Skip to main content

epaper-1035

Page 1

MOZAIK

16 Wirausaha merupakan pilihan terbaik saat ini. Bagaimana tips berwirausaha yang baik? Apa saja modal yang diperlukan? Semua dikupas dalam talkshow “Kreatif Berbisnis Keluarga Harmonis” yang diselenggarakan Ode-nant Textile bekerja sama dengan Tabloid Tokoh, Pratiwi Textile, Koperasi BSM, dan didukung BRI Denpasar Gajah Mada.

S

uasana talkshow yang dilaksanakan Sabtu (1/6) sangat meriah. Kehadiran dua narasumber, Kepala Dinas Koperasi dan UKM Provinsi Bali I Gede Indra Dewa Putra, S.E., M.M. dan Dirut PT Odenant Bali Cok Mirah, S.E., M.A.P. membuat ratusan peserta yang mayoritas member Odenant bersemangat. Gede Indra menuturkan dirinya banyak belajar dari member Odenant. “ Saya memberi pujian untuk kaum muda dan perempuan yang mau berwirausaha. Ini memberikan multiplayer effect karena membangkitkan ekonomi keluarga, ekonomi karyawan, ekonomi

Kreatif Berbisnis Keluarga Harmonis masyarakat,” ungkapnya. Untuk menekuni bisnis, tentu harus kreatif dan inovatif. “Dinas Koperasi dan UKM siap memberi dukungan kepada yang mau menumbuhkembangkan wirausaha. Mereka adalah pahlawan ekonomi,” tegas Indra. Saat menyampaikan materi bertema “Peran UMKM dalam Perekonomian Lokal” ia menyebut kata kunci, perempuan, wirausaha, kualitas, dan era digital. Disampaikan juga jumlah UKM di Bali mengalami peningkatan 4%. Tahun 2017 ada 312.967 UKM, tahun 2018 ada 326.009 UKM. “Perempuan Bali punya karakteristik unik. Angkatan kerja perempuan di Bali mendominasi. Pemerintah mendukung mereka untuk lakukan aktivitas bisnis. Potensi wirausaha perempuan Bali antara lain networking, kreativi-

Perempuan Pintar Kelola Uang

Ny. Sri Utari

Ny. Sri Utari dalam sambutannya mengungkapkan pesatnya perkembangan teknologi memberi dampak bagi kehidupan masyarakat. Kaum wanita yang dulu dianggap hanya berurusan dengan ranah domestik atau rumah tangga, sudah mulai beralih. “Kini banyak wanita yang berkiprah di ranah publik dengan menjadi pengusaha, birokrat, hingga pejabat. Eksistensi para entrepreneur wanita juga banyak terlihat di media sosial. Mereka menekuni bisnis dari rumah dengan mengandalkan media sosial. Walaupun sibuk dengan bisnis, namun para wanita tetap bisa mengurus rumah tangga dan

Edisi 1035/ 10 - 16 juni 2019

Ketut Manuarta

keluarga. Ini karena wanita termasuk multitalenta karena mampu melakukan beberapa pekerjaan sekaligus. Karena itu talkshow “Kreatif Berbisnis Keluarga Harmonis” merupakan ajang yang tepat untuk saling berbagi ilmu dan pengalaman,” ujarnya. Ketut Manuarta, Pimpinan BRI Denpasar Gajah Mada menambahkan pihaknya sebagai partner Odenant sangat bangga. “Ibu-ibu pintar kelola uang. Peranan wanita luar biasa, apalagi berbisnis. Hampir 70 persen kemampuan pengusaha ditentukan istri. Kami siap bermitra dengan koperasi, siap bantu modal. Kalau mau pasti bisa,” ungkapnya. (Ngurah Budi)

Pembukaan talkshow

tas, detail, multitasking,” ujarnya. Ia juga menyebutkan ciri-ciri wirausaha sukses antara lain selalu berpikir positif, berani ambil risiko, berorientasi pada hasil, dan selalu menatap masa depan. Indra juga menyampaikan wirausaha pemula bisa mendapat bantuan modal. Jadi, tidak ada alasan kekurangan modal. Modal bisa dari diri sendiri maupun dari orang/pihak lain. Ia pun mengharapkan para wirausahawan berkolaborasilah dan bergabunglah dalam komunitas/entitas. WIRAUSAHA ITU GAMPANG Sementara itu, Cok Mirah menuturkan di era revolusi industri 4.0 kita tidak boleh cuek. “Wirausaha adalah pilihan tepat dan terbaik. Berwirausaha itu gampang. Wirausaha itu mandiri, bisa memutuskan sendiri, berani ambil risiko, buka lapangan kerja, jiwa kepemimpinan, future oriented,” ujar perempuan yang akrab disapa Bu Cok ini. Ia pun mengungkapkan alasa kenapa jadi wirausaha? “Orang jadi wirausaha karena gagal jadi ASN, ingin merdeka, waktu suka-suka, bebas tekanan, i love my job karena kesadaran sendiri, punya mimpi jadi bos, bermanfaat bagi orang, hidup sejahtera,” ujarnya disambut tepuk tangan peserta talkshow.

Jika mau jadi wirausaha, harus punya niat dan kemauan, kerjakan, berani memulai, kerja keras, kejujuran. Untuk memuluskan langkah menuju sukses, Bu Cok memberi

Gede Indra

tips. “Berteman dengan pelaku usaha, pilih pelaku usaha sukses sebagai panutan, pilih bisnis kecil dulu atau mulai dari hobi, jangan berpikir punya pengetahuan dan keahlian yang mumpuni. Jadi wirausaha itu gampang, yang susah mempertahankan dan mengembangkan. Kita harus kerja keras, kerja cerdas, selalu bersema­

Suasana talkshow

ngat,” tegasnya. Wirausahawan harus punya komitmen dan fokus. Punya visi, punya network. Jangan mudah menyerah, selalu punya inovasi. Pemanfaatan medsos juga perlu dilakukan.

Cok Mirah

“Sekarang era Uber, penggunaan waktu dari linear jadi lateral (real time), owning economy ke sharing economy, penggunaan teknologi, kompetisi tidak kasat mata. Banyak inovasi yang gantikan cara-cara lama ke cara baru. Ini membuat hemat biaya tetapi kualitas lebih baik,” ujar Bu Cok. (Ngurah Budi)

redaksi@cybertokoh.com, iklan@cybertokoh.com

cybertokoh

@cybertokoh

@cybertokoh

www.cybertokoh.com


2

Espresso GORO-GORO fetish

Karena tak bisa tid u r, A m a t bikin kopi dan duduk di teras. Ia terteror. Dulu satu bulan ia mendekam di RSU hampir Putu Wijaya mati, tapi istrinya tenang saja. Memang satu bulan ia setia menunggu tak pernah pulang. Tapi tak sekali pun kelihatan sedih. Sekarang, baru kabar ibu kota akan pindah dari Jakarta, ia sudah kontan menangis. Kenapa, sambat Amat dalam hati. Bercucuran air mata untuk sebuah benda mati yang dikhawatirkannya akan sepi tak dikunjungi wisatawan lagi. Gila! Itu kan tanda kelainan jiwa yang disebut fetish. Masak teman hidupku yang tak pernah kurang aku urug dengan kasih sayang mendadak dapat kelainan jiwa? Amat jadi gugup ketika mulai terasa dingin subuh mengelusnya dan bersit merah meruap di langit Timur. Ia melepas sarung dan sandal. Hanya pakai katok pendek, ia mengambil sapu lidi lalu menyapu halaman. Guguran daun sawo belanda yang gagal berbuah tahun ini karena banyak hujan, mengotori halaman. Tapi masih ada yang sempat jadi. Jatuh ke rumput mungkin dikepot kelelawar. Amat memunggutnya seperti dapat karunia

Dalam mewujudkan kesetaraan gender, kiprah perempuan Bali mulai tampak di beberapa kegiatan, seperti misalnya pertumbuhan ekonomi kreatif daerah Bali dibangun dari sub sektor tenun ikat endek sebagai ikon yang ada di beberapa daerah seperti Klungkung, Gianyar, Karangasem, dan Buleleng. Hampir sebagian bsar industri kreatif tenun ikat endek digerakan atau dikelola oleh kaum perempuan. Awalnya rutinitas menenun dinilai sebagai pekerjaan sampingan, namun lambat laun dengan dukungan program pemerintah “percepatan pertumbuhan ekonomi kreatif mandiri” menjadi jawaban kebutuhan dan segmen pasar yang perlu dibaca oleh perajin, contoh riil yang dapat dilihat di lapangan bahwa untuk penggunaan atribut seragam perkantoran dan sekolah salah satunya berbahan kain endek. Faktor ini yang mendongkrak laju pertumbuhan industri kreatif endek semakin potensial untuk digalakkan di wilayah Provinsi Bali.

bacaan wanita dan keluarga

Penerbit PT Tarukan Media Dharma Terbit sejak 9 November 1998

dari langit, lalu meletakkan di samping gelas yang berisi kopi yang telah dingin karena lupa diminum itu. Selesai nyapu, Amat mulai menyiram tanaman pagar. Ia harus melakukannya cepat, sebelum istrinya bangun yang akan selalu ngomel kenapa banyak hujan, kok edhan nyiram. Dia selalu menista itu memboroskan air tanah. Maklum sudut materialistik dalam dirinya, tak paham ini sebuah ritual anak cucu petani seperti aku, kilah Amat dalam hati. Ini riak percintaan kita manusia dengan bumi. Setelah mencuci tangan dan kaki, Amat kembali duduk di kursi teras. Ia mau menyeruput kopi dan menggigit sawo belanda karena kangen. Tapi gelas kopi dan sawo itu sudah tak ada di tempat lagi. Sebelum Amat sempat berpikir ke mana propertinya itu lenyap, Bu Amat muncul. “Memang ada apa di sini semalaman?” tanya Bu Amat sambil meletakkan segelas kopi panas dan pisang gepok rebus. “Habis tidak bisa tidur.” “Kenapa? Mikirin apa?” “Yang kemarin itu.” “Sudah tak usah dipikir. Ikhlaskan saja. Kita tunggu saja biar dia bosan sendri punya hutang. Biasanya juga begitu.” “Bukan itu!” “Habis, apa?” “Ami.”

“Ami? Kenapa dia? Masih belum ngomong sama suaminya soal eceece begitu?” “Itu sudah baikan. Suaminya malah sengaja tidak masuk kantor ngantar si Kadek ikut lomba melukis.” “Lho si Ami ke mana?” “Itu dia! Sibuk seharian bikin rapat di rumahnya!” “Rapat? Rapat apa? Mau jadi caleg?” Amat lalu bercerita. Kemarin waktu ke rumah Ami, percakapannya terputus, karena ada tamu. Karena tamunya tak pulang, pulang, Amat iseng nguping. “Ternyata Ami dan teman-teman kuliahnya dulu sedang merencanakan untuk bikin sekolah TK.” Bu Amat yang mau kembali ke dapur urung. Lalu duduk. “TK? Untuk apa? Karena Kadek mau masuk TK? Untuk apa? Kan sudah banyak TK?” “Bukan. Bukan karena Kadek mau masuk TK” “Lalu untuk apa? Memang kurang kerjaan?” “Ya, ya, mungkin juga untuk Kadek. Tapi kalau dari ucapan mereka dalam rapat, untuk generasi milenial.” Bu Amat heran. “Maksudnya?” “Menurut mereka...” “Mereka atau Ami?” “Ya, Amilah. Ami kan rajanya. Menurut Ami, zaman milenial ini ber-

untuk ibu kota di samping secara pemikiran rasional, itu istilah mereka, bisa dipertanggungjawabkan, tetapi secara emosional, rasa, itu juga istilah mereka, harus diamankan. Jadi, beda dengan zaman kita. Penanganan- tunggu dulu, jadi, dengan pendidikan nya juga beda. Kalau kita mendidik semacam itu, dalam soal pemindahan generasi milenial seperti kita dulu ibu kota bukan hanya kebutuhan 269 dididik, bisa salah kaprah!” juta manusia dibahagiakan, yang 10 “Salah kaprah bagaimana!?” juta,juga harus diurus perasaannya! “Lho jangan Bapak yang digebrak, Tunggu, setetes lagi! Jadi, itu sebabnanti si Ami saja!” nya Bapak setuju pada ibu! Kita nanti “Makanya kalau cerita jangan harus sering menghibur,mengunjungi muter seperti angkot. Salah kaprah Jakarta mantan ibu kota! Begitu! Nah bagaimana?” sekarang boleh dikritik!” “Kata mereka ...”. Bu Amat termenung lalu berbisik. “Mereka atau Ami?” Seakan bersyukur, perasaannya diberi “Kata Ami, cetak biru pendidikan tempat. kita yang pernah diluncurkan Mendik“Yah, memang begitu, Pak. Saya bud yang mengatakan: pendidikan kita bukan tidak setuju ibukota pindah bertujuan mencetak manusia yang karena tujuannya baik. Tetapi empati cerdas dan kompetitif, itu kurang cu- saya pada Jakarta seperti juga pada kup untuk generasi milenial sekarang Singaraja yang ditinggalkan, tidak bisa ini...”. dianggap tak ada, meskipun perlahan“Tapi ... “ lahan saya akan menguranginya.” “Tunggu dulu! Bapak belum selesai. Amat mengacungkan jempol. Kata mereka... “ “Bagus! Tapi tak perlu menangis “Ami!” bombay begitu! Jakarta tidak akan “Tadi Ami! Sekarang mereka! semenggenaskan begitu!” Karena semua sudah sepakat! Kata Bu Amat terkejut. Ami...” “Menangis? Siapa yang menan“Mereka!” gis?” “Nantinya mereka! Awalnya Ami! “Ibu!” Kata mereka yang awalnya Ami, “Kapan?” rumusan itu kurang tuntas! Harus “Semalam!” disambung dengan: untuk mencetak Bu Amat tercengang. manusia Indonesia yang cerdas, kom“Amit-amit jabang bayi! Kenapa petitif, berkarakter dan berbudaya!” saya nangis? Semalaman saya tidak “Lho... “ tidur, ya, nungguin Bapak untuk mijit, “Tunggu! Belum selesai! Karena kok nggak masuk-masuk! Ngelamun itu kasus besar seperti pemindahan apa saja di sini semalam suntuk, ibukota ke kota lain yang lebih tepat ah?!!”

Kiprah Perempuan dalam Mewujudkan Kesetaraan Gender di Kerajinan Tenun

Struktur kepemimpinan, pengelolaan manajemen, pengadaan sapras, sampai dengan marketing dan pengemasan dirancang oleh kaum perempuan yang juga tetap meminta masukan dari pihak lakilaki seperti suami maupun kolega bisnis yang dinilai dapat memberikan masukan berupa dukungan dan wawasan teknik produksi, pemasaran, kerjasama, maupun perizinan. Oleh sebab itu, dirasakan perlu kajian ilmiah yang menelaah kiprah perempuan Bali dalam pertumbuhan sektor ekonomi kreatif mandiri di bidang tenun ikat endek. Melihat gambaran faktual makin pesatnya peran serta perempuan dalam menghidupkan jargon-jargon ekonomi yang berbasis kerakyatan, di saat yang bersamaan perempuan dalam kiprahnya juga merupakan media penyebarluasan informasi menitikberatkan perempuan dengan kreasinya dapat menciptakan lapan-

I Gusti Ayu Purnamawati, S.E.,M.Si.Ak.

gan pekerjaan baru dengan merekrut penduduk sekitar sebagai pekerja di rumah produksi yang dikelolanya. Pertambahan income perusahaan turut mendukung terbukanya lapangan pekerjaan baru, dan pemasukan pendapatan asli daerah Bali. Potret inilah menjadikan cerminan bagi

Edisi 1035/ 10-16 juni 2019

generasi muda sebagai agen perubahan untuk menjunjung tinggi kesetaraan gender, dengan kiprah masing-masing baik laki-laki dan perempuan dapat berkolaborasi memajukan perekonomian daerah khususnya industri kreatif tenun ikat endek. Alih fungsi ilmu pengetahuan dan tehnologi yang dikemas melalui Tri Dharma Perguruan Tinggi yang meliputi Pendidikan/ Pengajaran, Penelitian, maupun Pengabdian kepada Masyarakat adalah merupakan salah satu wadah bagi dunia usaha mengembangkan relasi kemitraan dengan perguruan tinggi salah satunya Universitas Pendidikan Ganesa di bawah koordinasi Lembaga Penelitian dan Pengabdian

Masyarakat (LPPM) Undiksha telah memberikan kontribusi dalam program hibah penelitian maupun pengabdian yang dikemas agar dapat memfasilitasi khalayak sasaran dalam hal ini kaum perempuan yang menekuni kerajinan tenun ikat endek dengan penempaan pemuktakhiran penguasaan teknik desain, produk, pewarnaan, manajemen, marketing, dan akses sistem informasi teknologi elektronik yang dapat memudahkan jangkauan promosi bagi keberadaan usaha dari UMKM kerajinan tenun endek di kawasan Provinsi Bali.

Edisi 1035/ 10-16 juni 2019

15

Liburan Berkualitas Munculkan Semangat Baru Liburan telah tiba. Momen liburan hari raya Lebaran hampir bersamaan dengan liburan sekolah anak-anak. Itu membuat waktu untuk berkumpul dengan keluarga lebih banyak lagi. Menurut Kadek Weisya Kusmiadewi SH., MKn. orangtua harus bisa menentukan agenda liburan yang berkualitas untuk keluarga terutama anak-anak.

“L

iburan sebaiknya diisi dengan kegiatan-kegiatan yang menyenangkan,” ujarnya. Ia juga berpendapat, liburan harus terlepas dari segala beban pekerjaan, deadline serta segala bentuk agenda kantor atau sekolah. “Menurut saya, liburan juga bisa digunakan untuk merelaksasi pikiran kita agar bisa fresh kembali,” imbuhnya. Namun, jika kita tidak jeli menentukan pilihan mengenai tujuan liburan dengan segala kegiatannya, kemungkinan manfaatnya tidak akan dirasakan. “Kita sudah jauh-jauh hari membuat rencana liburan. Tetapi sebelum diputuskan kita terlebih dahulu memberi pilihan ke anak-anak beberapa tempat liburan lengkap dengan rencana kegiatannya. Jika mereka sudah memilih, kita tinggal ikuti,” ungkap caleg terpilih 2019 DPRD Karangasem dari partai Gerindra ini. Ibu dari tiga putra-putri ini

menambahkan, untuk mewujudkan liburan yang berkualitas tidak harus mahal. Tidak juga kita harus liburan jauh-jauh. Sebenarnya dekat-dekat rumah juga banyak. “Di Bali banyak ada destinasi wisata yang cocok untuk anakanak. Misalnya saja di daerah Karangasem, ada Tirta Gangga, ada Taman Ujung, ada juga rumah pohon. Destinasi wisata tersebut selain bisa untuk bermain juga bisa memberi pengetahuan tambahan tentang sejarah,” kata istri Wakil Ketua DPRD Provinsi Bali Nyoman Suyasa ini. Sedangkan di Denpasar, ia memberi contoh ada pasraman di daerah Padanggalak yang mengemas kegiatan spiritual selama beberapa hari. Hal itu sangat baik untuk merefleksi pikiran anak-anak. Ia menilai, tujuan utama liburan adalah untuk mendapatkan kesenangan. Kesenangan yang bagaimana? Tentunya kesenangan yang memberi manfaat bagi semua yakni orangtua dan anak.

Sementara bagi Suindah libur lebaran dimanfaatkan untuk mengunjungi keluarga yang ada di luar kota Denpasar yakni Gilimanuk. Ia sudah menyiapkan kegiatan apa saja yang akan dilakukan agar liburannnya menyenangkan. Hari Sabtu sebelum lebaran ia sudah berangkat pagi-pagi. Rute yang ia tempuh menuju Bedugul sekalian mampir ke tempat wisata yang ada di sana. Selain makan, ia ajak keluarganya juga menikmati panorama Bedugul yang indah termasuk mengunjungi Danau Beratan yang indah. Sore hari ia lanjutkan perjalanan menuju Lovina dan menginap di salah satu hotel di sana. Ia putuskan menghabiskan waktu dua hari di Lovina. Selain menikmati keindahan pantai Lovina dan ikan lumba-lumba sore hari ia dan keluarga menghabiskan waktu di salah satu wahana permainan. Setelah puas di Lovina perjalanan dilanjutkan menuju Gilimanuk ke rumah saudara yang sedang merayakan Lebaran. “Acara liburan juga kami manfaatkan untuk bersilaturahmi dengan keluarga yang muslim,” kata Indah. Bagi Suindah libur lebaran menjadi momen yang berkesan. Selain ia bisa menikmati waktu bersama keluarganya, ia juga bisa

Kadek Weisya Kusmiadewi SH.

menengok keluarganya yang Muslim untuk berhalal-bihalal. Ia menambahkan, libur tahun ini menjadi spesial karena ia bisa mengunjungi keluarganya di Gilimanuk. “Mereka biasanya mudik. Tahun ini mereka tidak mudik. Jadi kamilah yang mengunjungi mereka,” katanya. Menurutnya, liburan harus

dimanfaatkan sebaik mungkin karena dalam keseharian kita selalu sibuk. “Dengan liburan yang berkualitas akan menumbuhkan semangat baru menjalani hari terutama untuk anak-anak. Saya perhatikan ketiga anak saya, terlihat sangat bahagia dalam menjalani liburannya,” imbuhnya. (Wirati Astiti)

Liburan untuk Tingkatkan Kualitas Kerja

I Gusti Ayu Purnamawati, S.E.,M.Si.Ak. Dosen Jurusan Akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas Pendidikan Ganesha.

Kata Hati: Rubrik ini khusus untuk menuangkan ide/pemikiran/gagasan dalam bentuk tulisan. Tema terkait wanita dan keluarga serta tidak mengandung unsur SARA. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter. Lampirkan juga foto close up (bukan pasfoto). Cantumkan nama lengkap, profesi, nomor hp, dan alamat email. Naskah dikirim ke redaksi@cybertokoh.com, redaksitokoh@yahoo.com.

Penanggung Jawab/Pemimpin Redaksi: Gde Palgunadi. Redaktur Pelaksana: Ngurah Budi. Staf Redaksi/Iklan Denpasar: IG.A. Sri Ardhini, Wirati Astiti. Buleleng: Wiwin Meliana. Jakarta: Diana Runtu. NTB: Naniek Dwi Surahmi. Desain Grafis: IDN Alit ­B udi­a rtha, ­I Made Ary ­Supratman. Manajer Sirkulasi dan Iklan: I Ketut Budiarta, Sirkulasi: Kadek Sepi Purnama, Hariyono, Ayu Wika Yuliani. Se­kretariat: Ayu ­Agustini, Putu Agus Mariantara. Ombudsman: Jimmy Silalahi. Alamat Redaksi/Iklan Denpasar: Gedung Pers Bali K. Nadha, Lantai III, Jalan Kebo Iwa 63 A ­Denpasar 80117–Telepon (0361) 425373, 7402414, 416676–Faksimile (0361) 425373. Alamat Redaksi/Iklan/Sirkulasi Jakarta: Jalan ­Pal­merah ­Barat 21 G Jakarta Pusat 10270–Telepon (021) 5357603 - Faksimile (021) 5357605. NTB: Jalan Bangau No.15 Cakranegara, Mataram–­Telepon (0370) 639543– ­Faksimile (0370) 628257. Surat Elektronik: info@cybertokoh.com, redaksi@cybertokoh.com, iklan@cybertokoh.com. Bank: BRI ­Cabang ­Gajah Mada Denpasar. Nomor Rekening: PT Tarukan Media Dharma: 0017-01-001010-30-6. Percetakan: BP Jalan Kebo Iwa 63 A Denpasar.

SUDUT PANDANG

Ratih Ayu Apsari

Liburan menjadi salah satu momen yang paling ditunggu bagi orang yang selalu berkutat dengan rutinitas. Terlebih bagi seorang tenaga pendidik yang setiap hari selalu disibukkan dengan media dan meteri pembelajaran. Situasi kelas dan pengajaran terkadang membuat seorang pengajar perlu refreshing untuk mengembalikan semangat mengajarnya. Ada banyak cara yang dilakukan untuk menikmati waktu liburan. Setiap orang memiliki cara yang berbeda untuk mendapatkan liburan yang berkualitas. Begitu juga halnya bagi Ratih Ayu Apsari, S.Pd., M.Sc., M.Pd., akademisi Undiksha Singaraja. Bagi perempuan yang akrab disapa Ratih ini, memaknai liburan yang berkualitas bukan terletak pada sejauh mana dan ke mana kita pergi, tetapi lebih kepada dengan siapa kita. Dirinya mengaku liburan lebih sering dimanfaatkan sebagai momen berkumpul dengan keluarga dan sahabat. Apalagi selama ini, rutinitas dan pekerjaan yang membuat dirinya

jauh dari keluarga. “Di sini saya kan merantau, sehingga kalau liburan ini menjadi moment yang pas untuk “quality time” bersama keluarga,” ungkapnya. Perempuan yang saat ini mengajar di Jurusan Matematika Fakultas MIPA Undiksha ini menambahkan selain berkumpul dengan keluarga, saat liburan ia luangkan waktu untuk berkumpul bersama teman dan sahabat. Meskipun komunikasi sudah dilakukan via sosial media, akan tetapi baginya bertemu secara langsung juga sangat perlu dilakukan. “Bercerita, berdiskusi memang sudah kami lakukan via medsos akan tetapi saat bertemu secara langsung menjadi moment kroscek dari apa yang telah kami bahas sebelumnya,” paparnya. Selain meluangkan waktu untuk orang lain, Ratih menambahkan saat liburan meluangkan waktu untuk diri sendiri juga diperlukan. Baginya agenda liburan untuk diri sendiri cukup dengan tidak membuat agenda dengan orang lain. Saat momen ini,

dirinya gunakan untuk mengupgrade diri dengan kegiatan-kegiatan positif yang menyehatkan mental. Membaca dan meditasi merupakan cara yang ia lakukan untuk mengembalikan energi-energi yang terkuras habis selama menjalankan rutinitas. “Relaksasi tubuh dan keluar dari rutinitas sangat perlu dilakukan agar saat kembali ke aktivitas semangat kembali,” imbuhnya. Perempuan yang pernah meraih beasiswa S2 dari Stuned Neso dan Dikti ke Utrecht Univercity itu menambahkan saat liburan, dirinya masih menyempatkan diri untuk mengecek dan menyiapkan agenda-agenda kerja yang belum selesai atau yang akan dikerjakan selanjutnya. Searching dan googling ia lakukan untuk mencari inspirasi dalam membuat bahan dan materi ajar untuk memaksimalkan kualitas kerja dan memantapkan rencana kerja. “Kegiatan ini bagi saya juga menjadi refreshing karena bisa meningkatkan kualitas diri,” pungkasnya. (Wiwin Meliana)


SUDUT PANDANG

14 Libur adalah momen yang sangat ditunggu-tunggu kebanyakan orang. Karena inilah saatnya melepaskan rutinitas harian dan melakukan apa yang kita suka. Terbatasnya waktu kumpul keluarga lantaran sibuk bekerja ataupun sekolah, bisa ‘dibayar’ pada hari istimewa ini.

P

sikolog Joyce Djaelani Gordon menyebut, secara umum liburan bisa berdampak positif bagi seseorang. Libur bukan hanya menyenangkan tapi juga menyehatkan jiwa. Dalam konteks libur keluarga, tuturnya, ini merupakan momen yang tepat untuk dijadikan saat merasakan perasaan kekeluargaan yang sesungguhnya. “Mungkin bisa sekadar berlibur ke keluarga yang berada di luar kota, misalnya. Ataupun hanya di rumah tapi diciptakan sebuah kegiatan bersama. Jadi intinya adalah berkegiat a n b e rsama,” ujarnya. “Masamasa yang akan diingat anak seringkali adalah saatsaat liburan itu yang menjadi ‘highlight’ masa kecilnya bersama keluarga. Ini dampak psikologisnya besar,” ungkap Joyce. Apalagi, saat berkegiatan bersama itu, keluarga mempunyai kesempatan untuk menyampai nilai-nilai keluarga tentang masa kecil ayah-ibunya serta keluarga besarnya. Menciptakan liburan berkualitas bagi keluarga, kata

Edisi 1035/ 10 - 16 juni 2019

Liburan Tidak Harus “Wah” Joyce yang juga aktif di berbagai LSM bidang kesehatan, tidak harus berbiaya mahal, tetapi lebih merupakan kualitas kebersamaan. “Suatu ketika ada anak yang menceritakan bagaimana ia suatu saat pergi berlibur dengan orangtuanya ke salah satu sesepuh keluarga. Rumah sesepuh keluarga itu kecil. Mereka semua pun akhirnya tidur di lantai. Para sepupu, kakak dan adik, serta ayah-ibunya, tidur di lantai. Tapi anak itu mengaku sangat senang. Ia bercerita tentang bagaimana serunya ia dan sepupunya ‘balapan’ menangkap ikan di tambak untuk dimasak bersama-sama. Ia juga bercerita mengenai bagaimana ia diajarkan cara menangkap capung dengan karet di sawah, dll,” tutur Joyce. Dari cerita si anak tersebut, lanjutnya, bisa dilihat bahwa kegiatan liburan yang dialami si anak, bukan hal

Joyce Djaelani Gordon

yang mewah tapi hal-hal sederhana namun dirasakan luar biasa bagi si anak. Dampaknya sangat positif bagi diri anak itu. “Sebagai akibat dari liburan tersebut, si anak menjadi sangat dekat dengan sepupu-sepupunya setelah liburan. Ia juga belajar dari sesepuh mereka tentang bagaimana bandelnya sang ayah yang suka memanjat pohon bersejarah di depan rumah ketika sang ayah masih kecil dulu. Itulah liburan berkualitas,” ucap penerima penghargaan Ashoka dan Sarinah Awards 2014 ini. Orang kerap mengira bahwa liburan haruslah yang ‘wah’. Liburan yang mewah, belum tentu mendekatkan anak dengan orangtua mereka. Tapi liburan berkualitas akan mampu mendidik, mendekatkan keluarga dan bisa meningkatkan kesempatan untuk saling mengenali satu sama lain dalam konteks yang menyenangkan. Di sisi lain, liburan keluarga juga berdampak positif bagi orangtua. Pada momen itu para

orangtua bisa melihat anak di luar konteks rumah, dan juga bisa mendekatkan diri dengan anak lebih jauh. Khususnya adalah ayah yang sibuk yang selama ini kerap hanya mendengar perkembangan anak-anaknya dari ibunya. “Kalau liburan bersama ini terasa hangat, sudah tentu kedekatan anak dengan orangtua akan semakin baik dan akan lebih mudah bagi orangtua untuk berbicara dengan anak ke depannya,” ujarnya. Diakuinya, ketika anak-anak sudah beranjak remaja dimana lingkungan sosial si anak semakin luas, kebanyakan anak mulai menghabiskan waktunya dengan teman-temannya. Mereka menjadi lebih suka bersama temantemannya ketimbang kumpul keluarga. Hal tersebut, ujar Joyce, adalah wajar. Namun begitu, orangtua tidak bisa membiarkan begitu saja. Dalam artian, perlu memastikan bahwa keluarga dan berkegiatan bersama keluarga perlu diutamakan. CARI KESEIMBANGAN

“Tidak benar juga bagi anak untuk banyak kegiatan dengan teman seusia dan waktu dengan keluarga terbatas, atau juga sebaliknya banyak waktu dengan keluarga dan tidak menghiraukan kegiatan dengan teman-temannya. Jadi intinya adalah harus ada keseimbangan,” ucapnya. Anak lebih suka berkumpul dan berkegiatan dengan keluarga, adalah hal yang baik. Namun si anak juga harus bersosialisasi dengan teman-temannya. Misalnya dengan kegiatan-kegiatan positif, entah itu kegiatan olahraga, les, dll, yang bisa mengembangkan kemampuan berada di situasi sosial. Jadi tidak hanya berkegiatan bersama keluarga. “Jadi memang harus dicari keseimbangan yang tepat. Pertanyaannya adalah, apakah keluarga sudah memberikan bekal yang memadai agar anak bisa mengambil keputusan-keputusan tepat saat berada bersama teman-temannya,” kata pendiri Yayasan Harapan Permata Hati Kita (Yakita) ini. (Diana Runtu)

Edisi 1035/ 10 - 16 juni 2019

Sosialita

3

Seken lan Pesaje

Antarkan Tri Ani ke DPRD Badung

Ajang pemilihan legislatif 17 April 2019 menjadi pengalaman pertama bagi caleg terpilih nomor urut 3, Dapil Mengwi dari PDI Perjuangan, Ni Komang Tri Ani, S.E.,M. Agb. Ia mengawali karier politiknya sejak 2015, yang dipinang langsung Ketua DPC PDI Perjuangan Kabupaten Badung, I Nyoman Giri Prasta,S.Sos.

Ke t u a B KO W Bali tersebut sangat mendukungnya menjadi wanita yang berani melakukan perubahan dan bersaing di ajang pileg 2019, mengingat ‘perempuan bisa jika mau dan mampu’. “Secara langsung penc a p a i a n Tr i Tini Gorda ma Ani lolos sebagai anggota rsa be i An Tri dewan, saya tidak bisa katakan bahwa e r i m a k a s i h itu karena saya . Tapi ada modal yang s a y a u c a p k a n saya coba tanamkan dalam interkepada seluruh aksi sebagai ibunya, dosennya, masyarakat yang adalah bagaimana membangun telah berkenan memilih dan memper- jejaring yang diikat keikhlasan cayakan saya sebagai anggota DPRD dalam berbuat sesuatu yang Kabupaten Badung. Saya berharap riil. Selebihnya,Tri Ani berjuang mampu melayani masyarakat sekala dengan semua potensinya. Saya niskala.‘Ten mresidayang tiang ngae bangga melihat pencaparahayu preragan ‘(tidak bisa saya mem- ian yang luar biasa ini. buat hal yang baik atau bagus sendirian Semoga modal ini tanpa dukungan dari masyarakat dan bisa dipergunakan restu dari semesta),” tegas Tri Ani saat saat berinteraksi dengan semua ditemui Tokoh di rumahnya. Awal pertemuannya dengan Giri anggota dewan Prasta terjadi tahun 2014, saat ia dalam bekerja. wawancara untuk penelitian tesis S2 Keputusan deAgribisnis. Selain itu , karena sejarah wan itu ‘kolektif keluarganya sebagai kader militan PDIP. kolegial’ jadi perlu Kemudian dilengkapi potensi pribadi strategi komuserta pengalaman di berbagai organ- nikasi dan koordiisasi, akhirnya Tri Ani dipilih sebagai nasi yang baik serta strategi politik ramah pengurus DPC PDIP Badung. Pengalaman berorganisasi, kata keluarga muaranya,” ujar perempuan kelahiran, 22 Juni 1990 ini Tini Gorda. “Kuota 30% peremturut menempanya menjadi pribadi lebih matang. “Saya terlahir dari rahim puan di legislatif biasanya seorang ibu yang luar biasa. Karakter hanya sebatas pencalesaya semakin bertumbuh dengan sentu- gan. Sebagai perempuan, han motivasi seorang ibu juga, yakni Dr. saya fight berjuang dan Anak Agung Ayu Ngurah Tini Rusmini tidak mau menjadi pecGorda, S.H.,M.M.,M.H., yang sekaligus adang kuang, Kami punyai menjadi inspirasi saya,” ujar anak ketiga hak politik yang sama. Kedari pasutri I Ketut Sumertana dan Ni setaraan gender tak akan Wayan Widnyawati ini. Ia menegaskan tercapai jika antara perem-

“T

Bersama PKK Langon

puan dan laki-laki belum seimbang dalam pembuatan kebijakan. Seperti ungkapan Bung Karno ‘Laki-laki dan perempuan sebagai dua sayap seekor burung. Jika dua sayap sama kuat, maka terbanglah burung itu sampai ke puncak. Jika patah satu dari dua sayap itu, maka burung itu tak dapat terbang sama sekali, “ papar Sekretaris Koperasi Perempuan Ramah Keluarga ini. Tampilnya Tri Ani dalam pileg 2019 , diakuinya memberinya banyak kesan suka dan duka. Sukanya, saat kampanye, perempuan asal Banjar Celuk, Kapal tersebut mendapat banyak kenalan baru, mengunjungi berbagai desa di Mengwi dengan berbagai karakter, menjalin kerjasama dan merealisasikan berbagai program kerja. Dukanya, adanya perbedaan pandangan dan pilihan politik yang menjadikan beberapa orang kurang dewasa, sehingga terjadi pengelompokan pendukung. “Kawan menjadi lawan dan terkurasnya energi saat menyusun strategi politik,” tuturnya . Bekal ilmu politik ramah keluarga yang diajarkan Gung Tini pun diterapkannya. “Berpoitik secara santun dengan pendekatan kekeluargaan, apa adanya dan program kerja tepat guna menjadi

Dalam acara HUT ST Armada Muncan

acuan utama dalam merealisasikan kebutuhan masyarakat,” ungkap Tri Ani yang menjabat sebagai Wakil Bendahara DPC PDIP Badung ini. Politik Ramah Keluarga ‘Seken lan Pesaje’ menjadi motto Tri Ani sehingga mendapat perhatian masyarakat. Mereka senang dengan wakil rakyat yang ‘seken-seken saje’ tidak berbohong dan apa adanya. Melalui visi misi yang selaras dengan ‘Badung Hebat’, Ketua BEM FE Undiknas di masa kuliahnya ini, membuat program

Dalam acara

Tri Ani

Pembukaan Lo

mba Fun Bike

kerjanya sejalan dengan konsep Pola Pembangunan Nasional Semesta Berencana (PPNSB), yang merupakan pemikiran Bung Karno. Program ini meliputi 1) Melihat kecukupan masyarakat terkait sandang, pangan, papan , seperti program raskin, bedah rumah, perbaikan infrastruktur Pura, dan banjar melalui realisasi hibah; 2) Jaminan kesehatan gratis dengan KBS (Kartu Badung Sehat). 3) Jaminan pendidikan gratis yang ditunjang bea siswa; 4) Jaminan sosial dan ketenagakerjaan melalui wadah Karang Taruna, dengan program pembagian sembako dan susu gratis kepada penyandang cacat, bekerjasama dengan Karang Taruna Mengwi dan Dinas Sosial, untuk kursi roda, member info lapangan pekerjaan hingga pengembangan kelompok usaha yang sinergisitas. 5) Adat, seni dan budaya. Programnya dibantu hibah dana aci atau upakara untuk mekarya padudusan alit atau padudusan agung dan masyarakat tidak

Bersama suka duka Dukuh Kembang

dibebankan biaya lagi. 6) Dalam bidang pariwisata, ada gerakan pokdarwis (kelompok sadar wisata) melalui pelatihan dan aksi membersihkan kawasan wisata. Dan,banyak lagi program kerja lainnya yang akan direalisasikan Tri Ani yang dikenal angat aktif, mulai dari menjadi jurnalis di sekolah dan kampusnya, pengurus OSIS di SMP dan SMA, Ketua UKM Tari Bhandaiswari, Bendahara BLM Undiknas, hingga tercatat sebagai Pengurus Bidang Organisasi di Iwapi Provinsi Bali dan Pengurus Perempuan Sarinah PDI P dan aktif di Karang Taruna hingga Sekretaris Koperasi Perempuan

Ramah Keluarga. Menurut Tri Ani, organisasi wajib memiliki program kerja yang jelas, sama halnya dengan anggota DPRD, sebagai acuan dalam melaksanakan tugas. “Organisasi tanpa program kerja, ibarat kendaraan tanpa bensin, tidak akan berkembang dan bergerak. Jadi mari buat program kerja yang ‘seken lan pesaje.’ Tidak muluk-muluk, yang penting nyata dan dibutuhkan masyarakat,” ujar Srikandi PDIP ini sembari mengutip ungkapan Jhon F. Kennedy, “Jangan tanyakan apa yang negara bisa berikan untukmu, tapi tanyakanlah apa yang kamu bisa berikan kepada negaramu”. Selain itu Tri Ani mengatakan PDIP menjadi kendaraan politik yang mengantarkannya bisa membantu banyak orang. “Begitu juga anggota DPRD, sebagai wakil rakyat juga menjadi perpanjangan lidah untuk mengungkapkan aspirasi masyarakat dan membuat kebijakan yang pro rakyat,” tutup Tri Ani dengan penuh senyuman. - ard

Mengunjungi pengrajin Gerabah


Woman on Top

4 Pernah nonton video ‘Move It’? Nonton deh, video keren yang diunggah sejak tahun 2016 itu sudah ditonton 3,4 juta penonton. Berkat video itulah nama Zara Leola, putri sulung Enda, gitaris grup band ‘Ungu’ melejit di industri hiburan Tanah Air. Aksi gadis kelahiran 2006 ini ternyata sempat menjadi perhatian Disney Amerika yang kemudian mengundang Zara untuk ikut audisi presenter cilik untuk program Disney Amerika.

Z

ara yang bernama lengkap Azahra Leola Wicuda berhasil lolos. Namun kesempatan itu tidak lantas diambil karena ada beberapa masalah. “Waktu itu ada beberapa pertimbangan, kebetulan sedang bikin album. Lagi pula, kan Zara sekolah. Sedang kalau menjadi presenter itu, dia harus stay di sana selama 3 bulan. Sekolahnya bagaimana? Kan, kasihan ya,” ungkap Eka Wilestari, ibu Zara menceritakan peristiwa beberapa waktu lalu. Zara sendiri mengaku tidak masalah dengan hilangnya peluang tesebut, karena menurutnya masih ada kesempatan lain apabila dia menghendakinya. “Aku nggak apa-apa sih. Every years pasti ada kesempatan untuk itu,” ucapnya sambil tersenyum. Zara memang fasih berbahasa Inggris sehingga dia kerap mencampur bahasa Inggris dan Indonesia dalam berbicara. Sang ibu, Eka yang dipanggil dengan sebutan ‘Buni’ oleh Zara, juga kerap menggunakan bahasa Inggris dalam berbicara pada anaknya. Selain menari dan menyanyi, Zara juga punya beberapa kesibukan yang produktif lainnya yakni

Edisi 1035/ 10 - 16 juni 2019

Edisi 1035/ 10 - 16 juni 2019

Sekolah Jadi Prioritas

AWALNYA KURANG SUKA MENYANYI Ketika usianya 6 tahun, lanjut Zara, dia pun mulai belajar olah vokal. “Dulu aku nggak terlalu suka menyanyi. Aku lebih suka menari. Tapi sering liat ayah nge-band, mendengar musik di rumah, akhirnya tertarik. Mungkin itu awalnya,” kata Zara yang berperan sebagai Neta, gadis desa, dalam film anak ‘Petualangan Menangkap Petir’.

zara tena teman-temannya tim dance

Nyatanya, menyanyi dan menari menjadi keasyikan tersendiri bagi Zara. Apalagi kemudian namanya semakin dikenal dan dia mendapat undangan tampil di berbagai daerah. Salah satu yang berkesan baginya adalah saat tampil di Banjarmasin. Itulah penampilan perdananya di hadapan publik. “Itu kan aku baru pertama kali performing. Itu salah satu konser yang cukup besar. Waktu itu aku sempat shock karena berkat penampilan aku itu, tiba-tiba aku punya banyak fans. Aku jadi punya fans club namanya ‘Zara Squad’. Itu semua sangat berarti buat aku sebagai penyanyi yang baru memulai kariernya di industri musik,” tutur gadis lincah yang sudah merilis 9 lagu dan 4 video klip musik ini. Meskipun sibuk berkarier, namun aku gadis kelahiran Agustus 2006 ini, dirinya harus memprioritaskan pendidikan. Itu sudah menjadi janjinya pada orangtua. “Jadi sekolah tetap yang utama, prioritas. Makanya kesempatan aku performing hanya pada weekend saja, hari-hari lainnya aku harus belajar dan mengikuti sejumlah les yang terkait pendidikan,” kata penggemar pelajaran IPA yang juga menguasai beberapa alat musik ini. Fr a n c o We l l y j a t M e d j a y a Kusumah atau akrab disapa Enda, ayah Zara, mengaku, ingin Zara menjadi anak yang disiplin. “Saya kasih syarat. Kalau mau berkarier di industri hiburan, nggak apa-apa, tapi harus disiplin. Itu yang saya juga lakukan dalam karier saya. Jadi pertama, adalah soal sekolah, itu prioritas. Jangan sampai karier maju tapi sekolah keteteran, nggak boleh. Kalau mau sekolah dan karier berjalan baik ,ya dia harus disiplin. Semua harus jalan bareng. Termasuk bersosialisasi dengan orang lain (teman-temannya), itu juga harus berjalan baik. Jadi saya ingin Zara menjadi pribadi yang lengkap,” ucap gitaris grup band ‘Ungu’ ini. Lain lagi cerita sang ibu, Eka, yang selalu mendampingi Zara dalam beraktivitas. Memiliki anak yang telah remaja dan kini berkiprah di dunia hiburan, membuatnya ekstra ketat dalam menjaga. Pendampingan dan pengarahan terus dilakukan. “Anak usia seperti Zara kan memang harus didampingi oleh orangtua ya. Dia berada di usia yang rasa ingin tahu-nya tinggi banget. Makanya saya selalu dampingi. Tapi bapaknya malah lebih cemas lagi,”

13

Memaknai Toleransi Di Tengah Perbedaan

Zara Leola menulis buku. Buku pertamanya belum lama ini diluncurkan adalah ‘The Dance Diary’. Buku setebal 114 halaman ini bercerita tentang kiprahnya termasuk kecintaannya pada dunia tari. Saat ini, anak sulung dari tiga bersaudara ini, lebih dikenal sebagai penyanyi. Namun sesungguhnya dia lebih dulu mengenal dunia tari ketimbang menyanyi. Zara mengaku telah menyukai dunia tari sejak usianya 3 tahun. Lewat tayangan youtube dia mulai belajar menari. Melihat bakatnya, Eka, ibunya yang dulunya mantan penari balet, mengikutkan Zara les balet. “Tapi aku nggak suka balet. Membosankan. Selama bertahuntahun Cuma belajar 1-2, 1-2,” ujar Zara yang kemudian berhenti berlatih balet dan memilih les menari lainnya. Di sekolah saat banyak temannya les modern dance, Zara pun tertarik ikut serta. Dan ternyata dia sangat menyukainya. Saking sukanya, Zara sempat punya cita-cita menjadi penari profesional. Dia pun mengikuti berbagai kursus menari.

METROPOLITAN

Berbeda agama dalam satu keluarga bukan hal yang aneh. Banyak keluarga di Indonesia yang masing-masing anggota keluarganya memiliki keyakinan (agama) berbeda. Bahkan bukan hanya dua agama, tapi bisa lebih. Tanpa harus menyebut ini ideal atau tidak, namun faktanya banyak keluarga yang memiliki keyakinan berbeda-beda di antara anggota keluarganya, bisa hidup rukun dan damai. Saling menghargai dan saling mendukung. Itulah makna sesungguhnya dari keluarga, boleh berbeda-beda tapi tetap satu.

D

i kalangan artis, cukup banyak juga yang kondisi keluarganya demikian. Shandy Aulia misalnya. Artis kondang ini merasakan betul bahwa perbedaan kepercayaan di dalam keluarganya membuat dirinya semakin menghargai dan memaknai toleransi. Profil keluarga Shandy boleh dibilang cukup unik. Ayah-ibunya berbeda agama, Islam-Kristen. Agama Shandy sama dengan sang mama, shandy aulia Elsye Dopong, yakni Kristen, sementara dan suami david herbowo ketiga kakaknya beragama Islam. Orangtuanya bercerai ketika Shandy yang juga anak bungsu dari empat bersaudara, berusia 3 tahun. Shandy tinggal dengan ibunya, sementara ketiga kakaknya tinggal bersama sang papa, Kiemas Yusuf Effendi. Sekalipun tinggal berpisah hubungan kekeluargaan tetap terjalin erat sampai kini. Momentum Ramadan dan Lebaran, menjadi suatu yang membahagiakan bagi Shandy karena saat itulah keluarganya saling bertemu, bersilaturahmi. Dia juga bersemangat saat bulan puasa lantaran bisa lebih sering bertemu kakak-kakaknya dan ikut mempersiapkan acara buka puasa bersama keluarga. Di saat Lebaran, itulah para anggota keluarga bisa berkumpul komplit, plus papa-mamanya. Menurutnya, bukan hanya pada momen Ramadan, Lebaran, tapi juga mereka mendukungnya saat dirinya dan sang mama merayakan Natal. “Setiap tahun di bulan puasa saya selalu menyiapkan dengan spesial untuk berbuka puasa dengan keluarga saya yang menjalankan puasa, ingin ada kebersamaan bersama papa dan kakak-kakak saya. Begitupun saat saya dan mama merayakan Natal. Perbedaan bukan suatu hambatan atau masalah bagi saya dan suami,” ungkap pemeran film ‘Apa Artinya Cinta’, ini. Pada puasa dan Lebaran kemarin pun Shandy antusias menyambutnya. Lihat saja penampilannya pada acara buka puasa keluarga, beberapa waktu lalu, yang sempat membuat anggota keluarga lainnya termasuk sang ayah terperangah. Shandy mengenakan gamis hijab nuansa pastel. Pemeran film ‘Eiffel I’m in Love’ ini mengaku hal itu dilakukannya karena ingin memberi kejutan pada sang ayah. Dan berhasil. Ayahnya sampai tak mampu berkata-kata. “Speechless katanya Masya Allah,” kata wanita kelahiran Juni 1987 ini. Menurutnya, perbedaan itu tidak ada tanpa membedakan cara berpakaian, cara beribadah dan iman kepercayaan. “Saya percaya ketika kita ber-Tuhan kita menjadi pribadi yang mudah menerima perbedaan tanpa harus saling menyakiti dan terus memperdebatkan hingga akhirnya tidak ada kebersamaan,” ucapnya. Shandy bersyukur seluruh keluarganya bisa berkumpul. Bukan hanya dirinya dan David Herbowo (suami) serta ketiga kakaknya, tapi juga ayah-ibu dan para ipar serta 12 orang keponakan. Bahkan ibu tirinya, istri dari ayahnya, pun turut hadir. Semuanya akrab, bahkan mamanya dan ibu tirinya pun tampak kompak. Baginya itulah momen yang paling membahagiakannya. “Aku sangat bahagia karena mama bisa hadir. Walaupun orangtua kami sudah berpisah sejak aku usia 3 tahun, namun mereka tetap saling mengasihi dengan cara menjaga hubungan baik hingga saat ini. Aku sungguh bersyukur,” ucapnya.

zara dan keluarganya

ungkap Eka sambil tertawa. Sang ayah justru punya kecemasan yang lebih. Bahkan kadang rasa ‘kepo’-nya menjadi agak keterlaluan. “Misalnya, suatu ketika Zara sedang chatting dengan temannya membahas pelajaran sekolah. Eh ayahnya datang trus bertanya, ‘Lagi chatting sama siapa sih?’. Lalu dijawab Zara, ‘Ihh ayah kepo’,” tutur Eka sembari menyebut dalam hal kekuatiran malah Enda kadang terasa lebih

zara leola

khaatir dibanding dirinya. “Pernah juga suatu ketika Enda bilang ke Zara bahwa kalau dia sudah besar nanti, trus mau malam mingguan, harus didampingi ayahnya atau salah satu teman ayahnya. Hahahah,” tutur Eka sambil tertawa. (Diana Runtu)

shandy aulia

KUNCINYA ADALAH SALING MENGHARGAI Seperti halnya Shandy Aulia yang tumbuh dalam keluarga berbeda agama, begitu juga Novita Angie. Presenter yang juga penyiar radio ini juga berasal dari orangtua yang berbeda agama. Ayahnya, Raden Sumi Harso berasal dari Jawa dan beragama Islam, sedang ibunya, Emillia W Manassa berasal dari Manado dan beragama Katolik.

Meski berbeda keyakinan namun kehidupan rumah tangga orangtua Angie berjalan harmonis dan saling setia sampai maut memisahkan. Pada Desember 2017 lalu, sang ayah yang mantan penyiar radio, meninggal dunia karena kanker. Seperti orangtuanya, Angie pun menikah dengan Sapto Haryo Rajasa yang berbeda keyakinan dengannya pada 2001. “Nuasa berbeda sudah biasa dalam kehidupan keluarga aku. Papamama aku juga berbeda keyakinan namun mereka tetap harmonis dan langeng. Setiap tahun aku juga terbiasa merayakan dua perayaan besar, Idul Fitri dan Natal. Setelah menikah pun begitu. Aku dan Sapto berbeda keyakinan. Namun kami tetap rukun dan saling menghargai. Jadi kuncinya adalah saling menghargai, toleransi, komunikasi,” ungkap Angie yang telah 18 tahun mengarungi bahtera rumah tangga bersama Sapto yang juga wartawan olahraga. Seperti tahun-tahun sebelumnya, di momen bulan puasa juga Lebaran, menjadi kesibukan tersendiri bagi Angie. Dia ikut mempersiapkan makanan berbuka puasa dan sahur bagi suaminya juga menemani sang suami sahur. Untuk momen Lebaran pun Angie ikut sibuk menyiapkan segala sesuatunya. Acara Lebaran tahun ini, kata Angie, sama dengan tahun sebelumnya, yakni, kumpul keluarga, makan bersama, juga ziarah ke makam. Salah satu yang berkesan baginya saat Lebaran adalah ritual sungkeman kepada orangtua. Itu dilakukannya sejak kecil hingga dewasa. Meski dirinya tidak berlebaran, namun ritual itu tetap dia jalankan. Saat Lebaran, dia sungkem kepada ayah tercinta, Raden Sumi Harso. Kenangan itu begitu melekat di benak Angie, sehingga tak urung rasa haru menyesakkan dada setiap kali Lebaran tiba. Seperti yang diungkapkannya lewat akun instagramnya pada Lebaran pertama, dia mengunggah foto dirinya tengah menjalankan rirual sungkem kepada ayahnya. “It’s gonna be another Lebaran Day without you. I miss you so much, Pa”. tulis Angie. Tradisi sungkeman, lanjut Angie, juga dilakukan dalam keluarganya. Di hari pertama Lebaran, dirinya juga melakukan sungkem kepada suaminya. “Sungkem juga jadi tradisi dalam keluarga kami di hari Lebaran. Minta maaf atas semua kesalahan dan hal-hal yang suka bikin kesel,” ujar ibu dari Jeremy Cornelius (14) dan Jemima Jasmine Hardi Rajasa (13) ini. (Diana Runtu)

novita dan keluarga


bumi gora

12

Edisi 1035/ 10-16 juni 2019

Membangun Semangat dengan Spirit Takbir Idul Fitri Setelah berpuasa satu bulan penuh, umat Muslim merayakan dengan suka cita Hari Raya Idul Fitri, 1 Syawal 1440 H, yang jatuh pada tanggal 5 Juni 2019. Menyambut hari kemenangan itu, masyarakat Nusa Tenggara Barat melaksanakan pawai takbir, salah satunya di Kota Mataram.

G

ubernur NTB Dr. H. Zulkieflimansyah didampingi istri, Hj. Niken Saptarini Widyawati Zulkieflimansyah dan seluruh unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah Provinsi NTB dan kota Mataram melepas secara resmi peserta pawai takbir Idul Fitri di Masjid Hubbul Wathan Islamic Center NTB, Selasa (4/6) malam. “Dengan mengucap Bismillahirrahmanirrahim, pawai takbir Idul Fitri 1440 Hijriyah dengan resmi saya lepas,” ujar Gubernur NTB dalam seremonial pelepasan yang dimulai usai Salat Isya berjamaah. Pelepasan ditandai dengan pemukulan bedug yang dilakukan oleh Gubernur NTB didampingi Wakil Walikota Mataram, Danrem 162 Wirabhakti, Kapolda NTB, dan para tamu undangan lain. Keesokan harinya, saat melaksanakan Salat Idul Fitri gubernur merefleksikan kembali makna NTB Gemilang di Tengah Takbir Idul Fitri. Pada kesempatan ini, Dr. Zul mengajak semua pihak untuk merefleksikan kembali makna NTB Gemilang tersebut sebagai ikhtiar mewujudkan NTB Gemilang meski hal tersebut sebuah hal yang

tidak mudah. Namun, spirit seruan Allahu Akbar, diyakininya bisa memberikan suntikan semangat. Suntikan yang dibutuhkan untuk mensinergikan kekuatan bersama, sehingga hal-hal besar seperti mewujudkan NTB Gemilang, akan terasa kecil. Filosofi itu diungkapkan Dr. Zul saat memberi sambutan sebelum salat Idul Fitri di Masjid Hubbul Wathan, Kompleks Islamic Center, Mataram. Di hadapan ribuan warga NTB yang menghadiri salat Idul Fitri, Gubernur mengawali sambutan dengan memaparkan halhal yang ingin diwujudkan melalui tagline NTB Gemilang. Pertama, NTB Gemilang bermakna bahwa NTB adalah menjadi rumah yang nyaman bagi bisnis dan investasi. Pelaku bisnis akan merasa NTB sebagai tempat yang bersahabat bagi iklim bisnis. Dengan demikian, investasi dan usaha-usaha akan berdatangan ke NTB dan ini diyakini akan mendorong roda perekonomian. RAKYAT HARUS BAHAGIA Kedua, NTB Gemilang berarti NTB harus mewujudkan iklim yang nyaman bagi pengunjung atau

Sucipto Yogyakarta sekitar jam 10 pagi. Menunggu cukup lama, pukul 16.00 barulah mereka terbang ke Lombok namun harus pula transit via Denpasar lagi selama beberapa jam. Pukul 20.30 barulah mereka terbang ke Lombok. Praktis mereka tiba di rumah saudara di Lombok pukul 23.00. Perjalanan ini belum usai, baru separuh jalan. Keesokan harinya, mereka menikmati perjalanan darat menuju Sumbawa Besar dengan waktu tempuh sekitar 7 jam. Lalu melanjutkan lagi perjalanan pada hari berikutnya untuk bisa tiba di Bima selama 5-6 jam. Melelahkan? Jelas... sangat. Tetapi itulah perjuangan perjalanan untuk bisa berkumpul dengan saudara-saudara terutama nyekar ke makam orangtuanya. Berkumpul dengan keluarga dan saudara di hari istimewa seperti lebaran begini, menghadirkan suka cita yang tidak bisa diterjemahkan dengan kalimat-kalimat sederhana. Karena bertemu dan berkumpul dengan saudara itu memberi kebahagiaan yang tidak tergantikan oleh sejumlah nilai-nilai. Dewi yang bersuamikan orang Purwokerto itu,

Bunda ananda

5

Berenang Bantu Tumbuh Kembang Anak Anak-anak mengalami pertumbuhan dan perkembangan untuk mencapai kematangan fisik dan jiwa mereka. Olahraga sangat diperlukan untuk mencapai pertumbuhan dan perkembangan yang optimal sesuai dengan bakat atau genetik anak itu sendiri. Olahraga renang merupakan salah satu pilihan yang dapat dilakukan anakanak. Apa manfaatnya?

M

Gubernur NTB Dr. H. Zulkieflimansyah melepas secara resmi peserta pawai takbir Idul Fitri di Masjid Hubbul Wathan Islamic Center NTB

wisatawan. Ia mengatakan bahwa NTB, khususnya Lombok baru saja terpilih sebagai “the best halal destination in the world”. Sebagai destinasi wisata halal terbaik di seluruh dunia. Predikat terbaik itu menurutnya bukan sebatas teraplikasi dalam hal makanan atau busana semata. “Mudah-mudahan, yang disebut dengan halal destination adalah kerendahan hati, dan kemauan masyarakat NTB untuk hidup di dalam naungan Al Quran dan hidayah Allah SWT,” katanya. Gubernur berharap, lewat perwujudan NTB Gemilang ini, di NTB orang bisa melihat penerapan

kehidupan beragama Islam yang menginspirasi, sesuai tuntunan Allah SWT dalam Al Quran. “Sehingga di NTB, orang melihat the living quran, Quran yang berjalan. Kita punya seribu masjid di Nusa Tenggara Barat, kita punya seribu masjid di Pulau Lombok. Mudah-mudahan, semua nama Allah yang kita agungkan di masjid-masjid, juga kita agungkan di berbagai tempat di luar masjid,” serunya. Cita-cita ketiga sekaligus yang terpenting yang ingin diwujudkan NTB Gemilang adalah, NTB harus menjadi rumah yang nyaman bagi

penduduk NTB sendiri. “Tentu bukan hanya menyenangkan investasi, tentu bukan hanya menyenangkan pengunjung. Tapi on the top of that, NTB Gemilang harus bisa menjamin dan memastikan bahwa penduduk Nusa Tenggara Barat, rakyatnya harus bahagia,” tegas Gubernur. Meskipun hal-hal tersebut bukanlah sesuatu yang mudah, namun Doktor Zul meyakini akan menjadi ringan jika umat Islam di NTB meresapi dan menggaungkan semangat dalam kalimat takbir yang dikumandangkan di hari Idul Fitri. (Naniek I. Taufan)

Kebahagiaan yang Tidak Terbeli Liburan sekolah tahun ini memang terbilang panjang. Selain libur lebaran juga akan diikuti dengan libur semester (kenaikan kelas). Hal ini membuat cukup longgar waktu untuk melakukan perjalanan jauh. Itulah sebabnya, keluarga Ultra Dewi dan Urip Prasetyo tahun ini memilih berlebaran sekaligus berlibur dengan ke tiga anaknya ke Lombok dan Sumbawa Nusa Tenggara Barat. Di samping karena memiliki saudara di Lombok keluarga ini harus transit beristirahat untuk melanjutkan perjalanan ke Pulau Sumbawa ke esokan harinya. Bukan perkara mudah bagi keluarga dari Purwokerto Jawa Tengah ini untuk bisa sampai ke Bima. Selain karena tiket pesawat yang mahal juga langka tiap kali hari raya tiba, juga mereka harus menempuh perjalanan yang sangat panjang. Dari Purwokerto mereka harus menumpang kereta api sampai ke Yogyakarta. Itu pun membutuhkan waktu nyaris seharian untuk tiba di Lombok. Dengan tiket kereta yang terbatas, mereka harus memulai perjalanan sejak jam 5 subuh dari Purwokerto dan tiba di bandara Adi

Edisi 1035/ 10-16 juni 2019

memang sudah lama tidak pulang kampung bersama seluruh keluarganya. Selain karena suaminya yang ASN yang tidak sembarang waktu bisa melakukan perjalanan panjang seperti ini, juga karena libur sekolah anak-anaknya yang juga tidak bisa panjang, sehingga waktu bersama untuk libur dan melakukan perjalanan panjang nyaris tidak pernah dilakukan. “Kebetulan tahun ini libur panjang dan Mas ambil cuti, jadi kami pilih libur lebaran ke Bima,” ujar Ultra Dewi. Dewi yang lahir tahun 1969 ini memang sempat menghabiskan masa kecilnya di Sila Bima, ketika orangtuanya, tugas mengajar di kampung ini sejak tahun 1973. Orangtuanya, Yanti Icoday dan Mudayat sesungguhnya berasal dari Sumbawa dan Jawa Timur, namun bertugas di Sila sampai pensiun dan bahkan ketika Allah SWT memanggil mereka pada tahun 1998 dan 2013, keduanya minta dimakamkan di kampung ini. Itulah sebabnya Dewi dan saudara-saudaranya (ada yang tinggal di Mataram Lombok, Bangil Jawa Timur, Sumbawa) selalu pulang kampung ke Sila. Berkumpul setiap hari bersama

Ultra Dewi dan keluarga besar keluarga yang jumlahnya 21 orang, memberikan pengalaman tersendiri bagi anak-anak di keluarga ini. Anakanak yang jarang bertemu tersebut akhirnya bisa saling mengakrabi satu sama lain. Alhasil, rumah yang terisi 21 orang ini menjadi ramai dan penuh canda tawa. Aktivitas memasak bersama menjadi salah satu momen paling seru dan menyenangkan bagi

saudara perempuan. Ini menjadi sisi lain dari momentum lebaran yang tidak tergantikan. Momen berharga yang menyatukan seluruh keluarga. Berkumpul bersama keluarga, adalah kebahagiaan yang tidak terbeli. Jauhjauh dari Purwokerto, kebahagiaan seperti inilah yang dituju Ultra Dewi sekeluarga meski menempuh perjalanan panjang dan melelahkan. (Naniek I. Taufan)

enurut dr. I Putu Adiartha Griadhi S.Ked. M.Fis., AIFO., keunggulan olahraga renang adalah memiliki risiko cedera yang minimal karena dilakukan di air. “Air memberikan bantuan daya apung bagi anak. Selain itu beban yang diberikan oleh tahanan air otomatis memberikan beban pelatihan yang baik untuk pertumbuhan fisik anak,” ujar dokter fisiologi olahraga Fakultas Kedokteran Unud ini. Untuk mendapatkan manfaat tersebut tentu berenang memerlukan keterampilan khusus yang perlu ketekunan untuk menguasainya. Ia mengatakan, renang termasuk olahraga yang dapat melatih kemampuan jantung dan pernapasan, baik kapasitas aerobik maupun kapasitas anaerobik. “Anak-anak yang latihan renang akan memiliki jantung dan paruparu yang terlatih sehingga kebutuhan oksigen dan darah seluruh tubuh dapat terpenuhi dengan baik,” katanya. Selain itu, komponen lain yang terlatih pada olahraga renang adalah otot dan koordinasi tubuh. Latihan otot dialami anak karena adanya tahanan oleh air saat berenang yang dapat melatih kekuatan otot baik otot lengan, otot kaki, maupun otot perut dan pung-

gung. Koordinasi antar anggota tubuh yang diperlukan saat berenang akan melatih koordinasi anak dalam menggerakkan anggota tubuhnya. Koordinasi ini baik untuk perkembangan optimal sistem saraf anak itu sendiri. Ia menyarankan, rangkaian kegiatan berenang seperti halnya olahraga lain tetap memerlukan tahapan pemanasan, latihan inti dan pendinginan. “Walaupun kegiatannya dilakukan di dalam air, pemanasan tetap perlu dilakukan dengan cara lari dan melakukan peregangan otot balistik. Hal ini diperlukan untuk mempersiapkan tubuh sebelum berenang,” sarannya. Saat berenang yang perlu diperhatikan adalah tercapainya zona latihan. Keadaan ini ditandai dengan nafas yang sedikit berat sehingga terpatah-patah saat mengucapkan satu kalimat. Tercapainya zona latihan ini memastikan efek positif renang terhadap organ tubuh tercapai. Setelah berenang perlu melakukan fase pemulihan, dapat dilakukan dengan tetap aktif bergerak atau pemulihan aktif. Menurutnya, untuk dapat melakukan olahraga renang dengan baik perlu penguasaan keterampilan berenang terlebih dahulu. Sehingga, memerlukan latihan khusus yang dapat diajarkan oleh orang tua ataupun oleh pelatih renang. Tentu, dengan pelatih anak mendapatkan latihan yang terstruktur hingga menguasai keterampilan renang dengan baik. “Renang dapat diajarkan sejak usia dini, mulai dari melatih keberanian untuk masuk ke air sampai latihan yang terstruktur,” imbuhnya. Selain manfaat fisik, olahraga renang juga dapat memberikan manfaat terhadap perkembangan anak atau aspek psikologis dr. I Putu Adiartha Griadhi S.Ked. M.Fis., AIFO., anak.

Penguasaan keterampilan yang mutlak diperlukan saat berenang dapat dikuasai dengan latihan yang panjang dan bertahap. Biasanya keterlibatan orangtua diperlukan pada tahapan ini memberikan dukungan bagi pencapaian anak. Kesabaran orangtua dalam mendampingi anak saat latihan sangat diperlukan.

“Kepercayaan diri dan keberanian anak dalam latihan hanya dapat dicapai dengan adanya dukungan orangtua. Sehingga, proses latihan memerlukan kontribusi anak dan orangtua, kerjasama mereka yang secara tidak langsung mempererat ikatan psikologis anak dan orangtuanya,” katanya.

Selain itu, seperti halnya olahraga lain, olahraga renang dapat memberikan pencapaian optimal dari kecerdasan (IQ) anak. Latihan fisik akan meningkatkan asupan nutrisi dan oksigen ke otak dan menjamin kebutuhannya dan perkembangnnya dengan baik. (Wirati Astiti)

Mendongeng Lima Menit sura dan baya

Konon zaman dahulu tersebutlah dua ekor hewan yang bersahabat. Namanya Sura, seekor ikan hiu, dan Baya, seekor buaya. Kedua hewan itu tinggal di laut. Mereka amat akrab dan saling setia. Setiap makanan yang ditemukan, dimakan bersama-sama sampai puas. Pada suatu hari tibalah musim panas berkepanjangan. Hewan-hewan di laut sulit benar mencari makanan. Mereka berebutan satu sama lain. Demikian pula si Sura dan si Baya. Ketika lapar, kedua hewan yang bersahabat itu menjadi sangat serakah. Mereka bertengkar, berebutan makanan, lalu berkelahi. Tak ada yang mengalah, semua mengaku makanan itu miliknya. Perkelahian itu berlangsung berhari-hari. Setelah payah barulah kedua hewan itu sadar. Apa guna perkelahian? “Baya!” seru ikan hiu. “Apa gunanya berkelahi terus? Kita akan tetap lapar dan mungkin mati siasia. Tidakkah ada jalan lain?” “Betul sekali! Aku pun berpikir demikian,” jawab Baya terengah-engah. “Apakah kamu menemukan jalan?” “Ya!” jawab Sura. “Menurutku kita tak usah berebut kemenangan, tetapi saling mengalah. Aku tinggal di laut dan kamu tinggal di darat. Semua makanan yang ada di laut menjadi milikku, dan semua

makanan yang ada di darat menjadi milikmu.” Kedua hewan itu sepakat. Mereka bersalaman, lalu berpisah. Baya merangkak menuju daratan, Sura menyelam menuju laut yang dalam. Kedua hewan itu hidup tenang dan berbahagia di wilayah masing-masing. Namun, ketika musim panas yang berkepanjangan tiba kembali, si Baya mulai terusik. Ketika merangkak menuju muara sungai, ia memergoki si Sura mencuri makanan. Tanpa basa-basi, si Baya secepatnya menyergap si Sura. “Kamu melanggar perjanjian!” seru Baya. “Tidak! Aku mencari makanan di air!” jawab Sura. Pertarungan sengit pun tidak terhindarkan. Sura menggigit tubuh Baya, Baya mencakar tubuh Sura. Mereka saling sergap, meliuk-liuk dan bergulingguling. Ketika Sura berhasil mencaplok ekor Baya, lalu Baya seketika balik mencaplok ekor Sura. Air sungai kelihatan keruh karena lumpur bercampur darah. Tak seorang pun yang tahu, hewan mana yang tampil sebagai pemenang. Setiap orang yang melihat air keruh di pertemuan sungai dan laut itu berkata, “Di situ pernah terjadi pertarungan hebat antara ikan hiu yang bernama Sura dan buaya yang bernama Baya.” Lama-kelamaan tempat air keruh itu diberi nama Surabaya, yang kemudian berkembang menjadi kota Surabaya. (Jawa Timur)


dara

6

Edisi 1035/ 10-16 juni 2019

Alien Child

Suara Generasi Milenial

K

eduanya musisi milenial, yang selalu tampil total, hingga kian hari kian memikat. Mereka adalah Aya Maranda dan Laras Maranda, kakak-beradik yang menamakan dirinya “Alien Child”, memiliki bakat luar biasa hebat, bak pualam yang berkilau di panggung musik Bali dan Nusantara, melalui album perdana ‘Take Off’ (2018). Selain lagu riangnya remaja, mereka juga hadirkan syair dan irama bergenre electro- pop , rap dan R n B yang menyuratkan pesan bahwa di usia muda, ia mampu menetapkan cakrawala hidupnya. Hal ini tercermin pada lagu ‘Your Love’, ‘Talk To

Me’, ‘Leave Me Alon’, dan ‘Rise’. Alien Child, bukan merujuk sosok tertentu dan bukan pula Aya dan Laras. Alien Child merupakan cerminan tentang ‘rumah’ bagi semua orang yang pernah ‘terasing, ditinggalkan, dan terlupakan’. Aya dan Laras melalui lagu ciptaannya, ingin menghadirkan sebuah ‘rumah teduh’ bagi siapa saja, terutama remaja yang tengah berupaya menemukan jati dirinya. “Alien Child adalah rumah kebersamaan bagi siapa saja untuk diterima dan dicintai apa adanya,” papar Aya dan Laras Maranda. Alien Child sukses menarik hati penggemar musik di Bali. La-

MULTITALENTA Bicara kepiawaian Aya dan

Laras, tentu tidak hadir begitu saja. Bahwa , anak dari pasutri I Ketut Suarma dan Heny Janawati, B.Mus., M.Mus ini, memang menekuni dunia musik dan olah vokal sejak usia dini. Belum lagi darah seni yang mengalir dari keluarganya termasuk sang kakek, I Gusti Ngurah Ardjana (alm), pencipta lagu Sekar Sandat. Aya yang bernama lengkap Ayu Arya Nusandari Maranda sejak usia tiga tahun sudah belajar musik, biola serta olah vokal. Remaja kelahiran Bali, 19 Mei 2000 ini, selama 11 tahun tinggal di Vancouver, Kanada. Disana ia mengikuti kompetisi biola dan menyanyi, dan meraih berbagai penghargaan serta mendapat nilai distinction dari Royal Academy of Dance. Aya, selain mahir memainkan violin, gitar dan piano juga piawai menyanyi, rap, berakting serta aktif menulis esai, ide-ide film, dan fotografi. Sedangkan adiknya, Ayu Arya Larasati Maranda kerap disapa Laras, sejak usia enam tahun belajar vokal dari sang ibu yang penyanyi mezzosoprano Indonesia itu. Bersama sang kakak, Laras juga sempat ikut sejumlah kompetisi dan meraih juara 1 lomba menyanyi tingkat provinsi British Colombia-Canada, juga medapat nilai distinction dari Royal

Musik Sehat

Berikut ini komentar beberapa musisi dan pengamat musik tentang kiprah Alien Child. “Alien Child musisi berbakat. Di usia muda mampu mengaransemen, produce, dan menulis lirik secanggih

itu. Luar biasanya lagi, semua lagunya enak didengar. Smart, catchy, all in the right ingredients!, ” ujar Ian J. Stevenson, lead vocal ‘Zat Kimia’ “Jatuh cinta sama musik, lirik, aransemen dan cara menyanyikannya. Aku suka sekali notasinya,” ucap Dewiq, musisi & penyanyi Indonesia peraih penghargaan The Hits Maker pada SCTV Music Awards 2008. “Musik sehat, begitu saya meng­ ibaratkan karya ‘Alien Child’. Saya beruntung bisa terlibat dalam men­d esain sound arangement hingga proses mixing masterig. Aya dan Laras adalah aset

Alien Child saat manggung

Bali dan tentu aset negara. Semoga bisa berkolaborasi dengan produser andal tanah air bahkan mancanegara,” cetus Deny Surya, peraih nominasi AMI Award 2015, kategori Mixing. “Alien Child tampil membawa warna baru dalam dunia musik di Bali khususnya, mungkin juga nasional. Proses kreatif

Aya dan Laras tanpa campur tangan atau pengaruh dari luar, bahkan orangtuanya, ini menghasilkan karya jujur dari dalam hati. Inilah Alien Child, ” tandas Made Adnyana, Jurnalis & Pengamat Musik di Bali.

Academy of Dance. Remaja kelahiran Bali, 22 September 2001ini , suka menulis puisi, menuangkan kegelisahannya akan masalah lingkungan, remaja, ketidakadilan kaum terpinggirkan, dampak situasi perang hingga akibat bencana alam bagi anak-anak di dunia. Tahun 2013, Aya dan Laras bersama keluarga kembali ke Indonesia. Mereka mulai menulis lagu yang lirik dan musiknya, diciptakan, diaransemen, dan diproduksi sendiri termasuk videonya dibawah label ‘Aya dan Laras BTMDG’ (kepanjangan dari Batumadeg, di Nusa Penida). Aya dan Laras juga sempat unjuk kebisaan dalam Broadway Musical Soundwave (2015) Bahkan, Laras menjadi tokoh utama yakni ‘Peter Pan’ dalam The Musical Peter Pan (2016). Tidak berhenti berkreasi, keduanya ikut andil menggarap video musik atas karya terkininya ‘No Trust, No Pain’ yang diluncurkan pada ( 29/5). di Kampus Elizabeth International, Denpasar. Lagu ini telah diputar secara serentak pada (31/5) di radioradio wilayah Bali, Jawa, serta Nusa Tenggara dan bisa juga dinikmati di kanal youtube, Spotify, iTunes, Apple Music, Deezer, dan lainnya. Mulai Juni 2019, Alien Child resmi menjadi bagian dari Yamaha Artist – Yamaha Musik Indonesia. (Sri Ardhini)

11

Perjuangkan Aspirasi Perempuan Perempuan dan laki-laki saat ini diberi kedudukan yang sama. Inilah simbol dari kesetaraan gender dan emansipasi wanita. Ketika perempuan diberi hak setara dengan pria, berpendidikan tinggi dan bekerja untuk mendukung finansial keluarga, masalah selanjutnya adalah bagaimana ia bisa menjalankan kodratnya sebagai seorang perempuan.

Ketika di atas panggung, tak ada yang menduga jika dua dara ini berasal dari desa kecil di Nusa Penida. Kelincahannya menyanyikan lagu berbahasa Inggris serta sapaannya yang ramah dan bersahabat pada publik, laiknya bintang bereputasi internasional.

gunya ‘Your Love’ menduduki peringkat 1 di radio terkemuka di Bali. Belum selesai apresiasi publik atas prestasinya, duo yang gemar berkreasi dengan audio visual ini, diam-diam menyiapkan sederet lagu dengan musik yang dieksplorasi tanpa batas. Ada lirik yang berpesan soal remaja menuju dewasa, melalui single ‘Taksu’ serta ‘No Trust, No Pain’ (2019). Dan, segera menyusul single ‘Breathe’. Pada awal tahun ini, Alien Child juga berhasil menorehkan prestasi sebagai ‘Pendatang Baru Terbaik dan Penata Musik Terbaik’ (Aya Maranda). Mereka juga masuk dalam 4 nominee lainnya, kategori Band/ Duo/ Grup Terbaik; Album Terbaik; Lagu Terbaik; dan Lagu Terfavorit pada ajang Anugerah Musik Bali (AMB) Awards 2019. Selama ini, Alien Child telah pula tampil di berbagai festival seperti diantaranya; Semarapura Festival, Nusa Penida Festival, Sanfes , Ubud Writers and Readers Festival, Ubud Food Festival, PICA Fest, Grand Final Puteri Indonesia Bali 2019, hingga Yamaha Musik Indonesia - Java Jazz Festival 2019.

buleleng

Edisi 1035/ 10-16 juni 2019

M

N i Luh Seniwi, S. H.

enjadi perempuan karier yang sukses sekaligus ibu dalam rumah tangga misalnya. Kebanyakan masyarakat berpikir, menjadi wanita karier sukses atau ibu rumah tangga yang bahagia adalah sebuah pilihan. Sejatinya, jika kebetulan berada dalam posisi tersebut, sewajarnya ada yang harus dikorbankan. Padahal, masih banyak wanita karier sukses, namun berhasil pula menangani tugas rumah tangganya selama masih mampu merancang manajemen waktu. Seperti halnya, Ni Luh

Seniwi, S.H., perempuan yang telah lama terjun di dunia politik. Menurutnya, dunia politik bukanlah hal yang “tabu” bagi seorang perempuan, justru keterlibatan seorang perempuan dalam perpolitikan di Indonesia sangat diperlukan. Kedudukan perempuan di kursi DPRD sebagai simbol keterwakilan suara-suara perempuan yang ada di Indonesia. Sri Seniwi yang saat ini duduk dua periode di kursi DPRD Kabupaten Buleleng sebagai anggota Fraksi PDIP. Sebelum memantapkan hati terjun ke dunia politik, Seniwi mengaku ingin mewakili suara-suara perempuan Buleleng untuk turut andil menyumbang pemikiranpemikiran dalam memajukan Buleleng. Perempuan kelahiran Singaraja 10 Juli 1966 ini awalnya hanyalah seorang pedagang ayam broiler yang tidak memiliki dasar dalam dunia perpolitikan.

Meskipun kini ia sudah terjun ke dunia politik namun ia tidak meninggalkan sejarahnya sebagai pedagang ayam yang kini dikelola oleh suaminya, Made Arsana yang baru saja pensiun sebagai tenaga pendidik di salah satu SMA Negeri. Sri Seniwi dengan usaha dagang ayamnya ini justru menjadikan mudah bergaul akhirnya memiliki banyak relasi, banyak kenalan di masyarakat, hingga akhirnya dari sanalah ia mencoba untuk terjun ke dunia politik. Menurutnya tidak ada hal yang menjadi penghalang bagi para pengusaha untuk turut memajukan bangsa dengan beralih menjadi politisi, selama memiliki keyakinan dan kemampuan dalam menyampaikan aspirasi masyarakat. “Perempuan dan laki- laki mempunyai kedudukan yang sama di politik, peran serta perempuan sangat diperlukan, hal ini dikarenakan banyaknya persoalan-persoalan terkait kepentingan perempuan yang perlu adanya keterwakilan perempuan di lembaga legislatif,” ujarnya. JANJI ADALAH UTANG Sebelumnya, Seniwi pernah gagal mengambil hati simpatisan. Pengalamannya yang minim

membuat dia belajar dan memahami situasi perpolitikan yang ada di masyarakat. Bahkan selama berkampanye, dirinya selalu memaparkan visi misi yang realistis. “Saya tidak pernah berjanji yang muluk-muluk, karena bagi saya janji adalah utang. Ketika kita tidak bisa menepatinya tentu akan merasa bersalah. Maka dari itu saya selalu realistis saja,” jelasnya. Tengah fokus dengan kariernya sebagai anggota dewan, ini tidak lantas membuatnya lupa akan kodrat sebagai perempuan. Meskipun memiliki kemampuan dalam segala bidang baik di kancah perpolitikan, namun sebagai perempuan tidak akan pernah bisa terlepas dari yang namanya kodrat menghargai kepala keluarga dan menjadi ibu rumah tangga bagi anakanaknya. Namun semangatnya untuk memperjuangkan aspirasi masyarakat khususnya kaum perempuan menjadi pondasi terkuat dirinya hingga akhirnya berada di kursi Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD). “Ke depan perempuan tidak hanya setera dalam bidang politik tetapi juga dalam bidang-bidang yang lainnya,” jelasnya. (Wiwin Meliana)

Lestarikan Bahasa Bali Melalui Lomba Nyastra Bali Perkembangan global membawa pengaruh terhadap berbagai lini kehidupan. Globalisasi hendaknya dimaknai dengan bijak, sebagai sebuah pengglobalan terhadap suatu bangsa. Penggunaan bahasa Bali dan penulisan dengan aksara Bali di kalangan masyarakat Bali khususnya di Kabupaten Buleleng makin berkurang. Hal ini juga sebagai dampak dari perkembangan global, karena anak-anak cenderung diperkenalkan dengan bahasa Indonesia sebagai bahasa sehari-hari. Bahkan anak-anak sejak dini sudah diajarkan berbahasa asing juga. Kondisi ini menyebabkan anak-anak kurang menggunakan bahasa Bali. Tidak ingin kondisi tersebut “menggeser” fungsi bahasa Bali sebagai bahasa ibu masyarakat Bali, Pemerintah Kabupaten Buleleng melalui Dinas Kebudayaan Kabupaten Buleleng menyelenggarakan lomba “Nyastra Bali” sebagai upaya untuk membangkitkan kecintaan anak-anak terhadap bahasa Bali. Sebanyak 150 siswa SD, SMP, dan SMA/SMK di Kabupaten

kalangan masyarakat. “Inilah salah satu tolak ukur yang kami lakukan dengan mengadakan lomba Nyastra Bali, sebagai implementasi dari Pergub nomor 80 tahun 2018,” jelasnya. Ia menambahkan, lomba ini juga sebagai upaya untuk mendorong dan memotivasi para generasi muda untuk mencintai bahasa Bali dan aksara Bali. Selain itu, Gede Komang menegaskan, lomba ini

akan diadakan secara rutin setiap tahunnya. Ia juga mengatakan, ke depannya lomba ini akan dikembangkan lebih baik lagi. “Lomba ini akan kami adakan setiap tahun. Mungkin ke depannya sasaran lombanya akan lebih luas. Kami akan mencoba menyasar masyarakat umum, sehingga bahasa Bali bisa ajeg di lingkungan orang-orang Bali,” harapnya. (Wiwin Meliana)

Kepala Dinas Kebudayaan Gede Komang membuka lomba Nyastra Bali ditandai dengan pemukulan gong

Buleleng, mengikuti lomba Nyastra Bali yang di selenggarakan di Gedung Sasana Budaya, Jumat (31/5). Lomba ini dibuka oleh Kepala Dinas Kebudayaan Drs. Gede Komang, M.Si, yang mewakili Bupati Buleleng Putu Agus Suradnyana ditandai dengan pemukulan gong. Lomba Nyastra Bali ini baru pertama kali diadakan di Kabupaten Buleleng. Ada 7 kategori yang dilombakan pada lomba

Nyastra Bali tersebut yaitu, Lomba Pidarta Bahasa Bali, Nyatua Bahasa Bali, Nyurat Aksara Bali di rontal, Macecimpedan, Mengarang Cerpen Bahasa Bali, Puisi Bahasa Bali, dan Membaca Berita Bahasa Bali. Gede Komang mengatakan, lomba ini merupakan implementasi dari peraturan Gubernur Bali tentang penggunaan Bahasa Bali dan Aksara Bali. Ini bertujuan untuk memasyarakatkan kembali bahasa Bali dan aksara Bali di

Lomba Nyastra Bali


10

Style

Edisi 1035/ 10 - 16 juni 2019

Yoga untuk Fertility Bunda Dian

Indahnya Perpaduan berbagai warna yang menarik dan unik menjadi fokus koleksi Neli Gunawan kali ini. Kombinasi warna yang diolah dari inspirasi budaya Tibet ini, dipersembahkan pada event “Surabaya Fashion Parade” di Tunjungan Plaza, Surabaya ­beberapa waktu lalu.

M

enurut desainer yang tergabung dalam IFC Denpasar ini, kreasinya menyampaikan bahwa hidup perlu lebih banyak warna, pilihan, kombinasi, agar kita bisa melihat perbedaan dan keindahan. Doa akan mampu mengubah hidup yang selama ini terkadang membosankan, terlebih

EDUKASI

Edisi 1035/ 10 - 16 juni 2019

ketika kita terpaksa harus memilih hanya hitam dan putih. Koleksi Neli Gunawan, yang bisa dipakai wanita energik, usia 20-50 tahun ini berupa celana kulot (wide pants), A line skirts, midi and long outer. Menariknya busana siap pakai ini digarap dari bahan yang sudah ada. Begitu juga dengan aksesori yang melengkapi, dari recycled colorful fabrics Sebab, sebagai sosok yang peduli lingkungan, ia dikenal konsen mengutamakan, natural dye fabrics dan upcycling fabrics. (Sri Ardhini )

Gambar 1 Dengan posisi berdiri kedua telapak tangan letakkan di depan dada mendorong pinggul ke depan dan dada dibusungkan (lihat gambar). Kemudian mulai menarik cahaya melalui napas arahkan napas ke dada dan hembuskan napas ke organ reproduksi Lakukan 3 kali pengulangan napas.

Gambar 2 Masih dalam posisi berdiri, sekarang angkat ke dua tangan naik ke atas kepala dan satukan ke dua telapak tangan (lihat gambar). Pinggul harus didorong ke depan. Berikutnya mulai konsentrasi napas arahkan ke tenggorokan dan buang napas di organ reproduksi. Lakukan 3 kali napas.

Gambar 3 Perlahan tundukkan badan, turunkan kepala menghadap pertiwi dan kaitkan ke dua tangan dibelakang tulang punggung (lihat gambar). Lanjutkan dengan konsentrasi jiwa arah napas ke tulang ekor dan buang napas. Kesadaran arahkan napas ke organ reproduksi. Lakukan 3 kali napas

Gambar 4 Dalam posisi gambar nomor 3, lalu turunkan ke dua tangan menyentuh matras. Dan, perlahan lempar kaki kanan jauh ke belakang. Kemudian angkat ke dua tangan ke atas dan mulai konsentrasi napas arahkan ke kening dan hembuskan napas ke organ reproduksi. Lakukan 3 kali napas.

7

Gambar 6 Lakukan posisi seperti ular cobra. Sikap ini sangat baik untuk meningkatkan dan menyehatkan organ reproduksi. Lakukan pernapasan dengan merasakan dalam batin napas dibawa ke organ reproduksi dan, hembuskan. Lakukan 7 kali napas

Gambar 5 Mulai dengan melangkahkan kaki kiri ke belakang. Membentuk pose gunung yang artinya kuat dan kokoh seperti gunung. Kita akan mulai membawa kesadaran pada napas yang diarahkan ke perut. Ambil napas lembut dan dalam dan buang napas di organ reproduksi Lakukan 3 kali napas.

Selamat berlatih dengan senyum Selalu sehat dalam yoga Model : Gung Ayu Wida (Guru MYI Denpasar) LKP/LPK Markandeya Yoga Indonesia

Memulai Hubungan Baru “Dok, dulu saya pernah menikah, tetapi bercerai karena mantan suami main perempuan, karena katanya saya tidak bisa memuaskan dia. Sekarang saya sedang serius menjalin hubungan dengan seorang laki-laki yang belum pernah menikah. Niatnya segera menikah dan dia setuju. Dengan dia, saya belum pernah berhubungan seksual. Ada sedikit kekhawatiran saya, untuk memulai hubungan seksual lagi nantinya setelah menikah. Bayangan masa lalu, bayangan saya yang tidak bisa memuaskan suami, dan berbagai ketegangan lain mengganggu saya. Apa tips yang harus saya persiapkan, Dok?” (Ayu Imut,25 thn) Mari fokus dengan masa sekarang dan masa depan. Kini seseorang telah menanti Anda untuk menjadikan Anda seorang yang sangat spesial baginya, tempat baginya untuk mendapatkan kenyamanan dan segala kesenangan, termasuk merasakan kehangangatan seksual dari Anda. Apa yang harus Anda perhatikan? Ini ada beberapa tips dan bekal, mana yang boleh dan mana yang tidak boleh dilakukan.

jaminan kalau yang sekarang semua serba mudah. Pastikan bahwa Anda benar-benar merasa ini adalah waktu yang tepat, tempat yang tepat dan stamina yang benar-benar bugar di saat melakukan hubungan seksual “pertama” ini. Termasuk perhatikan kebersihan diri dan alat kelamin Anda. Persiapan ini buat mengeliminasi kegagalan memulai hubungan seksual pertama dengan pasangan baru.

Persiapan adalah Segalanya Persiapan adalah kata kuncinya. Walaupun Anda sudah pernah melakukan hubungan seksual sebelumnya dengan partner lain, bukan

Harus Rileks Orang yang sukses dalam hubungan seksualnya adalah yang benarbenar rileks. Rangsangan seksual dan bangkitan seksual akan lebih maksimal jika Anda dalam keadaan rileks

dan tidak ada ketegangan. Buanglah semua pikiran dari urusan kantor, kerjaan, rumah, hutang, termasuk buang pikiran buruk tentang masa lalu pasangan Anda. Rileks, dan nikmati apa yang ada di hadapan Anda. Ya, nikmatilah kebersamaan Anda dengan pasangan Anda. Lebih Kreatif Pasangan Anda adalah orang yang spesial. Untuk orang yang spesial, bikin suasana yang benar-benar spesial juga. Dan Anda perlu lebih kreatif lagi. Kreatif dalam mempersiapkan tempat dan suasana yang lebih menggairahkan. Semua tergantung kepribadian Anda dan pasangan Anda. Kreatiflah menciptakan suasana yang seksi buat mengawali semuanya. Ada yang suka candle light dinner yang romantis, ada yang senang suasana pedesaan di bukit yang tenang dan dingin, ada yang senang dengan suasana gemerlap malam sambil clubbing, atau ada yang senang dengan hal sederhana di rumah saja. Tentu saja itu buat mengantarkan Anda ke tahapan foreplay yang lebih seru. Pastikan Anda memanfaatkan foreplay ini sebagai pemicu dahsyat ke tahapan “main course” di babak utama hubungan seksual. Tidak ada salahnya berlama-lama buat berforeplay, dan pastikan kemudian detik demi detik hubungan seksual Anda menjadi penuh gairah.

Jangan Pernah Membandingkan Jika Anda selalu mencoba membandingkan pasangan Anda dengan mantan Anda, atau Anda ingin membandingkan diri Anda dengan mantan pasangan Anda, apapun alasannya, sesungguhnya Anda sedang merencanakan sebuah kegagalan dalam hubungan seksual Anda. Walaupun akhirnya hubungan seksual bisa dijalankan, tapi akan terasa banyak tekanan karena ada bayang-bayang orang lain di antara Anda berdua. Demikian juga, salah sebut adalah hal fatal dalam memulai hubungan seksual Anda yang pertama. Tentu saja yang tak termaafkan adalah justru ketika Anda menyebut pasangan Anda dengan nama mantan Anda. Itu fatal. Jangan Paksakan Diri Jika Tidak Suka Maksudnya, bukan tidak suka dengan pasangan, tetapi tidak suka dengan kondisi yang terjadi. Ini biasanya karena semua tidak dikomunikasikan dengan baik atau ingin membuat kejutan. Bisa saja terjadi. Misalnya pasangan Anda tiba-tiba membuat kejutan dengan berpakaian seksi dan supermini untuk menarik minat Anda berhubungan seksual, tetapi Anda malah menanggapinya sebagai perempuan nakal dan bandel yang membuat Anda hilang mood untuk berhubungan seksual. Turning off. Jangan dipaksa-

kan dan sampaikan keberatan Anda, perbaiki lagi komunikasi seksual Anda dan coba lagi dari awal. Jangan Berhenti Jika Gagal Tidak semuanya berjalan ideal. Bisa jadi hubungan seksual pertama yang Anda mulai lagi juga mengalami kegagalan. Gangguan telepon dari atasan, kabar orangtua sakit, hambatan di jalan, hujan deras, hingga kegagalan dari pasangan sendiri yang tidak siap, atau malah kita yang tidak siap, itu hal biasa. Jangan kecewa dan jangan berhenti. Coba lagi dari awal. Akhiri dengan Afterplay yang Manis Hubungan seksual yang memuaskan tidak sekedar mendapatkan orgasme yang maksimal, tetapi juga diakhiri dengan afterplay yang manis dan berkesan. Bikinlah kesan hubungan seksual yang telah dilakukan dengan pujian dan sentuhan yang hangat, bahwa hubungan seksual yang baru dilakukan begitu menyenangkan dan pasangan Anda adalah orang yang sangat spesial di hati. Pujian di akhir hubungan seksual akan menjadi obat yang menenangkan dan membahagiakan. Selamat mencoba. Semoga sukses.


8

jelita

Cantik saat Liburan

Edisi 1035/ 10-16 juni 2019

Agar saat liburan para traveller cantik dan tetap tenang tanpa banyak memikirkan kesehatan kulit dan penampilan, ada beberapa yang harus kita lakukan. Apa saja yang perlu disiapkan?

menjadi salah satu kuliner yang pasti dicari setiap kali lebaran tiba. Para penjual karawiti akan berjejer di pinggir jalan raya tempat dahulu anak-anak membelanjakan uang hadiah lebaran. Banyak pula penjual karawiti yang berkeliling ke kampung-kampung, setelah pelaksanaan salat Idulfitri maupun Idul Adha. “Saat lebaran, anak-anak berbondong-bondong belanja, salah satunya karawiti,” ujar Siti Farida, warga desa ini. Uniknya, makanan khas Mbojo (Bima) ini hingga kini masih bisa dinikmati dengan rasa yang tidak berubah dari dulu hingga sekarang. Bukan rasanya saja yang tidak berubah melainkan juga cara pengolahannya yang sederhana khas makanan tradisional. Karawiti yang

terbuat dari seluruh kulit badan sapi termasuk kulit kepala ini memiliki ciri berwarna hitam dengan campuran santan kental, kelapa parut dan irisan bulat belimbing wuluh. Seperti juga makanan khas Mbojo lainnya yang benar-benar tradisional, bumbu inti dan bumbu pelengkap karawiti tidak dimasak melainkan merupakan bumbu-bumbu mentah. Meski murni terbuat dari kulit sapi tanpa campuran lain, karawiti bukan merupakan lauk yang mendampingi makan nasi melainkan merupakan camilan saja walau pun ada juga yang akhirnya menjadikannya lauk namun tetap dianggap sebagai camilan. Rasanya gurih dan kenyal. Di pasar-pasar tradisional di Bima, masih dapat ditemui makanan khas ini dengan penataan bentuk yang khas pula sehingga dari jauh mudah mengidentifikasinya. Biasanya karawiti dijual dengan membuat tumpu-

Pertahankan Cara Pengolahan Tradisional

penting untuk menambah gaya kita saat berfoto. - Selain kacamata, topi juga amat penting untuk bekal travelling cantik kita. Selain bisa melindungi rambut dan bagian wajah dari panas matahari dan debu, topi juga bisa menambah penampilan kita menjadi lebih stylish. - Scarf, bisa digunakan untuk menutupi leher atau digunakan sebagai bando. Terlebih jika jalan-jalan ke tempat yang udaranya sejuk cenderung dingin. Scarf ini nantinya bisa ikut berperan menjaga kesehatan kita, selain juga menambah gaya berpakaian. (Wirati Astiti)

Ni Luh Swasti Bandem Di usianya yang sudah 70 tahun, Ni Luh Swasti Bandem masih terlihat cantik. Saat ditemui di Peringatan Hari Lahir Bung Karno di Jayasabha, ia sempat menuturkan resepnya menjaga tetap cantik di usia senja. “Saya ini orangnya lebih suka mengalir apa adanya. Seperti saat ini, saya suka menu-

Dengan tekstur kenyal dan rasa yang gurih, kulit sapi sedap diolah baik basah maupun kering. Kulit sapi kering biasanya dibuat kerupuk. Selain itu kulit sapi basah biasa dimasak ­seperti menumis dan membuat sop. Kulit sapi pilihan juga diolah secara tradisional.

D

memiliki kualitas bagus. I n t i n y a , p i n t a r- p i n t a r l a h memilih produk sunblock yang sesuai dengan jenis kulit, tidak membuat kulit merah atau iritasi. - M e n g g u n a k a n p e l e m b a b juga sangat direkomendasikan untuk menjaga kulit. Terlebih lotion malam yang bisa digunakan saat malam hari. - Masker wajah. Tujuannya untuk melindungi wajah dari panas dan debu. - Kacamata penting sekali untuk dibawa saat travelling cantik. Selain untuk melindungi mata dari debu dan panas matahari, kacamata juga

lis untuk mengisi hari-hari tua saya. Saya juga mengambil pekerjaan rumah layaknya ibu rumahtangga lainnya. Intinya saya menjalani semua pekerjaan dengan ikhlas tanpa beban,” katanya. Sementara untuk urusan merawat wajah, ia punya tips sendiri. “Saya selalu berusaha membersihkan wajah sebelum tidur. Malah, ia mengaku jarang perawatan ke salon. Ia mengaku miris juga, melihat masih

ada perempuan yang sudah terlahir cantik, tapi tetap mengeluh akan tubuhnya. Bahkan ada yang rela mengubahnya lagi, malah terlihat menjadi aneh. Menurutnya, para perempuan seharusnya bersyukur dengan apapun yang sudah dimilikinya. “Itu saja yang dirawat. Yang penting sebenarnya dari dalam, atau inner beauty, yang akan memancarkan kecantikan dari dalam,” ujarnya. (Wirati Astiti)

9

Karawiti, Kuliner Khas Lebaran i Bima, Nusa Tenggara Barat, pengolahan kulit sapi sebagai kuliner khas sampai sekarang masih dilakukan. Khususnya, saat bulan puasa terutama lagi saat lebaran tiba, kuliner kulit sapi yang dikenal dengan nama karawiti ini, lebih mudah dijumpai, meskipun sehari-hari ada juga yang tetap membuat dan menjualnya di pasar-pasar tradisional. “Tapi jika puasa, terutama lagi saat lebaran, karawiti banyak dibuat dan dijual,” kata Hafsah pembuat kuliner karawiti yang tinggal di Desa Dorowila Kecamatan Boli, Bima. Karawiti menjadi kuliner khas yang selalu ada saat lebaran tiba. Sudah menjadi kebiasaan, tak lengkap lebaran tanpa karawiti di Bima. Tahun 1980-an, karawiti

B

erikut beberapa tips dari dr. Eka Ciptasari, Sp.KK., seorang dokter ahli kulit yang bekerja di klinik kecantikan yang juga hobi travelling. - Pe r s i a p k a n s t a m i n a d a n jaga kesehatan karena saat travelling pasti banyak memerlukan tenaga (misalnya banyak jalan dll). - Air putih. Untuk menghindari dehidrasi, mempersiapkan air putih saat akan ke lokasi juga penting. Terlebih lokasi pelosok yang tidak ada orang jualan air minum. - Jangan lupa minum vitamin. Tujuannya menjaga ketahanan tubuh dalam perjalanan, termasuk perubahan cuaca. - Jangan lupa membawa obatobatan yang disesuaikan dengan kondisi kulit dan iklim tempat tujuan. - Hati-hati memilih makanan, terutama bagi yang punya alergi. - Pilihlah sunblock yang sesuai dengan jenis kulit dan berkualitas tinggi. Tidak perlu memilih sunblock dengan harga yang mahal. Sunblock dengan harga yang tidak mahal pun ada yang

Kuliner

Edisi 1035/ 10-16 juni 2019

Dua kampung yang masih setia melestarikan karawiti dengan rasa asli dan pengolahan cara tradisional di Bima adalah di Kampo Sigi dan Dorowila, Sila Kecamatan Bolo, Kabupaten Bima. Para pembuat dan penjual karawiti dari dua kampung inilah yang masih tetap menjaga keaslian makanan khas ini. Dari sinilah karawiti berasal. Dua kampung ini merupakan sentra penjagalan ternak terutama sapi dan kerbau untuk kebutuhan masyarakat di Kecamatan Bolo. Karena itulah, secara Karawiti, kuliner khas Bima yang selalu ada dan banyak dijumpai saat lebaran tiba turun temurun makanan khas ini masih dilestarikan. Para karawiti tetap bertahan dengan pembuat dan penjual karawiti dari cara pengolahan tradisional. Mudua kampung inilah yang menjaja- lai dari membakar kulit sapi dan kan dagangannya hingga ke desa- memasaknya dengan kayu bakar desa hingga kecamatan tetangga. tidak menggunakan kompor Mereka mengolah karawiti di pagi minyak tanah maupun gas, juga dan sore hari. Jika pengolahannya menghaluskan bumbu menggupagi hari, maka mereka berjualan nakan lesung batu tidak menggupada sore harinya. Namun jika nakan blender penghalus bumbu pengolahan dilakukan sore hari hingga memarut kelapa masih maka akan dijual keesokan pag- banyak pembuat karawiti yang inya. memilih menggunakan parutan Pengolahan kulit sapi men- cara manual ketimbang diparut jadi karawiti dilakukan secara dengan mesin pemarut kelapa tradisional meski Kecamatan yang praktis. Bolo telah berkembang menAlasannya sederhana, rasanya jadi sebuah kota yang pusat akan lebih enak dan gurih jika perbelanjaannya telah mampu dibuat dengan cara tradisional menyediakan berbagai peralatan dibandingkan dengan membuatmasak menggunakan teknologi nya menggunakan peralatanyang mudah dan praktis. Na- peralatan modern yang praktis. mun, para pembuat dan penjual Mengolah karawiti membutuh-

kan waktu yang panjang hingga berjam-jam. Diawali dengan mencuci kulit-kulit sapi sambil membersihkan bagian dalam dengan cara mengerok juga membersihkan bagian luar kulit dari bulu-bulu sapi. Kemudian dijemur selama dua jam agar air cuciannya tiris dan kering dari kulit sapi. Setelah itu, kulit sapi tersebut dibakar di atas bara api hingga benar-benar matang. Pembakaran ini akan membuat kulit-kulit sapi tersebut akan tampak menghitam. Meski pun telah dibakar hingga matang kulit-kulit sapi tersebut masih harus dimasak lagi hingga empuk. Kulit sapi yang hitam tersebut langsung dimasak selama lebih kurang lima jam untuk mendapatkan hasil kulit yang benar-benar empuk. Tentu saja air rebusannya akan menghitam. Selain untuk membuat kulit sapi empuk, proses merebus yang memakan waktu lama ini juga untuk memisahkan bagian-bagian kulit yang menghitam akibat dari pembakaran sebelumnya. Selanjutnya, kulit sapi yang empuk itu dipotong kecil-kecil dan dicuci berkali-kali bahkan hingga 6-7 kali pencucian hingga potongan kulit tersebut benarbenar bersih dan warnanya kecoklatan khas kulit sapi matang meski di beberapa bagian ada yang agak menghitam. Mem-

kan membukit dalam sebuah wadah dan penjualnya akan mengorek sisi terluar pada bagian yang berada di hadapannya mulai dari bawah hingga tumpukan atasnya longsor sedikit demi sedikit. Cara menata dan menjual seperti ini merupakan salah

bakar kulit hingga matang serta merebusnya hingga lima jam, rupanya belum membuat kulitkulit sapi tersebut benar-benar empuk sehingga nyaman ketika dimakan. Karena itulah proses selanjutnya adalah merendam potongan kulit sapi tersebut hingga seharian atau jika dibuat sore hari rendam selama satu malam. USAHA TURUN TEMURUN Lamanya proses merendam ini tidak hanya agar kulit empuk melainkan menjadi lebih bersih lagi. Merendam kulit sapi seharian atau semalaman haruslah dilakukan menggunakan air yang benar-benar bersih agar kulit sapi awet. Usai perendaman panjang itu airnya dibuang dan kembali dicuci 6-7 kali lagi hingga kulit benar-benar bersih lalu ditiriskan beberapa saat dan ditaburi garam hingga rata serta siap dibumbui. Pencucian kulit sapi harus benarbenar bersih agar tidak cepat basi dan dapat bertahan baik hingga seharian. Jika potongan-potongan kulit sapi ini belum seluruhnya dapat diolah, maka dapat disimpan untuk diolah keesokan harinya. Namun untuk menghindari kulit sapi basi atau rusak, setelah seharian atau semalaman direndam, air rendaman dibuang dan potongan kulit sapi kembali dicuci beberapa kali lalu direndam kembali dengan air bersih. Bumbu utamanya terdiri dari bawang putih, jahe, cabe, laos, merica ditumbuk mengguna-

satu keunikan karawiti karena dari dulu hingga kini perlakuan tersebut tidak pernah berubah. Selain dijajakan di pasar-pasar tradisional, karawiti juga dijajakan dengan cara dijual keliling dalam perkampungan. Para pembuat dan penjual karawiti biasanya berasal dari sekitar tempattempat penjagalan ternak di mana mudah mendapatkan kulit sapi sebagai bahan bakunya. Karena itulah, keahlian membuat karawiti diperoleh secara turun temurun. Tidak hanya itu, intensitas penjagaan keberlangsungan usaha rumah tangga ini juga diwariskan secara turun temurun. Maka tidak heran, jika dahulu nenek buyutnya dikenal sebagai pembuat dan penjual karawiti maka turunan berikutnya juga memiliki keahlian yang sama dan memilih profesi juga sebagai pembuat dan penjual karawiti sebagai penyangga ekonomi keluarga. (Naniek I. Taufan)

kan lesung batu dan alu kayu tidak sampai halus melainkan setengah halus. Bumbu pelengkap seperti kelapa parut yang dijemur lalu disangrai dan ditumbuk halus menjadi tambahan penyedap karawiti. Bumbu inti setengah halus, irisan belimbing wuluh, kelapa parut yang disangrai dan dihalus seluruhnya dicampur dan diaduk hingga rata pada potongan kulit sapi tadi. Setelah itu santan kental dari sebutir kelapa dicampur hingga rata sebagai penutup bumbu pelengkap. Untuk 10 kg kulit sapi dicampur dengan 3 kg belimbing wuluh. Belimbing wuluh segar berfungsi memberi rasa asam untuk menambah selera. Rasa asam dalam masakan seperti ini merupakan salah satu kekhasan kuliner suku mbojo. Kekhasan karawiti inilah yang membuat kuliner ini tidak pernah hilang dari daftar menu makanan asli suku Mbojo. Hal ini juga yang membuat karawiti menjadi usaha rumah tangga secara turun temurun. Selain menjual untuk konsumsi umum, karawiti juga kerap menjadi menu pelengkap dalam acara-acara resepsi yang dipesan secara khusus. Pengolahan dan penggunaan bahan serta bumbu yang alami, tanpa bahan pengawet, membuat karawiti hanya mampu bertahan baik untuk dimakan tidak lebih dari delapan jam. Karawiti, kuliner khas yang tetap mempertahankan keaslian bahan, rasa dan tata cara pengolahannya secara tradisional. (Naniek I. Taufan)


8

jelita

Cantik saat Liburan

Edisi 1035/ 10-16 juni 2019

Agar saat liburan para traveller cantik dan tetap tenang tanpa banyak memikirkan kesehatan kulit dan penampilan, ada beberapa yang harus kita lakukan. Apa saja yang perlu disiapkan?

menjadi salah satu kuliner yang pasti dicari setiap kali lebaran tiba. Para penjual karawiti akan berjejer di pinggir jalan raya tempat dahulu anak-anak membelanjakan uang hadiah lebaran. Banyak pula penjual karawiti yang berkeliling ke kampung-kampung, setelah pelaksanaan salat Idulfitri maupun Idul Adha. “Saat lebaran, anak-anak berbondong-bondong belanja, salah satunya karawiti,” ujar Siti Farida, warga desa ini. Uniknya, makanan khas Mbojo (Bima) ini hingga kini masih bisa dinikmati dengan rasa yang tidak berubah dari dulu hingga sekarang. Bukan rasanya saja yang tidak berubah melainkan juga cara pengolahannya yang sederhana khas makanan tradisional. Karawiti yang

terbuat dari seluruh kulit badan sapi termasuk kulit kepala ini memiliki ciri berwarna hitam dengan campuran santan kental, kelapa parut dan irisan bulat belimbing wuluh. Seperti juga makanan khas Mbojo lainnya yang benar-benar tradisional, bumbu inti dan bumbu pelengkap karawiti tidak dimasak melainkan merupakan bumbu-bumbu mentah. Meski murni terbuat dari kulit sapi tanpa campuran lain, karawiti bukan merupakan lauk yang mendampingi makan nasi melainkan merupakan camilan saja walau pun ada juga yang akhirnya menjadikannya lauk namun tetap dianggap sebagai camilan. Rasanya gurih dan kenyal. Di pasar-pasar tradisional di Bima, masih dapat ditemui makanan khas ini dengan penataan bentuk yang khas pula sehingga dari jauh mudah mengidentifikasinya. Biasanya karawiti dijual dengan membuat tumpu-

Pertahankan Cara Pengolahan Tradisional

penting untuk menambah gaya kita saat berfoto. - Selain kacamata, topi juga amat penting untuk bekal travelling cantik kita. Selain bisa melindungi rambut dan bagian wajah dari panas matahari dan debu, topi juga bisa menambah penampilan kita menjadi lebih stylish. - Scarf, bisa digunakan untuk menutupi leher atau digunakan sebagai bando. Terlebih jika jalan-jalan ke tempat yang udaranya sejuk cenderung dingin. Scarf ini nantinya bisa ikut berperan menjaga kesehatan kita, selain juga menambah gaya berpakaian. (Wirati Astiti)

Ni Luh Swasti Bandem Di usianya yang sudah 70 tahun, Ni Luh Swasti Bandem masih terlihat cantik. Saat ditemui di Peringatan Hari Lahir Bung Karno di Jayasabha, ia sempat menuturkan resepnya menjaga tetap cantik di usia senja. “Saya ini orangnya lebih suka mengalir apa adanya. Seperti saat ini, saya suka menu-

Dengan tekstur kenyal dan rasa yang gurih, kulit sapi sedap diolah baik basah maupun kering. Kulit sapi kering biasanya dibuat kerupuk. Selain itu kulit sapi basah biasa dimasak ­seperti menumis dan membuat sop. Kulit sapi pilihan juga diolah secara tradisional.

D

memiliki kualitas bagus. I n t i n y a , p i n t a r- p i n t a r l a h memilih produk sunblock yang sesuai dengan jenis kulit, tidak membuat kulit merah atau iritasi. - M e n g g u n a k a n p e l e m b a b juga sangat direkomendasikan untuk menjaga kulit. Terlebih lotion malam yang bisa digunakan saat malam hari. - Masker wajah. Tujuannya untuk melindungi wajah dari panas dan debu. - Kacamata penting sekali untuk dibawa saat travelling cantik. Selain untuk melindungi mata dari debu dan panas matahari, kacamata juga

lis untuk mengisi hari-hari tua saya. Saya juga mengambil pekerjaan rumah layaknya ibu rumahtangga lainnya. Intinya saya menjalani semua pekerjaan dengan ikhlas tanpa beban,” katanya. Sementara untuk urusan merawat wajah, ia punya tips sendiri. “Saya selalu berusaha membersihkan wajah sebelum tidur. Malah, ia mengaku jarang perawatan ke salon. Ia mengaku miris juga, melihat masih

ada perempuan yang sudah terlahir cantik, tapi tetap mengeluh akan tubuhnya. Bahkan ada yang rela mengubahnya lagi, malah terlihat menjadi aneh. Menurutnya, para perempuan seharusnya bersyukur dengan apapun yang sudah dimilikinya. “Itu saja yang dirawat. Yang penting sebenarnya dari dalam, atau inner beauty, yang akan memancarkan kecantikan dari dalam,” ujarnya. (Wirati Astiti)

9

Karawiti, Kuliner Khas Lebaran i Bima, Nusa Tenggara Barat, pengolahan kulit sapi sebagai kuliner khas sampai sekarang masih dilakukan. Khususnya, saat bulan puasa terutama lagi saat lebaran tiba, kuliner kulit sapi yang dikenal dengan nama karawiti ini, lebih mudah dijumpai, meskipun sehari-hari ada juga yang tetap membuat dan menjualnya di pasar-pasar tradisional. “Tapi jika puasa, terutama lagi saat lebaran, karawiti banyak dibuat dan dijual,” kata Hafsah pembuat kuliner karawiti yang tinggal di Desa Dorowila Kecamatan Boli, Bima. Karawiti menjadi kuliner khas yang selalu ada saat lebaran tiba. Sudah menjadi kebiasaan, tak lengkap lebaran tanpa karawiti di Bima. Tahun 1980-an, karawiti

B

erikut beberapa tips dari dr. Eka Ciptasari, Sp.KK., seorang dokter ahli kulit yang bekerja di klinik kecantikan yang juga hobi travelling. - Pe r s i a p k a n s t a m i n a d a n jaga kesehatan karena saat travelling pasti banyak memerlukan tenaga (misalnya banyak jalan dll). - Air putih. Untuk menghindari dehidrasi, mempersiapkan air putih saat akan ke lokasi juga penting. Terlebih lokasi pelosok yang tidak ada orang jualan air minum. - Jangan lupa minum vitamin. Tujuannya menjaga ketahanan tubuh dalam perjalanan, termasuk perubahan cuaca. - Jangan lupa membawa obatobatan yang disesuaikan dengan kondisi kulit dan iklim tempat tujuan. - Hati-hati memilih makanan, terutama bagi yang punya alergi. - Pilihlah sunblock yang sesuai dengan jenis kulit dan berkualitas tinggi. Tidak perlu memilih sunblock dengan harga yang mahal. Sunblock dengan harga yang tidak mahal pun ada yang

Kuliner

Edisi 1035/ 10-16 juni 2019

Dua kampung yang masih setia melestarikan karawiti dengan rasa asli dan pengolahan cara tradisional di Bima adalah di Kampo Sigi dan Dorowila, Sila Kecamatan Bolo, Kabupaten Bima. Para pembuat dan penjual karawiti dari dua kampung inilah yang masih tetap menjaga keaslian makanan khas ini. Dari sinilah karawiti berasal. Dua kampung ini merupakan sentra penjagalan ternak terutama sapi dan kerbau untuk kebutuhan masyarakat di Kecamatan Bolo. Karena itulah, secara Karawiti, kuliner khas Bima yang selalu ada dan banyak dijumpai saat lebaran tiba turun temurun makanan khas ini masih dilestarikan. Para karawiti tetap bertahan dengan pembuat dan penjual karawiti dari cara pengolahan tradisional. Mudua kampung inilah yang menjaja- lai dari membakar kulit sapi dan kan dagangannya hingga ke desa- memasaknya dengan kayu bakar desa hingga kecamatan tetangga. tidak menggunakan kompor Mereka mengolah karawiti di pagi minyak tanah maupun gas, juga dan sore hari. Jika pengolahannya menghaluskan bumbu menggupagi hari, maka mereka berjualan nakan lesung batu tidak menggupada sore harinya. Namun jika nakan blender penghalus bumbu pengolahan dilakukan sore hari hingga memarut kelapa masih maka akan dijual keesokan pag- banyak pembuat karawiti yang inya. memilih menggunakan parutan Pengolahan kulit sapi men- cara manual ketimbang diparut jadi karawiti dilakukan secara dengan mesin pemarut kelapa tradisional meski Kecamatan yang praktis. Bolo telah berkembang menAlasannya sederhana, rasanya jadi sebuah kota yang pusat akan lebih enak dan gurih jika perbelanjaannya telah mampu dibuat dengan cara tradisional menyediakan berbagai peralatan dibandingkan dengan membuatmasak menggunakan teknologi nya menggunakan peralatanyang mudah dan praktis. Na- peralatan modern yang praktis. mun, para pembuat dan penjual Mengolah karawiti membutuh-

kan waktu yang panjang hingga berjam-jam. Diawali dengan mencuci kulit-kulit sapi sambil membersihkan bagian dalam dengan cara mengerok juga membersihkan bagian luar kulit dari bulu-bulu sapi. Kemudian dijemur selama dua jam agar air cuciannya tiris dan kering dari kulit sapi. Setelah itu, kulit sapi tersebut dibakar di atas bara api hingga benar-benar matang. Pembakaran ini akan membuat kulit-kulit sapi tersebut akan tampak menghitam. Meski pun telah dibakar hingga matang kulit-kulit sapi tersebut masih harus dimasak lagi hingga empuk. Kulit sapi yang hitam tersebut langsung dimasak selama lebih kurang lima jam untuk mendapatkan hasil kulit yang benar-benar empuk. Tentu saja air rebusannya akan menghitam. Selain untuk membuat kulit sapi empuk, proses merebus yang memakan waktu lama ini juga untuk memisahkan bagian-bagian kulit yang menghitam akibat dari pembakaran sebelumnya. Selanjutnya, kulit sapi yang empuk itu dipotong kecil-kecil dan dicuci berkali-kali bahkan hingga 6-7 kali pencucian hingga potongan kulit tersebut benarbenar bersih dan warnanya kecoklatan khas kulit sapi matang meski di beberapa bagian ada yang agak menghitam. Mem-

kan membukit dalam sebuah wadah dan penjualnya akan mengorek sisi terluar pada bagian yang berada di hadapannya mulai dari bawah hingga tumpukan atasnya longsor sedikit demi sedikit. Cara menata dan menjual seperti ini merupakan salah

bakar kulit hingga matang serta merebusnya hingga lima jam, rupanya belum membuat kulitkulit sapi tersebut benar-benar empuk sehingga nyaman ketika dimakan. Karena itulah proses selanjutnya adalah merendam potongan kulit sapi tersebut hingga seharian atau jika dibuat sore hari rendam selama satu malam. USAHA TURUN TEMURUN Lamanya proses merendam ini tidak hanya agar kulit empuk melainkan menjadi lebih bersih lagi. Merendam kulit sapi seharian atau semalaman haruslah dilakukan menggunakan air yang benar-benar bersih agar kulit sapi awet. Usai perendaman panjang itu airnya dibuang dan kembali dicuci 6-7 kali lagi hingga kulit benar-benar bersih lalu ditiriskan beberapa saat dan ditaburi garam hingga rata serta siap dibumbui. Pencucian kulit sapi harus benarbenar bersih agar tidak cepat basi dan dapat bertahan baik hingga seharian. Jika potongan-potongan kulit sapi ini belum seluruhnya dapat diolah, maka dapat disimpan untuk diolah keesokan harinya. Namun untuk menghindari kulit sapi basi atau rusak, setelah seharian atau semalaman direndam, air rendaman dibuang dan potongan kulit sapi kembali dicuci beberapa kali lalu direndam kembali dengan air bersih. Bumbu utamanya terdiri dari bawang putih, jahe, cabe, laos, merica ditumbuk mengguna-

satu keunikan karawiti karena dari dulu hingga kini perlakuan tersebut tidak pernah berubah. Selain dijajakan di pasar-pasar tradisional, karawiti juga dijajakan dengan cara dijual keliling dalam perkampungan. Para pembuat dan penjual karawiti biasanya berasal dari sekitar tempattempat penjagalan ternak di mana mudah mendapatkan kulit sapi sebagai bahan bakunya. Karena itulah, keahlian membuat karawiti diperoleh secara turun temurun. Tidak hanya itu, intensitas penjagaan keberlangsungan usaha rumah tangga ini juga diwariskan secara turun temurun. Maka tidak heran, jika dahulu nenek buyutnya dikenal sebagai pembuat dan penjual karawiti maka turunan berikutnya juga memiliki keahlian yang sama dan memilih profesi juga sebagai pembuat dan penjual karawiti sebagai penyangga ekonomi keluarga. (Naniek I. Taufan)

kan lesung batu dan alu kayu tidak sampai halus melainkan setengah halus. Bumbu pelengkap seperti kelapa parut yang dijemur lalu disangrai dan ditumbuk halus menjadi tambahan penyedap karawiti. Bumbu inti setengah halus, irisan belimbing wuluh, kelapa parut yang disangrai dan dihalus seluruhnya dicampur dan diaduk hingga rata pada potongan kulit sapi tadi. Setelah itu santan kental dari sebutir kelapa dicampur hingga rata sebagai penutup bumbu pelengkap. Untuk 10 kg kulit sapi dicampur dengan 3 kg belimbing wuluh. Belimbing wuluh segar berfungsi memberi rasa asam untuk menambah selera. Rasa asam dalam masakan seperti ini merupakan salah satu kekhasan kuliner suku mbojo. Kekhasan karawiti inilah yang membuat kuliner ini tidak pernah hilang dari daftar menu makanan asli suku Mbojo. Hal ini juga yang membuat karawiti menjadi usaha rumah tangga secara turun temurun. Selain menjual untuk konsumsi umum, karawiti juga kerap menjadi menu pelengkap dalam acara-acara resepsi yang dipesan secara khusus. Pengolahan dan penggunaan bahan serta bumbu yang alami, tanpa bahan pengawet, membuat karawiti hanya mampu bertahan baik untuk dimakan tidak lebih dari delapan jam. Karawiti, kuliner khas yang tetap mempertahankan keaslian bahan, rasa dan tata cara pengolahannya secara tradisional. (Naniek I. Taufan)


10

Style

Edisi 1035/ 10 - 16 juni 2019

Yoga untuk Fertility Bunda Dian

Indahnya Perpaduan berbagai warna yang menarik dan unik menjadi fokus koleksi Neli Gunawan kali ini. Kombinasi warna yang diolah dari inspirasi budaya Tibet ini, dipersembahkan pada event “Surabaya Fashion Parade” di Tunjungan Plaza, Surabaya ­beberapa waktu lalu.

M

enurut desainer yang tergabung dalam IFC Denpasar ini, kreasinya menyampaikan bahwa hidup perlu lebih banyak warna, pilihan, kombinasi, agar kita bisa melihat perbedaan dan keindahan. Doa akan mampu mengubah hidup yang selama ini terkadang membosankan, terlebih

EDUKASI

Edisi 1035/ 10 - 16 juni 2019

ketika kita terpaksa harus memilih hanya hitam dan putih. Koleksi Neli Gunawan, yang bisa dipakai wanita energik, usia 20-50 tahun ini berupa celana kulot (wide pants), A line skirts, midi and long outer. Menariknya busana siap pakai ini digarap dari bahan yang sudah ada. Begitu juga dengan aksesori yang melengkapi, dari recycled colorful fabrics Sebab, sebagai sosok yang peduli lingkungan, ia dikenal konsen mengutamakan, natural dye fabrics dan upcycling fabrics. (Sri Ardhini )

Gambar 1 Dengan posisi berdiri kedua telapak tangan letakkan di depan dada mendorong pinggul ke depan dan dada dibusungkan (lihat gambar). Kemudian mulai menarik cahaya melalui napas arahkan napas ke dada dan hembuskan napas ke organ reproduksi Lakukan 3 kali pengulangan napas.

Gambar 2 Masih dalam posisi berdiri, sekarang angkat ke dua tangan naik ke atas kepala dan satukan ke dua telapak tangan (lihat gambar). Pinggul harus didorong ke depan. Berikutnya mulai konsentrasi napas arahkan ke tenggorokan dan buang napas di organ reproduksi. Lakukan 3 kali napas.

Gambar 3 Perlahan tundukkan badan, turunkan kepala menghadap pertiwi dan kaitkan ke dua tangan dibelakang tulang punggung (lihat gambar). Lanjutkan dengan konsentrasi jiwa arah napas ke tulang ekor dan buang napas. Kesadaran arahkan napas ke organ reproduksi. Lakukan 3 kali napas

Gambar 4 Dalam posisi gambar nomor 3, lalu turunkan ke dua tangan menyentuh matras. Dan, perlahan lempar kaki kanan jauh ke belakang. Kemudian angkat ke dua tangan ke atas dan mulai konsentrasi napas arahkan ke kening dan hembuskan napas ke organ reproduksi. Lakukan 3 kali napas.

7

Gambar 6 Lakukan posisi seperti ular cobra. Sikap ini sangat baik untuk meningkatkan dan menyehatkan organ reproduksi. Lakukan pernapasan dengan merasakan dalam batin napas dibawa ke organ reproduksi dan, hembuskan. Lakukan 7 kali napas

Gambar 5 Mulai dengan melangkahkan kaki kiri ke belakang. Membentuk pose gunung yang artinya kuat dan kokoh seperti gunung. Kita akan mulai membawa kesadaran pada napas yang diarahkan ke perut. Ambil napas lembut dan dalam dan buang napas di organ reproduksi Lakukan 3 kali napas.

Selamat berlatih dengan senyum Selalu sehat dalam yoga Model : Gung Ayu Wida (Guru MYI Denpasar) LKP/LPK Markandeya Yoga Indonesia

Memulai Hubungan Baru “Dok, dulu saya pernah menikah, tetapi bercerai karena mantan suami main perempuan, karena katanya saya tidak bisa memuaskan dia. Sekarang saya sedang serius menjalin hubungan dengan seorang laki-laki yang belum pernah menikah. Niatnya segera menikah dan dia setuju. Dengan dia, saya belum pernah berhubungan seksual. Ada sedikit kekhawatiran saya, untuk memulai hubungan seksual lagi nantinya setelah menikah. Bayangan masa lalu, bayangan saya yang tidak bisa memuaskan suami, dan berbagai ketegangan lain mengganggu saya. Apa tips yang harus saya persiapkan, Dok?” (Ayu Imut,25 thn) Mari fokus dengan masa sekarang dan masa depan. Kini seseorang telah menanti Anda untuk menjadikan Anda seorang yang sangat spesial baginya, tempat baginya untuk mendapatkan kenyamanan dan segala kesenangan, termasuk merasakan kehangangatan seksual dari Anda. Apa yang harus Anda perhatikan? Ini ada beberapa tips dan bekal, mana yang boleh dan mana yang tidak boleh dilakukan.

jaminan kalau yang sekarang semua serba mudah. Pastikan bahwa Anda benar-benar merasa ini adalah waktu yang tepat, tempat yang tepat dan stamina yang benar-benar bugar di saat melakukan hubungan seksual “pertama” ini. Termasuk perhatikan kebersihan diri dan alat kelamin Anda. Persiapan ini buat mengeliminasi kegagalan memulai hubungan seksual pertama dengan pasangan baru.

Persiapan adalah Segalanya Persiapan adalah kata kuncinya. Walaupun Anda sudah pernah melakukan hubungan seksual sebelumnya dengan partner lain, bukan

Harus Rileks Orang yang sukses dalam hubungan seksualnya adalah yang benarbenar rileks. Rangsangan seksual dan bangkitan seksual akan lebih maksimal jika Anda dalam keadaan rileks

dan tidak ada ketegangan. Buanglah semua pikiran dari urusan kantor, kerjaan, rumah, hutang, termasuk buang pikiran buruk tentang masa lalu pasangan Anda. Rileks, dan nikmati apa yang ada di hadapan Anda. Ya, nikmatilah kebersamaan Anda dengan pasangan Anda. Lebih Kreatif Pasangan Anda adalah orang yang spesial. Untuk orang yang spesial, bikin suasana yang benar-benar spesial juga. Dan Anda perlu lebih kreatif lagi. Kreatif dalam mempersiapkan tempat dan suasana yang lebih menggairahkan. Semua tergantung kepribadian Anda dan pasangan Anda. Kreatiflah menciptakan suasana yang seksi buat mengawali semuanya. Ada yang suka candle light dinner yang romantis, ada yang senang suasana pedesaan di bukit yang tenang dan dingin, ada yang senang dengan suasana gemerlap malam sambil clubbing, atau ada yang senang dengan hal sederhana di rumah saja. Tentu saja itu buat mengantarkan Anda ke tahapan foreplay yang lebih seru. Pastikan Anda memanfaatkan foreplay ini sebagai pemicu dahsyat ke tahapan “main course” di babak utama hubungan seksual. Tidak ada salahnya berlama-lama buat berforeplay, dan pastikan kemudian detik demi detik hubungan seksual Anda menjadi penuh gairah.

Jangan Pernah Membandingkan Jika Anda selalu mencoba membandingkan pasangan Anda dengan mantan Anda, atau Anda ingin membandingkan diri Anda dengan mantan pasangan Anda, apapun alasannya, sesungguhnya Anda sedang merencanakan sebuah kegagalan dalam hubungan seksual Anda. Walaupun akhirnya hubungan seksual bisa dijalankan, tapi akan terasa banyak tekanan karena ada bayang-bayang orang lain di antara Anda berdua. Demikian juga, salah sebut adalah hal fatal dalam memulai hubungan seksual Anda yang pertama. Tentu saja yang tak termaafkan adalah justru ketika Anda menyebut pasangan Anda dengan nama mantan Anda. Itu fatal. Jangan Paksakan Diri Jika Tidak Suka Maksudnya, bukan tidak suka dengan pasangan, tetapi tidak suka dengan kondisi yang terjadi. Ini biasanya karena semua tidak dikomunikasikan dengan baik atau ingin membuat kejutan. Bisa saja terjadi. Misalnya pasangan Anda tiba-tiba membuat kejutan dengan berpakaian seksi dan supermini untuk menarik minat Anda berhubungan seksual, tetapi Anda malah menanggapinya sebagai perempuan nakal dan bandel yang membuat Anda hilang mood untuk berhubungan seksual. Turning off. Jangan dipaksa-

kan dan sampaikan keberatan Anda, perbaiki lagi komunikasi seksual Anda dan coba lagi dari awal. Jangan Berhenti Jika Gagal Tidak semuanya berjalan ideal. Bisa jadi hubungan seksual pertama yang Anda mulai lagi juga mengalami kegagalan. Gangguan telepon dari atasan, kabar orangtua sakit, hambatan di jalan, hujan deras, hingga kegagalan dari pasangan sendiri yang tidak siap, atau malah kita yang tidak siap, itu hal biasa. Jangan kecewa dan jangan berhenti. Coba lagi dari awal. Akhiri dengan Afterplay yang Manis Hubungan seksual yang memuaskan tidak sekedar mendapatkan orgasme yang maksimal, tetapi juga diakhiri dengan afterplay yang manis dan berkesan. Bikinlah kesan hubungan seksual yang telah dilakukan dengan pujian dan sentuhan yang hangat, bahwa hubungan seksual yang baru dilakukan begitu menyenangkan dan pasangan Anda adalah orang yang sangat spesial di hati. Pujian di akhir hubungan seksual akan menjadi obat yang menenangkan dan membahagiakan. Selamat mencoba. Semoga sukses.


dara

6

Edisi 1035/ 10-16 juni 2019

Alien Child

Suara Generasi Milenial

K

eduanya musisi milenial, yang selalu tampil total, hingga kian hari kian memikat. Mereka adalah Aya Maranda dan Laras Maranda, kakak-beradik yang menamakan dirinya “Alien Child”, memiliki bakat luar biasa hebat, bak pualam yang berkilau di panggung musik Bali dan Nusantara, melalui album perdana ‘Take Off’ (2018). Selain lagu riangnya remaja, mereka juga hadirkan syair dan irama bergenre electro- pop , rap dan R n B yang menyuratkan pesan bahwa di usia muda, ia mampu menetapkan cakrawala hidupnya. Hal ini tercermin pada lagu ‘Your Love’, ‘Talk To

Me’, ‘Leave Me Alon’, dan ‘Rise’. Alien Child, bukan merujuk sosok tertentu dan bukan pula Aya dan Laras. Alien Child merupakan cerminan tentang ‘rumah’ bagi semua orang yang pernah ‘terasing, ditinggalkan, dan terlupakan’. Aya dan Laras melalui lagu ciptaannya, ingin menghadirkan sebuah ‘rumah teduh’ bagi siapa saja, terutama remaja yang tengah berupaya menemukan jati dirinya. “Alien Child adalah rumah kebersamaan bagi siapa saja untuk diterima dan dicintai apa adanya,” papar Aya dan Laras Maranda. Alien Child sukses menarik hati penggemar musik di Bali. La-

MULTITALENTA Bicara kepiawaian Aya dan

Laras, tentu tidak hadir begitu saja. Bahwa , anak dari pasutri I Ketut Suarma dan Heny Janawati, B.Mus., M.Mus ini, memang menekuni dunia musik dan olah vokal sejak usia dini. Belum lagi darah seni yang mengalir dari keluarganya termasuk sang kakek, I Gusti Ngurah Ardjana (alm), pencipta lagu Sekar Sandat. Aya yang bernama lengkap Ayu Arya Nusandari Maranda sejak usia tiga tahun sudah belajar musik, biola serta olah vokal. Remaja kelahiran Bali, 19 Mei 2000 ini, selama 11 tahun tinggal di Vancouver, Kanada. Disana ia mengikuti kompetisi biola dan menyanyi, dan meraih berbagai penghargaan serta mendapat nilai distinction dari Royal Academy of Dance. Aya, selain mahir memainkan violin, gitar dan piano juga piawai menyanyi, rap, berakting serta aktif menulis esai, ide-ide film, dan fotografi. Sedangkan adiknya, Ayu Arya Larasati Maranda kerap disapa Laras, sejak usia enam tahun belajar vokal dari sang ibu yang penyanyi mezzosoprano Indonesia itu. Bersama sang kakak, Laras juga sempat ikut sejumlah kompetisi dan meraih juara 1 lomba menyanyi tingkat provinsi British Colombia-Canada, juga medapat nilai distinction dari Royal

Musik Sehat

Berikut ini komentar beberapa musisi dan pengamat musik tentang kiprah Alien Child. “Alien Child musisi berbakat. Di usia muda mampu mengaransemen, produce, dan menulis lirik secanggih

itu. Luar biasanya lagi, semua lagunya enak didengar. Smart, catchy, all in the right ingredients!, ” ujar Ian J. Stevenson, lead vocal ‘Zat Kimia’ “Jatuh cinta sama musik, lirik, aransemen dan cara menyanyikannya. Aku suka sekali notasinya,” ucap Dewiq, musisi & penyanyi Indonesia peraih penghargaan The Hits Maker pada SCTV Music Awards 2008. “Musik sehat, begitu saya meng­ ibaratkan karya ‘Alien Child’. Saya beruntung bisa terlibat dalam men­d esain sound arangement hingga proses mixing masterig. Aya dan Laras adalah aset

Alien Child saat manggung

Bali dan tentu aset negara. Semoga bisa berkolaborasi dengan produser andal tanah air bahkan mancanegara,” cetus Deny Surya, peraih nominasi AMI Award 2015, kategori Mixing. “Alien Child tampil membawa warna baru dalam dunia musik di Bali khususnya, mungkin juga nasional. Proses kreatif

Aya dan Laras tanpa campur tangan atau pengaruh dari luar, bahkan orangtuanya, ini menghasilkan karya jujur dari dalam hati. Inilah Alien Child, ” tandas Made Adnyana, Jurnalis & Pengamat Musik di Bali.

Academy of Dance. Remaja kelahiran Bali, 22 September 2001ini , suka menulis puisi, menuangkan kegelisahannya akan masalah lingkungan, remaja, ketidakadilan kaum terpinggirkan, dampak situasi perang hingga akibat bencana alam bagi anak-anak di dunia. Tahun 2013, Aya dan Laras bersama keluarga kembali ke Indonesia. Mereka mulai menulis lagu yang lirik dan musiknya, diciptakan, diaransemen, dan diproduksi sendiri termasuk videonya dibawah label ‘Aya dan Laras BTMDG’ (kepanjangan dari Batumadeg, di Nusa Penida). Aya dan Laras juga sempat unjuk kebisaan dalam Broadway Musical Soundwave (2015) Bahkan, Laras menjadi tokoh utama yakni ‘Peter Pan’ dalam The Musical Peter Pan (2016). Tidak berhenti berkreasi, keduanya ikut andil menggarap video musik atas karya terkininya ‘No Trust, No Pain’ yang diluncurkan pada ( 29/5). di Kampus Elizabeth International, Denpasar. Lagu ini telah diputar secara serentak pada (31/5) di radioradio wilayah Bali, Jawa, serta Nusa Tenggara dan bisa juga dinikmati di kanal youtube, Spotify, iTunes, Apple Music, Deezer, dan lainnya. Mulai Juni 2019, Alien Child resmi menjadi bagian dari Yamaha Artist – Yamaha Musik Indonesia. (Sri Ardhini)

11

Perjuangkan Aspirasi Perempuan Perempuan dan laki-laki saat ini diberi kedudukan yang sama. Inilah simbol dari kesetaraan gender dan emansipasi wanita. Ketika perempuan diberi hak setara dengan pria, berpendidikan tinggi dan bekerja untuk mendukung finansial keluarga, masalah selanjutnya adalah bagaimana ia bisa menjalankan kodratnya sebagai seorang perempuan.

Ketika di atas panggung, tak ada yang menduga jika dua dara ini berasal dari desa kecil di Nusa Penida. Kelincahannya menyanyikan lagu berbahasa Inggris serta sapaannya yang ramah dan bersahabat pada publik, laiknya bintang bereputasi internasional.

gunya ‘Your Love’ menduduki peringkat 1 di radio terkemuka di Bali. Belum selesai apresiasi publik atas prestasinya, duo yang gemar berkreasi dengan audio visual ini, diam-diam menyiapkan sederet lagu dengan musik yang dieksplorasi tanpa batas. Ada lirik yang berpesan soal remaja menuju dewasa, melalui single ‘Taksu’ serta ‘No Trust, No Pain’ (2019). Dan, segera menyusul single ‘Breathe’. Pada awal tahun ini, Alien Child juga berhasil menorehkan prestasi sebagai ‘Pendatang Baru Terbaik dan Penata Musik Terbaik’ (Aya Maranda). Mereka juga masuk dalam 4 nominee lainnya, kategori Band/ Duo/ Grup Terbaik; Album Terbaik; Lagu Terbaik; dan Lagu Terfavorit pada ajang Anugerah Musik Bali (AMB) Awards 2019. Selama ini, Alien Child telah pula tampil di berbagai festival seperti diantaranya; Semarapura Festival, Nusa Penida Festival, Sanfes , Ubud Writers and Readers Festival, Ubud Food Festival, PICA Fest, Grand Final Puteri Indonesia Bali 2019, hingga Yamaha Musik Indonesia - Java Jazz Festival 2019.

buleleng

Edisi 1035/ 10-16 juni 2019

M

N i Luh Seniwi, S. H.

enjadi perempuan karier yang sukses sekaligus ibu dalam rumah tangga misalnya. Kebanyakan masyarakat berpikir, menjadi wanita karier sukses atau ibu rumah tangga yang bahagia adalah sebuah pilihan. Sejatinya, jika kebetulan berada dalam posisi tersebut, sewajarnya ada yang harus dikorbankan. Padahal, masih banyak wanita karier sukses, namun berhasil pula menangani tugas rumah tangganya selama masih mampu merancang manajemen waktu. Seperti halnya, Ni Luh

Seniwi, S.H., perempuan yang telah lama terjun di dunia politik. Menurutnya, dunia politik bukanlah hal yang “tabu” bagi seorang perempuan, justru keterlibatan seorang perempuan dalam perpolitikan di Indonesia sangat diperlukan. Kedudukan perempuan di kursi DPRD sebagai simbol keterwakilan suara-suara perempuan yang ada di Indonesia. Sri Seniwi yang saat ini duduk dua periode di kursi DPRD Kabupaten Buleleng sebagai anggota Fraksi PDIP. Sebelum memantapkan hati terjun ke dunia politik, Seniwi mengaku ingin mewakili suara-suara perempuan Buleleng untuk turut andil menyumbang pemikiranpemikiran dalam memajukan Buleleng. Perempuan kelahiran Singaraja 10 Juli 1966 ini awalnya hanyalah seorang pedagang ayam broiler yang tidak memiliki dasar dalam dunia perpolitikan.

Meskipun kini ia sudah terjun ke dunia politik namun ia tidak meninggalkan sejarahnya sebagai pedagang ayam yang kini dikelola oleh suaminya, Made Arsana yang baru saja pensiun sebagai tenaga pendidik di salah satu SMA Negeri. Sri Seniwi dengan usaha dagang ayamnya ini justru menjadikan mudah bergaul akhirnya memiliki banyak relasi, banyak kenalan di masyarakat, hingga akhirnya dari sanalah ia mencoba untuk terjun ke dunia politik. Menurutnya tidak ada hal yang menjadi penghalang bagi para pengusaha untuk turut memajukan bangsa dengan beralih menjadi politisi, selama memiliki keyakinan dan kemampuan dalam menyampaikan aspirasi masyarakat. “Perempuan dan laki- laki mempunyai kedudukan yang sama di politik, peran serta perempuan sangat diperlukan, hal ini dikarenakan banyaknya persoalan-persoalan terkait kepentingan perempuan yang perlu adanya keterwakilan perempuan di lembaga legislatif,” ujarnya. JANJI ADALAH UTANG Sebelumnya, Seniwi pernah gagal mengambil hati simpatisan. Pengalamannya yang minim

membuat dia belajar dan memahami situasi perpolitikan yang ada di masyarakat. Bahkan selama berkampanye, dirinya selalu memaparkan visi misi yang realistis. “Saya tidak pernah berjanji yang muluk-muluk, karena bagi saya janji adalah utang. Ketika kita tidak bisa menepatinya tentu akan merasa bersalah. Maka dari itu saya selalu realistis saja,” jelasnya. Tengah fokus dengan kariernya sebagai anggota dewan, ini tidak lantas membuatnya lupa akan kodrat sebagai perempuan. Meskipun memiliki kemampuan dalam segala bidang baik di kancah perpolitikan, namun sebagai perempuan tidak akan pernah bisa terlepas dari yang namanya kodrat menghargai kepala keluarga dan menjadi ibu rumah tangga bagi anakanaknya. Namun semangatnya untuk memperjuangkan aspirasi masyarakat khususnya kaum perempuan menjadi pondasi terkuat dirinya hingga akhirnya berada di kursi Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD). “Ke depan perempuan tidak hanya setera dalam bidang politik tetapi juga dalam bidang-bidang yang lainnya,” jelasnya. (Wiwin Meliana)

Lestarikan Bahasa Bali Melalui Lomba Nyastra Bali Perkembangan global membawa pengaruh terhadap berbagai lini kehidupan. Globalisasi hendaknya dimaknai dengan bijak, sebagai sebuah pengglobalan terhadap suatu bangsa. Penggunaan bahasa Bali dan penulisan dengan aksara Bali di kalangan masyarakat Bali khususnya di Kabupaten Buleleng makin berkurang. Hal ini juga sebagai dampak dari perkembangan global, karena anak-anak cenderung diperkenalkan dengan bahasa Indonesia sebagai bahasa sehari-hari. Bahkan anak-anak sejak dini sudah diajarkan berbahasa asing juga. Kondisi ini menyebabkan anak-anak kurang menggunakan bahasa Bali. Tidak ingin kondisi tersebut “menggeser” fungsi bahasa Bali sebagai bahasa ibu masyarakat Bali, Pemerintah Kabupaten Buleleng melalui Dinas Kebudayaan Kabupaten Buleleng menyelenggarakan lomba “Nyastra Bali” sebagai upaya untuk membangkitkan kecintaan anak-anak terhadap bahasa Bali. Sebanyak 150 siswa SD, SMP, dan SMA/SMK di Kabupaten

kalangan masyarakat. “Inilah salah satu tolak ukur yang kami lakukan dengan mengadakan lomba Nyastra Bali, sebagai implementasi dari Pergub nomor 80 tahun 2018,” jelasnya. Ia menambahkan, lomba ini juga sebagai upaya untuk mendorong dan memotivasi para generasi muda untuk mencintai bahasa Bali dan aksara Bali. Selain itu, Gede Komang menegaskan, lomba ini

akan diadakan secara rutin setiap tahunnya. Ia juga mengatakan, ke depannya lomba ini akan dikembangkan lebih baik lagi. “Lomba ini akan kami adakan setiap tahun. Mungkin ke depannya sasaran lombanya akan lebih luas. Kami akan mencoba menyasar masyarakat umum, sehingga bahasa Bali bisa ajeg di lingkungan orang-orang Bali,” harapnya. (Wiwin Meliana)

Kepala Dinas Kebudayaan Gede Komang membuka lomba Nyastra Bali ditandai dengan pemukulan gong

Buleleng, mengikuti lomba Nyastra Bali yang di selenggarakan di Gedung Sasana Budaya, Jumat (31/5). Lomba ini dibuka oleh Kepala Dinas Kebudayaan Drs. Gede Komang, M.Si, yang mewakili Bupati Buleleng Putu Agus Suradnyana ditandai dengan pemukulan gong. Lomba Nyastra Bali ini baru pertama kali diadakan di Kabupaten Buleleng. Ada 7 kategori yang dilombakan pada lomba

Nyastra Bali tersebut yaitu, Lomba Pidarta Bahasa Bali, Nyatua Bahasa Bali, Nyurat Aksara Bali di rontal, Macecimpedan, Mengarang Cerpen Bahasa Bali, Puisi Bahasa Bali, dan Membaca Berita Bahasa Bali. Gede Komang mengatakan, lomba ini merupakan implementasi dari peraturan Gubernur Bali tentang penggunaan Bahasa Bali dan Aksara Bali. Ini bertujuan untuk memasyarakatkan kembali bahasa Bali dan aksara Bali di

Lomba Nyastra Bali


bumi gora

12

Edisi 1035/ 10-16 juni 2019

Membangun Semangat dengan Spirit Takbir Idul Fitri Setelah berpuasa satu bulan penuh, umat Muslim merayakan dengan suka cita Hari Raya Idul Fitri, 1 Syawal 1440 H, yang jatuh pada tanggal 5 Juni 2019. Menyambut hari kemenangan itu, masyarakat Nusa Tenggara Barat melaksanakan pawai takbir, salah satunya di Kota Mataram.

G

ubernur NTB Dr. H. Zulkieflimansyah didampingi istri, Hj. Niken Saptarini Widyawati Zulkieflimansyah dan seluruh unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah Provinsi NTB dan kota Mataram melepas secara resmi peserta pawai takbir Idul Fitri di Masjid Hubbul Wathan Islamic Center NTB, Selasa (4/6) malam. “Dengan mengucap Bismillahirrahmanirrahim, pawai takbir Idul Fitri 1440 Hijriyah dengan resmi saya lepas,” ujar Gubernur NTB dalam seremonial pelepasan yang dimulai usai Salat Isya berjamaah. Pelepasan ditandai dengan pemukulan bedug yang dilakukan oleh Gubernur NTB didampingi Wakil Walikota Mataram, Danrem 162 Wirabhakti, Kapolda NTB, dan para tamu undangan lain. Keesokan harinya, saat melaksanakan Salat Idul Fitri gubernur merefleksikan kembali makna NTB Gemilang di Tengah Takbir Idul Fitri. Pada kesempatan ini, Dr. Zul mengajak semua pihak untuk merefleksikan kembali makna NTB Gemilang tersebut sebagai ikhtiar mewujudkan NTB Gemilang meski hal tersebut sebuah hal yang

tidak mudah. Namun, spirit seruan Allahu Akbar, diyakininya bisa memberikan suntikan semangat. Suntikan yang dibutuhkan untuk mensinergikan kekuatan bersama, sehingga hal-hal besar seperti mewujudkan NTB Gemilang, akan terasa kecil. Filosofi itu diungkapkan Dr. Zul saat memberi sambutan sebelum salat Idul Fitri di Masjid Hubbul Wathan, Kompleks Islamic Center, Mataram. Di hadapan ribuan warga NTB yang menghadiri salat Idul Fitri, Gubernur mengawali sambutan dengan memaparkan halhal yang ingin diwujudkan melalui tagline NTB Gemilang. Pertama, NTB Gemilang bermakna bahwa NTB adalah menjadi rumah yang nyaman bagi bisnis dan investasi. Pelaku bisnis akan merasa NTB sebagai tempat yang bersahabat bagi iklim bisnis. Dengan demikian, investasi dan usaha-usaha akan berdatangan ke NTB dan ini diyakini akan mendorong roda perekonomian. RAKYAT HARUS BAHAGIA Kedua, NTB Gemilang berarti NTB harus mewujudkan iklim yang nyaman bagi pengunjung atau

Sucipto Yogyakarta sekitar jam 10 pagi. Menunggu cukup lama, pukul 16.00 barulah mereka terbang ke Lombok namun harus pula transit via Denpasar lagi selama beberapa jam. Pukul 20.30 barulah mereka terbang ke Lombok. Praktis mereka tiba di rumah saudara di Lombok pukul 23.00. Perjalanan ini belum usai, baru separuh jalan. Keesokan harinya, mereka menikmati perjalanan darat menuju Sumbawa Besar dengan waktu tempuh sekitar 7 jam. Lalu melanjutkan lagi perjalanan pada hari berikutnya untuk bisa tiba di Bima selama 5-6 jam. Melelahkan? Jelas... sangat. Tetapi itulah perjuangan perjalanan untuk bisa berkumpul dengan saudara-saudara terutama nyekar ke makam orangtuanya. Berkumpul dengan keluarga dan saudara di hari istimewa seperti lebaran begini, menghadirkan suka cita yang tidak bisa diterjemahkan dengan kalimat-kalimat sederhana. Karena bertemu dan berkumpul dengan saudara itu memberi kebahagiaan yang tidak tergantikan oleh sejumlah nilai-nilai. Dewi yang bersuamikan orang Purwokerto itu,

Bunda ananda

5

Berenang Bantu Tumbuh Kembang Anak Anak-anak mengalami pertumbuhan dan perkembangan untuk mencapai kematangan fisik dan jiwa mereka. Olahraga sangat diperlukan untuk mencapai pertumbuhan dan perkembangan yang optimal sesuai dengan bakat atau genetik anak itu sendiri. Olahraga renang merupakan salah satu pilihan yang dapat dilakukan anakanak. Apa manfaatnya?

M

Gubernur NTB Dr. H. Zulkieflimansyah melepas secara resmi peserta pawai takbir Idul Fitri di Masjid Hubbul Wathan Islamic Center NTB

wisatawan. Ia mengatakan bahwa NTB, khususnya Lombok baru saja terpilih sebagai “the best halal destination in the world”. Sebagai destinasi wisata halal terbaik di seluruh dunia. Predikat terbaik itu menurutnya bukan sebatas teraplikasi dalam hal makanan atau busana semata. “Mudah-mudahan, yang disebut dengan halal destination adalah kerendahan hati, dan kemauan masyarakat NTB untuk hidup di dalam naungan Al Quran dan hidayah Allah SWT,” katanya. Gubernur berharap, lewat perwujudan NTB Gemilang ini, di NTB orang bisa melihat penerapan

kehidupan beragama Islam yang menginspirasi, sesuai tuntunan Allah SWT dalam Al Quran. “Sehingga di NTB, orang melihat the living quran, Quran yang berjalan. Kita punya seribu masjid di Nusa Tenggara Barat, kita punya seribu masjid di Pulau Lombok. Mudah-mudahan, semua nama Allah yang kita agungkan di masjid-masjid, juga kita agungkan di berbagai tempat di luar masjid,” serunya. Cita-cita ketiga sekaligus yang terpenting yang ingin diwujudkan NTB Gemilang adalah, NTB harus menjadi rumah yang nyaman bagi

penduduk NTB sendiri. “Tentu bukan hanya menyenangkan investasi, tentu bukan hanya menyenangkan pengunjung. Tapi on the top of that, NTB Gemilang harus bisa menjamin dan memastikan bahwa penduduk Nusa Tenggara Barat, rakyatnya harus bahagia,” tegas Gubernur. Meskipun hal-hal tersebut bukanlah sesuatu yang mudah, namun Doktor Zul meyakini akan menjadi ringan jika umat Islam di NTB meresapi dan menggaungkan semangat dalam kalimat takbir yang dikumandangkan di hari Idul Fitri. (Naniek I. Taufan)

Kebahagiaan yang Tidak Terbeli Liburan sekolah tahun ini memang terbilang panjang. Selain libur lebaran juga akan diikuti dengan libur semester (kenaikan kelas). Hal ini membuat cukup longgar waktu untuk melakukan perjalanan jauh. Itulah sebabnya, keluarga Ultra Dewi dan Urip Prasetyo tahun ini memilih berlebaran sekaligus berlibur dengan ke tiga anaknya ke Lombok dan Sumbawa Nusa Tenggara Barat. Di samping karena memiliki saudara di Lombok keluarga ini harus transit beristirahat untuk melanjutkan perjalanan ke Pulau Sumbawa ke esokan harinya. Bukan perkara mudah bagi keluarga dari Purwokerto Jawa Tengah ini untuk bisa sampai ke Bima. Selain karena tiket pesawat yang mahal juga langka tiap kali hari raya tiba, juga mereka harus menempuh perjalanan yang sangat panjang. Dari Purwokerto mereka harus menumpang kereta api sampai ke Yogyakarta. Itu pun membutuhkan waktu nyaris seharian untuk tiba di Lombok. Dengan tiket kereta yang terbatas, mereka harus memulai perjalanan sejak jam 5 subuh dari Purwokerto dan tiba di bandara Adi

Edisi 1035/ 10-16 juni 2019

memang sudah lama tidak pulang kampung bersama seluruh keluarganya. Selain karena suaminya yang ASN yang tidak sembarang waktu bisa melakukan perjalanan panjang seperti ini, juga karena libur sekolah anak-anaknya yang juga tidak bisa panjang, sehingga waktu bersama untuk libur dan melakukan perjalanan panjang nyaris tidak pernah dilakukan. “Kebetulan tahun ini libur panjang dan Mas ambil cuti, jadi kami pilih libur lebaran ke Bima,” ujar Ultra Dewi. Dewi yang lahir tahun 1969 ini memang sempat menghabiskan masa kecilnya di Sila Bima, ketika orangtuanya, tugas mengajar di kampung ini sejak tahun 1973. Orangtuanya, Yanti Icoday dan Mudayat sesungguhnya berasal dari Sumbawa dan Jawa Timur, namun bertugas di Sila sampai pensiun dan bahkan ketika Allah SWT memanggil mereka pada tahun 1998 dan 2013, keduanya minta dimakamkan di kampung ini. Itulah sebabnya Dewi dan saudara-saudaranya (ada yang tinggal di Mataram Lombok, Bangil Jawa Timur, Sumbawa) selalu pulang kampung ke Sila. Berkumpul setiap hari bersama

Ultra Dewi dan keluarga besar keluarga yang jumlahnya 21 orang, memberikan pengalaman tersendiri bagi anak-anak di keluarga ini. Anakanak yang jarang bertemu tersebut akhirnya bisa saling mengakrabi satu sama lain. Alhasil, rumah yang terisi 21 orang ini menjadi ramai dan penuh canda tawa. Aktivitas memasak bersama menjadi salah satu momen paling seru dan menyenangkan bagi

saudara perempuan. Ini menjadi sisi lain dari momentum lebaran yang tidak tergantikan. Momen berharga yang menyatukan seluruh keluarga. Berkumpul bersama keluarga, adalah kebahagiaan yang tidak terbeli. Jauhjauh dari Purwokerto, kebahagiaan seperti inilah yang dituju Ultra Dewi sekeluarga meski menempuh perjalanan panjang dan melelahkan. (Naniek I. Taufan)

enurut dr. I Putu Adiartha Griadhi S.Ked. M.Fis., AIFO., keunggulan olahraga renang adalah memiliki risiko cedera yang minimal karena dilakukan di air. “Air memberikan bantuan daya apung bagi anak. Selain itu beban yang diberikan oleh tahanan air otomatis memberikan beban pelatihan yang baik untuk pertumbuhan fisik anak,” ujar dokter fisiologi olahraga Fakultas Kedokteran Unud ini. Untuk mendapatkan manfaat tersebut tentu berenang memerlukan keterampilan khusus yang perlu ketekunan untuk menguasainya. Ia mengatakan, renang termasuk olahraga yang dapat melatih kemampuan jantung dan pernapasan, baik kapasitas aerobik maupun kapasitas anaerobik. “Anak-anak yang latihan renang akan memiliki jantung dan paruparu yang terlatih sehingga kebutuhan oksigen dan darah seluruh tubuh dapat terpenuhi dengan baik,” katanya. Selain itu, komponen lain yang terlatih pada olahraga renang adalah otot dan koordinasi tubuh. Latihan otot dialami anak karena adanya tahanan oleh air saat berenang yang dapat melatih kekuatan otot baik otot lengan, otot kaki, maupun otot perut dan pung-

gung. Koordinasi antar anggota tubuh yang diperlukan saat berenang akan melatih koordinasi anak dalam menggerakkan anggota tubuhnya. Koordinasi ini baik untuk perkembangan optimal sistem saraf anak itu sendiri. Ia menyarankan, rangkaian kegiatan berenang seperti halnya olahraga lain tetap memerlukan tahapan pemanasan, latihan inti dan pendinginan. “Walaupun kegiatannya dilakukan di dalam air, pemanasan tetap perlu dilakukan dengan cara lari dan melakukan peregangan otot balistik. Hal ini diperlukan untuk mempersiapkan tubuh sebelum berenang,” sarannya. Saat berenang yang perlu diperhatikan adalah tercapainya zona latihan. Keadaan ini ditandai dengan nafas yang sedikit berat sehingga terpatah-patah saat mengucapkan satu kalimat. Tercapainya zona latihan ini memastikan efek positif renang terhadap organ tubuh tercapai. Setelah berenang perlu melakukan fase pemulihan, dapat dilakukan dengan tetap aktif bergerak atau pemulihan aktif. Menurutnya, untuk dapat melakukan olahraga renang dengan baik perlu penguasaan keterampilan berenang terlebih dahulu. Sehingga, memerlukan latihan khusus yang dapat diajarkan oleh orang tua ataupun oleh pelatih renang. Tentu, dengan pelatih anak mendapatkan latihan yang terstruktur hingga menguasai keterampilan renang dengan baik. “Renang dapat diajarkan sejak usia dini, mulai dari melatih keberanian untuk masuk ke air sampai latihan yang terstruktur,” imbuhnya. Selain manfaat fisik, olahraga renang juga dapat memberikan manfaat terhadap perkembangan anak atau aspek psikologis dr. I Putu Adiartha Griadhi S.Ked. M.Fis., AIFO., anak.

Penguasaan keterampilan yang mutlak diperlukan saat berenang dapat dikuasai dengan latihan yang panjang dan bertahap. Biasanya keterlibatan orangtua diperlukan pada tahapan ini memberikan dukungan bagi pencapaian anak. Kesabaran orangtua dalam mendampingi anak saat latihan sangat diperlukan.

“Kepercayaan diri dan keberanian anak dalam latihan hanya dapat dicapai dengan adanya dukungan orangtua. Sehingga, proses latihan memerlukan kontribusi anak dan orangtua, kerjasama mereka yang secara tidak langsung mempererat ikatan psikologis anak dan orangtuanya,” katanya.

Selain itu, seperti halnya olahraga lain, olahraga renang dapat memberikan pencapaian optimal dari kecerdasan (IQ) anak. Latihan fisik akan meningkatkan asupan nutrisi dan oksigen ke otak dan menjamin kebutuhannya dan perkembangnnya dengan baik. (Wirati Astiti)

Mendongeng Lima Menit sura dan baya

Konon zaman dahulu tersebutlah dua ekor hewan yang bersahabat. Namanya Sura, seekor ikan hiu, dan Baya, seekor buaya. Kedua hewan itu tinggal di laut. Mereka amat akrab dan saling setia. Setiap makanan yang ditemukan, dimakan bersama-sama sampai puas. Pada suatu hari tibalah musim panas berkepanjangan. Hewan-hewan di laut sulit benar mencari makanan. Mereka berebutan satu sama lain. Demikian pula si Sura dan si Baya. Ketika lapar, kedua hewan yang bersahabat itu menjadi sangat serakah. Mereka bertengkar, berebutan makanan, lalu berkelahi. Tak ada yang mengalah, semua mengaku makanan itu miliknya. Perkelahian itu berlangsung berhari-hari. Setelah payah barulah kedua hewan itu sadar. Apa guna perkelahian? “Baya!” seru ikan hiu. “Apa gunanya berkelahi terus? Kita akan tetap lapar dan mungkin mati siasia. Tidakkah ada jalan lain?” “Betul sekali! Aku pun berpikir demikian,” jawab Baya terengah-engah. “Apakah kamu menemukan jalan?” “Ya!” jawab Sura. “Menurutku kita tak usah berebut kemenangan, tetapi saling mengalah. Aku tinggal di laut dan kamu tinggal di darat. Semua makanan yang ada di laut menjadi milikku, dan semua

makanan yang ada di darat menjadi milikmu.” Kedua hewan itu sepakat. Mereka bersalaman, lalu berpisah. Baya merangkak menuju daratan, Sura menyelam menuju laut yang dalam. Kedua hewan itu hidup tenang dan berbahagia di wilayah masing-masing. Namun, ketika musim panas yang berkepanjangan tiba kembali, si Baya mulai terusik. Ketika merangkak menuju muara sungai, ia memergoki si Sura mencuri makanan. Tanpa basa-basi, si Baya secepatnya menyergap si Sura. “Kamu melanggar perjanjian!” seru Baya. “Tidak! Aku mencari makanan di air!” jawab Sura. Pertarungan sengit pun tidak terhindarkan. Sura menggigit tubuh Baya, Baya mencakar tubuh Sura. Mereka saling sergap, meliuk-liuk dan bergulingguling. Ketika Sura berhasil mencaplok ekor Baya, lalu Baya seketika balik mencaplok ekor Sura. Air sungai kelihatan keruh karena lumpur bercampur darah. Tak seorang pun yang tahu, hewan mana yang tampil sebagai pemenang. Setiap orang yang melihat air keruh di pertemuan sungai dan laut itu berkata, “Di situ pernah terjadi pertarungan hebat antara ikan hiu yang bernama Sura dan buaya yang bernama Baya.” Lama-kelamaan tempat air keruh itu diberi nama Surabaya, yang kemudian berkembang menjadi kota Surabaya. (Jawa Timur)


Woman on Top

4 Pernah nonton video ‘Move It’? Nonton deh, video keren yang diunggah sejak tahun 2016 itu sudah ditonton 3,4 juta penonton. Berkat video itulah nama Zara Leola, putri sulung Enda, gitaris grup band ‘Ungu’ melejit di industri hiburan Tanah Air. Aksi gadis kelahiran 2006 ini ternyata sempat menjadi perhatian Disney Amerika yang kemudian mengundang Zara untuk ikut audisi presenter cilik untuk program Disney Amerika.

Z

ara yang bernama lengkap Azahra Leola Wicuda berhasil lolos. Namun kesempatan itu tidak lantas diambil karena ada beberapa masalah. “Waktu itu ada beberapa pertimbangan, kebetulan sedang bikin album. Lagi pula, kan Zara sekolah. Sedang kalau menjadi presenter itu, dia harus stay di sana selama 3 bulan. Sekolahnya bagaimana? Kan, kasihan ya,” ungkap Eka Wilestari, ibu Zara menceritakan peristiwa beberapa waktu lalu. Zara sendiri mengaku tidak masalah dengan hilangnya peluang tesebut, karena menurutnya masih ada kesempatan lain apabila dia menghendakinya. “Aku nggak apa-apa sih. Every years pasti ada kesempatan untuk itu,” ucapnya sambil tersenyum. Zara memang fasih berbahasa Inggris sehingga dia kerap mencampur bahasa Inggris dan Indonesia dalam berbicara. Sang ibu, Eka yang dipanggil dengan sebutan ‘Buni’ oleh Zara, juga kerap menggunakan bahasa Inggris dalam berbicara pada anaknya. Selain menari dan menyanyi, Zara juga punya beberapa kesibukan yang produktif lainnya yakni

Edisi 1035/ 10 - 16 juni 2019

Edisi 1035/ 10 - 16 juni 2019

Sekolah Jadi Prioritas

AWALNYA KURANG SUKA MENYANYI Ketika usianya 6 tahun, lanjut Zara, dia pun mulai belajar olah vokal. “Dulu aku nggak terlalu suka menyanyi. Aku lebih suka menari. Tapi sering liat ayah nge-band, mendengar musik di rumah, akhirnya tertarik. Mungkin itu awalnya,” kata Zara yang berperan sebagai Neta, gadis desa, dalam film anak ‘Petualangan Menangkap Petir’.

zara tena teman-temannya tim dance

Nyatanya, menyanyi dan menari menjadi keasyikan tersendiri bagi Zara. Apalagi kemudian namanya semakin dikenal dan dia mendapat undangan tampil di berbagai daerah. Salah satu yang berkesan baginya adalah saat tampil di Banjarmasin. Itulah penampilan perdananya di hadapan publik. “Itu kan aku baru pertama kali performing. Itu salah satu konser yang cukup besar. Waktu itu aku sempat shock karena berkat penampilan aku itu, tiba-tiba aku punya banyak fans. Aku jadi punya fans club namanya ‘Zara Squad’. Itu semua sangat berarti buat aku sebagai penyanyi yang baru memulai kariernya di industri musik,” tutur gadis lincah yang sudah merilis 9 lagu dan 4 video klip musik ini. Meskipun sibuk berkarier, namun aku gadis kelahiran Agustus 2006 ini, dirinya harus memprioritaskan pendidikan. Itu sudah menjadi janjinya pada orangtua. “Jadi sekolah tetap yang utama, prioritas. Makanya kesempatan aku performing hanya pada weekend saja, hari-hari lainnya aku harus belajar dan mengikuti sejumlah les yang terkait pendidikan,” kata penggemar pelajaran IPA yang juga menguasai beberapa alat musik ini. Fr a n c o We l l y j a t M e d j a y a Kusumah atau akrab disapa Enda, ayah Zara, mengaku, ingin Zara menjadi anak yang disiplin. “Saya kasih syarat. Kalau mau berkarier di industri hiburan, nggak apa-apa, tapi harus disiplin. Itu yang saya juga lakukan dalam karier saya. Jadi pertama, adalah soal sekolah, itu prioritas. Jangan sampai karier maju tapi sekolah keteteran, nggak boleh. Kalau mau sekolah dan karier berjalan baik ,ya dia harus disiplin. Semua harus jalan bareng. Termasuk bersosialisasi dengan orang lain (teman-temannya), itu juga harus berjalan baik. Jadi saya ingin Zara menjadi pribadi yang lengkap,” ucap gitaris grup band ‘Ungu’ ini. Lain lagi cerita sang ibu, Eka, yang selalu mendampingi Zara dalam beraktivitas. Memiliki anak yang telah remaja dan kini berkiprah di dunia hiburan, membuatnya ekstra ketat dalam menjaga. Pendampingan dan pengarahan terus dilakukan. “Anak usia seperti Zara kan memang harus didampingi oleh orangtua ya. Dia berada di usia yang rasa ingin tahu-nya tinggi banget. Makanya saya selalu dampingi. Tapi bapaknya malah lebih cemas lagi,”

13

Memaknai Toleransi Di Tengah Perbedaan

Zara Leola menulis buku. Buku pertamanya belum lama ini diluncurkan adalah ‘The Dance Diary’. Buku setebal 114 halaman ini bercerita tentang kiprahnya termasuk kecintaannya pada dunia tari. Saat ini, anak sulung dari tiga bersaudara ini, lebih dikenal sebagai penyanyi. Namun sesungguhnya dia lebih dulu mengenal dunia tari ketimbang menyanyi. Zara mengaku telah menyukai dunia tari sejak usianya 3 tahun. Lewat tayangan youtube dia mulai belajar menari. Melihat bakatnya, Eka, ibunya yang dulunya mantan penari balet, mengikutkan Zara les balet. “Tapi aku nggak suka balet. Membosankan. Selama bertahuntahun Cuma belajar 1-2, 1-2,” ujar Zara yang kemudian berhenti berlatih balet dan memilih les menari lainnya. Di sekolah saat banyak temannya les modern dance, Zara pun tertarik ikut serta. Dan ternyata dia sangat menyukainya. Saking sukanya, Zara sempat punya cita-cita menjadi penari profesional. Dia pun mengikuti berbagai kursus menari.

METROPOLITAN

Berbeda agama dalam satu keluarga bukan hal yang aneh. Banyak keluarga di Indonesia yang masing-masing anggota keluarganya memiliki keyakinan (agama) berbeda. Bahkan bukan hanya dua agama, tapi bisa lebih. Tanpa harus menyebut ini ideal atau tidak, namun faktanya banyak keluarga yang memiliki keyakinan berbeda-beda di antara anggota keluarganya, bisa hidup rukun dan damai. Saling menghargai dan saling mendukung. Itulah makna sesungguhnya dari keluarga, boleh berbeda-beda tapi tetap satu.

D

i kalangan artis, cukup banyak juga yang kondisi keluarganya demikian. Shandy Aulia misalnya. Artis kondang ini merasakan betul bahwa perbedaan kepercayaan di dalam keluarganya membuat dirinya semakin menghargai dan memaknai toleransi. Profil keluarga Shandy boleh dibilang cukup unik. Ayah-ibunya berbeda agama, Islam-Kristen. Agama Shandy sama dengan sang mama, shandy aulia Elsye Dopong, yakni Kristen, sementara dan suami david herbowo ketiga kakaknya beragama Islam. Orangtuanya bercerai ketika Shandy yang juga anak bungsu dari empat bersaudara, berusia 3 tahun. Shandy tinggal dengan ibunya, sementara ketiga kakaknya tinggal bersama sang papa, Kiemas Yusuf Effendi. Sekalipun tinggal berpisah hubungan kekeluargaan tetap terjalin erat sampai kini. Momentum Ramadan dan Lebaran, menjadi suatu yang membahagiakan bagi Shandy karena saat itulah keluarganya saling bertemu, bersilaturahmi. Dia juga bersemangat saat bulan puasa lantaran bisa lebih sering bertemu kakak-kakaknya dan ikut mempersiapkan acara buka puasa bersama keluarga. Di saat Lebaran, itulah para anggota keluarga bisa berkumpul komplit, plus papa-mamanya. Menurutnya, bukan hanya pada momen Ramadan, Lebaran, tapi juga mereka mendukungnya saat dirinya dan sang mama merayakan Natal. “Setiap tahun di bulan puasa saya selalu menyiapkan dengan spesial untuk berbuka puasa dengan keluarga saya yang menjalankan puasa, ingin ada kebersamaan bersama papa dan kakak-kakak saya. Begitupun saat saya dan mama merayakan Natal. Perbedaan bukan suatu hambatan atau masalah bagi saya dan suami,” ungkap pemeran film ‘Apa Artinya Cinta’, ini. Pada puasa dan Lebaran kemarin pun Shandy antusias menyambutnya. Lihat saja penampilannya pada acara buka puasa keluarga, beberapa waktu lalu, yang sempat membuat anggota keluarga lainnya termasuk sang ayah terperangah. Shandy mengenakan gamis hijab nuansa pastel. Pemeran film ‘Eiffel I’m in Love’ ini mengaku hal itu dilakukannya karena ingin memberi kejutan pada sang ayah. Dan berhasil. Ayahnya sampai tak mampu berkata-kata. “Speechless katanya Masya Allah,” kata wanita kelahiran Juni 1987 ini. Menurutnya, perbedaan itu tidak ada tanpa membedakan cara berpakaian, cara beribadah dan iman kepercayaan. “Saya percaya ketika kita ber-Tuhan kita menjadi pribadi yang mudah menerima perbedaan tanpa harus saling menyakiti dan terus memperdebatkan hingga akhirnya tidak ada kebersamaan,” ucapnya. Shandy bersyukur seluruh keluarganya bisa berkumpul. Bukan hanya dirinya dan David Herbowo (suami) serta ketiga kakaknya, tapi juga ayah-ibu dan para ipar serta 12 orang keponakan. Bahkan ibu tirinya, istri dari ayahnya, pun turut hadir. Semuanya akrab, bahkan mamanya dan ibu tirinya pun tampak kompak. Baginya itulah momen yang paling membahagiakannya. “Aku sangat bahagia karena mama bisa hadir. Walaupun orangtua kami sudah berpisah sejak aku usia 3 tahun, namun mereka tetap saling mengasihi dengan cara menjaga hubungan baik hingga saat ini. Aku sungguh bersyukur,” ucapnya.

zara dan keluarganya

ungkap Eka sambil tertawa. Sang ayah justru punya kecemasan yang lebih. Bahkan kadang rasa ‘kepo’-nya menjadi agak keterlaluan. “Misalnya, suatu ketika Zara sedang chatting dengan temannya membahas pelajaran sekolah. Eh ayahnya datang trus bertanya, ‘Lagi chatting sama siapa sih?’. Lalu dijawab Zara, ‘Ihh ayah kepo’,” tutur Eka sembari menyebut dalam hal kekuatiran malah Enda kadang terasa lebih

zara leola

khaatir dibanding dirinya. “Pernah juga suatu ketika Enda bilang ke Zara bahwa kalau dia sudah besar nanti, trus mau malam mingguan, harus didampingi ayahnya atau salah satu teman ayahnya. Hahahah,” tutur Eka sambil tertawa. (Diana Runtu)

shandy aulia

KUNCINYA ADALAH SALING MENGHARGAI Seperti halnya Shandy Aulia yang tumbuh dalam keluarga berbeda agama, begitu juga Novita Angie. Presenter yang juga penyiar radio ini juga berasal dari orangtua yang berbeda agama. Ayahnya, Raden Sumi Harso berasal dari Jawa dan beragama Islam, sedang ibunya, Emillia W Manassa berasal dari Manado dan beragama Katolik.

Meski berbeda keyakinan namun kehidupan rumah tangga orangtua Angie berjalan harmonis dan saling setia sampai maut memisahkan. Pada Desember 2017 lalu, sang ayah yang mantan penyiar radio, meninggal dunia karena kanker. Seperti orangtuanya, Angie pun menikah dengan Sapto Haryo Rajasa yang berbeda keyakinan dengannya pada 2001. “Nuasa berbeda sudah biasa dalam kehidupan keluarga aku. Papamama aku juga berbeda keyakinan namun mereka tetap harmonis dan langeng. Setiap tahun aku juga terbiasa merayakan dua perayaan besar, Idul Fitri dan Natal. Setelah menikah pun begitu. Aku dan Sapto berbeda keyakinan. Namun kami tetap rukun dan saling menghargai. Jadi kuncinya adalah saling menghargai, toleransi, komunikasi,” ungkap Angie yang telah 18 tahun mengarungi bahtera rumah tangga bersama Sapto yang juga wartawan olahraga. Seperti tahun-tahun sebelumnya, di momen bulan puasa juga Lebaran, menjadi kesibukan tersendiri bagi Angie. Dia ikut mempersiapkan makanan berbuka puasa dan sahur bagi suaminya juga menemani sang suami sahur. Untuk momen Lebaran pun Angie ikut sibuk menyiapkan segala sesuatunya. Acara Lebaran tahun ini, kata Angie, sama dengan tahun sebelumnya, yakni, kumpul keluarga, makan bersama, juga ziarah ke makam. Salah satu yang berkesan baginya saat Lebaran adalah ritual sungkeman kepada orangtua. Itu dilakukannya sejak kecil hingga dewasa. Meski dirinya tidak berlebaran, namun ritual itu tetap dia jalankan. Saat Lebaran, dia sungkem kepada ayah tercinta, Raden Sumi Harso. Kenangan itu begitu melekat di benak Angie, sehingga tak urung rasa haru menyesakkan dada setiap kali Lebaran tiba. Seperti yang diungkapkannya lewat akun instagramnya pada Lebaran pertama, dia mengunggah foto dirinya tengah menjalankan rirual sungkem kepada ayahnya. “It’s gonna be another Lebaran Day without you. I miss you so much, Pa”. tulis Angie. Tradisi sungkeman, lanjut Angie, juga dilakukan dalam keluarganya. Di hari pertama Lebaran, dirinya juga melakukan sungkem kepada suaminya. “Sungkem juga jadi tradisi dalam keluarga kami di hari Lebaran. Minta maaf atas semua kesalahan dan hal-hal yang suka bikin kesel,” ujar ibu dari Jeremy Cornelius (14) dan Jemima Jasmine Hardi Rajasa (13) ini. (Diana Runtu)

novita dan keluarga


SUDUT PANDANG

14 Libur adalah momen yang sangat ditunggu-tunggu kebanyakan orang. Karena inilah saatnya melepaskan rutinitas harian dan melakukan apa yang kita suka. Terbatasnya waktu kumpul keluarga lantaran sibuk bekerja ataupun sekolah, bisa ‘dibayar’ pada hari istimewa ini.

P

sikolog Joyce Djaelani Gordon menyebut, secara umum liburan bisa berdampak positif bagi seseorang. Libur bukan hanya menyenangkan tapi juga menyehatkan jiwa. Dalam konteks libur keluarga, tuturnya, ini merupakan momen yang tepat untuk dijadikan saat merasakan perasaan kekeluargaan yang sesungguhnya. “Mungkin bisa sekadar berlibur ke keluarga yang berada di luar kota, misalnya. Ataupun hanya di rumah tapi diciptakan sebuah kegiatan bersama. Jadi intinya adalah berkegiat a n b e rsama,” ujarnya. “Masamasa yang akan diingat anak seringkali adalah saatsaat liburan itu yang menjadi ‘highlight’ masa kecilnya bersama keluarga. Ini dampak psikologisnya besar,” ungkap Joyce. Apalagi, saat berkegiatan bersama itu, keluarga mempunyai kesempatan untuk menyampai nilai-nilai keluarga tentang masa kecil ayah-ibunya serta keluarga besarnya. Menciptakan liburan berkualitas bagi keluarga, kata

Edisi 1035/ 10 - 16 juni 2019

Liburan Tidak Harus “Wah” Joyce yang juga aktif di berbagai LSM bidang kesehatan, tidak harus berbiaya mahal, tetapi lebih merupakan kualitas kebersamaan. “Suatu ketika ada anak yang menceritakan bagaimana ia suatu saat pergi berlibur dengan orangtuanya ke salah satu sesepuh keluarga. Rumah sesepuh keluarga itu kecil. Mereka semua pun akhirnya tidur di lantai. Para sepupu, kakak dan adik, serta ayah-ibunya, tidur di lantai. Tapi anak itu mengaku sangat senang. Ia bercerita tentang bagaimana serunya ia dan sepupunya ‘balapan’ menangkap ikan di tambak untuk dimasak bersama-sama. Ia juga bercerita mengenai bagaimana ia diajarkan cara menangkap capung dengan karet di sawah, dll,” tutur Joyce. Dari cerita si anak tersebut, lanjutnya, bisa dilihat bahwa kegiatan liburan yang dialami si anak, bukan hal

Joyce Djaelani Gordon

yang mewah tapi hal-hal sederhana namun dirasakan luar biasa bagi si anak. Dampaknya sangat positif bagi diri anak itu. “Sebagai akibat dari liburan tersebut, si anak menjadi sangat dekat dengan sepupu-sepupunya setelah liburan. Ia juga belajar dari sesepuh mereka tentang bagaimana bandelnya sang ayah yang suka memanjat pohon bersejarah di depan rumah ketika sang ayah masih kecil dulu. Itulah liburan berkualitas,” ucap penerima penghargaan Ashoka dan Sarinah Awards 2014 ini. Orang kerap mengira bahwa liburan haruslah yang ‘wah’. Liburan yang mewah, belum tentu mendekatkan anak dengan orangtua mereka. Tapi liburan berkualitas akan mampu mendidik, mendekatkan keluarga dan bisa meningkatkan kesempatan untuk saling mengenali satu sama lain dalam konteks yang menyenangkan. Di sisi lain, liburan keluarga juga berdampak positif bagi orangtua. Pada momen itu para

orangtua bisa melihat anak di luar konteks rumah, dan juga bisa mendekatkan diri dengan anak lebih jauh. Khususnya adalah ayah yang sibuk yang selama ini kerap hanya mendengar perkembangan anak-anaknya dari ibunya. “Kalau liburan bersama ini terasa hangat, sudah tentu kedekatan anak dengan orangtua akan semakin baik dan akan lebih mudah bagi orangtua untuk berbicara dengan anak ke depannya,” ujarnya. Diakuinya, ketika anak-anak sudah beranjak remaja dimana lingkungan sosial si anak semakin luas, kebanyakan anak mulai menghabiskan waktunya dengan teman-temannya. Mereka menjadi lebih suka bersama temantemannya ketimbang kumpul keluarga. Hal tersebut, ujar Joyce, adalah wajar. Namun begitu, orangtua tidak bisa membiarkan begitu saja. Dalam artian, perlu memastikan bahwa keluarga dan berkegiatan bersama keluarga perlu diutamakan. CARI KESEIMBANGAN

“Tidak benar juga bagi anak untuk banyak kegiatan dengan teman seusia dan waktu dengan keluarga terbatas, atau juga sebaliknya banyak waktu dengan keluarga dan tidak menghiraukan kegiatan dengan teman-temannya. Jadi intinya adalah harus ada keseimbangan,” ucapnya. Anak lebih suka berkumpul dan berkegiatan dengan keluarga, adalah hal yang baik. Namun si anak juga harus bersosialisasi dengan teman-temannya. Misalnya dengan kegiatan-kegiatan positif, entah itu kegiatan olahraga, les, dll, yang bisa mengembangkan kemampuan berada di situasi sosial. Jadi tidak hanya berkegiatan bersama keluarga. “Jadi memang harus dicari keseimbangan yang tepat. Pertanyaannya adalah, apakah keluarga sudah memberikan bekal yang memadai agar anak bisa mengambil keputusan-keputusan tepat saat berada bersama teman-temannya,” kata pendiri Yayasan Harapan Permata Hati Kita (Yakita) ini. (Diana Runtu)

Edisi 1035/ 10 - 16 juni 2019

Sosialita

3

Seken lan Pesaje

Antarkan Tri Ani ke DPRD Badung

Ajang pemilihan legislatif 17 April 2019 menjadi pengalaman pertama bagi caleg terpilih nomor urut 3, Dapil Mengwi dari PDI Perjuangan, Ni Komang Tri Ani, S.E.,M. Agb. Ia mengawali karier politiknya sejak 2015, yang dipinang langsung Ketua DPC PDI Perjuangan Kabupaten Badung, I Nyoman Giri Prasta,S.Sos.

Ke t u a B KO W Bali tersebut sangat mendukungnya menjadi wanita yang berani melakukan perubahan dan bersaing di ajang pileg 2019, mengingat ‘perempuan bisa jika mau dan mampu’. “Secara langsung penc a p a i a n Tr i Tini Gorda ma Ani lolos sebagai anggota rsa be i An Tri dewan, saya tidak bisa katakan bahwa e r i m a k a s i h itu karena saya . Tapi ada modal yang s a y a u c a p k a n saya coba tanamkan dalam interkepada seluruh aksi sebagai ibunya, dosennya, masyarakat yang adalah bagaimana membangun telah berkenan memilih dan memper- jejaring yang diikat keikhlasan cayakan saya sebagai anggota DPRD dalam berbuat sesuatu yang Kabupaten Badung. Saya berharap riil. Selebihnya,Tri Ani berjuang mampu melayani masyarakat sekala dengan semua potensinya. Saya niskala.‘Ten mresidayang tiang ngae bangga melihat pencaparahayu preragan ‘(tidak bisa saya mem- ian yang luar biasa ini. buat hal yang baik atau bagus sendirian Semoga modal ini tanpa dukungan dari masyarakat dan bisa dipergunakan restu dari semesta),” tegas Tri Ani saat saat berinteraksi dengan semua ditemui Tokoh di rumahnya. Awal pertemuannya dengan Giri anggota dewan Prasta terjadi tahun 2014, saat ia dalam bekerja. wawancara untuk penelitian tesis S2 Keputusan deAgribisnis. Selain itu , karena sejarah wan itu ‘kolektif keluarganya sebagai kader militan PDIP. kolegial’ jadi perlu Kemudian dilengkapi potensi pribadi strategi komuserta pengalaman di berbagai organ- nikasi dan koordiisasi, akhirnya Tri Ani dipilih sebagai nasi yang baik serta strategi politik ramah pengurus DPC PDIP Badung. Pengalaman berorganisasi, kata keluarga muaranya,” ujar perempuan kelahiran, 22 Juni 1990 ini Tini Gorda. “Kuota 30% peremturut menempanya menjadi pribadi lebih matang. “Saya terlahir dari rahim puan di legislatif biasanya seorang ibu yang luar biasa. Karakter hanya sebatas pencalesaya semakin bertumbuh dengan sentu- gan. Sebagai perempuan, han motivasi seorang ibu juga, yakni Dr. saya fight berjuang dan Anak Agung Ayu Ngurah Tini Rusmini tidak mau menjadi pecGorda, S.H.,M.M.,M.H., yang sekaligus adang kuang, Kami punyai menjadi inspirasi saya,” ujar anak ketiga hak politik yang sama. Kedari pasutri I Ketut Sumertana dan Ni setaraan gender tak akan Wayan Widnyawati ini. Ia menegaskan tercapai jika antara perem-

“T

Bersama PKK Langon

puan dan laki-laki belum seimbang dalam pembuatan kebijakan. Seperti ungkapan Bung Karno ‘Laki-laki dan perempuan sebagai dua sayap seekor burung. Jika dua sayap sama kuat, maka terbanglah burung itu sampai ke puncak. Jika patah satu dari dua sayap itu, maka burung itu tak dapat terbang sama sekali, “ papar Sekretaris Koperasi Perempuan Ramah Keluarga ini. Tampilnya Tri Ani dalam pileg 2019 , diakuinya memberinya banyak kesan suka dan duka. Sukanya, saat kampanye, perempuan asal Banjar Celuk, Kapal tersebut mendapat banyak kenalan baru, mengunjungi berbagai desa di Mengwi dengan berbagai karakter, menjalin kerjasama dan merealisasikan berbagai program kerja. Dukanya, adanya perbedaan pandangan dan pilihan politik yang menjadikan beberapa orang kurang dewasa, sehingga terjadi pengelompokan pendukung. “Kawan menjadi lawan dan terkurasnya energi saat menyusun strategi politik,” tuturnya . Bekal ilmu politik ramah keluarga yang diajarkan Gung Tini pun diterapkannya. “Berpoitik secara santun dengan pendekatan kekeluargaan, apa adanya dan program kerja tepat guna menjadi

Dalam acara HUT ST Armada Muncan

acuan utama dalam merealisasikan kebutuhan masyarakat,” ungkap Tri Ani yang menjabat sebagai Wakil Bendahara DPC PDIP Badung ini. Politik Ramah Keluarga ‘Seken lan Pesaje’ menjadi motto Tri Ani sehingga mendapat perhatian masyarakat. Mereka senang dengan wakil rakyat yang ‘seken-seken saje’ tidak berbohong dan apa adanya. Melalui visi misi yang selaras dengan ‘Badung Hebat’, Ketua BEM FE Undiknas di masa kuliahnya ini, membuat program

Dalam acara

Tri Ani

Pembukaan Lo

mba Fun Bike

kerjanya sejalan dengan konsep Pola Pembangunan Nasional Semesta Berencana (PPNSB), yang merupakan pemikiran Bung Karno. Program ini meliputi 1) Melihat kecukupan masyarakat terkait sandang, pangan, papan , seperti program raskin, bedah rumah, perbaikan infrastruktur Pura, dan banjar melalui realisasi hibah; 2) Jaminan kesehatan gratis dengan KBS (Kartu Badung Sehat). 3) Jaminan pendidikan gratis yang ditunjang bea siswa; 4) Jaminan sosial dan ketenagakerjaan melalui wadah Karang Taruna, dengan program pembagian sembako dan susu gratis kepada penyandang cacat, bekerjasama dengan Karang Taruna Mengwi dan Dinas Sosial, untuk kursi roda, member info lapangan pekerjaan hingga pengembangan kelompok usaha yang sinergisitas. 5) Adat, seni dan budaya. Programnya dibantu hibah dana aci atau upakara untuk mekarya padudusan alit atau padudusan agung dan masyarakat tidak

Bersama suka duka Dukuh Kembang

dibebankan biaya lagi. 6) Dalam bidang pariwisata, ada gerakan pokdarwis (kelompok sadar wisata) melalui pelatihan dan aksi membersihkan kawasan wisata. Dan,banyak lagi program kerja lainnya yang akan direalisasikan Tri Ani yang dikenal angat aktif, mulai dari menjadi jurnalis di sekolah dan kampusnya, pengurus OSIS di SMP dan SMA, Ketua UKM Tari Bhandaiswari, Bendahara BLM Undiknas, hingga tercatat sebagai Pengurus Bidang Organisasi di Iwapi Provinsi Bali dan Pengurus Perempuan Sarinah PDI P dan aktif di Karang Taruna hingga Sekretaris Koperasi Perempuan

Ramah Keluarga. Menurut Tri Ani, organisasi wajib memiliki program kerja yang jelas, sama halnya dengan anggota DPRD, sebagai acuan dalam melaksanakan tugas. “Organisasi tanpa program kerja, ibarat kendaraan tanpa bensin, tidak akan berkembang dan bergerak. Jadi mari buat program kerja yang ‘seken lan pesaje.’ Tidak muluk-muluk, yang penting nyata dan dibutuhkan masyarakat,” ujar Srikandi PDIP ini sembari mengutip ungkapan Jhon F. Kennedy, “Jangan tanyakan apa yang negara bisa berikan untukmu, tapi tanyakanlah apa yang kamu bisa berikan kepada negaramu”. Selain itu Tri Ani mengatakan PDIP menjadi kendaraan politik yang mengantarkannya bisa membantu banyak orang. “Begitu juga anggota DPRD, sebagai wakil rakyat juga menjadi perpanjangan lidah untuk mengungkapkan aspirasi masyarakat dan membuat kebijakan yang pro rakyat,” tutup Tri Ani dengan penuh senyuman. - ard

Mengunjungi pengrajin Gerabah


2

Espresso GORO-GORO fetish

Karena tak bisa tid u r, A m a t bikin kopi dan duduk di teras. Ia terteror. Dulu satu bulan ia mendekam di RSU hampir Putu Wijaya mati, tapi istrinya tenang saja. Memang satu bulan ia setia menunggu tak pernah pulang. Tapi tak sekali pun kelihatan sedih. Sekarang, baru kabar ibu kota akan pindah dari Jakarta, ia sudah kontan menangis. Kenapa, sambat Amat dalam hati. Bercucuran air mata untuk sebuah benda mati yang dikhawatirkannya akan sepi tak dikunjungi wisatawan lagi. Gila! Itu kan tanda kelainan jiwa yang disebut fetish. Masak teman hidupku yang tak pernah kurang aku urug dengan kasih sayang mendadak dapat kelainan jiwa? Amat jadi gugup ketika mulai terasa dingin subuh mengelusnya dan bersit merah meruap di langit Timur. Ia melepas sarung dan sandal. Hanya pakai katok pendek, ia mengambil sapu lidi lalu menyapu halaman. Guguran daun sawo belanda yang gagal berbuah tahun ini karena banyak hujan, mengotori halaman. Tapi masih ada yang sempat jadi. Jatuh ke rumput mungkin dikepot kelelawar. Amat memunggutnya seperti dapat karunia

Dalam mewujudkan kesetaraan gender, kiprah perempuan Bali mulai tampak di beberapa kegiatan, seperti misalnya pertumbuhan ekonomi kreatif daerah Bali dibangun dari sub sektor tenun ikat endek sebagai ikon yang ada di beberapa daerah seperti Klungkung, Gianyar, Karangasem, dan Buleleng. Hampir sebagian bsar industri kreatif tenun ikat endek digerakan atau dikelola oleh kaum perempuan. Awalnya rutinitas menenun dinilai sebagai pekerjaan sampingan, namun lambat laun dengan dukungan program pemerintah “percepatan pertumbuhan ekonomi kreatif mandiri” menjadi jawaban kebutuhan dan segmen pasar yang perlu dibaca oleh perajin, contoh riil yang dapat dilihat di lapangan bahwa untuk penggunaan atribut seragam perkantoran dan sekolah salah satunya berbahan kain endek. Faktor ini yang mendongkrak laju pertumbuhan industri kreatif endek semakin potensial untuk digalakkan di wilayah Provinsi Bali.

bacaan wanita dan keluarga

Penerbit PT Tarukan Media Dharma Terbit sejak 9 November 1998

dari langit, lalu meletakkan di samping gelas yang berisi kopi yang telah dingin karena lupa diminum itu. Selesai nyapu, Amat mulai menyiram tanaman pagar. Ia harus melakukannya cepat, sebelum istrinya bangun yang akan selalu ngomel kenapa banyak hujan, kok edhan nyiram. Dia selalu menista itu memboroskan air tanah. Maklum sudut materialistik dalam dirinya, tak paham ini sebuah ritual anak cucu petani seperti aku, kilah Amat dalam hati. Ini riak percintaan kita manusia dengan bumi. Setelah mencuci tangan dan kaki, Amat kembali duduk di kursi teras. Ia mau menyeruput kopi dan menggigit sawo belanda karena kangen. Tapi gelas kopi dan sawo itu sudah tak ada di tempat lagi. Sebelum Amat sempat berpikir ke mana propertinya itu lenyap, Bu Amat muncul. “Memang ada apa di sini semalaman?” tanya Bu Amat sambil meletakkan segelas kopi panas dan pisang gepok rebus. “Habis tidak bisa tidur.” “Kenapa? Mikirin apa?” “Yang kemarin itu.” “Sudah tak usah dipikir. Ikhlaskan saja. Kita tunggu saja biar dia bosan sendri punya hutang. Biasanya juga begitu.” “Bukan itu!” “Habis, apa?” “Ami.”

“Ami? Kenapa dia? Masih belum ngomong sama suaminya soal eceece begitu?” “Itu sudah baikan. Suaminya malah sengaja tidak masuk kantor ngantar si Kadek ikut lomba melukis.” “Lho si Ami ke mana?” “Itu dia! Sibuk seharian bikin rapat di rumahnya!” “Rapat? Rapat apa? Mau jadi caleg?” Amat lalu bercerita. Kemarin waktu ke rumah Ami, percakapannya terputus, karena ada tamu. Karena tamunya tak pulang, pulang, Amat iseng nguping. “Ternyata Ami dan teman-teman kuliahnya dulu sedang merencanakan untuk bikin sekolah TK.” Bu Amat yang mau kembali ke dapur urung. Lalu duduk. “TK? Untuk apa? Karena Kadek mau masuk TK? Untuk apa? Kan sudah banyak TK?” “Bukan. Bukan karena Kadek mau masuk TK” “Lalu untuk apa? Memang kurang kerjaan?” “Ya, ya, mungkin juga untuk Kadek. Tapi kalau dari ucapan mereka dalam rapat, untuk generasi milenial.” Bu Amat heran. “Maksudnya?” “Menurut mereka...” “Mereka atau Ami?” “Ya, Amilah. Ami kan rajanya. Menurut Ami, zaman milenial ini ber-

untuk ibu kota di samping secara pemikiran rasional, itu istilah mereka, bisa dipertanggungjawabkan, tetapi secara emosional, rasa, itu juga istilah mereka, harus diamankan. Jadi, beda dengan zaman kita. Penanganan- tunggu dulu, jadi, dengan pendidikan nya juga beda. Kalau kita mendidik semacam itu, dalam soal pemindahan generasi milenial seperti kita dulu ibu kota bukan hanya kebutuhan 269 dididik, bisa salah kaprah!” juta manusia dibahagiakan, yang 10 “Salah kaprah bagaimana!?” juta,juga harus diurus perasaannya! “Lho jangan Bapak yang digebrak, Tunggu, setetes lagi! Jadi, itu sebabnanti si Ami saja!” nya Bapak setuju pada ibu! Kita nanti “Makanya kalau cerita jangan harus sering menghibur,mengunjungi muter seperti angkot. Salah kaprah Jakarta mantan ibu kota! Begitu! Nah bagaimana?” sekarang boleh dikritik!” “Kata mereka ...”. Bu Amat termenung lalu berbisik. “Mereka atau Ami?” Seakan bersyukur, perasaannya diberi “Kata Ami, cetak biru pendidikan tempat. kita yang pernah diluncurkan Mendik“Yah, memang begitu, Pak. Saya bud yang mengatakan: pendidikan kita bukan tidak setuju ibukota pindah bertujuan mencetak manusia yang karena tujuannya baik. Tetapi empati cerdas dan kompetitif, itu kurang cu- saya pada Jakarta seperti juga pada kup untuk generasi milenial sekarang Singaraja yang ditinggalkan, tidak bisa ini...”. dianggap tak ada, meskipun perlahan“Tapi ... “ lahan saya akan menguranginya.” “Tunggu dulu! Bapak belum selesai. Amat mengacungkan jempol. Kata mereka... “ “Bagus! Tapi tak perlu menangis “Ami!” bombay begitu! Jakarta tidak akan “Tadi Ami! Sekarang mereka! semenggenaskan begitu!” Karena semua sudah sepakat! Kata Bu Amat terkejut. Ami...” “Menangis? Siapa yang menan“Mereka!” gis?” “Nantinya mereka! Awalnya Ami! “Ibu!” Kata mereka yang awalnya Ami, “Kapan?” rumusan itu kurang tuntas! Harus “Semalam!” disambung dengan: untuk mencetak Bu Amat tercengang. manusia Indonesia yang cerdas, kom“Amit-amit jabang bayi! Kenapa petitif, berkarakter dan berbudaya!” saya nangis? Semalaman saya tidak “Lho... “ tidur, ya, nungguin Bapak untuk mijit, “Tunggu! Belum selesai! Karena kok nggak masuk-masuk! Ngelamun itu kasus besar seperti pemindahan apa saja di sini semalam suntuk, ibukota ke kota lain yang lebih tepat ah?!!”

Kiprah Perempuan dalam Mewujudkan Kesetaraan Gender di Kerajinan Tenun

Struktur kepemimpinan, pengelolaan manajemen, pengadaan sapras, sampai dengan marketing dan pengemasan dirancang oleh kaum perempuan yang juga tetap meminta masukan dari pihak lakilaki seperti suami maupun kolega bisnis yang dinilai dapat memberikan masukan berupa dukungan dan wawasan teknik produksi, pemasaran, kerjasama, maupun perizinan. Oleh sebab itu, dirasakan perlu kajian ilmiah yang menelaah kiprah perempuan Bali dalam pertumbuhan sektor ekonomi kreatif mandiri di bidang tenun ikat endek. Melihat gambaran faktual makin pesatnya peran serta perempuan dalam menghidupkan jargon-jargon ekonomi yang berbasis kerakyatan, di saat yang bersamaan perempuan dalam kiprahnya juga merupakan media penyebarluasan informasi menitikberatkan perempuan dengan kreasinya dapat menciptakan lapan-

I Gusti Ayu Purnamawati, S.E.,M.Si.Ak.

gan pekerjaan baru dengan merekrut penduduk sekitar sebagai pekerja di rumah produksi yang dikelolanya. Pertambahan income perusahaan turut mendukung terbukanya lapangan pekerjaan baru, dan pemasukan pendapatan asli daerah Bali. Potret inilah menjadikan cerminan bagi

Edisi 1035/ 10-16 juni 2019

generasi muda sebagai agen perubahan untuk menjunjung tinggi kesetaraan gender, dengan kiprah masing-masing baik laki-laki dan perempuan dapat berkolaborasi memajukan perekonomian daerah khususnya industri kreatif tenun ikat endek. Alih fungsi ilmu pengetahuan dan tehnologi yang dikemas melalui Tri Dharma Perguruan Tinggi yang meliputi Pendidikan/ Pengajaran, Penelitian, maupun Pengabdian kepada Masyarakat adalah merupakan salah satu wadah bagi dunia usaha mengembangkan relasi kemitraan dengan perguruan tinggi salah satunya Universitas Pendidikan Ganesa di bawah koordinasi Lembaga Penelitian dan Pengabdian

Masyarakat (LPPM) Undiksha telah memberikan kontribusi dalam program hibah penelitian maupun pengabdian yang dikemas agar dapat memfasilitasi khalayak sasaran dalam hal ini kaum perempuan yang menekuni kerajinan tenun ikat endek dengan penempaan pemuktakhiran penguasaan teknik desain, produk, pewarnaan, manajemen, marketing, dan akses sistem informasi teknologi elektronik yang dapat memudahkan jangkauan promosi bagi keberadaan usaha dari UMKM kerajinan tenun endek di kawasan Provinsi Bali.

Edisi 1035/ 10-16 juni 2019

15

Liburan Berkualitas Munculkan Semangat Baru Liburan telah tiba. Momen liburan hari raya Lebaran hampir bersamaan dengan liburan sekolah anak-anak. Itu membuat waktu untuk berkumpul dengan keluarga lebih banyak lagi. Menurut Kadek Weisya Kusmiadewi SH., MKn. orangtua harus bisa menentukan agenda liburan yang berkualitas untuk keluarga terutama anak-anak.

“L

iburan sebaiknya diisi dengan kegiatan-kegiatan yang menyenangkan,” ujarnya. Ia juga berpendapat, liburan harus terlepas dari segala beban pekerjaan, deadline serta segala bentuk agenda kantor atau sekolah. “Menurut saya, liburan juga bisa digunakan untuk merelaksasi pikiran kita agar bisa fresh kembali,” imbuhnya. Namun, jika kita tidak jeli menentukan pilihan mengenai tujuan liburan dengan segala kegiatannya, kemungkinan manfaatnya tidak akan dirasakan. “Kita sudah jauh-jauh hari membuat rencana liburan. Tetapi sebelum diputuskan kita terlebih dahulu memberi pilihan ke anak-anak beberapa tempat liburan lengkap dengan rencana kegiatannya. Jika mereka sudah memilih, kita tinggal ikuti,” ungkap caleg terpilih 2019 DPRD Karangasem dari partai Gerindra ini. Ibu dari tiga putra-putri ini

menambahkan, untuk mewujudkan liburan yang berkualitas tidak harus mahal. Tidak juga kita harus liburan jauh-jauh. Sebenarnya dekat-dekat rumah juga banyak. “Di Bali banyak ada destinasi wisata yang cocok untuk anakanak. Misalnya saja di daerah Karangasem, ada Tirta Gangga, ada Taman Ujung, ada juga rumah pohon. Destinasi wisata tersebut selain bisa untuk bermain juga bisa memberi pengetahuan tambahan tentang sejarah,” kata istri Wakil Ketua DPRD Provinsi Bali Nyoman Suyasa ini. Sedangkan di Denpasar, ia memberi contoh ada pasraman di daerah Padanggalak yang mengemas kegiatan spiritual selama beberapa hari. Hal itu sangat baik untuk merefleksi pikiran anak-anak. Ia menilai, tujuan utama liburan adalah untuk mendapatkan kesenangan. Kesenangan yang bagaimana? Tentunya kesenangan yang memberi manfaat bagi semua yakni orangtua dan anak.

Sementara bagi Suindah libur lebaran dimanfaatkan untuk mengunjungi keluarga yang ada di luar kota Denpasar yakni Gilimanuk. Ia sudah menyiapkan kegiatan apa saja yang akan dilakukan agar liburannnya menyenangkan. Hari Sabtu sebelum lebaran ia sudah berangkat pagi-pagi. Rute yang ia tempuh menuju Bedugul sekalian mampir ke tempat wisata yang ada di sana. Selain makan, ia ajak keluarganya juga menikmati panorama Bedugul yang indah termasuk mengunjungi Danau Beratan yang indah. Sore hari ia lanjutkan perjalanan menuju Lovina dan menginap di salah satu hotel di sana. Ia putuskan menghabiskan waktu dua hari di Lovina. Selain menikmati keindahan pantai Lovina dan ikan lumba-lumba sore hari ia dan keluarga menghabiskan waktu di salah satu wahana permainan. Setelah puas di Lovina perjalanan dilanjutkan menuju Gilimanuk ke rumah saudara yang sedang merayakan Lebaran. “Acara liburan juga kami manfaatkan untuk bersilaturahmi dengan keluarga yang muslim,” kata Indah. Bagi Suindah libur lebaran menjadi momen yang berkesan. Selain ia bisa menikmati waktu bersama keluarganya, ia juga bisa

Kadek Weisya Kusmiadewi SH.

menengok keluarganya yang Muslim untuk berhalal-bihalal. Ia menambahkan, libur tahun ini menjadi spesial karena ia bisa mengunjungi keluarganya di Gilimanuk. “Mereka biasanya mudik. Tahun ini mereka tidak mudik. Jadi kamilah yang mengunjungi mereka,” katanya. Menurutnya, liburan harus

dimanfaatkan sebaik mungkin karena dalam keseharian kita selalu sibuk. “Dengan liburan yang berkualitas akan menumbuhkan semangat baru menjalani hari terutama untuk anak-anak. Saya perhatikan ketiga anak saya, terlihat sangat bahagia dalam menjalani liburannya,” imbuhnya. (Wirati Astiti)

Liburan untuk Tingkatkan Kualitas Kerja

I Gusti Ayu Purnamawati, S.E.,M.Si.Ak. Dosen Jurusan Akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas Pendidikan Ganesha.

Kata Hati: Rubrik ini khusus untuk menuangkan ide/pemikiran/gagasan dalam bentuk tulisan. Tema terkait wanita dan keluarga serta tidak mengandung unsur SARA. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter. Lampirkan juga foto close up (bukan pasfoto). Cantumkan nama lengkap, profesi, nomor hp, dan alamat email. Naskah dikirim ke redaksi@cybertokoh.com, redaksitokoh@yahoo.com.

Penanggung Jawab/Pemimpin Redaksi: Gde Palgunadi. Redaktur Pelaksana: Ngurah Budi. Staf Redaksi/Iklan Denpasar: IG.A. Sri Ardhini, Wirati Astiti. Buleleng: Wiwin Meliana. Jakarta: Diana Runtu. NTB: Naniek Dwi Surahmi. Desain Grafis: IDN Alit ­B udi­a rtha, ­I Made Ary ­Supratman. Manajer Sirkulasi dan Iklan: I Ketut Budiarta, Sirkulasi: Kadek Sepi Purnama, Hariyono, Ayu Wika Yuliani. Se­kretariat: Ayu ­Agustini, Putu Agus Mariantara. Ombudsman: Jimmy Silalahi. Alamat Redaksi/Iklan Denpasar: Gedung Pers Bali K. Nadha, Lantai III, Jalan Kebo Iwa 63 A ­Denpasar 80117–Telepon (0361) 425373, 7402414, 416676–Faksimile (0361) 425373. Alamat Redaksi/Iklan/Sirkulasi Jakarta: Jalan ­Pal­merah ­Barat 21 G Jakarta Pusat 10270–Telepon (021) 5357603 - Faksimile (021) 5357605. NTB: Jalan Bangau No.15 Cakranegara, Mataram–­Telepon (0370) 639543– ­Faksimile (0370) 628257. Surat Elektronik: info@cybertokoh.com, redaksi@cybertokoh.com, iklan@cybertokoh.com. Bank: BRI ­Cabang ­Gajah Mada Denpasar. Nomor Rekening: PT Tarukan Media Dharma: 0017-01-001010-30-6. Percetakan: BP Jalan Kebo Iwa 63 A Denpasar.

SUDUT PANDANG

Ratih Ayu Apsari

Liburan menjadi salah satu momen yang paling ditunggu bagi orang yang selalu berkutat dengan rutinitas. Terlebih bagi seorang tenaga pendidik yang setiap hari selalu disibukkan dengan media dan meteri pembelajaran. Situasi kelas dan pengajaran terkadang membuat seorang pengajar perlu refreshing untuk mengembalikan semangat mengajarnya. Ada banyak cara yang dilakukan untuk menikmati waktu liburan. Setiap orang memiliki cara yang berbeda untuk mendapatkan liburan yang berkualitas. Begitu juga halnya bagi Ratih Ayu Apsari, S.Pd., M.Sc., M.Pd., akademisi Undiksha Singaraja. Bagi perempuan yang akrab disapa Ratih ini, memaknai liburan yang berkualitas bukan terletak pada sejauh mana dan ke mana kita pergi, tetapi lebih kepada dengan siapa kita. Dirinya mengaku liburan lebih sering dimanfaatkan sebagai momen berkumpul dengan keluarga dan sahabat. Apalagi selama ini, rutinitas dan pekerjaan yang membuat dirinya

jauh dari keluarga. “Di sini saya kan merantau, sehingga kalau liburan ini menjadi moment yang pas untuk “quality time” bersama keluarga,” ungkapnya. Perempuan yang saat ini mengajar di Jurusan Matematika Fakultas MIPA Undiksha ini menambahkan selain berkumpul dengan keluarga, saat liburan ia luangkan waktu untuk berkumpul bersama teman dan sahabat. Meskipun komunikasi sudah dilakukan via sosial media, akan tetapi baginya bertemu secara langsung juga sangat perlu dilakukan. “Bercerita, berdiskusi memang sudah kami lakukan via medsos akan tetapi saat bertemu secara langsung menjadi moment kroscek dari apa yang telah kami bahas sebelumnya,” paparnya. Selain meluangkan waktu untuk orang lain, Ratih menambahkan saat liburan meluangkan waktu untuk diri sendiri juga diperlukan. Baginya agenda liburan untuk diri sendiri cukup dengan tidak membuat agenda dengan orang lain. Saat momen ini,

dirinya gunakan untuk mengupgrade diri dengan kegiatan-kegiatan positif yang menyehatkan mental. Membaca dan meditasi merupakan cara yang ia lakukan untuk mengembalikan energi-energi yang terkuras habis selama menjalankan rutinitas. “Relaksasi tubuh dan keluar dari rutinitas sangat perlu dilakukan agar saat kembali ke aktivitas semangat kembali,” imbuhnya. Perempuan yang pernah meraih beasiswa S2 dari Stuned Neso dan Dikti ke Utrecht Univercity itu menambahkan saat liburan, dirinya masih menyempatkan diri untuk mengecek dan menyiapkan agenda-agenda kerja yang belum selesai atau yang akan dikerjakan selanjutnya. Searching dan googling ia lakukan untuk mencari inspirasi dalam membuat bahan dan materi ajar untuk memaksimalkan kualitas kerja dan memantapkan rencana kerja. “Kegiatan ini bagi saya juga menjadi refreshing karena bisa meningkatkan kualitas diri,” pungkasnya. (Wiwin Meliana)


MOZAIK

16 Wirausaha merupakan pilihan terbaik saat ini. Bagaimana tips berwirausaha yang baik? Apa saja modal yang diperlukan? Semua dikupas dalam talkshow “Kreatif Berbisnis Keluarga Harmonis” yang diselenggarakan Ode-nant Textile bekerja sama dengan Tabloid Tokoh, Pratiwi Textile, Koperasi BSM, dan didukung BRI Denpasar Gajah Mada.

S

uasana talkshow yang dilaksanakan Sabtu (1/6) sangat meriah. Kehadiran dua narasumber, Kepala Dinas Koperasi dan UKM Provinsi Bali I Gede Indra Dewa Putra, S.E., M.M. dan Dirut PT Odenant Bali Cok Mirah, S.E., M.A.P. membuat ratusan peserta yang mayoritas member Odenant bersemangat. Gede Indra menuturkan dirinya banyak belajar dari member Odenant. “ Saya memberi pujian untuk kaum muda dan perempuan yang mau berwirausaha. Ini memberikan multiplayer effect karena membangkitkan ekonomi keluarga, ekonomi karyawan, ekonomi

Kreatif Berbisnis Keluarga Harmonis masyarakat,” ungkapnya. Untuk menekuni bisnis, tentu harus kreatif dan inovatif. “Dinas Koperasi dan UKM siap memberi dukungan kepada yang mau menumbuhkembangkan wirausaha. Mereka adalah pahlawan ekonomi,” tegas Indra. Saat menyampaikan materi bertema “Peran UMKM dalam Perekonomian Lokal” ia menyebut kata kunci, perempuan, wirausaha, kualitas, dan era digital. Disampaikan juga jumlah UKM di Bali mengalami peningkatan 4%. Tahun 2017 ada 312.967 UKM, tahun 2018 ada 326.009 UKM. “Perempuan Bali punya karakteristik unik. Angkatan kerja perempuan di Bali mendominasi. Pemerintah mendukung mereka untuk lakukan aktivitas bisnis. Potensi wirausaha perempuan Bali antara lain networking, kreativi-

Perempuan Pintar Kelola Uang

Ny. Sri Utari

Ny. Sri Utari dalam sambutannya mengungkapkan pesatnya perkembangan teknologi memberi dampak bagi kehidupan masyarakat. Kaum wanita yang dulu dianggap hanya berurusan dengan ranah domestik atau rumah tangga, sudah mulai beralih. “Kini banyak wanita yang berkiprah di ranah publik dengan menjadi pengusaha, birokrat, hingga pejabat. Eksistensi para entrepreneur wanita juga banyak terlihat di media sosial. Mereka menekuni bisnis dari rumah dengan mengandalkan media sosial. Walaupun sibuk dengan bisnis, namun para wanita tetap bisa mengurus rumah tangga dan

Edisi 1035/ 10 - 16 juni 2019

Ketut Manuarta

keluarga. Ini karena wanita termasuk multitalenta karena mampu melakukan beberapa pekerjaan sekaligus. Karena itu talkshow “Kreatif Berbisnis Keluarga Harmonis” merupakan ajang yang tepat untuk saling berbagi ilmu dan pengalaman,” ujarnya. Ketut Manuarta, Pimpinan BRI Denpasar Gajah Mada menambahkan pihaknya sebagai partner Odenant sangat bangga. “Ibu-ibu pintar kelola uang. Peranan wanita luar biasa, apalagi berbisnis. Hampir 70 persen kemampuan pengusaha ditentukan istri. Kami siap bermitra dengan koperasi, siap bantu modal. Kalau mau pasti bisa,” ungkapnya. (Ngurah Budi)

Pembukaan talkshow

tas, detail, multitasking,” ujarnya. Ia juga menyebutkan ciri-ciri wirausaha sukses antara lain selalu berpikir positif, berani ambil risiko, berorientasi pada hasil, dan selalu menatap masa depan. Indra juga menyampaikan wirausaha pemula bisa mendapat bantuan modal. Jadi, tidak ada alasan kekurangan modal. Modal bisa dari diri sendiri maupun dari orang/pihak lain. Ia pun mengharapkan para wirausahawan berkolaborasilah dan bergabunglah dalam komunitas/entitas. WIRAUSAHA ITU GAMPANG Sementara itu, Cok Mirah menuturkan di era revolusi industri 4.0 kita tidak boleh cuek. “Wirausaha adalah pilihan tepat dan terbaik. Berwirausaha itu gampang. Wirausaha itu mandiri, bisa memutuskan sendiri, berani ambil risiko, buka lapangan kerja, jiwa kepemimpinan, future oriented,” ujar perempuan yang akrab disapa Bu Cok ini. Ia pun mengungkapkan alasa kenapa jadi wirausaha? “Orang jadi wirausaha karena gagal jadi ASN, ingin merdeka, waktu suka-suka, bebas tekanan, i love my job karena kesadaran sendiri, punya mimpi jadi bos, bermanfaat bagi orang, hidup sejahtera,” ujarnya disambut tepuk tangan peserta talkshow.

Jika mau jadi wirausaha, harus punya niat dan kemauan, kerjakan, berani memulai, kerja keras, kejujuran. Untuk memuluskan langkah menuju sukses, Bu Cok memberi

Gede Indra

tips. “Berteman dengan pelaku usaha, pilih pelaku usaha sukses sebagai panutan, pilih bisnis kecil dulu atau mulai dari hobi, jangan berpikir punya pengetahuan dan keahlian yang mumpuni. Jadi wirausaha itu gampang, yang susah mempertahankan dan mengembangkan. Kita harus kerja keras, kerja cerdas, selalu bersema­

Suasana talkshow

ngat,” tegasnya. Wirausahawan harus punya komitmen dan fokus. Punya visi, punya network. Jangan mudah menyerah, selalu punya inovasi. Pemanfaatan medsos juga perlu dilakukan.

Cok Mirah

“Sekarang era Uber, penggunaan waktu dari linear jadi lateral (real time), owning economy ke sharing economy, penggunaan teknologi, kompetisi tidak kasat mata. Banyak inovasi yang gantikan cara-cara lama ke cara baru. Ini membuat hemat biaya tetapi kualitas lebih baik,” ujar Bu Cok. (Ngurah Budi)

redaksi@cybertokoh.com, iklan@cybertokoh.com

cybertokoh

@cybertokoh

@cybertokoh

www.cybertokoh.com


Turn static files into dynamic content formats.

Create a flipbook
epaper-1035 by e-Paper KMB - Issuu