Skip to main content

Edisi Minggu 24 Juni 2018 | balipost.com

Page 4

4

Minggu Kliwon, 24 Juni 2018

Anemia Defisiensi Besi

Anemia secara fungsional didefinisikan sebagai penurunan jumlah massa eritrosit (sel darah merah) sehingga tidak dapat memenuhi fungsinya untuk membawa oksigen dalam jumlah yang cukup ke jaringan perifer (penurunan oxygen carrying capacity).

Anemia sendiri bisa diidentifikasi dengan menilai parameter yang menunjukan penurunan masa eritrosit, yaitu hemoglobin, hematocrit dan hitung eritrosit. Hemoglobin merupakan parameter yang paling umum digunakan. Kadar hemoglobin sangat bervariasi secara fisiologik, tergantung pada umur, jenis kelamin, adanya kehamilan dan ketinggian tempat tinggal. Kriteria anemia menurut WHO adalah sebagai berikut : Kriteria Kelompok Anemia (Hb) Laki-laki dewasa < 13g/dl Wanita dewasa tidak hamil < 12g/dl Wanita hamil < 11g/dl Anemia merupakan masalah yang sering dijumpai secara global. Menurut data WHO tahun 2008, prevalensi anemia sebanyak 1,62 miliar orang dimana angka ini merupakan 24,8% dari seluruh penduduk dunia. Anemia sebenarnya merupakan kumpulan gejala dari beberapa penyebab, pada dasarnya anemia disebabkan oleh gangguan pembentukan eritrosit oleh sumsum tulang, kehilangan darah keluar dari tubuh dan proses penghancuran darah dalam tubuh sebelum waktunya. Selain dibagi berdasarkan penyebabnya, anemia juga dibagi berdasarkan gambaran morfologis yaitu anemia hipokromik mikrositer, anemia normokromik normositer dan anemia makrositer. Dari pembagian berdasarkan penyebab dan gambaran morfologis tersebut anemia terbanyak adalah anemia hipokromik mikrositer yang disebabkan oleh defisiensi besi (anemia defisiensi besi). Besi Anemia defisiensi besi adalah anemia yang timbul karena berkurangnya

penyediaan besi untuk eritropoesis (proses pembentukan darah), karena cadangan besi kosong yang pada akhirnya akan mengakibatkan pembentukan hemoglobin berkurang. Anemia defisiensi besi ditandai dengan anemia hipokromik mikrositer dan hasil laboratorium yang menunjukan cadangan besi kosong. Anemia defisiensi besi disebabkan oleh beberapa hal seperti rendahnya zat besi yang masuk ke dalam tubuh, gangguan penyerapan besi dan kehilangan besi karena perdarahan yang menahun. Kehilangan besi akibat (1) perdarahan menahun dapat berasal dari saluran cerna (perdarahan lambung, penggunaan antinyeri, kanker, hemoroid, infeksi cacing dll), saluran genitalia perempuan (haid yang lebih lama durasinya dan lebih sering), saluran kemih (kencing darah), saluran napas (batuk darah). (2) Faktor nutrisi : akibat kurangnya jumlah besi dalam makanan, kualitas besi yang tidak baik ( contoh : makanan banyak serat, rendah vitamin C dan rendah daging). (3) kebutuhan besi meningkat seperti pada prematuritas, anak dalam masa pertumbuhan dan kehamilan. (4) gangguan absorpsi besi : gastrektomi dan peradangan usus.

Defisiensi Defisiensi besi tidak hanya berakibat pada terjadinya anemia, defisiensi besi juga memberikan dampak negatif seperti gangguan kapasitas kerja, gangguan terhadap proses mental dan kecerdasan, gangguan imunitas dan ketahanan terhadap infeksi, gangguan terhadap ibu hamil dan janin yang dikandungnya. Gejala anemia secara umum atau disebut sindrom anemia ditemui bila kadar hemoglobin turun di bawah 7-8g/ dl. Gejalanya berupa badan lemah lesu, cepat lelah, mata berkunang-kunang, serta telinga berdenging. Pada pemeriksaan fisik akan tampak pasien pucat, terutama pada konjungtiva dan kuku. Sedangkan gejala khas pada anemia defisiensi besi adalah kuku sendok ( kuku rapuh, bergaris-garis vertikal dan cekung seperti sendok), atrofi

BPM/ist

Apa Itu ”Carpal Tunnel Syndrome”? Di era modern saat ini, berbagai kalangan mulai dari yang muda hingga lanjut usia tidak terlepas dari penggunaan alat elektronik dalam kegiatan sehari-hari, seperti handphone, keyboard, dan sebagainya. Namun, tanpa disadari gerakan tangan berulang tanpa jeda istirahat yang cukup seperti menggenggam dan mengetik dapat menyebabkan terjadinya jepitan saraf pada pergelangan tangan. Jepitan saraf ini biasanya diawali dengan keluhan kesemutan dan kebas pada telapak tangan yang menjalar hingga ujung ibu jari, jari telunjuk, dan jari tengah. Adanya keluhan seperti ini, bisa jadi pertanda bahwa anda mengalami Carpal Tunnel Syndrome (CTS). Nama Carpal Tunnel Syndrome (CTS) berasal dari tulang karpal yang berada pada telapak tangan yang diselubungi jaringan ikat seperti terowongan yang dilewati sebuah saraf yang dinamakan Saraf Medianus. Saraf Medianus berperan sebagai sensor agar kita dapat merasakan sensasi sentuhan, nyeri, dan suhu pada telapak tangan kita. Studi epidemiologi menunjukkan kejadian CTS paling sering dialami penderita pada rentang usia 45 sampai 60 tahun. Angka kejadian

pada wanita tiga kali lipat dibandingkan pria. Hal ini berhubungan dengan jenis pekerjaan wanita yang cenderung dikerjakan secara manual dan kondisi kehamilan. Jepitan CTS terjadi karena adanya jepitan pada Saraf Medianus. Jepitan dapat terjadi akibat beberapa gerakan tangan yang membengkok ke bawah seperti pada saat mengetik dan gerakan menggenggam seperti pada saat memeras kain, menjahit, mengulek, dan menyapu. Selain gerakan berulang tanpa jeda istirahat yang cukup, beberapa penyakit yang dapat memicu CTS adalah diabetes, obesitas, penyakit tiroid, dan peradangan sendi pada tangan seperti rheumatiod arthritis dan osteoarthritis. Serta kondisi tertentu seperti pada ibu hamil. Diagnosis CTS umumnya ditentukan melalui wawancara medis dan pemeriksaan fisik. Adanya keluhan kesemutan dan kebas akibat gerakan tangan yang sering berulang tanpa jeda istirahat yang cukup dan adanya riwayat penyakit penyerta yang dapat menimbulkan CTS. Pemeriksaan fisik yang dilakukan dinamakan Tinel’s Test dengan melakukan penekanan pada pergelangan tangan dan Phalen’s Test dengan merekatkan punggung tangan kanan dan kiri

hingga membentuk sudut sembilan puluh derajat selama kurang lebih satu menit. Bila keluhan nyeri dan kesemutan dirasakan memberat maka pemeriksaan dinyatakan positif. Pemeriksaan Tingkat keparahan CTS ditentukan dengan pemeriksaan penunjang Elektromiogram (EMG). Pemeriksaan ini bertujuan untuk mengukur dan mengevaluasi aktivitas listrik pada otot. Prosedur pemeriksaan ini dilakukan dengan cara memasukkan jarum tipis beraliran listrik ke dalam otot. Dengan mengetahui tingkat keparahan CTS yang diderita pasien, dokter dapat menentukan penanganan yang tepat bagi penderita. Penanganan CTS bervariasi, bergantung pada tingkat keparahan. Pengobatan diberikan bersamaan dengan penggunaan alat bantu wrist splint, yaitu alat pembungkus tangan yang berfungsi memperbaiki posisi tangan pada posisi normal. Dalam tahap lanjut, Suntikan Steroid dapat diberikan untuk meredakan peradangan, sehingga jepitan saraf berkurang. Bila pengobatan konservatif tidak mengurangi keluhan, maka dokter akan menyarankan dilakukannya tindakan operasi. l I Made Arya Susila

papil lidah ( lidah menjadi licin dan mengkilap, cheilosis ( peradangan pada sudut mulut berwarna pucat keputihan), nyeri menelan, pica (keinginan makan yang tidak lazim seperti es, lem dan tanah liat).

Terapi Terapi untuk anemia defisiensi besi dibagi menjadi dua, yaitu terapi dari penyebab anemia tersebut seperti terapi pada cacing tambang dan gangguan haid, juga terapi pemberian preparat besi. Terapi pemberian preparat besi bertujuan untuk mengganti kekurangan besi dalam tubuh. Pemberian preparat besi secara oral merupakan pilihan utama karena murah dan aman. Sulfas ferosus merupakan pilihan pertama karena paling murah tetapi efektif. Preparat besi sebaiknya diberikan saat lambung kosong, namun sering dikeluhkan efek samping mual, muntah dan konstipasi. Pada pasien yang mengalami intoleransi, pemberian dapat dilakukan saat makan atau setelah makan. Pengobatan dilakukan selama 3 sampai 6 bulan, namun ada juga yang menganjurkan sampai 12 bulan. Untuk meningkatkan penyerapan besi, disarankan untuk mengkonsumsi vitamin C sebanyak 3x100 mg per hari dan konsumsi makanan tinggi protein khususnya protein hewani. Hati-hati dalam konsumsi vitamin C karena dapat meningkatkan efek samping. Pencegahan terpadu juga diperlukan untuk mencegah anemia defisiensi besi, tindakan pencegahan dapat berupa, Pendidikan kesehatan sepertinya pentingnya pemakaian jamban, perbaikan lingkungan, dan pemakaian alas kaki untuk mencegah infeksi cacing tambang. Penyuluhan gizi untuk mendorong konsumsi makanan yang membantu penyerapan besi. Pemberantasan cacing tambang sebagai sumber perdarahan paling sering di daerah tropik. Suplementasi dan fortifikasi besi yang tepat sasaran juga memiliki peran besar dalam pencegahan anemia defisiensi besi. l dr. I Gede Vendi Cahyadi Riandika

Senam Kebugaran Jasmani 2018 (5) Untuk menjaga kebugaran tubuh, marilah kita lanjutkan berlatih SKJ 2018 Indonesia Bersatu yang bertujuan untuk meregangkan otot sisi badan, lengan, punggung, dada dan betis. Ikuti peragaan berikut ini bersama Manik Sukma Dewi dari Lala Studio.

Rubrik “Bugar” ini terbuka untuk umum. Bagi Anda yang memiliki problem masalah tubuh. Kirimkan ke Redaksi Bali Post, Jl. Kepundung 67 A Denpasar (80232) atau hubungi Adolfina Grace Tangkudung, Sekolah Senam Lala Studio, Jl. Veteran 66E, Puri Satria Denpasar, telp. 08123843259. Cantumkan kupon “Bugar” di sudut kiri amplop.

Gb. 1 Kaki kanan ke depan sambil meluruskan kedua lengan ke depan, tumit kiri diangkat (hit. 1, 3) lalu tarik kembali kedua lengan ke samping pinggang, tangan mengepal, ujung kaki kanan diangkat (hit 2, 4). Ayunkan kedua lengan dari samping badan hingga lurus ke depan, kaki kanan ditekuk di depan dan kaki kiri lurus ke belakang (hit 5, 6), dan kedua lengan direntangkan, lalu tutup kedua kaki rapat (hit. 7, 8)

Gb. 2 Kaki kanan ke belakang, tekuk sedikit, ujung kaki kiri diangkat, kedua tangan depan perut membentuk seperti membawa bola besar, tangan kanan di atas tangan kiri di bawah pusar, berat badan ke belakang (hit. 1-4) lalu dorong telapak tangan kanan ke depan, tangan kiri memutar melalui atas kepala sampai ke belakang kepala, telapak tangan menempel belakang kepala (hit 5-8) kedua kaki tutup rapat.

1

2

Gb. 3 dan Gb. 4 Mendorong kedua lengan lurus ke atas, kedua kaki tutup rapat, kedua tumit jinjit (hit. 1, 3) posisi lengan tidak berubah, kedua tumit kembali rapat (hit 2, 4). Tekuk siku lengan kanan, tangan kanan menempel di bahu kiri, tangan kiri menempel pada siku kanan (hit 5, 6, 7) kembali sikap sempurna (hit 8). Ulangi gerakan untuk sisi kiri lalu ulangi gerakan Gb. 1, 2, 3 untuk sisi kiri.

3

4

Kupon BPM/ist

CTS - Studi epidemiologi menunjukkan kejadian CTS paling sering dialami penderita pada rentang usia 45 sampai 60 tahun. Angka kejadian pada wanita tiga kali lipat dibandingkan pria. Hal ini berhubungan dengan jenis pekerjaan wanita yang cenderung dikerjakan secara manual dan kondisi kehamilan.

Kisara Remaja merupakan generasi penerus bangsa yang sangat berperan terhadap nasib bangsa Indonesia selanjutnya. Saat ini, permasalahan remaja sangat kompleks terlebih pada era teknologi. Teknologi dapat memberikan dampak positif ataupun negatif tergantung dari si pemakainya, apakah mau memanfaatkan teknologi tersebut untuk hal-hal baik atau buruk. Tidak sedikit remaja yang memanfaatkan teknologi untuk mencari dan

Kebugaran tubuh dan awet muda hanya dapat diperoleh dari latihan rutin dan pikiran jernih, serta salam bugar dari Lala Studio.

Remaja dan Pendidikan Kesehatan Reproduksi menonton video porno. Hal ini sesuai dengan penelitian dari Kisara tahun 2016, bahwa dari 1.200 remaja di Denpasar, 51,33% pernah menonton video porno dan 30,19% di antaranya mengaku ketagihan. Wah! Angka yang cukup besar yaa. Selain itu, penelitian Kisara tahun 2016 juga memperoleh hasil bahwa 6,48% remaja pernah melakukan vaginal seks dan alasan terbesar melakukan hubungan seksual adalah karena keinginan

bersama (43,38%) dan rasa ingin tahu (24,49%). Apabila kita melihat pada hasil penelitian tersebut, tentu saja remaja Bali darurat pendidikan kesehatan reproduksi. Pendidikan kesehatan reproduksi dan seksual seharusnya diberikan kepada remaja sejak usia dini dan diberikan secara komprehensif tanpa ada yang ditutup-tutupi. Berdasarkan hal tersebut, Rutgers WPF Indonesia bekerja sama den-

gan Bill and Melinda Gates Foundation, Rutgers WPF Netherlands, PKBI Bali dan Pemerintah Kota Denpasar sepakat untuk melaksanakan pendidikan kesehatan reproduksi dan seksual di beberapa SMP sebagai sekolah percontohan. Untuk menunjang pendidikan kesehatan reproduksi dan seksual di sekolah, juga dilaksanakan sebuah penelitian, yaitu Explore 4 Action untuk mengetahui model seperti apakah yang cocok untuk

pemberian pendidikan kesehatan reproduksi dan seksual di sekolah. Launching Explore 4 Action secara nasional telah dilaksanakan di Bali pada tanggal 18 April 2018 di Westine Convention Center, Nus Dua. Kegiatan ini dihadiri langsung oleh Clarissa perwakilan dari Bill and Melinda Gates Foundation dan Miranda dari Rutgers WPF Indonesia serta Prof. Bob dari John Hopkins University. Pada saat launching tersebut,

remaja SMP yang telah menerima manfaat pendidikan kesehatan reproduksi diberikan kesempatan untuk berbagi tentang apa manfaat yang telah mereka rasakan setelah memperoleh pendidikan kesehatan reproduksi dan seksual melalui modul Setara (Semangat Dunia Remaja). Di samping itu, juga diperkenalkan Forum Remaja Bali dan Dewan Penasihat Lokal Pendidikan Kesehatan Reproduksi dan Seksual Kota Denpasar.


Turn static files into dynamic content formats.

Create a flipbook