Skip to main content

edisi-1036

Page 1

16

Edisi 1036/ 17 - 23 juni 2019

Uji Publik Pergub Energi Bersih

Sesuai dengan Visi Pemerintah Provinsi Bali yaitu “Nangun Sat Kerthi Loka Bali” (Pola Pembangunan Semesta Berencana) menuju Bali Era Baru, khususnya misi ke-21 yaitu Mengembangkan Tata Kehidupan Krama Bali, Menata Wilayah dan Lingkungan yang Bersih, Hijau dan Indah, Gubernur Bali mengundang para praktisi, akademisi hingga media untuk ikut serta dalam Konsultasi Uji Publik Peraturan Gubernur tentang Energi Bersih di Wiswa Sabha Utama, Kantor Gubernur Bali, Denpasar, Selasa (11/).

D

alam sambutannya yang dibacakan Kepala Biro Hukum dan HAM Setda Provinsi Bali Ida Bagus Sudarsana, mengatakan jika kebijakan dan strategi yang diperlukan untuk membangun sistem Energi Bersih yang mandiri, berkeadilan dan berkelanjutan di daerah demi menjaga kesucian dan keharmonisan alam Bali

sesuai dengan nilai-nilai Sad Kerthi dalam mewujudkan pulau Bali yang bersih, hijau dan indah. “Rancangan Peraturan Gubernur tentang Energi Bersih ini merupakan produk hukum paling inovatif dan pertama kali di Indonesia yang dibuat secara mandiri oleh Pemerintah Provinsi Bali.” kata Koster seperti dibacakan Sudarsana serta

dimoderatori oleh Dr. Wayan Rideng. Adapun beberapa hal yang akan diperhatikan dalam pergub ini yaitu, a. Pembangkit Listrik wajib menggunakan bahan bakar Energi Bersih yaitu Gas Alam Cair dan Energi Terbarukan, b. Menyiapkan Pusat Unggulan Energi Bersih (clean energy centre of excellence) untuk menciptakan SDM berbasis kompetensi bidang ESDM dan mengembangkan teknologi Energi Bersih, c. Memberikan peran kepada masyarakat, UMKM, Desa Adat dan Badan Usaha Milik Daerah untuk mengelola Energi Bersih baik secara mandiri dan/atau bekerjasama dengan Badan Usaha Milik Nasional atau Swasta, d. Mendorong bangunan pemerintah, komersil, industri termasuk hotel, restoran dan rumah tangga berkewajiban menggunakan Energi Bersih melalui atap

Konsultasi Uji Publik Pergub tentang Energi Bersih

panel surya maupun bangunan hijau, e. Mendorong pemberdayaan sumber daya manusia lokal berbasis kompetensi bagi usaha-usaha di sektor Energi Bersih, dan f. Memberikan insentif dan disinsentif dalam upaya efisiensi dan konservasi energi. Kearifan lokal yang bersandarkan tiga komponen utama di Bali: Alam Bali, Krama Bali, dan Kebudayaan Bali sangat

diperhatikan disini sebagai perwujudan Ekonomi Gotong Royong dan Trisakti Bung Karno dimana melibatkan secara aktif peran serta masyarakat Bali dalam industri Energi Bersih. Untuk itu, kegiatan uji publik/ konsultasi publik menjadi sangat penting untuk memperoleh masukan-masukan yang akan menyempurnakan rancangan peraturan gubernur nantinya. (ast).

Gubernur Koster Berharap PKB Jadi Ajang Pelestarian Seni Tradisi yang Hampir Terlupakan

Gubernur Koster bersama Kadis Kebudayaan Provinsi Bali

Unjuk seni budaya rutin tahunan Bali terakbar lewat giat Pesta Kesenian Bali (PKB), dalam waktu dekat ini akan kembali digelar Provinsi Bali. Perhelatannya yang selalu ditunggu-tunggu oleh masyarakat, terus mendapat penyempurnaan dari Pemerintah Provinsi Bali yang disesuaikan dengan visi

misi ‘Nangun Sat Kerthi Loka Bali’, yakni melalui Pola Pembangunan Semesta Berencana untuk menuju Bali era Baru. Demikian terungkap saat Gubernur Bali Wayan Koster menggelar konferensi pers bersama para awak media massa terkait pelaksanaan PKB ke-41 tahun 2019, di ge-

dung Wiswasabha Utama Kantor Gubernur Bali di Denpasar, Senin (10/6). “Pelaksanaan PKB ke-41 merupakan kegiatan PKB yang pertama di periode kepemimpinan saya. Sejalan visi misi ‘Nangun Sat Kerthi Loka Bali’, PKB pun menjadi ajang implementasi pelestarian seni budaya. Spiritnya kita jaga dan kita teruskan untuk memperkuat upaya pelestarian seni budaya kita yang adi luhung dengan menambah pengayaan sesuai perkembangan zaman. Jadi materi PKB yang harus diangkat adalah seni budaya tradisi yang berakar dari kehidupan masyarakat Bali, sehingga PKB ini menjadi ajang penggalian, menghidupkan dan melestarikan seni tradisi asli Bali,” ujar Gubernur Koster. Upaya penyempurnaan ini diharapkan Koster bisa membangun kesadaran masyarakat Bali yang minatnya akan seni budaya semakin hari semakin berkurang. “PKB ini juga menjadi momentum meningkatkan minat masyarakat untuk membangun seni budaya tradisi yang terlupakan, agar

tidak punah,” katanya, menambahkan. Salah satu usaha yang dilaksanakan Pemprov Bali dalam menjaga PKB sebagai even seni budaya bernilai sejarah yang tinggi, yakni ditandai dengan dibangkitkannya kembali seni tradisi Sebunan berbasis desa adat. Gubernur Koster yang didampingi Kepala Biro Humas dan Protokol Setda Provinsi Bali AA Ngurah Oka Sutha Diana dan Kepala Biro Umum Setda Provinsi Bali Gede Darmawa, juga kembali menegaskan gagasan pembebasan sewa stand pameran bagi para pelaku Industri Kecil Menengah (IKM) di arena PKB. “Pemasaran produk lokal maupun kuliner Bali saat ini tidak akan dikenakan biaya sewa lagi. Kita harus mengedepankan keberpihakan kepada IKM. Namanya IKM, usaha dan modalnya pasti kecil, jadi pemerintah harus ada untuk memberi dukungan. Kita jadikan PKB sebagai ajang promosi produk mereka,” ujar Koster seraya menjelaskan, pagelaran PKB juga diharapkan bisa mendukung

Pergub Bali Nomor 97 Tahun 2018 tentang Pembatasan Timbulan Sampah Plastik yang telah diterbitkan. Gubernur mengimbau PKB bisa menjadi even ramah lingkungan agar sejalan dengan Pergub Nomor 97 Tahun 2018. “Jadi segala sarana dekorasi dan sebagainya diutamakan penggunaan bahan-bahan alami seperti bambu, janur, aneka bunga, dan dedaunan. Pokoknya sebisa mungkin dirancang terbebas dari bahan plastik atau sterofoam sekali pakai,” ucap Gubernur yang juga Ketua DPD PDI Perjuangan Bali itu mengingatkan. Awak media yang hadir pada kesempatan itu pun menyampaikan apresiasinya terhadap gagasan-gagasan yang dilontarkan Gubernur Koster, seperti salah satunya disampaikan wartawan Media Indonesia Arnold Dhae yang menyatakan Koster sebagai salah satu Gubernur Bali paling kreatif, serta berharap usaha-usaha ini terus berlanjut dalam upaya membangun Bali secara keseluruhan. (ast).

Dorong Kemajuan UMKM, Gubernur Koster Gratiskan Stand PKB Puluhan stand atau anjungan tempat berjualan berbagai barang dagangan di arena Pesta Kesenian Bali (PKB) yang semula disewakan, kini diputuskan untuk digratiskan alias pakai cuma-cuma oleh para peminat yang berniat berdagang. Gubernur Bali Wayan Koster telah mengambil kebijakan untuk menggratiskan puluhan stand, baik yang dibangun permanen maupun tenda-tenda yang didirikan di areka PKB yang rutin digelar setiap tahun di Taman Budaya Provinsi Bali (Art Centre) Denpasar. Gubernur yang dikenal sebagai penggagas cukup banyak ketentuan atau peraturan yang berlaku di daerahnya itu, mengatakan bahwa kebijakan menggratiskan satand-stand tersebut dimaksudkan untuk memberi dukungan penuh dan mendorog kemajuan UMKM lokal dan ekonomi kreatif yang mulai tumbuh di Bumi Dewata. “Dengan digratiskannya stand untuk UMKM di arena PKB 2019 ini, saya minta semua peserta tetap menjaga ketertiban dan disiplin. Jaga nama baik PKB dan Bali secara umum agar tetap mulia dan kondusif, bersih dan rapi,” ujar Gubernur Koster saat memberi pengarahan dan tatap muka dengan para peserta pameran ajang PKB 2019, di Gedung Ksirarnawa Art Centre Denpasar, Minggu (9/6) pagi. Di samping itu, Ketua DPD PDI Perjuangan Bali ini juga mengingatkan agar seluruh warga masyarakat, terlebih bagi mereka yang terlibat di PKB, untuk selalu dapat menjaga sikap guyub dan kompak semuanya. Dengan demikian, citra PKB akan bisa semakin baik lagi ke depannya. Ia menyebutkan, kebersamaan antara para perajin dan UMKM sangat penting. “Posisi stand-nya akan diundi dan jangan sampai ada ribut-ribut sesama saudara sendiri,”

ujarnya menekankan. menolong orang kecil.” Ke depan, lanjut Gubernur Para peserta pameran juga diKoster, pihaknya akan terus beruimbau agar aktif membuka jaringan paya memperbaiki gelaran PKB, baru untuk memajukan usahanya. sehingga pada gilirannya akan “Nanti kita akan bantu semua peramenjadi semakin baik. Salah jin di Bali dalam membuka jaringan satunya, memperbaiki bentuk dan pasar, akses keluar daerah kebijakan yang nantinya semakin hingga ke negara lain, termasuk banyak daoat mengakomodasi juga dengan membuat rumah UMKM lokal Bali. desain industri kreatif branding “Format ke depan agar lebih Bali. Kita fasilitasi gratis,” ucapnya banyak yang bisa ikut pameran, bersemangat. semuanya kebagian. Ini tentu Gubernur menyatakan bahwa melalui seleksi yang baik pula,” pihaknya akan terus melakukan katanya menjelaskan. dialog tentang apa-apa saja Mengenai stand yang seyang jadi kendala UMKM di Bali. lama ini disewakan di arena PKB, “Bahan baku, modal, pemasaran, Gubernur Koster menganggap atau apapun, kita akan carikan pemasukan dari penyewaan stand jalan keluarnya. Semua untuk tersebut sesungguhnya sangat memajukan dan menumbuhkan kecil. “Saya hitung tak sampai Rp kekuatan ekonomi kerakyatan Gubernur Koster 2 miliar. Jadi menurut saya, PKB di Bali, itu cita-cita kami,” kata ini bukan tempat untuk mencari uang, apalagi jika yang mantan anggota DPR RI ini. dibebankan adalah para peserta UMKM di Bali,” ujarnya Menurut Koster, PKB 2019 betul-betul hendaknya menandaskan. dapat diisi dengan materi yang baru, yang secara genGubernur mengaku sudah dari dulu berniat untuk eral akan lebih mengedepankan sekaa sebun dan seni menggratiskan stand di PKB bagi para perajin yang betradisi Bali yang ada di desa-desa adat. “Silahkan nanti rasal dari UMKM tersebut. “Untuk itu ketika saya terpilih, lihat pawai pembukaannya, pasti akan beda suasananya. langsung saya buatkan payung hukum yang mengatur, Begitu pula dengan materi seni yang dilombakan, akan yakni peraturan gubernur baru agar bebas dari pungutan,” banyak pembaharuan,” katanya sembari menyebutkan, katanya dengan menambahkan, “Jangan pernah ragu-ragu “Kita doakan bersama agar Bapak Presiden Jokowi bisa

hadir langsung di arena PKB.” Pada kesempatan yang sama, Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Provinsi Bali Putu Astawa mengatakan, penjaringan peserta yang akan mengikuti pameran diawali dengan sosialisasi ke kabupaten/kota se-Bali, yang kemudian penjaringannya dilakukan oleh masing-masing Dinas Perindag. “Jadi yang berhak mengikuti pameran ke tingkat provinsi, ialah yang dari hasil rekomendasi kabupaten/kota,” ujarnya. Mengingat banyaknya peminat yang ingin ikut berpameran, maka barang-barang yang akan dipamerkan itu harus memiliki kualifikasi tertentu. Sehingga, tidak semua barang bisa dipamerkan. “Karena namanya Pesta Kesenian Bali, tentu barang-barang yang dipamerkan itu asli produk Bali, bukan dari luar Bali,” ujarnya seraya menambahkan, produk-produk yang dipamerkan itu telah dikurasi oleh tim dari ISI Denpasar. Senada dengan Gubernur, Astawa kembali menegaskan bahwa para peserta pameran tidak membayar apa-apa, alias gratis untuk bisa menjadi peserta. “Ini sekaligus sebagai ciri bahwa Pemerintah Provinsi Bali mendukung perkembangan dan kemajuan UKM lokal Bali agar industri ini bisa meroket ke depannya,” katanya. Ia menyebutkan, pameran PKB tahun ini akan diikuti oleh 304 peserta, meningkat dibandingkan dengan tahun sebelumnya sebanyak 215 peserta. “Untuk waktunya dari 15 Juni sampai 13 Juli 2019. Dengan kebijakan baru ini kami harapkan bisa meningkatkan kerukunan dan keharmonisan antarpelaku UKM sesuai dengan visi ‘Nangun Sat Kerthi loka Bali’ melalui program pembangunan semesta berencana menuju Bali era Baru,” ujar Astawa mengharapkan. (ast).

redaksi@cybertokoh.com, iklan@cybertokoh.com

cybertokoh

@cybertokoh

@cybertokoh

www.cybertokoh.com


2

Espresso GORO-GORO MILENIAL

Ami sedang menyusun proposal ketika ibunya datang. “Kok sepi begini, Ami? Mana Putu Wijaya Kadek! Ke mana suamimu?” Ami menjawab tanpa mengalihkan matanya dari laptop. “Lagi ikut lomba melukis diantar bapaknya.” “Memangnya ada lomba tiap Minggu?” “Soalnya anaknya orang kaya yang ngasih sponsor lomba kemarin kalah. Jadi lombanya diulang?” “Masak?” “Ya. Tapi tidak ada yang mau ikut.” “Terus?” “Terpaksa dibikin lomba lagi dengan hadiah bombas. Tapi juara Minggu lalu tidak boleh ikut.” “O, ya? Tapi kenapa jadi Kadek ikut? Bukannya dia juaranya Minggu kemarin?” “Pakai nama lain. “Kalau ketahuan?” “Tidak bakalan. Pesertanya 500-an.” “Kok banyak banget?”

Anak-anak yang hidup di era digital saat ini digolongkan dalam generasi Alfa. Anak generasi Alfa mampu cepat beradaptasi. Apalagi informasi zaman ini begitu terbuka. Mereka juga terbuka dengan proses belajar dan menyerap informasi dengan cepat. Maka anak-anak generasi Alfa begitu cepat dalam menguasai hal-hal berbau digital. Sebagai guru, sering saya temui siswa lupa membawa buku pelajaran namun selalu ingat membawa gawai mereka. Begitu pula ketika jam istirahat pelajaran, sebagian siswa begitu asyik memainkan gim daring dan berjejaring melalui media sosial (medsos). Kegiatan-kegiatan tidak produktif seperti itu terhitung telah menyita banyak waktu mereka. Sampai-sampai mereka lupa akan kewajiban utama, yaitu belajar. Jika dikatakan gim daring dan medsos sebagai sebuah

bacaan wanita dan keluarga

Penerbit PT Tarukan Media Dharma Terbit sejak 9 November 1998

“Habis hadiahnya 50 juta.” “O walah, begitu, ya! Jadi karena hadiahnya gede begitu, kamu paksa anakmu ikut lagi, biar pun harus ganti nama?!” “Ya, iyalah, kalau menang kan lumayan untuk modal bikin TK Milenial! Nggak perlu bikin proposal yang mengemis-ngemis menyebalkan merendahkan harga diri sampai frustasi, bete, begini! Lebai!” Bu Amat menghampiri dan ngintip melihat laptop. Ami langsung mematikan laptopnya. “Itu proposal TK Milenial kamu, kan?” “Ya.” “Kamu perlu dana berapa?” “Dana buat proyek prestisius ini hanya berarti dukungan moral. Aset terbesar Ami dkk adalah ide kami, ide untuk menyiapkan generasi milenial mengisi era milenialnya! Untuk melicinkan Kadek, cucu ibu, dkk, membangun masa depannya nanti yang sudah berbeda dengan era yang kita jalani. Mereka akan ... “ “Kamu tidak perlu ngasih ibu kuliah. Sebab ibu kemari bukan mau melarang kamu bikin TK Milenial. Sebab memang generasi Kadek memerlukan pasokan moral yang

sesuai zamannya. Jangan sampai nanti salah kaprah. Ibu setuju, Ami!” “Oke, Bu, kami memang perlu persetujuan. Tapi kami lebih butuh lagi ..” “Duit!” “ Bukan!” “Betul! Bukan duit kecil tapi duit besar!” “Ibu salah persepsi!” “Salah tapi benar! Kalian dengan Sekolah TK Milenial kan mau mengubah paradigma, denger dulu, nanti boleh bantah, ibu ini kan dulu guru, jadi banyak tahu! Apa tadi? Ya itu, sekolah kamu kan berangkat dari gagasan mau mendidik bukan sekadar sesuai dengan cetak biru penddikan: untuk mencetak manusia Indonesia yang cerdas dan kompetitif saja, tapi juga berkarakter dan berbudaya! Ya, kan? Ibu tahu itu! Seorang Ibu pasti tahu jalan pikiran anak perempuannya! Ya, tidak?!” Bu Amat ketawa. Puas dan bahagia menceritakan pertemuannya dengan Ami, setelah kembali pulang. Amat ikut gembira melihat istrinya riang. “Jadi, Pak, Ami kaget sekali saya puji. Dia tak menyangka sama

Bombay?” Bu Amat terkejut. “Apa? Saya menangis? Hah! Nggak usah, ya! Kapan?! Saya tidak sekali, generasi tua seperti kita, pernah menangis! Sudah celaka kok dapat memahami jalan pikiran- menangis pula, ya remuk! Untuk nya. Ia juga diam-diam bangga, apa menangis, buang-buang tenaga, ibunya yang sering ia maki-maki Pak! Milenial menangis dalam hati kolot dulu waktu ia masih ABG, saja! Itu kan Bapak sebagai penternyata berjiwa, bersemangat umpang gelap, sudah ngelindur!” tak kalah milenialnya dari dia. Jadi “Ya tapi...” jangan pernah bilang lagi orangtua “Tapi apa?” itu besi tua yang berkarat, karena “Berempati boleh tapi bukan kita sejatinya ...” menangis! Karena tidak cukup “Tua-tua keladi, makin tua makin cerdas dan kompetitif saja, mutlak galak lagi! harus ada empati dan rasa!” “Galak berprestasi! Karena kita “Astaga, betul itu, apa aku cuma, justru ikut mengoreksi cetak biru karena aku penumpang gelap pendidikan, tidak cukup hanya milenal aku sudah kebanyakan mencetak manusia yang cerdas dan ngelamun?” kompetitif, tapi..” “Ya! Milenial sejati tidak sempat “Harus mutlak berkarakter dan ngelamun seperti kita. Karena merberbudi-daya!” eka harus bersaing! Untuk menang “Betul sekali! Makanya bapak bersaing harus tahu sejarah! Karena langsung ber-U turn kan?” itu kita tetap ke Jakarta meskipun “Apa itu?” sudah mantan, karena itu sejarah. “Berbalik 180 derajat! Bahasa Tapi kita juga akan ke Ibu Kota yang Inggris! English speaking! Dari mau baru, karena kita tidak perlu hidup ke Jakarta banting stir mau ke ibu dalam sejarah. Kita hidup di zaman Kota Baru! Ya kan!” milenial ini!” Amat bingung. “Mekipun hanya penumpang “Nah itu dia! Makanya Bapak gelap!” bingung, mengapa selaku pen“Meskipun! Karena kita akan umpang gelap zaman milenial, dan harus ikut menulls sejarah, dan karena usia kita sudah overweight bukan hanya ditulis sejarah!” gara-gara Jakarta ditinggal oleh “Dan bukan hanya ditulis seibu kota, ibu kok menangis jarah!”

Edukasi Orangtua Era Digital

hiburan, saya kira tidak demikian bagi anak-anak ini. Sebab kegiatan tersebut layaknya rutinitas dan kewajiban. Fakta lain, pemandangan anakanak usia balita sudah akrab dengan gawai (gadget). Fenomena ini, oleh orangtua hendaknya bisa dilihat dari dua sisi, positif dan negatif. Di satu sisi diperlukan dan di sisi lain membahayakan. Dalam fenomena ini, mereka hanya sebagai konsumen konten, bukan produsen konten. Atau setidaknya menjadikan konten sebagai media belajar. Langkah yang perlu dilakukan ialah mengedukasi para orangtua. Ada beberapa langkah praktis yang bisa diterapkan oleh orangtua. Pertama, saat berbicara kepada anak, lihatlah anak, jangan lihat gawai! Orangtua harus memberikan contoh agar kemudian dapat diikuti oleh anak. Kedua, ikuti medsos anak. Jika

I Wayan Esa Bhaskara

anak dan orangtua sama-sama memiliki akun di media sosial, hendaknya untuk saling mengikuti agar orangtua dapat mengawasi aktivitas anak saat menggunakan medsos. Ketiga, saat bersama letakkan gawai. Banyak yang tak

Edisi 1036/ 17-23 juni 2019

menyadari, keberadaan gawai malah semakin menjauhkan yang dekat. Contoh, ketika anak dan orangtua berkumpul, mereka sama-sama sibuk dengan gawai masing-masing. Ini bisa dikurangi misalnya membuat aturan, ketika sedang makan bersama atau berkumpul di ruang keluarga, semua anggota keluarga dilarang menggunakan gawai. Kempat, selalu mengirim pesan kepada anak atau dengan video call dengan anak ketika mereka pergi. Langkah ini juga bisa dilakukan untuk mengawasi anak ketika tidak sedang bersama orangtua. Kelima, saat anak perlu perhatian, letakkan gawai Anda. Ini menjadi langkah yang terasa paling sederhana namun susah diterapkan.

Meskipun berada di rumah, anak tetap harus didampingi atau diawasi dari jarak jauh. Kadang anak memerlukan perhatian, misal anak bertanya, tugas orangtualah yang menjawab. Saat menjawab pertanyaan itulah Anda meletakkan gawai. Para orangtua harus benarbenar menyadari dampak gawai bagi perkembangan anak. Orangtua harus menjadi contoh penggunaan gawai yang cerdas. Kalau cuma anak yang dibatasi sementara orangtua tidak, tentu saja tidak akan efektif. Maka penting mengedukasi orangtua juga. I Wayan Esa Bhaskara Guru Bahasa Indonesia di SMK Negeri 1 Denpasar.

Kata Hati: Rubrik ini khusus untuk menuangkan ide/pemikiran/gagasan dalam bentuk tulisan. Tema terkait wanita dan keluarga serta tidak mengandung unsur SARA. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter. Lampirkan juga foto close up (bukan pasfoto). Cantumkan nama lengkap, profesi, nomor hp, dan alamat email. Naskah dikirim ke redaksi@cybertokoh.com, redaksitokoh@yahoo.com.

Penanggung Jawab/Pemimpin Redaksi: Gde Palgunadi. Redaktur Pelaksana: Ngurah Budi. Staf Redaksi/Iklan Denpasar: IG.A. Sri Ardhini, Wirati Astiti. Buleleng: Wiwin Meliana. Jakarta: Diana Runtu. NTB: Naniek Dwi Surahmi. Desain Grafis: IDN Alit ­B udi­a rtha, ­I Made Ary ­Supratman. Manajer Sirkulasi dan Iklan: I Ketut Budiarta, Sirkulasi: Kadek Sepi Purnama, Hariyono, Ayu Wika Yuliani. Se­kretariat: Ayu ­Agustini, Putu Agus Mariantara. Ombudsman: Jimmy Silalahi. Alamat Redaksi/Iklan Denpasar: Gedung Pers Bali K. Nadha, Lantai III, Jalan Kebo Iwa 63 A ­Denpasar 80117–Telepon (0361) 425373, 7402414, 416676–Faksimile (0361) 425373. Alamat Redaksi/Iklan/Sirkulasi Jakarta: Jalan ­Pal­merah ­Barat 21 G Jakarta Pusat 10270–Telepon (021) 5357603 - Faksimile (021) 5357605. NTB: Jalan Bangau No.15 Cakranegara, Mataram–­Telepon (0370) 639543– ­Faksimile (0370) 628257. Surat Elektronik: info@cybertokoh.com, redaksi@cybertokoh.com, iklan@cybertokoh.com. Bank: BRI ­Cabang ­Gajah Mada Denpasar. Nomor Rekening: PT Tarukan Media Dharma: 0017-01-001010-30-6. Percetakan: BP Jalan Kebo Iwa 63 A Denpasar.

Edisi 1036/ 17-23 juni 2019

Diakui atau tidak, nampaknya masyarakat masih sulit lepas dari kantong plastik. Imbauan untuk membawa kantong sendiri saat berbelanja, masih belum bisa dipatuhi oleh kebanyakan orang. Ada saja alasannya, mulai dari lupa, tidak praktis, dll.

B

isa jadi ini karena masih belum adanyanya sanksi tegas akan penggunaan kantong plastik. Pun, kantong plastik berbayar yang diterapkan di tempat-tempat perbelanjaan dianggap tidak membuat masyarat tergerak membawa tas sendiri dari rumah. Betapa tidak, harga kantong plastik berbayar itu hanya Rp 200 per lembar. Sangat murah! Tak heran, masyarakat pun lebih suka uangnya dipotong untuk membayar selembar kantong plastik, ketimbang membawa

Zaskia Adya Mecca

SUDUT PANDANG

15

Mulailah Dari Diri Sendiri

tas sendiri dari rumah. Tasya Kamila, artis yang juga Duta Lingkungan, sangat prihatin dengan kondisi ini. Indonesia, kata Tasya, penghasil sampah plastik terbesar kedua di dunia. Ini sungguh memprihatinkan, karena sampah plastik berdampak buruk bagi lingkungan. Masyarakat harus menyadari ini dan bekerjasama membantu mengurangi penggunaan plastik. “Mulailah dari diri sendiri dan keluarga. Kalau setiap orang melakukannya maka bisa dipastikan limbah sampah, khususnya plastik akan jauh berkurang,” kata mantan penyanyi cilik yang belum lama ini melahirkan putra pertamanya. Menurut Tasya, belum signifikannya perubahan prilaku masyarakat membuat sosialisasi diet sampah plastik ini harus terus gencar disuarakan. Diakuinya mengubah sebuah kebiasaan bukan hal yang mudah, memerlukan waktu yang lama tidak cukup hanya satu-dua tahun. Namun bertahun-tahun barulah hasilnya bisa terlihat. Terkait dengan kantong plastik berbayar ia mendukungnya, hanya saja menurutnya, harga harus lebih mahal. “Mungkin kalau harga Rp 200 per kantong terlalu murah, harus lebih mahal. Kalau perlu Rp 5000 per kantong. Dengan begitu masyarakat terdorong untuk bawa kan-

tong sendiri jika ingin berbelanja,” ujarnya. Dia sendiri, tambah Tasya, telah menerapkan diet kantong plastik sejak lama. Ketika akan berbelanja, dirinya selalu siap dengan tas sendiri. “Bukan hanya kalau mau belanja, aku selalu siap dengan tas sendiri ketika bepergian. Tujuannya, mana tahu di jalan, tiba-tiba punya niat berbelanja, tas belanja sudah siap. Jadi tak perlu memakai kantong yang disediakan toko,” ungkapnya. Di rumahnya, ungkap Tasya yang menjadi Duta Lingkungan sejak masih SMP, dirinya melakukan pengelolaan sendiri terhadap sampah rumah tangganya. Dia tidak merasa jijik. Setiap hari, tutur istri Randy Bachtiar ini, dia melakukan pemilahan sampah rumah tangga, yang organik dan non-organik dipisahkan. Sampah organik, kemudian diolah menjadi kompos. “Jadi aku punya alat sendiri di rumah untuk mengolah sampah. Misalnya sampah-sampah basah yang bisa terurai seperti daun-daunan, sisa makanan, dll, bisa diolah menjadi pupuk cair yang bisa digunakan sendiri,” jelas Tasya yang juga mendirikan yayasan yang bergerak di bidang lingkungan. KEMASAN RAMAH LINGKUNGAN Seperti halnya Tasya Kamila, Zaskia Adya Mecca juga menyebut tentang kepedulian pada lingkungan harus dimulai dari diri sendiri. Ketika diri sendiri sudah peduli pada lingkungan, tutur Zaskia, maka dia akan menularkannya pada keluarganya,

Tasya Kamila

kemudian barulah orang lain di luar keluarga. Terkait bahaya limbah plastik, artis yang kini menjadi pengusaha sukses di bidang fashion busana muslim, telah diketahuinya sejak lama. Karena itu, demi mengurangi limbah plastik, dia sejak lama tidak lagi menggunakan kantong plastik untuk berbelanja. “Kemana-mana aku selalu bawa kantong sendiri. Jadi kalau sewaktu-waktu mau belanja, tas bawaan dari rumah sudah siap,” tambahnya. Namun begitu, diakui Zaskia, sekalipun dirinya sudah lama tidak menggunakan kantong plastik, namun tidak demikian halnya dengan bisnisnya. Sebagaimana diketahui, Zaskia sukses mengembangkan bisnis busana muslim plus aksesorisnya, dan kini tengah merintis bisnis kosmetik. Nah, produk-produknya

kebanyakan dikemas menggunakan plastik. Hal ini, ujar Zaskia, telah lama menjadi kegelisahan tersendiri baginya. Ia ingin mengganti packaging namun bingung memilih yang tepat. Sempat muncul ide packaging dengan bahan kain, namun harganya mahal. Seiring waktu, bermunculan inovasi-inovasi kemasan ramah lingkungan. Ada beberapa pilihan, di antaranya plastik berbahan singkong dan plastik berbahan rumput laut. Jenis plastik ini, kata Zaskia, mudah terurai secara alami. Hanya saja tambahnya, harganya cukup mahal. Namun setelah menimbang secara saksama, dia pun memutuskan mengganti kemasan produknya dengan plastik singkong. “Inovasi pembuatan plastik sekarang, kan, macam-macam ya. Ada yang terbuat dari singkong, ada juga rumput laut. Plastik jenis ini mudah terurai secara alami. Hanya saja, memang harganya lebih mahal dibanding plastik biasa. Jadi baru beberapa bulan ini aku gunakan plastik dari singkong,” tutur ibu empat anak ini. Sebagai orang Indonesia, kata Zaskia, sudah selayaknya dia ikut berkontribusi dalam hal lingkungan, khususnya pada pengurangan sampah plastik yang memang sulit terurai. “Memang budget yang dikeluarkan untuk kemasan plastik singkong jadi lebih mahal daripada plastik biasa. Tapi ngga apa-apa demi sesuatu yang lebih baik ke depannya,” tambah pemeran film ‘Cinta Paling Agung’, ini. (Diana Runtu)

Mengurangi Produk Plastik Sekali Pakai Plastik adalah salah satu bahan yang dapat kita temui di hampir setiap barang. Mulai dari peralatan mencuci seperti ember, botol minum, alat makanan (sendok, garpu, wadah, gelas), kantong pembungkus/ kresek, pipa saluran air, sikat gigi, mainan anak-anak, dan masih banyak lagi yang lainnya. Hampir semua dari kita memakai barang-barang yang terbuat dari plastik, karena kepraktisannya, walaupun berdampak terhadap kesehatan dan lingkungan. Menurut penelitian, penggunaan plastik yang tidak sesuai persyaratan akan menimbulkan berbagai gangguan kesehatan. Selain itu plastik pada umumnya sulit untuk didegradasikan (diuraikan) oleh mikro organisme. Sampah plastik dapat bertahan hingga ratusan tahun sehingga menyebabkan pencemaran terhadap lingkungan. Demikian disampaikan oleh dr. Trisnadewi, M. Biomed (AAM), pemilik Klinik Kecantikan Indivara. Menurfut Dokter Kadek, dampak plastik terhadap lingkungan sangat signifikan. Diperkirakan ada 500 juta sampai 1 miliar kantong plastik yang digunakan penduduk dunia dalam satu tahun. Ini berarti ada sekitar 1

juta kantong plastik dalam 1 menit. Untuk membuatnya diperlukan 12 juta barel minyak per tahun dan 14 juta pohon ditebang. “Karena sifatnya yang sulit terdegradasi, maka sampah plastik ini mencemari tanah, air, laut, bahkan udara untuk jangka waktu yang sangat lama dan berdampak buruk terhadap lingkungan dan kesehatan manusia,” cetusnya. Alangkah bahayanya, bila hal ini dibiarkan terus menerus tanpa ada kesadaran dari manusia untuk menghentikannya. Bayangkan apa yang akan terjadi pada tanah, air, laut, dan udara di bumi bila sampah plastik semakin menumpuk karena sulit terdegradasi? Masihkah kita bisa acuh dengan kondisi ini? “Saya, keluarga, dan Indivara Aesthetic berkomitmen untuk ikut mendukung program pemerintah dalam mengurangi sampah plastic. Mari kita galakkan ‘ Eco Friend Lifestyle’, gaya hidup yang lebih mencinta bumi. Kami mulai dari diri sendiri dan keluarga,” ujarnya. Beberapa kiat yang telah dilakukan Dokter Kadek bersama keluraganya untuk mengurangi sampah plastik. Pertama, membawa tas belanja sendiri. “Saya terbiasa membawa tas belanja yang bisa dilipat kecil dan

dr. Trisnadewi, M. Biomed (AAM)

dimasukkan ke dalam tas sehari hari. Sehingga bila berbelanja tidak perlu lagi meminta tas plastik untuk menampung belanjaan. Jika akan berbelanja dalam jumlah besar, maka saya membawa tas spundbond ukuran besar sesuai jumlah belanjaan yang direncanakan,” ungkapnya. Kedua, membawa tumbler/ botol minuman sendiri, yang bukan dari bahan plastik.

Tumbler air minum yang dibawa sendiri dapat mencegah penimbunan sampah plastik karena bisa dipakai berulang ulang dengan aman. Ketiga, menggunakan kotak bekal atau rantang untuk membungkus makanan. Dokter Kadek dan keluarga terbiasa membawa bekal makanan dari rumah. Disamping dari segi kesehatan lebih terjamin, dapat membantu mengurangi sampah plastik, karena kalau membeli makanan di luar otomatis akan dibungkus dengan bahan plastik sekali pakai. “Meskipun barang kami di rumah termasuk box makanan kami masih ada yang berbahan plastik, namun tidak sekali pakai dan setidaknya kami sudah sedikit demi sedikit berusaha mengganti dengan yang bahannya non plastik,” cetusnya. Keempat, menggunakan sedotan berbahan non plastik, misalnya dari bahan stainless. “Saya membeli sedotan stasinles yang dibungkus dengan kantong serut berbahan kain, sehingga praktis dibawa ke mana mana, karena bisa dimasukkan dalam tas tanpa takut kotor. Seluruh anggota keluarga saya bekali sedotan, sehingga tidak kebingungan saat membeli minuman di luar rumah,” ujarnya.

Kelima, berhenti menggunakan peralatan makan seprti sendok dan garpu sekali pakai dari bahan plastik. Jika piknik di akhir pekan dan membawa makanan dari rumah, mereka membawa sendok dan garpu dari bahan logam, serta tidak lupa membawa air dalam jerigen kecil untuk mencuci tangan atau peralatan makan kami sementara waktu sebelum dicuci dengan bersih sesampai di rumah. Keenam, menyimpan cemilan atau makanan lainnya dalam botol atau kotak yang bisa dipakai berulang ulang. Bila bepergian bersama keluarga, kami selalu membawa makanan yang ditempatkan di botol/kotak/ toples, sehingga bila makanannya habis, tempatnya bisa diisi lagi dengan makanan lainnya setelah dibersihkan sebelumnya. Ketujuh, membeli isi ulang untuk beberapa produk yang menyediakan kemasan isi ulang untuk mengurangi timbunan sampah plastik. “Selain di lingkungan keluarga, di klinik kami pun (Indivara Aesthetic) juga sudah berusaha mengurangi penggunaan tas berbahan plastik dengan menyediakan tas berbahan kain dan spundbond dengan berbagai ukuran,” tandas dokter Kadek. (Sri Ardhini)


14

SUDUT PANDANG perangkat daerah akademisi, LSM, pengusaha, tokoh keagamaan dan tokoh masyarakat,” kata Koster.

Atur Pembatasan Sampah Plastik dalam Perda Gubernur Bali Wayan Koster mengeluarkan kebijakan strategis berupa Peraturan Gubernur Bali (Pergub) No.97 Tahun 2018 tentang Pembatasan Timbulan Sampah Plastik Sekali Pakai. “Dalam Pergub ini ada tiga bahan yang terbuat dari atau mengandung bahan dasar plastik yang dilarang yaitu kantong plastik, polysterina (styrofoam), dan sedotan plastik,” ­ujar Gubernur Bali Wayan Koster.

K

oster mengatakan, tujuan Pergub ini antara lain bertujuan untuk menjaga kesucian, keharmonisan, keselarasan dan keseimbangan lingkungan hidup, mencegah pencemaran dan kerusakan lingkungan akibat penggunaan plastik sekali pakai, dan menjaga ekosistem, menjamin kesehatan masyarakat. Juga menjamin generasi masa depan untuk tidak tergantung pada penggunaan plastik sekali pakai. Koster menambahkan, Pergub yang terdiri dari 12 bab dan 26 pasal ini mewajibkan setiap produsen, distributor, pemasok dan setiap pelaku usaha untuk memproduksi, mendistribusikan, memasok, dan menyediakan pengganti plastik sekali pakai. Sekaligus melarang untuk memproduksi, mendistribusikan, memasok dan menyediakan plastik sekali pakai. Setiap produsen, pemasok, pelaku usaha dan penyedia plastik sekali pakai diberi waktu menyesuaikan usahanya selama 6 bulan, terhitung sejak Pergub

ini diundangkan. Larangan menggunakan plastik sekali pakai juga berlaku untuk instansi pemerintah, BUMD, swasta, lembaga keagamaan, desa adat/pakraman, masyarakat dan perseorangan. “Pemprov Bali akan melakukan rencana aksi daerah pembatasan timbulan sampah plastik,” imbuhnya. Koster memaparkan sedikitnya 15 rencana aksi tersebut. Mulai dari identifikasi dan pendataan produk plastik sekali pakai (PSP), kampanye, dialog publik, edukasi dan kegiatan ilmiah, kegiatan pelarangan penggunaan PSP, hingga penegakan hukum. Pihaknya menargetkan dalam setahun bisa mengurangi sampah plastik hingga 60-70 persen. Peran serta masyarakat dan desa adat/ Pakraman akan didorong untuk mewujudkan hal itu. Agar pelaksanaannya berjalan efektif, tim akan dibentuk untuk melaksanakan pembinaan dan pengawasan. Tim inilah yang nantinya bertugas melakukan edukasi, sosialisasi, konsultasi, bantuan teknis, pelatihan/pendampingan dalam penggunaan

bahan non plastik oleh produsen, distributor, penyedia dan masyarakat pada umumnya serta penegakan hukum. “Tim ini terdiri dari unsur instansi vertikal,

MENJAGA TAKSU ALAM BALI Sebagai bentuk apresiasi, Pemprov Bali akan memberikan penghargaan bagi yang taat melaksanakan Pergub ini dengan baik. Sebaliknya, sanksi akan diberikan bagi pihak-pihak yang tidak mematuhi ketentuan dalam Pergub dengan dasar hukum UU No.18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah, UU No.32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup, dan Perda Provinsi Bali No.5 Tahun 2011 tentang Pengelolaan Sampah tersebut. Menurut Gubernur Koster, ia sangat serius dalam upaya penanganan sampah plastik yang telah lama menjadi isu global. Gerakan ini adalah langkah awal yang baik untuk membebaskan Bali dari cemaran sampah plastik sekali pakai seperti kantong plastik, sedotan plastik dan styrofoam. Namun ia menyadari, upaya pemerintah tak akan membuahkan hasil optimal tanpa dukungan dari seluruh komponen masyarakat, utamanya Desa Adat yang memi-

Edisi 1036/ 17 - 23 juni 2019 liki kekuatan mengikat krama adat. Oleh karena itu, ia sangat berharap gerakan resik sampah plastik ini ditindaklanjuti dengan memasukkan program pengelolaan sampah dalam awig-awig/ pararem Desa Adat se-Bali. Program ini adalah bagian tak terpisahkan dari upaya memelihara dan melestarikan keagungan, kesucian dan taksu alam Bali yang meliputi tempat suci, laut, danau, sungai, sumber mata air, gunung, hutan, tumbuh-tumbuhan dan lingkungan alam secara sekala. “Kegiatan ini sejalan dengan visi Nangun Sat Kerthi Loka Bali, yakni menjaga kesucian alam Bali berserta isinya untuk mewujudkan kehidupan krama (warga) Bali yang sejahtera, bahagia sekala (jasmani) dan rohani,” ujarnya. Masyarakat Bali yang mayoritas beragama Hindu sudah seharusnya melaksanakan ajaran Weda dengan baik, yang salah satunya mengamanatkan agar umat tidak membuang sampah sembarangan. Bertolak dari hal tersebut, ia mengajak seluruh masyarakat merubah perilaku. “Jangan membuang sampah sembarangan, mari ikut aktif melakukan edukasi terkait pentingnya upaya menjaga lingkungan,” ajaknya. (Wirati Astiti)

Sosialita

Edisi 1036/ 17 - 23 juni 2019

Ny. Putri Suastini Koster

Beri Semangat untuk Seniman Perhelatan Pesta Kesenian Bali (PKB) ke41 resmi dibuka, Sabtu (15/6). Pertunjukan seni budaya yang digelar rutin tiap tahun ini juga mendapat apresiasi yang luar biasa dari Ketua Tim Penggerak PKK Provinsi Bali, N ­ y. Putri Suastini Koster. Sebagai seniman, ia memberi dorongan semangat yang luar biasa, dengan ikut tampil nanti dalam satu pagelaran Grup Suar Agung Pimpinan Ketut Suwentra ­atau Pekak Jegog.

“P

enting masyarakat Bali tahu, saya aktif berkegiatan di bidang seni sejak remaja. Jadi bukan aji mumpung, baru jadi istri Gubernur Bali, ujug-ujug mau tampil,” ujarnya, dalam suatu kesempatan berbincang santai dengan Tokoh, sembari menikmati hobinya berkebun di Jayasabha, Denpasar. Perempuan kelahiran Denpasar, 27 Januari 1966 ini, menambahkan, sejak bergabung di grup Suar Agung, ia diajak menari sampai ke luar negeri. “Saat nanti akan tampil di PKB, saya dan teman-teman seangkatan adalah generasi kedua penari mekepung. Sementara, generasi pertama, saat Pak Ketut (Pekak Jegog ujian tari di ASTI (ISI Denpasar),” tutur Bunda Putri, begitu ia akrab disapa. Ketika ditanya, seperti apa pertunjukkan yang akan ditampilkan, ia belum bercerita banyak. “Yang jelas saya akan menari Mekepung bersama teman-teman satu angkatan. Sebenarnya ini juga tujuannya reuni bertemu teman lama sekalian memberi semangat kepada seniman,” kata pembaca puisi yang sudah banyak meraih prestasi ini. Ia menambahkan, kehadiran Pesta Kesenian Bali, seharusnya menjadi momen yang paling ditunggu masyarakat, terutama bagi seniman. Mengapa? Masyarakat bisa menikmati hiburan kesenian Bali sebanyak 220 pagelaran selama sebulan. Setiap hari ada tujuh pagelaran mulai tetabuhan, gong kebyar, tarian, arja, drama gong, joged, wayang kulit, wayang

Penampilan Putri Koster saat menari Bali

wong, dsbnya. Namun, ia sangat menyayangkan, ada sebagian masyarakat yang mengatakan, PKB monoton. “PKB itu ajang untuk melestarian seni budaya. Spiritnya kita jaga. Materi PKB seni budaya tradisi yang berakar dari kehidupan masyarakat Bali, sehingga PKB menjadi ajang penggalian, menghidupkan, dan melestarikan seni tradisi asli Bali. PKB juga menjadi momentum meningkatkan minat masyarakat untuk membangun seni budaya tradisi yang terlupakan agar tidak punah,” kata perempuan yang mendapatkan penghargaan K. Nadha Nugraha Tahun 2019 ini. ASET PARIWISATA Menurutnya, yang perlu disempurnakan adalah di dalam penataan PKB agar lebih rapi dan lingkungan lebih bersih. Satu contoh ketika pementasan, ada tim yang menyapa seniman, dan menyiapkan toilet yang bersih, termasuk konsumsi. Ini sepertinya sudah diabaikan. “Seolah-olah seniman itu datang tidak diundang pergi tidak diantar,” ujar pemain teater Mini Badung yang meraih prestasi pentas terbaik lomba pertunjukan rakyat tingkat nasional ini. Salah satu pendiri Teater Angin SMAN 1 Denpasar ini mengakui, seniman Bali dasarnya adalah ngayah.

3 Namun, walaupun begitu mereka perlu dihargai. Bukan berarti mereka sudah menari malah keluar biaya juga. “Kalau dana ini bisa diusahakan Pemprov Bali, tentu lebih baik. Dengan anggaran yang cukup untuk PKB itu adalah investasi. Akan muncul seni dan seniman yang mumpuni, ini aset pariwsata. Bukan pemborosan, tapi investasi. Tanpa dana saja bisa, apalagi ada bantuan dana tentu lebih bagus,” kata peraih beberapa juara dalam lomba tari Bali ini. Ia berharap, gaung PKB dikembalikan seperti di era tahun 1980-an. Semakin banyak dunia yang melihat, ini event yang luar biasa. Supaya turis manca negara sengaja datang ke Bali karena perhelatan PKB. Selaku Ketua Dekranasda Provinsi Bali, ia mengaku prihatin. Sekarang banyak bermunculan produk baru yang membahayakan produk lama. Satu contoh yang menjadi sorotan, ketika muncul kain dengan teknik border, memakai motif songket. Ini akan menjadi pesaing songket aslinya. Orang akan cenderung membeli bordir, karena lebih murah dan kelihatan tampilan jauh mirip songket. “10 tahun ke depan, kita bakal kehilangan songket asli. Penenun tidak mau menenun karena jarang orang beli, kecuali untuk acara nikah. Sekarang malah cenderung kalau pernikahan orang sewa lebih praktis. Karena pemasaran susah, bahan baku susah, mengerjakan lama dan tidak laku akhirnya bisa hilang. Ketika hilang mau membalikkan lagi itu susah,” katanya. Ia menilai, ajang PKB menjadi ajang pelestarian dalam mengembangkan produk. Ini bukan museum. Perajin ikut bersaing dan mengikuti tren, tapi jangan tinggalkan yang klasik. Bunda Putri berharap, dengan digratiskannya stan PKB, tentu makin banyak perajin yang bisa ikut pameran. Selain itu, kebijakan menggratiskan stan PKB oleh Gubernur Bali, untuk memberi dukungan penuh kepada perajin dan UMKM. Ia berpesan agar perajin tetap melestarikan motif-motif kain warisan leluhur. Dengan demikian motif tradisi akan tetap hidup dan lestari apalagi, didukung dengan bahan-bahan berkualitas tinggi. “Kita tidak bisa membendung serbuan produk luar. Namun, minimal bisa menjaga dan mempertahankan idealisme terhadap produk desain lokal. Mari kita timbulkan kebanggaan terhadap produk kita,” ajaknya. Menurutnya, dalam ajang PKB juga sangat spesial karena Bulan Juni penuh sejarah bagi kita yang ingin meresapi ajaran Bapak Bangsa Bung Karno. Peringatan Hari Lahirnya Pancasila 1 Juni, lahirnya Bung Karno 6 Juni, wafatnya Bung Karno 21 Juni. Kita sedang mengingatkan kembali agar para generasi muda mengenal sosok Bung Karno, sang Proklamator, bapak bangsa yang juga seorang seniman dan sastrawan. “Keberadaan pameran foto Bung Karno di areal PKB, selain ajang untuk berswafoto juga, salah satu cara menyampaikan pemikiran Bung Karno kepada generasi muda bangsa, jangan pernah melupakan sejarah. Pesan untuk saling mencintai bangsa dan NKRI,” ujarnya. (Wirati Astiti)

BACA JUGA HALAMAN 8


Woman on Top

4

Refresh dan Jalin Kebersamaan Ketika waktu liburan datang, tentunya terbayang bakal menjadi hari-hari yang seru dan menyenangkan bersama keluarga. Semua menyambut dengan gembira. Untuk ini akan ada banyak rencana indah yang dipersiapkan. Lantas bagaimana persiapan liburan yang dilakukan agar membuat semua anggota keluarga ­nyaman dan menikmatinya?

M

enurut Pariadnyani Melati atau lebih dikenal dengan panggilan Jero Melati, pemilik Adibi Salon & Spa di kawasan Renon, Denpasar, semua orang perlu liburan, karena tubuh dan pikiran manusia perlu penyegaran dan pembaharuan. Apalagi setelah sekian lama menjalani kesibukan atau kegiatan-kegiatan rutinnya seharihari. Agenda berlibur menjadi salah satu solusi untuk menciptakan jalinan yang semakin erat diantara anggota keluarga sekaligus menyegarkan pikiran. “Biasanya , jika saya dan keluarga akan berlibur beberapa hari, sudah pasti saya akan memberitahu pada tim kerja, juga beberapa klien yang biasanya suka buat janji langsung dengan saya. Sebab dapat dikatakan

saat berlibur, ia bakal tidak sempat mengurus pekerjaan. Apalagi ketika keluarganya memilih liburan ke tempat yang tidak mudah mengakses internet. Seperti kami anak-anak sangat suka dengan suasana alam, atau mengeksplor tempat-tempat baru,” ujar Jero Melati. Ia menambahkan kalau tempat favorit dirinya dan suami tidak perlu jauh-jauh, cukup di Kota Malang, karena di sanalah dulunya mereka bertemu saat masih sama-sama kuliah. Dikatakannya agar dapat menikmati waktu berlibur sepenuhnya, biasanya mereka sudah merencanakan libur jauh hari sebelumnya. “Pastinya kami menunggu waktu libur anak-anak juga, orangtua yang menyesuaikan. Sebagai orangtua kami juga ingin merefresh pikiran dan begitu juga dengan

Edisi 1036/ 17 - 23 juni 2019

nara June Kurnia ini. Bagi Jero Melati dan keluarga, liburan selama ini selain memberika kekayaan pengalaman juga menajdi momen melakukan aktivitas bersama-

anak-anak, pasti senang dan bahagia dan menjadi fresh pula setelahnya,” kata istri AA Bagus Kurniawan ini. Khusus untuk tahun ini, katanya mereka menimati liburan sementara di rumah saja. Mengingat putra keduanya , Gung Aby sedang menunggu pengumuman kelulusannya masuk universitas dan si bungsu Gung Gek Arhy, lagi dalam proses mencari SMP. “ Setelah jelas semuanya, barulah liburan kami rancang kembali.” Jelas ibu dari AA Adhyatmika Okta Kurnia, AA Abhy Mantra Agusta Kurnia dan AA Arhy Ci-

sama. Karenanya, liburan tidak selalu harus bepergian, bahkan liburan yang menyenangkan dan berkualitas sebenarnya dapat dilakukan di rumah. Dan, apa ide atau aktivitas yang akan dilakukan itu adalah hasil kesepakatan bersama, antara anak-anaknya, suami dan dirinya.”Yang penting semua merasa senang, gembira dan mampu lebih mendekatkan kami satu sama lain,” cetusnya. Kalau untuk rencana travelling ke luar kota, mereka memilih destinasi apakah itu di luar atau hanya di dalam negeri begitu juga untuk menyusun itinerary pun dilakukan bersamasama. Mengingat juga waktu yang terbatas, mereka ingin menikmati liburan secara optimal. Apalagi untuk saat ini dengan canggihnya teknologi kita menjadi lebih mudah mengakses untuk mendapat informasi destinasi seru dan yang menarik. Aktivitas liburan yang efektif, lanjutnya bakal membuat kita semua terhindar dari kejenuhan dan menabung semangat untuk kembali menjalankan tuntutan tugas rutin selanjutnya.“Yang pasti buat kami momen kebersamaan liburan selama ini selalu berkesan, indah, menyatukan, menguatkan, menyenangkan serta membahagiakan. Bagi kami bersama keluarga memiliki nilai tak terhingga dan menjadi sumber kebahagiaan,” katanya. (Sri Ardhini)

“Akselerator Layanan”

‘Salam Senyum’ Istilah akselerator sering kita dengar di sebuah perusahaan atau instansi. Ini dapat diartikan bagaimana percepatan sebuah tujuan yang akan dicapai. Berbagai cara dilakukan oleh menajemen untuk hal tersebut, tentu dengan cara-cara yang disesuaikan kemampuan perusahaan. Pembaca setia Dhani’s Art in service, hasil akhir dari sebuah layanan akan tampak ketika semua pelanggan terpuaskan dan semua keperluan bahkan keinginan dari pelanggan dapat terpenuhi. Biasanya proses yang dilakukan bertahap, mulai dari perekrutan, pelatihan, pembentukan team layanan, mengadakan survei layanan, sampai memberikan reward dan pengakuan. Dua hal terakhir inilah sebenarnya sebuah ‘tool’ untuk sebuah percepatan tujuan dari layanan yang kita istilahkan dengan ‘akselerator layanan’. Sampai saat ini saya berprofesi sebagai konsultan layanan pada perusahaan atau instansi yang menyediakan jasa layanan,

tentu banyak permasalahan yang dapat dijadikan pengalaman menarik untuk dibahas. Salah satunya adalah ketika terjadinya keluhan dari manajemen mereka, tentang semangat melayani yang dianggap tidak maksimal dari para pelaku layanan. Dari hal tersebutlah kita akan dapat berikan ‘akselerator’ yang harus dilakukan. Yang pertama kita bahas adalah ‘pengakuan’. Teori kebutuhan manusia dari Maslow, pengakuan ini terletak pada kebutuhan yang terakhir, yaitu aktualisasi diri. Ketika teori ini dihubungakan dengan layanan, sebenarnya pengakuan ini sangat tinggi daya lekatnya kepada orang yang mendapatkan pengakuan itu sendiri. Beberapa cara dapat dilakukan untuk sebuah ‘pengakuan’ dalam layanan. Dan, untuk mengawali saya akan bahas pengakuan terhadap tim layanan (internal). Yang pertama, selalu ingat mengatakan kata ‘ terima kasih’. Kata ini sangat familiar, namun kalau tidak terbiasa, kata ini seperti sebuah benda yang mahal dan langka. Sehingga jarang keluar

dari pribadi seseorang. Bahkan pernah dari seorang pimpinan perusahaan berpendapat, bahwa hal yang dikerjakan dari pelaku layanan itu memang kewajibannya. Jadi tidak perlu untuk mengatakan terimakasih. “Toh kami sudah membayarnya dalam bentuk gaji” . Inilah yang terjadi. Biasanya orang yang sulit mengatakan kata terimakasih, mempunyai ego pribadi yang sangat tinggi. Yang kedua adalah dengan mengatakan, ‘kerja Anda luar biasa’, atau kalimat lain yang maknanya sama. Pujian dengan kalimat ini juga sangat membuat para pelaku layanan akan termotivasi untuk mengerjakan lebih baik lagi. Naaah... Kalimat yang identik dengan pujian seperti ini juga sangat jarang dilakukan oleh seorang pimpinan. Para atasan biasanya kalau menemukan hal yang salah, cepat reaksinya. Dan akan keluar kalimat-kalimat yang lebih kepada protes atau menjurus kepada kalimat pencelaan. Namun kalau layanannya memuaskan, tidak ada kalimat pujian yang terlontar. Kenapa kalau hal yang salah cepat reaksinya, sedangkan kalau pekerjaannya yang bagus tidak diberi pujian? Yang ketiga adalah dengan membiasakan mengatakan kalimat ini, ‘Tolong lakukan seperti itu lagi’. Kalimat ini sebanarnya menunjukkan, apa yang telah dilakukan oleh pelaku layanan itu sudah benar, tepat, dan baik. Dan dengan kalimat ini sebenarnya sudah menunjukkan pengakuan dari atasannya, yang akan membuat para

Edisi 1036/ 17 - 23 juni 2019

13

Pengguna Medsos, Bertanggungjawablah

Masih ingat kerusuhan 21-22 Mei lalu yang terjadi di sekitar Gedung Bawaslu (Badan Pengawas Pemilu) di Jl Thamrin, Jakarta Pusat, yang kemudian merembet ke sejumlah kawasan lainnya yang berdekatan dengan Bawaslu. Akibat kerusuhan itu 9 orang tewas, ratusan luka-luka, kendaraan bermotor serta bangunan rusak. Makin miris, karena ada perusuh yang memanfaatkan kejadian itu untuk melakukan penjarahan.

L

epas dari adanya dalang dalam peristiwa tersebut, namun satu hal yang menjadi catatan penting dalam peristiwa itu adalah peranan kabar hoaks yang berseliweran di dunia maya yang ibarat bensin yang memperbesar perseteruan. Masyarakat yang tak mengerti akhirnya terhasut dan ikut menyebarkan pesan hoaks ke segala penjuru. Guna mencegah kondisi makin tidak karuan maka salah satu langkah yang dilakukan pemerintah adalah memblokir media sosial selama beberapa hari. Menteri Komunikasi dan Informatika mengatakan, pada kejadian 22-24 Mei 2019, rata-rata URL (uniform resource locator) untuk mendistri-

pelaku layanan lebih percaya diri dan akan mengulangi hal-hal yang dianggap sesuai dengan tujuan dari sebuah visi dan misi layanan perusahaan/instansi tempat mereka bekerja. Selain ketiga hal di atas, masih ba­ nyak pengakuan-pengakuan lain sebagai akselerator yang dapat dilakukan untuk percepatan tujuan dari sebuah visi dan misi layanan. Tentu hal seperti ini mudah untuk dilakukan kalau kita membiasakannya. Apa saja hal lain tersebut? Tunggu tulisan saya berikutnya (bersambung).... Sudahkah para pelaku layanan di perusahaan/instansi kita memahami dan melakukan hal tersebut di atas? Materi ini juga terdapat dalam pelatihan dengan Sri Sumahardani Academy dengan judul ‘Serve With Love’ atau buku saya dengan judul ‘Service A La Carte’, serta materi-materi pelatihan yang lainnya, seperti ‘Good Communication For Good Perfomance,’ ‘Great Personality,’ ‘Upgrade Your Selling Skill’ dan dua belas materi lainnya. Ingin mengetahui, memahami dan mengaplikasikan layanan ini di perusahaan/instansi Bapak/Ibu? Silakan hubungi kami, dan kami siap untuk membantu. Salam 3SP Salam Senyum Sang Penyihir Sri Sumahardani srisumahardani3sp@gmail.com www.srisumahardani.com

METROPOLITAN

busikan informasi hoaks jumlahnya mencapai 600-700. Setelah tiga hari jumlah tersebut langsung turun menjadi sekitar 300-an. Banyak pihak berharap aksi pemblokiran tidak akan terjadi lagi di masa datang. “Sebab bagaimanapun, aksi pemblokiran itu terbukti sangat kontra produktif dan menjadi preseden buruk,” ujar Ketua Pengurus Harian Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia, Tulus Abadi. Itu juga yang diharap para pedagang online yang penjualannya ‘jeblok’ selama tiga hari pembatasan medsos. Semua boleh saja berharap demikian. Namun pemerintah tentu tidak akan melakukannya tanpa alasannya yang jelas. Misalnya seperti saat ini. Sidang perdana sengketa Pilpres digelar 14 Juni di Mahkamah Konstitusi dan diperkirakan akan selesai berupa pembacaan putusan MK pada 28 Juni 2019 mendatang. Diharapkan tidak terjadi hal-hal tidak diinginkan sebagaimana kejadian pasca pengumuman hasil Pemilu oleh KPU beberapa waktu lalu. Saat ini pemantauan terus dilakukan. Jika terjadi kondisi yang tidak diharapkan, maka bukan tak

mungkin pemblokiran medsos kembali akan dilakukan. Menkominfo Rudiantara menegaskan, pembatasan tidak akan dilakukan kalau memang tidak signifikan mempengaruhi masyarakat. Dia berharap para pengguna m ed s o s ju ga bertanggungjawab untuk menjaga situasi agar kondusif dengan tidak menyebarkan berita bohong, apalagi dalam bentuk gambar dan video yang direkayasa. “Saya berharap tidak ada pembatasan. Ini tanggung jawab kita semua untuk menjaga medsos agar tidak digunakan untuk menghasut,” ucap Rudiantara. Hal senada disampaikan Plt Kepala Biro Humas Kominfo, Ferdinandus Setu yang menyebut, pihaknya akan melihat penyebaran konten yang sifatnya menyesatkan dan seberapa banyak jumlahnya. Pembatasan media sosial, katanya, akan dilakukan berdasarkan rekomendasi Mesin Sensor Internet atau AIS. Jika konten penyebarannya mencapai 600-an dalam hitungan detik, maka pembatasan akan dilakukan karena jika tidak, akan semakin berbahaya. Seperti sebelumnya, maka pembatasan tidak dilakukan secara menyeluruh tapi hanya

Menkominfo Rudiantara

pada video dan gambar. “Masalah itu nanti dirapatkan lagi,” ujarnya. PEDAGANG ONLINE MENJERIT “Saya berharap tidak ada pembatasan lagi. Kasihani kami yang berjualan online yang merugi banyak gara-gara itu,” ujar Dessy yang sudah setahun ini menekuni penjualan cairan pembersih untuk keperluan rumah tangga secara online. “Saya paham maksud pemerintah dengan pemblokiran. Tapi bagaimana dengan nasib dagangan saya. Saya tidak bisa upload foto. Padahal itu penting untuk berjualan online. Ada calon pembeli yang tanya-tanya produk saya dan minta foto, tapi saya nggak bisa kasih. Akhirnya nggak jadi beli,” ujar mantan pegawai Pemda DKI Jakarta, itu. Hal yang sama juga dikeluhkan Muhamad Abdullah, pedagang baju anakanak online yang juga memiliki toko di Tanah Abang. “Omzet saya melorot

lebih dari 50% saat itu. Hanya beberapa pelanggan saja yang berani beli tanpa gambar. Mereka percaya karena sudah biasa. Tapi jumlahnya hanya beberapa. Kebanyakan minta gambar,” ungkap Abdullah. Abdullah memang pantas bersedih. Karena dua lapak tempatnya menggantung kehidupan, selama tiga hari nyaris ‘lumpuh’. Tokonya di Tanah Abang tutup, sementara lapak online-nya pun tidak berfungsi maksimal. Bhima Yudhistira, ekonom Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) menyebut, potensi kerugian jual-beli online akibat pembatasan medsos diperkirakan mencapai Rp 227 miliar per hari. Sungguh nilai yang tidak sedikit apalagi jika dikalikan 3 hari pemblokiran. Tapi apa mau dikata, kondisi keamanan memang ketika itu cukup mengkhawatirkan sehingga pemerintah merasa perlu mengambil tindakan seperti itu. (Diana Runtu)

Belajar dari Pembatasan Medsos Mengutip pernyataan Tulus Abadi, Ketua Pengurus Harian YLKI, banyak pelajaran berharga yang bisa dipetik dari kasus pembatasan medsos tersebut, bukan hanya bagi pemerintah tapi juga masyarakat. Dari kejadian itu, kata Tulus, juga bisa dilihat bahwa saat ini internet dan media sosial sudah menjadi salah satu ‘panglima’ di sektor ekonomi, yakni ekonomi yang berbasis digital. Akibat pemblokiran itu, tuturnya, aktivitas ekonomi yang berbasis e-commerce praktis lumpuh, karena pihak pedagang atau market place-n ya tidak bisa berkomunikasi interaktif dengan konsumennya. “Selama ini dalam rangka menawarkan produknya, mereka berkomunikasi (berpromosi) dengan konsumennya via gambar/foto dan video yang diposting

Tulus Abadi

di laman media sosialnya atau dishare via WhatsApp . Tidak aneh jika selama tiga hari masa pemblokiran itu asosiasi pedagang online mengaku terpukul berat. Bisa dibayangkan dampaknya jika pemblokiran itu sampai berhari-hari, berminggu-minggu, atau bahkan diblokir selamanya seperti kasus di Negeri Tirai Bambu China,” ujar Tulus. Secara awam, kata Tulus lebih jauh, pemblokiran itu bisa dikatakan melanggar hak-hak konsumen bahkan melanggar hak publik secara luas. Namun, aksi pemblokiran medsos tersebut bisa dipahami mengingat kondisi aktual yang kala itu sudah merongrong keamanan nasional dan negara. “Hal seperti ini bukan hanya terjadi di Indonesia, tapi banyak negara lainnya,” tambahnya. Menurutnya, maraknya berita bohong, fitnah yang menjurus pada aksi provokatif, memang sangat marak dan meresahkan. Setiap detik berseliweran berita bohong seputar politik, agama, bahkan kesehatan. Kuatnya distribusi hoaks tak bisa dilepaskan oleh masih rendahnya literasi digital masyarakat. Ini sejatinya hal yang ironis di tengah derasnya gempuran era digital, tetapi literasi digital masyarakat Indonesia masih jauh dari memadai. Akibat masih rendahnya literasi digital ini, masyarakat sulit (dan juga malas) membedakan mana berita faktual dan mana berita palsu, bohong alias hoaks. Di bagian lain, menurutnya, pemerintah harus secara jelas dan terukur membuat parameter tentang kondisi darurat plus melakukan mitigasinya. Sebab, pascapemblokiran, masyarakat langsung bermanuver menggunakan akses lainnya untuk tetap menghidupkan medsosnya, yakni dengan menggunakan akses VPN (virtual private number), khususnya VPN gratisan yang ternyata membahayakan konsumen,” jelasnya panjang-lebar. “Terbukti, beberapa hari setelah menggunakan VPN banyak konsumen mengeluh akun banknya dijebol. Isi rekeningnya menjadi “nol”, kosong melompong,” ucap Tulus. (Diana Runtu)


12 Lombok-Australia terhubung langsung setelah Maskapai AirAsia, resmi mengoperasikan rute penerbangan Lombok dengan Perth. Hal ini ditandai dengan pendaratan perdana pesawat AirAsia jurusan Perth - Lombok di Bandara ­Internasional Lombok (BIL), Minggu malam, 9 Juni 2019. Pendaratan perdana ini tidak saja menandai terbukanya rute baru untuk wisatawan dari Australia ke NTB m ­ elainkan juga memperlihatkan kuatnya komitmen Pemerintah Provinsi NTB untuk ­mendongkrak arus kunjungan wisatawan ke NTB.

W

akil Gubernur NTB, Dr. Hj. Sitti Rohmi Djalilah yang ikut serta dalam rombongan pendaratan perdana pesawat bernomor QZ471 itu, mengungkapkan bahwa dibukanya rute penerbangan Lombok - Perth

bumi gora

Edisi 1036/ 17-23 juni 2019

Lombok-Australia “Terhubung Langsung”

yang memang telah disiapkan untuk menerima para peserta penerbangan perdana tersebut. Juga, serangkaian suvenir dan penganan lokal. Rute baru ini terlihat menjanjikan dengan antusiasme masyarakat di Perth terhadap dibukanya rute baru ini yang menggembirakan. Hal ini ditandai dengan terpenuhinya kapasitas penumpang di penerbangan perdana malam itu. “Alhamdulillah, full 171 penumpang. Yang berikutnya juga udah mau 150 an penumpang,” kata Rohmi. Wakil Gubernut NTB juga mengaku mendapatkan sambutan yang menggembirakan dari

publik di Australia. Karenanya, ia sangat optimis akan pertumbuhan arus kunjungan ke NTB dari Australia. “Ketika saya perkenalkan NTB di sana, responsnya luar biasa,” ungkapnya yang menilai sambutan ini cukup wajar mengingat NTB memiliki banyak destinasi yang mampu memikat

Hotel, Restoran, Pasar Modern, dan Swalayan Wajib Utamakan Produk Lokal

Untuk mengoptimalkan implementasi Peraturan Gubernur Bali Nomor 99 Tahun 2018 Tentang Pemasaran dan Pemanfaatan Produk Pertanian, Perikanan dan Industri Lokal Bali, Gubernur Bali Wayan Koster mengeluarkan Surat Edaran Nomor 5774 Tahun 2019 yang mewajibkan hotel, restoran, pasar modern/swalayan untuk mengutamakan pemanfaatan produk hasil industri lokal. Informasi tersebut disampaikan Kepala Biro Humas dan Protokol Setda Provinsi Bali Agung Sutha, dalam siaran persnya, Rabu (12/6/2019).

Kepala Biro Humas dan Protokol Setda Provinsi Bali Agung Sutha

L

ebih detail Agung Sutha menjelaskan, surat edaran tersebut berisikan empat point penting yang ditujukan kepada Bupati/ Walikota se-Bali, Kepala OPD Provinsi

Bali, Ketua MUDP, Ketua PHDI, Ketua PHRI Provinsi Bali, Ketua APRINDO dan Ketua Asosiasi Catering Provinsi Bali. Pada poin pertama, semua pihak diminta bersama-sama mensosialisasi-

memperjuangkan kemerdekaan Indonesia dan hal-hal lain yang berkaitan dengan terlahirnya negeri ini, menurut Koster sudah sepantasnya Bung Karno untuk dihormati sebagai Bapak Bangsa, sebagai Pahlawan Nasional. Gubernur yang juga Ketua DPD PDI Perjuangan Provinsi Bali itu menjelaskan, saat ini merupakan waktu yang tepat untuk mengaplikasikan nilai-nilai luhur ajaran Bung Karno bagi rakyat Indonesia, terlebih di Provinsi Bali. “Bali adalah percontohan bagi daerah lain dalam menerapkan ajaran Bung Karno secara utuh, sesuai kearifan lokal yang ada,” ujar pria kelahiran Sembiran, Kabupaten Buleleng itu. Gubernur menyebutkan, “Visi ‘Nangun Sat Kerthi Loka Bali’ pun ide dan konsepnya digali dari pemikiran Bung Karno, di mana konsep berkepribadian secara budaya sangat cocok dengan Bali. Di tahun-tahun selanjutnya, Koster memastikan gelaran Bulan Bung Kar-

no akan terus dilaksanakan dan akan lebih meriah lagi. “Peserta lomba akan kita tingkatkan lagi. Sekarang tingkat SMA/SMK, tahun depan mulai dari SD sampai perguruan tinggi. Kita tanamkan nilai-nilai kebangsaan dari tingkat awal hingga tingkat lanjutan generasi kita,” ujarnya di hadapan peserta yang turut didampingi para guru dan kepala sekolah mereka masing-masing. Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Bali Ketut Ngurah Boy Jayawibawa dalam kesempatan yang sama mengatakan, semangat dan gagasan Bung Karno terutama Pancasila harus diteladani generasi penerus. “Kita mengenang dan merefleksikan semangat Bung Karno yang sesuai pula dengan visi ‘Nangun Sat Kerthi Loka Bali’ dan kearifan lokal Bali,” kata Jayawibawa menandaskan. Lomba pidato dan cerdas cermat itu sendiri diikuti perwakilan SMA/SMK/ SLB kabupaten/kota se-Bali, di mana 23 orang siswa tercatat turut ambil bagian

kan, melaksanakan dan mengawasi pelaksanaan Pergub Nomor 99 Tahun 2018. Berikutnya pada point dua, seluruh jajaran pemerintah daerah agar memprioritaskan pemanfaatan produk pertanian, perikanan dan industri lokal Bali pada berbagai kesempatan acara dan kegiatan yang dilaksanakan. Sedangkan point ketiga terdiri dari tiga hal yaitu hotel dan restoran diwajibkan memanfaatkan produk pertanian dan perikanan minimal 30 persen serta produk industri lokal Bali minimal 20 persen dari kebutuhannya. Sedangkan pasar modern/swalayan wajib memasarkan produk pertanian minimal 60 persen dan produk peri-

kanan dan industri lokal Bali minimal 20 persen dari jumlah produk yang dipasarkan. Surat edaran juga mengatur harga pembelian langsung dari petani, kelompok pembudidaya ikan danpengrajin lokal Bali minimal 20 persen di atas biaya produksi dan dibayar tunai. Jika ditunda, pembayaran akan dilakukan melalui Perusahaan Daerah Provinsi Bali. Pada poin ke empat surat edarannya, Gubernur Koster mengajak masyarakat untuk membangkitkan kebanggaan terhadap pemanfaatan produk lokal Bali dengan slogan “Cintailah Produk Dalam Negeri, Gunakanlah Produksi Daerah Sendiri”. (ast)

Gubernur Koster: Generasi Muda Harus Paham Sejarah Bangsa

Wakil Gubernur NTB, Dr. Hj. Sitti Rohmi Djalillah (tiga dari kanan) pada penerbangan perdana AirAsia rute Perth - Lombok

merupakan buah kerja keras bersama antara pemerintah, maskapai penerbangan dan semua pihak terkait. Ia juga menegaskan bahwa di masa yang akan datang pihaknya bersama maskapai penerbangan terus mengupayakan dibukanya rute penerbangan baru ke Lombok, dari daerah-daerah lain di Indonesia. “Untuk koneksinya, kita juga lagi dorong Lombok Surabaya, Lombok - Jakarta dan Lombok - Denpasar,” ujarnya. Selain Wakil Gubernur, hadir pula jajaran manajemen PT Indonesia AirAsia, Konjen RI di Perth, Dewi Gustina Tobing, beserta sejumlah pelaku pariwisata. Ratusan penumpang AirAsia yang ikut serta dalam penerbangan perdana ini tampak antusias mendapat sambutan hangat di pintu kedatangan BIL. Terlebih, mereka langsung mendapatkan suguhan atraksi Gendang Beleq

5

Edisi 1036/ 17-23 juni 2019

wisatawan mulai dari wisata pantai, air terjun yang indah, gunung Rinjani, Tambora dan destinasi lainnya. “Belum lagi kerajinannya yang luar biasa. Juga potensi sport tourism juga, kemudian juga ke depan ada MotoGP, yang potensialnya juga di-improve jadi F1 benar-benar menjadi sesuatu yang menarik bagi mereka,” katanya. Optimisme mengenai akan ramainya rute penerbangan ini juga ditunjang dengan tarif penerbangan yang dinilai cukup terjangkau. Wagub berharap, problem tingginya harga tiket pesawat yang terjadi saat ini bisa segera tuntas seiring adanya serangkaian kebi-

jakan yang diambil pemerintah. “Mudah-mudahan harga tiket ini tidak menjadi isu lagi. Karena, kan sedang dibenahi juga oleh pemerintah,” ujarnya. Pembukaan rute penerbangan AirAsia yang menghubungkan Lombok dan Australia ini didahului dengan penandatanganan nota kesepahaman antara Dirut PT Indonesia AirAsia, Dendy Kurniawan dengan Gubernur

NTB, H. Zulkieflimansyah di kantor Air Asia di Tangerang, pada bulan Maret lalu. Pe n g g u n a r u t e i n i j u g a berkesempatan menikmati tarif murah untuk perjalanan mulai 9 Juni hingga 26 Oktober 2019. AirAsia akan terbang melintasi rute Lombok - Perth sebanyak empat kali sepekan. Penerbangan ini akan tersedia di hari Senin, Rabu, Jumat dan Minggu. (Naniek I. Taufan)

“Mudah-mudahan harga tiket ini tidak menjadi isu lagi. Karena, kan sedang dibenahi juga oleh pemerintah”

Gubernur Bali Wayan Koster menegaskan, generasi muda khususnya di Bali harus paham dengan sejarah bangsa. “Jangan meninggalkan sejarah. Generasi terkini harus tahu siapa pahlawan bangsa, siapa proklamator kemerdekaan Republik Indonesia,” ucapnya bersemangat. Gubernur Koster mengatakan hal itu pada pembukaan ‘Lomba Cerdas Cermat dan Pidato Bung Karno’ di Kantor Dinas Pendidikan Provinsi Bali di Denpasar, Kamis (13/6) pagi. Dalam acara yang dilaksanakan terkait peringatan Bulan Bung Karno tersebut, Gubernur Koster menguraikan peran besar Bung Karno dalam masa-masa menuju kemerdekaan. “Sejarah mencatat peran beliau dalam menjadikan bangsa ini merdeka. Kita harus warisi semangat, ide dan gagasan beliau untuk Indonesia Raya,” katanya menegaskan. Seiring dengan jasa-sasa dalam

Gubernur Wayan Koster memberi sambutan dalam lomba cerdas cermat dan pidato Bung Karno dalam lomba pidato dan 45 peserta lomba cerdas cermat bertema Bung Karno. Gubernur Koster dalam kesem-

patan tersebut juga turut langsung menyaksikan dan menyemangati beberapa peserta yang tampil mengikuti perlombaan. (ast).

Wisnu Ardhana menjelaskan Pergub ini sangat diperlukan sebagai usaha nyata membangun ekonomi rakyat di Bali. “ Selama ini kita ada masalah di hilir, yakni untuk pemasaran produk pertanian. Lalu masalah di hulu, produk pertanian harganya jatuh, produknya cepat rusak. Dampaknya, kesejahteraan petani kurang, lemah daya saing dan rendah nilai tambah,” urai Wishnuardana. Dengan kewajiban hotel, restoran, catering hingga swalayan untuk menyerap produk lokal Bali, menurut Wishnuardana membuka pasar yang luas sekaligus memprioritas petani lokal untuk mendapatkan pasar. “ Ini pertama kali ada peraturan, regulasi yang mengatur hingga pemasaran dan pemanfaatan,” tandasnya. “Selain itu, dengan regulasi ini swalayan wajib membeli dan menjual min 60 % produk lokal. Hotel, restoran dan katering minimal menyerap 30 %. Sudah ada tandatangan kesanggupan mendukung pergub ini dari berbagai asosiasi hotel, restoran dan ritel. Semuanya mendukung dan menyambut baik,” jelasnya lagi. Seperti diberitakan sebelumnya, pergub no 99 tahun 2018 yang dicetuskan Gubernur Wayan Koster mewajibkan Toko Swalayan membeli dan menjual dengan besaran masingmasing Produk tanaman pangan, hortikultura dan perkebunan serta peternakan paling sedikit 60 % dari

total volume produk yang dipasarkan dan Produk perikanan lokal Bali dan industri lokal Bali paling sedikit 30 % dari total volume produk yang dipasarkan. Lalu, Setiap Hotel, Restoran dan Katering mengutamakan pemanfaatan dalam kegiatan usahanya dengan besaran masing-masing Produk tanaman pangan, hortikultura dan perkebunan paling sedikit 30 % dari volume produk yang dibutuhkan; Produk peternakan paling sedikit 30 % dari kebutuhan hotel dan restoran dan paling sedikit 10 % dari kebutuhan industri pengolahan/meat processing; Produk perikanan lokal Bali dan industri lokal Bali paling sedikit 30 % dari volume produk yang dibutuhkan; dan Produk industri lokal Bali paling sedikit 20 % dari volume produk yang dibutuhkan. Selain itu, Pergub ini mewajibkan Hotel, Restoran, Katering dan Toko Swalayan bermitra dengan: Petani, Subak, Kelompok tani, Kelompok usaha produktif, Asosiasi profesi, Pelaku UMKM, Koperasi, atau badan usaha. Disamping itu, Pergub mewajibkan Hotel, Restoran, Katering dan Toko Swalayan untuk membeli produk pertanian lokal Bali dengan harga paling sedikit 20 % di atas biaya produksi dari petani, kelompok tani, subak dan pelaku usaha tani. (ast)

Penguatan Peran Koperasi Produksi di Provinsi Bali

Sebagai realisasi dari Peraturan Gubernur (Pergub) No 99 tahun 2018, Asisten Perekonomian dan Administrasi Pembangunan Setda Provinsi Bali Ida Bagus Kade Subhiksu mengajak para pelaku koperasi produksi se-kabupaten/kota se-Bali untuk memperkuat pemahaman dan pengaplikasian Pergub tersebut. “Bapak Gubernur sangat menaruh ekspektasi yang besar akan jalannya Pergub ini dan mengharap eksekusi dan peran yang besar dari koperasi produksi di Bali,” tandas Subhiksu dalam acara ‘Penguatan Peran Koperasi Produksi di Provinsi Bali, Untuk Mendukung Pergub Bali nomor 99 tahun 2018 Tentang Pemasaran dan Pemanfaatan Produk Pertanian, Perikanan dan Industri Lokal Bali’ pada Rabu (12/6) pagi. Dalam acara yang dilaksanakan Dinas Koperasi dan UMKM Provinsi Bali di Wiswa Sabha Utama Kantor Gubernur Bali tersebut, Subhiksu memaparkan tujuan dari pergub tersebut untuk memberikan kepastian kesinambungan penyerapan produk pertanian dan industri lokal di Bali. “ Pergub yang sudah di-launching pada 7 januari lalu ini punya tujuan mulia untuk masyarakat Bali dengan melihat pesatnya industri pariwisata di Bali, sehingga diharapkan mampu memberikan dampak positif bagi penyerapan produk lokal Bali, seperti sayur, buah, dan lain sebagainya,”

Penguatan Peran Koperasi Produksi di Provinsi Bali, Untuk Mendukung Pergub Bali nomor 99 tahun 2018 Tentang Pemasaran dan Pemanfaatan Produk Pertanian, Perikanan dan Industri Lokal Bali jelasnya lagi. Subhiksu juga menekankan pentingnya sinergi dari berbagai instansi terkait untuk mempercepat pelaksanaan Pergub 99 ini. “ Koordinasi harus terus dijalankan, sarana, prasarana, pembiayaan hingga promosi dan pemasarannya,” katanya. “Dan harus diingat, Bapak Gubernur sangat konsen dengan pelaksanaan Pergub ini dan sudah mengindikasikan akan melakukan sidak secara berkala langsung ke lap[angan,” tegas Subhiksu. Sementara itu Kepala Dinas Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (UKM) Provinsi Bali, I Gede Indra

Dewa Putra menjabarkan pihaknya akan segera membentuk koperasikoperasi produksi baru dengan melihat potensi daerah masing-masing. “ Saat ini ada 122 koperasi produksi yang aktif dan akan kita tambah. Misalnya di kintamani kita bentuk koperasi khusus komoditi Jeruk, di Tabanan koperasi khusus buah manggis dan seterusnya. Juga akan difasilitasi untuk secepatnya bisa terhubung dengan hotel, restoran dan pasar lain, sesuai visi Pak Gubernur,” tandasnya. Di kesempatan yang sama, Kepala Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Perkebunan Provinsi Bali, IB


dara

6

Edisi 1036/ 17-23 juni 2019

Jennifer Aurora Ribero

Mencintai Diri Sendiri Umurnya baru 15 tahun. Masih muda sekali. Namun penampilannya sungguh bisa menipu kebanyakan orang. Ya, dia terlihat jauh lebih tua dari usia sebenarnya. Tak heran kalau semua terkejut ketika tahu dia masih di bawah umur. Itulah Jennifer Aurora Ribero, pendatang baru di dunia hiburan yang sedang ‘naik daun’.

K

arena penampilannya jauh dari usia sebenarnya, Aurora kerap mendapat peran gadis dewasa. Lihat saja saat ia pertama kali terjun ke dunia peran, dua tahun lalu. Saat itu usianya baru 13 tahun. Namun dara kelahiran 18 Mei 2004 ini, mendapat peran tokoh Kiara, gadis berusia 17 tahun. Tahun lalu, saat usianya 14 tahun, ia tampil sebagai pemeran utama film percintaan remaja ‘RRaja, Ratu & Rahasia’. Sedang dalam film ‘Asal Kau Bahagia’ yang tayang pada Desember lalu, Aurora memerankan gadis usia 18 tahun, kekasih Aliando Syarief. Teman-temannya di lokasi syuting, sempat terkejut ketika tahu usia Aurora yang memiliki tinggi 169 cm, ternyata masih sangat muda. “Kirain umurnya sekitar 17-19 tahun, nggak tahunya lebih muda lagi, 14 tahun,” ungkap Aliando yang berumur 22 tahun. Untungnya, usia Aurora yang masih belia serta minim pengalaman di dunia peran, tidak menjadi masalah selama proses syuting. Di luar dugaan, sekalipun usianya masih muda dan tidak memiliki

pengalaman akting, justru Aurora mampu menampilkan akting yang bagus. Lihat saja penampilannya pada film ‘Susah Sinyal’ yang merupakan film perdananya. Sang sutradara, Ernest Prakasa memberi pujian khusus pada Aurora. Film yang menjadi box office ini, menghantar Aurora masuk nominasi Pendatang Baru Terbaik dan Pemeran Pendukung Wanita Terbaik Indonesia Box Office Movie Awards 2018. Meski belum berhasil meraih piala, namun ia telah menjadi salah satu artis yang diperhitungkan dalam dunia akting Tanah Air. “Aku masih baru banget di dunia akting. Terima kasih atas apresiasinya. Tapi aku sendiri merasa masih banyak kekurangan, dari segi pengalaman maupun kemampuan akting. Jadi rasanya aku memang harus mendalami dunia akting,” kata Aurora yang berencana mengambil kelas akting. Sebenarnya, kata Aurora, kerap mendapat peran tokoh usia 18 tahun, sempat membuatnya tidak ‘PD’ dan agak khawatir. “Aku khawatir karakter aku yang sebenarnya muncul. Yakni karakter anak usia 14 tahun. Untungnya hal itu tidak terjadi, semua berjalan lancar,” ungkap yang punya hobi menyanyi di kamar mandi. JADI ARTIS BERKAT INSTAGRAM Gadis kelahiran Semarang ini boleh dibilang tidak sengaja ‘terjebur’ ke dunia

film. Awalnya, saat ia ikut peragaan busana di Bali. Sebelum tampil, ia didandani oleh seorang make-up artis. Melihat hasil riasannya sangat bagus, ia pun meng-upload foto Aurora di instagramnya. Tak dinyana, foto cantik Aurora menarik perhatian seorang pencari bakat yang langsung mencari kontak Aurora. “Aku ditawari masuk manajemen dan menjadi artis. Aku juga diminta ikut casting. Aku

Aurora bersama ayahnya

sempat ragu, tapi aku pikir nggak ada salahnya mencoba. Jadi aku ke Jakarta untuk casting,” tutur anak pasangan Luigi Ribero dan Sri Hartito Natalia Hairun, ini. “Saat casting bukan hanya diminta berakting tapi aku juga diminta menyanyi. Aku sempat bingung mau nyanyi apa. Akhirnya aku menyanyi lagunya Adele, ‘All I Ask’,” tambah Aurora yang mengaku sempat grogi. Tak menunggu waktu, hanya beberapa minggu kemudian, dia pun dinyatakan lolos casting dan mendapat peran dalam film ‘Susah Sinyal’. Film ini meledak dipasaran dan akting Aurora menjadi ’buah bibir’ masyarakat, khususnya pemerhati perfilman nasional. Sejak itu, dia menjadi kebanjiran tawaran main film juga sinetron dan tampil on air dan off air. Sayangnya tak semuanya bisa dipenuhi. “Sejak ‘Susah Sinyal’ aku dapat banyak tawaran main film juga sinetron. Tapi untuk sinteron aku belum bisa karena waktu aku yang terbatas.

Kalau sinetron kan harus setiap hari dan waktunya lama. Aku belum bisa. Jadi aku pilih fokus main film saja. Sedang untuk pendidikan aku ambil home schooling,” jelasnya. Jennifer Aurora Ribero Dengan home schooling waktunya bisa dulu lagi. Salah satu yang diralebih fleksibel, juga guru datang sakannya adalah privacy nya jadi ke rumah. “Guru aku wanita, jauh berkurang. “Hidup kita jadi dia datang ke rumah. Selain sorotan bahkan sampai hal sekecilitu aku juga belajar lewat kecilnya. Aku ngerasain betul, jadi online,” ungkap penyuka kayak ngga punya private place,” pizza ini. katanya. Sempat ragu terjun Meski begitu, sejauh ini dirinya ke dunia akting, Aurora masih bisa menerima. Itu merumengaku kini menyu- pakan risiko dan tantangan, tinggal kainya. Yang paling mem- bagaimana dirinya mengelolanya. bahagiakan, katanya, ka- Gosip juga termasuk di antaranya. lau kerja kerasnya menda- “Aku bersyukur atas apa yang pat apresiasi yang bagus. sudah Tuhan beri. Aku tahu akan Salah satunya saat ia tampil banyak tantangan atau omondi ‘Asal Kau Bahagia’. gan-omongan negatif. Ya nggak “Orang bilang aku berhasil apa-apa. Nggak usah didengerin memerankan gadis dewasa. Ka- kalau cuma hal-hal yang membuat tanya, di film itu aku seperti orang down,” ujarnya. dewasa, padahal umur aku masih Tinggal di Jakarta, kata Au14 tahun. Dibilang begitu, aku rora, beda dengan di Bali dan dia malah senang, karena berarti aku berusaha menyesuaikannya. Soal berhasil. Ya, aku bisa begitu karena pantai misalnya. Di Jakarta dirasabanyak yang bantu, lawan main kannya susah mendapatkan pantai aku, teman-teman pendukung film, yang nyaman. Dia juga tinggal juga sutradara,” katanya. jauh dari pantai. Sementara saat Meski dibilang sebagian orang di Bali, dia mudah mendapatkan dirinya sukses, namun Aurora pantai yang menjadi tempatnya mengaku hasil kerjanya masih jauh bermain. dari sempurna. Dia juga kadang “Waktu di Bali aku sering banget masih kurang percaya diri. “Jadi main ke pantai untuk jogging atau sekarang ini aku masih proses sekadar jalan-jalan. Mama nemmencintai diri sendiri. Just trying enin aku. Kalau di Jakarta susah more be confident,” ujarnya. Salah cari pantai,” katanya. Selain itu satu yang bikin ia kurang confident dia juga mengaku kini tidak berani adalah kulitnya yang sensitif. memakai celana pendek untuk “Aku mudah jerawatan. Itu jalan-jalan di tempat publik. bikin nggak percaya diri. Makanya “Awalnya, karena aku di Bali aku jaga banget lewat makanan terbiasa memakai celana pendek dan perawatan,” ungkap Aurora untuk jalan-jalan. Di sana biasa yang sebisa mungkin menghindari aja cewek jalan-jalan pakai celana makan coklat, kacang-kacangan pendek. Pas aku di Jakarta, aku serta memperbanyak makan buah- melakukan hal yang sama. Aku buahan dan sayuran. “Tidak lupa, pakai celana pendek untuk jalanaku juga minum banyak air putih,” jalan ke mal. Tapi, kok, sepertinya ucap Aurora yang rajin berolah- orang-orang memandang aneh. raga ini. Beberapa kali aku coba, tapi lamaMenjadi artis, diakui Auro- lama risih, aku nggak berani lagi ra, tidak semudah dibayangkan. pake celana pendek,” ungkap gadis Hidupnya juga tidak bisa sebebas cantik ini. (Diana Runtu)

buleleng

Edisi 1036/ 17-23 juni 2019

11

Asosiasi Petani Durian Samakan Persepsi

Permintaan durian yang makin hari makin meningkat, membuat beberapa petani mengalihkan perkebunannya untuk menanam durian. Durian lokal maupun durian dengan jenis lainnya, saat ini kian digemari oleh masyarakat. Seiring dengan peningkatan permintaan durian di pasar juga dibarengi dengan peningkatan produksi dari petani. Kondisi ini dikhawatirkan akan membuat harga anjlok jika petani tidak dapat bersaing secara kualitas.

H

al inilah yang mendasari Ketut Juliawan untuk membentuk asosiasi petani durian di seluruh Bali. Pemuda asal Buleleng ini mengatakan tujuan dibentuknya asosiasi Petani Durian ini untuk menyamakan persepsi antar petani durian agar tetap menjaga kualitas produknya. Ia melihat saat ini, buah durian memiliki pasar yang sangat bagus, akan tetapi jika produksinya melimpah saat panen ini akan men-

jadi masalah untuk petani. “Saya rasa saat ini durian memiliki pasar yang sangat bagus, akan tetapi jika produksinya over ini yang harus kita pikirkan, ke mana target pasar kita,” ungkapnya. Untuk dapat menentukan target pasar, imbuh pria yang juga anggota dari Petani Muda Bali ini mengatakan para petani harus memperhatikan kualitas produksi sehingga buah durian yang dipanen benar-benar dapat bersaing dipasaran. “Jan-

gan sampai buah yang sudah dipanen ditolak oleh pasar karena tidak memenuhi standar yang d i i n g i n k a n p a s a r, ” jelasnya. Dengan membentuk asosiasi ini, Juliawan menambahkan telah mem-

buat sebuah SOP bagaimana membudidayakan hingga pasca panen agar menghasilkan buah durian yang berkualitas. Nantinya, dalam kelompok ini akan diberikan pemahaman mengenai prinsip-prinsip GAP (Good Agricultural Practices), penerapan SOP (Standard Operating Procedure) dan prinsip-prinsip PHT (Pengendalian Hama Terpadu). Dengan menerapkan prinsip- prinsip GAP, SOP dan

Ketut Juliawan

PHT secara berkesinambungan diharapkan para petani durian mampu meningkatkan hasil produksi durian dan menghasilkan produk pertanian yang berkualitas ekspor g l o b a l . “J i k a p e t a n i s u d a h mengikuti SOP yang kami buat maka kami juga bisa mengontrol secara kualitas buah yang dihasilkan,” tambahnya. Juliawan berharap dengan terbentuknya asosiasi ini, petani-petani di Bali khususnya di Buleleng sebagai kabupaten yang potensial penghasil buah durian dapat bertukar informasi terkait hal-hal yang berhubungan dengan penanaman, pemupukan hingga cara mengatasi kendala terutama hama dalam pemeliharaan pohon durian. “Asosiasi ini sebagai wadah, agar para petani bisa sharing tentang hal-hal baru dan kendala-kendala serta cara mengatasinya sehingga dapat meningkatkan kualitas produk,” tandasnya. (Wiwin Meliana)

Panen Tepat Waktu, Harga Vanili Fantastis

Pohon vanili yang ditanam melalui media polibag

Pertanian di Buleleng memang sangat variatif dari segi komoditi. Berbagai jenis komoditi dapat dijumpai dari hasil pertanian tersebut. Mulai dari komoditi yang memiliki kualitas unggulan hingga komoditi yang memiliki harga fantastis. Salah satunya buah vanili, produk pertanian yang memiliki nilai ekspor cukup tinggi. Sayangnya, meskipun harga jual produk hasil pertanian ini terbilang fantastis, akan tetapi belum banyak petani di Buleleng yang membudidayakannya. Vanili menjadi salah satu komoditas ekspor yang menjanjikan. Permintaan vanili kering terbuka hingga ke luar negeri dengan harga yang cukup menjanjikan yaitu Rp 4-6 juta per kilogramnya. Di Buleleng masih sedikit petani yang membudidayakan tanaman vanili. Padahal untuk membudidayakan tanaman yang sering digunakan untuk bahan membuat kue atau kosmetik ini tidak membutuhkan lahan yang luas dan perawatan yang khusus. Salah satu petani vanili dari Banjar Dinas Ambengan, Sukasada Buleleng, I Wayan Rinaya Darma Sanjaya Wicaksana mengatakan dibutuhkan kesabaran untuk menanam vanili sebab diperlukan waktu yang cukup lama dalam proses pemeliharaan hingga masa panen. Dirinya menambahkan, selain ditanam secara konvensional pada lahan terbuka, vanili bisa ditanam dengan menggunakan media polibag, ataupun ditumpang sarikan dengan pohon lain. Dengan menggunakan teknik penanaman stek batang perkembangan tanaman vanili menjadi lebih cepat. Terlepas dari nutrisi yang diberikan pada tanaman selama masa perawatan. “Sangat jarang petani menggunakan metode vegetatif atau menggunakan benih vanili karena dengan stek batang perkembangan vanili justru lebih cepat,” jelasnya. Rinaya yang saat ini memiliki sekitar 500 pohon vanili dalam polibag mengungkapkan tanaman vanili membutuhkan

Wayan Rinaya Darma menunjukkan vanili yang ditanam melalui media polibag waktu 2-3 bulan sampai keluar tunas. Setelah itu petani harus menunggu 24 bulan atau 2 tahun untuk vanili mulai berbunga dan siap dilakukan proses penyerbukan. “Cenderung pembuatan bibit vanili dilakukan dengan cara stek batang, dan untuk sampai tumbuh tunas juga tergantung usia dari pada induk vanili tersebut,” jelasnya. Pada fase ini, ada teknik khusus yang harus diketahui petani dalam melakukan penyerbukan untuk dapat menghasilkan buah. Dimana waktu penyerbukan atau mengawinkan bisa dilakukan pukul 06.00-11.00, apa bila lewat dari jam 11, maka bunga vanili akan layu dan tidak layak kawin. “Disinilah fase yang mungkin tidak banyak diketahui oleh petani vanili khususnya, dan fase ini memang menjadi fase terumit karena membutuhkan keahlian khusus dalam mengawinkan vanili, bagi yang sudah berpengalaman proses penyerbukan membutuhkan waktu sekitar 20 detik untuk satu buah,”imbuhnya. Apabila sudah melewati proses penyerbukan, buah vanili baru dapat dipanen sekitar delapan hingga sembilan bulan ke depan. Usia ini adalah usia yang tepat untuk bisa dilakukan panen, karena vanili yang memiliki kualitas super adalah vanili yang dipanen di usia yang tepat, terlebih lagi jika vanili diperuntukan untuk memenuhi kebutuhan pasar ekspor.

Ia pun tidak menampik masih banyak petani vanili di Buleleng memanen buah vanili ketika umurnya masih muda. Hal tersebut karena petani kurang memperhatikan kualitas vanili sehingga harga jual vanili tidak optimal. Untuk menghindari petani memanen vanili pada umur muda, Rinaya berencana membuat sebuah wadah bagi petani vanili sehingga bisa bertukar informasi seputar pembudidayaan vanili. (Wiwin Meliana)

Wayan Rinaya Darma


Style

10

Edisi 1036/ 17 - 23 juni 2019

Pesona K

diaplikasikan dalam bentuk aksen ruflle juga peplum, hingga terkesan feminin, anggun dan sedikit misterius. Keenam gaya busana persembahannya tersebut ter­ lihat sangat indah. Dan, makin mengesankan dengan pilihan warna hijau lumut yang dilengkapi sentuhan bebatuan. yang dikerjakan khusus secara handmade.

(Sri Ardhini)

7

Bahasa sebagai Perekat Bangsa Kedudukan bahasa Indonesia dan situasi kebahasaan menyebabkan sikap bahasa menjadi isu sentral di era modern ini. Adanya kontak bahasa dengan bahasa asing juga telah membawa anggapan adanya bahasa yang memiliki nilai ekonomi yang lebih tinggi, lebih modern, dan lebih bermartabat dibandingkan bahasa Indonesia. Hal tersebut juga melatarbelakangi I Putu Mas Dewantara untuk mengambil penelitian dalam penyelesaian desertasinya dengan judul Pengembangan Perangkat Pembelajaran MPK Bahasa Indonesia Berorientasi Sikap Bahasa ­ di Universitas Pendidikan Ganesha.

Bali sangat kental dengan budaya dan tradisi yang hingga kini dijaga sangat baik. Didalamnya banyak terdapat keindahan yang religius. Dan, Riesna Dewi, pemilik “DBK Fashion” ini pun terinspirasi dari salah satu pernik cantiknya, yakni wastra berupa iderider yang biasa digunakan untuk menghiasi pelinggih. reasi imajinasi dari murid Angeliqa Wu Fashion Design Course ini hadir menggunakan bahan tenun lokal. Koleksinya kali ini berhasil memesona penonton saat tampil diacara “Graduation Show 2019 Angeliqa Wu FDC” di Ballroom The Vasini Hotel, Denpasar, Sabtu (1/6). Riesna Dewi pun mengembangkan lipit - lipit yang

EDUKASI

Edisi 1036/ 17 - 23 juni 2019

D

ewantara mengungkapkan selain menunjukkan ketrampilan di masing-masing bidang, mahasiswa diharapkan juga memiliki kesantunan berbahasa dalam berkomunikasi dengan siapa pun dan dalam situasi apapun. Anggapan bahwa penggunaan bahasa asing memiliki status bergengsi di kalangan anak muda membuat melemahnya sikap positif terhadap bahasa Indonesia. Bahkan bahasa Inggris dijadikan media komunikasi antarmahasiswa dalam situasi informal dan terkadang dikombinasikan dengan bahasa Indonesia. “Banyak sekali kesalahan bahasa yang dilakukan dalam penggunaan bahasa Indonesia asalkan maksud tersampaikan, dengan mengorbankan banyak hal,” jelasnya.

Melihat fenomena global tersebut akademisi Undiksha ini mengatakan jalan untuk memperbaiki keadaan melemahnya sikap positif terhadap bahasa Indonesia dengan pendesainan perangkat pembelajaran MPK Bahasa Indonesia yang berorientasi pada penumbuhkembangan sikap positif terhadap terhadap bahasa Indonesia. “Perangkat ini ditujukan untuk mengatasi masalah yang ada, karena fungsi dan kedudukan bahasa sebagai perekat dan keutuhan bangsa,” jelasnya. Perangkat pembelajaran tersebut, sambungnya cukup valid, praktis, dan efektif sehingga sangat disarankan kepada dosen MPK bahasa Indonesia untuk menggunakan dalam pembelajaran. Tidak dimungkiri, jika dalam pengimplementasian perangkat MPK

I Putu Mas Dewantara saat mengikuti ujian promosi Doktor

bahasa Indonesia itu tidak mudah. Untuk mencapai tujuan ternyata dirinya menemui kendala karena untuk mencapai tujuan pembelajaran dipengaruhi

oleh berbagai faktor. “Perangkat ini sangat kompleks sehingga banyak kendala dalam pengimplementasiannya tetapi itu menjadi tantangan

tersendiri,” ungkap dosen Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia yang lulus dengan predikat sangat memuaskan tersebut. (Wiwin Meliana)

DOA DAN NYANYIAN MOHON HUJAN Waktu itu musim kemarau panjang. Kodok, Jangkrik dan Manusia meTak ada air di mana-mana. Pepohonan nyadari hal itu. Mereka lalu berkumpul gersang, hewan-hewan dan manusia menjadi satu. Dengarkanlah! Nyanyian kehausan. Banyak pula yang mati. mereka sangat indah, sangat kuat, Seekor kodok melompat-lompat menggelegar menuju puncak gunung. tak tentu arah. Mencari air. Di suatu Namun, ditunggu-tunggu, tak setitik tempat, ia menengadah, berdoa dan air pun yang jatuh dari langit. Yang bernyanyi. “Oh, Dewi Hujan! Jatuhterdengar hanyalah ocehan seekor kanlah setitik air!” burung yang bertengger di sebuah Tak ada air yang jatuh dari lancabang pohon. “Hai, Kodok, Jangkrik, git. Dewi Hujan yang bersemayam Manusia! Aku tahu kamu memerlukan di puncak gunung tidak mendengar air, tetapi kamu tak pernah mencintai permohonan Kodok. Kodok lalu menapa yang kamu perlukan itu!” Made Taro gajak seluruh keluarganya berdoa dan Kodok, Jangkrik dan Manusia saling bernyanyi. Namun lagu yang indah itu toleh. Mereka tidak mengerti ocehan tidak sampai ke puncak gunung. burung yang bertengger itu. Dari jauh terdengar seekor jangkrik mendayu-dayu. “Periksalah perbuatanmu!” seru burung itu lagi. Ia juga kehausan. Ia menyanyikan lagu mohon air. Ia juga “Hai, Kodok! Berapa sampah yang kau buang ke laut? mengajak seluruh keluarganya berdoa dan menyanyikan Hai, Jangkrik! Berapa air kencing yang kau buang ke lagu mohon hujan. Namun tak ada air yang jatuh dari sungai? Hai, Manusia! Berapa pohon yang kau tebang, langit. Dewi Hujan yang bersemayam di puncak gunung, kemudian sisa tebangan itu kau buang ke sungai? Kamu tidak mendengar doa dan nyanyian yang indah itu. hanya bisa mengotori tetapi tidak bisa memelihara, Nah, siapakah mereka, dan apa yang mereka apalagi mencintai!” perbuat? Sekelompok manusia berdoa dan bernyanyi Hening sejenak. Ketiga makhluk yang memerlukan dari Pura ke Pura. Mereka melantunkan lagu mohon air itu kembali saling toleh. hujan kepada Dewi Hujan yang bersemayam di pun“Berjanjilah, bahwa engkau akan mencintai keperlucak gunung. Mereka juga mengadukan kaumnya yang anmu!” seru burung pengoceh itu. banyak mati karena kehausan. Namun lagu yang indah Tampak ketiga makhluk yang memerlukan air itu dan suci itu tak terdengar oleh Dewi Hujan. merapat. Lalu semuanya menengadah ke langit. Tak Tiba-tiba dari cabang pohon terdengar nyanyian lama kemudian terdengar doa dan nyanyian mohon seekor burung. “Tulilu…, tulilu,…!” Burung itu tidak hujan. Sangat kuat, sangat indah, sangat menyentuh minta air, tetapi menyampaikan pesan kepada Kodok, hati. Bersamaan dengan itu tampak awan berarakJangkrik dan Manusia. Katanya, “Hai, Kodok, Jangkrik, arakan, kemudian menggumpal, lalu disusul dengan Manusia! Percuma kamu berdoa untuk diri sendiri gemuruh petir. Lihat! Air hujan turun dari langit, dan kelompokmu! Air itu bukan semata-mata untuk makin lama makin deras. Semua hewan dan manusia dirimu dan kelompokmu, tetapi untuk semua makhluk. bergembira ria. Mereka menari berjingkrak-jingkrak Mengapa kamu tidak bekerjasama saja? Bukankah kalau dan bernyanyi-nyanyi. Sekali-sekali pepohonan tamkamu serempak berdoa dan bernyanyi bersama-sama, pak bergoyang-goyang. Mereka juga ikut menari dan doa dan nyanyian itu akan menjadi kekuatan besar?” bernyanyi.


jelita

8

Edisi 1036/ 17-23 juni 2019

Edisi 1036/ 17-23 juni 2019

Inspirasi Buku Puisi “Merah Putih”

Mie Sehat Alternatif Mie adalah salah satu menu favorit di segala penjuru dunia, dengan variasinya masing-masing. Seperti di Italia kita mengenal spaghetti, di Jepang ada ramen, udon dan soba, di Tiongkok ada lo mein, chow mein dan tak ketinggalan di Indonesia.

“Bunga Merah” dan “Rumah Merah” adalah dua buku puisi karya Putri Suastini Koster. Buku puisi yang diterbitkan Pustaka Bali Seni ini menawarkan ragam kegelisahan dan harapannya. Dengan gaya bersahaja, namun, mempunyai emosi, menangkap berbagai lintas persitiwa dimana ia menjadi bagian yang ada di dalamnya.

Nikki Indrawati

M

enu mie juga favorit masyarakat Indonesia. Namun sayang, mie sering dihindari oleh para penggiat makanan sehat, sebab identik bahan pengawet, penyedap sintetis, rendah nutrisi, dan mengandung gluten karena dari gandum. Menurut Nikki Indrawati (plant bassed chef dan konsultan nutrisi berbasis holistik), hal itu tidak selamanya benar, karena seiring bertambahnya kepedulian masyarakat terhadap pola hidup sehat. Dari banyaknya jenis mie sehat di pasaran, kali ini Chef Nikki mengupas 2 jenis yakni ‘Mie ganyong’ dan ‘Mie shirataki’. Mie ganyong, terbuat dari umbi ganyong, nama ilmiahnya Canna

“B

unga Merah” dan “Rumah Merah”, menghadirkan tema besar kemanusiaan yang bagi ­Putri Suastini sangat berarti dalam hidupnya. Selain sebagai penggiat sastra, ia sangat peduli pada kegiatan kemanusiaan terutama perhatianya kepada anak-anak dan pendidikan. Pijakan kemanusiaan inilah yang sesungguhnya melumuri keseluruhan puisinya. Satu lagi buku puisi sedang menjadi obsesinya, yang ia beri nama “Merah Putih” sebagai buku ketiga dan pelengkap. Ia

memberi makna, “Merah Putih” lebih kepada jiwa nasionalisme dan kesujatian diri kita. Namun, karena kesibukannya, ia masih belum mampu merampungkan. Namun, ia yakin, dengan niat dan kesungguhan hati, Merah Putih akan segera hadir melengkapi dua buku puisi yang sudah habis stoknya.

Kuliner

Istri Gubernur Bali Wayan Koster ini mengatakan, tidak punya dasar menulis. Namun, dengan awal sebagai pembaca puisi, ia mulai terinspirasi untuk menulis. “Seperti orang bilang, kalau ingin menulis harus banyak membaca. Seperti itulah yang saya lakoni,” kata perempuan yang selalu melantunkan doa sebelum tampil ini.

edulis Kerr. Tanaman ini umumnya tumbuh di perdesaan dan memiliki kandungan mineral yang tinggi terutama kalsium dan fosfor , yang berguna bagi pertumbuhan tulang pada anak-anak dan bagi orang dewasa bisa mencegah osteoporosis. Mie shirataki, berwarna putih cenderung bening dan tekstur kenyal terbuat dari glucomannan, yaitu sejenis serat dari umbi konjak

Mie Shirataki Kuah Miso Bahan-bahan 1 pak : mie shirataki basah 2 buah : tahu, potong sesuai selera 1 kuntum: brokoli ukuran kecil 1 : jagung manis dipipil 2 buah : jamur shitake kering, rendam dengan 250ml air 2-3 sdm : miso atau pasta kedelai jepang 1 sdm : coconut amino atau kecap asin campur sedikit gula

Tugas Istri Multifungsi

Putri Koster bersama Wayan Koster

Ada kalimat bijak mengatakan, di balik kesuksesan suami ada istri yang hebat. Menurut Putri Koster, sebagai istri Gubernur Bali Wayan Koster, ia memiliki tugas yang luar biasa, alias multifungsi, kadang ia harus di depan, di belakang, di samping, di atas, dan di bawah. Ia mencontohkan, di bawah itu harus dilandasi keikhasan. “Saya pernah menikmati kepopuleran sebagai seorang seniman, tiba-tiba sekarang bapak lebih popular, kalau istri tidak ikhlas, bisa jadi bahan berantem,’ ujarnya sembari tertawa. Tugas di samping, bisa sebagai teman diskusi. Kalau yang di atas, berdoa dengan tulus mengantarkan suami akan menyelesaikan pe­ kerjaanya tanpa banyak rintangan. Sementara, dari belakang adalah mendorong, kadangkala, suami kurang percaya diri untuk satu keputusan, di situ kita beri do­rongan semangat. Sebagai sahabat kita bisa mengritisi dan memuji. Di depan, kita tunjukkan arah yang benar. Kadang sebagai penguasa, mereka lupa, dan sering ada godaan harta, tahta, dan wanita. “Jika pemimpin fokus dan lurus, pastilah ia dapat bekerja dengan baik untuk masyarakat,” kata ibunda Ni Putu Dhita Pertiwi dan Ni Made Wibhuti Bhawani ini. (Wirati Astiti)

Putri Koster sedang membaca puisi

Ia menambahkan, di Jakarta, kesenian membaca puisi sudah dibayar seperti menari. Semoga ke depan di Bali juga bisa sperti itu. Ia berharap, kepada para seniman puisi, serius membaca puisi, buka ruang untuk penonton, tanamkan dalam diri membaca puisi adalah seni dan seni itu adalah sesuatu yang indah yang bisa dinikmati. Putri Suastini sendiri mengatakan, tantangan dalam berkesenian

hampir tidak ada. Dalam berke­ senian, ia mengalir saja sesuai tuntunan hati. “Kepuasannya sangat luar biasa saat penampilan saya mampu memukau penonton, membuat mereka bahagia. Kebahagiaan penonton adalah kebahagiaan kami sebagai seniman saat pentas,” kata putri pasangan I Wayan Djiwa yang jago megambel dan penari Ni Made Karni ini. (Wirati Astiti)

Jempiring Restaurant yang terletak di lantai 2 Aston Denpasar Hotel & Convention Center mempersembahkan menu satai dengan tema Satay Lovers yang berlangsung selama Juli sampai September mendatang. Executive Chef Komang Aryana bersama tim profesionalnya akan menunjukkan keahlian dalam mengolah berbagai macam satai dari 3 daerah yang berbeda, seperti; Satai Rembiga – hidangan satai khas Lombok dengan daging sapi yang dilumuri dengan adonan

yang tumbuh di Jepang, Tiongkok dan beberapa wilayah Asia Tenggara. Jika mie biasanya identik dengan karbohidrat, namun mie jenis ini lebih banyak mengandung serat jadi bukan hanya pati atau zat tepung, sehingga lebih rendah kalorinya. Jadi bermanfaat untuk membantu menurunkan berat badan, menurunkan kolesterol dan mencegah sembelit.

rempah khas daerah yang terkenal dengan 1000 masjidnya tersebut, disajikan dengan kuah bebalung dan sayur beberuk, wajib untuk dicoba. Bagi pecinta daging kambing, maka Satai Kambing Madura dengan bumbu kacang khas provinsi yang terkenal dengan karapan sapinya tersebut serta disajikan degan lontong dan gulai kambing tidak boleh dilewatkan. Satai yang terpilih berikutnya adalah Satai Sari Laut dari Bali, olahan satai yang terdiri dari satai

udang, cumi, dan satai lilit ikan khas Pulau Dewata tersebut disajikan dengan sayur urap, bakso, nasi merah putih yang terbuat dari beras merah dan nasi ketela, sangat tepat untuk pecinta hidangan laut. “Promo Chef’s Delight ini sangat terjangkau, hanya Rp. 70.000 net/orang yang sudah termasuk makanan penutup, Satai Pelangi, olahan bola-bola singkong warnawarni dengan parutan kelapa yang gurih. Untuk menemani hidangan tersebut, bartender kami juga telah menyiapkan 3 pilihan minuman yang menyegarkan, seperti; mangga yang diblender dan dicampur dengan karamel, vanila, sprite, dan es batu yang disebut dengan Jaipong ini siap menggoyang lidah Anda. Bagi pecinta minuman warna warni dengan bahan dasar leci, potongan jeruk, terung belanda, sprite, dan es batu, maka Anda wajib mencoba Gandrung. Pilihan berikutnya adalah Maranggi – terbuat dari serai, lemon peras, simple sirup, sprite, dan es batu siap untuk menyegarkan hari Anda,” ungkap Ady Suardi, Restaurant & Banquet Manager di Aston Denpasar Hotel & Convention Center. (Ngurah Budi)

9

Mie Ganyong Goreng dengan Orak Arik Tahu

Bahan-bahan 1 gengam : mie ganyong kering 4 buah : tahu Lombok 2 kuntum : pok choy, iris tipis ½ : paprika merah, potong dadu kecil 5 buah : jamur kancing, iris tipis 2 siung : bawang putih, cincang ¼ : bawang Bombay, potong dadu 2 sdm : coconut amino atau kecap asin tanpa gluten (bisa diganti de­ngan kecap asin ditambah sedikit gula) ½-1 sdt : kaldu jamur bubuk ¼ sdt : kunyit bubuk Minyak sayur secukupnya untuk menumis Cara membuat - Rebus mie ganyong dengan air mendidih lalu tiriskan - Kukus tahu sebentar lalu hancurkan dengan garpu dan bumbui dengan 2 siung : bawang putih, dikeprak 2 batang : daun bawang, iris tipis

Cara membuat - Tuangkan rendaman air jamur kedalam panci dan tambahkan air 300ml - Masukkan bawang putih, jamur

kaldu jamur bubuk dan kunyit bubuk, campur hingga rata - Tumis bawang Bombay, bawang putih, jamur dan sayuran hingga layu lalu tambahkan coconut amino atau kecap asin campur sedikit gula. Tambahkan tahu yang sudah dibumbui dan terakhir masukkan mie ganyong. - Setelah matang dan tercampur rata lalu angkat dan siap dihidangkan. yg sudah diiris tipis dan miso lalu masak hingga mendidih - Setelah itu tambahkan brokoli, jagung pipil, tahu dan coconut amino, teruskan dimasak selama 5 menit. - Terakhir taburi dengan daun bawang lalu angkat dan siap dihidangkan.


jelita

8

Edisi 1036/ 17-23 juni 2019

Edisi 1036/ 17-23 juni 2019

Inspirasi Buku Puisi “Merah Putih”

Mie Sehat Alternatif Mie adalah salah satu menu favorit di segala penjuru dunia, dengan variasinya masing-masing. Seperti di Italia kita mengenal spaghetti, di Jepang ada ramen, udon dan soba, di Tiongkok ada lo mein, chow mein dan tak ketinggalan di Indonesia.

“Bunga Merah” dan “Rumah Merah” adalah dua buku puisi karya Putri Suastini Koster. Buku puisi yang diterbitkan Pustaka Bali Seni ini menawarkan ragam kegelisahan dan harapannya. Dengan gaya bersahaja, namun, mempunyai emosi, menangkap berbagai lintas persitiwa dimana ia menjadi bagian yang ada di dalamnya.

Nikki Indrawati

M

enu mie juga favorit masyarakat Indonesia. Namun sayang, mie sering dihindari oleh para penggiat makanan sehat, sebab identik bahan pengawet, penyedap sintetis, rendah nutrisi, dan mengandung gluten karena dari gandum. Menurut Nikki Indrawati (plant bassed chef dan konsultan nutrisi berbasis holistik), hal itu tidak selamanya benar, karena seiring bertambahnya kepedulian masyarakat terhadap pola hidup sehat. Dari banyaknya jenis mie sehat di pasaran, kali ini Chef Nikki mengupas 2 jenis yakni ‘Mie ganyong’ dan ‘Mie shirataki’. Mie ganyong, terbuat dari umbi ganyong, nama ilmiahnya Canna

“B

unga Merah” dan “Rumah Merah”, menghadirkan tema besar kemanusiaan yang bagi ­Putri Suastini sangat berarti dalam hidupnya. Selain sebagai penggiat sastra, ia sangat peduli pada kegiatan kemanusiaan terutama perhatianya kepada anak-anak dan pendidikan. Pijakan kemanusiaan inilah yang sesungguhnya melumuri keseluruhan puisinya. Satu lagi buku puisi sedang menjadi obsesinya, yang ia beri nama “Merah Putih” sebagai buku ketiga dan pelengkap. Ia

memberi makna, “Merah Putih” lebih kepada jiwa nasionalisme dan kesujatian diri kita. Namun, karena kesibukannya, ia masih belum mampu merampungkan. Namun, ia yakin, dengan niat dan kesungguhan hati, Merah Putih akan segera hadir melengkapi dua buku puisi yang sudah habis stoknya.

Kuliner

Istri Gubernur Bali Wayan Koster ini mengatakan, tidak punya dasar menulis. Namun, dengan awal sebagai pembaca puisi, ia mulai terinspirasi untuk menulis. “Seperti orang bilang, kalau ingin menulis harus banyak membaca. Seperti itulah yang saya lakoni,” kata perempuan yang selalu melantunkan doa sebelum tampil ini.

edulis Kerr. Tanaman ini umumnya tumbuh di perdesaan dan memiliki kandungan mineral yang tinggi terutama kalsium dan fosfor , yang berguna bagi pertumbuhan tulang pada anak-anak dan bagi orang dewasa bisa mencegah osteoporosis. Mie shirataki, berwarna putih cenderung bening dan tekstur kenyal terbuat dari glucomannan, yaitu sejenis serat dari umbi konjak

Mie Shirataki Kuah Miso Bahan-bahan 1 pak : mie shirataki basah 2 buah : tahu, potong sesuai selera 1 kuntum: brokoli ukuran kecil 1 : jagung manis dipipil 2 buah : jamur shitake kering, rendam dengan 250ml air 2-3 sdm : miso atau pasta kedelai jepang 1 sdm : coconut amino atau kecap asin campur sedikit gula

Tugas Istri Multifungsi

Putri Koster bersama Wayan Koster

Ada kalimat bijak mengatakan, di balik kesuksesan suami ada istri yang hebat. Menurut Putri Koster, sebagai istri Gubernur Bali Wayan Koster, ia memiliki tugas yang luar biasa, alias multifungsi, kadang ia harus di depan, di belakang, di samping, di atas, dan di bawah. Ia mencontohkan, di bawah itu harus dilandasi keikhasan. “Saya pernah menikmati kepopuleran sebagai seorang seniman, tiba-tiba sekarang bapak lebih popular, kalau istri tidak ikhlas, bisa jadi bahan berantem,’ ujarnya sembari tertawa. Tugas di samping, bisa sebagai teman diskusi. Kalau yang di atas, berdoa dengan tulus mengantarkan suami akan menyelesaikan pe­ kerjaanya tanpa banyak rintangan. Sementara, dari belakang adalah mendorong, kadangkala, suami kurang percaya diri untuk satu keputusan, di situ kita beri do­rongan semangat. Sebagai sahabat kita bisa mengritisi dan memuji. Di depan, kita tunjukkan arah yang benar. Kadang sebagai penguasa, mereka lupa, dan sering ada godaan harta, tahta, dan wanita. “Jika pemimpin fokus dan lurus, pastilah ia dapat bekerja dengan baik untuk masyarakat,” kata ibunda Ni Putu Dhita Pertiwi dan Ni Made Wibhuti Bhawani ini. (Wirati Astiti)

Putri Koster sedang membaca puisi

Ia menambahkan, di Jakarta, kesenian membaca puisi sudah dibayar seperti menari. Semoga ke depan di Bali juga bisa sperti itu. Ia berharap, kepada para seniman puisi, serius membaca puisi, buka ruang untuk penonton, tanamkan dalam diri membaca puisi adalah seni dan seni itu adalah sesuatu yang indah yang bisa dinikmati. Putri Suastini sendiri mengatakan, tantangan dalam berkesenian

hampir tidak ada. Dalam berke­ senian, ia mengalir saja sesuai tuntunan hati. “Kepuasannya sangat luar biasa saat penampilan saya mampu memukau penonton, membuat mereka bahagia. Kebahagiaan penonton adalah kebahagiaan kami sebagai seniman saat pentas,” kata putri pasangan I Wayan Djiwa yang jago megambel dan penari Ni Made Karni ini. (Wirati Astiti)

Jempiring Restaurant yang terletak di lantai 2 Aston Denpasar Hotel & Convention Center mempersembahkan menu satai dengan tema Satay Lovers yang berlangsung selama Juli sampai September mendatang. Executive Chef Komang Aryana bersama tim profesionalnya akan menunjukkan keahlian dalam mengolah berbagai macam satai dari 3 daerah yang berbeda, seperti; Satai Rembiga – hidangan satai khas Lombok dengan daging sapi yang dilumuri dengan adonan

yang tumbuh di Jepang, Tiongkok dan beberapa wilayah Asia Tenggara. Jika mie biasanya identik dengan karbohidrat, namun mie jenis ini lebih banyak mengandung serat jadi bukan hanya pati atau zat tepung, sehingga lebih rendah kalorinya. Jadi bermanfaat untuk membantu menurunkan berat badan, menurunkan kolesterol dan mencegah sembelit.

rempah khas daerah yang terkenal dengan 1000 masjidnya tersebut, disajikan dengan kuah bebalung dan sayur beberuk, wajib untuk dicoba. Bagi pecinta daging kambing, maka Satai Kambing Madura dengan bumbu kacang khas provinsi yang terkenal dengan karapan sapinya tersebut serta disajikan degan lontong dan gulai kambing tidak boleh dilewatkan. Satai yang terpilih berikutnya adalah Satai Sari Laut dari Bali, olahan satai yang terdiri dari satai

udang, cumi, dan satai lilit ikan khas Pulau Dewata tersebut disajikan dengan sayur urap, bakso, nasi merah putih yang terbuat dari beras merah dan nasi ketela, sangat tepat untuk pecinta hidangan laut. “Promo Chef’s Delight ini sangat terjangkau, hanya Rp. 70.000 net/orang yang sudah termasuk makanan penutup, Satai Pelangi, olahan bola-bola singkong warnawarni dengan parutan kelapa yang gurih. Untuk menemani hidangan tersebut, bartender kami juga telah menyiapkan 3 pilihan minuman yang menyegarkan, seperti; mangga yang diblender dan dicampur dengan karamel, vanila, sprite, dan es batu yang disebut dengan Jaipong ini siap menggoyang lidah Anda. Bagi pecinta minuman warna warni dengan bahan dasar leci, potongan jeruk, terung belanda, sprite, dan es batu, maka Anda wajib mencoba Gandrung. Pilihan berikutnya adalah Maranggi – terbuat dari serai, lemon peras, simple sirup, sprite, dan es batu siap untuk menyegarkan hari Anda,” ungkap Ady Suardi, Restaurant & Banquet Manager di Aston Denpasar Hotel & Convention Center. (Ngurah Budi)

9

Mie Ganyong Goreng dengan Orak Arik Tahu

Bahan-bahan 1 gengam : mie ganyong kering 4 buah : tahu Lombok 2 kuntum : pok choy, iris tipis ½ : paprika merah, potong dadu kecil 5 buah : jamur kancing, iris tipis 2 siung : bawang putih, cincang ¼ : bawang Bombay, potong dadu 2 sdm : coconut amino atau kecap asin tanpa gluten (bisa diganti de­ngan kecap asin ditambah sedikit gula) ½-1 sdt : kaldu jamur bubuk ¼ sdt : kunyit bubuk Minyak sayur secukupnya untuk menumis Cara membuat - Rebus mie ganyong dengan air mendidih lalu tiriskan - Kukus tahu sebentar lalu hancurkan dengan garpu dan bumbui dengan 2 siung : bawang putih, dikeprak 2 batang : daun bawang, iris tipis

Cara membuat - Tuangkan rendaman air jamur kedalam panci dan tambahkan air 300ml - Masukkan bawang putih, jamur

kaldu jamur bubuk dan kunyit bubuk, campur hingga rata - Tumis bawang Bombay, bawang putih, jamur dan sayuran hingga layu lalu tambahkan coconut amino atau kecap asin campur sedikit gula. Tambahkan tahu yang sudah dibumbui dan terakhir masukkan mie ganyong. - Setelah matang dan tercampur rata lalu angkat dan siap dihidangkan. yg sudah diiris tipis dan miso lalu masak hingga mendidih - Setelah itu tambahkan brokoli, jagung pipil, tahu dan coconut amino, teruskan dimasak selama 5 menit. - Terakhir taburi dengan daun bawang lalu angkat dan siap dihidangkan.


Style

10

Edisi 1036/ 17 - 23 juni 2019

Pesona K

diaplikasikan dalam bentuk aksen ruflle juga peplum, hingga terkesan feminin, anggun dan sedikit misterius. Keenam gaya busana persembahannya tersebut ter­ lihat sangat indah. Dan, makin mengesankan dengan pilihan warna hijau lumut yang dilengkapi sentuhan bebatuan. yang dikerjakan khusus secara handmade.

(Sri Ardhini)

7

Bahasa sebagai Perekat Bangsa Kedudukan bahasa Indonesia dan situasi kebahasaan menyebabkan sikap bahasa menjadi isu sentral di era modern ini. Adanya kontak bahasa dengan bahasa asing juga telah membawa anggapan adanya bahasa yang memiliki nilai ekonomi yang lebih tinggi, lebih modern, dan lebih bermartabat dibandingkan bahasa Indonesia. Hal tersebut juga melatarbelakangi I Putu Mas Dewantara untuk mengambil penelitian dalam penyelesaian desertasinya dengan judul Pengembangan Perangkat Pembelajaran MPK Bahasa Indonesia Berorientasi Sikap Bahasa ­ di Universitas Pendidikan Ganesha.

Bali sangat kental dengan budaya dan tradisi yang hingga kini dijaga sangat baik. Didalamnya banyak terdapat keindahan yang religius. Dan, Riesna Dewi, pemilik “DBK Fashion” ini pun terinspirasi dari salah satu pernik cantiknya, yakni wastra berupa iderider yang biasa digunakan untuk menghiasi pelinggih. reasi imajinasi dari murid Angeliqa Wu Fashion Design Course ini hadir menggunakan bahan tenun lokal. Koleksinya kali ini berhasil memesona penonton saat tampil diacara “Graduation Show 2019 Angeliqa Wu FDC” di Ballroom The Vasini Hotel, Denpasar, Sabtu (1/6). Riesna Dewi pun mengembangkan lipit - lipit yang

EDUKASI

Edisi 1036/ 17 - 23 juni 2019

D

ewantara mengungkapkan selain menunjukkan ketrampilan di masing-masing bidang, mahasiswa diharapkan juga memiliki kesantunan berbahasa dalam berkomunikasi dengan siapa pun dan dalam situasi apapun. Anggapan bahwa penggunaan bahasa asing memiliki status bergengsi di kalangan anak muda membuat melemahnya sikap positif terhadap bahasa Indonesia. Bahkan bahasa Inggris dijadikan media komunikasi antarmahasiswa dalam situasi informal dan terkadang dikombinasikan dengan bahasa Indonesia. “Banyak sekali kesalahan bahasa yang dilakukan dalam penggunaan bahasa Indonesia asalkan maksud tersampaikan, dengan mengorbankan banyak hal,” jelasnya.

Melihat fenomena global tersebut akademisi Undiksha ini mengatakan jalan untuk memperbaiki keadaan melemahnya sikap positif terhadap bahasa Indonesia dengan pendesainan perangkat pembelajaran MPK Bahasa Indonesia yang berorientasi pada penumbuhkembangan sikap positif terhadap terhadap bahasa Indonesia. “Perangkat ini ditujukan untuk mengatasi masalah yang ada, karena fungsi dan kedudukan bahasa sebagai perekat dan keutuhan bangsa,” jelasnya. Perangkat pembelajaran tersebut, sambungnya cukup valid, praktis, dan efektif sehingga sangat disarankan kepada dosen MPK bahasa Indonesia untuk menggunakan dalam pembelajaran. Tidak dimungkiri, jika dalam pengimplementasian perangkat MPK

I Putu Mas Dewantara saat mengikuti ujian promosi Doktor

bahasa Indonesia itu tidak mudah. Untuk mencapai tujuan ternyata dirinya menemui kendala karena untuk mencapai tujuan pembelajaran dipengaruhi

oleh berbagai faktor. “Perangkat ini sangat kompleks sehingga banyak kendala dalam pengimplementasiannya tetapi itu menjadi tantangan

tersendiri,” ungkap dosen Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia yang lulus dengan predikat sangat memuaskan tersebut. (Wiwin Meliana)

DOA DAN NYANYIAN MOHON HUJAN Waktu itu musim kemarau panjang. Kodok, Jangkrik dan Manusia meTak ada air di mana-mana. Pepohonan nyadari hal itu. Mereka lalu berkumpul gersang, hewan-hewan dan manusia menjadi satu. Dengarkanlah! Nyanyian kehausan. Banyak pula yang mati. mereka sangat indah, sangat kuat, Seekor kodok melompat-lompat menggelegar menuju puncak gunung. tak tentu arah. Mencari air. Di suatu Namun, ditunggu-tunggu, tak setitik tempat, ia menengadah, berdoa dan air pun yang jatuh dari langit. Yang bernyanyi. “Oh, Dewi Hujan! Jatuhterdengar hanyalah ocehan seekor kanlah setitik air!” burung yang bertengger di sebuah Tak ada air yang jatuh dari lancabang pohon. “Hai, Kodok, Jangkrik, git. Dewi Hujan yang bersemayam Manusia! Aku tahu kamu memerlukan di puncak gunung tidak mendengar air, tetapi kamu tak pernah mencintai permohonan Kodok. Kodok lalu menapa yang kamu perlukan itu!” Made Taro gajak seluruh keluarganya berdoa dan Kodok, Jangkrik dan Manusia saling bernyanyi. Namun lagu yang indah itu toleh. Mereka tidak mengerti ocehan tidak sampai ke puncak gunung. burung yang bertengger itu. Dari jauh terdengar seekor jangkrik mendayu-dayu. “Periksalah perbuatanmu!” seru burung itu lagi. Ia juga kehausan. Ia menyanyikan lagu mohon air. Ia juga “Hai, Kodok! Berapa sampah yang kau buang ke laut? mengajak seluruh keluarganya berdoa dan menyanyikan Hai, Jangkrik! Berapa air kencing yang kau buang ke lagu mohon hujan. Namun tak ada air yang jatuh dari sungai? Hai, Manusia! Berapa pohon yang kau tebang, langit. Dewi Hujan yang bersemayam di puncak gunung, kemudian sisa tebangan itu kau buang ke sungai? Kamu tidak mendengar doa dan nyanyian yang indah itu. hanya bisa mengotori tetapi tidak bisa memelihara, Nah, siapakah mereka, dan apa yang mereka apalagi mencintai!” perbuat? Sekelompok manusia berdoa dan bernyanyi Hening sejenak. Ketiga makhluk yang memerlukan dari Pura ke Pura. Mereka melantunkan lagu mohon air itu kembali saling toleh. hujan kepada Dewi Hujan yang bersemayam di pun“Berjanjilah, bahwa engkau akan mencintai keperlucak gunung. Mereka juga mengadukan kaumnya yang anmu!” seru burung pengoceh itu. banyak mati karena kehausan. Namun lagu yang indah Tampak ketiga makhluk yang memerlukan air itu dan suci itu tak terdengar oleh Dewi Hujan. merapat. Lalu semuanya menengadah ke langit. Tak Tiba-tiba dari cabang pohon terdengar nyanyian lama kemudian terdengar doa dan nyanyian mohon seekor burung. “Tulilu…, tulilu,…!” Burung itu tidak hujan. Sangat kuat, sangat indah, sangat menyentuh minta air, tetapi menyampaikan pesan kepada Kodok, hati. Bersamaan dengan itu tampak awan berarakJangkrik dan Manusia. Katanya, “Hai, Kodok, Jangkrik, arakan, kemudian menggumpal, lalu disusul dengan Manusia! Percuma kamu berdoa untuk diri sendiri gemuruh petir. Lihat! Air hujan turun dari langit, dan kelompokmu! Air itu bukan semata-mata untuk makin lama makin deras. Semua hewan dan manusia dirimu dan kelompokmu, tetapi untuk semua makhluk. bergembira ria. Mereka menari berjingkrak-jingkrak Mengapa kamu tidak bekerjasama saja? Bukankah kalau dan bernyanyi-nyanyi. Sekali-sekali pepohonan tamkamu serempak berdoa dan bernyanyi bersama-sama, pak bergoyang-goyang. Mereka juga ikut menari dan doa dan nyanyian itu akan menjadi kekuatan besar?” bernyanyi.


dara

6

Edisi 1036/ 17-23 juni 2019

Jennifer Aurora Ribero

Mencintai Diri Sendiri Umurnya baru 15 tahun. Masih muda sekali. Namun penampilannya sungguh bisa menipu kebanyakan orang. Ya, dia terlihat jauh lebih tua dari usia sebenarnya. Tak heran kalau semua terkejut ketika tahu dia masih di bawah umur. Itulah Jennifer Aurora Ribero, pendatang baru di dunia hiburan yang sedang ‘naik daun’.

K

arena penampilannya jauh dari usia sebenarnya, Aurora kerap mendapat peran gadis dewasa. Lihat saja saat ia pertama kali terjun ke dunia peran, dua tahun lalu. Saat itu usianya baru 13 tahun. Namun dara kelahiran 18 Mei 2004 ini, mendapat peran tokoh Kiara, gadis berusia 17 tahun. Tahun lalu, saat usianya 14 tahun, ia tampil sebagai pemeran utama film percintaan remaja ‘RRaja, Ratu & Rahasia’. Sedang dalam film ‘Asal Kau Bahagia’ yang tayang pada Desember lalu, Aurora memerankan gadis usia 18 tahun, kekasih Aliando Syarief. Teman-temannya di lokasi syuting, sempat terkejut ketika tahu usia Aurora yang memiliki tinggi 169 cm, ternyata masih sangat muda. “Kirain umurnya sekitar 17-19 tahun, nggak tahunya lebih muda lagi, 14 tahun,” ungkap Aliando yang berumur 22 tahun. Untungnya, usia Aurora yang masih belia serta minim pengalaman di dunia peran, tidak menjadi masalah selama proses syuting. Di luar dugaan, sekalipun usianya masih muda dan tidak memiliki

pengalaman akting, justru Aurora mampu menampilkan akting yang bagus. Lihat saja penampilannya pada film ‘Susah Sinyal’ yang merupakan film perdananya. Sang sutradara, Ernest Prakasa memberi pujian khusus pada Aurora. Film yang menjadi box office ini, menghantar Aurora masuk nominasi Pendatang Baru Terbaik dan Pemeran Pendukung Wanita Terbaik Indonesia Box Office Movie Awards 2018. Meski belum berhasil meraih piala, namun ia telah menjadi salah satu artis yang diperhitungkan dalam dunia akting Tanah Air. “Aku masih baru banget di dunia akting. Terima kasih atas apresiasinya. Tapi aku sendiri merasa masih banyak kekurangan, dari segi pengalaman maupun kemampuan akting. Jadi rasanya aku memang harus mendalami dunia akting,” kata Aurora yang berencana mengambil kelas akting. Sebenarnya, kata Aurora, kerap mendapat peran tokoh usia 18 tahun, sempat membuatnya tidak ‘PD’ dan agak khawatir. “Aku khawatir karakter aku yang sebenarnya muncul. Yakni karakter anak usia 14 tahun. Untungnya hal itu tidak terjadi, semua berjalan lancar,” ungkap yang punya hobi menyanyi di kamar mandi. JADI ARTIS BERKAT INSTAGRAM Gadis kelahiran Semarang ini boleh dibilang tidak sengaja ‘terjebur’ ke dunia

film. Awalnya, saat ia ikut peragaan busana di Bali. Sebelum tampil, ia didandani oleh seorang make-up artis. Melihat hasil riasannya sangat bagus, ia pun meng-upload foto Aurora di instagramnya. Tak dinyana, foto cantik Aurora menarik perhatian seorang pencari bakat yang langsung mencari kontak Aurora. “Aku ditawari masuk manajemen dan menjadi artis. Aku juga diminta ikut casting. Aku

Aurora bersama ayahnya

sempat ragu, tapi aku pikir nggak ada salahnya mencoba. Jadi aku ke Jakarta untuk casting,” tutur anak pasangan Luigi Ribero dan Sri Hartito Natalia Hairun, ini. “Saat casting bukan hanya diminta berakting tapi aku juga diminta menyanyi. Aku sempat bingung mau nyanyi apa. Akhirnya aku menyanyi lagunya Adele, ‘All I Ask’,” tambah Aurora yang mengaku sempat grogi. Tak menunggu waktu, hanya beberapa minggu kemudian, dia pun dinyatakan lolos casting dan mendapat peran dalam film ‘Susah Sinyal’. Film ini meledak dipasaran dan akting Aurora menjadi ’buah bibir’ masyarakat, khususnya pemerhati perfilman nasional. Sejak itu, dia menjadi kebanjiran tawaran main film juga sinetron dan tampil on air dan off air. Sayangnya tak semuanya bisa dipenuhi. “Sejak ‘Susah Sinyal’ aku dapat banyak tawaran main film juga sinetron. Tapi untuk sinteron aku belum bisa karena waktu aku yang terbatas.

Kalau sinetron kan harus setiap hari dan waktunya lama. Aku belum bisa. Jadi aku pilih fokus main film saja. Sedang untuk pendidikan aku ambil home schooling,” jelasnya. Jennifer Aurora Ribero Dengan home schooling waktunya bisa dulu lagi. Salah satu yang diralebih fleksibel, juga guru datang sakannya adalah privacy nya jadi ke rumah. “Guru aku wanita, jauh berkurang. “Hidup kita jadi dia datang ke rumah. Selain sorotan bahkan sampai hal sekecilitu aku juga belajar lewat kecilnya. Aku ngerasain betul, jadi online,” ungkap penyuka kayak ngga punya private place,” pizza ini. katanya. Sempat ragu terjun Meski begitu, sejauh ini dirinya ke dunia akting, Aurora masih bisa menerima. Itu merumengaku kini menyu- pakan risiko dan tantangan, tinggal kainya. Yang paling mem- bagaimana dirinya mengelolanya. bahagiakan, katanya, ka- Gosip juga termasuk di antaranya. lau kerja kerasnya menda- “Aku bersyukur atas apa yang pat apresiasi yang bagus. sudah Tuhan beri. Aku tahu akan Salah satunya saat ia tampil banyak tantangan atau omondi ‘Asal Kau Bahagia’. gan-omongan negatif. Ya nggak “Orang bilang aku berhasil apa-apa. Nggak usah didengerin memerankan gadis dewasa. Ka- kalau cuma hal-hal yang membuat tanya, di film itu aku seperti orang down,” ujarnya. dewasa, padahal umur aku masih Tinggal di Jakarta, kata Au14 tahun. Dibilang begitu, aku rora, beda dengan di Bali dan dia malah senang, karena berarti aku berusaha menyesuaikannya. Soal berhasil. Ya, aku bisa begitu karena pantai misalnya. Di Jakarta dirasabanyak yang bantu, lawan main kannya susah mendapatkan pantai aku, teman-teman pendukung film, yang nyaman. Dia juga tinggal juga sutradara,” katanya. jauh dari pantai. Sementara saat Meski dibilang sebagian orang di Bali, dia mudah mendapatkan dirinya sukses, namun Aurora pantai yang menjadi tempatnya mengaku hasil kerjanya masih jauh bermain. dari sempurna. Dia juga kadang “Waktu di Bali aku sering banget masih kurang percaya diri. “Jadi main ke pantai untuk jogging atau sekarang ini aku masih proses sekadar jalan-jalan. Mama nemmencintai diri sendiri. Just trying enin aku. Kalau di Jakarta susah more be confident,” ujarnya. Salah cari pantai,” katanya. Selain itu satu yang bikin ia kurang confident dia juga mengaku kini tidak berani adalah kulitnya yang sensitif. memakai celana pendek untuk “Aku mudah jerawatan. Itu jalan-jalan di tempat publik. bikin nggak percaya diri. Makanya “Awalnya, karena aku di Bali aku jaga banget lewat makanan terbiasa memakai celana pendek dan perawatan,” ungkap Aurora untuk jalan-jalan. Di sana biasa yang sebisa mungkin menghindari aja cewek jalan-jalan pakai celana makan coklat, kacang-kacangan pendek. Pas aku di Jakarta, aku serta memperbanyak makan buah- melakukan hal yang sama. Aku buahan dan sayuran. “Tidak lupa, pakai celana pendek untuk jalanaku juga minum banyak air putih,” jalan ke mal. Tapi, kok, sepertinya ucap Aurora yang rajin berolah- orang-orang memandang aneh. raga ini. Beberapa kali aku coba, tapi lamaMenjadi artis, diakui Auro- lama risih, aku nggak berani lagi ra, tidak semudah dibayangkan. pake celana pendek,” ungkap gadis Hidupnya juga tidak bisa sebebas cantik ini. (Diana Runtu)

buleleng

Edisi 1036/ 17-23 juni 2019

11

Asosiasi Petani Durian Samakan Persepsi

Permintaan durian yang makin hari makin meningkat, membuat beberapa petani mengalihkan perkebunannya untuk menanam durian. Durian lokal maupun durian dengan jenis lainnya, saat ini kian digemari oleh masyarakat. Seiring dengan peningkatan permintaan durian di pasar juga dibarengi dengan peningkatan produksi dari petani. Kondisi ini dikhawatirkan akan membuat harga anjlok jika petani tidak dapat bersaing secara kualitas.

H

al inilah yang mendasari Ketut Juliawan untuk membentuk asosiasi petani durian di seluruh Bali. Pemuda asal Buleleng ini mengatakan tujuan dibentuknya asosiasi Petani Durian ini untuk menyamakan persepsi antar petani durian agar tetap menjaga kualitas produknya. Ia melihat saat ini, buah durian memiliki pasar yang sangat bagus, akan tetapi jika produksinya melimpah saat panen ini akan men-

jadi masalah untuk petani. “Saya rasa saat ini durian memiliki pasar yang sangat bagus, akan tetapi jika produksinya over ini yang harus kita pikirkan, ke mana target pasar kita,” ungkapnya. Untuk dapat menentukan target pasar, imbuh pria yang juga anggota dari Petani Muda Bali ini mengatakan para petani harus memperhatikan kualitas produksi sehingga buah durian yang dipanen benar-benar dapat bersaing dipasaran. “Jan-

gan sampai buah yang sudah dipanen ditolak oleh pasar karena tidak memenuhi standar yang d i i n g i n k a n p a s a r, ” jelasnya. Dengan membentuk asosiasi ini, Juliawan menambahkan telah mem-

buat sebuah SOP bagaimana membudidayakan hingga pasca panen agar menghasilkan buah durian yang berkualitas. Nantinya, dalam kelompok ini akan diberikan pemahaman mengenai prinsip-prinsip GAP (Good Agricultural Practices), penerapan SOP (Standard Operating Procedure) dan prinsip-prinsip PHT (Pengendalian Hama Terpadu). Dengan menerapkan prinsip- prinsip GAP, SOP dan

Ketut Juliawan

PHT secara berkesinambungan diharapkan para petani durian mampu meningkatkan hasil produksi durian dan menghasilkan produk pertanian yang berkualitas ekspor g l o b a l . “J i k a p e t a n i s u d a h mengikuti SOP yang kami buat maka kami juga bisa mengontrol secara kualitas buah yang dihasilkan,” tambahnya. Juliawan berharap dengan terbentuknya asosiasi ini, petani-petani di Bali khususnya di Buleleng sebagai kabupaten yang potensial penghasil buah durian dapat bertukar informasi terkait hal-hal yang berhubungan dengan penanaman, pemupukan hingga cara mengatasi kendala terutama hama dalam pemeliharaan pohon durian. “Asosiasi ini sebagai wadah, agar para petani bisa sharing tentang hal-hal baru dan kendala-kendala serta cara mengatasinya sehingga dapat meningkatkan kualitas produk,” tandasnya. (Wiwin Meliana)

Panen Tepat Waktu, Harga Vanili Fantastis

Pohon vanili yang ditanam melalui media polibag

Pertanian di Buleleng memang sangat variatif dari segi komoditi. Berbagai jenis komoditi dapat dijumpai dari hasil pertanian tersebut. Mulai dari komoditi yang memiliki kualitas unggulan hingga komoditi yang memiliki harga fantastis. Salah satunya buah vanili, produk pertanian yang memiliki nilai ekspor cukup tinggi. Sayangnya, meskipun harga jual produk hasil pertanian ini terbilang fantastis, akan tetapi belum banyak petani di Buleleng yang membudidayakannya. Vanili menjadi salah satu komoditas ekspor yang menjanjikan. Permintaan vanili kering terbuka hingga ke luar negeri dengan harga yang cukup menjanjikan yaitu Rp 4-6 juta per kilogramnya. Di Buleleng masih sedikit petani yang membudidayakan tanaman vanili. Padahal untuk membudidayakan tanaman yang sering digunakan untuk bahan membuat kue atau kosmetik ini tidak membutuhkan lahan yang luas dan perawatan yang khusus. Salah satu petani vanili dari Banjar Dinas Ambengan, Sukasada Buleleng, I Wayan Rinaya Darma Sanjaya Wicaksana mengatakan dibutuhkan kesabaran untuk menanam vanili sebab diperlukan waktu yang cukup lama dalam proses pemeliharaan hingga masa panen. Dirinya menambahkan, selain ditanam secara konvensional pada lahan terbuka, vanili bisa ditanam dengan menggunakan media polibag, ataupun ditumpang sarikan dengan pohon lain. Dengan menggunakan teknik penanaman stek batang perkembangan tanaman vanili menjadi lebih cepat. Terlepas dari nutrisi yang diberikan pada tanaman selama masa perawatan. “Sangat jarang petani menggunakan metode vegetatif atau menggunakan benih vanili karena dengan stek batang perkembangan vanili justru lebih cepat,” jelasnya. Rinaya yang saat ini memiliki sekitar 500 pohon vanili dalam polibag mengungkapkan tanaman vanili membutuhkan

Wayan Rinaya Darma menunjukkan vanili yang ditanam melalui media polibag waktu 2-3 bulan sampai keluar tunas. Setelah itu petani harus menunggu 24 bulan atau 2 tahun untuk vanili mulai berbunga dan siap dilakukan proses penyerbukan. “Cenderung pembuatan bibit vanili dilakukan dengan cara stek batang, dan untuk sampai tumbuh tunas juga tergantung usia dari pada induk vanili tersebut,” jelasnya. Pada fase ini, ada teknik khusus yang harus diketahui petani dalam melakukan penyerbukan untuk dapat menghasilkan buah. Dimana waktu penyerbukan atau mengawinkan bisa dilakukan pukul 06.00-11.00, apa bila lewat dari jam 11, maka bunga vanili akan layu dan tidak layak kawin. “Disinilah fase yang mungkin tidak banyak diketahui oleh petani vanili khususnya, dan fase ini memang menjadi fase terumit karena membutuhkan keahlian khusus dalam mengawinkan vanili, bagi yang sudah berpengalaman proses penyerbukan membutuhkan waktu sekitar 20 detik untuk satu buah,”imbuhnya. Apabila sudah melewati proses penyerbukan, buah vanili baru dapat dipanen sekitar delapan hingga sembilan bulan ke depan. Usia ini adalah usia yang tepat untuk bisa dilakukan panen, karena vanili yang memiliki kualitas super adalah vanili yang dipanen di usia yang tepat, terlebih lagi jika vanili diperuntukan untuk memenuhi kebutuhan pasar ekspor.

Ia pun tidak menampik masih banyak petani vanili di Buleleng memanen buah vanili ketika umurnya masih muda. Hal tersebut karena petani kurang memperhatikan kualitas vanili sehingga harga jual vanili tidak optimal. Untuk menghindari petani memanen vanili pada umur muda, Rinaya berencana membuat sebuah wadah bagi petani vanili sehingga bisa bertukar informasi seputar pembudidayaan vanili. (Wiwin Meliana)

Wayan Rinaya Darma


12 Lombok-Australia terhubung langsung setelah Maskapai AirAsia, resmi mengoperasikan rute penerbangan Lombok dengan Perth. Hal ini ditandai dengan pendaratan perdana pesawat AirAsia jurusan Perth - Lombok di Bandara ­Internasional Lombok (BIL), Minggu malam, 9 Juni 2019. Pendaratan perdana ini tidak saja menandai terbukanya rute baru untuk wisatawan dari Australia ke NTB m ­ elainkan juga memperlihatkan kuatnya komitmen Pemerintah Provinsi NTB untuk ­mendongkrak arus kunjungan wisatawan ke NTB.

W

akil Gubernur NTB, Dr. Hj. Sitti Rohmi Djalilah yang ikut serta dalam rombongan pendaratan perdana pesawat bernomor QZ471 itu, mengungkapkan bahwa dibukanya rute penerbangan Lombok - Perth

bumi gora

Edisi 1036/ 17-23 juni 2019

Lombok-Australia “Terhubung Langsung”

yang memang telah disiapkan untuk menerima para peserta penerbangan perdana tersebut. Juga, serangkaian suvenir dan penganan lokal. Rute baru ini terlihat menjanjikan dengan antusiasme masyarakat di Perth terhadap dibukanya rute baru ini yang menggembirakan. Hal ini ditandai dengan terpenuhinya kapasitas penumpang di penerbangan perdana malam itu. “Alhamdulillah, full 171 penumpang. Yang berikutnya juga udah mau 150 an penumpang,” kata Rohmi. Wakil Gubernut NTB juga mengaku mendapatkan sambutan yang menggembirakan dari

publik di Australia. Karenanya, ia sangat optimis akan pertumbuhan arus kunjungan ke NTB dari Australia. “Ketika saya perkenalkan NTB di sana, responsnya luar biasa,” ungkapnya yang menilai sambutan ini cukup wajar mengingat NTB memiliki banyak destinasi yang mampu memikat

Hotel, Restoran, Pasar Modern, dan Swalayan Wajib Utamakan Produk Lokal

Untuk mengoptimalkan implementasi Peraturan Gubernur Bali Nomor 99 Tahun 2018 Tentang Pemasaran dan Pemanfaatan Produk Pertanian, Perikanan dan Industri Lokal Bali, Gubernur Bali Wayan Koster mengeluarkan Surat Edaran Nomor 5774 Tahun 2019 yang mewajibkan hotel, restoran, pasar modern/swalayan untuk mengutamakan pemanfaatan produk hasil industri lokal. Informasi tersebut disampaikan Kepala Biro Humas dan Protokol Setda Provinsi Bali Agung Sutha, dalam siaran persnya, Rabu (12/6/2019).

Kepala Biro Humas dan Protokol Setda Provinsi Bali Agung Sutha

L

ebih detail Agung Sutha menjelaskan, surat edaran tersebut berisikan empat point penting yang ditujukan kepada Bupati/ Walikota se-Bali, Kepala OPD Provinsi

Bali, Ketua MUDP, Ketua PHDI, Ketua PHRI Provinsi Bali, Ketua APRINDO dan Ketua Asosiasi Catering Provinsi Bali. Pada poin pertama, semua pihak diminta bersama-sama mensosialisasi-

memperjuangkan kemerdekaan Indonesia dan hal-hal lain yang berkaitan dengan terlahirnya negeri ini, menurut Koster sudah sepantasnya Bung Karno untuk dihormati sebagai Bapak Bangsa, sebagai Pahlawan Nasional. Gubernur yang juga Ketua DPD PDI Perjuangan Provinsi Bali itu menjelaskan, saat ini merupakan waktu yang tepat untuk mengaplikasikan nilai-nilai luhur ajaran Bung Karno bagi rakyat Indonesia, terlebih di Provinsi Bali. “Bali adalah percontohan bagi daerah lain dalam menerapkan ajaran Bung Karno secara utuh, sesuai kearifan lokal yang ada,” ujar pria kelahiran Sembiran, Kabupaten Buleleng itu. Gubernur menyebutkan, “Visi ‘Nangun Sat Kerthi Loka Bali’ pun ide dan konsepnya digali dari pemikiran Bung Karno, di mana konsep berkepribadian secara budaya sangat cocok dengan Bali. Di tahun-tahun selanjutnya, Koster memastikan gelaran Bulan Bung Kar-

no akan terus dilaksanakan dan akan lebih meriah lagi. “Peserta lomba akan kita tingkatkan lagi. Sekarang tingkat SMA/SMK, tahun depan mulai dari SD sampai perguruan tinggi. Kita tanamkan nilai-nilai kebangsaan dari tingkat awal hingga tingkat lanjutan generasi kita,” ujarnya di hadapan peserta yang turut didampingi para guru dan kepala sekolah mereka masing-masing. Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Bali Ketut Ngurah Boy Jayawibawa dalam kesempatan yang sama mengatakan, semangat dan gagasan Bung Karno terutama Pancasila harus diteladani generasi penerus. “Kita mengenang dan merefleksikan semangat Bung Karno yang sesuai pula dengan visi ‘Nangun Sat Kerthi Loka Bali’ dan kearifan lokal Bali,” kata Jayawibawa menandaskan. Lomba pidato dan cerdas cermat itu sendiri diikuti perwakilan SMA/SMK/ SLB kabupaten/kota se-Bali, di mana 23 orang siswa tercatat turut ambil bagian

kan, melaksanakan dan mengawasi pelaksanaan Pergub Nomor 99 Tahun 2018. Berikutnya pada point dua, seluruh jajaran pemerintah daerah agar memprioritaskan pemanfaatan produk pertanian, perikanan dan industri lokal Bali pada berbagai kesempatan acara dan kegiatan yang dilaksanakan. Sedangkan point ketiga terdiri dari tiga hal yaitu hotel dan restoran diwajibkan memanfaatkan produk pertanian dan perikanan minimal 30 persen serta produk industri lokal Bali minimal 20 persen dari kebutuhannya. Sedangkan pasar modern/swalayan wajib memasarkan produk pertanian minimal 60 persen dan produk peri-

kanan dan industri lokal Bali minimal 20 persen dari jumlah produk yang dipasarkan. Surat edaran juga mengatur harga pembelian langsung dari petani, kelompok pembudidaya ikan danpengrajin lokal Bali minimal 20 persen di atas biaya produksi dan dibayar tunai. Jika ditunda, pembayaran akan dilakukan melalui Perusahaan Daerah Provinsi Bali. Pada poin ke empat surat edarannya, Gubernur Koster mengajak masyarakat untuk membangkitkan kebanggaan terhadap pemanfaatan produk lokal Bali dengan slogan “Cintailah Produk Dalam Negeri, Gunakanlah Produksi Daerah Sendiri”. (ast)

Gubernur Koster: Generasi Muda Harus Paham Sejarah Bangsa

Wakil Gubernur NTB, Dr. Hj. Sitti Rohmi Djalillah (tiga dari kanan) pada penerbangan perdana AirAsia rute Perth - Lombok

merupakan buah kerja keras bersama antara pemerintah, maskapai penerbangan dan semua pihak terkait. Ia juga menegaskan bahwa di masa yang akan datang pihaknya bersama maskapai penerbangan terus mengupayakan dibukanya rute penerbangan baru ke Lombok, dari daerah-daerah lain di Indonesia. “Untuk koneksinya, kita juga lagi dorong Lombok Surabaya, Lombok - Jakarta dan Lombok - Denpasar,” ujarnya. Selain Wakil Gubernur, hadir pula jajaran manajemen PT Indonesia AirAsia, Konjen RI di Perth, Dewi Gustina Tobing, beserta sejumlah pelaku pariwisata. Ratusan penumpang AirAsia yang ikut serta dalam penerbangan perdana ini tampak antusias mendapat sambutan hangat di pintu kedatangan BIL. Terlebih, mereka langsung mendapatkan suguhan atraksi Gendang Beleq

5

Edisi 1036/ 17-23 juni 2019

wisatawan mulai dari wisata pantai, air terjun yang indah, gunung Rinjani, Tambora dan destinasi lainnya. “Belum lagi kerajinannya yang luar biasa. Juga potensi sport tourism juga, kemudian juga ke depan ada MotoGP, yang potensialnya juga di-improve jadi F1 benar-benar menjadi sesuatu yang menarik bagi mereka,” katanya. Optimisme mengenai akan ramainya rute penerbangan ini juga ditunjang dengan tarif penerbangan yang dinilai cukup terjangkau. Wagub berharap, problem tingginya harga tiket pesawat yang terjadi saat ini bisa segera tuntas seiring adanya serangkaian kebi-

jakan yang diambil pemerintah. “Mudah-mudahan harga tiket ini tidak menjadi isu lagi. Karena, kan sedang dibenahi juga oleh pemerintah,” ujarnya. Pembukaan rute penerbangan AirAsia yang menghubungkan Lombok dan Australia ini didahului dengan penandatanganan nota kesepahaman antara Dirut PT Indonesia AirAsia, Dendy Kurniawan dengan Gubernur

NTB, H. Zulkieflimansyah di kantor Air Asia di Tangerang, pada bulan Maret lalu. Pe n g g u n a r u t e i n i j u g a berkesempatan menikmati tarif murah untuk perjalanan mulai 9 Juni hingga 26 Oktober 2019. AirAsia akan terbang melintasi rute Lombok - Perth sebanyak empat kali sepekan. Penerbangan ini akan tersedia di hari Senin, Rabu, Jumat dan Minggu. (Naniek I. Taufan)

“Mudah-mudahan harga tiket ini tidak menjadi isu lagi. Karena, kan sedang dibenahi juga oleh pemerintah”

Gubernur Bali Wayan Koster menegaskan, generasi muda khususnya di Bali harus paham dengan sejarah bangsa. “Jangan meninggalkan sejarah. Generasi terkini harus tahu siapa pahlawan bangsa, siapa proklamator kemerdekaan Republik Indonesia,” ucapnya bersemangat. Gubernur Koster mengatakan hal itu pada pembukaan ‘Lomba Cerdas Cermat dan Pidato Bung Karno’ di Kantor Dinas Pendidikan Provinsi Bali di Denpasar, Kamis (13/6) pagi. Dalam acara yang dilaksanakan terkait peringatan Bulan Bung Karno tersebut, Gubernur Koster menguraikan peran besar Bung Karno dalam masa-masa menuju kemerdekaan. “Sejarah mencatat peran beliau dalam menjadikan bangsa ini merdeka. Kita harus warisi semangat, ide dan gagasan beliau untuk Indonesia Raya,” katanya menegaskan. Seiring dengan jasa-sasa dalam

Gubernur Wayan Koster memberi sambutan dalam lomba cerdas cermat dan pidato Bung Karno dalam lomba pidato dan 45 peserta lomba cerdas cermat bertema Bung Karno. Gubernur Koster dalam kesem-

patan tersebut juga turut langsung menyaksikan dan menyemangati beberapa peserta yang tampil mengikuti perlombaan. (ast).

Wisnu Ardhana menjelaskan Pergub ini sangat diperlukan sebagai usaha nyata membangun ekonomi rakyat di Bali. “ Selama ini kita ada masalah di hilir, yakni untuk pemasaran produk pertanian. Lalu masalah di hulu, produk pertanian harganya jatuh, produknya cepat rusak. Dampaknya, kesejahteraan petani kurang, lemah daya saing dan rendah nilai tambah,” urai Wishnuardana. Dengan kewajiban hotel, restoran, catering hingga swalayan untuk menyerap produk lokal Bali, menurut Wishnuardana membuka pasar yang luas sekaligus memprioritas petani lokal untuk mendapatkan pasar. “ Ini pertama kali ada peraturan, regulasi yang mengatur hingga pemasaran dan pemanfaatan,” tandasnya. “Selain itu, dengan regulasi ini swalayan wajib membeli dan menjual min 60 % produk lokal. Hotel, restoran dan katering minimal menyerap 30 %. Sudah ada tandatangan kesanggupan mendukung pergub ini dari berbagai asosiasi hotel, restoran dan ritel. Semuanya mendukung dan menyambut baik,” jelasnya lagi. Seperti diberitakan sebelumnya, pergub no 99 tahun 2018 yang dicetuskan Gubernur Wayan Koster mewajibkan Toko Swalayan membeli dan menjual dengan besaran masingmasing Produk tanaman pangan, hortikultura dan perkebunan serta peternakan paling sedikit 60 % dari

total volume produk yang dipasarkan dan Produk perikanan lokal Bali dan industri lokal Bali paling sedikit 30 % dari total volume produk yang dipasarkan. Lalu, Setiap Hotel, Restoran dan Katering mengutamakan pemanfaatan dalam kegiatan usahanya dengan besaran masing-masing Produk tanaman pangan, hortikultura dan perkebunan paling sedikit 30 % dari volume produk yang dibutuhkan; Produk peternakan paling sedikit 30 % dari kebutuhan hotel dan restoran dan paling sedikit 10 % dari kebutuhan industri pengolahan/meat processing; Produk perikanan lokal Bali dan industri lokal Bali paling sedikit 30 % dari volume produk yang dibutuhkan; dan Produk industri lokal Bali paling sedikit 20 % dari volume produk yang dibutuhkan. Selain itu, Pergub ini mewajibkan Hotel, Restoran, Katering dan Toko Swalayan bermitra dengan: Petani, Subak, Kelompok tani, Kelompok usaha produktif, Asosiasi profesi, Pelaku UMKM, Koperasi, atau badan usaha. Disamping itu, Pergub mewajibkan Hotel, Restoran, Katering dan Toko Swalayan untuk membeli produk pertanian lokal Bali dengan harga paling sedikit 20 % di atas biaya produksi dari petani, kelompok tani, subak dan pelaku usaha tani. (ast)

Penguatan Peran Koperasi Produksi di Provinsi Bali

Sebagai realisasi dari Peraturan Gubernur (Pergub) No 99 tahun 2018, Asisten Perekonomian dan Administrasi Pembangunan Setda Provinsi Bali Ida Bagus Kade Subhiksu mengajak para pelaku koperasi produksi se-kabupaten/kota se-Bali untuk memperkuat pemahaman dan pengaplikasian Pergub tersebut. “Bapak Gubernur sangat menaruh ekspektasi yang besar akan jalannya Pergub ini dan mengharap eksekusi dan peran yang besar dari koperasi produksi di Bali,” tandas Subhiksu dalam acara ‘Penguatan Peran Koperasi Produksi di Provinsi Bali, Untuk Mendukung Pergub Bali nomor 99 tahun 2018 Tentang Pemasaran dan Pemanfaatan Produk Pertanian, Perikanan dan Industri Lokal Bali’ pada Rabu (12/6) pagi. Dalam acara yang dilaksanakan Dinas Koperasi dan UMKM Provinsi Bali di Wiswa Sabha Utama Kantor Gubernur Bali tersebut, Subhiksu memaparkan tujuan dari pergub tersebut untuk memberikan kepastian kesinambungan penyerapan produk pertanian dan industri lokal di Bali. “ Pergub yang sudah di-launching pada 7 januari lalu ini punya tujuan mulia untuk masyarakat Bali dengan melihat pesatnya industri pariwisata di Bali, sehingga diharapkan mampu memberikan dampak positif bagi penyerapan produk lokal Bali, seperti sayur, buah, dan lain sebagainya,”

Penguatan Peran Koperasi Produksi di Provinsi Bali, Untuk Mendukung Pergub Bali nomor 99 tahun 2018 Tentang Pemasaran dan Pemanfaatan Produk Pertanian, Perikanan dan Industri Lokal Bali jelasnya lagi. Subhiksu juga menekankan pentingnya sinergi dari berbagai instansi terkait untuk mempercepat pelaksanaan Pergub 99 ini. “ Koordinasi harus terus dijalankan, sarana, prasarana, pembiayaan hingga promosi dan pemasarannya,” katanya. “Dan harus diingat, Bapak Gubernur sangat konsen dengan pelaksanaan Pergub ini dan sudah mengindikasikan akan melakukan sidak secara berkala langsung ke lap[angan,” tegas Subhiksu. Sementara itu Kepala Dinas Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (UKM) Provinsi Bali, I Gede Indra

Dewa Putra menjabarkan pihaknya akan segera membentuk koperasikoperasi produksi baru dengan melihat potensi daerah masing-masing. “ Saat ini ada 122 koperasi produksi yang aktif dan akan kita tambah. Misalnya di kintamani kita bentuk koperasi khusus komoditi Jeruk, di Tabanan koperasi khusus buah manggis dan seterusnya. Juga akan difasilitasi untuk secepatnya bisa terhubung dengan hotel, restoran dan pasar lain, sesuai visi Pak Gubernur,” tandasnya. Di kesempatan yang sama, Kepala Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Perkebunan Provinsi Bali, IB


Woman on Top

4

Refresh dan Jalin Kebersamaan Ketika waktu liburan datang, tentunya terbayang bakal menjadi hari-hari yang seru dan menyenangkan bersama keluarga. Semua menyambut dengan gembira. Untuk ini akan ada banyak rencana indah yang dipersiapkan. Lantas bagaimana persiapan liburan yang dilakukan agar membuat semua anggota keluarga ­nyaman dan menikmatinya?

M

enurut Pariadnyani Melati atau lebih dikenal dengan panggilan Jero Melati, pemilik Adibi Salon & Spa di kawasan Renon, Denpasar, semua orang perlu liburan, karena tubuh dan pikiran manusia perlu penyegaran dan pembaharuan. Apalagi setelah sekian lama menjalani kesibukan atau kegiatan-kegiatan rutinnya seharihari. Agenda berlibur menjadi salah satu solusi untuk menciptakan jalinan yang semakin erat diantara anggota keluarga sekaligus menyegarkan pikiran. “Biasanya , jika saya dan keluarga akan berlibur beberapa hari, sudah pasti saya akan memberitahu pada tim kerja, juga beberapa klien yang biasanya suka buat janji langsung dengan saya. Sebab dapat dikatakan

saat berlibur, ia bakal tidak sempat mengurus pekerjaan. Apalagi ketika keluarganya memilih liburan ke tempat yang tidak mudah mengakses internet. Seperti kami anak-anak sangat suka dengan suasana alam, atau mengeksplor tempat-tempat baru,” ujar Jero Melati. Ia menambahkan kalau tempat favorit dirinya dan suami tidak perlu jauh-jauh, cukup di Kota Malang, karena di sanalah dulunya mereka bertemu saat masih sama-sama kuliah. Dikatakannya agar dapat menikmati waktu berlibur sepenuhnya, biasanya mereka sudah merencanakan libur jauh hari sebelumnya. “Pastinya kami menunggu waktu libur anak-anak juga, orangtua yang menyesuaikan. Sebagai orangtua kami juga ingin merefresh pikiran dan begitu juga dengan

Edisi 1036/ 17 - 23 juni 2019

nara June Kurnia ini. Bagi Jero Melati dan keluarga, liburan selama ini selain memberika kekayaan pengalaman juga menajdi momen melakukan aktivitas bersama-

anak-anak, pasti senang dan bahagia dan menjadi fresh pula setelahnya,” kata istri AA Bagus Kurniawan ini. Khusus untuk tahun ini, katanya mereka menimati liburan sementara di rumah saja. Mengingat putra keduanya , Gung Aby sedang menunggu pengumuman kelulusannya masuk universitas dan si bungsu Gung Gek Arhy, lagi dalam proses mencari SMP. “ Setelah jelas semuanya, barulah liburan kami rancang kembali.” Jelas ibu dari AA Adhyatmika Okta Kurnia, AA Abhy Mantra Agusta Kurnia dan AA Arhy Ci-

sama. Karenanya, liburan tidak selalu harus bepergian, bahkan liburan yang menyenangkan dan berkualitas sebenarnya dapat dilakukan di rumah. Dan, apa ide atau aktivitas yang akan dilakukan itu adalah hasil kesepakatan bersama, antara anak-anaknya, suami dan dirinya.”Yang penting semua merasa senang, gembira dan mampu lebih mendekatkan kami satu sama lain,” cetusnya. Kalau untuk rencana travelling ke luar kota, mereka memilih destinasi apakah itu di luar atau hanya di dalam negeri begitu juga untuk menyusun itinerary pun dilakukan bersamasama. Mengingat juga waktu yang terbatas, mereka ingin menikmati liburan secara optimal. Apalagi untuk saat ini dengan canggihnya teknologi kita menjadi lebih mudah mengakses untuk mendapat informasi destinasi seru dan yang menarik. Aktivitas liburan yang efektif, lanjutnya bakal membuat kita semua terhindar dari kejenuhan dan menabung semangat untuk kembali menjalankan tuntutan tugas rutin selanjutnya.“Yang pasti buat kami momen kebersamaan liburan selama ini selalu berkesan, indah, menyatukan, menguatkan, menyenangkan serta membahagiakan. Bagi kami bersama keluarga memiliki nilai tak terhingga dan menjadi sumber kebahagiaan,” katanya. (Sri Ardhini)

“Akselerator Layanan”

‘Salam Senyum’ Istilah akselerator sering kita dengar di sebuah perusahaan atau instansi. Ini dapat diartikan bagaimana percepatan sebuah tujuan yang akan dicapai. Berbagai cara dilakukan oleh menajemen untuk hal tersebut, tentu dengan cara-cara yang disesuaikan kemampuan perusahaan. Pembaca setia Dhani’s Art in service, hasil akhir dari sebuah layanan akan tampak ketika semua pelanggan terpuaskan dan semua keperluan bahkan keinginan dari pelanggan dapat terpenuhi. Biasanya proses yang dilakukan bertahap, mulai dari perekrutan, pelatihan, pembentukan team layanan, mengadakan survei layanan, sampai memberikan reward dan pengakuan. Dua hal terakhir inilah sebenarnya sebuah ‘tool’ untuk sebuah percepatan tujuan dari layanan yang kita istilahkan dengan ‘akselerator layanan’. Sampai saat ini saya berprofesi sebagai konsultan layanan pada perusahaan atau instansi yang menyediakan jasa layanan,

tentu banyak permasalahan yang dapat dijadikan pengalaman menarik untuk dibahas. Salah satunya adalah ketika terjadinya keluhan dari manajemen mereka, tentang semangat melayani yang dianggap tidak maksimal dari para pelaku layanan. Dari hal tersebutlah kita akan dapat berikan ‘akselerator’ yang harus dilakukan. Yang pertama kita bahas adalah ‘pengakuan’. Teori kebutuhan manusia dari Maslow, pengakuan ini terletak pada kebutuhan yang terakhir, yaitu aktualisasi diri. Ketika teori ini dihubungakan dengan layanan, sebenarnya pengakuan ini sangat tinggi daya lekatnya kepada orang yang mendapatkan pengakuan itu sendiri. Beberapa cara dapat dilakukan untuk sebuah ‘pengakuan’ dalam layanan. Dan, untuk mengawali saya akan bahas pengakuan terhadap tim layanan (internal). Yang pertama, selalu ingat mengatakan kata ‘ terima kasih’. Kata ini sangat familiar, namun kalau tidak terbiasa, kata ini seperti sebuah benda yang mahal dan langka. Sehingga jarang keluar

dari pribadi seseorang. Bahkan pernah dari seorang pimpinan perusahaan berpendapat, bahwa hal yang dikerjakan dari pelaku layanan itu memang kewajibannya. Jadi tidak perlu untuk mengatakan terimakasih. “Toh kami sudah membayarnya dalam bentuk gaji” . Inilah yang terjadi. Biasanya orang yang sulit mengatakan kata terimakasih, mempunyai ego pribadi yang sangat tinggi. Yang kedua adalah dengan mengatakan, ‘kerja Anda luar biasa’, atau kalimat lain yang maknanya sama. Pujian dengan kalimat ini juga sangat membuat para pelaku layanan akan termotivasi untuk mengerjakan lebih baik lagi. Naaah... Kalimat yang identik dengan pujian seperti ini juga sangat jarang dilakukan oleh seorang pimpinan. Para atasan biasanya kalau menemukan hal yang salah, cepat reaksinya. Dan akan keluar kalimat-kalimat yang lebih kepada protes atau menjurus kepada kalimat pencelaan. Namun kalau layanannya memuaskan, tidak ada kalimat pujian yang terlontar. Kenapa kalau hal yang salah cepat reaksinya, sedangkan kalau pekerjaannya yang bagus tidak diberi pujian? Yang ketiga adalah dengan membiasakan mengatakan kalimat ini, ‘Tolong lakukan seperti itu lagi’. Kalimat ini sebanarnya menunjukkan, apa yang telah dilakukan oleh pelaku layanan itu sudah benar, tepat, dan baik. Dan dengan kalimat ini sebenarnya sudah menunjukkan pengakuan dari atasannya, yang akan membuat para

Edisi 1036/ 17 - 23 juni 2019

13

Pengguna Medsos, Bertanggungjawablah

Masih ingat kerusuhan 21-22 Mei lalu yang terjadi di sekitar Gedung Bawaslu (Badan Pengawas Pemilu) di Jl Thamrin, Jakarta Pusat, yang kemudian merembet ke sejumlah kawasan lainnya yang berdekatan dengan Bawaslu. Akibat kerusuhan itu 9 orang tewas, ratusan luka-luka, kendaraan bermotor serta bangunan rusak. Makin miris, karena ada perusuh yang memanfaatkan kejadian itu untuk melakukan penjarahan.

L

epas dari adanya dalang dalam peristiwa tersebut, namun satu hal yang menjadi catatan penting dalam peristiwa itu adalah peranan kabar hoaks yang berseliweran di dunia maya yang ibarat bensin yang memperbesar perseteruan. Masyarakat yang tak mengerti akhirnya terhasut dan ikut menyebarkan pesan hoaks ke segala penjuru. Guna mencegah kondisi makin tidak karuan maka salah satu langkah yang dilakukan pemerintah adalah memblokir media sosial selama beberapa hari. Menteri Komunikasi dan Informatika mengatakan, pada kejadian 22-24 Mei 2019, rata-rata URL (uniform resource locator) untuk mendistri-

pelaku layanan lebih percaya diri dan akan mengulangi hal-hal yang dianggap sesuai dengan tujuan dari sebuah visi dan misi layanan perusahaan/instansi tempat mereka bekerja. Selain ketiga hal di atas, masih ba­ nyak pengakuan-pengakuan lain sebagai akselerator yang dapat dilakukan untuk percepatan tujuan dari sebuah visi dan misi layanan. Tentu hal seperti ini mudah untuk dilakukan kalau kita membiasakannya. Apa saja hal lain tersebut? Tunggu tulisan saya berikutnya (bersambung).... Sudahkah para pelaku layanan di perusahaan/instansi kita memahami dan melakukan hal tersebut di atas? Materi ini juga terdapat dalam pelatihan dengan Sri Sumahardani Academy dengan judul ‘Serve With Love’ atau buku saya dengan judul ‘Service A La Carte’, serta materi-materi pelatihan yang lainnya, seperti ‘Good Communication For Good Perfomance,’ ‘Great Personality,’ ‘Upgrade Your Selling Skill’ dan dua belas materi lainnya. Ingin mengetahui, memahami dan mengaplikasikan layanan ini di perusahaan/instansi Bapak/Ibu? Silakan hubungi kami, dan kami siap untuk membantu. Salam 3SP Salam Senyum Sang Penyihir Sri Sumahardani srisumahardani3sp@gmail.com www.srisumahardani.com

METROPOLITAN

busikan informasi hoaks jumlahnya mencapai 600-700. Setelah tiga hari jumlah tersebut langsung turun menjadi sekitar 300-an. Banyak pihak berharap aksi pemblokiran tidak akan terjadi lagi di masa datang. “Sebab bagaimanapun, aksi pemblokiran itu terbukti sangat kontra produktif dan menjadi preseden buruk,” ujar Ketua Pengurus Harian Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia, Tulus Abadi. Itu juga yang diharap para pedagang online yang penjualannya ‘jeblok’ selama tiga hari pembatasan medsos. Semua boleh saja berharap demikian. Namun pemerintah tentu tidak akan melakukannya tanpa alasannya yang jelas. Misalnya seperti saat ini. Sidang perdana sengketa Pilpres digelar 14 Juni di Mahkamah Konstitusi dan diperkirakan akan selesai berupa pembacaan putusan MK pada 28 Juni 2019 mendatang. Diharapkan tidak terjadi hal-hal tidak diinginkan sebagaimana kejadian pasca pengumuman hasil Pemilu oleh KPU beberapa waktu lalu. Saat ini pemantauan terus dilakukan. Jika terjadi kondisi yang tidak diharapkan, maka bukan tak

mungkin pemblokiran medsos kembali akan dilakukan. Menkominfo Rudiantara menegaskan, pembatasan tidak akan dilakukan kalau memang tidak signifikan mempengaruhi masyarakat. Dia berharap para pengguna m ed s o s ju ga bertanggungjawab untuk menjaga situasi agar kondusif dengan tidak menyebarkan berita bohong, apalagi dalam bentuk gambar dan video yang direkayasa. “Saya berharap tidak ada pembatasan. Ini tanggung jawab kita semua untuk menjaga medsos agar tidak digunakan untuk menghasut,” ucap Rudiantara. Hal senada disampaikan Plt Kepala Biro Humas Kominfo, Ferdinandus Setu yang menyebut, pihaknya akan melihat penyebaran konten yang sifatnya menyesatkan dan seberapa banyak jumlahnya. Pembatasan media sosial, katanya, akan dilakukan berdasarkan rekomendasi Mesin Sensor Internet atau AIS. Jika konten penyebarannya mencapai 600-an dalam hitungan detik, maka pembatasan akan dilakukan karena jika tidak, akan semakin berbahaya. Seperti sebelumnya, maka pembatasan tidak dilakukan secara menyeluruh tapi hanya

Menkominfo Rudiantara

pada video dan gambar. “Masalah itu nanti dirapatkan lagi,” ujarnya. PEDAGANG ONLINE MENJERIT “Saya berharap tidak ada pembatasan lagi. Kasihani kami yang berjualan online yang merugi banyak gara-gara itu,” ujar Dessy yang sudah setahun ini menekuni penjualan cairan pembersih untuk keperluan rumah tangga secara online. “Saya paham maksud pemerintah dengan pemblokiran. Tapi bagaimana dengan nasib dagangan saya. Saya tidak bisa upload foto. Padahal itu penting untuk berjualan online. Ada calon pembeli yang tanya-tanya produk saya dan minta foto, tapi saya nggak bisa kasih. Akhirnya nggak jadi beli,” ujar mantan pegawai Pemda DKI Jakarta, itu. Hal yang sama juga dikeluhkan Muhamad Abdullah, pedagang baju anakanak online yang juga memiliki toko di Tanah Abang. “Omzet saya melorot

lebih dari 50% saat itu. Hanya beberapa pelanggan saja yang berani beli tanpa gambar. Mereka percaya karena sudah biasa. Tapi jumlahnya hanya beberapa. Kebanyakan minta gambar,” ungkap Abdullah. Abdullah memang pantas bersedih. Karena dua lapak tempatnya menggantung kehidupan, selama tiga hari nyaris ‘lumpuh’. Tokonya di Tanah Abang tutup, sementara lapak online-nya pun tidak berfungsi maksimal. Bhima Yudhistira, ekonom Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) menyebut, potensi kerugian jual-beli online akibat pembatasan medsos diperkirakan mencapai Rp 227 miliar per hari. Sungguh nilai yang tidak sedikit apalagi jika dikalikan 3 hari pemblokiran. Tapi apa mau dikata, kondisi keamanan memang ketika itu cukup mengkhawatirkan sehingga pemerintah merasa perlu mengambil tindakan seperti itu. (Diana Runtu)

Belajar dari Pembatasan Medsos Mengutip pernyataan Tulus Abadi, Ketua Pengurus Harian YLKI, banyak pelajaran berharga yang bisa dipetik dari kasus pembatasan medsos tersebut, bukan hanya bagi pemerintah tapi juga masyarakat. Dari kejadian itu, kata Tulus, juga bisa dilihat bahwa saat ini internet dan media sosial sudah menjadi salah satu ‘panglima’ di sektor ekonomi, yakni ekonomi yang berbasis digital. Akibat pemblokiran itu, tuturnya, aktivitas ekonomi yang berbasis e-commerce praktis lumpuh, karena pihak pedagang atau market place-n ya tidak bisa berkomunikasi interaktif dengan konsumennya. “Selama ini dalam rangka menawarkan produknya, mereka berkomunikasi (berpromosi) dengan konsumennya via gambar/foto dan video yang diposting

Tulus Abadi

di laman media sosialnya atau dishare via WhatsApp . Tidak aneh jika selama tiga hari masa pemblokiran itu asosiasi pedagang online mengaku terpukul berat. Bisa dibayangkan dampaknya jika pemblokiran itu sampai berhari-hari, berminggu-minggu, atau bahkan diblokir selamanya seperti kasus di Negeri Tirai Bambu China,” ujar Tulus. Secara awam, kata Tulus lebih jauh, pemblokiran itu bisa dikatakan melanggar hak-hak konsumen bahkan melanggar hak publik secara luas. Namun, aksi pemblokiran medsos tersebut bisa dipahami mengingat kondisi aktual yang kala itu sudah merongrong keamanan nasional dan negara. “Hal seperti ini bukan hanya terjadi di Indonesia, tapi banyak negara lainnya,” tambahnya. Menurutnya, maraknya berita bohong, fitnah yang menjurus pada aksi provokatif, memang sangat marak dan meresahkan. Setiap detik berseliweran berita bohong seputar politik, agama, bahkan kesehatan. Kuatnya distribusi hoaks tak bisa dilepaskan oleh masih rendahnya literasi digital masyarakat. Ini sejatinya hal yang ironis di tengah derasnya gempuran era digital, tetapi literasi digital masyarakat Indonesia masih jauh dari memadai. Akibat masih rendahnya literasi digital ini, masyarakat sulit (dan juga malas) membedakan mana berita faktual dan mana berita palsu, bohong alias hoaks. Di bagian lain, menurutnya, pemerintah harus secara jelas dan terukur membuat parameter tentang kondisi darurat plus melakukan mitigasinya. Sebab, pascapemblokiran, masyarakat langsung bermanuver menggunakan akses lainnya untuk tetap menghidupkan medsosnya, yakni dengan menggunakan akses VPN (virtual private number), khususnya VPN gratisan yang ternyata membahayakan konsumen,” jelasnya panjang-lebar. “Terbukti, beberapa hari setelah menggunakan VPN banyak konsumen mengeluh akun banknya dijebol. Isi rekeningnya menjadi “nol”, kosong melompong,” ucap Tulus. (Diana Runtu)


14

SUDUT PANDANG perangkat daerah akademisi, LSM, pengusaha, tokoh keagamaan dan tokoh masyarakat,” kata Koster.

Atur Pembatasan Sampah Plastik dalam Perda Gubernur Bali Wayan Koster mengeluarkan kebijakan strategis berupa Peraturan Gubernur Bali (Pergub) No.97 Tahun 2018 tentang Pembatasan Timbulan Sampah Plastik Sekali Pakai. “Dalam Pergub ini ada tiga bahan yang terbuat dari atau mengandung bahan dasar plastik yang dilarang yaitu kantong plastik, polysterina (styrofoam), dan sedotan plastik,” ­ujar Gubernur Bali Wayan Koster.

K

oster mengatakan, tujuan Pergub ini antara lain bertujuan untuk menjaga kesucian, keharmonisan, keselarasan dan keseimbangan lingkungan hidup, mencegah pencemaran dan kerusakan lingkungan akibat penggunaan plastik sekali pakai, dan menjaga ekosistem, menjamin kesehatan masyarakat. Juga menjamin generasi masa depan untuk tidak tergantung pada penggunaan plastik sekali pakai. Koster menambahkan, Pergub yang terdiri dari 12 bab dan 26 pasal ini mewajibkan setiap produsen, distributor, pemasok dan setiap pelaku usaha untuk memproduksi, mendistribusikan, memasok, dan menyediakan pengganti plastik sekali pakai. Sekaligus melarang untuk memproduksi, mendistribusikan, memasok dan menyediakan plastik sekali pakai. Setiap produsen, pemasok, pelaku usaha dan penyedia plastik sekali pakai diberi waktu menyesuaikan usahanya selama 6 bulan, terhitung sejak Pergub

ini diundangkan. Larangan menggunakan plastik sekali pakai juga berlaku untuk instansi pemerintah, BUMD, swasta, lembaga keagamaan, desa adat/pakraman, masyarakat dan perseorangan. “Pemprov Bali akan melakukan rencana aksi daerah pembatasan timbulan sampah plastik,” imbuhnya. Koster memaparkan sedikitnya 15 rencana aksi tersebut. Mulai dari identifikasi dan pendataan produk plastik sekali pakai (PSP), kampanye, dialog publik, edukasi dan kegiatan ilmiah, kegiatan pelarangan penggunaan PSP, hingga penegakan hukum. Pihaknya menargetkan dalam setahun bisa mengurangi sampah plastik hingga 60-70 persen. Peran serta masyarakat dan desa adat/ Pakraman akan didorong untuk mewujudkan hal itu. Agar pelaksanaannya berjalan efektif, tim akan dibentuk untuk melaksanakan pembinaan dan pengawasan. Tim inilah yang nantinya bertugas melakukan edukasi, sosialisasi, konsultasi, bantuan teknis, pelatihan/pendampingan dalam penggunaan

bahan non plastik oleh produsen, distributor, penyedia dan masyarakat pada umumnya serta penegakan hukum. “Tim ini terdiri dari unsur instansi vertikal,

MENJAGA TAKSU ALAM BALI Sebagai bentuk apresiasi, Pemprov Bali akan memberikan penghargaan bagi yang taat melaksanakan Pergub ini dengan baik. Sebaliknya, sanksi akan diberikan bagi pihak-pihak yang tidak mematuhi ketentuan dalam Pergub dengan dasar hukum UU No.18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah, UU No.32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup, dan Perda Provinsi Bali No.5 Tahun 2011 tentang Pengelolaan Sampah tersebut. Menurut Gubernur Koster, ia sangat serius dalam upaya penanganan sampah plastik yang telah lama menjadi isu global. Gerakan ini adalah langkah awal yang baik untuk membebaskan Bali dari cemaran sampah plastik sekali pakai seperti kantong plastik, sedotan plastik dan styrofoam. Namun ia menyadari, upaya pemerintah tak akan membuahkan hasil optimal tanpa dukungan dari seluruh komponen masyarakat, utamanya Desa Adat yang memi-

Edisi 1036/ 17 - 23 juni 2019 liki kekuatan mengikat krama adat. Oleh karena itu, ia sangat berharap gerakan resik sampah plastik ini ditindaklanjuti dengan memasukkan program pengelolaan sampah dalam awig-awig/ pararem Desa Adat se-Bali. Program ini adalah bagian tak terpisahkan dari upaya memelihara dan melestarikan keagungan, kesucian dan taksu alam Bali yang meliputi tempat suci, laut, danau, sungai, sumber mata air, gunung, hutan, tumbuh-tumbuhan dan lingkungan alam secara sekala. “Kegiatan ini sejalan dengan visi Nangun Sat Kerthi Loka Bali, yakni menjaga kesucian alam Bali berserta isinya untuk mewujudkan kehidupan krama (warga) Bali yang sejahtera, bahagia sekala (jasmani) dan rohani,” ujarnya. Masyarakat Bali yang mayoritas beragama Hindu sudah seharusnya melaksanakan ajaran Weda dengan baik, yang salah satunya mengamanatkan agar umat tidak membuang sampah sembarangan. Bertolak dari hal tersebut, ia mengajak seluruh masyarakat merubah perilaku. “Jangan membuang sampah sembarangan, mari ikut aktif melakukan edukasi terkait pentingnya upaya menjaga lingkungan,” ajaknya. (Wirati Astiti)

Sosialita

Edisi 1036/ 17 - 23 juni 2019

Ny. Putri Suastini Koster

Beri Semangat untuk Seniman Perhelatan Pesta Kesenian Bali (PKB) ke41 resmi dibuka, Sabtu (15/6). Pertunjukan seni budaya yang digelar rutin tiap tahun ini juga mendapat apresiasi yang luar biasa dari Ketua Tim Penggerak PKK Provinsi Bali, N ­ y. Putri Suastini Koster. Sebagai seniman, ia memberi dorongan semangat yang luar biasa, dengan ikut tampil nanti dalam satu pagelaran Grup Suar Agung Pimpinan Ketut Suwentra ­atau Pekak Jegog.

“P

enting masyarakat Bali tahu, saya aktif berkegiatan di bidang seni sejak remaja. Jadi bukan aji mumpung, baru jadi istri Gubernur Bali, ujug-ujug mau tampil,” ujarnya, dalam suatu kesempatan berbincang santai dengan Tokoh, sembari menikmati hobinya berkebun di Jayasabha, Denpasar. Perempuan kelahiran Denpasar, 27 Januari 1966 ini, menambahkan, sejak bergabung di grup Suar Agung, ia diajak menari sampai ke luar negeri. “Saat nanti akan tampil di PKB, saya dan teman-teman seangkatan adalah generasi kedua penari mekepung. Sementara, generasi pertama, saat Pak Ketut (Pekak Jegog ujian tari di ASTI (ISI Denpasar),” tutur Bunda Putri, begitu ia akrab disapa. Ketika ditanya, seperti apa pertunjukkan yang akan ditampilkan, ia belum bercerita banyak. “Yang jelas saya akan menari Mekepung bersama teman-teman satu angkatan. Sebenarnya ini juga tujuannya reuni bertemu teman lama sekalian memberi semangat kepada seniman,” kata pembaca puisi yang sudah banyak meraih prestasi ini. Ia menambahkan, kehadiran Pesta Kesenian Bali, seharusnya menjadi momen yang paling ditunggu masyarakat, terutama bagi seniman. Mengapa? Masyarakat bisa menikmati hiburan kesenian Bali sebanyak 220 pagelaran selama sebulan. Setiap hari ada tujuh pagelaran mulai tetabuhan, gong kebyar, tarian, arja, drama gong, joged, wayang kulit, wayang

Penampilan Putri Koster saat menari Bali

wong, dsbnya. Namun, ia sangat menyayangkan, ada sebagian masyarakat yang mengatakan, PKB monoton. “PKB itu ajang untuk melestarian seni budaya. Spiritnya kita jaga. Materi PKB seni budaya tradisi yang berakar dari kehidupan masyarakat Bali, sehingga PKB menjadi ajang penggalian, menghidupkan, dan melestarikan seni tradisi asli Bali. PKB juga menjadi momentum meningkatkan minat masyarakat untuk membangun seni budaya tradisi yang terlupakan agar tidak punah,” kata perempuan yang mendapatkan penghargaan K. Nadha Nugraha Tahun 2019 ini. ASET PARIWISATA Menurutnya, yang perlu disempurnakan adalah di dalam penataan PKB agar lebih rapi dan lingkungan lebih bersih. Satu contoh ketika pementasan, ada tim yang menyapa seniman, dan menyiapkan toilet yang bersih, termasuk konsumsi. Ini sepertinya sudah diabaikan. “Seolah-olah seniman itu datang tidak diundang pergi tidak diantar,” ujar pemain teater Mini Badung yang meraih prestasi pentas terbaik lomba pertunjukan rakyat tingkat nasional ini. Salah satu pendiri Teater Angin SMAN 1 Denpasar ini mengakui, seniman Bali dasarnya adalah ngayah.

3 Namun, walaupun begitu mereka perlu dihargai. Bukan berarti mereka sudah menari malah keluar biaya juga. “Kalau dana ini bisa diusahakan Pemprov Bali, tentu lebih baik. Dengan anggaran yang cukup untuk PKB itu adalah investasi. Akan muncul seni dan seniman yang mumpuni, ini aset pariwsata. Bukan pemborosan, tapi investasi. Tanpa dana saja bisa, apalagi ada bantuan dana tentu lebih bagus,” kata peraih beberapa juara dalam lomba tari Bali ini. Ia berharap, gaung PKB dikembalikan seperti di era tahun 1980-an. Semakin banyak dunia yang melihat, ini event yang luar biasa. Supaya turis manca negara sengaja datang ke Bali karena perhelatan PKB. Selaku Ketua Dekranasda Provinsi Bali, ia mengaku prihatin. Sekarang banyak bermunculan produk baru yang membahayakan produk lama. Satu contoh yang menjadi sorotan, ketika muncul kain dengan teknik border, memakai motif songket. Ini akan menjadi pesaing songket aslinya. Orang akan cenderung membeli bordir, karena lebih murah dan kelihatan tampilan jauh mirip songket. “10 tahun ke depan, kita bakal kehilangan songket asli. Penenun tidak mau menenun karena jarang orang beli, kecuali untuk acara nikah. Sekarang malah cenderung kalau pernikahan orang sewa lebih praktis. Karena pemasaran susah, bahan baku susah, mengerjakan lama dan tidak laku akhirnya bisa hilang. Ketika hilang mau membalikkan lagi itu susah,” katanya. Ia menilai, ajang PKB menjadi ajang pelestarian dalam mengembangkan produk. Ini bukan museum. Perajin ikut bersaing dan mengikuti tren, tapi jangan tinggalkan yang klasik. Bunda Putri berharap, dengan digratiskannya stan PKB, tentu makin banyak perajin yang bisa ikut pameran. Selain itu, kebijakan menggratiskan stan PKB oleh Gubernur Bali, untuk memberi dukungan penuh kepada perajin dan UMKM. Ia berpesan agar perajin tetap melestarikan motif-motif kain warisan leluhur. Dengan demikian motif tradisi akan tetap hidup dan lestari apalagi, didukung dengan bahan-bahan berkualitas tinggi. “Kita tidak bisa membendung serbuan produk luar. Namun, minimal bisa menjaga dan mempertahankan idealisme terhadap produk desain lokal. Mari kita timbulkan kebanggaan terhadap produk kita,” ajaknya. Menurutnya, dalam ajang PKB juga sangat spesial karena Bulan Juni penuh sejarah bagi kita yang ingin meresapi ajaran Bapak Bangsa Bung Karno. Peringatan Hari Lahirnya Pancasila 1 Juni, lahirnya Bung Karno 6 Juni, wafatnya Bung Karno 21 Juni. Kita sedang mengingatkan kembali agar para generasi muda mengenal sosok Bung Karno, sang Proklamator, bapak bangsa yang juga seorang seniman dan sastrawan. “Keberadaan pameran foto Bung Karno di areal PKB, selain ajang untuk berswafoto juga, salah satu cara menyampaikan pemikiran Bung Karno kepada generasi muda bangsa, jangan pernah melupakan sejarah. Pesan untuk saling mencintai bangsa dan NKRI,” ujarnya. (Wirati Astiti)

BACA JUGA HALAMAN 8


2

Espresso GORO-GORO MILENIAL

Ami sedang menyusun proposal ketika ibunya datang. “Kok sepi begini, Ami? Mana Putu Wijaya Kadek! Ke mana suamimu?” Ami menjawab tanpa mengalihkan matanya dari laptop. “Lagi ikut lomba melukis diantar bapaknya.” “Memangnya ada lomba tiap Minggu?” “Soalnya anaknya orang kaya yang ngasih sponsor lomba kemarin kalah. Jadi lombanya diulang?” “Masak?” “Ya. Tapi tidak ada yang mau ikut.” “Terus?” “Terpaksa dibikin lomba lagi dengan hadiah bombas. Tapi juara Minggu lalu tidak boleh ikut.” “O, ya? Tapi kenapa jadi Kadek ikut? Bukannya dia juaranya Minggu kemarin?” “Pakai nama lain. “Kalau ketahuan?” “Tidak bakalan. Pesertanya 500-an.” “Kok banyak banget?”

Anak-anak yang hidup di era digital saat ini digolongkan dalam generasi Alfa. Anak generasi Alfa mampu cepat beradaptasi. Apalagi informasi zaman ini begitu terbuka. Mereka juga terbuka dengan proses belajar dan menyerap informasi dengan cepat. Maka anak-anak generasi Alfa begitu cepat dalam menguasai hal-hal berbau digital. Sebagai guru, sering saya temui siswa lupa membawa buku pelajaran namun selalu ingat membawa gawai mereka. Begitu pula ketika jam istirahat pelajaran, sebagian siswa begitu asyik memainkan gim daring dan berjejaring melalui media sosial (medsos). Kegiatan-kegiatan tidak produktif seperti itu terhitung telah menyita banyak waktu mereka. Sampai-sampai mereka lupa akan kewajiban utama, yaitu belajar. Jika dikatakan gim daring dan medsos sebagai sebuah

bacaan wanita dan keluarga

Penerbit PT Tarukan Media Dharma Terbit sejak 9 November 1998

“Habis hadiahnya 50 juta.” “O walah, begitu, ya! Jadi karena hadiahnya gede begitu, kamu paksa anakmu ikut lagi, biar pun harus ganti nama?!” “Ya, iyalah, kalau menang kan lumayan untuk modal bikin TK Milenial! Nggak perlu bikin proposal yang mengemis-ngemis menyebalkan merendahkan harga diri sampai frustasi, bete, begini! Lebai!” Bu Amat menghampiri dan ngintip melihat laptop. Ami langsung mematikan laptopnya. “Itu proposal TK Milenial kamu, kan?” “Ya.” “Kamu perlu dana berapa?” “Dana buat proyek prestisius ini hanya berarti dukungan moral. Aset terbesar Ami dkk adalah ide kami, ide untuk menyiapkan generasi milenial mengisi era milenialnya! Untuk melicinkan Kadek, cucu ibu, dkk, membangun masa depannya nanti yang sudah berbeda dengan era yang kita jalani. Mereka akan ... “ “Kamu tidak perlu ngasih ibu kuliah. Sebab ibu kemari bukan mau melarang kamu bikin TK Milenial. Sebab memang generasi Kadek memerlukan pasokan moral yang

sesuai zamannya. Jangan sampai nanti salah kaprah. Ibu setuju, Ami!” “Oke, Bu, kami memang perlu persetujuan. Tapi kami lebih butuh lagi ..” “Duit!” “ Bukan!” “Betul! Bukan duit kecil tapi duit besar!” “Ibu salah persepsi!” “Salah tapi benar! Kalian dengan Sekolah TK Milenial kan mau mengubah paradigma, denger dulu, nanti boleh bantah, ibu ini kan dulu guru, jadi banyak tahu! Apa tadi? Ya itu, sekolah kamu kan berangkat dari gagasan mau mendidik bukan sekadar sesuai dengan cetak biru penddikan: untuk mencetak manusia Indonesia yang cerdas dan kompetitif saja, tapi juga berkarakter dan berbudaya! Ya, kan? Ibu tahu itu! Seorang Ibu pasti tahu jalan pikiran anak perempuannya! Ya, tidak?!” Bu Amat ketawa. Puas dan bahagia menceritakan pertemuannya dengan Ami, setelah kembali pulang. Amat ikut gembira melihat istrinya riang. “Jadi, Pak, Ami kaget sekali saya puji. Dia tak menyangka sama

Bombay?” Bu Amat terkejut. “Apa? Saya menangis? Hah! Nggak usah, ya! Kapan?! Saya tidak sekali, generasi tua seperti kita, pernah menangis! Sudah celaka kok dapat memahami jalan pikiran- menangis pula, ya remuk! Untuk nya. Ia juga diam-diam bangga, apa menangis, buang-buang tenaga, ibunya yang sering ia maki-maki Pak! Milenial menangis dalam hati kolot dulu waktu ia masih ABG, saja! Itu kan Bapak sebagai penternyata berjiwa, bersemangat umpang gelap, sudah ngelindur!” tak kalah milenialnya dari dia. Jadi “Ya tapi...” jangan pernah bilang lagi orangtua “Tapi apa?” itu besi tua yang berkarat, karena “Berempati boleh tapi bukan kita sejatinya ...” menangis! Karena tidak cukup “Tua-tua keladi, makin tua makin cerdas dan kompetitif saja, mutlak galak lagi! harus ada empati dan rasa!” “Galak berprestasi! Karena kita “Astaga, betul itu, apa aku cuma, justru ikut mengoreksi cetak biru karena aku penumpang gelap pendidikan, tidak cukup hanya milenal aku sudah kebanyakan mencetak manusia yang cerdas dan ngelamun?” kompetitif, tapi..” “Ya! Milenial sejati tidak sempat “Harus mutlak berkarakter dan ngelamun seperti kita. Karena merberbudi-daya!” eka harus bersaing! Untuk menang “Betul sekali! Makanya bapak bersaing harus tahu sejarah! Karena langsung ber-U turn kan?” itu kita tetap ke Jakarta meskipun “Apa itu?” sudah mantan, karena itu sejarah. “Berbalik 180 derajat! Bahasa Tapi kita juga akan ke Ibu Kota yang Inggris! English speaking! Dari mau baru, karena kita tidak perlu hidup ke Jakarta banting stir mau ke ibu dalam sejarah. Kita hidup di zaman Kota Baru! Ya kan!” milenial ini!” Amat bingung. “Mekipun hanya penumpang “Nah itu dia! Makanya Bapak gelap!” bingung, mengapa selaku pen“Meskipun! Karena kita akan umpang gelap zaman milenial, dan harus ikut menulls sejarah, dan karena usia kita sudah overweight bukan hanya ditulis sejarah!” gara-gara Jakarta ditinggal oleh “Dan bukan hanya ditulis seibu kota, ibu kok menangis jarah!”

Edukasi Orangtua Era Digital

hiburan, saya kira tidak demikian bagi anak-anak ini. Sebab kegiatan tersebut layaknya rutinitas dan kewajiban. Fakta lain, pemandangan anakanak usia balita sudah akrab dengan gawai (gadget). Fenomena ini, oleh orangtua hendaknya bisa dilihat dari dua sisi, positif dan negatif. Di satu sisi diperlukan dan di sisi lain membahayakan. Dalam fenomena ini, mereka hanya sebagai konsumen konten, bukan produsen konten. Atau setidaknya menjadikan konten sebagai media belajar. Langkah yang perlu dilakukan ialah mengedukasi para orangtua. Ada beberapa langkah praktis yang bisa diterapkan oleh orangtua. Pertama, saat berbicara kepada anak, lihatlah anak, jangan lihat gawai! Orangtua harus memberikan contoh agar kemudian dapat diikuti oleh anak. Kedua, ikuti medsos anak. Jika

I Wayan Esa Bhaskara

anak dan orangtua sama-sama memiliki akun di media sosial, hendaknya untuk saling mengikuti agar orangtua dapat mengawasi aktivitas anak saat menggunakan medsos. Ketiga, saat bersama letakkan gawai. Banyak yang tak

Edisi 1036/ 17-23 juni 2019

menyadari, keberadaan gawai malah semakin menjauhkan yang dekat. Contoh, ketika anak dan orangtua berkumpul, mereka sama-sama sibuk dengan gawai masing-masing. Ini bisa dikurangi misalnya membuat aturan, ketika sedang makan bersama atau berkumpul di ruang keluarga, semua anggota keluarga dilarang menggunakan gawai. Kempat, selalu mengirim pesan kepada anak atau dengan video call dengan anak ketika mereka pergi. Langkah ini juga bisa dilakukan untuk mengawasi anak ketika tidak sedang bersama orangtua. Kelima, saat anak perlu perhatian, letakkan gawai Anda. Ini menjadi langkah yang terasa paling sederhana namun susah diterapkan.

Meskipun berada di rumah, anak tetap harus didampingi atau diawasi dari jarak jauh. Kadang anak memerlukan perhatian, misal anak bertanya, tugas orangtualah yang menjawab. Saat menjawab pertanyaan itulah Anda meletakkan gawai. Para orangtua harus benarbenar menyadari dampak gawai bagi perkembangan anak. Orangtua harus menjadi contoh penggunaan gawai yang cerdas. Kalau cuma anak yang dibatasi sementara orangtua tidak, tentu saja tidak akan efektif. Maka penting mengedukasi orangtua juga. I Wayan Esa Bhaskara Guru Bahasa Indonesia di SMK Negeri 1 Denpasar.

Kata Hati: Rubrik ini khusus untuk menuangkan ide/pemikiran/gagasan dalam bentuk tulisan. Tema terkait wanita dan keluarga serta tidak mengandung unsur SARA. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter. Lampirkan juga foto close up (bukan pasfoto). Cantumkan nama lengkap, profesi, nomor hp, dan alamat email. Naskah dikirim ke redaksi@cybertokoh.com, redaksitokoh@yahoo.com.

Penanggung Jawab/Pemimpin Redaksi: Gde Palgunadi. Redaktur Pelaksana: Ngurah Budi. Staf Redaksi/Iklan Denpasar: IG.A. Sri Ardhini, Wirati Astiti. Buleleng: Wiwin Meliana. Jakarta: Diana Runtu. NTB: Naniek Dwi Surahmi. Desain Grafis: IDN Alit ­B udi­a rtha, ­I Made Ary ­Supratman. Manajer Sirkulasi dan Iklan: I Ketut Budiarta, Sirkulasi: Kadek Sepi Purnama, Hariyono, Ayu Wika Yuliani. Se­kretariat: Ayu ­Agustini, Putu Agus Mariantara. Ombudsman: Jimmy Silalahi. Alamat Redaksi/Iklan Denpasar: Gedung Pers Bali K. Nadha, Lantai III, Jalan Kebo Iwa 63 A ­Denpasar 80117–Telepon (0361) 425373, 7402414, 416676–Faksimile (0361) 425373. Alamat Redaksi/Iklan/Sirkulasi Jakarta: Jalan ­Pal­merah ­Barat 21 G Jakarta Pusat 10270–Telepon (021) 5357603 - Faksimile (021) 5357605. NTB: Jalan Bangau No.15 Cakranegara, Mataram–­Telepon (0370) 639543– ­Faksimile (0370) 628257. Surat Elektronik: info@cybertokoh.com, redaksi@cybertokoh.com, iklan@cybertokoh.com. Bank: BRI ­Cabang ­Gajah Mada Denpasar. Nomor Rekening: PT Tarukan Media Dharma: 0017-01-001010-30-6. Percetakan: BP Jalan Kebo Iwa 63 A Denpasar.

Edisi 1036/ 17-23 juni 2019

Diakui atau tidak, nampaknya masyarakat masih sulit lepas dari kantong plastik. Imbauan untuk membawa kantong sendiri saat berbelanja, masih belum bisa dipatuhi oleh kebanyakan orang. Ada saja alasannya, mulai dari lupa, tidak praktis, dll.

B

isa jadi ini karena masih belum adanyanya sanksi tegas akan penggunaan kantong plastik. Pun, kantong plastik berbayar yang diterapkan di tempat-tempat perbelanjaan dianggap tidak membuat masyarat tergerak membawa tas sendiri dari rumah. Betapa tidak, harga kantong plastik berbayar itu hanya Rp 200 per lembar. Sangat murah! Tak heran, masyarakat pun lebih suka uangnya dipotong untuk membayar selembar kantong plastik, ketimbang membawa

Zaskia Adya Mecca

SUDUT PANDANG

15

Mulailah Dari Diri Sendiri

tas sendiri dari rumah. Tasya Kamila, artis yang juga Duta Lingkungan, sangat prihatin dengan kondisi ini. Indonesia, kata Tasya, penghasil sampah plastik terbesar kedua di dunia. Ini sungguh memprihatinkan, karena sampah plastik berdampak buruk bagi lingkungan. Masyarakat harus menyadari ini dan bekerjasama membantu mengurangi penggunaan plastik. “Mulailah dari diri sendiri dan keluarga. Kalau setiap orang melakukannya maka bisa dipastikan limbah sampah, khususnya plastik akan jauh berkurang,” kata mantan penyanyi cilik yang belum lama ini melahirkan putra pertamanya. Menurut Tasya, belum signifikannya perubahan prilaku masyarakat membuat sosialisasi diet sampah plastik ini harus terus gencar disuarakan. Diakuinya mengubah sebuah kebiasaan bukan hal yang mudah, memerlukan waktu yang lama tidak cukup hanya satu-dua tahun. Namun bertahun-tahun barulah hasilnya bisa terlihat. Terkait dengan kantong plastik berbayar ia mendukungnya, hanya saja menurutnya, harga harus lebih mahal. “Mungkin kalau harga Rp 200 per kantong terlalu murah, harus lebih mahal. Kalau perlu Rp 5000 per kantong. Dengan begitu masyarakat terdorong untuk bawa kan-

tong sendiri jika ingin berbelanja,” ujarnya. Dia sendiri, tambah Tasya, telah menerapkan diet kantong plastik sejak lama. Ketika akan berbelanja, dirinya selalu siap dengan tas sendiri. “Bukan hanya kalau mau belanja, aku selalu siap dengan tas sendiri ketika bepergian. Tujuannya, mana tahu di jalan, tiba-tiba punya niat berbelanja, tas belanja sudah siap. Jadi tak perlu memakai kantong yang disediakan toko,” ungkapnya. Di rumahnya, ungkap Tasya yang menjadi Duta Lingkungan sejak masih SMP, dirinya melakukan pengelolaan sendiri terhadap sampah rumah tangganya. Dia tidak merasa jijik. Setiap hari, tutur istri Randy Bachtiar ini, dia melakukan pemilahan sampah rumah tangga, yang organik dan non-organik dipisahkan. Sampah organik, kemudian diolah menjadi kompos. “Jadi aku punya alat sendiri di rumah untuk mengolah sampah. Misalnya sampah-sampah basah yang bisa terurai seperti daun-daunan, sisa makanan, dll, bisa diolah menjadi pupuk cair yang bisa digunakan sendiri,” jelas Tasya yang juga mendirikan yayasan yang bergerak di bidang lingkungan. KEMASAN RAMAH LINGKUNGAN Seperti halnya Tasya Kamila, Zaskia Adya Mecca juga menyebut tentang kepedulian pada lingkungan harus dimulai dari diri sendiri. Ketika diri sendiri sudah peduli pada lingkungan, tutur Zaskia, maka dia akan menularkannya pada keluarganya,

Tasya Kamila

kemudian barulah orang lain di luar keluarga. Terkait bahaya limbah plastik, artis yang kini menjadi pengusaha sukses di bidang fashion busana muslim, telah diketahuinya sejak lama. Karena itu, demi mengurangi limbah plastik, dia sejak lama tidak lagi menggunakan kantong plastik untuk berbelanja. “Kemana-mana aku selalu bawa kantong sendiri. Jadi kalau sewaktu-waktu mau belanja, tas bawaan dari rumah sudah siap,” tambahnya. Namun begitu, diakui Zaskia, sekalipun dirinya sudah lama tidak menggunakan kantong plastik, namun tidak demikian halnya dengan bisnisnya. Sebagaimana diketahui, Zaskia sukses mengembangkan bisnis busana muslim plus aksesorisnya, dan kini tengah merintis bisnis kosmetik. Nah, produk-produknya

kebanyakan dikemas menggunakan plastik. Hal ini, ujar Zaskia, telah lama menjadi kegelisahan tersendiri baginya. Ia ingin mengganti packaging namun bingung memilih yang tepat. Sempat muncul ide packaging dengan bahan kain, namun harganya mahal. Seiring waktu, bermunculan inovasi-inovasi kemasan ramah lingkungan. Ada beberapa pilihan, di antaranya plastik berbahan singkong dan plastik berbahan rumput laut. Jenis plastik ini, kata Zaskia, mudah terurai secara alami. Hanya saja tambahnya, harganya cukup mahal. Namun setelah menimbang secara saksama, dia pun memutuskan mengganti kemasan produknya dengan plastik singkong. “Inovasi pembuatan plastik sekarang, kan, macam-macam ya. Ada yang terbuat dari singkong, ada juga rumput laut. Plastik jenis ini mudah terurai secara alami. Hanya saja, memang harganya lebih mahal dibanding plastik biasa. Jadi baru beberapa bulan ini aku gunakan plastik dari singkong,” tutur ibu empat anak ini. Sebagai orang Indonesia, kata Zaskia, sudah selayaknya dia ikut berkontribusi dalam hal lingkungan, khususnya pada pengurangan sampah plastik yang memang sulit terurai. “Memang budget yang dikeluarkan untuk kemasan plastik singkong jadi lebih mahal daripada plastik biasa. Tapi ngga apa-apa demi sesuatu yang lebih baik ke depannya,” tambah pemeran film ‘Cinta Paling Agung’, ini. (Diana Runtu)

Mengurangi Produk Plastik Sekali Pakai Plastik adalah salah satu bahan yang dapat kita temui di hampir setiap barang. Mulai dari peralatan mencuci seperti ember, botol minum, alat makanan (sendok, garpu, wadah, gelas), kantong pembungkus/ kresek, pipa saluran air, sikat gigi, mainan anak-anak, dan masih banyak lagi yang lainnya. Hampir semua dari kita memakai barang-barang yang terbuat dari plastik, karena kepraktisannya, walaupun berdampak terhadap kesehatan dan lingkungan. Menurut penelitian, penggunaan plastik yang tidak sesuai persyaratan akan menimbulkan berbagai gangguan kesehatan. Selain itu plastik pada umumnya sulit untuk didegradasikan (diuraikan) oleh mikro organisme. Sampah plastik dapat bertahan hingga ratusan tahun sehingga menyebabkan pencemaran terhadap lingkungan. Demikian disampaikan oleh dr. Trisnadewi, M. Biomed (AAM), pemilik Klinik Kecantikan Indivara. Menurfut Dokter Kadek, dampak plastik terhadap lingkungan sangat signifikan. Diperkirakan ada 500 juta sampai 1 miliar kantong plastik yang digunakan penduduk dunia dalam satu tahun. Ini berarti ada sekitar 1

juta kantong plastik dalam 1 menit. Untuk membuatnya diperlukan 12 juta barel minyak per tahun dan 14 juta pohon ditebang. “Karena sifatnya yang sulit terdegradasi, maka sampah plastik ini mencemari tanah, air, laut, bahkan udara untuk jangka waktu yang sangat lama dan berdampak buruk terhadap lingkungan dan kesehatan manusia,” cetusnya. Alangkah bahayanya, bila hal ini dibiarkan terus menerus tanpa ada kesadaran dari manusia untuk menghentikannya. Bayangkan apa yang akan terjadi pada tanah, air, laut, dan udara di bumi bila sampah plastik semakin menumpuk karena sulit terdegradasi? Masihkah kita bisa acuh dengan kondisi ini? “Saya, keluarga, dan Indivara Aesthetic berkomitmen untuk ikut mendukung program pemerintah dalam mengurangi sampah plastic. Mari kita galakkan ‘ Eco Friend Lifestyle’, gaya hidup yang lebih mencinta bumi. Kami mulai dari diri sendiri dan keluarga,” ujarnya. Beberapa kiat yang telah dilakukan Dokter Kadek bersama keluraganya untuk mengurangi sampah plastik. Pertama, membawa tas belanja sendiri. “Saya terbiasa membawa tas belanja yang bisa dilipat kecil dan

dr. Trisnadewi, M. Biomed (AAM)

dimasukkan ke dalam tas sehari hari. Sehingga bila berbelanja tidak perlu lagi meminta tas plastik untuk menampung belanjaan. Jika akan berbelanja dalam jumlah besar, maka saya membawa tas spundbond ukuran besar sesuai jumlah belanjaan yang direncanakan,” ungkapnya. Kedua, membawa tumbler/ botol minuman sendiri, yang bukan dari bahan plastik.

Tumbler air minum yang dibawa sendiri dapat mencegah penimbunan sampah plastik karena bisa dipakai berulang ulang dengan aman. Ketiga, menggunakan kotak bekal atau rantang untuk membungkus makanan. Dokter Kadek dan keluarga terbiasa membawa bekal makanan dari rumah. Disamping dari segi kesehatan lebih terjamin, dapat membantu mengurangi sampah plastik, karena kalau membeli makanan di luar otomatis akan dibungkus dengan bahan plastik sekali pakai. “Meskipun barang kami di rumah termasuk box makanan kami masih ada yang berbahan plastik, namun tidak sekali pakai dan setidaknya kami sudah sedikit demi sedikit berusaha mengganti dengan yang bahannya non plastik,” cetusnya. Keempat, menggunakan sedotan berbahan non plastik, misalnya dari bahan stainless. “Saya membeli sedotan stasinles yang dibungkus dengan kantong serut berbahan kain, sehingga praktis dibawa ke mana mana, karena bisa dimasukkan dalam tas tanpa takut kotor. Seluruh anggota keluarga saya bekali sedotan, sehingga tidak kebingungan saat membeli minuman di luar rumah,” ujarnya.

Kelima, berhenti menggunakan peralatan makan seprti sendok dan garpu sekali pakai dari bahan plastik. Jika piknik di akhir pekan dan membawa makanan dari rumah, mereka membawa sendok dan garpu dari bahan logam, serta tidak lupa membawa air dalam jerigen kecil untuk mencuci tangan atau peralatan makan kami sementara waktu sebelum dicuci dengan bersih sesampai di rumah. Keenam, menyimpan cemilan atau makanan lainnya dalam botol atau kotak yang bisa dipakai berulang ulang. Bila bepergian bersama keluarga, kami selalu membawa makanan yang ditempatkan di botol/kotak/ toples, sehingga bila makanannya habis, tempatnya bisa diisi lagi dengan makanan lainnya setelah dibersihkan sebelumnya. Ketujuh, membeli isi ulang untuk beberapa produk yang menyediakan kemasan isi ulang untuk mengurangi timbunan sampah plastik. “Selain di lingkungan keluarga, di klinik kami pun (Indivara Aesthetic) juga sudah berusaha mengurangi penggunaan tas berbahan plastik dengan menyediakan tas berbahan kain dan spundbond dengan berbagai ukuran,” tandas dokter Kadek. (Sri Ardhini)


16

Edisi 1036/ 17 - 23 juni 2019

Uji Publik Pergub Energi Bersih

Sesuai dengan Visi Pemerintah Provinsi Bali yaitu “Nangun Sat Kerthi Loka Bali” (Pola Pembangunan Semesta Berencana) menuju Bali Era Baru, khususnya misi ke-21 yaitu Mengembangkan Tata Kehidupan Krama Bali, Menata Wilayah dan Lingkungan yang Bersih, Hijau dan Indah, Gubernur Bali mengundang para praktisi, akademisi hingga media untuk ikut serta dalam Konsultasi Uji Publik Peraturan Gubernur tentang Energi Bersih di Wiswa Sabha Utama, Kantor Gubernur Bali, Denpasar, Selasa (11/).

D

alam sambutannya yang dibacakan Kepala Biro Hukum dan HAM Setda Provinsi Bali Ida Bagus Sudarsana, mengatakan jika kebijakan dan strategi yang diperlukan untuk membangun sistem Energi Bersih yang mandiri, berkeadilan dan berkelanjutan di daerah demi menjaga kesucian dan keharmonisan alam Bali

sesuai dengan nilai-nilai Sad Kerthi dalam mewujudkan pulau Bali yang bersih, hijau dan indah. “Rancangan Peraturan Gubernur tentang Energi Bersih ini merupakan produk hukum paling inovatif dan pertama kali di Indonesia yang dibuat secara mandiri oleh Pemerintah Provinsi Bali.” kata Koster seperti dibacakan Sudarsana serta

dimoderatori oleh Dr. Wayan Rideng. Adapun beberapa hal yang akan diperhatikan dalam pergub ini yaitu, a. Pembangkit Listrik wajib menggunakan bahan bakar Energi Bersih yaitu Gas Alam Cair dan Energi Terbarukan, b. Menyiapkan Pusat Unggulan Energi Bersih (clean energy centre of excellence) untuk menciptakan SDM berbasis kompetensi bidang ESDM dan mengembangkan teknologi Energi Bersih, c. Memberikan peran kepada masyarakat, UMKM, Desa Adat dan Badan Usaha Milik Daerah untuk mengelola Energi Bersih baik secara mandiri dan/atau bekerjasama dengan Badan Usaha Milik Nasional atau Swasta, d. Mendorong bangunan pemerintah, komersil, industri termasuk hotel, restoran dan rumah tangga berkewajiban menggunakan Energi Bersih melalui atap

Konsultasi Uji Publik Pergub tentang Energi Bersih

panel surya maupun bangunan hijau, e. Mendorong pemberdayaan sumber daya manusia lokal berbasis kompetensi bagi usaha-usaha di sektor Energi Bersih, dan f. Memberikan insentif dan disinsentif dalam upaya efisiensi dan konservasi energi. Kearifan lokal yang bersandarkan tiga komponen utama di Bali: Alam Bali, Krama Bali, dan Kebudayaan Bali sangat

diperhatikan disini sebagai perwujudan Ekonomi Gotong Royong dan Trisakti Bung Karno dimana melibatkan secara aktif peran serta masyarakat Bali dalam industri Energi Bersih. Untuk itu, kegiatan uji publik/ konsultasi publik menjadi sangat penting untuk memperoleh masukan-masukan yang akan menyempurnakan rancangan peraturan gubernur nantinya. (ast).

Gubernur Koster Berharap PKB Jadi Ajang Pelestarian Seni Tradisi yang Hampir Terlupakan

Gubernur Koster bersama Kadis Kebudayaan Provinsi Bali

Unjuk seni budaya rutin tahunan Bali terakbar lewat giat Pesta Kesenian Bali (PKB), dalam waktu dekat ini akan kembali digelar Provinsi Bali. Perhelatannya yang selalu ditunggu-tunggu oleh masyarakat, terus mendapat penyempurnaan dari Pemerintah Provinsi Bali yang disesuaikan dengan visi

misi ‘Nangun Sat Kerthi Loka Bali’, yakni melalui Pola Pembangunan Semesta Berencana untuk menuju Bali era Baru. Demikian terungkap saat Gubernur Bali Wayan Koster menggelar konferensi pers bersama para awak media massa terkait pelaksanaan PKB ke-41 tahun 2019, di ge-

dung Wiswasabha Utama Kantor Gubernur Bali di Denpasar, Senin (10/6). “Pelaksanaan PKB ke-41 merupakan kegiatan PKB yang pertama di periode kepemimpinan saya. Sejalan visi misi ‘Nangun Sat Kerthi Loka Bali’, PKB pun menjadi ajang implementasi pelestarian seni budaya. Spiritnya kita jaga dan kita teruskan untuk memperkuat upaya pelestarian seni budaya kita yang adi luhung dengan menambah pengayaan sesuai perkembangan zaman. Jadi materi PKB yang harus diangkat adalah seni budaya tradisi yang berakar dari kehidupan masyarakat Bali, sehingga PKB ini menjadi ajang penggalian, menghidupkan dan melestarikan seni tradisi asli Bali,” ujar Gubernur Koster. Upaya penyempurnaan ini diharapkan Koster bisa membangun kesadaran masyarakat Bali yang minatnya akan seni budaya semakin hari semakin berkurang. “PKB ini juga menjadi momentum meningkatkan minat masyarakat untuk membangun seni budaya tradisi yang terlupakan, agar

tidak punah,” katanya, menambahkan. Salah satu usaha yang dilaksanakan Pemprov Bali dalam menjaga PKB sebagai even seni budaya bernilai sejarah yang tinggi, yakni ditandai dengan dibangkitkannya kembali seni tradisi Sebunan berbasis desa adat. Gubernur Koster yang didampingi Kepala Biro Humas dan Protokol Setda Provinsi Bali AA Ngurah Oka Sutha Diana dan Kepala Biro Umum Setda Provinsi Bali Gede Darmawa, juga kembali menegaskan gagasan pembebasan sewa stand pameran bagi para pelaku Industri Kecil Menengah (IKM) di arena PKB. “Pemasaran produk lokal maupun kuliner Bali saat ini tidak akan dikenakan biaya sewa lagi. Kita harus mengedepankan keberpihakan kepada IKM. Namanya IKM, usaha dan modalnya pasti kecil, jadi pemerintah harus ada untuk memberi dukungan. Kita jadikan PKB sebagai ajang promosi produk mereka,” ujar Koster seraya menjelaskan, pagelaran PKB juga diharapkan bisa mendukung

Pergub Bali Nomor 97 Tahun 2018 tentang Pembatasan Timbulan Sampah Plastik yang telah diterbitkan. Gubernur mengimbau PKB bisa menjadi even ramah lingkungan agar sejalan dengan Pergub Nomor 97 Tahun 2018. “Jadi segala sarana dekorasi dan sebagainya diutamakan penggunaan bahan-bahan alami seperti bambu, janur, aneka bunga, dan dedaunan. Pokoknya sebisa mungkin dirancang terbebas dari bahan plastik atau sterofoam sekali pakai,” ucap Gubernur yang juga Ketua DPD PDI Perjuangan Bali itu mengingatkan. Awak media yang hadir pada kesempatan itu pun menyampaikan apresiasinya terhadap gagasan-gagasan yang dilontarkan Gubernur Koster, seperti salah satunya disampaikan wartawan Media Indonesia Arnold Dhae yang menyatakan Koster sebagai salah satu Gubernur Bali paling kreatif, serta berharap usaha-usaha ini terus berlanjut dalam upaya membangun Bali secara keseluruhan. (ast).

Dorong Kemajuan UMKM, Gubernur Koster Gratiskan Stand PKB Puluhan stand atau anjungan tempat berjualan berbagai barang dagangan di arena Pesta Kesenian Bali (PKB) yang semula disewakan, kini diputuskan untuk digratiskan alias pakai cuma-cuma oleh para peminat yang berniat berdagang. Gubernur Bali Wayan Koster telah mengambil kebijakan untuk menggratiskan puluhan stand, baik yang dibangun permanen maupun tenda-tenda yang didirikan di areka PKB yang rutin digelar setiap tahun di Taman Budaya Provinsi Bali (Art Centre) Denpasar. Gubernur yang dikenal sebagai penggagas cukup banyak ketentuan atau peraturan yang berlaku di daerahnya itu, mengatakan bahwa kebijakan menggratiskan satand-stand tersebut dimaksudkan untuk memberi dukungan penuh dan mendorog kemajuan UMKM lokal dan ekonomi kreatif yang mulai tumbuh di Bumi Dewata. “Dengan digratiskannya stand untuk UMKM di arena PKB 2019 ini, saya minta semua peserta tetap menjaga ketertiban dan disiplin. Jaga nama baik PKB dan Bali secara umum agar tetap mulia dan kondusif, bersih dan rapi,” ujar Gubernur Koster saat memberi pengarahan dan tatap muka dengan para peserta pameran ajang PKB 2019, di Gedung Ksirarnawa Art Centre Denpasar, Minggu (9/6) pagi. Di samping itu, Ketua DPD PDI Perjuangan Bali ini juga mengingatkan agar seluruh warga masyarakat, terlebih bagi mereka yang terlibat di PKB, untuk selalu dapat menjaga sikap guyub dan kompak semuanya. Dengan demikian, citra PKB akan bisa semakin baik lagi ke depannya. Ia menyebutkan, kebersamaan antara para perajin dan UMKM sangat penting. “Posisi stand-nya akan diundi dan jangan sampai ada ribut-ribut sesama saudara sendiri,”

ujarnya menekankan. menolong orang kecil.” Ke depan, lanjut Gubernur Para peserta pameran juga diKoster, pihaknya akan terus beruimbau agar aktif membuka jaringan paya memperbaiki gelaran PKB, baru untuk memajukan usahanya. sehingga pada gilirannya akan “Nanti kita akan bantu semua peramenjadi semakin baik. Salah jin di Bali dalam membuka jaringan satunya, memperbaiki bentuk dan pasar, akses keluar daerah kebijakan yang nantinya semakin hingga ke negara lain, termasuk banyak daoat mengakomodasi juga dengan membuat rumah UMKM lokal Bali. desain industri kreatif branding “Format ke depan agar lebih Bali. Kita fasilitasi gratis,” ucapnya banyak yang bisa ikut pameran, bersemangat. semuanya kebagian. Ini tentu Gubernur menyatakan bahwa melalui seleksi yang baik pula,” pihaknya akan terus melakukan katanya menjelaskan. dialog tentang apa-apa saja Mengenai stand yang seyang jadi kendala UMKM di Bali. lama ini disewakan di arena PKB, “Bahan baku, modal, pemasaran, Gubernur Koster menganggap atau apapun, kita akan carikan pemasukan dari penyewaan stand jalan keluarnya. Semua untuk tersebut sesungguhnya sangat memajukan dan menumbuhkan kecil. “Saya hitung tak sampai Rp kekuatan ekonomi kerakyatan Gubernur Koster 2 miliar. Jadi menurut saya, PKB di Bali, itu cita-cita kami,” kata ini bukan tempat untuk mencari uang, apalagi jika yang mantan anggota DPR RI ini. dibebankan adalah para peserta UMKM di Bali,” ujarnya Menurut Koster, PKB 2019 betul-betul hendaknya menandaskan. dapat diisi dengan materi yang baru, yang secara genGubernur mengaku sudah dari dulu berniat untuk eral akan lebih mengedepankan sekaa sebun dan seni menggratiskan stand di PKB bagi para perajin yang betradisi Bali yang ada di desa-desa adat. “Silahkan nanti rasal dari UMKM tersebut. “Untuk itu ketika saya terpilih, lihat pawai pembukaannya, pasti akan beda suasananya. langsung saya buatkan payung hukum yang mengatur, Begitu pula dengan materi seni yang dilombakan, akan yakni peraturan gubernur baru agar bebas dari pungutan,” banyak pembaharuan,” katanya sembari menyebutkan, katanya dengan menambahkan, “Jangan pernah ragu-ragu “Kita doakan bersama agar Bapak Presiden Jokowi bisa

hadir langsung di arena PKB.” Pada kesempatan yang sama, Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Provinsi Bali Putu Astawa mengatakan, penjaringan peserta yang akan mengikuti pameran diawali dengan sosialisasi ke kabupaten/kota se-Bali, yang kemudian penjaringannya dilakukan oleh masing-masing Dinas Perindag. “Jadi yang berhak mengikuti pameran ke tingkat provinsi, ialah yang dari hasil rekomendasi kabupaten/kota,” ujarnya. Mengingat banyaknya peminat yang ingin ikut berpameran, maka barang-barang yang akan dipamerkan itu harus memiliki kualifikasi tertentu. Sehingga, tidak semua barang bisa dipamerkan. “Karena namanya Pesta Kesenian Bali, tentu barang-barang yang dipamerkan itu asli produk Bali, bukan dari luar Bali,” ujarnya seraya menambahkan, produk-produk yang dipamerkan itu telah dikurasi oleh tim dari ISI Denpasar. Senada dengan Gubernur, Astawa kembali menegaskan bahwa para peserta pameran tidak membayar apa-apa, alias gratis untuk bisa menjadi peserta. “Ini sekaligus sebagai ciri bahwa Pemerintah Provinsi Bali mendukung perkembangan dan kemajuan UKM lokal Bali agar industri ini bisa meroket ke depannya,” katanya. Ia menyebutkan, pameran PKB tahun ini akan diikuti oleh 304 peserta, meningkat dibandingkan dengan tahun sebelumnya sebanyak 215 peserta. “Untuk waktunya dari 15 Juni sampai 13 Juli 2019. Dengan kebijakan baru ini kami harapkan bisa meningkatkan kerukunan dan keharmonisan antarpelaku UKM sesuai dengan visi ‘Nangun Sat Kerthi loka Bali’ melalui program pembangunan semesta berencana menuju Bali era Baru,” ujar Astawa mengharapkan. (ast).

redaksi@cybertokoh.com, iklan@cybertokoh.com

cybertokoh

@cybertokoh

@cybertokoh

www.cybertokoh.com


Turn static files into dynamic content formats.

Create a flipbook
edisi-1036 by e-Paper KMB - Issuu