EDISI LI/NOVEMBER/2019
ISSN 2089-4902
KEBEBASAN BERPENDAPAT KEBEBASAN BERPENDAPAT Bagaimana dampaknya ketika bermasyarakat ?
MINIMALISM Gaya hidup zaman sekarang ?
PERJALANAN HIDUPKU sebuah cerita karya Riki Martin
LIPUTAN KEGIATAN : DIES NATALIS KAMADHIS UGM “Voyage of Kamadhis UGM”
Salurkan Rasa dalam Karya, Ekspresikan Diri dalam Inspirasi
SEJARAH KAMADHIS UGM Kamadhis UGM (Keluarga Mahasiswa Buddhis Universitas Gadjah Mada) adalah sebuah organisasi yang bersifat kerohanian, mencakup sikap dan kepedulian mahasiswa Buddhis UGM terhadap dinamika kampus UGM, dinamika kehidupan sosial (bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara), dan dinamika kehidupan individual sebagai wujud implementasi Buddhadhamma. Kamadhis UGM berfungsi sebagai wadah, penyalur aspirasi, perencana, dan pelaksana kegiatan Buddhis UGM. Organisasi ini berdiri sejak tanggal 6 September 1990.
EKA-CITTA Eka-ci a diterbitkan pertama kali pada bulan September 1995. Awalnya, penerbitan Eka-ci a merupakan salah satu program kerja Bidang Dhamma dan Pendidikan Kamadhis UGM. Pada tahun 2011, Eka-ci a dipisah dari Bidang Dhamma dan Pendidikan dan menjadi suatu Badan Semi Otonom supaya lebih berfokus dalam penerbitan bule n Eka-ci a. : Kamadhis UGM : kamadhis_ugm : @uhp2234o KRITIK DAN SARAN ec.kamadhisugm@gmail.com
: @KamadhisUGM : kamadhis.ukm.ugm.ac.id
Donasi Rekening BCA 0372551648 a.n J Eendi SU IR Beri kode akhiran 8 (Contoh : Rp. 100.008,00) KonďŹ rmasi kepada Cherla Safhira Line :cherlasafhira WA/SMS : +6287868585568
Salam Redaksi Namo Buddhaya, Halo semuanya! Seperti yang kita ketahui, kebebasan berpendapat adalah salah satu hak kita sebagai warga negara Indonesia. Namun, di satu sisi, masih banyak banyak pula orang yang menggunakan hak kebebasan berpendapat ini tanpa didasari tanggung jawab sehingga muncul banyak berita bohong ataupun ujaran kebencian. Bagaimana cara menggunakan kebebasan berpendapat ini dengan bertanggung jawab? Sebagai umat Buddha, kita selalu dihimbau untuk hidup berkesadaran, atau hidup dengan mindfulness. Inilah yang dapat menjadi salah satu modal kita dalam menggunakan kebebasan berpendapat. Kita harus sadar apa yang menjadi dasar dari pendapat tersebut. Jika dasarnya adalah perasaan negatif, seperti kebencian dan kemarahan, maka kita harus olah terlebih dahulu perasaan tersebut, jangan
KEBEBASAN BERPENDAPAT
orang yang ragu untuk mengeluarkan pendapatnya dengan bebas, dan di sisi lain,
langsung dikeluarkan. Jika semua orang dapat menerapkan hal ini, niscaya akan muncul suasana yang aman dan kondusif bagi kebebasan berpendapat itu sendiri. Bagaimana, pembahasan mengenai kebebasan berpendapat ini? Menarik bukan? Temukan bahasan lain mengenai kebebasan berpendapat dalam Eka-citta edisi LI ini! Tak lupa, kami mengucapkan terima kasih kepada para kontributor, sponsor, donatur, serta berbagai pihak yang turut mendukung penerbitan Eka-citta edisi ini. Sabbe sattā bhavantu sukhitattā, semoga semua makhluk hidup berbahagia. Sādhu sādhu, sādhu. Salam Hangat, Tim Redaksi PELINDUNG Prof. Ir. Panut Mulyono, M.Eng., D.Eng.
PENANGGUNG JAWAB Vivin Purnamawati
PEMBINA Dr. Dr. Ir. Effendie Tanumihardja, S.U., M.M. Dr. Endang Soelistiyowati, S.Pd., M.Pd.
PEMIMPIN UMUM Cherla Safhira
REDAKSI Melia Lichwan (Pimpinan) Adhitya Pratama Putra Novirene Tania Sherine Devi Sutomo William
DESAIN DAN TATA LETAK Danniel Yuwono (Koordinator) Antoni Sudibjo Chelsea Ciandry Pratama Dharma Surya Vincent
Sumber : google.com
KONTRIBUTOR Danniel Yuwono Hery Ciaputra Irfandi Sarana John Hendrick Halim Riky Martin Vincent PEMASARAN DAN KEMITRAAN Louis Wili Wijaya (Koordinator) Julius Cipta Jaya Riadi Shania Angelina
1
KEBEBASAN BERPENDAPAT
Daftar Isi
Salam Redaksi
1
Artikel Utama
3
Kebebasan Berpendapat
2
Daftar Isi
7
Untaian Dhamma
Serba-serbi Delegasi Liga Waisak UI Minimalism Jangan Lukai Aku Perjalanan Hidupku Film Mendatang
Galeri Foto Wawancara
Kebebasan Berpendapat dalam 2 Perspektif
Dhammapada Atthakhata Kisah Sariputta Thera
13 16 18 19 22
23
26
Ehipassiko dalam Kebebasan Berpendapat
Liputan Kegiatan
Dies Natalis Kamadhis UGM “Voyage of Kamadhis UGM”
28
Pojok Kampus
35
Hiburan
38
Kontak Dhamma
Lebih Dekat dengan Pusat Studi UGM
32 Teka-Teki Silang
37
Eka-ci a edisi 51 adalah karya pertama setelah EWW ke-3 dilaksanakan yang membawakan tema "Express Your Mind with Words". Semoga pada EC 51 ini, hadir kontributor baru yang bisa dengan bebas mengekspresikan dirinya lewat tulisannya. Kamadhis pun bisa menjadi lebih berwarna seiring dengan terbitnya edisi ini supaya banyak tercipta regenerasi para penulis Buddhis. Sādhu sādhu, sādhu. - Sukhemadewi
2
Artikel Utama
KEBEBASAN BERPENDAPAT
KEBEBASAN BERPENDAPAT
Sumber : katadata.co.id
Oleh Danniel Yuwono Pendapat, menurut KBBI adalah buah pemikiran atau perkiraan tentang suatu hal. Pendapat juga dapat diartikan sebagai pikiran atau anggapan. Tentu dari kalimat definisi menurut KBBI sudah tertulis bahwa pendapat merupakan buah “pemikiran�, yang mana setiap individu di masyarakat memiliki pemikiran masingmasing mengenai suatu hal sehingga pendapat menjadi sebuah ciri tersendiri untuk individu yang membedakan mereka dengan individu lain. Di Indonesia, kebebasan berpendapat merupakan suatu hak yang dimiliki oleh seluruh rakyat Indonesia dan hal itu sangat didukung dengan adanya sistem pemerintahan indonesia, yaitu demokrasi. Menurut pengertiannya, negara demokrasi merupakan negara yang menjadikan rakyat sebagai pemegang kekuasaan tertinggi (people power) dengan prinsip dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat. Maka dari itu, suara-suara dari rakyat yang akan menjadi kemudi kapal yang mengarahkan Indonesia. Seperti layaknya kapal, tentu saja Indonesia bisa tenggelam jika kemudinya salah. Semua tergantung dari rakyat sendiri, apakah rakyat bisa menggunakan hak kebebasan berpendapat dan berpendapatnya
3
dengan baik dan bertanggung jawab. Menurut UUD 1945 pasal 28E ayat 3, kebebasan berbicara atau berpendapat
KEBEBASAN BERPENDAPAT
adalah kebebasan yang mengacu pada sebuah hak untuk berbicara atau berpendapat secara bebas tanpa ada batasan kecuali dalam hal menyebarkan kejelekan. Dari pasal 28E, sudah diperjelas bahwa Indonesia menghargai adanya kebebasan berpendapat pada masyarakat selama pendapat yang dikeluarkan tidak untuk menyebar kejelekan. Namun, kebebasan berpendapat menjadi salah satu bentuk Hak Asasi Manusia yang sampai sekarang masih banyak dilanggar. Di era milenial ini, kebebasan berpendapat bisa dilakukan di mana saja dan kapan saja. Dengan adanya kemajuan teknologi, kita diberi kemudahan untuk mempertunjukkan dan menyatakan pendapat kita. Di zaman ini, hampir seluruh rakyat Indonesia memiliki smartphone yang di dalamnya terdapat berbagai macam media sosial, seperti Instagram, LINE, Whatsapp, Facebook, Twitter, dan lainnya. Di media sosial tersebut kita diberi kesempatan untuk menyatakan pendapat kita terhadap sesuatu. Kita bisa menulis komentar di kolom komentar Instagram kita, lalu ada Twitter dimana kita bisa men-tweet segala keluh kesah dan suka duka kita secara bebas tanpa dihalangi orang lain. Namun, apakah kita boleh secara sembarangan menuliskan pendapat kita? Tentu saja tidak. Setiap pendapat yang kita utarakan di media sosial bagaikan pisau bermata dua, bisa membuat orang lain yang membacanya senang, tetapi bisa juga melukai hati seseorang. Maka dari itu, pendapat yang kita tuliskan di media sosial pun tidak bisa ditulis secara sembarangan tanpa pertimbangan yang matang. Pendapat seseorang bisa melukai hati seseorang, walaupun mungkin kalian akan berkata “aelah santai aja cuma segini doang� atau �lah kok marah lebay banget deh�. Bisa jadi apa yang kalian rasakan berbeda dengan mereka yang membaca. Kita ambil saja contoh yang baru-baru ini terjadi, yaitu seorang artis Korea yang meninggal dengan cara bunuh diri karena depresi yang salah satu kemungkinan penyebabnya adalah komentar negatif netizen kepadanya. Dari kasus tersebut, bisa kita simpulkan bahwa tidak semua opini dan pendapat yang kita keluarkan itu
4
Sumber : google.com
menyebabkan kematian orang lain. Kita sebagai manusia dituntut untuk hidup berdampingan, saling membantu satu sama lain. Namun, jika kita sendiri menyakiti orang lain dengan pendapat yang kita tulis secara sembarangan, kita tidak akan pernah bisa hidup berdampingan dengan orang lain. Berpendapat merupakan bentuk kebebasan setiap manusia. Namun, bukan berarti kebebasan kita boleh mengganggu kebebasan orang lain. Jika kita tidak bisa menghargai hak dan kebebasan orang lain, maka orang lain tidak akan menghargai kebebasan dan hak diri kita. Maka dari itu, sebelum berpendapat, ada baiknya kita menyaring pendapat kita sehingga pendapat yang akan kita
KEBEBASAN BERPENDAPAT
Sumber : kisspng.com
baik untuk semua orang dan pendapat yang kita tulis di media sosial bisa saja
keluarkan tersebut tidak menjadi senjata yang bisa membunuh orang lain. Kita hidup diberikan kebebasan yang merupakan hak kita sebagai manusia. Namun, kebebasan tersebut harus dilandasi tanggung jawab sehingga kebebasan kita tidak mengganggu orang lain. Untuk menjalin kehidupan yang harmonis, kita harus bisa menghargai hak orang lain. Kita harus bisa mengatur dan mengendalikan kebebasan diri kita sendiri, mulai berpikir bijak dalam setiap tindakan kita, dan yang terpenting adalah menghilangkan segala keegoisan dan mulai melatih simpati dan empati kita terhadap orang lain. Jika kita bisa melatih simpati dan empati kita, maka kita akan menyadari segala tindakan dan bisa mengoreksi tindakan yang kita lakukan terhadap orang lain. Terakhir, kebebasan berpendapat sudah menjadi sebuah bagian dari dinamika kehidupan bermasyarakat, entah itu di media sosial ataupun di
5
kehidupan nyata. Namun, dengan kebebasan berpendapat yang kita miliki, bukan berarti bisa kita keluarkan dan kita tuliskan secara sembarangan. Pendapat yang kita
KEBEBASAN BERPENDAPAT
tulis dan kita keluarkan harus dipikirkan dengan matang serta dengan simpati dan
6
empati yang kita miliki. Kita akan tahu apakah pendapat yang akan kita tuliskan atau kita keluarkan memberikan dampak baik atau buruk di kehidupan bermasyarakat. Tentu kebebasan berpendapat yang kita miliki harus dilandasi tanggung jawab sehingga pendapat yang kita sampaikan tidak akan menyakiti hati orang lain. Ingat, kita hidup bersama-sama, tidak sendirian.
Untaian Dhamma
Oleh John Hendrick Halim Ehipassiko atau dikenal dengan datang dan lihatlah, merupakan suatu kata yang sering kita dengar baik dalam nyanyian maupun dhammadesana yang sering kita dengar. Kata ehipassiko berasal dari kata dalam bahasa Pali, yaitu ehipassika yang terdiri dari 3 suku kata, yaitu ehi (datang), passa (lihat), dan ika (sufiks/akhiran). Secara harafiah “ehipassika” berarti datang dan lihat. Secara singkat ehipassiko juga bisa berarti 'mengundang untuk dilihat; dengan pengertian “dilihat” sebagai tindakan verifikasi atau pemeriksaan atau penyelidikan. Ehipassiko sendiri didasari dari khotbah Sang Buddha yang tercantum di dalam Anguttara Nikaya, yaitu Kālāma
KEBEBASAN BERPENDAPAT
Ehipassiko dalam Kebebasan Berpendapat
Sutta. Kālāma Sutta sendiri merupakan Sutta yang menceritakan mengenai suku Kalama yang bingung dan ragu dengan doktrin dari beberapa petapa dan Brahmana, sambil mencaci, menjelekkan, merendahkan doktrin petapa atau brahmana lain. Karena adanya keraguan itulah, suku Kalama bertanya kepada Sang Buddha mengenai hal itu. Sang Buddha mulai meyakinkan para Kalama bahwa dalam situasi keraguan seperti demikian adalah hal yang wajar bagi mereka, maka mereka harus cermat dalam memilih mana yang benar dan mana yang tidak. Sang Buddha pun
Sumber : google.com
memaparkan beberapa hal yang membuat keraguan suku Kalama, yakni sebagai berikut: ·Jangan mengikuti begitu saja apa yang diperoleh karena didengar beberapa kali; ·Atau tradisi;
7
KEBEBASAN BERPENDAPAT
· · · · · · · ·
Atau rumor, Atau kitab; Atau dugaan; Atau axiom (pernyataan yang kelihatan benar); Atau alasan yang mencurigakan; Atau pandangan bias terhadap gagasan yang telah direnungkan; Atau pada kemampuan orang lain yang tampak; Atau atas pertimbangan.
Dari hal-hal tersebut, Sang Buddha menjelaskan kepada suku Kalama, “Jika hal-hal tersebut buruk, dapat dicela, dikecam oleh orang bijak, jika diamati dan dilakukan dapat mengarah pada hal yang merugikan dan mencelakakan, maka tinggalkanlah hal tersebut. Sebaliknya jika hal-hal tersebut baik, tidak dapat dicela, dipuji orang bijak, jika diamati dan dilakukan dapat mengarah pada hal yang bermanfaat dan kebahagiaan, maka ikuti dan lakukanlah.” Selain itu, terdapat beberapa sifat yang merupakan sifat mencelakakan, yaitu tiga akar kejahatan yang meliputi keserakahan (lobha), kebencian (dosa), dan kedelusian (moha). Ketiga sifat itu dapat merugikan diri sendiri. Maka dari itu, dalam menerima pendapat maupun memaparkan pendapat, harus diperhatikan dan dihindari ketiga sifat tersebut agar terhindar dari pemahaman yang bias. Dalam ajaran Sang Buddha, dikatakan bahwa ketiadaan tiga akar kejahatan ini akan mendatangkan manfaat yang baik. Dalam prinsip ehipassiko, tiga akar kejahatan ini menjadi parameter apakah pernyataan yang diterima maupun diutarakan bermanfaat atau mencelakakan. Dengan adanya tiga akar kejahatan ini, maka akan
8
mendatangkan kerugian. Sebaliknya, jika tiga akar kejahatan ini tidak ada, maka akan
kejahatan harus dihilangkan. Keserakahan (lobha) Untuk mencegah timbulnya keserakahan (lobha) dalam diri, maka perlu dilakukan beberapa hal berikut: · Menggunakan perhatian penuh/kesadaran penuh/ kewaspadaan (sati) · Berusaha untuk tidak selalu menuruti keinginan · Merenungkan untung dan rugi dengan menggunakan kebijaksanaan (paññā) · Membangkitkan Hiri dan Ottappa (malu dan takut berbuat jahat) ·Mengembangkan Dhamma yang
KEBEBASAN BERPENDAPAT
mendatangkan manfaat yang baik. Maka dari itu, untuk memunculkan pemikiran yang baik dan bijak, tiga akar
berlawanan dengan lobha, seperti berdana. Kebencian (dosa) Hal ini wajar terjadi karena setiap orang pasti memiliki rasa tidak suka dengan sesuatu, hingga orang tersebut sampai berkeinginan agar yang tidak disukai menjadi tidak ada (musnah) terus-menerus dan Sumber : google.com
berlebihan. Maka
dari itu, untuk menghindari timbulnya kebencian (dosa) adalah dengan cara menjalankan lima kemoralan atau lebih dikenal dengan pañcasīla. Kedelusian (moha) Dengan munculnya delusi dari diri seseorang, maka pikirannya akan dikuasai oleh kedelusian yang dapat mengakibatkan penderitaan pada orang lain dengan dalih palsu ataupun dikenal dengan orang yang
Sumber : google.com
9
memiliki kebodohan batin. Hal ini dapat dicegah dengan mengembangkan
KEBEBASAN BERPENDAPAT
kebijaksanaan (paññā). Tentunya sebagai Buddhis, kita harus cermat memilah pendapat yang kita terima maupun pendapat yang kita utarakan. Apakah pendapat itu sesuai dengan fakta? Apakah pendapat itu mencelakakan? Apakah pendapat itu bermanfaat? Semuanya itu tergantung dari bagaimana kita melihat pendapat itu. Tentunya dengan ehipassiko kita dapat memilah mana yang harus diikuti atau yang harus ditinggalkan, dengan melakukan verifikasi atau pemeriksaan atau penyelidikan terhadap pendapat yang kita terima atau yang akan kita sampaikan. Seperti Dhamma yang mengundang untuk dilihat atau diverifikasi untuk mendapatkan konfirmasi kebenarannya oleh diri sendiri. Hal ini pun sering kita baca dan dengarkan berulang kali dari paritta Dhammānusatti. DHAMMĀNUSSATI Svākkhāto Bhagavatā Dhammo, Sandiṭṭhiko akāliko ehipassiko, Opanayiko paccattaṁ veditabbo viññūhī'ti. Dhamma Sang Bhagavā telah sempurna dibabarkan; Berada sangat dekat, tak lapuk oleh waktu, mengundang untuk dibuktikan; Menuntun ke dalam batin, dapat diselami oleh para bijaksana dalam batin masing-masing.
Kiat-kiat yang dapat dilakukan dalam menyampaikan pendapat yang benar dan bermanfaat adalah dengan menyampaikan prinsip ehipassiko untuk tidak percaya begitu saja dengan mempertanyakan suatu pendapat bermanfaat atau tidak, tercela atau tidak tercela, dipuji oleh para bijaksana atau tidak jika dilaksanakan dan dipraktikkan, menuju kesejahteraan dan kebahagiaan atau tidak, adalah suatu sikap yang akan menepis kepercayaan yang membuta terhadap suatu ajaran dan mengedepankan verifikasi atau penyelidikan oleh diri sendiri, serta memicu
10
seseorang untuk berpikir kritis dan mampu menerima kebenaran karena ia telah melihat, mengalami, menyaksikan dengan orang yang tidak menerapkan prinsip ini dan hanya berdasarkan pada rasa percaya. Prinsip ehipassiko, datang dan buktikan sendiri, juga harus diamati dengan Sumber : google.com
kritis dan tidak mengambil kesimpulan
salah yang dapat menimbulkan pemahaman yang bias. Contohnya adalah penyalahgunaan narkoba, bukan berarti kita harus terlebih dahulu mencobanya untuk menyimpulkan bahwa penggunaan narkoba itu merugikan dan merusak. Untuk membuktikan bahwa menggunakan narkoba itu merugikan dan merusak, seseorang cukup melihat orang lain yang sudah menjadi korban karena
KEBEBASAN BERPENDAPAT
mata kepala sendiri, dibandingkan dengan
menggunakan narkoba, inilah yang merupakan suatu bentuk verifikasi untuk mendapatkan pembuktian. Dari pembuktian ini memunculkan hasil berupa munculnya saddhÄ sebagai keyakinan berdasarkan pengetahuan dari hasil ehipassiko atau hasil verifikasi atau pemeriksaan atau penyelidikan. Prinsip ehipassiko menjadi langkah awal bagi umat awam untuk memahami ajaran Agama Buddha. Dewasa ini, kita dapat melihat kebebasan berpendapat semakin meluas. Terutama dengan disediakannya platform media sosial, seperti Facebook, Twitter, serta Instagram. Tak jarang juga kita menemukan komentar-komentar yang ada pada platform tersebut, baik komentar yang mencaci maupun komentar yang memuji. Kebebasan berpendapat seperti ini meluas, bahkan tidak menutup kemungkinan bahwa pendapat-pendapat yang ada dapat menyakitkan perasaan orang-orang yang mendengarkannya. Komentar yang positif dan negatif juga menjadi hal yang subjektif, karena dengan pendapat tiap orang juga berbeda-beda. Dengan adanya perkembangan media sosial, dapat memengaruhi pendapat orang-orang. Hal ini dikarenakan berkembangnya internet sehingga banyak informasi yang dapat didapatkan dengan mudah. Namun, dengan kemudahan informasi tersebut, tidak menutup kemungkinan adanya informasi yang bias
Sumber : google.com
11
sehingga membuat orang-orang terjerumus kedalam pengertian salah ataupun mengikuti hal yang dapat menyebabkan kecelakaan bagi dirinya sendiri.
KEBEBASAN BERPENDAPAT
Kemudahan informasi yang terdapat di internet dapat menimbulkan perbedaan pandangan tiap orang sehingga dari pandangan yang berbeda dari setiap orang dapat menimbulkan pendapat yang berbeda. Pendapat-pendapat yang dipaparkan secara bebas dapat merujuk pada dua hal, yaitu pendapat yang mencela, maupun pendapat yang memuji. Namun, pendapat yang diutarakan itu belum tentu benar. Maka dari itu sebagai orang yang menerima pendapat itu, kita harus dapat memilah mana yang dapat mencelakakan ataupun yang dapat bermanfaat. Seperti Untaian Dhamma ini, terserah mau diterima atau tidak itu tergantung dari pembaca apakah tulisan ini bermanfaat ataupun tidak.
Referensi: Bhagavant, n. d., Ehipassiko – Datang dan Lihatlah, diakses pada tanggal 30
Oktober 2019, dari
https://bhagavant.com/ehipassiko-datang-dan-lihatlah#cite1 Bhagavant, n. d., Tiga Permulaan Kejahatan (akusalamĹŤla), diakses pada tanggal 30 Oktober 2019, dari https://bhagavant.com/tiga-permulaan-kejahatan-akusalamula Thera, S., 2013 , 'Kalama Sutta: The Buddha's Charter of Free Inquiry', diakses pada tanggal 30 Oktober 2019, dari https://www.accesstoinsight.org/tipitaka/an/an03/an03.065.soma.html
12
serba-serbi
ETC
Delegasi Liga Waisak UI
KEBEBASAN BERPENDAPAT
Oleh Hery Ciaputra
Sumber Gambar : Dokumen Pribadi
Mewakili Kamadhis UGM sebagai delegasi pada Liga Waisak KMB UI; kami, Hery, Sukhema, Leon, Meleony, dan Ivan, pada tanggal 10 Mei 2019 meninggalkan Yogyakarta untuk menebus hasil latihan kami. Perjalanan kami tempuh selama 8 jam menuju Jakarta dengan kereta pagi hari. Walaupun telah berada dalam perjalanan, sebenarnya kami masih belum mengetahui secara jelas seperti apa liga tersebut, apa yang akan kami hadapi, dan orang-orang seperti apa yang akan kami temui nantinya. Bahkan menariknya adalah kami juga belum tahu dimanakah kami akan menginap pada hari kedua nanti. Namun, kami bersyukur memiliki Vivin sebagai manajer yang sangat membantu dalam mengurusi berbagai keperluan terkait liga maupun hal-hal penting lainnya. Kami berterima kasih kepada Vivin yang juga merupakan Ketua Umum Kamadhis UGM 2019 karena telah menginisiasi kami dalam keikutsertaan liga ini serta memberikan kesempatan atas pengalaman yang berharga ini. Awalnya, saat kami diminta untuk menjadi perwakilan, banyak hal yang kami pertimbangkan
13
karena sedikitnya pengalaman yang kami miliki terhadap kegiatan serupa. Akan tetapi, pada akhirnya kami dipercaya sebagai yang terbaik untuk mewakili Kamadhis
KEBEBASAN BERPENDAPAT
UGM. Kami diharapkan akan menjadi langkah pertama dalam keikutsertaan kegiatan taraf nasional dan juga memulai jalinan hubungan baik antar-organisasi Buddhis. Kembali ke masa-masa latihan yang cukup singkat, tidak terasa hampir setiap malam kami berkumpul untuk latihan soal, membaca buku, latihan bernyanyi, dan latihan berbicara. Buku-buku pelajaran sekolah pun menjadi konsumsi kami setiap malam. Videovideo public speaking juga banyak
Sumber Gambar : www.freepik.com
kami tonton. Apapun yang menurut kami penting, kami pelajari sampai mendetail agar tidak ada yang terlewatkan. Teman-teman dan pembina kami pun turut berbagi pengalaman mereka untuk membantu kami dalam menyiapkan Liga ini. Masukan dan dorongan yang diberikan oleh mereka; Prinanda, Julie, Filbert, Sandi, Faustine, Romo Effendie, dan Bu Endang sangat membantu kami dalam memperbaiki dan memacu peningkatan hasil latihan kami sehingga
semakin baik. Tidak dapat
dipungkiri, meskipun kami datang untuk membangun hubungan baik, tentu saja kami juga ingin memenangkan liga ini. Setibanya disana kami disambut oleh panitia Liga Waisak KMB UI, kemudian kami diantarkan ke tempat penginapan yang telah dipersiapkan. Kami diperbolehkan untuk menginap di apartemen milik ketua panitia Liga Waisak KMB UI ini. Sebuah kamar yang cukup luas untuk ditempati kami berenam. Kami pun menghabiskan sisa malam dengan berlatih lagi dan beristirahat untuk liga esok harinya. Pagi hari pun tiba. Hari yang telah kami tunggu akhirnya datang. Dengan mengenakan jaket biru kebanggaan, kami pun berangkat ke Fakultas Ekonomika dan Bisnis UI, tempat liga diadakan. Setelah melakukan pendaftaran ulang dan briefing, kami diarahkan ke ruangan masing-masing berdasarkan cabang liga yang kami ikuti. Sumber Gambar : www.freepik.com
14
Mewakili cerdas cermat ada Hery, Sukhema, dan Ivan, sedangkan untuk cabang
perwakilan sekolah, wihara, juga universitas. Babak penyisihan lomba cerdas cermat dimulai dengan soal Mangala Sutta. Kami berhasil melewati babak pertama ini dengan 90% hasil belajar dan 10% kekuatan hukum. Pada babak selanjutnya setiap tim diadu satu lawan satu dengan soal rebutan. Pertanyaan-pertanyaan yang diajukan banyak yang diluar dugaan kami sehingga menyebabkan kekalahan kami dalam babak kedua. Setelah itu, sambil menyaksikan beberapa babak lanjutan dalam liga ini, kami menyadari bahwa begitu tingginya antusiasme umat Buddha Jabodetabek dalam mempelajari Dhamma. Sebuah semangat yang patut untuk dicontoh. Dan juga kami menemui salah seorang peserta lomba yang ternyata
KEBEBASAN BERPENDAPAT
menyanyi diwakili oleh Meleony dan dhammadesana diwakili oleh Leon. Cabang liga cerdas cermat diikuti oleh banyak tim yang merupakan
berkeinginan untuk berkuliah di Universitas Gadjah Mada. Melihat semangatnya yang begitu membara sangat menginspirasi. Sungguh sebuah semangat yang patut menjadi contoh. Lomba cerdas cermat pun masih berlanjut. Kami masih diperbolehkan untuk menonton sampai akhir lomba cerdas cermat. Meskipun lomba cerdas cermat telah kami ketahui pemenangnya, tetapi lomba-lomba yang lainnya masih misteri karena menunggu keputusan dari juri. Betapa bahagianya kami saat mendapatkan pengumuman bahwa Leon meraih juara pertama dalam lomba Dhammadesana. Perjuangan kami akhirnya terbayarkan dan memberikan prestasi baru bagi Kamadhis UGM. Semoga lomba ini dapat menginspirasi kami untuk mengadakan kegiatankegiatan yang serupa, melestarikan Buddhadhamma, dan menjalin hubungan baik dengan Kamadhis-Kamadhis universitas lainnya dengan Dhamma.
Sumber Gambar : www.freepik.com
15
ETC Serba-Serbi KEBEBASAN BERPENDAPAT
Minimalism Oleh Irfandi Sarana Dalam beberapa tahun belakangan ini, ada sebagian orang yang menjalani gaya hidup yang berbeda dari kebanyakan orang pada umumnya. Ya, gaya hidup minimalis. Konsep gaya hidup minimalis mulai berkembang sekitar akhir tahun 2010 yang dipopulerkan oleh Joshua Fields Millburn dan Ryan Nicodemus. Secara sederhana, gaya hidup minimalis adalah bagaimana cara kita memilah barang yang kita butuhkan dan bukan yang kita inginkan, jadi kita bisa memilah barang yang penting dalam hidup kita. Ada beberapa tokoh t e r ke n a l d u n i a y a n g s a y a t a h u menjalankan gaya hidup ini walau tidak sepenuhnya, seperti Mark Zuckerberg dan Steve Jobs dengan gaya berpakaian yang sama setiap harinya, Warren Buffet dengan pilihan sarapan pagi yang sama setiap pagi. Kebiasaan ini membantu mereka menghemat waktu untuk memilih pakaian dan dapat lebih produktif dalam pekerjaan mereka. Para penganut gaya hidup minimalis menganggap hidup di zaman sekarang ini terlalu materialistis sehingga bagi mereka butuh suatu jalan tengah di kehidupan yang penuh hedonisme dan materialisme. Bagi sebagian orang, mungkin berbelanja, ataupun hanya sekadar window
16
shopping merupakan suatu hal yangmengasyikkan dan dapat hal ini bertentangan dengan prinsip gaya hidup minimalis yang mengutamakan efisiensi, mengutamakan fungsi atau sumber gambar: google.com
manfaat dari barang tersebut. Gaya hidup minimalis tidak selalu berfokus pada “mengurangi� barang-barang, tetapi justru memberi kita lebih banyak waktu, dan membuat kita
KEBEBASAN BERPENDAPAT
memberikan kebahagiaan. Namun,
lebih kreatif dan produktif. Karena sumber gambar: google.com
dengan hidup yang tidak
berlebihan, kita bisa lebih fokus dengan hal-hal yang kita kerjakan dan bukan sibuk dengan barang yang kita punya. Pernahkah kalian merasa “sayang� untuk membuang barang? Padahal mungkin kalian sebenarnya hampir tidak pernah menggunakan barang tersebut. Ada suatu aturan bagi para penganut gaya hidup ini, yaitu jika suatu barang tidak dipakai selama 90 hari atau tidak ada gunanya dalam 90 hari, maka barang tersebut harus disingkirkan. Penganut gaya hidup minimalis akan mengabaikan nilai sentimental pada suatu barang dan hanya fokus pada fungsi atau kebermanfaatan dari barang tersebut. Memang tidak ada aturan yang baku dalam gaya hidup ini, Anda sendirilah yang dapat menentukan jalan terbaik karena kebutuhan setiap orang berbeda-beda. Apakah kalian tertarik untuk menganut gaya hidup ini?
Tidying your physical space allows you to tend to your psychological space. - MARIE KONDO
sumber gambar: google.com
17
Jangan Lukai Aku Oleh Vincent* Aku adalah sungai Sungai Batang Hari Aku selalu memberi Aku selalu melindungi Aku selalu disini Tolong jangan lukai aku Terkadang aku ada Terkadang aku hilang Meskipun hanya sebagian Tolong jangan lukai aku Aku semakin kotor Tubuku terasa sakit Aku tidak berdaya Jangan lukai aku lagi Aku selalu sabar Aku tidak pernah kasar Tapi sekarang aku marah besar Semua hanyut bersamaku Semua habis tidak bersisa Walau ini bukan keinginanku Kalian tidak pernah merawatku Kalian hanya memanfaatkanku Dan kini kalian meninggalkanku Waktu kemudian berlalu Aku menjadi diriku yang baru Tolong jaga diriku Jangan lukai aku
Sumber : Dokumen Leon Tandela
serba-serbi
ETC
Perjalanan Hidupku
Aku adalah sebuah batu besar di Sungai Batang Hari. Aku lahir jauh sebelum adanya manusia. Aku berada di dalam kandungan orang tuaku yang hangat beriburibu tahun lamanya. Kata mereka, kelahiranku memusnahkan banyak mahkluk hidup. Aku telah menjadi saksi dari banyaknya kemarahan yang orang tuaku lakukan, seperti gempa bumi dan gunung meletus yang merupakan peristiwa kelahiranku. Aku lahir dan terlempar jauh dari rumahku hingga akhirnya aku menjadi dewasa dan menetap hingga sekarang di Sungai Batang Hari. Perjalananku dari rumah ke tempat menetap sekarang ditemani oleh beberapa temanku, tetapi mereka semua tak sebesar diriku. Walaupun aku adalah pendatang,
KEBEBASAN BERPENDAPAT
Oleh Riky Martin*
kehadiranku diterima oleh masyarakat sekitar tempat tinggalku, yaitu lumut dan akar pohon. Aku telah berdiam diri menyaksikan evolusi dari mahkluk hidup dan yang menjadi sorot utamaku adalah kehidupan manusia. Aku sangat besar. Aku dapat melihat kehidupan para manusia yang tinggal di rumah-rumah di pinggir sungai. Setiap hari, mereka memanfaatkan sungai ini untuk membersihkan diri, menangkap ikan, dan mengambil air untuk minum. Kehidupan berjalan seperti biasa hingga pada abad ke-7, ada seorang pria yang datang ke ka m p u n g i n i . P r i a i n i mengaku sering dipanggil I-Tsing.
Sumber Gambar : cleanpng
19
Kedatangannya di kampung ini disambut dengan baik oleh para penduduk. Katanya, ia datang untuk belajar tentang agama Buddha karena ia mendengar ada
KEBEBASAN BERPENDAPAT
seorang guru agama yang sangat hebat tinggal disini. Memang, kampung tempat tinggalku ini dipenuhi oleh orang-orang terpelajar karena saat itu terdapat sekolah agama terbesar se-‘Asia’. Aku tidak tahu apa itu ‘Asia’ karena aku belum pernah menjelajah.
Sumber Gambar : cleanpng
Hari demi hari berlalu, kedatangan I-Tsing membuat kemajuan dalam pendidikan di kampung ini sehingga pria itu disebut orang yang sangat berjasa bagi kampungku. Pada waktu ia harus pergi meninggalkan kampung ini, banyak orang berduka dan menyambut kepergiannya dengan sedih. Setelah kepergiannya, aku diangkat dari tempat tinggalku untuk ditaruh di tengah rumah-rumah. Badanku dipenuhi goresan-goresan yang mencatat tentang kedatangan pria bernama I-Tsing. Walaupun sakit, aku tetap menahan rasa sakitnya dan bersabar. Setelah masa itu, aku kembali mengamati seluruh dinamika kehidupan para manusia hingga pada abad ke-20, dimana aku ditemukan di dalam tanah oleh para manusia. Mereka melihat diriku yang dipenuhi goresan ini dengan wajah terkejut. Kata mereka, penemuanku adalah penemuan yang sangat berharga. Aku dibawa ke tempat yang jauh dengan sesuatu yang bisa terbang. Inilah kedua kalinya aku dibawa berjalan-jalan yang jauh. Setelah itu, aku menetap dibalik kaca-kaca tebal. Setiap hari diperhatikan oleh manusia-manusia yang terlihat penasaran. Mereka mencoba membaca goresan-goresan yang terdapat pada badanku. Aku senang, kehidupanku menjadi manfaat bagi banyak
20
mahkluk-mahkluk hidup. Semoga goresan-goresan di badanku ini dapat
*Penulis merupakan peserta Eka-citta Writing Workshop yang diselenggarakan pada tanggal 27 Oktober 2019. Tulisan orisinal seluruh peserta dapat dilihat pada tautan ugm.id/TulisanEWW2019.
TERBUKA UNTUK KONTRIBUTOR
KEBEBASAN BERPENDAPAT
membawa manfaat bagi manusia.
Suka menulis? Atau punya ide untuk rubrik Hiburan? Atau anda suka membuat komik? Kami membuka kesempatan untuk menjadi kontributor Eka-citta Edisi LII nih! Syarat Kontributor : Anggota / alumni Kamadhis UGM Untuk info lebih lanjut, hubungi: Melia Lichwan WA : 087881222099/LINE ID : melia.lichwan
21
ETC
Serba-serbi Sumber Gambar: Flickeringmyth.com
KEBEBASAN BERPENDAPAT
Film Mendatang
Jumanji: The Next Level Sutradara Penulis Pemeran
: Jake Kasdan : Jake Kasdan, Jeff Pinkner : Dwayne Johnson, Jack Black, Kevin Hart
Jumanji: The Next Level merupakan sekuel dari film yang dirilis pada tahun 2017 bertajuk Jumanji: Welcome to the Jungle. Setelah di film sebelumnya berhasil meloloskan diri, Martha, Fridge, dan Bethany harus kembali memainkan Jumanji untuk menyelamatkan Spencer yang tak sengaja tersedot ke dalam permainan saat sedang memperbaiki konsol gim. Permainan Jumanji kali ini disebutkan akan lebih menantang karena tidak semua pemain bisa meninggalkan gim dalam kondisi hidup seperti sebelumnya. Jangan lewatkan aksi mereka untuk menyelamatkan Spencer dan meloloskan diri dari Jumanji sekali lagi, untuk selamanya. Jumanji: The Next Level akan dirilis pada pertengahan Desember 2019 mendatang. Referensi: CNN Indonesia, 2019, Aksi Heboh di Trailer Final 'Jumanji: The Next Level', diakses pada tanggal 13 November 2019,
dari https://www.cnnindonesia.com/hiburan/20191101131542-220-444825/aksi-
heboh-di-trailer-final-jumanji-the-next-level IMDb, 2019, Jumanji: The Next Level (2019), diaksespadatanggal13 November 2019, dari https://www.imdb.com/title/tt7975244/?ref_=ttpl_pl_tt
Sumber Gambar: newsbugz.com
22
Liputan Kegiatan Voyage of Kamadhis UGM
Voyage of Kamadhis UGM 2019 merupakan acara tahunan yang diselenggarakan dalam rangka memperingati dies natalis Keluarga Mahasiswa Buddhis (Kamadhis) UGM. Pada tahun 2019, Kamadhis UGM menginjak usia ke-29, lebih tepatnya pada tanggal 6 September. Voyage of Kamadhis UGM tahun ini terdiri dari 6 rangkaian acara, yaitu kontes fotografi, Buddhist Idol yang dilaksanakan di Auditorium Fakultas Peternakan UGM, puja bakti yang berlangsung di Auditorium Fakultas Filsafat UGM, turnamen futsal yang dilaksanakan di Jakal 7 Futsal, acara sosial yang dilaksanakan di Panti Werdha Yogyakarta, dan The Musical Night of Greatness yang berlangsung di Grand Serela Hotel Yogyakarta.
KEBEBASAN BERPENDAPAT
Oleh Adhitya Pratama Putra
Sumber : Dokumen Pribadi
23
KEBEBASAN BERPENDAPAT
Sumber Gambar : Dokumen Pribadi
Kontes fotografi Voyage of Kamadhis UGM 2019 dilaksanakan secara terbuka untuk umum, dengan artian orang dari seluruh Indonesia dapat mengikuti lomba tersebut. Untuk Buddhist Idol, penampilan-penampilan menarik dibawakan oleh para peserta. Selain peserta, salah satu juri dari Buddhist Idol, Anton Yoga, juga membawakan penampilan di tengah waktu istirahat. Puja bakti dilakukan secara khusyuk, dan di akhir kegiatan puja bakti ada acara pemotongan tumpeng sebagai simbol perayaan dies natalis. Pada kegiatan bakti sosial Voyage of Kamadhis 2019, peserta melakukan kegiatan bersama para lansia, seperti mengobrol, menyanyi, dan makan siang. Sebelum pulang, para panitia dan peserta juga memberikan baju kepada mereka sebagai buah tangan dari panitia dan peserta bakti sosial. Turnamen futsal dilaksanakan selama dua hari dan para pemain mengikuti kegiatan secara sportif. Riuh sorakan suporter memenuhi tempat pertandingan berlangsung. Malam puncak Voyage of Kamadhis UGM 2019 : “The Musical Night of Greatness” pun berlangsung sangat meriah. “Dramanya bagus dan menarik, konsep acaranya berbeda, terus kayaknya tarian daerahnya lebih banyak dari tahun lalu. Panitianya bagus, terutama pas drama, perkapnya gece (gerak cepat) banget pas pindah-pindahin barang setiap pergantian scene. Mungkin Yogi tahun depan bisa perform di Dies,” ucap Felicia Irawan, salah satu peserta malam puncak Voyage of Kamadhis 2019. Sumber Gambar : Dokumen Pribadi
24
Tanggapan peserta beragam, banyak kesan dan pesan yang bermacam-macam. “Untuk acara aku mungkin nge-rate 7/10, konsep acaranya menarik dengan adanya satu dua hal yang memberi kesan kurang enak dengan acaranya karena aktornya sempat mengucapkan kata-kata yang kurang enak didengar, kemudian penyediaan makanan vegetarian atau bukan vegetarian tidak diberi papan nama sehingga kurang jelas,” ucap salah satu peserta Voyage of Kamadhis 2019. Ia pun menambahkan, “Untuk panitia, aku kasih 9/10! Kalau sarannya mungkin lain kali tambahkan jumlah PDD, aku kasihan lihat satu orang mondar-mandir keliling meja.”
KEBEBASAN BERPENDAPAT
drama musical, video alumni, photobooth, dan doorprize, lalu lokasinya juga pas. Ada
Sumber Gambar : Dokumen Pribadi
Sumber Gambar : cleanpng Sumber Gambar : freepik.com
25
Pendampingan Mahasiswa Baru Kamadhis UGM (5-7 Agustus 2019)
Asadha Puja (18 Agustus 2019)
Makan Malam Maba (30 Agustus 2019)
GALERI FOTO
Donor Darah Kamadhis UGM (12 Oktober 2019)
How to Build a Good Presentation (15 Oktober 2019)
Kathina Puja Kamadhis UGM (22 Oktober 2019)
Festival Lomba Dhamma (26 Oktober 2019)
Sumber Gambar : Dokumen Pribadi
Pojok Kampus LEBIH DEKAT DENGAN PUSAT STUDI UGM
KEBEBASAN BERPENDAPAT
Oleh Novirene Tania Halo semua! Kamu ngaku mahasiswa UGM yang kenal banget dengan lingkungan kampusmu? Tahukah kamu bahwa UGM dalam rangka mewujudkan jati dirinya sebagai universitas nasional, perjuangan, Pancasila, kerakyatan dan pusat kebudayaan didukung oleh banyaknya fasilitas termasuk adanya pusat-pusat studi. Masing-masing pusat studi tentunya berfokus pada ranah penelitian dan pengembangan yang berbeda-beda. Pusat studi apa saja ya yang ada di UGM? Yuk, simak bersama-sama! 1. Pusat Studi Kependudukan dan Kebijakan (PSKK) PSKK berfokus sebagai pusat studi yang menangani topik penelitian yang berkaitan dengan demografi, gender, tata kelola pemerintah serta isu-isu sosial. PSKK ini menjadi sumber referensi kebijakan kependudukan berskala 2.
nasional, lho! Pusat Studi Pedesaan dan Kawasan (PSPK) Meskipun UGM berada di dalam kabupaten yang perkembangannya sangat pesat, melalui PSPK, UGM berperan mengaplikasikan ilmu yang dimiliki untuk mengembangkan pedesaan dan kawasan. Tidak lain tidak bukan tentunya untuk membantu pemerintah dan masyarakat dalam merumuskan kebijakan dan program pengembangan pedesaan. Jadi, PSPK
3.
ini menjadi bukti bahwa UGM peduli desa! Pusat Studi Transportasi dan Logistik (PUSTRAL) Semakin pesatnya akses jaringan dunia global dan berdampak pada interaksi ruang yang semakin intensif, PUSTRAL menjadi pusat studi yang fokus pada pendekatan di bidang transportasi dan logistik dengan dasar pengembangan bahwa dunia global sudah bukan lagi menjadi kelautan, UGM juga menyediakan Pusat Studi Sumberdaya dan Teknologi Kelautan (PUSTEK Kelautan) untuk berfokus pada pemanfaatan potensi perairan secara optimal.
28
Sumber Gambar: www.freepik.com
isu semata. Highest technologies on our hand! Pada bidang
4.
Pusat Studi Keamanan dan Perdamaian (PSKP) PSPK yang didirikan pada 1 Oktober 1996 ini mendasarkan aktivitasnya aksi-aksi advokasi, fasilitasi, pelatihan, serta pendampingan pengabdian
5.
kepada masyarakat di dalam transformasi pembangunan. Pusat Studi Bencana (PSBA) Bicara potensi, bicara juga permasalahan. Indonesia yang begitu kaya akan sumberdaya tidak dapat dilepaskan dari bencana yang mengikutinya. Atas dasar inilah, PSBA disukung oleh Badan Koordinasi Nasional Penanggulangan Bencana dan Pengungsi (Bakornas PBP) dan United Nation Development Program (UNDP) untuk melaksanakan kegiatan kebencanaan seperti Pelatihan Tim Reaksi Cepat (TRC) dan peluncuran aplikasi
6.
Penanganan Kedaruratan Bencana. Pusat Studi Pariwisata (PUSPAR) PUSPAR merupakan bentuk aktualisasi UGM menyokong pariwisata
KEBEBASAN BERPENDAPAT
pada bidang riset aksi (action research) untuk berkomitmen kuat terhadap
sebagai sektor unggulan di DIY. Siapa sih yang tidak kenal Parangtritis, Candi Boko, Tebing Breksi atau Hutan Mangunan? Bicara Joga tidak terlepas dari pariwisata, maka PUSPAR menjadi penting keberadaannya untuk 7.
menunjang salah satu agenda UGM dalam pengembangan pariwisata. Pusat Studi Pangan dan Gizi (PSPG) Kata siapa pusat studi hanya berfokus pada masalah-masalah sosial humaniora? Coba liat yang satu ini. PSPG hadir dengan memberikan beberapa pelatihan di bidang gizi dan pangan seperti Pelatihan Mikrobiologi Dasar, Pelatihan Magang Deteksi Bakteri Patogen, Pelatihan Tata Cara Sampling Makanan dan Minuman, serta Sertifikasi Profesi Kerja
8.
CPPOB & HACCP. Pusat Studi Sosial Asia Tenggara Ini satu-satunya pusat studi yang tampilan website-nya terpresentasikan dalam bahasa asing. Jelas saja, pusat studi ini biasa dikenal dengan Center for Southeast Asian Social Studies (CESASS). CESASS is a research institute of Gadjah Mada University that focuses on social issues in Southeast Asian region. Oh ya, terdapat juga lho pusat studi internasional lainnya, yaitu
29
Pusat Studi Asia Pasifik yang berfokus pada kajian tentang interkoneksi ekonomi, sosial politik, dan budaya di kawasan Asia Pasifik. Pada hubungan
KEBEBASAN BERPENDAPAT
multilateral yang terjadi sangat memungkinkan terbentuknya relasi dagang yang saling menguntungkan. Dasar inilah yang dijadikan alasan 9.
dibentuknya Pusat Studi Perdagangan Dunia. Pusat Studi Lingkungan Hidup Pusat studi ini berfokus pada agenda-agenda yang berkaitan di bidang lingkungan seperti Kajian Lingkungan Hidup Strategis, Penelitian Daya Dukung Lingkungan, Sistem Informasi Lingkungan, AMDAL, dan lain-lain. Dalam bidang lingkungan lainnya juga terdapat Pusat Studi Sumberdaya Hayati (PSSDH) yang melaksanakan kajian tentang pengendalian hayati bagi kesehatan manusia, hewan, dan tumbuhan, serta pelestarian
lingkungan hidup. 10. Pusat Studi Pancasila (PSP) Pancasila yang melekat pada jati diri UGM mendorong UGM berupaya memperkuat sistem, kelembagaan dan kapasitas internal sesuai dengan standar penjaminan mutu universitas melalui peningkatan sumberdaya manusia di bidang pendidikan, penelitian dan pengabdian masyarakat. 11. Pusat Studi Wanita UGM peduli kesetaraan gender dibuktikan dengan adanya pusat studi ini. Adapun pusat studi ini membantu memecahkan berbagai masalah yang dihadapi perempuan, laki-laki, anak, remaja, dan lansia sesuai dengan kebutuhan masing-masing daerah. 12. Pusat Studi Ekonomi dan Kebijakan Publik (PSEKP) PSEKP UGM terus berkembang sebagai salah satu pusat penelitian di UGM yang menghasilkan produk-produk penelitian dan pelatihan yang berkualitas tinggi, seperti penelitian ekonomi dasar (basic economic research) dan penelitian yang berorientasi kebijakan atau terapan (policy research atau applied research). Selain itu, terdapat juga Pusat Studi Ekonomi Kerakyatan (PSEK) yang lebih berfokus pada pengambilan kebijakan ekonomi, pada tingkat nasional, sektoral, dan lokal. 13. Pusat Studi Perencanaan Pembangunan Regional (PSPPR)
30
Kaitannya dengan pengembangan wilayah, PSPPR berperan sebagai perpanjangan tangan UGM yang berfokus pada penelitian dan pengabdian dengan dilandasi oleh nilai-nilai luhur kerakyatan dan kemuliaan peradaban manusia. Karakteristik wilayah yang berbeda-beda juga mendorong munculnya Pusat Studi Kebudayaan untuk berfokus pada kajian manusia dan hasil olah akal budinya. 14. Pusat Studi Bioteknologi Pusat studi ini berfokus pada kegiatan penelitian dan pengembangan di bidang bioteknologi seperti Workshop dan magang tentang Isolasi Protein, Isolasi DNA genom serta plasmid dalam kaitannya dengan Ekstraksi, Purifikasi, Amplifikasi (PCR), pemotongan dan penyambungan DNA serta
KEBEBASAN BERPENDAPAT
masyarakat yang mengemuka di regional Asia yang unggul dan inovatif
transformasi. Kamu anak soshum dan pusing baca bahasan tentang ini? Ga masalah, kamu tetap bisa andil di bidang implementasi kajian sosial dari hasil penelitian bioteknologi ini, ya. 15. Pusat Studi Energi (PSE) Mampu memasok sumber energi terbarukan yang mampu dijangkau oleh masyarakat adalah mimpi pembangunan di masa depan. Kaitannya dengan hal tersebut, PSE berperan mencari solusi ketidakseimbangan pasokankebutuhan sumberdaya energi seperti listrik dengan memanfaatkan potensi energi terbarukan di daerah setempat. Jadi gimana? Masih alasan sulit mencari referensi untuk mendalami ilmu kita sebagai mahasiswa? Jangan gelisah, raih terus akses informasimu dengan bertanya dan aplikasikan gagasanmu dengan berkarya! Salam perubahan! Referensi : Universitas Gadjah Mada, Pusat Studi, diakses pada tanggal 31 Oktober 2019, dari https://ugm.ac.id/id/p2m/1439-pusat.studi
Sumber Gambar : freepik.com
31
Wawancara Wawancara: Kebebasan Berpendapat dalam 2 Perspektif
KEBEBASAN BERPENDAPAT
Oleh William Pada edisi kali ini, Tim Redaksi berkesempatan mewawancarai dua pembicara “Eka-citta Writing Workshop�, yaitu Bapak Reza A.A Watimena dan Ibu Elizabeth D. Inandiak. Pada kesempatan wawancara ini, kami mencari tahu tentang pembicara dan pandangannya tentang kebebasan berpendapat.
Reza A.A Watimena Tentang Pak Reza Pak Reza adalah seorang pengajar, penulis, dan peneliti yang memiliki latar belakang pendidikan S1, S2, dan S3 di bidang filsafat. Ketertarikan Pak Reza dengan filsafat dimulai ketika mengikuti kelas sosiologi saat SMA. Saat itu, guru sosiologi Pak Reza selalu datang ke kelas dengan pertanyaan yang dilanjutkan dengan diskusi. Tertarik dengan metode yang digunakan gurunya, Pak Reza bertanya kepada gurunya mengenai metode apa yang digunakan. Gurunya menjawab metode yang digunakan adalah metode filsafat, lalu memberikan buku tentang filsafat ke Pak Reza. Sejak saat itu, Pak Reza semakin tertarik dengan filsafat sehingga melanjutkan pendidikannya di bidang filsafat. Saat ditanya mengapa filsafat penting, Pak Reza menjawab bahwa kerusakan mendasar yang dialami Indonesia selama ini adalah karena tidak ada filsafat, tidak ada cara berpikir yang mendalam, rasional, dan kritis tentang dunia, semuanya hanya tentang mengikuti ego, kerakusan, atau mengikuti tradisi tanpa adanya sikap bertanya sedikitpun. Kebebasan Berpendapat Menurut Pak Reza, kebebasan berpendapat adalah kebebasan mengekspresikan pikiran-pikiran kita terhadap berbagai hal dalam kehidupan.
32
Namun, apa dasar saat kita menyampaikan pendapat? Kebencian, permusuhan, atau ingin menciptakan rasa saling paham? “Dasarnya harus arah, ketika kamu berbuat sesuatu, arahnya itu apa? Kerakusan, menghancurkan orang lain, atau menolong semua makhluk? Jadi silakan berpendapat, silakan mengekspresikan ide-idenya, tapi dasarnya harus dipertanyakan,” ujarnya. Tantangan kebebasan berpendapat di Indonesia menurut Pak Reza adalah banyak orang yang takut berpikir di luar tradisi. ”Solusi untuk menghadapi ketakutan ini adalah kita harus sadar bahwa kita takut dan sadar bahwa ketakutan kita berpijak pada kondisi sosial kita. Kalau kita sadar, maka ada 'jarak'. Kalau ada 'jarak', kita dapat membiarkan atau melawan. Kalaupun melawan, melawannya secara proporsional sehingga tidak kurang ajar. Jadi tetap melakukan pemberontakan-
KEBEBASAN BERPENDAPAT
dipersoalkan dahulu sebelum berpendapat. Kalau di dalam Zen, hidup harus memilih
pemberontakan terhadap ketakutan secara proporsional yang kuncinya adalah kesadaran, bukan kebencian dan kemarahan,” ujar Pak Reza. Bagaimana cara hidup sadar? “Apapun yang terjadi selalu berakar ke saat ini, kalau bisa menerapkan hal tersebut, otomatis kebijaksanaan dan compassion muncul. Akan tetapi, kalau pikiran kita tidak 'hadir' di saat ini atau pikiran kita kemana-mana, maka akan kacau. Hal ini harus diakses lebih dalam. Dengan itu, kita bisa memilih untuk berpendapat atau diam, kita bisa berbuat atau kita bisa tidak berbuat, tergantung konteks, dan itu adalah kebijaksanaan,” pungkas Pak Reza.
Elizabeth D. Inandiak
33
Tentang Ibu Elizabeth Ibu Elizabeth adalah seorang penulis yang lahir di kota Lyon, Prancis, dari lima
KEBEBASAN BERPENDAPAT
bersaudara. Beliau menulis artikel, skrip film, skrip komik, dan menerjemahkan buku. Walaupun hidup sebagai seorang penulis, kedua orang tua beliau bukanlah penulis, melainkan apoteker. Ketertarikan menulis beliau dimulai ketika berumur 7 tahun, saat itu beliau suka menulis puisi. Saat berumur 18 tahun, beliau sudah berkeliling dunia dengan bekerja sebagai wartawan. Beliau mewawancarai banyak orang, beberapa di antaranya adalah musisi Prince di New York dan mantan Perdana Menteri India, Indira Priyadarshini Gandhi. Bagimana Ibu Elizabeth bisa mengenal Indonesia? Pada awalnya, beliau tidak tahu apa-apa tentang Indonesia. Beliau mulai mengenal Indonesia ketika diberi tugas untuk menulis mengenai Islam dan Kejawen di Indonesia. Pada tahun 1989, beliau datang ke Indonesia dan bertemu banyak orang, hingga akhirnya jatuh cinta dengan Indonesia. Sekarang, beliau sudah menikah serta memiliki anak dan tinggal di Yogyakarta. Kebebasan Berpendapat Ibu Elizabeth menjelaskan kebebasan berpendapat dimulai dari kebebasan berpikir. Kita harus diberi ruang untuk kebebasan berpikir agar dapat diucapkan. Namun menurut beliau, kita dapat tetap memiliki kebebasan berpikir walaupun tidak ada ruang publik. Pada masa dimana beliau membuat laporan di Uni Soviet, kebebasan berpikir tidak ada. Beliau diundang suatu perkumpulan rutin untuk mendiskusikan novel yang dilarang pada masa itu. Dari sana, kita tahu tetap ada kebebasan berpikir walaupun kita ditekan oleh pihak luar. Menurut beliau, kunci dari kebebasan berpendapat adalah jangan takut. Beliau menceritakan pengalamannya sebagai wartawan saat pergi ke suatu kampung yang bernama Soweto (kampung khusus orang berkulit hitam) di Afrika Selatan. Beliau diberitahu oleh teman-temannya yang berkulit putih jika beliau ke sana maka akan dibunuh dan sebagainya. Namun, beliau akhirnya tetap ke sana. Menurutnya, jangan takut tentang hal-hal yang diceritakan oleh orang lain. Kita harus berani membongkar batas, dimana pada kasus ini batas tersebut adalah rasa takut antara orang berkulit hitam dan berkulit putih. Akhirnya beliau berkata, kita harus berani menghapus batas apapun.
34
KEBEBASAN BERPENDAPAT
Menurun 1. Saudagar kaya yang pertama kali memberikan dana makanan kepada Sang Buddha adalah Tapussa dan …… 3. Ungkapan yang bermakna turut berbahagia atas perbuatan baik yang dilakukan oleh orang lain adalah ...... 4. Buku pertama dari Sutta Pitaka yang terdiri dari 34 sutta panjang adalah …… 5. Samanera pertama yang ditahbiskan langsung oleh Sang Buddha adalah …… 9. Sarana memberi penghormatan kepada Sang Buddha yang digambarkan dengan simbol jejak tapak kaki Sang Buddha disebut …… 14. Menurut penyalurannya, perbuatan yang dilakukan melalui ucapan disebut …… Kamma
Ayo, isi sekarang dan kirimkan foto jawabanmu ke ec.kamadhisugm@gmail.com! 2 orang tercepat dengan jawaban benar akan mendapatkan hadiah menarik!
36
Dhammapada Atthakhata Kisah Sariputta Thera
memberikan penghormatan kepada Sang Buddha. Sang Buddha mengetahui bahwa telah tiba waktunya bagi biksu-biksu tersebut untuk mencapai tingkat kesucian arahat. Beliau mengundang Sariputta di hadapan biksu-biksu itu. Beliau bertanya, “Anakku. Sariputta. Apakah kamu dapat menerima kenyataan bahwa dengan cara bermeditasi, seseorang dapat merealisasi nibbana?” Sariputta menjawab, “Bhante, berkaitan dengan perealisasian nibbana dengan meditasi, saya menerima hal itu bukan karena saya percaya kepada-Mu. Pertanyaan itu hanya bagi seseorang yang belum berhasil merealisasi nibbana, yang
KEBEBASAN BERPENDAPAT
Tiga puluh biksu dari sebuah desa datang ke Vihara Jetavana untuk
menerima kenyataan dari orang lain.” Jawaban Sariputta tidak dapat dimengerti secara tepat oleh para biksu. Mereka berpikir: “Sariputta belum melenyapkan pandangan salah, sampai saat ini, ia belum memiliki sebenarnya keyakinan terhadap Sang Buddha.” Kemudian Sang Buddha menjelaskan kepada mereka makna sebenarnya dari jawaban Sariputta. “Para biksu, jawaban Sariputta dapat disederhanakan menjadi demikian: Ia menerima bahwa nibbana dapat dicapai dengan meditasi, tetapi ia menerima hal itu berdasarkan hasil pengalamannya sendiri, dan bukan karena saya telah mengatakan hal itu atau orang lain mengatakan hal itu. Sariputta yakin terhadap-Ku. Ia juga yakin terhadap akibat-akibat dari perbuatan baik dan jahat.” Kemudian sang Buddha membabarkan syair 97 berikut: Orang yang telah bebas dari ketahyulan, yang telah mengerti keadaan tak tercipta (nibbana), yang telah memutuskan semua ikatan (tumimbal lahir), yang telah mengakhiri kesempatan (baik dan jahat), yang telah menyingkirkan semua nafsu keinginan, maka sesungguhnya ia adalah orang yang paling mulia. Referensi: Tim Penerjemah Vidyasena, 1997, Dhammapada Atthakatha, Vidyasena, Yogyakarta. Sumber Gambar: www.ariyamagga.net
37
KEBEBASAN BERPENDAPAT
Kontak Dhamma Apakah ke ka kita ingin memakan ikan (berar ada ikan yang dibunuh) termasuk melanggar Pancasila Buddhis? Saya fokus pada kata INGIN. Saat muncul keinginan, bagaimana pikiran Anda? a. Ingin memilih ikan di kolam yang gemuk dan sehat, lalu ditangkap, dipotong, dicuci, digoreng, disajikan, dan disantap? b. Ingin makan ikan goreng yang sudah disajikan di baskom penjual ikan goreng untuk disantap? Jika pilihannya adalah poin b, Anda dak ikut bertanggung jawab terhadap pembunuhan ikan-ikan tersebut karena jika anda dak makan ikan tersebut pun, ikan di baskom sudah tergoreng. Maka hubungan keinginan Anda makan ikan dengan digorengnya ikan tersebut kecil sekali dan hal tersebut masih jauh dari melanggar sila ke-1. Namun, jika keinginan tersebut membuat Anda merasa harus melakukannya, maka hal tersebut menandakan Anda kurang pandai mengendalikan diri.
Sebenarnya apa itu Dhamma dan apa perbedaan antara hidup dengan Dhamma dan hidup tanpa Dhamma? Dhamma adalah ajaran atau pengetahuan yang dapat digunakan sebagai pegangan hidup yang baik untuk mencapai tujuan hidup yang
dak membuat manusia dan mahluk lain menderita.
Termasuk pengetahuan untuk keluar dari lingkaran roda samsara (nibbana).
Mau bertanya seputar Buddhadhamma? Kirim pertanyaanmu ke ec.kamadhisugm@gmail.com
38
dengan subject: Kontak Dhamma.
CONGRADUATIONS Anathapindika Kamandjaja, S.Farm., Apt.
(Profesi Apoteker)
Dewi Karina, S.Farm., Apt.
(Profesi Apoteker)
Joselin Ekaputri, S.Farm., Apt.
(Profesi Apoteker)
Meiliana, S.Farm., Apt.
(Profesi Apoteker)
Tara Ayu Cintoro, S.Farm., Apt.
(Profesi Apoteker)
ANUMODANA Tim Eka-ci a mengucapkan terimakasih kepada para donatur. Semoga jasa-jasa kebajikan atas dana yang diberikan dapat menyokong pembabaran Dhamma serta pematangan parami yang dipupuk dalam kehidupan.
Laporan Keuangan Eka-citta Edisi ke-51/LI Saldo Awal
Rp
4.415.182,10
Donasi a.n Anonim Donasi a.n Anonim Donasi a.n Anonim Sub-Total Pendapatan
Rp Rp Rp Rp
200.000 200.008 100.000 500.008,00
Cetak Buletin Eka-citta (44 hlm. 100 eksemplar full color , @14.700,00) Cetak proposal (4 buah, @4.750,00) Sub-Total Pengeluaran
Rp Rp Rp
1.470.000 19.000 1.489.000,00
Saldo Akhir
Rp
3.426.190,10
Namo Buddhaya Kami dari tim Eka-citta ingin meminta waktu Anda untuk mengisi forum aspirasi Eka-citta edisi ke-51 ini. Forum aspirasi bisa diakses di tautan dibawah ini : ugm.id/ForumAspirasiEkacittaEdisiLI Aspirasi Anda semua sangat bermanfaat untuk buletin Eka-citta edisi selanjutnya yang lebih baik lagi. Terima Kasih.
Meet Our Team Editorial Team
Marketing and Partnership Team
Design and Layout Team
The Executives
"None of us ever do great things. But we can all do small things, with great love, and together we can do something wonderful." – Mother Teresa
Sumber : Dokumen Leon Tandela
EDISI LI/NOVEMBER/2019