MINGGUAN TERBIT SEJAK 15 AGUSTUS 2016 E-mail: ekbisntb@gmail.com
SENIN, 11 DESEMBER 2017
Ekbis NTB
4 HALAMAN NOMOR 16 TAHUN KE 2 TELEPON: Iklan/Redaksi/ Sirkulasi (0370) 639543 Facsimile: (0370) 628257
Kekuatan Ekonomi dan Dunia Usaha NTB
Cobek Batu Masih Jadi Pilihan SEMAKIN modernnya teknologi membuat pekerjaan masyarakat menjadi lebih praktis, seperti pekerjaan di dapur. Salah satunya dengan adanya blender yang berguna untuk menghaluskan bumbu, yang dulunya dilakukan dengan menggunakan cobek. Tetapi walau begitu, keberadaan cobek terutama yang terbuat dari batu masih banyak dicari oleh masyarakat. Halaman 2
Bank dan Nasabah Diminta Tingkatkan Kewaspadaan OTORITAS Jasa Keuangan (OJK) NTB mengingatkan agar masyarakat atau nasabah untuk meningkatkan kewaspadaan, menyusul adanya indikasi kejahatan perbankan yang mulai menyasar NTB. Halaman 4
(Ekbis/dok)
(Ekbis NTB/ris)
PILIH PRODUK - Seorang konsumen sedang memilih produk di salah satu ritel modern di Kota Mataram. Dalam menjual produk, manajemen ritel modern harus banyak memperhatikan produk lokal.
H.M. Nasihuddin Badri
Akomodir Produk Lokal
satu i salah lokal d am. ar roduk satu p dern di Mat o m l rite
Ritel Modern dan Produk Lokal
yang Kesulitan Tempat
Jumlah ritel modern semacam Indomaret dan Alfamart di NTB kian tak terbendung. Keberadaannya bahkan menembus lokasi yang seharusnya tidak mereka tempati. Keberadaan ritel ini tidak hanya menjual produk dari luar, tapi dari usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) tempat mereka beroperasi. Sayangnya, janji untuk mengakomodir produk lokal seperti menjadi macan kertas. Terbukti hingga saat ini para pelaku UMKM mengaku sangat kesulitan masuk di ritel modern. Kenapa? lit. Inilah menjadi PR besar pemerintah daerah mengawal komitmen kerjasama dengan ritel modern. Pemprov NTB kerap menerima laporan mengenai ketidakberpihakan ritel modern dengan para pelaku UMKM. Misalnya, memberikan tempat yang tidak strategis bagi produk lokal, harga produk lokal di naikkan. Sepertinya “seolah-olah” produk lokal memang tak diberi ruang untuk bersaing mendapat simpati pasar. Dua bulan barang tidak laku, dikembalikan kepada produsennya, dengan biaya pengembalian ditanggung sendiri oleh produsen.
Bersambung ke hal 3
MoU dengan Ritel Modern PEMPROV NTB dan Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia (Kemenkumham) sudah menandatangani kesepakatan bersama untuk mengadvokasi para pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) agar produk yang dihasilkan wirausaha lokal dapat menembus ritel modern. Standarisasi juga dilakukan untuk mengantarkan produk-produk lokal disandingkan sejajar dengan produk-produk pabrikan yang dijajakan di setiap outlet ritel modern. Jika dilihat komposisinya, jumlah pelaku UMKM di NTB sebanyak 600 ribuan. Produk mereka yang mampu menembus ritel modern bisa dihitung jari. Karena itulah, perlu ada komitmen bersama antara pelaku UMKM, pemerintah daerah dan manajemen ritel modern. Baru-baru ini, bersamaan dengan MoU antara pemerintah daerah dengan Kemenkumham untuk mengadvokasi pelaku UMKM, manajemen ritel modern juga diundang dan menyepakati kerjasama.
Bersambung ke hal 3
H. L. Saswadi
Alfamart Klaim Perbanyak Produk UMKM Lokal JARINGAN minimarket Alfamart mengkalim terus menambah jumlah item produk UMKM lokal yang dijual di toko sebagai bukti komitmen terhadap pelaku usaha kecil. Sejumlah produk lokal yang dijual antara lain beras 69, kopi 555, air mineral produk Lombok, telur, minyak oles bokashi, madu hutan Sumbawa, hingga permen susu kerbau. Corporate Communication Alfamart Lombok, Ame Dwi Pramesti kepada Ekbis NTB mengatakan, kerja sama dengan UMKM ini sesuai dengan visi perusahaan yakni berorientasi kepada pemberdayaan pengusaha kecil. Menurut Ame – sapaan akrabnya, akan ada lagi 10 item produk UMKM wilayah NTB yang dijual di toko Alfamart. Jenisnya makanan ringan (snack) tradisional dan sembako. “Kami jualnya per wilayah, misalnya produk dari UMKM Sumbawa dijualnya di toko-toko Alfamart Sumbawa. Kalau produk UMKM Lombok Barat maka dijualnya di toko-toko wilayah Lobar,” jelasnya. Namun, jika setelah dievaluasi penjualannya bagus, maka tidak menutup kemungkinan produk tersebut akan dijual di seluruh jaringan toko Alfamart NTB.
Bersambung ke hal 3
Abdul Aziz Bagis
Ame Dwi Pramesti
(Ekbis NTB/ist)
SEKDA NTB Ir. H. Rosiady H. Sayuti, MSc., PhD, dalam sebuah forum UMKM beberapa waktu lalu mengkritik ketatnya persyaratan dari produk UMKM agar bisa masuk ke ritel modern. Pengelola UMKM harus dihadapkan dengan syarat standarisasi produk yang begitu ketat. Selain itu, produk yang diterima ritel modern, pengusaha UMKM harus menerima pembayaran dalam jangka waktu yang cukup lama. Sekda menceritakan pengalamannya langsung bagaimana sulitnya produk lokal masuk ritel modern. Bahkan kesan yang muncul pada sekda, masuknya produk ke ritel modern sengaja dipersu-
Standarisasi Mutu Produk Harus Diperhatikan STANDARISASI mutu produk industri Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) menjadi bagian paling penting yang dilakukan pemerintah daerah, untuk agar produk lokal tak dipandang sebelah mata oleh manajemen ritel modern. Sisi inilah yang menjadi perhatian khusus yang disentuh oleh Dinas Perindustrian Provinsi NTB. Kepala Dinas Perindustrian NTB, Hj. Baiq Eva Nurcahyaningsih, mengatakan standarisasi produk lokal ini sudah dipermaklumkan kepada pasar modern. Hanya saja sistem pembayaran yang dilakukan bertempo oleh pasar modern kepada pengusaha lokal, menjadi persoalan lain. “Pembayarannya tiga bulan sekali, itu kasihan sekali bagi pelaku UMKM kita,” ungkapnya belum lama ini. Sementara yang menjadi kendala adalah terbatasnya modal para pelaku IUMKM, boleh dibilang rata-rata hanya modal pas-pasan. Jika pembayaran tidak dilakukan kontan, tentunya berat usahanya akan berkembang. Dinas Perindustrian telah berinisiatif untuk konsisten mendampingi para pelaku UMKM lokal yang tergabung dalam forum UMKM. Dinas mendukung standarisasi produk dengan sertifikasi halal salah satunya. Forum ini telah mengembangkan diri, dan difasilitasi membentuk semi ritel modern. Outletnya yang disebut sebagai Windows Shopping (WS) dijadikan pusat penjualan produk-prouk lokal. Jika berkunjung ke WS ini, kita akan menjumpai berbagai jenis produk lokal yang dihasilkan oleh IUMKM. Dari penganan berbahan dasar jagung, mete, pangan olahan dari ketan, gula, susu kuda liar, hasil kelautan perikanan, hingga terasi, dijual di tempat ini. “Sistem pembayarannyapun, dilakukan kontan. Berapapun yang laku, itu yang diberikan pembayarannya langsung,” kata kepala dinas. Selain WS yang ada di Jalan Langko Mataram, atau bersebelahan dengan kantor Dinas Perdagangan Provinsi NTB, embrio WS ini juga terbentuk secara mandiri. Salah satunya, seperti yang dilakukan oleh Hj. Zaenab, pelaku UMKM yang menampung produk-produk lokal, yang standarisasinya disamakan. Dinas Koperasi dan UMKM Provinsi NTB juga telah mendukung pengembangan para pelaku UMKM dengan memfasilitasi terbentuknya koperasi syariah, yang akan membuka outletnya di Islamic Center dan rencananya akan diresmikan pada Ulang Tahun NTB tanggal 17 Desember ini. “Kita menyambut program Dinas Koperasi ini. Para pelaku IKM binaan kita juga akan masuk menjual produknya disana,” demikian Baiq. Eva.(bul)
”Corner” Produk Lokal di Tempat Strategis PRODUK UMKM NTB kini sudah mulai masuk ke ritel modern. Namun produk yang masuk ke pasar ritel itu setelah melalui seleksi yang tidak mudah, karena syarat untuk masuk ke sana sudah ditentukan. Dinas Perdagangan Provinsi NTB meminta agar produk lokal tetap diserap oleh pengusaha ritel dan memberikan ruang yang strategis untuk memajang produk lokal. “Saya minta di ritel modern kalau bisa jangan paling belakang ditaruh produk lokal. Taruh saja di paling depan seperti di Hypermart itu. Agar masyarakat bisa melihat langsung produk yang di-
jual,” kata Kepala Dinas Perdagangan Provinsi NTB Hj. Putu Selly Andayani kepada Ekbis NTB belum lama ini. Ia mengatakan, pihaknya sudah mempertemukan ritel modern dengan pelaku UMKM untuk membicarakan potensi kerjasama antara kedua belah pihak. Jika sudah menemukan kesepakatan yang saling menguntungkan mereka bisa langsung membuat kesepakatan kerjasama. Selly awalnya meminta kepada ritel modern agar mereka membeli putus produk yang dihasilkan oleh UMKM, namun belakangan ritel modern tidak menyetujui pola pembelian tersebut dengan alasan tidak semua konsumen datang ke ritel modern untuk berbelanja
produk lokal yang berupa kue kering, aneka kuliner tahan lama serta beberapa jenis suvenir. “Model kerjasamanya sekarang berapa yang laku itu yang dibayar kepada UMKM. Karena konsumen biasanya pergi berbelanja ke ritel modern untuk berbelanja kebutuhan pokok seperti minyak goreng dan lainnya. Sehingga kesulitan membayar dengan sistem beli putus, karena ritel modern tak mau rugi juga” kata Selly. Saat ritel modern mengakomodir produk lokal di gerainya tidak bisa serta merta menaikkan harga yang terlalu tinggi, karena memang sudah ada ketentuannya.
Bersambung ke hal 3
Hj. Baiq Baiq Eva Eva Nurcahyaningsih Nurcahyaningsih Hj.
(Ekbis NTB/dok)
Salah
KOMISI II Bidang Perdagangan DPRD NTB merasa tersinggung dengan adanya temuan di salah satu ritel modern di Kota Mataram berupa berjejalnya produk dari daerah lain di pojok produk lokal. Hal ini membuktikan bahwa ritel modern di NTB tak semuanya mengakomodir dengan serius produk lokal yang dihasilkan UMKM. Wakil Ketua Komisi II DPRD NTB H.M Nasihuddin Badri, M.Ap., kepada Ekbis NTB mengatakan, di ritel modern yang didatanginya terdapat produk kopi asal Sumatera, dodol asal Bali dan sejumlah produk luar lainnya yang ditempatkan di pojok UMKM. Kebijakan ritel modern ini dinilai tidak tepat, karena pada dasarnya yang ditempatkan di pojok UMKM adalah murni 100 persen produk lokal NTB. “Saya juga sudah lama tersinggung. Itu mereknya masih Bali dan Sumatera. Itu ritel modern yang ada di pulau Lombok,” kata politisi Partai Demokrat ini. Nasihuddin Badri mengatakan, ada banyak sekali produk UMKM asal NTB yang mampu bersaing di tingkat nasional dan layak masuk ritel modern. Niat awal dengan diakomodirnya produk lokal di ritel modern agar pelaku UMKM memiliki nilai tambah serta mereka tak merasa tersaingi dengan kehadiran ritel modern. Bersambung ke hal 3
2
Ekbis NTB Senin, 11 Desember 2017
(Ekbis NTB/uul)
COBEK - Meski banyak produk modern dalam mengolah bumbu masakan, masyarakat masih memilih alat tradisional. Salah satunya, cobek batu. Mengolah bumbu dengan cobek batu rasanya beda dengan produk modern.
Cobek Batu Masih Jadi Pilihan Semakin modernnya teknologi membuat pekerjaan masyarakat menjadi lebih praktis, seperti pekerjaan di dapur. Salah satunya dengan adanya blender yang berguna untuk menghaluskan bumbu, yang dulunya dilakukan dengan menggunakan cobek.Tetapi walau begitu, keberadaan cobek terutama yang terbuat dari batu masih banyak dicari oleh masyarakat. SEPERTI yang diungkapkan oleh M. Hatib Sarbini, salah satu pengepul cobek batu di Mispalah, Praya. Hatib mengaku, permintaan cobek batu tetap tinggi. Banyak yang berebut beli kare-
na sekarang sudah termasuk langka. Hatib yang baru 3 bulan menjadi penjual, melihat permintaan masyarakat yang tinggi, karena rasa bumbu yang dihasilkan
blender dan cobek berbeda. “Banyak yang bilang hasil dan rasanya beda, lebih enak yang pakai cobek batu,” terangnya. Cobek batu biasanya terbuat dari batu kali, batu bukit, atau batu
gunung yang memiliki karakteristik yang berbeda. “Kalau cobek dari batu kali lebih kuat dia, sedangkan kalau pakai batu bukit lebih tipisan,” jelas Atib. Proses pembuatan cobek pun cukup panjang hingga sampai ke tangan konsumen. “Tempat pembuatannya di Pusuk sana, yang hanya tinggal 2 perajin yang masih bertahan,” terangnya. Pembuatan cobek batu dimulai dari pemotongan batu menjadi lempengan-lempengan kecil baru ke-
mudian dibentuk. “Ukir batunya masih dilakukan secara manual, karena keterbatasan modal, makanya belum pakai mesin,” kata Atib. Dalam sehari, perajin cobek bisa membuat sampai 4 cobek/hari. “Tapi tergantung pada kondisi si perajinnya, kalau ada halangan bisa sampai semingguan jadi pesanan yang kita buat, soalnya kita juga rebutan dengan yang lain,” terangnya. Atib mengatakan prospek pasar cobek batu masih terbuka lebar. Selain untuk penggunaan pribadi,
juga banyak untuk kebutuhan rumah makan atau restoran, karena terkesan tradisionalnya. Meski permintaan banyak, ia mengaku sering menolak permintaan pembeli karena stok barang dari perajin kurang. “Kita pesannya juga lama, karena masih dikerjakan secara manual, mungkin kalau pakai mesin baru bisa stok banyak,” tukasnya. Cobek batu juga lebih diminati konsumen karena lebih tahan lama dan perawatannya mudah. Harganya pun bervariasi tergan-
tung ukuran, mulai dari Rp 50 – 85 ribu. “Di pasaran kan banyak yang cobek dari semen, untuk membedakannya dengan cobek batu rendam saja semalaman pasti beda warnanya,” kata Atib. Selain direndam, juga bisa dengan mencoba menggiling beras di cobek, jika warnanya berubah berarti itu cobek semen. “Pasaran cobek batu ini sudah sampai pulau Sumbawa sana, di sekitaran Lombok masih banyak yang berminat,” jelasnya. (uul)
OTOMOTIF OTOMOTIF
Gaya
Tawarkan Produk Sesuai Keinginan Konsumen sepeda motor lama. Dirinya yakin, usahanya ini memiliki prospek bagus di masa mendatang. Terlebih, dengan adanya gedung DPRD Lombok Tengah yang sedang dibangun di dekatnya dan direncanakan beroperasional tahun 2018 mendatang, maka V-Ro Garage bisa berkembang. ‘’Di sini, ada jual beli mobil. Pengecatan kendaraan. Asesoris berbagai jenis kendaraan, baik roda 2 dan roda 4. Velg racing dan lainnya,’’ tuturnya pada Ekbis NTB, Sabtu (9/12). Sebagai anak salah satu pejabat di lingkup Pemkab Lombok Tengah tidak membuatnya harus bergantung pada orang tua. Baginya, apa yang sudah dilakukan orang tuanya, yang juga ikut bergelut di
dunia bisnis harus ditiru. Meski pada saat sekarang ini, dirinya harus bergelut dengan perjuangan dalam membesarkan usaha yang dipercayakan orang tua padanya. Dirinya tidak ingin, usaha yang dipercayakan padanya justru tidak berkembang atau bangkrut. Untuk itu, dalam mengembangkan usahanya di bidang otomotif, dirinya berusaha mengikuti apa yang menjadi tren atau keinginan konsumen dalam berusaha. Terutama terhadap produk-produk otomotif yang mampu membuat konsumen tertarik untuk membeli atau mengikuti. Tak heran, beberapa produk yang ditawarkan lewat facebook atau media sosial, produk yang dijualnya pun laku. ‘’Dalam berpromosi, saya bany-
Kuliner
Merasakan Sensasi Makan di Pinggir Sawah
(Ekbis NTB/uul)
Inges Boutique melayani calon pasangan muda yang ingin melakukan swa foto sebelum menikah.
BERKEMBANGNYA Kota Mataram, khususnya wilayah pinggiran membuat banyak orang tertarik untuk berinvestasi dan berusaha. Apalagi usaha yang akan dikelola ini sangat menjanjikan. Seperti halnya pinggiran Ampenan, lesehan yang ada di sana masih sangat sedikit. Hal ini membuat Wiwik Utami bersama suaminya tertarik membuat usaha lesehan. “Mulanya usaha saya adalah toko bandeng presto, tetapi sejak 8 bulan ini saya fokus ke lesehan ini,” terangnya saat ditemui beberapa waktu lalu. Wiwik, panggilan akrabnya, mengatakan lesehannya ini merupakan perpaduan konsep Jawa dan Sasak yang bisa dilihat dari interior dan eksterior yang digunakannya. “Dinamakan Taman Bangket karena lokasi kita yang dekat dengan sawah dan sebelumnya tempat ini adalah usaha tanaman jadinya kami namakan begitu,” ujar wanita asal Surabaya ini. Kesan asri dan hijau memang menjadi andalan lesehan ini, bisa dilihat dari banyaknya tanaman yang membuat suasana menjadi tenang dan adem. “Lesehan ini dilengkapi dengan berugak, balai, meja dan kursi bagi tamu yang ingin duduk santai menikmati suasana di sini,” kata Wiwik. Ia pun menceritakan banyak tamunya yang datang betah berkunjung, karena suasananya yang tenang. “Ada pelanggan yang betah dari siang sampai sore di sini, karena tempatnya yang santai,” tukasnya.
Inges Boutique, Rumah Manten dengan Pelayanan Prima
Sejumlah pelanggan sedang menikmati makanan di Lesehan Taman Bangket terasa beda dengan lesehan yang ada di pusat kota. (Ekbis NTB/uul)
MELIHAT adanya peluang di bisnis sewa gaun yang dulu masih jarang, membuat Lia Fitriana, ST, tertarik menekuni bisnis penyewaan gaun sekaligus butik. “Kalau butiknya sudah ada sejak dulu, tetapi mulai diseriusi kembali mulai 4 tahun lalu,” terangnya saat ditemui beberapa waktu lalu di Inges Boutique Mataram. Dirinya menekuni bisnis butik karena dirinya suka sekali menggambar desain baju serta menjahit. “Awalnya saya suka pinjamin baju ke fotografer karena punya dress pesta, terus karena dipinjam jadinya saya sewain saja,” kata Lia. Dari awalnya dirinya hanya memiliki beberapa dress, sekarang koleksi gaun yang dimilikinya mencapai ratusan buah dengan berbagai model baju. Mulai dari baju pesta, gaun pesta, serta gaun-gaun untuk fashion show. “Bajunya ada yang saya desain sendiri kemudian jahit sendiri, ada juga yang beli,” tukasnya. Lia mengatakan, kebanyakan gaunnya disewa untuk kebutuhan pre-wedding apalagi dengan semakin trennya Lombok menjadi pilihan calon pengantin untuk melakukan foto pre-wedding. “Kalau untuk pre-wedding, gaun yang banyak diminati masih yang princess style, tetapi sekarang juga banyak yang model mermaid looks,” terangnya. Karena adanya permintaan dari konsumen yang pernah ditanganinya untuk mengurus pernikahan mereka, sejak setahun terakhir, ia bersama rekannya, Veve, membuka usaha event organizer (EO) yang diberi nama Inges Production. “Konsep yang kita tawarkan ke konsumen benar-benar sesuai dengan keinginan mereka, mulai dari undangan sampai saat hari H. Jadi calon pengantin tinggal sibuk saat hari H saja,” terang Lia. Untuk itu, dirinya menggunakan pendekatan secara personal untuk lebih mendapatkan konsep yang benar-benar diinginkan oleh calon konsumen. “Vendor-vendor yang kita gunakan juga benarbenar yang berkualitas, agar acaranya sesuai dengan yang direncanakan,” jelasnya. Ada beberapa paket yang disediakan Inges Production, mulai paket akad nikah senilai Rp 15 juta, paket Inges 1 yaitu acara resepsi di rumah seharga Rp 37,5 juta, Inges 2 seharga Rp 49,9 juta, dan Inges 3 senilai Rp 64,5 juta. Sedangkan untuk resepsi di gedung, tersedia paket Manten 1 senilai Rp 45 juta, Manten 2 senilai Rp 59,9 juta, Manten 3 senilai 79,9 juta, dan Manten 4 senilai Rp 109 juta. “Untuk sewa gaun di Inges Boutique, harganya mulai dari Rp 200 ribuan,” kata Lia. Tidak heran, konsumen Inges Boutique berasal dari seluruh Indonesia, terutama yang ingin melaksanakan pre-wedding di Lombok. “Mereka banyak yang tahu dari sosial media, selain juga dari mulut ke mulut. Banyak juga permintaan dari luar Lombok untuk ditangani acaranya, tapi masih saya tolak,” kata Lia. Ia mengaku ke depannya akan membuka kantor baru untuk Inges Boutiqe dan Inges Production. “Tetapi tokonya tetap di sini, hanya di sana tempat bagi saya untuk lebih fokus mendesain rancangan saja,” jelasnya. (uul)
Ia memang sengaja memilih konsep yang alami agar pelanggan bisa betah berlama-lama makan di tempatnya. “Malahan ada yang sudah booking untuk mengadakan pesta pernikahan di sini,” terangnya. Untuk menu yang ditawarkan, Lesehan Taman Bangket menyediakan berbagai menu mulai dari ikan, ayam, bebek, rawon, dan lainnya. “Yang paling menjadi best seller di sini adalah bandeng prestonya dan menu ayam, karena di sini belum banyak yang menyajikan menu bandeng,” kata Wiwik. Pengunjung bebas memilih untuk menu bandeng presto ini, apakah dipepes, bakar, atau goreng. Rasa bandeng prestonya juga tidak amis, dan tidak memiliki banyak duri yang membuatnya enak disantap bersama sajian urap, tempe, sambal, dan daun kelor. Untuk harganya sendiri tidak terlalu mahal, sebanding dengan apa yang didapatkan oleh pengunjung. “Saya sendiri terjun langsung untuk memasaknya di mana menu-menu ini merupakan resep keluarga secara turun-temurun,” kata Wiwik. Pengunjung lesehan Taman Bangket ini sendiri banyak berasal dari luar daerah. “Mereka tahu dari sosial media ataupun dari mulut ke mulut, makanya banyak yang datang ke sini,” terangnya. Ke depannya, Wiwik berencana untuk menambah menu lainnya, tetapi masih dalam tahap perencanaan. “Kita juga berencana untuk buat tempat untuk nobar, meeting room, dan lainnya,” jelasnya. (uul)
(Ekbis NTB/ist)
TAWARKAN - V-Ro Garage yang menawarkan produk-produk otomotif berkualitas sesuai dengan keinginan konsumen. ak melakukannya lewat media sosial,’’ ujarnya. Menurutnya, jika tidak mengikuti keinginan kon-
sumen, maka apa yang sudah diinvestasikan tidak akan ada gunanya. (ham)
Obati Luka dengan Minyak Hiu MINYAK ikan sejak dahulu dikenal sebagai salah satu ramuan tradisional yang membantu mengobati penyakit. Salah satunya adalah minyak ikan hiu yang dikenal sebagai obat luar untuk membantu penyembuhan luka. Di Lombok, sentra penghasil minyak ikan hiu yang paling dikenal adalah di Tanjung Luar, karena para nelayan sering pulang membawa hasil melaut berupa ikan hiu yang kemudian diolah menjadi minyak. Menurut Daeng Siti Aminah, Pemilik Usaha Sinar Timur, pembuatan minyak hiu ini sudah dilakukan sejak dahulu oleh para nelayan. “Tetapi kalau saya sendiri baru 10 tahun ini terjun ke usaha jual-beli minyak ikan hiu,” terangnya saat ditemui beberapa waktu lalu. Daeng, panggilan akrabnya, mengatakan bahwa bagian yang dijadikan untuk menjadi minyak adalah bagian hati ikan hiu. “Prosesnya dijemur, tetapi selebihnya saya tidak tahu karena saya hanya membeli yang sudah jadi dari nelayannya,” tukasnya. Ikan hiu yang digunakan untuk membuat minyak, kata Daeng, sebagian besar adalah ikan hiu botol. “Ada beberapa hiu lain yang juga digunakan nelayan, tetapi sekarang kan ada jenis hiu yang dilarang untuk ditangkap,” tambahnya. Hal ini tentu saja berpengaruh terhadap jumlah minyak yang bisa dibuat oleh nelayan, sehingga tidak heran harga minyak ini cukup mahal. “Minyak hiu ini juga ditentukan oleh kualitas dan warnanya, mulai dari yang warnanya bening yang merupakan kelas 1 sampai warnanya agak kemerahan yang merupakan kelas 3,” kata Daeng. Minyak ikan hiu ini, tambahnya, banyak digunakan sebagai obat luar untuk mengobati luka bakar atau luka lainnya. “Cukup dioleskan ke luka, maka nanti lukanya akan cepat tertutup,” terangnya. Selain itu, bisa juga digunakan untuk membantu penyembuhan berbagai penyakit dengan diminum. “Harga minyak hiu ini tergantung kelasnya, kalau kelas 1 harganya saya beli di nelayan Rp 300 ribu/kg, Rp 250 ribu/kg untuk yang kelas 2 dan Rp 100 ribu/kg untuk yang kelas 3,” terang Daeng. Meski harganya yang cukup mahal, tidak membuat peminatnya berkurang, malah semakin banyak. “Banyak yang beli untuk dijual lagi, dengan harga yang lebih mahal lagi,” ujarnya. Ia mengatakan jika pembelinya datang dari berbagai wilayah di Indonesia. “Ada yang datang dari Bali untuk membeli minyak ini dan dijual kembali,” klaimnya. Namun, akibat pelarangan penangkapan beberapa jenis hiu, jumlah minyak yang diperolehnya juga ikut menurun. “Tangkapan nelayan juga berkurang jadi minyak yang dihasilkan juga ikutan tuDaeng Siti Aminah bersama run,”terangnya.(uul) produk minyak ikan hiu.
zPemimpin Umum: Agus Talino zPemimpin Redaksi/Penanggung Jawab: Raka Akriyani zRedaktur Pelaksana: Marham zKoordinator Liputan : Akhmad Bulkaini zRedaktur : Marham, Zainudin Syafari, Akhmad Bulkaini zStaf Redaksi zMataram : U'ul Efriyanti Prayoba zLombok Barat: M.Haeruzzubaidi, zLombok Tengah : Munakir. zLombokTimur: Rusliadi, Yoni Ariadi. zKLU : Johari. zSumbawa Barat : Heri Andi. zSumbawa : Arnan Jurami, Indra Jauhari. zDompu : Nasrullah. Bima : Rafiin. zTim Grafis : A.Aziz (koordinator), Didik Maryadi, Jamaludin, Mandri Wijaya zKantor Redaksi : Jalan Bangau No. 15 Cakranegara Telp. (0370) 639543, zFacsimile: (0370) 628257. zTarif Iklan : Iklan Baris : Rp 20.000/baris Min 2 baris max 10 baris (1 baris 30 character). zDisplay B/W (2 kolom/lebih): Rp 30.000/mmk. zDisplay F/C : Rp 35.000/mmk. zIklan Keluarga : Rp 20.000./mmk. zIklan Advertorial : Rp 15.000/mmk. zIklan NTB Emas (1 X 50 mmk): Rp 500.000/bulan (25 X muat). Iklan Peristiwa : Rp 350.000/kavling. zAlamat Bagian Langganan/Pengaduan Langganan: Jalan Bangau No. 15 Cakranegara Telp. (0370) 639543, zFacsimile: (0370) 628257. zHarga Langganan: Rp 85.000 sebulan (Pulau Lombok) Rp 90.000 sebulan (Pulau Sumbawa), Pembayaran di muka. zHarga eceran Rp 5.000. Terbit 1 kali se-minggu. Penerbit: PT Suara NTB Pers. Percetakan: PT Bali Post.
Ekbis NTB
Wartawan Ekbis NTB selalu membawa tanda pengenal, dan tidak diperkenankan menerima/meminta apa pun dari nara sumber.
(Ekbis NTB/uul)
LAMA sekolah di luar NTB tidak lantas melupakan daerah. Berbekal pengalaman belajar dan bekerja di Jakarta, membuat Fero Suryadinata – pemilik V-Ro Garage membuka usaha di kampung halamannya di Lombok Tengah. Meski tamat di salah satu perguruan tinggi kenamaan di Jakarta, yakni Universitas Trisakti, Fero – sapaan akrabnya lebih memilih membuka usaha otomotif di tanah kelahirannya, Kampung Baru Praya Tengah Lombok Tengah. Berbekal pengetahuannya di bidang otomotif, dibantu orang tuanya, Fero membuka usaha jual beli kendaraan, baik roda 2 atau roda 4. Termasuk melayani cuci mobil atau motor serta modifikasi kendaraan, seperti Vespa atau
Ekbis NTB
Ekbis NTB Senin, 11 Desember 2017
3
Maulid Nabi dan Nataru
Pertamina Siapkan Tambahan 252 Ribu Tabung Elpiji Subsidi
Para pemohon paspor sedang membayar biaya paspor melalui MPS
Pos Mataram Tawarkan Jasa Pembayaran dan Pengiriman Paspor PT.Pos Mataram memperluas kerjasama dengan sejumlah mitra dalam hal pelayanan kepada masyarakat, salah satunya menawarkan jasa pengiriman paspor yang sudah tercetak di Kantor Imigrasi Mataram. Jasa pengiriman paspor melaui Pos diklaim akan mengurangi waktu dan biaya transportasi yang harus dikeluarkan oleh pemohon, terutama bagi mereka yang berdomisili di wilayah luar Kota Mataram. Manajer Marketing PT.Pos Mataram Rusli Hanafi kepada Ekbis NTB mengatakan, dalam kerjasama ini, PT Pos diminta untuk membuka layanan berupa Mobile Pos Service (MPS) yang ada di halaman parkir kantor Imigrasi Mataram. “Permohonan pengantaran paspor ke alamat pemohon, kami menerbitkan semacam form surat kuasa dari pemohon kepada kantor Pos untuk melakukan pengambilan paspor yang sudah jadi di kantor Imigrasi. “ katanya. Setelah pihak kantor Pos menerima paspor dari kantor Imigrasi, dalam jangka waktu 1x24 jam, kantor Pos menjamin barang tersebut sudah diterima oleh penerima dengan catatan alamatnya di Pulau Lombok. Karena untuk sementara ini PT Pos Mataram baru menerima pelayanan permohonan paspor di pulau Lombok saja, belum sampai pulau Sumbawa. “Kami prediksi arus transportasi setiap hari di Lombok selama 24 jam kami bisa pastikan, sementara saat cuaca seperti ini untuk luar pulau Lombok kami belum bisa pastikan,” katanya. Bagaimana respon pasar? Menurut Rusli, respon masyarakat cukup bagus. Muali tanggal 14 November lalu atau sejak dibukanya loket MPS di depan Kantor Imigrasi Mataram, rata-rata sebanyak 15 pemohon setiap hari yang meminta jasa pelayanan. “ Mereka sangat berterima kasih terkait dengan layanan yang merupakan hasil kerjasama Pos dengan Imigrasi Mataram ini. Ini akan memangkas biaya yang besar baik waktu, biaya, dan antrean juga” Selain itu, bisa juga dilakukan pembayaran biaya pembuatan paspor berupa penyetoran Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) melalui MPS bagi pemohon yang sudah melakukan tahapan proses pengurusan paspor. “Sehingga pemohon paspor tidak perlu jauh-jauh ke bank dan mengantre hanya sekedar untuk menyelesaikan kewajiban membayar biaya pasport dengan menyetor PNBP. Cukup melangkahkan kaki beberapa menit karena di area parkir Kantor Imigrasi Mataram sudah menanti petugas layanan dari Kantor Pos dan siap melayani di Mobil Pos Service “ ujarnya. (ris)
Akomodir Produk Lokal Dari Hal. 1 “Kalau begini kan, seolaholah dia mengatakan, Anda tidak bisa menyiapkan untuk kami,’ terangnya. Karena itulah dalam waktu dekat ini, Komisi II DPRD NTB akan memanggil sejumlah SKPD terkait seperti Dinas Koperasi UMKM, Dinas Perindustrian, dan Dinas Perdagangan untuk mendiskusikan hal ini. Pemerintah daerah yang memiliki pembinaan terhadap usaha di daerah ini diharapkan tetap mendorong dan mengontrol agar produk lokal. Setidaknya produk lokal bisa terpajang dengan baik di pojok UMKM ritel modern. Selain untuk meningkatkan daya saing produk dalam daerah, itu juga akan memberi pesan bahwa Provinsi NTB juga memiliki produk yang diunggulkan dan dapat bersaing dengan produk manapun. “ Itu yang kita ingin sampaikan. Masalah laku atau tidak laku, itu masalah selera
konsumen,” katanya. Soal standar mutu produk yang layak masuk ritel modern, Nasihuddin Badri meminta agar dilakukan pertemuan antar para pihak mulai dari pelaku UMKM, pengelola ritel modern dan pemerintah daerah untuk menyamakan persepsi. Jika pelaku UMKM tak memahami benar kualitas produk yang bisa masuk ke pasar ritel, tentu pelaku UMKM tak akan mampu melakukan produksi sesuai dengan permintaan konsumen. “ Apakah selama ini, produsen UMKM tahu standar yang dibutuhkan oleh ritel modern? Kalau mereka tidak tahu, ya wajar produk mereka tidak berkualitas,” jelanya. Dia mendorong SKPD terkait di lingkup Pemprov NTB untuk tetap melakukan pembinaan kepada pengusaha dalam daerah, sehingga mereka mampu berdaya saing. (ris)
MoU dengan Ritel Modern Dari Hal. 1 Beberapa manajemen ritel modern, Ruby, Jembatan Baru, J-Mart, Alfamart dan Indomaret hadir. Hanya saja, menurut Kepala Dinas Koperasi dan UMKM Provinsi NTB, Drs. H. L. Saswadi, MM., ritel modern berjaringan nasional, Alfamart dan Indomaret tidak dihadiri langsung oleh penentu kebijakan. Karena itu, komitmennya masih diragukan. “Sebab dia harus melapor lagi kepada pimpinannya. Kalau Ruby, Jembatan Baru, JMart kita lihat sudah komitmen dan sudah banyak produk-produk lokal yang ditampung. Bahkan ada yang terus minta ikan bandeng di Bima untuk dimasukkan,” paparnya. Kepala dinas mengatakan pada dasaranya peritel berjaringan nasional ini sudah sepakat untuk menampung produk lokal di outletnya. Tetapi dalam pelaksanaannya, masih minim dijumpai produk lokal. Inginnya pemerintah daerah, kalaupun ada, produk lokal tidak diposisikan pada titiktitik tersisih. Karena itu, dipandang perlu persoalan ini disampaikan langsung ke legislatif agar ditindaklanjuti dengan melahirkan payung
hukum, dapat berupa Perda, agar produk lokal terakomodir setidaknya 20 persen dari jumlah produk yang dijual di outlet. “Dengan payung hukum, kita bisa melakukan pengawasan,” imbuhnya. Sudah terbentuk Forum UMKM, yang menurut kepala dinas dapat dimanfaatkan untuk membantu pemerintah daerah melakukan pengawasan dan menyampaikan seluruh persoalan UMKM kepada pemerintah daerah. Kepada ritel modern, pemerintah daerah juga meminta agar syarat masuknya produk lokal tidak sedemikian ketatnya, seperti yang selalu dikeluh-keluhkan oleh para pelaku UMKM. Demikian juga soal harga jual, agar produk lokal harganya tak terlalu memberatkan bagi konsumen. “Jangan sampai harganya dinaikkan sedemikian tinggi oleh ritel modern. Itu kan sama saja tidak berniat menjual produk UMKM kita,” demikian L. Saswadi. Pemerintah daerah tak tinggal diam dan akan terus melakukan pendampingan produk UMKM tidak dipandang sebelah mata oleh peritel modern.(bul)
SEBELUM pelaksanaan Maulid Nabi Besar Muhammad SAW, PT. Pertamina (Persero) telah menyiapkan kuota tambahan Bahan Bakar Gas (BBG) sebanyak 252 ribu tabung elpiji subsidi, sekaligus mengantisipasi lonjakan permintaan jelan Natal dan Tahun Baru (Nataru). Pertamina tetap memperkuat stok untuk mengantisipasi permintaan tinggi, mengingat tingginya pola konsumsi masyarakat saat Maulid dan libur panjang jelang akhir tahu. “Kekuatan stok elpiji subsidi saat ini sekitar 2-3 hari rata-rata, “ kata Sales Excutive Pertamina Depo Ampenan, Firdaus Sustanto di Mataram, Sabtu (9/ 12) kemarin. Dalam sehari, Pertamina mendistribusikan rata-rata sebanyak 84 ribu tabung gas elpiji 3 Kg atau sering disebut gas melon. Mendekati akhir tahun ini, sudah mulai terlihat permintaan masyarakat naik sebanyak 12 persen dari permintaan normal. Karena itu, sebanyak 525 ribu tabung gas melon yang disiapkan un-
tuk memenuhi kebutuhan hingga Desmber 2017 ini. “Maulid, libur Natal dan Tahun Baru biasanya yang tinggi permintaannya para PKL (Pedagang Kaki Lima). Kita menyiapkannya lebih kearah dukungan kepada masyarakat pelaku usaha-usaha kecil ini. Ada yang ngambil dua sehari, kalau permintaan masyarakat umumnya relatif masih normal,” kata Firdaus. Ketersediaan stok elpiji subsidi yang dicadangkan oleh Pertamina tahun ini juga relative lebih besar dibandingkan dengan tahun lalu pada periode yang sama, hanya 8 persen dari kebutuhan rata-rata. Berbeda halnya dengan penjualan elpiji komersil, Firdaus mengatakan bahwa perbandingan konsumsi masyarakar dari bulan Oktober ke November 2017 ini, untuk tabung elpiji 50 Kg turun sebesar persen. Dengan kata lain konsumsi sebanyak 155.750 Metrik Ton (Mton) menjadi 153.250 Mton. Konsumsi untuk tabung 12 Kg juga penurunannya cukup
besar, mencapai 19 persen dari Bulan Oktober sebanyak 443.776 Mton menjadi 362.291 Mton. Untuk tabung gas 50 Kg ini, biasa pasarnya adalah hotel dan restoran. Sementara sasaran tabung 12 Kg termasuk rumah-rumah makan dan masyarakat ekonomi menengah keatas. “Mungkin ini pengaruh dari erupsi Gunung Agung. Wisatawan sepi, permintaan bahan bakar juga berpengaruh,” ujarnya. Padahal, pada periode akhir tahun 2016 lalu, pada periode November ke Desember, permintaan gas tabung 50 Kg naik sebesar 7 persen. Dari sebanyak 146.200 Mton pada November, menjadi 156.250 pada Desember. Demikian juga untuk elpiji tabung 12 Kg, bulan November 2016 konsumsinya sebanyak 385.501 Mton, naik sebesar 5 persen menjadi 405.987 pada Desember 2016. “Baguslah, tidak ada yang bergejolak. Permintaan tetap stabil, stok juga tersedia berkecukupan,” demikian Firdaus.(bul)
”Corner” Produk Lokal di Tempat Strategis Dari Hal. 1 Sementara toko oleh-oleh bisa menaikkan harga yang tinggi dari barang yang diambil dari produk lokal. “Karena dulu ada wisatawan yang belanja di ritel modern dan took oleh-oleh yang letaknya berdampingan. Dia menanyakan kok harganya lebih mahal di toko oleh-oleh padahal jenis barang dan mereknya sama persis. Akhirnya dia beli di ritel modern, nah komplainlah toko oleholeh ini. Walaupun barangnya sama, upayakan agar kemasannya berbeda,” katanya. Kadis Perdagangan menjelaskan, pada dasarnya ritel
modern sudah mulai mengakomodir produk lokal meskipun belum maksimal karena memang semua masih berproses. Ia memaklumi masih belum banyaknya produk lokal yang dipajang di ritel modern, karena memang ada pertimbangan bisnis di dalamnya. “Saya tidak membela siapa-siapa, karena ini masih berproses. UMKM kita juga harus pegang komitmen yang dibuat itu,” tambahnya. Jika ada sebagian UMKM merasa kurang cocok dengan sistem pembayaran di ritel modern yang cenderung lebih lama, Selly menyarankan agar UMKM juga menjajal
kerjasama dengan toko suvenir di daerah ini. Di toko suvenir pembayaran biasanya lebih cepat daripada ritel modern, namun harganya nanti dinaikkan dua kali lipat, sementara UMKM dapat harganya lebih kecil.” Di toko oleh-oleh berani bayar sekian secara langsung. Ada plus minusnya memang,” katanya. Dinas Perdagangan Provinsi NTB fungsinya hanya pada aspek pembinaan baik untuk UMKM maupun ritel modern karena yang memiliki kewenangan adalah pemerintah kabupaten/kota. Misalnya izin operasional ritel ada di pemerintah kabupaten kota. (ris)
Alfamart Klaim Perbanyak Produk UMKM Lokal Dari Hal. 1 Ame melanjutkan, ada beberapa persyaratan yang harus dipenuhi apabila ingin menjadi bagian suplier produk yang dijual di jaringan toko Alfamart. Pertama, UMKM tersebut merupakan produsen yakni bukan penyalur. Kedua, tempat produksinya bersih dan sesuai standar dari pemerintah mengenai kebersihan dan kesehatan tempat produksi industri rumah tangga. Ketiga, skala produksi dapat mencukupi kebutuhan toko, sehingga tidak akan terjadi out of stock (kekosongan produk). Ke empat, ragam barang yang ditawarkan sesuai dengan segmentasi pasar. Selanjutnya, pelaku UMKM itu memiliki izin legalitas usaha dan produk, memiliki jaringan distribusi yang baik, memiliki komitmen kuat terhadap kualitas produk, memberikan harga terbaik agar bisa bersaing dengan produk lain, diutamakan menetapkan harga yang lebih murah dari pada item reguler sejenis. Selain itu, produk yang ditawarkan lolos uji laboratorium secara berkala, produk akan selalu dievaluasi dari sisi penjualan, tingkat pemenuhan permintaan dan akan diskontinyu jika tidak sesuai dengan standar yang ditentukan perusahaan. “Kami membuka peluang kerja sama terhadap UMKM lokal, namun bukan berarti tak ada kendala. Kendala yang paling sering dijumpai antara lain, packaging dan produk yang tidak standar, tanpa dilengkapi izin PIRT, tanpa keterangan produk yang jelas, baik itu tanggal kedaluwarsa, gramasi, hingga keterbatasan skala produksi atau suplai tiap harinya,” jelasnya. Dukungan Alfamart terhadap para pelaku UMKM ini, lanjut Ame, juga diwujudkan dalam bentuk kerja sama tenan di halaman toko. Mereka diajak untuk berjualan di halaman toko. Tarifnya sangat terjangkau sebab hanya digunakan untuk membayar biaya listrik dan air. Upaya ini dilakukan untuk mendorong para pelaku UMKM lokal pemula yang ingin berwirausaha. “Khusus untuk pelaku UMKM yang memiliki warung atau toko kelontong yang letaknya di sekitar toko kami, dirangkul untuk menjadi member dan diberikan pelatihan manajemen ritel modern,” tambahnya. Ia mengatakan, keuntungan menjadi member atau pedagang binaan Alfamart ini, mereka bisa memesan barang dengan fasilitas antar gratis oleh tim Member Relations Of-
ficer (MRO). Selain itu, mereka juga mendapatkan potongan harga spesial. Tujuan pemberian harga khusus ini agar pedagang bisa menjual kembali barang itu dengan harga yang kompetitif. Selain itu, bagi member pemilik warung yang beruntung bisa mendapatkan dress up warung cuma-cuma setiap bulan melalui program Outlet Binaan Alfamart (OBA). Per akhir Maret 2017 tercatat 850 orang member atau pedagang binaan di wilayah NTB. “Kami ingin bersinergi dengan para pelaku UMKM, jadi teman-teman UMKM tidak perlu merasa khawatir kehadiran Alfamart akan berdampak negatif terhadap keberadaan warung-warung yang sudah ada lebih dulu. Sebab kami selalu membuka kesempatan untuk bersinergi,” jelasnya. Ane menambahkan, hadirnya minimarket berskala nasional yakni Alfamart di wilayah ini juga menunjukkan adanya peluang pasar yang siap untuk dikembangkan. Sampai dengan akhir November 2017, Alfamart di wilayah NTB telah menyerap tak kurang dari 2.322 orang tenaga kerja di mana 96 persennya adalah warga lokal. Sementara pengamat ekonomi Universitas Mataram, Dr. Aziz Bagis, mengatakan ada beberapa hal yang menjadi kendala masuknya produk UMKM ke ritel modern. “Persyaratan dari ritel modern terutama ritel yang berjaringan nasional termasuk ketat, seperti pola pembayaran yang bisa sampai 2-4 minggu,” terang Aziz Bagis yang juga Ketua Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) NTB ini. Selain itu, ujarnya, dari segi kualitas terutama masalah kemasan dan juga berkaitan dengan risiko. “Biasanya pola yang diterapkan adalah barang titipan, bilamana barang tidak laku sampai batas kedaluwarsa meski barang itu harus dibayar maka akan dikembalikan,” kata Aziz. Dari segi pola pembayaran ini, imbuhnya, jika pengusaha UKM harus tiap hari mengirim barang misalnya nilainya Rp 1 juta, kalau dibayar setiap 2 minggu, berarti pengusaha harus menanam modal sebesar Rp 14 juta. “Ini kan memberatkan sekali, oleh karena itu kita minta pemerintah harus menguatkan hal itu dengan berbagai cara,” terangnya. Pemerintah melalui Dinas Perdagangan dapat mengimbau ritel berjaringan nasional untuk mempermudah produk UKM lokal masuk sana. “Kalau ritel lokal di sini tidak ada masalah, karena siapapun bisa masuk,” kata Aziz. Ia mencontohkan, di ritel
lokal produk UKM dibayar setelah 1 minggu barangnya masuk, berapapun yang terjual. Memang di ritel modern berjaringan nasional persyaratannya agak berat, sehingga membutuhkan pihak ketiga yaitu pemerintah untuk melakukan pendekatan. “Karena pemerintah daerah selama ini berperan sebagai pemberdaya UKM, salah satunya adalah dengan mengatasi permasalahan ini melalui pemberdayaan secara operasional,” kata Aziz. Pemberdayaan bukan hanya dilakukan dengan melakukan pelatihan atau pembinaan, tetapi membantu mengatasi permasalahan pelaku UKM di lapangan. Apalagi produk-produk UKM di NTB bisa dibilang mampu bersaing di pasaran karena banyak produk yang berkualitas. “Karena kita bisa melihat Ukm membuat produk dan kemasan yang bagus, kalau ini bisa diberdayakan dan masalah dengan ritel modern bisa diatasi, maka akan muncul banyak pelaku UKM baru,” kata Aziz. Oleh karena itu, jangan melihat jumlahnya dulu tetapi lihat produk yang sudah ada dan dimaksimalkan maka akan timbul kreasi baru. “Memang kendala terbesar UKM kita adalah pemasaran, makanya sekarang sarananya adalah ritel modern berjaringan nasional ini,” jelasnya. Tetap ritel modern ini menerapkan syarat, tetapi diringankan, mungkin pelaku UKM diberi kekhususan. Untuk itu, ujarnya, pelaku UMKM harus meningkatkan kualitas produknya. Termasuk harus memilih lokasi ritel yang cocok untuk pemasaran produknya, misalnya di tempat wisata. Sebagai ketua Aprindo juga, ia menginginkan adanya diskusi bersama antara Aprindo dan pemerintah daerah. “Selama ini kami dari Aprindo juga menunggu kapan kesempatan yang baik dari pemda untuk sama-sama memfasilitasi dan memberikan solusi terhadap masalah ini,” jelasnya. Apalagi peran pemda sangat penting untuk masalah perizinan terutama saat pembangunan. Selain itu, ujarnya, saat mengeluarkan izin, pemda mengeluarkan persyaratan. Di mana, izin bisa diberikan bila ada rekomendasi dari Aprindo. ‘’Tapi sampai sekarang belum ada,” kata Aziz. Kalau ada permintaan ini, Aprindo tidak bisa juga bekerja, sehingga membutuhkan pemerintah sebagai mediator. “Mestinya pemda menggandeng Aprindo mencari solusi untuk samasama mencari jalan keluar untuk permasalahan UKM ini,” terangnya. (ris/uul)
Elpiji 3 Kg yang sudah kosong karena tingginya permintaan
Bayar Utang Luar Negeri, Cadangan Devisa Akhir November Turun POSISI cadangan devisa Indonesia akhir November 2017 tercatat sebesar 125,97 miliar dollar AS, lebih rendah dibandingkan posisi akhir Oktober 2017 sebesar 126,55 miliar dollar AS. Posisi cadangan devisa pada akhir November 2017 tersebut cukup untuk membiayai 8,4 bulan impor atau 8,1 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah, serta berada di atas standar kecukupan internasional sekitar 3 bulan impor. Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi Bank Indonesia (BI) Agusman akhir pekan kemarin mengatakan, Bank Indonesia menilai cadangan devisa tersebut mampu mendukung ketahanan sektor eksternal dan menjaga kesinambungan pertumbuhan ekonomi Indonesia ke depan. Penurunan cadangan devisa pada November 2017 terutama dipengaruhi oleh penggunaan devisa untuk pembayaran utang luar negeri pemerintah dan stabilisasi nilai tukar rupiah sesuai dengan fundamentalnya. Selain itu, penurunan cadangan devisa juga dipengaruhi menurunnya penempatan valas perbankan di Bank Indonesia sejalan dengan kebutuhan pembayaran kewajiban valas penduduk. Agusman mengatakan, Bank Indonesia akan terus menjaga kecukupan cadangan devisa guna mendukung terjaganya stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan. “Hal tersebut didukung oleh kondisi perekonomian domestik yang tetap positif, kinerja ekspor yang membaik, dan perkembangan pasar keuangan global yang kondusif,” katanya.(ris)
Ritel Modern dan Produk Lokal yang Kesulitan Tempat Dari Hal. 1 Apa yang disampaikan Sekda NTB ini sejalan dengan pengakuan sejumlah pengusaha UMKM di NTB. Hj. Zaenab, misalnya. Pemilik produk sambel cengeh yang dijual di salah satu ritel berjaringan nasional mengakui bagaimana sulitnya memasukkan produknya di ritel modern. Sejumlah persyaratan harus dipenuhi, termasuk lamanya waktunya pembayaran produk. Menurutnya, jika pengelola UMKM ingin memasukkan produknya harus memperhatikan beberapa hal. “Yang paling diperhatikan adalah standarisasi produknya, seperti kemarin saat mereka meminta untuk segel, langsung saya penuhi,” terangnya. Selain itu, produk UKM yang masuk ke ritel modern harus dibekali dengan modal yang besar karena menurut pengalamannya, selama 3 bulan pertama pengusaha tidak dibayar oleh ritel. “Bisa dibilang, itu kita seperti menabung di sana karena mereka pesannya sampai ribuan botol, jadi benar-benar harus kuat di modal,” kata Zaenab, Sabtu (9/12). Tetapi, setelah 3 bulan dilewati, barulah dirinya mendapatkan hasil dari produk yang dititipkan di ritel tersebut. “Sekarang tiap bulan mereka pesannya sampai 1-2 dus sambal dan pembayarannya lancar, masih ada uang saya di sana yang dari 3 bulan sebelumnya itu sebesar Rp 28 juta,” terangnya. Produk Zaenab yang sudah hampir setengah tahun di ritel modern itu diterima dengan baik oleh konsumen. “Saya sendiri yang langsung datang ke kantornya dengan membawa sampel produk saya, baru kemudian mereka mengecek langsung ke tempat saya dan deal,” jelasnya. Para pelaku UKM yang ingin produknya masuk ritel meodern, imbuhnya, benarbenar harus memperhatikan kemasan dan masa kedaluwarsa. “Kalau produk olahan seperti makanan itu karena kalau masa kwdaluarsanya kurang dari 8 bulan agak sulit, karena kalau di-return, kita juga yang rugi,” jelasnya. Untuk menghindari itu, ia biasanya menarik produknya 12 bulan sebelum masa kedaluwarsa dan dijual kembali. “Masa kedaluwarsa produk saya 10 bulan, jadi 2 bulan sebelumnya saya jual kembali biar cepat habis,” kata Zaenab. Hal senada disampaikan
Ahmad Ritaudin, pemilik produk kopi Awet Muda, Narmada. Ia mengaku produknya sempat masuk ke ritel modern seperti Transmart, tetapi sekarang dirinya mengaku tidak fokus ke sana lagi. “Produk saya bisa masuk ke sana kemarin lewat koperasi, tetapi sekarang saya lebih fokus untuk mencari pasar sendiri, baik melalui sosial media atau promosi,” terangnya. Hal ini dilakukannya, karena menurutnya, jika produknya sudah masuk ritel modern sudah tidak terkesan sebagai produk oleh-oleh, tetapi sudah komersial. “Saya mengejar untuk oleh-olehnya itu, karena ingin menonjolkan kekhasan produknya,” kata Itok – sapaan akrabnya. Makanya, ia memutuskan hanya sekali saja memasukkan produk miliknya ke ritel modern. Selain itu, pihaknya mengaku jika pembayaran produk yang dimasukkan ke ritel modern belum dibayar, tapi dirinya sudah saya mengikhlaskan. Ia menambahkan, pelaku UKM lainnya yang memasukkan ke ritel modern itu juga banyak yang belum dibayar. “Ribet proses administrasinya, jadi biarkan saja sudah,” tukasnya. Berbeda dengan Itok, Hj. Nurwadaini, pemilik produk Rinjani Kopi, mengaku produknya yang dipasarkan ke salah satu ritel modern, pasarannya cukup bagus. “Saya juga memasukkan produk saya ke sana lewat koperasi, saat pertama mungkin ada puluhan bungkus yang saya taruh, pembayarannya juga lancar tetapi melalui koperasi juga,” terangnya. Dirinya tidak terlalu mengetahui kriteria yang diterapkan oleh ritel saat meminta produknya, karena semuanya melalui koperasi. “Tetapi mereka minta sampel terlebih dahulu, kalau sudah cocok baru deal,” jelasnya. Saat ini, produknya sudah dipesan kembali oleh ritel tersebut, karena sudah cukup banyak produknya yang laku. “Ada juga pesanan dari ritel modern lainnya, tetapi produknya beda, mereka mintanya nasi jinggo,” kata Daini. Untuk produk makanan siap santap seperti itu, ada beberapa hal yang perlu diperhatikannya. “Buatnya tergantung dari berapa permintaan mereka dan kemasannya juga pakai daun pisang agar lebih cantik,” jelasnya. Selain itu, produk nantinya akan diambil langsung oleh pihak ritel di tempat produksinya langsung untuk dibawa ke toko. (bul/uul)
Ekbis NTB
Ekbis NTB Senin, 11 Desember 2017
4
Inspiratif Expo
Semaraknya Lomba Cipta Menu Lokal NTB di Inspiratif Expo KEGIATAN Inspiratif Expo, Minggu (10/12) semakin semarak dengan adanya Lomba Cipta Menu dengan Kreasi dan Inovasi Tim Penggerak PKK 10 kabupaten/kota di NTB. Mengusung tema menggerakkan generasi muda dalam membangun pertanian menuju Indonesia lumbung pangan dunia, Dinas Ketahanan Pangan (DKP) NTB menyelenggarakan lomba cipta menu dan menghadirkan penganan lokal dalam memperingati Hari Pangan Sedunia yang ke 37. Penganan lokal dalam lomba cipta menu ini dikreasikan dengan apik dan tentunya panitia pelaksana mematok standar pangan dengan komposisi Beragam, Bergizi, Seimbang dan Aman (B2SA).
Penganan yang disajikan ini memiliki komposisi seimbang dan dapat dikonsumsi oleh berbagai kalangan. “Standar penilaian panganan lokal yang disajikan haruslah sesuai dengan B2SA dan dapat dikonsumsi oleh anak-anak, dewasa dan lansia,” ungkap Kepala DKP NTB Ir. Hj. Budi Septiani Menurutnya, mempertahankan eksistensi penganan lokal dalam dunia kuliner dengan standar B2SA merupakan kiat dari DKP NTB membawa penganan lokal semakin dikenal publik. Menggerakkan generasi muda dalam memviralkan pertanian dan panganan lokal penting dilakukan. Oleh karenanya pada Hari Pangan Sedunia, generasi muda dilibatkan sebagai penggerak pertanian dan pangan Indonesia
dan NTB khususnya. “Penting halnya generasi muda kita dapat berperan aktif dalam kaitannya dengan pangan ini, dengan slogan B2SA. generasi muda dapat mengkonsumi makanan yang beragam, yang tentunya memiliki gizi yang seimbang dan aman dari kandungan zat kimia berbahaya,” imbuhnya. Setiap peserta lomba cipta menu menyediakan berbagai pangan yang dapat dikonsumsi berbagai kalangan dalam hidangan untuk sarapan, makan siang dan makan malam. Dari 10 tim penggerak PKK dalam lomba cipta menu, Kabupaten Sumbawa berhasil meraih juara pertama dengan panganan khas Sumbawa yang berdasarkan pada standar B2SA. Disusul oleh Kabu-
paten Bima sebagai runner up dan Kabupaten Lombok Barat di urutan ketiga. Pada event ini setiap kabupaten/kota memperkenalkan makanan khas masing-masing daerah. Kehadiran panganan lokal di Inspiratif Expo selain dalam lomba cipta menu , panganan lokal juga turut dikenalkan kepada publik melalui stand yang disediakan Dinas Komunikasi Informatika dan Statistik NTB dalam even inspiratif Expo. Stand inspiratif Expo menyediakan meja kuliner. pekan ke 16 Inspiratif Expo kali ini penganan lokal merajalela. Dari setiap penjuru daerah NTB menawarkan makanan lokal yang dikemas dengan kemasan yang menarik. Jenis makanan pun beragam dari camilan, lauk dan berbagai minuman. (*)
Wagub NTB H. Muh. Amin bersama pimpinan OPD lingkup Pemprov NTB meninjau salah satu stan Lomba Cipta Menu dengan Kreasi dan Inovasi Tim Penggerak PKK 10 kabupaten/kota di NTB.
Kepala DKP NTB Hj. Budi Septiani memberikan sambutan serangkaian Hari Pangan Sedunia.
Stop HIV/AIDS, Pergaulan Bebas dan Narkoba Harus Dijauhi MASYARAKAT dan keluarga sebagai pranata sosial terkecil memiliki peran strategis dalam penanggulangan HIV/AIDS. Keluarga dan berbagai organisasi kemasyarakatan harus bersinergi dan berkolaborasi dalam membebaskan diri dan menihilkan bahaya HIV/AIDS dan narkoba dari kehidupan. Demikian pesan Wakil Gubernur NTB, H. Muh. Amin, S.H., MSi., saat menghadiri Peringatan Hari AIDS Sedunia Tingkat Provinsi NTB di acara Inspiratif Expo Dinas Komunikasi Informatika dan Statistik (Diskomin-
fotik) NTB, Jalan Udayana Mataram, Minggu (10/12/2017). Wagub menyebut HIV AIDS sebagai penyakit yang sampai hari ini sulit dicarikan obatnya. Salah satu cara yang dapat dilakukan agar tidak tertular penyakit ini adalah dengan menghindari perilaku yang dapat memicu tertular ataupun tersebarnya penyakit ini, yakni dengan menghindari pergaulan bebas dan penggunaan narkoba. Ia berharap momentum Hari AIDS Sedunia, dapat dijadikan ajang menumbuhkan sikap kritis untuk anti pergaulan bebas dan keteguhan komitmen untuk pemberantasan HIV-AIDS
dan penyalahgunaan narkoba. “Kita harus terus melakukan upaya pencegahan bersama dan konsisten dalam melakukan upaya-upaya penanggulangannya,” ujar wagub. Peringatan Hari Anti AIDS Sedunia ditandai dengan penandatanganan komitmen bersama Hari AIDS Sedunia dan pelepasan burung merpati. Wagub didampingi kepala OPD lingkup Provinsi NTB yang hadir kemudian melepaskan beberapa ekor burung merpati. Sebelumnya, Ketua Panitia Acara dari Komisi Penanggulangan AIDS NTB, Marjito, melaporkan, obat bagi penderita
HIV telah ditemukan. Anti retrovirus, ungkapnya, dapat menjaga penderita HIV AIDS agar dapat tetap sehat, produktif, mencegah penularan baru dan juga dapat memperpanjang umur harapan hidup penderitanya. Untuk kasus HIV AIDS di NTB sendiri, hingga bulan oktober 2017, secara akumulatif berjumlah 1.448 kasus, terdiri dari 632 kasus HIV dan 816 kasus AIDS. Jika dibandingkan dengan estimasi nasional sebanyak 3.900 kasus, artinya capaian NTB baru 46%. Diharapkannya ke depan NTB mampu mencukupi 54 %
lagi, guna mendukung target Indonesia bebas HIV AIDS tahun 2030. Hari AIDS Sedunia (HAS) mengangkat tema “Saya Berani Saya Sehat” tahun ini peringatannya dikolaborasikan dengan Hari Kesehatan Nasional, Hari Bakti Pekerjaan Umum dan HUT NTB Ke – 59. Acara berlangsung meriah, dihadiri pejabat dan staf OPD lingkup Provinsi NTB dan masyarakat Kota Mataram. DI HAS berbagai kegiatan yang dilakukan untuk memperingati HAS dan dirangkai dengan HUT NTB ke 59 antara lain misalnya, Advokasi kepada Pemda Kabupaten /Kota se
Wagub NTB H. Muh. Amin bersama kepala OPD lingkup Pemprov NTB melepas merpati pada acara peringatan Hari Aids Sedunia dirangkai dengan Hari Pangan Sedunia di Inspiratif Expo, Minggu (10/12).
Penampilan tim gendang beleq SMAN 6 Mataram.
Bank dan Nasabah Diminta Tingkatkan Kewaspadaan OTORITAS Jasa Keuangan (OJK) NTB mengingatkan agar masyarakat atau nasabah untuk meningkatkan kewaspadaan, menyusul adanya indikasi kejahatan perbankan yang mulai menyasar NTB. Para pelaku kejahatan bank insudah mulai bergerak keluar Pulau Jawa, setelah industri keuangan dan masyarakat di kota-kota besar sudah memperkuat proteksinya. “Bank perkuat keamanan perangkatnya, nasabah juga lebih teliti, karena modus ini (kejahatan bank) sudah masuk ke NTB,” kata Kepala OJK Provinsi NTB, Farid Faletehan saat mengklarifikasi kasus perselisihan antara nasabah dengan Bank NTB di Mataram, Jumat (8/12) lalu. OJK Provinsi NTB selama setahun ini sudah menerima laporan kasus skiming perangkat ATM milik BRI, meskipun kasusnya sudah selesai. Bank telah melakukan penggantian kerugian nasabah yang jumlahnya miliaran. Untuk kejahatan kasus ATM lainnya, OJK NTB telah mener-
ima sebanyak tujuh laporan. Sebanyak enam laporan diantaranya dari kasus kerugian Bank Negara Indonesia (BNI) yang jumlahnya mencapai ratusan juta. Satu laporan lainnya dari kasus kerugian nasabah Bank NTB yang nilai kerugiannya mencapai Rp 75 juta. Modus kejahatan ATM ini, salah satunya yaitu mesin ATM yang dipasangi nomor call center palsu. Saat nasabah bertransaksi di ATM dan terjadi krodit, disanalah akan muncul pihak-pihak yang menawarkan jasa pembantuan, atau nasabah biasanya menghubungi nomor palsu yang telah dipasang oleh oknumnya. Seperti yang terjadi saat ini, kasus seorang nasabah Bank NTB yang bersikukuh meminta kepada OJK dan Bank NTB melakukan investigasi menyeluruh untuk mengungkap kemana aliran dananya mengalir, dan siapa pelakunya. Bank NTB saat ini memastikan sudah mengantongi identitas pelakunya dan bersedia bersama nasabah untuk men-
(Ekbis NTB/bul)
Farid Faletehan gungkapnya, meskipun harus melibatkan pihak aparat. Hadir langsung beberapa direktur di Bank NTB memberikan klarifikasi. Persoalan inipun belum ada titik temu. Hal-hal inilah yang menurut Farid Faletehan perlu diantisipasi. Berkaca dari kasus-kasus kejahatan perbankan ini, ia mengingatkan perbankan untuk meningkatkan kewaspadaan dan pengamanan mes-
in-mesin pendukungnya. Meskipun Farid juga menyadari bahwa oknum pelaku kejatahan juga sering lebih pintar daripada perbankan. “Kita mengimbau, sekaligus meminta kepada perbankan untuk mempeketat pengawasannya,” demikian Farid. Kepada nasabah, diharapkan untuk lebih teliti dan waspada, saat melakukan transaksi secara mandiri di mesin ATM. Tidak diperbolehkan nasabah memberikan data atau identitas rahasia kepada siapapun, untuk mengantisipasi berbagai kemungkinan. “Atau ketika kartu ATMnya bermasalah di mesin ATM, jangan panik. Biarin saja, laporkan langsung kepada kantor bank terdekat untuk melakukan penggantian kartu,” sarannya. Selain itu, yang tak kalah penting menjadi “pekerjaan rumah” bersama yaitu melakukan sosialisasi secara massif kepada masyarakat, untuk meningkatkan inklusi keuangan dan literasi keuangan yang masih rendah secara nasional.(bul)
sepeda dan hadiah menarik lainnya. Acara ini juga dimeriahkan penampilan perkusi dan gendang Beleq serta Tari dari siswa-siswi SMA 6 Kota Mataram menambah semarak Udayana di pagi hari. Wakil Gubernur NTB, Kadis Kominfotik, Kadis Ketahanan Pangan dan Ketua Panitia HAS melakukan pembubuhan tanda tangan di atas baliho dan secara simbolis melepas burung merpati sebagai tanda pencanangan Hari Aids Sedunia sebagai rangkaian dari peringatan HUT NTB ke 59. (*)
Wagub NTB H. Muh. Amin memberikan sambutan.
Penampilan tim perkusi SMAN 6 Mataram di Inspiratif Expo, Minggu (10/12).
Penampilan badut di Inspiratif Expo
Kejahatan Perbankan
NTB, Sosialisasi dilanjutkan dengan TES HIV dan IVA bagi ibu-ibu anggota Bhayangkara Polda NTB. Kemudian Sosialisasi dilanjutkan dengan TES HIV Mahasiswa dan siswa SMA/SMK maupun Madsarah Aliyah di Pondok Pesantren Nurul Hakim Kediri. Talk show penyalagunaan obat, Narkoba, dan HIV-AIDS bagi siswa di Graha Bakti Praja Kantor Gubernur NTB. Kegiatan bersama populasi kunci dan komunitas dalam malam renungan AIDS di BKKBN pada 3 Desember 2017. Di sela acara Inspiratif expo panitia membagikan doorprize dan berbagai hadiah seperti
Bank NTB Siap Kucurkan KUR Syariah PT.BANK NTB sedang dalam proses konversi menuju Bank NTB Syariah. Tahun 2018 mendatang direncanakan Bank Pembangunan Daerah (BPD) ini sudah memiliki status perbankan syariah setelah melalui serangkaian proses konversi. Produk-produk yang dikeluarkan juga mengikuti perbankan syariah, salah satunya Kredit Usaha Rakyat (KUR) Syariah. Direktur Pemasaran PT. Bank NTB Sinardi kepada Ekbis NTB Jumat (8/12) mengatakan,pada tahun 2017 ini target penyaluran KUR sebesar Rp 100 miliar. Sejauh ini sekitar 80 persen KUR sudah tersalurkan kepada nasabah. Bank NTB diberikan wewenang untuk menyalurkan KUR ke sector pertanian, peternakan dan perikanan. “KUR 2017 on progress . Kalau target KUR tahun 2018, tim kita sedang memproses dan memendiskusikannya dengan Kementerianberapa nilai KUR yang diperoleh Bank NTB,” katanya. Sinardi mengatakan, Bank NTB mengetahui potensi penambahan jumlah KUR tahun
depan karena masih mempertimbangkan konversi,”Kalau sudah konversi ke sistem syaria, kita harus melakukan PKO lagi dengan Kementerian karena sistemnya sudah beda. Akan menjadi KUR syariah,” tambah Sinardi. Sebelumnya, Kepala Kanwil Ditjen Perbendaharaan Provinsi NTB Taukhid, SE., M.Sc.IB., MBA mengatakan, secara umum KUR sudah berjalan hampir 10 tahun, tetapi kurang efektif menjangkau masyarakat yang usahanya feasible tetapi belum bankable. Berdasarkan evaluasi program KUR tahun 2015 – 2016 pada aspek keberhasilan antara lain terjadi peningkatan peran lembaga keuangan non bank sebagai penyalur KUR. Pada tahun 2016 penyalur KUR diperluas menjadi perbankan, lembaga keuangan bukan bank, dan koperasi simpan pinjam. Sedangkan pada aspek kelemahannya, total penyaluran KUR selalu meningkat setiap tahun, namun porsi penyaluran KUR masih didominasi oleh sektor perdagangan. Belum terdapat
peningkatan penyaluran KUR di sektor produksi seperti pertanian, perikanan dan industri pengolahan. Evaluasi skema KUR sejak 2007 sampai 2017 sering mengalami perubahan sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Di tahun 2017 ini, pelaksana KUR sebanyak 33 bank, 4 perusahaan pembiayaan serta 1 unit koperasi simpan pinjam serta 10 penjamin. Porsi KUR untuk sektor produksi ditargetkan sebesar 40 persen. Adapun secara nasional target penyaluran KUR sebesar Rp 110 triliun. Adapun realisasi KUR per bank di wilayah NTB per tanggal 22 November berdasarkan data SIKP yaitu BRI dan Mandiri masih menjadi bank penyalur KUR tertinggi yang mencapai Rp 678 miliar untuk KUR mikro dan Rp 79 miliar untuk ritel di BRI. Bank Mandiri memiliki total penyaluran KUR sebesar Rp 64 miliar untuk mikro dan 164 miliar untuk ritel. Sedangkan Bank NTB tercatat menyalurkan KUR sebesar Rp 21,7 miliar untuk mikro dan Rp 3 miliar untuk ritel (ris)