekitar 236 ekor burung

Curik Bali yang terbang bebas di alam. Sementara di penangkaran Taman Nasional Bali Barat (TNBB) jumlahnya sudah mencapai 390 ekor. Kepala Bali TNBB, Agus Ngurah Krisna Kepakisan ditemui Senin (17/6) mengatakan, tahun 2015 lalu populasi Curik Bali sempat menurun, yakni hanya 35 ekor di alam. Selain karena faktor pencurian di alam yang cukup tinggi, menurunnya jumlah populasi burung dengan nama latin leucopsar rothschildi ini juga terjadi lantaran cuaca yang cukup ektrim, sehingga Curik Bali hanya dapat tinggal di wilayah TNBB. Untuk mengantisipasi terjadinya kepunahan, Balai TNBB melakukan upaya pengembangbiakan Curik Bali. Setiap tahun sebut Krisna,

penangkaran TNBB mampu menetaskan sebanyak 60 ekor Curik Bali. Burung-burung itu kemudian dilepasliarkan bila sudah berumur 11 bulan. “Setiap tahun kami rutin melepas Curik Bali sebanyak 45 ekor. Selama mengembangbiakan, hampir tidak ada kendala. Karena sudah dilakukan pemeriksaan kesehatan secara rutin, pemberian pakan, vitamin dam suplemen sesuai standar,” jelasnya. Selain dikembangbiakan, Balai TNBB imbuh Krisna, punya strategi khusus untuk melepas Curik Bali di alam. Jika dulu hanya dilepas di wilayah Teluk Berumbun, kini burung berwarna putih itu mulai dilepas di wilayah Labuan Lalang, dan Hutan Cekik. “Penangkaran Curik Bali yang dulunya ilegal, sekarang sudah dilegalkan. Pemerintah

membantu untuk mencarikan izinnya, sehingga harga Curik Bali turun. Masyarakat tidak perlu lagi membeli Curik Bali dari hasil curian di alam. Masyarakat sekarang bisa membelinya dipenangkaran yang legal,” ucapnya. Krisna pun menargetkan, populasi Curik Bali di alam minimal berjumlah 500 ekor. Untuk itu, pengawasan perlindungan Curik Bali di kawasan TNBB pun kian diperketat, dengan dijaga oleh polisi kehutanan hutan, yang dibagi dalam enam kantor resort. “Semua tugasnya mengamankan kawasannya. Dari luasan TNBb 19 ribu hektar, dibagi menjadi tiga seksi. Mereka rutin patroli bersama masyarakat,” tutupnya. (Wiwin Meliana)


BUMI GORA

12

EDISI 1037/ 24-30 JUNI 2019

Samota Resmi Jadi Cagar Biosfer Dunia Samota (Teluk Saleh, Moyo, Tambora) resmi dideklarasikan sebagai cagar biosfer dunia pada hari ketiga The 31st session of the Man and the Biosphere (MAB) Programme International Coordinating Council di Perancis, Rabu (19/6). Wakil Gubernur NTB, Dr. Hj. Sitti Rohmi Djalilah tampil mewakili Indonesia dalam kegiatan ini.

S

Dr. Hj. Sitti Rohmi Djalilah

elain Samota, satu cagar b io sf er la in nya di Indonesia juga dideklarasikan, yaitu Togean, yang berada di Kabupaten Tojo Una-Una, Sulawesi Tengah. Bersamaan dengan itu, dideklarasikan pula cagar biosfer baru yakni Po Grande di Austria, Julian Alps di Italia, Gangwon Eco-Peace dan Yeoncheon di Korea Selatan, Lake Elton di Russia, Alto Turia dan La Siberia and Valle del Cabriel di Spanyol, Lubombo di Eswatini, Nordhordaland di Norwegia dan Roztocze di Polandia. Dari Perancis, Wakil Gubernur NTB mengungkapkan, pengakuan cagar biosfer memiliki makna penting sebagai cara pengelolaan kawasan untuk kepentingan pembangunan ekonomi berkelanjutan dan konservasi. Sekaligus, didukung oleh kajian ilmiah. Sebab itu dalam sambutannya, atas deklarasi tersebut, Wagub NTB mengatakan bahwa Pemerintah Provinsi dan masyarakat NTB telah siap dan bersedia untuk

mengambil langkah nyata demi mengimplementasikan konsep cagar biosfer ini. “Untuk mengalokasikan 30 persen dari kawasan NTB untuk menjadi area konservasi (kawasan hijau), termasuk Taman Nasional Gunung Tambora, Taman Wisata Alam Laut Pulau

Moyo, Kawasan Perburuan Pulau Moyo, Taman Wisata Laut Pulau Satonda, Kawasan Perairan Liang dan Pulau Ngali dan area konservasi lainnya di bawah program pengelolaan terpadu,” ujar Wagub. Pengesahan Teluk Saleh, Moyo, Tambora “Samota” sebagai cagar budaya dunia merupakan pengakuan dari komunitas internasional atas kerja keras dari masyarakat NTB dan pemerintah Indonesia. Wagub juga menggunakan kesempatan itu untuk memperkenalkan Samota yang terletak di Sumbawa, Provinsi NTB. Samota, ujarnya, adalah bagian dari Sunda Kecil. Kawasan ini mencakup dataran rendah hingga ke perbukitan dan gunung-gunung yang ketinggiannya bervariasi dari 0 hingga lebih dari 2000 meter di atas permukaan laut. “Gunung Tambora memiliki ekosistem vulkanik dan erupsinya telah mengguncang dunia di tahun 1815. Kawasan ini adalah rumah bagi berbagai macam flora dan fauna. Kawasan ini juga memiliki komunitas lokal dengan budaya yang cukup mengesankan,” ujarnya. Wagub mengakhiri sambutannya dengan menyampaikan informasi bahwa cagar biosfer Rinjani di Lombok dan Samota di Sumbawa akan menjadi tuan rumah pertemuan 13rd South East Biosphere Reserve Network (SeaBRnet) tahun depan.

LABORATORIUM ALAM Untuk diketahui, cagar biosfer bisa menjadi muara kegiatan konservasi, pembangunan ekonomi berkelanjutan dan pasokan kebutuhan logistik (riset, monev, pendidikan dan SDM). Cagar biosfer juga merupakan laboratorium alam bagi pembangunan berkelanjutan. Memiliki cagar biosfer juga memberikan akses bagi tampilnya NTB di forum Internasional. Misalnya, di Forum ICC MAB yang terdiri dari 122 negara. Juga Forum WNBR (World Network of Biosphere Reserve). Ada lagi Forum SeaBRnet (Southeast Asia Biosphere Reserve Network), dimana Lombok akan menjadi tuan rumah pertemuannya pada tahun 2020 mendatang. Juga, SSC (South-South Cooperation). Menurutnya, cagar biosfer juga bermanfaat untuk sejumlah kebutuhan. Misalnya, bagi masyarakat di sekitarnya, bisa menggerakkan aktivitas jasa ekosistem, kegiatan produksi dan kelestarian budaya. Selain itu, juga memiliki manfaat sebagai kawasan konservasi yang akan mendukung kelestarian sumber daya alam hayati dan ekosistem. Cagar biosfer juga

akan bermanfaat sebagai pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, khususnya sebagai laboratorium alam. Bagi pemerintah, (daerah maupun pusat), cagar biosfer akan bermanfaat untuk pengembangan ekonomi berkelanjutan, mempertahankan nilai sosial budaya dan citra pemerintah. Bagi sektor swasta, cagar biosfer akan memberikan nilai berupa penyediaan komoditas. “Kami selaku Pemerintah Provinsi NTB, memberikan apresiasi yang tinggi atas pendeklarasian ini. Kami berharap, predikat sebagai cagar biosfer yang telah kita raih ini bisa memberikan manfaat, utamanya bagi masyarakat yang berada di kawasan cagar biosfer,” ujarnya. Wagub juga menegaskan pentingnya dukungan dan masukan dari berbagai pihak untuk memaksimalkan tata kelola cagar biosfer ini nantinya. “Dukungan dari para pemangku kepentingan yang beragam, tentunya akan menjadi modal berharga dalam mengembangkan dan mencapai makna penting dari keberadaan cagar biosfer ini,” pungkasnya. (Naniek I. Taufan)

“Gunung Tambora memiliki ekosistem vulkanik dan ­erupsinya telah mengguncang dunia di tahun 1815. ­Kawasan ini adalah rumah bagi berbagai macam flora dan fauna. Kawasan ini juga memiliki komunitas lokal dengan budaya yang cukup mengesankan”

Wakil Gubernur NTB, Dr. Hj. Sitti Rohmi Djalilah salh seorang yang mewakili Indonesia dalam The 31st session of the Man and the Biosphere (MAB) Programme International Coordinating Council di Perancis, minggu lalu

EDISI 1037/ 24-30 JUNI 2019

BUNDA ANANDA

5

Kenalkan Kearifan Lokal sejak Dini Federasi Olahraga Rekreasi Masyarakat Indonesia (FORMI) Kota Denpasar menggandeng Sanggar Hung Bali dan Sekehe Rare Anggon Andel–Andel menggelar Workshop Layang–Layang Tradisional Bali yang bertajuk “Mai Melayangan” di areal Pura Dalem Pengembak Sanur, Minggu (16/6).

K

etua FORMI Kota Denpasar, I.GN Bagus Mataram mengatakan penyelenggaraan Workshop Layang–Layang Tradisional Bali ini diharapkan dapat menjadi ajang memperkenalkan warisan budaya leluhur sejak dini kepada anak- anak. “Selain itu pelaksanaan kegiatan ini juga sebagai upaya penguatan kebudayaan sesuai dengan visi misi Kota Denpasar sebagai kota berwawasan budaya” ujar Mataram. Ketua Panitia Acara, I Gede Arya Swastika mengatakan workshop ini mengambil tema “Mengolahragakan Masyarakat, dalam Melestarikan Permainan Rakyat melalui Budaya dan Tradisi”. “Workshop ini melibatkan perwakilan siswa Sekolah Dasar se-Kota Denpasar yang

dibagi menjadi 25 kelompok terdiri dari 5 orang siswa yang ditugaskan mengerjakan layanglayang tradisional Bali jenis Bebean berukuran 120 cm dengan dibimbing langsung sejumlah narasumber diantaranya I Kadek Suprapta Meranggi, I Nyoman Danu Budiarta, dan I Gede Agus Suprapta,” jelasnya. Selain itu, ada juga, perakitan layang-layang berukuran 350 cm yang diperagakan narasumber. Uniknya, bahan dasar pembuatan seluruh layangan pada workshop ini berasal dari bahan ramah lingkungan. Arya Swastika berharap,

workshop ini dapat dimanfaatkan anak-anak untuk menambah wawasan dan menggali banyak informasi seputar layang-layang tradisional Bali.

“Melalui kegiatan ini semoga dapat memperkenalkan warisan kearifan lokal kepada anak-anak sejak dini agar keberlangsungannya tetap lestari di tengah

era modernisasi dan juga penting sebagai sarana melatih kerjasama dan mental anak yang berguna bagi masa depan mereka” ungkapnya. Salah satu peserta workshop, Ketut Ariawan asal SDN 5 Kesiman merasa sangat senang dapat mengikuti workshop layanglayang tradisional Bali ini. Ketut pun mampu dengan mahir menjelaskan proses pembuatan layangan mulai dari meraut batang tengah bambu, kemudian memasang tapak bawah (bagian pinggang), memasang tapak atas (bagian kepala), hingga kepada proses memasang kertas (nukub) layangan. “Workshop ini sangat bagus dan menambah wawasan saya dan teman- teman mengenai layang-layang tradisional Bali,” ucapnya sembari diiyakan teman-temannya. (Wirati Astiti)

Mendongeng Lima Menit KODOK TAK BEREKOR

Kasihan kodok yang tak berekor itu! Setiap hari ia bersedih di pinggir selokan. Semua hewan yang minum di selokan itu, meledek hewan bulat kecil tak berekor itu. “Hewan apa kau? Tubuhmu kecil seperti kentang, tetapi matamu besar melotot?” ledek Sapi. “Hewan apa kau? Kerjamu mendongak dan melompat, padahal tidak memiliki ekor?” ledek Kijang. Berhari-hari kodok yang malang itu bersembunyi di balik semak-semak. Ia hanya memperlihatkan diri, apabila tak seekor hewan pun yang datang minum di selokan itu. Kemudian menengadah ke angkasa, memohon agar Dewa Langit bermurah hati memberinya sebatang ekor. “Hai, Kodok!” Tiba-tiba Dewa Langit berseru. “Kasihan aku melihatmu bersedih setiap malam. Keinginanmu memiliki ekor akan kupenuhi, asalkan kau mau menjalankan tugas.” “Hormat Junjungan hamba! Hamba berjanji akan menjalankan tugas yang dibebankan kepada hamba,” jawab Kodok sambil menghormat berkali-kali. “Jaga dan manfaatkan sumurku baik-baik! Jangan sampai rusak dan kotor!” Setelah bersabda demikian, Dewa Langit lenyap dari hadapan sang Kodok. Pada saat itu, kodok yang mungil itu merasakan ada perubahan di pantatnya. “Ekor!” teriaknya. Ia berlari menuju sumur yang dimaksud, lalu melompat-lompat di sekelingnya. Di depan semua hewan ia memamerkan diri bahwa ia telah berekor dan mendapat kehormatan menjaga sumur. Keesokan harinya, seekor domba menghampiri sumur yang berair jernih itu. “Hai, Hewan berjanggut!” seru Kodok. “Jangan mendekat! Itu

sumur Dewa. Aku dipercaya oleh Dewa Langit untuk menjaga kebersihan dan keamanan sumur itu!” serunya lagi sambil mendongak ke langit dan menggoyang-goyang ekornya. Hewan yang kehausan itu pergi lalu memberitahukan kepada teman-temannya perihal sumur jernih yang dijaga oleh Kodok Berekor. “Hai Kambing, jangan mendekat!” demikian seru Kodok setelah melihat si Kambing hendak minum air sumur. “Sumur itu milik Dewa! Aku dipercaya menjaga keselamatannya!” Hari berikutnya berduyun-duyun hewan-hewan yang berdatangan, hendak minum di sumur yang jernih itu. Semua mendapat bentakan dari si Kodok Berekor, penjaga sumur yang dipercaya oleh Dewa Langit. Akhirnya para hewan yang kehausan itu mengadukan tingkah laku si Kodok yang sok berkuasa itu kepada Dewa Langit. Maka tibalah pada suatu siang yang terik, seekor sapi datang mendekat ke sumur itu. Ketika hendak meminum airnya, tiba-tiba kodok penjaga sumur itu membentak. “Hai, hewan gendut! Tak tahukah kau, sumur itu adalah sumur Dewa? Hanya aku yang boleh mengizinkan hewan-hewan yang ingin mendekat ke sumur itu. Airnya sangat suci. Hanya aku dan Paduka Dewa yang boleh meminumnya!” Bersamaan dengan bentakan si Kodok, sapi yang hendak minum itu berubah menjadi Dewa Langit, dan pada saat itu pula, si Kodok merasakan pantatnya perih. Setelah menoleh, ia dapati ekornya lenyap. “Hai Kodok, sungguh congkak kau!” demikian Dewa Langit berseru. “Air sumur itu bukan sematamata untukmu, tetapi untuk semua hewan yang kehausan. Sekarang rasakan dirimu! Kau hanya boleh berekor sebentar saja, yakni selama menjadi becing-becing (masa kecil). Setelah besar kau tidak berekor lagi!


Woman on Top

4

Edisi 1037/ 24 - 30 juni 2019

METROPOLITAN

Edisi 1037/ 24 - 30 juni 2019

Perbaikan Sistem PPDB Perlu Dilakukan

Inda Trimafo Yudha

Siap Mengemban Aspirasi Masyarakat Ia lahir dari organi­ sasi kepemudaaan dan kewirausahaan. Ketika berorganisasi ia bisa menampung aspirasi, meng-update informasi hingga menguatkan jiwa kepemimpinannya. Namanya makin melejit lantaran ia tampil sebagai wanita pertama yang memimpin HIPMI (Himpunan Pengusaha Muda Indonesia), selama dua periode. Selain itu Gek Inda pun sempat memegang beberapa jabatan tinggi organisasi kepemudaaan dan kewirausahaan, yang menjadikannya terbiasa berada di tengah-tengah masyarakat.

P

emilik nama lengkap I Gusti Ayu Agung Inda Trimafo Yudha ini, bukan hanya dikenal sebagai pengusaha wanita, tapi juga seorang politisi wanita. Pantas saja jika di ajang pemilihan legislatif April 2019 lalu, ia berhasil menjadi srikandi pertama dapil Petang, Badung, yang lolos ke DPRD Badung. Meski baru bergabung di PDI Perjuangan (sebelumnya ia mengikuti jejak sang ayah ada di Partai Golkar) dan berjuang efektif hanya 6 bulan, ternyata berhasil merebut 5.900 suara. Ketika bicara perjuangan, cucu dari pahlawan, I Gusti Ngurah Rai ini, bakal melanjutkannya melalui kursi parlemen. Ia ingin lebih lagi mengemban aspirasi masyarakat, termasuk memperjuangkan ber-

Zonasi penerimaan peserta didik baru (PPDB) memasuki tahun ketiga, namun pelaksanaannya belumlah mulus sebagaimana yang diharapkan. Masih banyak permasalahan yang dijumpai. Sebagian masyarakat berpendapat bahwa PPDB berdasarkan zonasi justru menimbulkan masalah bahkan jadi merugikan siswa. Namun sebagian lagi berpendapat penerapan zonasi justru baik bagi pendidikan khususnya dalam pemerataan kualitas dan akses pendidikan. KPAI Bidang Pendidikan), Ijte Chodijah (Pakar Pendidikan dan Anggota Badan Akredatasi Nasional) ; Heru Purnomo (Sekretaris Jenderal Federasi Serikat Guru Indonesia) karena FSGI juga men-

Sentuh Berbagai Bidang

bagai sektor peranan perempuan demi pembangunan partisipatif. Gek Inda juga mengatakan komitmennya dari awal terjun ke politik, ia tidak akan meninggalkan dunia usaha. Mengingat usaha yang dikawalnya selama ini sudah memiliki fondasi yang kuat. Dari aktivitasnya di dunia usaha pula dirinya bisa melihat kebutuhan masyarakat di lapangan.”Apa yang saya perjuangkan kalau tidak tahu masalah dan update informasi,” cetus Gek Inda yang mengelola usaha Pod Chocolate Factory sejak 2013 bersama sang suami Tobias Garitt ini Begitu pula bicara perempuan, di sana ada anak-anak, yang masih memerlukan perhatian.Utamanya menyangkut soal pendidikan, seperti urusan kurikulum yang memegang posisi sentral dalam keberhasilan

pendidikan. Walaupun sistem edukasi di Indonesia terbilang berjalan baik, namun masih diperlukan penguatan pendidikan karakter. Hal ini, penting bagi kita semua, bagi Indonesia, sebagai dasar pembentukan karakter berkualitas, tanpa mengabaikan nilai sosialnya seperti toleransi, gotong royong, hingga saling menghormati. Mengingat pula, kesuksesan seseorang tidak sematamata ditentukan oleh pengetahuan dan kemampuan teknis serta kognisinya (hard skill) saja, juga dari kemampuan mengelola diri dan orang lain (soft skill). “Apalagi untuk mencetak pemimpin yang berkualitas, karakter yang kuat sangatlah diperlukan,” ujar Gek Inda yang sempat menimba ilmu pendidikan Manajemen Perhotelan di International College of Hotel Management (ICHM), Adelaide, Australia ini. (Sri Ardhini)

Board Director IABC (Indonesian Australian Business Consul) ini, juga berharap dalam menjalankan tugas sebagai wakil rakyat nantinya, dapat mengusulkan kebijakan yang pro terhadap lahirnya pengusahapengusaha baru. Sebab, negara maju adalah ketika mampu mencetak wirausaha yang banyak. ”Kami akan mendukung Indonesia sebagai negara maju pada tahun 2025, dimana sejak tahun 2015 telah menargetkan jumlah wirausaha mencapai 2,5 persen dari total jumlah penduduk,. Selain itu semoga saya juga bisa berkontribusi menampung tenaga kerja dan menguatkan ekonomi negara. Jadi tidak semua orang ngantre untuk menjadi ASN,” ucap pengusaha wisata True Bali Experience dan

13

Bali Horse Riding ini. Selanjutnya melalui kedudukannya sebagai Ketua BPD Putri (Perhimpunan Usaha Taman Rekreasi Indonesia) Bali, Gek Inda juga memiliki peluang yang semakin luas dalam memperjuangkan aspirasi pelaku usaha pariwisata, sebagai tulang punggung ekonomi Bali. Selain itu, ia juga bakal menyentuh bidang kebudayaan. Mengingat di dapilnya, Petang banyak pelaku seni terutama di bidang tari dan tradisi gamelan, seperti baleganjur dan Semar Pegulingan, yang semua perlu dibina. “Berikutnya saya bakal ke banjar-banjar, menjalin kerjasama dengan kepala desa untuk menciptakan taman bermain untuk anak-anak. Sebab dari seni juga dapat membentuk karakter anak didik, sehingga sekali merengkuh dayung dua tiga pulau terlampaui,” ujarnya optimis. Sementara untuk memperjuangkan aspirasi masyarakat ke eksekutif, menurut Gek Inda harus dengan komunikasi dan presentasi yang baik. Saat ini, dengan bernaung di bawah partai yang memimpin di Badung, baginya menjadikan jalur yang lebih lancar untuk melakukan lobi dan komunikasi. Intinya dirinya bakal berusaha memperjuangkan dan mempresentasikan dengan jelas pada pihak eksekutif agar bisa mendengarkan. (Sri Ardhini)

D

berikutnya adalah mendorong pemerintah daerah untuk meratakan sarana dan prasarana, pemerataan pendidikan berkualitas, dll. Mengacu pada data Indeks Integritas

Komisioner KPAI Retno Listyarti

engan adanya zonasi, seharusnya tidak ada lagi siswa yang berbondong-bondong mendaftar di salah satu favorit karena dia harus mendaftar di sekolah terdekat tempat tinggalnya. Sementara mereka yang tadinya tidak memiliki harapan untuk masuk ke sekolah favorit lantaran kalah bersaing dalam hal nilai, justru punya kesempatan untuk bersekolah di sekolah favorit asalkan sekolah tersebut berada di dekat rumahnya. Namun yang terjadi tidaklah demikian. Masyarakat belum paham apa itu zonasi. Itu sebabnya masih saja terjadi antrean panjang bahkan ada orangtua yang sampai menginap di sekolah agar anaknya bisa mendapat nomor urut pertama saat pendaftaran. Kondisi ini terjadi karena kurangnya sosialisasi pihak terkait. Tak heran

masyarakat masih saja bingung. Para orangtua yang menginginkan anaknya masuk sekolah favorit lantaran nilai anaknya tergolong sangat baik, terpaksa kecewa lantaran terbentur aturan. Tak heran muncul keluhan dari sebagian orangtua murid bahwa sistem zonasi yang diterapkan merugikan siswa. Hal ini juga yang menjadi sorotan Komisi Perlindungan Anak Indonesia dalam diskusi ‘Kebijakan PPDB dan Rotasi Guru dengan Sistem Zonasi sebagai Upaya Pemerataan Kualitas Pendidikan Dalam Perspektif Kepentingan Terbaik Bagi Anak’ di kantor KPAI, Jakarta Pusat, Rabu (19/6). Sebagai pembicara dalam diskusi tersebut; Retno Listyarti (Komisioner

Transparansi Kuota Selama dua tahun ini, lanjutnya, ada beberapa permasalahan yang dicatat KPAI, di antaranya adalah soal penyebaran sekolah negeri yang tidak merata di setiap kecamatan dan kelurahan, sementara banyak daerah yang pembagian zonasi pada awalnya didasarkan pada wilayah administrasi kecamatan. “Ada juga calon siswa yang tidak terakomodasi, tidak bisa mendaftar ke sekolah manapun. Sementara ada sekolah yang kekurangan siswa karena letaknya jauh dari permukiman penduduk,” jelasnya. Temuan lainnya, terjadi antrean para pendaftar bahkan orangtua sampai menginap di sekolah. Padahal, pendaftaran bisa dilakukan secara online sehingga tak perlu mengantri ataupun menginap di sekolah. Siswa di zona terdekat dengan sekolah pasti diterima. “Jadi, meski mendapatkan nomor antrian 1, tapi jika domisilinya jauh dari sekolah, maka peluangnya untuk diterima sangat kecil. Sebaliknya, sekalipun nomor antrian di atas 500 tetapi jika domisili sangat dekat dengan sekolah, malah punya peluang besar untuk diterima,” katanya. Minimnya sosialisasi tentang sistem PPDB ke para calon peserta didik dan orangtuanya, kata Retno, menimbulkan kebingungan di tengah masyarakat. Padahal harusnya sosialisasi dilakukan secara terstruktur, sistematis dan massif. Yang juga menjadi pertanyaan masyarakat adalah soal transparansi kuota per zonasi, termasuk kuota rombongan belajar (rombel) dan daya tampung. Dalam Permendikbud No 51 Tahun 2018 sudah jelas dikatakan bahwa maksimal jumlah rombel per kelas untuk SD adalah 28 siswa, SMP 32 siswa dan SMA/SMK 36 siswa. (Diana Runtu)

orangtua menginap di depan gerbang sekolah

erima pengaduan di berbagai daerah yang ada pengurus FSGI; dan Guntur Ismasil (Dewan Kehormatan FSGI). KPAI, ujar Retno, mengapresiasi pemerintah terkait kebijakan PPDB sistem zonasi karena tujuan dari sistem tersebut adalah untuk memberi layanan akses yang berkeadilan bagi masyarakat, upaya pemerataan mutu pada semua satuan pendidikan serta mendorong partisipasi masyarakat dalam penyelenggaraan pendidikan. “Selama ini ada kecenderungan terpusatnya peserta didik pada sekolah tertentu yang dianggap unggulan dan favorit. Namun dengan sistem ini lambat laun akan berubah. Semua sekolah harus unggul dan berkualitas,” ujar Retno. Ia menambahkan, langkah

Ujian Nasional (IIUN) yang dikeluarkan Kemendikbud tahun 2008, jelasnya, terdapat cukup banyak pergeseran pada daftar sekolah terbaik di tiap-tiap provinsi. “Ini membuktikan bahwa kualitas sekolah sudah lebih merata mengingat sistem ini baru memasuki tahun ketiga,” tuturnya. Dengan hasil yang baik ini, maka di tahun –tahun mendatang diharapkan hasilnya bisa lebih baik lagi, kualitas sekolah akan semakin merata sejalan dengan semakin baiknya penerapan zonasi dalam PPDB. “Mengukir prestasi tidak mengenal sekolah negeri atau swasta, tidak juga sekolah favorit atau bukan. Prestasi lebih banyak di tentukan oleh semangat belajar dan ketekunan,” tegas mantan Guru Teladan ini.

PENOLAKAN MASYARAKAT MASIH TINGGI Retno juga mengakui kalau sekarang ini penolakan masyarakat pada kebijakan zonasi masih tergolong tinggi. Untuk itu, menjadi tugas pemerintah pusat maupun daerah untuk mengedukasi masyarakat terkait perlunya sistem zonasi untuk memeratakan kualitas pendidikan. Perbaikan sistem, perlu terus dilakukan. Sosialisasi PPDB harus dilakukan secara terstruktur, sistematis dan massif agar masyarakat teredukasi dan paham juknis PPDB di daerahnya masingmasing. Sistem zonasi, jelas Retno lebih jauh, sesungguhnya justru sejalan dengan kepentingan terbaik bagi anak. “Dengan sistem ini sekolah bisa dekat dengan rumah. Bisa ditempuh dengan naik sepeda atau jalan kaki. Sehingga tidak melelahkan anak. Keluarga pun bisa mengantarkan makan siang. Juga yang juga penting, dengan adanya sistem ini bisa menghindari kekerasan karena teman main anak di sekolah adalah juga teman mainnya di rumah, antara orangtua pun kebanyakan saling kenal,” ujarnya. KPAI telah melakukan pemantauan pelaksanaan sistem ini sejak dua tahun lalu. Tahun ini pun pemantauan tetap dilakukan. Retno berharap masyarakat yang menemukan permasalahan di lapangan, termasuk jika ada dugaan pelanggaran Permendikbud tentang PPDB agar melaporkannya ke pengaduan KPAI sehingga bisa ditindaklanjuti oleh pihak berwenang dan juga diadvokasi jika kebijakannya melenceng. “KPAI membentuk tim pengawasan PPDB yang menyebar ke beberapa sekolah di berbagai daerah di antaranya, DKI Jakarta, Kabupaten/Kota Bogor, Kabupaten/Kota Bekasi, Depok dan Tangerang Selatan. Tim ini akan melaksanakan tugasnya hingga 24 Juni 2019,” jelasnya. (Diana Runtu)

Ilustrasi pendaftaran murid baru di Depok membludak


SUDUT PANDANG

14

Dukung Passion Positif

Memiliki dua anak yang beranjak dewasa membuat Iis Dahlia bahagia sekaligus cemas. Bahagia, karena kedua anaknya tumbuh dengan baik. Salshadilla Juwita atau akrab disapa dengan Salsa kini berusia 21 tahun dan tengah kuliah di Inggris, sedang Devano Danedra masih SMA dan tengah mengembangkan karier di dunia entertainment.

N

amun di sisi lain Iis merasakan kecemasan, khawatir anaknya terjerumus pada pergaulan tidak sehat. Maklum, setelah anak-anak sudah beranjak besar mereka memiliki banyak waktu untuk beraktivitas di luar rumah, pergaulan pun semakin luas. Sementara Iis merasa pergaulan anakanak sekarang lebih berbahaya. Itu sebabnya ia menjadi protektif kepada kedua anaknya. “Ya iyalah. Kita harus tahu anak-anak lagi dekat sama siapa, lingkungannya sepertia apa. Karena sekarang kan pergaulan lebih berbahaya. Karena bisa terpengaruh. Layaknya orangtua harus tahu pergaulanan anaknya dimana,” ungkap Iis tentang anak-anaknya. Devano menjadi sumber ketakutan Iis. Selain anaknya masih remaja juga memiliki banyak aktivitas di luar rumah. Sementara sang kakak, Salsa, kata Iis, tergolong anak rumahan yang lebih suka beraktivitas di rumah ketimbang keluyuran bersama teman-temannya. “Dia (Salsa) anak rumahan banget. Kalaupun ada teman, dia lebih suka ngajak teman-temannya main di rumah,” jelas

Edisi 1037/ 24 - 30 juni 2019

Iis Dahlia

wanita kelahiran Indramayu 47 tahun lalu itu. Bicara tentang karier Devano, Iis mengaku dia tidak mengarahkan ataupun mempersiapkan anaknya itu masuk ke dunia hiburan. Bahkan kalau boleh dibilang, dia tidak ingin Devano berkiprah di dunia tersebut. Dia ingin anaknya hanya berkonsentrasi di pendidikan dan kelak mengikuti jejak ayahnya menjadi pilot. Namun yang namanya minat anak, sungguh tidak diduga. Suatu ketika Devano datang padanya dan menyatakan ingin berkiprah di dunia hiburan. Akhirnya, mau-tidak mau Iis pun

mengiyakan dan mendukung kariernya dengan syarat tetap memprioritaskan pendidikan. “Orangtua zaman sekarang tidak bisa mengarahkan atau paksa-paksa anak harus begini-begitu. Apa passion anak, asalkan positif, kita orangtua mendukung. Begitu juga Devano yang passionnya di seni. Jadi yang penting dia bertanggung jawab dan peduli pendidikannya,” tutur pelantun tembang ‘Tamu Tak Diundang’, ini. Pendidikan, kata Iis lagi, memang menjadi penekanan tersendiri. Anakanak, boleh saja berkegiatan macammacam namun pendidikan tidak boleh ditinggalkan. Berkarier sebagai artis tidak bisa dijadikan gantungan masa depan. Apalagi tidak ada jaminan penghasilan tetap. “Tapi apa mau dikata, Devano minatnya di dunia seni. Ya sudah. Berarti dia nantinya harus belajar berbisnis,” ujar artis yang piawai bahasa gaul ini. Sekarang ini, karier Devano tengah berkembang baik di dunia menyanyi maupun akting. Berawal dari single berjudul ‘Always In Love With You’ tahun 2017, duet dengan sang kakak Salsha. Kemudian ia meluncurkan single solo perdananya ‘Menyimpan Rasa’ serta beberapa lagu lainnya. Di luar itu, ia juga merambah ke dunia perfilman. Setidaknya sampai sekarang dia sudah membintangi tiga film ‘Dear Nathan: Hello Salma’, Melodylan, DoReMi&You’.

ATUR KEUANGAN ANAK Dari proyek-proyek itu ia mendapat penghasilan yang cukup besar, belum lagi bayaran endorsement yang lumayan besar. Nah yang sempat bikin pusing Iis beberapa waktu lalu adalah sifat boros anaknya. Hal ini, kata Iis, karena anak-anaknya belum mengerti artinya uang, belum menyadari betapa sulitnya mencari uang. “Anak gua dua-duanya nggak ngerti duit. Main belanja-belanja aja, main gesek-gesek aja. Nggak tau harganya berapa. Salsa, Devano, dulu begitu,” ungkap Iis. Ada satu kejadian, kata Iis, dimana Devano menghabiskan uang hingga Rp 20 jutaan. Mengetahui hal itu, kata Iis, dirinya dan suami, kaget. “Trus kita tanya dong, adek (Devano) buat apaan sih. Suatu ketika dia bilang, dia mau nelepon cewek namun susah dihubungi, akhirnya dia belikan itu cewek HP, harganya mahal,” tuturnya. Sejak itu, ucap pemeran film ‘Terlalu Tampan’, ini, dirinya langsung bertindak dengan membatasi ATM Devano. Tapi kata Iis, bukan berarti Devano tidak bisa mempergunakan uangnya. Dia memahami Devano yang bekerja untuk mendapatkan uang, pun membutuhkan dana untuk kesehariannya. Karena itu, kata Iis, ia tetap mengalokasikan dana per bulan Devano Rp 10 juta. “Adek bisa pakai uang itu. Selebihnya penghasilan ditabung,” tuturnya. Ada dua rekening yang dibuat untuk menampung

penghasilan Devano dari kiprahnya di entertainment. “Jadi untuk endorsement yang kecilkecil, dia bisa pegang uang itu. Sedang proyek-proyek besar ataupun endorsement besar, aku yang pegang. Vano bisa memahami hal itu. Aku bilang mencari uang itu tidak mudah. Apakah uang mau dihambur-hamburkan begitu saja, tanpa memikirkan masa depan. Jadi aku kasih wejangan panjang-lebar, dan dia bisa mengerti,” tuturnya. Bagaimana dengan Salsha? Terkait Salsa, Iis mengaku, awalnya anak sulungnya pun demikian, sempat boros dan membelanjakan penghasilannya yang didapat dari dunia entertainment tanpa berpikir panjang. Namun seiring waktu serta bertambahnya usia, Salsha menjadi semakin dewasa dan sadar tidak mudah mencari uang. Dia juga menjadi lebih mandiri. Kariernya di dunia hiburan berjalan cukup baik, namun Salsa lebih memilih pendidikan. Bahkan dia memutuskan kuliah di luar negeri agar bisa mandiri. Terus terang, kata Iis, waktu Salsha meminta untuk kuliah di luar negeri dirinya sempat galau karena tidak pernah berpisah dari kedua anaknya. Selain itu tempat yang dipilih Salsa untuk menimba ilmu cukup jauh yakni Inggris. Namun berpikir bahwa semua itu adalah untuk masa depan sang anak, akhirnya ia pun mendukung langkah Salsa yang mengambil jurusan bisnis marketing. (Diana Runtu)

Tiga Pilar Kota Denpasar Ikuti Seleksi Tingkat Provinsi

IB Rai D. Mantra

Seleksi dan Orientasi Pilar-Pilar Sosial Nasional adalah salah satu bentuk penghargaan dan motivasi pemerintah terhadap kontribusi dan keberadaan Pilar-Pilar Sosial di masyarakat. Pada seleksi Tingkat Provinsi kali ini, Pilar-Pilar Sosial Kota Denpasar diwakili tiga Pilar, yakni Karang Taruna Eka Taruna Bhakti Desa Sumerta Kelod, Pekerja Sosial Masyarakat (PSM) Ni Made Kasmiati,S.Pd, dari Desa Dangin Puri Kelod dan Lembaga Kesejahteraan Sosial (LKS) dari Yayasan Peduli Kemanusiaan Bali, di Kesiman Kertalangu, ketiganya dari Denpasar Timur. Acara penerimaan Tim Seleksi Tingkat Provinsi yang dilaksanakan di Kantor Desa Sumerta Kelod, Jalan Drupadi, Renon, Jumat (21/6), dihadiri juga oleh

Wali Kota Denpasar, Wakil Ketua K3S Kota Denpasar. Dalam kesempatan itu, Kadis Sosial Kota Denpasar I Made Mertajaya, S.Sos., M.M., didampingi Kabid Pemberdayaan Sosial dan Penanganan Fakir Miskin Made Yudyani Putri, S.E., M.Si., mengatakan untuk tahun ini, Kota Denpasar memang menyertakan tiga Pilar-Pilar Sosial, sebab yang keempat TKSK (Tenaga Kesejahteraan Sosial Kecamatan) Kota Denpasar, semuanya sudah tembus ke tingkat nasional. Dikatakan oleh Merta Jaya, PilarPilar Sosial dalam perannya sebagai mitra pemerintah, dapat menangani masalah kesejahteraan sosial

masyarakat, juga memiliki pemahaman nilai kesetiakawanan sosial serta restorasi sosial. Wali Kota Denpasar IB Rai D. Mantra pada kesempatan yang sama menyampaikan apresiasinya kepada aktivitas para pemangku kepentingan yang ada di segala tingkat wilayah juga generasi muda termasuk ketiga pilar yang telah banyak membantu masyarakat, khususnya dalam

penanganan penyandang masalah kesejahteraan sosial di lingkungan Kota Denpasar. Selain itu juga penghargaan kepada tenaga kerja sosial, masyarakat, lembaga dan yayasan non profit di luar pemerintahan Kota Denpasar yang turut juga mendorong tingkat indeks pembangunan manusia di Kota Denpasar. Wali Kota juga mengingatkan untuk menjaga pilar-pilar sosial

tersebut dengan baik. Jangan sampai dana sosial di Kota Denpasar tidak tepat sasaran dalam penggunaannya Sementara itu Ketua Tim Seleksi dari Provinsi Bali Dra. Ni Pt. Budiari , M.MA, yang juga Ketua Bidang Pemberdayaan Dinsos Provinsi Bali , mengatakan bahwa benar kali ini tim menilai tiga Pilar-Pilar Sosial, mengingat Pilar TKSK sudah menjadi juara semua, sehingga tidak lagi mengikuti seleksi. Harapannya dengan hadirnya Wali Kota mendukung Pilar-Pilar di Kota Denpasar juga berafiliasi dengan kegiatannya dan dapat dibanggakan hingga ke tingkat nasional. Diharapkan pula semua kegiatan bisa mengacu pada visi Pemerintah Provinsi Bali ‘Nangun Sat Kerthi Loka Bali’. -ard.

Sosialita

Edisi 1037/ 24 - 30 juni 2019 Kesehatan adalah karunia paling indah yang kita miliki dan harus dijaga. Begitu juga dengan kesehatan mulut dan gigi juga penting dijaga. Sebab, mempunyai gigi sehat, dan cemerlang, bisa menjadikan lebih mudah tersenyum, serta menjadikan rasa percaya diri lebih lagi.

M

enurut drg. Dewa Ayu Wulandari, pemilik Kamandhani Dental & Beauty, gigi yang sehat berkontribusi untuk meningkatkan kepercayaan diri seseorang, sehingga mengoptimalkan performanya Apalagi

3

Dewa Ayu Wulandari

Jaga Gigi yang Sehat tetap Sehat kesehatan gigi menjadi salah satu kunci bagi kita untuk menikmati berbagai makanan yang ada di dunia ini. Mengingat saat ini semakin banyak tempat kuliner dengan aneka menu yang menggoda, maka kita wajib lebih peduli dengan kesehatan gigi. Sebab saat kita tak tahan untuk tidak menjajal berbagai hidangan yang tersedia, diperlukan gigi yang kuat demi menghindari

drg. Wulan dan tim saat di Korea

Indra Lesmana dan Istri juga mempercayakan perawatan giginya di Kamandhani.

Dewa Ayu Wulandari

Kamandhani Dental & Beauty Nyaman dan Fasilitasnya Modern Dokter gigi Wulan mengatakan upaya pencegahan penyakit gigi juga sangat baik dilakukan sejak dini. Salah satu, yang dilakukannya adalah beker­ jasama dengan sekolah Raj Yamuna dengan mengadakan kegiatan edukasi, penyuluhan juga mengecek kesehatan gigi murid setiap enam bulan sekali serta mengingatkan selalu menyikat gigi secara baik dan benar minimal dua kali sehari. Jika bicara mengenai gigi, anak-anak dengan gigi susu mereka, sepatutnya jangan sampai luput dari perhatian orangtua. “Jangan datang ke dokter gigi saat buah hatinya sedang sakit gigi, tapi datanglah memeriksakan sebagai upaya pencegahan,” cetus drg. Wulan yang kliniknya dipercaya dan ramai dikunjungi wisatawan asing dan para selebritis ibu kota yang menetap di Bali ini. Ibu dari AA Nandiswari Swayoga ini juga menyampaikan, sejak anak berumur satu tahun, orangtua sebaik­ nya sudah membawa anak ke dokter gigi. Agar orangtua memperoleh

edukasi, mulai dari pemilihan sikat gigi hingga soal pencegahan karies pada gigi anak, sekaligus mengajarkan anak tidak asing dengan ruangan dokter gigi.

Usai memberikan edukasi untuk Finalis Putra Putri Tuli

Menyoal edukasi, drg. Wulan juga sempat berbagi pengetahuan di beberapa kegiatan seperti pemilihan Duta Endek Kota Denpasar dan pemilihan Putra Putri Tuli. Kepada mereka disampaikan cara menggosok gigi yang benar. Sebab, bukan hanya anak-anak, bahkan masyarakat masih banyak belum mengetahui secara tepat bahwa menggosok gigi yang benar itu penting, demi meningkatkan resistensi tubuh terhadap penyakit gigi. Sementara itu untuk di intern kliniknya, selain terus meningkatkan pelayanan yang baik, mereka juga selalu meng-update pengetahuan bersama. Salah satunya drg. Wulan mengajak tim kerjanya melakukan studi banding ke Korea Selatan. Di sana mereka mempelajari mengenai manajemen dan dental implant. Selanjutnya drg. Wulan juga menyampaikan jenis layanan dari Kamandhani Dental & Beauty berupa: konsultasi kesehatan gigi, Whitening Bleaching, Scalling Root Planing yakni tindakan konversional non-bedah peridontal dengan mengangkat agen (plak, stain, karang gigi) di permukaan gigi, Veneers gigi (disebut juga veneer porselin atau laminasi porselin gigi), Crown Bridge, Implant, Braces atau lebih dikenal dengan sebutan kawat gigi, dan perawatan estetik lainnya dengan penanganan yang tepat dan profesional, serta di dukung suasana klinik nyaman dengan fasilitas yang modern. - ard

ngilu. Kondisi gigi ngilu, kata drg. Wulan merupakan gangguan klinis yang umum terjadi. Rasa nyeri yang menusuk dentin gigi yang terbuka akibat rangsangan suhu dingin dan panas, atau kandungan kimiawi asam dan manis pada makanan dan minuman. “Nah, begitulah ketika kita lalai memperhatikan kesehatan gigi, bisa terjadi gangguan dan akibatnya sakit gigi. Begitu gigi bermasalah , maka sangat mungkin membuat kita bukan hanya kehilangan waktu untuk kerja atau belajar tapi juga kesempatan melakukan aktivitas lainnya,” cetus putri dari pasutri drh. D. MN Dharma., M.Sc., Ph.D dan Desak Putu Parmini (alm) ini. Namun masalahnya, masih banyak orang belum menyadari betapa pentingnya melakukan konsultasi gigi dan mulut secara berkala. Selama ini, orang pergi ke dokter gigi hanya jika giginya sudah sakit atau berlubang. Padahal pemeriksaan gigi dan mulut oleh dokter gigi dapat men- deteksi dan mengobati berba-

gai gangguan yang umum menyerang area mulut. Drg. Wulan pun menganjurkan untuk memeriksakan gigi ke dokter sekurangnya enam bulan sekali. Semakin dini penyakit terdeteksi, perawatan akan semakin sederhana. Biaya

menjadi semakin murah, risiko sakit pun akan semakin kecil. “Dilakukan ya, jangan hanya rencana. Gigi yang sehat harus dijaga agar tetap sehat . Ini jauh lebih efektif dan efisien dalam menurunkan kemungkinan akan timbulnya penyakit akibat gigi dan mulut yang tidak dirawat. Belum banyak yang melakukan pencegah daripada mengobati, “ tandas dokter gigi yang juga pemilik usaha tas kulit handmade “Bali Hobi berkuda Swari” ini. -ard

Kamandhani Dental & Beauty

Jalan Sidakarya No. 121, Sesetan Denpasar Phone 0818 0530 0037/ 0813 3876 9191 Buka Senin – Sabtu Pukul 11.00 AM – 09.00 PM


2

ESPRESSO GORO-GORO MK

“Kita semua sangat memuja perdamaian. Karena kita percaya, hanya dengan didasari Putu Wijaya keadaan yang damai, pembangunan akan berkesinambungan yang pasti menelorkan kemajuan, kecukupan kesejahteraan kemakmuran serta akhirnya kebahagiaan. Betul, tidak, Bu?” tanya Amat. Bu Amat berpikir. “Lho kok malah mikir?” “Bukan memikirkan pernyataan Bapak, saya memikirkan, nanti apa keputusan MK!” Amat terkejut lalu menoleh istrinya. “Lha, Bapak kenapa terkejut?” Amat berdecak dan menggeleng-gelengkan kepalanya. “Bapak tidak boleh melarang saya mengharapkan MK agar memutuskan supaya ...” “Tidak ada yang melarang siapa pun mengharapkan apa pun, asal... “

Sentra kerajinan tenun ikat endek dan songket menjadi salah satu maskot dari Kabupaten Klungkung. Hal ini menempatkan posisi perajin tenun memiliki akses pasar yang memadai tidak hanya berskala lokal daerah yang peminatnya berasal dari kalangan instansi, dan masyarakat umum juga segmen pasar global. Akan tetapi produk tidak akan mampu bersaing kompetitif di pasaran tanpa disertai oleh sentuhan inovasi kreatif dari pengerajin tenun. Mitra UKM Pertenunan Astiti dan UKM Pertenunan Mujur Sari melihat celah ini dengan menghadirkan sentuhan kreativitas yang semula kain yang dijual lembaran dirancang untuk diolah menjadi produk jadi dengan sentuhan fashion busana formal sampai dengan busana santai. Keterampilan ini diperoleh berdasarkan pelatihan dan pendampingan dari pihak

bacaan wanita dan keluarga Penerbit PT Tarukan Media Dharma Terbit sejak 9 November 1998

“Asal apa?” “Asal sebatas mengharapkan tok.” “Artinya apa itu?” “Artinya jangan berharap!” “Kenapa?” “Biarkan MK membuat keputusannya!” “Jadi Bapak melarang orang berharap? Itu pembunuhan karakter!” Amat meloncat dari kursinya karena kaget. Langsung bergerak mau keluar. “Lho, Bapak mau ke mana?” Sambil menutupkan pintu ke teras Amat menjawab lirih. “Daripada jadi pembunuh, Bapak lebih baik jalan-jalan sebentar cari angin supaya hati damai.” Begitu pintu tertutup dan kedengaran tapak kaki suaminya turun ke halaman, Bu Amat tersenyum. Tapi ia masih merasa perlu mengintip dari jendela. Ketika sudah benar-benar yakin suaminya tak kelihatan, ia langsung mendekati TV. Mengusir diskusi politik yang menyebalkannya karena memancing tensinya naik, pindah ke siaran ulangan “Siraman

Kalbu” (Sejukkan Hati). Mata Bu Amat langsung tak berkedip. Dan ketika di layar kaca nampak pasien yang sedang didoakan oleh ustadz Danu, gemetar, karena jin keluar dari tubuhnya, empati merasuki pikiran Bu Amat, sehingga ia merasa dirinyalah yang sedang diterapi. “Dewa Ratu! Kenapa,, Bu!” Bu Amat memekik. Amat yang rupanya diam-diam kembali ke rumah lewat pintu belakang, untuk mengambil jaket ikut kaget. Menyadari itu suaminya, Bu Amat langsung mematikan TV. Lalu bergegas masuk kamar. Amat jadi termenung. “Bapak tambah yakin bahwa ibu kamu itu sedang kena imbas virus marah, Ami,” kata Amat esoknya melaporkan kejadian itu pada Ami.”Marah itu penyakit menular yang ganas. Bisa melalap kewarasan kita semua sehingga kehilangan akal sehat. Itulah yang sesungguhnya menjadi hantu pembunuhan karakter. Yang sedang mewabah sekarang. Masak lembaga MK yang kita bikin

EDISI 1037/ 24-30 JUNI 2019

sendiri untuk menegakkan hukum berjalan benar, masak masih kita recoki dengan harapan-harapan pribadi. ituah sejatinya pembunuh karakter sejatl, Ami. Bukan Bapak yang pencinta damai ini!” Ami diam saja tak menjawab, sampai Amat membentak. “Kamu kok diam saja, Ami. Tolong sindir ibu kamu. Pembunuh karakter itu mereka para penyebar virus marah, bukan penyebar pembela damai seperi bapakmu ini!” Karena Ami tetap nampak tak mau memihak, Amat pulang dengan kesal. Tapi begitu sampai di rumah, istrinya langsung bertanya. “Bapak habis dilabrak, Ami?” Amat tercengang. “Siapa bilang begitu?”

SUDUT PANDANG

Di dalam keluarga yang kuat terjalin komunikasi antaranggota keluarga dan interaksi sosial yang hangat. Interaksi sosial sangat diperlukan untuk mempererat hubungan antaranggota keluarga utamanya antara orangtua dan anak. Salah satu bentuk interaksi sosial dalam penerapan pola asuh anak untuk membentuk karakter buah hati sejak dini.

B

Putu Ayu Prabawati Sudana, S.Pd.,M.Hum.

mitra UKM. Yang tengah diproduktifkan keberadaannya adalah mengintensifkan tampilan di media online mengenai jenis produk yang di pasarkan sehingga jumlah pesanan baik domestik maupun mancanegara dapat mengakses jumlah pesanan, volume kebutuhan dan model desain yang diinginkan. Pr o g r a m p e m b e r d a y a a n perajin melalui program inovatif perduli dengan sinergi mutual antar perguruan tinggi dengan mitra UKM menjadi salah satu bentuk Tri Dharma Perguruan Tinggi yang direal-

isasikan melalui program pengabdian kepada masyarakat. Esensi program adalah membantu pemenuhan kebutuhan mitra sebagai penyedia produk di pasaran dalam meningkatkan kualitas pelayanan publik kepada pelanggan baik dalam tataran pembeli produk yang berskala di seputar lingkungan sekitar maupun konsumen luar negeri. Upaya ini sebagai bentuk terobosan dalam hal konsen dengan produk tenun Indonesia sebagai khasanah aset bangsa yang perlu dijaga kelestariannya. Ni Ketut Sari Adnyani, S.Pd.,M.Hum. Jurusan Hukum dan Kewarganegaraan Fakultas Hukum dan Ilmu Sosial Universitas Pendidikan Ganesha

KATA HATI: Rubrik ini khusus untuk menuangkan ide/pemikiran/gagasan dalam bentuk tulisan. Tema terkait wanita dan keluarga serta tidak mengandung unsur SARA. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter. Lampirkan juga foto close up (bukan pasfoto). Cantumkan nama lengkap, profesi, nomor hp, dan alamat email. Naskah dikirim ke redaksi@cybertokoh.com, redaksitokoh@yahoo.com.

Penanggung Jawab/Pemimpin Redaksi: Gde Palgunadi. Redaktur Pelaksana: Ngurah Budi. Staf Redaksi/Iklan Denpasar: IG.A. Sri Ardhini, Wirati Astiti. Buleleng: Wiwin Meliana. Jakarta: Diana Runtu. NTB: Naniek Dwi Surahmi. Desain Grafis: IDN Alit ­B udi­a rtha, ­I Made Ary ­Supratman. Manajer Sirkulasi dan Iklan: I Ketut Budiarta, Sirkulasi: Kadek Sepi Purnama, Hariyono, Ayu Wika Yuliani. Se­kretariat: Ayu ­Agustini, Putu Agus Mariantara. Ombudsman: Jimmy Silalahi. Alamat Redaksi/Iklan Denpasar: Gedung Pers Bali K. Nadha, Lantai III, Jalan Kebo Iwa 63 A ­Denpasar 80117–Telepon (0361) 425373, 7402414, 416676–Faksimile (0361) 425373. Alamat Redaksi/Iklan/Sirkulasi Jakarta: Jalan ­Pal­merah ­Barat 21 G Jakarta Pusat 10270–Telepon (021) 5357603 - Faksimile (021) 5357605. NTB: Jalan Bangau No.15 Cakranegara, Mataram–­Telepon (0370) 639543– ­Faksimile (0370) 628257. Surat Elektronik: info@cybertokoh.com, redaksi@cybertokoh.com, iklan@cybertokoh.com. Bank: BRI ­Cabang ­Gajah Mada Denpasar. Nomor Rekening: PT Tarukan Media Dharma: 0017-01-001010-30-6. Percetakan: BP Jalan Kebo Iwa 63 A Denpasar.

15

Jangan Paksakan Kehendak

: Cyber Tokoh

Inovasi Produk Unggulan Tenun di Klungkung institusi formal yaitu Lembaga Penelitian dan Pengabdian Universitas Pendidikan Ganesha yang di tahun 2019 mengagendakan program grebek fashion untuk menambah wawasan perajin di bidang skill menjarit dan inovasi produk menjadi busana yang siap dipasarkan. Adapun relevansi antara kebutuhan pasar dengan akses penyediaan oleh perajin bak gayung bersambut bahwa pelaku usaha yang dalam hal ini perajin sebagai penyedia produk menjembatani tingkat kebutuhan konsumen yang menginginkan varian produk yang beragam dari desain yang diminati pasar. Ni Ketut Sari Adnyani, S.Pd.,M.Hum. Pemetaan peluang oleh perajin dan tim pelaksana program penDemikian juga halnya seggabdian disepakati untuk men- men pemasaran offline dengan jawab tantangan pasar dalam hal jasa pengepul, membuka toko kebutuhan sandang. dan butik telah ditempuh oleh

“Karena kalau Bapak hanya sibuk gembor-gembor tok soal damai, dia pasti akan mengingatkan Bapak apa kata George Washington, presiden pertama Amerika Serika!” “Apa katanya?” “Untuk menjaga perdamaian dibutuhkan senjata. Dan kita tahu sendiri, kata Ami, kalau manusia sudah punya senjata, mereka pasti maunya perang! Nah itu pembunuhan karakter! Kan lebih baik...”. “Lebih baik apa?” “Lebih baik, berharap seperti saya, supaya MK nanti membuat keputusan sendiri tanpa ada rasa takut, terpengaruh oleh tekanan, kecaman atau ancaman apa dan dari siapa pun!”

EDISI 1037/ 24-30 JUNI 2019

entuk pola asuh anak setiap orangtua berbeda sesuai dengan latar belakang pendidikan maupun sosial orangtua itu sendiri. Penerapan pola asuh yang salah tentu akan berdampak buruk terhadap perkembangan anak. Hal ini diungkapkan oleh akademisi Undiksha Singaraja Putu Ayu Prabawati Sudana, S.Pd.,M.Hum. Perempuan yang akrab disapa Miss Praba tersebut mengatakan setiap orang menginginkan anaknya dapat tumbuh menjadi generasi cerdas dan berguna, sehingga bimbingan orangtua sangat diperlukan untuk membentuk karakter dan kedisiplinan anak sejak dini. “Untuk hal-hal yang dasar seperti pembentukan disiplin dan karakter saya tipe orangtua yang keras,” ungkapnya. Meski memiliki kewajiban mengarahkan anak dalam menggapai

masa depan, perempuan yang saat ini menjabat sebagai Kepala UPT Bahasa Undiksha ini mengaku tidak dapat secara semena-mena memaksakan kehendak diri sebagai orangtua. Dirinya tetap memberikan anak untuk menyampaikan pendapat dan keinginannya. Hanya saja untuk setiap keinginan harus disertai oleh argumen-argumen yang mendukung pendapat tersebut. “Saya biasakan menanyakan alasan dibalik pilihan dan jawaban mereka,” ujarnya. Meskipun tidak memiliki waktu secara penuh bersama buah hati karena kesibukan, akan tetapi Praba selalu berusaha untuk mengerti kondisi dan keadaan anak. Emosi yang masih labih, kadangkala membuat anak susah untuk diatur. Biasanya, kata Praba hal yang membuat sang anak tidak mengikuti perintahnya ketika anak merasa bosan dan bad mood. Jika

keadaan itu datang, dirinya akan cepat menyadari dan tidak akan memaksakan kehendaknya. Justru dirinya akan membujuk sang anak untuk bercerita masalah yang dihadapi. “Saya akan tanyakan masalahnya, bahkan berusaha menyenangkan mereka agar mereka mau bercerita. Menraktirnya salah satunya,” imbuhnya. Perempuan yang lahir 25 Januari 1984 ini mengatakan sangat penting untuk dapat mengendalikan dan mengontrol emosi anak. Hanya saja tidak disarankan memaksakan kehendak yang membuat anak merasa tidak nyaman. “Sebaiknya anak nurut itu dari hati bukan dari paksaan, dan sejauh ini anak saya tipe penurut. Bahkan kalau pun saya tidak ada di rumah mereka tetap mengikuti peraturan yang telah disepakati,” pungkasnya. (Wiwin Meliana)

Orientasi Kehumasan Pemkab Buleleng Coba Adopsi “Jabar Quick Respons”

Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Buleleng melalui Bagian Humas dan Protokol menyelenggarakan Orientasi Kehumasan di Biro Humas dan Protokol Pemerintah Provinsi Jawa Barat (Pemprov Jabar). Dari orientasi tersebut, Pemkab Buleleng akan mencoba menerapkan salah satu inovasi Humas Jabar yaitu “Jabar Quick Respons” di Kabupaten Buleleng. Kunjungan Kerja Pemkab Buleleng Hal tersebut terke Provinsi Jawa Barat ungkap dalam orientasi kehumasan yang dipimpin langsung oleh Wakil Bupati Buleleng dr. I Nyoman Sutjidra, Sp.OG dan diterima oleh Kepala Biro (Karo) Humas dan Protokol Pemprov Jabar Ir. Hermansyah, M.Si di Ruang Rapat Papandayan, Kantor Gubernur Jabar, Kamis (20/6). Ditemui usai kegiatan, Wabup Sutjidra menjelaskan dari orientasi ini Pemkab Buleleng bisa mempelajari berbagai program inovasi dari Pemprov Jabar khususnya di Humas Jabar. Dari pemaparan disebutkan ada “Jabar Quick Respons”. Untuk di Buleleng sendiri juga mempunyai hal semacam itu namun masih di bidang kesehatan yaitu Buleleng Emergency Service (BES). Untuk bisa seperti “Jabar Quick Respons”, nantinya BES akan diintegrasi dengan berbagai Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) sehingga bisa melibatkan lebih banyak pihak. “Saya lihat, di Jabar ini sudah terintegrasi sekali bahkan mereka telah melibatkan pihak swasta,” jelasnya. Menurutnya, pengadopsian “Jabar Quick Respons” ini nantinya akan menghasilkan BES Plus. Jika BES hanya bergerak di bidang kesehatan, BES Plus akan bergerak di seluruh bidang dengan melibatkan seluruh pihak ataupun SKPD terkait. Dengan begitu, segala permasalahan di masyarakat bisa diatasi dengan cepat. “Kita akan coba adopsi “Jabar Quick Respons” tersebut dengan BES Plus. Kita akan rintis,” ujar Wabup Sutjidra. Sementara itu, Karo Humas dan Protokol Pemprov Jabar, Hermansyah mengungkapkan humas tidak boleh ketinggalan zaman. Humas harus mengikuti kemajuan zaman tersebut. Kalau saat ini media sosial lebih banyak digunakan sebagai penyampaian pesan maka humas pun harus memanfaatkan medsos tersebut. Humas tidak boleh terpaku dengan media konvensional meskipun humas juga tidak boleh melupakan media-media konvensional tersebut seperti media cetak, televisi, maupun elektronik. “Media tersebut tetap menjadi bagian dari humas tetapi media online maupun media sosial harus diikuti juga,” ungkapnya. Dirinya menambahkan sebenarnya media sosial itu murah tetapi sasarannya mengena. Utamanya kepada kaum milenial yang sangat adaptif terhadap perubahan. Itu sangat diperlukan untuk menyasar kaum muda. Keaktifan di media sosial ini menjadi suatu kebaruan ataupun inovasi di Humas Jabar. “Intinya jangan sampai ketinggalan dengan teknologi,” tutup Hermansyah. -win


16 Orangtua selalu berupaya memberikan yang terbaik untuk anaknya. Tetapi kadang anak punya kemauan yang berbeda. Hal ini bisa membuat orangtua pusing. Bagaimana menyikapi kondisi tersebut?

M

enurut dr. Nyoman Hanati, Sp.KJ., orangtua dan anak harus sama-sama saling memahami. “Komunikasi menjadi hal utama dalam menyatukan perbedaan pendapat orangtua dan anak. Komunikasi yang dimaksud adalah komunikasi dua arah. Pola asuh orangtua juga harus secara holistik,” ujarnya. Ia mengatakan, orangtua harus memahami, kondisi si anak, perkembangan fisik dan psikisnya, termasuk tantangan yang dihadapi. Semua faktor bisa mempengaruhi anak, dan orangtua harus memahami itu. Ia memberi contoh, misalnya di usia anak-anak, komunikasi orangtua dan anak dapat dilakukan dengan bercerita. “Kedekatan orangtua dan anak dapat dibangun dan diwujudkan dengan komunikasi yang baik lewat cerita. Misalnya, ketika apa yang diinginkan anak tidak sesuai dengan harapan orangtua, mereka bisa menjelaskan dalam bentuk contoh-contoh

SUDUT PANDANG

Edisi 1037/ 24 - 30 juni 2019

Hindari Kata Jangan pada Anak

cerita, apa positif dan apa negatifnya keinginan tersebut,” jelasnya. Banyak cerita-cerita pewayangan dan dongeng yang bisa dijadikan contoh pelajaran bagi anak. Ia mengingatkan, saat berkomunikasi dengan anak, usahakan tidak ada nada marah, apalagi membentak dan hindari mengucapkan kata jangan, “jangan ini, jangan itu” Sementara, pada anak remaja, orangtua dapat mengajaknya berdiskusi seperti teman. Orangtua juga harus memahami, remaja sedang memasuki tahap perubahan dalam berbagai segi, tidak hanya fisik, tapi juga psikisnya. Masa remaja, ketika mereka sedang mencari identitas diri dan melihat teman sebayanya. Ia menilai, saat ini dengan berkembangnya media sosial, juga memberi pengaruh kepada`interaksi orangtua dan anak. Menurutnya, dengan perkembangan teknologi informasi, orangtua juga harus belajar, dalam artian mereka meningkatkan pengetahuan tentang pola asuh anak. “Ketika mengawasi anak menonton televisi dan

bermain medsos sebenarnya orangtua juga sedang belajar. Yakni meningkatkan pengetahuannya agar bisa memberi contoh yang benar kepada anaknya terutama soal pola asuh,” ucapnya. Ia mengingatkan, usahakan waktu bersama anak digunakan sebaik mungkin untuk berkomunikasi dari hati ke hati, jangan sambil bermain medsos. “Saat anak menonton televsi, sebaiknya damping mereka. Anak-anak belum mengerti jika melihat ada tayangan kekerasan di dalam film. Di sanalah para orangtua harus mendampingi dan bisa menjelaskan, apa hal baik yang bisa ditiru dan hal buruk yang tidak dicontoh. Jadi tayangan tidak dicerna langsung begitu saja oleh anak,” kata dr. Hanati. Bicara pola asuh orangtua ke anak, sebenarnya sudah dimulai dari dalam kandungan. Saat ibu hamil sudah terbiasa berkomunikasi dengan janinnya. Begitu juga, kalau ibunya stres saat hamil, bisa akan membuat anak yang dilahirkan ikut stres. Inilah mengapa ibu hamil disarankan untuk relaksasi

dan meditasi agar tidak stres, karena membawa dampak ke depan bagi anaknya. Ibu hamil yang rajin bersembahyang, juga memberi efek positif ke anak. Sesibuk apapun orangtua, biasakan ada waktu berkomunikasi dengan anak. Apalagi, dilakukan sembari berolahraga ringan, misalnya jalan santai atau bersepeda di kompleks perumahan. Selain membuat anak menjadi terlepas dari gadgetnya, orangtua dapat berkomunikasi dr. Nyoman Hanati, Sp.KJ. dengan anak, dan kegiatan olahraga juga membuat anak menjadi sehat. kemauan anak,” kata dr. Hanati. “Membangun komunikasi yang baik Ia menegaskan, lingkungan juga dengan anak, akan memudahkan para memberi dampak kepada pola asuh orangtua dalam memberi penjelasan anak. Dengan pola asuh yang baik ketika terjadi perbedaan pendapat. di rumah, akan mampu menangkal Anak juga akan mudah mengerti, be- paparan lingkungan yang kurang baik gitu juga orangtua dapat mengerti apa di luar rumah. (Wirati Astiti)

“Perdebatan” yang Menghangatkan Keluarga Dalam membangun kehangatan keluarga, komunikasi menjadi hal yang penting untuk mencapai tujuan bersama. Tak kalah pentingnya juga komunikasi antara orangtua dan anak-anak. Semakin bertumbuhnya usia anak, semakin besar pula kebutuhan dan kepentingannya. Di sanalah letak anakanak mulai memilih yang sesuai dengan keinginannya. Usia yang belum matang, cenderung membuat pilihan anak terfokus pada keinginan bukan kebutuhannya. Dua hal inilah yang kerap menjadi “perselisihan” antara orang tua dan anak. Keinginan orangtua dengan pertimbangan yang terbaik untuk anak, akan berbenturan dengan keinginan anak yang sesuai dengan kemauannya sendiri. Hampir setiap orangtua mengalami hal seperti ini, namun bijaksana dalam menengahi, itulah yang dibutuhkan untuk menyeimbangkan kemauan anak dan keinginan orang tua untuk memgarahkan anak berdasarkan potensinya. Wawasan orangtua menjadi penentu dalam harmonisnya pilihan bersama ini. Pengalaman ini dirasakan oleh Armita Budiyanti, ibu dua anak yang sewaktu anakanaknya masih kecil, telah terbiasa memberi mereka pilihan-pilihan sederhana. Bahkan untuk hal-hal kecil pun mereka diskusikan, misalnya seperti pilihan warna baju yang akan dikenakan, menu apa yang akan dimakan, buku apa yang akan dibaca dan sebagainya. Semua itu dilakukan untuk mengajarkan kedua anaknya dalam mengambil keputusan. “Saya lakukan untuk mengajarkan mereka mengambil keputusan,” kata Armita. Sebab itu jika pilihan yang mudah, tentu bisa mereka putuskan dengan cepat. Pola pendekatan Armita kepada kedua buah hatinya, Ignatius Dandy A.H. (20) dan Alexander Kevin Leonidas (14), saat beranjak remaja, di mana anak-anak mulai menghadapi hal-hal yg lebih kompleks, juga berbeda. Seperti ke mana mereka harus

Armita Budiyanti bersama kedua anak dan suaminya

melanjutkan sekolah. Menghadapi kedua anaknya ini, Armita membaca dengan baik karakter keduanya. Sebagai ibu, ia tentu sangat mengenal karakter masing-masing anaknya. “Anak sulung saya, cenderung membutuhkan arahan sedangkan si bungsu cenderung lebih tahu apa yang dia mau atau apa yang dia butuhkan,” ujarnya. Sebab itu, ia menghadapi kedua anaknya dengan cara berbeda. Menyikapi si sulung, Armita lebih banyak memberi arahan dengan memberikan beberapa pilihan berikut sudut pandang baik dan buruknya. Kemudian

setelah itu ia membiarkan anaknya ini mepilihan orang tua. Hal itulah yang terbawa ketika nentukan keputusan atau menetapkan apa ia memiliki anak di mana ia lebih banyak memuyang menjadi pilihannya.”Kalau dia sudah tuskan dengan sebab anaknya juga memiliki sifat memutuskan dan tahu apa konsekuensi seperti dirinya, manut saja. “Saya memutuskan dari keputusannya, maka yang bisa saya di mana anak bersekolah mulai dari TK hingga lakukan adalah mendukungnya,” katanya. SMA. Namun begitu, pada tahap berikutnya, Ini sangat berbeda ketika ia menghadapi si seiring waktu berlalu anaknya yang diberi nama bungsu yang justru si bungsu sendiri yang Krisna itu juga sudah mulai punya pilihan sendiri. menyodorkan pilihan untuk saya berikan Dan diskusi pun menjadi bagian dari pengambilan pertimbangan-pertimbangan. “Berbekal keputusan mereka. Ayu sadar bahwa ketika masukan-masukan dari saya, dia sendiri anaknya dewasa ia telah punya dunia sendiri dan yang akan memutuskan apa yang menjadi bersiap dengan kehidupannya sendiri. Sebagai kebutuhannya,” ujar Armita. orangtua ia hanya mendoakan dan mengarahkan Ia mengerti betul menghadapi anakserta membimbing agar anaknya bisa mengambil anaknya yang hidup di masa milenial ini keputusan terbaik. dengan menghindari benar memaksakan Ayu bersyukur, sejauh ini pilihan-pilihannya kehendak kepada anak-anaknya. “Sayang untuk anaknya ini berjalan dengan baik. Tidak sangat menghindari memaksakan kehendak jarang pula “perdebatan” terjadi dalam keluarga agar anak-anak leluasa mengambil kepumereka demi mendapatkan keputusan terbaik tusan,” katanya. Armita menyadari benar bagi Krisna. Tetapi, meski ada “perdebatan” dan bahwa hidup mereka kelak, mereka sendiri “perselisihan” antar orangtua dan anak dalam yang akan menjalani selanjutnya. “Tugas mengambil keputusan ini, justru menghangatkan saya hanya mengantarkan mereka pada hubungan dalam keluarga. (Naniek I. Taufan) kesiapan, lagi pula, saya yakin bila mereka telah mendapatkan pengarahan yang baik, apa yang mereka jalani nanti akan baik pula,” katanya. Ia akhirnya mengambil kesimpulan bahwa anak-anaknya tau apa yang terbaik untuk diri mereka sendiri. Lain lagi dengan Ayu Setiawaty yang berkaca dari kehidupannya dahulu. Perempuan yang usianya telah lewat setengah abad ini, dulunya Ayu Setiawaty bersama puteranya Krisna. tipe yang manut pada

redaksi@cybertokoh.com, iklan@cybertokoh.com

cybertokoh

@cybertokoh

@cybertokoh

www.cybertokoh.com


Turn static files into dynamic content formats.

Create a flipbook